Eps 4 Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung
Baca online Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung
Cersil Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung.
"Hey kau jangan berbicara seenakmu ! Bukankah aku telah menyanggupi untuk mengurus persoalan pembunuhan ini dan menyelidikinya. Kemudian untuk menangkap pembunuhnya untuk kuserahkan kepada partai Bu-tong agar mendapat peradilan semestinya?. Tetapi kau terlalu lancang berbicara dengan seenakmu sendiri, kalau berani mengutik orang-orang Kim-sai maka aku akan menyapu bersih partai Bu-tong ! seru Kuk Kiat dengan suara keras dan gusar. Memang partai silat Kim-sai itu adalah partai silat yang besar serta kuat, lagi pula telah lama menjagoi kalangan Kang-ouw. Namun partai silat Bu-tong itu tidak dapat dipandang ringan, kalau sampai Kuk Kiat terlanjur mengucapkan kata-kata yang bersifat menantang itu hanya didorong oleh emosinya saja. Tong Kiam Ciu yang sejak tadi hanya menyaksikan saja pertengkaran mulut itu, kini telah dapat mempertimbangkan segala yang didengarnya itu dengan baik. Ternyata apa yang telah dikatakan oteh Ciok Hok Lo-to ini memang terlalu kasar dan menyinggung kehormatan seseorang. Maka dia telah mengambil kesimpulan bahwa Ciok Hok Lo-to itu tidak benar. Walaupun Kiam Ciu menghormati Hiong Hok Totiang, tetapi dia selama mengembara itu belum pernah mendengar hal-hal yang baik dari partai silat Bu-tong. Seperti juga yang telah dialaminya, pertempurannya dengan Li Hok Tian. Salah seorang dari partai Bu-tong juga, perbuatannya ternyata sangat kejam dan keji. Maka jika sampai terjadi pertempuran Kiam Ciu pasti akas memihak kepada Kuk Kiat. Dalam keadaan tenang itu tiba-tiba Ciok Hok Lo-to telah meloncat menyerang Kuk Kiat. Namun pemimpin partai Kim-sai itu dapat mengegoskan tubuhnya hingga serangan itu tidak mengenai sasarannya. Ciok Hok Lo-to terhuyung namun untung tidak terjungkal, sebelum Kuk Kiat mengirimkan hantaman kearah punggung penyerangnya itu. Tiba-tiba Hian Cin Tianglo mengebutkan lengan jubahnya kearah Kuk Kiat. Angin yang ditimbulkan oleh kebutan lengan jubah itu menderu dan bertenaga hebat. Maka segeralah Kuk Kiat meloncat kesamping dengan mengirimkan pukulan untuk menangkis serangan jarak jauh itu. 7 19 Kini terjadilah suatu pertempuran dua orang mengerubuti seorang. Untuk sesaat lamanya orang-orang yang berada ditempat itu hanya sebagai penonton. Tetapi ketika Kiam Ciu meloncat ke gelanggang membantu Kuk Kiat. Orang-orang dari partai Kim-sai segera berloncatan pula menyerang kedua tojin itu. Maka dalam waktu sebeniar saja telah terjadu keributan. Sebenarnya Kuk Kiat akan mencegah pengeroyokan itu. Namun setelah dipertimbangkan bahwa hal itu telah dimulai dulu oleh orang-orang Bu-tong itu maka dibiarkannya keadaan itu terjadi. Bahkan Kuk Kiat sendiri telah meloncat keluar dari gelanggang. Namun beberapa saat kemudian tampaklah bayangan dua orang yang langsung masuk ke gelanggang pertempuran itu. Bahkan mereka menyerang orang-orang Kim-sai yang telah mengepung Hian Cin Tianglo dan Ciok Hok Lo-to. Mereka itu ialah Li Hok Tian dan Hian Biauw Cinjin, orang-orang dari Bu-tong yang telah datang membantu. Ketika itu Kiam Ciu telah memperhatikan kelebatan sinar pedang yang dibawa oleh Li Hok Tian. Pemuda itu sangat terperanjat menyaksikan pedang yang dipegang oleh Li Hok Tian, karena pedang yang dibawa oleh Li Hok Tian itu tiada lain adalah pedang . Padahal pedang beraba di tangan Cit Siocia atau siwanita jelita yang selalu berkereta itu. Apakah gadis itu telah dapat dibinasakan oleh Li Hok Tian ? Atau dengan cara bagaimana maka hingga pedang pusaka itu dapat jatuh ketangan orang Bu-tong itu. Setelah menyaksikan yang datang itu adalah Li Hok Tian dan Hian Biauw Cin jin maka Kiam Ciu berseru girang.
"Bagus kau datang !"
"Susiok l Akhirnya aku berhasil menjumpai Susiok. Apakah pening Bu-tong sudah diambil kembali dari tangan orang she Tong itu ?"
Seru Li Hok Tian dengan suara lantang.
"Sudah ! Mengapa kau tanyakan hal itu ?""
Seru Hian Cin Tianglo. 7 20
"Syukurlah !"
Seru Li Hok Tian dengan wajah berseri-seri.
"Kini serahkanlah pening itu kepadaku Susiok. Karena menurut keputusan Dewan Tertinggi pimpinan partai Bu-tong kini aku yang diangkat menjadi ketua partai ....."
Hian Gin Tianglo dan Ciok Hok Lo-to menjadi terperanjat mendengar pernyataan itu, Karena mereka tahu bagaimana peraturan partainya dalam pemilihan ketua partai silat Bu-tong itu.
Maka Hian Cin Tianglo lalu menyahutnya dengan nada terperanjat.
"Apa ? Dewan telah memilihmu sebagai ketua partai Bu-tong"
"Kau sekarang yang memimpin Bu-tong Pay ?"
Sambung Ciok Hok Lo to.
Menurut peraturan dari partai silat Bu-tong, setelah ketua partai meninggal maka akan digantikan oleh adik seperguruan ketua partai itu dan dibicarakan dalam rapat orang-orang gagah dalam partai itu.
Ciok Hok Lo-to adalah sute dari Hiong Hok Totiang.
Maka dialah yang berhak untuk memegang jabatan sebagai ketua Bu-tong Pay itu.
Tetapi kenyataannya didalam tubuh Bu-tong Pay itu ada seorang yang berambisi untuk menjadi ketua partai.
Ialah Li Hok Tian.
Dia berusaha untuk merebut kedudukan pangcu itu.
Dengan bangga orang itu berseru kepada suhu dan subengnya itu.
"Jika kau tidak percaya, silahkan tanyakan saja kepada Hian Biauw Sik kong ini !"
Seru Li Hok Tian dengan menuding kearah pamannya itu.
Hian Cin Tianglo menatap adik seperguruannya itu sejenak.
Ternyata Hian Biauw Cin jin menganggukkan kepala yang berarti apa yang telah dikatakan oleh Li Hok Tian tidak berdusta.
"Aku tidak setuju !"
Seru Hian Cin Tianglo dengan suara lantang.
"Aku juga tidak setuju !"
Seru Ciok Hok Lo-to.
"Li Hok Tian tidak pantas menjadi seorang pemimpin, dia tidak akan dapat melindungi nama partai Bu-tong dan lagi apakah dia lebih unggul ilmu silatnya dari pada ilmu silatku ? Apakah dia lebih berwibawa dari padaku? Pokoknya aku tidak setuju dengan keputusan itu!"
Seru Ciok Hok Lo-to dengan bersemangat.
7 21 Suasana dari mengurus kematian Hiong Hok Totiang kini beralih kearah urusan partai Bu-tong.
Orang-orang Kim-sai diam begitu pula Kiam Ciu.
Ji Tong Bwee dan Kuk Kiat mereka hanya mendengarkan saja pembicaraan dan perdebatan orang-orang Bu-tong itu.
Bahkan mereka seolah-olah sama sekali telah melupakan bahwa ditempat itu sebenarnya kurang pantas untuk berdebat tentang kedudukan.
Karena didengarkan orang lain, namun mereka adalah orang-orang yang berwatak keras dan tidak begitu memperhatikan aturan dalam pergaulan.
Terdengar Li Hok Tian tertawa terbahak-bahak kemudian berseru .
"Pada dewasa ini, dikalangan Kang-ouw aku telah mendapat banyak sokongan, lagi pula pedang pusaka yang terkenal nomor Wahid di kolong langit ialah telah berada ditanganku. Lihat !"
Seru Li Hok Tian sambil mencabut pedang dari sarungnya.
Kemudian Li Hok Tian memutar-mutarkan pedang itu, tampaklah kilauan sinar pedang pusaka itu.
Diputar-putarnya hingga terdengar suara mendesing.
Kiam Ciu menyaksikan itu semua jadi terpesona.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara nyaring mengejek Li Hok Tian dan suara itu sanggup menembus suara tawa Li Hok Tian dan desauan angin yang ditimbulkan oleh putaran-putaran pedang itu.
Li Hok Tian mendengar suara itu akhirnya menghentikan permainannya, tampaklah wajahnya yang bangga dan gembira itu mendadak menjadi sangat pucat dan tegang.
Berdirinya jadi goyah, dia tampak gemetar kakinya, tangan yang tadi tampak kuat dan memegang pedang dengan sombong itu kini tampak menggelantung seperti tidak bertenaga.
Bukan hanya Li Hok Tian saja yang bersikap seperti Itu.
Tetapi segenap orang-orang yang berada di tempat itu tidak kecuali Kuk Kiat dan Hian Cin Tianglo seperti kehilangan semangatnya.
Tetapi ketika Kiam Ciu dapat mengatasi pengaruh itu dia berpikir dan mengingat-ngingat.
"Nada suara ejekan itu tiada asing lagi bagiku"
Pikir Kiam Ciu.
Kemudian Kiam Ciu menoleh kearah datangnya suata tadi.
Ternyata apa yang diduganya benar juga.
7 22 Di tempat itu tampak sebuah kereta yang sangat indah.
Entah dengan cara bagaimana kereta itu dapat tiba di tempat itu begitu saja tanpa menimbulkan berisik kemudian tampaklah pintu kereta itu terbuka.
Semua mata memandang kearah pintu kereta yang sedang terbuka itu.
Tampaklah sepasang kaki putih mulus keluar menuruni tangga kereta, kemudian tampaklah seorang gadis jelita yang sangat menggiurkan wajah dan potongan tubuhnya.
Semua orang mengagumi keadaan gadis itu, juga Tong Bwee sidara jelita kekasih Tong Kiam Ciu itu merasa iri menyaksikan kejelitaan gadis yang baru turun dari kereta indah itu.
Gadis yang jelita itu ialah Cit Siocia.
Dengan suara lantang gadis itu lalu berseru .
"Minggir !""
Semua orang yang berada ditempat itu seperti terpukau.
Mereka semuanya menyibak memberikan jalan kepada wanita muda yang jelita itu.
Dengan tersenyum wanita jelita itu melangkah dengan sikapnya yang agung.
Tiada seorangpun yang berani mengeluarkan suaranya.
Mereka semuanya terbungkam, walaupun didalam hati mereka akan berbicara, namun mereka segan untuk membuka mulutnya.
Ketika Cit Siocia berjalan didepan Tong Kiam Ciu, tampaklah dia memandang dan tersenyum kepada Tong Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu mengangguk pula menjawab teguran halus gadis rupawan itu.
Cit Siocia melanjutkan langkahnya dan menghampiri Li Hok Tian.
Adapun Li Hok Tian berdiri bagaikan patung yang tiada bernyawa, wajahnya pucat bagaikan kertas.
Hanya tubuhnya tampak tergoyang, dia telah tahu apa yang akan terjadi atas dirinya.
"Li Hok Tian !"
Seru Cit Siocia sambil menuding kearah laki-laki yang dibentak itu.
"Ternyata sifatmu sangat curang dan keji ! Kau telah berani menganiaya salah seorang pelayan wanitaku. kemudian kau telah berani mencuri pedang ! Semuanya itu terbukti dan apakah kau akan memungkiri ?"
Semua perkataan Cit Siocia itu menggebu-gebu otak Li Hok Tian.
Dia tiada berani berbuat apa-apa lagi.
Karera apa yang dituduhkan kepadanya itu adalah 7 23 benar semuanya.
Maka Li Hok Tian hanya pasrah dan tanpa dapat berbicara dia telah tampak lunglai, karena dia tahu hukuman apa yang bakal diterimanya.
"Ayoh kembalikan pedang itu kepadaku ?"
Seru warita jelita itu membeliakkan matanya sambil menuding.
Li Hok Ttan seperti anak kecil yang berbuat kesalahan, kemudian dibentak-bentak dan menurut saja, dengan langkah-langkah yang tampak kaku Li Hok Tian melangkah maju mendekati Cit Siocia.
Li Hok Tian telah terkena pengaruh Pan-yok-sin-im sehingga semua perbuatannya itu dilakukan diluar kemauannya sendiri.
Dia tidak berdaya lagi untuk menentang segala perintah Cit Siocia.
Dergan mengangkat kedua tangan Li Hok Tian mengangsurkan pedang itu kepada Cit Siocia.
"Serahkan pedang itu kemari !"
Perimah Cit Siocia.
"Tahan !"
Seru Hian Cin Tianglo Bersamaan dengan itu tampaklah Tojin itu melompat menerkam leher Cit Siocia.
Namun gadis jelita itu telah siap siaga.
Bersamaan dengan lompatan Hian Cin Tianglo, dia telah memekik sambil menggerakkan ilmu Pan-yok-sim-im.
Hian Cin Tianglo melesat kesamping Cit Siocia terkamannya meleset bahkan dia sendiri telah terkena pengaruh ilmu pelenyap sukma iiu.
Sesaat seperti orang linglung yang tidak mampu uutuk berpikir secara wajar, sedangkan Cit Siocia dengan sekali loncat telah menyambar pedang dari tangan Li Hok Tian.
Kemudian Cit Siocia telah mencabut pedang itu dan dengan cepat pula telah menusuk kearah Hian Cin Tianglo.
Karena terperanjat dengan datangnya serangan itu, Hian Cin Tianglo berusaha untuk menyentil jari jemarinya.
Tetapi tidak berhasil bahkan jari tangan terkena goresan pedang hingga mengucurkan darah.
Bagi Cit Siocia baru untuk pertama kalinya dia turun tangan sendiri untuk melukai lawan.
Tetapi dia tidak bermaksud untuk membinasakan orang itu.
karena dia tidak merasa mempunyai ikatan permusuhan.
7 24 Tetapi Hian Cin Tianglo sendiri merasa heran mengapa dia tidak mampu untuk menyerang gadis itu.
Menurut perasaannya dia dalam keadaan sadar Tetapi mengapa niatnya untuk menyerang gadis itu menjadi buyar dan tidak bertenaga.
Padahal ingatannya sadar.
Apakah dirinya kena terpengaruh ilmu Pan-yok-sin-im ?
"Tua bangka gila dan curang !
Itulah adalah peringatanku !
Adakah kau masih mau dihajar lagi ?
Hayo pergi dari sini sebelum aku mengubah keputusanku !"
Bentak Cit Siocia yang menjadi gusar karena diserang dengan sikap yang curang itu.
Mendapat bentakkan itu sebenarnya bagi seorang tua seperti Hian Cin Tianglo yang sudah banyak malang melintang di dunia kang-ouw seharusnya menjadi marah tetapi saat itu Hian Cin Tianglo tidak dapat berbuat apa-apa, Dengan diluar kemampuannya sendiri dia telah ngeloyor pergi dan diikuti oleh Ciok Hok Lo-to dan Hian Biauw Cin jin., Adapun Li Hok Tian masih tetap berdiri mematung didepan Cit Siocia seolah-olah tak bernyawa lagi.
Sambil menudingkan pedang kearah Li Hok Tian, wanita itu memerintahkan kepada laki-laki penghianat itu untuk berlutut.
"Hayo berlutut dihadapanku !"
Bentaknya Li Hok Tian seperti kehilangan sifat kejantanannya.
Telah menurut saja segala perintah.
Dia telah berlutut dengan wajah tetap menunduk.
Suasana sesaat menjadi sepi sekali.
Cit Siocia juga diam dan hanya memandang kearah Li Hok Tian.
Seolah-olah wanita itu sedang memberikan kesempatan kepada Li Hok Tian untuk berdoa atau mengingat kembali segala perbuatan laki-laki itu.
Memang betul kini Li Hok Tian telah teringat kembali segala perbuatannya.
Dia terbayang satu persatu apa yang telah diperbuat.
Bermunculan peristiwa-peristiwa kekejiannya.
Mula-mula Pit Ki yang telah dia aniaya, kemudian pelayan wanita Cit Siocia yang telah dia lukai, namun dia tidak berhasil untuk menguasai Cit Siocia dengan nafsu kebinatangannya itu.
Hanya mampu mencuri pedang kemudian dia kabur.
Sekarang semuanya berantakan, gagal !
Kemudian suasana yang sepi itu digetarkan oleh sebuah suara yang merdu sekali.
Tampaklah Cit Siocia telah menatap Li Hok Tian dan menyanyikan sebuah 7 25 lagu yang sangat menyedihkan dan iramanya menyayat, Cit Siocia mengalunkan irama lagu menyayat hati dan mengerahkan ilmu Pan-yok-sin-im, dengan maksud untuk menyiksa Li Hok Tian.
Li Hok Tian mula-mula masih dapat bertahan mendengarkan alunan lagu itu.
Namun lama-lama tampak keringat mengucur diwajahnya.
Nafasnya mulai memburu, bibirnya kering tampak memutih dan matanya sayu memandang kearah Cit Siocia.
Kemudian tampak menggeliat-geliat bagaikan cacing kepanasan.
Dagingnya terasa bagaikan ditusuk-tusuk dengan pedang.
Seluruh tubuhnya terasa panas dan sakit sekali.
Li Hok Tian terjatuh bergulung-gulung dan melejit-lejit tak keruan, tanpa sepatah kata yang sempat dikeluarkan, laki-laki yang bersifat khianat dan keji itu lelah jatuh tertelungkup dihadapan Cit Siocia.
Jatuh tidak akan bangun untuk selamanya, Dia tewas akibat dari kedurhakaannya.
Binasa dalam keadaan yang memalukan sekali.
Keiika menyaksikan bahwa Li Hok Tian telah binasa.
Maka Cit Siocia lalu menghentikan nyanyiannya, kemudian dia memandang kearah Tong Kiam Ciu.
"Tong Siauwhiap, Bukanlah kau ingin menukar pedang ? Ayolah ikut aku !"
Seru Cit Siocia dan berlalu dari tempat itu.
Tong Kiam Ciu yang sudah waspada dan telah mengerahkan ilmu Bo-kit-sin-kong, pura-pura terpengaruh ilmu Pan-yok-sin-im, Maka dia menurutkan saja ajakan Cit Siocia menuju ke kereta yang indah itu.
Begitu sampai didepan pintu kereta maka Kiam Ciu dipersilahkan masuk kemudian disusul oleh Cit Siocia.
Ketika kedua orang itu telah berada didalam kereta maka seorang dayang telah menutupnya pintu kereta.
Kemudian kereta itu bergerak.
Orang-orang yang berada ditempat kejadian itu semuanya terkena pengaruh ilmu Pan-yok-sin-im.
Maka mereka untuk sesaat bagaikan tidak sadarkan diri, tetapi ketika itu Ji Tong Bwee telah mendahului dapat menguasai diri.
Dia sadar bahwa selama ini dia mencari Tong Kiam Ciu.
Sudah setengah tahun dia mengembara untuk bertemu dengan kekasihnya itu.
Kerena dorongan cinta kasih itulah maka Ji Tong Bwee telah menyadari bahaya yang akan mengancam Tong Kiam Ciu.
7 26 Dengan mengembangkan ilmu lari Cian-li-pauw-bouw (terbang di angkasa) Ji Tong Bwee mengejar kereta yang membawa Tong Kiam Ciu dan Cit Siocia tadi.
Kereta itu ternyata meluncur dengan cepatnya.
Bertambah cepat lagi ketika tiba di jalan yang arak rata, ternyata bukan kereta biasa, semuanya telah terlatih dan dikendalikan dengan ilmu yang luar biasa.
Sedangkan Ji Tong Bwee telah membentangkan Ginkang dan ilmu lari cepat untuk mengejar kereta didepannya itu.
Rupa-rupanya ilmu lari Cian-li-pauw-hong yang dikuasai sepenuhnya sejak kecil itu dapat menandingi larinya kereta Cit Siocia.
Beberapa saat kemudian Ji Tong Bwee telah dapat mengejar hanya tinggal beberapa langkah lagi dia telah dapat memegang kereta itu.
Ketika pengawal kereta itu melihat bahwa Tong Bwee telah dekat maka kuda yang menarik kereta itu lalu dicambuknya dengan bertubi-tubi hingga lari kudanya bertambah kencang.
Beberapa saat kemudian Tong Bwee telah tertinggal lagi.
Tiba-tiba dari dalam kereta itu terdengar suara gemboran keras.
Ji Tong Bwee terperanjat dan menduga-duga, karena gemboran itu adalah gemboran Kiam Ciu.
Belum lagi dia dapat kepastian, tahu-tahu kereta itu terguling.
Seorang pengawal dan seorang dayang serta kusir kereta itu terpelanting.
Empat ekor kudanya meringkik-ringkik kemudian jatuh terguling pula.
Dari dalam kereta itu tampak meloncat Tong Kiam Ciu dengan menggenggam pedang , kemudian meloncat menjauhi kereta den sambil mengembangkan ilmu lari Cian-li-pauw-hong melesat masuk kedalam hutan.
Disusul kemudian oleh Cit Siocia meloncat dari kereta itu, sambil lari beberapa langkah, kemudian menahan langkahnya dan memanggil-manggil Kiam Ciu.
Namun pemuda itu telah bertambah jauh dan tidak memalingkan wajahnya bahkan menggubris saja tidak.
"Hemm untuk yang ketiga kalinya aku gagal menguasainya"
Gerutu Cit Siocia sambil menghentak-hentakan kakinya dan memecahkan batu di jalanan itu 7 27 dengan kakinya.
Bibirnya memberengut dan melangkah menuju ke kereta, Cit Siocia telah benar-benar jatuh cinta kepada Kiam Ciu.
Tetapi ketika dia telah mendekati kereta, dia melihat seorang gadis yang tadi dilihatnya berdiri didekat Kiam Ctu.
Gadis itu ialah Ji Tong Bwee.
Ji Tong Bwee menahan langkahnya dan memandang kearah Cit Siocia.
Kedua gadis itu saling berpandangan.
"Hey tunggu dulu !"
Seru Cit Siocia ketika melihat Tong Bwee akan berbalik kearah dimana Kiam Ciu tadi menghilang.
"Apa maksadmu ?"
Seru Ji Tong Bwee sambil bertolak pinggang dan bersikap seolah-olah menantang.
"Apakah kau kekasihnya Tong Kiam Ciu?"
Seru Cit Siocia dengan rupa bersikap menantang juga.
"Itu urusanku. mengapa kau mau tahu?"
Jawab Ji Tong Bwee gusar.
"Oh aku hanya ingin tahu, apakah kau betul-betul menyintainya"
Sambung Cit Siocia sambil tersenyum, Tetepi Ji Tong Bwee tidak menjawab pertanyaan itu.
Gadis itu wajahnya menjadi merah padam dan matanya melotot memandang Cit Siocia, seolah-olah dia sangat benci dan ingin menampar pipi Cit Siocia.
"Hmm, aku sebenarnya yang terlalu tolol -Mengapa aku masih menanyakan karena dari sinar matamu saja aku telah dapat menduga bahwa kau sangat mencintai pemuda itu. Sayangnya, akupun mencintai dia juga"
Suara yang terakhir itu diucapkan oleh Cit Siocia seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri.
Pengakuan yang berterus terang itu membuat Tong Bwee bertambah cemburu.
Karena menahan gejolak hatinya, gadis itu hingga bergetar tubuhnya.
Seribu satu perasaan bercampur baur dalam dirinya.
Cemburu dan benci kepada wanita jelita itu.
Cit Siocia masih belum cukup berbicara begitu saja.
Kemudian dengan nada mengejek dan menantang dia berseru.
"Kita berdua mencintai seorang pemuda, maka salah satu diantara kita harus mati. Agar yang hidup dapat merebut hatinya. Aku takkan menggunakan ilmu Pan-yok-sin-im untuk bertempur melawanmu. Aku menantang kau untuk bertanding dengan bersenjatakan pedang"
Seru Cit Siocia.
"Hey aku tidak menduga, dibalik parasmu yang jelita itu ternyata hatimu buruk sekali? Kakakku Tong Kiam Ciu tidak dapat direbut dengan senjata dan kekerasan apa lagi mempertaruhkan nyawa. Kalau dia mencintaimu aku rela mengalah"
Seru Ji Tong Bwee dengan suara serak tetapi matanya tajam mengawasi Cit Siocia.
Apa yang dikatakan oleh Ji Tong Bwee itu sebetulnya sangat menusuk perasaannya.
Kata-kata gadis itu ternyata diterima sebagai makian dan hinaan, tetapi disamping itu dia memang membenarkan kata-kata Tong Bwee itu benar.
Dia memang merasa bahwa dialah yang telah merebut kekasih orang lain.
Merebut hati Kiam Ciu.
Namun karena perasaan cinta kasihnya terhadap pemuda itu sudah terlanjur mendalam.
Walaupun dengan segala usaha ternyata oleh Tong Kiam Ciu selalu ditolaknya.
Namun dia merasakan bahwa Kiam Ciu selalu menolak itu karena dia mempunyai kekasih yang cantik itu.
Maka menurut pikiran Cit Siocia dia harus membinasakan Ji Tong Bwee agar tidak menjadi perintang.
Dia yakin setelah Ji Tong Bwee binasa pastilah Kiam Ciu akan jatuh dalam pelukannya.
Setelah itu dengan diam-diam dia telah mencabut pedang dari sarungnya, dan menantang Ji Tong Bwee untuk menghadapinya.
"Sudah kukatakan aku tidak akan melawanmu kalau hanya karena dia ! Bukankah sudah kukatakan kalau memang dia menyintaimu, aku rela mengalah!"
Kata Ji Tong Bwee dengan suara penuh kesungguhan.
"Ji Tong Bwee ayo cabut pedangmu !"
Seru Cit Siocia menantang.
Namun Ji Tong Bwee tetap berdiri tegak diiempatnya, Matanya hanya memandang Cit Siocia yang sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.
Namun wajah Ji Tong Bwee masih tetap tenang dan tidak tampak takut ataupun marah.
Seolah-olah dia telah rela untuk menerima apapun yang akan terjadi dan akan menimpa dirinya.
7 29 Dalam saat itu Cit Siocia sudah tidak dapat mengendalikan diri lagi.
Karena pedang sudah terlanjur dicabut, dia harus mendapatkan satu sasaran.
Maka dia dengan cepat meloncat dan berbareng dengan itu ditusukkannya kearah Ji Tong Bwee.
Ternyata gadis itu tidak mengadakan perlawanan dan menghindarpun tidak.
Maka tusukan pedang yang sedianya akan dihujankan kearah jantung Ji Tong Bwee itu akhirnya digerakkan keatas dan mengenai pundak gadis itu, segera tampaklah baju Ji Tong Bwee robek dan bernoda merah, darah mengucur dari bahu Ji Tong Bwee.
Tiada lama kemudian tampaklah tubuh Ji Tong Bwee condong dan jatuh.
Untuk sesaat lamanya Ji Tong Bwee jatuh pingsan.
Sedangkan Cit Siocia dengan mata terbelalak memandang kearah korbannya itu, dipandanginya mata pedang yang masih bernoda darah, kemudian memandang kearah tubuh Ji Tong Bwee yang menggeletak.
Ketika dia menginsapi apa yang telah terjadi maka Cit Siocia segera menubruk kearah Ji Tong Bwee dan pedangnya dilempar ke tanah.
"Adik Bwee, maafkan aku ! Maafkan aku ! Mengapa kau tidak mau melawanku? Mengapa ? Mengapa kau tidak mengelakkan seranganku ? Mengapa ? Adik Bwee ... ? adik Bwee maafkan aku.. apakah kau mendapat luka berat ?"
Seru Cit Siocia yang kini telah kembali sadar dan menjadi manusia yang berperasaan dan terdiri dari darah tulang dan daging yang dilengkapi dengan budi dan perasaan.
Beberapa saat kemudian Cit Siocia telah membebaskan jalan darah Ji Tong Bwec yang tertotok.
Ji Tong Bwee membuka matanya dan tampaklah butiran-butiran air mata meluncur dari sudut mata gadis jelita itu.
Hati Cit Siocia tercekam rasa haru, kemudian timbul rasa sesalnya.
Beberapa orang dayang dan pengawalnya telah menghampiri Cit Siocia, salah seorang dayang telah membawa kotak yang berisi obat-obatan.
Setelah itu Cit Siocia merawat luka-luka dibahu Ji Tong Bwee.
Kemudian Cit Siocia memberikan sebuitr pil kepada Ji Tong Bwee untuk segera ditelannya.
7 30 Bertepatan itu pula Tong Kiam Ciu yang telah lari meninggalkan kereta Cit Siocia langsung ke tempat pertemuannya dengan Ji Tong Bwee.
Ditempat itu dia hanya menemukan bekas tempat-tempat pertempuran saja.
Tetapi Kiam Ciu tidak menemukan Ji Tong Bwee.
Maka pemuda itu menjadi bingung dan memanggil-manggil.
"Adik Ji Tong Bwee, Adik Bwee!"
Pemuda itu memanggil-manggil kekasihnya dengan perasaan cemas.
Namun tiada jawaban yang terdengar hanyalah suara pantulan suaranya sendiri.
Tong Kiam Ciu berlari-lari seperti orang kebingungan kemudian tinjunya mengepal dan dipukulnya batang pohon yang berada didepannya itu dengan sekuat tenaga untuk menghilangkan kekesalan hatinya.
Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa.
Tong Kiam Ciu terperanjat mendengar suara tawa itu.
Belum sempat dia berpikir tahu-tahu sebuah benda berwarna putih telah melayang kearab tubuh pemuda itu.
Benda itu adalah selembar kertas yang dilipat sangat rapih.
Dipungutnya kertas yang terlipat rapih itu.
Kemudian dibukanya oleh Tong Kiam Ciu.
Ternyata kertas itu bertulisan rapi.
"Aku disini.."
Tertera huruf-huruf yang tersusun rapi dalam guratan yang sangat menarik sekali tetapi huruf-huruf yang itu Kiam Ciu pernah melihatnya.
Kiam Ciu tersenyum karena sekali lagi Sio Bie Hu murid dari Shin Kai Lolo.
Gadis yang menyamar sebagai seorang pemuda itu telah membayangi dirinya.
Seketika itu urusannya untuk mencari Ji Tong Bwee agak tersingkirkan.
Karena kini perhatiannya dipusatkan kepada gadis yang menyamar sebagai seorang pemuda itu.
Kiam Ciu pura-pura tidak mengetahui sandiwara itu.
Sementara itu Sio Bie Hu Sudah berada didekat Kiam Ciu seraya berseru kepada pemuda itu dengan senyuman yang manis.
"Kita telah bertemu lagi"
Seru Sio Bie Hu yang telah menyamar sebagai seorang pemuda yang rambutnya panjang terurai. 7 31
"Hmmm, kita telah bertemu lagi"
Sambung Kiam Ciu sambil mengangguk.
"Sebenarnya aku ingin mencari kau, pertama untuk mengucapkan rasa terima kasihku padamu karena peringatanmu tentang bahaya yang menghadangku, kedua aku ingin mengembalikan sebuah kertas yang ada gambarnya seorang gadis"
"Kau tak usah mengucapkan rasa terima kasihmu padaku, lagi pula hal gambar itu tak usah kau kembalikan padaku karena gambar itu tak penting. Aku ingin menjumpai kau karena aku ingin memberitahukan tentang suatu urusan padamu.""
Sambung Sio Bie Hu sungguh-sungguh.
"Oh. tetapi aku juga ingin memberitahukan padamu tentang satu urusan yang penting. Belum lama ini aku telah dijumpai oleh Ceng Yun Leng. Dia bilang gambar yang kau lemparkan padaku itu adalah gambar tunangannya. Apakah kau telah mengenal gadis itu?"
Sambung Kiam Ciu. Mendengar penuturan Kiam Ciu itu, wajah Sio Bie Hu menjadi merah.
"Kalau kau jumpai Ceng Yun Leng lagi tolong kau sampaikan kabar bahwa dia tidak perlu mengambil perhatian dengan gadis tunangannya itu lagi"
Jawab Sio Bie Hu dengan nada seolah-olah tertekan. Mendengar jawaban gadis itu Kiam Ciu tersenyum. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya.
"Kita sudah sering bertemu, tetapi kita belum saling berkenalan. Kenalkan aku Tong Kiam Ciu dan siapa namamu,"
"Panggil saja aku Teng Loote."
Jawab Sio Bie Hu.
Kemudian gadis itu melanjutkan kata-katanya "Tong Heng, bukankah kau ingin pergi ke telaga Ang tok-ouw di kota Pek-seng di propinsi Anhwei untuk mencari kitab pusaka Pek-seng?
Aku mendapat kabar bahwa orang yang mencari kitab itu harus mempunyai peta Pek-seng.
Padahal menurut beritanya peta itu kini telah jatuh ditangan Gan Hua Liong.
Sedangkan Gan Hua Liong itu mempunyai ilmu silat yang sangat lihay diatas suhuku.
Saat ini orang-orang gagah telah menuju ke telaga Ang-tok-ouw untuk mencari kota yang telah hilang itu.
Juga kulihat Ciong Taysu dan beberapa orang-orang lainnya.
Kukira kau Tong Heng kalau ingin 7 32 mempertahankan pedang kau harus juga dapat menguasai kitab pusaka Pek-seng itu."
Mendengar keterangan itu Kiam Ciu sebenarnya tertawa dalam hati karena sebenarnya peta Pek-seng telah berada ditangan Tong Kiam Ciu.
Gan Hua Liong telah menyerahkan peta Pek-seng sebelum dia meninggal.
Tetapi Tong Kiam Ciu merasa agak kecut juga kalaau-kalau Kwi Ong juga telah menuju ke telaga itu !
Walaupun bagaimana dia telah mencoba kehebatan orang itu.
Ternyata pemimpin suku bangsa Biauw itu tidak dapat dipandang ringan.
Bukan saja ilmunya tinggi, tetapi sifatnya keji pula.
"Aku telah minta kepada suhu untuk membantu Tong Heng untuk menuju ke telaga itu, bahkan sampai mendapatkan kitab pusaka Pek-seng itu. Menurut keterangan suhu, beliau pernah tiba di telaga itu pada dua puluh tahun yang lalu, bahkan beliau pernah menolong Ouw Hin Lee pemimpin partai silat Ouw Pang (Bendera Hitam) di daerah tersebut, jalan menuju ke telaga Ang-tok-ouw itu suhu masih ingat benar, lagi pula kalau Ouw Hin Lee masih hidup, dia pasti mau membantunya !"
Seru Sio Bie Hu.
"Teng Lotee !"
Sambung Kiam Ciu sambil menghela nafas "aku telah banyak menerima bantuan dan pertolonganmu serta Shin Kai Lolo.
"Aku sangat berterima kasih ......."
Tetapi kata-kata itu belum sampai selesai telah dipotong oleh Sio Bie Hu.
"Sudah ! Sudah !"
Seru Sio Bie Hu dengan mengangkat tangannya kearah Tong Kiam Ciu "aku sudah katakan kau tak usah mengucapkan kata-kata itu lagi.
Aku malu mendengar !
Nah kini karena aku masih banyak sekali urusan maka kita berpisah sampai disini saja !
Sampai kita bertemu lagi di telaga Ang-tok-ouw !"
Setelah berkata begitu tampaklah Sio Bie Hu akan pergi meninggalkan tempat itu.
"Teng Lotee tunggu !"
Seru Kiam Ciu sambil mengangkat tangan kanan mencegah Sio Bie Hu pergi.
"kalau kau akan pergi ke telaga Ang-tok-ouw apakah tidak lebih baik kalau kita pergi bersama-sama saja ?". (Bersambung
Jilid 8) 8 0 8 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 8 EBENARNYA aku tidak berkeberatan untuk pergi bersama-sama.
Tetapi aku lebih senang berjalan seorang diri !
seru Sio Bie Hu lalu segera memutar tubuh dan melesat pergi.
Menyaksikan sikap yang ganjil dan kata-kata gadis itu maka Kiam Ciu menyerah.
Dia tidak lagi menahan atau mengejarnya.
Walaupun dalam hati pemuda itu merasa heran mengapa Sio Bie Hu bersikap terlalu baik kepadanya?
Karena Tong Kiam Ciu tidak ingin membuang-buang waktu lagi maka segaralah dia berangkat menuju ke Telaga Ang-tok-ouw.
Ketika Kiam Ciu sampai dipinggir telaga Ang-tok-ouw keadaan agak buruk.
Langit bagian selatan tampak hitam dan mega bergulung-gulung berpindah-pindah alamat akan datang angin tofan Walaupun tahu akan bahaya itu, namun Kiam Ciu telah bertekadd harus mcnemukan kota Pek-seng yang hilang itu.
Dia hanya mengetahui bahwa yang menjadi pedoman ialah telega Ang-tok-ouw itu.
Walaupun dia belum dapat mempelajari peta Pek-seng itu, karena harus dilihat diwaktu malam, baru guratan-guratan dalam peta itu dapat terlihat.
Kalau diwaklu siang hari, atau keadaan terang maka gambar peta itu tidak akan terlihat.
Setelah mengurus keperluan untuk menjelajahi telaga itu, dengan menyewa sebuah perahu kecil dan didayungkan sendiri.
Kiam Ciu telah mendayung perahunya menuju ketempat telaga.
Walaupun telah banyak perahu-perahu yang lain dan Kiam Ciu yakin bahwa Kwi Ong dan beberapa tokoh persilatan telah berada di telaga itu, namun dia yakin bahwa mereka pasti belum mengetahui letak kota Pek-seng dan tempat penyimpanan kitab pusaka Pek-seng itu.
S 8 2 Karena meyakinkan itu maka Kiam Ciu masih bersemangat untuk meneruskan maksudnya.
Ketika dia telah berada ditengah telaga Ang-tok-ouw itu terkenanglah dia akan masa kanak-kanaknya dulu.
Dia kembali terkenang Ji Tong Bwee dan telaga Cui-ouw.
Tetapi kenangan-kenangan itu segera diusirnya jauh-jauh, karena dia sedang meyakinkan diri untuk merebut kitab pusaka Pek-seng.
Ketika kepalanya terangkat dan memperhatikan perahu layar yang berada dihadapannya tahu-tahu perahu Kiam Ciu menumbuk buritan kapal layar didepannya.
"Brak!"
Terdengar suara nyaring.
"Kurang ajar, siapa berani kurang ajar!"' terdengar suara membentak dari atas perahu layar yang ditumbuk oleh perahu Kiam Ciu. Ketika itu tampak seseorang telah berdiri ditepi perahu. Kiam Ciu menghantamkan dayungnya kearah orang itu, Ternyata orang itu ialah Liat Kiat Koan. Ketika Kiam Ciu menghantamkan dayungnya kepinggir perahu layar dan hembusan angin pukulan itu menghantam Liat Kiat Koan hingga kepala partai silat Kong-tong itu jatuh di geladak perahunya.
"Turunkan layar!'"
Seru sihidung bawang itu dengan suara penuh kemarahan, Apalagi ketika diperhatikan bahwa perahu kecil yang menubruknya itu adalah perahu yang dinaiki oleh Kiam Ciu.
Suatu isyarat yang telah diberikan oleh Liat Kiat Koan itu lelah cukup memberikan aba-aba kepada keempat perahu layar dari partai silat Kong-tong itu untuk mengepung perahu kecil Kiam Ciu.
"Hey Kiam Ciu! Belum lama kita telah mengadu ilmu dalam pertemuan Bu-lim-tahwee untung kau tidak mati! Kita sama sekali tidak menduga ternyata kau sangat berbaik hati mau mengantarkan pedang Oey l.iong Kiam di tengah telaga ini ha-ha-ha!"
Setu Liat Kiat Koan.
Sesaat kemudian menjadi sepi.
Hanya terdengar suara angin menghembus air telaga dan membentur tepi perahu-perahu serta suara deritan tiang-tiang perahu yang tertiup angin.
8 3 Sedangkan Tong Kiam Ciu dengan waspada mengawasi satu persatu perahu layar itu dia telah memperhitungkan segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Diatas perahu layar itu ia menyaksikan ratusan orang-orang dari partai silat Kong-tong yang bersenjata lengkap.
"Jik.a kalian ingin menguasai pedang , aku dapat menanti sampai kalian dapat menemukan kitab pusaka Pek-seng-ki-su! Itu suatu keputusan pada Bu-lim-ta-hwee. Tanpa kalian menguasai kitab pusaka Pek-seng-ki-su jangan kalian harapkan untuk dapat merebut pedang Oey Liong Kiam!"
Seru Kiam Ciu dengan suara bentakan lantang.
"Tong Kiam Ciu apakah tau tidak sayang dengan ketampananmu, dengan usiamu yang masih muda ? Kalau kau tetap akan mempertahankan pedang Oey Liong Kiam, kau akan mati konyol!"
Seru Liat Kiat Koan dengan nada suara sombong dan nemandang rendah lawannya.
"Kau boleh mencola...!"
Bentuk Kiam Ciu berani menantang ketua partai Kong-tong itu. Kemudian terdengar salah seorang diantara orang-orang yang berdiri disamping Liat Kiat Koan itu memaki Tong Kiam Ciu.
"Hey Tong Kiam Ciu, kau benar-benar kurang ajar dan bernyali besar! Aku Liong Kauw Ji akan memberikan hajaran padamu !"
Tetapi Tong Kiam Ciu telah waspada dan siap mengdapi serangan.
Maka ketika dengan selesainya kata-kata Liong Kauw Ji, tampaklah orang itu melesat dan terjun keatas perahu Tong Kiam Ciu.
Dengan serentak pula orang itu telah mengirimkan pukulan bergandanya mengarah dada dan ulu hati Kiam Ciu.
Namun pemuda itu hanya dengan satu gerakkan tangan kiri telah berhasil menghantam lawannya.
Hingga Liong Kauw Ji terpental dan jatuh tercebur ke dalam telaga.
"Ha. ha "ha ha ! Kukira aku menghadapi seorang jago silat ! Tidak tahunya hanya sebuah tong tempat tuak saja !"
Seru Tong Kiam Ciu sengaja mengejek menarik kemarahan orang-orang Kong-tong.
"Kauw Ji kau tidak sabaran ! Dia bukan lawanmu !"
Seru Liat Kiat Koan sambil memerintahkan orang-orangnya untuk melemparkan tali kearah Liong Kauw Ji.
"ayo naik keatas perahu !" 8 4
"Orang-orang Kong-tong aku masih banyak urusan. maaf aku tidak sempat melayani kalian !"
Seru Tong Kiam Ciu sambil menggerakkan dayungnya memutar perahu kecil itu tikan meninggalkqn pengepungan.
"Tong Kiam Ciu, apakah kau takut melawan aku ? Sekarang juga kita akan mengadakan perhitungan!"
Seru Liat Kiai Koan menantang sambil mengirimkan sebuah pukulan kearah kepala Kiam Ciu Kemudian tampuk dua orang dari partai silat Kong-tong telah meloncat kearah perahu Tong Kiam Ciu.
Mereka melompat serentak untuk menerkam dan membinasakan Kiam Ciu Liong Kauw Ji Tiba-tiba dari atas perahu kecil yang sangat laju mendekati perahu-perahu yang sedang mengepung perahu Kiam Ciu itu.
Terdengar sebuah seruan nyaring dan sangat berwibawa.
"Tahan !"
Terdengar suara itu.
Kemudian semua orang yang berada ditempat itu memandang kearah perahu yang tengah meluncur laju kearah mereka.
Diatas perahu itu tampak seorang kakek yang mengenakan kulit singa dan di dadanya tertera huruf ONG (Raja).
Dia adalah ketua partai sitai Kim-sai.
Semua orang tidak kecuali Liat Kiat Koan menjadi heran dengan kemunculan tokoh tua yang telah lebih dari dua puluh tahun mengasingkan diri itu telah muncul dengan tiba-tiba.
Justeru kemunculannya itu bertepatan dengan bahaya yang sedang mengancam diri pendekar muda Tong Kiam Ciu.
Lalu mereka semuanya berpikir-pikir hubungannya dengan Tong Kiam Ciu yang kebetulan pula saat ini sedang berada diatas telaga Ang-tok-ouw dan dalam pengepungan orang-orang Kong-tong.
Perahu kecil itu telah mendekati kapal induk orang-orang partai Kong-tong.
Kemudian tampak dengan jelas Liat Kiat Koan berdiri di tepi perahu layarnya dan memandang dengan sikap heran kearah Kuk Kiat.
Namun Kuk Kiat telah berdiri tegak diatas perahu kecil seolah-olah sebuah perahu tiang baja yang dipancangkan diatas perahu itu.
"Liat Kiat Koan ! Apakah kau ingin mengganggu Tong Siauwhiap? Kalau kau akan mengganggunya berarti kau harus berhadapan denganku ! Dengarkan baik-baik kata-kataku itu !"
Seru Kuk Kiat dengan nada tegas dan bersikap menantang dan gagah.
Setelah kakek itu berseru dengan suara nyaring dan tegas, maka segeralah memberi hormat kepada Tong Kiam Ciu.
Kemudian kepada pemuda itu dia berseru pula .
"Tong Siauwhiap, marilah kita lekas berlalu !"
Seru ketua partai silat Kim-sai itu dengan suara nyaring pula.
Tampaklah perahu Tong Kiam Ciu telah bergerak mendekati perahu Kuk Kiat.
Tetapi Liat Kiat Koan pemimpin partai silat Kong-tong merasa bergusar hati dan tidak mau direndahkan martabatnya.
Maka segeralah dia berseru dengan suara lantang dan marah sekali.
"Kalian akan lari kemana !"
Seru ketua partai Kong-tong itu dengan suara lantang dan nyaring sekali.
"Hayo kalian kepung mereka !"
Maka dengan gerakan serentak perahu layar itu telah kembali mengepung kedua perahu kecil yang ditumpangi Kiam Ciu dan Kuk Kiat.
"Kiat Koan jahanam ! Apa artiinya ini ?"seru pemimpin partai Kim-sai dengan sikap sangat marah.
"Ha-ha ha! Kuk Kiat, kau telah mengubur partaimu sendiri selama puluhan tahun. Kau sendiri tidak tampak malang melintang lagi dikalangan Kang-ouw. Sehingga aku mengira bahwa partaimu telah dibubarkan. Sekarang tiba-tiba saja kau muncul dan akan turut campur tangan dalam urusan orang lain. Ku kira kau hanya akan mencari mati saja. Kuk Kiat, aku hanya berurusan dengan Tong Kiam Ciu ! Tetapi kalau kau orang juga akan campur tangan, maka aku tidak akan segan-segan untuk membinasakan kamu !"
Bentak ketua Kong-tong itu dengan suara gusar. Mendengar jawaban yang panas dan bersifat menantang itu ketua partai Kim-sai terperanjat dan wajahnya bersemu merah.
"Ha-ha-ha! Liat Kiat Koan ternyata kau tidak memandang dirimu sendiri ! Apakah kau belum sadar bahwa kau berbicara dengan siapa ? Tanyakan kepada 8 6 suhumu aku ini siapa, kau kini beruntung dapat menjadi ketua Kong-tong ! Tetapi kini kau cari kematian !"
Tanpa menjawab lagi dampratan itu.
Liat Kiat Koan telah meloncat keatas perahu kecil itu sambil mengirimkan pukulan kearah Kuk Kiat.
Tampak perahu itu tergoncangn namun Kuk Kiat tetap berdiri tegap dan berkelit kesamping sedikit menghindari serangan ketua partai Kong-tong itu.
Sedangkan Tong Kiam Ciu tidak dapat membantu Kuk Kiat karena perahunya juga diserbu beberapa orang Kong-tong yang bersenjata tajam.
Maka segera terjadilah perkelahian yang ramai diatas perahu kecil itu.
Hampir saja perahu-perahu yang hanya kecil itu tenggelam karena dimuati oleh sekian banyak orang dan sedang bergerak seenaknya.
Bahkan orang-orang Kong-tong ada pula yang telah mencebur kedalam telaga Ang-tok-ouw mereka berenang dan menuju ke perahu kecil dengan makud untuk menggulingkannya.
Tetapi Kuk Kiat tidak datang ke telaga itu seorang diri.
Orang-orang dari partai Kim-sai ternyata telah menyertainya dan membantu dalam pertempuran itu.
Maka dalam sekejap saja telah berkobar suatu pertempuran yang hebat kekuatan melawan kekuatan.
Antara partai Kong-tong dengan pariai Kim-sai.
Mereka bertempur mati-matian, hingga terdengar jerit dan rintihan karena mereka terkena senjata atau banyak pula yang tercebur di atas telaga Ang-tok-ouw dengan luka parah.
Seolah-olah telaga yang airnya bening itu kini telah berubah menjadi telaga darah.
Mereka bertempur dengan pedang dan tombak serta senjata-senjata andalan masing-masing !
Dalam keadaan yang sedang gaduh itu tiba-tiba datang pula kapal layar besar dengan gerak yang sangat laju menuju kearah tempat pertempuran itu.
Kapal layar besar itu mengibarkan bendera hitam yang tampak megah dan melambai-lambat tertiup angin.
"Hey kalian dari mana? Mengapa membuat kotor air telaga Ang-tok-ouw? Jika kalian tidak menghentikan pertempuran, maka kami dari partai Ouw-ki-pang 8 7 tidak segan-segan untuk menggempur bersih kalian!"
Seru pemimpin partai itu dengan suara lantang yang dilambari ilmu melontarkan suara "berhenti!"
Teriakan yang dikeluarkan dengan suara yang dilambari dengan ilmu melontarkan suara dan lwekang itu didengar oleh semua orang yang sedang bertempur itu, walaupun keadaan sangat gaduh.
Tetapi mereka tidak menggubris teriakan itu.
Mereka terus bertempur!
Karena teriakannya itu tidak digubris, maka Ouw-ki-pang yang bergelar Lau-hai-teng-liong (Naga sakti dari lautan hitam) menjadi sangat marah.
Diatas perahu layar besar itu terdapat pula Shin Kai Lolo dan Sio Bie Hu.
Ketika Ouw Hin Lee menjadi sangat gusar dan akan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyerbu.
Tiba-tiba Sio Bie Hu mendekati ketua partai Ouw-ki-pang dan menunjuk kearah Tong Kiam Ciu.
Kemudian mencegahnya karena dia khawatir kalau salah menyerang orang.
Kemudian Sio Bie Hu menghampiri suhunya dan memberitahukan bahwa yang sedang dikerubut itu ternyata adalah Tong Kiam Ciu.
"Suhu lihat ! ternyata itu Tong heng ! Marilah kita membantunya!"
Saat itu Tong Kiam Ciu baru saja memukul seorang dari partai Kong-tong, maka dia sangat terperanjat dengan meloncatnya Sio Bie Hu di perahu itu. Hampir saja Tong Kiam Ciu mengirimkan sebuah pukulan.
"Teng Lotee !"
Seru Tong Kiam Ciu dengan suara terperanjat.
Karena dengan tiba-tiba saja gadis itu telah muncul.
Namun Sio Bie Hu hanya tersenyum.
Dalam waktu sekejap itu telah terjadi pula suatu pertemuan antara Tong Kiam Ciu dengan Sio Bie Hu ketika mereka saling berpandangan itu, tiba-tiba Kiam Ciu menggerakkan tubuhnya berputar dan tampak seorang Kong-tong lelah terpelanting dan sambil menjerit tercebur kedalam telaga Orang itu memang sengaja meloncat dan akan merebut pedang Oey Liong Kiam dipunggung Tong Kiam Ciu.
Namun angin sambarannya telah dirasakan oleh Tong Kiam Ciu.
Maka dengan suatu gerak putar yang cepat sekali Tong Kiam Ciu telah berhasil menghantam lawannya itu.
8 8 Walaupun sebenarnya Tong Kiam Ciu telah mengetahui bahwa pemuda yang berada didepannya itu adalah seorang gadis yang bernama Sio Bie Hu dan sedang menyamar, pula pemuda itu telah mengetahui bahwa Sio Bie Hu adalah tunangan Cen Yun Leng.
namun untuk menjaga suasana itu Tong Kiam Ciu berpura-pura tidak tahu.
"Tong heng!"
Seru Sio Bie Hu seolah-olah akan mengucapkan sesuatu tetapi tertahan dan tidak dapat dikeluarkannya. Hanyalah sampai disitu saja dia berbicara dan selanjutnya hanya memandang dan tertunduk.
"Entah disebabkan karena apa tiap kali dia bertemu dengan Tong Kiam Ciu selalu merasa kikuk dan malu, seperti juga kali itu. Saat itu Shin Kai Lolo juga teluh meloncat ke perahu Kuk Kiat. Nenek itu telah mengebutkan lengan jubahnya yang menimbulkan hembusan angin keras yang hampir saja menjatuhkan kedua orang yang sedang bertempur itu.
"Liat Kiat Koan, kalau kau tidak lekas menyingkir, kau dan orang-orang Kong-tong akan disapu bersih oleh Ouw Hin Lee"
Seru nenek Shin Kai Lolo.
Liat Kiat Koan memandang keadaan sekitarnya.
timpaklah orang-orangnya telah banyak yang binasa dan terluka.
Hatinya pedih sekali.
Dia yakin bahwa orang-orangnya tidak akan mampu melawan orang-orang dari partai Kim-sai.
Apalagi kalau sampai dibantu oleh orang-orang Ouw-ki-pang.
Maka setelah menyadari hal itu segeralah dia mengangkat tangan dan menghormat.
"Oh.... kiranya siapa yang datang..."
Dengan berakhirnya kata-kata itu dia telah menyebarkan pasir beracun kearah Shin Kai Lolo dan Kuk Kiat.
Baik Shin Kai Lolo maupun Kuk Kit menangkis serangan itu.
Mereka telah berloncatan dan melindungi diri bahaya pasir beracun.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Kiat Koan untuk melarikan diri.
Pemimpin partai Kong-tong yang bersikap keji itu telah meloncat menceburkan diri kedalam Telaga Ang-tok-ouw.
Kuk Kiat menyaksikan itu segera mengejar, tetapi baru saja dia akan terjun kedalam ait telaga tiba-tiba ditahan oleh Shin Kai Lolo.
"Biarkan dia lari..!"
Seru nenek itu sambil memegang lengan Kuk Kiat.
"dikemudian hari kita masih dapat bertemu lagi. Coba lihat orang-orang Kong-tong sudah banyak yang luka dan yang masih selamat telah berusaha untuk melarikan diri!"
Seru Shin Kai Lolo sambil menunjuk kearah telaga.
Kuk Kiat dapat menguasai diri, kemudian memandang kearah telaga.
Memang diatas air yang telah mulai tenang itu tampak beberapa orang dari partai silat Kong-tong yang berusaha untuk berenang ketepian.
Dalam pada itu mereka lelah dikagetkan dengan bunyi lengkingan panjang dan berkesan.
Ketika mereka memperhatikan kearah datangnya suara itu ternyata tampaklah sebuah perahu layar yang besar dan dihiasi sangat indah sekali.
Orang-orang yang berada di tempat itu semuanya memandang kearah perahu indah itu.
Mereka mengaguminya.
Apalagi ketika perahu layar itu bertambah dekat, tampaklah diatas perahu layar itu seorang wanita yang sangat jelita dengan dua orang laki-laki tampan dan dua orang wanita jelita pula.
Wanita muda yang sangat jelita itu ialah Cit Siocia.
Tong Kiam Ciu menjadi sangat terperanjat ketika matanya menyaksikan bahwa dengan tiba-tiba saja tampak ditepi perahu itu orang-orang yang dia sangut kenal.
Orang oring itu inilah Pek Giok Bwee.
Ji Han Su, Siauw Liang dan Ji Tong Bwee Sin-ciu-sam-kiat dengan tiba-tiba saja telah berada diatas telaga Ang-tok-ouw.
"Suhu!"
Seru Tong Kiam Ciu tidak dapat menahan hatinya lagi.
Tahu-tahu pemuda itu telah meloncat keatas perahu itu.
Ketika itu Shin Kai Lolo telah memalingkan wajahnya kearah Sio Bie Hu dan berseru "malam ini kita akan meng idakan perjamuan besar Sio Bie Hu, lekaslah kau beritahukan kepada paman Ouw Hin Lee uniuk menjamu tamu-tamu agung kita !"
Dengan cepat Sio Bie Hu sudah melesat menghadap Ouw Hin Lee dan menyampaikan pesan itu.
Kemudian setelah semuanya disanggupi oleh ketua Ouw Ki pang maka gadis itu kembali akan menghadap kepada suhunya.
Saat itu masih banyak orang-orang dari kalangan Kim-sai.
8 10 Ketika Sio Bie Hu melewati beberapa orang Kim-sai, tiba-tiba dia telah ditegur oleh seseorang.
"Siok Soat ! Akhirnya aku dapat bertemu kau juga disini ! Aku telah mencari kau dimana-mana !"
Seru seorang pemuda yang tiada lain adalah Ceng Yun Leng. Sio Bie Hu juga terkenal dengan panggilan Teng Siok Soat berhenti dan memandang kearah pemuda yang menegurnya itu.
"Tidak perlu kau mencari-cari aku lagi, hubungan kita telah putus ! Habis !"
"Siok Soat ! Apakah kau tidak mengenali aku lagi ? Aku Ceng Yun Leng orang yang sangat mencintaimu ! Mengapa kau begitu kejam kepadaku !"
Seru Yun Leng sambil mengejar gadis itu yang telah beranjak.
"Jangan berbicara keras-keras ! Kita sudah patah areng ! Apakah kau kira aku tidak mengetahui bahwa kau telah tergila-gila dengan puteri Kuk Kiat ?"
Seru Teng Siok Soat dengan mata membelalak.
"Hah ? Mengapa kau berkata begitu ? Jika aku mencintai gadis itu, mengapa aku mencari-cari kau sampai berbulan-bulan ?"
Sambung Yun Leng.
"Ah bohong"
Sambung Teng Siok Soat.
"Betul-betul aku hanya mencintai kau seorang"
Seru Yun Leng.
Tetapi kata-kata itu terpatahkan oleh kedatangan Shin Kai Lolo dan Kuk Kiat ditempat kedua orang itu.
Kedua remaja itu memandang kearah ke datangan kedua orang tokoh yang yang telah beridi disamping mereka.
Teng Siok Soat masoh tampak cemberut, sedangkan Ceng Yun Leng tampak tegang dan keningnya masih berkerut.
Namun ketika pandangan matanya bertemu dengan nenek Shin Kai Lolo, pemuda itu memaksakan diri untuk tersenyum.
"Hee-he-hee, kalian anak muda.., hem.. pandai benar mengambil kesempatan untuk berduaan hee..hee. hee..hee"
Seru Shin Kai Lolo. Namun Teng Siok Siat tamhah cemberut dan memandang suhunya.
"Suhu, aku akan pergi kalau suhu menggodaku terus !"
Seru Teng Siok Siat dan akan melangkahkan kakinya. 8 11 Tetapi nenek itu menyandak lengan muridnya dan tertawa-tawa.
"Hee.... hee kau anak aleman kita memang perlu cepat-cepat pergi dan menemui tamu agung kita. He hee hari ini kita akan makan lezat bersama-sama dengan tamu agung ... hee he !"
Sambung Shin Kai Lolo.
Sambil mengakhiri kata-katanya itu mereka telah meninggalkan tempat itu menuju kearah kapal layar milik Ouw Hin Lee.
Wajah Teng Siok Soat masih tampak kuyu dan mulutnya masih jemberut.
Sebenarnya dia adalah seorang gadis remaja yang sangat jelita seandainya dia mengenakan pakaian wanita dan tambutnya disanggul dengan rapi.
Tetapi memang keadaannya saat itu memang disengaja, karena gadis itu memang sengaja mengenakan samaran sebagai seorang pemuda, maksudnya agar memudahkan dirinya dalam mengembara dikalangan Kang-ouw.
Sepanjang perjalanan menuju ke tempat pertemuan itu mereka diam membisu, hanya mata Ceng Yun Leng yang selalu melirik kearah kekasihnya dan tiap lirikan mereka bertemu, hati pemuda itu berdebar.
Memang Ceng Yung Leng sebenarnya sangat mencintai Teng Siok Soat dengan sepenuh hati, hanya gadis remaja itu menaruh syak wasangka dan cemburu buta terhadap kekasihnya.
Dia menyangksikan bahwa antara Yun Leng dan putri ketua partai Kim-sai ada hubungan cinta.
Adapun pada saat itu memang adalah hari yang sangat luar biasa.
Hari-hari yang paling bahagta selama Kiam Ciu mengembara karena saat ilu dia telah dipertemukan oleh Thian kepada orang-orang yang sangat diciniai.
Bukan saja adiknya dan kekasihnya yang selalu dirindukan itu ialah Ji Tong Bwee tetapi juga Ji Han Su dan Pek Giok Bwee kedua orang tua angkat yang telah dianggap seperti orang tuanya sendiri juga kehadiran paman angkatnya ialah Siauw Liang.
Tong Kiam Ciu tidak dapat berbicara apa-apa, karepa menahan keharuan.
Pemuda perkasa itu telah berlutut dihadapan ketiga Sin-ciu-sam-kiat.
Dia telah menghaturkan sembah dan selanjutnya hanya diam.
Ditempat itu juga tampak hadir Cit siocia.
Tetapi kehadirannya seolah-olah tidak mendapat perhatian mereka.
Gadis jelita itu seolah-olah tidak ada ditempat itu.
Tapi Cit siocia juga tidak merasa sakit hati, karena gadis jelita dan liehay itu 8 12 telah memaklumi bahwa mereka sedang meluapkan kerinduan dan keharuan setelah lama saling berpisah.
Tetapi ketenangan dan kemesraan itu tiba-tiba telah dirusakan oleh kehadirannya Shin Kai Lolo ditempai itu.
"Hee-hee-hee-kita ketemu lagi anak muda hehehe". seru Shin Kai Lolo sambil tertawa gembira sekali.
"Oh, Shin Kai Lolo ... ."
Sambung Kiam Ciu sambil menghormat.
Kemudian Tong Kiam Ciu memperkenalkan kedua orang tua serta pamannya.
Mereka berempat telah saling berkenalan.
kemudian Shin Kai Lolo telah mengetengahkan bahwa dia telah menyuruh sahabatnya ketua partai Ouw ki-pang untuk mengadakan perjamuan.
"Aku sudah minta kepada Ouw Hin Lee ketua partai Ouw-ki-pang untuk mengadakan perjamuan"
Kalian Sin-ciu-sam-kiat menjadi tamu kehormatan kami, ayohlah kita menemui Ouw Hin Lee"
Seru Shin Kai Lolo selesai bicara itu sudah mau beranjak dari tempat itu. Tetapi ketiga pendekar dari daerah Shin Ciu itu tampak ragu-ragu.
"Tetapi"."
Sambung Ji Han Su ragu.
"Sudahlah! Meskipun kita belum pernah berjumpa sebelum pertemuan ini, tetapi nama kalian telah banyak kami dengar dikalangan kangouw. Cobalah tanyakan kepada Tong Kiam Ciu. Ayolah kita berangkat sekarang !"
Seru Shin Kai Lolo mengajak yang berada ditempat itu semuanya dengan tersenyum. Semuanya mengikuti nenek itu. tetapi Cit Siocia tidak mau turut.
"Cit cici ayolah kita turut juga !"
Ajak Jt Tong Bwee. Cit Siocia menggelengkan kepalanya seraya berkata .
"Tidak, kau sajalah yang pergi !"
Seru Cit Siocia kemudian gadis jelita itu mengajak Tong Bwee untuk menghadap Tong Kiam Ciu.
"Kiam Ciu. meskipun kita pernah berselisih, tetapi akhirnya kuakui bahwa aku telah jatuh cinta padamu. Entah mengapa aku dengan begitu saja telah sangat 8 13 mencintaimu......"
Cit Siocia berbicara dengan berterus terang kepada pemuda yang sangat didambakan itu tanpa tendeng aling-aling lagi.
Sesaat lamanya mereka saling berpandangan, kemudian Kiam Ciu menundukkan kepala dan Cu Siocia menarik napas panjang.
"Karena kau, aku telah banyak menghamburkan waktu untuk memancing dirimu. Karena kau pula aku telah salah tangan melukai adikmu ini. tetapi aku juga sudah mengobatinya. Kemudian aku telah menyadarinya bahwa Ji Tong Bwee lebih mencintaimu dan dialah yang berharga untuk mendampingimu Dia telah mengampuiniku dan kita telah bersumpah untuk bersaudara". Sekarang aku menyerahkan Tong Bwee kepadamu, kuharapkan kau menjaganya dengan baik-baik. Aku senantiasa mendoakan kebahagian untuk kalian berdua, Nah, kukira perjumpaan ini kita akhiri dulu, aku akan segera pergi dan mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi kelak"
Cit siocia mengakhiri kata-katanya.
"Cici bukankah kita telah berjanji selalu akan berkumpul dan tidak akan berpisah?"
Seru Tong Bwee.
"Kau jangan timbulkan urusan begitu lagi. Sudahlah kau ikut dia dan aku akan segera pergi!' sambung Cit siocia sambil tersenyum.
"Tetapi cici, kau sudah berjanji!"
Ji Tong Bwee mendesak terus.
"Ikut dia"
Cit siocia membentak sambil dilambari ilmu Pan-yok-sin-im, karena pengaruh ilmu Pan-yok-sin-im itu, maka mereka tidak benarnya seperti orang linglung.
Mereka meninggalkan Cu Siocia seorang diri.
Ketika mereka sampai diatas kapal Ouw Hin Lee, Ji Han Su menanyakan apa sebenarnya Cit Siocia tidak ikut serta.
"Mengapa Cit Siocia tidak turut datang ?"
Tanya Ji Han Su kepada Tong Bwee.
"Dia telah pergi!'"
Jawab Tong Bwee dengan wajah keruh.
Maka orang tua itu tidak melanjutkan pertanyaan.
Mereka membisu.
Sementara itu awan tipis telah tertiup angin dan menyelubungi bulan.
Angin berhembus halus dan hawa terasa sangat sejuk.
Bertepatan dengan itu pula, kapal layar yang indah milik Cit Siocia telah mulai bergerak.
Indah sekali tampaknya.
Sedangkan suasana sangat tenang.
8 14 Telaga Ang-tok-ouw tenang sekali, hanya sesekali air tertiup angin dan bergelombang halus menuju ketepian.
Cit Siocia tampak menyendiri, menatap ke langit.
Bulan yang berselubung mega angin halus berhembus, kericikan air telaga yang menghantam lambung perahu besar itu.
Semuanya itu telah membuat hati gadis jelita itu bertambah sepi dan hanyut, pikirannya telah hancur luluh berkeping-keping rasanya.
Ia telah melakukan pengorbanan yang besar, tetapi luhur.
Seumur hidupnya dia belum pernah mendapat siksaan yang berat seperti kali ini.
Bukankah semua laki-laki tunduk dihadapannya serta menuruti semua perintah dan kehendaknya ?
Sekarang suatu kenyataan yang baru saja dialaminya, dia telah benar-benar terpukul hatinya.
Dia mencintai seorang pendekar muda, cinia yang luar biasa hingga dia banyak mengorbankan waktunya hanya untuk mengejar pemuda itu.
Tetapi dia telah berani berkorban pula demi cintanya kepada pemuda itu.
Cit siocia telah berani berkorban dan menderita karena cintanya kepada pemuda itu juga tanpa disadarinya dia menaruh rasa sayang pula kepada gadis saingannya.
Dia telah menyerahkan semuanya, menyerahkan harapannya kepada Tong Bwee.
Kemudian membiarkan hatinya sendiri luluh karena cinta yang kandas.
Dia telah bersumpah tidak akan mencintai laki-laki lain !
Tetapi apakah sumpah itu dapat dipenuhinya ?
Entahlah keadaan yang akan menentukan nanti!
Dengan hati luluh dan hancur itu Cit Siocia menatap kelangit memandangi bulan yang telah menyembul dari balik awan.
Angin halus bertiup sejuk dan air telaga bergelombang kemudian terdengar riakan air membentur lambung perahu.
Gadis itu tampak bertambah ayu parasnya karena tertimpa sinar rembulan.
Siapapun yang memandangnya akan terhanyut dalam godaan asmara.
Cit Siocia.
Tapi saat itu dia sedang duka.
Risau dan hancur luluh ha tinya.
Diatas kapal layar milik Ouw Hin Lee tampak sangat sibuk dan diliputi suasana kegembiraaan.
Karena diatas perahu besar itu sedang diadakan perjamuan dan pesta kemenangan dari partai Ouw ki-pang dan partai Kim-sai yang lelah berhasil menundukan partai Kong-tong.
Tampaklah mereka 8 15 bergembira dan tertawa gelak-gelak seria menyanyikan lagu kemenangan bahkan ada yang menari-nari pula.
Pesta yang sangat meriah itu diikuti oleh semua orang yang berada diatas perahu besar itu.
Kalau mereka itu merayakan kemenangan dalam peperangan, tetapi lain halnya dengan Teng Siok Soat dan Ceng Yun Leng Kedua remaja ini tampak guratan hambar diwajahnya, sedangkan tertawanyapun hambar pula.
Begitu pula Kiam Ciu dan Tong Bwee.
Mereka bercanda dalam berpikir bukan saja dalam pertemuan itu yang mereka pikirkan.
tetapi mereka mempunyai kesibukan pikiran sendiri.
Kacau dan bingung meliputi hati mereka.
Hal itu hanyalah orang-orang arif yang mengetahuinya.
Tampaklah Shin Kai Lolo sangat bergembira, nenek itu rupa-rupanya telah banyak minum tuak hingga beberapa mangkuk maka terdengarlah dia telah banyak berbicara dan tertawa.
Memang kalau nenek itu sedang mabuk dia lelah banyak tertawa dan bicaranya sangat ringan tak terkendali.
Kemudian tampak Shin Kai Lolo mendekati Kiam Ciu dan mengajak pemuda itu untuk bersama-sama dia mengangkat mangkuk arak.
"Hari ini kita telah berkumpul disini. Kau Tong Kiam Ciu, adalah seorang anak muda yang telah menggemparkan rimba persilatan Kau masih sangat muda dan baru saja terjun dikalangan Kangouw, tetapi namamu telah banyak dipuji dan dipuja orang. Bukan saja karena kelihayanmu, tetapi karena sepak terjangmu yang suka menolong dan budiman itu yang banyak dihormati. Orang hingga aku siorang tua bangka ini, merasa hormat padamu ! Marilah kita minum untuk kehormatan itu !"
Seru Shin Kai Lolo sambil mengangkat mangkuk araknya dihadapan Tong Kiam Ciu.
Tong Kiam Ciu berdiri dan menghormat kemudian mengangkat mangkuknya sambil tersenyum dan menyahut dengan kata-kata menghormat pula.
"Kau orang tua kelewat memujiku!"
Seru Tong Kiam Ciu.
"Hee... hee... hee kau terlalu merendahkan diri arak muda !"
Sambung nenek itu setelah selesai meneguk araknya kemudian tampik dia memperhatikan sesuatu dan berseru dengan suara berubah nadanya Hemmm, kita kedatangan tamu lagi.
Hei tamu !
Jika kau ada urusan mengapa tidak segera datang saja kemi !"
Seru Shin Kai Lolo dengan memandang ke suatu arah.
8 16 Semua yang hadir di tempat itu berhenti berbicara dan tertawa, mereka berusaha mendengarkan sesuatu, kemudian Tong Kiam Ciu telah meloncat dan menghormat kepada orang-orang tua didekatnya.
"Biarkan aku pergi dulu untuk menyelidiki keadaan !"
Setu Tong Kiam Ciu.
kemudian seorang laki-laki yang bertubuh pendek dengan wajah seram dan alisnya tebal kaku serta hidungnya yang besar.
Orang itu bernama Ho Beng wakil ketua Ouw-ki-pang tahu-tahu telah berdiri dan beranjak kedepan "Tong siauwhiap!
Aku juga turut!
Aku dari sebelah kanan dan kau kesebelah kiri"
Seru Ho Beng sambil melangkah keluar dari ruang pesta itu.
Setelah sampai diluar mereka berpisah, Tong Kiam Ciu membelok kekiri, sedangkan Ho Beng kesebelah kanan Suasana diatas geladak kapal layar itu seketika menjadi sepi.
Hanya terdengar suara angin berhembus dan gerakan air membentur lambung perahu.
Tong Kiam Ciu memanjat tiang layar, dari atas dia memandang kebawah memeriksa keadaan perahu itu, Tetapi sampai sebegitu jauh Tong Kiam Ciu tidak melihat ataupun mendengar suara apa-apa yang mencurigakan.
Apakah Shin Kai Lolo salah mendengar karena terlalu banyak minum?"
Pikir Tonn Kiam Ciu.
Ia lekas-lekas turun tangan dan ketika tiba diatas geladak dia sangat terperanjat ketika dihadapannya terlihat Shin Kai Lolo telah berada di tempat itu dengan tiba-tiba dan sama sekali tidak mengeluarkan suara.
"Angkatan tua, mengapa kau juga turut keluar?"
Tegur Kiam Ciu.
"Hehehe kau masih terlalu muda dan belum berpengalaman. Kita dalam keadaan begini harus hati-hati ...."
Sambung Shin Kai Lolo dengan suara setengah berbisik.
"Ya ...."
Sahut Kiam Ciu.
"Apa kau tidak melihat sesuatu?"
Bisik Shin Kai Lolo sambil melirik ke sekitar tempat itu.
"Tidak"
Jawab Kiam Ciu sambil mengerutkan keningnya "Rupa-rupanya kau juga dalam kesulitan?"
Tegur Shin Kai Lolo. 8 17
"Biasa saja, kesulitan yang mana?"
Jawab Kiam Ciu gugup. Nenek itu tersenyum mendapat jawaban Kiam Ciu. Tetapi senyuman itulah justru yang membuat hati Kiam Ciu jadi gelisah.
"Kau masih muda dan belum berpengalaman, kau harus berhati-hati dalam keadaan ini ..."
Bisik Shin Kai Lolo mengulangi kata-katanya tadi dan tersenyum.
Kiam Ciu memandang wajah nenek itu kemudian dia menarik kesimpulan bahwa Shin Kai Lolo hanya mempermainkan dirinya, atau memang terlalu banyak minum arak?
"Memang aku dalam kesulitan, aku mencari seorang musuh besarku sampai sekarang belum dapat kuketemukun...."
Bisik Kiam Ciu.
"Hah?"
Sahut nenek itu sambil memandang kearah Kiam Ciu.
"Ya, benar aku telah berusaha untuk mencari musuh besarku itu hampir selama satu tahun, tetapi sampai saat ini belum juga kuketemukan. Karena..........."
Sambung Kiam Ciu terputus lagi.
"Karena apa ? Siapakah musuh besarmu itu?"
Tanya Shin Kai Lolo. Sambil menunjuk kearah bulan Kiam Ciu menyahut.
"Menurut suhuku Pek-hi-siu-si, bahwa musuh besarku itu bernama Ciam Gwat"
Sahut Tong Kiam Ciu.
"Hem, Ciam Gwat ? Dia sangat sukar dilihat orang. Hanya beberapa jago silat saja yang pernah melihatnya, ilmu silatnya sangat lihay...."
Sambung Shin Kai Lolo tampak sebaris guratan asam di wajah nenek itu. Tetapi Kiam Ciu mendesaknya. Pemuda itu merasakan, seolah-olah Shin Kai Lolo pasti telah mengetahui rahasia musuh besarnya itu.
"Angkatan tua apakah kau kenal atau telah pernah mengenalnya?"
Tanya Kiam Ciu mendesak dan berharap.
"Ya."
Jawab nenek itu sambil mengangguk.
"Lalu."
Sahut Kim Ciu tak sabar. 8 18
"Kau sebenarnya hampir menemuinya. Kau telah mendapat suatu alat untuk menemukan musuh besarmu tetapi karena kau belum mengenalinya maka kesempatan itu telah kau lepaskan berlalu saja!"
Shin Kai Lolo menjelaskan.
Justru karera keterangan itulah maka Kiam Ciu bertambah penasaran.
Pemuda itu bertambah gelisah.
Mengapa nenek itu mengatakan bahwa dia telah mendapat jalan dan mendapat kesempatan yang baik sekali untuk menjumpai Ciam Gwat, yang mana kesempatan itu Yang mana jalan itu?
Semuanya itu membuai hati pemuda itu bertambah gelisah saja.
Gurunya sama sekali tidak memberikan gambaran orang yang sedang dicarinya itu.
Baik wajahnya, bentuk tubuhnya maupun kelihayannya.
Dia hanya mengenal namanya saja.
Itupun nama gelar musuh besarnya itu saja dan sama sekali dia tidak mengenal wajahnya maupun ketangguhan orang yang akan dihadapinya itu.
Kiam Ciu bertambah bingung dan mendongkol dengan keterangan Shin Kai Lolo tadi.
Kau hampir menemukannya, kau telah mendapat jalan !
Semuanya itu menggelisahkan hatinya.
"Angkatan tua, jika aku telah menemukan jalannya Maka beritahukanlah padaku keterangan-keterangan yang jelas agar aku dapat menemukan Ciam Gwat dengan cepat. Aku akan merasa sangat berterima kasih padamu", kata Kiam Ciu memohon dan menghormat nenek itu. Sesaat lamanya Shin Kai Lolo terdiam. Nenek itu memejamkan matanya, kemudian terdengar helaan nafasnya, sikapnya kini telah berubah syahdu.
"Ciam Gwat adalah seorang pendekar yang berwatak aneh dan keji. Karena barang siapa yaug telah melihat wajahnya maka orang itu akan binasa ditangannya, maka aku ..."
Kata-kata Shin Kai Lolo terputus, nenek itu menghela nafas sejenak.
"Maka bagaimana ?"
Desak Kiam Ciu dengan perasaan tidak sabar.
"Hem, aku tidak ingat lagi pada tahun apa saat itu. Aku pernah sangat membencinya saat itu, dia adalah seorang yang sangat ajaib dan saat itu benar aku tidak dapat berbuat apa-apa terhadapnya. Namun aku masih dapat memberikan sedikit petunjuk kepadamu, jika seandainya dia berhasil kau cari 8 19 dan lagi dia sudi mengatakan bahwa dia itu adalah Ciam Givai, maka pada saat itulah kau akan mengetahui bagaimana sifatnya dia!"
Seru Shin Kai Lolo merangkak, kemudian nenek itu memandang Kiam Ciu sejenak dan menarik napas.
Suasana sesaat lamanya menjadi hening, mereka berdua terdiam sedang air telaga masih terus berombak dengan tenang karena hembusan angin perlahan, sedangkan bulan masih timbul tenggelam diselubungi oleh mega di langit.
Bintang-bintang berhamburan dan hawa terasa sejuk, suara angin menghembus tali temali menimbulkan suitan-suitan panjang seolah-olah bagaikan rintihan.
"Apakah ka n peria', dengar rentang Kim leng Ji-*u ?"
Tanya nenek nu sambil menian daug wajah Kiam ( 'm "Angkatan tua. bukankah kau pada waktu dua puluhan tahun silam telah banyak dikenal dan dimalui di kalangan Kang-ouw, bersama dengan Kim-leng Ji-su ?"
Sambung Kiam Ciu ganti menanya. Mendengar kenyataan jawaban Kiam Ciu itu, maka nenek itu mengangguk dan tersenyum. Kemudian meneruskun berbicara lagi.
"Pada sekira dua puluh tahun yang silam, dia tinggal di sebuah tempat di propinsi Yun-nan dutas puncak Jit Tiauw Hong di pegunungan Tiam-cong-san. Mungkin juga saat ini dia masih tinggal ditempai itu. Kim-leng Ji-su terpaksa tinggal seorang diri dan terpencil ditempai yang sepi itu juga disebabkan oleh Ciam Gwat. Jika kau telah berhasil dapat menjumpai Kim-leng Ji-su maka kau akan mendapatkan keterangan yang jelas tentang keadaan dari siapa adanya Ciam Gwat itu"
Shin Kai Lolo menerangkan dan memberikan sedikit gambaran betapa pengaruh yang tidak baik pernah disebarkan oleh Ciam Gwat di kalangan Kang-ouw.
Tong Kiam Ciu setelah mendengar keterangan itu lalu menarik napas panjang.
Dia merasakan bingung dan penyesalan yang mana dia harus menepati sebuah janjinya kepada sinenek di lembah Si kok.
Juga dia harus berbuat sesuatu untuk segera menemui Kim-leng Ji-su di puncak Jit-tiauw-hong.
Dua masalah yang mempunyai arti besar bagi hidupnya.
Yang satu sebuah janji dan yang satunya lagi untuk keperluan pribadi.
8 20 Sebenarnya semuanya untuk kepentingan pribadinya juga kelakuannya.
Demi kepuasan dan tercapainya apa yang dimauinya.
Untuk kepentingan pribadi.
Tetapi sama beratnya dan diatur seluruhnya agar dapat dilaksanakannya semua.
Dalam keadaan sepi dan tenang lenggang itu, tiba-tiba Shin Kai Lolo mengerutkan kening dan sambil memutar wajahnya kearah Kiam Ciu dia bertanya.
"Barusan apakah kau tidak mendengarkan sesuatu yang laur biasa !"
Tanya Shin Kai Lolo dengan suara berbisik.
Tong Kiam Ciu menggelengkan kepala, kemudian dia mencari-cari pula kalau matanya menemukan sesutu pemandangan luar biasa atau mencurigakan Tong Kiam Ciu merasa heran dengan kecepatan Ho Beng menghilang.
Bahkan sampai saat itu dia belum melihat kelebatan Ho Beng yang katanya akan menyelidiki keadaan tadi ketika bersama-sama keluar dari ruang pertemuan.
Tetapi Kiam Ciu sampai saat ini sama sekali belum melihat bayangan Ho Beng.
Maka mata Kiam Ciu mengamati ke tempat-tempat gelap dibalik-balik bayangan kalau-kalau melihat sesuatu bayangan maupun hal-hal yang patut dicurigai.
"Aku sudah menduga kalau Ho Beng itu bukanlah seorang jujur. Oh, celaka ayolah kita cepat-cepat memberitahukan kepada kawan-kawan kita !"
Seru Shin Kai Lolo dan tampaklah nenek itu gugup.
Begitu telah selesai dengan kata-katanya itu maka Shin Kai Lolo dan Kiam Ciu segera pergi meninggalkan tempat itu menuju kearah ruangan pesta.
Tetapi mereka tertahan sejenak, karena dikejutkan oleh sebuah bayangan yang bersifat mengejek.
"Sayang sudah terlambat ! Ha ha ha ha !"
Suara itu menggelegar bagaikan guruh yang menggoncangkan bumi.
Tong Kiam Ciu terperanjat, pemuda itu menahan langkahnya dan melihat keadaan sekitarnya.
Dia berusaha menemukan bayangan atau orang yang telah melontarkan kata-kata yang mengejeknya itu.
Ketika kabut diatas telaga itu tersibak tertiup angin dan tampaklah sebuah perahu besar yang berjarak kira-kira hanya tiga puluh meter jauhnya dari kapal 8 21 Ouw Hin Lee.
Diatas tiang mengintai tampaklah seorang laki-laki bertubuh tegap dan kuat.
Oraag itu tengah mengamati kearah Tong Kiam Ciu.
Tidaklah pangling lagi Kiam Ciu, bahwa orang yang mengintai dan tadi melontarkan ejekan itu adalah Kwi Ong.
Kwi Ong yang berhaii kejam dan jahat itu.
Kemudian melihat pula Ho Beng wakil ketua partai Ouw-ki-pang.
Menurut keterangan Shin Kai Lolo bahwa Ho Beng telah berkhianat kepada partainya dan memihak kepada Kwi Ong.
Dia telah sampai hati untuk membunuh serta akan meracuni semua tokoh-tokoh yang sedang dijamu oleh Ouw Hin Lee kemudian akan membinasakan orang-orang dari partai Ouw-ki-pang dan partai Kim-sai.
Maka Tong Kiam Ciu segera melompat kearah kapal Kwi Ong dan akan menyerbu orang-orang yang akan berbuat tidak baik itu.
Sedangkan Shin Kai Lolo telah lari masuk kedalam ruang pesta untuk bertindak dan menyelamatkan mereka yang berada didalam ruang pertemuan itu, Kapal layar besar milik Kwi Ong lelah merapat pada kapal layai milik Oow Hin Lee, Sedangkan Kiam Ciu telah berada diatas dek kapal Kwi Ong, maksudnya akan membinasakan Kwi Ong dan menghajar Ho Beng.
Tetapi begitu Kiam Ciu tiba diatas dek kapal tampaklah air telaga berbuih.
Ternyata dari buihan itu kemudian tampak warna merah darah.
Ternyata Ho Seng telah mulai membantai orang-orang dari partai kim-sai dan orang-orang dari partai Ouw-ki-pang.
Ketika Kiam Ciu akan memanjat tiang magun, maka tampaklah Kwi Ong telati meluncur dari tiang itu melayang kemudian mencebur kedalam telaga.
Menyaksikan hal itu maka Kiam Ciu segera terjun kedalam telaga pula untuk mengejar Kwi Ong, kemudian akan membinasakan Ho Beng yang telah berlaku tidak senonoh dan keji membantai orang-orang bekas anak buahnya sendiri.
Ho Beng berkhianat dan berpaling kepada Kwi Ong dengan maksud untuk menduduki tahta kepemimpinan partai Ouw-ki-pang.
Kemudian Ho Beng rela dan sampai hati untuk merebut dari tangan pemimpinnya sendiri.
Pemimpin yang telah memberikan kemuliaan dan kebahagiaan kepadanya selama puluhan tahun.
Tetapi iblis lelah merasuki benak 8 22 Ho Beng maka semua kebaikan dan kemanusiaan telah dilupakannya.
Yang terngiang dibenaknya hanya bisikan iblis keji untuk merebut kedudukan.
Rupa-rupanya Ho Beng telah memberikan isyarat siap untuk membinasakan orang-orang perkumpulan dari partai Kim-sai dan Ouw-ki-pang.
Maka Kwi Ong telah mengerahkan anak buahnya dari suku bangsa Biauw untuk dengan diam-diam menggasak orang-orang dari kedua partai yang sedang lengah dan berpesta diatas kapal Ouw Hin Lee itu.
Hati Kiam Ciu menjadi sangat gusar dan benci sekali dengan orang yang berhati curang dan khianat.
Maka ketika dia melihat Ho Beng berkelebat meloncat naik keatas kapal Kwi Ong, kembalilah kemarahan pemuda itu meluap-luap Dia telah mengerahkan ilmu Ceng-teng-pa-cui atau capung melompat dari permukaan air.
Langsung Kiam Ciu melompat kearah perahu Kwi Ong.
Namun kelebatan tubuh pemuda itu terlihat oleh Kwi Ong.
Segeralah orang kejam itu membentak dan mengirimkan serangan tangan mendorong kearah tubuh Kiam Ciu yang tengah melayang.
"Kiam Ciu mengapa kau tergesa-gesa merat !?"
Bentak Kwi Ong.
Dalam pada itu Kiam Ciu telah melesat, tubuhnya telah melayang diatas geladak perahu Kwi Ong.
Tanpa menduga datangnya serangan itu, maka ketika dirasakan angin pukulan yang mendampar tubuhnya, Kiam Ciu tidak sempat lagi mengelak.
Maka tiada ampun lagi tubuhnya telah terkena hembusan tenaga pukulan yang hebat sekali.
"Hait!"
Terdengar seruan Kiam Ciu.
Tetapi pemuda itu tidak berdaya dan tidak dapat mengegosi serangan Kwi Ong.
Maka ketika Kiam Ciu telah menginjakan kakinya diatas papan geladak segeralah terjatuh.
Tubuhnya terasa bagaikan dicopoti tulangnya.
Dengan tubuh hancur pemuda itu jatuh terduduk dan lunglai Semangatnya telah hilang dan napasnya jadi sesak sekali, Sebentar kemud an dia telah memuntahkan darah kental berwarna hitam.
"Celaka. iblis itu lelah meracuniku."
Pikir Kiam Ciu. 8 23
"Hahaha anak kemarin sore yang berlagak mau berbuat apa kau dihadapan tuan besarmu ini hah?!"
Seru Kwi Ong yang tiba-tiba telah berada didebat Kiam Ciu.
Begitu juga beberapa orang dari partai bangsa Biauw itu telah berdiri mengepung tubuh Kiam Ciu.
Juga dalam deretan orang-orang itu Kiam Ciu telah ada beberapa orang yang dikenalnya, misalnya Pa Nu dan begitu juga si penghianat hidung besar Ho Beng juga berada ditempat itu.
Kiam Ciu tidak dapat berbuat apa-apa karena tubuhnya terasa sangat lemah.
Karena dia tidak berhasil juga mengejarkan ilmu Bo-kit-sin-kong untuk menghalaukan pengaruh pukulan beracun Kwi Ong.
Pemimpin suku bangsa Biauw itu tertawa dengan bangga dan memandang rendah diri Kiam Ciu.
Panas sebenarnya hati pemuda itu diperlakukan seperti itu, namun apa boleh buat dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
Hanya terdengar kekuatan gigi-gigi pemuda itu pertanda menahan amarahnya.
Kwi Ong juga mengagumi sikap gagah pemuda itu.
"Kwi Ong, Bukankah kau datang di telaga ini akan mencari kitab pusaka Pek-seng Ki-su ? Peta tempat penyimpanan kitab pek-seng itu berada ditanganku !"
Seru Kiam Ciu. Mendengar keterangan Kiam Ciu itu akhirnya Kwi Ong berpikir juga.
"Tanpa peta pek-seng itu akan takkan dapat menemukan kitab pek-seng ki-su. Maka aku harus merebut peta itu terlebih dahulu dari Kiam Ciu". Ia telah mengetahui bahwa kitab pusaka pek-seng ki-su tersimpan disekitar telaga Ang-tok-ouw, maka dia telah memimpin orang-orangnya ke telaga itu. Dia telah bersekutu dengan Ho Beng pembantu Ouw Hin Lee itu yang berambisi untuk menjadi pemimpin dan merebut kedudukan Ouw Hin Lee. Kwi Ong telah menjanjikan untuk membantu Ho Beng merebut kedudukan ketua partai Ouw-ki-pang. Sebelum Kwi Ong turun tangan maka dia sempat mengetahui pula bagaimana partai Kim-sai dan Ouw-ki-pang menggempur partai Kong-tong diatas telaga Ang-tok-ouw itu. 8 24 Selelah Kwi Ong memperhitungkan bahwa dia mampu untuk menggempur dua partai itu dan mendapat bantuan pula dari dalam ialah Ho Beng yang telah berpaling itu. Maka Kwi Ong segera memimpin anak buahnya untuk menyerbu partai Kim-sai dan Ouw-ki-pang Kini setelah dia berada di telaga Ang-tok-ouw dan telah membinasakan banyak orang2 dari partai baik Ouw-ki-pang maupun dari partai Kim-sai dan kini telah berhadapan dengan Kiam Ciu lagi. Maka kini dia akan mengambil jalan terdekat dan termudah untuk menemukan kitab Pek-seng-ki-su. Setelah dia pikirkan lebih dalam maka dia harus dapat merebut peta Pek-teng yang kini disimpan oleh Kiam Ciu. Maka kini dia tertawa sendirian, hingga menimbulkan kengerian dihati orang-orang yang berada disekitarnya. Karena tawa pemimpin suku bangsa Biauw itu sangat seram dan bergidikan bulu kuduk siapapun yang mendengarkannya.
"Kiam Ciu jiwamu berada ditanganku, sedangkan peta pek-seng di tanganmu hayo sekarang serahkan peta itu kepadaku !"seru Kwi Ong dengan wajah seram dan mata melotot. Namun Kiam Ciu yang kini tidak berdaya dan seluruh tubuhnya lemah itu tetap tenang. Dia memandang kearah mata Kwi Ong Kemudian tersenyum, sebenarnya Kiam Ciu ingin bangun, tetapi tidak berhasil.
"Kau dapat mengambil sendiri didalam saku bajuku! "seru Kiam Ciu. Kwi Ong melangkah maju mendekati Kiam Ciu Kemudian merogoh saku jubah pemuda itu. Didalam saku jubah itu dia menemukan beberapa lembar kertas yang bertuliskan huruf-huruf indah, kemudian selembar kertas kosong. Sama sekali Kwi Ong tidak menemukan selembar peta didalam saku baju luar maupun pakain dalam Kiam Ciu. Ketua suku bangsa Biauw itu sangat marah dan merasa dirinya dipermainkan dan perolok-olokan oleh Kiam Ciu. Maka segeralah ia membentak.
"Kurang ajar kau mempermainkan aku. Mana peta Pek-seng!"
Gertak Kwi Ong dengan bergusar hati dan sambil merenggutkan leher baju Kiam Ciu menatap wajah pemuda itu dengan mata melotot.
8 25 Saat seperti itu dan dalam keadaan yang tidak berdaya itu, maka ibaratnya nyawa diujung rambut, Dia telah jatuh ditangan dan dalam cengkeraman siiblis itu.
Maka sekali ini Kwi Ong membalikan tangan dan matilah Kiam Ciu.
"Peta Pek-seng berada ditanganmu, hanya saja kau belum mengetahui caranya untuk melihat peta itu, Peta itu harus dibaca secara rahasia membaca dan melihat peta itu oleh Gan Hua Liong telah dijelaskan kepadaku. Maka hanya aku seoranglah yang dapat mengerti peta Pek-seng itu. Untuk menemukan tempat kitab Pek-seng ki-su maka kau mencariyapun harus dengan aku"
Jawab Kiam Ciu menjelaskan.
Tong Kiam Ciu benar-benar telah berada ditangan Kwi Ong.
Nyawanya tinggal bergantung diujung rambut maka dia harus memutar akal untuk mengulur waktu agar dia dapat selamat.
Karena dia akan merasa penasaran serta khawatir binasa dalam keadaan tugas-tugasnya belum dilaksanakan semuanya.
Maka dia berusaha untuk menyelamatkan diri dan mencari daya-upaya bagaimana caranya untuk membebaskan diri dari cengkeraman tangan siiblis Kwi Ong itu.
Kwi Ong yang keranjingan ingin menguasai dunia persilatan dan dia berkeyakinan bahwa dengan memiliki kitab pusaka Pek-seng-ki-su itu berarti dia akan mempunyai kesaktian yang langka diatas jagad ini.
Maka dia berusaha keras untuk dapa merebut kitab itu.
Maksud semula dia akan membunuh Kiam Ciu, karena dia yakin kalau pemuda itu tetap hidup kelak akan membuat kacau keadaan.
Kiam Ciu menurut pandangan Kwi Ong kelak kalau dibiarkan hidup akan banyak mengacaukan keadaan dan mungkin akan menyulitkan dirinya sendiri.
Maka lebih haik dibinasakan saja !
Namun ketika disadarinya, bahwa dia masih membutuhkan tenaga pemuda itu untuk menunjukkan tempat penyimpanan kitab Pek-seng-ki-su maka untuk sementara terpaksa dia membiarkan Kiam Ciu hidup.
Lagi pula menurut perhitungannya, bahwa Kiam Ciu sudah tidak berdaya untuk dapat melarikan diri lagi.
Akhirnya Kwi Ong berkesimpulan untuk pergi meninggalkan telaga Ang-tok-ouw dan mencari kitab pusaka Pek-seng-ki-su.
Maka dia berseru kepada Ho Beng.
"Untuk sementara waktu, aku mengangkat kau sebagai wakilku. Aku telah mengambil keputusan untuk mencari kitab Pek-seng-ki-su dan mempergunakan si jahanam Kiam Ciu itu untuk mencarinya, Maka kini untuk sementara kau bawalah dia keruang bawah, sementara itu kita mengubah haluan!"seru Kwi Ong dengan sikap memerintah. Beberapa saat kemudian Ho Beng dan Pa Nu telah mengangkat tubuh Kiam Ciu. Dengan cepat kedua orang itu telah membawa Kiam Ciu keruang bawah. Disaksikan juga oleh Kim Ciu dan beberapa orang suku bangsa Biauw yang berdiri ditempat itu. Adapun Kiam C'iu yang dalam keadan lemah dan tidak berdaya itu, sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Dia membiarkan saja segala apa-apa yang yang dilakukan oleh orang-orang itu. Dia telah dibaringkan diatas lantai papan pula di ruangan bawah. Kiam Ciu terlentang dan pikirannya kacau. Sama sekali dia tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa padahal dia harus melaksanakan tugas-tugasnya yang masih terbengkalai, juga pada saat-saat seperti itu dia teringat kembali kepada kedua orang tuanya, adiknya yang sangat dicintai juga paman yang mennyintainya. Apakah mereka selamat atau telah terkena racun ? Bingung pikiran pemuda itu, padahal dirinya sendiri masih dalam keadaan tidak berdaya. Dalam kegelisahannya itu, akhirnya dia menangkap suatu langkah halus bagaikan tikus merangkaki mendekat. Kiam Ciu telah dapat membayangkan, pastilah di bawah dan dalam ruangan yang gelap dan pengap itu banyak sekali tikus buas dan kelaparan. Dia siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan itu.
"Tong Siauwhiap ! Tong Siauwhiap!"
Terdengar sebuah bisikan dari arah kegelapan.
Kiam Ciu membuka mata dan mengamati ke tempat itu.
Lama-lama tampaklah bentuk tubuh dan ketika orang itu mendekati dan menghampiri Kiam Ciu maka jelaslah bahwa orang itu tiada lain adalah Pa Nu.
"Tong Siauwhiap, aku ini Pa Nu ... Apakah kau sudah lupa ?"
Aku pernah bertemu denganmu dan pernah memberikan petuniuk untuk memasuki tempat 8 27 perangkap serta keluar dari perangkap dulu di Desa Sing-kiauw-cong. Bisik orang itu berhati-hati sekali.
"Mengapa kau datang kesini ? Apakah kau telah disuruh oleh Kwi Ong untuk mengorek rahasia peta Pek-seng itu ?"
Tanya Kiam Ciu berbisik pula. Sebenarnya saat itu kiam Ciu akan berbicara keras, tetari Pa Nu telah memberikan isyarat dengan jari telunjuknya. Hingga Kiam Ciu menahan tekanan suaranya.
"Tong Siauwhiap, kuharap kau jangan salah mengerti. Aku akan datang untuk menolongmu"
Pa Nu berhenti sejenak dan menunggu reaksi Kiam Ciu.
"Aku dan Kim Ciu sangat mengagumi sifatmu yang luhur dan budiman Kau hampir menjadi korban keganasan Kwi Ong karena kau membela Gin Ciu. Maka kita telah bertekad untuk membalas budimu itu"
Sambung Pa Nu. Ucapan-ucapan yang setengah berbisik itu diucapkan oleh Pa Nu dengan khidmad. Maka ketika mendengar kata-kata yang meyakinkan itu percayalah Kiam Ciu akan kata-kata Pa Nu.
"Sekarnnp aku berada dimana?"
Tanya Kiam Ciu berbisik kepada Pa Nu.
"Kau berada di ruang bawah dialas kapall. Kwi Ong. Kini sedang berlayar menuju ke kota Pek-seng Kita pernah menemukan kota yang hilang itu". jawab Pa Nu.
"Oh "
Sambung Kiam Ciu Sesaat suasana menjadi sepi, hanya mendengar napas mereka yang teratur karena memang mereka sangat berhati-hati untuk jangan sampai menarik perhatian para petugas orang-orang Biauw.
Tiba-tiba Kiam Ciu meraih lengan baju Pa Nu dan menariknya dekati benar dengan wajah Kiam Ciu.
Kiam Ciu berbisik "Mengapa kau berusaha unluk menolongku?
Aku tidak ingin melibatkan dirimu dalam urusan ini.
Menyingkirlah kalau perbuatanmu ini diketahui oleh Kwi Ong, apakah kau tahu akibatnya?"
Bisik Kiam Ciu.
"Ya, aku tahu resikonya!"
Bisik Pa Nu.
"Perbuatanmu ini tidak ada artinya, kau hanya akan mengambil resiko saja!"
Bisik Kiam Ciu dan berusaha akan mendorong Pa Nu. 8 28 Tetapi orang itu tetap nekad dan berbisik kepada Kiam Ciu.
"Apapun yang akan terjadi itu adalah resiko kami sendiri. Aku telah bertekad. Kami merasa berhutang budi kepadamu ketika kau berusaha untuk menolong jiwa Gin Ciu, untuk itu apakah seandainya kami juga akan menolong membebaskan kau ? Lagi pula kami sangat menggantungkan harapan kepadamu"
Bisik Pa Nu.
"Apakah harapan kalian itu ?"
Tanya Ki-am Ciu.
"Ya, kami merasa tidak betah lagi dibawah kekejaman Kwi Ong yang benar-benar bertambah mabuk kekuasaan dan kejam sekali"
Bisik Pa Nu.
"Oh .."
Hela Kiam Ctu menarik nafas panjang.
"Namun untuk membinasakan Kwi Ong kami tidak mampu. Maka harapan itu kudambakan atas dirimu dan kawan-kawanmu. Kami mengharapkan kelak Tong Siauwhiap dapat membasmi Kwi Ong"
Bisik Pa Nu.
"Hem . ."
Sambung Kiam Ciu.
Tiba-tiba Pa Nu meloncat dan menyelinap ke tempat yang paling gelap dan tersembunyi di balik tong-tong persediaan air.
Tiada lama kemudian tampaklah kelebatan bayangan mendekati Kiam Ciu.
"Tong siauwhiap !"
Bisik seseorang dari tempat kegelapan.
Suaranya mirip suara wanita.
Tiada lama kemudian tampaklah bayangan itu menghampiri Tong Kiam Ciu.
Ketika jarak mereka berdekatan, barulah jelas terlihat oleh Kiam Ciu ternyata orang yang baru dalang nu tiada lai,n adalah Kim Ciu.
Gadis itu tampak tersenyum, walaupun wajahnya tidak kelihatan jelas namun saat itu Kiam Ciu terpesona juga melihat perubahan kecantikannya.
"Mengapa kau berada disini ?"
Tanya Kiam Ciu berbisik.
"Kau harus mengikutiku lari dari tempat ini ?"
Bisik Kim Ciu.
"Suhu saat ini belum membunuhmu, hanya karena kaulah yang mengetahui rahasia peta Pek-seng itu. Jika suhu telah mendapatkan kitab Pek-seng ki-su pastilah kau akan dibunuhnya ! Kau sekarang dalam keadaan terluka parah !" 8 29 Mendengar petunjuk itu Kiam Ciu tersenyum. Dipandanginya gadis itu dengan penuh rasa terimakasih atas jerih payahnya. Tetapi kemudian wajah Kiam Ciu tampak hampa. Tampaknya pemuda itu sama-sekali tidak mempunyai hasrat untuk melarikan diri.
"Terima kasih atas jerih payah dan kebaikan budimu"
Jawab Kiam Ciu.
"Tetapi Tong siauwhiap harus turut kami keluar dari tempat ini!"
Bisik Kim Ciu. Kiam Ciu sejenak memandang kearah gadis itu. Kemudian tampaklah wajah pemuoa itu tegang, akhirnya tersenyum.
"Aku tidak dapat lari, tidak dapat mengikuti anda keluar dari tempat ini. Karena aku memang tidak mau untuk lari. Aku telah bertekad untuk...."
Jawab Kiam Ciu serius. Tiba2 Kim Ciu menggerakkan jari-jemarimya menotok jalan darah bagian leher pemuda itu. Bertepatan dengan itu pula, tampaklah kelebatan Pa Nu mencegah perbuatan Kim Ciu itu.
"Sumoi tahan! Mengapa kau menotok jalan darah Tong Siauwhiap ?"
Seru Pa Nu sambil menampel tangan yang sedang menotok.
Numun Pa Nu terlambat beberapa saat lamanya, tampaklah Kiam Ciu telah tidak berdaya.
Karena totokan jalan darahnya itu, tbuh Kiam Ciu jadi lumpuh dan lemah.
Setelah Kim Ciu hilang dari rasa terkejut karena kedatangan Pa Nu yang telah datang dengan tiba-tiba itu.
Maka segeralah gadis itu menjawab.
"Aku terpaksa menotok jalan darah bagian leher yang melumpuhkan. Karena aku harus dapat membawa dia keluar dari tempat ini aku tidak dapat melihat dia binasa ditangan suhu!"
Bisik Kiam Ciu menjelaskan. Pa Nu berpikir sejenak kemudian mengangguk-anggukan kepala dan berkata.
"Betul. kita harus membawa Tong-siauwhtap keluar dari tempat ini!"
Sambung Pa Nu menyetujui sikap Kim Ciu.
"Tidak!"
Seru Kiam Ciu.
"Aku tidak mau dibawa keluar dari tempat ini. Aku sangat berterima kasih kepada kalia,n tetapi aku telah luka parah dan tak dapat 8 30 melarikan diri. Jika kalian ingin menolongku, tolonglah untuk menyembuhkan luka dalamku!"
Seru Kiam Ciu wajahnya masih tampak pucat dan berkeringat. Sesaat kemudian tampaklah Kim Ciu mengambil sebutir pil dari sakunya dan langsung dimasukan kedalam mulut Kiam Ciu tanpa ragu-tagu.
"Pil ini adalah buatan suhuku sendiri, maka aku yakin bahwa setelah Toug siauwhiap menelannya akan segera sembuh,"
Bisik Kim Ciu yakin.
Suasana sangat tenang, diluar telah terdengar gemuruhnya air hujan dan angin yang berhembus kencang.
Hingga dengan demikian untunglah keadaan mereka itu.
Karena gemuruhnya suara air hujan dan desauan angin maka segala pecakapan antara Tong Kiam Ciu dan Kim Ciu maupun dengan Pa Nu tidak dapat terdengar oleh para penjaga.
Tiba-tiba terdengar suara terompet panjang, terompet yang terbuat daritanduk kerbau itu kedengaran melengking dan meliuk-liuk mencurigakan iramanya.
"Sumoi, suara apakah itu ? Lebih baik kita keluar saja dari tempat ini! Untuk menjaga jangan sampai terjadi sesuatu"
Seru Pa Nu.
Sementara itu tampaklah Kiam Ciu telah dalam keadaan tertidur.
Setelah dia makan pil obat, keringat masih tampak membintik di wajahnya Kim Ciu memandang wajah pemuda itu sesaat lamanya.
Kemudian menghapus keringat yang membasahi wajah pemuda itu.
"Baiklah"
Kita tinggalkan dulu Tong siauwhiap, setelah dia istirahat sejenak, kukira dia akan berangsur menjadi baik"
Bisik Kim Ciu.
Sementara iiu diatas geladak kapal Kwi Ong terjadi kegaduhan suara orang ribut dan berlari-lari kesana-kemari, walaupun di luat air hujan lebat sekali.
Namun kegaduhan itu terdengar tidak mereda bahkan bertambah ramai.
Tidak lama kemudian nampaklah Kim Ciu telah turun dan masuk kedalam ruang dimana Kiam Ciu menggeletak.
Pemuda iyu terbangun dan menggeliat dirasakan pernapasannya serta tenaganya telah pulih kembali.
Banyak perobahan yang dirasakannya, dia merasa bersyukur.
Ketika Kim Ciu tiba ditempat itu dan menghampiri Kiam Ciu.
maka pemuda itu telah membuka matanya dan tersenyum kearah Kim Ciu.
"Tong siauwhiap, bagaimana peraaanmu ?"
Tegur Kiam Ciu.
"Terima kasih atas batuan dan pertolonganmu, Aku sudah banyak kemajuan kini"
Bisik Kiam Ciu menjawab.
"Rupa-rupanya kapal akan segera merapat ketepian. Kita akan segera tiba dikota Pek-seng. Diluar hujan turun sangat lebatnya, angin topan sedang mengganas. Kulihat pula beberapa orang tokoh tua berada diatas telaga Ang-tok-ouw dengan tiga buah kapal besar mengejar kapal ini."
Bisik Kim Ciu bersungguh-sungguh.
"Oh ..."
Bisik Kiam Ciu.
"Kulihat Tie-kiat-su-seng, Eng Ciuk Tay su, Siok-soat Shin-ni bahkan seorang yang berwajah aneh yang kudengar bernama Kun-si Mo-kun telah berhasil mendesak suhu. Ilmu silat orang tua itu sangat lilay dan aneh, ternyata dapat menandingi ilmu suhuku. Dia menuntut kepada suhu agar suhu membebaskan Tong siauwhiap. Aku telah mencuri obat-obatan ini dari tempat suhuku menyembunyikannya. Nah. makanlah obat ini dan aku yakin kau akan segera sembuh !"
Bisik Kim Ciu sambil menyodorkan sebuah benda berbentuk tabung dan didalamnya tersimpan obat-obatan.
Tong Kiam Ciu menerima penberian gadis itu, sesaat lamanya memandangi benda itu.
Kemudian memakannya "Terima kasih atas perhatian dan pertolonganmu, Jika aku dapat keluar dari kapal ini lalu bagaimana kau nanti ?"
Tanya Kiam Ciu ragu dan tampak kuatir.
"Aku ikut kau, karena perbuatanku mencuri obat-obatan ini serta menolong membebaskan Tong siauwhiap ini adalah suatu pelanggaran yang besa r dan tak mungkin dapat diampuni lagi. Maka kalau Kwi Ong dapat mengetahuinya aku akan dibunuhnya"
Jawab Kiam Ciu.
Belum lagi selesai dengan kata-katanya tiba-tiba terdengar sebuah tertawa yang sangat keras dan mengejutkan.
Begitulah kedunya terperanjat mendengarkan suara tawa yang mengguntur itu.
Tapi semuanva itu segera berlalu.
Kiam Ciu maupun Kim Ciu telah dapat menguasai diri lagi.
8 32 Ketika diperhatikan oleh Kiam Ciu ternyata orang yang baru datang itu tak lain adalah Kwi Ong.
Maka ketika Kim Ciu menyaksikan bahwa yang baru datang itu adalah Kwi Ong, hatinya agak ragu-ragu tentang keselamatan Kun-si Mo-kun.
Apakah kakek aneh itu masih selamat, atau telah dapat dibinasakan oleh Kwi Ong?
"Hmmm, Perbuatanmu bagusus sekali Kim Ciu.
Tetapi kau tidak mau memperhitungkan terlebih dahulu, apa akibatnya atas perbuatanmu itu...."
Damprat Kw Ong dengan suara serak dan mata melotot karera gusar.
"Akibatnya? Aku akan binasa ditanganmu ! Aku rela mati, paling banter tebusannya atas perbuatan ini hanyalah maut"
Jawab Kim Ciu.
"Brakk !"
Terdengar gebrakan keras sekali. Berbareng dengan itu terasalah kapal itu tergoncang sangat keras ternyata kapal Kwi Ong itu bertabrakan dengan kapal lainnya.
"Bangsat! Mereka telah menabrak kapalku"
Seru Kwi Ong dengan suara makian yang kasar dan melupakan keadaan Kiam Ciu.
"Brak ! Brak ! Brug ! Brug!"
Terdengar suara gaduh dan goncangan hebat tiga kali, kemudian tampaklah dinding kapal itu pecah dan air telaga menyembur kedalam ruang bawah.
Semua benda-benda yang berada didalam ruang bawah itu telah terapung dan suasana kacau balau.
Mereka yang berada di tempat itu telah terbenam dalam air, cepat sekali air telaga menyembur dan memenuhi ruangan itu, kapal Kwi Ong lelah miring dan dengan cepatnya air telah memenuhi ruangan bawah.
Kiam Ciu juga tidak berdaya, entah bagaimana keadaannya saat itu.
Dia telah melupakan dan semuanya hilang lenyap dan dia tidak sadarkan diri.
Tahu-tahu dia telah berada di tepi telaga, dimulut sebuah gua.
Kiam Ciu bingung, dia telah berada di bagian yang mana ?
Juga tidak terlihat ada orang lain di tempat itu.
Hanya terdengar suara burung berkicau jauh sekali, kemudian terdengar sayup-sayup suara nyanyian yang sangat merdu sekali.
Suaranya sangat lembut dan menyayat hati iramanya.
8 33 Dimasuki lorong gua itu, ternyata lantai gua itu terdiri dari pasir putih dan lembut sekali, terus saja Kiam Ciu memasuki gua sampai ke ujung sana dan tampaklah mulut gua yang terang.
Ketika Kiam Ciu sampai depan gua matanya memandang ke suatu pemandangan yang sangat mengagumkan, Seolah-olah suatu pertamanan yang sangat subur dan teratur rapi sekali.
Bunga-bunga tertanam dengan sangat terawat.
Pohon-pohon yang rata-rata pendek, serta saat itu sedang pada berbunga.
Kagum Kiam Ciu memandang semuanya itu.
Sebuah bangunan rumah mungil dan tampak sangat terawat.
Kemudian sebuah kolam yang airnya jernih dengan bunga teratai yang sedang berkembang pula.
Kiam Ciu perlahan-lahan melangkah memeriksa disekitar tempat itu.
Berkali-kali pemuda itu mengucuk matanya saking tidak percaya dengan apa yang dilihatnya itu.
"Hem, apakah aku telah berada di surga?"
Pikir Kiam Ciu.
Sementara itu angin berhembus halus kali.
Seolah-olah hanya membelainya.
Tercium bau harum sekali serta hawa yang sangat sejuk.
Terdengar pula suara merdu irama lagu yang dinyanyikan sangat enak sekali kedengarannya.
Merdu dan menyayat hati.
Kiam Ciu melangkah dengan ragu-ragu mendekati tempat itu.
Dari kejauhan dia telah melihat bayangan sesosok tubuh yang ramping dan indah sekali.
Pohon rindang menghalangi sinar surva pagi itu.
Dalam keremangan dan keteduhan pohon-pohon yang rindang dan rapat ini tampaklah semuanya itu syahdu.
Indah dan mempesonakan hati.
Keadaan itu tidak akan pernah berubah kalau tiada tangan manusia yang akan mengusiknya.
Juga tidak dihancurkan oleh kekerasan dunia.
Indah dan abadi.
(Bersambung
Jilid 9) 9 0 9 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG
Jilid ke 9 ALAUPUN itu tidak akan mungkin terjadi.
Tetapi Kiam Ciu mengharapkan semua itu tiada terusik.
Maka dia sangat berhati-hati mendekati gadis yang sedang menyanyi dan mencurahkan getaran kalbunya yang sedang dirundung kesengsaraan.
"Oh, mengapa gadis itu juga masih menyanyikan senandung duka ? Bukankah semuanya yang berada disini serba damai dan indah? Kalau begitu apakah benar menurut suhu Pek-hi-siu-si bahwa dunia ini penuh kepalsuan...."
Pikir Kiam Ciu.
Ketika itu Kiam Ciu telah berada sangaR dekat sekali dengan gadis yang sedang menyanyi.
Ketika gadis itu telah berhenti menyanyi dan memalingkan wajahnya kearah Kiam Ciu.
Pemuda itu sangat terpesona.
Gadis itu sangat cantik dan pakaiannya sangat indah, kecantikannya, belum pernah dilihat oleh Kiam Ciu.
Maka pemuda itu menganggapnya kecantikan itu seperti bidadari.
"Oh, apakah aku bermimpi ? Apakah dia seorang bidadari?"
Pikir Kiam Ciu dengan pandangan penuh terpesona kearah gadis itu.
Tiba-tiba gadis itu melambaikan tangannya ke arah Kiam Ciu.
Pemuda itu ragu-ragu.
Tetapi tempat itu tiada siapa-siapa, berarti yang dipanggilnya adalah dia !
Karena belum yakin bahwa yang dipanggil itu dirinya, maka Kiam Ciu menunjuk dirinya sendiri dengan ibu jari.
Gadis itu menganggukkan kepala dan tampak tersenyum.
Hati Kiam Ciu bergetar.
Setelah sampai didekat gadis itu, Kiam Ciu menghormat dan membongkok kearah gadis berwajah sayu itu.
"Apakah siocia yang menolong menyelamatkan diriku dari tangan Kwi Ong yang kejam itu ?"
Tanya Kiam Ciu ingin penjelasan. W 9 2 Tetapi gadis itu gelengkan kepalanya. Kemudian menyahut pertanyaan Kiam Ciu dengan suara rawan kedengarannya.
"Tidak, aku tidak menolongmu. Kau terbawa oleh ombak telaga Ang-tok-ouw dan terdampar di tepi telaga. Kemudian kau dengan tidak sengaja telah memasuki sebuah gua sampai di tempat ini. Disinilah sebenarnya kota yang bernama Pek-seng itu. Kota yang telah hilang itu. Tempat ini telah banyak ditumbuhi semak belukar dan menjadi hutan lebat hingga lenyaplah bentuknya. Sedangkan sebagian besar bangunan kota telah tertimbun tanah dan diatasnya telah ditumbuhi pohon-pohon besar. Tinggallah bangunan yang saya tempati itu satu-satunya yang tinggal"
Jawab gadis jelita yang berwajah rawan.
"Jadi lain-lainnya.... apakah...."
Sambung Kiam Ciu gugup.
"Ya, aku tinggal ditempat ini seorang diri. Aku juga semula mencari kitab Pek-seng-ki-su. Ketika aku tiba ditempat ini, aku salah makan dedaunan dan buah-buahan yang akibatnya aku menjadi terganggu pikiran serta tidak mampu untuk meninggalkan tempat ini. Aku hanya dapat berjalan-jalan sebatas pekarangan gedung ini, lebih dari itu aku tidak kuat lagi, tubuhku gemetar dan cin-kiku saling berhantam bergolak"
Tutur gadis itu. Tong Kiam Ciu memandang gadis itu dan mendengarkan kisahnya dengan penuh perhatian. Lalu gadis itu melanjutkan kisahnya .
"Sekarang kau telah berada ditempat itu mungkin juga telah dikirimkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menolongku. Apakah kau sudi menolongku?"
Tanya gadis itu penuh harapan. Tong Kiam Ciu yang berjiwa luhur itu tampak tersenyum dan memandang kearah wajah gadis dengan mata berseri.
"Tentu saja aku bersedia menolong siocia. Lalu dengan cara bagaimanakah aku dapat menolongmu?"
Tanya Kiam Ciu. Belum lagi gadis itu menjawab pertanyaan Kiam Ciu, tiba-tiba pemuda itu telah teringat akan sesuatu yang penting.
"Oh... maaf siocia. Apakah siocia ini cucunya Gan Hua Liong?"
Tanya Kiam Ciu. 9 3 Gadis itu terperanjat mendengar nama Gan Hua Lioag. Dengan mata terbeliak gadis itu bertanya.
"Darimana kau mengenal nama Gan Hua Liong itu? Sesungguhnyalah aku ini memang cucu Gan Hua Liong, karena dia memang engkongku."
Tong Kiam Ciu akhirnya menjelaskan.
"Sebenarnya aku bermaksud datang untuk mencari Pek-seng. Engkohmu telah meminta diriku untuk pergi kekota ini dan menolongmu. Aku sebelumnya tak menduga bahwa dengan kehendak Tuhan aku dapat sampai kekota ini, kota Pek-seng yang memang menjadi tujuan utamaku. Banyak jago-jago silat yang telah datang dan menyatroni kuil Pao-yun-ta, mereka ingin merampas peta Pek-seng dari tangan engkongmu. Aku telah menyaksikannya sendiri bahwa engkongmu telah mempertahankan peta itu dengan mati-matian. Tetapi akhirnya engkong mu bertemu dengan musuh yang lebih tangguh hingga mendapat luka parah"
Belum sele sui cerita Kiam Ctu sunah terputus helaan terkejut gadis itu.
"Oh, lalu bagaimana keadaan engkong?"
"Saat itu, aku bermaksud menolongnya Tetapi beliau menolaknya. Malah akhirnya peta Pek-seng diserahkan padaku. Hanya dipesankan padaku, aku setibanya di kota Pek-seng di suruh mencari cucunya dan untuk menolong membebaskan gadis itu. Akhirnya Gan Hun Liong...."
Belum lagi kata-kata itu selesai, telah diputus lagi oleh gadis itu dengan tidak sabar.
"Hah ? Lalu bagaimana nasib engkongku ?"
Tanya gadis itu tak sabar.
"Sayang engkongmu keras kepala dan sama sekali menolak untuk kutolong, akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tetapi sayang pula peta Pek-seng itu kini telah jatuh ketangan Kwi Ong ketua partai Biauw."
Jawab Kiam Ciu berhati-hati.
"Oh, aku merasa sangat sedih mendengar berita kematian engkongku, Aku merasa sangat menyesal karena dulu aku sama sekali tidak mendengar kata-kata nasehatnya'' sambung gadis itu dengan wajah sayu. 9 4 Sesaat lamanya suasana menjadi sepi, hanya terdengar helaan nafas gadis itu yang terdengar sangat keras. Kemudian gadis itu dengan suara yang sangat dalam meneruskan kata-katanya .
"Aku sangat dimanjakannya. Aku telah diajarinya ilmu silat yang tinggi. Ketika ternyata aku dapat memahami dan dengan cepat dapat menguasai ilmu-ilmu silat itu, engkong sangat bangga. Bahkan suatu hari engkong mengatakan bahwa aku sebenarnya dapat menjagoi dunia persilatan kalau aku dapat menguasai ilmu silat Pek-seng-ki-su. Aku sangat berhasrat untuk menguasai ilmu silai dari kitab Pek-seng-ki-su itu. Maka oleh kakek aku telah diberi tahu tempat tersembunyinya kitab pusaka itu di kota Pek-seng. Sebenarnya aku dan engkong akan berangkat bersama ke kota Pek-seng ini, tetapi mendadak kakek jatuh sakit dan terpaksa keberangkatan ditunda. Aku tidak sabar lagi, maka akhirnya aku berangkat sendiri. Akibatnya, karena kesembronoanku aku salah makan buah-buahan dan dedaunan hingga aku tertawan ditempat ini. Engkongku tidak dapat datang ke tempat ini sebelum dapat menemukan sejenis buah dan akar Cu-sik, setelah aku memakan buah dan akar itu barulah aku dapat terbebas dari pengaruh ajaib itu"
Kiam C'iu memandang kearah gadis itu, keningnya berkerut dan seolah-olah dia sedang memikirkan suatu masalah yang paling pelik.
"Gan siocia, dengan jalan apakah aku dapat menolongmu ?"
Tanya Kiam Ciu minta penjelasan.
"Aku harus makan sejenis biji buah Cu-sik yang dapat memunahkan segala macam racun dan guna-guna. Kemudian makan pula batang Lok-bwee-kim-keng. Tetapi kedua benda itu sukar dicari. Maka dari itulah engkongku tidak sanggup untuk menolongku. Akupun mempunyai harapan kecil sekali atas pertolonganmu."
Gadis itu merasa berkecil hati dan wajahnya yang sayu itu berpandangan dengan sinar mata yang redup.
Tong Kiam Ciu sangat bergirang hati ketika mendengar gadis itu menyebutkan nama batang pohon Lok-bwee-kim-keng.
Dengan keterangan gadis she Gan itu, kini tahulah Kiam Ciu mengapa Gan Hua Liong ketika terkena racun dari Tok Giam Lo tidak mau ditolong dan disuruh memakan akar Lok-bwee-kim-keng.
Ternyata maksudnya bahwa akar batang 9 5 Lok-bwee-kim-keng itu agar diberikan kepada cucunya.
Namun dia belum sempat mengutarakan permintaan itu sudah keburu meninggal.
Saking girangnya Kiam Ciu hingga tidak dapat berkata-kata dan hanya memandang gadis she Gan itu dengan sinar mata berseri-seri.
Sekarang akar batang Lok-bwee-kim-keng telah dipunyai, tinggallah dia mencari biji buah Cu-sik.
Menurut anggapan gadis she Gan itu, Kiam Ciu bingung dan bimbang.
Sama sekali tidak terduga kalau pemuda yang berada dihadapannya itu telah mempunyai akar batang Lok-bwee-kim-keng.
"Yah.. begitulah keadaannya". Kukira kaupun tidak dapat menolongku seperti juga engkongku. Aku sudah tertawan didalam pekarangan gedung ini selama bertahun-tahun, sedangkan usiaku kini telah mencapai tiga puluh tahun lebih, maka aku telah hampa kini memandang hidup ini, telah sepi dari segala-galanya. Tetapi yang mengherankan diriku sendiri mengapa aku juga tidak dapat berbuat nekad untuk bunuh diri atau bagaimana untuk mengakhiri penderitaan ini "
Gadis she Gan itu menuturkan nasibnya dan keputusasaannya kepada Kiam Ciu.
Kiam Ciu memandang gadis itu dengan pandangan penuh belas asih.
Kemudian tersenyum dan menuturkan bahwa dia dapat menolong gadis itu.
"Gan siocia, seperti telah kukatakan tadi. Aku bersedia dengan segenap jiwa ragaku untuk menolongmu. Kebetulan pula aku telah mempunyai akar batang Lok-bwee-kim-keng. Hanya kini tinggal mencari biji buah Cu-sik."
Sambung Kiam Ciu. Gadis she Gan itu tersenyum mendengar penuturan Kiam Ciu itu. Menyatakan rasa terimakasih dan kemudian dia berkata lagi .
"Kitab pusaka Pek-seng-ki-su tersimpan didalam gedung yang indah itu. Aku telah menemukannya dan menyimpannya baik-baik, maka jika kau telah berhasil mendapatkan biji buah Cu-sik aku akan menyerahkannya kepadamu kitab itu,"
Sahut gadis she-Gan dengan wajuh cerah penuh harap.
Tong Kiam Ciu adalah seorang petnuda yang berwatak jujur dan budiman dia telah mengucapkan janjinya kepada Gan Hua Liong untuk menolong cucu kakek malang itu.
Maka walaupun dia tidak akan mendapat upahpun dia akan menolong gadis itu.
"Gan siocia, aku mengerti penderitaanmu dan ijinkanlah kini aku minta diri dan akan mencari biji buah Cu-sik itu, Aku akan kembali lagi ketempat ini setelah aku dapatkan buah Cu-sik"
Kata-kata Kiam Ciu itu diucapkan dengan suara sopan dan berhati-hati.
"Baiklah, sebelumnya aku mengucapkan terima kasih."
Jawab gadis she-Gan itu dengan hormat sekali.
Kitab Pek-seng-ki-su yang menjadi rebutan dikalangan Kang-ouw itu yang dipersamakan hebatnya dengan pedang , Sebenarnya adalah ciptaan seorang tojin yang bernama Hong Siat Tan Su.
Tojin itu mempunyai watak yang sangat ganjil dan lagi lihay ilmu silatnya.
Selain dia memiliki kepandaian ilmu silat, juga mempunyai kemahiran dalam ilmu ketabiban dan ahli dalam ilmu dedaunan, akar-akaran, biji-bijian dan ramuan segala akar dan dedaunan untuk pengobatan.
Ilmunya memang sangat luar biasa dan langka.
Ilmu pengobatannya sangat hebat dan mujarab.
Karena dia tiada pernah mengangkat seorangpun murid sebagai pewarisnya segala macam ilmu yang dia punyai itu, maka akhirnya dia telah mencatat segala ilmu silat dan ilmu ketabibannya itu dalam sebuah kitab yang diketahui bernama Pek-seng-ki-su.
Akhirnya usaha Tojin Hong Siat Tan Su untuk membukukan ilmunya itu didengar oleh banyak tokoh-tokoh persilatan yang mengiler dengan kelihayan ilmu kakek itu.
Maka ketika Pek-seng-ki-su selesai ditulis, telah banyaklah tokoh persilatan yang berusaha merebut kitab Pek-seng-ki-su dari tangan Hong Siat Tan Su.
Tetapi mereka dapat dijatuhkan oleh Hong Siat Tan Su dan banyak pula yang telah binasa ditangan kakek itu.
Akhirnya kalangan Kang-ouw menjadi gempar dan karena kelihayan kakek itu tiada seorang yang berani mencoba untuk merebut kitab Pek-seng-ki-su dari tangan yang punya.
Ketika tersiar kabar bahwa Tojin Hong Siat Tan Su telan meninggal dunia, maka mulailah lagi orang2 persilatan berramai-ramai untuk mencari kitab pusaka Pek-seng-ki-su.
Karena memang mereka tidak akan mampu merebutnya pada waktu Tojin itu masih hidup.
Kini beramai-ramailah orang-orang di dunia Kang-ouw 9 7 memperebutkan kitab Pek-seng-ki-su.
Bahkan mereka telah memperlombakan pada pesta pertemuan orang-orang gagah dikalangan Kang-ouw yang lazimnya diselenggarakan tiap sepuluh tahun sekali disebut Bu-lim-ta-hwee.
Tong Kiam Ciu telah bertekad untuk menolong gadis she Gan itu.
Maka kini dia telah minta diri untuk mencari biji buah Cu-sik.
Gadis itupun telah mengucapkan rasa terima-kasihnya atas perhatian dan kesediaan Kiam Ciu untuk menolongnya.
Jalan yang ditempuhnya kini berlainan dengan ketika dia memasuki tempat itu.
Tong Kiam Ciu telah memasuki rumah bangunan yang mungil dan indah itu, kemudian keluar lewat belakang, setelah sampai diluar dia melihat sebuah padang luas itu.
Disepanjang perjalanan itu dia melihat tanaman-tanaman bunga yang indah dan beraneka warna.
Kemudian sampailah dia disebuah hutan cemara itu barulah Kiam Ciu melihat mulut gua, maka pemuda itu lalu memasuki gua itu.
Tiada seberapa lama telah tampak lubang yang memancarkan kearah matahari.
Maka Kiam Ciu menuju ketempat itu.
Tiada begitu sulit untuk mencapai tempat itu.
Ketika dia telah dekat dengan tempat yang terang itu barulah dia mengetahui bahwa dia telah sampai diujung gua yang merupakan pintu keluar.
Hawa terasa sejuk sekali, Kiam Ciu melangkah kepintu gua dan langsung keluar.
Ternyata dia kini telah berada di atas bukit yang tinggi.
Bukit karang yang bertebing curam.
Tampaklah dari atas bukit itu permukaan telaga Ang-tok-ouw.
Kiam Ciu menghela napas panjang.
Hatinya merasa lega karena telah dapat keluar dari kota Pak-seng yang hilang itu.
Namun alangkah terperanjat ketika menyaksikan kearah tepian telaga Ang-tok-ouw.
Ditempat itu banyak terlihat orang yang sedang bergumul.
Ketika Kiam Ciu berada dekat sekali dengan orang-orang itu, Maka dia bertambah terperanjat.
Ternyata mereka itu tiada lain adalah Eng Ciok taysu pemimpin partai persilatan dari Siauw-lim, Tie-kiam-suseng ketua partai silat Tie Kiam, Siok Siat Shin-ni, Kun-si Mo-kun dan tidak dilihatnya Shin Kai Lolo, Kuk-Kiat serta ayah.
ibu paman dan adiknya.
Kiam Ciu cemas melihat ketidak hadiran mereka itu.
9 8 Kemudian Kiam Ciu menghampiri Kun-si Mo-kun dan menegurnya.
"Locianpwe, apakah kau tidak melihat orang-tuaku serta adikku Tong Bwee?"
Tanya Kiam Ciu wajahnya keruh dan cemas.
"Oh, Tong siauwhiap syukurlah kau selamat. Kami telah merasa khawatir karena kau jatuh ketangan Kwi Ong yang telengas itu. Sungguh aku merasa bersyukur kau tidak kurang suatu apa". kata Kun-si Mo-kun dan tampaklah wajahnya berseri=seri dan menyandak lengan Kiam Ciu dan digoncang-goncangkannya sambil tertawa gembira. Bertepatan dengan itu tampaklah Shin Kai Lolo telah tiba ditempat itu bersama dengan muridnya ialah Teng Siok Siat. Ketika nenek itu menyaksikan Kui-si Mo-kun berhadapan dan sedang berbicara dengan Kiam Ciu dia merasa heran bahkan khawatir.
"Hey tua bangka gila.... Bukankah kau telah bertapa di pegunungan mengapa kau keluar lagi ?"tanya Shin Kai Lolo khawatir akan keselamatan Kiam Ciu.
"Hem kau nenek gila ! Mengapa kau mengurus urusan orang lain ? Itu urusanku sendiri !"seru Kun-si Mo-kun tegas.
"Huh Jika kedatanganmu ketempat ini untuk maksud baik dan akan menolong Tong siauwhiap aku tidak keberatan. Tetapi.... Oh rupa-rupanya raja iblis itu telah datang, ayo kita berlalu saja !"
Seru nenek Shin Kai Lolo tampak gelisah dan akan beranjak dari tempat itu.
"Hah ? Masakan kita sekian banyaknya dan lagi semuanya tokoh Bu-lim merasa takut untuk meughadapi Kwi Ong seorang ?"
Tanya Kun-si Mo-kun.
Karena kata-kata Kun-si Mo-kun yang bersifat membakar semangat dan memulihkan kembali keberanian, maka orang-orang yang semula juga akan kabur ketika menyaksikan kedatangan Kwi Ong yang kini tampak lebih seram dengan memondong pedang dipunggungnya.
Serta wajahnya tampak lebih seram dan bengis menakutkan.
"Ha-ha-ha! Kalian mau merat kemana? Meskipun aku belum berhasil mendapatkan kitab pusaka Pek-seng-ki-su namun dengan pedang pusaka Oey Liong Kiam aku dapat lekas-lekas membinasakan kalian!"
Seru Kwi Ong dengan suara lantang menggema memantul dari dinding gunung.
9 9 Mereka semuanya dalam keadaan siap siaga dan tegang.
Mereka sebenarnya telah dapat mengukur kekuatan masing-masing.
Mereka tidak bakalan unggulan melawan Kwi Ong.
Hanya dalam beberapa gebrak saja ketua suku bangsa Biauw itu akan dapat membinasakan mereka itu semua.
Maka mereka hanya memandang saja ke arah Kwi Ong dan dengan mata terbeliak serta mencabut senjata masing-masing.
Menyaksikan sikap orang-orang gagah itu Kwi Ong tertawa gelak-gelak dan memandang mereka itu semakin tidak berarti dimata Kwi Ong yang telengas dan keji.
Tetapi Kiam Ciu lain halnya.
Dia adalah seorang pemuda budiman dan pemberani serta cerdik.
Maka segeralah dia memutar otak untuk mencari akal mengulur waktu dan kalau mungkin menjebak dan membinasakan Kwi Ong.
Maka segeralah dia berseru kepada Kwi Ong.
"Hey iblis jahanam! Kita telah bertemu lagi!"
Seru Kiam Ciu dengan nada kasar.
"Ha ha-ha kau yang akan mati untuk yang pertama kali!"
Seru Kwi Ong sambil menuding kearah Kiam Ciu.
Namun pemuda itu tidak merasa gentar dia yakin bahwa Kwi Ong tidak bermain-main.
Orang suku Biauw itu berbicara dengan bersungguh-sungguh.
Kemudian Kiam Ciu memandang ke arah orang-orang yang berada disekitarnya"
Dengan suara lantang dan bersipat menghasut mereka.
"Kalian dalang di telaga Ang-tok-ouw untuk mencari kitab Pek-seng-ki-su bukan ? Padahal kalian tidak akan dapat menemukan letak penyimpanan kitab pusaka itu kalau kalian tidak mengetahui petanya! Peta Pek-seng itu kini berada ditangan Kwi Ong!"
Setu Kiam Ciu sambil menuding kearah Kwi Ong.
Bertepatan dengan kata-kata itu tiba-tiba di arena tampak berkelebat sebuah bayangan, kemudian disusul tampaknya seorang gadis berpakaian serba hijau.
Wanita muda itu segera berdiri dengan sikap angkuh dan memandang kearah segenap jago-jago silat yang rendah ditempat itu.
"Aku yakin bahwa kalian telah berada di tepian telaga Ang-tok-ouw ini dengan maksud untuk mencari kitab pusaka Pek-seng-ki-su. Akupun mempunyai maksud yang sama. Aku telah mendengar berita bahwa Peta Pek 9 10 seng tidak dipegang oleh Gan Hua Liong lagi !"
Wanita muda yang berpakaian hijau itu berhenti sejenak dan memandang kearah mereka. Namun Kiam Ciu segera menyahutinya.
"Betul peta Pek-seng itu sekarang berada ditangan Kwi Ong si jahanam itu !"
Seru Kiam Ciu sambil menuding kearah Kwi Ong.
Orang-orang yang berada ditepian pantai tehga Ang-tok-ouw saling berpandangan kemudian memandang kearah Kwi Ong Mereka merasa khawatir kalau sampai orang kejam itu turun tangan dengan tiba-tiba.
Sebenarnya Kwi Ong telah banyak bertempur pada beberapa hari ini.
Sejak berada di telaga Ang-tok-ouw dia telah banyak bertempur melawan orang-orang lihay baik dari kalangan Ouw-ki-pang maupun orang-orang dari kalangan Kim-sai serta tokoh-tokoh kang-ouw lainnya.
Anak buahnya yang terdiri dari orang-orang suku bangsa Biauw telah banyak yang luka-luka dan binasa.
Pula telah dihempaskan oleh badai telaga Ang-tok-ouw sehabis melawan Shin Kai Lolo dan juga melawan Kun-si Mo-kun.
Namun benar-benar tokoh dari suku bangsa Biauw ini memang berilmu tinggi dan kemauan keras.
Shin Kai Lolo tidak mampu untuk menghadapi Kwi Ong dan terpaksa dia harus dengan menggunakan siasat, kemudian Kun-si Mo-kun yang lihay itupun ternyata juga terpaksa harus menyingkir untuk menyelamatkan nyawanya.
Sekarang seorang wanita muda berpakaian hijau, tampaknya telah berkepandaian tinggi serta ingin merebut Peta Pek-seng itu dari tangan Kwi Ong.
Wanita itu maju dihadapan Kwi Ong dan menentangnya.
"Hey, orang biadab! Lebih baik kau serahkan Peta Pek-seng itu kepadaku, sebelum datang marahku dan kalau kau tidak ingin mati konyol!"
Seru wanita muda dan berpakaian hijau itu dengan sikap sombong.
Siapakah gerangan wanita muda atau paling tepatnya seorang gadis remaja yang baru berusia sekitar sembilan belas tahun itu?
Lagi pula begitu berani menantang dan mencaci Kwi Ong.
Mendapat cacian dan tantangan itu Kwi Ong sangat bergusar hati.
Kemudian dia menatap pandangan Kiam Ciu dia merasa telah diadu dombakan oleh Kiam Ciu.
Maka kemarahan itu kini tampak telah dilontarkan kepada Tong Kiam Ciu.
9 11 Namun gadis remaja berpakaian hijau itu juga melihat Tong Kiam Ciu dia merasa dipermainkan oleh pemuda itu.
"Hei kau kut aku!"
Seru gadis itu sambil menggerakan jari kirinya mengisyaratkan kepada Kiam Ciu untuk datang padanya.
Namun pemuda itu merasa tersinggung dan panas hatinya diperlakukan sepeiti itu.
Maka dia mengangkat wajahnya dan memandang wajah gadis itu.
"Mengapa aku harus turut denganmu ?"
Tanya Kiam Ciu.
Bersamaan dengan itu tiba-tiba Kwi Ong telah bergerak melawan Kiam Ciu dengan ilmu Hui-eng-liok-louw atau Burung elang menyambar kelinci serta tampak kelima jari -jarinya Kwi Ong terentang untuk mencengkeram dada Kiam Ciu.
Tetapi gadis berpakian hijau itu dengan gerakan sebat pula telah mendorong bahu Kwi Ong hingga limbung dan menerjang tempat kosong terhuyung kesamping hampir jatuh.
Semua yang berada di tempat itu telah menyaksikan kehebatan gerakan ginkang itu merasa kagum.
Ternyata Kwi Ong dapat dipermainkan!
Kwi Ong memutar tubuhnya dan meloncat lagi untuk menerkam Kiam Ciu.
Gerakannya itu begitu cepat dan disertai dengan tenaga penuh.
Tetapi ternyata sekali lagi dia dibuat tidak mengerti.
Karena ternyata gadis remaja itu dapat mendorong tubuh Kwi Ong lagi.
Ternyata gadis itu dengan mempergunakan ilmu Hui-sing-cui-gwan atau bintang sapu mengejar bulan!
Gerakannya sangat lincah dan cepat sekali.
"Hey, orang biadab! Serahkan lekas peta Pek-seng padaku!"
Bentak gadis itu dengan suara lantang kearah Kwi Ong.
Si iblis Kwi Ong orang yang telah mengagungkan kelihayannya.
Dia bercita-cita untuk menjagoi kalangan Kang-ouw.
Kini dipermainkan oleh seorang gadis remaja berusia belasan tahun, hatinya panas dan gusar sekali.
Maka dia sambil melototkan mata lalu membentak kearah gadis itu.
"Hey bocah kurang ajar! Apakah kau tidak mengenal ciriku, tuan besarmu ini? Akulah Kwi Ong siorang gagah dari suku bangsa Biauw !"
Seru Kwi Ong dengan sombong dan membusungkan dadanya.
"Kwi Ong? Kwi Ong ? Ah, aku belum pernah mendengar nama itu, apalagi mengenalnya, kukira nama tak berarti....."
Sambung gadis iiu sambil kerutkan keningnya seolah-olah mengingat-ingat sesuatu. '"Kurang ajar kau bocah ! Kau memang sengaja mempermainkan aku, awas rasakan pelajaranku!"
Tampaklah Kwi Ong akan meloncat menerkam gadis remaja itu, tetapi niatnya itu dengan tiba-tiba telah diubahnya.
Semua mata memandang kearah Kwi Ong bergantian memandang kearah gadis remaja itu kemudian memandang kearah Kiam Ciu.
Tetapi Kwi Ong telah meloncat di tempat yang tinggi, kemudian berseru dengan suara yang lebih nyaring serta ramah kearah orang-orang yang berada ditempat itu.
"Kalian menginginkan Peta Pek-seng? Baiklah akan kuberikan pada kalian, supaya adilnya Peta itu akan kuperebutkan untuk kalian!"
Seru Kwi Ong.
Orang-orang yang berada ditempat itu masih belum paham dengan maksud kata-kata Kwi Ong itu.
Mereka hanya memandangi wajah ketua suku bangsa Biuaw itu.
Tampaklah Kwi Ong meloncat keatas cadas yang agak menjorok ketebing jurang.
Dari ketinggian itu Kwi Ong berseru lagi.
"Kalau kalian memang ingin mendapatkan kitab Pek-seng-ki-su maka kalian harus mendapatkan peta Pek-seng terlebih dahulu, barulah kalian dapat menemukan tempat bersembunyinya kiiab itu! Nah inilah salah satu dari kertas-kertas yang kutemukan dikantong Tong Kiam Ciu itu yang katanya adalah peta Pek-seng itu !"
Seru Kwi Ong.
Laki-laki yang berwajah mengerikan dengan jambang bauk yang kaku itu telah menunjukan empat lembar kertas kearah para orang gagah yang berada ditempat itu.
Semuanya memperhatikan dan tampak sangat tertarik dengan pembicaraan Kwi Ong itu.
Mereka memang semuanya ingin menguasai kitab Pek-seng-ki-su Maka perhatian mereka besar sekali akan kata-kata Kwi Ong yang katanya akan memperebutkan peta Pek-seng itu.
"Inilah kertas-kertas yang diberikan oleh Tong Kiam Ciu padaku!"
Seru Kwi Ong sambil menebarkan kertas-kertas itu kebawah, kearah mereka.
Apa yang telah direncanakan oleh Kwi Ong benar-benar dapat terlaksana.
Ternyata orang-orang itu sangat ingin mendapatkan peta Pek-seng sehingga telah melupakan apapun !
Mereka berebut untuk mendapatkan kertas-kertas itu.
Itulah harapan Kwi Ong dengan demikian dia berhasil memecah belah orang-orang itu.
Kwi Ong tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian itu.
Ternyata daya tarik peta Pek-seng itu sangat besar sekali.
Hingga sampai kepuncaknya mereka berbaku hantam untuk berebutan.
Tampak pula Teng Siok Soa.t sedang berhadapan dengan gadis berpaka.an hijau tadi, Mereka berdua juga akan bertempur.
Tetapi sebelum semuanya berlarut-larut lebih hebat lagi, tiba-tiba tampaklah sebuah bayangan telah melayang ditempat keributan itu.
Disusul pula oleh bayangan yang lainnya.
Semua perhatian telah dialihkan kearah bayangan-bayang yang baru datang itu.
Ternyata mereka itu adalah dua orang Tojin.
Mereka berdua adalah tokoh dari partai silat Bu-tong masing-masing bernama Tay Jat Cin Jin dan Ciok Hok Loto.
"Aku bernama Tay Jat Cin Jin ketua partai silat Bu-tong. Aku telah lama mengundurkan diri dari Kang-ouw. Akhir-akhir ini jago-jago silat telah ramai memperebutkan kitab pusaka Pek-seng-ki-su, juga seorang muridku telah turut turun gelanggang perebutan kitab pusaka itu. T3tapi muridku yang bernama Hiong Hok Totiang telah meninggal karena dianiaya orang Aku datang kemari untuk mencari pembunuh kejam itu!"
Seru Tay Jat Cin Jin dengan wajah merah.
Tokoh persilatan yang berusia tua telah tahu siapa Tay Jat Cin Jin itu, dia adalah pemegang juara ilmu silat pedang nomor wahid pada sekira empat-puluh tahunan yang lampau juga ilmu silatnya sangat Iihay.
Kemudian sesaat lamanya suasana menjadi lenggang, lalu kakek dari Bu-tong itu memandang kearah Teng Siok Siat dan gadis berpakaian serba hijau itu yang tadi akan bertempur.
"Hey, kalian akan bertempur karena memperebutkan peta Pek seng! Apakah kalian tidak mengelahui bahwa kitab pusaka Pek-seng-ki-su itu sebenarnya tidak ada yang menghaki! Mengapa tidak terpikir oleh kalian orang gagah dan orang cendekia untuk mencari kitab itu secara beramai kekota Pek-seng? Karena kata-kata Tay Jat Cin Jin itu maka semua orang pada terpaku dan mereka saling berpandangan. Seolah-olah mereka sedang mempertimbangkan kebenaran kata ketua Bu-tong itu. Dalam keadaan itu mereka lengah dan kertas peta Pek-seng itu berserakan ditanah berbatu tanpa ada yang memperdulikan. Tiba-tiba tampaklah sebuah bayangan, ternyata bayangan itu langsung menyambar keempat kertas yang berserakan yang tadi menjadi penyebab kegaduhan dan perbuatan itu. Ternyata orang yang menyambar keempat kertas itu adalah Tok Giam Lo.
"Hey ! Tok Giam Lo kau mau lari kemana ? seru Kun-si Mo-kun sambil menghentakan kakinya dan meloncat mengejar Tok Giam Lo. Menyaksikan kejadian itu. maka perhatian orang-orang itu telah tertumpahkan kembali kearah peta Pek-seng yang dibawa kabur oleh Tok Giam Lo. Tampaklah Tong Kiam Ciu, Teng Siok Siat, Shin Kai Lolo dan kedua orang yang berada ditempat itu berlari-lari seolah belomba lari mengejar Tok Giam Lo yang membawa kabur peta Pek-seng itu. Mereka itu semuanya adalah para pendekar lihay, maka tampaklah mereka telah membentangkan ilmu masing-masing untuk mendahului yang lainnya dengan ilmu lari dan Gin-kang yang tinggi. Maka tampaklah seolah-olah para dewa yang sedang berlomba lari dan beterbangan di udara. Tong Kiam Ciu juga tidak ketinggalan, pemuda itu membentangkan ilmu Piauw-hong-cian-li atau melayang diudara seribu li. Kiam Ciu berhasil mendahului mereka dan dengan gemboran panjang dan kuat pemuda itu telah meloncat menerkam punggung Tok Giam Lo. Tok Giam Lo jatuh tersungkur. Kemudian dalam sekejap saja dia telah terkurung oleh segenap jago silat, Dalam keadaan itu maka Kwi Ong lah orang yang pertama-tama memaki kearah Tok Giam Lo dengan suara keras dan tandas. 9 15
"Hei kau benar-benar bernyali besar! Hayo kembalikan lekas peta Pek-seng itu padaku!"
Seru Kwi Ong sambil melototkan matanya dan mengangsurkan tangannya kearah Tok Giam Lo.
Kemudian tampaklah Kwi Ong meloncat kedepan, sedangkan Tok Giam Lo menggeserkan kakinya serta siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan.
Sambil meloncat kebelakang beberapa tindak, kemudian memeriksa kertas yang digenggamnya itu satu persatu.
Tetapi diatas kertas-kertas itu dia tidak menemukan apa-apa.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara tawa yang meninggi dari mulut Tok Giam Lo.
Seraya berseru .
"Ha-ha-ha-ha..ha....ha semuanya kertas yang tiada berguna, tanpa ada guratan-guratan yang berarti. Apakah kau Kwi Ong akan berusaha menipu kami? Ha-ha-ha-ha..ha....ha siapa yang mau silahkan mengambilnya !"
Seru Tok Giam Lo sambil menyebarkan kertas-kertas itu.
Orang-orang yang sejak tadi berdiri terpaku dan mengepung Tok Giam Lo kini sebagian ternyata masih berhasrat merebut kertas itu.
Hanya beberapa orang saja yang tetap tenang dan telah menyadari kalau kertas-kertas itu sama sekali tidak berharga, karena mereka menganggap hanya sebagai kertas-kertas yang tidak berarti.
Mereka yang menggubris kertas yang disebarkan oleh Tok Giam Lo ialah antara lain Kwi Ong, Shin Kai Lolo dan Tay Jat Cin Jin.
Akhirnya kertas-kertas yang tampaknya kosong dan sesungguhnya berisi guratan peta Pek-seng itu terpegang oleh gadis yang mengenakan pakaian serba hijau itu.
Suasana ketegangan dan keributan telah mereda.
Maka Tok Giam Lo tampak tersenyum-senyum.
Entah senyum yang berarti apa.
Juga perasaan yang bagaimana kini yang telah meliputi pikiran mereka para jago silat saat itu dalam menanggapi peta penyimpanan kitab Pusaka Pek-seng-ki-su.
Tahu-tahu Kwi Ong meraung nyaring bagaikan raungan seekor harimau besar yang sedang mengamuk.
Seraya memaki kearah Tok Giam Lo.
"Bedebah kau Tok Giam Lo ! Kau telah memfitnah aku !"
Seru Kwi Ong dengan suara lanta.ng dan bengis.
"urusan peta Pek-seng kita kesampingkan dulu. Kini 9 16 kita menentukan nama baik kita, hayo kita selesaikan secara jantan !"
Seru Kwi Ong menantang Tok Giam Lo.
Tok Giam Lo walaupun tidak ungkulan melawan Kwi Ong menurut perhitungannya, namun dia telah ditantang dihadapan orang banyak.
Maka untuk menjaga nama baiknya, dia terpaksa menerima tantangan itu.
Kwi Ong orangnya bertubuh tegap dan tinggi besar dengan wajah seram serta mempunyai ilmu andalan yang sangat lihay dan benar-benar telah dikuasainya ilmu Tay-lik-kim-kong eng-jiauw-kang atau cakar garuda sakti.
Sedangkan Tok Giam Lo jago silat dari daerah tengah yang mempunyai ilmu hebat juga serta mempunyai senjata rahasia beracun yang sangat ganas.
Kini keduanya telah bergerak ketengah-tengah kepungan para pendekar perkasa.
Mereka telah berhadap-hadapan dengan sikap waspada.
Tampaklah mata mereka sangat seram dan alis bertemu.
Saling berpandang dan mengawasi langkah-langkah awannya.
Tetapi belum lagi mereka berdua berbaku hantam, tahu-tahu sigadis remaja yang mengenakan pakaian serba hijau telah meloncat dan berdiri diantara kedua orang yang akan bertarung itu.
Dengan berani gadis itu menghadap kearah Kwi Ong dan membentangkan lembaran kertas putih yang kosong tampaknya itu kearah Kwi Ong.
"Lihai ini hanya kertas putih belaka! Apakah kau memang sengaja mengecohkan kami ?"
Tanya gadis remaja berpakaian hijau itu dengan mata bersinar seram.
Sikap gadis itu memang sangat berani, apalagi ketika memandang wajahnya memang menyiratkan cahaya permusuhan sedangkan matanya bersinar tajam bagaikan kilatan pedang pusaka.
"Apakah kau ingin mengetahui seluk-beluk kertas itu ?"
Tanya Kwi Ong dengan nada ketus.
"Kau jangan mencoba main-main !"
Bentak gadis itu dengan marah.
"Oho bagus sekali gertakanmu itu siocia ! Kalau kau tetap ingin mengetahui rahasia peta Pek-seng itu, maka kau harus berani mewakili jago-jago silat untuk menerima tiga buah pukulanku !"
Seru Kwi Ong tersenyum mencibir gadis itu. 9 17
"Kau kira aku ini apa ?"
Tanya gadis itu dengan ketus pula.
"Terserah apa anggapanmu sendiri! Pokoknya kalau kau ingin mengetahui rahasia peta Pek-seng itu kau harus mau menerima pukulanku sampai tiga kali, kalau kau kuat menahan pukulanku sampai tiga kali, maka kau akan menerima penjelasan tentang rahasia peta Pek-seng. Tetapi kalau kau ternyata tidak mampu maka kau dan semua jago-jago silat yang berada disini harus enyah dari tempat ini saat itu juga !"
Seru Kwi Ong menantang gadis itu.
Gadis itu rupa-rupanya juga merasa panas karena dipandang karena rendah oleh Kwi Ong.
Maka dia telah mengerutkan kening dan alisnya tampak bertemu tampaklah keren wajahnya.
Namun Kwi Ong hanya tersenyum seraya menunggu jawaban gadis itu.
Namun tiba0tiba Tay Jat Cin Jin telah melangkah maju.
Dengan wajah cerah dan tersenyum dia berkata kepada Kwi Ong.
"Rupa-rupanya Kwi Ong ini adalah jago silat yang tiada tandingnya didaerah Selatan! Kusaksikan bahwa kau telah memiliki pedang pusaka , pedang pusaka yang hanya dipegang oleh jago pedang nomor satu dikalangan Bu-lim. Maka untuk mengelakan pertarungan dan persengkataan aku mempunyai sebuah usul!"
Seru Tay Jat Cin Jin. Kwi Ong memandang kakek itu, memandangi keadaan tubuh orang tua itu dari kaki sampai keatas kepalanya Kemudian rajanya orang-orang suku Biauw itu berseru kepada kakek itu.
"Apakah kau sanggup mewakili orang-orang yang berada di tempat ini ?"
Namun Tay Jat Cin Jin hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kemudian menyahut dengan suaranya yang sabar.
"Zamanku untuk mewakili para jago silat dari daerah pertengahan sudah lama berlalu karena usiaku sudah lanjut. Tetapi aku mempunyai jalan yang adil kurasa kaupun kalau memang berjiwa luhur dan bijaksana akan setuju dengan usulku ini...."
Bujuk Tay Jat Cin Jin.
Shin Kai Lolo selama ini diam saja karena menahan hatinya.
Tetapi akhirnya dia sudah tidak dapat membendung desakan gelombang amarahnya lagi yang 9 18 telah meluap-luap hampir memecahkan benaknya.
Maka dia segera meloncat kedepan dan berdiri dihadapan Kwi Ong.
"Keparat kau Kwi Ong ! bahwa pedang selamanya selalu dipegang oleh jago silat dari daerah tengah. Mana mungkin kau akan menguasainya !"
Seru Shin Kai Lolo dengan surara lantang.
"Dengan alasan apa kau akan menguasai pedang ? Meskipun kau berhasil menemukan kitab pusaka Pek-seng-ki-su sekalipun kau tidak berhak untuk mengangkangi pedang pusaka itu, kau harus memperebutkannya terlebih dahulu dalam pertemuan Bu-Lim-ta-hwee "
Seru Shin Kai Lolo dengan nada suara lantang dan berani.
Semua orang menganggukan kepala membenarkan perkataan nenek itu.
Tetapi Kwi Ong tampak merah wajahnya dan tertawa terbahak-bahak seperti orang kemasukan setan.
Kemudian setelah mereda tertawanya maka dia lalu membentak kearah Shin Kai Lolo dan segenap jago silat yang berada ditempat itu.
"Ha-ha-ha! Menurut pendapatmu pedang ini harus diperebutkan dalam pertemuan Bu-lim-ta-hwee? Baiklah! Saat ini ditempai ini telah berkumpul banyak sekali orang-orang gagah dari kalangan Bu-lim, Maka marilah kita anggap pertemuan ini pertemuan Bu-lim-ta-hwee. Siapa saja yang ingin mengadu kapandaiin atau ilmu denganku kupersilahkan maju! Ayo siapa yang ingin mengadu ilmu denganku majulah !"
Seru Kwi Ong dengan nada yang sangat menyakitkan hati orang-orang yang berada ditempat itu.
Shin Kai Lolo sama sekali tidak dapat menerima tantangan itu.
Dia paling tidak tahan menerima hinaan dan tantangan.
Maka segeralah dia melangkah maju kehadapan Kwi Ong lebih dekat lagi seraya membentak.
"Jangan sesumbar disini! Kau kira aku takut untuk menghadapi dirimu?"
Seru Shin Kai Lolo.
Suasana menjadi sangat tegang, Semua jago-jago silat yang berada di tempat itu sebagian besar bahkan seluruhnya adalah memusuhi Kwi Ong bukan saja karena orang itu bersipat sombong dan memandang rendah ilmu orang 9 19 lain, tetapi karena dia telah berani menghina para pendekar dari bagian lengah.
Kwi Ong adalah seorang pendekar dari daerah bagiai selatan.
"Hahaha!"
Terdengar suara tertawa Kwi Ong nyaring dan menggetarkan bulu kuduk seram kedengarannya "Aku memang bermaksud untuk mengirimkan kau terlebih dahulu ke akherat, sekarang ternyata kau yang mendesakku untuk aku lekas bertindak!"
Saat itu Shin Kai Lolo telah berdiri di atas kuda-kudanya yang telah siap untuk menyerang atau siap menerima serangan lawan.
Nenek itu telah mengerahkan tenaga dalam, tetapi tiba-tiba Teng Siok Siat telah meloncat menghampiri suhunya.
Kemudian membisikan sesuatu ketelinga nenek itu.
Tampaklah Shin Kai Lolo mengangguk.
Kemudian nenek itu berseru kepada muridnya.
"Baiklah kau jalan duluan ! Aku segera akan menyusul !"
Seru Shin Kai Lolo seraya meloncat menghampiri Eng Ciok Taysu.
Setelah nenek itu dekat dengan Eng Ciok Taysu maka nenek itu lalu membisikkan sesuatu ketelinga Taysu itu.
Tampaklah Eng Ciok Taysu mengangguk-anggukan kepalanya.
Kemudian Shin Kai Lolo berseru kepada Kwi Ong .
"Hey orang biadab ! Hari ini memang belum takdirmu harus binasa ditanganku ! Kau masih dapat hidup selama beberapa hari lagi ! Karena ada urusan yang sangat penting, aku terpaksa harus berlalu dan kita dapat meneruskan urusan kita kemudian hari !"
Seru Shin Kai Lolo dengan sikap acuh dan merendahkan Kwi Ong.
Selesai dengan ucapannya itu maka nenek Shm Kai Lolo segera meloncat meninggalkan arena itu yang diikuti Eng Ciok Taysu, Tie Kiam suseng, dan Siok Siat Shin Ni.
Kwi Ong terhenyak dan gusar sebenarnya, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap lawannya yang telah menyatakan keberatan saat itu.
Dia hanya mengerundel seorang diri sambil memandang kearah mereka yang telah meninggalkannya.
9 20 Suatu teka-teki yang dimasudkan oleh Siok Siat membisikan sesuatu kepada suhunya.
Apakah dia merasa khawatir kalau sampai suhunya terbinasa oleh Kwi Ong?
Atau memang ada persoalan lain yang memang sangat penting?
Semuanya itu memang merupakan teka-teki bagi para pendekar yang juga ikut dalam pertemuan dipinggir telaga Ang-tok-ouw itu.
Mereka saling memandang sesama kawan.
Kemudian mereka ikut berlari-lari dibelakang Siok Siat Shin Ni.
Murid Shin Kai Lolo telah berlari terlebih dahulu.
Teng Sok Siat itu telah jauh meninggalkan rombongan orang-orang gagah menuju kesebuah pagoda yang terletak tiada jauh dari tempat mereka bertemu ditepian telaga Ang-tok-ouw.
Setelah nenek Shin Kai Lolo tiba didepan pintu pagoda, maka nenek itu menyuruhi Eng Ciok Taysu untuk menunggu diluar.
Sedangkan dia langsung masuk kedalam pagoda.
Begitu juga para pendekar lainnya menunggu dluar.
Tie-kiam-su-seng yang tidak mengetahui seluk beluknya dan hanya ikut-ikutan saja berlari ketempat itu mengikut jejak Eng Ciok Taysu maka segera menanyakan segala sesuatunya kepada Taysu itu.
"Laoko, ada urusan apakah semuanya ini ? Bolehkah aku mengetahui persoala yang sedang kita hadapi sekarang ini ? Karena aku mengikuti hanya secara membabi buta saja."
Kata Tie-kiam-su-seng. Eng Ciok Taysu sejenak menelan ludah, menatap Tie-kiam su-seng dan kemudian memperhatikan Siok Soat Shin Nie sebelum menjawab.
"Dulu aku pernah mengatakan bahwa aku akan merebut pedang pusaka Oey Liong Kiam, tetapi kalau sampai gagal usahaku itu maka aku akan berusaha terus demi kewibawaan partai Siauw-lim. Tetapi kalau memang untuk memperebutkan pedang itu sangat tidak mungkin maka aku akan berusaha untuk mencari kitan pusaka Pek-seng-ki-su. Kalau toh juga tidak berhasil, maka aku akan pergi ke gunung Hiong-san untuk menemui seorang jago silat yang maha sakti, yang saat ini telah bertapa digunung itu. Aku ingin berguru padanya !"
Kata Eng Ciok Taysu.
Sesaat lamanya tiada seorangpun yang menyambung kata-kata Taysu itu.
Mereka belum menemukan sasaran pertanyaan dan belum tahu kearah mana pembicaraan taysu itu.
Karena lain jawaban yang telah diberikan oleh Eng Ciok Taysu dari pertanyaan Tie-kiam-suseng.
"Adik Tie-kiam-su-seng, kau telah memisahkan diri dari partai kita Siauw-lim dan telah mendirikan cabang persilatan sendiri. Tetapi walaupun bagaimana kau adalah berasal dari Siauw-lim juga. Kau benih dari Siauw-lim. Maka kaupun tentunya merasa tidak akan rela seandainya partai Siauw-lim hancur atau dihina orang ?"
Sambung Eng Ciok Taysu.
"Hemmm...."
Gumam Tie-kiam-suseng penuh perhatian memandang Eng Ciok Taysu yang sedang berbicara itu.
"Nah, oleh karena itu jatuhnya partai Siauw-lim juga mempengaruhi dirimu juga bukan ?"
Tanya Eng Ciok Taysu sambil menatap muka adik seperguruannya itu.
"Ya"
Jawab Tie-kiam-su-seng mengangguk.
"Sekarang, kesimpulannya begini . apakah tidak ada baiknya seandainya Tiekiam digabungkan menjadi satu dengan Siauw-lim ? Sehingga partai persilatan kita menjadi kuat..."
Sambung Eng Ciok Taysu dan memandang wajah Tie-kiam suseng dengan penuh selidik.
Tetapi ketua partai cabang Tie-kiam itu diam sejenak.
Kemudian tampak mengerutkan keningnya.
Melipatkan bibirnya dan mengusap dengan keras dan penuh menggunakan perasaannya juga.
Baca Juga: Dara Baju Merah 1
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 3