Ceritasilat Novel Online

Pedang Angin Berbisik 15

Eps 15 Pedang Angin Berbisik - Han Meng

Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng

Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.

Namun saat ini mereka sendiri sedang menanti-nanti dengan hati berdebar.

Tetua Shen yang sudah ada bersama-sama dengan mereka dibanjiri pertanyaan.

Tapi tak satupun ada yang bisa dijawabnya.

"Hahhh... aku pun tak tahu, sampai aku pergi meninggalkan Desa Hotu, aku tak juga melihat batang hidung Ketua Ding Tao.", jawab Tetua Shen sambil menghembuskan nafas kuat-kuat, berusaha mengusir pergi perasaan marah yang sudah mau timbul karena berkali-kali dihujani pertanyaan, terutama oleh Shin Su dan saudara-saudaranya yang tidak bisa menerima bahwa Ding Tao belum juga muncul, sementara waktunya semakin dekat.

"Tidak mungkin Ketua Ding Tao gagal, kalaupun gagal dia pasti tetap datang untuk mempertaruhkan nyawa.", gumam salah seorang dari mereka dan kurang lebih seperti itulah isi percakapan mereka dari hari ke hari. Tidak heran Tetua Shen hampir dibuat gila oleh isi percakapan mereka itu. Zhu Yanyan dan yang lainnya pun kadang rasanya sudah hampir hilang kesabaran. Tapi setidaknya mereka berutung, karena pada saat kelompok itu mulai bertanya, bukan ada mereka bertujuh orang-orang itu bertanya, tapi pada Tetua Shen yang tugasnya memang menunggu kedatangan Ding Tao di Desa Hotu.

"Mengapa Tetua Shen tidak menunggu sehari dua hari lagi?", itulah salah satu isi pertanyaan mereka. Begitu buruk suasana hati Tetua Shen sehingga beberapa kali dia pun pergi meninggalkan penginapan sendirian untuk pergi ke warung dan minum arak sepuasnya. Jika sudah demikian, maka dia pun akan memaki Ding Tao panjang pendek. Semakin dekat dengan diadakannya pertemuan lima tahunan, semakin sering Tetua Shen pergi untuk minum arak. Satu hari, tinggal dua hari lagi menjelang Pertemuan Lima Tahunan diadakan, Tetua Shen benar-benar dalam keadaan yang buruk, hari masih pagi ketika dia sudah melarikan diri dari kejaran pertanyaan dan berkunjung ke kedai arak langganannya. Pelayan di sana sudah tentu hafal dengan kesukaan kakek tua ini, meski sedikit janggal bahwasannya di hari sepagi itu Tetua Shen sudah datang untuk minum arak, tapi yang namanya pelanggan adalah raja, buru-buru kakek tua itu disambut dengan ramah.

"Selamat pagi tuan..., apa pesanannya pagi ini? Apa seperti biasanya? Mungkin mau ditambah sedikit makanan yang agak berat untuk mengganjal perut?", sapa pelayan warung itu dengan ramah.

"Ya, boleh juga, sediakan yang seperti biasanya dan beri juga aku beberapa biji bakpau.", jawab Tetua Shen yang sudah merasa baikan begitu mendengar sapaan ramah dari pelayan warung itu. Memang dibandingkan pertanyaan Shin Su dan kawan-kawannya, sapaan pelayan itu terdengar seperti nyanyian biduan yang merdu di telinga. Dalam waktu singkat, apa yang diminta Tetua Shen pun sudah tersedia, dua guci arak yang sudah dihangatkan ditambah satu piring berisi bakpau yang masih mengepul karena baru keluar dari pancinya.

"Mari tuan, silahkan dinikmati, kalau nanti ada yang kurang, panggil saja saya.", ucap pelayan itu sambil menyajikan pesanan Tetua Shen.

"Heheheh, bagus, bagus, kau siapkan saja lagi dua guci arak, supaya kalau yang ini habis kau bisa cepat menghidangkan yang berikutnya", ujar Tetua Shen sambil terkekeh puas.

"Baik tuan, tentu tuan", jawan pelayan itu dengan sigap, membuat hati Tetua Shen makin hangat. Makan dan minumlah Tetua Shen sampai puas dan seperti biasa, kalau sudah mula terpengaruh arak maka yang dimaki-makinya adalah Ding Tao.

"Nah, kau pp.. ppikir baik-baik aa a apa bbukan anak ... anak... anak haram jadah dia itu? Aku sudah begitu baik padanya, tapi tapi... dia malah lupa dengan janjinya. Ss..s.ssampai hari ini bhathang hh hi.. hi ..hhidungnya pun tidak... tidak... terdengar?", ujar Tetua Shen pada pelayan yang lewat dengan beberapa kata-katanya sedikit tidak jelas. Pelayan itu tentu saja setuju dengan apa pun yang dikatakan Tetua Shen.

"Tentu saja benar tuan, orang seperti itu sudah sepantasnya mendapat hajaran."

Pelayan sudah lewat dan Tetua Shen masih mengomel.

"Heh.. he... hehehe, benarr juga pelayan itu..., bo..bo..boocah sial itu harus kuhajar..., cuma dengan cara apa aku menghajarnya..."

Dan mulailah Tetua Shen menyebutkan jurus-jurus andalannya sembari membayangkan dirinya menghajar Ding Tao.

Sialnya dasar seorang ahli silat, dalam mabuknya pun dia bisa membayangkan bagaimana Ding Tao akan menghadapi jurus-jurusnya dan pada akhirnya bukan dia yang menghajar Ding Tao malah dirinya yang kena hajar Ding Tao.

"Kep... kep... keppparat! Sungg..gguhh bocah ssial!.. Mmasa...masa... masa aku kalah lagi...", ujar Tetua Shen dengan sendu. Tiba-tiba datang seorang tua lain, tubuhnya terbungkuk-bungkuk di balik jubah yang kebesaran, wajahnya sudah sama keriput dengan rambut panjang dan jenggot yang beruban, di punggungnya terikat sebuah bungkusan yang besar.

"Sobat, siapa bocah sialan yang bikin hatimu jengkel itu?", tanyanya sambil menarik kursi dan ikut duduk di meja Tetua Shen.

"Ss.. siapa..siapa lagi kalau bukan Ding... ding.. Ding Dong!", jawab Tetua Shen sambil melirik temannya yang baru datang.

"Hahaha... lalu mengapa tidak kau hajar saja bocah nakal itu?", tanya teman barunya itu.

"Hmm... justru... justru itu... sudah kuhajar, tapi justru balik aku yang kena hajar", jawab Tetua Shen dengan kesal.

"Kalau begitu biar aku bantu kau menghajar si Ding Dong itu", jawab teman barunya.

"Hahaha... bagus.. eh bagus... ya bagus, kalau kita berdua sama-sama tua, tenttu harus bekerja sssama, supaya orang muda tidak kurang ajar pada kita", jawab Tetua Shen sambil tertawa bergelak.

"Kalua begitu ayo kita pergi sekarang, antar aku ke tempat Ding Dong yang kurang ajar itu, biar kubantu kau menolong dia.", jawab teman barunya itu.

"Bbagus! Bagus! Ayo kita cari bb bo bocah haram jadah itu!", sahut Tetua Shen sambil berdiri sempoyongan dan menaruh sepotong uang perak di atas meja. Pelayan pun cepat-cepat mengantar dia pergi sambil berkata.

"Terima kasih tuan, lain kali datang lagi"

Yang dijawab Tetua Shen dengan lambaian tangan, sambil berjalan sempoyongan setengah dipapah oleh teman barunya itu.

Pelayan yang melihat tingkah polah dua orang itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil memonyongkan bibir.

"Kalau sudah tua memang susah kalau punya anak tidak berbakti. Hmm.. makanya si A Sau harus kuajar benar-benar supaya tidak lupa jasa orang tua. Kalau tidak nanti tua aku bakalan seperti kakek itu.", gumamnya sembari mengantungi uang perak dan membersihkan meja. Sementara itu Tetua Shen yang dipapah teman barunya, berjalan sempoyongan, berputar-putar di dalam kota, melewati gang sempi dan jalan-jalan yang tidak karuan. Ketika sampai di satu tempat yang sepi tiba-tiba dia mencengkeram teman barunya itu.

"Sobat, boleh tahu siapa namamu?", tanyanya dengan keren, hilang sudah kata-katanya yang tidak jelas dan jalannya yang sempoyongan. Tapi ditegur demikian sobat barunya tidak menjadi gugup malah tertawa.

"Hahaha, Tetua Shen, masa sudah lupa dengan namaku? Ini aku ... Ding Dong."

Mendengar jawaban itu melototlah mata Tetua Shen, dan dia pun memaki-maki sambil membanting kaki.

"Benar-benar haram jadah! Jika tidak ingat siapa dirimu dan apa kedudukanmu sudah kuajak kau bertarung sampai mati. Bocah edan, kau menghilang sedemikian lama, sekarang begitu muncul kau malah mengajak bercanda tidak karuan. Apa kau tidak tahu betapa repotnya aku harus menjawab pertanyaan dan tuduhan 50 orang pengikutmu yang tidak becus itu!?"

Tetua Shen pun sampai nafasnya memburu karena kesal dan juga lega, akhirnya Ding Tao yang ditunggu-tunggu itu tiba juga.

Ding Tao yang tadinya bangkit keinginannya untuk bercanda karena secara tidak sengaja mendengar caci maki Tetua Shen atas dirinya jadi merasa kasihan juga melihat orang tua itu, maka sikapnya pun berubah dengan tulus dia memberi hormat.

Katanya.

"Tetua Shen, maaf aku sudah membuatmu repot, tapi bukan maksudku demikian, ketika aku datang ke rumahmu kau sudah pergi. Aku membaca pesanmu, tapi untuk tidak menarik perhatian, terpaksa aku mengambil jalan memutar dan menyamar. Kemudian karena 50 pengikutku yang kurang becus itu kecolongan di Jiang Ling, terpaksa aku turun tangan sendiri diam-diam. Makanya aku datang sangat terlambat, tapi syukurlah segala urusan sudah selesai."

"Heh... sudahlah aku sudah puas memaki-makimu, lagipula dengan kau datang, kau bisa suruh tutup mulut 50 orang pengikutmu itu. Omong-omong mereka salah apa di Jiang Ling?", tanya Tetua Shen terhibur hatinya, bagaimana pun juga sejak awal dia sudah menyukai bahkan menghormati Ding Tao, jika bukan karena terus menerus disudutkan oleh pengikut Ding Tao tidak nanti dia memaki-maki Ding Tao.

"Mereka salah menghitung jumlah pengikut Murong Yun Hua yang punya kepandaian, sebenarnya tidak seluruhnya dibawa ke mari, namun ada 10 orang yang masih berjaga di Jiang Ling, dengan sendirinya Tetua Hua Ng Lau, Adik Hua Ying Ying dan Adik Murong Huolin yang sudah setuju untuk membebaskan Pendekar pedang Jin Yong jadi kesulitan. Untung aku datang di waktu yang tepat dan bisa membantu mereka membebaskannya.", jawab Ding Tao kemudian serba singkat menceritakan keadaan di Jiang Ling waktu itu. Setelah mendengar cerita Ding Tao, Tetua Shen pun ikut menghela nafas lega.

"Syukurlah Ketua Ding Tao bergerak dengan bijak. Tidak hanya terima laporan tapi Ketua Ding Tao masih menyempatkan diri memastikan keadaan di tempat-tempat yang penting. Dengan adanya Pendekar pedang Jin Yong di pihak kita, rencana kita bisa dikatakan akan berjalan dengan mulus."

"Ya, semoga saja begitu, di mana yang lainnya sekarang berada?", tanya Ding Tao kemudian.

"Ayo, aku antarkan ke mereka, biar bungkam mulut 50 orang bebek itu.", ujar Tetua Shen dengan bersemangat.

"Eh, bungkusan yang kau bawa-bawa itu apa?", tanya Tetua Shen tiba-tiba. Ding Tao pun tersenyum dan menjawab sedikit berahasia.

"Oo... ini oleh-oleh untuk Ketua Partai Kongtong Zhong Weixia, kupikir aku harus memberikan sedikit hadiah supaya semuanya berjalan lebih lancar."

"Hmm... hmm... boleh saja kau bermain rahasia denganku, tunggu saja sampai kau bertemu dengan 50 orang pengikutmu itu. Kita lihat apa kau masih bisa bermain rahasia.", jawab Tetua Shen sambil mengulum senyum Mendengar jawaban Tetua Shen itu Ding Tao tertawa saja. Kedatangan Ding Tao itu tentu saja disambut dengan gembira oleh mereka semua, untuk beberapa lama Ding Tao pun harus melayani berbagai pertanyaan yang datang tak henti-hentinya. Termasuk tentang bungkusan yang dibawa-bawa Ding Tao. Benar saja ramalan Tetua Shen, akhirnya Ding Tao harus membuka juga rahasia dari bungkusan besar itu, meski dia berpesan sungguh-sungguh agar kisah dari bungkusan besar itu tidak menyebar ke mana-mana. Setelah pertanyaan mereka semua terpuaskan barulah mereka bisa mundur sejenak dan meresapi Ding Tao yang sekarang ini. Dalam ketenangan itu, masing-masing dari mereka, bergantung dari kepekaan mereka, bisa merasakan perubahan yang terjadi dalam diri Ding Tao. Sesuatu yang kasat mata, tak bisa dijelaskan, entah dari sikap tubuhnya atau dari ekspresi pada raut wajahnya, terasalah ada satu perbawa yang keluar, yang membuat mereka merasa tunduk di luar maunya. Zhu Yanyan yang pertama bertanya.

"Tetua Shen, bagaimana, secepatnya kita harus menyusul para tokoh dunia persilatan yang sudah berangkat ke Gurun Gobi. Bisa kubayangkan saat ini tenda-tenda sudah memenuhi dataran yang luas itu, dengan satu sisi penuh oleh pengikut Ren Zhuocan dan perguruan-perguruan dari luar perbatasan yang sudah ditaklukkannya dan di sisi lain Murong Yun Hua sebagai Wulin Mengzhu dengan hampir seluruh saudara-saudara kita."

"Tentu saja, kita sudah terlambat beberapa hari, hari ini juga sebaiknya kita bergegas pergi ke sana. Tentunya jika Ketua Ding Tao tidak ada masalah dengan hal ini, karena seperti yang sudah ketua ceritakan, pagi ini dia baru saja sampai di kota ini setelah menyelesaikan berbagai urusan.", jawab Tetua Shen.

"Lalu bagaimana dengan ujian yang Tetua Shen ajukan, apakah masih perlu untuk menguji kesiapan Ketua Ding Tao untuk menghadapi Ren Zhuocan?", tanya Zhu Yanyan. Tetua Shen pun terdiam sambil memandangi Ding Tao, yang dipandangi hanya tersenyum-senyum saja. Cukup lama Tetua Shen menimbang-nimbang. Kemudian dia bertanya.

"Apa hati dan pedang sudah menyatu?"

Ding Tao pun menjawab.

"Apa itu hati? Apa itu pedang? Tidak ada aku, tidak ada pedang, hanya ada satu."

Tetua Shen dan yang lainnya pun diam merenungkan jawaban Ding Tao, akhirnya Tetua Shen pun menghela nafas dan berkata.

"Sudahlah kita berangkat saja, apa yang mau diuji jika orangnya tidak ada."

Shin Su dan teman-temannya yang masih rendah ilmunya hanya bisa saling berpandangan dan mengangkat bahu.

Bahkan dari enam guru Wang Shu Lin pun hanya Zhu Yanyan yang bisa meraba maksud mereka berdua.

Bagi yang lain, meski merasa jawaban itu punya arti, tapi mereka sendiri tak berani mengartikannya.

"Baiklah, kalau kita Shin Su, sebaiknya kau siapkan semuanya, segera setelah segalanya siap, kita langsung berangkat. Sementara kita bersiap, Ketua Ding Tao bisa beristirahat sejenak.", ujar Zhu Yanyan. Shin Su dan rekan-rekannya pun segera bekerja, menyiapkan bekal, kuda dan segala yang diperlukan nanti dalam perjalanan. Juga tenda dan selimut, karena pertemuan lima tahunan kali ini akan diadakan di dataran gurun Gobi, tidak ada tempat lain yang lebih tepat untuk bertemunya ratusan ribu pesilat dari kedua belah pihak. Selain letaknya yang tepat berada di perbatasan, juga dataran yang luas itu satu-satunya yang bisa menampung jumlah orang-orang dari kedua belah pihak yang jumlahnya sudah melewati 100.000 dari masing-masing pihak saja. Jumlah yang besar ini tentu saja sampai pula di telinga para pembesar negeri, baru kali ini seluruh dunia persilatan bergabung menjadi satu, di bawah satu panji. Melihat jumlah mereka, mau tidak mau setiap penguasa propinsi dan kota, berdebar-debar. Jumlah sebesar itu bisa dengan mudah menaklukkan satu propinsi. Setiap mata memandang peristiwa di Gurun Gobi, dalam gegap gempitanya suasana, tak terdengar nama Ding Tao yang hilang beberapa bulan sebelumnya. Dalam keramaian itu lah Ding Tao dan mereka yang membantunya, menyebar diam-diam. Shin Su dan saudara-saudaranya tetap diminta untuk menghindar dari pekerjaan yang berbahaya, mereka menyebar entah sebagai kelompok orang awam yang ikut mendapatkan keuntungan dari keramaian itu, atau mereka yang sekedar mencari pengalaman. Wang Shu Lin dan ke-enam gurunya memisah menjadi dua kelompok. Wang Shu Lin kembali pada perannya sebagai Ximen Lisi didampingi Lu Jing Yun, Zhu Jiuzhen dan orang-orang kepercayaannya, sudah membawa pengikutnya yang berjumlah ratusan, ikut berada di bawah panji Murong Yun Hua sebagai Wulin Mengzhu. Sementara Zhu Yanyan menghilang di antara kerumunan tak terlihat oleh mata, demikian juga Khongti menghilang diam-diam. Hu Ban memimpin Pang Boxi, Chen Taijiang dan Shu Sun Er sudah membaur dengan kelompok-kelompok kecil lainnya. Ding Tao bersama Tetua Shen sudah menyamar pula dan membaur bersama para pendekar di bagian lain dari perkemahan yang luas itu. Hari yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya datang juga, bila barisan di belakang Ren Zhoucan berbaris dengan rapi, sesuai dengan urutan dari yang paling senior sampai prajurit kecil berbaris di belakang mereka. Maka barisan Murong Yun Hua justru membuat para mata-mata dari kerajaan semakin gentar. Barisan diatur sesuai dengan strategi perang, masing-masing kelompok dibagi menurut bagiannya masing-masing dan dipimpin oleh ketuanya masing-masing, dalam satu formasi yang efektif untuk melawan lawan yang tidak memiliki bentuk khusus. Berada di bagian paling depan, di tengah-tengah barisan yang lain, adalah barisan di bawah kendali Murong Yun Hua. Hebatnya terlihat bermacam-macam bendera dipegang oleh salah seorang anak buah Murong Yun Hua. Bukan saja jadi barang pameran, tapi juga diperagakan. Dengan sebuah isyarat lewat panji-panji itu, maka barisan di bawah perintah Murong Yun Hua bergerak serempak mengikuti isyarat. Terlihat cukup teratur, meski dalam pergerakannya masih kurang rapi. Namun jelas terlihat bahwa mereka yang memimpin tiap-tiap kelompok sudah mendapatkan pengarahan khusus dan mampu menerapkannya. Ren Zhuocan mungkin tidak mengerti ilmu perang, tapi melihat apa yang ditunjukkan itu, hatinya pun sedikit berdebar-debar. Namun keyakinannya pada ilmunya yang menurutnya sudah setinggi langit, membantu keyakinannya tidak sampai goyah.

"Hmm... mereka boleh memiliki siasat perang, namun dalam pandanganku, ribuan orang tak ada artinya. Mereka semua akan kutebas dalam satu gebrakan. Nanti akan kita lihat, apa mereka bisa mempertahankan semangatnya.", pikir Ren Zhuocan. Ya, Ren Zhuocan mungkin tidak begitu mengerti siasat perang, namun dia mengerti prinsip dasar dalam sebuah pertarungan. Bukan hanya masalah siasat, tapi juga kesatuan dan semangat dari mereka yang berperang. Para pendekar di bawah pimpinan Murong Yun Hua bukan semuanya hasil didikan bertahun-tahun untuk menjadi sebuah pasukan. Sementara semangat dan kedisiplinan adalah hal yang penting dalam menggerakkan satu pasukan agar bergerak sebagai satu kesatuan. Para pendekar yang lebih individualistis, tentu tidak bisa bergerak seperti pasukan yang terlatih, di mana ada saatnya mereka bergerak, sekedar menjadi umpan yang bisa dikorbankan atau menjadi perisai bagi teman-teman yang lainnya. Tidak pameran itu memang sempat menggetarkan hati Ren Zhuocan, tapi dengan cepat dedengkot dari luar perbatasan itu sudah menenangkan hatinya. Melihat lawan sudah berbaris rapi bahkan memamerkan sedikit kemampuan mereka, Ren Zhuocan pun tak mau kalah gertak. Diam-diam dikerahkannya hawa murni dan ketika dia membuka mulutnya, maka terdengarlah suaranya bergaung, bergema memenuhi seluruh dataran. Membuat jantung mereka yang belum mapan ilmunya, seakan-akan melonjak-lonjak di dalam dadanya.

"Salam saudara-saudara sekalian, seperti yang sudah kita lakukan pada tahun-tahun sebelumnya, kita datang untuk mengadu ilmu, menguji kemajuan kita masing-masing. Di sini sudah ada Ren Zhuocan! Siapa di antara kalian yang akan maju mewakili, untuk menguji ilmu dengan Ren Zhuocan?", demikian Ren Zhuocan mengambil inisiatif membuka pertemuan itu. Suaranya yang menggetarkan dada setiap orang, membuat seluruh daratan hening terdiam untuk sesaat. Murong Yun Hua tentu saja paham, Ren Zhuocan sedang memamerkan ilmunya untuk menggoyahkan semangat orang-orang yang berdiri di pihaknya. Maka sebelum hilang gema suara Ren Zhuocan, Murong Yun Hua pun sudah membuka mulut dan menjawab.

"Wuling Mengzhu seluruh daratan, Murong Yun Hua akan maju melayani tantangan Ketua Ren Zhuocan.", suaranya lembut namun suara yang lembut itu mampu mengisi seluruh daratan dari ujung ke ujung, seperti tiupan seruling di tengah keheningan, lembut namun terdengar jelas di telinga. Melihat kemampuan Murong Yun Hua yang mampu menyamai apa yang ditunjukkan Ren Zhuocan, meski dalam bentuk yang berbeda, pecahlah sorak sorai, utamanya dari mereka yang tadi nyalinya sudah sempat ciut, ditekan oleh gelombang suara yang menggetarkan dada mereka. Ketegangan yang tadi mereka rasakan, mereka tumpahkan dalam sorakan. Tapi belum lama hilang gema suara Murong Yun Hua, terkejutlah hati semua orang, sebuah suara lain bergulung-gulung menggelora tidak ubahnya seruan Ren Zhuocan mengaduk-aduk perasaan mereka semua.

"Tahan..., Murong Yun Hua, kau bukanlah Wulin Mengzhu ... akulah Wulin Mengzhu yang terpilih!"

Ketika kata "terpilih!"

Dikatakan, suara itu bukan hanya bergulung dan menggelora tapi menghentak dada setiap orang.

Beberapa orang yang dangkal ilmunya dan terlalu dekat dengan sumber suara itu pun terhuyung-huyung dan jatuh terduduk di tempatnya masing-masing, membuat barisan mereka menjadi kacau dan tentu saja sebentar kemudian suasana menjadi ricuh ketika dia yang bersuara tampil pula ke depan.

"Ding Tao..."

"Ding Tao..."

Nama itu pun dibisikkan di mana-mana, jika sebagian besar dari mereka terkejut melihat perkembangan yang tidak diduga-duga ini, maka beberapa gelintir orang sudah berdebar-debar ketakutan karena apa yang dibisikkan di telinga mereka ternyata benar adanya.

Dan sekarang mereka pun sibuk memutar otak, melihat bagaimana kartu akan dimainkan oleh Ding Tao dan Murong Yun Hua, serta bagaimana mereka harus memainkan kartu di tangan mereka.

Tapi yang pertama-tama bergerak bukanlah segelintir orang itu, melainkan Huang Ren Fu yang memimpin sekelompok kecil barisan yang dibentuk dari para pengikut Keluarga Huang.

"Ding Tao! Setelah sekian lama kau sembunyi, akhirnya berani juga kau menampakkan diri! Saudara-saudara, cabut senjata kalian, kita balaskan dendam segenap keluarga Huang!!!", seru Huang Ren Fu dengan senjata di tangan.

"Tahan dulu Saudara Huang! Aku punya bukti dan saksi, bahwa semua yang dituduhkan padaku adalah fitnah belaka. Sebaliknya, Murong Yun Hua-lah yang ada dibalik ini semua, termasuk pembantaian Keluarga Huang di Wuling.", ujar Ding Tao tegas dan berwibawa, membuat semua orang yang tadinya bergerak hendak menyerang terhenti di tempatnya.

"Adik Huolin, Adik Ying Ying tolong bawa Tetua Jin ke depan", suara Ding Tao terdengar jelas di daratan yang luas itu dan pandang mata setiap orang pun mencari-cari, siapa yang dipanggil Ding Tao. Tidak perlu lama mereka menunggu, dituntun oleh Murong Huolin di kanan dan Hua Ying Ying di kiri, diiringi oleh Hua Ng Lau di belakang mereka, juga ada seorang entah siapa membawakan kursi, tampil ke depan Pendekar pedang Jin Yong. Mukanya masih pucat, tubuhnya masih terlihat lemah, namun tubuhnya sudah mulai berisi dan matanya tidak lagi kosong. Obat Tabib Shao Yong sudah memulihkan sebagian kondisi Pendekar pedang Jin Yong, meski otot-otot tubuhnya sudah terlampau lemah untuk pulih seperti sedia kala dalam waktu yang singkat, setelah sekian lama tidak pernah digunakan.

"Mohon sekalian saudara semuanya tenang! Supaya Tetua Pendekar pedang Jin, bisa terdengar, karena kondisi beliau begitu lemah.", sekali lagi bergema suara Ding Tao ke seluruh penjuru. Karena tertarik dan juga karena wibawa dari Ding Tao, terdiamlah semua orang, memasang telinga baik-baik untuk mendengar ucapan Pendekar pedang Jin Yong. Dengan suara bergetar, tapi cukup jelas untuk orang-orang yang berada di sekitarnya, Pendekar pedang Jin Yong pun berkata sambil menunjuk ke arah Murong Yun Hua.

"Terlampau panjang jika harus kuuraikan satu per satu. Secara singkatnya, selama ini aku berada di bawah sekapan perempuan itu."

"Dan aku bisa bersaksi lewat yang kudengar dari perkataan perempuan itu sendiri, bahwa apa yang dikatakan Ketua Ding Tao adalah benar adanya. Dialah yang sesungguhnya berada di balik pembantaian keluarga Huang di Wuling, juga dialah yang menyebarkan obat perebut semangat yang bernama Obat Dewa Pengetahuan. Aku dan Ketua Ding Tao juga menjadi korban dari obat terkutuk itu.", lanjut Pendekar pedang Jin Yong sebelum memberikan tanda pada Hua Ying Ying dan Murong Huolin untuk memapahnya ke tempat duduk yang disiapkan untuknya. Mereka yang tidak mendengar jelas perkataan pendekar pedang itu, bertanya pada mereka yang berada lebih dekat. Maka suasana yang tadinya hening, perlahan-lahan mulai riuh seperti desau air.

"Bohong!", tiba-tiba terdengar suara Murong Yun Hua mengatasi keramaian itu.

"Apa buktinya bahwa dia Pendekar pedang Jin Yong yang asli? Masakan oleh perkataan satu orang tua yang cacat dan tidak jelas asal usulnya, kalian semua percaya?", tanya Murong Yun Hua dengan nada yang tinggi, matanya menatap tajam ke arah Murong Huolin, seakan-akan ingin membunuh adik sepupunya itu dengan pandang matanya.

"Bagaimana dengan kematian Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan? Apa kalian sudah lupa?", tanya Murong Yun Hua balik hendak menyudutkan Ding Tao. Tapi belum habis dia berbicara, terdengar gemuruh orang berbaris maju ke depan. Dipimpin oleh Khongti dan Zhu Yanyan, diiringi oleh empat orang saudara mereka,juga anak murid Shaolin dan Wudang maju ke depan. Setiap orang bertanya-tanya dalam hati, untuk apa mereka maju ke depan, apakah hendak membalaskan dendam ketua mereka pada Ding Tao? Tidak lama pertanyaan mereka pun terjawab. Zhu Yanyan membuka mulut.

"Saudara-saudara mungkin sudah lupa, tapi bagi generasi tua kuharap masih ingat dengan namaku. Zhu Yanyan, dan ini adikku Khongti. Kami berdua adalah saksi hidup yang bisa memastikan bahwa Ketua Ding Tao bukanlah pembunuh Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan. Bahkan kedua tetua berpesan pada kami berenam untuk membantu Ketua Ding Tao melepaskan diri dari jebakan orang."

Maju pula dari anak murid Shaolin dan Wudang yang ikut berkata.

"Kami pun adalah saksi hidup mengenai keputusan Ketua berdua untuk melindungi Ketua Ding dari jebakan perempuan iblis itu."

Suasana pun jadi makin riuh ramai, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak dan bertanya.

"Jadi siapakah orangnya yang sudah membunuh kedua Tetua?"

Diiringi ramai suara lain yang berteriak-teriak menanyakan hal yang sama.

Di tempatnya masing-masing, Zhong Weixia, Tetuz Xun Siaoma, Bai Chungho dan Guang Yong Kwang pun berdebar-debar menanti jawaban Zhu Yanyan.

Menanti teriakan-teriakan itu agak mereda, Zhu Yanyan pun menjawab dengan suara lantang.

"Sayangnya kami tidak tahu siapa yang membunuh mereka berdua. Tapi kami tahu pasti itu bukan Ketua Ding Tao karena saat itu dia bersama kami. Yang kami tahu sebelum berpisah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan berkata bahwa dia akan menghadang siapa pun yang berusaha menangkap Ketua Ding Tao, dan memberi kami waktu untuk melarikan diri."

"Menurut dugaan kami, besar kemungkinan yang membunuh adalah pengikut-pengikut pilihan dari keluarga Murong! Dengan jalan keroyokan mereka telah membunuh kedua tetua!", sambung Zhu Yanyan dengan lantang. Karena sebelumnya telah melihat pameran kepandaian dari pengikut inti Murong Yun Hua, orang-orang pun jadi bisa membayangkan, bahwa memang ada kemungkinan Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan terbunuh oleh mereka. Sementara 4 orang pelaku yang sesungguhnya menghembuskan nafas lega. Melihat bagaimana Ding Tao memainkan kartunya, maka sedikit banyak mereka pun sudah mengambil keputusan, bagaimana mereka akan memainkan kartu mereka. Murong Yun Hua yang semakin panik berteriak kembali.

"Apakah kalian semua begitu mudahnya dihasut orang? Tadi muncul orang yang mengaku dirinya Pendekar pedang Jin Yong. Lalu sekarang muncul pula orang yang mengaku menjadi saksi bahwa Ding Tao bukanlah pelakunya. Tapi siapa mereka itu? Siapa yang bisa membuktikan kebenaran perkataan orang-orang tua tak dikenal ini?"

Tiba-tiba dari tengah barisan terdengar suara.

"Apakah aku juga hanya seorang tua yang tidak dikenal?"

Dan semua orang pun menoleh ke arah suara itu, ternyata suara itu berasal dari Tetua Xun Siaoma. Tokoh tua itu pun maju ke depan diiringi seluruh barisan anak murid perguruan Hoasan.

"Aku Xun Siaoma, siapa berani tak percaya pada kesaksianku? Pada peristiwa di Jiang Ling aku telah dipaksa untuk mengikuti perintah perempuan iblis itu.", ujarnya membuat orang-orang yang mendengarnya tertegun tak percaya.

"Supaya jelas, biarlah kupaparkan kebobrokan partai kami sendiri. Pan Jun ketua Hoasan yang sebelumnya, telah jatuh dalam pikatan perempuan iblis itu. Hubungan antara mereka berdua menghasilkan keturunan yang oleh perempuan itu diaku sebagai anak Ketua Ding Tao. Nah mengguakan anak itu lah, sebagai pewaris sah dari kedudukan Ketua Pan Jun dia memaksa kami untuk mengikuti perintahnya, memfitnah Ketua Ding Tao.", ujar Tetua Xun Siaoma lantang terdengar ke segala penjuru. Karuan saja Murong Yun Hua murka.

"Kau... kau... berani-beraninya kau memfitnahku!"

Tetua Xun Siaoma hanya tersenyum mengejek.

"Memfitnahmu atau mengatakan yang sebenarnya? Lihat ini, Ketua Ding Tao telah berhasil membebaskan anak itu dari sekapanmu dan mengantarkannya pada kami."

Salah seorang anak murid Hoasan maju menggandeng Murong Ding Yuan ke depan dan pucatlah wajah Murong Yun Hua, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

Melihat apa yang terjadi sekarang, dia mulai berhitung apa saja yang telah dilakukan Ding Tao dibalik punggungnya.

Matanya berkeliaran melihat ke sekelilingnya, ketika terbentur pada mata Ding Tao, ketakutannya pun semakin memuncak.

Pandang mata Ding Tao yang memandangnya penuh belas kasihan, membuat dia semakin yakin bahwa Ding Tao telah menyiapkan bukti dan saksi-saksi lainnya.

Jika tidak, tidak akan pemuda itu memandangnya dengan cara demikian.

Sedemikian yakin dengan dirinya, sedemikian yakin dengan akhir yang menantinya.

Belum habis gema suara Tetua Xun Siaoma, Ding Tao membuka suara dan mengeluarkan bungkusan besar yang dia bawa-bawa.

"Ketua Zhong Weixia, lihatlah, pusaka Partai Kongtong turun temurun, yang telah dicuri dan digunakan Murong Yun Hua untuk memerasmu sudah ada di tanganku. Mengapa Ketua Zhong tidak maju dan mengambilnya. Kuharap Ketua Zhong juga mau menjelaskan duduk perkaranya. Supaya lebih jelas bagi semua orang, siapa yang hitam dan siapa yang putih."

Zhong Weixia pun terbelalak melihat isi bungkusan besar itu, tatkala Ding Tao dengan hikmat membuka tali yang mengikat bungkusan itu dan memperlihatkan apa isi dari bungkusan itu.

Sebuah kapak bertangkai panjang, senjata pusaka milik pendiri Partai Kongtong, beserta beberapa

Jilid kitab yang dia kenal betul adalah kitab yang dijanjikan Murong Yun Hua padanya.

Soal kitab memang benar kata Ding Tao, telah lama hilang tercuri dan ada di tangan Murong Yun Hua, kemudian digunakan sebagai alat barter untuk kerja samanya.

Tapi kapak besar bertangkai panjang itu, tidak pernah hilang, meski sudah lama tak terlihat, turun temurun kapak itu disampaikan pada Ketua Partai Kongtong pada generasinya untuk disimpan dalam ruang rahasia.

Jika sekarang kapak itu ada di tangan Ding Tao, berarti dengan satu cara Ding Tao sudah menyatroni Partai Kongtong, mengalahkan beberapa orang tetua yang bertugas menjada ruang rahasia itu, dan melenggang pergi membawa senjata pusaka mereka.

Berdebar dada Zhong Weixia, ini bukan cuma sekedar memainkan kartu, memberikan dia jalan untuk beralih pihak dari mendukung Murong Yun Hua berbalik mendukung Ding Tao.

Tapi ini juga semacam ancaman halus, sebuah pertunjukan akan kemampuan Ding Tao dan para pengikutnya, bahwasannya tembok-tembok dan penjagaan Partai Kongtong tak ada artinya buat mereka.

Berat langkah kaki Zhong Weixia tapi dia tidak melihat jalan keluar lain, dengan langkah tegap dia maju ke depan dan memberikan hormat pada Ding Tao.

"Sungguh Wulin Mengzhu Ding, sangatlah bijak dan memiliki kemampuan, aku ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas bantuan yang diberikan Ketua Ding pada kami dari Partai Kongtong."

Setelah menerima kitab dan kapak itu dari tangan Ding Tao, dan di hadapan sekian banyak orang dia memberikan hormat dan mengucap terima kasih, Zhong Weixia berbalik dan berseru dengan keras.

"Adalah benar apa yang dikatakan Ketua Ding Tao, menyandera barang-barang pusaka peninggalan pendiri Partai Kongtong, perempuan iblis itu memaksa kami untuk ikut dalam usahanya menjebak dan memfitnah Ketua Ding Tao."

Huang Ren Fu menyaksikan semuanya ini dengan mulut terbuka dan mata nanar, terbata-bata dia berpaling pada Murong Yun Hua dan bertanya.

"Yun Hua... ada apa ini... ada apa ini...? Benarkah apa yang mereka katakan itu?"

Dada Murong Yun Hua sudah berdebaran tidak karuan, melihat apa saja yang terjadi yakinlah dia bahwa Ding Tao dengan diam-diam sudah mengatur apa saja yang akan terjadi hari ini.

Dia tidak siap, selamanya dia yang bergerak dalam kegelapan, kali ini berbalik orang lain yang bergerak dalam bayangan, sementara dia berada di tempat yang terang.

Dia tidak siap, panik dan putus asa, kemarahannya pun memuncak mendengar pertanyaan Huang Ren Fu yang mengiba-iba.

"Diam keparat!!! Diaaam!!!", desisnya penuh rasa marah pada Huang Ren Fu. Membuat semua orang semakin yakin bahwa benarlah apa yang Ding Tao katakan, perubahan ini terjadi begitu cepat, setiap orang dibenturkan dengan kejutan demi kejutan. Meski kenyataan begitu besar dinyatakan di depan mata, sebagian besar dari mereka rasa-rasanya masih belum bisa berpikir dengan terang dan tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Bagaimana dengan Ren Zhuocan di sana? Tapi kejutan demi kejutan belum berakhir, dari barisan yang berbaris rapi di belakang Murong Yun Hua, tiba-tiba bergerak memisah, hampir lewat separuh dari mereka yang berdiri sebagai anggota Partai Pedang Keadilan, bergerak serempak mengikuti aba-aba dari pemimpin kelompok mereka. Bergerak memisahkan diri dari barisan Murong Yun Hua menuju ke sisi tempat Ding Tao berada. Berbarengan dengan suara lantang mereka bersama-sama memberi hormat pada Ding Tao.

"Hormat kami pada Ketua Ding Tao!"

Ding Tao pun mengangguk dan melambaikan tangan.

Dia yang tadi sendirian, sekarang dengan tiba-tiba di belakangnya telah berdiri ratusan orang jumlahnya.

Lebih mengejutkan lagi, tiba-tiba dihantarkan oleh Pang Boxi dan Chen Taijiang, sekelompok kecil orang bergabung dengan ratusan orang yang sudah berbaris di belakang Ding Tao, ketika banyak orang mengamati lebih jauh, ternyata mereka adalah pengikut-pengikut setia Ding Tao yang masih hidup dan menghilang setelah kejadian di Jiang Ling, di antara mereka ada Sun Gao, Sun Liang, Qin Hun dan Qin Baiyu.

Belum selesai mereka membicarakan itu, sudah terdengar suara lain yang mengatasi sekian banyak suara.

"Murong Yun Hua! Kau bersandiwara bak seorang malaikat, membuat kami dari Emei pun bersimpati padamu, tak kusangka kau tidak lebih dari seorang iblis yang memakai topeng. Jangan harap kami dari Emei akan menolongmu keluar dari masalah ini."

Itulah Bhiksuni Huan Feng yang telah menggerakkan barisan anak murid Emei mengepung kelompok kecil Murong Yun Hua yang makin lama makin kecil saja dengan perginya sebagian pengikut Partai Pedang Keadilan kepada Ding Tao.

Bai Chungho yang licik dengan cerdik menggunakan kesempatan segera setelah Ketua Emei berbicara, dengan lantang dia berseru.

"Benar-benar siluman rubah! Aku yang sudah tua pun tertipu oleh sandiwaramu. Saudara-saudara dari Partai Pengemis, kepung mereka, jangan biarkan ada celah terbuka!"

Ya, tidak seperti Zhong Weixia dan Tetua Xun Siaoma, Bai Chungho mendukung gerakan Murong Yun Hua karena uang, jika dia tidak memanfaatkan situasi dan cepat-cepat mengekor dengan apa yang dilakukan Bhiksu ni Huanfeng, bisa-bisa dia nanti akan kelabakan mencari alasan untuk menjaga mukanya.

Dari sekian banyak pendukung Murong Yun Hua, sekarang tinggal ah Guang Yong Kwang yang berdiri dengan wajah pucat, pandangan matanya sekarang tertuju pada Ding Tao dan dalam hati dia memaki, juga memohon.

"Setan, bocah keparat, kau sudah beri jalan pada Zhong Weixia dan Xun Siaoma untuk mundur, kapan giliranku?", demikian pikirnya kobat-kabit. Matanya pun berbenturan dengan pandang mata Ding Tao yang melihat awas pada semua yang terjadi di dataran Gurun Gobi itu, seulas senyum samar-samar bisa dia lihat terbentuk di wajah Ding Tao, dan diapun memaki dalam hatinya sejadi-jadinya.

"Ketua Guang Yong Kwang, aku tahu, seperti diriku dan Tetua pendekar pedang Jin Yong, kau pun telah terjebak dengan tipuan Murong Yun Hua dan meminum Obat Dewa Pengetahuan. Jangan khawatir, seperti yang kau lihat, aku sudah memiliki penawarnya. Baik diriku maupun Tetua Jin, telah pulih dari efek samping yang mengerikan dari Obat Dewa Pengetahuan. Kau tidak perlu lagi menjadi tawanan Murong Yun Hua, kemarilah, akan aku berikan resepnya.", ujar Ding Tao sambil menunjukkan secarik kertas yang dia ambil dari dalam jubahnya. Hampir berlari Guang Yong Kwang berjalan cepat ke arah Ding Tao, menghaturkan hormat seperti yang dilakukan Zhong Weixia dia pun menerima secarik kertas yang diberikan Ding Tao padanya dan dengan suara yang terdengar jelas oleh semua orang dia berkata.

"Wulin Mengzhu sungguh bijak, aku haturkan terima kasih yang tak terkira oleh pertolongan Wulin Mengzhu ini."

Menengok ke arah Murong Yun Hua dia pun berteriak lantang.

"Sekalian anak murid Kunlun, bersiap untuk menerima perintah dari Wulin Mengzhu Ding Tao!"

Habislah sudah Murong Yun Hua, dia menengok ke kiri dan ke kanan, ke belakang dan ke depan, di sekelilingnya adalah sekian banyak orang yang dahulu menjadi sekutunya, tapi sekarang mereka berbalik menjadi lawan.

Jumlah orang di pihaknya sendiri masih cukup besar, tapi apa artinya jika dibandingkan dengan lautan manusia yang mengepungnya saat itu?

Belum lagi dia bisa berpikir, terdengar Ding Tao berkata.

"Kalian yang pernah menjadi pengikut Partai Pedang Keadilan, jangan kira aku tidak tahu siapa yang sungguh-sungguh setia dan siapa yang sejak awal sudah bermuka dua, berucap sumpah setia kepadaku namun diam-diam tunduk pada Murong Yun Hua dan bersedia untuk menggulingkan diriku. Tapi pada kalian kuberikan juga kesempatan kedua. Menyerahlah sekarang dan aku tidak akan memperhitungkan pengkhianatan kalian ini. Menyerahlah dan menyingkirlah dari barisan itu!", lantang berwibawa suara Ding Tao. Mereka ini yang sejak tadi sudah kebat-kebit melihat jagoan mereka tiba-tiba menjadi sasaran kemarahan sekalian orang-orang dari dunia persilatan memang sudah tidak tahan ingin lari dari barisan Murong Yun Hua. Berbeda dengan para pengikut keluarga Murong yang sudah mengikuti Murong Yun Hua belasan tahun. Kalau pengikut inti Murong Yun Hua ini, meski melihat keadaan dan menjadi panik, tak sedikitpun terlintas dalam benak mereka untuk meninggalkan Murong Yun Hua. Tapi orang-orang persilatan yang tadinya mengikut Partai Pedang Keadilan untuk menebeng kebesaran partai itu, kemudian tertarik untuk mengikut Murong Yun Hua, mana ada kata kesetiaan dalam hati mereka. Melihat keadaan berbahaya, sebenarnya tak tahan mereka ingin ikut bergerak bersama pengikut setia Ding Tao yang sudah lebih dahulu meninggalkan barisan. Namun kaki mereka sungguh hilang kekuatan, apalagi setiap kali pandang mata mereka bentrok dengan pandang mata Ding Tao yang berwibawa yang melihat ke sekelilingnya seakan-akan menjenguk isi hati setiap orang. Sekarang tiba-tiba Ding Tao memberikan jalan hidup bagi mereka, maka tanpa mempedulikan lagi harga diri, mereka pun bergerak hampir tunggang langgang, memisahkan diri dari barisan Murong Yun Hua. Tersemburlah caci maki dari para pengikut setia Murong Yun Hua melihat kepengecutan mereka. Tapi mana mereka itu ingat pada harga diri? Nyawa hampir saja melayang, soal harga diri bisa diurus nanti. Bukan hanya para pengikut Murong Yun Hua, sebagian besar tokoh-tokoh dunia persilatan pun memandang mereka penuh penghinaan. Banyak nama mereka yang diam-diam sudah tercatat dalam benak sekalian orang dunia persilatan. Inilah para pengecut yang hanya tahu mencari untung, tapi di saat tuannya kesulitan mereka berbalik menggigit tangan yang pernah memberi mereka makan. Bai Chungho pun terkekeh geli dalam hati.

"Dasar orang goblok, tidak bisa cepat melihat berubahnya arah angin", ejeknya dalam hati. Ya, Bai Chungho bukankah sebenarnya serupa mereka? Hanya saja tokoh yang satu ini cukup licin untuk bisa menyelamatkan diri dan juga harga dirinya di depan orang banyak. Habis sudah dukungan untuk Murong Yun Hua, hanya tersisa dirinya dan sekitar seratusan orang pengikut setianya. Meski demikian tidak ada yang bergerak sembarangan, kepandaian yang ditunjukkan Murong Yun Hua, beserta kira-kira 30-an orang pengikut yang dibinanya masih terekam dengan baik dalam ingatan. Jumlah mereka boleh kecil, tapi dari segi tingginya ilmu, tidak bisa dipandang remeh. Ding Tao diam sejenak, dibiarkannya Murong Yun Hua mengedarkan pandangan matanya ke seluruh dataran itu, dibiarkannya Murong Yun Hua meresapi keadaannya, kemudian dengan suara yang hampir-hampir lembut dia bertanya.

"Nah Murong Yun Hua, apa jawabmu?"

Seperti seekor tikus yang dikejar-kejar, dalam benak Murong Yun Hua berpacu berbagai perhitungan, mencari cara untuk menyelamatkan diri, jumlah 6 perguruan besar, ditambah ratusan pengikut Ding Tao dan beberapa ribu anggota Partai Pengemis,mencapai kira-kira setengah dari total seluruh mereka yang datang di bawah panji-panjinya.

Masih ada setengah lagi yang terdiri dari berbagai macam tokoh persilatan, perguruan kecil dan sebagainya.

Dengan suara yang bergetar namun masih terkendali dia menatap ke arah mereka dan berkata.

"Jangan terpedaya! Ding Tao sudah bekerja sama dengan Ren Zhuocan, lihatlah, barisan kita yang besar ini sudah terpecah menjadi dua. Jangan salah mengambil langkah, jangan jatuh ke dalam jebakan lawan!"

Melihat perkembangan ini tentu saja yang paling gembira adalah Ren Zhuocan, dalam pertarungan antar tokoh dia memiliki keyakinan dengan dirinya.

Satu-satunya yang menggetarkan dari pihak lawan adalah jumlah mereka yang cukup besar dan mampu menandingi jumlah orang di pihaknya.

Sekarang dengan munculnya Ding Tao mereka mulai bertengkar di antara dirinya sendiri.

Tapi jika Ding Tao berhasil menyatukan mereka semua, dikurangi jumlah mereka yang setia pada Murong Yun Hua jumlah itu masih cukup besar juga.

Lebih baik jika mereka terbagi menjadi dua, atau bisa juga jika mereka bergerak saling serang, saling bunuh dan mengurangi kekuatan mereka.

Maka terdengarlah suara Ren Zhuocan tertawa terbahak-bahak.

"Benar juga kata nona itu! Meski aku datang untuk menantang kalian satu lawan satu, tidak ada yang lebih lucu dan menggelikan daripada melihat kalian saling cakar sendiri. Hahahaha, meski aku harus mengatakan bahwa baik Ding Tao atau pun Murong Yun Hua, nama itu aku tak kenal. Hahahaha."

Mereka yang mendengar ucapan Ren Zhuocan pun saling berpandangan, apa yang harus mereka lakukan sekarang, di seberang sana ada Ren Zhuocan dan ratusan ribu orang di bawahnya.

Di pihak mereka ada Murong Yun Hua dan Ding Tao.

Kalaupun Ding Tao yang benar, lalu apa yang harus mereka lakukan dengan Murong Yun Hua dan pengikutnya?

Melepaskan mereka?

Menawan mereka?

Menumpas mereka terlebih dahulu?

Zhong Weixia yang licik dengan suara yang lantang bertanya pada Ding Tao.

"Ketua Ding, beri kami perintah, apa yang harus kami lakukan sekarang?"

Ren Zhuocan boleh jadi menjadi ancaman, tapi kedengkian Zhong Weixia tak kenal batas, sungguh kesal dia melihat Ding Tao yang saat ini berdiri demikian tegar sebagai Wulin Mengzhu yang sah.

Dengan pertanyaannya ini dia sudah siap mempertanyakan keputusan Ding Tao, apa pun keputusannya.

Dalam hati sebuah senyum mengejek terbentuk di wajah Zhong Weixia ketika terdengar suara Huang Ren Fu berteriak lantang.

"Beri kami keluarga Huang keadilan!", teriak pemuda itu lantang, matanya menatap liar penuh dendam ke arah Murong Yun Hua. Sebentar kemudian terdengar suara-suara lain yang ikut mendukung pemuda itu, meski di saat yang sama Huang Ren Fu melihat beberapa orang kepercayaannya justru diam dan memandang Murong Yun Hua menanti perintah. Beberapa di antara mereka adalah Tang Xiong dan LI Yan Mao, orang-orang yang meyakinkan dirinya bahwa Ding Tao-lah yang berada di balik pembantaian di Wuling, maka makin tenggelamlah hati pemuda itu melihat kenyataan ini. Dengan sebuah gerakan kepala dari Murong Yun Hua, beberapa orang pengikut Murong Yun Hua yang disisipkan ke dalam Keluarga Huang itu pun dengan cepat bergerak menyatukan diri ke dalam kelompok Murong Yun Hua, di luar dugaan orang, jumlah pengikut keluarga Murong yang menyusup ke berbagai partai, perguruan, keluarga ternama bahkan ke dalam enam perguruan besar tidaklah kecil jumlahnya. Mengikuti apa yang dilakukan mereka yang bertugas menyusup ke dalam keluarga Huang, satu dua orang hampir dari tiap-tiap kelompok yang cukup punya nama dalam dunia persilatan bergerak menyatukan diri di dalam barisan Murong Yun Hua. Sungguh jumlah mereka di luar dugaan banyak orang, jumlah yang tadinya hanya seratusan lebih, tiba-tiba membengkak mendekati 1000 orang. Ren Zhuocan yang melihat itu dari kejauhan tertawa senang, semakin lama perkembangan yang terjadi semakin menguntungkan dirinya. Dia pun diam-diam menanti dengan penuh perhatian, apa yang akan dilakukan Ding Tao menghadapi keadaan ini? Ding Tao mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membuat setiap orang berhenti berbicara dan berteriak. Kemudian dia berpaling ke arah Ren Zhuocan.

"Ketua Ren Zhuocan..., maaf kami mempertunjukkan satu pertunjukan yang buruk di hadapan ketua. Ketua Ren datang ke mari untuk saling menguji, saling bertukar ilmu dan melihat perkembangan ilmu silat dari masing-masing negara. Tapi kami justru bertengkar sendiri di depan Ketua Ren, sungguh memalukan saja.", ujar Ding Tao dengan tenang, sembari maju melangkah mendekati barisan Ren Zhuocan.

"Ketua Ding, bagaimana dengan keluarga Murong?", sekali lagi Zhong Weixia bertanya. Langkah Ding Tao pun terhenti, menghela nafas dia berbalik dan menengok ke arah Zhong Weixia.

"Ketua Zhong, Ketua Zhong adalah ketua dari satu partai yang besar, masakan tidak mengerti bagaimana kita harus menangani masalah ini. Di depan tamu, apakah pantas kita bertengkar antar saudara sendiri? Urusan di dalam biarlah kita selesaikan setelah tamu kita pulang."

Merah padam wajah Zhong Weixia ditegur sedemikian rupa di depan orang banyak.

Tanpa menunggu jawaban dari Zhong Weixia, Ding Tao sudah memalingkan muka dan kembali bergerak mendekati Ren Zhuocan.

Huang Ren Fu yang tadinya hendak membuka mulut dan menuntut keadilan sekali lagi, ikut terdiam mendengar jawaban Ding Tao pada Zhong Weixia.

Suara Ding Tao terdengar jelas ketika dia berkata.

"Ketua Ren, ayolah kita saling mengukur kepandaian. Bukankah untuk itu Ketua Ren datang ke dataran ini?"

"Hahahahah, bagus, bagus, sungguh pahlawan sejati, benar-benar pantas untuk menjadi Wulin Mengzhu. Hebat Ketua Khongzhen dan Chongxan boleh pergi, tapi penggantinya tak kalah hebat. Bagus!", jawab Ren Zhuocan sembari berjalan maju, menemui Ding Tao di tempat yang luas, di antara barisannya dan barisan para pendekar dari dalam perbatasan. Melihat dua orang jagoan hendak bertarung, perhatian setiap orang pun tertuju pada dua orang itu. Murong Yun Hua boleh jadi merupakan berita yang mengejutkan, tapi pertarungan antara dua orang jagoan nomor satu dari dua negara yang berbeda, lebih menarik bagi sebagian besar orang yang hadir di situ, para penggila ilmu silat. Ketegangan pun menyelimuti dataran Gurun Gobi. Tetua Shen, Wang Shu Lin dan enam orang gurunya, mereka yang mengikuti Ding Tao sampai saat-saat terakhir sebelum Ding Tao menghilang, menyaksikan itu semua dengan jantung berdetak kencang. Seperti apakah Ding Tao yang sekarang? Benarkah dia sudah mencapai tataran yang sama dengan Ren Zhuocan? Sementara Murong Yun Hua menyaksikan pertemuan dua orang jagoan itu dengan pemikiran yang berbeda, jika Ding Tao kalah dalam pertarungan itu, dia sudah bersiap untuk melompat ke depan dan menantang Ren Zhuocan. Jika dia bisa mengalahkan Ren Zhuocan, penilaian orang pun tentu akan berbeda lagi. Ada kesempatan yang lebih besar baginya untuk menyelamatkan diri. Tapi entah mengapa, dalam hati kecilnya tiba-tiba dia berharap agar Ding Tao bisa menang melawan Ren Zhuocan.

"Gila!", makinya dalam hati dengan perasaan tak menentu. Sementara itu Ding Tao dan Ren Zhuocan berjalan makin perlahan, dalan tiap langkah mereka, semakin dekat jarak di antara mereka, maka tekanan yang timbul dari perasaan mereka yang peka akan bahaya dari lawan yang ada di hadapan mereka semakin besar. Makin lama makin perlahan, hingga akhirnya mereka berhenti, lima langkah jaraknya antara Ding Tao dan Ren Zhuocan. Udara di antara dua orang jagoan itu pun rasa-rasanya sudah pekat dengan tenaga yang tak terlihat. Naiklah alis mata Ren Zhuocan.

"Heh..., boleh juga bocah ini, dalam hal pengolahan hawa murni dan semangat, dia tidak berada di bawah Khongzhen dan Chongxan. Tapi jangankan bocah ini, mereka berdua pun saat ini bukanlah tandinganku.", pikirnya dalam hati.

"Ketua Ding, kulihat kau membawa pedang, apakah dalam pertarungan ini kau akan menggunakan pedang?", tanya Ren Zhuocan.

"Benar", jawab Ding Tao tenang.

"Kalau begitu silahkan Ketua Ding mencabut senjata.", ujar Ren Zhuocan mempersilahkan. Ding Tao kemudian balik bertanya.

"Bagaimana dengan Ketua Ren, apakah tidak menggunakan senjata? Jika demikian maka baiklah aku pun tidak menggunakan senjata."

Ren Zhuocan tersenyum dan menjawab.

"Pedang sudah tidak ada di tanganku lagi, pedang sudah ada di hatiku."

Jawaban ini membuat orang-orang yang ada di barisan terdepan dan mendengar ucapan Ren Zhuocan itu saling berbisik dan perlahan ucapan Ren Zhuocan itu pun menyebar sampai pada mereka yang berada di baris belakang.

Mereka yang berdiri di belakang Ding Tao pun memasang telinga dan menunggu apa jawaban Ding Tao.

"Oh begitu... baiklah kalau begitu aku pun tidak akan mencabut pedangku", jawab Ding Tao sederhana. Tetua Shen yang ikut menonton dari balik kerumunan orang, tersenyum dalam hati.

"Tahu rasa kau, Ren Zhuocan, gayamu hendak menyombong, sekarang ketemu batunya, mau apa kau kalau dijawab seperti itu?"

Memang maksud hati Ren Zhuocan hendak menyombongkan dirinya, sekaligus menggertak lawan, siapa sangka justru Ding Tao bersikap seakan tak mengerti apa maksud dari perkataannya itu.

Seakan-akan apa yang dicapai Ren Zhuocan bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan, mau pedang di tangan, mau pedang di hati, mau pedang di pantat, juga semau dia, tidak ada urusannya dengan Ding Tao.

Wajah Ren Zhuocan pun berubah jadi gelap.

"Baiklah... Awas serangan kalau begitu!", seru Ren Zhuocan dengan hati geram dia pun berkelebat menyerang Ding Tao. Jarak yang lima langkah, dalam satu kejapan mata sudah ditutup, sebuah serangan dilancarkan, tangan kanan memancing, tangan kiri bersiap. Sederhana saja, namun kekuatan dan kecepatannya sungguh mengerikan. Tapi yang lebih mengejutkan adalah tanggapan Ding Tao, seakan dia sudah bisa membaca pikiran lawan, sebelum Ren Zhuocan sampai dia sudah bergeser ke kiri, ke sisi kanan Ren Zhuocan, tangannya yang membawa pedang menggerakkan gagang pedang bergerak menutuk ke arah mana pergelangan tangan Ren Zhuocan akan sampai seandainya serangan diteruskan. Gerakan Ding Tao tidak secepat Ren Zhuocan, namun antara kecepatan dan waktu serangan, bila Ren Zhuocan tidak menghentikan serangannya, tidak bisa dihindari pergelangan tangannya akan kena ketuk oleh gagang pedang Ding Tao. Ren Zhuocan pun dengan cepat mengubah pukulannya menjadi cengkeraman, tangan yang tadinya hendak bergerak lurus ke depan, sekarang berubah menyambar ke samping, tangan yang tadinya terkepal sekarang terbuka dan hendak menangkap tangan Ding Tao yang bergerak hendak menyerang pergelangan tangannya. Tapi lagi-lagi dengan kecepatan yang berada di bawah serangan Ren Zhuocan, Ding Tao sudah bergerak menarik serangannya dan melangkah bergeser maju, membuat sambaran tangan Ren Zhuocan akan mengenai udara kosong, sementara gagang pedang yang tadi bergeraj hendak mengetuk pergelangan tangan, ditarik ke arah dada dan mengarah ke arah siku Ren Zhuocan. Jika Ren Zhuocan terlambat menarik serangannya, niscaya sikunya akan membentur dengan gagang pedang Ding Tao dan akan terluka oleh kekuatannya sendiri. Ren Zhuocan bukan anak kemarin sore, kepandaiannya tidak di bawah Bhiksu Khongzhen atau Pendeta Chongxan. Dua gebrakan sudah cukup untuk menyadarkan dia bahwa dia terlalu memandang rendah lawan. Sembari menarik serangan Ren Zhuocan menggeser tubuhnya menjauh dari jangkauan serangan Ding Tao. Dalam satu gerakan yang singkat itu, Ren Zhuocan meredakan kemarahannya dan mengkonsentrasikan pikirannya, memasuki keadaan kosong. Sekali lagi Ding Tao bergerak seakan sudah mengetahui apa yang akan terjadi, meski Ren Zhuocan bergerak mundur dia tidak maju memburu. Melainkan dia berdiri diam di tempatnya, tubuhnya berdiri dalam keadaan sempurna, tidak terlalu tegang tapi juga tidak terlalu santai. Pedang yang belum dicabut disilangkan di depan dadanya, tangan yang lain disembunyikan di belakang punggung. Matanya menatap lurus ke arah Ren Zhuocan, tapi tidak berfokus pada Ren Zhuocan. Ren Zhuocan pun sekarang berdiri diam, dalam sikap sempurna yang tak jauh berbeda dengan sikap yang diambil Ding Tao. Kedua tangannya tergantung di sisi tubuhnya dalam posisi bisa berubah setiap saat. Seluruh panca inderanya menajam, semangatnya berada dalam keadaan wajar, tidak rendah tidak tinggi. Matanya lurus menatap Ding Tao, tapi bukan hanya matanya yang mengamati pemuda itu, bahkan seluruh indera perasa pada kulitnya ikut mengamati gerak gerik pemuda itu. Keduanya tidak lagi menyandarkan serangan dan pertahanan pada pemikiran mereka yang wajar. Lebih tepat jika disebut intuisi, mungkin juga kepekaan hati, kumpulan pengalaman, pengetahuan, proses berpikir yang berbeda. Menyerang atau tidak, apakah ada kelemahan pada lawan atau tidak, semuanya bukan bersandar pada pikiran sadar. Lebih seperti orang yang berkedip, sebelum berpikir untuk berkedip, ketika ada benda yang hendak sampai di matanya. Proses berpikir yang di luar kewajaran manusia pada umumnya. Jika dua orang tokoh seperti mereka mengambil sikap kuda-kuda, apakah ada kelemahannya? Tentu saja hampir-hampir tidak ada, jika tidak bisa dikatakan tidak ada. Jika dilihat dengan mata saja dan menggunakan cara berpikir yang biasa, mungkin justru orang akan melihat lubang-lubang kelemahan. Tapi lewat intuisi mereka berdua, mereka tahu itu bukan kelemahan. Justru maut yang akan didapat jika mereka mencoba menyerang titik-titik tersebut. Jika demikian, kapankah mereka akan bergerak? Adakalanya bisa dikatakan ini pertarungan antara semangat yang seorang dengan yang lain. Siapa yang semangatnya turun lebih dulu dan kewaspadaannya kendur sehingga terbuka jalan untuk diserang, apakah semangat lawannya masih terjaga dan kewaspadaannya tidak kendur sehingga bisa memanfaatkan kesempatan itu. Tapi keduanya pun bisa dikatakan hampir berimbang, semangat keduanya bekerja dengan wajar, tidak berlebihan sehingga justru hilang kewaspadaan, tidak juga menurun sehingga melemahkan pertahanan dan serangan. Tidak ada jurus pancingan, tidak ada gerakan yang memancing gerakan lawan. Tanpa bergerak, tanpa dicoba, mereka berdua sudah tahu gerakan itu tidak akan berguna untuk lawan mereka kali ini. Maka pertarungan kali ini pun seperti perlombaan untuk diam dalam keadaan sempurna. Mereka yang tidak paham mulai bosan dan bertanya-tanya. Jika ada mereka yang lebih berpengalaman, memiliki pengetahuan dan tidak pelit untuk berbagi, maka orang-orang itu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Maka keheningan itu mulai diisi dengan bisik-bisik di antara mereka yang melihat pertarungan itu. Antara guru dengan murid-muridnya. Antara senior dengan juniornya. Dari hening kemudian timbul suara, keseimbangan yang tercipta sebelumnya bergeser sedikit saja dan dua orang itu pun bergerak. Namun pergeseran itu hanya singkat saja umurnya, karena pada saat Ren Zhuocan kehilangan keseimbangan dengan sangat cepat dia memulihkan diri dan bergerak mengimbangi gerakan Ding Tao. Jika terlambat sedikit saja, tentu saat ini Ding Tai sudah menyerang dan mencecar Ren Zhuocan. Kekalahan yang selapis kulit ari itu, jika terjadi pada orang lain mungkin membuat semangat mereka terguncang dan tak mampu kembali pada keseimbangannya. Jika itu yang terjadi maka selesailah pertarungan ini. Tapi Ren Zhuocan terbuat dari bahan yang lebih liat. Penguasaan dirinya tidak tergoyahkan oleh kesalahan yang sesaat itu. Dengan cepat kedudukan kembali seperti semula. Nafas tiap-tiap orang yang sempat terhenti pun mulai berjalan kembali. Sampai berapa lama? Cukup lama, tiap-tiap kali ada perubahan pada lingkungan mereka, tiupan angin padang gurun, pergerakan matahari, awan tipis yang mungkin lewat, keringat yang mulai menetes di dahi mereka. Setiap perubahan, selalu menuntut penyesuaian, keduanya pun tanpa terasa sudah berpindah tempat, namun sampai saat itu belum juga ada yang bergerak menyerang. Ada kalanya sebelum berangkat berduel, seseorang memeriksa dahulu tempat yang akan mereka gunakan untuk berduel. Ren Zhuocan yang sudah bersiap sudah melakukan hal itu, bisa dikatakan dia sudah menghafal, bahkan dengan sengaja mengatur tata letak dari arena tempat mereka akan bertarung. Tidak demikian dengan Ding Tao, dia berangkat setelah waktunya sangat dekat. Mereka sampai hanya selisih satu hari sebelum diadakannya pertarungan, itu pun dia harus memastikan segala sesuatunya siap untuk mengurung Murong Yun Hua dengan serangan-serangannya hingga Murong Yun Hua tidak bisa berkutik lagi. Ada yang Ren Zhuocan tahu mengenai medan itu yang Ding Tao tidak tahu. Ketika Ren Zhuocan menantikan saat-saat itu, Ding Tao tidak tahu saat-saat apa yang ditunggu Ren Zhuocan. Pada satu saat, mereka kembali bergeser oleh terjadinya pergeseran matahari, kaki Ding Tao bergerak, seharusnya menginjak tanah berpasir yang padat, tapi dalam hitungan sepersekian detik dia mendapati tanah di bawahnya bergerak hendak ambles ke bawah. Itulah jebakan yang sudah disiapkan Ren Zhuocan, ada beberapa tempat di mana dia menanam bebatuan sehingga permukaan tanah berpasir itu menjadi tidak rata, ada pula tempat di mana dia mengubur di bawah pasir-pasir itu kantung kemih babi yang ditiup sehingga menggembung berisi udara. Sepertinya tanah itu rata, tapi begitu Ding Tao menginjaknya, meletuslah kantung tipis itu dan tanah pun ambles ke dalam Hanya sepersekian kejap saja kejadiannya, Ren Zhuocan berkelebat menyerang, setiap orang menahan nafas. Beberapa orang dari mereka yang mendukung Ding Tao bahkan berteriak kaget. Mereka yang mendukung Ren Zhuocan ada yang bersorak tertahan. Bagaimana tidak, semua orang tahu, pertarungan ini akan diselesaikan dalam satu serangan dan Ren Zhuocan-lah yang bergerak menyerang lebih dahulu. Sedemikian cepat apa yang terjadi, hampir-hampir tidak ada seorang pun yang dapat mengikuti apa yag terjadi. Serangan Ren Zhuocan datang dengan cepat, tangan kanannya bergerak dari sisi tubuhnya, mengarah ke atas, menyambar Ding Tao yang hilang keseimbangan dan miring ke arah kiri. Telapak tangan yang berkembang bergerak menyambar kepala Ding Tao yang seakan bergerak hendak menyambut tamparan maut itu.

"Kena!", dalam hati Ren Zhuocan berteriak. Tapi tidak, begitu kaki kirinya ambles ke dalam tanah, Ding Tao tidak kehilangan keseimbangan, justru dia menekuk kaki kirinya sehingga tubuhnya merendah dengan cepat, mendahului serangan Ren Zhuocan yang datang menyambar. Tamparan Ren Zhuocan pun lewat tipis di atas kepalanya. Bertumpu pada kaki kiri, tangan kiri Ding Tao bergerak menyerang bagian pinggang Ren Zhuocan, hebat serangan itu karena sembari memukul, dibarengi juga dengan hentakan di kaki kiri dan tumpuan digeser ke arah kanan. Salah perhitungan, Ren Zhuocan sekarang justru berada pada kedudukan yang tidak menguntungkan. Tangannya sudah menyambar ke depan, membuat pinggang kanannya terbuka lebar untuk diserang. Tapi Ren Zhuocan tidak menjadi gugup, sekejap sebelum pukulan Ding Tao sampai dia sudah mengerahkan ilmu kebalnya untuk melindungi bagian itu. Sementara tangan kanannya yang sudah berada di atas, sekarang bergerak ke bawah, hendak menghantam kepala Ding Tao dengan sikunya. Tapi sekali lagi Ren Zhuocan salah perhitungan, karena pada saat itu juga Ding Tao menggunakan kaki kanannya untuk mendorong tubuhnya ke belakang. Hentakan kaki kiri Ding Tao ditambah dengan pergeseran tumpuan tubuhnya, membuat tubuh Ding Tao bergerak ke arah mundur ke sisi kanan. Pukulan tangan kiri Ding Tao ke arah pinggang justru hanya sebuah gerak tipu. Begitu dia mendapatkan pijakan yang kuat, tangan kanan Ding Tao bergerak cepat memukul dengan menggunakan gagang pedang ke arah dada Ren Zhuocan. Tidak kalah cepat tangan kiri Ren Zhuocan bergerak menangkis serangan Ding Tao, tapi pada saat tangannya berbenturan dengan sarung pedang Ding Tao, terjadilah hal di luar dugaan Ren Zhuocan, alih-alih tertangkis, justru Ding Tao menggunakan kekuatan tangkisan Ren Zhuocan sebagai tumpuan bagi pedangnya untuk berputar, dengan cepat gagang pedang mundur dan ujung pedang yang masih dalam sarung bergerak menebas maju, dan kali ini tanpa bisa dihindari, ujung pedang Ding Tao memukul telak leher Ren Zhuocan. Pukulan ini bukan pukulan biasa, apalagi Ren Zhuocan sudah salah mengarahkan ilmu kebalnya. Jika yang terkena pukul bukan Ren Zhuocan, mungkin sudah patah tulang pundaknya, tapi ini Ren Zhuocan, meskipun demikian pukulan itu membuat keseimbangannya terguncang. Ren Zhuocan pun terhuyung ke kanan. Ding Tao tanpa ragu menggunakan jurus-jurus serangan yang diwariskan Pendeta Chongxan dan Bhiksu Khongzhen padanya. Terdesak Ren Zhuocan hanya mampu menghindar mundur dan menangkis. Debu-debu berterbangan di sekitar mereka, dalam sekejapan mata sudah belasan langkah mereka bergerak, Ding Tao menyerang maju, sementara Ren Zhuocan terdesak mundur tanpa mampu melepaskan diri dari tekakan Ding Tao. Serangan, demi serangan dilontarkan, beberapa terkena telak mendarat di tubuh Ren Zhuocan, beberapa bisa ditangkis, tak satupun berhasil dihindari apalagi untuk menghindar ke kiri atau ke kanan. Satu kali dada Ren Zhuocan tak terjaga lagi dan jurus serangan yang pamungkas pun dikerahkan. Terjadilah benturan hebat antara ilmu kebal Ren Zhuocan dengan Telapak Buddha tingkat akhir warisan Bhiksu Khongzhen, sebuah ledakan hebat terdengar menggetarkan setiap orang yang menyaksikan pertarungan itu. Debu-debu dan pasir pun berhamburan membentuk kabut. Untuk sesaat lamanya udara di sekitar dua orang itu menjadi hampa, dalam satu jurus simpanan Ding Tap bergerak mundur dan menghisap ruang hampa mengikuti arah geraknya, tubuh Ren Zhuocan terhuyung ke depan tersedot oleh udara di sekitarnya. Kemudian dengan satu hentakan, satu kali lagi Ding Tao menghajar Ren Zhuocan dengan Telapak Buddha tingkat akhir. Seperti layang-layang putus tubuh Ren Zhuocan terpental jauh ke belakang. Semuanya terjadi dengan cepat, sejak Ding Tao hilang keseimbangannya, sampai pada serangan terakhir, kebanyakan orang hanya melihat bayangan Ding Tao dan Ren Zhuocan bergerak, untuk kemudian menyurut mundur dan ada satu tubuh yang terpental, melayang ke belakang dan terbanting di atas tanah. Tapi mereka yang sudah mapan ilmunya bisa melihat, siapa menyerang dan siapa diserang. Maka sorak sorai pun terdengar dari barisan para pendekar yang berasal dari dalam perbatasan. Debu-debu mulai melayang turun, kabut pasir mulai menghilang, namun sorak sorai dari para pendekar justru semakin keras. Semakin banyak orang yang melihat bahwa Ding Tao masih berdiri tegap, dan Ren Zhuocan lah yang terlontar ke belakang dan sekarang terbaring tak berdaya, semakin banyaklah yang bersorak-sorai. Suara mereka semakin keras memenuhi seluruh padang gurun itu, pihak yang kalah tentu saja hanya bisa terdiam membeku di tempatnya. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Tak pernah terbayangkan, ketua mereka yang pilih tanding tak pernah terkalahkan itu ternyata akhirnya kalah di tangan seorang pemuda. Kejutan itu terlalu besar bagi mereka. Apakah Ren Zhuocan mati? Jika mati, lalu siapa yang sekarang memegang pimpinan? Siapa yang berhak untuk mengambil keputusan sekarang? Ren Zhuocan yang yakin tidak terkalahkan tidak pernah menyiapkan ini semua dan sekarang begitu dia dikalahkan, seluruh kawanannya yang jumlahnya ratusan ribu, tidak ubahnya seekor ular raksasa tanpa kepala. Boleh saja mengerikan dan tampak mengesankan, namun sama sekali tak berbahaya. Entah siapa yang memulai, setengah ragu-ragu terdengar suara berteriak.

"Balaskan dendam Ketua Ren Zhuocan!"

Dan mendengar suara itu, beberapa orang ikut berteriak, namun jumlah mereka sangatlah kecil jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan yang ratusan ribu.

Selain itu mereka yang berteriak, tidak bergerak menyerbu ke depan, hanya maju beberapa langkah dengan ragu-ragu.

Ding Tao memandang mereka sejenak, kemudian memejamkan mata, mengosongkan diri, menyatukan dirinya dengan alam semesta, kemudian dalam sebuah hentakan yang mengguruh dia menabaskan tangan ke depan.

Gila!

Sebuah tenaga yang besar menghempas ke depan, seperti ombak di lautan yang mengganas, seperti badai menerjang, sebuah gelombang kekuatan yang dahsyat bergulung-gulung menyambar, angin menderu menyapu butiran pasir di sekeliling Ding Tao, demikian luas jangkauan akibat dari pukulan itu, lingkarnya berjarak belasan kaki dari tempat tebasan itu dilancarkan.

Ketika butiran pasir itu mulai mereda, terlihat sudah terbentuk satu lubang besar sedalam mata kaki menganga di hadapan pemuda itu, sementara pasir bergunung di sekeliling lubang berbentuksetengah lingkaran itu.

Nyali siapa yang tidak ciut melihat pameran tenaga raksasa itu.

Suara yang berteriak menuntut balas itu pun redam dengan sendirinya.

"Ketua kalian belum mati, dia hanya pingsan saja, cepat kalian bawa dan rawat dia", ujar Ding Tao berkata, tidak bersetu tidak berteriak, namun suaranya sampai ke seluruh penjuru dataran. Selesai berkata dia pun membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah Murong Yun Hua yang masih dikepung oleh sekalian pendekar yang sekarang berbalik hendak menawannya. Orang-orang kepercayaan Ren Zhuocan berlari cepat memeriksa keadaan Ren Zhuocan, ternyata benar kata Ding Tao, Ren Zhuocan masih hidup, meski nafasnya terkadang cepat, terkadang lambat, jelas tubuhnya sudah terluka dalam oleh pukulan Ding Tao. Mungkin tidak semua orang sadar, tapi yang paling mengagumkan adalah Ding Tao bisa mengukur kekuatannya sedemikian rupa sehingga dia bisa yakin bahwa Ren Zhuocan tidak sampai mati oleh pukulannya. Apakah dia tadi masih menahan tenaga atau memukul sekuat tenaga, tidak ada orang yang bisa mengukur dan memastikan. Tapi dari cara Ding Tao mengatakan bahwa Ren Zhuocan masih hidup, tanpa dia bergerak sedikitpun untuk memeriksa keadaannya, jangankan bergerak, menengok untuk melihat pun tidak. Artinya saat dia melancarkan pukulan yang kedua, dia tahu pukulan itu tidak akan membunuh Ren Zhuocan. Melihat keadaan Ren Zhuocan cepat-cepat orang-orang kepercayaannya itu mengalirkan hawa murni untuk membantu Ren Zhuocan sadar, mengurangi akibat dari pukulan Ding Tao meski tidak bisa memulihkan keadaan Ren Zhuocan sepenuhnya. Ren Zhuocan pun perlahan sadar dan membuka mata. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri, ketika ada orang kepercayaannya yang mencoba membantu, dikebaskannya tangan mereka. Karuan saja dia terhuyung hampir jatuh, karena sembarangan mengeluarkan tenaga dalam keadaannya saat itu tapi dasar keras kepala, Ren Zhuocan memaksakan diri dan berhasil berdiri dengan tegak. Ding Tao yang sedang berjalan menuju tempat Murong Yun Hua berada berhenti di tempatnya dan membalik badan.

"Ketua Ren", ujar Ding Tao membuat Ren Zhuocan yang hendak pergi, diam kemudian berbalik, matanya tidak menunjukkan tanda-tanda mengakui kekalahan, yang terpancar adalah dendam dan kemarahan. Tapi Ding Tao tidak ambil peduli, suaranya justru terdengar kasihan, seperti seorang tua yang melihat anaknya sedang berjalan menuju bahaya, namun dia tak mampu mencegahnya, meski dia berkata, namun dia tahu anaknya tak akan mendengarkan. Meski begitu, tak mungkin juga dia berdiam diri sehingga dia pun berkata. Seperti itu cara Ding Tao berkata.

"Ketua Ren, ketua mengatakan pedang sudah tidak ada di tangan, pedang ada dalam hati. Kuharap Ketua Ren tidak lupa, pedang adalah senjata, senjata hanyalah alat, sebuah alat adalah hamba dari yang menggunakan, jika alat kemudian menjadi tuan, itu artinya sesat. Itu artinya pemiliknya sudah kerasukan oleh ilmunya sendiri, bukan menjadi penguasa atas ilmunya."

Benar saja, mana mungkin Ren Zhuocan yang pongah mau mendengar nasehat Ding Tao, mendengus kesal dia menjawab.

"Aku jalani jalanku sendiri, kau jalankan jalanmu. Lima tahun lagi aku akan datang dan kita lihat siapa yang benar."

Ding Tao pun menjawab.

"Kuat tidak selamanya berarti benar. Kalaupun aku kalah lima tahun lagi, benar memang itu artinya Ketua Ren lebih kuat tapi bukan berarti Ketua Ren lebih benar."

Ren Zhuocan hanya meludah ke atas tanah, kemudian berbalik badan dan dengan langkah yang berat kembali pada barisannya.

Kepalanya tidak tertunduk malu, matanya masih tajam menyambar, membuat setiap pengikutnya yang bertemu pandang dengannya tertunduk takluk.

Ren Zhuocan boleh kalah, tapi tidak ada yang bisa bilang bahwa dia orang yang lemah.

Langkah Ding Tao pun akhirnya terhenti di depan Murong Yun Hua.

Semua orang memandang dirinya, menanti ucapan yang keluar dari mulutnya.

Setelah menyaksikan pertarungan antara Ding Tao dengan Ren Zhuocan, setiap mata memandang dengan pengakuan.

Bahkan Zhong Weixia pun harus menelan kenyataan yang pahit itu, Ding Tao tidak mungkin dia kalahkan hari ini, bahkan jika dia mau jujur pada dirinya, 10 tahun lagi pun dia belum tentu bisa mengalahkan Ding Tao yang sekarang.

Ya, penilaian setiap orang terhadap diri Ding Tao sudah berubah.

Yang tidak suka, merasa takluk, entah karena terpaksa atau karena kekaguman yang timbul setelah menyaksikan pertarungan itu.

Yang sebelumnya mendukungnya, semakin kagum dan tunduk pada wibawa pemuda itu.

Bagaimana dengan wanita-wanita yang mencintainya?

Murong Yun Hua berdebar-debar, jauh di dalam lubuk hatinya, bahkan di luar sadarnya, inilah sosok lelaki sejati.

Sosok yang belasan tahun yang lalu pernah dia lihat dalam diri ayahnya, yang hancur berantakan saat ayahnya menanggalkan topeng kebaikan yang selalu dia pakai, dan menunjukkan iblis yang bersarang di hatinya.

Tapi Ding Tao bukan iblis, dan dalam hal wibawa, kecerdikan, kebijakan, kekuatan dan kepandaian, ayahnya tidak sedikit pun nempil jika dibandingkan dengan ujung jari Ding Tao yang sekarang berjalan ke arahnya.

Seluruh ambisi dan rencananya dibuat ambruk habis dalam satu gebrakan.

Orang-orang yang dia kumpulkan dalam belasan tahun, dalam satu hari dibuat Ding Tao menjadi lawannya.

Di satu sisi, inilah sosok lelaki yang dia cari-cari dalam hidupnya, di sisi lain lelaki ini berjalan datang hendak memberikan penghakiman terakhir atas segala kejahatannya.

Rindu, takut, benci, memuja, bagaimana mungkin perasaan yang berlawanan ini muncul secara bersamaan?

Tapi itulah yang dirasakan Murong Yun Hua.

Bagaimana dengan Murong Huolin, bagi Murong Huolin, batinnya berperang antara balas budi pada Murong Yun Hua dan kecintaannya pada Ding Tao.

Kalau bagi Murong Huolin, seperti apa pun Ding Tao dia akan tetap mencintainya.

Karena sejak semula dia sudah memutuskan hanya Ding Tao satu-satunya lelaki yang hadir dalam hidupnya.

Berbeda dengan Hua Ying Ying, gadis ini justru bertanya-tanya dalam hati, siapa ini yang sekarang berjalan?

Ding Tao?

Setelah sekian lama mereka terpisah, bertemu sebentar kemudian terpisah lagi.

Setiap kali bertemu Ding Tao selalu berubah dan kali ini perubahannya begitu besar.

Ding Tao yang dia kenal adalah pemuda lugu yang malu-malu.

Jujur dan hati-hati dalam bicara dan berlaku.

Ding Tao yang sekarang dia lihat jauh berbeda, dalam gerak dalam sorot matanya, terpancar kewibawaan yang besar, satu keyakinan yang tidak goyah oleh apa pun.

Seakan segala pertanyaan dia tahu jawabnya.

Ding Tao yang sekarang berani bicara, pada siapa pun juga.

Ding Tao yang sekarang berani menantang pada orang yang tidak setuju dengan pendapatnya.

Dia berubah dari seorang pemuda menjadi seorang lelaki, berdiri teguh pada jalan yang dia yakini, meski dia tidak menantang mereka yang menghadang jalannya, tapi juga dia tidak akan undur dari jalannya.

Apakah ini Ding Tao yang dulu dia cintai?

Belum lagi masalah kedua isteri Ding Tao, lalu berbeda dengan banyak orang, Hua Ying Ying justru tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan Ding Tao terhadap Murong Yun Hua.

Di sudut hatinya dia tahu, Ding Tao berubah tapi Ding Tao juga tidak berubah.

Seekor anak harimau ketika dewasa tetaplah seekor harimau.

Bedanya dia dulu masih kanak-kanak dengan bulu tebal, suka bermain dan lucu.

Sekarang dia menjadi dewasa dengan tubuh yang besar, auman yang menakutkan, jika dia menggerakkan cakarnya dia bukan sedang bermain-main, sorot matanya tajam dan otaknya penuh perhitungan.

Ya, Ding Tao berubah, ini Ding Tao yang berbeda, tapi Ding Tao tetap Ding Tao.

Jadi apa yang akan terjadi pada Murong Yun Hua?

Dengan hati berdebar Hua Ying Ying mengikuti tiap langkah Ding Tao.

Ketika Ding Tao berhenti, jarak antara dirinya dengan Murong Yun Hua hanyalah sejauh jangjauan dua tangan mereka, pandang matanya menatap lurus ke arah Murong Yun Hua.

Membentur pandang mata Ding Tao, hati Murong Yun Hua berdebar tidak karuan, tanpa terasa dia menundukkan wajahnya.

"Yun Hua..., apakah kau mencintaiku?", tanya Ding Tao dengan suara lembut. Jika seluruh orang yang hadir di situ terkejut oleh pertanyaan Ding Tao, maka lebih terkejut dari mereka semua adalah Murong Yun Hua sendiri. Jangankan dia, mereka yang mendengarnya pun masih ternganga dan berusaha mencerna, apa yang dikatakan Ding Tao ini. Murong Yun Hua mengangkat wajahnya, pandang matanya nanar memandang Ding Tao, dilihatnya tatap mata Ding Tao yang lembut, wajahnya yang penuh kasih.

"Apa..? Apa..., Ding Tao apakah kau mempermainkanku? Jangan kau bermain-main denganku!"

Antara kejut, harap dan takut Murong Yun Hua melangkah mundur dua langkah, tapi kata-kata Ding Tao selanjutnya hampir-hampir membuat dia jatuh terhuyung.

"Yun Hua... kembalilah padaku...", ujar Ding Tao sepenuh hati.

"Ding Tao kau gila! Di mana kewarasanmu? Kau seorang Wulin Mengzhu, aku menuntut keadilan darimu!", sebuah teriakan penuh rasa marah terlontar dari Huang Ren Fu yang melompat ke depan sambil mengacungkan pedangnya.

"Ketua Ding Tao, harap dipikirkan kembali masak-masak, perempuan iblis itu sudah banyak berbuat dosa dan kejahatan, tidak bisa dibiarkan lepas begitu saja.", ujar Zhong Weixia mendukung seruan Huang Ren Fu.

"Benar, hampir saja seluruh dunia persilatan jatuh ke dalam tangannya, apa seorang Wulin Mengzhu akan mendiamkan saja hal ini?", seru Guang Yong Kwang ikut menuntut keadilan. Beberapa orang tokoh yang merasa punya kedudukan dan kepandaian pun terdengar ikut berteriak mengajukan keberatan. Bagaimana dengan yang lainnya, yang merasa tidak punya kepandaian, saat itu hanya diam dan menunggu melihat bagaimana Ding Tao menjawab. Sebagian besar orang masih tergetar dan takluk melihat kedigdayaan Ding Tao yang baru saja dia tunjukkan. Pula urusan seperti ini bukanlah urusan orang kecil seperti mereka. Mungkin Murong Yun Hua yang membantai keluarga Huang di Wuling, tapi apa hubungan mereka dengan keluarga Huang di Wuling, mengapa pula mereka harus ikut menuntut keadilan untuk mereka? Dunia persilatan memang penuh intrik dan sudah berapa orang meregang nyawa setiap harinya demi ambisi pribadi atau ambisi orang tertentu? Ding Tao menunggu seruan-seruan itu surut, sebelum dia mengitarkan pandangannya ke sekelilingnya, sebuah senyuman mengejek terpampang di wajahnya. Pandang matanya yang tajam, menatap ke arah Huang Ren Fu, Zhong Weixia, Guang Yong Kwang dan sekalian orang lain yang tadi berteriak padanya. Dia pun berkata.

"Di antara kalian yang tidak pernah menumpahkan darah dan tidak pernah berbuat kejahatan, boleh maju ke depan untuk minta keadilan dariku."

Ketika pandang matanya kembali pada Huang Ren Fu, merah padamlah wajah Huang Ren Fu, tanpa sadar dia mundur dua tindak dan membuang muka.

Siapa berani mengatakan soal salah dan benar, sementara dia pernah mencuri isteri sahabatnya?

Sedangkan tentang keluarganya, bukankah mereka dulu yang menipu dan mencuri Pedang Angin Berbisik dari Ding Tao, bahkan hampir pula membunuh pemuda itu, lalu apakah sekarang dia akan meminta keadilan bagi mereka dari pemuda itu?

Zhong Weixia, Guang Yong Kwang, Bai Chungho dan sekalian orang lainnya pun terdiam.

Tetua Xun Siaoma teringat, bukankah di tangannya ada darah Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan?

Jika Ding Tao mau mengungkit itu, dengan beberapa kalimat saja anak murid Shaolin dan Wudang akan meluruk mereka.

Jadi mereka pun punya rahasia dan hampir tidak ada seorangpun yang merasa diri bersih.

Kalau pun masih ada yang merasa dirinya bersih, kata-kata Ding Tao pada bagian akhir pernyataannya tersiratkan ancaman yang tidak berani mereka hadapi.

Semua orang terdiam, entah puas atau tidak dengan jawaban Ding Tao, tapi tak seorang pun berani menyanggahnya.

Ding Tao pun sekali lagi mengitarkan pandangan ke sekelilingnya, menantang...

dan semua orang diam membisu.

Maka Ding Tao kembali memandang ke arah Murong Yun Hua yang saat itu berdiri dengan limbung, matanya sudah membasah dengan air mata, dalam hatinya berharap, namun ketakutannya membuat dia tidak bisa menerima kenyataan.

Tiba-tiba Murong Yun Hua tertawa pedih dan berkata.

"Hahaha, Ding Tao jangan kau berpura-pura suci, bilang saja, kau ingin menaklukkan kekuatan keluarga Murong, memanfaatkan mereka demi kepentinganmu sendiri, untuk melanggengkan kekuasaanmu."

Ding Tao menggeleng dengan sedih.

"Yun Hua... masakan kau belum juga mengenal diriku? Lalu apa artinya mereka itu untukku?"

Kemudian dia memandang ke arah 30 orang terlatih, kekuatan inti keluarga Murong, kebanggaan Murong Yun Hua dan andalannya.

Di antara mereka ada orang yang ikut membunuh Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.

Ingatan ini membuat Ding Tao merasakan kemarahannya bangkit.

Dengan nada mengejek dia berkata,"Kau lihat puluhan orang yang kau banggakan itu?

Satu pun tak kupandang mata olehku."

Rahangnya mengeras lalu perlahan menghembuskan nafas dan dia berkata sekali lagi.

"Yun Hua, aku sadar aku pun tidak bersih dari kesalahan, aku bersedia melupakan semua kesalahanmu, kembalilah. Kau boleh percaya padaku, sejak saat kau kembali padaku, aku akan melupakan semuanya yang terjadi di masa lalu. Kita akan memulainya kembali bersih, sebersih kertas putih, tanpa noda atau corentan tinta sedikitpun di atasnya."

Air mata pun menetes mengalir di pipi Murong Yun Hua dan hati Ding Tao tergerak oleh belas kasihan.

Cinta yang pernah hilang, dirasanya kembali datang, betapa ingin dia merengkuh tubuh itu dan membenamkan wajahnya yang basah ke dalam dadanya, membisikkan kata cinta dan penghiburan di telinganya.

Tapi Ding Tao tahu ini belum saatnya.

Murong Yun Hua belum siap untuk kembali padanya.

Percakapan antara dua orang kekasih ini disaksikan sekian banyak orang.

Yang punya hati romantis tentu saja ikut tergerak, yang pasti, ini tidak kalah dengan sandiwara di atas panggung.

Setiap orang ingin tahu bagaimana kisah ini akan berakhir.

Dengan air mata bercucuran Murong Yun Hua berkata.

"Ding Tao, kau bilang orang-orang in tak berharga di matamu. Mana bisa aku percaya jika aku belum membuktikannya..."

Dan hati setiap orang pun berdebar mendengar perkataan Murong Yun Hua itu.

Apa yang akan terjadi sekarang?

Tidak perlu menunggu lama, mereka pun tahu apa yang terjadi kemudian.

Dengan air mata masih mengalir, Murong Yun Hua menegakkan badan, menunjuk ke arah Ding Tao dan berseru.

"Serang!"

Maka 30 macam senjata bergerak, 30 orang berkelebat menyerang, kumpulan orang-orang itu pun tersibak, memberikan ruang pada pertempuran baru yang sedang dimulai.

Bukan hanya mereka, bahkan dari kejauhan pun Ren Zhuocan menghentikan langkahnya dan berbalik memandang.

Sungguh pemandangan yang mencengangkan, 30 orang itu bergerak sebagai satu kesatuan, sebuah barisan yang rapat dan kerja sama yang terjalin dengan rapi.

Baik dalam menyerang maupun bertahan, semuanya dilakukan dengan maksimal.

Tidak ada satu pun dari 30 orang itu yang menganggur atau menunggu.

Serangan demi serangan, seperti cucuran air hujan, seperti rentetan ledakan mercon di tahun baru, tiada henti tiada jeda.

Tapi yang lebih mengejutkan adalah Ding Tao, seperti sebuah sampan kecil yang bermain-main di laut yang sedang berombak oleh badai.

Dia bergerak ke sana ke mari, menyelinap datang dan pergi, 30 senjata, 60 tangan dan 60 kaki, semuanya seakan dipandang tak berarti.

Belasan bahkan puluhan jurus berlalu, tak satu pun dari mereka bisa menyentuh bahkan ujung baju Ding Tao sekalipun.

Ini tidak masuk akal, tidak bisa dimengerti dengan nalar, tapi itulah yang terjadi.

Pedang Ding Tao bergerak dengan cepat, menurut langkah kakinya dan serangan lawan, yang bisa dihindari dia hindari, yang harus ditangkis, ditangkis.

Yang pasti tak satu pun dari serangan mereka mampu menyentuhnya.

Dia bergerak kian ke mari, menerobos ketika dia hendak menerobos, menyelinap semaunya, menghilang dari pandangan lawan-lawannya, datang dan pergi sesuka hati.

Gumaman mulai terdengar dari beberapa tempat.

"Dewa... dewa... Ding Tao sudah menjadi dewa..."

"Dewa pedang...", gumaman itu tersebar ke mana-mana. Memang sungguh apa yang ditunjukkan Ding Tao ini tak masuk nalar mereka semua. Sesungguhnya pertarungannya dengan Ren Zhuocan mungkin lebih mendebarkan, tapi bagi mereka yang belum matang, apa yang ditunjukkan Ding Tao saat ini justru lebih mencengangkan dan menggemparkan. Pada saat melawan Ren Zhuocan mereka banyak diam dan dalam beberapa gebrakan semuanya selesai. Kali ini serangan demi serangan datang tapi Ding Tao bergerak seenaknya seakan semua serangan itu tidak ada. Tak satupun dari 30 orang itu berhasil menyentuh dirinya, bahkan ketika Ding Tao mulai menggerakkan pedangnya, terdengarlah suara kain-kain terobek. Tanpa menyentuh mereka Ding Tao mencabik jubah dan baju lawan-lawannya, di dada, di perut, kaki, tangan. Dalam waktu singkat 30 orang itu pun menjadi anggota Partai Pengemis.

"Bai Chungho! Suruh anggotamu ini mundur!", seru Ding Tao diikuti oleh gelak tawanya membuat 30 orang itu merah padam. Bai Chungho tentu saja bukan tidak merasa bahwa dulu Ding Tao memanggilnya tetua dan sekarang memanggilnya langsung dengan nama, bisa dikatakan inilah satu penghinaan. Tapi Bai Chungho memang punya kulit tebal dan berbakat menjadi penjilat, tidak terlihat sedikit pun dia marah justru dia ikut tertawa dan mengumpak.

"Ketua Ding, pengikutku bajunya sudah ditambal, kalau mereka belum. Suruh mereka menambal bajunya dulu baru kuakui sebagai anggota Partai Pengemis.", seru Bai Chungho diikuti gelak tawa banyak orang. Merah muka Murong Yun Hua mendengar itu semua, dia pun berteriak.

"Mundur !" 30 orang itu pun mundur dengan wajah tertunduk malu, tinggal Murong Yun Hua dan Ding Tao berdiri berhadapan.

"Bagus... jadi kau mau membuatku malu di depan semua orang?", tanya Murong Yun Hua, hatinya merasa mengkal mendengar tawa orang-orang.

"Bukan..., aku mau kau kembali padaku.", jawab Ding Tao dengan lembut, membuat kemarahan Murong Yun Hua yang memang hanya setebal lembar daun, lenyap entah ke mana.

"Kau bohong...", bisik Murong Yun Hua hampir tak terdengar, kepalanya tertunduk dan air mata yang kering sejenak kembali mengalir. Dan tanpa dia tahu, Ding Tao sudah berkelebat dekat dirinya, terkejut Murong Yun Hua menengadahkan kepalanya, saat tangan Ding Tao menyentuh bahunya.

"Kau..."

"Yun Hua..., aku mencintaimu..., kembalilah padaku.", bisik Ding Tao lembut dan mesra. Tiang terakhir yang menopang perlawanan Murong Yun Hua pun rubuh, Murong Yun Hua menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Ding Tao dan menangis tersedu-sedu. Tanpa peduli orang banyak Ding Tao memeluk Murong Yun Hua dengan hangat, tangannya membelai rambut Murong Yun Hua, menenangkan, memberi rasa aman, seperti kenangan masa kanak-kanak, ketika masih bayi dibuai bunda. Tapi juga memberi kehangatan, kehangatan yang hanya bisa diberikan seorang lelaki pada perempuan. Yang susah tentu saja mereka yang berdiri di sana, hendak pergi, masakan pergi. Mau diam, apa yang mau dilakukan? Di seberang sana Ren Zhuocan memandangi kejayaan Ding Tao dengan hati gelap. Melihat apa yang dilakukan Ding Tao, sekilas dia mengerti apa yang dicapai Ding Tao, tapi bukannya dia menyadari bahwa ada yang salah dengan apa yang dia jalani, justru dia merasa dengki. Langit tidak adil, itulah yang bergema dalam pikiran Ren Zhuocan. Apakah aku kalah berbakat dibanding dirinya? Apakah aku kurang bertekun dibanding dirinya? Mengapa justru jalan itu terbuka untuknya dan bukan untukku? Langit tidak adil! Itulah tuduhan dalam hati Ren Zhuocan. Dia tidak sadar, bukan karena berbeda dalam bakat, bukan pula karena kalah dalam kerasnya usaha. Masalahnya Ren Zhuocan mengejar hal uang berbeda dari Ding Tao. Jika Ding Tao menempuh perjalanan menuju puncak gunung, Ren Zhuocan sudah sejak awal, berjalan menuruni lembah. Tidak ada urusannya dengan seberapa keras dia berusaha, karena arah tujuan mereka memang berbeda. Sejak awal yang dikejar Ren Zhuocan hanyalah kekuatan dan kekuasaan yang datang dari kekuatan itu. Ding Tao berbeda, pemuda itu bergelut dengan hati nuraninya, antara jalan kehidupan dengan pedang yang dia genggam. Tapi Ren Zhuocan tidak mau mengakui itu, dalam hati dia justru berkata.

"Baik... kau mau jadi dewa pedang? Bagus..., kalau begitu aku yang akan jadi raja iblisnya. Ding Tao... tunggu saja lima tahun lagi.. Kau boleh menyatu dengan semesta, aku akan menjadi iblis yang menghancurkan semesta..."

Ren Zhuocan dan ratusan ribu orang pengikutnya melangkah pergi.

Andai Tetua Shen melihat kilat mata Ren Zhuocan saat itu, mungkin dia tidak akan kembali ke Partai Matahari dan Bulan setelah selesai urusannya dengan Ding Tao dan yang lainnya.

Tapi mungkin juga kepulangannya bukan tanpa arti.

Pada akhirnya isak tangis Murong Yun Hua pun surut, panas setahun dihapuskan oleh hujan sehari.

Murong Yun Hua pun berubah, kebanggaan, kesombongan dan ambisinya lenyap.

Justru sekarang dia berdiri seperti seorang gadis pingitan, wajahnya menunduk dan disandarkan tubuhnya pada Ding Tao, tangannya menggenggam erat tangan Ding Tao seakan takut kehilangan.

Ding Tao pun berjalan, kali ini menuju ke arah Murong Huolin dan Hua Ying Ying, di sana tentu saja ada juga Hua Ng Lau dan Pendekar pedang Jin Yong.

"Huolin, kemarilah...", panggil Ding Tao dengan lembut. Maka Murong Huolin pun dengan hati lapang, terbebas dari segala ketakutan, datang menghambur dan dengan mesranya menggandeng tangan Ding Tao yang lain. Dengan bahagia dia meremas tangan Murong Yun Hua, keduanya saling berpandangan dan yang ada dalam hati mereka berdua hanya bahagia. Tapi bagaimana dengan Hua Ying Ying? Teringat gadis itu, Murong Huolin memandang Ding Tao, kemudian dia melepaskan tangan Ding Tao untuk pindah ke sisi Murong Yun Hua dan berbisik. Tidak lama kemudian Murong Yun Hua menarik tangan Ding Tao dan berucap.

"Kak Ding..., suamiku... tentang Nona Hua, kami sama sekali tidak keberatan, sungguh, kali ini dari lubuk hati kami yang terdalam.", ujarnya setengah berbisik. Ding Tao tersenyum saja dan terus melangkah, hingga akhirnya sampai di hadapan Hua Ying Ying dan yang lain.

"Adik Ying Ying..., aku minta maaf padamu... Aku berharap kau bisa mengerti keputusanku. Aku tidak peduli apa kata orang lain, hanya apa pendapatmu.", ujar Ding Tao tulus tanpa ada kepalsuan di dalamnya. Merebak mata Hua Ying Ying, dengan suara tercekat dia menjawab.

"Aku mengerti... aku mengerti..."

"Bisakah kau hidup bersama kami?", tanya Ding Tao kemudian. Lama Hua Ying Ying terdiam, memandang Ding Tao kemudian Murong Yun Hua, menengok ke arah Huang Ren Fu yang berdiri di kejauhan, seperti orang yang terbuang. Lama dia terdiam. Akhirnya dia menggelengkan kepala.

"Tidak... tidak... ada banyak hal... mungkin aku masih perlu belajar untuk memaafkan, tapi yang pasti... Kak Ding Tao... kau... kau bukan pemuda yang dulu kukenal dan kucintai... kau sudah berubah..."

Ding Tao pun menganggukkan kepala.

"Aku mengerti..., kuharap di masa depan, aku masih punya kesempatan untuk membalas segala kebaikanmu, juga di kehidupan yang selanjutnya."

Hua Ying Ying menggelengkan kepala perlahan.

"Tidak perlu..., semuanya terjadi ada akibatnya... ini memang bukan takdir kita. Hanya saja..., jika kau tidak keberatan, maukah kau memaafkan kakakku?"

Ding Tao menoleh ke arah Huang Ren Fu yang sejak tadi masih menundukkan kepala, bisakah seorang suami memaafkan lelaki lain yang menjamah isterinya?

Tapi bukankah dia berjanji, apa pun yang pernah terjadi, semuanya akan dia hapuskan dalam ingatan dan hatinya.

Murong Yun Hua ikut tertunduk, genggamannya pada tangan Ding Tao semakin erat, seakan takut setiap saat tangan itu akan mengebaskan pegangannya.

Tersentuhlah perasaan Ding Tao, tidak mungkin dia tidak bisa memaafkan Huang Ren Fu, tapi dia tidak tega menyakiti Murong Yun Hua.

"Tentu... aku sudah tidak ingat apapun lagi, masa lalu..., masa laluku, biarlah aku melupakannya...", ujar Ding Tao sedikit terbata.

"Termasuk diriku?", tanya Hua Ying Ying dengan senyum menggoda. Ding Tao pun tersenyum.

"Tidak... ada masa lalu yang tidak akan hilang dari ingatan."

Hua Ying Ying berbalik menengok ke arah Hua Ng Lau dan berkata.

"Ayah, aku sudah bosan di sini, bisa kita pergi berkelana? Aku ingin melihat tempat-tempat jauh yang pernah ayah ceritakan."

Hua Ng Lau tertawa.

"Tentu saja, aku pun ingin melihatnya lagi. Ketua Ding, aku ucapkan selamat, semoga di usiaku yang semakin mendekati malam, aku bisa juga melihat dunia dengan caramu melihat dunia. Aku pamit dahulu, anakku yang nakal ini banyak kemauannya."

Ding Tao ikut tertawa, dia pun membungkuk hormat.

"Baiklah, selamat jalan Tetua Hua, aku titip adikku Ying Ying."

"Baik, baik tentu saja, kalau begitu aku pamit sekarang. Ying Ying ayo kita pergi.", ujar Hua Ng Lau sambil tertawa. Sejenak memandangi kepergian dua orang itu, Ding Tao merasa terselip satu penyesalan dalam hatinya. Hua Ying Ying adalah cinta masa kanak-kanaknya, rasa suka dan sayang yang dia rasakan dalam satu kepolosan kanak-kanak, yang perlahan tumbuh menjadi rasa cinta. Hua Ying Ying adalah cinta pertamanya dan dalam banyak hal dia adalah seorang pasangan yang sempurna. Apakah dia akan hidup lebih bahagia bersama Hua Ying Ying daripada bersama Murong Yun Hua dan Murong Huolin? Dalam hati Ding Tao menegur dirinya sendiri, terkadang kita berbuat kesalahan, lari dari akibat, lari dari tanggung jawab, bukanlah tindakan lelaki sejati. Tersenyum memikirkan betapa rapuhnya hati manusia, Ding Tao kemudian berbalik pada Pendekar pedang Jin Yong. Melihat Pendekar pedang Jin Yong, Ding Tao tak tahu harus berkata apa. Orang ini, yang telah menderita belasan tahun lamanya. Dia juga adalah suami pertama Murong Yun Hua. Ding Tao membuka mulut namun, rasa-rasanya sulit untuk berkata-kata. Apakah dia akan menyatukan keduanya kembali? Tapi bisakah mereka berdua berbahagia dengan begitu banyaknya kepahitan yang sudah mereka tanamkan? "Tetua...", ujarnya tak mampu meneruskan. Tapi Pendekar pedang Jin Yong, kemudian menepuk tangannya.

"Sudahlah, mungkin aku yang belum cukup matang. Dengar lakukan apa yang kau percaya, lakukan apa yang sesuai dengan nuranimu. Sedang aku sendiri, aku sudah memutuskan untuk mencukur rambut dan masuk biara. Sejak hari ini, tidak ada lagi Jin Yong."

Ding Tao membungkuk dalam-dalam, menyampaikan hormat dan segala macam perasaan yang tak tersampaikan dengan kata-kata.

Dalam pilihannya untuk memberi Murong Yun Hua kesempatan kedua, ada terhadap beberapa orang dia merasa bersalah.

Hua Ying Ying, Pendekar pedang Jin Yong, Khongti dan Zhu Yanyan.

Dan yang terutama pada pendekar pedang ini, bukan saja dia yang paling menderita oleh perbuatan Murong Yun Hua, orang ini juga adalah suami Murong Yun Hua, sebelum Murong Yun Hua menikah dengannya.

Itu sebabnya, Ding Tao tidak bisa berkata apa-apa.

Tapi dalam satu jawaban, dengan satu perbuatan Jin Yong menyelesaikan itu semua.

Sedari tadi Ding Tao tampil tegar tak tergoyahkan, di hadapan pendekar pedang tua itu, dia kembali merasa tak berarti.

Jin Yong menepuk-nepuk bahu Ding Tao dan berkata.

"Sudahlah, sekarang aku akan pergi. Ingat perkataanku, Jin Yong sudah mati."

Dengan perkataan itu, Jin Yong melangkah, berjalan ke arah kumpulan anak murid Shaolin, cepat Ding Tao memberi isyarat dan segera salah seorang dari pengikutnya lari ke depan dan membantu Jin Yong berjalan pergi.

Demikian satu per satu Ding Tao menemui kepada siapa dia merasa berhutang.

Zhu Yanyan, Khongti, Wang Shulin dan Zhu Jiuzhen, guru-guru Wang Shulin yang lain, Tetua Shen.

Mereka semua adalah orang-orang berjiwa besar, sedikit banyak mereka sudah mengenal Ding Tao dan bisa menerima tindakannya.

Khusus terhadap Tetua Shen, Ding Tao berkata.

"Tetua Shen... aku tidak tahu apakah kau akan kembali ke Partai Matahari dan Bulan atau tidak, tapi jika tetua kembali, hati-hatilah pada Ketua Ren Zhuocan. Aku melihat.... Ada iblis dalam sorot matanya."

Tetua Shen tercenung mendengar ucapan Ding Tao itu, tapi dia bisa mengerti apa maksudnya.

"Aku mengerti... Ketua Ding, dulu kau pernah berkata, adalah tugas kami juga untuk meluruskan kembali kesalahan dalam tubuh kami sendiri. Hmm... usiaku pun sudah mendekati kubur, meski Ren Zhuocan tidak menurunkan tangan jahat padaku, paling banter hanya akan bertambah panjang 5-6 tahun saja. Apalah artinya tahun-tahun itu, jika ada satu atau dua orang saja yang bisa kusadarkan, kukira itu jauh lebih berarti."

Ding Tao memandang orang tua itu dengan rasa kagum.

"Kau benar-benar hebat Tetua Shen, jika kau butuh bantuanku, katakan saja, aku akan membantumu sebisaku."

Orang tua itu tertawa.

"Hahaha, tidak, tidak, bukankah kau sendiri yang pernah bilang, kesesatan tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan. Tidak, aku akan melakukannya sendiri, kukira itu lebih tepat."

"Kalau begitu, berhati-hatilah tetua, aku sungguh berharap, di tahun-tahun depan kita masih bisa bertemu lagi.", ujar Ding Tao dengan tulus.

"Tentu saja, aku tentu akan rindu pada teman minumku. Ding Dong.", ujar Tetua Shen lalu tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh tawa mereka yang sudah mendengar kisah Tetua Shen dan Ding Dong. Setelah menyelesaikan hutang-hutangnya dengan mereka yang telah membantunya selama ini, Ding Tao berbalik, menghadap seluruh barisan yang masih menunggunya. Beberapa orang memang sudah pergi juga diam-diam karena tidak ada lagi yang bisa disaksikan, tapi banyak juga yang masih menunggu, menantikan perintah dari Ding Tao, entah apa itu, tapi mereka berkumpul atas panggilan Wulin Mengzhu dan mereka pun tak hendak bubar sebelum dibubarkan. Ada juga yang masih menunggu, karena mereka ingin tahu apa saja yang dilakukan Ding Tao. Ada yang menunggu karena ingin menjadi pengikutnya.

"Saudara-saudara, terima kasih untuk pengertian dan bantuan saudara-saudara sekalian. Hari ini kita sudah berhasil melewati tantangan yang berat. Marilah kita berharap, bahwa di masa selanjutnya dunia persilatan boleh damai dan tenang.", ujar Ding Tao pada mereka semua.

"Aku tidak dapat berjanji apapun sebagai seorang Wulin Mengzhu, aku pun sadar, sebenarnya kedudukan ini terlalu berat bagi seorang manusia. Siapa orangnya bisa berlaku adil pada semua orang, tanpa membuat salah satu pihak merasa dirugikan?"

"Karena itu, aku menyatakan sejak hari ini aku mengundurkan diri sebagai Wulin Mengzhu. Bukan karena aku menolak untuk menyumbangkan sedikit apa yang aku punya bagi kebaikan kita semua. Tidak, setiap saat tenagaku dibutuhkan, tentu aku tidak keberatan untuk turut serta menyumbangkan tenaga. Tapi bukan sebagai pemimpin kalian, hanya sebagai sesama saudara. Bukankah dikatakan manusia dari empat penjuru, semuanya bersaudara? Baiklah aku menjadi salah satu dari kalian, bukan berdiri sebagai pemimpin kalian."

"Nah itu saja yang ingin aku ucapkan, sekarang kukira tujuan kita berkumpul di sini, hari ini sudah tuntas selesai, biarlah kita pilih jalan kita masing-masing.", ujar Ding Tao menutup pidatonya. Ada berbagai macam reaksi dengan apa yang dikatakan Ding Tao itu, tapi Ding Tao tidak ambil peduli. Dia menengok ke arah para pengikutnya sendiri, dan juga pengikut Murong Yun Hua yang dengan ragu dan malu bergabung dengan para pengikut setia Ding Tao.

"Kalian, kembalilah ke Jiang Ling sendiri. Aku mau berjalan sendiri, menuruti keinginanku sendiri, tapi ada saatnya aku tentu juga akan kembali ke Jiang Ling. Setiap kali aku tidak ada, segala urusan aku serahkan pada Tuan Sun Liang dan Tuan Qin Hun."

"Adik, ayo ikut denganku", Dan dengan satu hentakan Ding Tao seperti melayang pergi, membawa Murong Huolin di kiri dan Murong Yun Hua di kanan. Cepat dia berlari, menghindari kerumunan orang yang ada di sana. Sejak berbulan-bukan, bahkan bertahun-tahun, sejak secara tidak sengaja dia mendapatkan Pedang Angin Berbisik, hidupnya selalu menanggung beban tanggung jawab. Hari ini tunai sudah tugasnya pada gurunya Gu Tong Dang, selesai juga masalah asmaranya dengan Hua Ying Ying dan Wang Shu Lin, apakah seharusnya mereka berjodoh atau tidak, seandainya dulu dia tidak jatuh dalam godaan Murong Yun Hua sudah dia singkirkan jauh-jauh dari benaknya. Menyesali masa lalu, lupa bersyuku atas nikmat yang didapatkan hari ini, adalah satu jalan pasti untuk sampai pada penyesalan yang lain di masa depan. Tidak Ding Tao tidak mau mengubur diri dalam penyesalan, dalam pengandaian tanpa akhir. Yang terjadi sudah terjadi, yang bisa dia lakukan adalah belajar dari kesalahan di masa lalu dan hidup sebaik-baiknya di masa yang sekarang. Di kiri dan kanannya ada isteri-isteri yang dia kasihi, di depannya terbentang luas masa depan, Ding Tao pun tertawa bergelak lalu bersuit keras sekali. Segala beban di dada rasanya hilang. Kegembiraan Ding Tao pun menular pada Murong Yun Hua dan Murong Huolin, melihat Ding Tao yang baru saja bersikap keren, berwibawa, sekarang berlaku tak ubahnya kanak-kanak, mereka berdua pun ikut tertawa lepas. Kata orang cinta saja tak cukup, tapi bagi mereka yang merasakan cinta, cinta bisa memberikan mereka kekuatan untuk melalui segala kesulitan.Tiga orang anak manusia itu pun melepaskan segala beban di masa lalu mereka, membuang jauh-jauh segala kotor dan kepahitan, menyambut masa depan dengan tangan terbuka dan tawa. Kisah kepahlawanan Ding Tao pun menjadi buah bibir, menjadi berita terbesar di masa itu. Nama Ding Tao dikenal bukan hanya di kalangan dunia persilatan, seluruh daratan mendengar namanya. Dewa pedang itulah julukannya, kisah pertarungannya melawan Ren Zhuocan dan 30 orang pengikut andalan Murong Yun Hua adalah kisah yang tidak bosan-bosannya diceritakan dan didengarkan. Mereka yang ikut menyaksikan pertarungan itu, ikut merasa bangga hanya karena mereka ada di sana dan menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala mereka sendiri. Partai Pedang Keadilan masih berjalan, tapi lebih sering Sun Liang dan Qin Hun yang ada di sana, sementara Ding Tao lebih sering berkelana dengan kedua orang isterinya. Shin Su dan kawan-kawannya tetap menjadi satu kelompok rahasia di bawah asuhan Ding Tao sendiri. Partai Pedang Keadilan sendiri akhirnya dipusatkan hanya di Jiang Ling saja, meski bisa dikatakan hampir seluruh kota berada di bawah kekuasaan mereka, jumlah pengikutnya sendiri dipangkas cukup banyak. Sebagian besar diberi modal untuk membuka usaha sendiri atau membuka sawah ladang. Sehingga jumlah mereka seluruhnya yang tetap hidup dalam dunia persilatan tidak lebih dari 100 orang. Seluruh modal yang berasal dari keluarga Huang dikembalikan, tapi tempat usaha yang ada di Jiang Ling tetap diteruskan di bawah nama Partai Pedang Keadilan. Di antara dua kelompok itu terbentuk hubungan yang dingin namun tidak saling bermusuhan. Tabib Shao Yong masih membuka toko obatnya, salah satu yang ditelitinya sekarang ini adalah mengusahakan agar Ding Tao bisa memiliki keturunan dari dua orang isterinya itu. Resep yang diberikan Tetua Shen sangat berharga bagi Tabib Shao Yong, meski dia masih berusaha menyempurnakannya lagi, utamanya yang berkenaan dengan masalah Ding Tao kecil. Wang Shu Lin akhirnya menikah dengan Zhu Jiuzhen, pernikahan mereka dihadiri banyak orang. Sebagian besar datang tanpa diundang karena berharap bisa melihat Ding Tao si dewa pedang. Enam orang guru Wang Shu Lin, kembali menghilang, kecuali Zhu Yanyan dan Khongti yang kembali ke perguruannya masing-masing untuk ikut membenahi keadaan yang terjadi setelah ditinggalkan ketua yang terdahulu. Apalagi di pihak Shaolin masih perlu diadakan pembersihan, informasi dari Murong Yun Hua tentu saja sangat membantu mereka. Hu Ban dan Shu Sun Er, sekali-kali terlihat berjalan berdua di dekat danau Poyang, sedang Pang Boxi dan Chen Taijiang, sering terlihat di berbagai tempat, terkadang memancing huru-hara, terkadang menolong orang, tapi ke mana pun mereka pergi, banyak orang awam yang justru memuji-muji mereka. Dari situ bisa disimpulkan kala mereka membikin masalah, tentu karena membela kaum yang lebih lemah. Sementara Hua Ng Lau dan Hua Ying Ying berkelana sampai jauh ke barat, mendaki pegunungan himalaya dan sampai pula di wilayah tempat asal agama Buddha berasal. Ya, di antara mereka semua yang diceritakan di atas, yang paling sulit dicari jejaknya tentu saja Ding Tao dan kedua isterinya. Herannya meski sering menghilang, bukan berarti kemudian tidak ada cerita mengenai mereka. Karena terkadang ada masalah-masalah besar dalam dunia persilatan, yang kemudian selesai tanpa orang tahu siapa yang memecahkannya, hanya bisa menduga bahwa Ding Tao dan dua isterinya yang memecahkan masalah itu. Seperti ketika anak perempuan keluarga Tong diculik orang, atau pencurian pusaka kerajaan dari gudang pusaka kerajaan, pembunuhan berantai di daerah Sechuan dan sebagainya. Perkara-perkara yang tidak jelas ujung masalahnya, seringkali tiba-tiba selesai dengan sendirinya dan kabar burung yang beredar, itulah hasil pekerjaan Ding Tao dan dua orang isterinya. Tidak ada bukti yang pasti, mereka yang tersangkut pun lebih banyak berdiam diri, tapi jika ada yang membuka mulut, maka ucapan dewa pedang tentu keluar dari mulut mereka. Bagaimana dengan lima tahun kemudian? Jika yang ditanyakan adalah tentang pertemuan lima tahunan, maka lima tahun setelah Ren Zhuocan dikalahkan, memang seluruh dunia persilatan berkumpul, namun Ren Zhuocan tidak datang, yang datang hanya salah seorang wakilnya yang mengatakan Ren Zhuocan belum pulih dari luka akibat pertarungan dengan Ding Tao lima tahun yang lalu. Akhirnya pertemuan lima tahunan, kali itu diisi dengan Ding Tao yang melayani dan memberikan petunjuk pada mereka yang mau mencoba-coba kepandaiannya. Diawali dengan majunya seorang muda yang penuh ambisi, ingin mengangkat nama. Kalah dia memang, tapi dalam pertarungan mereka, Ding Tao justru memberikan petunjuk-petunjuk yang berharga, terang saja pemuda itu kalah tapi merasa gembira. Dan terang saja, setelah itu muncul banyak tokoh lain yang ikut-ikutan meminta petunjuk dari Ding Tao. 7 hari penuh pertemuan itu berjalan, sebelum akhirnya semua orang puas dan pertemuan itu bubar. Gelaran dewa pedang pun semakin mantap diberikan orang pada Ding Tao. Apakah Ding Tao berbahagia? Rasanya jawabannya iya. Tentu saja bukan berarti kisah ini ditutup dengan kalimat, lalu mereka hidup berbahagia selama-lamanya. Karena selama manusia hidup, tentu dia akan dihadapkan pada masalah-masalah dan tantangan-tantangan hidup. Jika tidak bagaimana manusia mau ditempa menjadi manusia pilihan? Yang terpenting adalah cara manusia itu menyikapinya, apakah Ding Tao di masa depan tidak akan pernah tertimpa masalah dan kesulitan? Tentu saja akan ada masalah, akan ada kesulitan dan tantangan, tapi jika menilik kedewasaan yang dia capai saat ini, sepertinya dia akan menghadapinya dengan sikap yang benar. Sampai di sini kisah ini sudah sampai pada akhirnya. Apakah suatu saat nanti kita aka bertemu Ding Tao lagi dalam kisah yang berbeda? Entahlah, yang pasti untuk saat ini kisah Ding Tao ditutup sampai di sini. Semoga para pembaca bisa menikmatinya, bila ada salah kata, mohon maaf sebesar-besarnya. Salam. Document Outline Hari bahagia bagi si dungu.

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 2

Baca Juga: Jodoh Rajawali 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert