Eps 1 Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung
Baca online Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung
Cersil Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung.
Oey Liong Kiam Oey Liong Kiam Karya . Chin Yung / Saduran . ho cing hong Image Sources . Awie Dermawan Rewrite/Edited . yoza EYD-Version @ 2018,
Kolektor E-Book
Warisan Jenderal Gak Hui (Warisan Jendral Gakm Hui) saduran . ho cing hong Image Sources . Awie Dermawan Rewrite/Edited . yoza EYD-Version @ 2018,
Kolektor E-Book
CETAKAN PERTAMA U.P. KRESNO 1975 JAKARTA 1 0 1 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 1 PUCUK pohon cemara tampak melambai-lambai ditiup angin pegunungan yang sejuk.
Bulan sabit menerangi dengan sinar keemasan tanpa terganggu oleh kabut dan awan, bintang-bintangpun bertaburan di angkasa, Pegunungan Go-Bie-San tampak tenteram dan damai.
Semarak dengan pohon-pohon hutan ramping menjulang, jurang-jurang yang dalam dengan tebing-tebing berbatu-batu menonjol.
Dari dasar jurang Liong-houw-ya yang berbatu-batu besar dan dinding jurang yang terdalam dan bila melihat keatas seolah-olah terkurung dalam himpitan dinding curam, terpisah dari dunia luar.
Tampaklah samar-samar bayangan pohon-pohon cemara yang meliuk-liuk tertiup angin sejuk.
Bayangan pohon-pohon yang hanya tampak samar-samar jauh diatas seolah-olah angan kita turut melambung ke angkasa dan hanyut terbawa terbang ke bintang-bintang yang bersinar pudar.
Betapa dalamnya jurang itu hingga tak dapat terduga lagi seandainya bukan malam terang bulan dan tiada bintang-bintang dan gelap gulita maka tiada terkira lagi karena jurang Liong-houw-ya memang jurang yang sangat dalam.
Tiba-tiba suasana yang tenteram itu dengan tak terduga telah berubah menjadi gaduh.
Terdengar suara gemuruh, batu-batu melayang dan meluncur ke dasar jurang.
Gemuruh dan berhamburan pecahan-pecahan batu menimbulkan kepulan-kepulan debu dan jurang yang sepi itu dengan tiba-tiba menjadi sangat gaduh, sesaat kemudian kembali tenang dan sepi hanya suara kericik air terdengar sangat lembut.
Ketika itu tampaklah sebuah bayangan yang bergerak menuruni tebing jurang menuju ke suatu tempat.
Rupa-rupanya bayangan itu adalah seorang laki-laki yang bertubuh tinggi berdada bidang.
Mukanya tampan dan rambutnya yang hitam panjang digulung diatas kepala.
Hanya wajah yang tampan itu P 1 2 kelihatan tegang seolah-olah laki-laki itu menahan rasa sakit yang mengendap dalam tubuhnya.
Dari sudut bibir dan lubang hidungnya meleleh darah segar.
Dengan langkah-langkah yang tertahan dan sempoyongan dia terus berusaha untuk mencapai dasar jurang Liong-houw-ya.
Tatkala kepalanya terangkat dan memandang jauh keatas tebing sedang kaki kanan menginjak sebuah batu yang menonjol, dengan tiba-tiba batu itu terlepas dan menggelundung meluncur kebawah.
Untung laki-laki itu dapat menguasai diri dan keseimbangan tutuhnya hingga dia tidak terdorong jatuh.
Namun demikian berdesir juga jantungnya dan kembali melihat kedasar jurang yang berbatu-batu.
Kembali suasana tenang, hanya terdengar dengusan nafas laki-laki itu.
Kemudian terdengar suara jeritan tangis bayi.
Jeritan tangis bayi itu makin menyayat dan keras sekali.
Laki-laki yang menuruni tebing jurang itu berhenti lagi dan benda yang dibungkus dengan kain selimut berwarna kuning tua itu dibukanya.
Bungkusan selimut kuning tua itu sejak tadi telah dipondongnya dan didekapnya, bahkan sekali dipandanginya dengan sinar mata sayu dan sedih.
Ternyata didalam selimut kuning tua itu adalah bayi lak-laki yang berparas bagus berkulit halus dan montok sekali.
Namun bayi itu tiada henti-hentinya menangis.
Bahkan selimut kuning tua itu kini telah bernoda darah yang telah membeku.
Dipandangnya dasar jurang yang masih terlalu dalam dan gelap.
Walaupun samar-samar sinar bulan telah menerangi dasar jurang namun tetap gelap.
Dengan menarik napas panjang laki-laki yang tampaknya sangat sedih itu meneruskan langkahnya sangat berat dan terpeleset-peleset menuruni tebing.
Diatas batu besar tampak seorang kakek berjubah putih.
Kakek yang telah berambut putih digelung diatas kepala dengan janggutnya yang panjang dan putih melambai ditiup angin.
Wajah kakek itu sangat tenang menggambarkan bahwa kakek itu berilmu tinggi dan sangat budiman.
Seolah-olah kakek itu menunggu ke dataongan laki-laki yang sedang menuruni tebing jurang.
Sesekali kakek berjubah putih itu mengerutkan keningnya dan memandang dengan pandangan mata lurus kearah laki-laki yang membopong bayi terbungkus dalam selimut kuning tua.
1 3 Setelah jarak mereka telah begitu dekat dan telah mencapai dasar jurang, laki-laki itu dengan jantung berdebar telah memandang kakek berjubah putih yang masih duduk diatas batu dengan tenang dan memandang padanya juga.
Seolah-olah ada sesuatu hal yang tertahan didalam pikiran kakek itu.
Serta merta laki laki yang memondong bayi itu merebahkan diri menjura kearah kakek berjubah putih, sedangkan bayi dalam dekapannya itupun masih tetap menjerit-jerit menangis.
"Locianpwee aku telah mencari-carimu". mungkin tidak sepeminum teh lagi.... nyawaku telah..."
Seru laki-laki itu dengan suara tertekan dan terdengar sangat sedih.
"Hemmmm ..."
Terdengar gumam kakek berjubah putih dan tetap duduk diatas batu dengan tenang seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang didepannya itu.
"Bencana telah menimpa keluargaku...... sudilah locianpwee mengulurkan tangan dan menerima anakku ini..... anak yang malang ini kutitipkan padamu ....."
Tersendat kata-kata itu ditenggorokan dan dilihatnya bayi dalam bungkusan kain selimut berwarna kuning tua itu dengan perasaan sedih.
"Hemmmm....."
Terdengar sekali lagi gumam kakek berjubah putih itu.
Sikapnya masib tetap seperti tadi dan seolah-olah tidak merasakan apa-apa dengan peruturan laki-laki yang sangat merintih dan sedih itu.
Bahkan kakek berjubah putih itu tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya.
Laki-laki yang tampak sangat malang dan memelas itu sekarang berlutut dihadapan kakek berjubah putih.
Ditatapnya wajah kakek itu dengan sorot mata penuh iba dan mohon dikasihani.
Sementara itu bayi dalam pelukannya itupun telah diam dari tangisannya.
"Apapun yang akan locianpwee lakukan terhadap bocah ini aku tidak perduli.... terimalah....... atau aku lebih baik membinasakannya daripada kelak bocah ini sengsara". seru laki-laki itu yang kedengaran suaranya sangat berputus asa dan sedih, sekali lagi dipandangnya bayi dalam pelukan itu dengan mata sayu dan sedih. 1 4 Saat itu kakek berjubah putih hanya mendengus dan pandangan matanya dialihkan kearah sebuah batu besar yang terdapat dibelakang laki-laki yang berlutut didepan kakek berjubah putih itu.
"........... aku telah berlutut dihadapanmu dengan penuh rasa hormat dan mengemis rasa belas kasihmu untuk bocah yang malang ini. Ternyata Locianpwee yang terkenal arif bijaksana dan penuh rasa kasih sayang itu ternyata sangat dingin dan hatinya beku seperti es---baiklah Locianpwee, kalau memang kau orangtua tidak sudi menerima bayi ini lebih baik binasa bersamaku daripada kelak menderita dan terhina---"
Seru laki-laki itu.
Tiba-tiba bayi dalam pelukan tangan kanan itu kini telah dipindahkan ketangan kiri dan tahu-tahu tangan kanan telah menggenggam sebilah pedang yang berkilauan tertimpa sinar bulan.
Kakek berjubah putih itupun merasa terkejut ketika melihat laki-laki itu menggenggam pedang mengkilat.
Berdesirlah hati kakek itu dan menarik nafas panjang.
Kemudian matanya memandang lagi kearah batu-batu dibelakang laki-laki yang menggendong bayi dan berlutut dihadapannya itu.
Kemudian pandangan mata mereka bertemu.
Laki-laki yang menggenggam pedang itu tidak tahan menatap pandangan mata kakek berjubah putih.
Ditundukkannya kepala dan dipandanginya bayi dalam gendongan tangan kiri dengan perasaan sedih dan air mata berlinang.
Pedangnya diangkat dan akan ditikamkan kearah bayi itu, sedangkan kakek berjubah putih akan mencegahnya tetapi matanya memandang kearah batu besar dan menarik nafas panjang.
Sekali lagi laki-laki itu tidak sampai hati untuk membunuh anak sendiri.
Walaupun dia telah memutuskan lebih baik membunuh bayi itu daripada kelak hidup sengsara dan dihina orang.
Namun dengusan nafas kakek sakti itu sangat berpengaruh dan membuat dia menjadi lemah seolah-olah tangannya terkulai.
Tangan yang menggenggam hulu pedang itu gemetar dan dipandangnya wajah kakek berjubah putih yang masih bersikap duduk seperti semula.
Seolah-olah kakek itu tidak akan mencegah niat laki-laki yang berlutut dihadapannya itu.
Walaupun tiada sepatah katapun yang terucapkan.
Ketika pandangan mereka bertemu ternyata sekali lagi laki-laki itu tidak tahan menentang pandangan mata kakek berjubah putih.
1 5 Ditundukkannya wajahnya dan memandang kearah batu-batu dasar jurang.
Batu yang berserakkan.
Saat itu kakek berjubah putih memandang dengan tegas kearah batu besar dibelakang laki-laki yang berlutut dihadapannya.
Bertepatan dengan itu laki-laki yang malang itu telah mengangkat pedangnya dan akan ditikamkan kearah bayi dalam pondongannya.
Tiba tiba dari balik batu dibelakangnya telah berkelebat sebuah bayangan hitam dan langsung meloncat menyerang dengan sebuah hantaman bertenaga luar biasa kearah laki-laki yang telah putus-asa.
Terpentalah pedang dalam genggaman laki-laki itu.
Sedangkan laki-laki itu sangat terkejut mendapat serangan dengan tiba tiba dan sempat menyaksikan pedangnya yang melayang kemudian berdentang jatuh ketanah membentur batu dan ternyata pedang itu telah patah menjadi dua.
Bertepatan dengan itu telah berdiri, dihadapan kakek berjubah putih seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berdada bidang dengan wajah tegang memandang kakek berjubah putih dan berganti-ganti memandang kearah laki-laki yang masih tercengang dan terduduk ditanah berbatu-batu.
Laki-laki yang baru datang dan luar biasa tenaganya itu masih muda dan berusia tidak lebih dari tiga puluhan tahun.
Namun telah menguasai suatu ilmu yang luar biasa.
Kakek berjubah putih memandang dengan tersenyum kearah laki-laki gagah yang berdiri dihadapannya itu.
Dia merasa kagum dengan sikap gerakan dan kekuatan orang yang kini berdiri di hadapannya tu.
"Bagus-bagus, luar-biasal"
Seru kakek itu dengan manggut seraya menatap pandangan orang berdiri dihadapannya.
Sesaat lamanya suasana jadi sepi, hanya terdengar dengusan napas dan desauan angin pegunungan pula gemericik air yang sangat halus.
Bayi itupun seolah-olah mengerti dan tiada jerit tangis lagi.
"Jika mata tuaku tidak salah, rupa-rupanya yang telah berdiri dihadapanku adalah ketua Sin-ciu-sam-kiat yang pada saat ini sangat menggemparkan 1 6 kalangan Kang Ouw..... ?"
Tegur kakek berjubah putih dengan suara tenang kearah laki-laki yang berdiri dihadapannya itu.
Bersamaan dengan teguran itu tampak berkeJebat dua bayangan tertimpa sinar bulan yang samar-samar.
Dua bayanyan itu langsung berdiri sejajar dengan laki-laki yang sejak tadi berdiri dihadapan kakek berjubah putih.
Mereka adalah seorang wanita cantik jelita berusia sekirar dua puluh tahun berparas ayu dan kulitnya kuning mulus.
Sedangkan yang seorang lagi adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap dengan rambut hitam panjang sampai kebahu serta berjambang bauk.
Kakek berjubah putih mengangkat wajahnya sesaat tetapi tetap duduk dengan tenang diatas batu gunung didasar jurang.
Dielusnya janggut yang panjang melambai dan putih itu.
Dipandanginya satu persatu orang-orang itu.
Kemudian kakek itu menarik nafas panjang seolah-olah menghalaukan suatu kenangan yang tersimpan dalam dadanya.
"Betul tidak keliru lagi penglihatanmu!"
Seru laki-laki yang ditegur tadi. Tetapi laki-laki itu masih bersikap tegang dan menyilangkan kedua lengannya didada. Matanya yang hitam mengkilat mengawasi sikakek yang acuh tak acuh itu.
"Hem tidak kusangka kita akan bertemu di tempat ini. Ternyata dunia ini kecil sekali sehingga kita dapat bertemu dimana saja!"
Seru Pek-hi-siu-si dengan mengusap janggutnya.
Ketiga orang yang kini berada dihadapan kakek berjubah putih itu adalah Thin-siu-sam-kiat yang terdiri dari Ji Han Su atau si Tinju Baja, Siauw Liang atau si Angin Taufan dan Pek Giok Bwee atau Dewi Gelombang, Mereka adalah murid dari satu perguruan, tetapi ilmu dan tingkat ilmu mereka berlainan.
Ji Han Su sangat menguasai tenaga dalam dan mabir mengerahkan tenaga dalam.
Tenaga dalamnya demikian hebat dan dahsyatnya hingga hembusan angin pukulannya saja mampu mematahkan pedang baja.
Siauw Liang sangat pintar memainkan ilmu golok.
Sedemikian hebatnya ilmu golok Siaw Liang hingga dia dapat melindungi dirinya dari percikan air hujan 1 7 yang deras.
Hingga dia mendapat julukan di rimba persilatan sebagai si Angin Taufan.
Sedangkan Pek Giok Bwee memiliki ilmu tenaga dalam dan meringankan tubuh serta pandai memainkan senjata rahasia sambil meloncat memutar tubuh.
Kehebatan ilmu meringankan tubuh si cantik jelita Pek Giok Bwee itu tiada taranya dikalangan Kang ouw.
Semenjak Sin-ciu-sam-kiat terjun di rimba persilatan, dalam waktu singkat mereka telah menonjol dan mendapat julukan yang luar biasa.
"Sudah lama kita mendengar Pek-hi-siu-si (orang sakti berjubah putih) yang tersohor sangat arif bijaksana disamping adalah seorang pendekar ilmu pedang yang tiada taranya dikalangan Bulim dan selama beberapa puluh tahun telah malang meintang dan menjagoi dikalangan persilatan"
Seru si jelita Pek Giok Bwee dengan tenang.
"Kita harus selalu menghormatinya dan harus menjunjung tinggi nama kakek itu, tetapi kenyataannya setelah pertemuan ini kami menjadi sangat kecewa karena apa yang di kabarkan orang-orang itu ternyata kosong belaka. Kau membiarkan seseorang menjadi sangat kecewa, padahal kau dapat berbuat sesuatu untuk menolong orang itu. Pek-hi-siu-si orang tua yang disanjung dan dihormati orang itu ternyata adalah tidak lebih dari seorang yang berhati beku sebeku es"
Pei Giok Bwee telah mengucapkan kata-kata yang sangat menyinggung dan menghina kakek sakti berjubah putih itu dengan sengaja.
Ia merasa sangat gemas dan jengkel dengan sikap dingin dan acuh tak acuh kakek berjubah putih itu kepada laki-laki yang telah menyembah-nyembah dan menggendong bayi dihadapannya itu.
Sedangkan sikakek sakti berjubah putih atau Pek-bi-siu sin yang selalu dihormati dan disegani orang di lingkungan Kang-ouw, belum pernah dia mendapat hinaan dan dicaci orang sedemikian tajam itu.
Maka mendadak jadi sangat terkejut dan gusarlah kakek itu.
Namun demikian kakek sakti itu dapat juga menguasai perubahan wajahnya dengan sedikit deretan garis dahinya yang mengkerut dengan sinar mala melanya.
Kemudian tersenyum.
"He Sin-ciu-sam-kiat! kita baru kali ini bertemu muka dan anrara kita tidak ada ikatan permusuhan dan kalian belum pernah mengadu tenaga dengan aku 1 8 orang tua, tetapi kalian sengaja mendatangi jurang Liong-houw-ya untuk mencoba dan menghinaku!"
Bentak Pek-hi-siu-si kepada ketiga bersaudara itu.
Meskipun sikakek berjubah putih itu mengeluarkan kata-kata menantang tetapi kata-kata itu dikeluarkan dengan tersenyum dan bernada halus, mau tak mau ketiga pendekar itu menjadi sangat gusar.
Karena seolah-olah kakek itu tidak memandang sebelah mata padanya.
Yang paling gusar adalah si Angin Taufan atau Siauw Liang dengan wajah merah dan mata melotot meloncat kedepan kakek yang masih tetap duduk diatas batu besar dengan tersenyum-senyum dan mengelus janggutnya.
"Pek-hi-siu-si ! Kau adalah seorang tua budiman gadungan"
Seru Siauw Liang dengan suara lantang dan mata melotot sambil mengelus janggutnya yang putih.
"Pek-hi-siu-si, sebenarnya Ji Twako telah menasehati padaku untuk tidak curut campur tangan dalam urusan ini. Namuo hati dan perasaan kemanusiaanku tidak tahan untuk memperdengarkan orang yang malang itu terus meratap dan memohonkan pertolonganmu. Namun kau kakek tua ternyata berpura-pura tuli dan tidak mendengarkan kesedihan orang lain. Kau seorang kakek sakti yang kejam dan tidak berperikemanusiaan!. Untuk bertempur melawanmu orangtua tidak perlu kami Sin-ciu-sam-kiat bersama-sama maju. Cukuplah aku dengan golokku Hui-to ini...!"
Seru Siauw Liang dengun mata melotot dan wajah merah membara.
Dengan selesainya kata-kata itu dia menggenggam golok Hui-to ditangan kanan dan meloncat menyerang kakek berjubah putih.
Namun Pek-hi-siu-si tersenyum dan tenang, walaupun didalam hati ia memuji akan keberanian laki-laki berambut awut-awutan dan berjambang itu.
Ketika serangan golok itu hampir menyentuh dadanya kakek itu sama sekali tidak bergeming dari tempat duduknya.
Dia hanya menggerakkan kedua jari-jarinya tangan kanan kearah mata golok.
Terlihatlah Siauw Ling terperanjat.
Karena kenyataan yang ditemuinya dia menikam tempat koaong dan terhuyung-huyung meluncur hampir membentur batu tempat dimana kakek itu duduk.
Pek-hi-siu-si telah menjagoi dunia persilatan selama tiga puluh tahun lebih dengan banyak menjatuhkan lawan-lawannya.
Hingga dengan demikian dia telah mendapatkan julukan "jago pedang nomor satu"
Dan kini dia harus 1 9 berhadapan dengan Shin ciu-sam kiat jago-jago muda yang baru muncul dan sedang mengembangkan nama dikalangan Kang ouw.
Dengan senang dan tersenyum serta mengelus janggutnya yang putih panjang itu Pek-hi-siu-si berseru kearah Siauw Ling.
"He Siauw Ling, aku orang tua yang keropos ini, telah mendengar kehebatan permainan ilmu golok Hui-to mu yang luar biasa itu". Gerakan ilmu golok Hui-to yang dapat bergerak dan menyapu lawan bagaikan topan itu sangat luar biasa. Namun aku orang tua tidak takabur dan sombong, tetapi aku hanya menurutkan tantanganmu sebagai orang-orang satria yang pantang menolak tantangan orang. Kalah dan menang itu bukan milik kita, maut ditangan Thian. Tetapi kalau sampai kau dapat memotong putus selembar bulu badanku saja maka aku akan menyerahkan pedang pusakaku ini padamu dan aku akan mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw !"
Seru si kakek berjubah putih dengan suara tenang.
Suara yang bernada tenang itu diselingi dengan desahan nafas Pek-hi-siu-si diarahkan kepada Siauw Liang adalah nada suara yang penuh keangkuhan dan tantangan yang sangat menyakitkan hati Siauw Liang.
Mendengar kata-kata yang sangat memanaskan hati itu Siauw Liang yang bersifat berangasan menjadi sangat gusar dan wajahnya merah sampai ditelinga dan mata yang bersinar hitam itu menyala-nyala.
Kelihatan sangat bengis karena diamuk kemarahan yang meluap-luap.
Kemudian meloncat kebelakang satu langkah diatas tanah berbatu sambil tangan kanan masih menggenggam golok Hui-to dan tangan kiri menuding kearah Pek-hi-siu-si.
"Kau boleh membual sesuka hatimu! Sekarang buktikanlah kata-katamu itu!"
Bentak Siauw Liang.
Begitu selesai dengan kata-katanya itu dia telah meloncat dan golok Hui-to bergerak sangat cepat sekali menyambar Pek-hi-siu-si.
Siauw Liang menyadari sekarang dia sedang berhadapan dengan seorang pendekar kalangan tua yang luar biasa hebat ilmu silatnya.
Maka dia bermaksud menyerang secepat mungkin sebelum lawannya sempat bersiap siaga.
Dia yakin benar serangannya itu akan berhasil dengan baik karena dia menyerang Pek-1 10 bi-siu-sin dengan jurus permainan golok yang sangat dahsyat dan belum pernah dapat dihindari oleh lawan, ialah jurus Soan-hong-cui-long atau Angin taufan meniup gelombang yang telah membuat goloknya memancarkan cahaya kemilau dan mengeluarkan angin yang suaranya menderu-deru gemuruh.
Pek-hi-siu-si bersikap tenang dan meloncat berdiri ditanah dua langkah didepan batu tempat dimana kakek tadi duduk.
Angin serangan golok itu menyambar sangat deras.
Kakek berjubah putih dengan tenang menggerakkan lengan tangan kanan dan mengebutkan lengan jubahnya kearah datangnya serangan.
Ternyata hembusan lengan jubah itu luar biasa akibatnya.
Angin hembusan lengan jubah itu mampu menahan serangan golok Hui-to.
Sekaligus hembusan lengan jubah itu menampar Siauw Liang hingga laki-laki itu terlempar mundur beberapa langkah.
Selama Siauw Liang berkecimpung dikalangan Kang-ouw belum pernah gagal serangannya dengan jurus yang sangat diandalkan itu.
Jurus Soan-hong cui-long selalu berhasil dengan baik dan lawan belum pernah dapat menghindari serangan itu.
Namun kini setelah berhadapan dengan kakek sakti berjubah putih dia telah mengalami kenyataan pahit bahkan dirinya dapat ditampar mundur sampai beberapa langkah kebelakang.
Bukan saja Pek-hi-siu-si dapat menahan bacokan Hui-tonya malah hembusan tenaga angin pukulan lengan jubah kakek itu sangat luar biasa dan dapat memukul mundur tubuh Siauw Liang.
Dengan kenyataan itu, laki-laki berangasan itu menjadi sangat gusar dan menggembor keras seraya meloncat dengan golok Hui-to mengarah ke arah leher Pek-hi-siu-si.
Loncatan itu sangat hebat dan keras.
Namun Pek-hi-siu-si dengan tenang menantikan datangnya serangan.
Ketika serangan ujung golok itu hampir menyentuh tenggorokan kakek sakti, dengan tiba-tiba kakek itu menggeserkan kaki kanannya dan tubuhnya sedikit miring kekanan tangan kanan bergerak kearah lengan Siauw Liang.
Gerakan kakek itu begitu cepat dan tiba-tiba.
Siauw Liang sangat terperanjat dan dia hampir tersungkur karena dorongan tenaga serangannya sendiri.
Dengan gerakan cepat kakek itu telah menggobang leher Siauw Liang hingga terpaksa Siauw Liang meloncat dan menggelundung 1 11 ditanah berbatu-batu sampai beberapa tombak.
Kemudian memutar tubuh sambil meloncat menghadapi Pek-hi-siu-si dan tangan kanan masih menggenggam golok Hui-to.
Kakek berjubah putih dengan mata tuanya dan kening dikerutkan memandang Siauw Liang.
Dia yakin bahwa lawannya kini menjadi sangat gusar.
Sedangkan dua orang saudara Siauw Liang hanya mengamati jalannya pertempuran itu dengan pandangan mata penuh kekhawatiran.
Karena mereka tahu bahwa kakek itu sebenarnya bukan tandingan Siauw Liang.
Sekali lagi Siauw Liang menggembor sambil meloncat menyerang Pek-hi-siu-si.
Bersamaan dengan alunan gemboran yang menggema didalam jurang Liong-houw-ya, sebuah batu besar telah hancur berkeping-keping terbentur kepala Siauw Liang.
Tampaklah Pek-hi-siu-si mengegoskan tubuhnya kesamping dan mengebutkan lengan jubahnya kearah tubuh laki-laki itu.
Begitu kepala Siauw Liang menumbuk batu, dan batu itu hancur berantakan, maka sesaat pemandangannya menjadi kabur pula, Namun dasar memang dia sangat keras kepala belul-betul maka keadaannya itu tidak dirasakannya.
Sekali menggerakkan lengan tangannva maka berputarlah tubuh Siauw Liang dan menyerang kakek itu dengan Hui-to dalam jurus Soan-hong-cui-long kearah dada dan kaki Pek-hi-siu-si.
Kali ini kakek berjubah putih itu sangat kewalahan melayani gerakan membadai dan luar biasa jurus-jurus yang dimainkan oleh Siauw Liang.
Jurus Soan-hong-cui-long yang sangat ganas dan luar biasa.
Seolah-olah tangan pendekar golok itu menjadi enam buah banyaknya.
Semuanya bergerak sangat cepat dan tampaklah kilatan yang menyilaukan mata.
Golok Hui-to yang tajamnya luar biasa itu tampak mengerikan dan ketika digerakkan dengan cepat terdengarlah suara deru yang luar biasa serta angin dingin yang menyayat kulit.
Walaupun tiada tersentuh kulit Pek-hi-siu-si oleh mata golok Hui-to namun angin sambarannya saja terasa pedih, sedangkan Siauw Liang bertambah nekad dan meningkatkan gerakan ilmu golok jurus yang luar biasa Soan-hong-cui-long dan mendesak terus kearah kakek berjubah putih.
Kini tampaklah kakek itu merasa kewalahan juga untuk mengadu kelincahan dan pernafasan dengan Siauw Liang yang masih muda itu.
1 12 Beberapa jurus lamanya kakek Pek-hi-siu-si melayani Siauw Liang dengan golok Hui-to kakek itu melayani kehebatan jurus-jurus ilmu golok Siauw Liang dengan tangan kosong.
Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh dan kelincahan kakek Pek-hi-siu-si.
Walaupun kakek itu adalah seorang kakek sakti yang telah menjagoi dunia persilatan selama tiga puluhan tahun lebih, namun baru kali ini dia mendapatkan musuh yang masih berusia muda tetapi sangat luar biasa ilmunya.
Biarpun sampai sekian lama belum dapat Siauw Liang menyentuh kulit Pek-bi siu-sin namun kakek yang telah tua itu mandi keringat juga.
Gerakan Siauw Liang bertambah hebat dan bagaikan ular melilit-lilit dengan suara menderu-deru dan angin dingin yang ditimbulkan oleh golok Hui-to.
Gerakan-gerakan cepat yang luar biasa itu bertambah mendesak Pek-hi-siu-si hingga kakek itu mandi keringat untuk menghindari gerakan ilmu golok lawannya.
Kakek berjubah putih yang menghadapl Siauw Liang dengan tangan itu dibuat sangat sibuk dengan menghindari bacokan-bacokan maut golok Hui-to.
Kakek itu mengegoskan tubuhnya kekanan dan kekiri, kadang-kadang mengebutkan lengan jubahnya dan membentur serangan lawan dengan kepalan tinju.
Namun Siauw Liang tampaknya bertambah marah dan menyerang dengan serangan yang dipengaruhi hawa kemarahan itu tanpa memperdulikan keadaan lawan bahkan bertekad untuk membinasakan lawannya walaupun kakek itu tanpa senjata.
Karena Siauw Liang menyerang dengan sangat nekad dan untuk menundukkan lawan yang telah nekad itu tidak mudah.
Maka kakek berjubah putih itu kini telah mengubah serangannya dan meloncat mundur tiga langkah kemudian mencabut pedang pusakanya.
Pedang yang mengeluarkan perbawa luar biasa itu mengejutkan Siauw Liang.
Namun tidak menggentarkan laki-laki yang nekad itu.
Malah Siauw Liang tertawa gembira menyaksikan lawannya juga menggunakan pedang.
Pek-hi-siu-si berdiri dengan kuda-kuda lutut melengkung dan memitingkan tubuh kearah lawan.
Kedua lengannya disilangkan didepan seolah-olah kakek itu sembunyi dibalik silangan lengan tangannya dari pandangan lawannya.
1 13 Sedangkan pedangnya yang bersinar kuning berkilauan itu cepat melindungi wajah keriput kakek berjubah putih.
Namun demikian kakek itu tetap tersenyum walaupun matanya yang bening tepat memancarkan sinar mengkilat kearah Siauw Liang.
Tiba-tiba Siauw Liang menggembor dan meloncat dibarengi dengan dia meluncur dan berdiri diatas tanah berbatu didasar jurang Liong-houw-ya itu Siauw Liang membacokkan golok Hui-to kearah tubuh Pek-hi-siu-si.
"Tranggg.....!"
Terdengar dua senjata tajam beradu dan tampak pijaran bunga api terpancar dari benturan senjata tajam itu.
Siauw Ling terkejut dan terlempar lima langkah wajahnya pucat.
Ternyata Pek-hi-siu-si mengangkat pedangnya melindungi bahu kanan dari bacokan Siauw Liang ketika Siauw Liang terlempar lima langkah kebelakang dan tampak terhuyung menahan rasa sakit dengan wajah pucat.
Maka kakek sakti itu telah meloncat mengubah sikap kuda-kudanya dan menghadang serangan Siauw Liang.
Kedua orang saudara Siauw Liang menahan nafas dan khawatir.
Sampai beberapa saat mereka menunggu loncatan maut Pek-hi-siu-si, namun kaiek itu masih tetap berdiri ditempatnya dengan melengkungkan lututnya dalam sikap kuda-kuda dan menantikan serangan lawan.
Siauw Liang setelah dapat menguasai diri dan menarik nafas dalam, tampaklah wajahnya dari sedikit demi sedikit telah menjadi merah menjalar sampai ke telinganya.
Detik-detik selanjutnya laki-laki yang berambut awut-awutan dan berjambang itu menggembor dan meloncat menyerang Pek-hi-siu-si.
Gemboran yang menggema dan keras itu menggetarkan pepohonan yang tumbuh di lereng jurang yang terjal namun kakek berjubah putih itu tetap berdiri 1 14 dengan tenang dan bersikap menunggu dengan kuda-kuda kokoh bagaikan melekat diatas tanah berbatu-batu dasar jurang Liong-houw-ya.
Ketika ujung golok Hui-to hampir menyentuh tenggorokan kakek itu, terdengarlah dentangan dua benda logam beradu.
"Trang!"
Terdengar dentangan nyaring dan Pek-hi-siu-si tampak menekuk lutut dan pedangnya menyentuh hulu golok Hui-to.
Seolah-olah golok itu terhisap dan melekat kuat sekali ke mata pedang Pek-hi-siu-si.
Bergetarlah tangan Siauw Liang.
Laki-laki keras kepala itu berusaha untuk menarik atau mendesak lawannya.
Namun sampai beberapa saat tanpa dapat bergerak bahkan tubuhnya bagaikan dialiri berjuta-juta semut dan menghantam dadanya hingga menyesakkan pernafasan.
Siauw Liang berusaha untuk melepaskan sedotan itu dengan mengerahkan tenaga singkang kearah goJok Hui-to.
Tampaklah laki-laki itu wajahnya menjadi tegang dan dlsusul dengan bintik-bintik keringat di wajahnya.
Namun Pek-hi-siu-si tetap tenang dan tersenyum menghadapi Siauw Liang yang tegang itu.
Saat itu baik Ji Han Su maupun Pek Giok Bwee menjadi tegang juga, mereka menahan nafas khawatir akan keselamatan saudaranya.
Namun mereka merasa heran juga, ternyata kakek berjubah putih yang sukar diduga pikirannya itu tidak bertindak lebih lanjut.
Dalam keadaan Siauw Liang yang tidak berdaya itu sebenarnya mudah untuk membinasakan, namun diluar dugaan ternyata kakek itu hanya tersenyum dan ketika tangan Siauw Liang bergetar hebat dan wajah laki-laki itu tampak pucat tiba-tiba terdengar jeritan bayi melengking dan mengejutkan semua yang hadir di jurang Liong-houw-ya.
Ji Han Su dan Pek Giok Bwee meloncat menghampiri datangnya suara yang ternyata bayi dalam pondongan laki-laki malang itu, sedangkan Iaki-laki yang luka parah itu telah menggeletak.
Ketika Ji Han Su membalikkan tubuh laki-laki itu ternyata telah binasa dengan mata masih melotot.
Saat itu juga Siauw Liang dan Pek-hi-siu-si telah berada disisi laki-laki yang menggeletak, sedangkan Pek Giok Bwee langsung menyambar tubuh bayi yang baru berumur sebulan itu dan sesaat bayi itu masih menjerit menangis.
Ketika dalam pondongan Pek Giok Bwee dan dihibur dengan kemesraan seorang ibu, lama kelamaan tangis bayi itu menjadi reda.
Sedang Ji Han Su 1 15 berlutut mayat laki-laki itu dan memejamkan kedua mata yang terbalik nanar.
Tampaknya sangat mengharukan, dari mulut dan hidungnya masih tampak mengalir darah segar.
Pek Giok Bwee tampak sangat sayang dengan bayi yang montok dan sepasang matanya yang sangat jeli dengan kulit putih dan bersih.
Maka dengan diayun-ayunkan gendongan bayi itu kemudian bayi itupun terdiam dari tangisnya.
Ji Han Su dan Pek Giok Bwee telah menjadi suami isteri selama tiga tahun dengan penuh kemesraaan, namun mereka belum dikaruniai putra, apakah mereka telah berjodoh untuk mengangkat putera saat itu, dengan diketemukan bayi yang telah ditinggalkan mati kedua orang tuanya itu?
Memang dunia ini penuh hal-hal yang luar biasa dan silih berganti.
Kejadian-kejadian yang tidak terduga-duga dapat terjadi dengan tiba-tiba, bahkan tanpa direncana akan terjadi sesuatu.
Pek Giok Bwee berpaling dan sepasang matanya menatap mata Ji Han Su.
Sorotan mata wanita muda dan jelita itu sudah cukup berarti bagi Ji Han Su.
Jika mereka telah memahami maksud satu dan lainnya, kiranya hanya dengan sorot mata saja cukup pengganti seribu patah kata yang terucapkan.
Maka mengertilah Ji Han Su akan maksud isterinya yang tercinta itu, laki-laki yang berwajah halus itu hanya tersenyum sebagai jawaban dan memahami maksud Pek Giok Bwee.
Sedangkan Siauw Liang membalikkan tubuhnya menghadap kepada kakek berjubah putih atau Pek-hi-siu-si yang sudah berdiri lagi diatas batu besar yang tadi, diatas batu besar itu Pek-hi-siu-si tampak bersedakep sambil tersenyum-senyum memandang kearah Siauw Liang.
"He Pek-hi-siu-si ! Kini ayah bayi itu telah binasa ! Apa yang kau perbuat terhadap bayi yang malang itu ?!"
Seru Siauw Liang dengan mata berapi-api sambil menuding kearah bayi yang dalam gendongan Pek Giok Bwee.
Tetapi kakek sakti berjubah putih atau Pek-hi-siu-si hanya tersenyum dan memandang dengan tenang kearah Siauw Liang, seolah-olah kakek itu tidak mendengar seruan Siauw Liang.
1 16 Saat itu Siauw Liang sudah tidak dapat menahan kegusarannya lagi.
Laki-laki yang berangasan itu menatap mata Pek-hi-siu-si dengan pandang mata berapi-api karena kegusaran dan akan membentak.
Tetapi Pek Giok Bwee telah melangkah maju.
"Rupanya Pek-hi-siu-si tidak merasa kasihan dengan bayi yang malang melintang dan tidak berdosa ini. Kita sampai hati menyaksikan bayi ditelantarkan dan menderita. Maka jika kau orangtua merasa sungkan untuk merawat bayi ini seperti permintaan dari ayah bayi ini, maka kami Sin-ciu-sam-kiat yang akan merawatnya. Hanya sayang sekali bahwa setelah peristiwa ini, selanjutnya kau tak pantas lagi dipanggil dengan Pek-hi-siu-si dan orang-orang di kalangan Kang-ouw....."
Seru Pek Giok Bwee dengan mata menyala bening dan sepasang bibir yang tipis merah jambu, tetapi kata-kata itu terputus sebelum selesai terucapkan karena Pek-hi-siu-si memberikan isyarat kepada wanita cantik itu untuk berhenti berbicara.
Kemudian terdengar bentakan kakek itu dengan suara lantang.
"Apakah kalian tahu, mengapa aku menjadi sungkan untuk mengangkat bocah itu menjadi calon muridku? Apakah kalian juga tahu siapakah musuh besar bocah itu?"
Seru Pek-hi-siu-si memberondong dengan nada gusar.
Kemudian diam menunggu jawaban dari ketiga pendekar yang berdiri saling berpandangan dihadapan kakek itu.
Tetapi ketiga orang Sin-ciu-sam-kiat tetap membisu.
Mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Dengan sinar mata hitam dan tajam kakek sakti berjubah putih itu memandang mereka.
Kemudian terdengar suara kakek itu lagi.
"Aku orang tua sebenarnya bukannya tidak sudi untuk menerima bayi ini menjadi calon muridku, tetapi aku tidak sudi kelak mendengar dan menyaksikan dia binasa ditangan musuhnya. Padahal aku telah bersusah payah membimbing dan melatih ilmu padanya....!"
Seru Pek-hi-siu-si dengan suara datar.
Kemudian kakek itu melirik lagi kepada ketiga pendekar yang berdiri saling berpandangan dihadapannya.
Ketiga pendekar itu tidak paham dengan maksud kakek sakti itu.
Mengapa justru kakek itu menceriterakan semuanya itu kepada mereka padahal mereka 1 17 telah menyaksikan kehebatan ilmu silat dan ilmu pedang Pek-hi-siu-si.
Apalagi telah menyaksikan jurus sakti Bo-kit-sin-kong atau tenaga dalam sakti tanpa tanding, yang ternyata telah mampu dengan mudah menahan tekanan bacokan golok Siauw Liang.
Pula dengan ilmu pedag Lik-siang-kiam-hoat atau ilmu pedang yang benar-benar mukjizat yang telah berhasil melumpuhkan permainan golok Siauw Liang dengan mudah.
Kedua jurus ilmu pedang dan sinkang itu yang telah berhasil mengangkat derajat kakek sakti Pek-hi-siu-si dikalangan Kang-ouw sebagai pendekar nomor satu yang tak terkalahkan selama tiga puluhan tahun.
Sesaat kemudian Ji Han Su melangkah dua tindak kedepan dihadapan Pek-hi-siu-si berdiri dan pemimpin Sin-ciu-sam-kiat menghormat dengan membongkokkan tubuh kearah kakek sakti itu.
"Kita sudah mendengar nama besar dan keluhuran budi Pek-hi-siu-si dikalangan para pendekar baik dari kalangan putih maupun hitam. Tetapi jika....."
Seru Ji-Han Su dengan suara mendatar dan sopan. Tetapi kata-kata itu tidak diteruskan karena dipotong oleh Siauw Liang.
"Twako!"
Seru Siauw Liang dengan suara keras memotong.
"Jangan tanya panjang lebar lagi! Kita ingin tahu siapakah sebenarnya musuh besar bocah ini kelak yang begitu meragukan Pek-hi-siu-si akan kemampuannya. Padahal Pek-hi-siu-si telah menjagoi dunia persilatan nomor satu dikolong langit, tetapi masih merasa khawatir juga....."
Seru Siauw Liang dengan nada mencibir dan gusar.
Mendengar kata-kata yang kurang enak itu Pek-hi-siu-si bukannya marah atau tidak memperlihatkan kegusaran hatinya.
Wajah kakek itu tetap tenang dan tersenyum serta mengelus-elus janggutnya dan matanya yang bersinar tajam itu memandang tajam kearah Siauw Liang.
"Hemm...... kalau kalian mendesak padaku untuk memberitahukan musuh besar bocah ini yang sangat kutakuti itu, baiklah..."
Seru kakek berjubah putih itu dengan suara datar dan sabar.
Sekali lagi dipandangnya wajah ketiga pendekar yang berdiri dihadapannya dengan sinar mata tajam dan sejuk.
Ketiga orang itupun memandang Pek-hi-siu-si dengan keinginan yang mendesak dan tidak sabar.
Tiba-tiba Pek-hi-siu-si 1 18 menundingkan jari telunjuk tangan kanan kearah langit.
Dimana saat itu tampak bulan sabit yang baru saja ditinggalkan oleh awan.
"Ciam Gwat !"
Seru Siauw Ling tanpa terasa dan setelah itu dia membisu menundukkan wajahnya menatap pandang kearah batu-batu.
Ji Han Su dan Pek Giok Bwee juga terperanjat ketika mendengar seruan Siauw Liang menyebut "Ciam Gwat"
Tadi.
Ciam Gwat atau bulan sabit dikalangan persilatan mempunyai arti tersendiri.
Bukan dari segi keindahannya yang syahdu.
Tetapi Ciam Gwat adalah gelar seorang pendekar wanita yang maha sakti ilmu silatnya lagi pula mempunyai sifat ganas dan keji.
Sejenak kemudian Pek Giok Bwee berpaling kearah Pek-hi-siu-si, sedangkan bayi dalam pondongan wanita jelita itu telah tertidur dengan tenangnya.
"Kita tidak menghiraukan tentang musuh besar bayi ini, juga kita tidak merasa gentar akan kesaktian dan kehebatan musuh besar bocah ini. Tetapi kita telah bertekad untuk memelihara bocah ini dan akan kita didik segala macam ilmu yang kita miiliki. Kita tidak ingin menyaksikan bayi ini terlantar di jurang ganas ini, sedangkan urusan dikemudian hari bukan ditangan kita...."
Seru Pek Giok Bwee dengan suara lancar dan melengking bersemangat, serta berkali-kali menyaksikan wajah bayi yang malang dan kini telah tertidur dalam pondongannya itu.
Kemudian Pek Giok Bwee berpaling kepada Ji Han Su dan Siauw Liang dengan kilatan sudut matanya sambil berseru "Mari kita berlalu dari jurang ini!"
"Sabar"
Seru Pek-hi-siu-si sambil mengangkat tangan kanan kearah mereka bertiga.
"Sebenarnya aku telah mempunyai sebuah rencana untuk memelihara bocah itu, baiklah kalian pelihara terlebih dahulu bocah itu dengan baik dilembah telaga Cui-ouw, sepuluh tahun lagi aku akan datang dan melanjutkan mendidiknya..!"
Seru Pek-hi-siu-si dengan suara datar dan bersungguh-sungguh.
Setelah selesai dengan kata-katanya itu dia mengelus janggutnya dan memasukkan tangan kiri kedalam saku jubahnya, keningnya berkerut seolah-olah mengingat sesuatu.
Mendengar penjelasan itu ketiga Sin-ciu-sam-kiat tercengang.
Mereka saling berrpandangan dan beralih memandang Pek-hi-siu-si dengan sorot mata heran 1 19 karena baru saja kakek berjubah putih itu menyatakan bahwa dia tidak sudi memelihara bayi itu, mengapa sekarang dia telah berubah ?
"Menurut pendapatmu, kita bertiga bersama memelihara bayi ini.
Kemudian kaupun akan datang melanjutkan mendidik bocah itu dalam ilmu silat?"
Seru Ji Han Su dengan suara datar dan gembira.
Pek-hi-siu-si menganggukkan kepala dan tersenyum.
kemudian menyambut dengan kata-kata pula "ya, itupun boleh, hanya aku yang sudah tua bangka ini merasa khawatir, apakah masih sempat menurunkan ilmu silatku pada bocah itu."
Gumam kakek berjubah putih dengan suara lirih dan matanya berkilat memandang ke arah Pek Giok Bwee yang menggendong bayi malang itu.
"Haaa-haaa kau ini betul-betul sangat cerdik! Kau sengaja menjebak kita dan kau orang tua ternyata telah berhasil. Tak usahlah kau khawatir akan usiamu, karena usia tak dapat dijadikan naungan Thian!"
Seru Ji Han Su dengan suara mendatar dan terdengar cetusan rasa gembira dan bersahabat, walaupun tidak menghilangkan hormatnya kepada kakek itu.
Pek-hi-siu-si tersenyum mendengarkan penuturan itu.
Dia merasa gembira dan tangan kirinya yang sejak dimasakkan kedalam saku jubah itu telah dikeluarkannya dan kakek menggenggam sesuatu benda.
"Kitab kecil ini adalah sebuah catatan tentang kelahiran bayi yang berada dltanganmu itu"
Seru Pek-hi-siu-si sambil memandang kearah Pek Giok Bwee serta memperlihatkan kitab kecil yang berada dalam genggaman tangan kiri."
Bayi itu dilahirkan dari keluarga Tong bernama Kiam Ciu.
Ayah bayi yang malang itu bernama Kim Seng dengan julukan Kun-tiat (sitinju besi) yang terkenal dikalangan persilatan pada masa-masa puluhan tahun yang lalu"
Seru Pek-hi-siu-si seolah-olah menerawang pandangnya jauh kedepan. Sedangkan ketiga Shin-siu-sam-kiat bagaikan terpaku.
"Ohh Kun tiat...."
Guman Ji Han Su dan mereka memandang kearah Pek Giok Bwee. Pek-hi-siu-si tersenyum menyaksikan semuanya iu. Kemudian melanjutkan kata-katanya dengan suara sabar dan penuh bijaksana.
"Pada dewasa itu Tong Kim Seng atau Kun tiat pernah berkali-kali datang berkunjung kekediamanku, kemudian aku mengetahui bahwa dia telah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Sepuluh tahun aku tidak mendengar beritanya lagi, tiba-tiba kini dia telah muncul dan kudengar kabar bahwa semua keluarganya telah binasa. Keluarganya yang terdiri dari lima orang anak dan isterinya telah binasa. Tinggal bayi yang berumur sebulan itu yang selamat, atau berhasil diselamatkan."
Seru kakek itu dengan suara penuh keharuan.
Pandangan mata kakek berjubah putih itu kosong menerawang ke langit.
Hatinya sangat terharu, sedangkan ketiga bersaudara Sin-ciu-sam-kiat tidak berani mengucapkan sepatah katapun.
"Hemmm.....musuh besar bayi itu mempunyai ilmu silat yang luar biasa hebatnya. Jika kita berempat mendidik bocah itu dengan tekun dan bersungguh-sungguh serta penuh kasih sayang, aku yakin bahwa kelak bocah itu akan menjadi seorang pemuda yang luar biasa. Aku telah minta kepada kalian untuk merawat bayi itu, karena aku yang sudah tua usia ini tidak dapat merawat bayi yang baru berusia sebulan itu. Aku belum mengundurkan diri dari dunia persilatan karena masih banyak tugas-tugasku yang harus kuselesaikan Oleh karena itu...."
Seru Pek-hi-siu-si dengan lancar, tetapi sebelum kata-kata itu selesai terucapkan telah disambut oleh Siauw Liang.
"Sudahlah!"
Seru Siauw Liang dengan suara mendongkol.
"jika rencanamu memang tegitu, mengapa tidak sedari tadi kau katakan ?!"
"Hemmm...."
Hanya itu sambung Pek-hi-siu-si sambil tersenyum.
"Aku sudah terlanjur turun tangan dan mengadu kekuatan dan kekerasan tulang kekebalan kulit. Baiklah kelak aku masih akan mengadakan perhitungan denganmu?"
Seru Siauw Liang.
Walaupun suaranya kasar dan kedengarannya seperti marah, namun ternyata kata-kata itu diucapkan dengan selingan senyuman yang bertambah melebar, kemudian terdengar tawa laki-laki berangasan itu.
Menyaksikan hal itu Pek-hi-siu-si turut pula tertawa dan dengan suara tawa itulah berarti dia telah mengikat hubungan lebih erat dengan ketiga Sin-ciu-sam-kiat, 1 21
"Maaf jika kita bertindak agak Iancang, kami Shin-chiu-sa-kiat menyatakan hormat setinggi-tingginya kepadamu dan dengan jalan ini aku berjanji akan memelihara dan merawat bocah ini dengan baik."
Seru Ji Han Su dengan membongkok memberi hormat serta dengan suara penuh hati-hati.
"Akupun berjanji akan mewariskan ilmu silatku padanya"
Seru kakek berjubah putih dengan tersenyum tetapi nada suaranya bersungguh-sungguh dan didengarkan oleh ketiga Sin-ciu-sam-kiat dengan penuh perhatian.
Mereka menunduk dan memperhatikan kata-kata yang terulangkan oleh Pek-hi-siu-si sebagai seorarg sakti dari golongan tua.
"Aku telah mengetahui bahwa kalian tinggal di suatu tempat di lembah telaga Cui-ouw. Sekarang aku masih mempunyai banyak urusan dan tak dapat menyertai kalian bertiga, Tetapi setelah lewat sepuluh tahun aku berjanji akan menemui kalian di lembah telaga Cui-ouw. Aku mengharapkan semoga kalian dapat memelihara bayi itu dengan baik"
Sambung Pek-hi-siu-si. Kemudian kakek itu menunjuk kearah mayat Tong Kim Seng yang masih menggeletak diatas tanah berbatu di dasar jurang Liong-houw-ya.
"Dia telah terluka parah dalam tubuhnya, telah disadarinya bahwa dirinya akan binasa. Hanya sayangnya dia harus meninggalkan dunia yang penuh lelakon ini dengan meninggalkan seorang bayi yang masih amat kecil dan baru berumur satu bulan.... sungguh suatu kejadian yang sangat memilukan hati.... Hemmm. Marilah kalian bantu dulu untuk mengubur jenazah Tong Kim Seng dengan seksama"
Seru kakek berjubah putih dengan kerutkan kening dan meloncat turun dari atas batu besar menghampiri tubuh Tong Kim Seng yang telah lama menggeletak didasar jurang itu.
Setelah mengadakan upacara sembahyang secukupnya didepan kuburan Tong Kim Seng, maka Pek-hi-siu-si mengawasi keatas dan tampaklah langit sudah mulai terang menjelang fajar.
Kakek itu mengangkat kedua tangannya dan mengembangkan jari jemari kedua belah tangan serta memberi hormat kepada ketiga Sin-ciu-sam-kiat.
"Nah, aku harus pergi sekarang! Selamat tinggal dan sampai kita bertemu kembali kelak...."
Seru Pek-hi-siu-si.
Bersamaan dengan berakhirnya kata-kata itu dia telah berkelebat bagaikan terbang dan menghilang kebalik gunung.
1 22 Ketiga bersaudara Sin-ciu-sam-kiat memandang kearah menghilangnya kakek Pek-hi-siu-si.
Mereka merasa kagum atas kehebatan kakek itu.
Tanpa sengaja mereka serentak berseru memuji.
"Tidak mengherankan kalau dia disegani di rimba persilatan sebagai tokoh tua yang maha sakti. Dengan menyaksikan gerakannya itu saja kita telah dapat mengukur betapa tingginya ilmu meringankan tubuh Pek-hi-siu-si. Marilah kita pun harus cepat-cepat berlalu dari sini !"
Seru Siauw Liang sambil memutar tubuh kearah Ji Han Su.
Ji Hau Su menganggukan kepala dan menghampiri Pek Giok Bwee yang masih menggendong bocah malang Tong Kiam Cu yang telah tertidur pulas.
Dengan langkah pasti mereka meninggalkan dasar jurang Liong-houw-ya.
Paling belakang mengiringkan kedua suami isteri itu adalah Siauw Liang, sedangkan Pek Giok Bwee tampak berbabagia dan senang sekali mendapat seorang bayi yang bagus dan montok itu.
Ditengah jalan berkali-kali wanita cantik itu menciumi pipi bayi dalam gendongannya itu.
Namun bayi itu dengan tenang dan pulasnya tetap memejamkan mata dan tersenyum-senyum bibirnya yang tipis merah dan mungil itu.
Ketika itu didasar jurang Liong-houw-ya menjadi sepi.
Hanya desir air gemericik dan desau angin yang meniup daun-daun cemara mengiris suasana sepi saat itu.
Disana sini masih tampak darah membeku, ialah darah Tong Kim Seng yang telah binasa dan membisu di dasar jurang Liong-houw-ya.
Perubahan alam begitu tertentu dan tepat pada saatnya.
Maka perlahan-lahan tetapi pasti bulan sabit telah pudar dan tenggelam di cakrawala Barat.
Kemudian menyusul sinar merah jambu di ufuk Timur.
Mentari pagi telah muncul menggantikan suasaaa malam yang gelap.
Demikianpun kehidupan manusia dari kegelapan berganti keterangan.
Dari sedih berganti gembira, Silih berganti dan tidaklah layak berputus asa pada saat-saat menghadapi suatu perkara dan kesedihan.
***** Tahun-tahun lelah berlalu dengan cepatnya.
Semenjak pertemuan ketiga saudara Sin-ciu-sam-kiat dengan Pek-hi-siu-si di Jurang Liong-houw-ya kini 1 23 telah berlalu dengan cepatnya.
Tahu-tahu telah mencapai sepuluh kali akhir musim semi.
Sinar matahari menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat.
Burung-burung berkicauan diatas pepohonan yang tumbuh disekitar telaga.
Diatas air lelaga yang bening itu tampak bunga-bunga teratai yang beraneka warna.
Sedangkan sinar matahari yang menimpa air telaga dipantulkan kemilau dan memantulkan warna-warna sangat indah.
Demikianlah pemandaagan di telaga Cui-ouw pada akhir musim semi dan permulaan musim panas.
Pemandangan yang sangat indah itu dapat mengenaskan rasa hanyut menerawang ke alam kenangan yang sukar dilukiskan.
Suasana yang indah dan syahdu itu dengan tiba-tiba dipecahkan oleh sesuatu keributan.
Terdengarlah bentakan-bentakan dan tawa dari atas air telaga, ternyata diatas bunga-bunga teratai diatas air telaga itu telah menjadi suatu yang luar biasa.
"Hayo larilah, kau akan lari kemana sekarang ?"
Seru seorang bocah membentak sambil meloncat dari daun teratai yang satu keatas teratal yang lain diatas air telaga bening itu.
Tetapi seorang gadis cilik yang cantik telah meloncat sangat indahnya dan mendarat dengan sangat lunak ditepi telaga.
Mereka tertawa sangat gcmbira.
Ternyata kedua bocah itu sedang bersendau gurau dan melatih ilmu merirgankan tubuh atau Ging-kang.
Dengan sangat gembira mereka berdua telah mengisi kesunyian disekitar telaga Cui-ouw.
Seperti juga burung-burung yang berloncatan diatas dahan-dahan pohon Liu disekitar telaga itu.
Bocah laki-laki yang berusia sekira sepuluh tahun, wajahnya cerah dan matanya bersinar luar biasa.
Dengan wajah putih bersih dan alis membentuk golok lebar.
Sedangkan bocah perempuan yang meloncat ke darat itu adalah bocah yang sangat jelita dan halus kulitnya, pipinya montok dengan rambut hitam kelam dan panjang.
Sepasang bibirnya tipis dan merah jambu selalu basah.
Matanyapun berkilauan bagaikan kilatan golok jatuh tertimpa sinar surya.
Bocah jelita itu berumur tujuh tahun.
Mereka berdua asyik berlatih dan bercanda.
Berloncatan dan lari mengitari telaga Cui-ouw.
Bahkan kadang-kadang mereka berloncatan diatas daun teratai 1 24 diatas telaga.
Gerakan-gerakan yang mereka lakukan sangat indah dan mempesonakan.
Kalau dibandingkan dengan umur mereka yang masih sangat muda itu, sungguh sangat luar biasa.
Kedua bocah itu adalah kakak beradik, walaupun mereka bergembira bukan semata-mata hanya bersenang-senang bermain-main di hari cerah.
Namun mereka sebenarnya sedang berlatih ilmu meringankan tubuh.
Sikakak yang lebih tua tiga tahun itu telah menyaksikan adiknya meloncat kedararan.
Maka dengan sekali genjot dibarengi sebuah pekikan melengking tahu-tahu bocah laki-laki itu telah melayang dengan jurus Cian-li-piauw-biauw atau melayang diangkasa sepanjang seribu lie, dia mengejar dan berhasil menangkap adiknya itu.
"Kau telah menangkap diriku, itu tidak mengherankan dan tidak luar biasa"
Seru bocah jelita itu sambil memberengut dan mengibaskan lengan kiri yang digenggam oleh bocah laki-laki itu.
"karena .... karena koko telah banyak belajar terlebih dahulu kepada ibu. Lagipula kalau aku dapat melepaskan diri tentu kau menjadi gusar...."
Sambung gadis cilik dan jelita itu seraya cemberut.
Kakaknya tertawa dan terlihatlah dengan jelas-jelas sederetan gigi-giginya yang putih dan teratur bagaikan mutiara berderet diantara sepasang bibirnya yang tipis.
"Aku tak akan menjadi bergusar hati terhadap gadis cilik yang manis seperti kau..."
Seru kakaknya seraya melepaskan genggaman lengan adiknya dan tersenyum.
"Cihhhh...."
Sahut gadis cilik yang ayu itu sambil cemberut dan memalingkan wajahnya ke arah telaga.
"sudah pintar kau sekarang!"
Setelah mereka bertengkar dan berolok-olok itu akhirnya mereka berdua istirahat diatas sebuah batu dan rerumputan yang hijau dibawah batang pohon liu.
Bocah laki-laki itu menggigit-gigit batang rumput dan dipermainkan dimulutnya seraya matanya memandang jauh ke tengah-tengah telaga.
Sedang gadis cilik yang jelita itu memegang jari manisnya yang tampak dilingkari sebentuk cincin bersinar merah.
Sesaat gadis itu memandang cincin yang 1 25 melingkar dijari manisnya dengan senyuman yang manis sekali.
Kemudian tampaklah sepasang bibir gadis cilik itu bergerak.
"Cincin ini adalah pemberian ibu"
Seru gadis itu ketika diliriknya bocah laki-laki itu tampak memperhatikan cincin yang bersinar merah melingkar dijari manis adiknya.
"Ibu menceritakan padaku babwa cincin ini adalah peninggalan nenek dan selain diwariskan kepada anak perempuan, kecuali...."
Belum selesai kata-kata itu dipotong oleh kakaknya.
"Kecuali apa!"
Seru kakaknya.
"Kecuali bila tidak mempunyai anak perempuan"
Sambung adiknya menjelaskan.
"Oh...jadi kalau ibu tidak melahirkan kau maka cincin itu diberikan kepadaku bukan?"
Kata kakaknya sambil tersenyum.
"Kira-kira begitulah..."
Seru adiknya.
"aih.... ternyata ibu lebih cinta padaku, lebih sayang buktinya cincin ini diberikan padaku..."
"Tidak...tidak! Ibu menyayangi kita berdua sama besarnya. Kasih ibu kepada kita tidak berbeda-beda, buktinya kita berdua diajarksn ilmu yang sama dan sangat baik..."
Seru kakaknya dengan tegas dan memandang wajah adiknya dengan sinar mata penuh sayang seorang kakak.
Sedang kedua bocah itu asyik berbicara dan berdebat.
Tiba-tiba dikejutkan dengan suara ranting kering terpijak.
Kemudian d.susul dengan suara tawa yang mengejutkan.
Ketika kedua bocab itu berdiri dan berhimpitan tampaklah disamping mereka itu seorang kakek yang berwajah arif dan tenang.
Kakek itu berdiri tegap sambll mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang melambai-lambai ditiup angin musim panas.
"Ha... ha.. ha.. bocab, bocah yang baik dan pandai. Kalian rupanya kakak beradik yang lucu mengapakah kalian bertengkar ? Hemm...siapakah namamu anak-anak yang manis....?"
Seru kakek berjubah putih dan berjanggut panjang putih melambai-lambai.
"Aku Ji Tong Bwee dan ini kakaku bcrnama Ji Kiam Ciu..!"
Seru bocah jelita itu dengan berani dan tdak merasa sungkan-sungkan lagi.
Bocah itu berhenti sejenak karena ketika dia memperhatikan wajah kakek itu tampak 1 26 memperhatikan mereka berdua dengan sangat teliti dan mengherankan sekali.
Tetapi ketika diperhatikan bahwa kakek itu tampak kembali tersenyum maka Ji Tong Bwee melanjutkan kata-katanya.
"Aku belum pernah mengenal dan melihat kakek. mengapakah kakek menanyakan nama kami?"
Setelah terhenti kata-kata Ji Tong Bwee maka dengan mendadak kakaknya menarik tangan gadis itu dan akan diajaknya berlalu. Tetapi tangan kakek berjubah putih itu mencegahnya.
"Kakek, kita dapat segera berlalu dari tempat ini jika kita mau"
Seru Ji Kiam Ciu sambil melototkan matanya, tetapi yang menarik hati mengapa kakek mencegah kami ?!"
"Aku hanya ingin mengetahui sebetulnya kalian berdua ini anak siapa? Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu kalian berdua"
Sahut kakek itu dengan suara ramah dan tenang suaranya.
Tiba-tiba Ji Kiam Ciu telah meloncat tinggi sekali.
Bocah laki-laki itu bermaksud melarikan diri dan meloncati melalui atas kepala kakek itu.
Namun kakek itu dengan cepat sekali telah menggerakkan tangannya tahu-tahu Ji Kiam Ciu telah berada dalam dekapannya.
Bocah itu meronta dan kedua kakinya menendang-nendang.
Kakek berjubah putih hanya tertawa-tawa sambil memondong Ji Kiam Ciu yang meronta terus menerus dengan gerakan luar biasa.
Diam-diam bocah itu merasa cemas dan heran.
Ternyata kakek tua itu mempunyai gerakan luar biasa yang tidak terlihat oleh mata Ji Kiam Ciu.
Hanya tahu-tahu dia telah berada didalam dekapan kakek itu padahal menurut pendapatnya bahwa didunia ini orang yang telah dia kenal sangat lihay hanyalah ibu dan pamannya yang telah mampu mengalahkan ilmu bocah itu.
Tetapi kenyataannya kini dia harus berhadapan dengan kakek yang tampaknya sangat lemah itu ternyata mempunyai gerakan yang sangat cepat luar biasa.
Ji Kiam Ciu merasa kurang senang diperlakukan seperti itu dan dihalang-halangi maksudnya oleh sikakek berjubah putih itu.
Maka dengan berani bocah itu membentak.
"Jika kakek masih juga mencegah diriku maka aku terpaksa harus bertindak kurang ajar kepada kakek ...!"
Seru Ji Kiam Ciu dengan meronta dan kakek itu melepaskan pelukannya, hingga bocah laki-laki yang berani tetapi sopan itu 1 27 terlempar beberapa tombak dan dapat berdiri dengan sangat lunak diatas rerumputan yang halus.
Kakek berjubah putih yang kini sedang berhadapan dengan Ji Kiam Ciu dan Ji Tong Bwee dengan tenang dan tersenyum memandang kedua bocah itu.
Sambil mengelus-elus janggutnya yang panjang dan putih itu selalu matanya yang bersinar tenteram itu mengamati segala gerak-gerik Ji Kiam Ciu.
"Bocah manja, mengapa kau ingin memukulku?!"
Seru kakek itu dengan senyum yang mempesona.
"Apakah kau tahu aku ini siapa dan apakah ilmu silatmu sudah sedemikian lihaynya sehingga kau ingin mengukur kehebatan Ilmu silatku? Tetapi baiklah, majulah dan aku ingin mengukur sampai seberapa hebatnya ilmu pukulanmu....!"
Seru kakek berjenggot panjang itu sambil membongkok-bongkokkan tububnya dan kedua tangannya terbentang dengan jari-jemari terbentang pula.
Ji Kiam Ciu walaupun masih bocah berumur sepuluh tahun, namun dia adalah seorang bocah yang berani dan berjiwa satria.
Mendengar tantangan itu sebagai seorang satria pantang mundur, Maka dengan meloncat kedepan tahu-tahu bocah itu teJah berdiri dihadapan si kakek berjanggut putih.
Ji Kiam Ciu telah siap siaga dengan kuda-kuda miring dan sepasang lututnya melengkung tapi kuat melekat diatas tanah telaga.
Kedua tangannya mengepal tinju disisi tubuh dengan sikap siaga.
Ketlka diamatinya bahwa kakek berjenggot panjang itu dalam keadaan lengah maka sekali mengembor bocah itu telah meloncat mengirimkan tendangan dan pukulan beruntun silih berganti.
Gerakan bocah itu sangat lincah dan bagaikan tupai berloncatan sangat indah sekali.
Diam-diam kakek itu merasa kagu.m juga menyaksikan gerak indah dan hawa pukulan luar biasa.
Namun demikian kakek itupun dengan sangat tenang ternyata dapat luput dari segala serangan Ji Kiam Ciu.
Hanya angin pukulan yang lemah dapat terasa menyerempet lengan dan wajahnya.
Ji Kiam Ciu merasa gusar juga karena beberapa jurus telah berlalu, tiada sebuah pukulanpun yang berhasll mengenai lawannya.
Maka kini bocah itu mengikatkan ilmu pukulannya dengan meloncat mundur dua langkab kemudian 1 28 menyilangkan kedua lengannya di dada.
Ketika dia menarik kaki kanan digeser kebelakang seJangkah segeralah menggembor lantang dan meloncat dengan jurus Cui-siong-lok-hua menumbuk dada kakek berjanggut panjang dan putih didepannya.
Jurus Cui-siong-lok-hua atau angin tofan meniup bunga itu sesungguhnya sebuah ilmu yang luar biasa hebatrya.
Ilmu andalan Siauw Liang, pukulan itu kalau sudah diyakini benar mempunyai kehebatan yang luar biasa.
Apalagi tubuh manusia sedangkan gunung saja dapat bancur lebur kalau terkena pukulan itu.
Baru seorang bocah yang masih kecil tenaganya itu saja telah terasa perih serempetan angin pukulannya ke pipi kakek yang usilan itu.
Namun kakek itu bukannya terkejut mendapat kenyataan itu, malah dia tersenyum dan memuji.
"Bagus! BigusT' seru kakek itu seraya memutar tububnya menghadap kearah Ji Kiam Ciu yang baru saja menginjak tanah dari loncatannya. Ji Kiam Ciu begitu menginjak tanah segera memutar tubuh dan langsung menyerang kakek itu dengan kaki dan tangannya. Kemudian meloncat mundur menggeserkan kaki kanan dan sekali lagi mengirimkan pukulan dengan jurus Cui-siong-lok-hua kearah ulu hati kakek itu. Pukulan yang memerlukan tenaga hebat itu menarik tubuh bocah itu kedepan dan tahu-tahu tengkuknya terkena pukulan telapak tangan lawan. Ketika dia dapat menguasai diri kembali, kakek. itu telah lenyap dari hadapannya. Segeralah Ji Kiam Ciu memutar tubuh dan ketika dia melihat kelebatan tubuh kakek iiu segeralah dia menggembor. Maka bersamaan dengan suara gemboran melengking itu tampaklah Ji Kiam Ciu meloncat. Tanpa ragu-ragu dia mengirimkan dua pukulan sekaligus dalam jurus Liong-hong-hun-hui atau Naga dan Cenderawasih terbang berpisah. Jurus Liong-hong-hun-hui atau Naga dan Cendrawaaih terbang berpisah adalah sebuah jurus pukulan dua tinju berbareng untuk memukul dua lawan sekaligus. Serangan dengan jurus itu dilancarkan oleh Ji Kiam Ciu dengan hebat dan gencar sekali. Ternyata bocah itu hampir sempurna melatih ilmu pukulan yang luar biasa itu. Namun kakek berjanggot panjang dan putih itu memang bukan lawan Ji Kiam Ciu. Sekali pukulan yang bertenaga hebat itu telah telah mendekati ulu hati dia 1 29 sempat memiringkan tubuh dan ketika itu pula kakek aneh merasa kaget ternyata lambungnya hampir saja terkeca pukulan berikutnya.
"Luar biasal"
Seru kakek berjanggut putih itu sambil meloncat menghindari pukulan kembar yang luar biasa.
Berkibarlah ujung baju jubah kakek berjanggut panjang dan putih itu.
Ketika dia berhasil menghindari serangan beruntun kepalan tinju berputar bocah itu maka sempat pula orang tua itu memperhatikan kesungguhan Ji Kiam Ciu, si kakek itu mengelus janggutnya dan tersenyum.
Justeru pandangan mata dan senyuman kakek itu yarg membuat hati Ji Kiam Ciu menjadi bertambah penasaran.
Dengan loncatan pendek dan bersiaga serta melintangkan kedua lengannya didada.
Kiam Ciu menghadang didepan lawannya.
Dengan sinar mata mengkilat tajam diawasinya gerak-gerik aneh lawannya yang sudah tua.
Tampak dimata Kiam Ciu bahwa kakek.
itu sama sekali tidak mempunyai keistimewaan, namun pada saat-saat dia mengirimkan serangan baik tendangan maupun pukulan selalu dapat dihindari dengan cepat dan tidak terduga.
Keiika diketahuinya ada lubang kelengahan lawannya.
maka segeralah bocah iiu meloncat.
Loncatan itu ringan sekali dengan mengerahkan tumit kaki kanan kedepan mengarah tenggorokan lawan.
Ji Kiam Ciu mengirimkan tendangan dan pukulan dengan jurus Liong-hong-hun-hui dengan lebih hebat dan cepat.
"Bet-bet wut wut"
Terdengar suara pukulan bocah iiu menubruk sebuah benda dan angin pukulan mcndesak kearah kakek berjanggut.
Tetapi Kiam Ciu menjadi sangat terperanjat.
Karena kenyataannya pukulan tangannya serasa memukul benda berisi pasir.
Sangat berat dan dengan tidak terduga pukulan berikutnya ternyata menyambar tempat kosong.
Kiam Ciu terhuyung karena tekanan tenaganya sendiri, hampir saja pemuda cilik itu jatuh.
Namun dengan sebuah putaran tubuh yang sangat indah Kiam Ciu berhasil mengimbangi dan mengurangi tenaga dorong tububnya.
Ketika dia berhadapan dengan kakek itu kembali, maka tidak menunggu lawannya siap siaga lebib lanjut.
Menurut pendapat bocah cerdik itu, lebih baik dia mendahului 1 30 menyerang sebelum lawan dalam keadaan siap siaga.
Maka kini dia menggembor nyaring dan meloncat.
Limbungan tubuh bocah itu begitu tinggi dan seolah-olah terbang, sedangkan kakek itu memiringkan tubuhnya dan mengangkat tangan kanan keatas kearah mata kaki Kiam Ciu.
Ketika kepalan tinju kakek itu berbentur dengan mata kaki bocah cilik yang bandel dan terdengarlah sutra jeritan.
"Aduh !"
Seru jeritan tertahan meluncur dari mulut mungil Kiam Ciu.
Dengan memutar tubuh untuk mempercepat terjunnya bocah itu telah berdiri diatas tanah kemudian jatuh dan menggelundung kesamping.
Kakek itu menjadi heran dan terperanjat dengan perbuatan Kiam Ciu itu.
Betul-betul dia tidak tahu dengan ilmu Trenggiling itu Kiam Ciu berusaha mengelabui mata lawan dan sebelum kakek itu menadi sadar apa yang sedang dilakukan lawan, tahu-tahu bocah itu teiah meloncat berdiri dengan cepat dan langsung menyerang selangkah kakek itu dengan tendangan punggung kaki kanan.
"Bagus !"
Seru kakek itu untung dapat segera meloncat tinggi serta mengirimkan hantaman sisi tapak tangan kepunggung Kiam Ciu.
"Buk !"
Terdengar benda berat jatuh, bersamaan dengan kaki kakek itu telah memijak kemball diatas tanah berumput halus.
Ji Kiam Ciu adalah seorang anak pemberani dan keras lepala.
Walaupun dia terjatuh, jatuhnya tidak begitu keras namun tidak urung matanya berkunang-kunang dan sejenak kepalanya menjadi pening.
Anak itu telah bertekad tidak mau mengakui kalah melawan kakek berjubah putih.
Dia berusaha untuk berdiri.
Ketika dia telah berhasil berdiri kembali dan tanpa membetulkan pakaiannya yang awut-awutan dan kotor, karena didorong oleh amarah yang telah memuncak.
Maka Ji Kiam Ciu telah memasang kuda-kuda.
Bocah itu bermaksud menyerang lawannya dengan mempergunakan jurus Liong-hong-hun-hui atau Naga dan Cendrawasih terbang berpisah.
1 31 Terlihat kakinya telah menancap kokoh diatas tanah Dalam kuda-kuda sepasang kaki terpentang.
Kemudian menekuk lutut dan meloncat kearah Pek-hi-siu-si.
Bertepatan dengan loncatan itu tiba-tiba terdengar suara menegur dengan nada suara keras dan sangat berpengaruh terhadap bocah itu.
"Tahan ! Kiam Ciu ! Jangan kurang terhadap seorang Locianpwee !" (Bersambung
Jilid 2) 2 0 2 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 2 EGITU berbareng pula munculnya seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkumis tebal.
Kiam Ciu begitu melihat kehadiran laki-laki itu segera menarik kembali serangannya yang telah disalurkannya sepertiga, namun tak urung dia terbanting.
Pek-hi-siu-si waspada, dengan tangkas menyambar tubuh Kiam Ciu yang telah limbung dan terhantam oleh kekuatannya sendiri yang tadi telah dipersiapkan untuk menyerang kakek itu.
"Ha...ha....ha.....anak bagus"
Seru Pek-hi-siu-si dengan meletakkan kembali tubuh anak itu diatas tanah dan sekilas dipandanginya anak itu sambil tersenyum dan mata bersinar-sinar.
Sedangkan Kiam Ciu menunduk dengan wajah bersemu merah.
Kemudian menghormat orang yang menegurnya yang tiada lain adalah ayahnya ialah Ji Han Su pemimpin ketiga Sin-ciu-sam-kiat ialah sitangan baja.
Ketika Ji Han Su berada didekat Pek-hi-siu-si segara membongkok memberi hormat.
Yang juga disambut oleh kakek berjubah putih dan berjanggut panjang seraya tersenyum.
"Tayhiap mohon dimaaf atas kelancangan bocah ini. Rupa-rupanya waktu berlalu sangat pesat sekali. Hingga tak terasa sepuluh tahun telah berlalu. Kedua bocah ini adalak Kiam Ciu dan yang perempuan ini adatah Tong Bwee kini mereka telah meningkat menjadi besar dan bertambah nakal, hingga dengan orang tua berani kurang ajar! sekali lagi aku Han Su mohon pada Tayhiap sudilah untuk memaafkan atas kekurang ajaran Kiam Ciu !"
Seru Han Su sambil menghormat.
"Ha......ha......ha! Memang waktu berlalu sangat cepatnya dan ternyata orang she Ji masih tidak mengubah adatnya yang suka menghormat dan merendah hati. Bertambah tua bertambah ganteng pula dan kini karena kumismu itu tampak lebih seram dan lebih jantan ha....ha....ha!"
Seru Pek-hi-siu-si. B 2 2
"Ah Tayhiap berolok-olok!"
Seru Ji Han Su tampak menutup kumisnya.
"Janganlah kau berkata yang bukan-bukan, aku sengaja datang kemari untuk memenuhi janjiku... bocah itu tidak bersalah, akulah yang bersa)ah karena aku telah menggodanya sehingga terjadi pertarungan yang hebat tadi. Haa...haa...ha"
Seru Pek-hi-siu-si sambil memperhatikan Kiam Ciu.
Kiam Ciu menundukkan kepala dan wajahnya bersemu merah karena merasa malu.
Kakek itu melangkah menghampiri Kiam Ciu dan memegang bahu anak itu kemudian menepuknya.
Tampaklah Pek-hi-siu-si tersenyum pula dan matanya yang bening itu tampak bersinar bergairah.
Sekilas Ji Han Su dapat menyaksikan keadaan itu.
Walaupun bagaimana dada si Tangan Baja bergetar juga.
"Tayhiap aku yang bodoh mohon maaf dan petunjuk !"
Serunya sambil menghormat.
"Memang waktu sepuluh tahun telah berlalu sangat pesat, Namun aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri aku puas sekali bahwa hasil yang dicapainya oleh kedua bocah itu sangat bagus"
Seru kakek aneh berjubah putih Pek-hi-siu-si dan selanjutnya sambil tersenyum meneruskan kata-katanya.
"aku mengucapkan selamat kepada kalian berdua suami isteri yang telah dikaruniai seorang anak yang jelita ini !". Sehabis berkata begitu Pek-hi-siu-si memandang kearah Kiam Ciu dan tersenyum. Seolah-olah kakek itu telah melihat kembali gambaran sepuluh tahun yang lalu di dasar jurang Liong-houw-ya dimana pada masa itu seorang bayi mungil berumur sebulan telah menggelepar-gelepar menangis, sedang ayahnya telah binasa dengan sangat mengerikan. Kini dihadapannya telah berdiri seorang bocah, calon pendekar yang luar biasa hebatnya, seorang bocah yang sangai berbakat dan budinya sangat menarik. Rupa-rupanya Pek Giok Bwee telah mendidik bocah itu dengan baik. Lalu dengan tersenyum dan mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang kakek itu berseru.
"Memang tangan wanita lembut dan dingin makhluk yang halus dan penuh dengan curahan kasih sayang, Jika sepuluh tahun yang lalu aku tidak menemukan kalian, hemmm ... aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat saat 2 3 itu dan apa akan jadinya. Sekarang kenyataannya aku telah merasa puas dan bergembira sekali menyaksikan kehebatan bocah itu....."
Seru Pek-hi-siu-si sambil melirik kearah Kiam Ciu dengan senyuman yang lucu lekali.
Tampaklah kedua bocah itu tertawa senang juga dan mereka memandang kearah kedua orang tua dan pamannya yang juga tersenyum-senyum gembira dalam pertemuan itu.
Maka tahulah kedua bocah itu kini bahwa kakek itu adalah Pek-hi-siu-si yang selalu diceriterakan ayahnya maupun ibunya dan juga oleh pamannya.
"Ayo kalian berdua menghaturkan hormat kepada Twa-supee (paman guru yang tertua) !"
Seru Ji Han Su memerintahkan kedua anaknya dengan suara penub kasih sayang dan memegang bahu kedua anaknya itu.
Kiam Ciu merasa heran menyaksikan ayahnya begiiu sangat megghormati kakek aneh itu.
Maka kedua anak itupun tersipu sedangkan, Kiam Ciu yang lebih tua telah berlutut dihadapan Pek-hi-siu-si serta menjura.
"Aku Ji Kiam Ciu yang bodoh, memberikan hormat dihadapan Twa-supee. Aku mohon diampuni karena telah berani kurang ajar", seru Kiam Ciu dengan suara penuh hormat kepada Pek-hi-siu-si. Ji Tong Bwee juga berlutut disisi Kiam Ciu, tetapi gadis cilik ini tidak mengucapkan kata-kata sepatahpun.
"Baik-baik, kau baik sekali ... Hemmmm ..bangkitlah!"
Seru Pek-hi-siu-si sambil mengusap kepala Kiam Ciu dan Tong Bwee bergantian.
Dada kakek itu tergoncang juga menahan keharuan itu tetapi dia adalah tokoh sakti yang sudah mumpuni, maka dengan segera kakek itu dapat mengusir kegetiran dan keterharuan yang saling menggempur dadanya itu.
Walaupun kedua bocah itu telah mendengar perintah Pek-hi-siu-si yang terucapkan tegas dan datar itu, namun kedua bocah itu tidak berani bangkit berdiri dan beranjak dari tempat itu.
Mereka tetap masih berlutut dihadapan Pek-hi-siu-si dan kepala mereka masih tertunduk.
Menyaksikan hal itu yang hadir ditempat itu tersenyum, mereka tersenyum dalam angan pikiran masing-masing.
"Sudahlah kalian sudah disuruh bangkit berdiri !"
Seru Ji Han Su.
2 4 Kedua bocah itu telah berdiri dan mereka diajak oleh Siauw Liang dan Pek Giok Bwee mendahului pulang, sedangkan Ji Han Su dan Pek-hi-siu-si masih bercakap-cakap di tepi telaga yang berhawa segar itu.
"Kau telah berhasil memelihara dan mendidik anak itu dengan baik sekali. Aku merasa sangat puas sekali.....uh.....uh......"
Belum lagi kata-kata kakek itu selesai terucapkan tiba-tiba terbatuk sambil mengerutkan keningnya.
"Twako..... kita jarang bertemu, tetapi kini aku mengharapkan sudilah tetap tinggal bersama kami. Sehingga kami dapat rmemelihara kesehatanmu karena setelah kudengar Twako tadi terbatuk-batuk itu yakin bahwa twako menderita luka dalam yang mengendap"
Seru Ji Han Su dengan sangat berhati-hati penuh harapan. Saat itu Pek-hi-siu-si mmandaag Ji Han Su sambii tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Penglihatanmu memang tajam sekali dan kau menduga dengan tepat. Aku memang menderita luka dalam, mujur sekali bahwa aku telah menguasai ilmu Bo-kit-sin-kong sehingga dapat kuatasi pergolakan didalam tubuhku karena pukulan tenaga dalam yang saling membentur. Jika engkau hanya mengandalkan obat-obatan saja mungkin aku telah binasa karena luka dalam ini! Aku masih bersyukur dengan demikian masih dapat menepati janjiku untuk datang ketempat ini....!"
Seru Pek-hi-siu-si dengan suara mendatar dan bibirnya tetap tersenyum, tiada terlupalan pula mengelus-elus janggutya yang panjang itu.
"Apakah luka dalam tubuh twako itu sudah sembuh seluruhnya?"
Seru Ji Han Su sambil mengajak kakek itu untuk berjalan menuju kepondoknya seraya berpaling kepada kakek yang berjalan perlahan-lahan.
"Sibetulnya luka ini hebat sekali"
Sahut Pek-hi-siu-si sambil berjalan dan tangan kanannya memegang dada sesaat.
"Tetapi janganlah kau beritahukan hal ini kepada istrimu ataupun Siauw Liong! Aku tidak mau mereka berdua menjadi gelisah, aku sudah tua.......Tetapi aku yakin bahwa aku tidak mudah lekas-lekas mati......"
Sambung kakek aneh itu selanjutnya dan sesaat kemudian kakek aneh itu memandang keatas telaga yang indah dengan berkilau-kilauan pantulan sinar matahari diatas air telaga.
2 5 Seielah kedua orang itu melewati hutan pohon bambu, mereka tiba di sebuah lembah membentang.
Pemandangan disekitar lembah itu sangat indah sekali, terdengar burung-burung beraneka macam tengah berkicau.
Didepan mereka tampak sebuah bangunan rumah yang besar.
Rumah kayu itu tampak sangat megah dan pengkuh sekali.
Pek Giok Bwee, Siauw Liong dan kedua bocah yang telah mendahului mereka tadi kini telah berdiri didepan pintu Seolah-olah mereka sedang menunggu-nunggu kedatangan tamunya ini.
Dengan wajah berseri-seri mereka menyambut kedatangan mereka itu.
"Selamat datang dipondok kami twako"
Seru Pek Giok Bwee dengan hormat dan terlihat pula sederetan giginya yang putih kecil-kecil bagaikan mutiara dan sejuk dipandang mata.
Pek-hi-siu-si tersenyum, sekilas matanya menyapu pandang kearah kedua bocah yaag terseyum pula.
Bahagialah kakek itu bertemu dengan keluarga bahagia itu.
Selama hidupnya hingga menjadi kakek-kakek baru kali itulah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Hemmmm ..terimakasih ..terimakasih...."
Seru Pek-hi-siu-si sambil manggut-manggut dan menghentikan langkahnya didepan pintu.
"Mari Twako !"
Seru Ji Han Su sammbil memberikan isyarat kepada kakek itu dengan tangan kanan untuk memberikan jalan masuk kedalam pondok besar kebanggaan keluarga Sin-ciu-sam-kiat.
Bangunan rumah itu dilihat dari luar memang tidak begitu menarik.
Tampiknya hanya mengutamakan kekuatan saja.
tetapi setelah orang masuk kedalamnya, barulah tahu babwa dalam rumah itu diatur sangat rapi dan semarak sekali.
Ternyata Pek Giok Bwee kecuali seorang wanita pendekar tetapi juga pandai membina dan memajang rumahnya sedemikian rupa.
Hingga siapapun betah tetap tinggal didalam rumah itu.
Setelah Pek-hi-siu-si berada didalam ruang tamu sedangkan mereka semua telah mengambil tempat duduk masing-masing.
Kakek itu memandang kedua bocah itu sambil tersenyum puas dan berkata kepada Pek Giok Bwee.
"Apakah kau mengetahui..... kedua anak itu tadi sedang bermaln-main apa.... ?"
Seru kakek itu dengan senyum lebar.
"Blasanya mereka bermain kejar-kejaran diatas daun Teratal"
Jawab Pek Giok Bwee dengan senyum yang manis sekali.
"Semula mereka bermain-main kejar-kejaran di atas daun teratai diatas telaga kemudian mereka bertengkar ..ha ha hah..."
Seru Pek-hi-siu-si dengan tertawa dan mengelus-elus janggutnya yang putih Mendengar kata-kata kakek itu Ji Tong Bwee terperanjat, wajahnya bersemu merah sampai ke telinga, kemudian menyahut dan mengadu kepada ibunya sambil cemberut.
"Ibu, Twa-supee jail sekali. Kita hanya bertengkar tetapi tidak sampai berkelahi . ."
Seru gadis cilik yang manis dan ayu itu sambiI cemberut kearah Pek-hi-siu-si dan mengerling kearah Kiam Ciu.
Ji Kiam Ciu hanya menundukkan kepala memandang ke lantai dan mempermainkan kakinya, sikap bocah itu membuat semua yang berada di tempat itu jadi tertawa gembira.
"Twa-supee hanya menggoda kalian...."
Seru Pek Giok Bwee sambil mengusap rambut Tong Bwee, nah ... sekarang kalian berdua boleh bermain-main lagi diluar dan awas......! jangan kalian bertengkar!"
Seru Pek Giok Bwee sambil menudingkan telunjuknya seolah-olah mengancam kedua bocah yang lucu-lucu itu sambil tersenyum.
Semua yang hadir dalam ruang tamu itu tersenyum pula.
Tetapi kedua bocah itu tertunduk malu.
Mereka berdua sebenarnya lebih senang meniggalkan ruang tanu dan menjauhkan diri dari orang-orang tua dan lebih-lebih Twa-supeenya yang selalu menggodanya itu.
"Koko...... kemana kita akan bermain-main?"
Tanya Ji Tong Bwee setelah sampai diluar dan berdiri dibawah pohon yang rindang dihalaman rumah.
Dengan pernyataan itu, Ji Kiam Ciu hanya berpaling mrmndang adiknya dan tersenyum.
Tetapi tidak memberikan jawaban.
Ketika itu dengan tiba-tiba Ji Kiam Ciu telah meloncat dan lari meninggalkan adiknya seorang diri.
Walaupun 2 7 adiknya menjerit memanggil-manggil namun Kiam Ciu terus lari dengan kencangnya hingga adiknya menjadi kecewa dan sangat gusar sekali hatinya.
"Hemmmmmn, koko sangat berlagak. Baiklah ! jika demikian akupun tidak sudi menyusulnya...."
Gumam Ji Tong Bwee dengan cemberut dan tidak mau lagi melihat kearah mana Ji Kiam Ciu tadi berlalu.
Sesaat kemudian Ji Tong Bwee memutar tubuh dan bergerak menuju kerumah dan memutuskan untuk tidak akan mengikuti kakaknya yang angkuh itu menurut perasaan gadis cilik yang perasa itu.
Tetapi ketika sampai dekat jendela ruang tamu, tiba-tiba telinganya mendengar sesuaiu pembicaraan yang sangat mengejutkan dan gadis cilik itu jadi sangat tertarik untuk menguping pembicaraan didalam.
"Sebenarnya mereka berdua merupakan satu pasangan yang tepat sekali..."
Tong Bwee dapat menduga bahwa kata-kata itu terucapkan oleb Pek-hi-siu-si.
Hati gadis itu bergetar, walaupun dia masih sangat bocah tetapi kecerdasan otaknya dan perasaannya yang menyebabkan bocah itu tahu maksud kata-kata Pek-hi-siu-si tadi.
Memang sering sekali bocah cilik yang jelita itu merasakan bahwa kakaknya sangat sayang pada dirinya.
Hanya sayang itu memang kadang-kadang disertai dengan sikap yang sangat ganjil.
Sedangkan dia sendiri juga merasa sangat senang dengan sikap yang sangat ganjil itu.
Ucapan Pek-hi-siu-si yang dapat didengarnya itu menimbulkan hasratnya unuk mendengarkan lebih lanjut.
Maka gadis cilik itu membatalkan niatnya untuk masuk kedalam rumah.
Saat itu dia dengan berjingkat dan berusaha untuk berhat-hati dan jangan sampai terdengar oleh orang-orang yang berada didalam.
Ji Tong Bwee menyelinap kebawah jendela dan menguping percakapan Pek-hi-siu-si yang berada di ruang tamu dengan tanpa curiga apa-apa.
"Bagus ..bagus sekali, kalian tclah berhasil memelihara bocah itu dengan sempurna. juga kalian telah merahasiakan asal-usul bocah itu hingga sekarang...."
Terdengar tegas suara Pek-hi-siu-si.
2 8 Ji Tong Bwee berdegup jantungnya mendengar kata-kata itu.
Berdebar hebat mendengar kata-kata Pek-hi-siu-si yang lembut dan bcrdesah dari dalam ruang tamu.
Dia lebih mendekat lagi dibawah jendela untuk mendengarkan lebih jelas.
"Apa yang kalian lakukan itu adalah baik sekali. Tetapi kita tidak akan mungkin menyembunyikan rahasia itu terus menerus. Pada suatu hari kita harus memberitahukan juga . ."
Sambung kakek itu dengan suara yang bercampur dengan desahan perasaan tertahan. Mendengar kata-kata kakek itu, hati Ji Tong Bwee jadi sangat gelisah dan jantungya berdegup sangat kencang.
"Dia bukan saudara kandungku ?"
Pikir Ji Tong Bwee dengan perasaan tegang dan dengan berhati-hati sekali dia meninggalkan tempat itu menuju kejalan dimana tadi Kiam Ciu berlari-lari meninggalkan dirinya.
Saat Tong Bwee berlari-lari mencari kakaknya itu, bocah cerdik dan penberani Kiam Ciu tengah duduk diatas sebuah batu dibawah sebatang pohon yang rindang di tepi telaga.
Bocah itu mencoret-coretkan ujung ranting kering diatas tanah basah, coret-coret iiu membentuk gambar seekor naga.
Saat itu Ji Kiam Ciu merasa menyesal akan perbuataanya yang baru saja.
Perbuatan yaog mungkin menimbulkan rasa jengkel kepada adiknya, karena dia dengan serta merta telah meninggalkan adiknya berlari dan berlari kencang sekali.
Dia merasa heran mengapa dia dapat berlaku masa bodoh kepada adiknya.
Dalam keadaan Ji Kiam Ciu sedang melamn dan berangan-angan itu, telinganya telah mendengarkan derap langkah orang yaag bertambah dekat.
Langkah kaki itu disertai seribitan angin dan perasaan bocah itu yang telah terlatih ditempat tenang dan sepi sangat pekat sekali.
Maka tahulah Ji Kiam Ciu bahwa dirinya telah dihampiri seseorang.
Maka dengan cepat dia telah berpaling dan ketika itu Tong Bwee telah berada disisinya samtll tersenyum memandang kearah Ji Kiam Ciu.
"Koko .."
Seru gadis cilik yang manis senyumannya itu kepada Ji Kiam Ciu.
"Aku telah mendengar suatu rahasia besar.....?"
Saat itu Ji Kiam Ciu pura-pura tidak mendengar dan masih menggores-gores tanah dengan ranting kering.
Perbuatan itu memang yang selalu diperbuat oleh 2 9 Ji Kiaci Ciu untuk mcnggoda adiknya.
Tiap saat memang mereka selalu bertengkar, kemudian tertawa bersama dan bertengkar.
"Koko , , , kau sebenarnya bukan saudara kandungku , , !"
Seru gaJis cilik itu dengan suara lantang dan nafas terengah menaban gejolak hati.
Ketika Ji Kiam Ciu mendengar kata-kata itu, barulah dia menjadi sangat terperanjat, Maka terlonjaklah pemuda itu, dia meloncat berdiri menghampiri Tong Bwee sambil memegang kedua bahu gadis cilik itu dan mata Ji Kiam Ciu mendelik, menggoyang-goyangkan bahu adiknya.
"Tong Bwee....... apa katamu ?"
Seru Ji Kiam Ciu dengan mata melotot, Tetapi gadis ilu tidak berani menentang mata kakaknya. Maka dengan wajah tertunduk gadis cilik itu menjawab.
"Aku bukan adik kandungmu, kau tidak dilahirkan oleh ibuku...."
Ji Kiam Ciu mendengar kata-kata itu jadi terperanjat dan gugup sekali. Digoncangkannya bahu Tong Bwee dan dipandanginya g.adis cilik itu dengan penuh keheranan.
"Katakanlah adikku, katakanlah apa yang kau katakan tadi?"
Seru Ji Kiam Ciu dengan apa yang baru saja didengarnya tadi.
"Kau bukan saudara kandungku!"
Seru Ji Tong Bwee mengulaogi kata-katanya sekali lagi. tetapi kali ini dia berani menatap wajah dan sorot mata Ji Kiam Ciu.
"baru saja aku mendengar Twa-supee bercakap-cakap dengan ayah di ruang tamu". Ketika mendapat penjelasan itu. sesaat kemudian keadaan menjidi sepi dan hanya terdengar desahan napas kedua bocah itu. Ji Kiam Ciu melepasksn bahu adiknya dan memutar tubuh meninggaJkan tempat itu. Dengan tidak mempedulikan Ji Tong Bwee yang melongo ditepi telaga dan ditinggalkan lari dengan kencang sekali menuju kepondo. Bocah itu dengan sangat tergesa-gesa telah menerobos masuk kedalam pondok dan langsung menuju ke ruang tamu. Hal itu membuat orang-orang yang berada didalam ruang itu jadi terperanjat. 2 10
"Kiam Ciu, mengapa kau ... ?"
Tanya Ji Han Su dengan sangat heran melibat tingkah laku Ji Kiam Ciu yang sangat mengejutkan.
Sesaat Ji Kiam Ciu memandang kepada ayahnya, kemudian kepada ibunya dan kepada pamannya.
Dengan pandangan mata yang sangat aneh, kemudian dengan suara bergetar bocah itu berseru dengan hormat.
"Ayah, adik bilang aku bukan kakak kandungnya. Apakah betul ?". Sesaat menjadi sepi, hanya terdengar nafas mereka yang berada diruangan tamu itu saja terdengar. Kemudian angin sejuk semilir menyelinap berhembus kedalam ruang tamu. Pek-hi-siu-si melirik kearah ketiga bersaudara Sin-ciu-sam-kiat. Mereka saling berpandangan dan tak menentu.
"Kiam Ciu...... sebetulnya pagi-pagi aku akan menceritakan hal itu padarnu...."
Teiapi sebenarnya berat hatiku untuk menceritakan.
Apa yang dikatakan adikmu adalah benar, kau memang bukan anak kandung kami...
kau memang tidak dilahirkan oleh ibumu.
Tetapi kau adalah anak angkat kami yang semenjak berumur sebulan telah kami ambil sebagai anak kandung kami sendiri.......
Kau sebenarnya bukanlah kelahiran dalam keluarga she Ji, tetapi kau adalah she......"
Seru Ji Han Su dengan suara tersekat dala.m tenggorokannya dan terputus sejenak.
Ji Kiam Ciu tidak menunggu iebih lanjut kata-kata dari Ji Han Su.
Hati pemuda itu merasa terguncang hebat dan sedih sekali.
Dengan serta merta dia lari keluar tanpa memperhatikan kehadiran Pek-hi-siu-si ditempat itu.
Kemudian setelah sampai diluar, segeralah dia lari terus meninggalkan halaman pondok itu masuk kedalam hutan yang telah menghijau.
Kiam Ciu lari dan berlari terus memasuki hutan yang masih lebat.
Hingga dia tiada merasa telah seberapa jauh dia berlari meninggalkan pondok ayah angkatnya.
Pokoknya dia tidak mau tahu dan ingin lari dari kenyataan.
Hingga kini, akhirnya kaki kanan bocah itu tersandung akar pohon yang melintang ditanah dan pemuda kecil itu jatuh bergulung ditanah berumput tebal.
Dibiarkannya dirinya menggeletak ditanah dan sebagian tububnya tertimpa cahaya matahari yang telah menyengat sambil memejamkan matanya dia melepaskan lelah dan pikirannya menerawang memikirkan peristiwa yang baru saja berlalu.
Hatinya tergoncang ketika mendengar bahwa ayah dan ibu yang 2 11 selama ini dianggap orangtuanya itu ternyata bukan orang tua kandung.
Teringat pula kepada paman Siauw Liang yang telah banyak mengajarkan ilmu silat padanya dan akhirnya dia teringat kepada Ji Tong Bwee yang sangat dicintai itu , , , semuanya membuat jantungnya berdebar hebat dan pikirannya jadi sangat kacau.
Tlba-tiba dalam keadaan itu, Kiam Ciu sangat terkejut karena seekor kelinci hitam telah menerjang kakinya.
Meskipun terkejut, teiapi dia sempat menangkap tubuh kelinci itu dengan tangau kanannya.
Saat itu dia menyaksikan bahwa kaki kiri belakang binatang itu tampak berdarah yang telah mengential.
Ketika diamatinya ternyata tampak sebatang jarum masih menancap pada luka itu.
"Ohhh ... kasihan , , , kelinci yang manis, tenanglah aku akan menolongmu mcncabut jarum keparat ini dari lukamu . , ."
Seru Kiam Ciu dengan penuh kasih sayang.
Hati bocah itu memang welas asih dan belum pernah dia membunuh binatang karena dia merasa kasihan kepada segala macam makhluk.
Penuh rasa kasih dan mudah terharu.
Sesaat kemudian dirobeknya pinggir bajunya setelah jarum yarg menancap dikaki be!akang kelinci itu tercabut, lalu dibalutnya.
Kelinci itupun dengan tenang tidak meronta dalam cekalan Kiam Ciu.
Yang sangat mengherankan ternyata ketika kelinci itu diletakkan ditanah, binatarg yang manis itu tidak mau lari.
Malah tampak dari mulut binatang itu mengeluarkan sebuah benda merah.
Benda itu ternyata sebuah buah yang berbau harum sekali.
"Hey kelinci, apakah kau ingin memberikan buah ini padaku ?"
Seru Kiam Ciu sambil memungut buah berwarna merah itu dan menunjukkannya kepada binatang yang jinak dan lucu itu.
"Hemm apakah kau ingin aku makan buah ini...?"
Gumam bocah itu sambil mencium buah yang berwarna merah dan harum sekali baunya.
Keiika itu Kiam Ciu sangat berhasrat untuk mengulum buah merah ditangannya.
K.etika hampir saja buah itu masuk ke mulutnya, terdengarlah sebuah bentakan yang sangat mengejutkan.
"Jaugan kau makan, tahanl"
Bentak suara lantang dan mengejutkan.
Sejenak kemudian tampaklah sebuah kelebatan melayang didepannya beberapa langkah.
Ternyata orang itu adalah seorang kakek kira-kira berumur tujuh puluh tahun telah berdiri dengan tegap dihadapan Kiam Ciu.
Wajah kakek itu berwarna kuning dan seram dan sepasang matanya bersinar abu-abu.
"Ayo berikan buah itu padaku ! Lekas....."
Bentak seram laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya kearah Kiam Ciu.
Kiam Ciu sangat terkejut dan merasa berdiri bulu kuduknya mendengarkan suara kakek yang keras besar dan melengking tinggi.
Kiam Ciu hanya melolong saja menyaksikan gerak gerik kakek itu.
Diamatinya dari kepala hingga kaki kakek itu.
Tampak kakek itu bergerak maju dengan kakinya yang timpang.
"Hay bocah bandel. apakah kau tidak mendengar permintaanku, atau memang kau tuli dan pegal? "
Seru kakek itu dengan suara lebih seram sedangkan wajahnya memperlihatkan gambaran bahwa kakek itu sangat kejam. Sorot mata yang abu-abu itu seolah-olah pusaran maut.
"Hayo berikan lekas buah merah ditanganmu itu, atau kubinasakan dirimu yang bandel?"
Bentak kakek itu dengan sejangkah maju lagi serta mengulurkan tangan kanan untuk meraih genggaman Kiam Ciu.
Menyaksikan sikap dan suara kakek yang seram itu, lama-lama Kiam Ciu merasa ngeri dan takut sekali.
Namun demikian bocah iiu belum juga mau menyerahkan buah merah yang berbau harum itu kepada orang yang bertambah dekat di depannya itu.
Tahu-tahu kakek seram itu telah meloncat dan menerkam dada Kiam Ciu dengan sekali loncatan.
Diangkatnya tubuh bocah itu ditatapnya, dengan sorot tajam.
Namun Kiam Ciu masih tidak perduli dan buah merah itu tetap digenggaranya erat-erat.
Ketika itu Kiam Ciu telah meronta, tahu-tahu tubuhnya telah merosot jatuh ketanah.
Entah dibantingkan, atau karena gerakan bocah itu.
Ketika kakek seram itu menyadari bahwa bocah itu mempunyai keistimewaan gerakkan maka sekali lagi diterkamnya.
Namun dengan sigap pula Kiam Ciu meloncat dengan jurus Pek Ciok tiauw ki atau Burung gereja terbang diudara yang telah dapat diyakini dengan baik dari Pek Giok Bwee.
Namun ternyata gerakan tangan menyambar 2 13 orang tua itu begitu cepat dan luar biasa hingga terpaksa terjambret juga ujung baju bocah itu dan robek.
Menyaksikan gerakan hebat dan dahsyat itu maka Kiam Ciu teringat kembali atas cerita-cerita ibunya Pek Giok Bwee.
Ji Han Su maupun pamannya Siauw Liang, orang yang mempunyai gerak dan kepandaian itu ialah berjuluk Kun-si Mo-kun atau si Iblis jahat yang mengacau dunia.
Pada dua tahun terakhir ini, Kiam Ciu telah sering mendapat ceritera tentang Kun-si Mo-kun ini yang telah banyak merajalela dan berbuat keji dan terkutuk di kalangan Kang-ouw selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
Tiba-tiba pada sekira empat puluh tahun yang silam orang berhati keji dan ganas itu telah menghilang dari kalangan Kang-ouw.
Lenyapnya Kun-si Mo-kun dari kalangan Kang-ouw itu membuat keadaan menjadi tenang, tetapi bersamaan dengan itu pula dikalangan Bu-lim telah kehilangan seorang tokoh silat yang perkasa dan ilmunya sangat sempurna tetapi berjiwa arif dan bikjaksana.
Lenyaplah kedua tokoh itu bagaikan ditelan bumi dan tiada seorangpun tahu kemana mereka pergi.
Kiam Ciu telah diberi gambaran jelas tentang ciri-ciri Kun-si Mo-kun, iblis berwajah seram dengan sepasang mata berwarna abu-abu dan kakinya panjang sebelah sehingga kalau berjalan agak pincang.
Padahal tanda-tanda itu persis seperti yang dimiliki oleh orang yang berada dihadapannya.
"Hey bocah ! Apakah betul-betul kau tidak mau menyerahkan buah itu!"
Bentak Kun-si Mo-kun dengan wajah lebih bengis kelihatannya, Kiam Ciu tidak menyahut, hanya dengan sebuah loncatan yang lincah bocah itu melarikan diri.
Sedangkan buah berwarna merah yang berbau harum itu masih dalam genggamannya.
Diperlakukan seperti itu, Kun-si Mo kun menjadi sangat gusar.
Sambil menggertak giginya kakek berwajah kuning dan seram itu memutar tubuh dan jubahnya yang kuning berkelebat melambai kemudian tampaklah kakek itu dengan cepat telah melesat mengejar Kiam Ciu.
Sampai beberapa saat Kiam Ciu dapat mengandalkan ginkangnya dan mengembangkan ilmu lari cepat masuk kehutan lebih dalam lagi.
Berbelok-belok 2 14 diantara pohon-pohon besar dan semak belukar yang rimbun.
Begiiu pula Kun-si Mo-kun berusaha untuk mengejarnya.
Karena perasaan jengkel dan gusar yang tiada tertaban lagi, Kun-si Mo-kun menggembor nyaring berbareng dengan sebuah loncatan dan bocah itu teiah diterkamnya.
Kiam Clu terbanting ketanah dan tidak berkutik lagi!
"Aku akan serahkan buah merah yang kau minta ini !"
Seru Kiam Ciu sambil meronta akan melepaskan diri.
"tetapi kau jangan menggangguku lagi!"
"Haaa...Haaaa....haaah...kau telah berlaku cerdik anak bandel!"
Seru Kun-si Mo-kun dengan suara cekakakan dan menyeramkan.
Sambil melepaskan cengkeraman punggung Kiam Ciu dan bocah itu dibanting ditanah kemudian Kun-si Mo-kun dengan sangat cepat menyambar buah merah yang telah diperlihatkan oleh Kiam Ciu tadi, dengan cepat pula buah itu lalu dikulumnya dalam mulut.
"Ha ha ha hahhh"
Kakek seram itu tertawa setelah mcnelan buah merah, kau telah memberikan buah merah padaku, tetapi kau harus mati juga ditanganku.
Meskipun dengan menyerahkan buah merah itu kau telah menolong jiwaku.....!"
Seru iblis itu dengan suaranya yang kasar.
Kiam Ciu terperanjat mendengar kata-kata itu, namun dia adalah seorang bocah yang berani dan cerdik, walaupun digertak akan dibunuh tetapi dengan sikap tenang dan berkacak pinggarg didepan Kun-si Mo-kun dia berseru lantang pula.
"Mengapa kau masih ingin membunuhku ?!"
Seru Kiam Ciu dengan sikap tabah berani.
"Karena..... seumur hidupku aku tidak menerima budi orang lain!"
Sahut Kun-si Mo-kun dengan tenang tetapi kejam.
"Hemmmm ..."
Gumam Kiam Ciu dengan mata tetap memandang wajah kuning dan seram itu tanpa takut sedikitpun.
"Aku telah terluka dalam yang sangat hebat dan hanya dengan buah merah tadi luka itu dapat sembuh. Walaupun kau telah menolong jiwaku dengan memberikan buah merah tadi, tetapi aku tidak sudi menerima budimu. Maka kau 2 15 harus mati ditanganku. Untuk budimu itu aku akan membunuhmu dengan cara kematian yang cepat!"
Seru iblis ganas dan keji itu dengan suara lantang dan seram kedengarannya.
Ji Kiam Ciu pernah mendengar ceritera tentang kekejaman Kun-si Mo-kun selama menjagoi dunia persilatan.
Walaupun bulu kuduknya merasa bergidik, namun bocah ini tidaklah memperlihatkan rasa takutnya didepan orang!
Bahkan tampaklah wajah bocah itu bersirat merah dan mengepalkan tinju!
Sesungguhnya dia sangat gusar mendengar penuturan orang yang tidak mengenal budi itu!
"Aku paling benci melihat orang yang keji dan jahat semacam kau ini !"
Seru Kiam Ciu dengan nada suara sengit sekali.
"jangan kau kira bahwa kau dapat membunuhku dengan mudah!"
Diam-diam Kun-si Mo-kun mengagumi juga keberanian bocah itu. Namun iblis itu dasar seorang yang berhati kejam dan keji tidak menggubris segala seruan bocah cilik itu.
"Haaa haaahhh ... Mungkin kau belum tahu aku ini siapa, sehingga kau beranl menantang aku sedemikian kasarnya!"
Seru Kun-si Mo-kun dengan suara bernada marah menganggap ringan bocah dihadapannya.
"Aku tahu kau ini siapa! Kau adalah Kun-si Mo-kun yang terkenal kejam dan keji dikalangan Kang-ouw. Tetapi meskipun demikian aku tetap tidak gentar akan ancamanmu!"
Seru Kiam Ciu dalam keadaan siap siaga menghadapi segaia kemungkinan yang akan dilakukan oleh Kun-si Mo-kun.
Mendengar dan menyaksikan sikap bocah berani dan cerdik itu.
Kun-si Mo-kun menyengir.
Kemudian tertawa gelak-gelak dan berseru lantang.
"Kalau kau telah tahu bahwa aku ini jahat dan terkutuk yang kau benci, mengapa kau telah memberikan buah merah itu?"
Seru Kun-si Mo-kun dengan tertawa-tawa.
"Karena........ Karena aku tidak begitu yakin bahwa kau adalah orang yang begitu kejam"
Jawab Kiam Ciu sambil menundukan kepala.
"aku mengira bahwa cerita itu cerita tentang kejahatanmu hanyalah dilebih-lebihkan orang....."
Kiam Ciu menatap wajah kakek seram itu dengan mata penuh selidik.
2 16 Anehnya orang yang terkenal kejam dan keji itu kedengaran menarik nafas panjang, seakan-akan ada sesuatu yang dipendam dalam hatinya.
"Hemmm..... aku tidak menyangka bahwa di kolong langit ini masih ada orang yang menganggap diriku ini tidak jahat . ."
Gumam Kun-si Mo-kun dengan suara keluar dari hidungnya.
Kemudian wajah kakek itu telah berubah dan memandang wajah Kiam Ciu dengan sorot mata aneh pula, sorot mata yang lain dari saat-saat pertama dia bertemu tadi.
"Hey bocah baik, siapakah namamu ?"
Seru kakek itu kedengaran ramah.
"Namaku Ji ..ohh ..Tong Kiam Ciu , .."
Sahut sibocah sambil menundukkan muka. Walaupun kini kelihatannya Kiam Ciu sangat lemah, namun bocah itu telah siaga juga, untuk menghadapi segala kemungkinan.
"Tong Kiam Ciu ? Nama yang bagus ! Nama yang bagus.....!"
Kata Kun-si Mo-kun sambil melangkah maju selangkah dan kepalanya manggut-manggut "aku akan ingat-ingat namamu dan kemudian hari kita pasti bertemu lagi !"
Dengan berakhirnya kata-kata itu Kun-si Mo-kun telah melangkah lagi.
Tong Kiam Ciu telah siaga sambil meloncat kesamping dan tangannya telah mengepal disamping tubuhnya.
Namun kakek itu terus saja berjalan tanpa menoleh lagi dan meninggalkan Kiam Ciu seorang diri.
Tong Kiam Ciu termangu dengan rasa heran, karena kakek itu ternyata tidak berbuat apa-apa dan meninggalkan dirinya begitu saja.
"Aneh...... sesuggguhnya dia tidak sekejam sangkaan orang"
Pikir Kiam Ciu sambil membetulkan pakaiannya dan menepiskan dari kekotoran.
Beberapa saat kemudian ketika Kiam Ciu berada ditempat itu seorang dtri dan masih membersihkan dari daun-daun dan tanah yang melekat dipakaiannya.
Terasalah hembusan angin dari arah belakang.
"Hemm...... kau telah nyaris dari tangan keji Kun-si Mo-kun meskipun kau telah kehilangan biji merah yang sebenarnya sangat berguna dan sukar dicari, tetapi kau telah menolong jiwamu sendiri .."
Terdengar tiba-tiba sebuah suara dari arah belakang punggung bocah itu, 2 17 Dengan sangat terkejut bocah itu memutar tubuh dan alangkah kagetnya ketika diketahui yang berada di tempat itu tidak lain adalah Pek-hi-siu-si yang tekah berdiri dengan tersenyum dan penuh rasa kasih sayang.
Sambil tersenyum mengelus janggutnya yang panjang berurai.
"Twa-supee...... !"
Seru Kiam Ciu sambil menghormat. Pek-hi-siu-si melangkah maju mendekati Kiam Ciu yang masih membongkok hormat, kemudian dielusnya kepala bocah itu dengan rasa haru.
"Kiam Ciu kau harus lekas-lekas pulang, Meskipun ibu dan ayahmu yang sekarang itu adalah orangtua angkatmu. namun ternyata mereka memandangmu sebagai anaknya sendiri. Mereka sangat menyayangimu dengan setulus hati. Maka sekarang pulanglah. Kelak aku akan menceritakan padamu tentang riwayat hidupmu."
Sejenak Pek-hi-siu-si berhenti dengan tarikan nafas panjang.
"Kau harus banyak belajar ilmu, karena banyak tugas yang harus kau lakukan. Pula kau jangan mengecewakan harapan orangtuamu dan juga orang-orang yang menyayangimu. Kau mempunyai musuh besar yang harus kau binasakan kelak kalau waktunya telah tiba........"
Kemudian Kiam Ciu telah membenamkan wajahnya ke dada kakek itu, namun tiada isak an tangis yang terdengar.
Kiam Ciu telah menahan semua perasaannya dengan ketabahan hati.
Pek-hi-siu-si merangkul bocah itu dan mengajaknya untuk pulang kepondok.
Dalam pada itu tampaklah Pek-hi-siu-si tertawa-tawa sambil menunjuk ke suatu tempat.
Kedua orang itu berjalan menuju kepondok dimana ketiga Sin-ciu-sam-kiat menantikan dengan perasaan cemas!
Begitu pula gadis cilik yang manis Ji Tong Bwee tampak sangat gelisah dan akan keluar saja untuk mencari Kiam Ciu!
Mulai saat-saat berikutnya dan pada hari-hari berikutnya Pek-hi-siu-si telah mengambil alih dari tangan ketiga bersaudara Sin-ciu-sam-kiat untuk menurunkan ilmu pedang yang tiada tandingan dikalangan Kang-ouw!
Kiam Ciu telah mendapat didikan langsung dari Pek-hi-siu-si selama sembilan tahun lamanya!
Hampir seluruh ilmu kakek itu telah diturunkan kepada Tong Kiam Ciu !
Bocah itu telah mempelajarinya dengan tekun sekali.
Jadi tidaklah mengherankan kalau kakek itu merasa puas dan sangat bangga sekali!
Ternyata Kiam Ciu adalah seorang pemuda yang sangat cerdas dan cerdik 2 18 sekali.
Bukan saja Pek-hi-siu-si sangat mengagumi murid satu-satunya itu.
Juga ketiga bersaudara Sin-ciu-sam-kiat merasa kagum dan sangat bersyukur akan perkembangan Kiam Ciu itu.
Pada suatu pagi ketika itu seperti biasanya Kiam Ciu akan berangkat berlatih silat dan menemui gurunya.
Tiba-tiba terdengar sebuah teguran pada dirinya.
Teguran yang sangat halus dan sangat dikenalnya.
"Koko Twa-supee memerintahkan kau untuk menemuinya dirumah besar pagi ini!"
Seru suara merdu yang segera dapat dikenal oleh Kiam Ciu adalah suara Tong Bwee adik angkatnya yang sudah menjadi seorang gadis remaja puteri, gadis remaja yang cantik jeliia.
Kiam Ciu tersenyum manis dan memandang tegas kepada Tong Bwee seraya bersera "Terima kasih adik manis, aku akan segera kesana!"
Mereka berdua dengan sangat tergesa-gesa berjalan bersama menuju ke bangunan rumah besar.
Dimana sat itu diruangan tamu telah duduk Pek-hi-siu-si dan ketiga Sin-ciu-sam-kiat yang tampak tersenyum ketika menyaksikan Kiam Ciu dan Tong Bwee memasuki ruangan.
"Kiam Ciu ..apakah kau mengetahui mengapa aku memanggilmu ?"
Seru Pek-hi-siu-si sambil tersenyum dan masih duduk sambil mengelus janggutnya yang putih dan panjang.
"Kiam Ciu bersedia menerima segala perintah suhu....."
Jawab Kiam Ciu sambil membongkok memberi hormat.
Pek-hi-siu-si tersenyum bangga dengan matanya yang tiada mau lepas dari mengamati pemuda dihadapannya itu.
Rupa-rupanya Kiam Ciu benar-benar telah memikat hati Pek-hi-siu-si.
Seorang murid yang sangat disayanginya disamping memang pemuda itu mempunyai latar belakang yang menyedihkan 2 19 dimasa lalunya.
Maka sudah selayaknya kalau kakek itu menyayanginya dengan ketulusan hati.
Bukan saja Pek-hi-siu-si yang sangat sayang kepada Kiam Ciu tetapi juga ketiga Sin-ciu-sam-kiat sangat bersyukur dapat turut memelihara dan mendidiknya.
"Kiam Ciu.......... selama sembilan tahun teakhir ini kami berempat telah menurunkan ilmu silat padamu. Segala ilmu yang kami punyai telah kami ajarkan semuanya kepadamu, Ternyata kau sangat pandai dan cerdik sehingga semua ilmu itu telah kau kuasai semua. Bahkan kami sendiri telah jauh ketinggalan dengan ilmu yang kau miliki sekarang"
Pek-hi-siu-si berseru dan sejenak terhenti karena gangguan batuk-batuknya.
Batuk-batuk yang menyerang Pek-hi-siu-si itu adalah akibat luka dalam yang masih mengendap dalam tubuhnya.
Luka dalam itu telah diderita oleh Pek-hi-siu-si selama lebih dari delapan tahun.
Berkat ilmu Bo-kit-sin-kong maka dia masih dapat bertahan.
Tetapi dalam keadaan itu entah tinggal berapa lama lagi kakek itu dapat bertahan, karena ternyata luka dalam yang dideritanya itu sangat luar biasa.
Menyaksikan hal itu Tong Kiam Ciu sangat terkejut.
Karena selama dia dibawah asuhan Pek-hi-siu-si dalam segala ilmu khususnya ilmu pedang dan melatih Sin-kang bahkan memperdalam Siu-lan.
Namun sama sekali kakek itu tiada menyinggung sama sekali tentang luka dalam itu.
"Twa-supee ..apakah ..?"
Seru Kiam Ciu dengan kerutkan kening.
"Sekarang ....... !"
Pek-hi-siu-si sambil mengangkat tangan kanan kearah Kim Ciu, demi kepentinganmu dan juga untuk aku. Kau telah cukup membekal ilmu. Maka sudah waktunya kau untuk memulai dengan pengabdianmu......."
Demikian Pek-hi-siu-si berhenti lagi dan ditatapnya wajah pemuda itu dengan helaan napas dalam.
Kiam Ciu merasa terperanjat dengan kata-kata itu, kemudian menunduk kembali seolah-olah melihat ke ujung kaki kakek yang duduk dihadapannya seraya menghormat.
"Aku akan segera melaksanakan perintah. sekarangpun aku telah bersedia jika itu kehendak Twa-supee"
Seru Kiam Ciu dengan penuh hormat dan halus. 2 20
"Kiam Ciu, kurasa kinilah saatnya kau untuk mengetahui suatu rahasia yang selama ini kami simpan. Rahasia tentang musuh besarmu, juga musuh besar keluargamu...!"
Seru Pek-hi-siu-si.
"musuh besarmu itu tiada tentu tempat tinggalnya dan mempunyai watak yang sangat ganas.. Terus terang aku sendiri belum pernah melihat mukanya, hanya mendengar nama gelarnya dan sepak terjangnya serta kehebatan ilmunya dikalangan Kang-ouw. Maka kau harus mencarinya sendiri. Carilah orang yang bergelar Ciam Gwat!"
Seru Pek-hi-siu-si seolah-olah telah menjadi lega dadanya telah mengeluarkan segala apa yang selama ini disimpannya dalam dada.
Kiam Ciu mendengarkan penuiuran gurunya itu dengan penuh perhatian.
Bergolaklah harinya penuh kegusaran dan seolah-olah pemuda itu ingin dengan cepat meloncat untuk mencari musuh besarnya yang telah membinasakan seluruh keluarganya itu.
"Baik aku telah pahan semuanya Twa-supee"
Sahut Kiam Ciu.
"Tunggu! Masih ada lagi pesanku ..."
Seru Pek-hi-siu-si ketika menyaksikan pemuda itu tampak tidak sabar lagi.
"Pergilah kau terlebih dahulu untuk mencari pemimpin golongan persilatan Bu-tong dan temui Hiong Hok Totiang. Ketika aku mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw aku telah menitipkan pedang pusakaku kepadanya, Oey-Liong-Kiam (pedang pusaka naga kuning). Aku juga berpesan kepadanya bahwa sembilan tahun kemudian pedang putaka itu akan kuwariskan kepada seorang pemuda yang bernama Tong Kiam Ciu, dan pedang itu akan diambilnya. Muridku Kiam Ciu, tiga bulan lagi para pemimpin partai persilatan dan para pendekar kenamaan akan bertemu dalam Bu lim-tahwee di puncak Ciok yong-hong diatas pegunungan Heng-san yang hanya diselenggarakan tiap sepuluh warsa sekali. Dengan ...... dengan..... membekal Oey-liong-kiam kau dapat mewakili aku dalam pertemuan itu"
Kakek itu sekali lagi terhenti karena gangguan batuknya. Kemudian Pek-hi-siu-si mengambil sebuah bungkusan yang terletak diatas meja seraya melanjutkan kata-katanya ;
"Didalam bungkusan ini terdapat sebuah kitab catalan kelahiranmu yang telah kusimpan selama enam belas tahun lamanya. Disamping kitab catatan itu terdapat juga sebuah kotak hitam yang berisi dua belas buah golok Liu-gian-to hadiah dari pamanmu Siauw Liang. Juga 2 21 perak sebanyak seratus tahil untuk ongkos selama kau dalam perjalanan , , ."
Seru Pek-hi-siu-si sampai disitu terhenti dan terbatuk lagi.
Tong Kiam Ciu menundukkan kepala dengan terharu atas segala kebaikan itu, Dia sebenarnya tidak tega untuk meninggalkan Pek-hi-siu-si yang kelihatan payah itu.
walaupun kakek itu telah berusaba sedapat mungkin untuk menyembunyikan penderitaan karena luka dalam.
Pula pemuia itu sangat berat untuk meninggalkan orangtua angkatnya, paman Siauw Liang dan adik angkat yang sangat dicintainya Tong Bwee.
Bergemuruhlah dalam dada pemuda itu, berbagai-bagai perasaan bersambung menjadi satu menghantam indranya menggempur jiwanya.
Berperanglah jiwanya antara kewajiban sebagai seorang jantan dan satria sejati, Tiba-tiba dalam kegemuruhan kegoncangan jiwanya itu terdengar suara Pek-hi-siu-si menegurnya.
"Kiam Ciu,"
Tegur Pek-hi-siu-si datar.
"dikalangan rimba persilatan nanti kau akan mengalami banyak kejadian. Itu lebih baik bagimu untuk menambah pengalaman dan menghayati hidup dan mendarmakan kepandaianmu untuk sesama umat. Kau harus bersikap sabar dan berhati-hati, kenalilah dirimu sendiri....". Nah kini saatnya kau harus berangkat !"
Sampai disitu Pek-hi-siu-si berhenti dan memejamkan matanya menaban air mata keharuan yang tiada terbendung lagi.
Dalam keadaan itu Siauw Liang telah menghampiri Kiam Ciu dan memegang bahu pemuda itu seraya berkata.
"Kiam Ciu semenjak kau masih bayi aku sering menggendongmu kau tahu bukan bahwa aku tidak pandai berkata panjang lebar. Aku hanya dapat berdoa semogg kau dapat berhasil dalam segala usahamu .........."
Dengan air nata berlinang Tong Kiam Ciu berlutut dihadapan Pek-hi-siu-si, kemudian menghampiri Ji Han Su dan Pek Giok Bwee berlutut seraya berkata.
"Ayah, Ibu, aku telah melelahkanmu mengasuhku selama sembilan belas tahun lamanya. Sekarang aku akan segera meninggalkan kalian orang budiman ... Aku mohon diri". demikian kata-kata iiu tidak dapat keluar dengan lancar seolah-olah tersekat didalam kerongkongannya.
"Kiam Ciu , ."
Kata Pek Giok Bwee.
"Aku berharap semoga kau berbesar hati dan menghalaukan kesedihan karena perpisahan ini. Orang hidup tidak 2 22 selamanya harus berkumpul, ada waktunya kita harus bepisah. Lagi pula se!ain kau harus menunaikan tugas baktimu, kau harus banyak mencari pengalaman dikalangan Kang-ouw."
Sampai disitu Pek Giok Bwee menasehati Kiam Ciu dan menghiburnya agar pemuda itu menghilangkan perasaan hatinya yang sedih karena akan berpisah.
WaJaupun sebenarnya Pek Giok Bwee sendiri merasakan betapa beratnya untuk berpisah dengan pemuda itu.
Karena telah sembilan belas tahun dia mendidik dan mengasuh pemuda itu dengan penuh kasih sayang sebagai anaknya sendiri.
"Kiam Ciu... kau dapat segera berangkat !"
Seru Ji Han Su.
"Semakin lama kau berdiam diri, bertambah sedih hati ibumu nanti. Setelah kelak kau berhasil menunaikan tugasmu aku yakin kita masih banyak waktu untuk berkumpul kembali. Hanya pesanku, pesanku anakku..... kau baik-baiklah menjaga dirimu!"
Setelah Ji Han Su diam, maka tempat itu jadi hening.
Hanya terdengar angin mendesau bertiup menghembus tirai ruang tamu.
Saat itu juga Tong Kiam Ciu telah bangkit perlahan-lahan.
Kemudian memutar tubuh dan meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi.
Makia lama dia melangkah maka tidak lama telah sampai dihutan bambu dan cepat-cepat ia menuju ketepian telaga Cui-ouw.
Kiam Ciu berdiri dibawah pohon Liu.
Matanya nanar memandang keatas air telaga yang bening, Melihat kembang-kembang teratai yang daunnya menghijau pemuda itu mengenangkan masa lampau meengenangkan masa kanak-kanak dimana dia sering bermain-main di telaga dengan Tong Bwee.
Masa kanak-kanak yang sangat menyenangkan dan sangat berkesan didalam hatinya.
Lama juga pemuda itu melamun dan mengenangkan masa lampau, tetapi lamunannya itu menjadi buyar ketika dirasanya ada seseorang yang mendekati.
Disamping itu hidungnya telah mencium bau harum yang tiada terlupakan bau harum itu.
Karena tiada lain adalah keharuman rambut Ji Tong Bwee.
Dengan tiba-tiba pula Kiam Ciu memutar tubuh dan berseru .
"Moy!"
Hanya sampai disitu kemudian tiada sepatah katapun yang terucapkan.
Hanya pandangan mata mereka saling bertemu dan senyuman manis gadis itu yang menyentuh kedalam lubuk hati Kiam Ciu.
2 23 Sembilan tahun yang lalu Kiam Ciu mencintai Tong Bwee sebagai adiknya.
Tetapi kemudian setelah mengetahui bahwa gadis itu bukan adik kandungnya maka rasa cinta kasih itu telah berubah sangat berlainan.
Ji Tong Bwee melangkah lebih dekat dan tersenyum manja yang sangat menyejukkan hati Kiam Ciu.
Sesaat pemuda itu menarik napas panjang.
Ketika langkah kaki gadis itu bertambah dekat maka terlihatlah dengan nyata bahwa gadis itu dikedua belah matanya yang bulat berkaca-kaca membendung luapan tangis.
"Moy ... aku belum berpamitan padamu tadi, karena terasa berat harus kuucapkan kata-kata perpisahan itu padamu"
Seru Kiam Ciu dengan senyuman dibuat-buat, hatinya berat mengatakan kata-kata itu seolah-olah pemuda itu akan meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Ji Tong Bwee melepaskan sebentuk cicin dari jari manisnya, sebentuk cincin berwarna merah deiima.
Kemudian gadis itu memegang tangan kanan Kiam Ciu untuk memasukkan cincin itu ke jari kelingkingnya dan dibiarkan air matanya membasahi pipi yang putih kemerah-merahan.
"Koko ... aku tidak mempunyai kenangan yang lain kecuali cincin yang tiada berharga itu. Namun aku berharap semoga koko suka memakainya terus hingga perjumpaan kita kelak......"
Seru Tong Bwee dengan rasa penuh keharuan harus berpisah.
"Bwee Moy...... cincin ini bukannya barang yang tiada berharga, tetapi cincin ini kau berikan dengan penuh kasih sayangmu padaku. Maka percayalah bahwa aku akan menjaganya dengan segenap jiwa dan ragaku"
Sambung Kiam Ciu dengan memandangi cincin manikam merah itu dengan bergantian memandang kearah orang yang memberikannya.
"Koko ... berangkatlah dengan hati yang tenang dan jagalah diri Koko baik-baik !"
Sambung gadis itu lagi dan membiarkan butiran-butiran air matanya itu membasahi pipinya.
Digenggamnya tangan gadis itn dengan sangat erat seolah-olah tidak akan dilepaskan lagi.
Diusapnya air mata yang membasahi pipi gadis itu dengan 2 24 perasaan sayang.
Kemudian Kiam Ciu memutar tubuh dan meninggalkan tempat pertemuan mereka ditepi telaga Cui-ouw dengan cepat.
Dalam sekejap saja Kiam Ciu telah berjalan jauh dan Tong Bwee ditinggalkannya seorang diri ditepi telaga dan memandanginya hingga bayangan Kiam Ciu lenyap dibalik bayangan pepohonan didalam hutan.
Ji Tong Bwee menghela nafas panjang dan mengusap air matanya.
Dengan langkah lesu ditinggalkannya tepian telaga itu dengan hati penuh kenangan ke masa-masa lalu.
Sedangkan Tong Kiam Ciu terus menempuh hutan menuju kemarkas partai persilatan Bu-tong.
Untuk menunaikan perintah gurunya menemui ketua partai Bu-tong ialah Hiong Hok Totiang dan untuk minta titipan Twa-supeenya berupa sebuah pedang pusaka yang bernama Naga Kuning, Oey-liong-kiam.
Tiada terasa Kiam Ciu telah sampai disebuah hutan di pegunungan Tay-pie-san yang terletak dipropinsi Ouw pak.
Hutannya yang lebat dengan pereng-pereng jurang yang curam dan batu-batu gunung yang besar.
Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar dengan kilatan api yang mengerikan.
Dengan suara desau angin kencang, tiba-tiba telah turun hujan lebat sekali.
Tong Kiam Ciu yang mengenakan jubah putih telah mengembangkan ilmu meringankan tubuh dan lari menyusup hutan.
Hujan terus bertambah hebat seolah-olah air dicurahkan dari langit disertai badai dan halilintar seolah-olah dunia akan kiamat Suasana yang sangat mengerikan beberapa pohon telah tumbang dan dahan-dahan besar tertimpa sambaran petir patah dan salah saiu hampir saja menjatuhi Kiam Ciu tetapi untung pemuda berpakaian serba putih yang telah basah kuyup itu dengan tangkas dapat meloncat menghindar meninggalkan bekas terlalu dalam.
Kiam Ciu turun mengembangkan ilmu Ginkangnya untuk menuju kearah sebuah gua.
Karena hujan yang sangat lebat itu walaupun bagaimana Kiam Ciu butuh kehangatan dan berteduh.
Maka dengan terlihatnya mulut gua itu dia sangat ingin secepat-cepatnya untuk mencapainya.
Dengan sebuah loncatan yang sangat indah pemuda berpakaian serba putih itu telah berdiri didepan pintu gua.
Tetapi ketika kakinya baru saja menginjak tanah didepan pintu gua, tiba-tiba sebuah hembusan angin keras kearah dirinya.
2 25 Tahulah Klam Ciu bahwa angin yang menerpa itu adalah sangat berbahaya mengandung hawa panas, Maka dengan mendadak pula pemuda itu melejit diudara dan angin hembusan itu menghantam batu besar yang berada didepan pintu gua dan terdengarlah sebuah derakkan riuh sekali dan batu besar itu hancur.
Kini tahulah Kiam Ciu bahwa angin yang menerpa keluar itu adalah sebuah tenaga pukulan jarak jauh yang sangat luar biasa..
"Luar biasa !"
Seru Kiam Ciu dalam hati. Pemuda itu telah menduga bahwa didalam gua telah ada seseorang, tetapi gegabah menyerang tanpa menegur terlebih dahulu.
"Siapa diluar!"
Terdengar suara tajam mengguntur dari dalam, tetapi jelas terdengar bahwa suara itu keluar dengan sangat tertahan dan Kiam Ciu telah dapat menduga bahwa yang berada didalam gua itu adalah seorang sakti tua yang luar biasa.
"Aku ..Tong Kiam Ciu. Aku datang akan berteduh dalam hutan lebat ini. Jika aku telah mengganggu Locianpwee maka aku minta maaf!"
Sahut Kiam Ciu dari luar dengan suara keras tetapi sopan.
Walaupun Kiam Ciu berlaku sangat merendah dan hormat tetapi rupa-rupanya orang yang berada didalam gua sama sekali tidak menggubris akan kata-kata pemuda itu.
Maka sekali lagi Kiam Ciu berseru.
"Locianpwee apakah aku diperbolehkan masuk?!"
"Anak muda yang diluar siapa namamu ?!"
Seru suara orang dari dalam gua itu sekali lagl.
"Aku bernama Tong Kiam Ciu"
Jawab Kiam Ciu dari luar gua dengan suara keras dan sopan.
"0hh..... Kau Tong Kiam Ciu..... kalau begitu kau boleh masuk!"
Seru suara itu sekali lagi.
Mendengar jawaban itu Tong Kiam Ciu melangkah kedepan untuk memasuki pintu gua.
Sekali lagi terasa datangnya angin pukulan yang berhawa panas dari arah dalam gua.
Tetapi kali ini Kiam Ciu sudah mengelakan serangan itu seperti yang dilakukan diluar gua tadi.
Keiika dirasakan angin pukulan itu telah dekat maka Kiam Ciu mengangkat kedua tangannya dengan tapak tangan kedepan 2 26 sambil mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong yang telah diyakini ajaran dari Pek-hi-siu-si.
ternyata ilmu yang telah diyakini itu dapat membuyarkan tenaga pukulan lawan.
Kemudian Kiam Ciu melangkah lebih kedalam lagi.
Suasana didalam gua itu sangat sepi sekali samar-samar dia melihat bentuk tubuh seorang kakek berjenggot panjang dan rambut yang awut-awutan, sedang pakaiannya telah terkoyak-koyak dan tampak noda-noda darah.
Kakek itu tengah mengawasi Kiam Ciu dengan pandangan mata yang suram.
Sedang rambutnya yang awut-awutan bertebaran ke wajahnya tertiup angin keras dari luar.
"Rupa-rupanya kakek ini dalam keadaan terluka dalam"
Pikir Kiam Ciu.
"Torg Kiam Ciu?! Kau yang bernama Tong Kiam Ciu? Terimalah ini hadiahku!"
Seru kakek itu diakhiri dengan sebuah pukulan dahsyat kearah dada Tong Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu hanya memiringkan tubuhnya sedikit tanpa membalas menyerang.
Tetapi orang tua itu mengirimkan pukulan dengan kekuatan luar biasa, ketika pukulannya ternyata memukul tempat kosong hingga dia tidak dapat menguasai tubuhnya lagi.
Kakek itu terhuyung kedepan dan jatuh tersungkur, dan pada saat itu juga dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Tetapi kakek itu lekas-lekas meloncat kembali berdiri memutar tubuh menghadap Kiam Ciu dan tertawa cekakakan.
"Hemmmm..... mengapa tertawa? Apakah kakek ini telah tergoncang hebat otaknya hingga menjadi gila?"
Pikir Kiam Ciu dengan sangat heran memandang kearah kakek itu.
"Bo-kit-sin-kong! Tidak salah lagi kau telah dapat menguasai Bo-kit-sin-kong dengan sempurna!"
Kakek itu berteriak-teriak seperti orang gila. Kemudian menatap Kiam Ciu dengan pandangan mata seksama.
"Hey, Tong Kiam Ciu bagaimana kau dapat berada di pegunungan ini ?"
Sambung kakek itu dengan kerutkan keningnya.
Segala gerak dan tingkah kakek itu sangat aneh, sehingga pemuda itu menjadi bingung dan tidak dapat memberikan jawaban atas pertanyaan yang tiba-tiba dan sangat ramah itu.
Kemudian diamatinya orang tua yang berada 2 27 dihadapanya itu.
Tetapi ketika matanya menyaksikan sebilah pedang yang bergantung dipinggang kakek itu sebilah pedang kepala Naga berwarna kuning.
Diam-diam Kiam Ciu jadi terperanjat.
"Hey Tong Kiam Ciu! Apakah kau tahu aku ini sapa ?"
Seru kakek awut-awutan itu dengan lantang dan tiba-tiba pula.
"Apakah Locianpwee ... bukan Hiong Hok Totiang ?"
Jawab Kiam Ciu dengan hormat dan ragu-ragu sambil mengawasi mata kakek itu.
"Ha ha-ha. dari mana kau tahu bahwa aku Hiong Hok Totiang ? Hemmm .."
Seru kakek itu dan tampak keningnya berkerut seolah-olah kakek itu sedang menahan perasaan sakit yang luar biasa.
"Dengan melihat pedang Oey-liong-kiam yang bergantung dipinggang Locianpwee, Locianpwee terimalah hormatku, sudilah Cianpwee memaafkan segala kekurang ajaranku tadi......."
Seru Tong Kiam Ciu sambil membungkuk memberi bormat Sesaat kemudian Tong Kiam Ciu telah berlutut dihadapan Hiong Hok Totiang dan menghormat.
"Sudahlah berdirilah dan jangan terlalu banyak memakai peradatan begitu"
Seru Hiong Hok Totiang sambil mengangkat bahu Kiam Ciu Sesaat lamanya suasana menjadi sepi lengang hanya napas kedua orang itu yang terdengar.
Diluar gua masih hujan dengan lebatnya dan sesekali gebyaran sinar halilintar menerangi dalam gua.
"Sekarang dengarlah baik-baik pesanku ini Kiam Ciu! Sebenarnya aku harus menantikan kedatanganmu dipegurungan Bu-tong. Tetapi pada sekira setengah bulan yang lalu aku telah menerima sepucuk surat yang menyuruhku datang di pegunungan ini untuk menyerahkan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam. Maka saat ini aku berada disini. Apakah kau telah pergi ke pegunungan Bu-tong untuk mencariku?"
"Ya. Tetapi aku mendapat keterangan bahwa Locianpwee telah berangkat ke pegunungan T"ay-pie-san tiga hari yang lalu......." 2 28
"Hemm...... aku sama sekali tidak menduga kalau akan masuk perangkap. Aku telah ditawan didalam gua ini dalam keadaan terluka dalam selama dua hari....."
Kakek itu berhenti sebentar sambil meringis menahan rasa sakit kemudian meneruskan;
"Pedang Oey-Liong-Kiam ini adalah pedang pusaka Jenderal Gak Hui, dikalangan Kang-ouw pedang itu termasuk pedang nomor satu di kolong langit ini. Kini aku serahkan pedang ini kepadamu atas pesan gurumu Pek-hi-siu-si dan aku minta padamu agar kau dapat menggunakannya dengan baik pula dapat melindunginya. Nanti sekira lima belas hari lagi di puncak pegunungan Heng-san akan diadakan pertemuan para tokoh persilatan dalam pertemuan Bu-lim-tahwee diatas puncak Ciok yong-hong. Pesan gurumu bahwa dengan pedang pusaka ini kau diharapkan untuk mewakilinya. Baiklah kau harus menjunjung nama baik gurumu Pek-hi-siu-si yang telah menjagoi dunia persilatan selama tiga puluh tahun lebih itu", kakek itu dengan menahan rasa sakit yang amat sangat didadanya dan tampak meringis dan mengucurkan keringat dingin. Setelah menyaksikan pedang pusaka, kemudian kakek itu merogoh dari saku jubahnya sebuah benda mengkilat kuning selebar tiga jari tangan, diatas lebaran berwarna kuning itu tertera ukiran seorang tojin (pendeta) tua yang berjenggot panjang. Sambil menyerahkan benda mengkilat berwarna kuning itu Hiong Hok Totiang berkata.
"Aku kini aku sudah tidak lama lagi akan binasa, luka-lukaku sangat hebat sekali didalam tubuh. Ohhh ..kuserahkan benda ini padamu Kiam Ciu, benda ini adalah suatu tanda pengenal dari partai persilatan Bu-tong. Bila kau menemui kesulitan dan menjumpai orang-orang dari partai persilatan Bu-tong maka dengan memperhatikan tanda pengenal kuningan itu kau akan segera mendapat bantuan ...". Setelah kakek itu menyelesaikan kata-kata dan menyerahkan dua benda itu kepada Kiam Ciu maka terhentilah sejenak dan hening. Tiba-tiba terdengar kakek itu terbatuk dan meringis menahan rasa sakit tetapi Hiong Hok Totiang memuntahkan darah bergumpal-gumpal dan tersungkur jatuh ditanah, kedua tangannya menahan rasa sakit dengan menekan dada. Kemudian terdengar pula jeritan panjang yang mengerikan 2 29 kakek itu menggeliat, matanya terbelalak Hiong Hok Totiang binasa dalam keadaan yang sangat mengerikan. Saat itu berbareng pula petir menyambar dengan suara dahsyat. Hujan belum lagi reda. Sinar kilatan petir itu sesaat menyinari wajah Kiam Ciu yang kelihatan tegang dan ngeri ketika menyaksikan mayat Hiong Hok Totiang dalam keadaan yang sangat mengerikan itu. Baru saat itu dia menyaksikan seseorang binasa dengan sangat mengerikan akibat siksaan. Sekali lagi kilatan petir itu menerangi dekat pintu gua dimana Kiam Ciu masih merenung dekat jenasah pemimpin partai persilatan Bu-tong. Tetapi ketika dia menyadari bahwa masih banyak tugas yang harus diselesaikan, maka segeralah dia menggali lubang lahat didalam gua itu untuk merawat mayat Hiong Hok Totiang. Semuanya itu dikerjakan dengan sangat cepat dan mengerahkan tenaganya yang luar biasa. Maka tidaklah mengherankan kalau dalam waku tiada lama telah selesai menyempurnakan jenazah kakek itu dengan sangat sederhana, Setelah selesai memakamkan jenazah pemimpin Bu-tong tadi, maka pemuda itu memutar tubuh dan masih dengan kening berkerut dan tubuhnya lesu karena sesalan dan rasa duka atas kejadian yang mengerikan itu, Kiam Ciu meninggalkan gua itu. Tetapi langkahnya terhenti sejenak ketika dia menyadarinya bahwa dibawah sebatang povon yang tinggi dan rindang didepan mulut gua tampak berdiri lima orang Iaki-laki gagah berpakaian terbuat dari kulit singa. Orang-orang itu tampak mengawasinya, mereka tampak seram dan geram dengan sorot mata menyala-nyala.
"Tentu mereka inilah yang telah menjebak dan menganiaya Hiong Hok Totiang .."
Pikir Tong Kiam Ciu sambii melirik kearah kelima orang itu. Kemudian Tong Kiam Cu membentak kearah kelima orang itu dengan suara lantang dan tangan menuding kearah kelima orang dihadapannya.
"Hey kalian berlima harus bertanggung jawab atas kematian Hiong Hok Totiang! Kalian harus mengganti jiwa atas kematian Hiong Hok Totiang !"
Seru Tong Kiam Ciu dengan suara lantang dan gusar.
2 30 Mendengar jeritan Kiam Ciu yang lantang dan marah itu membuat suasana yang dingin karena hawa pegunungan dan hujan itu menjadi panas.
Salah seorang dari kelima orang itu yang bertubuh besar pendek segera meloncat kedepan diantara kawan-kawannya sehingga kelihatan lebih nyata.
Orang itu berseru dengan suara yang tinggi dan seperti suara wanita.
"Apa katamu anak muda ? Kami harus membayar dengan nyawa ? Seenaknya saja kau bersuara dihadapan kami, batok kepalamu yang akan kami copoti !"
Bentak orang itu dengan suara melengking seperti suara wanita.
"Ayoh kita pergi !"
Serunya kspada keempat kawan-kawannya. Tetapi sebelum orang-orang itu pergi meninggalkan dengan segeralah Kiam Ciu berseru pula lebih lantang dan tandas membentak keras.
"Tunggu....!"
Bentak Kiam Ciu dengan keras dan berwibawa.
"Akulah yang mewakili Hiong Hok Totiang untuk membuat perhitungan dengan kalian !"
"Kau pernah apa dengan si keparat Totiang itu ?"
Seru sipendek gemuk yang rupa-rupanya adalah pemimpin diantara keempat orang-orang yang berpakaian kulit singa itu.
"Peduli apa dengan kalian, hubunganku dengan Hiong Hok Totiang adalah urusanku ......!"
Seru Kiam Ciu dengan suara gusar, tetapi diam-diam pemuda itu telah siap siaga.
Sesaat Kiam Ciu memperhatikan gerak-gerik kelima orang yang berada didepannya itu.
Mereka tampak sangat mencurigakan sekali.
Dengan berloncatan mereka membentuk sebuah gerakan dan tahu-tahu mereka telah berdiri sederet dihadapan Kiam Ciu.
Ketika keadaan mereka telah siap sama sekali, maka mereka dengan berbareng telah meloncat menyerang Kiam Ciu.
Serangan dengan serentak dengan loncatan dan serangan tangan berbareng keempat orang-orang berpakaian kulit singa itu kearah dada dan bagian-bagian kelemahan Kiam Ciu.
Sedangkan Tong Kiam Ciu yang telah siaga secara diam-diam tadi kini telah mempersiapkan sebuah hantaman kedua tinjunya untuk menggempur hardik serangan lawan.
Maka kedua tinju Kiam Ciu berbareng dengan datangnya serangan itu memukul kedepan.
2 31 Angin pukulan yang hebat telah mendampar dan menghalaukan serangan pihak lawan dengan hebat sekali.
Angin pukulan Kiam Ciu yang dilambari tenaga dalam luar biasa itu sangat hebat pengaruhnya terhadap kelima orang lawan yang kelihatan seram dan tegas itu.
"Kepandaian yang dahsyat sekali !"
Seru laki-laki bertubuh pendek gendut itu dengan loncatan surut kebelakang tanpa sadar.
"Ternyata kau dapat menahan serangan kami tanpa kamu menderita luka dalam! Kitapun akan menyudahi urusan ini jika kau sudi pula menyerahkan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam kepada kami....!"
Pemimpin orang-orang itu dengan nada membujuk dan mengulurkan tangan kanan kedepan seraya mesem.
Tong Kiam Ciu merasa yakin bahwa dia dapat menundukkan lawannya dalam beberapa jurus saja.
Maka dia sangat berani untuk menantang dan mendamprat kelima orang berbaju kulit singa itu.
"Menyerahkan pedang ini ? Hmmm ..kau seenaknya saja berbicara. Dengan dalih apakah kau menghendaki penyerahan senjata pusaka ini?"
Seru Kiam Ciu dengan kerutkan kening dan merasa gusar.
"Pedang Oey-Liong-Kiam ini adalah pedang warisan dari guruku, maka aku lebih berhak untuk menguasai benda ini..!"
Sesaat Kiam Ciu terhenti karena menyaksikan gerak mencurigakan dari kelima orang lawannya itu.
"Lagi pula kalau aku tidak sudi menyerahkan pedang ini kalian akan berbuat apa terhadap diriku ?"
Seru Kiam Ciu dengan suara dampratan keras.
"Anak muda! Kau kira bahwa kau akan dapat lolos dari perangkap kami ?"
Seru laki-laki pendek bertubuh gendut itu dengan mata mengkilat dan tidak luput mengawasi terus pedang Oey-Liong-Kiam yang bergantung dipinggang Kiam Ciu. Pedang berhulu kepala naga berwarna kuning.
"Kalian sudah berlima, masih juga akan menggunakan perangkap untuk menangkap diriku seorang ?"
Seru Kiam Ciu dengan mata melotot dan mulut dibulatkan kearah kelima orang berbaju kulit singa itu.
Tetapi kelima orang itu kini tidak menanggapi kata-kata Kiam Ciu, seo!ah-olah kata-kata itu tidak didengarnya.
Kelima orang itu dengan tenang telah memutar tubuh dan dengan tenangnya meninggalkan tempat itu.
2 32 Kini Kiam Ciu menjadi sangat heran dan tidak tahu maksud orang-orang yang berada didepannya itu.
Sama sekali dia tidak memahami segala macam sifat kelima orang yang dianggap aneh itu oleh Tong Kiam Ciu.
Sebenarnya Kiam Ciu akan meloncat menerjang kelima orang itu dengan tendangan dan pukulannya.
Bahkan dia betul-betul ingin lekas-lekas membinasakan kelima orang itu.
Karena dia yakin benar bahwa Hiong Hok Totiang telah dibinasakan oleh kelima orang berbaju kulit singa itu, Namun dengan tiba-tiba dia teringat pesan gurunya Pek-hi-siu-si yang memesankan dengan sangat ditandaskan.
"Hmmm..... kalau begitu aku harus sangat berhati-hati menghadapi lima orang ini, aku harus sabar dan teliti untuk mengusut kelima orang ini sebelum bertindak lebih lanjut....."
Pikir Tong Kiam Ciu dengan menahan hasratnya untuk menerkam dan membinasakan kelima laki-laki itu.
Kelima orang itu meninggalkan depan gua dimana Hiong Hok Totiang terkubur dan Kiam Ciu berdiri melompong dan membisu dengan menahan gejolak amukan amarahnya.
Kelima orang itu berjalan sangat cepat, kemudian memasuki semak belukar.
Ketika langkah itu berjarak lima puluh depa maka muncullah dua orang yang berpakaian sama pula dengan kulit singa dan menjura kepada kelima orang itu.
Kemudian setelah kelima orang itu berlalu segeralah mereka berdua meloncat kembali masuk ke dalam gerumbulan.
(Bersambung
Jilid 3) 3 0 3 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 3 IAM CIU mengikuti jejak kelima orang iiu.
Disamping dia memang berhasrat untuk menuntut balas atas kematian Hiong Hok Totiang juga dia ingin mendapatkan sesuatu pengalaman yang luar biasa dalam persilatan.
Rahasia berbagai peristiwa kehidupan manusia.
Tetapi segala gerak-gerik orang berpakaian kulit singa yang dipandang sangat aneh itu, terus diintai dan diikuti oleh Kiam Ciu.
Sampai akhirnya kelima orang itu mendaki pegunungan dan ketika sampai disebuah gua empat orang telah langsung memasuki gua dengan meninggalkan seorang diluar gua.
Orang yang ditinggalkan itu kemudian melihat kebelakang, setelah itu melompat masuk kedalam gua juga.
Tong Kiam Ciu merasa bingung juga menyaksikan keadaan itu.
Dengan tindakan berhati-hati dan mata mengawasi waspada kedalam gua itu dia berpikir.
"Jika aku turut memasuki gua ini. kemungkinan besar aku tidak akan dapat keluar lagi dengan selamat. Lebih baik aku menunggu saja diiuar!"
Demikian pikir Tong Kiam Ciu sambil meraba-raba dinding depan mukut gua dan matanya mengamati sekeliling gua itu.
"Hay...hi.. hi. hi.. Apakah kau tidak rasa heran kalau sebentar lagi nyawamu akan segera kami renggut ?!"
Suara itu keluar dari dalam gua yang semakin lama semakin jauh.
Suara itu berpantulan bergema membentur dinding gua tetapi alunan suara itu bertambah jauh.
Setelah suara gema itu lenyap sama sekali, maka kini keadaan menjadi sangat hening dari menyakitkan telinga.
Kemudian terdengar titikan air dari dinding atap gua jatuh dltampungan air yang melahangi batu.
Suara air itu sangat menusuk-nusuk hati terdengarnya dan dirasakannya.
Tong Kiam Ciu masih tetap berdiri didepan pintu gua.
Suasana menjadi sangat sepi dan gelap, hujan gerimis masib rintik-rintik dan sesekali terlihat K 3 2 bunga api menerangi bumi dan gelap kembali.
Lebih gelap rasanya daripada sebelum silau karena kilatan halilintar itu.
Tetapi dengian sangat mengejutkan telah terjadi.
Berhamburanlah sinar obor berjatuhan dari langit menghujani Kiam Ciu yang ma sih berhenti.
Hujan obor itu sesaat menjadi reda dan tahu-tahu telah berdiri orang-orang berpakaian kulit singa dengan memegarg obor ditangan kanan.
Mereka berjumlah dua ratus orang banyaknya.
Sangat terperanjatlah Tong Kiam Ciu menyaksikan semuanya itu.
Tetapi dia tidak bersuara hanya meningkatkan kewaspadaannya atas segala kemungkinan yang mungkin terjadi.
Orang-orang itu telah berdiri dihadapan dan disekitar Kiam Ciu dengan sikap mengancam, dengan memperhatikan gerak-gerik mereka itu tahulah Kiam Ciu bahwa orang-orang itu sudah tidak sabar lagi untuk menerima tanda penyerangan terhadap Tong Kiam Cui yang telah terjebak keatas puncak pegunungan.
Salah seorang diantata kedua ratus orang itu adalah seorang yang bertubuh gendut dan pendek, Orang yang tadi telah berhadapan dengan Kiam Ciu didepan gua dimana kakek Hiong Hok Totiang terkubur.
Dia adalah pemimpin gerombolan orang-orang yang mengepung Kiam Ciu saat itu.
"Hey anak muda ! Apakah sekarang kau bersedia menyerahkan pedang pusaka Oey-Long-Kiam ? Kau memang lihay... tetapi kau akan tewas juga akhirnya jika berani melawan kita.. pertimbarakanlah masak-masak hal itu dan lekas !"
Seru laki-laki pendek gendut itu berseru lantang. Sinar matanya mengkilat seperti kilatan api obor ditangan anak buahnya.
"Aku belum pernah kenal dengan kalian sebelum ini, juga aku tidak akan semudah seperti sangkamu untuk dengan begitu saja menyerahkan pedang pusaka ini kepada siapapun. Hanya dengan melangkahi mayatku baru kalian dapat merebut pedang ini ! Atas dasar melindungi pedang pusaka guruku inilah aku tidak dapat sungkan-sungkan lagi untuk menghadapi kalian ?"
Seru Kiam Ciu sambil menyilangkan kedua lengannya didada untuk menghadapi segala kemungkinan yang datang dengan tiba-tiba.
"Jadi kau betkeras kepala ?"
Seru laki-laki gendut pendek itu dengan membentak dan mata melotot mengeluarkan bunga api.
"Kau akan menyesal 3 3 kelak !"
Seru pemimpin itu sekali lagi dengan mengangkat tangan memberikan isyarat kepada orang-orang yang berdiri dibelakang Kiam Ciu untuk menyerang berbareng.
Tong Kiam Ciu tahu babwa orang-orang yang ber diri dibelakangnya telah mendapat aba-aba untuk meyerang.
Maka dengan cepat Kiam Ciu memutar tubuh dan surut selangkah untuk memasang kuda-kuda menghadapi serangan hebat serentak dari lawannya.
Saat itu seolah-olah jantung Kiam Ciu terbang, karena sebelumnya dirasakannya Kiam Ciu menginjak sesuatu yang lunak kemudian seperti terhisap Kiam Ciu terdorong kebelakang dan terperosok kedalam sebuah lubang sumur yang dalam.
Ternyata musuhnya telah memasang perangkap dengan membuat lubang-lubang sumur yang ditutupinya dengan tanah dan rumput.
Setiap lawan yang masuk dalam jebakan itu akan ditimpuki dengan batu-batu keras dan besar serta ditimbuninya hingga binasa.
Tong Kiam Ciu meronta dan berusaha malawan timpukan batu-batu berhamburan dan hampir membentur kepala Kiam Ciu.
Namun dengan kepalan tinju yang luar biasa ia telah menghantam hancur batu-batu yang menimbuninya dengan gigih dan batu-batu itu berhamburan.
Beberapa saat sebelumnya Hiong Hok Totiang atau ketua partai silat Bu-tong telah masuk kedalam jebakan itu dan menjadi korbannya.
Tetapi berkat kehebatan ilmu tenaga dalamnya yang hebat, maka dia sempat bertahan.
Hiong Hok Totiang yang dianggap telab binasa itu dibiarkan tertimbun hancur dalam lubang perangkap yang penuh batu itu, Namun Hiong Hok Totiang yang dianggap telah tewas itu.
dengan usahanya yang bersusah payah telah dapat merangkak keatas dari lubang jebakan, semuanya itu dilakukannya pada malam hari, ia bermaksud 3 4 bersembunyi dalam gua sambil menantikan tenaga dalamnya pulih kembali serta luka-lukanya menjadi sembuh.
Terapi luka-luka yang tengah di deritanya itu terlalu berat.
Sehingga tubuh yang telah loyo dan tua itu serasa tiada tertahan lagi.
Maka ketika dia telah bertemu dengan Kiam Ciu merasa sangat senang hatinya dan berarti satu tugasnya yang sangat diprihatintan itu dapat diselesaikannya.
Setelah kakek itu menyerahkan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam kepada Tong Kiam Ciu maka kakek itu lalu tersungkur dan binasa.
Tidak percuma Tong Kiam Ciu mempelajari ilmu sikat dari keempat gurunya.
Dengari tekun pemuda itu telah mempelajari dan memahami ilmu-ilmu dari keempat gurunya dan tanpa rasa lelah.
Terutama ilmu ginkang yang telah diturunkan oleh Pek Giok Bwee.
Ilmu yang sangat luar biasa dan pada saat-saat seperti saat terjepit ini maka Kiam Ciu segera mengembangkan ilmu meringankan tubuh hingga dirinya tidak terseret masuk kedalam lubang jebakan itu dengan deras dan terbanting.
Ilmu meringankan tubuh yang dulu ditelaga Cui-ouw selalu dilatihnya bersama dengan Ji Tong Bwee ternyata kini sangat berguna dan dengan menghentakkan kaki kanan dengan jurus Pek-yan-ciong-thian atau asap putih membumbung kelangit sambil menghunus pedang Naga Kuning ditangan kanan Kiam Ciu langsung meloncat menyerang musuh.
Tiba-tiba suasana disekitar gua itu menjadi gelap gulita.
Orang-orang yang memegang obor berhamburan lari sambil melemparkan obor mereka kedalam lubang perangkap.
Tong Kiam Ciu tidak berani untuk meneruskan menyerang dan menghajar musuhnya itu sangat khawatir dengan kelicikan lawan.
Dia sangat berhati-hati dan merasa seolah-olah dirinya masih dalam pengawasan dan pengintaian lawan.
Karena Kiam Ciu tahu bahwa lawannya sangat licik kemungkinan masih dapat terjadi dan dia dapat mati konyol dan penasaran.
"Siauwhiap (pendekar muda) ! Kau walaupun masih muda usiamu, namun ternyata betul-betul sangat lihay, kau beruntung telah dapat terbebas dari bahaya maut! Tetapi..."
Seru sebuah suara yang sudah dikenal sejak didepan gua 3 5 dipegunungan Tay Pie san dipropiosi Ouw pak dimana pemimpin partai persilatan Bu-tong terkubur.
"Tetapi apa!"
Seru Tong Kiam Ciu memotong kata-kata orang itu.
"Kita dari partai persilatan Kim-sai-pang (Singa kuning mas) tidak akan menyerangmu lagi!"
Jawab laki-laki itu dengan suara tegas.
"Hey pengecut biadab!"
Bentak Kiam Ciu dengan suar gusar.
"Kalian telah banyak membinasakan orang-orang gagah dengan keji. Sekarang pergunakanlah kekejianmu itu terhadapku !"
Seru Tong Kiam Ciu dengan mendongak dan berseru kearah datangnya suara itu.
Baca Juga: Raja Pedang 3
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 7