Eps 3 Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung
Baca online Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung
Cersil Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung.
Aku dapat mengirim kau keakhirat hanya dalam pertempuran dua jurus saja !"
Seru Tok Giam Lo. 5 13
"Hey kau ! kini palang besi pintu pagoda ini telah kuhancurkan !"
Seru Tok Giam Lo dengan suara lantang.
"Kalau kau tidak berani keluar kau tunggulah aku akan masuk dan menyeretmu keluar !"
Begitu selesai kata-kata Tok Giam Lo, tahu-tahu ada sesosok tubuh telah meloncat dari dalam pagoda.
Tok Giam Lo terkejut dan mundur beberapa langkah.
Bukan saja Tok Giam Lo yang merasa terperanjat menyaksikan kehadiran Kwa Si Lokoay yang menyeramkan itu, tetapi juga Eng Ciok Taysu, Tie Kiam su-seng, dan juga Tong Kiam Ciu yang masih bersembunyi merasa kagum dan terpesona.
Orang yang baru menerjang keluar itu bertubuh ceking dengan rambut terurai berwarna putih seluruhnya.
Wajahnya kerut merut tetapi matanya memancarkan sinar aneh yang memukau.
Tangannya seolah-olah melebihi betis panjangnya, seperii seekor kera.
Mirip kera daripada manusia.
"Hay jahanam-jika aku tidak memberikan pelajaran padamu, kau tidak akan tahu aku ini siapa !"
Seru Kwa Si Lokoay dengan gusar.
Kwa Si Lokoay mengangkat kedua tangannya.
Tok Gam Lo merasakan tubuhnya tertarik kedepan.
Dia yakin bahwa kakek itu telah menyerang dengan ilmu Bo sing-kong ki atau tenaga gaib tanpa bentuk.
Juga tidaklah mengherankan kalau orang-orang Biauw banyak yang binasa dan terbentur dinding pagoda karena sedotan tenaga sakti kakek itu.
Mendapat kenyataan itu maka dengan cepat pula Tok Giam Lo telah melancarkanilomu Cit Sing Lian Hua Po Hoat atau langkah gaib, untuk menghindari serangan lawan kemudian dia melancarkan serangan susulan dengan membentangkan ilmu Hong Ciang kearah Kwa Si Lokoay.
Dengan susah payah Tok Giam Lo menghadapi serangan Kwa Si Lokoay.
Ilmu Bon sing-kong ki memang sangat hebat, sehingga dengan susah payah Tok Giam Lo dapat mengatasinya kemudian mengirimkan ilmu pukulan beracunnya kearah kakek itu.
Begitu pula Kwa Si Lokoay merasakan hahwa serangan pembalasan itu mempunyai tenaga gempur yang luar biasa.
5 14 Maka kakek itu meloncat kesamping untuk menghindari serangan lawan.
Angin pukulan menyambar lengan jubah kakek itu.
Namun dengan kebutkan lengan jubahnya maka serangan Tok Giam Lo dapat terhalau.
Sambil berloncatan dan bergerak selalu Tok Giam Lo mencari kelengahan lawannya.
Seolah-olah dia ingin membuat kakek itu menjadi pusing karena gerakannya itu.
Namun kenyataannya, Kwa Si Lokoay tetap tenang dan waspada.
Karena dia telah banyak makan garam dalam pertempuran.
walaupun dia telah menyekap diri didalam pagoda itu puluhan tahun.
Tok Giam Lo selalu waspada pula akan serangan dalam yang luar biasa dari ilmu Bo sing-kong ki yang tidak kentara itu.
Namun begitu dia terengah juga.
Kwa Si Lokoay telah menggerakan kedua lengannya kearah Tok Giam Lo orang bertubuh pendek gemuk itu bertahan dan dengan susah payah mengerahkan ilmu Cit Sing Lian Hua Po Hoat untuk menghindari serangan tenaga sinkang Kwa Si Lokoay itu.
Hingga mandi keringatan dan wajahnya menjadi merah padam, dia bertahan.
Tiba-tiba kakek itu membentak keras dan Tok Giam Lo terjengkang sampai beberapa tindak jauhnya.
Namun begitu dia sempat pula mengirimkan pukulan Im-hong ciang kearah kakek itu.
Kwa Si Lokoay meloncat dan akan menerkam Tok Giam Lo.
Namun laki-laki gendut yang barwajah dan berwatak keji itu telah melemparkan ular belangnya kearah Kwa Si Lok.ay.
Ular berbisa ganas itu telah melilit betis dan tangan Kwa Si Lokoay.
Bersamaan dengan keadaan itu tampaklah dua tubuh berkelebat menerjang masuk kedalam pagoda.
Tok Giam Lo menahan rasa sakit didadanya dan meloncat menerkam orang yang baru menerobos masuk itu.
Orang yang diterkam oleh Tok Giam Lo itu tiada lain ialah Eng Ciok Taysu.
Begitu pula Kwa Si Lokoay meloncat menerkam bayangan-bayangan yang satunya lagi yang tiada lain adalah Tie kiam-suseng.
Tubuh otang itu dibantingkannya ketanah dan hampir saja tidak berdaya.
5 15 Mereka telah mengambil kesempatan itu untuk menerobos masuk dan akan mengambil peta rahasia penyimpan kitab Pek seng didalam kuil itu.
Namun mereka keburu ketahuan oleh kedua orang yang tengah bertempur itu.
Ular belang milik Tok Giam Lo telah binasa.
Hancur tubuh ular itu terkena pukulan Kwa Si Lokoay.
Namun kakek itu juga tiada luput terkena gigitan beracun ular belang itu.
Tong Kiam Ciu yang sejak tadi bersembunyi dalam kesempatan itu juga berhasil masuk kedalam pagoda.
Bahkan dia menyaksikan kelebatan orang lain yaug menerobos masuk kedalam pagoda itu juga.
Terdengar Kwa Si Lokoay membentak degan suara lantang!.
Suara bentakan itu terdengar sangat menyeramkan dan berpengaruh hebat terhadap orang-orang yang berada didalam pagoda itu.
"Sekarang siapa lagi yang berani nekad masuk kedalam pagoda ini akan kuhancur leburkan dengan pukulanku ini!"
Seru kakek itu dan membuktikan kata-katanya.
Dengan Ilmu Bon sing-kong ki kakek itu memukul tanah didepannya.
Terdengarlah sekonyong-konyong gerakan hebat tanah bercampur batu berhamburan kemudian tampaklah tanah dalam pagoda itu berlobang dan dalam.
Semua yang menyaksikan kejadian itu merasa ngeri.
Tok Giam Lo mengenal bahwa kakek itu telah terkena racun bisa ular belang yang sengat ganas.
Namun karena kehebatan Ilmu Bon sing-kong ki maka kakek itu masih sempat bertahan terhadap bisa ular belang yang sangat ganas itu.
Suasana didalam pagoda itu menjadi sangat tegang.
Tiba-tiba didalam ketegangan itu terdengar suara tertawa dari arah dalam pagoda.
Semua orang terperanjat dan menjadi kagum.
Tiada seberapa lama tampaklah Tong Kiam Ciu telab meloncat dan berdiri dihadapan Kwa Si Lokoay.
Menyaksikan kehadiran Kiam Ciu di tempat itu Eng Ciok Taysu merasa heran, begitu juga Tok Giam Lo merasa heran karena dia semula menyangka bahwa Kiam Ciu telah binasa terkera racun.
Namun Kiam Ciu tidak memperdulikaa mereka semua itu Dia menghadap Kwa Si Lokoay dan berseru dengan suara lantang tetapi hormat.
"Locianpwee pagoda ini telah kemasukan orang !"
Seru Kiam Ciu. 5 16 Kwa Si Lokoay terperanjat menyaksikan anak muda itu, apalagi ketika mendengar kata-kata pemuda itu. Maka kakek itu terbeliak dan wajahnya yang putih itu bagaikan menyala.
"Apa yang kau katakan anak muda ? Kau berdusta !"
Seru Kwa Si Lokoay dengan suara keras dan gusar.
"Locianpwee aku tidak berdusta !"
Seru Kiam Ciu menegaskan lagi.
"Hey anak muda kau tahu berbicara dengan siapa ? Jika apa yang kau katakan itu dusta, kau akan binasa ditempat ini !"
Seru Kwa Si Lokoay dengan mata melotot dan membara.
"Locianpwee boleh periksa kedalam. Aku akan menunggu ditempai ini jika ternyata kata-kataku adalah dusta, aku bersedia menerima hukuman ditempat ini !"
Seru Kiam Ciu dengan suara tegas dan meyakinkan.
Saat itu Kwa Si Lokoay menempelkan telinganya kedinding pagoda.
Seketika itu tampaklah perubahan wajah kakek itu.
Tanpa membuang waktu lagi kakek itu telah memutar tubuh dan mengebut lengan jubahnya berkelebat masuk kedalam pagoda itu.
Menyaksikan hal itu Tok Giam Lo merasa gelisah.
Dia ingin mengikuti masuk kedalam pagoda itu.
Namun Kiam Ciu menahannya.
"Hey anak muda ! Kau terlalu besar nyalimu berani mencegahku!"
Seru Tok Giam Lo dengan suara bengis karena gusar.
Tong Kiam Ciu tidak mengimbangi kegusaran laki-laki bertubuh gendut itu.
Dia tersenyum dan memandang dengan tenang kewajah Tok Giam Lo, tetapi Tok Giam Lo tampak melototkan matanya.
"Sudahlah ... aku tidak mau melawan orang yang sudah luka !"
Seru Tong Kiam Ciu sambil tersenyum.
Tetapi Tok Giam Lo menjadi bertambah gusar dan langsung mengirimkan sebuah pukulan kearah dada Tong Kiam Ciu.
Kiam Ciu telah siap siaga dengan ilmu Bo-kit-sin-kong, ketika hawa serangan pukulan Tok Giam Lo hampir menyentuh dadanya, pemuda itu memiringkan tubuhnya sediktt dan serangan itu berlalu.
5 17 Tok Giam Lo menjadl penasaran menyaksikan serangannya dapat dielakan dengan mudah oleh Kiam Ciu, maka dia segera melompat memasang kuda-kuda dan mengembangkan kesepuluh jari-jemarinya.
Dari kuda-kudanya tampaklah semburat merah dan kepulan asap yang sangat tipis sekali.
Tok Giam Lo berusaha untuk melukai Kiam Ciu untuk memasukkan racun.
Namun Kiam Ciu pernah bertempur melawan Tok Giam Lo, jadi dia telah mempunyai pengalaman menghadapi lawannya itu.
Maka dia mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong untuk melawan pengaruh ilmu Han-tok-bo-kong yang dilancarkan oleh Tok Giam Lo itu.
Dengan gerakan-gerakan bagaikan akan mencengkeram Tok Giam Lo mengerahkan ilmu Han-tok-bo-kong.
Dari ujung jari jemarinya tampak sinar merah yang menyerang kearah Kiam Ciu.
Sinar merah yang berhawa panas dan ganas itu sangat berbahaya.
Maka dengan jeritan lantang Kiam Ciu meloncat kebelakang.
Begitu kakinya menginjak tanah maka pemuda itu melancarkan sebuah pukulan dahsyat bertenaga penuh kearah Tok Giam Lo.
Karena tubuh Tok Giam Lo telah mendapat luka dalam akibat bertempur dengan Kwa Si Lokoay maka dorongan serangan Kiam Ciu itu tak dapat ditahan lagi.
Tok Giam Lo terjengkang di tanah, wajahnya menjadi merah padam dan malu sekali mendapatkan kenyataan itu, ketika Tok Giam Lo terbatuk ternyata mulutnya memuntahkan darah segar.
Tok Giam Lo adalah seorang tokoh yang kesohor kehebatan ilmu silatnya.
Dia adalah seorang tokoh silat dari lembah lblis yang telah puluhan tahun malang melintang didunta Kang-ouw.
kini dapat dijatuhkan oleh seorang anak muda yang belum punya nama.
Eng Ciok Taysu menyaksikan pertempuran yang hanya satu jurus itu menjadi sangat kagum, ternyata Kiam Ciu mempunyai kehebatan juga.
"Hey luar biasa lihaynya ilmu silat Kiam Ciu ini. Maka tidak mengherankan kalau dia berani melawan pemimpin partai silat Kong-tong dalam pertemuan Bu-lim-ta-hwee beberapa hari yang telah lalu"
Pikir Eng Ciok Taysu. 5 18 Kemudian Tong Kiam Ciu melirik arah Eng Ciok Taysu yang kelihatan gelisah, tanpa menunggu waktu lagi Kiam Ciu segera menegurnya.
"Locianpwee apakah kau juga ingin masuk kedalam pagoda ?"
Seru Kiam Ciu dengan suara lunak tetapi bernada ancaman. Mendengar teguran itu Eng Ciok Taysu menjadi gugup, kemudian balas menanyakan kepada Kiam Ciu.
"Tong Siawhiap aku tidak melihat pedang dipinggangmu. Apakah pedang nomor wahid dikolong langit itu telah jatuh ketangan orang lain?"
Tegur Eng Ciok Taysu sambil mengerutkan kening dan menantikan jawaban. Tong Kiam Ciu mendengar pertanyaan itu jadi tersenyum getir. Kemudian dia menyahut.
"Locianpwee, pedang itu bukan pedang untuk pamer? Kurasa tidak harus kubawa-bawa kemana saja tetapi aku pasti membawanya dalam pertemuan Bu-lim-tahwee nanti !"
Seru Kiam Ciu tegas.
Sebenarnya pikiran Kiam Ciu sedang kacau kalau mengingat pedang Oey Liong Kiam itu jatuh ketangan wanita yang berkereta itu, namun dia telah bertekad untuk mengambilnya segera.
Pada saat itu juga terdengar suara gaduh dari dalam pagoda.
Kemudian disusul dengan munculnya Kwa Si Lokoay dengan sempoyongan dan memondong guci dan wajahnya berkeringat serta pucat pasi.
Tok Giam Lo yang masih dalam keadaan terduduk dan terluka itu, ketika menyaksikan Kwa Si Lokoay membawa guci itu segeralah dia meloncat dan merebut guci dari tangan kakek itu.
Anehnya Kwa Si Lokoay diam saja, kakek itu tidak berusaha untuk bertahan atau mempertahanka.
Tetapi keringat mengucur dari kening dan wajah kakek itu.
Eng Ciok Taysu maupun Tie-ktam-suseng juga meresa heran akan sikap kakek itu.
Tok Giam Lo tidak sabar lagi, maka segeralah guci itu dihancurkannya.
Debu berhamburan.
Tetapi peta Pek seng tidak tampak.
Yang terdapat didalam guci itu hanyalah seekor burung yang terbuat dari perak.
"Hah ? Gan Hua Liong sudah datang kesini !"
Seru Tok Giam Lo.
Kemudian orang itu meloncat pergi meninggalkan puncak gunung itu.
Seruan terperanjat Tok Giam Lo itu terdengar juga oleh Eng Ciok Taysu dan Tie Kiam suseng.
Maka segerlah mereka berpaling kearah Tong Kiam Ciu.
"Rupa-rupanya peta Pek-seng itu telah didahului orang lain. Kurasa tak ada gunanya lagi kita berada disini. Ayolah lekas kita berlalu dari tempat ini !"
Seru Eng Ciok Taysu kepada Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu menganggukan kepala dan melangkah mengikuti kedua jago silat itu untuk meninggalkan puncak gunung.
Akhirnya tinggallah Kwa Si Lokoay seorang diri didepan pagoda itu.
Kakek itu tertawa gelak-gelak seperti orang kehilangan ingatan.
Mendengar itu maka Tong Kiam Ciu memalingkan kepala dan memandang kearah sikakek itu.
Sedangkan Eng Ciok Taysu dan Tie-kiam-suseng tak memperdulikan keadaan itu.
Tong Kiam Ciu yang berhati welas asih itu ternyata merasa tidak sampai hati menyaksikan keadaan Kwa Si Lokoay yang dianggapnya tidak wajar atau mungkin berobah ingatan.
Maka Kiam Ciu kembali menghampiri kakek itu dan bertanya.
"Locianpwee, apakah aku dapat menolongmu ?"
Seru Kiam Ciu setelah dekat dengan kakek itu.
Akhirnya Kwa Si Lokoay berhenti tertawa dan menatap kearah Kiam Ciu.
Menatap dalam-dalam kewajah pemuda itu.
Hingga beberapa saat kakek itu memperhatikan Kiam Ciu.
Kemudian terdengar tawanya lagi.
"Ha-ha-ha-ha....apakah kau merasa heran anak muda ? Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku ini adalah Gan Hua Liong atau siburung perak !"
Seru kakek itu kepada Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu merasa kaget dengan keterangan itu, tetapi kakek itu mengulangi lagi gelarnya dan akhirnya Kiam Ciu yakin juga.
5 20 Gan Hua Liong yang merasa bahwa ajalnya tinggal sedikit itu.
Maka dia berbicara dengan sangat tergesa-gesa untik menjelaskan beberapa hal kepada Kiam Ciu.
"Seperti katamu bahwa pagoda ini telah kemasukan orang dan orang itu telah kubinasakan. Aku pernah menjagoi kalangan Kang-ouw. Tetapi karena kesalahan-kesalahanku, aku dipenjarakan didalam pagoda ini. Ketika guruku akan meninggal dunia dia telah menyerahkan peta rahasia kitab Pek-seng kepadaku, dengan pesan untuk diserahkan kepada seseorang yang luhur budinya. Oh..... aku telah terkena bisa ular ganas itu dan aku rasa tak dapat hidup lebih lama lagi...."
Kakek itu berhenti sejenak dan wajahnya tampak berkeringat terlalu banyak. Kiam Ciu menyaksikan itu dengan hati iba, tetapi kakek itu tampak berkeras kepala tidak mau ditolong.
"Hari iai aku telah melihat sikapmu dan aku yakin bahwa kau adalah seorang jago silat yang luhur budimu. Maka aku serahkan peta Pek-seng ini kepadamu untuk mengambil kitab pusaka ilmu silat Pek-seng !"
Kakek itu mengulurkan tangannya dan menyerahkan peta Pek-seng yang terbungkus dengan sutera. Dengan terharu Kiam Ciu menerima pemberian kakek itu.
"Tetapi aku mempunyai satu permintaan yang harus kau penuhi"
Tertahan lagi karena kakek itu menahan rasa sakit. Ketika menyaksikan keadaan itu, maka Kiam Ciu segera mengeluarkan rumput obat Lok-bwe-kim-keng dan diserahkan kepada kakek itu.
"Locianpwee aku mempunyai . , ."
Seru Kiam Ciu sambil mengulurkan tangan untuk menyerahkan ramuan obat itu. Tetapi Gan Hua Liong membentak.
"Kau jangan banyak bicara ! Dengar baik-baik pesanku !"
"Tetapi Locianpwee, batang Lok-bwee-kim-keng ini dapat ...."
Desak Kiam Ciu menyodorkan obatnya kepada kakek itu.
"Diam kataku !"
Seru kakek itu membentak. 5 21 Kiam Ciu mengkeret dan menundukkan mukanya. Dia tidak tahu maksud kakek itu. Kakek yang aneh dan baru kali ini ditemui oleh Kiam Ciu.
"Anak muda kau jangan bergusar hati. Aku tahu khasiat batang Lok-bwee kim-keng itu dapat menolong jiwaku dan memusnahkan pengaruh racun dalam tubuhku. Tetapi aku sudah ingin mati, maka tugas akan kuserahkan padamu! Sekarang kau tahu?"
Seru kakek itu bersungguh-sungguh dengan suara yang telah bernada lemah. Mendengar perjelasan itu maka akhirnya Kiam Ciu mengerti. Maka kini dia menundukkan kepala dan mengangguk.
"Nah, kini dengarlah baik-baik pesanku ini. Ketika suhuku akan meninggal dunia beliau telah mengatakan bahwa cucu perempuanku telah ditawan di kota Pek-seng. Terkurung di suatu tempat. Jika kau pergi kesana kau harus bebaskan dia. Tugas ini mungkin sukar dan berbahaya, namun aku yakin bahwa kau dapat melaksanakannya"
Suara kakek itu sudah sangat lemah kedengarannya.
Tiada lama kemudian setelah kata-kata terakhir itu tampaklah kakek itu memuntahkan darah terhuyung-huyung dan jatuh terjungkal dihadapan Tong Kiam Ciu.
Dengan sekali loncat Tong Kiam Ciu telah memasukkan batang Lok-bwee-kim-keng ke mulut kakek itu, tetapi mulut kakek itu telah terkancing rapat.
Setelah berkelojotan sejenak maka kakek itu telah menghembuskan nafas yang terakhir.
Tong Kiam Ciu lalu merawat jenazah Gan Hua Liong kemudian menguburnya.
Setelah mengadakan upacara penguburan yang sangat sederhana maka Kiam Ciu lalu masuk kedalam kuil untuk bermalam.
Walaupun malam itu mata Kiam Ciu sukar untuk dipejamkan, karena dia mengenangkan pengalaman sepanjang hari.
Tetapi akhirnya dia terlena.
Ketika telinganya sayup-sayup menangkap suara kicauan burung.
Maka dia agak terperanjat juga.
Dirabanya saku jubah untuk meyakinkan babwa peta Pek-seng itu masih ada.
Hatinya merasa lega dan Kiam Ciu segera meloncat bangun.
Ketika kesadarannya telah penuh kembali, barulah dia menuju kepintu kuil.
5 22 Kiam Ciu menyadari dia harus cepat-cepat ke kota Pek-seng, dan sebelum semuanya berantakan harus dapat menemukan kitab pusaka Pek-seng itu.
Maka segeralah dia mendorong batu penghalang didepan pintu kul Pao-yan-ta.
Setelah dia melompati lubang besar yang dibuat oleh Kwa Si Lokoay maka simpailah pemuda itu di depan pagoda Pao-yan-ta.
Terciumlah hawa sejuk pegunungan yang tertiup angin semilir.
Matahari tampak bersinar dengan berkas sinarnya yang menembus disela-sela dedaunan di puncak pegunungan itu.
Sekian lama Kiam Ciu memandang kearah makam Kwa Si Lokoay.
Seolah-olah dia berjanji, kemudian tampak lengan jubahnya bergerak.
Tahu-tahu pemuda itu telah melesat dan meninggalkan kuil yang bersejarah, kuil itu membisu dan tetap angker penuh keagungan.
Kiam Ciu telah memperhitungkan untuk menujuj ke kota Pek-seng.
Dia harus seIekas-lekasnya sampai di kota itu sebelum tokoh-tokoh lain tiba di tempat penyimpanan kitab pusaka Pek-seng.
Karena kitab pusaka Pek Seng itu yang kini sedang dicari oleh tokoh persilatan.
Dapat dibayangkan betapa hebatnya ilmu silat Pek Seng itu.
Hingga sebagian besar tokoh Bu Lim sangat mengilerkan kitab pusaka itu.
Karena mereka berpendapat, kalau toh mereka tidak berhasil merebut pedang pusaka Oey Liong Kiam tetapi dapat mendapatkan ilmu silat Pek Seng, itu sama saja hebatnya.
Ilmu silat Pek Seng Itu tiada terkalahkan.
Sangat hebat dan langka.
Tong Kiam Ciu telah berhasil mendapatkan peta Pek Seng itu.
Maka suatu milik yang luar biasa didapat dengan jalan yang sangat mudah tanpa mengadu kekuatan dan tanpa pertumpahan darah.
Suatu yang jarang dapat terjadi.
Maka dia sangat berhati-hati.
Waspada akan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi pada saat-saat yang sangat penting dimana dia nanti akan mengambil kitab pusaka Pek Seng.
Dirabanya sekali lagi saku kanan dimana peta Pek-Seng itu tersimpan.
Tanpa sengaja Tong Kiam Ciu menarik nafas panjang.
Dengan meningkatkan ilmu meringankan dan tubuh berlari cepat Kiam Ciu cepat menuruni gunung dan melompati jurang-jurang yang menganga.
Dengan tidak memakan waktu terlalu lama dia telah tiba disebuah kota kecil dalam propensi An-Hwei.
Dalam kota kecil itu terdapat dua buah rumah makan yang telah buka.
5 23 Namun perjalanan yang telah dilakukan oleh Kiam Ciu pagi itu sangat cepat.
Hingga sampai di kota kecil itu masih dalam keadaan sepi sekali.
Hanya beberapa orang saja yang tampak di jalanan menuju ke pasar.
Sinar matahari yang menembusi kota lewat pintu gerbang karena matahari masih sangat rendah.
Bayangan rumah-rumah dan pepohonan masih tampak memanjang.
Kiam Ciu memandang kedua rumah makan itu, lalu dia melangkah menuju kesaah satu rumah makan itu.
Ketika dia menginjakkan kaki didepan pintu rumah makan itu, sejenak memandang kedalam.
Keadaan masih sangat sepi.
Beberapa kursi dan bangku masih terbalik tertumpuk dengan meja.
Namun seorang pelayan rumah makan itu ketika mengetahui kedatangan Kiam Ciu dengan sangat tergopoh-gopoh menurunkan kursi dan menyiapkan tempat di dekat jendela untuk tamunya yang baru datang itu.
Kiam Ciu melangkah masuk dan menuju ke tempat yang telah disediakan dan pelayan itu menghormat dengan membongkok-bongkok hormat.
Tempat yang telah disediakannya adalah dua buah kursi.
Kiam Ciu tidak begitu mengacuhkan keadaan itu.
Beberapa pelayan rumah makan itu telah mempersiaphan tempat.
Kiam Ciu hanya ingin makan pagi dan segera akan melanjutkan perjalanan.
"Selamat pagi anak muda. Rupa-rupanya kau sangat lelah dan apakah kami dapat menolongmu ?"
Seru pelayan itu dengan hormat dan mendekati tempat dimana Kiam Ciu duduk.
Kiam Ciu tersenyum mendapat kehormatan dan teguran yang sopan itu.
Diam-diam dia sangat memuji kesopanan pelayan rumah makan itu.
Maka sambil tersenyum pula Kiam Ctu memesan makanan.
Beberapa saat kemudian Kiam Ciu melihat seorang nenek masuk kedalam rumah makan itu.
Ketika pandangan mata mereka beradu, nenek itu tersenyum.
Kiam Ciu juga tersenyum.
Tahu-tahu nenek itu telah duduk di kursi dekat tempat duduk Kiam Ciu.
Mereka berdua saling berpandangan.
Tiada lama kemudian pesanan makanan telah dihidangkan.
Nenek itupun mendapat makaiau yang sama 5 24 dengan makanan yang dipesan Kiam Ciu.
Karena pelayan rumah makan itu berpendapat bahwa nenek yang baru masuk itu adalah keluarga Kiam Ciu.
Nenek itu makan dengan lahap dan cepat sekali.
Ketika makanan yang berada didepannya telah dlsantap habis maka nenek itu lalu berdiri sambil berbicara kepada Kiam Ciu.
"Teruskanlah kau anak muda makan dan minum. Aku akan segera berlalu karena masih banyak urusan yang harus kuselesaikan !"
Bisik nenek itu kepada Kiam Ciu dan segera berlalu menunggu dan tanpa memberikan kesempatan kepada Kiam Ciu untuk berbicara lagi.
Kiam Ciu hanya memandangnya dengan mulut melompong kearah punggung nenek itu.
Baru ketika pelayan rumah makan itu mendekati.
Kiam Ctu dapat berbicara kepada pelayan itu.
"Berapa ?"
Kiam Ciu menanyakan harga makanan yang telah dimakannya itu sambil berdiri.
"Tujuh , ."
Jawab pelayan itu seraya memberesi meja.
"Hah ? Tujuh apa?"
Tanya Kiam Ciu heran.
"Ya tujuh Yen. untuk makan dan minum berdua , ."
Jawab pelayan itu dengan hormat dan tersenyum.
"Berdua ? Oh , ."
Kiam Ciu segera menghentikan kata-katanya dan merogoh kantongya mengeluarkan uang tujuh Yen.
Ada-ada saja pengalaman yang telah dialami oleh Tong Kiam Ciu beberapa hari belakangan ini.
Semuanya aneh dan lucu.
Setelah membayar semua harga makanan itu dan memberikan persen kepada pelayan, maka Kiam Ciu lalu meninggalkan rumah makan itu.
Dia bermaksud untuk cepat meninggalkan kota kecil itu dan menuju ke kota Pek-seng.
Tetapi baru beberapa saat dia berjalan, di sebuah tempat yang sepi serta terlindung dia dihadang oleh nenek tadi, Kiam Ciu menahan langkahnya dan memperhatikan nenek itu.
"Locianpwee ada urusan apa menahanku ?"
Tanya Kiam Ciu tenang. 5 25
"Aku mendapat laporan bahwa kau menghina muridku ?"
Nenek itu menyiratkan sinar mata dari kedua matanya yang bersinar tajam kearah Kiam Ciu.
Ketika itu Kiam Ciu juga sedang memperhatikan.
Matanya tidak tahan menentang mata netek itu, kemudian Kiam Ciu teringat ceritera suhunya bahwa dirimba persilatan ada tokoh tua yang aneh, ialah seorang pendekar wanita yang mempunyai ilmu silat yang sangat llhay sekali.
Maka Kiam Ciu lalu meregur dengan hormat "Apakah Locianpwee ini bergelar Shin Kai Lolo ?"
Tanya Kiam Ciu.
"Oh ternyata kau telah mengenal nama gelarku. Nah, sekarang aku harapkan kau suka mengembalikan gambarku !"
Seru nenek itu sambil mengulurkan tangan kanan kearah Tong Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu teringat kembali dengan peristiwa didalam hutan, ketika seorang anak muda yang berambut awut-awutan menimpuknya dengan kertas bergambar gadis muda, kemudian gambar ituu disimpan baik-baik oleh Kiam Ciu karena dia ingin mengetahui makna gambar yang ditimpukkan kepada dirinya itu.
"Oh, jadi anak muda itu adalah murid Locianpwee? Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menghinanya. Aku Tong Kiam Ciu sama sekali tidak bermaksud menghinanya, malah karena jasa-jasanya itu aku dapat berhati-hati dari bencana. Aku sangat berterima kasih kepada murid Locianpwee dan tidak bermaksud untuk menghinanya."
Jawab Kiam Ciu dengan hormat dan ramah.
"Ya aku tidak butuh keterangan panjang lebar. Sekarang gambar itu kuminta kembali. Karena gambar itu aku yang membuatnya, maka kini serahkanlah kepadaku!"
Seru nenek itu sambil menyodorkan tangan kanan kearah Kiam Ciu.
Sebenarnya Kiam Ciu memang merasa heran akan sikap nenek itu.
Maka tanpa berpikir panjang lagi dia lalu meraba saku jubahnya dan dikeluarkannya lipatan kertas bergambar gadis jelita.
Gambar itu lalu diserahkannya kepada Shin Kai Lolo.
Nenek aneh itu menerimanya.
Kemudian tanpa meninggalkan pesan berlalu.
"Hemmu sama anehnya guru dan murid"."
Gumam Kiam Ciu sambil memperhatikan kepergian nenek itu.
Kemudian Kiam Ciu meneruskan perjalanan.
Setelah berjalan sampai beberapa saat, terdengarlah suara derap kaki kuda.
Dari arah depan tampak kepulan debu.
Dua titik hitam mendekat!
Titik itu sejajar seolah-olah mereka berlomba dan kebetulan mempunyai kecepatan yang sama.
Kiam Ciu memandang kearah dua ekor kuda yang bertambah dekat itu, kemudian lebih jelas lagi.
Dua ekor kuda putih yang sangat bagus dan pakaian kuda itupun tampak sangat bagus.
Diatas punggung kuda itu tampak masing-masing seorang gadis yang berparas jelita dengan kulit kuning dan segar, kuda itu mendekati Kiam Ciu, yang seekor pakaiannya serba perak sedangkan penunggangnya membekal senjata golok di pinggangnya Sedangkan satunya lagi berpakaian serba emas sedangkan yang menungganginya membekal senjata pedang.
Semula Kiam Ciu sangat mengagumi kegagahan kuda putih itu, kemudian mengagumi kemulusan dan kejelitaan kedua gadis penunggang kuda itu, bagaikan bidadari-bidadari yang turun dari angkasa dan mengendarai kuda sembrani.
Tetapi ketika bertambah dekat ternyata kedua gadis itu dengan sengaja menghadap didepan Kiam Ciu, hingga pemuda itu terpaksa menghindar jangan sampai ditubruk kuda mereka.
"Siocia, ...... maaf, mengapa menghadangku ?"
Tanya Kiam C;u dengan membongkok hormat.
"Adikku ingin mencoba ilmu pedangmu, karena kami melihat kau membawa pedang dipunggungmu!"
Seru wanita yang bersenjata golok dan gadis itu masih duduk diatas puoggung kudanya.
"Oh, .... maaf siocia, Aku hanyalah seorang pengemhara yang tiada berilmu mana berani melawan bertanding ilmu pedang, Adapun, pedang yang kubawa ini hanya untuk melindungi diri dari binatang buas saja"
Jawab Kiam Ciu bernada sopan dan menghormat.
Namun kedua gadis itu memandang Kiam Ciu dengan mata penuh terpesona, Seolah-olah mereka tidak mendengarkan kata-kata yang terucapkan dari mulut 5 27 Kiam Ciu.
Maka sekali lagi pemuda itu meneruskan kata-katanya sambil menghormat.
"Karena itu aku , , ijinkanlah untuk berlalu siocia , , !"
Seru Kiam Ciu sambil membongkok dan melangkah maju "Tunggu !"
Seru gadis itu "Bukankah kau ini Tong Kiam Ciu yang telah berhasil menguasai ? Maka jika kau tidak mau bertanding melawan adikku, jangan kau harapkan kau dapat berlalu dengan mudah !"
Kata-kata itu terucapkan dengan tegas tidak hanya bermain-main atau gertakan.
Kiam Ciu tampak terperanjat juga mendengar nada kata-kata yang bersikap menantang itu.
Namun dia maklum kini bahwa namanya telah banyak dikenal orang karena gara-gara pedang pada pertemuan orang-orang gagah pada Bu Lim Tahwee.
Namun pedang telah terlepas dari tangan Kiam Ciu belum ada orang yang tahu.
Itu suatu keuntungan besar bagi Kiam Ciu.
Menilik cara dandanannya terang bahwa kedua gadis itu adalah dari suku Biauw.
Suku Biauw yang dipimpin oleh Kwi Ong atau si Raja Iblis, menurut kabar bahwa Kwi Ong memang sengaja memimpin orang-orangnya untuk mengganas kedaerah lain merembes dan mengacau.
Kwi Ong memang sengaja untuk menguasai daerah lain serta menyebar luaskan wilayahnya.
Raja Iblis yang berilmu sangat lihay.
Namun untuk menghadapi mereka itu bilamana terpaksa Kiam Ciu juga tidak merasa gentar.
"Siocia, aku dan kalian berdua tidak mempunyai tali permusuhan. Urusanku masih banyak maka ijinkanlah aku untuk meneruskan perjalanan dengan damai."
Seru Kiam Ciu.
Tetapi saat itu diseberang lain tampak ada seorang yang menerobos semak belukar kemudian sempoyongan jatuh dan bangun lagi menyusuri jalan raya, tetapi orang itu jatuh lagi.
Untuk sesaat kedua gadis yang menghadang Kiam Ciu itu tertegun.
Mereka tidak menjawab seruan Kiam Ciu.
Tiba-tiba gadis yang lebih muda dan bersenjata pedang berseru.
"Cici ayo kita lihat orang itu". 5 28 Gadis yang bersenjata golok memandang Kiam Ciu seraya berseru;
"kau dapat menunggangi kudaku. Ayo kita lihat orang itu !"
Bersamaan dengan selesainya kata-kata itu maka segeralah gadis itu meloncat turun dari punggung kudanya dan langsung meloncat kebelakang adiknya membonceng.
Sedangkan Kiam Ciu telah berada pula dlpunggung kuda milik gadis itu.
Ketiga orang itu segera memacu kudanya mendekati orang yang telah tersungkur dipinggir jalan.
Mereka masih duduk dipunggung kudanya ketika berada dekat sekali dengan tubuh yang menggeletak dan bermandikan darah serta pakaian terkoyak-koyak itu.
Yang meloncat turun dari punggung kuda, adalah Kiam Ciu.
Pemuda itu segera menghampiri dan membalikkan tubuh orang yang menggeletak itu.
Ketika Kiam Ciu menyaksikan wajah orang itu dia betul-betul sangat terperanjat hingga terpekik tertahan memanggil nama orang itu.
"Pit Ki !"
Kiam Ciu tertahan.
Namun suara itu cukup terdengar oleh kedua gadis.
Merekapun lalu turun dari punggung kuda dan menghampiri Kiam Ciu!
Setelah melihat keadaan Pit Ki sejenak, maka gadis itu yang tua berseru kepada Kiam Ciu.
"Ohhh apakah dia ini kawanmu?"
Tegurnya, tampak wajah gadis itu membayangkan rasa belas kasihan.
Kiam Ciu tidak menjawab.
Pemuda itu menatap wajah Pit Ki yang telah pucat.
Sudah terang bahwa laki-laki itu mendapat luka yang berat.
Mungkin tidak akan tertolong jiwanya.
Dalam keadaan itu tiba-tiba Pit Ki membuka mata.
Ketika dia melihat bahwa orang yang berada didekatnya itu ternyata Tong Kiam Ciu.
ialah seseorang yang pernah akan dibunuhnya dengan cara keji.
Maka dengan penuh penyerahan Pit Ki memejamkan mata kembali.
Dia telah pasrah karena tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Kiam Ciu memikirkan nasib Pit Ki dan akan menolongnya.
Tiba-tiba gadis yang bersenjata golok itu telah menyentuh lengan Kiam Ciu dan menyodorkan sebungkus bubuk dan dua butir pil.
"Ini adalah bubuk Lo-hua-leog isa (bubuk obat dewa) untuk menyembuhkan luka dibagian luar, sedangkan pil ini adalah untuk diminum guna menyembuhkan luka dibagian dalam. Aku yakin dengan obat-obat ini kawanmu akan segera dapat tertolong !"
Kiam Ciu menerima dua jenis obat itu, ialah bungkusan yang berisi bubuk Lo-hoa-leng-tan dan dua butir pil untuk menolong jiwa Pit Ki.
Pemuda itu menarik nafas panjang dan merasa sangat bersyukur serta terharu sekali dengan sikap kedua tadi yang disangka sangat sombong itu.
Namun kenyataannya gadis itu berjiwa mulia dan mempunyai sifat perikemanusiaan yang dalam juga, karena telah mendapat petunjuk-petunjuk itu tadi Kiam Ciu segera mengobatkannya.
Setelah selesai dia segera berdiri dan memberi hormat kepada kedua gadis itu seraya mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Aku menghaturkan rasa hormat dan terima kasih atas kebaikan hati siocia. Untuk selanjutnya perkenankanlah kami berlalu dari tempat ini karena aku akan menyelamatkan jiwa kawanku ini...."
Seru Kiam Ciu sambil menghormat.
"Baiklah, baiklah ! Menurut pendapatku aku akan menunggang kuda berdua dengan adikku, Sedangkan kudaku dapat kau pakai !"
Seru gadis yang lebih tua seraya siap-siap mendekati kuda adiknya.
"Tet.. tetapi.."
Seru Kiam Ciu gugup.
"Tetapi apa lagi ?"
Seru gadis itu berpaling kearah Kiam Ciu.
"Tetapi dengan cara bagaimana aku mengembalikan kudamu. Atau kemana kita dapat mengembalikan kudamu nanti?"
Seru Kiam Ciu.
"Oh... itu? Kau dapat mengembalikan kudaku ke desa Sing-kiauw-cong kira-kra sepuluh lie jauhnya dari sini!"
Jawab gadis itu.
"Baiklah."
Jawab Kiam Ciu.
Kedua sadis itu telah berada dipunggung kuda.
Baru saja tali kekang di tangan kanan ditarik hingga kepala kuda putih itu terangkat ke kanan.
Namun belum lagi kaki kuda itu melangkah maju, tiba-tiba Kiam Ciu berseru lantang tetapi penuh sopan dan hormat, 5 30
"Socia! Malam ini juga aku akan mengembalikan kuda. Tetapi siapakah nama Siocia berdua?"
Kiam Ciu berseru sambil menghormat.
"Aku ternama Gin Ciu dan adikku ini bernama Kim Ciu. Kalau kau telah sampai di desa Sing-kiauw-cong maka kau akan mudah mencari namaku. Karena semua orang telah mengenal namaku dan nama adikku", seru gadis yang tua dan ternyata bernama Gin Ciu itu. Rupa-rupanya memang sudah suratan takdir bahwa umur Pit Ki tidak panjang hanya pendek. Dalam perjalanan untuk mencari tempat penginapan, Pit Ki telah menghembuskan nafas penghabisan. Tong Kiam Ciu kecewa. Sebenarnya dia ingin menolong orarg itu dengan sepenuh hati. Tetapi kehendak Thian tidak dapat dibantah lagi Setelah mengetahui bahwa Pik Ki tidak dapat ditolong lagi, maka segeralah Tong Kiam Ctu menyempurnakan mayat orang itu, dikubir secara sederhana. Beberapa saat kemudian Tong Kiam Ciu telah terdiri sambil memandang kemakam Pit Ki yang d.beri tanda sebuah batu. Maksud Kiam Ciu segera meninggakan tempat itu menuju ke kota Pek-seng. Beberapa langkah kemudian terdengar ringkikkan kuda. Kiam Ciu yang pikirannya sedang kalut itu terhenti!. Dipandanginya kuda itu dan dia teringat kembali dengan janjinya kepada Gin Ciu.. Malam ini dia harus mengembalikan kuda itu ke desa Sing-kiauw-cong. Tanpa menunda waktu lagi Kiam Ciu lalu menghampiri kuda putih itu, kemudian meloncat ke punggung kuda dan dikepraknya, kemudian tampaklah kuda itu lari dengan laju menerobos hutan lebat itu. Samar-samar tampak gerbang desa Sing-kiauw-cong. Maka lari kudanya bertambah kencang seolah Kiam Ciu sedang terburu-buru. Karena pemuda ini ingin lekas sampai didesa itu mengembalikan kuda dan meneruskan perjalanannya. Ketika sampai didepan gerbang yang pengkuh itu dia berhenti. Diketuk-ketuknya pintu gerbang berkayu tebal itu namun dari dalam tiada jawaban. Diperiksanya benteng yang melindungi desa itu ternyata sangat tinggi dan kuat. Hati Tong Kiam Ciu jadi gelisah dan didorong oleh emosi pula maka gelisahlah 5 31 pemuda itu. Dicobanya sekali lagi untuk mengetuk gerbang itu. Namun hasilnya sama saja. Tiada jawaban dari dalam. Ketika Kiam Ciu berpikir bahwa waktunya akan habis hanya untuk menunggu terbukanya pintu gerbang itu, maka dia lalu mengambil keputusan untuk merobohkan pintu gerbang itu saja dan menerobos masuk. Dengan mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong, Tong Kiam Ciu menebak kedepan kearah pintu gerbang itu. Terdengar derakkan hebat dan pintu yang terbuat dari papan tebal itu pecah dan roboh. Maka Kiam Ciu menghentakkan kaki kudanya. Kuda putih itu meloncat kedepan dan menerobos pintu gerbang yang telah rusak itu. Tetapi baru beberapa langkah terlihat sebuah kelebatan bayangan dan tampak seseorang berdiri ditengah jalan menahannya.
"Tunggu dulu! Aku bernama Lee Cun, saudara seperguruan dengan Gin Ciu dan Kim Ciu. Aku dlperintahkan oleh suhu untuk menerima kedatanganmu..!"
Seru orang itu dengan hormat dan tersenyum.
Kiam Ciu memandang orang yang berdiri di depannya dan memegang tali kekang kudanya itu.
Diamati dari rambut sampai ke kaki.
Barulah Kiam Ciu menyahutnya dengan sopan pula.
"Aku merasa menyesal babwa aku harus merobohkan pintu gerbang itu! Aku ielab lama menunggu dan mengetuk pintu serta memanggil-manggil tetapi dari dalam tiada jawaban! Kedatanganku kemari hanya untuk mengembalikan kuda ini yaog kupinjam dari Gin Ciu Siocia. Lalu urusan tidak ada. Maka setelah kuda ini kuserahkan kepadamu, aku untuk berlalu!"
Seru Kiam Ciu sambil meloncat berdiri ditanah dan akan meninggalkan tempat itu! "Tunggu dulu ! Suhu Kwi Ong sedang menantikan kedatanganmu di ruang tengah!"
Seru Lee Cun sambiI meloncat berdiri didepan Kiam Ciu.
"Aku tidak ada urusan dengan suhumu. Maka aku tidak akan menemuinya !"
Seru Kiam Ciu akan melangkah. Tetapi Lee Cun menaban dan meneruskan kata-katanya. 5 32
"Tetapi ini adalah peraturan kita, barang siapa yang telah memasuki tempat ini harus menghadap dulu kepada suhu !"
Seru Lee Cun.
"Jika aku tidak sudi menghadap suhumu, kau dapat berbuat apa ?"
Seru Tong Kiam Ciu dengan suara seenaknya dan merendahkan Lee Cun. Mendengar jawaban Kiam Ciu yang bernada menantang itu, maka Lee Cun kini merubah sikapnya menjadi ramah dan lunak sekali.
"Begini, aku tidak bermaksud berkelahi melawan kau. Tetapi, ada seseorang yang kecewa jika kau tidak mau masuk dulu, Gin Ciu telah meminjamkan kudanya kepadamu, jika hanya untuk menemui saja kau tidak sudi apakah itu tidak akan mengecewakannya ?"
Seru Lee Cun dengan berhati-hati sekali dan mengarah-arah kelemahan hati pemuda itu.
Ketika ternyata Kiam Ciu tampak agak jinak pula tetapi tiada jawaban dari pemuda itu maka Lee Cun meneruskan kata-katanya.
"Jika kau tidak akan membuat persoalan ini menjadi ruwet dan membuat suatu yang tidak menyenangkan dikemudian bari. Ialah kau tidak ingin membuat tali permusuhan antara kau dan suhuku, maka sebaiknyalah kau masuk dan menemui guruku. Baru kemudian menemui Gin Ciu yang juga menunggumu.."
Sambung Lee Cun dengan penuh harapan semoga bujukannya itu dapat mengena.
Benar juga Tong Kiam Ciu termakan dengan kata-kata Lee Cun itu.
Tampaklah kini Tong Kiam Ciu tersenyum dan memandang kearah Lee Cun sambil mengangkat bahunya dan tersenyum.
(Bersambung
Jilid 6) 6 0 6 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 6 AIKLAH !
Sebenarnya aku mempunyai banyak urusan yang harus segera kuselesaikan.
Maka aku sangat berterima kasih dengan kebaikan hati Gin Ciu Siocia untuk meminjamkan kuda itu dan setelah kuserahkan kembali kuda itu maka aku akan cepat-cepat berlalu.
Yah.
kalau memang aku harus menemui Gin Ciu Siocia baikiah !"
Seru Kiam Ciu dengan nada suara lunak sekali.
Tampaklah Lee Cun girang sekali ketika mendengar kata-kata itu.
Dia dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik sekali.
Memang semula dia akan berbuat kasar terhadap Kiam Ciu.
Tetapi itu menyalahi perintah suhunya.
Dia harus dapat mengatur cara untuk membawa Kiam Ciu menghadap tanpa kekerasan.
Seolah-olah semuanya itu tidak ada apa-apa yang perlu dikhawatirkan.
Setelah Tong Kiam Ciu menyanggupi untuk menghadap Kwi Ong.
Maka segeralah kedua orang itu berjalan bersama.
Tetapi ketika sampai di sebuah gerbang lagi.
Lee Cun berhenti.
Tong Kiam Ciu juga berhenti memandang kearah Lee Cun dengan heran.
"Tong Siauwhiap, aku mengantarmu hanya sampai disini saja. Nanti setelah kau keluar dari gerbang ini kau akan melihat pohon bambu, kau berjalanlah dikanan pohon bambu itu kemudian berbelok ke kanan, kau akan melihat sebuah batu, dari batu itu kau berbeloklah ke kiri ! Kemudian kau akan melihat semak belukar, jangan teruskan perjalananmu tetapi kau harus mundur lima langkah, kemudian kau melihat pohon cemara maka teruslah berjalan nanti kau akan disambut oleh seseorang. Nah, Tong Siawhiap hanya petunjuk-petunjuk saja!"
Seru Lee Cun dan mengangkat tangan kanan memberi selamat kepada Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu mengangkat tangan pula.
Mereka berpisah sampai dipintu gerbang itu.
Lee Cun memutar tubuh dan kembali kearah gerbang sedangkan Tong Kiam Ciu melangkah memasuki gerbang itu.
B 6 2 Sebenarnya Kwi Ong adalah pemimpin dari orang-orang suku Biauw.
Seorang yang mempunyai Ilmu silat yang sangat tinggi dan berhati keras serta bersifat kejam.
Dia datang dari daerah selatan dengan memimpin orang-orang suku bangsa Biauw.
Kwi Ong bermaksud untuk merebut kitab pusaka ilmu silat Pek-seng.
Disepanjang perjalanan itu dia belum pernah bertemu dengan lawan yang benar-benar tangguh.
Semua lawan-lawannya dalam perjalanannya itu ternyata dapat dikalahkan dengan sangat mudah, sehingga dia berpendapat bahwa orang-orang jajo silat dari daerah tengah itu hanyalah jago godokan belaka.
Dia menganggap bahwa cukuplah semua pekerjaan diselesaikan oleh murid-muridnya saja.
Tidak perlu dia sendiri turun tangan kalau banya untuk menghadapi jago godokan itu.
Maka ia telah mengutus dua-puluh muridnya menuju kekuil Pao-yan-ta untuk merebut peta Pek-seng.
Tetapi orang-orang suku Biauw yang dikirimkan kekuil Pao-yan-ta itu tidak pernah kunjung kembali.
Maka karena ingin mendapat berita dengan secepatnya.
Diutuslah Gin Ciu dan Kim Ciu menuju ke kuil Pao-yan-ta.
Ketika kakak beradik itu pulang.
maka didapat berita bahwa kedua puluh orang utusannya itu telah binasa.
Memang sudah menjadi sifat Kwi Ong, dia sangat kejam, pemarah dan keji pula.
Dengan cara apapun dia sanggup berbuat asal dapat membinasakan lawannya.
Bukan hanya berilmu silat tinggi, tetapi banyak pula akalnya yang keji maupun licik.
Apalagi ketika mendengar cerita tentang Tong Kiam Ciu, seorang pendekar muda yang berilmu tinggi dan berhasil merebut pedang serta menguasai peta Pek-seng.
Kwi Ong telah mengatur siasat untuk memancing Tong Kiam Ciu.
Kwi Ong ingin berhadapan sendiri dengan pendekar muda yang liehay itu.
Tong Kiam Ciu tidak menduga sama sekali dengan maksud itu.
Dia adalah seorang pemuda yang berhati jujur.
Maka dia menganggap bahwa semua orang mempunyai sifat jujur pula.
Tanpa ragu-ragu lagi Tong Kiam Ciu melangkah.
Semua yang diterangkan oleh Lee Cun terbukli semuanya.
Dia melihat taman bunga melihat pohon bambu dan melihat semuanya yang diterangkan oleh Lee Cun.
Kianm Ciu menurutkan saja semua petunjuk itu.
6 3 Saat itu bulan telah mengembang diangkasa, dengan sinarnya yang redup dan hawa dingin.
Tong Kiam Ciu mengingat-ngingat petunjuk Lee Cun.
Kini telah sampai di hutan cemara, katanya ada seseorang yang menjemputnya.
Sampai beberapa langkah dan dia memasang pendengarannya belum juga terdengar seseorang menegur.
Serta tiada seorangpun yang ditemui sejak tadi.
Tetapi ketika itu dengan tiba-tiba ada suara seseorang menegurnya dari arah belakang.
Tong Kiam Ciu menahan langkahnya dan memutar tubuh kearah datangnya suara itu.
"Siapa itu ?"
Suara itu menegur lagi.
"Aku Tong Kiam Ciu datang kesini bermaksud untuk mengembalikan kuda milik Gin Ciu Siocia !"
Seru Kiam Ciu sambil mengamati bayangan orang yang tidak begitu terang.
Kemudian terdengar suara orang tertawa.
Ketika itu bulan agak terang tersembul dari selumutan kabut.
Maka Kiam Ciu dapat menyaksikan wajah orang yang berada tiada jauh dari dirinya itu.
Ternyata orang itu telah tua dan berwajah bengis serta pucat.
Rambutnya putih tetapi suaranya masih terdengar nyaring sekali.
Partanda bahwa orang itu mempunyai ilmu Lwe-kang yang tinggi.
"Aku ini Kwi Ong, pemimpin suku Biauw dari selatan. Aku telah membawa orang-orangku suku bangsa Biauw dari daerah Biauw ciang menuju kedaerah tengah ini untuk sesuatu keperluan "Hey, Tong Kiamt Ciu, apakah benar bahwa peta Pek-seng jatuh ditanganmu ?"
Seru Kwi Ong dengan suara lantang dan memandang ringan pemuda didepannya itu. Tong Kiam Ciu adalah seorang pemuda yang masih polos. Dia bersifat jujur, maka pemuda itu lalu menjawab dengan apa adanya.
"Jika kau orang tua telah mengetahui, mengapa kau masib bertanya ?"
Seru Kiam Ciu dengan memandang kearab orang itu dan hati-hati.
"Ha-ha-ha-hah ! Ternyata kau bernyali besar anak muda !"
Seru Kwi Ong. Mendengar suara tawa orang tua itu diam-diam Tong Kiam Ciu telah dapat mengukur sampai dimana kekuatan dan kehebatan tenaga dalam orang yang berdiri dihadapannya itu.
"Aku Kwi Ong telah datang didaerah tengah ini untuk merebut peta Pek seng. Aku telah menghadapi banyak orang-orang gagah di daerah tengah ini kini mereka sedang bergabung untuk menghadapi diriku ha ha ha ! Nah kini aku memberitahukan kepadamu anak muda ! Bahwa yang telah masuk dalam perangkapku bukannya kau seorang diri, tetapi sebelum kau terperangkap disini. aku telah menjebak pula seorang ialah Siok Siat Shin Ni yang lihay itu. Maka kau dengar baik-baik kata-kataku, jika kau masih mengharapkan hari cerah maka serahkanlah peta Pek-seng itu kepadaku. tetapi kalau tidak kau akan mati konyol ditempat ini !"
Seru Kwi Ong dengan suara sombong dan memandang rendah orang yang didepannya itu.
Mendengar ancaman itu Tong Kiam Ciu tidak merasa gentar.
Maka dengan sikap menantang dan penuh kewaspadaan Tong Kiam Ciu berseru.
"Hey Kwi Ong ! Ternyata kau sendiri tidak mampu untuk mengambil peta Pek seng dengan kekuatan ! Sekarang peta itu telah jatuh ketanganku. Kalau kau memang benar-benar menginginkan peta itu marilah kau datang kepadaku!"
Seru Tong Kiam Ciu sambil berkacak pinggang menantang kearah Kwi Ong. Mendengar kata-kata tegas dari seorang jago silat yang masih sangat muda itu, Kwi Ong merasa terperaniat juga.
"Tong Kiam Ciu, apakah kau tidak menyayangkan masa mudamu kalau sampai kau mati muda begini ? Kau tidak akan luput dari seranganku juga Soan-hong-li-bu-ceng (menyerang laksana angin taupan dialam kabut) kau akan mati konyol !"
Seru Kwi Ong.
Begitu selesai dengan kata-katanya itu Kwi Ong mengerahkan ilmunya untuk menyerang Kiam Ciu.
Pemuda itu tidak merasa gentar, maka Kiam Ciu memasang kuda-kuda dan menantikan serangan lawan.
Tahu-tahu dalam hutan cemara itu menjadi gelap dan tampak kabut putih telah menebal menutup pemandangan.
Kiam Ciu tidak dapat melihat Kwi Ong lagi.
Ditajamkannya semua inderanya untuk menghadapi setangan lawan.
Namun Kwi Ong tetap tidak tampak bahkan tiada suara nafaspun yang terdengar kecuali nafasnya sendiri.
6 5 Didepan Kiam Ciu ada sekuntum bunga yang sangat menarik hati sejak tadi.
Kini dalam suasana kabut itu, bunga yang berada didepannya sangat harum baunya.
Terciumlah oleh Kiam Ciu bau harum bunga didepannya, bunga yang sangat menarik hati, Dipandangnya bunga itu lebih lama lagi.
Tiba-tiba kepala Kiam Ciu menjadi sangat pening.
Barulah dia menyadari babwa ialah serangan ilmu Soan-hong-li-bu-ceng.
Semula Kiam Ciu menyangka kalau Kwi Ong akan menyerang dengan ilmu silat.
Hingga dia bersiap-siap untuk menghadapi serangan lawan.
Untuk mengatasi serangan gelap hawa beracun itu, maka Kiam Ciu mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong.
Hingga bergetarlah tubuh pemuda itu.
Dalam hati dia mengeluh karena kurang kewaspadaan atas kelicikan lawan.
Karena mengerahkan tenaga dalam dengan sangat hebatnya itu, hingga Kiam Ciu berkeringat.
Ternyata racun itu sangat hebat.
Hingga tubub Kiam Ciu bergetar hebat.
Namun pemuda itu berusaha untuk bertahan berdiri tegap dan mengerahkan Bo-kit-sin-kong melawan kekuatan racun Kwi Ong.
Namun tubuh Kiam Ciu bergetar hebat hingga mandi keringat.
Racun serangan Kwi Ong itu ternyata hebat sekali.
Sedikit demi sedikit tubuh Kiam Ciu menjadi lemas juga, keadaan tubuhnya telah menjadi lemah dan Kiam Ciu bertahan untuk berdiri dan tidak jatuh pingsan.
Namun kekuatannya telah berkurang dan tahu-tahu menjadi sangat lemah sekali, Kiam Ciu limbung dan akan jatuh.
Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya ditahan oleh seseorang.
Kiam Ciu sempat melihat orang yang memapahnya itu tiada lain ialah Gin Ciu.
Gadis jelita yang memberikan kudanya dan kini berusaha untuk menolongnya.
Ketika pandangan mereka bertemu, gadis itu tersenyum manis sekali.
Tetapi kepala Kiam Ciu sudah sangat pening berserta rasa berdenyut sekujur kepalanya "Tong Kim Ciu, apakah kau tidak terluka ?"
Tanya Gin Ciu. Tong Kiam Ciu tersenyum dengan penuh rasa terima kasih atas pertolongan gadis itu. Kemudian terdengar dengusan Gin Ciu menarik nafas dan berkata lagi.
"Dengan bersusah payah aku membujuk Lee Cun untuk mencegatmu dan memberitahukan jebakan itu serta cara bagaimana untuk menghindari serangan Soan-hong-li-bu-ceng. Tetapi ternyata kau tidak mengindahkannya, hampir saja 6 6 kau mati konyol. Tetapi ilmu apakah yang hingga kau hanya jatuh pingsan?"
Seru Gin Ciu heran.
"Oh ... terima kasih atas pertolonganmu ..."
Tong Kiam Ciu tidak dapat meneruskan kata-katanya.
Diam-diam pemuda itu telah memuji kecantikan Gin Ciu serta kebaikan hatinya.
Maka pemuda itu hanyalah memandang dengan sinar mata bercahaya.
Rasa pening dikepalanya telah dapat diatasinya.
Kini dia telah hampir dapat memulihkan kembali tenaganya dan berusaha untuk berdiri dan membebaskan diri dari pelukan Gin Ciu.
"Tak lama lagi suasana akan menjadi terang, Ayolah ikut aku. Tadi Lee Cun telah memberikan keterangan-keterangan kepadamu cara-cara untuk melewati perangkap itu. Kalau keterangan-keterangannya itu diketahui oleh suhu, maka celakalah dia. Kini kau telah selamat dari racun ganas itu maka marilah cepat-cepat kita tinggalkan tempat ini sebelum menjadi terang kembali ! Jika kita diketahui oleh suhuku maka.... sudahlah ayoh kita cepat-cepat meninggalkan perangkap ini !"
Seru gadis itu seraya menyambar tangan kanan Kiam Ciu dan ditariknya pemuda itu. Tong Kiam Ciu yakin bahwa gadis itu berusaha menolongnya. Maka dia menurut saja kemanapun dibawa oleh Gin Ciu.
"Nah, beberapa langkah lagi kita telah dapat keluar dan perangkap. Aku tidak usah mengantarmu, kau dapat berjalan sendiri. Siapa sangka bahwa suhu mempunyai tabiatnya sangat kejam. Aku telah belajar ilmu silat pada beliau selama sepulun tahun, Akhir-akhir ini kuperhatikan memang banyak perubahan dan tabiatnya sangat ganjil. Walaupun suhu seorang yang kejam tetapi dia mempunyai keistimewian. Ialah dia selalu menepati janjinya. Kalau seandainya beliau mengatakan tidak akan mengganggumu, maka beliau benar benar mecepatinya ....... Nah sudahlah selamat jalan kita berpisah disini dulu..!"
Seru gadis itu dengan suara yang terdengar berat.
"Tet ... tetapi"
Seru Tong Kiam Ciu terputus-putus.
"Tetapi apa ?"
Tanya Gin Ciu pula sambil memutar tubuh memandang kepada Kiam Ciu dan tersenyum dengan kening berkerut.
"Kau ?"
Sambung Kiam Ciu bernada bertanya.
"Oh, apakah kau ingin mengetahui riwayat hidupku ? Dengarlah banwa ayahku adalah seorang suku Gin-san-tong di daerah Biauw ciang. Tetapi ibuku adalah ketururan Han. Maka mengetahui adat istiadat orang-orang didaerah pertengahan ini. Orang-orang Biauw selalu berterus terang ..."
Sambung Gin Ciu dengan terbersit warna merah diwajahnya.
Tetapi Gin Ciu tidak dapat meneruskan kisahnya, karena dia menangkap suara ejekan tiada jauh dari tempat itu.
Begitu juga Kiam Ciu merasa terperanjat mendengar teguran dari tempat yang tiada jauh dari mereka berdua itu.
Tong Kiam Ciu menjadi terperanjat ketika tiba-tiba saja di depannya telah terbentang suatu ruangan yang sangat luas dan penjagaan yang sangat kuat dan bersenjata lengkap sekali.
Padahal tadi tempat itu terselubung oleh kabut tebal dan tidak kelihatan dengan nyata.
Tiba-tiba saja disekitarnya kini menjadi terang.
"Mengapa tidak lekas-lekas menghadap? Apakah aku harus memaksa kalian?"
Terdengar suara menggelegar serak dan tajam.
Bagaikan seorang anak yang berbuat kesalahan, Gin Ciu melangkah dengan kepala menunduk.
Gadis itu menurut perintah dari dalam ruangan untuk menghadap Kwi Ong.
Dengan kepala tertunduk dia berjalan diantara para pengawal suku bangsa Biauw yang bersenjata lengkap.
Kiam Ciu menyaksikan hal itu merasa was-was.
Maka dia lalu mengikuti Gin Ciu dari belakang.
Dia merasa khawatir kalau gadis itu mendapat hukuman berat.
Maka diikutinya dengan tujuan untuk melindunginya dimana nanti diperlukan.
Keadaan di tempat itu sudah sangat terang.
Matahari telah menyinarkan sinar paginya menerobos celah-celah hutan.
Suasana yang sangat lengang dan tenang sekali.
Semua mata tertuju kearah kedua orang yang sedang memasuki ruangan itu, Gin Cin dan Tong Kiam Ciu.
Diujung jalan itu telah duduk di kursi kebanggaannya seorarg laki-laki berwajah seram dan berambut putih.
Matanya bersinar hitam menyala-nyala.
Disebelah kiri berdiri Kim Ciu dan disebelah kanan berdiri Lee Cun dengan wajah yang kurang sedap pula kelihatannya.
Selain dua pendamping itu ada pula 6 8 seoraag laki-laki yang berperawakan kokoh dengan wajah bengis pula.
Laki-laki itu berumur kurang lebih tiga puluhan.
Tampaklah wajahnya yang bengis itu bertambah seram disertai senyum-senyum mencibir kearah kedua orang yang baru menghadap itu.
Begitu sampai dihadapan Kwi Ong segeralah Gin Ciu berlutut.
"Suhu !"
Seru Gin Ciu seraya menjura.
"Bah ! Apakah kau masih menanggap aku ini suhumu ?"
Seru laki-laki yang duduk diatas kursi kayu berukiran kepala naga itu dengan suara tajam dan memaki.
"bukankah kau telah membangkang dan tidak menghiraukan peraturan?"
Kwi Ong berhenti sejenak.
Sesaat suasana menjadi sangat sepi.
Semuanya menjadi tegang dan tiada seorangpun yang berani berbicara kalau mengetahui Kwi Ong sedang dalam keadaan marah begitu.
Seolah-olah mereka tiada berani mengeluarkan suara, bahkan bernapaspun sangat berhati-hati.
"Aku telah mendidik dan mengangkatmu menadi murid selama sepuluh tahun. Tentunya kau telah mengerti semua peraturan dan larangan partai persilatan yang kupimpin, tetapi kenyataannya kau telah berani melanggar!"
Seru Kwi Ong pula dengan keras.
"Suhu". aku merata bersalah. Murid mengakui segala kesalahan, kini telah siap menunggu hukuman yang akan dijatuhkan atas diriku. Tetapi ..."
Seru Gin Ciu sambil menjura, Kemudian gadis itu tidak sanggup meneruskan kata-katanya karena berderai tangisnya, Menyaksikan keadaan kakaknya itu Kim Ciu menghiba juga, maka gadis pengawal Kwi Ong itu segera menghadap Kwi Ong dan berlutut dihadapannya.
"Suhu ! Ciciku telah mengabdikan diri kepada suhu selama sepuluh tahun dengan patuh dan tidak pernah membuat pelanggaran dan kesalahan. Baru kali ini dia berbuat salah, maka sudilah suhu untuk mengampuninya..!"
Seru Kim Ciu dengan menjura pula. Begitu pula Lee Cun juga telah berada disamping Kim Ciu dan menjura kepada Kwi Ong seraya menghaturkan maksudnya.
"Jika suhu tidak dapat menerima permohonan kami, kami mengharapkan sukalah suhu memandang jasa ayahnya. Lagi pula kalau suhu tetap menghukumnya dia akan menjadi seorang yeng cacad seumur hidupnya. Maka ajaran suhu tidak ada gunanya lagi ....."
Usul Lee Cun dengan menegaskan dan kata-kata yang menghiba.
"Diam!"
Bentak Kwi Ong dengan suara lantang dan menggema. Sesaat pemimpin suku Biauw itu terdiam. Matanya membelalak merah menatap orang-orang yang berada dihadapannya itu.
"Kalian telah lama mengikutiku. masakan kalian tidak mengetahui tabiatku?"
Seru Kwi Oig dengan suara tajam.
Tetapi Kim Ciu masih berani menyahut kata-kata suhunya!
Karena dia sangat mencintai kakaknya!
Dia berusaha untuk mengelakkan kakaknya dari hukuman yang mengerikan yang mungkin terjadi!
"Suhu!
Jika ciciku tidak diampuni, maka akan ............."
Kata-kata Kim Ciu tertahan oleh bentakan Kwi Ong yang berwibawa.
"Diam ! kalian semua bangun !"
Bentak Kwi Ong. Saat itu Kim Ciu meloncat tepat dihadapan suhunya seraya mencium kakinya. Sambil menghiba dan memohonkan belas kasih suhunya.
"Suhu ........ suhu .........."
Ampunilah ciciku"
Tetapi Kwi Ong tidak menghiraukan kata-kata itu!
Dengan wajah merah membara kaki yang sedang dipeluk dan dicium oleh Kim Ciu itu digerakkannya dengan keras.
Kim Ciu terpelanting lima langkah dan terjerembab!
Kemudian Kwi Ong mengirimkan pukulan kearah kepala Gin Ciu.
Angin pukulan itu kalau sampai mengenai sasarannya akan hancur kepalanya dan setidak-tidaknya akan menjadi cacad seumur hidup kehilangan akal seperti orang gila.
Menyaksikan semua kekejaman Kwi Ong itu, Tong Kiam Ciu segera meloncat kedepan dan memapaki serangan pukulan Kwi Ong itu.
Tangkisan Tong Kiam Ciu ternyata tepat.
Oey Liong Kiam Oey Liong Kiam Tampak Kwi Ong terhenyak dengan memegang kepalanya pening.
Kwi Ong heran menyaksikan dan merasakan kehebatan tenaga lwe-kang anak muda itu.
6 10 Kini semua orang memandang kearah Tong Kam Ciu, Namun Kwi Ong masih nekad akan mengirimkan pukulan hukuman kepada Gin Ciu.
Tong Kiam Ciu membentak.
"Tahan !"
Seru Kiam Ciu sambil mengangkat tangan kanan.
Ternyaia pemuda itu mengirimkan serangan jurus Pan-wan kiat-cit atau Palu baja-mematahkan dahan.
Kini Kiam Ciu dan Kwi Ong berhada-hadapan hanya berjarak satu langkah jauhnya.
Tong Kiam Ciu menudingkan tangan sambil berseru.
"Ternyata cerita orang tentang dirimu benar juga, kau adalah manusia terkejam yang kujumpai dldunia ini, Kekejamanmu melebihi binatang. Kau telah bermaksud membunuh atau membuat cacad muridmu yang telah mengikutimu selama sepuluh tabun dengan setia. Perbuatanmu itu melebihi perbuatan binatang buas !"
Seru Tong Kiam Ciu dengan gutar.
Dua orang murid lainnya yang berdiri dibelakang Kwi Ong setelah mendengar suhurya dicaci dan dikatakan seperti binatang oleh Tong Kiam Ciu itu dia menjadi gusar sekali.
Tetapi untuk menyerang dan mencampuri urusan itu di hadapan suhunya dia tidak berani.
Gin Ciu yang nyaris dari malapetaka dan mendengar kata-kata Kiam Ciu itu menjadi sangat terharu.
Dia kagum dengan keberanian pemuda itu dalam saat-saat yang sangat mengerikan dan suhunya dalam keadaan marah.
Ternyata hati Kiam Ciu sangat mulia dan tabah.
Gin Ciu merasakan bahwa pandangan dan perasaannya terhadap keperwiraan Kiam Ciu tidaklah meleset.
Tetapi dia merasa sangat khawatir, jangan-jangan nanti dia akan dibinasakan oleh suhunya yang berilmu lihay itu.
Maka tampak gelisahlah Gin Ciu setelah memikirkan nasib Kiam Ciu itu.
Dia harus berusaha untuk mencegah jangan sampai Tong Kiam Ciu dapat dicederakan oleh suhunya nanti.
"Anak muda, ketahuilah bahwa peraturan partai silatku tidak membenarkan muridnya yang manapun melanggarnya. Peraturan kami sangat keras. Maka persoalan ini adalah persoalan kami, kau tidak berhak untuk campur tangan dalam urusan ini !"
Seru Kwi Ong dengan tegas. 6 11
"Hah !"
Sambung Tong Kiam Ciu.
"diantara orang-orang Han tidak membiarkan perbuatan yang tidak senonoh. Maka aku akan menghadapi kau untuk mencegah kekejamanmu. Meskipun Untuk itu aku harus hancur lepur. Lebih baik hancur daripada menyaksikan kejahatan dan kekejaman didepan mataku !"
Seru Tong Kiam Ciu dengan bersungguh-sungguh.
Selama ini Kwi Ong belum pernah menyaksikan seorang anak muda yang seberani Tong Kiam Ciu.
Dalam hati kakek kejam itu mengagumi keberanian dan ketegasan Kiam Ciu.
"Jadi kau akan turut campur tangan dalam urusanku ?!"
Bentak Kwi Ong dengan suara keras dan nyaring.
"Aku mengagumi keberaniamu, karena menghargai keberanianmu itu aku akan menghadapimu dengan sarat. Jika kau dapat menahan serangan-seranganku sebanyak sepuluh jurus maka aku akan mengampuni Gin Ciu. Bukan saja mengampuni Gin Ciu tetapi kau akan kuantar keluar diri perangkap ini dan membebaskan tiga jago silat dari kurungan perangkapku !"
Seru Kwi Ong dengan diselingi pandangan tajam dan senyum-senyum bibirnya.
Dimata Kwi Ong memandang Tong Kiam Ciu hanya bermodalkan keberanian dan ilmunya pastilah belum seberapa.
Dia yakin bahwa Kiam Ciu takkan mungkin dapat melawannya dalam dua jurus pasti telah dapat dihancurkannya.
Mendengar penuturan Kwi Ong tadi bahwa didalam perangkap Kwi Ong itu telah terkurung tiga orang jago silat bukan hanya Siok-soat Shin-ni.
Lalu dua orang lainnya lagi siapa?.
Maka Tong Kiam Ciu dengan tenang menjawabnya.
"Baiklah aku akan melawanmu dengan syarat-syarat tadi !"
"Ha ha hah ! Inilah yang orang katakan kau bermata buta anak muda ! Jalan ke surga kau tidak tahu, tetapi ke neraka yang tiada pintunya kau berusaha untuk memasukinya. Nah, sekarang terimalah hajaranku ini!"
Seru Kwi Ong dengan suara lantang dan meremehkan. Tetapi ketika Gin Ciu melihat sikap suhunya itu, segeralah gadis itu meloncat dan memeluk kaki suhunya seraya meratap.
"Suhu ... suhu ... jantan bunuh dia. Akun yang bersalah maka bunuhlah aku!"
Seru gadis itu dengan meratap.
6 12 Tetapi Kwi Ong yang berwatak kasar itu sudah terlanjur menentukan sikapnya sendiri.
Maka dengan satu gerakan cepat bagaikan kilat dia telah menggerakkan kakinya dan Gin Ciu terlempar jauh serta jatuh tertelungkup mencium lantai.
"Anak sambal ! Pergi ! Jangka merintangi aku lagi !"
Seru Kwi Ong. Gin Ciu dalam keadaan terluka dalam memuntahkan darah. Tong Kiam Ciu meloncat menubruk gadis itu untuk menolongnya. Tetapi dua bayangan telah mendahuluinya.
"Cici mengapa kau masih juga...."
Kim Ciu menubruk cicinya seraya meratapi dengan tersedu-sedu.
Gin Ciu mengusap rambut adiknya dengan bibir tersenyum seolah-olah tidak dirasakannya luka didalam tubuh gadis itu.
Kemudian jari telunjuk tangan kanan ditekankannya ke mulut adiknya serta menggelengkan kepala seolah-olah dia melarang adiknya jangan bicara lagi.
Dalam pada itu tampak sebuah bayangan pula terjun karena itu.
Seorang jago silat suku bangsa Biauw telah berdiri dihadapan Kiam Ciu.
"Aku Pak Lu menantangmu anak muda. Tidak usah suhuku turun tangan cukup aku serorang sanggup untuk menghadapimu !"
Seru laki-laki itu dengan suara lantang dan sinar mata tajam.
Tong Kiam Ciu haaya tersenyum menyaksikan sikap orang didepannya itu.
Sejenak dia memandaag kearah Gin Ciu kemudian Kwi Ong dan ditatapnya wajah laki-laki yang bernama Pak Lu.
"Aku bersedia bertempur melawan siapa saja !"
Seru Kiam Ciu.
Mendengar jawaban itu hati Pak Lu bertambah gusar.
Dengan loncatan panjang dia menyerang Kiam Ciu kemudian mengirimkan pukulan kearah kepala Kiam Ciu.
Tetapi dengan jurus Gwat-ji-sing-koan (Bulan berpindah dan bintang berputar) Tong Kiam Ciu menangkis serangan itu dengan tangan kiri.
Kemudian tangan kirinya mengirimkan pukulan kearah dada Pak Lu.
Secepat kilat Pak Lu meloncat kesamping menghindari serangan Kiam Ciu sambil merundukkan kepalanya.
Namun serangan Kiam Ciu tidak urung 6 13 mengenai pundaknya juga.
Setelah merasakan bahwa serangan lawan ternyata hebat juga, maka dengan sigap pula Pak Lu menarik senjatanya yang berupa rantai baja dari pinggangnya.
Pak Lu memutar-mutarkan senjata rantai baja itu.
Suaranya mendesing-desing dan menimbulkan angin yang terasa dingin.
Tampaknya sangat cepat sekali permainan senjata rantai itu.
Tong Kiam Ciu bergerak dengan teratur dan matanya waspada mengamati gerakan-gerakan senjata lawan itu.
Dengan sebuah loncatan pula Pak Lu menyerang Tong Kiam Ciu sambil menyabetkan rantainya.
Serangan itu dapat dielakkan dengan cepat, sambil meloncat mundur Tong Kiam Ciu mencabut pedang Kim-kong-sai-giok-kiam.
Kemudian dengan jurus Lik-cing-kiam hoat dia menusuk lambung Pak Lu dengan cepat sekali.
Serangan yang tiada terduga itu ternyata berhasil.
"Crak ! Aduh !"
Terdengar suara tusukan pedang itu berbareng dengan jeritan Pak Lu dan muncratnya darah segar dari lambung laki-laki itu kemudian tubuh laki-laki itu limbung.
Rantainya masih tergenggam dan akhirnya terjatuh didepan Tong Kiam Ciu.
Semua yang berada di tempat itu untuk sesaat terpaku terpesona menyaksikan kecepatan permainan pedang Tong Kiam Ciu itu.
Begitu pula Kwi Ong merasa kagum dengan ilmu pedang anak muda itu.
Yang paling kelihatan bergembira adalah Gin Ciu dan Kim Ciu, karena kedua gadis itu kini merasa yakin bahwa Kiam Ciu pasti dapat menghadapi suhunya dalam sepuluh jurus.
Pak Lu yang bersifat keras kepala itu telah bangun kembali.
Dengan tubuh condong dia berusaha untuk membinasakan Kiam Ciu Namur Tong Kiam Ciu tidak melawan, pemuda itu hanya berusaha untuk meloncat kesamping menghindari ayunan senjata rantai baja.
Bersamaan mengayunnya senjata itu, maka robohlah Pak Lu dan binasa.
Menyaksikan kejadian itu, beberapa orang pengawal suku Biauw itu telah maju untuk membantu Pak Lu.
Tetapi Kwi Ong mengangkat tangan dan mencegahnya.
Orang-orang itu membatalkan niatnya dan dengan patuh mundur tetapi hati mereka kecewa.
"Hey Tong Kiam Ciu ! Ilmu pedangmu ternyata hebat juga. Sekarang........"
Seru Kwi Ong dia mencari-cari, kemudian memandang kearah Kim Ciu.
"ambil pedang cicimu !"
Kim Ciu ragu-ragu untuk mengambil pedang cicinyi. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Sehingga dia ragu-ragu untuk menyerahkan pedang itu kepada suhunya.
"Lekas !"
Seru Kwi Ong dengan suara lantang membentak.
Kim Ciu terpaksa mengambil pedang Gin Ciu dan berdiri kemudian menyerahkan pedang itu kepada suhunya.
Kwi Ong menerima pedang itu, kemudian memandang kearah Gin Ciu dan berseru .
"Gin Ciu aku memberikan kesempatan kepadamu untuk menebus kesalahanmu. Dengan pedang ini kau harus dapat melukai Tong Kiam Ciu. Jika kau dapat melukainya maka aku akan mengampunimu !"
Kemudian Kwi Ong menoleh kearah Tong Kiam Ciu.
"Tong Kiam Ciu kau dengar baik-baik! Kau, harus melawan gadis itu! Jika kau kalah kau harus binasa..!"
Seru Kwi Ong kemudian melemparkan pedang itu kemuka Gin Ciu.
Kakek sakti yang keji itu telah tahu gelagat bahwa muridnya dengan diam-diam telah jatuh cinta kepada Tong Kiam Ciu.
Maka dia harus mencegahnya.
Karena dengan hubungan cinta itu cita-cita Kwi Ong akan mengalami kegagalan.
Dia memaksakan Gin Ciu untuk melawan Kiam Ciu.
Jika gadis ini ingin hidup maka dia harus berani melawan orang yang dicintai itu.
Karena Kwi Ong yakin kalau seseorang itu pastilah takut mati !
Apalah artinya cinta itu, orang pasti lebih cinta kepada dirinya sendiri.
Tetapi kenyataannya diluar dugaan kakek itu.
Gin Ciu telah memungut pedangnya dan berdiri.
Kemudian ia berseru kepada suhunya.
"Suhu ! Aku telah mengaku salah dan bersedia menerima hukuman. Tetapi mengapa suhu memaksa diriku untuk melawan dia ?"
Seru Gin Ciu.
Kwi Ong mendengar seruan gadis itu jadi bertambah gusar.
Maka dengan mata melotot dia membentak kearah Gin Ciu.
Sedangkan Gin Ciu sudah 6 15 kehabisan akal dan tidak berani untuk mendurhakai untuk kedua kali terhadap suhunya.
Maka lebih baik dia binasa ditangannya sendiri.
Pedang itu diangkatnya dan dia bermaksud untuk menggorok lehernya sendiri.
Namun dengan tangkas Tong Kiam Ciu mengirimkan hantaman sisi tapak tangan kiri kearah siku Gin Ciu.
Pedang terlempar jatuh.
"Oh jadi kau mau membunuh diri?" 'Tidak ! Kau harus mati dengan menanggung siksaan terlebih dahulu !"
Seru Kwi Ong dengan mencibir.
Suasana menjadi sangat tegang.
Mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Begitu juga Tong Kiam Ciu yang sudah merasa muak dengan menyaksikan sikap Kwi Ong yang keterlaluan dan keji itu.
"Hey Tong Kiam Ciu. cabut pedangmu dan hadapi aku. Dalam sepuluh jurus akan kubuktikan bahwa kau tidak berarti apa-apa bagiku !"
Seru Kwi Ong dengan nada suara sombong sekali.
Mendengar hinaan itu hati Tong Kiam Ciu sangat panas.
Maka segeralah pemuda itu mencabut pedang Kiam-kong-sai-giok-kiam.
Dia telah bertekad untuk membinasakan Kwi Ong.
"Dan pengkhianat itu akan menyaksikan kau binasa ditanganku!"
Sahut Kwi Ong dengan nada penuh kepastian.
Tong Kiam Ciu meloncat menyerang dengan pedangnya.
Kwi Ong tidak sampat mengelakkan serangan itu.
Karena serangan pemuda itu dengan tiba-tiba dan cepat sekali.
Walaupun begitu ujung pedang Kiam Ciu berhasil juga mengenai dada Kwi Ong.
Namun kakek itu ternyata tidak menderita luka sedikitpun.
"Oh, rupa-rupanya kakek itu mempunyai ilmu kekebalan!"
Pikir Kiam Ciu dengan waspada pula telah mengerahkan Ilmu Bo-kit-sin-kong untuk menjaga kemungkinan serangan keji yang dilancarkan oleh Kwi Ong dengan tiba-tiba.
Sambil memutar tubuh Kiam Ciu mengirimkan serangan dengan jurus Sang-liong-pi-ji atau sepasang naga membentangkan sayap.
Tampak Kiam Ciu sambil meloncat memutarkan pedangnya dan menyerang lawan dengan gerakan sangat cepat sekali.
6 16 Tetapi Kwi Ong dengan pedang Gin Kiam ditangan kanan telah terlebih dahulu menyerang dengan jurus Ngo-hong-tiauw-yang atau lima ekor burung cenderawasih berpaling ke matahari.
Terlihatlah kakek itu berloncatan lincah sekali.
Menghindar atau menyerang Tong Kiam Ciu, sambil matanya mendelik menantikan kelengahan lawan.
Pertempuran sudah berjalan sampai dua jurus.
Kwi Ong merasa heran sekali ternyata Kiam Ciu tangguh juga, ilmu Ngo-hong-tiauw-yang pemimpin suku Biauw itu ternyata belum dapat melukai Tong Kiam Ciu.
"Hemm, bocah ini ternyata mempunyai Ilmu Bo-kit-sin-kong. Kalau tidak mana mungkin dia selalu luput dari seranganku"
Pikir Kwi Ong.
Kemudian dengan satu gerakkan cepat sekali kakek itu telah menerkam leher Tong Kiam Ciu dengan tangan kiri.
Dibarengi teriakkan dan melancarkan ilmu Tai-lik-kim-kong eng-jiauw-kang (ilmu cakaran garuda sakti).
Ilmu cengkaraman itu didahului dengan dorongan yang maha dahsyat, sehingga Tong Kiam Ciu tidak dapat maju.
Pemuda itu terdesak mundur teras.
Akhirnya Tong Kiam Ciu terdorong jatuh ketanah dengan kepala terasa pening setali.
"Oh celaka, baru berhasil melawan tiga jurus aku sudah dapat dijatuhkan. Apa mungkin aku melawan sampai sepuluh jurus"
Pikir Kiam Ciu dengan cemas.
Pada saat itu juga Kwi Ong telah melemparkan pedangnya kearah tubuh Kiam Ciu, Namun Kiam Ciu tidak sempat untuk mengelakkan serangan yang datangnya dengan tiba-tiba dan tidak terduga itu.
Sebuah jeritan dan dibarengi sesosok tubuh melayang kemudian jatuh ketanah dengtn bermandikan darah.
Sosok tubuh itu tiada lain adalah tubuh Gin Ciu yang telah lebih waspada akan muslihat gurunya dan gadis itu bermaksud untuk melindungi Kiam Ciu dari tikaman pedang.
Gin Ciu menggeletak dengan pedang tertancap ditubuhnya, Kiam Ciu mendekap dan menangisinya.
Tong Kiam Ciu meloncat berdiri dan berseru.
"Bedebah keji Urusan kita belum selesai !"
Seru Kiam Ciu sambil meloncat menerkam Kwi Ong.
6 17 Tetapi Kwi Ong dengan cepat mengelak dan meloncat kesamping, Kiam Ciu menerkam tempat kosong hingga sempoyongan hampir tidak dapat menguasai tubuhnya dan hampir tertelungkup jatuh.
Kwi Ong telah memperhitungkan kejadian itu.
Maka dengan sekali loncat dan cepat sekali dia telah mencabut pedang Gin-kiam dari tubuh Gin Ciu dan langsung memutar tubuh menyerang punggung Tong Kiam Ciu.
Menyaksikan itu Kim Ciu menjerit memperingatkan Kiam Ciu.
Mendengar seruan itu dengan cepat Kiam Ciu menjatuhkan diri menggelundung di tanah untuk menghindari bacokan pedang Kwi Ong.
Orang yang berjiwa kasar dan keji itu menjadi sangat gusar karena usahanya untuk membinasakan Tong Kiam Ciu dapat dihalang-halangi lagi.
Kegagalannya kali ini sangat menggusarkan hatinya.
Kwi Ong segera memperbaiki serangannya.
Namun Tong Kiam Ciu telah meloncat dengan pedang Kim-kong-sai-giok-kiam di tangan kanan menyerang tangan Kwi Ong yang menggenggam pedang Gin Kiam dengan jurus Giok-ciang-cui-kiam.
"Trang!"
Terdengar suara dentangan nyaring.
"Oh!"
Terdengar pula suara tertahan meluncur dari mulut Kwi Ong.
Pedang Gin Kiam terputus jadi dua, dan ujungnya jatuh ke tanah.
Ternyata serangan Tong Kiam Ciu sangat hebat.
Menyaksikan pedangnya terkutung itu dia merasa sangat gusar sekali.
Maka dengan mengembangkan ilmu Tai-lik-kim-kong eng-jiauw-kang dan hembusan angin dari kelima jari-jemari tangan kirinya yang dahsyat sekali menyerang Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong untuk menahan serangan lawannya itu.
Namun serangan tenaga dalam lawan itu sangat luar biasa hebatnya.
Selain terdorong juga mulai dia kehilangan tenaganya dan menjadi sangat lemah.
Kemudian kedua matanya menjadi sangat kabur.
Terhuyung tubuh Kiam Ciu limbung tiada bertenaga dan tiada mampu lagi untuk berdiri.
Akhirnya dia terjatuh jua.
"ha-ha-ha ! Anak ingusan yang sombong !"
Seru Kwi Ong dengan bangga dan telah yakin dia dapat mambinasakan Kiam Ciu.
6 18 Dengan langkah perlahan-lahan dia mendekati tubuh Kiam Ciu yang sudah tidak bertenaga lagi.
Pemuda itu hanya mendengarkan semua suara tetapi todak berdaya lagi untuk melawannya.
Kwi Ong melangkah dengan langkah-langkah pasti.
Pedang yang lelah buntung itu dilemparkan ke lantai menimbulkan suara dentaman nyaring.
Kemudian kedua belah tangannya membentuk cengkeraman dengan mata melotot akan menerkam leher Kiam Ciu.
Wajah Kwi Ong tampak seram sekali.
Tong Kiam Ciu telah pasrah dan menunggu ajalnya tiba !
Tiba-tiba dari atas telah melayang sesosok tubuh dan berdiri diantara Kiam Ciu dan Kwi Ong.
Orang yang baru datang dan berdiri menengahi dua orang yang sedang bertempur itu adalah seorang nenek yang berpakaian compang-camping.
Nenek itu ialah Shin Kai Lolo.
Dengan tenang nenek itu memandang kearah Gin Ciu yang telah tewas.
Kemudian menarik nafas panjang dan mengeluh.
"Hemmm ... sayang sekali aku datang terlambat"
Seru wanita tua itu dengan suara seenaknya.
Kemudian berpaling kearah Kiam Ciu.
Melangkah mendekati Tong Kiam Ciu dan memijit leher pemuda itu.
Cara membebaskan jalan darah yang luar biasa itu sangat mengagumkan.
Kwi Ong bagaikan kena pesona hingga tidak berbuat apa-apa dan memandang nenek itu dengan mata tak berkedip dan mulut ternganga tanpa disadarinya.
Begitu pula semua orang yang berada ditempat itu menjadi terpaku dan terpesona.
Dalam beberapa saat kemudian Tong Kiam Ciu telah terbebas jalan darahnya.
Kembali dia dapat menguasai keadaan dan meloncat berdiri.
Setelah itu memberi hormat dengan membongkokan tubuhnya kearah nenek Shin Kai Lolo.
Sembari tersenyum penuh rasa terima kasih.
Berbareng dengan itu pula Kwi Ong telah tersadar dari pengaruh pesona Shin Kai Lolo.
Maka segeralah dia menegur dan marah.
"Hey tua bangka ! Kau ini siapa dan darimana kau datang ?"
Seru Kwi Ong dengan suara gusar sekali.
"Itu urusanku sendiri, kau tak perlu menanya!" 6 19
"Kau telah datang ke markasku, aku berhak menanya !"
Seru Kwi Ong membentak nenek itu dengan mata melotot.
"Hi-hi-hi-hik!"
Nenek itu tertawa nyekikik.
"Desa Sing-Kiauw-Cong ini bukan daerahmu ! Kau telah datang ke tempat ini dan merampasnya !"
Kemudian nenek itu terdiam sejenak. Kwi Ong akan membuka mulut untuk mendamprat Shin Kai Lolo yang lancang dan mencampuri urusannya. Namun nenek itu telah mendahului berbicara.
"Kau telah memasang perangkap Soan-hong-li-bu-ceng dan kau telah berhasil menangkap beberapa orang jago silat. Namun kau tidak akan dapat menjebakku ! Karena perangkapmu ternyata mudah sekail untuk dilepasnya asal asal mengingat-ngingat kunci rahsianya. Ialah menjumpai pohon bambu membelok kekanan, menjumpai batu memhelok kekiri, menjumpai semak belukar berjalan mundur lima langkah dan menjumpai pohon cemara berjalan maju. Ya bukan ? Hee he-he he perangkap soal kecil !"
Seru nenek itu dengan tertawa-tawa. Nenek itu diam lalu dia memandang Kwi Ong sejenak. Kemudian memandang kearah Gin Ciu dan berseru lagi.
"Aku datang kesini untuk mencari tiga orang kawanku. Kalau seandainya aku datang lebih pagi, gadis itu tidak akan binasa!"
Seru nenek itu yang menampakkan sesalannya atas kematiannya Gin Ciu itu.
Kemudian Shin Kai Lolo menepuk tangan.
Bertepatan dengan berakhirnya tepukan tangan itu maka tampaklah kelebatan bayangan tiga sosok tubuh terjun di arena pertempuran itu.
Eng Ciok Taysu kemudian Tie kiam-su-seng dan seorang lagi jago silat wanita Siok-siat-Shin-Ni.
Semua yang berada ditempat itu terperanjat dengan munculnya ketiga orang itu.
Karena ketiga orang itu adalah tawanan Kwi Ong yang disekap dalam tempat tertutup.
"Kau, sekalian telah berani menerjang masuk kemarkasku. Maka kalian jangan harapkan dapat keluar dengan selamat dari perangkapku!"
Seru Kwi Ong kemudian tampak kakek keji itu meloncat menyerang Shin Kai Lolo.
6 20 Namun nenek itu hanya tertawa-tawa seenaknya menerima serangan itu..Seolah-olah memandang ringan ilmu lawannya.
Serangan-serangan yang dilancarkan dengan cepat dan bertubi-tubi itu telah dipapaki oleh nenek itu dengan mendorongkan kedua tinjunya bergantian, Ternyata serangan tinju Kwi Ong dapat dibuyarkannya.
Shin Kai Lo!o yang pernah menggemparkan dunia Kang-ouw beberapa puluh tahun lamanya itu, saat itu sedang menguji kehebatan serta kelihayan ilmu silai Kwi Ong yang keji.
Dia telah mengukur sampai dimana kehebatan ilmu siiat kepala suku Biauw itu.
Kemudian Kwi Ong mengerahkan ilmu Tai-lik-kim-kong eng-jiauw-kang, semua orang menyaksikan pertempuran dua orang jago silat dari kalangan tua yang hampir seimbang ilmunya itu dengan penuh kekaguman dan menahan nafas.
Karena serangan-serangannya dapat dielakkan dengan tepat.
Lagi pula Shin Kai Lolo menghindari seranganp-serangan itu sambil tertawa, maka Kwi Ong merasakan dirinya dipandang ringan oleh lawan, Kwi Ong mengerahkan seganap kekuatan dan ilmunya yang sangat diandalkan itu untuk membinasakan lawan.
Dengan meningkatnya kemarahan Kwi Ong itu.
maka kini serangan kakek itu bertambah dahsyat.
Kini terasa angin cengkeraman yang berhawa panas menyerang Shin Kai Lolo.
Serangan itu bertambah mendesak.
Diam-diam nenek yang cerdik itu telah dapat mengukur ilmu lawannya.
Ternyata Kwi Ong berada setingkat diatasnya, Maka nenek itu lalu berseru menahan serangan lawan "Tunggu!
Kita hentikan dulu pertempuran ini !"
"Apa ?! Apakah kau sudah gentar melawan aku?"
Seru Kwi Ong sambil mengejek Shin Kai Lolo.
"Hee-hee-he Aku tidak takut, kau Kwi Ong telah datang di daerah pertengahan, maka aku yakin bahwa kita akan sering bertemu lagi, ya bukan ?!"
Seru Shin Kai Lolo tampak tenang kata-katanya.
"Aku sudah katakan bahwa kalian tidak akan dapat keluar hidup-hidup dari tempat ini!"
Seru Kwi Ong dengan lantang. Mendengar jawaban itu Shin Kai Lolo harus menggunakan siasat. 6 21
"Kau terkenal sebagai raja iblis, kekejaman serta kekejianmu membuktikan bahwa kau adalah makhluk yag durhaka ! Walaupun begitu kau terkenal sebagai iblis yang senantiasa memegang janji !"
Seru Shin Kai Lolo dengan suara bersungguh-sungguh. Pujian sebagai iblis yang memegang janji itu membesarkan hati Kwi Ong. Maka kakek kejam dan keji itu lalu berseru.
"Aku belum pernah mengingkari janji !"
Tong Kiam Ciu akhirnya mengambil kesimpulan bahwa dia harus lekas berlalu dari te,pat itu, Karena dia masih banyak urusan yang harus diselesaikannya.
Sedangkan pertempuran antara Kwi Ong dengan Shin Kai Lolo iiu akan berlarut-larut lama sekali.
Maka Kiam Ciu akan meengambil kesempatan itu untuk menyelinap pergi meninggalkan tempat itu, Namun niatnya itu akhirnya diurungkannya ketika dia mendengar Kwi Ong berseru lantang.
Walaupun begitu Kiam Ciu tetap bertekad dikemudian hari dia akan mencari Kwi Ong untuk membalaskan dendam atas kematian Gin Ciu serta menumpas kekejian selanjutnya itu.
"Kali ini kalian kuampuni, karena kalian dapat menahan serangan ilmu Tai-lik-kim-kong eng-jiauw-kang !"
Seru Kwi Ong kepada orang-orang yang berada ditempat itu termasuk Kiam Ciu.
Mereka saling berpandangan.
Belum lagi mereka mengeluarkan kata-kata tiba-tiba terdengar Kwi Ong berseru lagi kepada orangnya sendiri dengan nada memerintah.
"Buka jalan ! Antarkan orang-orang ini keluar !"
Seru Kwi Ong.
Seorang pengawal telah berada didepan dan mempersilahkan Shin Kai Lolo untuk mengikutinya.
Yang juga diikuti oleh ketiga jago silat dan juga Tong Kiam Ciu.
Mereka akan keluar dari perangkap raja iblis itu.
Dengan mudah mereka telah dapat keluar dengan selamat dari perangkap Soan-hong-li-bu-ceng yang telah dibuat oleh siraja iblis itu.
Setelah sampai diluar Tong Kiam Ciu lalu membongkok hormat kepada Shin Kai Lolo, seraya pemuda itu berseru dengan hormatnya.
"Locianpwee kau telah menolong jiwaku. Budimu takkan kulupakan untuk selama-lamanya, kini perkenalkanlah aku untuk melanjutkan perjalananku dan untuk menyelesaikan tugas-tugas yag masih banyak itu"
Seru Kiam Ciu dengan suara halus dan sopan sekali. Sesat kemudian berpaling kearah Eng Ciok Taysu, Tue Kiam suseng dan Siok Siat Shin-ni, kemudian berkata pula kepada mereka itu.
"Karena aku masih banyak urusan. maka perkenankanlah aku untuk berpisah dari kalian"
Setenarnya pemuda itu agak merasa berat untuk pergi begitu saja setelah mendapat pertolongan dari Shin Kai Lolo itu. Namun tugasnya masih banyak, maka memaksa pemuda itu untuk berpisah.
"Tong Kiam Clu masih mengendap luka dalam. Maka marilah ikut aku! Lagi pula muridku ... ."
Seru nenek Shin Kai Lolo.
Kata-kata itu tidak diteruskannya karena diperhatikannya ternyata Kiam Ciu teiah pergi jauh.
Tong Kiam Ciu sama sekali tidak menghiraukan lagi bujukan Shin Kai Lolo itu.
Dia telah bertekad untuk menuju kelembah Si-kok!
Tanpa menoleh lagi kebelakang pemuda itu memisahkan diri dari rombongan keempat tokoh-tokoh angkatan tua itu.
Tong Kiam Ciu bertekad untuk segera mencapai lembah Si-Kok.
Walaupun jalan-jalan sangat sukar ditempuh lagi pula matahari semakin tinggi menjulang, namun tekad pemuda itu yang memperkuat dirinya untuk menempuh segala rintangan.
Pemuda itu berjalan dengan langkah-langkah santai tetapi pasti menuju kearah barat daya.
Pegunungan Bu-kong-san telah tampak.
Pegunungan itun tampak megah dan angker.
Puncak-puncaknya menjulang tinggi, lebih-lebih puncaknya yang bernama Hiong-lu-hong yang tertinggi, seolah-olah mencakar langit.
Pada suatu hari Tong Kiam Ciu telah mendekati puncak tertinggi itu kemudian berhentu sejenak dan memandang keatas.
Ia mengeluh dalam hati sambil memandangi puncak pegunungan yang tertinggi itu.
"Hemmm ........ aku berkelana sudah lama sekali. Tetapi lembah Si-Kok belum juga kutemukan. Menurut keterangan puncak itu tiada jauh dari puncak Hiong-6 23 lu-hong ini ......"
Pikir Kiam Ciu sambil memandang puncak itu dan melihat kiri kanan.
Suasana saat itu sangat sepi.
Hanya terdengar desau angin meniup daun-daun liu.
Kiam Ciu mengamati keadaan sekitar tempat itu.
Tetapi tiba-tiba dari arah samping terdengar suara keresekan.
Maka Kiam Ciu dengan cepat pula memutar tubuh dan menghadap kearah datangnya suara itu.
Sekejapan terlihat sesuatu yang bergerak.
Ketika diperhatikannya ternyata seekor ular yang berwarna hitam melata dengan cepatnya menjauhi tempat Kiam Ciu berdiri.
Segeralah Kiam Ciu mencabut pedang Kim-kong-sai-giok-kiam dan mengejar ular besar itu, namun ular itu mempunyai kecepatan luar biasa.
Terus melata menjauh dan kebawah gunung.
Sedangkan Kiam Ciu dengan berloncatan diatas batu mengubernya.
Ketika sampai dikaki gunung, segeralah ular itu masuk kedalam mulut guha.
Kiam Ciu bermaksud untuk mengejarnya terus.
Teapi ketika pemuda itu sampai diambang mulut guha segeralah terhenti, karena bau anyir dan busuk berhembus dari dalam guha kemudian matanya tertumbuk dengan suatu pemandangan yang sangat mengerikan.
Tulang kerangka manusia berserakan di tempat itu.
"Oh.... apakah tempat ini yang dinamakan lembah Si-kok ? (Lembah maut) diluar guha saja sudah begini banyak kerangka manusia, apalagi didalam guha"
Pikir Kiam Ciu dengan memandang sekeliling tempat itu. Sekilas terlihat banyak sekali ular-ular didalam guba itu. Maka Kiam Ciu lalu berpikir lagi. Ular-ular itu telah mendekati Kiam Ciu.
"Jika aku diserang oleh sekian banyaknya ular-ular berbisa ini aku dapat mati konyol ditempati ini"
Pikir Kiam Ciu dan menoleh kebelakang untuk mengambil langkah.
Tetapi ketika ular-ular itu bertambah dekat Kiam Ciu, dengan tiba-tiba mereka berhenti, kemudian beberapa ekor telah memutar kepala dan mengundurkan diri menjauhi Kiam Ciu.
Perbuatan itu disusul lagi oleh kawanan ular lainnya.
6 24 Kiam Ciu memandang kekaran kiri, dia merasa heran dan seolah-olah ada sesuatu yang menakutkan hingga membuat ular-ular itu lari terbirit-birit menjauhi Kiam Ciu.
Diantara ular-ular yang beraneka warna itu, terdapat juga seekor ular besar yang berwarna keemas-emasan kulitnya mengkilat.
Ular yang berwarna emas itu tidak mau lari jauh.
Dia hanya melingkar dan mengarahkan moncongnya kearah Kiam Ciu seolah-olah dia sedang siap siaga menghadapi serangan Tong Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu masih teeheran-heran menyaksikan kejadian itu.
Dia sama sekali tidak menduga bahwa karena ia telah memakan akar kering Lok-bwee kim-keng dan karena daya itu menyiarkan bau yang kurang disukai oleh kawanan ular-ular berbisa itu.
Ular emas itu masih tetap melingkar ditanah menantikan serangan Kiam Ciu.
Sedangkan Kiam Ciu sendiri masih memperhitungkan kalau tidak akan mampu untuk menghadapi sekian banyaknya ular-ular berbisa.
Walaupun sebagian besar dari kawanan ular itu telah lari menjauh.
Tetapi dia yakin kalau terjadi sesuatu ular-ular itu akan balik kembali dan mengeroyoknya.
Ketika Kiam Ciu dalam keadaan terheran dan menimbang-nimbag itu, tiba-tiba dikejutkan oleh suatu suara dari atas tebing.
Suara yang sangat aneh.
Dengan cepat Kiam Ciu meloncat kesamping tampaklah seoraag nenek merayap dari atas jurang menuju kelembah itu.
Nenek yang sudah sangat tua usianya itu menuruni tebing itu dengan sikap seperti seekor cicak.
Cepat sekali.
Begitu sampai di lembah Si-Kok, segeralah dia merangkak dengan cepat dan menyerang ular emas yang telah siap siaga itu.
Ketika merasakan dirinya diserang itu maka segeralah tersembur bisa ganas dari ular emas itu.
Tetapi nenek itu rupa-rupanya telah kebal terhadap segala macam bisa, Nenek itu meloncat dan menerkam kepala ular emas.
Kemudian ular itu menggeliat dan cengkeraman itu terlepas.
Nenek tadi meloncat kekiri dihantam oleh ular emas itu.
Tetapi hantaman itu tidak menemui sasaran karena nenek itu telah mendahului meloncat kesamping.
Dia berusaha untuk menerkam kepala ular emas itu.
6 25 Namun ular emas itu berusaha untuk menghindarkan diri dari cengkeraman nenek aneh itu.
Kepala ular emas itu terangkat dan terbuka lebar sedangkan dari mului yang berlidah bercabang itu tersembur hawa beracun.
Nenek aneh itu bukannya menghindar, malahan menyerang dan menerkam kepala ular besar itu.
Ular itu berusaha untuk melepaskan diri dari cwngkeraman lawannya.
Dengan dengusan hebat kemudian satu pukulan ekor yang keras itu telah melontarkan nenek aneh itu ke dinding guha.
Tetapi dengan cepat nenek itu memutar tubuh dan meloncat kembali, Menerkam kepala ular itu dan nenek itu menyemburkan asap hitam dari mulutnya kemoncong ular emas itu.
Seketika ular itu tidak berdaya, kemudian dihempaskan oleh nenek aneh itu, Tampak ular emas itu tak bertenaga lagi.
Ketika menyaksikan lawannya sudah tidak berdaya lagi, maka nenek itu segera merangkak kedinding jurang.
Memandang dengan puas dia tertawa cekikikan.
Seolah-olah dia merasa bangga dengan hasil kemenangannya itu.
Tong Kiam Ciu masih mematung saja dengan terpesona menyaksikan nenek yang aneh itu.
Pertempuran antara nenek aneh dan ular emas besar itu disaksikan oleh Tong Kiam Ciu dengan penuh ketakjuban.
Ternyata nenek aneh yang tampaknya tidak berguna dan sudah sangat tua itu mempunyai ilmu yang luar biasa.
"Hebat! Hebat sekali. Jika aku dapat menguasai ilmu yang dimiliki oleh nenek itu aku pasti dapat membinasakan iblis Kwi Ong"
Pikir Kiam Ciu dan matanya berseri-seri memandang nenek aneh itu.
Kemudian dia mengingat-ngingat jurus-jurus yang dimainkan oleh nenek itu ternyaia serupa benar dengan jurus-jurus Bo-kit-sin-kong.
Hanya bedanya kalau ilmu nenek itu dapat menyemburkan hawa beracun, tetapi ilmu Bo-kit-sin-kong dapat mengeluarkan tenaga gaib yang dapat menahan serangan beracun.
Dua kekuatan yang saling bertentangan.
Tanpa terasa Tong Kiam Ciu berseru ketika dia mengenangkan alangkah baikinya dan luar biasanya kedua ilmu itu bila digabungkan.
"Hemmm ............. jika nenek itu mau mengajarkan ilmunya kepadaku aku yakin kalau aku dapat membasmi para jago-jago silat yang tersesat"
Terluncur kata-kata itu dari mulut Kiam Ciu. Nenek aneh itu menegurnya dengan suaranya yang masih nyaring.
"Apa yang kau katakan tadi anak muda ?"
Seru nenek itu.
"Jika nenek sudi mengajarkan ilmu silat yang kau lancarkan untuk menyerang ular emas tadi, aku sangat berterima kasih !"
Sambung Kiam Ciu dengan hormat. Nenek itu menyegir ketika mendengar ucapan Kiam Ciu.
"Sebenarnya aku hidup di dunia ini sudah sangat lama. Bosan aku umurku sudah tak terbilang tahunnya lagi. Mungkin nenek moyangmu tidak akan tahu menghitung berapa umurku hee-hee-hee aku sebenarnya sangat doyan otak manusia. Tetapi sudah lama aku tidak makan otak manusia, karena ular-ular itu telah mendahului menyerang dan membunuh orang-orang yang tiba di lembah ini. Ular-ular itu dengan serakah telah menyantap daging dan otak manusia hingga tinggal tulang-tulang kerangkanya saja. Tetapi bagiku sama saja, didalam tubuh ular itu terdapat otak manusia juga, maka kumakan daging ular itu .......... hi-hi-hi hi."
Tong Kiam Ciu mendengar cerita nenek itn jadi terkejut dan terbelalak. Kemudian nenek itu sambil tertawa cekikikan.
"hee-he-he.be.-Rupa-rupanya kau juga takut mati ?! Kau takut kalau kuterkam hi...hi....hi..hi...hih. Aku tidak sembarangan makan manusia, Sebelum orang itu kumakan otaknya, dia kuberi kesempatan dulu untuk beberapa hari mengariku berbicara sopan. Kau jangan khawatir semua korbanku mati dengan perlahan dan tiada terasa lama sekali. Mula-mula dia akan merasa seperti mengantuk kemudian dia akan seperti tertidur yang sangat nyaman sekali"
Seru nenek aneh itu dengan tertawa seram.
"Kau dapat berbicara sesuka hatimu Tetapi kau telah banyak menjumpai banyak orang di lembah ini, tentunya kau telah banyak belajar dengan mereka, setidak-tidaknya kau telah mengenal sifat perkemanusiaan, Aku yakin bahwa semua orang pasti takut mati. Begitu juga aku. Tetapi yang paling kutakutkan 6 27 ialah mati sebelum aku dapat menunaikan tugas dan kewajibanku ... ."
Sambung Kiam Ciu.
"Jika kau mengenai bahwa kau akan banyak menemui halangan dan bahaya mengapa kau masih juga datang ke lembah Si-kok ?"
Seru nenek itu lagi dengan menuding kearah Kiam Ciu.
"Kun-si Mo-kun telah memberitahukan padaku, bahwa aku dapat belajar ilmu silat yang maha sakti dilembah Si-kok ini, kalau aku dapat mempelajari ilmu silat yang maha sakti itu, maka aku yakin bahwa aku dapat membasmi kejahatannya"
Seru Kiam Ciu sambil melirik kearah ular mas yang tidak bergerak-gerak lagi.
"Aku telah menyaksikan locianpwee menghadapi dan mengalahkan ular besar itu, maka aku berkeyakinan bahwa locianpweelah orangnya yang dapat mengajarkan ilmu silat sakti itu di lembah Si-Kok ini.!"
"Aku hanya mengusir ular itu. Sebentar lagi ular itu akan bangun dan segera akan menyingkir. Aku belu[WU1]m menggunakan ilmu menerkam yang sebenarnya sangat hebat. Aku dapat mengajarkan ilmu silat padamu anak muda. Tetapi dengan satu syarat yang harus kau penuhi ! Jika dapat memenuhi syarat itu, aku akan selalu membantumu untuk membinasakan musush-musuhmu!"
Seru nenek itu dengan suara nyaring mata berkilauan. Mendengar kata-kata nenek itu Kiam Ciu bergirang hati. Kemudian nenek itu meneruskan kata-katanya.
"Disuatu tempat tiada jauh dari sini sekira seratus langkah, kau akan menemukan sesuatu pengkolan pertama, kemudian kau akan menemukan dua buah patung dari batu. Dibawah salah satu patung besar yang terbuat dari baja itu kau akan menemukan sebuah kitab yang memuat catatan ilmu silat Pek-jit hui-sat (Sinar mataharl menyebabkan maut). Yang kulancarkan untuk menaklukan ular tadi ialah ilmu dari kitab itu, kalau ilmu itu dilancarkan dengan menggunakan pedang maka kehebatannya luar biasa !"
Nenek itu menghela napas dan berhenti sejenak.
Tong Kiam Ciu tidak mau mengganggu nenek itu.
Diam-diam dan telinganya mendengarkan kata-kata nenek itu dengan bersungguh-sungguh.
6 28 Kemudian nenek itu melanjutkan kata-katanya.
"Masih ada satu kitab lagi dengan cacatan ilmu silat Kai Thian Pik-tee (membuka langit membongkar bumi) jurus-jurusnya lebih mudah dilancarkan. tetapi kehebatannya seratus kali lebih hebat. Nah anak muda, sekarang kau kupersilahkan untuk pergi dan mencari kitab-kitab itu, nanti setelah lewat tiga hari aku akan menjumpaimu !"
Seru nenek itu sambil mengisyaratkan kepada Tong Kiam Ciu dengan tangannya.
Kemudian nenek Itu memutar tubuhnya dan merayap naik ke tebing jurang bagaikan cicak.
Tong Kiam Ciu memandang kearah nenek itu dengan rasa kagum.
Kemudian dia memasukkan pedang Kim-kong-sai-giok-kiam kedalam sarangnya.
Lalu pemuda itu memutar tubuh melangkah menuju kearah kedua patung itu terletak.
Tong Kiam Ciu berjalan menurut petunjuk nenek aneh itu.
Setelah mendapat seratus langkah maka dia sampai disuatu pengkolan.
Kemudian tampak semak belukar yang sangat tinggi dan lebat sekali.
Diamatinya tempat itu dan dicarinya dua buah patung batu.
Ketika ditemukan patung-patung yang besar itu, hatinya menjadi sangat girang.
Dipandanginya patung-patung itu.
Akhirnya dia telah menentukan salah satu patung itu yang di bawahnya dijadikan tempat untuk menyimpan kitab pusaka ilmu silat seperti petunjuk nenek aneh.
Dicabutnya pedang Kim-kong-sai-giok kiam untuk menggali tanah dibawah patung itu.
Dengan harapan penuh pemuda itu ingin mendapatkan kedua kitab pusaka iimu silat.
Sepanjang hari Kiam Ciu menggali tanah dan batu dibawah patung besar hingga patung itu menjadi doyong.
Namun ternyata kitab-kitab seperti dikatakan oleh nenek jiu tiada diketemukan.
Kemudian patung itu tiada dapat berdiri lagi karena bagian bawahnya telah digali hingga menjadi roboh.
Untung Kiam Ciu tidak tertimpa dan pemuda iyu dengan tangkas meloncat menghindar.
Dengan tubuh berkeringat sepanjang hari dan sepanjang malam pemuda itu telah menggali.
Namun belum menemukan barang yang dicari-carinya.
6 29 Dipandanginya lobang besar itu.
Kemudian memandang kearah patung yang telah roboh dan patah kepalanya itu.
Sambil mengibaskan pakaiannya yang kotor Tong Kiam Ciu mendengus kesal.
Dicobanya untuk menggali bawah patung yang satunya lagi.
Seperti juga penggalian pada dasar patung yang pertama.
Sepanjang hari dan sepanjang malam hingga pemuda itu tidak teringat untuk makan dan minum karena pikirannya hanya memikirkan kedua buah kitab pusaka itu saja.
Tahu-tahu Tong Kiam Ciu telah berada ditempai itu tanpa makan minum selama dua hari dua malam.
Tiap menggali yang ditemukannya hanyalah batu-batu dan tanah saja.
Sedangkan benda-benda yang dituturkan oleh nenek aneh itu tidak ada.
Hanya sekali-sekali jika merasa letih dia istirahat dan berpikir.
Kemudian merasa cemas.
"Hey ....dua hari telah lewat! Tetapi aku belum berhasil menemukan kitab itu. Celaka... ."
Tong Kiam Ciu berbicara dengan dirinya sendiri.
Kemudian menggali lagi.
Hari yang ketiga telah tiba.
Tetapi Kiam Ciu belum menemukan kitab itu.
Namun semangat pemuda itu masih tetap ada dan terus menggali dan hanya kadang-kadang saja dia beristirahat sambil menyeka keringat didahinya.
Tiba-tiba ketika Kiam Ciu mengangkat mukanya dan menghapus keringat didahinya dia melihat nenek yang aneh itu datang.
"Hay, kau betul-betul seorang pemuda yang tolol. Hari ini adalah hari yang ketiga. Kalau kau tidak dapat menemukan kitab itu mengapa kau tidak lari saja meninggalkan tempat ini. Kau akan kubunuh karena pada hari yang ketiga ini kau belum menemutan kitab itu"
Seru nenek itu dengan suara nyaring dan mengejek.
"Bagiku mati atau hidup itu tidak menjadi soal. kupandang kematian itu sebagai hal yang remeh saja !"
Setu Kiam Ciu dengan tenang dan menghentikan penggaliannya.
"Aku memberikan satu kesempatan lagi kepadamu, kuberi waktu satu tahun. Ini aku membawakan makanan untukmu. sudah hampir riga hari tiga malam 6 30 kau tidak makan. Makanlah !"
Seru nenek itu dengan nada tenang seolah-olah tidak berperasaan. Tong Kiam Clu menerima makanan itu. Memberi hormat dan rasa terima kasih, kemudian dengan lahapnya dia menghabiskan makanan itu.
"Selelah kenyang dan sekiranya diijinkan, aku akan segera berlalu dari lembah ini, Nanti setelah lewat satu tahun aku akan kembali lagi dilembah ini"
Seru KIam Ciu sehabis makan dan berdiri menghormat nenek itu.
"Ya, baiklah kau sekarang dapat berlalu dari lembab ini !"
Seru nenek Itu.
Kiam Ciu telah berlalu, Nenek itu memandang kearah punggung Kiam Ciu yang semakim menjauh itu.
Tampaklah nenek aneh itu menggeleng-gelengkan kepalanya, suatu keanehan terbersit dimata nenek itu.
Dengan mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong serta pengaruh akar Lok-bwee-kim-keng, maka Kiam Ciu dapat menempuh lembah dan memasuki gua maut itu dengan selamat.
Walaupun sepanjang jalan sering dia bertemu dengan ular ular besar dan berbisa ganas.
Tetapi Kiam Ciu Tidak mendapat cidera apa-apa, Bahkan ular-ular itu banyak yang menjauhinya, Sambil mengerahkan ilmu Gin kang serta berlari cepat, Kiam Ciu telah keluar dari lembah Si-kok dan memanjat tebing puncak Hiong-lu-hong.
Kemudian dengan cepat pula telah menjauhi pegunungan Bu-kong.
Selama dalam perjalanan menjauhi pegunungan Bu-kong-san itu.
Kiam Ciu sedang membuat rencana.
Mana urusan yang harus diutamakan terlebih dahulu.
Dia harus menebus sakit hati ayahnya, merebut pedang , menumpas Kwi Ong yang telah membunuh Gin Ciu, kemudian untuk mencari kitab pusaka Pek-seng.
Urusan perjodohan adiknya Tong Bwee dan mengemban semua amanah guru-gurunya.
Setelah itu barulah dia menemukan jalan yang harus ditempuh terlebih dahulu ialah Mencari Git Siocia atau si Nyonya besar berkereta itu yang telah membawa pedang .
Dia harus merebutnya kembali, barulah kemudian mencari kitab pusaka ilmu silat Peng-seng di kota Pek seng.
6 31 Karena seharian dia telah berjalan maka untuk sesaat Kiam Ciu bermaksud istirahat.
Ketika melihat sebatang pohon yang rindang, Maka, dia ingin sekali istirahat dibawah pohon itu.
Sambil bersandar pada batang pohon dipinggir jalanan itu.
Dia teringat peta Pek seng Kiam Ciu lalu mengeluarkan peta itu dan diamatinya kertas itu.
Tetapi dia tidak melihat suatu gambaran.
Akhirnya diingat pesan Kwa Si Lokoay bahwa untuk melihat gambar peta Pek-seng itu harus berada ditempat yang gelap.
Maka peta itu lalu dilipat kembali dan dimasukkan kedaiam saku jubahnya.
Tiba-tiba dia teringat kembali kepada nenek Shin Kai Lolo.
Dia akan mencari dulu nenek itu.
Ternyata nenek aneh itu mempunyai hati mulia juga.
Beberapa kali telah menolong dirinya begitu juga muridnya seorang pemuda yang berambut panjang terurai itu tidak kurang anehnya dari Shin-Kai Lolo itu sendiri.
Ketika Kiam Ciu sedang mengenangkan peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya tiba-tiba matanya meuangkap sebuah bayangan berkelebat mendekatinya.
Kiam Ciu segera meloncat berdiri.
Tahu-tahu didepannya telah berdiri seorang pemuda yang masih sangat muda belia.
"Siapa kau ?"
Seru Kiam Ciu sambil bersikap waspada.
"Maaf kalau aku mengganggumu. Namaku Ceng Yun Leng. Aku telah mencari seseorang disegenap penjuru. Tetapi hingga kini belum berhasil kujumpai. Orang itu ialah seorang gadis jelita, dialah tunanganku. Kami telah bertengkar dan salah paham, hingga tunanganku itu meninggalkan aku hingga kini kucari-cari belum ketemu, Akhirnya aku mendengar kabar berita bahwa seorang pendekar yang masih sangat muda telah menyimpan gambar itu, apakah Thaihiap ini telah melibat gambar yang kami maksudkan ? Karena menurut ciri-cirinya yang kuterima bahwa pendekar muda yang selalu membawa pedang dipunggungnya itu persis seperti anda. Kalau aku membuat kekeliruan maka sudilah memaafkan!"
Seru Ceng Yun Leng sambil menghormat. Tong Kiam Ciu tersenyum mendengar penuturan itu. Dia memandang pemuda itu dengan pandangan menyelidik.
"Memang sekali aku pernah ditimpuk dengan kertas lipatan oleh seorang pemuda yang berambut panjang dan aneh itu ternyata adalah muridnya Shin 6 32 Kai Lolo. Aku belum tahu sebenarnya siapa pemuda aneh itu ... ?"
Seru Kiam Ciu. Tampaklah perubahan wajah pemuda yang baru datang itu ketika mendengarkan kata-kata Kiam Ciu tadi. Dengan nada kegirangan pemuda itu menyahut kata-kata Kiam Ciu. (Bersambung
Jilid 7) 7 0 7 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 7 EMUDA yang rambutnya selalu terurai itu sebenarnya adalah seorang gadis dan dia itu lah tunanganku.
Dia sengaja menyamar sebagai seorang pemuda dengan maksud untuk mengelabui saya.
Dia selalu menjauhi diriku.
Telah setengah tahun ini aku mencari kemana-mana tetapi tidak kujumpai, Dikalangan Kang-ouw dia terkenal dengan geJar Sio Bie Hu, Apakah Thaihiap dapat menunjukkan kepadaku jejak tunanganku itu ?"
Seru Ceng Yun Leng dengan penuh harapan.
Tong Kiam Ciu berpikir sejenak, kemudian mengerutkan kening dan mengatupkan bibirnya "Menyesal sekali aku tidak dapat memberikan petunjuk itu kepadamu.
Karena aku bertemu dengan dia hanya dua kali.
Itupun dari jarak jauh ..."
Jawab Tong Kiam Ciu menegaskan.
Tong Kiam Ciu tidak dapat melanjutkan kata-katanya itu, karena terasa bembusan angin berhawa harum.
Ketika itu tampaklah seorang gadis telah berdiri didekat Tong Kiam Ciu.
Hampir terpekik Tong Kiam Ciu ketika menyaksikan gadis yang baru datang.
Karena gadis ttu tiada lain ialah Tong Bwee.
Betapa girang hatinya ketika menyaksikan kedatangan adiknya itu, maka segeralah dia menghampiri dan lupa kalau Tong Bwee bukan adiknya yang sesungguhnya.
Kiam Cu menubruk dan memeluk gadis itu.
Ji Tong Bwee membersit merah wajahnya.
Karena galis itu menyadari kalau Kiam Ciu itu bukanlah kakaknya yang sebenarnya.
Maka agak tersipu gadis itu karena ditempat itu ada orang lain ialah Ceng Yun Leng.
Kiam Ciu didorongnya dan sambil tersenyum gadis itu mengisyaratkan bahwa ditempat itu ada orang lain.
P 7 2 Barulah Kiam Ciu menyadari perbuatannya itu.
Dia sendiri merasa malu berpaling ke arah Ceng Yun Leog.
Tetapi pemuda itu tersenyum dan berpaling kearah lain.
"Oh maaf saudara Yun Leng. Kami lama tidak bertemu semenjak masih kanak-kanak"
Seru Kiam Ciu sambil memperbaiki kekikukannya.
"Sudah lumrah, dua orang yang saling mengasihi"
Sambung Yun Leng.
"Adik kecil ... oh adik Tong Bwee, mengapa kau dapat berada disini ? Apakah ayah dan ibu ... ?"
Seru dan tegur Kiam Ciu bertubi-tubi tetapi akhirnya terbungkam ketika menyaksikan gadis yang jelita itu hanya tersenyum tetapi terurai air matanya?.
Setelah menahan uraian air mata gadis yang bermata lebar dan berpipi merah jambu itu menuturkan kata-kata dengan nada sedih.
"Twa-supek sudah meninggal dunia"
"Hah ?!"
Seru Kiam Ciu setengah menjerit kaget.
"Sejak kau pergi dulu. Twa-supek lalu jatuh sakit. Karena luka dalam yang dideritanya. Penderitaannya terlalu berat, segala usaba tidak dapat untuk menyembuhkan sakitnya. Dua tahun dia menderita. Sebenarnya ayah dan ibu mengusulkan untuk memanggil kau pulang tetapi Twa-supek tidak setuju. Sepanjang hari dan sepanjaog waktu Twa-supek selalu mengingat-ngingat kau sebelum menghembuskan napas yang terakhir, menanti-nanti agar kau selalu menjalankan perintah dan amanatnya. Ketika Twa-supek telah dipanggil kejalan Giam-lo-ong maka aku minta ijin kepada ayah dan ibu untuk menyusulmu, setengah tahun aku mengembara untuk mencari jejakmu. Akhirnya aku mendengar kabar bahwa kau telah berhasil dalam pertemuan Bu-lim dalam pesta Bu-lim-tahwee. Kau terkenal dengan gelar Giok-ciang-cui-kiam..."
Seru Ji Tong Bwee sambil tersendat-sendat kata-katanya karena menahan isakan.
Air mata gadis itu masih meleleh kepipinya, air mata keharuan.
Mereka dapat dipertemukan dalam suasana tenang.
Kiam Ciu dan Tong Bwee merasa syukur kepada Thian karena pertemuan itu.
Tong Kiam Ciu mendengar kisah penuturan Ji Tong Bwee itu dengan seksama dan dengan hati penuh kedukaan.
7 3 Karena dia sudah tidak mungkin untuk bertemu lagi kepada suhunya Pek-hi-siu-si yang telah mengasuh dengan penuh kasih sayang dan memanjakannya.
Budi lubur kakek budiman itu tak akan terlupakan sepanjang hayatnya.
Namun kini kakek budiman telah pergi ke Giam-lo-ong.
Tinggalah dia harus memenuhi segala bimbingan dan serta pesan-pesannya saja.
Maka kini Kiam Ciu bertekad untuk mengamalkan segala kebaikan dan menindas kejahatan seperti pesan suhunya almarhum.
Ceng Yun Leng ketika itu hanya terdiam dan menundukkan kepala.
Jadinya serba kikuk perasaan pemuda itu, Akan menyaru mengundurkan diri dia tidak sampai hati untuk memotong pembicaraan kedua insan yang rupa-rupanya telah lama berpisah itu, Begitu pula mau tak mau dia telah mendengarkan kisah sedih itu.
Hatinyapun ikut berduka.
Ceng Yun Leng menyaksikan keadaan itu jadinya serba salah.
Maka ketika suasana sudah tampak tenang dia baru mulai berbicara.
"Tong Siawhiap. aku tidak akan mengganggu lagi. Idzinkanlah aku minta diri. Aku yakin bahwa kita kelak akan bertemu lagi"
Seru Yun Leng dengan sopan dan membungkuk hormat.
Ketika pemuda itu memutar tubuh dan akan berlalu, tiba-tiba matanya menyaksikan serombongan orang bersenjata lengkap mendatangi tempat itu.
Yun Leng menahan niatnya dan berbalik melihat kearah Tong Kiam Ciu kemudian melihat kembali kearah orang-orang yang semakin dekat itu.
Ketika rombongan itu bertambah dekat, Tong Kiam Ciu menarik napas panjang dan tersenyum.
Begitu juga Yun Leng menjadi terheran-heran tampak ia kerutkan keningnya.
Ternyata rombongan itu adalah rombongan orang-orang dari partai persilatan Kim-san yang dipimpin oleh seorang gadis cantik.
Dengan satu isyarat orang-orang yang bersenjata tombak dan pedang itu segera mengurung ketiga orang itu.
Tong Kiam Ciu terheran-heran menyaksikan sikap itu.
Dia masih teringat beberapa hari yang lampau pernah berhasil dan merobek kedok kulit sinja yang dipakai gadis itu.
"Suheng ! Kebetulan kau ada disini. kau dapat membantuku memberi hajaran orang she Tong ini !"
Seru gadis itu kepada Yun Leng.
"Sumoi tunggu dulu! Apakah artinya ini?"
Seru Ceng Yun Leng sambil mengangkat kedua belah tangannya dengan sikap tak mengerti.
Ternyata Ceng Yun Leng adalah saudara sepergutuan dengan gadis itu.
Hanya saja gadis itu memang bersikap angin-anginan dan terlalu dimanja, sehingga tiada seorangpun yang ditakutinya kecuali ayahnya.
Dia telah membawa orang-orang dari partai Kim-sai untuk mengepung dan memberi hajaran kepada Tong Kiam Ciu.
Semuanya itu tidak dipahami oleh Yun Leng.
"Suheng ! Kau tak usah banyak berbicara dan beralasan ! Ayo kau bantu aku untuk memberi hajaran kepada orang she Tong itu, Dia adalah Tong Kiam Ciu pemegang pedang !"
Seru gadis itu dengan nada keras dan lantang.
Ceng Yu Leng menjadi serba salah dan bingung menghadapi adik seperguruannya itu.
Karena dia tidak mengetahul latar belakang yang sebenarnya dalam kejadian itu.
Dia yakin bukan karena pedang yang terang sudah resmi menjadi haknya Tong Kiam Ciu setelah diperebutkan dalam pertemuan Bu-lim-ta-hwee.
Ketika gadis itu memperhatikan suhengnya tidak beraksi mendengar penuturan bujukannya itu, maka dia yakin bahwa suhengnya tidak mau membantu untuk menghajar Tong Kiam Ciu.
Maka segeralah dia memberikan aba-aba kepada para pengikutnya untuk menyerang Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu memperhatikan keadaan itu sejak kedatangan orang-orang Kim-sai dan mengepungnya tadi.
Setelah menginsyapi bahwa bakal terjadi sesuatu perkelahian yang tiada ujung pangkalnya.
Maka dengan mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong dia berseru.
"Tahan !"
Seru Kiam Ciu dilambari dengan Bo-kit-sin-kong, Suara bentaran Kiam Ciu itu berhasil membuat ngeri orang-orang dari partai Kim-sai.
Mereka menahan diri.
Kemudian terdengar Kiam Ciu berseru lantang 7 5 memperlihatkan nada amarahnya diarahkan kepada gadis itu sambil menudingkan jari telunjuk tangan kanan.
"Siocia sudah dua kali mengganggu dan merintangiku ! Kali ini lagi ! Dengan tanpa sebab siocia hendak menyerangku, apakah salahku ?. Jika siocia dapat menunjukkan kesalahanku dan ternyata kesalahanku itu terbukti, aku rela dihajar. Aku tidak akan melawan !"
Seru Kiam Ciu dengan berakhir membuka kedua belah tangannya. Gadis yang manja dan angin-anginan itu menjawab seenaknya.
"Tentu saja ada sebabnya I"
Seru gadis itu seenaknya.
Dengan berakhirnya kata-kata itu dia telah meloncat menyerang Kiam Ciu.
Sambil memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk menyerang.
Namun Kiam Ciu waspada dan menggeserkan kaki kanannya kesampiig.
Ternyata serangan gadis itu dapat dielakan.
"Jika siocia hendak menyerangku, aku terpaksa untuk melayaninya !"
Seru Kiam Ciu dengan nada bersungguh-sungguh.
"Siapa takut dengan kamu ?!"
Seru gadis itu dan balik memutar tubuh.
Kembali menyerang dengan serangan yang lebih hebat lagi.
Namun Kiam Ciu sekali lagi berhasil menghindari serangan lawan.
Gadis itu merasa heran karena serangan-serangannya sama sekali tidak berhasil bahkan dapat dihindari dengan mudah, padahal dia menyerang dengan tiba-tiba.
Yang paling menjengkelkan pula ialah ketika menyaksikan orang-orangnya.
Orang-orang partai Kim-sai yang sedianya dibawa untuk mengerubut Kiam Ciu itu ternyata hanya diam saja menonton.
Karena sudah merasa kepalang tanggung dan malu untuk mundur.
Maka dengan meningkatkan ilmunya dia telah memasang kuda-kuda dan sedia tangannya membentuk seperti cakaran setelah memiringkan tubuh dan agak merandek dengan diaertai jeritan gadis itu melonpat menerkam lawan.
Namun Kiam Ciu tampak tenang saja dan meloncat kesimping.
Gadis itu menerkam angin dan terhuyung kedepan kemudian jungkir balik.
Meloncat berdiri kemudian memutar tubuh dan dengan mata berjaga-jaga meloncat menerkam punggung Kiam Ciu.
7 6 Tetapi dalam keadaan itu tiba-tiba orang-orang Kim-sai tampak berlutut, Di tempat itu tampak seorang kakek berjubah putih dan seluruh rambutnya sudah berwarna putih dan digelung diatas kepala.
Kakek itu menyaksikan beberapa orang Kim-sai kemudian memandang kearah kedua orang yang sedang bertempur itu.
"Oh, luar biasa kakek itu wibawanya. Siapakah sebenarnya"
Pikir Kiam Ciu ketika menyaksikan kakek itu yang telah berada ditempat itu dengan tiba-tiba dan mempunyai pandangan mata yang memukau.
Gadis yang menyerang Kiam Ciu menahan serangannya, sedangkan Yun Leng yang sejak tadi menyaksikan pertempuran itu juga telah berlutut.
Ji Tong Bwee juga merasa heran menyaksikan kakek itu, juga menyaksikan orang-orang Kim-sai dengan tiba-tiba telah berlutut.
Begitu pula gadis yang angin-anginan itu tampak menahan serangan dan keningnya berkerut.
"Kalian terlalu lancang semua ! Kalian mengaku orang dari partai Kim-sai ! Tetapi kalian telah melupakan peraturan partai Kim-sai !"
Seru kakek itu dengan suara lantang dan nyaring.
Kemudian suasana menjadi sepi sesaat.
Hanya terdengar kesiur angin menghembus dedaunan dalam hutan itu.
Kakek itu ganti menatap kearah gadis tadi yang menyerang Kiam Ciu detigan sinar mata tajam.
"Li Kun ! Kau bertindak terlalu sembrono dan melanggar pesanku !"
Seru kakek itu kepada gadis yang menyerang Kiam Ciu yang ternyata bernama Li Kun itu.
"Ayah ....."
Seru Lio Kun sambil berlutut dan menjura kepada kakek itu yang ternyata adalah ayahnya.
Ialah ketua partai Kim-sai.
Tetapi kakek itu tidak memperhatikan puterinya.
Bahkan mendekati Kiam Ciu dan menegurnya dengan suara ramah.
"Siauwhiap, siapakah namamu ?"
Seru kakek itu.
"Aku Tong Kiam Ciu"
Seru Kiam Ciu sambll menghormat dan menjawab dengan suara sopan. 7 7
"Tong Kiam Ciu ? Oh. kalau tidak berkeberatan aku ingin tahu siapakah suhumu ?"
Sambung kakek itu dengan suara ramah dan wajah cerah.
"Aku adalah asuhan suhu Pek-hi-siu-si"
Jawab Kiam Ciu pula.
"Oh ....... ."
Kini kakek itu tampak terperanjat.
"Mengapa locianpwee ?"
Seru Kiam Ciu heran menyaksikan sikap kakek itu yang tampak pucat wajahnya dengan tiba-tiba.
"Namaku Kuk Kiat. Aku sudah puluhan tahun mengasingkan diri. Apakah suhumu tidak pernah menceritakan tentang diriku dan pariai Kim-sai kepadamu Tong Siauwhiap ?"
Sambung kakek itu sambil mengusap wajahnya.
"Tidak, Suhu belum pernah menceritakan tentang diri locianpwee dan partai Kim-sai bahkan aku menjadi sangat heran dan tidak mengerti urusan ini. Mengapa putrimu selalu mengganggu dan menghalang-halangiku samoai tiga kali ini. Apakah kesalahanku dan ada urusan apa diantara diriku dan partai Kim-sai.."
Seru Kiam Ciu menjelaskan dan menyampaikan rasa tidak tahunya itu kepada Kuk Kiat agar semua urusan menjadi terang.
"Oh, Pek-hi-siu-si. Aku merasa malu sekali karena perbuatan anakku,"
Sambung kakek itu dengan nada rawan.
Sesaat suasana menjadi tenang.
Semua diam, orang-orang dari partai Kim-sai menunduk memandang tanah.
Mereka tidak ada yang berani mengangkat wajahnya, apa lagi memandang kearah Kuk Kiat.
"Suhu memang belum pernah bercerita tentang diri Locianpwee, sedangkan partai silat Kim-sai aku belum pernah mendengar namanya"
Tiba-tiba Kiam Ciu memecahkan keheningan itu. Kemudian terdengar kakek itu tertawa gelak gelak.
"Pek-hi-siu-si benar-benar adalah seorang yang jujur dan luhur budinya. Dikalangan Kang-ouw orang harus menjunjung tinggi kejujuran dan kepercayaan orang lain. Pek-hi-siu-si adalah seorang budiman Suhumu tidak memberitahukan tentang diriku dan partai Kim-sai karena satu perkataan. Akupun telah meninggalkan kalangan Kang-ouw dan meninggalkan keluarga tinggal disuatu tempat terpencil dipegunungan Tai-pie-san selama sepuluh 7 8 tahun, juga karena satu perkataan !"
Seru kakek itu dengan wajah cerah dan mata bersinar bening kearah Kiam Ciu.
Sesaat suasana kembali lengang.
Semua yang berada ditempai itu harap cemas.
Mereka merasa telah melanggar pesan suhunya.
Serta mereka telah melanggar peraturan partai Kim-sai.
Kemudian kakek itu berpaling kearah puterinya seraya berseru.
"Li Kun, kau telah lancang dan tanpa menyelidiki terlebih dahulu, kau telah menyerang seseorang yang tidak bersalih ! Sehingga aku kehilangan muka untuk menjumpai Pek-hi-siu-si"
Tong Kiam Ciu tidak mengerti maksud kakek itu.
Dia merasa bahwa itu bukanlah urusannya.
Karena kata-katanya itu ditujukan kepada puterinya maka Kiam Ciu hany diam dan mendengarkan pula kata-kata yang diucapkan oleh kakek itu.
Kemudian tampaklah kakek itu mengelus jenggotnya yang tekah memutih dan panjang.
"Sebelum aku pergi menuju ke Tai-pie-san aku telah berpesan kepadamu Li Kun dan kepada kalian untuk mematuhi sejala peraturan partai Kim-sai serta menjunjung nama baik kita. Bagi yang telah melanggar harus rela menerima hukuman partai"
Sambung kakek itu dengan suara tenang sambil menatap Li Kun yang menunduk dan orang-orang ya.ng berlutut didepannya.
Orang-orang partai Kim-sai yang telah merasa melanggar peraturan partai itu menyahut serentak seperti mendapat aba-aba "Aku merasa bersalah dan rela menerima hukuman partai!"
Seru beberapa orang serentak.
Hingga suara itu mengatasi suara desir angin dan desauan daun-daun liu yang ditiup angin kencang saat itu.
Belum lagi orang-orang itu melanjutkan kata-katanya, kakek berjanggut panjang dan putih itu membentak.
"Dengar baik-baik perkataanku !"
Kemudian diam lagi dan tampak dia memandang ke langit, setelah menghela napas dia berseru lagi. 7 9
"Sebelum aku menghukum kalian, aku harus menjumpai Pek-hi-siu-si terlebih dahulu. Mungkin kalian belum mengetahui tentang persoalanku dan hubunganku dengan pendekar budiman itu? Mungkin kalian ingin mendengarnya dan juga Tong Siauwhiap ingin mendengar kisahnya ?"
Kakek itu terhenti lagi dan mengamati orang-orang yang berada di tempai itu.
Apa yang diucapkan oleh kakek itu sangat menarik bagi Tong Kiam Ciu.
Dia merasa ingin mengetahui kisah hubungan antara suhunya dengan ketua partai Kim-sai sehingga ketua partai itu rela mengasingkan diri ke gunungan terpencil dan sepi.
Serta kelihatan sangat menghargai suhunya itu.
Juga gadis yang manja Kuk Li Kun itupun ingin mendengar kisah dan latar belakang pengasingan ayahnya.
Sekitar tiga puluhan tahun yang silam.
Partai silat Kim-sai telah diwariskan kepada Kuk Kiak.
Dia telah menerima kepercayaan untuk memimpin partai silat itu dengan sepenuh hati.
Kuk Kiak ternyata adalah seoraog yang berjiwa ulet dan disiplin.
Dengan bantuan kawan-kawan serta saudara seperguruan dia berhasil membina partai silat Kim-sai menjadi partai sitat yang besar dan kuat.
Bahkan boleh dikatakan partai Kim-sai adalah partai silat yang terkuat di kalangan Kang ouw.
Pada suatu hari, dikalangan Kang-ouw muncul seseorang yang berkepandaian tinggi, yang kemudian terkenal dengan julukan Pek-hi-siu-si.
Semua tokoh membicarakannya.
Pada pertemuan Bu-lim-ta-hwee yang diselenggarakan sepuluh tahun sekali, dimana para jago silat mengadu kepandaian memperebutkan pedang Oey Liong Kiam.
Pada saat itu muncul pula Pek-hi-siu-si.
Dengan mengandalkan ilmu pedang Lik-siang-kiam-hoat (ilmu pedang berobah-robah corak) serta ilmu Bo-kit-sin-kong, Pek-hi-siu-si berhasil keluar sebagai juara dan merebut pedang Oey-liong-kiam.
Dua puluh tahun berturut-turut pedang 0ey Liong Kiam berhasil dipertahankan oleh Pek-hi-siu-si.
Sehingga namanya bertambah harum dan disanjung-sanjung orang.
7 10 Sejak munculnya Pek-hi-siu-si sebagai pemegang pedang itu.
Mendadak pamor partai silat Kim-sai merosot.
Kuk Kiat menjadi sangat iri melihat Pek-hi-siu-si seorang diri sanggup mengalahkan jago-jago silat.
Dengan diam-diam Kuk Kiat menemui Pek-hi-siu-si dan menantang untuk mengadu kepandaian ditempai yang terpencil, Tantangan itu diterima oleh Pek-hi-siu-si.
Hari yang ditentukan telah tiba.
Dua orang yang akan saling berhadapan dan mengadu kepandaian ilmu serta ketangkasan kini telah bertemu di tempat yang terpencil.
Tempat yang mereka tentukan sebelumnya.
Sebelum dimulai tampak Pek-hi-siu-si tersenyum memandang kepada Kuk Kiat serta berseru.
"Seseorang yang menginginkan menjadi jago silat yang terkalahkan selain ilmunya harus tinggi, juga harus mempunyai kesempurnaan budi yang luhur dan kemurahan hati"
Seru Pek-hi-siu-si dengan suara tenang dan berwibawa.
Sebenarnya Kuk Kiat telah dapat mengukur kepandaian Pek-hi-siu-si dalam pertemuan itu.
Teiapi karena dia berhati keras dan sombong maka perasaan itu disingkirkannya dan dia bertekad untuk mengalahkan Pek-hi-siu-si.
Pertempuran itu segera berjalan.
Ternyata Kuk Kiat dapat dikalahkan oleh Pek-hi-siu-si.
Namun dengan baik hati dan berwibawa sekali kakek itu telah memberikan kesempatan kepada Kuk Kiat.
Terserah untuk mematuhi perjanjian sabagai syarat sebelum pertempuran adu kepandaian itu dijalankan, pokoknya Pek-hi-siu-si tidak ambil peduli.
Pek-hi-siu-si segera berlalu.
Sebagai syarat yang telah mereka persetujui ialah barang siapa yang kalah harus menyingkir dari dunia Kang-ouw dan tinggal di suatu tempat yang terpencll.
Ternyata saat itu yang kalah ialah Kuk Kiat.
Karena kemurahan hati serta keluhuran budi Pek-hi-siu-si dia merasa sangat malu sekali.
Orang yang semula sangat congkak itu ternyata dapat mematuhi perjanjian dan dengan ikhlas meninggalkan segala kemewahan dan kebahagiaan, Kuk Kiat harus pergi meninggalkaa partai Kim-sai dan dia harus mengasingkan diri di tempat yang terpencil.
7 11 Lalu dipanggilnya menghadap puteri tunggalnya itu.
Untuk menerima pelimpahan pimpinan partai silat Kim-sai.
Dipesankan kepada Kuk Li Kun agar dia mematuhi peraturan dan menjunjung nama baik partainya.
Jangan menyerang orang yang tidak bersalah begitu pula dilarang mencampuri urusan orang atau partai lain.
Te rnyata Kuk Li Kun telah melanggar semua perintah ayahnya.
Dia telah dua kali akan membinasakan Kiam Ciu, begitu pula hari itu akan berusaha membinasakan Kiam Ciu pula.
Kuk Li Kun telah menyeret orang-orangnya dalam peristiwa itu.
Dia telah mengajak orang-orangnya untuk menyerang Tong Kiam Ciu.
Semuanya itu dapat dipahami, karena gadis yang belum memahami hal-hal yang sebenarnya terjadi antara ayahnya dengan Pek-hi-siu-si itu telah menganggap bahwa Pek-hi-siu-si adalah orang yang menyebabkan dia harus berpisah dengan ayahnya.
Maka dia mempunyai rasa dendam kepada siapa saja yang mengaku ada hubungan dengan Pek-hi-siu-si.
Sedangkan Tong Kiam Ciu yang membawa pedang , sudah terang adalah murid Pek-hi-siu-si ketika pertemuannya pertama dulu maka gadis itu menganggap Kiam Ciu itupun termasuk musuhnya.
Untung hal itu belum berlarut-larut lebih jauh sehingga menimbulkan pertumpahan darah.
Kuk Kiat telah mendengar berita itu.
Maka segeralah kakek itu turun gunung untuk mencari puterinya dan menyelesaikan kesalahan itu.
Lagi pula dia harus menghukum puterinya menurut hukum partai silat Kim-sai karena melanggar peraturan Kuk Li Kun dipersalahkan menyerang orang tanpa kesalahan.
Setelah mendengar kata-kata kakek itu yang akan menjatuhkan hukuman kepada puterinya dan orang orang Kim-sai dengan hukuman yang amat berat.
Kiam Ciu melangkah kedepan dan memberi hormat.
"Locianpwee, aku anak muda yang bodoh ini menghargai kebijaksanaan serta keluhuran budi locianpwee. Setelah aku mendengar penuturan locianpwee tadi, maka kini aku dapat menarik kesimpulan mengapa orang-orang partai silat Kim-sai dan puterimu selalu berusaha menyerang diriku. Maka setelah itu aku 7 12 memohonkan kepada locianpwee untuk mempertimbangkan hukuman itu"
Seru Kiain Ciu dengan hormat. Tetapi Kuk Kiat terperanjat mendengar seruan dan penuturan Kiam Ciu itu, Dengan dahi berkerut dan mata melotot dia membentak.
"Tong Siauwhiap ! Ini adalah urusan partai silatku, kau tidak berhak turut campur tangan dalam urusan ini ! Dikalangan kang-ouw orang harus memegang janji. Orang-orangku telah melanggar peraturan partai, mereka harus menerima hukuman karena pelanggarannya itu !"
Mendengar dirinya dibentak itu Tong Kiam Ciu dapat menekan kesabarannya, kemudian dia menghormat lagi kearah Kuk Kiat serta berseru.
"Locianpwee maafkan aku anak muda yang bodoh ini ! Locianpwee sebagai ketua partai Kim-sai, sudah selayaknya berhak atas segala orang-orang Kim-sai tanpa ada orang luar dapat turut campur tangan. Tetapi aku Tong Kiam Ciu memberitahukan kepada locianpwee sukalah kiranya untuk mengurus segala sesuatunya itu dengan kebijaksanaan. Orang-orangmu bertindak demi tegaknya partai Kim-sai. Dia telah menyerangku karena mereka tahu bahwa saya ini murid Pek-hi-siu-si, kalau seandainya Pek-hi-siu-si dapat terbunuh bukankah kau dapat bebas dari pengasingan ? Maka disitulah yang kumaksudkan dengan kebikjaksanaan. Kuk Socia menyerangku demi untuk menolong membebaskan ayahnya dari pengasingan", seru Kiam Ciu yang mengharap agar hati Kuk Kiat menjadi lunak dan membatalkan hukumannya terhadap orang-orang Kim-sai. Apa yang dikatakan oleh Tong Kiam Ciu itu adalah suatu alasan untuk membebaskan Kuk Li Kun dan orang-orang Kim-sai dari hukuman partai. Diam-diam mereka telah memuji keluhuran hati pemuda yang akan dicelakakan itu. Kuk Li Kun adalah seorang gadis, seorang perempuan yang walaupun bagaimana mudah sekali merasa terharu. Maka ketika mendengar pembelaan Kiam Ciu itu dia sangat menyesal dan terharu sekali.
"Tong Siauwhiap ! Aku peringatkan kepadamu sekali lagi ! Kalau kau masih hendak turut campur dalam urusan Kim-sai ini. aku terpaksa harus memberikan pelajaran padamu !"
Seru Kuk Kiat dengan suara marah dan gusar. Tetapi apa yang diucapkan oleh Kiam Ciu diluar dugaan mereka.
"Locianpwee, kau telah terlanjur berbuat keliru. Mengapa akan membuat kekeliruan sekali ini ?! Sebenarnya apa untungnya aku turut campur dalam urusan partai Kim-sai yang akan membunuhku itu ? Tetapi aku merasa bahwa perbuatanmu itu tidak adil dan tidak bijaksana ! Lagipula sangat disayangkan seandainya partai silat Kim-sai yang telah didirikan dan dibina dengan susah payah itu akan menjadi hancur dan berantakan !"
Seru Kiam Ciu dengan nada tenang dan hormat.
"kehancuran yang diakibatkan. karena locianpwee terburu nafsu"
Semua orang yang mendengarkan segala tutur kata Kiam Ciu itu menjadi kagum dan khawatir.
Mereka khawatir kalau sampai Kuk Kiat menjadi gusar dan langsung bertindak untuk menghajar Kiam Ciu.
Bahkan Ji Tong Bwee yang sejak tadi telah diam dan memperhatikan segala pembicaraan itu, kini telah siaga pula untuk memberikan bantuan kepada kekasihnya bilamana dipandang perlu nanti.
Sampai sesaat suasana menjadi tenang.
Sedangkan Kuk Kiat hanya diam tetapi memandang kepada Kiam Ciu dan memberikan kesempatan kepada pemuda itu untuk berbicara dan mengeluarkan isi hatinya.
"Lagi pula,, Kuk Siocia tidak melanggar peraturan Kim-sai"
Seru Kiam Ciu dengan suara tenang dan pasti.
Justru kata-kata terakhir inilah yang membuat Kuk Kiat menjadi terheran-heran karena dia sama sekali tidak mengetahui apa maksud pemuda itu "Tong Siauwhiap, aku tidak mengerti penjelasanmu"
Kata Kuk Kiat.
Tong Kiam Ciu tersenyum mendengar seruan kakek iu.
Dia juga merasa mempunyai harapan karena menyebabkan kelunakan wajah Kuk Kiat saat ini.
Maka sambil menghormat terlebih dahulu, Kiam Ciu meneruskan pembicaraannya.
"Locianpwee bagaimanakah perjanjiannya dengan suhuku Pek-hi-siu-si dulu?"
Tanya Kiam Ciu "Yang kalah harus menyingkir dari kalangan Kang-ouw, selama yang menang masih hidup"
Seru Kuk Kiat sambil kerutkan kening. 7 14
"Oh, kalau begitu ... ."
Sambung Kiam Ciu tetapi tertahan kata-katanya.
Dipandangnya Ji Tong Bwee dan gadis itu tersenyum, mengangguk tetapi tampak sinar matanya redup.
Perbuatan kedua orang itu menjadikan Kuk Kiat lebih ingin tahu.
Belum sampai ketua partai Kim-sai itu bersuara, telah didahului oleh Kiam Ciu meneruskan penuturannya serta menghormat dan dengan kalimat-kalimat yang berhati-hati sekali.
"Barusan adikku Ji Tong Bwee memberikan kabar padaku, bahwa suhu Pek-hi-siu-si tiga tahun yang lalu telah meninggal dunia"
Tong Kiam Ciu tidak sanggup untuk berbicara lebih panjang lagi, karena tertahan oleh ganjelan di tenggorokannya, karena pemuda itu kembali teringat kebaikan-kebaikan hati suhunya selama dia dalam asuhannya.
"Hah ? Apa betul kata-katamu itu Tong Siauwhiap ?"
Seru Kuk Kiat terperanjat dan matanya terbeliak. Tetapi Tong Kiam Ciu tidak menjawab, pemuda itu hanya mengangguk.
"Ai ! ..... ."
Kuk Kiat menghela nafas kemudian melanjutkan kata-katanya dengan nada rawan.
"tidak kuduga kalau dia telah mendahuluiku, Jika seandainya dia masih hidup, aku akan menjumpainya dan akan menghaturkan rasa terima kasihku bahwa ternyata nasehatnya itu benar"
"Nah karenanya kini sudah kujelaskan kepada locianpwce bahwa Kuk Siocia dan orang-orang partai Kim-sai ternyata tidak bersalah dan tidak ada yang melanggar janji atau peraturan ......."
Seru Kiam Ciu. Tidak menunggu jawaban dari Kuk Kiat terlebih dahulu, Kiam Ciu telah memutar tubuh dan menyambar tangan adiknya untuk diajak berlalu.
"Ayolah kita pergi !"
Seru Kiam Ciu sambil menarik tangan Ji Tong Bwee untuk diajak berlalu"
"Tong Siauwhiap tunggu ! Jika saat ini partai Kim-sai masih utuh. Ini adalah jasamu. Dahulu aku menghormati Pek-hi-siu-si dan sekarang akupun menghormatimu yang ternyata tidak kalah luhur budimu"
Seru Kuk Kiat dengan suara ramah dan enak didengar. 7 15
"Locianpwee semua perbuatanku itu adalah sewajarnya, lagi pula Locianpwe jangan mempersamakan perbuatanku itu dengan suatu jasa"
Seru Kiam Ciu sambil berhenti dan memutar tubuh menghadap kearah kakek itu. Lalu kakek itu berpaling kepada orangnya serta memberikan perintah kepada mereka untuk meoghormat Tong Kiam Ciu.
"Ayoh kalian memberi hormat dan terima kasih kepada Tong Siauwhiap !"
Seru Kuk Kiak dengan suara perintah.
Begitu selesai perintah itu maka tampaklah orang-orang Kim-sai dan termasuk juga Ceng Yun Leng dan Kuk Li Kun memberi hormat.
Tong Kiam Ciu merasa kikuk sekali diperlakukan semacam itu.
Maka pemuda itu lalu membongkokkan tubuhnya serta berseru.
"Baiklah....sampai kita berjumpa lagi !"
Seru Kiam Ciu.
Kemudian Kiam Ctu mengangkat wajahnya dan menarik tangan adiknya untuk diajak berlalu dari tempat itu.
Baru saja Kiam Ciu melangkah, tiba-tiba terdengar sebuah seruan lantang dan berwibawa.
"Tunggu !"
Kemudian tampak dua telah berloncat dan berdiri diantara mereka.
Dua orang itu berpakaian sebagai tojin, kedua-duanya telah lanjut usianya dan mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu.
Salah seorang dari kedua tojin itu mengangkat tangan dan memberi hormat kepada Tong Kiam Ciu.
"Aku bernama Hian Cin Tianglo. Aku adalah suhu dari Hiong Hok Totiang, pemimpin partai silat Bu-ting, Hiong Hok Totiang telah tewas dalam keadaan yang mengerikan, kematiannya itun sampai sampai padaku. Maka aku sengaja turun gunung untuk menyelidiki seluk beluk kematiannya itu, kemudian aku akan mengadakan perhitungan yang setimpal. Kini di tempat ini kebetulan aku menjumpai orang-orang Kim-sai-pay dan Tong Siauwhiap. Mungkin juga diantara kalian aku akan mendapat keterangan yang pasti tentang kematian muridku Hiong Hok Totiang itu ?"
Kemudian kakek itu berpaling kearah Tong Kiam Ciu dengan sorot mata tajam menuduh dan membentak kearah Tong Kiam Ciu.
"Tong Siauwhiap, apakah kau yang telah menganiaya Hiong Hok Totiang ?"
Seru kakek itu dengan wajah mengerikan dan mata memancar. Teiapi karena Tong Kiam Ciu merasa tidak berbuat salah maka pemuda itu dengan tenang menjawabnya.
"Locianpwee. kalau menanyakan masalah kematian Hiong Hok Totiang. Aku pernah menceritakan kepada Li Hok Tian murid kesayangan Bu-tong-pay itu. Jauh hari aku telah merasa khawatir kalau sampai aku yang dituduh sebagai pembunuhnya. Tetapi Hiong Hok Totiang telah memberikan suatu tanda padaku yang berupa pening partai Bu-tong. Tetapt sayang ketika pertemuanku dengan Li Hok Tian itu ... ."
Belum lagi selesai kata-kata Tong Kam Ciu telah ditukas oleh kakek itu.
"Baiklah ! Tunjukkan pening partai Bu-tong itu padaku !"
Seru Hian Cin Tianglo sambil menyodorkan tangannya kearah Kiam Ctu.
Tong Kiam Ciu merogoh sakunya dan mengeluarkan pening partai Bu-tong kemudian mengulurkannya ke tangan Hian Cin Tianglo.
Hian Cin Tianglo menerima pening kuningan itu kemudian memeriksanya sejenak, ketika megamati itu dia telah yakin bahwa pening itu adalah pening partai Bu-tong sebenarnya.
"Baiklah, kau telah bebas dari tuduhanku. Tetapi pening ini kuminta kembali"
Seru kakek itu sambil menyimpan pening itu kedalam sakunya.
Kemudian Hian Cin Tianglo menghadap kearah Kuk Kiat memandang dengan pandangan penuh tanda tanya.
Kuk Kiat tahu apa yang akan ditanyakan oleh orang itu.
Tetapi dia tidak mau mendahului maksud seseorang.
"Pangcu Kim-sai-pai apakah muridku Hiong Hok Totiang telah dianiaya oleh orang-orangmu ?"
Seru Hian Cin Tianglo.
Kematian Hiong Hok Totiang tidak diketahui oleh Kuk Kiat.
Karena pada saat itu Kuk Kiat telah menjalani pengasingan diri.
Maka dia lalu memanggil-manggil putrinya untuk minta keterangan.
"Li Kun ! Li Kun"
Seru Kuk Kiat.
7 17 Li Kun telah melangkah mendekati ayahnya untuk memberikan keterangan.
Tetapi tojin yang menyertai Hian Cin Tianglo terdengar tertawa gelak-gelak dengan wajah penuh ejekan sambil berseru .
"Hey Kuk Kiat. kau adalah pemimpin partai Kim-sai yang telah malang melintang di kalangan Kang-ouw kau telah lama merajai. Sekarang kau tidak mengetahui tindak tanduk anak buahmu, apakah memang kau berlagak pilon ?"
Seru Cok Hok Lo to.
Tojin yang gegabah bicaranya itu adalah adik seperguruan Hiong Hok Totiang.
Memang kadang-kadang senang berbicara seenaknya dan sedikit blcaranya tetapi kalau mulai bicara senang menyakiti hati orang yang diajak bicara.
Kata-kata yang diucapkan oleh tojin itu membuat hati Kuk Kiat menjadi sangat gusar.
"Sebenarnya kau akan berbuat apa terhadap partai Kim-sai ?!"
Seru Kuk Kiat dengan suara gusar. Ciok Hok Lo-to masih mencibir dan menuding kearah Kuk Kiat dia berseru dengan kata-kata yang tajam .
"Hutang uang dibayar dengan uang, hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa pula. Sekarang kalau kau dapat menyeret sipembunuh keluar, maka aku akan merasa berterima kasih padamu !"
Seru Ciok Hok Lo-to. Sesaat suasana menjadi sepi. Kuk Kiat tampak memandang kearah Tong Kiam Ciu seolah-olah minta pertimbangan. Tetapi belum lagi pemuda itu membuka suara Kuk Kiat telah berbicara.
"Baik ! Aku akan segera menyelidiki dan menyeret pembunuhnya !"
"Kau pergilah sekarang !"
Seru Ciok Hok Lo-to Mendengar kata-kata itu Kuk-Kiat menjadi sangat gusar.
Kemudian memperlihatkan wajah kurang senang dan membentak kearah Ciok Hok Lo-to dengan kata-kata keras, bersifat menantang "Kau terlalu menghina !
Apakah kau anggap bahwa aku takut untuk melawanmu ?" 7 18
"Aku ingin kau mengikuti kami kepegunungan Bu-tong dan menanti disana sampai pembunuhnya tertangkap I"
Seru Ciok Hok Lo-to.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 2
Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 5