Eps 14 Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng
Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.
"Hhh... soal itu aku juga percaya, tapi seorang gadis yang sedang jatuh cinta...? Aku khawatir otaknya sama tidak lurusnya dengan otak Ding Tao", ujar Shu Sun Er sembari menghela nafas. Hu Ban terkekeh geli mendengar otak Wang Shu Lin disamakan dengan otak Ding Tao.
"Jadi bagaimana baiknya?"
"Sudah kusuruh dia datang ke mari setelah Ding Tao selesai makan, Sun Er, kau nasehati dia baik-baik, kalian sama-sama perempuan tentu lebih leluasa untuk bercakap-cakap. Kemudian sebisa mungkin kita jangan meninggalkan mereka berduaan terlalu lama, setidaknya tentu itu akan membantu Wang Shu Lin untuk menahan diri dari godaan.", ujar Zhu Yanyan memutuskan.
"Hehe, baiklah biar aku yang jadi pengawasnya, sepertinya seru juga melihat sandiwara ini.", ujar Hu Ban dengan ringan, dibalas Shu Sun Er dengan mata melotot. Di kamar Ding Tao sendiri, Wang Shu Lin memperhatikan pemuda itu dengan hati berdebar. Sikap dan perkataan Zhu Yanyan sudah cukup dia pahami, apalagi sebelumnya dia memang sudah melakukan sesuatu yang kurang pantas dengan Ding Tao. Dalam hatinya pun timbul peperangan batin, namun kegalauan itu tidak terlampau mengganggunya, sebagian besar dari dirinya masih terbuai dengan ingatan akan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Ding Tao.
"Tidak mengapa..., sedikit saja.., sebentar saja, tidak lama lagi dia akan kembali ingat dan kami akan kembali berjauhan meski dekat, terpisah oleh sebuah pembatas yang tak terlihat. Ya... sedikit saja aku ingin merasakan kedekatan itu, aku toh masih bisa menjaga diri agar tidak melampaui batas", pikir Wang Shu Lin menghibur dirinya sendiri. Mendapatkan ketetapan itu, hatinya jadi jauh lebih tenang, ketika Ding Tao sudah selesai makan, dia pun menghampirinya dengan mesra.
"Nah sekarang, kakak beristirahatlah lebih dahulu, aku hendak pergi menemui ibu."
"Baiklah... apakah nanti kau akan kembali?"
Tanya Ding Tao sambil memegangi tangan Wang Shu Lin.
"Entahlah, kita lihat saja nanti", jawab Wang Shu Lin dengan lembut dia membantu Ding Tao berbaring ke atas pembaringan. Sekali lagi mereka begitu dekat, tubuhpun terasa hangat. Tanpa ragu Wang Shu Lin membaringkan kepalanya di atas dada Ding Tao beberapa lama, lalu mengecup bibirnya dengan mesra sebelum pergi meninggalkan Ding Tao sendiri dalam ruangan. Satu ingatan seperti hendak muncul dalam benak Ding Tao, ingatan tentang kemesraan dengan isterinya. Sebuah percintaan yang panas membara, hingga mengingatnya saja membuat darahnya bergejolak. Apakah itu Wang Shu Lin? Tentu saja itu Wang Shu Lin, siapa lagi jika bukan dia? Kepalanya terasa pening karena terlalu banyak berpikir, Ding Tao pun akhirnya memejamkan mata, satu-satunya saat di mana dia bisa bebas dari penderitaan, meskipun tidurnya pun seringkali pendek-pendek dan penuh dengan kesakitan dan mimpi buruk yang tidak dia mengerti keesokan paginya. Di saat Ding Tao tidur, Wang Shu Lin sedang duduk manis di depan gurunya Shu Sun Er.
"Anak Shu Lin, apakah kau tahu mengapa gurumu mmeintamu untuk datang menghadap?", tanya Shu Sun Er langsung pada masalahnya.
"Murid bisa menduga guru, tentunya ini masalah hubunganku dengan Ketua Ding Tao.", jawab Wang Shu Lin.
"Bagus, kau memang murid yang cerdas, kebetulan juga watak kita berdua sedikit mirip, jadi kukira pembicaraan ini tidak perlu berputar-putar. Katakanlah padaku benarlah pengamatan kami bahwa kau menaruh hati pada pemuda itu?", kata Shu Sun Er. Ditanya demikian, jantungnya berdegup dan wajahnya terasa panas, Wang Shu Lin menjawab dengan pipi memerah.
"Benar guru."
Shu Sun Er menghela nafas lalu membelai rambut muridnya itu penuh rasa sayang.
"Tak perlu kau malu atau menutupi apa-apa dari gurumu ini. Dia memang pemuda pilihan, tidak heran jika kau jatuh hati padanya. Mungkin kau lupa, tapi watak ayahmu sedikit banyak ada kemiripannya dengan dia."
"Benarkah itu guru?", tanya Wang Shu Lin sambil mencoba mengingat-ingat sosok ayah yang sudah meninggalkan dia saat usianya masih sangat muda. Shu Sun Er tertawa lembut, matanya menerawang mengingat sosok ayah Wang Shu Lin ketika dia masih hidup.
"Ya..., ada kemiripannya, meskipun ayahmu lebih pandai bicara dari pemuda itu, tapi kukira dia menggemari ilmu silat sama seperti ayahmu menggemari ilmu sastra. Selebihnya sifat mereka hampir tak ada bedanya."
Untuk sesaat lamanya, dua wanita beda generasi itu sama-sama terdiam, berusaha mengenang sosok seorang yang sudah lama meningalkan mereka.
Ingatan Shu Sun Er tentu saja jauh lebih hidup dan berwarna.
Yang teringat oleh Wang Shu Lin hanyalah ingatan samar tentang seorang ayah yang penyabar dan suka tertawa, bertubuh tinggi juga tampan.
Apa benar dia mirip Ding Tao?
Entahlah, tapi mungkin itu sebabnya dia menyukai Ding Tao sejak pertama kali mereka bertemu.
Semakin dia mengingat ayahnya, semakin yakin dia dengan ucapan gurunya, semakin pula dia jatuh hati pada Ding Tao.
"Tapi kau harus tahu, cintamu bisa jadi cinta yang tak berbalas.", ucap Shu Sun Er tiba-tiba, menarik kembali Wang Shu Lin keluar dari khayalannya. Wang Shu Lin terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Aku tahu guru... aku tahu itu... Dia sudah beristeri, kalaupun isterinya mengkhianati dia belum berarti aku memiliki kesempatan karena dia juga sudah memiliki cinta pertamanya sendiri."
"Kalau kau sudah mengerti itu, mengapa kau masih saja berkeras dengan cintamu padanya? Padamkan saja api cinta itu Shu Lin, karena itu hanya membawamu pada kesengsaraan dan penderitaan.", kata Shu Sun Er prihatin. Wang Shu Lin menggelengkan kepala.
"Aku tidak bisa guru... aku tidak bisa..."
Shu Sun Er menghela nafas.
"Ai... sudahlah, hati memang sulit dikendalikan, aku pun tak akan memintamu untuk melupakan cintamu padanya. Tapi Shu Lin, kau harus berhati-hati, jangan sampai kau melupakan kehormatanmu sebagai seorang wanita. Gurumu Hu Ban mengarang cerita untuk menutupi perjalanan kita, aku tahu maksudnya tidaklah buruk. Dia sayang padamu seperti juga kami semua, hanya saja pandangannya tentang nilai-nilai terlalu longgar. Apa kau mengerti maksudku Shu Lin?"
"Maksud guru, tentang sandiwara kita, bahwasannya aku berpura-pura menjadi isteri Ketua Ding Tao?", tanya Wang Shu Lin masih dengan mata sedikit membasah.
"Ya. Dan kudengar dari gurumu Zhu Yanyan, Ding Tao saat ini mengira kau benar-benar adalah isterinya, benarkah itu?", tanya Shu Sun Er.
"Be... benar guru...", jawab Wang Shu Lin sedikit terbata.
"Apakah kau merasa senang dengan keadaan seperti ini?", tanya Shu Sun Er, matanya tajam mengawasi setiap gerak tubuh dari muridnya.
"Tentang itu... aku... murid...", Wang Shu Lin berusaha menjawab dengan jujur namun rasanya terlalu memalukan untuk berkata.
"Kau merasakan cintamu berbalas, sikapnya yang mesra padamu membuatmu seakan hidup dalam mimpi yang indah, impianmu untuk hidup bersanding dengannya sebagai suami isteri yang selama ini bagimu tidak lebih dari sebuah khayalan sekarang menjadi kenyataan. Benarkah demikian Shu Lin?", tanya gurunya dengan lembut tanpa nada menghakimi, melainkan sekedar menggambarkan apa yang dirasakan muridnya.
"Benar guru... Guru... sungguh murid tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini, murid juga tahu setelah dia meminum penawar Obat Dewa Pengetahuan, tentu sikapnya akan berubah 180 derajat. Tapi, tidak bolehkah aku menikmatinya, walau sebentar saja. Setidaknya dalam waktu 1 minggu ini aku bisa merasakan, impianku jadi kenyataan.", jawab Wang Shu Lin dengan nada mengiba.
"Anak bodoh..., jika hanya karena mengikuti keinginan hati, kau tidak menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita bagaimana jawabmu pada guru dan nenek moyangmu?", tegur gurunya "Guru..., aku tidak akan pernah mencintai lelaki lain. Jika aku akan menikah, aku hanya akan menikah dengannya. Dalam hati dia sudah benar-benar kuanggap sebagai suamiku sendiri, jika sekarang dia memandang aku sebagai isterinya, itulah satu-satunya masa dalam hidupku di mana itu bisa terjadi.", keluh Wang Shu Lin.
"Shu Lin..., tapi itu semua adalah semu semata, kemesraannya padamu, bukankah kemesraan yang dia ingat dengan isterinya? Cintanya padamu saat ini, adalah cintanya untuk orang lain, bukan untuk dirimu.", ujar Shu Sun Er mengingatkan. Diingatkan demikian, pecahlah tangis Wang Shu Lin, meski tak terdengar suara isakannya, namun air matanya meleleh juga akhirnya. Dengan sedih dia merebahkan kepalanya di atas dada gurunya yang memeluknya dengan rasa sayang.
"Maafkan aku guru... tapi... tapi... aku sudah terbawa suasana... aku tidak bisa berpikir lurus... aku sudah... sudah...", ujar Wang Shu Lin terbata-bata. Betapa terkejut hati Shu Sun Er, namun wanita yang sudah cukup kenyang dengan pahit manisnya kehidupan ini masih bisa menahan hatinya dan bertanya hati-hati.
"Apa yang sudah kau lakukan...?"
Dan Wang Shu Lin pun menceritakan smua apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Ding Tao sebelum Zhu Yanyan datang, perasaannya, ketakutannya tapi juga keinginan hatinya sampai pada apa yang kemudian dia lakukan.
Dalam hati Shu Sun Er pun menghela nafas lega, karena kejadiannya belum sejauh yang dia khawatirkan.
Tapi juga sekaligus khawatir dan sedih karena kekhawatiran mereka semua bukannya tak berdasar.
Cukup lama dia biarkan Wang Shu Lin menumpahkan segala isi hatinya.
Ketika gadis itu sudah mulai tenang barulah Shu Sun Er mulai bicara.
"Muridku... kau selalu berkata, setelah satu minggu ini lewat, semuanya akan kembali seperti sebelumnya. Kau akan diam menyimpan cintamu dan kenangan indah bersamanya dan dia dengan urusannya sendiri tanpa perlu tahu apa yang kau rasakan."
"Benar guru... biarlah satu minggu ini saja untukku, karena dia memang bukan milikku.", jawab Wang Shu Lin.
"Shu Lin... Shu Lin... kau tak tahu apa yang kau bicarakan, dulu aku pun pernah berpikir demikian, meski nasib tidak memberikanku kesempatan yang satu minggu itu. Tapi hidup dengan cinta yang tak berbalas adalah hidup penuh penderitaan apalagi jika kau terus mengikatkan dirimu pada cinta itu...", ujar Shu Sun Er dengan sedih. Wang Shu Lin memandang gurunya ingin tahu, baru kali ini dia mendengar gurunya Shu Sun Er bicara tentang cinta. Melihat pandang mata Wang Shu in, Shu Sun Er tersenyum sedih.
"Aku mencintai ayahmu Shu Lin, bahkan sampai sekarang pun dialah satu-satunya cinta dalam hidupku... tapi dia mencintai ibumu. Jangan berpikir yang buruk, tidak pernah lewat dalam benakku sedikitpun untuk merebut cintanya. Aku mengatakan ini semua padamu sekarang, hanya agar kau mengerti, bahwa aku bisa memahami perasaanmu."
Mendengar pengakuan gurunya, berbagai macam perasaan timbul dalam hati Wang Shu Lin, tapi pada akhirnya yang menang adalah rasa iba dan rasa senasib sepenanggungan.
Sambil mengeluh perlahan dia sekali lagi memeluk gurunya, namun kali ini bukan untuk menumpahkan kegalauannya, tapi lebih pada keinginan untuk berbagi kekuatan dan duka.
"Oh... guru... aku tidak pernah tahu...", keluh gadis itu.
"Hahaha, sudahlah, aku toh sudah tidak muda lagi dan tidak seperti dirimu aku sudah tidak terikat dengan cinta. Tapi justru karena itu aku bisa mengatakan padamu, jalan yang kau pilih adalah jalan yang penuh kesusahan. Sebisa mungkin Shu Lin, lupakan cintamu, kau masih muda dan masih banyak kesempatan untuk mendapatkan cinta yang lain.", ujar Shu Sun Er sambil menepuk-nepuk punggung muridnya dengan sayang. Kemudian Shu Sun Er berkata kembali.
"Tapi aku juga tahu watakmu tak jauh berbeda dengan watakku, karenanya aku tahu, kau pasti tidak akan mau melupakan cintamu ini, meski kau tahu cintamu itu hanya membawa penderitaan saja."
Wang Shu Lin hanya terdiam mendengar perkataan gurunya, tidak menyanggah, tidak pula menjawab, hanya diam menundukkan kepala.
"Karena itu aku tidak akan berkata apa-apa lagi padamu mengenai hal itu. Juga selama satu minggu ini, aku pun tidak akan mengatakan apa-apa, hanya saja pintaku, kau tetap menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita. Kamipun sebagai gurumu tentu akan ikut memasang mata dan telinga, kukira tanpa kuberitahu pun kau mengerti.", kata Shu Sun Er. Wang Shu Lin menganggukkan kepala.
"Aku mengerti guru... aku juga mengerti untuk menjaga kehormatanku, tapi... aku tidak berani berjanji apa-apa. Terkadang... terkadang hatiku berbicara lebih lantang dari pikiranku."
"Aku mengerti... tapi Shu Lin, kau juga harus waspada, terkadang pikiran yang keruh sulit membedakan mana yang kata hati dan mana yang godaan nafsu belaka. Setelah ini, kau pergilah bermeditasi, sungguh-sungguh kau berusaha tenangkan pikiranmu dan tiliklah kembali apa yang terjadi hari ini. Apakah murni itu kata hatimu, ataukah nafsu ikut berbicara dengan menyamar sebagai cinta yang suci.", ujar Shu Sun Er dengan tegas. Wang Shu Lin tercenung dengan rasa malu ingin dia menepiskan segala ucapan gurunya, tapi juga rasa hormat pada gurunya membuat dia sungguh-sungguh dalam mendengarkan nasihat gurunya itu. Pada akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh.
"Aku mengerti guru... aku akan melakukannya."
Shu Sun Er menatap muridnya dengan tegas tapi juga jelas memancar perasaan sayangnya pada gadis itu.
"Baguslah, sekarang kau pergilah bermeditasi dan renungkan perkataanku barusan."
"Baik guru, aku pamit dulu kalau begitu", ujar Wang Shu Lin, memberi hormat kemudian beranjak pergi dari ruangan. Ketika tangannya sudah hendak membuka pintu, tiba-tiba Shu Sun Er berkata.
"Shu Lin..., kau berkata setelah satu minggu lewat dia akan lupa, tapi kukira belum tentu demikian, bisa jadi apa yang terjadi satu minggu ini akan teringat pula olehnya. Entah apa akibatnya, tapi kau ingatlah ada kemungkinan dia mengingatnya."
Wang Shu Lin merasa darahnya berdesir kencang mendengar perkataan gurunya, tapi cepat dia mengendalikan diri.
"Baiklah guru, aku akan pikirkan semuanya itu."
"Ya, aku percaya padamu. Sekarang pergilah bermeditasi.", ujar Shu Sun Er pula. Begitu keluar Wang Shu Lin bertemu dengan Zhu Yanyan dan Hu Ban yang berjaga di depan kamar sambil bermain catur.
"Guru...", kata Wang Shu Lin perlahan, dia yakin kedua gurunya pasti mendengar juga percakapan mereka di dalam.
"Hmm... pergilah bermeditasi ...", ujar Zhu Yanyan sambil menepuk tangan gadis itu. Sekilas Wang Shu Lin memandang wajah Hu Ban yang terlihat muram, dalam hati Wang Shu Lin ikut bersedih untuk gurunya itu, Dia bukannya tidak tahu Hu Ban menyimpan hatinya untuk Shu Sun Er, pengakuan Shu Sun Er tadi pasti menyakiti hatinya. Atau mungkin sebenarnya gurunya itu pun sudah lama menyadarinya? Mungkin itu juga sebabnya dia bersikap malas dan menganggap ringan segala urusan. Tapi tetap saja, dia tentu tergetar juga mendengar pengakuan Shu Sun Er tadi, karena selamanya Shu Sun Er tak pernah mengungkapkan secara terang-terangan isi hatinya.
"Baiklah... aku pamit dulu guru...", ucap Wang Shu Lin sembari memberi hormat.
"Ya... Shu Lin... kami tidak menyalahkanmu sedikit pun, masalah hati memang masalah yang rumit. Kami hanya berharap kau tidak mengambil jalan yang salah karenanya.", ujar Zhu Yanyan.
"Aku mengerti guru... terima kasih untuk perhatian guru sekalian.", jawab Wang Shu Lin.
"Ya... ya..., kami percaya padamu...", ujar Zhu Yanyan.
"Shu Lin... aku mengerti perasaanmu, dengarkanlah nasehat gurumu Sun Er, dia pun pasti mengerti perasaanmu.", tiba-tiba Hu Ban ikut bicara. Zhu Yanyan pun menghela nafas sedih, meski dia tidak ikut mengalami masalah percintaan tapi dia bisa membayangkan perasaan mereka. Sejak kecil dia sudah memasuki Wudang untuk menjalani kehidupan membiara, meski seorang pendeta Tao tidak dilarang untuk beristeri, tapi tidak jarang juga yang memilih untuk hidup selibat dan Zhu Yanyan entah mengapa sejak kanak-kanak sudah terpikat dengan kehidupan yang demikian. Ada masanya dia mulai tertarik dengan lawan jenis, namun masa-masa itu singkat dan dengan cepat pendalaman ilmu agama dan limu pedang mengalihkan perhatiannya. Satu minggu itu pun berlalu dengan berbagai macam pertentangan batin, baik bagi Wang Shu Lin juga bagi ke-enam gurunya. Hanya Ding Tao yang benar-benar menikmati waktu yang satu minggu itu. Otaknya yang susah diajak berpikir dan mengingat hal-hal yang lampau, justru membuat dia terhibur dengan keberadaan Wang Shu Lin yang mendampingi dia sehari-hari. Pengkhianatan Murong Yun Hua, kematian para pengikutnya bahkan kematian Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, adalah peristiwa yang terlalu lampau bagi Ding Tao untuk mengingatnya. Satu-satunya penderitaan yang dia rasakan adalah keadaan tubuhnya yang sangat lemah, persendian yang ngilu-ngilu dan nafsu makan yang hilang. Tapi semuanya itu bisa dia tanggung dengan keberadaan Wang Shu Lin yang selalu mendampingi dia sejak dia bangun dari tidurnya sampai dia tertidur kembali. Wang Shu Lin yang sangat menghormati guru-gurunya, mengikut nasehat mereka baik-baik. Direnungkannya setiap gejolak hati dan perasaan yang timbul dalam dirinya. Dipilahnya, dipertanyakannya dan diselidikinya, dengan hati-hati dia berusaha berjalan menurut hati nuraninya, meski ada kalanya pula dia terlena dengan keadaan dan penjagaannya pun melonggar. Namun sampai pada waktunya Ding Tao mulai meminum penawar Obat Dewa Pengetahuan, Wang Shu Lin masih bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita. Tiga hari terakhir menjelang berakhirnya waktu yang dua minggu itu, Zhu Yanyan memutuskan bahwa sebaiknya mereka mencari tempat yang baik untuk tinggal selama beberapa waktu. Perjalanan mereka pun terhenti di sebuah kota kecil di daerah utara, sebenarnya mereka sedikit segan berhenti di kota yang kecil karena kedatangan mereka jadi begitu mencolok. Namun Zhu Yanyan sendiri berkeras agar mereka bisa menetap setidaknya selama beberapa hari sebelum dan sesudah Ding Tao memulai pengobatannya. Setidaknya Wang Shu Lin sudah cukup lama hidup di daerah utara, sehingga dari kebiasaan maupun cara berbicara, cukup sesuai dengan cerita yang mereka karang. Bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka di daerah dekat perbatasan di utara, setelah pergi untuk berobat di ibu kota. Tapi tetap saja, rombongan mereka yang cukup besar, menarik perhatian orang. Apalagi Wang Shu Lin yang masih muda dan cantik, dengan seorang suami yang penyakitan, tentu saja mengundan beberapa pikiran nakal dari laki-laki mata keranjang yang tinggal di kota itu. Bagusnya ada Pang Boxi yang bertubuh raksasa membuat orang berpikir beberapa kali lipat sebelum mencoba-coba menggoda nyonya muda yang cantik itu. Itu pula sebabnya mereka memutuskan untuk memasuki kota sebagai satu rombongan. Meski lebih menarik perhatian, tapi juga membantu mereka menghindari gangguan yang tidak diinginkan. Tidak ingin terjadi konflik dengan berandalan di kota itu, pagi-pagi sejak datang mereka sudah unjuk kemampuan, utamanya Pang Boxi, Khongti dan Hu Ban yang beraksi sebagai pengawal dari rombongan itu. Hari itu sudah lewat 2 minggu Ding Tao bebas dari Obat Dewa Pengetahuan, dengan hilangnya seluruh sisa-sisa obat dalam tubuhnya, hampir segala fungsi yang berhubungan dengan syaraf dan otak menurun dengan drastis. Meski dia berpikir bahwa Wang Shu Lin adalah isterinya, toh Ding Tao juga tidak memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar dekat dan menikmati kehangatan bersama seseorang yang mengasihinya.
"Ding Tao, sekarang kau minumlah obat ini, setelah kau minum obat ini, cobalah untuk bermeditasi, agar obat itu bekerja dengan lebih sempurna.", kata Zhu Yanyan sambil memberikan 3 buah pil pemberian Tabib Shao Yong. Seluruhnya ada 27 buah pil yang harus diminum 3 pil setiap kali minum, 3 kali sehari, selama 3 hari berturut-turut.
"Meditasi ?", tanya Ding Tao mencoba mengingat apa maksud perkataan Zhu Yanyan. Dengan sabar Zhu Yanyan tersenyum dan menjelaskan.
"Ya, meditasi, selama tiga hari ini bukankah aku sudah mengajarimu bagaimana cara melakukannya?"
"Tapi sekarang minum saja dahulu obatnya, lalu aku akan membantumu kembali mengingat-ingat cara bermeditasi yang kuajarkan.", ujar Zhu Yanyan sambil memberikan obat pada Ding Tao. Melihat obat di tangannya, Ding Tao menengok terlebih dahulu ke arah Wang Shu Lin. Ketika dia melihat gadis itu mengangguk dan tersenyum, barulah dia meminum obat di tangannya itu dengan hati tenang.
"Nah sekarang kita mulai bermeditasi, cobalah ingat apa yang kuajarkan beberapa hari ini.", ujar Zhu Yanyan dengan sabar. Berkerut dahi Ding Tao berusaha mengingat-ingat apa yang diajarkan Zhu Yanyan beberapa hari ini. Memang sebagai persiapan, sudah beberapa hari menjelang hari ini Zhu Yanyan mengajarkan kembali pada Ding Tao bagaimana caranya bermeditasi.
"Hmm... seperti ini...", ujar Ding Tao sembari perlahan-lahan, mengambil posisi bersila dan menegakkan tubuhnya.
"Benar... lalu...?", kata Zhu Yanyan menyemangatinya.
"Lalu... aku tutup mata dan ... dan mengatur pernafasan... kosongkan pikiran dan ikuti terus pernafasan di perut.", ujar Ding Tao sambil mulai melakukan apa yang dia katakan. Tidak sulit tentunya bagi Ding Tao untuk mengosongkan pikiran dan sepenuhnya memfokuskan pikirannya pada pernafasan. Justru pekerjaan yang sederhana itu sesuai sekali dengan otaknya yang saat ini begitu lambannya.
"Benar... rasakan pernafasanmu... masuk... tahan selama satu hitungan, kemudian keluarkan... lakukan dengan lembut dan tidak terburu-buru...", kata Zhu Yanyan sambil matanya mengikuti gerak perut dan dada Ding Tao. Ketika dilihatnya pernafasan Ding Tao sudah mulai teratur, Zhu Yanyan pun berkata.
"Rasakan hawa hangat yang timbul dalam tubuhmu."
"Sekarang saat kau menarik nafas, buatlah hawa itu mengalir dari dari dantien, mengarah ke puncak kepala. Kemudian sebaliknya, ketika kau melepaskan nafas tariklah hawa itu dari puncak kepala ke dantien.", demikian Zhu Yanyan membimbing Ding Tao untuk mengalirkan hawa murni untuk membersihkan jalur energi dalam tubuhnya. Kemudian setelah beberapa kali mengalirkan hawa murni dari atas ke bawah, sepanjang poros pusat dalam tubuhnya. Zhu Yanyan kemudian mengarahkan Ding Tao untuk mengalirkan hawa itu mengelilingi permukaan tubuhnya, dari kiri ke kanan dan juga dari atas ke bawah. Ding Tao menyukai latihan ini, karena tubuhnya terasa lebih baik setiap kali bermeditasi. Apalagi kali ini setelah meminum obat penawar dari Tabib Shao Yong. Obat ini sebenarnya lebih bekerja untuk memulihkan kembali fungsi-fungsi syaraf yang tadinya terbiasa bergantung pada Obat Dewa Pengetahuan, agar kembali bisa bekerja sendiri. Seperti menguatkan otot-otot tubuh yang sudah lama lemah karena tidak pernah dipakai. Cukup lama Ding Tao bermeditasi, pada dasarnya pemuda ini sudah menguasai ilmu tenaga dalam tingkat tinggi, ditambah lagi dengan tambahan simpanan hawa murni yang diberikan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, hanya sekedar mengalirkan hawa murni mengelilingi tubuh dan melancarkan peredaran energi dan darah bukanlah urusan yang sulit. Dalam hitungan hari, perkembangan kesehatannya maju dengan pesat. Pada hari pertama dia sudah mulai bisa berpikir dengan normal, meski belum bisa banyak mengingat masa lalunya sendiri. Pada hari kedua, perlahan-lahan ingatannya pun sudah mulai pulih. Menginjak hari ketiga, ketika seluruh obat penawar sudah habis diminum, bisa dikatakan dia sudah menjadi Ding Tao yang normal. Pada hari ketiga itu, semalaman penuh Ding Tao terus bermeditasi tanpa henti, hingga esok harinya. Wang Shu Lin dan Zhu Yanyan ikut menunggu di dekatnya. Seperti baru saja melewati gua yang gelap dan sekarang kembali melihat sinar matahari untuk pertama kalinya. Begitu membuka mata Ding Tao merasa dunianya kembali sempurna, kabut yang menutupi pikirannya benar-benar sudah terangkat. Bersamaan dengan kembalinya kemampuan dia untuk berpikir dengan jernih, ingatan-ingatan yang menyesakkan dada ikut pula kembali, beban dan kekhawatiran tentang masa depan juga ikut kembali mengisi pikirannya. Diam-diam Ding Tao menghela nafas, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan bebas, membuat perasaannya jauh lebih baik, meski dirundung banyak beban. Pandang matanya pun jatuh pada Wang Shu Lin dan Zhu Yanyan yang tertidur di ruangan itu. Melihat Wang Shu Lin hatinya merasa terharu tapi juga galau. Satu lagi masalah pertalian hati yang tidak bisa dia temukan jawaban yang memuaskan. Seperti yang dikatakan Shu Sun Er, nyatanya sekarang setelah otak dan syarafnya bekerja dengan normal, apa yang terjadi selama dia dalam keadaan sakit masih diingat Ding Tao dengan baik. Meski tidak berani memastikan, namun dia bisa menduga bahwa Wang Shu Lin menaruh hati padanya. Kebaikan gadis itu tentu saja menyentuh hatinya, tapi di lain pihak urusan asmaranya sudah terlalu rumit untuk dia pikirkan. Sakitnya dikhianati Murong Yun Hua, penyesalan karena telah berlaku kurang setia kepada Hua Ying Ying, masih menghantui Ding Tao. Dia belum dapat memutuskan bagaimana dia harus menanggapi cinta Wang Shu Lin. Perlahan-lahan tanpa suara Ding Tao turun dari pembaringan. Meski sudah semalaman bersila tubuhnya tidak menjadi kaku, justru terasa segar dan ringan. Berjalan ke arah jendela, dibukanya daun jendela dan dihirupnya dalam-dalam udara pagi yang segar dan bersih. Menatap langit yang berwarna keunguan, Ding Tao memutuskan untuk berhenti berpikir dan menikmati saja suasana pagi itu. Peristiwa-peristiwa yang menyakitkan hatinya, masih diingatnya dengan jelas, namun peristiwa itu sudah berjarak cukup lama sehingga tidak lagi terlalu menyakitkan. Waktu yang berjalan membantu dia menerima kenyataan. Pengaruh Obat Dewa Pengetahuan yang menumpulkan ingatannya, secara tidak langsung membantu dia menghadapi goncangan yang berat itu. Dengan demikian apa yang dipandang orang sebagai bencana, ternyata menyelipkan satu pertolongan bagi dirinya. Merenungi hal ini Ding Tao memikirkan perkataan Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen tentang kehendak langit. Betapa Thian bermurah hati pada dirinya, dalam kesedihan yang sendu, terselip juga rasa hangat dan syukur. Berkat obat dari Tabib Shao Yong, dia terhindar dari nasib menjadi seorang mayat hidup. Waktu yang 2 minggu, tiga hari, bisa dikatakan amatlah singkat jika dibandingkan dengan nasib yang dialami Pendekar pedang Jin Yong. Teringat apa yang dituliskan oleh Tabib Shao Yong mengenai pendekar pedang itu, Ding Tao merasa miris, hampir saja dirinya bernasib sama dengan Jin Yong.
"Tapi apakah semudah itu lepas dari pengaruh Obat Dewa Pengetahuan?", tanya Ding Tao meragu dalam hatinya. Berpikir demikian, maka dia pun keluar dari ruangan menuju ke pelataran. Karena mereka tinggal beberapa hari lamanya, Zhu Yanyan memutuskan untuk berusaha menyewa satu rumah sendiri, kebetulan ada beberapa rumah kosong yang sebenarnya hendak dijual oleh pemiliknya, namun dengan kepandaian Hu Ban berbicara, mereka bisa mendapatkan satu rumah untuk disewa satu bulan lamanya. Dengan sendirinya, di pelataran dalam rumah yang mereka sewa, Ding Tao cukup leluasa untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan. Perlahan-lahan dia memulai latihan pukulan tangan kosong. Tidak terburu-buru, dia mulai dari ilmu keluarga Huang yang dia pelajari sejak dia masih sangat muda. Meskipun otot-ototnya masih belum pulih seperti sedia kala, tapi Ding Tao bisa merasakan semuanya bekerja dengan normal. Perlahan-lahan dia mulai meningkatkan kecepatan dan kekuatannya dalam melakukan jurus-jurus yang ada. Puas berlatih tanpa menggunakan hawa murni, Ding Tao pun mulai bergerak dengan jurus-jurus yang lebih rumit yang dia pelajari setelah dia menjadi Ketua Partai Pedang Keadilan. Semuanya bekerja dengan baik, semangatnya pun mulai meningkat. Teringat dengan titipan ilmu dari Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, maka Ding Tao pun mulai mencoba jurus-jurus yang belum pernah dia latih sebelumnya itu. Gerakannya memang masih kaku, namun dengan ingatan dan kepekaan perasaannya yang tajam, Ding Tao sudah mampu menangkap inti dari jurus-jurus yang digunakan Bhiksu Khongzhen. Meskipun tidak secepat dan setepat saat dia melatih jurus-jurus yang sudah dia kuasai, perbawa yang keluar justru lebih hebat, karena memang jurus-jurus ini adalah inti sari ilmu dari dua orang tokoh terbesar di masa itu. Tenggelam dalam latihannya, meski dia merasakan ada orang-orang yang datang mendekat, Ding Tao tak hendak menghentikan gerakannya. Lagipula dia masih belum berhasil meyakinkan benar ilmu yang baru dicobanya ini. Seperti anak kecil yang memutar-mutar tongkat besi yang berat, benar memang tenaga yang dihasilkan amat besar, semakin lama semakin besar, tapi jika berhenti mendadak atau lengah sedikit saja, maka akibatnya tongkat besi itu pun akan lepas dari tangan dan bergerak dengan liar. Demikian juga keadaan Ding Tao saat ini, baik dari segi pengerahan tenaga dan gerakan serta jurus, sudah hampir tepat benar sesuai dengan intinya, namun gerakan itu belum menyatu, belum melebur dengan dirinya. Jika dia lengah atau berhenti pada saat yang tidak tepat, niscaya tenaga besar yang ditimbulkan oleh ilmu itu akan memukul dirinya sendiri. Karena itu, kalaupun dia ingin berhenti, dia tidak berani melakukannya, tidak jika gerakannya belum selesai dilakukan sampai sempurna pada gerakan terakhir. Dalam hal ini Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang memang menghendaki ilmu itu diturunkan pada Ding Tao lewat serangan pura-pura mereka, sudah melakukan serangan dengan jurus-jurus yang urut dari awal hingga akhir. Sehingga Ding Tao pun sekarang tidaklah mengalami kesulitan untuk bergerak mengikuti ingatannya yang sudah kembali, mengikuti serangan-serangan yang dulu dilakukan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan secara urut dari awal hingga akhir. Satu per satu jurus dilakukan, bergantian antara jurus miliki Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, semuanya persis tiruan dari apa yang dialaminya saat bertarung melawan dua orang jagoan tua itu di Jiang Ling. Berselang-seling antara ilmu pedang dan ilmu pukulan, dilakukan dengan tangan kosong. Pada hakekatnya menggunakan senjata atau tidak, tidak ada bedanya dalam pelaksanaannya. Pedang menjadi perpanjangan tangan, pedang menjadi bagian tubuh. Ada orang ada pedang, meski pedang tidak ada di tangan, namun ada pedang dalam hati. Apa yang ditunjukkan Ding Tao hari ini membuat semua yang melihatnya merasa kagum. Dalam usia semuda itu, apa yang dia tunjukkan menempatkan dia dalam urutan tokoh-tokoh kelas satu dalam dunia persilatan. Akhirnya Ding Tao pun sampai pada akhir jurus yang dia lakukan, sebuah pohon tua yang sudah tumbuh puluhan tahun di halaman rumah itu menjadi sasaran ilmunya. Pohon raksasa itu pun tumbang dengan suara berderak keras, bagian yang terkena pukulan Ding Tao sudah hancur dalam keadaan remuk dan layu seperti kayu yang habis dimakan rayap.
"Hebat..."
"Dahsyat..."
"Mengerikan..."
"Selamat Ketua Ding Tao, sepertinya keadaanmu sudah pulih sepenuhnya."
Hampir bersamaan ke-enam guru Wang Shu Lin mengucapkan pujian sambil berjalan mendekat untuk melihat hasil pukulan Ding Tao. Sedikit memerah, Ding Tao menjawab.
"Tidak... tidak... ini... jurus yang diajarkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan padaku. Jurus yang hebat dan aku belum sepenuhnya menguasai jurus ini... sungguh jurus yang dahsyat bila sudah dikuasai dengan benar. Tapi juga sangat sulit untuk menguasainya, menggunakan jurus ini serasa seperti menunggang seekor kuda liar yang gagah."
"Oh begitu rupanya... menurut Ketua Ding Tao, apakah ketua bisa menguasainya dengan sempurna saat kita sampai di Desa Hotu, kukira jika memang ada sesuatu di sana, mempersiapkan diri sebaik mungkin sangatlah penting.", ujar Hu Ban sambil berjongkok memeriksa akibat pukulan Ding Tao pada batang pohon yang besar itu. Ding Tao ikut berjongkok dan memeriksa akibat dari pukulannya.
"Entahlah..., aku merasa dalam hatiku, jika jurus-jurus itu bisa kukuasai dengan sempurna, seharusnya seberapa besar daya hancurnya, seberapa luas pengaruhnya, semuanya seharusnya bisa aku tentukan sekehendak hatiku."
Terdiam sejenak Ding Tao kemudian berkata lagi.
"Aku merasa sangat baik, jauh lebih baik daripada yang kurasakan selama ini. Tapi... di saat yang sama... aku juga merasa otakku tidak bekerja sebaik saat aku mulai meminum Obat Dewa Pengetahuan. Aku merasa... normal... dalam artian yang rasanya benar dalam hati ini, tapi tidak bisa kusangkal, sebagian besar kemajuan yang kudapatkan dalam waktu yang singkat adalah berkat obat sesat itu."
"Tanpa obat itu, aku tak tahu, berapa tahun lamanya aku butuhkan untuk menyempurnakan jurus-jurus ini. Dan jika jurus ini tidak bisa kujalankan dengan sempurna, menggunakannya dalam sebuah pertarungan, tiada bedanya menunggangi seekor harimau yang lapar, setiap saat bisa saja terjadi jurus itu berbalik merugikan diriku sendiri.", kata Ding Tao dengan lambat-lambat, seakan memikirkan setiap kata-katanya baik-baik sebelum mengucapkannya. Mereka yang mendengar jawaban Ding Tao ikut tercenung, memang jurus-jurus yang diturunkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan adalah jurus-jurus yang dahsyat. Tidak mungkin seorang biasa, menyempurnakannya dalam hitungan bulan. Kedua orang tua itu pun butuh waktu belasan bahkan mungkin puluhan tahun untuk menyempurnakannya, setelah memeras puluhan jurus dan ilmu yang pernah mereka pelajari, menjadi belasan jurus saja. Bakat Ding Tao boleh jadi lebih menonjol dibandingkan orang lain seusianya, namun tentu bukan juga berkali lipat melampaui bakat dua orang tokoh besar itu.
"Kita lakukan semuanya perlahan-lahan saja, kesembuhan Ketua Ding Tao saat ini saja sudah merupakan suatu berkah yang tak terkira. Kita pikirkan langkah selanjutnya perlahan-lahan sembari kita menjalankan apa yang sudah pasti, seperti pergi ke Desa Hotu.", ujar Zhu Yanyan memecahkan keheningan. Mereka semua saling berpandangan lalu menganggukkan kepala, memang tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali berusaha melakukan yang terbaik.
"Ketua Ding Tao aku bisa membayangkan, kau pasti ingin sesegera mungkin menyempurnakan ilmu yang diwariskan kedua tetua. Tapi lakukan segalanya setahap demi setahap, ingat tubuh kasarmu baru saja mengalami penurunan yang luar biasa. Meski himpunan hawa murnimu tak terganggu, tapi alangkah baiknya jika kau pulihkan dulu tubuhmu perlahan-lahan sebelum berlatih dengan keras.", kata Zhu Yanyan kepada Ding Tao.
"Aku mengerti tetua, terima kasih untuk nasehatnya, aku akan mengingatnya baik-baik.", jawab Ding Tao dengan hormat.
"Jadi kapan sebaiknya kita mulai kembali perjalanan ke Desa Hotu?", tanya Khongti. Zhu Yanyan terdiam sejenak untuk berpikir kemudian menjawab.
"Baiklah kita beristirahat dua hari lagi, setelah itu perjalanan ke Desa Hotu bisa kita mulai. Dengan berjalan kaki di udara bebas, kesehatan Ketua Ding Tao juga akan cepat pulih. Yang penting lamanya perjalanan kita ukur sesuai dengan perkembangan kesehatan Ketua Ding Tao."
"Bagaimana menurut ketua?", tanya Khongti pada Ding Tao. Ding Tao pun mengangguk.
"Aku percaya pada penilaian tetua sekalian, kukira itu adalah satu rencana yang baik."
"Baik, kalau begitu sudah kita putuskan, kita tinggal di sini dua hari lagi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan.", ujar Zhu Yanyan disambut anggukan kepala oleh yang lain.
"Sebentar lagi makanan akan aku siapkan, tapi teh hangat bisa kusiapkan sekarang juga. Mari kita masuk kembali ke dalam rumah.", kata Wang Shu Lin sambil tersenyum lega melihat kesembuhan Ding Tao. Ding Tao pun tersenyum melihat kegembiraan gadis itu, tapi kemudian dia berkata.
"Kalian masuklah lebih dahulu, aku ingin berada di sini sebentar lagi. Masih ada beberapa hal yang mengganggu benakku."
"Ini mengenai ilmu silatku setelah lepas dari pengaruh Obat Dewa Pengetahuan.", cepat-cepat dia menambahkan.
"Hmm... baiklah kukira kau tentu ingin merenunginya sendirian, tapi ingat jangan terlalu memaksa tubuh fisikmu.", ujar Zhu Yanyan mengingatkan. Satu per satu mereka pun masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Ding Tao sendirian. Ding Tao kemudian mematahkan satu dahan pohon dan membersihkannya, meski secara kasar membentuknya seperti sebuah pedang. Puas dengan berat dan setelah menemukan titik kesetimbangannya, mulailah dia memainkan jurus-jurus pedang keluarga Huang. Kemudian beberapa jurus lain yang sempat dia pelajari, semuanya hanya gerakan-gerakan ringan tanpa pengerahan hawa murni. Semuanya bisa dia lakukan dengan lancar tanpa ada satu halangan sedikitpun, tapi entah mengapa masih ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Ding Tao. Sepertinya dia melupakan sesuatu yang penting, tapi belum bisa menemukan apa yang kurang itu. Merasa tubuhnya yang sudah lama tidak bekerja itu mulai kelelahan, Ding Tao pun menghentikan latihannya sambil menghela nafas dalam-dalam. Di sudut hati kecilnya, dia tahu ada sesuatu yang terlewatkan olehnya. Sesuatu yang penting, sesuatu yang akan sangat berpengaruh pada kemampuannya untuk menghadapi satu pertarungan besar, yang tentunya cepat atau lambat akan terjadi. Dengan langkah kaki yang sedikit berat, dengan satu ganjalan di hati, dia berjalan memasuki rumah untuk berkumpul dengan yang lain. Dengan keadaan Ding Tao yang membaik, perjalanan menuju ke Desa Hotu berjalan lebih cepat. Apalagi Ding Tao yang merasakan masih adanya ganjalan dengan pengaruh Obat Dewa Pengetahuan, ingin agar dia bisa secepatnya menghilangkan ganjalan di hati itu. Di Desa Hotu ada seorang tabib dan Ding Tao berharap bisa mendapatkan jawaban dari tabib itu. Bagaimana pun juga Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan mempercayai tabib itu. Berita tentang apa yang terjadi di dunia persilatan pun sampai ke telinga mereka. Kehebohan yang demikian tentu saja menyebar ke empat penjuru. Di mana ada orang persilatan, tentu akan mendengar berita itu. Kematian Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen dan berita terpilihnya Murong Yun Hua menjadi Wulin Mengzhu dengan dukungan lima perguruan besar. Berita-berita ini adalah berita besar. Dengan sendirinya Ding Tao juga menjadi salah satu berita yang menghebohkan. Untuk menghindari perhatian orang, Ding Tao pun harus menyamar. Baiknya semakin jauh mereka dari daerah selatan, semakin sedikit orang yang mengenali Ding Tao. Pemuda itu belum lama menjadi Wulin Mengzhu, sebagian besar tokoh di daerah selatan sudah mengenal pemuda itu dengan baik. Tapi mereka yang berasal dari utara, mungkin hanya satu kali melihat Ding Tao, yaitu saat pemilihan Wulin Mengzhu di kaki Gunung Songshan. Itu pun mungkin sekali hanya dari kejauhan dan dengan penampilannya sebagai seorang ketua dari partai yang besar. Meski demikian, tidak sedikit orang-orang yang menyelidiki keberadaan Ding Tao, entah mereka yang mencari jasa di depan Murong Yun Hua dan sekutunya, atau mereka yang ingin menjadi terkenal dengan menangkap Ding Tao. Mereka yang berambisi ini tentu saja bukan tokoh-tokoh sembarangan, setidaknya mereka pernah membuat nama, jika tidak mana berani mereka mencari perkara dengan orang yang diyakini berhasil mengalahkan dua orang jagoan terbesar di jaman itu. Mengingat hal itu, Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya sepaham dengan Ding Tao yang ingin secepatnya sampai ke Desa hotu. Tentu saja dengan alasan yang berbeda dengan alasan Ding Tao. Keamanan Ding Tao jadi alasan utama, karena itulah tanggung jawab yang dibebankan Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen pada mereka semua. Terkadang Ding Tao masih tidak percaya jika Murong Yun Hua-lah yang menjadi dalang dari semua kejadian. Dalam benaknya lebih mudah baginya untuk berpikir bahwa Zhong Weixia adalah dalang yang sebenarnya dari semua kejadian itu. Jika sudah demikian maka pemuda itu akan pergi menyendiri dan jadi sangat pendiam. Yang lain tidak berani mengganggunya, karena Ding Tao juga tidak meminta pertimbangan mereka. Beberapa kali Zhu Yanyan dan yang lain, meminta agar Ding Tao lebih terbuka bila ada masalah, tapi sampai saat itu Ding Tao tidak juga bisa membicarakannya secara terbuka. Tapi perjalanan itu bukan hanya dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang buruk dan kekhawatiran. Dalam perjalanan itu, baik Wang Shu Lin maupun Ding Tao tidak melupakan latihan mereka. Meski waktu yang ada tidaklah banyak, karena hampir sepanjang hari bahkan sampai malam, waktu yang ada mereka gunakan untuk menempuh perjalanan ke Desa Hotu. Kitab pemberian Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan sangat menarik hati Wang Shu Lin, tidak bosan-bosannya dia membaca dan merenungi kitab-kitab itu. Jika ada kesulitan maka dia akan datang bertanya pada enam orang gurunya.
"Guru... aku mengalami kesulitan untuk memahami bagian ini...", demikian suatu malam Wang Shu Lin mendatangi Zhu Yanyan yang sedang berkumpul dengan lima orang gurunya yang lain di dekat api unggun. Ding Tao baru saja berpamitan pergi untuk berlatih sendirian di tempat yang lebih lega. Sekilas guru-guru Wang Shu Lin saling berpandangan, Zhu Yanyan pun kemudian melihat pada halaman yang ditunjukkan Wang Shu Lin padanya dan bertanya.
"Hmm.. apa yang tidak kau mengerti?"
"Murid berpikir, gerakan ini sepertinya merupakan satu kesatuan dengan beberapa gerakan sebelumnya, posisi kedua tangan memungkinkan kita untuk bergerak memukul lurus ke depan, atau bergerak menebas ke samping atau bisa juga dalam keadaan tertentu dilanjutkan seperti jurus tangkapan pergelangan tangan.", ujar Wang Shu Lin.
"Hmm... benar, sepertinya pemikiranmu sudah benar, tapi mungkin kau merasa aneh dengan kedudukan kaki yang sedikit merapat ini, benarkah demikian?", tanya Zhu Yanyan.
"Benar guru..., posisi kedua tangan sepertinya memungkinkan perubahan gerak serang yang menjangkau jarak serang yang begitu bervariasi, namun posisi kedua kaki justru merapat dan tidak memungkinkan adanya variasi pergerakan yang begitu berbeda jaraknya.", kata Wang Shu Lin membenarkan dugaan Zhu Yanyan. Mengikuti tanya jawab itu, lima orang yang lain pun ikut membaca isi kitab yang diberikan Pendeta Chongxan untuk Wang Shu Lin itu. Melihat posisi kaki yang dibicarakan Zhu Yanyan dan Wang Shu Lin, Chen Taijiang pun menyeletuk.
"Itu seperti langkah kaki jurus monyet Shaolin yang biasa digunakan Kakak Khongti."
"Benar..., meskipun demikian ada sedikit perbedaan, Boxi, apakah kau melihat titik berat di kaki kiri dan kanan yang berbeda? Tidakkah ada salah satu jurus dalam ilmu milik Kongtong yang menggunakan variasi seperti itu?", jawab Khongti membenarkan Chen Taijiang sekaligus bertanya pada Pang Boxi. Pang Boxi mengamati gambar itu beberapa lama sebelum menjawab.
"Ya... kukira aku pernah melihat beberapa orang saudara seperguruan melatih ilmu langkah kaki yang mirip dengan gambar ini. Aku sendiri tidak mempelajarinya, aku lebih suka menggunakan jurus-jurus yang lurus tanpa banyak kembangan."
"Apakah tidak teringat sesuatu yang bisa membantu Shu Lin?", tanya Shu Sun Er pada Pang Boxi.
"Hmm... kalau benar ada kemiripannya dengan ilmu langkah kaki itu, tentu akan ada lebih banyak gambar yang menjelaskan perkembangannya. Yang kutahu, perbedaan titi berat yang dikatakan Kak Khongti menjadi kunci untuk memahaminya.", jawab Pang Boxi setelah berpikir beberapa lama.
"Nah Shu Lin, kau coba amati perbedaan titik berat yang dikatakan gurumu Khongti, kemudian lihat lagi gerakan-gerakan sebelum dan sesuhan gerakan ini. Mungkin kau akan mendapatkan petunjuknya nanti.", kata Shu Sun Er pada Wang Shu Lin.
"Benar, kau cobalah ikuti petunjuk guru-gurumu dan pelajari lagi kitab itu, jika masih tidak menemukan jalan keluar, bolehlah kau kembali bertanya pada kami.", kata Hu Ban pada Wang Shu Lin.
"Baik guru, sepertinya petunjuk guru akan memecahkan masalah ini, memang aku tidak terlalu memperhatikan masalah titik berat tubuh di kedua kaki seperti yang dikatakan Guru Khongti dan Guru Pang Boxi tadi.", jawab Wang Shu Lin dengan ceria, merasa ada jalan terbuka setelah sebelumnya membentur jalan buntu. Wang Shu Lin pun berpamitan dan pergi menyendiri untuk mempelajari isi kitab pemberian Pendeta Chongxan itu. Setelah gadis itu cukup jauh, barulah Hu Ban berkata.
"Sepertinya mereka berdua saling menghindar? Jika Ding Tao sedang ada bersama kita, pasti Shu Lin mencari-cari alasan untuk mengerjakan sesuatu. Demikian juga sebaliknya.", ujar Hu Ban.
"Bukan sepertinya lagi, selama perjalanan Shu Lin selalu saja menempel padaku, sudah seperti anak kecil saja.", sahut Shu Sun Er.
"Heh... dan Ding Tao bersikap sangat sopan padanya, benar-benar membikin aku gemas saja.", tambah Khongti menyahut. Zhu Yanyan menghela nafas.
"Sudahlah urusan anak muda, kita yang tua jangan ikut-ikutan, nanti malah membuat mereka makin serba salah. Biar saja mereka selesaikan sendiri, kita cukup ikut mengamati dari jauh saja."
"Sudah kubilang pada Shu Lin, jika Ding Tao ingat apa yang terjadi selama dia kehilangan daya pikirnya, tentu akan timbul keadaan seperti sekarang ini. Shu Lin merasa jengah, demikian juga Ding Tao.", keluh Shu Sun Er.
"Masalah ini, Ding Tao saja yang terlalu malu-malu.", kata Pang Boxi sambil mendengus keras.
"Lebih baik begitu daripada dirimu, bukannya malu-malu tapi memalukan", sahut Khongti sambil terkekeh-kekeh. Pang Boxi yang kena semprot, karuan saja menggerutu panjang lebar, disambut tawa yang lain. Suasana yang tadinya mendung jadi cerah kembali gara-gara ucapan Khongti. Setelah reda tawa mereka semua Khongti pun berucap lagi.
"Yang penting kulihat baik Shu Lin maupun Ding Tao masih berjalan sesuai nilai-nilai yang benar, Shu Lin masih bisa menjaga kehormatannya dan Ding Tao juga seorang pemuda yang jujur dan tidak memanfaatkan kesempatan dalam kondisi Shu Lin saat ini."
"Kak Khongti benar, tentang masalah hati, biarlah pelan-pelan terurai sendiri. Yang terpenting keduanya tidak melupakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam situasi apa pun mereka masih mengedepankan nurani mereka dan tidak mengikuti keinginan nafsu orang muda.", ujar Chen Taijiang membenarkan.
"Kau bilang nafsu orang muda, apa kau sendiri sudah tidak memiliki keinginan sedikitpun?", tiba-tiba Khongti bertanya. Wajah Chen Taijiang pun berkerenyit sedih, tapi dia tidak kurang akal untuk menjawab.
"Memang kubilang nafsu orang muda, tentang diriku sendiri, apa pernah kubilang kalau aku sudah tua. Wajahku boleh tua, tapi semangat masih anak muda."
Ucapan Chen Taijiang yang berlawanan dengan raut mukanya itu sudah tentu membuat mereka yang mendengarnya jadi geli dan tertawa terbahak-bahak.
Nun jauh di sana, baik Wang Shu Lin dan Ding Tao yang sedang berlatih, mendengar suara tawa mereka.
Ya, selain memikirkan Murong Yun Hua, ingatan tentang kemesraan yang sempat ditunjukkan Wang Shu Lin juga ikut mengisi pikiran Ding Tao.
Dalam hati sempat pula Ding Tao bertanya dengan wajah bersemu dadu dan dada berdebar.
"Ah... siapa pula yang mereka tertawakan? Jangan-jangan mereka sedang membicarakan aku dan Nona Wang Shu Lin."
Teringat dengan Wang Shu Lin, Ding Tao pun berhenti berlatih, ingatannya kembali pada masa-masa, di mana dia menganggap gadis itu sebagai isterinya.
Dalam keadaan ingatannya yang sudah kembali pulih, dapatlah dia mengerti, betapa dia sudah mencampur adukkan antara kemesraan yang pernah dia jalani bersama Murong Yun Hua dengan kesalah pahaman bahwa Wang Shu Lin adalah isterinya.
Tapi di lubuk hatinya yang terdalam dia pun bertanya-tanya, benarkah hanya demikian?
Ataukah sebagian dari hatinya sudah terpikat pula dengan kecantikan dan kelembutan gadis itu?
Terutama dengan kebaikannya saat dia merawat Ding Tao dengan penuh kesabaran.
Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya, ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan masalah asmara.
"Nona Wang Shu Lin juga pasti mengerti, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuknya...", pikir Ding Tao. Tiba-tiba Ding Tao pun menampar mukanya sendiri.
"Bodoh, apa pula yang kupikirkan ini? Beraninya aku berpikir kalau Nona Wang Shu Lin memiliki perasaan untukku. Semua yang dia lakukan adalah untuk membantuku melewati masa-masa yang sulit. Keluar dari kebaikan hatinya, tidak lebih dan tidak kurang. Aku yang sudah mengkhianati kesetiaan Ying Ying, mana mungkin dia menaruh hati padaku."
"Ah... Ying Ying... Yun Hua..., mungkin sudah sepantasnya aku dikhianati Yun Hua, itu pembalasan yang pantas buatku... tapi mengapa harus sampai mengorbankan saudara-saudara yang lain...", pikir Ding Tao dengan sedih.
"Yun Hua..., aku masih belum bisa menerima bahwa dia yang ada di balik semua kekejian ini. Tapi apakah dia yang menjadi otak di balik semuanya atau hanya menjadi diperalat oleh seseorang, aku tidak boleh membiarkan mereka menguasai dunia persilatan demi ambisi mereka pribadi."
"Tidak ada waktu untuk memikirkan masalah asmara!", geram pemuda itu pada dirinya sendiri. Ding Tao pun menghela nafas, malam sudah semakin larut, latihannya tidak menunjukkan ada masalah pada dirinya. Dengan mudah dia menjalankan jurus-jurus yang sudah pernah dia kuasai. Tentang ilmu warisan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, meski Ding Tao mengalami kesulitan, tapi setiap saat dia bisa merasakan adanya kemajuan. Tidak secepat saat dia masih berada di bawah pengaruh Obat Dewa Pengetahuan, tapi pemuda itu tidak sampai menemui jalan buntu dalam latihannya. Dia tahu tak mungkin dia bisa menguasainya secara sempurna pada saat pertemuan lima tahunan akan diadakan, tapi Ding Tao memiliki keyakinan bahwa setidaknya dia akan bisa menggunakan ilmu itu bila dia berhati-hati. Jika terpaksa dia bisa menggunakannya dengan kekuatan penuh, meski hal itu akan membahayakan dirinya sendiri selain membahayakan lawan. Ding Tao berpikir dia perlu waktu beberapa minggu lagi, sebelum dia akan meminta salah satu guru Wang Shu Lin untuk menjadi lawan latih tandingnya, di mana dia akan mencoba menggunakan ilmu yang dia dapatkan dari Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen, dengan pengerahan tenaga yang terukur. Perlahan Ding Tao menyusuti keringat yang membasahi tubuhnya, kemudian mencari tempat yang nyaman untuk bersila dan mulai bermeditasi. Bukan saja untuk meningkatkan penguasaannya atas himpuanan hawa murninya yang melonjak pesat, tapi lebih utama lagi, dia ingin menenangkan pikirannya. Membersihkannya dari segala beban pikiran yang tidak perlu. Satu malam dari sekian banyak malam-malam lain dalam perjalanan mereka ke Desa Hotu. Perjalanan mereka bisa dikatakan berjalan tanpa halangan, hanya dua atau tiga kali mereka bertemu sekelompok orang yang sedang mencari Ding Tao. Tapi mereka sama sekali tidak memberikan kesulitan yang berarti, dengan kembalinya kemampuan Ding Tao ditambah dengan Wang Shu Lin dan enam orang gurunya, dengan mudah mereka mengalahkan lawan-lawan yang berusaha menghadang mereka. Demi menghilangkan jejak, maka Ding Tao dan kawan-kawannya harus mengeraskan hati dan tidak melepaskan seorang pun hidup-hidup. Semuanya itu menambah beban di hati Ding Tao, meski hal itu dengan mudah bisa dijawab oleh akal sehatnya.
"Bukan kita yang mencari masalah, tapi mereka sendiri yang mencari kematian.", ujar Pang Boxi dengan tegas saat dia melihat wajah Ding Tao yang murung setelah mereka baru saja menguburkan lawan-lawan mereka. Seorang dari mereka yang baru saja terbunuh, masih sangat muda, hampir seumur dengan Ding Tao dan Ding Tao bisa membayangkan kehidupan yang baru saja terbentang di hadapan lawannya itu. Ding Tao tidak membantah Pang Boxi, diapun bisa mengerti apa yang dimaksudkan Pang Boxi. Pemuda itu sudah memilih jalannya, dengan segala resiko yang ada, termasuk kematian. Ding Tao menghela nafas dan bergumam, bertanya.
"Apakah kekuasaan dan ketenaran yang memikat dirinya? Atau keinginan untuk menegakkan kebenaran?"
Khongti menjawab dengan tegas.
"Kukira yang pertama, mereka bukan dari Shaolin, bukan pula berasal dari Wudang, karena jika tidak tentu aku atau Kak Zhu Yanyan akan mengenal ilmu yang mereka perguanakan. Jika mereka bagian dari keluarga Huang tentu kau mengenalnya. Atas alasan apa mereka mengejarmu, jika bukan sedang mencari nama."
Zhu Yanyan lebih bersimpati pada Ding Tao dibanding saudara-saudaranya yang lain.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi inilah kenyataan dalam dunia persilatan. Orang-orang seperti mereka ada puluhan bahkan ratusan jumlahnya. Sebagian besar dari mereka mati terbunuh sebelum sempat mencapai apa yang mereka inginkan."
"Ketua Ding Tao mungkin tidak banyak berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Tapi aku yakin pengikut-pengikut Ketua Ding Tao banyak berjumpa dengan orang-orang seperti mereka. Yang sampai berhadapan dengan Ketua Ding Tao sendiri, tentu hanya dedengkot-dedengkot saja dan cara mereka jauh lebih halus dan banayk perhitungan.", sambung Hu Ban dengan tenang. Ding Tao pun terdiam dan berpikir, selama dia menjadi ketua dari Partai Pedang Keadilan, memang yang lebih banyak dia lakukan adalah berlatih ilmu silat siang dan malam. Hampir seluruh urusan dikerjakan oleh para pengikutnya. Ding Tao pun menyadari betapa naifnya dia selama ini, yang dia tahu hanyalah laporan dari Chou Liang dan yang lain, bahwa masalah sudah diselesaikan. Ada berapa nyawa yang hilang dalam satu laporan yang pendek itu? Semakin lama dia berpikir, semakin dia merasa malu atas kebodohannya selama ini. Banyak sekali yang harus dipikirkan Ding Tao selama perjalanannya ke Desa Hotu, hingga pemuda itu pun mengalami banyak perubahan pada cara berpikirnya. Mendekati mereka sampai ke perbatasan, Ding Tao sudah bisa menerima kenyataan bahwa kemungkinan besar, Murong Yun Hua-lah yang menjadi dalang dibalik semuanya. Di saat yang sama, ada satu penemuan yang sedikit membesarkan hati pemuda itu, sekaligus membuat dia terharu akan kesetiaan pengikut-pengikutnya yang sudah pergi mendahului dia. Waktu itu tinggal dua hari lagi sebelum mereka akan melewati perbatasan. Sudah sejak beberapa hari sebelumnya, Hu Ban dan Khongti memberi kisikan bahwa sepertinya ada beberapa orang yang sedang mengikuti mereka. Setelah mendapatkan peringatan itu, mereka pun menajamkan pengamatan mereka dan memang benar, ada beberapa orang yang tampak mencurigakan. Sudah terbayang dalam benak Ding Tao, sebentar lagi mereka harus melenyapkan nyawa beberapa orang demi menyembunyikan jejak mereka. Dengan hati berat dia pun memulai perjalanan hari itu, pada malam sebelumnya mereka sudah menentukan jalur yang akan mereka tempuh hari itu. Ada beberapa tempat yang bagus untuk menghadang orang, entah mereka yang akan dihadang atau mereka yang akan lebih dahulu menghadang orang, tergantung situasi nanti. Keduanya sama saja, meski dalam hati Ding Tao, dia lebih memilih untuk dihadang orang daripada menghadang orang. Sebenarnya jika bisa dia ingin memberi kelonggaran pada orang, seandainya bisa dia tidak ingin membunuh mereka. Tapi kalaupun mereka membatalkan keinginan mereka untuk berusaha menangkap Ding Tao, Ding Tao dan rekan-rekan yang lain tidak mungkin membiarkan ada kemungkinan jejak mereka sampai bocor. Jadi entah mereka akan memanfaatkan jalan yang sepi untuk menghadang Ding Tao atau Ding Tao yang harus menghadang mereka, nyawa mereka harus lenyap hari itu juga. Meski tidak menyukainya Ding Tao tidak lari dari kenyataan, di saat yang sama dia juga tidak serta merta menerimanya sebagai satu kewajaran. Ding Tao merenungkan keadaannya, dia bergumul dengan konflik antara dua hal yang bertentangan ini. Terkadang dia berpendapat, reputasi, nama besar, menjadi ahli pedang nomor satu, mungkin bisa membuat dia terhindar dari masalah ini. Di lain pihak, Ding Tao juga sadar reputasi dan nama besar, mengundang orang untuk merebutnya. Apakah seseorang yang terjun dalam dunia persilatan, sama artinya dengan mengikuti arus bunuh membunuh yang tiada hentinya sampai mereka meninggalkan dunia itu? Entah lewat acara cuci tangan di baskom emas, atau meninggalkannya dengan tubuh dingin tak bernyawa. Bahkan pada akhir hidupnya tokoh sebesar Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen pun tak bisa lepas dari lingkaran bunuh membunuh itu, meski selama belasan bahkan puluhan tahun sepertinya mereka sudah bisa lepas dari jeratan itu. Sekarang Ding Tao sudah terjerat dalam lingkaran yang tidak dia inginkan. Dia menyadari betul hal itu sekarang ini, sebelum pengkhianatan Murong Yun Hua, dengan naifnya dia menyangka dia tidak ikut terjerat dalam lingkaran bunuh membunuh yang tidak ada habisnya. Tapi sekarang matanya sudah terbuka, meski tangannya tidak ikut berlumuran darah, secara tidak langsung dia sudah berada dalam lingkaran itu bahkan jauh sebelum dia menjadi ketua dari Partai Pedang Keadilan. Dia sudah mulai terjerat begitu dia mendapatkan Pedang Angin Berbisik dari Wang Chen Jin. Bukankah saat dia melarikan diri dari Wuling dia sudah mulai melumuri tangannya dengan darah? Tapi untuk sekilas dia seperti mendapatkan harapan, saat dia berhasil mengubah lawan menjadi kawan, saat dia bertarung untuk kedua kalinya dengan Sepasang Ibils Muka Giok. Adakah sebuah ilmu, untuk mengalahkan lawan tanpa harus membunuhnya? Mungkinkah dia sampai pada tingkatan setinggi itu atau tidak ada tingkatan setinggi itu? Tanpa pedang di tangan, ada pedang di hati? Apakah itu tingkatan yang tertinggi yang bisa dicapai seseorang? Tapi itu artinya, dia semakin lihai dalam membunuh lawan-lawannya, bahkan ketika tidak ada pedang di tangan pun dia bisa membunuh lawannya dalam satu tebasan yang tidak terlihat. Sejak melihat jurus-jurus yang disarikan dari ilmu Shaolin dan Wudang, yang dia warisi dari Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan lewat sebuah pertarungan. Pikiran Ding Tao mulai terbuka pada tahap akhir, yang banyak dikatakan para tetua dan tokoh-tokoh dunia persilatan, namun hanya beberapa orang dalam puluhan generasi yang bisa dikatakan telah benar-benar sampai pada tahap itu. Tokoh-tokoh yang dalam sejarah kehidupannya hampir-hampir tak pernah terkalahkan dalam setiap pertarungan. Sekalipun demikian keraguan mulai merasuki hati Ding Tao. Kali ini dia tidak memiliki seorang guru, di mana dia bisa bertanya, apakah dia sudah sampai pada tahap itu atau belum. Hanya penilaiannya pada diri sendiri saja yang bisa memutuskan, adakah dia benar-benar sampai di sana atau belum. Ini adalah perjalanan menuju ke daerah, di mana tidak ada orang lain yang pernah sampai ke sana. Seandainya Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan masih hidup, mungkin akan berbeda, Ding Tao masih bisa bertanya pada mereka. Dua orang tetua yang dipercaya telah sampai di tahap itu, meski mereka berdua sendiri belum pernah mengakuinya. Setiap kali dia dihadapkan pada situasi di mana dia harus membunuh atau dibunuh, seperti saat ini, tentu pertanyaan yang sama akan bergema di benaknya. Zhu Yanyan dan guru-guru Wang Shu Lin yang lain pun tidak bisa membantu Ding Tao untuk memberikan jawaban yang memuaskan. Beberapa hari terakhir Ding Tao lebih sering menyendiri, pergumulan batinnya ini bahkan lebih menyita tenaga dan pikiran dibandingkan hal-hal lainnya. Ini bukan kehidupan yang dia inginkan, tapi bila dia menghindarinya, sama juga artinya dia memilih menjadi manusia yang tidak mengenal budi. Itu pun bukanlah jenis kehidupan yang dia inginkan. Sembari bergumul dengan dirinya sendiri, akhirnya Ding Tao dan yang lain pun sampai di bagian yang sepi dari jalan yang mereka pilih. Ding Tao, Wang Shu Lin dan Zhu Yanyan berjalan bertiga saja, sementara yang lain bergerak dengan hati-hati membayangi mereka berdua dan seperti yang mereka harapkan, orang-orang mencurigakan yang sudah mengikuti mereka selama berhari-hari muncul. Otot dan syaraf Ding Tao sudah menegang, bukan karena rasa takut, juga bukan karena dia bersiap untuk bertarung. Ding Tao tidak merasakan tekanan seperti saat dia menghadapi lawan yang setanding. Nalurinya mengatakan dia bisa mengalahkan mereka dengan cepat. Ketegangannya muncul karena dia tahu apa yang harus dia lakukan setelah dia mengalahkan mereka, karena tidak cukup hanya dengan mengalahkan lawannya, dia harus bertindak lebih jauh lagi. Tapi tiba-tiba terjadilah hal yang mengejutkan, belasan orang yang menghadang jalan mereka itu tiba-tiba meletakkan senjata mereka di tanah dan membungkuk hormat di depan Ding Tao, serempak mereka berkata.
"Hormat pada Ketua Ding Tao."
Tertegun di tempatnya Ding Tao membalas penghormatan mereka dengan hati-hati.
"Salam saudara, bolehkah aku tahu apa alasan kalian menghadang jalan kami?"
Salah seorang dari mereka maju ke depan dan berkata.
"Ketua Ding Tao, namaku Shin Su, kami semua adalah bagian dari Partai Pedang Keadilan yang dirahasiakan dari semua orang, termasuk dari Ketua Ding Tao sendiri."
"Tunggu, apa maksud kalian bagian rahasia dari Partai Pedang Keadilan? Apakah maksud kalian, kalian termasuk bawahan Guru Chen Wuxi? Dan mengapa aku tidak tahu tentang kalian?", tanya Ding Tao tak mengerti. Sementara Zhu Yanyan dan yang lain pun cukup terkejut dengan perkembangan ini dan hanya diam mendengarkan di tempat masing-masing. Mereka yang bersembunyi, tetap menunggu perkembangan selanjutnya.
"Bukan, kami bukan bagian dari organisasi rahasia di bawah Guru Chen Wuxi. Kami dibentuk secara rahasia oleh Tuan Chou Liang dan hanya Tuan Chou Liang sendiri yang tahu tentang keberadaan kami.", jawab Shin Su.
"Tuan Chou Liang berpendapat bahwa, meski segala sesuatunya terlihat berjalan lancar, Partai Pedang Keadilan harus punya satu rencana untuk menghadapi segala macam keadaan, termasuk keadaan terburuk sekalipun. Karena itu diam-diam dia memilih dan mencari 50 orang dan melatih mereka diam-diam. Tidak ada seorang pun yang tahu mengenai keberadaan kami kecuali Tuan Chou Liang seorang.", ujar Shin Su menjelaskan. Ding Tao pun menggelengkan kepala tak percaya.
"Bagaimana mungkin Chou Liang bisa melatih kalian? Sementara dia sendiri baru-baru saja sedikit belajar mengenai ilmu silat?"
Terlihat wajah Shin Su sedikit tersipu dan dia menjawab.
"Kami pun demikian, sebelum Tuan Chou Liang merekrut kami, sebagian besar dari kami tidak paham sedikitpun dengan ilmu silat, sejak dipilih hingga sekarang, kira-kira lamanya barulah setengah tahun kami berlatih dan apa yang kami bisa, hanyalah satu pelajaran dasar yang terus diulang-ulang. Hanya diriku sendiri yang pernah belajar selama beberapa tahun sebelum Tuan Chou Liang merekrutku menjadi bagian dari kelompok ini."
"Oh... rupanya demikian...", ujar Ding Tao tanpa bermaksud menghina.
"Tapi Ketua Ding Tao, apa yang tidak kami miliki dalam hal ilmu silat, kami memiliki kelebihan dalam bergerak secara rahasia, mengumpulkan informasi, menggunakan racun dan di atas segalanya, kami dilatih untuk berpikir dengan cepat, terperinci dan beradaptasi dengan segala macam situasi.", ujar Shin Su cepat-cepat, seakan takut membuat Ding Tao kecewa.
"Ya..., ya..., aku yakin Chou Liang tidak sembarangan membentuk satu kelompok khusus seperti kalian. Hanya saja..., ini sungguh di luar dugaan. Adakah kalian memiliki satu tanda untuk membuktikan kebenaran perkataan kalian?", ujar Ding Tao dengan hati-hati. Mendengar pertanyaan Ding Tao, wajah Shin Su menjadi sedikit lebih cerah, cepat dia maju dan memberikan satu surat pada Ding Tao.
"Tuan Chou Liang tidak pernah berharap, kami akan bertemu muka dengan Ketua Ding Tao, karena itu artinya telah terjadi sesuatu pada Tuan Chou Liang dan juga orang-orang kepercayaan Ketua Ding Tao yang terpercaya."
"Seharusnya jika terjadi sesuatu pada Tuan Chou Liang, sehingga dia tidak bisa meneruskan kewajibannya pada Ketua Ding Tao, kami harus pergi terlebih dahulu pada Nyonya Murong Yun Hua, Tuan Ma Sonquan, lalu di urutan berikutnya, Tuan Pendeta Liu Chuncao, Tuan Fu Tong dan Tuan Wang Xiaho. Tapi sekarang...", Shin Su pun tidak berani melanjutkan ucapannya. Ding Tao mengangguk dengan sedih, tapi mereka semua sekarang telah mati dan yang masih hidup adalah pengkhianat dari Partai Pedang Keadilan, demikian pikirnya dengan sedih. Perlahan-lahan dibukanya surat yang diberikan Shin Su, jelas sekali itu adalah tulisan Chou Liang, di dalamnya Chou Liang menjelaskan kelompok rahasia yang dia bentuk itu, satu senjata rahasia terakhir bagi Partai Pedang Keadilan. Seharusnya kelompok itu akan terus dilatih sampai menjadi kelompok elit dalam Partai Pedang Keadilan. Mereka memang sepenuhnya akan berada dalam kekuasaan Chou Liang dan di luar tahu semua anggota yang lain termasuk Ding Tao sendiri. Hanya bila terjadi sesuatu dengan dirinya, mereka akan membuka diri pada orang-orang yang sudah dipilih Chou Liang untuk menggantikan dirinya. Jumlah orang-orang ini sendiri sangatlah sedikit dan mereka adalah orang-orang yang sudah diperiksa Chou Liang berkali-kali sampai Chou Liang benar-benar merasa yakin pada kesetiaan mereka terhadap Ding Tao. Dengan demikian, bahkan bila terjadi kebocoran yang hebat, di mana kelompok rahasia yang berada di bawah Guru Chen Wuxi ikut terbongkar, selama masih ada pimpinan dari Partai Pedang Keadilan yang hidup, mereka masih ada kekuatan yang tersimpan untuk menjadi modal bagi mereka bangkit kembali. Selain menjelaskan tentang keberadaan mereka dan tujuan dibentuknya kelompok ini, Chou Liang masih menyertakan beberap hal yang hanya diketahui Chou Liang dan Ding Tao sebagai bukti bahwa surat ini benar-benar berasal dari Chou Liang. Membaca surat dari Chou Liang itu, Ding Tao pun merasa sangat terharu. Betapa dia memiliki pemikiran yang jauh ke depan dan begitu teliti, hingga untuk keadaan yang di luar dugaan pun, Chou Liang sudah mempunyai satu persiapan. Lama Ding Tao terdiam dan menyesali kebebalannya selama ini, tidak seharusnya ada orang-orang berbakat seperti Chou Liang, yang sampai kehilangan nyawa karena ketidak mampuannya untuk menjadi ketua dari sebuah perkumpulan yang besar. Selama menjadi ketua, yang dia tahu hanyalah berlatih ilmu silat saja. Chou Liang dan yang lainnyalah, yang berpikir dan bekerja untuk membentuk dasar bangunan dari perkumpulan yang mereka dirikan. Mengeluhlah Ding Tao perlahan.
"Ah... sungguh aku ini tidak pantas kalian panggil sebagai ketua... Chou Liang... Chou Liang... seharusnya kaulah yang menjadi ketua... aku ini lebih pantas menjadi pesuruhmu saja."
Mendengar keluhan Ding Tao, Shin Su cepat menjawab.
"Tidak..., itu tidak benar. Tentang hal ini pun Tuan Chou Liang sudah pernah membahasnya dengan kami. Ketua Ding Tao memiliki jiwa yang besar yang diperlukan sebagai seorang pemimpin. Kekurangan Ketua Ding Tao adalah ketidak mampuan atau ketidak mauan Ketua Ding Tao untuk melihat dunia dan orang-orang dengan pandangan yang lebih dekat pada kenyataan. Ketua Ding Tao memiliki impian, memiliki satu gambaran akan dunia yang ideal."
"Hal itu diperlukan seorang pemimpin, tapi dia tidak akan menjadi pemimpin yang baik jika dia tidak mau melihat kenyataan yang sebenarnya. Dia hanya akan menjadi seorang pemimpi, bukan pemimpin. Tapi Tuan Chou Liang percaya, dengan berjalannya waktu Ketua Ding Tao akan sampai pada pengertian yang benar. Tahu yang mana impian dan mana yang kenyataan, baru setelah itu, Ketua Ding Tao akan mulai berpikir, bagaimana untuk mencapai yang diimpikan dari apa yang ada dan nyata saat ini.", ucap Shin Su panjang lebar menjelaskan, dari cara dia menjelaskan terlihat jelas bagaimana Chou Liang berhasil menanamkan keyakinan itu pada orang-orang pilihannya. Di sini terlihat kelebihan Chou Liang, dia tahu bagaimana menilai orang, tahu orang seperti apa yang harus dia pilih dan dia tahu pula cara membentuk mereka menjadi orang-orang pilihan yang sesuai dengan apa yang dia butuhkan.
"Tuan Chou Liang juga berkata, jika sampai kami pada situasi di mana kami harus menemui Ketua Ding Tao, maka pada hari itu, tentunya apa yang dialami Ketua Ding Tao akan membuat Ketua Ding Tao satu langkah lagi lebih dewasa dan lebih siap untuk menjadi ketua yang sebenarnya dari Partai Pedang Keadilan.", ujar Shin Su setelah membiarkan Ding Tao terdiam dan berpikir sendiri beberapa lama. Mendengar uraian Shin Su, Ding Tao seakan mendapatkan satu kekuatan baru. Apa yang dia gumuli selama ini, memang dia belum mendapatkan jawabannya. Tapi satu hal yang dia tahu, dia tidak boleh lari dari tugas dan tanggung jawabnya. Dia memang belum bisa melepaskan diri dari lingkaran bunuh membunuh yang menghiasi dunia persilatan. Tapi menghilang dari dunia persilatan dan lari dari tanggung jawab yang dia pikul, bukanlah jawabannya. Ada orang-orang yang sudah mempercayakan hal itu padanya dan mereka saat ini sudah tidak hidup lagi di dunia ini untuk melakukan perubahan. Apa pun yang membuat mereka memilih untuk mengikuti dirinya, sekarang mereka bahkan sudah tidak bisa memilih lagi.Kemudian, di depannya masih ada orang-orang yang melanjutkan impian yang sama dan mereka ini pun menaruh harapan di pundaknya. Dia tidak akan bisa melepaskan diri dari beban ini tanpa melanggar hati nuraninya sendiri. Dia berhutang pada Chou Liang, Ma Songquan dan yang lain. Dia berhutang pula pada Shin Su dan kawan-kawannya. Lalu datanglah perubahan itu, perubahan itu tidak terlihat dengan mencolok, namun mereka yang saat itu berada di tempat itu dan menyaksikan peristiwa itu, bisa merasakan perubahan yang terjadi pada diri Ding Tao.
"Shin Su..., dari surat ini dan dari yang kalian katakan, jumlah kalian seluruhnya ada 50 orang, benarkah itu?", tanya Ding Tao.
"Benar, benar sekali Ketua.", jawab Shin Su dengan bersemangat, dia pun bisa merasakan perubahan yang sedang terjadi dalam diri Ding Tao.
"Baiklah, perintah pertamaku pada kalian, usahakan sebaiknya agar jumlah itu tidak berkurang. Aku tidak mau ada satu korban pun yang jatuh dari kelompok kalian.", ujar Ding Tao dengan berwibawa.
"Kami mengerti ketua", jawab Shin Su dengan terharu. Ding Tao terdiam sejenak, dia seperti berusaha memahami apa yang sebenarnya dirasakan Shin Su dan kawan-kawannya, kemudian dia berkata pula.
"Tidak, kau belum benar-benar mengerti. Ini bukan hanya karena aku menganggap kalian sebagai kawan seperjuangan, yang sesungguhnya memang itu yang kurasakan. Tidak, bukan karena itu aku meminta kalian untuk menjaga agar tidak ada satu pun korban yang jatuh dari antara kalian."
"Karena pengorbanan itu sesuatu yang pasti akan terjadi. Hal itu sudah terjadi dan akan terjadi lagi, dalam sebuah perjuangan korban nyawa adalah sesuatu yang sulit dihindari. Meski aku tidak menginginkannya terjadi.", ujar Ding Tao sembari mengenang kematian mereka yang telah berkorban demi dirinya.
"Aku memerintahkan hal itu pada kalian, karena saat ini kekuatan kita sangatlah lemah. Aku membutuhkan tiap-tiap kalian, aku tidak mau satu pun dari kalian berkurang, kecuali telah tiba saatnya kita bersama-sama mengadu nyawa dengan lawan.", ujar Ding Tao sambil matanya bergerak memandang mereka yang ada di hadapannya seorang demi seorang.
"Mengertikah kalian?", tanyanya dengan lantang. Dan mereka pun menjawab dengan penuh semangat.
"Kami mengerti Ketua!"
"Bagus, sekarang aku hendak bertanya pada kalian, dari mana kalian bisa mengendus jejak kami?", tanya Ding Tao pada mereka.
"Sejak awal terjadinya peristiwa di Jiang Ling, kami selalu mengendus-endus kabar yang berkaitan dengan menghilangnya Ketua Ding Tao.", ujar Shin Su memulai penjelasannya.
"Beberapa minggu yang lalu, kami mulai mendengar kabar tentang menghilangnya sekelompok orang yang berusaha mencari nama dengan membunuh Ketua Ding Tao. Kemudian desas-desus yang sama kami dengar beberapa kali lagi. Ketika kami memeriksa di mana terakhir kali kelompok-kelompok itu terlihat, maka kami melihat adanya satu pola."
"Menganalisa pola itu, kami melihat ada satu kemungkinan bahwa Ketua Ding Tao dan mereka yang membantu ketua bergerak ke arah perbatasan di utara, jadi kami pun berangkat dan berusaha menelusuri jejak Ketua dan memperkirakan jalur yang ketua ambil dari pola yang kami dapat tersebut.", jawab Shin Su menjelaskan, dari cara dia menjelaskan, terlihat jelas dia cukup merasa bangga dengan hasil pemikirannya dan kawan-kawannya. Ding Tao pun merasa kagum dengan penalaran mereka, sekaligus khawatir.
"Bagus sekali pemikiran kalian..., hmm... tapi jika kalian bisa mengendus jejak kami, lawan-lawan kita pun bukan anak kemarin sore. Terbukti lebih dari satu kali kami dipergoki orang.", ujar Ding Tao sembari berpikir. Hal yang sama sudah beberapa kali dibicarakan, namun hal itu tidaklah terelakkan, mereka sudah mencoba mengambil jalan memutar, tidak mungkin mereka terus berputar-putar karena semakin lama mereka sampai ke perbatasan semakin kecil pula peluang mereka untuk mencegah Murong Yun Hua berkuasa.
"Ketua Ding Tao jangan kuatir, kamipun sudah memikirkan hal itu, jadi sudah beberapa lama ini, kami membagi tugas dan dengan sengaja menyebarkan pula desas-desus palsu yang mengaburkan jejak Ketua Ding Tao.", ujar Shin Su, sekali lagi dengan rasa bangga.
"Benar ketua, bahkan ada dua kali kami berhasil melenyapkan kelompok yang serupa di daerah yang menyimpang dari arah perjalanan ketua.", ujar seorang yang lain, diikuti anggukan kepala Shin Su dengan penuh semangat. Mendengar jawaban Shin Su itu pun wajah Ding Tao dan Zhu Yanyan menjadi cerah.
"Bagus, bagus sekali, kalian benar-benar kelompok bentukan Saudara Chou Liang, otak kalian sungguh lincah.", puji Ding Tao membuat dada setiap pengikutnya mengembang oleh rasa bangga.
"Bagus, kalau begitu masalahnya jadi lebih mudah. Nah dengarkanlah kalian semua, kami saat ini sedang menuju ke Desa Hotu yang berada di luar perbatasan. Ini semua sesuai dengan amanah dari Tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Setelah kalian tahu ini, tentu kalian tahu dan menentukan sendiri, di mana dan dengan cara apa bisa berhubungan dengan kami.", ujar Ding Tao.
"Baik ketua, kami mengerti", ucap Shin Su.
"Bagus, nah sekarang aku memiliki beberapa tugas untuk kalian.", ujar Ding Tao lagi.
"Kami siap melaksanakan", jawab Shin Su dengan tegas.
"Yang pertama, aku ingin kalian meneruskan usaha kalian untuk mengaburkan keberadaan kami. Aku percayakan tentang bagaimana caranya pada kalian semua."
"Yang kedua, ada satu surat untukku dari Tabib Shao Yong, yang aku yakin akan menarik bagi kalian. Seperti yang nanti kalian baca dalam surat ini, kita memiliki saksi kunci yang mungkin bisa kita gunakan. Aku ingin kalian secara berhati-hati, berusaha memeriksa kebenaran dari hal ini dan sebisa mungkin mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya mengenai keberadaan saksi kunci kita ini.", ujar Ding Tao sambil menyerahkan surat dari Tabib Shao Yong yang masih dia simpan kepada Shin Su.
"Simpan surat itu baik-baik, itu adalah bagian dari bukti bahwa kita telah dijebak orang.", ucap Ding Tao pada Shin Su dijawab dengan sebuah anggukan.
"Baik ketua, apakah masih ada tugas lain untuk kami?", jawab Shin Su.
"Ya..., kita semua tentu sampai pada kesimpulan bahwa isteriku Murong Yun Hua telah mengkhianatiku. Tapi selain dia, masih adakah orang yang tidak termasuk dalam rencananya, mereka yang masih bersimpati padaku, meskipun secara diam-diam dari antara apa yang tersisa dari partai kita? Aku ingin kalian memeriksa hal ini. Jika kalian menemukan orang-orang seperti ini, jangan kalian menemui mereka, jalian cukup kumpulkan namanya dan biarkan aku yang nanti menemui mereka. Aku ingin keberadaan kalian tetap menjadi rahasia bagi semua orang."
"Baik ketua, kami mengerti", ucap Shin Su dengan takzim.
"Lalu tugas terakhir untuk saat ini, kalian tahu ada lebih dari satu orang yang bekerja sama entah di bawah kendali Nyonya Murong Yun Hua atau sebagai sekutu yang sederajat. Aku ingin kalian mencari tahu, apa motivasi mereka, apa pertalian di antara mereka, adakah persaingan di antara mereka, adakah mereka mengikut karena terpaksa dan sebagainya. Singkat kata, aku ingin kalian mencari celah dan retakan dalam persekutuan ini. Kalian mengerti?", ujar Ding Tao. Wajah Shin Su pun menjadi cerah, keyakinannya pada perkataan Chou Liang semakin tebal. Ketua Ding Tao yang dia lihat sekarang benar-benar pantas dipanggil sebagai ketua. Dengan penuh semangat dia pun menganggukkan kepala.
"Baik, kami mengerti ketua, kami akan segera mulai melaksanakannya."
"Bagus, pergilah kalian sekarang, tapi ingat baik-baik. Lakukan dengan sangat berhati-hati, jumlah kita sudah jauh di bawah lawan, tidak boleh berkurang satu orang pun.", ujar Ding Tao memperingatkan.
"Kami mengerti ketua, kami pergi sekarang.", ujar Shin Su diiringi pula oleh kawan-kawannya yang lain.
"Sebagai tanda pengenal, apabila kami mengirim seseorang maka ketua harus bertanya seperti ini", ujar Shin Su sambil memberikan secarik kertas sebelum pergi. Ding Tao melihat sekilas isi kertas itu yang berisi tanya jawab, sebagai sandi pengenal, dia pun tersenyum puas.
"Bagus, baik aku mengerti."
Shin Su pun tersenyum dan berkata pula.
"Setiap kali ada utusan yang menemui Ketua Ding Tao, tentu dia akan memberikan secarik kertas berisi sandi untuk utusan yang berikutnya. Harap ketua mengingatnya baik-baik."
"Aku mengerti", jawab Ding Tao sambil balas tersenyum.
"Ketua kami pergi sekarang.", ujar Shin Su sambil membungkuk hormat, satu per satu mereka berpamitan dan pergi meninggalkan Ding Tao dan rombongannya. Menunggu tidak satu pun dari mereka terlihat lagi, melompatlah keluar Hu Ban, Pang Boxi, Khongti, Chen Taijiang dan Shu Sun Er dari tempat persembunyian mereka. Khongti keluar dengan tawa lebar dan menepuk-nepuk pundak Ding Tao dengan riang.
"Kejutan bagus! Kejutan bagus! Alih-alih harus membunuh orang, ternyata kita justru mendapat kawan seperjuangan."
"Benar sekali kata Kak Khongti, ini kejutan yang bagus, benar-benar menggembirakan.", sahut Hu Ban pula. Begitulah mereka saling memberi semangat dan tertawa lepas, keprihatinan dan ketegangan yang mewarnai perjalanan mereka selama beberapa hari ini tersapu habis oleh pertemuan mereka dengan Shin Su dan kawan-kawannya. Ding Tao yang ikut larut dalam kegembiraan mereka, memandang ke sekelilingnya dan mendapati wajah-wajah yang cerah. Dan kesadaran pun menyelip ke dalam hatinya, tidak seorang pun dari mereka merasa senang harus membunuh orang. Sejak peristiwa di Jiang Ling, dalam benaknya, seisi dunia persilatan seakan hanyalah soal bunuh membunuh. Tapi peristiwa hari ini sekali lagi menyadarkan dia, ada banyak orang seperti dirinya, seperti Wang Jianho, seperti Guru Chen Wuxi, bahkan seperti Ma Songquan dan Chu Linhe. Mereka semua sudah bosan dengan bunuh membunuh, tidak semuanya yang hidup dalam dunia persilatan, mengejar nama besar dan reputasi. Ada juga yang hidup di dalamnya sekedar untuk mencari penghidupan bagi dirinya dan keluarga. Ada pula yang ada di dalamnya karena kecintaan pada seni pedang. Ada orang-orang seperti ke-enam guru Wang Shu Lin. Ada dirinya, impiannya mungkin jauh dari kenyataan, tapi dia tidak sendirian. Ding Tao pun ikut tertawa lepas. Ada kelegaan, ada beban yang terlepas dari hatinya. Di satu sisi dia semakin menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang ketua dari sebuah partai, tanggung jawabnya atas harapan dan kepercayaan yang diletakkan di pundaknya. Di satu sisi dia menyadari betapa berat dan banyaknya halangan bagi dirinya untuk mencapai tujuan yang dia inginkan. Tapi di sisi lain dia melihat bahwa dia tidak sendirian. Dia bukan seorang diri melawan seluruh dunia persilatan, ada banyak orang dalam dunia persilatan yang memiliki pendirian serupa dengan dirinya. Setidaknya mereka memiliki kecenderungan yang sama dengan dirinya. Hari itu Ding Tao baru benar-benar merasa terbuka matanya, atas kedudukan yang telah dia pilih, entah oleh karena nasib atau memang benar-benar merupakan pilihannya sendiri. Yang pasti inilah dia yang sekarang dan inilah jalan yang dia pilih, dia tahu halangannya, dia tahu keinginannya dan dia tahu berapa keras dan berliku jalan yang harus dia tempuh untuk mencapai tujuannya. Perjalanannya boleh jadi panjang, tapi sekarang dia sudah memahami dengan jelas, di mana dia berada dan mau ke mana dia pergi. Betapa banyak orang yang hidup tanpa tahu, di mana dia berada dan hendak pergi ke mana dia, seperti ikan yang mati, yang bergerak hanya mengikuti arus sungai. Perjalanan ke Desa Hotu masih beberapa hari lamanya, tapi yang beberapa hari itu terasa sangatlah singkat. Tidak lagi mereka berjalan dengan beban berat di hati, meski kewaspadaan tidak menjadi hilang, namun satu kebaikan bisa menghapuskan banyak beban dan membuat langkah kaki menjadi lebih ringan. Melewati segala macam pengalaman, kecil dan besar, mendapatkan berbagai macam pencerahan baik kecil maupun besar, akhirnya sampai juga mereka ke Desa Hotu. Jika Ding Tao untuk sementara ini merasa lepas dari berbagai macam kekhawatiran, maka nun jauh di sana Murong Yun Hua justru merasakan kegalauan. Kemenangan yang dia raih tidaklah memuaskan dirinya. Saat ini dia sudah berada di puncak kekuasaan. Tiga dari enam perguruan besar berada di bawah kekuasaannya. Kekuasaannya sendiri tidaklah kecil, pendekar yang bersenjatakan tombak berkait kemarin, tidaklah membuat ketika mengatakan bahwa Keluarga Murong memiliki kekuatan tersembunyi, sekelompok pendekar pilihan yang terlatih. Masih ada lagi yang berada langsung di bawah kekuasaannya, yaitu bagian dari Partai Pedang Keadilan yang memang sudah bersetia padanya dan bukan pada Ding Tao lewat satu dan lain cara. Tapi lolosnya Ding Tao hingga sekian lama berada di luar perhitungannya. Meski seharusnya tidak ada pula yang perlu dikhawatirkan, karena tanpa Obat Dewa Pengetahuan, dalam hitungan minggu Ding Tao akan menjadi tak ubahnya sesosok mayat hidup. Namun desas-desus yang beredar membuat dia merasa khawatir juga. Adakah dia salah perhitungan? Lagi pula sampai sekarang, orang-orang yang dia kirim tidak berhasil membawa Ding Tao ke hadapannya, entah dalam keadaan hidup atau mati. Malam itu Murong Yun Hua sedang menyisir rambutnya yang tebal dan panjang di dalam kamar, sendirian, berbicara pada dirinya sendiri yang berada di dalam cermin.
"Apakah dia masih hidup?"
"Apakah benar dia berhasil bebas dari pengaruh Obat Dewa Pengetahuan?"
"Siapa yang membantunya?"
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Dia bertanya dan bertanya, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.
Dengan gemas dan gusar dia berdiri sambil melemparkan sikat rambutnya ke atas meja.
Seperti yang biasa dia lakukan, ditariknya ikat pinggangnya dan dia biarkan jubahnya terjatuh ke atas lantai.
Dipandanginya tubuhnya yang sempurna di depan cermin.
Entah setan dari mana yang datang, tiba-tiba yang terbayang dalam benaknya adalah Ding Tao yang sedang membelai tubuhnya.
Tubuhnya menggeletar, teringat pada sentuhan pemuda yang sempat menjadi suaminya itu.
Tiba-tiba Murong Yun Hua disergap rasa rindu yang tak pernah dia sadari ada dalam hatinya.
"Ding Tao...", bibirnya bergetar memanggil nama itu.
"Tapi dia Cuma seorang pemuda yang bodoh... seperti lelaki baik-baik lainnya, mereka bodoh dan rendah!", demikian dia bergumam, memaki kerinduan dalam hatinya.
"Tapi benarkah pemuda itu bodoh? Jika benar, lalu mengapa dia merasa khawatir dengan tidak ditemukannya Ding Tao sampai saat ini?", sebuah pertanyaan terselip dalam hatinya.
"Bukankah dia merasa khawatir, karena dalam hatinya dia mengakui ada potensi dalam diri Ding Tao yang bisa membuat dia menjadi lawan yang berbahaya?", sebuah bisikan lain bertanya pada Murong Yun Hua.
"Tidak! Sudah pasti dia lelaki yang bodoh dan tak berharga. Lelaki yang punya otak, hanyalah lelaki macam ayahnya, kejam, sadis, penuh ambisi, tidak berperasaan, bejat...", dengan menggeram Murong Yun Hua menjawab keraguannya. Sejenak tidak ada apa pun, hanya keheningan, lalu seperti setan yang tak puasnya menggoda manusia, sekali lagi sebuah pikiran menyelinap diam-diam.
"Jadi..., maksudmu Ding Tao bukanlah lelaki demikian? Dia tidak seperti ayahmu, dia tidak keji, tidak kejam, tidak bejat, dia memiliki perasaan yang halus, dia memiliki cinta... dia mencintaimu dengan tulus..."
Dan hati Murong Yun Hua pun tiba-tiba merasa nyeri, nyeri sekali, di luar sadarnya sebuah bisikan pedih keluar dari bibirnya.
"Ding Tao..."
Terdengarlah ketukan dari pintu dan Murong Yun Hua pun bergegas merapikan dirinya sebelum pergi membuka pintu. Ternyata yang datang adalah Huang Ren Fu.
"Yun Hua... aku rindu padamu...", ujar pemuda itu dengan senyum penuh arti. Biasanya Murong Yun Hua sudah mati rasa dengan hal-hal semacam ini, dengan mudah dia akan tersenyum, dan tak terlihat sedikitpun apa yang ada dalam hatinya tentang lelaki yang datang padanya dengan senyum dan pandang mata demikian. Tapi tidak malam ini, wajahnya berubah masam, tiba-tiba hatinya merasa sebal, sedih, marah dan tak ada keinginan untuk menutupinya dengan sebuah senyuman mesra.
"Ren Fu, aku minta maaf, tapi jangan ganggu aku malam ini. Aku... aku sedang merasa ... galau.", ujarnya dengan tegas, namun masih sopan, bagaimana pun juga Murong Yun Hua masih memikirkan ambisinya dan Huang Ren Fu sekarang ada dalam rencananya.
"Oh...", terkejut Huang Ren Fu, karena sebelumnya tak pernah Murong Yun Hua menolak kunjungannya.
"Ehm... mungkin aku bisa menghiburmu... eh... kita bisa..."
"Tidak... tidak bisa, sudahlah kembalilah ke kamarmu, aku mau istirahat sekarang.", ujar Murong Yun Hua lebih tegas dari sebelumnya dan tanpa menunggu jawaban dari Huang Ren Fu dia pun menutup pintu kamarnya. Tertegun Huang Ren Fu berdiri dengan mulut terbuka, suara palang pintu kmar dipasang dari dalam terdengar jelas. Perlahan wajahnya berubah, ada rasa marah dan malu di sana. Untuk sesaat lamanya dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan, sampai kemudian dia berbalik arah dan pergi dengan berbagai macam perasaan dalam hatinya. Di dalam kamar Murong Yun Hua melepaskan jubahnya, melemparkan diri ke atas pembaringan dalam keadaan polos, direngkuhnya apa saja yang bisa dia rengkuh dan peluk. Rasa rindu tiba-tiba menyerang dengan hebat, penuh tangis sesal dia bertanya-tanya, mengapa dia baru sadar sekarang, Ding Tao bukanlah ayahnya. Ding Tao bukanlah ayahnya dan jika terbukti bahwa pemuda itu bukan seorang bodoh yang tak berguna, itu artinya seluruh kebencian dan kejijikan yang dia bangun atas laki-laki, semuanya tidak berarti di hadapan pemuda itu. Malam itu Murong Yun Hua tertidur dengan wajah penuh air mata dan bibir memanggil-manggil nama Ding Tao. Di kamar yang lain Murong Huolin berjalan dari satu ujung ke ujung lain dari kamarnya. Ding Tao, ya nama yang sama sedang menghantui dirinya. Bagi gadis itu Ding Tao adalah satu-satunya lelaki yang pernah menyentuh dirinya, satu-satunya lelaki, kepada siapa dia menyerahkan seluruh dirinya, hati dan tubuhnya. Di sisi lain ada pula Murong Yun Hua, seorang yang lebih dari sekedar pengganti orang tua. Perang batin yang hebat membuat dia semakin hari semakin hilang semangatnya untuk hidup, tubuhnya semakin kurus dan kantung matanya semakin terlihat jelas. Tapi tidak ada yang memperhatikan dia, semua sibuk dengan rencana mereka sendiri. Tentu saja ada para pelayan, tapi apakah dia bisa percaya pada mereka? Karena mereka pun adalah pelayan setia Murong Yun Hua. Baru kali ini dia merasakan keberadaan Murong Yun Hua sebagai satu penghalang, satu sandungan dalam hidupnya.
"Ding Tao... apakah kau membenciku juga? Tapi aku tidak termasuk dari mereka...
", keluh gadis itu.
"Tapi kau benar... meski aku bukan bagian dari mereka, aku pun tidak melakukan apa-apa untuk menolongmu...", gumamnya lagi. Terkenanglah dia dengan masa-masa ketika Hua Ying Ying belum muncul. Masa yang indah bagi dirinya, lepas dari segala rencana Murong Yun Hua mereka bertiga hidup bahagia. Bahagiakah mereka? Perlahan Murong Huolin menggelengkan kepalanya, mungkin Ding Tao merasa bahagia, tapi dirinya sendiri, bukankah sebenarnya dia sedang menipu dirinya sendiri. Membungkam hati kecilnya yang merasa bersalah karena ada satu rahasia yang dia sembunyikan dari Ding Tao? "Tapi semuanya tidak akan terjadi jika bukan karena kemunculan gadis itu!", sebuah bisikan penuh kemarahan tibat-tiba terselip dalam hatinya. Ya, jika bukan karena Hua Ying Ying, kakaknya Yun Hua tidak akan mengambil keputusan untuk menyingkirkan Ding Tao dan mereka bertiga akan hidup sebagai suami isteri sampai selamanya.
"Tidak... tidak..., itu pun tidak benar. Sejak awal semuanya dimulai dengan kebohongan, bagaimana mungkin sesuatu yang suci dibangun di atas satu kebohongan?", sebuah pikiran lain pun muncul dalam hatinya.
"Ding Tao...", Murong Huolin berbisik penuh rasa rindu.
"Ah Ding Tao... aku inilah yang bodoh, kau benar..., ketulusan... kejujuran..., Hua Ying Ying tak bersalah, kamilah yang bersalah. Sejak awal aku sudah memulainya dengan salah.", keluh gadis itu. Tertelungkup di atas pembaringannya, Murong Huolin pun terus bertanya dan bertanya.
"Ding Tao, ada dimanakah kau sekarang?"
"Apakah kau masih hidup? Apakah kau baik-baik saja?"
"Tentu kau masih hidup, karena sampai sekarang Enci Yun Hua tidak berhasil menangkapmu, tentu ada orang yang membantumu. Kau orang baik, bukankah langit selalu membantu orang-orang baik sepertimu?"
"Akankah kau kembali?"
"Jika kau kembali, apakah kau datang dengan dendam?"
"Bagaimana perasaanmu padaku sekarang?"
Ratusan pertanyaan terus berdatangan hingga dia tertidur lelap dengan bantal basah oleh air mata. Di kamar yang lain ada Hua Ying Ying dan ayah angkatnya. Gadis itu pun memiliki banyak pertanyaan.
"Ayah..., apakah ayah tidak merasa aneh dengan semua ini?", gadis itu bertanya.
"Tentang Ding Tao? Ya... aku pun merasa ada yang tidak benar, tidak biasanya aku salah menilai orang.", jawab Hua Ng Lau.
"Tapi disaat yang sama ayah juga tidak yakin bahwa dia tidak bersalah.", desak gadis itu.
"Tidak ada bukti dan saksi yang meringankan dia, meski bila mataku tidak salah melihat, pada hari itu Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan dengan sengaja melepaskan dirinya.", jawab Hua Ng Lau sambil mengingat-ingat kembali kejadian di hari itu. Malam itu diam-diam Hua Ying Ying pergi menemui Hua Ng Lau. Hua Ng Lau bukannya tidak tahu apa yang ingin dibicarakan gadis itu, karena dia pun merasakan ada ganjalan dalam segala sesuatu yang terjadi di hari itu.
"Dan itu artinya, bukan Kak Ding Tao yang membunuh mereka berdua, ada orang lain, kekuatan lain yang bergerak di sini.", gumam Hua Ying Ying sambil berjalan hilir mudik di depan Hua Ng Lau yang duduk dengan tenang.
"Ya... tapi jika itu benar, itu artinya kita sedang berhadapan dengan lawan yang menakutkan. Itu artinya, saat ini kita sedang berada di antara musuh, di luar kita seperti tamu, kenyataannya kita adalah tawanan.", jawab Hua Ng Lau dengan bijak. Hua Ying Ying berhenti berjalan, menatap lurus ke arah ayah angkatnya dia berkata.
"Tapi bukan berarti kita akan diam saja kan ayah?"
Hua Ng Lau menganggukkan kepala dengan wajah serius.
"Benar..., itu bukan berarti kita akan diam saja... tapi kita harus bergerak dengan sangat hati-hati. Apalagi kakakmu saat ini sudah tidak bisa kita percaya lagi."
Teringat kakaknya, Hua Ying Ying pun menggigit bibir dan mengangguk perlahan.
"Ayah benar... aku tidak mengerti... apa yang sebenarnya terjadi dengan Kakak Ren Fu."
Akhirnya mereka sampai juga di Desa Hotu, sebuah desa kecil dan terpencil, jauh dari jalur utama perdagangan.
Ding Tao berdelapan terlihat cukup mencolok dibandingkan penduduk asli desa itu.
Tubuh mereka jauh lebih tinggi dibandingkan kebanyakan ornag cina daratan, Ding Tao yang tertinggi di antara mereka berdelapan, tampak normal di antara penduduk desa itu.
Demikian juga pakian yang mereka kenakan, terlihat sedikit berbeda dengan kebanyakan jenis pakaian yang dipakai oleh penduduk desa.
Pakaian Wang Shu Lin dan Ding Tao terlihat begitu mewah di sana.
Akibatnya ke mana pun mereka pergi, mata orang mengikuti mereka dengan pandang mata ingin tahu.
Meski demikian penduduk desa itu cukup ramah.
Ding Tao dan yang lain pun menganggukkan kepala dengan sopan setiap kali pandang mata mereka bertemu dan mereka membalasnya dengan senyuman.
Di depan mereka, mengantarkan menuju ke rumah kepala desa adalah salah seorang penduduk asli desa itu yang mereka jumpai pertama kali mereka sampai di bagian terluar desa itu.
"Meng Ho, masih berapa jauh lagi kah rumah kepala desa?", tanya Ding Tao pada pemuda tanggung yang mengantarkan mereka itu.
"Tidak berapa lama lagi, tuan lihat rumah di sana itu?", ujar Meng Ho sambil menunjuk sebuah rumah kecil yang terlihat dari kejauhan.
"Ya, apakah itu rumahnya?", jawab Ding Tao.
"Bukan, tapi setelah rumah itu, kita akan melewati sebuah sawah dan setelah sawah itu kita akan sampai di pusat desa, kebanyakan rumah berkumpul di sana dan rumah pak kepala desa ada di tengah-tengahnya.", jawab Meng Ho sambil tertawa lebar, menunjukkan beberapa giginya yang hilang.
"Ah..., begitu, cukup jauh juga. Kami benar-benar sudah merepotkanmu, apa nanti kau akan kembali ke sawahmu?", tanya Ding Tao pada Meng Ho.
"Tidak, tidak, pekerjaan hari ini sudah selesai kok, jadi sama sekali tidak merepotkan karena aku memang sudah mau pulang.", jawab Meng Ho dengan ramah.
"Syukurlah kalau begitu, aku tidak enak kalau terlalu banyak menyusahkanmu.", ucap Ding Tao dengan lega.
"Hahaha, sama sekali tidak menyusahkan.", ujar Meng Ho sambil tertawa lebar. Untuk beberapa saat mereka hanya berjalan tanpa bercakap-cakap, kemudian Meng Ho dengan sedikit ragu bertanya.
"Tuan..., apa benar dugaanku bahwa tuan-tuan ini..., orang-orang dunia persilatan?"
Ding Tao tidak segera menjawab, dia saling berpandangan dengan anggota rombongan yang lain. Zhu Yanyan mengangkat bahunya, menyerahkan keputusannya pada Ding Tao.
"Meng Ho, kenapa kau bertanya demikian?", tanya Ding Tao hati-hati. Meng Ho mengangkat bahunya.
"Hmm... entahlah, kulihat beberapa dari tuan membawa senjata. Selain itu perjalanan dari daratan ke luar perbatasan bukan perjalanan singkat. Setidaknya beberapa orang dari tuan-tuan ini tentunya bekerja sebagai pengawal."
"Kau pintar juga, kau benar, sebenarnya kami semua orang-orang dunia persilatan.", ujar Ding Tao sambil mengulum senyum.
"Wah... benarkah?", tanya Meng Ho dengan mata terbelalak.
"Tuan..., apakah salah satu dari kalian bisa mengangkatku menjadi murid tuan? Maksudku..., aku cukup pintar dan aku tidak akan jadi beban untuk kalian.", pinta Meng Ho dengan sungguh-sungguh.
"Menjadi pendekar? Meng Ho, kalau aku boleh tahu, berapa usiamu sebenarnya?", kata Ding Tao balik bertanya.
"Ehm... tahun ini usiaku 15 tahun, tapi beberapa bulan lagi akan jadi 16.", jawab Meng Ho.
"Kenapa kau ingin terjun dalam dunia persilatan?", tanya Ding Tao pada pemuda itu.
"Karena... karena... karena itu hebat sekali, maksudku, menjadi pendekar, menjadi pahlawan, menolong orang yang lemah melawan penjahat dan sebagainya.", ujar Meng Ho dengan bersemangat.
"Hmm... apakah desamu ini pernah diserang gerombolan penyamun?", tanya Ding Tao pada Mengho setelah terdiam berpikir beberapa lama.
"Tidak..., tidak, semuanya tenang dan damai di sini.". jawab Meng Ho.
"Lalu penjahat mana yang mau kau lawan dengan ilmu silatmu nanti?", tanya Ding Tao kemudian.
"Ehm... tentu saja bukan di sini, jika tuan mulai berkelana lagi, tentunya sebagai murid aku akan mengikuti tuan-tuan sekalian.", ujar Meng Ho setelah berpikir sebentar.
"Ah... kemudian kita pergi mencari penjahat dan mengalahkan mereka demi menolong orang banyak. Benar begitu?", tanya Ding Tao pada Meng Ho.
"Ya, ya, benar begitu.", jawab Meng Ho bersemangat. Ding Tao tersenyum melihat keluguan Meng Ho.
"Meng Ho, jika demikian hidup seorang pendekar, menurutmu, dari mana dia mendapatkan uang untuk makanan, penginapan, kuda yang bagus, memperbaiki pedangnya di pandai besi, atau bahkan rumah dan memberi makan seisi rumahnya?"
Meng Ho tentu saja tidak pernah berpikir demikian, dalam cerita pahlawan sepertinya tidak pernah diceritakan bagaimana mereka mencari uang.
"Hmm... entahlah, bukankah kita bisa berburu untuk mencari makan dan ... tidur di kuil kosong jika tak ada uang untuk penginapan."
"Jika kita berada di dekat hutan, mungkin bisa juga kita berburu untuk mencari makan, tapi jika sedang berada di kota besar, hendak pergi ke mana untuk berburu? Lagipula, bagaimana dengan pakaian dan pedang? Apakah kau mau menjahit pakaianmu sendiri dan menempa pedangmu sendiri?", tanya Ding Tao lebih lanjut. Berkerut alis Meng Ho.
"Ya... kupikir tidak perlu ke kota besar, di kota besar perlu banyak uang, kita berkelana ke kota kecil dan pedesaan saja. Bukankah perompak kebanyakan tinggal di jalan-jalan yang sepi? Soal pakaian... ya aku kira aku bisa belajar menguliti binatang dan mungkin menjahitnya menjadi pakaian. Lalu dengan pedang... jika aku sudah sangat mahir dalam ilmu silat, bukankah aku tidak perlu pedang lagi?"
"Boleh juga, jadi kita tinggal dan berkelana melalui hutan-hutan dan desa-desa kecil. Berburu untuk hidup dan mengurus hidup kita sendiri, kulit binatang bisa juga dijual untuk mendapatkan beberapa keping uang. Lalu jika sudah mengerjakan itu semua, menurutmu kapan kau bisa berlatih agar menjadi benar-benar mahir dengan ilmu silatmu?", tanya Ding Tao kembali. Dahi Meng Ho semakin banyak kerutannya.
"Ehm... entahlah, menurut tuan berapa lama seseorang bisa menjadi seorang pendekar yang tanpa tanding?"
Terbahak mereka semua mendengar pertanyaan Meng Ho, membuat wajah Meng Ho memerah karena malu. Ding Tao buru-buru menghibur pemuda itu.
"Maafkan kami Meng Ho, jika kami tertawa karena pertanyaanmu. Jangan berkecil hati, bukan salahmu, kami semua dulu juga pernah berpikir untuk menjadi pendekar tanpa tanding. Setelah belasan bahkan puluhan tahun kami berlatih, ternyata kami belum juga menjadi pendekar tanpa tanding, itu sebabnya kami tertawa."
Khongti ikut menjawab.
"Benar, menjadi pendekar tanpa tanding bukanlah hal yang mudah. Kau berlatih bertahun-tahun dan berpikir kau sudah menjadi lebih kuat, itu mungkin memang benar, tapi orang lain pun juga berlatih sama kerasnya atau bahkan lebih keras dari dirimu. Perompak-perompak itu pun berlatih dan berlatih, bahkan mungkin karena pilihan jalan hidup mereka, mereka punya kesempatan lebih banyak untuk bertarung daripada dirimu."
Meng Ho tampak kecewa.
"Jadi... menurut tuan-tuan ini, tidak mungkin bagi diriku menjadi seorang pendekar yang hebat?"
Khongti tertawa.
"Tidak juga, bukan begitu maksudku, untuk menjadi pendekar nomor satu. Pertama kau harus punya bakat yang baik. Kedua kau harus mau berlatih dengan keras hampir seluruh waktumu harus kau gunakan untuk berlatih. Itu artinya hanya ada sedikit waktu untuk hal-hal lain, termasuk untuk mengurus penghidupanmu sendiri."
"Ketiga, kau harus punya nasib yang baik. Nasib yang baik artinya kau bertemu dengan guru yang baik dan juga kau tidak bertemu lawan yang tangguh sebelum kau berhasil mematangkan ilmumu."
Ding Tao kemudian menambahkan.
"Lalu setelah kau melalui itu semua, dari mana kau tahu bahwa kau sudah menjadi pendekar tanpa tanding? Atau dari mana orang akan tahu kehebatanmu? Kau pun kemudian mulai mencari lawan untuk kau kalahkan. Mungkin dengan mendatangi sarang penjahat, atau mungkin dengan menantang bertarung pendekar lain yang sudah memiliki nama. Jika kau cerdik dalam memilih lawan, maka kemenangan demi kemenangan akan kau raih dan namammu pun akan menjadi terkenal."
Khongti dan yang lain sudah mulai mengerti ke arah mana pembicaraan ini akan pergi, karenanya Khongti pun menyambung perkataan Ding Tao.
"Nah, setelah kau berhasil memupun namamu, maka kau pun harus bersiap-siap, karena akan datang anak muda lain yang juga ingin memiliki nama besar dan mereka akan menantangmu bertarung."
Hu Ban menambahkan.
"Pada saat itu, jangan kau berpikir untuk pergi mengalahkan penjahat dan menolong orang. Karena tanpa melakukan itu pun lawan demi lawan sudah mengantri untuk bertarung denganmu."
"Atau bisa juga kau mendirikan satu partai, sehingga kau memiliki bawahan dan kau tidak perlu turun tangan sendiri untuk melawan setiap orang yang ingin menantang dirimu.", ujar Chen Taijiang seakan memberi jalan keluar.
"Tapi itu artinya ada lebih banyak mulut untuk diberi makan, ada lebih banyak orang untuk diberi pakaian. Kau juga perlu rumah yang besar, kau perlu memastikan setiap anak buahmu merasa senang berada di bawah pimpinanmu. Tentu saja itu artinya kau perlu punya usaha yang cukup besar untuk mendapatkan uang yang sangat banyak.", sambung Ding Tao sambil mengenang betapa dia dulu sudah pernah sampai di sana dan bodohnya tak pernah terpikirkan tentang semua hal itu sebelumnya.
"Itu belum cukup, karena kau harus terus berlatih dengan keras, jika tidak bisa jadi akan datang lawan dan tidak seorangpun dari anak buahmu bisa melawannya. Atau lebih buruk lagi, ada di antara bawahanmu yang nantinya memiliki ilmu lebih tinggi darimu dan memancing timbulnya pengkhianatan.", sambung Wang Shu Lin yang mulai ikut menikmati percakapan mereka ini. Mendengar panjang lebar pembicaraan mereka, Meng Ho jadi sakit kepala. Pertama sebelum dia menjadi pendekar tangguh dia tidak bisa berkelana ke kota-kota besar, hanya berkelana di hutan-hutan dan desa-desa kecil. Lalu apa bedanya dengan kehidupan dia sekarang ini? Padahal dia membayangkan jika terjun ke dalam dunia persilatan dan menjadi pendekar, itu artinya dia bisa keluar dari kehidupannya sebagai petani yang terasa membosankan ini. Melihat kota-kota besar dan keramaian, dipuji dan disanjung orang. Lalu setelah mematangkan ilmunya, pujian dan sanjung puji itu tidak datang dengan sendirinya. Dia harus mempertaruhkan nyawa untuk mendapat nama besar. Setelah mendapatkan pun bukan berarti dia bisa menikmati hasil usahanya, karena ancaman demi ancaman masih akan datang. Pemuda itu pun menggeleng-gelengkan kepala.
"Ah.. apakah tuan-tuan ini bersenda gurau denganku saja..."
"Hahaha, apakah kami hanya sekedar mempermainkanmu atau tidak, apakah tidak bisa kaupikirkan sendiri. Coba renungkan, adakah perkataan kami itu masuk akal atau tidak.", jawab Khongti sembari tertawa ramah. Cukup lama juga Meng Ho terdiam dan berpikir.
"Kupikir tuan-tuan memang mempermainkanku, tapi maksud tuan-tuan itu baik, untuk menunjukkan keadaan dunia persilatan yang sebenarnya."
Jawaban Meng Ho itu membuat mereka semua merasa kagum, pemuda tanggung itu rupanya punya pemikiran yang cukup lumayan.
"Baguslah kalau kau mengerti.", ujar Ding Tao sambil menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
"Tuan... kalau dunia persilatan sekeras itu, mengapa banyak orang masuk ke dalamnya? Kenapa pula tuan-tuan menjadi pendekar?", tanya Meng Ho tiba-tiba.
"Hmm... ada banyak yang masuk ke dalam dunia persilatan karena sedari awal keluarga mereka sudah menjadi bagian dari dunia persilatan. Ada pula yang tertarik mempelajari ilmu silat karena suka, seperti ada juga orang yang menyukai catur atau memancing.", jawab Ding Tao.
"Ada juga yang memulainya karena dendam, mungkin ada anggota keluarga yang terbunuh oleh orang-orang persilatan dan mereka ingin membalasnya.", ujar Wang Shu Lin.
"Ada juga yang ingin mendapatkan nama besar dan melihat dunia persilatan sebagai jalannya.", ujar Zhu Yanyan.
"Atau mereka ingin kaya lewat jalan yang cepat, menjadi perampok bisa jadi pilihan jika imanmu tipis", sambung Khongti.
"Bisa juga karena pekerjaanmu membuatmu sering berkelana, dan kau ingin belajar ilmu silat untuk melindungi dirimu sendiri sepanjang perjalanan. Jadi kau lihat Meng Ho, ada banyak alasan mengapa seseorang masuk ke dalam dunia persilatan. Tidak ada yang salah dengan belajar ilmu silat, yang penting kau tahu benar untuk apa dan mengapa.", ujar Zhu Yanyan memberi nasehat.
"Menurut tuan, jika aku ingin menjadi pendekar nomor satu, apakah itu alasan yang tepat?", tanya Meng Ho setelah mendengar itu semua.
"Tidak ada yang bisa mengatakan alasan mana yang lebih baik, meski secara pribadi aku lebih cenderung mengatakan, mempelajari ilmu silat untuk melindungi diri sendiri dan orang lain adalah alasan yang paling tepat. Sementara menjadi pendekar nomor satu adalah jalan yang paling sukar dan paling berdarah yang mungkin bisa dipilih seseorang.", ujar Ding Tao sambil menghela nafas. Meng Ho pun bertanya kembali.
"Tuan, lalu tentang kisah-kisah kepahlawanan dari para pendekar yang sering diceritakan tukang keliling, apakah itu benar nyata?"
Ding Tao tersenyum, bukankah dia dulu juga suka mendengarkan cerita para pendekar dari tukang cerita keliling.
"Ada yang benar, ada yang tidak benar dan ada pula yang tidak tepat benar. Kau boleh mengambil pelajaran yang baik dari cerita-cerita itu, tapi jangan langsung percaya jika kau belum mengerti sendiri pokok persoalannya. Banyak kejadian dalam dunia persilatan yang harus diselidiki benar-benar, jika kita mau tahu duduk persoalan yang sebenarnya."
"Apakah tuan-tuan ada mengenal seorang pahlawan yang benar-benar dalam dunia persilatan?", tanya Meng Ho dengan wajah ingin tahu.
"Hahaha, kenapa kau bertanya demikian pada kami, kau kan baru saja bertemu dengan kami, bagaimana jika ternyata kami ini sebenarnya sekelompok orang jahat?", ujar Khongti sambil tertawa terbahak-bahak. Meng Ho pun menjawab dengan malu-malu.
"Kukira itu tidak mungkin, tuan-tuan ini tentu orang baik. Sikap tuan ramah dan tidak menakutkan, pula berwajah penuh wibawa, tampan dan cantik."
Mendengar jawaban Meng Ho tertawalah mereka semua, apalagi Khongti, tertawanya paling keras, sambil menunjuk ke arah Chen Taijiang dia tertawa dan berkata terputus-putus, diselingi oleh tawa.
"Dia bilang kita berwajah tampan, hahaha, wajah seperti itu... hahaha, tampan, hahaha, penuh wibawa..."
Chen Taijiang tentu saja memasang wajah cemberut.
"Hmm... kau saja yang tidak bisa menilai ketampanan orang. Bunga peoni kau bilang buruk, tai kerbau kau bilang harum."
Mendengar jawaban dan raut muka Chen Taijiang, yang lain pun tertawa, termasuk Meng Ho ikut pula tertawa.
"Sudahlah... sudah, jangan diteruskan lagi", ujar Zhu Yanyan setelah mereka puas tertawa.
"Meng Ho, pelajaran pertama yang harus kau ingat baik-baik jika kau mau terjun ke dalam dunia persilatan. Jangan kau terlalu lekas percaya pada orang, meski jangan pula kau terlalu cepat menghakimi seseorang. Kau harus memiliki sikap waspada dan pemikiran yang terbuka. Kau harus pintar memilah untuk tahu, mana yang memang benar-benar kau ketahui sendiri dan mana yang masih merupakan kemungkinan atau sekedar kesan.", ujar Zhu Yanyan dengan serius. Meng Ho pun mendengarkannya dengan baik-baik, kemudian menjawab.
"Ya, aku mengerti tuan. Dari jawaban tuan-tuan sekalian, semakin kuat dugaanku bahwa tuan-tuan sekalian tentu termasuk mereka yang baik. Jika tidak tuan-tuan akan memanfaatkan kebodohanku dan membuatku semakin yakin bahwa tuan-tuan ini baik. Tapi kenyataannya tuan-tuan justru menasehatiku untuk bersikap waspada dan menilai tuan-tuan dengan lebih berhati-hati."
"Hahaha, kau sungguh anak yang pintar, pemikiranmu itu ada benarnya juga. Yang penting gunakan mata, telinga dan otakmu untuk mencerna segala sesuatunya dengan jelas.", ujar Zhu Yanyan. Meng Ho pun merasa senang, dipandangnya wajah Zhu Yanyan yang berwibawa dan terlihat bijak, jenggotnya dan rambutnya yang berwarna putih, maka dia pun berkata.
"Tuan, benarkah jika kukatakan tuan adalah yang paling hebat di antara tuan-tuan sekalian?"
"Ho... mengapa kau berkata demikian?", jawab Zhu Yanyan balik bertanya.
"Karena tuan yang terlihat paling tua dan bijaksana", jawab Meng Ho tanpa ragu lagi.
"Hahahaha, tentang tua kau memang benar, aku yang tertua, tapi sesungguhnya bukan aku yang ilmunya paling tinggi di antara kami berdelapan.", jawab Zhu Yanyan sambil tertawa lebar.
"Oh... benarkah? Lalu siapa yang paling tinggi ilmunya di antara tuan-tuan sekalian?", tanya Meng Ho dengan heran.
"Apakah tuan yang seperti raksasa ini?", tanya dia sambil menunjuk ke arah Pang Boxi.
"Hahaha, kau masih salah", jawab Pang Boxi sambil tertawa.
"Kalau begitu siapa?", tanya Meng Ho dengan bingung.
"Heh... kalau kau bertanya orangnya sendiri tentu tidak akan mengaku, jadi biar aku tunjuk saja orangnya. Nah inilah orang yang ilmunya paling tinggi di antara kami berdelapan.", ujar Khongti sambil tangannya menunjuk ke arah Ding Tao. Meng Ho pun menatap Ding Tao penuh rasa kagum, membuat wajah Ding Tao memerah karena merasa malu.
"Apakah benar itu tuan?", Meng Ho bertanya pada Ding Tao.
"Ah..., tidak juga, ilmu silat sukar diukur, siapa yang lebih tinggi juga sulit dikatakan, setiap orang yang rajin tentu ilmunya akan terus bertambah, yang hari ini unggul, belum tentu tahun depan masih unggul. Menang kalah dalam satu pertarungan juga sangat dipengaruhi oleh keadaan sekitar. Yang menang ketika beradu di atas panggung, belum tentu menang ketika bertarung di atas perahu atau bahkan di dalam air.", jawab Ding Tap merasa tidak enak ditanya demikian. Tapi jawaban Ding Tao itu justru membuat Meng Ho semakin yakin, maka dengan penuh keyakinan pemuda itu menjawab.
"Ah... tuan sangat merendah, sudah pasti memang benar tuanlah yang terhebat. Tuan begitu rendah hati, pula tuan bertubuh tinggi, tegap dan berwajah tampan. Sungguh tuan ini pastilah seorang pahlawan."
Mendengar perkataan Meng Ho itu, Khongti pun tertawa terbahak-bahak.
"Eh anak muda bagus sekali pandanganmu menilai orang. Kalau begitu bisakah kau menunjukkan siapa orang kedua terhebat dalam kelompok kami ini?"
Dan tanpa ragu Meng Ho pun menunjuk ke arah Wang Shu Lin.
"Tentu saja nona ini, dia begitu cantik dan anggun, pasangan yang sesuai untuk tuan pahlawan."
Wang Shu Lin dan Ding Tao pun tersipu malu, sementara ke-enam guru Wang Shu Lin tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Meng Ho yang polos itu.
Apalagi ketika Khongti menunjuk ke arah Chen Taijiang dan berkata.
"Bocah, itu artinya menurut cara penilaianmu tentu dialah yang berada di nomor terakhir."
"Hmm... mengapa pula kau selalau mengolok-olok wajahku", jawab Chen Taijiang dengan sedih.
"Hohoho, jadi akhirnya kau mengaku kalau wajahmu itu buruk?", kata Khongti.
"Tidak, siapa bilang begitu? Hanya saja di antara kita semua berdelapan yang semuanya tampan, gagah dan cantik ini. Memang wajahkulah yang terburuk. Tapi kalau dibandingkan dengan wajah tokoh-tokoh dunia persilatan yang ada, wajahku termasuk nomor tujuh yang tertampan.", jawab Chen Taijiang dengan cepat. Olok-olok di antara mereka berdua ini membuat semuanya tertawa. Meng Ho pun tersadar, betapa dangkalnya cara dia berpikir tadi.
"Tuan, jika kita tidak bisa menentukan kehebatan seseorang dari luar, lalu dari mana kita tahu siapa yang hebat dan siapa yang tidak?", tanyanya kemudian setelah tawa mereka semua mereda.
"Hmm..., jika kau sudah berlatih dan kepekaanmu semakin tinggi, kau bisa menilai ketenangan seseorang dari cara dia bernafas. Kau bisa melihat bagaimana lanngkah kakinya, apakah ringan atau berat. Mantap atau tidak seimbang. Bagaimana posisi tubuhnya, apakah banyak celah kelemahan atau rapat terlindungi. Tapi itu semua hanya memberi gambaran yang kasar, terkadang seorang yang ahli dengan sengaja menyembunyikan ciri-ciri tersebut dan berpura-pura seperti orang yang lemah. Kau baru bisa tahu hebat atau tidaknya dia setelah kau bertarung dengannya.", ujar Zhu Yanyan panjang dan lebar.
"Itu sebabnya, seseorang harus selalu rendah hati dan sopan, siapa pun yang sedang dia hadapi. Karena kau tidak pernah tahu.", ujar Khongti menyambung.
"Hmm dan sikap rendah hati, bukan saja karena rasa takut, tapi yang lebih penting adalah kerendahan hati itu timbul karena kau menyadari keberadaanmu sebagai manusia yang serba terbatas. Di atas langit masih ada langit, ini ucapan yang baik, mengingatkan kita untuk tidak menjadi sombong oleh kebisaan kita.", lanjut Chen Taijiang berusaha melengkapi nasehat-nasehat sebelumnya.
"Apa yang diucapkan saudaraku itu benar, kau harus ingat itu baik-baik. Apa pun jalan yang kau pilih, siapa pun dirimu. Kerendahan hati adalah sifat yang baik dan sikap yang paling tepat dalam menghadapi segala keadaan.", ujar Khongti membenarkan. Sambil bercakap-cakap dan bersenda gurau, perjalanan pun jadi terasa singkat.
"Lihat sepertinya kita sudah sampai di pusat desa.", ujar Hu Ban sambil melihat ke depan, di kiri dan kanan mereka sudah mulai terlihat rumah-rumah penduduk. Melihat mereka sudah sampai di tujuan, Meng Ho terlihat sedikit kecewa.
"Ah... ya..., kita sudah sampai. Padahal masih banyak yang ingin kutanyakan.", keluhnya dengan sedih. Ding Tao tertawa kecil melihat kekecewaan Meng Ho.
"Sudahlah, kau antar kami ke rumah kepala desa, nanti selesai kami minta ijin untuk tinggal di desa kalian, kami akan pergi pula ke rumahmu. Bisa kita sambung nanti percakapan kita. Bagaimana?"
"Benar tuan mau mampir ke rumahku?", tanya Meng Ho bersemangat.
"Tentu saja, kenapa tidak, masa kau tidak percaya?", jawab Ding Tao.
"Percaya, percaya, tentu saya percaya, ayolah aku antar ke rumah kepala desa, nanti aku akan minta ibu menyiapkan makanan dan minuman.", ujar Meng Ho dengan bersemangat.
"Hei, jangan sampai merepotkan ibumu", ujar Ding Tao sambil mengikuti Meng Ho yang sudah berjalan cepat ke rumah kepala desa, tak sabar dia untuk buru-buru pulang dan bertemu dengan ibu serta adik-adiknya, juga tetangga dan teman-temannya, kedatangan rombongan Ding Tao nanti benar-benar satu berita besar.
"Ah, tidak repot, tidak repot.", ujar Meng Ho sambil setengah berlari. Ding Tao yang melihat itu jadi menggeleng-gelengkan kepala, dia sudah membuka mulut hendak mencegah Meng Ho, tapi Khongti menggamit tangannya sambil menggelengkan kepala.
"Percuma dibilang apa juga. Dia tidak akan mendengarkan.", ujar Khongti pada Ding Tao. Ding Tao pun tertawa kecut sambil mengangkat bahu.
"Ya, sudahlah, bukan maksudku merepotkan orang."
Kepala Desa Hotu, orangnya sudah berumur, tapi seperti penduduk desanya, dia pun orangnya ramah dan rendah hati.
Namanya Li Su, biasa dipanggil Kepala desa Li.
Bagi dia, rombongan Ding Tao sudah seperti rombongan seorang pejabat besar.
Jarang-jarang ada rombongan dari cina daratan yang berkunjung ke desanya.
Apalagi sampai delapan orang jumlahnya.
Kebanyakan penduduk di Desa Hotu masih memiliki pertalian dengan bangsa Han, itu sebabnya mereka pun menaruh hormat pada Ding Tao dan yang lainnya, yang datang dari dalam perbatasan.
"Jadi, tujuan kalian ke mari untuk berobat pada tabib di desa kami?", tanya Kepala Desa Li.
"Kurang lebih begitu, yang pasti kami butuh beberapa informasi darinya, mungkin juga nantinya akan nyata juga bahwa ada dari kami yang memerlukan pengobatan.", jawab Zhu Yanyan.
"Hmm... di desa ini Cuma ada Tabib Sheng, apakah dia orang yang kalian cari?", tanya salah seorang pembantu kepala desa yang ikut menemui mereka, namanya Bo Tu.
"Petunjuk yang kami terima hanya mengatakan bahwa kami harus menemui tabib di desa ini, jika di desa ini hanya ada satu tabib, berarti dialah orangnya.", jawab Zhu Yanyan.
"Ya... kalau begitu memang tidak ada lagi tabib lain di desa ini, ya hanya ada Tabib Sheng, tapi aku tidak tahu kalau ilmunya sehebat itu, sampai ada orang jauh-jauh datang untuk meminta bantuannya.", jawab Bo Tu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Zhu Yanyan pun tersenyum lebar.
"Ya... ada kalanya orang pintar justru mencari tempat sembunyi dan hidup dengan tenang sembari menutupi kepandaiannya."
"Ya bisa juga begitu, tapi memang selama ini setiap kali ada yang sakit dan pergi ke Tabib Sheng, kebanyakan tentu sembuh, kecuali memang sudah waktunya untuk berangkat menemui dewa Yama.", ujar Kepala desa Li.
"Lalu apakah kalian akan tinggal di tempat Tabib Sheng atau hendak mencari tempat lain? Kira-kira berapa lama kalian akan tinggal di sini?", tanya Kepala desa Li. Zhu Yanyan dan yang lainnya sudah pernah merundingkan hal ini, jadi Zhu Yanyan dengan cepat menjawab pertanyaan Kepala desa Li.
"Sebenarnya bisa dikatakan kami ini pelarian dari daratan, ada orang-orang yang mungkin akan mencari jejak kami, meski kami rasa mereka tidak akan m ampu mengikuti kami sampai di sini. Tapi itu sebabnya kami sudah sepakat, untuk tinggal di luar perbatasan desa, hanya pada saat-saat kami perlu bertemu Tabib Sheng atau perlu membeli sesuatu dari desa, kami akan datang."
Mendengar penjelasan Zhu Yanyan, mata Kepala desa Li dan Bo Tu sedikit membesar dan jantung mereka sedikit berdebar.
"Hmm... rupanya begitu, agak riskan juga situasinya, tapi aku senang kalian mau berterus terang, dari jawaban kalian itu artinya kalian pun tak mau menyusahkan kami. Kalian orang yang baik. Baiklah aku tidak keberatan, kalian bisa tinggal di utara desa ini, dengan begitu lebih mudah bagi kalian untuk menemui Tabib Sheng, juga di daerah itu hutan sudah mulai dibuka meski baru sedikit-sedikit. Jadi kalian dengan mudah bisa mendapatkan kayu untuk membangun rumah, kami pun akan ikut membantu. Tentu saja, hanya rumah yang sederhana saja. Sementara menunggu rumah itu siap, kalian bisa tinggal di rumahku, rumahku cukup besar untuk kalian ber-delapan.", ujar Kepala desa Li setelah berpikir beberapa lama. Bo Tu yang mendengar keputusan Kepala desa Li ikut mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Zhu Yanyan dan yang lain terlihat lega mendengar jawaban Kepala desa Li yang menyambut mereka dengan tangan terbuka.
"Terima kasih karena Kepala desa Li mau menerima kami dengan tangan terbuka", ujar Zhu Yanyan dengan sopan.
"Sama-sama, sama-sama, aku lihat kalian semua orang baik, yang aku harapkan dengan sungguh-sungguh adalah agar kalian benar-benar memperhatikan keadaan desa ini, agar rakyat desa ini tidak ikut terlibat dengan masalah yang kalian bawa. Seperti yang kalian lihat, kami hidup dengan damai, jauh dari kekerasan dan kuharapkan sampai nanti aku menutup mata keadaan desa ini tetap damai.", jawab Kepala desa Li. Zhu Yanyan pun menganggukkan kepala dengan tulus.
"Kami mengerti, kami tidak akan membalas kebaikan kalian dengan keburukan. Pada saat yang paling mendesak pun kami akan memilih mengorbankan diri kami sendiri daripada penduduk desa ini."
"Ya... ya... aku mengerti, aku percaya itu, itu sebabnya kedatangan kalian kami terima dengan tangan terbuka.", ujar Kepala desa Li. Selesai dengan meminta ijin pada Kepala desa Li, maka mereka pun beralih pada pembicaraan yang ringan-ringan, sebelum kemudian berpamitan.
"Jadi kalian mau ke rumah Meng Ho?", tanya Kepala desa Li.
"Benar, tadi kami sudah berjanji mau mampir dulu ke rumahnya, setelah kami selesai meminta ijin pada Kepala desa Li.", ujar Zhu Yanyan.
"Hohoho, dia memang seorang pemuda yang penuh semangat, aku yakin pembicaraan di rumahnya nanti bakal cukup menghibur. Mungkin nanti aku juga ikut mampir ke sana.", ujar Kepala desa Li sambil tertawa. Selesai berpamitan, mereka pun bersama-sama mencari rumah Meng Ho. Tanpa banyak kesulitan mereka sampai di sana. Begitu sampai di sana, Ding Tao dan rombongannya cukup terkejut karena rumah Meng Ho sudah ramai dengan orang. Sedikit bersungut-sungut, Meng Ho menyambut tamu-tamunya dan menjelaskan.
"Sudah kubilang pada ibu, jangan banyak cerita pada tetangga, ternyata tetap saja dia cerita. Jadinya mereka ikut datang, ingin melihat tamu desa ini. Sudah lama tidak ada pengunjung dari luar."
Ibunya yang sedang menghidangkan makanan dan minuman rupanya mendengar ucapan Meng Ho dan sambil tertawa keras dia berkata.
"A Ho, jangan asal buka mulut, kau sendiri menyombong ke teman-temanmu, sekarang mereka juga pada datang ingin mendengar cerita."
Melihat keramaian itu Khongti tertawa saja.
"Wah, rupanya kita bakal jadi bintang utama malam ini."
Meng Ho mempersilahkan mereka duduk sambil tersipu malu karena tidak mampu menjaga mulutnya.
Tapi penduduk desa yang sudah cukup umur, dengan cepat membuat tamu-tamu mereka merasa betah dengan gurauan-gurauan ringan dan pertanyaan-pertanyaan mereka tentang keadaan di luar desa mereka.
Dengan cepat terbentuk kelompok-kelompok kecil, ada yang suka mendengar cerita-cerita Khongti, Hu Ban dan Chen Taijiang.
Ada yang memilih berbicara dengan Zhu Yanyan dan Pang Boxi.
Ibu-ibu lebih banyak berkumpul di sekitar Shu Sun Er dan Wang Shu Lin.
Sementara mereka yang seumuran dengan Meng Ho dan juga Meng Ho berkumpul di sekitar Ding Tao.
Tidak berapa lama, Kepala desa Li ikut pula datang dalam keramaian itu, dari cara penduduk memperlakukannya, jelas dia seorang kepala desa yang dihormati dan disukai oleh penduduknya.
Pembicaraan itu pun berlangsung hangat, apalagi di kelompok Khongti yang pandai bicara, sebentar-sebentar tentu terdengar tawa mereka meledak.
Tapi waktu terus berjalan dan hari pun makin larut, satu per satu tamu berpamitan.
Pada saat sudah mulai sepi, justru tiba-tiba datang seorang tamu yang memiliki arti penting buat Ding Tao dan rombongannya.
Seorang tua dengan dandanan sederhana, wajahnya cekung saking kurusnya dia, tapi terlihat cerah dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Malam Kepala desa Li, Meng Ho..., apa kabar Bibi Wang ...", satu per satu mereka yang ada di sana disapanya.
"Tabib Sheng..., begitu ramainya rumah kami sampai kau pun datang ya?", ujar ibu Meng Ho sambil membawakan secangkir minuman untuk tabib tua itu. Mendengar nama Tabib Sheng disebut, tentu saja Ding Tao berdelapan dengan sendirinya menoleh dan memperhatikan tamu yang baru datang. Tabib Sheng pun tanpa berbasa-basi menyapa mereka dan berkata.
"Kudengar kalian datang arena ada keperluan denganku, apa benar?"
Zhu Yanyan sebagai yang tertua pun maju dan menjawab.
"Benar sekali Tabib Sheng, sebenarnya kami datang diutus oleh Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan."
Mendengar dua nama itu, mata Tabib Sheng tampak berkilat.
"Hmm... benarkah demikian? Menarik sekali, apakah mereka menitipkan suatu pesan?"
"Tidak ada, kami hanya diperintahkan untuk menceritakan segala kejadian yang kami alami dan nantinya Tabib Sheng tentu tahu apa yang harus dilakukan.", jawab Zhu Yanyan dengan jujur.
"Hmm..hmm... di mana nanti kalian akan tidur?", tanya Tabib Sheng.
"Kepala desa Li sudah menawari kami untuk menginap di rumahnya, sampai kami selesai membangun rumah untuk kami sendiri di luar batas desa.", jawab Zhu Yanyan.
"Oh..., mengapa demikian?", tanya Tabib Sheng heran.
"Kami sendiri yang memintanya demikian, karena sebenarnya, saat ini bisa dikatakan kami ini adalah pelarian. Lawan-lawan kami adalah orang kuat dalam dunia persilatan.", jawba Zhu Yanyan tanpa menutupi apa pun. Berita ini tentu saja sebuah berita baru untuk penduduk desa yang lain, kecuali bagi Kepala desa Li dan Bo Tu yang sudah mendengar cerita Zhu Yanyan lebih dahulu.
"Ah..., benar-benar menarik. Kalau begitu begini saja, biarlah kalian tinggal bersamaku sambil menunggu rumah itu selesai. Bagaimana? Kepala desa Li, tidak keberatan kan, kalau tamunya aku rebut?", ujar Tabib Sheng sambil terkekeh.
"Haha, Tabib Sheng ada-ada saja, tentu saja tidak apa-apa. Sepertinya memang ada hal yang penting yang harus kalian bicarakan.", ujar Kepala desa Li.
"Jadi bagaimana menurut kalian", tanya Tabib Sheng ke arah Zhu Yanyan.
"Kupikir itu usul yang bagus, asal Tabib Sheng tidak repot saja, karena kami ada berdelapan.", jawab Zhu Yanyan.
"Hehehe, tidak, tentu saja tidak.", jawab Tabib Sheng. Setelah itu mereka pun kembali berbincang-bincang seperti biasa, namun tamu-tamu yang lain sadar juga ada hal penting yang akan dilakukan tamu desa mereka ini di desa mereka. Lagipula hari memang sudah mulai menginjak malam dan sebelumnya sudah banyak yang berpamitan. Maka dalam waktu singkat, rumah itu pun jadi sepi, tinggal Ding Tao berdelapan, Meng Ho, ibu dan saudara-saudaranya, serta Tabib Sheng.
"Meng Ho, kurasa sudah saatnya kami berpamitan, terima kasih banyak untuk keramahan kalian.", ujar Zhu Yanyan sembari mengangguk ke arah Meng Ho dan ibunya. Ibu Meng Ho pun menjawab.
"Ah, biasa saja, kami ini jarang ada hiburan, jadi berita tentang kedatangan kalian jadi berita besar. Kalian juga merupakan tamu-tamu yang menyenangkan, justru kami yang berterima kasih, cerita-cerita kalian membuat desa yang sepi ini jadi hidup."
"Hahaha, syukurlah kalau begitu, besok-besok tentu kami akan mampir lagi.", ujar Khongti menjawab. Selesai berpamitan, mereka pun pergi meninggalkan rumah Meng Ho dan pergi ke rumah Tabib Sheng. Di sepanjang perjalanan tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, karena Tabib Sheng sendiri hanya berdiam saja dan tampak tak ingin membicarakan apa pun. Melewati beberapa rumah, bertemu dengan beberapa orang yang masih duduk-duduk di pelataran, akhirnya mereka sampai juga di rumah Tabib Sheng.
"Ini rumahku, cukup besar juga kan? Tapi harap maklum kalau di dalamnya sederhana saja, tapi orang persilatan seperti kalian tentu sudah biasa tidur di mana saja. Ada cukup banyak pembaringan, beberapa tahun yang lalu desa ini sempat terserang penyakit menular dan akhirnya kami kumpulkan mereka semua di sini untuk aku rawat.", ujar Tabib Sheng.
"Eh... Tabib Sheng, tapi tidak menular kan kalau kami tidur di pembaringan itu?", tanya Shu Sun Er ragu-ragu.
"Hahaha, tentu saja tidak, sudah aku semprotkan obat-obatan, lagipula itu sudah beberapa tahun yang lalu, penyakit yang ada tentu sudah mati semua dalam jangka waktu selama itu.", ujar Tabib Sheng sambil membuka pintu dan mempersilahkan tamu-tamunya masuk. Rumah Tabib Sheng memang benar sederhana dan tidak banyak isinya, namun bersih dan rapi. Hanya saja ada samar-samar bau obat-obatan di rumahnya, seperti biasa toko jual obat atau rumah tabib lainnya. Shu Sun Er tampak lega melihat betapa bersih dan rapinya rumah itu.
"Ini ada beberapa bangku, mari bantu aku memindahkannya ke mari, supaya kita bisa bicara dengan enak.", ujar Tabib Sheng sambil berjalan ke ruangan yang lain. Maka Ding Tao dan yang lain pun mengikuti Tabib Sheng dan dalam waktu yang singkat, di ruangan yang besar tadi sudah ada bangku-bangku bahkan sebuah meja. Shu Sun Er dan Wang Shu Lin pun dengan cekatan sudah menghidangkan satu poci besar teh panas untuk mereka semua.
"Hmm... begini baru nikmat... nah coba ceritakan apa yang terjadi dengan kalian. Apa hubungannya dengan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, lalu bagaimana sampai mereka berdua memberi pesan pada kalian untuk datang mencariku di desa ini.", ujar Tabib Sheng setelah menyeruput teh yang dihidangkan. Maka Zhu Yanyan pun menceritakan segala kejadian yang telah terjadi beberapa bulan terakhir di dalam perbatasan. Tabib Sheng mendengarkan dengan serius, beberapa kali dia menghela nafas tapi dia tidak menyela penuturan Zhu Yanyan. Baru ketika Zhu Yanyan sampai pada bagian di mana Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan mengambil keputusan untuk mengorbankan nyawa mereka.
"Tunggu... ah... lalu apa yang terjadi? Apakah mereka... hmm... apakah mereka berdua sudah meninggalkan dunia ini?", sela Tabib Sheng dengan suara bergetar dan sedih. Zhu Yanyan yang melihat kesedihan dalam pertanyaan Tabib Sheng jadi merasa terharu. Meski duka mereka sudah lama lewat dan tidak lagi membuat mereka kelu dan tidak dapat melanjutkan hidup mereka, tapi melihat ada orang lain yang juga berduka oleh kematian mereka berdua, rasa harunya pun muncul. Dengan suara sedikit serak Zhu Yanyan menjawab.
"Kami terlambat..., kedua tetua saat itu berhasil menghalau lawan, tapi mereka pun menderita luka yang sangat parah. Luka dalam akibat terlalu memaksakan diri untuk menggunakan hawa murni secara berlebihan, melampaui takaran tubuh fisik mereka."
Mendengar itu Tabib Sheng menutup matanya, tidak ada yang berani bersuara, setitik air mata tampak mengalir membasahi pipinya.
Lama kemudian baru dia membuka mata, air mata yang meleleh tak juga disekanya.
Ketika dia bicara, terdengar suaranya serak dan bergetar.
"Tak kusangka mereka mendahuluiku..."
"Baiklah sepertinya giliranku yang harus bercerita, aku sudah bisa menduga mengapa mereka mengirimkan kalian kepadaku. Tentu saja hal ini utamanya berhubungan dengan dirimu.", ujarnya sambil menunjuk ke arah Ding Tao.
"Hmm... entah dari mana harus kumulai, mungkin aku lebih baik memulainya dengan memperkenalkan diriku sendiri.", ujar Tabib Sheng setelah berpikir sejenak.
"Orang di desa ini mengenalku dengan panggilan Tabib Sheng, padahal namaku yang sebenarnya adalah Shen Goan", ujar Tabib Sheng atau Shen Goan sambil mengamati reaksi orang-orang di sekitarnya. Ketika melihat enam orang guru Wang Shu Lin berubah wajahnya, dia pun tersenyum dan berkata.
"Benar dugaan kalian, aku adalah Shen Goan, salah satu tetua dari Partai Matahari dan Bulan."
Sekarang bukan saja ke-enam guru Wang Shu Lin yang terkejut, Ding Tao dan Wang Shu Lin juga ikut berubah wajahnya.
"Ketua Ding Tao setelah mendengar itu, apakah kau masih mempercayaiku?", tanya Shen Goan pada Ding Tao. Ding Tao ternyata bisa menjawab dengan wajar.
"Ya, siauwte memang sempat terkejut tapi siauwte tetap percaya pada Tetua Shen, bukankah Tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan juga percaya pada Tetua Shen? Selain itu dari apa yang siauwte lihat, tidak ada alasan untuk tidak mempercayai Tetua Shen. Orang boleh berasal dari suku mana saja, dari partai apa saja, dia dinilai bukan dari mana dia berasal tapi dari perbuatannya."
Tetua Shen tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Bagus, tidak salah Khongzhen dan Chongxan mempercayakan masa depan dunia persilatan dari dua negara yang berbeda padamu. Dalam usia semuda ini, kau memiliki jiwa yang besar, pikiran yang terbuka dan jernih."
"O ya, kalau bisa kalian tetap panggil saja aku Tabib Sheng, sudah terlampau lama orang memanggilku dengan nama itu, sekarang aku merasa lebih nyaman menjadi Tabib Sheng daripada Tetua Shen.", ujarnya kemudian.
"Baik, kalau begitu akan kuteruskan ceritaku, kuharap kalian mau bersabar karena ceritaku ini cukup panjang.", ujar Tabib Sheng yang kemudian membasahi lagi tenggorokannya dengan secangkir teh. Maka mulailah Tabib Sheng bercerita, dia menjadi anggota Partai Matahari dan Bulan sejak masih kanak-kanak, ketika itu Partai Matahari dan Bulan belumlah disebut Partai Matahari dan Bulan, juga belum memiliki bentuknya seperti yang sekarang ini. Pada awalnya Partai Matahari dan Bulan adalah sebuah kumpulan keagamaan, ada seorang asing yang membawa ajaran agama baru di tanah itu, berasal jauh dari barat daratan Cina. Ajaran dasarnya sendiri bahkan Tabib Sheng pun sudah tidak mengingatnya dengan jelas, tapi satu hal yang dia ingat, ajaran itu menitik beratkan pada rasa persaudaraan di antara sesama manusia.Di antara mereka tidak ada yang namanya milik pribadi, semuanya saling membantu dan saling menolong. Pada orang di luar kelompok mereka, mereka selalu siap untuk menolong tanpa memandang siapa yang ditolong. Di masa yang sulit, di mana panen gagal dan bencana alam terjadi, ajaran itu memiliki daya tariknya sendiri. Di mana setiap pengikutnya bersama-sama saling memikul, sama-sama menanggung penderitaan yang lain. Saling menghibur dan menguatkan, dan dalam waktu yang singkat jumlah merekapun bertambah dengan pesat. Tidak sedikit pula, mereka dari golongan perompak dan penjahat yang kemudian bertobat dan bergabung dalam kumpulan mereka. Tertarik oleh tawaran akan pengampunan dan penerimaan sesama manusia yang tidak mengingat-ingat masa lalu mereka yang kelam. Tapi perkembangan yang pesat tidak selalu merupakah berkat. Perkembangan yang pesat itu membuat pejabat setempat merasa khawatir karena semakin lama kelompok itu menjadi semakin kuat. Salah satu yang mengkhawatirkan pihak bangsawan, adalah pandangan bahwa semua manusia itu sederajat tidak ada yang lebih tinggi tidak ada yang lebih rendah. Khawatir kekuasaan mereka akan melemah, dan diwarnai juga oleh kecemburuan dari pemuka-pemuka agama yang sudah ada sebelumnya. Maka akhirnya muncullah keputusan dari pemegang kekuasaan waktu itu, bahwa ajaran tersebut adalah ajaran sesat dan siapa pun yang menganutnya akan dianggap menjadi pengkhianat kerajaan, karena memandang kaisar yang adalah putera langit sebagai manusia yang sederajat. Mulailah timbul penangkapan-penangkapan dan pemaksaan untuk meninggalkan ajaran itu. Sebagai ajaran agama yang tentu saja menentang perbuatan kekerasan, pada awalnya korban berjatuhan dengan banyak, karena meski tidak melawan, di saat yang sama mereka pun menolak untuk meninggalkan iman mereka. Perubahan mulai terjadi ketika pembawa ajaran agama itu sendiri tertangkap dan dihukum mati. Pada awalnya para pemegang kekuasaan mengira itulah akhir dari pergerakan itu. Siapa sangka justru hilangnya pimpinan yang kharismatik itu membuat perubahan dalam pergerakan mereka. Para dedengkot tokoh sesat yang sudah bertobat, juga para pendekar dari aliran putih yang menjadi pengikut dari ajaran itu mulai melawan kekerasan dengan kekerasan. Jatuhnya korban dari antara saudara-saudara mereka membuat mereka tidak tahan lagi untuk tidak menggunakan kepandaian mereka di masa sebelumnya. Dan lahirlah Partai Matahari dan Bulan, setiap anggotanya pun dilatih oleh para pendekar dan tokoh sesat yang sudah bertobat itu. Sebagai saudara, tidak ada yang disembunyikan, mereka pun dengan bebas mendiskusikan ilmu mereka masing-masing. Dari berbagai macam pertemuan dan pembicaraan, lahirlah ilmu-ilmu tangguh yang memiliki cirinya sendiri, berbeda dengan ilmu-ilmu yang ada sebelumnya. Menilik keadaan yang mendesak, di mana mereka yang sudah terlampau berumur untuk bisa melatih ilmu kepandaian secara efektif dan juga tidak mungkin membuat mereka siap dalam waktu yang singkat. Salah seorang mantan tokoh sesat yang ahli dalam bidang obat-obatan dan racun, mulai mengolah obat-obatan semacam Obat Dewa Pengetahuan yang tujuannya membantu para saudara yang awam itu, untuk menguasai ilmu untuk sekedar membela diri dalam waktu yang singkat. Jumlah obat-obatan itu sendiri sangat beragam, mulai dari obat untuk menambah kekuatan, obat untuk membuat salah satu anggota tubuh jadi beracun sampai obat perangsang syaraf untuk bekerja lebih cepat.
"Aku salah satu pewaris ilmu dari tabib itu, dulu dia dikenal dengan nama Tabib sesat dari Utara, Pa Yo Bong. Kukira itu salah satu alasan mengapa Saudara Khongzhen dan Chongxan mengirimku kepadaku.", ujar Tabib Sheng disela-sela ceritanya.
"Nah sekarang aku lanjutkan lagi kisahku meski memakan waktu agak lama, karena nanti pada akhirnya kalian akan mendapatkan gambaran yang jelas, mengapa kalian sekarang berada di sini.", lanjutnya kemudian. Dari sebuah perkumpulan agama, Partai Matahari dan Bulan pun berubah menjadi sebuah partai dunia persilatan, karena bekas-bekas orang dunia persilatan-lah yang kemudian mengambil alih pimpinan dari perkumpulan itu. Bukan karena mereka serakah dengan kekuasaan, namun karena penindasan dari penguasa setempat secara tidak langsung sudah memaksakan posisi itu pada mereka. Generasi pun berganti generasi, semakin lama ajaran yang berlandaskan keagamaan semakin ditinggalkan dan sifat-sifat dari sebuah organisasi dunia persilatan yang lebih menonjol. Yang terkuatlah yang menjadi pimpinan, siapa kuat dia yang benar. Meski ada sedikit perbedaan dengan partai lain, di mana posisi ketua adalah seumur hidup. Dalam Partai Matahari dan Bulan, posisi ketua bukanlah seumur hidup, melainkan dibatasi oleh prinsip itu sendiri, siapa yang terkuat dialah yang menjadi ketua. Hal ini dimaksudkan juga untuk memacu perkembangan ilmu silat dari partai mereka dan terbukti persaingan yang timbul membuat muncul banyak tokoh-tokoh berkepandaian tinggi di dalam partai mereka. Namun juga muncul pergerseran, ketika lama kelamaan, pemikiran itu bukan hanya diterapkan dalam partai mereka sendiri. Pemikiran siapa yang terkuat, maka dia yang berkuasa juga berjalan ke arah keluar. Maka timbullah pemikiran bahwa Partai Matahari dan Bulan adalah partai yang terkuat, karenanya sudah sepantasnya jika partai mereka menjadi penguasa atas yang lainnya. Ketika Ren Zhuocan menjadi ketua dari Partai Matahari dan Bulan, di dalam partai itu pun sudah terbagi menjadi dua bagian. Mereka yang searah dengan kebijakan dan ambisi Ren Zhuocan untuk menguasai dunia dan mereka yang masih mengingat ajaran awal dari perkumpulan mereka, meski itupun hanya samar dan hanya dalam bentuk semangatnya saja. Kedua golongan itu pun diam-diam saling bersaing untuk menentukan arah dari Partai Matahari dan Bulan di masa depan. Namun pada saat ini, golongan yang searah dan seambisi dengan Ren Zhuocan lebih kuat karena sampai saat ini tidak ada yang memiliki ilmu setinggi Ren Zhuocan. Sudah beberapa kali pemilihan ketua partai diadakan, didorong oleh keinginan dari golongan yang berseberangan dengan Ren Zhuocan untuk menjadikan salah satu dari mereka ketua Partai Matahari dan Bulan menggantikan Ren Zhuocan. Tapi nyatanya, sekian kali mereka mencoba dan Ren Zhuocan selalu muncul sebagai pemenang.
"Sampai di sini kisahku, apakah Ketua Ding Tao sudah bisa meraba ke arah mana pembicaraan kita akan berlangsung?", tanya Tabib Sheng pada Ding Tao. Berkerut dahi Ding Tao, menyambung-nyambungkan antara keadaan dirinya dengan kedaan Partai Matahari dan Bulan yang baru saja diceritakan oleh Tabib Sheng. Yang lain pun diam-diam ikut berpikir. Cukup lama Ding Tao berpikir, membuat beberapa orang dari mereka mulai merasa gemas karena begitu lama dia berpikir. Akhirnya Ding Tao pun menegakkan kepala dan menjawab.
"Setelah memikirkannya, aku kira aku tahu apa jawabnya. Hanya saja aku kuatir terlalu tinggi menilai diri sendiri dalam pemikiranku ini."
Tabib Sheng tertawa ramah.
"Ah, tidak apa, cobalah kita dengar apa pemikiran Ketua Ding Tao mengenai masalah ini."
Ketika Ding Tao mulai menjawab, mereka pun membandingkan jawaban mereka dengan jawaban Ding Tao, sembari bertanya-tanya dalam hati, benarkah dugaan mereka itu.
Jawaban seperti apa yang diberikan oleh Tabib Sheng atas dugaan mereka itu?
Dan seperti apakah jawaban yang diberikan Ding Tao pada Tabib Sheng?
Ding Tao pun menjawab, katanya.
"Sekali lagi aku merasa kurang yakin dengan jawabanku ini, tapi hanya jawaban ini yang kupikir paling sesuai."
"Seperti yang kita ketahui, saat ini Partai Pedang Keadilan bisa dikatakan sudah lepas dari tanganku. Bila pun ada yang masih setia, baik dari segi jumlah maupun dari segi kemampuan tidak bisa menandingin lawan yang saat ini bersatu membentuk satu kekuatan yang tidak tertandingi oleh kekuatan manapun dalam perbatasan."
"Di lain pihak, ada Partai Matahari dan Bulan, yang memiliki kekuatan sangat besar dan sejak belasan tahun yang lalu sudah muncul kekhawatiran bahwa tanpa bersatu, dunia persilatan di dalam perbatasan akan ditaklukkan olehnya. Tapi justru di luar sepengetahuan kita semua, sebenarnya tidak semua anggota Partai Matahari dan Bulan menghendaki hal ini, hanya saja mereka tidak memiliki tokoh yang bisa mengimbangi ilmu dari Ren Zhuocan."
"Dari dua hal itu, jelas baik dari pihak kami, maupun dari pihak Partai Matahari dan Bulan yang segolongan dengan Tabib Sheng, memiliki satu pertemuan kepentingan. Kami membutuhkan kekuatan untuk mengimbangi lawan di dalam perbatasan. Tabib Sheng membutuhkan seseorang untuk menjatuhkan Ren Zhuoan dari tampuk kepemimpinannya."
"Tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, tidak mungkin harus meninggalkan Shaolin dan Wudang untuk menjadi ketua dari Partai Matahari dan Bulan. Maka mereka perlu tokoh lain yang bisa diharapkan dan tidak terikat dengan satu partai tertentu. Pada generasi yang lalu, mungkin Pendekar pedang Jin Yong adalah tokoh yang mereka harapkan. Namun dengan menghilangnya Pendekar pedang Jin Yong hilang pula harapan mereka. Sampai pada kejadian yang menimpa diriku."
"Sampai di sini, apakah menurut Tabib Sheng, uraianku sudah tepat?", tanya Ding Tao dengan sopan.
"Heheheh, tepat sekali, sungguh tepat sekali, Ketua Ding Tao tinggal memberikan kepastiannya saja, apakah Ketua Ding Tao bersedia atau tidak.", jawab Tabib Sheng sambil terkekeh puas. Ding Tao terdiam sejenak, seakan ragu untuk menjawab. Pang Boxi-lah yang menyeletuk tidak sabar.
"Ketua Ding Tao, kau terimalah tawaran ini, hajar Ren Zhuocan, kemudian dengan menggunakan kekuatan Partai Matahari dan Bulan, kita bersihkan dunia persilatan di daratan dari kecoak-kecoak busuk yang menghuninya!"
"Hehh.. dogol, bukan kau yang ditawari, jadi biarkan Ketua Ding Tao memutuskannya sendiri", sergah Khongti pada Pang Boxi.
"Kak Khongti, masa masih perlu dipikirkan lagi, jika Murong Yun Hua itu dibiarkan saja, bisa habis seluruh dunia persilatan dibakar oleh ambisinya. Atau jika mereka bertemu dengan Partai Matahari dan Bulan di bawah pimpinan Ren Zhuocan yang sama besarnya ambisinya, jelas bakal terjadi banjir darah di kedua belah pihak.", jawab Pang Boxi.
"Tetua harap bersabarlah, aku sudah mengambil keputusan.", ujar Ding Tao sesaat kemudian. Maka mereka semua pun menunggu jawaban Ding Tao dengan hati berdebar.
"Aku sendiri tidak berpikir demikian, benar memang aku harus mengalahkan Ren Zhuocan demi meredam ambisinya, namun aku tidak berkehendak untuk menjadi ketua dari Partai Matahari dan Bulan.", ujar Ding Tao dengan tegas.
"Tunggu, lalu bagaimana dengan Murong Yun Hua, apa kau mau membiarkan dia berkuasa dan menggerakkan dunia persilatan sesuai dengan ambisinya?", tanya Pang Boxi penasaran.
"Tidak, selama dalam perjalanan sebenarnya aku sudah berpikir, mungkin kalian ingat aku memberikan beberapa tugas pada kelompok rahasia binaan Chou Liang. Aku berharap mendengar hasilnya beberapa hari lagi, berdasarkan apa yang mereka kumpulkan aku akan membuat siasat untuk meruntuhkan kekuasaan Murong Yun Hua.", jawab Ding Tao. Ganti Tabib Sheng yang bertanya.
"Tapi jika kau menolak untuk menjadi ketua dari Partai Matahari dan Bulan, Ren Zhuocan tetap berkuasa dan ambisinya hanya menunggu waktu. Tidak ada bedanya dengan yang selama ini dilakukan oleh Saudara Khongzhen dan Saudara Chongxan. Sebenarnya pertemuan 5 tahunan itu, kamilah yang merancangnya demi meredam ambisi Ren Zhuocan."
"Saat itu dia sudah mendapat kata sepakat dari para pembesar militer negeri ini dan bersiap untuk menyerang ke daratan, menaklukkan orang-orang persilatan yang seringkali ikut menjadi pilar kokoh pertahanan negeri kalian."
"Aku yang tidak setuju dengan rencana itu, diam-diam menemui Saudara Khongzhen dan Saudara Chongxan. Dari pertemuan itu lahirlah pemikiran untuk mengadakan pertemuan lima tahunan. Benar saja, prinsip Ren Zhuocan bahwa yang terkuat yang berkuasa, berbalik membungkam ambisinya ketika berhadapan dengan orang yang lebih kuat dari dirinya. Tapi pertemuan lima tahunan tidak lebih dari jalan keluar sementara, selama Ren Zhuocan berkuasa bahaya itu masih ada.", lanjut Tabib Sheng.
"Menurut pendapatku, seandainya aku menjadi ketua dari Partai Matahari dan Bulan pun, bahaya itu tidaklah hilang. Entah Ren Zhuocan, entah mereka yang sealiran dengan dia, selama pemikiran bahwa yang terkuat adalah penguasa tidak hilang, maka bahaya itu masih ada, tinggal menunggu waktu muncul dari golongan mereka yang lebih kuat dariku.", ujar Ding Tao sambil tersenyum.
"Benarkah demikian? Ataukah Tetua Shen berharap aku mengadakan bersih-bersih rumah, hingga darah membanjir mengaliri seluruh ruang-ruang Partai Matahari dan Bulan?", tanya Ding Tao. Ditanya demikian, Tabib Sheng pun sadar dan bergidik dengan sendirinya, dalam usahanya mencegah partainya untuk mengikuti jalan yang sesat, dia hampir saja melanggar prinsip yang dia junjung itu sendiri. Bergetar hatinya dan buru-buru dia menjawab.
"Tidak, tentu saja tidak."
"Ya, aku pun berpikir bahwa bukan itu yang Tetua Shen kehendaki. Tapi yang Tetua Shen perlu ingat, sebuah ide, sebuah pemikiran, tidak bisa diperangi dengan kekuatan. Jika demikian maka hal itu hanya akan menghilang selama kekuatan yang menekannya ada. Ketika kekuatan itu pergi, mereka pun kaan muncul kembali.", ujar Ding Tao dengan bijak.
"Sebuah pemikiran, hanya bisa diperangi dengan pencerahan batin. In ibukan peperangan antara daging dan tulang, tapi peperangan antara ajaran yang baik dan ajaran yang salah. Medan perangnya adalah hati. Senjatanya adalah perkataan dan teladan hidup."
"Ketua Ding Tao sungguh bijaksana, membuat aku yang sudah tua ini menjadi malu.", ujar Tabib Sheng dengan rendah hati.
"Jangan begitu tetua, aku yakin tetua pun mengerti hal ini, hanya karena keprihatinan yang mendalam, tetua menjadi lupa.", jawab Ding Tao merendah.
"Ho, kalau begitu apa orang jahat kita biarkan saja menjadi jahat, toh tidak ada gunanya kita melawan mereka. Jika kita pergi bukankah nanti mereka akan kembali lagi?", gumam Pang Boxi dengan sebal. Ding Tao tertawa.
"Tetua jangan marah, karena beberapa hari ini aku banyak berpikir jadi aku berani berkata seperti ini. Masakan manusia mau melawan jalannya langit? Jika langit pun bertindak demikian pada orang-orang yang sesat, tentu langit memiliki tujuan. Bukankah langit tidak mengirimkan petir setiap kali kita berbuat salah? Melainkan diberikannya waktu buat manusia untuk bertobat, hanya jika sampai pada habis waktunya, barulah hukuman datang. Atau jika datang hukuman pada masa hidupnya, seringkali kita bisa merunutnya degan hukum sebab akibat."
"Maksudnya?", tanya Pang Boxi.
"Maksudku, seakan langit bertindak bahwa hukum langit itu tak ada dan manusia bebas menentukan sendiri polah tingkahnya dengan segala resikonya. Kalau kupikirkan jika langit bertindak sebaliknya dan setiap kali manusia berbuat salah akan datang hukuman seketika itu juga. Memang benar manusia akan menjadi baik semua. Tapi kebaikan itu adalah kebaikan yang semu. Kebaikan yang muncul karena keterpaksaan, karena rasa takut."
"Manusia menjadi baik, karena mereka dipaksa menjadi baik. Mereka yang benar-benar baik pun, kebaikannya jadi tidak berkembang, karena ada selalu ada rasa bahwa mereka sedang diawasi."
"Sebaliknya dalam keadaan seperti sekarang, di mana ada kalanya kejahatan meraja lela, justru kebaikan yang murni timbul di hati sebagian manusia yang sadar. Mereka berjalan di jalan kebaikan, meskipun justru hal itu menimbulkan kerugian. Mereka menjadi baik, karena mereka mencintai kebaikan dan membenci kejahatan. Mereka akan melawan kejahatan meski hal itu membahayakan dirinya, karena mereka bukan lagi menjadi baik hanya demi kenyamanan diri sendiri, tapi karena mereka mencintai kebaikan.", ujar Ding Tao dengan bersemangat.
"Hmm... jadi kejahatan pun ada gunanya? Penjahat pun jadi pahlawan karena dia berbuart jahat?", dengus Pang Boxi meski terdengar nada ragu dalam suaranya.
"Kejahatan adalah jahat, setiap pelakunya tentu harus mempertanggung jawabkan perbuatan jahatnya pada Yang Maha Adil. Namun langit yang Maha Bijak, mampu menggunakan kejahatan demi kebaikan mereka yang baik, yaitu untuk memurnikan mereka. Meski sepertinya mereka ditindas, namun dalam penindasan itu, bukankah kebaikan mereka semakin bersinar terang? Seperti malam yang gelap, membuat bintang-bintang berkilauan.", jawab Ding Tao pada Pang Boxi. Pang Boxi pun terdiam, bukan hanya Pang Boxi, yang lain pun terdiam. Rupanya berhari-hari, berminggu-minggu, selama dalam perjalanan Ding Tao diam dan menyendiri, selama ini dia selalu merenung dan sekarang menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijak. Wang Shu Lin merasa betapa sosok Ding Tao yang sekarang semakin jauh dari jangkauannya. Semakin membuat dia mencintai pemuda itu, tapi di saat yang sama semakin jauh, seperti pungguk merindukan bulan. Setelah cukup lama semuanya terdiam, Hu Ban yang kemudian memecahkan kediaman mereka dan bertanya pada Ding Tao.
"Ketua Ding Tao mungkin benar semua uraian ketua itu, namun kekuatan Murong Yun Hua saat ini begitu besar. Jika Ketua Ding Tao belum memiliki keyakinan yang pasti, apakah tidak lebih baik jika Ketua Ding Tao meminjam kekuatan Partai Matahari dan Bulan?", tanya Hu Ban pada Ding Tao.
"Hmm... sebenarnya setelah mendengar penjelasan Tetua Shen, aku pun sempat berpikir demikian. Namun ada beberapa sebab mengapa aku menolaknya. Yang pertama adalah masalah patriotisme, bagaimana pun juga dimanakah letak kecintaan kita pada negeri, di mana letak kebanggan kita sebagai anak negeri, jika untuk menyelesaikan masalah di antara kita sendiri, kita harus meminta bantuan dari luar?"
"Yang kedua, bila aku menggunakan kekuatan Partai Matahari dan Bulan untuk meredam ambisi Murong Yun Hua, maka itu artinya kekerasan melawan kekerasan, jumlah korban yang jatuh akan sangat banyak dari kedua belah pihak. Sebisa mungkin aku ingin menghindarkan jatuhnya korban yang tak berdosa. Dari sekian banyak yang mati, terbanyak adalah mereka yang sebenarnya hanya mengikuti pimpinannya saja tanpa mengerti hitam dan putihnya urusan."
"Dan yang ketiga, aku juga akan merasa bersalah pada para pengikut Partai Matahari dan Bulan, demi satu urusan yang bukan kepentingan mereka sendiri, aku manfaatkan mereka, aku korbankan mereka. Bagaimana aku bisa hidup dengan hati nurani yang bersih jika aku melakukan hal itu? "Pembunuhan-pembunuhan yang kita lakukan sepanjang perjalanan sudah membuatku merasa bersalah dan bahkan aku telah sampai pada kesimpulan, seandainya hal itu terulang aku akan membebaskan mereka pergi dan tidak mengambil nyawa mereka. Aku yakin hal itu pun sedikit banyak membebani hati kita semua, hanya karena logika kita membenarkannya, kita masih bisa membungkamnya."
"Aku harap penjelasanku ini, bisa tetua sekalian mengerti dan terima. Aku harap tetua sekalian bisa memaafkan keegoisanku, di mana aku berkeras mengikuti hati nuraniku sendiri.", ujar Ding Tao menutup penjelasannya. Setelah lama mereka semua merenungkan jawaban-jawaban Ding Tao, akhirnya Zhu Yanyan pun membuka mulut.
"Ketua Ding Tao..., jika manusia tidak mengikuti hati nuraninya, lalu apa lagi yang bisa menjadi pelita bagi dia menjalani hidupnya? Mendengar penjelasan Ketua Ding Tao, rasa-rasanya aku berhadapan lagi dengan kakak seperguruanku Pendeta Chongxan."
"Benar, itu benar, aku pun serasa berbincang-bincang dengan kakak seperguruanku Bhiksu Khongzhen.", uajr Khongti dengan mata sedikit membasah. Tabib Sheng mengangguk-angggukkan kepala.
"Ya, entah berapa lama aku sudah lupa dengan semua itu, Ketua Ding Tao sungguh seorang yang bijaksana. Meski terselip rasa sayang karena Ketua Ding Tao tidak bersedia menggantikan kedudukan Ren Zhuocan, tapi aku bisa menerima alasan ketua. Hanya saja ada satu pertanyaan kecil, mengapa ketua memanggilku Tetua Shen?"
Ding Tao tersenyum kecil dan menjawab.
"Karena itu lah sebenarnya diri anda. Anda adalah Tetua Shen Goan, tetua dari Partai Matahari dan Bulan, bukan Tabib Sheng, seorang tabib di sebuah desa bernama Hotu. Banyak pengikut dari Partai Matahari dan Bulan sedang memilih jalan yang salah. Lalu mengapa Tetua Shen berada di sini, bermain sandiwara menjadi seorang tabib di desa kecil ini?"
Tersenyum pedih Tetua Shen menganggukkan kepala.
"Sekali lagi Ketua Ding Tao benar, beberapa tahun ini aku sudah berputus asa, pengikut Ren Zhuocan semakin banyak. Terutama mereka yang berusia muda. Dalam kegetiranku aku melarikan diri di desa ini."
"Hahahahaha, sungguh memalukan, aku yang tua ini sampai harus disindir oleh yang lebih muda agar ingat pada tanggung jawabku.", tertawa pedih Tabib Sheng, atau sekarang akan kita sebut Tetua Shen Goan tergelak membuat sendu mereka yang mendengar suara tawanya.
"Aku minta maaf, jika sudah melukai perasaan Tetua Shen", ujar Ding Tao perlahan.
"Tidak..., memang seekor keledai perlu disengat lebah supaya dia bisa berlari kencang. Hari ini aku merasa gembira sekaligus sedih. Aku sedih karena aku baru sadar, beberapa tahun telah terbuang percuma, menantikan datangnya seorang penyelamat, lupa untuk bekerja, lupa bahwa aku juga punya tanggung jawab."
"Tapi aku juga gembira, bahwasannya langit masih memberikan kesempatan padaku untuk memperbaiki kesalahanku itu.", ujar Tetua Shen Goan dengan bersemangat. Ding Tao pun tersenyum lega.
"Syukurlah kalau begitu, memang waktu yang diberikan untuk memperbaiki kesalahan adalah sesuatu yang sangat berharga, Pemberian langit yang tak ternilai yang harus kita syukuri."
"Baiklah malam ini, sebaiknya kita semua beristirahat dahulu. Besok pagi aku akan memeriksa keadaan Ketua Ding Tao, akan kita lihat, apakah benar Obat Dewa Pengetahuan sudah bersih sepenuhnya dari tubuh Ketua Ding Tao dan apakah tubuh Ketua Ding Tao sudah pulih kembali setelah lama tergantung padanya.", ujar Tetua Shen.
"Kemudian selanjutnya, ada hal lain yang perlu kita lakukan. Aku sudah yakin bahwa Ketua Ding Tao memang pilihan yang tepat, tapi apakah Ketua Ding Tao mampu mengalahkan Ren Zhuocan atau tidak, besok akan kita lihat. Kita akan berlatih tanding, Ketua Ding Tao harus mampu mengalahkanku sebelum 10 jurus berlalu. Jika tidak, jangan harap Ketua Ding Tao bisa menang melawan Ren Zhuocan.", ujar Tetua Shen kemudian.
"Dalam 10 jurus? Sedemikian hebatnyakah Ren Zhuocan?", hampir bersamaan Chen Taijiang dan Pang Boxi bertanya.
"Meskipun berat tapi aku harus menjawab ya, bahkan jika Ketua Ding Tao bisa mengalahkanku dalam 10 jurus pun aku tidak memiliki keyakinan 100%. Ren Zhuocan berlatih sangat keras, terakhir kali aku mencoba kepandaiannya aku kalah dalam hitungan 14 jurus dan itu sudah 3 tahun yang lalu. Sekarang? Hmm... aku pun tidak memiliki keyakinan apakah 10 jurus itu batas yang pantas.", jawab Tetua Shen Goan membuat semua orang tercenung memikirkannya.
"Hmm... kita beruntung ada Tetua Shen di sini, sehingga kita bisa mengira-ngira kepandaian Ren Zhuocan. Betapapun juga ,satu kenyataan harus dihadapi dengan lapang dada, baru kita bisa mencari pemecahannya. Tetua Shen benar, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali beristirahat. Biarlah besok akan kita lihat, seberapa banyak Ketua Ding Tao harus berusaha.", ujar Zhu Yanyan menghibur yang lain.
"Benar, Tetua Zhu Yanyan benar, sudahlah, mari kita semua beristirahat saja", ujar Ding Tao membenarkan. Mereka pun diantarkan oleh Tetua Shen menuju tempat masing-masing. Shu Sun Er dan Wang Shu Lin mendapatkan satu kamar sendiri, sementara yang lain tidur bersama-sama di satu ruangan yang besar. Yang lain sudah lama tertidur, ketika Ding Tao masih menatap langit-langit dan berpikir. Sehebat apakah Ren Zhuocan? Tetua Shen tentu memiliki ilmu yang tidak rendah, dari kisahnya dia sudah mulai mempelajari ilmu silat Partai Matahari dan Bulan sejak masih sangat muda. Kecerdasannya tak perlu diragukan, terbukti dia menjadi pewaris dari Tabib sesat dari utara. Kelihaiannya dalam ilmu silat juga tidak perlu diragukan, terbukti tiga tahun yang lalu dia mencoba mengalahkan Ren Zhuocan, itu artinya dari golongan yang menentang Ren Zhuocan dia adalah orang terkuat. Dan Ren Zhuocan mengalahkannya dalam 14 jurus, itu pun tiga tahun yang lalu. Selama tiga tahun itu pula Ren Zhuocan tentu berlatih siang dan malam. Dalam perjalanan ke Desa Hotu Ding Tao berhasil mengalahkan guru-guru Wang Shu Lin dalam latih tanding, meski demikian dalam hatinya masih belum hilang perasaan bahwa ada yang kurang dari dirinya.
"Besok aku akan tahu apa kekuranganku itu", gumam Ding Tao.
"Hmm... Ding Tao.? Kau berkata apa?", gumam Pang Boxi yang tidur di sebelah Ding Tao setengah bangun setengah tidur.
"Oh, maaf tidak ada apa-apa.", ujar Ding Tao merasa malu.
"Hei... kau sendiri yang bilang, untuk sementara lupakan semua urusan dan kita beristirahat dulu. Besok kau harus dalam keadaan segar untuk mencoba kepandaian Tetua Shen.", ujar Pang Boxi mengingatkan.
"Tetua benar, baiklah aku akan segera tidur", jawab Ding Tao.
"Hmm.. yah..yah...cepatlah tidur, kalau aku sudah mulai mendengkur kau akan lebih susah untuk tidur", gumam Pang Boxi yang sebentar kemudian terlelap. Mengulum senyum Ding Tao pun mulai menutup mata dan menutup telinga, bagi yang sudah terlatih untuk menutup 5 panca indera dan bermeditasi tentu dengkuran Pang Boxi tidak menjadi masalah besar. Tidak lama kemudian mereka semua pun tertidur pulas, mengumpulkan tenaga, menanti esok pagi, ketika ujian akan dimulai. Keesokan paginya, hanya Ding Tao dan Tetua Shen yang tinggal di rumah, karena Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya pergi membantu penduduk desa membangun rumah untuk mereka tinggal selama mereka ada di Desa Hotu.
"Baiklah coba kita periksa denyut nadimu", ujar Tetua Shen. Tiga jarinya yang sangat peka sudah diletakkan pada pergelangan tangan Ding Tao, diam merasakan Tetua Shen berusaha menentukan keadaan tubuh Ding Tao berdasarkan denyut nadinya di titik-titik pada pergelangannya.
"Hmm... obat yang diberikan oleh Tabib Shao Yong itu benar-benar sangat manjur, tapi perlu waktu lebih lama sebelum tubuhmu benar-benar memulihkan dirinya. Pengaruh obat itu cukup keras, meski saat ini kau tidak merasakannya, sebenarnya banyak organ tubuhmu yang berlum pulih total.", ujar Tetua Shen Goan.
"Tapi tetua, aku sudah mencoba berlatih dan aku tidak merasakan ada jalur-jalur energi yang terhalang atau pusat energi yang terluka. Meski memang, rasanya ada sesuatu yang mengganjal, seperti ada masalah tapi aku tidak bisa menemukannya.", kata Ding Tao pada Tetua Shen.
"Hmm... kalau kau merasa seperti itu, kurasa masalahnya bukan ada pada tubuhmu. Memang benar banyak organ tubuh yang belum pulih benar, tapi umurmu yang masih muda dan tubuh fisikmu yang kuat, membuat kerusakan yang ada tidak akan terasa olehmu. Kecuali bila kau biarkan saja mereka tanpa diibati, nanti baru pada masa tuamu kau akan merasakan ketidak beresan dalam tubuhmu.", ujar Tetua Shen menjawab Ding Tao.
"Begitukah? Jadi menurut tetua, luka yang aku derita ini tidaklah berbahaya?", tanya Ding Tao.
"Bukan tidak berbahaya, tapi tidak akan kaurasakan adanya luka, sampai kau nanti sudah mulai renta dan justru itu bahayanya karena kau tidak merasakannya. Tapi sekarang sudah ketahuan ada masalah, tentu kita akan memulai perawatan. Aku akan tuliskan resep obat, seandainya nanti kau perlukan, karena perlu bertahun-tahun untuk perawatan lukamu ini. Juga akan aku ajarkan satu cara meditasi untuk memperkuat organ-organ dalam tubuhmu ini.", ujar Tetua Shen setelah berpikir sejenak.
"Tetua, sampai berapa lama baru akan pulih benar kondisi tubuhku? Lalu jika obat itu terus aku minum apakah tidak kemudian menimbulkan efek yang buruk?" ,tanya Ding Tao.
"Oh tidak, obat ini sifatnya ringan saja, bahkan baik juga untuk orang tua atau wanita hamil. Jadi sama sekali tidak berbahaya, dia lebih mirip obat untuk menjaga kesehatan. Jadi sebisa mungkin setiap hari kau minum obat ini, kecuali jika belasan tahun dari sekarang kita kebetulan bertemu, bisa aku periksa lagi nadimu dan kulihat apakah masih perlu kau minum atau tidak obat ini.", jawab Tetua Shen.
"Hmm... baiklah", ujar Ding Tao tampak ragu.
"Hahaha, apa kau takut obat ini akan membuatmu kecanduan?", tanya Tetua Shen membaca perasaan Ding Tao. Ding Tao pun tersipu malu.
"Maafkan aku Tetua Shen, sejak aku menyadari akibat dari Obat Dewa Pengetahuan aku jadi sedikit takut untuk meminum segala macam obat."
"Tak apa, aku mengerti perasaanmu, justru itu perasaan yang bagus, dengan demikian kau akan memiliki kekuatan untuk menghindari godaan dari meminum obat serupa. Tapi aku jamin padamu, obat ini tidak seperti itu, bahkan kau bisa tanyakan pada tabib mana pun, karena obat ini cukup umum sifatnya, tidak ada yang rahasia.", ujar Tetua Shen menenangkan Ding Tao. Mendengar penjelasan Tetua Shen, hati Ding Tao pun jadi lebih tenang, meski demikian dia berjanji dalam hati selekasnya dia bisa memeriksa kebenaran perkataan Tetua Shen tanpa menyinggung hatinya, dia akan melakukannya. Ya, Ding Tao sudah jadi jauh lebih dewasa dalam bersikap sebagai seorang tokoh besar dalam dunia persilatan.
"Jadi menurut Tetua Shen, tidak ada yang perlu dikhawatirkan?", tanya Ding Tao.
"Tidak, yang penting ketua harus merawat baik-baik diri Ketua Ding Tao, jangan melalaikan latihan dan juga meminum obat yang nanti aku berikan.", ujar Tetua Shen.
"Lalu apakah luka yang tersembunyi ini akan berpengaruh dalam pertarunganku nanti melawan Ren Zhuocan?", tanya Ding Tao.
"Tidak, jangan khawatir Ketua Ding Tao bisa mengeluarkan kemampuan Ketua Ding Tao 100%, seperti yang kukatakan umur ketua yang masih muda sangat menguntungkan dalam hal ini.", jawab Tetua Shen Goan.
"Baguslah kalau begitu, jadi sekarang apakah kita mulai coba latih tanding untuk menilai kesiapanku melawan Ketua Ren Zhuocan?", tanya Ding Tao. Tetua Shen berpikir sejenak kemudian menjawab.
"Hmm.. sebaiknya kita lakukan nanti malam. Pertama kurasa kita butuh yang lain untuk ikut mengamati, baik menilai kurang lebihnya juga untuk berjaga jika dalam latih tanding nanti kita terlalu berlebihan. Yang kedua, hehe, selama ini penduduk desa tidak tahu aku punya sedikit kepandaian, kalau bisa aku ingin tetap seperti itu."
"Ah..., baiklah kalau begitu, jadi sekarang apa yangakan kita lakukan?", tanya Ding Tao.
"Pagi ini waktunya tepat untuk memberikan latihan yang tadi kukatakan, latihan ini fungsinya untuk memperkuat organ-organ dalam tubuh. Kulihat himpunan hawa murnimu sudah sangat mapan, tentunya tidak akan mengalami kesulitan. Setelah melatih latihan ini dua tiga kali, kita akan bergabung dengan yang lain untuk menyelesaikan rumah kalian."
Mulailah Tetua Shen mengajarkan cara latihan hawa murni untuk menguatkan organ-organ tubuh di dalam tubuh.
Selesai mengikuti pengajaran Tetua Shen dan melatih latihan itu beberapa kali Ding Tao merasakan tubuhnya nyaman.
Menceritakan itu pada Tetua Shen, Tetua Shen pun kemudian menjelaskan apa yang terjadi saat Ding Tao melakukan latihan itu.
Puas dengan penjelasan itu, mereka pun berangkat untuk bekerja bersama yang lainnya.
Meng Ho ternyata ada pula di sana, bagi pemuda itu Ding Tao sudah menjadi idolanya, meski dia belum kenal benar siapa itu Ding Tao.
Pekerjaan mereka pun selesai dengan cepat, bangunan yang dibuat bukan bangunan yang mewah.
Asalkan ada atap di atas dan ada dinding yang melindungi mereka dari terpaan angin dan dinginnya malam.
Sementara isi rumah itu pun juga dengan cepat terisi dari pinjaman berbagai orang.
Sementara dari untuk tempat tidur, dibawa dari rumah Tetua Shen Goan.
Sore itu sambil melepas lelah, mereka pun merayakan berdirinya rumah itu.
Menanti seluruh tamu mereka pulang, barulah Tetua Shen dan yang lain berkumpul di halaman belakang rumah mereka.
Meski ini hanyalah satu latih tanding, tapi bila melihat wajah mereka, maka terlihat ketegangan yang sulit digambarkan.
Tetua Shen dan Ding Tao saling berhadapan, sementara Wang Shu Lin dan ke enam gurunya berdiri di sekeliling mereka.
Di tangan Ding Tao sudah tergenggam sebilah pedang, sementara Tetua Shen bersenjatakan tongkat kayu sepanjang lengan.
"Marilah kita mulai saja dulu", ujar Tetua Shen.
"Silahkan Tetua Shen mulai lebih dahulu.", ujar Ding Tao.
"Baik, hati-hatilah, aku akan mulai lebih dahulu.", ujar Tetua Shen. Meski demikian Tetua Shen pun tidak terburu-buru, kedua pihak berdiri berhadapan saling menimbang-nimbang. Ketegangan perlahan-lahan semakin memuncak. Tiba-tiba Tetua Shen berkelebat ke depan, tongkat kayunya menebas ke arah pinggang. Ding Tao pun tidak kalah cepat bergerak menjauh sembari menebas tongkat kayu Tetua Shen. Tidak kalah cepat, Tetua Shen menarik mundur tebasannya dan berubah menjadi totokan ke arah pergelangan tangan Ding Tao. Pertarungan pun berjalan cepat, jurus demi jurus dilancarkan bergantian, saling serang saling bertahan. Tapi perlahan namun pasti, Ding Tao mulai terlihat di atas angin. Tapi batas 14 jurus dengan cepat dilampaui dan baru menginjak jurus ke 17 barulah Ding Tao berhasil memaksa Tetua Shen menyerah. Dengan sebuah tipuan yang cantik, pedang Ding Tao membelah tongkat kayu Tetua Shen tepat di tengah, memaksa Tetua Shen untuk melepaskan senjatanya. Meski Tetua Shen berusaha mengelak mundur, setiap langkah mundurnya dengan cepat dihadang oleh gerakan Ding Tao. Penuh kekaguman Tetua Shen menghapus keringat di dahinya.
"Benar-benar hebat, tidak disangka dalam usia semuda ini Ketua Ding Tao berhasil menguasai ilmu setinggi ini."
Ding Tao pun berusaha merendah.
"Tidak juga, sebagian besar berhasil kumenangkan menggunakan ilmu yang dititipkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan padaku. Bukan hasil perenunganku sendiri."
"Ya... bisa kulihat hal itu dari beberapa serangan Ketua Ding Tao. Seandainya Ketua Ding Tao lebih matang lagi dalam penguasaan atas ilmu-ilmu yang mereka wariskan.", jawab Tetua Shen.
"Tetua Shen, bagaimana menurut tetua, mengenai kesempatanku untuk mengalahkan Ketua Ren Zhuocan?", tanya Ding Tao meski dia sendiri sudah bisa menghitung jumlah jurus yang mereka lalui sebelum dia berhasil mendesak Tetua Shen di posisi mati.
"Hitunganku tadi 17 jurus, berapa hitungan ketua", jawab Tetua Shen tidak langsung menjawab.
"17...", jawab Ding Tao dengan lemas.
"Tunggu, Ren Zhuocan sudah berpuluh tahun mengenal ilmu Tetua Shen, tentu ada perbedaan dengan Ketua Ding Tao yang baru kali ini berhadapan dengan Tetua Shen.", Khongti kemudian menyela. Tetua Shen pun terdiam sejenak dan menjawab.
"Benar juga, tentunya hal itu juga berpengaruh... Hmm... bagaimana menurut Ketua Ding Tao kalau kita lakukan lagi latih tanding yang kedua. Kukira aku masih sanggup bermain-main beberapa puluh jurus lagi."
Wajah Ding Tao pun menjadi sedikit cerah.
"Baik, aku siap, kali ini ijinkan aku yang memulai serangan."
"Silahkan, itu cara yang baik juga, sekarang Ketua Ding Tao bisa mempelajari cara-cara pertahanan yang kumiliki. Pada latih tanding yang ketiga Ketua Ding Tao punya kemungkinan untuk mengalahkanku lebih cepat. Silahkan.", jawab Tetua Shen. Kedua jagoan beda generasi itu pun kembali saling berhadapan, kali ini Ding Tao yang akan memegang kendali jalannya pertarungan, jika dia berhasil terus menekan sejak awal. Ding Tao pun tidak ingin terburu-buru menyerang, dipikirkannya baik-baik jurus serangan yang akan dia gunakan. Ketika akhirnya dia menyerang, dia menusukkan pedangnya dalam gerakan yang tidak terlalu cepat. Meski demikian, Tetua Shen ternyata menyurut mundur tiga langkah oleh serangan itu. Demikianlah mereka kembali saling menyerang dan bertahan. Tidak seperti pada latih tanding sebelumnya, kali ini Ding Tao justru sering memberi jalan keluar pada lawan, pada jurus ke 20 dan 45 sebenarnya dia sudah bisa mematikan gerak Tetua Shen, namun dengan sengaja dia memberi Tetua Shen kesempatan untuk mundur dan dengan cara itu Ding Tao berusaha lebih banyak melihat jurus-jurus andalan milik Tetua Shen. Tetua Shen tentunya bukan tidak tahu akan hal ini, namun karena tujuan mereka memang untuk mempersiapkan Ding Tao melawan Ren Zhuocan, maka Tetua Shen pun tidak pelit-pelit dengan ilmunya. Mereka pun saling serang sampai puluhan jurus banyaknya sebelum Ding Tao melompat mundur dan menyudahi latih tanding mereka tanpa ada ketentuan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
"Cukup tetua..., kalau boleh, kita sudahi dulu sampai hari ini.", ujarnya sambil melompat mundur.
"Baiklah, apakah Ketua Ding Tao ingin merenungkan dulu apa yang ketua lihat hari ini?", tanya Tetua Shen sambil menarik pula serangannya.
"Ya..., aku perlu waktu untuk memikirkannya, bagaimana menurut Tetua Shen, apakah akan mengurangi nilaiku jika aku mengambil waktu semalam untuk merenungkannya?", jawab Ding Tao.
"Tidak juga, seperti yang Saudara Khongti tadi katakan, Ren Zhuocan memiliki kelebihan dibanding dirimu karena dia sudah mengenal ilmuku selama bertahun-tahun, meski saat aku berhadapannya waktu itu, ada juga aku memiliiki ilmu simpanan baru.", ujar Tetua Shen. Melihat latih tanding itu sudah selesai, yang lain pun sudah berjalan mendekat dan mengikuti pembicaraan mereka. Zhu Yanyan pun bertanya.
"Tetua Shen, menurut tetua bagaimana dengan ilmu kepandaian Ketua Ding Tao? Memang benar dia tidak bisa mengalahkanmu dalam 14 jurus, tapi seperti Adik Khongti katakan, Ren Zhuocan memiliki keuntungan karena dia sudah mengenal ilmumu dengan baik."
Tetua Shen terdiam sejenak kemudian bertanya.
"Apakah kalian pernah melihat bagaimana Ren Zhuocan bertarung?"
"Ya, kami pernah menyaksikannya beberapa kali, pada saat pertemuan lima tahunan melawan Tetua Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan", jawab Hu Ban.
"Jadi kurasa kalian bisa mengerti kalau kukatakan, serangan-serangan Ketua Ding Tao serasa... tidak setajam, tidak sekejam serangan Ren Zhuocan. Meski ada benarnya bahwa Ren Zhuocan memiliki keuntungan tapi bukankah juga kukatakan aku kalah dalam 14 jurus, itu tiga tahun yang lalu. Pada waktu itu pun, jika kubandingkan dengan Ketua Ding Tao yang sekarang, seperti yang kukatakan serangan-serangan Ketua Ding Tao kalah mengerikan dibandingkan dengan serangannya.", ujar Tetua Shen sambil menggelengkan kepala.
"Tunggu... mungkin benar serangan Ketua Ding Tao tidak setelengas serangan Ren Zhuocan, tapi itu lbih karena sifat manusianya, bukan karena kepandaiannya.", ujar Hu Ban dengan alis berkerut.
"Hmm... itu artinya Ketua Ding Tao belum sampai pada tingkatan tidak ada manusia yang ada adalah pedang. Pedang sudah tidak ada lagi di tangan, tapi pedang ada di hati.", ujar Tetua Shen.
"Dan menurutmu... Ren Zhuocan, serangannya menjadi lebih tajam karena dia sudah mencapai tingkatan itu?", tanya Zhu Yanyan.
"Ya, aku percaya dia sudah sampai pada tingkatan itu, di mana perasaannya sedikitpun tidak menghalangi dia untuk menjalankan jurus-jurus yang dia mainkan. Atau mungkin lebih tepatnya, pada saat dia bertarung dia sudah berada pada kondisi... kosong. Tidak ada lagi aku.", ujar Tetua Shen.
"Hmm...", Zhu Yanyan pun terdiam. Wang Shu Lin menggamit tangan Shu Sun Er.
"Guru... apakah itu artinya Kak Ding Tao tidak memiliki kesempatan?"
Shu Sun Er tidak bisa segera menjawab.
"Entahlah Shu Lin... siapa orangnya yang benar-benar pernah sampai pada tahap itu? Banyak yang berpendapat bahwa diirnya sudah sampai di sana, tapi tidak ada yang bisa memastikan benar atau tidak. Apalagi orang lain."
Ding Tao menghela nafas dan berkata.
"Sudahlah..., bisa jadi benar atau tidak, kalau memang benar maka yang dapat kulakukan adalah berusaha untuk mencapai tingkatan yang sama."
"Waktunya sangat singkat jika kita ingin mencegah jatuhnya banyak korban pada pertemuan lima tahunan yang berikutnya.", ujar Tetua Shen perlahan.
"Kita cuma bisa berusaha sekuatnya.", jawab Ding Tao sambil tersenyum kecil.
"Ya, Ketua Ding Tao benar, apa perlunya mengkhawatirkan hal itu sekarang ini, yang penting kita sudah berusaha sekuatnya.", ujar Khongti. Mereka pun kemudian masuk ke dalam rumah yang baru, Tetua Shen memutuskan untuk ikut menginap di sana. Ding Tao pun berpamitan untuk pergi menyendiri, yang lain mengerti dan tidak mencegahnya pergi. Mereka hanya bisa berdoa demi keberhasilan pemuda itu. Sendiri di bawah bintang-bintang, Ding Tao berlatih perlahan-lahan, dengan bergerak dia berusaha membuat pikirannya menjadi tenang. Setelah pikirannya menjadi tenang dia berusaha menyelami setiap ilmu yang pernah dia lihat. Ding Tao pun mendapati, ilmu yang ditunjukkan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan adalah dua ilmu yang dia tahu, yang paling mendekati kesempurnaan yang dia tahu. Menurut pendapat beberapa orang, pada awalnya hanya ada satu. Mungkin itu sebabnya ketika Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan mencoba menyarikan apa yang mereka ketahui dalam satu bentuk ilmu. Ilmu yang mereka dapatkan atau ciptakan, bisa bekerja sama dengan begitu baiknya. Meski yang satu menyarikannya dari ilmu-ilmu yang ada di Shaolin dan yang seorang lagi berdasarkan pengetahuannya atas ilmu dari Wudang. Namun ketika mereka berhasil menyarikannya menjadi satu ilmu, keduanya seakan-akan bersaudara. Dalam pikirannya, secara pengertian bisalah Ding Tao meraba itu semua. Namun Ding Tao tahu, untuk bisa mengamalkannya dengan sempurna, dia butuh lebih dari sebuah pengertian, sebuah pemahaman yang hanya sampai pada tingkatan berpikir. Belum sampai pada menghidupi ilmu itu sendiri, belum sampai pada tingkatan menghayati ilmu itu sendiri. Hingga seperti yang dikatakan Tetua Shen mengenai Ren Zhuocan, tidak ada lagi orangnya, yang ada adalah pedangnya, ilmunya. Ilmunya dihayati sedemikian rupa sehingga ilmu itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Semua gerakan terjadi dengan sendirinya, dengan wajar. Entah sudah berapa lama Ding Tao bergerak, berlatih, melakukan jurus demi jurus ketika dia sampai pada kesadaran itu. Ini tidak seperti berpikir yang melantur, tapi seperti menanyakan satu pertanyaan secara terus menerus, berusaha menemukan jawaban yang terdalam, menyingkirkan dan menolak jawaban yang dangkal, terus menerus menggali dan tiba-tiba seakan mendapatkan satu kesadaran. Ding Tao pun berhenti bergerak, tubuhnya sudah basah dengan keringat, tandanya dia sudah melatih jurus-jurusnya mungkin lebih dari seratus kali dia mengulang. Tubuhnya terasa begitu lelah dan kehabisan tenaga, namun semangatnya bangkit. Ding Tao akhirnya mengerti apa yang membuat dia merasakan satu ganjalan dalam hatinya selama ini, setelah dia lepas dari pengaruh Obat Dewa Pengetahuan. Selama ini dia seakan-akan hampir mencapai tingkatan yang sama dengan Ren Zhuocan, tapi itu bukan disebabkan karena ilmunya sudah menyatu dengan dirinya. Yang menyebabkan hanyalah karena kecepatan dia baik dalam menangkap gerakan lawan, maupun memikirkan cara untuk mengalahkan jurus-jurus lawan yang berkali-kali lipat lebih cepat dari orang biasa. Hingga seakan-akan dia sudah bergerak tanpa dia harus berpikir. Pada kenyataannya saat otaknya dipenuhi dengan berbagai jenis ilmu, maka dia pun menjadi lebih bodoh dari pendekar biasa, karena pada saat itu, jumlah kemungkinan-kemungkinan yang dia perhitungkan, jauh melampaui kemampuan otaknya, meski sudah dibantu dengan Obat Dewa Pengetahuan. Jadi sampai sekarang, tidak ada satu ilmu pun yang dia hayati sepenuhnya, hingga menyatu dengan dirinya. Itulah kelemahannya jika dibandingkan dengan Ren Zhuocan. Jika dia memiliki kelebihan dibanding yang lai, itulah kehebatan dari ilmu ciptaan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Lawanlah yang terperangkap dalam kerumitan serangan jurus ciptaan dua orang itu. Bukan karena dirinya yang memiliki kemampuan. Dia sudah memegang sebuah pedang pusaka, namun pedang itu belum benar-benar menjadi miliknya. Pengertian ini sulit dijabarkan dalam kata-kata, ini lebih bisa ditangkap pada tataran rasa. Sampai pada pengertian ini, Ding Tao pun tercenung. Dia sampai pada titik yang sangat penting, dengan situasi yang ada sekarang ini, dia harus berusaha menerobos pintu ini untuk sampai pada tataran yang selanjutnya. Di saat yang sama, dia juga menantikan kabar dari Shin Su dan kawan-kawannya. Jika dia berfokus hanya pada mencapai tataran yang setingkat dengan Ren Zhuocan, maka ada bahayanya bahwa rencananya untuk menghadapi Murong Yun Hua dan sekutunya akan mengalami kegagalan. Maka Ding Tao pun mulai menimbang-nimbang, yang mana yang harus dia dahulukan. Jika dia berhasil melemahkan persekutuan yang dibangun oleh Murong Yun Hua, tapi gagal dalam mengalahkan Ren Zhuocan, maka sebagai akibatnya Ren Zhuocan akan melenggang masuk menaklukkan tokoh-tokoh dunia persilatan dalam perbatasan karena tidak ada lagi yang menyatukan mereka. Sebaliknya jika dia berhasil mengalahkan Ren Zhuocan namun gagal dalam melemahkan Murong Yun Hua pada saat pertemuan lima tahunan itu, maka yang terburuk adalah dia tidak memiliki bukti dan saksi untuk mengembalikan nama baiknya. Pada pertemuan itu, Murong Yun Hua dan seluruh tokoh-tokoh dunia persilatan berdiri di belakangnya akan berhadapan dengan dirinya bukan dengan Ren Zhuocan. Jika dia tidak yakin bisa menang, dia bisa mundur dari pertarungan itu, mencari waktu yang lebih baik lagi untuk menghadapi Murong Yun Hua. Menghela nafas Ding Tao pun memutuskan. Esok paginya dia mengumpulkan Tetua Shen dan yang lainnya.
"Tetua sekalian, Wang Shu Lin, aku kemarin sudah berpikir baik-baik dan aku memutuskan untuk sementara akan mengasingkan diri dan mencoba untuk memasuki tataran yang sama dengan Ketua Ren Zhuocan.", kata Ding Tao.
"Lalu bagaimana dengan rencanamu untuk menghadapi Murong Yun Hua?", tanya Zhu Yanyan.
"Mengenai hal itu, sudah kuputuskan untuk menitipkannya pada kalian semua, aku sudah menuliskan tanya jawab yang menjadi penanda antara diriku dengan orang-orangnya Shin Su, harap Tetua Zhu Yanyan membaca dan menghafalkannya."
"Baiklah, tapi Ding Tao kami belum tahu apa rencanamu untuk menghadapi Murong Yun Hua.", ujar Zhu Yanyan sambil menerima secarik kertas dari tangan Ding Tao.
"Tentang hal itu, aku sudah berpikir baik-baik dan aku berpendapat bahwa meski mereka terlihat kuat, sebenarnya kekuatan mereka itu rapuh adanya. Mereka berhasil disatukan oleh Murong Yun Hua lewat berbagai bujuk rayu dan tipuan. Bukan disatukan oleh satu tujuan dan cara berpikir yang sama.", ujar Ding Tao.
"Hmm... benar, bila kita bisa mengetahui alasan tiap-tiap orang untuk mengikuti Murong Yun Hua, maka kita bisa memecah belah mereka menjadi kekuatan yang lebih lemah. Bahkan bisa jadi mereka akan saling berlawanan sendiri satu dengan yang lain.", ujar Hu Ban merenungkan perkataan Ding Tao.
"Benar, salah satunya mereka yang mengikuti Murong Yun Hua karena kedudukannya sebagai Wulin Mengzhu. Yang termasuk golongan ini, jika bisa diyakinkan bahwa aku tak bersalah dan masih hidup tanpa kurang suatu apapun, maka mereka akan meninggalkan Murong Yun Hua dan berbalik mendukung diriku.", ujar Ding Tao.
"Kukira kau tentu akan berusaha membebaskan Pendekar Jin Yong untuk kau jadikan saksi bagimu", sahut Khongti.
"Benar, itu salah satunya, selain itu tentu saja ada tetua semua dan Wang Shu Lin yang bisa menjadi saksi tentang terbunuhnya Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang saat ini dilemparkan tanggung jawabnya padaku.", ujar Ding Tao.
"Benar, setidaknya untuk hal itu kartu sudah ada di tangan, tapi untuk mendapatkan Pendekar Jin Yong bukanlah hal yang mudah, tentunya dia dijaga sangat ketat.", kata Shu Sun Er menyambung.
"Ya, tentang soal itu, aku sudah berpikir dan ada dua hal yang kupikir bisa membantu. Pertama keberadaan Murong Huolin dan Hua Ying Ying di rumah kediaman kami di Jiang Ling. Entah benar atau tidak, tapi jika berdua masih mencintaiku, ada kemungkinan kita bisa meyakinkan mereka untuk membantu."
"Yang kedua adalah, pada saat pertemuan lima tahunan nanti, tentunya Murong Yun Hua tidak akan mau mengambil resiko gagal dan akan mengerahkan seluruh kekuatannya.", ujar Ding Tao menjelaskan pemikirannya. Wang Shu Lin pun menepuk tangannya dan menyahut.
"Benar, pada saat itu, rumah dalam keadaan kosong karena semuanya berangkat untuk menghadapi pertarungan besar. Di saat yang sama, kita memiliki orang dalam yang bisa bekerja untuk membebaskan Pendekar pedang Jin Yong. Murong Yun Hua akan mendapatkan kejutan besar pada pertemuan itu nanti."
Ding Tao tersenyum tapi dalam hati ada pula rasa sedih, dia pun bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah aku masih mencintai Murong Yun Hua? Setelah semuanya ini terjadi? Apakah mungkin aku bisa memaafkannya?"
"Pemikiran yang bagus", ujar Khongti dengan bersemangat.
"Dan bukan hanya membersihkan nama Ding Tao saja, tapi aku yakin orang-orang munafik yang bersekutu dengan Murong Yun Hua pun akan berpikir dua kali untuk terus menjadi pendukungnya bila kita berhasil membuka rahasia itu di depan orang banyak.", ujar Hu Ban dengan mata berkilat-kilat.
"Benar, ditambah lagi jika kita bisa mengetahui apa yang ditawarkan Murong Yun Hua pada mereka, sehingga mereka bersedia menjadi pembantunya. Memanfaatkan itu kita bisa menawarkan hal yang sama nilainya, membuat persekutuan dengan Murong Yun Hua semakin tidak menarik untuk mereka.", tambah Ding Tao.
"Benar, benar, tidak kuduga kau sudah berpikir sejauh itu. Anak baik..., anak baik...", ujar Pang Boxi dengan mata penuh kekaguman memandang Ding Tao.
"Aku mengerti sekarang, mengapa kau memberikan semua tugas itu pada Shin Su", ujar Hu Ban sambil mengelus-elus dagunya.
"Bagus, jadi bisakah aku menitipkan masalah ini pada tetua sekalian?", tanya Ding Tao pada mereka.
"Ya, serahkan semuanya pada kami, kami akan berusaha agar pada pertemuan lima tahunan nanti semuanya sudah siap. Dan kau, jangan pikirkan yang lain, konsentrasikan saja seluruh kemampuanmu untuk menerobos pintu yang terakhir itu.", ujar Zhu Yanyan dengan bersemangat.
"Baik, maaf jika pada akhirnya aku percayakan sisanya pada tetua sekalian.", jawab Ding Tao.
"Hm.. tidak masalah, kulihat sekarang kau sudah tumbuh jadi lebih dewasa, sungguh pantas untuk menjadi pemimpin sebuah partai.", ujar Zhu Yanyan dengan bangga.
"Ya, kami semua bangga padamu, sekarang pergilah menyepi, jangan pikirkan macam-macam, kami yang tua ini pun masih punya semangat, kau tidak perlu khawatir.", ujar Chen Taijiang sambil tersenyum, aneh kali ini mukanya tidak terlihat sedih.
"Ya, aku percaya pada tetua sekalian, juga padamu Nona Wang Shu Lin.", ujar Ding Tao tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada Wang Shu Lin. Tentu saja Wang Shu Lin jadi berdebar-debar, sejak Ding Tao bebas dari pengaruh buruk Obat Dewa Pengetahuan dia menjauhkan diri dari Ding Tao, demikian pula pemuda itu. Tiba-tiba sekarang Ding Tao menegurnya secara langsung. Apalagi kemudian Ding Tao berkata.
"Tetua sekalian, kalau boleh aku minta ijin untuk berbicara berdua saja dengan murid kalian."
"Hm.. tentu saja boleh, pergilah kalian berdua, kami percaya kalian berdua sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan urusan kalian sendiri.", ujar Shu Sun Er dengan wajah cerah.
"Eh... guru... aku toh tidak ada yang hendak dibicarakan", ujar Wang Shu Lin tiba-tiba merasa gugup dan tidak memiliki keberanian untuk berdua saja dengan Ding Tao.
"Jangan bodoh, pergilah sana, tak pernah kulihat kau sepenakut ini.", ujar Shu Sun Er sambil mendorong Wang Shu Lin pergi. Ding Tao sudah mendahului berjalan keluar dari rumah, Wang Shu Lin yang sedikit terlambat di belakang masih menoleh sekali lagi pada guru-gurunya. Mereka pun memberi tanda dengan tangan, menyuruh gadis itu pergi bersama Ding Tao.
"Moga-moga ada kepastian dengan hubungan mereka berdua", ujar Hu Ban berharap.
"Entahlah, Ding Tao yang sekarang memang sudah jauh lebih dewasa, tapi seringnya seorang laki-laki yang tahu tanggung jawab dan berada dalam posisi sepertinya, wanita jadi berada pada urutan yang ke sekian", ujar Shu Sun Er dengan mata jauh menerawang.
"Hmm... lalu mengapa kau tadi terlihat begitu senang, masakan kau berharap Wang Shu Lin patah hati?", tanya Pang Boxi pada Shu Sun Er. Shu Sun Er tersenyum.
"Lelaki bukan cuma satu orang, yang kuharapkan hanyalah agar Ding Tao tidak menggantung terus Anak Shu Lin, jika jadi ya jadi, kalau tidak ya tidak. Dengan begitu Anak Shu Lin pun bisa berjalan ke depan dan tidak terus menerus menantikan sesuatu yang tak pasti."
Hu Ban menengok ke arah Shu Sun Er, kemudian kembali memandang ke arah perginya Wang Shu Lin, perlahan dia menghela nafas.
"Kau benar... dia masih muda, masih sangat muda... sayang jika waktu harus berjalan terus untuk menantikan yang tidak mungkin."
"Hei... apa kau menyindirku?", tanya Shu Sun Er sambil melirik ke arah Hu Ban.
"Oh... tidak, tidak", ujar Hu Ban sambil tersenyum kecut. Tiba-tiba Shu Sun Er tampak melembut perlahan dia bilang.
"Aku bukannya tidak mengerti perasaanmu... tapi kita sudah tua, jadi biarlah kita simpan saja perasaan ini dalam hati."
"Hei hei... jika kalian berdua sudah tua, lalu bagaimana denganku? Aku tidak mau menjadi tua.", keluh Chen Tai Jiang membuat mereka tertawa geli.
"Hahaha, tapi perkataan Adik Taijiang kali ini ada benarnya, sudah lama kami mengamati kalian berdua, sebagai saudara kami pun merasa sedih. Kalau memang Adik Sun Er sudah berpikir demikian, kenapa juga harus berhenti sampai di sini. Kita toh sudah tua, sudah bisa memandang segala sesuatunya dengan lebih matang, tahu mana yang berlebihan dan mana yang wajar.", ujar Khongti sambil mendorong bahu Hu Ban. Hu Ban sudah berumur, tapi masih bisa juga tersipu malu, mengumpulkan segenap keberaniannya dia pun mendekati Shu Sun Er dan berkata.
"Adik Sun Er..., mungkin kau pandang ini tak perlu, tapi... tapi... jika kau tidak keberatan... aku berharap kita bisa..."
Mengambil nafas dalam-dalam Hu Ban kemudian berkata.
"Sun Er, menikahlah denganku."
"Nah begitu baru benar", ujar Pang Boxi sambil menepuk pundak Hu Ban, diikuti Khongti dan Chen Taijiang, tentu saja dengan berbagai komentar. Zhu Yanyan hanya ikut tertawa saja, sementara Shu Sun Er jadi tersipu malu.
"Kalian ini semua, rambut kalian saja sudah beruban, tapi tingkah kalian masih seperti anak-anak.", ujarnya sambil menggelengkan kepala dan bergerak hendak pergi. Tapi buru-buru Hu Ban menahan lengannya.
"Adik Sun Er, tunggu sebentar, jangan salah mengerti, aku tidak lupa dengan umur kita, aku hanya berharap, bisa menghabiskan sisa umurku sebagai suamimu."
Shu Sun Er bisa merasakan ketulusan dalam kata-kata Hu Ban, langkah kakinya pun terhenti dan ketika matanya bertemu pandang dengan mata Hu Ban, hatinya pun tersentuh, sudah sedemikian lama Hu Ban menanti dirinya, seberapa besar rasa cinta Hu Ban tidak bisa dia pikirkan.
Setelah lama mereka saling memandang, akhirnya Shu Sun Er melepaskan tangannya dari genggaman Hu Ban dengan lembut, dan berkata.
"Ya sudahlah terserah kalian, tapi aku tidak mau pesta macam-macam, awas saja kalau kalian berani membikin pesta yang berlebihan."
Mendengar jawaban Shu Sun Er itu pun, Khongti, Chen Taijiang dan Pang Boxi bersorak-sorak, sementara Hu Ban dan Zhu Yanyan tertawa bahagia.
Tetua Shen sebagai orang luar sedikit banyak bisa meraba hubungan di antara mereka berdua ikut merasa bahagia dan tertawa.
"Apakah kita perlu mengundang orang-orang di desa?", tanyanya.
"Tidak, jangan, cukup kita sendiri saja, jangan membuatku malu, masa sudah setua ini masih juga mencari suami.", ujar Shu Sun Er sambil cepat-cepat pergi dengan wajah mulai memerah karena malu. Sorakan dan godaan Khongti, Chen Taijian dan Pang Boxi masih bisa didengarnya ketika dia berjalan menjauh, meski di mulut dia memaki, namun dalam hati Shu Sun Er pun merasa bahagia. Di tempat lain Wang Shu Lin sedang berdebar-debar duduk di dekat Ding Tao yang tampak jauh lebih dewasa.
"Ini tidak mudah...", ujar Ding Tao membuka percakapan.
"... tidak apa jika tidak dibicarakan...", ujar Wang Shu Lin suaranya berbeda jauh dengan saat dia menjadi Ximen Lisi.
"Tidak..., aku berhutang budi padamu, aku bersalah jika mendiamkan saja masalah ini.", ujar Ding Tao lembut tapi juga tegas. Tiba-tiba perasaan Wang Shu Lin seperti tenggelam dan dia pun kehilangan kekuatan untuk berkata-kata.
"Nona Wang Shu Lin..., apakah aku salah jika aku menduga bahwa nona menaruh hati padaku?", tanya Ding Tao hati-hati. Lama Wang Shu Lin tidak menjawab dan Ding Tao pun menanti dengan sabar menunggu jawaban darinya. Akhirnya Wang Shu Lin mendapatkan kekuatan untuk menjawab.
"Tidak... tidak salah... apakah Kak Ding Tao tidak merasakan hal yang sama?", suara Wang Shu Lin bergetar dan hampir-hampir tak terdengar. Ding Tao pun menghela nafas dalam-dalam.
"Maafkan aku nona, tapi aku tidak bisa membalas perasaan nona."
Terisak Wang Shu Lin pun bergerak hendak meninggalkan tempat itu. Tapi tangan Ding Tao dengan cepat menahannya dengan lembut.
"Nona..., tunggu dulu..."
"Ada apa lagi Ketua Ding Tao?", tanya Wang Shu Lin menahan isak.
"Nona... betapa mudah bagiku untuk jatuh cinta padamu... dalam segala hal, nona ini adalah wanita di antara wanita. Hanya saja memang sengaja aku tutup hatiku dari Nona Wang Shu Lin. Nona tentu tahu sejarah kelamku, cinta pertamaku, pernikahanku. Kalaupun aku buka hatiku, di dalamnya sudah ada banyak cinta, terbagi dengan yang lain.", Ding Tao berkata dengan lembut, tangannya tegas menggenggam tanpa terlalu keras meremas.
"Nona Wang Shu Lin..., sesungguhnya aku merasa bersalah pada nona jika aku terima cinta nona, sementara dalam hidupku, nona bukanlah yang satu-satunya. Bahkan pada Adik Ying Ying pun, aku sedang berpikir untuk melepaskannya. Dia pun seorang gadis yang baik, dia pantas mendapatkan cinta yang sepenuhnya, yang utuh dari seorang pemuda yang baik. Bisakah nona mengerti itu?", tanya Ding Tao pada Wang Shu Lin.
"Entahlah, aku tidak sebijak tuan, jadi sulit buatku untuk mengerti.", jawab Wang Shu Lin dengan hati tak karuan. Memang benar dia sudah siap untuk mencintai Ding Tao dari kejauhan, tapi dalam hatinya juga masih berharap. Percakapan ini, menghapuskan harapan itu dan dia sendiri tidak bisa mengerti apa perasaannya saat ini. Sakit dan malu, tapi dia juga tidak bisa membenci Ding Tao.
"Lalu mengapa tentang Nona Huang, tuan masih berpikir, sedangkan bagiku dengan mudahnya tuan membuat keputusan? Tidak ingatkah tuan, apa yang terjadi di kaki Gunung Songshan?", tiba-tiba ada rasa tidak mau terima yang muncul dan bertanyalah dia. Di luar dugaan Ding Tao tiba-tiba menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"Nona... betapa mudah bagiku untuk mencintaimu...", bisiknya di telinga Wang Shu Lin, membuat perasaan gadis itu semakin kacau.
"Tapi aku percaya dan aku memutuskan, biarlah di antara kita yang ada hanyalah hubungan kasih antara seorang kakak dengan adiknya. Apakah itu bukan kasih yang lebih murni dari kasih antara lelaki dan wanita yang biasanya mengharapkan sesuatu?", bisik Ding Tao dengan lembut.
"Aku juga ingat di kaki Gunung Songshan ada seorang pemuda yang sangat mencintaimu. Tidak bisakah kau buka hatimu untuknya? Jika Adik Shu Lin bisa membuka hati untuknya, aku yakin dengan mudah Adik Shu Lin bisa mencintainya.", kembali Ding Tao berbisik lembut. Hati Wang Shu Lin yang mulai terhibur, kembali terasa mengkal mendengar bujukan Ding Tao itu, dia pun meronta hendak lepas dari pelukan Ding Tao sambil berujar.
"Supaya aku melupakanmu, supaya kau bisa kembali pada dua orang isterimu dan kekasih mu itu kan?"
Tapi Ding Tao tidak hendak melepaskan pelukannya, justru dia mempererat pelukannya itu.
"Shu Lin... Shu Lin... cobalah berhenti berpikir... rasakan saja, rasakan ketulusanku ini..."
Bercampur baur perasaan Wang Shu Lin, dia pun menangis terisak-isak dalam pelukan Ding Tao.
Perlahan-lahan dia pun tidak lagi meronta, hanya menangis terisak, perlahan, dalam pelukan Ding Tao yang memberinya kehangatan.
"Aku tidak mengerti... aku tidak mengerti...", ujar Wang Shu Lin dalam isaknya.
"Aku pun tidak mengerti... seandainya saja kita bertemu sebelum semuanya itu terjadi...", ujar Ding Tao dengan suara tercekat. Dan Wang Shu Lin pun merebahkan kepalanya di dada Ding Tao, tangannya erat memeluk pemuda itu, seakan tak ingin melepaskannya. Dia pun berbisik perlahan.
"Ciumlah aku sekali saja... sekali saja..."
Ding Tao mengangkat dagu gadis itu dengan lembut, dihapusnya air mata yang membasahi pipi gadis itu..
Ding Tao memandangi wajahnya dalam-dalam, kedua pasang mata mereka bertemu, memadang mesra dan lembut.
Tersenyum, Wang Shu Lin pun menutup matanya.
Ding Taomenghela nafas dalam-dalam, kemudian dengan lembut dia mencium keningnya, lalu kedua pipinya dan dengan lembut dia memutuskan untuk tidak mengikuti keinginan hatinya untuk mencium bibir gadis itu, melainkan dia memeluk kembali gadis itu dengan erat.
Wang Shu Lin tersenyum dengan sedih, namun kali ini dia tidak lagi meronta, diisinya dadanya penuh-penuh dengan udara, lalu dihembuskannya perlahan-lahan.
Seiring dengan hembusan itu, dia buang pula segala perasaan sakit, tidak rela dan kemarahan yang masih tersisa di dalam dadanya.
Perlahan-lahan Ding Tao pun merenggangkan pelukannya.
"Apakah menurut kakak , Zhu Jiuzhen adalah seorang pemuda yang baik?", tanya Wang Shu Lin masih bersandar pada dada Ding Tao.
"Seharusnya kau yang lebih tahu, dari sekilas yang kulihat, aku hanya tahu bahwa dia sangat mencintaimu. Meski terkadang ada bermacam-macam bentuk cinta, ada cinta yang ingin memiliki dan dengan demikian justru membuat yang dicintai menderita karena terlalu dikekang.", jawab Ding Tao.
"Jadi menurut kakak aku harus bagaimana?", tanya Wang Shu Lin.
"Aku hanya meminta, cobalah buka hatimu, beri dia kesempatan. Jangan pula karena aku yang meminta kemudian adik menerima cintanya tanpa pertimbangan. Umur adik masih muda, jalani saja perlahan-lahan, jika kemudian adik yakin dia bisa membahagiakan adik, tentu saja adik harus menerima cintanya.", ujar Ding Tao memberi nasehat.
"Jika aku sudah menerima cintanya tapi kemudian ternyata aku salah, apa yang harus kulakukan?", tanya Wang Shu Lin dengan sedih.
"Jika terjadi demikian, maka carilah aku, datang padaku.", ujar Ding Tao sambil mendekap gadis itu.
"Kakak berjanji tidak akan berubah hati padaku?", tanya Wang Shu Lin, sambil membalas dekapan Ding Tao.
"Tidak, aku berjanji tidak akan berubah hati padamu.", jawab Ding Tao.
"Meski aku sudah bukan lagi seorang gadis? Meski kakak sudah rujuk kembali dengan isteri-isteri kakak? Meski kakak sudah menikah dengan Nona Huang?", tanya Wang Shu Lin kembali terisak.
"Tidak, aku berjanji tidak akan berubah, aku akan selalu ada untukmu. Yang kuminta hanyalah berikan kesempatan pada dirimu untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih sempurna.", ujar Ding Tao dan kali ini dia tidak bisa menahan diri, untuk tidak mengangkat dagu gadis itu dan kemudian mencium bibirnya dengan mesra. Untuk beberapa lamanya mereka pun saling berpagutan, berciuman dengan ketat, mencurahkan segala perasaan hati mereka. Ketika kemudian mereka saling memisahkan diri dengan nafas sedikit memburu, Ding Tao pun membelai rambut gadis itu, membelai pipinya dan sekali lagi mengecup kening gadis itu.
"Ingatlah, benar-benar kuminta, berikan pada dirimu, kesempatan untuk mendapatkan kebahagiaan yang lebih sempurna. Bagaimana pun juga, adalah tidak mungkin seorang lelaki membagi hatinya pada banyak wanita, tanpa ada yang akan merasakan sakit hati. Mengertikah kau? Meski kau menjadi milikku, hatiku akan sedih bila melihatmu bersedih, tapi jika aku bisa melihatmu berbahagia, meski itu dengan orang yang berbeda, aku pun akan merasa bahagia. Mengertikah kau?"
Wang Shu Lin pun menganggukkan kepala, untuk kemudian menyurukkannya ke atas dada Ding Tao dan Ding Tao pun dengan lembut memeluk dan membelai-belai rambutnya yang halus dan panjang.
Lama mereka duduk berdua, dengan Wang Shu Lin bersandar pada Ding Tao, saling berbicara mengenai masa lalu mereka, kekhawatiran mereka dan harapan mereka tentang masa depan.
Ketika akhirnya mereka berpisah, hati mereka sudah lega dan tidak lagi dipenuhi beban perasaan mengenai hubungan mereka.
Ketika Wang Shu Lin melambai, dia melambai dengan senyum di wajahnya, meski matanya sedikit membasah oleh air mata.
Ding Tao pun memulai pengasingannya dengan perasaan tanpa beban, langkahnya mantap, berjalan menuju ke tempat yang jauh, mencari hutan atau tempat sepi lainnya, di mana dia bisa berlatih tanpa terganggu.
Sementara Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya pun sibuk dengan urusan yang ditinggalkan Ding Tao pada mereka, tidak kurang dari tiga hari setelah kepergian Ding Tao mulailah datang utusan dari Shin Su, menyampaikan hasil dari tugas yang diberikan Ding Tao pada mereka.
Maka Wang Shu Lin dan enam orang gurunya pun membagi tugas, mereka meninggalkan Desa Hotu, Tetua Shen sudah menyanggupi untuk menjadi penghubung antara mereka dengan Ding Tao nanti.
Segala pesan untuk Ding Tao sementara dia masih menyepi akan diterima olehnya.
Wang Shu Lin sendiri pergi ke Shan Xi, selain untuk memperkuat perkumpulan yang dia miliki demi membantu Ding Tao pada saatnya dibutuhkan nanti, dia pun kembali ke Shan Xi untuk belajar membuka hatinya untuk Zhu Jiuzhen.
Tidak mudah memang, apalagi dia sudah pernah berpikir, bahwa seluruh hati, jiwa dan tubuhnya akan dia serahkan pada Ding Tao.
Namun Ding Tao sendiri yang meminta, meski berat Wang Shu Lin pun berupaya untuk menutup hatinya bagi Ding Tao, meski mungkin jauh di dalam perasaan itu masih ada.
Tapi kita tidak akan mengikuti perjalanan mereka, terlalu panjang jika apa yang dilakukan tiap-tiap orang harus diceritakan.
Kita akan mengikuti perjalanan Ding Tao seorang, dua hari perjalanan akhirnya Ding Tao mendapatkan tempat yang cocok untuk menyepi.
Tempatnya dekat dengan sebuah sungai kecil, jadi mudah untuk mendapatkan air, juga tersedia ikan untuk ditangkap.
Pepohonan di sekitarnya cukup rapat, tidak terlihat ada jalan setapak, kecuali jalan setapak yang terbentuk karena binatang-binatang yang lalu lalang untuk minum dan mandi di sungai kecil itu.
Justru dari jalan setapak itu Ding Tao menemukan sungai kecil itu.
Melihat keadaaannya, Ding Tao berharap, tempat itu termasuk tempat yang jarang didatangi manusia.
Karena tidak ada tanah lapang, Ding Tao pun akhirnya berlatih di sungai kecil itu, dia berjalan sampai menemukan tempat di mana airnya tidak terlalu dalam, hanya sampai di pinggangnya saja dan dasarnya cukup datar dan luas untuk berlatih.
Berlatih di dalam air tentu tidak semudah berlatih di atas tanah lapang, tapi Ding Tao menjadikannya bagian dari latihan itu sendiri.
Meski tentu saja, fokus Ding Tao saat ini bukan lagi melatih keseimbangan atau menguatkan kuda-kuda, dia mencari sesuatu yang lebih dari itu.
Dia berusaha menyelami lagi apa saja yang pernah dia pelajari, lebih dalam lagi dari yang sampai saat ini dia dapati.
Jika tidak berlatih tentu dia bermeditasi, sedikit sekali waktu yang dia gunakan untuk beristirahat atau mencari makan.
Dalam satu hari, mungkin dia hanya makan beberapa ekor ikan atau pernah juga dia cukup beruntung sehingga dia mendapatkan seekor kelinci, pernah juga seekor ular, binatang lain yang lebih besar dia tidak mau, bukan karena pantangan tertentu, hanya saja dia seorang diri dan Ding Tao merasa sayang jika daging binatang itu harus terbuang sia-sia.
Tapi sekian hari sudah berlalu, Ding Tao tidak juga mendapatkan kemajuan, semakin sering dia berlatih semakin rasanya sia-sia saja.
Tidak ada yang lebih lagi yang bisa dia gali dari segenap ilmu yang sudah dia pelajari.
Tidak ada yang baru yang bisa dia dapatkan, kecuali dari dua ilmu, warisan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan yang terkadang kemudian dia menyadari perubahanan atau variasi yang sebelumnya tidak dia sadari ada dalam gerakan itu.
Tapi sebenarnya bukan itu pula yang dia cari, pemahaman yang demikian hanya menambah pengetahuannya, tapi tidak membantu dia untuk lebih menyatu lagi dengan jurus-jurus yang ada padanya saat ini.
Dalam ketekunannya berlatih dan berusaha untuk sampai pada tahap yang selanjutnya, tanpa sadar Ding Tao semakin berlebihan dalam berlatih dan semakin lupa pada tubuh fisiknya.
Pada satu hari, setelah malam sebelumnya dia tidur larut malam, pagi harinya Ding Tao sudah mulai berlatih kembali, mengulang satu per satu setiap jurus yang pernah dia pelajari, mulai dari yang pertama kali dia pelajari sewaktu dia masih kanak-kanak sampai pada jurus-jurus yang diwariskan kedua tetua padanya.
Berulang kali tanpa henti, pikirannya yang sudah membentur jalan buntu akhirnya membuat dia bergerak tanpa berpikir.
Ketika akhirnya dia sadar, barulah terasa perutnya perih, otot-ototnya terasa sangat lemah.
Hampir-hampir dia tidak kuat berjalan ke tepian.
Ketika sudah sampai di tepi sungai, Ding Tao pun roboh kelelahan, pingsan, masih dengan baju yang basah dan perut yang kosong.
Ketika dia tersadar kembali, malam sudah tiba, tubuhnya menggigil kedinginan, bajunya sudah kering dengan sendirinya.
Ketika dia meraba dahinya, terasalah betapa panas tubuhnya, meski dia menggigil kedinginan.
Dengan tubuh gemetaran Ding Tao mengenakan baju dan jubah luarnya.
Susah payah dia menyalakan api unggun.
Perutnya yang terasa perih tak dia hiraukan, dalam keadaan demam Ding Tao pun jatuh tertidur kembali.
Entah berapa kali dalam tidurnya dia terbangun dan tertatih-tatih pergi ke sungai untuk meminum air sungai sebanyak-banyaknya dan kemudian kembali ke api unggun untuk sekali lagi bergelung dan akhirnya jatuh tertidur.
Pagi datang kembali dan Ding Tao terbangun, hampir-hampir tidak ada kekuatan dan dia bisa merasakan tubuhnya demam begitu hebat.
Sadar dia tak boleh terus menerus melewatkan waktu tanpa mengisi perutnya dengan makanan, Ding Tao memaksakan diri untuk pergi ke sungai dan berusaha menangkap ikan.
Ding Tao harus bekerja keras, apa yang biasanya bisa dia lakukan dengan mudah, sekarang membutuhkan segenap konsentrasi, kekuatan dan kecepatan yang dia miliki.
Syukurlah usahanya tak sia-sia, sekaligus dia menangkap beberapa ekor ikan, lebih banyak dari biasanya.
Hari itu pun berlalu tanpa latihan, hanya demam yang tinggi, istirahat, makan dan minum.
Tak dapat lagi dia memikirkan yang lainnya.
Baru kali itu dia merasakan dirinya selemah itu.
Mungkin tidak separah saat dia sedang membersihkan diri dari pengaruh Obat Dewa Pengetahuan, tapi pada saat itu pikiran Ding Tao juga tidak sedang berjalan sehingga dia tidak benar-benar menyadari keadaannya.
Berbeda dengan sekarang ini.
Dengan keadaan tubuh yang lemah itu, tak ada yang bisa dilakukannya, Ding Tao tiba-tiba merasa lemah dan tak berdaya.
Dalam gemetar dia tiba-tiba tertawa geli, geli dan juga pahit, dia tertawa menertawakan kesombongannya, kepongahannya.
"Inikah Ding Tao yang hendak menyelamatkan dunia?", pikirnya dalam hati. Betapa lemahnya sesungguhnya dia sebagai manusia. Hanya sehari saja dia bekerja tanpa makanan dan dia sudah jatuh sakit tak berdaya. Betapa terbatasnya sebenarnya dirinya itu. Bagaimana mungkin dia berpikir untuk mengubah dunia, meruntuhkan gunung dan mengeringkan laut, jika dia jatuh tak berdaya hanya karena perkara perut? Pikiran-pikiran ini membuat Ding Tao merasa dirinya begitu kecil. Setengah mengigau karena demam, mulailah timbul perasaan mengasihani diri sendiri, bertanyalah dia mengapa dia ditinggalkan kedua orang tuanya dalam usia begitu muda. Mengapa dia harus mengalami fitnah orang. Mengapa dia harus dipisahkan dari kekasih hatinya. Mengapa pula orang yang dicintainya begitu dalam justru mengkhianati dia. Perlahan menetes air mata dari kedua matanya, Ding Tao merasa sedih, marah dan tak berdaya. Dipandangnya langit dan keluarlah segala tuduhan dari hatinya. Entah berapa lama dia terbaring di sana, menatap langit biru kelam dengan bintang bertaburan di atasnya. Antara tidur dan mengigau oleh karena demam panas tubuhnya. Antara sadar dan tak sadar, dia bertanya, dia meminta, dia menuntut kepada langit yang ada di atasnya. Entah berapa lama dia seperti tu, tanpa sadar oleh lelah dan tekanan perasaan dia pun tertidur pulas. Saat dia bangun demamnya sudah mulai turun, kesadarannya pun perlahan-lahan kembali. Ketika matanya terbuka yang pertama kali terlihat olehnya adalah langit yang berwarna biru kelam, perlahan-lahan berubah jadi keunguan, bintang-bintang masih bersinar terang sementara jauh di timur matahari perlahan-lahan mulai bersinar. Segala caci maki yang dia lontarkan semalam tiba-tiba membuat dia malu. Betapa langit bermurah hati, dalam sakitnya cuaca begitu cerah, angin menerpa tubuhnya terasa sejuk membuai. Kehangatan api unggun menyelimuti tubuhnya. Perlahan Ding Tao bangun dan menyandarkan tubuhnya di pohon yang terdekat, perasaan nyaman memiliki tempat untuk bersandar, memandang tulang-tulang ikan yang berserakan, entah bagaimana dia memasak ikan-ikan itu, dia pun tidak sadar dengan cara apa dia bisa memakannya tanpa harus tersedak dengan duri-duri ikan itu. Ding Tao pun merasa malu. Ding Tao merasa dirinya semakin kecil, semakin tak berarti, hanya sejumput debu dalam alam semesta yang tak terbatas.
"Siapa aku?", pertanyaan itu pun terlontar tanpa sadar. Betapa pendek umur manusia, manusia lahir dan mati, matahari masih terus berjalan dari timur ke barat tanpa henti. Pohon-pohon yang berumur ratusan tahun, ada saatnya tumbang dan membusuk, tapi lautan tetap pasang dan surut tanpa henti. Segalanya terus berjalan, yang baru datang yang lama pergi. Sesungguhnya apa artinya manusia ini, seperti embun yang datang di pagi hari dan menghilang begitu matahari sudah bersinar terang di atas langit. Tak ubahnya bunga-bunga rumput liar, yang hari ini berkembang besok sudah berguguran. Teringat itu semua, Ding Tao merasa dirinya makin kecil. Semakin dia malu telah mencaci langit, semakin malu dia mencaci Yang Maha di atas sana. Matahari, udara, makanan dan kehidupan, semuanya diberi tanpa pernah dia diminta imbalannya. Adakah matahari hanya bersinar untuk mereka yang berbuat baik? Tidakkah Dia yang Maha memberi seperti seorang ibu yang bersabar pada anaknya yang nakal, menerima segala caciannya dengan sabar. Menina bobokkan dia dengan hangatnya api unggun, menurunkan demamnya dengan hembusan angin yang sejuk, menaunginya dengan cuaca yang cerah, memberinya makan di luar sadarnya. Sebenarnya selama hidupnya apa yang sudah pernah dia lakukan untuk membalas segala kebaikan dalam kehidupan yang dia terima? Mungkin dia kehilangan kedua orang tuanya, tapi sebagai ganti ada banyak orang-orang yang datang dan melimpahinya dengan kasih. Di masa kecilnya ada Tabib Shao Yong dan ada gurunya Gu Tong Dang. Ada pula Huang Ying Ying... ya Huang Ying Ying yang telah dia khianati kesetiaannya, ketika dia menyerahkan hatinya pada Murong Yun Hua. Lalu dalam perjalanan hidupnya dia bertemu dengan sahabat-sahabat, orang-orang terhormat yang menghargai persahabatan lebih dari nyawa mereka sendiri. Ada berapa orang yang hidup dan pernah mendapatkan persahabatan yang sedemikian rupa? Lalu dia di sini, merasa dirinya hidup menderita dan diterpa ketidak adilan. Betapa sempit cara dia memandang. Sekali lagi Ding Tao merasa malu. Teringatlah dia pada orang-orang yang telah dia bunuh, pada kehidupan yang telah dia renggut sebelum waktunya, demi menyelamatkan nyawanya sendiri. Dipandanginya kedua belah tangannya, yang sudah berlumuran darah. Ketika dia dulu kembali ke Wuling, benarkah itu karena cinta? Tiba-tiba dia bertanya. Apakah itu cinta? Dia merasakan cinta pada kecantikan dan kebaikan Huang Ying Ying. Tapi kemudian ketika dia bertemu dengan Murong Yun Hua betapa mudahnya hatinya tergetar dan jatuh cinta pula pada yang lain. Apakah itu cinta? Ketika dia berpikir tentang cinta, yang ada dalam angan-angannya adalah satu kehidupan yang berbahagia dengan wanita yang dicintainya. Benarkah demikian? Ataukah dia sedang berangan-angan hidup dengan wanita yang bisa membuatnya bahagia, wanita yag bisa memenuhi keinginannya sebagai seorang pria, seorang wanita yang setia, dengan laku lembut, manja yang bisa membuatnya bahagia? Apakah benar dia mencintai Hua Ying Ying, Murong Yun Hua, Murong Huolin dan bahkan Wang Shu Lin? Ataukah sebenarnya dia hanya mencintai dirinya sendiri? Cintanya timbul karena mereka membuat dia bahagia, ketika Murong Yun Hua mengkhianatinya, berubahlah cintanya menjadi benci. Itukah cinta? Teringat juga bagaimana dia mencium Wang Shu Lin dengan penuh nafsu, apakah itu cinta? Dia sudah meminta gadis itu untuk mencari kebahagiaan yang lebih sempurna bersama lelaki yang tidak menduakannya, bagaimana bisa dia melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi hak lelaki itu? Sungguhkan cintanya itu murni, sungguhkah cintanya itu suci? Terhuyung-huyung Ding Tao berjalan ke tepian sungai, jatuh terduduk di sana dia memandangi air yang mengalir tiada henti. Dia pun merasa diri semakin tak berarti, seperti air yang datang dan pergi, sebentar ada sebentar lagi tiada. Dan antara yang ada dan tiada itu telah dia isi dengan kebohongan, dengan penipuan pada diri sendiri. Teringat dia dengan igauannya semalam, sungguh dalam kisah hidupnya dialah pahlawan, dialah korban. Tapi ketika hari terang, sadarlah dia, dia bukan pahlawan, dia juga bukan korban. Kejatuhannya adalah kesalahannya sendiri, dalam kesalahannya dia sudah pula mengorbankan orang lain. Berpikir demikian, berpikirlah pula Ding Tao, tiap-tiap orang adalah pahlawan dan korban dalam kisah hidupnya sendiri. Bahkan Murong Yun Hua pun pastilah demikian, meski apa yang dia lakukan, tentulah dia memiliki alasan dan pembelaannya sendiri. Berpikir demikian, perasaannya terhadap Murong Yun Hua berubah jauh lebih baik. Di saat yang sama Ding Tao belum selesai menghakimi dirinya sendiri, sudah tak teringat lagi dia dengan pertemuan lima tahunan dan pertarungannya dengan Ren Zhuocan.
"Siapakah aku?", sekali lagi pertanyaan yang sama bergaung dalam benaknya. Tak ada yang baik yang dia temukan untuk menjawab pertanyaan itu. Segala kebaikannya tiba-tiba terlihat begitu semu, kebaikan yang terdorong kecintaan pada diri sendiri, kebaikan pada sesama yang begitu dangkal dan tak berarti, selalu berkait dengan untung dan rugi. Jika Sepasang Iblis Muka Giok tidak menunjukkan persahabatan padanya, tapi sebaliknya meludahi uluran persahabatan yang dia berikan, masihkah dia akan memandang mereka sebagai sahabat? Masih bisakah dia memandang mereka dengan kasih? Bukankah dia akan meludah dan berkarta, bahwa seekor babi selamanya babi, tak akan mereka mengerti apa itu kebaikan orang, tak akan mengerti uluran kemurahan. Kebaikannya begitu dangkal, begitu mudah berubah, pemikirannya tentang pengampunan tentang kesempatan bagi setiap orang untuk berubah hanyalah seumur embun pagi dan sependek ujung kukunya. Sedikit panas sudah menguapkannya, selangkah tersesat sudah membuat dia kehilangan kepercayaannya. Begitu terpuruk Ding Tao dalam penghakimannya hingga tiba-tiba dia berpikir.
"Adakah manusia sepertiku punya harga untuk hidup?"
Matanya memandang kosong jauh ke kedalaman sungai itu, hatinya kelu, diam tak mampu lagi berbicara, pikirannya mendelu yang terngiang hanyalah hujatan dan penghakiman pada diri sendiri, bahkan itu pun perlahan semakin sayup dan yang ada hanya kekosongan, kehampaan dan keputus asaan yang tak bertepi, tanpa awalan dan tanpa akhiran.
Kakinya perlahan berjalan ke tengah sungai, membiarkan tubuhnya sedikit demi sedikit semakin terendam oleh air sungai yang dingin menggigik tulang, seakan ingin menghukum diri sendiri sampai setiap rasa bersalah yang menggerogotinya hilang, tapi rasa bersalah dan tak berharga itu tak juga mereda.
Di saat itulah tiba-tiba sebuah kehangatan menyelimuti dirinya, sebuah suara memenuhi hatinya.
Suara yang tak berbahasa, untaian kata-kata yang penuh makna tapi tak dapat dia katakan ataupun tuliskan.
Suara yang begitu keras hingga mengguncangkan dia, membangunkan dia dari dari keputus asaannya.
Suara yang demikian lembut hingga dia mendapatkan penghiburan.
Seperti sapuan angin yang keras, meniup habis setiap kegalauan hatinya.
Begitu kejut Ding Tao oleh apa yang dia alami, tubuh yang tadinya tercenung, merunduk lemas, tiba-tiba tegak saking rasa kejutnya.
"Apa itu?", tanyanya dalam hati. Tapi suara itu sudah tidak berkata-kata lagi, namun masih begitu nyata dalam benaknya apa yang dia rasakan barusan. Dia mencoba menguraikannya dalam kata namun tak dapat. Yang ada hanya rasa, bahwa dia berharga dalam sebuah gema yang tak ada akhirnya. Seakan tiba-tiba dia di ngatkan kembali pada bagaimana dia dijaga dalam sakitnya. Betapa dia dikasihi dalam segala kekurangannya, sebuah perasaan syukur yang membuncah tumpah ruah, sulit diungkapkan dalam kata. Sekilas dia terbayang dan sekilas dia paham, mengapa Ma Songquan dan Chu Linhe bisa begitu setia padanya. Sekilas dia mengerti dan bisa merasakan apa yang dirasakan Chou Liang ketika mereka pertama kali bertemu. Tapi dia juga bisa mengatakan betapa berkali lipat kebaikan yang dia telah dia terima dalam hidup ini. Kebaikannya pada Ma Songquan, Chu Linhe dan Chou Liang demikian dangkal, tapi sekarang ketika dia menyadari ketika dia memandang dirinya sendiri dan mendapati dirinya sekotor dari sepasang iblis muka giok, ketika dia memandang dirinya sendiri dan merasakan perasaan yang sama bagaimana Chou Liang merasa orang tak menghargai dirinya. Kemudian berbalik apa yang dia ulurkan pada mereka, diulurkan pada dirinya tapi dengan beratus kali lipat adanya. Dia yang mengatakan dirinya berharga, jauh lebih mulia dari dirinya, Dia yang mengatakan dirinya berharga sudah melihat sampai kedalaman dirinya melihat segala kedangkalan, kedegilan dan kebusukannya. Untuk pertama kalinya Ding Tao tiba-tiba mengerti mengapa bisa mereka mengorbankan nyawa mereka demi dirinya karena dia pun bisa merasakan perasaan yang sama bagi Dia yang menerima dia apa adanya ini. Untuk pertama kalinya dia lepas dari pusat keakuan yang selama ini menjerat dia. Setelah lepas dari jerat keakuan, pikirannya pun terbuka pada keberadaan dirinya dengan hubungannya dengan yang lain yang ada di luar dirinya.
"Siapa aku?", tiba-tiba pertanyaan itu kembali padanya. Dan sambil tertawa Ding Tao menjawab.
"Tidak ada aku di sini."
Dipandangnya langit yang kini sudah berwarna kemerahan, dipandangnya air sungai yang terus mengalir, dihirupnya udara yang sejuk membelai tubuhnya.
"Ini aku...", pikirnya.
"Dulu aku tak ada, sekarang aku pun tak ada"
"Dari ayah dan ibuku, aku terbentuk"
"Oleh susu dan makanan aku dijalin sedemikian rupa."
"Oleh udara ini, oleh sinar matahari ini, oleh sungai, laut, pepohonan, segala macam binatang, oleh tanah, oleh sesama, aku dihidupkan."
Dipandangnya air sungai dan sambil tertawa berkatalah dia.
"Apa kabarmu saudaraku laki-laki?"
Tangannya bergerak meraih dedaunan dari ranting yang menjulur ke atas sungai kecil itu dan dia berkata.
"Kau juga saudaraku."
"Siapa aku?"
"Aku tidak ada"
Bagaimana dikatakan aku jika unsur pembentuk dirinya selalu berubah, dia yang sekarang sudah berbeda dengan dia belasan tahun yang lalu.
Dan bagian dari dirinya pun ada yang kembali pada alam dan nantinya seluruhnya akan kembali pada alam.
Dari unsur-unsur yang sama dia berbagi asal dengan manusia, binatang dan pepohonan, seperti rumput yang tumbuh di sana-sini, namun jauh di dalam tanah, ternyata berasal dari satu akar.
Apakah dia satu atau semua?
Dan seluruhnya itu, baik segala makhluk hidup, maupun unsur-unsur lain dalam alam semesta, seluruhnya ada dalamNya.
"Aku ada di semua."
"Tidak ada aku."
Ding Tao merasa dirinya kecil bagai sebutir debu dalam padang pasir yang luas, setetes air di lautan.
Tapi dia juga besar karena dia juga padang pasir, dia juga lautan, dia bukan besar karena dia, tapi dia besar karena DIA.
"Siapa aku?"
"TIDAK ADA AKU"
Dalam ledakan pengertian yang tak bisa diuntai dalam kata-kata, yang diungkapkan dalam hening bukan karena dia diam, tapi karena dia terlalu rumit, seperti untaian jutaan mutiara dijalin dan dipintal dalam sebuah kelopak bunga teratai yang terkembang, Ding Tao pun mulai bergerak.
Tidak ada aku, setiap gerakan bukanlah gerakannya, sekaligus adalah gerakannya.
Bukan matanya yang melihat, meski memang matanya yang melihat.
Bukan telinganya yang mendengar meski memang dengan telinganya dia mendengar.
Bukan tangannya yang mengibas meski memang tangannya yang mengibas.
Bukan dia tidak sadar, tapi dia penuh dengan kesadaran, bukan dia yang menggelorakan air di sungai kecil itu.
Bukan dia yang berputar dan menggulung air hingga dasar sungai pun tersibak mengering di sekitar dirinya.
Bukan dia yang menebah dasar sungai dan menghamburkan batu-batuan hitam itu menjadi serbuk debu.
Bukan dia tapi DIA.
Aku itu tidak ada.
Dalam sebuah ledakan seluruhnya berhamburan, baik air maupun tanah, debu-debu berterbangan, pepohonan di sekitarnya terhuyung-huyung bagai diterpa badai.
Lalu perlahan semuanya diam.
Ding Tao diam tak bergerak, air sungai kembali memenuhi dasar sungai, membentuk pusaran kecil di sekitar tubuhnya, debu-debu yang berterbangan perlahan-lahan jatuh di sekelilingnya.
Ding Tao diam, siapa Ding Tao?
Tidak ada Ding Tao.
Pertemuan lima tahunan akhirnya tiba juga, seluruh dunia persilatan baik yang di dalam perbatasan maupun yang di luar perbatasan terserap dalam pusaran yang tak terlihat.
Dua kekuatan besar akhirnya siap untuk berhadapan.
Ren Zhuocan memiliki keyakinan, dengan kematian Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, Ren Zhuocan tak memiliki tandingan.
Siapa pun yang mewakili tokoh-tokoh dunia persilatan dari dalam perbatasan tak akan mampu menandinginya, itu artinya dia yang terkuat dan dialah yang paling berhak untuk berkuasa atas semuanya.
Jika mereka tetap menentang, itu artinya perang dan dia yang akan menang.
Di lain pihak seluruh dunia persilatan dalam perbatasan telah bersatu di bawah panji keluarga Murong.
Dengan kematian Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, yang mereka bawa adalah kesatuan mereka.
Dalam jumlah ada kekuatan.
Ren Zhuocan boleh jumawa, tapi dia hanya ada satu orang.
Ren Zhuocan boleh memiliki puluhan ribu bawahan, tapi merekapun sekarang telah bersatu dan tidak akan kalah jika hanya dalam hal jumlah.
Dalam hal tokoh-tokoh besar mereka masih memiliki 5 perguruan besar yang sekarang bersatu di bawah satu panji.
Semangat mereka makin bangkit, ketika Murong Yun Hua menunjukkan hasil latihannya selama ini di depan banyak orang.
Disusul kemudian maju puluhan orang terlatih dari keluarga Murong, diikuti pameran kepandaian dari murid-murid utama 5 perguruan besar.
Meski ada kekecewaan karena Wudang menyatakan diri menutup dari urusan dunia luar, namun melihat pameran kekuatan itu, semangat setiap orang pun melambung tinggi.
Tapi yang terlihat di luar tidak sepenuhnya sama dengan apa yang sesungguhnya terjadi.
Ada sekelompok kecil orang yang menghadapi pertemuan lima tahunan ini dengan hati berdebar-debar dan semangat tak menentu.
Kecil jumlah mereka namun akan besar akibatnya bila apa yang mereka tunggu-tunggu ternyata benar adanya.
Pertemuan lima tahunan kali ini, tidaklah sama dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Demikian besar gerakan yang terjadi dalam dunia persilatan hingga setiap orang awam pun mengetahuinya.
Bukan hanya orang-orang dalam dunia persilatan saja yang menantikan hasil dari pertemuan ini dengan dada berdebar, tapi juga sekalian pembesar negeri, karena para polisi rahasia sudah mengendus ambisi Ren Zhuocan dan hubungan baik Ren Zhuocan dengan penguasa di luar perbatasan.
Mereka pun sadar, pertemuan lima tahunan kali ini adalah pertemuan yang menjadi penentuan.
Gugurnya dua orang tokoh besar yang selama ini membuat ambisi Ren Zhuocan terganjal, membuat perimbangan kekuatan berubah mengkhawatirkan.
Meski dari dunia persilatan di dalam perbatasan pun muncul Murong Yun Hua yang menyatukan mereka di bawah satu bendera.
Maka dengan hati berdebar, orang-orang kerajaan ini pun mengamati berjalannya pertemuan lima tahunan ini.
Kuda-kuda pembawa pesan berpacu hilir mudik, memberikan laporan pada pejabat di pusat sana.
Ketika tokoh demi tokoh berdatangan, partai demi partai mengirimkan kekuatannya, setiap perubahan ini pun segera dilaporkan ke atas sana.
Yang di luar pengetahuan mereka adalah Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya, Shin Su dan 49 orang saudaranya.
Bergerak dalam bayangan, apa yang mereka lakukan tak tampak di permukaan.
Baca Juga: Suling Emas 4
Baca Juga: Pedang Naga Kemala 4