Ceritasilat Novel Online

Pedang Angin Berbisik 12

Eps 12 Pedang Angin Berbisik - Han Meng

Baca online Pedang Angin Berbisik - Han Meng

Cersil Pedang Angin Berbisik - Han Meng.

"Nah itulah yang ingin kami sampaikan pada Ketua Ding Tao, masalah ini sudah sempat aku bicarakan pula dengan Ketua Bai Chungho, namun belum ada waktu yang terasa tepat untuk menyampaikannya pada Ketua Ding Tao. Lagipula dengan terpilihnya Ketua Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu, juga dengan kekalahan sepasang iblis tua itu, ada kalanya kupikir masalah ini tidaklah sebesar yang kutakutkan.", ujar Hua Ng Lau menutup ceritanya. Alis Ma Songquan berkerut-kerut, jarinya membelai-belai pipi sendiri yang sudah mulai ditumbuhi jenggot kasar.

"Hmm... masalah ini tidak bisa dibilang kecil, sejak awal kami sudah merasa curiga dengan Perguruan Kunlun, memang tadinya kami berpikir mereka semua adalah satu komplotan besar. Tapi bisa juga, orang-orang ini bergerak sendiri-sendiri dengan ambisinya masing-masing. Partai Pedang Keadilan tumbuh terlalu cepat dan membangkitkan pikiran jahat dari orang-orang yang berambisi besar."

"Benar, itulah yang awalnya aku khawatirkan, namun ternyata di kaki Gunung Songshan, meskipun terjadi kejutan, tapi tidaklah sebesar yang kita takutkan.", jawab Hua Ng Lau.

"Ya..., tapi bisa jadi api itu tidak jadi membara, justru karena kekalahan Thai Wang Gui yang di luar rencana. Seandainya Thai Wang Gui menang, dan kurasa sebagian besar orang berhitung demikian, tentu akan berbeda pula kejadiannya.", ujar Ma Songquan.

"Apakah menurut Saudara Ma, ada kemungkinan memang benar pihak Kunlun bekerja sama dengan sepasang iblis tua itu?", tanya Hua Ng Lau.

"Kenapa tidak? Kalau menurut Tabib Hua sendiri bagaimana?", Ma Songquan bertanya balik.

"Bisa jadi..., yang ada mungkin bukan satu kumpulan dengan satu pimpinan, tapi beberapa kekuatan yang bersekutu untuk menguasai dunia persilatan. Sepasang iblis tua itu bagian yang terlihat, sementara Kunlun dan mungkin beberapa perguruan lurus lainnya bekerja di belakang. Seandainya Thai Wang Gui menang, mereka semua akan munculke permukaan, namun karena Thai Wang Gui kalah, mereka pun urung untuk maju ke depan.", jawab Hua Ng Lau.

"Benar..., kurasa juga begitu, Shao Wang Gui memang memberikan daftar panjang dari para pendukungnya. Namun tidak ada satupun perguruan atau perkumpulan besar dalam daftar itu. Bukan berarti tidak ada dari perguruan atau perkumpulan ternama yang muncul, tapi kukira kelicikan Shao Wang Gui membuat dia menyembunyikan nama-nama besar yang bekerja bersamanya.", kata Ma Songquan.

"Ya... iblis kecil itu, tentu tidak ingin mencari perkara dengan orang penting, sementara dirinya sudah menjadi cacat. Lebih baik mengumpankan beberapa ikan kecil untuk menunjukkan kerja sama dan mencari muka. Sementara rahasia kelam orang-orang ternama dia simpan, selain mencari balas budi, juga bisa digunakan sebagai modal tawar menawar di kemudian hari.", angguk Hua Ng Lau menyetujui pemikiran Ma Songquan.

"Hari ini juga aku akan mengirim berita ini ke Saudara Chou Liang yang sekarang menjalankan segala urusan perkumpulan selama kami pergi. Biarlah Ketua Ding Tao memiliki waktu untuk dirinya sendiri selama beberapa hari ini. Tabib Hua sungguh banyak berjasa bagi kami, mewakili sekalian pengikut Partai Pedang Keadilan, aku ucapkan terima kasih.", ujar Ma Songquan sambil merangkap tangan di depan dada, menunjukkan rasa terima kasihnya pada Hua Ng Lau. Hua Ng Lau pun membalas penghormatan itu.

"Ah ... tidak perlu, bagaimana pun juga, perkumpulan kalian memiliki hubungan yang erat dengan anak angkat dan murid tunggalku. Mana mungkin kami berdiam diri jika melihat sesuatu mengancam perkumpulan kalian."

"Hahaha, kami sangat beruntung bisa memiliki sekutu seperti Tabib Hua.", balas Ma Songquan sambil tertawa.

"Ah, lihat itu, Tang Xiong sudah datang, kukira perahu untuk kita tentu sudah siap.", ujar Ma Songquan saat melihat Tang Xiong berjalan mendekat.

"Baguslah, aku sudah tua, tidak begitu lagi menikmati perjalanan panjang", ujar Hua Ng Lau sambil tertawa pelan. Chu Linhe dan Hua Ying Ying yang ada di depan, bertemu lebih dulu dengan Tang Xiong, setelah bercakap-cakap beberapa saat, mereka bertiga pergi menemui Ma Songquan dan Hua Ng Lau. Barulah kemudian mereka berlima pergi ke kedai tempat Ding Tao dan yang lain menunggu. Bersama-sama mereka pergi ke tempat perahu yang disewa Tang Xiong disandarkan. Perahu itu cukup besar, dengan ruang untuk beristirahat. Tidak aneh karena pemilik perahu ini adalah langganan lama keluarga Huang, sudah tentu bukan perahu biasa. Saat pergi ke kaki Gunung Songshan Ding Tao dan pimpinan Partai Pedang Keadilan yang lain juga menggunakan perahu yang sama. Itu sebabnya, sedikit banyak Ding Tao sudah kenal pula dengan pemilik perahu. Mereka pun bercakap-cakap beberapa saat, sebelum menaiki perahu itu. Ma Songquan yang ingin secepatnya mengirimkan kabar pada Chou Liang, berpamitan pada Ding Tao.

"Ketua Ding Tao, kalian jalanlah terlebih dahulu. Aku dan Chu Linhe ada sedikit urusan di sini, besok pagi tentu kami sudah akan menyusul kalian semua."

"Apakah ada masalah penting?", tanya Ding Tao perhatian.

"Tidak ada, hanya masalah kecil saja, ada beberapa pesan yang ingin kukirimkan pada saudara-saudara yang ada di pusat. Selain juga memberitahukan tentang perjalanan kita, supaya mereka tidak usah merasa khawatir", jawab Ma Songquan.

"Oh begitu, tentu saja, itu pemikiran yang baik. Mengapa juga aku sampai tidak berpikir ke sana.", jawab Ding Tao sambil menepuk jidatnya.

"Hahaha, Ketua Ding Tao tidak perlu memikirkan hal-hal yang kecil seperti ini. Sesekali nikmati saja perjalanan dan pemandangan yang ada. Setelah menjadi Wulin Mengzhu, saat-saat seperti ini tentu akan sulit ditemukan lagi.", ujar Ma Songquan sambil tertawa lebar.

"Hahaha, ya aku beruntung memiliki banyak sahabat. Baiklah, kami akan berangkat terlebih dahulu.", ujar Ding Tao. Ma Songquan dan Chu Linhe pun, memandangi orang yang mereka percayai bersama sahabat-sahabat mereka, menaiki perahu dan menyeberang. Cukup lama mereka berdiri di tepian sungai, memandangi perahu yang bergerak perlahan ke tengah, sembari mengikuti aliran sungai. Ding Tao dan rombongannya tidak akan menyeberang di tempat itu, melainkan beberapa li jauhnya ke hilir, di jalan besar yang lebih dekat menuju ke Wuling.

"Kakak..., entah mengapa perasaanku sedikit tidak enak. Apalagi setelah mendengar cerita kakak tentang penemuan Tabib Hua di Gui Yang.", ujar Chu Linhe sambil memandangi perahu yang makin lama makin jauh dan sebentar lagi tidak akan nampak dari tempat mereka berdiri.

"Hmm..., kukira tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan, sudah cukup lama kita mengamati pergerakan orang-orang Kunlun di daerah kita. Memang sedikit kecolongan di Gui Yang, tapi hal itu tidak begitu aneh, karena Gui Yang baru saja kita kuasai, waktunya pun begitu dekat dengan pemilihan Wulin Mengzhu sehingga kita tidak bisa menaruh banyak perhatian di sana. Akibatnya tidak banyak orang yang bisa dipercaya di sana.", ujar Ma Songquan sambil menepuk lengan Chu Linhe mengajaknya pergi, karena perahu yang ditumpangi Ding Tao dan yang lainnya sudah tidak nampak lagi dari tempat mereka berdiri. Sambil berjalan pergi, menuju tempat penghubung dari daerah itu ke Jiang Ling, di mana seluruh pergerakan Partai Pedang Keadilan dikoordinasikan, dengan Chou Liang sebagai pemikirnya dan Ding Tao sebagai pengambil keputusan terakhir. Beberapa puluh langkah mereka berjalan Ma Songquan masih diam, Chu Linhe juga tidak menganggunya, mereka sudah begitu saling mengenal hingga Chu Linhe tahu bahwa Ma Songquan masih memikirkan apa yang dia katakan.

"Hmm..., mungkin kau merasa demikian karena segala sesuatunya berjalan terlalu lancar.", ujar Ma Songquan tiba-tiba.

"Mungkin kakak benar..., tapi apakah kakak tidak merasa aneh, menjadi Wuling Mengzhu setelah baru saja muncul dalam dunia persilatan. Apakah mungkin memang ada yang dinamakan pilihan dari langit?", tanya Chu Linhe setelah merenungi jawaban Ma Songquan.

"Mana aku tahu..., selama ini yang kurasa langit tidak pernah bersahabat dengan kita. Setidaknya sampai kita bertemu Ding Tao. Tapi kita sudah mengikuti pemuda itu sejak awal terjunnya dia dalam dunia persilatan, menurutmu apakah ada yang aneh dengan sepak terjangnya?", Ma Songquan bertanya balik. Ganti Chu Linhe yang terdiam dan lama merenungi pertanyaan Ma Songquan itu. Apakah ada yang aneh dalam diri Ding Tao? Kepribadiannya yang tulus dan tidak berambisi, bisa dikatakan aneh. Lebih aneh lagi jika seseorang yang sedemikian tidak berambisi, justru sekarang menjadi pimpinan puncak dari seluruh tokoh persilatan di dalam perbatasan. Apakah mungkin Ding Tao adalah seorang cerdik, licin dan ambisius, namun begitu pandai membungkus ambisinya, sedemikian rupa sehingga mereka semua menjadi buta matanya, sehingga puluhan bahkan ratusan tokoh persilatan yang kenyang makan asam dan garamnya kehidupan ditipu mentah-mentah olehnya? "Apa menurut kakak, kita sudah salah melihat orang?", tanya Chu Linhe pada Ma Songquan. Kali ini jawaban Ma Songquan datang dengan cepat, sebelum kaki kanan melangkah untuk kedua kalinya dia sudah menjawab.

"Tidak... sekali-kali aku tidak salah mengenal orang. Kalau aku salah menilai orang, dengan dua tanganku sendiri akan kubunuh orang itu dan kubutakan dua mataku yang sia-sia melihat dunia selama puluhan tahun lamanya."

Chu Linhe pun jadi terdiam, dalam hati dia maklum, betapa runyam keadaan mereka berdua sebelum bertemu Ding Tao.

Bisa dikatakan, setiap hari yang ada hanya kegelapan, jika kemudian Ding Tao yang dianggap sebagai secercah cahaya, hanyalah sebuah kegelapan, betapa gelapnya kegelapan tempat mereka hidup saat ini.

Dari jawaban kekasihnya itu, dia bisa merasakan, rasa percaya yang mutlak bahkan hampir-hampir putus asa pada sosok Ding Tao.

Sebuah kengerian menyelip dalam hatinya, bagaimana jika benar semua yang ditampilkan Ding Tao hanyalah kepalsuan saja?

Masih bisakah mereka berdua bertahan hidup dalam keadaan itu?

Chu Linhe selamanya satu perasaan dengan Ma Songquan, kali inipun dia bisa mengerti benar apa yang dikatakan Ma Songquan barusan.

Apakah memang sudah kodrat wanita untuk mencintai dan mendukung pengejaran hidup seorang laki-laki?

Dan sudah kodrat laki-laki untuk mengejar kesempurnaan hidup?

Jika benar Ding Tao hanyalah sebuah kepalsuan, secercah cahaya yang nyatanya adalah kegelapan, Chu Linhe bertekad untuk membantu Ma songquan membunuhnya dan kemudian hidup sebagai satu-satunya cahaya dalam pencarian Ma Songquan, menjadi pengganti sepasang bola mata Ma Songquan, yang dia yakin benar akan dicukil keluar oleh Ma Songquan sendiri tanpa penyesalan, diiringi lolongan kepedihan dari dasar hatinya yang terdalam.

Dua hari kemudian, berita yang dikirimkan Ma Songquan sampai pula ke Jiang Ling.

Chou Liang yang membaca pesan dari Ma Songquan, berkerut alis membaca surat itu berulang-ulang, seakan khawatir ada satu atau dua kata yang terlewatkan.

Sesungguhnyalah demikian, Chou Liang yang mengawasi jaringan mata dan telinga mereka, sangat khawatir dengan berita yang datang dari Ma Songquan.

Meskipun terlihat kecil dan tidak berarti di saat mereka akhirnya berhasil mengantar Ding Tao sampai pada kedudukan Wulin Mengzhu, hal yang sekecil ini bisa jadi adalah batu kerikil yang membuat mereka terpeleset dan jatuh terguling-guling.

Dan batu kerikil ini tidak bisa dikatakan kecil, jika benar cabang Gui Yang sudah jatuh ke tangan orang-orang yang dijerat oleh obat perebut jiwa milik orang Kunlun, maka kemungkinan penyebarannya sulit diperhitungkan.

Bisa jadi terbatas di Gui Yang, bisa juga saat ii sudah mulai menyebar ke cabang-cabang lain.

Chou Liang pun mulai menghitung-hitung, jumlah pengikut yang bisa dipercaya dan tidak bisa dipercaya.

Hatinya semakin getir ketika menyadari, sebagian besar dari mereka yang bisa dipercaya adalah bekas pengikut keluarga Huang.

Di saat yang sama, Hua Ying Ying dan Huang Ren Fu justru muncul ke permukaan.

Dalam pesan Ma Songquan tersirat masih adanya ganjalan dalam hubungan antara Hua Ying Ying dan Ding Tao.

Pesan kiriman Ma Songquan memang padat tapi mendetail dalam setiap hal yang penting.

Kesetiaan Ma Songquan benar-benar terletak pada Ding Tao, berbeda dengan Tang Xiong dan Li Yan Mao yang berdiri dengan satu kaki di sisi Ding Tao dan kaki yang lain di sisi keluarga Huang.

Bagi Tang Xiong dan Li Yan Mao, yang mereka harapkan adalah terjadinya pernikahan antara Ding Tao dan Hua Ying Ying, dengan demikian tidak ada lagi pertentangan di antara dua kesetiaan yang ada dalam hati mereka.

Tapi bagi orang-orang seperti Ma Songquan dan Chou Liang, kesetiaan mereka terletak sepenuhnya pada Ding Tao.

Bagi mereka ini, kehadiran Huang Ren Fu dan Hua Ying Ying adalah hal yang hanya memperumit keadaan.

Jika Ding Tao berhasil memenangkan hati Hua Ying Ying, maka kesetiaan pengikut keluarga Huang dalam Partai Pedang Keadilan akan semakin kokoh.

Tapi jika tidak, maka kehadiran mereka berdua justru memperlemah kekuatan Partai Pedang Keadilan.

"Saudara Chou Liang, seharian kau tidak keluar ruangan, apa tidak bosan?", ujar Murong Yun Hua, berjalan masuk tanpa mengetuk pintu. Chou Liang pun untuk sejenak setelah sekian lamanya menekuni surat kiriman Ma Songquan, menegakkan badan dan meluruskan lehernya.

"Ah.. Nyonya Murong..."

Setelah begitu lama membaca dalam keadaan tegang, barulah sekarang terasa betapa pegal lehernya, sembari memijat bagian belakang lehernya, Chou Liang menjawab.

"Ada berita baru dari Saudara Ma Songquan mengenai rombongan Ketua Ding Tao."

"Ah, baguslah kalau begitu, dengan ini kukira banyak orang akan merasa lega, meskipun kalau dipikirkan sebenarnya tidak ada yang perlu dikuatirkan.", ujar Murong Yun Hua sambil berjalan mendekat. Murong Yun Hua pun menarik kursi, duduk di depan Chou Liang dan bertanya.

"Benar kan? Tidak ada yang perlu dikuatirkan."

Tanpa menjawab dengan satu patah kata pun, Chou Liang mengangsurkan surat yang dia terima dari Ma Songquan.

Murong Yun Hua segera menerima surat itu dan mulai membaca.

Tidak berapa lama dia selesai membaca, ekspresinya sudah berubah sama keruhnya dengan ekspresi wajah Chou Liang.

"Tentang Gui Yang, menurutmu bagaimana?", tanya Murong Yun Hua.

"Anggap saja Gui Yang sudah lepas dari tangan kita.", jawab Chou Liang perlahan.

"Hmm... Ketua Ding Tao baru saja terpilih menjadi Wulin Mengzhu, pijakannya belum kuat, jika kejadian di Gui Yang ini tersebar, kira-kira apa yang akan terjadi?", tanya Murong Yun Hua dan Chou Liang pun diam tak menjawab untuk waktu yang cukup lama. Meskipun Chou Liang tidak juga menjawab, Murong Yun Hua pun diam tidak memberikan pendapat, sampai akhirnya Chou Liang membuka mulut dan berkata.

"Jika kita tidak bisa membereskan masalah Gui Yang dengan cepat, penilaian orang akan kemampuan Partai Pedang Keadilan dan ketua Ding Tao akan turun drastis. Jika itu terjadi, maka Wulin Mengzhu akan menjadi sebuah nama kosong. Bagaimana mungkin seseorang mengurus seluruh dunia persilatan, jika dia tidak bisa mengurus satu cabang kecil?"

"Perintahnya akan dipertanyakan dan dilaksanakan dengan setengah hati. Seandainya Ketua Ding Tao orang yang tegas dan hatinya dingin, masalah seperti itu bisa dengan mudah diatasi. Namun menilik sifatnya, jika sampai terjadi hal seperti itu, tentu akan berusaha dicari jalan yang damai, yang hanya akan memberi angin pada lebih banyak orang untuk membangkang pada dirinya."

"Jadi bagaimana pendapat Saudara Chou Liang, dengan cara apa kita harus menangani masalah ini?", tanya Murong Yun Hua.

"Untuk saat ini, kita harus menunggu kedatangan Ketua Ding Tao dan yang lain. Kekuatan inti kita tidaklah terlalu besar, sementara penyusupan pihak luar, entah sudah sejauh mana. Baru setelah Ketua Ding Tao ada di pusat, kita akan mengerahkan seluruh saudara yang bisa dipercaya untuk membereskan masalah di Gui Yang.", ujar Chou Liang.

"Tanpa memberitahu Ketua Ding Tao lebih dahulu...?", sambung Murong Yun Hua.

"Ya..., tergantung dengan keadaan Ketua Ding Tao nanti. Apakah Nyonya punya pendapat yang berbeda?",jawab Chou Liang dengan sedikit ragu, dia merasakan ada nada kurang puas dalam pertanyaan Murong Yun Hua. Murong Yun Hua pun terdiam untuk beberapa lama sebelum akhirnya menjawab perlahan.

"Kukira tidak ada jalan lain, jika memang masalah ini hendak diselesaikan dengan tangan besi... Tapi entah ada berapa banyak masalah yang sudah Saudara Chou Liang selesaikan tanpa sepengetahuan Kakak Ding Tao."

Ditanya demikian Chou Liang jadi terdiam, memang bukan sekali ini Chou Liang melakukan sesuatu di belakang Ding Tao.

Hanya saat segala sesuatunya terjadi dan tidak mungkin disembunyikan barulah dia melaporkan hal itu pada Ding Tao.

Memang bisa dikatakan, setiap kali Chou Liang bertindak demikian, tentu tidak ada kerugian yang didapatkan Partai Pedang Keadilan atau Ding Tao.

Bahkan bisa dikatakan, perbuatan Chou Liang itu menguntungkan kedudukan Ding Tao.

Dalam segala hal, nama Ding Tao tidak pernah tersangkut dalam urusan yang buruk.

Jika nama Chou Liang mewakili sisi mengerikan dan mengancam dari Partai Pedang Keadilan, nama Ding Tao mewakili segala yang baik dari Partai Pedang Keadilan.

Ding Tao sendiri meskipun sering mengecam maupun mempertanyakan perbuatan Chou Liang, pada akhirnya harus menyetujui alasan mengapa Chou Liang melakukan hal itu.

Para pengikut Ding Tao pun terbagi dua dalam melihat perbuatan Chou Liang itu, mereka yang lebih praktis dalam menilai keadaan akan mendukung sepenuhnya keputusan Chou Liang.

Sebaliknya, mereka yang berpegang pada prinsip-prinsip tertentu seperti Liu Chuncao, tidak jarang menerimanya dengan kerutan di alis.

Hanya saja selama ini semua hal itu bisa diterima karena mereka memiliki satu tujuan.

Juga karena saling percaya yang ada di antara para pendukung awal Ding Tao.

"Maksud Nyonya ...?", tanya Chou Liang ragu-ragu, bagaimana pun juga jarang sekali Murong Yun Hua ikut campur dalam urusan Partai Pedang Keadilan, terutama sebelum peristiwa penyerangan Kunlun ke Partai Pedang Keadilan.

"Maksudku, tentang Nona muda Huang Ying Ying..., ketika pertama kali aku mendengar berita bahwa dia dan saudaranya masih hidup, sudah ada perasaan yang mengganjal. Apa mungkin Saudara Chou Liang yang terkenal cerdik, bisa kalah main petak umpet melawan Tiong Fa yang sudah kehilangan sebagian besar kekuatannya?", ujar Murong Yun Hua dengan mata tajam menyelidik. Chou Liang pun terdiam mendengar pertanyaan Murong Yun Hua. Chou Liang menimbang-nimbang, jawaban apa yang harus dia berikan. Kenyataannya memang dia yang menyabotase sendiri pencarian sarang Tiong Fa, tapi haruskah dia menyangkal sekuat-kuatnya? Ataukah lebih baik jika dia mengakui saja hal itu? "Tadinya aku yakin benar, kedua bersaudara itu sesungguhnya sudah mati di Wuling. Jika benar perkataan Tiong Fa, aku yakin Saudara Chou Liang pasti mampu menemukan mereka berdua. Apakah ada yang salah dalam pertanyaanku ini?", karena melihat Chou Liang masih juga terdiam, Murong Yun Hua pun bertanya untuk kedua kalinya. Chou Liang menghela nafas panjang-panjang dan menjawab.

"Memang benar dugaan Nyonya, tapi hal itu kulakukan juga demi kebaikan kita semua. Di lain pihak, aku sendiri kurang yakin apakah Tiong Fa hanya menggertak saja atau benar bahwa dua orang bersaudara itu ada di tangannya."

Murong Yun Hua menatap tajam ke arah Chou Liang, dengan suara dingin dia berkata.

"Urusan tentang hidup matinya Nona muda Huang Ying Ying, tidak berhubungan dengan Partai Pedang Keadilan. Hal itu adalah urusan pribadi Ketua Ding Tao dengannya."

Chou Liang menghela nafas untuk kedua kalinya.

"Ucapan nyonya benar, dan aku menyesali keputusanku waktu itu."

Dalam hati dia berucap.

"Seandainya Huang Ying Ying ditemukan masih hidup, bukankah kau saat ini sudah menjadi ibu dari seorang anak haram?"

Tapi hal itu tidak terlihat di wajahnya, wajah Chou Liang tampil tenang, tidak memperlihatkan kejengkelan dalam hatinya.

Murong Yun Hua menatap tajam Chou Liang yang masih menundukkan kepala, menghindari tatapan matanya.

"Jangan kau pikir, aku tidak bisa meraba apa yang ada dalam benakmu. Menurutmu semua yang kau lakukan adalah demi kebaikan Ketua Ding Tao. Tapi coba pikirkan seandainya saja waktu itu kau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan jejak Tiong Fa. Bukankah hubungan keluarga Huang dengan Ding Tao akan lebih baik daripada sekarang?", tegur Murong Yun Hua dengan sedikit ketus. Dan Chou Liang pun menghela nafas untuk ketiga kalinya, kali ini perasaan menyesal yang tersirat dari jawabannya, benar-benar muncul dari hatinya yang terdalam.

"Nyonya benar..., sungguh aku menyesali hal itu, seandainya saja aku bersungguh-sungguh mencarinya, seharusnya hubungan bekas pengikut keluarga Huang dengan Ketua Ding Tao akan makin erat."

"Tapi kau tidak ingin mereka hanya sekedar jadi pendukung Ketua Ding Tao, kau ingin mereka menjadipengikutnya. Itu sebabnya, bagimu lebih baik jika setiap pewaris sah dari keluarga Huang mati di Wuling.", sambung Murong Yun Hua dengan dingin. Atas tuduhan Murong Yun Hua itu, Chou Liang tidak mengiyakan, tidak pula menyangkal, hanya menghela nafas panjang untuk ke sekian kalinya. Melihat Chou Liang tidak menyangkal tuduhannya, tidak juga berusaha membela diri, sebagian kemarahan Murong Yun Hua jadi sedikit mereda. Apalagi kejutan tentang munculnya Huang Ying Ying sebenarnya sudah mulai dapat dia atasi. Betapa perasaannya sulit dimengerti ketika berita itu baru saja datang, bersamaan dengan kemenangan Ding Tao di kaki Gunung Songshan yang dibawa oleh pengikut-pengikut mereka yang sudah kembali lebih dahulu. Meskipun di luaran Murong Yun Hua tampi tenang dan percaya diri, dalam hatinya siapa yang tahu? Sejak mereka menikah, dia yang ikut berjuang sekuat tenaga untuk mendukung Ding Tao. Sekarang setelah Ding Tao berhasil menjadi pimpinan dari seluruh dunia persilatan, justru cinta pertama Ding Tao muncul lagi dalam hidupnya. Bukankah cinta rela berkorban? Tapi apakah cinta rela berbagi? Bukankah bicara tentang hak, Huang Ying Ying-lah yang lebih berhak? Tapi bicara saat ini, bukankah dia adalah isteri Ding Tao dan bukan Huang Ying Ying? "Sudahlah, Saudara Chou Liang, pikirkan saja baik-baik tentang masalah di Gui Yang. Tentang hubungan Kakak Ding Tao dengan keluarga Huang, biar aku yang menyelesaikan.", kata Murong Yun Hua dengan tegas. Tanpa banyak cakap, tanpa berpamitan, Murong Yun Hua meninggalkan ruangan Chou Liang. Chou Liang masih saja menundukkan kepala, menyesali keputusannya yang kurang tepat. Namun mendengar ketegasan Murong Yun Hua, Chou Liang pun berpikir ulang. Tidak, dia tidak menyesalinya, jika Huang Ying Ying muncul sebelum Ding Tao menikah dengan Murong Yun Hua, maka Ding Tao tidak akan pernah menikahi Murong Yun Hua. Memang benar, dengan demikian, keberadaan bekas-bekas pengikut keluarga Huang bisa jadi lebih kokoh. Tapi toh tetap ada kemungkinan bahwa Huang Ren Fu akan menarik mereka dari Ding Tao. Di lain pihak, Murong Yun Hua terbukti merupakan pasangan yang sepadan bagi Ding Tao. Lepas dari usianya yang lebih tua, berkali-kali Murong Yun Hua membuktikan bahwa dirinya bukan hanya seorang isteri yang bisa menyenangkan suaminya, Murong Yun Hua juga merupakan isteri yang bisa mendukung kemajuan suaminya. Demikian juga dengan masuknya keluarga Murong dalam Partai Pedang Keadilan, jelas tidak sedikit sumbangannya bagi kemajuan partai. Sambil menghela nafas, entah untuk ke berapa kalinya di hari itu, Chou Liang memutuskan untuk berkonsentrasi pada masalah di Gui Yang dan mempercayakan masalah Huang Ying Ying dan Ding Tao, sepenuhnya pada Murong Yun Hua. Sementara itu Murong Yun Hua berjalan dengan langkah kaki yang cepat, berjalan menuju ke kamar pribadinya. Dua orang dayang pembantunya yang masih remaja, sampai setengah berlari, mengikuti dia. Sambil berjalan, otaknya sudah berputar memikirkan masalah Ding Tao dan Huang Ying Ying. Ketika dia sampai di kamarnya, dia pun berbalik ke arah dua orang pembantunya.

"Kalian pergi, carilah Nyonya Huolin, bawa dia menemuiku.", perintahnya dengan singkat. Tanpa menunggu mereka pergi, dia pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Baru setelah dia sendirian, Murong Yun Hua meraih bantal yang ada di atas pembaringan dan membantingnya dengan keras ke atas lantai. Dengan suara tangis tertahan dia mengambil pula bantal itu kemudian ditekapkan kuat-kuat ke wajahnya. Air mata bercucuran keluar, suara jerit tangis tertahan oleh bantal, sendirian dia menumpahkan segala rasa sakit dan kemarahan yang terpendam. Murong Yun Hua baru saja menyusuti air matanya, ketika Murong Huolin mengetuk pintu kamarnya. Bergegas Murong Yun Hua merapikan diri kemudian membuka pintu kamar.

"Kakak... ada apakah?", tanya Murong Huolin sedikit cemas.

"Tidak ada apa-apa, aku ingin mengajakmu untuk pergi menyambut Kakak Ding Tao dan rombongannya.", ujar Murong Yun Hua dengan tenang, tidak terlihat lagi bekas-bekas tangisannya.

"... entahlah kakak, aku memang ingin bertemu dengan Kakak Ding Tao..., tapi ... bagaimana jika ada pula Nona muda Huang Ying Ying di sana? Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap.", jawab Murong Huolin dengan ragu-ragu.

"Jangan bodoh! Justru karena Nona muda Huang Ying Ying ada bersamanya, kita harus pergi menyambut mereka. Baru saja aku mendapat kabar dari Penasehat Chou Liang, sepertinya ada ganjalan dalam hubungan Kakak Ding Tao dengan Nona muda Huang Ying Ying.", ujar Murong Yun Hua. Mendengar berita baru itu, alis Murong Huolin pun terangkat.

"Apa maksud kakak? Apakah mereka berdua sedang bertengkar?"

"Kurang lebih seperti itu.", jawab Murong Yun Hua. Murong Huolin menggigit bibirnya dan berpikir, sesaat kemudian dia pun berkata.

"Lalu apa urusannya dengan kita jika mereka berdua bertengkar, biarlah mereka menyelesaikan sendiri urusannya. Justru bagus bila Nona muda Huang tidak ingin meneruskan lagi hubungannya dengan Kakak Ding Tao."

"Adik... jangan berpikir sependek itu!", tegur Murong Yun Hua dengan keras. Kemudian dia pun dengan panjang lebar menjelaskan rencananya dan berusaha membujuk Murong Huolin untuk mengikuti rencananya. Lama kedua orang bersaudara itu beradu pendapat, kedua pembantu yang ada di luar kamar hanya bisa mendengar suara-suara dan potongan percakapan yang tak jelas. Ketika pintu kembali terbuka, Murong Huolin keluar dengan bekas air mata di pipinya. Murong Yun Hua yang mengantarkan dia keluar, berpesan dengan tegas.

"Adik, ingatlah pesanku baik-baik. Jangan kau mengikuti perasaanmu saja, pikirkan kepentingan yang lebih luas. Pikirkan kewajibanmu."

Dengan sedikit terisak Murong Huolin mengangguk tanpa membalikkan badan, lalu cepat-cepat lari kembali ke kamarnya sendiri.

Murong Yun Hua hanya memandangi kepergiannya dan menghela nafas panjang.

Wajahnya sendiri sudah bersih dari segala kesedihan dan kemarahan, yang ada hanyalah kemauan yang kuat dan tegas untuk melakukan apa yang dia pandang penting bagi dirinya dan orang-orang yang penting dalam hidupnya.

Keesokan paginya, terlihat kesibukan yang tidak biasa, Murong Yun Hua dan Murong Huolin sibuk mengatur para pekerja di rumah kediaman mereka, mempersiapkan perjalanan bagi mereka berdua.

Beberapa orang pelayan lelaki dan perempuan akan ikut dalam rombongannya.

Hari menjelang siang saat segala persiapan selesai dilakukan.

Murong Yun Hua pun pergi menemui Chou Liang untuk menjelaskan rencananya.

"Aku akan pergi menyongsong Kak Ding Tao dan rombongannya", ujar Murong Yun Hua membuka percakapan.

"Kuharap nyonya berhasil dalam perjalanan ini", jawab Chou Liang.

"Aku mengerti tentang pentingnya tugasku, jadi jangan kuatir, akan kulakukan segalanya untuk menyatukan mereka berdua. Sementara itu kuharap Penasehat Chou Liang bisa mempersiapkan aturan rumah tangga yang jelas, terutama mengenai sanksi bagi penyelewengan yang saat ini terjadi di Gui Yang.", ujar Murong Yun Hua.

"Hmmm... sebenarnya tentang hal itu bukannya tidak ada aturan yang jelas. Tapi sebelum mereka melakukan tindakan yang jelas-jelas merugikan, memang aturannya jadi sedikit kabur. Apakah Nyonya memiliki satu ide?", ujar Chou Liang sambil mengawasi Murong Yun Hua.

"Aku tidak ingin, Penasehat Chou Liang sekali lagi melakukan suatu tindakan atas nama partai, di luar sepengetahuan Kak Ding Tao. Karenanya aku memiliki satu rencana. Buat peraturan yang jelas, sampaikan pada Kak Ding Tao agar dia menyetujuinya. Pastikan sanksi yang diberikan tidaklah ringan tapi juga tidak terlampau keras sehingga dia menolaknya."

"Dengan kepergianku kali ini, aku akan memastikan Nona muda Huang menikah dengan Kak Ding Tao. Kemudian dengan alasan pesta pernikahan mereka, undang setiap orang penting yang ada dalam daftar yang diberikan oleh Tabib Hua. Kita undang juga sekalian tokoh-tokoh penting dari setiap cabang, juga tokoh-tokohpenting dalam dunia persilatan, utamanya dari enam perguruan besar. Pada saat itulah, di depan semua orang kita tegakkan peraturan partai.", Murong Yun Hua menjelaskan. Chou Liang diam berpikir lalu berkata.

"Dengan demikian, kita akan menunjukkan pada setiap orang bahwa Partai Pedang Keadilan bukan partai yang bisa dibuat main-main. Ketua Ding Tao harus menyetujui sanksi yang diberikan karena aturannya sudah dibuat."

"Ya..., selain itu dengan mengundang para pimpinan dari cabang-cabang yang lain, serta keberadaan pengikut inti dari partai yang ada di Jiang Ling sendiri, bisa dikatakan seluruh kekuatan kita terhimpun pada acara itu.", ujar Murong Yun Hua.

"Dan mereka yang dari Gui Yang tidak akan curiga, karena sudah sepantasnya memang demikian. Adalah wajar jika dalam pesta pernikahan Ketua Ding Tao, baik sebagai ketua partai maupun sebagai seorang Wulin Mengzhu untuk mengundang mereka semua.", sambung Chou Liang sambil menganggukkan kepala.

"Benar..., dengan disaksikan semua orang, kita tunjukkan kebesaran partai kita. Biar juga mereka yang dari Kunlun melihat bahwa usaha mereka itu sia-sia saja. Biarlah jadi pelajaran, untuk tidak bermain api dengan Partai Pedang Keadilan.", kata Murong Yun Hua dengan suara tegas. Chou Liang sekali lagi merasa lega, bahwa dahulu dia sudah mengusahakan agar Ding Tao menikah dengan Murong Yun Hua. Sekali lagi nyonya ini menunjukkan kemampuannya dalam mengelola sebuah partai yang besar. Dengan dia di samping Ding Tao, Chou Liang merasa yakin Partai Pedang Keadilan akan tumbuh menjadi partai yang besar. Dirinya sendiri tentu saja tidak merasa di bawah Murong Yun Hua dalam hal kecerdikan. Namun posisi Murong Yun Hua sebagai isteri Ding Tao membuat dia memiliki kelebihan dibandingkan Chou Liang. Contohnya saja dalam hal menyatukan Hua Ying Ying dengan Ding Tao, tidak mungkin dia yang bukan apa-apanya Ding Tao ikut campur dalam hal ini, terutama setelah Ding Tao menikah. Tapi Murong Yun Hua sebagai salah satu isteri Ding Tao dan juga kakak dari isteri Ding Tao yang kedua, dialah yang paling tepat untuk melakukan hal ini. Dengan siasat ini, maka satu kali tepuk, tujuh lalat mati sekaligus.

"Baiklah, apakah ada yang bisa kulakukan untuk membantu nyonya agar rencana ini berhasil?", tanya Chou Liang.

"Pastikan saja, nama-nama orang yang harus kita curigai di Gui Yang dan mungkin juga di cabang yang lain. Susun juga undangannya, persiapkan orang-orang yang akan kita gunakan untuk membekuk para pengkhianat itu. Kemudian bantu juga untuk memastikan bahwa Kakak Ding Tao dan rombongannya tidak mengambil jalan yang berbeda dengan yang sudah kuperkirakan sebelumnya.", jawab Murong Yun Hua setelah berpikir sebentar. Sebenarnya tidak perlu dijelaskan pun sudah tentu Chou Liang tahu apa saja yang perlu dia lakukan dan siapkan. Namun dengan bertanya, Chou Liang membuat Murong Yun Hua merasa lebih dihargai.

"Baik, akan saya persiapkan semuanya, harap nyonya berdua hati-hati di jalan dan semoga perjalanan nyonya berhasil.", jawab Chou Liang dengan meyakinkan. Murong Yun Hua menatap Chou Liang beberapa saat, orang tercerdik dalam Partai Pedang Keadilan, pengikut yang lain percaya penuh akan kesetiaan Chou Liang, tapi Murong Yun Hua terkadang bertanya-tanya dalam hati. Apakah Chou Liang tidak menyembunyikan sesuatu dibalik kesetiaannya itu? Mungkinkah Chou Liang memiliki kepentingan sendiri, ambisi pribadi, dibalik setiap perbuatannya untuk Ding Tao? Saat ini pun, bisa dikatakan, dalam hal mengambil keputusan, Chou Liang adalah orang pertama yang akan dimintai pendapat, juga orang yang memberikan kata-kata terakhir dalam setiap pertemuan. Ding Tao boleh jadi adalah ketua partai, hati dan juga pemersatu Partai Pedang Keadilan, namun tidak akan ada yang berkata salah, jika dikatakan Chou Liang adalah otaknya.

"Aku percayakan semuanya padamu, baiklah, aku akan berangkat sekarang.", ujar Murong Yun Hua berpamitan. Sekali lagi Chou Liang meyakinkan Murong Yun Hua sambil mengantar nyonya itu sampai ke pintu ruangannya. Untuk beberapa saat lamanya Chou Liang memandangi Murong Yun Hua dari belakang. Dalam hati dia bertanya-tanya, seberapa tuluskan Murong Yun Hua berusaha menyatukan Ding Tao dan Huang Ying Ying? Murong Yun Hua mungkin seorang wanita yang memiliki otak cerdas dan bersandar pada logika, tapi bukankah dia tetap seorang wanita yang memiliki perasaan? Bisakah dia menelan perasaannya demi kepentingan Partai Pedang Keadilan? Chou Liang berdiri di dekat pintu, memandangi punggung Murong Yun Hua, pada awalnya tidak ada rasa, Murong Yun Hua hanyalah salah satu bagian dari rencananya untuk memperkokoh kedudukan Ding Tao. Namun sejak dia menyaksikan kecekatan dan kepandaian Murong Yun Hua dalam menyelesaikan masalah, dia mulai mengagumi wanita itu sebagai seorang manusia dan bukannya sebuah biji catur. Lalu entah sejak kapan, dia mulai menyadari sisi lain dari wanita itu. Kecantikannya, keluwesannya, tawa renyahnya, keanggunannya bahkan lekak-lekuk tubuhnya yang samar -samar bisa dia bayangkan ketika memandangi wanita itu. Jantung Chou Liang tiba-tiba berdebar lebih kencang, terasa keringat dingin menetes di keningnya, saat dia menyadari perasaannya sendiri. Entah sejak kapan, dia mulai jatuh cinta, pada Murong Yun Hua. Dan sekarang, wanita yang dia cintai itu akan pergi, untuk meyakinkan orang yang dicintainya, supaya dia menikah dengan wanita lain. Chou Liang bisa membayangkan rasa sakit yang dialami Murong Yun Hua, dulu dia tidak mengerti, tapi sekarang setelah dia menyadari perasaannya pada Murong Yun Hua, tiba-tiba dia bisa merasakannya. Rasa cemburu yang sering muncul namun terpendam dalam-dalam, terpendam oleh perasaannya pada Ding Tao. Tiba-tiba sekarang perasaan itu muncul dengan kuatnya, rasa pahit dan pedihnya, ketika yang dicintai justru menjadi milik orang lain. Dan dia, Chou Liang, memuji dan mendukung dia untuk melakukan hal itu. 30 tahun lebih Chou Liang hidup sebagai lelaki, baru kali ini dia mengenal rasanya cinta. Bukannya dia tidak memiliki pengalaman dengan wanita, tapi selamanya dia menertawakan mereka yang jatuh cinta. Baru sekarang dia merasakan apa itu cinta dan dia tidak bisa tertawa lagi. Bagaimana perasaan Chou Liang, apakah Murong Yun Hua tahu? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Meskipun peribahasa mengatakan, dalamnya laut bisa didugan hati orang siapa yang tahu, tapi bukan tidak jarang kisah yang menceritakan, betapa tajamnya perasaan seorang wanita. Apa pun jawabannya dari pertanyaan itu, Murong Yun Hua sekarang sedang duduk dalam kereta bersama dengan adiknya Murong Huolin. Tidak seperti biasa, keduanya tidak saling bicara meskipun berada dalam kereta yang sama.

"Apakah kakak sudah yakin dengan rencana kakak?", akhirnya Murong Huolin bertanya. Murong Yun Hua menatap tajam ke arah Murong Huolin dan menjawab dengan tegas.

"Ya, aku sudah yakin dengan rencana ini. Sudah kupikirkan baik-baik dan aku tidak melihat ada jalan lain yang lebih baik dari jalan ini."

Murong Huolin terlihat sedikit gemetar di bawah tatapan tajam Murong Yun Hua, namun gadis itu tidak menunduk dan mengalah, selamanya Murong Yun Hua adalah seorang kakak, pengganti orang tua, namun dalam hal cinta, jangankan seorang kakak, bukankah seringkali orang tua pun dilawan?

"Meskipun kakak mencintainya dan kakak tahu bahwa di matanya, kakak adalah orang yang paling dia cintai?", tanyanya dengan suara gemetar.

Murong Yun Hua tidak segera menjawab, apakah terlihat ada sedikit keraguan di wajahnya?

Jika memang ada, maka hal itu hanya sebentar saja terlintas di sana, karena Murong Huolin berusaha mencari setitik tanda keraguan dan dia tidak mendapatinya di sana.

Mungkin ekspresi ragu dan kepedihan yang dia lihat tadi hanyalah khayalannya semata?

Berharap Murong Yun Hua membatalkan rencana ini.

Masih dengan wajah yang tegas dan pandang mata yang tidak tergetar sedikitpun Murong Yun Hua menjawab.

"Ya..., meskipun aku yakin dia mencintaiku dan aku mencintainya."

Murong Huolin pun tidak bisa berkata-kata lebih banyak, dia akhirnya membuang muka, memandangi isi kereta hingga tiap detail-detailnya, tanpa sekalipun menatap Murong Yun Hua untuk kedua kalinya.

Sampai Murong Yun Hua memanggil namanya.

"Adik Huolin..."

Murong Huolin pun menengok ke arah Murong Yun Hua, entah sudah sejak kapan hubungan mereka seperti itu.

Dia selalu menjadi adik yang manis dari Murong Yun Hua dan Murong Yun Hua menjadi kakaknya yang baik.

"Adik... apakah kau masih percaya padaku? Pernahkah aku mengecewakanmu sebelumnya?", tanya Murong Yun Hua dengan lembut. Perlahan Murong Huolin menjawab.

"Ya... aku percaya pada kakak, tidak sekalipun kakak berbuat sesuatu yang merugikanku."

Murong Yun Hua tersenyum lembut.

"Percayalah padaku, rencana ini adalah rencana yang terbaik bagi kita semua."

Lama tapi akhirnya Murong Huolin mengangguk juga.

"Bagus, masih beberapa hari sebelum kita bertemu Kak Ding Tao dan rombongannya. Berusahalah berdamai dengan hatimu, supaya saat kita bertemu mereka, perasaanmu tidak lepas kendali. Jangan sampai kau melakukan sesuatu yang menyakitkan hati Nona muda Huang.", ujar Murong Yun Hua dengan lembut. Murong Huolin menganggukkan kepala perlahan, setetes air mata jatuh mengaliri pipinya yang halus, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Murong Yun Hua tidak berkata apa-apa lagi, hanya perlahan dia meraih tangan Murong Huolin dan meremasnya dengan lembut. Beberapa ratus li jauhnya dari rombongan Murong Yun Hua, adalah rombongan Ding Tao. Jarak di antara keduanya, semakin lama semakin dekat dengan berlalunya waktu. Hari demi hari berlalu, setiap orang dengan pikirannya masing-masing. Pikiran yang menyenangkan, pikiran yang menyedihkan, pikiran yang membangkitkan amarah. Siapa yang bisa membuat otak berhenti berpikir? Saat demi saat, gerbong demi gerbong pemikiran berendeng berjalan dalam otak kita. Satu pemikiran selesai, yang lain akan datang. Terkadang satu pemikiran dengan pemikiran yang lain saling bersambung, terkadang melompat tak terhubung dengan pemikiran yang sebelumnya. Terus menerus dia berlari, bahkan saat tertidur pun terkadang dia masih bekerja dan muncul dalam bentuk mimpi. Huang Ren Fu berjalan dalam diam, dia pun sedang berpikir. Selama beberapa hari ini bercakap-cakap dengan Tang Xiong dan Li Yan Mao, sebuah pemikiran terbentuk dalam benak mereka bertiga. Lama dia memandang Ding Tao yang berjalan di depannya, berdua dengan adik kandungnya. Tang Xiong dan Li Yan Mao berjalan mengiringi pemuda itu, keduanya diam, menanti keputusan Huang Ren Fu, sibuk menerka-nerka dan berpikir tentang apa yang sudah mereka percakapkan. Huang Ren Fu tiba-tiba berkata.

"Aku akan pergi untuk berbicara dengan Ding Tao, kalian berdua tidak usah ikut."

Li Yan Mao dan Tang Xiong saling berpandangan kemudian menjawab.

"Baik tuan muda, kami mengerti."

Huang Ren Fu pun berjalan lebih cepat, menyusul Ding Tao dan Hua Ying Ying yang berjalan di depan. Li Yan Mao menghela nafas panjang, sementara Tang Xiong diam terpekur.

"Saudara Li... apakah pendapat kita salah?", tanya Tang Xiong sambil memandangi punggung Huang Ren Fu. Li Yan Mao tidak segera menjawab.

"Entahlah... aku sendiri tidak bisa menjawab dengan pasti. Jika sahabat baru datang lalu kita melupakan sahabat lama, orang bilang kita tidak punya rasa persahabatan. Lalu jika yang berlaku sebaliknya, apakah namanya itu? Tapi jika kita benar menilai kepribadian Ketua Ding Tao dan Tuan muda Huang Ren Fu, kukira inilah jalan yang baik. Tidak akan ada yang dirugikan, tidak Ketua Ding Tao, tidak juga keluarga Huang."

"Bagaimana jika Ketua Ding Tao menolak?", tanya Tang Xiong.

"Jika demikian, berarti jelas siapa yang kemaruk harta dan siapa yang tidak.", jawab Li Yan Mao dengan tenang.

"Berarti, apapun jawaban Ketua Ding Tao, kita tidak akan mengambil jalan yang salah, bukankah benar demikian?", tanya Tang Xiong kembali.

"Seharusnya benar demikian.", jawab Li Yan Mao dengan berat hati.

"Seharusnya demikian...", ulang Tang Xiong bergumam tak jelas.

"Tapi mengapa hati ini merasa berat...?", ujar Tang Xiong sambil menghela nafas panjang. Li Yan Mao sendiri tak tahu jawabnya dan hanya bisa berjalan dalam diam, menemani Tang Xiong dengan pergumulan hatinya, dengan serentetan pikirannya sendiri. Memandangi Huang Ren Fu yang kini sudah berdiri sejajar dengan Ding Tao.

"Saudara Ding To, bisakah kita bicara berdua saja sebentar?", tanya Huang Ren Fu sambil menepuk pundak pemuda itu. Ding Tao menoleh ke arah Huang Ren Fu, tersenyum dan menjawab.

"Tentu saja."

Baru setelah menjawab, dia melihat ada yang berbeda di wajah Huang Ren Fu. Huang Ren Fu tidak berkata lebih banyak, tapi memandang ke arah Hua Ying Ying. Hua Ying Ying pun bertanya.

"Apakah kakak ingin berbicara berdua saja dengan Kak Ding Tao?"

"Uhm... ya..., kalau kalian tidak keberatan.", ujar Huang Ren Fu sedikit ragu.

"Tentu saja tidak", jawab Hua Ying Ying yang kemudian berjalan lebih cepat, menyusul Ma Songquan, Chu Linhe dan Hua Ng Lau yang berada paling depan. Ding Tao merasa hatinya tidak tenteram dan bertanya.

"Saudara Ren Fu..., sebenarnya ada apa? Apakah masalah keputusanku terhadap Shao Wang Gui di Shaolin?"

"Tidak... tidak... bukan itu.", jawab Huang Ren Fu cepat-cepat.

"Sebenarnya bukan satu masalah yang penting...", ujar pemuda itu ragu, ragu dengan keputusannya untuk berbicara dengan Ding Tao tentang masalah yang dia simpan di benaknya selama beberapa hari ini. Ding Tao melihat kesulitan yang dihadapi Huang Ren Fu dan tidak ingin menambah rumit masalah pemuda itu.

"Saudara Ren Fu, katakanlah dengan bebas, apa pun masalah itu. Apakah masalah itu ada hubungannya dengan Adik Ying Ying? Atau masalah yang lain? Percayalah, apapun yang kau katakan, kita tetap bersahabat."

Huang Ren Fu memandang ke arah Ding Tao, sekali lagi dia menimbang-nimbang, sebelum akhirnya dia menghembuskan nafas kuat-kuat untuk mengusir kegalauan dalam hatinya dan berkata.

"Ding Tao..., aku ingin membicarakan masalah peninggalan keluarga Huang, terutamanya yang ada di Wuling. Sebenarnya sejak bertemu dengan guru, kami berdua, aku dan Ying Ying sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan masa lalu kami dan memulai lembaran yang baru."

"Tidak sedikitpun terlintas dalam pikiran kami, untuk meminta apa yang menjadi hak kami. Tapi beberapa hari ini, berbicara dengan Paman Li Yan Mao dan Tang Xiong..., aku berubah pikiran. Bagaimanapun juga sejarah keluarga Huang tak boleh terhapus begitu saja di tanganku. Apalagi cabang di Wuling yang menjadi cikal bakal, berkembangnya keluarga Huang."

"Itu sebabnya..., aku ingin meminta padamu, untuk mengembalikan seluruh milik keluarga Huang yang ada di Wulin kembali ke tanganku. Aku tahu, setelah peristiwa pembantaian itu, tempat itu tidak ubahnya seonggok puing-puing, jika bukan kalian dari Partai Pedang Keadilan yang membangunnya kembali, tapi di situlah sejarah keluarga ini dimulai. Aku pun tidak ingin mengambil hasil kerja keras orang lain, suatu saat nanti, aku akan mengembalikan setiap sen yang sudah digunakan untuk membangun kembali tempat itu. Ding Tao jika permintaanku ini kau pandang terlalu berlebihan, aku ..."

"Cukup...", ujar Ding Tao menghentikan kata-kata Huang Ren Fu. Wajah Ding Tao bersemu kemerahan.Entah menahan marah atau malu? Huang Ren Fu pun memandang pemuda itu dengan hati berdebar, namun tangan terkepal. Sudah berulang kali dia memikirkan hal ini, dia tidak bisa melihat di mana letak kesalahannya, karena memang semua itu adalah haknya sebagai satu-satunya yang tertinggal dari keluarga Huang. Ding Tao memejamkan mata beberapa saat lamanya sebelum kemudian membuka mulut dan berkata.

"Saudara Ren Fu... maafkan aku..., mendengarmu berkata sepanjang itu, hanya untuk mendapatkan apa yang sebenarnya memang merupakan hak-mu. Ah... betapa perih hatiku. Betapa aku malu memikirkan hal ini, tanpa mengetahui bahwa kalian yang merupakan pewaris sah dari keluarga Huang masih hidup, aku berdiri, berjalan dan memanjat ke atas menggunakan hak milik kalian berdua."

Huang Ren Fu pun jadi tergagap dan merasa malu dengan kecurigaannya.

"Ding Tao.. jangan berkata demikian, tatkala semuanya direbut orang, kaulah yang menyatukan kembali sisa-sisa keluarga Huang dan merebut kembali apa yang sudah diambil oleh penjahat-penjahat itu."

"Dan aku lupa untuk mengembalikannya, bukankah aku tidak ubahnya seperti para penjahat itu?", ujar Ding Tao dengan senyum pahit. Huang Ren Fu menggelengkan kepala dengan tegas.

"Tidak, tidak, jangan pernah samakan dirimu dengan para penjahat itu. Ding Tao, jika kata-kataku sudah melukai hatimu, aku minta maaf dengan setulus-tulusnya."

Ding Tao terdiam, menghela nafas.

"Adakah dia merasa tersinggung dengan ucapan Huang Ren Fu?"

"Ya... ada sebagian dari dirinya yang merasa tersinggung dengan ucapan Huang Ren Fu. Adakah sebagian dari dirinya yang merasa tidak rela untuk menyerahkan kembali miliki keluarga Huang yang ada di Wuling pada Huang Ren Fu?"

Dengan kecewa Ding Tao menjawab jujur pada dirinya sendiri.

"Ya... ada sebagian dari dirinya yang tidak rela menyerahkan apa yang sesungguhnya memang bukan miliknya."

Dengan pandangan mata yang lebih jernih, Ding Tao menatap Huang Ren Fu.

"Saudara Ren Fu, aku akan berkata jujur padamu. Sebagian dari diriku merasa tersinggung oleh ucapanmu barusan, sebagian dari diriku tidak rela untuk menyerahkan Wuling padamu, meskipun itu adalah hakmu."

Huang Ren Fu mendengarkan dengan penuh perhatian, sebagian dari dirinya terkejut oleh pernyataan Ding Tao, tapi sudah tidak ada lagi kecurigaan yang sempat bersemayam dalam hatinya.

Ding Tao mungkin berubah oleh berjalannya waktu, mungkin dia berubah oleh keadaan, tapi di dasar hatinya yang terdalam, Ding Tao tetaplah orang yang sama.

Orang yang dia percayai beberapa tahun yang lalu dan sekarang masih dia percaya dengan sepenuh hatinya.

"Jadi kau lihat, aku tidak sebaik dugaanmu, tapi jangan kuatir, aku masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Memang bersama beberapa orang sahabat aku mendirikan Partai Pedang Keadilan, tapi sebagian besar dari apa yang kami miliki saat ini sesungguhnya adalah milik kepunyaan kalian berdua. Selekasnya aku sampai di Jiang Ling aku akan mengurus segala sesuatunya, agar apa yang menjadi hak kalian, kami kembalikan pada kalian.", ujar Ding Tao dengan hati yang tiba-tiba terasa lapang. Ya, hati Ding Tao tiba-tiba terasa lapang, begitu dia melepaskan segala keinginan untuk menguasai apa yang dulunya milik keluarga Huang. Justru di saat dia memutuskan untuk kehilangan sebagian besar, jika bukan keseluruhan, dari apa yang pernah dia pandang sebagai miliknya, di saat itu justru hatinya terasa lapang. Serasa sebuah beban yang berat lepas dari jiwanya. Tapi Huang Ren Fu sekali lagi menggelengkan kepala.

"Ding Tao, kau salah jika mengambil keputusan demikian dan aku akan menyesali keputusanku seumur hidupku jika kau memaksa untuk melakukan hal itu. Sedikit pun aku tidak ingin kau mengembalikan semuanya itu kembali pada keluarga Huang."

Ding Tao diam mendengarkan dan Huang Ren Fu pun berkata lagi.

"Aku hanya menginginkan akar, cikal bakal dari keluarga Huang di Wuling, satu kenangan, satu ungkapan, penghargaan pada usaha yang sudah dikerjakan selama 3 generasi. Satu titik, di mana aku akan membangun sendiri keluarga Huang, dengan dua tanganku sendiri. Bukan dari sisa keluarga Huang yang kau selamatkan dengan kekuatan orang lain."

Lama Ding Tao diam, sebelum akhirnya dia menjawab.

"Aku mengerti..., tapi tawaranku tetap adanya. Kapan pun kau menghendaki, kau atau keturunanmu, aku akan mengembalikan semua yang pernah menjadi milik keluarga Huang pada kalian."

"Aku mengerti maksudmu, hanya saja kuharap kau mengerti juga apa yang ada dalam hatiku. Semua yang kau katakan sebagai milik keluarga Huang, bagiku sudah hilang di malam pembantaian itu. Tak mau aku bangkit berdiri oleh pertolongan orang lain, aku ingin bangkit berdiri dengan kekuatanku sendiri. Sekali-kali bukan karena aku tak percaya padamu, tapi inilah yang kurasakan.", jawab Huang Ren Fu. Ding Tao menganggukkan kepala.

"Tentu saja, aku tidak berani mengatakan bahwa aku mengerti apa yang kau rasakan. Tapi aku percaya padamu."

Baru kali ini hati Huang Ren Fu terasa lega, setelah lama dia menyimpan pikiran ini, sebuah senyum pun terungkap tulus di wajahnya.

"Lain hari ketika kita bertemu, saat aku sudah membangun kembali keluarga Huang dengan dua tanganku, barulah aku merasa berdiri sejajar dengan dirimu."

"Hah... jangan berpikir bodoh, apapun keadaan kita, kita selalu sahabat bukan? Apakah jika aku jatuh dari kedudukanku sekarang, kau akan memandangku dengan belas kasihan, seperti memandang seorang pengemis yang kelaparan? Kuharap bila itu terjadi kau tidak berlaku demikian, tapi tetap memandangku sebagai seorang sahabat.", sahut Ding Tao sambil memukul lengan Huang Ren Fu.

"Hahaha... ya... ya..., anggap saja aku yang salah, tapi lihat saja, akan kubangun keluarga Huang kembali dari reruntuhan. Dan setiap sen biaya yang kau gunakan untuk membangun kembali kediaman keluarga Huang di Wuling, aku akan mengembalikannya.", jawab Huang Ren Fu sambil tertawa. Keduanya pun bercakap-cakap dengan bebas, sebuah ganjalan sudah dilemparkan jauh-jauh dari persahabatan mereka berdua. Tidak mudah untuk membicarakan hal yang tidak menyenangkan, tapi jika dia memang seorang sahabat, maka kau harus percaya bahwa apa pun itu, tidak akan mengubah persahabatan yang ada. Sekilas Huang Ren Fu berpikir, betapa Ding Tao sesungguhnya memang sudah berubah, Ding Tao yang dulu tidak akan sebebas ini berlaku terhadap dirinya. Ding Tao yang dulu selalu membawa diri sebagai seorang hamba terhadap tuan mudanya. Tapi Huang Ren Fu tidak merasa terganggu dengan Ding Tao yang baru ini. Bicara ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba Huang Ren Fu bertanya.

"Bagaimana hubunganmu dengan Adik Ying Ying?"

Ditanya demikian Ding Tao pun tergagap.

"Eh... apa ... ah... entahlah..."

Memikirkan Ying Ying, Ding Tao jadi terdiam dan lesu, hilang sudah tawa cerianya bersama Huang Ren Fu tadi. Huang Ren Fu pun menghela nafas, lalu berkata.

"Ding Tao..., sedikit banyak aku sudah mendengar tentang kisah hubunganmu dengan kedua isterimu. Aku pun pernah melihat mereka berdua saat kau mengadakan syukuran kelahiran puteramu yang pertama. Keduanya memang wanita yang bisa dikatakan sulit dicari bandingannya."

Ding Tao masih terdiam dan Huang Ren Fu pun terdiam beberapa lama, mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan pikiran dalam benaknya.

"Kau tahu dalam hal hubungan kalian, kedudukanku berada di posisi yang serba tidak enak. Di satu sisi, kau ini sahabatku dan sebagai lelaki, meskipun aku tidak akan membenarkan perbuatanmu, tapi aku juga bisa memahami bagaimana hal itu sampai terjadi."

"Di sisi lain, Ying Ying adalah adikku yang kusayangi dan sekarang dia merupakan satu-satunya keluargaku di dunia ini. Tak mau aku melihat dia bersedih atau dihinakan orang.", ujar Huang Ren Fu. Ding Tao pun mendesah sedih dan berkata.

"Ren Fu..., tak nanti aku akan menghinakan atau membuat Ying Ying bersedih."

Huang Ren Fu mengangguk dan berkata.

"Ya..., aku percaya, tapi bagaimana dengan orang lain? Bagaimana dengan dua orang isterimu? Inilah pula yang menjadi salah satu alasanku, meminta kembali harta milik kami yang ada di Wuling. Dengan jalan itu aku berharap bisa memberikan latar belakang yang layak bagi Ying Ying. Bukan sekedar anak yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa, seorang murid perantauan. Meskipun guru memiliki nama besar dalam dunia persilatan, tapi seorang anak gadis tanpa keluarga yang kuat di belakangnya, akan ada saja orang yang akan mencibir dirinya."

"Ding Tao, apakah kau masih mencintai Ying Ying? Apakah engkau masih berpikir untuk menikahinya?", tanya Huang Ren Fu. Ding Tao mengangguk dengan tegas.

"Ya..., sejak pertemuan kita kembali di kaki Gunung Songshan, perasaanku padanya semakin kuat. Aku memang mencintainya dan jika dia bersedia, aku akan menikahinya. Aku tidak ingin memaksa dia untuk mengambil satu keputusan, tapi inilah yang ada dalam hatiku, lepas dari apa yang nantinya akan terjadi."

Huang Ren Fu tersenyum puas.

"Aku percaya padamu, aku percaya kau akan berusaha untuk membahagiakan dia. Dan percayalah, dia sungguh mencintaimu, selama ini dia terus memikirkan dirimu. Mungkin saat ini dia masih butuh waktu untuk bisa memaafkanmu, tapi pada akhirnya dia akan memaafkanmu."

Ding Tao terdiam beberapa lama, memandangi punggung Hua Ying Ying yang sedang bercanda dengan Chu Linhe.

"Ya... kuharap dia bisa memaafkanku."

"Apakah kau sudah berusaha menyampaikan padanya, mengenai keinginanmu untuk menikahi dia?", tanya Huang Ren Fu.

"Sudah..."

"Lalu apa jawabnya?"

"Dia berkata akan mempertimbangkannya lebih dahulu.", jawab Ding Tao sambil tersenyum pahit.

"Sudahkah kau bertanya lagi padanya setelah itu?", tanya Huang Ren Fu pada Ding Tao.

"Belum..., aku tidak ingin mendesak dia terus menerus... Sungguh aku merasa bersalah padanya dan aku tidak ingin terlalu mendesak dia. Setelah apa yang kulakukan sudah wajar jika dia menolak pinanganku itu.", jawab Ding Tao dengan pilu.

"Jangan bodoh, sudah berapa lama kau menunggu jawaban darinya?", tanya Huang Ren Fu.

"Entahlah, setidaknya sudah lewat beberapa hari, mungkin 1 minggu", jawab Ding Tao.

"Sudah cukup lama, bukankah sekarang dia sudah mulai mau kau ajak bercakap-cakap. Cobalah bertanya lagi padanya, masa kau berharap seorang gadis berbicara lebih dahulu mengenai masalah pernikahan? Jika kau tidak bertanya padanya, bisa jadi kalian berdua sebenarnya saling menunggu dan menunggu.", ujar Huang Ren Fu mendorong Ding Tao. Ding Tao pun berpikir beberapa lama, lalu menjawab.

"Kau benar..., begitu ada waktu yang tepat, aku akan bertanya lagi pada dia."

"Itu bagus...", jawab Huang Ren Fu. Dan hari itu pun akhirnya berlalu tanpa Ding Tao sempat bertanya pada Hua Ying Ying mengenai pinangannya pada gadis itu. Keesokan paginya Ding Tao berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi Hua Ying Ying. Mereka berangkat dari penginapan pagi-pagi sekali, ketika matahari baru bersinar dengan terang, rombongan Ding Tao sudah jauh meninggalkan desa tempat mereka menginap semalam. Udara yang cerah membuat semangat mereka semua terbangun. Bahkan Hua Ying Ying yang beberapa hari ini sering diam, tampak lebih banyak bicara, membuat Ding Tao tersenyum lebih banyak daripada kemarin. Dengan sengaja, kali ini Ding Tao mengajak Hua Ying Ying berjalan paling belakang. Huang Ren Fu yang bisa mengira-ngira apa yang akan mereka bicarakan, dengan sengaja mengajak Tang Xiong dan Li Yan Mao untuk ikut bergabung dengan Hua Ng Lau bertiga, berjalan paling depan.

"Kak Ding Tao, apa yang kemarin hendak dibicarakan Kakak Ren Fu denganmu?", tanya Hua Ying Ying tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Ding Tao terdiam sejenak.

"Tidak ada yang penting... kakakmu..., dia ingin tinggal lagi di Wuling itu saja."

Hua Ying Ying mendesah.

"Jadi akhirnya kakak setuju dengan saran Paman Li..., tidak perlu ditutupi, sedikit banyak kakak sudah pernah berunding pula denganku."

"Oh begitu..., lalu bagaimana menurut pendapat Adik Ying Ying tentang hal itu?", tanya Ding Tao.

"Aku tidak suka...", ujar Hua Ying Ying perlahan.

"Ah..., kenapa?", tanya Ding Tao tak tahu harus berkata apa.

"Kakak Ren Fu dan aku sudah memutuskan untuk membuang masa lalu, mengapa sekarang kami justru meminta lagi apa yang kami anggap sebagai hak kami? Entahlah... aku merasa, aku lebih bahagia seperti sekarang ini... bebas dari segala ikatan yang tak perlu...", ujar Hua Ying Ying perlahan.

"Tapi... kakakmu, melakukan hal itu, juga demi kebaikanmu... dia ingin...", Ding Tao tak tahu harus bagaimana menyampaikan apa yang dibicarakan dengan Huang Ren Fu kemarin. Setelah beberapa saat terdiam akhirnya Ding Tao memberanikandiri untuk bertanya.

"Adik Ying Ying, tentang lamaranku beberapa waktu yang lalu, sudahkah adik mempertimbangkannya?"

Hua Ying Ying tidak langsung menjawab, Ding Tao dibuat berdebar-debar menunggu jawabannya.

"Sudah kupertimbangkan...", ujar Hua Ying Ying pendek, kemudian lama dia terdiam kembali, membuat Ding Tao hanya bisa menunggu dengan dada yang serasa dihimpit gunung anakan.

"Kakak, jika teringat kakak sudah menikah, apalagi kakak berkenalan dan... bercinta dengan wanita lain, bahkan sebelum kakak mengira aku mati, sementara aku selalu menanti-nanti kedatangan kakak, hatiku terasa sakit... sakit sekali.", ujar Hua Ying Ying lalu kembali diam. Mendengar perkataan itu hati Ding Tao ikut terasa sakit, sakit oleh penyesalan, tapi waktu tidak bisa diputar kembali, hanya bisa berjalan terus ke depan.

"Tapi aku pun mengerti, kakak toh hanya seorang manusia, sementara bahkan dewa pun bisa tergerak hatinya dan melakukan kesalahan, apalagi manusia biasa. Dan kedua isteri kakak, memang bisa dikatakan serupa dengan dewi-dewi di langit cantiknya. Lagipula, aku tahu benar sifat kakak, tiap perkataan kakak, aku tidak meragukan ketulusannya. Sedikit banyak, kukira aku bisa belajar untuk memaafkan perbuatan kakak itu.", ujar Hua Ying Ying membuat harapan Ding Tao kembali muncul ke permukaan.

"Aku mencintai Kak Ding Tao, aku tidak bisa membohongi hatiku, semarah apapun, sebesar apapun rasa kecewa yang pernah kurasakan. Di lain pihak, aku jadi berpikir, jika aku menikah dengan Kak Ding Tao..., apakah kedua isteri Kak Ding Tao tidak akan merasakan sakit yang kurasakan? Jadi... jadi aku memutuskan...", tinggal satu kata, ya atau tidak, tapi berat sekali bagi Hua Ying Ying untuk mengatakannya.

"Aku memutuskan...", ujar Hua Ying Ying setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya, tapi omongannya itu terputus saat Tang Xiong dengan setengah berlari datang mendekat dan menunjuk jauh ke depan.

"Ketua... lihat, sepertinya ada rombongan dari Partai Pedang Keadilan yang datang menyambut kita.", seru Tang Xiong yang tidak tahu menahu tentang pembicaraan penting dari sepasang kekasih itu. Otomatis, Hua Ying Ying pun tidak meneruskan perkataannya dan Ding Tao ditinggalkan bertanya-tanya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam serba salah dan Tang Xiong yang menyadari suasana itu pun bertanya perlahan-lahan.

"Maaf... apakah aku mengganggu pembicaraan yang penting...?"

Gemas sekali hati Ding Tao, rasanya ingin dia menggampar wajah Tang Xiong yang baru saja sadar, sudah mengganggu satu pembicaraan yang penting.

Sekalipun demikian, tak sampai hati dia memaki Tang Xiong.

Dengan menahan kesal pemuda itu pun menggelengkan kepala.

"Tidak, tidak ada apa-apa", ujarnya sambil memandang ke depan, ke arah yang ditunjuk oleh Tang Xiong. Hua Ying Ying yang ikut merasa serba salah dengan kedatangan Tang Xiong yang tiba-tiba, cepat-cepat menyambung perkataan Ding Tao, supaya Tang Xiong tidak sempat bertanya lebih panjang.

"Kak Ding Tao, apakah benar yang di depan sana itu rombongan dari Partai Pedang Keadilan? Kalau benar, ayolah kita cepat-cepat menyongsong mereka pula."

"Benar, ayolah Paman Tang Xiong, mari kita percepat jalan kita.", ujar Ding Tao dengan segera menyambut usul Hua Ying Ying.

"Eh... ya baiklah, kukira di antara mereka tentu ada nyonya berdua, jika bukan mereka siapa lagi yang menggunakan kereta? Apakah Saudara Chou Liang? Menurut ketua bagaimana?", ujar Tang Xiong sambil mempercepat langkah kakinya. Mendengar ucapan Tang Xiong, hati Ding Tao terasa tenggelam.

"Kukira kau benar... tentu mereka berdua, jika tidak masakan harus pakai kereta segala."

Hua Ying Ying melirik sekilas ke arah Ding Tao, melihat wajah Ding Tao seketika itu juga hatinya mengkal, dalam hati dia membatin.

"Huh... tadi bersemangat sekali, sekarang melihat isterimu datang, toh kau jadi ketakutan..."

Ya, tapi siapa yang bisa menyalahkan Ding Tao, Tang Xiong yang tadinya bersemangat menyampaikan berita, begitu melihat wajah Ding Tao barulah dia tersadar.

Sudah juga jadi lelaki, kalau ada banyak wanita yang mengejar.

Dengan wajah kecut, Tang Xiong pun berjalan mengiringi Ding Tao tanpa berani banyak berkata apa-apa.

Ding Tao sendiri jadi tenggelam dalam segala macam perasaan dan perhitungan.

Seandainya Hua Ying Ying sudah memberikan jawaban yang pasti, maka lebih mudah bagi dia untuk mengambil satu keputusan.

Tapi Ying Ying belum sempat mengatakan ya atau tidak.

Betapa bodohnya jika dia menyambut kedua isterinya dan mengatakan akan menikahi Hua Ying Ying, tapi ternyata jawaban dari gadis itu adalah tidak.

Sebaliknya dia bisa merasakan pandangan tajam mata Hua Ying Ying yang mengamati setiap detail ekspresi wajahnya dan berusaha membaca perasaannya.

Hendak bertanya lebih jelas pada Ying Ying, tapi ada Tang Xiong di sana, sehingga dirinya pun tidak leluasa untuk bertanya.

Ding Tao masih sibuk berpikir bagaimana caranya agar dia bisa berbicara berdua saja dengan Ying Ying, ketika terlihat, kereta kuda yang ada di kejauhan itu berhenti bergerak, dengan serta merta Ding Tao pun berkata pada Tang Xiong.

"Saudara Tang Xiong, cobalah berjalan lebih dulu dan lihat, mengapa kereta itu berhenti bergerak, mungkin mereka butuh pertolongan."

Tang Xiong pun merasa lega dan dengan segera menjawab.

"Ah... tentu saja, baiklah ketua, aku akan bergegas ke sana, mendahului ketua."

Siapa sangka di saat itu, Hua Ying Ying yang masih merasa mengkal atas sikap Ding Tao berkata pula.

"Paman Tang Xiong, aku ikut denganmu, siapa tahu mereka memang perlu bantuan."

Dan habis berkata demikian tanpa menunggu gadis itu pun mempercepat langkahnya, meninggalkan Ding Tao dan Tang Xiong yang melengong dengan mulut setengah terbuka.

"Ketua... soal ini...", sedikit terbata Tang Xiong berdiri termangu memandang Ding Tao. Ding Tao pun hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Ahh... sudahlah..., ayolah kita semua sedikit bergegas."

Akhirnya mereka bertiga pun bergegas menghampiri rombongan yang ada di depan, kemudian bersama-sama, mempercepat langkah kaki mereka untuk menemui para penyambut dari Kota Jiang Ling.

Dari kejauhan mereka melihat dua orang wanita turun dari kereta, siapa lagi jika bukan Murong Yun Hua dan Murong Huolin.

Dengan berjalan kaki, kedua wanita itu bersama-sama para pengantarnya, pergi menyambut Ding Tao dan rombongannya.

Seperti apa perasaan Ding Tao, sulit sekali untuk dijelaskan, karenanya penulis memilih untuk membiarkan pembaca membayangkan sendiri perasaan Ding Tao saat itu.

Siapa yang hendak disalahkan jika pertemuan suami isteri yang sudah lama terpisah jadi terkesan sedikit kaku dan dipaksakan?

Ah, mungkin ini jelas-jelas salah Ding Tao, lelaki mana yang punya akal sehat akan datang bertemu dengan kedua isterinya, sembari membawa cinta pertamanya?

Tapi Ding Tao sendiri tidak pernah menduga bahwa Murong Yun Hua dan Murong Huolin akan pergi untuk menyambutnya, sehingga sebelum mereka bertemu, sementara permasalahan antara dirinya dan Hua Ying Ying belum memiliki kejelasan.

Bukan hanya Ding Tao, yang lain pun merasa berada di dalam kesusahan yang sama.

Hua Ying Ying yang bersangkutan langsung jelas ikut berdebar-debar jantungnya, meskipun debaran itu sedikit tersamar oleh kekesalannya pada Ding Tao.

Huang Ren Fu dan Hua Ng Lau sebagai orang terdekat dari Hua Ying Ying, ikut pula merasa mulas perutnya dengan semakin dekatnya jarak di antara dua rombongan ini.

Li Yan Mao dan Tang Xiong, meskipun tidak terkait secara langsung, ikut terpengaruh dengan suasana yang menyesakkan.

Hanya Ma Songquan dan Chu Linhe saja yang tidak terlalu ambil peduli, tapi mengamati kejadian ini dengan penuh rasa ingin tahu.

Tapi ketegangan itu dengan segera menjadi cair ketika kemudian Murong Yun Hua dan Murong Huolin berlari kecil dan dengan hangat menyapa, bukan saja Ding Tao tapi juga Hua Ying Ying dan yang lainnya.

"Kak Ding Tao..., syukurlah kalian semua baik-baik saja... Bagaimana dengan tangan kakak? Apakah masih sakit?", sapa Murong Yun Hua dan Murong Huolin dengan hangat pada Ding Tao. Kemudian sebelum Ding Tao sempat membuka mulut, keduanya meraih tangan Hua Ying Ying dan menggandeng gadis itu di kiri dan kanan.

"Nona Ying Ying, syukurlah ternyata kalian berdua baik-baik saja. Sungguhpun kami sangat terkejut mendengar berita tentang kalian berdua, tapi kami juga sangat bersyukur bahwa kalian berdua ternyata baik-baik saja. Kalau saja kau tahu betapa Kak Ding Tao sangat bersedih jika sedang memikirkan kalian berdua."

Dengan beberapa kalimat itu, dan disambung dengan sapaan-sapaan dan pertanyaan yang ramah pada semua orang yang ada, maka ketegangan yang sempat dirasakan itu pun dengan cxepat mencair.

Meskipun tentu ada sisa-sisa perasaan yang mengganjal, tapi perasaan itu tidaklah sampai membuat suasana menjadi rusak.

Kedua isteri Ding Tao dengan pandainya membawakan peranan mereka sebagai isteri-isteri yang berbahagia karena bertemu kembali dengan suami yang dikasihi.

Tentang kedudukan Hua Ying Ying sebagai kekasih Ding Tao, tidak sedikitpu mereka singgung, dan orang berakal mana yang mau coba-coba menyinggung masalah itu dalam keadaan demikian?

Dengan bijaksana kedua orang nyonya itu berjalan beriringan dengan Hua Ying Ying bukan berjalan beriringan dengan Ding Tao.

Dengan cara mereka bersikap, orang bisa menangkap, bahwa mereka tidak menafikan adanya hubungan hati antara Ding Tao dengan Hua Ying Ying.

Di saat yang sama mereka juga menunjukkan bahwa, mereka tidak akan memusuhi atau menyalahkan Hua Ying Ying atas hubungan gadis itu dengan suami mereka.

Tentu saja tidak ada seorangpun yang percaya bahwa kedua nyonya itu sungguh-sungguh tidak menyimpan ganjalan apa pun dalam hati mereka.

Namun justru ketulusan mereka dalam menyambut Hua Ying Ying, keramahan yang tidak dibuat-buat, membuat mereka semua kagum pada jiwa besar kedua orang nyonya itu.

Termasuk Hua Ying Ying sendiri, gadis itu ikut tergerak oleh keramahan mereka berdua yang tulus dan semakin kuatlah keyakinannya untuk menolak pinangan Ding Tao.

Gadis itu toh bukannya gadis yang egois dan mau menang sendiri.

Jangankan kedua orang nyonya itu bersikap ramah pada dirinya, seandainya mereka bersikap cemburu pun dia bisa mengerti.

Sikap ramah mereka berdua, juga cara mereka berusaha menjaga perasaan setiap orang, baik Ding Tao maupun dirinya, membuat Hua Ying Ying merasa kecil di hadapan mereka berdua.

Dia yang baru saja bersikap semaunya dan tidak mau tahu dengan kedudukan Ding Tao yang serba salah, tiba-tiba dihadapkan pada dua orang nyonya ini, yang menurut Ying Ying lebih berhak untuk merasa kesal dengan Ding Tao, tapi ternyata justru berusaha menghilangkan kekakuan yang ada di antara mereka ber-empat.

Di antara mereka semua, tentu saja yang paling merasa lega dan bersyukur adalah Ding Tao, wajahnya yang murung pun sekarang menjadi cerah.

Meskipun kedua isterinya justru bergandengan tangan dengan Hua Ying Ying, tapi justru itu yang membuat dia merasa senang.

Ding Tao pun menepuk jidatnya sendiri dalam hati, mengapa pula dia sempat merasa menyesal sudah menikahi dua kakak beradik itu.

Tak sedikitpun ada cela dalam sikap mereka sebagai isteri.

Tentu saja timbul pertanyaan dalam benak Ding Tao, jika demikian, lalu bagaimana dengan Hua Ying Ying sekarang?

Pemuda itu pun berharap-harap cemas, bahwa pada akhirnya semua akan berakhir dengan baik.

Dengan keceriaan dua orang nyonya itu, perjalanan yang panjang pun menjadi lebih ringan dan menyenangkan.

Tanpa terasa akhirnya mereka sampai pula pada kota tujuan mereka untuk hari itu.

Penginapan pun dipesan, dalam pembagian kamar tentu saja Ding Tao dan kedua isterinya diberikan satu kamar tersendiri.

Tapi ketika yang memesan kamar menyampaikan pembagian itu pada yang lain, Murong Yun Hua menggamit tangan Ding Tao dengan lembut.

"Suamiku, kuharap kau tidak marah, tapi bagaimana jika untuk malam ini, biarlah aku dan Adik Huolin tidur sekamar dengan Adik Ying Ying. Sungguh, ada banyak hal yang ingin kami bicarakan.", ujar Murong Yun Hua dengan lembut namun cukup jelas bagi setiap orang. Ding Tao tertegun menatap Murong Yun Hua beberapa lama, sebelum kemudian hatinya dipenuhi satu kehangatan oleh tatapan mesra yang terpancar dari mata Murong Yun Hua.

"Tentu saja, tentu aku tidak marah. Kupikir, adalah baik kalau kalian bertiga saling mengenal lebih dekat."

"Terima kasih...", ucap Murong Yun Hua pendek saja. Meskipun pendek tapi banyak arti yang tersirat di dalamnya, jika bukan Ding Tao percaya, tentu bukan demikian jawaban Ding Tao. Atas kepercayaan Ding Tao ini, betapa besar rasa terima kasih Murong Yun Hua, semuanya tertumpang di atas satu kata itu saja. Untuk sekejap lamanya, kedua orang ini saling memandang dengan mesra, sebelum Murong Yun Hua memalingkan wajahnya dan menarik tangan Hua Ying Ying dengan ceria.

"Ayolah Adik Ying Ying, kita lihat kamar kita, tubuhku sudah penat sekali tidak terbiasa dengan perjalanan panjang. Pasti nikmat berendam bersama dalam satu bak air panas yang besar."

Kemudian berpaling pada pemilik penginapan diapun berkata dengan ramah.

"Tuan pemilik, tentu bisa menyediakannya bukan?"

"Tentu nyonya, tentu, tentu saja kami bisa menyiapkan, akan kami siapkan dengan segera.", jawab pemilik penginapan itu dengan ramah dan pandang mata kagum yang tidak bisa disembunyikan. Melihat cara pemilik penginapan itu memandang Murong Yun Hua, Ding Tao hanya tersenyum saja, memiliki isteri yang cantik, apalagi dua orang isteri yang cantik tentu harus siap melihat lelaki lain memandang mereka dengan penuh kekaguman, asalkan tidak terlihat sorot mata yang kurang ajar atau kata-kata yang tidak sopan. Jika kurang rasa percaya pada pasangan, tentu mudah membuat timbulnya pertengkaran. Apalagi jika si suami rendah diri, tentu pernikahan jadi neraka. Bukan tidak mungkin isteri yang setia pun jadi berubah hati. Beruntung baik Ding Tao maupun kedua isterinya saling percaya, atau mungkin karena mereka masih pengantin baru? Entahlah kita Cuma bisa ikut menyimak saja perjalanan cinta mereka semua. Ajakan Murong Yun Hua awalnya membuat Hua Ying Ying terkejut, namun melihat keceriaan Murong Huolin dan ketulusan Murong Yun Hua, perasaan gadis itu pun ikut terbawa suasana, meskipun debar-debar kecil masih samar-samar terasa dalam dada. Ketiganya saling bercanda, bercakap-cakap dengan ramai, seperti biasa ketika gadis-gadis berkumpul, seakan-akan sudah bersahabat sejak lama. Meskipun demikian Hua Ying Ying dalam hatinya yang terdalam merasa, bahwa tentunya Murong Yun Hua memiliki maksud tertentu ketika mengatur agar mereka bertiga mendapatkan kamar yang sama. Debar-debar itu semakin jelas terasa, saat Murong Yun Hua dengan lembut berkata.

"Adik Ying Ying, bisakah kita berbicara mengenai hubunganmu dengan Kak Ding Tao?"

Ying Ying tergagap menjawab.

"Ah... apa perlunya... di antara kami sudah tidak ada apa-apa."

Murong Yun Hua tersenyum dengan lembut.

"Adik Ying Ying, tidak ada yang perlu kau sembunyikan, kami tahu kalian berdua pernah saling mencintai dan kukira masih saling mencintai."

"Apakah keramahan mereka hanya sandiwara saat berada di depan Kak Ding Tao? Dan sekarang setelah kami tinggal bertiga, mereka ingin memastikan agar tidak ada hubungan asmara di antara kami berdua?", dalam hati Hua Ying Ying bertanya-tanya. Melihat Hua Ying Ying diam tak segera menjawab, Murong Yun Hua memegang tangan Hua Ying Ying dengan lembut.

"Adik Ying... mengapa tidak terbuka saja, percayalah kami memahami keadaanmu."

Mendengar suara Murong Yun Hua yang lembut dan keibuan, air mata pun mulai mengembeng di pelupuk mata Hua Ying Ying, terisak dia menjawab.

"Ah... enci... kalaupun sudah tahu, apa lagi yang perlu diceritakan?"

Murong Yun Hua menghapus air mata yang mulai mengalir, sementara Murong Huolin memeluk Hua Ying Ying dari samping. Untuk beberapa lama, mereka bertiga tidak ada yang berbicara.

"Setelah pertemuan kalian di kaki Gunung Songshan, apakah Kak Ding Tao pernah menyatakan cintanya padamu? Apakah dia sudah pernah meminanngmu untuk jadi isterinya?", tanya Murong Yun Hua perlahan, ketika isak Hua Ying Ying sudah berkurang. Hua Ying Ying menganggukkan kepala sebagai jawaban, kepalanya menunduk memandangi lantai, tak berani bertatap muka dengan dua orang isteri Ding Tao yang sekarang sedang menghiburnya.

"Lalu... apakah Adik Ying Ying sudah menjawab?", tanya Murong Huolin hati-hati. Hua Ying Ying menggelengkan kepala, kemudian berkata.

"Tapi enci berdua tidak perlu khawatir, semuanya sudah kupikirkan baik-baik dan aku memutuskan untuk menolak pinangan Kak Ding Tao...."

Untuk sejenak Murong Yun Hua dan Murong Huolin saling berpandangan penuh makna, namun Hua Ying Ying yang masih menenangkan diri tak melihat hal itu.

"Hei... mengapa demikian? Apakah Adik Ying Ying sudah tak mencintainya lagi?", tanya Murong Huolin dengan heran. Agak lama sebelum Hua Ying Ying menjawab.

"Aku... aku tidak ingin berbohong pada enci berdua, sebenarnya perasaan itu belumlah hilang. Tapi aku tidak ingin menjadi pengganggu kebahagiaan kalian. Aku yakin Kak Ding Tao sudah mendapatkan dua orang isteri yang sangat baik, yang akan dapat membahagiakan dirinya. Sedangkan diriku, kukira setelah beberapa tahun, tentu perasaan ini akan hilang dengan sendirinya."

"Anak bodoh...", tegur Murong Yun Hua penuh rasa sayang.

"Bagaimana mungkin dia bisa berbahagia, jika dia tidak bersanding dengan dirimu, tak tahukah kamu, betapa dia mencintaimu?", tanya Murong Yun Hua pada Hua Ying Ying. Pipi Hua Ying Ying bersemu dadu mendengar perkataan Murong Yun Hua dan tidak menjawab apa-apa. Meskipun sudah bertekad untuk menolak pinangan Ding Tao, bagaimanapun juga hatinya mengembang mendengar kata-kata Murong Yun Hua itu. Tiba-tiba Murong Yun Hua mendesah sedih dan Hua Ying Ying pun menengadahkan kepala, melihat kesedihan di wajah Murong Yun Hua dan bertanya.

"Enci... mengapakah enci bersedih?", tanya Hua Ying Ying dengan kuatir.

"Bagaimana aku tidak bersedih? Kalian berdua tidak bisa bersatu..., semua itu adalah salahku.", keluh Murong Yun Hua. Hua Ying Ying yang sudah timbul perasaan suka dan sayangnya pada kedua bersaudara Murong itu, dengan serta merta menjawab.

"Jangan berpikir demikian, aku sudah mendengar semua kisahnya dari Kak Ding Tao dan aku kira itu semua bukan kesalahan enci berdua."

"Ah... benarkah demikian? Coba kau ceritakan apa yang Kak Ding Tao katakan kepadamu tentang pertemuannya dengan kami berdua.", ujar Murong Yun Hua. Maka Hua Ying Ying pun bercerita, menceritakan pengakuan Ding Tao tentang pertemuannya dengan kedua Murong bersaudara itu. Ding Tao adalah seorang pemuda yang tulus hati, dengan sendirinya dalam cerita itu dia tidak menceritakan bagaimana Murong Yun Hua menggodanya. Sebagai seorang pemuda yang lembut hati, dia menjaga nama baik kedua orang isterinya itu, dan kesalahan sepenuhnya tertimpa pada kelemahan hatinya. Setelah Hua Ying Ying selesai bercerita, maka Murong Yun Hua pun berkata.

"Ah... Ding Tao memang sungguh seorang lelaki sejati, tak hendak dia membuka aibku, meskipun dengan demikian dia bisa membersihkan namanya. Adik Ying, kisah Ding Tao itu meskipun tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar."

"Maksud enci?", tanya Hua Ying Ying dengan hati berdebar. Murong Yun Hua memandangi Hua Ying Ying lama sekali, kemudian berkata.

"Adik Ying Ying, sebelum kuceritakan yang sebenarnya, maukah kau berjanji untuk tidak memandang rendah diriku?"

"Tentu saja aku tidak akan pernah melakukan hal itu, sudah kudengar banyak hal yang baik tentang Enci Yun Hua, dan hari ini aku membuktikannya dengan mataku sendiri, mana mungkin aku memandang rendah enci?", jawab Hua Ying Ying dengan yakin. Tersenyum sedih, membuat mereka yang melihatnya merasa pilu, Murong Yun Hua pun menjawab.

"Jika sudah kuceritakan kisah yang sebenarnya, mungkin Adik Ying Ying tidak akan berpikir demikian lagi. Namun demi kebahagiaan kalian berdua, biarlah aku membuat pertaruhan ini."

"Dengarlah, sesungguhnya antara aku dan Ding Tao tidak pernah terjadi apa pun, sebelum pernikahan kami. Meskipun benar adanya kami berdua sudah jatuh cinta padanya, namun Ding Tao selalu mengingat dirimu semata. Hanyalah setelah mengira engkau sudah tiada, barulah hatinya terbuka bagi kami berdua. Itu pun pada awalnya dilakukan semata-mata karena rasa kasihan dan keinginan untuk membalas budi.", ujar Murong Yun Hua menjelaskan pada Hua Ying Ying.

"Aku tidak mengerti..., jika kalian berdua belum pernah berhubungan, lalu... lalu...", ujar Hua Ying Ying terbata-bata, tak tega hendak melanjutkan pertanyaannya.

"Lalu dengan siapa aku berhubungan hingga akhirnya aku berbadan dua.", sambung Murong Yun Hua melanjutkan pertanyaan yang tidak sampai hati diselesaikan oleh Hua Ying Ying. Air mata pun meleleh, membasahi kedua pipi Murong Yun Hua .

"Ah... adik... sebelum aku bertemu dengan Ding Tao, aku tidak tahu seperti apa lelaki yang baik itu."

Untuk beberapa saat lamanya ruangan itu hening, tak ada seorang pun yang bicara, kemudian Murong Yun Hua melanjutkan.

"Aku tertipu oleh seorang laki-laki... kukira apa yang terjadi tidak perlu kujelaskan, kau toh sudah mengerti. Tadinya sudah kuputuskan hendak hidup jauh dari orang-orang, biarlah kusembunyikan aib ini sendiri. Tapi nasib berkata lain, dalam pelariannya Ding Tao bertemu kami berdua."

"Saat itu dia dalam keadaan terluka dan dikejar-kejar oleh Sepasang Iblis Muka Giok, oleh belas kasihan, kami berdua memutuskan untuk menolong dirinya. Dalam waktu yang singkat itu, memang kami berdua dibuat terpikat oleh sifat-sifatnya yang mulia. Namun dalam hatinya hanya ada dirimu, tak ada tempat bagi yang lain. Aku pun bisa menerima kenyataan itu, mengingat keadaanku ... ah... masakan aku cukup berharga untuknya?", Murong Yun Hua bercerita penuh perasaan, membuat Hua Ying Ying ikut hanyut dalam ceritanya.

"Ketika kami mendengar nasib buruk yang menimpa dia, tak tahan, kami pun datang mengunjunginya, untuk memberikan sedikit bantuan yang bisa kami berikan. Keadaanku yang berbadan dua, tentu saja mengundang pertanyaan. Tapi di sinilah kemurahan haitnya sungguh terlihat, tanpa ragu dia mengakui anak ini sebagai anaknya. Adik Ying Ying, kau yang paling mengenal dirinya, jika dia merasa berhutang budi pada seseorang, dalam keadaan seperti itu, di mana dia juga mengira dirimu sudah meninggal, menurutmu apakah dia akan berlaku demikian?", tanya Murong Yun Hua pada Hua Ying Ying. Hua Ying Ying pun tercenung, dan mengingat-ingat segala sifat baik Ding Tao. Kelembutannya bahkan kelemahan hatinya jika melihat kesusahan orang lain. Apakah mungkin ini kisah yang sebenarnya? Bagi kita yang mengikuti perjalanan Ding Tao dari awal hingga sekarang, tentu saja kita tahu bahwa cerita Murong Yun Hua tidak lebih hanyalah karangan belaka. Jika Ding Tao mengisahkan pertemuannya dengan Murong Yun Hua sambil menutupi bagian-bagian yang dia anggap bisa mempermalukan Murong Yun Hua, maka justru Murong Yun Hua tanpa ragu mengisahkan kisah itu dengan memikul semua aib pada dirinya, mengangkat Ding Tao seakan dia seorang lelaki tanpa cacat, serupa malaikat atau orang suci. Apakah ada manusia sebaik itu? Mungkin demikian kita akan bertanya-tanya, tapi Hua Ying Ying yang sedang jatuh cinta pada Ding Tao, mana mungkin bertanya demikian. Melihat Hua Ying Ying termakan oleh ceritanya, Murong Yun Hua pun melanjutkan.

"Sungguh aku berterima kasih tak terkira dalamnya saat dia meminang wanita yang penuh noda ini, menjadi pahlawan yang menghapuskan aib, yang kukira harus kutanggung oleh diriku dan oleh anak dalam kandunganku seumur hidupku."

Air mata Hua Ying Ying kembali mengembeng, perasaannya campur aduk antara terharu, bangga dan bahagia.

"Tapi aku merasa diriku tak pantas baginya, di saat yang sama, pinangan itu adalah berkah yang tak terkira harganya. Kebetulan aku tahu bahwa Adik Huolin menyimpan rasa pada dirinya, dan aku memutuskan untuk menerima pinangannya, asalkan dia bersedia menikah pula dengan Huolin adikku yang masih suci. Hanya dengan cara itu, setidaknya aku tidak merasa terlampau malu, merasa tak pantas setiap kali aku bersanding dengan dirinya.", ujar Murong Yun Hua melengkapi kisah buatannya.

"Adik Ying Ying, mengertilah, sungguh hanya dirimu yang ada dalam hatinya. Jika sekarang kau menolak pinangannya, betapa kau juga menambahkan bara di atas kepalaku. Jika karena keegoisanku, kalian berdua tidak bisa bersatu, lebih baik... lebih baik aku mati saja sekarang ini", ujar Murong Yun Hua menutup siasatnya, diiringi tangis yang sangat sedih.

"Ah...enci... janganlah berpikir demikian", ujar Murong Huolin dengan sedih dan ikut pula menangis. Ketiga gadis itu pun bertangis-tangisan untuk beberapa lama. Perasaan memang mudah dipermainkan, betapa banyak orang mencari untung dengan curang bermodalkan kepandaian mereka memainkan perasaan orang lain. Kali ini Murong Yun Hua membuat perasaan Hua Ying Ying naik dan turun, air mata diperas seperti curahan hujan. Tapi jika penipu, menipu untuk keuntungannya sendiri, Murong Yun Hua menipu untuk keuntungan suaminya dan merugikan diri sendiri.

"Ah lebih baik aku mati", keluh Murong Yun Hua untuk ke sekian kalinya. Dengan penuh rasa haru Hua Ying Ying pun menggenggam erat tangan Murong Yun Hua yang sedang menarik-narik rambut sendiri.

"Sudahlah enci, hentikan... hentikan..., jangan pernah berpikir demikian. Jika enci meninggal bagaimana dengan anak enci yang masih kecil?"

"Tapi jika karena diriku, aku justru membuat tuan penolongku tak bisa bersatu dengan gadis yang dia cintai, masakan aku kasih punya muka untuk hidup lagi", ujar Murong Yun Hua sambil menangis.

"Tidak... tidak..., aku akan menerima pinangannya, jadi enci janganlah berpikiran demikian lagi.", jawab Hua Ying Ying dengan air mata berlinangan.

"Maksud adik... adik tidak jadi memutuskan untuk menolaknya?", tanya Murong Yun Hua sambil menyusut air mata. Dengan wajah bersemu merah Hua Ying Ying menganggukkan kepala, disambut dengan seruan gembira oleh kedua orang bersaudara Murong. Sekali lagi mereka saling berangkulan dan sungguh sulit mengerti wanita, saat sedih mereka menangis, siapa sangka saat bahagia pun mereka juga menangis. Puas menangis, barulah mereka saling berpandangan dan melihat keadaan masing-masing. Sambil tertawa geli mereka merapikan diri masing-masing, kemudian dengan kerlingan nakal Murong Huolin berkata.

"Tapi biarlah keputusan Adik Ying Ying ini, jangan kita sampaikan dulu pada Kak Ding Tao. Mulai besok, kita bertiga harus bersikap agak dingin padanya. Biarlah dia diberi pelajaran, agar tidak mudah menebar pesona, jika tidak, sekarang ada tiga, bisa-bisa nanti akan ada yang ke-empat, ke-lima dan selanjutnya."

Usul Murong Huolin yang nakal itu dengan serta merta diterima, diiringi oleh tertawa terkikir dari kedua orang gadis yang lain.

Dengan ini, maka selesailah masalah Ding Tao dengan Hua Ying Ying, meskipun sisa perjalanan mereka dipenuhi dengan berbagai macam kejahilan ketiga orang wanita ini kepada Ding Tao.

Meskipun demikian, melihat ketiganya akur adalah hiburan terbaik bagi Ding Tao.

Kalaupun terkadang dia mendapati sikap yang bermusuhan dari ketiganya, hal itu masih jauh lebih baik bagi dia, daripada melihat ketiganya bertengkar di depan dirinya.

Perubahan suasana ini tentu saja ditangkap oleh anggota rombongan yang lain, dengan sendirinya perjalanan yang cukup panjang jadi lebih menyenangkan.

Sesampainya mereka di Jiang Ling, tidak banyak yang bisa diceritakan lagi, kecuali tentang persiapan pernikahan Ding Tao dan perjalanan Wang Shu Lin yang semakin lama semakin mendekati kota Jiang Ling.

Sementara nama Murong Yun Hua semakin harum di antara mereka yang mendengar kisah tentang kesetiaan dan kebesaran hatinya.

Sosok wanita itu jadi semakin menawan, bagi dia yang diam-diam menyimpan cinta padanya.

Semakin besar cinta yang terasa, semakin sakit pula karena tidak bisa memilikinya.

Di satu sisi, seakan kekusutan jaring-jaring cinta dalam kehidupan Ding Tao sudah bisa diluruskan, tapi diam-diam justru tumbuh masalah lain yang semakin besar, namun sampai saat ini belum kelihatan.

Hampir satu bulan lamanya Jiang Ling disibukkan dengan persiapan pernikahan Ding Tao dengan Hua Ying Ying.

Di saat yang sama, Tiong Fang mengajukan hukum-hukum dan peraturan dalam partai yang nantinya disiapkan untuk menangani para pengkhianat di Guiyang, sesuai dengan pemikiran Murong Yun Hua.

Dunia persilatan pun ramai dengan kabar pernikahan Ding Tao dengan isteri yang ketiga.

Tidak sedikit yang meragukan kerja dari Wulin Mengzhu yang baru, bayangkan saja dalam waktu kurang dari satu tahun menikahi tiga orang wanita.

Apakah dia lawan yang sepadan bagi Ren Zuochan?

Jika dia sibuk dengan kehidupan cintanya sementara Ren Zuochan sibuk melatih ilmunya.

Baiknya masih ada Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan.

Lepas dari Ding Tao sebagai tokoh paling menonjol di generasi yang sekarang, dua orang tokoh tua ini masih merupakan pilar yang menjadi penyangga kegarangan dunia persilatan dalam perbatasan.

Hanya mereka yang tidak mengenal Ding Tao yang berpikir demikian, atau mereka yang memang ingin melihat kejatuhan pemuda itu.

Dalam kenyataannya Ding Tao sangat menyadari posisinya saat ini.

Hampir setengah dari seluruh waktunya dia habiskan untuk mendalami apa yang sudah dia pelajari.

Beruntung ada orang-orang yang bisa dia percayai untuk memegang kendali partai, sementara dia berkonsentrasi untuk meningkatkan terus ilmu-ilmu yang sudah dia miliki.

Pamor Partai Pedang Keadilan semakin mencorong dengan dua pedang pusaka di tangan mereka.

Pedang Angin Berbisik kembali dipegang Ding Tao, sementara Pedang Amarah Phoenix menjadi penanda kuasa bagi mereka yang diutus Ding Tao atas nama Partai Pedang Keadilan.

Di tangan seorang ahli pedang seperti Liu Chun Cao, maka memberikan tanda kuasa dalam bentuk sebuah pedang pusaka sungguh membuat perbedaan yang besar, seperti seekor harimau tumbuh sayap.

Tapi semuanya datang dengan harga yang tidak murah, orang boleh saja iri dengan Ding Tao yang memiliki dua orang isteri yang cantik dan dalam waktu dekat akan menikah dengan isteri yang ketiga.

Memiliki nama besar dalam usia yang sangat muda, memiliki kedudukan nomor satu dalam dunia persilatan, apa lagi yang kurang?

Namun dalam kenyataannya, dengan segala pencapaiannya itu, Ding Tao menghabiskan lebih banyak waktu untuk memenuhi tanggung jawabnya, daripada menikmati pencapaian-pencapaian itu.

Semakin sibuk Ding Tao, semakin sedikit waktu yang bisa dia berikan untuk kedua orang isterinya.

Satu malam Ding Tao yang baru saja selesai bercinta dengan kedua isterinya, tengah berbaring sambil memeluk Murong Yun Hua dan Murong Huolin di kiri dan kanannya.

Dengan lembut dia membelai-belai rambut mereka yang hitam tebal, sementara matanya menerawang ke langit-langit kamar tidur mereka.

Menghitung balok-balok kayu yang saling silang di atas sana.

Tiba-tiba dia menghela nafas.

"Hehh...., isteriku..., kalau dipikir baik-baik, betapa banyak yang kalian berikan, namun betapa sedikit aku membalas kebaikan kalian...."

Sambil tertawa lembut Murong Huolin tidak berkata banyak, hanya bergerak merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan Ding Tao.

Membuat darah Ding Tao berdesir dan dadanya dirambati kehangatan, saat merasakan tubuh lembut dan hangat Murong Huolin merapat ke tubuhnya.

Apalagi ketika kaki Murong Huolin yang panjang bergerak menindih paha Ding Tao, dan Ding Tao bisa merasakan bulu-bulu di bagian tertentu milik Murong Huolin membelai pangkal pahanya, membangkitkan kembali yang baru saja tertidur.

Perubahan pada tubuh Ding Tao tidak lepas dari perhatian Murong Yun Hua, sambil tertawa geli Murong Yun Hua menggeser tubuhnya ke atas, membuat sepasang putingnya tepat berada di depan wajah Ding Tao.

Remangnya malam, tidak mampu menyembunyikan bentuk sempurna dari sepasang buah dada Murong Yun Hua.

Cahaya lilin yang sesekali bergoyang, membentuk siluet lengkung yang sempurna di mata Ding Tao.

Murong Yun Hua pun merintih perlahan saat Ding Tao dengan lembut merengkuh sepasang payudaranya.

Sekali lagi kamar itu pun dipenuhi desahan dan erangan kenikmatan.

Waktu pun terus berjalan, entah berapa lama sebelum akhirnya mereka bertiga berbaring dengan tenaga terperas namun puas.

Berbantalkan sebelah tangan Murong Yun Hua, kepala Ding Tao bersandar pada dada isterinya itu, sementara Murong Yun Hua dengan lembut membelai dan menyisir rambut Ding Tao.

"Ding Tao... jangan pernah berpikir tentang siapa yang lebih banyak memberi dan siapa yang lebih banyak menerima. Bagi kami, asalkan kau sungguh-sungguh mencintai kami, kami sudah merasa sangat bahagia."

"Itu benar Kak Ding Tao...", ujar Murong Huolin sambil menyandarkan kepalanya di dada Ding Tao yang bidang.

"Kalian terlalu baik padaku...", kata Ding Tao terharu.

"Asalkan kami selalu ada dalam hati kakak...", jawab Murong Huolin.

"Tentu saja... aku tidak akan pernah berhenti mencintai kalian berdua.", jawab Ding Tao dengan setulusnya. Udara semakin dingin, namun mereka merasa hangat meskipun tanpa selembar kain pun untuk menutup tubuh mereka. Kehangatan yang menyebar dari dalam dada mereka. Murong Yun Hua diam-diam menghela nafas.

"Apakah ini yang namanya kebahagiaan?"

Ding Tao dan Murong Huolin sudah tertidur pulas, perlahan-lahan Murong Yun Hua menarik lengannya dari bawah kepala Ding Tao dan bangkit berdiri dari pembaringan.

Berjalan dalam keadaan telanjang, Murong Yun Hua perlahan tanpa suara duduk di sebuah kursi tempat dia biasa merias diri.

Sebuah cermin besar terbuat dari perunggu ada di depannya.

Duduk dengan punggung tegak, Murong Yun Hua perlahan menyisir rambutnya yang panjang dan lebat, sembari mengamat-amati bentuk tubuhnya.

Mengamati garis rahangnya yang lembut namun tegas, membingkai sepasang mata yang jeli, hidung yang mancung dan bibir merah merekah .

Mengamati lehernya yang jenjang yang menopang wajah yang cantik itu, sebuah garis lembut ke bawah, kemudian melekuk mendatar, menampilkan dua bahu yang halus.

Perlahan Murong Yun Hua mengangkat dua buah tangannya, menggelung rambutnya yang panjang.

Matanya menelusuri garis lengan, yang mengalir bersambung dengan garis yang membentuk tubuhnya, ke arah sepasang payudara yang menggantung, mengundang.

Memandang ke arah pinggangnya yang ramping dengan pinggul membulat.

Ke arah pahanya yang bersilang, menyembunyikan miliknya yang paling berharga.

Salahkah dia bila merasa bangga dengan kecantikannya sendiri?

Tersenyum bangga melihat kesempurnaan tubuhnya, Murong Yun Hua mengalihkan pandangannya, memandangi Ding Tao yang tertidur pulas dengan Murong Huolin dalam pelukannya.

Memandangi Ding Tao, perasaan Murong Yun Hua bercampur aduk tak menentu.

Sungguh dia tidak mengerti, apa yang membuat Ding Tao berbeda dari lelaki lain dalam hidupnya.

Dengan cara apa pemuda itu mampu membuat perasaannya goyah?

Memandangi Ding Tao, Murong Yun Hua tiba-tiba terkenang pada lelaki pertama dalam hidupnya, Jin Yong, pendekar pedang yang terkenal itu.

Dia teringat pertama kali ayahnya mengundang Jin Yong untuk menginap di kediaman keluarga Murong dan memperkenalkan Jin Yong pada setiap anggota keluarga Murong.

Waktu itu umurnya belum lagi genap 15 tahun, meskipun tubuhnya sudah mulai menojolkan lekuk tubuh wanita dewasa, pikirannya masihlah seorang kanak-kanak yang baru mulai mengerti apa itu cinta antara lelaki dan perempuan.

Bersama teman sebaya saling menggoda dan terkikik geli membicarakan anak lelaki yang seumuran.

Jin Yong memang pantas untuk menjadi tokoh kenamaan di generasinya, wajahnya mungkin tak setampan Ding Tao, namun gerak-gerik dan perilakunya jauh lebih berwibawa dan memancarkan rasa percaya diri yang tinggi, membuat orang yang berhadapan dengannya merasa kagum dan lawan yang berhadapan dengannya merasa gentar.

Murong Yun Hua pun saat itu dibuat kagum dan berdebar-debar saat ayahnya memperkenalkan pendekar pedang kenamaan itu pada dirinya.

Usia Murong Huolin saat itu masih terlampau muda untuk mengerti hal-hal demikian.

Gadis kecil itu bersembunyi di belakang tubuh ibunya, takut dan malu-malu saat hendak diperkenalkan pada Jin Yong.

Meskipun menyimpan rasa kagum pada Jin Yong, tetap saja Murong Yun Hua terkejut dan ragu, ketika ayahnya mengusulkan pada Jin Yong, untuk mengambil Murong Yun Hua sebagai isterinya.

Saat itu Murong Yun Hua belum memahami pesona dirinya sendiri atas lelaki.

Apalagi di usianya yang masih remaja, kecantikannya memancarkan keluguan kanak-kanak, yang seakan bersih dari dosa, memberikan kesan yang berbeda dari kecantikan yang berasal dari dunia lain, seperti seorang peri hutan yang malu-malu.

Hati Jin Yong pun tergetar begitu pertama kali melihat dia.

Seperti juga Ding Tao saat pertama kali melihat dia.

Gayung pun bersambut, Jin Yong yang terpukau oleh kecantikan Murong Yun Hua tentu saja menyambut gembira usulan ayah Murong Yun Hua.

Sementara Murong Yun Hua yang belum benar-benar mengerti cinta, setidaknya menyimpan rasa kagum atas diri Jin Yong dalam hatinya.

Pernikahan pun dilaksanakan, sampai pada titik itu, tidak ada seorang pun yang merasa diperalat, baik Murong Yun Hua maupun Jin Yong sendiri.

Tapi tidak ada pernikahan yang berjalan tanpa masalah.

Teringat dengan Jin Yong maka ingatan Murong Yun Hua pun berkelebat pergi, berkelana kembali pada pengalamannya yang pertama dengan kebuasan laki-laki.

Saat itu Murong Yun Hua sedang berbaring dengan jantung berdebar-debar di atas pembaringan yang sudah disiapkan.

Bau wewangian memenuhi ruangan, kepalanya masih terasa ringan setelah meneguk arak pernikahan.

Jin Yong belum masuk, masih tertahan di luar dengan beberapa orang tamu laki-laki, yang terdengar dari tempat Murong Yun Hua menanti, hanyalah suara ramai yang tidak jelas.

Dengan jantung berdebar, Murong Yun Hua memasang telinga, membayangkan apa yang terjadi di luar sana.

Satu kali sorakan terdengar lebih keras dari sebelumnya, disusul langkah kaki yang perlahan-lahan mendekat.

Jantung Murong Yun Hua pun terasa berdebar begitu keras, seakan dadanya akan pecah oleh detakan jantungnya.

Ketika pintu perlahan-lahan terbuka, Murong Yun Hua yang gugup, berpura-pura sudah tertidur dan menutup matanya rapat-rapat.

"Yun Hua...", panggil Jin Ying perlahan, diiikuti suara pintu ditutup dan dipalang dari dalam. Detak jantung Muring Yun Hua semakin keras, memenuhi telinganya, wajahnya merah padam, namun dalam cahaya lilin yang temaram, hal itu hanya membuat dia makin menawan.

"Yun Hua... apakah kau sudah tertidur?", sekali lagi Jin Yong bertanya dengan suara perlahan sambil berjalan mendekat. Kelopak mata Murong Yun Hua sedikit bergetar, terlalu lama dipaksa menutup, padahal dia belum tertidur pulas. Murong Yun Hua yang tidak tahu harus berbuat apa, meneruskan saja sandiwaranya, nafasnya dibuat sehalus mungkin menyerupai orang yang sudah tertidur pulas. Meskipun demikian, seluruh inderanya yang lain bekerja dengan keras. Jantungnya serasa akan melompat saat dia merasa, selimut yang menutupi tubuhnya ditarik pergi. Menyusul pembaringan yang bergerak saat Jin Yong membaringkan tubuhnya di sisi Murong Yun Hua. Bau arak samar-samar tercium, makin lama makin keras, bersamaan dengan hangatnya nafas Jin Yong yang menghembus lehernya.

"Yun Hua... apakah kau sudah tertidur...?", untuk kedua kalinya Jin Yong bertanya, pertanyaan yang tidak menunggu jawaban dari Murong Yun Hua. Sejak tadi Jin Yong sudah menyadari gadis di depannya hanyalah berpura-pura tertidur pulas. Dia tidak menjadi marah, justru dia menikmati pemandangan yang ada di depannya, menghabiskan waktu mengagumi gadis yang baru dia nikahi. Dadanya berdebar, tapi bukan oleh rasa takut seperti Murong Yun Hua, melainkan berdebar karena nafsu yang makin memuncak. Darah Murong Yun Hua pun berdesir, saat hembusan nafas Jin Yong semakin dekat, meniup-niup lehernya. Apalagi ketika dia merasakan bibir Jin Yong mengecupi lehernya yang jenjang. Sebuah perasaan yang sulit dijabarkan dengan kata-kata, desir-desir sensasi kenikmatan yang merambat ke seluruh tubuhnya. Setengah sadar, Murong Yun Hua merasakan jubah luarnya disingkapkan. Murong Yun Hua pun terkesiap kaget, saat tangan Jin Yong menyusup masuk ke dalam pakaian dalamnya dan meremas-remas sepasang payudaranya, kepalanya yang terasa ringan setelah meminum arak pernikahan, sekarang semakin melayang. Seluruh tubuhnya terasa panas, terutama di bagian tertentu dari tubuhnya. Murong Yun Hua tak bisa lagi berpura-pura tertidur pulas, nafasnya memburu dan tanpa bisa ditahan dia mengerang nikmat. Antara sadar dan tidak, Murong Yun Hua samar-samar mengingat, bagaimana pakaiannya dilucuti satu per satu, rasa malu bercampur takut tidak bisa mengalahkan kenikmatan yang dia rasakan. Semuanya begitu membingungkan sampai ketika Jin Yong mulai menindih tubuhnya dan dia bisa merasakan sesuatu yang keras hendak memasuki dirinya. Di saat itu, tiba-tiba panik dan takut menguasai dirinya.

"Tunggu... jangan...", rintih Murong Yun Hua sambil meronta berusaha lepas dari tindihan Jin Yong. Tapi Jin Yong sudah tidak bisa mengendalikan diri,sedikitpun dia tidak menyadari ketakutan dalam suara Murong Yun Hua. Rontaan dan rintihan Murong Yun Hua justru seperti minyak yang disiramkan ke atas api, membuat nafsu Jin Yong semakin membara. Apalah artinya kekuatan Murong Yun Hua dibandingkan kekuatan Jin Yong? Semakin Jin Yong memaksa, semakin besar ketakutan dan kepanikan yang menguasai Murong Yun Hua, dan semakin bersemangat pula Jin Yong untuk mendapatkan apa yang dikehendakinya. Puncaknya saat Jin Yong dengan sekuat tenaga mengambil kesucian Murong Yun Hua. Murong Yun Hua memekik kesakitan saat kesuciannya direnggut dengan paksa, tapi hal itu tak sedikitpun memadamkan bara api dalam dada Jin Yong. Tanpa mempedulikan permohonan dan isak tangis Murong Yun Hua, Jin Yong bergerak tanpa henti, merobek-robek khayalan indah Murong Yun Hua menjadi satu mimpi buruk yang panjang. Teringat kembali dengan kejadian malam itu, Murong Yun Hua menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir pergi ingatan yang pernah menghantui dirinya. Tidak, dia bukan lagi seorang gadis bodoh seperti belasan tahun yang lalu. Seulas senyum mengejek terbentuk di wajahnya, menertawakan kebodohan dirinya di masa muda. Murong Yun Hua berdiri dan mulai berpakaian, gerak-geriknya lugas, seakan ingin lari dari ingatan masa lalu yang sering menyergap dirinya di saat-saat seperti ini. Tapi ingatan masa lalu tidak ubahnya seperti arwah penasaran yang berkeras tak mau pergi dengan damai ke alam kematian. Malam pertama yang menakutkan bagi Murong Yun Hua hanyalah awal dari serangkaian mimpi buruk yang lain. Mengingat satu hal, kemudian ingatan lain datang mengikuti. Wajah Murong Yun Hua mengeras, saat dia teringat guncangan terbesar dalam hidupnya. Hari itu dia menangis sesenggukan, datang pada ayahnya yang selama ini selalu memanjakan dirinya. Mencari pertolongan dan rasa aman yang selama ini dia dapatkan, meskipun merasa malu, dengan terbata dan serba samar, dia mengisahkan kebuasan Jin Yong terhadap dirinya. Tentu saja Murong Yun Hua sudah cukup dewasa untuk mengetahui bahwa yang terjadi adalah hal yang memang sudah sewajarnya. Sudah menjadi bagian dari tugasnya sebagai seorang isteri, namun seumur hidupnya dia hidup dikelilingi orang-orang yang memanjakan dirinya, sulit bagi Murong Yun Hua ketika dia kemudian ditempatkan pada posisi harus menerima keinginan orang lain atas dirinya, meskipun orang itu adalah suaminya. Pikirannya masih berkutat pada masa lalu, ketika dia perlahan-lahan meninggalkan kamar mereka. Dengan hati-hati ditutupnya pintu, kemudian tanpa suara dia berjalan, menelusuri lorong yang sepi, menuju ke tempat beristirahatnya pelayan-pelayan pribadi keluarga Murong. Jalan yang ditempun tidaklah jauh, namun belasan tahun lamanya berkelebatan dalam benak Murong Yun Hua sebelum dia mencapai tempat yang dia tuju. Guncangan terbesar dalam hidupnya, adalah ketika dia mendapati ayahnya yang dia puja dan cintai, sosok ayah dan sosok laki-laki yang ideal dalam hidupnya, ternyata tidak mencintainya dengan tulus sebagai seorang anak. Ayahnya hanya memandang dia sebagai barang berharga yang bisa digunakan untuk mencapai cita-citanya sendiri. Saat itu seperti juga malam ini, Murong Yun Hua berjalan perlahan dalam gelap, dengan tubuh sakit dan anggota tubuh yang paling dia jaga terasa pedih tersayat-sayat, terpincang-pincang menahan nyeri, menyusuri lorong dalam rumah mereka. Sementara Jin Yong sudah tertidur pulas, dipenuhi kepuasan yang tiada tara. Tujuannya hanya satu, mencari tempat di mana dia merasa aman, mencari sosok yang bisa menenangkan kegalauan dalam hatinya. Murong Yun Hua mencari ayahnya. Kakinya membawa dia ke arah ruang belajar pribadi milik ayahnya. Ruang yang dipenuhi buku-buku tua, gulungan kitab dari sutra dan terkadang tersusun dari bilah-bilah tipis bambu yang diikat menjadi satu. Kenangan manis saat dia diajar ayahnya untuk membaca, membuat dia tanpa sadar berjalan ke ruangan itu, dalam hatinya dia tahu betul ayahnya akan berada di sana, seperti biasa membaca kitab-kitab kuno hingga larut malam. Di sisi lain, Murong Yun Hua pun sadar, apa yang terjadi malam itu adalah satu kewajaran, satu bagian dalam kehidupan berumah tangga. Didikan dari ayah dan ibunya, akan tugas dia sebagai seorang isteri membuat langkahnya dibayangi keraguan. Itu sebabnya, saat dia akhirnya sampai di sana, Murong Yun Hua tertegun di dekat pintu dan tidak memiliki keberanian untuk mengetuknya, justru perlahan-lahan dia bersimpuh dengan tubuh yang terasa lemas, bersandar di dinding dekat pintu masuk. Nyala api lilin yang terlihat menerangi ruangan itu dari kertas-kertas tipis yang menutup jendela dan dari berkas-berkas cahaya yang menerobos keluar dari celah-celahnya, memberi tahukan pada Murong Yun Hua bahwa ayahnya ada di sana. Namun sedekat itu dia dari apa yang dia cari, justru keberaniannya hilang di saat terakhir. Bisa dikatakan, nasib Murong Yun Hua sudah mulai ditentukan sejak saat itu. Sisa keberanian dan keinginan yang ada dalam hati Murong Yun Hua untuk menemui ayahnya, menguap seketika, ketika dia mendengar suara pamannya dari dalam ruangan.

"Hmm... kakak, menurut kakak, apakah sudah cukup tali-tali yang kita pasang untuk menggerakkan Jin Yong sebagai boneka kita, dengan menikahkan dia dengan Yun Hua?", ujar paman Murong Yun Hua, ayah Murong Huolin terdengar bertanya pada ayah Murong Yun Hua.

"Tentu saja tidak..., kita butuh jaminan yang lebih pasti sebelum kita memberikan Pedang Angin Berbisik padanya.", jawab ayah Murong Yun Hua dengan segera.

"Apakah kakak sudah memiliki sebuah ide?", tanya paman Murong Yun Hua.

"Hmm... aku sedang membaca mengenai satu macam obat yang tertulis dalam salah satu catatan murid Tabib Hua yang tidak pernah ditemukan orang."

"Apakah semacam obat perebut jiwa? Tapi kita tidak ingin memiliki sebuah mayat hidup, yang kita butuhkan adalah orang dengan pikiran yang sehat, namun berada di bawah kendali kita, mengikuti secara aktif apa yang kita rencanakan. Jin Yong seharusnya akan menjadi ujung tombak dalam rencana kita, sementara kita hanya bergerak di balik layar.", ujar Paman Murong Yun Hua mengajukan keberatan.

"Hoho, tunggu dulu, aku belum selesai menjelaskan. Jika benar apa yang tertulis dalam buku ini, obat ini sesungguhnya akan membuat orang yang meminumnya menjadi lebih cerdas dan sistem syarafnya bekerja dengan lebih sempurna. Sejak awal tujuan orang tersebut berusaha meramu obat, bukanlah untuk membuat obat perebut jiwa.", jawab Ayah Murong Yun Hua dengan penuh semangat.

"Hmmm... cobalah kakak jelaskan sampai selesai.", ujar Paman Murong Yun Hua dengan tertarik.

"Ya, yang dicari oleh tabib ini adalah obat yang bisa membuat dia lebih cerdas, lebih mudah mengingat segala macam pengetahuan, ambisinya adalah menjadi tabib yang paling ternama, melampaui gurunya. Menurut catatan hariannya, pada awalnya obat ini memang memberikan efek yang dia inginkan, namun ada efek samping yang tidak berhasil dia pecahkan."

"Apa itu?"

"Obat itu menciptakan ketergantungan, benar memang saat dia mengkonsumsi obat itu, pikirannya berjalan lebih terang, namun saat dia berhenti meminumnya, tubuhnya bereaksi dengan keras, menuntut dirinya agar meminum obat itu lagi, Jika tidak, selain membuat tubuhnya sulit bergerak, pikirannya pun menjadi kabur.", ujar Ayah Murong Yun Hua memberi penjelasan. Sesaat lamanya tidak terdengar suara, sebelum kemudian paman Murong Yun Hua dengan antusias berkata.

"Wah..., tidak sia-sia kakak berusaha membaca setiap buku yang ada di tempat ini. jika obat itu benar ada, maka akan mudah sekali membuat Jin Yong takluk di bawah kehendak kita, selama dia tidak mengetahui cara pembuatan dari obat itu, selamanya dia akan menjadi budak kita."

"Hahahaha... kau benar, dan dalam kasus ini dia akan menjadi budak yang sangat pandai dan menguntungkan bagi pemiliknya.", sahut Ayah Murong Yun Hua sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kalau begitu, mengapa pula kita perlu memberikan Murong Yun Hua padanya? Apakah tidak sebaiknya, kakak menikahkan Murong Yun Hua dengan tokoh lain lagi, supaya semakin banyak tokoh dunia persilatan yang berada dalam kekuasaan kita?", setelah tawa mereka mereda Paman Murong Yun Hua kembali bertanya.

"Hehh... sewaktu aku melihat bakat dalam diri Jin Yong, aku belum menemukan tulisan tentang obat ini. Jadi pada saat itu, yang terlintas dalam benakku, hanyalah sebisa mungkin mengikat dirinya dengan keluarga kita, sebelum ada partai lain dalam dunia persilatan yang mengikat dirinya. Tapi tentu saja tidak cukup hanya sampai di situ, itu sebabnya setelah menjalin hubungan baik dengannya dan mempersiapkan jalan bagi kita untuk menikahkan dia dengan Murong Yun Hua, aku pun menghabiskan waktu untuk mencari kemungkinan-kemungkinan lain, sampai akhirnya aku menemukan kitab ini.", jawab Ayah Murong Yun Hua.

"Tapi kau benar, jika pada saatnya obat ini sudah terbukti cukup ampuh untuk menjadikan Jin Yong sebagai boneka kita, maka Murong Yun Hua bisa digunakan untuk kepentingan lain.", sambung Ayah Murong Yun Hua setelah berhenti beberapa saat. Dan perkataan ayah Murong Yun Hua yang berikutnya membuat bulu kuduk Murong Yun Hua berdiri dan seluruh dunianya jungkir balik.

"Kita bisa menggunakan Murong Yun Hua, untuk memikat tokoh lain, kemudian memberikan obat yang sama pada mereka. Satu, dua, tiga..., hahahaha,dan seluruh tokoh penting dalam dunia persilatan akan jatuh dalam tangan kita."

"Apakah benar itu suara ayahnya? Apakah benar yang ada dalam ruangan itu adalah ayahnya? Jika benar itu ayahnya, apakah tidak salah yang sedang dia dengar? Ayahnya hendak menggunakan dirinya sebagai umpan, mengumpankan dirinya pada sekian banyak laki-laki yang tidak pernah dia kenal?", ribuan pikiran berdentang-dentang memenuhi kepalanya, matanya terbuka lebar menatap jauh ke depan, pada kekosongan yang tak berujung. Malam itu seluruh kehidupan Murong Yun Hua direnggut dari dirinya. Tidak ada lagi yang bisa dia percayai. Jika ayahnya yang dia pandang sebagai contoh dari lelaki ideal ternyata orang yang semacam itu, maka macam apakah lelaki lain di dunia ini? Lalu bagaimana dengan ibunya? Tidakkah dia tahu apa yang ada dalam benak ayahnya? Apakah dia seorang ibu yang bodoh dan buta, tak melihat apa yang sedang direncanakan atas diri anaknya? Ataukah ibunya sama dingin dan sama penuh perhitungannya seperti ayahnya. Lututnya terasa lemas, tapi dia tidak ingin berada di tempat itu lebih lama lagi. Rasa nyeri yang dirasakan tubuhnya, tidak sebanding dengan kengerian yang terasa dalam hatinya. Perlahan-lahan, merangkak, beringsut, Murong Yun Hua pergi menjauh dari ruangan itu, menutup telinganya dari suara yang keluar dari dalam sana. Ruangan itu bukan lagi tempat yang hangat, tempat penuh kenangan akan cinta seorang ayah pada dirinya. Ruangan itu sudah menjadi dasar neraka, tempat iblis-iblis yang paling keji tinggal dengan rencana-rencana kejam mereka. Bukan karena rasa sakit di tubuhnya dia bergerak dengan begitu perlahan, tanpa suara. Murong Yun Hua tidak peduli dengan perih dan pedih yang dirasakan tubuhnya, dia ingin lari secepatnya, pergi dari tempat itu dan suara-suara yang seperti pedang berkarat, mengiris dan menusuk hatinya, meninggalkan luka bernanah. Tapi suara yang sama yang membuat dia ingin berlari pergi secepatnya, suara yang sama juga membangkitkan rasa takut yang tiada tara. Kekejaman yang tidak pernah dia bayangkan ada dalam diri orang yang dia kagumi dan cintai. Rasa takut yang menguasai dirinya itu, seakan menyerap habis sedikit kekuatan yang masih tersisa. Entah berapa lama Murong Yun Hua beringsut, menggeleser menjauh dari ruangan itu, perlahan-lahan rasa takut dan guncangan yang dia rasakan makin berkurang, seiring dengan menjauhnya dia dari ruangan itu. Sampai pada satu saat, dia menemukan kembali kekuatannya untuk bangkit berdiri, dan berjalan pergi, meskipun masih tertatih-tatih. Murong Yun Hua ingin lari, tapi ia tak tahu hendak lari ke mana. Tempat ini mengerikan, tapi dunia di luar pun tidak kalah mengerikan dalam benaknya yang sudah kehilangan kepercayaan akan adanya kebaikan dalam diri manusia. Murong Yun Hua belumlah dewasa, usianya tidak lebih dari 15 tahun. Dengan rasa pahit, dia menelan kenyataan. Tertatih dia kembali ke kamar tidurnya. Dengan tubuh lemah dan kesakitan, dia perlahan-lahan membaringkan diri di sisi Jin Yong yang masih tertidur pulas. Dengan hati hancur dan hampa, dia menutup mata dan membiarkan tidur mengubur segala kekisruhan dalam hatinya. Sejak malam itu kehidupan Murong Yun Hua tidak pernah lagi sama. Ketika dia bangun keesokan harinya, sebuah pikiran tiba-tiba menembusi pikirannya. Dia bukan buah catur yang tak berotak dan tak memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri. Selama ini dia tidak lebih dari sebiji buah catur karena dia bodoh dan tidak menyadari kenyataan di sekelilingnya. Tapi sekarang dia sadar. Dia sadar dan itu artinya, dia bukan lagi sebuah biji catur yang digerakkan tanpa pernah mengerti mengapa dia bergerak ke kotak yang ini dan bukan yang itu. Sebuah pemikiran mulai terbentuk dalam benak gadis muda ini. Semua laki-laki pastilah busuk, bahkan lebih busuk dari ayahnya. Jika tidak, maka betapa busuknya dia yang menjadi anak dari lelaki terbusuk di dunia. Tidak, setiap laki-laki haruslah sebusuk ayahnya, kalaupun mereka tidak melakukan apa yang dilakukan oleh ayahnya, itu adalah karena kebodohan mereka. Ya seperti A Sau yang menjadi tukang kebun mereka, yang ada di otaknya hanyalah kotoran kerbau, tanah dan cangkul. Dia tidak berbuat busuk, bukan karena dia tidak busuk. Dia tidak berbuat busuk karena dia tidak memiliki otak. Seandainya saja dia berotak, tentu dia akan berlaku sebusuk ayahnya. Bukankah A Sau pernah memandanginya dengan penuh nafsu? Bukankah itu bukti bahwa si A Sau pun adalah lelaki yang busuk? Dia tidak berani berbuat apa-apa yang busuk karena dia bodoh dan penakut. Seandainya dia pandai dan memiliki nyali, tentu dia sudah akan menggagahi dirinya, memuaskan keinginannya pada dirinya. Demikianlah pikiran-pikiran mulai terbentuk dalam benak Murong Yun Hua. Bagaimana dengan Jin Yong? Apakah yang dia lakukan semalam tidak menunjukkan kebusukannya? Dan yang pasti Jin Yong lebih bodoh dari ayahnya, jika tidak tentu dia yang akan memperalat ayahnya dan bukan sebaliknya. Tidak, ayahnya mungkin busuk, tapi memang begitulah semua laki-laki. Ayahnya masih lebih baik dari segala macam lelaki, karena ayahnya cerdik dan berambisi. Murong Yun Hua bukanlah anak lelaki terbusuk di dunia. Dia adalah anak lelaki paling cerdik dan bernyali di dunia. Tapi dia tidak akan mendah menerima perlakuan ayahnya. Jika ayahnya cerdik, maka dia bisa berlaku lebih cerdik. Jika ayahnya busuk, dia bisa jadi lebih busuk. Pagi itu ketika Jin Yong terbangun, dia tidak mendapati Murong Yun Hua yang bermuram durja dengan tubuh lemas tak bersemangat. Meskipun tubuhnya masih nyeri, bahkan ada lebam di beberapa tempat, di mana Jin Yong mencengkeram dirinya agar tidak bisa meronta lepas, Murong Yun Hua justru bangun lebih pagi dari Jin Yong. Membersihkan diri dan berias. Memakai bajunya yang terbaik, kemudian mengaturkan sarapan untuk diantarkan pada mereka di dalam kamar. Pagi itu saat Jin Yong terbangun, dia mendapati isterinya yang cantik jelita, menyambut dia dengan senyuman di wajah, bau yang segar dan harum menguar dari tubuhnya. Makanan dan minuman sudah tersaji rapi di meja yang ada dalam ruangan mereka. Betapa haru hati Jin Yong, apalagi jika dia teringat pada kejadian semalam. Penyesalan datang terlambat, pengaruh arak dan nafsu yang tak tertahan membuat dia melampiaskan keinginannya dengan buas. Perlahan Jin Yong bangkit berdiri dan menyambut Murong Yun Hua dengan kecupan yang lembut, begitu lembut hingga tak terbayang orang yang sama bisa menjadi demikian buas di malam sebelumnya. Di luaran Murong Yun Hua menerima kecupan itu dengan mesra dan penuh cinta. Dalam hati yang terbayang adalah kekejian ayahnya yang tersembunyi di balik perilaku yang kebapakan. Tak ada seorangpun yang tahu, apa yang ada dalam hati Murong Yun Hua. Selama kurang lebih satu tahun, yang nampak dari luar adalah pasangan yang berbahagia dan saling mencinta. Seandainya waktu terus berjalan seperti demikian, mungkin pada akhirnya cinta Jin Yong yang sungguh-sungguh, lepas dari kebodohannya dalam memperlakukan seorang gadis, akan bisa mengikis kegelapan dalam hati Murong Yun Hua. Mungkin satu saat, entah setelah berapa tahun lewat dan berapa kali Jin Yong membuktikan ketulusan cintanya, Murong Yun Hua akan kembali bisa percaya pada kebaikan dalam diri manusia. Tapi hanya satu tahun waktu yang diberikan bagi mereka berdua. Dalam satu tahun itu Ayah Murong Yun Hua akhirnya bisa membuat dan meyakinkan obat yang hendak dia berikan pada Jin Yong. Seberapa banyak perasaan yang mulai terpupuk dalam hati Murong Yun Hua untuk Jin Yong, tersapu habis di hari itu, saat ayah dan pamannya akhirnya dihadapkan pada kenyataan, bahwa tengkuk Jin Yong terlalu keras untuk ditundukkan dengan segala persiapan mereka. Murong Yun Hua melewati belokan terakhir, di bagian kediaman Ding Tao ini, tidak ada seorang pun pengikut Ding Tao dari Partai Pedang Keadilan yang tinggal. Ding Tao tidak pernah memiliki pelayan pribadi, sementara bagian ini hanya berfungsi sebagai tempat beristirahat Ding Tao dan keluarganya. Memang di luar area ini ada penjagaan dari orang-orang Partai Pedang Keadilan, namun di dalam hanya ada Ding Tao, Murong Yun Hua, Murong Huolin dan pelayan-pelayan setia keluarga Murong. Maka sepanjang perjalanan Murong Yun Hua hanya bertemu dengan beberapa orang pelayan pribadinya yang juga bertugas sebagai penjaga. Akhirnya sampai juga Murong Yun Hua di tempat tujuannya, sebuah kamar kecil, salah satu di antara beberapa kamar lain tempat pelayan pribadinya beristirahat. Murong Yun Hua berdiri diam di depan pintu kamar, seperti merenungi sesuatu. Kemudian sambil menghela nafas, dia mendorong pintu kamar hingga terbuka, masuk ke dalam kemudian menutup pintu rapat-rapat. Di dalam kamar yang kecil itu hanya ada satu pembaringan. Sementara ada dua orang yang tidur di dalamnya. Yang seorang berbaring di atas pembaringan dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya, sampai di bawah dagu. Yang seorang lagi, tidur di kaki pembaringan. Ketika Murong Yun Hua masuk ke dalam, yang di atas pembaringan tetap saja tertidur pulas, namun yang berbaring di kaki pembaringan, melompat berdiri dengan cekatan. Seorang wanita berusia 50-an, rambutnya sudah mulai beruban, namun matanya terlihat tajam dan gerak-geriknya lincah, jelas dia mengerti ilmu silat. Ketika melihat bahwa Murong Yun Hua yang datang, dengan segera dia memberi hormat. Murong Yun Hua menggerakkan kepalanya, menunjuk ke arah pintu. Wanita tua itu pun dengan patuh meninggalkan kamar dan berjaga di depan pintu. Meninggalkan Murong Yun Hua sendirian dengan orang yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Murong Yun Hua pun mengambil sebuah bangku, duduk di samping pembaringan, lalu dengan lembut membangunkan orang yang masih juga tidur dengan nyenyaknya itu.

"Suamiku... bangunlah... bagaimana kabarmu?"

Ya, orang itu adalah Jin Yong yang dikabarkan telah tewas.

Kenyataannya mayatnya tidak pernah ditemukan, kabar kematian dia hanyalah kabar burung yang disebarkan oleh sumber yang tidak jelas.

Bagaimana dia mati dan siapa yang membunuh selalu dijawab dengan kata tidak tahu, namun setelah waktu lewat beberapa lama, semua orang pun percaya bahwa Jin Yong telah tewas, karena orangnya sendiri tidak pernah muncul untuk menyangkal berita itu.

Pendekar pedang yang namanya pernah menggetarkan dunia persilatan itu pun akhirnya membuka matanya, lamat-lamat dia mengenali Murong Yun Hua.

Otaknya bekerja tidak beraturan, meskipun seluruh panca inderanya berjalan dengan baik, meskipun apa yang dikatakan Murong Yun Hua dengan jelas dia dengar dan ingat, namun butuh waktu lama bagi dia untuk memahami apa yang sedang dibicarakan oleh Murong Yun Hua.

Inilah Jin Yong yang pernah terkenal dan sekarang tidak lebih dari mayat hidup.

Melihat Jin Yong terbangung, ingatan Murong Yun Hua pun melayang pada kejadian belasan tahun yang lalu.

Ayah Murong Yun Hua yang merasa Jin Yong sudah berada di bawah kekuasaannya, tanpa ragu mulai menjelaskan rencana-rencana keluarga Murong untuk menguasai dunia persilatan dan pada akhirnya, cita-citanya untuk menghidupkan kembali dinasti Yan, yang pernah jaya di bawah kepemimpinan keluarga Murong.

Impian gila bagi beberapa orang, tapi impian yang nyata bagi Ayah Murong Yun Hua dan adiknya.

Dan demi cita-cita itu, segala cara akan dia gunakan dan segala hal akan dia korbankan.

Sayangnya dia salah menilai watak Jin Yong.

Penuh kebanggaan dengan apa yang dia capai, Jin Yong pun dengan tegas menolak segala rencana Ayah Murong Yun Hua.

Tentu saja hal itu membangkitkan murka dari Ayah Murong Yun Hua.

Sebagai persiapan, sebelum dia mulai menjelaskan rencananya pada Jin Yong, sudah beberapa hari lamanya, pasokan obat yang diberikan secara diam-diam pada Jin Yong, lewat makanan dan minuman yang disajikan, sudah dihentikan.

Efek obat itu sendiri belum muncul dengan seluruh kekuatannya, Jin Yong hanya merasakan tubuhnya melemah dan pikirannya, tiba-tiba sulit berkonsentrasi.

Betapa kejut dan murka Jin Yong ketika mendengar penjelasan Ayah Murong Yun Hua, penolakan itu pun ditanggapi Ayah Murong Yun Hua dengan tenang.

Diberikannya waktu beberapa hari bagi Jin Yong untuk berpikir, sementara dia menjadi tahanan rumah sambil menunggu hatinya melunak.

Yang berada di luar dugaan Ayah Murong Yun Hua pertama-tama adalah sikap Murong Yun Hua sendiri.

Tak pernah tahu bahwa Murong Yun Hua sempat mencuri dengar pembicaraan mereka, Ayah Murong Yun Hua menggunakan kepandaiannya bicara untuk memenangkan hati Murong Yun Hua, supaya anak gadisnya itu tidak berusaha membantu Jin Yong dan membantu ayahnya untuk meyakinkan suaminya itu.

Di luar Murong Yun Hua sepertinya terpengaruh dengan nasehat ayahnya, namun dibalik sandiwaranya itu, ingatan akan kejadian di malam jahanam itu teringat dengan jelas.

Murong Yun Hua pun menjadi panik, karena jika sekali saja Jin Yong mengikuti kemauan ayahnya akibat kecanduan dengan obat yang diberikan, maka itu artinya akan tiba saatnya bagi Murong Yun Hua untuk menjadi pelacur.

Dipaksa untuk menyerahkan tubuhnya pada laki-laki, bukan demi uang tapi demi memupuk kekuasaan ayahnya.

Di saat yang sama, meskipun Murong Yun Hua belum bisa mencintai Jin Yong dengan setulusnya, meskipun kebahagiaannya tidak lebih dari sandiwara, tapi setidaknya dia masih mendapatkan rasa aman di sisi Jin Yong.

Malam itu pun Murong Yun Hua memutuskan untuk membantu Jin Yong kabur dari kediaman keluarga Murong.

Dengan membawa Pedang Angin Berbisik dan sekantung obat dewa pengetahuan, mereka melarikan diri dalam gelapnya malam.

Tapi apalah artinya Murong Yun Hua jika dibandingkan dengan ayahnya.

Ayahnya sudah tentu memiliki jaringan yang luas dan kecerdikan di atas rata-rata, jika tidak segala usahanya tentu sudah jauh-jauh hari tercium oleh tokoh-tokoh dalam dunia persilatan.

Nyatanya, jangankan rencananya, bahkan keberadaan keluarga Murong pun mampu dia sembunyikan dengan baik.

Kantung obat yang dicuri Murong Yun Hua ternyata hanya berisi obat palsu.

Dalam keadaan yang tidak sempurna, dengan mudah Jin Yong dibekuk untuk kedua kalinya.

Di antara mereka yang ikut menangkap mereka berdua, adalah tokoh sesat yang menjadi sasaran berikutnya dari Ayah Murong Yun Hua.

Dengan kata lain, orang itu adalah laki-laki berikutnya yang akan menikmati kemolekan tubuh Murong Yun Hua.

Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Thai Wang Gui.

Thai Wang Gui beradat tinggi hati, dari mana dia yang beradat tinggi bisa bekerja sama dengan Shao Wang Gui?

Tidak lain dan tidak bukan, hal ini adalah hasil dari kerja Ayah Murong Yun Hua.

Shao Wang Gui yang berhati pengecut, kemaruk harta dan kesenangan, dengan mudah dijerat masuk menjadi pembantu yang diandalkan.

Tapi tidak mudah mencari hal yang bisa menjerat hati Thai Wang Gui.

Maka dibantu dengan Shao Wang Gui, ayah Murong Yun Hua mulai mencari cara untuk menjerat hati Thai Wang Gui.

Demi mendapatkan kerja sama dari Thai Wang Gui, ayah Murong Yun Hua tidak segan-segan untuk merendah dan menjilat Thai Wang Gui, termasuk di dalamnya menawarkan puterinya sendiri untuk menjadi permainan Thai Wang Gui.

Thai Wang Gui yang memang pendek pikir dan gemar disanjung puji, dengan mudah jatuh dalam kelicinan kata-kata ayah Murong Yun Hua.

Sungguh kebetulan di hari Jin Yong dan Murong Yun Hua melarikan diri, Thai Wang Gui sedang diundang untuk menikmati kemolekan Murong Yun Hua untuk pertama kalinya.

Benar-benar buruk nasib kedua orang itu, tanpa keberadaan Thai Wang Gui di situ pun sudah sulit untuk melarikan diri.

Apalagi ada Thai Wang Gui di sana, belum genap sehari mereka meninggalkah rumah kediaman keluarga Murong, keduanya sudah tertangkap kembali.

Tapi pelarian mereka bukannya tanpa hasil, karena di waktu yang singkat itu, Jin Yong berhasil menjauhkan Pedang Angin Berbisik dari genggaman keluarga Murong.

Entah di mana dan kapan, diam-diam Jin Yong telah menyembunyikan pedang pusaka itu.

Tentu saja hal itu membuat ayah Murong Yun Hua murka.

Jin Yong pun dihajar habis-habisan, namun pendekar itu tetap keras kepala dan tak mau membuka rahasia, di mana dia menyembunyikan pedang pusaka itu.

Dalam murkanya ayah Murong Yun Hua pun menghadapkan sepasang suami isteri itu dengan satu pilihan.

Jika Jin Yong tidak bersedia untuk tunduk pada ayah Murong Yun Hua, maka ayah Murong Yun Hua akan membiarkan puterinya itu, isteri Jin Yong, untuk diperkosa Thai Wang Gui dan sekalian orang yang menghendakinya, di depan mata Jin Yong.

Ancaman ini tentu saja membuat keduanya pucat pasi, namun Jin Yong yang tidak ingin melihat dunia persilatan jatuh ke tangan rencana keji ayah Murong Yun Hua, memilih untuk mengeraskan hati dan menutup mulutnya rapat-rapat.

Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Murong Yun Hua, karena dia sendiri tidak tahu di mana Jin Yong menyembunyikan Pedang Angin Berbisik, segala jeritan dan permohonan Murong Yun Hua pun bertemu dengan telinga tertutup.

Tidak banyak yang diingat Murong Yun Hua setelah kejadian itu, karena tak lama kemudian gadis itu kehilangan kesadarannya.

Dia terlalu lelah, baik secara fisik dan mental, saat Thai Wang Gui mendekatinya, setitik kekuatan yang ada pada dirinya segera lenyap.

Ketika sadar kembali, dia sudah berada di atas pembaringan dalam kamarnya sendiri.

Seseorang sudah membersihkan tubuhnya , juga memberikan perawatan pada luka-luka yang ada, kemudian memakaikan baju putih bersih dan menyelimuti dirinya.

Murong Yun Hua perlahan bangkit dan duduk di sisi pembaringan, memandangi keadaan di sekelilingnya, sebelum pandangannya berhenti pada pakaiannya yang putih bersih.

Satu seringai yang tak jelas terbentuk di wajahnya, entah perasaan apa yang sekarang ini mengambil bentuk dalam hatinya.

Belum lama dia termangu, seseorang sudah membuka pintu, orang itu adalah ayahnya.

"Yun Hua...", tegur ayahnya dengan lembut. Ketika Murong Yun Hua tidak menjawab apa-apa, ayahnya berjalan mendekat dengan wajah penuh kasih dan penyesalan. Perlahan dia duduk di samping Murong Yun Hua, dengan lembut dia menepuk-nepuk tangan Murong Yun Hua.

"Yun Hua... aku sungguh sedih dan menyesal, bahwa kau harus mengalami semua ini. Tapi kau harus mengerti, pengorbanan kita sekarang ini, bukanlah pengorbanan tanpa arti dan tujuan. Ketika nenek moyang kita membangun Dinasti Yan, berapa banyak prajurit yang harus berkorban nyawa di medan laga? Setiap orang mengorbankan apa yang ada pada diri mereka, demi satu perjuangan suci, demi satu cita-cita yang mulia, yang melampaui kehidupan mereka sendiri."

"Kita manusia hanya hidup beberapa puluh tahun, lalu mati. Tapi kita bisa menghabiskan tahun-tahun yang terbatas itu, untuk membangun sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Sesuatu yang akan bertahan lama, lama bahkan sesudah kita mati.", demikian ayah Murong Yun Hua memberikan nasehat.

"Kami terpaksa menggunakan cara yang keras terhadap suamimu, karena ternyata dia justru menjadi penghalang bagi cita-cita kita. Tapi percayalah, asalkan dia mau mengubah sikapnya, tentu kami pun akan segera membebaskan dia.", ucap Ayah Murong Yun Hua sebelum diam beberapa saat, menunggu reaksi dari Murong Yun Hua. Demikianlah berbagai macam bujukan, janji dan penjelasan diberikan oleh ayah Murong Yun Hua, namun sudah sekian lama tidak juga gadis itu memberikan reaksi apa-apa.

"Aku mengerti, saat ini mungkin kau belum mengerti, kau belum bisa menerima penjelasanku. Tapi kuharap, kau mau memikirkannya, cobalah ingat bagaimana ayahmu ini memperlakukan dirimu selama ini. Mungkinkah ayah dengan sengaja menyakiti dirimu?", ujar ayahnya membujuk Murong Yun Hua yang masih saja diam. Perlahan ayah Murong Yun Hua bangkit berdiri, memeluk anaknya dengan lembut, sungguh sosok seorang ayah yang sangat mencintai anaknya.

"Baiklah untuk sementara, ayah akan tinggalkan kamu sendiri di sini. Pikirkan baik-baik apa yang ayahmu ini katakan. Bayangkan keadaan kita pada saat cita-cita kita itu tercapai. Tidak akan ada seorangpun yang hidup yang akan mengetahui apa yang terjadi pada dirimu sekarang ini. Kau bahkan akan ayah jadikan seorang ratu yang menguasai seluruh negeri."

Melihat Murong Yun Hua masih diam, ayahnya pun tidak menjadi marah atau kesal, hanya menepuk-nepuk pundaknya dengan kebapakan kemudian pergi.

Tapi sebelum dia menutup pintu kamar dia berbalik dan berkata.

"Yun Hua... berat bagi kami untuk mengambil keputusan ini. Namun demi cita-cita yang mulia, tidak ada jalan lain, jika kau tidak bersedia, aku bisa mengerti. Hanya saja itu artinya, kami harus mengandalkan Huolin, padahal dia masih terlampau kecil."

Sejak tadi Murong Yun Hua hanya berdiam diri, tapi ketika mendengar perkataan ayahnya yang terakhir, tanpa kentara, terlihat ada perubahan, tangannya menggenggam kencang selimut yang ada di dekatnya.

Saat pintu sudah ditutup rapat, gadis itu pun menegakkan badannya.

Sebuah kilatan tajam seperti memancar dari sepasang matanya.

Keesokan harinya, saat ayahnya berkunjung untuk kedua kalinya, Murong Yun Hua sudah kembali pulih seperti sedia kala.

Kekuatan batin yang dimiliki gadis muda ini memang sulit dicari tandingannya, kemauan untuk hidup, kemauan untuk terus melawan, meski berulang kali dia harus terhempas tak berdaya.

Dengan tenang gadis itu bisa memberikan jawaban yang memuaskan hati ayahnya dan tanpa ragu menerima tugas yang diberikan olehnya.

Tugas Murong Yun Hua adalah merebut kepercayaan Thai Wang Gui, karena sudah sekian lama ayah Murong Yun Hua berusaha membuat Thai Wang Gui meminum obat dewa pengetahuan, namun setan itu terlampau teliti dalam memeriksan makanan dan minuman yang dia santap.

Setan itu pun terlampau tidak percaya pada orang-orang di sekelilingnya.

Tugas Murong Yun Hua adalah menyelidiki kelemahan setan sesat itu, berusaha merebut kepercayaannya dan pada akhirnya membuat Thai Wang Gui kecanduan obat dewa pengetahuan.

Kalau itu sudah tercapai, maka Murong Yun Hua pun akan terbebas dari kewajibannya melayani Thai Wang Gui.

Ayahnya pun menambahkan berbagai pujian dan janji-janji, untuk menguatkan Murong Yun Hua dalam menjalani tugasnya itu.

Ayahnya boleh saja punya rencana, tapi Murong Yun Hua punya rencana sendiri.

Dalam hati dia berkata.

"Ayah... jangan khawatir, cita-citamu itu tentu akan tercapai. Keluarga Murong akan kembali menguasai tanah ini. Namun bukan oleh tanganmu, melainkan oleh tanganku."

Murong Yun Hua pun dengan sungguh-sungguh mendekati dan berusaha merebut hati Thai Wang Gui, tentu saja hal ini bukanlah perkara mudah.

Tokoh sesat ini bukan sekedar terpikat oleh kecantikan, meskipun dalam hal itu kecantikan Murong Yun Hua, memang sungguh sulit dicari tandingannya.

Tidak ada yang tahu kecuali ayah Murong Yun Hua sendiri, bahwa Murong Yun Hua bukanlah anak kandungnya.

Ketika mencari isteri dia mencari wanita tercantik, sekian tahun dia bergaul dengan isterinya, tidak juga dia mendapatkan keturunan.

Di luar sepengetahuan isterinya, ayah Murong Yun Hua menjalin hubungan dengan banyak wanita lain, namun tidak juga membuahkan hasil.

Entah setan mana yang berbisik padanya, tapi sebuah rencana yang sesat dan mesum, tiba-tiba terbentuk di benaknya.

Dicarinya lelaki yang paling tampan yang bisa dia temukan dan diperintahkannya laki-laki itu untuk menggauli isterinya yang sudah terlebih dahulu dibuat tertidur pulas dengan obat buatannya.

Itu sebabnya kecantikan Murong Yun Hua memang seperti menyimpan misteri, karena lelaki yang didapatkan oleh ayahnya itu adalah seorang yang bukan berasal dari dalam perbatasan.

Masih beruntung bayi kecil Murong Yun Hua, bahwa dia memiliki setiap apa yang diinginkan oleh ayahnya dalam diri seorang anak perempuan.

Karena jika tidak, tanpa sangsi tentu dia akan dibunuh sebelum dia sempat tumbuh dewasa.

Pada saat itu, di mata ayah Murong Yun Hua yang kecewa setelah mendapati dirinya mandul, isteri dan anaknya, hanyalah barang percobaan bagi dirinya.

Bagi dirinya dan cita-citanya yang "mulia".

Pada saat itu, ayahnya berpikir hendak menciptakan sosok gadis suci dalam diri Murong Yun Hua.

Murong Yun Hua kecil pun dididik dalam berbagai kepandaian dan juga cara membawa diri, hingga terbentuk Murong Yun Hua yang mampu memikat hati pendekar besar seperti Jin Yong.

Tapi apakah itu cukup untuk menaklukkan hati Thai Wang Gui yang bengkok?

Tentu saja ayah Murong Yun Hua tidak hanya mengandalkan Murong Yun Hua sendiri untuk memerangkap Thai Wang Gui.

Dia sendiri pun bekerja keras untuk menemukan celah dalam diri Thai Wang Gui.

Namun ternyata, memang Murong Yun Hua lebih berhasil dalam memenangkan hati setan sesat itu.

Usaha Murong Yun Hua yang tidak kenal lelah, otaknya yang tidak pernah berhenti berputar, akhirnya mulai memahami kegemaran Thai Wang Gui yang di luar kewajaran.

Thai Wang Gui yang masa kecilnya dipenuhi penghinaan, lebih dari apapun mendambakan pujian dan penghormatan dari orang lain.

Itu sebabnya tokoh sesat ini, tidak seperti Shao Wang Gui yang mudah ingkar janji, justru sangat memegang kata-katanya dan bersikap melindungi pada orang-orang bawahannya.

Meskipun di saat yang sama, jika mereka sedikit saja membuat hatinya tak senang, maka nyawa mereka pun akan melayang.

Itu pula sebabnya sampai sekarang Thai Wang Gui mau membantu beberapa pekerjaan ayah Murong Yun Hua, entah itu untuk mencuri kitab atau untuk menekan perguruan tertentu.

Semuanya itu dia lakukan karena cara Ayah Murong Yun Hua menjilat dirinya, merunduk-runduk, bahkan sampai memberikan puteri "kandung"nya pada Thai Wang Gui, membuat setan sesat itu merasa puas, merasa dirinya berharga.

Dan inilah yang dilakukan Murong Yun Hua, diperlakukannya Thai Wang Gui bagai seorang dewa berwajah tampan.

Jangankan menciumi kakinya, bagian yang lebih menjijikkan dari diri Thai Wang Gui pun tidak akan membuat gadis itu bergeming.

Semuanya demi merebut hati Thai Wang Gui.

Usahanya pun tidak sia-sia, setelah beberapa bulan lamanya dia menjadi "kekasih"

Thai Wang Gui, Thai Wang Gui pun tidak bisa hidup tanpa Murong Yun Hua. Meski dalam bentuknya Murong Yun Hua masih menjadi "budak"

Yang harus mendewa-dewakan Thai Wang Gui, namun setiap kata permohonan dan permintaan Murong Yun Hua tentu diperhatikan Thai Wang Gui dengan sungguh-sungguh.

Setelah mendapatkan pegangan atas Thai Wang Gui, mulailah Murong Yun Hua membangun kekuatan dalam keluarganya sendiri.

Kekuatan yang akan dia gunakan untuk menumbangkan kekuasaan ayahnya.

Cukup panjang dan berkelok, jalan Murong Yun Hua untuk merebut kekuasaan ayahnya sendiri, tapi tekad yang luar biasa akhirnya mengantarnya pada kemenangan.

Murong Yun Hua bahkan mengambil resiko agar dia dapat melampaui ayahnya, saat dia memutuskan untuk meminum sendiri obat dewa pengetahuan yang seharusnya disediakan untuk Thai Wang Gui.

Bisa dikatakan hal itu adalah salah satu keputusan yang memungkinkan Murong Yun Hua memenangkan pertarungan kekuasaan yang terjadi diam-diam dalam keluarga Murong ini.

Berbekal kecerdasan yang berlipat, Murong Yun Hua berusaha memecahkan sendiri ramuan obat dewa pengetahuan.

Ayahnya memang menyembunyikan catatan pembuatan obat tersebut, namun buku-buku lain yang berkenaan dengan pengobatan tidaklah terlampau ketat untuk dijaga.

Ditambah lagi Thai Wang Gui yang dengan setia bersedia untuk mencari informasi-informasi yang dibutuhkan Murong Yun Hua.

Pada akhirnya Murong Yun Hua berhasil meramu sendiri obat dewa pengetahuan, bahkan membuatnya lebih baik dari obat yang dibuat oleh ayahnya berdasarkan catatan yang dia miliki.

Sudah sekian lama ayahnya menggunakan obat itu untuk menaklukkan tokoh-tokoh dalam dunia persilatan.

Mereka tunduk karena tanpa ayah Murong Yun Hua yang memberikan pasokan obat itu pada mereka dalam hitungan minggu mereka akan menjadi mayat hidup seperti Jin Yong.

Dengan keberhasilan Murong Yun Hua memecahkan formula dari ramuan obat itu, dia sekarang memiliki kekuasaan yang sama dengan ayahnya.

Bahkan dia memiliki sedikit kelebihan karena dendam yang tersimpan dalam hati banyak orang yang sudah diperas oleh ayahnya.

Apalagi diam-diam, cerita tentang bagaimana ayah Murong Yun Hua memaksa anaknya sendiri untuk melacurkan diri sudah menjadi rahasia umum.

Banyak pengikut keluarga Murong turun temurun yang bersimpati pada Murong Yun Hua, yang mengorbankan diri demi melindungi Murong Huolin yang lebih muda.

Meskipun kisik-kisik akan berita itu menyebar, dengan sendirinya ayah Murong Yun Hua tidak pernah mendengarnya, karena dialah yang menjadi tokoh antagonis dalam kisah itu.

Sedangkan Murong Yun Hua sendiri tentu saja berpura-pura tidak pernah mendengarnya, meskipun dirinyalah yang menjadi sumber awal cerita itu bergulir.

Demikianlah baik dari luar maupun dari dalam keluarga Murong sendiri, Murong Yun Hua telah unggul dibandingkan ayahnya.

Tinggal menunggu waktu sebelum gadis itu membalaskan dendamnya pada ayahnya sendiri.

Ketika akhirnya Murong Yun Hua memegang tampuk kekuasaan dalam keluarga Murong, dia sudah menjadi seorang wanita yang ahli dalam bidang pengobatan, juga dalam hal bela diri.

Dengan kecantikan, kecerdikan dan kesabarannya, Murong Yun Hua pun diam-diam menjadi satu kekuatan besar yang jaringannya tersebar hampir ke seluruh perguruan yang ada dalam dunia persilatan.

Namun semuanya itu didapatkan dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Entah berapa banyak perbutan dan rencana-rencana keji yang harus dia ciptakan dalam pikirannya, tanpa ada tempat untuk berbagi.

Di saat malam-malam terasa sepi, Murong Yun Hua pun akan pergi menemui Jin Yong yang hidup tak ubahnya sesosok mayat hidup.

Sebenarnya dengan pengetahuannya yang sekarang dalam hal pengobatan Murong Yun Hua bisa saja membebaskan Jin Yong dari keadaannya yang sekarang.

Namun perbuatan Jin Yong yang memilih untuk berpegang pada prinsipnya daripada berusaha menyelamatkan dirinya, tidak pernah bisa dimaafkan oleh Murong Yun Hua.

Selain itu Murong Yun Hua pun membutuhkan tempat untuk mencurahkan segala uneg-uneg, terkadang dia datang pada Jin Yong dan bercerita, sekedar untuk menyombongkan keberhasilannya.

Seperti juga malam ini, saat Murong Yun Hua sedang mempersiapkan salah satu rencana besarnya.

Dengan suara setengah berbisik dia pun menceritakan segala sesuatunya pada Jin Yong, yang hanya bisa memandang tak berkedip, menyimpan semua perkataan Murong Yun Hua tanpa bisa memahaminya.

Mungkin berhari-hari lamanya Jin Yong merenungkan setiap detail ingatannya, sebelum akhirnya dia memahami rencana yang dia dengar.

Dan pendekar besar itu hanya bisa meneteskan air mata, ketika memikirkan wanita yang pernah menjadi pasangan hidupnya itu.

"Pemuda itu begitu mirip dirimu..., dia bahkan lebih tampan dibandingkan dirimu belasan tahun yang lalu. Jika saja tidak ada nona muda keluarga Huang...", Murong Yun Hua bercerita pada Jin Yong.

"Hmp!! Semuanya ini gara-gara kelicikan Tiong Fa, tidak kusangka dia berani-beraninya memiliki rencana sendiri di belakangku...", dengan tangan mengepal Murong Yun Hua mengutuki Tiong Fa. Terdiam beberapa lama, Murong Yun Hua menghela nafas dan berkata.

"Tidak... tidak bisa aku sepenuhnya menyalahkan Tiong Fa. Hari-hari itu, pikiranku berjalan kurang jernih, pertimbangan yang kuambil terlampau banyak dipengaruhi oleh emosi."

Kembali diam beberapa lama.

"Ya... penolakan Ding Tao, membuat harga diriku tersinggung. Kemarahan yang menutupi pertimbangan yang lebih matang. Pada saat itu aku terlampau bangga akan keberhasilanku, kecantikanku, kecerdikanku dan segala kelebihanku. Sungguh tidak nyana, hari itu aku bertemu dengan seorang pemuda yang akan menolakku, demi seorang gadis biasa."

Sebuah senyum terbentuk di bibirnya.

"Tapi sekarang aku akan meluruskan segala kesalahan itu. Kekuasaanku sudah menyebar luas, bahkan 6 perguruan besar tidak lepas dari pengaruhku. Seandainya tidak ada Hua Ying Ying dan ayah angkatnya, alangkah baiknya jika Ding Tao memegang jabatan itu. Dia akan menguasai sebagian dunia persilatan dan aku menguasai sisanya. Sementara dia sendiri berada dalam pengaruhku, dengan kata lain, sesungguhnya seluruh dunia persilatan sudah ada dalam genggamanku."

"Sayang gadis itu ternyata belum mati. Selama dia ada, kekuasaanku atas Ding Tao belumlah sempurna. Kali ini aku tidak ingin bermain-main terlalu cantik, satu gerakan yang keras dan brutal jauh lebih baik. Terlalu banyak bermain strategi bisa menjadi bumerang, sungguhpun aku cukup yakin dengan cara tiap orang berpikir. Terhadap Ding Tao juga terhadap Tiong Fa, terbukti aku pun melakukan kesalahan-kesalahan."

"Yang satu karena keluguan yang sulit dibayangkan, atau lebih tepatnya jenis kebodohan yang tidak bisa disembuhkan. Yang seorang lagi karena kelicikannya yang sulit dicari bandingannya...", ujar Murong Yun Hua sambil merenung. Kemudian dia menggeleng perlahan.

"Tidak juga, kelicikan Tiong Fa tidak akan ada artinya jika pada saat itu aku tidak terlalu sombong, sehingga banyak hal tidak aku perhatikan. Ya..., terlampau banyak hal-hal kecil yang lepas dari pengamatanku saat itu. Tapi tak apa, aku belajar untuk jadi lebih rendah hati, oleh karenanya."

Sekali lagi dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jin Yong dan berkata.

"Itu sebabnya, Ding Tao dan setiap mereka yang menghalangi jalanku akan kulenyapkan. Terlampau riskan untuk terus bermain-main dalam bayangan, berusaha mengatur keputusan mereka, hanya lewat permainan pikiran. Kali ini aku akan menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya dari Murong Yun Hua. Waktu untuk bersembunyi sudah habis... Kuharap kau mengerti..., bukan aku kejam, tapi aku terpaksa melakukan semua ini."

Lama Murong Yun Hua terdiam dan memandangi tatapan kosong dari Jin Yong, sampai ketika dia melihat setitik pemahaman mulai datang di benak pendekar besar itu.

Ya, sedari tadi Murong Yun Hua berbicara, baru sekarang Jin Yong menyadari kehadirannya dan mungkin memahami kata-kata pertama yang dia ucapkan.

Sebuah senyum yang cantik pun terbentuk di wajah Murong Yun Hua.

Dengan lembut dia membelai wajah Jin Yong yang pucat karena sekian lamanya tak melihat cahaya matahari, dengan lembut pula dia berbisik.

"Tidurlah kembali dengan nyenyak, beberapa hari lagi, aku akan membawa teman untukmu. Ding Tao orang yang sangat mirip sifatnya denganmu, kalian berdua tentu akan saling menyukai."

"Dia juga sudah cukup lama mengkonsumsi Obat Dewa Pengetahuan di luar sepengetahuannya. Aku sudah mengukur waktu yang tepat untuk datang mengunjunginya, sejak itu di luar tahunya, aku mencampurkan obat itu dalam makanan dan minuman yang kuantarkan bagi dirinya. Dan lebih mudah lagi sejak dia menikahi kami berdua. Jadi kau lihat, dia akan menjadi teman yang sangat pas untukmu. Bisa kubayangkan bagaimana kalian berdua bercakap-cakap, berbulan-bulan lamanya.", ujar Murong Yun Hua sambil tertawa. Tertawa geli, geli membayangkan dua orang dengan otak yang berjalan begitu lambat akibat efek samping Obat Dewa Pengetahuan yang dihentikan pemberiannya, bercakap-cakap berdua. Betapa lucunya, jika untuk memahami satu kalimat mereka butuh satu minggu. Setelah tawanya mereda, pembicaraan Murong Yun hua dengan Jin Yong untuk malam itu pun berakhir, diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di dahi Jin Yong, Murong Yun Hua bangkit berdiri dan meninggalkannya. Berbaring diam di atas pembaringan, hanya ditemani seorang perempuan bisu dan sebatang lilin yang berkelip-kelip. Tapi jika rencana Murong Yun Hua berjalan dengan lancar, maka sebentar lagi dia tidak akan sendirian, karena akan ada Ding Tao yang berbaring di sisinya. Hari itu Wang Shu Lin akhirnya sampai juga di kota yang sama dengan pemuda pujaan hatinya. Menakjubkan memang, bagaimana cinta bisa memberikan kekuatan pada seseorang untuk melakukan hal-hal yang berat, mengorbankan apa yang seringkali dipandang penting, hanya demi bisa berdekatan dengan orang yang dicintai. Gadis itu baru saja menempuh perjalanan yang panjang dengan sedikit istirahat, segera setelah mendapatkan kamar di penginapan pertama yang dia temui, Wang Shu Lin pun menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan. Sambil memejamkan mata, dia pun menarik nafas dalam-dalam, menikmati empuknya kasur di bawah tubuhnya, ganti tanah atau dahan pohon yang keras, tempat dia menghabiskan malam-malam panjang dalam perjalanan yang melelahkan. Hanya dua bulan lebih sedikit, jarak waktu antara perginya Wang Shu Lin secara diam-diam dari Shanxi, sampai dengan sekarang ketika dia merebahkan diri di sebuah penginapan di kota Jiang Ling, namun perubahan penampilan dari gadis ini cukup besar. Apalagi bagi mereka yang biasa melihat Wang Shu Lin berpakaian laki-laki dan berlagak seperti laki-laki, tentu akan pangling jika melihat Wang Shu Lin yang sekarang. Dulu Wang Shu Lin mengejar kekuatan, makan dalam takaran yang dua kali lipat melebihi takaran kebanyakan laki-laki dan melatih kekuatan ototnya siang dan malam. Tak pernah pula dia takut pada sinar matahari. Tubuhnya pun menjadi kekar dengan kulit sedikit kehitaman, penampilannya tidak kalah garang dengan para bawahannya. Mulutnya pun terkadang tidak kalah kasar dan galak dibandingkan dengan bawahannya. Sejak mulai mengenal cinta dan lebih memperhatikan kecantikan diri, Wang Shu Lin pun membatasi makanan yang dia makan, berusaha berlaku lebih lemah lembut layaknya seorang wanita terpelajar. Jika sedang berjalan di bawah teriknya matahari, maka tidak lupa pula mengenakan topin anyaman yang lebar dan secarik tipis cadar di bagian depan. Selain lebih banyak menjaga diri, Wang Shu Lin sekarang ini mulai pula berdandan. Dalam hal ilmu bela diri, meskipun tidak meninggalkan latihannya, gadis ini sekarang lebih berfokus pada kecepatan dan ketepatan dalam melakukan jurus. Tidak lagi dia melatih permainan toya besi atau permainan goloknya. Sebagai senjata, dipilihnya pedang yang lebih ringan dan lebih sering dipakai oleh pendekar wanita, dibandingkan jenis senjata lainnya. Tubuhnya yang dulu kekar, sekarang menjadi ramping. Kulit yang dulu kehitaman, sekarang menjadi putih mulus. Wajah yang dulu tak pernah mengenal bedak, sekarang sudah didandani dengan bedak dan gincu. Bahkan rambut pun disanggul sesuai dengan gaya sanggul yang paling mutakhir. Sepasang anting mungil dari emas, menghiasi daun telinganya. Garis rahangnya yang tegas memang sukar diubah, namun secara keseluruhan Wang Shu Lin seperti beralih rupa meskipun tanpa memakai samaran sedikitpun. Tubuhnya yang penat, perlahan-lahan mendapatkan kembali kesegarannya. Namun hatinya belum lepas dari rasa galau, yang dia derita sejak dia mendengar berita pernikahan antara Ding Tao dan Hua Ying Ying. Berulang kali dia meyakinkan diri sendiri, betapa baik dan cantiknya Hua Ying Ying, sungguh merupakan pasangan yang memang pantas bagi Ding Tao. Pula Hua Ying Ying adalah murid seorang kenamaan, keberaniannya pun tidak perlu diragukan, ketika banyak orang mengkerut ketakutan mendengar nama besar Thai Wang Gui, gadis itu tanpa rasa takut berani mencoba bergebrak dan menuntut balas kematian keluarganya. Apa lagi yang kurang? Pula, sejak awal dia mengenal Ding Tao, bukankah pemuda itu sudah memiliki dua orang isteri, apa bedanya jika sekarang dia memiliki tiga orang isteri? Setelah rasa penat di tubuhnya hilang, Wang Shu Lin pun bangkit berdiri untuk meminta satu bak penuh air panas untuk mandi. Air yag hangat membuat tubuhnya terasa nyaman, sedikit banyak, perasaan galau dalam hati terusir pergi. Selesai berdandan Wang Shu Lin pun memutuskan untuk pergi berjalan-jalan, melihat-lihat isi kota Jiang Ling. Tidak seperti dulu, Wang Shu Lin yang sekarang justru gemar melihat-lihat berbagai macam jualan di pasar yang berhubungan dengan kecantikan wanita, meskipun tentunya justru sangat sesuai dengan penampilannya yang sekarang ini. Ada gadis cantik berjalan-jalan sendirian, sudah tentu ada banyak lelaki yang menaruh perhatian. Jika bukan karena pedang yang tergantung di pinggang, mungkin sudah ada yang menggoda sejak tadi. Tapi sudah ada pedang pun, ternyata masih ada juga yang berani menggoda.

"Nona..., sepertinya nona bukan berasal dari Jiang Ling", tiba-tiba seorang laki-laki datang menyapa. Wang Shu Lin menengok sekejap, sebelum memalingkan wajahnya kembali ke arah barang-barang yang sedang dijajakan dan menjawab.

"Aku memang bukan berasal dari Jiang Ling, maaf saudara, tapi aku sedang ingin berjalan sendirian saja."

"Ah..., apa enaknya berjalan sendirian? Kebetulan aku dan kawan-kawanku hendak berpesiar di luar kota, bagaimana kalau nona ikut pula dengan kami?", ujar lelaki tersebut sambil menunjuk ke arah beberapa orang lelaki lainnya. Sekilas Wang Shu Lin menengok, gadis ini menghela nafas melihat kegigihan orang, namun perbuatan orang juga belum melanggar batas, jadi diapun masih memandang muka orang. Apalagi sejak jatuh cinta, sifat Wang Shu Lin yang keras jadi banyak melunak.

"Sekali lagi aku minta maaf, namun tidak ada keinginan untuk berpergian keluar kota.

", jawab Wang Shu Lin dengan tegas. Sayang, sikap Wang Shu Lin yang berusaha mengalah, justru membuat lelaki tersebut semakin bersemangat.

"Ayolah nona, kulihat nona membawa pedang, tentunya nona orang dunia persilatan sama seperti kami. Kukira nona tentu pernah mendengar nama besar Kongtong, biarpun Lau Wan Kiet bukanlah tokoh tingkatan atas dalam Partai Kongtong, namun masih terhitung seangkatan dengan Ketua Kongtong yang sekarang."

Wang Shu Lin yang sudah mulai jengkel, tidak memberikan jawaban apa-apa, sambil menundukkan wajah, menyembunyikan kegeramannya, dia berjalan menjauh.

Melihat Lau Wan Kiet pendekar dari Kongtong itu gagal mengajak Wang Shu Lin, pecahlah tawa teman-teman yang menunggu tidak berapa jauh dari sana.

Wajah Lau Wan Kiet pun berubah kemerahan menahan malu, sigap dia melompat menghadang Wang Shu Lin.

"Nona, harap kau beri muka padaku", gertaknya sambil melintangkan tangan di depan Wang Shu Lin. Berkilat mata Wang Shu Lin, pedang yang digantung di pinggang dengan cepat sudah berpindah ke tangan.

"Saudara, aku tidak ingin mencari ribut, tapi tolong kau beri aku jalan. Jika tidak, jangan salahkan pedangku tak bermata."

Lau Wan Kiet sudah biasa berkelana, malang melintang belum pernah bertemu lawan, masa hari ini harus mengalah pada seorang gadis yang masih muda.

"Hmm... hmm..., nona sepertinya nona ini lebih mengagumi kemampuan dari pada wajah tampan, bagus-bagus, memang seorang gadis harusnya begitu. Mari aku tunjukkan kemampuan dari tuanmu ini."

Salah seorang rekan Lau Wan Kiet rupanya tidak ingin membuat keributan di tengah pasar, masih dengan senyum mengulum dia buru-buru mendekat dan berusaha mencegah Lau Wan Kiet.

"Saudara Lau, sudahlah, orang tidak mau mengapa dipaksa, nanti akan aku carikan teman melancong yang seratus kali lebih cantik dari nona ini."

Wang Shu Lin dengan bibir mencibir menyeletuk.

"Huh... mau modal kemampuan kukira kau tak mampu, paling-paling kemampuanmu menggunakan pedang sama buruknya dengan wajahmu."

Lau Wan Kiet sudah biasa dipuji-puji orang, matanya pun mendelik mendengar ucapan Wang Shu Lin, mana dengar dia dengan nasihat rekannya.

"Ho ho ho..., tadinya aku mau memandang muka tuan rumah dan memberimu kelonggaran. Tapi rupanya kau justru sengaja memancing agar aku tidak melepaskanmu. Baik, siang ini kau saksikan pedang tuanmu, malam nanti tuanmu akan tunjukkan kemampuannya yang lain."

Rekan Lau Wan Kiet yang berusaha mencegah Lau Wan Kiet pun menengok ke arah Wang Shu Lin dengan kesal.

"Nona... kau ini memang mencari perkara saja, jangan salahkan orang she Chen kalau kau mendapat nasib buruk."

Sambil menghentakkan kaki dia pun pergi meninggalkan tempat itu, beberapa rekan yang lain berusaha mencegah kepergiannya.

Namun sambil berbisik orang she Chen itu menjelaskan tindakannya kemudian pergi tanpa ada yang mencegah lagi.

Tinggal Lau Wan Kiet dengan wajah merah dan mata melotot dengan pedang sudah dicabut dari sarungnya, menghadapi Wang Shu Lin yang juga sudah berdiri dengan pedang terhunus.

Suasana di pasar pun jadi ramai, orang-orang yang lewat pun berdiri menjauh.

Ada yang memang senang menonton keramaian ada pula yang menggerutu karena pekerjaannya terganggu.

Namun hiburan biasanya hanya jadi milik mereka yang punya uang, tontonan biasanya bisa dinikmati saat ada yang mengadakan syukuran.

Kalau ada pertunjukan gratis, apalagi salah satu pemainnya seorang gadis cantik, mengapa harus menggerutu?

Begitulah orang-orang berkerumun, beberapa ada yang berteriak menyemangati Lau Wan Kiet, ada pula yang berteriak menyemangati Wang Shu Lin.

"Tuan pendekar, beri dia hajaran sedikit, kalau sudah jinak, baru kasih jurus menghantar ke surga dunia", seru seseorang entah siapa disambut tawa kurang ajar beberapa orang. Lau Wan Kiet yang mendapat teriakan memandang Wang Shu Lin dengan dada membusung.

"Kau dengar itu nona? Terserah kau pilih jalan yang mana, aku pun tak ingin terlalu menekan perempuan. Asal kau mau memanggilku koko dan memberiku ciuman tentu akan kulepaskan."

Mendengar ucapan Lau Wan Kiet itu, segera saja terdengar suitan dan seruan serta kata-kata cabul dari beberapa penonton, membuat alis Wang Shu Lin yang lentik berkerut dan tanpa banyak cakap pedangnya bergerak menusuk secepat kilat.

Serangan Wang Shu Lin datang dengan cepat, Lau Wan Kiet pun tergagap dan mundur beberapa langkah sembari memutar pedang membentuk benteng pertahanan.

Pedang pun bertemu pedang dan suara nyaring dentang pedang, bertubi-tubi terdengar, mengiringi siutan angin yang ditimbulkan oleh kedua bilah pedang yang bergerak dengan cepat.

Baru dalam beberapa gebrakan sudah telrihat Lau Wan Kiet berada di bawah angin.

Mereka yang sebal dengan kelakuan Lau Wan Kiet dengan segera bersorak mendukung Wang Shu Lin.

"Bagus nona pendekar! Hajar saja orang tak tahu adat itu."

"Potong saja hidungnya!"

"Jangan, lebih baik potong saja itunya!"

Tapi Lau Wan Kiet termasuk generasi seangkatan dengan Zhong Wei Xia meskipun selisih beberapa tahun lebih muda, sudah tentu ilmunya juga bukan ilmu sembarangan.

Meskipun sempat terdesak, tapi tidak mudah untuk menjatuhkan dirinya.

Sebaliknya keampuhan permainan pedang Wang Shu Lin menurun beberapa tingkat, pedangnya kali ini adalah pedang biasa, tidak tersembunyi berbagai macam alat dan kejutan yang biasa dia pakai untuk menggertak lawan.

Pula tenaganya menyusut cukup banyak, akibat dia mengubah pola latihan dan pola makannya.

Meskipun berada di atas angin tidak begitu mudah baginya untuk segera menyelesaikan pertarungan.

Pertarungan sudah berjalan memasuki jurus ke-12 ketika Wang Shu Lin semakin memastikan kemenangannya.

Dalam kecepatan, ketepatan dan kematangan jurus serta gerak perubahan, gadis itu berada beberapa tingkat di atas lawannya.

Pedangnya bergerak lincah seperti burung elang yang menyambar-nyambar.

Memakai baju berwarna cerah dengan jubah luar yang warnanya sepadan, diiringi bau harum samar-samar, Wang Shu Lin bergerak cepat membuat penonton merasa kabur melihatnya.

"Ah... nona pendekar ini benar-benar cantik dan hebat, melihat dia bertarung seperti melihat bunga bertaburan di musim semi.", ujar salah seorang pendukung Wang Shu Lin yang menonton sambil terkagum-kagum. Segera saja ucapannya itu mendapat anggukan kepala setuju dari banyak orang yang menonton pertarungan mereka berdua. Telinga Wang Shu Lin yang tajam tentu saja mendengar pujian orang, hati gadis itu pun berbunga-bunga. Di luar sadarnya dia memilih jurus-jurus yang lebih indah untuk dilihat, meskipun sebenarnya dia bisa menggunakan jurus-jurus yang keras untuk menyelesaikan perlawanan Lau Wan kiet dengan lebih cepat. Kebetulan jurus-jurus pedang yang dipilih Wang Shu Lin adalah jurus pedang dari Wudang yang memang dikenal dengan keindahan dan kelembutannya. Lau Wan Kiet pun jadi berpikir.

"Apakah aku kebetulan bentrok dengan seorang murid muda dari Wudang? Ah, celaka benar, belum pernah kudengar ada pendekar pedang wanita dari Wudang, mengapa hari ini aku bisa bertemu dengan seorang yang berkepandaian begitu tinggi?"

"Tunggu nona, apakah nona berasal dari Wudang? Jika benar, baiklah kita hentikan saja pertarungan ini, sesama enam perguruan besar, tak baik jika saling bentrok seperti ini.", ujar Lau Wan Kiet di sela-sela kesibukannya menangkis hujan serangan dari Wang Shu Lin.

"Hmm... dalam keadaan seperti ini baru berkata demikian, mengapa bukan dari tadi?", dengus Wang Shu Lin tanpa mengendorkan serangannya. Jawaban Wang Shu Lin membuat Lau Wan Kiet semakin yakin bahwa dia berasal dari Wudang. Gerakannya pun menjadi semakin kacau, dengan senyum sinis Wang Shu Lin memperketat serangannya, membuat Lau Wan Kiet tak bisa membuka mulut untuk berbicara. Jangankan untuk berbicara, bernafas pun dia sudah tersengal-sengal. Ketika Lau Wan Kiet melihat ujung pedang Wang Shu Lin berkelebat cepat ke arah wajahnya, Lau Wan Kiet sudah tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menutup mata dan menanti datangnya ujung pedang yang tajam. Di saat yang berbahaya bagi Lau Wan Kiet itu, tiba-tiba Lau Wan Kiet merasakan tubuhnya seperti dihisap oleh satu kekuatan besar. Tubuhnya bergeser beberapa jengkal dari tempat dia berdiri. Ujung pedang Wang Shu Lin pun gagal mengenai sasaran, sebelum dia bisa menarik kembali pedangnya, sebuah senjata aneh sudah membelit pedang Wang Shu Lin. Sepasang roda bergerigi yang disatukan oleh seuntai rantai besi, siapa lagi yang datang jika bukan Zong Weixia. Cepat sekali senjata Zong Weixia menyambar, dengan ujung yang satu membelit pedang, ujung yang lain sudah pergi menyambar lengan Wang Shu Lin yang menggunakan pedang. Daripada mengorbankan tangannya, Wang Shu Lin pun memilih untuk melepaskan pedang. Dalam sekejap mata, Lau Wan Kiet terbebas dari ancaman, masih dengan wajah pucat dia memandang wajah penolongnya. Melihat penolongnya adalah Zong Weixia, wajah Lau Wan Kiet malah semakin pucat, dengan kepala tertunduk dan suara hampir tak terdengar dia berkata.

"Ketua... maafkan aku."

Zong Weixia tidak segera menjawab Lau Wan Kiet, dengan satu gerakan dia melemparkan pedang milik Wang Shu Lin kembali ke gadis itu.

"Hmm... nona ini aku kembalikan pedangmu."

Rantai seperti sudah menjadi tangannya sendiri, pedang meluncur terarah dan dengan mudah Wang Shu Lin menangkap gagang pedang.

Ketika pedang sudah di tangan baru terasa, lemparan Zong Weixia menyimpan tenaga yang tidak kecil.

Wang Shu Lin yang sudah menurun kekuatannya pun terhuyung beberapa langkah ke belakang dengan tangan tergetar.

Dengan pandang mata berkilat Wang Shu Lin memegang pedangnya bersiap terhadap serangan Zong Weixia, tapi Zong Weixia sendiri sudah mengalihkan perhatian ke arah Lau Wan Kiet yang berdiri gemetaran.

Dengan sebuah gerakan menyendal, rantai besi Zong Weixia bergerak mengayun ringan dan dalam sekejap, roda bergerigi yang ada di salah satu ujung rantai sudah tergantung dengan ringannya, menyangkut pada daun telinga Lau Wan Kiet.

"Lau Wan Kiet..., tentu kau tahu, kita di sini cuma bertamu, yang menjadi tuan rumah kita adalah Partai Pedang Keadilan.", ujar Zhong Weixia dengan suara dingin membesi. Lau Wan Kiet yang gemetar ketakutan tidak bisa mengeluarkan kata-kata hanya mengangguk-anggukkan kepala sebagai jawaban.

"Hmm... dari yang kudengar, nona ini sudah menolak ajakanmu tapi kau terus saja mendesaknya. Aku tidak menyalahkanmu berusaha memikat hati nona ini. Nona ini memang cantik, sudah wajar jika seorang laki-laki jatuh hati dan ingin mengenalnya lebih dekat, tapi seharusnya kau mundur ketika dia menolakmu. Apa gunanya telinga jika kau tidak mau mendengar jawaban orang?", ucap Zong Weixia dengan dingin. Keringat pun bercucuran membasahi dahi Lau Wan Kiet, dari ujung matanya dia bisa melihat saudara seperguruannya yang datang bersama Zong Weixia. Rupanya ketika rekannya yang bermarga Chen melihat Lau Wan Kiet tidak mau mendengar nasihatnya, dia segera pergi untuk memanggil saudara seperguruannya untuk menghentikan dirinya. Entah memang sengaja, atau nasibnya yang sedang sial, Zong Weixia mendengar pula polah tingkahnya dan memutuskan untuk datang. Tidak berani menjawab ucapan Zong Weixia, Lau Wan Kiet hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gugup, roda bergerigi milik Zong Weixia tampak seperti sebuah anting yang kebesaran.

"Bagus kalau kau tahu, kuharap ini akan jadi pengingat bagimu, sebuah telinga yang bisa mendengar lebih baik daripada sepasang telinga yang hanya menempel tanpa guna", ucap Zong Weixia sambil menyendal, menarik kembali roda bergerigi yang bertenggar di telinga Lau Wan Kiet. Daun telinga Lau Wan Kiet pun jatuh ke tanah tanpa suara, sementara pemiliknya hanya bisa meringis menahan sakit tanpa berani berucap apa-apa. Zhong Weixia tidak ambil peduli lagi dengan Lau Wan Kiet, dia berbalik menghadapi Wang Shu Lin dan bertanya dengan keren, sesuai dengan jabatannya sebagai seorang ketua partai besar.

"Nona..., muridku memang bersalah dan sudah kuhukum. Apa masih ada keberatan?"

"T.tt..tidak, tidak, baiklah aku permisi.", ucap Wang Shu Lin dengan gugup dan wajah pucat, buru-buru gadis itu berbalik badan dan meninggalkan tempat. Zhong Weixia tersenyum sinis, tidak salah jika dikatakan berkat dirinya Partai Kongtong masih ditakuti orang sampai hari ini. Juga mereka masih digolongkan dalam aliran yang lurus, meskipun sedikit banyak tingkah laku mereka agak berandalan jika dibandingkan dengan perguruan lurus yang lain. Lau Wan Kiet masih berdiri menunduk dengan darah bercucuran dari telinganya, tidak ada yang berani bergerak sampai Zhong Weixia memberikan perintah.

"Rawat lukanya, lalu secepatnya kalian kembali. Mulai hari ini jangan ada yang main di luaran.", tegas Zong Weixia sebelum berlalu pergi. Buru-buru saudara seperguruan Lau Wan Kiet menghampiri rekannya yang sedang sial itu dan mulai membubuhi luka yang masih terbuka dengan obat tabur milik mereka, ada pula yang merobek lengan baju Lau Wan Kiet dan memotongnya panjang-panjang untuk digunakan sebagai perban. Lau Wan Kiet sendiri, menanti Zong weixia sudah tidak terlihat barulah berani mengeluh dan merintih.

"Ah... benar-benar sial, mana orang marga Chen itu, berani sekali dia mendatangi ketua dan mengadukan aku padanya. Dasar kurang ajar.", keluh Lau Wan Kiet sambil meringis-ringis kesakitan.

"Sudahlah Adik Lau, kau jangan mencari perkara, salahmu sendiri tanggal mainnya sudah makin dekat tapi kau masih berkeliaran di luar.", tegur rekannya yang sedang membebat luka Lau Wan Kiet. Lau Wan Kiet masih menggerutu beberapa kali, tapi tidak berani pula melawan. Sementara itu, tidak berapa jauh dari mereka ada Wang Shu Lin yang bersembunyi di balik kerumunan orang yang sudah mulai menipis, memasang telinga baik-baik dan mendengarkan percakapan di antara anak murid Kong Tong itu. Melihat semakin lama, kerumunan orang-orang yang ada di situ semakin menipis, Wang Shu Lin pun pergi menjauh dengan alis berkerut. Rupanya Wang Shu Lin tadi hanya berpura-pura ketakutan, supaya Zhong Weixia tidak membuat urusan makin panjang, tapi begitu dia sudah menghilang dari pandangan orang-orang Kong Tong, dia memutar dan memasang telinga. Dalam hati dia merasa heran, mengapa orang dari Partai Pedang Keadilan bisa membaur dengan orang dari Kongtong? Memang sejak Ding Tao menjadi Wuling Mengzhu bisa dikatakan setiap orang dalam dunia persilatan disatukan di bawah namanya, namun penasaran juga melihat mereka bergaul begitu akrab. Lebih heran ketika Zhong Weixia yang terkenal tinggi hati, bisa berpihak pada pihak tuan rumah, padahal biasanya Zhong Weixia cuma tahu nama Kongtong dan yang lain dipandang sebelah mata. Jika orang lain yang melihat tentu saja tidak akan ambil pusing tapi Wang Shu Lin termasuk orang yang usilan dan rasa ingin tahunya besar, segala macam urusan dalam dunia persilatan dia mau tahu. Setelah mendengar sekilas percakapan antara Lau Wan Kiet dan saudara seperguruannya, keingin tahuan Wang Shu Lin pun jadi makin menjadi. Saat Lau Wan Kiet dan saudara seperguruannya pergi, diam-diam Wang Shu Lin mengikuti mereka, sampai di tempat orang-orang dari Partai Kongtong menginap. Sadar penampilannya terlalu menyolok untuk menjadi mata-mata, Wang Shu Lin pun tidak berlama-lama mengawasi. Gadis itu segera kembali ke penginapannya sendiri dengan pikiran berputar, mengutak-atik kejadian yang baru saja dia alami. Begitu sampai di kamar, pintu pun ditutup rapat-rapat dan Wang Shu Lin duduk termangu sambil mencubit-cubit bibirnya. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang tidak benar, menilik sifat Zhong Weixia, hari ini dia lepas terlalu mudah. Bagaimanapun juga dia sudah mempermalukan seorang murid dari Partai Kongtong, biasanya tentu Zhong Weixia akan memberikan hajaran yang cukup, bukan hanya pada muridnya, tapi juga pada orang luar yang mengalahkan muridnya itu, sekedar untuk menunjukkan bahwa Partai Kongtong bukan partai yang lemah. Tapi hari ini dia hanya membuat Wang Shu Lin terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang, jelas dia ingin masalah itu cepat selesai dan tidak mau menarik perhatian orang. Pernikahan Ding Tao dengan Hua Ying Ying akan diadakan beberapa minggu lagi, seluruh Kota Jiang Ling menjadi sibuk dengan peristiwa ini. Pengantin prianya adalah Wulin Mengzhu yang baru saja terpilih, jangankan orang dunia persilatan, pelayan di restoran pun mendengar kisah di kaki Gunung Songshan. Lalu pengantin wanitanya adalah anak perempuan dari keluarga Huang yang terbantai habis hampir setahun yang lalu, tentu saja ini menjadi sebuah cerita yang menarik. Apalagi ketika mereka menambahkan bumbu-bumbu sendiri ke dalamnya. Anak murid Partai Kongtong mengatakan bahwa waktunya sudah semakin dekat dan peristiwa besar yang paling dekat adalah pernikahan Ding Tao. Rasanya tidak mungkin jika Zhong Weixia memandang Ding Tao begitu tinggi, hingga anak muridnya dilarang berbuat ulah mendekati pernikahan Ding Tao. Lalu apa? Masakan Zhong Weixia berencana melakukan sesuatu di hari itu? Apakah dia tidak puas dengan hasil di kaki Gunung Songshan? Zhong Weixia dikenal sebagai orang yang berambisi besar, di hari pernikahan Ding Tao bisa dikatakan, seluruh tokoh puncak dalam dunia persilatan akan datang berkumpul. Bisa dikatakan tidak akan kalah ramai jika dibandingkan dengan pertemuan di kaki Gunung Songshan. Dalam perjalanan ke Jiang Ling, Wang Shu Lin berkali-kali melihat orang-orang dunia persilatan, entah sendirian atau dalam satu kelompok, berjalan ke arah yang sama. Tapi jika benar Zhong Weixia merencanakan sesuatu yang besar, hal ini juga bukan sesuatu yang masuk akal, sebesar apapun ambisi Zhong Weixia, kekuatan Partai Kongtong tidak akan bisa mengimbangi kekuatan 5 partai yang lain secara bersama-sama. Meskipun nalarnya menolak kemungkinan itu, namun hatinya tetap saja berdebar-debar. Lagipula ada banyak cara untuk membunuh orang, tidak selamanya seorang jagoan silat mati oleh pedang. Racun, bahan peledak, hanyalah dua cara di antara sekian banyak cara lainnya untuk menghilangkan nyawa orang. Tapi apa iya, Zhong Weixia segila itu? Berpikir demikian, Wang Shu Lin pun teringat dengan kilatan mata Zhong Weixia yang seperti harimau liar. Di luar sadarnya, bulu kuduknya pun berdiri mengingat mata Zhong Weixia. Hati Wang Shu Lin pun berdebar-debar makin kencang. Zhong Weixia memang gila, tapi dia bukan orang bodoh. Jika benar dia memiliki satu rencana, kemungkinan besar ada banyak tokoh lain yang terlibat pula dalam rencana ini. Pertanyaan berikutnya, adakah tokoh-tokoh dalam dunia persilatan yang akan mau diajak bekerja sama dalam proyek gila Zhong Weixia? Wang Shu Lin pun mulai menghitung-hitung nama-nama mereka yang cukup berambisi dan mau mengambil resiko besar. Tersenyum kecut dan berkeringat dingin, Wang Shu Lin harus mengakui cukup banyak orang yang akan tergiur dengan ajakan Zhong Weixia, tergantung umpan apa yang diberikan tokoh besar itu. Kongtong punya nama cukup besar, jika Zhong Weixia bisa menggandeng beberapa nama besar lain, niscaya akan mudah untuk mengumpulkan kekuatan yang cukup besar. Ding Tao sendiri mencari masalah ketika dia mengeluarkan kebijakannya yang pertama sebagai seorang Wulin Mengzhu, kekuatannya belum terpupuk benar, namun dia berani mengeluarkan kebijakan yang akan menyinggung banyak orang. Jika benar Zhong Weixia merencanakan satu rencana busuk menjelang hari pernikahan Ding Tao, apa yang bisa dia lakukan? Meskipun dia adalah ketua perkumpulan terbesar di Shanxi, jarak antara Shanxi dan Jiang Ling tidaklah dekat. Kalaupun dia mengirim kabar sekarang, pada saat kabar itu sampai di Shanxi kemungkinan besar apa yang ditakutkan sudah terjadi. Jika dia hendak mendekati Ding Tao ataupun orang kepercayaannya, tanpa bukti yang kuat, apakah dia akan dipercaya? Bukan hanya bukti, bahkan apakah rencana itu benar-benar ada, dan kalau ada apa rencananya, sedikitpun dia tidak tahu apa-apa. Seumur hidupnya baru kali ini Wang Shu Lin merasa kehabisan akal dan ingin menyerah. Dahulu saja waktu baru turun gunung dan melaksanakan kewajibannya sebagai anak untuk membalaskan dendam bagi ayahnya, tidak sampai dia merasa ingin menyerah. Padahal dia hanya seorang diri dan lawannya begitu banyak. Tentu saja faktor waktu yang mendesak juga berpengaruh, tapi mungkin yang terbesar adalah faktor perasaan. Kali ini yang terancam adalah Ding Tao, lebih mudah bagi dia untuk menghadapi satu bahaya daripada membayangkan Ding Tao menghadapi bahaya. Seandainya Wang Shu Lin tahu bahwa Murong Yun Hua akan melakukan acara bersih rumah, membasmi pengkhianat dari dalam Partai Pedang Keadilan, mungkin dia akan menghibur diri dengan berpikir bahwa rencana yang dibicarakan Zhong Weixia ada hubungannya dengan hal itu. Mungkin Ding Tao sebagai Wulin Mengzhu meminta bantuan dari enam partai besar yang ada. Tapi tentu saja dia tidak tahu tentang rencana itu dan hanya bisa menduga-duga sendiri, sementara penilaiannya dipengaruhi pula dengan perasaannya kepada Ding Tao. Gadis yang baru pertama kali jatuh cinta ini pun akhirnya menghempaskan badannya dengan mata mengembeng. Tiba-tiba dia teringat pesan guru-gurunya.

"Jangan berbuat semena-mena, meskipun kau tidak bisa melihat keberadaan kami, tapi sesungguhnya kami akan selalu mengamat-amati pergerakanmu. Jika kami dapati, kau melanggar nilai-nilai kehormatan, dengan menggunakan ilmu yang sudah kami wariskan, tentu kami akan datang untuk menghukummu."

Pada awalnya dia berpikir bahwa memang ke-enam gurunya selalu mengikuti dirinya.

Namun beberapa tahun berlalu dan tidak sedikitpun dia mencium tanda-tanda atau jejak mereka berenam, Wang Shu Lin menganggap ancaman itu sekedar ancaman.

Sekedar pengingat supaya dia tidak melanggar nasehat dan larangan yang sudah diberikan ke-enam gurunya itu.

Sekarang di saat dia terdesak, teringatlah lagi dia akan peringatan yang diberikan gurunya.

Tiba-tiba dari ingatan itu, timbul sedikit harapan, jika benar guru-gurunya selalu memantau setiap gerak-geriknya, mungkinkah salah satu dari mereka ada juga di Jiang Ling saat ini?

Kalau iya, bagaimana dia bisa menarik perhatian gurunya agar datang membantu dia?

Perlahan-lahan sebuah senyuman terbentuk di wajah Wang Shu Lin, malam itu dia mengatur agar diletakkan sebuah meja di tengah halaman, lengkap dengan hidangan dan arak.

Sendirian dia duduk di sana, pengurus penginapan sudah diminta agar mengatur supaya tak ada orang yang mengganggu.

Malam sudah larut ketika Wang Shu Lin duduk di sana, sendirian ditemani nyala lilin yang bergoyang-goyang ditiup dinginnya angin malam.

Sementara sebuah pemanas dinyalakan untuk menghangatkan arak, menanti langit jernih tak dinaungi awan, Wang Shu Lin pun perlahan-lahan mengangkat seruling dan meniupkan sebuah lagu.

Sebuah lagu sendu, sendunya seseorang yang harus pergi jauh dari kekasihnya.

Kalau ada kelebihan Wang Shu Lin, maka itu adalah keluasan pengetahuan dan ketrampilannya.

Meskipun bukan nomor satu dalam suatu bidang, dalam segala bidang dia adalah yang nomor dua atau setidaknya nomor tiga.

Mungkin juga karena memiliki banyak guru, masing-masing dengan keunikan dan kelebihannya.

Yang mengajar dia bermain seruling dan sastra adalah Zhu Yanyan, pendekar pedang dari Wudang ini bukan saja paling perasa, tapi juga gemar akan segala yang indah.

Salah satu yang membuat dia sedih, adalah kenyataan bahwa dia harus menjauhi saudara-saudara seperguruannya, yang dia rasa lebih dekat dari keluarga sendiri, yang dia kasihi lebih dari seorang laki-laki mengasihi seorang wanita.

Kau bertanya kapan aku akan pulang, namun aku tak tahu jawabnya Hujan malam hari di bukit Ba, membanjiri kolam-kolam Kapankah kita bisa duduk bersama, memangkas pucuk sumbu lilin yang menyala, di jendela barat, Berbincang-bincang hingga jauh malam, tentang hujan malam hari di bukit Ba.

Suara merdu Wang Shu Lin melagukan puisi karangan Li Shangyin yang mengisahkan kerinduan seseorang yang dikirim jauh dari tempat tinggalnya, meninggalkan kekasihnya di sana.

Mengalun mendayu-dayu, membuat sekalian hati mereka yang mendengarkan ikut merasa pilu dan ridu akan kampung halaman, serta kekasih yang menunggu di rumah.

Di atas meja dituangkan dua mangkuk arak hangat, Wang Shu Lin baru saja meneguk sedikit arak dari mangkuk yang ada di hadapannya ketika sebuah sosok dengan ringan mendarat di depan gadis itu.

Tanpa banyak cakap orang itu pun mengambil mangkuk yang kedua dan menenggaknya dengan satu hirupan.

Sebuah senyuman terkulum di wajah Wang Shu Lin, dengan hormat dia pun bangkit dari tempat duduknya untuk kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan orang yang baru datang.

"Guru Zhu Yanyan, murid menghaturkan hormat."

"Ah... dasar anak nakal.", tegur Zhu Yanyan dengan rasa sayang sembari menghapus setitik air mata yang mengembeng di ujung matanya.

"Guru saja yang terlalu perasa", jawab Wang Shu Lin sambil tertawa lebar. Senyum di wajah Wang Shu Lin pun semakin lebar saat berturut-turut, 5 sosok lain berlompatan datang mendekat. Dengan penuh semangat gadis itu pun berturut-turut, menjura memberi hormat pada ke-lima gurunya yang baru datang.

"Heh bocah nakal, masa hanya Guru Zhu Yanyan seorang yang kau suguhi arak.", tegur salah seorang gurunya yang berkepala gundul, melihat kepalanya yang gundul tentunya orang mengira dia guru Wang Shu Lin yang berasal dari Shaolin, padahal justru dia berasal dari Kunlun. Yang berasal dari Shaolin justru sekarang berambut panjang digerai ke belakang. Penampilan mereka memang sudah berubah banyak dibandingkan penampilan mereka belasan tahun yang lalu. Belasan tahun lamanya hidup menyamar, menjadi orang asing bagi saudara seperguruan mereka sendiri, demi satu persahabatan. Sifat ke-enam orang ini dengan sendirinya sudah bisa dibayangkan. Sesungguhnya bukan hanya Zhu Yanyan yang mengembeng air mata mendengar syair yang dilagukan oleh Wang Shu Lin. Bahkan Pang Boxi yang sejak dulu sering berselisih paham dengan Zhong Weixia pun sempat menitikkan air mata. Sifat orang Khongtong memang kebanyakan sedikit telengas dibandingkan 5 perguruan yang lain, namun dalam hal rasa persaudaraan sebenarnya tidak kalah kental. Hidup selama belasan tahun satu atap, meskipun ada yang berlawanan sifat seperti Pang Boxi dengan Zhong Weixia, tentu juga ada yang sepaham dan dekat di hati. Wang Shu Lin yang sudah hidup dibesarkan ke-enam orang itu, mengenal baik sifat mereka, dengan cekatan dia mengeluarkan 5 cawan arak dan menyajikannya pada guru-gurunya. Pada yang seorang dia bersikap manja, pada yang lain bersikap riang, bertemu dengan Shu Sun Er, satu-satunya guru wanitanya, dia bersikap seperti seorang adik. Demikian Wang Shu Lin membawa diri dengan pandainya sehingga kesenduan yang mewarnai awal pertemuan mereka dengan cepat tersapu pergi. Siapa saja enam orang guru Wang Shu Lin ini? Yang pertama dan menjadi saudara tertua adalah Zhu Yanyan yang berasal dari Wudang, sikapnya santun dan lemah lembut, menyukai sastra dan musik. Kemudian ada Khong Ti bekas bhiksu dari Shaolin, sekarang sudah memelihara rambut, minum arak dan makan daging, hanya kawin saja yang belum dia lakukan. Wajahnya tampan, sifatnya jenaka, dengan perawakan tidak terlalu tinggi, dia ahli dalam silat monyet. Senjata andalannya tentu saja sebuah toya, di antara enam saudara bisa dikatakan ilmunya yang paling tinggi. Yang ketiga adalah Pang Boxi, senjatanya sepasang kapak, wajahnya lebar menggambarkan sifatnya yang jujur dan terbuka, tubuhnya tidak terlampau tinggi namun dadanya lebar dengan bahu menggunung menyimpan tenaga yang besar. Meskipun Khongti yang berilmu paling tinggi di antara mereka berenam, tenaga Pang Boxi ini justru yang paling besar. Yang ke-empat adalah Chen Taijiang, wajahnya terlihat seperti orang hendak menangis sedih. Sering menjadi bahan gurauan oleh saudaranya yang lain, terutama oleh Khongti yang suka melawak. Namun sifatnya yang penyabar membuat Chen Taijiang tak pernah marah. Bahkan pada keponakan muridnya yang dengan terbuka pernah menyatakan bahwa dia sudah dikeluarkan dari perguruan pun, Chen Taijiang tidak menyimpan dendam. Apalagi ketika perintah itu kemudian dibatalkan oleh karena permohonan saudara-saudara seperguruannya. Selalu mencari kebaikan pada diri orang dan berusaha menutupi kekurangan mereka, itulah sifat Chen Taijiang yang paling menonjol. Dalam hal ilmu silat, yang menonjol dari Chen Taijiang adalah ilmu meringankan tubuhnya. Yang ke-lima adalah Hu Ban, pendekar pedang dari Hoashan, meskipun ilmu silatnya bukan yang terbaik di antara mereka berenam, tapi justru pengetahuannya tentang ilmu silat lebih luas dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Bakatnya besar, sayang sedikit pemalas, dia lebih suka menghabiskan waktu untuk memancing dan membakar ikan, daripada berlatih silat. Lebih suka menggunakan otaknya daripada menggunakan ototnya. Terhadap kehidupan dia memandang ringan segala sesuatu, hanya satu saja yang dia pandang penting dan itu adalah persahabatan mereka berenam. Dari mereka berenam Hu Ban yang paling sering memanjakan Wang Shu Lin, dia yang pemalas, menutup diri di dalam kamar selama beberapa bulan sebelum kepergian Wang Shu Lin. Demi untuk memberi bekal berupa gambar-gambar tentang berbagai macam senjata dengan jebakan dan mekanik tersembunyi untuk gadis itu. Yang ke-enam dan satu-satunya wanita dari antara mereka ber-enam Shu Sun Er, hingga sekarang masih tampil kelaki-lakian dengan rambut dipotong pendek dan dengan menyamar sebagai laki-laki. Berasal dari enmei, seorang bhiksuni wanita, meskipun sekarang seperti Khongti sudah pula melanggar berbagai pantangan kecuali mengenai hubungan antara pria dan wanita. Sifat Wang Shu Lin yang keras dan tidak mau tahu apa kata orang, rupanya menurun dari Shu Sun Er, satu-satunya sosok wanita yang dia kenal semenjak kecil hingga besar. Satu-satunya pedoman Shu Sun Er adalah, bila hati nuraninya mengatakan benar, maka peduli setan apa kata orang di seluruh dunia. Senjatanya adalah sebuah pedang yang panjangnya hampir mendekati panjang tombak, salah satu senjata khas dari aliran Enmei. Sebagai wanita suka juga bersolek dan pandai merias diri, termasuk merias diri dalam berbagai macam samaran. Jika Zhu Yanyan pandai bermai seruling, maka Shu Sun Er cakap sekali dalam melukis. Itulah ke-enam orang guru Wang Shu Lin, hidup belasan tahun dalam perantauan, ilmu mereka berkembang justru lebih pesat dibandingkan ketika mereka masih berada dalam perguruan mereka masing-masing. Dihadapkan pada tugas untuk mengajar dan mendidik Wang Shu Lin kecil, akhirnya mereka melanggar salah satu garis yang mencegah tiap-tiap pendekar membocorkan rahasia aliran mereka pada murid dari aliran lain. Hu Ban yang malas berlatih tapi encer dalam berpikir adalah yang paling berjasa dalam menggabungkan ilmu dari ke-enam aliran menjadi satu ilmu yang unik. Merangkaikan kelebihan-kelebihan dari tiap-tiap orang dan menciptakan ilmu yang baru. Meskipun ilmu gado-gado mereka belum bisa disandingkan dengan tingkatan para ketua dari enam perguruan besar, tapi setidaknya mereka akan bisa berhadapan dengan imbang dalam seratusan jurus. Apalagi enam orang ini memiliki kelebihannya masing-masing. Jika Zhong Weixia atau Guang Yong Kwang menganggap enam orang itu seperti belasan tahun yang lalu, maka mereka akan mendapatkan kejutan besar.

"Anak Shu Lin, dari mana kau tahu bahwa kami selalu mengawasimu? Jangan-jangan selama ini kau selalu menjaga kelakuanmu karena tahu kami mengawasimu.", tanya Hu Ban setelah mereka puas bersenda gurau.

"Tidak guru, selama ini kupikir guru berenam sudah hidup tenang, di suatu desa, bertani dan beternak seperti dulu ketika membesarkan aku. Jika bukan karena terdesak oleh keadaan, tentu tidak akan muncul dalam ingatan, peringatan guru sekalian sebelum murid turun gunung.", jawab Wang Shu Lin dengan tersenyum manis.

"Ohho, begitu rupanya, lalu bagaimana kau bisa yakin dengan menyanyikan lagu ini kami berenam akan muncul ke hadapanmu?", kejar Hu Ban belum puas, sementara lima orang yang lain ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Hehe, sebenarnya murid tidak yakin, tapi murid berharap setidaknya ada salah seorang dari guru sekalian yang bertugas mengawasi gerakan murid. Karena setelah murid teringat peringatan guru itu, murid pun mulai memikirkan sepak terjang murid selama ini. Beberapa kejanggalan dan kebetulan, yang membantu murid berhasil membalaskan dendam ayah, juga menjadi kepala di daerah Shanxi pun jadi muncul dalam ingatan.", jawab Wang Shu Lin.

"Hahaha, dasar murid nakal, jadi sebelumnya kau menganggap semua itu hasil pekerjaanmu sendiri ya. Wah, besar juga kepalamu.", ujar Pang Boxi sambil tertawa terbahak-bahak. Wang Shu Lin pun meleletkan lidah dan menjawab.

"Hee... mengingat hal itu murid benar-benar menjadi malu, tapi itulah kehebatan guru sekalian, bisa berbuat di belakang layar tanpa ada yang menyadari peran serta guru ber-enam."

"Baguslah kalau kau merasa malu, mulai sekarang ingatlah baik-baik, untuk tidak terlalu yakin pada kemampuanmu sendiri.", ujar Khongti menyahut.

"Baik guru, tentu akan murid ingat-ingat. Setiap kali murid dalam kesulitan, murid akan menghadap ke barat dan murid sebut nama Guru Khongti keras-keras sambil menghentakkan kaki tiga kali ke atas tanah.", jawab Wang Shu Lin sambil tersenyum jenaka.

"Haa haa haa, kau kira gurumu ini dewa tanah atau dewa gunung? Dasar murid nakal, gurunya pun dibuat bahan bercanda.", ujar Khongti sambil tertawa terbahak-bahak.

"Eh Shu Lin, kau memang sudah menjawab banyak pertanyaan, tapi kau belum jawab, dari mana kau bisa yakin, kami akan keluar setelah mendengar lagumu itu?", setelah tawanya mereda, Hu Ban bertanya kembali sambil menyusut air mata yang keluar karena tertawa.

"Hmm.. tentu saja karena Shu Lin tahu, bahwa hatiku selalu rindu dengan saudara-saudara di Gunung Wudang. Dia tentu sering melihat atau pernah melihat, aku pergi diam-diam untuk meminum arak sendirian dan melagukan syair itu di tengah padang.", ujar Zhu Yanyan menjawab, sebelum Wang Shu Lin sempat menjawab. Wang Shu Lin pun terdiam dan dengan suara perlahan dia berkata pada Zhu Yanyan.

"Maafkan aku guru, bukan maksudku membuat guru sekalian bersedih. Dalam keadaan terjepit, murid terpaksa melakukan hal ini."

Zhu Yanyan tersenyum sabar, sambil mengelus kepala Wang Shu Lin dia menjawab.

"Hahaha, tidak apa-apa, bukan sesuatu yang sangat menyedihkan juga. Justru aku menikmati sedikit bernostalgia mengenang masa lalu."

Untuk sesaat tidak ada seorangpun yang berbicara, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri sebelum akhirnya Hu Ban kembali memecahkan kediaman mereka.

"Shu Lin, kau bilang kau sedang berada dalam keadaan terjepit, masalah apa yang sebenarnya sedang kau hadapi? Kami diam-diam selalu mengamati gerak-gerikmu dari jauh, masakan kau ada dalam masalah dan kami bisa tidak tahu?"

"Hmm... aku sendiri belum yakin, apakah akan terjadi sesuatu atau tidak. Tapi guru tentu tahu, kemarin aku sempat bentrok dengan Ketua Partai Kongtong, Zhong Weixia.", jawab Wang Shu Lin. Ke-enam orang guru Wang Shu Lin pun menganggukkan kepala dan Hu Ban bertanya.

"Lalu...?"

"Sebelum Zhong Weixia pergi meninggalkan tempat, dia sempat menegur dan berkata, bahwa waktunya sudah semakin dekat, anak murid Kongtong tidak diperbolehkan lagi meninggalkan tempat dan membuat masalah. Tidakkah guru merasa ucapan itu aneh?", tanya Wang Shu Lin. Pang Boxi yang paling kenal sifat Zhong Weixia, otomatis mata setiap orang pun sekarang tertuju padanya. Pang Boxi pun mengerutkan dahi dan berpikir keras, ini bukan kebiasaannya, namun beban yang dibawa setiap sorot mata itu membuat dia, mau tidak mau, harus berpikir keras sebelum menjawab.

"Hmm..., ya...", ucap Pang Boxi kemudian diam.

"Hmm.. hmm... kupikir...", sekali lagi Pang Boxi terdiam, padahal setiap orang sudah ingin mendengar apa jawabnya.

"Ya... jadi kukira...", lagi-lagi Pang Boxi tampak ragu-ragu untuk mengutarakan pendapatnya. Segera saja Shu Sun Er yang sudah tidak sabar menyergah.

"Hah! Katakan saja apa pendapatmu, jangan kau gantung lagi kami dengan ah... oh... hmm..., seperti wanita sedang dilamar saja."

Karuan saja mereka semua yang mendengar sergahan Shu Sun Er tertawa geli sementara Pang Boxi wajahnya bersemu merah. Khong Ti yang nakal dengan cekatan menyahut.

"Eh adik Sun Er, kok kau bisa tahu seperti apa wanita yang dilamar orang, siapa di antara kami yang sudah melamarmu? Apa jawabmu?"

Sekali lagi mereka semua tertawa geli dan gantian Shu Sun Er yang wajahnya bersemu merah.

"Eh keledai gundul, hati-hati kalau bicara. Coba saja kalau ada orang yang berami melamarku, boleh coba rasakan berapa tajam pedang Shu Sun Er."

Khong Ti tidak kehabisan akal, dia pun menepuk-nepuk pundak Chen Taijiang dan berkata.

"Ah tahulah aku sekarang kenapa Adik Chen Taijiang selalu bersedih ... Adik Tai Jiang, tak perlulah bersedih seperti itu, asalkan kau mau bersabar tentu Adik Sun Er lama kelamaan akan berubah pikiran."

Dengan wajah sedihnya Chen Taijiang menjawab.

"Keledai gundul, janganlah kau buat bahan bercanda, wajah pemberian ayah ibuku ini."

Pecahlah tawa mereka semua, termasuk juga Chen Taijiang sendiri, meskipun pada saat tertawa wajahnya tetap saja terlihat sedih.

Menunggu tawa mereka mereda, Shu Sun Er pun bertanya untuk kedua kalinya pada Pang Bo Xi.

"Jadi bagaimana? Sudahkah Kak Boxi mengambil kesimpulan?", tanya Shu Sun Er. Pang Boxi pun menjawab.

"Ya, menilik sifatnya, kukira anak Shu Lin punya alasan kuat untuk menduga bahwa Zhong Weixia tentu sedang memiliki rencana besar yang rahasia sifatnya. Jika tidak mana mungkin dia melepaskan Shu Lin dengan begitu mudahnya. Tadinya aku berpikir dan berharap bahwa sifatnya memang sudah banyak berubah, tapi jika kupikirkan secara lebih obyektif, kukira dugaan Shu Lin jauh lebih mungkin terjadi daripada kemungkinan Zhong Weixia berubah sifat. Hukumannya pada Adik Lau Wan Kiet menunjukkan hal itu."

"Tapi siapa yang menjadi sasarannya?", Zhu Yanyan mengajukan pertanyaan itu dengan dahi berkerut. Wang Shu Lin tanpa ragu menjawab.

"Jika dia mengatakan waktunya sudah dekat, kemungkinan besar yang menjadi sasaran adalah Wulin Mengzhu yang terpilih, Ding Tao. Bukankah acara pernikahannya tinggal beberapa minggu lagi?"

"Hmm...", Hu Ban bergumam, berpikir sambil diam-diam mengawasi murid terkasih mereka itu.

"Shu Lin, yang kau katakan itu ada kemungkinannya juga, tapi sungguh berani Zhong Weixia jika dia berpikir hendak mengusik Ding Tao di hari pernikahannya. Meskipun suasananya memang cenderung membuat orang lengah, tapi jika melihat para undangan yang datang... Memangnya seberapa besar kekuatan Zhong Weixia?", ujar Hu Ban dengan hati-hati, tak ingin menyinggung Pang Boxi yang masih satu seperguruan dengan Zhong Weixia.

"Jutru itu aku berpikir untuk meminta bantuan guru sekalian, jika Ketua Zhong Weixia benar-benar hendak melakukan sesuatu terhadap Ketua Ding Tao, tentu dia tidak sendirian, tentu ada banyak kekuatan lain yang berdiri di belakangnya.", ucap Wang Shu Lin dengan sungguh-sungguh. Tapi guru-gurunya tidak serta merta memberikan jawaban yang memuaskan, mereka terdiam dan saling pandang. Melihat guru-gurunya diam saja, Wang Shu Lin mulai berputus asa, perlahan-lahan air mata mulai mengembeng.

"Guru... apakah guru sekalian akan diam saja?", keluhnya sambil menggebrakkan kakinya ke tanah. Zhu Yanyan yang menjadi saudara tertua dari enam orang sahabat itu pun mendekati gadis itu dan dengan lembut menepuk-nepuk pundaknya.

"Anak Shu Lin..., sudah tentu kami tidak akan berdiam diri... tapi jika benar apa yang kau katakan, lalu apa arti kita berenam ini...? Sementara terhadap urusan dunia persilatan, sebenarnya kami sudah merasa tawar..."

"Lagipula, kekhawatiranmu itu belum tentu terjadi, di pernikahan Ding Tao nanti tentu hadir juga Bhiksu Khongzhen dan Pendeta Chongxan, serta tokoh-tokoh besar lainnya. Mereka ini tidak bisa diremehkan.", sambung Hu Ban berusaha menghibur Wang Shu Lin.

"Apakah guru tidak merasa ikut bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada Ding Tao, sementara kita mengetahuinya namun berdiam diri saja?", tanya Wang Shu Lin. Justru Pang Boxi yang masih memiliki kaitan dengan Kongtong yang mendukung Wang Shu Lin.

"Kukira perkataan Anak Shu Lin perlu kita pertimbangkan. Justru karena pada pesta pernikahan itu ada begitu banyak tokoh besar yang diundang. Bisa jadi yang menjadi sasaran bukan Ding Tao tapi salah satu dari tamu yang diundang. Bagaimana jika sasaran mereka adalah orang-orang dari Shaolin atau Wudang? Aku pribadi sebagai bekas murid Kongtong, tidak rela jika Kongtong yang sekarang mencederai perguruan atau partai lain. Apalagi jika mereka yang dicederai itu memiliki hubungan dekat dengan sahabat-sahabat yang bahkan lebih dekat dari saudara kandungku sendiri."

Tidak biasanya Pang Boxi berbicara panjang lebar, namun kali ini dia berbicara sedemikian panjang.

Mendengar perkataan Pang Boxi itu Wang Shu Lin merasa sangat berterima kasih, meskipun dia tahu, bahwa Pang Boxi tidak seperti dirinya yang mengkhawatirkan Ding Tao.

Yang dikhawatirkan Pang Boxi justru para tokoh dari lima perguruan besar yang lain.

"Ucapan Saudara Bo Xi itu benar, jika Kongtong hendak melakukan pekerjaan besar, kukira yang akan diajak ikut serta kemungkinan besar adalah Guang Yong Kwang dari Kunlun. Keponakan muridku itu memang punya ambisi yang besar dan seperti yang kita lihat pada waktu pemilihan Wulin Mengzhu di kaki Gunung Songshan, mereka berdua terlihat sepikiran. Aku mengerti benar perasaan Saudara Bo Xi, kuharap kalian berempat mengerti pula perasaan kami berdua.", ujar Chen Taijiang dengan mimik wajahnya yang sedih, semakin sedih memikirkan polah laku dari keponakan muridnya yang sekarang sudah menjadi ketua dari perguruan Kunlun. Dua dari mereka berenam sudah berbicara, bagaimana pun juga perasaan empat orang yang lain ikut tergerak. Apalagi jika berpikir, ada kemungkinan orang-orang yang dekat dengan masa lalu mereka, akan menjadi korban dalam permainan Kongtong dan sekutunya. Meskipun dugaan Wang Shu Lin bukanlah satu kepastian, jika mereka berpangku tangan, untuk kemudian mengetahui bahwa dugaan Wang Shu Lin itu benar adanya, betapa akan menyesal mereka semua. Apalagi mereka yang di masa lalunya memiliki kaitan dengan pelaku kejahatan itu. Zhu Yanyan pun menganggukkan kepala.

"Baiklah, kukira masalah ini memang tidak bisa dihindarkan. Meskipun kita berenam sudah memutuskan untuk cuci tangan dari urusan dunia persilatan, namun memikirkan kepentingan yang lebih besar, juga perasaan kita masing-masing, memang yang terbaik, kita harus ikut campur dalam masalah ini."

Mendengar keputusan Zhu Yanyan sebagai orang tertua dari mereka berenam, Wang Shu Lin pun meneteskan air mata haru dan berkata.

"Ah... guru sekalian, terima kasih... sungguh kalian sangat baik terhadapku. Ampuni murid yang selalu saja menyusahkan guru sekalian."

Shu Sun Er tersenyum sambil memelu gadis itu dia menjawab.

"Jangan bodoh, toh kami melakukan ini, juga karena kepentingan kami sendiri. Justru kau harus merasa bangga, bahwasannya kau memiliki rasa keadilan yang besar, sehingga tergerak untuk bekerja meskipun persoalan ini tiada hubungannya dengan dirimu pribadi."

Dengan wajah tersipu Wang Shu Lin hanya bisa mengangguk dalam pelukan gurunya itu.

Tentu saja dalam hati dia harus mengaku bahwa tidak demikian yang sebenarnya.

Seandainya dia tidak jatuh cinta pada Ding Tao, akankah dia ikut campur dalam urusan itu?

Dia sendiri tidak berani menjawab dengan pasti.

Khongti mengerling ke arah Shu Sun Er yang sedang memeluk Wang Shu Lin, mulutnya sudah terbuka hendak menggoda gadis itu, namun Shu Sun Er diam-diam menggelengkan kepala dan Khongti pun batal membuka mulutnya.

Runyam memang kisah cinta gadis ini, guru-gurunya pun hanya bisa mengawasi agar dia tidak memilih jalan yang sesat demi emosi sesaat.

Hu Ban pun berucap.

"Kalau memang sudah diputuskan demikian, langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah mengawasi tiap pergerakan orang-orang Kongtong yang ada di Jiang Ling ini. Satu-satunya jejak dan petunjuk yang kita dapati adalah mereka, kecuali jika muncul petunjuk lainnya."

Zhu Yanyan menganggukkan kepala tanda setuju.

"Benar..., untuk sementara tidak ada petunjuk lain, yang ada pada kita hanyalah mereka, namun Zhong Weixia dan orang-orang kepercayaannya tidak boleh dibuat main-main. Demikian pula jika mereka memiliki sekutu, tentu bukan orang sembarangan. Karena itu, kuminta supaya siapa pun yang sedang bertugas mengawasi gerak-gerik mereka, jangan terlalu gegabah. Jangan mengambil resiko terlalu besar, jumlah kita hanya sedikit, jangan sampai yang sudah sedikit ini semakin berkurang kekuatannya, disebabkan oleh kepercayaan diri yang terlalu tinggi."

Hu Ban mengangguk dan menambahkan.

"Terutama kau Shu Lin, aku tahu kau memiliki perasaan yang kuat mengenai masalah ini, namun janganlah hal itu membuatmu jadi gegabah. Kita bukan sedang bermain-main dengan tokoh kelas dua atau tiga."

Secara tersirat Hu Ban menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak sepenuhnya buta akan perasaan Wang Shu Lin terhadap Ding Tao.

Jika sekarang mereka sudah setuju untuk memenuhi kehendak Wang Shu Lin, maka harapannya Wang Shu Lin pun harus bertindak hati-hati.

Dengan wajah tersipu Wang Shu Lin menganggukkan kepala.

"Hmm.. baguslah kalau kita semua sudah sepaham. Malam ini biarlah aku dan Chen Taijiang yang mendapatkan giliran pertama untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Untuk selanjutnya kalian atur siapa yang akan menggantikanku. Tentang kode dan sandi, biarlah kita pakai seperti biasa, kalian ajarkan pula kode dan sandi yang biasa kita pakai pada Anak Shu Lin.", ujar Zhu Yanyan sambil mengebaskan jubahnya, bersiap untuk pergi mengintai lawan.

"Guru... hati-hatilah", ujar Wang Shu Lin dengan penuh haru.

"Hahaha, gurumu ini sudah banyak makan asam garam, kau tidak perlu kuatir, sekarang pergilah beristirahat dahulu. Besok tentu kau pun akan mendapat giliran berjaga. Petunjuk kita hanya satu, sesaatpun tidak boleh luput dalam mengawasi mereka.", ucap Zhu Yanyan sambil tertawa. Tanpa banyak cakap lagi, Zhu Yanyan dan Chen Taijiang pun segera berkelebat pergi, menggunakan kegelapan malam, menyembunyikan gerakan mereka yang selincah kucing dan seringan burung. Wang Shu Lin dan guru-gurunya yang lain pun segera membereskan sisa-sisa makan dan minum mereka, untuk kemudian pergi beristirahat. Kamar yang disewa Wang Shu Lin tidak terlampau besar, namun sudah terbiasa hidup di alam yang keras, hal itu tidak menjadi halangan sedikitpun. Mendekati dini hari barulah mereka menyebar pergi, ke tempat persembunyian masing-masing. Wang Shu Lin sendiri tidur hingga jauh siang, setelah semalaman memeras otak untuk menghafal kode dan sandi yang biasa digunakan oleh guru-gurunya, tahu bahwa tenaganya perlu disimpan baik-baik. Mengintai orang bukanlah pekerjaan yang menyenangkan, seperti juga memancing ikan, mengintai orang butuh kesabaran, lebih-lebih Wang Shu Lin dan guru-gurunya tidak menyediakan umpan untuk menjebak lawan, semata-mata hanya mengawasi mereka dari kejauhan, menunggu lawan membuat gerakan. Keberadaan mereka, diharapkan belum menjadi terang buat lawan, segala upaya pun dilakukan, termasuk menyulap penampilan Wang Shu Lin, yang sekarang sudah menjadi seorang wanita setengah baya yang bekerja di sebuah toko kain tidak jauh dari penginapan tempat orang-orang Khongtong menginap. Pemilik toko kain itu sendiri adalah Zhu Yanyan, toko itu sendiri sudah dibelinya sebulan yang lalu, ketika mereka melihat arah perjalanan Wang Shu Lin yang menuju ke Kota Jiangling, maka Zhu Yanyan mendahului Wang Shu Lin dan menetapkan sebuah tempat bagi mereka berenam.

"Dari mana guru sekalian bisa tahu aku akan pergi ke Jiang Ling?", tanya Wang Shu Lin saat dia mengetahui keberadaan toko kain itu.

"Semut mendatangi gula, kejadian besar apalagi yang ada di dunia persilatan sekarang, jika bukan kabar pernikahan Wulin Mengzhu yang ketiga kalinya.", ujar Hu Ban dengan ringan.

"Jika ternyata murid bukan pula pergi ke Jiang Ling?", tanya Wang Shu Lin penasaran.

"Tidak masalah, toh masih ada lima orang yang mengikutimu, biar saja seorang dari kita menjalankan toko kain ini selama beberapa bulan. Menunggu pasti dirimu tidak pergi ke Jiang Ling, toko ini dijual juga kita bisa dapat untung.", jawab Hu Ban ringan.

"Heheh, sejak bekerja membuntutimu, kami berenam punya kesenangan baru, membeli usaha orang, membesarkannya lalu menjualnya. Lumayan, semakin hari uang di kantong semakin tebal saja.", ujar Khongti sambil menepuk-nepuk kantung uangnya. Sambil terkekeh geli Wang Shu Lin berujar.

"Tidak sangka, guru sekalian ternyata punya bakat jadi pedagang."

Demikianlah dengan segenap upaya, Wang Shu Lin dan ke-enam orang gurunya bekerja dengan rahasia, ditambah pula dengan jumlah mereka yang tidak terlalu besar dan keberadaan mereka yang memang bisa dikatakan tidak terlalu penting dalam dunia persilatan, sehingga mereka bisa bekerja tana diketahui lawan.

Ke-enam orang itu, sudah belasan tahun dianggap hilang dari dunia persilatan, sementara di mata dunia persilatan Wang Shu Lin atay Ximen Lisi, dianggap masih berada di Shanxi.

Di lain pihak orang-orang Khongtong sendiri tidak ada yang berani melanggar perintah Zhong Weixia, seperti yang sudah diperintahkan, selama berhari-hari mereka tidak keluar dari penginapan.

Sesekali ada yang keluar untuk sekedar membeli berbagai keperluan, mengintai mereka pun lama-kelamaan jadi membosankan.

Di sini keuletan ke-tujuh orang itu terlihat benar, meskipun berulang kali pergerakan lawan ternyata tidak memiliki arti penting, tidak juga mereka menjadi lengah.

Meskipun berhari-hari tidak terjadi sesuatu yang menarik, semangat mereka tidak juga menurun.

Kata orang, nasib baik terjadi, bagi mereka yang bertekun dalam usahanya.

Ke-tujuh orang ini pun mengalaminya hari itu.

Hari sudah mulai gelap, ketika dua orang murid Khongtong keluar dari penginapan, tidak ada tanda-tanda dia akan melakukan satu pekerjaan khusus.

Berulang kali di hari-hari sebelumnya, mengikuti mereka ini terbukti tidak menuntun pada petunjuk yang lebih jauh, namun tetap saja Khongti yang hari itu bertugas bersama dengan Shu Sun Er bergegas mengikuti orang itu dengan diam-diam.

Sementara Shu Sun Er mengirim kabar secara berahasia, Chen Taijiang yang menjadi perantara antara mereka yang bertugas dengan mereka yang sedang tidak berjaga, tanpa bermalas-malasan segera pergi memberi kabar.

Tidak lama kemudian, Hu Ban sudah menggantikan posisi Khongti yang sedang bergerak menguntit dua orang anak murid Partai Khongtong.

Menguntit orang ada juga seninya, jika menguntit sendirian akan terlampau mudah ketahuan oleh lawan yang dikuntit.

Segera setelah Chen Taijiang memberi kabar, Zhu Yanyan sudah bergerak mencari-cari tanda yang ditinggalkan Khongti.

Setelah menemukan tanda tersebut, Zhu Yanyan pun segera tahu ke arah mana dua orang murid Khongtong itu bergerak, tanpa banyak kesulitan, mengikuti beberapa tanda yang ditinggalkan Khongti, Zhu Yanyan pun akhirnya melihat dua orang anak murid Khongtong itu.

Khongti yang melihat Zhu Yanyan dari kerumunan orang tempat dia membaurkan diri, segera menghentikan kuntitannya atas dua orang anak murid Khongtong itu.

Mencari tempat untuk mengganti penyamaran, ganti dia yang kemudian mengikuti jejak Zhu Yanyan.

Zhu Yanyan sedang melihat-lihat barang dagangan orang, sembari matanya yang tajam mengikuti gerak-gerik orang yang dia ikuti, ketika Khongti berdiri sejajar dengan dirinya, ikut melihat pula barang dagangan yang sedang dijajakan orang.

"Hmm... jadi orang tua memang susah, anak kecil ada saja kemauannya", gumam Khongti menarik perhatian Zhu Yanyan. Zhu Yanyan pun menengok dan dengan ringan menjawab.

"Heheh, sudah wajar, nanti toh bergantian, kalau kita sudah tua, mereka yang repot mengurus kita."

Khongti tertawa sebelum mengangguk dan meninggalkan tempat itu, menggantikan Zhu Yanyan menguntit dua orang anak murid Partai Khongtong.

Demikian dua orang itu bekerja sama, bergantian mengikuti gerak-gerik buruan mereka.

Anak murid Khongtong bukannya tidak waspada terhadap kuntitan orang, sesekali mereka berhenti untuk melihat ke sekeliling mereka, adakah orang yang sedang mengikuti gerak-gerik mereka?

Namun karena Zhu Yanyan dan Khongti bekerja sama dengan apiknya, maka dua orang itu pun tidak sadar bahwa gerak-gerik mereka sedang diikuti orang.

Penguntitan menjadi lebih sulit, ketika akhirnya dua orang itu keluar dari Kota Jiang Ling.

Zhu Yanyan dan Khongti pun tidak berani mengikuti dari jarak dekat, terpaksa mereka membiarkan dua orang buruan mereka berada jauh di depan.

Ketika di satu kelokan keduanya tiba-tiba menghilang dari jalan utama, dua orang bersahabat itu pun berunding sejenak.

"Menurutmu ke mana dua orang itu pergi?", tanya Zhu Yanyan.

"Heh... kiri dan kanan kita diapit hutan yang tidak terlalu lebat, jalan utama hanya ada bercabang dua. Jika mereka tidak mengambil tikungan ini, tentu mengambil tikungan yang satunya, atau bisa juga mereka masuk ke dalam hutan.", jawab Khongti.

"Menurutmu, apa kira-kira mereka sedang bersembunyi dan mengamat-amati keadaan, berjaga jika ada orang yang membuntuti mereka?", tanya Zhu Yanyan.

"Bisa jadi", jawab Khongti singkat, sementara matanya yang tajam melihat ke sekelilingnya. Untuk beberapa lama dua orang itu mengamati keadaan di sekitar mereka, kemudian Khongti berkata lagi.

"Biarlah kita bagi tugas, aku akan menilik tikungan yang satu lagi, sementara kakak bisa mencari-cari di sekitar tempat mereka terakhir kali terlihat."

"Kurasa sebaiknya begitu, kau hati-hatilah di jalan, siapa tahu mereka sudah tahu sedang dikuntit dan sedang mencari cara untuk memisahkan kita, sehingga lebih mudah dihadapi.", ujar Zhu Yanyan mengingatkan.

"Hmm", jawab Khongti singkat sambil menganggukkan kepala. Tidak menunggu lagi Khongti pun segera berlari cepat, menyusuri jalan ke arah yang berbeda. Sebaliknya Zhu Yanyan tidak tergesa-gesa bergerak, sambil menarik nafas perlahan-lahan, dia kembali mengamati keadaan di sekelilingnya. Dengan pikiran yang tenang, Zhu Yanyan menyusuri jalan yang sudah mereka lalui, baik sisi kiri maupun sisi kanan jalan. Setelah mendapati beberapa tempat yang terlihat biasa dilalui orang untuk masuk ke dalam hutan, Zhu Yanyan pun menimbang-nimbang, akhirnya dia memilih salah satu jalan setapak yang terlihat seperti baru saja dilewati orang. Baru saja dia memasuki hutan, telinganya yang tajam menangkap suara langkah orang di depan, cepat-cepat pendekar tua inipun menyembunyikan diri di balik pepohonan yang ada di dekatnya. Ternyata Zhu Yanyan tidak salah memilih jalan, salah satu dari dua orang yang dia ikuti sedang berjalan keluar melalui jalan setapak yang sedang dia telusuri. Dengan jantung berdebar sedikit lebih kencang, Zhu Yanyan, mendekam saja di tempatnya. Yang dia khawatirkan bukan dirinya, tapi Khongti yang sedang memeriksa jalan utama, bisa jadi saat ini Khongti justru sedang kembali untuk mencari dirinya. Dengan jantung berdebar, Zhu Yanyan terus menunggu, hingga suasana kembali sunyi dan orang itu jauh pergi. Barulah perlahan dia bergerak ke arah orang itu pergi, sampai ke jalan utama. Dari tempatnya dia bersembunyi dia bisa melihat orang itu berjalan sendirian, kembali ke arah Kota Jiang Ling. Sambil menghembuskan nafas lega, karena orang itu tidak bertemu dengan Khongti, dia pun mengedarkan matanya melihat ke sekeliling. Tidak menunggu berapa lama, Khongti muncul dari kejauhan sambil bersiul pelan. Zhu Yanyan membalas siulan Khongti. Kedua orang sahabat itu pun berkumpul kembali.

"Tidak kudapat jejaknya di jalan sana", ujar Khongti menyampaikan.

"Hm, barusan sudah kudapat jejaknya di dalam hutan, yang seorang tampaknya tinggal dan yang lain kembali ke Jiang Ling, mungkin untuk memberi kabar.", kata Zhu Yanyan memberitahukan penemuannya.

"Oh demikian rupanya... Jadi bagaimana, apa kita coba cari ke dalam hutan atau kita kembali ke Jiang Ling dulu?", tanya Khongti. Zhu Yanyan terdiam sejenak kemudian menjawab.

"Biar aku sekali lagi coba melihat ke dalam, sementara kau ikuti orang yang satunya lagi, pastikan apakah memang dia kembali melapor atau pergi ke tempat lain lagi. Setelah ada kepastian, kalian jangan buru-buru bergerak beri aku waktu sampai malam. Kecuali jika selewat malam aku belum kembali, bolehlah kalian datang mencari."

Khongti menepuk pundak Zhu Yanyan.

"Baiklah aku pergi, kakak sendiri hati-hati dalam bergerak."

"Aku tahu", jawab Zhu Yanyan singkat sambil tersenyum menenangkan. Tanpa banyak cakap mereka berdua pun pergi ke arah masing-masing. Zhu Yanyan menghilang ke dalam hutan, sementara Khongti bergerak kembali ke Jiang Ling. Di lain tempat ada pula kejadian penting yang terjadi. Kali ini bukan Wang Shu Lin dan enam orang gurunya yang berperan, namun Huang Ren Fu yang akhirnya berkumpul kembali dengan orang-orang sisa keluarga Huang. Sejak dia tinggal di Jiang Ling, pemuda ini pun menjadi sibuk. Terutama dengan keinginan sebagian besar bekas pengikut keluarga Huang, yang ingin membangun kembali Wuling. Hal ini cukup wajar, kebanyakan dari mereka masih memiliki pertalian darah dengan keluarga Huang atau sudah mengikuti keluarga Huang selama beberapa generasi. Ketika tidak ada satu pun keturunan keluarga Huang yang tersisa, Ding Tao menjadi suar tumpuan harapan mereka. Namun sekarang pewaris sah dari keluarga Huang ternyata masih hidup dan kembali bersama mereka. Apakah itu yang membuat wajah pemuda ini guram? Sepertinya bukan, karena jauh-jauh hari, pemisahan yang terjadi di dalam tubuh Partai Pedang Keadilan itu sudah disetujui oleh Ding Tao sendiri. Pula Huang Ren Fu yang bersahabat akrab dengan Ding Tao sudah berjanji akan menjadi sekutu dari Partai Pedang Keadilan. Memang segala sesuatunya berubah, namun seharusnya perimbangan kekuatan dalam dunia persilatan tidaklah bergerak banyak. Apa benar demikian? Tentu saja benar, bukankah Huang Ren Fu adalah sahabat baik Ding Tao? Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan persahabatan mereka? Beberapa bulan ini, dengan kesibukannya dan persiapan pernikahan Hua Ying Ying, Huang Ren Fu semakin jarang bertemu dengan guru dan adiknya. Disengaja atau tidak, Huang Ren Fu lebih sering berkumpul dengan bekas-bekas pengikut keluarga Huang, mengatur urusan mengenai pemulihan kantor keluarga Huang di Wuling, sementara Hua Ng Lau lebih sering bersama Hua Ying Ying dan Tabib Shao Yong. Tabib yang menyandang nama tabib dewa itu tampak kagum dengan kebun obat-obatan milik Tabib Shao Yong, demikian juga usaha toko obat-obatan dan pertabiban Partai Pedang Keadilan yang semakin hari semakin maju. Jika tidak sedang bersama mereka, tentu dia akan ditemukan sedang bersama-sama Bai Chungho dan Xun Siaoma, tiga tokoh tua dari generasi yang sejaman ini makin hari makin akrab bersahabat. Meskipun demikian, tak pernah Huang Ren Fu terlihat muram, seperti hari ini. Pemuda itu justru tampak bersemangat, sahabatnya hendak menikah dengan adiknya, lalu dia akan kembali ke Kota Wuling dan membangun kembali sisa warisan milik keluarganya. Bolak-balik dia berjalan mondar-mandir di salah satu selasar gedung Partai Pedang keadilan di Jiang Ling, sesekali dia celingukan bila mendengar suara orang berjalan mendekati tempat dia berada, lalu bergegas pergi menghilang untuk kemudian kembali beberapa saat kemudian setelah suasana kembali sunyi. Agaknya dia sedang menunggu kedatangan seseorang dan tidak ingin ada orang lain yang melihatnya ada di sana. Siapa gerangan yang sedang ditunggu pemuda ini? Sekali lagi terdengar suara langkah kaki orang, diiringi desir suara gaun bergesekan. Sekali lagi Huang Ren Fu bergegas mengintip siapa yang datang. Kali ini dia tidak pergi menghilang, melainkan berdiri menanti. Gaun sutra berwarna merah muda, bau harum samar-samar tercium, yang datang tentu seorang wanita, apa pemuda ini sedang jatuh cinta? Memang kadang jatuh cinta menyebabkan orang menderita, tidak aneh jika dia bermuram durja.

"Yun Hua...", bisik Huang Ren Fu terbata-bata saat sosok itu berjalan semakin dekat. Seperti baru sadar bila ada Huang Ren Fu ada di sana, Murong Yun Hua terhenti begitu mendengar suara pemuda itu, wajahnya pucat dan bibirnya gemetar, setetes air mata jatuh menuruni pipinya sebelum dia cepat-cepat membalikkan badan, hendak pergi dari sana. Huang Ren Fu dengan sigap mendekat dan menangkap lengan nyonya yang cantik itu.

"Yun Hua... tunggu dulu, marilah kita bicara...", bisik pemuda itu dan dengan sedikit memaksa menyeret Yun Hua masuk ke sebuah ruangan tak jauh dari sana, sebelum kemudian menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Murong Yun Hua tampak lemah dan menurut saja, perlahan terdengar isak tangis tertahan, sambil menghela nafas, Huang Ren Fu mendekap lembut Murong Yun Hua.

"Diamlah... jangan menangis... apa yang terjadi semuanya memang salahku...", ujar pemuda itu sambil membelai rambut Murong Yun Hua yang hitam tebal.

"Tidak....tidak.... jangan kakak berkata demikian..."

Ujar Murong Yun Hua sambil berusaha membebaskan diri dari pelukan Huang Ren Fu.

Namun demikian lemah tenaganya, sehingga tidak lebih hanya menggeser-geserkan tubuhnya pada tubuh pemuda itu saja, tanpa berhasil lepas dari pelukannya.

Semakin dia bergerak, semakin Huang Ren Fu mengetatkan pelukannya, semakin pula dia liar bergerak untuk melepaskan diri dan semakin tubuh mereka saling menyentuh.

Jantung Huang Ren Fu toba-tiba berdebaran saat dia menyadari apa yang sedang dia rasakan, dengan wajah merah padam dia hendak melepaskan pelukan.

Siapa sangka, di saat dia hendak melepaskan Murong Yun Hua, justru nyonya itu akhirnya menyerah dan justru menyandarkan kepalanya di dada Huang Ren Fu sambil menangis tertahan.

Sambil menahan nafsu yang sempat menggelora, pemuda itu pun menyediakan dadanya untuk menjadi tempat Murong Yun Hua menangis, melepaskan kesedihannya.

Kesedihannya?

Ya, memang buat pembaca yang sudah mengenal siapa Murong Yun Hua, akan berkata dengan sinis memikirkan Murong Yun Hua sedang bersedih lalu membiarkan diri tenggelam dalam pelukan Huang Ren Fu.

Tapi Huang Ren Fu tidak tahu apa yang kita tahu, pula seorang pemuda yang sedang jatuh cinta, apakah dia bisa menilai dengan benar orang yang dicintainya?

Dengan perasaan hancur berderai, Huang Ren Fu membelai-belai rambut Murong Yun Hua dan mengeluarkan kata-kata untuk menghibur nyonya cantik itu.

Ketika isak tangis Murong Yun Hua mulai mereda, Huang Ren Fu berkata.

"Dengar..., memang apa yang kita lakukan tidak bisa dibenarkan... tapi jangan menyalahkan dirimu terlampau keras. Saat itu kau sedang bersedih, sedang lemah menghadapi kenyataan tentang diri Ding Tao yang sebenarnya. Harusnya aku yang lebih tenang bisa menahan diri..."

Murong Yun Hua menggelengkan kepalanya dengan lemah dalam pelukan pemuda itu.

"Ya seharusnya aku dapat menahan diri... namun aku tak mampu... Yun Hua... Yun Hua... aku mencintai dirimu... jika ada yang harus dipersalahkan, maka orang itu adalah aku...", keluh Huang Ren Fu.

"Kakak... benarkah itu? Benarkah apa yang kakak katakan itu?", tiba-tiba Murong Yun Hua bertanya, dengan nada terkejut bercampur bahagia yang tertahan.

"Ya... benar. Aku mencintaimu, aku menginginkanmu.", jawab Huang Ren Fu dengan lembut namun tegas. Murong Yun Hua mengeluh panjang, untuk sesaat tubuhnya terasa lemas dalam pelukan Huang Ren Fu, kemudian samar-samar terdengar Murong Yun Hua berbisik.

"Aku bahagia... aku bahagia... karena aku pun... aku pun mencintaimu..."

Mendengar bisikan Murong Yun Hua, Huang Ren Fu pun mengendurkan pelukannya, memegang kedua lengan nyonya cantik itu dengan lembut dan menatapnya lurus.

"Yun Hua... tidak salahkah pendengaranku?"

Tersipu malu Murong Yun Hua tak menjawab, sungguh hebat cara dia bersandiwara, wajahnya tampak memerah karena malu, membuang muka tak hendak menjawab sambil tersipu-sipu, dia tampak makin memikat.

Dengan lembut Huang Ren Fu yang merasa dadanya membuncah dengan rasa bahagia, menyentuh pipi Murong Yun Hua dan menggerakkan wajah gadis itu agar menatap lurus ke arahnya.

Sesaat lamanya pandang mata mereka bertemu, ribuan kata terucapkan dalam keheningan.

"Yun Hua..., benarkah yang kudengar itu? Benarkah kau mencintaiku, seperti aku mencintaimu?", tanya Huang Ren Fu dengan lembut. Ditanya demikian, makin tersipulah Murong Yun Hua, merasa malu dan tak mampu menatap pemuda itu lebih lama, dia memejamkan matanya dan berusaha melepaskan diri dari pandang mata Huang Ren Fu yang menyelidik. Betapa menggoda apa yang dia lihat saat ini, Huang Ren Fu tanpa ragu dengan sedikit bernafsu, menundukkan wajahnya dan mencium Murong Yun Hua dengan mesra. Murong Yun Hua pun menggeliat berusaha lepas, tapi apa artinya tenaga lemah yang dia gunakan, ketika dibandingkan dengan tenaga pemuda itu? Usaha melepaskan diri yang setengah-seengah itu, hanya membuat darah Huang Ren Fu semakin membara, apalagi ketika tidak berapa lama kemudian, Murong Yun Hua menyerah pasrah, bahkan memberikan tanggapan. Untuk beberapa lama, yang terdengar hanya erangan tertahan, desahan nafas memburu dan desir-desir sutra bergesekan. Berhadapan dengan Ding Tao yang malu-malu dan ragu, dia tampil agresif. Berhadapan dengan Chou Liang, dia tampil tegas dan penuh pertimbangan. Berhadapan dengan Huang Ren Fu yang bersifat terbuka dan penuh percaya diri, dia tampil lemah dan malu-malu. Tidak salah jika ada yang mengatakan, Murong Yun Hua adalah wanita paling memikat di masanya. Di antara desahan dan erangan, terdengar Murong Yun Hua berkata.

"Kakak... jangan sekarang... jangan di sini..."

Nafas Huang Ren Fu masih memburu, matanya menatap nanar, seluruh tubuhnya menguarkan hawa panas.Baju bagian atasnya sudah terbuka, menggantung di pinggang, dadanya yang bidang dibasahi keringat, meskipun sibuk dengan berbagai urusan tak pernah dia melupakan latihan, terlihat dari otot-ototnya yang terbentuk.

Dalam pelukannya ada Murong Yun Hua, tubuh atas nyonya yang cantik ini pun sudah tidak ditutupi sehelai benangpun, nafasnya sama memburu, membuat sepasang bukit yang ranum itu bergerak naik dan turun.

"Nanti ada yang menemukan kita...", bisik Murong Yun Hua menghapuskan sisa kabut yang masih menutupi pikiran Huang Ren Fu. Nafasnya masih terengah-engah, namun pikirannya sudah jauh lebih jernih, tersipu malu Huang Ren Fu mengendurkan pelukannya. Untuk beberapa lamanya dia diam memandangi wajah cantik yang balik menatapnya dengan mesra itu, deburan jantung di dadanya perlahan mengendap seiring dengan usahanya mengatur nafas dan mengumpulkan semangat.

"Maaf...", ujarnya sambil melepaskan Murong Yun Hua.

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 7

Baca Juga: Suling Emas 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert