Eps 8 Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long
Baca online Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long
Cersil Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long.
"Aku akan adu jiwa dengan kau...lihatlah pedang...!"
Dan sambil berkata begitu, tampak Kwee Siang telah menggerakkan pedangnya dalam bentuk segi delapan.
Dia telah mengeluarkan jurus simpanan yang dimilikinya, yang tidak akan dipergunakannya kalau tidak bertemu dengan lawan berat.
Nama jurus itu .
"Sian Sian Kong Lie" , yaitu "Dewa-dewi Dihormati" , dan tampak pedangnya itu bergerak-gerak menurut aturan Pat-kua, yaitu delapan segi. Ilmu ini diciptakan oleh Kwee Siang setelah dia memeras pikiran selama setengah tahun, dimana dia telah merubahnya dari salah satu jurus yang terdapat dari kitab Kiu Im Cin Keng. Orang bercacad kedua kakinya itu jadi ter kejut, karena matanya jadi silau melihat sinar pedang berkilauan dari segala jurusan menyambar kearah dirinya. Dia sampai mengeluarkan726 pujian .
"Bagus !"
Dan tongkatnya ditarik pulang, sedangkan tongkat yang satunya telah ditotokkan keras ketanah, sehingga dengan meminjam tenaga totolan itu tubuh orang tersebut telah mencelat dengan gesit sejauh tiga tombak.
Kwee Siang tengah bernafsu dan ingin menerjang lagi untuk melancarkan serangan, pedangnya juga telah berkesiutan menyambar dahsyat kepada lawannya.
"Tahan !"
Teriak orang berbaju hijau itu sambil berdiri diatas kedua tongkatnya.
"Aku hendak bicara !"
Kwee Siang menahan pedangnya, dia telah menatap dengan penuh kemarahan kepada lawannya .
"Apa yang hendak kau katakan ?" .
"Engkau sungguh-sungguhkah cucunya Oey Yok Su ?"
Tanya orang itu.
"Apakah pendengaranmu tuli ? Tadi aku telah memberitahukan bahwa kakekku adalah majikan pulau Tho-hoa-to"
Teriak Kwee Siang keras, karena dia memang tengah diliputi kemarahan yang luar biasa. Apakah perlu aku memberitahukan sekali lagi ?".
"Tunggu dulu, sabar, jangan galak seperti nenek-nenek !"
Kata orang berpakaian hijau itu sambil tertawa.
"Dengarlah ! Ilmu silat Oey Yok Su aku ketahui dengan baik, yaitu bersumber dari Kiu Im Cin Keng dan Kiu Yang Cin Keng ! Bukankah begitu ?"
Kwee Siang ragu-ragu, dia telah mengangguk, katanya kemudian dengan suara yang cukup keras .
"Benar ! Setelah engkau tahu dan mengenal kakekku, mengapa engkau ingin mengganggu diri kami ?".
"Nanti dulu, engkau dengar baik-baik ! Aku heran mendengar engkau adalah cucu Oey Yok Su si tua bangkotan itu ! Hal ini karena berlawanan sekali dengan keadaanmu ! Sebagai cucu dari Oey Yok Su, tentunya engkau harus,727 mempergunakan ilmu-ilmu ciptaan Oey Yok Su si tua bangkotan itu.....namun sejak tadi aku melihat engkau mempergunakan semacam ilmu yang belum pernah kukenal dan aku yakin ilmu itu tentunya bukan milik si tua bangka Oey Yok Su. Benarkah begitu ?" . Kwee Siang tertawa dingin.
"Hmm, jika memang aku berhasil memiliki ilmu silat kakekku, tentunya dalam satu dua jurus engkau telah berhasil kurubuhkan ! Ilmu yang tadi kupergunakan adalah ilmu silat ciptaanku sendiri......
"Pantas ! Pantas !"
Berseru orang tua berbaju hijau tersebut dengan suara yang sangat nyaring "Apanya yang pantas ?".
"Pantas saja engkau tidak bisa memiliki kepandaian yang tinggi, rupanya Oey Yok Su si tua bangkotan itu tidak sayang pada cucunya !"
"Jangan bicara sembarangan ...!"
Teriak Kwee Siang dengan suara mengandung kemarahan.
"Sembarangan? Mengapa sembarangan ? Bukankah engkau sendiri yang memberitahukan bahwa engkau tidak mempelajari ilmu silatnya si jago bangkotan Oey Yok Su itu ?"
Waktu bertanya begitu, orang berpakaian hijau itu telah mementang matanya lebar-lebar.
Kwee Siang jadi tambah mendongkol dan marah, tetapi tentu saja dia menyadari bahwa kepandaiannya tidak bisa menandingi kepandaian lawannya.
"Baiklah ! Sekarang katakanlah apa maksudmu dan siapa namamu ?"
Tanya Kwee Siang kemudian sambil menahan kemarahan dihati-nya.
"Kau ingin mengetahui namaku ? ingin mengetahui juga apa maksudku ?" , tanya orang itu.728 Kwee Siang mengangguk.
"Hemmm, itu mudah ! Engkau bisa saja memanggilku dengan sebutan si Buntung, karena memang seluruh jago-jago dalam rimba persilatan selalu menyebutku dengan perkataan Si Buntung itu. Dan engkau boleh memanggilku dengan sebutan Si Buntung juga" . Waktu itu Kwee Siang jadi memandang heran, karena umumnya orang yang bercacad tangan maupun kakinya, paling pantang mendengar seseorang menyebut-nyebut kekurangannya itu. Tetapi sekarang orang berpakaian baju hijau yang kedua kakinya buntung itu, menganjurkan agar Kwee Siang memanggilnya dengan sebutan si buntung ! Dalam keadaan demikian, tampak Kwee Siang ragu-ragu sejenak, sampai akhirnya dia telah berkata lagi dengan suara yang bimbang "Tetapitetapiapakah engkau tidak akan marah jika aku memanggilmu dengan sebutan sisisi Buntung ?" .
"Mengapa harus marah ? Bukankah memang kenyataannya bahwa kedua kakiku ini telah buntung dan bercacad !" . Ditanya begitu, Kwee Siang terpaksa tersenyum tidak bisa menyembunyikan perasaan lucu mendengar perkataan orang itu, yaitu si Buntung.
"Mungkin juga,"
Kata Kwee Siang kemudian setelah dia melihat si Buntung itu berdiam diri mengawasi dia.
"Si Buntung itu merupakan gelaran belaka !".
"Memang !".
"Lalu siapa namamu ?".
"Engkau ingin tahu ?"
"Ya!"
"Aku she Lie dan bernama Bun Hap !"729
"Lie Bun Hap, aku seperti pernah mendengar nama itu disebut seseorang"
Mengangguk Kwee Siang sambil mengawasi orang she Lie tersebut.
"Mungkin si tua bangkotan Oey Yok Su yang telah menyebut-menyebut namaku ?"
Si Buntung mencoba memberikan terkaannya kepada Kwee Siang.
"Bukan !"
"Lalu siapa ?"
"Entahlah aku tidak ingat, tetapi dalam hal ini memang aku pernah mendengar disebutnya nama Lie Bun Hiap itu .. !"
Tiba-tiba si Buntung telah mengeluarkan suara tertawa yang sangat keras sekali, dia telah memandang kearah Kwee Siang. Sikap yang diperlihatkan si buntung membuat Kwee Siang jadi tersinggung.
"Apa yang kau tertawakan ?"
Tanyanya dengan suara mendongkol.
"Ada yang lucu ! Ada yang lucu ! Jika tidak mengapa aku harus tertawa ? Dengan tertawanya aku, tentu saja ada sesuatu yang lucu !" .
"Yang lucu bagaimana ?"
Tanya Kwee Siang menegasi.
"Lucu sekali ! Engkau tadi sok galak, tetapi sekarang untuk mengingat sepatah nama saja telah begitu sibuk dan tidak tahu...sikapmu yang belakangan ini seperti anak gadis yang bodoh !" . Kwee Siang berobah mukanya menjadi merah, karena dia mendongkol sekali.
"Mulutmu terlalu lancang !"
Katanya kemudian.
"Lancang ?"
Tanya si Buntung dengan suara yang mengandung ejekan.730
"Ya, engkau sebagai orang tingkatan tua telah bersikap tidak tahu malu ingin mempermainkan yang muda !"
Kata Kwee Siang dengan berani sekali. Muka orang tua itu telah berobah merah padam, tetapi hanya sejenak saja, kemudian dia telah pulih sebagaimana biasanya.
"Ya, memang aku dari tingkatan tua, kaum cianpwe, dan kalian berdua adalah kaum boanpwe, tetapi tidak salah kalau kaum cianpwe memberikan pelajaran kepada kaum boanpwe yang tengik dan kurang ajar...!" . Halus suara orang itu dan tampaknya si buntung tidak marah oleh perkataan Kwee Siang, namun nadanya yang halus itu berlainan dengan makna yang termaksud dala kata-katanya itu. Yaitu dia ingin menghajar Kwee Siang dan Phan Kui In babak belur. Kwee Siang sendiri berdebar hatinya, karena dia agak binggung juga, jika tadi dia berkata begitu, hanya untuk memancing kemarahan si Buntung, dan jika dia marah dan mempertahankan kedudukan dirinya sebagai golongan cianpwe tentu akan perintahkan Kwee Siang dan Phang Kui In berlalu tanpa diganggunya pula. Tetapi siapa tahu si buntung itu berkepala batu, semakin lawannya keras kepala justru dia lebih keras kepala juga.
"Lalu apa yang kau kehendaki ?"
Tanya Kwee Siang waktu melihat Lie Bun Hap hanya tertawa mengejek saja tanpa memperdulikan kemarahannya.
"Tentu saja mengajar adat Kepada kalian berdua"
Kata Lie Bun Hap dengan suara yang tegas Kwee Siang dan Phang Kui In jadi menghela napas, karena mereka menyadari sulit untuk mengharapkan bisa lolos dari tangan lawan yang keras kepala dan memiliki kepandaian yang demikian tinggi.731 Dalam keadaan demikian, tampak Phang Kui In telah maju selangkah, dia merangkapkan kedua tangannya menjura memberi hormat kepada Lie Bun Hap.
"Lie Locianpwe...seharusnya kami memang dihukum, tetapi dengan memandang muka terangnya Oey Locianpwe pemilik pulau Tho-hoa to, ampunilah kami..kami akan segera meninggalkan pulau ini...!" . Mendengar perkataan Phang Kui In, muka Lie Bun Hap jadi berobah hebat, dia telah berkata dengan suara yang dingin .
"Permintaan ampunmu itu datangnya terlambat ! Dan sekarang, kalian berdua orang-orang golongan boanpwee yang kurang ajar, harus kuajar adat...!" 000odw^kzo000 Dan setelah berkata begitu, diangkatnya tongkat ditangan kanannya, dia telah berkata lagi .
"Bersiap-Bersiaplah, aku akan segera menyerang..!" . Kwee Siang dan Phang Kui In menyadari bahwa mereka tidak mungkin terlepas dari cengkeraman tangan orang aneh ini, maka mereka jadi nekad. Dengan mengeluarkan suara seruan .
"Silahkan menyerang !" , Kwee Siang telah menggerakkan pedangnya menabas udara kosong, sehingga suara pedang itu berkesiuran. Phang Kui In juga telah berdiri tegak bersiap-bersiap untuk menerima segala serangan yang akan dllancarkan oleh lawannya. Dan dia telah bertekad untuk melindungi Kwee Siang, karena dia mengetahui bahwa Kwee Siang memiliki kepandaian tinggi, dan dia harus dapat diselamatkan, terlebih lagi Kwee Siang merupakan cucu bungsu dari Oey Yok Su. Jika sampai terjadi sesuatu didiri gadis pendekar ini, niscaya Oey Yok Su tidak akan mau mengerti, walaupun hanya seujung732 rambut saja yang terganggu, tetapi pasti Oey Yok Su akan mencari Lie Bun Hap untuk membalas sakit hati.
"Locianpwe ...!"
Kata Phang Kui In lagi dengan suara yang disabar-disabarkannya.
"Dengarlah dulu keteranganku ini !".
"Keterangan apa lagi yang hendak kau katakan ? Cepat katakan !!"
Kata Lie Bun Hap memperlihatkan sikap yang tidak sabaran. Phang Kui In telah merangkapkan tangannya menjura memberi hormat lagi kepada Lie Bun Hap.
"Lie Locianpwe ... ketahuilah, bahwa kami terdampar dipulau ini tanpa kami sengaja dan tanpa kami kehendaki ! Kami telah menerima nasib yang buruk ditawan bajak laut, dan kami disimpan dalam kamar tahanan. Untung kami bisa meloloskan diri dengan melobangi dinding kamar tahanan itu dan berenang keluar dari kapal tersebut. Tetapi sayang, rupanya kami harus menerima percobaan lagi. kami telah dipusing-pusingkan dalam putaran user-user air laut yang akhirnya membuat kami pingsan. Waktu kami tersadar, ternyata kami telah menggeletak ditepi pantai palau ini. Maka dengan memandang muka terang dari Oey Locianpwe, kami mohon Lie Locianpwe mengampuni kami dan kami akan segera meninggalkan pulau ini tidak berani mengganggu Lie Locianpwe lagi..."
Manis cara berkata Phang Kui In, dan diapun berkata-kata dengan sikap yang hormat sekai.
Lie Bun Hap untuk sejenak jadi diam!
tertegun.
Tetapi kemudian sambil mengetukkan ujung tongkat disebelah kirinya ketanah, dia telah berkata "Tadi kau mengatakan bahwa kalian ditawan oleh bajak laut, tahukah engkau siapa bajak laut itu ?".
Phang Kui In menggelengkan kepalanya.733
"Sayang kami tidak mengetahui siapa mereka yang telah membajak kami Namun kami ketahui nama pemimpin mereka adalah Ciong Lam Cie Hanya itu yang kami ketahui" .
"Ciong Lam Cie ?"
Tanya Lie Bun Hap dengan mata terbuka lebar-lebar, tampaknya dia sangat terkejut.
"Ya !".
"Orang she Ciong itu masih hidup ?".
"Entahlah. kami tidak mengenalnya dan hanya mengetahui namanya Ciong Lam Cie, dia sendiri yang menyebutkannya."
Mendengar perkataan Phang Kui In yang terakhir, Lie Bun Hap telah berdiri diam tercenung. Tampaknya ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.
"Besarkah jumlah mereka ?"
Tanya Lie Bun Hap lagi.
"Cukup banyak, bahkan anak buahnya itu semuanya mengerti ilmu silat yang cukup tinggi ...!".
"Hemmm ... kalian telah dirubuhkannya ?"
Tanya Lie Bun Hap.
"Oleh ketuanya atau hanya kaki tangannya yang merubuhkanmu ?".
"Kami dirubuhkan oleh orang she Ciong itu sendiri !!"
Menyahut Phang Kui In dengan pipinya yang berobah menjadi merah.
"Hemmm, orang she Ciong itu rupanya tengah mencari lawan-lawannya ...!"
Menggumam Lie Bun Hap.
"Tidak salah Lie Locianpwe...!"
Kata Phang Kui In.
"Memang dia tengah mencari seseorang...! Bahkan kalau dilihat caranya, dia bukan hanya mencari seorang saja, justru dia tengah menyelidiki beberapa orang yang hendak dibinasakannya.
"Tahukah engkau siapa-siapa saja yang tengah dicari Ciong Lam Cie ?"
Tanya orang tua itu.734 Phang Kui In menggelengkan kepalanya perlahan, kemudian dia berkata lagi .
"Kami tidak mengetahui jelas, tetapi jika tidak salah orang she Ciong itu juga memusuhi Kwee Ceng Taihiap suami isteri. yaitu ayah ibu dari Kwee Liehiap ini...dan ada seorang lainnya yang dimusuhinya juga, yaitu..."
Berkata sampai disitu, Phang Kui In berhenti bicara, seperti juga dia bimbang meneruskan kata-katanya itu.
"Siapa orang yang lainnya itu..?"
Tanya Lie Bun Hap mendesak, matanya juga telah memandang kepada Phang Kui In dengan terpentang lebar.
"Jika tidak salah dengar, diapun ingin mencari Yo Ko Sin Tiauw Taihiap...!"
Akhirnya Phang Kui In memberikan penjelasannya juga.
"Apa...apa ?"
Tanya Lie Bun Hap seperti terkejut dan melompat satu tombak lebih.
"Engkau bicara jangan main-main ! Cepat katakan yang sebenarnya...!".
"Aku telah bicara dari hal yang sebenarnya !"
Menyahuti Phang Kui In.
"Tetapitidak mungkin Ciong Lam Cie akan memberitahukan padamu dia tengah mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ! " .
"Mengapa tidak? Sekarang setiap orang yang lewat diperairan yang berada dalam kekuasaannya tentu akan ditangkapnya. Dan jika orang itu, setelah diperiksa, tidak memiliki sangkut paut dengan orang-orang yang sedang dicarinya maka akan dibebaskan. Tetapi jika ternyata orang itu memiliki sangkutan dengan orang-orang yang tengah dicarinya, tentu akan dikurungnya, ditawannya !"
"Tetapi ... ?"
Tanya Lie Bun Hap dengan ragu-ragu mengawasi Phang Kui In.735
"Tetapi kenapa locianpwe", tanya Phang Kui In sambil mengawasi jago she Lie itu.
"Tetapi mengapa engkau juga ditawan, apakah engkau memiliki hubungan dekat dengan musuh-musuh orang she Ciong itu ?"
Phang Kui In menghela napas.
"Memang peristiwa yang terjadi begitu adanya !"
Kata Phang Kui In.
"karena Kwee Lihiap telah mengakui terus terang bahwa dia adalah puteri dari Kwee Ceng Taihiap, sedangkan kawan kami yang seorang lagi, Him-jie (anak Him) justru mengakui bahwa dia adalah puteranya Sin Tiauw taihiap !!"
"Sin ....Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ada puteranya ?"
Tanya Lie Bun Hap seperti juga tidak percaya apa yang didengarnya.
"Ya", mengangguk Phang Kui In dengan cepat, wajahnya segera tergambar perasaan menyesal dan sedih.
"Dia telah lenyap waktu kami meloloskan diri dari kapal orang itu. Semula Him-jie aku gendong dan rangkul kedua kakinya kuat-kuat, tetapi waktu tubuh kami terserang user-user air laut yang berputar, kami telah pingsan dan satu dengan yang lainnya sudah tidak bisa mengetahui, sampai akhirnya ketika aku tersadar dari pingsan kami telah tergeletak dipasir tepi pantai. Hanya Kwee Uehiap yang kujumpai, sedangkan Him-jie tidak diketahui berada dimana...!"
Setelah berkata begitu, Phang Kui In jadi menghela napas berulang kali.
"Apakah... apakah puteranya Sin Tiauw Tai hiap Yo Ko itu seorang anak lelaki berusia dua belas tahun atau tiga belas tahun ?"
Tanya Lie Bun Hap sambil mengawasi Phang Kui In dengan sorot mata yang sangat tajam sekali.
"Tepat !"
Berseru Phang Kui In dengan suara terkejut bercampur girang, disamping itu juga wajahnya berseri-seri,736 karena ada harapan lain baginya untuk bertemu dengan Yo Him.
"Aku semalam telah menemukan seorang anak lelaki yang berusia diantara dua belas tahun mengeletak tidak sadarkan diri. Anak lelaki itu memiliki tubuh yang lemas dan tampan sekali mukanya. Aku senang padanya, aku bawa kerumahku. Apakah mungkin dia itu puteranya Yo Taihiap ?"
Phang Kui In telah berjingkrak saking gembiranya.
"Lie Locianpwe, bisakah locianpwe mengantar kami untuk menjenguknya ?"
Tanya Phang Kui In.
Kwee Siang juga jadi berobah mukanya, berseri-berseri cerah sekali, dia merangkapkan kedua tangannya menjura kepada orang tua berkaki buntung itu setelah menympan kembali pedangnya.
"Maafkan atas kecerobohan dan kekurang ajaran boanpwe !"
Kata Kwee Siang dengan suara yang sabar tidak mengandung permusuhan lagi.
Phang Kui In juga telah menjura sambil katanya "kami tentu tidak akan melupakan budi kebaikan Locianpwe !!".
Tetapi Lie Bun Hap menggelengkan kepalanya perlahan, dia telah berkata dengan suara yang tawar "
Aku memberitahukan kepada kalian bahwa aku menemukan anak itu, bukan berarti aku bersedia untuk membiarkan kalian bertemu!
Aku telah bertekad untuk mengambil dia menjadi muridku !
Selama puluhan tahun aku tidak memiliki murid, maka melihat bakat dan tulang baik dari anak itu, aku ingin mengambilnya sebagai murid tunggal !"
Hem.
mana mungkin aku membiarkan kalian bertemu muka lagi, yang bisa memberantakkan rencanaku...!".
Setelah berkata begitu, muka Lie Bun Hap jadi berobah bengis lagi, dia telah meneruskan perkataannya .
"Cepat kau katakan, kearah mana yang diambil Ciong Lam Cie...?".737
"Kau sendiri tidak mau mempertemukan kami dengan Him-jie dan sekarang kau mendesak kami untuk memberikan keterangan Itu lah urusan yang tidak cengli!" .
"Kau ingin aku memaksa dengan kekerasan ?"
Bentak Lie Bun Hap yang bergelar si Buntung itu.
"Tetapi jika locianpwe menyiksa kami, berarti untuk selamanya kau tidak bisa memperoleh keterangan apapun mengenai dirinya bajak laut Ciong Lam Cie itu...!"
Kwee Siang telah ikut menimbrung bicara dengan nada yang dingin.
"Hemm, enak saja engkau bicara ! Bukan kah masih ada Yo Him, putera Sin Tiauw Tai hiap Yo Ko ? Bukankah diapun mengalami hal dan peristiwa itu bersama-sama dengan kalian?" . Setelah berkata begitu, tampak Lie Bun Hap tertawa bergelak-gelak, Phang Kui In dan Kwee Siang merasakan telapak tangan mereka jadi dingin. Memang tidak salah, jika Yo Him berada ditangan orang she Lie ini. tentunya dia bisa saja mendesak Yo Him, atau memancing anak itu dengan berbagai jalan, agar Yo Him menceritakan apa yang dialaminya. Dan setelah itu, tentunya segala urusan menjadi jelas dan terang. Waktu itu Lie Bun Hap telah berkata lagi dengan suara yang dingin .
"Apakah kalian tetap tidak mau menceritakan kepadaku perihal ketua Tiauw-pang (Perkumpulan Rajawali) Ciong Lam Cie itu ?" . Phang Kui In menghela napas dengan lesu.
"Mereka menempuh jalan air yang menuju kearah Timur tenggara...!"
Katanya kemudian.
"Hemmm, jika Ciong Lam Cie mengambil arah Timur tenggara tentu tidak akan sampai ditempat ini, justru tempat738 ini terletak di Barat Selatan. Ha, ha, ha! Kukira cukup keterangan yang kau berikan ...!" . Setelah berkata begitu Lie Bun Hap telah mengibaskan tongkat yang ditangan kanannya, seperti sikap mempersilahkan tamunya untuk pergi.
"Kalian bebas untuk meninggalkan pulau ini, aku tidak akan mengganggunya !" . Tetapi Phang Kui In dan Kwee Siang mana mau berlalu dari pulau ini setelah mengetahui bahwa Yo Him masih selamat dan berada dalam rawatan orang tua she Lie itu, yang tertarik ingin mengangkat Yo Him sebagai murid tunggalnya itu.
"Locianpwe..."
Suara Phang Kui In tidak lampias, tampaknya dia bingung sekali.
"Apa lagi ? Aku telah membebaskan kalian tanpa diberi tanda mata sedikitpun ditubuh kalian, apakah itu masih belum cukup sehingga kalian berdua tampaknya, tidak puas ?"
Tajam suara dari Lie Bun Hap waktu dia menegur begitu, karena dia mendongkol sekali tampaknya.
Dan bibirnya yang kemudian terkatup rapat itu memperlihatkan bahwa dia menaban amarah dihatinya !
Phang Kui In cepat-cepat menjura lagi sambil katanya dengan suata yang halus .
"Locianpwe kasihanilah kami, ajaklah kami menemui Yo Him...! Kami sesungguhnya tengah menerima tugas yang cukup berat, yaitu membawa Yo Him menemui ayah kandungnya ! Kami kira tentunya Locianpwe tidak keberatan bukan untuk melepaskan Yo Him sementara waktu, dan kelak jika telah bertemu dengan ayah kandungnya tentu kami akan mengajaknya kemari lagi untuk menemui Locianpwe, guna mengadakan pengangkatan guru dan murid."
Waktu itu muka Lie Bun Hap telah berobah semakin tidak enak dilihat, dia mengetukkan ujung tongkatnya ketanah sebanyak empat kali, mukanya juga merah padam, giginya yang menggigit keras-keras itu terdengar berkereot-kereot739
"Kau bicara seperti anak kecil saja!"
Bentak Lie Bun Hap akhirnya.
"Hemmm, apa kah engkau kira dengan bicara begitu, dengan menyebut-nyebut nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko aku akan takut dan gentar, lalu cepat-cepat menyerahkan anak itu kepada kalian ? Hemmm, enak saja kau bicara. Sekarang begini saja singkatnya . kalian mau pergi meninggalkan pulau ini atau mau aku mampusi saja ?" . Keras nada perkataan dari Lie Bun Hap, dia tampaknya tidak senang dengan sikap Phang Kui In yang seperti mengulur-ulur waktu. Disaat itulah tampak Kwee Siang telah berkata dengan suara ragu-ragu .
"Locianpwe... maukah locianpwe mengasihani kami bertiga dengan memandang muka ayah dan ibuku ?!"
Kata Kwee Siang.
"Nanti kepada ayah dan ibu aku akan menceritakan segalanya perihal Locianpwe yang telah melepas budi kepada kami..." . Mendengar perkataan Kwee Siang, Lie Bun Hap telah tertawa bergelak-gelak dengan keras.
"Hemm, engkau bicara seperti juga bermimpi !"
Katanya dingin.
"Apa harganya ayah, ibumu harus kupandang ? Hemm, jika Kwee Ceng dan Oey Yong sendiri yang datang memohon! agar aku melepaskan Yo Him. belum tentu aku akan melayaninya, bahkan bisa-bisa mereka kumampusi sekalian...!" . Kaget Kwee Siang mendengar perkataan Lie Bun Hap yang terakhir itu. Ternyata orang she Lie ini sama sekali tidak memandang muka terang dan kepopuleran nama Kwee Ceng, dan Oey Yong. Disamping itu, orang she Lie ini terlalu sombong dan takabur sekali, maka hal ini tidak menggembirakan hati Kwee Siang, dan Phang Kui ln.
"Lalu apa maunya Locianpwe ?"
Tanya Kwee Siang menahan kemarahan hatinya.740
"Kalian pergi menggelinding dari pulauku dan jangan coba-coba berani datang kemari iagi karena jika aku bertemu kembali dengan kalian, aku tentu akan menurunkan tangan maut membinasakan kalian, dan kalian tidak bisa mengatakan lagi aku terlalu kejam, sebab sekarang ini aku telah membebaskan kalian dengan cara yang enak tanpa syarat" . Muka Kwee Siang dan Phang Kui ln jadi berobah merah. Mereka tersinggung sekali. Walaupun bagaimana Kwee Siang dan Phang Kui In merupakan jago-jago yang memiliki nama tidak kecil didalam rimba persilatan dan kalangan kangouw, tetapi sekarang Lie Bun Hap memperlakukan mereka sekehendak hatinya, menghina mereka habis-habisan. Tetapi Phang Kui In telah menjura lagi sambil menahan kemarahan dihatinya. Lie locianpwe walaupun bagaimana kami harus menemui Yo Him dulu, nanti kami menanyakan langsung kepadanya, apakah dia bersedia untuk menjadi muridmu, jika memang dia bersedia untuk mengangkat guru padamu kamipun tidak bisa berbuat apa-apa."
"Kalian terlalu cerewet seperti nenek-nenek dan kakek-kakek !"
Teriak Lie Bun Hap dengan suara yang keras sekali.
"Dengarlah dulu Lie locianpwe !"
Tetapi belum lagi suara Phang Kui In selesai diucapkan disaat itu tampak Lie Bun Hap telah mengibaskan tongkat ditangan kanannya sambil berkata "Cepat menggelinding pergi sebelum aku melakukan tindakan kekerasan melemparkan kalian ke tengah-tengah laut...
Suaranya bengis sekali mengandung hawa pembunuhan, tetapi Kwee Siang dan Phang Kui In tidak takut melihat sikap mengancam dari Lie Bun Hap.
Bahkan mereka telah mempersiapkan besi-besi yang kuat pada kedua kaki mereka,741 dengan sikap yang berhati-hati karena mereka menyadari Lie Bun Hap bukan hanya sekedar mengancam saja, tetapi bisa saja orang she Lie itu melancarkan serangan sungguhan.
Melihat Kwee Siang dan Phang Kui In mengambil sikap seperti menantang, muka Lie Bun Hap jadi berobah merah padam, dengan suara bentakan yang keras dia telah bilang .
"Bagus, bagus ! Memang kalian rupanya mencari penggebuk !" . Dan membarengi dengan perkataannya itu, tampak Lie Bun Hap telah mengeluarkan suara bentakan yang nyaring sekali, dia telah menggerakkan tongkat ditangan kanannya memukul udara kosong, kemudian tongkatnya meluncur kearah tenggorokan Phang Kui In. Orang she Phang itu jadi terkejut, dia sampai mengeluarkan suara teriakan tertahan karena kaget, sebab datangnya serangan tongkat Lie Bun Hap sangat cepat sekali. Dan belum lagi dia sempat memikirkan untuk menangkis atau berkelit dengan jurus apa, tahu-tahu ujung tongkat lawannya telah berobah arah lagi, menusuk kearah lambungnya !. Cepat-cepat Phang Kui In membuang dirinya kelain arah untuk mengelakkan serangan tongkat itu. Namun belum lagi dia berhasil mengelakkan diri dari tongkat Lie Bun Hap, dan belum lagi tubuhnya menyentuh tanah, kaki kiri Lie Bun Hap telah melayang cepat sekali menendang kempolan Phang Kui In.
"Dukk"
Terdengar keras tendangan Lie Bun Hap mengenai sasarannya dengan tepat, sehingga tidak ampun lagi Phang Kui In jadi terlempar dan terguling diatas tanah, dia merasakan kempolannya sakit sekali.
Lie Bun Hap tidak tinggal diam hanya sampai disitu saja, dengan cepat dia mendekati Phang Kui In, terlihat tongkatnya yang ditangan kanan telah melayang akan menusuk kearah perut Phang Kui ln yang saat itu tengah rebah terlentang.742 Phang Kui In jadi mengeluh, dia bisa membayangkan betapa dahsyatnya tenaga menyodok tongkat itu kepada perutnya, dan jiwanya bisa melayang jika sampai tertusuk oleh ujung tongkat tersebut.
Bukan hanya Phang Kui In saja yang terkejut Kwee Siang juga jadi terperanjat.
Dengan mengeluarkan suara bentakan nyaring dan tidak membuang-membuang waktu lagi, tampak Kwee Sian telah menjejakkan kakinya, tubuh "Siuuttt...!"
Pedang itu meluncur secepat kilat dan mengandung tenaga lwekang yang luar biasa kuatnya.
Sinar putih tampak meluncur terus kearah pundak kanan Lie Bun Hap.
Tetapi orang she Lie itu sama sekali tidak memperdulikan serangan pedang Kwee Siang, dia hanya mengeluarkah suara dengusan sambil meneruskan serangan ujung tongkatnya yang hendak ditusukkan keperut Phang Kui In.
"Tranggg...!"
Ketika mata pedang Kwee Siang berhasil mengenai pundak orang she Lie itu, dia merasa menikam semacam benda keras, dan pedangnya itu telah melejit, sehingga Lie Bun Hap tidak terluka sama sekali.
Sedangkan Phang Kui In menyaksikan kejadian yang berlangsung hanya satu, dua detik itu.
tambah terkejut.
Mati-Matian dia telah menekan tanah dengan kedua tangannya, meminjam tenaga tekanan itu, tubuh Phang Kui In telah meloncat kesamping, bergulingan menjauhan diri dari lawannya.
Tongkat Lie Bun Hap telah meluncur cepat dan menghujam tanah, masuk cukup dalam.
Gusar sekali Lie Bun Hap, sampai dia berjingkrak, marah ketika mengetahui lawannya telah berhasil menyelamatkan diri.
Untuk melampiaskan kemarahannya itu, Lie Bun Hap tidak berdiam diri saja waktu serangannya kepada Phang Kui In telah gagal mengenai sasarannya, dengan cegat sekali743 tongkatnya yang tercekal ditangan kiri telah menyambar dahsyat kearah perut Kwee Siang.
"Wutt...!."
Tongkat ditangan kiri Lie Bun Hap telah menyambar mengejutkan Kwee Siang.
Tetapi sebagai seorang jago muda yang memiliki kepandaian tinggi, dan puteri dari jago-jago ternama Kwee Ceng dan Oey Yong, disamping itu sebagai cucu dari Oey Yok Su, maka dia tidak menjadi gugup menghadapi keadaan seperti itu.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, tampak Lie Bun Hap telah memperhebat serangan tongkatnya kepada Kwee Siang, agar berhasil mengenai Sasarannya.
Tetapi Kwee Siang juga dapat bergerak lincah, dengan cepat pedangnya berputar dan menangkis serangan tongkat orang she Lie itu "Tranggg !"
Suara benturan antara pedang dengan tongkat terjadi sampai Lie Bun Hap terkejut karena telapak tangannya dirasakan sakit sekali, sehingga dia mengeluarkan suara seruan kaget !.
untung saja tongkatnya itu tidak sampai terlepas dari cekatannya, dan tubuhnya tidak sampai roboh terjungkel.
Kwee Siang telah mengeluarkan suara tertawa dingin.
Tadi dia bukannya tidak terkejut waktu senjata mereka saling bentur, Kwee Siang merasakan telapak tangan kanannya pedih dan panas sekali, disamping itu juga pedangnya tergetar keras hampir saja akan terlepas dari cekalan tangannya.
Untung Saja Kwee Siang merupakan pendekar wanita dijaman itu yang memiliki Kepandaian tinggi dan hampir setingkat dengan kepandaian ibunya, Oey Yong, dan Kwee Siang hanya kalah pengalaman saja.
Maka dengan mencekal keras-keras gagang pedangnya, dia sengaja telah memperdengarkan suara tertawa dingin untuk menutupi keterkejutannya itu.744
"Hayo seranglah lagi !! "
Kata Kwee Siang dengan suara nyaring.
Lie Bun Hap telah gusar sekali, dia mengeluarkan seruan marah, tahu-tahu tongkatnya telah menotok tanah dan tubuhnya melambung beberapa tombak tingginya meminjam tenaga totolan dari tongkat tersebut.
Dan waktu tubuh Lie Bun Hap terapung ditengah udara, dengan cepat sekali dia menggerakkan tongkatnya, dan dia telah melancarkan pukulan "Pek Kong Ciang" (Pukulan Udara Kosong).
Sebetulnya ilmu Pek Kong Ciang itu hanya khusus untuk ilmu pukulan tangan kosong.
Tetapi karena Lie Bun Hap mempergunakan sepasang tongkat, dan tidak mungkin dia melepaskan tongkatnya yang bisa dipergunakan menunjang tubuhnya itu, dia telah merobah pukulan Pek Kong Ciang itu menjadi pukulan udara kosong yang dilakukan sekaligus dengan kedua tongkatnya itu.
"Wutt, siuutt...!"
Beruntun-runtun kedua senjata tongkat itu telah meluncur gencar kearah Kwee Siang.
Puteri Kwee Ceng dan Oey Yong itu jadi kaget bukan main, dia telah merasakan sambaran angin serangan yang kuat sekali walaupun serangan lawan belum tiba, masih terpisah setengah tombak.
Tetapi sebagai Siauw-sia, si sesat kecil, yang menuruni sifat-sifat kakeknya, si sesat tua Oey Yok Su, maka Kwee Siang tidak pernah mengenal perasaan 'takut'.
Walaupun dia melihat serangan yang dilakukan oleh lawannya itu merupakan serangan yang kuat dan hebat, tetapi Kwee Siang tidak mundur setapakpun juga, dia hanya memutar pedangnya berruntun-runtun dia telah mempergunakan jurus "lima kali berlutut menyembah Budha"
Lalu disusuli lagi dengan "bidadari mempersembahkan arak" , kemudia waktu lawannya melancarkan serangan lagi, saat itulah tampak Kwee siang telah mendahului menyerang kearah dada Lie Bun Hap dengan gerakan yang sangat manis, yang mempergunakan745 jurus ‘jie liong in cu’ atau sepasang naga berebut mustika ", pedangnya itu berkesiuran mencaplok dan mengigit dada lawannya.
Lie Bun Hap mengeluarkan suara tertawa mengejek tanpa, memperdulikan pedang Kwee Siang yang menyambar kearah dadanya, dia menggerakkan kedua tongkatnya untuk membarengi melancarkan serangan lagi.
Gerakannya itu membuat Kwee siang terkejut, karena tadi dia telah mengalami betapa kulit punggung lawannya tidak tertembus oleh mata pedang.
Maka melihat kali ini lawan tidak berusaha mengelakkan diri dari tusukan pedangnya, Kwee Siang bisa menduga bahwa lawannya tentunya mengenakan pakaian lapis baja atau besi, sehingga tidak mempan oleh tikaman atau tusukan pedangnya.
Kwee siang cerdik sekali, dia tidak mau dibodohi musuhnya lagi, dia teiah menarik pulang pedangnya, kemudian dibaliknya pedang itu meluncur kesamping untuk menangkis sekaligus kedua batang tongkat Lie Bun Hap yang tengah menyambar kearah dirinya.
"Trangggg !"
Kembali pedang Kwee siang tergetar dan dia merasakan telapak tangannya sakit dan pedih, dia baru menyadari bahwa tongkat Lie Bun Hap bukan tongkat kayu, melainkan tongkat besi hitam yang terkenal kekuatannya.
Lie Bun Hap juga tidak tinggal diam, karena begitu tongkat hitamnya terbentur dengan pedang Kwee siang dia telah mengeluarkan suara bentakan yang garang, lalu tongkatnya menyambar dengan pesat akan menotok dada kanan si gadis.
Tetapi Kwee siang telah memiliki latihan yang cukup sempurna dalam pelajaran Kiu Im Cin Keng dan kakeknya yang memanjakannya sebagai cucu terkecil itu, telah menurunkan banyak sekali pelajaran ilmu simpanannya.
Dengan demikian walaupun dirinya tengah terancam bahaya yang tidak kecil, namun Kwee Siang bisa menghadapinya dengan baik, dia menghadapi gempuran tongkat Lie Bun Hap746 dengan dua kali memiringkan tubuhnya, dan telah berhasil melompat kebelakang.
Tetapi Lie Bun Hap rupanya tidak mau melepaskannya begitu saja, begitu serangan tongkatnya gagal, dia membarengi melancarkan serangan serentak dengan kedua tongkatnya.
Gerakan yang dilakukan Lie Bun Hap tidak bisa diremehkan, karena pada kedua tongkatnya itu telah tersalurkan kekuatan tenaga lwekang yang hebat, yang bisa menghancur leburkan sebungkah batu jika terserang oleh tongkatnya itu.
Kwee Siang juga merasakan berkesiuran angin serangan dari kedua tongkat lawannya yang tangguh ini, dia cepat-cepat menarik napas dalam-dalam, lalu menyalurkan kekuatannya kedalam telapak tangannya yang terus kesalur masuk kedalam pedangnya.
Mata pedangnya ditundukkan menghadap bumi, sedangkan kedua lengannya mencekal pedangnya itu seperti juga tengah memberi hormat.
Lie Bun Hap terkejut.
"Itulah Sian Lie Sin Kiam Sut !"
Berpikir Lie Bun Hap dalam hatinya.
"Sian Lie Sin Kiam Sut berarti ilmu Pedang Bidadari sakti"
"Trangg !"
Benturan antara tongkat Lie Bun Hap dengan pedang Kwee Siang tidak bisa dielakkan lagi sehingga terdengar suara benturan logam yang kuat sekali, disamping menimbulkan lelatu api.
"Hebat nona Kwee itu ."
Diam-diam Phang Kui In jadi berpikir didaiam hatinya.
"Jika aku yang menghadapi Lie Bun Hap, tentu siang-siang aku telah binasa ditangannya...!" . Apa yang dipikirkan oleh Phang Kui In memang benar, karena waktu antara tongkat dengan pedang saling bentur, bukan hanya Kwee Siang belaka yang terhuyung mundur sampai empat tombak dengan muka yang berobah pucat,747 tetapi Lie Bun Hap juga telah ter huyung-huyung mundur kebelakang dengan mengeluarkan suara seruan tertahan, dia telah terdorong mundur empat tombak juga oleh dorongan tenaga tangkisan yang dilakukan oleh Kwee Siang. Phang Kui In berdiri mengawasi pertempuran itu dengan hati berdebar dia tidak berani melompat maju untuk membantui Kwee Siang, karena dia menyadari, jika dia melibatkan dirinya dalam pertempuran dengan mereka berarti dirinya akan celaka, karena justru Lie Bun Hap dan Kwee Siang masing-masing tengah mengeluarkan kepandaian mereka yang paling kuat. Itulah sebabnya Phang Kui In hanya berdiri tertegun saja dengan muka sebentar-sebentar pucat.
"Nah, kau sudah melihatnya, bukan ?"
Tanya Kwee Siang, waktu pendekar wanita itu berhasil berdiri tetap.
"Bukan hanya engkau saja yang berhasil memiliki kepandaian yang tinggi ! Untung saja hari ini engkau hanya bertemu dengan aku, coba kalau engkau bertemu dengan kedua orang tuaku, tentu bukan kakimu saja yang tidak ada, sepasang tanganmu mungkin akan dikutungkannya juga, karena engkau seorang yang sangat kejam dan jahat sekali! Hemmm, apalagi kalau engkau bertemu dengan kakekku, tentu engkau tidak akan memiliki harapan untuk hidup terus!" . Mendengar perkataan seperti itu, muka Lie Bun Hap jadi berobah merah padam, tetapi dia tidak melancarkan serangan lagi, melainkan dia telah mengeluarkan suara tertawa bergelak-gelak yang sangat nyaring sekali. Kwee Siang jadi heran dan mengawasi dengan tertegun, dia telah melihat bahwa lawannya tadi. selama bertanding bukanlah lawan yang lunak. Bahkan jika dilihat cara-cara menyerangnya, kepandaian Lie Bun Hap lebih tinggi satu tingkat dari dia, dan juga lebih menang pengalaman, karena dari usianya yang telah setengah baya itulah membuat Lie Bun Hap kenyang oleh pengalaman-pengalamannya.748 Tetapi ada satu kelebihan yang dimiliki Kwee Siang, yaitu dia memiliki Ginkang (ilmu meringankan cubuh) yang tinggi sekali, sehingga walaupun tenaga Iwekangnya masih kalah dibandingkan dengan Lie Bun Hap, tetapi dia bisa menghadapi lawannya dengan baik. Juga ilmu pedang yang dimiliki oleh Kwee Siang merupakan ilmu pedang ciptaannya sendiri, yang digubahnya dari pelajaran Kiu Im Cin Keng dan Kiu Im Sian-kiam-sut. Setelah puas tertawa, Lie Bun Hap telah memandang kearah Kwee Siang dengan sorot mata yang tajam sekali, dia juga telah berkata dengan nada suara perlahan dan dalam ! "Anak yang manis, engkau memang harus diberikan pelajaran agar mengerti tingginya langit...!" . Dan berkata sampai disitu, tampak Lie Bun Hap telah mengeluarkan suara mendesis, tahu-tahu tongkat ditangan kanannya diangkat tinggi melewati kepalanya, sehingga dia hanya berdiri dengan bantuan tongkat tunggal ditangan kirinya. Sikapnya memperlihatkan ketegangan, dan disamping itu juga tampaknya Lie Bun Hap tengah mengerahkan tenaga dalamnya kedalam tongkat ditangan kanannya. Gerakan yang dilakukan itu merupakan gerakan yang mengerikan, karena bagi orang-orang yang mengerti dan mengetahui, mereka tentu akan bergidik. Rupanya Lie Bun Hap tengah menyalurkan kekuatan lwekang ribuan kati untuk melancarkan serangan kepada Kwee Siang. Kwee Siang yang celah memiliki kepaadaian tinggi, tentu saja menyadari bahaya yang tengah mengancam dirinya. Dia tidak berani berlaku ayal, dengan mata tetap mengawasi dan sikap yang berwaspada sekali, tampak Kwee Siang juga mengangkat pedangnya dilintangkan didepan dadanya. Dia telah menyalurkan sembilan bagian tenaga lwekangnya kepedangnya.
"Hemmm, sekarang kau terimalah seranganku !"
Berseru Lie Bun Hap.749
"Hati-hati Kwee Liehiap !!"
Teriak Phang Kui In dengan kuatir sekali. Tetapi Kwee Siang tetap tenang, berdiri tegak dengan bibirnya tersungging senyuman.
"Jangan kualir, Phang Lo-engbiong, orang ini memang harus diberi hajaran agar dia mengetahui dalamnya lautan dan tingginya langit ...!"
Kata Kwee Siang dengan suara perlahan dan dia telah mengawasi terus kepada lawannya, karena sedikitpun juga Kwee Siang tidak berani berlaku lengah.
Dalam keadaan seperti ini, terlihat Lie Bun Hap telah menotolkan tongkat tangan kirinya, membarengi tongkat ditangan kanannya bergerak akan menusuk jalan darah Tan Tian Hiatnya Kwee Siang.
"Siutt...!"
Tongkat yang dipergunakan menyerang dengan tenaga yang sangat kuat itu telah menimbulkan suara desiran angin yang sangat tajam, dan mata tongkat itu telah menyambar dengan pesat sekali.
Kwee Siang merasa kagum atas kepandaian ilmu tongkat Lie Bun Hap yang benar-benar mengagumkan, dia menanti sampai serangan Lie Bun Hap hanya terpisah beberapa cie dari dadanya, barulah dia menangkis dengan, jurus "Burung Hong melebarkan sayap"
Dan terlihat betapa pedangnya menahan meluncurnya tongkat lawan. Dalam keadaan demikian, tampak Lie Bun Hap sama sekali tidak bermaksud menarik pulang pukulannya. Dengan gerakan "Pat Sian Ie Ie"
Atau "Delapan Dewa berada dalam hujan" , dia meneruskan serangannya, beruntun mata tongkatnya itu telah bergerak-gerak dengan sikap yang mengancam.
Disaat itu tampak Kwee Siang juga tidak tinggal diam, dia telah melancarkan serangan dari jurus-jurus ilmu pedang yang sangat hebat sekali.
Ilmu pedang gabungan dari kedua orang tuanya dan kakek luarnya, yaitu Oey Yok Su yang digabung750 dengan ilmu pedang yang diperoleh dari pelajaran ilmu Kiu im Kiam-sut yang didapatnya dari Kak Wan Taisu.
Sinar pedang yang berkilauan gemerlapan itu seperti juga segulungan bundar sinar putih yang mengurung tubuh Kwee Siang, sehingga Lie Bun Hap tidak berdaya untuk menyerang dan mendesak terus menerus kepada Kwee Siang.
Dia harus memperhitungkan dan mempertimbangkan setiap serangan yang hendak di lakukannya.
Dalam waktu yang singkat kedua orang itu telah terlibat dalam suaiu pertempuran yang sangat seru sekali, hampir enam puluh jurus...tetapi sebegitu jauh mereka bertempur, belum ada juga yang tampak terdesak.
Tampaknya mereka berimbang.
Lie Bun Hap yang merupakan tokoh golongan tua.
tentu saja jadi semakin penasaran, karena dia tidak berhasil untuk menundukkan gadis dari golongan muda itu.
Phang Kui In melihat dikening Kwee Siang telah bermanik-manik keringat.
Disamping itu juga dari atas kepala Kwee Siang seperti mengepul mengeluarkan semacam uap putih yang tipis.
Rupanya gadis she Kwee itu telah letih sekali, Lie Bun Hap juga bukannya tidak mengalami kerugian dengan pertempuran tersebut, sebab setiap serangan yang dilancarkannya harus memakai banyak sekali tenaganya.
Tidak mengherankan jika disaat itu Lie Bun Hap juga telah lelah sekali.
Kepalanya mengeluarkan uap putih tipis juga.
Melihat keadaan kedua orang yang sedang bertampur itu, Phang Kui In jadi berkuatir sekali, karena dia menyadari sedikit saja salah seorang diantara merena itu berbuat lengah, tentunya hal itu akan membahayakan jiwanya.
Dalam keadaan demikian dengan mengeluarkan suara seruan yang keras sekali, keduanya berulang kali telah melompat mundur.
Tetapi mereka hanya mengambil napas sejenak, lalu keduanya telah saling terjang lagi.751
"Walaupun bagaimana aku harus membantu Kwee Lihiap. Orang she Lie itu bukan orang baik-baik, diapun dari golongan tua, maka tidak perlu aku malu mengeroyoknya... !"
Dengan tidak memikirkan lagi apa akibatnya, tampak Phang Kui In telah menjejakkan kakinya tubuhnyha meloncat mendekati kedua orang yang tengah baku hantam dengan senjata masing-masing.
Sambil meloncat begitu, dia telah mencabut keluar goloknya, dan mengeluarkan bentakan .
"Jaga serangan !"
Tampak tangan kanannya yang memegang senjata tajam itu telah bergerak dengan cepat sekali, sehingga angin desiran dari golok yang membacok itu mengejutkan Lie Bun Hap.
Tetapi sebagai jago yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dia sama sekali menjadi gugup.
Tanpa menoleh lagi dia telah menangkis golok yang tengah meluncur kedirinya dengan tongkatnya yang ditangan kiri.
"Trang...!"
Golok Phang Kui In berhasil ditangkisnya.
Orang she Phang itu jadi mengeluarkan suara teriakan tertahan bercampur kesakitan.
Yang hebat, waktu goloknya itu telah di tangkis oleh tongkat lawannya, tampaknya tangkisan itu perlahan sekali, tetapi kesudahannya cukup parah untuk Phang Kui In.
Waktu goloknya itu kena ditangkis oleh tongkat lawannya, Phang Kui In merasakan tangannya pedih bukan main, goloknya itu tergetar, dan terlepas dari cekalannya, menyambar kearah sebatang pohon, dan menancap di situ dalam sekali !
Muka Phang Kui In jadi berobah merah dan pucat bergantian.
Orang she Phang ini merasa marah dan mendongkol bercampur aduk menjadi satu.
Dengan nekad akhirnya dia menyerang lagi dengan tangan kosong.752 Per tama-tama begitu terlepas goloknya, Phang Kui In telah melancarkan serangan kepalan tangannya dengan jurus ,Memukul mati Harimau Hutan’ tangan kanannya ditekuk sedikit dan tangan kirinya dilonjorkan kedepan.
Kakinya lalu menyerampang bhesi-bhesi kedua kaki Lie Bun Hap.
Kemudian waktu itu Lie Bun Hap berhasil mengelakkan diri, dengan cepat Phang Kui In menyusuli lagi dengan serangan kedua tangannya yang hendak menjambak punggung lawan itu dengan jurus ‘cengkeraman rajawali merobek hati’ itulah semacam jurus eng jiauw kang (ilmu kuku garuda), yang mengandalkan kekuatan jari-jari tangan yang bisa dipergunakan mencengkeram lengan kuat sekali.
Hanya jurus yang dipergunakan oleh Phang Kui In ada Kelebihannya jika dibandingkan dengan Eng-jiauw kang, karena dia bisa saja menarik pulang tangannya jika keadaan tidak mengijinkan, sedangkan Eng-jiauw-kang sekali menyambar datang kepada lawan, serangan itu tidak bisa dibatalkan.
Kwee Siang juga tidak tinggal diam, dia telah menggerakkan pedangnya bertubi-tubi melancarkan tikaman dan tabasan kepada Lie Bun Hap.
Dangan jurus "Dewi Mempersembahkan Buah" , kemudian disusul dengan "Dewi Menari Ditaman", terulang kali pedangnya berkelebat-kelebat dengan cepat sekali.
Serangan-Serangan yang dilancarkannya itu sangat sulit untuk dijaga oleh pertahanan yang bagaimanapun ketatnya.
Namun Lie Bun Hap justru saat itu masih sempat untuk menangkis dengan tongkatnya yang satunya lagi, walaupun disaat itu dia tengah menangkis serangan Phang Kui In.
Tetapi dengan melakukan penangkisan terhadap dua serangan yang berlainan arah, Lie Bun Hap telah melakukan, suatu kesalahan yang besar.
Begitu pedang Kwee Siang ditangkisnya segera dia merasakan pundatnya sakit bukan main, sampai Lie Bun Hap mengeluarkan jerit kesakitan tanpa diinginkannya.
Dia telah meraung dari memutar tongkatnya,753 sehingga untuk sejenak Phang Kui In dan Kwee Siang tidak bisa melancarkan serangan lagi ketika melihat kekalapan lawan mereka itu.
Ternyata punggung Lie Bun Hap telah kena dicengkeram oleh Phang Kui In, sehingga kulit punggungnya pecah dan tertarik copot oleh cengkeraman jari-jari tangan Phang Kui In.
Dengan mengeluarkan suara raungan yang luar biasa kuatnya tampak Lie Bun Hap telah melancarkan kemplangan tongkatnya kepada Phang Kui In dengan seluruh tenaga lwekangnya..
Phang Kui In jadi terbang semangatnya.
Tidak mungkin dia menangkis serangan sehelat itu dari lawannya, karena jika Phang Kui In memaksakan diri menangkis juga, berarti dirinya akan terluka berat dan mati.
Sedangkan untuk meloloskan diri juga sudah tidak keburu, tongkat Lie Bun Hap telah menyambar datang dekat sekali.
Mati-Matian Phang Kui In telah membuang dirinya kesamping kiri, dia telah bergulingan dengan cepat sekali.
Namun tidak urung tangan kirinya terkena oleh angin serangan itu, sehingga Phang Kui In mengeluarkan jerit kesakitan, tulang lengan kirinya itu telah hancur remuk terserang oleh gempuran yang sangat kuat itu !
Kwee Siang terkejut.
Dia melompat ingin menghampiri Phang Kui In.
Tetapi belum lagi Kwee Siang sempat melaksanakan apa yang diinginkannya, tiba-tiba sepasang tongkat dari Lie Bun Hap telah menyambar datang kepadanya dengan cepat sekali.
Kwee Siang terpaksa membatalkan maksudnya untuk melihat keadaan Phang Kui In, dan menangkis kedua tongkat yang tengah menyambar kedirinya itu.
Kemudian Kwee Siang telah membalas menyerang juga, sehingga mereka terlibat kembali dalam pertempuran yang mati-matian, sebab masing-masing telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya.754 Phang Kui In yang semula menggeletak ditanah, telah berusaha untuk bangun, tangan kanannya menegangi tangan kirinya dengan muka meringis menahan sakit.
Bisa dibayangkan betapa menderitanya Phang Kui In dengan hancurnya tulang lengannya itu.
Waktu itu Kwee Siang terdesak sekali oleh amukan sepasang tongkat Lie Bun Hap.
Beberapa kali Kwee Siang hampir terserang oleh senjata lawan.
Untung saja dia memiliki kepandaian Delapan Patkwa, yang diajarkan oleh ibunya, ilmu keturunan keluarga Oey, maka Kwee Siang tidak sampai dirubuhkan oleh lawannya..
Pedang Kwee Siang menyambar-nyambar bagaikan seekor naga putih yang meluncur.
dengan cepat dan mengincar bagian-bagian yang bisa membinasakan lawannya.
Dalam keadaan seperti itu Kwee Siang juga telah memutar otak untuk mencari jalan keluar guna menaklukkan musuhnya itu !
Jika terpaksa Kwee Siang juga bermaksud akan membinasakan lawannya tersebut, karena dia telah melihatnya bahwa Lie Bun Hap merupakan seorang yang kejam dan tidak memiliki perikemanusiaan.
Tetapi disebabkan kepandaian lawannya cukup tinggi, mungkin berada diatas kepandaiannya, tidak mudah bagi Kwee Siang untuk membinasakannya.
Lie Bun Hap juga mengeluh dalam hatinya, karena selama ini telah ratusan jurus mereka bertempur, belum ada tanda-tanda dia berhasil mendesak Kwee Siang.
Dan juga jadi kuatir kalau-kalau nanti dirinya dirubuhkan Kwee Siang, tentu namanya yang terkenal dan dipupuk selama puluhan tahun itu akan sirna dan runtuh....
nama baiknya akan tercemar dengan rubuhnya dia, yang pasti akan ditertawai oleh orang-orang rimba persilatan.......!
Waktu itu Phang Kui In telah bisa berdiri walaupun tubuhnya masih bergoyang-goyang tidak bisa berdiri tetap,755 namun rasa sakit dilengan kirinya itu sudah berkurang banyak.
Tulang lengan kirinya itu hancur, tetapi sebagai seorang jago yang memiliki nama, tentu saja Phang Kui In tidak mau menyerah dengan keadaan seperti itu.
Dengan mengeluarkan suara raungan yang tiba-tiba sekali tampak Phang Kui In telah melompat melancarkan serangan kepunggung Lie Bun Hap dengan kepalan tangan kanannya.
Angin serangan itu berkesiuran sangat kuat sekali, sebab Phang Kui ln melancarkan serangannya dengan mempergunakan seluruh kekuatan tenaga lwekang yang ada padanya Dan waktu itu Lie Bun Hap hanya mendengar suara berkesiuran angin serangan orang she Pharg itu, dan dia tanpa menoleh telah menggumam dengan suara dingin .
"Apakah engkau menghendaki hancurnya kembali tulang lengan kananmu...?"
Ejeknya.
Dan bukan hanya ejekan yang dilontarkan Lie Bun Hap, karena dia telah mengeluarkan tongkat kanannya yang disertai tenaga dalam yang dahsyat, menyampok pergelangan tangan Phang Kui ln dengan mempergunakan jurus "Tongkat Sakti Mengemplang Kera", gerakannya bukan main dahsyatnya.
>>o0o^d!w^o0o<<
Jilid 22 Dalam sekejab mata saja tampak serangan-serangan yang menyambar dengan kuat itu hampir mengenai pergelangan tangan Phang Kui In Tetapi jago she Phang ini yang telah mengetahui kehebatan tongkat lawan telah cepat-cepat menarik pulang tangannya.
Gerakan Phang Kui In sangat cepat.
tetapi tongkat dari lawannya bergerak jauh lebih cepat lagi, sehingga dapat menyerempet bahu Phang Kui In.756 Tampaknya serempetan tongkat itu perlahan sekali, tetapi kesudahannya Phang Kui In terjungkel rubuh pingsan !
Walaupun pundaknya tidak patah, karena hanya serempetan yang sedikit saja itupun telah cukup membuat Phang Kui In jadi tidak sadarkan diri.
Kwee Siang terkejut melihat Phang Kui In kembali kena dirubuhkan oleh Lie Bun Hap.
Dengan tidak membuang-buang waktu lagi tampak Kwee Siang telah meloncat kedekat Lie Bun Hap sambil berseru .
"Lihat pedang !"
Pedang ditangannya menyambar dengan jurus ‘Pelangi delapan arah" , dimana dia telah melancarkan serangan kepada Lie Bun Hap dengan tikaman-tikaman beruntun dari delapan penjuru arah.
Lie Bun Hap melihat perobahan cara menyerang Kwee Siang, dia jadi lebih berhati-hati.
Apa yang dilakukan oleh Kwee Siang memang ingin mengalihkan perhatian Lie Bun Hap dari diri Phang Kui In, dan usaha si gadis memang berhasil.
Dengan mengeluarkan suara raungan yang sangat keras, Lie Bun Hap telah melompat melancarkan serangan dengan kedua tongkatnya.
"Serrr, serrr,"
Beberapa kali "terdengar berkesiuran angin serangan tongkat Lie Bun Hap.
Kwee Siang melihat lawannya melancarkan serangan nekad seperti itu, jadi mengeluh didalam hatinya.
Karena gadis ini merasakan tekanan-tekanan berat dari kedua tongkat lawannya itu.
Dalam sekejap mata mereka telah bertempur beberapa puluh jurus lagi.
Waktu Lie Bun Hap ingin melancarkan serangan pula, disaat itulah terdengar suara yang nyaring, suara seorang anak kecil .
Tahan...!
Hentikan...!" 757 Kwee Siang mengelakkan kemplangan tongkat kanan Lie Bun Hap, dan menusuk dengan pedangnya keperut lawannya.
Gerakannya itu memaksa Lie Bun Hap harus melompat mundur mengelakkan diri.
Kesempatan, itu dipergunakan Kwee Siang untuk melirik.
Hatinya jadi meluap gembira.
"Yo Him ? Kau sehat-sehat saja ?"
Teriak Kwee Siang dengan suara penuh kegembiraan.
"Hentikan encie Siang...justru lopehpeh (paman) itu yang telah menolongi aku...!"
Kata Yo Him sambil berlari menghampiri. Kwee Siang bernapas lega waktu melihat Yo Him tidak mengalami cidera apa-apa. Yo Him berlari menghampiri Phang Kui In yang masih menggeletak pingsan ditanah.
"Paman Phang ! Paman Phang !"
Berseru anak itu dengan suara sedih waktu melihat keadaan Phang Kui In.
"Totok jalan darah Tu-lie-hiat didekat tulang piepe, dia akan segera sadar kembali !"
Kwee Siang telah memberikan petunjuk kepada Yo Him.
Yo Him menuruti petunjuk yang diberikan oleh Kwee Siang, dia menotok jalan darah Tu lie-hiat dari paman Phangnya itu.
Lie Bun Hap saat itu tengah berdiri tegak dengan sikap tidak gembira, wajahnya juga murung sekali.
Dia hanya memperhatikan sikap Yo Him dengan sebentar-sebentar mengeluarkan suara dengusan mengandung kemendongkolan.
Totokan Yo Him memang benar-benar telah menyadarkan paman Phangnya itu dari keadaaa pingsannya yang cukup lama itu, begitu membuka kelopak matanya, Phang Kui In melihat Yo Him berada dihadapannya.758 Kegembiraannya jadi meluap.
Lupa akan luka ditangan kirinya, dia mengulurkan kedua tangannya untuk mencekal tangan Yo Him.
Tetapi begitu tangan kirinya digerakkan, dimana tulang lengannya telah hancur, Phang Kui In menjerit kesakitan, tangan itu seperti juga lumpuh tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi.
Mukanya juga jadi berobah pucat menahan perasaan sakit.
Yo Him terkejut.
"Kenapa kau, paman Phang ?".
"Lenganku sakit...".
"Lengan kiri ?".
"Ya, tulang lengan kiriku telah dihancurkan oleh iblis buntung itu...!"
Sambil berkata begitu tampak Phang Kui In telah memandang kepada Lie Bun Hap dengan sorot mata mengandung kebencian dan dendam.
Tetapi Lie Bun Hap tidak mengacuhkan sikap Phang Kui In, dengan suara yang tawar dia telah berkata kepada Yo Him.
"Yo Him, kemarin engkau telah berjanji bahwa engkau tidak akan membantah perkataanku, bukan ?" . Yo Him mengangguk cepat.
"Ya, aku telah berjanji tidak akan membantah perintah dari Lopehpeh, yang telah menyelamatkan jiwaku dari kematian.... ditolong dari terjangan ombak."
"Bagus, bagus !"
Kata Lie Bun Hap dengan suara yang tetap dingin, bahkan disudut bibirnya tampak seulas senyuman bergaris sinis.
"Sekarang juga aku perintahkan engkau kembali kerumahku dan tinggalkan manusia tidak punya guna itu !" .
"Lo pehpeh ?!"
Yo Him terkejut.
"Kukatakan, kini engkau kuperintahkan untuk kembali kerumahku!".759
"Tapi lopehpeh, paman Phangku int telah menderita luka cukup serius yang harus cepat-cepat ditolong...!"
Kata Yo Him. Mata Lie Bun Hap jadi berkilat bengis, dia telah berkata.dengan suara yang dingin .
"Tadi kau baru menyatakan akan menuruti setiap perintahku, tetapi belum lagi janjimu itu lenyap dari telingaku, kau telah melanggarnya sendiri !" . Yo Him jadi serba salah, dia telah berkata dengan suara yang ragu-ragu.
"Tapi Lopehpeh, paman Phang sudah kuanggap sebagai orang tuaku. Dan enci Siang sebagai cici kandungku.! Bagaimana aku bisa membiarkan mereka menderita ? Lopehpeh, silahkan memerintahkan kepadaku untuk melakukan pekerjaan lainnya saja, walaupun harus terjun kedalam kobaran api atau minyak panas, aku tidak akan menampiknya...!" ;
"Sungguh kata-kata yang takabur sekali !"
Kata Lie Bun Hap.
"Apakah kata-katamu yang sekarang ini bisa dipegang kebenarannya ?" . Yo Him mengangguk cepat tanpa ragu-ragu "Benar lopehpeh, perintahkanlah apa saja asal kau tidak mengganggu paman Phang dan encie Siang, aku akan melakukan semua perintah itu sebaik mungkin !"
Tegas waktu Yo Him berkata begitu, dia juga memperhatikan sikap bersungguh-sungguh.
Phang Kui In jadi berkuatir sekali, disamping itu diapun jadi berduka.
Dia mengetahui sejak kecil Yo Him telah menerima banyak kesengsaraan dan juga dia selalu menderita dibawah tekanan-tekanan yang terjadi pada keluarganya, dimana sejak dilahirkan Yo Him belum pernah melihat ayah kandungnya.
Dan begitu juga dia dengan ibunya, ketika masih berusia tidak lebih dua bulan, harus berpisah dengan ibu kandungnya.760 Sekarang demi kepentingan dan keselamatan Phang Kui In dan Kwee siang dia bersedia menjadikan dirinya sebagai tumbal, tentu saja hal itu telah membuat Phang Kui In jadi terharu sekali.
Sampai dia menitikkan air matanya.
Dan disaat itu tangan kanannya yang tidak mengalami cidera telah diulurkan dan mencekal tangan anak itu.
"Him jie engkau jangan memikirkan kami, pergilah dan ikutilah loenghiong itu, tentu engkau akan menjadi murid yang pandai dan kelak memiliki kepandaian yang tinggi ... !"
Saat itu Lie Bun Hap telah tertawa dengan suara yang nyaring, katanya "sekarang mari engkau buktikan kata-katamu itu !
Aku akan memberikan perintah diluar dari kepentingan kedua orang tolol itu, tetapi jika perintahku kali ini ditampik olehmu, hemm, hemm, kau tidak perlu bicara lagi, orang itu akan kubinasakan !"
Kemudian Lie Bun Hap telah bertanya lagi "Tadi engkau mengatakan tidak takut untuk terjun kedalam minyak panas atau terjun kedalam kobaran api, bukankah begitu ?" .
Yo Him mengangguk cepat, sedikitpun dia tidak memperlihatkan keragu-raguan.
"Tepat ! Perintah apa saja yang akan diberikan lopehpeh akan kulaksanakan, asal lopehpeh mau mengampuni jiwa paman Phangku ini dan juga membebaskan encie Siang...!" . Lie Bun Hap telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang sangat mengerikan, dia telah menggerakkan kedua tongkatnya, dimana tubuhnya memang mengandalkan kedua tongkat tersebut untuk berjalan karena dia tidak memiliki sepasang kakinya lagi. Waktu tiba didekat sebatang pohon, dia menoleh kepada Yo Him.
"Nah, sekarang engkau siapkan kayu-kayu kering, kumpulkan cukup banyak...!!" , kata Li Bun Hap kemudian.761 Yo Him menuruti perintah itu, walaupun hatinya berdebar-debar karena dia dapat menduganya apa yang akan dihadapinya nanti. Tetapi tidak urung anak yang besar hati dan tabah ini melaksanakan perintah Lie Bun Hap, dia mengumpulkan cabang dan ranting kering, yang ditumpuknya menjadi cukup tinggi. Selesai mengumpulkan ranting-ranting itu Yo Him menoleh kepada Lie Bun Hap.
"Apa yang harus kulakukan lagi ?"
Tanyanya kemudian.
"Nyalakan api pada ranting-ranting kering itu"
Perintah Lie Bun Hap pula. Him jie, jangan kau turuti perintah gila dari manusia tidak mengenal perikemanusiaan ini !"
Teriak Kwee Siang ketika menyaksikan semua itu dan dapat menduga apa yang hendak diperintahkan Lie Bun Hap kepada Yo Him. Yo Him menoleh kepada Kwee Siang sambil katanya "
"Encie Siang, bukankah seorang kuncu tidak akan menjilat kembali ludahnya yang telah dibuang ?. bukankah kata-kata seorang kuncu merupakan kuda yang dicambuk dan tidak bisa ditarik mundur pula ?, sudahlah encie Siang asal lopehpeh ini mau mengampuni kalian, apa saja yang diperintahkannya akan kulaksanakan !"
Muka Kwee Siang berubah menjadi pucat.
"Yo Him, kau .... ?"
Tetapi belum habis suara Kwee Siang, disaat itu tampak Lie Bun Hap telah tertawa ber gelak-gelak, menyeramkan sambil mengawasi kearah Phang Kui In yang duduk numprah dengan muka yang pucat pias.
Sedangkan Yo Him telah mulai menyalakan api pada tumpukan ranting itu.
Sebentar saja api telah berkobar tinggi.762 Lie Bun Hap berhenti tertawa.
Kemudian katanya dengan suara yang nyaring .
"Sekarang aku perintahkan kepadamu. Him jie, untuk terjun kedalam kobaran api...!" . Muka Yo Him pucat seketika, dia memang telah menduga akan menerima perintah seperti itu, tetapi dia tidak yakin bahwa Lie Bun Hap benar-benar tidak memiliki perikemanusiaan dan ingin membuktikan kata-katanya dengan perintahkan dia terjun kedalam kobaran api itu. Tetapi perobahan dimuka Yo Him hanya sejenak, kemudian sambil tersenyum tabah dia telah berkata kepada Lie Bun Hap.
"Lopehpeh, aku akan membuktikan bahwa janjiku bukan main-main, dan aku akan menuruti perintah yang diberikan Lopehpeh, tetapi lopehpeh juga harus menepati janjimu tidak akan mengganggu lagi encie Siang dan paman Phang, mereka harus dibebaskan!"
"Oh, tentu, tentu kata Lie Bun Hap dengan suara yang keras. Kemudian dia tertawa, lalu melanjutkan kata-katanya lagi .
"Aku akan membebaskan jika mereka telah melihat engkau membuktikan perkataanmu itu !".
"Jangan Him-jie !"
Teriak Phang Kui In dengan suara gemetar dan berusaha untuk bangkit.
"Biar aku yang binasa, engkau tidak perlu mengorbankan jiwa untuk kami...!".
"benar Him-jie, jangan kau lakukan perbuatan gila seperti itu...!"
Teriak Kwee Siang sambil melompat akan menolongi dan mencegah Yo Him terjun dalam kobaran api.
Suara tertawa Lie Bun Hap terdengar nyaring sekali, dia tertawa mengejek.
Yo Him karena kuatir nanti dicegah dan dihalangi oleh Kwee Siang, tanpa berpikir lagi dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat kedalam kobaran api sambil berteriak .
"Selamat tinggal paman Phang ! Selamat tinggal Encie Siang !" .763 Phang Kui In dan Kwee Siang masing-masing mengeluarkan suara jeritan ngeri menyaksikan itu. Mereka telah mengeluarkan suara teriakan yang sangat menyayatkan, bahkan Kwee Siang telah menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Tetapi waktu tubuh Yo Him meluncur atau terjun dalam kobaran api yang sangat besar itu, sesosok bayangan yang tidak jelas ujudnya telah bergerak cepat sekali, disusuli dengan kata-kata .
"Anak yang baik ! Engkau memang berbakat menjadi muridku !"
Dan bayangan itu bukan hanya sekedar berkata-kata saja, tetapi telah mempergunakan sebatang tongkat untuk menahan lajunya tubuh Yo Him, karena tongkat itu telah melemparkan Yo Him, sehingga tubuh anak itu terpental dan bergulingan ketanah, terpisah cukup jauh dari kobaran api.
Dengan merangkak Yo Him telah bangkit kembali, mukanya telah dilumuri darah yang mengucur keluar dari hidungnya yang terantuk batu.
"Him-jie..!"
Teriak Kwee Siang kagr dan cepat-cepat lompat menghampirinya.
"Kau.. kau tidak apa-apa ?".
"Him...!"
Phang Kui In juga telah memanggilnya sambil berjalan dengan bersusah payah karena memang tenaganya seperti telah habis dan luka di tangan kirinya itu menyebabkan kelumpuhan sebelah tubuhnya yang kiri.
Yo Him telah menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku tidak apa-apa encie Siang dan paman Phang, kalian tidak usah berkuatir begitu !"
Dan setelah berkata begitu Yo Him menoleh kepada Lie Bun Hap, katanya .
"Lopehpeh, mengapa engkau melakukan hal itu, memukul perutku dengan tongkatmu sehingga aku tidak bisa melaksanakan perintahmu terjun kedalam api ?" .764 Memang yang tadi berkelebat adalah Lie Bun Hap yang bergerak sangat gesit sekali, dan dia mempergunakan tongkatnya untuk menahan lajunya tubuh Yo Him. Tadi dia hanya ingin menguji hati Yo Him belaka, sesungguhnya dia merasa sayang kepada anak ini, yang dilihatnya memiliki otak yang cerdas dan juga memiliki bakat yang baik.
"Aku tadi hanya ingin melihat kesungguhanmu terhadap janjimu sendiri. Aku lihat engkau anak yang baik yang selalu menepati janjimu ! Baiklah ! Kalian bertiga kubebaskan untuk meninggalkan pulau ini" . Yo Him cepat-cepat berlutut menyatakan terima kasihnya. Phang Kui In juga telah mengangguk dengan sorot mata berterima kasih, walaupun Lie Bun Hap tadi telah mencelakai dirinya, yaitu tangan kirinya yang jadi lumpuh karena telah hancur tulang lengannya. Kwee Siang memasukkan pedangnya kedalam serangkanya, kemudian merangkapkan kedua tangannya, dia telah memberi hormat sambil berkata "Terima kasih atas kebaikan locianpwe...!".
"Hemm, seharusnya bukan kepadaku kalian menyatakan terima kasih tetapi kalian harus berterima kasih kepada Yo Him. Karena anak inilah yang telah menyelamatkan jiwa kalian dari kematian" . Yo Him cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah.
"Anak Him.."
Kata Lie Bun Hap lagi.
"Apakah kau bersedia menjadi muridku ?" . Mendengar tawaran seperti itu, Yo Him jadi serba salah, tapi akhirnya dia telah berkata .
"Maafkan lopehpeh sebetulnya kami melakukan perjalanan untuk menemui seseorang yang sangat besar artinya untukku, yaitu ayah kandungku Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Maka dari itu765 alangkah sulitnya bagiku untuk belajar ilmu silat sekarang-sekarang ini !"
"Aku ingin menurunkan seluruh kepandaianku, dan engkau bisa mempelajarinya nanti setelah engkau memiliki waktu yang luang. Kulihat engkau seorang anak yang cerdas sekali .. maka aku akan membacakan Kauwkoat ilmu silatku itu selama satu bulan, setelah itu kalian boleh melanjutkan perjalanan kalian."
Waktu berkata begitu, sikap Lie Bun Hap bersungguh-bersungguh dan Yo Him tidak tega untuk menolak permintaan tersebut. Dia telah mengangguk. Lalu menoleh kepada Phang Kui In dan Kwee Siang.
"Bagaimana baiknya paman Phang dan encie Siang ?"
Tanya Yo Him kemudian.
"Terserah padamu sendiri !"
Jawab Phang Kui In sambil tersenyum girang, karena dengan orang tua she Lie itu menurunkan kepandaiannya kepada Yo Him, walaupun baru kauwkoatnya saja, tetapi tentu memiliki faedah yang tidak kecil buat Yo Him.
"Dan engkau encie Siang ?"
Tanya Yo Him kepada Kwee Siang juga, waktu melihat Kwee Siang masih berdiam diri.
"Jika memang engkau tidak keberatan untuk belajar, ya kami hanya menanti saja sampai kau selesai menerima ajaran locianpwe itu dan kita melanjutkan pula perjalanan kita !"
Mendengar sampai disitu, hati Yo Him telah tetap, Tahu-Tahu dia telah paykui berlutut dihadapan Lie Bun Hap, sambil katanya "Suhu, tecu memberi hormat"
Katanya. Lie Bun Hap cepat-cepat membangunkan anak itu berdiri.
"Bangunlah muridku, sejak saat ini engkau menjadi murid tunggalku.Sebagai murid satu-satunya, yang pertama dan juga penutup ! Kuharap saja engkau bisa belajar dengan tekun dan baik, sehingga kelak engkau bisa menjadi pendekar766 yang berdiri dikeadilan membela yang lemah. Watakmu tentu tidak buruk, aku yakin anak dari pendekar besar Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tentu saja memiliki sifat-sifat baik seperti ayahnya. Dan juga kelak jika kau telah bertemu dengan ayah kandungmu, Him-jie, engkau bisa minta dituruni ilmu-ilmunya yang hebat-hebat...!"
"Terima kasih suhu"
Kata Yo Mim dengan suara berterima kasih.
"Tecu (murid) akan berusaha sedapat mungkin untuk belajar dari menghapal semua ilmu yang diturunkan suhu!"
"Bagus !"
Kata Lie Bun Hap.
"Sekarang mari kita obati dulu tulang paman Phangmu itu, agar segera dapat sembuh, Disaat engkau belajar ilmu silat padaku paman Phangmu itu bisa beristirahat, dan sebulan lagi tentunya paman Phangmu itu telah sembuh" , Begitulah sejak hari itu Phang Kui In dan Kwee Siang bersama Yo Him telah menetap dipulau itu. Lie Bun Hap ternyata memiliki obat yang sangat mujarab sekali, dia telah mengobati tulang Phang Kui In yang semula hancur, lewat lima belas hari tangan kiri Phang Kui In sudah dapat dipergunakan dan di gerak-gerakkan lagi. Sedangkan Kwee Siang selama itu melatih diri dengan giat, dan dia telah memperoleh kemajuan yang pesat sebab Lie Bun Hap yang sangat berpengalaman, walaupun kepandaiannya mereka berimbang, dapat melihat beberapa kelemahan didiri Kwee Siang dan dia telah memberitahukannya agar merobahnya. Dibawah petujuk-petujuk seorang jago yang memiliki kepandaian setinggi Lie Bun Hap dengan sendirinya Kwee Siang memperoleh kemajuan yang pesat. Terlebih lagi memang kepandaian yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan kakek luarnya, Oey Yok Su telah cukup dikuasainya dan juga dia pernah menerima petunjuk-petunjuk langsung dari Yo Ko.767 Yo Him telah menerima didikan dari Lie Bun Hap, dimana anak ini telah diberikan teori-teori ilmu silat Kelas satu dia juga diajarkan gerakan-gerakan untuk melatih diri. Betapa terkejutnya Lie Bun Hap waktu melihat Yo Him memiliki kepandaian yang luar biasa, yaitu kepandaian tenaga dalam yang mujijat sekali. Dengan demikian tampak Lie Bun Hap melatih Yo Him jadi lebih bersemangat lagi. Tanpa terasa telah lewat dua bulan... Tetapi ilmu yang diturunkan oleh Lie Bun Hap belum juga selesai, karena jago she Lie ini memiliki kepandaian yang tinggi sekali dan bermacam ragam. Akhirnya lewat lagi tiga bulan...dan atas saran Phang Kui In, yang girang melihat Yo Him bisa memperoleh ilmu-ilmu yang hebat itu, merasa sayang jika memang harus meninggalkan pulau itu, dia menganjurkan agar Yo Him meneruskan pelajarannya sampai selesai. Semakin dipelajari, semakin tertarik hatinya, karena jurus demi jurus akhirnya dipelajari bukan hanya kauwkoatnya saja, tetapi juga prakteknya, dimana Yo Him telah melatihnya dua atau tiga hari untuk setiap jurusnya. Dalam keadaan seperti itu, Yo Him akhir-akhirnya tidak menyadari telah satu tahun lebih dia berada dipulau terpencil tersebut. Phang Kui In juga membiarkan Yo Him belajar terus, begitu pula dengan Kwee Siang, karena mereka melihatnya bahwa dalam satu tahun saja Lie Bun Hap berhasil mendidik Yo Him memiliki kepandaian yang tinggi. Walaupun belum bisa menandingi kepandaian Kwee Siang atau Phang Kui In tetapi jika berhadapan dengan lawan yang memiliki kepandaian biasa saja Yo Him tidak mungkin kalah ! Selesailah sudah Lie Bun Hap melatih Yo Him ilmu silat tangan kosong, mempergunakan delapan belas macam768 senjata tajam dan juga menurunkan pelajaran tenaga Lwekang yang berasal dari tingkat tinggi, sehingga dalam setahun saja Yo Him telah memiliki kepandaian lwekang yang berimbang dengan Kwee Siang dan Phang Kui In. Telah dua tahun tidak terasa mereka menetap dipulau itu, dan kini Yo Him sudah menjadi seorang pemuda berusia lima belas tahun yang memiliki paras sangat tampan. Yo Him rajin sekali mempelajari ilmu silat yang diturunkan Lie Bun Hap, dan lewat setengah tahun lagi, waktu pemuda ini telah berusia enam belas tahun, selesailah pelajarannya.769 Suatu hari Phang Kui In mengingatkan Yo Him bahwa mereka harus segera meninggalkan pulau ini karena harus mencari Sin Tiauw Taihiap. Maka pada pagi itu Yo Him telah menemui gurunya, dia menceritakan keinginannya untuk berkelana mencari jejak ayahnya. Dengan perasaan sedih dan berat, Lie Bun Hap meluluskan juga keinginan muridnya.
"Engkau harus baik-baik menjaga diri dan juga harus berlatih terus, agar kepandaianmu bertambah baik, dan ingat, engkau hanya boleh mempergunakan kepandaian itu untuk membela keadilan saja, tidak boleh dipergunakan semau-maunya saja!" .
"Tecu akan menjunjung pesan Suhu !"
Kata Yo Him kemudian.
Begitulah, keesokan harinya Kwee Siang, Phang Kui In dan Yo Him telah pamitan kepada jago tua Lie Bun Hap.
Yo Him berjanji jika kelak dia telah berhasil bertemu dengan ayahnya, tentu akan sering-sering datang kepulau ini untuk menjenguk gurunya.
Dengan mempergunakan sebuah perahu yang buatannya sederhana sekali, mereka bertiga melakukan pelayaran.
Sedangkan Lie Bun Hap telah mengantarkan mereka sampai ditepi pantai.
Dua hari dua malam mereka berlayar terus tanpa hentinya.
Dan selama itu mereka tidur dengan bergantian.
Untung saja selama dalam pelayaran itu mereka tidak menderita gangguan angin topan atau badai, sehingga mereka bisa sampai dipinggiran kota Mu-ting-kwan, sebuah kota yang sangat ramai.
Telah sepuluh hari lamanya mereka melakukan perjalanan yang meletihkan sekali, maka Phang Kui In bermaksud mengajak Yo Him dan Kwee Siang beristirahat dikota tersebut.770 Kota Mu ting kwan merupakan kota yang cukup besar, karena kota yang terletak ditepi laut itu merupakan bandar perdagangan yang banyak dikunjungi orang dari berbagai kota.
Phang Kui In mengajak Kwee Siang dan Yo Him memasuki sebuah rumah makan, yang mewah sekali.
Tamu-Tamu juga banyak memenuhi ruangan makan itu.
Phang Kui In bertiga memilih sebuah meja yang masih kosong, lalu mereka memesan makanan kegemaran mereka, yaitu kodok salju yang dicah, ditambah lagi dengan beberapa macam sayur-sayur lainnya.
Ketika pelayan mempersiapkan pesanan mereka, ketiga orang ini makan dengan lahap.
Selama sepuluh hari mereka berada ditengah laut, tentu Saja hal itu membuat mereka mengiler dan lahap sekali menghadapi makanan sedap seperti itu.
Suara tawa dari teriak yang ramai dari para tamu-tamu lainnya yang memenuhi ruangan makan itu tidak diperdulikan oleh mereka, karena mereka tengah menikmati sayur-sayur dan nasi dimangkok masing-masing.
Phang Kui In sampai menghabiskan tiga mangkok nasi, sedangkan Kwee Siang hanya satu mangkok saja, begitu juga dengan Yo Him yang makan tidak begitu banyak.
Phang Kui In sambil makan menceritakan perihal orang-orang Kang-ouw yang senang berkelana, setiap tiba disebuah kota, tentu akan mencicipi makanan khas dari kota yang bersangkutan.
Menarik sekali cerita Phang Kui In, sehingga menambah selera makan mereka.
Waktu Phang Kui In ingin memanggil pelayan untuk minta tambah nasi semangkok lagi, tiba-tiba terpisah tiga meja dari mereka, ada seseorang yang berkata dengan suara yang nyaring .
"Ha ha, ha ! Apakah kalian tidak melihat monyet gunung yang sedang makan ?" .771 Muka Phang Kui In jadi berobah merah, karena dia mengetahui kata-kata itu tentunya di tujukan kepadanya, ketika dia menoleh segera dilihatnya orang yang duduk terpisah tiga meja dari dia, telah memandangi dia sambil tertawa. Kelima orang kawannya juga telah tertawa bergelak-gelak. Mereka mengenakan pakaian mewah sekali, menunjukkan bahwa mereka itu berasal dari keluarga berada dan kaya.
"Lihat ! Lihat ! Monyet hutan itu jika marah, sangat menakutkan sekali"
Kata orang yang tadi membuka suara.
Segera riuh suara tertawa kelima orang kawannya.
Sedangkan tamu-tamu lainnya juga telah ikur tertawa.
Muka Phang Kui In jadi berobah kian merah.
Sedangkan Yo Him dan Kwee Siang ikut menoleh, mereka melihatnya bahwa orang itu memang tengah meng olok-olok Phang Kui In.
Darah mereka jadi meluap juga.
Phang Kui In telah membanting mangkok nasinya keatas meja "Pranggg"
Mangkok itu telah pecah hancur berkeping-keping. kemudian dia telah meloncat berdiri dengan penuh kemarahan.
"Tuan-Tuan kami tidak saling mengenal dengan kalian, tetapi mengapa mulut kalian begitu lancang menyebut bahwa diriku sebagai monyet hutan ?"
Teguran Phang Kui In pedas sekali, diapun berani, sama sekali tidak gentar walaupun melihat orang yang mengejek dirinya itu berjumlah enam orang.
Orang yang tadi berkata-kata, yang usianya kurang lebih tiga puluhan tahun, telah tertawa terus sambil kemudian dia berkata dengan suara yang dingin .
"Lalu apa maumu ? Mau minta dihajar ? Hemmm...jika memang engkau meminta penggebuk silahkan maju kemari !" . 000odw^kzo000772 Dan benar-benar orang itu memasang sikap menantang, berdiri tegak dan wajahnya memantulkan sikap mengejek. Sedangkan salah seorang kawannya telah berkata .
"Benar Han Twako, monyet hutan memang harus digebuk, jika tidak, bisa semakin kurang ajar! Biarlah Han Twako, aku Cie Siung Hu yarg mewakilimu menggebuk monyet hutan itu" .!".
"Boleh! Boleh! kata Han Twako dengan suara disertai tertawanya.
"Jika monyet hutan itu telah digebuk barulah kita pesta pora Untuk merayakannya !".
"Setuju ! Setuju !"
Teriak kawan-kawannya yang lain.
Muka Phang Kui In jadi berobah tambah merah.
Inilah penghinaan yang belum pernah diterimanya.
Dia telah melangkah maju lebih dekat tahu-tahu baju dibagian dada dari kawan Han Twako itu, yang menyebut dirinya bernama Cie Siung Hu itu, telah kena dicengkeram keras.
Tetapi waktu Phang Kui In ingin menghentaknya untuk menghantam kepala orang she Cie tersebut, tiba-tiba Cie Siung Hu telah menggerakan tangan kanannya, dan "tukk !"
Dada Phang Kui In telah tertotol jitu sekali.
Sesungguhnya kepandaian Phang Kui In tidak berada dibawah kepandaian lawannya, namun karena dia tidak bersiap siaga dan berlaku ceroboh, maka dia telah kena tertotok yang membuat dia akhirnya terjungkel rubuh tidak dapat bergerak lagi.
Waktu itu Kwee Siang dengan cepat telah melompat sambil mencabut pedangnya.
"Kalian manusia usil dan jahat !"
Katanya sambil membaling balingkan pedangnya itu. Han twako tertawa dingin, dia telah berkata dengan suara yang congkak.
"Nona manis, engkau ingin main-main dengan ku ?"
Tanyanya kemudian dengan ceriwis sekali.
"Baik ! Baik ! mari773 aku menemanimu untuk main-main. Jangan takut, aku, Han Pu Sian bukan sebangsa manusia jahat..!"
"Orang she Han, engkau keterlaluan sekali, cepat perintahkan pembantumu itu untuk membebaskan kawan kami yang tertotok itu !"
Kata Kwee Siang dengan berang.
"Hemmm, jadi engkau keberatan jika kawanmu itu tertotok? Nah jika begitu, kau bebaskanlah."
Tantangan itu nadanya tengik sekali. Tetapi Kwee Siang yang diliputi kemarahan melihat sikap cerengesan dari lawannya itu, sambil menabas udara kosong dengan pedangnya dia telah berkata .
"Baik, kau siapkanlah Senjatamu...!".
"Senjata ?".
"Ya, senjatamu !".
"Seumurku belum pernah mempergunakan senjata tajam. Baiklah jika memang nona bersedia untuk main-main dengan aku, Han Twakomu ini akan menemanimu!" . Bukan main mendongkolnya Kwee Siang dia merasakan pipinya sampai berobah panas memerah, Sambil menggerakkan pedangnya menikam kearah paha lawannya yang cerengesan itu, tampak si gadis juga telah berseru "Lihat pedang...!". Han Twako itu mengeluarkan seruan sambil tertawa centil, katanya .
"Nona manis yang galak ! Sungguh menakutkan ! Tetapi wajahmu... amboi, wajahmu itu demikian cantik, dan menarik, terlebih lagi dalam keadaan marah seperti itu."
Dan sambil mengejek, tampak Han Twako itu telah berkelit kesamping dengan gesit, gerakannya tidak bisa dilihat oleh mata orang biasa.
Bahkan untuk kagetnya Kwee Siang, jari telunjuk orang telah mencolek pipinya, menambah kemarahan Kwee Siang.774 Dia melihat kepandaian Han Pu Sian tidak lebih tinggi dari kepandaiannya, hanya orang she Han itu memiliki lwekang yang lebih kuat sehingga membuat Kwee Siang jadi kelabakan juga.
Telah sepuluh kali Kwee Siang melancarkan tikaman dan tusukan pedangnya, beruntun-beruntun dia mempergunakan jurus "Buddha tersenyum melambaikan tangan" , disusul pula dengan "Kupu-Kupu terbang menotol air" , lalu jurus-jurus hebat lainnya yang menyambar gencar kepada orang she Han itu.
Tapi dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya, orang she Han itu selalu berhasil mengelakkan diri.
"Jagalah seranganku !"
Kata Han Pu Sian dengan suara yang nyaring ketika suatu kali dia telah mengelakkan diri dari serangan Kwee Siang.
Dia melancarkan cengkeraman tangan kearah dada si gadis dengan sikap ceriwis sekali, dengan jurus "Menangkap ikan menghalau Air"
Itulah penyerangan yang dilakukannya dengan gerakan yang biasa, tetapi karena dia telah sempurna ginkangnya, dengan sendirinya dia dapat melaksanakan serangannya itu secepat kilat.
Waktu itu Kwee Siang jadi tambah gusar saja, karena dia melihat semakin lama Han Pu Sian itu semakin kurang ajar.
Pedangnya diputar melindungi tubuhnya dan sinar pedang yang putih gemerlapan itu telah mengurung dirinya, sehingga tidak ada satu serangan pun yang berhasil menembus penjagaannya yang ketat itu.
Han Pu Sian melihat betapa serangannya tidak berhasil, bahkan si gadis mengadakan penjagaan diri begitu rapat, jadi semakin penasaran.
Beberapa kali dia melancarkan serangan lagi.
Waktu itulah Yo Him telah berteriak nyaring .
"encie Siang, mundurlah, biarlah aku yang menghadapi orang ceriwis itu !!" . Kwee Siang sebetulnya tidak setuju dengan tawaran jasa Yo Him, tetapi karena mengingat Yo Him baru saja menyelesaikan. pelajarannya pada gurunya, yaitu Lie Bun775 Hap, dia ingin melihat sampai dimana Yo Him bisa menghadapi lawan yang cukup berat ini.
"Baik adik Him...tetapi engkau harus hati-hati...!"
Kata Kwee Siang sambil menikam kepada lawannya dan waktu Han Pu Sian melompat mundur, disaat itulah dia telah membarengi melompat kebelakang.
Sedangkan Yo Him telah loncat maju mendekati Han Pu Sian sambil berkata .
"Aku yang akan mewakili ercie Siang untuk mengajar adat padamu, lelaki hidung belang... !"
Kata Yo Him. Semula Han Pu Sian dan kawan-kawannya heran dan tertegun melihat pemuda dihadapannya.
"Engkau Sedang bergurau atau bersungguh-sungguh kawan kecil ?"
Tegur Han Pu Sian dengan suara yang dingin, disertai dengan suara tertawa yang meremehkan sekali.
"Aku bersungguh-sungguh ! Majulah! Kau tidak mempergunakan senjata, akupun akan menghadapimu dengan bertangan kosong !"
Kata Yo Him. Bola mata Han Pu Sian jadi bergerak-gerak bermain tidak hentinya, karena dia jadi diliputi kemarahan yang bukan main.
"Kau...kau terlalu menghinaku !"
Kata Han Pu Sian mendongkol.
"Dan engkau jangan menyesal jika kelak aku menurunkan tangan keras padamu..!'.
"Silahkan !"
Kata Yo Him sambil tersenyum tenang. Kemudian Yo Him telah membenarkan ke dudukan kakinya, memperkuat bhesi-bhesi kedua kakinya "Silahkan menyerang....!"
Katanya menantang lagi. Karena gusar sekali telah membuat Han Pu Sian tertawa gelak-gelak dengan suara yang mengandung hawa pembunuhan.776
"Baik! Baik! Aku akan melancarkan serangan kepadamu! engkau jagalah!!"
Dan Han Pu Sian dalam gusarnya sudah tidak memperdulikan nanti akan ada yang mengatakan si tua menghina sikecil, yang terpenting dia harus dapat merubuhkan anak muda ini.
Tangan kirinya telah digerakkan melingkar-lingkar seperti juga seekor ular saja, kemudian tangan kanannya juga telah bergerak-gerak lagi dengan cepat.
Dalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah meluncurkan empat gempuran dari empat penjuru.
Tetapi Yo Him yang sekarang bukan Yo Him beberapa saat yang lalu.
Yo Him sekarang telah merupakan seorang pemuda yang tangguh dan gagah.
Kepandaiannya tidak berada disebelah bawah kepandaian Kwee Siang atau Phang Kui In, dia hanya masih kalah pengalaman dibandingkan dengan kedua orang itu.
Sekarang melihat lawannya melancarkan serangan kepadanya, tampak Yo Him masih berdiri tegak menantikan saja, sampai akhirnya setelah kepalan kedua tangan Han Pu Sian hampir tiba didada dan lambungnya, disaat itu juga tampak Yo Him telah mengerakkan kedua tangannya seperti gunting japit, dan dia ingin mengunci tangan lawannya.
Namun karena memang baru kali ini Yo Him berkelahi mempergunakan tenaga latihannya, maka dia masih kurang pengalaman.
Dia telah berhasil menjapit dan menggunting kedua tangan lawannya serta sikuncinya, tetapi waktu dia harus menekan kebawah agar tangan lawannya itu patah, Yo Him tidak sampai hati dan dia melepaskan kunci tangannya itu kembali.
Han Pu Sian yang semula telah putus asa dan terkejut waktu kedua tangannya terkunci tangan lawan, dan mengeluh dalam hati, akhirnya jadi bernapas lega waktu merasakan kedua tangannya terbebaskan dari jepitan tangan Yo Him.777 Tanpa membuang kesempatan yang ada tampak Han Pu Sian telah meluncurkan tangan kanannya kearah lambung Yo Him.
"Dukk"
Yo Him yang tidak menyangka bahwa lawannya bisa berlaku curang seperti itu telah kena digempur lambungnya, sampai dia mengeluarkan jerit tertahan dan telah terguling, tetapi cepat sekali dia telah bangkit pula.
Kwee Siang yang menyaksikan hal itu jadi marah sekali, dia telah membentaknya .
"Kau seorang pengecut yang tidak tahu malu !" . Baru saja Kwee Siang ingin melancarkan serangan kepada lawannya, tiba-tiba Yo Him yang telah melompat berdiri lagi telah berseru .
"Mundur encie Siang, biar aku mewakilimu menghajar adat padanya...!"
Teriaknya sambil melompat kedepan Kwee Siang. Kwee Siang ragu-ragu, tetapi setelah berkata .
"Hati-Hati adik Him... dia licik sekali !"
Lalu dia mengundurkan diri.
"Ya, aku telah merasakannya tadi....manusia seperti dia tidak perlu dikasihani...!"
Mengangguk Yo Him.
Dan kali ini Yo Him tidak meminta lawannya menyerang, sambil menjejakkan kakinya tampak tubuh Yo Him telah meloncat cepat sekali, kedua tangannya telah bergerak melancarkan pukulan-pukulan yang dahsyat.
Dalam sekejap mata saja sepuluh jurus sudah berlalu, dan Han Pu Sian telah terdesak sementara waktu.
Walaupun dia memiliki ginkang yang tinggi tetapi karena dia diserang dengan gencar dan memang Yo Him tengah marah sekali, maka dia jadi sibuk sendirinya.
Tetapi Han Pu Sian cepat sekali berhasil mengendalikan keadaan dengan mengeluarkan suara bentakan yang nyaring beruntun dua kali dia telah menggerakkan kedua tangannya untuk membalas serangan-serangan YoHim Gerakan-gerakan778 yang dilakukannya ternyata bisa menindih juga tenaga serangan Yo Him.
"Pergunakan jurus-jurus Kim-ie Kun Hoat (ilmu pukulan tangan kosong Ikan Emas) "
Teriak Kwee Siang ketika melihat Yo Him agak gugup dikurung oleh serangan-serangan kedua tangan lawannya.
Yo Him baru teringat kepada jurus ilmu pukulan tangan kosong yang diajarkan oleh gurunya, yaitu Lie Bun Hap Kemudian dia telah merobah cara menyerangnya.
Dengan menjejakkan kakinya, tubuhnya cepat sekali meloncat ketengah udara dengan meletik seperti seekor ikan, tubuhnya melengkung dan meluncur turun menyambar kepada lawannya dengan kedua tangan dijulurkan.
Waktu itu.
tampak Han Pu Sian telah mengeluarkan kegesitannya melompat kebelakang, ingin mengelakkan diri dari serangan yang dilancarkan Yo Him.
Tetapi gerakan Yo Him tidak kalah gesitnya, begitu serangannya gagal, dia mengulangi lagi dengan serangan berikutnya.
, Kali ini kedua tangan Yo Him menyambar dengan cepat sekali, mengandung kekuatan lwekang yang murni, angin serangan berdesir halus, tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat sekali.
"Dukk !"
Tidak dapat Han Pu Sian mengelakkan diri dari serangan itu.
Dan dia telah terjungkel bergulingan diatas tanah.
Ketiga orang kawannya telah melompat menyerang kepada Yo Him dengan mempergunakan senjata masing-masing, yaitu sebatang golok panjang.
Sedangkan kawan Han Pu Sian yang Seorangnya lagi telah melompat kesampihg Han Pu Sian untuk memeriksa keadaan kawannya yang seorang ini.779 Tetapi Yo Him dengan berani telah melayani ketiga orang lawannya.
Kwee-Siang tidak senang melihat lawan-lawannya melakukan penyerangan secara mengeroyok, maka dia telah mengeluarkan suara bentakan sambil melompat menghampiri kegelanggang pertempuran dan memutar pedangnya.
Ketiga orang kawan Han Pu Sian itu mana bisa menghadapi serangan Yo Him dan Kwee Siang.
Baru berlangsung sepuluh jurus saja tampak dua orang diantara mereka telah tergempur dadanya oleh kepalan tangan Yo Him, rubuh pingsan tidak sadarkan diri.
Sedangkan yang seorangnya lagi telah terkena tikaman pedang Kwee Siang, rubuh pingsan juga setelah merintih beberapa kali.
Kawan Han Pu Sian yang seorang lagi, yang tadi telah menotok jalan darah Phang Kui In jadi ketakutan setengah mati, cepat-cepat dia pentang langkah lebar untuk melarikan diri.
Sedangkan Han Pu Sian telah merangkak untuk bangun.
"Kau harus binasa jika tidak mau membuka totokan kawanmu itu pada sahabat kami..."
Kita Kwee Siang mengancam sambil mendelikkan matanya.
"Aku akan membukanya...aku akan membukanya..."
Kata Han Pu Sian dengan ketakutan dan merintih menahan sakit pada dadanya.
Dengan bersusah payah dia telah berjongkok disamping Phang Kui In dan menguruti beberapa jalan darahnya, sehingga dalam waktu yang singkat Phang Kui In telah tersadar dari pingsannya.
Han Pu Sian tanpa mengatakan sesuatu telah membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan tempat itu.
Sedangkan saat itu Phang Kui In telah berdiri sambil mencaci maki kecurangan lawannya itu.780 Seorang pelayan yang sejak tadi bersembunyi ketakutan bersama-sama dengan kawan-kawannya menghampiri Phang Kui In.
"Loya (tuan besar), kalian harus berhati-hati...tentu, bajingan she Han itu tidak mau sudah...!"
Kata pelayan itu.
"Lebih baik Loya bertiga pergi saja dari sini, untuk mencegah kerewelan" . Phang Kui In tertawa dingin.
"Hemm, berapa hebatnya sih kepandaian orang she Han itu ?"
Kata Phang Kui In.
"Bukan soal kepandaiannya, juga kawannya yang berjumlah banyak masih tidak apa-apa tetapi justru dia merupakan putera Han Tetok seorang yang paling berkuasa dikota ini" . Han Tetok berarti Gubernur she Han.
"Oh pantas kalau begitu...!"
Kata Phan Kui In sambil senyum sinis.
"Pantas dia berani bertindak sewenang-sewenang ditempat ini...!".
"Itulah Loya... sebentar lagi dia tentu akan datang kembali bersama anak buah ayahnya .. jalan yang paling selamat lebih baik Loya bertiga cepat-cepat berlalu saja...!" . Tetapi Phang Kui In malah menggelengkan kepalanya.
"Tidak...aku justru ingin melihat bagaimanakah anak buahnya Han Tetok itu ! Jika mereka berlaku sewenang-wenang, hemm, hemm, nanti kami menghajar mereka tidak tanggung-tanggung...!"
Dan setelah berkata begitu, tampak Phang Kui In mendengus beberapa kali dengan penuh kemarahan.
Pelayan itu jadi tidak berdaya membujuk ketiga orang tamunya itu.781 Terlebih lagi Yo Him juga telah berkata .
,Justru kesempatan ini yang harus kita pergunakan untuk membasmi manusia-manusia jahat seperti Han Tetok dan puteranya itu...
bukankah begitu paman Phang dan encie Siang?".
Phang Kui In dan Kwee Siang telah menganggukkan kepalanya.
Dan mereka telah perintahkan pelayan untuk mempersiapkan makanan untuk mereka.
Para pelayan yang tadi telah menyaksikan kehebatan Yo Him bertiga, jadi sangat menghormat sekali, dan mereka melayaninya dengan telaten sekali.
Mereka mempersiapkan semua makanan dan minuman untuk ketiga orang tamu tersebut.
Waktu itu Yo Him telah makan pula menghabiskan satu mangkok nasi.
Sedangkan Phang Kui In yang memang gemar makan itu menghabiskan dua mangkok nasi lagi.
Hanya Kwee Siang yang tidak makan nasi, hanya sekali-sekali mencobai makanan yang terdiri dari beberapa rupa masakan itu.
Pelayan-Pelayan rumah makan itu seperti juga ketakutan dan bercampur kuatir, karena mereka telah mengetahui siapa itu Han Tetok, ayah dari Han Pu Sian.
"Tentu akan ramai nanti."!"
Bisik beberapa orang tamu yang memiliki sedikit keberanian dan tetap berada diruangan itu.
"Ya, Han Tetok tentu akan mengirim orang-orangnya, dia bermaksud akan menangkap ketiga orang yang telah menghinanya, seperti yang terjadi beberapa saat yang lalu ada orang yang ditangkap dan dijebloskan kepenjara hanya di sebabkan berkelahi dengan anaknya Tetok itu!"
"Benar, kita akan menyaksikan keramaian...!"
Bilang yang lainnya.782 Tiba-tiba dari arah luar rumah makan itu terdengar suara hiruk pikuk, muka para pelayan rumah makan itu telah berubah pucat, tubuh mereka menggigil.
Begitu juga tamu-tamu yang masih berada diruangan itu telah jadi ketakutan.
Suara hiruk pikuk itu makin terdengar jelas dan semakin lama semakin berisik disusul dengan melangkah masuknya beberapa orang berpakaian tentara yang berseragam.
"Mana yang tadi telah menghina tuan muda kami ?"
Teriak beberapa orang diantara mereka saling susul. Dengan berani Yo Him berdiri, karena Yo Him tidak mau kalau nanti pemilik rumah makan dan pelayannya akan menjadi korban dari pasukan Han Tetok.
"Aku tadi yang menghajar Han Pu Sian"
Menyahut Yo Him dengan suara nyaring.
Pasukan tentara berseragam itu telah memandang kearah Yo Him, dengan bengis.
Tetapi kemudian sinar mata mereka memancarkan keheranan, karena mereka tidak bisa percaya, bahwa yang mengaku telah menghajar Han Pu Sian tidak lain seorang pemuda tanggung yang mungkin baru berusia diantara lima belas tahun.
"Kau... kau yang telah menghina Han Siauwjin kami tegur salah seorang diantara mereka. Yo Him mengangguk.
"Benar"
Dia mengangguk pasti.
"Memang tadi aku yang telah menghina majikan mudamu itu...! Tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain" . Muka para pasukan berseragam itu berobah hebat, mereka memandang bengis, sampai akhirnya yang menjadi pemimpin mereka itu telah berdiri sambil katanya .
"Baik ! Karena ! engkau telah mengaku jujur dan berterus terang, engkau783 kubebaskan dari hukuman dipukuli rotan ! Tetapi kau harus ikut kami menemui Han Tetok Taijin, untuk mendengar keputusan Han Tetok ! Kau kami tangkap...!" . Yo Him tertawa dingin.
"Apakah kau tidak salah bicara ?"
Tanya Yo Him tawar.
"Apanya yang salah ?".
"Tadi kau ingin menangkap aku !".
"Benar, engkau kami tangkap karena engkau telah berani menghina majikan muda kami...!".
"Aku bukan menghinanya, justru dia merupakan gentong kosong yang tidak punya guna !"
Menyahuti Yo Him dengan mengejek. Perwira pasukan itu jadi gusar, dia melangkah mendekati Yo him.
"Anak muda kurang ajar. tahukan kau, bahwa kami bisa merobek mulutmu yang telah berani mengeluarkan kata-kata yang tidak baik itu?" . Yo Him tidak gentar oleh ancaman seperti itu, dia tertawa dingin.
"kukira tidak semudah itu untuk menangkap aku !"
Katanya kemudian tawar sekali.
"Jika kalian tidak percaya, silahkan kalian maju dan aku akan melayanimu"
"Anak muda congkak dan tekebur !"
Bentak perwira berseragam itu dengan marah, dia mengangkat tangan kanannya, untuk mengisyaratkan kepada anak buahnya agar maju menangkap Yo Him.
Tetapi Yo Him tidak menjadi takut, dia tetap berdiri dengan sikap yang tegak dan bibirnya tersungging seulas senyuman mengejek, waktu dua orang dari pasukan tentara Tetok itu menghampiri dekat dan mengulurkan tangannya untuk mencengkeram pergelangan tangan pemuda ini telah menggeser sedikit kedudukan kaki kanannya, dia membuat784 setengah lingkaran dengan jari tangannya menengadah sehingga seperti juga ingin menotok pergelangan tangan dari kedua tentara pasukan Tetok itu.
Tentu saja tentara itu jadi terkejut dan cepat-cepat menarik pulang tangan mereka, dan melompat mundur.
Gerakan yang dilakukan Yo Him tadi merupakan gerakan membela diri, karena jika kedua orang tentara Tetok itu memaksakan diri untuk melancarkan serangan mereka, berarti mereka juga tidak akan luput dari totokan yang dilancarkan Yo Him.
Kedua tentara Tetok itu masih menguatirkan keselamatan mereka sendiri, itulah sebabnya mereka membatalkan maksudnya untuk me lancarkan serangan dan telah menarik pulang tangan mereka masing-masing.
Tetapi Yo Him mana mau melepaskan mereka begitu saja, secepat kilat kedua tangannya telah bekerja, tangan yang kiri telah melayang kearah dada dari salah seorang lawannya dan mencengkeramnya dengan kuat dan keras, sedangkan tangan yang satunya lagi bergerak menghantam dada lawannya yang lain.
"Dukkk!"
Terdengar suara tinju Yo Him singgah didada korbannya, dan orang itu mengeluarkan suara jeritan keras, tubuhnya terapung, kemudian terbanting dilantai tidak bergerak lagi sebab jatuh pingsan.
Sedangkan lawan Yo Him yang seorang lagi, yang kena dicengkeram dadanya oleh tangan kiri Yo Him.
tampaknya benar-benar menderita kesakitan dan ketakutan, kesakitan karena kulit dadanya kena dicengkeram oleh Yo Him.
Sedangkan ketakutan karena dia kuatir dirinya akan mengalami nasib yang sama seperti yang dialami kawannya.
Yo Him melakukan segalanya tanpa membuang waktu, hanya dalam beberapa detik itu, selesai menghantam rubuh lawannya yang seorang, tenaga dalamnya segera disalurkan785 kedada lawannya yang sedang dicengkeram, kemudian mengangkatnya dan membantingnya kelantai.....
"Bukkk!"
Tubuh orang itu telah kena terbanting keras sekali, dan dia mengeluarkan suara jeritan yang sangat menyayatkan hati Sedangkan Yo Him telah mengibaskan bajunya beberapa kali dengan sikap yang angkuh.
sehingga membuat perwira pemimpin rombongan tentara Tetok itu tambah mendongkol.
"Maju, tangkap dia !"
Kata pemimpin perwira itu.
Sisa tentara Tetok yang berjumlah belasan orang itu telah mengiyakan dan mereka mengurung Yo Him dengan ditangan masing-masing telah tercekal sebatang golok.
Tetapi para tentara Tetok itu tidak berani berbuat sembarangan, karena tadi mereka telah menyaksikan betapa dua orang rekan mereka telah berhasil dirubuhkan Yo Him dengan mudah, hanya dengan satu gebrakan saja kedua orang Tetok itu jatuh pingsan.
Maka tentara-tentara Tetok yang lainnya ini tidak mau mengalami nasib seperti kedua kawannya.
Yo Him tidak takut walaupun dia dikurung ditengah-tengah ancaman para tentara Tetok itu.
Perwira yang menjadi pemimpin dari pasukan Tetok telah mengeluarkan teriakan-teriakan menganjurkan anak buahnya segera mulai melancarkan serangan.
Karena teriakan-teriakan dari perintah perwira atasannya, walaupun hati masing-masing merasa takut menghadapi Yo Him, tokh pasukan tentara Tetok itu telah menyerbu serentak.
Golok mereka berkelebat-kelebat menyilaukan mata disamping mengerikan sekali.
Tetapi belum lagi Yo Him mengelakkan diri atau membalas menyerang, bersamaan waktunya dengan itu tiga orang tentara Tetok telah terpental keras dan terbanting dilantai786 sambil mengeluarkan suara jeritan, karena mereka telah kena dibuat terpental oleh tendangan kaki Phang Kui In.
Begitu pula Kwee Siang telah melompat dan memutar pedangnya melancarkan serangan kepada tentara Tetok itu.
Setiap sinar putih dari pedangnya itu menyambar, maka disaat itu pula tampak seorang tentara Tetok rubuh terguling dilantai, binasa dan ada juga yang hanya terluka berat dengan paha yang terpotong atau tangan yang buntung.
Dalam sekejap mata saja terdengar suara jeritan-jeritan kesakitan yang ramai sekali.
Perwira yang menjadi pemimpin pasukan tersebut jadi terkejut dan ketakutan.
Bukannya dia ikut menerjang maju guna membantui anak buahnya, justru dia telah memutar tubuhnya dengan maksud ingin mengambil langkah seribu.
Waktu itu Kwee Siang bertindak cepat sekali, dia telah mengeluarkan suara nyaring, tahu-tahu tubuhnya telah melompat melambung ketengah udara menyusul perwira yang menjadi pemimpin pasukan itu.
dan mata pedangnya telah menempel ditengkuk perwira yang menjadi pemimpin pasukan tentara Tetok itu.
"Jika kau berusaha melarikan diri, pedangku tidak akan kenal kasihan dan akan menusuk masuk dagingmu !"
Ancam Kwee Siang dengan suara sungguh-sungguh Perwira itu ketakutan bukan main, tetapi dia berusaha untuk menyembunyikan perasaan takutnya dan telah membalikkan tubuhnya menatap tajam pada Kwee Siang, sambil bentaknya dengan suara bengis .
"Apakah kau seorang wanita berani menghina hamba negeri !, apakah engkau tidak takut akan dihukum pancung dengan perbuatanmu ini ?"
"Menghinamu ? hemm, justru engkau sendiri yang telah mengajak anak buahmu untuk mengacau ditempat ini ! hemm, jika dalam urusan ini engkau masih berusaha membela787 diri, baik, baik !, cabutlah pedangmu. Mari kita bertempur untuk menentukan siapa yang kalan dan siapa yang menang !"
Dingin sekali suara Kwee Siang, dai telah berkata dengan wajah tidak memperlihatkan perasaan apa-apa.
hati perwira itu jadi ciut sendirinya, tetapi dalam keadaan terjepit seperti itu telah membuat dia terpaksa mencabut keluar goloknya yang sejak tadi tergantung dipinggangnya.
"Bagus! Aku memberikan kesempatan padamu untuk melancarkan serangan terlebih dulu !"
Kata Kwee Siang.
"Nah mulailah!" . Ditantang dan didesak terus menerus dengan cara seperti itu, perwira yang menjadi pimpinan pasukan Tetok itu telah menggerakkan goloknya, dengan mengeluarkan suara seruan yang sangat bengis, tahu-tahu goloknya telah bergerak dengan mempergunakan jurus-jurus ilmu golok perguruan Cin su pay, sebuah perguruan yang cukup punya nama didaerah barat daratan Tionggoan. Golok itu menyambar dengan menimbulkan suara kesiutan yang sangat kuat dan keras sekali, mennyambar kearah Kwee Siang dengan gerakan yang aneh sekali, seperti juga menikam. Seperti juga menabas, sehingga sulit diterka arah sasaran mana yang dipilihnya.
"Hmmm ! Rupanya dia akhli ilmu To-hoat (ilmu silat golok) yang memiliki kepandaian cukup lumayan."
Pikir Yo Him didalam hatinya, tetapi dia tidak menjadi takut karenanya!
Waktu golok itu menyambar dengan cepat sekali kearah dadanya, tampak Yo Him telah menggerakkan tangan kirinya, tahu-tahu dia telah menjepit golok lawan, kemudian sekali menghentak, patahlah golok itu menjadi tiga potongan yang dua potongan jatuh menimbulkan suara berisik dilantai.788 Sedangkan tangan kanan Yo Him juga tidak tinggal diam, dia telah memukulkan kepalannya tangan kanannya kearah dada perwira tentara tetok itu.
"Bukk !"
Jitu sekali serangan itu mengenai sasarannya sehingga perwira itu merasakan dadanya seperti juga akan melesak hancur.
Dalam keadaan demikianlah, dengan adanya peristiwa seperti itu, walaupun siperwira itu bermaksud mengelakkan diri dan menyelamatkan jiwanya, Sudah tidak bisa sebab begitu kepalan tangan Yo Him menghantam segera tubuhnya terpental keras dan ambruk diatas lantai dengan mengeluarkan suara gedebugan yang keras, jiwanya juga telah melayang tubuhnya hanya sempat berkelejetan beberapa kali, kemudian diam, untuk selama-selamanya.
Waktu itu Yo Him dan Kwee Siang tengah sibuk melayani tentara Tetok yang berjumlah cukup banyak itu Kembali Yo Him telah berhasil merubuhkan dua orang lagi.
Sedangkan pedang Kwee Siang juga telah berhasil melukai tiga orang tentara Tetok itu.
Sisanya yang kurang lebih hanya tinggal enam orang, jadi ketakutan.
Juga diwaktu itu mereka melihat pemimpin mereka telah terpental dan binasa ditangan Yo Him.
Phang Kui In sendiri dengan mengeluarkan suara seruan yang sangat nyaring telah mengibaskan golok dan tangan kirinya berulang kali, dalam sekejap mata saja keenam tentara Tetok itu telah dapat dihabiskan semuanya, yang menggeletak merintih kesakitan.
"Apakah kalian tidak ingin cepat-cepat angkat kaki ?"
Bentak Phang Kui In kepada tentara Tetok yang hanya terluka dan tengah merintih kesakitan.
Yo Him menghampiri dua orang tentara Tetok yang tengah berjongkok kesakitan karena paha mereka kena tertabas goloknya Phang Kui In.789
"Kalian ingin mati seperti pemimpin kalian ?"
Tanyanya dengan suara yang bengis. Kedua orang tentara itu tentu saja jadi ketakutan mereka menangis sesambatan meminta ampun.
"Hemmm, kalian ingin diampuni oleh kawan-kawanku...tetapi ingat, jika dilain saat kalan masih melakukan perbuatan yang sewenang-sewenang tentu aku tidak akan berlaku setengah hati dan akan membinasakan kalian tanpa mengenal kasihan lagi ! Nah, sekarang pergilah, bawa pula itu mayat kawan-kawanmu...!" . Kedua orang tentara Tetok itu berulangkali telah menyatakan terima kasihnya sambil berlutut mengangguk-anggukkan kepalanya. Phang Kui In dan Kwee Siang jadi berterima kasih, sekali, karena mereka telah tertolong justru dengan adanya Yo Him. Coba kalau mereka berdua saja, Kwee Siang dan Phang Kui In tentunya tidak akan semudah itu memperoleh kemenangan, karena tentara Tetok itu umumnya memiliki kepandaian yang tinggi dan terlatih.
"Him-jie, hebat sekali kepandaianmu itu. Tidak sia-sia engkau belajar pada Lie Bun Hap Locianpwe !"
"Benar adik Him, engkau hebat sekali, aku yang telah melatih diri puluhan tahun, ternyata tidak bisa melebihi kepandaianmu yang hanya berlatih selama dua tahun itu ! Benar-Benar kau hebat sekali..!"
Yo Him cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah, dia juga merasa malu.
Para tentara Tetok yang terluka dan tengah membereskan mayat-mayat kawan mereka mendengar percakapan Kwee Siang bertiga.
Mereka jadi berpikir.
"Entah siapa pemuda tampan ini yang memiliki kepandaian demikian tinggi walaupun usianya masih demikian muda"
Pikir mereka.790 Salah seorang dari tentara tetok telah memberanikan diri mendekati Yo Him, kemudian dia berlutut memberi hormat sambil bertanya takut-takut "Siauw enghiong, bolehkan kami mengetahui namamu yang besar dan gelaranmu yang harum ?".
Yo Him jadi kikuk sendirinya "Aku bukan enghiong, aku juga tidak memiliki kepandaian apa-apa.
namaku Yo Him tidak memiliki gelaran apapun..."
Sahut Yo Him akhirnya.
"Siauw Enghiong she Yo "
Tanya tentara tetok itu. Yo Him mengangguk.
"Benar"
Apakah yang dibuat heran oleh kau?"
Tanya Yo Him sambil mengawasi tentara itu dengan sorot mata yang tajam.
"Bukan begitu Siauw enghiong... justru mendengar Siauw Enghiong she Yo. maka aku teringat kepada seorang, seorang pendekar yang paling terkenal dan merupakan super sakti dalam persilatan, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko."
"Beliau ayahku ..!"
Menjelaskan Yo Him.
"Ohh...!"
Berseru tentara itu sambil memperlihatkan sikap terkejut dan girang.
"Dulu dua puluh tahun yang lalu semasa dalam peperangan yang hebat dengan tentara Mongolia aku pernah menerima pertolongan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko sehingga aku terhindar dari injakan kaki kuda!" .
"Kau pernah bertemu dengan ayahku ?"
Tanya Yo Him jadi tertarik mendengar orang menyebut-nyebut perihal pertemuannya dengan ayahnya.
"Pernah dua kali, kedua kalinya pertemuan itu terjadi dikota Siang yang."!"
Kata tentara Tetok tersebut. Waktu itu dia telah menghela napas panjang, katanya kemudian .
"Dan sekarang, saya menyesal sekali, karena aku tidak mematuhi petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Sin Tiauw Taihiap Yo Ko agar791 aku rajin-rajin melatih diri tiga jurus yang diberikan, kata Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, jika aku bisa menguasai benar-benar ketiga jurus itu, dimedan pertempuran tentu tidak ada tentara musuh yang bisa melawan kepandaianku...! Sayang sekali aku bodoh, dan otakku pun tumpul...aku tidak bisa menangkap benar ketiga jurus itu, akhirnya membuat aku malas melatih diri, dan sekarang aku telah lupa sama sekali ketiga jurus itu...!"
Setelah berkata begitu, tentara Tetok yang seorang ini telah mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang tajam, lalu sambungnya lagi "Yo Siauw enghiong, apakah benar-benar engkau tidak memiliki gelaran ?' .
Yo Him mengangguk.
"Aku tidak memiliki kepandaian bagaimana aku bisa mempergunakan gelaran yang hanya bisa membuat aku congkak dan sombonguntuk apakah gelaran itu ?" .
"Maaf dan ampunkan, Siauw enghiong jika memang Siauw enghiong belum memiliki gelaran, apakah tidak ada baiknya untuk mengenang jasa-jasa ayah Siauw-enghiong yang pernah berhasil mengusir musuh dan mempertahankan kota Siangyang. Didaerah selatan maka Siauw-enghiong boleh mengambil setengah gelaran dari ayahmu lalu ditambah setengah lagi. Bagaimana kalau engkau bergelar Sin Tiauw Thian Lam (Rajawali sakti dari langit selatan) maafkan jika itu kurang baik dan maafkan juga akan kelancanganku memberikan gelaran "
"Bagus !"
Berseru Phang Kui In. Yo Him jadi heran, dia memandang kepada paman Phangnya itu.
"Apanya yang bagus paman Phang?"
Tanya Yo Him sambil mengawasi terus paman Phangnya ini.792
"Gelaranmu itu yang bagus"
Kata Phang Kui In "Gelaranmu itu yang baik sekali !
untuk selanjutnya engkau bisa mempergunakan gelaranmu itu, yaitu Sin Tiauw Thian Lam Yo Him !
Nah terimalah ucapanku ini, dimana telah lahir seorang pendekar sakti Sin Tiauw Thian Lam Yo Him !"
Dan setelah berkata begitu tampak Phang Kui In telah merangkapkan sepasang tanganya untuk memberi hormat kepada Yo Him.
Keruan saja Yo Him jadi gugup dan kikuk dia cepat-cepat membalas hormat dari Phang Kui In.
Kwee Siang juga telah memberikan selamat padanya dengan memberi hormat.
Tentara Tetok yang seorang itu yang telah berikan gelaran kepada Yo Him, tampaknya gembira sekali.
"Siapakah namamu !"
Tanya Phang Kui In sambil tersenyum pada tentara itu.
"Siauwjin she Bian dan bernama Tung Pah Nanti jika kalian bertemu dengan Yo Ko Taihiap, tolong sampaikan salamku!" .
"Terima kasih engkoh Bian !"
Kata ¥o Him sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
"Engkau telah menghadiahkan aku gelaran yang baik, bahkan disetujui oleh paman Phang dan encie Siang Aku yakin, beradanya engkau dalam pasukan Tetok hanyalah terpaksa saja, karena dalam hal ini engkau tentu hanya menuruti perintah atasan saja, bukan...?'" . Bian Tung Pah menganggukkan kepalanya beberapa kali dia telah membenarkan perkataan Yo Him.
"Dan aku telah memikirkan untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai alat negara, karena terkadang aku menerima perintah untuk melakukan pekerjaan yang tidak menurut isi hatiku.... maka dari itu, nanti aku minta pensiun saja dan hidup dengan berdagang kecil-kecilan" .
"Bagus ! itu bagus sekali...!"
Kata Phang Kui ln.
"Itulah cara yang terbaik, sehingga engkau tidak perlu korban perasaan...!"
Bian Tung Pah juga menyatakan terima kasihnya atas perlakuan Yo Him bertiga.
Kemudian bersama-sama dengan kawan-kawannya yang hanya terluka mengangkat mayat-mayat kawan mereka.
Semua tentara Tetok yang masih hidup itu bergidik sendirinya setelah mengetahui bahwa Yo Him adalah puteranya Yo Ko.
Sedangkan pelayan rumah makan telah membersihkan darah dan merapihkan bangku kursi dan meja yang telah pada terbalik itu.
sedangkan noda sarah dilantai segera dihapus dengan kain pembasuh.
Dalam sekejap mata saja ruangan rumah makan itu telah rapih lagi.
Sedangkan Yo Him bertiga telah Makan-Makan lagi....
mereka tidak memperdulikan tamu-tamu berdatangan dan kasak kusuk membicarakan mereka.
Setelah puas makan minum Yo Him bertiga meninggalkan rumah makan itu.
Banyak orang-orang penduduk Kota itu yang berdatangan ingin melihat rupa dan wajah dari putera Sin Tiauw Taihiap, tapi Yo Him bertiga Telah melarikan diri dengan cepat sekali meninggalkan tempat itu Mereka mem pergunakan ginkang yang telah semparna, hanya dalam beberapa detik mereka sudah jauh meninggalkan rumah makan dan penduduk kota tersebut.
Hal ini dilakukan karena mereka tidak ingin dipersulit dengan berbagai pertanyaan dan sanjung puji dari penduduk kota itu.
Waktu itu, Yo Him telah berkata kepada Phang Kui In, disaat mana mereka telah berada diluar kota sebelah timur.794
"Phang Susiok....apakah kita melanjutkan perjalanan kita lagi ?"
Tanyanya.
Phang Kui In mengangguk membenarkan.
Maka mereka telah menghampiri perahu mereka dan telah melompat naik keatas perahu tersebut.
Perahu itupun berlayarlah meninggalkan tempat itu.
Setelah berlayar selama empat hari lagi, mereka tiba dipelabuhan kota Mu-sing-kwan.
Tetapi mereka hanya singgah untuk makan dan minum mengisi perut, lalu melanjutkan perjalanan mereka pula.
Berlayar lagi sebelas hari tentu kita akan tiba dikota Su-po-kwan, dikota itu kita bisa meminta keterangan dari orang-orang yang pernah melihat Sin Tiauw Taihiap...karena Sin Tiauw Taihiap pernah berkali-kali datang dikota tersebut...!
Yo Him girang bukan main mendengar hal itu, dia serasa ingin cepat-cepat bertemu dengan ayah kandungnya, bertemu muka.
Dan juga Kwee Siang, begitu rindu ingin bertemu dengan Pendekar Super Sakti tersebut.
Benar saja, setelah mereka berlayar sebelas hari, disaat itu mereka telah tiba dikota Su-po-kwan, kota perdagangan yang ramai sekali dan memiliki penduduk yang padat.
"Kita telah sampai !"
Menjelaskan Phang Kui In waktu mereka telah tiba dipelabuhan kota tersebut. Dengan tidak sabar Yo Him telah melompat kedermaga dan berjalan dengan langkah lebar.
"Tunggu dulu Himjie !"
Teriak Phang Kui In yang sedang mengikat perahunya.
"Nanti kau tersesat...!". Yo Him sudah tidak Sabar sekali.
"Cepat sedikit paman Phang...!"
Katanya dengan suara tidak sabar.795 Kwee Siang yang melihat kelakuan Yo Him jadi tersenyum, dia pun merasakan hatinya tergoncang keras sekali.
Waktu itu Phang Kui In telah selesai mengikat perahunya, tetapi ketika dia ingin menghampiri Yo Him dan Kwee Siang untuk meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba dari arah ujung dermaga yang satunya, telah berjalan seseorang dengan langkah kaki yang lebar.
Dan orang itu juga sambil menghampiri telah berteriak-berteriak dengan suara yang sangat nyaring .
"Hei tunggu dulu ! Tunggu dulu !" . Phang Kui In mengerutkan alisnya, karena dia melihat bahwa orang itu memiliki wajah yang kurang berkesan baik, tampaknya mata orang itu bersinar tajam dan jahat.
"Ada urusan apakah, hengtai (saudara)"
Tanya Phang Kui In berusaha bersikap semanis mungkin, karena dia menyadari dirinya merupakan pelancongan belaka.
"Kalian memakai perahu ? Dan perahu kalian ini diikatkan didermaga ini ! Kalian harus membayar seratus tail perak !"
Kata orang itu setelah datang dekat.
Dan Phang Kui In saat itu juga telah bisa melihat jelas wajah orang itu yang berpotongan empat persegi dan matanya memandang tajam menyeramkan.
Ukuran kedua matanya itu tampaknya lebih besar dari mata orang dewasa yang wajar.
Kumis, dan jenggotnya yang tumbuh kaku itu menambah wajahnya semakin tidak enak dilihat, dengan lobang hidung yang dongak keatas.
"Apa...apa kau biang ?"
Tanya Phang Kui In tergagap, karena dia terkejut atas permintaan orang itu.
Mana ada uang sewa titip perahu sebesar seratus tail perak seperti yang diminta orang itu ?
Sedangkan paling tidak hanya satu atau dua cie saja !
"Aku mengatakan jika kau ingin menitipkan perahu didermaga ini.
maka kalian harus menyerahkan uang sewanya796 sebesar seratus tail perak?
Tidak dengar ?
Seratus tail perak!
Sudah dengar ?
Seratus tail perak !"
Mendengar perkataan orang itu tentu saja Yo Him bertiga jadi tidak menyukai orang ini.
"Hemm, mungkin dia ini seorang buaya darat yang menguasai daerah ini, sehingga leluasa baginya untuk melakukan pemerasan-pemerasan terhadap orang yang lemah."
Pikir Phang Kui In.
Karena berpikir begitu, sikap Phang Kui In jadi tenang kembali dan lenyap dari perasaan herannya.
Sengaja dia memperlihatkan senyuman sabar "Cukupkah uang sewanya sebesar seratus tail perak ?"
Tanyanya.
"Jika engkau mau menambahkannya, itu lebih bagus lagi, tentu perahumu akan kujagakan sebaik mungkin, agar tidak dirusak orang atau dicuri hilang oleh orang yang banyak berkeliaran ditempat ini ! Ketahuilah dipelabuhan ini banyak sekali pemeras-pemeras. Mendengar perkataan orang itu, Phang Kui In kembali tersenyum.
"Lucu ! Lucu sekali !"
Katanya.
"Apanya yang lucu ?"
Tanya orang itu tidak mengerti.
"Aku membeli perahu itu hanya dengan harga seratus sepuiuh tail ! Tetapi sekarang, ingin menitipkan perahu itu, harus membayar seharga seratus tail perak ! Bukankah itu merupakan suatu kejadian yang lucu sekali...?" . Mendengar perkataan Phang Kui In, muka orang berewokan itu jadi berobah merah padam, karena dia menyadarinya bahwa kata-kata Phang Kui In itu hanya ditujukan untuk menyindir dirinya. >>o0o^d!w^o0o<<797
Jilid 23 DIA telah berseru nyaring, sambil membanting kakinya yang kanan ketanah, dia telah berkata garang .
"Engkau jangan sekali-kali coba mempermainkan aku...!! Cepat serahkan uang yang seratus tail itu padaku...jika engkau berlama-lama. jangan salahkan aku mengambil tindakan keras.. !"
"Tetapi seperti tadi kuakatakan, aku membeli perahu itu hanya dengan harga seratus tail lebih sedikit, jika sekarang aku harus membayar seharga seratus tail kepadamu, lebih baik kubiarkan saja perahu tersebut diletakkan disitu saja, jika tidak hilang itu namanya nasib kami yang baik, tetapi jika hilang ya, bisa saja kami membeli perahu yang baru !"
"Benarkah engkau tidak mau membayar , uang sewa menaruh perahu itu?"
Tanya orang orang itu dengan muka yang garang.
"Aku Hek Sin Ho (Rase Hitam yang Sakti) tidak akan berlaku segan-segan lagi ..."
"Tidak segan-segan itu apa maksudmu?"
Tanya Phang Kui In dengan suara mengejek.
"Ya, tentu saja aku tidak segan-segan mengambil tindakan keras kepada kalian ...!"
"Tindakan keras bagaimana?"
"Tindakan kekerasan untuk membinasakan kalian!"
Teriak Hek Sin Ho habis sabar, dan dia menggerakkan kedua tangannya, kepalan tangannya yang besar itu telah meluncur akan menghantam dada Phang Kui In.
Tampak kepalan tangan orang itu, Hek Sin Ho, datang dengan cepat sekali, dan juga.
mengeluarkan angin yang berkesiuran dahsyat sehingga semua orang yang melihat ini jadi terkejut sekali.798 Wuuttt ...
Angin serangan itu telah menyambar keras tetapi waktu Phang Kui In menggeser sedikit kaki kirinya dan memiringkan tubuhnya, kepalan tangan lawannya itu tidak berhasil mengenai sasaran.
Bahkan Waktu tangan Hek Sin Ho lewat disisi dadanya, secepat kilat Phang Kui In telah mengangkat tangan kanannya yang diangkat mengarah keatas, sedangkan tangan kirinya diturunkan menumbuk pergelangan tangan Hek Sin Ho.
sehingga tangan Hek Sin Ho seperti juga telah dikunci dan digunting.
Tidak ampun lagi tulang pergeiangan tangan hancur!
Peristiwa ini baru pertama kali dialami oleh Hek Sin Ho, maka disamping kesakitan dan terkejut dia juga jadi tidak habis mengerti, mengapa orang yang dilihatnya tidak begitu tegap bisa memiliki kepandaian begitu tinggi?
Phang Kui In telah berkata pada saat itu "
Apakah engkau tidak mau cepat-cepat angkat kaki? Atau memang engkau menghendaki tangan yang satunya itu dihancurkan pula ?"
Muka Hek Sin Ho telah berubah pucat. Dia berdiri ragu-ragu ditempatnya.
"Bolehkah aku mengetahui siapa hohan (orang gagah . pendekar) sebenarnya "
Tanya Hek Sin Ho kemudian dengan suara yang tidak begitu lampias, karena dia menahan perasaan sakit pada pergelangan tangannya yang telah hancur tulangnya itu.
"Tidak perlu kau mengetahuinya .. tetapi yang terpenting mulai hari ini engkau harus baik-baik menjaga diri agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat atau memeras orang! Jika di lain waktu aku mendengar engkau masih melakukan pekerjaan tersebut, tentu engkau akan kubinasakan tanpa mengenal ampun. Hek Sin Ho telah mengangguk.799
"Baiklah, memang aku juga ingin memilih pekerjaan yang halal dan baik, tetapi sayangnya. aku tidak pernah dipercaya orang, sehingga terpaksa aku mengambil jalan singkat yang bisa mendatangkan uang banyak dengan cara yang mudah!"
Phang Kui In tersenyum.
"Jika engkau bersungguh-sungguh dan bertekad untuk merobah perbuatanmu, maka engkau tentu mudah mencari pekerjaan walaupun gajimu tentu saja tidak sebesar yang kau kehendaki, tetapi jika engkau hidup baik-baik dan sederhana tentu lebih dari cukup. Umpamanya saja engkau menjadi piauwsu (pengawal barang berharga), atau menjadi buruh dari toko-toko dan perusahaan yang memerlukan tenaga yang sangat besar ... Mendengar perkataan Phang Kui In. tampak Hek Sin Ho telah menghela napas dalam-dalam, kemudian dia telah bilang.
"Baiklah, terimakasih atas nasehatmu ! Aku akan berusaha melamar Pekerjaan sebagai piauwsu !"
"Bagus ! Nah ini hadiah dariku untuk bekal sebelum memperoleh pekerjaan....!"
Sambil berkata begitu, Phang Kui In telah merogoh Sakunya dan mengeluarkan lima tail perak yang diberikan kepada Hek Sin Ho.
Hek Sin Ho mengucapkan terima kasihnya berulang kali, kemudian dia membalikkan tubuhnya untuk berlalu setelah memberi hormat kepada Yo Him dan juga Kwee Siang.
Phang Kui In menggeleng-menggeleng kepalanya sambil menghela napas.
"Sesungguhnya kepandaian orang itu tidak lemah, jika dia memiliki watak yang baik tentu tidak sulit baginya untuk mencari pekerjaan yang bisa menghasilkan uang cukup banyak dan hidup dengan berkecukupan, seandainya saja dia mau bekerja dengan rajin dan tekun, dan juga mau bekerja sebagai Piauwsu atau juga centeng pengawal para pegawai. Bukankah dia akan menerima gaji yang cukup besar ?" 800 Kwee Siang yang mendengar perkataan Phang Kui In dia membenarkannya. Begitulah mereka telah memasuki kota untuk mencari rumah makan. Su po Kwan merupakan kota yang sangat padat penduduknya dan sepanjang waktu ramai sekali, tidak perduli malam hari, karena pelabuhan Su-po-kwan merupakan pelabuhan yang. menampung para pedagang yang mengambil jalan air untuk mendatangi kota-kota di sekeliling Su po kwan Phang Kui In mengajak Yo Him dan Kwee Siang memasuki sebuah rumah makan yang bertingkat dua tampaknya mewah sekali. Waktu itu dia telah berkata.
"Masakan rumah makan ini sangat enak dan terkenal sekali ... kita bersantap dulu, dan nanti kita bisa menanyai pelayan mengenai ayahmu itu, Himjie" ' Yo Him girang bukan main dan Kwee Siang juga setuju saran yang diberikan Phang Kui In. Hati gadis ini juga berdebar. Telah bertahun-bertahun dia menyelidiki dimana adanya Yo Ko, dan selama bertahun-bertahun itu juga dia telah berusaha untuk mencari jejak Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Dia telah mengembara dan juga sampai Siauw Lim Sie pernah didatanginya dua kali Tetapi selama itu dia tidak berhasil menemui jejak Yo Ko, Kini Phang Kui In berkati kapada dirinya bahwa Yo Ko pernah datang bahkan sering muncul dikota ini, dan tentunya sebagai seorang sakti yang memiliki kepandaian sangat tinggi disamping itu juga memiliki tangan tunggal tentu saja mudah sekali Yo Ko dikenali orang, jika dari hasil penyelidikan ini mereka bisa bertemu dengan Yo Ko, Kwee Siang bertekad tidak mau berpisah dengan Yo Ko pula. Memang waktu perpisahan yang terakhir dengannya, Yo Ko pernah berkata "Tiada pesta yang tidak bubar, tiada pertemuan tanpa perpisahan .. dan memang benar apa yang801 diucapkan Yo Ko, tiada pertemuan yang tiada berpisah, karena itu Kwee Siang dari tahun ketahun sejak perpisahannya dengan Yo Ko hanya jadi merana. Kwee Siang mencintai Yo Ko tanpa disertai dengan hawa nafsu kotor, dan Yo Ko maupun Siauw Liong Lie sangat mencintainya. Perasaan cinta yang diperlihatkan dan muncul dihati Kwee Siang merupakan cinta yang tulus dan murni tanpa disertai oleh pikiran-pikiran kotor. Dia memang mencintai Yo Ko, tetapi cintanya itu bukan untuk menguasai Yo Ko, melainkan untuk berada berdekatan saja dengan pria yang dicintainya itu, dia sudah puas. Hal itu disadari juga oleh Siauw Liong Lie, maka nyonya Yo itu tidak merasa dengki atau cemburu kepada Kwee Siang. Begitu pula halnya dengan Kwee Siang sendiri, walaupun dia mengetahui bahwa Yo Ko sudah menjadi suami Siauw Liong Lie, tetapi disebabkan dia memang memiliki cinta yang tulus dan murni, maka persoalan suami isteri dari kedua orang yang dicintainya itu tidak menimbulkan perasaan cemburu sedikitpun dihatinya. Yang dikehendaki Kwee Siang adalah keinginan yang sederhana sekali, yaitu ingin berada berdekatan dengan kedua orang yang dicintainya itu. Cinta yang dilimpahkan Kwee Siang lebih mirip merupakan cinta persaudaraan....... Sekarang dengan perantara Phang Kui In, dia kemungkinan besar bisa berjumpa dengan orang yang dikasihinya itu, tentu saja hatinya jadi berdebar tidak hentinya. Didalam rumah makan itu cukup banyak tamu, Phang Kui In telah memesan beberapa macam sayur. Mereka bersantap dengan lahap sekali selesai berantap mereka telah mengelilingi kota Su Po Kwan, menyaksikan betapa kota ini luas dan besar, disamping itu bangunan-bangunan yang terdapat dikota tersebut sangat besar dan umumnya bertingkat. Banyak rumah-rumah yang tingkat bawah dibuka802 sebagai toko dan tingkat atas dipergunakan sebagai tempat tinggal. Sehingga Yo Him dan Kwee Siang tidak hentinya memuji akan kemewahan kota tersebut. Waktu itu tampak Phang Kui In telah menghampiri sebuah toko kelontong, pemiliknya seorang lelaki tua setengah baya memelihara jenggot dan kumis yang panjang. lalu mereka telah bicara bisik-bisik, dan Yo Him maupun Kwee Siang melihat pemilik toko itu telah menggeleng geleng kepala. Phang Kui In kemudian menghampiri Yo Him dan Kwee Siang yang menantikannya diseberang lainnya.
"Sayang sekali akhir-akhir ini Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tidak pernah datang kekota ini lagi, hampir dua tahun ini Sin Tiauw Taihiap tidak pernah kelihatan...! Pemilik toko kelontong itu merupakan sahabat Sin Tiauw Taihiap, karena setiap kali Sin Tiauw Taihiap datang kekota ini, tentu akan singgah atau menginap dirumah pemilik toko kelontong itu."
Yo Him dan Kwee Siang tampak jadi kecewa, bahkan Yo Him telah menundukkan kepala dalam-dalam.
"Jangan putus asa, Him-jie,'"
Kata Phang Kui In.
Kita bisa menyelidikinya lagi dibeberapa tempat...!' Yo Him mengangguk lesu, begitu juga Kwee Siang tampak mukanya muram tidak memancarkan kegembiraan.
Phang Kui In menyarankan agar mereka, bermalam satu malaman dikota Su-po-kwan ini.
Tengah malam, Yo Him tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia gulak gulik dengan gelisah.
Phang Kui In yang menyaksikan sikap anak ini, jadi menghela napas dalam-dalam.803 Kwee Siang sendiri dikamar, lainnya rebah gelisah tanpa bisa tidur, karena dia selalu memikirkan Yo Ko dan Siauw Liong Lie Semula dia mengharapkan dikota Su Po kwan ini mereka bisa bertemu dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
tetapi kenyataannya sekarang, mereka tidak berhasil menjumpai orang-orang yang dicintainya itu.
Tengah malam telah tiba, dikelarutan malam, terdengar suara kentongan dua kali.
Tetapi Kwee Siang belum juga bisa tidur, dia masih diliputi kegelisahan.
Walaupun dipejamkan matanya kuat,-t,etapi tetap saja dia tidak bisa tertidur nyenyak.
Waktu itu Phang Kui In sedang duduk terpekur dikursi dengan tangan berada diatas meja bertopang dagu, tampaknya dia juga kecewa sekali.
Semula Phang Kui In mengharapkah dapat mencari kabar berita mengenai Sin Tiauw Taihiap.
Jika tidak juga berhasil, dia bisa mencarinya ketempat yang kebetulan dia pernah bertemu dengan Sin TiauwTaihiap beberapa waktu yang lalu.
Tetapi sekarang setelah dia menyelidiki Sin Tiauw Taihiap telah dua tahun ini tidak pernah berkunjung kekota Su Po Kwan.
Phang Kui In juga telah melihat betapa kecewanya Yo Him dan Kwee Siang.
Hal ini membuat Phang Kui In jadi tidak gembira.
Sedang Phang Kui In diliputi oleh kekecewaan dan duduk seperti terpekur seperti itu.
tiba-tiba dia mendengar suara berisik perlahan di atas genting.
Sebagai seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi dan pendengaran yang tajam, Phang Kui In segera mengetahui bahwa ada orang pejalan malam yang sedang lewat diatas gentingnya.804 Tetapi Phang Kui In tidak mau usil dengan urusan itu, dia menduga mungkin ada pejalan malam yang tengah mencari seseorang dan Phang Kui in juga telah berkeyakinan bahwa dia tidak memiliki musuh dikota ini.
Maka dia hanya menduga mungkin pejalan malam itu kebetulan saja lewat diatas gentingnya.
Tetapi suara berkelisik itu telah diam tidak terdengar lagi.
Phang Kui In jadi heran, Dia bergerak perlahan mendekati jendela kamarnya dan mendengarkannya dengan baik.
Terdengar desah napas orang yang perlahan sekali.
Segera Phang Kui In yang telah berpengalaman itu mengetahui bahwa orang yang menjadi pejalan malam Itu telah berada didekat jendelanya dan tengah memasang telinga.
Cepat-cepat Phang Kui In menghampiri meja dengan langkah kaki yang ringan sekali, meniup api penerangan kamar, dan melompat ke dekat pembaringan, Dia telah menggoyang-goyangkan tubuh Yo Him, meminta anak itu bangun.
Yo Him terkejut waktu terbangun kamar mereka gelap, dan belum lagi dia bertanya, Phang Kui In telah berbisik ditelinganya.
"Hati-hati ada musuh pejalan malam yang tengah mengintai kamar kita!"
Yo Him segera mengerti, dia telah mementang matanya untuk memperhatikan kegelapan dalam kamarnya.
Akhirnya selang sejenak, pemuda ini telah biasa dan bisa melihat dengan samar-samar keadaan dikamar itu.
Waktu itu, tampak Phang Kui In berindap indap mendekati jendela.
Dia berdiri diam sejenak, tahu-tahu tangannya itu telah mendorong terbuka daun jendela dengan gerakan yang tiba-tiba sekali, berbareng dengan terbukanya daun jendela, tampak Phang Kui In telah melompat keluar sambil berseru .
"Penjahat kecil tidak bernama manakah yang berani mencuri-curi lihat kamar kami ?" 805 Dan tangannya telah digerakkan untuk menjaga keselamatan tubuhnya dari serangan gelap dan tiba-tiba dari lawannya. Apa yang dilakukan oleh Phang Kui In memang kuat sekali, angin yang meluncur keluar dari kedua telapak tangannya yang digerakkan itu ternyata telah berhasil melindungi tubuhnya, sehingga jika ada senjata rahasia yang menyambar datang, tentu tidak bisa mencapai sasaran ditubuhnya, sebab terbendung oleh kekuatan angin serangan yang begitu dahsyat.
"Ihhh...!"
Terdengar suara seruan yang sangat perlahan dari seseorang.
Waktu itu Yo Him telah melompat keluar juga, dia telah berdiri disamping Phang Kui In.
Mereka telah melihat seseorang yang berdiri tegak dihadapan mereka.
Keduanya jadi mengeluarkan seruan tertahan waktu melihat muka orang itu, yang rusak seperti juga muka hantu.
Hidungnya tidak ada, matanya yang sebelah kiri berlobang seperti mata tengkorak, dan rambutnya hanya tumbuh dibelakang kepalanya orang itu berdiri diam dengan mulutnya yang lebar dan suwing tampak barisan giginya, membuat Yo Him dan Phang Kui In tergetar sejenak hatinya.
,Siapa kau ?
mengapa kau main sembunyi-sembunyi seperti itu ?
tegur Phang Kui In.
"Aku datang ingin menyampaikan kabar kepadamu. kepada kalian menyahuti orang bermuka buruk itu dengan suara yang tetap, tidak memperlihatkan perasaan terkejut.
"memberitahukan apa ?"
Tanya Phang Kui In lagi.
"memberitahukan hal yang cukup luar biasa !"
"Cepat katakan !"
"Sabar ! Tadi siang engkau mencari berita mengenai Sin Tiauw Taihiap, bukan?"
Tanya orang itu lagi.806 Muka Phang Kui In dan Yo Him jadi berobah mendengar pertanyaan orang itu. Tetapi Phang Kui In telah mengangguk membenarkan.
"Ya, memang kami sedang mencari Sin Tiauw Taihiap."
Menyahuti Phang Kui In akhirnya.
"Untuk keperluan apa?"
Tanya orang bermuka buruk itu lagi. Pnang Kui In jadi habis kesabarannya, dengan suara keras dia membentak.
"Tidak perlu banyak cerewet, sekarang katakanlah apa maksudmu?"
Orang bermuka buruk itu telah tertawa dengan sikap yang mengerikan, karena wajahnya yang rusak itu terlampau buruk.
Waktu itu rembulan bersinar penuh dengan hawa udara dingin sekali.
Lewat cahaya rembulan itulah Phang Kui In berdua Yo Him bisa melihat jelas muka orang yang buruk dan tidak menimbulkan kesan baik.
Mendengar perkataan orang bermuka buruk itu.
habislah kesabaran Phang Kui ln.
Dia telah berkata dengan suara yang dingin.
"Jika engkau tidak mengatakan terus terang, apa maksudmu, sekarang juga aku akan menganggap bahwa engkau ini adalah pencuri yang hina dan aku akan melancarkan serangan!"
Simuka buruk itu tertawa dingin "Kukira tidak mudah untuk menyerang diriku !"
Serunya tegas.
"Mengapa ?"
Tanya Phang Kui In saking herannya mendengar perkataan orang itu.
"Belum tentu kepandaianmu cukup untuk merubuhkan diriku "
Dan setelah berkata begitu tampak si muka buruk telah mengawasi Yo Him.807
"Anak ini tampaknya memiliki tulang yang bagus dan berbakat untuk melatih ilmu silat.....!"
Katanya kemudian dengan suara yang tawar.
"Siapa namamu, nak !"
"Aku .... aku ..."
Jawab Yo Him ragu-ragu, dia telah melirik kepada Phang Kui In, dimana orang she Phang itu telah menggelengkan kepalanya perlahan.
"Dia belum menjawab pertanyaan kita dan belum mengetahui apa maksudnya, maka tidak perlu kita memperkenalkan diri kita padanya !"
Kata Phang Kui In, Dan Yo Him jadi membatalkan apa yang hendak dijawabnya dia telah berkata .
"Sayang sekali kau main belakang dan tidak pernah mau menjawab pertanyaan Phang Susiok, maka kami pun keberatan untuk memperkenalkan diri!"
"Kau akan menyesal dengan tindakanmu ini!"
Kata orang bermuka buruk itu.
"Mengapa?"
Tanya Yo Him.
"Karena engkau akan mati dengan penasaran .. !."
Menyahuti orang itu. Tetapi Yo Him tidak bisa digertak, dia telah menjawab marah.
"Belum tentu juga engkau bisa mencelakai kami!"
Orang muka buruk itu telah tertawa dingin, lalu katanya lagi.
"Kaliankah yang telah merubuhkan Hek Sin Ho?"
Tanyanya.
"Benar!"
Menyahuti Phang Kui In dengan suara yang tegas.
"Dan engkaukah yang telah menghancurkan pergelangan tangan Hek Sin Ho?"
Tanya orang itu lagi.
"Benar!"
Mengangguk Phang Kui In dengan berani sekali.808
"Hemm, sekarang jawab dulu satu pertanyaanku, apa keperluan dan kepentingan kalian mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko?"
"Itu urusan kami tidak ada sangkut pautnya dengan kau!"
Menyahuti Phang Kui In.
"Sudah tentu ada hubungannya dengan aku karena akupun tengah mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu !"
"Apa ?"
Tanya Phang Kui In agak terkejut.
"Apa keperluanmu mencari Sin Tiauw Taihiap ?"
"Itu nanti akan kujelaskan, karena engkau sendiri belum mau menjawab pertanyaanku ada kepentingan apa kalian mencari Sin Tiauw Taihiap ?"
Phang Kui In telah memutar otak, dan cepat sekali dia telah menjawabnya .
"Kami sahabat-sahabat Sin Tiauw Taihiap dan ingin menyambanginya. Kami mendengar berita terakhir bahwa Sin Tiauw Taihiap sering berkunjung ke Su Kwan, maka kami telah datang kemari untuk mencari ....!"
"Hemm, manusia macam kalian ini merupakan sahabat-sahabat dari Sin Tiauw Taihiap? Sungguh perkataan kosong yang terlampau berani ! Tahukah engkau, dengan mengaku aku sebagai.sahabat Sin Tiauw Taihiap, maka kalian juga akan menerima bahaya yang tidak kecil ?"
Setelah berkata begitu, dengan cepat sekali tampak orang bermuka buruk itu telah mengeluarkan suara tertawa dingin sambil mengerang perlahan.
Phang Kui In dan Yo Him jadi heran melihat sikap muka buruk yang terakhir itu.
"Kami telah menjawab pertanyaanmu, nah sekarang giliranmu untuk menjelaskan apa perlunya engkau juga mencari-mencari Sin Tiauw Taihiap?"
Kata Phang Kui In.809
"Aku hendak membinasakannya!"
Menyahuti orang bermuka buruk itu dengan suara yang dingin.
"Nah, kalian lihatlah!"
Sambil berkata begitu, orang bermuka buruk itu menunjuk kearah mukanya sendiri.
Rembulan bersinar terang benderang dan tidak tertutup awan.
cahayanya yang gemilang itu menyinari muka buruk orang aneh ini sehingga dengan bentuk muka yang rusak dan buruk seperti itu, ditambah dengan sinar rembulan kepada wajahnya, membuat muka siburuk itu semakin menakutkan sekali.
Yo Him sendiri sampai tidak berani memandang lama-lama, hanya sekejap saja dia memandang kemudian telah menundukkan kepalanya.
"Nah, kalian telah melihatnya, bukan?"
Tanya orang bermuka buruk itu kemudian sambil menyeringai menyeramkan, suaranya juga mengandung kekejaman, kemarahan dan juga kekecewaan.
"Inilah hadiah dari Sin Tiauw Taihiap! Maka dari itu, setelah aku mempelajari ilmu silatku lebih mendalam selama tujuh tahun, kukira telah cukup untuk menandingi kepandainnya dan setelah berkata begitu, orang bermuka buruk tersebut telah berkata dengan suara yang perlahan tetapi menakutkan.
"Bersiap-Bersiaplah menghadapi serangan."
Yo Him dan Phang Kui In segera menduga, mungkin orang ini terganggu syarapnya karena dia tampaknya bicara dengan lagak yang tidak beres. Disaat itu, orang bermuka buruk itu telah berkata lagi.
"Aku sudah mendidik Hek Sin Ho bersusah payah dan sebagai murid tunggalku aku mengharapkan dia kelak bisa mewarisi seluruh kepandaianku ... tetapi engkau relah merusak menghancurkan tulang pergeiangan tangannya .. maka dengan cacad seperti itu tentu saja dikemudian hari dia tidak bisa diharapkan lagi pergelangan tangan merupakan bagian810 terpenting dari anggota tubuh yang bisa dipergunakan untuk bertempur...!"
Setelah berkata begitu, tahu-tahu mulut orang itu dimonyongkan, dan "Fuiii ! Fuiii !"
Tahu-tahu ada beberapa butir biji buah Lay yang menyambar datang dengan cepat sekali.
Jika biji buah Lay itu menyambar dengan cepat, memang tidak mengherankan, tetapi yang aneh walaupun biji itu berukuran kecil sekali seperti kwaci, tetapi dia bisa menyemburkannya mendatangkan samberan angin yang sangat kuat.
Bahkan yang agak luar biasa biji buah Lay itu811 telah menyambar dua jalan darah terpenting ditubuh Phang Kui In.
Tetapi Phang Kui In juga memiliki kepandaian yang tidak lemah, cepat sekali dia menggeser tubuhnya dan menyingkir dari ke dua biji buah Lay itu.
Kedua biji buah Lay itu telah lewat disisi pinggangnya.
Baru saja Phang Kui In hendak berkata-kata menegur orang itu, justru kedua biji buah Lay itu telah menyambar datang lagi seperti juga bisa dikendalikan, membalik menyambar kearah punggung Phang Kui In.
Inilah peristiwa yang agak aneh dan luar biasa, karena biasanya jika seseorang melancarkan serangan dengan senjata rahasia atau apa saja yang ditimpukkan, jika sudah tidak mengenai sasaran tentu akan jatuh ditanah.
Tetapi justru sekarang telah terjadi yang sebaliknya, karena waktu itu biji buah Lay yang tidak berhasil mengenai sasaran, telah memutar kembali menyerang punggung Phang Kui In dengan tenaga samberan yang tidak berkurang.
Yang diincer oleh kedua biji buah Lay itu adalah jalan darah Ciang kie hiat dan Lu-sung-hiat.
Phang Kui In karena terkejut telah mengeluarkan suara seruan tertahan dan melompat kesamping lagi.
Tetapi biarpun Phang Kui In bergerak sangat cepat, disebabkan dia tidak menduga akan datangnya serangan aneh seperti itu, lengannya telah kena diterjang oleh biji buah Lay yang satunya.
Waktu lengannya itu terbentur dengan biji buah Lay itu, Phang Kui In merasakan lengannya kesemutan, tetapi tidak sampai cidera.
"Manusia licik !"
Berseru Phang Kui In dengan suara yang mengandung kemarahan.
"Engkau merupakan manusia hina-dina yang perlu memperoleh pengajaran!!" 812 Dan setelah berkata begitu dengan cepat Phang Kui In mencabut goloknya.
"Ha, ha, ha! Sudah kukatakan, engkau mencari mati sendiri !"
Kata orang bermuka buruk itu.
"Aku Thian San Hok Mo (Iblis Kodok dari Thian San) Cu Cu Ciang tidak akan berlaku kasihan lagi dan akan melancarkan serangan-serangan yang sekaligus bisa mematikanmu ! Jika aku kelak tidak berhasil membalas dendamku kepada Yo Ko, berarti dendamku telah berkurang banyak, sebab telah berhasil membinasakan kawannya orang she Yo itu...!"
Setelah berkata begitu, dengan cepat dia mengelakkan diri dari samberan golok Phang Kui In, karena orang she Phang itu telah melancarkan bacokan dengan tenaga yang kuat sekali.
Waktu golok itu menyambar, menimbulkan angin yang berkesiuran sangat keras sekali.
Dengan mudah orang bermuka buruk itu mengelakkan diri dari samberan golok orang she Phang tersebut, kemudian dengan mengeluarkan suara teriakan yang sangat keras, dia telah berkata dengan garang .
"Nah, jagalah serangan !"
Sambil berkata begitu tampak.
Cu Cu Ciang telah memutar kedua tangannya, tubuhnya dimiringkan kekanan, tangan kirinya mengibas kearah golok Phang Kui In yang menyambar datang, lalu dengan gerakan yang sangat cepat sekali tangan kanannya telah menerobos masuk penjagaan Phang Kui In, menghantam jitu sekali dada Phang Kui In, sampai mengeluarkan suara benturan 'bukkk !' yang sangat keras sekali, sehingga tidak ampun lagi tubuh Phang Kui In terpental dan bergulingan ditanah beberapa tombak.
Yo Him yang menyaksikan ini jadi terkejut sekali, dia telah mengeluarkan teriakan perlahan, dan melompat mendekati Phang Kui In yang saat itu tengah merangkak untuk berdiri.
"Paman Phang, kau tidak apa-apa...?"
Tanya Yo Him kemudian.813
"Mundurlah Him-jie, biar aku menerima pelajaran lagi dan dia !"
Kata Phang Kui In dengan marah.
Tetapi waktu dia ingin merangkak bangun, disaat itu mukanya meringis menahan kesakitan yang sangat didadanya yang terpukul oleh Cu Cu Ciang.
Cu Cu Ciang telah tertawa dengan suara yang bergelak-gelak dia berkata dengan suara yang takabur.
"Nah sekarang marilah kita betempur lagi!"
Tantangnya.
"Aku jamin dalam dua tiga jurus engkau sudah dapat kumampuskan!!"
Kembali Cu Cu Ciang telah tertawa bergelak gelak dengan suara yang nyaring sekali. Yo Him habis sabar, dia berkata kepada Pbang Kui In .
"paman, kau diamlah beristirahat mengatur pernapasanmu.... biar aku menghadapi orang sombong itu !!"
Dan tidak menanti persetujuan dari Phang Kui In, tampak Yo Him telah melompat dengan gerakan yang gesit sekali kehadapan Cu Cu Ciang.
"Orang she Cu !"
Bentak Yo Him kemudian.
"Mari kau menyerang lagi, aku yang akan menerima pelajaranmu !" , Melihat yang maju itu adalah seorang pemuda yang belum dewasa Cu Cu Ciang jadi tertegun sejenak tetapi kemudian dia telah tertawa bergelak gelak. Waktu Cu Cu Ciang telah mendesis dengan suara yang sangat dingin dan kejam.
"Engkaupun tidak boleh dibiarkan hidup. Baiklah sekarang terimalah serangan dariku ini!"
Dan dengan bergerak yang cepat sekali dia telah menerjang kedepan sambil menggerakan sekaligus kedua tangannya melancarkan gempuran kepada Yo Him.
Yo Him telah mengejek dia, melihat memang serangan orang she Cu ini sangat kuat tetapi dia tidak takut.
Dengan gerakan lincah Yo Him telah melompat kesamping.
Dengan latihan selama dua tahun dibawah petunjuk gurunya, yaitu Lie Bun Hiap, maka Yo Him memiliki kepandaian yang tidak814 berada disebelah bawah phang Kui In apalagi diapun juga memiliki lwekang yang sempurna, karena Kwee Siang telah membuka seluruh jalan darahnya dan lweekangnya itu merupakan tenaga dalam yang mujijat.
Maka jika ingin diperbandingkan kepandaian Yo Him masih berada diatas kepandaian Phang Kui In dan Kwee Siang, dia hanya bekal pengalaman saja, Maka waktu melihat datangnya serangan Cu Cu Ciang, dia telah berkelit dengan jurus "Capung Melompati Sungai" , gerakannya manis sekali, tangan kanannya juga telah meluncur dengan cepat mencengkeram punggung Cu Cu Ciang waktu kepalan tangan lawan ini meluncur lewat disampingnya.
Cu Cu Ciang juga tidak menyangka bahwa lawannya yang demikian muda bisa memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari kepandaian Phang Kui In.
Maka waktu tadi dia melancarkan serangan, dia tidak mempergunakan seluruh kekuatan lwekangnya, dia hanya mempergunakan enam bagian tenaga dalamnya.
"Hem, tidak seberapa kepandaianmu !"
Kata Yo Him mengejek setelah mengelakkan serangan lawannya dan tangannya berhasil mencengkeram pundak lawannya dengan kuat.
Cu Cu Ciang jadi kaget dan kesakitan, sampai dia mengeluarkan suara seruan yang sangat keras, tetapi sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, dia tidak menjadi gugup walaupun baju dipunggungnya berikut kulit punggungnya kena dicengkeram kuat oleh Yo Him, dia telah menggerakkan tangan kanannya tahu-tahu menotok kearah pinggang Yo Him.
Itulah serangan yang sangat kuat dan berbahaya.
"karena dalam keadaan terjepit seperti itu, Cu Cu Ciang telah menggunakan jurus "Pa Kong Jo Cu"
Atau "Pa-Kong Merebut Mustika"
Dan memang jalan darah yang ingin ditotoknya815 adalah jalan darah "Su-siang hiat"
Yakni jalan darah yang terpenting sekali ditubuh manusia.
Jika sampai jalan darah Su-Siang-hiat tertotok, maka korban totokan itu jangan harap bisa hidup, karena seluruh peredaran darahnya akan menjadi kacau balau dan dalam satu hari saja akan terbinasa.
Waktu itu Yo Him juga menyadari bahaya yang mengancam dirinya.
Dia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring dan menggerakan tangan kirinya untuk menghantam pundak lawannya, cekalannya dilepaskan.
"Bukkk ...!"
Kuat-sekali tenaga serangan itu, yang telah menyebabkan tubuh Cu Cu Ciang jadi terjerembab jatuh ketanah bergulingan.
Tetapi sebagai jagoan yang memiliki kepandaian tinggi, dengan sendirinya Cu Cu Ciang bisa bangkit dengan cepat.
Dengan muka yang merah padam, dan Wajah yang seperti itu, keadaan Cu Cu Ciang lebih menyeramkan lagi, diapun telah memperlihatkan sikap yang mengancam.
Yo Him tidak gentar melihat sikap musuhnya ini, dia telah mengeluarkan suara mengejek.
Sambil katanya kemudian dengan nada sinis "Hayo majulah menyerang lagi, mengapa diam begitu saja seperti seekor kura-kura ?"
Diejek demikian tentu saja Cu Cu Ciang jadi sangat marah, dia telah menurunkan tangan kirinya dengan siku menempel pada pinggang, lalu tangan kanannya dilonjorkan dengan keras menerjang maju.
Yo Him lebih cepat.lagi dengan mengeluarkan suara jeritan keras, tubuh iblis kodok dari Thian San terpental lima tombak lebih mukanya juga pucat sekali waktu dia merangkak bangun.
"Mau diteruskan !"
Ejek Yo Him.816 Tetapi Cu Cu Ciang tidak menyahuti, dia hanya meringis dan matanya mengawasi bengis.
Dia merasakan dadanya itu sangat sakit sekali.
Dengan mengeluarkan seruan menahan sakit akhirnya Cu Cu Ciang telah berhasil berdiri, tetapi untuk sejenak lamanya dia tidak bisa berdiri diam, terhuyung huyung juga ingin jatuh kembali.
Melihat keadaan lawannya itu timbul perasaan kasihan dihati Yo Him.
Dia tidak melancarkan serangan lagi, lalu dia berkata."
Sekarang kau pergilah! Tetapi jika dilain hari aku bertemu dengan kau dan engkau masih melakukan kejahatan, hemmm, hemmm, tentu disaat itu aku tidak bisa mengampuni lagi jiwamu !"
Cu Cu Ciang tidak segera menyahuti dia hanya mengawasi dengan muka meringis, karena dadanya dirasakan masih sakit sekali.
Dia telah mengangkat kepalanya, kemudian dengan suara tersendat-sendat menahan sakir didadanya, Cu Cu Ciang telah berkata.
"Beritahukan namamu, tentu suatu hari nanti aku akan mencarimu untuk meminta pengajaran lagi...!"
Katanya sambil matanya mendelik bengis dan mukanya yang buruk itu ber tambah menyeramkan, sedangkan tangan kirinya mengusap-usap dadanya yang tadi tergempur oleh Yo Him.
Cu Cu Ciang menyadari bahwa kepandaiannya masih berada dibawah kepandaian Yo Him, maka walaupun dia merasa dendam kena dirubuhkan oleh Yo Him, tetapi dia tidak berani, menyerang lagi.
Dan itulah sebabnya dia menanyakan nama Yo Him, maksudnya jika kelak dia teiah melatih diri lebih giat lagi, dia ber maksud akan mencari pemuda tanggung ini untuk membalas dendam.
Yo Him ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian dia telah berkata .
"Baiklah ! Aku she Yo dan bernama Him !"
"She Yo ?"
Tanya Cu Cu Ciang dengan muka yang berobah menjadi pucat.817
"Benar !"
"Masih ada hubungan apa engkau dengan Sin Tiauw taihiap Yo Ko ?"
"Beliau adalah ayahku !"
"Kau....?"
"Mengapa ? Ada sesuatu yang tidak beres dan membuat engkau terkejut ?"
Tanya Yo Him mengejek"
"Hemm...pantas ! Pantas !"
"Apanya yang pantas ?"
"Pantas engkau memiliki kepandaian yang tinggi !"
Kata Cu Cu Ciang kemudian.
"Sekarang kau pergilah, jangan sampai aku berobah pikiran pula ! Engkau tidak perlu memiliki dendam kepadaku, karena dendam itu merupakan hasutan iblis yang akan merusak dirimu sendiri!"
Cu Cu Ciang telah berdiam diri sejenak tidak menyahuti perkataan Yo Him, tampaknya dia tengah berpikir keras.
"Lebih baik engkau membuka sebuah pintu perguruan dan menerima murid-murid yang kau didik baik-baik...bukankah dengan bekerja baik-baik seperti itu engkau akan menerima hasil yang baik pula ?"
Cu Cu Ciang tiba-tiba telah merangkapkan sepasang tangannya, dia menjura sambil berkata kepada Yo Him.
"Aku berterima kasih dan kagum padamu, Siauw-enghiong.! Walaupun usiamu masih demikian muda, tetapi ternyata engkau telah memiliki pandangan hidup yang jauh sekali! Tidak kecewa Sin Tiauw Taihiap Yo Ko memiliki anak seperti engkau...dan sekarang aku telah menyadari, akan sia-sialah jika aku menaruh dendam terus menerus kepada Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, karena puteranya saja tidak bisa kutandingi... tentu kepandaian Sin Tiauw Taihiap sekarang ini jauh lebih818 sempurna lagi dari yang lalu...! Terima kasih Siauw Enghiong...aku akan berusaha untuk hidup baik-baik...!"
Setelah berkata begitu, Cu Cu Ciang telah merangkapkan tangannya memberi hormat lagi kepada Yo Him, lalu menjura kepada Phang Kui In .
"Maafkan aku tadi telah berlaku ceroboh, untung saja Siauw Enghiong ini memiliki pandangan yang luas sehingga telah mengampuni jiwaku ! Jika tidak, tadi dia tentu telah mempergunakan tenaga sepenuhnya dan aku akan terbinasa, Terima kasih untuk pengampunan jiwaku yang buruk ini, dan aku ber janji untuk hari-hari mendatang aku akan hidup baik-baik. Aku minta diri...!"
Dan sebelah berkata begitu, Cu Cu Ciang telah memutar tubuhnya, dan berlalu.
Phang Kui In girang sekali melihat Yo Him benar-benar telah menjadi seorang pendekar yang memiliki kepandaian melrbihi dirinya sendiri.
Tadi saja Phang Kui In telah kena dirubuhkan lawannya dan tidak berdaya memberikan perlawanan kepada Cu Cu Ciang, tetapi justru Yo Him hanya dalam beberapa jurus saja telah berhasil menghajar lawan yang tangguh itu.
"Bagus! Bagus! Memang luar biasa kepandaianmu, Him-te (adik Him)!"
Tiba-tiba terdengar orang memuji dengan suara yang nyaring, suaranya seorang wanita.
Yo Him dan Phang Kui In menoleh terkejut, mereka melihat dikejauhan berdiri seorang wanita, yang tidak lain dari Kwee Siang.
"Sejak kedatangan orang she Cu itu, aku telah keluar memperhatikan gerak-geriknya, tetapi karena aku melihat Yo Him bisa menghadapinya aku membiarkan saja tanpa memperlihatkan diri."
Phang Kui In telah menjura dan katanya.
"Terima kasih atas perhatian nona Kwee, juga tidak percuma Yo Him menjadi anaknya Sin Tiauw Taihiap, lihat saja dalam usia819 semuda ini dia telah berhasil merubuhkan seorang lawan setangguh Cu Cu Ciang. Menurut pendengaran, Cu Cu Ciang yang bergelar Thian San Hok Mo itu sangat tinggi sekali kepandaiannya! Dan tadi memang telah terbukti, betapa aku telah dirubuhkannya dengan mudah sekali olehnya ! Maka hal itu bisa dijadikan ukuran bahwa kepandaianku masih berada dibawah kepandaian Him-jie, sebab orang yang berhasil merubuhkan aku itu telah dipukul rubuh pula oleh Yo Him hanya dalam beberapa jurus saja. Bukankah itu sangat menggembirakan sekali ? Tentu Sin Tiauw Taihiap jika mengetahui hal ini akan girang sekali...!"
Mendengar disinggungnya nama Sin Tiauw Taihiap, maka Kwee Siang jadi berobah muram.
"Sayang kita tidak berhasil menemui jejak Yo koko...!"
Kata Kwee Siang seperti juga menggumam kepada dirinya sendiri. Phang Kui In yang melihat sikap si gadis telah menghela napas.
"Tetapi jika kita sabar mencarinya, suatu saat kita akan bertemu dengan Yo Taihiap..!"
Katanya menghibur. Kwee Siang mengangguk. Baru saja mereka mau kembali kekamar masing-masing, tiba-tiba terdengar suara seseorang berkata dengan sabar.
"Kalian tengah mencari Yo Taihiap, apakah keperluan kalian?"
Suara itu ternyata adalah suara seorang wanita.
Semuanya menoleh, dan mereka melihat tidak jauh dari tempat mereka berdiri, tampak berdiri seorang wanita berwajah cantik se kali, memakai gaun berwarna hijau dengan pita yang kuning.
Usianya mungkin baru dua puluh tiga tahun.
Phang Kui In merangkapkan tangannya memberi hormat kepada wanita itu.
"Siapakah nona, bolehkah kami mengetahui nama dan gelaran nona yang harum?'"820
"Aku Kim Lian, she (marga) Thang, menyahuti gadis itu dengan suara yang tetap halus dan sabar...Tadi aku telah bertanya ada persoalan apa kalian ingin mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko?"
"Kami memiliki sedikit urusan dengan Yo Taihiap!"
Menyahuti Phang Kui In.
"Oya? Memang dengan mencari seseorang tentunya memiliki urusan ! Tidak mungkin kalian tidak memiliki urusan dengan Yo Taihiap lalu kalian men cari-carinya dan setelah bertemu hanya bengong saja?"
Ditanggapi begitu, muka Phang Kui In jadi berobah merah.
"Benar apa yang dikatakan nona, kami memang memiliki sedikit urusan yang sulit dijelaskan disini, terima kasih atas perhatianmu nona Thang !"
Si gadis telah senyum lagi sikapnya sangat sabar.
"aku tahu apa maksudmu mencari Yo Taihiap"
Kata gadis itu sambil tetap tersenyum. Muka Phang Kui In bertiga jadi berobah bahkan karena heran dan ingin tahu telah bertanya "nona mengetahui maksud kami mencari Yo Taihiap ?"
"Ya "
"Coba nona katakan, jika benar aku akan membenarkan, jika salah akupun akan memberitahukan bahwa dugaan nona meleset"
Kata Phang Kui In.
"Hemm. Kalian tentunya penasaran dan tidak percaya bahwa aku mengetahui apa tujuan dan maksud kalian mencari Yo Taihiap bukan ?"
Tanya si gadis.821
"Ya katakanlah ! jika memang terkaan nona tepat, tentu kami akan kagum dan menghormati akan kelihayan nona....!"
Menyahuti Kui In.
"Kalian mencari Sin Tiauw Tayhiap karena ingin memperkenalkan engko kecil itu adalah anaknya Yo Taihiap bukan?"
Tanya si gadis Terkaan yang tepat seperti itu membuat Phang Kui In bertiga sementara waktu menjadi tertegun karenanya. Kemudian Kwee Siang telah berkata.
"Cici hebat benar terkaanmu, tepat sekali! Dari mana engkau mengetahuinya?"
Thang Kim Lian tertawa kecil, lalu katanya.
"Aku memiliki ilmu meramal"
Kwee Siang memandang setengah percaya dan setengah tidak.
Begitu juga Phang Kui In dan Yo Him Mereka menduga bahwa gadis ini telah bersembunyi cukup lama ditempat tersebut waktu mereka sedang berurusan dengan Thian San Hok Mo Cu Cu Biang sehingga dia telah mendengar semua pembicaraan Cu Cu Ciang dengan Yo Him.
"Tentunya encie Thang mencari kami memiliki urusan juga, bukan?"
Tanya Kwee Siang kemudian.
"Oh, tentu, tentu! jika aku tidak memiliki urusan aku tidak akan mencari kalian."
Menyahuti si gadis dengan suara yang nyaring, lebih tinggi dari nada sebelumnya.
"Aku diutus oleh pemimpin kami untuk mencari kalian, mengundang agar singgah dimarkas kami."
Perkataan wanita she Thang ini membuat Phang Kui In bertiga bertambah heran.
"Pemimpinmu mengundang kami?"
Tanya Phang Kui In masih belum bisa menerkanya "Benar ....."
Gadis itu telah mengangguk cepat sekali "Aku sebagai atusan untuk mengundang kalian singgah dimarkas822 kami!"
Dan dia telah tersenyum manis lagi, wajahnya yang cantik jadi semakin gemilang dibawah cahaya rembulan dimalam hari itu.
"Apa nama perkumpulanmu nona ? Dan siapakah ketuamu itu ?"
Tanya Phang Kui In.
"Nanti jika kalian telah bertemu dengan pemimpinku, engkau baru mengetahuinya"
Sahut si gadis.
"Mana mungkin kami pergi, sedangkan orang yang mengundang kami itu tidak kami ketahui siapa adanya"
Membantah Phang Kui In.
"Tidak perlu gelisah dan ragu, kalian ikut saja denganku, dan nanti setelah bertemu dengan pemimpin kami, kalian akan mengetahuinya siapa kami..." . Phang Kui In berdiri ragu-ragu dan dia telah memandang kepada Yo Him dan Kwee Siang seperti ingin meminta pendapat kedua kawannya itu. Tetapi Yo Him dan Kwee Siang juga tidak bisa memberikan tanggapan apa-apa, mereka menyerahkan segalanya kepada Phang Kui In untuk memutuskannya. Saat itu si gadis telab bertanya lagi .
"Bagaimana keputusan kalian, menerima undangan ini atau tidak ?"
Phang Kui In cepat-cepat merangkapkan tangannya, dia berkata dengan suara yang sabar .
"Maafkan nona, bukan kami tidak menghargai undangan yang diberikan ketuamu ini... tetapi sayang sekali kami tidak mengenal dan tidak mengetahui. siapa pemimpin kalian itu dan apa tujuannya...!"
Mendengar perkataan Phang Kui In, si gadis telah tersenyum lebar.
"Ya"
Kalian memang agak ragu tampaknya !
Baiklah aku memberitahukan juga, kami dari perkumpulan Tiauw pang dan pemimpin kami, Ciong Lam Cie mengundang Kalian.." 823 Si gadis bicara dengan suara yang perlahan dan sekata demi sekata dengan mulut tersenyum dan wajah yang berseri tidak memperlihatkan tanda-tanda dia tengah mengundang seorang yang memiliki kepandaian, atau setidak tidaknya perasaan bermusuhan dengan pangcu Tiauw Pang.
"Tiauw Pang ?"
Tanya Phang Kui In dengan suara terkejut. Begitu juga Yo Him dan Kwee Siang jadi sangat terkejut, mereka telah mengawasi wanita she Thang itu dengan sorot mata yang tajam.
"Benar aku dari Tiauw Pang dan menerima tugas dari Pangcu kami untuk mengundang kalian.....!!"
"Hem,"
Kalau begitu engkau bukan manusia baik-baik !"
Kata Phang Kui In yang akhirnya jadi berobah tidak gembira dan tidak menghormat lagi pada gadis she Thang itu. Sampaikan kepada pangcumu itu, tidak dapat, kami terima..!"
Setelah berkata begitu Phang Kui In berhenti sejenak, kemudian dia telah berkata lagi.
"Hemm, perlakuannya beberapa saat yang lalu telah cukup membuat kami menderita, kau pergilah, jangan memancing kemarahanku !"
Thang Kim Lian tampak tenang-tenang saja, dia telah berkata dengan suara yang tawar .
"Jika kalian tidak mau menerima undangan secara baik-baik seperti sekarang ini, tentu kelak kalian akan menerima perlakuan yang tidak enak menerima undangan secara paksa. Maka sekarang aku anjurkan lebih baik kalian memilih undangan dengan cara yang baik seperti sekarang ini .. !' Muka Kwee Siang bertiga jadi berobah merah padam, karena mereka telah diliputi kemarahan. Dengan di jelaskannya bahwa Thang Kim Lian ini adalah anggota dari perkumpulan Tiauw Pang yang dipimpin oleh Ciong Lam Cie, mereka jadi teringat perlakuan yang diterima mereka oleh ketua Perkumpulan Rajawali itu beberapa waktu yang lalu824
"Kami sudah mengatakan dengan jelas bahwa kami tidak bisa menerima undangan pangcu kalian, sekarang silahkan ...!"
Waktu berkata "silahkan"
Itu, tampak Pang Kui In memperlihatkan sikap seperti sedang mempersilahkan tamu untuk berlalu.
Muka Thang Kim Lan telah berobah tidak seperti tadi, lembut dan manis.
Sekarang justru mukanya memperlihatkan sikap yang sungguh-sungguh dan keras.
"Hemm, baiklah! Kalian sendiri yang menolak undangan secara baik-baik ini...walaupun aku telah berusaha memberikan pengertian kepadamu, bahwa kalian lebih baik memilih jalan yang baik itu, dengan memenuhi undangan yang diajukan oleh Pangcu kami, namun....kalian kepala batu ! Baiklah ! Aku akan melihat sampai berapa tinggikah kepandaian mu bertiga sehingga kalian berani jual lagak begitu tinggi dan berani menolak undangan pangcu kami....!"
Dan setelah berkata begitu, Thang Kim Lian melepaskan angkin (pengikat pinggang) yang berwarna kuning itu, dia mengedutnya dan ikat pinggang itu seperti juga cambuk mengeluarkan suara menggeletar ditengah udara.
Itulah menunjukkan lwekang Thang Kim Lian bukan kepandaian yang sembarangan, dengan hanya memegang satu dari ujung angkin itu, dia telah bisa menyalurkan lwekangnya, maka angkin yang lemas itu bisa berobah menjadi tegang kaku seperti lempengan besi dan bisa menjadi lemas seperti juga seekor naga yang tengah melingkar lingkar.
Keadaan demikian telah membuat Phang Kui In jadi terkejut juga.
Dia menyadari bahwa kepandaian .wanita ini tidak berada disebelah bawahnya.
Mungkin juga berada diatas kepandaiannya, karena dengan sehelai ankin saja dia telah bisa mempergunakannya sebagai senjata yang sanggup diandalkannya.
"Nah, sekarang siapa yang ingin menerima pelajaran dariku ?, apakah sekaligus bertiga kalian mengeroyok diriku ?"
Itulah825 kata-kata menghina yang keterlaluan dan membangkitkan kemarahan Phang Kui In bertiga.
"Phang susiok, biar aku yang menghadapinya !"
Seru Yo Him.
Phang Kui In dan Kwee Siang yang telah mengetahui bahwa kini Yo Him memiliki kepandaian yang tinggi, maka mereka percaya dengan majunya Yo Him memang lebih baik, dibandingkan jika mereka yang maju.
Karena kepandaian Yo Him sekarang sudah berada di atas mereka, walaupun usia Yo Him itu masih muda sekali.
"Baiklah Himjie, hati-hati menghadapinya, dia seorang ahli lwekeh"
Phang Kui In telah memperingati Yo Him. Yo Him hanya mengangguk saja dan telah melangkah maju mendekati Thang Kim Lian.
"Nona Thang"
Kata Yo Him sambil merangkapkan kedua tangannya, dia telah menjura memberi hormat "silahkan nona menyerang, siauwte hanya akan menuruti saja apa yang hendak dilakukan olehmu, nona .."
"hemmm, memang engkau sebagai putera Yo Ko tidak percuma. Dan sekarang engkaupun baru saja memperoleh sebuah gelaran bukan ?"
Yo Him mengangguk perlahan, dia tidak mau berdusta.
"Ya, gelaran itu kuperoleh dari seorang sahabatku "
Sahutnya.
"Aku tidak bertanya mengenai sahabatmu itu, tetapi aku katakan sekarang engkau telah memiliki gelaran, yaitu sebagai Sin Tiauw Thian Lam (si Rajawali Sakti dari Langit Selatan), bukan ?"
Yo Him kembali mengangguk.826
"Tidak salah !"
"Dan sebagai putra dari Sin Tiauw Taihiap memang engkau sesuai sekali memakai gelaran Sin Tiauw Thian Lam ! Tetapi tahukah engkau bahwa antara pangcu kami dengan ayahmu itu terdapat ganjalan dengan hati yang tidak kecil?"
"Aku telah tahu, Ciong Lam Cie sendiri yang telah mengatakannya kepada kami.!"
"Bagus, bagus !"
Kata Thang Kim Lian.
Jika memang engkau telah mengetahuinya itulah lebih baik lagi....!
Tetapi disamping itu kau juga harus hati-hati, angkinku ini tidak bermata, sewaktu waktu bisa melibat batang lehermu dan engkau akan binasa...
"!"
Dan setelah berkata begitu, dengan cepat si gadis mengedut angkin kuningnya itu, sehingga menggeletar di tengah udara.
Lalu dia berkata lagi "Mari kita mulai !
Engkau yang lebih muda silahkan menyerang aku tiga jurus lebih dulu, dan selama tiga jurus itu aku akan mengalah !"
Yo Him merasa terhina dengari kata-kata terakhir si gadis she Thang itu. dia telah menggelengkan kepalanya.
"Cara itu Kurang baik , .!"
Katanya. Lebih baik kita menyerang berbareng saja ."
Muka Thang Kim Lian jadi berubah tidak senang.
"Bocah, engkau terlalu sombong! Aku sengaja mengalah membiarkan engkau tiga jurus melancarkan serangan kepadaku, tetapi nyatanya engkau terlalu besar kepala! Baiklah, jika engkau tidak mau menerima kebaikan hatiku itu, biarlah terimalah seranganku ini....!"
Sambil mengakhiri perkataannya itu si gadis she Thang telah menghentakan tali ikat pinggangnya, dan disaat itulah terdengar suara memgeletar ditengah udara.
Tampak angkin itu meliuk liuk seperti seekor ular yang panjang, ujungnya akan menotok jalan darah didada Yo Him.827 Kwee Siang yang melihat ini telah keterlepasan berteriak "Adik Him, hati-hati ...!"
Yo Him mengiyakan, tetapi dia tidak bisa memecahkan perhatiannya, karena saat itu ikat pinggang Thang Kim Lian telah menyambar datang dengan cepat sekali, menjurus kearah lehernya, akan melibas lehernya pemuda tersebut.
Yo Him mana mau membiarkan lehernya dilibat oleh angkin Thang Kim Lian.
Dengan mengeluarkan suara seruan perlahan, dia melejit kesamping sambil membungkukkan tubuhnya.
Maka angkin itu telah lewat diatas kepalanya.
Mempergunakan kesempatan itu, tampak Yo Him telah menggerakan tangannya yang kiri dengan kelima jari tangan terbuka.
Itulah satu jurus dari Pek Kong Ciang (Pukulan udara kosong).
Thang Kim Lian terkejut melihat cara Yo Him menyerang.
Jurus pukulan yang dipergunakannya itu memang merupakan jurus yang biasa saja.
Tetapi dipergunakan oleh Yo Him ternyata dari jurus Pek Kong Ciang itu jadi hebat luar biasa.
Angin pukulannya itu menderu-deru seperti runtuhnya gunung, karena Yo Him mempergunakan jurus itu sambil disertai oleh tenaga lweekang Kui Im Cin Kang dan juga menggabungkannya dengan ilmu pukulan yang diajarkan oleh Lie Bun Hap.
"Ihhh.....!"
Thang Kim Lian telah mengeluarkan suara seruan tertahan, dia menjejakkan kaki, tubuhnya telah melompat dengan gesit ketika tubuhnya masih berada ditengah udara dia telah menggerakkan angkinnya yang segera menyambar kepergelangan tangan kanan Yo Him.
Baca Juga: Bayangan Bidadari Kho Ping Hoo
Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis 4