Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 4

Eps 4 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

"Kebetulan barisan ini adalah lawan kebalikannya dari Ngo heng-tin (lima unsur). Asal kau dapat masuk dari lobang tengah diantara kedua pohon itu, lantas kekiri tiga langkah dan maju setindak, menggeser kekanan lima langkah kau sisihkan dahan pohon yang melintang itu lalu kau pukul roboh dua gundukan batu dihadapanmu terus maju lempang kedepan delapan langkah, kau sapu lagi gundukan batu terbesar itu, barisan ini terhitung sudah kau pecahkan. Asal kau dapat menolong keluar Racun diracun, Racun utara dan para kerabat dari Bwe-hwa-hwe itu sangat gampang digebah pergi. Karena aku kuatir Racun utara menggunakan bisanya, maka lebih baik kau saja yang menerjang kedalam barisan itu."

Suma Bing mengangguk paham, ujarnya.

"Baik, tapi aku hendak tempur Racun utara dulu."

"Kau hendak tempur Racun utara?"

Suma Bing mengiakan sambil merogoh keluar Cincin iblis terus dipakai dijarinya.

Cincin iblis adalah benda pertanda dari Lam-sia, dia ingin secara resmi sebagai murid Lam-sia berhadapan dimuka Bu-lim.

Pesan Setan barat yang disampaikan Ong Fong-jui sudah meresap dalam sanubarinya, tidak boleh dia melemahkan gengsi dan nama serta kedudukan suhunya yang ditakuti dan tenar itu.

Dia pernah menelan seluruh batang rumput ular, badannya kebal akan segala racun, subonya memberikan sebutir Kiutjoan-hwan-yang-tjau-ko hingga tenaga dalamnya bertambah lipat ganda, dia ada pegangan dan mantep betul untuk menghadapi Racun utara salah satu dari Bu-lim-su-ih yang sejajar dengan tingkat gurunya.

Si orang berkedok mengunjuk rasa kurang tentram, ujarnya.

"Hian-te, Racun utara sejajar dengan gurumu, jangan pula kau pandang rendah para jagoan Bwe-hwa-hwe itu..."

Suma Bing menjawab dengan angkuhnya.

"Aku tahu."

Begitu bergerak tubuhnya berkelebat maju dengan langkah lebar ia memasuki rimba lebat itu.

"Siapa itu?"

Diiring suara bentakan ini dua jagoan Bwe-hwahwe memburu keluar mencegat ditengah jalan.

Waktu Suma Bing angkat kepala, dua jalur sinar matanya yang dingin membeku bagai tajam pedang melesat menatap dua orang dihadapannya.

Tanpa kuasa kedua jagoan Bwe-hwa-hwe itu bergidik seram dan menyedot hawa dingin, salah seorang diantaranya segera membuka kata memaki.

"Siautju, kalau masih ingin hidup lekas menggelundung pergi!"

Acuh tak acuh Suma Bing mendengus hina, tangan kanan per-lahan2 diangkat, selarik sinar merah tajam segera memancar keluar dari tengah jarinya.

"Cincin iblis!"

"Kau... Suma Bing murid Lam-sia?"

"Benar, jiwa kalian tidak akan penasaran dan boleh mati meram!"

Seketika kedua jagoan Bwe-hwa-hwe itu undur ketakutan, serasa arwah mereka sudah mendahului terbang keluar badan.

Begitu putar tubuh segera mereka hendak lari...

Dimana terlihat sinar merah menyamber disusul dua jeritan ngeri lantas darahpun berhamburan, badan kedua orang itu seketika terbanting keras dan melayang jiwanya.

Jeritan mereka yang menyayat hati membuat gempar dan gaduh situasi dalam hutan yang sunyi senyap itu.

Kontan empat orang tua berseragam hitam berloncatan keluar, satu diantaranya segera berseru kejut dan ketakutan.

"Dialah Suma Bing, awas lawan berat, serang!"

Serentak empat jalur angin pukulan dahsyat bergelombang menimpa kearah Suma Bing.

Terhadap setiap insan dari Bwe-hwa-hwe boleh dikata Suma Bing sudah membenci sampai ketulang sumsum dan tujuh turunan.

Besar niatnya hendak menumpas habis para durjana dari serikat laknat ini.

Dimana kedua tangannya terayun gelombang panas dari angin pukulannya segera menerjang maju memapak gabungan tenaga empat musuhnya itu.

Pukulan Suma Bing ini mengandung sepuluh bagian kekuatan Kiu-yang sin-kang.

Kontan terdengar dentuman keras bagai bom atom meledak.

Seketika orang tua seragam hitam yang menerjang tiba lebih dulu terbang balik kedalam rimba dan menghamburkan hujan darah, sedang dua yang lain terhuyung jatuh duduk diatas tanah, mulut dan hidungnya bernoda darah kental.

Gerak gerik Suma Bing tidak berhenti begitu saja, tangkas luar biasa tubuhnya berkelebat mendesak maju kearah luar barisan dimana Racun diracun tengah terkurung.

Sampai pada detik itu baru Suma Bing melihat tegas akan situasi sekeliling barisan ini.

Dahan dan daon pohon kering tertumpuk dimana2 ditaburi belirang dan bahan bakar lain yang gampang terjilat api, naga2nya mereka hendak hidup2 membakar mati Racun diracun dalam barisan.

Sebaliknya Racun diracun masih duduk sila dengan tenang, se-akan2 tidak mendengar keributan yang terjadi diluar barisan.

Begitu melihat Suma Bing muncul disitu, kontan Racun utara segera mengunjuk sikap mengancam gusar, serunya.

"Tuan2, silahkan mundur ketempat masing2."

Benar juga para jagoan Bwe-hwa-hwe itu segera mundur teratur tanpa komentar. Maka terdengar Racun utara berkata dingin.

"Suma Bing, sungguh tak duga kau datang mengantar kematian."

Suma Bing tertawa sinis katanya.

"Jadah tua berbisa, ingat perkataanku beberapa waktu yang lalu. Hari ini akan kubikin kau muntah darah juga."

Dihadapan sekian banyak orang luar dimaki sebagai jadah tua, sungguh murka Racun utara bukan olah2, wajahnya menyeringai bengis dan berkata.

"Tapi Lohu segera akan cabut jiwamu."

"Hm, takabur benar, mari kau coba2."

Ejek Suma Bing.

Tidak menanti kata2 Suma Bing habis diucapkan, Racun utara sudah membentak menggeledek sambil kirim sebuah hantaman, sedemikian dahsyat pukulannya ini seakan ingin sekali pukul ia bikin hancur tubuh Suma Bing menjadi perkedel.

18 MAU MENOLONG MALAH DITOLONG Sudah tentu Suma Bing tidak berani memandang enteng serangan musuh ini, bercekat hatinya, serentak dikerahkan seluruh tenaganya untuk balas menyerang.

Dentuman dahsyat memekak telinga memecah kesunyian begitu dua angin pukulan saling tumbuk ditengah udara.

Ke-dua2nya terpelanting mundur selangkah.

Sungguh kejut Racun utara bukan kepalang, bahwa hanya terpaut beberapa hari saja darimana datangnya Lwekang si bocah ini sedemikian hebat?

Hal ini benar2 membikin jatuh pamor dan gengsinya, bahwa seorang angkatan muda dapat mengimbangi kepandaian dan tenaga dalamnya.

Maka lebih besar lagi tekadnya untuk melenyapkan jiwa Suma Bing, setelah terlongo sebentar, serangan kedua sudah dilancarkan lagi.

Pukulan kali ini mengerahkan seluruh kekuatan Hian-in-kang yang terlatih puluhan tahun, badai angin dingin yang menyesakkan napas membuat tiga tombak sekelilingnya terasa dingin membeku.

Sementara itu, Suma Bingpun sudah bersiap kerahkan seluruh kekuatan Kiu yang sin kang untuk menangkis.

Taufan panas ber-gulung2 melanda kedepan dengan dahsyatnya.

Seketika Racun utara mendehem sekali, tubuhpun ber-goyang2.

Sebaliknya Suma Bing menggigil kedinginan, tubuh terasa hampir membeku, tanpa kuasa tubuhnya terhuyung mundur selangkah.

Semua penonton termasuk para kerabat dari Bwe-hwa-hwe berobah tegang.

Dalam pada itu, dimana kedua tangan Racun utara diulurodotkan, ilmu Hian in kang nya lagi2 sudah merangsang tiba.

Si orang berkedok yang sembunyi diluar rimba sana berkeringat dingin dan kuatir akan keselamatan Suma Bing.

Disamping itu diapun merasa heran dan terkejut akan Lwekang Suma Bing yang mendadak bertambah berlipat ganda sangat lihay lagi.

Apa mungkin dia mendapat sesuatu rejeki yang aneh?

'Bum' ditengah suara dentuman ini, kedua pihak tersurut lagi masing2 selangkah.

Jelaslah bahwa Lwekang atau kekuatan mereka berimbang.

Sungguh gusar dan malu Racun utara bukan olah2, segera ia mendesak maju dan beruntun kirim tiga kali serangan berantai, jurus demi jurus lebih lihay dan lebih ampuh, apalagi sekaligus dilancarkan maka bukan olah2 hebat dan dahsyat perbawanya.

Dalam gebrak terakhir ini mau tak mau Suma Bing harus mengakui bahwa dirinya kalah latihan, seketika dia terdesak mundur tiga tindak.

Mendapat peluang yang menguntungkan ini Racun utara tidak me-nyia2kan, gaya silat yang aneh dan lihay beruntun diberondong keluar bagai air bah melanda, se-akan2 sekali serang dia ingin mengkeremus musuh kecilnya ini yang dianggapnya masih berbau bawang, tapi berani unjuk gigi.

Suma Bing kertak gigi, ajaran suhunya yang paling lihay dan ampuh juga tidak kalah perbawanya diboyong keluar untuk berhantam secara keras lawan keras, sedikitpun dia tidak sudi unjuk kelemahan dihadapan musuh bebuyutan perguruannya ini.

Gegap gempitalah sekitar gelanggang pertempuran, tigapuluh jurus kemudian kebandelan Suma Bing yang bersilat secara tidak mengenal kompromi ini kiranya membawa hasil juga, lama kelamaan Racun utara semakin payah terdesak dibawah angin dari menyerang terbalik diserang.

Kiranya setelah keracunan Ban-lian-tok-bo atau bisa diantara raja bisa dari Racun diracun, meskipun Racun utara paling membanggakan akan permainan serta kemahirannya menggunakan racun, toh dalam waktu singkat tidak mungkin dia mampu membersihkan atau mencuci bersih racun berbisa yang mengeram dalam tubuhnya.

Maka begitu saling hantam dan kelewat besar menggunakan tenaga racun yang mengeram dalam tubuhnya mulai bekerja semakin cepat mengikuti aliran jalan darah.

Maka semakin lama dia harus memeras keringat dan terdesak terus dibawah angin.

Masih untung kalau dia berlaku tenang, tapi semakin dia gugup dan malu menjaga gengsi apa segala semakin payah dan ricuhlah keadaannya.

Adalah sebaliknya semakin bertempur semangat Suma Bing semakin berkobar, tenaga dalam semakin lancar dan bergairah penuh, nyata bahwa Kiu-tjoan-hoan-yang-tjau-ko mulai menunjukkan kemustajabannya.

Terdengar sebuah geraman keras disertai pekik nyaring kesakitan.

Kontan terlihat Racun utara Tangbun Lu tergusur tiga langkah, menyemprot darah segar, tubuhnya lemas terkulai hampir roboh.

"Tua jadah berbisa, bagaimana?"

Jengek Suma Bing temberang.

Muka Racun utara merah membara, wajahnya mengunjuk rasa kebencian yang ber-limpah2.

Sungguh mimpipun dia tidak menduga bahwa dirinya bakal terjungkal ditangan seorang angkatan muda.

Memang kekalahannya ini sangat menggenaskan.

Se-konyong2 empat orang tua berwajah pucat ke-hijau2an bermunculan dihadapan Suma Bing.

Diam2 terperanjat Suma Bing, senjata keempat orang tua didepannya ini boleh dikata sangat aneh jarang terlihat dikalangan Bulim.

Itulah sebuah tongkat panjang tiga kaki yang ujungnya berbentuk persis dengan jari2 tangan manusia yang tergenggam, seluruh tangkai dari ujung penuh ditaburi duri2 kecil yang tajam berkilau ke-biru2an.

Terang kalau senjata mereka ini dilumuri racun berbisa yang membahayakan jiwa manusia.

"Saudara kecil, hati2 kau, mereka adalah Kangouw-su-ok yang sudah kenamaan kekejaman dan kekejiannya. Mereka adalah pelaksana atau algojo dari seksi hukum dalam Bwe-hwa-hwe.", itulah bisikan si orang berkedok yang telah menggeremet maju dibelakang Suma Bing. Suma Bing manggut2 sebagai jawaban bahwa dia sudah maklum. Salah seorang Kangouw-su-ok (empat durjana dari Kangouw) berpaling dan berkata kepada Racun utara.

"Biar bocah ingusan ini kita berempat yang melayani. Ada lebih penting Tjianpwe segera membereskan Racun diracun!"

Dengan sikap rikuh dan risi Racun utara membesut noda darah dimulutnya lalu berjalan cepat kearah barisan yang telah diaturnya.

Pada saat itulah se-konyong2 Kangouw-su-ok mendadak perdengarkan suara tawa melengking berbareng, lalu bersamaan pula menggerakkan senjata tongkat kepelannya yang beracun mengurung seluruh tubuh Suma Bing.

Dalam waktu yang bersamaan, dari sebelah sana tiga lelaki seragam hitam lainnya segera menubruk kearah si orang berkedok.

Terjadilah pertempuran sengit, bahwa kepandaian Kangouw-su-ok sudah kenamaan ditambah gabungan senjata mereka benar2 hebat perbawanya.

Mereka bertempur seru melawan Suma Bing.

Disebelah sana agaknya kepandaian si orang berkedok berkelebihan menghadapi tiga laki2 bertubuh kekar itu.

Sementara itu, Racun utara berdiri diluar barisan dan tengah membentak gusar.

"Racun diracun, lekas serahkan Pedang berdarah, supaya kau terhindar dari kematian."

Bola mata Racun diracun yang banyak putih dari hitamnya ber-putar2, suaranya berejek dingin.

"Tua keladi, agaknya kau sedang bermimpi!"

"Kau tidak menyesal?"

"Tiada yang perlu disesalkan. Adalah kau tua keladi ini, aku merasa hina bagi kau. Sungguh tidak malu kau menggunakan pengaruh Bwe-hwa-hwe untuk mengurung aku disini..."

"Tutup mulutmu, sebenarnya kau ingin hidup atau mati?"

"Cerewet!"

"Hehehe, asal Lohu membuka mulut, segera kau akan terbakar hangus menjadi abu."

"Silakan kau bebas buka mulut!"

"Sebenarnya kau mau tidak serahkan Pedang darah itu?"

"Tidak!"

"Baik, jadi kau memang bertekad hendak mati?"

"Tua keladi, mungkin kau kenal juga akan barang yang dinamakan Sam-li-hiang?"

Berobah tegang wajah Racun utara, serunya kaget.

"Sam-li-hiang?"

Racun diracun bergelak menggila, serunya.

"Benar, 'harum tiga lie', aku sudah sebar permainanku itu dalam barisanmu ini. Kalau kau berani melepas api, begitu permainanku itu terjilat api segera berkembang keempat penjuru, dalam jarak lingkungan tiga li jangan kata hanya beberapa gelintir manusia seperti kalian ini, binatang atau burung yang bisa terbangpun akan terbunuh mampus semua!"

"Lohu tidak gampang kena gertak!"

Seru Racun utara penuh kebencian.

"Kau memang kuat bertahan, tapi kau jangan lupa para kurcaci dari Bwe-hwa hwe itu, agaknya mereka sudah suratan takdir harus mampus."

Ucapan terakhir ini membuat para kerabat Bwe-hwa-hwe yang mengepung diluar barisan mundur ketakutan.

Ingin hidup adalah menjadi hak semua manusia, dan itu sudah jamak, siapa yang rela mengantar kematian secara konyol.

Seumpama Racun utara benar2 nekat memberi perintah melepas api belum tentu mereka mau patuh akan perintahnya itu.

Sementara dalam gelanggang, mendadak terdengar suara pekik kesakitan, kiranya dua diantara tiga lelaki kekar yang mengeroyok si orang berkedok sudah pecah hancur kepalanya terkena bogem mentah lawannya.

Segera seorang tua dan dua orang pertengahan umur maju menambal pengeroyokan yang tidak seimbang dalam jumlah, satu lawan empat.

Sementara itu, meskipun lihay, Kangouw-su-okpun tidak mendapat keuntungan melawan Suma Bing, untung permainan senjata mereka sangat aneh, namun demikian toh mereka sudah tidak mampu balas menyerang lagi.

Diam2 Suma Bingpun perhatikan percakapan antara Racun utara dengan Racun diracun.

Seandainya benar semua jagoan atau semua orang yang hadir sama2 mati, tapi Racun diracun sendiri juga tidak luput akan terbakar hangus.

Untuk ini dia harus berusaha secepat mungkin untuk menolong Racun diracun supaya terhindar dari kematian.

Satu pihak dirinya berhutang budi, dilain pihak Pedang darah juga harus direbut kembali.

Dilain pihak, setelah merenung dan berpikir sekian lamanya, se-konyong2 Racun utara bergelak tawa kepuasan, serunya.

"Racun diracun, akal licikmu akan sia2, Lohu akan perintahkan mereka mundur secepatnya keluar lingkungan tiga li, lalu Lohu sendiri yang akan melepas api, bukankah kau sendiri tidak mampu keluar dari kurungan!"

Tindakan Racun utara ini memang sangat licik dan licin, seketika Racun diracun terpaksa mulutnya tidak mampu mengeluarkan suara.

Se-konyong2 Suma Bing bersuit panjang, beruntun ia kirim delapanbelas kali pukulan.

Dimana bayangan pukulannya berkelebat salah satu dari Kangouw-su-ok segera menjerit seram, tubuhnya terbang muntah darah, sedang yang satu lagi, terpental jauh senjatanya dan terhuyung jatuh duduk.

Dua dari keempat lawannya sudah keok, Suma Bing lebih gampang dan ringan lagi membereskan sisa dua musuhnya.

Tiga gebrak kemudian kedua sisa musuhnya inipun lari ter-birit2 membawa luka.

Sekali menggoyang tubuh gesit sekali Suma Bing melesat menubruk kearah barisan.

Bertepatan dengan itulah terdengar suara kesiur angin baju yang melambai mendatangi, disusul beberapa bayangan orang melesat tiba memasuki gelanggang.

Serta merta Suma Bing menghentikan luncuran tubuhnya.

Waktu ia menegasi berdetak keras jantungnya.

Orang terdepan dari rombongan orang2 yang mendatangi ini mengenakan kedok berpakaian ungu, itulah Ketua Bwe-hwa-hwe adanya.

Dibelakangnya beriring mengikuti tiga laki2 dan seorang perempuan, dan perempuan itu tak lain tak bukan adalah pelindung Bwe-hwa-hwe si mawar beracun Ma Siok-tjeng.

Tiga laki2 lainnya agaknya juga bukan tokoh2 sembarangan.

Begitu melihat Ma Siok-tjeng si mawar beracun yang bersifat cabul ini, sontak Suma Bing merasakan darahnya mengalir deras, wanita jalang ini lebih dibencinya daripada Ketua Bwe-hwa-hwe itu.

Bukankah karena perbuatan cabulnya itu maka dirinya sampai mengotori kesucian Phoa Kin-sian.

Begitu tiba segera Ketua Bwe-hwa-hwe menyapu pandang keempat penjuru, lalu berkata kepada Racun utara.

"Tuan lebih baik istirahat sebentar. Biar aku yang membereskan dan menguasai keadaan disini!"

Lalu ia berpaling kearah si mawar beracun dan berkata lagi.

"Ma-houhoat, kau ringkus si orang berkedok itu!"

Bergegas Ma Siok-tjeng mengiakan, dengan langkahnya yang gemulai menggiurkan ia menuju kehadapan si orang berkedok.

Kedua mata Ketua Bwe-hwa-hwe ber-kilat2 menyedot semangat orang menatap wajah Suma Bing.

Situasi dalam gelanggang seketika menginjak kearus yang menegangkan.

Melihat musuh besarnya ini sepasang mata Suma Bing me-nyala2 geram, tak kuat lagi dia menahan gelora hatinya, wajahnya penuh terselubung nafsu membunuh, per-lahan2 ia melangkah maju beberapa tindak, nadanya dingin mendesis.

"Tuan Ketua, mari kita selesaikan perhitungan kita yang tertunggak itu!"

Ketua Bwe-hwa-hwe menyeringai iblis, ejeknya.

"Suma Bing, beberapa kali kau lolos dari tanganku, terhitung jiwamu yang besar beruntung. Tapi hari ini, kau sudah pasti mati!"

Suma Bing ganda mendengus hina.

"Bocah ingusan, jangan kau takabur, segera Pun-hwe tiang (aku) membuktikan perkataanku tadi."

"Hari ini akan kubeset kulitmu hidup2, aku juga bisa segera membuktikan ucapanku ini."

"Baik, silahkan bocah ingusan turun tangan?"

Suma Bing menggerung gusar, serunya.

"Hitung2 kau seorang Ketua, tapi kenapa malu bertemu orang, tentu kau bukan kaum keroco yang tidak mempunyai nama bukan?"

"Hehehe, bocah ingusan, tidak sukar kau hendak mengetahui nama dan asal-usul Ketua ini, nanti kalau napasmu sudah tinggal hembusan yang terakhir, pasti akan kuberitahukan kepadamu. Tidak akan kubuat kau mati penasaran."

Saking menahan gusar, Suma Bing merasa dadanya hampir meledak, sambil berteriak keras dilancarkannya sebuah pukulan dengan pengerahan seluruh tenaganya.

Betapa dahsyat perbawa pukulannya ini, rasanya dapat menggugurkan sebuah gunung.

Sambil menjengek hina, Ketua Bwe-hwa-hwe seenaknya saja angkat sebelah tangannya menangkis.

"Blang!"

Suara dentuman yang menggelegar ini menggetarkan semua hadirin.

Sungguh tidak nyana bahwa Ketua mereka yang dipandang bagai malaikat sakti ini kena tergetar mundur satu langkah oleh pukulan musuh kecilnya itu.

Bahwasanya Ketua Bwe-hwa-hwe sendiri juga bukan olah2 kejutnya, diluar persangkaannya bahwa hanya terpaut beberapa hari saja ternyata bahwa kekuatan lawan sudah bertambah berlipat ganda.

Disebelah sana si orang berkedok juga tengah bertempur seru dan tegang melawan si mawar beracun Ma Siok-tjeng.

Tapi jelas kelihatan bahwa kepandaian dan Lwekang Ma Siok-tjeng agaknya masih lebih tinggi dari si orang berkedok.

Dalam beberapa gebrak saja si orang berkedok sudah kepayahan dibawah angin.

Karena memandang ringan musuhnya, maka begitu bergebrak kontan Ketua Bwe-hwa-hwe mendapat sedikit kerugian, sungguh memalukan dan merendahkan derajatnya bahwa dia sampai kena cidera ditangan musuh.

Untuk mengambil muka segera ia lancarkan tiga serangan berantai.

Untuk ini Suma Bing juga terdesak mundur tiga langkah.

Hal ini menunjukkan bahwa Lwekang Ketua Bwe-hwa-hwe memang berada diatas kemampuan Suma Bing.

Suma Bing kerahkan seluruh kekuatannya dijari tengah tangan kanannya, cincin iblis segera memancarkan cahaya keras dingin yang menyilaukan mata, dimana tangannya itu bergerak langsung ia menyerang kepada musuhnya.

Terbukalah pertempuran seru dari tokoh silat kelas tinggi yang jarang terjadi didunia persilatan.

Disamping sana, keadaan si orang berkedok seumpama keledai yang kehabisan napas menggeh2, dilihat keadaannya paling banyak dia kuat bertahan sampai duapuluh jurus lagi.

Terang tinggal tunggu waktu saja dia bakal terjungkal ditangan si mawar beracun.

Mengandal keampuhan Cincin iblis.

Suma Bing masih kuat bertahan sementara waktu, namun cepat atau lambat diapun pasti akan kalah.

Bahwa Racun utara Tangbun Lu bisa terjungkal ditangan Suma Bing, mimpipun dia takkan menduga.

Boleh dikata kekalahannya itu adalah kekalahan yang paling mengenaskan selama hidup.

Saat mana, wajahnya membeku pucat, sepasang matanya kesima mengikuti terus gerak gerik Suma Bing.

Sementara itu, Racun diracun masih duduk bersila ditengah barisan dengan tenang dan antengnya, seakan dia tidak mendengar dan tidak kuatir karena mempunyai pegangan untuk menyelamatkan diri.

Terdengar suara tertahan seperti orang hampir muntah seketika si orang berkedok meliuk sempoyongan hampir roboh.

Begitu serangannya membawa hasil si mawar beracun masih tidak tinggal diam begitu saja, badannya terus mendesak maju, dimana suaranya membentak keras, sebuah tangannya terayun lagi menggenjot dada si orang berkedok.

Pukulannya ini dilancarkan secepat kilat.

Terang kalau si orang berkedok sudah tidak mampu berkelit atau menghindar lagi, jiwanya terancam...

Sungguh kejut dan gugup Suma Bing bukan kepalang, gesit sekali tubuhnya berkelebat meninggalkan Ketua Bwe-hwa-hwe, langsung ia menubruk kearah Ma Siok-tjeng.

"Blang, bum!"

Dua dentuman terdengar saling susul disertai pekik kesakitan yang luar biasa dibarengi dua bayangan orang terpental terbang beberapa tombak jauhnya.

Untuk menolong jiwa si orang berkedok, waktu menubruk datang tadi Suma Bing kerahkan setaker tenaganya dikedua tangannya terus disapukan kedepan.

Si mawar beracun Ma Siok-tjeng tidak menduga akan serangan yang mendadak ini, kontan tubuhnya terbang jauh sungsang sumbel.

Tapi tidak urung si orang berkedok roboh juga terkena pukulan si mawar beracun Ma Siok-tjeng.

Untung serangan Suma Bing itu sedikit banyak mengurangi kekuatan pukulan Ma Siok-tjeng, kalau tidak mungkin saat itu si orang berkedok sudah menggeletak mampus.

Bersamaan dalam waktu dua bayangan tubuh orang terpental terbang itu sejalur tenaga angin bagai gugur gunung juga telah menimpa kearah Suma Bing, kira2 hanya terpaut beberapa detik saja setelah Suma Bing lancarkan serangannya.

"Buk!"

Kontan Suma Bing mendehem keras sambil muntah darah, badannya tersuruk maju delapan langkah.

Sebelum tubuhnya berdiri tegak angin pukulan kedua sudah menerpa datang lagi lebih dahsyat.

Sambil kertak gigi, sebat sekali Suma Bing menggeser kedudukan lima kaki, kini mereka muka berhadapan muka, jarak mereka terpaut satu tombak.

Disebelah sana, Ma Siok-tjeng dan si orang berkedok sudah terhuyung bangun dan berkutetan lagi tidak kalah serunya.

Pada saat itulah, se-konyong2 sebuah bayangan terbang melesat memasuki gelanggang langsung menubruk kearah ketua Bwe-hwa-hwe.

Tanpa berjanji tiga orang tua dibelakang Bwe-hwa-hwe-tiang segera memapak maju merintangi bayangan yang baru datang ini.

"Plak!"

Kontan ketiga orang tua tersurut tiga tindak, dan bayangan itupun segera terhenti meluncur dan berdiri bergoyang gontai.

Waktu Suma Bing pentang matanya memandang, bergolaklah darah panasnya, yang datang ini kiranya bukan lain adalah Tang-mo atau Iblis timur, musuh besar keluarganya.

Iblis timur mengekeh tawa panjang terus menerjang kearah Bwe-hwa-hwe-tiang ter-sipu2 Ketua Bwe-hwa-hwe bersiaga menghadapi rangsangan lawan.

Terpaksa tiga orang tua tadi mengundurkan diri.

Mata Suma Bing bersinar buas dengan lekat ia awasi Iblis timur yang tengah bertempur melawan ketua Bwe-hwa-hwe.

Karena kehadiran Tang-mo ini terpaksa pertentangannya dengan Ketua Bwe-hwa-hwe harus diketengahkan dulu.

Dia tengah menerawangi situasi, apakah dia harus turun tangan...

Naga2nya kedatangan Iblis timur ini hendak menuntut balas karena kekalahannya tempo hari waktu dia dikepung oleh Pek-hoat-sian-nio beramai, hingga dia terluka parah akhirnya Pedang darahpun direbut orang lain.

Maka dalam kesempatan ini segera ia lancarkan ilmu silatnya yang paling lihay, setiap serangannya tidak mengenal kasihan sama sekali.

Adalah kepandaian ketua Bwe-hwa-hwe memang bukan tingkat rendah, dicecar sedemikian hebat dia masih seenaknya saja bermain silat.

Digelanggang lain keadaan si orang berkedok sudah terdesak lagi dibawah gencetan si mawar beracun yang ganas.

Sekilas Suma Bing menyapu pandang dingin, lalu maju mendekat dan berkata.

"Heng-tai, kau mundurlah!"

Si orang berkedok menurut dan segera mengundurkan diri.

"Kemana kau lari!"

Hardik si mawar beracun, kedua cakarnya mendadak menyelonong tiba.

"Plak".

"Huk"

Sekali turun tangan, Suma Bing membuat si mawar beracun terhuyung tiga langkah. Segera dengan mata genitnya si mawar beracun pelerak pelerok menatap wajah Suma Bing. Suara tawanya jalang dan berkata.

"Saudara kecil, turun tanganmu ini sungguh tidak kenal kasihan!"

"Perempuan jalang tidak tahu malu, hari ini..."

Desis Suma Bing geram.

"Aduh, kalau bicara sungkanlah sedikit, apa yang dinamakan tidak tahu malu?"

"Hari ini akan kubunuh kau."

"Mengapa?"

"Hatimu sendiri lebih jelas!"

"O, jadi kau masih teringat peristiwa dibiara bobrok itu. Tapi aku mencintai kau."

Tanpa terasa merongkol keluar otot2 diwajah Suma Bing.

Sungguh tidak nyana bahwa orang begitu tidak tahu malu berani mengucapkan perkataan rendah dihadapan sekian banyak orang.

Tersimpul dalam benaknya bahwa perkumpulan Bwe-hwa-hwe ini tentu berjalan sesat dan bertujuan tidak lurus.

Maka sambil berludah hina segera ia menghardik.

"Tok-bi-kui, hari ini kau sudah pasti mati!"

Sikap genit si mawar beracun masih belum lenyap, dengusnya aleman.

"Apa kau mampu?"

"Baik kau coba2."

Membarengi ucapannya kontan ia kirim tiga serangan saling susul, perbawa pukulannya ini benar2 sangat mengejutkan.

Tangkas sekali si mawar beracun melejit menyingkir, dari sini ia balas menyerang juga dengan tiga kali pukulan pula.

Mulailah mereka keluarkan ilmu sakti masing2 dan bertempur dengan sengitnya.

Bertepatan waktu Suma Bing turun tangan, tiga orang tua itu berbareng menerjang kearah si orang berkedok.

Agaknya kepandaian tiga orang tua ini hebat juga, dalam gebrak pertama si orang berkedok sudah mencak2 kepayahan!

Saat mana, keadaan Tang-mo juga sudah kerepotan menghadapi rangsakan ketua Bwe hwa hwe, sewaktu-waktu jiwanya juga terancam elmaut.

Sebuah pekik kesakitan memecahkan kesunyian udara, selebar muka si mawar beracun pucat pias, badannya sempoyongan dua tombak lebih, sebagian besar rambutnya yang hitam kelam sudah terkupas, sampai kulit kepalanya juga terpapas mengalirkan darah oleh cincin iblis Suma Bing, darah membasahi muka dan kedua pundaknya.

Sekali lagi Suma Bing maju mendekat sambil kirim sebuah pukulan dahsyat.

Seakan copot dan terbang sukma Ma Siok-tjeng dari raganya saking ketakutan, tubuhnya melenting sejauh dua tombak.

Otaknya masih jelas teringat bahwa Suma Bing terang bukan menjadi tandingannya tempo hari.

Sungguh tidak nyana terpaut beberapa hari saja, Lwekang lawan ternyata telah maju demikian pesat.

Beruntun terdengar suara bentakan saling susul, tiga orang tua itu tinggalkan si orang berkedok dan ganti haluan menubruk kearah Suma Bing.

Dada Suma Bing sudah dihuni oleh rasa murka dan kebencian yang meluap2, dengan mengerahkan sepuluh bagian tenaga Kiu-yang-sin-kang tangannya meluncur memapak maju.

Kontan terdengar suara pekik menyeramkan yang menggetarkan suasana gelanggang pertempuran.

Dua diantara tiga orang tua itu tujuh lobang indranya mengeluarkan darah segar dan seketika roboh mampus, seorang yang lain berwajah pucat keabu2an, berdiri terlongong2 ditempatnya tanpa bergerak, mulutnya terdengar menggumam.

"Kiu-yang-sin-kang."

Ketua Bwe-hwa-hwe menggerung keras bagai singa ketaton, dilancarkan tiga permainan silat yang paling hebat sehingga Tang-mo terdesak mundur lagi sempoyongan.

Begitu melejit tubuhnya langsung menerjang kearah Suma Bing, belum tubuhnya tiba angin pukulannya sudah menerjang tiba lebih dulu.

"Bagus!"

Jengek Suma Bing dingin. Dua belas bagian tenaga Lwekangnya dikerahkan dikedua lengannya terus disodokkan kedepan untuk menangkis secara keras lawan keras.

"Dar..."

Terdengar benturan menggeledek, tubuh ketua Bwe-hwa-hwe yang meluncur tiba kena tertolak dan melorot jatuh, sedang Suma Bing sendiri terhuyung dua langkah.

Sementara itu Kangouw-su-ok yang terluka oleh pukulan Suma Bing tadi kini sudah berganti napas dan menyerbu datang lagi mengeroyok si orang berkedok.

Ketegangan semakin meruncing dan mencekam hati, membuat perasaan semua orang susah bernapas.

Dari samping Iblis timur mengaum buas sambil lancarkan serangan mengarah Ketua Bwe-hwa-hwe.

Terpaksa Bwe-hwahwe-tiang membalik tubuh melayaninya.

Mendadak tergerak hati kecil Suma Bing secepat mengambil keputusan, maka dilain kejap ia sudah melangkah lebar menghampiri kearah barisan yang mengurung Racun diracun itu.

Para jagoan yang menjaga diluar barisan serentak merasa kaget dan bersiap waspada.

Segera enam batang pedang melintang ditengah jalan.

Wajah Suma Bing membeku penuh nafsu membunuh, tanpa ragu2 kakinya melangkah terus kedepan se-olah2 keenam orang bersenjata pedang tidak dipandang sebelah mata olehnya.

Maka dilain saat sinar pedang berkelebatan, keenam batang pedang serentak bergerak merangsang kearah tubuhnya.

"Kalian cari mati!"

Sambil membentak keras itu, Suma Bing lancarkan jurus Liu-kim-hoat-tjiok.

Bahwa jurus ini adalah hasil ciptaan Sia-sin Kho Jiang yang memakan waktu ber-tahun2 dan sudah memeras keringatnya, berlandaskan kekuatan Kiuyang-sin-kang lagi, maka betapa hebat kekuatannya dapatlah dibayangkan.

Suara pekik dan jerit kesakitan terdengar saling susul menembus udara, enam batang pedang sampai terlepas dari pegangan dan terpental terbang jauh beberapa tombak.

Malah dua yang terdepan kontan roboh tanpa bergerak lagi, sedang empat yang lain ter-guling2 sungsang sumbel sejauh setombak lebih.

Cepat2 Racun utara mendesak maju dan berkata dingin mengancam.

"Siautju, kau juga bermimpi hendak merebut Pedang berdarah?"

Dengan rasa jijik Suma Bing mendengus hidung, jengeknya.

"Apa pedulimu."

Besar dugaan Racun utara bahwa tujuan Suma Bing hendak memasuki barisan adalah hendak merebut Pedang berdarah dari tangan Racun diracun.

Diam2 ia membantin.

bocah ini sudah mendapat didikan sempurna dari manusia sesat itu, malah tubuhnya kebal racun lagi, lebih baik biar Racun diracun yang menghadapi dan meringkusnya.

Sekali dia sudah masuk dalam barisan, seumpama ikan yang masuk jala, apa pula yang harus kukuatirkan.

Oleh pikirannya ini segera ia ulapkan tangan memberi tanda dan berseru.

"Biarkan dia masuk."

Para jagoan yang menghadang didepan Suma Bing ternyata menurut segera menyingkir memberi sebuah jalan. Sambil menyeringai dingin Suma Bing berkata.

"Jadah tua berbisa, hendak melarang juga kau takkan mampu hitung2 kau tahu gelagat!" --habis berkata dengan langkah lebar ia memasuki barisan. Dalam pada itu, seorang diri menghadapi keroyokan Kangouw-su-ok, keadaan si orang berkedok sudah seumpama semut dalam kuali panas tinggal menuju ajal saja. Sementara Tang-mo juga semakin terdesak dibawah angin, lama kelamaan ciut nyalinya, bukan saja takkan menang malah jiwa mungkin bisa melayang, akhirnya ia angkat kaki melarikan diri mencawat ekor. Mendapat peluang ini segera Ketua Bwe-hwa-hwe memutar tubuh memandang kedalam barisan. Terlihat olehnya Suma Bing tengah berjalan belak belok mengikuti petunjuk yang diberikan oleh si orang berkedok. Setelah melewati dua lintang pohon, dia bertindak tiga langkah kekiri dan maju selangkah, lalu memutar kekanan lima langkah, benar juga barisan ini tiada perobahan apa. Kini dihadapannya melintang sebuah dahan pohon besar sepelukan dua orang, sekali tangannya diayun dahan besar itu segera menggelundung jauh, kini tinggal dua tumpukan batu tinggi yang merintangi dikanan kirinya, segera Suma Bing menyapunya lagi dengan kedua tangannya... Asal sekali lagi ia memecahkan rintangan terakhir, maka berarti pecahlah barisan ini habis-habisan. Melihat keadaan ini Racun utara melonjak kaget dan berseru.

"Celaka, bocah itu tahu cara pemecahannya..."

Wajah ketua Bwe-hwa-hwe berkerut membesi, tangan diulapkan segera keluar perintahnya.

"Bakar!"

Mendengar perintahnya ini semua anak buahnya segera beramai2 angkat obor.

Diluar barisan itu sudah penuh terpasang bahan bakar, sekali sundut saja pasti orang dalam barisan akan terbakar hangus menjadi abu.

Tapi Racun utara keburu berseru mencegah.

"Jangan, jangan bakar!"

"Kenapa?"

Tanya ketua Bwe-hwa-hwe mendongkol.

"Waktu terkurung didalam barisan Racun diracun sudah menyebar racun berbisa sam-li-hiang!"

"Sam-li-hiang (harum tiga li)?"

"Benar."

"Lalu bagaimana?"

"Saudara ketua boleh segera perintahkan semua bawahanmu secepatnya mundur sejauh tiga li, biar lohu sendiri yang akan melepas api."

"Apa masih keburu? Bocah itu segera akan sudah mengobrak-abrik barisan!"

Sementara itu Suma Bing tengah berpaling memandangi obor2 itu, jantungnya berdetak keras, serta merta langkahnya dihentikan.

Kalau mau dengan mudah saja dia masih ada kesempatan berlari keluar barisan.

Akan tetapi, Racun diracun pernah menanam budi memberikan sebutir obat menolong jiwanya.

Mana boleh orang mati konyol didepan matanya disamping itu dia tidak rela kehilangan kesempatan untuk merebut pulang Pedang berdarah itu.

Kalau Racun diracun mati itu berarti Pedang berdarahpun pasti ikut ludas.

Dalam saat genting itu pikirannya serasa kosong, entah apa yang harus diperbuat...

Otak Racun utara berputar keras, dasar cerdas tak lama kemudian ia berseru girang.

"Ada akal. Begitu menyulut api dengan kecepatan yang paling cepat terus berlari kearah yang berlawanan dengan arah angin. Kalau kepandaian tidak lemah pasti dapat keluar dari lingkungan hawa beracun itu. Silakan saudara Ketua memberi perintah!"

Maka tangan ketua Bwe-hwa-hwe sudah diangkat tinggi, tinggal memberi aba2...

Pada saat itulah, se-konyong2 terdengar sebuah suara tawa dingin yang mengerikan, suara yang menyedot semangat ini bergema dan berkumandang ditengah udara, membuat orang celingukan tidak tahu darimana suara itu datang.

Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ Semua orang yang hadir merasa merinding dan berdiri bulu kuduknya.

Setelah suara tawa itu lenyap, lantas melesat secarik sinar putih memasuki gelanggang dan menancap diatas sebatang pohon.

Jelas itulah sebuah panji kecil bersegi tiga yang ditengahnya terukir sebuah tengkorak dan dua batang tulang bersilang.

"Pek-kut-ji!"

Tanpa terasa Ketua Bwe-hwa-hwe berseru ketakutan.

Nama Pek-kut-ji ini benar2 bagai geledek disiang hari bolong mengejutkan sanubari semua hadirin, semua berobah pucat ketakutan.

Demikian juga Kangouw su-ok dan si orang berkedok serta merta juga menghentikan pertempuran.

Meskipun kecil dan bentuknja sangat sederhana, tapi panji ini sudah menggetarkan dunia persilatan selama ratusan tahun lamanya.

CINT A TIDA K MEN GEN AL WAK TU DAN USIA Suma Bing sendiri juga merasa terperanjat.

Untuk apa Pekkut Hujin muncul disitu dan pada saat yang tepat lagi dengan bertanda khas panji kecilnya itu.

Dulu dalam memperebutkan Pedang berdarah dengan Racun diracun, kalau bukan panji kecil ini muncul secara mendadak dan menggebah pergi ketua Bwe-hwa-hwe, mungkin jiwa Suma Bing sudah lama amblas meninggalkan raganya.

Apa maksud dan tujuan Pek-kut Hujin memperlihatkan jejaknya disini?

Pek-kut Hujin pribadi atau muridnya?

Adalah Racun utara Tangbun Lu bukan saja bersifat kejam dan keji, wataknya juga sangat licik, licin dan banyak akal muslihatnya.

Begitu melihat Pek-kut-ji muncul, segera ia mundur teratur terus tinggal pergi mencawat ekor tanpa perdulikan orang lain.

Memandang bayangan Racun utara yang lari pontang-panting itu, Suma Bing perdengarkan suara dingin mengejek, terus melanjutkan masuk ketengah barisan.

Semua anggota Bwe-hwa-hwe berdiri terlongong bagai patung ditempat masing2.

Bahwa Pek-kut-ji memperlihatkan diri lagi disaat2 situasi yang menguntungkan pihaknya ini benar2 membuat Ketua Bwe-hwa-hwe gusar, takut dan curiga, setelah sangsi sekian lamanya segera ia berseru lantang kearah rimba sebelah dalam sana.

"Apakah yang datang ini adalah Pek-kut Hujin Lotjianpwe?" -Beruntun dia bertanya tiga kali tanpa mendapat penyahutan semestinya. Lebih besar dan dalam rasa curiga menyelubungi hatinya. Maka segera ia berkata kepada si orang tua yang masih ketinggalan hidup itu.

"Thio-hiangtju, kau cabutlah panji kecil itu!"

Si orang tua yang dipanggil Thio-hiangtju itu kontan pucat pias wajahnya, tapi tak berani dia membangkang perintah ketuanya, maka dengan suara gemetar menyahut.

"Baik, hamba terima perintah!" -mulut mengiakan namun tubuhnya tetap berdiri tanpa bergerak. Mulut ketua Bwe-hwa-hwe mendehem keras2 dan pandangannya sangat mengancam. Tidak ketinggalan pandangan semua hadirin juga tengah menatap kearah si orang tua ini. Setelah takut2 dan ragu2 sekian lamanya, akhirnya si orang tua nekad juga berkelebat maju terus mencabut panji diatas pohon itu. Tapi baru saja tangannya menyentuh gagang Pek-kut-ji, seketika ia menjerit seram terus roboh binasa. Seakan copot nyali Ketua Bwe-hwa-hwe, segera ia berseru nyaring.

"Mundur!" -Maka bayangan berkelebatan dalam sekejap mata saja semua orang sudah merat melarikan diri. Setelah Suma Bing memporak-porandakan barisan perlawanan Ngo-heng-tin ini baru terlihat Racun diracun berdiri dan angkat tangan memberi hormat serta katanya.

"Aku harus berterima kasih kepada kau!"

"Tidak perlu!"

Sahut Suma Bing kaku.

"Tapi kau menolong aku sehingga bebas dari kurungan ini."

"Ini sebagai imbalan budi pemberian obatmu tempo hari, dua belah pihak tidak saling berhutang budi, kita seri satu-satu, tentang..."

"Tentang apa?"

"Lain kali kita bertemu lagi, aku sendiri tidak akan lepaskan kau!"

"Mengapa tidak sekarang saja?"

"Apa tuan ingin sekarang juga menyelesaikan perhitungan lama itu?"

"Ya, begitulah."

"Dimana?"

"Disini dan sekarang juga!"

"Tidak bisa"

"Kenapa?"

Tanpa terasa mata Suma Bing melirik kearah Pek-kut-ji sambil menyahut.

"Aku harap kita berpindah ketempat lain"

Racun diracun tertawa ringan, katanya.

"Jadi kau takut pada pemilik panji kecil itu?"

Ucapannya ini menimbulkan rasa congkak Suma Bing, serunya keras.

"Apa yang perlu ditakuti, baiklah, disini juga kita selesaikan urusan kita"

"Silakan kau sebutkan dulu ada berapa banyak perhitungan lama?"

"Pertama kau menggunakan Racun tanpa bayangan membinasakan adik Siang Siau-hun dan tunangannya Li Bun-siang. Perbuatan yang kejam telengas ini kau timpakan pada dua jiwa muda yang tidak berdosa, perhitungan inilah yang harus dibikin beres."

"Ada sangkut paut apa kau dengan peristiwa itu?"

"Semua urusan yang kepergok ditanganku, harus kuurus."

Racun diracun mendengus dingin, jengeknya.

"Suma Bing itu merupakan salah paham. Mengapa kau turut campur, biarkan Siang Siau-hun sendiri yang membereskan?"

"Tidak bisa!"

Sahut Suma Bing ketus penuh ketegangan.

"Kenapa tidak bisa?"

"Bahwasanya tanpa begebrak, racun jahatmu itu sudah cukup menamatkan jiwa Siang Siau-hun!"

"Dia kekasihmu?"

"Kau tidak perlu tahu."

"Kalau dia ingin menyelesaikan sendiri dan tidak rela kau membantu?"

Sejenak Suma Bing berpikir, lalu sahutnya.

"Baik juga, yang kedua, segera tuan serahkan Pedang darah kepadaku."

"Kalau aku jawab tidak?"

"Hm, mungkin kau tidak akan mampu berbuat begitu."

"Suma Bing, kau sangat takabur, kau tahu berapa jurus kau kuat menghadapi aku?"

"Mungkin bisa kubunuh kau!"

"Kalau kau dapat menangkan aku setengah jurus. Pedang darah segera kupersembahkan kepadamu, atau sebaliknya jangan kau bermimpi lagi."

"Baik sambutlah seranganku ini."

Seru Suma Bing gusar.

Habis ucapannya serangannya sudah menjojoh tiba didepan muka Racun diracun.

Racun diracun berlaku sangat tenang, begitu pukulan lawan mendekat seenaknya saja sebelah tangannja dikebutkan, jangan pandang ringan kebutannja ini, karena sekali gebrak kebutannya ini mengincar berbagai jalan darah didepan dada Suma Bing.

Dengan serangan menghadapi serangan, maka yang menyerang pasti harus membela diri.

Demikian juga keadaan Suma Bing, melonjak keras denyut jantungnya, terpaksa dia harus membatalkan serangannya terlebih dahulu dia harus melindungi jiwa sendiri.

Dimana terdengar dia menggerung keras, serangannya lagi2 sudah merangsang tiba, kali ini ia kerahkan seluruh kekuatan tenaganya, maka perbawa pukulannya ini seumpama geledek menyambar dan air bah melanda.

Agaknya Racun diracun juga tidak mau unjuk kelemahan tangan diangkat ia sambut pukulan Suma Bing ini secara keras juga.

"Bum", benturan keras ini menerbitkan badai angin yang bergulung tinggi dan mengembang deras keempat penjuru hingga pohon2 disekitarnya tergetar rontok daon dan dahan2nya. Tubuh Racun diracun ber-goyang2, sebaliknya Suma Bing tersurut dua langkah. Dalam gebrak permulaan ini jelas kelihatan bahwa Lwekang Racun diracun masih setingkat lebih unggul diatas Suma Bing. Tercekat hati Suma Bing. Bukan saja Racun diracun merajai dalam dunia racun, malah kepandaian silatnya juga bukan olah2 lihaynya. Dalam dunia persilatan pada masa itu yang kuat menandingi kepandaiannya mungkin dapat dihitung dengan jari. Pada saat itu si orang berkedok secara diam2 sudah mendekat maju berdiri diluar lingkungan pertempuran. Se-konyong2 Racun diracun angkat sebelah tangan sambil berseru.

"Tahan sebentar!"

"Tuan ada omongan apa lekas katakan!"

Desak Suma Bing tidak sabaran.

"Saat ini kau masih bukan tandinganku."

"Tiada halangannya kita coba2."

"Agaknya, kita tidak perlu bertempur mati2an."

"Mengapa?"

"Bukankah tujuanmu hanya hendak merebut Pedang berdarah?"

"Benar, aku harus mendapatkannya!"

"Tapi Pedang darah saat ini tidak berada ditanganku."

Suma Bing melengak tertegun.

Kalau Pedang berdarah benar2 tidak berada ditangan Racun diracun, seandainya dirinya menang apapula gunanya?

Seketika ia bungkam berpikir2.

Nada suara Racun diracun sudah berobah kalem dan tidak sedingin semula.

"Suma Bing. Terus terang kuberitahukan, Pedang berdarah tiada gunanya terhadapku, kalau belum mendapatkan Bunga

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ iblis, Pedang berdarah berarti barang rongsokan yang tidak berguna. Lebih baik marilah kita adakan janji sejati..."

"Apa maksudmu dengan janji sejati..."

"Sebenarnya Pedang darah sudah kau rebut dari tangan Tang-mo, dan akhirnya terebut pula olehku. Kalau kau bisa memperoleh Bunga iblis. Pedang berdarah tanpa syarat kupersembahkan kepadamu, bagaimana?"

Tergerak hati Suma Bing, sungguh dia tidak habis mengerti apa maksud tujuan sepak terjang Racun diracun.

Manusia beracun yang lebih berbisa dari Racun utara ini masa begitu gampang diajak berkompromi.

Maka setelah sangsi sekian lamanya ia menegasi.

"Benar2 kau serahkan tanpa syarat?"

"Begitulah maksudku"

"Tapi aku tidak sudi terima kebaikanmu ini."

"Kenapa?"

"Kau telah merebutnya dari tanganku, sudah seharusnya aku merebutnya kembali mengandal kepandaianku."

"Hehehe, Suma Bing, sudah kukatakan kuserahkan tanpa syarat, tak perlu kau turun tangan."

"Tuan ada maksud apa silahkan terangkan secara total?"

"Tiada maksud apa2, kuserahkan tanpa syarat."

Mau tak mau Suma Bing harus berpikir panjang, setelah sekian lama merenung akhirnya ia berkata dengan nada berat.

"Kalau aku tidak bisa mendapatkan Bunga-iblis?"

"Kau boleh merebut kembali mengandal kepandaianmu!"

"Baik, kita tentukan begitu"

"Siapa dia?"

Tiba2 tanya Racun diracun mengalihkan persoalan.

"Seorang sahabatku"

"Maksudku siapa dia?"

Sekilas Suma Bing mengerling kearah si orang berkedok, mulutnya terkancing tak tahu dia apa yang harus dikatakan.

Memang dia belum mengetahui siapa si orang berkedok sebenarnya.

Mereka bersahabat dalam pertemuan secara kebetulan karena beberapa sebab...

Terdengar Racun diracun mendesak lagi.

"Sungguh kau tidak tahu siapa dia?"

Dalam keputus asaannya Suma Bing naik pitam dan menyahut ketus.

"Agaknya hal ini tiada sangkut pautnya dengan tuan?"

"Tapi apa kau tidak ingin tahu siapa dia?"

Menatap Racun diracun, tanpa terasa si orang berkedok mundur satu langkah.

Betapa tidak Suma Bing juga ingin mengetahui siapakah si orang berkedok ini.

Tapi terikat oleh perjanjian waktu mereka berkenalan semula, tiada alasan lagi dia minta atau membuka kedok penyamaran orang.

Bersama itu dia juga tidak ingin Racun diracun turut mencampuri hubungan pribadi mereka, maka sambil menggeleng kepala dia menyahut.

"Inilah urusan antara dia dan aku, tidak perlu tuan turut campur, silahkan tuan lanjutkan perjalananmu."

Racun diracun tertawa ejek, desisnya.

"Kalau aku ingin tahu siapa dia sebenarnya?"

"Ini..."

Suma Bing tergagap, entah apa yang harus diucapkan. Sebaliknya si orang berkedok ikut bicara dengan penuh perasaan.

"Tuan apakah maksudmu ini?"

Sepasang bola mata Racun diracun yang memutih itu berputar memancarkan sinar terang menatap tajam diwajah si orang berkedok, seakan hendak menembus isi hatinya, lama sekali baru dia membuka kata.

"Aku hendak menyingkap kedokmu itu."

"Tuan, buat apa kau mendesak orang sedemikian rupa. Bagi seorang Bulim adalah jamak kalau dia mempunyai suatu rahasia pribadi."

"Aku tidak suka melihat orang yang sembunyikan kepala unjukkan buntut!"

"Tapi, tuan, kau sendiri..."

"Aku bagaimana?"

"Apakah yang tuan unjukkan sekarang ini juga wajah aslimu?"

Racun diracun tersentak kaget dan mundur satu tindak.

Adalah Suma Bing juga ikut terperanjat.

Sedemikian hitam kelam raut wajah dan seluruh kulit Racun diracun kiranya juga adalah penyamaran, kepandaian make-up sedemikian lihay boleh dikata jarang diketemukan diseluruh dunia persilatan ini, karena hakekatnya sedikitpun tidak terlihat lobang kelemahan dari penyamarannya itu.

Terdengar si orang berkedok melanjutkan kata-katanya.

"Kepandaian Hian goan tay hoat ih sek tuan benar2 hebat sekali, kepandaian semacam ini..."

"Bagaimana?"

Tiba2 bentak Racun diracun bengis.

Tergetar tubuh si orang berkedok, seakan2 menguatirkan sesuatu dia hentikan kata2 selanjutnya.

Lebih besar rasa curiga dan heran Suma Bing, mengenai kepandaian Hian goan tay hoat ih sek baru sekali ini ia pernah dengar.

Entah mengapa karena bentakan Racun diracun kontan si orang berkedok tidak berani melanjutkan kata2-nya, maka segera ia berpaling dan bertanya.

"Heng-tai, ada apakah?"

Si orang berkedok menggeleng kepala tanpa membuka suara. Terdengar Racun diracun mendengus dingin dan mengancam.

"Orang berkedok, kau buka sendiri kedokmu atau ingin aku yang turun tangan?"

Didesak demikian rupa si orang berkedok mundur ketakutan, sahutnya gemetar.

"Apa tuan betul2 hendak berbuat demikian?"

"Selamanya aku tidak pernah bicara dua kali."

"Apakah sepak terjang tuan ini tidak keterlaluan?"

"Terserah kalau kau beranggapan demikian!" -Mulut berkata demikian, Racun diracun sudah angkat langkah mendesak maju kearah si orang berkedok... Dalam situasi yang gawat ini pikiran Suma Bing berkelebat cepat. Meskipun si orang berkedok menutupi mukanya, jelek2 masih terhitung sahabat kentalnya, mana bisa dia mengawasi Racun diracun mendesaknya sedemikian rupa untuk membuka kedoknya. Setelah tetap pikirannya segera ia memburu maju menghadang didepan si orang berkedok dan berkata.

"Tuan, kusilahkan kau segera berlalu!"

Serta merta Racun diracun menghentikan langkahnya, serunya.

"Suma Bing, berdekatan dengan seorang yang belum terang asal-usulnya, berarti lebih berbahaya dari berkawan dengan seekor harimau!"

Suma Bing tergetar oleh ucapan terakhir Racun diracun, tapi selekas itu pula dia menjawab dengan angkuhnya.

"Kukira hal itu tiada sangkut pautnya dengan kau."

"Apa kau hendak merintangi aku?"

"Sudah tentu!"

"Kau tidak menyesal?"

"Selamanya aku belum pernah kenal akan arti menyesal."

"Bagus sekali, begitulah kuharapkan!" -Setelah perdengarkan suara tawa lengking sekian lama, mendadak tubuh Racun diracun melenting tinggi terus menghilang dibalik bayangan pohon didalam hutan. Per-lahan2 pandangan mata Suma Bing beralih kearah panji kecil diatas pohon itu. Seketika ia menyedot hawa dingin. Kiranya orang yang telah berani menyentuh Pek-kut-ji tadi kini hanya tinggal tulang kerangkanya saja yang memutih bertumpuk diatas tanah, jangan kata kulit sampai baju serta dagingnyapun sudah lenyap tanpa bekas. Kejadian yang mengejutkan dan menciutkan nyali ini, tidak heran kalau Ketua Bwe-hwa-hwe yang sudah tenar malang melintang segera lari lintang-pukang! "Saudara kecil mari kita pergi."

Kata si orang berkedok lesu penuh kesedihan.

Suma Bing manggut2 maka berbareng tubuh mereka melejit tinggi berlari keluar rimba.

Tapi baru beberapa langkah saja, tiba2 si orang berkedok menghentikan langkahnya dan berkata dengan nada berat.

"Saudara kecil..."

Terpaksa Suma Bing ikut berhenti, tanyanya.

"Saudara tua ada omongan apa silahkan katakan"

"Apakah perguruanmu ada hubungan erat dengan Pek-kut Hujin?"

"Setahuku tidak ada, apa maksud pertanyaan saudara ini?"

"Pek-kut-ji muncul dua kali pada saat2 kau menghadapi bahaya, hal ini tentu bukan secara kebetulan, jelas kiranya memang sengaja hendak menolong kau, apa kau sudah merasa akan hal itu?"

"Hatiku masih diselimuti banyak pertanyaan!"

"Sikap dan sepak terjang Racun diracun terhadap kau agaknya juga sangat ganjil."

"Aku juga merasakan hal itu."

Sahut Suma Bing penuh tanda tanya.

"Saudara kecil, apa kau sudah mulai merasa curiga terhadap aku?"

"Curiga, apa maksudmu?"

"Umpamanya tingkah lakuku..."

"Tidak!"

Sahut Suma Bing tegas tanpa banyak pikir.

Memang terhadap tindak tanduk si orang berkedok sedikitpun dia tidak menaruh rasa curiga.

Jikalau si orang berkedok bermaksud jahat terhadap dirinya, banyak kesempatan untuk dia turun tangan dalam masa2 pergaulan yang telah lalu itu, tapi dia tidak, sebaliknya berulangkali telah menolong jiwanya dari renggutan elmaut.

Kalau dia mengenakan kedok tentu ada kesukaran pribadinya yang susah dijelaskan.

Suara si orang berkedok lirih dan gemetar.

"Saudara kecil, apa kau tidak ingin melihat wajah asliku?"

"Aku tidak bermaksud begitu"

"Tapi aku sudah tidak ingin mengelabui kau lagi!"

Habis berkata, per-lahan2 ia tanggalkan kedoknya.

Maka terlihatlah sebuah wajah yang cakap putih dalam usia pertengahan umur, dagu dan jidatnya memelihara jenggot panjang yang memutih.

Dari kecakapan wajahnya itu terlintas rasa duka dan hampa.

Suma Bing terlongong mengawasi wajah orang, tak tahu dia siapakah orang ini.

"Saudara kecil, kau tidak tahu siapa aku?"

"Aku tidak kenal kau!"

"Akulah Tiang-un Suseng Poh Jiang!"

Suma Bing berjingkrak kaget seperti disengat kala.

Mimpipun ia tidak menduga bahwa si orang berkedok ini kiranya adalah Tiang-un Suseng, musuh perguruannya yang menghilang dan susah dicari itu.

Gelap pandangan Suma Bing, otaknya pepat, hatipun terasa mendelu.

Persahabatan, budi dan dendam kesumat campur aduk bergolak dalam benaknya...

Baru sekarang dia sadar, waktu mereka berkenalan untuk pertama kalinya, dia membawa dirinya kedepan kuburan palsu Tiang-un Suseng itu kiranya mempunyai arti yang dalam.

Dia heran bahwa Tiang-un Suseng Poh Jiang sudah tahu bahwa dirinya merupakan musuh besar daripada Bu-lim-sip-yu.

Mengapa dalam berbagai kesempatan yang ada dia tidak turun tangan melenyapkan jiwanya, malah mengulur tangan untuk bersahabat?

Terhitung sebagai seorang sahabat?

Atau sebagai musuhkah orang ini?

Terbayang akan Sia-sin Kho Jiang yang dikorek matanya dan dikutungi kedua kakinya hingga menjadi manusia tanpa daksa, akhirnya mati secara mengenaskan setelah racun bekerja dalam tubuhnya.

Pesan gurunya sebelum ajal sekali lagi terkiang dalam telinganya.

"... menuntut balas..."

Perintah guru lebih penting!

Demikianlah titik berat daripada penilaian terakhir Suma Bing setelah berpikir panjang sekian lamanya.

Wajah Tiang-un Suseng yang ber-kerut2 mulai lamban dan tenang kembali, nada suaranya berat dan sember.

"Sumahiangte, bagaimana kau hendak menghadapi aku?"

Suma Bing undur selangkah, sedapat mungkin ia mengekang perasaan hatinya yang bergejolak, katanya dingin.

"Poh-heng, aku tidak akan mengingkari persahabatan kita yang kekal, terutama budimu yang besar terhadapku. Tapi kau adalah salah satu musuh yang ikut mencelakai suhuku kenyataan ini tidak mungkin dihapus..."

"Aku paham, hanya katakanlah bagaimana kau hendak menghadapi aku?"

"Harap kau suka memaafkan, perintah guru harus kulaksanakan."

"Menggunakan cara seperti membunuh Tji Khong Hwesio dulu itu?"

Suma Bing menggigit bibir, katanya.

"Benar, tapi untuk persahabatan kita kelak kalau urusanku sudah beres, pasti aku akan memberikan pertanggungan jawabku."

Tiang-un Suseng Poh Jiang tertawa ewa, ujarnya.

"Saudara kecil, kepala saudaramu yang bodoh ini kau boleh ambil, tapi ada beberapa kata patah hendak kujelaskan."

"Silahkan katakan!"

"Peristiwa di Bu-san dulu, biang keladinya adalah suhengmu Loh Tju-gi. Ketahuilah bahwa Bu-lim-sip-yu juga merupakan satu pihak yang kena cedera. Loh Tju-gi membunuh tiga diantara kita sepuluh kawan, dan menimpakan bencana ini kepada suhumu tujuannya ialah hendak menggunakan kekuatan Bu-lim sip-yu untuk melenyapkan gurumu, dengan demikian ia lepas dari dosa sebagai murid yang durhaka mengkhianati guru..."

Sejenak Tiang-un Suseng merandek menekan perasaan hatinya, lalu berkata lagi.

"Tiga diantara Bu-lim-sip-yu sudah mati ditangan Loh Tju-gi, satu lagi mati ditanganmu. Leng Hung-seng Ciangbunjin dari Ceng-seng-pay tewas ditangan Ketua Bwe-hwa-hwe, Tjoh Pin Ngo-ouw Pangcu meninggal terbokong oleh suatu tutukan aneh yang mematikan. Jenazah Lo-san-siang-kiam rebah ditengah jalan Siang-im. Tulang belulang Goan Hi dari Siaulim terkubur diluar kota Kay-hong. Kini Bu-lim sip-yu tinggal satu yaitu aku sendiri saudara tuamu. Hian-te, karena peristiwa dulu itu adalah tipu muslihat orang yang mengadu domba kita, maka aku tidak pandang kau sebagai musuh, bahwasanya dengan perbuatanku ini aku berusaha untuk menebus dosa kita yang telah mencelakai suhumu dulu. Sudah ucapanku sampai sekian saja!"

Pikiran Suma Bing menjadi pepat dan gundah, demi kebenaran dan keadilan memang dia tidak seharusnya menuntut balas kepada Tiang-un Suseng, namun lantas bagaimana pertanggungan jawabnya kepada gurunya dialam baka?

Suasana sesaat mencekam sanubarinya sehingga terasa seakan membeku.

Akhirnya sifat2 Sia-sin Kho Jiang yang menurun dan terpendam dalam benak Suma Bing memenangkan kesadaran dirinya sendiri.

Benaknya mengambil suatu keputusan tegas, maka sambil mengertak gigi ia berkata.

"Poh-heng, aku Suma Bing dapat membedakan antara budi dan dendam. Karena pesan guruku aku harus turun tangan terhadap kau, demi persahabatan kita biar kelak aku bunuh diri untuk menebus kesalahanku ini."

"Itupun tidak perlu", ujar Tiang-un Suseng gemetar.

"Sekarang boleh kau turun tangan, aku tidak akan membalas."

Sebenarnya sanubari Suma Bing terasa sangat pedih, kalau lawan benar2 tidak melawan, dia takkan kuat bertahan.

"Tidak, kau harus melawan, balaslah menyerang sekuat yang kau bisa."

"Melawan atau tidak hakikatnya sama saja."

Pada saat itulah se-konyong2 terdengar sebuah helaan napas lirih yang mengandung kepedihan dan kegetiran hati.

Tanpa terasa Suma Bing mengkirik kejut, dimana pandangannya tertuju, terlihat tiga tombak dibelakangnya sana berdiri seorang wanita serba hitam yang rambutnya terurai panjang.

Dia tak lain tak bukan adalah Sim Giok-sia putri Lam-sia dengan Se-kui.

Sekali lagi Suma Bing tergetar bagai kesetrom aliran listrik.

Sementara itu, tubuh Tiang-un Suseng juga terhuyung mundur, matanya terbelalak lebar.

Sepasang kekasih yang menderita segala siksaan dan rintangan, akhirnya bertemu lagi setelah berpisah selama tiga puluh tahun lamanya, sang waktu sudah membuat mereka menanjak pada usia ketuaan.

Per-lahan2 Sim Giok-sia menyingkap rambutnya kebelakang kepala, wajah pucat yang berkerut dan layu penuh dibasahi air mata, bola matanya dengan tajam menatap wajah Tiang-un Suseng.

Sinar matanya itu benar2 menyedot sukma dan semangat orang yang dipandang.

Wajah Tiang-un Suseng juga pucat pasi, tubuhnya tergetar hebat menahan gelora hatinya.

"Adik Sia!"

"Engkoh Jiang!"

Sambil berseru serta merta mereka memburu maju dan saling berpelukan dengan kencang.

Per-lahan2 Suma Bing membalik tubuh kearah lain, perasaan hatinya susah dilukiskan.

Musuh besar suhunya!

Menjadi kekasih sucinya!

Juga menjadi sahabat kentalnya!

Bagaimana dia harus mengambil sikap?

Se-konyong2 seakan dia mendapat suatu petunjuk, mulutnya menggumam.

"Kalau suhu mengetahui dialam baka pasti dapat mengampuni aku. Pasti dia orang tua juga rela menghapus dendam kesumatnya. Ya, biarlah pertikaian ini habis sampai disini... Samar2 kupingnya mendengar percakapan yang meremukkan hati...

"Adik Sia, aku tahu langit susah ditambal, laut sukar diuruk, kukira hidupku ini akan nestapa sepanjang masa..."

"Engkoh Jiang, tiga puluh tahun, sudah membuat jiwa kita luntur, ada apalagi yang dapat kita peroleh?"

"Adik Sia, cinta tidak mengenal waktu dan segala batas..."

"Ya, tapi sekarang kita sudah tua!"

Karena mencintai Tiang-un Suseng Poh Jiang, Sim Giok-sia dipenjarakan selama tiga puluh tahun oleh ibunya (Setan barat).

Sekarang sepasang kekasih ini dapat bersua kembali.

Cinta mereka masih tetap murni dan abadi, tapi masa remaja sudah lanjut takkan kembali lagi.

Belum tentu mereka takkan bahagia, namun bahagia ini rada terlambat datangnya, pengorbanan yang harus mereka curahkan terlalu besar.

'Kita sudah tua!' kata2 ini rasanya sudah cukup menerangkan segala2nya.

Dalam hati Suma Bing mengambil suatu keputusan drastis, dia tidak boleh merenggut kebahagiaan sucinya yang terlambat.

Hutang darah ini, biar ditumpahkan dan dipikul oleh Suhengnya Loh Tju-gi yang durhaka itu.

Dia tidak tahu apakah keputusan itu benar, namun secara langsung ia merasakan bahwa suhunya yang dialam baka juga tidak akan menentang pendapatnya ini.

Sekilas ia memandang kedua kekasih yang masih berpelukan mesra, sekali melejit bayangannya sudah menghilang dikejauhan sana.

Lama dan lama sekali baru dua kekasih yang berpelukan dan rindu akan kemesraan itu saling pandang dan tersenyum tawa, tapi senyum tawa mereka adalah kecut, karena mereka sudah menelan kegetiran cinta.

Se-konyong2 Tiang-un Suseng tersadar dan berseru kejut, serunya.

"Kemana dia pergi"

"Adik seperguruanku! (sute)..."

"Apa, Suma Bing adalah Sutemu?"

Sim Giok-sia mengiakan.

"Bagaimana bisa terjadi..."

"Suhunya itu adalah ayah kandungku!"

"O, tapi kenapa kau she Sim?"

"Aku ikut she ibuku, ibuku juga menjadi guruku!"

Dengan penuh kejut dan keheranan Tiang-un Suseng Poh Jiang bertanya.

"Adik Sia, bukankah dulu kau mengatakan bahwa kau adalah seorang bayi yang diketemukan!"

"Memang riwayat hidupku baru belum lama ini kuketahui!"

"Gurumu juga adalah ibumu, mengapa dia mengurungmu selama tiga puluh tahun, masa tiada rasa cinta ibu kepada anak kandungnya..."

Sim Giok-sia tertawa pahit, katanya.

"Kejadian yang dia alami dulu sangat menyakiti hatinya. Aku tidak dapat menyalahkan dia, aku tahu dia sangat sayang kepadaku. Karena kesalahan pahamnya dengan ayahku, maka dia sangat membenci dan mendendam kepada seluruh laki2 didunia ini, maka..."

"Adik Sia, yang sudah lalu biarkanlah pergi, kelak..."

"Kelak bagaimana?"

"Apa kau tidak ada persiapan?"

Dengan sedihnya Sim Giok-sia tertawa ewa, ujarnya.

"Engkoh Jiang, kita sudah tua, lebih baik biarlah kita cadangkan rasa kasih mesra yang sangat berharga ini."

"Adik Sia, gemblengan dan ujian selama tiga puluh tahun, apa yang telah kita dapatkan? Kehampaan yang kita dapat. Tapi juga boleh dikata kita telah memperoleh terlalu banyak."

"Apa?"

"Cinta murni yang abadi dan teguh kukuh tak terpisahkan oleh masa dan usia."

"Adik Sia, apa kau rela cinta kita yang merana dan nestapa ini tiada akhirnya?"

"Sudah terlambat"

"Tidak, seseorang menggunakan seluruh tenaga sisa hidupnya, untuk mengejar sesuatu benda, tujuan yang utama hanyalah untuk mendapat kepuasan hati yang terakhir, meskipun kepuasan itu hanya sekejap mata saja, atau sudah luntur, tapi itu cukup untuk mengganti dan menambal semua pengorbanan yang telah dia curahkan."

Mendengar penjelasan yang merasuk hati ini timbullah sinar terang pada wajah Sim Giok-sia yang kurus kepucatan. Se-konyong2 berobah air muka Tiang-un Suseng, katanya.

"Adik Sia, pertikaian antara Bu-lim-sip-yu dengan ayahmu..."

"Aku tahu biang keladinya yang utama adalah Loh Tju-gi seorang. Memang keputusan ayah menyuruh Suma-sute menuntut balas adalah tidak patut!"

Gemetar suara Tiang-un Suseng.

"Adik Sia selama hayat masih dikandung badan, aku harus mencari bajingan Loh Tju-gi itu..."

"Sudah tentu, aku Suma Bing sudah pasti harus mencarinya."

Sekali lagi mereka berpelukan dengan mesranya, bahagia yang terlambat datang ini, akhirnya mengikat sejoli yang akan melangkah kejenjang hidup baru.

Dalam pada itu sepanjang perjalanan pikiran Suma Bing gundah tidak tentram.

Menurut cerita Si maling bintang Si Ban-tjwan bahwa ibunya masih hidup didunia ini.

Tapi selama sepuluh tahun lebih ini, mengapa tidak terdengar tentang kabar cerita atau jejaknya dikalangan Kangouw.

Semestinya dia sudah muncul lagi untuk menuntut balas pada musuh2 besarnya, hal ini benar2 membuat orang tak habis mengerti!

Latar belakang apalagi yang menyebabkan Loh Tju-gi menyekap diri selama empatbelas tahun ini setelah dia menduduki jago nomor satu diseluruh jagad?

Sudah dua kali Pek-kut Hujin menolong jiwanya, dengan sengaja atau secara kebetulan?

Kalau sengaja, apalagi tujuannya?

Lima sisa dari Bu-lim-sip-yu beruntun mati secara misterius, siapakah yang membunuh mereka?

Racun diracun pernah mengatakan kalau dirinya sudah mendapatkan Bunga-iblis Pedang berdarah segera diserahkan tanpa syarat.

Meskipun maksud tujuan Racun diracun ini susah diselami, tapi bagaimanapun juga dia harus mencoba sekuat tenaga.

Sebab bukan saja hal itu merupakan pesan terakhir suhunya sebelum ajal, juga menjadi cita2 ayahnya semasa hidup!

Kalau bibinya Ong Fong-jui mengatakan bahwa Bunga-iblis berada ditangan seorang momok wanita, bernama Bu-siang-sin-li, pasti hal ini boleh dipercaya.

Usia Bu siang sin li sudah seabad lebih, ilmu silatnya susah dijajaki, dia bersemayam di Bu-kong-san.

Dengan semangat me-nyala2 dan penuh harapan inilah Suma Bing tengah langkahkan kakinya menuju ke Bu-kong-san.

Bersama itu dia juga merasa bahwa perjalanannya ini agak membabi buta, seumpama benar2 dia dapat menemukan Busiang-sin-li, mengandal alasan apa dia hendak minta BungaTiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ iblis yang dipandang pusaka paling berharga dimata para kaum persilatan?

Begitulah pikiran Suma Bing me-layang2 jauh, dari sejak pertama kali ia turun gunung melaksanakan perintah suhunya sampai peristiwa yang baru saja dialami, semua terbayang didepan matanya.

Hari itu waktu tengah hari, setelah menangsel perut disebuah rumah makan, setelah Suma Bing menanyakan jalan menuju ke Bu-kong-san kepada pelayan, terus melanjutkan perjalanan.

Dalam perhitungannya dua hari lagi dirinya pasti sudah tiba diwilayah pegunungan Bu-kong-san.

Tengah ia mengayun langkah itulah tiba2 sebuah bayangan manusia dengan kecepatan terbang bagai bintang jatuh meluncur cepat kearah dirinya..WANITA GILA KORBAN PERMAINAN LOH TJU-GI.

Ter-sipu2 Suma Bing menggeser kesebelah kanan, maksudnya untuk mengelak supaya orang lewat dengan leluasa.

Tapi ternyata bayangan orang itu juga berkelit kearah yang bersamaan dengan sengaja.

Kedua belah pihak meluncur dengan kecepatan penuh, dalam detik2 hampir bertumbukan itulah.

Mendadak Suma Bing menyedot hawa dalam, sebat sekali kakinya menjejak tanah, kontan tubuhnya melesat tinggi ketengah udara terbang melewati atas kepala bayangan orang itu...

Maka terdengarlah suara gemerantang, terlihat bayangan manusia itu juga menghentikan luncuran tubuhnya terus memutar balik.

Waktu Suma Bing mengawasi bayangan orang ini, tanpa terasa ia menyedot hawa dingin karena yang dihadapinya ini kiranya adalah seorang wanita pertengahan umur yang rambutnya acak2an, bajunya kusut masai banyak tambalannya, kedua matanya kuyu redup, dan yang lebih mengherankan bahwa dileher wanita itu terikat seutas rantai panjang warna hitam yang terurai panjang diatas tanah.

Sekilas pandang Suma Bing segera bermaksud tinggal pergi.

"Kau jangan pergi!"

Sebuah suara kaku tanpa perasaan menghentikan langkahnya, suara itu membuat merinding dan tak enak perasaan Suma Bing. Suma Bing tertegun sambil membalik tubuh lagi, tanyanya dingin.

"Siapa kau?"

Mendadak wanita itu berkakakan menggila tak henti2nya, sekian lama dia me-liuk2 tertawa baru berhenti.

Kedua matanya yang kuyu redup mendadak memancarkan sinar kebencian yang ,me-nyala2 menakutkan orang.

Wajah keropos yang pucat pias itu menjadi bengis membeku penuh hawa membunuh, serunya sambil mengertak gigi.

"Aku inginkan jiwamu!"

"Apa kau minta jiwaku?"

Seru Suma Bing berjingkrak.

"Benar, hendak kukorek jantung hatimu..."

Suma Bing menjadi serba salah dan geli, katanya.

"Apa kau tahu siapa aku?"

"Kau menjadi abu juga akan kukenali, bukan saja hendak kubunuh kau. Kho-lo-sia guru setan tuamu itu akan kubunuh juga."

Suma Bing tertegun heran dan mundur selangkah.

Orang sudah tahu asal usulnya tapi sedikitpun dia tidak kenal orang, naga2nya orang ini tengah mencari dirinya untuk menuntut balas, maka segera katanya lagi.

"Sebenarnya siapa kau ini, ada permusuhan apa dengan aku yang rendah?"

Wanita itu mendesak maju selangkah, rantai ditubuhnya ikut terseret berbunyi nyaring, makinya sambil menunjuk kearah Suma Bing.

"Kau bukan manusia, kau binatang, hendak kukorek hati binatangmu itu, kau... mengapa kau demikian kejam? Oh, tidak! Aku tidak akan bunuh kau, tidak bisa, kau masih mencintaiku bukan?"

Berkerut alis Suma Bing, baru sekarang dia sadar bahwa orang yang dihadapinya ini kiranya adalah wanita gila, tanpa terasa dia tertawa geli sendiri.

Karena pikirannya ini segera ia jejakkan kakinya, tubuhnya melenting jauh...

Dimana terdengar suara gemerantang se-konyong2 wanita itu juga sudah melesat tiba dihadapannya sambil menyurung sebuah pukulan kedepan.

Walaupun agaknya pikirannya tidak beres, tapi gerak gerik wanita ini lihay sekali.

Karena tidak bersiaga Suma Bing kena tergetar mundur tiga langkah.

"Kau hendak pergi, hm, naga2nya hari ini aku harus membunuh kau!"

Suma Bing meng-geleng2 kepala sambil tertawa kikuk badannya segera melesat miring kesamping sana...

Dalam waktu yang hampir bersamaan wanita itu juga melesat ketengah udara, beruntun dia, lancarkan tiga kali pukulan yang menerbitkan angin men-deru2.

Mengingat pikiran orang kurang waras.

Suma Bing tidak mau meladeni serangan ini, sebat sekali tubuhnya jumpalitan menghindar.

Tapi serangan wanita itu malah semakin gencar beruntun ia lancarkan lagi serangan yang mematikan mengarah tempat penting ditubuh Suma Bing.

Se-konyong2 sebuah pikiran berkelebat dalam otak Suma Bing.

Batinnya.

kalau pikiran orang ini kurang beres bagaimana dia bisa mengenal asal usulnya.

Apa mungkin dia pura2 gila, atau ada latar belakang apalagi yang tersembunyi?

Mengapa pula lehernya diikat rantai, dilihat dari cara ia turun tangan kepandaiannya agaknya tidak lemah, lalu mengapa dia tidak berusaha menanggalkan rantai dilehernya itu?

Serangan2 wanita itu semakin deras dan kejam tak mengenal kasihan.

Karena banyak berpikir.

Suma Bing berlaku sedikit ayal, dan hampir saja jalan darah Ci-tong-hiat kena tercengkram.

Mau tak mau akhirnya dia harus mengambil keputusan yang tegas, pikirnya, terpaksa aku harus turun tangan meringkusnya dan ditanyai secara terang.

Karena ketetapannya ini beruntun dua tangannya bergerak lincah melintang kedepan.

"Blang,"

Sambil mengeluh kesakitan wanita itu terhuyung lima kaki jauhnya.

"Loh Tju-gi, akan kukeremus dagingmu kuminum darahmu!"

Sambil memaki kalang kabut wanita itu menyerbu datang lagi dengan serangan kalap.

Tergetar perasaan Suma Bing, sambil berkelit kian kemari, otaknya berpikir.

kiranya aku disangka Loh Tju-gi suheng yang murtad itu.

Apa wajahku mirip dengan Loh Tju-gi.

Tapi tidak mungkin, sedikitnya usia Loh Tju-gi sudah pertengahan umur, usia kita terpaut terlalu banyak, mana bisa salah kenal!

Hanya ada satu kepastian bahwa perempuan ini pasti dulu pernah dirugikan oleh Loh Tju-gi itu...

Serta merta lantas teringat akan ibunya San-hoa-li Ong Fang-lan, tanpa terasa bergidik dan merinding tubuhnya.

Menurut cerita si maling bintang Si Ban-tjwan bahwa ibunya dulu pernah diperkosa oleh bangsat Loh Tju-gi itu, apa mungkin...

Sekali melejit ia menyingkir sejauh dua tombak dan berdiri tegak, dia perlu menenangkan gejolak hatinya.

Pada saat itulah tiba2 sebuah tandu tengah mendatangi dengan kecepatan bagai terbang.

"Pek-hoat-sian-nio!"

Tanpa terasa mulut Suma Bing berseru kejut. Tiba2 perempuan gila itu berteriak nyaring terus berlari pergi se-kencang2nya.

"Cegat dia!"

Membarengi seruan ini, sebuah bayangan melesat datang lewat sampingnya.

Kontan Suma Bing kirim sebuah hantaman keras kearah bayangan ini, dimana debu dan kerikil beterbangan, bayangan itu kena tersuruk jatuh diatas tanah, dia bukan lain adalah guru daripada Ting Hoan yaitu Pek-hoat-sian nio.

Sambil menggeram gusar Pek-hoat-sian-nio lancarkan sebuah pukulan keras.

Segera Suma Bing angkat tangan menyambuti dengan kekerasan juga.

'Bum' ditengah dentuman menggelegar kedua belah pihak sama2 tersurut mundur satu tindak.

Dalam mundur setindak itulah Pek-hoat-sian-nio sudah lancarkan selentikan jarinya lagi, beruntun angin selentikan melengking saling susul menyambar kedepan.

Terpaksa Suma Bing jumpalitan kesamping menghindar...

Menggunakan kesempatan ini, Pek-hoat-sian-nio melejit kedepan dengan kecepatan yang susah diukur.

"Kemana kau pergi." -tubuh Suma Bing juga ikut melesat datang, ditengah udara ia lancarkan pukulan2 lihay membuat Pek-hoat-sian-nio terpaksa harus meluncur turun.

"Suma Bing, apa2an maksudmu ini?"

"Kita selesaikan perhitungan lama!"

"Hm, tidak malu kau turun tangan kepada seorang perempuan yang berpikiran kurang waras. Malah kau merintangi aku pergi mengejar dia, jikalau terjadi sesuatu diluar dugaan, awas kau harus bertanggung jawab?"

Terperanjat hati Suma Bing, jadi benar2 pikiran perempuan itu kurang waras, untuk apakah Pek-hoat-sian-nio mengejar perempuan gila itu?

Tapi kebencian hatinya mendesak dia melakukan langkah2 selanjutnya, maka dengan dingin ia menantang.

"Pek-hoat-sian-nio, dua kali hadiahmu yang berharga tempo hari, biar hari ini kukembalikan."

Sinar mata Pek-hoat-sian-nio, me-nyala2 gusar, rambut putihnya juga berdiri kaku, bentaknya keras.

"Suma Bing, kau mencari mati?"

"Belum tentu mencari mati, kita setali tiga uang."

"Baiklah, biar kusempurnakan keinginanmu itu,"

Bentak Pek-hoat-sian-nio sambil kirim serangan kearah Suma Bing, karena gusar kekuatan pukulannya seumpama kilat menyambar dan geledek menggelegar.

Sejak mendapat Kiu-tjoan-hoan-yang-tjauko dari pemberian Setan barat.

Lwekang Suma Bing bertambah berlipat ganda, sekali turun tangan kekuatan pukulannya juga bukan olah2 hebatnya.

Terjadilah pertempuran mati2an yang susah dilerai.

Keempat gadis pemikul tandu menonton diluar gelanggang dengan muka pucat dan hati berdebar keras.

Sekonyong2 terdengar suara pekik nyaring yang mengerikan dari kejauhan sana, suara itu benar2 membuat mengkirik dan berdiri bulu roma.

Serta-merta Suma Bing dan Pek-hoat-sian-nio menghentikan pertempuran.

Wajah Pek-hoat-sian-nio berobah pucat, sebat sekali tubuhnya meluncur kearah dimana suara pekik mengerikan itu terdengar.

Sejenak Suma Bing tertegun lalu membatin.

apa pekik kesakitan yang mengerikan ini keluar dari mulut perempuan gila itu?

Lantas teringat olehnya akan kata2 yang diucapkan oleh perempuan gila itu, tanpa terasa bergidik tubuhnya, sebat luar biasa iapun berlarian mengejar kedepan.

Tiga li kemudian ditengah jalan raya rebah terlentang sebuah mayat bergelimang diantara banjir darah.

Kepala mayat ini sudah hancur terpukul, wajahnya rusak berlepotan darah susah dikenal, sungguh mengerikan dan mengenaskan keadaan ini, rantai hitam panjang itu kini sudah tertanggal dari lehernya, separo diantaranya terendam diantara merah darah.

Tubuh Suma Bing gemetar keras, pandangannya nanap mengawasi mayat didepannya, sebuah pikiran yang menakutkan merangsang hatinya, sehingga keringat dingin membasahi jidatnya, akhirnya tercetus juga perkataannya.

"Siapakah dia?"

Air mata meleleh deras dikedua pipi Pek-hoat-sian-nio, dengan geram ia melotot kearah Suma Bing, lalu membungkuk memayang jenazah diatas tanah itu terus masuk kedalam tandu.

Segera keempat gadis seragam hijau berlarian pergi dengan cepatnya.

Suma Bing ter-longong2 memandangi noda darah diatas tanah seperti orang linglung.

"Suma Siangkong!"

Sebuah suara nyaring merdu membuat Suma Bing tersentak dari lamunannya. Seorang gadis cantik rupawan yang berwajah pucat tengah berdiri tegak dihadapannya dia bukan lain Ting Hoan adanya.

"Nona Ting!"

Seru Suma Bing terharu. Sejenak Ting Hoan menatap wajah Suma Bing dengan penuh perasaan kasih mesra tapi tak lama pula wajahnya berobah membeku, katanya.

"Suma Siangkong, kau berkukuh hendak berkelahi dengan suhuku, sehingga jiwa suciku menjadi korban."

"Dia adalah sucimu?"

Ting Hoan mengiakan.

"Dalam hal ini kunyatakan penyesalanku, siapakah pembunuhnya?"

"Bwe-hwa-hwe-tiang!"

Gigi Suma Bing gemeratak gusar, serunya penuh kebencian.

"Mengapa ketua Bwe-hwa-hwe mau turun tangan terhadap seorang perempuan yang berpikiran kurang waras malah turun tangan secara keji lagi?"

"Kulihat kau bergebrak dengan suhuku, maka segera aku datang mengejar seorang diri, sayang aku terlambat juga, waktu aku menyusul tiba dia sudah mendapat celaka, durjana itu baru saja tinggal pergi, sekian jauh aku mengejar tidak kecandak."

"Siapakah nama sucimu ini?"

"Untuk apa kau menanyakan ini?"

"Aku hanya ingin tahu saja!"

"Dia bernama Lim Siok-tien."

Suma Bing menghela napas lega, katanya lagi.

"Apakah aku boleh bertanya tentang keadaannya selama ini?"

"Dia seorang wanita yang harus dikasihani..."

"Dia pernah dipermainkan seorang lelaki?"

"Darimana kau tahu?"

"Dia salah sangka aku sebagai Loh Tju-gi, maka dia nekat hendak menempur aku."

Wajah Ting Hoan beringas katanya penuh kebencian sambil mengertak gigi.

"Benar, Loh Tju-gi sudah mempermainkan dia, lalu meninggalkan dia pergi. Dia melahirkan seorang anak perempuan yang meninggal tidak lama kemudian, dia sendiripun menjadi gila..."

"Loh Tju-gi akan datang suatu hari pasti kuhancur leburkan tubuhnya!"

"Eh, bukankah dia adalah..."

"Dia murid murtad dari perguruanku, juga musuh besar keluargaku. Selama aku masih hidup terbang kelangit atau menyusup kebumi pasti akan kucari dia sampai ketemu!"

Ting Hoan menghela napas panjang, ujarnya.

"Mengapa tidak siang2 kau katakan hal ini?"

"Kenapa?"

"Guruku juga menyangka kau sebagai murid Loh Tju-gi itu, maka dia turun tangan kepadamu!"

"Jadi begitulah duduk perkaranya."

"Setelah pikirannya kurang beres, setiap melihat pemuda gagah ganteng, lantas suciku anggap dia sebagai Loh Tju-gi. Karena terpaksa maka suhu mengurungnya dengan memborgol lehernya dengan rantai. Sungguh tak duga beberapa hari yang lalu dia dapat terlepas, maka kita beramai datang mengejar..."

"Apa kau melihat tegas orang yang membunuh dia adalah Ketua Bwe-hwa-hwe?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Hm, aku juga tidak akan melepas dia! Oh ya, nona Ting kuingat bukankah gurumu juga tengah mencari Tiang-un Suseng..."

"Benar, kenapa?"

"Belum lama berselang aku baru saja berpisah dengan Tiang-un Suseng, si orang berkedok yang bersama aku itulah orangnya."

"Si orang berkedok itu adalah Tiang-un Suseng?"

"Begitulah, baru sekarang aku mengetahui kedok sebenarnya."

"Tapi sekarang kami tidak perlu lagi mencari dia."

"Mengapa?"

"Tiang un Suseng Poh Jiang adalah duplikat dari Wi-thiantjhiu yang kenamaan di Bulim. Tujuan kita dulu adalah hendak minta dia mengobati penyakit gila suciku itu, sekarang suci sudah menemui bencana, tidak perlu lagi mencari dia!"

Suma Bing manggut2 sambil berdiam diri. Kata Ting Hoan lagi.

"Tentang kesalah pahamanmu dengan guruku kuharap sejak saat ini dapat dibikin terang."

"Ya, tentu dapat."

"Sekarang kau hendak kemana?"

"Menuju ke Bu-kong-san!"

"Apa keperluanmu kesana?"

Sejenak Suma Bing berpikir dan ragu2, akhirnya ia berkata sebenarnya.

"Aku berharap dapat menemukan Bunga-iblis..."

"Bunga-iblis?"

Seru Ting hoan penuh keheranan.

"Apa Bunga-iblis berada di Bu-kong-san?"

"Bukan, konon Bunga-iblis itu berada ditangan Bu-siang sin-li. Justru tempat bersemayam Bu-siang sin-li berada di Bukong-san..."

Berobah air muka Ting Hoan, katanya.

"Bu-siang-sin li, seorang Tjian-pwe aneh didalam dongeng, sudah lama tidak muncul di Kangouw, malah katanya ilmu silatnya setinggi langit, seumpama kenyataan memang begitu, kukuatir..."

Suma Bing tertawa ewa, katanya.

"Aku tahu tapi besar tekadku untuk mendapatkannya".

"Baik, kudoakan kau berhasil."

"Terima kasih!"

"Aku harus segera kembali membantu mengurus jenazah suci..."

"Silahkan nona Ting, aku juga harus segera berangkat!"

"Suma Siangkong..."

"Nona masih ada perkataan apa?"

"Aku... aku..."

"Kalau ada perkataan apa2 silahkan katakan saja."

Wajah Ting Hoan merah jengah, bibirnya sudah bergerak hendak berkata tapi ditelannya kembali.

Lalu sambil tunduk dia bermain ujung bajunya, sikapnya kikuk dan malu2, benar2 membuat orang merasa geli dan tenggelam dalam alunan asmara.

Mendadak ia angkat kepalanya lagi seakan tiba2 bertambah besar nyalinya, suaranya halus merdu.

"Ada sepatah kata hendak kuberitahukan kepadamu."

"Coba katakan?"

"Aku teringat pada waktu kau mengobati lukaku dulu itu..."

"Nona terluka karena aku, peristiwa itu selalu mengganjel dalam hatiku, dalam hal ini pasti aku tidak akan melupakan..."

"Tidak!"

"Mengapa tidak?"

Tanpa terasa berdetak keras jantung Suma Bing, entah apa maksud dengan 'tidak' itu?

"Walaupun kaum persilatan tidak mengukuhi adanya adat istiadat lama tapi sedikit banyak ada batas2nya.

Tubuh seorang gadis kalau sudah diraba dan dijamah oleh seorang laki2, dia...

dia harus bagaimana?"

Suma Bing tertegun, ujarnya.

"Nona waktu itu aku mengobati lukamu"

"Ya, memang mengobati lukaku, tapi seorang gadis memandang kesucian dirinya melebihi jiwa sendiri. Hakikatnya kita sudah bersentuhan tubuh, aku berkata demikian bukan karena ingin memohon sesuatu, aku hanya berharap supaya kau tahu selama hidup ini badanku ini tidak akan menjadi milik laki2 lain!"

Jantung Suma Bing hampir melonjak keluar, keringat membasahi seluruh tubuh, teriaknya gugup.

"Nona Ting, ini... ini..."

Kata Ting Hoan dengan kalem dan tenangnya.

"Sudah kukatakan aku tidak memohon apa2, asal kau tahu maksud hatiku saja. Sudah tentu aku tidak bisa paksa kau untuk mencintai aku. Ucapanku sampai sekian saja, harap kau jaga dirimu baik2!"

Habis berkata sekali lagi ia pandang wajah Suma Bing lekat2 penuh harap lalu tubuhnya melenting tinggi menghilang dikejauhan sana.

"Adik Hoan!" -waktu Suma Bing tersadar, dia berseru memanggil, tapi bayangan Ting Hoan sudah hilang tanpa jejak. Serasa ada sesuatu benda yang menindih sanubarinya, sedemikian berat benda itu sehingga membuat dia susah bernapas. Hubungan lelaki perempuan, antara cinta dan persahabatan tiada batas perbedaan yang jelas, waktu kau merasa resah dan gundah susah tentram, mungkin itulah pertanda cinta, tak perduli dalam keadaan yang bagaimana kamu merangkap pertemuan itu. Untuk pertama kali inilah hatinya resah karena cinta, karena cinta, telah membelenggu dirinya tanpa dia sadar sebelumnya. Tanpa terasa dia menghela napas dalam. Tengah ia tenggelam dalam renungannya itulah, mendadak sebuah bayangan manusia tengah mendatangi dengan sempoyongan kearah dimana Suma Bing tengah berdiri. Waktu Suma Bing tersadar kaget dan membalik tubuh, bayangan itu sudah terpaut tiga tombak dari dirinya. Waktu melihat orang yang mendatangi ini seketika membaralah hawa amarahnya menggeser kaki segera ia mencegat ditengah jalan sambil menghardik keras.

"Berhenti!"

Kiranya yang datang ini bukan lain Tang-mo adanya, salah satu dari Bu-lim-su-ih yang sejajar dengan Se-kui, Pak-tok dan Lam-sia.

Tang-mo menurut kata menghentikan langkahnya.

Terlihat oleh Suma Bing pandangan kedua mata orang begitu redup, napasnya memburu, jidatnya basah oleh keringatnya yang meleleh deras.

Diam2 terkejut hatinya batinnya apakah iblis laknat ini terluka parah?

"Iblis timur, akhirnya kita bertemu juga disini!"

"Kau... kau..."

Seru Tang-mo tergagap.

"Akulah Suma Bing, murid Lam-sia Su-hay..."

Tubuh Tang-mo ter-huyung2 hampir roboh agaknya dia hampir tak kuat lagi berdiri. Suma Bing membatin dalam hati.

"Luka iblis ini tidak ringan, entah terluka ditangan siapa dia."

Maka segera ia bertanya.

"Apa kau terluka?"

Iblis timur menggigit bibir menahan sakit dan menguatkan hatinya, serunya beringas.

"Buyung, memang Lohu terluka parah, kau mau apa?"

Hawa membunuh menyelubungi raut wajah Suma Bing desisnya dingin.

"Aku ingin mencabut jiwamu!"

Lagi2 tubuh Tang-mo terhuyung mundur, geramnya.

"Buyung, kau tidak adil menggunakan kesempatan ini..."

"Tutup-mulutmu, tidak peduli bagaimana kau hendak berkata, yang terang hari ini kau harus mati!"

"Ada permusuhan apa Lohu dengan kau?"

"Permusuhan! Hehehe, Tang-mo, ketahuilah dendam sedalam lautan setinggi gunung, tapi sebelum aku turun tangan, harap sukalah kau berlaku terus terang, jawablah beberapa pertanyaanku"

"Buyung, kau..."

"Dengar, peristiwa pengeroyokan dipuncak kepala harimau digunung Tiam-tjong-san dulu itu..."

"Buk!"

Suma Bing berjingkrak kaget.

Ternyata Tang-mo sudah roboh binasa.

Darah menyembur deras dari dadanya bagai mata air.

Saking gugup hampir saja bibir Suma Bing tergigit putus oleh giginya sandiri, ter-sipu2 ia memburu maju membalikkan tubuh orang dan memeriksa dengan teliti, tampak sebuah lobang besar didepan dadanya menembus sampai dipunggungnya.

Bahwa iblis laknat ini terluka dadanya tembus sampai kepunggung masih kuat menutup jalan darah dan berlarian sekian jauh sampai disitu, kekuatan Lwekangnya itu benar2 sangat mengejutkan.

Tapi siapakah yang telah melukainya?

Dengan kepandaian dan Lwekang Tang-mo yang lihay, orang yang mampu mengalahkan atau membunuhnya kiranya hanya beberapa tokoh lihay pada jaman itu.

Bahwasanya luka Tang-mo itu bukan karena kena pukul atau sesuatu ilmu aneh yang mengejutkan, adalah dadanya itu tertembuskan oleh sebilah senjata tajam.

Maka dapatlah dibayangkan bahwa sipembunuh itu pasti berkepandaian lebih tinggi dari Iblis timur sendiri.

Saking gegetun dan menyesal Suma Bing mem-banting2 kaki.

Tang-mo adalah salah seorang musuh besar yang ikut dalam peristiwa berdarah dipuncak kepala harimau di Tiam-tjong-san.

Dari mulutnyalah dia bersiap mengejar musuh2 besar lainnya, sungguh tidak kira sumber yang terpercaya inipun putus.

Siapakah yang telah membunuh Iblis Timur?

Angkara murka hatinya beralih kepada manusia yang membunuh Iblis timur itu, karena kematian Iblis timur maka dia harus kehilangan sumber pengejaran kepada musuh2 besarnya.

Mengawasi jenazah musuh besarnya yang tergolek mati ditangan orang lain ini, per-lahan2 semakin memuncak kegusarannya tangan diangkat hendak menghantam...

"Orang mati dendam ludas, sangat keterlaluan kalau kau merusak jenazahnya!"

Suma Bing mendengus keras sambil tarik kembali tangannya, terlihat olehnya si orang yang bicara ini bukan lain adalah si maling bintang Si Ban-tjwan.

"Si-tjianpwe apa baik2 saja selama berpisah?"

"Hehe, baik2 saja!"

"Apakah Tjianpwe tahu Tang-mo terbunuh oleh siapa?"

Seketika si maling bintang Si Ban-tjwan mengunjuk rasa heran dan terkejut.

"Apa kau sendiri tidak bisa melihat?"

Suma Bing menggeleng dengan hampa.

"Menurut hematku dadanya tertembus oleh senjata tajam, tentang siapa yang turun tangan belum dapat kuketahui!"

"Ha, peristiwa besar yang menggegerkan itu, masa kau masih belum dengar?"

"Peristiwa besar?"

"Pada saat ini dunia persilatan sudah menanjak pada akhir jaman, karena dimana2 tersebar keseraman dan kekejaman dengan bau anyir darah!"

Suma Bing berkerut alis, tanyanya.

"Wanpwe minta petunjuk?"

Baru pertama kali inilah Suma Bing merendah diri mengaku sebagai Wanpwe (angkatan rendah) kepada Si maling bintang.

Karena si maling bintang pernah memberitahukan kepadanya bahwa ibunya San-hoa-li Ong Fang-lan masih hidup, bersama itu dia juga menyanggupi untuk membantu mencari jejak ibunya itu, maka Suma Bing merasa sangat berterima kasih.

Kata Si maling bintang Si Ban-tjwan serius.

"Iblis timur mati ditangan Rasul penembus dada yang diutus oleh perkumpulan yang bernama Jeng-siong-hwe!"

"Jeng-siong-hwe?"

Seru Suma Bing terkejut.

"Aneh benar nama itu, belum pernah kudengar dikalangan Kangouw?"

"Rasul penembus dada muncul di Bulim baru beberapa bulan saja, dalam jangka waktu satu bulan, kaum persilatan dari aliran hitam atau putih yang mati tertembus dadanya oleh sebilah cundrik tidak kurang dari lima puluh orang. Malah para korban itu kalau bukan salah seorang pentolan daerah pasti tokoh kosen yang kenamaan..."

"Bukankah kepandaian orang yang menampakkan diri sebagai Rasul penembus dada itu sangat hebat dan mengejutkan?"

"Sudah tentu, Iblis laknat berkepandaian tinggi seperti Tang-mo saja tidak mampu membela diri, maka dapatlah kau bayangkan sendiri. Adalah yang paling mengejutkan bahwa Siau-lim-si yang terkenal sebagai pentolan yang merajai dunia persilatan juga tidak luput dikunjungi oleh Rasul penembus dada itu. Dibawah penjagaan ketat beratus murid lihay dalam kelenteng itu, masih dengan leluasa dia menembuskan senjatanya didada Liau Khong Hwesio kepala pengawas dari Lo-han-tong dan dua muridnya."

"Benar2 ada peristiwa besar ini?"

"Seluruh dunia persilatan sudah geger dan gempar, sayang mata kupingmu kurang jeli."

"Perkumpulan macam apakah Jeng-siong-hwe itu?"

"Teka-teki!"

"Siapakah pemimpinnya?"

"Tiada yang tahu!"

Dingin perasaan Suma Bing, bahwa Bwe-hwa-hwe sudah merupakan perkumpulan rahasia dikalangan Kangouw, kini muncul lagi sebuah Jeng-siong-hwe yang serba misterius dan menakutkan.

"Apakah tujuan Jeng-siong-hwe menimbulkan kancah pembunuhan berdarah itu?"

"Masih merupakan teka-teki!"

"Jeng-siong-hwe membunuh Tang-mo sehingga aku kehilangan sumber penyelidikanku untuk menuntut balas, perhitungan ini..."

"Apa kau hendak menagih pada mereka?"

"Sudah tentu!"

"Buyung sudahi saja. Saat ini yang terpenting adalah mencari jejak ibundamu, kalau ibumu masih sehat waalfiat kupercaya takkan ada seorangpun musuh besarmu dapat lolos"

Sikap Suma Bing menjadi lesu dan bersedih.

"Harapan ibu masih hidup agaknya sangat kecil."

"Mengapa?"

"Kalau dia orang tua masih hidup, selama puluhan tahun ini mengapa tidak kelihatan jejaknya. Mungkin setelah meninggalkan Tiam-tjong-san masih tidak luput dari tangan kejam para musuh2..."

"Itu juga mungkin, tapi bagaimana juga harus diselidiki sampai seterang2nya!"

Kata si maling bintang.

"Sudah banyak tempat kujajaki, sampai sekarang masih belum dapat kuperoleh..."

Dengan penuh perasaan haru Suma Bing memberi hormat kepada si maling bintang, ujarnya.

"Kebaikan Tjianpwe, selamanya akan kuingat dalam lubuk hatiku!"

"Buyung tidak perlu. Untuk menentramkan sanubari maling tua inilah aku berbuat begitu. Dulu kalau aku tidak terluka parah dan belum pulih lagi tenagaku, mungkin perkembangan selanjutnya bisa berobah. Hehe, yang lalu tidak perlu diperbincangkan lagi! Mari kekota didepan sana mencari warung dan minum arak untuk menghilangkan kesal!"

Tanpa menanti jawaban Suma Bing lagi segera ia berlari kedepan.

Sekilas Suma Bing melirik kejenazah Tang-mo terus mengikuti dibelakangnya.

Tak lama kemudian mereka sudah memasuki sebuah kota besar yang ramai.

Kedua tua muda itu bersama memasuki sebuah rumah makan Jui-lay-ki, mereka mencari sebuah tempat duduk disamping jendela dipojok sebelah sana, tak lama kemudian arak dan hidangan sudah memenuhi meja dihadapan mereka dengan lahapnya tanpa bicara mereka gegares semua makanan yang lezat dan nikmat.

Suasana dalam rumah arak itu sangat ramai dan penuh dengan para pengunjung rata2 mereka tengah memperbincangkan sepak terjang Jeng-siong-hwe, wajah mereka rada2 mengunjuk rasa takut2 dan seram.

Se-konyong2 suara keributan dalam ruang makan yang gaduh itu sirap seketika keheningan seram mencekam sanubari setiap hadirin, sedemikian sunyi senyap seumpama jarum jatuhpun dapat terdengar.

Suara si maling bintang Si Ban-tjwan berbisik gemetar.

"Sudah datang!"

Tanpa terasa tergerak dan berdetak hati Suma Bing pandangannya menyapu seluruh ruang tampak wajah semua hadirin pucat ketakutan matanya nanap memandang kearah tangga loteng.

Eh, diujung tangga sana berdiri tegap dengan angkernya seorang seragam putih dengan mengenakan kedok putih pula.

Bagi kaum persilatan kalau kepandaiannya tidak sangat tinggi diandalkan jarang ada orang yang suka mengenakan pakaian serba putih.

Sebab warna putih sangat menyolok mata disiang maupun dimalam hari.

Jubah panjang didepan dada orang aneh ini tersulam cundrik berwarna merah darah.

"Rasul penembus dada!"

Tanpa terasa Suma Bing membatin dalam hati.

Bahwa Rasul penembus dada terang2an muncul diatas rumah makan itu benar2 diluar dugaan semua orang.

Serta merta Suma Bing merasakan ketegangan hati.

Perlahan dan pasti Rasul penembus dada melangkah mantap diantara meja2 makan yang penuh diduduki para tamu, bagai dewa kematian yang tengah mencari sasarannya, dimana ia lewat orang2 itu menunduk kepala tidak berani beradu pandang.

Semua orang ber-tanya2 dalam hati elmaut kematian bakal menimpa kepada siapa.

Dua lobang bundar diatas kedok putihnya itu memancarkan sinar mata dingin ber-kilat2 bagai tajamnya pedang yang menciutkan nyali orang.

Kedua bola mata Suma Bing membelalak bundar dan bergerak mengikuti gerak tubuh Rasul penembus dada.

Tiba2 ia merasa dua sinar dingin dari sorot matanya itu tengah bentrok, merinding dan berdiri bulu kuduknya.

Batinnya.

Apa aku yang dituju?

Belum lenyap pikirannya ini sorot mata orang sudah beralih ketempat lain.

Setiap hadirin se-olah2 tengah menanti hari kiamat yang menakutkan.

Suara derap kakinya yang seperti disengaja berkeresekan diatas papan loteng, seakan irama kesedihan yang mengantar arwah kematian mendetam dihati setiap hadirin.

Suasana mencekam hati serasa membeku!

Dasar sifat Suma Bing memang congkak dan angkuh, tak kuat ia menahan suasana yang mencekam hatinya ini, bergegas ia bangkit dari tempat duduknya, baru saja...

Ter-sipu2 si maling bintang menekan pundaknya dan menyuruhnya duduk kembali.

Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ Akhirnya suara derap langkahnya berhenti.

Rasul penembus dada berhenti disamping sebuah meja besar disebelah timur sana.

Sekeliling meja besar ini sudah padat diduduki orang, yang berduduk ditengah adalah seorang berpakaian perlente dari kain sutera yang mengkilap berusia lanjut, kedua sisinya duduk dua perempuan muda yang memulas mukanya dengan pupur tebal.

Dihadapan si orang tua berduduk dua orang Tosu, dibaris belakang mereka berdiri jajar empat laki2 yang berpakaian sebagai centeng.

-oo0dw0oo-

Jilid . SI-T IAUKHE K = EMP AT MAY AT GAN TUN G "Siapakah orang tua berpakaian perlente itu?"

Tercetus satu pertanyaan dari mulut Suma Bing kepada si maling bintang.

"Dialah Ang Bong-cun, iblis cabul yang paling kenamaan didunia persilatan."

"Jadi si tua perlente inilah yang telah dipilihnya!"

Ditengah suara pekik kaget dan ketakutan, dua perempuan dan kedua Tosu itu bergegas bangkit dan berlari mengumpat dibelakang si tua perlente itu, wajah mereka pucat pasi.

Perlahan si tua perlente berdiri gemetar se-akan2 semangatnya tersedot hilang, matanya termangu, mulut terbuka lebar tanpa mampu mengeluarkan suara.

"Kau ini yang bernama Ang Bong-cun?"

Suara Rasul penembus dada melengking dingin menusuk hati.

"Ya, itulah Lohu adanya, entah tuan ada petunjuk apa?"

Sahut Ang Bong-cun gemetar.

Bibir Rasul penembus dada tampak ber-gerak2, agaknya ia tengah menggunakan ilmu Gi-i-coan-seng (suara semut menimbulkan gelombang) untuk bicara dengan orang, orang lain tidak akan mendengar percakapan mereka ini.

Tampak wajah Ang Bong-cun semakin pucat, tubuhnya gemetar dan terhuyung hampir roboh, keringat dingin sebesar kacang menetes deras, bentaknya bengis.

"Siapa kau?"

"Rasul penembus dada menerima perintah ketua kami untuk melaksanakan kematianmu!"

Suaranya dingin bagai es membuat semua pendengarnya bergidik seram.

Mendadak Ang Bong-cun menggerung keras, kedua tangan disodokkan keras kedepan, langsung ia menggenjot kedada Rasul penembus dada, naga2nya ia sudah nekad untuk gugur bersama.

Se-olah2 tidak merasakan ada serangan dahsyat ini, lincah dan seenaknya saja Rasul penembus dada menggerakkan sebelah tangan mengebut, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, tapi tiba2 tubuh Ang Bong cun terpental mundur bagai diterjang kekuatan dahsyat yang tidak terlihat pandangan mata.

Diam2 Suma Bing memuji dan mengurut dada, kepandaian Rasul penembus dada ini benar2 hebat dan mengejutkan.

"Ang Bong-cun,kau tidak akan menyesal menghadapi ajalmu."

Agaknya Ang Bong-cun sudah panik dan nekad, lagi2 kedua tangannya sudah diangkat dan menyerang lagi...

Terlihat sebuah bayangan putih berkelebat cepat dan terus mental balik ketempat asalnya lagi.

Lantas disusul terdengar suara jeritan yang mengerikan hati.

Tampak dada dan punggung Ang Bong-cun tahu2 sudah berlobang besar, darah segar bagai air mancur menyembur keluar dari lobang lukanya itu.

'Blang!' tubuhnya roboh menumbuk meja.

Adegan pembunuhan yang seram secara terang2an ini benar2 membuat hadirin terhenyak ketakutan ditempat duduk masing2, tubuh mereka gemetar tak henti2nya.

Dimana terlihat bayangan putih berkelebat bagai seekor burung bangau meluncur keluar melalui jendela terus menghilang dikejauhan dalam sekejap mata.

Suma Bing menggerung keras terus mengejar keluar melalui jendela itu.

"Hai Suma Bing gila kau!"

Seru si maling bintang Si Ban-tjwan.

Belum sirap suaranya bayangan Suma Bing sudah menghilang diluar sana.

Maka buncah dan gegerlah seluruh keadaan rumah arak yang tadi begitu sunyi senyap.

Ber-ulang2 si maling bintang mem-banting2 kaki, setelah melontarkan sekeping perak dimeja segera iapun mengejar keluar melewati jendela itu.

Sementara itu, begitu tubuh Suma Bing sampai diluar jendela, terlihat setitik putih bagai terbang tengah berloncatan diatas atap rumah dikejauhan sana, jaraknya tidak kurang dari ratusan tombak.

Suma Bing me-nyumpah2 dalam hati sampai keujung langit juga akan kukejar sampai dapat!

Dalam berpikir itu dengan kecepatan anak panah ia kerahkan seluruh tenaganya mengembangkan ilmu ringan tubuh terus mengejar kedepan seenteng burung walet.

Tiba diujung kota diluar sana adalah sebuah hutan lebat.

Titik putih itu dalam sekejap sudah menghilang dari jarak pandangannya didalam hutan itu.

Tanpa banyak pikir lagi Suma Bing langsung terbang memasuki hutan lebat, terasa cuaca sekelilingnya sangat gelap.

Selama berlarian sepeminuman teh itu kira2 ia sudah menempuh sejauh puluhan li, tapi bayangan putih itu tetap menghilang tanpa meninggalkan jejak.

Akhirnya bosan juga ia ubek2kan dalam hutan, baru saja ia berniat putar tubuh tinggal pergi.

Se-konyong2 sejalur angin dingin menghembus ditengkuknya, sungguh kejutnya bukan olah2, gesit sekali ia menggeser tubuhnya lima kaki kesamping lalu secepat kilat membalik tubuh, eh aneh bin ajaib, apapun tidak terlihat olehnya.

Dan baru saja ia hendak memutar tubuh, sejalur angin dingin menyerbu datang lagi dari arah belakang.

Tanpa terasa berdiri bulu kuduk Suma Bing, batinnya.

apa aku ketemu setan?

Kali ini ia tidak ter-gesa2 memutar tubuh, setelah menenangkan hatinya per-lahan2 ia memutar tubuh, sepasang matanya yang bersinar tajam, jeli dalam sekejap itu sudah menyapu pandang keempat penjuru.

Begitu melihat apa yang dipandang seketika darah tersirap diatas kepalanya, tubuhnya gemetar dan merinding.

Kiranya diatas sebuah pohon berjarak setombak lebih dibelakangnya sana tergantung sebuah mayat manusia.

Mayat itu agaknya sudah lama meninggal, tubuhnya kurus kering tinggal kulit membungkus tulang, tubuhnya bergoyang gontai dihembus angin lalu.

Tapi keadaan ini sangat janggal dan mengherankan.

Masa didunia ini benar2 ada setan kalau tidak sebuah mayat masa bisa menghembuskan angin?

Mendadak ia melihat kiranya mayat gantung itu bukan hanya satu tapi semua ada empat yang tergantung diempat penjuru, keempat mayat gantung ini serupa benar kurus kering, lehernya terikat kencang diatas seutas tali yang tergantung didahan pohon.

Dimana dirinya berada kebetulan tepat ditengah2 diantara keempat mayat gantung itu.

Hampir meledak jantung Suma Bing saking ketakutan kuncup nyalinya, bulu seluruh tubuhnya berdiri tegak, keringat dingin membasahi tubuh.

Masa didunia ini bisa terjadi keanehan ini, empat orang menggantung diri bersama.

Jantung Suma Bing berdetak keras dengan mendelong bergantian mengawasi keempat mayat gantung itu.

Benar2 bunuh diri secara massal atau mati digantung orangkah?

Tiba2 salah sebuah mata mayat itu ber-putar2 mulutnya mengeluarkan pekik tawa melengking menusuk telinga, dan belum lenyap suaranya ini tiga yang lain juga berbareng mengeluarkan lengking tawa dingin saling bersautan, suara tawanya sedemikian mengerikan bagai tawa setan dineraka yang mendirikan bulu roma dan menyedot semangat orang.

Akhirnya Suma Bing dibikin paham dan mengerti juga akan apa yang tengah dihadapi, dari ngeri dan seram hatinya menjadi gusar bukan buatan hardiknya keras.

"Tutup mulut!"

Karena bentakan nyaring laksana geledek menggelegar ini seketika siraplah suara tawa bersahutan dari keempat setan gantung yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang itu.

Terdengar Suma Bing melanjutkan makiannya.

"Menyamar setan menakuti orang, permainan rendah dari aliran manakah ini?"

Salah seorang aneh segera, menyahut dingin.

"Bujung, kau inikah murid Kho-lo-sia yang bernama Suma Bing?"

Diam2 terkejut hati Suma Bing, agaknya dirinya menjadi sasaran pencarian mereka maka dengan angkuh dan dinginnya ia mengiakan.

"Apa kau sudah pernah dengar nama Si-tiau-khek?"

"Si tiau-khek? Belum pernah dengar!"

"Huh, biar hari ini kau berkenalan!" -ditengah suara lengking tawanya berbareng Si-tiau-khek melayang turun keatas tanah, kedudukan mereka masih tetap berpencar diempat penjuru mengepung Suma Bing di-tengah2. Lehernya masih terhias tali gantung itu, sikap raganya benar2 seperti mayat hidup, pemandangan ini benar2 membuat seram dan takut orang yang melihatnya. Segera salah seorang yang berperawakan paling tinggi membuka kata.

"Buyung, ingatlah biar betul. Jangan sesudah kau menghadap Giam-lo-ong masih tidak mampu menyebut nama orang yang menyempurnakan jiwamu. Toayamu ini adalah pentolan dari Si-tiau-khek bernama Heng-si-khek."

Lalu berturut2 ia menunjuk dan menyebut. Bou-bong-khek, Hui-bing-khek dan teh-tjiam-khek. Sekilas Suma Bing menyapu pandang keempat mayat gantung itu lalu serunya dengan nada mengejek.

"Aku juga bisa sempurnakan kalian menurut cara nama gelaran kamu masing2. Tapi sebelum turun tangan aku ingin mengetahui apa tujuan kedatangan kalian?"

"Buyung."

Jengek Heng-si-khek sinis.

"Kematianmu sudah didepan mata, tidak perlu kau membual percuma, mau tahu tujuan kita?... kita ingin jiwamu!"

Sontak membara hawa amarah Suma Bing, serunya dengan nada berat.

"Kalian tidak mau mengatakan tujuan kamu, terpaksa aku yang rendah berlaku kurang hormat..."

"Buyung kau masih terpaut terlalu jauh!"

Tukas Bou bong-khek dengan suara melengking.

"Silahkan kau mencoba lebih dulu!"

Sambil membentak keras Suma Bing lancarkan sebuah hantaman menyerang kearah Bou-bong-khek.

Dimana gelombang angin badai melanda tampak Bou-bong-khek angkat sebuah tangannya yang kurus kering berputar satu lingkar...

Seketika angin pukulan Suma Bing yang dahsyat itu hilang sirna karena putaran tangan Bou-bong-khek ini.

Malah bersamaan dengan itu sejalur angin dingin menerjang tiba merangsang dirinya, betapa hebat kekuatan hawa dingin ini benar2 susah dibayangkan, seketika Suma Bing terbentur mundur tiga langkah.

Baru sekarang Suma Bing benar2 merasa sangat terkejut.

Bahwa Lwekang musuh kiranya lebih tinggi dan lihay dari dugaannya semula.

Salah seorang dari musuh ini saja sudah sedemikian lihay apalagi kalau berempat bergerak serentak mengeroyok dirinya, sudah pasti dirinya bukan tandingan mereka.

Akan tetapi dasar sifat pembawaan Suma Bing memang keras angkuh dan tak mengenal takut.

Begitu tubuhnya berdiri tegak lagi sambil menggerung keras ia lancarkan lagi sebuah hantaman yang menggunakan seluruh kekuatan Kiu-yang-sin-kang, gelombang panas ber-gulung2 bagai badai ombak dan gugur gunung menerpa kearah musuh.

Agaknya Bau-bong-khek dapat melihat gelagat akan kehebatan pukulan ini, tanpa berayal tubuhnya maju selangkah kedua kaki sedikit ditekuk lantas kedua tangannya disurung kedepan...

Setelah suara menggelegar bagai bumi meledak, tanah pasir bergulung dan beterbangan Suma Bing sempoyongan mundur lima langkah, darah bergolak hampir menyembur keluar dari mulutnya.

Sebaliknya Bau-bong-khek hanya tergeliat dua kali tanpa berkisar dari tempatnya semula.

Jengeknya.

"Bagaimana bocah busuk. Satu diantara kita sudah cukup mencabut nyawamu bukan?"

Sekarang baru Suma Bing benar2 merasa bergidik merinding, sejak dirinya menelan Kiu-tjoan-koan-yang-tjau-ko, Lwekangnya sudah maju berlipat ganda, sungguh diluar sangkanya bahwa dirinya masih tidak kuat melawan satu diantara Setan gantung ini.

Lwekang Ketua Bwe-hwa-hwe agaknya lebih unggul dari Bu-lim-su-ih, sebaliknya keempat setan gantung ini naga2-nya masih lebih unggul sedikit lagi dari ketua Bwe hwa-hwe.

Tapi untuk tujuan apakah para setan gantung ini mencari dirinya?

Bahwa kepandaian empat setan gantung ini memang bukan olah2 hebatnya, namun sebelum ini dirinya belum pernah dengar akan nama si-tiau-khek!

Dua kali terpental mundur tanpa terasa Suma Bing sampai dihadapan Hui-bing-khek sejauh jangkauan sebuah tangan, tahu2 sebuah jari tangan sudah menekan jalan darah besar Bing-bun-hiat Suma Bing, lalu disusul sebuah suara dingin menggiriskan mengancam.

"Buyung, jangan bergerak!"

Tergetar perasaan Suma Bing, seketika membara hawa amarahnya.

"Membokong melukai orang terhitung orang gagah macam apa?"

"Bocah busuk!"

Semprot Heng-si-khek segera.

"Waktu tidak menunggu orang, dengan cara begini lebih gampang dan cepat, jadi tak usah lagi kita berempat susah payah. Seumpama benar2 mau berkelahi, hehehe, sekali kita turun tangan serempak, kutanggung tubuhmu pasti hancur lebur jadi perkedel!"

Saking murka Suma Bing mengertak gigi, desisnya penuh kebencian.

"Si-tiau-khek, ingatlah akan penghinaan begini, akan datang suatu hari aku Suma Bing pasti membunuh kalian berempat!"

"Buyung, kudoakan kau mendapat kesempatan itu. Hanya sayang ucapanmu ini bagai kentut yang tak berguna."

Mendadak Teh-tjiam-khek menjerit keras melengking seperti pekikkan setan. Sebuah bayangan orang segera melesat tiba memasuki hutan. Segera Si-tiau-khek berseru lantang bersama.

"Lapor pada Ketua, kita sudah bekerja menurut perintah"

"Kalian berempat tak perlu banyak peradatan."

Waktu Suma Bing memandang, hampir saja dadanya meledak saking gusar, karena bayangan yang baru muncul ini ternyata bukan lain adalah Ketua Bwe-hwa-hwe.

Sungguh diluar tahunya bahwa Si-tiau-khek yang lihay ini kiranya adalah begundal Bwe-hwa-hwe?

Juga dia tak habis mengerti mengapa Ketua Bwe-hwa-hwa ini sedemikian besar hasratnya hendak melenyapkan dirinya?

Tidak lama kemudian beruntun berdatangan lagi beberapa orang berseragam hitam dari empat penjuru, baju didepan dada mereka bersulam sekuntum bunga Bwe besar.

Segera Heng-si-khek maju minta petundjuk.

"Lapor Ketua, bagaimana bocah ini harus kubereskan?"

Tanpa ragu2 segera Ketua Bwe-hwa-hwe menyahut.

"Gusur pulang kemarkas besar."

"Wah ini agak berabe, kalau terjadi sesuatu hal ditengah jalan."

Tapi dia orang tua ingin dia hidup, dan hendak mengompresnya sendiri..."

"Apakah Hwe-tiang masih ingat tentang peristiwa Pek kut-ji yang sudah muncul dua kali?"

Tercekat hati Suma Bing, timbul pertanyaan dan rasa curiga dalam benaknya, entah siapakah 'dia orang tua' yang dimaksud oleh Ketua Bwe-hwa-hwe ini?

Naga2-nya Ketua Bwe-hwa-hwe sendiri juga mendapat perintah lagi dari orang lain.

Terdengar Ketua Bwe-hwa-hwe berkata dengan nada berat.

"Hal itu sudah diatur dengan rapi sekali. Tutuklah jalan darah bocah ini, begitu lebih gampang kalian menggusur pergi. Lalu silahkan kalian berempat masing-masing mengendarai sebuah kereta berpencar dari empat jurusan langsung kembali kemarkas besar!"

"Kalau begitu hamba sekalian sudah paham,"

Sahut Hengsi-khek.

"Setiap kereta memuat seorang yang berwajah sama dan pakaian yang sama pula, berpencar dari empat penjuru."

Segera terdengar suara ringkik kuda dan roda kereta berkeletak-keletok mendatangi, empat kereta kecil lambat2 memasuki gelanggang.

Kedua mata Suma Bing mendelik merah membara, sungguh diluar dugaannya bahwa dirinya bakal begitu gampang terjatuh dalam cengkeraman iblis para musuh2nya ini.

Segera ketua Bwe-hwa-hwe berkata lagi.

"Pakaian kalian berempat juga harus diganti supaya tidak menimbulkan kecurigaan atau perhatian orang!"

"Hamba terima perintah."

"Bocah ini harap Lo-toa yang mengantar?"

"Baik!"

Diam2 Suma Bing tidak habis mengerti, didengar dari cara Ketua Bwe-hwa-hwe bicara kepada Si-tiau-khek benar2 membuat orang susah menebak atau mengambil kesimpulan apa dan betapa tinggi kedudukan Si-tiau-khek ini didalam Bwe-hwa-hwe mereka.

Apalagi kepandaian Si-tiau-khek agaknya masih lebih unggul dari Ketua Bwe-hwa-hwe sendiri?

"Mulai berangkat!"

Seketika Suma Bing merasa seluruh tubuh tergetar hebat, beberapa jalan darah besar ditubuhnya beruntun ditutuk.

"Buk", kontan tubuhnya terkapar diatas tanah, seluruh tubuh terasa lemas lunglai, mulut tak kuasa bicara, sia2 saja matanya melotot merah gusar sisa2 tenaga untuk melawan saja tidak mampu. Seorang laki2 segar segera maju mendekati sigap sekali orang ini mengenakan sebuah kedok kemuka Suma Bing, lalu mengganti juga pakaian Suma Bing dengan sebuah jubah warna hitam yang bersulam sekuntum bunga Bwe didepan dada. Hampir meledak dada Suma Bing, dan jatuh pingsan saking gusar. Bersama itu Si-tiau-khek juga telah mengeluarkan kedok masing2 terus dikenakan dimukanya untuk menutupi wajahnya yang beringas menakutkan. Sorot mata ketua Bwe-hwa-hwe mencorong tajam dari dalam kedoknya, sekilas ia menyapu pandang kearah Heng-si-khek dan berkata.

"Lo-toa, hati2lah sepanjang jalan!"

"Hamba sudah paham."

"Kalau terjadi sesuatu hal dan terpaksa, kuberi ijin untuk melenyapkan jiwanya. Dan juga, kalau kebentur lagi dengan Pek-kut-ji atau Rasul penembus dada, kau harus hati2 layanilah dengan hormat, jangan menggunakan kekerasan, inilah perintahku!"

"Hamba terima perintah!"

"Sekarang boleh berangkat, naik kereta kedua!"

Bau-bong-khek, Hui-bing-khek dan Teh-tjiam-khek segera melesat naik keatas kereta kesatu, kedua dan ketiga.

Sedang Heng-si-khek segera menjinjing tubuh Suma Bing langsung menuju kekereta kedua...

Pada saat itulah mendadak kerai kereta tersingkap sebuah bayangan putih mulus keluar dari dalam kereta melayang enteng bagai roh halus didepan kereta.

Pakaian sepan serba putih dan mengenakan kedok putih pula, didepan dadanya bergambar sebilah cundrik berwarna merah darah.

Seketika terdengarlah suara pekik terkejut dan ributlah suasana...

"Rasul penembus dada!" --"Rasul penembus dada!"

Bahwa Rasul penembus dada bisa keluar dari kereta kedua ini benar2 merupakan hal yang sangat mustahil dan susah dibayangkan.

Seketika Si-tiau-khek terhenyak kaget ditempat masing2.

Tidak ketinggalan Ketua Bwe-hwa-hwe juga terkejut mundur tiga langkah, tubuhnya gemetar menahan perasaan hatinya.

Begitu suara ribut2 itu sirap suasana menjadi sedemikian hening lelap menegangkan, keseraman seketika meliputi lubuk hati setiap hadirin.

Kurang lebih baru satu bulan Rasul penembus dada muncul didunia persilatan, tapi sepak terjangnya benar2 sangat menggemparkan kaum persilatan se-akan2 dunia persilatan sudah mendekati masa2 akhirnya entah dia dari aliran hitam atau putih begitu mendengar nama dan melihat ujudnya segera lari lintang pukang menyelamatkan diri.

Sudah tahu namun Ketua Bwe-hwa-hwe sengaja mengajukan pertanyaan.

"Tuan orang kosen darimana?"

"Rasul penembus dada!" -Kata2 ini keluar dari mulut tokoh misterius yang menakutkan ini, tekanan nada dan irama suaranya benar2 menyedot semangat semua anggota Bwehwa-hwe yang hadir. Merandek sejenak lantas Ketua Bwe-hwa-hwe berkata lagi.

"Tuan datang kemari ada petunjuk apakah?"

"Kau inikah Ketua Bwe-hwa-hwe?"

"Tidak salah!"

"Sebutkan namamu?"

Lagi2 Ketua Bwe-hwa-hwe tergetar mundur satu langkah, suaranya gemetar.

"Ini... maaf tak dapat kukabulkan."

Rasul penembus dada mengekeh tawa dingin, ancamnya.

"Kau berani membangkang?"

Walaupun jalan darah Suma Bing tertutuk, mulut tak dapat bicara, namun kupingnya masih bisa mendengar.

Dengan jelas ia menyaksikan dan dengar segala perobahan yang terjadi.

Hatinya turut terkejut dan heran bahwa Rasul penembus dada bisa mendadak muncul disitu.

"Blang", tubuh Suma Bing dilontarkan sejauh tiga tombak dan rebah tak berkutik diatas tanah. Sebat luar biasa keempat Setan gantung itu lantas berpencar keempat penjuru mengepung Rasul penembus dada. Dengan pandangan dingin Rasul penembus dada mendengus hina, tanpa melirik sekejappun kearah Keempat Setan gantung. Suasana seram ini semakin memperuncing ketegangan lubuk hati setiap hadirin. Sejenak menenangkan hatinya, lantas Ketua Bwe-hwa-hwe bertanya.

"Tuan ingin mengetahui nama besarku, apakah tujuan tuan?"

"Ingin kuketahui wajah aslimu, mudah bukan?"

"Apa tidak keterlaluan keinginan tuan ini?"

"Sekarang lebih baik kau segera tanggalkan kedokmu itu!"

Nada kata2nya seakan memerintah dan tidak memberi kelonggaran sedikitpun.

Bahwasanya Bu-lim-su-ih yang kenamaan juga tidak masuk dalam pandangan Ketua Bwe-hwa-hwe ini.

Sebaliknya menghadapi ketemberangan Rasul penembus dada ini sikapnya agak takut2.

Tapi dihadapan sekian banyak anak buahnya, demi menjaga gengsi tak dapat tidak ia harus memberanikan diri supaya tidak memperlihatkan kelemahannya.

Maka segera ia menyahut lantang.

"Maaf tak dapat kuturuti keinginan tuan!"

"Selamanya kata2 Rasul penembus dada sekokoh gunung tidak mengenal apa yang dinamakan 'tidak bisa'. Ketahuilah, diseluruh kolong langit ini tidak akan kubiarkan seseorang menyembunyikan wajahnya dihadapanku!"

"Memangnya kenapa?"

"Itu bukan urusan yang harus kau tanyakan!"

"Baiklah kutandaskan sekali lagi, tidak bisa!"

"Apa kau sudah membayangkan akibatnya?"

"Sebagai Ketua selamanya aku belum pernah diancam."

"Hehehehehe... obrolan impian!"

"Tuan terlalu menghina orang!" -disertai suara bentakan menggeledek, keempat Setan gantung serempak mengirim pukulan menyerang Rasul penembus dada. Bersamaan dengan itu Ketua Bwe-hwa-hwe malah melejit jauh menyingkir tiga tombak diluar gelanggang. Maka terdengarlah suara dentuman yang dahsyat memekakkan telinga, kontan keempat Setan gantung mundur terhuyung beberapa langkah. Hanya gebrak pertama kali ini cukup membuat kuncup dan ciut nyali setiap anggota Bwe-hwa-hwe yang hadir. Betapa hebat gabungan tenaga keempat Setan gantung ternyata masih tidak kuat melawan seorang malah terpental balik sendiri. Lwekang sedemikian hebat benar2 sangat mengejutkan dan menggetarkan. Pada saat keempat Setan gantung terhuyung mundur dan belum sempat berdiri tegak itulah tiba2 terlihat sebuah bayangan putih berkelebat secepat kilat, tahu2 Rasul penembus dada sudah melejit tiba dihadapan Ketua Bwe-hwa-hwe sejarak uluran tangan. Serta-merta Ketua Bwe-hwa-hwe tersurut mundur ketakutan.

"Tanggalkan kedokmu?"

Suara dingin Rasul penembus dada memerintahkan! "Tidak bisa!"

"Manusia sombong!"

Tiba2 terdengar sebuah lengking suara aneh, Hui-bing khek salah satu dari keempat Setan gantung dengan kecepatan kilat mendadak menubruk kearah Rasul penembus dada.

Belum tubuhnya tiba, rangsangan angin pukulannya sudah melanda lebih dulu.

"Kembali!" -dimana sebuah tangan Rasul penembus dada diayun, kontan tubuh Hui bing khek terpental balik ditengah udara. Maka pada saat yang bersamaan itu terdengar pula suara bentakan yang riuh rendah, ketiga Setan gantung yang lain serentak ikut merabu datang dengan pukulan2 dahsyat yang mematikan. Rasul penembus dada menggeram gusar, topan angin pukulannya sekokoh gunung kontan menerjang keluar memapak maju mengiringi suara geramannya itu. Kontan terdengar suara mendehem keras seperti hendak muntah diselingi suara lolong maut yang mengerikan. Bau-bing-khek dan Heng-si-khek terpental terbang delapan kaki jauhnya. Adalah Teh-tjiam khek yang paling mengenaskan, badannya terbawa terbang tergulung topan angin pukulan hingga jungkir balik seperti layang2 putus benangnya, hujan darahpun terjadi ditengah udara. Hampir dalam waktu yang sama. Ketua Bwe-hwa-hwe juga telah lancarkan sebuah hantaman dahsyat dari seluruh kekuatannya membokong punggung Rasul penembus dada. Pukulannya ini bukan saja keras juga cepat laksana kilat menyambar. Se-olah2 punggung Rasul penembus dada tumbuh mata, tanpa berpaling lagi tiba2 tubuhnya bergerak melingkar laksana seekor belut dan dimana kakinya menginjak tanah lagi, tahu2 tubuhnya sudah melejit tiba dihadapan Ketua Bwe-hwa-hwe sejauh tidak lebih dari tujuh kaki. Melihat pukulan yang paling diandalkan ternyata mengenai tempat kosong, tanpa terasa terbang semangat Ketua Bwe-hwa-hwe, belum sempat lagi otaknya berpikir, tahu2 ia merasakan pergelangan tangannya kesakitan, kiranya tangan kanannya telah digenggam kencang oleh Rasul penembus dada. Sementara itu, Suma Bing sudah melupakan dimana dirinya berada, kedua matanya dengan mendelong mengawasi gelanggang pertempuran. Bahwasanya dia sendiri sangat ingin melihat dan mengetahui bagaimana sebenarnya wajah asli dari Ketua Bwe hwa hwe ini, besar harapannya hendak membuka kedok musuhnya ini yang selalu memburu dirinya dan hendak membunuhnya malah. Teka-teki ini agaknya segera akan terpecahkan. Buncah dan ributlah para anggota Bwe-hwa-hwe yang hadir, pucat dan gemetar tubuh mereka melihat Ketuanya diringkus musuh, namun mereka insaf dan tak berani menampilkan diri untuk menolong.

"Jangan lukai majikan kami!"

Terdengar ketiga Setan gantung itu berteriak beringas ditengah suara pekik gusar mereka itulah berbareng mereka menubruk maju lagi sambil menyerang kalap.

Sekali jinjing dengan enteng sekali Rasul penembus dada angkat tubuh Ketua Bwe hwa hwe dibuat sebagai tameng untuk menangkis pukulan tiga setan gantung yang meluncur tiba dari tengah udara.

Terpaksa ter-sipu2 ketiga Setan gantung menarik balik serangannya kalau tidak pasti Ketua mereka sendiri bakal mati konyol.

Dengan nada hina dan muak Rasul penembus dada mengancam.

"Setan gentayangan, berdirilah yang agak jauh!"

Setelah saling berpandangan, benar2 juga tanpa berani banyak putar bacot tiga Setan gantung itu segera mundur beberapa langkah.

Tampak tubuh Ketua Bwe-hwa-hwe gemetar keras, mungkin baru sekarang dia merasakan betapa nikmat sebagai orang yang ditawan oleh musuh.

"Lekas kau turun tangan sendiri!" -suara ini se-olah2 mengandung daya perintah yang tak dapat dibantah dan diabaikan. Maka dilain saat kedok kain muka telah ditanggalkan, terlihat sebuah wajah cakap ganteng dari seorang pemuda yang mengandung kebengisan, pancaran matanya buas dan dugal. Tergetar perasaan Suma Bing sungguh diluar prasangkanya bahwa Ketua Bwe-hwa-hwe yang menggetarkan itu ternyata adalah seorang pemuda yang sepadan dengan dirinya. Ada permusuhan dendam apakah pemuda ini terhadap dirinya? Ya, benar, masih ada seorang lain dibelakang layar yang mereka sebut sebagai 'dia orang tua' itu. Lalu siapa pula orang tua itu? Para jagoan Bwe-hwa-hwe rata2 mengunjuk rasa terkejut tercengang dan penuh kecurigaan, baru pertama kali ini mereka melihat jelas wajah asli Ketua mereka selama mereka mengabdi diri dibawah perintahnya.

"Tuan sudah puas belum?"

Tanya Ketua Bwe-hwa-hwe sambil mengertak gigi. Agaknya Rasul penembus dada juga merasa diluar dugaan, sejenak ia tertegun lalu sahutnya.

"Masih ada satu hal..." 22. RACUN DIRACUN DIPERAS OLEH RASUL PENEMBUS DADA.

"Cepat katakan!"

"Siapa namamu?"

"Tjhiu Thong!"

Rasul penembus dada melepas tangannya lalu mundur satu tindak katanya.

"Sampai sekian saja kalian boleh pergi!"

Kata Tjhiu Thong Ketua Bwe-hwa-hwe dengan penuh kebencian.

"Tuan harus ingat perhitungan hari ini."

"Hehehehehe, kutunggu pembalasanmu!"

Segera Ketua Bwe-hwa-hwe ulapkan tangannya kearah tertua dari keempat Setan gantung yaitu Heng-si-khek sambil berseru.

"Bawa pergi!"

Sekali berkelebat Heng-si-khek melejit kesamping Suma Bing...

"Jangan sentuh dia!" -cegah Rasul penembus dada sambil angkat sebelah tangannya. Seketika Heng-si-khek terhenyak ditempatnya. Gigi Ketua Bwe-hwa-hwe gemeretak menahan amarah yang tak terkendalikan, geramnya.

"Apa maksud tuan sebenarnya?"

"Tidak apa2, lekas kalian pergi!"

Ketua Bwe-hwa-hwe membanting kaki dengan gemas dan dongkol, serunya.

"Tuan gunung tetap menghijau air selalu mengalir, kelak kita bertemu lagi!" -habis berkata ia ulapkan tangan memberi perintah untuk mundur. Maka bayangan orang berkelebatan suara roda kereta berkeletokan menjauh dalam sekejap mata semua sudah pergi bersih. Dipihak lain Suma Bing merasa kejut2 heran dan tak habis mengerti, masa kedatangan Rasul penembus dada ini adalah khusus hendak menolong dirinya? Sepasang mata Rasul penembus dada ber-kilat2 menyedot semangat menatapi wajah Suma Bing, tiba2 jari2nya ber-gerak2 dari kejauhan beruntun ia menutuk. Seketika bebas tutukan jalan darahnya, Suma Bing bergegas melompat bangun terus merangkap tangan sambil berseru.

"Atas pertolongan tuan..."

"Kau jangan salah sangka,"

Tukas Rasul penembus dada dengan suara dingin kaku tak berperasaan.

"Kedatanganku ini bukan hendak menolong kau!"

Suma Bing tertegun, tanyanya.

"Lalu apa maksud kedatangan tuan ini?"

"Mengejar jejak Ketua Bwe-hwa-hwe. Kebetulan ketemu kau disini ini memudahkan pekerjaanku."

"Jadi aku yang rendah ini juga tengah kau cari?"

"Ucapanmu benar!"

"Untuk urusan apa?"

"Kau bernama Suma Bing?"

"Tidak salah!"

"Murid Sia-sin Kho Jiang?"

"Benar!"

Seketika berobah sorot mata Rasul penembus dada, tahu2 Suma Bing merasa pandangannya kabur, belum sempat otaknya berpikir, sebuah cundrik yang berkilauan berhawa dingin tahu2 sudah mengancam diulu hatinya, kecepatan gerak serangan ini benar2 susah dibayangkan.

Keruan melonjak keras jantung Suma Bing, hanya sejenak wajah berobah pucat lalu kembali seperti sediakala lagi dengan sikapnya yang angkuh dan keras kepala, katanya.

"Tuan hendak berbuat apa?"

"Menembusi dadamu."

Bergetar seluruh tubuh Suma Bing, tanyanya.

"Sebab apa?"

"Sudah tentu harus kuberitahu kepada kau, sekarang jawablah pertanyaanku terakhir, Loh Tju-gi itu apamu?"

"Loh Tju-gi? Dia musuh besarku!"

"Musuh besar!"

"Benar, musuh besar yang harus kubeset kulitnya dan kuhancur leburkan badannya, ialah murid durhaka yang mencelakai gurunya sendiri."

Dimulut berkata begitu, dalam hati Suma Bing tengah membatin. heran, mengapa pula menyangkut pada diri Loh Tju-gi? Sejenak Rasul penembus dada merenung, lalu tanyanya pula.

"Jadi kau dengan dia adalah kakak-adik seperguruan?"

"Jadi tuan ini tengah mengompres keteranganku?"

"Boleh dikata demikian!"

"Kalau begitu maaf, selamanya aku yang rendah tidak suka diperas!"

Rasul penembus dada tertawa dingin, ancamnya.

"Apa kau tahu betapa nikmat bila dadamu kutembusi dengan cundrikku ini?"

"Ha, paling banyak mati."

"Kau tidak takut mati?"

"Mengapa harus ditakuti?"

"Cukup gagah"

Suma Bing menjadi gusar, semprotnya.

"Tuan hendak membunuh orang pasti ada alasannya bukan?"

"Kau sudah mulai takut?"

"Hm, takut, kutanyakan alasanmu hendak membunuh aku!"

"Gampang sekali sebab kau seperguruan dengan Loh Tjugi!"

Terkenang oleh Suma Bing peristiwa yang belum lama ini terjadi karena ada hubungan juga dengan Loh Tju-gi, maka hampir saja jiwanya melayang ditangan Pek-hoat sian nio.

Sekarang juga karena ada hubungan dengan Loh Tju-gi maka Rasul penembus dada mencari dirinya, entah darimana harus diterangkan persoalan ini?

Maka lantas katanya dingin.

"Aku sudah terjatuh ditangan tuan mau sembelih atau bunuh terserah kepadamu. Tapi ada satu hal perlu kutekankan kau boleh menggunakan alasan apa saja untuk membunuh aku, tapi jangan menyinggung nama Loh Tju-gi lagi! Kalau tidak matipun aku takkan meram!"

"Mengapa?"

"Murid durhaka dan sampah kaum persilatan, aku bersumpah hendak menghancur leburkan tubuhnya."

Lama dan lama sekali Rasul penembus dada tenggelam dalam pikirannya menerawangi apa yang harus dilakukan selanjutnya, akhirnya suaranya mendesis.

"Suma Bing, kau pasrah nasib saja, apapun alasanmu tidak berguna, kau sudah ditakdirkan untuk mati."

Suma Bing menyeringai seram, ujarnya.

"Silahkan turun tangan!"

Pada saat itulah mendadak Rasul penembus dada malah menarik mundur cundriknya dan berpaling kearah dalam rimba serta berseru lantang.

"Siapa itu main sembunyi seperti pancalongok, lekas menggelundung keluar!"

Diam2 Suma Bing memuji kagum akan kepandaian Rasul penembus dada yang lihay ini, sedikitpun dirinya tidak merasakan apa2, sebaliknya dia malah mengetahui adanya seseorang yang mengumpet didalam rimba, malah diketahui letak sembunyinya lagi.

Waktu Rasul penembus dada menarik cundriknya dan putar tubuh, kesempatan ini sebenarnya dapat digunakan Suma Bing untuk turun tangan membokong atau melejit menyingkir.

Tapi dasar sifatnya memang angkuh dan tinggi hati, tidak terpikirkan olehnya semua itu, dengan tenang ia tetap berdiri ditempatnya.

Memang apa yang diperbuatnya ini sangat tepat, dengan kepandaian Rasul penembus dada yang sedemikian tinggi, bilamana benar2 dia turun tangan membokong, kematianlah yang akan menimpa dirinya.

Begitulah bertepatan dengan habis ucapan Rasul penembus dada seorang aneh yang berwarna serba hitam legam bagai arang melompat keluar dari dalam rimba sana.

"Racun diracun!"

Dalam benak Suma Bing berseru.

Bahwa Racun diracun bisa muncul disitu pada saat itu pula benar2 susah dibayangkan.

Melihat keanehan bentuk orang yang mendatangi ini agaknya Rasul penembus dada juga merasa heran, sejenak tertegun lantas dia membentak.

"Kawan kosen darimanakah?"

"Akulah Racun diracun!"

"O, Racun diracun? Kau tahu siapa aku ini?"

"Rasul penembus dada!"

"Jadi kau sudah tahu dan sengaja melanggar?"

"Melanggar apa?"

"Kau berani mengintip gerak gerik Rasul penembus dada, apa kau sudah bosan hidup?"

Racun diracun mengekeh tawa dingin, serunya.

"Mulut besar yang sombong, aku Racun diracun tidak ingin hidup lama, tapi kau juga akan menyesal karena usiamu pendek."

"Hehehehe, kawan, kau sangka bisa menggunakan racun lantas bisa selamanya selamat?"

"Aku tidak berpendapat begitu, biar aku bicara terus terang, mengenai ilmu silat, mungkin aku yang rendah takkan terlepas dari tangan kejimu. Tapi tuan belum tentu dapat lolos juga dari racun berbisaku."

Suma Bing merasa kaget luar biasa.

Kiranya kedatangan Racun diracun adalah hendak melabrak Rasul penembus dada yang sudah menggetarkan dunia persilatan ini.

Terdengar Rasul penembus dada tertawa dingin, ujarnya.

"Racun diracun, sebelum kau menggunakan racunmu mungkin jiwamu sudah melayang lebih dulu."

Racun diracun membalas dengan tawa sinisnya, semprotnya.

"Mungkin sebelum tuan turun tangan membunuh aku kau sudah terkena racun berbisa yang menamatkan jiwamu."

"Seandainya sekarang ini aku sudah terkena bisa, aku masih mampu mencabut nyawamu."

"Sudah tentu, dengan kemampuan tuan segala racun berbisa tidak akan dapat segera membinasakan jiwamu, tapi waktunya tidak akan lama. Kalau tuan ingin mencoba marilah kita gugur bersama bagaimana?"

Betapa tinggi kepandaian Rasul penembus dada tak urung berdiri juga bulu romanya.

Musuh berani menamakan diri sebagai Racun diracun, apalagi sudah tahu betapa menakutkan nama Rasul penembus dada toh orang masih berani datang dan menantangnya lagi, agaknya kedatangannya ini mempunyai pegangan yang mantap.

Oleh karena pikirannya ini segera ia berkata lagi.

"Jadi kedatanganmu ini ada maksud tertentu bukan?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Coba katakan alasanmu?"

"Karena dia aku datang!"

"Dia? Maksudmu Suma Bing!"

"Benar!"

Hal ini bukan saja mengejutkan Rasul penembus dada, juga Suma Bing merasa diluar dugaan. Bahwa Racun diracun meluruk datang adalah karena dirinya boleh dikata sangat mustahil.

"Untuk dia kau datang?"

"Memangnya kenapa?"

"Kuharap tuan melepaskan dia!"

"Kurasa tuan salah alamat, tidak bisa karena dosa2 Loh Tju-gi lantas dia harus mati konyol dibawah cundrikmu itu."

"Hai, kawan, apa hubunganmu dengan dia?"

"Hubunganku sangat erat!"

"Coba kau terangkan!"

"Maaf, aku tidak dapat menutur!"

"Hm, kau sangka dengan obrolanmu itu lantas aku dapat melepaskan dia begitu saja?"

"Jadi tuan bersedia untuk gugur bersama?"

Lebih besar lagi rasa kejut dan heran Suma Bing, bahwa Racun diracun adalah musuh bebuyutan tangguh tak nyana kalau manusia paling berbisa ini rela dan iklas hendak berkorban jiwa demi kepentingannya, hal ini benar2 mustahil dan tidak masuk diakal.

Apa mungkin dia mempunyai sesuatu maksud tertentu?

Benar, ia pernah memberi dorongan dan nasehat kepada dirinya untuk mencari Mo hoa.

Jikalau Bunga iblis sudah didapat, maka tanpa syarat ia hendak mengembalikan Pedang darah kepada dirinya.

Bahwa Pedang darah dan Bunga iblis adalah dua benda pusaka kaum persilatan yang di-impi2kan dan hendak diperebutkan, siapa mendapatkan kedua benda keramat itu, pasti kepandaiannya tiada taranya didunia ini.

Apa tidak mungkin dia hendak meminjam tenagaku untuk mencari Bunga-iblis, lalu dari tanganku ia hendak merebutnya kembali?

Tapi ini juga tidak mungkin, kalau Pedang darah sudah berada ditangannya, mengapa dia sendiri tidak mau mencari Bunga-iblis itu, tentang ilmu silat dia lebih tinggi berlipat ganda dari dirinya...

Suma Bing terlongo hampa, sungguh dia tidak habis mengerti kemana sebenarnya tujuan orang?

Kenyataan Racun diracun rela menjual jiwanya untuk dirinja juga mimpipun dia tidak menduga.

Tengah ia menunduk menepekur itulah terdengar Rasul penembus dada tertawa dingin dan berkata hambar.

"Sobat, biar kusempurnakan keinginanmu!" -sambil berkata kakinya melangkah maju mendekati kearah Racun diracun. Ketegangan semakin meruncing penuh nafsu membunuh. Segera Suma Bing menggerung dengan beringas.

"Berhenti!"

Serta merta Rasul penembus dada menghentikan langkahnya, lalu berpaling dan menjengek.

"Kau tidak perlu kesusu, segera akan sampai giliranmu!"

"Tutup mulutmu!"

"Bagaimana?"

"Aku tiada ikatan atau hubungan apa2 dengan Racun diracun, aku tidak sudi menerima budi luhurnya ini."

"Jadi maksudmu..."

"Lepaskan dia pergi, kau urusan dengan aku saja!"

"Tapi dia sendiri mengatakan berhubungan erat dan kental dengan kau?"

"Dia bohong dan membual!"

Segera Racun diracun menyela berkata.

"Suma Bing, tidak perlu main sangkal, aku tidak takut kepadanya!"

Rasul penembus dada mendengus dongkol, desisnya.

"Tidak perduli bagaimana adalah kau sendiri yang mencari kematian!"

Darah bergolak merangsang jantung Suma Bing, saking gugup ia berteriak panjang.

"Jangan?" -sambil berteriak ia kerahkan seluruh tenaganya sekali berkelebat ia maju menubruk sambil kirim serangan kearah Rasul penembus dada. Rasul penembus dada ganda tertawa ejek, enteng sekali sebelah tangannya diayun bergelombanglah angin pukulannya bagai hujan badai derasnya... Ditengah suara mengguntur dari benturan kedua pukulan yang dahsyat itu, Suma Bing melolong panjang kesakitan, darah berhamburan dari mulutnya, badannya terpental terbang dan terbanting keras dikejauhan sana. Agaknya Rasul penembus dada belum puas begitu saja, lagi2 kakinya mendesak maju kearah Racun diracun. Segera Racun diracun angkat sebelah tangannya berseru.

"Nanti dulu!"

"Kau masih ada pesan apa yang perlu disampaikan?"

"Kuharap tuan suka memberi kelonggaran sekali ini kepada dia."

"Jiwamu sendiri sudah diambang kematian, buat apa kau mintakan belas kasihannya?"

Suma Bing mendongak sambil berteriak menggila.

"Aku Suma Bing tidak perlu mengemis kasihan orang lain!" -karena mulutnya terpentang darah menyembur lagi sedang tubuhnyapun tergolek lemas diatas tanah. Kata Racun diracun lagi.

"Jadi tuan tidak mau mengampuni jiwanya?"

"Hm, termasuk jiwamu juga!"

"Kalau sementara bagaimana, boleh bukan?"

"Sementara, apa maksudmu?"

"Sasaran tepat yang harus kau cari sebenarnya adalah Loh Tju-gi, sedang dia sendiri juga menjadi musuh besar Loh Tju-gi. Kuharap kau dapat memberi kesempatan untuk dia menunutut balas. Dan lagi, bukankah tuan juga mendapat perintah orang lain..."

"Tutup bacotmu, hal itu kau tidak perlu urus!"

"Tapi bagaimanapun juga aku minta tuan suka memberi kesempatan sekali ini, kalau hari ini..."

"Bukankah terlalu berabe, setiap saat setiap waktu aku dapat mencabut jiwanya, kalau kesempatan hari ini hilang, bukankah besok sama saja, apa bedanya dan manfaatnya kelebihan hidup satu hari?"

"Apa boleh buat, aku sendiri juga mendapat perintah untuk minta belas kasihannya!"

"Mendapat perintah dari siapa?"

"Kukira tuan kenal akan pemilik benda ini?" -habis berkata ia merogoh keluar sebuah benda dari dalam bajunya terus disodorkan kedepan mata Rasul penembus dada lalu cepat2 menyimpannya lagi. Walaupun Suma Bing terluka parah tak mampu bergerak, tapi setiap pembicaraan kedua orang ini dapat didengarnya dengan jelas, entah mendapat perintah siapakah Racun diracun untuk menolong jiwanya? Lebih tidak diketahui lagi benda apakah yang dipertunjukkan kepada Rasul penembus dada itu? "Bagaimana?"

"Kawan kau adalah..."

Suara Rasul penembus dada penuh perasaan heran dan kejut.

"Mengandal benda ini kuharap tuan dapat sementara melepas tangan?"

Segera Racun diracun menukas perkataan orang. Sekian lama Rasul penembus dada ragu2 dan bimbang, akhirnya berkata.

"Baik, tapi hanya sementara saja, kelak sukarlah dikatakan!!"

"Kalau begitu, kuucapkan banyak terima kasih!"

"Tidak perlu!" -bayangan putih berkelebat bagai segumpal asap bayangannya menghilang dibalik hutan sebelah sana. Racun diracun menghampiri kearah Suma Bing serta berkata.

"Lukamu tidak ringan?"

Sambil mengertak gigi, Suma Bing merangkak bangun, sahutnya.

"Tidak menjadi soal, hanya aku berhutang budi sekali lagi kepada tuan."

"Aku bekerja menurut perintah, kau tidak perlu ambil dihati!"

"Tuan mendapat perintah dari siapa?"

"Maaf tidak boleh kuberitahu kepada kau!"

Suma Bing menghela napas panjang, katanya.

"Biar kelak kubalas kebaikanmu ini, selamat bertemu." -lalu dengan sempoyongan ia berjalan keluar rimba.

"Kau tidak boleh pergi!"

Suma Bing melengak dan menghentikan langkahnya, tanyanya.

"Tuan masih ada omongan?"

"Kau harus berobat untuk memulihkan tenagamu."

"Itu mudah dan dapat kulakukan sendiri."

"Yang kumaksud sekarang ini, biar kubantu kau."

Memang sifat pembawaan Suma Bing angkuh dan keras kepala, selamanya dia tidak sudi terima budi orang lain, apalagi dia tengah curiga mungkin Racun diracun mempunyai maksud tersembunyi yang belum diketahui, maka segera ia menyahut tawa.

"Terima kasih akan kebaikanmu ini!"

"Suma Bing, keangkuhanmu ini tidak akan membawa faedah untuk kau, kalau kau bentrok lagi dengan orang2 Bwe-hwa-hwe, dalam keadaan luka parah dan tidak mampu membela diri, apakah sudah kau bayangkan akibatnya?"

Setelah tertegun sekian lamanya, sikap Suma Bing masih tetap kukuh.

"Hal itu sudah kupertimbangkan."

Racun diracun menggeleng kepala tanpa dapat berbuat apa2, ujarnya.

"Baiklah, kau boleh pergi, jangan kau lupa selekasnya mencari Bunga iblis, Pedang darah tengah menanti kau!"

Suma Bing membatin, seandainya tidak menemukan Bunga iblis, Pedang darah adalah milik ayahku, bagaimana juga aku harus merebutnya kembali. Dalam hati ia berpikir demikian, namun dimulut ia menyahut.

"Baik!"

Lalu dengan langkah sempoyongan ia tinggal pergi.

Mendadak sebuah bayangan putih berkelebat lagi, tahu2 Rasul penembus dada sudah melesat tiba lagi dalam rimba.

Kalau Rasul penembus dada sudah pergi dan kembali lagi hal ini membuat tergetar hati Suma Bing dan Racun diracun.

Segera Racun diracun mendahuluinya menyapa.

"Untuk apa tuan kembali lagi?"

Suara Rasul penembus dada mendesis dingin.

"Hampir aku kelupaan sebuah urusan besar"

"Urusan apa?"

"Serahkan Pedang darah kepadaku?"

Tergetar hebat hati Racun diracun, tanpa terasa kakinya mundur dua langkah, serunya.

"Mengapa harus kuserahkan kepadamu?"

"Kenapa kau tidak perlu tahu, lekas kau serahkan!"

"Tidak bisa"

"Kau tahu akibatnya?"

"Barang itu tidak berada padaku, berada di..."

Rasul penembus dada mengekeh tawa dingin, serunya.

"Kawan tahulah diri, benda apa yang kau kempit diketiak kirimu itu?"

Tanpa terasa berdiri bulu kuduk Racun diracun, sungguh diluar sangkanya bahwa Rasul penembus dada ternyata telah berhasil melatih ilmu aneh yang sudah lama menghilang didunia persilatan, hingga matanya dapat melihat benda tersembunyi dibalik baju.

Dilain pihak, Suma Bing juga tidak kalah heran dan kejutnya.

Muka Racun diracun adalah sedemikian hitam legam bagai arang, maka susah diketahui mimik wajahnya, tapi karena kena dikorek kedok rahasianya agaknya ia terkejut dan heran juga.

Rasul penembus dada tidak memberi hati desaknya lagi.

"Kawan, bekerjalah melihat gelagat!"

Agaknya Racun diracun kewalahan, terpaksa ia menyahut.

"Tapi terlebih dulu aku harus melapor kepada pemilik benda yang kuunjukkan kepadamu tadi..."

"Justru karena memandang muka pemilik benda itu aku mau melepaskan Suma Bing. Ini sudah melanggar kebiasaanku, tentang Pedang darah itu, tak peduli siapa pemiliknya harus diserahkan kepada aku, tiada kesempatan untuk kamu main debat!"

"Jadi tuan benar2 memaksa?"

"Sudah tentu!"

Adalah Suma Bing yang tidak kuat menahan rangsangan amarahnya, serunya dari samping.

"Tuan mengandal kepandaian hendak merampas dengan kekerasan..."

"Lebih baik kau tutup mulut!"

Tubuh Racun diracun tergetar hebat menahan perasaan hati, sekian lamanya baru ia kuat menyahut dengan gemetar.

"Tidak sukar tuan mengambil Pedang darah itu, tapi kau harus mengambil jiwaku dulu!"

"Bukankah itu sangat gampang?"

"Perlu dijelaskan terlebih dahulu, setelah kau memperoleh Pedang darah, kau takkan kuat berjalan sejauh satu li."

"Kau berani menggunakan racun?"

"Ya, karena terpaksa."

"Jadi maksudmu kita gugur bersama?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Aku kuatir sukar terlaksana keinginanmu itu?"

"Ada lebih baik tuan mencoba?"

"Bagus sekali, mari mulai!"

Dibarengi dengan lenyap suaranya, Rasul penembus dada mendesak maju secepat kilat, kelima jari tangannya bagai cakar garuda mencengkram tiba, dengan kepandaian Racun diracun yang lihay itu ternyata sedikitpun tidak mampu berkelit atau melawan, tahu2 pergelangan tangannya sudah dicengkram oleh musuh.

Tapi pada saat itu pula dengan kecepatan luar biasa sebelah tangan Racun diracun yang lain juga sudah menampar tiba dimuka lawan.

Maka terdengar Rasul penembus dada menggeram keras dimana pergelangan tangannya menggentak dengan keras, kontan tubuh Racun diracun disekengkelit jatuh dua tombak jauhnya.

Gebrak pertama ini, kedua belah pihak bergerak sedemikian cepat seumpama kilat berkelebat, hingga susah diikuti oleh pandangan mata.

Begitu menyentuh tanah, secepat itu pula tubuh Racun diracun sudah melejit bangun, kontan mulutnya mengoak muntah darah.

Dan sebelum dia bernapas lega, tubuh Rasul penembus dada dengan kecepatan bagai angin lesus merangsang tiba, dimana terdengar kain robek, jubah panjang didepan dada Racun diracun sudah berlobang.

Tahu2 Pedang darah sudah berada ditangan Rasul penembus dada.

Racun diracun berteriak beringas.

"Kau sudah terkena Racun tanpa bajangan, ditambah Induk-racun-berlaksa-tahun. Ketahuilah, kau takkan bisa keluar dari rimba ini"

"Sekarang kuperintahkan kau mengeluarkan obat pemunahnya"

Suara Rasul penembus dada agak gemetar.

"Kau bermimpi disiang hari bolong!"

"Kau tidak mau keluarkan?"

"Tidak!"

"Itu berarti kau mesti mati, termasuk dia juga!"

"Kau sudah melulusi untuk melepas dia?"

Desis Racun diracun mengertak gigi.

"Sekarang kucabut kembali pernyataanku itu!"

"Kau pelintat pelintut dan menjilat ludahmu sendiri, kau lebih rendah dari sampah kaum persilatan."

"Pergilah kalian menjadi pahlawan gagah dineraka." -mendadak sebelah tangannya diayun keatas, maka meluncurlah secarik sinar merah terang benderang menjulang tinggi kelangit. Lalu katanya lagi.

"Kawan, tanda pertolongan sudah kulepas, sebentar lagi pasti datang orang untuk mengambil Pedang darah ini, kau tidak menyangka bukan?" -sekali berkelebat tahu2 tubuhnya sudah mendekati Suma Bing, sebilah cundrik yang kemilau mengancam diulu hati Suma Bing. Racun diracun memekik kejut, serunya.

"Baik, kuberikan obat pemunah!"

Sigap sekali Rasul penembus dada membalik tubuh menghampiri kedepan Racun diracun pintanya.

"Serahkan obat pemunahnya!"

Cepat2 Racun diracun menjentik dua butir peles obat. Rasul penembus dada meraihnya kedalam tangannya dan tidak segera ditelan, sinar matanya ber-kilat2 menatap Racun diracun, katanya.

"Kawan, kau menyebut diri sebagai Racun diracun, dapatkah aku percaya akan obat pemunahmu ini?"

Racun diracun mendengus geram semprotnya.

"Tuan kau terlalu memandang rendah orang".

"Baik, kupercaya kau takkan berani main gila, kuingat kebaikanmu ini!" -habis berkata segera ia telan obat pemunah itu...

"Rasul penembus dada,"

Seru Suma Bing penuh kebencian.

"Aku bersumpah untuk merebut kembali Pedang darah itu!"

"Itu tergantung dari keberuntunganmu!" -lalu bayangan putih berkelebat ringan sekali tubuhnya melejit hilang dari pandangan mata. Dengan rasa penuh penyesalan Suma Bing menghadapi Racun diracun, katanya.

"Tuan, aku Suma Bing berhutang budi terlalu banyak kepadamu biarlah kelak kita bicarakan lagi!" -lalu sambil ber-ingsut2 ia berjalan pergi. Racun diracun membanting kaki, lalu secepat kilat iapun melayang pergi. Sukar sekali Suma Bing menggerakkan kedua kakinya, seakan berlaksa kati beratnya, setelah berjalan satu li lebih didepannya menghadang lagi sebuah hutan lebat yang gelap batinnya, aku harus mencari tempat tersembunyi untuk berobat. Tengah berpikir itu didapatinya tidak jauh disebelah sana sebuah pohon besar yang berlobang, bergegas ia menuju kearah pohon besar itu... Se-konyong2 terdengar suara kesiur angin dibelakangnya, cepat2 Suma Bing membalik tubuh penuh kewaspadaan. Terlihat seorang gadis cantik bak bidadari tengah berdiri lemah gemulai dihadapannya terpaut hanya dua tombak.

"Adik Sian, kau... kau..."

"Engkoh Bing!"

Kiranya gadis cantik itu bukan lain adalah Phoa Kin sian yang sudah ada ikatan jodoh sebagai istri Suma Bing.

Secara tiba2 Phoa Kin sian muncul dalam rimba itu benar2 diluar dugaan Suma Bing.

Seketika teringat akan adegan dalam rimba diluar kuil bobrok dulu, tanpa terasa merah jengah wajah mereka.

"Adik Sian, bagaimana kau bisa datang kemari?"

"Kulihat ada beberapa orang anggota Bwe-hwa-hwe meronda diluar hutan, saking kepingin tahu, ku-coba2 kemari memeriksa. Eh, engkoh Bing, kau terluka?"

"Benar!"

"Terluka oleh siapa?"

Suma Bing menutur secara ringkas jelas. Berkerut dalam alis Phoa Kin-sian, katanya penuh kasih sajang.

"Engkoh Bing, kau perlu segera berobat!" -Lalu dengan langkah lemah gemulai ia datang menghampiri dan payang Suma Bing masuk kedalam lobang pohon. Seumpama seorang istri setia tengah melayani suaminya dengan penuh rasa cinta kasih, timbul suatu perasaan manis mesra dalam benak Suma Bing. Apalagi bau harum yang memabukkan perasaan itu lebih2 membuat hati syur me-layang2. Lobang pohon itu cukup besar lebih setombak luasnya, cukup luas untuk mereka mengumpat sementara disitu. Phoa Kin-sian keluarkan dua butir pulung obat lalu per-lahan2 dijejalkan kedalam mulut Suma Bing, serta katanya lemah lembut.

"Engkoh Bing, biar kubantu kau..."

"Tidak perlulah, dengan keampuhan Kiu-yang-sin-kang dibantu khasiat obatmu, kukira cukup berlebihan!"

"Baiklah, biar aku yang menjaga diluar!" -lalu ia menggeser maju kemulut lobang. Sedang Suma Bing segera duduk semadi mengerahkan tenaganya. Sang waktu berjalan dengan cepat, siang sudah berganti malam, dalam kegelapan malam didalam lobang pohon itu, sepasang kekasih tengah berindehoy tenggelam dalam perasaan bahagia yang tak berujung pangkal. Sambil menggelendot didada Suma Bing, Phoa Kin-sian berkata malu2.

"Engkoh Bing, agaknya aku..."

"Kau kenapa?"

"Aku... aku..."

Setengah harian Phoa Kin-sian tergagap tak kuasa mengeluarkan kata2.

Dalam pandangan Suma Bing yang berkepandaian sedemikian tinggi, kegelapan malam tidak menjadi soal dalam pandangan matanya, samar2 masih terlihat olehnya sikap malu2 dari wajah kekasihnya ini.

"Adik Sian, sebenarnya ada apakah?"

"Agaknya, aku... aku sudah punya..."

"Punya apa?"

Kepalan Phoa Kin-sian memukul agak keras didada bidang Suma Bing, serunya agak gemetar.

"Dungu, aku tidak tahu!"

Keruan Suma Bing melengak dan garuk2 kepala, entah mengapa mendadak Phoa Kin-sian ngambek, maka per-lahan2 tangannya meng-elus2 rambutnya sambil ujarnya.

"Mengapa perkataanmu sendlap-sendlup tak karuan?"

"Apa betul kau tidak tahu?"

"Kalau tidak kau katakan masa aku bisa tahu, toh aku bukan cacing dalam perutmu!"

"Aku sudah mengandung!"

"Apa, kau sudah mengandung?"

Suma Bing memeluk Phoa Kin-sian dengan kencang, saking girang badannya gemetar dan mulutnya menggumam.

"Kita bakal punya anak..."

Bagai seekor domba yang aleman Phoa Kin sian membiarkan Suma Bing memeluknya semakin kencang hingga susah bernapas.

"Adik Sian, kau bertempat tinggal bersama Bibi Jui?"

"Ya."

"Dimanakah?"

"Suhu menyuruh aku sementara tidak memberitahu kepada kau."

"Mengapa?"

Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ "Aku tidak tahu!"

"Kalau aku ada urusan..."

"Suhu atau aku dapat mencari kau, ai, Engkoh Bing, katamu Pedang darah sudah terjatuh ditangan Rasul penembus dada?"

"Begitulah kenyataannya."

"Biar kulapor kepada suhu untuk merebutnya kembali..."

"Jangan, aku bersumpah untuk merebutnya sendiri."

Malam terus merayap mendekati pagi, sang surya sudah muncul dari peraduannya, jagat raya sudah terang benderang. Suma Bing berjalan keluar dari lobang pohon menggandeng tangan Phoa Kin-sian.

"Engkoh Bing saat ini kau hendak kemana?"

"Aku hendak ke Bu-kong-san mengadu peruntungan, mungkin aku dapat mencari jejak Bunga iblis siapa tahu?"

"Aku pergi bersama kau, kita dapat saling membantu?"

"Tidak, adik Sian, apa kau lupa kau sudah ada..."

"Itu tidak menjadi halangan"

Phoa Kin-sian memberikan sebuah senyuman manis mesra yang menggiurkan kepada Suma Bing, tak tertahan Suma Bing lantas memeluk dan menciumnya sekali.

Begitulah mereka bergandengan menyusuri rimba menuju kejalan raya, lalu ambil perpisahan dengan rasa berat dan haru.

23 SEORANG KORBAN CINTA YANG SAMPAI LUPA AKAN USIA SENDIRI Siang dan malam Suma Bing menempuh perjalanan menuju ke Bu-kong-san.

Bu-kong-san adalah gunung-gemunung yang ber-lapis2 dan bersusun menjulang tinggi keangkasa.

Tidak perlu dipersoalkan apakah Bu-siang-sin-li si manusia aneh berusia seabad itu masih hidup didunia fana ini atau tidak.

Hanya untuk mencari gua tempat dia semayam diantara sekian luas hutan dan dataran tinggi serta lembah2 dialas pegunungan yang belum pernah dijajaki manusia, seumpama mencari jarum dilautan.

Sejak beranjak memasuki pegunungan Suma Bing langsung memanjat kepuncak tertinggi melalui jurang2 dan hutan2 lebat, tak mengenal lelah ia menjelajah dan mengarungi kesegala penjuru, tidak ketinggalan tempat2 yang mencurigakan telah diselidiki.

Satu hari -dua hari -tiga hari -tahu2 sebulan sudah berlalu dengan cepat tanpa terasa.

Selama ini sedikitpun Suma Bing belum mendapat hasil yang diharapkan.

Keputus-asaan sudah mulai merangsang benaknya.

Hari itu Suma Bing tengah menjelajah sampai dipinggir sebuah jurang yang dalam tak terlihat dasarnya, memandangi kabut tebal yang ber-gulung2 didepan matanya ini, terasa seakan dirinya berada di-awang2.

Se-konyong2 sebuah helaan napas panjang yang penuh mengandung kegetiran hati samar2 terdengar dalam kupingnya.

Helaan napas itu membuat pendengarannya merasa seakan ia semakin tenggelam kedalam lembah sunyi yang tak berujung pangkal, seumpama pula kepala diguyur air dingin dimusim dingin, gemetar dan membeku seluruh tubuh.

Pandangan Suma Bing menjelajah keempat penjuru, terlihat diatas sebuah batu cadas besar yang menonjol keluar dipinggir jurang sebelah sana, berdiri tegak mematung bayangan seseorang.

Dari pakaian yang me-lambai2 dihembus angin pegunungan, tidak perlu diragukan itulah seorang wanita adanya.

Aneh dan mengherankan, dilembah pegunungan diatas batu cadas ini, darimana datangnya seorang wanita yang menghela napas sedemikian sedih memilukan?

Timbul rasa heran dan ingin tahu Suma Bing, per-lahan2 ia menggeremet mendekati.

Dari jarak dekat inilah baru ia melihat tegas kiranya itulah seorang wanita setengah umur berambut setengah ubanan, tengah asyik memandang kabut didepannya yang ber-gulung2 mengambang bebas ditengah udara.

Dari bangun tubuhnya yang ramping semampai dapatlah dibayangkan pasti semasa mudanya wanita ini adalah seorang gadis yang ayu rupawan.

Lama dan lama sekali kedua belah pihak tetap membisu tanpa buka suara.

Batu cadas dimana wanita setengah ubanan itu berdiri luasnya tidak lebih tiga kaki dibawahnya adalah jurang yang dalam yang tak kelihatan dasarnya, jikalau terpeleset jatuh pastilah tubuhnya akan hancur lebur.

Tak urung timbul secercah kekuatiran dalam lubuk Suma Bing.

Akhirnya terdengar wanita tua itu membuka suara juga.

"Siapa itu?" -suaranya dingin tanpa emosi.

"Aku yang rendah Suma Bing!"

"Enyah dari sini!"

Suma Bing melengak, agaknya orang tengah menanti seseorang, maka segera ia bertanya.

"Apakah Cianpwe tengah menantikan seseorang?"

"Apa kau memanggil Cianpwe kepadaku?"

"Apa tidak pantas?"

"Berapa usiamu tahun ini?"

"Belum cukup sembilan belas tahun!"

"Cianpwe? Apakah aku sudah tua?"

Wanita tua itu bicara dan menggumam sendiri.

Suma Bing tergerak hati, ucapan yang sangat ganjil sekali, dikolong langit ini masa ada orang yang tidak mengetahui usianya sendiri, apa mungkin, dia seorang linglung yang tidak waras pikirannya...

Sejenak merandek lantas wanita tua itu menggumam lagi.

"Aku Giok-li Lo-Ci ternyata sudah tua, tidak, aku belum tua, aku tidak boleh tua, mengapa dia tidak kunjung datang juga?"

Suma Bing berpikir. kiranya perempuan tua ini bernama Giok-li Lo Ci, entah siapakah orang yang dimaksudkan itu? "Lo-cianpwe..."

Mendadak Giok-li Lo Ci berpaling kearah Suma Bing sorot matanya ber-kilat2.

"Siapa kau, darimana kau tahu aku she Lo?"

Suma Bing menjadi bingung, dilihat dari sorot mata orang yang terang dan jernih, pastilah bukan orang yang linglung atau gelap pikiran.

Apalagi Lwekangnya sudah sempurna, justru yang mengherankan cara bicaranya membuat orang tidak habis mengerti.

Maka segera sahutnya.

"Bukankah kau sendiri yang mengatakan?"

"Apa betul?"

"Lo-cianpwe tengah menanti seseorang?"

"Benar!"

"Siapakah dia"

"Usianya mungkin lebih tua sedikit dari kau..."

"Apakah putramu?"

"Hus, kurang ajar!"

"Siapakah namanya, mungkin aku dapat membantu?"

"Namanya Sia-sin Kho Jiang!"

Suma Bing melonjak kaget dan mundur tiga langkah, hampir dia tidak percaya akan pendengaran kupingnya, seketika ia terhenyak ditempatnya tanpa kuasa mengeluarkan suara kiranya perempuan ini tengah menanti suhunya?

Sejak kena dibokong hingga menjadi invalid sampai mati suhunya belum pernah muncul dikalangan Kangouw selama dua puluh tahun.

Secara diam2 Sucinya Sim Giok-sia bertunangan dengan Tiang-un Suseng, maka akhirnya dikurung subonya selama tiga puluh tahun, saat mana usianya pun sudah mendekati lima puluhan.

Sebaliknya Giok li Lo Ci mengatakan bahwa orang yang dinantikan kedatangannya ini berusia sedikit lebih tua dari dirinya.

Jikalau itu benar, bukankah itu berarti dia telah menanti dan menanti selama lima puluh tahun lebih.

Kabarnya suhu dan subonya bertengkar dan berpisah, apa mungkin karena perempuan ini?

Mendadak Giok-li Lo Ci berteriak melengking bergegas meninggalkan batu cadas itu dan melompat maju kehadapan Suma Bing serta serunya gemetar.

"Benda apa yang kau pakai dijari tengahmu itu?"

Suma Bing terperanjat, sahutnya.

"Cincin Iblis!"

"Cincin iblis?"

"Benar!"

"Darimana benda itu kau dapatkan?"

Semakin besar dan tepatlah dugaan Suma Bing bahwa perempuan tua yang bernama Giok li Lo Ci ini, adalah kekasih suhunya semasa masih muda dulu.

Kalau begitu, apa benar dia sudah menunggu selama lima puluh tahun?

Dalam secercah ingatannya bayangan wajah suhunya semasa masih muda pada lima puluh tahun yang lalu.

Maka tidak menjawab dia balik bertanya.

"Jadi Cianpwe selalu menunggunya ditempat ini?"

"Disinilah kita mengikat jodoh, dia mengatakan pasti akan datang, aku percaya dia takkan menipu aku!"

"Sudah berapa lama Cianpwe menunggu disini?"

"Aku tidak tahu!"

"Yang kutanyakan tadi bagaimana Cincin iblis ini bisa berada ditanganmu?"

Giok-li Lo Ci kembali mengalihkan pembicaraan pokok.

"Sebab aku adalah muridnya!"

Giok-li Lo Ci terharu dan bergirang.

"Kau adalah murid engkoh Jiangku?"

"Benar!"

"Dimana dia berada?"

"Dia..."

"Katakanlah dimana dia?"

Tanpa terasa Suma Bing merasa mendelu dalam hati, kerongkongannya seperti disumbat sesuatu, bahwa suhunya sudah menutup mata, apakah hal ini harus diberitahukan kepadanya?

Apa dia kuat menerima pukulan batin ini?

Atau membiarkan dia menunggu lagi dengan penuh harapan yang tak mungkin harapan itu kunjung datang?

Apakah penipuan demikian tidak terlalu kejam?

Sesaat dia menjadi bimbang, entah bagaimana dia harus memberi jawaban yang positif.

Lima puluh tahun, ya selama lima puluh tahun dia telah menunggu, sampai usia sudah tuapun tidak disadari olehnya, betapa besar pengorbanan yang telah dikeluarkan demi cintanya.

Cinta itu buta dan cinta memang dapat membuat jiwa orang gersang, ah, sungguh kasihan!

Giok-li Lo Ci mendesak maju dua langkah, suaranya berteriak hampir menggila.

"Katakan, dimana Sia-sin Kho Jiang berada?"

"Dia... dia..."

"Dia bagaimana?"

Benak Suma Bing bekerja keras, daripada membiarkan ia meninggal secara mengenaskan dengan putus harapan adalah lebih baik memberikan secercah harapan untuk hidup.

Kalau toh dia sudah menanti selama lima puluh tahun, apa pula halangannya untuk menanti lagi entah sampai berapa lama, kalau dikatakan secara kenyataan tindakannya ini memang agak terlalu kejam, tapi apa boleh buat, maka segera sahutnya lantang.

"Dia orang tua tengah menutup diri karena tengah melatih suatu ilmu!"

"O, aku tidak dapat menyalahkan dia, dia pasti datang!"

Suma Bing benar2 sudah tak dapat menahan suasana yang menyedihkan ini, cepat2 ia memberi hormat terus berkata.

"Wanpwe minta permisi!"

"Baik, bila kau ketemu dia katakan bahwa aku tengah menunggunya."

Suma Bing mengiakan terus bergegas berlari pergi meninggalkan Giok-li Lo Ci, sambil ber-lari2 kecil ia menyusuri pinggir jurang.

Jurang itu agaknya luas sekali dan tak berujung pangkal, sekian lama sudah ia berlari masih belum sampai pada ujung pangkalnya...

Sang surya mulai meninggi, sinar matahari yang terang mulai mengurangi kabut yang tebal itu.

Alam sekelilingnya mulai jelas terlihat, Suma Bing menghentikan langkahnya dan mendongak melihat situasi sekitarnya, tanpa terasa dia tertawa geli sendiri.

Sudah setengah harian ia ber-putar2 kiranya baru mencapai setengah dari lingkaran jurang itu, dimana tempat dia berada sekarang tepat berhadapan dengan tempat dimana ia tadi berpisah dengan Giok-li Lo Ci, malah samar2 terlihat juga tubuh yang berdiri menyendiri bagai tonggak diatas batu cadas itu.

Suma Bing geleng2 kepala, gumamnya.

"Korban cinta yang mengenaskan!"

Se-konyong2 beberapa bayangan manusia berkelebatan tengah meluncur datang dengan kecepatan seperti bintang terbang tengah melesat mendatangi kearah puncak dipinggir jurang dimana dia berada ini.

Dalam waktu yang pendek orang2 itu sudah mendatangi semakin dekat.

Dimana sorot pandangan Suma Bing melintas sontak timbullah nafsu membunuh yang ber-kobar2.

Kiranya para pendatang itu adalah para jagoan dari Bwe-hwa-hwe yang berjumlah tujuh orang.

Agaknya seorang tua seragam kuning sebagai pimpinan dari rombongan keenam orang lainnya yang masing2 bertubuh tinggi tegap.

"Berhenti!"

Tiba2 Suma Bing menghardik dengan kerasnya! Tujuh orang itu segera menghentikan langkahnya, si orang tua yang memimpin itu berseru kaget.

"Sia-sin kedua!"

Sontak keenam laki2 tegap lainnya berobah airmukanya, ter-sipu2 mereka menyebar diri bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Suma Bing sendiri sesaat melengak heran, bahwa musuh ternyata menyebut dirinya sebagai Sia-sin (malaikat sesat) kedua.

Karena menurut anggapannya bahwa perbuatannya toh tidak menyeleweng, dengan alasan apa mereka menyebut dirinya sebagai Malaikat sesat kedua?

Si orang tua pemimpin itu segera menggerakkan sebelah tangannya, selarik sinar merah segera meluncur tinggi ketengah angkasa.

Diam2 Suma Bing mengumpat kelicikan musuh ini, sungguh diluar prasangkanya bahwa para jagoan Bwe-hwa-hwe ini ternyata mengikuti jejaknya memasuki pegunungan Bu-kong-san ini juga.

Pertanda sinar merah itu sudah terang kalau memanggil bala bantuan untuk menghadapi dirinya.

Maka segera ia mendesak maju serta tanyanya dingin.

"Kalian mengikuti jejakku ya?"

Serta merta ketujuh orang itu melangkah mundur ketakutan, si orang tua pemimpin mendesis geram.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 5

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert