Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pendekar Negeri Tayli 3

Eps 3 Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong

Baca online Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong

Cersil Pendekar Pendekar Negeri Tayli - Jin Yong.

Dan sedikit ajal itulah, Bok Wan-djing sudah keprak kudanja menudju kebelakang.

Ditaman belakang itu didjaga delapan anak murid Bu-liang-kiam, Kam Djin-kiat termasuk diantaranja.

Ketika mendadak nampak seekor kuda hitam berlari dari ruangan depan, mereka mendjadi ter-heran2.

Dalam pada itu Bok Wan-djing sudah keprak kuda sampai dipintu taman, sekali tabas, gembok pintu dikutunginja.

He, he!

Bukit dibelakang adalah daerah terlarang, tidak boleh sembarangan terobosan kesana!

tjepat Kam Djin-kiat berseru.

Namun Oh-bi-kui sudah mentjongklang keluar dengan dua penunggangnja.

Walaupun Tjo Tju-bok sangat djeri pada Bok Wan-djing, tapi orang telah menerdjang sesukanja didalam Kiam-oh-kiong, kini berlari kebagian terlarang pula digunung belakang, betapapun dia takbisa tinggal diam lagi.

Segera ia memberi perintah, kawan2 dari Se-tjong diminta mendjaga Kiam-oh-kiong kalau2 diserbu oleh Sin-long-pang, ia sendiri lantas memimpin berpuluh annak muridnja mengudak kebelakang gunung.

Melihat arah jang ditudju Oh-bi-kui itu adalah djalan jang pernah didatanginja, segera Toan Ki berkata.

Bok-kohnio, didepan sana ada rintangan djurang, kita harus mengitar kearah lain.

Darimana kau tahu?

tanja sigadis dengan tertjengang.

Djalanan ini pernah kulalui, sahut Toan Ki.

Bok Wan-djing dapat mempertjajainja, ia tahan kudanja dan ragu2 sedjenak, lalu bilukan Oh-bi-kui kedjalan ketjil di sebelah kiri.

Tak terduga djalan itu terus menudju kesuatu lereng bukit jang pandjang, makin djauh makin tinggi dan makin ber-liku2, dengan susah pajah, achirnja dapat mereka mentjapai suatu karang diatas bukit.

Waktu Bok Wan-djing menoleh, ia lihat para pengedjarnja terbagi dalam tiga kelompok sedang mengurungnja dari kanan-kiri dan belakang.

Jang sebelah kiri membawa pedang semua, itulah Tjo Tju-bok dari Bu-liang-kiam dan anak muridnja; Sebelah kanan hanja tiga orang.

Jaitu Su An, Tjin Goan-tjun dan Hui-sian; Sebaliknja pengedjar dibelakang itu adalah orang2 Hok-gu-djeh.

Su An tampak gesit sekali, setjepat terbang ia melompat dari batu padas jang satu kebatu jang lain.

Melihat itu, diam2 Bok Wan-djing terperandjat, tanpa banjak pikir, terus sadja ia keprak kudanja kedepan.

Tidak djauh, mendadak didepan terbentang sebuah djurang jang lebarnja belasan meter, dalamnja susah didjadjaki.

Oh-bi-kui meringkik kaget dan tjepat berhenti dan mundur beberapa langkah.

Menghadapi djalan buntu, sedang dari belakang pengedjar2 makin mendekat, tjepat Bok Wan-djing ambil keputusan, segera ia tanja Toan Ki.

Aku akan keprak kuda melompat keseberang djurang sana.

Kau akan ikut aku menghadapi bahaja atau turun disini sadja?

Toan Ki pikir kalau beban kuda itu berkurang, melompatnja tentu akan lebih mudah, maka sahutnja.

Biarlah nona menjeberang dahulu, nanti menarik aku lagi dengan tali.

Tapi waktu Bok Wan-djing menoleh, ia lihat Su An sudah menguber datang, djaraknja tjuma beberapa puluh meter sadja.

Maka katanja tjepat.

Sudah tidak sempat lagi!

~ ia tarik simawar mundur beberapa meter djauhnja, pelahan2 ia tepuk2 perut kuda itu sambil berseru.

Melompatlah kesana, kuda baik!

Se-konjong2 simawar membedal setjepatnja kedepan, sampai ditepi djurang, binatang itu melompat sekuatnja.

Seketika Toan Ki merasa seakan2 terbang diudara, djantungnja se-olah2 ikut melontjat keluar dari rongga dadanja.

Dibawah desakan sang madjikan, Oh-bi-kui jang sudah terluka dan terlalu tjapek itu telah melompat sepenuh tenaga, tapi hanja kedua kaki depan dapat mentjapai tepi djurang sana, kedua kaki belakang tak sanggup lagi mengindjak tanah, terus sadja tubuhnja terdjerumus kebawah.

Sjukur Bok Wan-djing dapat bertindak tjepat, pada saat berbahaja itu, ia terus melajang sekuatnja kedepan sambil djamberet Toan Ki sekenanja.

Lebih dulu Toan Ki terdjatuh ditanah, menjusul Bok Wan-djing ikut terbanting kedalam pangkuannja.

Kuatir kalau gadis itu terluka, tjepat Toan Ki merangkul gadis itu erat2.

Dalam pada itu terdengar suara ringkikian simawar jang pandjang mengerikan, binatang itu sudah tergelintjir kedalam djurang tak terkira dalamnja.

Bok Wan-djing mendjadi berduka, ia meronta lepas dari pelukan Toan Ki dan berlari ketepi djurang.

Namun permukaan djurang itu penuh tertutup kabut tebal, simawar sudah tak kelihatan lagi.

Saat itu kebetulan Su An sudah mentjapai tepi djurang djuga dan menjaksikan adegan ngeri itu, betapapun ia ikut ternganga kesima.

Melihat pengedjarnja tidak mampu menjeberangi djurang, hati Bok Wan-djing rada lega.

Tapi se-konjong2 kepala terasa pening, langit dan bumi se-akan2 berputar, kakinja mendjadi lemas pula, seketika robohlah dia tak sadarkan diri.

Karuan Toan Ki kaget, tjepat ia memburu madju untuk menjeretnja mundur agar gadis itu tidak tergelintjir kedalam djurang.

Ia lihat kedua mata sinona terpedjam rapat dan sudah pingsan.

Selagi bingung entah apa jang harus dilakukannja, tiba2 diseberang djurang sana ada orang berteriak.

Lepaskan panah, mampuskan kedua keparat itu!

Waktu Toan Ki memandang, ia lihat diseberang sana sudah berdiri 7-8 orang, kalau benar2 mereka melepaskan panah, wah, tjelakalah dirinja.

Segera ia pondong Bok Wan-djing, dengan susah pajah ia membawanja lari mundur.

Sjukur badan sinona tiada 100 kati beratnja, maka Toan Ki masih sanggup memondongnja lari.

Serr, mendadak sebatang panah menjamber lewat disamping telinganja.

Dengan ter-sipu2 Toan Ki berlari pula kedepan sambil sedikit berdjongkok, serr, kembali sebatang panah menjamber lewat diatas kepalanja.

Ia lihat disamping kiri sana ada sepotong batu besar, segera ia menubruk madju untuk sembunji dibelakang batu.

Dalam sekedjap itu, anak panah sudah berseliweran dan ber-matjam2 Am-gi membentur batu padas itu hingga terpental djatuh.

Sedikitpun Toan Ki tidak berani bergerak.

Bluk, se-konjong2 sepotong batu sebesar mangga djatuh disampingnja.

Njata, penimpuk batu itu sangat besar tenaganja, tjuma djaraknja agak djauh, maka intjarannja kurang tepat.

Toan Ki pikir kalau terus disitu, achirnja kepala pasti akan tertimpa batu sambitan itu, maka segera ia pondong sinona lagi dan berlari kedepan pula belasan meter djauhnja, ia menduga sendjata2 resia musuh takkan mentjapainja lagi, lalu berhenti.

Setelah bernapas lega, Toan Ki taruh sigadis diatas tanah dibelakang sebuah batu padas, kemudian ia tjoba mengintai keseberang djurang sana.

Ternjata djumlah orangnja sudah bertambah banjak dan kedengaran berisik sekali lagi me-maki2 kalang-kabut, tampaknja seketika para pengedjar itu tidak mampu menjeberang kemari.

Pikir Toan Ki.

Djika mereka mengitari djalan pegunungan dan mendaki dari sebelah sana, rasanja nasib kami berdua susah djuga lolos dengan selamat.

Ia tjoba menudju ketepi djurang sebelah lain, tapi sekali melongok, seketika kakinja ikut lemas saking kedjutnja.

Ternjata dibawah djurang itu ombak men-debur2 dengan hebatnja, suatu sungai dengan airnja jang bergelombang besar tepat berada dibawah djurang itu.

Ternjata disitu termasuk tepi sungai Landjong.

Melihat arus air jang begitu hebat, untuk mendaki dari situ terang tidak mungkin, tapi kalau musuh lebih dulu turun kedjurang, lalu mandjat keatas, dirinja jang tak mengerti silat pasti susah mentjegahnja.

Ia menghela napas, ia pikir boleh djuga sementara terhindar dari bahaja, bagaimana djadinja nanti, biarlah melihat gelagat sadja.

Ia kembali kesamping Bok Wan-djing, ia lihat gadis itu masih belum sadarkan diri.

Selagi Toan Ki hendak berdaja menolongnja, tiba2 dilihatnja pundak sinona masih tertantjap sebuah gurdi badja, badjunja sudah basah kujup oleh darah.

Karuan Toan Ki terkedjut, dalam keadaan buru2 menjelamatkan diri tadi, ia tidak mengetahui kalau diri gadis itu terluka, kini melihat darah mengutjur begitu banjak, pikiran per-tama2 timbul padanja jalah Djangan2 dia telah meninggal?

Maka dengan agak takut2 ia tjoba membuka sedikit kerudung muka Bok Wan-djing untuk memeriksa napas dihidungnja sjukur gadis itu masih bernapas pelahan.

Pikir Toan Ki.

Aku harus mentjabut gurdi itu untuk mentjegah darahnja mengutjur lebih banjak.

~ tapi ia lihat gurdi itu menantjap sangat dalam, kalau ditjabut hingga malah bikin djiwanja melajang, kan tjelaka?

Namun dalam keadaan begitu, djalan lain tiada lagi, diam2 ia hanja mendoa.

Bok-kohnio, harapanku hanja menolong kau, pabila karena itu malah mentjelakai djiwamu, itulah apa mau dikata lagi, toh seumpama aku tidak menolong kau, kaupun akan terbinasa djuga.

Segera Toan Ki pegang batang gurdi, dengan kertak gigi segera hendak ditjabutnja.

Tapi karena tidak biasa, saking kedernja hingga badannja gemetar malah.

Sementara itu diseberang djurang sana terdengar ramai dengan suara tjatji-maki musuh, tanpa pikir lagi Toan Ki terus mentjabut sekuatnja.

Dengan mu-darah tidak mengutjur terus, namun darah jang merembes keluar hingga muka dan kepala Toan Ki penuh darah.

Saking kesakitan, Bok Wan-djing mendjerit sekali dan siuman kembali, tapi menjusul lantas pingsan lagi.

Dengan mati2an Toan Ki berusaha menutup luka sinona agar darah tidak mengutjur terus, namun darah jang merembes keluar bagai mata air itu benar2 susah ditjegah.

Toan Ki mendjadi kewalahan, ia tjoba bubut sekenanja beberapa tumbuhan rumput disekitarnja dan dikunjah, kemudian dibubuhkan diatas luka Bok Wan-djing.

Tapi sekali kena diterdjang darah, luluhan rumput itu lantas bujar.

Tiba2 Toan Ki ingat gadis itu adalah djago silat, boleh djadi ia sendiri membawa obat2 luka.

Segera Toan Ki mentjoba rogoh saku sigadis itu.

Se-konjong2 tangannja menjentuh sesuatu jang lemas litjin, dalam kagetnja tjepat ia tarik keluar tangannja.

Segera tertampaklah sinar emas berkilat, seekor ular ketjil merajap keluar.

Kiranja adalah Kim-leng-tju.

He, Kim-leng-tju, djangan kau gigit aku!

seru Toan Ki kuatir.

Menurut djuga ular itu.

Padahal Kim-leng-tju tidak paham perkataannja itu.

Soalnja dibadan Toan Ki terdapat kotak kemala pemberian Tjiong Ling jang berisi barang anti ular berbisa itu.

Setiap ular atau serangga beratjun, asal mentjium bau benda itu, pasti akan tunduk dan ketakutan.

Maka dengan ter-sipu2 Toan Ki masukan tangannja kesaku Bok Wan-djing lagi.

Kali ini tidak menjentuh benda hidup pula, satu persatu ia keluarkan isi badju sigadis.

Mula2 dikeluarkan sebuah sisir emas, lalu sebuah tjermin tembaga ketjil dan dua potong saputangan warna djambon, ketjuali itu ada pula tiga buah kotak atau dos ketjil.

Melihat barang2 jang biasanja dipakai anak gadis itu, Toan Ki tertegun sedjenak, baru teringat olehnja kelakuannja jang tidak sopan itu.

Orang masih perawan sutji, masakan tangan sendiri gerajangan disaku orang.

Ia tjoba membuka kotak2 ketjil itu.

Kotak pertama ternjata berisi Yantji (pemerah bibir) jang berbau harum; Kotak kedua berisi bubuk putih dan kotak ketiga bubuk warna kuning.

Ia tjoba mengendusnja, bubuk putih itu tiada bau apa2, tapi bubuk kuning itu berbau pedas sangat keras hingga tak tertahan ia bersin.

Pikirnja.

Entah bubuk2 ini obat luka atau bukan, kalau ratjun, hingga salah pakai, kan tjelaka malah?

Segera ia pidjat2 tengkuk sinona, tidak lama, pelahan2 nona itu membuka matanja.

Toan Ki sangat girang, tjepatnja tanjanja.

Bok-kohnio, obat dalam kotak mana jang boleh dibubuhkan dilukamu?

Jang merah, sahut Bok Wan-djing singkat, lalu pedjamkan matanja lagi.

Ketika Toan Ki menanja pula, iapun tidak mau mendjawab.

Toan Ki mendjadi heran, sudah terang bubuk merah itu adalah Yantji, manabisa dipakai mengobati luka?

Tapi orang mengatakan demikian, biarlah di-tjoba2 dulu daripada menggunakannja setjara ngawur.

Segera ia sobek sedikit badju ditempat luka sinona, ia bubuhi sedikit bubukan Yantji itu.

Ketika djari tangan Toan Ki menjentuh luka Bok Wan-djing, nona itu dalam keadaan tak sadarkan diri toh rada kedjang kesakitan.

Djangan kuatir, biarlah darahmu ditjegah keluar lebih banjak, Toan Ki menghiburnja.

Aneh djuga, Yantji itu ternjata obat mudjarab benar, tjes-pleng, seketika darah berhenti mengutjur keluar.

Selang sebentar, dari luka itu lantas merembes keluar air kuning berbusa.

Melihat keanehan itu Toan Ki menggerundel sendiri.

Obat luka djuga dibikin seperti Yantji, sungguh pikiran anak gadis susah diraba orang.

Setelah tjapek setengah hari, baru sekarang perasaan Toan Ki bisa tenang kembali.

Ia dengar diseberang djurang sana suara berisik tadi sudah berhenti.

Pikirnja.

Djangan2 mereka benar2 mandjat kemari melalui bawah djurang?

~ Tjepat ia merajap ketepi djurang sana dan melongok kebawah.

Astaga tjelaka 13, dugaannja ternjata benar, belasan orang diseberang djurang itu tadi sedang memberosot kebawah djurang dengan pelahan.

Sekali pun djurang itu sangat dalam tentu djuga ada dasarnja, asal orang2 itu sudah mentjapai dasar djurang, tidak berapa djam lamanja pasti orang2 itu akan pandjat keatas djurang sebelah sini.

Toan Ki mendjadi bingung, pikirnja.

Kalau musuh naik kemari, aku dan Bok-kohnio hanja bisa terima adjal sadja, bagaimana baiknja sekarang?

Walaupun takbisa silat, tapi menghadapi pilihan antara hidup dan mati, terpaksa ia berdaja sebisanja.

la tjoba periksa sekitarnja, lebih dulu ia memondong Bok Wan-djing kebalik sebuah batu padas jang menondjol, lalu sibuk mengumpulkan batu ditepi djurang sana.

Memangnja disitu banjak terdapat batu, maka tiada lama, sudah beratus potong batu2 disiapkan.

Setelah selesai tugasnja, ia lantas duduk disamping Bok Wan-djing untuk memulihkan semangat.

Sepandjang malam ia tidak tidur, sesungguhnja ia sangat lelah sekali, sedikit pedjamkan mata, rasanja sudah akan terus pulas.

Tapi insaf kalau musuh tidak lama bakal datang, manabisa ia berani tidur?

Sajup2 ia mentjium bau wangi jang teruar dari badan Bok Wan-djing, pikirnja.

Nona Bok ini berdjuluk 'Hiang-yok-djeh', sungguh djanggal djuga bau harum demikian di-hubung2an dengan olok2 padanja sebagai setan kuntianak.

Tadi waktu mentjoba pernapasan hidung Bok Wan-djing, ia telah sedikit menjingkap kain kedok mukanja dibawah hidung, tatkala itu ia tidak perhatikan bagaimana bentuk mulut hidungnja, entah pesek, entah mantjung.

Tapi kini ia tidak berani sembarangan membuka kedok sigadis lagi untuk melihatnja lebih djelas.

Bila di-ingat2 kembali, rasanja kulit muka nona itu sangat putih, ja, paling tidak, pasti tidak menakutkan.

Dalam keadaan tak sadarkan diri, kalau Toan Ki mau buka kedok sigadis, pasti takkan diketahui olehnja.

Tapi Toan Ki merasa ragu2, ingin melihat mukanja, takut pula.

Pikirnja dengan tak tetap.

Tanpa sebab apa2 aku ikut2 menempuh bahaja dgn dia, tampaknja 9/10 bagian pasti akan gugur ber-sama2.

Pabila sampai saat binasa aku masih belum melihat mukanja jang sebenarnja, bukankah penasaran sekali?

~ namun dalam hati ketjilnja ia berkuatir pula kalau2 muka sigadis benar2 sedjelek setan, sebab kalau tidak djelek, kenapa sepandjang masa selalu berkedok muka?

Apalagi berdjuluk Hiang-yok-djeh, sikutianak harum, harumnja memang tulen, rasanja sedjelek setan djuga takkan palsu.

Kalau melihat tindak-tanduknja jang ganas kedji, rasanja gadis itupun tidak berdjodoh dengan wadjah tjantik-molek.

Karena itu, ia ambil keputusan takkan melihatnja.

Dalam keadaan ragu2 itu, achirnja Toan Ki terpulas saking letihnja.

Entah sudah berapa lamanja, mendadak ia terdjaga bangun dan berlari ketepi djurang.

la lihat ada 5-6 laki2 diam2 sedang mandjat keatas djurang, Tjuma dinding djurang itu teramat tjuram, tidak mudah untuk mendak keatas, mereka hanja merajap dgn susah-pajah dengan berpegangan ojot tumbuhan2 ditebing djurang itu.

Diam2 Toan Ki bersjukur musuh belum sampai naik keatas, segera ia ambil sepotong batu dan disambitkan kebawah sambil berteriak.

Djangan naik, kalau tidak, djangan salahkan aku main kasar!

Djarak orang2 itu masih berpuluh meter dari Toan Ki, untuk menjerang dengan sendjata resia terang tak sampai, maka demi mendengar antjaman Toan Ki itu, mereka berhenti sedjenak sambil mendongak, setelah ragu2 sebentar, kembali mereka merajap naik lagi dibawah lindungan batu2 padas jang menondjol disana-sini itu.

Menimpukan batu dari atas kebawah tidaklah susah, maka beruntun Toan Ki telah timpukan beberapa potong batu.

Segera terdengarlah suara djeritan ngeri dua kali, dua orang diantaranja kena tertimpuk batu, dan djatuh tergelintjir kebawah djurang, terang mereka pasti akan hantjur lebur.

Sedjak ketjil Toan Ki melulu radjin mendjalankan ibadah agama, ilmu silat sadja tidak sudi dilatihnja.

Kini untuk pertama kalinja membunuh orang, ia mendjadi ketakutan sendiri hingga putjat lesi.

Semula ia hanja bermaksud menggertak sadja agar orang2 itu suka pergi, tak terduga dua orang telah terbinasa oleh batunja itu.

la merasa tidak tenteram sekali, walaupun tahu bila orang berhasil mandjat keatas, dirinja dan Bok Wan-djing jang akan dibunuh oleh mereka.

Dalam pada itu, kuatir kalau diserang lagi dari atas, laki2 jang lain terus merajap balik kebawah.

Ada satu diantaranja agak gugup hingga terpeleset dan djatuh kebawah djurang lagi.

Toan Ki terkesima sedjenak, kemudian ia kembali kesamping Bok Wan-djing, ia lihat gadis itu sudah berduduk sambil bersandar dibatu padas.

Kedjut dan girang sekali Toan Ki, tanjanja.

Kau...............

kau sudah baik, nona Bok?

Bok Wan-djing tak mendjawabnja, dengan ter-mangu2 ia pandang pemuda itu, sorot matanja jang memantjar keluar dari balik kedoknja itu tampak bengis tak kenal ampun.

Rebahlah mengaso sadja, biarlah kutjarikan air minum untukmu, demikian Toan Ki menghiburnja.

Ada orang hendak mandjat kemari, bukan?

tanja sigadis.

Tak tertahan lagi air mata Toan Ki ber-linang2, katanja dengan terguguk2.

Ja, aku............

aku telah mem......

membunuh dua orang tanpa sengadja.........

dan.........

dan seorang pula djatuh binasa ketakutan.

Bok Wan-djing mendjadi heran melihat pemuda itu menangis, tanjanja.

Lalu, kenapa?

O, Tuhan maha kasih, tan............

tanpa sebab aku telah membunuh orang, ti............

tidak ketjil dosaku ini!

demikian Toan Ki meratap.

la merandek sedjenak, lalu menjambung lagi.

Kalau ketiga orang itu punja anak-isteri dan orang tua dirumah, bila mendengar berita kematian mereka, tentu akan............

akan sangat sedih, O, sung............

sungguh aku berdosa.........

aku berdosa!

Baru sekarang Bok Wan-djing paham sebab apa pemuda itu mewek, katanja dengan tertawa dingin.

Hu, kau sendiri toh djuga punja anak isteri dan orang tua?

Orang tua sih aku punja, tapi isteri belum, sahut Toan Ki.

Sekilas Bok Wan-djing memantjarkan sinar mata jang aneh, tapi sorot mata aneh itu hanja sekedjap sadja lantas lenjap, segera kembali pula sinar matanja jang tadjam dan dingin itu, katanja.

Dan kalau mereka berhasil mandjat kesini, mereka akan membunuh kau tidak?

Membunuh aku tidak?

Ja, mungkin sekali mereka akan membunuh, sahut Toan Ki.

Hm, djadi kau lebih suka dibunuh daripada membunuh, ja?

udjar Wan-djing.

Toan Ki merenung sedjenak, kemudian mendjawab.

Djika......

djika melulu karena aku, pasti aku takkan membunuh orang.

Tapi..................

tapi aku takbisa membiarkan kau dibunuh mereka.

Sebab apa?

bentak Bok Wan-djing dengan bengis.

Kau pernah menolong aku, dengan sendirinja akupun ingin menolong kau, sahut Toan Ki.

Aku ingin tanja padamu, djika kau berdusta, segera panah didalam lengan badjuku ini akan mentjabut njawamu, kata sigadis pula sambil sedikit angkat tangannja mengintjar ketenggorokan Toan Ki.

Eh, sekian banjak orang jang kau bunuh, kiranja panahmu dibidikan dari dalam lengan badju, udjar Toan Ki.

Tolol, kau takut tidak padaku?

tanja sigadis.

Kau toh takkan membunuh aku, kenapa aku takut?

Djika kau bikin marah aku, bukan mustahil nona akan membunuh kau, kata Wan-djing Djawablah pertanjaanku.

kau telah melihat wadjahku atau tidak?

Tidak, sahut Toah Ki menggeleng kepala.

Benar2 tidak?

sigadis menegas.

Suaranja makin lama makin rendah, kedok didjidatnja itu tampak basah sebagian, agaknja terlalu keras memakai tenaga, maka keringat merembes keluar, namun suaranja masih tetap bengis.

Ja, buat apa aku berdusta, demikian sahut Toan Ki pula.

Diwaktu aku pingsan, kenapa kau tidak membuka kedokku?

Jang kupikirkan hanja mengobati luka dibahumu itu, maka tidak memikirkan hal itu, udjar Toan Ki.

Mendadak Bok Wan-djing ingat sesuatu, ia mendjadi gusar dan gugup, dengan napas ter-sengal2 ia berkata.

Djadi............

djadi kau telah melihat............

melihat kulit badanku bagian bahu?

Kau membubuhi obat diatas lukaku?

Ja, sahut Toan Ki dengan tertawa.

Sungguh tidak njana bahwa Yantjimu itu ternjata begitu mandjur.

Tjoba kau kemari, pajang aku sebentar, pinta sigadis.

Baiklah, sahut Toan Ki.

Memangnja kau tak perlu banjak bitjara, lebih baik mengaso dulu, nanti mentjari djalan buat menjelamatkan diri.

Sembari berkata, terus sadja Toan Ki mendekati sigadis.

Tak tersangka, belum lagi tangannja memegang tangan sigadis, plok, tahu2 pipinja kena dipersen sekali gamparan.

Begitu keras tempilingan itu hingga kepala Toan Ki pusing tudjuh keliling, tubuhnja ikut berputar.

Ken............

kenapa kau memukul aku?

tanja Toan Ki sambil memegangi pipinja.

Bangsat kurangadjar, ternjata kau berani menjentuh badanku dan............

dan melihat bahuku......

saking gusarnja, terus sadja Bok Wan-djing djatuh pingsan lagi.

Dalam kedjutnja Toan Ki mendjadi lupa orang telah gampar pipinja, tjepat ia memburu madju untuk membangunkan sigadis.

la lihat lukanja mengeluarkan darah lagi, rupanja waktu menampar Toan Ki tadi, gadis itu banjak mengeluarkan tenaga, maka lukanja jang mulai merapat itu mendjadi petjah pula.

Toan Ki mendjadi ragu2, sigadis telah marah2 karena kulit badannja dilihat orang, tapi kalau tak ditolong, mungkin djiwanja akan melajang karena terlalu banjak mengalirkan darah.

Urusan sudah begini, terpaksa lakukan sebisanja, paling2 nanti dipersen lagi dua kali tamparan.

Demikian pikir Toan Ki.

Segera ia sobek kain badju sendiri untuk membersihkan darah disekitar luka sigadis, ia lihat kulit badan nona itu putih bersih laksana saldju ia tidak berani lama2 memandangnja, buru2 ia poles sedikit Yantji tadi keatas luka.

Sekali ini Bok Wan-djing tjepat siuman, dengan sorot matanja jang bengis ia pelototi Toan Ki.

Takut kalau digampar lagi, Toan Ki tidak berani dekat2 gadis itu.

Kembali kau.........

kau............

karena merasa bahunja silir2 dingin, Bok Wan-djing tahu pemuda itu telah membubuhi obat diatas lukanja lagi.

Ja, terpaksa, aku.........

aku takbisa tinggal diam, sahut Toan Ki sambil angkat pundak.

Saking gugupnja hingga napas Bok Wan-djing ter-sengal2, dalam keadaan lemas, ia mendjadi susah berbitjara.

Toan Ki mendengar disisi kiri sana ada suara gemertjiknja air, segera ia berlari kesana dan.

mendapatkan sebuah selokan dengan air pegunungan jang djernih.

Ia tjutji bersih kedua tangan sendiri, lain meraup air gunung itu untuk diminum beberapa tjeguk.

Kemudian ia meraup air djernih itu kembali kesamping Bok Wan-djing, katanja.

Bukalah mulutmu, minum air ini!

Setelah banjak mengeluarkan darah, memangnja mulut Bok Wan-djing serasa garing, segera ia singkap sebagian kain kedoknja hingga tertampak mulutnja.

Tatkala itu sudah lohor, diatas pegunungan itu terang-benderang.

Toan Ki melihat dagu sigadis agak londjong, njata mukanja potongan daun sirih, kulit mukanja putih halus seperti bahunja, mulutnja jang ketjil mungil dengan bibir tipis, kedua larik giginja seputih mutiara dan radjin.

Hati Toan Ki terguntjang.

Dia......

sesungguhnja seorang gadis tjantik!

Sementara itu air telah merembes djatuh dari selah2 djari tangan Toan Ki, muka Bok Wan-djing penuh tertjiprat butir2 air hingga mirip rintik embun diatas bunga teratai dipagi hari.

Toan Ki terkesima sedjenak, ia tidak berani lama2 memandang, tjepat berpaling memandang kearah lain.

Lagi, ambilkan lagi!

pinta sigadis sehabis minum air ditangan Toan Ki itu.

Ber-turut2 tiga kali Toan Ki meraupkan air gunung itu baru melenjapkan rasa dahaga sigadis.

Kemudian Toan Ki mengintai pula ketepi djurang, ia lihat diseberang sana masih tinggal beberapa orang dengan busur dan panah lagi mengawasi seberang sini.

Ketika melongok pula kebawah djurang, ia tidak melihat ada orang mandjat keatas.

Tapi dapat diduga musuh pasti takmau sudah, tentu sedang berusaha mentjari djalan untuk mengedjar kemari.

Tiba2 Toan Ki ingat ratjun Toan-djiong-san jang diminumnja dari Sikong Hian itu dalam beberapa harini pasti akan bekerdja djuga, andaikan musuh tidak mengedjar kemari dan mereka berdua tidak mati oleh luka dan ratjun masing2, tentu djuga akan mati kelaparan diatas bukit jang tandus itu.

Karena itu, dengan lesu.ToanKikembali kesamping Bok Wan-djing lagi, katanja.

Sajang diatas gunung sini tiada tumbuh apa2, kalau ada, akan kupetik beberapa buah untuk melenjapkan kelaparanmu.

Sudahlah, apa gunanja banjak bitjara jang tidak2?

sahut Bok Wan-djing.

Tjoba tjeritakan, bagaimana kau kenal anak dara keluarga Tjiong itu?

Kenapa bcrani sembarangan memalsukan aku untuk menolongnja?

Toan Ki mendjadi malu oleh pertanjaan itu, sahutaja.

Memangnja aku tidak pantas menjamar dirimu untuk menolongnja.

Soalnja karena terpaksa, maka harap kau djangan marah.

Bok Wan-djing hanja mendengusi sekali, tidak menjatakan marah, djuga tidak bilang tidak marah.

Maka bertjeritalah Toan Ki tjara bagaimana ia kenal Tjiong Ling di Kiam-oh-kiong tempo hari ketika dirinja dianiaja orang, dan gadis itu telah menolongnja.

Hm, kalau tidak bisa ilmu silat, kenapa kau banjak ikut tjampur urusan Kangouw?

Apa barangkali kau sudah bosan hidup?

djengek Bok Wan-djing selesai mendengarkan tjerita Toan Ki.

Urusan sudah ketelandjur begini, menjesal djuga tak berguna, udjar Toan Ki gegetun.

Tjuma bikin nona ikut susah, aku merasa tidak enak sekali.

Kau bikin susah aku apa?

kata sigadis.

Permusuhanku dengan orang2 itu adalah aku sendiri jang berbuat.

Sekalipun didunia ini tiada seorang kau, mereka djuga tetap akan mengerojok aku.

Tapi, pabila tiada kau, aku mendjadi boleh takusah kuatir dan bisa..................

bisa membunuh se-puas2ku daripada mati konjol diatas karang tandus ini.

Ketika mengutjapkan kata2 boleh takusah kuatir, ia merandek sedjenak, ia merasa utjapan setjara terus terang menjatakan berkuatir atas diri pemuda itu rada2 kurang patut, maka ia mendjadi djengah.

Sjukur ia berkedok hingga mimik wadjahnja tidak kelihatan.

Pula loan Ki tidak memperhatikan nada utjapannja itu agak aneh, sebaliknja menjangka gadis itu bitjara dalam.

Keadaan sedih, maka ia malah menghiburnja.

Sudahlah, asal nona.

Mengaso beberapa hari lagi hingga luka dibahumu sudah sembuh, lalu kita terdjang keluar, belum tentu musuh mampu menahan nona.

Hm, enak sadja kau bitjara, kata Bok Wan-djing dengan mendjengek, melulu itu Oh-pek-kiam Su An sadja aku hanja bisa bertempur sama kuat dengan dia, apalagi aku menderita luka.................

~ belum habis utjapannja, se-konjong2 dari seberang karang sana berkumandang suara suitan jang tadjam mengerikan hingga seluruh lembah gunung ikut mendenging2.

Mendengar suara suitan aneh itu, tak tertahan lagi Bok Wan-djing tergetar, katanja dengan suara gemetar.

Dia............

dia telah datang!

~ segera tangan Toan Ki dipegangnja erat2.

Suara suitan itu masih terus mendengung hingga lama diangkasa pegunungan dan sahut menjahut dengan suara kumandang jang makin keras, hingga telinga Toan Ki se-akan2 pekak.

la merasa tangan Bok Wan-djing gemetar tiada hentinja, tentu gadis itupun sangat ketakutan.

Sedjak Toan Ki kenal gadis itu, biarpun ditengah kerubutan musuh, gadis itu tetap bisa berlaku tenang, anggap musuh barang sepele sadja.

Tapi kini, begitu suara suitan itu berbunjl, seketika Hiang-yok-djeh jang biasanja ditakuti orang itu, kini berbalik ketakutan sendiri, maka dapatlah dibajangkan betapa lihay orang jang datang itu.

Sampai lama sekali, pelahan2 suara suitan tadi barulah berhenti.

Siapa orang itu?

tanja Toan Ki pelahan.

Sekali orang ini sudah datang, djiwaku pasti takbisa selamat lagi, udjar sigadis.

Maka lebih baik kau tjari djalan buat lari sadja, djangan......

djangan urus aku lagi.

Nona Bok, rupanja kau terlalu menilai rendah orang she Toan ini, sahut Toan Ki tertawa, Masalah orang she Toan adalah manusia berkwalitet demikian?

Dengan sepasang matanja jang djeli itu, sigadis memandang ter-mangu2 sedjenak pada pemuda itu dengan penuh haru dan pilu, katanja kemudian dengan suara mesra.

Guna apakah kau mesti ikut mati bersama aku?

Kau.........

kau tidak mengetahui betapa ganasnja orang itu.

Sedjak kenal belum pernah Toan Ki mendengar gadis itu bitjara dengan suara demikian halusnja, ia merasa datangnja suara suitan tadi benar2 telah mengubah Hiang-yok-djek mendjadi seorang manusia lain, maka Toan Ki meudjadi girang malah, sahutnja dengan tersenjum.

Nona Bok, aku senang sekali mendengar suara utjapanmu ini, dengan demikian, barulah benar2 seorang nona jang tjantik molek.

Hm, mendadak Bok Wan-djing mendjengek dan menanja dengan suara bengis.

darimana kau tahu aku tjantik?

Djadi kau telah melihat wadjahku, ja?

~ habis berkata, genggaman tangannja terus diperkeras hingga tangan Toan Ki seperti terdjepit tanggam, saling kesakitan, hampir2 pemuda itu mendjerit.

Aku tidak melihat wadjahmu, sahut Toan Ki kemudian dengan menghela napas, tapi ketika memberi air minum padamu, aku telah melihat sebagian mukamu, walaupun hanja sebagian sadja, namun sudah djelas kalau kau pasti seorang tjantik molek tiada taranja.

Betapapun ganasnja Bok Wan-djing, sekali wanita tetap wanita.

Dan wanita mana didunia ini jg tidak suka akan pudjian?

Apalagi dipudji berwadjah tjantik?

Maka sekali hati merasa senang, genggamannja lantas dikendorkan, katanja.

Baiklah, lekas kau mentjari suatu tempat untuk bersembunji, tak peduli menjaksikan apa sadja, sekali2 djangan keluar.

Sebentar lagi orang itu sudah akan naik kesini.

Toan Ki terperandjat, serunja.

Ja, djangan sampai dia naik kesini!

segera ia belari ketepi djurang, tapi pandangannja mendjadi silau oleh berkelebataja ba]angan seorang berbadju kuning jang lagi me-lompat2 keatas karang dengan ketjepatan dan gesit luar biasa.

Tebing karang itu sangat tjuram dan litjin, tapi orang itu dapat mendaki bagai ditanah datar sadja, djauh lebih gesit daripada bangsa kera.

Diam2 Toan Ki berkuatir, segera ia nienggembor.

Hai, orang itu!

Djangan kau naik lagi, djika tak menurut, awas akan kutimpuk kau dengan batu!

Orang itu menjambutnja dengan ter-bahak2, lompatannja keatas mendjadi lebih tjepat malah.

Melihat demikian lihaynja orang itu, Bok Wan-djing pun sedemikian takut padanja, Toan Ki pikir betapapun orang ini harus dirintangi keatas, tapi ia tdak ingin membunuh orang lagi, segera ia djemput sepotong batu dan ditimpukan kesamping orang itu.

Walaupun batu itu tidak terlalu besar, tapi ditimpukan dari atas, suaranja tjukup keras menakutkan djuga.

Toan Ki terus berseru pula.

Hai, kau sudah lihat tidak?

Kalau kutimpukan kekepalamu, pasti djiwamu akan melajang!

Maka lekas kau turun kebawah sadja!

Kau botjah ini rupanja sudah bosan hidup, berani main kurangandjar padaku!

tiba2 orang itu tertawa dingin Suaranja tidak keras, tapi seutjap sekata dapat didengar Toan Ki semua.

Melihat orang sudah melompat naik lebih dekat lagi, keadaan sudah terpaksa, Toan Ki segera angkat dua potong batu terus ditimpukan keatas kepala orang itu sambil pedjamkan kedua matanja, ia tidak berani menjaksikan adegan ngeri atas nasib orang jang bakal tergelintjir kebawah djurang.

la dengar suara gedebukan batu2 jang menggelundung kebawah itu, menjusul terdengar pula suara menderu dua kali dibarengi suara tawa pandjang orang itu.

Karuan Toan Ki heran, waktu membuka mata, ia lihat kedua potong batu tadi lagi melajang ketengah djurang, sebaliknja orang itu baik2 sadja tak kurang suatu apapun.

Sekali ini Toan Ki benar2 kuatir, lekas2 ia memberondongi orang itu dengan timpukan2 batu lagi.

Tapi setiap batu melajang sampai diatas kepalanja, sekali lengan badju orang itu mengebut, batu ini lantas menjeleweng kesamping dan djatuh kedjurang, terkadang orang itu malah melompat naik lagi hingga timpukan batu mendjadi luput.

Dalam gugupnja, sekaligus Toan Ki telah berondongi orang itu dengan 30-40 potong batu.

Namun orang itu sedikitpun tidak apa2, bahkan sedjengkalpun takbisa merintangi madjunja orang itu keatas.

Melihat gelagat bakal tjelaka, lekas2 Toan Ki berlari kembali kesamping Bok Wan-djing dan berkata dengan suara ter-putus.

No.........

nona Bok, orang itu sang........

sangat lihay, ma...........

marilah kita lekas lari!

Sudah terlambat!

sahut Bok Wan-djing dengan dingin.

Dan selagi Toan Ki hendak bitjara pula, se-konjong2 tubuhnja terasa didorong oleh suatu tenaga maha besar hingga mentjelat kedepan bagai terbang, bluk, achirnja ia terbanting didalam semak2 pohon hingga kepala pusing tudjuh keliling, hampir2 djatuh kelengar.

Untung tanah situ banjak tumbuh pohon2 pendek, maka hanja mukanja sadja terbaret letjet sedikit, tapi tidak sampai terluka berat.

Dengan ter-sipu2 ia merangkak bangun, sementara itu tertampak orang berbadju kuning tadi sudah berdiri didepan Bok Wan-djing.

Kuatir kalau orang itu mentjelakai Bok Wan-djing, tjepat Toan Ki berlari madju dan menghadang di-tengah2 mereka sambil menanja.

Siapakah engkau?

Kenapa menganiaja orang tidak se-mena2?

Le.......

lekas kau lari, djangan tinggal disini!

seru Bok Wan-djing kuatir.

Hati Toan Ki ber-debar2 djuga, namun ia tenangkan diri sebisanja sambil memperhatikan pendatang itu.

Ternjata buah kepala orang itu besarnja luar biasa, sebaliknja sepasang matanja bundar ketjil hingga mirip dua bidji kedelai menjelempit diatas semangka.

Namun sinar matanja menjorot tadjam, ketika ia menatap Toan Ki, tanpa merasa pemuda itu bergidik.

Perawakan orang itu sih sedang sadja, berewoknja pendek kaku seperti sikat kawat, tapi usianja susah diduga.

Kedua tangannja pandjang melampaui lutut, sedang djarinja pandjang lantjip mirip tjakar.

Waktu mula2 Toan Ki melihat orang itu, ia merasa wadjah orang sangat djelek.

Tapi kini ternjata lain, makin dipandang, semakin terasa perawakan orang itu dan anggota2 badannja, bahkan dandanannja, semuanja sangat serasi dengan orangnja.

Kemarilah kau, berdiri disampingku!

demikian kata Bok Wan-djing pula.

Tapi dia........

dia akan mentjelakai kau?

udjar Toan Ki kuatir.

Hm, melulu lagakmu ini, apakah mampu kau menahan sekali hantam dari Lam-hay-gok-sin?

djengek sigadis.

Tapi mau-tak-mau ia terharu djuga demi nampak pemuda itu ingin melindunginja tanpa pikirkan keselamatan sendiri.

Benar djuga, pikir Toan Ki, kalau orang aneh ini hendak enjahkan dirinja memang tidak perlu susah2, maka ada lebih baik djangan bikin marah padanja.

Segera ia berdiri kesamping Bok Wan-djing dan berkata pula.

Apakah tuan jang berdjuluk Lam-hay-gok-sin?

Dalam beberapa hari ini Tjayhe sudah banjak bertemu dengan berbagai Eng-hiong-Hohan, tapi ilmu silat tuan tampaknja adalah jang paling lihay.

Aku telah timpuk engkau dengan berpuluh potong batu, tapi tiada sepotongpun jang mengenai kau.

Dasar watak manusia, siapa orangnja jang tidak suka dipudji dan diumpak?

Begitu pula dengan Lam-hay-gok-sin atau simalaikat buaja dari laut selatan ini.

Sifat Lam-hay-gok-sin ini biasanja kedjam tak kenal ampun, tapi demi mendengar Toan Ki memudji ilmu silatnja sangat lihay, ia mendjadi senang djuga.

Ia mengekek tawa dua kali, lalu berkata.

Kepandaianmu tidak berarti, tapi pandanganmu masih boleh djuga.

Baiklah, kau enjahlah, Lotju ampuni djiwamu!

Girang Toan Ki tidak kepalang, sahutnja tjepat.

Djika demikian, kau orang tua djuga ampuni Bok-kohnio sekalian!

Lam-hay-gok-sin itu tidak mendjawab, hanja sepasang matanja jang bundar ketjil itu mendelik, mendadak ia melangkah madju, sekali kebut, lengan badjunja membuat Toan Ki ter-hujung2 mundur beberapa tindak, lalu katanja dengan suara bengis.

sekali berani kau melangkah madju, Lotju takkan ampuni djiwamu lagi!

Toan Ki pertjaja orang berani berkata tentu berani berbuat, ia pikir paling selamat biarlah aku melihat gelagat dulu disini.

Maka ia tidak berani sembarangan bertindak lagi.

Dalam pada itu terdengar Lam-hay-gok-sin lagi berkata pada Bok Wan-djing.

Kau inikah jang bernama Hiang-yok-djeh Bok Wan-djing?

Benar, sahut sigadis.

Sudah lama kudengar nama besar Lam-hay-gok-sin Gah-loyatju, njata memang tidak bernama kosong.

Siaulitju terluka parah, harap maaf kalau tak bisa memberi hormat pada engkau orang tua!

Mendengar itu, diam2 Toan Ki mendengus didalam hari.

Hm, terhadap diriku kau garang melebihi setan, tak tahunja kau djuga seorang jang tjuma berani pada kaum lemah tapi djeri pada jang djahat.

Melihat orang lebih galak dari kau, terus sadja kau panggil2 Loyatju!

Sementara itu terdengar Lam-hay-gok-sin lagi mendjengek.

Ha, kabarnja kau mempunjai beberapa djurus djuga, kenapa bisa terluka parah?

Aku dikerojok Su An, Tjin Goan-tjun, Sin Si-nio dan Hui-Sian berempat, dua kepalanku takbisa lawan delapan tangan mereka, maka aku telah kena dilukai oleh gurdi badja Sin Si-nio.

Brengsek, sungguh tidak kenal malu, orang begitu banjak mengerubut seorang nona!

kata Lam-hay-gok-sin dengan gusar.

Benar itu, memangnja kau orang tua lebih bidjaksana!

segera Toan Ki menanggapi.

Djangankan main kerojok, asal lelaki, memangnja djuga tidak pantas berkelahi dengan wanita.

Tapi mereka djusteru mengerubuti seorang nona jang lemah, terhitung orang gagah matjam apakah itu?

Kalau tjerita ini tersiar dikalangan Kangouw, bukankah akan dibuat buah tertawaan orang?

Lam-hay-gok-sin tidak mendjawab, hanja mengangguk sambil mendelik.

Diam2 Toan Ki bergirang.

Aku telah kuntji dia dengan kata2, lalu mengumpaknja lagi setinggi langit, asalkan dapat terhindar dari kesulitan didepan mata ini.

Tapi ia dengar Lam-hay-gok-sin sedang menanja pula.

Sun He-khek dibunuh oleh kau atau bukan?

Benar!

sahut Bok Wan-djing.

Dia adalah murid kesajanganku, kau tahu tidak?

tanja lagi simalaikat buaja dari laut selatan.

Mendengar itu, diam2 Toan Ki mengeluh.

Wah, tjelaka!

Bok kohnio telah membunuh murid kesajangannja, urusan ini mendjadi susah diselesaikan.

Ia dengar Bok Wan-djing lagi mendjawab.

Waktu membunuhnja tidak tahu, beberapa hari kemudian baru tahu.

Kau takut padaku tidak?

tanja Lam-hay-gok-sin.

Tidak!

sahut sigadis tegas.

Lam-hay-gok-sin mendjadi murka, ia menggerung sekali hingga lembah gunung itu se-akan2 terguntjang.

Kau berani tidak takut padaku, besar amat njalimu, ja?

Pengaruh siapakah jang kau andalkan, ha?

Pengaruh engkaulah jang kuandalkan!

sahut Bok Wan-djing dingin sadja.

Lam-hay-gok-sin melengak oleh djawaban itu, segera ia membentak.

Ngatjo belo!

Pengaruhku apa jang bisa kau andalkan?

Kau orang tua diagungkan didunia persilatan, kepandaianmu tiada bandingannja, manabisa kau bergebrak dengan seorang perempuan jang terluka parah!

sahut sigadis.

Utjapan ini setengahnja mengandung umpakan, tapi memaksa Lam-hay-gok-sin tidak bisa berbuat apa2.

Benar djuga, setelah tertegun sedjenak, malaikat buaja lautan selatan itu lantas terbahak2, katanja.

Benar djuga utjapanmu itu.

~ habis ini, mendadak ia tarik muka lagi dan berkata.

Harini biarlah aku tidak membunuh kau.

Aku ingin tanja kepadamu.

Kabarnja senantiasa kau memakai kedok, siapapun dilarang melihat wadjahmu.

Kalau ada orang jang melihatnja, djika kau tidak bunuh dia, kau harus kawin padanja.

Apakah betul kabar ini?

Toan Ki terperandjat oleh pertanjaan itu, ia lihat Bok Wan-djing telah memanggut sebagai djawaban, karuan ia tambah kedjut dan bersangsi.

Sebab apa kau mengadakan peraturan aneh itu?

tanja Lam-hay-gok-sin.

Itu adalah sumpah berat jang telah kuutjapkan dihadapan Suhuku.

sahut sinona.

Djika tidak demikian, Suhu takkan mengadjarkan ilmu silat padaku.

Siapakah gurumu itu?

tanja Gok-sin.

Mengapa begitu aneh dan tidak kenal peradaban orang hidup.

Sahut Wan-djing dengan angkuh.

Aku menghormati kau sebagai kaum Tjianpwe tapi kau gunakan kata2 tidak pantas untuk menghina guruku, itulah tidak patut.

Praak!

mendadak Lam-hay-gok-sin menghantam sepotong batu padas disampingnja, seketika batu krikil berhamburan, muka Toan Ki kesakitan djuga tertjiprat oleh hantjuran batu kerikil itu.

Diam2 ia terkesiap.

Sedemikian lihay ilmu silat orang ini, sekali hantam bikin batu hantjur remuk, kalau badan manusia jang digendjot, apa mungkin masih bisa hidup?

~ Namun ketika dia memandang kearah Bok Wan-djing, ia lihat gadis itu bersikap dingin2 sadja, sedikitpun tidak gentar oleh ilmu silat Lam-hay-gok-sin jang tiada taranja itu.

Sementara itu, sesudah melototi Bok Wan-djing sedjenak, kemudian Lam-hay-gok-sin berkata lagi.

Baik, anggap utjapanmu tadi memang benar.

Maka sekarang aku ingin mohon tanja, siapakah gelaran gurumu jang terhormat itu?

Guruku bernama Bu-beng-khek (orang tak bernama), sahut Wan-djing.

Bu-beng-khek?

demikian Lam-hay-gok-sin mengulangi nama itu sambil meng-ingat2 kembali.

Tidak pernah kudengar nama itu!

Sudah tentu, rasanja kaupun takkan pernah mengenalnja, djengek Bok Wan-djing.

Se-konjong2 Lam-hay-gok-sin itu perkeras suaranja dan membentak.

Kematian muridku Sun He-khek itu apakah disebabkan dia ingin melihat wadjahmu?

Untuk kenal sang murid tiada lebih daripada sang guru, sahut Bok Wan-djing dengan dingin.

Sangat baik djika kau sudah kenal tabiat muridmu itu.

Memangnja Lam-hay-gok-sin tjukup kenal watak murid mestikanja itu adalah seorang badjul buntung, kalau mati oleh sebab perbuatannja itu memang djuga tidak perlu heran.

Tjuma, menurut peraturan Lam-hay-pay mereka, selamanja satu-guru-satu-murid, dengan tewasnja Sun He-khek, itu berarti djerih-pajahnja mendidik murid selama berpuluh tahun itu ikut hanjut kelaut.

Maka semakin dipikir semakin gusar, se-konjong2 ia berteriak sekali.

Hauuuuuuh!

Aku akan menuntut balas bagi muridku itu!

Melihat wadjah orang mendadak berubah beringas menakutkan, begitu murka agaknja hingga air mukanja ikut berubah se-akan2 merah hangus, Bok Wan-djing dan Toan Ki mendjadi djeri.

Sungguh tak tersangka oleh mereka bahwa air muka seseorang bisa berubah begitu hebat dan tjepat.

Tjepat Toan Ki melangkah madju, tapi segera teringat akan antjaman orang tadi, kembali ia melangkah mundur, lalu berkata.

Gak-lotjianpwe, bukankah kau tadi menjatakan takkan membunuh dia?

Tapi Lam-hay-gok-sin tak menggubris padanja, ia tanja Bok Wan-djing lagi.

Dan muridku itu berhasil melihat wadjahmu tidak?

Tidak!

sahut sigadis.

Bagus!

seru Lam-hay-gok-sin.

He-khek sibotjah itu matipun tentu tidak meram, biarlah aku mewakili dia melihat wadjahmu.

Ingin kulihat apakah kau seburuk setan atau setjantik bidadari!

Kedjut Bok Wan-djing sungguh bukan buatan.

la sudah bersumpah .dihadapan sang guru, kalau sekarang Lam-hay-gok-sin itu memaksa melihat wadjahnja, sedang dirinja tak mampu membunuhnja, lalu, apakah harus kawin padanja?

Dalam gugupnja, tjepat ia berkata.

Kau adalah tokoh terkemuka dikalangan Bulim, manabisa berbuat serendah dan sekotor ini?

Hm, diantara Sam-sian-su-ok (tiga orang badjik dan empat orang djahat), aku adalah satu diantara Su-ok itu, kedjahatanku memangnja sudah terkenal di-mana2, takut apa lagi?

sahut Lam-hay-gok-sin dengan tertawa dingin.

Selama hidup Lotju hanja kenal suatu aturan, jalah.

tidak membunuh orang jang tidak mampu membalas, Ketjuali itu, tiada sesuatu kedjahatan lain jang tak kulakukan.

Maka lebih baik kau menurut dan tanggalkan kedokmu sendiri, agar Lotju tidak perlu repot turun tangan lagi.

Kau benar2 harus...............

harus melihatnja?

sahut Bok Wan-djing dengan suara gemetar.

Djangan kau banjak tjintjong lagi, djika,terus rewel, sebentar tidak hanja kedokmu jang kubuka, bahkan antero pakaianmu bisa kulutjuti bulat2, antjam Lam-hay-gok-sin dengan bengis.

Apakah kau tidak mendengar bahwa tahun jang lalu, dikota Khayhong, dalam semalam sadja Lotju telah memperkosa dan membunuh sembilan puteri keluarga pembesar dan bangsawan?

Bok Wan-djing insaf urusan harini pasti takbisa dihindarkan lagi, ia tjoba mengedipi Toan Ki dengan maksud mendesak pemuda itu lekas melarikan diri.

Tapi Toan Ki hanja meng-geleng2 kepala sadja.

Lam-hay-gok-sin sudah tidak sabar lagi, berewoknja jg mirip sikat kawat itu mendjengket.

Huk!

sekali bersuara, terus sadja kelima djarinja jang mirip tjakar ajam itu terus mentjengkeram kedok Bok Wan-djing.

Tanpa pikir lagi Wan-djing tekan pesawat rahasianja, tiga batang panah ketjil sekaligus menjamber kedepan setjepat kilat dan semuanja tepat niengenai perut Lam-hay-gok-sin.

Tak terduga, blek-blek-blek tiga kali, ketiga panah itu djatuh semua ketanah.

Sedikit Bok Wan-djing bergerak, kembali tiga panah berbisa melesat kedepan, jang dua batang mengarah dada Lam-hay-gok-sin, jang satu mengintjar mukanja.

Tapi-kedua batang panah jang mengenai dada Lam-hay-gok-sin itu tetap seperti membentur papan badja sadja, semuanja djatuh ketanah.

Bedanja tjuma tidak menerbitkan suara tjrang-tjreng jang njaring, tapi hanja bersuara blak-blek jang aneh.

Sedang panah ketiga ketika hampir mentjapai sasarannja, tiba2 Lam-hay-gok-sin ulur dua djarinja dan mendjentik pelahan dibatang panah ketjil itu, kontan panah itu mentjelat entah kemana!

Hendaklah diketahui bahwa panah berbisa jang dibidikan Bok Wan-djing itu setjepat kilat, banjak djago2 pilihan telah tewas dibawah panahnja itu sebelum melihat bajangan panah itu, Sekalipun mata tjeli dan gesit, paling2 djuga tjuma melompat berkelit sadja.

Tapi kini Lam-hay-gok-sin bukan sadja tidak mempan dipanah, bahkan sempat angkat djarinja mendjentik, sungguh selama hidup Bok Wan-djing belum pernah mengalami tokoh selihay ini, saking djerinja hampir2 njalinja petjah, tjepat ia berseru.

Nanti dulu, djangan kau main kasar!

Lam-hay-gok-sin tertawa dingin, sahutnja.

Menurut aturanku, aku hanja tidak membunuh orang jang tidak mampu membalas seranganku, tapi kau telah menjerang aku dengan enam batang panah, itu berarti kau telah mendahului menjerang aku.

Mata aku akan melihat dulu matjam apa wadjahmu, kemudian mentjabut njawaku.

Ini adalah salahmu sendiri jang bergebrak lebih dulu, djangan kau menjalahkan aku melanggar aturan.

Salah, salah!

tiba2 Toan Ki menggembor.

Ada apa?

tanja Lam-hay-gok-sin menoleh.

Menurut aturan Lotjianpwe, kau tidak membunuh orang jang tidak mampu membalas seranganmu bukan?

Toan Ki menegas.

Benar!

sahut Lam-hay-golt-sin dengan mata mendelik.

Ketetapan itu bisa diubah atau tidak?

tanja Toan Ki.

Lam-hay-gok-sin mendjadi gusar, sahutnja.

Sekali aturan Lotju sudah ditetapkan tidak bisa di-tawar2 lagi!

Tapi kalau ada jang mengubahnja, matjam apakah orang itu?

desakToan Ki.

Orang itu adalah anak kura2 (anak germo) dan keturunan haram!

sahut simalaikatbuaja dari laut selatan.

Bagus, bagus!

seru Toan Ki.

Tadi belum lagi kau menjerang Bok-kohnio, tapi dia telah memanah kau, itu bukan balas menjerang, tapi harus disebut menjerang lebih dulu.

Djikalau kau menjerang dia, dalam keadaan terluka parah, pasti dia tidak mampu membalas sedikitpun.

Sebab itulah, hanja bisa dikatakan dia mampu menjerang, tapi tidak mampu balas menjerang.

Pabila kau membunuh dia, itu berarti kau telah mengubah peraturanmu, dan kalau kau mengubah aturanmu sendiri, itu berarti kau anak kura2 dan keturunan haram!

Ternjata dalam keadaan kepepet, Toan Ki terus main pokrol bambu.

Ia sengadja pantjing omongan Lam-hay-gok-sin untuk mendjebaknja, lalu berdebat dengan dia setjara pokrol2an.

Karuan Lam-hay-gok-sin menggerung murka bagai guntur kerasnja, sekali melompat, segera kedua tangan Toan Ki ditjekalnja sambil membentak.

Kurangadjar!

Kau berani memaki aku sebagai anak kura2 dan keturunan haram!

~ berbareng tangan lain diangkat terus hendak mnggablok keatas kepala pemuda itu.

Tapi dengan tenang Toan Ki masih mendjawab.

Djika kau mengubah peraturanmu, tentunja kau harus mengaku sebagai anak kura2, tapi kalau tidak, tentu djuga bukan.

Dan suka atau tidak engkau mendjadi anak kura2, semuanja tergantung pada engkau akan mengubah peraturanmu atau tidak.

Melihat pemuda itu begitu teguh pendiriannja, biarpun djiwanja terantjam, tapi sedikitpun tidak gentar, bahkan malah memaki orang anak kura2 terus menerus, Bok Wan-djing mendjadi kuatir Lam-hay-gok-sin pasti akan murka hingga sekali hantam, tentu kepala Toan Ki bisa remuk.

Saking takutnja, air matanja bertjutjuran, ia berpaling kearah lain tidak tega menjaksikannja.

Tak terduga Lam-hay-gok-gin mendjadi kesima oleh karena debatan Toan Ki tadi, ia pikir, kalau sekali gablok kubinasakan dia, itu berarti membunuh seorang jang tak mampu membalas seranganku, dan bukankah aku benar2 akan mendjadi anak kura2 dan keturunan haram?

Karena itu, tangannja jang terangkat tadi pelahan2 diturunkan kembali, sebaliknja tangan lain jang mentjekal kedua tangan Toan Ki pelahan2 diperkeras sambil mata mendelik.

Begitu kuat remasannja itu hingga Toan Ki kesakitan tidak kepalang, tulang tangannja sampai berkerutukan seakan2 patah, hampir2 ia djatuh semaput.

Tapi dasar wataknja memang sangat bandel, walaupun dengan meringis, segera ia berseru; Aku tidak mampu membalas seranganmu, lekaslah kau membunuh aku sadja!

Huh, aku djusteru tidak mau masuk perangkapmu!

Kau ingin aku mendjadi anak kura2 dan keturunan haram, ja?

sahut Lam-hay-gok-sin.

Habis berkata, tiba2 ia angkat tubuh pemuda itu dan dibanting ketanah.

Karuan mata Toan Ki ber-kunang2, isi perutnja serasa djungkir balik hantjur luluh.

Aku tidak mau terperangkep!

Aku takkan membunuh kalian dua setan tjilik ini!

demikian Lam-hay-gok-sik berkomat-kamit sendiri.

Mendadak ia membentak pada Bok Wan-djing.

Buka kain kedokmu!

Wan-djing merasa air mata sendiri ber-linang2 dikedua pipi, tiba2 hatinja tergugah.

Dahulu aku pernah menjatakan bahwa selama hidupku ini takkan menikah, ketjuali kalau aku menangis bagi laki2 itu!

~ Dan karena urusan sudah mendesak, tanpa pikir lagi segera ia memanggil Toan Ki.

Kemarilah kau!

Dengan masih meringis2 kesakitan Toan Ki mendekati sigadis dan menanja.

Ada apa?

Engkau adalah laki2 pertama didunia ini jang melihat wadjahku ini!

demikian Bok Wan-djing berbisik sambil berpaling kehadapan pemuda itu, lalu menjingkap kain kedoknja.

Seketika Toan Ki terguntjang se-akan2 kena aliran listrik.

Ternjata apa jang dilihatnja itu adalah sebuah wadjah tjantik aju bagai bidadari, tjuma agak putih putjat, tentunja disebabkan selamanja gadis itu menutupi mukanja dengan kedok, djarang terkena tjahaja matahari.

Kedua bibirnja jang tipis mungil itupun ke-putjat2an.

Namun bagi Toan Ki, rasanja gadis itu mendjadi lebih harus dikasihani, lemah lembut, sama sekali tiada memper sebagal Hiang-yok-djeh jang membunuh orang tanpa berkesip.

Kemudian Bok Wan-djing menutupkan kedoknja lagi dan berkata pada Lam-hay-gok-sin.

Nah, sekarang djika kau ingin melihat mukaku, kau harus minta idin dulu kepada suamiku.

He, kau sudah bersuami?

Gok-sin menegas dengan heran.

Siapakah suamimu itu?

Aku pernah bersumpah bahwa laki2 mana jang melihat wadjahku kalau aku tidak membunuh-dia, aku akan menikah padanja.

sahut Wan-djing sambil menundjuk Toan Ki.

Dan orang ini telah melihat wadjahku, aku tidak ingin membunuh dia, terpaksa aku mendjadi isterinja.

Lam-hay-gok-sin tertjengang, ia berpaling dan mengamat-amati Toan Ki Toan Ki merasai kedua mata orang; jang.

besarnja mirip katjang kedelai itu sedang memandang dirinja, dimulai dari ujung rambut sampai kepangkal kaki, dan dari djari kaki kembali ke-ubun2, karuan Toan Ki mendjadi risih dan merinding pula, kuatir kalau orang mendjadi kalap, sekali hantam binasakan dirinja.

Siapa tahu mendadak terdengar mulut Lam-hay-gok-sin tiada hentinja ber-ketjek2 memudji, katanja.

Tjk-tjk-tjk-tjk, bagus sekali, bagus sekali!

Tjoba kau menghadap kesini!

Toan Ki tidak berani membangkang, ia menurut dan berputar kehadapan orang.

Ehm, benar2 hebat, benar2 bagus!

Sangat mirip aku, sangat mirip aku!

demikian kembali Lam-hay-gok-sin memudji.

Mendengar utjapan jang tak djelas udjung-pangkalnja itu, Bok Wan-djing dan Toan Ki mendjadi heran, pikir mereka.

Ilmu silatmu memang benar tiada bandingannja, tapi rupamu djelek, bagian manakah jang mirip dengan Toan Ki jang tampan?

Tiba2 Lam-hay-gok-sin melompat kesamping Toan Ki, ia raba2 tulang kepala belakang pemuda itu, lalu pidjat2 tangan dan kakinja, kemudian meremas2 pula beberapa kali dipinggangnja.

Karuan Toan Ki merasa geli se-akan2 di-kili2 orang, hampir ia berteriak ketawa.

Tapi ia dengar Lam-hay-gok-sin sedang ter-bahak2 dan berkata.

Kau sangat mirip aku, ja, sangat mirip aku!

~ berbareng tangan Toan Ki digandengnja sambil berkata pula.

Marilah ikut padaku!

Lotjianpwe suruh aku kemana?

tanja Toan Ki dengan bingung.

Keistana Gok-sin-kiong dipulau Gok-to, dilautan selatan.

sahut Gok-sin.

Aku telah terima kau sebagai murid, lekas kau mendjura padaku!

Hal ini sungguh diluar dugaan Toan Ki, karuan ia kelabakan.

Ini..................

ini..............

Akan tetapi Lam-hay-gok-sin mana mau tahu ini atau itu, saking senangnja sampai ia ber-djingkrak2 se-akan2 orang putus lotere lima djuta.

Lalu katanja.

Tangan dan kakimu pandjang, tulang kepalamu bagian belakang menondjol keluar, tulang pinggang lemes, pintar dan tjerdik, aku jakin .bakatmu sangat baik, umurmu belum banjak lagi, benar2suatu bahan pilihan untuk beladjar silat.

Lihatlah ini, bukankah tulang kepalaku ini sama seperti kau?

~ sembari berkata, ia terus membaliki tubuhnja.

Benar djuga, Toan Ki melihat tulang kepala belakang orang memang sangat mirip dengan dirinja.

Buset!

Djadi apa jang dimaksudkan sangat mirip aku tadi tidak lebih hanja disebabkan persamaan dari sekerat tulang kepala belakang sadja!

Dalam pada itu Lam-hay-gok-sin telah putar tubuh lagi, katanja dengan berseri2.

Lam-hay-pay kita selamanja ada suatu peraturan, jalah setiap turunan hanja satu-guru-satu-murid, muridku jang sudah mati itu, Sun He-khek, tulang kepalanja tiada sebagus kau punja, kepandaiannja tiada dua bagian jang diterimanja dari peladjaranku kini dia sudah mati, biarlah, daripada sekarang bikin repot aku utk membunuhnja, agar aku bisa menerima kau sebagai murid.

Toan Ki bergidik oleh tjerita itu.

Pikirnja, sifat orang ini sedemikian biadabnja, kalau ada orang jang dipenudjui olehnja, lantas murid sendiri akan dibunuh supaja bisa terima murid baru lagi.

Kalau sekarang aku diterima sebagai murid, bukan mustahil kelakaku akan dibunuhnja djuga bila dia keternukan orang lain jang berbakat lebih bagus.

Djangankan dirinja memang tidak sudi beladjar silat, sekalipun mau djuga tidak nanti mengangkat orang demikian sebagai guru.

Tapi Toan Ki djuga insaf bila setjara tegas menolaknja sekarang, seketika malapetaka pasti akan menimpa dirinja.

Tengah ia bingung tak berdaja, se-konjong2 terdengar Lam-hay-gok-sin itu membentak.

Kalian lagi berbuat apa sembunji2 disitu?

Hajo, semuanja gelinding kemari!

Maka tertampaklah dari semak2 pohon sana muntjul tudjuh orang.

Su An, Hui Sian, Tjin Goan-tjun termasuk diantaranja.

Menjusul dari sebelah kiri sana djuga menongol dua orang, mereka adalah Tjo Tju-bok dan Siang-djing dari Bu-liang-kiam.

Kiranja sesudah Lam-hay-gok-sin naik keatas karang itu.

Toan Ki tidak bisa menimpuk batu untuk merintangi mereka lagi, maka kesempatan itu telah digunakan orang2 itu untuk mandjat keatas.

Empat orang lagi diantara rombongn Su An itu adalah Tjetju2 (gembong2) dari Hok-gu-tjeh, semuanja adalah djagoan terkenal dari kalangan Hek-to jang kerdjanja merampok dan membegal.

Meski orang2 itu bersembunji ditengah semak2 dengan menahan napas, namun mana bisa mengalabui telinga Lam-hay-gok-sin jang tadjam?

Tapi dasar orang aneh itu lagi.

senang karena memperoleh seorang murid berbakat bagus seperti Toan Ki, seketika ia tidak mendjadi marah, dengan masih ber-seri2 ia melototi Tjo Tju-bok dan lain2, lalu membentak.

Ada apa kalian naik kesini?

Apakah hendak menghaturkan selamat padaku karena menerima seorang murid bagus?

Dengan tabahkan diri, Djitjetju (gembong kedua) dari Hok-gu-tjeh jang bernama Tjok Thian-koat mendjawab.

Kami ingin menangkap perempuan hina si Hiang-yok-djeh ini untuk membalaskan sakit hati saudara kami.

Tidak, tidak boleh!

seru Gok-sin sambil gojang kepala.

Hiang-yok-djeh adalah isterinja muridku, lekas enjah semua!

Karuan semua orang melongo heran sambil saling pandang.

Tidak, aku tak bisa mengangkat kau sebagai guru, sudah lama aku mempunjai Suhu, seru Toan Ki tiba2.

Lam-hay-gok-sin mendjadi gusar, bentaknja.

Siapakah gurumu?

Apakah kepandaiannja bisa lebih tinggi dariku?

Kepandaian guruku itu, kujakin sedikitpun kau tak bisa, sahut Toan Ki.

Tjoba, apakah kau paham intisari dari Kong-yang-thoan?

Apa kau pernah beladjar ilmu Tjiong-ting-kah-kut segala?

Lam-hay-gok-sin garuk2 kepala, sebab dia memang tidak kenal apa itu, Kong-yang-thoan segala, bahkan dengarpun belum pernah.

Melihat wadjah orang mengudjuk bingung, diam2 Toan Ki geli, ia pikir ilmu silat orang ini sangat tinggi, tapi otaknja ternjata rada bebal.

Maka katanja lagi.

Makanja, kebaikan Lotjianpwe biarlah kuterima dalam hati sadja, kelak aku akan mengundang guruku untuk tjoba2 bertanding dengan Lotjianpwe, pabila Lotjianpwe bisa menangkan guruku, barulah, aku akan mengangkat engkau sebagai Suhu.

Siapa Suhumu?

Masakan aku djeri padanja?

Hajo, tetapkan, kapan aku bertanding?

teriak Gok-sin gusar.

Padahal apa jang diutjapkan Toan Ki itu hanja sekedar untuk mengulur waktu sadja, siapa duga orang benar2 minta diadakan perdjandjian bertanding.

Karuan ia tak bisa mendjawab.

Tengah bingung tak berdaja, tiba2 dari djauh sana terdengarlah suara kumandang suitan orang jang pandjang bagai auman naga, suara itu ber-gelombang2 tak ter-putus2 melintasi lereng2 gunung itu.

Kalau tadi Toan Ki merasa ngeri dan seram oleh suara suitan Lam-hay-gok-sin jang melengking tadjam itu, adalah suara suitan sekarang ini kedengarannja keras tapi tenang dan kuat mengguntjangkan lembah gunung, sedikitpun tidak kalah hebatnja daripada suara Lam-hay-gok-sin tadi.

Mendengar suara itu tiba2 Gok-sin tabok kepala sendiri sambil berseru.

Aija, orang ini sudah tiba, aku tidak sempat banjak bitjara dengan kau lagi.

Hajo, kapan gurumu akan Pi-bu (bertanding silat) dengan aku dan dimana tempatnja?

Ajo, lekas katakan, lekas!

Aku..........

aku tidak enak me.........

mewakili guruku mengadakan perdjandjian dengan engkau, sahut Toan Ki ter-gagap2.

Apalagi bila sekali engkau sudah pergi, orang2 ini tentu akan membunuh kami berdua, lalu tjara begaimana aku.........

aku bisa memberitahukan pada guruku?

~ sembari berkata, ia tuding2 Hui-sian dan lain2.

Mendengar itu, tanpa menoleh lagi, Lam-hay-gok-sin membaliki tangan kiri meraup kebelakang, seketika tangan Tjoh Thian-koat, itu Djitjetju dari Hok-gu-tjeh kena ditjekalnja, menjusul tangan kanan Gok-sing mendjodjoh pula kebelakang, tjrat, kelima djarinja menantjap masuk didada Tjoh Thian-koat, kontan terdengar djeritan ngeri gembong Hok-gu-tjeh itu.

Pabila kemudian tangan kanan Lam-hay-gok-sin ditarik kembali, ditengah tangannja jang berlumuran darah itu sudah memegang sebuah hati manusia.

Kedua kali gerakan Lam-hay-gok-sin itu tjepatnja bukan main, pertjuma sadja Tjoh Thian-koat memiliki kepandaian, sedikitpun ternjata takbisa dikeluarkan.

Karuan semua orang jang menjaksikan itu ikut ternganga kesima.

Buah hati manusia tadi oleh Lam-hay-gok-sin segera dimasukan kemulutnja, kruk, ia gigit sepotong terus dikunjah dengan lezatnja bagai makan ketimun sadja.

Sungguh pedih dan gusar tidak kepalang ketiga Tjetju jang lain dari Hok-gu-tjeh.

Berbareng mereka menggerung murka terus menubruk madju.

Akan tetapi sama sekali Lam-hay-gok-sin tidak berpaling, bahkan mulutnja masih terus makan dengan enaknja, sedang kaki kanan mendepak tiga kali sekaligus kebelakang, Kontan tertampak tubuh ketiga Tjetju dari Hok-gu-tjeh itu mentjelat keudara dan djatuh kedalam djurang semua.

Suara djeritan ngeri jang berkumandang diangkasa lembah pegunungan itu membuat Toan Ki merinding.

Menampak betapa ganas dan buasnja Lam-hay-gok-sin, ilmu silatnja sedemikian lihay pula, Hui-sian, Tjo Tju-bok dan lain2 mendjadi djeri dan mundur ketakutan.

Sambil mulutnja masih mengunjah sisa hati manusia tadi, setjara samar2 Lam-hay-gok-sin berseru pula.

Lotju belum tjukup hanja memakan sebuah hati, aku masih......

masih inginkan jang kedua, siapa jang larinja paling lambat, dia itulah akan mendjadi mangsa Lotju.

Mendengar itu, takut Tjo Tju-bok, Siang-djing, Tjin Goan-tjun dan lain2 bukan buatan, hampir2 semangat mereka terbang ke-awang2, tjepatan sadja mereka berebut melarikan diri, begitu sampai ditepi djurang, tanpa pikir lagi mereka memberosot kebawah.

Hanja Oh-pek-kiam Su An sadja jang masih tinggal disitu dengan mata mendelik sambil menghunus pedang, katanja dengan gagah berani.

Didunia ini ternjata ada manusia sekedjam dan seganas ini, sungguh melebihi binatang.

Pabila aku Su An djuga takut mati dan melarikan diri, kemanakah mukaku harus ditaruh kalau berkelana dikangouw lagi?

~ Habis itu, ia sentil batang pedangnja hingga berbunji mendengung, bukannja mundur, bahkan ia melangkah madju terus membentak.

Awas pedang!

~ tanpa bitjara lagi ia menusuk dada Lam-hay-gok-sin.

Dibawah sinar matahari jang terang-benderang itu, sinar pedang gemilapan menjilaukan mata, tapi Lam-hay-gok-sin anggap seperti tidak melihatnja sadja, ia masih asjik menikmati penganannja sendiri jang istimewa itu.

Maka udjung pedang Su An itu tampaknja sudah akan menembus dadanja, segera Su An kerahkan tenaganja lebih kuat.

Krak sekali, ternjata bukan dada Lam-hay-gok-sin jang tertembus, tapi pedangnja Su An jang patah mendjadi dua.

Sungguh luar biasa, tubuh Lam-hay-gok-sin itu ternjata kebal, tidak mempan sendjata.

Meski pedang Su An itu bukan Pokiam atau pedang pusaka, tapi djuga tergolong sendjata pilihan jang sangat tadjam.

Karuan ia kaget, tjepat ia melompat mundur sambil melolos pula pedangnja jang lain.

Pedang kedua ini hitam mulus wudjutnja, sedikitpun tidak mengeluarkan sinar mengkilap.

Apakah kau ini Oh-pek-kiam Su An?

tiba2 Lam-hay-gok-sin menanja.

Benar, sahut Su An.

Orang She Su harini tewas ditangan manusia buas seperti kau, kelak pasti ada orang jang menuntut balaskan.

~ Ia insaf ilmu sendiri terpaut sangat djauh dengan lawan itu, pasti bukan tandingan orang.

Namun sedikitpun ia tidak gentar, ia sudah ambil keputusan, pabila achirnja tetap kalah, segera ia akan bunuh diri terdjun kebawah djurang daripada djatuh ditangan musuh dan dimakan hatinja.

Saat itu Lam-hay-gok-sin baru mendjedjalkan sisa hati manusia tadi kedalam mulutnja, lalu katanja.

Oh-pek-kiam Su An, ehm, sudah lama Lotju mendengar namamu.

Lam-hay-gok-sin djusteru paling suka memakan buah hati Enghiong-hohan (orang gagah dan kaum kestria), sebab lebih enak daripada manusia pengetjut jang tak berguna.

Hahaha, tentu boleh djuga hati manusia Su An ini!

Habis berkata, se-konjong2 tubuhnja meletjit kedepan setjepat panah.

Segera Su An memapak dengan tusukan pedangnja ketenggorokan lawan.

Tapi sedikit Lam-hay-gok-sin egos kepalanja tahu2 bahu Su An sudah kena ditjengkeramnja.

Seketika Su An merasa separoh tubuhnja kaku pegal, sepenuh sisa tenaga ia ketok batok kepala orang dengan gagang pedangnja, tak, bukannja kepala lawan jang petjah, tapi pedangnja jang hitam mulus itu jang terpental dan tangannja petjah oleh getaran itu.

Dalam kedjutnja Su An meronta sebisanja terus hendak menerdjun kebawah djurang, namun sekali lengannja sudah kena dipegang oleh Lam-hay-gok-sin, mana bisa terlepas begitu sadja.

Tengah keadaan berbahaja, tiba2 diangkasa raja berkumandang datang lagi suara suitan matjam naga berbunji, menjusul suara seorang telah berkata.

Hiong-sin-ok-sat Gak-losam, apa kau takut?

Maka tidak berani kemari?

Suara itu berkumandang dari djauh, tapi kedengarannja orang jang berkata itu seperti berada didekat situ.

Huh, selama hidup Gak-losam pernah gentar pada siapa sih?

Segera kudatang kesitu!

Lam-hay-gok-sin dengan keras.

Sembari berkata, tangannja diangkat terus hendak mentjakar kedada Su An.

Dalam keadaan begitu, Su An hanja pedjamkan mata menunggu adjal sadja.

Untunglah mendadak Toan Ki berseru.

Lotjianpwe, hati orang ini berbisa, djangan kau memakannja!

Lam-hay-gok-sin tertegun, tanjanja kemudian.

Darimana kau tahu?

Kemarin dulu orang ini berani main gila pada Sin-long-pang, maka Sikong-pangtju telah tjekoki dia dengan Toan-djiong-san dan Hu-sim-tan (pil pembusuk hati), demikian Toan Ki sengadja mengotjeh.

Dan kemarin dia bermusuhan lagi dengan Bok-kohnio hingga kena dipanah sekali oleh nona Bok dengan panahnja jang beratjun, mungkin saat ini ratjun sudah mulai merasuk kedalam hatinja.

Apalagi pagi tadi dia kena digigit pula sekali oleh seekor ular emas ketjil.......

Apakah Kim-leng-tju?

sela Lam-hay-gok-sin.

Benar, memang Kim-leng-tju!

sahut Toan Ki sembari melepaskan Djin-lengtju dari pinggangnja, lalu menjambung.

Lihat ini, Kim-leng-tju dan Djing-leng-tju selalu berada bersama.

Bisa bintang ketjil ini teramat lihaynja, sekalipun Lotjianpwe punja Lwekang sangat tinggi dan tidak takut terkena ratjun, tapi hati orang ini tentunja siang2 sudah membusuk, tak enak untuk dimakan, djangan2 malah akan bikin sakit perut Lotjianpwe nanti!

Ada benarnja djuga pikir Lam-hay-gok-sin.

Segera ia lemparkan Su An kesamping, lalu katanja pada Toan Ki.

Kau botjah ini meski belum resmi mengangkat guru, tapi kau sudah mem punjai hati baik terhadap gurumu.

Se-konjong2 suara auman aneh tadi berdjangkit lagi dengan keras dan sahut menjahut bagai paduan suara ngaungan binatang buas dan benturan logam jang menjerikan perasaan dan memekakan telinga.

Tjepat Lam-hay-gok-sin mengeluarkan suaranja jang mirip hantu merintih, sekali melesat, tahu2 melompat turun kebawah djurang.

Kedjut dan girang Toan Ki, pikirnja.

Mampus kau sekarang melompat kedalam djurang!

~ tjepat ia ber-lari2 melongok ketepi djurang, ia lihat si malaikat buaja dari laut selatan itu lagi berlompatan kebawah, sekali lompat lantas belasan tombak kebawah, tangannja terus menahan didinding djurang, habis itu tubuhnja menurun pula kebawah dan begitu seterusnja hingga achirnja bajangannja lenjap dibawah awan putih jang menutupi angkasa djurang itu.

Toan Ki melelet lidah oleh kepandaian Lam-hay-gok-sin jang susah dibajangkan itu.

Ketika berpaling kembali, ia lihat Su An sudah djemput kembali pedang hitamnja dan dimasukkan kedalam sarung, lalu katanja sambil Kiongtjhiu dengan muka djengah.

Harini berkat pertolongan Toan-heng, sungguh aku Su An takkan melupakan budi kebaikan ini.

Tjayhe hanja ngotjeh sekenanja, masih mengharapkan Su-heng djangan marah, sahut Toan Ki sambil membalas hormat.

Lam-hay-gok-sin Gak Djong-liong ini biasanja tinggal di Ban-gok-to (pulau berlaksa buaja) dilautan selatan, kali ini tiba-tiba datang ke Tionggoan, tentu tidak sendirian, mungkin masih banjak begundal jang dibawanja, kata Su An.

Konon orang ini sekali omong pasti dilaksanakannja, maka sekali kalau dia sudah penudjui Toan-heng, tentu takkan sudahi begini sadja.

Kedatangan Tjayhe untuk meretjoki Tjunhudjin (isterimu) sebenarnja adalah atas permintaan kawan sadja, maka selandjutnja tentu akan kuanggap selesai.

Sekarang djuga biar Tjayhe menghantar Hianhudjeh (kalian suami-isteri) turun gunung untuk menghindari gangguan begundalnja Lam-hay-gok-sin.

Toan Ki mendjadi merah djengah mukanja mendengar orang berulang kali menjebut Hianhudjin dan Hianhudjeh, tjepat ia gojang2 tangan dan berkata dengan tak lantjar.

Ti......

tidak.....

bu.....

bukan.......

Namun terdengar Bok Wan-djing telah buka suara dengan dingin.

Su An, silahkan kau pergi sadjalah, Huh, keselamatanmu sendiri sadja takbisa didjaga, masih berlagak gagah perwira segala?

Merah padam Su An oleh olok2 itu, tanpa bitjara lagi ia putar tubuh dan tinggal pergi.

Nanti dulu, Su-heng!

tjepat Toan Ki menahan.

Namun Su An sudah ngambek, ia berlari ketepi djurang dan memberosot turun.

Sekilas Toan Ki melihat dilereng gunung depan sana ada setitik benda kuning lagi bergerak dengan sangat tjepat.

Waktu ditegaskan, kiranja adalah Lam-hay-gok-sin, hanja dalam sekedjap sadja, simalaikat buaja dari laut selatan itu sudah merajap sampai disana.

Toan Ki kembali kesamping Bok Wan-djing dan berkata.

Apa jang dikatakan Su-heng itu bukannja tiada beralasan, buat apa kau mesti bikin menjesal dia?

Bok Wan-djing mendjadi gusar, sahutnja.

Baru sadja mendjadi suamiku, kau lantas ingin memerintah aku, ja?

Kalau kubunuh kau, paling2 akupun bunuh diri mengiringi kau, apanja jang perlu dibuat geger?

Toan Ki tertegun, katanja pula.

Hal ini hanja untuk menipu Lam-hay-gok-sin itu karena keadaan genting tadi, kenapa dianggap sungguhan?

Mana dapat aku mendjadi suami nona?

Apa katamu?

seru Bok Wan-djing sambil berbangkit dengan ter-hujung2 memegangi dinding batu.

Djadi kau tidak sudi padaku?

Kau mentjela diriku, bukan?

Melihat nona itu sedemikian gusarnja, tjepat Toan Ki berkata lagi.

Harap nona djaga kesehatanmu lebih penting, soal utjapan main2 tadi, buat apa kau pikirkan dalam hati?

Plok, mendadak Bok Wan-djing melangkah madju dan persen Toan Ki dengan sekali tempilingan.

Tapi badannja terlalu lemas, sekali sempojongan, ia djatuh kepangkuan pemuda itu.

Tjepat Toan Ki pun memeluknja agar tidak roboh.

Karena berada dalam pelukan pemuda itu, teringat pula dirinja sudah diaku sebagai isteri, Bok Wan-djing merasa badannja mendjadi hangat, rasa gusarnja ikut berkurang pula beberapa bagian.

Lalu katanja.

Lekas lepaskan aku!

Toan Ki dukung nona itu berduduk menjandar didinding batu, pikirnja.

Perangainja memang sangat aneh, sesudah terluka parah, mungkin mendjadi lebih gandjil lagi wataknja.

Kini terpaksa ku turuti dia, biar apa jang dia bilang, aku hanja menurut sadja, toh aku..........

Ia tjoba hitung2 dengan djari, djarak waktu bekerdjanja ratjun Toan-djiong-san sudah dekat, ia pikir walaupun ratjun itu tidak djadi kumat, rasanja sekali2 dirinja djuga takkan mampu turun dari gunung jang dilingkungi djurang2 tjuram itu dengan hidup.

Maka dengan suara halus kemudian ia menghibur Bok Wan-djing.

Sudahlah, djangan kau marah.

Jang benar, marilah kita mentjari apa2 jang dapat kita makan.

Diatas bukit tandus begini, apa jang dapat kita makan?

sahut Bok Wan-djing.

Biarlah aku mengaso sebentar, kalau sudah tjukup kuat, aku gendong kau turun kegunung sadja.

Mana........

mana boleh, seru Toan Ki sambil gojang2 tangannja.

Untuk djalan sendiri sadja kau belum kuat, mana dapat menggendong aku pula?

Kau lebih suka korbankan djiwa sendiri ketimbang mengingkari aku, kata Wan-djing.

Maka aku, demi Longkun (suamiku), meskipun aku Bok Wan-djing biasanja membunuh orang tanpa berkesip djuga rela berkorban untuk sang suami.

Kata2nja itu diutjapkan dengan tegas dan pasti, tjuma tidak bisa mengutarakan perasaannja jang haru mesra itu, dengan sendirinja nadanja mendjadi kaku, agak tidak sesuai dengan rasa hatinja jang penuh tjinta kasih itu.

Maka djawablah Toan Ki.

Banjak terima kasih, biarlah kau mengaso dulu, nanti kita bitjarakan lagi.

~ Tapi se-konjong2 perutnja terasa kesakitan, tak tertahan lagi ia mendjerit aduh!

Begitu sakit perutnja itu hingga mirip di-sajat2 oleh pisau, ususnja se-akan2 di-potong2.

Dengan meringis Toan Ki menahan perutnja, keringatpun berbutir2 merembes2 keluar didjidatnja.

He, ken.....

kenapakah kau?

tanja Bok Wan-djing kuatir.

Sikong.......

Sikong Hian dari Sin-long-pang telah.....

telah tjekoki aku dengan Toan-djiong-san..........

demikian Toan Ki menutur dengan terputus2.

Karuan kedjut Bok Wan-djing bukan buatan, pikirnja.

Kabarnja Sin-long-pang paling pandai menggunakan obat, djika Pangtju mereka sendiri jang memberi ratjun, mungkin susah ditolong lagi.

~ Ia lihat Toan Ki begitu kesakitan hingga megap2, hatinja sangat tidak tega, ia tarik pemuda itu berduduk disampingnja dan menghiburnja.

Kuatkanlah perasaanmu!

Sekarang sudah baikan belum?

Tapi saking kesakitan sampai mata Toan Ki se-akan2 ber-kunang2, maka dengan merintih2 ia berkata.

Aduh, sakitnja!

Ma.....

makin lama main sakit!

Sigadis mengusap keringat Toan Ki dengan lengan badjunja, ketika melihat wadjah pemuda itu putjat pasi, hatinja mendjadi pilu dan air mata ber-linang2, katanja dengan ter-guguk2; Djang.......

djangan kau mati begini sadja!

~ sembari berkata, ia terus tarik topengnja itu dan menempelkan pipi kanan sendiri kepipi kiri Toan Ki.

Ja, Longkun, kau.........

kau djangan mati!

Selama hidup Toan Ki belum pernah berdekatan dengan gadis djelita, apalagi kini setengah dirangkul Bok Wan-djing, pipi menempel pipi, terdengar pula rajuan Longkun, Longkun jang meresap, karuan semangat Toan Ki terombang-ambing ketengah awang2.

Kebetulan djuga saat itu sakit perutnja agak reda.

Sudah tentu Toan Ki merasa berat untuk berpisah dari rangkulan sigadis, maka katanja.

Selandjutnja kau djangan lagi memakai topeng, ja?

Djika kau minta begitu, pasti aku akan menurut, sahut Bok Wan-djing.

Dan sekarang perutmu sudah baikan belum?

Sudah agak baik, sahut Toan Ki.

Tapi...........

Tapi apa?

tanja Wan-djing.

Ta.............

tapi kalau kau melepaskan aku, mungkin akan kesakitan lagi.

Tjis, djadi kau hanja pura2 sadja, omel sinona dengan muka merah sambil mendorong pergi Toan Ki.

Sebenarnja Toan Ki adalah seorang laki2 djudjur, karuan ia mendjadi malu djuga.

Ia tidak tahu bahwa tjara bekerdjanja ratjun Toan-djong-san itu, mula2 agak lama baru berdjangkit kesakitan sekali, kemudian makin djangkit makin kerap hingga achirnja saking kesakitan tiada henti2nja, orangnja akan mati.

Tapi ia salah sangka karena rajuan Bok Wan-djing tadi jang penuh kasih manisnja madu, perasaannja terguntjang, maka lupa sakit.

Sebaliknja Bok Wan-djing rada kenal sifat bekerdjanja ratjun itu, kalau pemuda itu kesakitan terus menerus malah masih bisa ditolong, tapi hanja kesakitan sebentar lantas berhenti, umumnja tentu terkena ratjun djahat jang susah disembuhkan, sipenderita pasti akan tersiksa mati-tidak-hidup-tidak, djauh lebih mengenaskan daripada mati.

Dan ketika melihat pemuda itu mengundjuk rasa malu, ia mendjadi pilu pula, ia pegang tangan Toan Ki dan berkata pula.

Kalau kau mati, Longkun, akupun tidak ingin hidup sendirian, biarlah kita berdua mendjadi suami-isteri dialam baka nanti.

Tapi Toan Ki tidak ingin gadis itu mati-setia baginja, katanja.

Tidak, tidak!

Kau harus membalaskan sakit hatiku dulu, kemudian setiap tahun sekali harus berziarah kekuburanku.

Aku ingin kau bersembahjang dikuburanku selama berpuluh2 tahun, dengan demikian, barulah aku bisa tenteram dialam baka.

Aneh djuga kau ini, udjar Wan-djing.

Sesudah mati, apa jang bisa dirasakan lagi?

Aku datang berziarah atau tidak kekuburanmu, apa paedahnja bagimu?

Djika begitu, kau ikut mati bersama aku, lebih2 tiada berguna, sahut Toan Ki.

O, betapa tjantiknja engkau, pabila setiap tahun kau sudi berziarah sekali kekuburanku, kalau aku mengetahui dialam baka, akan senang djuga hatiku melihat engkau.

Tapi bila kau ikut mati bersama aku, kita sama2 akan mendjadi tulang-belulang belaka, tentu ini tidak bagus lagi untuk dilihat.

Mendengar dirinja dipudji, senang djuga hati Bok Wan-djing.

Tapi segera terpikir pula olehnja, baru harini mendapatkan seorang suami jang di-idam2kan, sekedjap lagi orangnja sudah akan mati, tak tertahan lagi air matanja bertjutjuran.

Toan Ki rangkul pinggang sinona jang ramping itu, hatinja terguntjang pula ketika tangannja menjentuh badan jang halus lunak itu, tak tertahan lagi ia menunduk dan mengetjup sekali dibibir sigadis.

Mendadak ia mengendus bau wangi semerbak.

Ia tidak berani lama2 mentjium, tjepat mendongakan kepalanja kebelakang dan berkata.

Orang menjebut kau Hiang-yok-djeh wanginja memang njata benar, tapi kalau dialam halus benar2 ada setan wangi sedemikian tjantiknja, mungkin setiap laki2 didjagat ini lebih suka membunuh diri mendjadi setan untuk memperoleh seorang setan wangi setjantik kau ini.

Setelah ditjium tadi, hati Bok wan-djing masih dak-dik-duk ber-debar2, pipi bersemu merah, mukanja jang tadinja ke-putjat2an itu mendjadi lebih tjantik molek.

Katanja kemudian.

Kau adalah laki2 satu2nja didunia ini jang pernah melihat wadjahku, setelah kau mati, aku lantas merusak mukaku agar tak dilihat lagi oleh laki2 kedua.

Sebenarnja Toan Ki hendak mentjegah maksudnja itu, tapi aneh djuga, timbul sematjam rasa tjemburu didalam hatinja, sesungguhnja iapun tidak ingin ada laki2 lain jang bisa melihat lagi wadjah tjantik sigadis itu, maka kata2 jang hampir diutjapkan itu urung dikeluarkan, sebaliknja terus menanja.

Sebab apa dahulu kau bersumpah sekedji ini.

Kau sudah djadi suamiku, tiada halangan djuga kutjeritakan padamu, sahut Wan-djing.

Aku sudah jatim-piatu, begitu lahir lantas dibuang orang ditepi djalan, beruntung guruku telah menolong diriku dan dengan susah-pajah aku dibesarkan serta diberi peladjaran ilmu silat setinggi sekarang ini.

Kata guruku, setiap laki2 didunia ini memang berhati palsu, kalau melihat wadjahku, pasti aku akan digoda dan dipantjing hingga terdjerumus.

Sebab itulah sedjak ketjil aku lantas diberinja kedok penutup muka.

Sampai berumur 16 tahun, ketjuali guruku, aku tidak pernah melihat orang lain.

Dua tahun jang lalu, Suhu perintahkan aku turun gunung untuk menjelesaikan sesuatu urusan........

Djadi tahun ini kau berusia 18 tahun?

sela Toan Ki.

Aku lebih tua dua tahun.

Wan-djing angguk2, katanja pula.

Waktu turun gunung, Suhu suruh aku bersumpah.

pabila ada orang melihat wadjahku, kalau aku tidak membunuh dia, harus aku kawin padanja.

Dan bila orang itu tidak mau peristerikan aku atau sesudah nikah meninggalkan diriku, maka aku diharuskan membunuh sendiri manusia berhati palsu itu.

Kalau aku tidak turut perintah Suhu ini, sekali diketahui Suhu, beliau lantas akan membunuh diri dihadapanku.

Toan Ki merinding mendengar sumpah aneh itu, pikirnja.

Umumnja orang bersumpah tentu menjatakan bersedia dibunuh atau ditimpa malapetaka apa.

Tapi gurunja sebaliknja sebaliknja mengantjam hendak membunuh diri.

Sumpah demikian sekali2 tak boleh diingkari.

Betapa besar budi kebaikan Suhu padaku, mana bisa aku membangkang perintahnja itu?

demikian Wan-djing melandjutkan.

Apalagi pesannja itu adalah demi kebaikanku sendiri.

Maka tanpa pikir lagi tatkala itu aku lantas menurut dan bersumpah.

Selama dua tahun ini, tugas jang diberikan Suhu padaku itu masih belum terlaksana, sebaliknja aku telah mengikat permusuhan.

Padahal orang2 jang tewas dibawah pedang dan panahku itu adalah salah mereka sendiri, mereka jang lebih dulu meretjoki aku hendak menjingkap kedok mukaku.

Toan Ki menghela napas, baru sekarang ia mengarti duduknja perkara, mengapa seorang gadis djelita begitu bisa mempunjai musuh sedemikian banjak.

Kenapa kau menghela napas?

tanja Bok wan-djing.

Ja, mereka melihat kau selalu berada seorang diri, perawakan ramping menggiurkan, tapi djusteru sepandjang tahun memakai kedok muka, saking ingin tahu, tentu sadja mereka ingin melihat mukamu sebenarnja tjantik atau djelek, padahal belum pasti mereka mempunjai maksud djahat.

Siapa tahu, karena sedikit kesalahan itu, djiwa mereka mesti melajang.

Bagiku, sudah pasti aku membunuh mereka, udjar Wan-djing.

Kalau tidak, bukankah aku harus mendjadi isteri manusia2 jang mendjemukan itu?

Tjuma akupun tidak menduga bahwa orang2 itu masih banjak mempunjai sanak-kadang.

Satu kubunuh, lantas berekor dengan beberapa orang sobat-andainja datang mentjari perkara padaku Sampai achirnja, bahkan Hweshio dan Tosu djuga ikut2 mendjadi musuhku.

Aku pernah tinggal beberapa bulan di Ban-djiat-kok, suami-isteri she Tjiong itu tjukup menghormati aku, tak terduga Tjiong-hudjin bisa memalsukan namaku, tjoba bikin marah orang tidak perbuatannja itu?

~ rupanja ia mendjadi letih banjak bitjara, ia pedjamkan mata mengumpulkan semangat sebentar, kemudian berkata pula.

Semula aku mengira kaupun seperti laki2 lainnja, hanja manusia jang tidak kenal budi kebaikan.

Siapa duga setelah kau berangkat memindjam Oh-bi-kui, kau masih lari kembali lagi untuk memberi kabar padaku.

Inilah sungguh tidak mudah dilakukan setiap orang.

Belakangan ketika Lam-hay-gok-sin ini mendesak terus, terpaksa aku membiarkan kau melihat wadjahku.

Berkata sampai disini, ia berpaling memandangi Toan Ki dengan sorot mata jang penuh kasih mesra.

Karuan Toan Ki ber-debar2, pikirnja.

Apa benar2 dia mendjadi tjinta padaku?

~ Segera iapun berkata.

Sudahlah, keadaan tadi hanja terpaksa, soal sumpahmu itu boleh djuga takusah mesti ditaati.

Bok Wan-djing mendjadi gusar, Sumpah jang pernah kuutjapkan, manabisa diubah.

katanja dengan bengis.

Kalau kau tidak sudi memperisterikan aku, lekas kau katakan terus terang, biar sekali panah kubinasakan kau, agar aku tidak melanggar sumpahku.

Selagi Toan Ki hendak memberi pendjelasan lagi, se-konjong2 perutnja kesakitan pula, dengan kedua tangan menahan perut, ia me-rintih2.

Lekas katakan, kau mau memperisterikan aku tidak?

tanja Bok Wan-djing lagi.

Per......

perutku sakit.......

aduh!

sakit sekali!

kata Toan Ki.

Sebenarnja kau mau mendjadi suamiku tidak?

Wan-djing mendesak terus.

Toan Ki pikir toh begini kesakitan, hidupnja tentu tidak lama lagi, buat apa pada sebelum mati mesti melukai hati seorang nona.

Maka iapun memanggut dan berkata.

Aku.......

aku mau memperisterikan kau!

Sebenarnja Bok Wan-djing sudah siapkan panah beratjun ditangan, demi mendengar djawaban Toan Ki itu, seketika girangnja tak terkatakan, dengn senjum gembira ia terus merangkul pemuda itu dan berkata.

O, suamiku jang baik, biarlah kupidjat perutmu.

Tidak, tidak!

djawab Toan Ki tjepat.

Kita masih belum menikah, laki2 dan perempuan ada perbatasannja, ini........

ini tidak boleh.

Tergerak pikiran Bok Wan-djing tiba2, katanja.

Ja, tentu kau sudah kelaparan, maka sakitnja mendjadi lebih hebat.

Biarlah kupotong sedikit daging keparat itu untuk dimakan kau.

~ Habis berkata, ia berbangkit dan merajap hendak mendekati majat Tjoh Thian-koat untuk memotong dagingnja.

Karuan kedjut Toan Ki tidak kepalang, seketika terlupalah sakit perutnja, tjepat ia menggembor.

Djangan, djangan!

Daging manusia mana boleh dimakan, biarpun mati djuga aku tidak mau makan!

Aneh, sebab apa tak boleh dimakan?

tanja Wan-djing heran.

Bukankah Lam-hay-gok-sin tadi sudah makan buah hatinja?

Lam-hay-gok-sin itu teramat kedjam dan ganas melebihi binatang, kita mana..........

mana boleh meniru dia?

Ketika tinggal bersama dengan Suhu digunung, sering kami makan daging harimau, daging mendjangan.

Kalau menurut kau, tentunja tak boleh dimakan djuga?

kata sigadis.

Daging2 binatang itu dengan sendirinja boleh dimakan, tapi daging manusia tak boleh dimakan!

sahut Toan Ki.

Apa daging manusia beratjun?

Bukan beratjun, sahut Toan Ki.

Tapi kita sama2 adalah manusia.Kau adalah manusia, akupun manusia, Tjoh Thian-koat itupun manusia.Manusia tak boleh makan manusia.

Sebab apa?

tanja sigadis.

Kulihat dikala kawanan serigala sedang lapar, mereka lantas makan serigala jang lain.

Makanja, sahut Toan Ki gegetun.

Kalau manusia pun makan manusia, bukankah tiada ubahnja seperti serigala?

Sedjak ketjil Bok Wan-djing selalu berdampingan dengan sang guru, selamanja tidak pernah bergaul dengan orang ketiga, watak gurunja sangat aneh pula, biasanja tidak pernah bitjara tentang urusan keduniawian dengan dia.

Sebab itulah, tentang sopan-santun dan peradaban manusia sedikitpun ia tidak paham.

Kini mendengar Toan Ki bilang manusia tidak boleh makan manusia, ia mendjadi heran dan ragu2.

Kau sembarangan membunuh orang, itupun tidak benar.

kata Toan Ki lagi.

Sebaliknja kalau orang lain ada kesukaran, kau harus membantunja.

Dengan demikian barulah sesuai dengan tudjuan orang hidup.

Djika begitu, kalau aku ada kesukaran, orang lain apakah djuga akan membantu aku?

kata sigadis.

Tapi kenapa orang jang kudjumpai, ketjuali guruku, setiap orang selalu ingin membunuh aku, mentjelakai dan menghina aku, selamanja tiada jang baik2 padaku?

Kalau harimau hendak menerkam dan memakan aku, lantas aku membunuhnja.

Begitu pula orang2 itu, mereka hendak membunuh aku, dengan sendirinja akupun membunuh mereka, apa bedanja?

Pertanjaan ini benar2 membikin Toan Ki bungkam takbisa mendjawab, terpaksa ia berkata.

Kiranja urusan peradaban sedikitpun kau tidak paham, kenapa gurumu membiarkan kau turun gunung begini sadja?

Suhu bilang kedua urusannja itu betapapun harus diselesaikan dan tidak bisa menunggu lagi.

kata Wan-djing.

Dua urusan apakah itu, dapatkah kau mentjeritakan?

Kau adalah suamiku, dengan sendirinja boleh kutjeritakan, kalau orang lain tentu tidak.

sahut Wan-djing.

Suhu suruh aku turun gunung untuk membunuh dua orang.

Aai, sudahlah, sudahlah!

tjepat Toan Ki menjela sambil tekap kedua telinganja.

Bitjara kesana-kesini sedjak tadi, kalau bukan makan manusia, tentunja membunuh orang, auuuuh.......

aduh.......

~ kiranja perutnja terasa kesakitan lagi hingga ia mendjerit pula.

Sigadis tjoba meng-urut2 perut Toan Ki dari luar badju.

Se-konjong2 tangannja menjentuh sesuatu jang hangat2, didalamnja seperti ada barang jang ber-gerak2.

Apakah ini?

tanja sigadis terus merogoh keluar benda itu dari badju Toan Ki.

Kiranja itu adalah sebuah kotak kemala ketjil.

Waktu diperhatikan, didalam kotak terdengar ada suara krok-krok.

Segera Wan-djing bermaksud membuka tutup kotak itu, tapi Toan Ki tjepat mentjegah.

Djangan, nona Tjiong bilang tidak boleh buka kotak ini, Djing-leng-tju sangat takut pada benda ini, begitu dibuka, tentu dia akan lari.

Tjiong Ling bilang djangan dibuka, aku djusteru ingin membukanja, udjar Bok Wan-djing.

Segera ia buka tutup kotak pelahan hingga tampak satu selah2 ketjil, waktu diintip dibawah sinar matahari, terlihatlah didalam kotak itu berisi sepasang katak ketjil jang antero badannja berwarna merah darah.

Begitu katak2 merah itu melihat tjahaja, mendadak terus bersuara wak-wak-wak beberapa kali, suaranja keras bagai menguaknja kerbau hingga telinga se-akan2 pekak dibuatnja.

Karuan Toan Ki dan Bok Wan-djing terkedjut, dan karena itu, hampir2 kotak jang dipegangi Bok Wan-djing itu terdjatuh ketanah.

Sungguh tak tersangka olehnja bhw kedua katak seketjil itu bisa bersuara begitu keras, tjepatan sadja ia tutup kembali kotak itu.

Dan karena kotak ditutup, suara katak itu lantas berhenti.

Eh, ja, ja, tahulah aku!

tiba2 Bok Wan-djing berseru.

Pernah kudengar tjerita guruku, katanja binatang ini bernama.......

bernama........

ia ingat2 sedjenak, lalu menjambung.......

bernama Tju-hap!

Ja, benarlah, ini adalah Bong-koh-tju-hap (katak kerbau merah), adalah binatang anti segala djenis ular.

Ja, ja, memang benar inilah dianja.

Dan entah mengapa bisa berada pada Tjiong Ling......

He, lihatlah!

tiba2 Toan Ki berseru.

Ternjata Djing-leng-tju jang melilit dipinggangnja itu tahu2 djatuh ketanah terus meringkuk dengan lemas, sedikitpun tidak berani bergerak.

Kim-leng-tju jang tadi sudah menjusup ke-semak2 rumput itu, kinipun merajap keluar dan mendekam dipinggir kaki Bok Wan-djing.

Menjusul dari balik batu padas sanapun merajap keluar lagi beberapa ekor ular ketjil, semuanja meringkuk disitu tanpa bergerak sedikitpun se-akan2 lagi memberi sembah kepada kotak kemala.

Bok Wan-djing mendjadi girang, katanja.

Ha, sepasang katak ketjil ini ternjata bisa memanggil ular, sungguh menarik sekali, marilah kita tjoba2 lagi!

Djangan!

tjepat Toan Ki mentjegah, demikian banjak ularnja, apakah tidak mendjemukan?

Kita memegang Tju-hap ini, betapapun banjak ular berbisa djuga kita tidak takut, udjar Wan-djing.

Habis itu, kembali ia buka sedikit kotak kemala segera sepasang Bong-koh-tju-hap itu menguak lagi dengan ramainja.

Bagus djuga nama binatang ini, suaranja memang mirip banteng menguak, kata Toan Ki dengan tertawa geli.

Kau bilang apa?

tanja Bok Wan-djing.

Kiranja suara Toan Ki itu masih kalah kerasnja daripada suara menguaknja katak2 itu, biarpun sigadis berada didepannja djuga tidak djelas mendengarnja.

Toan Ki hanja gojang2 tangannja sambil mendengarkan suara menguak katak2 itu jang semakin keras, bila diperhatikan, diantara suara wak-wak-wak katak2 itu terseling pula suara men-desis2.

Tiba2 Wan-djing menarik badju Toan Ki dan menundjuk kekiri.

Pandangan Toan Ki mendjadi silau seketika, belasan ular jang beraneka warnanja gemilapan terkena sinar matahari sedang merajap tiba dengan tjepat sekali.

Bahwasanja katak2 merah itu bisa memanggil ular memang sudah diduga oleh Toan Ki, tapi hanja dalam sekedjap itu bisa datang ular2 sebanjak itu, betapapun ia djuga terkedjut.

Tjepat ia djemput dua potong batu untuk persiapan bila perlu.

Tidak lama, dari sebelah kanan datang pula segerombol ular dengan matjam2 warnanja, merah, kuning, hitam, putih, loreng dan sebagainja, jang besar sampai 2-3 meter, jang ketjil hanja belasan senti sadja.

Sudah banjak Toan Ki melihat ular, tapi kalau digabungkan seluruhnja, rasanja tiada 1/10 bagian daripada djumlah jang dilihatnja sekarang.

Be-ribu2 ular itu merajap sampai didepan kedua muda-mudi itu, lalu mendekam ditanah tanpa bergerak, kepala mendjulur kebawah dengan djinak, sedikitpun tidak berani menegak sebagaimana biasanja kalau hendak memagut orang.

Dihadapi ular sebanjak itu dengan bau amis jang memuakan, tanpa terasa Bok -Wan-djing mendjadi djeri djuga, pikirnja.

Tju-hap ini menguak terus, mungkin ular2 lain masih akan membandjir lagi.

Untuk memanggil ular adalah gampang, hendak mengusirnja nanti mungkin susah.

~ maka tjepat ia tutup kembali kotak kemala itu.

Walaupun suara menguak katak2 merah itu sudah berhenti, tapi kawanan ular itu masih tidak bergerak.

Aneh djuga, biarpun sebanjak itu ularnja, namun tiada seekor pun jang berani mendekati Toan Ki berdua dalam djarak lingkaran kira2 tiga meter.

Mari kita tjoba keluar sana!

adjak Wan-djing sambil memajang Toan Ki.

Dan baru mereka melangkah satu tindak kedepan, beratus ekor ular didepan mereka lantas menjingkir kepinggir, biarpun ular jang paling besar dan menakutkan djuga mengeset mundur dengan djeri.

Waktu mereka melangkah beberapa tindak lagi, kembali kawanan ular itu menjingkir memberi djalan, Bok Wan-djing mendjadi girang, katanja.

Menurut Suhuku, katanja Bong-koh-tju-hap ini adalah mustika adjaib dari alam semesta ini, beliau djuga tjuma mengenal namanja, tapi belum pernah melihat wudjutnja.

~ Habis berkata, tiba2 ia ingat sesuatu, segera tanjanja pada Toan Ki.

Dan benda mestika sedemikian pentingnja, mengapa sidara Tjiong Ling itu bisa rela memberikannja padamu?

Melihat sinar mata sigadis menjorot aneh, tjepat Toan Ki mendjawab.

Dia........

dia hanja memindjamkannja padaku.

Ia bilang dengan membawa kotak ini, Djing-leng-tju akan turut pada perintahku.

~ Baru selesai ia berkata, se-konjong2 perutnja kesakitan lagi, begitu melilit sampai batu ditangannja terdjatuh ketanah, badannja gemetar dan sempojongan.

Lekas2 Bok Wan-djing memajangnja berduduk kesamping batu tadi.

Saking menahan kesakitan, bibir Toan Ki sampai petjah2 digigit sendiri, lengan sigadis jang dipegangnja matang-biru karena di-remas2.

Sungguh kasih-sajang Bok Wan-djing susah dilukiskan, tiba2 ia ingat sesuatu, katanja.

Longkun, perutmu makin lama semakin sakit, melihat gelagatnja banjak tjelaka daripada selamatnja.

Ja, aku.........

aku tidak.........

tidak tahan lagi.

demikian Toan Ki me-rintih2.

Lekas........

lekas engkau bunuh aku sadja.

Pernah aku mendengar dari Suhu, katanja ada ratjun sangat lihay jang takbisa ditolong.

kata Wan-djing pula.

Tapi kalau memakai ratjun lain untuk menggempur ratjun itu, hasilnja malah sangat mudjarab.

Sekarang kau berani tidak menelan beberapa buah kepala ular berbisa?

Saat itu jang diharapkan Toan Ki jalah setjepat mungkin mati sadja, maka tanpa pikir lagi ia mendjawab.

Segala apa boleh, lekas beri makan padaku!

Segera Bok Wan-djing mengeluarkan sebilah pisau terus memotong keleher seekor ular berbisa didepannja.

Walaupun disembelih terang2an, namun ular itu sedikitpun tak berani melawan.

Maka dengan mudah sadja ber-turut2 Bok Wan-djing telah memotong tiga buah kepala ular berbisa jang berbentuk segi tiga, ia siapkan dibibir Toan Ki dan berkata.

Ni, telanlah lekas!

Dengan pedjamkan mata, terus sadja Toan Ki telan mentah2 ketiga kepala ular itu.

Ketiga ular jang dipilih Bok Wan-djing itu semuanja adalah ular loreng2 jang paling berbisa.

Maka dalam sekedjap sadja Toan Ki merasa perutnja bertambah melilit bagai di-putir2, ia tidak tahan lagi, ia ber-guling2 ditanah, achirnja hanja berkeledjatan sadja dengan napas senin-kemis.

Karuan Bok Wan-djing sangat terkedjut, tjepat ia periksa nadi pemuda itu, ia merasa mendenjutnja semakin lemah, ia tahu tjata pengobatannja bukan menolong, sebaliknja mempertjepat matinja sang suami.

Saking pedihnja, air matanja bertjutjuran, ia rangkul leher Toan Ki dan meratap.

O, Longkun, pasti aku akan mengiringi kepergianmu!

Toan Ki hanja gojang2 kepala sadja tak sanggup buka suara lagi.

Tiba2 pisau Bok Wan-djing tjepat bekerdja lagi, tiga buah kepala ular berbisa dipotongnja pula untuk ditelan sendiri.

Tapi mulutnja terlalu sempit untuk dimasuki kepala ular.

Maka pikirnja.

Ratjun ular berada pada air liurnja, biarlah kumengisapnja sadja.

~ segera ia ketjup kepala ular itu dan mengisap ludahnja jang berbisa.

Tapi baru sebuah kepala ular itu diisapnja ia sudah merasa mata ber-kunang2 dan kepala pusing, achirnja djatuh pingsan.

Melihat sigadis rela berkorban baginja, seketika tak keruan rasa hati Toan Ki, sungguh tak tersangka olehnja bahwa seorang iblis wanita jang biasanja membunuh orang tanpa berkedip itu bisa djatuh tjinta sedalam itu kepada dirinja.

Segera ia meronta sekuatnja untuk merangkul Bok Wan-djing, ia merasa perutnja kesakitan pula, achirnja iapun tak sadarkan diri lagi.

Entah sudah lewat berapa lamanja, pelahan2 Toan Ki siuman, waktu membuka mata, ia mendjadi silau oleh tjahaja matahari, kembali ia pedjamkan lagi.

Tapi terasa pangkuannja terangkul sesosok tubuh jang lunak hangat.

Ia tjoba memusatkan pikiran dan membuka mata lagi untuk melihat, ternjata muka Bok Wan-djing jang putih putjat itu masih bersandar diatas dadanja.

Ia membatin.

Setelah kami berdua menudju achirat, ternjata masih berada bersama, suatu tanda bahwa tjerita tentang alam halus segala bukanlah dongengan belaka.

Tiba2 ia mendengar ditempat agak djauh sana ada suara orang lagi berkata.

Djika binatang2 pandjang ini merintangi djalan kita, marilah kita menggunakan Am-gi!

Tapi seorang lain telah membentaknja.

Djangan!

Sin-kun suruh kita menawannja hidup2, kalau kau mentjelakai dia, apakah tidak takut dimarahi Sin-kun?

Waktu Toan Ki memandang kearah datangnja suara2 itu, ia lihat ada empat laki2 berbadju kuning lagi berdiri ditepi djurang situ, tangan mereka membawa tangkai kaju sedang me-nuding2 dirinja.

Tampaknja sangat djeri pada ular2 jang merajap ditanah situ, maka tidak berani mendekatinja.

Ketika Toan Ki memandang lagi kesekelilingnja, ia lihat dirinja dilingkari kawanan ular jang lagi me-rajap2, tjahaja sang surja terang-benderang, suasana demikian tiada ubahnja seperti waktu dirinja mati itu, seketika pikirannja tergerak.

He, djangan2 aku tidak djadi mati?

~ Segera ia merasa badan Bok Wan-djing jang berada dipangkuannja itu memang masih lunak2 hangat, napasnja mengeluarkan bau harum jang semerbak, njata, gadis itupun masih selamat tak kurang suatupun apa.

Saking girangnja, terus sadja Toan Ki ber-teriak2.

Hura, aku belum mati, aku belum mati!

Keempat laki2 berbadju kuning itu memangnja sudah lama tunggu disitu, soalnja karena dirintangi kawanan ular, maka tidak berani mendekati.

Ketika mendadak mendengar teriakan Toan Ki, mereka mendjadi kaget djuga.

Dalam pada itu, dengan merengek sekali, Bok Wan-djing djuga sudah siuman, begitu membuka mata, segera ia menanja dengan pelahan.

Longkun, apa kita sudah sampai diachirat!

Tidak, tidak, kau belum mati, akupun tidak mati!

Sungguh adjaib sekali bukan?

seru Toan Ki.

Sekarang belum mati, kalau ingin mati sebentar lagi masih belum telat!

bentak seorang laki2 badju kuning tadi.

Hajo lekas kemari, Sin-kun panggil kau!

Sudah sekarat, kini dapat hidup kembali, tentu sadja girang Toan Ki tidak kepalang.

Mana ia mau gubris gemboran orang itu?

Segera ia berkata pula kepada Bok Wan-djing.

Sungguh aneh bin adjaib, kita ternjata tidak djadi mati, bahkan sakit perutku djuga sudah sembuh.

Tjaramu menjerang ratjun dengan ratjun itu ternjata sangat mandjur.

Eh, lukamu sendiri sudah baik belum?

Ketika Wan-djing gerakan badannja, ia merasa luka dipunggungnja kesakitan lagi.

Tapi hal mana tidak mengurangi rasa girangnja jang luar biasa, sahutnja dengan tertawa.

Lukaku bukan keratjunan, maka ratjun ular ini tidak bisa menjembuhkan luka-luka ini.

Ternjata kita berdua tidak mati oleh ratjun ular, tampaknja kita berdua djauh lebih lihay daripada ular berbisa!

Njata Toan Ki dan Bok Wan-djing jang tidak luas pengetahuannja itu tidak tahu, bahwa ratjun ular itu baru bisa mentjelakai orang apabila masuk kedalam darah melalui sesuatu luka.

Tapi kalau dimakan kedalam perut, asal diantara mulut, lidah, tenggorokan dan usus tiada sesuatu luka, ratjun ular itu tiada berbahaja sama sekali.

Sebab itulah, makanja bila orang dipagut ular berbisa, orang berani mengisap ratjun dari luka pagutan itu tanpa ikut keratjunan.

Kini setjara ngawur kedua muda-mudi itu sembarangan menelan kepala ular dan mengisap ratjun ular, sebaliknja malah membawa hasil jang diluar dugaan mereka.

Toan-djiong-san jang lihay itu benar2 lenjap digempur oleh ratjun tiga buah kepala ular jang dimakan Toan Ki itu.

Tjuma mereka sudah tak sadarkan diri selama semalam suntuk, kini sudah mengindjak esok pagi hari kedua.

Sementara itu seorang laki2 badju kuning diantaranja jang berperawakan paling tinggi disana sedang membentaknja lagi.

Hai, kedua botjah itu, lekas kalian kesini!

Pelahan2 Bok Wan-djing berbangkit dari pelukan Toan Ki, dengan wadjah jang masih bersenjum simpul, mendadak ia samber seekor ular ditanah terus dilemparkan kearah laki2 itu.

Karuan laki2 itu kaget, tjepat ia berkelit.

Diluar dugaan, Bok Wan-djing menjamber dan menimpuk lagi ber-ulang2 dengan ular berbisa disekitarnja itu.

Tentu sadja keempat laki2 itu kelabakan dihudjani ular sebanjak itu, sambil berteriak kaget diseling tjatji-maki, mereka menghindar kian-kemari sembari ajun tangkai kaju ditangan mereka untuk menjampok.

Begitu terlepas dari pengaruh Bong-koh-tju-hap, ular2 berbisa itu seketika bergerak dengan sebat sekali, dua ekor diantaranja jang berbuntut pandjang terus membelit hingga melilit diatas batang kaju jang disabetkan itu, menjusul terus meledjit madju untuk memagut.

Seketika seorang badju kuning itu kena gigit mukanja dan tak terlepas lagi.

Sementara itu Bok Wan-djing masih terus melemparkan ular, karuan laki2 berbadju kuning itu semakin kelabakan, se-konjong2 terdengar djeritan ngeri laki2 jang bertubuh paling tinggi tadi saking gugupnja telah tergelintjir kedalam djurang.

Seorang lagi mendjadi kaget hingga lehernja kena digigit oleh ular berbisa jang lain.

Rupanja ratjun ular ini teramat djahatnja, jang digigit adalah pembuluh darah besar dileher, kontan sadja laki2 itu menggeletak binasa.

Sisa seorang lagi bertubuh pendek ketjil, tapi gerak-geriknja sangat lintjah dan gesit.

Belasan ular jang ditimpukkan Bok Wan-djing itu dapat dihindarkan semua.

Tapi begitu ular2 itu djatuh ketanah, segera merajap dan menggigit pula kebagian kakinja.

Laki2 itu benar2 hebat djuga, ia bisa menghindar kian-kemari dengan tjekatan sekali, namun keadaannja makin lama djuga makin bahaja.

Lekas kau turun kebawah, djiwamu lantas diampuni!

seru Toan Ki.

Sekali sudah turun tangan, tidak kenal ampun lagi!

udjar Bok Wan-djing.

Berbareng empat ular dilemparkannja sekaligus.

Saat itu orang berbadju kuning itu lagi sibuk menghindar pagutan ular ditanah, ia sudah mundur sampai ditepi djurang, maka timpukan empat ular itu terang takbisa dihindarkannja.

Mendadak serangkum angin keras menjampok dari belakang, seketika belasan ular disekitar laki2 itu kena tersapu djauh kedepan, menjusul sesosok bajangan kuning tampak melajang keatas karang, sekali dorong, laki2 badju kuning tadi kena disodok ketempat luang jang ditinggalkan kawanan ular itu.

Orang jang baru melompat naik itu mengekek tawa tiga kali dan berdiri ditempatnja dengan mata djelilatan, siapa lagi dia kalau bukan Lam-hay-gok-sin.

Ketika laki2 badju kuning itu sudah bisa berdiri tegak dan melihat jang datang itu adalah malaikat buaja laut selatan, ia ketakutan setengah mati, ia hanja sanggup menjebut.

Sin-kun!

~ pikirnja hendak berlutut, tapi saking ketakutan, badannja gemetar sedemikian rupa hingga serasa lumpuh, hendak berlututpun takbisa lagi.

Melihat Lam-hay-gok-sin datang kembali, seketika wadjah Toan Ki dan Wan-djing berubah semua.

Kusuruh kau tangkap botjah she Toan ini, kenapa sampai sekian lamanja masih belum dilakukan?

kata Lam-hay-gok-sin pada laki2 badju kuning tadi.

Apa barangkali kau hendak merat ja ?

Saking ketakutan, gigi laki2 itu sampai kerutukan, sahutnja dengan tak djelas.

Ham........

hamba ti.......

tidak.......

~ sampai disini, ia tidak sanggup lagi meneruskan saking gemetarnja.

Tiba2 Lam-hay-gok-sin sedikit bergerak, tidak djelas tjara bagaimana dia melangkah madju, tahu2 dada laki2 itu sudah didjambretnja terus diangkat, ia ter-kekeh2 iblis beberapa kali, mendadak tangan jang lain terus mendjambat rambut laki2 itu, sekali puntir, kriut, buah kepala laki2 itu telah dipuntir potol mentah2.

Kontan sadja darah segar muntjrat dengan derasnja hingga membasahi antero tubuh Lam-hay-gok-sin, tapi sedikitpun iblis aneh itu tidak ambil pusing, bahkan tampak sangat senang.

Kepala andjing!

damperatnja malah kepada kepala jang sudah potol itu, dan sekali lempar, kedua potong majat itu dilemparkannja kedjurang.

Mendadak ia hantamkan tangannja kedepan lagi, dimana angin pukulannja menjamber, kawanan ular terpaksa menjingkir djauh kepinggir.

Dengan langkah lebar ia bertindak madju.

Tjepat Bok Wan-djing menarik Toan Ki hendak menjingkir, tapi sudah terlambat.

Tiba2 Lam-hay-gok-sin ulur tangan kiri kedepan, seketika lengannja se-akan2 mulur sekali lipat pandjangnja hingga badju tengkuk Bok Wan-djing kena didjambretnja terus diangkat keatas.

Toan Ki menjangka orang djuga hendak melemparkan sigadis kedjurang, dengan kuatir ia berteriak.

Djangan, djangan!

Boleh kau bunuh diriku sadja!

Terhadap kawanan ular jang masih penuh merajap disekitar situ, Lam-hay-gok-sin agak djeri djuga.

Ketika tangannja menghantam pula, dibawah hamburan batu pasit, kembali belasan ular kena dibinasakan olehnja.

Tiba2 ia melompat mundur ketepi djurang sambil mengangkat Bok Wan-djing, kaki kirinja terangkat tinggi2 keatas, hanja kaki kanan sadja jang berdiri ditepi djurang dengan gaja Kim-khe-tok-lip atau ajam emas berdiri dengan kaki tunggal, tubuhnja setengah terguntai2 se-akan2 setiap detik bisa terdjerumus kedjurang bersama sigadis.

Toan Ki tidak tahu kalau orang aneh itu lagi pamer kepandaiannja, ia kuatirkan djiwa Bok Wan-djing, tjepat ia ber-teriak2 lagi.

Awas, hati2, djangan sampai terpeleset!

Sedikitpun Bok Wan-djing takbisa berkutik karena ditjengkeram oleh Lam-hay-gok-sin.

Ia lihat Toan Ki berada ditengah kepungan ular, kawanan ular itu tampak me-rajap2 madju, tjepat ia lemparkan kotak kemala kepada pemuda itu sambil berseru.

Awas, terimalah ini!

Dengan ter-sipu2 Toan Ki menangkap kotak itu dan sjukurlah dapat diterimanja dengan baik walaupun rada kerepotan.

Dan begitu.

Bong-koh-tju-hap itu berada ditangannja, serentak kawanan ular itu mendekam ditanah tak berani bergerak lagi.

Lotjianpwe, su........

sudilah kau melepaskan dia.

demikian Toan Ki memohon.

Siantju, kau sangat mirip aku, mau-tidak-mau aku harus menerima kau sebagai murid.

sahut Gok-sin.

Tjuma menurut peraturan Lam-hay-pay kita, selamanja hanja murid jang memohon sang guru menerimanja, tidak pernah sang guru jang mohon si murid.

Makanja aku akan menunggu kau dipuntjak bukit sana......

sembari berkata, ia tundjuk kearah puntjak paling tinggi jang penuh tertimbun saldju dikedjauhan sana.

Lalu menjambung pula.

Bila kau datang memohon aku menerima murid padamu, aku lantas mengampuni njawa binimu ini.

Kalau tidak, ha, ha, kreeek ..........

~ ia sengadja memberi tjontoh tjara bagaimana akan memuntir patah kepalanja Bok Wan-djing.

Habis itu, mendadak ia berputar terus melompat kebawah, tangan kiri menahan dinding djurang terus memberosot turun sambil menggondol Bok Wan-djing dengan tjepat luar biasa, Tiap2 kali kalau meluntjurja kebawah agak terlalu tjepat, mendadak terasa tubuh kedua orang bisa mengerem sedetik untuk kemudian baru menurun lagi.

Agaknja tangan Lam-hay-gok-sin jang menahan didinding djurang itu jang mengeremnja.

Dalam keadaan begitu, djangankan Bok Wan-djing sama sekali takbisa berkutik, sekalipun bisa djuga tidak berani sembarangan meronta selagi tubuh kedua orang terampung diudara.

Sampai achirnja, gadis itu pedjamkan mata sekalian membiarkan dirinja dibawah turun.

Selang sebentar, terasa tubuhnja mendal sekali, njata mereka sudah sampai didataran djurang itu.

Begitu mengindjak tanah, Lam-hay-gok-sin tidak lantas berhenti, tapi terus berlari lagi sambil mendjindjing Bok Wan-djing.

Perawakan Lam-hay-gok-sin hanja sedang sadja, sebaliknja perawakan Bok Wan-djing dikalangan wanita boleh dikata terhitung djangkung, kalau keduanja berdiri sedjadjar hampir sama tingginja.

Tapi Lam-hay-gok-sin dapat mentjengkeram leher badju gadis itu bagai mendjindjing anak ketjil, sedikitpun tidak membuang tenaga.

Dengan gerakannja jang gesit tangkas itu, sebentar sadja Lam-hay-gok-sin sudah keluar dari dasar lembah jang penuh batu2 dan kabut itu.

Segera ia mendaki pula kebukit didepannja, karena lereng bukit itu lebih miring, maka mendakinja lebih mudah.

Berada dibawah tjangkingan Lam-hay-gok-sin, diam2 Bok Wan-djing memikir.

Aku masih mempunjai sisa lima batang panah berbisa, kalau saat ini aku menjerangnja, mungkin bisa gugur bersama.

Tapi kemarin aku sudah memanah dia dan tidak mempan semuanja, Entah badannja benar2 kekal atau karena dia memakai badju lapis badja jang tak tembus sendjata?

Berpikir begitu, ia tjoba pelahan2 menjentuh punggung orang, tapi terasa lunak2 sadja tiada lapisan badja segala, hanja sadja kulit dagingnja djauh lebih keras daripada orang biasa, diam2 Wan-djing membatin pula.

Tampaknja pembawaan orang ini memang luar biasa, ilmu silatnja aneh pula.

Kalau aku sembarangan turun tangan, bila sampai dia murka, apa akibatnja susah dibajangkan.

Tiba2 terdengar Lain-hay-gok-sin mengekek tawa dan berkata.

Hehe, apa kau hendak menusuk atau memanah aku?

Hm, djangankan harap, aku takkan mati dibunuh dan takkan luka diserang.

Kau adalah bininja muridku, sementara ini aku tidak bikin susah padamu.

Tapi kalau dia tidak datang mengangkat guru padaku, hehe, tatkala mana ia bukan lagi muridku dan kaupun bukan bini muridku lagi.

Setiap kali Lam-hay-gok-sin melihat nona tjantik, selamanja perkosa dulu bunuh belakang, sekali2 tidak main sungkan lagi.

Bok Wan-djing mengkirik oleh utjapan itu, sahutnja.

Suamiku sedikitpun takbisa ilmu silat, diatas djurang setjuram itu, tjara bagalmana ia bisa turun?

Tapi saking kuatirkan diriku, tentu dia akan mati2an datang kemari mengangkat guru padamu, kalau terpeleset, ia akan djatuh hantjur lebur kedalam djurang.

Bila begitu, kau akan kehilangan seorang murid lagi.

Bahan bagus, kwalitet tinggi begitu, kemana kau bisa tjari lainnja?

Seketika Lam-hay-gok-sin berhenti, katanja.

Benar djuga katamu.

Aku tidak pikirkan bahwa Siautju itu takbisa turun gunung.

Se-konjong2 ia bersuit njaring, segera diatas bukit sebelah timur sana ada orang menjabut.

Kata Lam-hay-gok-sin.

Pergi keatas karang tandus itu, gendonglah botjah itu kepadaku, djangan mentjelakai djiwanja!

Kembali orang disebelah sana bersuara pandjang menjahut.

Diam2 Bok Wan-djing sangat tertjengang.

Lam-hay-gok-sin ini hanja bitjara biasa sadja, dan suaranja lantas tersiar kelereng gunung jang djauh itu, kepandaian setinggi ini, biarpun guruku djuga tidak mampu menandinginja.

Sebaliknja begundainja jang diatas bukit sana terpaksa harus menggembor baru bisa terdengar dari sini.

Selesai memberi perintah, Lam-hay-gok-sin mendjindjing Bok Wan-djing melandjutkan perdjalanan lagi.

Diam2 Wan-djing rada lega, ia tahu sebelum Toan Ki datang, dirinja takkan berbahaja.

Tjuma watak sang suami itu sangat kukuh, bila dia dipaksa angkat Lam-hay-gok-sin jang buas dan kedjam itu sebagai guru, mungkin biarpun mati djuga tidak sudi.

Pikirnja pula.

Terhadapku, rupanja ia tjuma timbul dari rasa membela keadilan sadja dan bukan karena tjinta-kasih suami-isteri, boleh djadi dia takkan sudi berkorban bagiku dengan mengangkat guru sedjahat ini.

Ai, baik atau djelek aku harus melihatnja sekali lagi, asal dia masih selamat tak kurang apa2, tidak terdjatuh kedjurang, barulah aku merasa lega.

Berpikir sampai disini, diam2 ia kedjut.

sendiri.

He, kenapa aku mendjadi demikian memperhatikan dia dan mentjintainia sedalam ini?

Wahai, Bok Wan-djing, tidak pernah begini selama hidupmu!

Tengah Bok Wan-djing terombang-ambing oleh pikirannja sendiri, sementara itu Lam-hay-gok-sin sudah membawanja keatas puntjak sana.

Tenaga Gok-sin ini benar2 kuat luar biasa, tanpa berhenti sedikitpun, ia masih terus melintasi empat bukit lagi, achirnja baru dia mentjapai puntjak tertinggi jang dikelilingi lereng2 bukit itu.

Begitu Lam-hay-gok-sin lepaskan Bok Wan-djing, terus sadja ia buka tjelana dan kentjing disitu.

Sungguh gusar Bok Wan-djing tidak kepalang.

la pikir manusia ini benar2 kasar, rendah dan djahat tiada ubahnja seperti binatang.

Tjepat ia menjingkir agak djauh serta memakai kedoknja lagi.

la pikir wadjah sendiri jang tjantik manis ini kalau lebih banjak dipandang olehnja, bukan mustahil setiap waktu sifat kebinatangannja akan angot, tatkala mana soal bini murid apa segala tentu tak dipeduli lagi.

Selesai Lam-hay-gok-sin buang air, segera ia herkata.

Ehm, bagus djuga kau memakai kedok lagi.

Sebentar ada beberapa orang djahat akan datang, kesemuanja adalah manusia2 jang tidak kenal aturan, bila wadjahmu jang tjantik itu dilihat mereka, tentu akan berabe.

Aku adalah isteri murid kesajanganmu, masakah orang lain berani kurang-adjaran padaku?

udjar Wan-djing.

Tapi beberapa keparat andjing ini terlalu djahat, terlalu buas!

sahut Gok-sin sambil geleng2 kepala dan mengerut kening.

Aku tidak pertjaja, masakah didjagat ini masih ada orang jang lebih galak dan djahat daripada engkau?

udjar Wan-djing dengan tertawa.

Mendadak Lam-hay gok-sin menabok paha sendiri, lalu berseru dengan marah2.

Ja, memang tidak adil!

Diantara Su-ok didjagat ini, urutan Lotju adalah nomor tiga.

Sungguh tidak adil, aku harus berusaha mentjapai jang nomor satu!

Diam2 Bok Wan-djing berpikir.

Nama Sam-sian-su-ok pemah aku mendengar dari Suhu.

Ketika aku akan membunuh Sun He-khek, akupun pernah menanja djelas wadjah dan kelakuan gurunja, maka mengetahui begitu suara suitannja terdengar, segera Lam-hay-gok-sin akan muntjul.

Tapi tidak tahu kalau menurut urutan Su-ok itu dia terhitung nomor tiga.

Ternjata didunia ini masih ada jang djauh lebih djahat dari dia, sungguh susah untuk dimengerti.

Segera Bok Wan-djing menanja.

Lalu, siapakah jang nomor satu dan nomor dua?

Buat apa kau tanja?

bentak Gok-sin dengan mendelikan matanja jang sebesar kedelai itu.

Apa kau bermaksud mengedjek aku?

Djika kau anggap Lotju kurang djahat, segera kusembelih kau dulu, boleh djadi karena itu akan terus naik pangkat mendjadi nomor dua!

habis berkata, braak, mendadak ia menghantam sebatang pohon Siong disampingnja.

Seketika pohon itu patah bagian tengah dan ambruk dengan gemuruh.

Meski pohon Siong itu tidak terlalu besar, tapi paling sedikit djuga ada sebulatan mangkok besamja, tapi sekali hantam sudah dipatahkan olehnja, diam2 Bok Wan-djing melelet lidah, Pikirnja.

Apa gunanja umpama dapat merebut sebutan djuara orang djahat diseluruh djagat ini?

Tapi oleh orang ini dianggapnja sebagai suatu noda jang memalukan bila tidak bisa menduduki djuara itu, maka paling baik aku djangan meng-korek2 boroknja itu, supaja aku tidak telan pil pahit.

Segera ia tidak buka suara lagi, tapi pedjamkan mata sambil bersandar dibatu padas untuk memulihkan semangat.

Kenapa kau bungkam?

Dalam hati kau memandang hina padaku bukan?

tiba2 Lam-hay-gok-sin berkata pula.

Tidak, sahut Wan-djing, Aku djusteru lagi berpikir kenapa sebutan orang djahat nomor satu diseluruh djagat ini bukan dimiliki olehmu, padahal soal kedjahatan dan kebuasan, sekalipun orang lain mungkin melebihi engkau, namun ilmu silatnja apa bisa lebih unggul darimu?

Mendadak Lam-hay-gok-sin meludah dgn marah2, katanja.

Makanja kami harus mengulangi bertanding lagi untuk mengoreksi urutan masing2.

Melihat gelagatnja, Bok Wan-djing dapat menduga keempat orang djahat itu pasti sudah pernah bertanding, agar tidak membikin marah orang, ia pikir djangan menjinggungnja lagi, maka katanja.

Gak-lotjianpwe, sebenarnja siapakah nama engkau orang tua?

Dapatkah kau memberitahu agar kelak aku mudah memanggil engkau bila suamiku sudah mendjadi muridmu.

Aku bernama Gak............

Gak............

ah, keparat!

mendadak Lam-hay-gok-sin memaki sebelum menjabutkan namanja sendiri.

Namaku adalah pemberian ajahku, tapi namaku ini terlalu djelek, ajahku selamanja tidak berbuat sesuatu jang baik, benar2 andjing keparat!

Hampir2 Bok Wan-djing tertawa geli, pikirnja.

Orang ini benar2 lebih durhaka daripada binatang, masakah ajah sendiri djuga ditjatji-maki.

Dan kalau ajahmu andjing keparat, lalu engkau sendiri apa?

la lihat Lam-hay-gok-sin lagi mondar-mandir kian kembari, tampaknja merasa gopoh sekali.

Tiba2 Wan-djing teringat pada Toan Ki, pikirnja.

Entah sekarang dia sudah turun gunung dengan selamat tidak?

Djika dirintangi kawanan ular, apakah orang suruhan Lam-hay-gok-sin itu bisa melintasi kepungan ular itu?

Pada saat itulah, tiba2 ditengah udara terombang-ambing suara tangisan jang lirih pelahan, suaranja sangat memilukan, sajup2 seperti seorang wanita lagi menangis.

O, anakku!

O, sajangku!

Hanja dua kalimat itu sadja suara tangisan itu sudah membikin perasaan Bok Wan-djing terguntjang hebat se-akan2 semangat akan meninggalkan raganja.

Fui, mendadak Gok-sin meludah lagi dan berkata.

Hm, orang menangisi kematian itu sudah datang!

menjusul ia lantas menggembor.

Kau menangisi apa?

Lotju sudah lama menanti disitu!

Namun suara itu sajup2 masih terus menangis dengan pilunja.

O, anakku, betapa ibu mengenangkan engkau!

Perasaan Bok Wan-djing mendjadi katjau-balau oleh pengaruh suara itu, tanjanja.

Apakah ini sidjahat nomor empat?

Perempuan ini adalah Bu-ok-put-tjok Yap Dji-nio, gelar Ok nja itu berurut ditempat kedua, tapi pada suatu ketika aku Hiong-sin-ok-sat pasti akan bertukar gelar dengan dia, demikian sahut Lam-hay-gok-sin.

Baru sekaraqg Bok Wan-djing mengarti seluk-beluknja urut2an Su-ok itu.

Kiranja jang mendjadi antjer2 urutan mereka itu adalah pada huruf Ok itu.

Yap Dji-nio bergelar Bu-ok-put-tjok atau tiada kedjahatan jang tak dilakukannja, karena huruf Ok itu djatuh pada huruf kedua, maka ia adalah orang djahat nomor dua didunia ini.

Sedang Lam-hay-gok-sin itu berdjuluk Hiong-sin-ok-sat atau malaikat buas setan djahat, huruf Ok adalah huruf ketiga, maka iapun menurut urut2an menduduki tempat ke-tiga.

Segera Wan-djing menanja lagi.

Lalu, siapakah djulukan orang djahat nomor satu didjagat ini?

Dan siapa pula jang nomor empat itu?

Buat apa kau tanja?

Aku tidak tahu!

seru Lam-hay-gok-sin marah2.

Tapi mendadak suara seorang wanita jang halus telah menjambungnja.

Lotoa kami berdjuluk Ok-koan-boan-eng dan Losi kami bergelar Kiong-hiong-kek-ok.

Sungguh heran sekali Bok Wan-djing oleh nama2 jang aneh itu, njata, sesuai dengan urut2an huruf Ok itu, Lotoa atau jang tertua, berdjuluk Ok-koan-boan-eng atau kedjahatan melebihi takaran, dan Losi, sinomor empat, bergelar Kiong-hiong-kek-ok atau buas dan kedjam luar biasa.

la terkedjut pula oleh betapa tjepat datangnja Yap Dji-nio itu, kedengarannja tadi masih djauh, tahu2 sekarang sudah muntjul disitu.

Dalam kedjutnja itu segera ia perhatikan wanita itu.

la lihat orang mengenakan badju pandjang warna hidjau muda, rambutnja pandjang terurai, usianja kurang-lebih 40 tahun, air mukanja tjukup tjantik, tjuma kedua pipinja masing2 terdapat tiga djalur merah darah seperti bekas tjakaran.

Pada tangannja membopong seorang anak laki2berumur kira2 dua tahun, mungil dan menjenangkan.

Semula Wan-djing sangka Bu-ok-put-tjok Yap Dji-nio itu menurut urut2an masih diatasnja Lam-hay-gok-sin, teutu orangnja djauh lebih bengis menakutkan, siapa tahu orangnja ternjata rada tjantik djuga.

Karena itu, tanpa merasa ia pandang orang beberapa kali.

Tiba2 Yap Dji-nio tersenjurn kepadanja, seketika Bok Wan-djing mengkirik, ia merasa diantara senjum wanita itu lapat2 mengandung rasa sedih dan duka luar biasa hingga bagi siapa jang memandangnja rasanja mendjadi terharu se-akan2 ikut menangis.

Maka lekas2 ia berpaling kearah lain, ia tidak berani memandang padanja lagi.

Sam-moay, kenapa Toako dan Site masih belum datang?

tanja Lam-hay-gok-sin.

Dengan pelahan Yap Dji-nio mendjawab.

Sudah terang gamblang kalau kau adalah Losam, tapi kau mati2an ingin melampaui aku, ja?

Tjoba kau panggil lagi sekali Sam-moay, hm, Entjimu ini tidak mau sungkan2 lagi padamu!

Lam-hay-gok-sin meudjadi gusar, serunja.

Tidak sungkan2 lagi, lalu mau apa?

Apa kau mengadjak berkelahi?

Untuk berkelahi tentu tidak kekurangan waktu, emangnja apa aku djeri padamu?

sahut Yap Dji-nio.

Benar tidak, Bok Wan-djing?

Mendengar nama sendiri disebut, seketika Bok Wan-djing tergetar, semangatnja seakan2 me-lajang2 terlepas dan raganja.

Dalam terkedjutnja segera ia mendjadi sadar djuga.

Kiranja Yap Dji-nio itu lagi menggunakan ilmu Liap-hun-tay-hoat, jaitu sematjam hipnotis pada djaman kuno jang lihay, bila sinar mata kedua orang saling beradu, seketika akan djatuh dibawah pengaruhnja serta menurut segala perintahnja.

Hal ini pernah Bok Wan-djing mendengar dari gurunja.

Maka ia tidak berani semberono lagi, lekas2 pusatkan semangat dan kerahkan Lwekangnja sambil menarik kain kedoknja untuk menutup mukanja, bahkan kedua mata djuga ditutupnja sekalian.

Bok Wan-djing, terdengar Yap Dji-nio berkata lagi dengan tertawa, paling achir ini nama djahatmu sangat tersohor, kalau kau angkat saudara dengan kami serta mendjadi Go-moay (adik kelima) kami, rasanja boleh djuga.

Betui tidak, Sam-te?

Tidak!

sahut Lam-hay-gok-sin keras2.

Kenapa tidak?

tanja Yap Dji-nio dengan ramah.

Dia adalah bininja muridku, mana boleh mendjadi Go-moayku?

Toh sudah tjukup mempunjai seorang Sam-moay seperti kau!

demikian sahut Gok-sin.

Mendadak ia membentak kearah lain.

Gelinding kemari!

Dimana botjah she Toan itu?

Kenapa tidak dibawa kemari?

Kiranja orang jang tadi disuruhnja mentjari Toan Ki itu telah datang.

Maka tertampaklah orang itu mendjawab dari tempat sedjauh belasan tombak dengan gelagapan.

Ham............

hamba sampai diatas karang itu, tapi............

tapi orangnja sudah menghilang.

Hamba telah mentjarinja ke-mana2, tapi tidak...............

tidak ketemu!

Karuan Bok Wan-djing terkedjut, ia mendjadi kuatir djangan2 Toan Ki sudah mati terdjatuh kedalam djurang.

Segera ia dengar Lam-hay-gok-sin lagi membentak.

Apakah disebabkan kau terlambat datang kesana, maka botjah itu telah mati djatuh kedalam djurang?

Orang itu tidak berani mendekat, djawabannja bertambah gelagapan.

Tapi hamba............

hamba sudah mentjari keseluruh lembah dan tidak menemukan majatnja, djuga tidak melihat sesuatu tanda bekas darah.

Mustahil!

Apa mungin dia mampu terbang kelangit?

Kau berani mendustai aku, ja?

bentak Gok-sin dengan murka.

Saking ketakutan, orang itu mendjura mati2an minta ampun sambil bentur2kan kepalanja keatas batu didepannja hingga mengeluarkan suara kerotokan.

Mendadak terdengar suara menjambernja angin, sesuatu benda antap telah melajang kesana, plok, seketika orang itu tidak bersuara lagi.

Tapi dari suara2 itu, Bok Wan-djing menduga pasti Lam-hay-gok-sin telah timpukan sepotong batu hingga membinasakan orang itu.

Sebenamja Bok Wan-djing sendiri adalah seorang iblis jang membunuh orang tanpa berkedip, orang itu tidak mampu menemukan Toan Ki, ia sendiripun gemasnja tidak kepalang, andaikan Lam-hay-gok-sin tidak binasakan orang itu, ia sendiripun djuga tidak mau mengampuninja.

Sesaat itu pikirannja mendjadi timbul-tenggelam.

Dia sudah menghilang dari karang itu, tapi majatnja tidak kelihatan didasar djurang, lalu kemana dia telah pergi?

Apa mungkin ditelan ular besar?

Ah, tidak mungkin, dia membawa Bong-koh-tju-hap, segala djenis ular tidak berani gariggu padanja.

Ja, tentu dia tedjatuh ditempat jang terpentjil, maka orang itu takbisa menemukannja, atau mungkin majatnja telah diketemukan orang itu, tapi tidak berani mengaku terus terang.

Semakin dipikir, ia merasa kemungkinan Toan Ki sudah meninggal.

Waktu dia berpisah dari pemuda itu, ia sudah ambil keputusan.

pabila Toan Ki mati, pasti dia djuga akan menjusulnja.

Apalagi sekarang dirinja berada dibawah tjengkeraman Lam-hay-gok-sin, kalau tidak mati, entah siksaan kedji apa jang akan dirasakannja.

Tapi sebelum melihat majatnja Toan Ki, betapapun toh masih ada harapan bahwa pemuda itu masih hidup?

Karena itulah, iapun tidak rela kalau mati begitu sadja.

Sedang pikiran Bok Wan-djing katjau, tiba2 terdengar anak ketjil dipondongan Yap Dji-nio itu ber-teriak2 menangis.

lbu, ibu, mana ibuku?

Anak baik, bukankah aku inilah ibumu!

demikian Yap Dji-nio membudjuknja.

Tapi tangis botjah itu semakin keras malah.

Tidak, kau bukan ibuku!

Aku minta ibu, mana ibuku?

Pelahan2 Yap Dji-nio men-tepuk2 badan anak itu sambil menina-bobokannja dengan lagu kanak2.

Narnun bukannja diam, sebaliknja tangis anak itu semakin keras.

Tapi Yap Dji-nio tetap menina-bobokannja dengan sabar sambil melagukan.

O, tidurlah anakku...................

dan sebagainja.

Lam-hay-gok-sin mendjadi geregatan oleh suara2 jang membisingkan itu, dasar wataknja memang kasar, ditambah kehilangan tjalon murid kesajangannja, ia mendjadi lebih gopoh lagi, tiba2 ia inembentak.

Kau membudjuk kentut!

Kalau mau isap darahnja, lekas lakukanlah!

Namun Yap Dji-nio tidak gubris padanja, ia masih terus menina-bobokan baji itu.

Sampai mengkirik Bok Wan-djing mendengarnja, makin dipikir makin takut hatinja.

Semula ketika melihat Yap Dji-nio jang bergelar orang djahat nomor dua didunia ini ternjata membawa seorang baji jang mungil, memangnja ia sudah heran.

Kini mendeagar utjapan Lam-hay-gok-sin itu, djadi Yap Dji-nio itu bakal mengisap darah anak itu, mau-tak-mau timbul rasa gusarnja serta takut pula.

Pikirnja.

Tjara bagaimanakah aku bisa menjelamatkan anak ketjil ini?

Tapi bila ingat mati-hidup Toan Ki masih belum diketahui, terpaksa ia tidak berani pikirkan urusan orang lain.

Namun suara nina-bobo Yap Dji-nio jang penuh rasa kasih-sajang itu, makin lama makin memuakan perasaannja.

Dalam pada itu Lam-hay-gok-sin mendjadi gusar, damperatnja.

Setiap hari kau pasti minta korban seorang baji, tapi sengadja kau berlagak welas-asih, sungguh memuakan dan tidak tahu malu!

Djanganlah kau gembar-gembor hingga bikin kaget anakku!

sahut Yap Dji-nio dengan suara halus.

Gok-sin mendjadi murka, mendadak anak dipondongan Yap Dji-nio itu hendak didjambretnja untuk dibanting mati.

Tapi betapapun tjepatnja ternjata masih kalah tjepat daripada Yap Dji-nio.

Hanja sedikit memutar, tjakaran Gok-sin itu sudah luput.

Aija, Sam-te, tanpa sebab apa2, kenapa kau mengganggu anakku ini?

demikian dengan nadanja jang penuh rasa kasih-sajang seorang ibu, Yap Dji-nio mengomel.

Walaupun kedua mata Bok Wan-djing ditutup sendiri dengan kain kedoknja, tetapi ia dapat mengikuti kedjadian tadi dengan telinganja.

la pikir.

Yap Dji-nio ini memang pantas berada diatasnja Lam-hay-gok-sin.

Malaikat buaja ini djangan harap selama hidup mampu melampaui wanita itu.

Benar djuga, sekali djamberat tidak kena, rupanja Lam-hay-gok-sin tahu djuga kalau bergebrak tentu akan sia2 belaka.

Hanja mulutnja jang masih memaki.

Kurangadjar, Lotoa dan Losi kedua anak kura2 ini kenapa sampai saat kini masih belum datang, aku tidak sabar menunggunja lagi.

Kau tahu tidak bahwa kemarin Losi telah ketemukan musuh di tengah djalan dan menelan pil pahit?

tiba2 Yap Dji-nio menanja.

He, Losi kepergok musuh?

Siapa dia?

tanja Gok-sin heran.

Tiba2 Yap Dji-nio menuding Bok Wan-djing dan berkata.

Budak ini tampaknja tidak beres, kau sembelih dia dahulu baru kemudian kutjeritakan.

Lam-hay-gok-sin mendjadi ragu2, sahutaja.

Dia adalah bini muridku, kalau kusembelih dia, muridku tentu akan ngambek tak-mau angkat guru padaku.

Djika begitu, biarlah aku jang kerdjakan, udjar Yap Dji-nio dengan tertawa.

Kalau muridmu ngambek, suruh dia mentjari balas padaku.

Habis, kedua matanja sih terlalu menggiurkan bagi siapapun jang melihatnja, aku mendjadi iri tak memiliki mata sedjeli itu.

Biarlah kutjolok dulu kedua bidji matanja!

Sungguh kaget Bok Wan-djing tidak kepalang hingga keringat dingin seketika membasahi badannja.

Sjukurlah ia dengar Lam-hay-gok-sin telah mentjegah.

Djangan!

Biar kututuk sadja Hiat-to pingsannja, biar dia tidur selama sehari dua malam!

~ dan tanpa menunggu djawaban Yap Dji-nio lagi, se-konjong2 orangnja melompat kesamping Bok Wan-djing dan menutuk dua kali.

Seketika Bok Wan-djing merasa kepalanja pening, lalu tak sadarkan diri lagi............

Entah sudah berapa lama, ketika pelahan2 Bok Wan-djing siuman kembali, ia merasa badannja sangat dingin, segera terdengar pula serentetan suara tertawa mengikik.

Meski dikatakan tertawa, hakikatnja tiada rasa tawa sedikitpun, tapi lebih mirip dikatakan suara mengilukan dan beradunja benda logam misalnja sebilah golok jang di-gosok2kan diatas papan badja.

Bok Wan-djing sangat tjerdik, ia tahu, sekali dirinja bergerak, seketika pasti akan diketahui pihak lawan, boleh djadi akan mengakibatkan dirinja disiksa.

Maka meski badannja serasa kaku pegal sekali, ia tidak berani sembarangan bergerak.

Dalam pada itu terdengar Lam-hay-gok-sin lagi berkata.

Losi, tidak perlu kau omong gede!

Sam-moay telah beritahu padaku bahwa kau telah telan pil pahit dari orang, buat apa kau masih menjangkal?

Sebenarnja kau dikerojok berapa orang musuh?

Suara orang jang mirip logam digosok itu segera mendjawab.

Huh, apa jang diketahui Dji-tji?

Aku dikerubut tudjuh orang musuh, semuanja tergolong djago2 kelas satu, sudah tentu, betapa tinggi kepandaianku djuga takbisa sekaligus membunuh musuh sebanjak itu.

Eh, kiranja Losi jang berdjuluk Kiong-hiong-kek-ok itu djuga sudah datang, demikian pikir Bok Wan-djing.

Sebenarnja ia sangat ingin melihat matjam apakah Kiong-hiong-kek-ok itu, namua betapapun ia tidak berani sembarangan menarik kain kedoknja.

Terdengar Yap Dji-nio ikut berkata.

Ah, Losi memang suka omong besar.

Sudah terang pihak lawan tjuma dua orang, dari mana bisa muntjul lima orang lagi?

Masakah didunia ini terdapat djago pilihan sebanjak itu?

Hm, darimana pula kau mengetahui?

Apa kau menjaksikan dengan mata-hidungmu sendiri?

sahut Losi dengan gusar.

Kalau aku tidak menjaksikan sendiri, dengan sendirinja aku takkan tahu, kata Yap Dji-nio dengan tersenjum.

Bukankah kedua orang itu masing2 menggunakan sendjata sebatang pantjing ikan dan jang lain memakai kampak?

Hihihi, kelima orang lain jang kau bikin sendiri itu lalu memakai sendjata apa, tjoba katakan?

Se-konjong2 Losi berbangkit, dengan suara keras ia berkata.

Djadi waktu itu kau berada disana, kenapa kau tidak rnembantu padaku?

Kau ingin aku mati ditangari orang, dan kau senang, ja?

Tapi Yap Dji-nio tetap mendjawabnja dengan senjum atjuh-tak-atjuh.

Ah, kenapa kau merendahkan nama Kiong-hiong-kek-ok In Tiong-ho?

Siapa jang tidak kenal Ginkangmu tiada bandingannja didjagat ini?

Kalau kau kalah, emangnja kau tak bisa lari?

Kiranja sidjahat keempat ini bernama In Tiong-ho atau bangau terbang diangkasa, suatu tanda Ginkang atau ilmu entengi tubuhnja pasti sangat lihay.

Ia semakin gusar demi mendengar utjapan Yap Dji-nio tadi, teriaknja lebih keras.

Kalau Losi terdjungkal ditangan orang, apakah kau ikut bahagia?

Hm, apa maksud tudjuan kita Su-ok berkumpul disini?

Bukankah hendak berunding tjara bagaimana tjari perkara keistana radja di Tayli?

Peristiwa ini bukankah berarti beralamat djelek?

Si-te, demikian Yap Dji-nio berkata pula dengan senjumannja jang tidak berubah, selamanja aku tidak pernah melihat Ginkang sehebat itu, bangau terbang diangkasa, sungguh tidak bernama kosong.

Wah, bagai asap terapung, seperti burung melajang, mana bisa kedua manusia itu menjusulmu?

Losi, tiba2 Lam-hay-gok-sin menjela, sebenarnja siapakah jang mengerubuti kau itu?

Apakah kaki-tangan dari istana Tayli?

Ja, 99% pasti dari sana, sahut In Tiong-ho dengan gusar.

Aku tidak pertjaja didaerah Tayli masih ada orang kosen lain lagi ketjuali orang mereka.

Makanja djangan kalian suka anggap enteng mereka, sekarang kalian pertjaja tidak pada omonganku?

udjar Dji-nio.

Dji-tji, kata In Tiong-ho tiba2, sampai saat ini Lotoa masih belum nampak batang hidungnja, padahal sudah lewat tiga hari daripada waktu jang kita tetapkan, selamanja iapun tidak pernah langgar djandji, djangan2......

Djangan2 terdjadi apa2, maksudmu?

potong Yap Dji-nio.

Fui!

Mana bisa djadi, seru Lam-hay-gok-sin dengan gusar.

Matjam apakah Lotoa kita itu, emangnja dia seperti kalian, kalau kalah lantas lari?

Kalau kalah lantas lari, itu namanja tahu gelagat!

sahut Yap Dji-nio ku djusteru kuatir bila dia benar2 dikerojok 7-8 musuh, tapi kepala batu tidak mau kalah, achirnja tamat riwajatnja sesuai dengan djulukannja Ok-koan-boan-eng (kedjahatan sudah melebihi takaran)!

Fui!

Omong kosong!

semprot Lam-hay-gok-sin.

Selama hidup Lotoa malang melintang, pernah dia djeri pada siapa?

Sudah belasan tahun ia mendjagoi Tionggoan, masakan sampai dinegeri Tayli seketjil ini malah terdjungkal?

Wah, kurangadjar, perut lapar lagi!

~ segera ia samber sepotong paha lembu terus dipanggang diatas api unggun disampingnja.

Tidak lama, bau sedap teruar pelahan2.

Pikir Bok Wan-djing.

Dari pertjakapan mereka tadi, tampaknja aku sudah tak sadarkan diri selama tiga hari disini.

Entah Toan-long sudah ada kabar beritanja tidak?

~ Dan karena sudah empat hari tidak makan apa2, perutaja terasa sangat lapar, ketika mengendus bau daging panggang, tak tertahan perutnja mengeluarkan suara keluruk2.

Siaumoaymoay, perutmu lapar bukan?

tiba2 Yap Dji-nio berkata dengan tertawa.

Sedjak tadi kau sudah sadar, kenapa pura2 diam sadja?

Apa kau tidak pingin lihat bagaimana matjamnja Kiong-hiong-kek-ok In-losi kami?

Lam-hay-gok-sin kenal watak In Tiong-ho paling gemar paras tjantik, bila tahu Bok Wan-djing luar biasa ajunja, biarpun mati djuga dia ingin mendapatkannja, berbeda seperti dirinja kalau perlu barulah memperkosa dan membunuh.

Maka tjepat ia sebret sepotong daging paha lembu tadi dan dilemparkan kepada Bok Wan-djing serta membentak.

Ni, makanlah kesana, djauh sedikit, djangan mentjuri dengar pembitjaraan kami!

Bok Wan-djing sengadja kasarkan suara sendiri hingga kedengarannja lutju, tanjanja.

Suamiku sudah datang belum?

Lam-hay-gok-sin mendjadi gusar, sahutnja.

Keparat, aku sendiri sudah mentjari ubek2an kesekitar djurang sana, tapi sedikit pun tidak menemukan djedjak botjah itu.

Dapat dipastikan botjah itu belum mampus, entah telah digondol siapa, aku sudah menunggu disini tiga hari, biar kutunggu lagi empat hari, dalam tudjuh hari kalau botjah itu tidak datang.

Hm, aku nanti panggang kau untuk dimakan!

Hati Wan-djing sangat terhibur oleh keterangan itu, pikirnja.

Lam-hay-gok-sin ini bukan sembarangan orang, kalau dia sendiri sudah mentjari kesana dan jakin Toan-long belum mati, rasanja tentu betul.

Ai, tjuma entah dia masih ingat padaku atau tidak dan akan datang kemari untuk menolong diriku?

Segera ia djemput daging panggang jang dilemparkan padanja tadi, pelahan2 ia berdjalan kebalik karang sana untuk memakannja.

Dalam keadaan lapar, ia merasa sangat letih dan lemas, karena habis kelaparan empat hari, tapi karena itu, luka dipunggungnja malah sudah sembuh.

la dengar Yap Dji-nio lagi menanja.

Sebenarnja dimana letak kebagusan botjah itu hingga membikin kau sedemikian suka padanja?

Lam-hay-gok-sin ter-bahak2 bangga, sahutnja.

Djusteru karena botjah itu sangat mirip aku, bila beladjar silat dari Lam-hay-pay kami, pasti dia akan berhasil dan melebihi sang guru malah.

Hehe, diantara Su-ok kita, aku Gak-lo.........

Gak-lodji (ia sengadja naikan diri mendjadi dji atau nomor dua dan bukan sam atau nomor tiga) meski takbisa mentjapai nomor satu, tapi bitjara tentang murid, rasanja tiada seorang murid2 orang lain jang mampu menandingi muridku.

Sementara itu Bok Wan-djing sudah makin djauh menjingkir dari ketiga manusia djahat itu, demi mendengar Lam-hay-gok-sin memudji kebagusan bakat Toan Ki djarang ada bandingannja, diam2 ia merasa senang dan sedih pula, tapi rada geli djuga.

Toan-long hanja seorang sekolahan jang ketolol2an, ilmu silat apa jang dia miliki?

Ketjuali njalinja jang besar, segala apa tidak bisa.

Kalau Lam-hay-pay menerima murid mestika sematjam itu, rasanja Lam-hay-pay sendiri jang bakal sialan!

la tjari suatu tempat terpentjil dan duduk diatas satu batu padas, lalu menikmati daging panggang tadi.

Meski sangat lapar, namun daging panggang itu masih terlalu banjak baginja, hanja separoh sadja dapat dihabiskannja perutnja sudah kenjang.

Diam2 ia membatin pula.

Sampai hari ketudjuh nanti kalau Toan-long tipis imannja serta mengingkari aku, tidak datang kemari, aku lantas tjari djalan untuk melarikan diri.

~ berpikir sampai disini, ia mendjadi pilu.

Andaikan aku bisa melarikan diri, lalu bisa mendjadi manusia apa lagi?

Begitulah, dengan rasa tidak tenteram, kembali lewat pula dua hari.

Namun bagi Bok Wan-djing, dua hari itu rasanja lebih lama dari dua tahun.

Siang-malam jang dia harapkan senantiasa adalah dapatlah terdengar sesuatu suara dari bawah gunung, sekalipun bukan suaranja Toan Ki, paling tidak djuga dapat menglipurkan hatinja jang lara merana.

Lebih2 bilamana sang malam tiba, rasa deritanja semakin ber-tambah2, perasaannja bergolak mengombak, selalu terpikir olehnja.

Pabila dia benar2 niat mentjari aku, hari pertama atau hari kedua tentu dia sudah datang kemari.

Dan kalau sampai harini masih belum datang, rasanja tiada mungkin dia kemari lagi.

Meski dia takbisa silat, tapi mempunjai djiwa kesatria, betapapun dia pasti tidak sudi mengangkat guru pada Lam-hay-gok-sin ini.

Narnun terhadap diriku, apa benar2 dia tak mempunjai rasa kasih sedikitpun?

Begitulah djalan pikiran Bok Wan-djing, kalau hari2 pertama kedua ia masih menaruh harapan dan menunggu dengan sabar, tapi makin lama makin merana, pesan gurunja bahwa laki2 didunia ini adalah manusia palsu semua selalu men-denging2 terus ditelinganja.

Walaupun perasaannja sendiri selalu menjangkal Toan-long pasti bukan manusia demikian, namun sesungguhnja iapun tidak berani jakin apakah sangkalan itu bukan menipu dirinja sendiri?

Sjukur djuga selama beberapa hari ini Lam-hay-gok-sin, Yap Dji-nio dan In Tiong-ho tidak urus dirinja.

Ketiga manusia djahat itu hanja tekun menanti datangnja Ok-koan-boan-eng, jaitu sidjuara orang djahat di seluruh jagat ini, meski mereka tidak segopoh Wan-djing, tapi mirip djuga semut ditengah kuali panas, mereka sudah kesal luar biasa.

Meski djarak Bok Wan-djing dengan mereka agak djauh, namun suara ribut tjetjok mulut mereka sajup2 dapat terdengar dengan djelas.

Sampai malam hari keenam, Bok Wan-djing memikir.

Besok adalah hari terachir, rasanja laki2 palsu itu takkan datang sudah.

Biarlah malam nanti aku berusaha melarikan diri, kalau tidak, sampai pagi besok, untuk lari pasti akan susah.

Djangankan In Tiong-ho jang tersohor Ginkangnja tiada tandingan diseluruh djagat, tjukup Lam-hay-gok-sin sadja, asal dia sengadja mengedjar, pasti akupun takbisa lolos.

la tjoba berdiri untuk lemaskan otot2nja, ia merasa semangatnja meski masih lesu, namun tenaga sudah pulih 7-8 bagian.

la membatin.

Sangat baik bila ketiga orang itu ribut2 terus dan diam2 aku dapat melarikan diri beberapa ratus tombak djauhnja, lalu aku akan mentjari sesuatu tempat sembunji seperti gua dan sebagainja, dengan demikian mereka tentu menjangka aku sudah kabur djauh dan menguber pergi, kemudian dengan bebas dapatlah aku keluar lagi buat melarikan diri.

Diluar dugaan, meski rentjananja sudah muluk2, beberapa kali sudah bermaksud angkat kaki, tapi hatinja selalu terkenang pada Toan Ki, ia mendjadi ragu2 kalau2 pemuda itu achirnja benar2 datang mentjarinja, lalu bagaimana?

Djika besok takbisa berdjumpa dengan pemuda itu, mungkin untuk selandjutnja takbisa saling bertemu lagi.

Padahal dia sengadja datang untuk sehidup-semati dengan aku, tapi aku malah kabur pergi, dan dia tidak sudi mengangkat guru hingga dibunuh oleh Lam-hay-gok-sin, bila terdjadi demikian, bukankah aku jang berdosa padanja?

~ Begitulah bolak-balik ia memikir, sampai achirnja fadjar sudah menjingsing, tetap belum bisa ambil keputusan.

Tapi dengan datangnja fadjar maksud larinja mendjadi batal malah.

Toh sudah terang takbisa melarikan diri, biarlah aku tetap menunggu, boleh dia datang atau tidak, aku tetap menunggu disini sampai mati.

Selagi hatinja terasa hampa sedih itulah, sekonjong2 terdengar suara gedebukan djatuhnja sesuatu benda ketengah semak2 rumput.

la terkedjut dan heran, apakah itu?

Karena ingia tahu, ia tjoba pasang kuping, tapi tidak mendengar suara2 lain di-semak2 rumput itu, segera ia merajap kesana untuk memeriksanja.

Ketika sudah dekat, lebih dulu hidungnja lantas mentjium bau anjirnja darah.

Waktu rumput lebat disitu ia pentang kesamping dan melongok, seketika bulu romanja berdiri semua.

Ternjata ditengah semak2 rumput itu tergeletak enam sosok majat baji dengan gelimpangan tak teratur.

Diantaranja terdapat pula baji jang tempo hari dinina-bobokan oleh Yap Dji-nio itu.

Seketika Bok Wan-djing terkesima.

Bila kemudian ia periksa majat baji itu, ia lihat disamping lehernja terdapat dua baris bekas gigitan hingga berwudjut suatu lubang ketjil dan tepat diatas urat darah leher.

la mendjadi teringat pada apa jang dikatakan Lam-hay-gok-sin, maka tahulah dia akan duduknja perkara.

Kiranja Bu-ok-put-tjok Yap Dji-nio itu memang benar setiap hari harus mengisap darah seorang baji.

Sudah enam hari dia berada diatas puntjak gunung itu, maka sudah ada enam baji mendjadi korbannja.

Kalau melihat badju jang dipakai baji2 itu terdiri dari kain kasar sadja, dapat diduga Yap Dji-nio bolehnja mentjulik dari keluarga pegunungan disekitar Bu-liang-san sadja.

Satu diantara enam majat baji itu terasa masih hangat, tapi kulitnja kisut, darahnja sudah kering terisap.

Tentu itulah majat jang dilemparkan Yap Dji-nio barusan.

Sungguhpun Bok Wan-djing djuga banjak membunuh orang, tapi orang2 Kangouw jang dibunuhnja itu adalah akibat perbuatan sendiri jang ingin melihat mukanja.

Sebaliknja perbuatan kedjam membunuh anak baji demikian, betapapun djuga membuatnja gusar dan kedjut hingga badannja ikut gemetar.

Se-konjong2 sesosok bajangan hidjau berkelebat, seorang bagai burung tjepatnja telah melajang turun kebawah gunung.

Begitu tjepat bajangan itu hingga mirip setan hantu.

Itulah dia Bu-ok-put-tjok Yap Dji-nio.

Melihat betapa tjepat Ginkang wanita iblis itu, sekalipun gurunja djuga selisih djauh dengan kepandaian orang, seketika Bok Wan-djing lemas rasanja, ia mendoprok terduduk dengan matjam2 perasaan bertjampuraduk.

Setelah ter-mangu2 sedjenak, Bok Wan-djing kumpulkan enam majat baji itu mendjadi satu, lain menguruknja dengan batu pasir seadanja disitu.

Tengah sibuk bekerdja, tiba2 Wan-djing merasa tengkuknja rada silir2 dingin.

la dapat bergerak dengan tjepat sekali, begitu kaki kanan menutul, segera tubuhnja melesat kedepan.

Maka terdengarlah suaru ketawa seorang jang mirip logam digosok dan berkata.

Nona tjilik, suamimu telah tinggalkan kau, ia tidak sudi padamu lagi, marilah ikut aku sadja!.

Siapa lagi dia kalau bukan Kiong-hiong-kek-ok In Tiong-ho, siorang djahat dan buas luar biasa.

Begitu bitjara, terus sadja tangannja merangsang madju hendak memegang Bok Wan-djing.

Plak mendadak dari samping menjelak sebuah tangan hingga tjengkeraman In Tiong-ho tertangkis.

Kiranja penangkis itu adalah Lam-hay-gok-sin, dengan marah2 ia membentak.

Losi, orang Lam-hay-pay kami, dilarang kau main semberono!

Dalam pada itu In Tiong-ho sudah melompat mundur, sahutnja dengan tertawa.

Muridmu tak djadi diterima, dengan sendirinja ia bukan orang Lam-hay-pay lagi.

Baru sekarang Bok Wan-djing dapat melihat djelas perawakan In Tiong-ho itu ternjata sangat tinggi, tapi sangat kurus pula hingga mirip mirip galah bambu, raut mukanja sangat menakutkan djuga, bila tertawa, lidahnya se-akan bisa mulur mengkeret mirip lidah ular.

Darimana kau tahu aku akan gagal menerima murid?

demikian Lam-hay-gok-sin lantas membentak lagi.

Apakah karena botjah itu telah terbunuh olehmu?

Ja, tentu demikian halnja!

Atau mungkin kaupun sir pada tjalon muridku jang bertulang bagus itu, lalukau mengumpetkan dia hendak mengangkanginja sebagai muridmu.

Djadi kau jang telah mengatjaukan rentjanaku, biarlah aku tjekik mampus kau dahulu, urusan belakang!

Simalaikat buaja laut selatan ini benar2 kasar dan tidak kenal apa artinja aturan, tanpa tanja2 lagi apakah beanr2 In Tiong-ho jang menghilangkan tjalon muridnja atau tidak, terus sadja ia menubruk madju dan menjerang setjara ber-tubi2.

Namun In tiong-ho dapat berkelit dengan gesit dan tjepat sekali sambil mendjawab.

He, he!

Muridmu itu bundar atau gepeng, londjong atau tjekak, selamanja akupun belum kenal, darimana bisa bilang aku jang mengumpetkan dia?

Kentut!

damperat Lam-hay-gok-sin.

Siapa jang mau pertjaja padamu!

Pasti karena kau habis dihadjar orang, lalu rasa dongkolmu kau lampiaskan atas diri muridku itu, ja?

Muridmu itu laki2 atau perempuan atau bantji?

tanja Tiong-ho.

Sudah tentu laki2, guna apa aku menerima murid perempuan?

sahut Gok-sin.

Nah, itu dia!

seru Tiong-ho.

Bukankah kau tahu, In Tiong-ho selamanja hanja suka wanita, tapi tidak mau lelaki?' Saat itu Lam-hay-gok-sin lagi menubruk madju pula, mendengar utjapan itu, ia pikir masuk diakal djuga.

Maka mendadak ia mengerem, tubuhnja jang lagi terapung itu mendadak andjlok kebawah hingga berdiri diatas sebuah batu padas, lalu membentak lagi.

Lantas kemana perginja muridku itu.

Kenapa sampai sekarang belum datang mengangkat guru?

Hehe, urusan Lam-hay-pay kalian peduli apa dengan diriku?

kata in Tiong-ho dengan mengekek.

Dasar watak Lam-hay-gok-sin memang kasar, ditambah lagi sudah menunggu selama tudjuh hari tanpa hasil, ia mendjadi gopoh tak keruan, rasa dongkolnja lagi meluap, maka kembali ia membentak.

Setan alas, kau berani mengedjek aku?

Melihat kedua orang maha djahat itu saling ngotot, Bok Wan-djing tidak mau sia2kan kesempatan baik itu, segera ia membakar Lam-hay-gok-sin katanja.

Ja, ja, Toan-long pasti telah ditjelakai In Tiong-ho ini, kalau tidak, diatas karang setjuram itu, mana dapat ia turun?

Ginkang In Tiongho ini sangat hebat, pasti dia jang mandjat keatas karang itu untuk menggondolnja pergi dan dibunuh dilain tempat agar Lam-hay-pay tidak mempunjai bibit tokoh jang lihay.

Mendadak Lam-hay-gok-sin keplak batok kepalanja sendiri sambil menggembor.

Nah, kau dengar tidak!

Bininja muridku djuga bilang begitu, masakan kau jang dipitenah?

Terus sadja Bok Wan-djing pura2 menangis dan berseru.

Suhu, kata suamiku, kalau dia bisa mendapatkan seorang guru seperti engkau, itu adalah suatu redjeki besar baginja, dia berdjandji pasti akan beladjar sepenuh tenaga demi kedjajaan Lam-hay-pay, agar nama Lam-hay-gok-sin lebih mengguntjangkan dunia, supaja itu Ok-koan-boan-eng dan Bu-ok-put-tjok mengiri setengah mati pada engkau orang tua.

Siapa duga si In Tiongho ini djuga tjemburu padamu dan sengadja membunuh tjalon murid kesajanganmu itu, selandjutnja engkau orang tua takkan mendapatkan murid sebagus itu lagi.

Begitulah, setiap kalimat Bok Wan-djing diutjapkan, setiap kali Lam-hay-gok-sin menggeblak batok kepala dan mengepal2 dengan geregatan.

Maka Bok Wan-djing menjambung pula.

Tulang kepala suamiku terlalu mirip dengan engkau, ketjerdasannja djuga serupa, tjoba, seorang ahliwaris sebagus dan sepintar itu, kemana harus ditjari lagi.

Tapi In Tiong-ho ini sengadja memusuhi engkau, mengapa engkau orang tua tidak lekas balaskan sakit hati muridmu itu?

Mendengar sampai disini, sinar mata Gok-sin berubah beringas seketika.

Kembali ia menubruk pula kearah In Tiong-ho.

In Tiong-ho tahu ilmu silat sendiri setingkat lebih rendah dari orang, pula tidak setolol seperti Gok-sin jang mudah diakali.

Sudah terang Bok Wan-djing sengadja mengadu domba, tapi untuk mendjelaskan padanja terang tidak gampang, iapun tidak sudi bergebrak dengan dia, maka begitu ditubruk Gok-sin, segera ia angkat kaki melarikan diri.

Sudah tentu Gok-sin tidak tinggal diam, sekali endjot kakinja, terus sadja ia mengudak.

Nah, dia lari, itu tandanja takut!

demikian Wan-djing menambahi minjak pula.

Dan orang takut, itu tandanja salah!

Karuan Lam-hay-gok-sin tambah panas hatinja, ia meng-gerung2 murka.

Bajar kembali djiwa muridku!

~ Dan kedjar mengedjar itu dalam sekedjap sadja sudah menghilang dibalik gunung sana.

Diam2 Bok Wan-djing bergirang.

Sekedjap kemudian, terdengar suara gerungan Lam-hay-gok-sin makin mendekat lagi, kedua orang itu telah kembali dengan saling uber.

Ginkang In Tiong-ho ternjata djauh lebih tinggi dari Lam-hay-gok-sin, badannja jang lentjir bagai galah bambu seakan2 ter-guntai2 ke kanan dan ke kiri, tapi larinja tjepat tidak kepalang, Lam-hay-gok-sin selalu ketinggalan dalam suatu djarak tertentu.

Ketika sampai didepan Bok Wan-djing, se-konjong2 In Tiong-ho melesat kearah gadis itu, terus mentjengkeram kepundaknja.

Karuan Wan-djing terkedjut, sekali bergerak, kontan ia papaki orang dengan sebatang panah berbisa.

Tapi Ginkang In Tiong-ho benar2 tiada taranja, entah tjara bagaimana dia bergerak, tahu2 tubuhnja bisa menggeser sedikit hingga panah itu luput mengenainja, sebaliknja tangannja masih terus mendjulur kemuka sigadis.

Dengan gugup lekas Bok Wan-djing berkelit, namun toh terlambat sedikit, mukanja terasa segar seketika, kain kedoknja telah disambar oleh In Tiong-ho.

Melihat wadjah Wan-djing jang tjantik molek itu, seketika In Tiong-ho terkesima.

Kemudian dengan menjengir ia berkata.

Hebat, sungguh hebat!

Tjantik sekali dara ini.

Tjuma kurang genit, belum sempurna...

~ tengah berkata, kembali Lam-hay-gok-sin sudah memburu tiba, terus menghantam kepunggungnja.

Sekuatnja In Tiong-ho tantjap kakinja ditanah, ia kerahkan tenaga dalam dan menangkis kebelakang, plak, dua telapak tangan saling bentur dengan keras.

Bok Wan-djing merasa dadanja mendjadi sesak, hampir2 tak bisa bernapas oleh gentjatan dua tenaga pukulan jang hebat itu, batu pasirpun bertebaran diseputar situ.

Dan dengan memindjam tenaga benturan itu, In Tiong-ho sudah mentjelat pergi dua tombak djauhnja.

Ni, rasakan lagi tiga kali pukulanku!

teriak Gok-sin sengit.

Namun In Tiong-ho mendjawabnja dengan tertawa.

Kau tak mampu mengedjar aku, sebaliknja aku tak ungkulan berkelahi dengan kau.

Biarpun kita bertempur tiga-hari tiga-malam lagi djuga tetap begini sadja!

Begitulah kembali kedua orang itu uber-menguber dengan sengitnja.

Diam2 Bok Wan-djing pikir harus berusaha untuk merintangi In Tiong-ho agar kedua orang djahat itu saling gendjot berhadapan.

Maka ia tunggu waktu In Tiong-ho memutar kembali lagi, mendadak ia memapak madju sambil geraki tangannja, 6-7 panah berbisa sekaligus dibidikkan sambil berseru.

Bajar kembali djiwa suamiku!

In Tiong-ho kenal lihaynja panah2 jang mendenging datangnja itu, tapi semuanja dapat dihindarinja sambil mengegos atau mendekam kebawah.

Tiba2 Bok Wan-djing melolos pedang, be-runtun2 ia menusuk dua kali.

Namun In Tiong-ho tahu maksud gadis itu, ia tidak mau menangkis, hanja berkelit kesamping.

Dan karena sedikit rintangan itu, dibelakang Lam-hay-gok-sin sudah menjusul tiba, terus menghantam dengan kedua tangannja.

Losam, seru In Tiong-ho achirnja dengan gemas, berulang kali aku mengalah padamu, emangnja kau sangka aku takut?

--Dan ketika tangannja merogoh kepinggang, tahu2 sepasang tjakar badja telah dikeluarkan.

Tjakar badja itu pandjangnja masing2 tjuma setengah meteran, diudjung tjakar berbentuk tangan manusia dengan lima djari terpentang se-akan2 hendak mentjengkeram.

Ia mainkan sendjatanja itu dengan rapat, tapi tetap mendjaga diri sadja tanpa balas menjerang.

Melihat itu, Lam-hay-gok-sin mendjadi senang, serunja.

Wah, bagus!

Sepuluh tahun tidak berdjumpa, kiranja kau sudah berhasil melatih sematjam sendjata aneh.

Ni, lihat djuga Lotju punja!

--Sembari bitjara, ia terus buka rangsel dipunggungnja dan mengeluarkan sematjam sendjata jang lebih aneh.

Melihat kedua orang djahat itu akan main sendjata, Bok Wan-djing pikir akan pertjuma saja bila dirinja ikut2 bertempur.

Segera ia undurkan diri kepinggir.

Ia lihat sendjata jang dikeluarkan Lam-hay-gok-sin itu adalah sebatang gunting aneh jang pakai garan pandjang, bagian mata gunting berbentuk gigi2 jang tadjam hingga mirip tjongor buaja.

Sedang tangan lain memegang sebuah petjut jang bergigi djuga serupa ekor buaja.

Pabila orang kena digigit sekali oleh mulut gunting atau kena disabet sekali oleh petjut ekor badja itu, kalau tidak mampus tentu djuga akan sekarat.

In Tiong-ho melirik heran djuga kepada dua matjam sendjata aneh itu, tapi mendadak ia geraki tjakar badja sebelah kanan, terus mentjakar kemuka Lam-hay-gok-sin.

Trang, kontan Gok-sin angkat gunting buajanja menangkis hingga tjakar badja lawan terpental kesamping.

Namun In Tiongho tjepat luar biasa, belum tjakar kanan itu ditarik kembali, lagi2 tjakar sebelah kiri sudah menjelonong kedepan pula.

Krak, se-konjong2 gunting tjongor buaja Lam-hay-gok-sin memutar dan menggunting kedjari tjakar terbuat dari badja itu, sungguh luar biasa tadjamnja gunting jang entah terbuat dari bahan apa, tahu2 dua djari dari tjakar In Tiong-ho itu kena digunting putus, padahal tjakar itu sendiri terbuat dari badja murni jang sangat kuat.

Masih untung bagi In Tiong-ho, ia sempat menarik setjepatnja hingga tjuma dua djari tjakarnja jang terkutung.

Namun begitu, hilangnja dua djari tjakar itu berarti djuga mengurangi daja gunanja daripada kesepuluh djari sendjatanja jang hebat itu.

Lam-hay-gok-sin ter-bahak2 keras, mendadak petjut ekor buajanja menjabet pula selagi In Tiong-ho tertegun tadi.

Namun tiba2 sesosok bajangan hidjau menjelinap tiba, itulah dia Yap Dji-nio adanja.

Dengan gesit ia menjela ketengah, sekali tangannja meraup, udjung petjut Gok-sin kena disambernja, terus ditarik kesamping, kesempatan mana telah digunakan In Tiong-ho untuk melompat kepinggir.

Losam, Losi, urusan apa hingga kalian saling gebrak dengan sendjata?

demikian tanja Yap Dji-nio kemudian.

Ketika sekilas dilihatnja wadjah Bok Wan-djing jang tjantik itu, seketika air mukanja berubah hebat.

Biasanja jang paling dibentji olehnja jalah wanita jang berparas lebih tjantik daripada dirinja.

Kini melihat ketjantikan Bok Wan-djing jang susah dilukiskan itu, seketika ia terkesiap.

Baca Juga: Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 8

Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 01410497594

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert