Eps 2 Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung
Baca online Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung
Cersil Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung.
"Kita tidak akan menyerangmu lagi, karena partai kami mempunyai suatu peraturan. Jika kita gagal menjebak musuh kita dilarang untuk bertindak lebih lanjut ! Sekarang walaupun Siauwhiap minta kepada kami untuk diserang namun kami sungkan untuk bertindak !"
Sambung suara itu lagi dengan datar. Kemudian terdengar suara raungan seperti raungan singa jantan, raungan itu bertambah jauh, semakin jauh dan sayup-sayup terdengar kemudian lenyap sama sekali.
"Hemm"
Aku telah sampai di markas partai Kim-sai-pang"
Guman Kiam Ciu kemudian matanya menatap pedang Oey-Liong-Kiam, tampaklah kilatan kuning memijar, kemudian terdengar pedang itu disarungkan kembali.
Tong Kiam Ciu teringat kembali tugasnya di puncak Ciok yong-hong dipegunungan Heng-san untuk menghadiri pertemuan para pendekar Bu lim pada pertemuan Bulim-tahwee lima belas hari lagi.
Maka segeralah dia meninggalkan tempat itu dan untuk sementara dia melupakan dulu persoalan dengan golongan Kim-sai-pang.
Dengan menarik nafas panjang pemuda itu menyaksikan sekitar tempat dimana tadi dia terjebak.
Semuanya gelap, tetapi dia telah mengingat-ingat tempat itu dengan jelas dalam benaknya.
Untuk suatu ketika kelak dia akan kembali lagi, Pegunungan Heng-san terletak di tengah Propinsi Ouw lam.
Pegunungan itu terdiri dari tujuh puluh lima banyaknya.
Salah satu puncaknya yang sangat terkenal diantara puncak-puncak yang lain ialah puncak Ciok yong-hong sedangkan di kaki puncak Ciok yong-hong itu terdapat sebuah desa kecil 3 6 bernama Pek mau.
Pada waktu-waktu tertentu tempat itu banyak dikunjungi orang untuk bersembahyang, orang-orang itu berkunjung dan bersembahyang dipuncak Ciok yong-hong dan walaupun desa Pek-mau itu adalah desa yang kecil, namun ada dua bangunan penginapan untuk menampung para pengunjung itu.
Saat-saat cepat berlalu, dengan tiada terasa telah dua minggu berlalu.
Kesibukan didesa Pek-mau sangat luar biasa.
Telah berkumpul banyak sekali pendatang dari segala jurusan dan propinsi.
Karena adalah orang-orang yang sangat tertarik dengan segala macam yang akan terjadi diatas puncak Ciok yong-hong.
Karena sehari lagi di puncak Ciok yong-hong akan diadakan pertemuan para tokoh persilatan dari segala penjuru.
Pertemuan jago-jago silat dari kalangan Kang-ouw itu akan diakhiri dengan pertandingan ilmu silat di arena Bu lim tahwee.
Diantara orang-orang itu tampak pula Tong Kiam Ciu dengan mendengakkan wajahnya pemuda itu mencari penginapan.
Maka segeralah pemuda itu menghampirinya dan langsung menemui seorang pengurus.
Kudanya ditambatkan diiuar.
"Saudara aku ingin bermalam disini apakah masih ada tempat satu kamar untukku?"
Seru Tong Kiam Ciu dengan penuh harapan. Karena dia khawatir juga kalau sampai kehabisan kamar melihat begitu banyaknya para pengunjung di desa Pek-mau itu.
"Hemmmm ... tuan, selama dua hari ini terlalu banyak tamu datang. Dua penginapan di desa ini telah penuh semua kamarnya dipesan oleh tamu-tamu. Tetapi untuk Tuan kami dapat menyediakan sebuah kamar.."
Jawab pengurus penginapan itu dengan tersenyum ramah.
"Terimakasih. Tolong berilah makan kudaku itu. Aku akan memberi tambahan nanti"
Seru Tong Kiam Ciu sambil menuding kearah seekor kuda yang tertambat didepan, Karena dalam perjalanan tadi kuda yang dipergunakan Tong Kiam Ciu belum diberi makan.
"Baik Tuan. Kami harap tuan tidak usah merasa khawatir, semuanya akan kami lakukan dengan baik dan memuaskan"
Seru pengurus penginapan seraya 3 7 menghormat tamunya dan kemudian bertepuk tangan memanggil pelayan hotel untuk mengurus segala sesuatu keperluan Tong Kiam Ciu.
Ketika Tong Kiam Ciu memutar tubuh dan bergerak untuk masuk ke ruang tamu tampaklah beberapa orang telah mengangkat wajah dan ada pula yang berpaling memandang pemuda itu.
Namun Kiam Ciu tetap bersikap tenang saja.
Sedangkan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam digendongnya dipunggung dan tampak tersembul hulu naga kuning kelihatan dari bahu kanannya.
Rupa-rupanya semua yang berada di tempat itu merasa heran menyaksikan pedang pusaka Oey-Liong-Kiam dibawa oleh seorang pemuda belia.
Namun pemuda itu terus saja mengikuti pelayan penginapan yang membawa dia ke kekamar yang telah disedhakab.
Langkahnya tegap dan pasti, menggambarkan bahwa pe muda itu adalah seorang pemuJa yang telah terlatih untuk percaya kepada diri sendiri.
Sore harinya ketika Tong Kiam Ciu sedang makan sore seorang diri, tiba-tiba datang menghampiri ke tempat duduknya seorang pemuda yang lebih muda dari Kiam Ciu sekira pemuda itu berumur dua puluh tahun.
Pemuda itu berwajah putih bersih, bertubuh kurus kering.
Dengan hormat dan tersenyum.
"Aku bernama Li Hok Tian, orang-orang kalangan Kang ouw memanggilku dengan sebultan Siauw kut-liong (Naga Kurus). Apakah diperbolehkan aku untuk duduk bersama-sama dengan anda ?"
Seru pemuda kurus itu dengan suara mendatar, sopan dan hormat. Sesaat Tong Kiam C.u menatap wajah pemuda kurus itu. kemudian tersenyum dan mempersilahkan pemuda itu untuk duduk semeja dengan Kiam Ciu.
"Aku bernama Tong Kiam Ciu. baru saja terjun kedalam dunia Kang-ouw.."
Jawab Kiam Ciu dengan hormat dan ramah.
"Kuharap saudara Tong tidak bergusar hati, karena aku akan mengajukan suatu pertanyaan. Dimanakah saudara Tong memperoleh pedang pusaka Oey liong-kiam itu ?"
Seru Siauw kut-liong dengan berterus terang.
"Saudara Li, bukankah kita baru saja ber kenalan ? kukira pertanyaanmu itu melewati batas kesopanin !"
Seru Kiam Ciu sambil menatap wajah pemuda 3 8 dihadapannya. Kemudian Kiam Ciu acuh tak acuh dan menyuapkan hidangannya.
"Saudara Tong, kukira apa yang kulakukan ini bukan suatu kelancangan. Apakah kau sudah tak tahu aku ini siapa ?"
Seru pemuda kurus itu seraya menjulurkan kedua jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan kearah tangan Kiam Ciu yang sedang mengumpit makanannya.
Pemuda itu mencoba tenaga dalam Kiam Ciu.
Perbuatan kedua pemuda itu diperhatikan oleh para tamu.
Terutama diperhatikan betul-betul dengan seksama oleh seorang pemuda yang berpakaian compang camping, rambutnya terurai dibiarkan menggerai dibahu bahkan sebagian menyibak ke wajahnya.
Pemuda itu duduk di suaiu sudut menghadap kearah dimana Kiam Ciu duduk.
Sebetulnya Li Hok Tian atau Siauw kut-liong adalah murid kesayangan Hiong Hok Totiang.
Li Hok Tian telah turun kedunia persilatan dan berkelana dikaiangan kangouw selama dua tabun.
Partai persilatan Bu-tong sangat termashur dengan ilmu pedangnya, Semenjak berkelana dikalangan Kangouw Li Hok Tian hanya menemui dua orang pendekar yang kuat.
Sedangkan musuh-musuh lainnya dia kalahkan dengan ilmu pedangnya Hui-liong-cit kiamsut atau jurus naga terbang sehingga dikalangan Kangouw dia mendapat gelar si Naga Kurus atau Siauw kut-liong.
Setelah merasakan tekanan sumpit Tong Kiam Ciu dia merasa terperanjat.
Karena dia belum peroab dipermainkan sedemikian rupa oleh siapapun.
Maka dengan sangat gusar dan merasakan dia ingin segera melabrak Kiam Ciu.
pemuda yang baru saja dikenalnya itu.
Tetapi sesaat kemudian ketika matanya melirik kearah hulu pedang yang bersembul dibahu Kiam Ciu pemuda kurus itu menjadi sangsi dan dia tersenyum.
"Pedang Oey-liong-kiam itu telah dititipkan oleh Pek-hi-siu-si kepada Hiong Hok Totiang pemimpin partai persilatan Bu-tong dan beliau adalah guruku."
Seru Li Hok Tian dengan jelas dan tegas.
"Ohhh... saudara Li adalah murid Hiong Hok Totiang ?. Adapun tentang pedang ini sebetulnya aku ingin ceriterakan kepada warga mandala partai Bu-tong, sewaktu-waktu bila aku mengunjungi markas partai Bu-tong. Sama sekali tidak 3 9 diduga bahwa hari ini aku dapat berjumpa dengan saudara Li disini. Marilah persoalan ini kita bicarakan dengan tenang!"
Seru Kiam Ciu dengan suara penuh keramahan dan berhati-hati. Sementara itu terliha.lah perubahan wajah Li Hok Tian, kelihatanlah pemuda kurus itu agak tenang sedikit.
"Pedang pusaka ini aku terima dari tangan guru saudara Li hanya sayang sekali Hong Hok Totiang telah wafat, dan sebelum menutup mata beliau telah.."
Seru Kiam Ciu menjelaskan terputus.
"Hah? Guruku telah binasa, apatah kau yang telah membunuh ?"
Desak Li Hok Tian dengan suara gusar sekail.
Stelah berkata demikian Li Hok Tian meloncat berdiri dan langsung mengirimkan serangan dengan dua jari tangan kanan menuju kearah kedua mata Kiam Ciu.
Tetapi Kiam Ciu memiringVan tubuhnya seraya membentak lantang.
"Saudara Li ! Tunggu dulu, sabar ! Kau jangan keliru, jangan salah paham dan salah terka ! Gurumu telah dianiaya oleh orang-orang dari partai Kim-sai-pang. Sebelum gurumu wafat, beliau telah memberikan pening kuningan ini kepadaku!"
Kiam Ciu merogoh sakunya dan mengubah mencari benda sebesar tiga jari tangan berwarna kuning.
Sebuah benda pengenal dari partai Bu-tong.
Seketika itu wajahnya pias dan berkeringat karena benda itu telah lenyap dari sakunya.
"Ohh... mungkin pening kuningan itu jatuh ketika aku dikepung oleh partai Kim-sai-pang?"
Pikir Kiam Ciu dengan diam-diam dan masih mencari pening itu dalam sakunya.
"Kau dapat menipu terhadap orang lain. tetapi terhadapku kau jangan harap dan sekali sekali jangan mencoba menipuku. Kau harus membayar dengan nyawa untuk menebus kematian suhuku.!"
Gemboran itu diakhiri dengan sebuah loncatan seraya mengirimkan tendagan ke arah Kiam Ciu.
Mendapat serangan yang datangnya dengan tiba-tiba itu, Kiam Ciu tampak agak gugup.
Tetapi segera telah berubah berdirinya dengan menarik lalu geserkan kaki kanan hingga semuanya sangat berubah.
"Tahan dulu !"
Bentak Kiam Ciu menbentangkan kedua tangannya didepan. 3 10 Tetapi Li Hok Tian telah melompat dari tampak sangat gusar sekali sehingga kursi dan meja bergelimpangan dilantai.
"Saudara Li tahan dulu ! kau harus bertindak dengan kepala dingin, atau kau akan menyesal dikemudian hari !"
Seru Kiam Ciu.
Siauw Kut Liong terus menyerang tanpa dapat menahan gejolak hatinya yang dirangsang oleh amarah yang meluap.
Sedangkan Tong Kiam Ciu telah menyadari bahwa si Naga Kurus itu hanya salah paham, maka Kiam Ciu tidak mau membalas menyerangnya.
Hanya dengan gesit Kiam Ciu mengelakkan tiap serangan yang datang.
Kemudian untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan maka pemuda itu lalu dengan gesit lelah meloncat melalui jendela keluar dari ruang dalam hotel itu, loncatan dengan menggunakan ilmu Hu-liong-jauw-jit atau Naga terbang melalui matahari.
Tetapi Li Hok Tian tak kalah gesitnya.
Dengan Sekali loncatan pula telah menyambar lengan kanan Kiam Ciu dan mengirimkan sebuah gablokan kearah punggung Kiam Ciu.
Secepat kilat pula Kiam Ciu telah memutar tubuh dan berhasil membuyarkan serangan Li Hok Tian dan menyambar baju si Naga Kurus sambil membentak lantang.
"Saudara Li ! Kau janganlah salah paham jika aku nanti dapat menemukan logam pengenal itu maka aku dapat membuktikan bahwa aku tidak berdusta. Kuharap kelak kau tidak mengejar-ngejar aku lagi...!"
Setelah berseru demikian Kam Ciu telah melepaskan cengkeramannya dan lari kearah kuda putihnya.
Saat itu banyak orang yang telah menyaksikan serangan-serangan yang diiancarkan oleh Li Hok Tian dapat dihindari oleh Kiam Ciu.
Walaupun Kiam Ciu telah bertindak dengan bijaksana tidak membuat malu lawannya.
Namun karena terlalu banyak orang yang menyaksikan itu hingga Li Hok Tian menjadi sangat malu dan bertambah gusar, maka tetap mengejarnya dan membentak kearah Kiam Ciu.
"Tahan ! Terima seranganku !"
Seru Li Hok Tian sambil menggerakkan tangan kanan dan terdengarlah desingan-desingan.
3 11 Bersamaan dengan meluncurnya bentakkan itu, Li Hok Tian telah melemparkan senjata rahasia yang berupa cincin besi sejumlah enam buah telah meluncur mengarah ketubuh Kiam Ciu.
Sedangkan pemuda itu sedang memegang pelana kudanya.
Tong Kiam Ciu telah mendengarkan datang nya serangan keenam cincin besi yang berdesing kearah enam tempat kelemahan Kiam Ciu.
Tetapi pemuda itu sengaja tidak akan menghindari datagnya serangan rahasia itu.
Kiam Ciu sengaja memang akao memamerkan kepada Li Hok Tian kehebatan ilmu Bu tek-sin-kang.
Maka dengan mengembangkan ilmu andalannya itu yang dirangkapi dengan tenaga dalam dan terdengarlah suara "Duk !
berturut-tueut enam kali.
Ternyata sangat luar biasa keenam cincin besi itu mental balik kearah majikannya.
Menyaksikan kilatan keenam senjita rahasia cincin besi yang balik menyerang dirinya, maka Li Hok Tian menjadi sangat terperanjat.
Maka dengan sigap pemuda itu melocnat kesamping dan melindungi ketiga jalan darah yang pokok untuk menghindari serangan senjata rahasianya sendiri yang dipukul balik dengan kehebatan Bu tek sin-kang oleh Kiam Ciu.
Para penonton hampir serentak berseru kagum.
Begitu pula LI Hok Tian merasa kagum juga akan kehebatan Kiam Ciu.
Karena baru kali ini pemuda yang bergelar si Naga Kurus atau Siauw kut liong serangan senjata rahasianya gagai bahkan dapat dipukul balik oleh pihak lawan.
Karena sangat tergesa-gesa itu si Naga Kurus atau Siauw Kut Liong hingga terhuyung hampir jatuh bahkan seperti orang yang tengah mabuk arak.
Pada saat itulah Kiam Ciu menghentakkan kakinya dan melompat kepunggung kuda putihnya, dengan sekali gerak kuda itu telah meloncat bagaikan terbang meninggalkan rumah penginapan.
Diantara orang-orang yang hadlir ditempat itu terdengar ada yang nyeletuk memuji dengan nada suara penuh kekaguman.
"Ohh ..Hui-hong-bu-liu (Angin topan menghembus pohon Liu) suatu jurus yang sangat hebat!" 3 12 Memang apa yang dilakukan oleh Tong Kiam Ciu adalah Jurus Hui-hong-bu-liu yang telah dilancarkan oleh Kiam Ciu. Ilmu yang telah diwarisinya dari Siauw Liang. Tetapi yang sangat mengherankan justru yang berseru kagum itu adalah seorang pemuda yang berpakaian compang-camping dan berambut awut-awutan terurai bahkan sebagian rambutnya ada beberapa lembar menyibak kedepan. Sehingga kelihatan terkadang pemuda itu menyibakkan rambutnya kebelakang. Tong Kiam Ciu terus membedalkan kudanya. Dari desa Pek-mau terus menerobos masuk kedalam hutan lebat dikaki pegunungan Heng san. Saat itu bulan purnama yang bundar dan terang bersih sedang berkembang menyinari mayapada. Tanpa penghalang mendung segumpalpun. Kuda putih yang gagah dan Kiam Ciu dengan tenang telah duduk diatas punggung kuda itu. Dipandangnya puncak Ciok yong-hong dengan tarikkan nafas panjang dan terasalah kesegaran hawa sejuk pegunungan malam itu. Sesekali terasa angin semilir menyentuh kulit halus pemuda itu. Tong Kiam Ciu menarik tali kekang kudanya, pendengarannya yang telah terlatih menangkap suatu suara yang aneh didalam hutan. Maka dengan sangat berhati-hati diperhatikannya sekitar tempat itu dengan teliti. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya kearah suatu tempat lebih kurang seratus depa dari tempatnya mengintai. Apa yang dilihatnya menarik perhatian pemuda itu. Tampak seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dengan berjambang bauk tetapi kepalanya botak, laki-laki botak itu tampak seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat. Tampak sebilah pedang terpancang dipunggung laki-laki itu. Tetapi tiba-tiba orang itu mencabut pedangnya dan berseru lantang dan "Crak !"
Terdengar suara bacokkan tahu-tahu pohon kecil didepan laki-laki itu telah roboh dan putus.
Kemudian dengan gerak memutar dan cepat laksana kilat pedangnya telah meluncur di udara, kearah sebatang pohon yang terletak sekira sepuluh depa jauhnya.
Sungguh sangat mengagumkan bahwa pedang itu bagaikan dikendalikan oleh suatu kekuatan gaib telah memutari pohon besar itu dan meluncur balik 3 13 kearah laki-laki yang melemparkannya.
Permainan pedang itu adalah ilmu Hui-ki la-ki.
"Wah, beul-betul suatu ilmu pedang yang baik dan sangat mengagumkan. Sungguh hebat kepandaian orang itu, kalau tidak salah orang itu adalah Eng Ciok Taysu pemimpin partai persilatan Siauw-lim dipropinsi Hokkian. Aku sering mendapat ceritera dari Twa-supee, dengan kepandaiannya itu dia dapat memenggal kepala lawan dari jarak jauh"
Demikian pikir Tong Kiam Ciu dengan diam-diam dalam persembunyiannya.
Kemudian tampak laki-laki yang berpakaian pendeta itu dalam keadaan siaga seperti tadi.
Kelebatan senjatanya dibarengi dengau robohnya sebatang pohon besar disamping laki-laki gundul itu.
Kemudian meloncat kesamping dan beberapa kali membacokan pedangnya pada sebatang pohon itu dapat roboh.
"Hemmm.... setelah beberapa kali baru pohon ini roboh. Sungguh aku telah tua. Ternyata Eng Ciok sekarang sudah bukan Eng Ciok puluhan tahun yang lalu. Kini untuk merobohkan sebatang pohon yang tidak berapa besar saja memerlukan terlalu banyak, tenaga..."
Gumam pendeta gundul itu dengan suara yang ditujukan kepada dirinya sendiri.
Sesaat kemudian dia mendogak ke langit dan menyaksikan bulan purnama yang bersinar terang dengan bintang-bintang bertaburan diangkasa tanpa diganggu oleh mega dan mendung.
"Sepuluh tahun yang lalu aku tidak berhasil merebut pedang pusaka Oey-liong-kiam yang tersohor merupakan pedang nomor satu dikolong langit. Jika kali ini aku juga tidak berbasil merebutnya, maka runtuhlah namaku sebagai pemimpin pariai Siauw-lim dan aku tidak akan punya muka untuk mengampuni saudara-saudara seperguruan dan murid-muridku"
Gumam taysu seorang diri.
"Hemmm.. tidak salah dugaanku. Ternyata betul-betul orang itu adalah pemimpin partau persilatan Siauw-Lim. Tetapi mengapa dia mengeluh sedemikian rupa, apakah kepandaiannya sekarang dirasakannya telah menurun?"
Pikir Tong Kiam Ciu sambil mengelus-elus pedangnya yang masih terpampang dipunggung, Terapi tiba-tiba kudanya meringkik keras dan mengejutkan Tong Kiam Ciu sendiri.
3 14 Mendengar ringkikan kuda itu Eng Ciok Taysu menegur.
Tetapi kakek itu tidak menghadap kearah Tong Kiam Ciu.
Pemimpin Siauw-lim itu menghadap kearah yang berlainan.
Berbareng dengan berhentinya suara teguran taysu itu terdengarlah suara tertawa terbahak-bahak.
Kemudian muncullah seorang laki-laki berumur setengah abad.
Laki-laki itu mengenakan jubah berwarna kuning.
berwajah muram dan matanya sipit, bermulat lebar dan hidungnya seperti bawang merah.
Tahu-tahu laki-laki setengah abad umurnya itu telah berada didepan Eng Ciok Taysu.
"Hey... kepala gundul !"
Bentak orrang itu, kau berlagak betul, baru saja kau tiba di tempat ini tahu-tahu kau telah memamerkan kepandaianmu!
Kau seolah-olah mearasa yakin bahha kau akan memperoleh pedang pusaka Oey-liong-kiam.
Kau sudah begitu tua.
mengapa begitu bodoh ingin juga turut memperebutkan pedang pusaka itu?
Kalau begitu tujuanmu taysu.
bukankah kedatanganmu ke puncak Ciok yong-hong dalam pertemuan Bu lim Tahwee berarti mengantarkan nyawa?"
Seru orang yang baru datang dan berhidung seperti bawang merah itu kemudian diselingi dengan senyuman lebar.
Kemudian terdengarlah orang itu tertawa terbahak-bahak yang bersifat sangat menyakitkan hati Eng Ciok Taysu.
Orang yang berhidung bagaikan bawang merah itu tiada lain adalah Kiat Koan yang angkuh, dia adalah pemimpin partai persilatan Kong-tong.
"Hemmm..... jika aku tidak akan mampu untuk merebut pedang itu, apakah kau kira bahwa kau akan mampu untuk merebutnya?"
"Betul, aku pasti dapat merebut pedang itu!"
Seru Kiat Koan dengan nada penuh kecongkakan .
"Meskipun kau adalah seorahg tokoh persilatan yang penuh dengan perbuatan-perbuatan kotor dimasa lampau tetapi jika ternyata kau dapat merebut pedang itu maka aku bersumpah akan menjura tiga kali dihadapanmu!"
Seru Eng Ciok Taysu dengan suara sinis.
"Hey kepala gundul, aku tiada gunanya berdebat denganmu! Karena ternyata kau memang pandai berbicara. Aku telah datang ke puncak Ciok yong-hong 3 15 untuk mengambil bagian dalam penemuan Bu lim-tahwee. Satu-satunya orang yang paling kusegani adalah Pek-hi-siu-si. Tetapi aku tahu bahwa delapan tahun yang lalu kakek itu telah mendapat luka dalam yang sangat hebat. dan dia telah menyerahkan pedang Oey-liong-kiam kepada Hiong Hok Totiang dengan demikian dia telah mengundurkan diri. Selama beberapa tahun ini aku telah giat melatih dan memperdalam ilmu Bu sa ciang (tinju sapu jagad) maka kini aku merasa yakin dapat merobohkan para pendekar termasuk kau sendiri!"
Seru Kiat Koan dengan suara sombong dan senyumannya yang lebar memuakkan.
"Aiii.. Congkak benar si hidung bawang ini"
Pikir Tong Kiam Ciu "dia membual seenaknya saja, apakah dia menyangka bahwa dirinya yang paling jago di kolong langit ini ?!"
Pada saat itu tampaklah suatu perubahan pada diri sipendeta, sama sekali dia tidak dapat meneriakan kata-kata sombong dan sangat merendah orang lain itu. Maka sangat gusarlah hati Eng Ciok Taysu.
"Hayo iblis hidung bawang ! Sebetulnya siapa yang pandai bicara ? Aku atau kau !"
Seru Eng Ciok Taysu dengan gusar.
"Hah ? Tidak perlu kita terlalu banyak bicara. Jika kau masih meragukan ilmu Bu sa ciang kau dapat mencobanya !"
Seru Kiat Koan dengan nada suara menantarg dan gusar.
Saat itu bulan masih memancarkan sinarnya yang terang dengan beribu-ribu bintang berhamburan di langit.
Ketika mendengar kata-kata yang pedas dan bersifat menantang itu tersinggunglah kesabaran Eng Ciok Taysu.
Maka kakek gundul itu segera memperbaiki kuda-kudanya sambil melangkah satu tindak.
Dengan sorot mata menyala Eng Ciok Taysu memandang sihidung bawang.
Rupa-rupanya pertarungan hebat diantara kedua orang itu tidak dapat dihindari lagi.
Dalam detik yang panas dan menegangkan itu, tiba-tiba tampak dua buah bayangan tetah melayang dibarengi dengan seribitan angin sejuk.
Bayangan itu telah datang dengan tiba-tiba dan tampak dua orang yang telah berdiri diantara kedua orang yang akan mengadakan pertandingan mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dengan saling bersikeras.
3 16 Bayangan yang satu adalah seorang laki-laki tua berpakaian seperti seorang pelajar, rambut dan jenggotnya telah putih, dipunggungnya terpampang sebilah pedang.
Kakek itu yang terkenal dengan gelar Tie kiam suseng (si mahasiswa berpedang baja) pemimpin partai persilatan Tie kiam bun yang bernama Pek Giok Tong.
Sedangkan bayangan yang satunya lagi adalah seorang rahib wanita yang berwajah kejam dan bersenjata tongkat.
Dikalangan persilatan dia dikenai sebagai Siok-soat Shin-si.
Eng Ciok Taysu maupun Liat Kiat Koan merasa sangat terperanjat ketika menyaksikan kedatangan kedua orang tokoh itu.
Dengan pandangan mata penuh keheranan Kiat Koan memperhatikan kedatangan kedua orang itu dan berpikir.
"Aneh, kakek dan nenek itu belum pernah datang ke puncak Ciok yong-hong untuk turut serta menghadiri pertemuan Bulim Tahwee. Tetapi sekarang......."
Tie kiam su-seng tidak memperhatikan sama sekali keadaan pemimpin partai Kong-tong yang congkak itu.
Ia hanya tersenyum dan mengangkat kedua tangannya menghaturkan hormat kepada Eng Ciok Taysu seraya berkata.
"Eng Ciok Taysu. kita sudah lama tidak saling berjumpa. apakah Taysu baik-baik saja ? Taysu tidak perlu bertengkar dengan sihidung bawang itu. Jika betul-betul memang dia adalah seorang jago, maka dia dapat membuktikan kehebatan itu di puncak Ciok-yong hong nanti. Saat ini aku mempunyai suatu perkara yang akan dirundingkan dengan Taysu, maka sebaiknya kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini sekarang !"
Seru kakek Pek Giok Tong. Eng Ciok Taysu membalas hormat orang itu kemudian mengangkat wajahnya dan berseru dengan suara ramah dan sopan.
"Sama sekali aku tidak menduga akan pertemuan ini. Aku tak pernah memimpikan akan bertemu dengan saudara Pek dan Siok-soat Shin-ni ditempat ini. Saat ini kurasa sudah pada waktunya kita harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Ayolah kita lekas meninggalkan tempat ini "
Kemudian tanpa menghiraukan lagi kepada Liat Kiat Koan, mereka bertiga segera berlalu dari tempat itu.
3 17 Diperlakukan seperti itu Liat Kiat Koan merasa gusar dan sangat mendongkol sekali.
Tetapi si Hidung Bawang itu masih sempat mendengar ketiga orang itu menyebut-Ang-tok-ouw atau telaga Ang-tok dan kota Pek-seng.
"Kota Pek-seng. Apakah kitab ilmu silat Pek-seng betul-betul berada dikota Pek-seng ?"
Pikir Liat Kiat Koan sambil berjalan dengan menundukkan kepala menuju kepuncak Ciok yong-hong.
***** Pegunungan Heng san dengan puncaknya yang bernama Ciok yong-hong.
Ciok yong-hong adalah sebuah dataran tinggi seluas sekira seratus depa persegi ditumbuhi oleh rumput yang hijau dan tebal.
Terdapat jurang yang sangat curam.
Tiga sisi jurang itu terdapat hutan pohon beringin yang sangat rindang.
Memang tempat yang sangat mengagumkan dan tidak banyak terdapat di tempat lainnya.
Puncak Ciok yong-hong mempunyai keistimewaan tersendiri.
Dibawah sinar bulan purnama yang terang benderang itu tampaklah bayangan orang-orang yang mengupengi lapangan rumput hijau.
Mereka terdiri dari tokoh-tokoh persilatan segala aliran.
Baik aliran tua maupun muda yang telah menjagoi dunia persilatan puluhan tahun sampai para pendekar yang belum berpengalaman lama di dunia Bu-lim.
Tetapi mereka telah bertemu dalam pertemuan Bu-lim-tahwee di puncak Ciok yong-hong dengan penuh hikmad.
Mereka itu adalah orang-oramg dari dunia Kang-ouw yang datang karena pertemuan itu untuk turut serta dalam perebutan pedang pusaka Oey-liong-kiam.
Meskipun sebagian besar adalah tokoh-tokoh tua dan berpengalaman namun ada juga yang datang ke tempat itu hanya untuk mencari pengalaman dan pengetahuan mereka saja.
Mengingat bahwa mereka untuk memperebutkan pedang pusaka Oey-liong-kiam harus berhadapan dengan tokoh-tokoh sakti dan berkepandaian tinggi.
Adapun bagi mereka yang pernah datang untuk yang kesekian kalinya dalam pertemuan Bu-lim tahwee kali ini banyak dikunjungi dengan luar biasa sekali.
Tetapi mereka belum menyaksikan kehadiran Pek-hi-siu-si yang telah keluar sebagai pemerang pada pertemuan yang lalu Pek-hi-siu-si yang berhasil memboyong pedang pusaka Naga kuning itu dari puncak Ciok yong-hong.
Saat 3 18 itu mereka juga belum melihat Eng Ciok Taysu, Hiong Hok Totiang dan pendekar-pendekar lainnya yang mempunyai ilmu hampir setarap dengan Pek-hi-siu-si.
Sebelum fajar menyingsing Liat Kiat Koan telah datang dan menghormat kepada para hadirin yang berjubal di tempat itu.
Pemimpin partai persilatan Kong-tong itu menghormat dengan sikapnya yang angkuh sekali dan tampak menjengkelkan.
"Bukankah si gundul kakek dan nenek tadi telah mendahului menuju kepuncak ini. Tetapi kemana perginya mereka itu ? Apakah mereka menuju ke Ang-tok-ouw ?"
Pikir Liat Kiat Koan sambil matanya memandang ke mana-mana mencari-cari ketiga orang itu.
Tetapi sesaat kemudian kakek Eng Ciok Taysu telah datang karena itu dengan langkah tenang dan pasti mendekati orang-orang lan yang bergerumbel menantikan pertandingan segera dimulai.
"Tidak diduga bahwa ternyata kau sangat terlambat !"
Seru Kiat Koan, kata-kata itu dilontarkan dengan nada mengejek.
"kemana kawan-kawanmu tadi, apakah mereka merasa gentar ? Juga kenapa pula Pek-hi-siu-si, mengapa belum kelihatan berada di tempat ini ? Jika Pek-hi-siu-si merasa gentar dan takut datang disini tetapi Hiong Hok Totiang yang telah me nyimpan titipan pedang itu harus pula sudah berada ditempat ini"
Seru Kiat Koan dengan nada suara seenaknya sendiri, congkak dan mencibir.
"Siapa bilang tidak berani datang!"
Bentak Kiam Ciu dengan gusar.
Suara bentakan yang keras dan berani itu ternyata mengejutkan semua yang haditr dipuncak Ciok-yong-hong.
Semuanya memandang kearah Kiam Ciu.
Mereka merasa heran dengan tertampaknya seorang pemuda tampan dan masih sangat muda dengan pakaian serba putih perak sedang berdiri dengan tenang dan bersidakep di bawah pohon beringin yang rindang, sedang di punggungnya terpampang menyembul sebilah pedang pusaka.
Pedang yang selalu dijadikan perebutan dikalangan Kang-ouw, Pedang Oey-Liong-Kiam.
Kedatangan Tong Kiam Ciu membuat segenap orang yang menaruh simpati kepada pemuda itu merasa sayang dan merasa sangat heran.
Heran karena dengan cara bagaimana pemuda itu dapat tiba ditempat pertemuan Bu lim 3 19 tahwee.
Sayang dan cemas bahwa usia pemuda tampan itu masih sangat muda dan belum berpengalaman.
Jika dia harus bertarung dengan jago-jago dari golongan tua yang lihay dan ulung seperti Eng Ciok Taysu, Pek Giok Tong atau si mahasiswa berpedang baja, juga masih banyak lagi tokoh-tokoh tua lainnya, Bukankah kedatangannya di tempat itu hanya untuk mengantarkan nyawa belaka.
Ketika menyaksikan munculnya seorang pemuda tampan berpakaian serba putih bagaikan perak itu, Liat Kiat Koan tertawa tergelak-gelak.
"Haaaa-haaaa.. kukira jago silai yang macam apa. Tidak tahunya hanyalah seorang pemuda yang masih ingusan. Sudahlah kau akhiri sampai disini ketololanmu, kau berlututlah di hadapanku dan serahkanlah pedang pusaka Oey-liong-kiam kepadaku. Aku akan mengampuni nyawamu tanpa mengucurkan setetes darahpun dari tubuhmu!"
Seru Liat Kiat Koan sambil menyeringai kearah Tong Kiam Ciu. Pemuda itu tampak tenang-tenang saja, lalu sambil menatap kearah wajah Liar Kiat Koan dia berseru.
"Eng Ciok Taysu pernah mengatakan bahwa kau terlalu banyak berbuat kekejian yang terkutuk!. Jika kau menhendaki pedang pusaka Oey-liong-kiam maka kupersilahkan kau untuk mengambilnya sendiri!"
Seru Kiam Ciu dengan suara halus mendatar tetapi cukup tajam.
Mendapat tantangan yang demikian rupa dari seorang pemuda yang pantas menjadi anaknya itu, Liat Kiat Koan adalah seorang pemimpin partai persilatan yang cukup besar, tak dapat lagi menahan kegusaran.
Denjan tiba-tiba hawa kemarahan telah berkobar-kobar membakar kesabaran dan kebijaksanaannya.
"Hay anak muda! Terimalah serangan awas"
Bentak Liat Kiat Koan sambil mengirimkan serangan tinjunya kearah dada Kiam Ciu dengan jurus pukulan Hong-ki-in-yong atau Angin bergerak mega melayang.
Tetapi Kiam Ciu tidak berusaha untuk menghindari serangan pukuan tinju itu.
Malah tampaklah pemuda itu melangkah maju seolah-olah memapaki serangan lawannya dan membiarkan pukulan itu menumbuk dadanya.
Kiam Ciu mengan kat kedua tinu untuk balas menyerang.
3 20 Benturan adu tenaga dalam itu mengakibatkan suara ledakan dan tampaklah hal yang luar biasa.
Liat Kiat Koan terpental sampai beberapa langkah kebelakang dengan tindakan berat.
Semua yang hadir di tempat itu merasa kagum dan bergumam memuji kehebatan Kiam Ciu.
Ternyata hanya dalam permainan satu jurus saja, pemimpin partai persilatan Kong-tong telah dapat dirubuhkan oleh seorang pemuda yang tampaknya masih sangat muda dan belum berpengalaman.
Padahal Liat Kiat Koan seorang tokoh luar-biasa dan kejam, ternyata dapat dipermainkan oleh seorang pemuda yang belum berpengalaman.
"Hay Liat Kiat Koan kau telah turut serta dalam pertemuan Bu lim-tahwee ini, apakah kau tidak mengetahui peraturan Bu-lim?"
Tegur Eng Ciok Taysu dengan suara lantang dan tegas.
Liat Kiat Koan merasa sangat malu dan gusar sekali karena telah dipermainkan oleh Kiam Ciu dan hingga terhuyung hampir kehilangan keseimbangannya.
Ketika mendengar teguran dari Eng Ciok Taysu, maka dia menjadi sangat marah sekali dat sambil menghunus pedang dia membentak.
"Hay gundul! Peraturan apa yang harus aku ketahui ?"
Bentak Kiat Koan dengan congkak.
"Dalam dunia Kang-ouw siapa yang tangguh maka dialah yang selalu betul. Maka hari ini bukanlah siapa yang betul dalam hal ini"
"Aku tidak merasa gembira untuk bertarung denganmu !"
Sahut Eng Ciok Taysu.
"aku hanya merasa kecewa terhadap partai Kong-tong yang tidak mengenal petaiuran Bu lim dan aku lebih kecewa lagi justru ketololan itu telah sengaja dipamerkah dihadapan orang gagah dalam pertempuran ini oleh pemimpin partai itu sendiri !"
Seru Eng Ciok Taysu dengan nada tajam dan menghina.
Setelah kakek itu mengakhiri kata-katanya, Kiat Koan sudah hendak menyerangnya, tetapi tiba-tiba Tong Kiam Ciu telah meloncat kedepan dan menghormat kepada Eng Ciok Taysu seraya berseru dengan sopan.
"Taysu .... sebenarnya Liat Kiat Koan ingin menghajarku. Biarlah persoalan dengan orang ini aku yang menghadapinya!"
Setelah selesai dengan kata-kata 3 21 itu sekali lagi pemuda itu membongkok dan memutar tubuh berpaling kepada Liat Kiat Koan.
"Jika kau memang tidak mengindahkan peraturan. ayolah serang aku !"
Seru Tong Kiam Ciu dengan suara lantang menantang.
"Haa..ha.hahh ternyata kau sudah bosan hidup dan menginginkan tusukan pedang !"
Seru Liat Kiat Koan dengan suara congkak.
"Aku tidak takabur, tetapi untuk melayani orang semacam dirimu ini. kurasa dengan kedua belah tangan kosong ini saja sudah cukup."
Kata Tong Kiam Ciu sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Apa yang diucapkan oleh Tong Kiam Ciu itu sangat sederhana dan biasa.
Tetapi Liat Kiat Koan merasa sangat gusar hingga tubuhnya menjadi gemetar karena menahan gejolak kemarahannya itu, karena dia menganggap bahwa Kiam Ciu sangat menghina dirinya.
Maka dengan luapan gejolak kemarahan yang tak terbendung lagi, Liat Kiat Koan telah meloncat menyerang dada Kiam Ciu dengan jeritan kemarahan.
Tetapi Tong Kiam Ciu dengan tenang hanya mengegoskan tubuhnya kesamping sedikit.
Karena gerakan tiba-tiba Kiam Ciu itu sehingga lawannya terhuyung membacok tempat kosong.
Dalam keadaan itu maka dengan sigap pula tangan kanan Kiam Ciu menghantam bahu kanan Kiat Koan, sehingga laki-laki kasar dan sombong itu terpaksa harus menggelundung kesamping menghindari serargan Kiam Ciu yang berbahaya itu.
"Bagus !"
Seru Liat Kiat Koan dengan tidak sengaja memuji Kiam Ciu.
Sesaat kemudian dengan pura-pura terhuyung Liat Kiat Koan membalas mengirimkan pukulan tinju tangan kiri kearah Kiam Ciu dengan mempergunakan jurus Hui-Ing-pok-ciu atau Burung elang menerkam anak ayam.
Tampaklah kelebatan tangan kiri yang menyerang Kiam Ciu jari jemarinya mengembang untuk mencengkeram tenggorokkan lawan.
Dengan bersikap tenang dan waspada Kiam Ciu memiringkan tubuh dan meloncat kebelakang dua langkah sambil melindungi dadanya dengan lengan menyilang.
Kiam Ciu menyadari bahwa lawannya adalah seorang yang berilmu 3 22 luar biasa dan disamping kehebatan ilmunya Liat Kiat Koan ini mempunyai watak yang sangat licik sekail Maka loncatan Kiam Ciu kebelakang itu dibarengi dengan sebuah tangkisan.
Ternyata serangan tangan kiri Liat Kiat Koan itu hanyalah suatu siasat pancingan belaka.
Dengan kecepatan luar biasa laki-laki itu telah meloncat keatas dengan maksud melampaui kepala Kiam Ciu dan mengarah hulu pedang Oey-liong-kiam yang terpapang dipunggung Kiam Ciu.
Tetapi betapa kagetnya Kiat Koan ketika menerima kenyataan yang sangat luar biasa dan cepat sekali.
Kiam Ciu dengan gerakkan yang sangat luar biasa telah mengangkat kedua tapak tangannya menghadap kelangit.
Berbareng dengan itu kedua tapak tangan telah melekat ke tapak kaki Kiat Koan hingga tidak sempat untuk berbuat apa-apa.
Yang dirasakannya dirinya telah melambung karena lontaran keras.
Hingga Kiat Koan terbanting ditanah.
"Wuutt !"
Terdengar sebuah sambaran lengan baju pemuda itu kearah wajah Kiat Koan, tamparan lengan baju yang sangat hebat dan bertenaga luar biasa hingga laki-laki itu terjengkang.
"Aduhhh !"
Teriak Kiat Kan sambil meloncat kebelakang membuang diri beberapa langkah dan tangan kirinya memegang pipi yang terasa panas.
Tenaga dalam sakti yang memang betul-betul luar biasa yang telah dikuasai oleh Tong Kiam Ciu yang ternyata sangat berguna.
Kiam Ciu telah menghajar Kiat Koan dengan hebat, tetapi Kiat Koan tidak mengucurkan darah diri lukanya.
Luka yang tidak mengucurkan darah itu sebenarnya malah sukar untuk diobati.
Tamparan maut itu memang tidak nampak luar biaia, tetapi memang disengaja oleh Kiam Ciu untuk mengajar adat kepada orang yang bersifat sombong dan tidak menghargai orang lain itu.
Orang-orang yang berada ditempat itu hampir serentak memuji kehebatan Kiam Ciu.
Diantara orang itu tampik pula seorang laki-laki yang berpakaian compang camping yang tampak selalu mengikuti jejak Kiam Ciu.
3 23 Liat Kiat Koan menerima kenyataan kehebatan Kiam Ciu dengan perasaan sangat gusar sekali.
Pada saat itu dia belum merasakan akibat dari tamparan Kiam Ciu tadi.
Bahkan dia menjadi sangat marah sekali.
Dengan mengembangkan jurus Hong-lui-kiam-kie atau Badai dan Geledek saling menyambar, Liat Kiat Koan menyerang lagi.
Serangannya yang didasari oleh gejolak kemarahan yang luar biasa melupakan itu membuat semua yang dimaksudkan meleset.
Bacokan dan tusukan pedangnya ternyata hanya menyambar tempat kosong belaka, sedangkan Kiam Ciu nampak memiringkan tubuhnya sambil melindungi dada dengan menyilangkan kedua tapak tangan.
Dengan gerakkan cepat sekali Kiam Ciu memutar tubuh dan sisa tapak tangannya menghantam bahu Kiat Koan.
Hantaman itu dapat dihindari oleh lawan dengan menggelundung ketanah beberapa kali menjauh.
Kemudian Kiat Koan meloncat berdiri dan menyerang lagi dengan serangan pedang kearah dada Kiam Ciu.
Kembali Kiat Koan menyerang Kiam Ciu dengan jurus Hong-lui-kiam-kie.
Kiam Ciu meloncat kebelakang dua langkah dan serangan membadai Kiat Koan mendesak terus.
Tetapi lor.ca tan kebelakang Kiam Ciu itu hinya "uatu lo-ca ran untuk membetulkan porsinya saja, ketika tu aukan ujuDg pedang Kiat Koan hampir meoyen tuh ulu hati Kiam Cju, maki pemuda itu dengan gerakkan meloncat dan cepat sekali sarnbil mei g hantamkan tinju bajanya kepergelangan tangan Kiat Koan yang menggenggam pedang.
"Dess! Trang ... aduh!"
Terdengar suara-suara berbareng.
Tampaklah tangan kanan Kiat Koan terkulai sedangkan tangan kiri menggenggam pergelangan tangan kanan dan pedangnya telah menggeletak ditanah patah menjadi dua.
Tampaklah Kiat Koan melompat kebelskang kira-kira lima langkah sambil menggenggam pergelangan tangannya.
Laki-laki congkak itu merasa khawatir kalau sampai mendapat tamparan lagi dari Kiam Ciu.
Dengan mata memandang penuh kekaguman kepada anak muda itu Kiat Koan berusaha memulihkan rasa nyeri ditangan kanannya.
Sedangkan Kiam Ciu hanya berdiri memperhatikan Liat Kiat Koan dengan tersenyum-senyum dan wajahnya berseri.
3 24 Hampir berbareng pula segenap hadirin di lapangan rumput dipuncak Ciok yong-hong berseru kagum atas kelihayan pemuda tampan yang membekal pedang pusaka Jendral Gak Hui ialah pedang Oey-liong-Kiam.
Kemudian Eng Ciok Taysu telah melangkah ditengah-tengah arena.
Laki-laki gundul itu merasa sangat kagum atas kesudahan pertempuran yang luar biasa itu.
Mulai saat itu dia berjanji tidak akan lagi menginginkan untuk turut memperebutkan pedang pusaka Oey-liong-kiam.
"Saudara-saudara sekalian! Kita sekalian yangb telah mendatangi pertemuan Bulim tahwee, harus mentaati segala macam peraturan Bu lim. Tetapi pertemuan ini ternyata telah dikacau oleh seseorang yang tidak mau menaati segala peraturan itu !"
Eng Ciok Taysu berhenti sejenak. dia menunggu reaksi dari ucapannya itu. Tetapi segenap hadirin tetap tenang dan tidak ada yang memberikan reaksi. Maka kakek itu lalu meneruskan kata-katanya.
"Kini aku ingin mengajukan sebuah usul dalam pertemuan orang-orang gagah hari ini. Kita tidak akan memperebutkan lagi pedang pusaka nomor satu dikolong langit Oey-liong-kiam. Tetapi kita....kita akan membicarakan tentang sebuah kitab pusaka. Saudara-saudara sekalian, tentunya saudara-saudara telah mengetahui sebuah telaga yang bernama Ang-tok-ouw yarg terletak dlsebelah Utara Propensi Anhwee. Didalam telaga itu terdapat reruntuhan kota kuno yang bernama Pek seng. Di kota itulah katanya terdapat sebuab kitab kuno ilmu silat yang didahamnya tertulis ilmu merawat tubuh agar menjadi kuat dan awet muda serta kebal terhadap senjata tajam dan racun. Juga telah memuat pelajaran ilmu silat yang luar biasa hebatnya. Inilah usulku . Barang siapa yang berhasil memperoleh kitab pusaka itu maka dialah pula yang berhak atas pedang pusaka Oey-liang-kiam, sebagai imbalan atas kemampuannya mendapat kitab pusaka Pek Seng itu !"
Sesaat Eng Ciok Taysu terhenti.
"Kini kita tidak akan memperebutkan pedang pusaka Oey-liang-kiam yang berada ditangan Tong Kiam Ciu Siawhiap, Pendekar muda ini baru saja telah membuktikan bahwa untuk saat ini dialah yang pantas melindungi pedang pusaka Oey-liang-kiam itu.!"
Eng Ciok Taysu berhenti sampai disini usulnya dan menyerahkan kepada pendapat hadirin semuanya.
3 25 Pada umumnya segenap hadirin menyetujul usul kakek itu.
Kedatangan Pek Giok Tong dan Siok soat Shin-ni ditempat itu bukannya untuk turut memperebutkan pedang pusaka Oey-liang-kiam.
Mereka berdua datang di dataran tinggi puncak Ciok-yong-hong untuk mengajak Eng Ciok Taysu untuk mencari kitab pusaka seperti yang diutarakan tadi.
Hanya mereka merasa khawatir kalau sampai kitab pusaka itu jatuh ketangan golongan hitam yang kejam dan keji tindak tanduknya.
Karena merasa khawatir dan telah mendengar khabar bahwa dikalangan Bu-lim telah muncul seseorang yang sangat lihay, orang itu telah datang dari propinsi dekat tapal batas dan bermaksud untuk mencari kitab kuno Pek-seng.
Banyak orang telah menjadi korban.
Dia terkenal dengan nama "Kwa Sit".
Itulah salah satu sebab hingga Pek Giok Tong dan Siok-soat Shin-ni dalam pertemuan Bu lim tahwee.
Ialah disamping mereka datang untuk mengajak Eng Ciok Taysu untuk mencari kitab pusaka kuno Pek-seng, Mereka juga ingin menggabungkan semua orang yang telah berada dipadang rumput itu untuk mengepung bersama Kwa Sit.
Kwa Sit yang terkenal sangat lihay.
Eng Ciok Taysu telah berhasil mengajukan usul didepan pertemuan kaum gagah dari segala aliran itu.
Ternyata usul itu dapat diterima dengan saksama.
Perebutan pusaka Oey-liang-kiam ditunda dulu.
Tetapi dia ragu-ragu apakah dia akan berhasil mengajakkan kepada segenap hadirin untuk serentak dan beramai-ramai untuk menangkap dan menggempur orang she Kwa.
"Hadirin sekalian itulah usulku dan sekarang kuharapkan agar saudara-saudara sekalian menyiarkan berita ini, barang siapa yang ingin merebut pedang pusaka Oey-liang-kiam. harap mereka terlebih dahulu pergi ke telaga Ang-tok-ouw untuk mencari kitab Pek-seng..."
Seru Eng Ciok Taysu dengan cukup keras dan wajah berseri penuh keyakinan.
Tetapi belum lagi Eng Ciok Taysu selesai mengucapian kata-kata itu dengan tiba-tiba Liat Kiat Koan meloncat menerkam Tong Kiam Ciu yang tengah memperhatikan dan tekun mengikuti pembicaraan Eng Ciok Taysu.
Sebelum menerkam tadi Liat Kiat Koan telah melemparkan kewajah Kiam Ciu seraup benda-benda hitam yang ternyata adalah jarum-jarum yang sangat beracun dengan jurus Bu-sa-to-ciang atau Tinju Sapu Jagad.
Senjata rahasia yang paling keji dan terampuh.
"Awas!"
Seru Eng Ciok Taysn dengan suara lantang kearah Kiam Ciu.
Toog Kiam Ciu merasa terkejut sekali dan dengan gerak lincah dia telah meloncat menghindari serangan senjata rahasia jarum beracun itu.
Namun walaupun bagaimana gerakan kelincahan pemuda itu, luput pula beberapa buah jarum telah mengeram ditubuhnya.
Karena jumlah jarum yang dikerahkan dengan ilmu Bu-sa-to-ciang oleh Liat Kiat Koan itu sangat banyak, maka tidak mungkin bagi Kiam Ciu untuk menghalau semuanya walau bagaimana hebatnyapun ilmu pemuda itu.
Beberapa saat kemudian terasalah matanya berkunang-kunang, jarum-jarum yang telah membenam dalam daging pemuda itu telah mulai menjalankan tugasnya dan mengadakan reaksinya.
Racun ganas itu telah menyerap dalam darah dan sedikit demi sedikit telah menguasai simpul-simpul syarafnya menghantam ke otak dan jantung Kiam Ciu dengan cepat.
Suasana ditempat itu menjadi gaduh akibat dari asap hitam yang telah dikeluarkan dari jarum-jarum berbisi Liat Kiat Koan itu.
Sedangkan Kiam Ciu telah menotok jatuh terduduk dengan tubuh lunglai, secara lamat-lamat kesadarannya masih ada, pendengarannya masih dapat menangkap kegaduhan secara lemah sekali.
Tetapi sekilas pandangan matanya masih dapat melihat kelebatan bayangan Liat Kiat Koan menyambar pedang Oey-liong-kiam yang terpampang dipunggung Kiam Ciu.
Tetapi pemuda iiu sudah tidak dapat berbuat apa-apa.
Dia hanya pasrah dan sebelum kesadarannya hilang sama sekali dia mendengar bentakan Liat Kiat Koan.
"Hey Cong San Lokoay! Jangan kau bermaksud memancing diair keruh!"
Kemudian Tong Kiam Ciu telah menjadi sangat lemah sendi-sendi tulangnya.
Barulah pemuda itu teringat dengan ilmu Bo-kit-sin-kong.
Dengan memusatkan pikiran dan mengerahkan Bo-kit-sin-kong, namun racun telah menyarap lebih kedalam lagi dan menghantam kesadaran pemuda itu hingga tiada gunanya lagi mengerahkan Sinkang yang maha hebat itu.
Semuanya telah menjadi gelap dan dia telah tidak mendengarkan apa-apa lagi, setelah itu dia merasakan tubuhnya diangkat seseorang dan Tong Kiam Ciu tidak ingat sama sekali.
3 27 Sampai berapa lama pemuda itu dalam keadaan pingsan tidak mengetahuinya.
Hanya saat itu telah lewat terlalu lama sekali kemudian dengan cepat Kiam Ciu membuka kelopak matanya.
Ketika baru saja dia membuka kelopak matanya tiba-tiba sebuah suara yang parau kedengarannya telah menegur.
"Hey bocah cilik ! Sudah lama sekali tidak bertemu ! Kau sekarang ternyata sudah besar dan dewasa, apakah kau masih ingat padaku... ?!"
Seru seorang laki-laki berwajah kuning dan tersenyum kepada Kiam Ciu.
Suara orang itu seperti pernah dikenalnya tetapi sampai sekian saat pemuda itu belum ingat dimana dan kapan dia pernah bertemu dengan orang itu.
Sedangkan kepalanya masih terkadang terasa pening.
Tiba-tiba ketika Kiam Ciu mengamati orang tua yang berdiri disampingnya dan terlihat pedang pusaka Oey-liong-kiam.
Maka dengan tidak berpikir panjang lagi Kiam Ciu telah mengerahkan tenaga Sin-kang dan berusaha untuk meloncat menerkam orang yang memegang pedang pusaka Oey-liong-kiam dan kini tengah tersenyum-senyum dengan wajah yang sangat mengerikan itu.
Tetapi ternyata loncatan itu justru mengakibatkan suatu rasa yang lebih parah lagi.
Kiam Ciu ternyata tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
Justru gerakkannya itu membuat seluruh tubuhnya bagaikan dipotong-potong dan nyeri sekali.
Kiam Ciu terkulai lemah tetapi dari mulutnya tidak keluar sebuah rintihanpun.
Dipandanginya kakek itu dengan mata penuh rasa keheranan karena seolah-olah Kiam Ciu pernah bertemu dengan kakek itu.
Tetapi lupa-lupa ingat.
Hingga lama Kiam Ciu memandang kakek itu dengan kening berkerut.
Sedangkan kakek berwajah kuning itu tersenyum membiarkan pemuda itu penuh tanda tanya.
Hingga sesaat Kiam Ciu mengingat-ingat, ketika tiba-tiba dia menjadi kaget berbareng girang.
Ternyata orang itu adalah sikakek berwajah kuning mengerikan yang pernah merampas buah merah sembilan tahun yang lalu ialah kakek Kun-si Mo-kun.
"Locianpwee !"
Seru Tong Kiam Ciu dengan suara tertahan. 3 28
"Heh hee hehh... Hemmm.. sudah sembilan tahun ya ? Sudah lama sekali. Selama itu aku sudah mengelilingi dunia mengelilinfi dunia he.he.he"
Kata kakek itu seraya tertawa-tawa lucu, kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu sejenis akar dan diperlihatkan kepada Kiam Ciu.
"Inilah hasilnya , , , dari jerih payahku mengelilingi pelosok dunia ini selama sembilan tahun lamanya. Akar ini bernama Lok-bwee-kim-keng.hemm.. akar ini khasiatnya sama hebatnya dengan buah merah yang pernah kau berikan kepadaku dulu. Hee...hehhee.. aku sama sekali tidak menyangka bahwa hari ini dapat bertemu denganmu dan dapat membalas budimu itu...heh.hee heeheh. Selama ini aku merasa tidak tenang karena berhutang nyawa denganmu jebeng..."
Kata-kata kakek itu sangat sederhana tetapi mengharukan hati Kiam Ciu dalam keadaan seperti sekarang itu. Kemudian Kun-sif Mo-kun mencium akar yang digenggam ditangan kanan itu.
"Siapa namamu jebeng ? Nanti dulu kuingat-ingat ya ...Tong. Tong .. hingga lama sekali tetapi kakek itu belum menemukan kelanjutan perpanjangan nama pemuda itu.
"Kiam Ciu !"
Seru pemuda itu meneruskan.
"Ohhh iya. Tong Kiam Ciu. Nama yang bagut sekali ! Makin tua makin tumpul otakku ini rasanya.. hee..hee..heh"
Sambung Kun-si Mo-kun dengan tertawa-tawa riang.
"Mengapa Locianpwee juga berada disini?"
Tegur Kiam Ciu.
"Heeee heee aku berhak berada dimana saja bukan?"
Jawab Kun-si Mo-kun dengan sangat lucu sekali.
"Hey bocah Kiam Ctu, apakah kau tahu mengapa aku bersusah payah untuk mendapatkan akar ini?"
Tegur Kun-si Mo-kun.
"Mungkin Locianpwee ingin menjadi lebih lihay lagi!"
Jawiab Kiam Ciu dengan tegas dan memperhatikan sorot mata kakek itu dalam-dalam.
"Heeee heee dengan tak langsung tebakkanmu itu betul juga, dipuncak Hiong-lo-hong di pegunungan Bu kong-san yang terletak di Propinsi Sansi, terdapat satu lembah itu tersembunyi sebuah kitab pusaka yang bernama Kiam-si-bu-kong (ilmu silat sakti) tetapi dilembah itu terdapat serangga-serangga berbisa yang sangat ganas. Sehingga siapapun yarg menghendaki kitab pusaka itu 3 29 selalu menemui kebinasaan dilembah itu karena bisa serangga-serangga itu. Kitab itu begitu besar daya tariknya, sehingga jago-jago silat kenamaan dan jago silat aneh seperti Ji-lui sam-ki, Thian-hia-ji-kun, Tok giam lo dam Ciam Gwat..."
Belum selesai kata-kata kakek itu ditukas oleh Tong Kiam Ciu dengan suara lantang dan terperanjat.
"Ciam Gwat ?"
Seru Kiam Ciu dengan perubahan wajah meradang.
"Ya ! Apakah kau pernah melihat atau mengenalnya ?"
Sambung Kun-si Mo-kun dengan sorot mata mendesak.
"Tidak ! E.. maksudku belum !"
Jawab Kiam Ciu gugup.
"Kau agaknya menjadi baru mendengar namanya saja ? Hee-heh-heh-heee"
Sambung Kun-si Mo-kun menyelidik dan curiga.
"Aku hanya pernah mendengar bahwa Ciam Cwat adalah jago silat luar biasa yang kejam !"
Sambung Kiam Ciu ingin tahu lebih lanjut.
"Apakah kau percaya bahwa dia betul-betul kejam?"
Sambung Kun-si-Mo-kun sambil memandang kearah Kiam Ciu dengan tajam.
"Ya!"
Seru pemuda itu dengan singkat dan tegas.
"Ya? Tetapi meagapa tentang cerita diriku bahwa kau tidak merasa yakin benar-benar bahwa aku seorang yang kejam?"
Seru Kun-si Mo-kun. Kiam Ciu tertunduk tidak dapat menjawab seolah-olah pemuda itu tersudut pada suatu persoalan.
"Sudahlah, sudahlah, aku akan melanjutkan ceritaku yang barusan tadi", sela kakek (Bersambung
Jilid 4) 4 0 4 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 4 UN-SI MOKUN.
Ternyata kitab pusaka itu juga menarikku.
Itulah sebabnya aku berusaha dengan bersusah payah untuk mendapatkan akar ini.
Aku sudah merasa tidak takut lagi terhadap segala macam bisa walau yang bagaimana ganasnyapun.
Tetapi aku telah tua untuk apa segala macan itu, kitab pusaka yang aneh dan segala ilmu silat yang luar biasa semuanya tidak ada artinya lagi bagiku.
Tadi aku menyaksikan kau telah mengalahkan si Hidung Bawang tadi.
Maka aku berkeyakinan bahwa kau adalah seorang pemuda yang berkepandaian tinggi.
Kau sangat berbakat dan kau masih muda maka kau harus memiliki kitab itu...."
Seru Kun-si Mo-kun orang aneh yang luar biasa.
Lalu kakek itu mematahkan akar Lok-bwee-kim-keng.
Kemudian akar yang berada dii tangan kanan dimasukkan kedalam mulut Tong Kiam Ciu.
Sedangkan yang sebagian lagi dia genggam dalam tangan kiri dan berseru.
"Kunyahlah akar itu Kiam Ciu ! Setelah kau mengunyah dan menelan akar Lok-bwee-kim-keng, bukan saja racun yang mengendap dan menjalar dalam tubuhmu itu akan musnah, bahkan kau akan menjadi kebal terhadap racun yang manapun dan bagaimana ganasnyapu. Kemudian...yang sebagian ini simpanlah baik-baik, mungkin kelak berguna !"
Seru kakek itu seraya menyodorkan keratan potongan akar Lok-bwee-kim-keng kepada Kiam Ciu sambil tersenyum tetapi wajahnya bersungguh-sungguh. K "Terima kasih Locianpwee"
Seru Kiam Ciu sambil mengunyah akar dalam mulutnya dan tangan kanan menerima uluran Kun-si Mo-kun.
"Jika kau tidak ingin mencari kitab sakti Kiam-si-bu-kong itupun tidak menjadi persoalan bagiku. Namun kini yang jelas aku telah membalas budi dan hutang nyawa padamu. Nah Kiam Ciu terimalah kembali pedang pusaka Oey-liong-kiam ini jagalah baik-baik jangan sampai jatuh ke tangan orang yang keji..."
Sambil menyodorkan pedang itu ketangan Kiam Ciu yang telah menerimanya pula dengan tangan dua. Kemudian kakek itu menepuk bahu Kiam Ciu sambil melanjutkan kata-kata .
"Nah anak baik Kiam Ciu, sampai diiini dulu dikemudian hari mungkin kita masih dapat bertemu lagi....aku...harus pergi sekarang ..."
Seru Kun-si Mo-kun dengan suara datar dan tercekat haru.
Setelah meletakkan pedang pusaka Naga Kuning atau Oey-liong-kiam di tangan Tong Kiam Ciu, Kun-si Mo-kun memutar tubuh dan bergerak meninggalkan Tong Kiam Ciu dengan langkahnya yang pincang.
Kiam Ciu menyaksikan itu dengan hati penuh keharuan.
Pemuda itu merasa sangat terharu menyaksikan sikap Kun-si Mo-kun yang budiman.
"Locianpwee tunggu dulu ! Lo...."
Seru Kiam Ciu dengan tekanan rasa haru dan pilu, namun Kun-si Mo-kun sudah lenyap.
Sungguh keliru dan terlalu kejam dunia ini memberikan suatu penilaian hanya dari suatu sudut, seorang yang budiman separti itu mengapa dicap sebagai seorang yang kejam dan keji ..."
Pikir Tong Kiam Ciu sambil merenungi tempat nan jauh dimana kakek budiman itu tadi telah lenyap.
Setelah tenang sejenak maka Tong Kiam Ciu melanjutkan mengunyah akar Lok-bwee-kim-keng.
Akar yang tampaknya sangat jelek tu ternyata sangat harum baunya.
Setelah dikunyah-kunyah menjadi lembut maka ditelannya dengan susah payah.
Tetapi akhirnya akar itu tertelan juga.
Mula-mula darahnya dan urat syarafnya seperti terangsang.
Kemudian Kiam Ciu mengerahkan tenaga Bo-kit-sin-kong.
Terasalah seluruh tubuhnya seperti dilalui berjuta-juta semut.
Beberapa saat kemudian seluruh tubuh pemuda itu bagaikan mandi keringat dan dari mulutnya telah keluar asap berbau amis.
4 3 Dari sedikit demi sedikit maka berkuranglah rasa nyeri dan ngilu disetiap persendian, kemudian rasa lemahnya telah berkurang.
Kini dicobanya untuk menggerak-gerakan tangan dan kakinya.
Sesaat kemudian terasalah seluruh derita akibat racun si Hidung Bawang itu telah lenyap dan Kiam Ciu telah dapat berdiri serta telah pulih seperti sedia kala.
Sungguh akar Lok-bwee-kim-keng sangat manjur dan hebat.
Ketika angin sejuk bertiup halus membuat wajah Kiam Ciu, maka pemuda itu tampak berseri.
Diperhatikannya keadaan disekitar tempat itu.
Tiba-tiba telinganya menangkap ringkikan seekor kuda.
Wajah Kiam Ciu bertambah cerah dan bergirang hati.
Karena dia yakin bahwa ringkikan kuda itu adalah ringkikan kuda putih miliknya.
Kiam Ciu berdiri dan menggeliat ditangan kanan tergenggam pedang pusaka Naga-Kuning.
Dihampirinya kuda putih yang tampak menggerak-gerakan kepalanya dan mengais-ngaiskan kaki depannya.
"Ohh ... Putih .. ternyata kau masih berada disini"
Seru Kiam Ciu sambil menghampiri kuda itu.
Setelah dekat dielusnya leher kuda jantan itu yang tampak sangat manja.
Ketika Kiam Ciu naik ke puncak Ciok yong-hong tadi telah menambalkan kudanya pada sebatang pohon yang rindang.
Sekarang setelah berjalan beberapa saat dan dia telah menjadi sehat dan segar kembali sesuatu yang menyulitkan telah terpecah dengan adanya kuda kesayangan itu masih berada di tempatnya tanpa kurang suatu apa.
Terdengar sekali lagi kuda putih itu meringkik, tetapi ringkikannya kali ini tampak berlainan dengan ringkikan yang tadi.
Mata kuda itu tampak gelisah dan mendekati liar.
Kiam Ciu berusaha membujuk dan mengelus-elus leher kuda itu.
Namun siputih tidak juga mau tenang seolah-olah ada sesuatu yang mengintainya.
Kiam Ciu menyandang pedang pusaka Naga Kuning kepunggungnya.
Membetulkan ikat pinggangnya dan meraba saku meneliti akar Lok-bwee-kim-keng pemberian dari Kun-si Mo-kun.
Sesaat Kiam Ciu tersenyum.
Kemudian mengelus leher kudanya dan sekali lagi membujuknya.
"Sabar putih sabar kita akan segera berangkat dan meninggalkan lereng terkutuk ini...."
Bisik Kiam Ciu kepada kudanya.
Tetapi kuda itu seolah-olahh tidak mendengarkan bujukan itu.
Tampak lebih gelisah lagi.
Akhirnya Kiam Ciu berpikir bahwa tempat itu pasti ada binatang buas yang baunya tercium oleh kudanya itu.
Maka Kiam Ciu kini siap siaga menjaga segala kemungkinan.
Dia berusaha untuk selekas-lekasnya meninggalkan tempat itu.
Namun baru beranjak beberapa langkah untuk melepaskas tali kekang yang terikat pada batang pohon hutan itu, tiba-tiba kuda putih itu tampak lebih liar dan tampak sangat ketakutan.
Dari semak belukar berlompatanlah lima orang yang mengenakan kedok kulit singa.
Mereka itu ialah lima orang anggota partai Kim-sai-pang.
Kiam Ciu mendengar keresekan-keresekan yang ditimbulkan oleh kelima orang yang baru muncul itu.
Lagipula mereka berdiri tidak begitu jauh dari tempat dimana Kiam Ciu menahan langkahnya.
Dengan sangat tenang Kiam Ciu yang tengah mengulurkan tangan kanan dan akan melepaskan tali kekang kudanya tertahan juga.
Kemudian memutar tubuh menghadap kearah orang-orang Kim-sai-pang yang telah berdiri berjajar.
Kiam Ciu agak terkejut dan bergetar keras dadanya "Anak muda kau sungguh sangat beruntung.
Kau telah terbebas dari perangkap kami dan kini terbebas pula dari kebinasaan !"
Seru salah seorang diantara kelima pendatang itu.
"tapi jangan kau terburu menepuk dada dan tertawa girang. Kami orang-orang Kim-sai-pang tidak akan membiarkan kau berlalu kali ini !"
"Hem rupa-rupanya mereka telah membuntutiku dari ketika aku dalam keadaan lemah sepanjang malam mereka telah tahu. Tetapi mereka mengapa tidak mau menyergapku dalam keadaan lemah ?"
Pikir Kiam Ciu sambil mengamati orang-orang itu persatu.
"Kalau saja mereka memang bersifat satria itulah baik sekali !"
"Hey anak muda mengapa kau longang-longong seperti orang bingung ?"
Seru salah seorang diantara kelima orang-orang berkedok singa itu. 4 5 Sesaat Kiam Ciu jadi malu. Kemudian terseyum.
"Ohh. selamat pagi saudara. Rupa-rupanya dunia ini bagi kita hanya sempit. Kemana-mana kita selalu bertemu. Dulu aku pernah beruntung dapat bebas dari perangkapmu dan selamat! Tetapi aku kehilangan sebuah pening kuningan dari partai Bu-tong yang kuduga terjatuh ketika mengbadapl kalian. Apakah kalian menemukannya ? Sebenarnya aku akan pergi mencari markas partai Kim-sai-pang untuk menanyakan hal pening kuningan itu !"
Seru Kiam Ciu sambil menghormat. Sejenak suasana menjadi sepi. Mereka terdiam. Kiam Ciu memandang pemimpin partai persilatan Kim-sai-pang dengan berharap.
"Ya kami memang menemukan pening kuningan itu!"
Tiba-tiba terdengar orang itu berseru.
"Tetapi untuk mendapatkan kembali benda itu kau harus memenuhi syarat kami !"
"Kalau begitu, katakanlah syarat apa yang harus kupenuhi ?"
Seru Kiam Ciu dengan mendesak.
"Sabar dulu, kau tentunya paham maksud kami ! Kami dari kalangan silat.......lalu kalau kau dapat menerobos kepungan kami barulah kau bebas dan dapat menerima pening itu kembali !"
Seru pemimpin partai Kim-sai-pang dengan suara lantang dan pasti.
Sesaat Kiam Ciu tertegun.
Dalam hati dan mengeluh karena dia tidak senang dengan segala kekerasan, apalagi dia tidak merasa mempunyai persoalan dan permusuhan dengan partai Kim-sai-pang.
"Aku baru saja turun gunung dan belum berapa lama berkecimpung di dunia Kang-ouw. Tetapi mengapa orang-orang partai Kim-sai-pang selalu menyusahkan diriku. Aku tidak merasa menanam permusuhan dan diantara kita tidak ada dendam mendendam. Ataukah aku pernah berbuat salah yang menyinggung partai Kim-sai-pang ?"
Seru Kiam Ciu.
"Ya, kau harus dengarkan sekali lagi, bahwa karena pedang pusaka Naga Kuning itu maka kami selalu mengejar-ngejarmu. Karena Oey-Liong-Kiam itulah 4 6 sumber malapetaka yang selalu akan kau alami !"
Seru pemimpin partai Kim-sai pang.
Kemudian dengan satu isyarat tangan kanan disusul dengan menyambarnya keempat orang lain dalam sikap mengurung Tong Kiam Ciu, Saat itu sebenarnya Kiam Ciu akan menyahut kata-kata pemimpin Kim-sai-pang itu.
Namun belum lagi Kiam Ciu mengucapkan kata-kata, ternyata orang itu telah meloncat menerkam dada Kiam Ciu.
Untung Kiam Ciu waspada.
Dengan memiringkan tubuh dan mengebutkan kedua lengan jubahnya maka keempat lawannya terpental begitu juga pemimpin Kim-sai-pang yang akan menerkam dada Kiam Ciu jadi terhuyung hampir tersungkur.
Kiam Ciu tidak merasa mempunyai ikatan permusuhan dan dendam.
Maka sama sekali dia tidak bermaksud untuk melukainya.
Kiam Ciu menghadapi kelima orang Kim-sai-pang itu dengan tangan kosong.
Dia sering menghindar dengan mengandalkan kelincahan dan ilmu meringankan tubuhnya.
Tampaklah Kiam Ciu bagaikan berterbangan dan berloncatan dengan cepat dan terhindar dari serangan-serangan kelima lawannya.
Sampai beberapa jurus lamanya pertempuran itu telah berlalu, tetapi tiada sebuah pukulanpun yang mengenai tubuh Kiam Ciu.
Seolah-olah pemuda itu bagaikan terombang-ambing gelombang samudra.
Sedangkan kelima orang Kim-sai-pang itu menyerang bagaikan badai membentur-bentur batu karang dengan dahsyat.
Serangan mereka serentak dan terlatih.
Namun Kiam Ciu walaupun seorang anak muda yang baru terjun dikalangan Kang-ouw, ternyata dapat mengatasi segala ilmu yang dikeluarkan oleh lawannya.
Karena pihak lawan tidak mempergunakan senjata, maka Kiam Ciu tetap bertahan untuk mengatasi lawannya dengan tangan kosong.
Kelima orang itu merasa penasaran dan merasa seolah-olah dipandang ringan ilmu silat partainya.
Maka dengan satu isyarat lagi kelima orang itu tahu-tahu telah menggenggam pedang yang berhulu aneh.
Hulu pedang mereka seperti singa dan berkuku.
Jadi mereka dapat menyerang lawan dengan mata pedang maupun mencakar dengan hulu pedang yang berkuku sangat beracun itu.
4 7 Karena terdesak dengan serangan-serangan kelima lawan yang bersenjata itu.
Maka Kiam Ciu meloncat mundur beberapa tindak, kemudian mencabut Oey-Liong-Kiam.
Untuk pertima kalinya Kiam Ciu selama memiliki pedang pusaka itu untuk mempergunakannya.
Tetapi dia tidak bermaksud untuk membinasakan lawannya.
Ketika pedang pusaka Naga Kuning itu tercabut, terdengar kelima orang lawannya mengeluarkan pujian tertahan.
Kilatan kuning memancar dari mata pedang, kemudian Kiam Ciu mengeluarkan pedang itu dengan permainan jurus Lik-siang-kiam-hoat ilmu melindungi diri dari taufan.
Gerakkan jurus Lik-siang-kiam-hoat tetnyata sangat hebat dan berkelebatan kian kemari hingga tampaknya hanya bagaikan gulungan-gulungan kuning yang sangat menyilaukan mata, Sedangkan angin yang ditimbulkan karena gerakan itu sangat luar biasa pula.
Jurus Lik-siang-kiam-hoat itu adalah ajaran kakek Pek-hi-siu-si yang telah puluhan tahun menjagoi Bu lim, ternyata telah sangat dipahami oleh Kiam Ciu dengan sempurna.
Menyaksikan kehebatan permanan pedang pemuda itu, maka kelima orang Kim-sai-pang telah berloncatan menghindar.
Mereka merasa tidak mampu untuk menghadapi serangan dan babatan pedang yang sangat cepat itu.
Maka dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh dan kelincahan kelima orang itu menghindar.
Kiam Ciu, mendesak terus.
Namun pemuda itu tidak bermaksud untuk membunuh lawannya.
Apalagi karena dia menang tidak merasa mempunyai ikatan permusuhan dan dendam Serangan-serangan yang dilancarkan hanya sebagian tenaga saja.
Namun sudah cukup dimengerti oleh lawannya yang kini tidak dapat berbuat banyak kecuali hanya menghindar selalu.
Sebuah gerakan membabat telah dilancarkan oleh Kiam Ciu.
"Breet!"
Terdengar sesuatu robek.
"Aii..!"
Terdengar suara terkejut dan tertahan.
4 8 Beriamaan dengan itu telah terlihat ilmu orang itu berdiri jauh dan memunggungi Kiam Ciu.
Pedang mereka terlepas.
Kulit Singa yang menutupi kepala mereka terobek.
Hingga rambutnya tergerai.
"Hah ?"
Seru Kiam Ciu tertahan.
Saat utu Kiam Ciu dapat melihat dengan pandangan mata sekilas.
Ternyata mereka berlima itu terdiri dari wanita-wanita semuanya.
Lebih-lebih pemimpin orang-orang itu adalah seorang gadis yang jelita.
Rambut mereka yang hitam berombak itu telah terlepas dari ikatan.
Maka tidaklah mengherankan bila mereka itu terdiri dari orang-orang yang bertubuh pendek dan bersuara seperti suara wanita.
Karena memang ternyata orang itu adalah wanita semuanya.
Kiam Ciu menahan serangannya dan tertegun mengawasi kelima lawannya yang kelihatan telah menyerah dan tidak mengadakan serangan lagi.
Bahkan pemimpin Kim-sai-pang iru tampak sangat masgul karena dapat dikalahkan oleh Kiam Ciu hanya dalam beberapa jurus saja.
Sambil memutar tubuh untuk berlalu dari tempat itu, pemimpin partai silat Kim-sai-pang melemparkan pening kuning milik partai Bu-tong kearah Kiam Ciu.
Lalu pemuda itu memungutnya dengan hati gembira bercampur heran menyaksikan keanehan kelima orang Kim-sai-pang itu.
"Hemm, memag dunia ini penuh keanehan yang belum pernah kulihat"
Kata Kiacn Ciu dalam hati.
Setelah Kiam Ciu mengamati benda yang terbuat dari kuningan itu, maka disimpannya baik-baik dalam sakunya.
Kemudian menghampiri kuda putih dan tali kekang yang terikat pada sebatang pohon itu lalu dilepaskannya.
Kuda putih itu tampak sangat senang, Dijilatinya tangan Kiam Ciu yang tengah melepaskan buhulan tali kekang pada sebatang pohon hutan.
Kemudian disarungkannya kembali pedang pusaka Naga Kuning atau Oey-Liong-Kiam kedalam sarungnya.
Setelah merapikan pakaian dan letak Oey-Liong-Kiam, maka dituntunnya kuda putih itu untuk meninggalkan pegunungan Heng-san.
turun ke lembah dan untuk meneruskan perjalanan.
4 9 Angin bertiup semilir dan sejuk sekali.
Dalam pada itu Kiam Ciu merenungkan kejadian baru-baru ini dialaminya.
Pengalamannya dengan Oey-Liong-Kiam.
Pedang pusaka yang luar biasa itu ternyata memang banyak mendatangkan bencana.
Tetapi Kiam Ciu telah bertekad untuk menjaga dan memelihara pedang pusaka itu.
Dengan perasaan enggan untuk menyusahkan kudanya, maka Kiam Ciu lalu moloncat ke punggung kuda putih itu.
Dengan sekali loncat dia telah duduk diatas pelana kulit berukir di punggung kuda putih itu kemudian menarik tali kekang dan mengeprak sanggurdi hingga siputih mengangkat kaki depan dan meloncat lari.
Kuda putih yang ditunggangi oleh Kiam Ciu ternyata mempunyai ketangkasan yang luar biasa seolah-olah seperti telah terlatih dengan untuk perjalanan didaerah pegunungan.
Ternyata dalam waktu yang tidak terlalu lama telah berhasil meninggalkan lereng gunung.
Memasuki tapal batas propiusi Angwei.
Seperti juga kepergian orang-orang dari kalangan partai Kim-sai-pang, begitu juga Kiam Ciu semuanya telah ditinggalkan dengan begitu saja.
Dengan cepat tanpa meninggalkan jejak.
Tiba-tiba telinga Kiam Ciu yang telah terlatih menangkap derapan sayup-sayuo suara kaki kuda.
Beberapa taat kemudian suara derap kaki kuda itu bertambah banyak dan bertambah jelas.
"Hey orang desa minggir ! Aku mau lewat !"
Terdengar sebuah teguran yang bernada lantang dan kasar sekali.
Semula Kiam Ciu tidak menyangka yang ditegur itu adalah dirinya.
Ketika dia memalingkan tubuh dan menyaksikan sebuah kereta dengan beberapa orang laki-laki berkuda dan bertubuh tinggi besar.
Sebenarnya telinga Kiam Ciu tidak bisa mendapat dampratan yang kasar itu.
Namun untuk menjaga ketenangan ditempat yang baru dimasukinya itu, maka Kiam Ciu mau juga akhirnya mengalah dan menarik tali kekang yang kiri dan kuda itu menurut untuk berjalan dipinggir.
4 10 Kiam Ciu menghentikan kudanya dan memandang kearah kepulan debu yang menyusul dua penurjang kuda terdahulu.
Terdengar derekkan dan bertambah dekat ternyata sebuah kereta berukir indah yang ditarik oleh empat ekor kuda telah mendekatl dan meluncur diatas jalan besar berdebu itu dengan pesatnya.
Hingga debu dijalan raya itu bagaikan dihamburkan berterbangan membuat Kiam Ciu terbatuk-batuk.
Kemudian terdengar suara jejak kuda semakin mendekat ternyata empat orang penunggang kuda yang juga mengenakan seragam sepertii dua penunggang kuda yang terdahulu.
Mereka menggunakan jalan raya seenaknya sendiri bagaikan jalan miliknya pribadi dengan tidak menghiraukan kepentingan orang lain.
Tong Kiam Ciu menjadi bergusar hati.
Maka dikepraknja sanggurdi kuda itu dan tumit Kiam Ciu membentur perut kudanya.
Dengan tali kekang mengencang maka siputih melompat kemudian bagaikan anak panah terlepas busur, maka dengan cepat dan pesat sekali mengejar rombongan yang berada di didepannya.
Dalam waktu seperminum teh, rombongan itu telah terkejar.
Ketika jarak antara Kiam Ciu dengan rombongan itu begitu dekat, tersiarlah bau harum.
Suatu getaran aneh telah menjalar kedada pemuda itu.
Kemudian dia menyadari bahwa yang berada dalam kereta kuda itu adalah seorang wanita, Kiam Ciu teringat akan adiknya yang ditinggalkan.
Sesaat kemudian Kiam Ciu telah mengendorkan tali kekang dan kuda putih itu telah mengendorkan pula larinya.
Bersamaan dengan itu pula orang-orang yang mengawal kereta itu turut memperlambat kecepatan lari kudanya.
Bahkan kereta indah itupun berhenti.
Ketika Kiam Ciu menghentikan kudanya, tampaklah orang-orang pengawal kereta itu telah bersikap seram dan berusaha untuk menyerang Kiam Ciu.
Maka pemuda itu waspada, memperhatikan gerak-gerik mata orang-orang yang menghampirinya itu Salah seorang pengawal itu telah menghadang di tengah jalan.
Ditangan kanan orang itu terlihat sebuan kipas baja.
Wajah orang itu tampak bengis tanpa kompromi.
Matanya yang bersinar hitam tajam melotot kearah Kiam Ciu.
"Hey anak muda, mengapa kau mengejar kita?? Apakah kau tidak melihat bahwa hari ini Nyonya Besar berkenan untuk melalui jalan raya ini?!"
Seru orang yang menggenggam kipas baja dengan suara seram.
"Nyonya besar dari mana yang ingin menggunakan jalan raya ini ?"
Seru Kiam Ciu dengan balas tak acuh memandang ringan.
Hal itu membuat laki laki yang memegang kipas baja itu menjadi sangat bergusar hati.
Matanya melotot dan kumisnya yang lebat dan kasar itu seolah-olah berdiri dan mengijuk.
"Matamu buta ? Kau tidak mengenal Nyonya Besar dari istana Shi-san-kong!"
Seru laki-laki itu dengan bentakan kasar.
Nyonya Besar dari istana Shi-san-kong adalah seorang wanita muda jelita dan kaya raya.
Wanita itu juga mempunyai kepandaian ilmu silat yang tidak rendah.
Karena harta yang berlimpah-limpah maka dia berhasil menyewa beberapa orang jago silat untuk mengawalnya.
Mendapat jawaban laki-laki yang memegang kipas baja itu.
Kiam Ciu tersenyum.
Kemudian dia memeriksa laki-laki itu dengan matanya yang menyelidik dan sempat bertatapan pandang.
"Aku hanya mengetahui bahwa jalan raya ini milik orang banyak ! Milik umum jadi bukan milik orang-orang tersebut ! Sedangkan aku melarikan kudaku bermaksud untuk mengejar kalian !"
Seru Kiam Ciu menegaskan dengan nada suara mendatar dan tenang.
Mendapat jawaban itu pengawal istana Shi-san-kong menjadi bergusar hati.
Dengan mengernyitkan alisnya dia membelalakkan sepasang matanya.
Laki laki yang bersenjata kipas baja itu lalu membentak.
"Kurang ajar! Apakah kau tidak mendengar peringatanku?!"
Seru laki-laki bersenjata kipas baja itu dengan geram.
"Ya. aku medengarnya Tetapi aku samakali tidak menyangka bahwa aku dilarang untuk berjalan diatas jalanan umum ini !"
Jawab Kiam Ciu sambil tersenyum-senyum.
4 12 Menyaksikan keadaan Kiam Ciu itu laki-laki bersenjata kipas baja menjadi bertambah gusar.
Seolah-olah dia disindir dengan kata-kata tajam oleh Kiam Ciu.
Akhirnya pengawal itu sekilas melihat Oey-Liong-Kiam yang disandang dipunggung Kiam Ciu.
Ketika itu maka dengan sombong dan membanggakan diri pengawal itu telah membentangkan kipas bajanya, kemudian melantang Kiam Ciu.
"Oho !"
Kukira siapa kau anak muda !
Ternyata kau adalah Tong Kiam Ciu yang pernah bikin ribut memperlihatkan kelihayanmu dalam pertemuan Bu lim tahwee diatas puncak gunung Ciok-yong-hong beberapa hari yang lalu.
Tetapi kini aku ingin mencoba kelihayanmu !"
Seru laki-laki pengawal istana Shin-san-kong.
Pengawai itu hanya mengetahui bahwa dalam pertemuan Bu lim tahwee beberapa hari berselang Kiam Ciu diserang secara keji oleh Liat Kiat Koan.
Dalam serangan itu, Kiam Ciu jatuh pingsan.
Maka pengawal itu berpendapat bahwa Kiam Ciu hanyalah seorang pemuda yang ambisius dan ilmu silatnya tak seberapa tinggi.
Maka dia menilai rendah ilmu silat pemuda itu.
Hingga dia berani untuk menantangnya.
Namun kenyataannya Kiam Ctu memang pemuda yang tidak ingin ribut?.
Karena pemuda itu merasa masih banyak tugas yang harus dijalankannya.
Maka dia ingin menyudahi perkara ini dan segera berlalu untuk menghindari bentrokan.
Tetapi sikap mengalah dan tidak ingin bentrok itu ditafsirkan oleh pengawal itu sebagai sikap seorang pemuda yang lemah dan hanya berilmu rendah.
Maka bertambah berani dan sombonglah pengawal itu.
"Tuan besar dari istana Shin-san-Kong ! Aku menjelaskan padamu bahwa aku tidak sengaja mengejar dan mencari keributan ! seru Kiam Ciu sambil menghormat. Bagi seorang yang berhati tulus dan budiman, kata-kata yang diucapkannya dan penuh sopan santun itu akan meredakan hati dan damai. Tetapi bagi pengawal istana Shin-san-kong malah menambah kemarahannya dan membentak dengan mata merah menyala. 4 13
"Kurang ajar kau.. Hei Kiam Ciu rupa-rupanya kau hanya pembual dan pandai berbicara ! Tetapi ternyata kau takut menghadapi aku !"
Seru pengawal iatana Shin-san-Kong dengan sangat lantang dan marahnya.
"Twako ! Jangan mengulur-ulr waktu terhadap cecurut busuk itu ! Biarlah aku yang menghadapinya!"
Terdengar salah seorang pengawal itu mencampuri urusan itu.
Rupa-rupanya sejak tadi orang itu telah menahan hati dan tak terkekang lagi.
Mendengar seruan itu, akhiryna kesabaran Tong Kiam Ciu terpancing juga.
Pemuda itu turun dari punggung kudanya dan berdiri dengan sikap perwira, kemudian memandang kearah orang-orang yang berada dihadapannya dengan sinar matanya.
"Aku Tong Kiam Ciu tidak ingin mencari keributan ! Tetapi jika kalian mau mencari gara-gara aku bersedia melayaninya !"
Seru Tong Kiam Ciu dengan suara tegas.
"Nah... bersiap-siaplah untuk menghadapiku kalian dapat memilih cara satu lawan atau kalian bersama-sama mengerebutku!"
"Aku yang akan berhadapan denganmu!"
Seru pengawal yang bersenjata kipas baja itu seraya meloncat kedepan.
Orang-orang yang lainnya minggir dan menyaksikan pertempuran itu, sebenarnya mereka juga ingin menggempur serentak.
Namun rata tinggi hati mereka yang menyebabkan mereka tidak mau mengerubut Kiam Ciu.
Kiam Ciu telah waspada, maka ketika menyaksikan bahwa lawannya telah siap pula, Kiam Ciu segera memasang kuda-kuda.
Dengan sekali loncatan pengawal itu telah memukulkan kipas bajanya kearah leher Kiam Ciu.
Namun Tong Kiam Ciu memiringkan tubuhnya dan menekuk lutut.
Tangan kanan membentuk pedang.
"Tahan...!"
Terdengar suara seorang wanita yang sangat halus.
Rupa-rupanya tekanan suara wanita itu dapat menggetarkan jantung laki-laku.
Tenyata pengawal dan Kiam Viu juga menurut untuk menghentikan serangan mereka, Ternyata wanita itu adalah wanita yang berada dalam kereta indah itu.
"Tunggu dulu, aku ingin menyaksikannya !"
Seru wanita yang berwajah sangat jelita dengan kulitan kuning langsat dan giginya bagaikan mutiara berjajar.
Kehadiran wanita jelita itu membuat kedua orang yang akan bertempur untuk sesaat tertegun mematung.
Wanita muda dan jelita itu mengenakan pakaian yang berwarna dadu, wajahnya tampak sangat jelita lebih mirip dengan bidadari daripada manusia.
Gerak-geriknya sangat mempesonakan dan menggiurkan.
Keempat pengawal itu segera membongkok memberikan hormat kearah kehadiran wanita jelita itu.
Setelah memperhatikan Tong Kiam Ciu sejenak, maka wanita itu lalu menghampiri Kiam Ciu yang juga tampak terpesona dan lupa daratan menyaksikan kecantikan wanita muda itu.
Bahkan pada saat itu untuk sesaat Kiam Ciu telah melupakan adiknya Ji Tong Bwee.
Dengan gerak gerik yang memikat dan suara yang bernada merayu, wanita itu berseru kearah Tong Kiam Ciu.
"Hmmm.... rupa-rupanya kau ini adalah Tong Kiam Ciu yang memiliki ilmu Giok-ciang-cui-kiam (Tinju baja mematahkan pedang) !"
Seru wanita jelita itu sambil tersenyum.
Suara yang halus dan merayu itu mengandung pujian, schingga Kiam Ciu yang masih sangat muda dan hijau dalam hal asmara itu jadi tertunduk malu.
Sesaat kemudian wanita jelita itu membalikkan tubuhnya menghadapi kedua orang pengawalnya yang tadi telah menantang Kiam Ciu.
Kemudian berseru kearah kedua pengawal itu.
"Kalian berdua ! Kalian telah mengikutiku selama beberapa hari ini dan aku yakin betul bahwa kalian berdua telah mengetahui betul peraturan istana kita!"
Seru wanita jelita itu Kini suara yang merdu dan penuh daya perayu itu telah lenyap dan berubah merjadi lantang dan meninggi. Disusul dengan hormat dan suara takut oleh kedua pengawal itu.
"Siocia kita mengetahui betul peraturan itu."
Peraturan istapa Shin-san-kong itu ialah barangsiapa telah menjadi pengawal wanita itu harus dapat membuktikan bahwa mereka dapat menjaga keselamatan wanita itu dan dapat menghapuskan segala rintangan.
Padahal sekarang mereka berhadapan dengan Tong Kiam Ciu.
Berarti mereka harus menghadapi pemuda itu.
Kalau mereka tidak dapat mengalahkan Kiam Ciu berarti mereka kehilangan pekerjaan.
Laki-laki yang bersenjata kipas baja itu tidak mau kehilangan pekerjaan yang enak itu.
Maka dia akan segera menyelesaikan Kiam Ciu dan akan membuktikan bahwa dia adalah pengawal yang baik.
Maka segeralah dia siap siaga untuk bertempur.
Dikalangan Kang ouw sebenarnya kemunculan wanita jelita itu telah tersiar.
Karena wanita jelita itu mempunyai ilmu tinggi pula ialah sebuah ilmu pelenyap sukma yang bernama Pan-Yok-sin-im atau suara melenyapkan sukma.
Orang belum ada yang menyaksikan kehebatan ilmu silatnya dan juga tidak mengetahui dia berasal dari mana.
Sedangkan orang-orang hanya mengetahui bahwa dia adalah Nyonya besar dari istana Shin-san-kong.
Wanita jelita yang selalu berkereta.
juga selalu mendapat pengawalan.
Wanita jelita dari Istana Shin-san-kong itu selalu menarik perhatian dikalangan para pendekar.
Bahkan dalam rimba persilatan wanita jelita selalu menjadi teka-teki.
Karena belum jelas maksudnya dalam lingkungan Bu-lim, walaupun dia seorang wanita yang sangat lihay ilmu silatnya tetapi tidak pernah terjun dalam Kang-ouw.
Yang jelas menjadi sangat terpengaruh ialah para pendekar-pemdekar muda karena kejelitaan wanita itu.
Bahkan karena memandang kejelitaan itu mereka rela berkorban apa saja asal dapat selalu berdekatan dengan Nyonya besar diri istana Shin-san-kong.
Maka tiadalah mcngherankan kalau mereka itu telah banyak berkorban harta maupun kekasih bahkan nyawa.
Karena para pendekar muda itu bukan hanya sekedar mengharapkan selalu berdekatan dengan nyonya besar dari istana Shin-san-kong tetapi mereka mengharapkan lebih dari itu.
Mereka mengharapkan untuk menjadi kekasih yang tersayang.
4 16 Dalam keadaan itu maka tiadalah mengherankan kalau diantara para pendekar muda itu hingga terjadi persaingan bahkan permusuhan.
Kadang-kadang menimbulkan korban jiwa juga.
Sedangkab nyonya besar yang jelita itu karena sudah terbiasa dan menyadari keadaannya yang menjadi pujaan dan selalu disanjung oleh para pendekar muda yang tampan dan gagah, maka terbiasalah wanita itu menyaksikan segala kekerasan dan pertumpahan darah.
Sehingga hatinya tiada merasa puas kalau tidak menyaksikan perkelahian.
Maka dia telah menetapkan peraturan yang luar biasa bagi para pendekar muda yang telah menyerah kepadanya.
Pendekar muda yang telah takluk karena terbuai oleh kecantikan dan kemerduan suara wanita jelita itu.
Nyonya besar dari istana Shin-san-kong menetapkan bahwa seseorang dapat selalu menjadi pengawalnya kalau dapat membuktikan keperkasaan dihadapannya.
Sedangkan bagi pengawal yang telah kalah dianggap tidak berguna lagi dan harus keluar atau dikeluarkan.
Begitu pula bagi para pengawal yang membangkang perintah, orang-orang yang tidak patuh itu akan segera dipecatnya.
Kecantikan wanita itu sangat luar biasa.
Maka tidakhb mengherankan kalau kecantikannya itu mempesonakan banyak para pendekar muda yang saling bersaing untuk merebut hati dan simpati wanita jelita dari istana Shin-san-kong itu.
Tong Kiam Ciu juga sangat terpesona menyaksikan kejelitaan wanita itu.
Bahkan mata pemuda itu tiada berkedip, apalagi ketika menyaksikan gerak-gerik wanita itu yang sangat menarik.
"Hemmm, tidaklah mengherankan kalau banyak para pemuda yang masuk kedalam perangkapmu! Memang kecantikannya sangat luar biasa dan mempesonakan......"
Pikir Kiam Ciu.
Karena terus saja dia sendiri sangat tertarik dan mengagumi kecantikan, tetapi dia adalah ibarat bunga mawar yang banyak berduri......
Lalu tampaklah wanita jelita itu melangkah mundur dan dengan suara yang bernada perintah kearah kedua orang pengawalnya itu.
"Nah! Sekarang dapat berkelahi! Aku akan melihatnya!"
Seru nyonya besar dari istana Shin-san-kong dengan suara lantang tetapi mata bersinar-sinar mengkilat penuh gairah. Dengan hati berat Tong Kiam Ciu telah nyahut kata-kata itu.
"Aku Tong Kiam Ciu, selama sepuluh tahun telah menekuni ilmu silat. Ilmu silatku tidak untuk dipertontonkan, apa lagi untuk melukai dan menyiksa orang lain yang tidak ada ikatan permusuhan. Menyesal sekali, aku tidak dapat melaksanakan perintahmu!"
Seru Kiam Ciu dengan lantang dan pasti.
Setelah itu Kiam Ciu memutar dan bermaksud untuk menghampiri kudanya dan akan meneruskan perjalanan.
Penolakan yang diucapkan oleh Kiam Ciu dengan suara bernada tegas dan berani itu membuat para pengawal maupun sinyonya besar itu tidak pernah mendapat tantangan dan penolakan.
Semua perintahnya selalu diturut.
Apalagi para pendekar muda yang sebaya dengan Kiam Ciu.
Ia selalu dipuja dan segala tutur katanya.
Baru saja Kiam Ciu siap siaga menghadapi serangan sikipas baja, tiba-tiba telinganya menangkap suara seruan yang datangnya dari mulut wanita itu.
"Tunggu dulu... !"
Seru wanita muda itu dengan suara lantang.
Kiam Ciu sebenarnya akan bersikeras melawan pengaruh seruan wanita itu Namun ternyata tidak mampu, karena perintah itu ternyata mempunyai pengaruh luar biasa sekali.
Entah karena apa Kiam Ciu merasa semangatnya hilang dan seluruh tubuhnya menjadi lemas.
"Oh ! Dia telah melancarkan ilmu Pan-yo-shin-im. Celaka !"
Pikir Kiam Ciu dengan penuh khawatir.
Setelah dia dapat mengusir pengaruh ilmu lawan, segeralah dia meloncat kearah kudanya dan langsung meloncat ke punggung kuda putih itu.
Dengan tidak berpikir panjang lebar segeralah dia mengeprak kudanya untuk menjauhi tempat itu.
Sedangkan wanita muda yang jelita itu merasa heran karena llmu Pan-yo-shin-im ternyata tidak mampu menahan Kiam Ciu.
"Hmm.....Tong K.iam Ciu, baiklah kau menang untuk kali ini. Tetapi waspadalah dilain waktu kau akan jatuh ketanganku !"
Pikir wanita itu dengan mengawasi kearah punggung Kiam Ciu yang bertambah jauh karena memacu kudanya melanjutkan perjalanan.
Selama dalam petualangannya untuk memikat laki-laki, baru kali ini dia merasa kecewa karena kenyataannya bahwa Kiam Ciu tidak mudah ditundukkan.
Sedangkan Kiam Ciu telah melarikan kudanya untuk lari sejauh-jauhnya dari wanita jelita Itu.
Kiaos Ciu bersyukur bahwa dia dapat lotos dari cengkeraman asmara wanita jelita istana Shin-san-kong.
Karena pemuda itu yakin bahwa dengan terlibatnya dalam skandal itu berarti akan menggagalkan segala tugas yang telah dirintisnya dengan bersusah payah.
Namun demikian, dia tidaklah terlalu lengah.
Karena dia tahu bahwa nyonya besar dari istana Shin-san-kong itu adalah seorang wanita jelita yang ganas dan sakti.
Dengan kewaspadaan itu maka Kiam Ciu meneruskan perjalanannya.
Walaupun demikian dia juga tidak mampu untuk mengusir bayangan wajah jelita wanita itu dari ingatannya.
Kiam Ciu terus memacu kudanya tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya.
Hawa dingin telah terasa, ketika itu barulah Kiam Ciu mengangkat kepala dan memandang keadaan disekitarnya.
Barulah dia menyadari bahwa telah masuk kedalam sebuab hutan yang lebat.
Pohon-pohon dalam butan Itu telab bertiup, tiba-tiba Kiam Ciu mengeluh.
"Ohh...terlalu jauh aku mengambil jalan....kini aku berada di hutan bagian mana? Mudah-mudahan ada tanda-tanda yang dapat kuturutkan...."
Pikir Kiam Ciu.
Tetapi belum sampat pemuda iiu memikirkan hal-hal yang bakal ditempuhnya.
Matanya yang tajam itu dapat menangkap suatu benda yang melayang kearah dirinya.
Benda berwarna putih itu meluncur dengan cepat kearah dirinya.
Maka dengan tangkas pula Kiam Ciu menangkap benda iiu.
Benda yang berwarna putih itu ternyata adalah selembar kertas yang dilipat sangat kecil.
Kertas yang terlipat-lipat itu dilemparkan oleh seseorang kepada Kiam Ciu.
Ketika Kiam Ciu menangkap kertas itu buru-buru dibukanya dan dilihatnya, ternyata kertas itu bergambarkan wajah seorang gadis yang cantik 4 19 berumur kurang lebh lima belas tahunan..
Kiam Ciu mengangkat wajahnya dan melihat kearah orang yang melemparnya itu sambil mengejar kearah orang itu maka kertas itu masih ditentangnya.
Ternyata orang melempar kertas tadi adalah seorang pemuda berwajah pucat dan bertubuh tinggi berambut panjang meriyap.
Ilmu meringankan tubuh pemuda itu sangat hebat.
Kiam Ciu menghentikan pengejarannya.
Karena dia merasa tidak mengerti maksud pemuda itu maka Kiam Ciu lalu menghentikan kudanya dan bayangan pemuda itu terus melesat hilang.
Sekali lagi dipardanginya kertas yang menggambarkan wanita jelita itu.
Kemudian dilipatnya dan dimasukkan kedalam saku bajunya.
Hanya sejenak Kiam Ciu mengerutkan keningnya memikirkan teka-teki kertas bergambar wajah gadis itu.
Namun sampai sedemikian lama dia tidak tapat memecahkan teka-teki itu.
Maka dihalaukannya persoalan itu dari pikirannya.
Dia mempunyai pokok tujuan dan tugas yang harus dapat diselesaikannya untuk memenuhi harapan-harapan gurunya.
Maka Kiam Ciu kini menggertak tali kekang kudanya dan kuda putih kesayangannya itu meloncat meninggalkan hutan itu.
Beberapa li pemuda itu menempuh perjaanan, tiba-tiba telinganya menangkap suara rintihan seseorang.
Rintihan itu terdengar sayup-sayup tertiup angin, Karena watak Kiam Ciu welas asih dan memegang teguh keperwiraan maka ketika mendengar rintihan itu dia tidak dapat tinggal diam saja.
Segeralah dia menarik tali kekang kudanya kearah datangnya suara itu.
Ketika suara itu terdengar nyata benair, segeralah Kiam Ciu turun dari punggung kuda putihnya.
Diperhatikannya seorang laki-laki yang tengah menelungkup ditanah dia memegangi perutnya sambil merintih-rintih.
Tampak bahwa orang itu sangat menderita, Kiam Ciu menghampiri dan memegang bahu orang itu.
Kemudian menegurnya dengan suara menghibur.
"Mengapakah kau...? Apakah aku dapat menolongmu ?"
Bisik Kiam Ciu sambil membongkok.
Tetapi orang itu dengan tiba-tiba menghentikan rintihan dan loncat berdiri.
Kemudian menyerang Kiam Ciu dengan sebilah golok.
4 20 Gerakannya sangat cepat sekali.
Namun Kiam Ciu dapat menghindarinya pula dengan cepat.
Maka melesatlah serangan ttu menusuk tempat kosong, dan orang itu dengan cepat pula memutar tubuh menghadap kearah Kiam Ciu dengn golok mengkilap tetap tergenggam di tangan kanan.
"Tahan ! Aku Kiam Ciu bermaksud baik untuk menolongmu, tetapi ternyata kau menyerangku dengan keji apakah maksudmu?"
Seru Kiam Ciu heran dan mengamati keadaan orang itu dengan penuh waspada.
Tetapi orang itu tidak menjawabnya, bahkan kini menyerang lagi dengan lebih dahsyat dalam jurus Long-li-ciu atau mendorong perahu dalam ombak.
Laki-laki itu meloncat sambil menikamkan goloknya ke leher Tong Kiam Ciu.
Tetapi Kiam Ciu dengan tenang dan waspa da telah berkelit.
Dengan jurus Kim-siok-liong atau Gunting mas menggunting ekor naga, pemuda itu membelokkan tubuhnya dan ujung golok orang itu menikam angin hingga tubuh laki-laki itu limbung.
Kiam Ciu dengan gerakkan cepat sekali menotok siku laki-laki itu.
"Aduh ! Trang..!"
Terdengar luara jeritan berbareng dengan suara dentangan nyaring goiok yang dipegang laki-laki itu terlepas jatuh.
Namun Kiam Ciu tidak merasa mempunyai ikatan dendam permusuhan dengan laki-laki itu.
Maka walaupun lawan dalam keadaan seperti itu, dia tetap diam dan tidak bermaksud membunuhnya.
Sedangkan laki-laki itu telah meloncat satu tindak sambil memegang pergelangan tangannya dan mengamati Kiam Ciu.
"Tong Kiam Ciu, aku tidak dapat melawanmu dengan senjata. Apakah kau bersedia berkelahi dengan tangan kosong!"
Seru laki-laki itu.
Kiam Ciu tidak menjawab tantangan itu, dia hanya tersenyum dan menyarungkan pedang.
Kemudlan siap siaga menghadapi serangan lawan.
Laki-laki itu telah memasang kuda-kuda.
Kemudian setelah melihat bahwa Kiam Ciu menyarungkan pedangnya, maka tantangannya berani diterima dan langsung dia menyerang dengan sepasang tangannya membentuk cakaran.
Laki-laki itu meloncat bagaikin terbang mengarah tubuh Kiam Ciu.
Bertepatan 4 21 dengan loncatan itu pula Kiam Ciu menyaksikan kelebatan bayangan bertubuh kurus dan tinggi.
Akhirnya Kiam Ciu berkeyakinan bahwa kelebatan bayangan itu tak lain adalah Li Hok Tian yang telah meminjam tenaga orang yang tengah dihadapinya itu untuk membinasakan Kiam Ciu.
Dalam perkelahian itu Kian Ciu telah mengingat kembali cerita gurunya tentang seorang jago silat yang mempunyai keahlian mempernakan golok dan orang itu buta.
Kemudian mengangkat murid yang telah dipeliharanya sejak kecil.
Namun akhirnya guru yang buta matanya tetapi baik hatinya itu menjadi sangat kecewa.
Murid tunggalnya yang bernama Pit Ki itu kemudian telah mengkhianatinya.
Pit Ki telah merajalela, menyebar kejahatan dan keji.
Disamping Pit Ki berhati keji juga bersifat curang dan licik.
Ketika itu ternyata menyerang Kiam Ciu tidak dengan tangan kosong benar-benar.
Tetapi melancarkan serangannya dengan lima butir bola baja yang beracun, lima bagian yang terlemah dan berbahaya pada tubuh Kiam Ciu yang diarahnya untuk kebinasaan pemuda itu.
Muka ketika pemuda itu dengan cepat dapat menangkap kilatan senjata rahasia itu, Kiam Ciu mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong dan menggerakan tinju tangan kanan kearaa benda-benda yang tengah meluncur itu.
Hantaman dahsyat yang dilambari ilmu Bo-kit-sin-kong itu begitu hebatnya meluncur dan menggempur kedepan.
Lima butir bola besi itu telah terhalau dan Pit Ki sendiri terdorong ke belakang beberapa langkah.
Untung tidak terjengkang.
Berbareng dengan itu terdengar pula sebuah jeritan tinggi.
Tahu-tahu tampak seorang kakek yang berambut panjang digelung dan berwarna putih seluruhnya.
Kakek itu tampaknya buta dan berdiri diantara Pit Ki dan Kiam Ciu.
Li Hok Tian yang sejak tadi menyaksikan jalannya pertempuran antara Kiam Ciu dengan Pit Ki dan bersembunyi dibaiik batu besar.
Kini orang itu keluar dari persembunyiannya dan ingin menyaksikan kakek buta itu.
Tong Kiam Ciu yakin bahwa kakek itu adalah guru Pit Ki.
Sedangkan Pit Ki sendiri untuk sesaat masih ternganga dan wajahnya masih pucat memandang kearah kakek itu bergantian memandang Kiam Ciu.
Tetapi ketika semuanya telah 4 22 dapat dikuasai dan warna merah membersit di wajahnya barulah laki-laki itu terseru .
"Suhu! Kukira siapa tadi yang datang....!"
Seru Pit Ki dengan suara gugup dan berlutut di hadapan gurunya.
"Ya... benar aku yang datang, ternyata kau tidak silap dan masih mau mengakui aku sebagai suhumu.."
Sambung kakek itu sambil tersenyum dan mengangguk kearah Pit Ki.
Saat itu baik Kiam Ciu maupun Li Hok Tian terdiam.
Kekek berambut putih itupun sama sekai!
tidak mempedulikan orang lain.
Dia mengutamakan urusannya.
Ialah hubungan antara guru dan murid.
Urusan perguruan yang sangat mendesak dan harus lekas-lekas diselesaikan.
"Pit Ki... aku telah memelihara kau semenjat kau masih anak-anak. kupelihara dengan penuh kasih sayang dan harapan. Sebenarnya aku menaruh harapan besar kepadamu. Tetapi..... tetapi kau telah minggat dari rumahku. Kau telah turun gunung dengan tujuan untuk menumpuk harta kekayaan dan mencari nama besar. Kau telah tersesat terlalu jauh. Aku telah mendengar dalam beberapa hari saja kau telah banyak membunuh jago-jago silat dikalangan Kang-ouw! Kau membunuh mereka dengan cara licik dan keji. Perbuatanmu itu sangat terkutuk Pit Ki ! Jika kau masih memandang aku sebagai guru dan masih menghormati, marilah ikuti aku kembali ke gunung. Aku dapat mengampuni segala kesalahanmu. Aku dapat mengampuni perbuatan-perbuatanmu yang lampau !"
Seru kakek itu dan menunggu jawaban dari muridnya itu. Namun sampai beberapa saat kakek itu menunggu tidak mendengar jawaban Pit Ki. Seaat suasana menjadi lengang tetapi tegang.
"Aku menyuruhmu untuk ikut pulang ke gunung! Apakah kau tidak mendengarnya?"
Seru kakek itu dengan suara lantang dan membentak. Pit Ki meloncat berdiri dan memandang suhunya serta menyahut.
"Suhu.... aku tidak mau turut!"
Seru Pit Ki dengan suara keras.
"Hai ! Jadi kau membangkang?"
Seru kakek itu dengan mulut melongo.
4 23 Tiba-tiba Pit Ki telah mencabut goloknya Dengan sebuah loncatan dia telah menyerang gurunya.
Serangan yang keji mengarah jalan darah kematian suhunya yang selama belasan tahun mengasuh dengan kasih sayang.
Perbuatan itu membuat Tong Kiam Ciu maupun Li Hok Tian jadi terperanjat sekali.
Sikakek buta meloncat kesamping menghindar serangan itu.
Kakek itu memiringkan tubuhnya dan memaki kearah Pit Ki.
"Kau berani menyerang dan akan membunuhku ?!"
Seru kakek itu. Sambil membentak lantang dan meloncat menerkam kearah Pit Ki. Pit Ki sama sekali tidak menduga akan gerakkan itu, Tanpa terduga goloknya telah jatuh ke tangan suhunya.
"Bunuhlah aku sekarang juga!"
Seru Pit Ki yang tidak berdaya itu.
Namun kakek buta itu tidak ingin membunuh muridnya itu.
Sejenak biji mata kakek itu bergerak-gerak.
Wajihnya berubah tampak sangat tua dan membayangkan kepedihan yang luar biasa.
Diangkatnya golok Pit Ki, kening kakek itu berkerut.
Kemudian golok itu dicentilnya dengan jari telunjuk.
Terdengar deringan nyaring dan dentangan benda jatuh.
Golok itu telah terputus menjadi dua.
"Nah, kau perhatikan golokmu ini Pit Ki. Seperti golok ini jugalah hubungan kita selanjutnya. Antara aku dengan kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. kau bukan lagi sebagai muridku !"
Seru kakek itu.
Kemudian hulu golok itu dilemparkan ketanah, bersamaan itu pula kakek itu berkelebat menghilang, hanya angin hembusan yang terasa sejuk menerpa wajah mereka yang berada ditempat itu.
Pit Ki dan Li Hok Tian terpesona menyaksikan semua kejadian yang diperbuat kakek iiu.
Pada saat itu maka segeralah Kiam Ciu dengan diam-diam menghampiri kudanya.
Kemudian menyemplaknya duduk dipunggung kuda itu.
Dia tidak mau berurusan dengan kedua yang tidak karuan itu dan ingin segera berlalu dari tempat iiu.
Ketika tali kekang kudanya ditarik dan dibentakan maka kuda itu telah mengetahui maksud tuannya.
Segeralah kuda putih yang cerdik itu 4 24 meninggalkan tempat pertempuran dan memasuki hutan, meninggalkan kedua orang itu dalam keadaan terpesona.
Kiam Ciu meninggalkan mereka dengan diam-diam.
Sepanjang malam Kiam Ciu menempuh rimba lebat dan gelap, mata dan telinganya tidak pernah ferlena.
Dia selalu waspada, karena dia tahu bahwa didalam hutan itu sering terjadi hal-hal diluar dugaan.
Binatang maupun orang-orang jahat yang selalu mengintai siapapun adanya yang berani menempuh dalam hutan lebat itu.
Sebenarnya Kiam Ciu akan menyerahkan pening kuningan partai Bu-tong kepada Li Hok Tian.
Namun ketika menyaksikan perbuatan Li Hok Tian yang kejam itu, niat K.iam Ciu lalu diurungkannya.
Kini dia bertekad untuk pergi ke markas besar partai Bu-tong.
Dia akan menemui pemimpin Bu-tong Pay dan akan menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Dalam perjalanan itu dengan tiada terasa dia telah berjalan jauh sekali.
Hawa sejuk menjelang pagi telah menyentuh-nyentuh kulit tubuh pemuda itu.
Barulah sadar Kiam Ciu ketika terdengar suara burung hutan yang ramai berkicau Ditariknya tali kekang dan kuda itu berhenti.
Kiam Ciu menarik nafas panjang.
Segar dan bau harum kembang-kembang tertiup angin.
Kiam Ciu memeriksa keadaan disekelllingnya.
Semunya dalam keadaan tenang dan burung-burung bergembira.
Kemudian Kiam Ciu melanjutkan langkahnya!
Mengentak kudanya untuk melanjutkan perjalnan!
Tiada lama kemudian, tampaklah sebuah bangunan tua yang sebagian telah menjadi reruntuhan !.
Selelah Kiam Ciu menghampiri bangunan itu maka segeralah menghentikan kudanya dan pemuda itu turun dari punggung kudanya, Diperiksanya keadaan itu.
Kuda putihnya dibiarkan lepas dan mencari makan merenggut rumput-rumput muda yang banyak terdapat disekeliling bangunan itu., Sedangkan Kiam Ciu bermaksud untuk beristirahat sebentar, Sambil menggigit-gigit bunga rumput dan menggeletak dengan berbantalkan tapak tangannya, Kiam Ciu istirahat dan memandang keatas.
Walaupun langit lerhalang oleh dedaunan namun pemuda itu tetap memandanginya.
Angan-angannya melayang-layang menyusup dicelah dedaunan dan menyembul keangkasa diantara mega-mega!
Kiam Ciu kembali teringat kertas yang 4 25 bergambarkan gadis umur lima belasan!
Kertas itu lalu dikeluarkannya dari dalam saku, dipandarginya gambar itu.
Kiam Ciu berusaha untuk memecahkan teka-teki gambar gadis itu.
Namun smpai sekian lamanya dia tidak berhasil.
Bahkan yang terbayang kini gambaran wajah adiknya Ji Tong Bwee.
Kiam Ciu berusaha untuk memejamkan mata.
Namun bayangan peristiwa-peristiwa yang baru dialaminya mengganggu terus.
Hingga pemuda itu sukar sekali unuk menghalau gangguan bayangan itu.
Dalam keadaan itu tiba-tiba dia menangkap suara langkah mendekatinya.
Langkah yang sangat halus itu bertambah dekat.
Maka Kiam Ciu lalu bangun dan memeriksa keadaan disekeliling bangunan itu.
Ternyata langkah itu telah lenyap.
Kiam Ciu berhenti sejenak dan memasang ketajaman telinganya untuk mendengarkan Iangkah-langkah yang tadi didengarnya itu.
Namun Iangkah-langkah itu telah lenyap.
Kembali pemuda itu ke tempat semula dan bermaksud untuk meneruskan beristirahat.
Dibaringkan tubuhnya diatas rerumputan yang tebal.
Ketika matanya memandang keatap bangunan itu, dia terperanjat ketika dia menyaksikan seorang pemuda yang mengenakan pakaian compang-camping dan rambutnya panjang terurai.
Pemuda yang duduk ongkang-ongkang diatap rumah bobrok itu tampak tersenyum.
"Hey apakah kau yang melemparku dengan kertas bergambar gadis Itu?"
Seru Kiam Ciu sambil meloncat berdiri.
"Ya.... hahaha"
Seru pemuda itu.
"Apa maksudmu kau melempar dengan gambar itu ?"
Seru Kiam Ciu.
"Hemmm gambar itu adalah milikku maka aku datang kesini akan minta gambar itu kembali.... !"
Seru pemuda gembel itu sambil mengulurkan tangan kanan kearah Kiam Ciu.
"Enak saja kau telah membuat otakku pusing karena teka-teki itu, Kini dengan seenakmu lalu minta kembali gambar itu. Aku belum dapat memecahkan teka-teki yang kau berikan kepadaku itu. Jangan kau bermimpi akan mendapatkan kembali gambar itu sebelum kau menerangkan maksudnya....."
Seru Kiam Ciu 4 26 sambil menuding kearah pemuda gembel yang masih tetap duduk diatas genting dengan tenangnya.
"Tetapi kertas bergambar itu adalah milikku, maka kini aku mengharapkan kau untuk mengembalikan kepadaku!"
Seru pemuda itu sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Kau telah membuat seseorang tenggelam dalam suatu teka-teki. Maka sebagai penghormatan kau harus memberikan penjelasan tentang arti teka-eki itu!"
Seru Kiam Ciu dengan muka merah.
"Tetapi kertas itu kertasku! Mana berikan padaku !"
Seru pemuda itu "Kalau kau belum memberikan jawaban teka-teki itu padaku, jangan kau harapkan bahwa aku akan mengembalikan kertas ini padamu!"
Seru Kiam Ciu bersungguh-sungguh.
"Jika kau sangat mengharapkan jawabannya.... inilah jawabannya !"
Seru pemuda itu sambil meloncat turun dari atas atap rumah bobrok itu kemudian meloncat pula bagaikan kilat dia telah menghilang.
Kiam Ciu dengan tangkas telah menangkap lemparan itu.
Ternyata kertas yang dilipat sangat ringkas.
Kemudian Kiam Ciu membuka lipatan itu.
Ternyata adalah sebuah wurat yang berisi pisau.
"Awas! Penganiayaan! Berbahaya!"
Tullsan-tulisan singkat tetapi cukup berarti itu meupakan kesan padanya.
Akhirnya Kiam Ciu menyadari bahwa pemuda gembel yang aneh itu ternyata berusaha untuk menolongnya.
Ternyata pemuda itu bermaksud baik walaupun sebelumnya dia belum pernah mengenal dan saling berbicarapun belum.
Maka diamatinya sekali lagi.
diulanginya untuk membacanya.
"Hemmm rupa-rupaya dia berusaha untuk menolongku dari bencana. Mula-mula dia telah melemparkan kertas bergambarkan seorang gadis dia telah berusaha memperingatkan kepadaku akan jebakan Pil Ki yang keji itu, kemudian aku lebih waspada lagi. Siapakah dia yang sebenarnya ?"
Pikir Kiam Ciu sambil memasukkan kertas peringatan itu kedalam saku bajjuya.
4 27 Sebenarnya memang Tong Kiam Ciu banyak yang mencintai.
Apalagi ketika diketahui oleh tokoh-tokoh persilatatan bahwa Kiam Ciu akan naik kepuncak gunung Ciok-yong-hong untuk turut serta dalam pertemuan orang-orang gagah pada pesta Bu-lim-tahwee dan kelihatan bahwa Kiam Ciu membawa-bawa pedang Oey-Liong-Kiam, maka dia selalu diincar oleh tokoh persilatan itu.
Namun Kiam Ciu sama sekali tidak menyadarinya.
Bahwa segala peristiwa itu rangkai-berangkai sangat panjang dan tiada berkesudahan.
Dengan tetap tenang-tenang saja seolah-olah tidak ada apa-apa, maka Kiam Ciu telah bersiul memanggil kudanya; Kuda putih itu memperdengarkan ringkikannya dan berderap mendekati Kiam Ciu.
Setellah menggeser-geserkan kepalanya kelengan pemuda itu dan Kiam Ciu mengelus kepala kudanya tersenyum.
"Putih ayolah kita meneruskan perjalanan"
Bisik Kiam Ciu.
Kuda itu seperti tahu apa yang dikatakan tuannya dan memperdengarkan suara ringkikan tertahan beberapa kali, bagaikan jawaban kata-kata Kiam Ciu.
Akhirnya Kiam Ciu meloncat kepunggurg kuda putih itu.
Tali kekangnya dibentakkan dan kuda itu melompat lari.
Walaupui bagaimana pemuda itu masih memikirkan kata-kata yang tertulis pada surat yang dilemparkan oleh gembel itu, Namun dia sam a sekali tidak tahu apa maksudnya.
Tiba-tiba Kiam Ciu mencium bau daging dipanggang.
Seketika itu juga perutnya terasa sangat lapar.
Maka diputar langkah kudanya menuju keasap sedap yang melaparkan perut itu.
Apa agi hampir dua hari Kiam Ciu tidak makan.
Setelah mencium bau daging dibakar itu, perutnya merasa sangat lapar sekali.
Belum seberapa jauh dia telah melihat kepulan alap.
Setelah bertambah dekat terlihatlah seorang kakek pendek yang tengah membakar dua potong kaki babi.
Dihampirinya kakek itu.
Asap sedap mengepul dan mempengaruhi selera Kiam Ciu.
Laparnya hampir tak tertahan.
Laki-laki bertubuh gendut pendek dan berwajah kejam itu tetap tenang.
Dia terus memanggang dua buah kaki babi itu diatas api yang membara.
Kedatangan Kiam Ciu tidak mengejutkannya.
Rupa-rupanya laki-laki itu telah mengetahui maksud kedatangan Kiam Ciu.
"Apakah kau lapar ? Tetapi kawanku itu biar makan dulu!"
Seru laki-laki pendek dan gendut itu sekilas memandang kearah Kiam Ciu. Kemudian menunduk lagi mengamati paha panggangnya. Sepotong daging panggang telah dilemparkan ke arah seekor ular belang.
"Ayo turun dari kudamu, kita dapat makan bersama-sama!"
Seru laki-laki itu dan terus dia sendiri sibuk memotong daging panggang itu dan melahapnya.
"Terima kasih Locianpwe..."
Seru Kiam Ciu sambil dengan tergesa-gesa turun dari atas pelana kudanya dan menghampiri laki-laki itu, kemudian mengambil sepotong daging panggang dan dimakannya.
Kedua orang itu belum saling mengenai.
Mereka telah makan bersama dalam keadaan lapar.
Kiam Ciu mengauggap orang pendek yang berwajah kejam itu ternyata seorang yang baik hati.
Setelah laki-laki itu merasa kenyang dia telah berhenti makan.
Tangannya yang berminyak itu diusap-usapkannya ke betis dan di gosok-gosokannya ke rumput.
Kemudian mengusap mulutnya dengan jubahnya.
Ular belang itupun telah selesai menelan daging panggang.
Kemudian ular belang itu disimpannya dibalik jubah laki-laki gendut dan pendek itu.
"Aku telah kenyang, maka akan segera mininggalkan tempat ini. Tetapi kalau kau masih merasa kurang, disana kau dapat mengambinya !"
Seru laki-laki itu sambil menunjukkan ke satu tempat. Kiam Ciu agak terperanjat dengan kata-kata itu kemudian dia mengajukan pertanyaan ingin mengetabui nama laki-laki itu.
"Tetapi siapakah nama Locianpwee ?"
Seru Kiam Ciu. Laki-laki itu menahan langkahnya, kemudian berpaling kearah Kiam Ciu dan wajahnya yang bengis itu kini tampak agak cerah.
"Oh.... kau tanyakan namaku? Apakah perlu itu bagimu anak muda ?"
"Ya sangat perlu, karena kebaikan hatimu telah memberikan daging panggang ini ...."
Seru Kiam Ciu.
"Jadi hanya karena daging itu kau ingin mengetahui namaku ?"
"Oh . , , bukan iiu maksudku ..."
Sahut Kiam Ciu gugup. 4 29
"Baiklah kau dengar, kau dengar namaku....., Aku bernama Tok Giam Lo !"
Kiam Ciu tampak terpaku, matanya terbeliak karena terkejut mendengar nama itu, karena nama itu sudah sering didengarnya.
"Oh , , , jadi . , , jadi Locianpwee bernama Tok Giam Lo ? Nama itu sudah sejak lama kudengar nama besar dan malang melintang di kalangan Kang-ouw, namun mengapa kini kutemui sebagai pencuri kepunyaan orang lain"
Jawab Kiam Ciu dengan terheran-heran dan memandang laki-laki itu dengan sorot mata tak mengerti.
"Kalau kau sudah mengetahui siapa diriku, mengapa kini kau berani mencela. Untuk kesalahanmu itu kau harus menerima hukumanku tiga kali pukulan ! seru Tok Giam Lo.
"Oh, jika apa yang kukatakan tadi dianggap tidak betul. Maka aku bersedia untuk menerima pukulan sebagai hukuman , , ."
Jawab Kiam Ciu.
Tanpa banyak berbicara lagi, Tok Giam Lo sudah siap untuk mengirimkan pukulan tiga kali kearah tubuh Kiam Ciu.
Tetapi Kiam Ciu telah siap siaga dengan ilmu Bo-kit-sin-kong untuk menangkis pukulan Tok Giam Lo yang berhati sewenang-wenang itu.
Karena pemuda itu telah menduga dan masih mengingat cerita gurunya tentang Tok Giam Lo itu seorang tokoh yang berjiwa keji dan suka berbuat sewenang-wenang, Tok Giam Lo mempuryai kehebatan ilmu racun dan bisa yang sangat ganas.
"Buk !"
Terdengar suara dua kekuatan berbentur.
Tok Giam Lo terlempar surut beberapa langkah.
Dia sangat terperanjat menyaksikan kenyataan itu.
Ternyata Kiam Ciu yang masih sangat muda itu telah dapat menguasai Bo-kit-sin-kong sangat sempurna.
Setelah mendapat kenyataan itu, maka laki-laki pendek itu jadi beringas.
Kini dia telah siap siaga untuk memukul kembali dengan ilmu Sin-kang yang lebih hebat dan dapat menghancurkan gunung.
Wajahnya tampak lebih bengis lagi.
Menggerakkan tinjunya yang mengepal dimuka dadanya dengan kerut kemerut dahi dan matanya melotot.
4 30 Ketika Tok Giam Lo meloncat menyerang dengan pukulan tangannya kedada Kiam Ciu, pemuda itu menarik kakinya selangkah kebelakang, kemudian memukulkan tangan kanan kedepan.
Belum lagi Tok Giam Lo sampai dihadapan Kiam Ciu, dia telah terkena angin pukulan Kiam Ciu hingga terpental balik lima tindak.
Wajah Tok Giam Lo jadi bertambah beringas dan marah sekali.
Dia meloncat dan mengembangkan kesepuluh jari jemarinya untuk menyerang Kiam Ciu.
Dari ujung jari jemari itu tampak mengepul asap beracun.
Kiam Ciu terperanjat ketika hidungnya mencium bau amis.
Dia telah menduga bahwa Tok Giam Lo telah mempergunakan racun.
Belum sempat dia berpikir lebib lanjut tahu-tahu tubuhnya menjadi panas, kemudian beralih dingin hingga dia menggigil kedinginan.
Sejenak kemudian dia merasakan kehilangan tenaga menjadi sangat lemah sekali.
Kiam Ciu tidak berdaya, tubuhnya loyo dan mukanya tampak sangat pucat sekali.
Tok Giam Lo kemudian menahan serangannya.
Dia menghampiri Kiam Ciu yang sudah tidak berdaya itu.
Sambil tertawa dengan bangga dia berseru dan mencibir Kiam Ciu.
"Hahahah....... Aku kira kau ini adalah seorang jaro silat yang sangat hebat.. ha..ha..ha.. tidak tahunya hanyalah seekor ayam gorokan belaka ha ha ha ! Kau telah menghinp bawa beracun yang keluar dari ujung jariku. Dalam waktu pendek kau dan kudamu akan binasa bersama. Di jagat ini tiada seorangpun yang dapat menawarkan pengaruh racanku. Kecuali .... aku sendiri , , , ha hahahhha , , ,"
Terdengar tawa itu bertambah meninggi kedengarannya sangat menyakitkan hati.
Karena Kiam Ciu sedang mengerahkan Bo-kit-sin-kong maka dia diam saja.
Kiam Ciu berusaha untuk menghalau pengaruh racun.
Tok Giam Lo lenyap dari pandangan mata, barulah Kiam Clu merasa lega.
Karena racun itu sudah lenyap pula.
Pengaruh racun yang membuat Kiam Ciu jadi lumpuh untuk beberapa saat lamanya.
Tetapi nasib malang yang menimpa diri kudanya.
Kuda itu ternyata tidak dapat menahan pergaruh racun Tok Giam Lo.
Setelah menghisap hawa beracun, kuda putih itu jauh pingsan kemudian binasa.
Kiam Ciu telah berdiri kembali dan menghampiri kudanya yang telah mati.
Dengan hati pedih dielus kepala kuda 4 31 putih itu.
Seolah-olah dia tengah membujuknya.
Kemudian bangkai kuda itu lalu dikuburnya.
Setelah menguburkan kudanya yang terkena racun itu, Kiam Ciu meneruskan perjalanan.
Dia belum tahu kemana yang akan ditujunya.
Yang penting kini dia harus meninggalkan tempat itu selekas-lekasnya.
Dengan tak terasa Kiam Ciu telah sampai di sebuah gubuk yang telah terlantar.
Karena tubuhnya masih merasa agak lemah, maka segeralah berhenti dan duduk didepan gubuk yang tidak terawat itu.
Kiam Ciu telah kembali menjadi tenang dan kembali bayangan-bayangan kejadian yang telah dialaminya selama sehari semalam itu.
Teringatlah kejadian-kejadian yang telah dialaminya.
wanita muda yang jelita, kemudian Pit Ki yang keranjingan nama dan kekayaan, kemudian seorang pemuda gembel yang rambutnya terurai, akhirnya pertemuannya dengan Tok Giam Lo yang kejam itu.
Dengan tak sengaja dia telah memasukkan tangannya kedalam saku.
Didalam saku itu dia meraba batang akar Lok-bwee-kim-keng.
"Dengan akar kering ini aku dapat terbebas dari pengaruh segala macam racun dan bisa. Aku harus lekas-lekas sampai ke kota Pek seng. Kemudian pergi ke lembah Si-kok....."
Pikir Kiam Ciu dan menarik nafas panjang kemudian merasa keadaan tubuhnya yang telah kembali segar.
Demikianlah Kiam Ciu telah mengambil keputusan untuk pergi ke puncak Hiang-la hong di pegunungan Bu-tong dan terus ke lembah Si-kok yang sangat ditakuti oleh para jago-jago silat.
Tiba-tiba Kiam Ciu mendengar suara langkah kaki yang bertambah dekat Sementara itu hidung Kiam Ciu yang tajam penciumannya itu telah mencium bau harum.
Dia telah memastikan bahwa orang yang mendekatinya itu pastilah seorang wanita.
Karena bau wangi itu adalah bau harum-haruman yang biasa dipakai oleh wanita.
"Tong Kiam Ciu ! Tong Kiam Ciu kau berada dimana ?!"
Terdengar suara wanita memanggil-manggil nama pemuda itu. (Bersambung
Jilid 5) 5 0 5 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 5 AMUN Kiam Ciu telah kenal dengan irama dan nada suara itu.
Sejenak berdebar hati Kiam Cu mendengar suara iiu.
Namun kemudian dia telah ingat menguasai diri kembali.
Segeralah dia mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong agar ia menjadi kebal terhadap pengaruh rayuan wanita jelita yang kini telah mendatanginya itu.
"Tong Kiam Ciu. mengapakah kau menjauhkan diri dari padaku ? Sekarang tiada orang lain, kita hanya berdua saja kan kita bebas untuk bercakap-cakap dan berbuat apapun tiada orang lain yang mengganggu lagi."
Bujuk wanita jelita itu sangat manis dan lunak sekali.
Namun pengaruh ilmu Bo-kit-sin-kong telah menguasai Kiam Ciu.
Pemuda itu tanpa berbicara telah mengamatinya.
Ditatap wajah wanita muda itu dengan mulut tetap membisu.
Karena kekakuan dari Kiam Ciu itu maka wanita muda yang jelita dan menggairahkan itu jadi bergusar hati.
"Sio Cin ! Ambil pedangku ! Ambil pedangku !"
Seru wanita muda dan jelita itu.
Dengan serentak tampaklah tiga orang telah berloncatan ditempat itu.
Seorang wanita muda membaw sebilah pedang yang bersarung.
Kelihatan pula dua orang pendekar yang telah dikenai oleh Kiam Ciu.
Mereka yaitu ialah Pit Ki dan Li Bok Tian Mereka telah terdiri menghampiri wanita muda itu.
Mereka bertiga menantikan perintah tuannya.
"Hmmm.... rupa-rupanya Pit Ki dan Li Hok Tian telah dapat menundukkan para pengawnl wanita itu dan sekarang dia terpilih sebagai pengawalnya". pikir Kiam Ciu dan memandang kearah kedua pendekar itu. N 5 2 Kedua laki-laki itu memandang Kiam Ciu dengan sinar mata beringas. Tetapi mereka tidak berani berbuat lebih lanjut sebelum mendapat perintah wanita muda itu. Wanita muda itu mengambil pedangnya dan berdiri dalam sikap menantang kearah Kiam Ciu.
"Semenjak aku terjun dikalangan Kang-ouw pedangku ini belum pernah keluar dari sarungnya. Sekarang aku cabut pedang ini dari sarungnya!"
Seru wanita muda itu dan tampaklah mata pedang yang baru saja dicabut itu.
Sekilas Kiam Ciu mengawasinya tetapi pemuda iiu masih tetap membisu dan masih terus mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong.
Wanita itu bertambah gusar dan membentak lagi.
"Aku ingin mencoba kehebatan ilmu pedangmu dan kehebatan Oey Liong Kiam !"
Seru wanita itu, dibarengi dengan berakhirnya kata-kata itu dia telah menusuk kearah Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu melompat kebelakang satu tindak.
Tusukan pedang wanita itu mengenai tempat kosong.
Tetapi wanita muda itu tidak meneruskan serangannya.
Kemudian wanita jelita itu tersenyum dan menegurnya.
"Anak bandel ! Mengapa kau tidak membalas menyerang dengan pedangmu?"
Tetapi Tong Kiam Ciu tidak membalasnya. Pemuda itu hanya menatap mata wanita muda itu serta menahan amarahnya. Ketika itu wanita muda dan jelita itu telah menghampirinya dan membujuk.
"Hey Tong Kiam Ciu, mengapa kau selalu membisu. Apakah kau mendapat luka dalam !"
Bisik waniia muda itu seraya menghampirinya.
Belum lagi wanita muda itu menyentuh kulit Kiam Ciu, tahu-tahu pemuda itu telah menggerakkan tangan kanan dan memukul kearah wanita itu hingga terpental karena angin pukulannya.
Diam-diam wanita jelita itu merasa heran karena kehebatan Kiam Ciu yang tidak terpengaruh ilmu Pan-yok-sin-im atau ilmu Suara melenyapkan sukma 5 3 yang telah dilancarkannya itu.
Dia berpikir apakah ilmunya itu sudah tidak berguna lagi.
Menyaksikan wanita muda dan jelita yang selalu dipuja-pujanya itu telah diperlakukan sedemikian rupa oleh Kiam Ciu, maka tanpa menunggu perintah Li Hok Tian telah memukulkan ilmu pukulan mautnya kearah kepala Kiam Ciu dengan tenaga penuh.
Namun Kiam Ciu dapat berkelit dengan cepat dan meloncat beberapa tindak, dan tidak berusaha untuk membalas atau mengimbangi perbuatan Li Hok Tian itu.
Sejak tadi Kiam Ciu telah mengerahkan Ilmu Bo-kit-sin-kong yang mengutamakan penyaluran tenaga dalam segenap pembuluh darahnya.
Maka tidaklah mengherankan kalau pemuda itu bagaikan mandi.
Tubuhnya basah kuyup dan Kiam Ciu meloncat kebelakang sambil menahan luka dalam yang dideritanya akibat pertempuran dengan Tok Giam Lo tadi.
Tiada seberapa lama tampaklah darah meleleh dari lubang hidung dan sudut mulut pemuda itu.
Menyaksikan keadaan Kiam Ciu itu maka kini Li Hok Tian tertawa gelak-gelak.
Dibarengi dengan meluncurnya enam butir bola besi beracun yang dilemparkan oleh Pit Ki.
Serangan Pit Ki itu sangat cepat hingga Kiam Ciu tidak sempat lagi untuk mengelakkannya.
Namun bertepatan dengan meluncurnya butiran-butiran bola beracun itu kearah tubuh Kiam Ciu, tampaklah wanita muda itu mengebutkan lengan bajunya kearah benda-benda itu.
Wanita muda itu berhasil menghalaukan ke enam bola.
Kiam Ciu terhindar dari timpukan senjata rahasia yang ganas yang dilemparkan oleh Pit Ki.
Namun sebaliknya, baik Pit Ki maupun Li Hot Tian menjadi sangat heran menyaksikan sikap wanita muda itu, karena sebelumnya wanita muda itu telah mengejar-ngejar Kiam Ciu dan akans memberikan hajaran kepada pemuda itu.
Tetapi sekarang mengapa justru menolongnya ?.
"Hey mengapa kalian menyerang Kiam Ciu tanpa perintahku !"
Seru wanita itu dengan suara lantang.
5 4 Baik Pit Ki maupun Li Hok Tian tidik berani menyahut.
Mereka hanya menundukkan kepala untuk menghindari tatapan mata wanita jelita itu.
Mereka berdua memang sungguh-sungguh telah dibuat tidak berdaya dan menjadi sangat lunak sekali.
Selanjutnya wanita itu telah menghampiri Kiam Ciu dan membujuk.
"Tong Kiam Ciu, rupa-rupanya kau telah mendapat luka dalam hingga kau mengeluarkan darah dari hidung dan mulut. Marilah kutolong"."
Lalu betul-betul wanita muda itu memegang lengan kanan pemuda itu.
tampaknya sangat mesra kekali seolah-olah Kiam Ciu itu adalah kekasihnya.
Namun pemuda itu tetap berkeras hati untut tidak memperdulikan bujukan dan rayuan wanita muda itu.
Dengan sigap sekali wanita itu telah menotok jalan darah didekat jantung Kiam Ciu.
Hingga pemuda itu tidak berdaya.
Wanita muda itu berpendapat bahwa dia tidak mammpu untuk mengalahkan dan menundukkan Kiam Ciu dengan ilmu Pan-yok-sin-im.
Maka kini dia terpaksa harus berbuat itu.
Dia harus menotok jalan darah dan melumpuhkan pemuda itu hingga tidak berdaya.
Setelah pemuda yang keras hati itu tidak terdaya lagi, maka dia bertekad untuk menolong memulihkan tenaga dan semangat, serta menyembuhkan luka dalam Kiam Ciu.
Maka dengan tidak menghiraukan keadaan disekitarnya, wanita itu telah membopong tubuh Kiam Ciu untuk dibawa ke keretanya yang sejak tadi telah menunggu dipinggir jalan.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu merasa sangat heran sekali, Mereka ialah para pengikut pengawal dan pengiring wanita itu, merasa heran mengapa majikannya sudi membopong Kiam Ciu, Lebih-lebih lagi Pit Ki dan Li Hok Tian merasa heran dan bercampur cemburu menyaksikan kejadian itu.
Dengan sangat berhati-hati wanita muda itu meletakkan Kiam Ciu kedalam keretanya!
Dari dalam saku bajunya dikeluarkan dua butir pil yang berwarna perak.
Kemudian pil itu disuapkannya ke mulut Kiam Ciu.
Pil yang berwarna perak itu bernama Cin-leng-sai-wan.
Adalah pil yang mempunyai khasiat luar biasa untuk mengembalikan tenaga dalam dan mengobati luka dalam.
Pil itu 5 5 adalah pemberian ibunya, semuanya berjumlah enam butir dan kini tinggal empat butir!
Kiam Ciu setelah menelan dua butir pil Cin-leng-sai-wan itu maka dia menjadi tertidur sangat pulasnya!
Bahkan dia bermimpi sangat mengasyikkan hingga tiada terasa goncangan-goncangan tubuhnya karena kereta yang ditumpanginya.
Wanita jelita itu terus menungguinya dengan tekun dan tersenyum-senyum gembira.
Beberapa saat kemudian barulah Kiam Ciu tersadar bangun.
Ketika itu terasa seseorang telah mengulapi keringat diwajahnya, ketika Kiam Ciu membuka kelopak matanya yang terlihat adalah wanita muda dan jelita itu, dengan tersenyum manis sekali mengawasinya.
Kiam Ciu merasa bahwa dirinya sudah kem bali sehat dan semangatnya pulih kembali.
Maka dengan serentak pula dia telah membuka pintu kereta dan meloncat keluar.
Kiam Ciu lari memasuki hutan.
Pit Ki dan Li Hok Tian memburunya.
Namun wanita muda itu berseru melarang.
"Biarkan dia pergi !"
Seru wanita muda itu dengan suara lantang.
Kedua jaso silat yang kini telah betul-betul terjerat dan menjadi budak wanita muda itu tak berani membantah lagi.
Dengan perasaan gemas dan cemburu namun mereka tak berani membantah lagi perintah wanita itu.
Bagaikan anjing-anjing yang tak berguna, mereka menurut.
Wanita muda itu berdiri diambang pintu kereta yang tengah berhenti dipinggir jalan.
Matanya mengikuti panggung Kiam Ciu yang bertambah jauh dan memasuki hutan kemudian menghilang.
"Hemmm Kiam Ciu, kau betul-betul seperti seekor kuda liar yang sukar untuk dijinakkan. Sekali ini aku gagal lagi untuk menguasai kau tetapi lain waktu aku pasti berhasil....""
Pikir wanita jelita itu sambil memandang kedalam hutan yang menelan Kiam Ciu. Wanita itu memutar tubuh kemudian tersenyum menatap pedang Oey Liong Kiam yang ditinggalkan oleh Kiam Ciu.
"Aku tak usah bersusah payah mencarinya lagi. Kau pasti akan kembali kepadaku untuk menanyakan pedang pusaka ini"
Bisik wanita itu sambil mengelus-elus hulu pedang pusaka itu.
Semua pengawal dan pengiring wanita itu tiada yang berani berbicara.
Mereka sangat patuh dan takut untuk mengeluarkan pendapat.
Begitu juga Pit Ki dan Li Hok Tian.
Mereka membisu dan hanya berbicara dengan hati mereka sendiri-sendiri.
Sedangkan Tong Kiam Ciu yang tidak ingin memperhatikan dan tidak ingin terlibat dalam jaringan wanita itu telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghindarinya.
Kini untuk yang sekian kalinya Kiam Ciu dapat terlepas dari jaring-jaring wanita muda dan jelita itu.
Kiam Ciu tahu bahwa dirinya tidak ada yang mengikutinya.
Maka dia merasa sangat bergirang hati.
Ketika dia melihat kearah kanan maka tampaklah bangunan gubuk yang sadah tidak terpelihara lagi.
Dihampirinya gubuk itu, Ditempat itu tadi dia telah beristirahat sebelum kedatangan wanita jelita dan yang selalu mengejar-ngejarnya itu.
Maka kini Kiam Ciu berhenti dan berteduh ditempat itu.
Dia hendak bermaksud untuk beristirahat dan memulihkan kembali tenaganya.
Karena pil Gin leng-sai-gwat-wan maka luka dalamnya telah sembuh.
Sebenarnya Kiam Ciu harus berterima kasih kepada penolongnya.
Ialah wanita muda yang berkereta indah itu.
Namun hatinya keras dan selalu berhati-hati dalam urusan itu.
Karena dia tahu cita-citanya akan kandas karena urusan wanita.
Lebih-lebih wanita muda itu tampak luar biasa.
Kembalilah dia terkenang wajah wanita jelita yang menolong mengobati luka dalam dengan pil Cin-leng-sai-wan.
Tetapi dengan segera dia menghalaukan bayangan itu dari ingatannya.
"Bunga mawar itu sangat indah tetapi banyak durinya "
Dengusnya seorang diri dan tersenyum sambil memandang langit.
"aku harus berhati-hati....."
Tak terasa tangan Kiam Ciu meraba cincin yang melingkar di jari manisnya, Cincin pemberian adiknya Ji Tong Bwee, Kiam Ciu membayangkan adiknya yang mungil, cantik dan jelita serta menyenangkan itu.
Kemudian teringat akan 5 7 pedang pusaka yang selalu dibawanya kemana-mana itu, Pedang itu lalu diraihnya.
Alangkah terperanjatnya Kiam Ciu ketika meraba hulu pedang itu ternyata lain bukannya .
Dengan perasaan gugup Kiam Ciu bangun dari pembaringannya dan dipegangnya pedang itu.
Diamatinya pedang itu, kemudian dicabutnya ternyata Kim-kang-sai-giok-kiam atau pedang baja biasa, Dia yakin bahwa Oey Liong telah ditukar oleh wanita yang berkereta itu.
"Sungguh-sungguh wanita yang selalu membuat celaka saja"
Gumam Kiam Ciu dan mengeluh.
Dia masih teringat pesan suhunya bahwa dia harus menjaga dengan berhati-hati.
Tetapi kini ternyata pedang itu telah hilang lalu apa kata suhunya nanti?
Pedang itu harus dapat kembali lagi.
Diamatinya Kim-kang-sai-giok-kiam sekali lagi.
Terlintas pula wajah wanita muda yang jelita itu.
Kiam Ciu jadi gelisah.
Bagaimana nanti dia akan menghadapi suhunya kalau dia tidak membawa pedang pusaka itu ?
Kemana pula dia akan mencari wanita berkereta itu ?
Berbagai pertanyaan silih berganti.
Hatinya bertambah gelisah.
Sebenarnya ditempat itu Kiam Ciu bermaksud untuk tidur dan istirahat, tetapi karena kegelisahan hatinya dia tidak dapat tidur.
Didalam hutan dan ditempat yang terpencil itu suasananya sangat sunyi.
Pada saat itu mendung telah menebal, kilat gemerlapan bersambung-sambung.
Kemudian turun hujan.
Angin deras menggebu-gebu pepohonan.
Dalam suasana hujan itu, tiba-tiba Kiam Ciu menangkap suara gerisik ranting-ranting terpijak.
Ketika Kiam Ciu memasang tajam pendengarannya, maka terdengarlah dua orang yang tengah bercakap-cakap sambil berjalan dibawah bujan dalam hutan ditempat yang tiada begitu jauh dari tempat dimana Kiam Ciu berteduh itu.
"Bagaimana sekarang? Hujan ini bertambah besar juga, pakaianku sudah basah kuyup semuanya. Padahal untuk mencapai kuil Pao-yan-ta masih sepuluh lie lagi jauhnya. Apakah kita berteduh di rumah bobrok itu dulu sambil menunggu hujan reda?"
Seru seseorang. 5 8 Kiam Ciu duduk dan mengamati kedua orang yang mendatangi tempat dimana dia sedang berteduh itu.
"Betul, betul", sahut yang lain dengan juara bersugguh-sungguh.
"kau tak usah merasa kuatir dan gelisah. Partai silatku mempunyai peraturan yang sangat keras. Maka sejak kudirikan selama dua puluh tahun ini belum pernah ada yang berani melanggarnya. Berita tentang peta itu kuterima dari muridku, maka aku berani menjamin kalau berita itu benar. Hanya saja untuk mendapatkannya kita harus sampai selekasnya di kuil itu dan kita dapat mengambilnya""
Seru orang itu dengan suara menekankan keyakinan. Mereka itu ialah Eng Ciok Taysu dan Tie Kiam-su-seng. Dua orang tokoh silat yang ternama pada masa itu.
"Betul begitu. Tetapi karena tempat penyimpanan peta rahasia Pek-seng itu dapat diketahui oleh muridnya, apakah tidak mungkin kalau tempat itu diketahui juga oleb orang lain ? Jangan-jangan kita terlambat !"
Seru Eng Ciok Taysu ragu-ragu.
"Makanya kita harus cepat-cepat dan tidak usah berteduh !"
Seru Tie-kiam-su-seng bersungguh-sungguh.
"Peta rahasia Pek-seng itu sangat penting bagi partai silat Siauw-lim. Jika kita berhasil memperolehnya, aku takkan melupakan jasa-jasamu. Dengan kitab Pek seng ditangan, maka sama saja kita mempunyai dan dapat menjagoi dikalangan Bu lim."
Seru Eng Ciok Taysu dengan bersemangat.
Mendengar percakapan kedua orang itu Kiam Ciu merasa girang sesali.
Ternyata dengan tidak sengaja dia telah mendapat petunjuk dimana letak kuil Pao-yan-ta.
Ternyata letaknya sudah dekat sekali.
Kiam Ciu juga sudah mengetahui bahwa peta rahasia penyimpanan kitab Pek seng itu terpendam didalam kuil Pao-yan-ta dan dijaga sangat kuat.
Selama puluhan tahun tak ada seorangpun yang sanggup untuk merebutnya.
Namun Kiam Ciu juja ingin mencobanya.
Dalam percakapan antara Eng Ciok Taysu dengan Tie kiam su-seng, Kiam Ciu dapat menarik kesimpulan bahwa Eng Ciok Taysu ingin menjadikan partai silat Siauw-lim menjadi partai silat yang menjagoi dan tak terkalahkan di 5 9 kalangan Bu lim, Maka sudah selayaknya kalau kakek itu dengan nekad dan berani untuk menempuh kuil Pao-yan-ta yang terkenal itu.
"Sute.."
Semenjak kau mendirikan pariai silat Tie kiam, kau sudah tidak menaruh perhatian sama sekali dengan partai silatku, Olah karena itu, jika kau menganggap bahwa kau tidak perlu mengikutiku, maka kukira kau lebih baik tidak usah ikut dan aku dapat pergi sendirl I"
Seru Eng Ciok Taysu.
Namun mereka berjalan terus.
Mereka tetap berdua.
Tampak seperti dua orang sahabat yang saling membutuhkan dan tiada keretakan.
Entahlah kalau sikap itu hanya sikap berpura-pura dari ketua partai silat Tie kiam.
Sebenarnya mereka memang bersaudara seperguruan.
Ketika puluhan tahun yang lalu ketua partai Siauw-lim meninggal dunia.
Pimpinan partai silat Siauw-lim diserahkan kepada Eng Ciok Taysu.
Sebenarnya yang sangat mengharapkan untuk menjadi pimpinan Siauw-lim-pay itu ialah Tia-kiam-suseng.
Kenyataannya dia memang malas dan ilmu silatnya dibawah ilmu Eng Ciok Taysu.
Maka karena peristiwa itu menjadi kecewa.
Namun tidak dapat berbuat apa-apa!
Maka dia lalu pergi menyingkirkan diri dan berlatih sendiri untuk menambah kekurangannya!
Beberapa tahun kemudian dia telah sempurna dan merasa kuat.
Maka dia lalu mendirikan partai silat sendiri yang diberi nama Tie kiam-pay.
Akibat dari perpecahan itu melemahkan partai Siauw-lim.
Sehingga Eng Ciok Taysu harus berusaha dengan susah payah untuk menegakkan kekuatan Siauw-lim-pay kembali.
Bertepatan pula pada saat itu muncul seorang jago silat yang luar biasa ilmunya.
Dengan mengandalkan ilmu Bo-kit-sin-kong pendekar luar biasa yang berpakaian serba putih itu telah berhasil menjagoi dunia persilatan.
Bahkan dia telah berhasil merebut Oey-liong-kiam.
Perebutan senjata pusaka itu diadakan setiap sepuluh tahun sekali dalam pertemuan yang diberi nama Bu Lim Ta Hwee, sedangkan pendekar yang berpakaian serba putih dan terkalahkan itu ialah guru Kiam Ciu yang terkenal dengan sebutan Pek-hi-siu-si.
5 10 Perpecahan di kalangan Siauw-lim-pay rupa-rupanya hampir berakhir, terbukti dengan kesadaran Tie kiam su-seng yang sengaja menghadap kepada Eng Ciok Taysu sangat tertarik dengan kitab silat Pek seng itu, Maka dengan tidak menghiraukan hujan dan panas dia telah berjalan untuk menuju ke kuil Pao-yan-ta dimana menurut kabar dari murid Tie kiam dalam kuil tersimpan peta rahasia tempat penyimpanan kitab pusaka Pek seng itu.
"Suheng, jika kau mendesak untuk meneruskan perjalanan, akupun tidak berkeberatan, suheng tak usah menjadi gusar hati"
Seru Tie-kiam su-seng.
Suara kedua orang itu bertambah jauh kedengarannya.
Mereka telah meninggalkan tempat itu dan melalui tempat dimana Kiam Ciu berteduh.
Kebetulan juga hujan telah bereda, tinggal gerimis lembut.
kedua saudara seperguruan itu menuju kekuil Pao-yan-ta.
Ketika Kiam Ciu yakin bahwa orang-orang itu telah berjalan jauh.
Maka dia lalu keluar dari rumah itu dan memanjat pohon untuk melihat kedua orang tadi, ketika diperhatikan ternyata mereka telah jauh, maka Kiam Ciu segera meloncat dan mengikuti jejak mereka.
Kiam Ciu sendiri juga akan menuju kekuil Pao-yan-ta mempunyai tujuan yang sama dengan kedua orang itu.
Maka dengan berhati-hati sekali Kiam Ciu mengikuti jejak mereka berdua.
Tiada lama kemudian mereka telah sampai di kaki sebuah pegunungan itu.
Tampak sebuah bangunan kuil yang megah, disamping kuil itu terdapat sebuah bangunan pagoda.
Eng Ciok Taysu Tie-kiam-su-seng berhenti sejenak.
Mereka memandang keatas puncak pegunungan itu dengan mata melotot dan heran.
Karena dipuncak pegunungan itu tampak berpuluh-puluh obor.
Eng Ciok Taysu memandang kearah sutenya.
Seolah-olah dia mengatakan bahwa rahasia peta Pek seng telah diketahui orang banyak.
Tie kiam su-seng maklum dengan pandangan mata itu.
Kiam Ciu juga tertahan langkahnya.
Namun dia tetap bersembunyi, karena dia tidak mau membuat kegaduhan dan berisik dalam tugasnya itu.
Dia harus mendapatkan peta itu tanpa banyak keributan.
5 11 Suasana diatas puncak pegunungan itu sangat gaduh sekali.
Banyak sekali orang-orang dari suku Biauw yang membawa obor dan bersenjata lengkap sedang mengepung kuil Pao-yan-ta.
Tetapi Eng Ciok Taysu dan Tie kiam su-seng bertekad untuk mendaki juga.
Kuil Pao-yan-ta terletak diatas puncak pegunungan.
Sangat luar biasa bangunannya dan di samping kuil itu dibangun juga sebuah pagoda yang berpintu satu dan terletak dibagian bawah.
Setelah tiba diatas, mereka dapat menyaksikan banyak sekali orang-orang dari suku Biauw yang tengah berusaha untuk menggempur kedalam kuil itu.
Mereka bersenjata dan bertubuh sangat kuai, Sebentar-sebentar terdengar suara tertawa dari dalam kuil itu.
Tampak beberapa orang telah binasa dan menggeletak dengan kepala pecah dan otaknya bercampur darah meleleh.
"Kalau aku tidak salah dengar suara tawa itu adalah suara tertawanya Kwa Si Lokoay"
Bisik Eng Ciok Taysu kepada Tie kiam su-seng.
"Lihay benar ilmu silatnya. Coba sute perhatikan sudah berapa banyak orang-orang Biauw itu yang binasa ..."
"Betul juga, rupa-rupanya tidak mudah lagi bagi kita untuk merebut kitab Pek-seng"
Jawab Tie kiam-suseng tegas dan was-was.
Beberapa saat kemudian tampaklah sebuah kelebatan bayangan, Tahu-tahu didepan pintu kuil itu telah berdiri Tok Giam Lo yang berwajah bengis dan bertambah tampak bengis karena sinar obor itu.
Kakek yang bertubuh pendek itu menantang kearah orang-orang Biauw.
"Bah! Karena obor kalian aku jadi terganggu! Hayo menyingkir semua kalau masih ingin hidup!"
Seru Tok Giam Lo sambil mengirimkan pukulan Im-hong ciang kearah orang-orang didepannya.
Mereka berjungkalan !
Orang-orang suku Biauw merasa ngeri melihat kehebatan pukulan beracun Tok Giam Lo itu.
Mereka melarikan diri dan meninggalkan kawannnya yang telah binasa.
Kemudian Tok Giam Lo meloncat agak ke belakang sambil berkacak pinggang menantang kearah kuil.
Menantang Kwa Si Lokoay dengan suara lantang dan penuh keberanian.
"Hay Kwa Si Lokoayl Aku telah menyaksikan ilmu silatmu yang luar biasa itu. Kau ternyata dapat membinasakan beberapa orang suku Biauw hanya dari dalam kuil saja. Aku Tok Giam Lo telah datang kesini dengan maksud untuk mengambil peta rahasia Pek seng. Jika kau bersedia untuk menyerahkan peta itu padaku, maka kita dapat bersahabat dan kesalamatanmu kujamin!"
Seru Tok Giam Lo dengan suara lantang.
"Aku mengerti ucapanmu! Memang peta Pek seng berada didalam pagoda ini, tersimpan didalam guci abu jenazah suhuku. Aku segan untuk bersahabat denganmu, karena menurut pendapatku kau mempunyai watak tidak baik. Jika kau memang mempunyai kepandaian, maka kau dapat mencobanya untuk mengambil kedalam !"
Seru dari dalam dengan suara bergema. Tok Giam Lo masih kurang puas dengan jawaban itu. Dia telah menghampiri pintu itu dan berseru lagi.
"Hey... kau !"
Apakah kau tidak menyadari bahwa kau telah menyekap diri didalam pagoda itu untuk menjaga peta Pek-seng selama lima puluh tahun ?
Ilmu Pek seng sama sekali tidak ada artinya dan tak kau pergunakan apa-apa.
Maka jika kau menyerahkan peta rahasia Pek-seng itu kepadaku kau akan kuajak bergembira dan mengembara menikmati keindahan dan kemuliaan tahu ?"
Seru Tok Giam Lo dengan lantang.
Kwa Si Lokoay tidak menjawab apa-apa.
Hanya tidak lama kemudian Tok Giam Lo terdorong kebelakang.
Karena ternyata terasa suatu tenaga hembusan hebat dari dalam pagoda itu yang dilancarkan oleh Kwa Si Lokoay.
"Hey Tok Giam Lo itu suatu peringatan bagimu ! Jika kau masih membandel maka jiwamu akan segera melayang diatas puncak gunungan ini !""
Seru Kwa Si Lokoay dengan suara lantang.
"Hah !"
Sahut Tok Giam Lo "Jika kau menganggap dapat membunuhku dengan mudah itu maka kau adalah ibarat katak dalam sumur.
Apakah belum tahu aku ini siapa ?
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 8
Baca Juga: Si Bangau Merah 7