Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pendekar Negeri Tayli 2

Eps 2 Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong

Baca online Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong

Cersil Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong.

Waktu Tjiong Ling memberitahukan tempat tinggalnja, gadis itu djelaskan kalau mesti mentjari kuburan ketudjuh dihitung dari kiri, tapi tidak menerangkan apa jang tertulis diatas batu nisan.

Kini melihat nama Ban Siu Toan jang aneh itu, diam2 Toan Ki mendjadi ragu2.

Ia lihat sekitarnja sunji senjap penuh kuburan, hanja terkadang terdengar suara keresekan daun pohon jang bergerak terhembus angin sendja.

Toan Ki tak berani ajal, segera ia menurut petundjuk Tjiong Ling dan menarik batu nisan tadi kekiri, menjusul menarik lagi dua kali kekanan dan kembali sekali pula kekiri.

Habis itu ia mendepak tiga kali ke-tengah2 tulisan diatas batu nisan itu.

Tulisan jang tepat didepaknja itu adalah huruf Toan, jaitu nama keluarganja Toan Ki djuga.

Diam2 ia geli sendiri, pabila orang lain, tidak mungkin sudi mendepak diatas huruf jang mendjadi nama keluarganja itu.

Dalam pada itu, tiba2 dua potong batu disamping kuburan itu mendadak robah hingga tertampak suatu lubang masuk.

Toan Ki tjoba melongok kedalam, tapi keadaan gelap-gelita, segera ia tabahkan diri dan membiluk suatu tikungan, achirnja ia melihat didepan sana ada setitik sinar pelita.

Segera ia mendekatinja, tapi ia mendjadi kaget, ternjata disamping pelita itu terdapat sebuah peti mati.

Sesuai petundjuk Tjiong Ling, Toan Ki lantas tiup padam pelita itu hingga keadaan mendjadi gelap pekat.

Selang tak lama terdengar suara keriut2 beberapa kali, tutup peti mati tadi terbuka sendiri, lalu terdengar suara seorang wanita sedang menanja.

Apakah Siotjia jang telah pulang?

Tjayhe bernama Toan Ki, tjepat Toan Ki menjahut, atas permintaan nona Tjiong, Tjayhe ingin bertemu dengan Koktju (pemilik lembah).

Terdengar wanita itu bersuara heran, rupanja agak terkedjut atas kedatangan Toan Ki, maka katanja pula.

Dja .......

djadi kau adalah orang luar?

Dan dimanakah Siotjia kami?

Nona Tjiong sedang terantjam bahaja, maka Tjayhe membawa berita kemari, sahut Toan Ki.

Tunggulah sebentar, biar kulaporkan pada Hudjin (njonja), kata wanita itu.

Toan Ki menjatakan baik, ia pikir kebetulan, memangnja nona Tjiong suruh aku menemui ibunja lebih dulu, tampaknja urusan ini memberi harapan bagus.

Setelah agak lama berdiri menunggu dalam kegelapan, achirnja Toan Ki mendengar suara tindakan orang mendatangi, terdengar suara wanita tadi berkata padanja.

Hudjin menjilahkan tuan tamu masuk!

Aku tidak bisa melihat, kata Toan Ki, terlalu gelap!

Tiba2 terasa sebuah tangan mengulur menarik tangan kanannja dan melangkah masuk kedalam peti mati, lalu menurun melalui undak2an batu.

Setelah beberapa ratus tindak, mendadak pandangannja mendjadi terang.

Toan Ki telah dibawa kesuatu tempat jang penuh tumbuh2an bunga.

Wanita itu lepaskan tangan Toan Ki jang digandengnja tadi dan berkata.

Tuan tamu silahkan ikut padaku.

Dibawah sinar bulan, Toan Ki melihat wanita itu berusia antara 14-15 tahun, berdandan setjara pelajan, mungkin adalah dajang jang melajani Tjiong Ling.

Maka Toan Ki tjoba menanja.

Siapakah nama Tjitji?

Ssssst!

pelajan itu mendesis sambil menoleh dan gojang2 tangan tanda djangan bersuara.

Melihat wadjah pelajan itu menampilkan rasa takut, maka Toan Ki tidak menanja lebih djauh.

Dajang itu membawa Toan Ki menjusur sebuah rimba dan menudju kekiri melalui suatu djalanan ketjil.

Sampai didepan sebuah rumah genteng, pelahan2 pelajan itu mengetok pintu tiga kali, dengan pelahan daun pintu lantas terpentang.

Pelajan itu memberi tanda agar Toan Ki disilahkan masuk dahulu, ia sendiri lantas berdiri kesamping pintu.

Waktu Toan Ki melangkah kedalam, ia lihat disitu adalah sebuah ruangan tamu, diatas medja tersulut sebatang lilin besar hingga djelas kelihatan perabotan dalam ruangan itu sangat indah, diatas dinding tergantung beberapa lukisan, dekorasi dalam ruangan tamu jang tidak terlalu luas itu ternjata sangat pandai dan serasi.

Sesudah Toan Ki ambil tempat duduk, pelajan tadi lantas menjuguhkan teh, katanja.

Silahkan Kongtju minum, sebentar Hudjin akan keluar!

Sehabis Toan Ki minum, terdengarlah suara tindakan orang jang perlahan, dari dalam muntjul seorang njonja berbadju sutera hidjau muda, usianja sekira 40-an tahun, wadjahnja putih aju dan rada mirip dengan Tjiong Ling.

Menduga tentu inilah ibunja Tjiong Ling, tjepat Toan Ki berbangkit dan memberi hormat, katanja.

Wansing (saja jang muda) Toan Ki menjampaikan salam pada Pekbo (bibi).

Mendengar itu, njonja Tjiong rada tertjengang, dengan sikapnja jang agung ia membalas hormat orang.

Ketika Toan Ki mendongak hingga mukanja kelihatan djelas, tak tertahan lagi wadjah Tjiong-hudjin berubah hebat sambil ter-hujung2 mundur dua tindak, katanja dengan napas memburu.

Kau ......

kau ........

Kenapa Pekbo?

tanja Toan Ki kedjut.

Kau ........

kau djuga she Toan?Tjiong-hudjin menegas.

Barulah sekarang Toan Ki ingat pada pesan Tjiong Ling jang pernah minta agar pemuda itu djangan mengaku she Toan.

Tapi ia pikir orang she Toan didunia ini terlalu banjak, melulu daerah Hunlam sadja tidak kurang beratus ribu lelaki jang she Toan, belum tentu bahwa setiap orang she Toan mahir ilmu It-yang-tji, sebab itulah ia tidak perhatikan usul sigadis itu.

Kini demi menampak wadjah Tjiong-hudjin jang terkedjut itu, baru Toan Ki paham apa jang diusulkan Tjiong Ling itu sebenarnja mengandung maksud mendalam.

Untuk membohong sudah terlambat, terpaksa ia mendjawab.

Ja, Wansing she Toan.

Kongtju berasal darimana?

Dan siapakah nama orang tua Kongtju?

tanja njonja Tjiong lagi.

Toan Ki pikir sekarang harus mendusta agar asal-usulku tak diketahui, maka djawabnja.

Wansing berasal dari Lim-an-hu didaerah Kanglam, ajah bernama Toan Liong.

Tjiong-hudjin menghela napas lega oleh djawaban itu, setelah tenangkan diri, katanja pula.

Silahkan Kongtju duduk.

Setelah kedua orang sama2 ambil tempat duduk, njonja Tjiong tidak membuka suara lagi, tapi terus mengamat-amati Toan Ki dari kanan-kekiri dan dari kiri kekanan.

Karuan Toan Ki mendjadi likat, achirnja ia bitjara lebih dulu.

Puteri njonja sedang terantjam bahaja, Wansing sengadja datang memberi kabar.

Ah!

Kenapakah puteriku?

seru Tjiong-hudjin tersadar dari lamunannja.

Segera Toan Ki melepaskan Djing-leng-tju dari pinggangnja dan dipersembahkan pada njonja rumah, katanja.

Harap Pekbo periksa, ini adalah benda pengenal puterimu jang dibawakan Wansing.

Melihat ular hidjau itu, Tjiong-hudjin mengerut kening dan mengundjuk rasa djemu, ia sedikit menghindar kebelakang sambil berkata.

Kiranja Kongtju djuga tidak takut pada binatang berbisa ini.

Harap kau letakkan dipodjok rumah sana sadja.

Diam2 Toan Ki heran melihat njonja rumah itu djeri pada ular.

Ia taruh Djing-leng-tju kesudut ruangan jang ditundjuk itu.

Lalu mentjeritakan pertemuannja dengan Tjiong Ling di Kiam-oh-kiong diatas Bu-liang-san dan tjara bagaimana dirinja telah tjari gara2 hingga bikin marah kawanan Sin-long-pang, dimana terpaksa Tjiong Ling melepaskan Kim-leng-tju, tapi achirnja gadis itu tertawan serta dirinja dipaksa datang minta pertolongan.

Semuanja Toan Ki tjeritakan, hanja pengalamannja melihat patung kemala didasar danau itu tak di-sebut2.

Sambil mendengarkan, Tjiong-hudjin berdiam sadja, wadjahnja makin lama makin menampilkan rasa sedih.

Setelah Toan Ki menutur, dengan menghela napas barulah ia berkata.

Anak perempuan ini memang terlalu nakal, begitu keluar rumah sudah bikin onar.

Peristiwa ini adalah gara2 perbuatanku, tak bisa menjalahkan nona Tjiong, udjar Toan Ki.

Dengan ter-mangu2 Tjiong-hudjin memandangi pemuda itu, sahutnja dengan lirih.

Ja, memangnja djuga takbisa menjalahkan dia.

Dahulu.........

dahulu akupun demikian.........

Apa itu?

tanja Toan Ki.

Tjiong-hudjin terkesiap hingga wadjah bersemu merah, meski usianja sudah setengah umur, tapi sikap malu2-kutjingnja itu ternjata tiada ubahnja seperti gadis remadja.

Dengan likat ia mendjawab.

O, aku.......

aku hanja teringat pada sesuatu kedjadian.

~ Dan karena berkata suatu kedjadian itu, wadjahnja tampak semakin merah djengah, maka tjepat ia membilukan pokok pembitjaraan.

Kukira urusan............

urusan ini agak sulit diselesaikan.

Melihat sikap njonja rumah jang ke-malu2an itu, diam2 Toan Ki pikir sang ibu masih lebih kaku daripada puterinja jang lintjah itu menghadapi orang luar.

Pada saat itulah, tiba2 terdengar suara seorang berkata diluar sana dengan nada dingin.

Hm, apakah kau tidak pernah mendengar peraturan di Ban-djiat-kok kami ini?

Tjong-hudjin terkedjut mendengar suara itu, dengan perlahan katanja pada Toan Ki.

Suamiku sudah datang, dia ........

dia suka tjurigai orang, sementara harap Toan-kongtju suka bersembunji dahulu.

Tapi achirnja Wansing toh harus mendjumpai Tjiong-tjianpwe, lebih baik ........

belum selesai utjapan Toan Ki, tjepat tangan Tjiong-hudjin sudah menekap mulutnja, lalu menjeretnja kesuatu kamar disebelah timur sana.

Kau bersembunji disini, sekali2 djangan bersuara, pesan njonja rumah.

Watak suamiku sangat keras, sedikit tjeroboh, djiwamu akan terantjam dan akupun tak bisa menolongmu.

Djangan menjangka njonja rumah itu tampaknja lemah lembut, ilmu silatnja ternjata sangat lihay, sedikitpun Toan Ki takbisa berkutik kena dipegang dan diseret tadi, terpaksa ia menurut sadja.

Sedang dalam hati diam2 pemuda itu mendongkol.

Djauh2 aku datang memberi kabar, djelek2 aku adalah tamu, kenapa mesti disuruh main sembunji2 seperti pentjuri sadja?

Dalam pada itu terdengar pula suara seorang wanita dibalik dinding papan sana sedang berkata.

Sutjiku ini kena pagutan ular berbisa, djiwanja sangat berbahaja, maka mohon Lotjianpwe suka memberi pertolongan ...........

~ sembari berkata, terdengar suara tindakan tiga orang memasuki ruangan disebelah.

Waktu Toan Ki mengintip melalui selah2 dinding, ia lihat seorang wanita berbadju hidjau, menggembol pedang dipunggung, tangannja memondong seorang wanita lain sembari tiada hentinja minta tolong.

Disamping itu adalah seorang laki2 berbadju hitam jg tinggi kurus, muka menghadap keluar, maka wadjahnja tidak kelihatan, tjuma dari sepasang tangannja jang lebar mendjulur kebawah itu, terang bentuknja sangat aneh luar biasa.

Kemudian terdengar suara Tjiong-hudjin lagi menanja.

Siapakah kedua tamu ini?

Ada perlu apakah datang kelembah sini?

Wanita badju hidjau tadi meletakkan kawan jang dipondongnja itu kelantai, lalu menanja.

Njonja tentunja Tjiong-hudjin?

Tjiong-hudjin mengangguk.

Siaulitju (aku jang muda) bernama Hoan He, anak murid Hoa-san-pay dari Siamsay, terimalah hormatku ini, kata wanita badju hidjau sambil memberi hormat.

Ah, nona Hoan tak perlu banjak adat, tjepat Tjiong-hudjin membalas hormat sembari membangunkan orang.

Toan Ki melihat Hoan He itu kira2 berusia 27-28 tahun, beralis tebal dan bermata besar, gagah mirip kaum pria.

Kedengaran ia berkata lagi.

Siaulitju bersama Sutji, Si Hun, oleh karena ada keperluan datang kedaerah Hunlam sini, ketika lewat Bu-liang-san, Sutji jang kurang hati2 mendadak dipagut oleh seekor ular emas ketjil .......

Mendengar kata2 ular emas ketjil, hati Toan Ki tergerak, pikirnja.

Djangan2 jang dimaksudkan itu adalah Kim-leng-tjunja nona Tjiong?

Sebab apakah sampai dipagut oleh ular emas itu?

tanja njonja Tjiong.

Waktu itu kami merasa lelah dan duduk mengaso ditepi djalan, demikian tutur Hoan He.

Tiba2 tampak seekor ular emas jang ketjil merajap keluar dari semak2 rumput, karena tertarik oleh warna emas gemilapan ular itu.

Sutji telah mentjukitnja dengan pedang.

Tak tersangka ular ketjil itu terus meledjit keatas dan menggigit sekali dipergelangan tangan Sutji.

Seketika itu djuga Sutji terus djatuh semaput.

Tiba2 laki2 berbadju hitam tadi menjela.

Asal kau bunuh ular emas itu dan telan empedunja, djiwanja lantas dapat tertolong.

Namun sahut Hoan He.

Pergi-datang ular emas itu teramat tjepat, sekali meledjit lagi lantas menghilang ketengah semak2 rumput, pula Siaulitju sibuk menolong Sutji, tiada pikiran bahwa ular itu harus dibunuh.

Bagus bila kau sudah tahu bahwa pergi-datang Kim-leng-tju itu setjepat kilat, kata laki2 badju hitam itu dengan ter-bahak2.

Memangnja orang jang berilmu silat sepuluh kali lebih tinggi dari kau djuga takkan mampu mengatasi binatang itu.

Dasar tjari penjakit, tiada apa2, kenapa mesti meng-kutik2 ular itu dengan pedang?

Ha, mampus djuga sjukur.

Sudah, orang toh sudah terluka dan djauh2 datang kesini minta tolong padamu, buat apa kau menjakiti perasaan orang malah?

udjar sang isteri.

Mendengar nada utjapan Tjiong-hudjin itu, barulah Toan Ki tahu bahwa laki2 berbadju hitam itu tak-lain-tak-bukan adalah ajah Tjiong Ling, pemilik dari Ban-djiat-kok ini.

Dalam pada itu laki2 badju hitam itu telah ter-bahak2 pula sambil berpaling.

Melihat mukanja, Toan Ki mendjadi kaget.

Ternjata orang itu bermuka kuda, kedua matanja tumbuh terlalu tinggi, hidungnja jang besar sebaliknja hampir ber-desak2an dengan mulutnja jang lebar, hingga ditengah muka terluang suatu bagian jang polos kosong.

Wadjah Tjiong Ling tjantik molek, sungguh tak njana bahwa ajah kelahirannja itu sebaliknja begini djelek mukanja.

Tadinja wadjah Tjiong-koktju itu penuh senjum edjekan, tapi demi berpaling kearah sang isteri, wadjahnja jang djelek itu tampak berubah lemah-lembut, katanja dengan tertawa.

Baiklah, apa jang Niotju (isteriku) katakan, aku hanja menurut sadja.

Diam2 Toan Ki heran pula, pikirnja.

Aneh!

Tadi ketika mendengar sang suami datang, Tjiong-hudjin tampak sangat takut, tapi kalau melihat sikap Tjiong-koktju sekarang, ia djusteru sangat tjinta dan menghormat pula kepada sang isteri.

Rupanja Hoan He djuga sudah dapat melihat akan gelagat itu, segera ia berlutut dan berkata pula.

Mohon Tjiong-koktju dan Tjiong-hudjin sudi menolong djiwa Sutjiku, bukan sadja kami berdua akan sangat berterima kasih, sekalipun guruku djuga merasa hutang budi.

Gurumu tentunja sibopeng Pho Pek-ki, bukan?

tanja Tjiong-koktju.

Hm, dia adalah angkatan muda, perlu apa aku ingin dia utang budi segala padaku.

Dahulu ketika aku meninggal, kenapa dia tidak datang melawat?

Apa dia kira aku tidak tahu?

Aku djusteru tahu2 dengan djelas biarpun didalam peti mati ini.

Utjapannja itu tidak hanja membikin Toan Ki tertjengang, sekalipun Hoan He djuga dibuatnja bingung.

Pikirnja.

Kau masih hidup baik2 seperti ini, kenapa bitjara tentang melawat dan peti mati segala?

Tiba2 Tjiong-koktju menanja lagi dengan suara keras.

Sudah sekian tahun aku meninggal dunia, orang luar tiada jang tahu bahwa aku masih hidup.

Lalu siapakah jang telah tundjukkan padamu untuk mentjari aku kesini dan darimana kau kenal djalan masuk Ban-djiat-kok?

~ Pertanjaan ini dilakukan dengan nada bengis, alisnja menekuk kebawah dan mulut merot, sikapnja sangat menakutkan.

Maka djawablah Hoan He.

Waktu Siaulitju lagi bingung ingin menolong djiwa Sutji dengan maksud lekas2 berlari kekota untuk mentjari tabib, tiba2 melihat ditepi djalan ada seorang nona berbadju hitam sedang mengulur tangan hendak menangkap seekor ular ketjil.

Ular itu berwarna emas mengkilap, terang itu ular berbisa jang memagut Sutji.

Maka tjepat Siaulitju berseru memperingatkan nona badju hitam itu agar djangan main2 dengan ular berbisa djahat itu.

Tak tersangka nona itu sama sekali tidak gubris pada peringatanku, ia malah menangkap ular emas itu terus dimasukan kedalam badjunja.

Melihat itu, Siaulitju mendjadi girang, sebab kupikir orang jang dapat mengatasi ular itu, tentu dapat pula mengobati pagutan sang ular.

Segera Siaulitju memohon dengan sangat, namun nona itu mendjawab bahwa dirinja takbisa mengobati bisa ular itu.

Diseluruh djagat hanja ada seorang jang mampu menjembuhkan pagutan ular emas itu, maka aku diberi petundjuk untuk datang kemari memohon pertolongan Tjiong-koktju.

Ketika Siaulitju minta tanja nama nona badju hitam itu, namun dia takmau memberitahu.

Mendengar uraian itu, Tjiong-koktju dan sang isteri saling pandang sekedjap, lalu katanja dengan mendjengek.

Ha, ternjata adalah dia.

Orang ini tidak bermaksud baik, selalu ia ingin memaksa aku keluar dari lembah ini.

Ja, semuanja gara2 Ling-dji, sembarangan membawa Kim-leng-tju keluar lembah hingga menimbulkan onar sadja.

~ Lalu ia berpaling dan tanja Hoan He.

Lalu, apa jang dikatakan lagi oleh perempuan itu?

Tidak ada lagi, sahut Hoan He.

Betul tidak ada lagi?

Tjiong-koktju menegas dengan dingin.

Terpaksa Hoan He menjahut dengn gelagapan.

Nona ..........

nona itu seperti berkata pula bahwa.

Djalan hanja melulu satu ini, tjuma, sekali kau sudah masuk kesana, belum tentu dapat keluar lagi dengan badan selamat.

Maka kau harus pikir masak2 sebelumnja.

Benarlah!

udjar Tjiong-koktju.

Dan kau sudah pikirkan tidak?

Tjepat Hoan He berlutut mendjura pula sambil memohon.

Mohon belas-kasihan Tjiong-koktju dan Hudjin.

Bangunlah kau, sahut Tjiong-koktju.

Aku mempunjai dua djalan, kau boleh pilih manasuka.

Pertama, kau dan Sutjimu selama hidup tinggal dilembah ini melajani isteriku.

Djalan kedua, tangan kalian berdua harus dipotong, lidah diiris, agar kalau sudah keluar dari sini tidak membotjorkan rahasiaku.

Ta .........

tapi Siaulitju ditugaskan Suhu untuk menjelesaikan suatu urusan penting di Hunlam sini, sahut Hoan He meratap, sebelum tugas itu terlaksana, bukankah berarti melanggar perintah guru bila terus tinggal dilembah sini .........

Djadi kau akan memilih djalan kedua sadja, ja?

kata Tjiong-koktju.

Tiba2 Hoan He merangkak madju dan merangkul kedua kaki Tjiong-hudjin sambil meratap.

Mohon belas-kasihan Hudjin, Siaulitju berdjandji sesudah keluar lembah ini pasti akan tutup mulut se-rapat2nja, kalau berani bitjara satu-patah-kata sadja, biarlah aku mati tertjingtjang tak terkubur.

Hm, aku Tjiong Ban-siu kalau bukan terlalu pertjaja pada sumpah orang, rasanja harini takkan mengumpet dilembah maut ini sebagai orang mati, mengkeret sebagai kura2, tiba2 Tjiong-koktju tertawa mendjenggek dan sekali tangan kiri mengulur, tahu2 leher badju Hoan He kena ditjengkeramnja terus diangkat keatas.

Perawakan tubuh Hoan He dikalangan wanita sudah tergolong tinggi, tapi kena diangkat oleh Tjiong Ban-siu, kakinja lantas ter-katung2 setingggi hampir satu meter.

Saking kaget dan takutnja Hoan He mendjerit, berbareng kaki kanan terus melajang menendang kedada Tjiong Ban-siu.

Namun sama sekali Tjiong Ban-siu tak menghindar, ia membiarkan dada ditendang orang.

Maka terdengarlah suara krak sekali, tahu2 tulang kaki Hoan He jang patah malah.

Menjusul tampak Tjiong Ban-siu gerakan tangan kanan, sinar tadjam berkelebat agaknja tangannja itu telah menjiapkan sematjam sendjata pendek sebangsa belati, maka terdengarlah suara tjret-tjret dua kali, kedua tangan Hoan He sudah terkutung semua sebatas pergelangan.

Tjiong-hudjin hanja mendengus sekali menjaksikan itu.

Sedangkan Tjiong Ban-siu telah masukan djarinja pula kemulut Hoan He terdengar wanita itu berseru tertahan sekali, darah lantas mengutjur dari mulutnja, tentu lidahnja telah kena diiris putus djuga.

Ber-debar2 perasaan Toan Ki menjaksikan adegan mengerikan itu, ia tekap mulut sendiri, sedikitpun tak berani bersuara, sebaliknja berpikir.

Meski kau telah kutungi kedua tangan dan iris lidahnja, dia masih punja sebelah kaki jang dapat dipakai menggores tulisan diatas tanah, achirnja dia bisa djuga membotjorkan rahasia Ban-djiat-kok ini.

Ia lihat Tjiong Ban-siu telah melemparkan tubuh Hoan He jang sudah pingsan saking kesakitan, lalu Si Hun jang menggeletak ditanah tak sadarkan diri itu diseretnja dan diperlakukan seperti Hoan He, kedua tangannja dikutung dan lidahnja disajat.

Melihat kekedjaman orang, Toan Ki mendjadi naik darah, tak terpikir lagi olehnja akibat apa jang bakal menimpa dirinja, mendadak ia membentak.

Pengetjut jang rendah tak kenal malu, kau benar2 terlalu kedji!

Karena bentakan Toan Ki ini, Tjiong Ban-siu mendjadi kaget, lebih2 Tjiong-hudjin, ia ketakutan hingga putjat bagai kertas.

Dengan langkah lebar terus sadja Toan Ki keluar dari balik dinding papan itu, ia tuding Tjiong Ban-siu dan mendamperat.

Tjiong siangsing, njalimu terlalu ketjil, tjaramu ini bukanlah perbuatan seorang laki2 sedjati!

Melihat wadjah Toan Ki, air muka Tjiong Ban-siu berubah hebat dan kesiap, katanja.

Apakah kau ......

kau ......ah, tak mungkin ........

Tjayhe bernama Toan Ki, segera pemuda itu perkenalkan diri, sedikitpun aku tidak paham ilmu silat, maka hendak kau korek atau bunuh, boleh kau lakukan sesukamu.

Tapi kalau kau lepaskan aku dari sini, perbuatanmu jang kedjam tak berprikemanusiaan ini, pasti akan kusiarkan diseluruh Kangouw, biar setiap orang mengenal manusia matjam apakah Tjiong Ban-siu itu?

Ha-ha-ha!

tidak gusar malah Tjiong Ban-siu tertawa.

Manusia matjam apa Tjiong Ban-siu, masakah orang Kangouw tidak tahu?

Kau botjah ini apa tidak kenal djulukanku dahulu dikangouw?

Tidak tahu, sahut Toan Ki.

Aku Tjiong Ban-siu, berdjuluk Kian-djin-tjiu-sat (melihat orang lantas membunuh)!

kata Tjiong Ban-siu dengan sikap sangat bangga.

Toan Ki rada tertjengang oleh gelar orang itu, tapi dadanja segera bergolak pula oleh semangat banteng, dengan lantang katanja pula.

Djadi membunuh setjara kedjam orang tak berdosa memang dasar watakmu.

Tjuma umumnja kalau orang suka membunuh, biasanja orang itu pasti tidak takut pada langit dan gentar pada bumi, masakan pengetjut matjam kau, takut kepala takut buntut, djeri dimuka kuatir dibelakang.

Rupanja utjapan Toan Ki itu tepat menusuk lubuk hati Tjiong Ban-siu hingga seketika ia malah tidak gusar.

Memangnja Toan Ki sudah tidak pikirkan mati-hidupnja sendiri lagi, segera ia berkata pula.

Kulihat ilmu silatmu sangat tinggi, kusangka kau tentu seorang laki2 berdjiwa badja, bila takbisa menangkan orang, seharusnja kau labrak dia mati2an sekalipun achirnja gugur bersama.

Tapi kau djusteru main sembunji2, kuatir orang membotjorkan tempat mengumpetmu, lantas kau menjiksa dan menganiaja seorang wanita jang tak mampu melawan kau, apakah ......

apakah perbuatan demikian ini adalah kelakuan seorang djantan tulen?

Wadjah Tjiong Ban-siu tampak sebentar putjat sebentar merah padam, seakan2 apa jang dikatakan Toan Ki itu setiap kalimatnja kena benar2 menusuk lubuk hatinja, tiba2 sinar matanja jang bengis menjorot tadjam, tampaknja segera akan membunuh orang.

Tapi setelah tertegun sedjenak, mendadak ia menggebrak medja, blang-blang, medja disebelahnja sempal separoh, menjusul sebelah kakinja melajang, dinding papan djebol berwudjut sebuah lubang.

Ia tutup mukanja dengan kedua tangan sendiri sambil berseru.

Ja, aku adalah pengetjut, aku adalah pengetjut!

~ Mendadak ia lari tjepat keluar.

Dalam keadaan demikian, saking ketakutan Tjiong-hudjin sampai gemetaran bersandar didinding, sama sekali tak tersangka olehnja sekali ini sang suami tidak membunuh Toan Ki.

Ia menoleh dan menanja.

Toan-kongtju, apa be .....

benar kau tidak bisa ilmu silat?

~ sembari berkata, dengan perlahan tangannja terus menabok kepunggung pemuda itu.

Tempat jang ditabok itu adalah tempat mematikan ditubuh manusia, asal sedikit dia gunakan Lwekang, tidak mati pasti Toan Ki akan terluka djuga.

Namun pemuda itu memang benar2 takbisa ilmu silat, maka sedikitpun ia tidak kenal bahaja, dengan djudjur ia mendjawab.

Wansing memang tidak pernah beladjar silat, kepandaian jang gunanja melulu dipakai mentjelakai orang ini, tiada harganja untuk dipeladjari.

Be .......

besar amat njalimu, ternjata se ........

serupa benar dengan dia, kata Tjiong-hudjin.

Serupa dengan siapa?

Toan Ki menegas.

Kembali wadjah Tjiong-hudjin bersemu merah, ia tidak mendjawab pertanjaaan orang, sebaliknja ia tepuk tangan dua kali, maka keluarlah pelajan tadi.

Kau bubuhi obat luka pada kedua nona itu, untuk mentjegah darah mereka mengutjur terlalu banjak, pesan njonja rumah itu.

Pelajan itu mengia dan memondong Si Hun dan Hoan He kedalam kamar, melihat sikapnja jang sedikitpun tidak heran atau kaget, agaknja soal membunuh dan menganiaja orang sudah biasa dilihatnja.

Sambil bertopang-dagu, diam2 Tjiong-hudji lagi terombang-ambing dalam lamunannja, seperti ada sesuatu kesulitan jang maha besar jang susah diputuskan.

Tadi Toan Ki hanja terdorong oleh darah panas jang timbul seketika, maka berani mendamperat Tjiong Ban-siu, tatkala itu ia sudah nekad.Tapi kini demi melihat darah berlumuran dilantai, hatinja mendjadi takut lagi.

Pikirnja.

Aku harus lekas2 berusaha melarikan diri, kalau tidak, bukan sadja djiwa akan melajang, bahkan akan mati dengn mengenaskan.

Segera ia menghampiri ambang pintu sambil memberi hormat pada njonja rumah dan berkata.

Wansing sudah menunaikan tugas menjampaikan berita, kini mohon Hudjin lekas berdaja untuk menolong puterimu.

Nanti dulu, Kongtju, sahut Tjiong-hudjin.

Karena itu Toan Ki tidak djadi tinggal pergi.

Mungkin Kongtju tidak tahu bahwa suamiku pernah bersumpah selama hidupnja takkan keluar dari lembah ini, kata njonja rumah kemudian.

Sebab itulah, meski puteriku itu tertawan musuh, rasanja suamiku pasti takkan pergi menolongnja ......

Ah, urusan sudah begini, terpaksa aku sadja jang ikut pergi bersama Kongtju.

Kedjut dan girang Toan Ki, sahutnja.

Bila Tjiong-hudjin sudi pergi bersama aku, itulah paling baik.

~ Tiba2 ia teringat pada apa jang dikatakan Tjiong Ling bahwa satu2nja orang jang bisa menjembuhkan ratjun Kim-leng-tju hanja ajahnja sadja, maka tjepat ia tanja pula njonja rumah apakah djuga bisa mengobati ratjun Kim-leng-tju itu.

Namun Tjiong-hudjin geleng2 kepala, sahutnja.

Aku tak bisa mengobati.

Djika ...

djika begitu ......

namun belum selesai Toan Ki berkata, njonja rumah itu sudah tinggal masuk kekamarnja.

Setelah tinggalkan setjarik surat singkat dan bebenah pakaian seperlunja, segera Tjiong-hudjin keluar lagi dan berkata.

Marilah kita berangkat!

~ Terus sadja ia mendahului djalan didepan.

Ter-sipu2 Toan Ki mengikut dibelakang njonja rumah itu, namun dia masih sempat mendjemput pula Djing-leng-tju untuk diubet dipinggang.

Djangan menjangka Tjiong-hudjin tampaknja lemah gemulai, tetapi djalannja ternjata djauh lebih tjepat daripada Toan Ki.Karena mengetahui njonja rumah itu tak bisa mengobati ratjun Kim-leng-tju, betapapun Toan Ki masih merasa kuatir.

Maka tanjanja lagi.

Djika Hudjin tak bisa menjembuhkan ratjun ular, mungkin Sin-long-pang tidak mau membebaskan puterimu itu.

Siapa jang ingin minta mereka lepaskan Ling-dji?

sahut Tjiong-hudji adem2 sadja.

Kalau Sin-long-pang berani menahan puteriku untuk mengantjam aku, itu berarti mereka sudah bosan hidup.

Kalau menolong orang takbisa, masakan membunuh orang djuga tak bisa?

Tak tertahan Toan Ki bergidik, ia merasa kata2 Tjiong-hudjin jang sepele dan sederhana itu sesungguhnja maksud membunuh orang jang terkandung didalamnja tidak dibawah perbuatan Tjiong Ban-siu jang bengis dan kedjam itu.

Namun lahirnja Tjiong-hudjin lemah lembut, kalau dibandingkan, rasanya akan lebih menakutkan orang.

Sambil bitjara, kedua orang sudah berlari beberapa li djauhnja.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang dibelakang.

Hudjin, kau...

Kau hendak kemana?

Waktu Toan Ki menoleh, siapa lagi dia kalau bukan Tjiong Ban-siu jang sedang mengedjar mereka setjepat terbang datangnja.

Sekonjong-konjong Tjiong-hudjin ulur tangannja keketiak Toan Ki sambil membentak.

Lekas!

terus sadja ia angkat tubuh pemuda itu dan melesat kedepan.

Seketika Toan Ki merasa kedua kakinja terapung diatas tanah, ia sudah dikempit oleh Tjiong-hudjin dan tak bisa berkutik.

Maka kedjar-mengedjar itu segera berlangsung dengan tjepat, dalam sekedjap sadja mereka sudah berlari berpuluh tombak djauhnja.

Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuh Tjiong-hudjin ternjata lebih tinggi setingkat daripada sang suami, tjuma betapapun ia membawa beban seorang, jaitu Toan Ki, maka lambat laun dapatlah disusul oleh Tjiong Ban-siu.

Diam-diam Toan Ki ikut kuatir dan kerupukan, ia tahu asal bisa keluar mulut lembah, Tjiong Ban-siu sudah bersumpah, tentu tak akan mengudak lebih djauh.

Dalam saat demikian, terkilas suatu pikiran dalam benaknja.

Meski ilmu silat adalah kepandaian jang bikin tjelaka orang, tapi kalau aku mahir Ginkang, rasanja ada paedahnja djuga.

Njata, dalam keadaan kepepet begini, ia benar-benar ingin bisa berlari lebih tjepat.

Sementara itu tampak tinggal belasan tombak lagi, sudah bisa keluar dari lembah itu.

Toan Ki merasa suara napas Tjiong Ban-siu sudah terdengar dibelakangnja.

Mendadak, bret, Toan Ki merasa punggungnja silir-silir dingin, badjunja telah kena didjambret sobek sebagian oleh Tjiong Ban-siu.

Tiba-tiba Tjiong-hudjin angkat tubuh Toan Ki dan dilemparkan sekuatnja kedepan sambil membentak.

Lekas lari!, menjusul tangannja jang lain sudah lantas lolos pedang terus menusuk kebelakang dengan maksud merintangi kedjaran sang suami.

Hakikatnja Tjiong-hudjin tiada maksud hendak mentjelakai suami sendiri.

Tak terduga tusukannja itu benar-benar telah mengenai dada sang suami.

Ternjata sama sekaii Tjiong Ban-siu tidak menghindar atau berkelit, tapi rela ditusuk oleh sang isteri.

Karuan Tjiong-hudjin terkedjut, tjepat ia menoleh, seketika ia tidak berani tarik kembali pedangnja, ia lihat wadjah sang suami penuh rasa sesal dan dongkol, kelopak matanja mengembeng air, dadanja berlumuran darah dan lagi berkata.

Wan-djing, djadi achir....

achirnja kau akan meninggalkan daku?

Melihat tusukannja itu tepat mengenai tengah-tengah dada sang suami, meski tidak mengenai ulu hati, tapi udjung pedang djuga amblas beberapa senti dalamnja, karena kuatir akan djiwa sang suami, tjepat Tjiong-hudjin mentjabut pedangnja terus menubruk madju untuk menutupi luka tusukan itu, ia lihat darah lantas menjembur keluar melalui sela-sela djarinja.

Kenapa kau tidak menghindar?

tegur Tjiong-hudjin dengan gusar.

Djika kau toh akan tinggalkan diriku, adalah lebih baik aku mati sadja, sahut Tjiong Ban-siu tersenjum getir.

Siapa bilang aku hendak tinggalkan kau?

kata Tjiong-hudjin.

Aku hanja pergi buat beberapa hari sadja lantas kembali.Kepergianku adalah untuk menolong puteri kita.~ Segera ia tjeritakan setjara singkat tentang tertawannja Tjiong Ling oleh orang-orang Sin-long-pang.

Menjaksikan itu, Toan Ki, sampai kesima, ia tidak djadi melarikan diri, tapi sesudah tenangkan diri, tjepat ia sobek lengan badju sendiri dan sibuk hendak membalut luka Tjiong Ban-siu.

Tak terduga mendadak sebelah kaki Tjiong Ban-siu melajanq hingga Toan Ki kena ditendang terdjungkal, sambil membentak.

Anak haram, aku tidak sudi melihat tjetjongormu!

~ Lalu ia berpaling kepada sang isteri dan berkata.

Aku...

aku tidak pertjaja, tentu kau berdusta, sudah terang dia.........dia datang kesini mengundang kau.

Anak djadah ini sekalipun mendjadi abu djuga aku mengenalnja, malah dia....dia tadi telah menghina aku.

Habis berkata, ia terbatuk-batuk dengan hebat, dan karena batuk, darah jang mengutjur dari lukanja itu bertambah hebat.

Mendadak ia teringat sesuatu, katanja kepada Toan Ki.

Hajolah madju, kenapa kau tidak madju?

Meskipun aku terluka parah, belum tentu aku djeri pada kau punja It-yang-tji!

Hajolah madju!

Karena tendangan tadi, djidat Toan Ki telah membentur sepotong batu ketjil jang tadjam hingga terluka, tjepatan ia merangkak bangun sambil memegangi djidatnja jang bendjol itu, lalu mendjawab.

Tjayhe Toan Ki dari daerah Kanglam, sesungguhnja tidak paham tentang It-yang-tji atau Dji-yang-tji segala!

Kembali Tjiong Ban-siu terbatuk-batuk, bentaknja dengan gusar.

Anak djadah, apa kau berlagak dungu?

Pergilah kau me.......memanggil bapakmu kemari!

Dan karena gusarnja itu, batuknja makin mendjadi-djadi.

Dalam keadaan demikian, penjakitmu suka tjuriga tetap tidak mau berubah, kata Tjiong-hudjin.Kalau kau toh tak pertjaja padaku, lebih baik biarlah aku mati dihadapanmu sadja.

Terus sadja ia djemput kembali pedangnja dan menggorok keleher sendiri.

Tjepat Tjiong Ban-siu merebut pedang itu, wadjahnja berubah girang, katanja.

Niotju, djadi sungguh-sungguh kau bukan hendak ikut minggat dengan anak djadah ini?

Orang adalah Toan-kongtju jang terhormat, kau maki orang anak djadah apa segala?

omel Tjiong-hudjin.

Kepergianku ikut Toan-kongtju adalah hendak membunuh habis Sin-long-pang untuk menolong puteri mestika kita.

Walaupun terluka parah, namun demi nampak sikap sang isteri jang mengomel dan marah ketjil, rasa tjinta-kasih Tjiong Ban-siu semakin berkobar, dengan mengiring senjum ia menjahut.

Djika demikian halnja, ja, anggaplah aku jang salah.

Ketika Tjiong-hudjin periksa luka sang suami, ia lihat darah masih merembes keluar dengan deras.Ba.........

bagaimana baiknja, ini?

ratapnja kuatir.

Girang Tjiong Ban-siu tidak kepalang, terus sadja ia rangkul pinggang sang isteri dan berkata.

Wan-djing, kau begini memperhatikan diriku, biarpun aku mati seketika, djuga puas aku.

Muka Tjiong-hudjin mendjadi merah, pelahan-lahan ia kesampingkan tangan sang suami dan menjahut.

Toan-kongtju berada disini, kenapa kau pegang-pegang begini, ~ Dan karena melihat keadaan sang suami pelahan-lahan bertambah pajah dan wadjah putjat, ia mendjadi kuatir, katanja pula.

Sudahlah aku tak pergi menolong Ling-dji, onar jang dia perbuat sendiri, biar dia terima nasib sadja.

~ Lalu ia bangunkan sang suami dan berkata pada Toan Ki.

Toan-kongtju, harap kau sampaikan pada Sikong Hian bahwa suamiku sudah....

sudah mati.

Djika dia berani mengganggu seudjung rambut puteriku itu, suruh dia djangan lupa pada keganasan Hiang-yok-djeh Bok-Wan-djing!

Melihat keadaan demikian, Toan Ki pikir Tjiong Ban-sin terang tak mungkin pergi, Tjiong-hudjin djuga tidak tega meninggalkan sang suami untuk menolong puterinja, melulu mengandalkan kata-kata Hiang-yok-djeh Bok-Wan-djing (si kuntilanak harum) apakah dapat menggertak Sikong Hian, sungguh masih harus disangsikan.

Tampaknja ratjun Toan-djiong-san jang masih mengeram didalam perut sendiri ini sudahlah pasti tak bisa diobati lagi.

Untuk sedjenak ia tertegun, ia pikir urusan toh sudah demikian, banjak omong djuga pertjuma, maka sahutnja lantas.

Djika begitu, baiklah Wansing lantas berangkat menjampaikan pesan Hudjin itu.

Melihat ketegasan pemuda itu, sekali bilang berangkat lantas berangkat, sedikitpun tidak ragu-ragu.

Hal ini membuat Tjiong-hudjin teringat pula pada seseorang.

Segera serunja.

Nanti dulu, Toan-kongtju, masih ada jang hendak kukatatan!

Pelahan-lahan ia letakkan sang suami ketanah, lalu memburu kedekat Toan Ki, ia mengeluarkan sepotong barang dan diserahkan pada pemuda itu, lalu bisiknja.

Lekas bawalah benda ini kepada Toan Tjing-bing........

Mendengar nama Toan Tjing-bing, tak tertahan lagi wadjah Toan Ki berubah.

Dasar njonja Tjiong alias Bok Wan-djing memang orangnja sangat tjermat, ketika mengutjapkan Toan Tjing-bing tadi, memangnja dia ingin mengetahui perubahan wadjah Toan Ki.

Karena itu, pelahan-lahan ia menghela napas, katanja pula.

Apakah sekarang kau masih hendak membohongi aku?

Lekaslah kau pergi dan semoga bisa tiba disana tepat pada waktunja, agar djiwa Ling-dji dan kau sendiri tertolong.

Dan tanpa menunggu djawaban Toan Ki, segera ia putar balik kesamping sang suami serta memajangnja pergi.

Waktu Toan Ki periksa barang jang diterimanja dari Tjiong-hudjin, ia lihat benda itu adalah sebuah kotak ketjil bersepuh emas jang sangat indah.

Ketika tutup kotak ia buka, tertampak isinja hanja setjarik kertas melulu jang warnanja sudah menguning, terang karena disimpan terlalu lama, malahan diatas kertas lapat-lapat masih kelihatan ada bekas noda tetesan darah.

Diatas kertas tertulis.

Tahun Kui-hay, bulan dua, tanggal lima, waktu niu.

Gaja tulisannja halus halus, seperti ditulis oleh kaum wanita.

Lebih dari itu tiada barang lain lagi.

Diam-diam Toan Ki membatin.

Ini adalah surat lahir (pek-dji) seseorang, Tjiong-hudjin suruh aku menjerahkannja pada ajah, entah apakah maksud tudjuannja.

Masakah setjarik surat lahir begini bisa menolong djiwa nona Tjiong dan njawaku?

Tampaknja Tjiong-hudjin sudah dapat menerka bahwa aku adalah puteranja ajah, sebaliknya Tjiong Ban-siu berulang-ulang memaki aku, agaknja dia pun kenal wadjahku jang mirip ajah.

Apakah barangkali dia ada permusuhan dengan ajah?

Sedang Toan Ki melamun sambil herdjalan, tiba-tiba dari belakang terdengar suara seruan seorang tua.

Tunggu dulu, Toan-kongtju!

Waktu Toan Ki menoleh, ia lihat seorang tua berbadju pendek kasar lagi menjusulnja dengan tjepat.

Sesudah dekat, orang tua itu memberi hormat dan berkata.

Hamba bersama Tjiong Hok.

Atas perintah Hudjin agar menghantarkan Kongtju keluar lembah ini.

Baik, sahut Toan Ki mengangguk.

Segera Tjiong Hok berdjalan didepan, achirnja mereka tiba dimulut lembah, jaitu melalui peti mati dan kuburan jang pernah dimasuki Toan Ki itu.

Tapi Tjiong Hok membawa Toan Ki melalui suatu djalan ketjil lain hingga 6-7 li pula djauhnja, achirnja sampailah didepan sebuah gedung besar.

Harap Kongtju menunggu sebentar, kata Tjiong Hok.

Tanpa mengetok pintu lagi, terus sadja hamba itu melompat kedalam gedung itu melintasi pagar tembok.

Sementara itu hari sudah gelap, memandangi sinar-sinar bintang jang berkelip-kelip ditengah djakrawala, tiba-tiba Toan Ki terkenang pada patung dewi tjantik jang didjumpainja didasar danau itu.

Tengah pikiran Toan Ki melajang-lajang djauh, tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda didaiam pekarangan gedung, mendengar suara binatang jang njaring pandjang itu, tak tertahan Toan Ki berseru memudji.

Kuda bagus!

Kemudian tampak pintu gedung dibuka hingga menongol satu kepala kuda, ditengah malam gelap, sepasang mata binatang itu tampak bersinar, hanja sekali pandang sadja sudah kelihatan kalau kuda itu memang lain dari jang lain.

Prak, prak dua kali, seekor kuda hitam mulus tampak melangkah keluar.

Pelahan sekali suara jang didjangkitkan derapan binatang itu, agaknja seekor kuda ketjil.

Tapi kalau melihat perawakan kuda itu, ternjata keempat kakinja pandjang merit, tangkas gagah.

Jang menuntun kuda adalah seorang pelajan ketjil, dalam kegelapan tidak djelas mukanja, usianja kira2 belasan tahun dan tentunja wadjahnja djuga lumajan.

Tjiong Hok ikut dibekakang kuda itu, katanja kemudian.

Toan-Kongtju, Hudjin kuatir kalau kau tak bisa tepat waktunja sampai di Tayli, maka sengadja pindjam kuda bagus ini pada tuan rumah disini untuk tunggangan Kongtju.

Sudah banjak djuga kuda bagus jang pernah dilihat Toan Ki, tapi tjukup mendengar suara ringkikan kuda ini tadi, ia sudah tahu pasti seekor kuda bagus pilihan jang djarang terdapat.

Maka sahutnja.

Banjak terima kasih!

Segera ia ulur tangan hendak menarik tali kendali.

Pelahan-lahan dajang tjilik tadi mengelus-elus leher kuda itu, katanja dengan suara halus.

Oh-bi-kui, Oh-bi-kui!

Siotja memindjamkan kau kepada Kongtjuya ini, kau harus menurut perintahnja, lekas pergi, tjepat kambali!

Kuda hitam jang diberi nama Oh-bi-kui atau mawar hitam itu berpaling dan menggosok-gosokkan lehernja kelengan sipelajan, sikapnja sangat aleman.

Lalu pelajan itu menjerahkan tali kendali kepada Toan Ki dan memesan.

Kuda ini djangan dipetjut, semakin baik padanja, semakin tjepat larinja.

Baiklah, sahut Toan Ki.

Nah, Siotjia mawar hitam, terimalah hormatku ini!

sembari berikata, ia benar2-benar membungkukkan tubuh pada binatang itu.

Pelajan ketjil itu mengikik geli, katanja.

Lutju djuga kau ini.

Eh, hati-hati, ja!

Djangan merosot djatuh!

Namun soal menunggang kuda tidaklah asing bagi Toan Ki, sedjak ketjil ia sudah biasa.

Maka dengan enteng sadja ia mentjemplak keatas kuda hitam itu dan berkata pada sipelajan.

Sampaikanlah terima kasihku kepada Sotjiamu!

Dan tidak terima kasih padaku, ja?

udjar sipelajan tertawa.

Toan Ki memberi Kiongtjhiu, katanja.

Terima kasih pada Tjitji, Nanti kalau datang lagi aku akan membawakan banjak permen untukmu.

Sudahlah, djiwamu sendiri perlu didjaga baik-baik, bisa datang lagi atau tidak masih harus disangsikan, siapa pingin pada permen segala?

sahut sipelajan tertawa manis.

Tjiong Hok ikut berkata djuga.

Harap Kongtju mendjaga diri baik-baik, dari sini lurus keutara akan sampai didjalan raja jang menudju ke Tayli, maafkan hamba tidak menghantar lebih djauh.

Toan Ki melambaikan tangan sebagai tanda berpisah, lalu larilah, kudanja kedepan.

Oh-bi-kui alias mawar hitam itu ternjata tidak perlu diperintah, ditengah.malam buta larinja setjepat terbang.

Toan Ki hanja merasa tumbuh-tumbuhan di sekitarnja tiada hentinja melesat lewat di sampingnja.

Jang paling hebat adalah anteng sekali menunggang diatas kuda itu, sedikit sekali terasa guntjangan-guntjangan, pikir Toan Ki.

Demikian tjepat lari kuda ini, rasanja lewat lohor besok sudah bisa sampai di Tayli.

Tapi ajah belum tentu sudi ikut tjampur urusan tetek-bengek dikangouw ini, apakah aku terpaksa harus pergi memohon Toapek (paman tertua)?

Ai, urusan sudah ketelandjur begini, terpaksa aku harus menjerah pada Toapek dan ajah.

Tiada sedjam lamanja, sudah puluhan li djauhnja, dalan malam gelap terasa angin silir-silir disertai hawa malam jang njaman.

Selagi Toan Ki merasa senang-senang, sekonjong-konjong ada seorang membentak di depan.

Perempuan keparat, lekas berhenti!

~ menjusul sinar tadjam berkelebat, sebatang golok lantas membatjok .

Namun kuda hitam itu benar-benar teramat tjepat, baru golok itu diajunkan, binatang itu sudah melompat lewat sedjauh setombak lebih.

Waktu Toan Ki menoleh, ia lihat dua laki-laki bersendjata golok dan tombak lagi mengedjar dari belakang dengan tjepat sambil memaki kalang kabut.

Perempuan keparat!

Pakai menjamar segala, apa kira Lotju dapat kau kelabui demikian sadja?

Dan hanja sekedjap sadja mawar hitam sudah djauh meninggalkan kedua pengedjar itu.

Tapi kedua laki-laki itu masih belum kapok, mereka masih memburu terus hingga tidak selang lama, suara teriakan dan makian merekapun tidak terdengar lagi.

Diam-diam Toan Ki membatin.

Kedua orang memaki aku sebagai perempuan keparat segala dan menuduh aku menjamar sebagai lelaki.

Ja, tentu mereka akan tjari setori pada madjikan si mawar hitam ini.

Kenal kuda tak kenal orangnja sungguh tolol henar!

Setelah lebih satu li lagi, tiba-tiba Toan Ki teringat.

Haja, tjelaka!

Berkat ketjepatan kuda ini aku telah bisa lolos dari sergapan kedua orang tadi.

Tampaknja ilmu silat kedua orang itupun tidak lemah, djikalau Siotjia jang memberi pindjam kuda ini tidak tahu kedjadianku tadi dan djalan-djalan keluar, mungkin dia akan kena bokongan musuh.

Rasanja aku harus kembali kesana dulu untuk memberitahu padanja.

Segera ia kendalikan kuda dan berhenti, katanja pada binatang itu.

Oh-bi-kui, ada orang hendak membokong Siotjiamu, kita harus lekas kembali memberitahu padanja agar dia berdjaga-djaga dan djangan keluar dari rumah.

Terus sadja ia putar kuda dan lari kembali kearah tadi.

Ketika dekat tempat sergapan kedua laki-laki itu, ia desak si mawar hitam.

Lekas, lekas lari!

Binatang itu ternjata bisa terima maksud orang, dibawah desakan lekas lari itu, ia benar-benar mentjongklang terlebih pesat.

Namun kedua laki-laki tadi ternjata sudah tidak disitu lagi, karena itu, Toan Ki mendjadi lebih kuatir malah, pikirnja.

Jika mereka berdua sudah menjerbu masuk kerumah Siotjia itu, hal ini pasti lebih tjialat lagi.

~ segera ia membentak-bentak si mawar hitam agar lebih tjepat.

Seketika lari si mawar hitam bagai kaki terapung diatas tanah, setjepat terbang ia lari pulang.

Ketika hampir sampai didepan gedung besar itu, mendadak dari samping dua batang pentung menjerampang kaki kuda.

Namun tidak sampai Toan Ki memberi perintah, kontan si mawar hitam sudah melompat menghindarkan diri, menjusul kaki belakang terus mendepak, bluk, salah seorang penjerang gelap itu telah kena ditendang mentjelat.

Dan sekali melompat lagi, si mawar hitam sudah sampai didepan pintu gedung itu.

Dalam kegelapan mendadak tampak 4-5 orang undjukkan diri serentak hendak menarik tali kendali Oh-bi-kui menjusul Toan Ki merasa lengan sendiri kena ditjengkeram orang terus diseret orang ketanah.

Segera seorang diantaranja membentak.

Siautju, untuk apa kau datang kesini?

Diam-diam Toan Ki mengeluh.

Tjelaka, rumah ini ternjata sudah dikepung musuh, entah tuan rumahnja sudah mengalami nasib malang atau belum?

Ia merasa lengan, kanan jang ditjengkeram orang itu seakan-akan terdjepit tanggam, separoh tubuhnja merasa kaku, maka tjepat katanja.

Ada urusan jang hendak kutjari tuan rumah disini, kenapa kau berbuat begini kasar?

Lalu terdengar suara seorang tua jang lain berkata.

Siautju ini menunggang kuda hitam milik perempuan hina itu, boleh djadi adalah kawan karibnja, biar kita lepaskan dia kedalam, babat rumput harus sampai akar-akarnja, nanti kita bereskan sekalian.

Hati Toan Ki berdebar-debar tak karuan, pikirnja.

Aku ini benar-benar ular mentjari gebuk, ikan masuk djala sendiri.

Sudah enak-enak pergi, datang kembali tjari penjakit.

Sekarang sudah kadung begini, hendak lari djuga tidak mungkin lagi, terpaksa masuk melihat gelagat nanti.

Ia merasa tjengkeram orang telah dikendorkan, segera ia betulkan badjunja, lalu melangkah masuk dengan membusung dada.

Didalam pekarangan ada suatu djalanan batu, kedua samping penuh tanaman bunga mawar jang menjiarkan bau harum.

Djalanan batu itu berliku-liku, setelah menembus sebuah pintu bundar, djalanan itu lurus kedepan.

Toan Ki melihat disekitarnja disana-sini penuh berdiri orang.

Ketika mendengar ada suara mendehem ditempat tinggi, ia mendongak dan melihat diatas pagar tembok sana djuga berdiri 7-8 orang dengan sendjata terhunus.

Dimalam gelap, sinar sendjata jang gemilapan itu tjukup membuat djeri siapa jang melihatnja.

Diam-diam Toan Ki membatin.

Gedung ini meski sekian besarnja, tapi belum tentu dapat dihuni orang sekian banjaknja.

Tentu mereka ini adalah musuh tuan rumah, apa benar-benar mereka akan membunuh seisi rumah ini habis-habisan?

Didalam gelap remang-remang Toan Ki melihat orang-orang itu sama melototi dirinja, ada jang pegang-pegang sendjatanja tanda menggertak.

Tapi Toan Ki bisa tenangkan diri, achirnja ia sampai disuatu ruangan besar jang berdjendela pandjang, didalam ruangan tampak sinar lampu terang-benderang.

Toan Ki mendekati deretan djendela pandjang itu, lalu berseru lantang.

Tjayhe Toan Ki, ada urusan mohon bertemu tuan rumah!

Siapa?

Gujur masuk!

suara seorang tua jang serak membentaknja.

Toan Ki mendjadi dongkol, ia dorong daun djende]a pandjang itu dan melangkah masuk.

Tapi ia mendjadi kaget melihat didalam ruangan penuh dengan orang pula, ada jang berdiri, ada jang berduduk, sedikitnja 17-18 orang.

Di tengah-tengah seorang wanita badju hitam berduduk mungkur, muka menghadap kedalam, maka wadjahnja tidak kelihatan.

Tapi dari perawakannja jang tampak langsing, rambutnja hitam gelap berkonde tjiodah, terang dandanan seorang gadis remadja.

Ketjuali itu, disana-sini ada lagi belasan orang laki-laki dan perempuan, ada pula dua Hwesio dan tiga Tosu.

Diantara orang-orang itu ketjuali seorang kakek jang berduduk diatas kursi malas disudut timur sana dan seorang nenek serta kedua Hwesio, jang bertangan kosong, selebihnja setiap orang bersendjata semua.

Didepan nenek itu menggeletak seseorang, lehernja luka terbatjok, dan sudah mati.

Segera Toan Ki dapat mengenali sebagai Tjiong Hok, itu hamba tua jang membawanja kesini untuk pindjam kuda itu.

Meski Toan Ki baru kenal orang tua itu, tapi ia merasa orang sangat sopan dan menghormat pada dirinya.

Ia mendjadi sedih dan gusar melihat nasib hamba tua jang malang itu, terutama bila mengingat dirinja jang menjebabkan kematiannja itu.

Untuk apa kau datang kesini?

dengan suara serak si kakek tadi membentak pula.

Meski antero rambut kakek ini sudah beruban, tapi djanggutnja ternjata halus kelimis tiada seudjung djenggotpun.

Sedari melangkah masuk tadi, Toan Ki sudah ambil keputusan.

Sekali sudah masuk sarang harimau, kalau bisa loloskan diri, itulah paling baik.

Kalau tak bisa, tiada gunanja djuga banjak bitjara dengan manusia-manusia jang tampak bengis dan djahat ini.

Tapi sesudah melihat majat Tjiong Hok menggeletak disitu, seketika malah menimbulkan djiwa kesatrianja jang bersemangat banteng, dengan bersitegang segera ia mendjawab.

Aku bernama Toan Ki.

Rasanja Lotiang (bapak tua) ada seorang jang terhormat, hanja karena kau lebih lama hidup beberapa tahun, kenapa kau panggil orang Siautju segala setjara tak sopan?

Kedua alis kakek itu menegak, sinar matanja menjorot tadjam, sikapnja keren, tapi tak mendjawab.

Sebaliknja seorang laki-laki jang berdiri disebelahnja lantas membentak.

Bangsat ketjil, apa kau sudah bosan hidup, berani sembarang mengotjeh!

Loyatju ini sudi bitjara dengan kau, hal ini sudah untung bagimu, apa kau kenal siapa Loyatju ini?

Hm, matamu benar-benar buta!

Melihat lagak kakek ltu benar-benar lain dari jang lain, betapapun timbul djuga sedikit rasa hormat Toan Ki, maka sahutnja.

Akupun tahu Lotiang ini pasti bukan orang sembarangan.

Bolehkah mohon tanja siapakah nama Lotiang jang terhormat?

Belum lagi si kakek mendjawab, lelaki tadi sudah berkata pula.

Baiklah, supaja kau bisa mati dengan meram, dengarlah jang djelas.

Loyatju ini adalah No-kang-ong, San-tjiang-tjoat-beng Tjin-loyatju!

San-tjiang-tjoat-beng?

Toan Ki menegas, Seorang tua baik-baik, kenapa pakai gelaran jang tak enak didengar itu?

Dan kenapa di sebut No-kang-ong pula, Tjin-loyatju.

Kiranja No-kang-ong, siradja sungai mengamuk, San-tjiang-tjoat-beng atau tiga kali pukulan melenjapkan njawa, nama lengkapnja adalah Tjin Goan-tjun.

Tidak sadja namanja mengguntjangkan daerah selatan, terhitung tokoh terkemuka dalam dunia persilatan diwilajah Hunlam, bahkan disekitar lembah Hongho dan kedua tepi sungai Yangtju, setiap djago silat djuga segan pada namanja.

Tak terduga, sesudah mendengar nama dan gelar itu, Toan Ki anggap sepele sadja, sedikitpun tidak heran.

Tentu sadja No-kang-ong, Sam-tjiang-tjoat-beng Tjin Goan-tjun sangat gusar.

Sedjak namanja terkenal, djarang ia mendapat tandingan, sekalipun lawan jang berilmu silat lebih tinggi kalau mendengar namanja djuga akan tergetar, sedikitpun tidak berani memandang enteng.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa hakikatnja Toan Ki tidak pernah merantau Kangouw, mengenai seluk-beluk kedjadian dunia persilatan, sedikitpun tak diketahuinja, Djangankan nama Sam-tjiang-tjoat-beng Tjin Goan-tjun, sekalipun gelar Sam-sian-su-ok, jaitu tokoh-tokoh tiga orang badjik dan empat manusia djahat jang diagungkan dunia persilatan, djuga takkan membuatnja djeri.

Umumnja djago silat manapun djuga, dalam hal nama dipandangnja sangat penting.

Maka Tjin Goan-tjun menjangka perbuatan Toan Ki ini sengadja hendak menghina dirinja, meski dalam hati sangat gusar, namun melihat sikap Toan Ki jang atjuh-tak-atjuh, kalau bukan memiliki ilmu silat jang diandalkan, rasanja pasti tidak berani begitu kurangadjar.

Karena menjangka Toan Ki pasti seorang djago sangat lihay, maka Tjin Goan-tjun tjepat mentjegah dua orangnja jang hendak madju melabrak pemuda itu, lalu tanjanja.

Saudara dari golongan dan aliran mana?

Siapa gurumu?

Untuk beladjar, kenapa rewel tentang golongan segala?

sahut Toan Ki.Tjayhe tidak masuk golongan dan aliran mana-mana, guruku khusus mejakinkan Kong-yang-tji-hak, namanja kalau kukatakan djuga kau tidak kenal.

Meski ilmu silat Tjin Goan-tjun sangat tinggi, tapi dalam hal ilmu sastra tentang Kong-yang-tji-hak segala, selama hidupnja tak pernah mendengar, maka ia menjangka apa jang dikatakan Toan Ki itu tentunja sematjam ilmu sakti jang belum pernah dilihatnja.

Diam-diam ia merasa sjukur dirinja tidak gegabah bertindak, maka ia bertambah hati-hati lagi menghadapi pemuda itu, tanjanja pula.

Lalu kedatangan saudara ini ada urusan apa?

Melihat Tjin Goan-tjun makin sungkan pada Toan Ki, semua orang jang hadir disitu mendjangka djuga pemuda itu pasti seorang tokoh silat pendaman.

Maka terdengar Toan Ki mendjawab.

Kedatangan Tjayhe kesini adalah ingin menjampaikan sesuatu kabar pada tuan rumah.

Kabar apa?

tanja Tjin Goan-tjun.

Toan Ki menghela napas dulu, lalu sahutnja.

Kedatanganku sudah terlambat, kukatakan atau tidak kabar itu, sama sadja.

Menyampaikan kabar apa?

Lekas katakan!

desak Tjin Goan-tjun lagi Nadanja makin bengis.

Kalau sudah berhadapan dengan tuan rumah, dengan sendirinja akan kukatakan, apa gunanja bitjara padamu?

sahut Toan Ki.

Tjin Goan-tjun tertawa dingin, selang sedjenak, ia berkata pula.

Kau ingin bitjara berhadapan dengan tuan rumah?

Baiklah, tak usah kau katakan, biar sebentar lagi kalian berdua boleh bertemu sadja diacherat.

Jang manakah adalah tuan rumah?

tanja Toan Ki.Tjayhe ingin menjampaikan terima kasih telah diberi pindjam kuda.

Karena pertanjaan itu, sorot mata semua orang disitu lantas beralih kepada nona badju hitam jang duduk mungkar tadi.

Toan Ki terkesiap.

Apakah nona inilah pemilik rumah ini?

Seorang gadis lemah seperti dia telah kena dikepung musuh sebanjak ini, tampaknja djiwanya susah diselamatkan.

Dalam pada itu terdengarlah wanita badju hitam telah berkata.

Kau diberi pindjam kuda adalah karena aku memandang muka orang lain, perlu apa terima kasih segala?

Kau tidak lekas2 pergi menolong orang, buat apa kembali kesini?

Sembari bitjara mukanja tetap menghadap kedalam tanpa menoleh.

Maka Toan Ki mendjawab.

Tjayhe menunggang simawar hitam, sampai ditengah djalan telah disergap musuh jang salah sangka Tjayhe sebagai nona serta ditjatji-maki.

Tjayhe merasa kurang enak, maka sengadja balik kesini untuk memberi kabar pada nona.

Kabar apa?

tanja wanita itu, nadanja njaring merdu, tapi sedikitpun tidak membawa rasa simpatik, hingga bagi jang mendengarkan, rasanja tidak enak, se-akan2 wanita ini sudah terasing dari dunia ramai, sedikitpun tidak perduli terhadap segala apa didunia ini, seperti orang adalah musuh besarnja, kalau bisa setiap orang akan dibunuhnja habis.

Tentu sadja Toan Ki rada mendongkol oleh nada djawaban orang.

Tapi lantas teringat olehnja bahwa wanita itu sudah djatuh ditengah kepungan musuh, keadaannja sangat berbahaja, kalau pikirannja mendjadi gopoh, takbisa djuga salahkan dia.

Karena itu, timbul djuga rasa solider Toan Ki.

Maka dengan ramah ia mendjawab.

Tjayhe pikir kedua orang djahat itu akan bikin susah nona, untuk mana tentunja nona belum tahu, maka sengadja memburu kembali untuk memberi kabar agar sebelumnja nona menjingkir.

Tak terduga toh tetap terlambat, musuh sudah tiba lebih dulu, sungguh aku menjesal.

Begini baik kau sengadja mendjilat aku, sebenarnja apa maksud tudjuanmu?

tanja wanita itu dingin.

Toan Ki mendjadi naik darah, sahutnja keras.

Tjayhe selamanja tidak kenal nona, tjuma mengetahui ada orang hendak bikin susah padamu, masakan aku bisa berpeluk tangan diam sadja?

Kata2 mendjilat itu entah darimana bisa nona katakan?

Apakah kau kenal siapa aku?

tanja wanita itu.

Tidak sahut Toan Ki.

Kudengar tjerita Tjiong Hok, katanja sama sekali kau tidak bisa ilmu silat, tapi berani mendamperat terang2an dihadapan Tjiong-koktju.

njalimu benar2 tidak ketjil, tapi kau djusteru sudah terlibat dalam kedjadian ini, apa kehendakmu sekarang?

Sebenarnja sehabis menjampaikan berita ini, segera akan pulang kerumah setjepatnja, sahut Toan Ki.

Ia menghela napas, lalu menjambung.

Tapi tampaknja nona bakal tjelaka dan akupun tak terhindar dari malapetaka.

Tjuma entah tjara bagaimana nona bisa bermusuhan dengan orang2 ini?

Berdasarkan apa kau berani tanja padaku?

sahut wanita itu mendjengek.

Kembali Toan Ki tertjengang, tapi segera katanja.

Urusan pribadi orang, memangnja aku tidak pantas menanja.

Baiklah, aku sudah menjampaikan kabar padamu, selesailah kewadjibanku.

Tentunja kau tidak menduga djiwamu bakal melajang disini, bukan?

Apa kau menjesal?

tanja siwanita.

Mendengar kata2 orang itu bernada menjindir, kontan Toan Ki mendjawab.

Perbuatan seorang Taytianghu (laki2 sedjati), asal demi kebaikan sesamanja, kenapa mesti menjesal?

Hm, hanja matjam kau ini djuga berani mengaku sebagai laki2 sedjati?

djengek wanita badju hitam itu.

Gagah kesatria atau bukan, masakan ditentukan dalam hal tinggi-rendahnja ilmu silat?

sahut Toan Ki aseran.

Sekalipun ilmu silatnja tiada tandingan dikolong langit, kalau kelakuannja rendah memalukan djuga takbisa disebut sebagai Taytianghu!

Tjin-losiangsing, tiba2 wanita badju hitam itu berpaling pada Tjin Goan-tjun, kau dengar tidak utjapan Toan-ya ini?

Kelakukan kalian ini rasanja tidak bisa dikatakan terang2an, bukan?

Perempuan hina, mendadak nenek jang duduk disamping Tjin Goan-tjun itu memaki.

apa kau hendak mengulur tempo terus?

Bangkitlah untuk bertempur ......

Usiamu sudah landjut begini, ingin mampus djuga tidak perlu buru2, sahut siwanita badju hitam dengan tadjam.

Djing-siong Todjin, kaupun datang mentjari perkara padaku, apa orang Ban-djiat-kok djuga tahu?

Wadjah seorang imam berdjenggot ubanan rada berubah, sahutnja.

Tudjuanku adalah membalas dendam murid, apa sangkut-pautnja dengan Ban-djiat-kok?

Ingin kutanja, sebelumnja kau telah minta bantuan Hiang-yok-djeh atau tidak?

tanja siwanita.

Imam itu mendjadi gusar, sahutnja.

Sekian banjak tokoh2 terkemuka berkumpul disini masakan masih belum bisa memberesi kau?

Djawabanmu terus memutar, tentu kau sudah pernah minta bantuan Hiang-yok-djeh, kata wanita badju hitam.

Dan kau ternjata bisa keluar lagi dari Ban-djiat-kok dengan selamat, boleh dikata redjekimu tidak ketjil.

Aku toh tidak masuk ke Ban-djiat-kok, siapa bilang aku telah datang kesana?

sahut Djing-siong Todjin.

Ehm, djika begitu, tentunja kau telah kirim seorang lain kesana sebagai penghantar djiwa, kata wanita itu meng-angguk2.

Sekilas wadjah Djing-siong Todjin merasa malu, segera ia berteriak.

Marilah kita tentukan dengan sendjata, kenapa banjak mulut?

Menjaksikan pertjakapan wanita badju hitam dengan orang2 itu, Toan Ki dapat melihat bahwa rombongan Tjin Goan-tjun itu masih belum pasti diatas angin, kalah atau menang baru bisa diketahui sesudah bertanding.

Tapi dari nada Djing-siong Todjin tadi, terang imam itu sangat djeri pada siwanita badju hitam.

Diam2 Toan Ki sangat heran, orang2 itu berulang-kali menantang, tapi tetap tiada seorangpun jang berani mulai bergebrak.

Tiba2 terdengar siwanita badju hitam berkata pada Toan Ki.

Hai orang she Toan, sekian banjak orang2 ini hendak mengerojok diriku, menurut kau, bagaimana baiknja.

Simawar hitam berada diluar, udjar Toan Ki.

Kalau kau bisa terdjang keluar dari kepungan, lekas kau menunggangnja melarikan diri.

Teramat tjepat lari binatang itu, pasti mereka tak mampu menjusul kau.

Lalu bagaimana dengan kau sendiri?

tanja wanita itu.

Selamanja aku tidak kenal mereka, tiada dendam takada sakit hati, boleh djadi mereka takkan bikin susah padaku kata Toan Ki.

Wanita badju hitam itu tertawa dingin, katanja.

Hm, djika mereka suka pakai aturan, tentunja aku takkan dikerojok orang sebanjak ini.

Djiwamu sudah pasti akan melajang.

Pabila aku bisa lolos, adakah sesuatu pesan tinggalanmu?

Toan Ki mendjadi sedih, sahutnja kemudian.

Ada seorang nona Tjiong telah ditawan oleh Sin-long-pang di Bu-liang-san, ibunja memberikan kotak emas ini kepadaku suruh kusampaikan pada ajahku agar bisa diusahakan menolong nona itu, Dji........

djikalau nona dapat lolos, harapanku adalah sudilah laksanakan tugasku ini, untuk maka aku merasa sangat terima kasih.

sembari berkata, ia melangkah madju dan mengangsurkan kotak emas itu.

Kini djaraknja dibelakang wanita badju hitam itu hanja setengahan meter sadja, tiba2 hidungnja mengendus sematjam bau wangi jang mirip bunga anggrek, tapi bukan anggrek, seperti mawar, tapi bukan mawar, meski bau harum itu tidak terlalu keras, namun membuat orang merasa pusing, tubuh Toan Ki mendjadi sempojongan sedikit.

Wanita itu ternjata tidak menerima kotaknja itu, tapi menanja.

Kabarnja nona Tjiong itu sangat tjantik, apakah ia kekasihmu?

Bukan, bukan!

sahut Toan Ki tjepat.

Nona Tjiong masih terlalu muda, lintjah dan ke-kanak2an, mana.....

mana bisa timbul maksudku jang tak senonoh itu?

Baru sekarang wanita itu ulur tanganja kebelakang utk mengambil kotak emas jang diangsurkan Toan Ki itu.

Pemuda itu melihat tangan siwanita memakai sarung tangan sutera hitam hingga sedikitpun tidak kelihatan kulit badannja.

Pelahan2 wanita itu masukan kotak emas itu kedalam badjunja, lalu berkata.

Djing-siong Todjin, lekas enjah dari sini!

Ap......

apa katamu?

imam itu menegas dengan tak lantjar.

Kau enjah keluar, harini aku tidak ingin bunuh kau, kata siwanita.

Mendadak Djing-siong Todjin mengangkat pedangnja dan membentak.

Kau mengotjeh apa segala?

tapi suaranja gemetar, entah saking gusar, entah apakah karena ketakutan?

Kau tahu tidak bahwa memandang muka Sumoaymu, maka aku sudi mengampuni djiwamu.

kata siwanita badju hitam lagi.

Nah, lekas enjah!

Wadjah Djing-siong Todjin seputjat majat, pelahan2 pedangnja menurun kebawah.

Mendengar kata2 wanita badju hitam itu sangat kasar dan membentak Djing-siong Todjin enjah dari situ, Toan Ki menjangka imam itu pasti akan murka, siapa tahu wadjah imam itu tampak ragu2 sebentar, lalu tampak djeri pula, sekonjong2 pedangnja djatuh kelantai, ia tutup mukanja dengan dua tangan terus lari keluar.

Tapi sial baginja, baru tangan hendak mendorong pintu, sinenek jang duduk disamping Tjin Goan-tjun tadi telah ajun tanganja, sebilah Hui-to atau pisau terbang melajang tjepat dan tepat mengenai punggung Djing-siong Todjin.

Tanpa ampun lagi imam itu terdjungkal, setelah merangkak beberapa tindak lagi, achirnja terkapar binasa.

Toan Ki mendjadi gusar, teriaknja.

Hai, Lothaythay (nenek tua), imam itu adalah kawanmu, kenapa mendadak kau turun tangan kedji?

Dengan lojo nenek itu berbangkit, dengan penuh perhatian ia pandang siwanita badju hitam, utjapan Toan Ki itu seperti tak didengarnja.

Seketika kawan2nja djuga siap siaga untuk mengerubut serentak, asal sekali diberi komando, kontan wanita badju hitam pasti akan di-tjatjah2 mereka.

Melihat keadaan demikian, sungguh Toan Ki merasa penasaran, bentaknja keras2.

Hai, kalian semua laki2 mau mengerubut seorang wanita lemah, dimanakah letaknja keadilan ini?

Segera iapun melangkah madju hingga wanita badju hitam dihadang dibelakangnja, lalu membentak pula.

Hajo, kalian masih berani turun tangan?

Meskipun sedikitpun Toan Ki tidak bisa silat, tapi gagah perkasa dengan semangat banteng jang tak gentar pada siapapun.

Djadi saudara sudah pasti ingin ikut tjampur urusan ini?

dengan kalem Tjin Goan-tjun menanja.

Ja, teriak Toan Ki.

Aku melarang kalian main kerojokan, menganiaja seorang wanita lemah.

Hubungan pamili apa saudara dengan perempuan hina ini, atas suruhan siapa hingga kau berani ikut tjampur urusan ini?

tanja Tjin Goan-tjun lagi.

Aku dan nona ini bukan sanak bukan kadang, tjuma segala apa didunia ini tidak terlepas dari keadilan, maka kunasihatkan kalian suka sudahi urusan ini, mengerojok seorang gadis lemah, terhitung orang gagah matjam apa?

sahut Toan Ki tegas.

Lalu ia membisiki siwanita badju hitam.

Lekas nona lari, biar kurintangi mereka.

Wanita itupun mendjawab dengan suara lirih.

Djiwamu melajang demi membela diriku, apa kau tidak menjesal?

Biar mati tidak menjesal, sahut Toan Ki Kau benar2 tidak takut mati?

Tetapi......

mendadak suara wanita itu diperkeras.

......

kau sedikitpun tak bertenaga, masih kau berlagak kesatria gagah?

~ se-konjong2 ia kebas tangannja, dua tali berwarna tahu2 melajang hingga kedua tangan dan kedua kaki Toan Ki terikat dengan kentjang.

Berbareng pada saat itu djuga, sebelah tangan lain siwanitapun mengajun berulang kali, Toan Ki hanja mendengar suara gemerantang dan gedubrakan beberapa kali, disana-sini sudah beberapa orang djatuh terdjungkal, menjusul sinar sendjata gemerlapan menjilaukan mata, lalu pandangan mendjadi gelap, antero lilin didalam ruangan telah dipadamkan semua oleh orang.

Toan Ki merasa tubuhnja terapung se-akan2 terbang dibawa seseorang.

Kedjadian2 itu datangnja terlalu tjepat hingga sekedjap itu Toan Ki tidak tahu dirinja sudah berada dimana.

Hanja terdengar sekeliling ramai dengan bentakan orang.

Djangan beri lolos perempuan hina itu!

~ Djangan takut pada panah beratjunnja!

~ Sambitkan Hui-to, sambitkan Hui-to!

~ menjusul terdengar pula suara gemerintjing jang ramai, banjak sendjata resia terbentur djatuh.

Ketika Toan Ki merasa badannja terguntjang lagi, menjusul suara derap kuda berlari, njata dirinja sudah berada diatas kuda, tjuma kaki-tangannja terikat, sedikitpun takbisa berkutik.

Ia merasa tengkuknja bersandar dibadan seseorang, hidung mengendus bau wangi, njata itulah bau harum jang teruar dari badan siwanita badju hitam.

Suara derapan kuda ber-detak2, enteng tapi anteng, suara bentak kedjar musuh makin lama sudah makin ketinggalan djauh di belakang.

Oh-bi-kui berbulu hitam, antero tubuh wanita itupun hitam semua, ditambah dimalam pekat dengan bau wangi semerbak, suasana mendjadi agak seram.

Sekaligus Oh-bi-kui alias simawar hitam berlari sampai beberapa li djauhnja.

Achirnja Toan Ki berseru.

Nona, tidak sangka kepandaianmu begini hebat, harap lekas lepaskan aku.

Wanita itu mendengus sekali tanpa mendjawab.

Karena kaki-tangannja terikat, setiap kali kuda itu mentjongklang, tali pengikat bertambah kentjang, makin lama Toan Ki makin kesakitan, ditambah lagi kepalanja mendjulai kebawah hingga mirip orang digantung, Toan Ki mendjadi pening tak tertahan.

Maka serunja lagi.

Nona, lekas lepaskan aku!

Plak, mendadak ia dipersen sekali tempilingan, dengan dingin wanita itu berkata.

Djangan tjerewet, tahu?

Nona tidak tanja, dilarang kau bitjara!

Sebab apa?

teriak Toan Ki mendjadi gusar.

Plak, plak, kembali ia digampar dua kali terlebih keras dari tadi, karuan Toan Ki merah begap mukanja, telinganja sampai mendenging hampir2 pekak.

Dasar watak Toan Ki memang bandel, segera ia berteriak pula.

Sedikit2 kenapa kau pukul orang?

Lekas lepaskan aku, aku tidak sudi bersama kau.

Mendadak Toan Ki merasa tubuhnja terapung, tahu2 sudah terbanting ditanah oleh wanita badju hitam itu, tapi anggota badannja masih terikat, bahkan udjung lain dari tali pengikat itu masih dipegang oleh wanita itu hingga badan Toan Ki terseret ditanah oleh Oh-bi-kui.

Wanita itu membentak tertahan suruh Oh-bi-kui berdjalan pelahan, lalu tanjanja pada Toan Ki.

Kau menjerah tidak sekarang?

Mau dengar perintahku tidak?

Tidak, tidak!

gembor Toan Ki.

Tadi meski terantjam mati sadja aku tidak gentar, apalagi sekarang hanja disiksa begini?

Aku......

Sebenarnja ia ingin bilang.

Aku tidak takut, tapi kebetulan waktu itu badannja jang terseret ditanah itu membentur djalan jang tidak rata hingga kata2nja itu terputus.

Kau takut, bukan?

kata siwanita badju hitam dengan dingin.

Segera ia tarik talinja hingga Toan Ki terangkat keatas kudanja lagi.

Aku takut apa?

sahut Toan Ki.

Lekas lepaskan aku!

Hm, dihadapanku, tiada seorangpun ada hak bitjara, kata wanita itu.

Aku djusteru hendak siksa kau, biar kau mati tidak, hidup tidak, masakan hanja sedikit siksaan begini sadja?

Habis berkata, kembali ia lemparkan Toan Ki ketanah dan diseret pula.

Gusar Toan Ki tidak kepalang, pikirnja.

Semua orang tadi memaki dia sebagai perempuan hina, njatanja ada benarnja djuga ~ Segera ia berseru pula.

Lekas lepaskan aku!

Kalau tidak, awas, aku akan memaki, lho.

Kalau berani, boleh tjoba kau memaki, sahut wanita itu.Selama hidupku ini memangnja aku sudah kenjang ditjatji-maki orang.

Mendengar kata2 orang jang terachir itu diutjapkan dengan nada penuh rasa sesal dan derita, tjatji-maki Toan Ki jang sudah hampir dilontarkan itu mendjadi urung dikeluarkan, hatinja mendjadi lemas.

Menunggu sekian saat tidak mendengar makian Toan Ki, wanita itu berkata pula.

Hm, masakan berani kau memaki!

Tidak berani?

seru Toan Ki mendongkol.

Aku mendjadi kasihan padamu, maka tidak tega memaki.

Emangnja kau kira aku takut padamu?

Wanita itu tidak gubrisnja lagi, mendadak ia bersuit mempertjepat kudanja, segera Oh-bi-kui mentjongklang pesat kedepan.

Karuan jang pajah adalah Toan Ki, badannja ter-gosok2 oleh batu pasir tadjam hingga babak-belur dan berdarah mengutjur.

Kau menjerah atau tidak?

seru siwanita.

Dengan keras Toan Ki memaki malah.

Kau perempuan galak jang tak kenal baik-djelek ini!

Memangnja aku adalah perempuan galak, tak perlu kau katakan, akupun tahu sendiri.

sahut wanita itu.Dan dimana aku tidak kenal baik-djelek segala?

Aku.......

aku bermak........

bermaksud baik padamu.......

mendadak kepala Toan Ki membentur sepotong batu ditepi djalan, hingga seketika ia tak sadarkan diri lagi.

Entah sudah lewat berapa lamanja, ketika mendadak Toan Ki merasa kepalanja dingin2 segar, ia mendjadi siuman, menjusul terasa air merembes masuk kedalam mulut, tjepat ia tutup napasnja, namun sudah tak keburu lagi, ia ter-batuk2 sesak.

Dan karena batuknja itu, air masuk lebih banjak lagi kedalam mulut dan hidungnja.

Kiranja dia diseret oleh siwanita badju hitam ditanah, ketika mengetahui Toan Ki djatuh pingsan, wanita itu sengadja keprak kudanja menjeberangi sebuah sungai ketjil, karena terendam air, Toan Ki lantas sadar.

Untung sungai itu sangat ketjil, sekali melangkah, simawar hitam sudah menjeberang kesana.

Dengan badju basah kujup, perutnja kembung pula tertjekok air sungai, ditambah memangnja badan babak-belur, karuan Toan Ki merasa sakit antero badannja.

Sekarang kau menjerah tidak?

kembali wanita badju hitam itu menanja.

Sungguh susah dipahami bahwa didunia ini ada wanita sewenang2 seperti ini, demikian pikir Toan Ki.

Memangnja aku sudah tertjengkeram dibawah tangannja, banjak bitjara djuga pertjuma.

Karena itu, beberapa kali siwanita badju hitam menanja.

Kau menjerah tidak?

Sudah tjukup tahu rasa belum?

~ Namum Toan Ki tetap tak menggubrisnja, anggap tidak dengar sadja.

Wanita itu mendjadi gusar, damperatnja.

Apa kau sudah tuli?

Kenapa tidak djawab pertanjaanku?

Tetap Toan Ki tak gubris padanja.

Mendadak wanita itu tahan kudanja, ingin lihat apakah Toan Ki sebenarnja sudah sadar atau belum.

Tatkala itu sang surja sudah mengintip diufuk timur dengan tjahajanja jang remang2, maka wanita itu dapat melihat djelas kedua mata Toan Ki terpentang lebar lagi mendelik padanja dengan gusar.

Wanita itu mendjadi murka, damperatnja pula.

Bagus, djadi kau tidak pingsan, tapi sengadja main gila dengan aksi.

Baiklah, mari tjoba2 kita adu kebandelan, apa kau lebih lihay atau aku lebih kedjam?

Terus sadja ia melompat turun dari kudanja, dengan enteng ia melompat keatas untuk mendapatkan sepotong ranting pohon, plek, segera ia sabet sekali dimukanja Toan Ki.

Baru untuk pertama kali ini Toan Ki berhadapan muka dengan wanita itu, ia lihat muka orang berkerudung selapis kain hitam tebal, hanja dua lubang matanja tampak sepasang bidji matanja jang hitam bersinar bagai kilat tadjamnja.

Toan Ki tersenjum, katanja dalam hati.

Kau ingin aku mendjawab pertanjaanmu, hm, mungkin lebih sulit daripada naik kelangit.

Dalam keadaan begini, masih kau bisa tersenjum?

Apa jang kau gelikan?

maki wanita itu.

Tapi Toan Ki sengadja meng-imik2 pula dengan muka badut, lalu tertawa lagi.

Plak-plek, plak-plek, kembali wanita itu menghudjani sabetan beberapa kali.

Namun Toan Ki sudah tak pikirkan djiwanja lagi, tetap ia tinggal diam.

Tjuma tjara menghadjar wanita itu sangat kedji, setiap kali, sabetannja pasti mengenai tempat Toan Ki jang paling sakit, saking tak tahan, beberapa kali Toan Ki hampir2 mendjerit, tapi sjukur ia masih bisa mengekang diri.

Melihat pemuda itu demikian bandel, setelah merenung sedjenak, segera wanita itu berkata.

Baik, kau pura2 tuli, biar kubikin kau benar2 mendjadi tuli!

~ terus sadja ia keluarkan sebilah belati, dengan sinarnja jang gemerlapan, pelahan2 wanita itu mendekati Toan Ki.

Ia angkat belatinja dan atjungkan telinga kiri pemuda itu sambil membentak.

Kau dengar kata2ku tidak?

Apa kau tidak inginkan daun kupingmu ini?

Masih tetap Toan Ki tak gubris, sinar mata wanita itu menjorot beringas, selagi belatinja diangkat hendak disajatkan kekuping Toan Ki, tiba2 ditempat sedjauh belasan tombak sana ada orang membentak.

Perempuan hina, kau akan mengganas lagi, ja?

suaranja lantang berwibawa.

Tjepat wanita itu angkat tali pengikatnja hingga tubuh Toan Ki tergantung diatas sebuah dahan pohon.

Waktu menoleh, Toan Ki melihat orang jang bersuara itu adalah seorang laki2 tinggi besar, bertangan kosong, pinggang terselip sebuah golok.

Laki2 itu tidak lari, tapi tahu2 sudah sampai didepan mereka, tjepatnja bukan main.

Toan Ki melihat muka orang itu kuning langsat, berbadju pendek warna kuning, bermuka lebar, kedua kaki dan tangannja djauh lebih pandjang daripada orang biasa, usianja sekira 30-an tahun, kedua matanja bersinar tadjam.

Tentunja kau inilah Kim Tay-peng?

tegur wanita tadi.

Orang bilang ilmu Ginkangmu sangat hebat, tapi, hm, kalau aku sepandjang djalan tidak menanjai botjah ini hingga djalanku terlambat, rasanja kaupun tak mampu menjusul aku.

Dan kalau bukan ada urusan lain hingga aku terlambat datang satu djam, rasanja kaupun takkan bisa lolos.

sahut laki2 itu ketus.

Dan sekarang kau sudah dapat menjusul aku, kata siwanita.

Kim Tay-peng, mau apa kau sekarang?

Pendjual obat, Ong-lohan, dikota Sengtoh itu kau jang membunuhnja, bukan?

tanja laki2 itu.

Kalau benar, mau apa?

sahut siwanita.

Ong-lohan adalah sobatku, dia suka menolong kaum miskin, selama hidupnja tidak pernah berbuat djahat, sebab apa hingga kau membunuhnja?

Sebabnja?

sahut wanita itu.

Hm, ada orang terkena panahku jang berbisa, Ong-lohan sengadja tampil ke muka untuk mengobatinja, hal ini kau tahu tidak?

Mendjual obat menjembuhkan orang, memang kewadjiban Ong-lohan kata Kim Tay-peng.

Sekonjong-konjong terdengar suara mendesis pelahan sekali, menjusul suara tjring sekali.

pula, sebatang panah ketjil telah menantjap di samping kaki Kim Tay-peng.

Pandjang panah itu hanja belasan senti, hampir anteronja amblas ke dalam tanah.

Dalam pada itu tampak Kim Tay-peng pun masukkan goloknya ke dalam sarung jang tergantung di pinggan.gnja.

Kiranja dalam sekedjapan itu sadja wanita itu sudah menjerang Kim Tay-peng dengan panah, tapi Kim Tay-peng sempat tjabut golok untuk menangkis.

Njata, diam-diam ke dua orang sudah saling gebrak sedjurus.

Tjepat djuga gerakanmu, ja?

kata si wanita.

Kaupun tidak lambat, sahut Kim Tay-peng.

Njata, nama Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing memang bukan omong kosang.

Toan Ki terperandjat mendengar nama itu, tjepat ia berteriak.

Ai, kau salah, Kim-heng, dia bukan Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing!

Darimana saudara tahu?

tanja Kim Tay-peng.

Kukenal Bok Wan-djing dengan baik, Bok Wan-djing adalah Tjiong-hudjin, tapi perempuan djahat ini adalah seorang nona, kata Toan Ki.

Sekilas wadjah Kim Tay-peng tampak heran, katanja.

Djadi Hiang-yok-djeh sudah kawin?

Entah orang she Tjiong mana jang sial itu.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis dua kali, dua batang sendjata rahasia djatuh semua di pinggir Toan Ki, jang satu adalah panah ketjil warna hitam, jang lain adalah sebuah mata uang.

Di tengah mata uang itu berlubang dan tepat panah itu menantjap di tengah lubang itu.

Kiranja wanita itu telah menjambit ke belakang hendak memanah Toan Ki, tapi Kim Tay-peng sempat timpukkan mata uang itu hingga djiwa Toan Ki tertolong.

Melihat itu, barulah Toan Ki insaf barusan djiwanja telah berpiknik ke pintu gerbang achirat, untung bisa balik lagi, ia dengar wanita itu bertanja dengan gusar.

Siapa bilang aku Bok Wan-djing sudah kawin?

Setiap laki-laki di djagat ini tiada seorangpun yang baik, siapa orangnja jang setimpal untuk mendjadi suamiku?

Ja, agaknja saudara ini telah salam paham.

udjar Kim Tay-peng.

Mendengar wanita badju hitam itu mengaku sebagai Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing, si kuntilanak berbau harum, Toan Ki pikir di balik itu tentu ada sesuatu jang tak beres, sekalipun nona ini ganas dan djahat, rasanja tidak nanti sudi mengaku sebagai isteri orang.

Maka katanya.

Betul djuga utjapan Kim-heng, jang kutahu ialah isterinja Kian-djin-tjiu-sat Tjiong Ban-siu jang bernama Bok Wan-djing.

Tjis, djadi perempuan keparat itu telah memalsukan namaku sebagai Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing?

teriak wanita badju hitam dengan gusar.

Kim-heng, kata Toan Ki, Tjiong Ban-siu itu suka membunuh orang tak berdosa, dengan nona badju hitam ini benar-benar suatu pasangan setimpal.

Baru selesai utjapannja itu, tiba-tiba sinar hidjau berkelebat di depan matanja, sesuatu sendjata telah membatjok ke arahnja.

Dalam keadaan terikat dan tergantung, dengan sendirinja Toan Ki tak bisa menghindar, namun biar dia bisa bergerak dan bersendjata sekalipun, tentu djuga susah menghindari serangan kilat itu.

Maka dengan pedjamkan mata, ia sudah pasrah nasib.

Mendadak terdengarlah suara gemerantang beberapa kali, sendjata nona badju hitam itu ternjata tidak sampai di tubuhnja.

Ketika membuka mata, ia lihat di depan sana sesosok bajangan hitam dan segulung kabut kuning lagi melajang kian kemari dengan tjepat luar biasa, di tengah bajangan hitam dan kabut kuning itu terdapat berkelebatnja sinar putih pula, menjusul riuh ramai dengan suara trang-tjreng saling beradunja sendjata.

Tuhan maha murah, semoga Kim-heng ini diberi kemenangan, diam-diam Toan Ki mendoa.

Tiba-tiba terdengar si nona badju hitam alias Bok Wan-djing membentak njaring, kedua orang sama-sama melompat mundur, tampak golok Kim Tay-peng sudah dimasukkan ke sarungnja, dengan tenang berdiri di tempatnja.

Sebaliknja dengan pedang terhunus, Bok Wan-djing lagi memandang lawannja dengan penuh perhatian.

Kalah menang belum terdjadi, kenapa nona Bok tidak bertempur terus?

kata Kim Tay-peng.

Hm, It-hui-tjiong-thian Kim Tay-peng, suatu tokoh gemilang di kalangan Kangouw paling achir ini, huh!

sahut Bok Wan-djing.

Ada apa maksudmu?

tanja Tay-peng Dalam 500 djurus, belum tentu mampu menangkan nonamu!

sahut Wan-djing.

Benar!

kata Tay-peng, Djikalau lebih dari 500 djurus?

Marilah kita boleh tjoba-tjoba, kata Bok Wan-djing.

Berbareng udjung pedangnja terus mengarah ke tenggorokan Kim Tay-peng.

Trang, Kim Tay-peng melolos goloknja buat menangkis dan kembalikan golok ke sarungnja pula, lalu membentak.

Kim Tay-peng adalah seorang laki-laki sedjati, mana bisa bertempur sampai lebih 500 djurus dengan perempuan siluman ketjil matjam kau?

Utang darah pendjual djamu Ong-lohan sementara ini biar kutunda dulu.

Tjuma kau harus berdjandji tak boleh mentjelakai djiwa saudara ini.

Lalu utang-piutang kita sendiri kapan diselesaikan?

tanja Bok Wan-djing.

Nanti kalau dalam 500 djurus aku sudah dapat membereskan kau, dengan sendirinja aku akan bikin perhitungan padamu, sahut Kim Tay-peng.

Djelas belum pesanku tadi?

Hm, bilakah kau pernah dengar Hiang-yok-djeh menerima pesan seseorang?

sahut Bok Wan-djing dengan angkuh.

Baiklah, kuhormati kepandaianmu jang hebat, anggaplah aku jang memohonkan keselamatan saudara ini, kata Tay-peng.

Djadi kau sendiri jang memohon padaku?

Bok Wan-djing menegas.

Ja, kumohon padamu, sahut Tay-peng dengan suara berat.

Maka terbahak-tawa dengan senang sekali Bok Wan-djing, selama bertemu dengan dia, untuk pertama kali inilah Toan Ki mendengar suara ketawa nona itu jang penuh gembira ria, tidak sadja senang luar biasa, bahkan membawa beberapa bagian sifat kekanak-kanakan.

Terdengar ia berseru pula.

Haha, It-hui-tjiong-thian Kim Tay-peng ternjata memohon sesuatu pada aku Bok Wan-djng, maksud baik permohonan ini rasanja tidak pantas kalau kutolak.

Tjuma aku hanja berdjandji tidak membunuh orang ini, menghadjarnja atau mengutungi kaki-tangannja tidak termasuk dalam djaminanku ini.

Habis berkata, tidak menunggu djawaban Kim Tay-peng lagi, ia terus bersuit, dengan tjepat si mawar hitam mendekatinja, sekali tjemplak Bok Wan-djing sudah berada di atas kuda, berbareng pedangnja terus disambitkan, tjret, tali jang menggantung tubuh Toan Ki di dahan pohon itu terpapas putus.

Toan Ki bersama pedang itu djatuh bersama ke bawah, dan pada saat itulah dengan tepat Oh-bi-kui atau si mawar hitam sudah berlari sampai di bawah pohon.

Tangan kanan Bok Wan-djing menjambar kembali pedangnja itu, tangan kiri mentjengkeram tengkuk Toan Ki dan ditaruh di atas pelana kuda.

Sekali tjongklang, setjepat terbang Oh-bi-kui sudah berlari djauh.

Melihat djurus pertundjukan Bok Wan-djing ketika hendak pergi itu, mau-tak-mau Kim Tay-peng gegetun dan memudji.

Sungguh lihay, perempuan siluman ini.

Setelah Bok Wan-djing masukkan pedang ke sarungnja, ia berkata di atas kudanja.

It-hui-tjiong-thian jang namanja terkenal di antero djagat ini hari ini djuga tak bisa apa-apakan diriku.

Hm, biar dia memperdalam pula ilmu silatnja, emangnja setiap hari aku hanja tidur sadja, ilmu kepandaianku takkan tambah?

Wahai, botjah she Toan, sekarang kau menjerah tidak padaku?

Toan Ki hanja tinggal diam tak menggubrisnja, tetap membisu dan mentuli.

Agaknja hati Bok Wan-djing sangat riang, kembali ia berkata.

Orang Kangouw sama bilang It-hui-tjiong-thian Kim Tay-peng adalah djago muda jang djarang ada tandingannja, ketjuali tokoh-tokoh angkatan lebih tua seperti Sam-sian-su-ok, dia terhitung djago paling lihay.

Tapi hari ini dia toh sudi memohon padaku.

Toan Ki mendjadi dongkol, katanja dalam hati.

Dia hanja merasa laki-laki tidak pantas melabrak seorang perempuan, makanja mengampuni kau, masih kau sembarangan membual segala?

Tapi tadi ia sendiripun menjaksikan sikap Kim Tay-peng, ia tahu meski nama It-hui-tjiang-than (sekali terbang mendjulang ke langit) terkenal di seluruh djagat, tapi djuga tidak berani memandang enteng Bok Wan-djing.

Ia pikir perempuan siluman ini biarpun kedji dan ganas, tapi ilmu silatnja memang benar-benar sangat lihay.

Selagi Toan Ki termenung, mendadak pundaknja ditarik Bok Wan-djing hingga mukanja berpaling ke arahnja, demi nampak wadjah pemuda itu belum lenjap dari rasa kagum, Bok Wan-djing terbahak-bahak, katanja.

Botjah bandel, di mulut kau tidak bilang, tapi dalam hati kau menjerah padaku, bukan?

Dan karena hatinja lagi senang, sepandjang djalan ia tidak siksa Toan Ki lagi.

Tidak lama, si mawar hitam telah membawa mereka ke suatu pekuburan.

Segera Toan Ki dapat mengenali tempat itu adalah djalan masuk ke Ban-djiat-kok.

Ia lihat Bok Wan-djing melompat turun dari kudanja terus menarik batu nisan kuburan itu, tjaranja menarik batu nisan itu persis seperti apa jang Tjiong Ling adjarkan pada Toan Ki.

Begitu pintu kuburan terpentang, terus sadja Bok Wan-djing djindjing Toan Ki melangkah ke dalam.

Perawakan Toan Ki sedikitnja belasan senti lebih tinggi dari nona itu, bitjara tentang bobot badan, sedikitnja djuga lebih berat 30-40 kati.

Tapi didjindjing olehnja, ternjata enteng sadja bagai membawa sebuah kerandjang.

Setelah masuk pula ke dalam peti mati, penjambutnja tetap si pelajan ketjil jang menerima Toan Ki itu.

Sampai di tempat jang terang, pelajan itu mendjadi kaget dan bertanja.

Bok-kohnio, ken..............

kenapa kau membawa Toan kongtju ke sini?

Di.......

dimanakah Siotjia kami?

Panggil keluar njonjamu!

bentak Bok Wan-djing sambil banting Toan Ki ke lantai.

Loya terluka parah, Hudjin tak bisa meninggalkan beliau, silahkan nona masuk ke dalam sadja, kata si pelajan.

Peduli apa dengan Loyamu jang terluka segala, suruh njonjamu keluar!

bentak Bok Wan-djing bengis.

Sekalipun Loyamu saat ini akan putus napasnja, suruh njonjamu harus keluar djuga!

Pelajan itu tak berani bitjara lagi, ia mengia dengan ketakutan, lalu tjepat masuk ke dalam.

Tidak lama, Tjiong-hudjin nampak keluar dengan tersipu-sipu, katanja.

Nona Bok, kenapa kau tidak duduk dan bitjara di dalam sadja?

Bok Wan-djing tidak menjahut, ia menengadah ke atas tak gubris.

Tjiong-hudjin seperti sangat djeri pada nona badju hitam itu, dengan sabar ia berkata pula.

Bok-kohnio, apakah aku ada berbuat sesuatu kesalahan padamu?

Kau memanggil siapa sebagai Bok-kohnio?

tanja Bok Wan-djing tiba-tiba.

Sudah tentu memanggil engkau, sahut njonja Tjiong.

Hm, kusangka kau sedang berkata pada diri sendiri, djengek Bok Wan-djing.

Kabarnja sekarang kau sudah ganti nama dan tukar she, kaupun bernama Bok Wan-djing katanja, sungguh tidak njana bahwa nama Bok Wan-djing bisa mendapat perhatian orang, tapi djulukan Hiang-yok-djeh toh bukan sesuatu nama jang enak di dengar.

Tapi kalau kau benar-benar mau, biar kupersembahkan padamu dengan kedua tangan terbuka.

Wadjah Tjiong-hudjin sebentar merah sebentar putjat, katanja kemudian dengan suara halus.

Nona Bok, aku memalsukan namamu, hal ini memang tidak pantas.

Soalnja karena aku terlalu kuatirkan puteriku, dengan harapan menggunakan namamu jang besar dapatlah menakutkan kawanan Sin-long-pang agar Ling-dji bisa dilepaskan mereka.

Mendengar.

itu, kata Bok Wan-djing pula dengan nada rada halus.

Apa benar namaku bisa mempunjai pengaruh begitu besar?

Tjiong-hudjin kenal watak si nona jang suka dipudji dan diumpak, maka tjepat sahutnja.

Sudah tentu!

Nama besar nona di kalangan Kangouw, siapa orangnja jang tidak takut?

Maka kujakin bila mendengar nama nona, biarpun njali orang Sin-long-pang sebesar langit djuga tak berani ganggu seudjung rambut Ling-dji.

Baiklah, tentang memalsukan namaku, tak perlu aku usut lebih djauh, kata Bok Wan-sljiag.

Tapi awas, bila lain kali kau sembarangan memakai namaku lagi, aku tentu tak mau sudahi begini sadja.

Kau adalah isterinja Tjiong Ban-siu, apakah......

apakah....

Tjis!

~ sembari berkata, ia membanting kaki ke lantai dengan keras.

Lekas-lekas Tjiong-hudjin menanggapinja dengan ketawa-ketawa.

Ja, ja, memang aku jang salah!

Karena bingung memikirkan Ling-dji, aku mendjadi lupa pada nama baik nona jang masih sutji bersih.

Bok Wan-djing mendengus sekali, lalu menanja pula.

Djing-siong Todjin telah datang mentjari perkara padaku, hal ini sebelumnja kau sudah tahu, bukan?

Wadjah Tjiong-hudjin berubah seketika, sahutnja terputus-putus.

Ja, dia......dia pernah datang minta bantuan kami berdua untuk mengerojok nona.

Tapi........tjoba pikir, mana bisa kami berbuat demikian?

Ilmu silat suamimu sangat tinggi, kalau dia ikut mengerojok, mungkin djiwaku sudah melajang, kata Bok Wan-djing.

Hubungan kami dengan nona sangat baik sedjak dulu, mana bisa kami berbuat begitu?

sahut Tjiong-hudjin.

Dan demi melihat sorot mata Bok Wan-djing di balik topeng hitamnja itu berkilat-kilat menjeramkan, tjepat ia berkata pula.

Untuk bitjara terus terang, sebenarnja kami pernah rundingkan tentang urusan itu.

Tapi suamiku menduga biarpun No-kang-ong Tjiu Goan-tjun, ditambah It-hui-tjiong-thian Kim Tay-peng, Hui-sian Taysu dari Siau-lim-si dan lain-lain ikut mengerubut belum tentu mereka bisa menangkan nona, sebab itulah, meski Djing-siong Todjin mohon-mohon dengan sangat, toh suamiku tetap tak mau.

Utjapanmu ini adalah karanganmu belaka atau benar-benar keluar dari mulut suamimu?

tanja Wan-djing.

Kata-kata ini adalah suamiku sendiri jang katakan pada Djing-siong Todjin, sahut Tjiong-hudjin.

Bila nona tidak pertjaja, boleh tjari Djing-siong Todjin untuk mendjadi saksi.

Bok Wan-djing angguk-angguk, katanja kemudian.

Djika demikian, djadi Tjiong-siansing sendiri merasa bukan tandinganku?

Kata suamiku, ilmu silat nona dalamnja susah didjadjaki, apalagi tjerdik tiada bandingan, kami berdua amat tenteram mengasingkan diri, buat apa mesti mentjari permusuhan lagi.

Ha, Tjiong-siansing terang djeri padaku, tapi masih pakai kata-kata begitu untuk menutupi rasa malunja itu, djengek Wan-djing.

Wadjah Tjiong-hudjin tampak merasa malu, sahutnja.

Usia suamiku sudah landjut, kalau lebih muda 20 tahun, boleh djadi masih sanggup melajani nona seratus-duaratus djurus.

Kembali Bok Wan-djing tertawa dingin, njata hatinja sangat senang.

Toan Ki jang terbanting di lantai itu dapat mengikuti pertjakapan mereka dengan djelas, pikirnja.

Tjiong-hudjin terus-menerus mengumpak nona ini., tapi sedikitpun tidak kentara, terang diapun seorang jang sangat lihay.

Dasar nona galak ini suka diumpak orang, tapi aku djusteru ingin mengolok-oloknja.

Maka mendadak ia berseru.

Waduh lagaknja melawan Kim Tay-peng seorang sadja Bok-kohnio tak bisa menang, masih tjoba omong besar segala?

Tadi mereka berdua saling gebrak, sudah terang Kim Tay-peng lebih unggul, nona Bok dihadjar hingga berlutut minta ampun, setelah memanggil sepuluh kali Kim-yaya baru djiwanja diampuni......

Selagi Toan Ki hendak mentjerotjos terus, tiba-tiba Bok Wan-djing sudah melompat datang dan mendepak dua kali di pinggangnja sambil membentak.

Siapa bilang aku kalah?

Siapa jang menjembah minta ampun?

Tjiong-hudjin, aku bitjara padamu, kata Toan Ki, Nona Bok beruntun melepaskan 18 batang panah ketjil, tapi semuanja kena ditandingi Kim Tay-peng dengan 18 buah mata uang.

Ia dihadjar Kim Tay-peng hingga minta ampun dan berdjandji takkan membunuh diriku.............

Karuan Bok Wan-djing sangat murka, sekali tangan kanan di angkat, segera pemuda itu hendak dibunuhnja dengan panahnja jang berbisa.

Sjukur Tjiong-hudjin sempat berseru sambil melompat menghadang di depan Toan Ki.

Djangan, nona Bok!

Asal-usul Toan kongtju ini tidak sembarangan, djangan kau bunuh dia.

Huh, hanja seorang sekolahan lemah jang tak bisa ilmu silat, asal usulnja bisa hebat apa?

Paling-paling adalah tjalon menantunja Kian-djin-tjiu-sat Tjiong Ban-siu!

djengek Bok Wan-djing mengolok-olok.

Tjiong-hudjin mendjadi djengah, sahutnja.

Kami adalah keluarga Kangouw jang kasar, mana berani mengharapkan menantu seperti Toan-kongtju.

Untung dia bukan orang Kangouw, djika dia bisa sedikit ilmu silat sadja, tentu sekali tebas sudah kutjabut njawanja.

kata Bok Wan-djing.

Segera ia teringat pada djandji sendiri pada Kim Tay-peng untuk tidak membunuh Toan Ki, maka katanja pula.

Mending djuga botjah ini ada sedikit baiknja, ketika tahu ada orang hendak bikin susah padaku, dengan tjepat ia putar kuda kembali memberi kabar.

Waktu Tjin Goan-tjun dan begundalnja mengerubut diriku, ternjata iapun berusaha melindungi aku.

Hehe, tjuma sajang, semangat besar, tenaga kurang, djiwa kesatrianja sih boleh dipudji, tapi tiada punja kepandaian sebagai seorang gagah.

~ bitjara sampai disini, nada suaranja mendjadi ramah, ia sambung pula.

Tjiong hudjin, hati botjah ini djauh lebih baik daripada kau.

Kau sudah tahu Djing-siong Todjin dan lain-lain hendak mengerodjok aku, tapi sengadja suruhan Tjiong Hok minta pindjam kudaku si mawar hitam hingga aku tiada punja tunggangan dan susah meloloskan diri.

Sungguh hebat akalmu ini, sungguh kedji muslihatmu ini!

Saking bingung memikirkan keselamatan puteriku, sungguh aku tiada maksud membikin susah nona, sahut Tjiong-hudjin.

Kami suami-isteri djuga sudah tahu bahwa Tjin Goan-tjun dan kawan-kawannja tak nanti mampu mengutik seudjung rambut nona, pernah djuga kami nasihatkan Djing-siong Todjin djangan tjari mati sendiri, dan sekarang mungkin djiwanja sudah melajang di bawah pedang nona.

~ padahal kematian Djing-siong Todjin itu hanja dugaannja sadja, ia lihat Bok Wan-djing tak kurang suatupun apa, sebaliknja ilmu silat Djing-siong Todjin djauh di bawah Tjin Goan-tjun dan lain-lain, tentu imam itu jang paling dulu mendjadi korban.

Maka sahut Bok Wan-djing.

Hm, pandanganmu tjukup djitu djuga!

habis berkata, sekali melesat, tahu-tahu ia sudah sampai di samping Toan Ki, sekali angkat, kembali pemuda itu didjindjingnja terus bertindak pergi.

Nona Bok, tunggu dulu, aku ingin mohon sesuatu.

seru Tjiong-hudjin.

Berdasarkan apa kau hendak memohon padaku?

tanja Bok Wan-djing dengan dingin sambil menoleh.

Apa jang kau mahon rasanja akupun takkan menjanggupi apa-apa, maka paling baik djangan kau utjapkan sadja.

Selagi Tjiong-hudjin tertegun oleh djawaban itu, sementara itu Bok Wan-djing sudah tinggal pergi sambil mendjindjing Toan Ki.

Setelah keluar dari liang kuburan dan mengembalikan batu nisan ke tempatnja, Bok Wan-djing bersuit memanggil Oh-bi-kui, ia taruh Toan Ki di atas pelana, lalu ia sendiripun mentjemplak ke atas.

Sepandjang djalan beberapa kali Wan-djing adjak bitjara Toan Ki, tapi pemuda itu tetap bungkam tak gubris padanja.

Tapi bila membajangkan betapa kedji dirinja disiksa nona itu semalam, diam-diam Toan Ki kebat-kebit djuga dan tidak berani membikin marah si nona lagi.

Maka setengah harian kuda itu dilarikan, kedua orang itu boleh dikata sementara itu bisa hidup damai berdampingan.

Sampai lohor, wah, tjelaka, mendadak perut Toan Ki terasa mules.

Pikirnja ingin minta Bok Wan-djing melepaskan dia agar bisa kada hadjat, tapi kedua tangannja terikat, tak bisa memberi tanda, andaikan bisa, tjara memberi tanda itupun rada-rada berabe.

Terpaksa ia buka mulut.

Aku ingin buang air, harap nona lepaskan aku!

Bagus, sekarang kau tidak bisu lagi, ja?

Kenapa adjak bitjara padaku?

olok-olok si nona.

Ja, terpaksa, sahut Toan Ki.

Aku tak berani bikin kotor nona.

Nona adalah Hiang-yok-djeh (kuntilanak berbau wangi), kalau aku berubah mendjadi Djau-siau-tju (botjah berbau busuk) kan tjialat?

Mau-tak-mau Bok Wan-djing mengikik geli djuga, ia pikir untuk mana terpaksa harus melepaskannja, maka ia potong tali pengikat Toan Ki dengan pedangnja.

Lalu menjingkir pergi.

Karena sudah sekian lamanja diringkus, tangan dan kaki Toan Ki mendjadi kaku tak bisa bergerak, ia mengesot sampai sekian lamanja di tanah baru kemudian dapat berdiri.

Selesai kada hadjat alias kuras perutnja, Toan Ki melihat si mawar hitam lagi makan rumput di dekatnja dengan djinak, pikirnja.

Inilah kesempatan bagus untuk melarikan diri!

~ pelahan-lahan ia mentjemplak ke atas kuda dan si mawar hitam ternjata menurut sadja.

Sekali tarik tali kendali, terus sadja Toan Ki larikan Oh-bi-kui ke utara dengan tjepat.

Ketika mendengar suara derapan kuda, segera Bok Wan-djing mengedjar namun lari si mawar hitam teramat tjepat, betapapun tinggi ilmu Ginkangnja Bok Wan-djing djuga tak bisa menjusulnja.

Sampai ketemu lagi, Bok-kohnio, kata Toan Ki sambil kiong-tjhiu, sementara itu sudah berpuluh tombak djauhnja si mawar hitam mentjongklang.

Waktu Toan Ki menoleh pula, ia lihat bajangan Bok Wan-djing sudah teraling-aling pohon tak kelihatan lagi.

Bisa terlolos dari tjengkeraman hantu perempuan itu, Toan Ki merasa senang sekali, berulang kali ia berseru agar si mawar hitam lari terlebih tjepat.

Ia pikir saat itu sekalipun Bok Wan-djing menjerangnja dengan Am-gi atau sendjata rahasia, djuga tak bisa mentjapainja lagi.

Setelah berlari satu li djauhnja, selagi Toan Ki termenung entah masih keburu menolang Tjiong Ling atau tidak, apakah menudju langsung ke Bu-liang-san atau pulang ke Tayli dulu, sekonjong-konjong dari belakang berkumandang suara suitan jang pandjamg njaring.

Mendengar suara itu, seketika si mawar hitam putar haluan dan berlari kembali ke arah tadi.

Toan Ki sangat terkedjut, tjepat ia berteriak-teriak.

Kuda jang baik, djangan kembali kesana, djangan kembali, kudaku sajang!

~ lalu sekuatnja ia menarik tali kendali agar si mawar ganti arah lagi.

Tapi meski tali kendali sedemikian kentjangnja ditarik Toan Ki hingga kepala si mawar ikut mentjeng, namun binatang itu masih tetap lari lurus ke depan, sedikitpun tidak menurut perintah Toan Ki.

Hanja sekedjap sadja, Oh-bi-kui sudah berlari sampai di samping Bok Wan-djing, lalu berdiri tak bergerak lagi.

Karuan Toan Ki serba runjam, malu tertjampur dongkol.

Aku pernah berdjandji pada Kim Tay-peng takkan bunuh kau.

kata Bok Wan-djing.

Tapi kini kau bermaksud melarikan diri, bahkan hendak menggondol lari kudaku si mawar.

Maka apa jang kudjandjikan pada Kim Tay-peng itu selandjutnja kubatalkan!

Toan Ki melompat turun dari kuda, dengan gagah berani ia mendjawab.

Oh-bi-kui semula kau sendiri jang pindjamkan padaku dan sampai kini aku belum kembalikan kau, mana bisa bilang aku mentjuri.

Kalau kau mau bunuh, lekas bunuhlah, seorang laki-laki sedjati, tak perlu kuterima budi siapa-siapa.

Bok Wan-djing lolos separoh pedangnja, katanja dengan dingin.

Hm, njalimu benar-benar tidak ketjil, apa kau sangka aku tidak berani membunuh kau?

Kau andalkan pengaruh siapa hingga berulang kali berani padaku?

Asal setiap perbuatanku tidak merugikan nona, buat apa aku mengandalkan pengaruh orang lain?

sahut Toan Ki.

Sorot mata Bok Wan-djing setadjam kilat memandang Toan Ki, tapi pemuda itupun balas mendelik dengan tabah.

Setelah saling melotot sekian saat, mendadak Bok Wan-djing masukkan kembali pedangnja dan membentak.

Sudahlah lekas kau enjah!

Buah kepalamu biar kutitipkan di atas lehermu, kapan-kapan bila nona merasa perlu setiap saat bisa menagih kepalamu.

Sebenarnja Toan Ki sudah nekad, sungguh tak tersangka olehnja bahwa si nona bisa membebaskannja begitu sadja.

Untuk sedjenak ia tertjengang, tapi segera iapun tinggal pergi.

Sambil memandangi bajangan pemuda itu diam-diam Bok Wan-djing berkata di dalam hati.

Lelaki bandel seperti ini sungguh djarang ada di dunia ini.

Padahal djago silat umumnja kalau melihat aku tentu ketakutan setengah mati, tapi botjah ini sedikitpun ternjata tidak gentar.

Setelah belasan tombak djauhnja, Toan Ki masih tidak mendengar suara derapan kuda, waktu menoleh, ia lihat Bok Wan-djiag masih berdiri di tempatnja dengan termangu-mangu, pikirnja.

Hm, tentu dia lagi pikirkan sesuatu akal kedji, matjam kutjing mempermainkan tikus, aku hendak digodanja habis-habisan, habis itu baru aku di bunuhnja.

Baiklah, toh aku tidak bakal bisa lari, segala apa terserah dia.

Tapi makin djauh ia berdjalan, tetap tidak mendengar suara Bok Wan-djing mengedjarnja, setelah melintasi beberapa simpang djalan, barulah ia merasa lega dan pertjaja nona galak itu takkan mengedjarnja.

Dan karena hatinja sedikt lega, segera ia merasa tubuhnja jang babak belur itu sakit perih, seorang diri ia menggumam.

Ai, perangai nona ini demikian aneh, boleh djadi karena kedua orangtua sudah meninggal, selama hidupnja banjak mengalami matjam-matjam kemalangan.

Mungkin djuga karena wadjahnja teramat djelek maka tidak suka memperlihatkan muka aslinja pada orang.

Ai, boleh dikata seorang jang harus dikasihani djuga.

Kemudian ia pikir pula.

Kalau, tjaraku berdjalan ini, mungkin sebelum sampai di Tayli, aku sudah mati keratjunan Toan-djong-san.

Padahal nona Tjiong lagi mengharapkan pertolonganku dengan tak sabar, kalau aku tidak tampak kembali kesana dan ajahnja djuga tak pergi menolongnja, tentu ia menjangka aku tidak memenenuhi kewadjiban mengirim berita pada ajahnja.

Biarlah, bagaimanapun djadinja, aku harus memburu ke Bu-liang-san sana untuk mati bersama dengan dia, agar dia tahu bahwa aku tidak mengchianati harapannja.

Setelah ambil keputusan begitu, segera ia ambil arah jang tepat dan menudju ke Bu-liang-san.

Lembah sungai Landjong itu sunji senjap, berpuluh li djauhnja tidak nampak seorang pendudukpun.

Hari itu terpaksa ia mesti mentjari buah-buahan sekedar tangsal perut, malam harinja tidur meringkuk seadanja di lereng bukit.

Besoknja lewat lohor, kembali ia menjeberangi sungai Landjong, dekat magrib, sampailah ia di suatu kota ketjil.

Uang sangu jang dibawanja sudah terhanjut di tengah danau tempo hari, ia tahu pakaian sendiri sudah tjompang-tjamping, ditambah perut sangat lapar, teringat olehnja ada sebentuk hiasan batu giok di kopiahnja jang nilainja tak terkira.

Segera ia tanggalkan batu permata itu dan membawanja ke suatu warung beras satu-satunja di kota itu untuk di djual.

Karena tidak kenal benda pusaka, kuasa warung itu hanja berani membeli dengan harga tiga tahil.

perak.

Toan Ki pun tidak banjak rewel, ia terima tiga tahil perak itu dan masuk ke suatu warung nasi untuk makan.

Pikirnja hendak membeli pakaian pula, tapi di kota seketjil itu tiada toko kelontong jang mendjual pakalian.

Selagi sulit, tiba-tiba dilihatnja di samping warung nasi itu, di suatu lapangan ada orang mendjemur dua potong kain hitam.

Seketika pikirannja tergerak, teringat olehnja Tjiong-hudjin sengadja memalsukan nama Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing utk menolong puterinja, pikir Toan Ki.

Kenapa aku tidak menjamar sebagai perempuan galak itu untuk menggertak Sikong Hian?

Paling-paling gagal dan mati, tapi kalau berhasil menggertak Sikong Hian, kan hebat!

Dasar watak orang muda, apa jang dia pikir, segera dia kerdjakan, terus sadja ia membeli sepotong kain hitam, ia pindjam gunting dan djarum dan benang, lalu berlagak sebagai pendjahit ulung untuk mendjahit pakaian di belakang warung nasi itu.

Selama hidup Toan Ki hanja kenal buku, membatja dan menulis, kini memegang djarum, walaupun benda seketjil itu, namun rasanja seberat palu.

Untungnja bukan mendjahit pakaian bagus apa, hanja diperlukan membalut antero tubuhnja asal tidak kelihatan, maka dimana masih renggang, disitu lantas didjahit, kalau ada lubang, lantas ditambal.

Begitulah ia sibuk sendiri hingga mandi keringat, pegawai warung nasi menjangka Toan Ki agak kurang beres otaknja, maka tidak urus perbuatannja, sampai malam, orang sudah pergi tidur, Toan Ki masih sibuk mendjahit di pekarangan warung itu.

Hampir tengah malam, baru selesai Toan Ki menunaikan tugas.

Ia tjoba pakai badju baru itu, mending djuga badannja bisa tertutup rapat.

Sepasang sarung tangannja djuga kasar, tapi sedikitnja sepuluh djarinja dapat masuk dan bergerak dengan bebas.

Senang sekali Toan Ki, sambil mengenakan pakaian serba hitam itu, ia tjoba ingat-ingat nada suara Bok Wan-tjing jang tadjam melengking itu, lalu tekuk suara menirukan beberapa kali.

Ia tidak berani pertjaja suaranja mirip orang, tapi bila mengingat Sikong Hian djuga belum tentu pernah melihat dan mendengar suara Bok Wan-djing, betapapun memang sengadja spekulasi, biarpun rahasianja terbongkar nanti, apa mau dikata lagi?

Setelah selesai menjamar, ia tjoba-tjoba merentjanakan bagaimana nanti kalau sudah berhadapan dengan Sikong Hian, lalu meninggalkan warung nasi itu menudju ke Bu-liang-san.

Kota ketjil itu letaknja sudah dikaki gunung Bu-liang-san.

Dibawah sinar bulan, Toan Ki dapat menempuh arah jang tepat.

Setelah dua djam lamanja, dari djauh tampak lereng gunung sana sinar api berkelip-kelip, ia tahu disanalah tempat tinggal Sin-long-pang, segera ia menudju ke tempat sinar api itu.

Kira-kira belasan tombak sebelum sampai di tempat sinar api itu, sekonjong-konjong dari tempat gelap melompat keluar seorang sambil membentak.

Siapa jang datang ini?

Ada keperluan apa?

Toan Ki tertawa dingin sekali, ia tekuk suaranja dan menjahut.

Hm, matjammu djuga ingin tanja siapa diriku?

Dimana Sikong Hian?

Suruh dia menemui aku!

Melihat antero tubuh Toan Ki tertutup kain hitam, di bawah sinar bulan hanja tampak kedua bidji matanja, orang itu mendjadi terkesiap, teringat olehnja dandanan seorang iblis wanita jang mengguntjangkan Kangouw, maka tanjanja dengan suara gemetar.

Apakah kau............kau Hiang-yok?

Namaku boleh sembarangan kau sebut?

bentak Toan Ki dengan gusar.

Karena terpengaruh oleh nama besar Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing, njali orang itu mendjadi petjah, dengan gugup ia mendjawab.

Sikong-pangtju terluka parah, tak bisa.......tak bisa berdjalan, harap nona sudi...........sudilah ke sana!

Sial pikir Toan Ki, masakan seorang djedjaka ting-ting disangka nona segala.

Diam-diam iapun bersjukur orang tak bisa mengenalnja, maka sengadja ia mendengus menirukan lagak angkuh Bok Wan-djing, katanja.

lekas tundjukkan djalannja!

Pelahan-lahan Toan Ki ikut orang itu ke depan.

Ia tahu, semakin lambat djalannja, semakin sulit terbongkar rahasianja.

Sampai di tempat api unggun, ia lihat di sana-sini menggeletak beberapa orang jang terpagut oleh Kim-leng-tju itu, Tjiong Ling diringkus kedua tangannja, begitu melihat Toan Ki, ia mendjadi girang, terus sadja ia berseru.

Bok-tjitji, kau telah datang menolong aku!

Selama tersiksa beberapa hari, keadaan Sikong Hian memang sudah payah, ketika melihat bentuk Toan Ki, ia sudah menduga pasti Hiang-yok-djeh jang namanja mengguntjangkan Kangouw itu telah datang.

Apalagi mendengar pula Tjiong Ling menjapa tadi, ia mendjadi tidak sangsi lagi.

Maka ia paksakan diri berbangkit, kedua tangannja menahan dipundak kedua anak buahnja, lalu berkata.

Tjayhe terkena bisa ular, tidak bisa mendjalankan peradatan, harap ......

Harap nona suka maafkan.

Nona Tjiong adalah sobatku, kau tahu tidak?

tegur Toan Ki dengan suaranja yang melengking.

Sesungguhnja Tjayhe tidak tahu, harap maaf, sahut Sikong Hian.

Lekas bebaskan dia, kata Toan Ki lagi.

Walaupun Sikong Hian gentar pada nama Hiang-yok-djeh jang besar itu, tapi menduga sekalipun dirinja tidak terluka, untuk bertanding djuga bukan lawan orang, pula sekali Tjiong Ling dibebaskan, kalau tiada obat pemunah ratjun Kim-leng-tju, tiada lama lagi dirinja bersama anak buahnja tentu mati, dalam keadaan demikian, betapapun hebat resikonja tak dipikirnja pula, segera djawabnja.

Apakah nona membekal obat pemunah ratjun ular itu?

Toan Ki mengeluarkan sebuah kotak emas dari badjunja, itulah barang jang diterimanja dari Tjiong-hudjin, tjuma ketika diwarung nasi, ia sudah keluarkan surat didalamnja dan menggantinja dengan adukan nasi dan tanah hingga penuh sekotak.

Lalu katanja.

Ini adalah obat tunggal milik Kian-djin-tjiu-sat Tjiong Ban-siu, dia sudi memberikan padamu, boleh dikata nasibmu lagi mudjur.

~ Sembari berkata, ia lemparkan kotak itu ketanah.

Memangnja Sikong Hian sudah dapat menerka ajah Tjiong Ling adalah Kian-djin-tjiu-sat Tjiong Ban-siu, kini diperkuat oleh keterangan Toan Ki itu, ia lebih pertjaja lagi.

Maka tjepat djawabnja.

Banjak terima kasih nona, banjak terima kasih djuga kepada Tjiong-tayhiap.

Segera ada bawahannja mendjemputkan kotak itu untuk diserahkan pada Sikong Hian.

Ia buka kotak itu dan mengendus isinja, ia mentjium isi kotak itu berbau amisnja ikan, rada2 berbau tanah djuga.

Setiap anggota Sin-long-pang adalah ahli obat2an, lebih2 Sikong Hian, segala matjam obat, asal ditjiumnja, tentu diketahuinja betapa kadar obat jang terkandung didalamnja.

Apalagi sekarang obat itu merupakan ikatan djiwanja, tentu sadja ia periksa lebih tjermat?

Ketika diendus lagi dan merasa sedikitpun tiada bau obat, takbisa ditahan lagi timbul rasa tjuriganja.

Segera ia menanja.

Tolong tanja, nona, obat ini bagaimana memakainja?

Setiap orang minum setititik sadja, lewat 12 djam, ratjun Kim-leng-tju akan lenjap semua, sahut Toan Ki.

Nah, lekas kau bebaskan nona Tjiong!

Ja, sahut Sikong Hian sambil berdjongkok mengambil sebatang kaju jang terbakar untuk menerangi tubuh Toan Ki.

Kalau ditempat gelap masih mendingan, kini sekali disinari, seketika terbongkarlah borok Toan Ki.

Tertampaklah pakaiannja jg hitam mulus itu disana-sini mentjang-mentjeng djahitannja, hakikatnja tidak memper pakaian.

Karuan Sikong Hian bertambah tjuriga.

Ia melangkah madju lebih dekat dan mentjium se-kuat2nja beberapa kali, tapi sedikitpun tidak mengendus bau wangi apa2.

Pikirnja.

Menurut tjerita orang Kangouw, tubuh Hiang-yok-djeh mengeluarkan sematjam bau harum jang keras, dari djauh orang sudah mengendusnja, sebab itulah diperoleh djulukan Hiang-yok-djeh.

Tapi orang ini sama sekali tiada bau wangi apa, sebaliknja malah rada2 bau apek.

Apa mungkin orang ini hanja samaran sadja?

Melihat sikap orang, Toan Ki tahu dirinja sudah mulai ditjurigai, karuan hatinja kebat-kebit, tapi ia masih membentak.

Kusuruh kau lepaskan nona Tjiong, kau dengar tidak?

Walaupun sudah tjuriga, namun Sikong Hian masih tak berani main kasar, dengan merendah ia mendjawab.

Harap nona maklum, sekian banjak orang kami telah dipagut ular, djiwa masing2 tinggal sehari-dua-hari, djikalau obat pemberian Tjiong-tayhiap ini tidak mandjur, kan djiwa kami akan melajang semua?

Bukanlah Tjayhe berani membangkang perintah Bok-kohnio, kami hanja minta nona Tjiong bersabar beberapa hari lagi tinggal bersama kami, bila ratjun ular kami sudah disembuhkan, pasti kami akan menghantar nona Tjiong kerumah, sekalian menghaturkan terima kasih djuga kepada Bok-kohnio.

Kenapa kau berani mengotjeh segala, kukatakan lepaskan dia, kau harus lakukan!

kata Toan Ki dengan gusar.

Segera ia berpaling kepada seorang tua jang berdiri disamping Tjiong Ling dan membentaknja.

Lekas kau buka tali ringkusannja!

~ Dan karena gugupnja, nada suara Toan Ki lupa ditekuk hingga kentara sekali kalau suara pria.

Kakek jang dibentak itu tjukup tjerdik, dibawah sinar api ia lihat pula isjarat sang Pangtju, maka pikirnja.

Orang ini entah tulen atau palsu, kalau Pantju segan kasar padanja, aku hanja bawahannja, kasar sedikit rasanja tidak apa.

Pabila dia benar2 Hiang-yok-djeh, tentu Pangtju akan mintakan maaf bagiku.

Pendeknja, masih bisa mundur teratur.

Karena itu, segera ia mendjawab dengan suara keras.

Bok-kohnio, tidaklah sulit untuk melepaskan nona Tjiong.

Tapi wadjah asli nona harus diperlihatkan pada kami barang sekedjap sadja.

Kau berani ingin melihat wadjahku, apa barangkali kau sudah bosan hidup?

damperat Toan Ki.

Diam2 kakek itu memikir.

Betapapun lihay ilmu silatnja, wanita ini hanja seorang diri.

Dengan djumlah kami sebanjak ini masakan takbisa melawan seorang wanita?

~ namun demikian pikirnja, nama Hiang-yok-djeh sesungguhnja teramat besar, banjak tjerita2 orang Bu-lim jang memudjanja setinggi langit, kalau pakai kekerasan, boleh djadi dirinja akan tjelaka lebih dulu.

Maka dengan tertawa katanja pula dengan merendah.

Sekalipun Siaulodji (aku orang tua jang rendah) punja sepuluh njawa djuga tidak berani pada nona.

Tjuma sudah lama kami mendengar nama nona jang maha besar, hati kami kagum tak terhingga, maka sangat harap bisa menambah pengalaman bila nona sudi mengundjukan barang sedjurus ilmu sakti.

Diam2 Toan Ki mengeluh tjelaka, tjepat sahutnja.

Apa jang nona bisa adalah kepandaian untuk membunuh orang melulu, tapi disini agaknja tiada orang jang boleh dibunuh.

Seorang tokoh Sin-long-pang didaerah Kuitjiu mendjadi tidak sabar, dengan suara keras ia menjela.

Kau ingin kami bebaskan orang, paling sedikit kau harus undjukan sedjurus-dua dulu.

~ sembari berkata, terus sadja ia tampil kemuka.

Dalam pada itu rasa tjuriga Sikong Hian sudah mentjapai 90%, segera iapun berkata.

Baiklah, Ui-hiati, boleh tjoba2 kau minta petundjuk dari nona Bok.

Tokoh she Ui itu mendjadi tabah mendapat sokongan sang Pangtju, segera ia lolos Kim-pwe-to atau golok berpunggung tebal, sekali bergerak, lima gelang badja jang terpasang diatas golok itu berbunji gemerantang, dengan gagah ia berdiri dihadapan Toan Ki.

Diam2 Toan Ki mengeluh Tjelaka, tidak djadi apa kalau rahasiaku terbongkar, tapi nona Tjiong bakal mendjadi korban djuga, ~ dan demi nampak kegarangan lawan itu, tanpa terasa ia mundur dua tindak.

Melihat langkah Toan Ki enteng tak ber-kuda2, hakikatnja seorang takbisa ilmu silat, orang she Ui itu mendjadi lebih berani.

Menjusul ia mendesak madju lagi dua tindak, goloknja pura-pura membatjok kedepan hingga gelang badja menerbitkan suara gemerintjing.

Saking ketakutan berulang Toan Ki mundur beberapa tindak, sampai achirnja punggung sudah menjandar disuatu pohon waringin.

Saat itu, beratus pasang mata orang2 Sin-long-pang sama terpusat atas diri Toan Ki, dan karena mundur beberapa tindak, walaupun belum kentara samarannja, namun sudah djelas kelihatan kalau dia takbisa ilmu silat.

Banjak diantara orang Sin-long-pang saling berbisik membitjarakan hal itu dengan heran.

Bok-kohnio, kata Sikong Hian kemudian.

Silahkan kau beri adjaran sedikit pada Ui-hiati itu.

Tjuma sukalah nona berlaku murah hati, asal menjentuh badan, lantas sudahi.

Aku takbisa menjentuh badan sadja, sekali turun tangan, pasti bereskan njawanja, kata Toan Ki.

Makanja, hai, orang she Ui, lebih baik kau undurkan diri sadja.

~ walaupun bitjaranja masih angkuh sekali, namun suaranja sudah gemetar hingga kentara rasa hatinja jang ketakutan.

Silahkan, memangnja djiwa orang she Ui bolehnja hidup diudjung sendjata, bentak djago she Ui itu mendadak sambil atjungkan goloknja.

Djangan bergerak, seru Toan Ki berlagak garang.

Sekali aku turun tangan, seketika djiwamu bakal melajang.

Maka kunasihatkan kau undurkan diri sadja lebih selamat.

Silahkan nona memberi adjaran, sahut djago she Ui itu.

Dan demi nampak kedua kaki Toan Ki rada gemetar, tanpa bitjara lagi goloknja jang tebal besar itu terus membatjok kedada Toan Ki.

Tjuma nama Hiang-yok-djeh sesungguhnja teramat disegani, maka serangan ini masih pura2 sadja, ketika beberapa senti golok itu hampir mengenai dada Toan Ki, mendadak ia bilukan arahnja kesamping, sret, badju hitam dipundak kiri Toan Ki jang terpapas sebagian.

Karuan Toan Ki terkedjut, sementara itu punggungnja sudah kepepet dibatang pohon, untuk mundur lagi terang sudah buntu, diam2 ia mengeluh tjelaka, tjepat ia berteriak.

Nona Tjiong, Le ...

lekas kau melarikan diri!

Sudah lama Tjiong Ling berkenalan dengan Bok Wan-djing, maka begitu lihat perawakan Toan Ki, tingkah-laku dan lagak-lagunja, sangat berbeda daripada Bok Wan-djing, sedjak tadi gadis itu sudah tahu Hiang-yok-djeh palsu, tjuma tak diketahuinja siapa gerangan pemalsu itu.

Kini demi mendengar suara teriakan Toan Ki, seketika ia kenal pemuda itu, serunja ketelandjur.

Djadi kau adalah ......

adalah Toan ....

Belum djadi diutjapkannja, mendadak golok djago she Ui tadi sudah menjamber lagi hingga badju dilengan kanan Toan Ki terkupas pula sebagian.

Haha!

orang she Ui itu ter-bahak2.

Hiang-yok-djeh, harini aku djusteru ingin melihat wadjahmu jang sebenarnja, apakah setjantik bidadari, ataukah djelek seperti Yok-djeh (genderuwo)?

Dengan tertawa segera seorang kawannja menanggapi dari samping.

Diberi nama Yok-djeh, tentunja seorang genderuwo tua bangka, kalau tidak, mengapa selalu mengerudungi muka sendiri.

Melihat dua kali batjokan kawannja berbasil tanpa mendapat perlawanan, bahkan Toan Ki tampak kelabakan ketakutan, karuan mereka mendjadi berani, banjak sindiran dan olok2 kasar tertjetus dari mulut mereka.

Ditengah sindir-edjek orang2 itu, mendadak golok orang she Ui itu menjamber pula kemuka Toan Ki dengan gerak tipu Giok-liong-sia-hui atau naga putih terbang miring, tjepat Toan Ki mendojong kebelakang, karena itu, kedua tangannja se-akan2 terangkat keatas.Pada suat itulah, tiba2 terdengar suara bluk, tahu2 tubuh djago she Ui jang besar itu djatuh terdjengkang, menjusul trang sekali, goloknja terpental djuga hingga gelang badja diatasnja menerbitkan suara njaring.

Ketika memandang orang she Ui itu, tampak dia sudah roboh terlentang, batok kepalanja tertantjap sebatang panah ketjil warna hitam dan tak berkutik lagi.

Dalam kedjutnja, tjepat dua orang Sin-long-pang sudah memburu madju untuk memeriksa sang kawan, demi mengetahui orang she Ui itu sudah putus njawanja, kedua orang itu mendjadi murka, dengan sendjata terhunus mereka menubruk pula kearah Toan Ki.

Tapi baru sadja tubuh mereka terapung, tiba2 terdengar suara mendesis ser-ser dua kali, tahu2 kedua orang itu terbanting kebawah hingga meringkuk bagai tjatjing, setelah keledjetan beberapa kali lalu tak bergerak lagi.

Seketika kawanan Sin-long-pang mendjadi panik, segera ada jang mengadjurkan mengerubut madju semua.

Benar djuga, lebih 20 orang sekaligus lantas menerdjang kearah Toan Ki dari berbagai djurusan.

Melihat sekelilingnja penuh musuh bersendjata dan bermuka beringas, saking ketakutan Toun Ki sampai kesima.

Tak terduga belum lagi setombak djaraknja mendekati Toan Ki, tahu2 lebih 20 orang itu sudah dipapak pula oleh samberan sendjata resia, seketika ramai dengan suara mendesis, hudjan panah terdjadi, sekedjap sadja orang2 itu sudah menggeletak terbinasa semua.

Orang2 itu adalah sisa kawanan Sin-long-pang jang masih kuat, tapi sekedjap sadja mati semua, karuan Sikong Hian sangat terkedjut.

Apalagi sebelumnja sudah berpuluh anak buahnja terpagut Kim-leng-tju, sisa anak buahnja sekarang hanja tinggal kelas rendahan sadia.

Hiang ......

Hiang-yok-djeh, benar2 kau tidak bernama kosong kedji amat tanganmu!

dengan sengit Sikong Hian berkata.

Mimpipun Toan Ki tidak menjangka bahwa dalam sekedjap sadja penjerang2 sebanjak itu bisa roboh mati semua, terang diam2 ada orang telah menolongnja, tapi sekitarnja sunji-senjap, dimana bisa sembunji seorang kosen?

Ketika melihat kematian orang2 itu tjukup mengenaskan, hatinja rada tidak tega, maka katanja.

Sikong-pangtju, kau ....

kaulah jang memaksa aku, se ...

sesungguhnja aku merasa me ...

menjesal.

Sikong Hian mendjadi gusar, katanja.

Djiwa Lohu hanja satu ini, hendak bunuh hendak disembelih boleh silahkan, Sin-long-pang hantjur-lebur ditangan Sikong Hian, memangnja akupun tidak ingin hidup lagi.

Aku pasti ...

pasti tiada maksud mentjelakai kau, sahut Toan Ki menjesal.

Le ...

lekas kau bebaskan nona Tjiong sadja.

Dalam keadaan terharu, sebenarnja nada suara Toan Ki mendjadi berbeda sekali daripada suara Bok Wan-djing jang tadjam dingin.

Tapi Sikong Hian sudah kalap menjaksikan anak-buahnja habis terbunuh, tak diperhatikan lagi apa suara Toan Ki itu suara orang laki2 atau perempuan, apa tulen atau palsu, segera ia membentak pula.

Achirnja toh mati, Tio-hiati, kau bunuh dulu anak perempuan she Tjiong itu!

Anak buahnja jang she Tio itu mengia terus mendekati Tjiong Ling, golok terangkat terus membatjok kepala Tjong Ling.

Tapi belum lagi sendjata itu diajunkan, se-konjong2 suara mendesis tadi berdjangkit lagi sekali, dimana panah ketjil itu sampai, kontan orang she Tio itu roboh terdjengkang, golok membatjok dimuka sendiri hingga berlumuran darah.

Sebenarnja orang she Tio itu sudah menduga bahwa Hiang-yok-djeh pasti akan menimpukan panahnja untuk merintangi batjokannja itu, maka diwaktu membatjok, kedua matanja sudah tjurahkan seluruh perhatian kearah Toan Ki, asal tangan Hiang-yok-djeh itu sedikit bergerak, segera ia bermaksud berdjongkok ketanah untuk menghindar.

Siapa duga datangnja panah itu sebelumnja sedikitpun tiada tanda apa2.

Tadi waktu berpuluh orang mengepung Toan Ki, dalam keadaan hiruk-pikuk hudjan panah, semua orang djuga tidak djelas darimana datangnja panah berbisa itu.

Kini setjepat kilat orang she Tio itu djatuh binasa pula, darimana menjambernja panah lebih2 tiada seorangpun jang tahu.

Karuan sisa anak buah Sin-long-pang mendjadi kesima ketakutan, beberapa diantaranja jang bernjali ketjil mendjadi lemas kakinja hingga mendoprok tak bisa berdiri.

Kau lepaskan nona Tjiong, segera Toan Ki tundjuk seorang laki2 setengah umur.

Orang itu insaf bila tidak menurut perintah, sekedjab djiwanja djuga akan melajang seperti kawan2 lain.

Sekalipun disiplin Sin-long-pang tjukup keras, tapi demi keselamatan djiwa sendiri, terpaksa ia mendekati Tjiong Ling dengan takut2, ia lolos sebilah pisau dan memotong tali pengikat gadis itu.

Setelah bebas, Tjiong Ling mendekati Sikong Hian, katanja.

Keluarkan obat didalam kotak emas itu dan kembalikan kotaknja padaku.

Meski Sikong Hian sangsikan kasiat obat didalam kotak itu, tapi toh dia korek djuga semua isinja ditelapak tangan, lalu serahkan kotak kosong itu kepada Tjiong Ling.

Dalam hati ia tjoba mentjari akal bagaimana untuk melawan panah berbisa Hiang-yok-djeh.

Setelah terima kotak emas itu, kembali Tjiong Ling ulurkan tangan dan berkata.

Serahkan sini!

Apa lagi?

tanja Sikong Hian mendongkol.

Obat pemunah ratjun Toan-djiong-san, sahut Tjiong Ling.

Toan-kongtju telah memintakan obat bagimu, kau harus berikan obat pemunahnja pula.

Tergerak pikiran Sikong Hian, ia mendapat akal, serunja lantas.

Ambilkan obatnja!

~ lalu ia menjebut beberapa nama ramuan obat.

Tjepat dua anak-buahnja mengeluarkan ramuan obat jang dimintanja itu dari peti obat.

Setelah ditjampur dan dibungkus.

Sikong Hian berkata pula.

serahkan pada nona Tjiong.

Setelah terima obat itu, Tjiong Ling berkata.

Kalau obat ini tidak mandjur, akan kubunuh habis Sin-long-pang kalian!

Sudah tentu obat ini tidak bisa menjembuhkan ratjun Toan-djiong-san.

sahut Sikong Hian dingin.

Apa katamu?

tanja Tjiong Ling terkesiap.

Obat ini hanja bisa menunda bekerdjanja ratjun Toan-djiong-san selama tudjuh hari, habis itu, kalau Lohu tidak mati, bolehlah kau minta obat pemunahnja padaku, sahut Sikong Hian.

Sungguh gusar Tjiong Ling tidak kepalang.

ia berpaling pada Toan Ki dan berkata.

Bok-tjitji, tua bangka ini tidak bisa dipertjaja omongannja, boleh kau panah mampus dia.

Tapi didunia ini hanja Lohu seorang jang sanggup meratjik obat pemunah Toan-djiong-san, kata Sikong Hian.

Toan Ki mendjadi kuatir mendengar itu, pikirnja.

Obat jang kuberikan padanja memangnja palsu hanja adukan dari sisa nasi dan tanah, dengan sendirinja takkan mandjur, kalau nanti ratjun Kim-leng-tju didalam tubuhnja bekerdja, seketika dia akan mati, lalu bagaimana baiknja?

Tjiong Ling tjoba memandang Toan Ki tanpa berdaja, dalam gugupnja tiba2 timbul sifat keremadjaannja, tangan Sikong Hian terus ditariknja sambil berkata.

Sikong-pangtju, marilah kau ikut aku pergi mendjenguk Toan-kongtju.

Hai matjam apa pakai tarik2 begini?

seru Sikong Hian gusar.

Toan-kongtju saat ini tentunja berada dirumahku, marilah kita pergi melihatnja, sahut Tjiong Ling.

Pabila ratjun Kim-leng-tju terdjadi apa2 dalam tubuhmu, ajah bisa djuga mengobati kau.

Toan Ki pikir akal sigadis itu bagus sekali, maka iapun berkata dengan dingin.

Marilah kita berangkat bersama, kau takkan mati!

Sikong Hian memandang sekedjap padanja, ia pikir kalau membangkang hingga membikin marah Hiang-yok-djeh, bukan mustahil djiwanja akan melajang dibawah panah beratjun orang.

Tapi dirinja adalah seorang Pangtju, anak buahnja sudah banjak jang djadi korban, kini dirinja kena dibekuk orang pula, apa djadinja kalau kelak djiwanja selamat?

Karena itu, ia mendjadi serba sulit.

Sikong-pangtju, Tjiong Ling mendjadi tak sabar terus menjeret orang, marilah berangkat lekas!

Kau sendiri boleh minum obat pemunah itu dulu, sisanja berikan anak buahmu.

Walaupun ragu2 namun Sikong Hian minum juga sebagian obat pemunah tadi; ia kuatir kasiat obat kurang mandjur, maka sebagian besar ia minum sendiri, sisanja tinggal sedikit baru diberikannja pada anak buahnja.

Tanpa bitjara lagi Tjiong Ling terus menjeret pergi Pangtju Sin-long-pang jang sial itu.

Walaupun terluka parah, tapi kalau Sikong Hian mau kipatkan tangan Tjiong Ling, dengan mudah ia bisa bebaskan diri.

Tjuma pertama ia djeri pada Hiang-yok-djeh jang ganas itu, kedua kuatir obat pemunah jang telah diminum tadi tidak mandjur, biarpun bisa loloskan diri, achirnja djuga mati, maka ada baiknja djuga ikut pergi dengan mereka, mungkin masih ada harapan buat hidup.

Maka katanja kemudian.

Memangnja aku ingin bertemu dengan ajahmu, ingin aku minta keadilan padanja.

~ Habis mengutjapkan kata2 jang bersifat menutupi malunja itu, segera ia bertindak lebih dulu.

Tjepat Tjiong Ling menggondel lengan ketua Sin-long-pang.

Ketika lewat disamping Toan Ki, sekalian ia gandeng tangan pemuda itu pula.

Melihat sang Pangtju diseret pergi orang, sisa anak buah Sin-long-pang mendjadi ribut dan bisik2 membitjarakannja.

Karuan Sikong Hian merasa malu dan menundukkan kepala.

Dengan bungkam Tjiong Ling menggandeng tangan kedua orang berdjalan terus, diam2 ia memikir.

Kalau kubongkar rahasia Toan-kongtju, tentu situa Sikong Hian ini akan berontak dan kami berdua terang bukan tandingannja.

Tjuma Bok-tjitji terang bersembunji disekitar sini, tadi anak buah Sin-long-pang banjak jang terbunuh, dengan sendirinja adalah perbuatannja.

Berpikir begitu, segera ia berseru dengan suara sengadja diperkeras.

Banjak terima kasih atas pertolongan Bok-tjitji tadi.

Toan Ki terperandjat ketika mendadak mendengar seruan sigadis, setelah tenangkan diri, dengan suara jang di-buat2 iapun mendjawab.

Ah, orang sendiri tak perlu sungkan2.

Huh, masih berani bersandiwara, pikir Tjiong Ling geli, Tiba2 ia puntir tangannja hingga Toan Ki kesakitan, hampir2 ia mendjerit.

Ketika melirik sigadis, tampak Tjiong Ling lagi mesam2 geli.

Berbareng itu, diam2 gadis itu telah djedjalkan kotak emas dan bungkusan obat pemunah jang diterimanja dari Sikong Hian tadi ketangan Toan Ki.

Toan Ki tahu gadis itu sudah mengetahui rahasianja, maka mengangguk tanda terima kasih.

Pada saat itulah, tiba2 didjurusan barat sana ada suara suitan seorang, menjusul sebelah selatan ada suara orang tepuk2 tangan pula.

Habis itu, sesosok bajangan setjepat terbang tampak memapak dari depan.

Kira2 beberapa meter didepan Toan Ki bertiga, mendadak orang itu berhenti dan membentak dengan suaranja jang serak.

Hiang-yok-djeh, emangnja kau bisa larikan diri?

~ dari suaranja itu, Toan Ki dapat mengenali adalah Sam-tjiang-tjoat-beng Tjin Goan-tjun, siradja pengamuk sungai.

Pada saat lain, terdengar pula suara seorang tertawa dingin dibelakang, waktu Toan Ki menoleh, dibawah sinar bulan jang remang2 tampaklah seorang nenek dengan tangan menghunus golok dan tangan lain sebatang gurdi badja jang bersinar kemilauan.

Tjelaka!

diam2 Toan Ki mengeluh.

Semoga Bok-kohnio lekas datang menolong!

~ seketika ia mendjadi bingung, tetap memalsukan nama Hiang-yok-djeh ataukah membuka badju hitam mengundjukan muka aslinja sendiri?

Sedang ragu2 sementara itu dari kanan-kiri sudah bertambah lagi masing2 seorang.

Jang sebelah kiri adalah seorang Hwesio tua berdjubah kuning, membawa sendjata Hong-pian-djan atau sekop serba guna, suatu alat jang lazim dibawa kaum paderi.

Dan orang jang disebelah kanan kurang djelas wadjahnja, agaknja seorang laki2 jang berusia belum landjut, punggung menggembol pedang.

Ternjata dalam sekedjap sadja Toan Ki alias Hiang-yok-djeh palsu, sudah terkepung dari empat djurusan.

Ia kenal Tjin Goan-tjun, sinenek dan Hwesio itu adalah pengerojok2 dirumah Bok Wan-djing, kini mengedjar pula sampai disini, dengan sendirinja laki jg satunja tentu adalah komplotan mereka djuga.

Kalian hendak tjari Bok-tjitji, bukan?

tanja Tjiong Ling tiba2.

Benar, sahut sipaderi.

Siapakah nona ini dan Tjianpwe itu?

Silahkan menjingkir kesamping sadja.

Belum lagi Tjiong Ling mendjawab, tjepat Sikong Hian sudah menimbrung.

Taysu tentu adalah Hui-sian Taysu dari Siau-lim-si, bukan?

Dan jang ini tentunja No-kang-ong Tjin-loyatju, dan jang itu adalah Sin-si popo.

Tjayhe Sikong Hian dari Sin-long-pang.

Maafkan kedangkalan pengalamanku, numpang tanja siapakah nama jang mulia dari saudara jang ini?

Laki2 tak dikenal itu melangkah madju dua tindak hingga wadjahnja kini djelas kelihatan, lalu sahutnja.

Tjayhe she Su ............

Ah, kiranja adalah Oh-pek-kiam Su An, Su-tayhiap!

belum orang selesai memperkenalkan diri, tjepat Sikong Hian sudah memotong.

Selamat bertemu, selamat bertemu!

Su An itu balas menghormat orang, sahutnja.

Sudah lama mendengar nama besar Sikong-pangtju dari Sin-long-pang, betapa bahagia harini bisa berdjumpa disini.

Toan Ki kini dapat melihat usia Su An itu kira2 baru 30-an tahun, perawakannja sedang, tapi gagah perkasa, djiwa kesatrianja tampak njata pada sikapnja jang agung, berbeda sekali dengan sifat Tjin Goan-tjun dan Sin-sipopo jang sombong takmau kalah itu.

Diam2 timbul rasa suka Toan Ki pada pendekar muda itu.

Sebagai seorang tokoh Bu-lim jang sudah lama menetap didaerah Hun-lam, banjak djuga nama djago2 silat terkemuka jang dikenal Sikong Hian, tjuma sedikit jang tak dikenalnja, Diantara empat tokoh itu hanja Tjin Goan-tjun jang sudah pernah bertemu, ketiga orang jang lain hanja dikenalnja dari sendjata serta diterka dari umur mereka, tapi njatanjapun tepat dugaannja.

Ia tahu betapa lihay ilmu pukulan Tjin Goan-tjun, sedang Hui-sian Taysu itu adalah satu diantara delapan Hou-hoat atau pembela agama, dari Siau-lim-si, ilmu permainan Hong-pian-djan terhitung nomor satu dikalangan murid Budha.

Sin-sipopo mempunjai kepandaian tunggal juga dengan goIok dan gurdi badjanja jang dimainkan berbareng dengan ganas dan kedji.

Su An jang terkenal dengan djulukan Oh-pek-kiam atau pedang hitam-putih, paling achir ini namanja sangat tjemerIang didaerah Kanglam.

Walaupun ilmu silatnja jang sedjati belum diketahui sampai dimana tinkatannja, namun dapat diduga pasti bukan segala matjam djago silat kerutjuk.

Jang paling kebetulan adalah keempat tokoh ini sekaligus datang mentjari Hiang-yok-djeh, tentu sadja Sikong Hian tidak sia2kan kesempatan bagus ini untuk memindjam tenaga keempat tokoh itu agar melenjapkan suatu penjakit bagi dunia persilatan.

Dengan keputusan itulah, segera ia pura2 angkat tangan memberi hormat sambil berkata.

Dan entah ada keperluan apakah kedatangan kalian berempat ini ke Bu-liang-san sini?

~ berbareng itu, tanpa menunggu djawaban Tjin Goan-tjun berempat, terus sadja ia kipatkan tangannja hingga Tjiong Ling dan Toan Ki tergentak mundur, bahkan Toan Ki jang takbisa ilmu silat terus terdjungkal roboh.

Sementara itu Sikong Hian sudah lantas melompat kesamping.

Tapi karena ratjun Kim-leng-tju teramat berat mengeram dalam tubuhnja, kakinja masih terasa lemas, ia sempojongan dan hampir2 djatuh.

Semula Hui-sian berempat mengira Sikong Hian adalah begundalnja Bok Wan-djing, walaupun tahu ilmu silatnja belum termasuk kelas wahid, tapi Sin-long-pang adalah suatu klik jang paling berkuasa didaerah Hunlam, orangnja banjak, pengaruhnja besar, suka main obat ratjun dan asap berbisa, untuk itu agak susah djuga untuk dilawan.

Kini demi nampak Sikong Hian melompat menjingkir dengan sempojongan, baru mereka tahu Pangtju Sin-long-pang itu sudah terluka parah.

Sekali Sikong Hian putar tubuh sambil bersandar disamping Hui-sian, ia berkata dengan pilu.

Teramat kedji tjara turun tangan Hiang-yok-djeh, sekaligus berpuluh anak-buah Sin-long-pang sudah mendjadi korban keganasannja, sakit hati Tjayhe ini pasti kubalas.

Nona tjilik, segera Hui-sian berkata pula.

Lekas kau menjingkir kesamping.

Kalian takkan mampu melawan Bok-tjitji, lebih baik lekas pergi sadja, sahut Tjiong Ling.

Dia adalah puterinja Kian-djin-tjiu-sat Tjiong Ban-siu.

Sikong Hian tjoba mengkisiki Hui-sian.

Kabarnja ajahnja masih hidup, paling baik kalau tawan dia sadja.

~ njata dibalik itu ia ingin Hui-sian dapat menawan Tjiong Ling sebagai djaminan agar kelak Tjiong Ban-siu terpaksa mengobati ratjun Kim-leng-tju didalam tubuhnja itu.

Mendengar Kian-djin-tjiu-sat Tjiong Ban-siu masih hidup, Hui-sian rada tertjengang.

Ia tahu iblis besar itu sangat susah dilawan, sekali terlibat bermusuhan dengan dia, selandjutnja Siau-lim-pay pasti takkan pernah aman, maka sesungguhnja ia tidak ingin mengikat musuh lihay itu.

Mendadak ser sekali, Hong-pian-djan atau sekop serba guna, menjamber keatas kepala Tjiong Ling.

Tjepat gadis itu mengegos, tak terduga sekop itu terus ditarik kembali hingga punggung sekop menggantol ditengkuk sigadis.

Djurus serangan itu disebut Sui-ong-sit-hoan atau seperti kedepan, tapi sebenarnja kembali.

Jaitu suatu tipu paling lihay diantara 36 djurus Hok-mo-djan-hoat atau ilmu-sekop penakluk iblis.

Gerak tipunja diluar dugaan orang, tjepatnja luar biasa pula, maka musuh susah menghindarkan diri.

Ketika Tjiong Ling mendjerit kaget, tahu2 punggung sekop sudah mendempel tengkuknja.

Sekonjong2 sinar putih berkelebat, tjring sekali, Su An telah lolos pedang menjampok djatuh sebuah panah ketjil.

Sementara itu Hui-sian sudah tarik sekopnja hingga Tjiong Ling ikut terseret kesampingnja, sekali pegang, tangan kiri Hui-sian telah pentjet pergelangan tangan kanan sigadis hingga takbisa berkutik, lalu katanja.

Terima kasih atas pertolongan Su-tayhiap.

~ pabila membajangkan kedjadian barusan, tanpa tertahan paderi itu berkeringat dingin, tjoba kalau Su An tidak awas dan tjekatanhingga panah gelap itu disampok djatuh, mungkin djiwanja sekarang sudah melajang.

Tampak Su An berpaling kearah datangnja panah gelap itu sambil membentak.

Silahkan keluar sadja, Bok-kohnio!

Diam2 Tjin Goan-tjun dan lain2 sama malu diri.

Kiranja orang berbadju hitam ini bukan Hiang-yok-djeh, untung Su An tjukup tjerdik dan tjekatan.

Ketika mereka memandang kearah datang panah itu, namun disitu sunyi-senjap gelap gelita tiada bajangan seorangpun.

Mendadak, disebelah kiri terdengar suara tak sekali, sepotong batu kelihatan djatuh ditanah, tjepat semua orang berpaling, tapi pada-saat jang sama, kembali terdengar suara mendesisnja panah menjamber, tjring, lagi2 Su An menjampok dengan pedang hinggasebatang panah ketjil jang mengintjar belakang kepala Sin-sipopo dapat dihantam djatuh.

Ternjata sehabis menjerang Hui-sian, tjepat penjerang tadi sudah mengisar kekanan, ia pantjing orang memandang kekiri dengan sepotong batu, berbareng membokong Sin-sipopo pula.

Karuan nenek itu terkedjut dan gusar, ia putar goloknja dengan kentjang hingga tubuhnja se-akan2 terbungkus segulung sinar putih, terus menerdjang kesemak2 rumput disebelah kanan sana.

Rumput alang2 disitu menjadi bertebaran kena dipapas goloknja, tapi tiada bajangan seorangpun kelihatan.

Tiba2 terdengar Su An bersuit njaring, segera ia melajang keatas sebatang pohon besar diarah barat sana, menjusul terdengarlah suara trang-treng beberapa kali, sekaligus pedang Su An ternjata sudah menjerang empat djurus kepada musuh.

Selagi Hui-sian pentang mata dan pasang kuping mengikuti pertarungan kawan diatas pohon itu, mendadak dari udara menubruk turun sesosok bajangan hitam keatas kepalanja.

Tjepat djuga reaksi Hui-sian, sekali tangan kanan terangkat, Hong-pian-djan lantas menjabet kearah bajangan itu.

Namun bajangan itu sempat menutul kakinja kebatang sekop sipaderi, dengan tenaga endjotan itu, pedangnja tahu2 menusuk Sin-sipopo atau Sin Si-nio nama sebenarnja.

Sekuat tenaga Sin Si-nio ajun goloknja menangkis, sret sekali, tahu2 udjung golok telah putus tertabas pedang musuh, menjusul sinar pedang musuh masih terus mengarah kemukanja.

Karena tak keburu menolong, tjepat Tjin Goan-tjun memukul ke punggung musuh.

Agaknja orang itupun tahu betapa lihay ilmu pukulannja Tjin Goan-tjun, maka tidak berani menangkis dari depan, tjepat pedangnja menepok dipundak Sin Si-nio, sekali tahan, sekali lontjat, dengan enteng orangnja sudah melontjat pergi.

Kalau orang itu tidak terpaksa, oleh karena digentjet oleh pukulan Tjin Goan-tjun dari belakang, tentu pedangnja itu tidak menepok, tapi memapas, dan tentu tubuh Sin Sin-nio sudah terbelah mendjadi dua.

Namun walaupun sudah dua kali hampir2 djiwanja melajang, Sin Si-nio masih belum kapok, ia menubruk madju pula dengan kalap.

Berbareng itu Tjin Goan-tjun dan Hui-sian pun merangsang dari kanan-kiri.

Tapi biarpun dikerojok tiga orang, orang itu masih bisa menjusur kian kemari diantara kawan2 itu dengan lintjah dan luwes, njata itulah dia Hiang-yok-djeh tulen jaug telah datang.

Sementara itu Su An sudah melompat turun dari atas pohon, tapi ia tidak ikut mengerojok sebaliknja masukan pedangnja kesarung, lalu berdiri disamping untuk menonton.

Su-heng, kata Toan Ki tiba2 mendekati Su An, harap kau suruh mereka djanganlah berkelahi.

Sungguh diluar dugaan Su An utjapan Toan Ki itu.

Ia tjoba melirik Hiang-yok-djeh palsu itu, lalu bertanja.

Siapakah saudara sebenarnja?

Tjayhe bernama Toan Ki.

Sungguh Tjayhe tidak paham pertjektjokan diantara Bok-kohnio dengan kalian ini, demikian sahut Toan Ki.

Tjuma tjara bertempur mati2an begini, rasanja bukanlah djalan jang sempurna.

Salah atau benar, seharusnja bisa diselesaikan setjara berunding sadja.

Su An memandang sekedjap pula kepada pemuda itu, pikirnja.

Benar djuga utjapannja ini.

Tapi pertjektjokan diantara orang Kangouw, selamanja diselesaikan dalam ilmu silat, pabila pakai berunding segala, buat apa lagi orang beladjar silat.

~ Toan Ki?

Siapakah dia ini, belum pernah kudengar nama seorang tokoh demikian.

Dan selagi ia hendak menanja Toan Ki pula, tiba2 terdengar Tjiong Ling sedang memanggil pemuda itu disebelah sana.

Segera Toan Ki mendekati gadis itu dan menanja.

Ada apa?

Marilah lekas kita lari, kalau ajal mungkin tak keburu lagi, adjak sigadis.

Tapi Bok-tjitji lagi dikerojok orang, mana boleh kita tinggal lari?

sahut Toan Ki.

Kepandaian Bok-tjitji teramat lihay, dia tentu ada djalan buat loloskan diri, udjar Tjiong Ling.

Namun Toan Ki masih geleng2 kepala, katanja.

Tidak, dia datang untuk menolong djiwa kita, kalau kita tinggal pergi begini sadja, hatiku merasa tidak enak.

Tolol, omel sigadis mendongkol.

Kau tinggal disini, apakah kau bisa membantu Bok-tjitji?

Dalam pada itu Tjin Goan-tjun, Sin Si-nio dan Hui-sian bertiga masih sengit menempur Bok Wan-djing.

Kedua telapak tangan Tjin Guan-tjun sedemikian gentjar mengerahkan tenaga2 pukulannja.

Sekop serba guna Hui-sian menjamber kian kemari dengan hebat, golok Sin Si-nio pun tidak ketinggalan membatjok dan membabatdimana ada lubang.

Namun Bok Wan-djing tampak sedikitpun tidak kewalahan, bahkan pertjakapan Toan Ki dengan Su An dan Tjiong Ling barusan dapat diikutinja semua.

Ia dengar Toan Ki sedang berkata pula.

Tjiong-kohnio, bolehlah kau lari dulu.

Bukanlah semestinja aku mengingkari kebaikan Bok-tjitji dengan meninggalkannja dibawah kerojokan orang, Biarlah kutinggal disini, bila achirnja ternjata Bok-tjitji takbisa melawan mereka, aku akan menasihati mereka dengan omonqan baik2, boleh djadi keadaan masih bisa dikendalikan.

Masih kau berlagak?

Paling2 djiwamu akan ikut melajang nanti!

seru Tjiong Ling gusar.

Memangnja djiwaku ini sedjak tadi sudah melajang kalau bukan ditolong oleh Bok-tjitji, aku orang she Toan kalau lupa pada kebaikan orang, ajah dan pamanku sendiri djuga takkan mengampuni aku, sahut Toan Ki tegas.

Tolol benar2!

Pertjuma banjak bitjara dengan kau!

kata sigadis.

Terus sadja ia tarik tangan pemuda itu dan diseret lari.

Tidak, tidak!

Aku tak mau pergi!

teriak Toan Ki.

Tapi tenaga Tjionq Ling lebih kuat daripadanja, ia mendjadi sempojongan kena diseret oleh gadis itu.

Melihat itu, diam2 Su An ter-heran2, pikirnja.

Orang ini terang sedikitpun takbisa ilmu silat, tapi djiwa setia kawannja sungguh harus dipudji.

Lama mendengar bahwa Hiang-yok-djeh ganas dan kedji, tiada punja seorang teman, entah mengapa orang she Toan ini sedemikian berani hendak bitjara tentang kebaikan dan setia kawan dengan momok perempuan itu?

Pada saat itu, tiba2 terdengar Bok Wan-djing berseru.

Tjiong Ling, kau sendiri lekas enjah, dilarang kau menjeret dia!

Tjiong Ling semakin ketakutan, ia seret Toan Ki terlebih tjepat.

Mendadak terdengar suara mendesing sekali, tahu2 diatas konde Tjiong Ling menantjap sebatang panah ketjil.

Berbareng terdengar Bok Wan-djing membentak.

Kalau kau tidak lantas lepaskan dia, awas, akan kupanah bidji matamu!

Tjiong Ling kenal watak Bok Wan-djing, sekali berkata, tentu bisa dilakukannja djuga, tidak pernah beromong main2.

Djika masih bandel, bukan mustahil bidji matanja akan dipanah sungguh2.

Karena itu, terpaksa Tjiong Ling lepaskan tangan Toan Ki.

Lekas kau enjah pulang kerumah, lekas!

bentak Bok Wan-djing pula.

Tjiong Ling tak berani membantah, katanja pada Toan Ki.

Toan-heng, harap kau djangan berbuat kedjahatan, djagalah dirimu baik2.

~ Habis bitjara, dengan rasa berat.

ia berlari pergi dan sekedjap sadja sudah menghilang ditempat gelap.

Tunggu dulu, Tjiong-kohnio!

gembor Sikong Hian.

Obat pemunah dari ajahmu tadi mandjur atau tidak?

Mana Tjiong Ling mau peduli.

Segera Sikong Hian bermaksud mengedjar, tapi baru melangkah dua tindak, kaki sendiri terasa lemas dan djatuh mendoprok.

Sambil membentak pergi Tjiong Ling, Bok Wan-djing tetap berkeliaran kian kemari diantara ketiga pengerojoknja dengan tjepat, tetap ia masih diatas angin.

Menjaksikan itu diam2 Su An me-nimang2.

Kegesitan perempuan ini ternjata masih djauh diatas kepandaianku.

Hanja dalam hal ilmu pedang belum tentu dia mampu melawan aku.

~ Dan karena mendjaga martabat sendiri, ia tidak sudi ikut mengerojok seorang gadis, ia tunggu bila nanti ketiga orang itu dikalahkah baru ia sendiri akan madju.

Tak lama lagi mendadak permainan pedang Bok Wan-djing berubah, sinar pedang menjamber kesana-kesini bagai hudjan mentjurah dari langit dan susah ditentukan arah serangannja.

Su An terkedjut, serunja.

Kiam-hoat bagus!

Ditengah sorak pudjiannja itu, tiba2 terdengar Hui-sian mendjerit sekali, iganja telah kena tusukan pedang.

Menjusul pedang Bok Wan-djing menjamber pula kedepan be-runtun2 tiga kali hingga Tjin Goan-tjun dipaksa melompat keluar kalangan untuk menghindar.

Ketika arah pedang Bok Wan-djing berganti pula, tanpa ampun lagi Sin Si-nio sudah terkurung ditengah sinar pedangnja.

Tampaknja sekedjap pula djiwa Sin Si-nio pasti akan pergi menghadap radja acherat, Su An tidak bisa tinggal diam lagi, tjepat pedangnja bergerak, bagai kilat menjamber, ia menjela diantara lingkaran sinar pedang Bok Wan-djing, maka terdengarlah suara gemerintjing beberapa kali, kedua pedang saling beradu beberapa kali dengan ketjepatan luar biasa.

Meski Su An tepat turun tangan pada waktunja, namun tidak urung tubuh Sin Si-nio toh terluka tiga tempat.

Sedikitpun nenek itu tidak menghiraukan luka itu, dengan kalap ja menubruk pula kearah Bok Wan-djing.

Dalam pada itu pedang Bok Wan-djing sedang bertempelan dengan pedang Su An.

Sedjak gebrakan diatas pohon tadi, ia sudah tahu ilmu pedang orang tidak boleh dibuat mainan, maka begitu Su An terdjun kekalangan pertempuran, antero perhatiannja sudah ditjurahkan pada lawan tangguh ini, sedikitpun tidak berani ajal.

Siapa duga tjara bertempur Sin Si-nio itu ternjata sedemikian nekadnja mengadu djiwa, begitu menubruk madju, ia djatuhkan diri terus menggelundung kesamping Bok Wan-djing, gurdi badja ditangan kanan terus menikam kebetis lawan itu.

Sjukur Bok Wan-djing sempat ajun kakinja dan berbalik Sin Si-nio terdepak pergi.

Dan karena sedikit ajal itu, tusukan pedang Su An sudah sampai didepan mukanja.

Dalam detik maha bahaja itu, pedang Bok Wan-djing setjepat kilat menangkis keatas, ia insaf menjusul mana serangan2 musuh pasti akan lebih gentjar, maka ia tidak mau didahului, berbareng 3-4 djurus mematikan terus dilontarkan kearah Su An.

Tjara serangan Bok Wan-djing itu adalah, dalam keadaan kepepet, musuh terpaksa harus menjelamatkan diri sendiri lebih dulu.

Maka terpaksa Su An berkelit sambil menarik kembali pedangnja mendjaga diri.

Melihat gerakan musuh itu.

Bok Wan-djing menarik napas lega.

Selagi hendak ganti serangan pula, mendadak bles, pundak kiri terasa kesakitan, ternjata kesempatan tadi telah digunakan Sin Si-nio untuk menikamkan gurdi badjanja.

Tapi Bok Wan-djing pun tidak tinggal diam, kontan tangannja menggablok kebelakang hingga muka Sin Si-nio seketika hantjur luluh dan terbinasa.

Sementara itu Tjin Goan-tjun dan Hui-sian lantas mengerubut madju lagi hingga keadean kembali mendjadi tiga-lawan satu.

Hai, hai!

Tiga laki2 mengerojok seorang perempuan, apa kalian tidak merasa malu?

segera Toan Ki bergembar-gembor.

Memangnja Su An ada maksud menarik diri dari pertempuran kerojokan itu, demi mendengar teriakan Toan Ki, seketika ia melompat mundur setombak djauhnja sambil berseru.

Bok Wan-djing, lekas kau buang pedangmu dan menjerah sadja!

Tapi semakin gentjar permainan pedang Bok Wan-djing, ia tidak sempat mentjabut gurdi badja jang menantjap dipundaknja itu, dengan menahan sakit, setjepat kilat ia serang Tjin Goan-tjun dua kali dan menusuk Hui-sian sekali.

Betapa lihay ketiga djurus serangan itu, tanpa ampun lagi pipi kanan Tji Goan-tjun kontan tersajat suatu garis luka, begitu pula leher Hui Sian letjet keserempet pedang.

Walaupun luka kedua orang hanja enteng sadja, tapi tempat jang terluka itu adalah tempat mematikan, sedikit ajal tadi, djiwa mereka tentu sudah melajang.

Saking kagetnja kedua orang, berbareng mereka melompat pergi dengan napas memburu.

Sajang, sajang!

diam2 Bok Wan-djing gegetun tak berhasil mampuskan kedua lawan itu.

Tiba2 ia bersuit njaring, lalu terdengar suara derapan kuda, tahu2 Oh-bi-kui muntjul dari balik bukit sana.

Sekali tjemplak, Bok Wan-djing melompat keatas kuda itu.

Ketika lewat disamping Toan Ki, sekali ulur tangan, Bok wan-djing telah tjengkeram tengkuk Toan Ki dan diangkat keatas kuda pula.

Dua orang setunggangan terus berlari kebarat dengan tjepat.

Tidak djauh, se-konjong2 dari hutan ditepi djalan hiruk-pikuk dengan bentakan orang, berpuluh orang mendadak melompat keluar menghadang ditengah djalan.

Seorang kakek tinggi besar jang berdiri ditengah lantas membentak.

Hiang-yok-djeh!

Sudah lama Lotju menunggu disini!

~ berbareng tali kendali simawar hitam terus hendak ditariknja.

Namun sedikit Bok Wan-djing kesampingkan kudanja, berbareng tangan lain mengajun, tiga panah ketjil terus dibidikan.Kontan diantara gerombolan penghadang itu terdjungkal tiga orang.

Tengah kakek tadi terkesiap oleh serangan mendadak itu, Bok Wan-djing sudah sendal tali kendalinja hingga Oh-bi-kui se-konjong2 melompat kedepan melalui atas kepala gerombolan orang itu.

Dan sekali simawar hitam sudah mentjongklang, manabisa lagi kawanan penghadang itu mengedjarnja?

Sebenarnja tidak kurang djago2 pilihan diantara para penghadang itu, tapi semuanja djeri panah berbisa Bok Wan-djing jang lihay, walaupun masih tjoba mengudak djuga, namun sebentar sadja mereka sudah ketinggalan djauh.

Toan Ki mendengar gerombolan orang itu mentjatji-maki kalang-kabut dibelakang.

Perempuan bangsat, para kesatria Hok-gu-tjeh tidak ingin hidup ber-sama2 kau!

~ Marilah kedjar, kawan2!

Bekuk perempuan bangsat itu dan tjintjang dia untuk membalas sakit hati Tjo-toako!

Suara tjatji-maki itu lambat-laun mendjauh dan tidak terdengar lagi.

Tapi rasa dendam kesumat jang terkandung didalam tjatji-maki itu masih terus mengiang ditelinga Toan Ki.

Selama beberapa hari ini ia sudah banjak mengalami bahaja2, tapi tjatji-maki dengan rasa dendam jang tak terhimpas baru sekali ini jang paling hebat.

Karena itu, diam2 iapun mengkirik.

Bok Wan-djing membiarkan Oh-bi-kui berlari sesukanja dilereng gunung jang gelap itu.

Sampai disuatu bukit, ia lihat didepan sana ada djurang, terpaksa ia turun kuda untuk mentjari djalan lain.

Djalan pegunungan di Bu-liang-san itu ternjata ber-liku2, mendadak didepan sana ada suara seruan orang pula.

Itu dia, kudanja sudah kelihatan!

~ Awas, tjegat sebelah sana!

~ Ja, djangan sampai perempuan hina itu lolos lagi!

Dalam keadaan terluka, Bok Wan-djing tidak ingin bertempur lagi, tjepat ia bilukan kuda kearah lain.

Walaupun bukan lagi djalan pegunungan, sjukur simawar hitam tjukup tangkas, dilereng bukit jang penuh batu2 padas itu ia masih berlari setjepat terbang.

Setelah berlari2 tak lama lagi, mendadak kaki depan simawar mendeprok, lututnja kesandung sepotong batu padas, seketika larinja mendjadi lambat dengan kaki pintjang binatang itu mulai tampak pajah.Toan Ki mendjadi kuatir, katanja.

Bok-kohnio, harap kau turunkan aku sadja, biar kau sendiri mudah melarikan diri.

Aku tiada permusuhan apa2 dengan mereka, andaikan aku tertangkap djuga tidak mengapa.

Hm, kau tahu apa?

djengek Bok Wan-djing.

Djika kau tertangkap orang Hok-gu-tjeh, biarpun sepuluh njawamu djuga akan melajang.

Tapi mereka teramat dendam pada nona, ada lebih baik nona menjelamatkan diri lebih dulu, udjar Toan Ki.

Memangnja pundak Bok Wan-djing lagi kesakitan, Toan Ki masih terus mentjerotjos sadja, karuan nona itu mendjadi gusar.

Hendaklah kau tutup mulut, djangan banjak bitjara.

Toan Ki tertawa, sahutnja.

Tempo hari aku tidak suka bitjara, kau djusteru paksa aku buka mulut.

Kini aku adjak bitjara padamu, kau melarang aku malah.

Ai, kau nona ini benar2 susah diladeni.

Saking kesakitan, Bok Wan-djing mendjadi gemas, sekali tjengkeram, pundak Toan Ki diremas hingga berkeriutan, djika keras lagi sedikit, boleh djadi tulang pundak Toan Ki akan remuk.

Ja, sudahlah, aku takkan buka mulut lagi!

tjepat Toan Ki berteriak sambil meringis.

Tiba2 simawar hitam telah mendaki suatu djalan pegunungan, karena djalanan itu tjukup rata, djalan binatang itu mendjadi tjepat.

Sementara itu sudah mendjelang fadjar, tjuatja sudah remang2.

Toan Ki dapat mengenali djalanan itu, katanja.

He, djalanan ini adalah menudju ke Kiam-oh-kiong, apakah nona ada permusuhan dengan orang Bu-liang-kiam?

~ ia merasa dengan segala orang Bok Wan-djing suka bermusuhan, andaikata tiada permusuhan dengan Bu-liang-kiam, rasanja nona itu djuga tak mungkin bersahabat dengan mereka.

Maka Bok Wan-djing mendjawab.

Hm, untuk bermusuhan bukanlah terlalu mudah, bunuh sadja beberapa orang mereka, bukankah lantas djadi?

Tengah bitjara, Kiam-oh-kiong jang megah sudah tampak dari djauh.

Sudah beberapa harini Bu-liang-kiam dalam siap-siaga menantikan datangnja serangan Sin-long-pang, tapi sampai kini masih tiada terdjadi apa2.

Maka djago2 jang diundang itu seperti Be Ngo-tek dan lain2 sudah sama mohon diri karena tidak ingin terlibat dalam persengketaan itu.

Tapi Bu-liang-kiam sekte barat betapapun adalah orang sendiri, walaupun diantara mereka sediri ada perselisihan, namun melihat sesama golongannja terantjam bahaja, tak bisa tidak mereka harus tinggal disitu untuk membantu.

Maka waktu itu disekeliling Kiam-oh-kiong setjara bergiliran selalu didjaga oleh anak murid Bu-liang-kiam dari Tang-tjong dan Se-tjong.

Didepan istana jang megah itu saat mana sedang didjaga oleh empat murid Bu-liang-kiam, mendjelang fadjar, mereka sudah sangat kantuk dan letih, tiba2 terdengar ada suara derapan kuda mendatangi dengan tjepat.

Seketika semangat empat orang itu terbangkit, tjepat mereka menghunus pedang dan menghadang madju.

Pemimpin dari empat orang itu bernama Tong Djin-hiong, segera ia membentak.

Siapa jang datang ini?

Kawan atau lawan?

Lekas beritahu namamu!

Melihat demikian garang sambutan orang2 Bu-liang-kiam itu, Bok Wan-djing mendjadi dongkol, kalau turuti wataknja, tentu segera diterdjangnja dulu, urusan belakang.

Tapi kini ia terluka parah pundaknja masih menantjap sebuah gurdi jang belum berani ditjabutnja, sebab kuatir akan keluar darah terlalu banjak.

Iapun kenal ketua Bu-liang-kiam, Tjo Tju-bok terkenal lihay dengan ilmu pedangnja, tergolong tokoh terkemuka didaerah Hun-lam.

Maka dengan sabar ia tahan kudanja dan menjahut.

Ada orang mengedjar kami, terpaksa harus menghindari sebentar ke Kiam-oh-kiong, lekas kalian menjingkir!

Sungguh gusar sekali Tong Djin-hiong, pikirnja.

Kurangadjar benar kau ini!

Kau diuber musuh, seharusnja kau memohon perlindungan pada kami dengan baik2, kenapa bitjara setjara demikian kasar?

~ Maka sekali pedangnja melintang kedepan, segera ia berkata.

Siapakah kau ini?

Ada hubungan apa dengan golongan kami?

Dan pada saat itulah, dari djauh sana terdengar suara teriakan orang2, njata Tjin Goan-tjun dan kawan2nja serta orang Hok-gu-tjeh sudah menguber datang.

Tanpa bitjara lagi, sekali tarik tali kendali kuda, Bok Wan-djing membentak njaring, se-konjong2 simawar hitam mentjongklang kedepan terus melompat lewat diatas kepala Tong Djin-hiong berempat dan menerdjang kearah Kiam-oh-kiong.

Walaupun kaki Oh-bi-kui terluka, tapi dibawah keprakan sang madjikan, dengan gagah kuat ia masih bisa lari dengan pesat.

Karuan Tong Djin-hiong berempat terkedjut, sambil mem-bentak2 mereka terus mengudak.

Tapi Bok Wan-djing tidak ambil pusing lagi, ia keprak simawar hitam menerdjang masuk pintu gerbang Kiam-oh-kiong, menerobos keruangan tengah dan menembus keserambi belakang.

Seketika Kiam-oh-kiong mendjadi panik, ada 7-8 anak murid Bu-liang-kiam hendak madju merintangi, tapi merekapun katjau-balau, kalau tidak didepak oleh simawar, tentu kena ditusuk pedang Bok Wan-djing.

Tatkala itu Tjo Tju-bok baru bangun tidur.

Selama beberapa harini dia memang tidak pernah hidup tenteram, kini mendengar didalam istana terdjadi ramai2, segera ia memburu keluar dengan pedang terhunus.

Tiba2 ia dipapak oleh seekor kuda hitam, ia hanja menjangka Sin-long-pang telah mulai menjerbu, sama sekali tak menduga ditengah istana itu ada kuda berkeliaran, tanpa bitjara ia ulur tangan hendak menarik tali kendali kuda.

Tapi mendadak angin tadjam menjamber kemukanja, udjung pedang musuh sudah berada didepan batok kepalanja.

Betapa tjepat serangan musuh itu sungguh tak pernah dialaminja selama hidup.

Untung Tjo Tju-bok adalah djago kawakan, tjepat ia menunduk dengan gaja Hong-tiam-thau atau burung Hong manggut kepala.

Menjusul pedangnja menangkis keatas, trang, kedua pedang saling beradu.

Memang benar dugaannja, serangan lawan datangnja setjara be-runtun2.

Lekas2 Tjo Tju-bok djatuhkan diri ketanah sambil menangkis lagi sekali, tapi mendadak pergelangan tangan kiri terasa sakit sekali, kiranja kena didepak oleh simawar.

Sekuatnja Tjo Tju-bok melesat kesamping, sekilas dapat dikenalnja Toan Ki berada diatas kuda itu.

He, kiranja kau!

tanpa merasa ia berseru.

Tapi segera dilihatnja pula dibelakang pemuda itu berduduk lagi seorang jang seantero tubuhnja terbungkus badju hitam mulus, tiba2 ia ingat seseorang, tak tertahan ia merinding Hiang......

Hiang-yok.......

demikian Tjo Tju-bok berteriak dengan gemetar, dalam pada itu Bok Wan-djing sudah keprak simawar menudju ketaman bunga dibelakang.

Sebenarnja Tjo Tju-bok masih mempunjai sedjurus serangan menimpukan pedang, kalau pedangnja ditimpukan, tentu dapat menantjap kebokong simawar.

Tapi saat pedang hampir terlepas dari tangan, ia telah melihat dandanan Bok Wan-djing hingga pedangnja ditarik kembali mentah2.

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 3

Baca Juga: Nurseta Satria Karangtirta Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert