Ceritasilat Novel Online

Warisan Jenderal Gak Hui 5

Eps 5 Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung

Baca online Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung

Cersil Warisan Jenderal Gak Hui - Chin Yung.

"Kalau persoalan itu... yah, sebenarnya persoalan yang penting juga, artinya kita harus berpikir masak-masak. Maka aku tidak berani memutuskan dengan sembarangan"

Jawab Tie-kiam-su seng.

"Lalu ?"

Tanya Eng Ciok Taysu.

"Yah ? Aku akan mempertimbangkan dulu !"

Jawab Tie-kiam-su seng.

"Hemmm...."

Gumam Eng Ciok Taysu.

"Laoko, apakah yang dibisikan oleh nenek itu padamu ?"

Tanya Tie-kiam-su seng penuh kesungguhan. Eng Ciok Taysu tersenyum. Taysu itu tidak mau segera memberikan penjelasan, dia berkata dengan nada sabar.

"Tong Kiam Ciu masih sangat muda usianya. Begitu dia berkecimpung di kalangan Kang-ouw dengan ilmu silatnya yang lihay, sehingga dia mendapat 9 22 julukan Giok-ciang-cui-kiam (Tinju baja mematahkan pedang). Disamping itu dia mempunyai watak luhur dan budiman"

Kata Eng Ciok Taysu dengan mengutarakan tentang diri Tong Kiam Ciu. Tie-kiam suseng masih kurang mengerti dengan maksud suhengnya itu. Tie-kiam suseng hanya mendengarkannya dan menundukan kepala.

"Coba pikirkan itu nenek Shin Kai Lolo, si raja setan Kun-si Mo-kun yang pernah menyapu para pendekar silat pada jaman duapuluhan tahun yang lalu, ternyata mereka sangat menghormati Kiam Ciu. Bahkan mereka telah membantu dan menolong pemuda itu. Kukira akhirnya pedang Oey Lioog Kiam dan kitab Pek-seng-ki-su akhirnya juga akan jatuh ke tangan pemuda itu. Karena dia sangat tekun dan besar sekali kemampuannya untuk menguasai ilmu-ilmu yang langka, aku yakin itu"

Sambung Eng Ciok Taysu.

"Ya, tetapi apa dikatakan yang oleh Shin Kai Lolo pada Loako ?"

Desak Tie-kiam-suseng tak sabar ke pokok pembicaraan.

"Barusan Shin Kai Lolo memberitahukan padaku bahwa Tong Siauwhiap menderita luka dalam, nenek itu bertekad untuk memberikan pertolongan kepadanya"

Eng Ciok Taysu menjelaskan.

"Oh, apakah Loako tidak melihatnya tadi Kun-si Mo-kun telah membawa pergi Tong Kiam Ciu !"

Tanya Tie-kiam-su-seng. Eng Ciok Taysu mengangguk. Saat itu angin halus bagaikan dihimbau lembut sekali.

"Pemuda itu memang berjiwa besar, dia telah menderita luka dalam karena pukulan beracun Tok Giam Lo. Tetapi sikeji itu juga menderita lebih berat karena beradunya dengan tenaga sakti Bo-kit-sin-kong yang dikerahkan oleh Kiam Ciu'", sambung Eng Ciok Tay su.

"Orang semacam Tok Giam Lo mati lebih cepat kukira lebih baik !"

Kata-kata Tie-kiam-suseng seolah-olah gemas.

"Ya, ya dari pada keiak kira direpotkan juga"

Sambung Siok Siat Shin Ni. Mereka yang mendengarkan mengangguk mengiyakan pendapat itu. Selanjutnya Eng Ciok Taysu meneruskan kata-katanya.

"Karena luka-luka Tong Kiam Ciu itu si nenek Shin Kai Lolo itu merasa khawatir, hingga dia rela menunda pertempuran melawan Kwi Ong yang menentukan kehormatannya sebagai seorang tokoh tua. Itulah suatu bukti bahwa orang itu sangat menghormati Tong Kiam Ciu, bahkan juga menggantungkan harapannya untuk kemanusiaan dan kesejahteraan umat manusia ... ."

Sambung Eng Ciok Taysu bersungguh-sungguh.

"Hem, memang benar kesimpulanmu itu Laoko. Kitapun lebih ikhlas benda-benda pusaka itu jatuh ketangan Tong Kiam Ciu daripada jatuh ketangan orang luar"! sela Tie-kiam-suseng.

"Jelas! Kalau sampai benda-benda pusaka itu jatuh ketangan orang luar, itu pertanda yang kurang baik bagi sinar kemegahan daerah pertengahan ini"

Sambang Siok Siat Shin Ni. Kini kita telah melihat calon pewaris yang dapat diandalkan ialah Tong Kiam Ciu. Maka kitapun bersedia untuk membantu dan menolong pemuda itu ... ."

Sahut Eng Ciok Taysu.

Mereka mengobrol sudah begitu lama sambil menunggu berita dari Shin Kai Lolo yang saat itu masih berada didalam pagoda.

Adapun Kun-si Mo-kun yang pada waktu keributan ditepi telaga Ang-tok-ouw antara Kwi Ong dan Tok Giam Lo, sigadis berpakaian serba hijau dan Shin Kai Lolo tadi dia sempat memperhatikan keadaan Kiam Ciu vang tampak lemah dan pucat wajahnya.

Kakek yang digelari si Raja Setan itu telah yakin kalau Kiam Ciu mendapat luka dalam yang berat dan terkena racun Tok Giam Lo ketika dia mengejar siraja bisa itu tadi dalam memperebutkan peta Pek-seng.

Maka segeralah Kun-si Mo-kun bertindak membawa pergi pemuda itu dengan diam-diam.

Tindakannya itu telah diketahui oleh murid kesayangan Shin Kai Lolo yang memang telah menaruh hati kepada Kiam Ciu.

Kemudian memberitahukan keadaan Kiam Ciu itu kepada suhunya.

Juga pada saat itu sedang dalam keadaan gawat antara Shin Kai Lolo dengan Kwi Ong.

Adapun Kun-si Mo-kun setelah membawa Tong Kiam Ciu menjauhi tempat keributan dan membawa masuk kedalam pagoda, maka segeralah mengadakan 9 24 pemeriksaan terhadap pemuda itu.

Ternyata Tong Kiam Ciu terkena racun dan terluka dalam memerlukan perawatan dan istirahat sampai tiga hari tiga malam lamanya.

Shin Kat Lolo setelah menemui Kun-si Mo-kun dan mendapat penjelasan bahwa Tong Kiam Ciu harus dirawat dan istirahat selama tiga hari tiga malam untuk memulihkan kembali tenaganya dan menyembuhkan luka dalam.

Maka segeralah nenek itu menyanggupkan diri untuk menjaga Tong Kiam Ciu.

"Aii, kalau memang Tong Siauwhiap membutuhkan perawatan selama tiga hari tiga malam maka kita harus menjaganya dari gangguan musuh-musuh kita, terutama Kwi Ong. Aku yakin Eng Ciok Taysu dan kawan-kawannya bersedia untuk membantu menjaga dia!"

Seru Shin Kai Lolo.

Mereka berdua keluar dari pagoda meninggalkan Tong Kiam Ciu di pembaringan dalam keadaan tidur.

Setelah sampai diluar pintu pagoda tentu saja ketiga jago silat kawakan itu segera menghujani dengan pertanyaan-pertanyaan.

Hati Kun-si Mo-kun jadi senang dan dia melihat suatu harapan besar mendapat dukungan mereka itu untuk menjaga Kiam Ciu.

Maka Shin Kai Lolo segera menjelaskan persoalan tentang keadaan Tong Kiam Ciu yang harus beristirahat dan menyembuhkan luka-lukanya selama tiga hari didalam pagoda itu.

"Kalau begitu, kita harus menjaganya !"

Seru Eng Ciok Taysu.

"Ya. kita harus menjaganya agar dia dapat tenang istirahat dan memulihkan kembali jalannya Cinkie pemuda itu"

Jawab Kun-si Mo-kun.

Permintaan Kun-si Mo-kun kepada Eng Ciok Taysu dan kawan-kawannya itu mendapat sambutan dengan tulus ikhlas.

Demikian para jago silat kenamaan itu mengadakan penjagaan diluar pagoda.

Adapun Teng Siok Siat mengadakan pengertian.

Belum seberapa lama mereka mengadakan penjagaan itu.

Tampaklah Kwi Ong yang di sertai juga oleh Tay Jat Cin Jin, Tok Giam Lo serta gadis berpakaian serba hijau yang terkenal dengan sebutan Ceng-hi-Sio-li.

Tetapi orang-orang dari partai Kong-tong tidak kelihatan.

9 25 Mereka telah mendatangi pagoda itu.

Kwi Ong mendatangi dengan pedang terhunus dan menghampiri Kun-si Mo-kun.

"Hey orang gila, mana Tong Kiam Ciu ?"

Bentak Kwi Ong.

Kun-si Mo-kun dan kawan-kawannya bersikap acuh terhadap pertanyaan itu.

Mereka pura-pura tidak mendengarkan pertanyaan itu.

Bahkan mereka melihat ketempat lain.

Kwi Ong gusar hati, melangkah maju lagi dan membentak.

"Jika kau tidak menyerahkan dia. aku akan masuk dan menyeretnya!"

Sikapnya yang congkak, wajahnya yang beringas dan menantang itu menambah kegusaran Kun-si Mo-kun saja. Maka kakek itu lalu membentaknya dengan suara gusar dan menantang pula .

"Hei Kwi Ong! Kita sudah dua kali bertemu, dua kali pula kau tidak terhasil mengalahkan diriku. Sekarang aku akan menghadapimu dengan perangkap Ngo-ki-kiat-ceng (perangkap lima jalur jalan ajaib) dan akan menguji ketinggian ilmumu!"

Seru Kun-si Mo-kun dengan lantang.

Ketika Kun-si Mo-kun menyebutkan perangkap Ngo-ki-kiat-ceng tampaklah Ceng-hi-Sio li (pendekar silat wanita berpakian hijau) terkejut.

Mendengar tantangan itu hati Kwi Ong tidak tahan lagi.

Dengan sebuah gerungan keras bagaikan kerbau gila dia telah menyerang Kun-si Mo-kun dengan mengirimkan jurus Ciok-po-thian-keng atau menggempur batu menembus langit.

Namun Kun-si Mo-kun telah siap siaga.

Dengan sebuah gerakan lincah dan cepat sekali kakek itu telah meloncat, sedangkan pedang Kwi Ong melesat menikam tempat kosong.

Begitu tubuh Kwi Ong telah lewat dan agak condong tahu-tahu Kun-si Mo-kun telah melesat menendang mukanya.

Hebat sekali tendangan itu, jika saja Kwi Ong tidak cepat menghindar maka hancurlah wajahnya karena terkena tendangan itu.

Kwi Ong terperanjat, tetapi untung dia nyaris dari tendangan itu !

Namun demikian dia tidak dapat menghindari lagi terhadap serangan Siok Siat Shin-ni 9 26 yang telah menghembuskan lengan jubahnya yang mendamparkan angin bertenaga dahsyat pula.

"Aduh!"

Terdengar Kwi Ong menjerit dan cepat-cepat meloncat mundur menjauhi lawannya.

Namun Siok-siat Shin-ni tidak tinggal diam dan membiarkan lawannya terlepas.

Dengan mencabutkan pedang dan langsung menyerang dengan jurus yang mematikan kearah tubuh Kwi Ong.

Pedang Tiong-goan-liong-kiam (Pedang naga merah daerah pertengahan) itu tampak berputar-putar menyilaukan mata dan bergerak sangat cepat sekali.

Hanya dengan ilmu yang tinggi Kwi Ong dapat menghindari serangan-serangan pedang Tiong-goan-liong kiam itu.

Walaupun demikian pakaian Kwi Ong telah tersayat dan terkoyak serta tampaklah noda-noda darah.

Untung bahwa raja iblis dari selatan itu mempunyai ilmu Kim-kang-lik atau Tenaga dalam ajaib hingga goresan-goresan pedang itu tidak dapat melukai tubuhnya lebih dalam lagi.

Saat itu barulah Kwi Ong menemukan lawan yang benar-benar hebat.

Dia jadi sangat gelisah, karena sejak dia memimpin orang-orangnya dari suku Biauw menyerbu daerah pertengahan itu belum pernah ada seorangpun jago silat yang berhasil mengalahkan dirinya.

Bahkan dia telah banyak membunuh jago-jago silat daerah pertengahan.

Tetapi kini kenyataannya, sangat hebat sekali.

Dia telah mendalami kenyataannya yang luar biasa.

Ternyata Kun-si Mo-kun dan Siok-siat Shin-ni telah berhasil membuat dia kalang kabut.

Gerakan Kwi Ong tampak kacau, ternyata dia tidak berhasil memecahkan rahasia ilmu jebakan Ngo-ki-kiat-ceng.

Kwi Ong jadi gelisah.

"Adapun gadis yang berpakaian serba hijau atau terkenal dengan-panggilan Ceng-hi Sio-li yang juga ingin merebut peta Pek-seng, setelah melihat Kwi Ong jadi kelabakan melawan Kun-si Mo-kun dan Siok-siat Shin-ni. Maka gadis itu segera berniat untuk membantu Kwi Ong. Tampaklah Ceng-hi Sio-li juga telah siap-siap memberikan bantuan terhadap Kwi Ong. Ketika kakek Kun-si Mo-kun menggunakan tangannya dan Siok-siat Shin-ni meloncat mengarahkan pedangnya ke ulu hati Kwi Ong maka tampaklah 9 27 kelebatan Ceng-hi Sio-li meloncat melalui atas kepala Nenek jago pedang itu. Hingga akhirnya perhatian nenek itu terpecah beralih kearah kelebatan Ceng-hi Sio-li. Serangan terhadap Kwi Ong terhenti. Begitulah dengan cepat gadis itu bergerak kearah Kun-si Mo-kun yang juga tengah menggerakan pukulannya kearah Kwi Ong. Tahu-tahu tampaklah kelebatan Ceng-hi Sio-li melalui atas kepalanya. Hingga kakek itu terpaksa mengalihkan perhatannya kearah kelebatan bayangan yang mengancam kepala kakek itu. Akibatnya serangan terhadap Kwi Ong terpaksa terhenti. Maka pecahlah siasat Ngo-ki-kiat-ceng. Kwi Ong merasa sangat bersyukur terhadap bantuan gadis itu, Maka dengan cepat pula dia telah meloncat kebelakang Ceng-hi Sio-li. Sedangkan Kun-si Mo-kun sangat gusar mendengar kenyataan itu. Setelah itu pertempuran berhenti ! "Hai ! Siapa namamu dan siapa suhumu ?! Hayo beritahukan lekas atau kubunuh kau sekarang juga! "

Seru Kun-si Mo-kun dengan gusar. Namun Ceng-hi Sio-li menyahut dengan tenang.

"Namaku ..... tidak! Aku terkenal dengan sebutan Ceng-hi Sio-li ! Aku tidak perlu kasih tahu nama suhuku padamu, karena kalau kau mendengarnya akan jatuh pingsan!"

Jawab gadis itu seenaknya.

"Hayo lekas jawab yang benar!"

Bentak Kun-si Mo-kun gusar sekali.

"Hihihi, baiklah kalau kau memang ingin tahu juga tentang suhuku biar kau tidak penasaran. Apakah kau pernah dengar partai silat Ngo-kiat-pay? Aku adalah salah seorang murid dari partai silat Ngokiat-pay!"

Jawab gadis berpakaian hijau dengan bangga.

Kalau seandainya saat itu ada seribu kali geledek menyambar dan gemuruhnya membelah bumi takkan mengejutkan Kun-si Mo-kun.

Tapi serentak dia mendengarkan nama partai silai Ngo-kiat-pay terasa tergetar hatinya.

Tiba-tiba saja kakek raja setan itu tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

"Hahaha aku sudah duga. Nenek itu belum binasa! Hahaha dia telah membentuk partai silat Ngo-kiat-pay. Hahaha!" 9 28

"Tetapi kini dia telah cacad dan wajahnya telah menjadi sangat buruk."

Sambungnya lagi.

Ceng-hi Sio-li mendengarkan perkataan Kun-si Mo-kun dengan sikap waspada.

Dia tahu bahwa sekarang sedang berhadapan dengan musuh-musuhnya.

Juga berhadapan dengan orang pandai dari kalangan tua.

Tetapi belum lagi dia berseru menjawab kata-kata Kun-si Mo-kun, tahu-tahu kakek itu telah berseru lagi.

"Kau muridnya ? Baiklah kini kau akan kubinasakan terlebih dahulu, baru nanti setelah muridnya aku akan mencari suhunya dan akan kubinasakan sekalian !"

Seru Kun-si Mo-kun.

Begitu selesai dengan kata-katanya itu, maka Kun-si Mo-kun langsung meloncat menerkam Ceng-hi Sio-li dengan gerak tiba-tiba dan cepatnya luar biasa, hingga gadis itu tidak mampu lagi untuk berkelit.

Ceng-hi Sio-li terpaksa harus memapasnya dengan lengannya pula.

Tetapi Kwi Ong waspada, ketika dia melihat dayangnya bahaya yang mengancam keselamatan Ceng-hi Sio-li maka dia langsung mengirimkan pukulan hebat kearah dada Kun-si Mo-kun.

Akibatnya Kun-si Mo-kun tak sempat lagi mengelak maupun menangkis serangan yang tidak terduga itu.

Tubuh Kun-si Mo-kun terlempar karena hantaman Kwi Ong itu.

Kakek itu jatuh dan memuntahkan darah segar.

Kemudian Kwi Ong meloncat sambil berseru kearali Ceng-hi Sio-li, Tok Giam Lo dan Liat Kiat Koan (pemimpin partai silat Kong-tong).

"Aku yang akan membereskan Kun-si Mo-kun! Kalian carilah dimana persembunyian Tong Kiam Ciu."

Seru Kwi Ong sambil mengirimkan serangan kearah K Kun-si Mo-kun yang telah berdiri dan siap dengan kuda-kudanya.

Tetapi sekejap itu pula telah tampak Shin Kai Lolo lelah meloncat berdiri disamping Kun-si Mo-kun memberikan bantuan.

Sedang Siok Siat Shin-ni, Eng Ciok Taysu dan Tie-kiam-suseng telah berbaris menjaga pintu masuk ke pagoda dengan pedang terhunus.

Dalam keadaan itu, sewaktu-waktu pertempuran segera bisa berkobar.

Mereka sudah sama-sama tegang dan dari pihak Kwi Ong berhasrat untuk 9 29 menerobos pintu pagoda, sedangkan dari pihak Kun-si Mo-kun bertekad untuk bertahan.

Kedua belah pihak adalah orang-orang dari kalangan Bu-lim yang berilmu tinggi, Hebat sekali akibatnya kalau sampai terjadi pertempuran saat itu.

Tetapi belum lagi semuanya itu berjalan, tiba-tiba dari atas pagoda terdengar sebuah seruan yang keluar dari jendela pagoda.

"Tunggu!"

Seruan itu begitu nyaring dan ternyata mempengaruhi kedua belah pihak.

Orang-orang yang berada didepan pintu pagoda itu semuanya mendongak kearah datangnya suara.

Perhatian mereka tertuju kesana.

Mereka menyaksikan Tong Kiam Ciu berdiri dibelakang jendela.

Di tempat itu tampak pula Teng Siok Siat mendampingi Kiam Ciu.

"Kalian orang-orang gagah mencariku dengan maksud untuk menanyakan rahasia peta Pek-seng bukan?"

Seru Tong Kum Ciu dengan suara keras dan tenang.

"Heeii Lotee (adik kecil) mengapa kau tak menghiraukan pesanku?"

Teriak Kun-si Mo-kun dengan suara nyaring dan penuh khawatir.

Semua jago-jago silat yang berada ditempat itu masih tetap memperhatikan kearah Tong Kiam Ciu.

Senangkan Teng Siok Siat masih tetap mendampingi Tong Kiam Ciu.

"Kau seharusnya tetap tenang dan beristirahat didalam. Kami yang menjaga diluar, apapun yang terjadi itu urusan kami!"

Seru Kun-si Mo-kun memperingatkan Kiam Ciu dengan pesannya.

Tetapi Tong Kiam Ciu adalah seorang pemuda yang polos dan berhati mulia.

Dia tidak senang kalau orang lain menderita karena dirinya.

Maka ketika dia mendengar ribut-ribut diluar pagoda, dia telah menduga bahwa tentulah Kwi Ong dengan kawan-kawannya yang berusaha untuk mencarinya dan ingin mengetahu peta Pek-seng itu.

Dengan tersenyum pemuda itu menjawab kata-kata Kun-si Mo-kun.

"Locianpwe ! Aku tidak melihat apa yang terjadi diluar, tetapi aku dapat mendengarnya. Ini adalah urusanku dan harus mengurusnya."

"Tetapi kau belum sembuh kau hanya akan mengantarkan jiwamu saja dengan percuma jika kau harus bertarung lagi!"

Seru Kun-si Mo-kun.

9 30 Dengan selesainya kata-kata itu tahu-tahu tubuh kakek itu telah melesat bagaikan terbang dan hinggap dijendela dimana Tong Kiam Ciu berdiri dengan maksud mendorong Tong Kiam Ciu untuk masuk kembali Tetapi dengan cepat pula Ceng-hi Sio-li telah berada di belakang Kun-si Mo-kun.

Maka kakek itu lalu membentak.

"Minggir!"

Seru Kun-si Mo-kun sambil menghantamkan tinjunya Ceng-hi Sio-li.

Namun gadis berpakaian hijau itu cepat berkelit dan langsung meloncat kebelakang Tong Kiam Ciu sambil menerkam punggung Kiam Ciu dia mengancam.

"Jika kau dan kawan-kawanmu berani bertindak gila-gilaan, maka aku tak segan-segan lagi memukul mati Tong Kiam Ciu! "ancam Ceng-hi Sio-li. Lalu Ceng-hi Sio-li mengeluarkan kertas putih dan menanyakan kepada Tong Kiam Ciu.

"Ini adalah sehelai kertas putih yang kosong, tetapi kau mengatakan bahwa kertas ini adalah peta Pek-seng. Aku minta penjelasan!"

Seru Ceng-hi Sio-li sambil tetap mengancam.

Suasana sudah menjadi sangat tegang sunyi senyap dan hanya napas memeka yang terdengar.

Tong Kim Ciu tampak tetap tenang dan memutar tubuhnya menghadap kearah Ceng-hi Sio-li seraya tersenyum.

"Apakah kau kira kau dapat memaksaku dengan kekerasan?"

Tanya Kiam Ciu bernada tenang dan tersenyum memandang gadis pendekar silat itu.

Mendengar perkataan Kiam Ciu itu, semua orang pada terperanjat dan merasa kagum dengan ketenangan pemuda itu.

Begitu juga Ceng-hi Sio-li yang masih mengancam pemuda itu tampak mengerenyitkan keningnya.

"Kau tahu bahwa kita semua menginginkan kitab pusaka Pek-seng-ki-su?"

Tanya Kiam Ciu dengan suara tetap tenang. Gadis itu hanya memandangi mata Kiam Ciu dengan sorot mata tak mengerti. Namun mata gadis itu membenarkan perkataan Kiam Ciu.

"Untuk menemukan tempat penyimpanan kitab Pusaka Pek-seng-ki-su itu harus menggunakan peta. Tanpa petunjuk peta Pek-seng itu aku yakin takkan mungkin dapat menemukan kitab itu. Ketahuilah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia peta Pek-seng itu hanyalah aku sendiri !"

Seru Tong Kiam Ciu dengan suara tetap tenang, selanjutnya "tanpa petunjukku kukira kalian tidak akan dapat menemukan tempat tersimpannya kitab Pek-seng-ki-su itu !"

Lalu Tong Kiam Ciu mengambil kertas yang dipegang oleh Ceng-hi Sio-li dan gadis itu diam saja hanya memperhatikan.

Karena semua perkataan Kiam Ciu yang baru saja diucapkan itu semuanya benar belaka.

Dia membutuhkan keterangan pemuda itu untuk menunjukan tempat tersimpannya kitab pusaka itu.

Karena memang hanya Tong Kiam Ciu seoranglah yang mengerti rahasia peta Pek-seng itu.

"Kwi Ong telah mengambil empat helai kertas dari dalam saku. Sekarang aku hanya mendapatkan sehelai ini, lalu yang ketiga helai lagi dimana?"

Tanya Kiam Ciu sambil mementangkan kertas yang dipegangnya itu kearah luar. Kemudian terdengarlah Eng Ciok Taysu berseru.

"Tong siauwhiap ! Tiga helai kertas lainnya berada ditanganku!"

Seru Eng Ciok Taysu sambil mengeluarkan tiga helai kertas dan dilipat-lipat kemudian dilemparkan kearah Tong Kiam Ciu.

Setelah Tong Kiam Ciu memegang keempat kertas itu lalu dia berseru kepada semua orang yang berada ditempai itu.

"Kirab pusaka Pek-seng-ki-su itu tersimpan disuatu gedung yang indah didalam kota Pek-seng yang hilang itu. Adapun letak kota Pek-seng itu dimana tak usahlah kalian mengetahuinya. Yang penting kalian dapat mengikutiku ke kota Pek-seng itu"

Seru Kiam Ciu.

Kwi Ong telah merasa tidak sabar lagi dengan tek-tek bengek itu.

Sejak tadi dia sangat gelisah dan seakan-akan dia ingin menghancurkan kepala Tong Kiam Ciu, kalau tidak terhalang oleh satu perkara, ialah untuk mendapat petunjuk letak kota Pek-seng.

Karena memang Kwi Ong pernah sampai di telaga Ang-tok-ouw kemudian mengelilingi tepian telaga itu serta memasuki hutan-hutan disekitar 9 32 telaga iiu serta mencari kota Pek-seng yang hilang itu dan dia juga mencari kitab Pek-seng-ki-su namun tidak berhasil menemukan kota itu.

"Hahahaha Tong Kiam Ciu kau sungguh cerdik untuk menyelamatkan nyawamu dengan menggunakan peta Pek-seng untuk alat! Kau telah menjanjikan hal-hal yang muluk-muluk!"

Seru Kwi Ong dengan suara nyaring.

"Kwi Ong manusia keji dan rendah! Dengar dan pentangkan telingamu lebar-lebar! Sebenarnya aku memang tidak rela kalau sampai kitab Pek-seng-ki-su jatuh ketanganmu. Aku rela kalau seandainya kitab itu jatuh ketangan jago-jago silat dari daerah pertengahan!"

Seru Kiam Ciu.

Kiam Ciu memang sengaja mengeluarkun kata-kata itu karena dia tahu bahwa semua yang berada ditempat itu adalah para pendekar silat dari daerah pertengahan kecuali Kwi Ong seoranglah yang bukan dari daerah pertengahan.

Kwi Ong dari daerah selatan.

Maka dengan kata-kata yang diucapkan oleh Kiam Ciu itu besar juga akibatnya dan menonjolkan Kwi Ong dalam posisi yang sulit dan gawat sekali.

"Lagi pula kau harus mengembalikan pedang pusaka Oey Liong Kian itu kepadaku. Kau telah merampasnya dengan cara keji. Ketahuilah bahwa sebenarnya pedang itu adalah pedang yang harus diperebutkan oleh pendekar-pendekar daerah pertengahan pada tiap sepuluh tahun sekali dalam pertemuan Bu-lim-ta-hwee. Maka pada sepuluh tahun yang akan datang aku harus membawa pedang pusaka itu dalam pesta pertemuan Bu-lim-ta-hwee dan pedang itu sebagai piala bagi mereka yang memenangkan dalam pibu!"

Seru Kiam Ciu kearah Kwi Ong dengan menuding-nuding.

Sebenarnya Kwi Ong merasa sangat gusar dituding-tuding seperti itu oleh Kiam Ciu.

Namun selama beberapa saat itu dia masih dapat menahan kemarahannya demi kitab Pek-seng-ki-su.

"Tong Kiam Ciu kau jangan hanya besar mulut ! Kalau memang kau berkepandaian dan ada keberanian mengapa tidak datang kepadaku dan mengambil pedang ini dari tanganku! "

Seru Kwi Ong dengan nada sombong.

Kiam Ciu sejenak diam dan memandang kearah Kwi Ong.

Sebenarnya hatinya merasa terpukul dengan tantangan itu.

Dia terhenyak dan matanya 9 33 merah membara.

Tetapi dia menyadari bahwa tubuhnya dalam keadaan luka dalam dan tidaklah mungkin untuk menghadapi Kwi Ong.

Walaupun hanya dalam beberapa jurus saja dia tidak akan mampu.

"Ayolah turun kesini dan ambillah pedang ini ! Mengapa tidak berani?!"

Seru Kwi Ong sengaja memancing kemarahan Kiam Ciu.

Semua orang memandang kearah Kiam Ciu, kemudian memandang kearah Kwi Ong.

Kiam Ciu sendiri telah menahan rasa marahnya.

Dia memandang Kwi Ong dengan mata melotot dan gigi gemeretakan.

"Untuk apa kau gusar hati kalau ternyata bernyali kecil. Percuma saja kau bergelar Giok-ciang-cui-kiam ternyata adalah nama kosong belaka. Pemegang pedang pusaka nomor wahid dikolong langit ? Hahaha ternyata hanya bernyali kecil hahaha !"

Seru Kwi Ong dengan sengaja memancing kemarahan Kiam Ciu. (Bersambung

Jilid 10) 10 0 10 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG

Jilid ke 10 ANTANGAN Kwi Ong yang bersifat mengejek dan merendahkan Tong Kiam Ciu itu menimbulkan rasa panas dihati siapa saja yang mendengarkan.

Bukan saja Tong Kiam Ciu namun lawan dan kawan pemuda itu merasa gusar.

Tong Kiam Ciu meloncat melalui jendela terjun ke tanah.

Begitu indahnya pemuda itu telah melayang dan berdiri diatas tanah dengan sangat lunak sekali.

Dibelakangnya menyusul pula Siok Soat dan Ceng-hi Sio-li.

Menyaksikan orang yang ditantangnya itu telah berdiri diatas tanah yang tiada jauh dari tempatnya.

Maka Kwi Ong dengan langkah pasti dan dia buat bersuara dengan tekanan kaki keatas tanah berbatu-batu itu dengan mengerahkan sin-kangnya untuk pamer kelihayannya.

Hingga tanah yang dipijaknya itu terlihat tapak bekas kakinya.

Kiam Ciu tidak merasa gentar hati berhadapan dengan orang keji itu.

Dia mengawasi wajah Kwi Ong dengan mata waspada.

Ketika Kwi Ong berada tiada jauh lagi dihadapan Kiam Ciu, tiba-tiba pemuda itu meloncat menerkam dada Kwi Ong dengan tangkas sekali.

Namun Kwi Ong sudah bertekad untuk membinasakan Kiam Ciu.

Dia telah memiringkan tubuh dan dengan ilmu cakaran garuda saktinya dia akan membinasakan Kiam Ciu.

Pada saat itu banyak para pandekar silat yang berada di tempat itu disamping para pendekar dari aliran tua, juga terdapat lebih dari empat puluh pendekar silat daerah pertengahan berada di tempat itu.

Mereka telah menyaksikan sikap Kwi Ong yang keji dan akan membinasakan Tong Kiam Ciu.

Mereka telah mengenal jiwa dan watak Kiam Ciu.

Seorang pemuda yang mempunyai ilmu silat lihay, berwatak sairia dan berbudi luhur.

Maka banyaklah bahkan hampir semuanya membantu Kiam Ciu.

T 10 2 Pada saat kritis itu dimana Kwi Ong telah melayang dan mengarahkan jari jemarinya yang beracun itu kearah wajah dan dada Kiam Ciu, tiba-tiba tampaklah sebuah bayangan berkelebat di tengah-tengah kedua orang yang tengah mengadu sinkang itu.

Tampaklah kedua orang itu terpental bersama.

Kiam Ciu terpelanting kembali dan jatuh begitu pula Kwi Ong mendorong balik dan jatuh pula, kedua orang itu merasa kagum akan kehebatan orang itu.

Bersamaan dengan itu pula telah terdengar pekikan Shin Kai Lolo tahu-tahu tubnh nenek itu telah melesat dan berdiri dihadapan Kwi Ong, yang juga disusul oleh Kun-si Mo-kun, Siok Siat Shin-ni, Eng Ciok Taysu, Tie-kiam suseng, Teng Siok Siat dan Ceng-hi-sio-li.

Mereka berdiri dihadapan Kwi Ong dengan sikap menantang.

Kemudian tampak pula kelebatan tiga sosok tubuh yang ternyata adalah orang-orang yang semula bersikap seolah-olah membantu Kwi Ong.

Orang-orang itu tidak lain ialah.

Tay Jat Cin Jin, Ciok Hok Lo To dan Liat Kiat Koan mereka telah berdiri dan meghadapi Kwi Ong dengan sikap menantang pula.

Kwi Ong menyaksikan semuanya itu dengan terperanjat, tiap kali dia memandangi wajah orang-orang yang menggempurnya itu dengan satu perhitungan dan mengernyitkan kening.

Namun dia tidak merasa gentar menghadapi mereka itu semuanya.

Diapun telah menyangka bahwa akhirnya dia harus berhadapan dengan sekian banyak pendekar di daerah pertengahan.

Hal itu memang telah diperhitungkannya!

Untuk menghadapi Kun-si Mo-kun saja yang menggunakan siasat Ngo-li-kiat-ceng, dia tidak mampu.

Apalagi kini dia harus menghadapi sekian banyaknya jago-jago silat tangguh.

Maka dalam hati sebenarnya Kwi Ong mengeluh.

Tetapi terbawa dengan sikap sombong dan tidak mau ditundukkan maka dia segera mencabut pedang .

Sebenarnya Kwt Ong menyadari dengan meawan sekian banyak orang-orang gagah yang memang berilmu lihay dan berbagai aliran perguruan atau partai persilatan itu maka dia berarti akan mengantarkan jiwa.

10 3 Namun untuk mengundurkan diri Kwi Ong merasa malu.

Maka karena tekanan semua perasaan dan untuk menguasai semuanya itu justru Kwi Ong lalu tertawa terbahak-bahak.

"Sebenarnya aku telah berbuat terlalu lunak. Aku telah banyak mengampuni nyawa banyak pendekar di daerah pertengahan ini! Namun kini aku terpaksa menyampaikan janjiku untuk menumpas jago-jago silat di daerah pertengahan ini !"

Seru Kwi Ong dengan sikap sombong dan siap menyerang.

Dengan pedang di tangan kanan dia telah memamerkan permainan ilmu silat bersenjata pedang itu dengan sangat hebat sekali.

Dalam sekejap mata saja seolah-olah tubuhnya telah dikurung oleh kilauan-kilauan sinar pedang yang memancarkan cahaya biru dan menyilaukan mata.

Tampaklah seolah-olah tangan Kwi Ong telah berubah menjadi beberapa pasang dan masing-masing memegang pedang dengan suara gemuruh yang diakibatkan oleh angin sambaran pedang itu.

Semua orang yang menyaksikan permainan pedang itu merasa kagum.

Sampai sekian lamanya dan sampai beberapa jurus Kwi Ong telah memutar-mutar pedangnya namun tiada seorangpun dari para jago silat itu yang melawan atau membalas menyerang Kwi Ong.

Mereka hanya berloncatan menjauh atau menghindari tiap sabetan, bacokan maupun tusukan pedang Kwi Ong itu.

Ketika mendapat kenyataan seperti itu, maka Kwi Ong lalu menarik kembali serangan-serangannya.

Dia memandang kearah orang-orang itu dengan wajah yang tampak sangat seram dan mata merah menyala oleh dendam dan marah.

Kwi Ong membentak dan menantang para pendekar.

"Hey mengapa kalian tidak melawanku ? Apakah kalian takut ?"

Tanya Kwi Ong dengan suara sombong dan congkak seru menantang.

Berbareng dengan berakhirnya kata-kata itu dia telah menyerang kearah barisan para pendekar dari daerah pertengahan itu dengan tikaman keras dan menimbulkan hawa gemuruh juga.

"Tahan !"

Terdengar bentakan menggeledek dan ternyata suara bentakan itu begitu hebat dan mempunyai pengaruh hebat pula terhadap Kwi Ong.

10 4 Ternyata orang yang membentak itu tiada lain ialah teorang kakek berjenggot putih dan panjang tiada lain ialah Tay Jat Cin Jin.

Tay Jat Cin Jin meloncat dihadapan Kwi Ong.

Sambil memandang Kwi Ong tanpa berkedip dan ternyata pandangan mata kakek itu sangat berwibawa dan membangkitkan suatu perasaan malu dan segan di hati Kwi Ong.

"Aku sudah tua, tetapi aku berani melawan kau! Kau tidak perlu melawan banyak, orang !"

Seru Tay Jat Cin Jin sambil memandang mata Kwi Ong.

Selanjutnya berkata lagi "Jika kau mau mendengarkan usulku yang bijaksana ini, kukira pertumpahan darah dapat dihindarkan !".

Saat itu hati Kwi Ong yang biasanya keras seperti baja dan wataknya yang sombong serta telengas itu, benar-benar telah dapat dilunakan oleh Tay Jat Cin Jin.

Dia menyadari bahwa dia dapat mati konyol, kalau nekad menghadapi sekian banyak jago-jago silat itu.

"Apakah usulmu itu?"

Tanya Kwi Ong ingin tahu. Tay Jat Cin Jin mengelus-elus jenggotnya yang putih dan panjang itu seraya memandang kearah mata Kwi Ong dan berkata .

"Aku akan menjelaskan tentang usulku yang bijaksana itu kepadamu dan kepada sekalian orang-orang gagah disini. Tetapi kuminta pedang Oey Liong Kiam itu disarungkan terlebih dahulu, juga semua senjata para pendekar disarungkan, agar supaya aku dapat berbicara dalam suasuna damai....!"

Seru Tay Jat Cin Jin sambil menghormat kepada semua orang yang berada di tempat itu.

Kwi Ong segera menyarungkan pedangnya, begitu pula diikuti oleh segenap pendekar menyarungkan senjata masing-masing.

Seolah-olah apa yang dikatakan oleh tokoh angkatan tua itu sangat penting dan kata-katanya mempunyai pengaruh hebat terhadap mereka.

"Menurut pendapatku", kata Tay Jat Cin Jin.

"hanyalah Tong siauwhiap yang dapat membaca atau mengerti rahasia peta Pek-seng !"

Kita telah tahu pula, tanpa peta Pek-seng itu kita tidak akan dapat menemukan tempat penyimpanan kitab pusaka Pek-seng-ki-su.

Maka kini mengutamakan untuk mengetahui tempat itu dan lagi sudah menjadi peraturan pada pertemuan Bu-lim-ta-hwee bahwa barang siapa yang telah dapat memegang atau mendapatkan kitab 10 5 pusaka Pek-seng-ki-su maka dia itulah juga berhak memegang pedang Oey Liong Kiam.

Sekarang berhubung sudah jelas bahwa yang mengetahui rahasia peta Pek-seng itu hanyalah Tong siawhiap.

maka marilah kini kita menjaga bersama keselamatannya !

kakek itu mengakhiri kata-katanya.

Semua orang yang berada di tempat itu mengangguk-anggukan kepala, kecuali Kwi Ong.

Ketika semuanya ternyata diam tanpa ada yang membuka suara maka kakek Tay Jat Cin Jin itu meneruskan kata-katanya.

"Sekarang persoalan ini telah menjadi berlarut-larut dan telah menjadi agak sulit ! Menurut pendapatku ada dua jalan untuk memecahkannya !"

Seru Tay Jat Cin Jin sambil menatap satu persatu wajah orang-orang yang berada di tempat itu.

"Katakan apa saja yang harus ditempuh?"

Seru Kun-si Mo-kun tidak sabar.

"Ya!"

Sambung Kwi Ong pula sambil memandang Tay Jat Cin Jin.

"Pertama, Kwi Ong harus mengembalikan pedang pusaka terlebih dahulu kepada Tong siauwhiap. Kemudian Tong siauwhiap menjelaskan rahasia peta Pek-seng kepada kita semua untuk kemudian kita perundingkan segala sesuatunya bersama. Setelah jelas maka semuanya atau kita beramai-ramai untuk berlomba mendapatkan kitab Pek-seng-ki-su !"

Seru Tay Jat Cin Jin tetapi kata-kata itu belum sampai selesai telah dipotong oleh Kwi Ong.

"Menurut pendapatmu jalan itu sudah bersifat adil ?"

Tanya Kwi Ong.

"Ya!"

Seru Tay Jat Cin Jin.

"Dimina letak keadilannya!"

Tanya Kwi Ong, orang itu tidak puas.

"Kau hanya mengembalikan pedang kepada Tong Kiam Ciu. dengan demikian kita semuanya dapat mendengarkan rahasia atau petunjuk dalam peta Pek-seng itu. Apakah ini tidak berarti adil menurut pendapatmu?"

Kata kakek itu sambil mengelus janggotnya. Kwi Ong membungkam, dia menundukan kepalanya memandang batu-batu yang berserakan di tempat itu. Semua mata orang-orang gagah memandang kearah Kwi Ong.

"Lalu coba katakan jalan kedua!"

Seru Kwi Ong mendesak. 10 6

"Jalan kedua lebih mudah lagi,"

Seru Tay Jat Cin Jin.

"kita telah tahu bahwa yang mengetahui rahasia membaca peta Pek-seng hanyalah Tong Kiam Ciu dan dia rela untuk mengajak kita ke kota Pek-seng serta menunjukkan letak atau tempat penyimpanan kitab pusaka Pek-seng-ki-su kepada kita sekalian. Nah, setelah kita mengetahui tempat bersembunyinya kitab Pek-seng-ki-su itu, kita mengadu kepandaian untuk memperebutkannya !"

Seru Tay Jat Cin Jin dengan mengakhiri kata-katanya itu dia diam-diam mngawasi reaksi dari orang-orang gagah yang berada di tempat itu.

Semua orang yang berada di tempat itu mengangguk-anggukan kepala.

Mereka menganggap keputusan itu memang sangat bikjaksana dan adil.

Jalan untuk menghindarkan pertumpahan darah seperti yang telah dikatakan oleh Tay Jat Cin Jin itu memang benar-benar sangat baik.

Baik jalan pertama maupun jalan kedua adalah sangat baik.

Mereka mengharapkan Kwi Ong mengembalikan pedang kepada Tong Kiam Ciu.

Kemudian pemuda itu segera membuka rahasia peta Pek-seng kepada mereka, menurut jalan pertama.

Kemudian Tay Jat Cin Jin berseru kepada Kwi Ong.

"Aku kira bagimu lebih baik mengembalikan pedang itu kepada Tong Kiam Ciu, bukankah kalau kau ternyata mendapatkan kitab Pek-seng-ki-su maka kaupun berhak memegang pedang . Mengingat peratutan Bu-lim ta-hwee maka kau jangan merasa khawatir. Begitu pula kukira kau mempunyai kesempatan besar sekali, karena telah kusaksikan ternyata kau mempunyai ilmu silat yang tinggi. Kwi Ong lama juga berpikir. Dia agak berotak bebal, walaupun dia adalah seorang yang berilmu tinggi, tetapi dalam hal pikir memikir sangat lemah. Hingga beberapa saat lamanya dia berpikir. Semua orang menantikan keputusan Kwi Ong. Mereka memandang kearah ketua suku bangsa Biauw itu. Kemudian tampaklah Kwi Ong mengangkat wajahnya dan memandang kearah Tay Jat Cin Jin, dan dia tersenyum.

"Aku memilih jalan kedua !"

Seru Kwi Ong.

10 7 Disitulah terlihat ketamakan Kwi Ong manusia yang berwatak sombong dan keji itu.

Dia tidak memikirkan kepentingan orang lain, dia berpikir mengapa dia berlaku bodoh untuk mengembalikan pedang yang sudah jatuh ketangannya.

Yang penting sekarang baginya, ialah untuk merebut kitab pusaka Pek-seng-ki-su !

Lalu dengan suara lantang Tay Jat Cin Jin berkata .

"Aku kira kalian telah mendengar kita mengambil jalan kedua! Tong Kiam Ciu dapat berlalu dari tempat ini dan pergi menuju ketempat tersembunyinya kitab Pek-seng-ki-su ! Kita semuanya membayangi secara beramai-ramai untuk mengadu kepaudaian dan kecerdikan guna mendapatkan kitab Pek-seng-ki-su. Nah berhubung semuanya kini telah beres, dan aku minta diri!"

Seru Tay Jat Cin Jin.

Pegitu dia selesai dengan kata-kata itu.

maka dia segera menyingkir dengan mengajak Ciok Hok Lo To.

Tay Jat Cin Jin adalah seorang kakek yang lihay dan cerdas serta telah pernah menjagoi dunia persilatan pada masa lampau.

Dia telah mendahului orang lain dalam memperebutkan kitab Pek-seng-ki-su.

Kakek itu telah menggunakan caranya sendiri dalam usaha untuk mendapatkan kitab itu.

Bukannya dia pergi sendiri untuk menemukan kitab Pek-seng-ki-su.

Setelah kepergiannya Tay Jat Cin Jin dan Cio Hok Lo To maka satu demi satu jago-jago silat itu meninggalkan tempat itu, Mereka akan mengikuti jejak Tong Kiam Ciu.

Tetapi ada beberapa orang pula yang belum pergi dan masih menunggu keberangkatan Tong Kiam Ctu, Mereka itu adalah Kwi Ong, Tok Giam Lo, tampak pula Eng Ciok Taysu, Tie-Kiam suseng.

Shin Kai Lolo, Teng Siok Soat, Siok siat Shin-ni dan Cheng-hi-sio-li.

Adapun Tong Kiam Ciu masih perlu menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.

Dia tetali masuk kembali kedalam pagoda untuk istirahat sambil memulihkan kembali semangat dan kesehatannya.

Setelah sampai didalam dan mulailah Kiam Ciu istirahat.

Sambil berbaring pemuda itu mengerahkan ilmu Bo-ki-sin-kong untuk mengobati luka didalam tubuhnya yang telah terkena racun Tok Giam Lo.

10 8 Tampaklah keringat berbintik-bintik telah membasahi wajahnya.

Tubuhnya bergetar dan terasa hawa hangat telah menjalar dari ujung-ujung jari bertemu didada kemudian bergolak dan seolah-olah mendesak dari jantung ke ujung-ujung jari jemarinya.

Begitulah pergolakan hawa hangat yang telah mengusir peracunan dalam hawa murni ditubuh Tong Kiam Ciu.

Beberapa saat kemudian, didalam ruang gelap itu Tong Kiam Ciu telah terkenang kembali saat pertemuannya dengan Gan Hua Liong dan saat ketika kakek itu akan menghembuskan napasnya yang terakhir.

Segala pesan-pesannya untuk menolong cucunya yang tertawan dikota Pek-seng.

Juga terkenanglah Kiam Ciu akan pertemuannya dengan cucu Gan Hoa Liong di kota Pek-seng.

Pula teringat akan janjinya untuk menolong gadis malang itu.

Karena teringat peristiwa-peristiwa itu, maka Kiam Ciu jadi kembali gelisah.

Terasalah kembali darahnya bergolak dan hawa murai telah saling berdesakan di dalam tubuh pemuda itu.

Tong Kiarn Ciu gelisah sekali, dia berusaha untuk mengatasinya.

Setelah dirasakan keadaan pergolakan hawa murni dan tenaganya telah pulih sedikit dan menjadi agak tenang.

Maka Kiam Ciu lalu mengeluarkan kertas peta Pek-seng.

Di tempat yang gelap pekat itu dia yakin bahwa peta itu dapat dilihat.

Ternyata benar juga, maka tampaklah guratan-guratan berwarna kebiru-biruan seperti sinar kunang-kunang membentuk garis-garis gambar peta Pek-seng.

Kiam Ciu menelitinya.

Tetapi sebenarnya hal itu bagi Kiam Ciu sudah tidak berarti, karena bukankah dia mempunyai gadis she Gan yang telah mengetahui letak penyimpanan kitab Pek-seng-ki-su ?

Maka kini bagi Tong Kiam Ciu tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk mengelabuhi orang itu agar tidak sampai mencelakakan gadis she Gan itu.

Gadis yang malang dan terkurung dalam suatu tempat yang terbuka.

Suatu keanehan, bahwa di tempat yang terbuka dan bebas kelihatannya itu ternyata gadis she Gan itu tidak mampu untuk pergi dan meninggalkan bangunan mungil dan indah dikota Pek-seng yang hilang itu.

Suatu perbuatan mantra tenung yang luar biasa hebatnya !!!

10 9 Pada saat itu Kiam Ciu didalam pagoda seorang diri.

Diluar telah menunggu banyak sekali pendekar silat yang kenamaan.

Juga termasuk Kwi Ong dan Shin Kai Lolo.

Persoalan utamanya ialah kitab Pek-seng-ki-su.

Adapun Ceng-hi Sio-li yang semula menaruh kebinasaan Tong Kiam Ciu ternyata kini telah mengubah sikap.

Dia lama-lama telah mengenal sipat dan jiwa Tong Kiam Ciu.

Mata tidaklah mengherankan kalau kini gadis pendekar wanita yang baju hijau itu menaruh rasa hormat dan simpati pada Kiam Ciu.

Bahkan kini dia bersedia untuk memberikan bantuan atau membela untuk kepentingan pemuda itu.

Angin berhembus halus sejuk rasanya.

Saat itu masih siang hari, namun didalam pagoda memang tampak gelap pekat.

Tetapi kalau didalam pagoda itu telah beberapa saat lamanya, maka tampaklah keadaan dalam pagoda itu, Seolah-olah kita telah dibiasakan dan terbuka lensa kita untuk melihat dalam keadaan itu.

Sesaat lamanya Kiam Ciu telah memeriksa peta Pek-seng itu.

Kemudian terdengarlah sayup-sayup suara seruling menebus kesunyian dalam saat itu.

Seruling itu tertiup sangat halus dan mengalun iramanya menghanyutkan perasaan.

Siapapun yang mendengarkan irama seruling itu badannya terasa sangat letih dan kemudian terasa mengantuk.

Gaib, gaib benar suara seruing itu.

Siapapun ingin mendengarkan suara irama seruling yang menyayat hati itu, namun kalau mereka mendengarkan maka mereka itu merasa kepingin sekali untuk tidur.

Kemudian, setelah lewat lima menit lamanya semuanya tertidur.

Baik Tong Kiam Ciu yang berada didalam pagoda maupun Kwi Ong diluar pagoda merasa sangat mengantuk dan akhirnya mereka tertidur.

Tay Jat Cin Jin dan Ciok Hok Lo To yang berada tidak jauh dari pagoda telah mendengar pula bunyi irama seruling itu.

Mereka juga merasa sangat mengantuk dan akhirnya tertidur diatas tanah.

Pokoknya siapapun yang mendengarkan suara seruling bambu itu akhirnya akan tertidur dengan perasaan tenang dan pulas sekali, hingga beberapa saat lamanya dalam keadaan terlena itu tiada mendengarkan suara apapun lagi.

10 10 Beberupa saat kemudian alunan seruling itu terhenti.

Semua orang telah tertidur dalam keadaan tidak sadar, mereka tertidur sangat nyenyak sekali.

Tampaklah ditingkat bagian teratas dari pagoda itu seorang gadis bertubuh langsing menarik dan wajahnya sangat menarik sekali.

Liuk tubuhnya mendatangkan rasa rindu dan birahi.

Siapakah gerangan gadis jelita yang meniupkan seruling penghanyut sukma itu ?

Gadis jelita yang berilmu tinggi dan selalu mengendarai kereta indah dalam pengembaraannya di kalangan Kang-ouw.

Gadis jelita yang selalu menjadi teka-teki umum.

Gadis jelita yang menguasai ilmu Pan-yok-shin-im dan menggegerkan dunia Kangouw !!!!!

Tiada lain adalah Cit-siocia, gadis jelita yang telah jatuh cinta kepada Tong Kiam Ciu.

Gadis yang telah berkorban karena cintanya kepada Tong Kiam Ciu.

Benar-benar dia tiada lagi berkata bohong dan tidak dapat membantah tanpa disadarinya telah begitu kuat jatuh hati kepada Tong Kiam Ciu.

Cintanya begitu hebat hingga tidak dapat lagi dia berpura-pura untuk mengalah.

Hatinya seolah-olah telah lekat pada Tong Kiam Ciu.

Tong Kiam Ciu adalah dirinya dan dirinya adalah Tong Kiam Ciu Maka serasa tiada sempurnalah menurut perasaan Cit siocia kalau dia berpisah dengan Tong Kiam Ciu, Hingga dia terpaksa harus selalu membayangi dimanapun Kiam Ciu berada.

Cit siocia memeriksa hasil pekerjaanya.

Kemudian melampaikan tangan dan tiada lama kemudian tampaklah seorang wanita mendatanginya, wanita itu telah menerima perintah dari Cit siocia kemudian pergi lagi.

Tinggalah gadis jelita itu seorang diri mendekati tempat Kiam Ciu, sedangkan Kiam Ciu telah terbangun dan pemuda itu merasa heran karena dirinya telah tertidur diluar kesadaran.

"Mengapa aku tertidur tanpa kusadari ? pikir Kiam Ciu. Kiam Ciu lalu berdiri dan keluar pagoda memeriksa keadaan. Ternyata semua orang dalam keadaan tertidur nyenyak. Juga Kun-si Mo-kun dan Kwi Ong begitu juga Teng Siok Siat dan Ceng-hi Sio-li.

"Mengapa mereka semuanya juga telah tertidur. Hem.... semuanya sangat aneh!"

Pikir Tong Kiam Ciu.

Kemudian pemuda itu telah memasuki pagoda lagi 10 11 Tetapi ketika kakinya baru menginjak ambang pintu pagoda telah tercium bau harum yang pernah dikenalnya.

Belum sempat Kiam Ciu berpikir lebih lanjut, dia telah menyaksikan Cit siocia berdiri sambil tersenyum sangat manis sekali.

Di tangan gadis jelita itu tampak secarik kertas Peta Pek-seng.

"Oh, kau telah datang kemari juga ?"seru Kiam Ciu.

"Ya, aku datang. Marilah ikut aku!"

Bisik gadis itu sambil tersenyum dengan sikap yang sangat menarik dan menawan hati.

Tiada lama kemudian tampaklah kelebatan sebuah bayangan.

Kiam Ciu terperanjat.

Tetapi pemuda itu juga pernah melihat orang yang baru datang itu yang tiada lain adalah dayang-dayang Cit siocia.

Ialah dayang serta yang selalu mengiringkan kemana saja gadis jelita itu pergi.

Dialah yang bernama Sio Cien membawa sebilah pedang yang diketemukan dari punggung Kwi Ong yang masih tertidur.

Pedang itu tiada lain ialah pedang .

Sio Cien telah berdiri disamping Cit siocia dan menyerahkan pedang Oey Liong Kiam itu kepadanya.

Cit Siocia menarik pedang itu sambil tersenyum dan menyerahkan kembali kepada Tong Kiam Ciu.

"Siauwhiap, kita telah berhasil merebut kembali pedang dari tangan Kwi Ong. marilah kini kita segera pergi meninggalkan tempat ini dan pergi mencari kota Pek-seng untuk mencari kitab Pek-seng-ki-su!"

Seru Cit Siocia.

Sesaat lamanya Tong Kiam Ciu terdiam, dia telah menjanjikan kepada segenap pendekar untuk mengajak mereka ke kota Pek-seng dan menunjukkan tempat tersimpannya kitab Pek-seng-ki-su berdasarkan petunjuk yang tergambar dalam peta Pek-seng itu.

Maka gelisahlah hati Tong Kiam Ciu karena usul Cit siocia itu.

"Tetapi". aku". telah...."

Jawab Tong Kiam Ciu bingung. Cit siocia tersenyum mendengar jawaban pemuda itu, kemudian berbisik kepada Tong Kiam Ciu.

"Apakah Tong siauwhiap ingin membangunkan mereka semua?"

Tanya Cit siocia sambil tersenyum. 10 12 Tong Kiam Ciu menganggukkan kepala, tetapi Cit siocia tersenyum.

"Tetapi menurut pendapatku, mereka biarlah tetap tertidur disini, lalu kita pergi mencari kitab Pek-seng-ki-su. Setelah kita menemukan kitab itu kita kembali lagi kesini. Cara itu saya kira sama saja dan tidak melanggar dari ketentuan bukan? Aku ingin lihat nanti bagaimaaa musuh Tong siauwhiap dalam keadaan kebingungan dan terheran-heran karena mereka tertidur itu !"

Kata Cit siocia sambil tersenyum.

Tong Kiam Ciu terdiam dan memikirkan usul yang diajukan oleh Cit siocia itu.

Menurut perhitungan Tong Kiam Ciu usul gadis jelita itu memang benar dan baik.

Pedang telah jatuh kembali ditangan.

Tong Ki am Ciu, lalu ia memegang pula kitab pusaka Pek-seng-ki-su dia pikir dengan kedua benda pusaka itu dia dapat melaksanakan segala pesan suhunya.

Dalam pada itu Cit siocia dau Sio Cien telah pergi meninggalkan pagoda itu.

Peta Pek-seng masih dibawa oleh Cit siocia.

Peta itu tadi telah diambil oleh Cit siocia dari saku Tong Kiam Ciu ketika pemuda itu tertidur.

Dengan melihat Peta Pek-seng itu dia telah dapat mengingat-ngingat jalan mana yang harus ditempuh.

Setelah Tong Riam Ciu mempertimbangkan masak-masak semua usul Cit siocia maka akhirnya Tong Kiara Ciu memilih jalan yang diusulkan oleh Cit siocia kalau dia pergi ke kota Pek seng untuk mengambil kitab pusaka Pek-seng-ki-su itu mendahului para pendekar silat yang saat itu sedang dalam keadaan tertidur lelap tidaklah melanggar dari ketentuan yang lelah diputuskan ialah ketentuan jalan kedua.

Mereka salahnya sendiri tertidur, menurut persetujuan orang-orang gagah itu bahwa mereka boleh mengikuti Tong Kiam Ciu untuk mencari tempat disimpannya kitab Pek-seng-ki-su dan bebas menggunakan segala macam akal dan kepandaiannya.

Maka Kiam Ciu akhirnya merasa lapang pikirannya karena kalau dia telah meninggalkan mereka itu bukan berarti dia curang.

Sengaja Cit siocia berjalan agak lambaian sedikit sambil menantikan Tong Kiam Ciu yang masih tampak bimbang akan meninggalkan pagoda.

Namun akhirnya Tong Kiam Ciu menyusul Cit siocia juga.

10 13 Dengan berpedoman peta Pek-seng yang tadi telah dilihat dan dipelajarinya didalam pagoda, Cit siocia berjalan menuju ke tepi telaga berhati-hati.

Tong Kiam Ciu mengikuti Cit siocia tanpa mengeluarkan sepatuh katapun.

Sampai sekian lamanya mereka berjalan tetapi belum juga menemukan jalan menuju ke kota Pek-seng.

Tong Kiam Ciu juga merasa heran karena dia belum melihat adanya gua piniu gerbang kota Pek-seng itu.

Namun pemuda itu terdiam dan kembali teringat janjinya dengan gadis she Gan yang akan di tolong dan membebaskan gadis itu dari belenggu kota Pek-seng.

Maka akhirnya dia kembali ragu-ragu untuk menuju ke kota itu.

Sedangkan Cit siocia merasa heran juga menyaksikan keadaan itu.

Dia telah berjalan sekian lamanya menurut petunjuk peta Pek-seng.

Tetapi ternyata sampai sekian lamanya pula dia harus berputar-putar kembali lagi ke tempat semula.

"Sungguh suatu keanehan!"

Seru Cit siocia dengan memandang keadaan sekitarnya dan memandang kearah Tong Kiam Ciu.

"Apanya yang aneh Cit siocia ?"

Tanya Kiam Ciu.

"Aku menurutkan petunjuk peta tetapi mengapa sampai sekian lamanya aku belum sampai ke tempat yang dituju, lagi pula tempat yang kita lalui yang ini-ini saja. Rupa-rupanya kita hanya berputar-putar di tempat yang sama"."

Seru Cit siocia.

Tong Kiam Ciu hanya tersenyum, pemuda itu melihat hutan-hutan cemara disekitarnya.

Begitu pula Sio Cien merasa heran dengan pengalaman itu.

Mereka telah berjalan lama sekali tetapi mengapa tempat-tempat itu saja yang mereka lalu lagi.

Akhirnya Cit siocia mengeluarkan peta Pek-seng dan dia bermaksud untuk memeriksanya.

Tetapi ketika dia membuka peta itu ternyata gambar-gambarnya yang tadi dilihat kini telah lenyap.

Peta itu ternyata kini hanya merupakan sehelai kertas putih tanpa sebuahpun goresan yang tampak.

Tong Kiam Ciu melirik dan dalam hati dia tersenyum.

Tetapi pemuda itu sengaja tidak memberitahukan kalau belum ditanya tentang rahasia melihat peta Pek-seng ttu.

Tampaklah Cit siocia bingung mendapat kenyataan itu.

Begitu 10 14 pula Sio Cien dayang setia Cit sio cia itu tampak heran menyaksikan keadaan itu.

Namun karena watak Cit siocia yang tinggi hati dan maunya dia serba diatas kepandaian orang lain itu, maka dia tidak mau bertanya kepada Tong Kiam Ciu.

Dia berpura-pura memeriksa psta itu seolah-olah dia dapat melihat eari-2 gambar dalam peta itu.

Tetapi Sio Cien yang sudah hafal dengan sifat Cit siocia segeralah menghampiri Tong Kiam Ciu.

Tetapi ketika dia akan berbicara dengan pemuda itu dengan tiba-tiba jadi ragu2.

Kembali dia menghampiri Cit siocia dan memandang kearah gadis jelita itu.

Tong Kiam Ciu pura-pura tidak memperhatikan keadaan dayang yang bingung dan Cit siocia yang gelisah.

Tong Kiam Ciu tersenyum tetapi pura-pura melihat ketempat yang lain.

Burung-burung beterbangan diangkasa, angin berhembus menggoyang-goyangkan pucuk pohon Liu dan beberapa helai daun berguguran, ada beberapa helai daun Liu yang jatuh dikepala Cit siocia.

Gadis itu mengusap rambutnya dan kemudian tersenyum memandang kearah Tong Kiam Ciu yang kebetulan juga tengah melihat kearah gadis itu.

"Cit siocia, mungkin Tong siauwhiap dapat memberikan penjelasan tentang peta Pek-seng itu !"

Bisik Sio Cien. Akhirnya Cit siocia menuruti pula nasehat dayangnya yang setia itu. Sambil tersenyum dan sebenarnya merasa sangat segan, gadis jelita itu lalu bertanya kepada Tong Kiam Ciu.

"Ya Tong siauwhiap, apakah kau dapat memberitahukan padaku bagaimana rahasia untuk membaca peta Pek-seng ini ?"

Tanya Cit siocia dengan wajah merah karena malu.

Tong Kiam Ciu tersenyum, tetapi dia tidak dapat menolak pertanyaan gadis itu, walaupun sebenarnya dia saat itu belum berniat untuk pergi kembali ke kota Pek-seng.

Karena dia belum dapat memenuhi janjinya untuk menolong gadis she Gan yang terkurung di kota itu.

Tong Kiam Ciu adalah seorang pemuda yang setia kepada janjinya, Dia harus mendapatkan dulu biji buah Cu-sik untuk menolong gadis she Gan di kota Pek-seng yang hilang itu.

Tetapi kini Cit siocia 10 15 menanyakan rahasia peta Pek-seng itu kepada Tong Kiam Ciu, dia tidak dapat menolak pemintaan gadis itu.

"Cit siocia, peta itu harus dilihat di tempat yang gelap. Tetapi". sebenarnya aku saat ini belum berminat untuk pergi mencari kitab Pek-seng-ki-su"."

Jawab Tong Kiam Ciu "Mengapa ?"

Tanya Cit siocia heran.

"Sebenarnya aku pernah tiba dikota Pek-seng yang hilang, tanpa petunjuk peta Pek-seng itu. Didalam kota Pek-seng, ada sebuah gedung mungil dan indah tertawan seorang gadis. Gadis yang malang itu adalah cucunya Gan Hua Liong yang memberikan peta Pek-seng itu kepadaku". Kiam Ciu menjelaskan.

"Kakek Gan Hua Liong telah memberikan peta Pek-seng kepadaku dengan pengharapan agar aku memenuhi permintaannya yang terakhir. Ialah untuk menolong cucunya dari kurungan gaib didalam kota Pek-seng itu. Itulah sebuah amanat yang harus kupenuhni ! Gadis she-Gan itu dapat terbebas dari pengaruh gaib kalau dia makan buah Cu-sik dan akar batang Lok-bwee-kim-keng. Akar Lok-bwee-kim-keng aku telah punya, ialah pemberian Kun-si Mo-kun. Tinggallah kini aku harus mencari biji Cu-sik itu yang sampai kini aku belum mendapatkannya. Barulah kalau kedua benda itu kudapatkaa aku akan dapat datang kembali ke kota Pek-seng. Gadis she-Gan itu sebenarnya telah menemukan kitab pusaka Pek-seng-ki-su dan kini dia telah menyimpannya didalam gedung mungil itu. Dia telah berjanji kalau saya menyerahkan kedua benda itu akar Lok-bwee-kim-keng dan biji Cu-sik diapun akan menyerahkan kepadaku kitab pusaka Pek-seng-ki-su"

Cit siocia dan Sio Cien mendengarkan kisah Tong Kiam Ciu itu dengan penuh perhatian, setelah Kiam Ciu berhenti bercerita maka Cit siocia lalu menyahut dengan nada suaranya penuh kegirangan.

"Rupa-rupanya kita beruntung! Biji Cu-sik itu aku punya! Aku mendapatkannya dari pemberian ibuku dan kusimpan baik-baik dalam kotak obat-obatanku. Aku perlu pulang dulu untuk mengambil, kemudian kita dapat segera pergi ke kota Pek-seng !"

Seru Cit siocia dengan girang. 10 16 Tong Kiam Ciu juga merasa gembira mendengar penuturan gadis itu. kemudian dia mendesak kepada Cit siocia.

"Sekarang begini saja, Cit siocia dan Sio Cien dapat segera pulang dulu untuk mengambil biji Cu-sik itu. Sedangkan aku akan mencari sebuah penginapan dulu untuk mengobati luka-luka dalamku serta memulihkan kembali tenaga dalamku yang telah kacau balau ini"."

Usul Kiam Ciu itu dapat diterima juga oleh Cit siocia.

maka sampai di tempat itu mereka berpisah Cit siocia dan Sio Cien pergi keutara untuk mengambil biji Cu-sik.

Sedangkan Kiam Ciu sesaat lamanya memandangi kepergian Cit siocia dengan hati penuh keharuan.

"Gadis itu begitu jelita dan menawan hati, lagi pula telah banyak menolongku. Hem.... sayang sekali.."

Pikir Kiam Ciu.

Kembali dia teiingat adiknya Tong Bwee dan juga kedua orangtua serta pamannya yang telah lenyap dan tiada mendengar kabar beritanya semenjak pertemuan di atas telaga Ang-tok-ouw dan kemudian datang bencana angin topan hebat itu dulu.

Sedangkan dengan Shin Kai Lolo dia belum sempat bertanya tentang keadaan ketiga Shin-ciu-sam-kiat serta adiknya Ji Tong Bwee, karena ternyata keadaan terlalu gawat.

Saat itu Kiam Ciu masih merasakan keadaan tubuhaya sangat lemah.

Dia memerlukan istirahat selama beberapa hari lamanya untuk memulihkan kembali kesehatan tubuhnya dan mengembalikan tenaga dalam serta tenaga intinya yang kacau akibat luka dalam yang dideritanya.

Maka kini Kiam Ciu lalu meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat penginapan.

Diceritakan bahwa pada saat itu Kwi Ong telah tersadar dari tidurnya.

Dia telah meraba tempat pedang ternyata pedang itu telah lenyap.

Dia jadi gelisah dan telah menduga hal2 yang tidak, baik.

Maka segeralah dia meloncat dan memasuki kedalam pagoda untuk mencari Tong Kiam Ciu.

Alangkah kagetnya ketika ternyata Tong Kiam Ciu tidak diketemukan didalam pagoda itu.

Dia telah mengobrak-abrik tempat itu tetapi Tong Kiam Ciu tidak diketemukannya.

Maka segeralah dia lari keluar dan membangunkan semua jago-jago silat yang pada tertidur itu.

10 17 Mereka semuanya bangun dengan perasaan heran.

Mereka sama sekali tidak merasakan keadaan dirinya yang telah tertidur begitu saja.

Maka tampaklah kacau keadaan saat itu.

"Tong Kiam Ciu telah lenyap! Dia telah mengecoh kita lagi!"

Seru Kwi Ong dengan suara lantang penuh kegusaran.

Tetapi saat itu yang merasa girang adalah Kun-si Mo-kun dan kawan-kawannya.

Mereka gembira karena ternyata Tong Kiam Ciu dapat terluput lagi dari bencana.

Sedangkan pedang juga telah terpegang kembali ditangan pemuda itu menurut perhitungan Kun-si Mo-kun.

Tetapi lain halnya dengan Kwi Ong yang bergusar hati dan juga Liat Kiat Koan yang berwatak kejam juga merasa sangat penasaran.

"Sekarang apa yang akan kita perbuat !"

Seru Liat Kiat Koan.

"Kita cari saja dan kita bunuh mati beres !"

Seru Kwi Ong dengan berakhirnya kata-kata itu langsung dia meloncat meninggalkan pagoda.

Dibelakang menyusul pula Liat Kiat Koan dan beberapa orang lagi mengiringkan kepergian Kwi Ong.

Namun Kun-si Mo-kun dan beberapa orang yang bersimpati terhadap Kiam Ciu telah membayangi mereka.

Kwi Ong yang hatinya terasa panas dan meluap-luap kemarahannya itu telah berjalan dengan cepat sekali.

Dia telah bertekad untuk membinasakan Kiam Ciu bila dia bertemu dengan pemuda itu.

Dimanapun pemuda itu berada akan selalu diubernya.

Dengan kemarahan yang meluap-luap.

Maka perjalanan itu dengan cepatnya telah menyusuri tepian telaga Ang-tok-ouw.

Tiada seberapa lama dia telah menemukan sebuah mulut gua yang menghadap ke tepi telaga dikaki pegunungan.

"Aneh sekali tempat ini ada guanya, baru sekali ini aku melihatnya. Ayohlah kita masuk memeriksanya"

Seru Kwi Ong kepada Liat Kiat Koan.

"Ya, suatu keanehan juga!"

Seru Kiat Koan dengan memandangi keadaan sekitar gua itu.

Karena diapun juga baru kali ini melihat gua itu.

Maka mereka segeralah memasuki pintu gua itu.

Dengan sangat berhati-hati dan penuh kewaspadaan mereka menyusuri lorong gua itu.

Ternyata tidaklah begitu sulit dan seolah-olah suatu jalan yang halus dan tidak sukar.

Kwi Ong dan 10 18 Kiat Koan telah melihat sinar didepan mereka.

Sinar yang terpancar dari sebuah lubang yang luas.

"Itulah tembusan gua ini! "seru Kwi Ong sambil menunjuk kearah lubang yang kelihatan orang.

"Mungkin! "sambung Kiat Koan meneruskan langkahnya. Ternyata benar juga. Ketika mereka sampai didekat pintu gua itu mereka telah mendengar suara kicau burung dan melihat pepohonan yang rindang dan mereka terus berjalan mendekati lubang itu. Ketika sampai maka mereka telah dibuat keheranan. Ternyata didepan mereka adalah sebuah padang rumput hijau terbentang luas, hijau dan rapi sekali. Kemudian tampak berjajar-jajar pepohonan Liu yang sangat teratur.

"Ayo kita memeriksa keadaan disekitar tempat ini !"

Seru Kwi Ong.

Adapun Kiat Koan hanya menurutkan saja ajakan Kwi Ong tanpa membantah lagi.

Mereka beramai-ramai meninggalkan tempat itu menyebrangi padang rumput halus dan hijau itu.

Tampaklah kemudian sebuah taman bunga yang sangat bagus dengan tanaman bunga-bunga yang beraneka warna.

Ditengah-tengah petamanan itu terlihat sebuah kolam ikan yang cukup luasnya, tampak diatas air kolam itu teratai yang sedang berbunga juga.

Kwi Ong siraja iblis yang kasar dan keji itu sempat pula merasa kagum akan semua keindahan di tempat itu.

"Lihat disana !"

Seru Kiat Koan kepada Kwi Ong. Mereka semuauya melihat kearah dimana Kiat Koan menunjuk.

"Oh. sebuah bangunan rumah mungil dan bagus sekaii....."

Bisik Kwi Ong seolah-olah kata-kata itu terucapkan tanpa sengaja.

Orang-orang yang mengikuti pada terpesona menyaksikan keadaan itu semua.

Sungguh suatu tempat yang selamanya baru kali ini mereka lihat.

Tempat yang sangat aneh dan indah sekali.

"Tempat apakah ini ?"

Tanya Kwi Ong heran. 10 19

"Kukira kita telah sampai dikota Pek-seng yang hilang itu"

Jawab Kiat Koan sambil melihat-lihat keadaan sekitarnya.

"Hem"

Gumam Kwi Ong sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Adapun cucu Gan Hua Liong yang tinggal didalam bangunan gedung mungil dan indah itu ketika mendengar suara orang memasuki petamanan dan kegaduhan dia merasa girang.

Dia menyangka bahwa Tong Kiam Ciu telah datang dan akan menolong dirinya.

Maka terburu-buru gadis malang itu berlari-lari gembira untuk menyambutnya.

Tetapi alangkah terkejutnya ketika dia baru saja sampai diluar ternyata orang yang mendatanginya begitu banyaknya, Gadis itu menahan langkahnya dan balik memasuki gedung lagi.

Kwi Ong dan Kiat Koan menyaksikannya.

Mereka segera memburu kegedung itu.

Tetapi mereka terlambat ketika tiba didalam gedung itu telah mencium bau kertas terbakar.

Semula Kwi Ong dan Kiat Koan menganggap gadis itu membakar barang tidak berharga.

Dengan terburu-buru mereka menghampiri gadis cantik itu dan menegurnya.

"Apa yang sedang kau kerjakan disini ?'' tegur Kwi Ong kepada gadis itu dari arah belakang. Namun gadis itu masih terus merenungi seonggok debu bekas kertas yang terbakar. Tampaklah gadis itu begitu tenang dan seolah-olah telah mengerjakan sesuatu yang menggoncangkan batinya.

"Apakah yang telah kau bakar itu ?"

Ta nya Kwi Ong sekali lagi. Tetapi gadis she-Gan itu dengan tiba-tiba memutar tubuh dan tampaklah wajahnya yang cantik telah berubah beringas serta matanya terbeliak mengerikan.

"Hi-bi-hi-hik! Musnah sudah! Semuanya tidak akan mendapatkannya! Kuhancurkan, kulumatkan ha-ha-ha!"

Seru gadis itu dengan suara tertawa yang menyeramkan pendengararan. 10 20

"Hey gadis gila! Apa yang kau musnahkan?! "bentak Kwi Ong yang kini telah memegang kedua bahu gadis itu, menggoncang-goncangkannya dan menatap wajah gadis itu dengan mata melotot.

"Ha-ha-ha-ha-ha."

Lihat puing-puing itu ! Kitab Pek-seng ki-su yang kalian cari"

Seru gadis itu dengan tertawa-tawa pula.

"Buk! "tedengar sebuah tumbukan. Tanpa menjerit lagi, tubuh gadis itu telah jatuh lunglai dengan kepala pecah. Kwi Ong menjadi sangat bergusar hati ketika mendapat keterangan gadis itu dia telah membakar kitab Pek-seng-ki-su. Kini harapan Kwi Ong telah patah. Untuk yang sekian kalinya dia telah dikecewakan. Pedang lenyap kini kitab Pek-seng-ki-su telah musnah pula. Kemudian Kwi Ong memeriksa keadaan dalam rumah itu. Semua tempat diobrak-abriknya untuk mencari sesuatu yang mungkin berharga. Tetapi di tempat itu dia tidak menemukan apa-apa. Jengkel hati Kwi Ong, Kiat Koan yang menyaksikan kekejaman Kwi Ong yang telah menghantam kepala gadis she-Gan yang tidak berdosa itu hingga kepala gadis itu pecah dan tanpa sempat menjerit lagi, hati Kiat Koan merasa ngeri juga. Walaupun dia juga bersifat kejam tetapi tidak sekeji Kwi Ong itu.

"Aku harus mencari Tong Kiam Ciu, dia telah menipu kita! Bocah itu harus dibunuh!"

Gerutu Kwi Ong sambil melangkah meninggalkan gedung mungil dan kata-kata itu diucapkan ketika dia melewati samping Liat Kiat Koan.

Liat Kiat Koan yang masih terhenyak saking bingungnya menyaksikan sepak terjang Kwi Ong itu jadi seperti orang tidak sadar.

Ketua partai persilatan Kong-tong itu hanya menurutkan saja langkah Kwi Ong untuk meninggalkan gedung mungil dan membiarkan mayat gadis yang malang itu tetap menggeletak di tempat.

Mereka beramai-ramai pula meninggalkan kota Pek-seng.

Wajah Kwi Ong tampak lebih membara lagi.

Dia tampak sangat gusar dengar peristiwa-peristiwa yang dialaminya.

10 21 Dendamnya ditumpahkan kepada Tong Kiam Ciu seluruhnya, dia bertekad akan membinasakan pemuda itu.

Dia akan merasa sangat puas kalau sudah berhasil membunuh Tong Kiam Ciu.

Itu sumpahnya.

Kalau tadi Liat Kiat Koan telah berhasil menyaksikan keaslian sipat Kwi Ong membunuh orang yang sama sekali bukan lawannya seorang wanita lemah dan sama sekali tidak melawannya.

Maka dapat dipastikan bahwa iblis itu dapat bertindak sewenang-wenang terhadap siapapun tanpa memandang bulu dan tidak mengingat perikemanusiaan.

Saat itu Tong Kiam Ciu yang telah mendapatkan tempat penginapan tiada jauh dari tepian telaga Ang-tok-ouw, karena memang disekitar tempat itu banyak dikunjungi para pelancong untuk menghirup udara sejuk serta menikmati keindahan telaga Ang-tok-ouw.

Lebih-lebih pada musim semi yang semuanya tampak lebih indah.

Bunga-bunga dan semian-semian daun yang sedang tunas.

Indah dan harum baunya.

Setelah kamar untuk Tong Kiam Ciu disiapkan, maka pemuda itu segera akan istirahat membaringkan tubuhnya yang loyo diatas pembaringan.

Tong Kiam Ciu telah memesankan kepada pengurus penginapan untuk menyediakan makanan didalam kamarnya karena Tong Kiam Ciu akan beristirahat dan untuk beberapa hari lamanya tidak keluar dari kamar.

"Kalau ada dua orang gadis mencariku, tunjukkanlah kamarku. Dia adalah saudariku."

Pesan Tong Kiam Ciu kepada pengurus penginapan itu.

Pengurus penginapan itu menghormat dan tersenyum ketika Tong Kiam Ciu memberikan persen beberapa keping uang perak.

Hingga berkali-kali pengurus itu membongkok-bongkok menghormat Tong Kiam Ciu.

Setelah itu pintu kamar segera ditutup.

Kiam Ciu merebahkan tubuhnya dan memulai mengatur pernafasan dan mengalirkan rasa untuk memulihkan kembali saluran hawa murni dan peredaran darahnya.

Tetapi malangnya, tepat pada saat itu Kwi Ong dan Liat Kiat Koan telah mulai mencari Tong Kiam Ciu.

Semua penginapan telah diperiksanya.

Juga kini telah tiba gilirannya penginapan dimana Tong Kiam Ciu saat itu sedang istirahat.

10 22 Pengurus penginapan itu tidak dapat berkata apa-apa.

Karena Kwi Ong memaksa untuk minta keterangan dengan kekasaran.

Memang dia telah tahu kalau orang-orang yang baru datang itu mempunyai maksud kurang baik terhadap Tong Kiam Ciu.

Namun dibawah ancaman keras dia terpaksa menerangkan kamar Tong Kiam Ciu.

"Tetapi, dia berpesan jangan diganggu karena sedang istirahat"

Pengurus penginapan itu menerangkan.

"Diam !"

Damprat Kwi Ong dan memukul leber orang itu hingga jatuh.

Untungnya Kwi Ong menghantam hanya dengan tenaga biasa, jadi orang itu tidak mengalami patah leher.

Walaupun begitu pengurus penginapan itu telah jatuh tersungkur di lantai.

Kwi Ong dan Liat Kiat Koan menuju ke kamar Tong Kiam Ciu.

Suara ribut-ribut itu terdengar juga oleh Tong Kiam Ciu.

Sebenarnya dia akan bangun dan ketika dia mendengarkan namanya sedang disebut-sebut orang dia telah menduga bahwa yang sedang mencarinya itu pastilah Kwi Ong.

Tahu-tahu telah berada didalam rumah penginapan itu, sebenarnya pengurus penginapan telah memberikan peringatan kepada Tong Kiam Ciu dengan bersuara keras menahan Kwi Ong agar dapat didengar oleh Kiam Ciu dan mengulur waktu agar pemuda itu dapat lari.

Bukan Tong Kiam Ciu tidak mempunyai kerempatan untuk melarikan diri, tetapi jiwa kesatria pemuda itu yang membuat dia tetap tinggal didalam kamarnya.

Dia merasa tidak berharga seandainya harus melarikan diri dari sergapan lawannya.

Maka dia nantikan ke datangan Kwi Ong dan kawan-kawannya.

Maksud Kiam Ciu juga akan keluar kamar dan langsung akan menghadapi Kwi Ong.

Walaupun dia telah menyadari kalau dia tidak mungkin mampu berhadapan dengan Kwi Ong dalam keadaan terluka itu.

Namun dia bertekad lebih baik binasa sebagai satria daripada mati meringkuk sebagai pengecut.

Bertepatan dengan langkah Kiam Ciu menghampiri pintu.

tiba-tiba daun pintu ditendang oleh Kwi Ong Terdengarlah suara derakan hebat hampir saja daun pintu itu merobohi Kiam Ciu.

Untung pemuda itu lekas menghindar kesamping.

"Brakkk !"

Terdengar papan tebal itu jatuh berderak di lantai.

Didepan pintu tampak Kwi Ong yang telah mengepalkan tinjunya dengan mata membara.

Sedangkan Kiam Ciu telah siap sedia menerima serangan Kwi Ong.

Rupa-rupanya Kwi Ong sudah tidak sabar lagi.

Ketika Kwi Ong melihat Tong Kiam Ciu yang berdiri didepan pintu, maka dengan cepat dan tenaga penuh langsung mengirimkan sebuah pukulan kearah dada Kiam Ciu.

Kiam Ciu tidak sempat berkelit karena serangan itu datangnya sangat cepat.

Pemuda itu hanya dapat menangkisnya dengan mengangkat dan menyilangkan kedua belah lengannya melindungi dada.

Tetapi pukulan itu begitu hebat, sedangkan Kiam Ciu dalam keadaan terluka parah, maka tidak dapat menahan serangan Kwi Ong lagi.

Kiam Ciu terlempar jatuh menubruk dinding kamar.

Begitu pula Kwi Ong langsung meloncat menerkam Tong Kiam Ciu yang tidak berdaya itu.

Dengan ilmu cengkeraman Garuda Sakti dia telah menerkam dada Kiam Ciu dan sekali menghantamkan tinjunya kewajah dan dada Kiam Ciu.

Kiam Ciu sama sekali tidak berdaya dan jatuh tersungkur ketika dilemparkan oleh Kwi Ong.

Masih juga belum merasa puas, laki-laki berhati iblis itu telah menerkam lagi tubuh Tong Kiam Ciu dan dihantamnya dengan tinju berantai, tubuh Kiam Ciu lemah lunglai.

Menurut dugaan Kwi Ong pemuda itu binasa.

Karena memang betul-beiul saat itu Kiam Ciu terlihat seperti telah mati, tubuhnya lemah dan tidak bernafas lagi.

Kwi Ong melemparkan tubuh Tong Kiam Ciu yang sudah lemah lunglai itu ke dingding.

Begitu membentur dinding jatuh melumpruk ke lantai tanpa berkutik lagi.

Liat Kiat Koan juga menyaksikan kejadian itu.

Dengan rasa bangga dan puas telah dapat membinasakan seorang pemuda yang telah berkali-kali membuat pusing kepalanya itu, maka Kwi Ong lalu keluar dari kamar yang lelah berantakan itu.

Sambil membersihkan tangannya dengan menepuk-nepuk tapak tangan dan menepiskan pakaian luar, Kwi Ong berseru kepada Liat Kiat Koan dengan suara lantang.

"Hai Liat Kiat Koan, kita berpisah sampai disini! Tolong berilahukan kepada segenap jago silat di daerah pertengahan ini, suatu saat nanti aku akan kembali lagi kesini dan akan membasmi semua jago silat di daerah pertengahan ini!"

Seru Kwi Ong dengan suara penuh kesombongan.

Liat Kiat Koan hanya mengangguk-nganggukan kepala, sambil menyaksikan kepergian Kwi Ong dari tempat itu.

Begitu pula setelah Kwi Ong lenyap dari tempat itu, barulah Kiat Koan pergi meninggalkan penginapan itu.

Dia yakin pula bahwa Tong Kiam Ciu telah benar-benar binasa ditangan Kwi Ong.

Kepergian Liat Kiat Koan diikuti oleh beberapa orang anak buahnya.

Setelah orang-orang yang berhati kejam dan bersipat lelengas itu pergi semuanya dari penginapan itu.

Maka pengurus penginapan itu baru berani mendekati kamar Tong Kiam Ciu.

Kamar yang daun pintu telah hancur dan perabotan didalamnya telah berserakan.

Kemudian mereka melihat tubuh Tong Kiam Ciu menggeletak tidak bergerak-gerak lagi.

Keadaan tubuh Tong Kiam Ciu saat itu tampak seolah-olah telah hancur dan darah berlepotan dimana-mana.

Seolah-olah Kiam Ciu telah mati.

Pengurus penginapan itu memeriksa keadaan Kiam Ciu.

Ternyata tubuh pemuda itu masih hangat.

Pengurus itu yakin bahwa Kiam Ciu belum mati dan masih dapat ditolong asal dengan berhati-hati.

Maka tubuh pemuda yang dalam keadaan tidak sadarkan diri itu lalu diusungnya kekamar lain yang kosong.

Kemudian dibaringkannya diatas tempat pembaringan.

Pengurus penginapan itu telah berusaha untuk merawat dan menolong Tong Kiam Ciu.

Setelah tiga hari berlalu, saat perpisahan Tong Kiam Ciu dengan Cit siocia dan Sio Cien untuk mengambil biji Cu-sik.

Barulah tampak gadis jelita itu memasuki penginapan untuk mendapatkan Tong Kiam Ciu.

Cit siocia sama sekali tidak mengetahui kalau didalam penginapan itu telah terjadi sesuatu bencana yang hampir saja membinasakan Tong Kiam Ciu.

Gadis jelita yang selalu diiringkan oleh Sio Cien itu dengan tenang dan tersenyum memasuki ruangan depan penginapan itu.

10 25 Kedatangannya disambut oleh pemilik penginapan itu.

Kemudian pengurus penginapan itu telah mendatanginya pula.

"Apa siocia ini saudara siauwhiap?"

Tanya pengurus itu ketika diperhatikannya kedua gadis itu benar-benar.

"Ya"

Jawab Cit siocia.

"Marilah ..."

Sambung pengurus penginapan itu selanjutnya sambil memberikan isyarat untuk mengikutinya.

Cit siocia memandang Sio Cien.

Dayang setia itu menganggukkan kepala mengiayakan.

Maka mereka berdua mengikuti pengurus penginapan itu setelah menghormat pemilik penginapan yang telah memandang kearah mereka dengan sinar mata yang aneh.

Hati Cit siocia berdebar ketika menyaksikan keanehan sikap pengurus penginapan serta pemilik rumah itu.

Pasti ada apa-apa yang tidak beres telah terjadi di tempat itu.

Begitu pengurus penginapan itu membukakan pintu kamar.

Cit siocia melihat diatas tempat tidur dalam kamar itu seorang yang telah menggeletak tenang.

Cit siocia tanpa menun gu dipersilahkan lagi langsung masuk dan dalam hatinya penuh kekhawatiran.

"Ai Tong siauwhap !"

Seru Cit siocia sambil setengah melompat kearah tempat tidur di mana Tong Kiam Ciu menggeletak.

"Sabat nona !"

Pengurus penginapan itu menghampiri.

Tetapi Cit siocia tidak mendengarkan teguran itu.

Gadis jelita itu langsung melangkah mendekati pembaringan Tong Kiam Ciu.

Disamping gadis iiu berdiri pula dayang setianya ialah Sio Cien.

"0h Tong siauwbiap kau mendapat luka. Seandainya aku tahu akan begini jadinya aku tidak akan meninggalkan kau seorang diri"

Bisik Cit siocia dengan nada rawan dan sedih sekali.

Kemudian gadis jelita itu memerintahkan Sio Cien untuk mengembalikan kotak obat-obatan.

Sio Cien telah keluar dan Cit siocia seorang diri melap wajah 10 26 Tong Kiam Ciu yang tampak dengan bintik-bintik keringat.

Sedangkan pengurus penginapan juga telah keluar bersama dengan dayang setia Cit siocia tadi.

Ketika Sio Cien masuk lagi dengan membawa sebuah kotak yang berisi obat-obatan, maka gadis itu lalu mengambil sebuah tabung yang didalamnya berisi Yok wan.

Diambilnya dua butir lalu dimasukannya kedalam mulut Tong Kiam Ciu.

Sio Cien keluar untuk mengambilkan air teh.

Tong Kiam Ciu telah dua hari dua malam tidak sadarkan diri.

Tetapi pemuda itu tampak selalu mandi keringat.

Mungkin akibat bergolaknya Cinkie didalam pembuluh darah pemuda itu pergolakan yang akibat racun dan benturan tenaga dalam Kwi Ong dan racun Tok Giam Lo.

Hebat sekali akibatnya.

Menurut perhitungan Cit siocia, jika dalam waktu tiga hari tiga malam tidak siuman, maka Kiam Ciu akan binasa.

Setelah merundingkan segala sesuatunya tentang semua kerugian dan ongkos bermalam Tong Kiam Ciu, kemudian Cit siocia membawa Tong Kiam Ciu keluar dari penginapan itu.

Kepergiannya dilakukan pada menjelang senja.

Semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada yang melihat dan mencurigai.

Hingga kemungkinan dibuntuti oleh kaki tangan Kwi Ong juga tidak ada.

Dengan kereta yang indah yang biasa dipakai untuk berkelana oleh Cit siocia, Tong Kiam Ciu dibawanya pulang kerumah gadis itu.

Sama sekali pemuda itu tidak merasakan apa-apa selama dalam perjalanan.

Karena dia selama beberapa hari sampai saat itu belum sadarkan diri.

Setelah tiba didalam rumah Cit siocia, segeralah Tong Kiam dibawa masuk seadiri oleh Cit siocia.

Dengan sangat berhati-hati sekali gadis itu mengusung Tong Kiam Ciu.

Tong Kiam Ciu telah dirawat oleh Cit siocia.

Dengan penuh rasa kasih sayang gadis jelita itu merawatnya.

Cit siocia bukan saja lihay ilmu silatnya, tetapi juga mempunyai keahlian mengobati orang sakit yang kesemuanya itu dipelajarinya dari ibunya.

Setelah beberapa saat kemudian Sio Cien sipelayan setia itu telah mengetuk pintu kamar kemudian memasuki kamar itu.

"Bagaimana keadaan Tong siauwhiap?"

Tanya Sio Cien.

"Dia terluka parah, aku khawatir sekali akan jiwanya. Jika dia tidak sadarkan diri dalam waktu tiga hari, aku khawatir dia akan mati. Jika dia sampai mati hidupku tak ada artinya"

Bisik Cit siocia dengan suara rawan.

"Semoga usaha siocia dapat berhasil. Kalau sampai Tong siauwhiap meninggal maka yang kehilangan bukan hanya siocia seorang tetapi dunia Kang-ouw akan merasa sangat menyesal"

Sambung Sio Cien menghibur.

Kamar dimana Tong Kiam Ciu dirawat itu sangat indah hiasannya, warna-warni yang dipilihnya adalah warna yang kontras dan dihiasi dengan ukiran-ukiran yang serba indah.

Sepasang pedang berjajar disudut ruang kemudian sebuah lampion besar terletak ditengah ruangan itu.

Semuanya sangat serasi dan menimbulkan rasa kerasan tinggal didalam kamar itu.

Tong Kiam Ciu masih belum sadarkan diri.

Namun pemuda itu telah mendengarkan suara nafas dan matanya telah mulai bergerak-gerak.

Cit siocia menyaksikan itu dengan hati berdebar.

Dia mengucapkan rasa syukur dan sangat mengharapkan akan kesembuhan Tong Kiam Ciu.

Bau harum yang sangat segar tercium oleh Tong Kiam Ciu.

Pemuda itu merasakan dadanya sangat enak sekali.

Ringan sekali perasaannya.

Terasa Seolah-olah dia telah terbebas dari semua ikatan ataupun himpitan yang membelenggunya selama ini.

Dengan perlahan-lahan Tong Kiam Ciu membuka matanya.

Saat seperti itu yang dituuggu-tunggu dan diharapkan oleh Cit siocia selama menunggui Tong Kiam Ciu.

Hatinya berdebar dan menjerit girang.

Saking girangnya Cit siocia sampai menangis, air matanya meleleh karena kegembiraan dan keharuan.

Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Tong Kiam Ciu.

Gadis itu tersenyum walaupun air matanya membasahi pipinya.

"Oh. aku dimana sekarang ?"

Bisik Tong Kiam Ciu yang masih sangat lemah nada suaranya.

"Kau... kau berada dikamarku"

Bisik Cit Siocia dengan suata penuh keharuan. 10 28

"Aku berada didalam kamarmu?"

Tong Klam Ciu terperanjat dengan jawaban Cit siocia itu. Dia ingin bangun tetapi kepalanya terasa sangat berat dan dia jatuh lagi dipembaringan itu.

"Hati-hati, kau harus banyak istirahat dulu untuk memulihkan semangatmu. Kau telah tertidur selama tiga hari tiga malam."

Bisik Cit siocia sambil memegang bahu Tong Kiam Ciu untuk membetulkan tidurnya.

"Mengapa ?"

Bisik Tong Kiam Ciu dan memandang ke arah jendela.

Walaupun Tong Kiam Ciu dalam keadaan masih sangat lemah tubuhnya.

Namun pikirannya lelah kembali terang dan dia memang adalah seorang pemuda penggemar keindahan dan kerapian.

Ketika matanya melihat keluar itu tampaklah pemandangan yang sangat indah.

Dengan pohon-pohon yang berdaun hijau muda serta bunga-bunga beraneka warna.

Diluar angin berhembus sangat kencang, bahkan tampaklah pusaran-pusaran yang meniup daun-daun kering berterbangan.

Langit yang berawan putih bergulung-gulung tampak sangat jelas dari dalam kamar itu.

Hanyutlah Tong Kiam Ciu kedalam pusaran-pusaran mega itu, kembali teringat kedalam masa-masa silamnya, Teringat kembali orang-orang yang pernah mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.

Shin-ciu-sam-kiat adalah orang-orang yang sangat berjasa dalam hidupnya, Pek-hi-siu-si yang telah menurunkan ilmu pedang dan ilmu Bo-kit-sin-kong, juga kasih sayang yang telah dicurahkan oleh adik Ji Tong Bwee, kemudian peristiwa demi peristiwa yang telah dialaminya dalam pengembaraan dikalangan Kang-ouw.

Pertemuan-pertemuannya dengan Cit Siocia.

Kemudian yang terakhir ialah ketika dia telah berhadapan dengan Kwi Ong dan dia telah menerima hajaran yang hebat dan tidak mampu untuk mengelakkan lagi.

Terpaksa dia memapaki hantaman maut raja iblis dari selatan itu.

Semuanya jadi gelap dan dia telah bermimpi hal yang sangat menakutkan.

Kemudian Tong Kiam Ciu terhentak dari lamunannya ketika terdengar teguran lembut dan menawan hati.

"Tong siauwhiap janganlah kau pikirkan hal-hal yang bukan-bukan ... Lebih baik Tong siauwhiap istirahat dulu"

Bisik Cit Siocia. 10 29 Tong Kiam Ciu tergagap suara lembut yang diucapkan oleh Cit siocia itu seakan-akan dekat benar dihatinya. Tersentuhlah keharuan Kiam Ciu.

"Lagi-lagi kau telah menolong jiwaku. Aku hanya dapat mengucapkan rasa terima kasihku saja !"

Bisik Tong Kiam Ciu dengan suara tandas dari dasar hatinya.

"Bagiku semuanya itu merupakan kewajiban, sebagai darmaku dalam kehidupan. Tetapi disamping itu kau patut juga mengucapkan rasa terima kasihmu kepada Sio Cien yang telah menolong membebaskan jalan darahmu sehingga jantungmu tetap berdenyut. Sio Cien bukan lagi sebagai dayangku tetapi dia sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri !"

Jawab Cit siocia sambil tersenyum dan pipinya yang pulih itu tampak kemerahlan ketika matanya bertemu pandang dengan Kiam Ciu.

Sio Cien telah menghampiri pintu kamar dan ketika pintu terbuka, terciumlah bau sedap dan dayang itu ternyata membawa mangkuk yang berisi jamu hangat dan mengepul asapnya.

"Cit siocia ini jamunya Tong Kiam Ciu sudah tersedia !"

Seru Sio Cien sambil menuturkannya dengan hormat disamping Cit siocia.

"Sio Cien, terima kasih atas segala pertolonganmu"

Seru Tong Kiam Ciu dengan suara halus, tetapi pumuda itu belum dapat bangun dari tempat tidurnya. Mendengar ucapan itu maka Sio Cien merah wajahnya karena malu.

"Aku sangat malu untuk menerima ucapan terima kasih itu. Karena sesungguhnya aku tidak berbuat banyak. Tanpa adanya Cit Siocia kukira Tong siauwhiap sudah meninggal ... ketahuilah Tong siauwhiap, bahwa sebenarnya Cit Siocia itu sangat mencintaimu ..."

Sio Cien menundukan muka dan tersenyum serta menutupi mulutnya sendiri, kemudian menyerahkan mangkuk yang berisi ramuan obat untuk Tong Kiam Ciu.

Mangkuk itu diterima oleh Cit Siocia, kemudian diserahkan kepada Tong Kiam Ciu yang telah duduk di tempat tidur.

Sio Cien mengundurkan diri dan keluar dari kamar itu.

Sedangkan Tong Kiam Ciu meniup air yang masih hangat itu sambil matanya mengawasi wajah Cit Siocia.

Gadis itu dipandang seperti itu merasa sangat kikuk, maka akhirnya Cit 10 30 Siocia menundukkan muka dan melemparkan pandang ketempat lain.

Namun Tong Kiam Ciu memandangi terus.

Lama-lama Tong Kiam Ciu merasa serba salah.

Dia memang sangat mencintai Ji Tong Bwee dengan segenap jiwa dan raganya.

Namun dengan diam-diam pula dia telah menaruh sayang dan merasa banyak berhutang budi kepada Cit Siocia, telah berkali-kali dia ditolong oleh Cit Siocia.

Tanpa disadarinya telah tumbuh pula suatu perasaan yang luar biasa pada diri Tong Kiam Ciu.

Suatu perasaan seolah-olah tidak dapat berpisah terlalu lama dengan gadis jelita itu.

Lagi pula dia telah menyadari betapa besarnya rasa kasih sayang Cit Siocia terhadap dirinya.

"Tong siauwhiap, minumlah jamu itu selagi masih hangat !"

Seru Cit Siocia sambil memain-mainkan ujung bajunya dan melirik Kiam Ciu.

"Hem..."

Hanya itu jawab Tong Kiam Ciu.

Kemudian menempelkan bibir mangkuk itu kebibirnya dan mengbirup cairan yang ada didalam mangkuk itu.

Ternyata Tong Kiam Ciu biasa minum jamu juga, dengan sekali teguk isi mangkuk itu telah kering tandas.

Cit Siocia telah menerima mangkuk yang sudah kosong itu dan meletakannya diatas meja.

Sejak mata mereka saling beradu pandang, kemudian Tong Kiam Ciu memecahkan kesunyian itu dengan sebuah pertanyaan.

"Apakah siocia tidak melihat adik Tong Bwee ditepi telaga tadi?"

"Tidak ..."

Jawab Cit siocia singkat.

"Aku sangat khawatir akan keselamatannya, sejak ada angin topan dan keributannya yang ditimbulkan oleh Kwi Ong diatas telaga Ang-tok-ouw aku belum mengetahui kabar beritanya ..."

Sambung Tong Kiam Ciu.

"Kukira Shin-ciu-sam-kiat dan adik Bwee telah dapat menyelamatkan diri"

Cit siocia menghibur Kiam Ciu.

"Mudah-mudahan"

Sambung Kiam Ciu hampa. Namun demikian Tong Kiam Ciu tampak berubah wajahnya dan kelihatan sayu serta kecut. Cit siocia merasa khawatir melihat perubahan itu. Maka gadis itu menghiburnya pula.

"Sudahlah Tong siauwhiap, kau perlu istirahat sebanyak-banyaknya !"

Bisik Cit siocia "percayalah bahwa mereka pasti selamat".

"Hemm ..."

Hanya itu yang terdengar dari mulut Kiam Ciu.

Tong Kiam Ciu dipaksa oleh Cit siocia untuk berbaring kembali, agar obat yang telah diminumnya tadi dapat bekerja dengan sempurna dalam tubuh, walaupun bagaimana Tong Kiam Ciu akhirnya menurut juga atas anjuran itu.

Tong Kiam Ciu berbaring kembali, namun matanya belum juga mau dipejamkan, sedangkan Cit siocia tetap duduk disampingnya.

"Cit siocia"

Bisik Tong Kiam Ciu tanpa melihat kearah orang yang diajak berbicara.

"Ya Tong siauwhiap"

Jawab Cit siocia sambil mengamati pemuda itu!.

"Kamarmu indah benar dan rapi sekali".

"Ah ..."

"Dimanakah letak rumahmu ini?? Hawanya begini segar"

Bisik Tong Kiam Ciu dengan suara sangat dalam.

"Di sebuah desa yang terpencil diatas gunung"

Jawab Cit siocia.

"Desa manakah ?"

Tanya Kiam Ciu mendesak.

"Desa Cit Wi diperbatasan propinsi Yunan diatas gunung"

Jawab Cit siocia dengan memandang kearah wajah Tong Kiam Ciu.

Tong Kiam Ciu teringat akan pembicaraannya dengan Shin Kai Lolo diatas perahu layar milik Ouw Hin Lee.

Dia harus menemui seorang pendekar pertapa yang telah memencilkan diri dipegunungan.

Seorang kakek dengan gelar Kiam-leng-Ji-su yang memencilkan diri di puncak gunung Jit liauw hong dipegunungan Tiam-cong-san dipropinsi Yunan.

Untuk memulihkan kembali kesehatan Tong Kiam Ciu perlu beristirahat selama beberapa hari.

Dibawah pengawasan dan perawatan yang teliti dan penuh kasih sayang.

Ternyata Cit siocia sangat baik merawat Kiam Ciu.

Gadis itu selain parasnya cantik, ternyata juga mempunyai jiwa sabar dan kasih sayang yang tulus.

Hal itu sangat dirasakan oleh Kiam Ciu.

Sehingga pemuda itu merasakan hatinya tenteram dan tenang sekali.

Walaupun kadang-kadang dia 10 32 merasa sangat sungkan menjadi beban seorang gadis yang selalu dikecewakannya itu.

Namun apa boleh buat karena dirinya belum kuat untuk berjalan dan tangannya belum pulih kembali.

Tugas-tugasnya masih menumpuk, semua persoalan belum dapat dikerjakannya.

Dia harus dapat menyelesaikan tugasnya membalaskan dendam keluarganya kepada Ciam Gwat.

Tetapi Ciam Gwat adalah seorang yang berilmu sangat lihay.

Menurut pesan gurunya bahwa untuk menundukan Ciam Gwat dia harus mempelajari dan menguasai ilmu dari kitab Pek-seng-ki-su.

Maka dia harus dapat mendapatkan kitab Pek-seng-ki-su dan mempelajari serta memahami ilmunya.

Untuk mendapatkan kitab Pek-seng-ki-su dia harus mendapatkan dua benda yang berupa akar Lok-bwee-kim-keng dan biji Cu-sik.

Dua benda itu telah didapatnya.

Lok-bwee-kim-keng didapat dari Kun-si Mo-kun, sedangkan biji Cu-sik didapat dari Cit siocia.

Hatinya telah menjadi lega.

Kalau kedua benda itu telah ditangannya dan dia segera akan pergi ke kota Pek-seng dan menemui gadis she-Gan cucu Gan Hua Liong yang terkurung pengaruh jiwanya di gedung indah kota Pek-seng yang aneh itu.

Tetapi untuk pergi ke tempat itu membutuhkan tenaga juga, apalagi kalau sampai ditengah perjalanan dia bertemu dengan orang-orang yang mempunyai minat juga dengan kitab Pek-seng-ki-su, dia pasti akan menemui bencana.

Walaupun tekadnya sudah bulat dan sanggup untuk menghadapi segala-galanya.

Namun setelah dipikirvlebih lanjut bukankah kalau dia dalam keadaan masih lemah harus menghadapi lawan berarti akan menyerahkan nyawa.

Bukan saja badannya akan sengsara, tetapi kitab pusaka akan jatuh ke tangan orang lain.

Maka setelah memikirkan untung ruginya dalam tindakannya itu.

Kiam Ciu telah mengambi kesimpulan untuk memulihkan dulu semangat dan menyembuhkan luka dalamnya.

Dengan perawatan Cit siocia yang dibantu oleh Sio Cien dan Peng Nio dirumah Cit Siocia yang tenang didesa Cit Wi itu maka Kiam Ciu merasakan kesehatannya berangsur-angsur baik.

10 33 Tiap pagi dan sore Kiam Ciu telah mulai latihan kembali.

Pemuda itu mulai sedikit demi sedikit melatih gerakan-gerakan tangan dan kakinya yang begitu lama tidak di gerak-gerakan karena dia harus selalu berada di tempat tidur selama dalam penderitaan itu.

Latihan-latihan yang di lakukannya itu dengan sangat berhati-hati dan perlahan-lahan.

Selama satu bulan Kiam Ciu dirawat oleh Cit siocia dengan penuh kasih sayang itu.

Karena ketenteraman dan ketulusan Cit siocia itu, lama-lama Kiam Ciu dapat melupakan segala kegelisahannya.

Dengan tiada terasa telah berlalu sebulan dia berada di rumah Cit siocia.

"Cit Sio Wie, aku telah terlalu banyak menyusahkan dirimu"

Kata Kiam Ciu suatu hari. Ketika itu Kiam Ciu dan Cit Sio Wie berjalan-jalan dan menikmati indahnya tanah pegunungan menjelang senja.

"Ah, Tong siauwhiap jangan terlalu memikirkan itu"

Bisik Cit Sio Wie sambil memegang lengan pemuda itu dengan menggelendotkan tubuhnya kebahu Kiam Ciu.

"Kau terlalu baik padaku"

Bisik Kiam Ciu.

Namun gadis jelita itu tidak menjawab.

Cit Sio Wie hanya tersenyum dan melirik ke arah Kiam Ciu.

Gadis yang berjiwa pengembara dan angin-anginan itu ternyata mempunyai kehalusan hati juga.

Dia telah begitu menyintai Kiam Ciu hingga berkorban untuk apapun.

Dirinya memang diabdikan untuk cinta.

Lebih baik dia berkorban dari pada melihat kekasihnya menderita.

Ilmunya lihay.

(Bersambung

Jilid 11) 11 0 11 1 (Warisan Jenderal Gak Hui) Diolah Oleh . HO TJING HONG

Jilid ke 11 ETAPI sifatnya kadang-kadang kemanjaan dan memang dia adalah murid satu-satunya dari keluarga itu.

Ibunya adalah seorang pendekar yang selalu sibuk dengan kependekarannya, selalu mengembara dikalangan Kang-ouw.

Hingga Cit Sio Wie atau yang biasa dipanggil hanya dengan sebutan Cit Siocia menurutkan kehendak hatinya dimana dia mau saja.

Gadis itu selalu mengembara dengan pakaian yang serba indah dan selalu mengendarai kereta bagus pula.

Kecantikannya sebenarnya sangat menarik perhatian banyak tokoh-tokoh persilatan, namun karena dia memiliki ilmu yang lihay tiada yang berani mengganggunya.

Cit siocia mempunyai ilmu yang hebat yang selalu dapat menundukkan lawannya atau orang-orang yang dikehendaki ialah ilmu Pan-yok-sin-im.

Telah banyak dia menjatuhkan lawannya dengan ilmu itu.

Namun dengan ilmu itu pula dia telah berusaha merebut dan menundukkan hati Kiam Ciu.

Ternyata Kiam Ciu bagaikan kuda liar yang sukar untuk ditaklukan.

Justru dengan kekerasan dia bahkan bertambah binal dan lari dari samping gadis itu.

Kini maksud Cit siocia hampir tercapai, justru gadis itu tidak begitu memikirkan lagi.

Walaupun hatinya tetap tidak akan lenyap dari rasa cinta kasihnya terhadap Kiam Ciu.

Tapi seolah-olah dia telah memandang biasa saja dalam persoalannya itu.

"Aku sangat berterima kasih padamu Cit Sio Wie, kau telah berkali-kali menyelamatkan jiwaku"

Bisik Kiam Ciu dengan hati penuh dengan keharuan.

"Ah itulah hanya suatu perbuatan yang tak berarti. Siapapun orang yang berhati lurus akan menolongmu, karena kau adalah seorang pemuda yang budiman dan kesatria"

Jawab Cit siocia sambil memandang Kiam Ciu dan tersenyum. T 11 2

"Aku benar-benar merasa sangat berhutang padamu, entahlah kapan aku dapat membalasnya"

Sambung Kiam Ciu dengan bersungguh-sungguh dan menggenggam tangan Cit siocia.

Hati Cit siocia berdebar karen genggaman Kiam Ciu itu.

Wajah gadis itu menjadi merah karena gejolak hatinya mendesak hebat.

Namun Kiam Ciu tidak memperhatikan perasaan gadis itu.

Kiam Ciu memang seorang pemuda yang masih polos dan belum banyak pengalamannya dalam pergaulan dengan wanita.

Jadinya dia tidak dapat mengerti tentang keadaan wanita.

Keduanya terus berjalan, sedangkan langit bertambah merah karera matahari telah menyembulkan sinarnya dari balik pegunungan.

Warna merah itu bertambah meredup dan angin halus membelai dengan kesejukan hawa pegunungan menjelang senja itu.

"Sudah kukatakan aku tidak mengadakan hutang-piutang dengan Tong siauwhiap. Apa yang telah kulakukan padamu berdasarkan rasa kasih sayang yang tulus....."

Sambung Cit siocia dengan tersenyum dan kerling mata ke arah Kiam Ciu.

Kebetulan saat itu Kiam Ciu juga sedang memandang kearah Cit siocia.

Hati Kiam Ciu yang sebenarnya keras itu.

dengan tiba-tiba saat itu telah mencair.

Berdebar hati Kiam Ciu.

Pemuda itu membuang muka dan memandang ketempat lain.

Cit siocia merasakan perubahan sikap Kiam Ciu itu.

"Karena aku telah sembuh kembali, kukira Cit siocia dapat melepaskan aku untuk pergi kekota Pek-seng"

Berkata Kiam Ciu kepada Cit Sio Wie. Namun gadis itu tidak menjawab, hanya dipandangi wajah Kiam Ciu dengan wajah sayu dan sorot mata redup.

"Mengapa kau memandangku sedemikan rupa?"

Tanya Kiam Ciu heran.

"Kukira kau telah melupakan kitab Pek-seng-ki-su."

Jawab Sit siocia dengan suara hambar.

"Maksudmu?"

Tanya Kiam Ciu dengan kening berkerut. 11 3

"Kita dapat tinggal didesa sepi dan damai ini. Kemudian melupakan pergolakan dikalangan Kang-ouw. Kita hidup tenteram dan damai meninggalkan dunia persilatan...."

Bisik Cit Sio Wie dengan suara penuh rayuan dan bujukan.

Kiam Ciu tahu kemana arah pembicaraan Cit siocia itu.

Namun Kiam Ciu tidak dapat menjawab pembicaraan gadis itu dengan cepat, dia hanya memandanginya dengan sorot mata penuh sayang.

Karena merasa bahwa dirinya telah banyak berhutang budi dan berkali-kali pula Cit siocia itu menolong menyelamatkan jiwanya.

Maka Kiam Ciu tidak dapat berbuat apa-apa.

Dengan seringnya pula bergaul dan lama-lama Kiam Ciu dapat merasakan betapa Cit Sio Wie telah merawat dengan penuh kasih sayang pula.

Maka akhirnya Kiam Ciu hatinya jadi lemah dan terharu atas pernyataan gadis itu.

"Aku masih banyak tugas yang belum dapat kuselesaikan"

Bisik Kiam Ciu dengan kening berkerut.

Cit Sio Wie melepaskan cekalan tangannya dan lari meninggalkan Kiam Ciu.

Gadis itu lari terus kearah matahari tenggelam.

Kiam Ciu berlari-lari pula mengejar gadis itu sambil memanggil-manggil namanya.

Namun Cit Sio Wie tanpa memperdulikan seruan-seruan Kiam Ciu.

Kiam Ciu mengejarnya terus.

Pemuda itu benar-benar tidak mengerti apa maksud gadis itu lari meninggalkannya.

Sungguh Kiam Ciu tidak mengerti maksud gadis itu.

Namun Kiam Giu lerus mengejarnya.

Ketika jarak mereka begitu dekat dengan tiba-tiba Cit Sio Wie berhenti.

Tahu-tahu Kiam Ciu lelah berada didekatnya.

Pemuda itu langsung menerkam punggung Cit siocia.

Memegangnya dan menggoncang-goncangkannya.

"Mengapa ? Cit Sio Wie marahkah kau padaku ?"

Tanya Kiam Ciu sambil menggoncangkan bahu gadis itu.

Cit Sio Wie memutar tubuh dan kini mereka berhadapan.

Keduanya saling bertatapan pandang.

Namun gadis itu menundukkan wajahnya dihadapan Kiam Ciu.

Sekilas Kiam Ciu melihat butiran air mata meleleh disudut mata gadis itu.

Maka dengan cepat-cepat dipegangnya dagu gadis itu dan ditengadahkannya.

"Kau menangis? Mengapa ?"

Tanya Kiam Ciu sambil mengusap air mata gadis itu dengan ibu jarinya.

Namun Cit Sio Wie hanya menggelengkan kepala dan memaksakan diri untuk tersenyum.

Melihat keadaan itu Kiam Ciu jadi bertambah bingung.

Sama sekali dia tidak mengerti maksud gadis itu.

"Mengapa Cit Sio Wie ?"

Tanya Kiam Ciu.

"Karena aku belum rela melepaskan kau yang masih dalam keadaan belum sehat benar ..."

Jawab gadis itu.

"Kukira bukan itu alasannya !"

Sambung Kiam Ciu ragu-ragu.

"Tong Kiam Ciu, pandanglah diriku"

Berkata gadis itu seraya menekan bahu Kiam Ciu dan mendorongnya.

Tong Kiam Ciu seperti anak kecil yang penurut, dipadanginya kearah gadis itu.

Wajahnya, rambutnya lehernya dadanya dan seluruh tubuhnya.

Setelah itu Kiam Ciu bagaikan orang dungu, memandang Cit Sio Wie dengan pandang tajam.

Cil Sio Wie merasakan seolah-olah pandangan mata Kiam Ciu itu menembusi jiwanya.

Serasa dia telah ditelanjangi.

Tampaklah wajah gadis itu bersemu merah karena merasa malu.

Namun Kiam Ciu tetap memegang dagu gadis itu dan tetap menatapinya dengan sinar mata yang tiada berkedip.

"Maafkan diriku Wie moay"

Bisik Kiam Ciu. Betapapun saat itu senja yang cerah, namun karena kata-kata Kiam Ciu yang telah memanggilnya dengan perkataan "moay"

Tanpa disadarinya gadis itu terpekik perlahan.

"Ai !"

Terdengar pekikan tertahan meluncur dari gadis itu.

Akhirnya Kiam Ciu tahu juga.

Bahwa benar-benar gadis itu telah mencintainya.

Terbukti dengan perawatan, pertolongan yang selalu diberikan padanya.

Seolah-olah Kiam Ciu merasa bersalah besar karena dia selalu menyia-nyiakan gadis itu.

Maka mulailah luntur benteng pertahanannya yang dia hanya mencintai Tong Bwee.

Sesaat itu benar-benar telah mengambil keputusan.

Kiam Ciu tidak sampai hati untuk menyia-nyiakan cinta kasih gadis itu.

11 5 Cit Sio Wie sebenarnya akan melepaskan diri dari pandangan Kiam Ciu.

Namun pemuda itu memegang bahunya dengan erat genggaman tangan pemuda itu bertambah erat.

Akhirnya sesuatu yang sama sekali tidak terduga tetapi selalu diharapkan telah terjadi.

Cit Sio Wie terperanjat tetapi senang ketika bibir Kiam Ciu mengulum bibir gadis itu.

Suatu reaksi yang datangnya dengan tiba-tiba ialah seolah-olah Cit Sio Wie menolak pelukan pemuda itu.

Tetapi akhirnya dia menyerah dengan perasaan penuh gelora.

Saat itu Kiam Ciu telah memberikan kasih sayangnya kepada Cit siocia.

Bahagialah hati Cit Sio Wie menerima curahan kasih sayang Tong Kiam Ciu itu.

Pemuda yang selalu dikejar-kejarnya, pemuda yang telah dicintainya.

Kini segala rindu dendam dan kasih sayang serta kerisauan hati telah terobatkan.

Kiam Ciu juga tidak merasa menyesal telah meninggalkan adiknya yang sangat dicintai ialah Tong Bwee karena dia juga tahu apa artinya kasih sayang ini.

Senja telah terhimpit malam dan di cakrawala masih tetap merah lembayung.

Sedangkan burung-burung tetap berkicauan mencari tempat untuk berteduh.

Awan berarak tertiup angin.

Angin bertiup menimbulkan suara bagaikan siulan panjang, seolah-olah suara itu menyayat hati dan merisaukan perasaan.

Namun Kiam Ciu dan Cit Sio Wie telah bergandengan tangan dan tangan mereka saling menggenggam.

Sedangkan pandangan mereka memandang jauh kedepan.

Bibir Cit Sio Wie tersenyum-senyum puas.

Seolah-olah mereka berdua telah mendapat kemenangan.

Namun Kiam Ciu juga tersenyum karena dia tidak merasa sebagai orang yang dikalahkan.

"Tong Ko, kukira kalau kau akan ke kota Pek-seng itu menunggu dulu sampai akhir tahun ini. Pada akhir tahun ibuku pasti pulang, aku bermaksud perjodohan kita ini direstui ibu sekalian kau akan kuperkenalkan dengan ibu"

Usul Cit Sio Wie sambil memandang wajah Kiam Ciu penuh harap.

Mau tak mau Kiam Ciu harus menganggukkan kepala juga.

Ternyata Kiam Ciu tidak dapat menolak lagi segala permintaan Cit Sio Wie.

Karena pemuda itu telah merasakan betapa kasih sayang yang telah diberikan oleh gadis itu kepadanya.

Maka karenanya Kiam Ciu tidak menginginkan untuk menyakitkan hati gadis itu.

11 6 Maka kini mereka berdua bersama-sama menuju ke rumah.

Mereka berkejaran, seperti anak kecil.

Tertawa dan berlari-lari.

Sio Cin dan Peng Nio memandangi kedua muda-mudi yang sedang asyik dan bergembira itu.

Mereka menyaksikan dengan rasa senang dan terharu sekali.

Mereka itu adalah orang-orang yang selalu memanjakan dan melayani segala kemauan Cit Sio Wie dengan penuh sayang.

Namun Kiam Ciu dan Cit Sio Wie tidak menyadari kalau mereka selalu diperhatikan oleh Sio Cin dan Peng Nio.

Karena kegembiraan yang menyelubungi mereka itu.

Mereka bergurau bagaikan anak kecil.

Ketika bahwa telah menjadi dingin, maka Kiam Ciu telah membopong Cit Sio Wie masuk kedalam ruangan tamu sambil mendorong pintu depan.

"Ha ha ha ha. Kan kenal Tong Ko!"

Seru gadis itu sambil menekan hidung Kiam Ciu dengan ujung jari telunjuk.

Mereka berdua tampak sangat gembira.

Kiam Ciu tertawa-tawa dan berdiri dibelakang kursi panjang yang diduduki Cit Sio Wie.

Karena mereka sedang gembira dan selama ini baru saat itu Sio Cin dan Peng Nio menyaksikan putri majikannya itu dapat bergembira.

Maka mereka itu tanpa disadarinya telah menitikkan air mata karena rasa haru dan gembira.

Begitulah mulai saat itu Kiam Ciu telah mencurahkan kasih sayangnya kepada Cit Sio Wie dengan sepenuh hati.

Semua pikirannya yang berat-berat telah dibuangnya jauh-jauh.

Walaupun demikian dia telah tidak akan melalaikan tugasnya.

Dia harus menemukan Ciam Gwat dan menunaikan tugasnya, ialah membalas dendam dan sakit hati orang tuanya serta saudara-saudaranya Sio Cin yang setia telah menyediakan minuman dan hidangan sore di kamar Cit Sio Wie, Karena dayang itu tahu bahwa mereka pasti menginginkan saat-saat kegembiraan itu jangan sampai terganggu.

Saat itu adalah hari-hari yang paling bahagia bagi Cit Sio Wie karena dia telah mendapatkan suatu kenyataan bahwa Kiam Ciu dapat menanggapi isi hatinya dan telah pula memberikan suatu imbangan cintanya.

Maka keduanya kini telah terlibat dalam suatu permainan hati dan cinta asmara.

11 7 Sesuai dengan hawa yang dingin dan suasana yang syahdu saat itu.

Gemerisiknya angin meniup dedaunan serta gemuruhnya hati kedua remaja itu dalam pertemuan yang telah begitu masak.

Kiam Ciu memandang wajah Cit Sio Wie dengan sorot mata tajam penuh arti.

Gadis jelita yang kemanja-manjaan itu tersenyum.

Manis sekali senyumannya itu.

Sepasang bibirnya yang merah dan pipinya yang tampak semburat merah sampai ketelinganya, menandakan kalau gadis itu sedang dipengaruhi oleh suatu kegairahan.

"Kita harus menunggu sampai ibu dalang"

Bisik Cit Sio Wie.

"Hemm, apa yang akan kau katakan pada ibumu ?"

Tanya Kiam Ciu.

"Aku akan mohon idzin ibu untuk perkawinan kita"

Jawab Cit Sio Wie dengan senyum menggairahkan.

Suasana menjelang tahun baru sangat berlainan dengan hari-hari biasa.

Walaupun bagaimana dan ditempat yang sesepi seperti di desa Cit Wi sekalipun, tampak juga suasana kemeriahan itu.

Karena Peng Nio dan Sio Cin telah membuat keadaan dalam rumah itu benar-benar berubah dan bertambah semarak.

Dengan hiasan lampion berwarna warni dan bermacam-macam bentuknya.

Kiam Ciu dan Sio Wie tampak bergembira pula.

Mereka belum pernah segembira saat itu.

Maka ketika dua pelayan itu menyaksikan kegembiraan Cit Sto Wie dan Tong Kiam Ciu merekapun merasa terharu.

Tiba-tiba ketika Cit Sio Wi mengangkat cawan dan akan meneguk arak untuk menghangatkan badan, matanya melihat ke jendela.

Di kejauhan tampaklah sesosok tubuh yang sedang mendekati rumah itu.

"Oh, itu ibu telah datang!"

Seru gadis itu dengan gembira.

Cit Sio Wie telah meletakan mangkuknya dan mengempit tangan Kiam Ciu untuk diajak keluar.

Pemuda itupun menurutkan saja tanpa mengeluarkan kata-kata.

Hatinya berdebar dan gelisah dengan tiba-tiba.

Apalagi ketika pandangan matanya bertemu dengan pandangan wanita yang baru datang itu, Hati Kiam Ciu seolah-olah tercekam dan mulutnya terbungkam.

"Ibu, putrimu menghatur sembah."

Seru Sio Wie menyambut kedatangan ibunya dengan menghormat.

11 8 Kemudian gadis jelita itu menubruk dada ibunya dan mereka berdua anak dan ibu berpelukan saling mencurahkan rasa kerinduannya!

Kerena biasa gadis itu dimanjakan oleh ibunya dan oleh siapa saja yang selalu didekatnya.

Pertemuan itu adalah pertemuan yang sangat mengenangkan bahkan mungkin yang paling menyenangkan saat itu.

"lbu maafkan putrimu ingin memperkenalkan seoraag pemuda pada ibu"

Bisik Cit Sio Wie, gadis itu masih dalam pelukan ibunya.

Tetapi dengan pelukan ibunya terasa mengendor Sio Wie telah dilepaskan dari pelukan ibunya, tampaklah wanita itu memandang kearah Tong Kiam Ciu yang telah membongkokan tubuhnya menghormat.

"Toug Kiam Ciu"

Berkata Cit Sio Wie kepada ibunya sambil tersenyum memperkenalkan kekasihnya itu.

"Bibi terimalah salam hormatku!"

Sambung Kiam Ciu seraya mengucapkan kata-katanya itu dengan sikap taklim.

"Hemmm, ya aku telah mengetahui banyak tentang namamu Tong Kiam Ciu. Tetapi ...

"seru ibu Cit Sio Wie sambil memandang tajam kearah Kiam Ciu.

"Mengapa ibu?"

Tanya Cit Sio Wie heran.

"Aku telah mendengar banyak tentang namamu di kalangan Kang-ouw. Kemudian aku menyelidiki tentang dirimu, sekarang kita telah bertemu disini"

Kata-kata ibu Sio Wie belum selesai telah disahut oleh anaknya.

"Ibu mengapa kita tidak omong-omong didalam saja. Hawa begini dingin?!"

Usul Cit Sie Wie.

"Hemmm, apakah kau mencintai dia?"

Tanya ibunya sambil memandang putrinya kemudian memandang wajah Kiam Ciu.

Gadis jelita itu terkesima malu dan memandangi ujung sepatunya sambil mempermainkan jari-jemari tangan, kemudian tersenyum matanya memancar-kan sinar penuh arti.

"Aku tidak setuju!"

Seru ibu Sio Wie dengan suara lantang.

11 9 Cit Sio Wie terperanjat mendengar kata-kata ibunya itu.

Gadis itu akan mengejar dan menubruk ibunya yang telah membelakangi mereka dan melangkah akan memasuki rumah.

"Ibu!"

Seru Cit Sio Wie. Tetapi ibunya memutar tubuh lagi dan memandang kearah putrinya kemudian memandang kearah Kiam Ciu seraya mendamprat dengan suara serak dan bergetar.

"Lupakan dia, dan suruh pergi."

Seru wanita itu dengan suara lantang dan memutar tubuh lagi untuk kemudian melangkahkan kaki.

"Ibu, aku mencintai Ciu koko sepenuh hati!"

Seru Sio Wie sambil memburu ibunya.

"Suruh pergi dia."

Seru ibunya tanpa menggubris lagi kata-kata dan seruan Cit Sio Wie, Gadis itu jadi bingung menerima kenyataan dan perkataan ibunya itu.

Hatinya tercekam dan bingung.

Dipandangnya Tong Kiam Ciu kemudian memandang kearah ibunya yang telah memasuki rumah.

Dalam kegelisahan itu Kiam Ciu telah menghampirinya.

Baru kali itu Kiam Ciu mendapatkan hinaan yang sangat sedih.

Sama sekali dia tidak mengetahui apa sebabnya ibu Sio Wie begitu benci kepadanya.

"Sudahlah Wie moay, kau jangan membuat suatu keretakan dengan ibumu"

Bujuk Kiam Ciu sambil membelai rambut gadis itu.

"Tidak! Aku.... Aku harus dapat melunakan hati ibu!"

Seru gadis itu sambil memandang kearah pintu rumahnya dan akan melangkah.

Tetapi Tong Kiam Ciu menahan dengan menggenggam tangan gadis itu.

Kemudian Sio Wie memalingkan wajahnya dan memutar tubuh menghadap Tong Kiam Ciu.

"Cit Sio Wie!"

Bisik Tong Kiam Ciu sambil menarik lengan kanan gadis itu.

11 10 Sio Wie terdorong kedepan dan merebahkan tubuhnya kedada Tong Kiam Ciu sambit menangis.

Pemuda itupun mendekapnya dengan mesra dan membelai rambut sambil membujuk.

"Sio Wie, tenangkan pikiranmu"

Bisik Tong Kiam Ciu halus.

"Oh, Ciu Ko, bagaimana sekarang?"

Bisik Sio Wie putus asa.

"Rupa-rupanya ibumu memang tidak menyukaiku."

Sambung Kiam Ciu.

"Tidak ! Dia harus menyetujui perjodohan kita !"

Seru Sio Wie dengan suara lantang dan melepaskan dekapan Kiam Ciu.

"Mengapa kau marah padaku Wie moay ?"

Tanya Kiam Ciu.

"Aku tidak marah padamu, tetapi aku... aku... oh...."

Jawab gadis itu dan tampak bingung sekali.

Cit Sio Wie menarik tangan Tong Kiam Ciu untuk diajaknya masuk dan menemui ibunya didalam.

Tetapi belum lagi mereka melangkah tiba-tiba terdengar ibu Cit Sio Wie membentak.

"Tong Kiam Ciu! Aku harapkan kau lekas menyingkir dari hadapanku!"

"Tidak! Jangan !"

Seru Cit Sio Wie.

"lbu, mengapa ibu begitu kejam menghancurkan hati anakmu? Kau telah mengatakan bahwa aku bebas untuk menentukan perjodohanku sendiri, tetapi sekarang kenyataannya kau menghalangi hubunganku dengan Ciu Ko."

Seru gadis itu selanjutnya dengan suara yang rawan kedengarannya.

"Diam kau atau pemuda itu kuhancurkan kepalanya !"

Bentak ibunya.

Tong Kiam Ciu sebenarnya merasa tersinggung perasaannya.

Tetapi karena wanita itu adalah ibu Sio Wie, sedangkan gadis itu telah banyak berjasa dan diapun telah mulai menyintainya, maka dengan menekan rasa marahnya Tong Kiam Ciu menutar tubuh akan meninggalkan tempat itu.

"Sio Wie moay...."

Hanya itu kata-kata yang terucapkan dari mulut Tong Kiam Ciu.

"Tong Kiam Ciu! Jangan tinggalkan aku!"

Seru Sio Wie dengan suara yang menyayat hati kedengarannya. Gadis itu mengejar Kiam Ciu. 11 11

"Sio Wie, sudahlah turutilah nasehat ibumu. Aku memang orang yang tidak berharga dan tidak setimpal menjadi sisihanmu......"

Jawab Tong Kiam Ciu membujuk gadis itu.

"Tidak, aku akan ikut kau!"

Kata-kata Sio Wie terucapkan dengan suara yang sangat memelas.

Dilain pihak Sio Cin dan Peng Nio menyaksikan kejadian itu dengan hati terharu dan mereka meneteskan air mata.

Maklumlah mereka sangat menyayangi Cit Sio Wie dan selalu memanjakan gadis itu, dengan demikian perasaan mereka sangat hanyut karena derita yang sedang dialami oleh Sio Wie.

"Sio Wie minggir ! Atau kalian berdua kubinasakan !"

Seru ibu Sio Wie.

"Lebih baik bunuhlah kami berdua ibu !"

Seru Sio Wie menantang ancaman ibunya.

"Sio Wie ! Sejak kapan kau berani menentang ibumu ?"

Bentak wanita itu dengan suara lantang dan matanya merah membara karena marah.

"Terserah apa yang akan ibu katakan terhadap diriku ! Aku sangat mencintai Tong Kiam Ciu dengan sepenuh hati !"

Seru Sio Wie sambil memeluk lengan pemuda itu.

Tong Kiam Ciu tampak bengong.

Dipandanginya Cit Sio Wie, kemudian memandang kearah ibunya dan kepada dua orang pembantu rumah itu.

Bimbang hatinya, karena Kiam Ciu masih mencintai Ji Tong Bwee, bayangan wajah gadis itu yang saat itu membayang terang dikelopak matanya.

Dia ragu-ragu.

"Hey Tong Kiam Ciu, apakah kau benar-benar menyukai anakku ?"

Tanya ibu Sio Wie dengan suara lantang dan nyaring.

Lama juga Tong Kiatn Cm diam dan hanya menundukkan kepala.

Tetapi dia ketika mengangkat wajahnya dan matanya bertemu pandang deagan mata ibu Sio Wie, Tong Kiam Ciu berdebar hatinya.

"Ya !"

Hanya itu jawabannya, singkat dan tegas. 11 12

"Kau juga menyintai pemuda ini Sio Wie ?"

Tanya wanita itu kepada anaknya sambil menuding kearah Tong Kiam Ciu.

Cit Sio Wte mengangguk sambil menempelkan tubuhnya kebahu Tong Kiam Ciu.

Sedangkan Tong Kiam Ciu memegang bahu gadis itu hingga keduanya tampak saling berhimpitan bahu.

"Aku melarangnya dan sama sekali menentang perjodohan ini !"

Bentak wanita itu dengan suara lantang dan marah.

"Ibu !"

Seru Sio Wie dengan suara lantang pula.

"Sio Wie kau minggir ! seru ibunya dengan suara keras membentak "Ibu mengapa ibu begitu kejam ? Aku menyintai Tong Kiam Ciu, apapun yang akau terjadi !"

Seru Sio Wie dengan suara pasti.

"Tidak! Kau harus binasa!"

Seru ibu Sio Wie sambil mengirimkan pukulan maut kearah Tong Kiam Ciu.

Tetapi Tong Kiam Ciu berhasil mengelak hingga pukulan itu meleset mengenai tempat kosong, Namun ketika wanita itu akan mengulangi perbuatannya, tiba-tiba Sio Wie telah meloncat menghalangi.

"Jangan!"

Seru gadis itu sambil membantingkan kedua tangannya.

"Sio Wie minggir!"

Seru wanita itu seraya mengayunkan tangan kanannya dan menotok urat dibahu dan leher Sio Wie. Tanpa menjerit, gadis itu lelah jatuh terduduk dengan tubuh lemas karena terkena totokan.

"Enyahlah dari depanku sebelum aku menurunkan tangan kejam padamu!"

Seru wanita itu Kepada Kiam Ciu. Tetapi Kiam Ciu tidak menggubris peringatan itu. Tong Kiam Ciu meloncat menghampiri Sio Wie dengan maksud akan menolongnya.

"Wie moay!"

Seru Kiam Ciu. Tetapi tiba-tiba terdengar suara angin pukulan menderu mendampar Kiam Ciu. 11 13

"Wut! "Kiam Ciu menangkisnya dengan lengan tangan kanan dan terlempar beberapa tombak jauhnya. Karena merasakan bahwa tidak ada artinya menghadapi wanita itu maka Kiam Ciu melompat menjauhinya dan lari meninggalkan tempat itu. Dengan hati yang gundah Tong Kiam Ciu meninggalkan tempat yang selama sebulan lebih telah banyak berkesan dan berarti dalam hidupnya. Ditempat itu dia telah mendapat perawatan dari Sio Wie, ditempat itu dia telah mendapatkan arti kasih sayang dan ditempat itu pula hatinya telah dihancurkan oleh ibu gadis yang dicintai. Namun dia harus pergi dan harus menghindarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan merugikan cita-citanya sendiri. Dia harus dapat menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Harus dapat menunaikan tugas keluarganya membalas dendam terhadap musuh besar keluarganya. Mengemban amanat suhunya. Dengan ilmu meringankan tubuh dan mengetrapkan ilmu Cin-li-piauw-hong menuruni desa Cit Wi. Maka bagaikan terbang dengan cepat sekali Tong Kiam Ciu telah meninggalkan desa Cit Wi. Beberapa saat kemudian tampaklah ibu Sio Wie juga mengejar. Tetapi belum seberapa jauh dia telah berhenti dan memperhatikan kelebatan bayangan Tong Kiam Ciu yang telah lenyap dibalik bayangan pepobonan yang gelap. Tujuan utama Tong Kiam Ciu ialah menuju ke perbatasan propinsi Yunan. mendaki pegunungan Tiam-cong-san. Dihalaukannya kepedihan hati yang memepatkan pikirannya itu. Dia telah bertekad untuk menemui seorang pertapa sakti di puncak Jit-liauw-hong. Karena dengan menemui pertapa tua itu dia akan mendapatkan suatu keterangan yang berharga. Keterangan ciri-ciri orang yang selama ini dicarinya sebagai musuh besarnya. Ketika Tong Kiam Ciu merasa badannya sangat payah maka pemuda itu lalu istirahat di bawah sebatang pohon besar dan dari lembah telah bertiup angin kencang sekali. Terasa amat dingin dan tiupan angin itu begitu kencang bagaikan menyayat kulit wajah Tong Kiam Ciu. 11 14 Tubuh Tong Kiam Ciu menggigil karena dingin, digosok-gosokannya sepasang tapak tangannya untuk menimbulkan rasa hangat. Seolah-olah tangannya menjadi beku karena kedinginan. Ketika dia telah menggosokkan kedua tapak tangannya itu terasalah kebekuan itu menjadi hilang dan hangat perasaannya. Tiba-tiba Kiam Ciu dikejutkan dengan suara gemerisiknya daun terpijak. Maka Kiam Ciu memasang kewaspadaannya dan berdiri untuk menghadapi segala kemungkinan. Suara gemerisik itu bertambah dekat dan Kiam Ciu telah bertambah waspada. Ketika suara itu telah dekat benar, maka terasalah suara angin menerpanya. Kiam Ciu telah siap siaga menghadapi serangan. Tetapi ketika dia menyaksikan kelebatan sebuah bayangan lewat samping tubuhnya, tetapi bayangan itu tidak menyerangnya. Bahkan menegurnya dengan suara lantang dan ramah sekali "Tong Siauwhiap. Aku khawatir kalau tidak dapat menyusulmu!"

Seru sosok tubuh itu yang tiada lain adalah Sio Cin. Walaupun Tong Kiam Ciu dalam keadaan kalut, tetapi ketika berhadapan dengan Sio Cin tersenyum juga.

"Oh, kau, kukira....!"

Seru Tong Kiam Ciu.

"Tons siauwhiap, aku telah mengikuti jejakmu untuk menyampaikan biji Cu-sik padamu!"

Seru Sio Cin sambil mengangsurkan sebuah bungkusan kecil kepada pemuda itu.

"Biji Cu-sik? Dari mana kau mendapatkannya ?"

Tanya Kiam Ciu.

"Dari Cit siocia"

Jawab Sio Cin.

"Cit Sio Wie? Bagaimana keadaannya sekarang?"

Tanya Kiam Ciu dengan suara gugup dan tangannya menerima bungkusan biji Cu-sik.

"Ibunya memang kejam, Cit siocia dalam keadaan tertotok lumpuh dan ketika dia teringat apa yang kau butuhkan untuk mendapatkan kitab Pek-seng-ki-su maka Cit siocia lalu menyuruhku untuk mengambil biji Cu-sik itu dan untuk diserahkan kepadamu"

Sambung Sio Cin sambil menunduk dan wajah dayang setia itu tampak sayu. 11 15

"Lalu bagaimana sekarang keadaan Cit siocia?"

Tanya Kiam Ciu.

"Entahlah, aku tidak yakin benar keadaannya, Ketika kuterima biji Cu-sik maka aku segera pergi mengejarmu"

Jawab Sio Cin dan tiba-tiba saja wajah dayang setia itu tampak gelisah.

"Mengapa kau tampaknya begitu gelisah"

Kata Kiam Ciu.

"Lekaslah kau menyingkir, dan pergilah ke kota Pek-seng untuk menolong cucu Gan Hua Liong!"

Berkata gadis pelayan itu.

"Ya, tetapi... Cit Sio Wie bagaimana keadaannya? Apakah pantas aku harus pergi pada saat dia dalam keadaan menderita?"

Sambung Tong Kiam Ciu tampak bimbang.

"Sudahlah! Kau pergi dulu, Cit siocia serahkan saja kepada kami! Kau harus menunaikan tugasmu dulu!"

Seru Sio Cin menganjurkan kepada Tong Kiam Ciu.

Tanpa berpikir panjang lagi Tong Kiam Ciu telah memutar tubuh dan bermaksud untuk pergi meninggalkan Sio Cin.

Tetapi tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang membentak Sio Cin.

"Sio Cin pantas kelakuanmu ya ?!"

Terdengar suara menegur pelayan setia itu.

Baik Sio Cin maupun Tong Kiam Ciu telah mengenal dengan baik suara itu yang tiada lain adalah suara ibu Cit Sio Wie.

Saat itu wajah Sio Cin tampak memucat.

Pelayan itu telah dapat memastikan bahwa umurnya tidak panjang lagi.

Dia akan binasa ditangan ibu Sio Wie.

Karena memang wanita itu bersifat kejam sekali.

"Sio Cin apa yang kau perbuat ?"

Bentak wanita itu dengan suara lantang dan matanya bersinar tajam dan membara.

Namun Sio Cin membisu, gadis pelayan itu menundukkan mukanya tanpa memberikan jawaban.

Karena menurut pikiran gadis pelayan itu dijawab ataupun tidak akibatnya sama saja.

Dia harus mati!

Itu sudah menjadi peraturan dan Sio Cin paham benar dengan watak ibu Sio Wie.

"Tong Kiam Ciu, insyapilah bahwa kedatanganmu dikeluargaku kau membawa bencana maka tak ada jalan lain bagiku kecuali hanya untuk 11 16 membinasakan dirimu dan tanpa ampun lagi"

Seru wanita itu dengan suara lantang dan menuding-nuding kemuka Tong Kiam Ciu.

Wajah Tong Kiam Ciu menjadi panas, kini dia merasa dirinya terlalu mendapat hinaan dari wanita itu, tanpa mengingat bahwa wanita itu adalah ibu Sio Wie maka Tong Kiam Ciu telah naik pitam.

Sikap berdirinya telah berubah dan sepasang tangannya telah tergenggam disisi tubuh dan matanya bersinar.

Dengan tatapan pasti Tong Kiam Ciu memandang kearah ibu Sio Wie.

"Aku dan bibi belum pernah bertemu tiada ikatan permusuhan diantara kita, tetap mengapa bibi begitu berhasrat untuk membunuhku dan tampaknya sangat benci ?"

Tanya Tong Kiam Ciu dengan kata-kata yang masih sopan dan teratur.

"Karena aku ingin membinasakanmu!"

Bentak wanita itu masih menyembunyikan alasan-alasannya yang tepat.

"Kalau memang aku mempunyai kesalahan. maka aku rela dibunuh tanpa melawan, tetapi jelaskanlah dulu kesalahan yang manakah ?"

Desak Tong Ciu.

"Baiklah, kau dengar baik-baik dan bersiap-siaplah untuk kukirim ke akherat!"

Seru wanita itu dengan berkecak pinggang dan mata bercahaya memandang Tong Kiam Ciu.

Baik Tong Kiam Ciu maupun Sio Cin terdiam.

Bahkan Sio Cin tampak sangat ngeri menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpa diri Tong Ktam Ciu.

Untuk membela Tong Kiam Ciu diapun rela berkorban demi keselamatan orang budiman itu.

Segala sepak terjang dan kebaikan Tong Kiam Ciu telah banyak disaksikan dan didengar oleh Sio Cin.

Gadis pelayan itu menaruh hormat kepada pendekar muda itu bukan saja karena Tong Kiam Ciu adalah kekasih majikannya tetapi karena keluhuran budi pemuda itulah maka Sio Cin rela berkorban pula demi keselamatan Tong Kiam Ciu.

Maka seandainya sampai terjadi sesuatu akan membantunya.

"Sebenarnya sejak aku mendengar namamu, aku telah menyelidikinya hingga sampai dimana kehebatanmu. Kau sebenarnya adalah orang yang harus kubinasakan karena kau...."

Belum selesai kata-katanya itu tiba-tiba terdengar suara orang mendekati dan wanita itu menghentikan kata-katanva.

11 17 Perhatian wanita itu beralih kepada orangyang baru datang.

Beberapa saat kemudian telah tampak dua bayangan melesat dan tahu-tahu yang seorang telah menubruk Tong Kiam Ciu.

"Ciu Ko bawalah aku serta !"

Serunya dan ternyata yang menubruk Tong Kiarn Ciu itu tiada lain adalah Cit Sio Wie.

Ketika Peng Nio atau ibu pengasuh Cit Sio Wie menyaksikan peristiwa itu hatinya merasa sedih dan tercekam.

Wanita pengasuh itu merasa terharu atas peristiwa yang menimpa diri Cit Sio Wie.

Memang Peng Nio bukanlah ibu kandung gadis itu, tetapi sejak kecil dia telah mengasuhnya dengan penuh kasih sayang maka serasa bagai anak kandungnya.

Cit Sio Wie selalu dimanjakan dan tak pernah dikecewakannya.

"Peng Nio ! Apa ini ?"

Seru ibu Sio Wie dengan mata melotot menyaksikan Cit Sio Wie didalam dekapan Tong Kiam Ciu.

"Biarlah puterimu pergi bersama pemuda yang dicintainya, kalau memang kau tidak ingin melihatnya dia berbahagia !"

Jawab Peng Nio.

Peng Nto adalah wanita yang berparas cantik juga.

Dia telah bertahun-tahun mengikuti ibu Cit Sio Wie karena mengasuh Cit Sio Wie yang masih bayi, masih menyusui.

Sedangkan ibu Cit Sio Wie selalu bepergian dan pulangnya dapat dikatakan hanya tiap tahun baru saja, maka Peng Nio merasakan seolah-olah Cit Sio Wie sebagai puteri kandungnya.

Segala penderitaannya adalah penderitaan ibu pengasuh itu juga.

Karena kasih sayangnya yang begitu mendalam.

"Peng Nio kau tahu apa ? Ini adalah urusanku !"

Bentak wanita itu dengan marah.

"Benar Cit Sio Wie adalah puterimu, kau yang melahirkannya, tetapi siapa yang mengasuhnya hingga sebesar ini ? Aku yang bersusah payah dalam keadaan apapun, kau tidak mengetahuinya dan tidak pernah membelainya. Kini kau akan menimpakan kekejaman padanya! Biarlah dia mengenyam kebahagian, hidup berbahagia bersama kekasihnya dan kita orang merestuinya"

Berkata Peng Nio. 11 18

"Diam kau!!"

Sambil membentak ibu Cit Sio Wie meloncat menerjang Tong Kiaui Ciu. Namun Tong Kiam Ciu telah waspada pemuda itu dengan mendorongkan Cit Sio Wie kesamping dapat terhindar dari terkaman ibu Sio Wie.

"Tong siauwhiap bawalah Cit Sio Wie pergi menyingkir!"

Seru wanita pengasuh itu sambil melemparkan buntalan kearah Tong Kiam Ciu.

"Apa?"

Bentak ibu Cit Sio Wie sambil mengirimkan hantaman kearah Kiam Ciu.

Untung Tong Kiam Ciu sambil melemparkan tubuh menyandak bungkusan dan sekaligus menghindari serangan ibu Sio Wie.

Kemudian bersiap-siap untuk menghadapi berikutnya.

"Tong siauwhiap lekaslah pergi jangan layani!"

Seru Peng Nio.

Begitu pula Cit Sio Wie tampak meraih tangan kanan kekasihnya dan mengapitnya diajak pergi.

Namun pemuda itu masih ragu-ragu dan memandang kearah ibu Cit Sio Wie.

Karena dia masih merasa heran mengapa ibu Cit Sio Wie begitu membencinya bahkan hingga rela bertindak kejam terhadap puterinya sendiri.

Puteri tunggal yang selalu dimanjakannya itu.

"Ibu mengapa kau terlalu kejam? Baiklah kalau memang ibu telah merelakan"

Seru gadis itu dengan suara penuh haru.

"Cit Sio Wie. kalau kau nekad aku rela kehilangan anak !"

Seru wanita itu saking marahnya.

Sebenarnya Tong Kiam Ciu merasa bingung menghadapi kenyataan itu.

Dia tidak ingin kekasihnya menjadi seorang durhaka.

Maka sekali lagi Tong Kiam Ciu membujuk kekasihnya untuk kembali kepada orang tuanya.

"Wie moay, baiklah kau turutkan nasehat ibumu, mungkin kita memang tidak berjodoh ....."

Bujuk Tong Kiam Ciu.

"Tidak ! Aku lebih baik mati daripada harus berpisah dengan Ciu-ko !"

Seru Cit Sio Wie dengan suara lantang dan pasti.

"Gara2 kau!"

Seru ibu Cit Sio Wie berbareng kata-katanya itu dia telah mengirimkan hantaman kearah Tong Kiam Ciu.

11 19 Sekali lagi Tong Kiam Ciu berhasil menghindar.

Namun kini tampaklah kemarahan wanita itu telah memuncak.

Dari sinar matanya telah dapat diterka, karena sorot matanya tajam kearah Tong Kiam Ciu.

Ibu pengasuh Cit Sio Wie waspada dan tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh ibu Cit Sio Wie itu.

Maka wanita pengasuh itu telah siap-siap pula untuk menjaga segala kemungkinan.

Saat itu dengan gerakan cepat ibu Cit Sio Wie telah meloncat dan mengirimkan pukulan maut dengan ilmu Hian-hiong-kong-ki melesat sangat cepat dan berhawa panas.

"Tong Siauwhiap menyingkir! Aduh."

Terdengar seruan lantang dan pengasuh setia itu dan suaranya tertahan dengan keluhan. Kemudian tampaklah wanita pengasuh itu terjatuh dan tidak berdaya dan memuntahkan darah.

"Nai Ma!"

Seru Cit Sio Wie akan menubruk tubuh wanita yang terkapar mandi darah itu, namun Kiam Ciu menariknya.

"Kau mau pergi kemana ?!"

Seru ibu Cit Sio Wie dan bermaksud akan mengirimkan jotosan lagi kearah Tong Kiam Ciu.

Namun ketika wanita itu meloncat tiba-tiba Sio Cin telah meloncat pula untuk menerkam dan menahan ibu Cit Sio Wie.

"Lekaslah kalian lari dan menyingkir jauh dari tempat ini!"

Seru pelayan setia yang selalu mengikuti kemana saja Cit Sio Wie pergi.

Sio Cin telah dapat menahan ibu Sio Wie sampai beberapa saat lamanya dengan jalan memeluk kaki wanita itu.

Sedangkan Tong Kiam Ciu serta Cit Sio Wie telah membulatkan tekad untuk meninggalkan tempat itu.

Walaupun hatinya merasa sangat sedih dan ngeri menyaksikan peristiwa itu.

namun demi untuk keselamatan dan karena Tong Kiam Ciu masih harus menyelesaikan banyak tugas maka dengan menyingkirkan segala perasaan itu mereka meninggalkan lereng gunung dekat desa Cit Wie itu.

Mereka berdua telah meninggalkan kedua orang yang seiia.

Dua orang yang telah mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya kepada Cit Sio Wie.

Mereka telah memanjakan dan telah memberikan segala kasih sayang kepada Cit Sio Wie.

Selama bertahun-tahun telah bersama.

Betapa berat rasa hari Cit 11 20 Sio Wie sebenarnya untuk berpisah dan meninggalkan begitu saja kedua orang yang telah banyak pengorbanan itu.

Tetapi karena memang cintanya terhadap Tong Kiam Ciu begitu dalam, akhirnya semua sama lalunya bahkan ibunya sendiri dia telah rela untuk meninggalkannya.

"Mulai hari ini aku bukan putri ibu lagi!", seru Cit Sio Wie sambil memandang ibunya yang masih kalap dan kakinya masih dipeluk oleh Sio Cin dengan erat. Sio Cin sebenarnya berilmu sangat lihay setarap dengan ilmu Cit Sio Wie. Maka tidaklah mengherankan kalau untuk sementara dia dapat menahan ibu Sio Wie yang kejam dan berilmu lihay. Kesempatan itu telah dipergunakan oleh Tong Kiam Cin untuk menarik pergi kekasihnya. Kini tanpa ragu-ragu lagi Tong Kiam Ciu membawa Cit Sio Wie berlalu dari desa Cit Wie. Karena Tong Kiam Ciu telah menyadari betapa besarnya cinta Cit Sio Wie terhadap dirinya. Dengan mengembangkan ilmu Cin-li-piauw-hong. Tong Kiam Ciu dan Cit Sio Wie telah kabur dari hadapan wanita kejam itu. Mereka tanpa memperdulikan lagi apa yang telah terjadi kemudian. Begitu pula telah memepatkan hati untuk melupakan Peng Nio dan Sio Cin. kenapa mereka menghendaki pengorbanan mereka untuk Tong Kiam Ciu dan Cit Sio Wie agar mereka tetap dapat mengurus perjodohannya. Sampai beberapa lamanya Tong Kiam Ciu dan Sio Wie berlari-lari menjauhi desa Cit Wie menuju kepegunungan Tiam-cong-san. Dengan tiada menghiraukan rasa lelah dan dahaga. Mereka berusaha untuk lari sejauh-jauhnya. Suatu keanehan pula, ternyata ibu Sio Wie tidak tampak mengejarnya. Mungkinkah telah dapat ditundukan oleh Sio Cin? Tong Kiam Ciu memandang wajah Cit Sio Wie. Namun gadis itu tersenyum dan belum memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia merasa lelah. Maka Tong Kiam Ciu menggamit tangan gadis itu dan mereka berdua bagaikan sepasang burung Hong yang sedang beterbangan dan memadu asmara di pegunungan yang berhawa dingin itu. Mereka beterbangan dan 11 21 melayang-layang dengan pesat sekali. Hanya kadang-kadang mereka berjalan biasa dan bergandengan tangan. Begitulah selama setengah bulan mereka terus berjalan mengelilingi pegunungan Tiam-cong-san yang berpuncak sebanyak lima belas buah dan tinggi-tinggi itu. Mereka tanpa lelah-lelahnya mencari pertapa tua yang bergelar Kim-leng-ji-su. Untuk mencari puncak Jit-liauw-hong ternyata tidak mudah. Ternyata selama beberapa hari mereka mengelilingi dan mendaki puncak-puncak yang terdapat disitu belum juga menemukan orang yang dicarinya itu.

"Adik Cit Sio Wie, selama setengah bulan kita berjalan terus menerus tanpa lelah tetapi mana puncak Jit-liauw-hong yang didiami oleh Kim-leng-ji-su ?"

Kata-kata itu terucapkan oleh Kiam Ciu ketika mereka berdua sedang beristirahat.

Setelah mereka merasa lelah dan beristirahat dibawah sebatang pohon besar yang rindang.

Dari Pauw-hoknya telah dikeluarkan bekal makanan kering.

Mereka makan sedikit dan minum secukupnya, terasalah pulih kembali tenaganya.

Saat itu siang yang sunyi, musim dingin dan angin deras berhembus dari lembah.

Walaupun matahari tidak tampak namun terang tampaknya.

"Ya, kita harus sabar tetapi aku yakin bahwa kita tidak lama lagi pasti dapat menemukan tempat yang Ciu Ko cari itu"

Bisik Cit Sio Wie dengan senyum.

"Semoga, tetapi apakah kau tidak kesal dan menyesal bersamaku. Kau terlalu banyak menderita karenaku Wie moay"

Bisik Tong Kiam Ciu dengan suara yang dalam.

Dipandanginya wajah Cit Sio Wie, hati Tong Kiam Ciu merasa haru menyaksikan keadaan gadis yang sangat mencintai dirinya itu.

Betapapun keras hati Kiam Ciu, namun menyaksikan ketulusan dan pengorbanan Cit Sio Wie yang telah melepaskan ikatan keluarga ibunya demi cintanya kepada Tong Kiam Ciu.

"Hemmm, maafkan aku Wio moay". bisik. Tong Kiam Ciu.

"Ciu Ko, aku merasa bahagia kalau kau mencintaiku dengan benar-benar"

Tukas Cit Sio Wie.

"Kau banyak menderita karenaku"

Bisik Tong Kiam Ciu.

"Akupun bahagia karenamu Ciu Ko"

Bisik Cit Sio Wie dan tersenyum malu. 11 22 Tiba-tiba telinga Tong Kiam Ciu yang tajam telah mendengar sesuatu suara yang mencurigakan.

"Kau dengar suara kelintingan Wie moay?"

Bisik Tong Kiam Ciu.

"kukira bunyi kelintingan mas!"

Bisik Tong Kiam Ciu.

"Kalan begitu kita tidak salah lagi, disinilah tinggalnya Kim Leng ji-su tidak jauh lagi !"

Seru Tong Kiam Ciu dan tampaklah kegembiraan yang membayang diwajah Kiam Ciu.

"Ya!"

Seru Cit Sio Wie.

"Mari kita cari dari mana asal suara itu! "ajak Kiam Ciu seraya berdiri dan tangannya menggamit tangan kekasihnya.

"Hey siapapun yang berada disana yang membawa kelintingan tunggu! "seru Cit Sio Wie sambil mengerahkan ilmu Pan-yok-slm-im. Setelah selesai dengan kata-katanya itu mereka segera mengembangkan ilmu meringankan tubuh dan lari cepat menuju kearah tempat dimana suara kelintingan itu berasal. Beberapa saat setelah mereka berlari-lari itu terlihatlah disuatu tanah datar dan disekitarnya batu-batu besar menonjol. Batu-batu cadas putih dan gersang itu begitu tinggi dan besar. Dua orang kakek yang masing-masing mengenakan jubah putih. Seorang berambut putih dan berjanggut putih pula. Rambutnya digelung diatas kepala, sedangkan yang seorang lagi seorang kakek dengan tubuh tegap tetapi kepalanya licin tandas dan tidak berjenggot. Ditangannya menggenggam kelintingan yang berkilau-kilauan tampaknya. Kakek yang bergelung telah melancarkan sebuah serangan dengan meloncat dan mengirimkan tendangan tumit kearah lawannya itu. Lawan kakek itu telah terlonjak terpental dan jatuh. Tangannya yang menggenggam kelinting emas diangkat tetapi jatuh terduduk lagi. Dari mulutnya memuntahkan darah segar.

"Keparat kau !"

Hanya itu yang diucapkan oleh si kakek Botak. 11 23

"Ha ha-ba kini kau telah tidak berdaya. Sebentar lagi kau akan binasa, Kim-leng-ji-su, Karena kau yang kalah maka kau harus meninggalkan tempat ini dengan segera !"

Bentak kakek berambut putih dan tertawa sinis.

"Cepat-cepat bunuhlah aku !"

Seru si kakek botak dengan suara lantang pula.

"Untuk membunuhmu semudah membalikkan tangan, tetap biarlah kau merasakan bagaimana orang menderita menjelang kematian. Sekarang aku akan pergi dan besok pagi aku akan datang kesini untuk mengubur mayatmu...!"

Seru kakek berambut putih.

Tahu-tahu tubuh kakek itu telah melesat pergi bagaikan menghilang karena cepatnya bergerak dan ilmu ringankan tubuh yang sudah sempurna.

Sedangkan Kim-leng-ji-su hanya memandangnya dengan napas terengah-engah dan ingin berusaha berdiri tetapi tubuhnya terasa telah begitu lemah hingga dia terjatuh lagi dan memuntahkan darah kental serta napasnya sesak.

Tong Kiam Ciu dan Cit Sio Wie meloncat menghampiri kakek botak yang tengah berjuang untuk mempertahankan hidupnya itu.

Tetapi karena dia adalah seorang sakti yang telah puluhan tahun menjagoi kalangun dunia persilatan maka tidaklah tampak dengan jelas penderitaannya itu.

"Apakah locianpwee bernama Kim-leng-ji-su?!"

Tanya Kiam Ciu sambil berlutut si samping tubuh kakek botak.

Kakek yang tengah menderita luka dalam yang sangat parah itu memandang kearah Tong Kiam Ciu kemudian memperhatikan Cit Sio Wie.

Dari bibirnya tampuk sekilas senyuman.

"Kau siapa dan dari siapa kau mengenal namaku?"

Tanya kakek itu.

"Namaku Tong Kiam Ciu. aku mengenal locianpwee dari Shin Kai Lolo"

Jawab Tong Kiam Ciu.

Kakek yang masih menggeletak ditanah berbatu-batu itu terkatup bibirnya ketika mendengar nama Shin Kai Lolo itu.

Dipandanginya wajah Tong Kiam Ciu.

Kemudian kakek menganggukikan kepala, sikutnya menahan tubuh yang masih menggeletak.

"Oh jadi dia masih hidup?"

Tanya Kim-leng-jie-su. 11 24

"Ya"

Sambung Tong Kiam Ciu.

"Bagaimana keadaannya sekarang?"

Tanya kakek botak bersemangat sekali tampaknya.

"Dia titip salam buat locianpwee"

Sambung Tong Kiam Ciu sambil tersenyum memegangi bahu kakek itu untuk membantu mendudukkannya. Setelah sejenak kakek itu bersemedhi dan mengatur peredaran darah. maka dia kembali berbicara .

"Sebenarnya ada keperluan apa siauwhiap menemuiku? tanya kakek Kim-leng-ji-su dengan suaranya yang sangat dalam dan berat.

"Aku mendapat keteiangan dari Shin Kai Lolo tentang seseorang tokoh persilatan yang maha lihay, teiapi ada hubungannya dengan locianpwee"

Sambung Tong Kiam Ciu menjelaskan.

"Maksudmu?"

Kakek itu tidak paham dengan kata-kata Tong Kiam Ciu.

"Aku mempunyai musuh besar yang telah membinasakan seluruh keluargaku, ayah dan ibu serta saudara-saudaraku tetapi aku tidak mendapat keterangan yang jelas dari suhuku siapakah sebenarnya orang itu. Aku hanya mengetahui namanya saja ialah Ciam Gwat, keterangan lainnya aku tidak paham. Menurut Shin Kai Lolo, Locianpwee mengetahui"

Kata-kata Kiam Ciu diucapkan dengan jelas disamping Kim-leng-ji-su.

"Ciam Gwat? "sambung kakek itu tampak terperanjat.

"Ya"

Jawab Tong Kiam Ciu singkat.

"Oh, kalau tentang dia......"

Terdiam dan memandang kearah Cit Sio Wie, kemudian ia memandang lagi kepada Tong Kiam Ciu "Katakanlah padaku siapakah sebenarnya Ciam Gwat itu?

Wie moay tidak apa-apa mendengarnya.

kita akan segera mengikat tali perkawinan setelah tugasku selesai nanti!"

Seru Tong Kiam Ciu menjelaskan dan mendesak kakek tua itu untuk memberikan keterangan.

"Sebenarnya Shin Kai Lolo juga mengetahui benar tentang Ciam Gwat. namun dia takut kalau menyinggung perasaan orang, memang dia lalu menyuruhmu untuk menanyakan hal itu kepadaku"

Sambung Kim-leng-ji-su menjelaskan. 11 25

"Lekaslah katakan siapa sebenarnya Ciam Gwat itu!"

Tanya Kium Ciu tidak sabar.

Sesaat suasana menjadi sepi.

Tong Kam Ciu menantikan keterangan Kim-leng-ji-su dengan hati berdebar.

Baca Juga: Petualang Asmara 1

Baca Juga: Dewi Maut 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert