Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 5

Eps 5 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

"Suma Bing diempat penjuru sudah dijaga ketat dan penuh jebakan, seumpama kau tumbuh sayap juga jangan harap dapat lolos!"

Hawa membunuh diwajah Suma Bing semakin tebal, tawanya menjengek dingin.

"Maka perlu kusilahkan kalian membuka jalan bagi tuan besarmu ini..."

Belum habis ucapannya kedua tangannya beruntun bergerak menyodok kedepan.

Bukan saja serangannya ini sangat aneh dan dahsyat, kekuatannyapun bukan olah2 hebatnya.

Si orang tua pemimpin berlaku sangat cerdik, sebat sekali ia mendahului melompat nyingkir, lain dengan keenam anak buahnya yang tidak sempat lagi menyingkir, mereka tergulung sungsang sumbel keempat penjuru.

Begitu pukulan pertama dilancarkan, gesit sekali Suma Bing mendesak maju sambil berputar secepat kilat tangannya melancarkan sebuah hantaman.

Dimana terdengar teriakan ngeri, dua diantara enam laki2 tegap itu mencelat setinggi dua tombak terus melayang masuk jurang yang tidak kelihatan dasarnya.

Keruan lima orang kawannya ketakutan setengah mati.

Si orang tua pemimpin segera berseru keras.

"Mundur!"

"Mimpi!" -sambil membentak ini, badan Suma Bing melesat cepat bagai bayangan setan, sigap sekali tahu2 pergelangan tangan si orang tua sudah dicengkram olehnya. Kesempatan untuk berkelit belum ada tahu2 dirinya sudah kena teringkus oleh lawan, keruan pucat pasi dan ketakutan setengah mati si orang tua pemimpin itu, keringat dingin membanjir membasahi tubuhnya. Saking gentar dan ketakutan, empat laki2 tegap lainnya sampai kesima berdiri bagai patung dengan tubuh gemetaran. Derap langkah ramai dari kejauhan semakin dekat... Mendadak Suma Bing menggentakkan tangannya, bagai sebuah bola besar si orang tua dilemparkan masuk kedalam jurang yang dalam. Pekik panjang yang menyayatkan hati menggema jauh dari ketinggian semakin mengecil lirih terus menghilang didasar jurang. Bagai tersadar dari mimpi keempat laki2 tegap segera melarikan diri pontang panting seperti dikejar setan...

"Lari kemana kalian!" -ditengah bentakan yang menggeledek ini, lagi2 Suma Bing melesat tinggi dan jauh berbareng dikirimnya empat kali pukulan jarak jauh yang dahsyat, empat gelombang angin pukulannya hampir bersamaan melanda keempat sisa anggota Bwe-hwa-hwe yang lari ketakutan itu. Dilain saat segera terdengar jerit dan pekik kesakitan yang riuh rendah, empat tubuh manusia seperti juga kawan2nya melayang jatuh kedalam jurang.

"Buyung, kejam benar perbuatanmu ini!"

Sebuah suara dingin sedingin es mendengus tiba.

Sigap sekali Suma Bing membalikkan tubuh, maka terlihat dua diantara empat Setan gantung, yaitu Heng-si-khek dan Hui-bing khek telah berdiri tak jauh dihadapannya.

Tubuh mereka kurus kering dan pucat pasi bagai mayat hidup, dilehernya masih terikat tali gantungan, tanpa terasa melonjak kaget benak Suma Bing.

Satu diantara keempat Setan gantung saja berkepandaian lebih tinggi dari Bu-lim-su-ih tingkatan gurunya, maka sudah terang kalau dirinya bukan tandingan mereka.

Akan tetapi sifat pembawaannya yang keras kepala dan congkak membuatnya tidak mengenal akan arti takut, dengan beringas dan gagahnya ia berdiri tegak sekokoh gunung.

Heng si khek menyeringai tawa seram, desisnya.

"Buyung, bencana susah dihindari, lebih baik kau mandah saja terima kematianmu!"

Dibarengi dengan kata2nya ini, kedua tangannya secepat kilat mendorong kedepan, kecepatan cara turun tangannya ini benar2 menakjubkan hingga waktu berpikir bagi musuhpun tidak sempat lagi.

Agaknya Suma Bing juga tidak mau kalah perbawa, dipusatkannya seluruh kekuatan tenaga Kiu-yang-sin-kang kearah tangan dan disertai dengan dengusan keras ia songsongkan kedua tangannya kedepan juga, dorongan disambut dengan dorongan.

Tapi sebelum dorongan dahsyat kedua belah pihak saling bentur mendadak Heng si khek merobah cengkraman tangannya menjadi pukulan.

Dentuman dahsyat segera terjadi dialas pegunungan yang sunyi hingga suaranya menggelegar terdengar jauh, Tubuh Heng-si-khek bergoyang limbung, adalah Suma Bing tersurut mundur delapan kaki jauhnya.

Dan hampir dalam waktu yang bersamaan, dari samping sebelah sana Hui-bing-khek juga lancarkan sebuah hantaman keras bagai topan badai menggulung kearah Suma Bing yang belum sempat dapat berdiri tegak.

Lagi2 Suma Bing mencelat sejauh beberapa tombak baru dapat berdiri tegak, mulutnya menghambur darah segar.

Heng-si-khek sudah mendesak maju hendak menyerang lagi...

"Lo-toa, tahan dulu!"

Mendadak Hui-bing-khek berseru mencegah.

"Kenapa?"

"Apa tidak kita ringkus hidup2 saja?"

"Ketua kuatir akan membawa buntut yang susah dikendalikan, dia ingin kematian bocah kerdil ini."

"Tapi kau ingat, dia orang tua..."

Untuk kedua kalinya Suma Bing mendengar 'Dia orang tua' dari mulut musuh2nya ini, disinilah letak kunci daripada Bhehwa-hwe mengejar dan hendak membunuh dirinya.

Tokoh macam apakah sebenarnya orang yang disebut sebagai 'dia orang tua' itu?

Mengapa dia mengutus orang untuk membunuh dirinya?

Dengan kedudukan dan ketenaran nama Si-tiau-khek empat gembong iblis yang kenamaan ini saja masih rela tunduk dan terima perintahnya, maka dapatlah dibayangkan tentu tokoh itu bukan sembarang orang...

"Lo-sam, tapi ini perintah Ketua!"

Kata Heng-si-khek. Agaknya Hui-bing-khek bersungguh hati, sahutnya.

"Kalau dia orang tua menyalahkan..."

"Biar Ketua yang bertanggung jawab!"

"Kita berempat saudara boleh dikata mendapat perintah hanya untuk membantu Ketua..."

"Lo-sam, bocah ini agak misterius, ternyata sedemikian banyak orang2 kosen sebagai dekingnya, sampai Rasul penembus dada yang baru saja muncul di Kangouw agaknya juga melindungi bocah ini. Sekarang kesempatan yang susah, dicari ini, janganlah kita abaikan begitu saja, kesempatan seperti ini susahlah dikatakan lagi kapan dapat kita peroleh!"

Sungguh geram Suma Bing bukan alang kepalang, tidak kira bahwa musuh berani begitu takabur tengah merundingkan nasib mati hidupnya, maka dengan penuh kebencian dan gusar mulutnya mendesis.

"Si-tiau-khek, kalau aku Suma Bing tidak sampai mati, awas kalian akan kubeset kulit kalian hidup2..."

"Hehehehe, Buyung, sayang kematianmu sudah pasti!"

Kedua tangannya bergantian menyodok dan mendorong kedepan.

Pukulan Heng-si-khek kali ini bertujuan hendak menamatkan riwayat hidup Suma Bing.

Suma Bing mengertak gigi, kedua tangan ditekuk lalu didorong kedepan juga secara keras lawan keras.

Dar...!

diselingi pekik kesakitan yang menyayat hati, tubuh Suma Bing terpental setinggi dua tombak terus melayang jatuh masuk jurang yang dalam itu.

Bermula ingatannya masih sadar, seakan tubuhnya mengambang naik awan me-layang2 ditengah udara, tanpa terasa dia menggembor keras.

"Masa aku harus mati secara begini? O, aku mati penasaran!" -jeritan yang mengerikan ini hampir dia sendiri juga tidak mendengar jelas... akhirnya dia kehilangan kesadarannya. Dalam pada itu setelah memukul jatuh Suma Bing kedalam jurang, segera Heng-si-khek berkata kepada Hui-bing-khek.

"Tugas sudah selesai, mari kita pergi..."

"Pergi?"

Mendadak sebuah suara dingin menyelak dibelakang mereka.

"jiwa kalian juga harus ditingggalkan!"

Per-lahan2 kedua Setan gantung ini membalik tubuh, tampak oleh mereka seorang bertubuh tinggi lencir bewarna serba hitam berdiri tiga tombak dibelakang mereka, kedua mata manusia serba hitam ini memancarkan kebencian yang me-nyala2.

Manusia kejam dan telengas seperti kedua Setan gantung inipun tak urung bergidik seram dan gentar.

Mata Hui-bing-khek melebar memandang kearah lawan, serunya.

"Tuan inikah yang bernama Racun diracun..."

"Ya, benar."

"Tuan sombong dan takabur, berani bermulut besar hendak mengambil jiwa kita bersaudara, apa kau sudah bosan hidup?"

"Tidak, hanya kalian berdua..."

Heng-si-khek perdengarkan suatu tawa ngekek, jengeknya.

"Agaknya tuan hendak menuntut balas bagi si sesat kedua, Suma Bing itu?"

"Ucapanmu tepat sekali."

"Tidak perlu banyak bacot lagi, silahkan tuan turun tangan?"

Racun diracun mendengus keras, tanpa sungkan2 lagi segera ia kirim sebuah hantaman mengarah Heng-si-khek, betapa besar dan dahsyat perbawa angin pukulannya ini seakan dapat membelah gunung dan menghancurkan batu.

Heng-si-khek ada hati hendak mencoba kekuatan lawan, maka segera tangannya pun disurung kedepan, dorong mendorong secara keras lawan keras.

Begitu angin pukulan kedua belah pihak saling bentur dan menimbulkan gelombang angin lesus membumbung tinggi keangkasa, tubuh Racun diracun hanya, goyah sedikit, lain halnya dengan Heng-si-khek, badannya limbung satu langkah.

Bahwasanya kepandaian dan Lwekang Si-tiau-khek sudah jarang tandingan dikalangan Kangouw, salah satu diantara Setan gantung saja cukup membuat kuncup nyali para musuhnya.

Adalah dalam gebrak pertama ini kelihatan jelas bahwa kepandaian Racun diracun ternyata masih lebih unggul seurat dari mereka.

Agaknya Racun diracun sudah bertekad bulat hendak melenyapkan jiwa musuh2nya, beruntun ia lancarkan lagi tiga rangkai pukulan dahsyat.

Kali ini agaknya Heng-si-khek sudah merasakan kelihayan lawannya dan kapok, sebat sekali tubuhnya melejit menyingkir dua tombak jauhnya tak berani beradu pukulan lagi.

Pada saat Heng-si-khek melejit menyingkir itu, dari samping Hui-bing-khek malah mendesak maju sambil ulur cengkraman tangannya langsung mencengkram punggung Racun diracun.

Cara cengkramannya ini boleh dikata sangat cepat hingga susah diikuti oleh pandangan mata.

Tapi kepandaian Racun diracun juga menakjubkan, tahu bahwa dirinya dibokong dari belakang, pukulan tangannya mendadak dirobah mencengkram juga ditengah jalan sambil berputar memapak kearah musuh...

Gerak gerik kedua belah pihak boleh dikata secepat kilat.

Dimana terdengar suara mendehem keras.

Cakar tangan Hui-bing-khek dengan telak mencengkram amblas kepundak Racun diracun, dimana kelima jarinya melesak amblas merembes keluar darah segar bagai air ledeng.

Terpaut sedetik, kelihatan cakar Racun diracun yang berwarna hitam legam itu juga mencengkram keras dilengan lawan...

Heng-si-khek menjerit kaget, serunya.

"Lo sam, cepat lepas tangan, Racun..."

Sambil berpekik ini tubuhnya meluncur ditengah udara seraya mengirim tendangan dan pukulan mengarah kepala dan dada Racun diracun.

Mendadak dua bayangan mencelat berpencar.

Terdengar Hui-bing-khek menggembor keras, tangan kirinya segera diayun memapas putus lengan kanannya sendiri.

'Peletak' kontan lengan kanannya sendiri terjatuh buntung sebatas pundaknya, lalu beruntun ia menutuk beberapa jalan darah dipundak untuk menghentikan mengalirnya darah.

Lalu serunya dengan bengis.

"Racun diracun, akan datang suatu hari aku Hui-bing-khek akan membeset tubuhmu menjadi berkeping2."

Racun diracun menyeringai sinis, sahutnya.

"Sekarang juga hendak kubuat kalian Setan2 gentayangan mampus menjadi abu!"

Tapi sebelum Racun diracun melaksanakan ancamannya, Heng-si-khek sudah membentak keras, tangannya panjang yang kurus kering bagai kayu bakar itu sudah bergerak sebat hingga bayangan pukulan tangannya bertumpuk berlapis bagai gunung langsung menungkrap keatas kepala Racun diracun, perbawa dan gerak geriknya seperti harimau gila yang kelaparan.

Sejenak Racun diracun melengak, sebat sekali tubuhnya jumpalitan mundur kebelakang sejauh satu tombak...

Peluang inilah digunakan oleh Heng-si-khek untuk menarik Hui-bing-khek terus melarikan diri secepatnya bagai meteor terbang.

Nada suara Racun diracun penuh mengandung nafsu membunuh, berkatalah ia kearah kedua Setan gantung yang tengah melarikan diri itu.

"Kalian takkan dapat lolos dari tanganku!"

Habis berkata ia melangkah maju kepinggir jurang memandang kedasar jurang yang tertutup kabut tebal, dengan sedih ia menghela napas panjang.

Bertepatan dengan itu, dua bayangan manusia satu tua dan yang lain masih muda belia tengah melangkah ringan mendekati ketempat dimana Racun diracun berada.

"Lo-cianpwe, apa benar engkoh Bing berada di pegunungan Bu-kong san ini?"

"Tidak akan salah, kusaksikan sendiri pihak Bwe-hwa-hwe tengah mengerahkan bala bantuannya mengobrak-abrik dan mengepung gunung ini untuk mencari jejaknya!"

"Tapi sudah tiga hari lamanya tanpa kita menemui jejak atau bayangannya!"

"Sedemikian luas dan besar lingkungan gunung ini, diapun tidak mempunyai tujuan tertentu, kita harus bersabar dan per-lahan2 mencarinya!"

"Apa maksud tujuan Bwe-hwa-hwe mencari dan mencegat dia?"

"Mana dapat kita ketahui!"

Kedua orang tua dan muda ini ternyata tak lain adalah si maling bintang Si Ban tjwan dan Siang Siau-hun adanya, mereka bertemu ditengah jalan tanpa berjanji sebelumnya, lalu sama2 memanjat gunung hendak mencari dan mengikuti jejak Suma Bing.

Tiba2 si maling bintang Si Ban-tjwan angkat sebelah tangannya menghentikan langkah Siang Siau-hun sembari berkata.

"Nanti dulu nona jangan ceroboh, lihatlah bayangan siapa yang berada dipinggir jurang itu?"

"Peduli siapa dia!"

"Dialah Racun diracun yang lebih berbisa dari Racun utara itu!"

"Oh!"

Siang Siau-hun berseru kejut, sepasang matanya yang jeli bening lantas memancarkan nafsu membunuh menyala2, serunya gemetar.

"Racun diracun?"

"Benar, manusia serba hitam didunia ini hanya dia seorang!"

"Aku hendak membunuhnya"

"Untuk apa?"

"Aku hendak menuntut balas bagi adikku dan Li Bun siang."

"Tapi nona ayu, seumpama iblis jahat ini tidak menggunakan racun, kepandaian silatnya saja masih lebih unggul setingkat dari Bu-lim-su-ih. Ketahuilah ketua Bwe-hwa-hwe yang menggetarkan nyali orang itupun rada2 takut dan gentar menghadapi dia, apalagi kau."

"Tak peduli aku harus membunuhnya!" -mulut berkata begitu tubuhnyapun segera berkelebat lari kedepan secepat anak panah.

"Budak ingusan, percuma saja kau mengantar kematian!"

Si maling bintang Si Ban-tjwan mengulur tangan hendak menjambret tapi tak kena, secepat itu Siang Siau-hun sudah tiba dibelakang Racun diracun sejauh beberapa meter.

Terpaksa ia mengeraskan hati dan menebalkan muka mengikuti maju!

Racun diracun se-olah2 tidak merasa dan tidak mendengar, ia masih tetap berdiri tegap kesima.

Karena besar tekadnya hendak menuntut balas bagi adik dan Li Bun siang, Siang Siau-hun sudah melupakan segala keselamatan sendiri, suaranya membentak bengis dibelakang Racun diracun.

"Racun diracun, iblis laknat, nonamu ingin membeset dan menghancur leburkan tubuhmu!"

Pelan2 Racun diracun membalik tubuh menghadapi Siang Siau-hun yang mendelik gusar, lalu tanyanya dingin.

"Apa kau hendak membunuh aku?"

"Tidak salah, hendak kuhancur leburkan tubuh iblis laknat seperti kau ini"

Sekilas si maling bintang menyapu pandang kesekitarnya tampak olehnya ditanah banyak berceceran noktah darah dan sebuah lengan buntung, lantas terlintas sebuah pertanyaan yang menakutkan dalam benaknya, serunya terkejut.

"Disini tadi pernah terjadi pertempuran seru?"

Pandangan dingin dengan sorot mata yang menyedot semangat Racun diracun beralih kearah si maling bintang sahutnya.

"Memang benar, pertempuran berdarah!"

"Apa termasuk juga si sesat kedua Suma Bing?"

"Memang ada!"

Melonjak kaget si maling bintang serta Siang Siau hun, cepat2 Siang Siau-hun bertanya.

"Lalu kemana dia sekarang?"

"Siapa?"

"Suma Bing!"

"Sudah mati."

Bagai disamber geledek, tubuh Siang Siau-hun terhuyung lima langkah, pandangannya terasa gelap dan tubuhpun hampir roboh, wajahnya ber-kerut2 hebat, sesaat itu terasa seakan dirinya terjatuh kedunia lain...

Sungguh tak terduga kekasihnya yang sangat dicintainya sekarang ternyata sudah mati!

Terasa hatinya membeku, kaki tangan dingin, seluruh tubuh mengejang linu, otaknya pun men-dengung2, jantung ber-denyut2 keras, segera ia menggembor histeris.

"Tidak, dia belum mati, engkoh Bing ku tidak mungkin mati, dia... tak mati..."

Suaranya memilukan hati benar2 membuat orang lain turut berduka dan bersedih. Sepasang mata si maling bintang membelalak besar, wajahnya merah padam penuh kegusaran, serunya gemetar.

"Tuan yang turun tangan..?"

Segera Racun diracun menggelengkan kepala, ujarnya.

"Heng-si dan Hui-bing dua Setan gantung itu jagoan kelas satu dari Bwe-hwa-hwe."

"Si-tiau-khek?"

"Tidak salah."

"Mana jenazahnya?"

"Terjungkal masuk jurang, dibawah sanalah."

Akhirnya pecahlah tangis Siang Siau-hun yang menyayatkan hati.

Sedemikian sedih ia menangisi kekasihnya yang pergi mendahuluinya.

Tangisnya ini suatu pertanda betapa besar rasa cinta kasihnya terhadap Suma Bing.

Begitu sedih ia menangis hingga suaranya serak dan airmatapun kering!

"Engkoh Bing, tunggu aku!"

Ratap Siang Siau-hun dengan suara serak terus berlari kebibir jurang...

"Budak goblok, jangan kau berbuat begitu bodoh!" -si maling bintang Si Ban-tjwan membentak keras terus menyambar pergelangan Siang Siau-hun.

"Lepaskan aku!"

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Mencari engkoh Bing-ku!"

"Apa kau tahu tempat apa ini?"

"Tempat... apa?"

"Lembah kematian. Inilah lembah kematian salah satu dari tiga tempat keramat dari Bu-lim. Keempat penjuru dari lembah ini merupakan tebing dan dinding batu yang curam tiada mulut lembah, selain melompat turun dari atas batu cadas itu tiada jalan lain untuk turun kebawah. Selama beratus tahun tiada seorangpun yang memasuki lembah ini masih bisa tinggal hidup. Lembah kematian merupakan salah satu tempat bertuah bagi kaum persilatan yang mengandung banyak teka-teki dan misterius."

Siang Siau-hun mematung dan mengigau.

"Aku, apa faedahnya aku hidup merana didunia fana ini?"

"Kau salah, kalau kau benar2 cinta Suma Bing, kau harus berusaha menuntut balas. Apalagi agaknya nasibnya tidak begitu jelek, mati hidupnya masih merupakan pertanyaan, buat apa kau menyiksa diri?"

Sementara itu, Racun diracun tengah melangkah mundur meninggalkan pinggir jurang lalu menuju kearah samping sana meninggalkan mereka... Se-konyong2 Siang Siau-hun menjerit beringas, serunya.

"Iblis laknat, tidak demikian gampang kau hendak tinggal pergi."

Segera Racun diracun menghentikan langkahnya dan membalik, tanyanya.

"Bagaimana?" 24. NASIB SIAL SUMA BING MEMBAWA KEBERUNTUNGAN Sebat sekali Siang Siau-hun melejit maju kedepan Racun diracun langsung ia tamparkan sebuah tangannya mengarah dada lawan sambil memaki gemas.

"Aku inginkan jiwamu."

"Nona, goblok, jangan, beracun..."

Si maling bintang Si Ban-tjwan berteriak gugup dan berjingkrak kalang kabut.

Meskipun si maling bintang Si Ban-tjwan sudah berusaha mencegah tapi sudah terlambat telapak tangan Siang Siau-hun sudah menekan tiba didada Racun diracun.

"Blang"

Racun diracun tersurut mundur tiga langkah darah segera meleleh dari ujung bibirnya.

Seketika si maling bintang Si Ban-tjwan terhenyak heran.

Siang Siau-hun sendiri juga tertegun dan kesima ditempatnya.

Bahwa dengan kekuatan Siang Siau-hun dapat sekali pukul membuat Racun diracun muntah darah, kejadian ini benar2 susah dimengerti dan agaknya tak mungkin terjadi, tapi toh kenyataan.

Racun diracun tidak berkelit atau menyingkir, mandah saja dipukul tanpa mengerahkan tenaga atau balas menyerang, mengapa?

"Racun!" -tiba2 si maling bintang Si Ban-tjwan berpekik kaget.

Sontak Siang Siau-hun juga mendadak sadar dari kagetnya.

Benar juga, lengan kanannya itu sudah membengkak berwarna merah kehitaman besar dan linu tanpa dapat digerakkan lagi.

Racun diracun mengayun sebelah tangannya berkata kepada si maling bintang Si Ban tjwan.

"Inilah obat pemunahnya, ambillah!"

Cepat2 si maling bintang Si Ban-tjwan meraih obat itu kedalam tangannya.

Walaupun luas pengalamannya dikalangan Kangouw, tak urung dia heran dan bertanya2 tak dapat menyelami sebab dari kejadian semua ini.

Mengapa Racun diracun bisa mengeluarkan obatnya?

Setelah melemparkan obatnya, Racun diracun melejit terbang menghilang, kecepatan gerak tubuhnya itu benar2 membuat orang merasa kagum, hanya dua kali berkelebat bayangannya sudah menghilang dari pandangan mata.

Biasanya si maling bintang paling membanggakan akan ilmu ringan tubuhnya, kalau dibandingkan dengan apa yang disaksikan sekarang ini, diam2 ia menghela napas mengakui keunggulan orang.

Siang Siau-hun hampir tidak percaya dengan kenyataan ini, tanyanya.

"Lo-cianpwe, mengapa iblis laknat ini bisa berbuat begitu?"

Si maling bintang tertawa pahit, sahutnya sambil menggeleng.

"Aku si maling tua juga tidak mengerti latar belakangnya, paling perlu kau segera telan obat pemunah ini."

"Tidak mau."

"Ha, mengapa?"

"Dendamku sedalam lautan, mana boleh aku menerima obatnya..."

"Apa kau sudah bosan hidup?"

Pertanyaan ini membuat jantung Siang Siau-hun melonjak berdenyutan, rona wajahnya berobah tak menentu sahutnya.

"Tapi aku bersumpah untuk membunuhnya?"

"Itu lain persoalan, paling penting kau makan dulu obat ini."

"Apa aku dapat mempercayai obatnya itu?"

"Pasti dapat dipercaya, dengan Lwekang dan kepandaian Racun diracun, bila dia mau mencabut jiwamu segampang membalikkan tangan. Aku si maling tua juga belum tentu dapat selamat. Tapi kenyataan bahwa dia mandah saja kau pukul sampai muntah darah tanpa membalas, hal ini tentu ada latar belakangnya yang susah dimengerti, kau kena racun karena tanganmu menyentuh badannya, kalau dia mengandung maksud jahat, buat apa dia berbuat demikian ini, maka legakanlah hatimu, marilah kau telan obat ini"

Apa boleh buat akhirnya Siang Siau-hun terima juga obat pemunah itu terus ditelan kedalam mulut. Sebentar saja rasa linu dan bengkak itu mulai hilang tak membekas.

"Nona baik, mari kita pergi!"

"Tapi engkoh Bing...?"

Merah mata Siang Siau-hun hampir menangis, berat rasanya untuk tinggal pergi.

"Orang baik tentu akan mendapat restu tuhan, kalau seumpama memang dia sudah menemui ajalnya didasar jurang, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah nenuntut balas bagi kematiannya itu."

"Menuntut balas... benar, tapi bagaimana jenazahnya..."

"Nona, bodoh, kau tidak perlu berputus asa, sedemikian luhur hatimu, seumpama meninggal juga Suma Bing akan meram. Lembah kematian merupakan salah satu tempat keramat dan bertuah bagi kaum persilatan, manusia siapa pun takkan dapat berkuasa menentang nasib ilahi..." -bicara sampai disini si maling bintang merandek sebentar lalu katanya pula.

"Nona baik, sedemikian besar rasa cintamu kepadanya, maka kau harus mewakilinya melaksanakan cita2nya yang belum selesai dicapainya!"

Siang Siau-hun tertegun, tanyanya.

"Cita2 apa yang belum terlaksana?"

"Mencari ibunya San-hoa-li Ong Fang-lan, entah sudah mati atau masih hidup". Seketika bergidik tubuh Siang Siau-hun, suaranya gemetar.

"Apa, jadi dia adalah keturunan Su-hay-yu-hiap Suma long?"

"Benar, mengenai riwayat hidupnya mungkin hanya Lohu dan seorang misterius lainnya yang mengetahui!"

"Konon kabarnya dikalangan Kangouw, dulu kala itu..."

"Kabar angin itu kebanyakan tidak sesuai dengan kenyataan, mana boleh dipercaya."

Rona wajah Siang Siau-hun mengeras penuh kebulatan tekad, serunya.

"Lo-cianpwe, mari kita pergi?"

"Ya, marilah."

Sejenak Siang Siau-hun memandang kebawah jurang sana penuh rasa menyesal, lalu sambil mengertak gigi, bersama si maling bintang dia melompat jauh meninggalkan tempat itu.

Tiba diluar lingkungan pegunungan tak jauh disana terlihat sebuah jalan raya, dipinggir jalan raya itulah terlihat bergelimpangan berpuluh mayat manusia, cara kematian mayat2 itu rada2 sama satu sama lain, rata2 panca indera mereka keluar darah segar kehitam2an, rada2 seperti terpukul mampus oleh sebuah hantaman berat!

Dari pertanda dipakaian mereka terang bahwa mereka adalah anak buah dari Bwe-hwa-hwe!

Tanpa terasa Siang Siau-hun berseru kejut.

"Inilah buah tangan Racun diracun!"

Si maling bintang memeriksa dengan teliti, lalu menyahut manggut2.

"Benar, racun tanpa bayangan!"

"Untuk apa Racun diracun turun tangan terhadap anak buah Bwe-hwa-hwe?"

"Soal ini sukar dimengerti, para jagoan Bwe-hwa-hwe ini terang juga mengikuti Suma Bing sampai di Bu-kong san ini. Ditinjau dari serangkaian kejadian ini agaknya memang Racun diracun sengaja hendak menuntut balas bagi nasib Suma Bing yang buruk itu, tentang kenapa ia berbuat demikian, soal ini sukar ditebak dan diketahui."

Siang Siau-hun menggeleng hampa penuh tanda tanya lalu melanjutkan perjalanan.

Sekarang baiklah kita ikuti keadaan Suma Bing yang terjungkal masuk jurang.

Dalam keputus asaannya, mulutnya menggembor keras.

"Aku tidak bisa mati, aku mati penasaran." -belum lenyap suaranya tahu2 tubuhnya menumbuk sebuah batu cadas yang menonjol keluar, seketika ia merasa seakan tubuhnya remuk redam kesakitan, tangannya meng-gapai2 coba mencakar dan berpegang, namun tidak membawa hasil, tubuhnya lagi2 terpelanting meluncur kebawah, dan pada lain saat ia sudah kehilangan kesadarannya. Entah sudah berselang berapa lama, waktu sepercik kesadarannya mulai pulih samar2 ia rasakan sejalur hawa hangat ber-gulung2 merembes masuk kedalam tubuhnya melalui jalan darah di-ubun2 kepalanya, sedemikian deras arus panas itu membuat kesadaran dan semangatnya ber-angsur2 pulih kembali, begitu bisa berpikir lantas terlintas suatu pertanyaan dalam benaknya. apa aku belum mati? Terdengar sebuah suara berkata dipinggir kupingnya.

"Himpun semangat dan salurkan tenaga."

Ter-sipu2 Suma Bing himpun semangat dan mulai menjalankan pernapasan mengatur jalan darah, dengan kekuatan tenaga murni dalam tubuhnya ia menuntun arus panas itu mengarungi seluruh tubuhnya, semakin lancar semakin cepat dan semakin bergolak, tanpa terasa tubuhnya semakin bergetar keras.

Saking tak tertahan ia jatuh pingsan lagi.

Waktu siuman lagi, terasa seluruh tubuh segar bugar dan penuh semangat dan nyaman, darah berjalan lancar, sedikit menggunakan tenaga kekuatan dalam badan lantas melanda bagai gelombang ombak lautan.

Terdengar suara itu berkata lagi.

"Sukses, anak muda, jalan darah mati hidupmu sudah tembus, bangunlah!"

Suma Bing sudah pasrah nasib bahwa tubuhnya pasti mati hancur lebur, mimpi juga dia tidak menduga bakal mengalami keanehan yang membawa keberuntungan, hampir2 dia tidak percaya bahwa itu kenyataan.

Maka begitu membuka mata bergegas ia melompat bangun tampak dimana dia berada kiranya didalam sebuah ruang batu yang dipajang sedemikian mewah dan bersih tanpa berdebu, atas bawah dan sekitarnya berwarna putih kehijauan seperti batu giok...

"Anak muda, kau dapat datang kemari, ini boleh terhitung ada jodoh!"

Suara itu kedengaran nyaring merdu dan sudah sangat dikenalnya, naga2nya dia pernah dengar suara itu, entah dimana...

waktu ia celingak-celinguk bayangan seseorangpun tidak kelihatan, tanpa terasa giris dan kaget hatinya, serunya penuh hormat.

"Cianpwe yang manakah itu, bisakah Suma Bing minta bertemu untuk menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan ini?"

"Anak muda, apa kau masih belum tahu siapa aku?"

Tiba2 Suma Bing berseru kegirangan.

"Kau adalah Lo-cianpwe?"

"Benar, memang akulah."

Begitu suaranya sirap, diatas ranjang batu yang terletak ditengah ruangan itu samar2 mulai kelihatan bayangan orang, eh, benar juga dia tak lain tak bukan adalah Giok li Lo Ci.

Suma Bing ter-mangu2 sekian lamanya baru maju memberi hormat.

"Banyak terima kasih atas budi pertolongan Cianpwe yang besar!"

"Tidak perlu banyak peradatan, tentu tadi kau keheranan mendengar suaranya tak kelihatan ujudnya bukan?"

"Ya, memang begitulah!"

"Inilah ilmu Bu-siang-sin-hoat."

"Bu-siang-sin-hoat, Bu-siang-sin-hoat, tanpa ujud..."

Berulangkali Suma Bing menggumam dan me-nyebut2 nama Bu-siang-sin-hoat, agaknya dia menemukan apa2.

Giok-li Lo Ci adalah kekasih Sia-sin Kho Jiang semasa masih muda, untuk cinta ini dia sudah menanti dibibir jurang selama lima puluh tahun, wajahnya yang ayu molek dulu sekarang sudah berkeriput dan rambut juga sudah ubanan.

Suma Bing sendiri juga tidak menduga setelah terjatuh kedalam jurang, dirinya bisa ditolong olehnya, malah membantu dirinya menembus jalan darah mati hidupnya, sehingga Lwekangnya maju berlipat ganda, kini dirinya sudah berganti tulang beralih rupa.

"Nak, Bu-siang-sin-hoat adalah ilmu paling ampuh tiada keduanya di jagad ini, ilmu ini dapat membuat tubuhmu menghilang dari pandangan mata biasa, sejak tadi aku berada disampingmu, tapi selama itu kau tidak melihat aku. Maka itu dinamakan 'Bu-siang' (tanpa ujud), kau sudah paham?"

Suma Bing tengah berpikir, ia berpikir secara mendalam dan menyeluruh, mendadak ia tersentak lantas bertanya.

"Locianpwe, konon di Bu-kong-san ini ada seorang Cianpwe aneh yang menamakan diri Bu-siang-sin-li..."

Berobah wajah Giok-li Lo Ci, tanyanya.

"Jadi tujuanmu kemari adalah hendak mencari jejak Bu-siang-sin li?"

"Benar,"

Sahut Suma Bing penuh haru.

"Harap Cianpwe suka memberi petunjuk..."

"Apa tujuanmu yang utama?"

Sekilas Suma Bing berpikir cepat, lalu sahutnya sungguh2.

"Ingin memohon suatu benda."

"Benda apa?"

"Bunga-iblis!"

Giok-li Lo Ci melompat turun dari ranjang batu, agaknya diapun kaget dan heran.

"Kau ingin minta Bunga-iblis?"

Suma Bing mengiakan.

"Darimana kau bisa tahu kalau Bunga-iblis berada ditangan Bu-siang-sin-li?"

"Diberitahu oleh Bibi Ong Fong-jui!"

"Ong Fong-jui itu orang macam apa?"

"Wanpwe tidak begitu jelas!"

"Berapa usianya?"

"Kurang lebih tigapuluh tahun!"

"Aneh? Tidak mungkin, tiada seorangpun yang tahu soal ini dikalangan Kangouw"

Tergerak hati Suma Bing, tanyanya.

"Apakah Lo-cianpwe adalah..."

"Bukan. Bu-siang-sin-li adalah guruku. Sudah setengah abad yang lalu tidak muncul didunia persilatan, sepuluh tahun yang lalu dia orang tua meninggal..."

Sungguh girang Suma Bing susah dilukiskan dengan kata2, sungguh diluar tahunya bahwa Giok-li Lo Ci ternyata adalah murid tunggal Bu-siang-sin-li.

Karena mengalami bencana dirinya malah mendapat berkah ditambah hubungan dengan gurunya semasa muda, kejadian ini sungguh sangat kebetulan diluar kebetulan, hanya entah...

Terdengar Giok-li Lo Ci bertanya lagi.

"Untuk apa kau hendak minta Bunga iblis?"

"Mendiang suhu..."

Setelah membuka mulut baru Suma Bing sadar telah kelepasan omong, tapi sudah tidak mungkin ditarik kembali lagi.

Sebab pada pertemuan pertama dia pernah membohongi Giok-li Lo Ci bahwa gurunya tengah melatih semacam ilmu dan menutup diri.

Tapi sekarang tanpa sengaja ia menyebut 'mendiang guru'.

Berobah pucat wajah Giok-li Lo Ci, kedua matanya berkilat2 menakutkan, sekali raih ia cengkeram lengan Suma Bing serta tanyanya.

"Apa katamu?"

Suma Bing insaf bahwa tak mungkin ia dapat mengelabui lagi terpaksa ia menjawab penuh kesedihan.

"Dia... dia orang tua sudah meninggal!"

"Apa, dia sudah mati? Mengapa tempo hari kau mengatakan dia sedang bersemayam melatih ilmu?"

"Wanpwe tidak tega melihat Cianpwe mereras diri karena putus asa."

Giok-li Lo Ci melepas cengkeramannya ditangan Suma Bing, sambil mendongak dia tertawa ngakak ter-kekeh2, tawanya ini seperti keluhan binatang yang terluka membuat pendengarnya merinding seram.

Air mata meleleh deras bagai butir2 mutiara yang putus benang.

Hakikatnya tawa itu adalah tangis, tawa yang lebih sedih rawan dan duka nestapa dari tangis.

Suma Bing terhenyak mematung memandang wanita yang tak beruntung ini, entah dia harus berkata apa lagi untuk menghibur kedukaannya itu.

Bagi seseorang selama hidup ini mengejar satu harapan atau cita2, tapi akhirnya harapan atau cita2 itu menjadi hampa seumpama impian saja, betapa besar pukulan ini bagi sanubarinya, betapa perih dan nestapanya dapatlah dibayangkan, rasanya tiada omongan atau bujukan halus dapat menghibur hatinya yang terluka itu, dan cara yang terbaik hanyalah melampiaskan dengan tangis yang memilukan dan merawan hati.

Lama kelamaan berhenti juga suara tawa pilu itu dan berganti sesunggukkan yang lirih.

"Mati! Hahahaha! Cinta selamanya membawa duka, impian indah selalu membangunkan tidur, ternyata dia sudah mati!"

Teringat oleh Suma Bing betapa kasih sayang Sia-sin Kho Jiang mengasuh dirinya sejak kecil, tanpa kuasa airmatanya juga ikut meleleh turun, tapi akhirnya tertahan juga, bagi seorang gagah airmata tidak gampang2 dialirkan!

Ruang batu itu sesaat menjadi sedemikian sunyi senyap diliputi kabut kesedihan.

Setengah jam kemudian baru suasana yang mencekam sanubari ini mulai mereda.

Dengan lemah dan lesu Giok-li Lo Ci kembali duduk diatas ranjang batunya, se-olah2 dalam sekejap itu usianya bertambah tua dan loyo, pukulan batin yang berat ini, melampaui apa yang dapat diterima olehnya.

Dengan nada rendah berat Suma Bing berkata.

"Cianpwe harap kau mengekang diri."

Giok li Lo Ci pejamkan mata menenangkan gedjolak hatinya lalu bertanya.

"Nak, teruskan ceritamu, cara bagaimana dia sampai meninggal?"

Beringas wajah Suma Bing, serunya sengit.

"Duapuluh tahun yang lalu dia orang tua kena dikorek sebuah matanya dan dikuntungi kedua kakinya oleh musuh..."

"Siapa yang turun tangan?"

"Suhu terjebak dalam suatu tipu muslihat, biang keladinya adalah suheng Loh Tju-gi si murid durhaka. Sebelumnya dia meracuni mendiang suhu sehingga kehilangan sebagian besar tenaga dalamnya. Dan secara kebetulan Bu-lim-sip-yu yang kurang jelas mengetahui duduk perkara sebetulnya datang menuntut balas..."

"Jadi Bu-lim-sip-yu ikut berkomplot dalam kejahatan itu?"

"Tidak, hakikatnya Bu-lim-sip-yu juga salah satu pihak yang kena dikelabui dalam peristiwa itu, mereka juga terjebak dalam adu domba Loh Tju-gi. Sekarang Bu lim sip yu hanya ketinggalan Tiang-un Suseng seorang. Tapi Tiang-un Suseng sebaliknya adalah kekasih suci."

"Lalu bagaimana dengan Loh Tju-gi itu?"

"Limabelas tahun yang lalu setelah menggondol gelar jago nomor satu diseluruh jagat mendadak dia menghilang tidak keruan paran. Kepandaiannya sekarang mungkin sudah lebih tinggi dari mendiang suhu. Maka suhu berpesan kepada Wanpwe supaya berdaya-upaya untuk memperoleh Pedang darah dan Bunga-iblis supaya dapat melatih kepandaian tinggi tiada taranya untuk mencuci nama baik perguruan."

"Sebab itulah maka kau harus memperoleh Bunga-iblis itu?"

Suma Bing mengiakan. Setelah merenung sekian lamanya lalu Giok-li Lo Ci berkata.

"Apakah Pedang darah itu sudah menampakkan diri dimayapada ini?"

"Enambelas tahun yang lalu"

Demikian tutur Suma Bing.

"benda bertuah itu diperoleh oleh mendiang ayah Suma Hong, selanjutnya sudah berganti tangan berulangkali dan yang terakhir direbut oleh Rasul penembus dada..."

"Rasul penembus dada? Mengenai urusan dunia persilatan aku sudah lama terpisah dan tidak tahu menahu, orang macam apakah si Rasul penembus dada itu?"

"Konon kabarnya beberapa bulan yang lalu muncul didunia persilatan suatu perkumpulan rahasia yang menamakan diri Jeng-siong-hwe (perkumpulan penembus dada). Rasul penembus dada adalah duta dari perkumpulan itu, betapa tinggi kepandaiannya itu memang sangat mengejutkan. Setiap kali membunuh korbannya dia menggunakan sebilah cundrik menembusi dada sang korban. Dalam jangka waktu yang pendek ini, beberapa tokoh2 lihay dari aliran putih atau hitam tidak kurang dari limapuluh orang kosen yang sudah tertembuskan dadanya oleh senjatanya yang mengerikan itu"

"O."

Giok-li Lo Ci manggut2 paham.

"Harap tanya Cianpwe, bolehkah kiranya Wanpwe minta Bunga-iblis itu?"

"Boleh, tapi ada syaratnya"

Suma Bing membatin.

tak peduli syarat apa itu, aku pasti harus setuju.

Bahwasanya Bunga iblis adalah benda yang harus didapatkan, satu pihak karena pesan suhunya, lain pihak juga untuk melaksanakan cita2 ayahnya semasa masih hidup, maka segera ia menyahut tegas.

"Harap tanya syarat apakah itu?"

Sejenak Giok-li Lo Ci menatap wajah Suma Bing lalu katanya per-lahan2.

"Syarat ini adalah peninggalan dari mendiang guruku, tak boleh dirobah lagi..."

"Harap tanya syarat pertama apa?"

"Syarat pertama, kalau kau ingin minta Bunga iblis kau harus membawa Pedang darah kemari, apa syarat ini mampu kau lakukan?"

Seketika Suma Bing melongo tanpa kuasa membuka mulut.

Pedang darah sudah terjatuh ditangan Rasul penembus dada momok paling ditakuti oleh kaum persilatan.

Kehebatan kepandaian orang, seumpama berlatih sepuluh tahun lagi juga belum tentu dirinya dapat menandinginya.

Adalah Rasul penembus dada juga menerima perintah orang lain lagi.

Sudah tentu Pedang darah pasti berada ditangan orang dibelakang layar itu.

Kepandaian seorang Rasul saja sudah cukup malang melintang menyapu seluruh dunia persilatan maka tidak perlu disinggung betapa hebat kepandaian orang dibelakang layar itu.

Kalau dirinya hendak merebut Pedang darah dari Jeng-siong-hwe bukankah bagai memetik bulan dilangit?

Tapi Pedang darah adalah benda peninggalan ayahnya, ayahnya mati lantaran benda bertuah itu.

Sebab itu pula hingga mati hidup ibunya belum diketahui.

Sedang dirinya juga lolos dari renggutan elmaut karena benda keramat itu juga, tidak perlukah direbut kembali?

"Apa kau ada kesukaran?"

Desak Giok-li Lo Ci dingin.

"Ya"

"Kesukaran apa?"

"Pedang darah terjatuh ditangan Rasul penembus dada tidak mudah untuk merebutnya kembali!"

"Pesan itu adalah peninggalan suhu yang tidak boleh diganggu gugat, dan lagi Pedang darah dan Bunga-iblis adalah dua benda keramat yang harus disatu padukan, hanya memperoleh salah sebuah saja berarti barang rongsokan yang tak berguna."

"Ini wanpwe paham!"

"Walaupun aku ada niat membantu kau, tapi aku tidak bisa melanggar peraturan perguruan."

Suma Bing merenung agak lama, lalu berkata tegas.

"Wanpwe tidak hiraukan akan mati atau hidup, aku bersumpah akan merebut kembali Pedang darah itu"

"Baik sekali, kutunggu kedatanganmu!"

"Harap bertanya syarat yang kedua itu."

"Itu harus menunggu setelah kau menyelesaikan syarat pertama baru bisa kuberitahukan. Dingin perasaan Suma Bing, tapi apa boleh buat, ia menghela napas panjang2, katanya.

"Baiklah, kalau begitu wanpwe minta diri?"

"Permisi? Kau tidak bisa keluar!"

"Tidak bisa keluar? Mengapa?"

"Kau tahu tempat apa ini?"

"Tempat apa?"

"Lembah kematian, salah satu tempat kramat bagi kaum persilatan."

Betapa kejut Suma Bing susah dilukiskan dengan kata2, serunya lesu.

"Lembah kematian?"

"Benar, keempat penjuru merupakan dinding licin yang curam tiada jalan keluar atau masuk."

"Lalu bagaimana Cianpwe keluar masuk..."

"Terbang merambat dinding."

Suma Bing tertawa ringan, ujarnya.

"Kalau Cianpwe bisa keluar masuk, wanpwe juga akan mencoba sekuat tenaga."

"Kemampuanmu masih terpaut jauh kau takkan berhasil. Kalau sudah dinamakan lembah kematian salah satu dari tiga tempat keramat, kalau semua orang dapat semudah itu keluar masuk, maka lembah kematian dua kata ini boleh dihapus."

"Harap suka memberi penjelasan!"

"Meski dinamakan lembah tapi empat penjuru sekelilingnya terkepung oleh dinding batu yang tinggi dan lempang menyerupai sebuah sumur besar, mulutnya besar dasarnya sempit, sedemikian licin dinding batu itu laksana dipapas golok, seratus tombak tingginya baru ada batu menonjol untuk berpijak, coba apa kau mampu sekali loncat dapat mencapai setinggi ratusan tombak tanpa berpijak benda apa?"

Diam2 Suma Bing melelet lidah, sahutnya.

"Hal itu wanpwe mengakui takkan mampu berbuat begitu"

"Maka kukatakan kau tidak mungkin bisa keluar!"

"Lalu wanpwe..."

"Kau harus bersabar setelah satu bulan kemudian baru kau dapat keluar dengan mudah secara selamat. Menurut apa yang aku tahu, kau terhitung orang pertama yang dapat keluar dari Lembah kematian ini dengan masih hidup. Dulu belum pernah ada, kelak juga mungkin tidak akan ada!"

"Satu bulan, kenapakah?"

Tanya Suma Bing tidak mengerti.

"Akan kuturunkan dua jenis gerak tubuh kepadamu, setelah kau berlatih sempurna kau boleh keluar dari sini!"

"Ini..."

"Suma Bing,"

Ujar Giok-li Lo Ci menyeringai dingin.

"kalau bukan karena hubunganku dengan Sia-sin Khong Jiang, aku tidak akan turunkan ilmu rahasia perguruanku kepada kau. Itu berarti kau juga tidak bakal hidup sampai sekarang, jangan harap lagi kau dapat keluar dari sini dengan masih hidup"

"Bukan begitu maksud wanpwe. Hanya aku tidak sudi terima budi orang lain secara gratis"

"Hm, bagus bertulang ksatria, tapi semua pengalamanmu yang membawa berkah bagi kau ini anggap saja sebagai wahyu dari suhumu, tadi aku pernah berkata kalau kau bukan murid Sia-sin Kho Jiang, malah memikul tugas suci yang dibebankan kepada dirimu, seratus Suma Bing juga harus dikubur didasar lembah ini!"

Ini memang kenyataan dan bukan ancaman atau omong kosong melulu.

Sudah tentu Suma Bing sendiri juga maklum akan hal ini.

Terlintas akan pesan suhunya lantas terpikir juga Bunga-iblis harus dicapainya.

Teringat pula orang telah menyembuhkan lukanya, malah menolong jiwanya lagi dan menembuskan jalan darah mati hidupnya, budi sedemikian besar ini, kalau dirinya tidak mau terima kebaikan orang yang hendak menurunkan ilmu, bukankah terlalu tidak mengenal budi malah.

Karena pikirannya ini, terunjuk rasa haru dan syukur, katanya.

"Budi Cianpwe yang besar ini, selama hidup ini mungkin tidak mungkin aku dapat melunasi"

"Ah, omong kosong. Dari sekarang juga, kuturunkan dua gerak tubuh dari Bu siang sin hoat yang dinamakan Sin-sek dan San-sek (gerak naik dan gerik kelit). Gerak naik dapat membuat kau melambung tinggi ratusan tombak tanpa meminjam tenaga luar, sedang gerak kelit adalah suatu gerakan lihay sedemikian cepat sampai dapat mengelabui pandangan musuh. Kalau kedua ilmu ini sudah sempurna kau latih, tidak peduli betapa lihay dan tinggi kepandaian lawanmu itu, dengan mudah kau dapat selamatkan diri. Jalan darah mati hidupmu sudah tembus, lebih gampang lagi mempelajari kedua ilmu itu. Mengandal bakatmu, waktu satu bulan sudah cukup berkelebihan."

Entah karena girang atau terharu tubuh Suma Bing sampai gemetaran.

Pengalaman yang ajaib ini seolah2 dirasakan dalam mimpi.

Waktu menempuh perjalanan menuju ke Bu-kong-san ini, harapannya tidak sedemikian besar.

Sungguh tak sangka kiranya bahwa keinginannya bisa terkabul, dari mengalami bencana malah mendapat rejeki sebesar ini.

Bukan saja Bunga-iblis sudah pasti dapat diketemukan malah memperoleh dua ilmu yang tiada taranya lagi, hal ini benar2 diluar dugaan sebelumnja.

Oleh karena itu terpaksa Suma Bing harus tinggal dalam gua didasar lembah kematian itu selama satu bulan untuk mempelajari dua jenis ilmu dari Bu-siang-sin-hoat.

Sang waktu berjalan sangat cepat, satu bulan dengan cepat sudah berlalu.

Dalam waktu yang pendek itu Suma Bing sudah sempurna mempelajari gerak naik dan gerak kelit serta intisarinya.

Pada hari ketigapuluh Giok-li Lo Ci bicara sungguh2 kepada Suma Bing.

"Nak, kudoakan tugasmu dapat kau laksanakan secara lancar, cepat21ah kau merebut balik Pedang darah itu, untuk dipadukan dengan Bunga-iblis, supaya dapat memperoleh ilmu digdaya yang merajai segala ilmu silat, maka terkabullah cita2 para almarhum yang telah mendahului kita. Sekarang kau boleh segera berangkat!"

"Banyak terima kasih atas budi Cianpwe yang besar dan tak ternilai ini"

"Tidak perlu sungkan2, kuturunkan ilmu perguruanku karena kau memikul tugas perguruan, anggaplah sebagai maksud baikku kepadanya (Sia-sin Kho Jiang). Tentang Bunga-iblis itu, menurut pesan mendiang Suhu siapapun orang itu yang dapat memasuki lembah kematian ini dan bermaksud hendak minta Bunga-iblis itu, setelah dapat memenuhi syarat2 yang ditentukan, dengan mudah dapat memperolehnya, Maka kaupun tidak perlu banyak kuatir."

"Meskipun begitu ketentuannya, hal itu tidak akan merobah pendirian wanpwe akan budi Cianpwe yang besar ini!"

"Marilah, biar kuantar kau keluar lembah!"

Keluar dari dalam gua, tampak keadaan dalam lembah masih sedemikian pekat akan kabut yang tebal ber-gulung2, bagi orang yang Lwekangnya, agak rendah pasti tidak dapat melihat tegas dan membedakan apa yang dipandang didepannya.

Tidak lama kemudian tibalah mereka, dibawah sebuah dinding tinggi yang sebelah atasnya agak sedikit menjorok kedepan.

Segera Giok-li Lo Ci menunjuk dan berkata.

"Terpaut lima tombak dari kaki dinding, gunakanlah gerak naik dari Bu siang sin hoat, kau harus berputar melambung tinggi, kira2 mencapai ketinggian seratus tombak kemudian ada sebuah batu menonjol keluar, batu itu dapat kau gunakan untuk injakan dan seterusnya, terpaut delapan atau sepuluh tombak pasti ada batu2 dapat kau gunakan untuk berloncatan. Pergilah, tapi ingat, kalau kau datang kembali, kau harus menggunakan jalan ini lagi, kalau tidak kau takkan mampu masuk kedalam lembah. Dan masih ada satu soal lagi yang paling penting, keadaan dalam Lembah kematian ini jangan se-kali2 kau uarkan dikalangan Kangouw. Awas jangan lupa!"

Setelah memberi hormat, tubuh Suma Bing segera melejit tinggi beberapa tombak, sambil mengempos semangat dan mengerahkan tenaga seketika ia rasakan badannya sangat enteng bagai kapuk se-akan2 badannya melayang tanpa menggunakan tenaga.

Sekali tumitnya menutul dibatu dinding, tubuhnya terus meluncur lagi lebih cepat menjulang keatas, Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ lompatan kali ini tidak kurang dari tigapuluh tombak tingginya dan menurut teori pelajarannya, dia berganti napas dan berobah gaya ditengah udara tubuhnya melengkung membuat setengah lingkaran, dalam sekejap mata kemudian, dia sudah berputar naik sekitar ratusan tombak.

Benar juga dilihatnya sebuah batu menonjol keluar, batu ini tidak lebih dari tiga kaki luasnya, disini ia berhenti sebentar mengganti napas terus terbang naik lagi tak lama kemudian kakinya sudah menginjak puncak jurang.

Ia masih ingat tempat itu adalah dimana untuk pertama kali ia berjumpa dengan Giok-li Lo Ci.

Sudah dua bulan sejak dia datang, dan dalam jangka yang pendek ini se-olah2 Suma Bing sudah berganti tulang dan bersalin rupa.

Bukan saja jalan darah mati hidup sudah tembus malah memperoleh pelajaran Bu-siang-sin-hoat yang sangat ampuh lagi.

-oo0dw0oo-

Jilid 25.

RASUL PENEMBUS DADA DIGEBAH LARI OLEH KEHEBATAN ILMU SUMA BING.

Disini ia berdiri sebentar merenungkan apa2, terus mengembangkan ilmu ringan tubuhnya berlarian cepat keluar pegunungan.

Selama dalam perjalanan, dia berpikir dan menimang langkah2 selanjutnya yang harus dilakukan; Pertama, sudah tentu harus mencari tahu dimana alamat dari perkumpulan Jeng siong hwe untuk minta kembali Pedang darah.

Kedua mencari ibunya, entah sudah mati atau masih hidup.

Sejak kematian Iblis timur maka putuslah sumber penyelidikannya untuk menuntut balas, kalau ibunya belum ketemu, maka dendam kesumat ini akan selamanya tenggelam ditelan masa, selain ada kejadian diluar dugaan, hakikatnya tak mungkin dia dapat menyelesaikan semua urusan ini secara sempurna.

Dan yang ketiga adalah menyirapi dimana sekarang Loh Cu gi berada.

Dengan kehebatan ilmu ringan tubuhnya, tak lama kemudian dia sudah menginjak jalan raya dan menempuh perjalanannya yang tiada tujuan yang tertentu.

banyak urusan yang harus dikerjakan, namun setiap pekerjaan itu sangat sukar dan rumit, entah dari mana ia harus mulai turun tangan.

Hari itu tengah ia melakukan perjalanan, tiba2 dilihatnya didepan jalan sana terpaut puluhan tombak tengah berlari kencang dua bayangan orang yang sangat dikenal, tergeraklah hatinya.

begitu mengembangkan gerak kelit dari pelajaran Bu siang Sin hoat, sedemikian hebat dan menakjupkan gerakan itu tahu2 dia malah sudah melampaui didepan kedua orang itu, terus membalik tubuh menghadang ditengah jalan.

Keruan kedua orang itu berseru kaget dan lekas2 menghentikan langkahnya, waktu ditegasi kiranya kedua orang itu bukan lain adalah Siang Siau hun dan Tou sing to gwat Si Ban cwan si maling bintang.

Bahwa Siang Siau hun bisa berjalan bersama Si maling bintang Si Ban cwan, hal ini benar2 mengejutkan dan mengherankan Suma Bing.

Setelah melihat jelas orang yang menghadang mereka ditengah jalan itu ternyata adalah Suma Bing, seketika Siang Siau hun dan Si Ban cwan terhenyak melongo terbelalak...

Segera Suma Bing memberi hormat kepada Si maling tua lalu dengan riang gembira berseru menyapa.

"Adik Hun!"

Wajah Siang Siau hun kelihatan agak kurus pucat, air mukanya tengah ber-kerut2, tubuhnyapun ikut gemetar, matanya, yang bundar jeli dan bening dengan nanap mengawasi wajah Suma Bing, per-lahan2 airmata meleleh keluar dengan derasnya.

Keadaan ini membuatnya melengak dan tak habis herannya.

"Apakah ini bukan mimpi?"

Akhirnya tercetus juga ucapan Siang Siau hun. Lebih besar lagi rasa heran dan kejut Suma Bing, tanyanya tak mengerti.

"Adik Hun, apakah yang telah terjadi?"

"Buyung,"

Si maling bintang akhirnya ikut bicara, suaranya gemetar.

"Apa kau belum mati?"

"Mati? Mengapa aku harus mati, apakah maksudnya ini?."

"Bukankah kau sudah terjungkal masuk Lembah kematian oleh keroyokan dua diantara Si tiau khek?"

Baru sekarang Suma Bing sadar dan paham, sahutnya.

"Memang begitu kejadiannya, dari mana Cianpwe bisa mendapat tahu?"

"Aku si maling tua bersama nona Siang mengejar jejakmu ke Bu kong san, dibibir jurang lembah kematian bersua, dengan Racun diracun, dari mulutnyalah kita ketahui bahwa kau sudah jatuh masuk jurang. Waktu itu nona Siang hampir tidak ingin hidup lagi..."

Suma Bing berpaling kearah Siang Siau hun, suaranya ringan halus.

"Adik Hun!"

Siang Siau hun mengeluh panjang terus menubruk kedalam pelukan Suma Bing, katanya sesenggukkan.

"Engkoh Bing, peluklah aku erat2, biar kurasakan kehadiranmu ini, katakanlah bahwa ini bukan impian!"

Serta merta Suma Bing lantas memeluknya dengan kencang, kedua tangannya melingkar dipinggangnya katanya penuh haru.

"Adik Hun, tenanglah!"

Pertemuan dalam keadaan kurang wajar ini membuat Siang Siau hun lupa diri tanpa hiraukan lagi kehadiran si maling bintang dia terus menubruk kedalam pelukan Suma Bing.

Mendengar ucapan Suma Bing itu, seketika merah jengah selebar mukanya.

ter-sipu2 ia dorong Suma Bing terus mundur tiga langkah.

Suma Bing sendiri juga kikuk dan malu2.

Si maling bintang Si Ban cwan batuk2 lalu berkata.

"Cobalah kau tuturkan pengalamanmu untuk kita dengar!"

"Waktu Wanpwe terjungkal jatuh kedalam jurang oleh pukulan gabungan Heng si khek dan Hui bing khek, untung tiga puluh tombak dibawah sana ada sebuah batu besar yang menonjol keluar, maka selamatlah jiwaku."

Terpaksa Suma Bing berbohong karena ingat pesan Giok Li Lo Ci yang melarangnya membeber rahasia keadaan Lembah kematian itu kepada orang luar.

"0, memang kalau orang baik pasti mendapat rahmat Tuhan!"

Puji si maling bintang lalu katanya kepada Siang Siau hun.

"Bagaimana nona baik, aku pernah berkata bocah ini berumur panjang bukan. Kalau waktu itu kau benar2 menerjunkan diri masuk jurang, bukankah kau mati konyol dan penasaran!"

Tanpa merasa Siang Siau hun tertawa geli. wajahnya yang semula penuh dirundung kesedihan kini berubah cerah dan berseri. Mendadak si maling bintang bertanya.

"Buyung, sebenarnya ada hubungan apakah antara kau dengan Racun diracun"

"Hubungan, ada apakah?"

"Kedatangan Racun diracun dibibir jurang itu agaknya hendak menolong kau, tapi dia terlambat setindak. Waktu nona goblok ini menuntut balas kepadanya dia mandah saja, dihantam tanpa memberi perlawanan sehingga muntah darah. Maka karena menyentuh tubuhnya maka tangan nona gendeng ini keracunan hebat, tanpa, diminta dia malah keluarkan obat pemunahnya terus tinggal pergi..."

"Ada kejadian demikian?"

"Masa aku si maling tua pernah berbohong?"

"Urusan ini sangat ganjil dan susah dijelaskan, wanpwe juga tidak mengerti"

"Dan lagi dalam jangka sebulan lebih ini, anak buah Bwe hwa hwe yang mati dibawah racun tanpa bayangan tak terhitung banyaknya. Peristiwa ini menimbulkan gelombang kegusaran dan heboh yang susah dibendung. Menurut kabarnya pihak Bwe hwa hwe sudah mengutus gembong2 silat kelas tinggi untuk menuntut balas kepadanya..."

"Teka-teki yang sukar dipecahkan! Akan tetapi, wanpwe sudah pasti akan memecahkan teka-teki ini!"

Sebuah lengking tawa yang aneh dan menggiriskan mendadak terdengar dari kejauhan. Suma Bing berseru kaget.

"Suara tawa Racun diracun, biar kupergi melihat!" -secepat kilat tubuhnya melenting tinggi terus berkelebat kearah datangnya suara, dalam sekejap saja bayangannya sudah menghilang. Si maling bintang melelet lidah, serunya kagum.

"Gerakan apakah itu. kecepatannya benar2 susah dibayangkan. Apa mungkin dia ketiban rejeki apa?"

Siang Siau hun juga tidak kalah heran dan kagetnya.

"Lo cianpwe, mari kita ikut melihat kesana?"

"Baik, mari!"

Tua dan muda ini segera berlarian kencang menuju kearah yang sama...

Dalam pada itu, Suma Bing kembangkan ilmu dari Bu siang sin hoat yang belum lama ini dipelajarinya, terus meloncat dengan kecepatan penuh kearah datangnya suara, kecepatannya ini se-olah2 meteor terbang, dalam jangka yang pendek tiga li sudah dicapainya tiba.

Didalam sebuah hutan kecil didepan sana terlihat dua bayangan hitam putih tengah berhadapan dengan bersitegang leher.

Si hitam itu bukan lain adalah Racun diracun, sedang yang putih tak lain adalah Rasul penembus dada.

Bu siang sin hoat benar2 menakjubkan, Suma Bing sudah mendesak maju sejauh tiga tombak masih belum ketahuan oleh kedua tokoh lihay itu.

Terdengar Rasul penembus dada tengah mendesis.

"Racun diracun, kau keluarkan suara iblismu apakah kau hendak mengundang bala bantuan?"

Suara Racun diracun tidak kalah dingin dan kaku.

"Kau tidak perlu tahu!"

"Manusia beracun, sungguh besar nyalimu, berani kau menggunakan Pedang darah palsu untuk mengelabui Pun si cu (aku si Rasul)?"

"Hm, Pedang darah itu adakah kau sendiri yang minta dengan paksa, toh aku tidak memberi pertanggungan jawab akan tulen atau palsu bukan!"

Tergerak hati Suma Bing yang sembunyi dibelakang pohon, sungguh diluar sangkanya bahwa Pedang darah yang direbut Rasul penembus dada dari Racun diracun tempo hari itu ternyata adalah palsu!

Rasul penembus dada mengancam penuh kekejaman.

"Kupandang muka pemilik benda yang kau tunjukkan tempo hari, kalau kau mau serahkan Pedang darah itu, aku tidak menarik panjang urusan ini."

"Kalau aku menolak?"

Jengek Racun diracun.

"Kematian bagi kau!"

"Belum tentu!"

"Apa benar kau tidak mau serahkan pedang itu?"

"Pedang bertuah itu kuperoleh dari tangan Iblis timur, tentang tulen atau palsu, lebih baik kau minta pertanggung jawab Iblis timur saja?"

"Iblis timur sudah mati kutembusi dadanya!"

"Kalau begitu, maaf aku tidak ikut campur dalam urusan itu lagi."

"Kau manusia beracun agaknya sebelum melihat peti mati kau takkan menangis?"

"Sembarang waktu aku bersiap untuk gugur bersama kau."

Mendadak Rasul penembus dada perdengarkan suara tawa yang menyedot semangat orang, serunya.

"Kau sedang bermimpi, ketahuilah betapapun berbisanya kau Racun diracun, dapat mengapakan aku?"

Tergetar perasaan Racun diracun, batinnya, apa kedatangannya ini sudah siap sedia?

Sementara itu, Suma Bing juga gugup dan bimbang Kalau Pedang darah itu benar2 sebilah pedang palsu, berarti semua rencananya akan gagal total.

Iblis timur sudah mati, maka Pedang darah yang tulen akan terpendam selamanya.

Karena pikirannya ini tanpa dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia berkelebat keluar Racun diracun berseru kaget, berulang ia mundur beberapa langkah, tanyanya.

"Suma Bing, kau belum mati?"

Suma Bing manggut2.

"Ya. aku masih hidup!"

Agaknya Rasul penembus dada juga terperanjat.

mengandal kemampuannya ternyata masih tidak mengetahui kedatangan orang, setelah orang muncul baru dirasakan.

Dalam ingatannya, anak muda ini tidak berkepandaian sedemikian tinggi...

Suma Bing bertanya kepada Racun diracun penuh perhatian.

"Pedang darah milik tuan itu apa benar adalah yang palsu?"

Sejenak Racun diracun ragu2, matanya menatap kearah Rasul penembus dada lalu berkata.

"Dalam hal ini boleh kau bertanya kepada saudara ini!"

Terdengar lambaian baju berdesir terbawa angin.

Siang Siau hun bersama si maling bintang memasuki gelanggang!

Begitu melihat tokoh2 dihadapan mereka seketika berobah kaget wajah mereka.

Tentang Racun diracun tidak perlu dipersoalkan lagi.

adalah Rasul penembus dada adalah gembong misterius yang paling ditakuti didunia persilatan.

Entah bagaimana Suma Bing bisa ikut terlibat dalam pertikaian kedua orang kosen ini.

Rasul penembus dada berpaling kearah Siang Siau hun dan si maling bintang sambil membentak.

"Enyah dari sini!" -suaranya dingin menggiriskan pendengarnya. Tanpa terasa Siang Siau hun dan si maling bintang tergetar dan mundur beberapa langkah. Suma Bing maju dua langkah suaranya berat berkata kepada Rasul penembus dada.

"Dengan bukti apa tuan berani pastikan kalau Pedang darah itu adalah palsu?"

Kedua mata Rasul penembus dada bercahaya menatap kearah Suma Bing, ujarnya.

"Suma Bing, kau ini seumpama kutu terbang menyambar pelita, mengantarkan kematianmu sendiri!" -sambil berkata pergelangan tangan dibalikkan, entah bagaimana tahu2 tangannya sudah menggenggam sebilah cundrik yang berkilapan, lalu sambungnya lagi.

"Kau harus mati dibawah cundrik ini!"

Bergolak amarah Suma Bing, saking gusar dia malah tertawa besar.

"Tuan silahkan kau turun tangan!"

"Engkoh Bing!"

Teriak Siang Siau hun sambil menubruk masuk gelanggang.

"Kembali!"

Bentak Rasul penembus dada, begitu sebelah tangan dikebutkan.

kontan Siang Siau hun berpekik kesakitan, tubuhnya terpental balik seperti layang2 yang putus benangnya.

Ter-sipu2 si maling bintang bergerak maju menyambut.

Sedang Suma Bing membentak sengit terus menghantam sekuatnya kearah Rasul penembus dada.

Rasul penembus dada ganda mendengus ejek, sebelah tangannya bergerak melingkar terus ditarik balik, gerak gerik yang aneh ini bukan saja dengan mudah telah punahkan kekuatan pukulan Suma Bing, malah Suma Bing juga rasakan suatu daya tolak yang sangat kuat menyerang tubuhnya hingga terdorong mundur tiga langkah.

Dengan berlipat ganda kekuatan Suma Bing ternyata masih belum kuat menahan kebut sebelah tangan lawan, hal ini betul2 sangat mengejutkan.

Agaknya Racun diracun juga tidak mau tinggal diam melejit maju ditengah ia mengancam.

"Terpaksa aku harus turun tangan!"

"Manusia beracun jangan ter-gesa2,"

Bentak Rasul penembus dada dingin.

"Biar kubereskan yang ini dulu!" -membarengi ucapannya Rasul penembus dada mendorong sebuah tangannya kearah Racun diracun. Kekuatan dan kecepatan dorongannya ini boleh dikata secepat kilat, betapa hebat tenaganya benar2 menggetarkan semangat orang. Sampai2 Racun diracun yang berkepandaian sedemikian tinggi juga tidak sempat lagi untuk balas menyerang atau menyingkir. 'Blang' Racun diracun sempoyongan setombak lebih hampir roboh, mulutnya berpekik tertahan. Rasul penembus dada mengayunkan cundriknya serta mengancam.

"Suma Bing, serahkan jiwamu."

Dimana cahaya kilat berkelebat, runcing cundrik itu sudah melesat keluar, cara tusukan ini bukan saja cepat bagai kilat juga aneh, sehingga orang yang diserang tiada kesempatan untuk berkelit atau bersiap siaga...

Ramailah teriakan dan seruan kaget, Racun diracun.

si maling bintang dan Siang Siau hun tanpa berjanji berbareng terbang memburu sambil lancarkan sebuah pukulan.

Hakikatnya bagaimanapun juga tiga orang ini tidak akan mampu merintangi kecepatan Rasul penembus dada.

Diterpa badai pukulan yang ber-gulung2 dari gabungan tiga orang Rasul penembus dada mandah saja punggungnya diserang, tubuhnya bergoyang gontai tanpa tergeser sedikitpun.

Serasa pandangannya kabur, tahu2 Suma Bing yang berada dihadapannya sudah menghilang, matanya ber-kilat2 menyapu kesekelilingnya, tampak Suma Bing tengah berdiri tenang dibelakang Rasul penembus dada.

Keruan kejadian ini membuat ketiga orang itu melongo terkejut.

Kepandaian Rasul penembus dada memang bukan olah hebat, begitu cundriknya mengenai tempat kosong dan kehilangan bayangan musuhnya, sebat sekali tubuhnya terus menggeser kedudukan delapan kaki baru membalik tubuh.

Sekarang dia berhadapan lagi dengan Suma Bing.

"Suma Bing, cundrik penembus dada ini selamanya belum pernah dilancarkan main2 yang dapat terhindar dari tusukannya terhitung kau satu2nya ! Tapi..."

"Bagaimana"

"Keajaiban hanya muncul satu kali!"

"Kenapa tidak kau coba2 lagi?"

Ejek Suma Bing.

Rasul penembus dada menggeram gusar, ujung cundriknya lagi2 meluncur cepat sekali, dibarengi tangan kiri juga melancarkan sebuah tamparan.

Serangan cundrik dan tamparan itu dilancarkan berbareng.

Rasanya tokoh2 silat jaman itu takkan ada seorangpun yang mampu bertahan, seumpama ada juga dapat dihitung dengan jari.

Tapi sungguh ajaib, begitu Rasul penembus dada turun tangan, bayangan musuhnya lagi2 menghilang tak keruan parasnya, malah bertepatan dengan itu kontan ia merasa badai angin pukulan sudah menerjang tiba dari belakangnya.

Keruan bercekat hati Rasul penembus dada, secepat kilat ia melesat sejauh dua tombak, begitu ia memutar tubuh...

eh heran bin ajaib, lagi2 gulungan angin pukulan menerpa tiba dari belakang.

Tiga orang yang menonton dipinggiran hanya melihat bayangan Suma Bing berkelebatan, kadang2 muncul tiba2 lenyap lagi bagai bayangan setan yang selalu membuntuti tubuh musuhnya.

Gerak tubuh semacam ini, jangan dikata melihat, mendengarpun belum pernah.

Ber-ulang2 Rasul penembus dada berkelebatan berusaha menghindari bayangan lawan, namun sia2 belaka, achirnya karena kewalahan ia berhenti dan berdiri tenang, kedua tangannya dengan gerak2 aneh membuat lingkaran2 disamping belakangnya...

Dar...

dentuman yang menggelegar menggetarkan bumi, badai angin segera mengembang keempat penjuru.

Gerak tubuh Suma Bing seketika berhenti juga.

Meski gerak tubuhnya sangat aneh dan menakjupkan, tapi karena tenaga dalamnya terpaut terlalu jauh dibanding lawan, cukup untuk membela diri tapi tak bakal kuat untuk menyerang musuh.

Kedua lengan Rasul penembus dada tergetar dan bergerak cepat saling berlawanan beruntun membuat beberapa lingkar...

maka kekuatan tenaganya ini menimbulkan angin puyuh yang bergulung saling berlawanan juga, lima tombak sekelilingnya batu pasir beterbangan.

Si maling bintang bertiga juga terdesak mundur ber-ulang2.

Adalah Suma Bing malah seenaknya berdiri diluar lingkungan putaran angin puyuh itu tanpa bergerak tanpa reaksi sedikitpun.

"Bu siang sin hoat!"

Tiba2 Rasul penembus dada berseru kejut.

Ketiga orang yang hadir juga tidak kepalang kejut dan tergetar perasaan mereka.

Menurut kabarnya Bu siang sin hoat adalah pelajaran tunggal dari Bu siang sin li yang sangat rahasia.

Semua tokoh2 silat kosen jaman ini mungkin sudah tiada seorang pun yang pernah melihat.

Bahwa hari ini bisa dipertunjukan oleh Suma Bing, benar2 membuat orang sukar mengerti.

Sebaliknya Suma Bing sendiri juga diam2 merasa terkejut bahwa lawan bisa mengenal asal usul ilmu silatnya itu, ini benar2 sangat aneh dan ganjil.

Sejenak Rasul penembus dada mematung seperti kehilangan sukma lantas tanpa membuka suara lagi mendadak melejit tinggi terus menghilang.

Gembong silat yang paling ditakuti ini bisa mendadak pergi, malah membuat semua orang yang tinggal hadir melengah heran dan bertanya2!

Karena gentar akan nama Bu siang sin li ataukah mempunyai perhitungan lain, ini tidak dapat diketahui.

Ingatan Suma Bing selalu dibayangi oleh Pedang darah, sebab ini sangat penting demi sukses atau gagal cita2nya untuk menuntut balas.

Maka segera ia menandaskan kepada Racun diracun.

"Pedang darah yang diperoleh Rasul penembus dada dari tuan itu sebenarnya tulen atau palsu?"

Dingin sikap Racun diracun.

"Buat apa kau tanyakan hal itu?"

"Apa tuan sudah lupa akan janji kita itu?"

"Tidak!"

"Lalu bagaimana tuan hendak menepati..."

"Dalam hal ini kau tidak perlu kuatir, aku juga perlu tahu tugasmu yang harus kau laksanakan itu apakah sudah selesai kau lakukan?"

Si maling bintang dan Siang Siau hun bergantian memandang sini memandang sana, hati mereka bertanya2 entah perjanjian apa yang telah mereka ikrarkan.

Tapi waktu sorot pandangan Siang Siau hun menatap kearah Racun diracun, sinar itu mengandung kebencian yang me-nyala2.

Mendengar pertanyaan itu, bergejolak perasaan Suma Bing suaranya gemetar.

"Aku sudah menyelesaikannya!"

"Jadi kau sudah memperoleh Bunga iblis itu?"

"Bunga iblis sih belum kudapat, tapi pemiliknya sudah berjanji begitu aku memperoleh Pedang darah, segera dia memberikan Bunga iblis itu."

"Siapakah orang itu?"

"Maaf, siapa dia aku tidak bisa menerangkan."

"Suma Bing, dapatkah aku mempercayai ucapanmu?"

"Itu berarti tuan benar2 masih menyimpan Pedang darah yang tulen itu?"

"Sudah tentu!"

Suma Bing berpikir keras, lalu katanya.

"Tuan hendak menyerahkan Pedang darah itu menurut perjanjian kita atau..."

"Atau bagaimana?"

"Kalau tuan dapat menyerahkan secara perjanjian kita dulu, aku rela menukarnya dengan segala syarat, kalau bukan, demi memperoleh Pedang darah itu, aku tidak akan kenal kasihan..."

Racun diracun bicara dengan tenang.

"Aku sudah pernah berkata kuserahkan tanpa syarat, masa kujilat lagi ludahku, tapi..."

"Tapi apa?"

"Saat ini tidak kubawa!"

"Lalu kapan aku bisa menerima?"

"Kelak kalau kita bertemu lagi!"

"Kapan kita bertemu lagi?"

"Sekarang sukar ditentukan, pendek kata tidak akan terlalu lama."

Melihat sorot mata Siang Siau hun yang penuh dendam kebencian itu, tergerak hati Suma Bing, lantas katanya kepada Racun diracun lagi.

"Setengah tahun yang lalu, tuan pernah menggunakan Racun tanpa bayangan membunuh Siang Siau moay dan kekasihnya, aku sudah pernah berkata supaya perhitungan itu diselesaikan sendiri oleh nona Siang, tapi sekarang niatku itu telah kurobah..."

"Niat apakah itu?"

"Sudah pasti Nona Siang bukan tandinganmu, maka aku bersiap untuk mewakili dia..."

"Sekarang juga?"

"Bukan, kelak. Tapi perlu ditandaskan, Jikalau tuan tidak dapat menyerahkan Pedang darah itu, kuharap secara terus terang tuan katakan sekarang juga, pasti aku tidak akan memaksa."

Racun diracun mengekeh tawa.

"Suma Bing, itu dua persoalan jangan kau campur adukkan dalam satu penyelesaian. Dengan senang hati kusambut pernyataanmu ini, Sembarang waktu aku siap terima pengajaran di kalangan Kangouw, bolehlah legakan hatimu?"

"Tuan sikapmu ini sungguh menggembirakan, tentang piutang kita berdua kelak pasti aku akan memberikan pertanggungan jawabku."

"Ah, rasanya tidak perlu, antara kita berdua tiada utang piutang apa!"

"Sreng!"

Siang Siau hun mencabut pedang sambil maju beberapa langkah, bentaknya beringas.

"Iblis laknat, sekarang tiba giliran nonamu menuntut keadilan kepadamu."

"Nona Siang, peristiwa dulu hari itu adalah salah paham..."

"Hm, salah paham, dua jiwa manusia lantas dapat dipertanggung jawabkan dengan kata2 salah paham itu!"

"Sukar aku menjelaskan, tapi aku minta keringanan kuharap nona Siang dapat melulusi supaya penuntutan balas sakit hati ini bisa diperpanjang satu tahun!"

"Tidak bisa."

Alis putih si maling bintang berkerut, selanya.

"Nona baik lulusilah!"

"Mengapa?"

Agaknya Suma Bing juga ingat sesuatu, tercetus dari mulutnya.

"Adik Hun, cepat atau lambat hanya satu tahun lulusilah!"

Siang Siau hun menatap Suma Bing dalam2 penuh arti akhirnya pedang disarungkan lagi serta serunya jengkel.

"Iblis laknat, setahun kemudian kalau bukan kau yang mampus biar aku yang mati!"

Dingin Racun diracun menyapu pandang ketiga orang didepannya lalu perlahan2 memutar tubuh tinggal pergi. Kata Siang Siau hun tidak mengerti.

"Locianpwe, mengapa kau rintangi aku?"

Si maling bintang tertawa lebar, ujarnya.

"Pertama sudah pasti kau bukan lawannya, bukankah bocah ini (Suma Bing) sudah berkata saat ini tidak akan menuntut balas kepadanya, itu berarti dia tidak akan turun tangan membantu kau. Mengandal Lwekang aku si maling tua mungkin masih kuat bertahan berapa jurus, tapi kau jangan lupa modal lawan yang terampuh yaitu -Racun. Selain bocah ini seluruh kolong langit ini siapa yang berani memandang rendah permainan bisanya. Kedua; dilihat sepak terjang lawan, agaknya mengandung rahasia yang susah dipecahkan, sebelum teka-teki ini terpecahkan adalah lebih baik kau jangan ter-buru2 turun tangan."

Mendengar nasehat yang panjang lebar ini. Siang Siau-hun manggut2 tanpa mengeluarkan suara.

"Adik Hun, hendak kemanakah kau bersama Si cianpwe..."

"Buyung,"

Tukas si maling bintang.

"Aku si maling tua mendapat satu kabar..."

"Kabar apa?"

"Dalam sebuah gua dipuncak Siau sit hong digunung Siong san, terkurung seorang perempuan. Menurut kabarnya sudah dipenjarakan selama dua puluh tahun, aku si maling tua curiga..."

"Curiga apa?"

"Aku bercuriga mungkin dia adalah ibundamu yang lolos dari puncak Kepala harimau di Tiam cong san itu!"

Melonjak keras jantung Suma Bing.

"Apa betul?"

Tanyanya penuh keperihan.

"Kenyataan ini sangat bertepatan. Dikatakan dalam waktu, ibumu sudah menghilang selama enam belas tahun, hampir sama dengan kabar 20 tahun itu. Dan lagi dalam pengeroyokan dipuncak kepala harimau dulu ada juga anak murid Siau lim si. Mungkin waktu ibumu menuju kesana hendak menuntut balas lantas terkurung didalam gua. itu..."

Mata Suma Bing mendelik bagai dua butir kelereng, seluruh tubuh bergemetaran. Si maling bintang melanjutkan ceritanya.

"Sejak kau terjungkal kedalam jurang aku simaling tua bersama nona Siang bersiap hendak mewakili kau melaksanakan cita2 mu yang belum terkabul itu untuk mencari jejak ibundamu. Sungguh sangat kebetulan seorang murid preman Siau lim si mengoceh dan membeber rahasia ini diwaktu mabok, setelah kuselidiki dan kuanalisa, maka kita berkeputusan hendak meluruk ke Siau lim si untuk membikin terang rahasia itu. Dan tak tersangka dari kena bencana kau malah mendapat rejeki, memang ini sudah menjadi kehendak Tuhan!"

"Sedemikian luhur hati Locianpwe selama hidup ini Suma Bing akan berterima kasih!"

Saking terharu mata Suma Bing merah hampir menangis.

"Eh, si maling tua hanya ingin menebus kesalahanku dulu, untuk mencari ketenangan hidup dihari tua."

"Baiklah. Wanpwe minta diri!"

"Minta diri, hendak kemana kau?"

"Ke Siau lim si!"

"Bagus, mari kita pergi bersama..."

Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ "Ini urusan wanpwe pribadi, tidak enak aku menyusahkan kalian berdua, dan lagi besar hasratku untuk segera terbang tiba di Siau lim si untuk menyelidiki kebenaran kabar itu."

"Sejarah mengakui Siau lim pay sebagai satu perguruan silat terbesar yang memimpin kaum persilatan jago2 silat dalam biara besar itu tak terhitung banyaknya, jangan kau gegabah..."

Suma Bing menjengek dingin lalu menukas ucapan si maling tua.

"Kalau orang yang dipenjarakan itu benar2 adalah Bundaku, hm, darah para pendeta Siau lim si akan mengalir dan menyirami seluruh puncak Siau sit hong."

Ucapan yang mengandung nafsu membunuh yang besar ini membuat si maling tua dan Siang Siau hun bergidik seram..SUMA BING TERTAWAN DIDALAM KUIL SIAU LIM SI.

"Buyung kau akan menimbulkan banjir darah ditempat suci yang agung itu?"

"Bila perlu akan kulakukan!"

"Buyung, jangan kau bersimaha raja dan membunuh tanpa dosa"

"Tanpa dosa, biarlah kenyataan membuktikan apakah benar para pendeta Siau lim itu benar2 tidak berdosa"

"Mari berangkat, kita bisa saling bantu membantu!"

"Jangan, wanpwe ingin berangkat sendiri! Kebaikan Cianpwe yang luhur ini, selamanya takkan kulupakan!" -lalu ia berpaling kearah Siang Siau hun dan berkata lagi.

"Adik Hun, maafkan aku, jagalah dirimu baik2, selamat bertemu!"

Alis si maling tua berkerut, serunya lantang.

"Buyung!! itu hanya satu rekaan saja, jangan kau terlalu gagabah, orang yang dipenjarakan itu mungkin bukan ibumu"

"Baik, Wanpwe terima nasehat ini!"

Suara sahutan Suma Bing ini kedengaran sudah sangat jauh sekali. Akhirnya tak tertahan lagi air mata Siang Siau hun meleleh deras membasahi pipi.

"E, nona elok, buat apa kau merengek2 dan sesenggukkan. memang begitulah tabiatnya, bukan dia memandang rendah hubungan kita bersama. Mari kita juga berangkat mengikuti dibelakangnya!"

Siang Siau hun manggut2, bersama si maling bintang mereka ber-lari2 kencang mengejar dibelakang Suma Bing.

Secepat terbang Suma Bing menempuh perjalanannya menuju ke Siau lim si, siang dan malam hampir belum pernah berhenti.

Besar harapannya bahwa wanita yang terkurung digua puncak Siau sit hong itu adalah ibunya San hoa li Ong Fang lan.

Ter-bayang2 olehnya akan wajah ibunya yang belum pernah dilihatnya.

Lantas terbayang juga calon istrinya Phoa Kin sian gadis nan ayu rupawan bak bidadari, dia sudah mengandung, sekuntum bunga bahagia mekar pada wajahnya, yang selama ini sayu dan redup, agaknya dia sudah melupakan akan segala pengalamannya yang pahit getir selama ini.

Hari itu, didepan puncak Siau sit hong muncul seorang pemuda ganteng, bertubuh tegap gagah berwajah dingin membeku penuh kecongkakan.

Dia, bukan lain adalah Sia sin kedua Suma Bing.

Menyusuri jalanan gunung yang ber-liku2 Suma Bing tengah menempuh perjalanannya menuju kegereja Siau lim si.

Tidak lama kemudian pintu biara yang agung itu sudah samar2 terlihat dari kejauhan.

Serta merta berdetak hati Suma Bing, ketegangan mulai melingkupi benaknya.

Tiba2 terdengar sabda Budha yang keras menggetarkan telinga, muncullah dua pendeta berjubah abu2 tangan mereka membekal tongkat Hong pian jan dan menghadang ditengah jalan.

Tanpa disadari Suma Bing menghentikan langkahnya.

Salah seorang pendeta itu, sebelah tangannya dirangkap didepan dada memberi sapa hormat lalu bertanya.

"Sicu ini orang kosen darimanakah?"

"Aku yang rendah Suma Bing!"

Mendadak berubah airmuka kedua pendeta itu, kata pendeta yang bicara tadi.

"Sia sin kedua yang dikabarkan di Bulim itu adalah Sicu adanya?"

Suma Bing mengiakan sambil manggut2.

"Ada pengajaran apakah tuan datang ke biara kita?"

"Ada urusan penting, aku ingin berjumpa dengan Ciang bun Hong tiang!"

Lagi2 kedua pendeta itu tergetar, kata yang lain.

"Sicu ingin bertemu dengan Hong tiang?"

Suma Bing menganggukkan kepala.

"Benar!"

Sahutnya tidak sabaran.

"Silakan Sicu sebutkan maksud kedatanganmu, jadi ada alasan siau ceng melapor pada ci khek (pendeta penerima tamu)?"

"Yang ingin kutemui hanyalah Ciang bun Hong tiang kalian, tentang maksud kedatanganku, nanti setelah ketemu Hong tiang kalian baru kukatakan"

"Ini merupakan peraturan biara kita, adalah Ci khek yang menyambut tamu, apakah itu urusan kecil atau besar, baru dilaporkan kepada pengawas atau Hong tiang"

"Peraturan biara kalian terlalu melit,"

Jengek Suma Bing.

"Silahkan kalian berdua lapor, katakan Suma Bing ingin ketemu Hong tiang kalian."

Rona wajah kedua pendeta itu berobah tak menentu, salah seorang segera berkata.

"Kalau Sicu tidak menerangkan maksud kedatanganmu, maaf Siau ceng tak bisa melapor, silakan turun gunung saja!"

Membeku wajah Suma Bing, desisnya.

"Aku yang rendah minta bertemu secara hormat, terhitung aku segan dan menghormati partai kalian, ini sudah sangat sungkan sekali. Kalau kalian benar berkukuh ingin aku menyebut maksud kedatanganku, maaf..."

"Bagaimana?"

"Maka terpaksa aku yang rendah langsung mencari sendiri Ciangbun kalian."

Kedua pendeta itu mundur ketakutan sambil melintangkan Hong pian jan...

"Apa kalian mau berkelahi?"

Ejek Suma Bing menghina. Salah seorang pendeta itu berseru gusar.

"Tempat suci yang agung, tidak boleh membuat kerusuhan disini, harap Sicu suka berpikir panjang!"

"Bagus benar tempat suci yang diagungkan!" -dengus Suma Bing sambil melangkah maju hendak menerjang.

"Sicu tidak mendengar nasehat, terpaksa Siau ceng turun tangan!"

Dua batang Hong pian jan berseliweran bagai bayangan gunung membawa deru angin badai yang menungkrup kearah Suma Bing...

"Enyah kalian!" ~ begitu kedua tangan Suma Bing bergerak aneh sekali tahu2 kedua Hong pian jan yang menyambar2 tadi sudah dicekal di kedua tangannya. Keruan kaget kedua pendeta jubah abu2 itu bukan kepalang, serasa semangatnya terbang keawang2, sekuat tenaga mereka menarik berbareng, namun sedikitpun tidak bergeming. Mendadak sejalur hawa panas yang kuat menerjang kearah nereka melalui tongkat panjang mereka sendiri, seketika kedua pendeta itu merasa tergetar cekalan tangannya kontan terlepas badan mereka tersurung sempoyongan delapan kaki jauhnya. Suma Bing lontarkan kedua Hong pian jan itu ketanah seketika kedua tongkat panjang itu amblas separohnya kedalam tanah, lalu secepat terbang ia berlari keatas "Siapa itu bernyali besar berani menerjang masuk biara, melukai orang."

Begitu bentakan bagai geledek ini berhenti, lantas muncul seorang pendeta tua tinggi kekar bagai sebuah menara melayang tiba ditengah jalan, kebetulan tiba menghadang dihadapan Suma Bing.

Setelah itu beruntun muncul lagi delapan pendeta pertengahan umur yang bertubuh kekar dan gagah perkasa.

Menghadapi situasi yang tidak menguntungkan ini mau tak mau Suma Bing harus berpikir.

Sebelum duduk perkara sebenarnya dapat kuketahui, ada lebih baik aku tidak melukai orang, langsung saja menerjang ke biara besar, rintangan2 ini sangat menyebalkan.

Karena pikirannya ini segera ia kembangkan gerak kelit dari pelajaran Bu siang sin hoat, begitu berkelebat mengitari barisan para pendeta itu terus langsung berlari kepintu besar pesanggrahan gunung didepan sana.

Para pendeta itu hanya merasa pandangan mereka kabur lantas tahu2 kehilangan bayangan musuhnya.

Keruan kejut mereka bukan buatan, waktu mereka berpaling kebelakang dilihatnya musuh sudah melesat tiba diluar pintu pesanggrahan, serentak mereka membentak be-ramai2 terus menguber dengan kencang.

Para pendeta dalam pintu pesanggrahan agaknya sudah mendengar ribut2 ini dan sudah siap siaga, beberapa puluh pendeta segera memberondong keluar mencegat dipintu besar itu...

Akan tetapi bagai bayangan iblis tahu2 Suma Bing sudah berkelebat melewati puluhan pendeta ini dan dalam sekejap mata sudah tiba diluar pintu biara.

Cara gerak tubuh itu benar2 belum pernah ada dalam dunia persilatan.

"Sicu harap berhenti!"

Seorang pendeta tua yang kurus tinggi berdiri tegap tengah pintu biara, matanya berkilat2 menatap wajah Suma Bing. Gesit sekali Suma Bing menghentikan tubuhnya, dingin ia menatap orang, tanyanya.

"Siapakah Toa suhu ini?"

"Pinceng Liau Seng pengawas kelenteng ini, siapakah Sicu ini?"

"Aku yang rendah bernama Suma Bing!"

"Untuk apa kau menerjang kemari melukai orang?"

"Aku yang rendah ada urusan penting mohon bertemu dengan Ciangbun Hong tiang kalian, murid kalian merintangi tidak kenal aturan..."

"Perbuatan Sicu ini agaknya memandang rendah partai kita!"

Disemprot terang2an, bergolak amarah Suma Bing, desisnya geram.

"Aku yang rendah merasa sudah berlaku sangat sungkan sekali!"

Berobah air muka Liau Seng si pengnwas kelenteng, sorot matanya semakin tajam me-nyala2, lebih kentara akan kesempurnaan latihan kepandaiannya.

Para pendeta yang mengejar tiba melihat pendeta pengawas sudah keluar menguasai keributan ini, beramai2 mereka menyingkir kesamping dan mundur teratur.

"Ada urusan apa Sicu hendak bertemu dengan Hong tiang kita?"

"Setelah ketemu Hong tiang kalian belum terlambat kujelaskan."

"Katakan kepada Pinceng juga sama saja!"

"Apa Taysu berani bertanggung jawab?"

"Mungkin!"

Berobah serius wajah Suma Bing, suaranya rendah berat.

"Aku harus tahu siapakah perempuan yang kalian kurung di gua belakang puncak ini?"

Wajah Liau Seng berobah kaku menegang dan mundur dua tindak, tanyanya.

"Darimana juntrungan ucapan Sicu ini?"

"Orang beribadat pantang berbohong, Toa suhu kau mengaku tidak?"

"Apa maksud Sicu sebenarnya?"

"Tidak apa2, hanya ingin kutahu orang yang terkurung itu siapa!"

"Ini..."

"Taysu tidak berani menjawab?"

Liau Seng bungkam, Suma Bing tertawa dingin, katanya lagi.

"Kalau Taysu tidak berani menyawab terpaksa aku minta petunjuk Hong tiang kalian saja!" -belum habis ucapannya tahu2 bayangannya sudah menghilang. Bergidik seram Liau Seng Taysu, mengandal kesempurnaan latihannya ternyata tidak mampu melihat orang menggunakan gerak tubuh apa menghilang dari pandangannya, ini hampir menyerupai ilmu sesat. Maka sebat luar biasa ia membalik berlari masuk biara... Setelah melewati Wi to tiam, didepan pekarangan Tay hiong po tiam jauh2 sudah terdengar suara bentakan dan makian. Kiranya pendeta penyambut tamu dan beberapa pendeta yang sedang berdinas jaga sudah mengepung Suma Bing ditengah pekarangan itu. Liau Seng Taysu langsung berlari masuk kebelakang... Terdengar Liau Ngo Taysu pendeta penyambut tamu tengah membentak gusar.

"Sicu menerjang tiba dan membuat huru-hara dibiara kita, agaknya memandang rendah kepandaian kaum Siau lim kita?"

"Taysu tidak mau pergi melapor, apa aku harus menerjang langsung menuju kekamar Hong tiang?"

"Kalau Sicu masih sedemikian kurang ajar dan tak mengenal aturan, terpaksa Pinceng turun tangan!"

"Mengandal kepandaianmu masih bukan tandinganku!"

Kata2 yang terang2an menghina ini membuat Liau Ngo Taysu dan keenam pendeta dinas itu naik pitam dan berobah air mukanya.

"Silahkan Sicu merasakan kelihayan ilmu silat dari Siau lim!"

Serempak dengan habis suaranya pukulannya sudah merangsang tiba.

Dalam gusarnya Liau Ngo Taysu kerahkan setaker tenaganya menggunakan ajaran tunggal Siau lim yang terampuh yaitu pukulan Cui pi ciang, betapa keras dan hebat pukulan ini benar2 dapat menghancur luluhkan batu yang betapa keraspun.

Meskipun mulut Suma Bing berkata temberang, namun didalam hati dia tidak berani memandang enteng kelihayan para pendeta Siau lim yang sudah bersejarah tua ini, Kiu yang sin kangpun tak ayal segera dikerahkan sampai sepuluh bagian tenaganya...

Cui pi ciang dan Kiu yang sin kang sama2 adalah berkekuatan tenaga keras bersifat panas.

Suara menggelegar menggetarkan bumi dan bangunan kelenteng sekitarnya.

Kontan Liau Ngo Taysu terpental jauh setombak lebih sambil menghamburkan darah segar.

Keenam pendeta dinas itu juga tidak luput terpelanting keterjang angin badai yang mengembang keempat penjuru.

"Liau Ngo Sute, mundurlah!"

Alis putih Liau Seng Taysu berkerut dalam, berdiri tenang dan garang diundakan depan Tayhiong po tiam.

Liau Seng Taysu bersabda memberi hormat terus mengundurkan diri bersama keenam pendeta berdinas itu.

Se-konyong2 suara kelintingan bergema, delapan belas pendeta bertubuh kekar berwajah garang bengis berbaris keluar dari kiri kanan pintu samping Toa tian, masing2 terbagi sembilan terus berbaris jajar dikedua samping.

Diam2 Suma Bing membatin.

ini pasti cap pek lohan (delapan belas Lohan) yang kenamaan dari Siau lim itu...

Belum hilang pikirannya, menyusul berjalan keluar seorang pendeta tua beralis putih juga terus berdiri berhadapan dengan Liau Seng Taysu.

Peraturan Siau lim si sangat keras, meskipun terjadi urusan penting betapa besar pun para muridnya tidak diperbolehkan sembarangan bergerak.

Selanjutnya seorang pendeta tua yang mengenakan kasa terbuat dari saten berwajah bersih agung per-lahan2 keluar dari ruangan besar itu, dibelakangnya tidak kurang duapuluh pendeta tua muda mengikutinya.

Segera Liau Seng dan pendeta yang baru datang itu membungkuk bersabda lalu berseru lantang.

"Menghadap Ciangbun yang mulia!"

"Para sute tidak perlu peradatan!"

Kiranya pendeta tua yang berkasa saten bersulam itu bukan lain adalah Ciangbun Hong tiang Siau lim si Liau Sian Taysu adanya. Segera Suma Bing angkat tangan memberi hormat.

"Yang mulia apakah Ciangbun Hong tiang?"

Sikap yang dingin dan nada yang menghina ini membuat para pendeta Siau lim yang hadir membelalak gusar. Ciangbun Liau Sian Taysu bersabda Buddha lalu berkata.

"Memang Pinceng Liau Sian adanya, kedatangan Sicu ini aku sudah mendapat laporan dari pengawas kelenteng..."

Tidak sabaran lagi segera Suma Bing menandaskan.

"Lalu bagaimana keputusan Ciangbun Taysu?"

"Darimana Sicu mengetahui bahwa dibelakang puncak Siau sit hong ada terkurung seorang perempuan?"

"Ini aku tidak dapat memberi jawaban, hanya ingin kutegaskan apakah benar ada hal itu?"

"Ya, memang ada!"

Berdetak keras jantung Suma Bing, ujarnya penuh haru.

"Kalau ada aku yang rendah mohon perkenankan untuk bertemu!"

"Apa hubungan Sicu dengan perempuan yang terkurung itu?"

"Ini..."

Sesaat lamanya Suma Bing tidak mampu memberi jawaban positif. Tak mungkin dia mengatakan bahwa perempuan itu adalah ibunya, bagaimana kalau bukan? Tiba2 terpikir sesuatu olehnya terus sahutnya.

"Aku yang rendah harus membuktikan apakah perempuan itu adalah orang yang kupikirkan!"

Berobah serius wajah Liau Sian, katanya sungguh2.

"Kalau begitu, hakikatnya Sicu belum tahu siapakah perempuan yang terkurung itu?"

"Boleh dikata demikian!"

"Bukankah permohonan Sicu itu membuat keributan tanpa aturan?"

Wajah Suma Bing mengelam hitam.

"Yang mulia sebagai ketua, kata2mu penuh pertanggungan jawab, ini bukan membuat keributan tanpa aturan!"

Keruan merah jengah wajah Liau Sian Taysu, tanyanya;

"Siapakah orang yang Sicu pikirkan itu?"

Benak Suma Bing bekerja keras.

ada lebih baik tidak kukatakan, kalau membungkah asal-usul sendiri, dan orang yang dikurung itu sebaliknya bukan ibunya, hal ini akan membawa rintangan banyak dalam pengejarannya kepada musuh2nya, maka segera ia menyahut.

"Hal ini susah kuterangkan, aku hanya ingin bertemu sekali saja dengan orang itu kalau bukan orang yang kupikirkan, segera aku minta maaf dan pergi dari sini!"

"Kita juga ada kesukaran tak dapat melulusi permohonan Sicu."

Suma Bing berusaha menahan gusar, tanyanya.

"Kalau begitu harap tanya siapakah perempuan yang dikurung itu?"

"Urusan ini menyangkut kepentingan dan rahasia partai kita, maka tak dapat kujelaskan!"

Meluap amarah Suma Bing susah ditekan lagi, dengusnya dingin.

"Secara hormat aku mohon bertemu, kalau Ciangbunjin tidak bisa melulusi, maka jangan salahkan aku..."

"Sicu hendak berbuat apa?"

Desak Liau Sian dengan nada berat matanyapun menyorong garang me-nyala2.

"Aku akan membuktikan sendiri!"

Semua pendeta yang hadir membelalak gusar dan mematung bagai arca tembaga, otot dijidat mereka merongkol keluar menahan gusar, tapi dihadapan Ketua mereka sebelum menerima perintah mereka tak berani bergerak.

Suasana semakin meruncing tegang penuh mengandung nafsu pembunuhan.

Agaknya kepandaian dan latihan batin Liau Sian sudah sempurna, air mukanya masih kelihatan sabar welas asih, suaranya datar.

"Mungkin Sicu takkan mampu bergerak sesuka hatimu!"

"Belum tentu!"

Bentak Suma Bing murka terus memutar tubuh hendak...

Sebelum kakinya bertindak, delapan belas Lo Han yang berdiri disamping kanan kiri itu mendadak secepat kilat menggeser kedudukan, tahu2 Suma Bing sudah terkepung.

Suma Bing mendengus hina keras, ejeknya.

"Kalian takkan mampu merintangi aku."

Kelebat tubuhnya seringan asap tanpa bayangan laksana setan mengambang tahu2 sudah berada diluar kurungan.

Kesempatan untuk berpikir bagi delapan belas Lo Han belum ada tahu2 sudah kehilangan musuhnya.

"Bu siang sin hoat!"

Tercetus seruan dari mulut Liau Sian, wajahnyapun berobah.

Seruan Liau Sian Taysu ini menggegerkan seluruh hadirin.

Suma Bing sendiri juga melengak heran, hanya sekali lihat saja lantas ketua Siau lim si ini dapat menyebutkan asal usul gerak tubuhnya itu.

Agaknya Ketua Siau lim Liau Sian Taysu sangat terpengaruh oleh perasaannya, suaranya gemetar.

"Dimana pengawas kelenteng?"

"Tecu disini!"

Sahut Liau Seng sambil merangkap tangan.

"Harap pengawas kelenteng perintahkan seluruh penghuni kelenteng bersiap siaga!"

"Tecu terima perintah!"

"Dimana pelaksana hukum?"

Seorang pendeta tinggi tegap tampil kedepan.

"Tecu disini!"

"Silahkan Ngo tianglo keluar!"

"Tecu terima perintah!"

Seketika suara lonceng bergema membumbung keangkasa, membawa ketegangan yang meruncing bagi biara kuil yang agung ini.

Bayangan manusia berkeliaran diluar dalam Siau lim si yang besar itu sudah penuh terjaga ketat seumpama jaring2 si laba2 B a r u s e k a r a n g S uma B i n g m e n g i n s a f i a k a n s i t u a s i y a n g me n e g a n g k a n i n i , h a t i n y a b e r d e t a k k e r a s , n a g a 2 n y a S i a u l im s i me n g e r a h k a n s e l u r u h k e k u a t a n n y a u n t u k me n g h a d a p i d i r i n y a .

K e a d a a n b e r o b a h memb u r u k s e d emi k i a n c e p a t s e t e l a h d i r i n y a me l a n c a r k a n p e l a j a r a n B u s i a n g s i n h o a t , aPeplaan mdaun nmgakntianp.

.la.n gkah Liau Sian menuruni undak2, para pendeta pelindung dibelakangnya juga tidak ketinggalan maju mengikuti.

"Suma sicu harap suka sebutkan perguruanmu?"

"Ciangbunjin sudah tahu tapi sengaja bertanya?"

Balas tanya Suma Bing dongkol.

"Yang Pinceng maksudkan adalah asal-usul Bu siang sin hoat itu?"

"Ini, maaf, tak perlu kusebutkan!"

"Apa hubungan Sicu dengan Bu siang sin li?"

Suma Bing membatin; mungkin Bu siang sin li ada pertikaian apa dengan pihak Siau lim si.

Bu siang sin li adalah tokoh yang menggetarkan Bulim pada ratusan tahun yang lalu peristiwa ini susah dijelaskan, maka ia menggeleng serta katanya.

"Tiada sangkut paut apa2!"

"Lalu darimana Sicu mempelajari Bu siang sin hoat itu?"

"Sukar kujelaskan!"

Pada saat itulah mendadak terdengar tembang panjang.

"Para Tianglo sudah tiba!"

Lima orang pendeta tua beralis putih panjang mengenakan kasa merah perlahan2 keluar dari Toa tian Segera Liau Sian maju dua langkah sedikit membungkuk dan berseru.

"Menyusahkan para Tianglo ikut hadir disini!"

Serentak kelima Tianglo bersabda Baddha sambil membungkuk tubuh, seorang yang terdepan segera berkata.

"Kami beramai tidak berani terima hormat besar Ciangbunjin, tecu sekalian menghadap pada Ciangbunjin!"

"Tidak berani, para Tianglo silahkan, tidak perlu banyak peradatan!"

Sambil pejamkan mata kelima Tianglo itu memasuki gelanggang, seorang yang terdepan tiba2 membuka matanya, dua sorot kilat yang tajam menatap tajam wajah Suma Bing tanpa berkedip.

Tanpa mengenal gentar atau takut, Suma Bing juga pandang lawannya lekat2.

Siau lim ngo lo sudah berusia hampir seabad selamanya tidak gampang2 keluar setengah langkah dari Tianglo wan.

Sekarang kelima Tianglo ini keluar bersama, membuktikan betapa penting urusan ini.

Tapi Suma Bing sendiri sampai pada detik itu masih bersikap dingin seakan tanpa ambil perhatian, sedikitpun dia tidak tahu apa yang bakal terjadi.

Ketegangan temakin meruncing.

Mendadak tanpa membuka suara Tianglo terdepan itu memutar kedua tangannya terus disodokkan kedepan.

Kekuatan pukulan yang dilancarkan mendadak ini laksana geledek menyambar, hebat perbawanya.

Betapapun tinggi Lwekang Suma Bing rasa2 takkan mampu balas menyerang atau bertahan, terpaksa tubuhnya berkelebat menyingkir.

Tanpa disadari ia gunakan pelajaran Bu siang sin hoat.

Setelah lancarkan pukulannya segera Tianglo itu tarik ulang serangannya, suaranya datar berat.

"Benar adalah Bu siang sin hoat"

Pada saat itulah keempat Tianglo lainnya mendadak membuka mata, menatap tajam kearah Suma Bing.

Kedatangan Suma Bing adalah hendak menyelidiki jejak ibunya, tak terduga begitu ia gerakkan ilmu Bu Siang sin hoat pokok persoalannya menjadi perhatian malah.

Keruan hatinya gugup dan dongkol dan menggelikan juga.

Tianglo yang terdepan itu berkata lagi.

"Lolap tertua dari para Tianglo ini, bergelar Hi Bu, ada beberapa pertanyaan, harap Sicu suka menjawab secara terus terang"

"Harus kulihat dulu pertanyaan apa itu?"

Sahut Suma Bing dongkol. Wajah tua Hi Bu Taysu yang penuh keriput diliputi suatu rona yang sukar ditebak, akhirnya berkata pelan.

"Sicu murid dari perguruan mana?"

"Sia sin Kho Jiang adalah mendiang guruku!"

"Tidak benar!"

"Apakah ucapan Taysu ini tidak terlalu dogmatis (sembarangan memastikan)?"

"Lalu ilmu Bu siang sin hoat Sicu tadi darimana sicu pelajari?"

"Itu rahasia pribadiku mana bisa kuterangkan!!"

Kelima Tianglo dan Ciangbun Hong tiang bersama mengunjuk rasa gusar yang tak tertahankan lagi. Kini berobah bengis dan serius suara Hi Bu Taysu.

"Kenyataan tidak bisa didebat lagi, lebih baik Sicu bicara terusterang saja?"

Waktu meninggalkan Lembah kematian Suma Bing sudah bersumpah untuk tidak membeber keadaan lembah itu kepada orang luar, sudah tentu dia tidak akan melanggar sumpahnya sendiri.

Kalau dia mau menuturkan secara terus terang, perkembangan urusan ini mungkin berobah tidak sedemikian menegangkan urat syaraf.

"Kalau tidak kukatakan?"

"Pasti Sicu sudah maklum akan akibatnya!"

"Akibat apa, aku tidak mengerti?"

"Selamanya kau tidak akan meninggalkan Siau sit hong lagi!"

Suma Bing malah tertawa gelak2, serunya.

"Toa suhu, sebelum tujuanku terlaksana, memang aku tiada niat hendak turun dari Siau sit hong ini!"

Betapapun sabar dan tinggi latihan batin Hi Bu Taysu tak kuat lagi menahan rangsangan amarahnya, bentaknya bengis.

"Apa tujuanmu?"

"Ingin kulihat orang yang kalian kurung dibelakang puncak itu."

"Hm, kalau kau bermaksud menculik orang di Siau lim si, jangan kau harap!"

Suma Bing mendengus hidung keras sekali, ejeknya.

"Sekarang terlalu pagi untuk mempersoalkan hal ini, kalau nanti aku dapat membuktikan orang yang kalian kurung itu adalah benar orang yang hendak kucari, hm, waktu itu..."

"Bagaimana?"

"Akan terjadi banjir darah di Siau sit hong ini!"

Ancaman yang mengandung kekejaman banjir darah ini, membuat semua pendeta yang hadir berobah air mukanya, dimana2 terdengar geraman marah.

"Siapakah yang Sicu cari?"

"Aku tidak akan memberitahu kepada kau!"

"Benar2 Sicu tidak mau menerangkan?"

"Yang perlu kukatakan sudah dikatakan, ucapanku sampai disini, titik!"

Hi Bu Taysu membalik tubuh menghadap Liau Sian dan bertanya.

"Mohon Ciangbunjin suka mengambil keputusan?"

"Ringkus dia!"

Perintah Liau Sian ini menimbulkan kebencian Suma Bing, timbul nafsunya membunuh serunya keras.

"Cianbunjin, aku tidak bertanggung jawab akan segala akibatnya!"

Setelah saling berpandangan sebentar, kelima Tianglo maju per-lahan2, mengambil kedudukan Ngo heng (lima unsur) .

Ngo lo turun tangan bersama menghadapi seorang pemuda berusia belum cukup dua puluh tahun.

Bagi pihak Siau lim ini belum pernah terjadi dalam sejarah selama beratus tahun.

Bersama itu lebih menandaskan lagi bahwa pihak Siau lim sudah bertekad bulat hendak meringkus Suma Bing hidup-hidup.

Berkata Hi Bu Taysu lagi.

"Apakah Sicu tidak perlu berpikir lagi?"

Sinar mata Suma Bing mengunjuk kecongkakan, jengeknya.

"Adalah kalian yang harus berpikir panjang!"

"Buddha selamanya welas asih adalah Sicu sendiri yang mencari derita!"

"Hwesio tua, turun tanganlah, tidak perlu pura2 baik hati!"

Hi Bu Taysu bersabda suaranya melengking tinggi, lalu dorongkan sebelah tangannya.

Suma Bing juga angkat belah tangannya memapak maju...

Hampir dalam waktu yang sama, empat Tianglo lainnya juga masing2 lancarkan sebuah pukulan, rangsangan angin pukulan melanda tiba dari sudut yang berlainan merobohkan sebuah bukit kecil.

Tercekat hati Suma Bing, cepat2 kedua tangannya ditarik pulang, sebat sekali ia berkelebat menghilang keluar kepungan, cara kelitnya ini cepatnya luar biasa sampai susah diikuti oleh pandangan mata biasa.

Betapa sempurna sudah kepandaian kelima Tianglo ini, begitu serangan dilancarkan lantas kehilangan sasarannya, sigap sekali mereka tarik kembali pukulan dan tenaga masing-masing, terus melompat mundur tiga tindak.

Suma Bing ada diluar kalangan setombak jauhnya, katanya dingin.

"Dalam gebrak pertama ini aku mengalah sebagai tanda hormatku kepada kalian."

Gerak tubuh yang menjagoi seluruh dunia persilatan ini membuat hati para pendeta dingin dan beku, mereka kagum dan gentar.

Bahwa dengan gabungan lima Tianglo menyerang seorang muda tanpa hasil dihadapan para anak muridnya, membuat para Tianglo malu dan gusar.

Mendadak Hi Bu Taysu membentak gusar, tubuhnya melenting menubruk maju lagi, kedua jari2 tangannya bagai cakar garuda, aneh dan hebat luar biasa mencengkram kearah dada Suma Bing.

Cengkraman ini merupakan salah satu kepandaian tunggal dari Siau lim si yang dinamakan Tay eng jiau lat, kekuatan cengkraman ini dapat meremukkan batu menjadi bubuk.

Suma Bing berkelit terus memutar kebelakang Hi Bu Taysu sambil membalas dengan sebuah pukulan.

Hi Bu Taysu insaf akan keampuhan inti sari Bu siang Sin hoat, begitu cengkramannya mengenai tempat kosong, tubuhnya segera berputar, licin bagai belut tubuhnya menggeser kesamping dua tombak, terpaut serambut hampir saja terkena pukulan musuh.

Pada saat Hi Bu Taysu menyingkir kesamping inilah empat Tianglo lainnya lancarkan pula masing2 sebuah pukulan.

Timbul sifat ugal2an Suma Bing, tanpa berkelit atau menyingkir, seluruh tenaga dikerahkan kedua lengannya terus didorong kedepan menyambut secara keras.

Dentuman hebat bagai gugur gunung membuat genteng dan debu berhamburan memenuhi sekitar lapangan.

Empat Tianglo terdesak mundur selangkah lebar, darah bergolak dalam rongga dada mereka.

Suma Bing sendiri juga terpental delapan kaki wajahnya pucat tanpa darah.

Bahwa Suma Bing kuat menahan gabungan serangan empat Tianglo tanpa roboh, membuat semua hadirin membelalak kesima, heran dan kagum.

Agaknya Ngo lo masih belum menyudahi begitu saja, tanpa ayal mereka terus berkelebat berganti kedudukan, lagi2 Suma Bing dikepung diantara mereka.

Ketegangan mulai melingkupi sanubari setiap hadirin sehingga rasanya susah bernapas.

Dalam hal Lwekang, sudah tentu Suma Bing bukan tandingan Ngo tianglo.

Tapi Bu siang sin hoat merupakan ilmu ringan tubuh yang tiada taranya begitu dikembangkan benar2 bagai bayangan malaikat yang susah dipandang mata.

Dengan sendirinya menghadapi ilmu mujijat ini, Ngo tianglo juga insaf takkan ada pegangan bisa menang.

Alis panjang Hi Bu Taysu berdiri tegak, mulutnya membentak berat, dilancarkan jurus Jiang hay poh liong (lautan teduh mengekang naga).

Bersamaan dengan itu empat Tianglo lainnya juga lancarkan masing2 satu jurus yang berlainan, mereka bekerja sama sangat rapi dan teratur, sedemikian rapat mereka mengurung sampai tidak kelihatan sedikitpun lobang kelemahannya.

Mengandal ilmunya yang aneh dan ajaib, Suma Bing berputar dan bermain lincah diantara kepungan dan samberan pukulan2 kelima musuhnya, setiap ada lowongan pasti balas menyerang tanpa sungkan.

Setiap kali ia balas menyerang pasti garis penjagaan kelima Tianglo itu goyah.

Pertempuran ini berjalan semakin sengit saling pukul dan hantam, bayangan merekapun bergerak semakin cepat hingga susah dibedakan lagi bentuk orangnya, hawa pukulan juga semakin deras mengekang sekitar gelanggang pertempuran laksana angin lesus.

Dalam sekejap mata saja limapuluh jurus dengan cepat sudah dicapai.

Kalau Ngo lo semakin mengunjuk kelemahannya, maklum tenaga mereka, sudah semakin keropos dimakan usia, adalah Suma Bing sebaliknya bertempur semakin gagah bersemangat.

Inilah pertempuran seru yang belum pernah terjadi dan belum pernah ada didunia persilatan.

Pertempuran sengit ini membuat semua penonton terbelalak kesima dan berdenyutan jantungnya diliputi ketegangan.

Sebuah bentakan nyaring menggetarkan seluruh gelanggang.

'Blang' diselingi suara pekik kesakitan, salah seorang tianglo tahu2 terhuyung keluar dari kurungan, mulutnya menyemprot darah segar.

Keempat Tianglo lainnya menggeram murka, serangan membadai semakin dipergencar, membuat ciut nyali setiap penonton.

Seratus jurus kemudian seorang Tianglo terpental keluar lagi dari kalangan pertempuran.

Gerak tubuh Suma Bing sangat aneh dan dapat lenyap dari pandangan mata saking cepat berkelebat, selalu mengelak yang berat membokong yang lemah, gesit sekali selulup timbul diantara angin pukulan musuh selicin belut..ADA BAYANGAN TIADA BENTUKNYA.

Dua ratus jurus kemudian, serbuan ketiga Tianglo itu sudah berobah dari deras menjadi lemah.

Adalah sebaliknya Suma Bing semakin gagah, selincah naga segarang harimau, setiap gerak tangannya menjadi serangan ampuh yang melemahkan pertahanan ketiga musuhnya, sampai akhirnya ketiga musuhnya terdesak kerepotan dan terancam jiwanya.

Agaknya tidak sampai tiga puluh jurus lagi pasti ketiga Tianglo ini susah terhindar dari ancaman elmaut.

Wajah Liau Sian semakin membesi kehijau2an, hatinya bergejolak semakin tak tenang, demikian juga semua anak murid Siau lim si semua terkesima dengan hati kebat-kebit.

Kekuatan gabungan lima Tianglo ternyata masih bukan tandingan anak muda ini, mereka insaf dari seluruh penghuni kelenteng Suci yang diagungkan itu agaknya susah dicari tokoh kosen yang dapat menandingi kelihayan musuh muda ini.

Tiga hari yang lalu Rasul penembus dada juga pernah membikin geger Siau lim si Liau Khong kepala ruang Lo han tong dan dua muridnya gugur ditembusi dadanya.

Kedatangannya sebebas berjalan dijalan raya tanpa seorangpun dari anak murid Siau lim si yang mampu merintangi.

Sekarang si sesat kedua Suma Bing lagi2 memporak porandakan kepungan kelima Tianglo yang berkepandaian paling tinggi dari mereka.

Naga2nya nama kebesaran Siau lim si yang diagungkan dan sudah bersejarah ratusan tahun ini akan runtuh dan dihapus dari catatan sejarah.

Tiba2 Ciangbun Hong tiang melangkah maju memasuki gelanggang...

Para anak murid Siau lim si dan para pelindung kelenteng melihat Ciangbunjin turun tangan sendiri, beramai2 merekapun merubung maju sehingga dalam gelanggang semakin meruncing tegang, suasana yang mencekam hati ini membuat orang susah bernapas.

Sungguh sangat kebetulan pada saat itulah mendadak lonceng gereja berdentang keras memekakkan telinga, lalu disusul sebuah suara seorang petugas jaga berseru keras "Hudco telah tiba!"

Seketika semua anak murid Siau lim si mengunjuk rasa hormat dan hidmat, be-ramai2 mereka mundur kedua belah samping dan berdiri dengan rapi, ketiga Tianglo yang tengah bertempur juga segera melompat keluar gelanggang menghentikan pertempuran, berjejer bersama Ciangbun Hong tiang mereka menghadap ke Toa tian (ruang besar), Diam2 Suma Bing juga terkejut, entah tokoh macam apakah orang yang disebut Hudco itu.

Tengah ia berpikir itu, tampak olehnya seorang pendeta tua kurus kering agak bungkuk mengenakan jubah orang beribadat, muncul dari dalam ruang sembahyang.

jalannya pelan dan lemah, sedemikian lemah gerak kakinya itu seumpama dihembus angin juga pasti bisa roboh.

Masa pendeta tua bagai mayat hidup inikah yang disebui Hudco.

Demikian batin Suma Bing.

Segera Ciangbun Hongtiang tampil kedepan tiga langkah kedua dengkul ditekuk sambil berseru.

"Ciangbun Tecu Liau Sian menghadap Hudco!"

"Kau sebagai pejabat Ciangbun, Lolap tidak berani terima, silahkan!"

Kelihatannya pendeta tua kurus kering bagai Mumi ini tinggal kulit pembungkus tulang, tapi suaranya sedemikian keras mendengung memekakkan telinga, tampak hanya sedikit menggerakkan tangannya saja, tubuh Liau Sian yang setengah membungkuk itu terangkat bangkit dan mundur ketempat asalnya lagi.

Sekarang giliran kelima Tianglo yang menyembah hormat sambil berseru.

"Harap Supek terima hormat kami!"

Maka beramai2 para anak murid dari semua tingkatan beruntun bersabda Buddha lalu berlutut dan mengunjuk hormat.

Diam2 tercekat hati Suma Bing, bahwa usia kelima Tianglo sudah hampir seabad, adalah si pendeta tua ini kiranya seangkatan lebih tinggi dari mereka, lebih tinggi dua tingkat dari Ciangbun Hong tiang mereka, bukankah usianya ini sudah lebih dari seabad!

Suasana sekelilingnya sedemikian hening nyenyap penuh mengandung keagungan.

Pelan2 si pendeta tua itu melangkah maju mendekat...

Dimana pandangan Suma Bing melihat, tanpa terasa merinding dan menyedot hawa dingin.

Ternyata cara berjalan pendeta tua ini, kakinya mengambang tiga senti tanpa menyentuh tanah, terang ilmu ringan tubuh yang dikembangkan ini adalah Leng hi poh yang paling dibanggakan dan paling sukar dipelajari itu.

Kira2 terpaut dua tombak dihadapan Suma Bing baru pendeta itu menghentikan langkahnya, kelopak mata yang meram itu juga mendadak terbuka lebar, hanya sekali berkelebat saja lantas meram lagi.

Meski hanya sekali kedipan saja, ini cukup membuat seluruh tubuh Suma Bing tergetar.

Mendadak pendeta tua merangkap kedua tangan didepan dada, sambil menengadah mulutnya menggumam.

"Tecu Hui Kong melanggar pantangan dan sumpah selama enam puluh tahun, semoga para Cousu suka memberi ampun akan pelanggaran yang terpaksa ini!" -Habis ucapannya kedua matanya dipentang lebar lagi, dua sinar kehijauan dari matanya menatap setajam ujung pisau kemuka Suma Bing. Agak lama kemudian baru dia membuka kata lagi.

"Asal Siau sicu bicara secara terus terang, dapatlah! dosa2mu dihapus."

"Tidak mungkin,"

Sahut Suma Bing tegas.

"Kalau begitu terpaksa Lolap benar2 melanggar pantangan?"

"Silahkan!"

Kedengaran suara Hui Kong melengking tinggi bersabda Buddha, sebelah tangannya yang kurus kering bagaikan batang kayu itu diangkat mencengkram kearah Suma Bing dari kejauhan...

Melihat gaya serangan orang ini, terkesiap hati Suma Bing, cepat2 kedua tangan diayun, siapa tahu baru saja tangannya bergerak tenaga dalam ternyata susah dihimpun dan dikerahkan, keruan kagetnya tak terhingga, maka terlihat cengkraman musuh ditarik kembali, seketika suatu daya sedot yang kuat sekali membuat dirinya tanpa kuasa terseret kehadapan orang.

Beruntun jari2 Hui Kong menjentik lalu katanya.

"Untuk sementara waktu Lwekang Siau sicu kututup, setelah semua urusan beres baru boleh kupulihkan lagi, kuharap kau tahu diri!" -habis berkata ia memutar tubuh dan dalam sekejap mata bayangannya sudah menghilang didalam ruang Toa tian. Timbul rasa kejang dan linu kesakitan dalam tubuh Suma Bing, dalam keadaan yang sudah terlambat ini meskipun mata melotot dan gigi gemeretak gusar, apalagi yang dapat diperbuatnya. Dalam pada itu para Tianglo juga segera tinggal pergi. Terdengar Ciangbun Hong tiang berseru lantang.

"Semua bubar dan harus selalu waspada, selain pengawas kelenteng dan para murid petugas, semua kembali ketempat masing2."

Be-ramai2 para pendeta bersabda dan memberi hormat terus mengundurkan diri tanpa bersuara.

Tinggal empat pendeta petugas dan Liau Seng Taysu, berdiri tegak dibelakang Ciangbun Hong tiang Liau Sian Taysu.

Liau Sian maju beberapa langkah, suaranya berat berkata.

"Sekarang sicu boleh memberitahukan maksud kedatanganmu sebenarnya dan asal-usulmu bukan?"

"Tidak!!"

Sahut Suma Bing beringas.

"Suco kami pernah berkata, kalau kau mau bicara, urusan ini habis sampai disini saja, malah Lwekangmu dapat dipulihkan lagi."

"Aku yang rendah tidak sudi menerima budi kalian ini"

Berobah wajah Liau Sian, katanya sambil berpaling kearah Liau Seng Taysu.

"Sementara waktu Sicu ini kuserahkan kepada Sute, antarkan dia masuk ke Ceng Sim sek (ruang perenungan), setelah dia mau buka mulut baru kita rundingkan lagi."

Liau Seng Taysu mengiakan, bersama keempat murid petugas mereka membungkuk mengantar kepergian Ciangbun Hong tiang.

Dua murid petugas itu lantas menggiring Suma Bing keruang samping sebelah sana.

Apa y ang dinamak an Ceng s im sek t erny at a adalah sebuah rumah batu yang rapat dipagar i jeruj i bes i .

Agakny a di s ini lah tempat perant i menghukum para mur id Siau l im s i yang berdosa at au melanggar aturan.

Demik ian juga Suma Bing t er kurung dalam CHuein Kgo nsgi msi psaedkri itnuai .

m enggunakan ilmu totok yang tertinggi dan terampuh menutup hawa murninya, sehingga lumpuhlah tenaganya tak ubahnya seperti orang biasa.

Sungguh susah dibayangkan sampai dimanakah taraf kesempurnaan ilmu dan Lwekang Hui Kong.

Didengar dari sabda renungannya tadi, naga2nya ia sudah selama enam puluh tahun baru keluar untuk pertama kali ini.

Benar2 tak tersangka sebelum tujuan utamanya dapat terlaksana, malah dirinya harus tersangkut dalam lingkaran yang menyebalkan ini.

"Siapakah wanita yang terkurung di gua dibelakang puncak Siau sit hong itu? Apakah ibunya San hoa li Ong Fang lan? Atau perempuan lain yang berdosa besar yang memang setimpal menerima hukumannya itu? Selama satu hari satu malam, dalam perasaan Suma Bing se-akan2 sudah dua tahun lamanya. Laksana seekor singa yang baru saja dimasukkan dalam kerangkengan, selama satu hari satu malam itu sekejappun belum pernah matanya dipejamkan, rasa gusar, benci dan dendam selalu merangsang benaknya, sedetikpun belum pernah meninggalkan pikirannya.

"Kalau aku tidak mati, kalau aku bisa keluar, hm..."

Demikian gumamnya penuh penasaran, dengusan hidung terakhir itu tidak sukar dibayangkan itulah mewakili pelimpahan hatinya yang penuh gelora dendam!

Sudah berulangkali Liau Seng Taysu datang membujuk, setiap kali selalu mengundurkan diri tanpa hasil.

Pada tengah malam hari kedua, cuaca sangat gelap, angin pegunungan menghembus kencang.

Tanpa mengeluarkan suara pintu jeruji besi rumah batu itu terbuka lalu tertutup lagi dengan cepat, sebuah bayangan pendek tambun tapi selincah kucing enteng sekali melayang masuk kedalam rumah batu dimana Suma Bing berada.

"Siapa itu?"

"Sssst! Buyung jangan keras2, inilah aku si maling tua!"

Suma Bing merasa kejut dan heran.

Ternyata si maling bintang Si Ban cwan juga telah menyusul tiba sampai Siau lim si, entah menggunakan cara apa dia dapat lolos dari penjagaan yang sedemikian ketatnya, malah dapat membuka pintu jeruji besi itu lagi?

"Buyung mari keluar!"

"Keluar?"

"Eh, apa kau ingin cukur gundul menjadi Hwesio, selama hidup ini tinggal dalam kurungan di Siau lim si ini?"

"Seorang laki2 berani datang secara terang juga harus pergi secara terang2an pula,"

Begitulah semprot Suma Bing uringan2.

"Mana aku Suma Bing mau pergi secara sembunyi begitu?"

Si maling tua mendengus ejek, katanya.

"Buyung, apa kau mengharap para pendeta Siau lim ini beriring mengantarmu keluar. Kenyataan kau sudah menjadi orang hukuman, masih berlagak apa segala. Siau lim si tidak akan pindah tempat, apa kelak kau tidak dapat datang lagi? Dengan menyerempet bahaya si maling tua ini mencuri kunci dari tubuh Liau Seng Taysu untuk menyambut kau keluar kurungan, perbuatanku ini baru pantas disebut manusia rendah?"

Hampir saja Suma Bing tidak kuat menahan rasa gelinya ujarnya.

"Baiklah aku pasti akan datang lagi!"

"Buyung, ingat kata2ku, jangan kau main kukuh dan keras kepala. Kalau sampai konangan, berarti kau menyulut sumbu bencana, menyesalpun tak berguna."

"Apakah luar dalam kelenteng ini tidak ada penjagaan?"

"Sudah tentu ada!"

"Lalu Cianpwe..."

"Hehehehe, julukan si maling bintang merampok rembulan masakah nama kosong belaka."

"Tapi aku tertutuk oleh Hui Kong Taysu hingga Lwekang ku lenyap..."

"Paling perlu kita keluar dulu, urusan belakang!"

Tanpa banyak cakap lagi si maling bintang Si Ban cwan menjinjing tubuh Suma Bing dan dikempitnya dibawah ketiaknya, secara diam2 laksana setan keluar dari Siau lim si tanpa diketahui oleh seorangpun jua.

Sebuah bayangan langsing tahu2 muncul dari kegelapan sebelah depan sana.

"Locianpwe, bagaimana?"

Tanya bayangan itu.

"Mencuri ayam menggerayangi anjing adalah modal si maling tua yang paling diandalkan, pasti takkan salah, mari pergi?"

Bayangan langsing yang sembunyi diluar kelenteng itu bukan lain adalah Siang Siau hun.

"Engkoh Bing!"

Seru Siang Siau hun riang gembira. Mendadak terdengar sebuah bentakan keras dan berat.

"Sicu darimanakah itu yang berkunjung kebiara kami?" -disusul enam bayangan besar beruntun muncul dan tepat mencegat ditengah jalan mereka.

"Lari!"

Tiba2 si maling bintang membentak keras, tubuhnyapun sudah melejit kedepan dengan kecepatan anak panah, dalam sekejap saja sepuluh tombak sudah dilampauinya.

"Sicu, berhenti!"

Sebuah bayangan hitam lainnya lagi2 muncul dan meluncur turun dihadapan si maling tua Si Ban cwan.

Itulah seorang pendeta tua yang membekal sebuah tongkat besi panjang.

Kedua matanya ber-kilat2 memancarkan sinar yang menakutkan dikegelapan malam.

Disebelah belakang sana, Siang Siau hun juga sudah terkepung oleh keenam pendeta tadi tanpa mampu meloloskan diri.

Si maling bintang tertawa dingin, tubuhnya mencelat miring kesamping.

Dibarengi sebuah bentakan keras, si pendeta tua itu berkelebat lagi dan tahu2 sudah mencegat didepan si maling tua.

Wut langsung ia sapukan tongkat senjatanya Dari cara ia mencelat datang mencegat dan serangannya ini dapatlah dipastikan bahwa Lwekang si pendeta tua ini bukan olah2 hebatnya.

Karena mengempit Suma Bing gerak gerik si maling tua kurang leluasa, tak dapat dia melayani serangan orang dengan serangan, terpaksa ia berkelit mundur delapan kaki jauhnya.

Mendadak Suma Bing meronta serta berteriak .

"Cianpwe lepaskan aku, lekas kau pergi!"

"Buyung tak mungkin terjadi legakan hatimu, mereka takkan melukai serambutmu."

Pendeta tua itu melintangkan tongkatnya serta berkata.

"Oh, kiranya adalah Siao Sicu yang kenamaan itu. Maaf Pinceng berlaku kurang hormat, silahkan kembali kedalam kuil untuk berdamai!"

"Pendeta tua apa gelaranmu?"

Acuh tak acuh si maling tua Si Ban cwan bertanya "Pinceng Liau Cin!"

"Baik kuturuti kemauanmu, kembalilah!" -Benar juga segera si maling bintang Si Ban cwan membalik tubuh menuju kearah pintu besar kelenteng agung itu... Saat mana Siang Siau hun masih terkepung oleh enam murid Siau lim si keadaannya sudah terdesak dibawah angin rambutnya sudah awut2an keringat membanjir keluar.

"Berhenti!"

Segera Liau Cin berseru kearah enam muridnya Keenam pendeta tegap gagah itu segera mematuhi perintahnya berloncatan mundur, Sambil membenarkan letak sanggul kepalanya Siang Siau hun mengikuti dibelakang maling bintang Si Ban cwan, menuju kearah kelenteng.

Saat mana diluar pintu besar kelenteng itu sudah terpasang beberapa buah tengloleng besar hingga sekitarnya terang benderang seperti disiang hari bolong.

Tampak Liau Sian Ciangbunjin Siau lim si sudah menanti ditengah pintu.

Dibelakangnya beruntun berdiri kelima Tianglo dan pengawas kelenteng Liau Seng dan Liau Ngo si petugas penyambut tamu dan masih banyak lagi para murid yang bertugas jaga.

Tidak ketinggalan juga kedelapan belas Lohan juga berjajar dikedua belah samping, suasana sangat tegang sunyi.

Setelah meletakkan Suma Bing diatas tanah, ter-sipu2 maling bintang Si Ban cwan angkat tangan memberi hormat kearah Liau Sian serta sapanya.

"Silahkan Ciangbunjin!"

Liau Sian bersabda sambil merangkap tangan, serunya.

"Malam2 Lo sicu menyelundup kedalam kelenteng malah hendak membawa lari orang hukuman"

Tak tertahan lagi Suma Bing membentak gusar.

"Tutup mulutmu. Tuan sebagai ketua dari satu aliran besar cara bicaramu harus kenal aturan dan bertanggung jawab. Memang aku sedikit lalai dan kena teringkus oleh kalian, kusesalkan kepandaianku yang tidak becus. Bagaimana bisa kau anggap aku sebagai orang hukuman kalian untuk merendahkan derajat harga diriku?"

Setelah tertawa dingin si maling bintang Si Ban cwan ikut menimbrung.

"Partai kalian mengurung Suma Bing, malah memunahkan ilmu silatnya lagi, dengan alasan apa kalian berani berlaku se-wenang2?"

Sahut Liau Sian dengan nada berat.

"Suma Sicu membikin onar, melukai anak murid kami dan yang lebih penting asal usulnya sangat mencurigakan!"

"Dalam hal apa dia mencurigakan?"

"Gerak tubuh yang dipertontonkan itu, menyangkut suatu peristiwa penting dalam partai kami pada seabad yang lalu!"

Keterangan ini bukan saja membuat Si Ban cwan dan Siang Siau hun tercengang heran, juga Suma Bing tidak kurang pula kejutnya.

Agaknya prasangkanya benar, soal ini menyangkut pada Bu siang sin hoat yang dikembangkannya itu, tapi sebab yang utama bagaimana tak dapat dia menyimpulkannya.

Karena sudah bersumpah pada Giok li Lo Ci untuk tidak membocorkan keadaan dalam Lembah kematian, maka pengalamannya dalam Bu kong san yang membawa berkah itu selain dia seorang tak ada lain orang mengetahui secara jelas.

Sekilas si maling bintang Si Ban cwan melirik kearah Suma Bing, lalu berpaling lagi kearah Liau Sian serta bertanya.

"Dapatkah kiranya Ciangbunjin menerangkan sebab musabab dari peristiwa lama itu?"

"Peristiwa itu menyangkut rahasia partai kita. Maaf tak dapat kami memenuhi permintaanmu itu,"

"Aku maling tua masih ada satu pertanyaan, harap suka memberi penjelasan?"

"Silahkan Sicu katakan!"

"Sia sin Kho Jiang satu diantara Bu lim su ih itu adakah permusuhan dengan partai kalian?"

"Tidak!"

"Kalau toh Lam sia tiada permusuhan dengan partai kalian. Ketahuilah Suma Bing adalah murid Lam sia malah pengalamannya dalam dunia Kangouw belum cukup setahun, bagaimana bisa, dikatakan dia tersangkut paut dengan peristiwa lama partai kalian?"

"Maksud tujuan dan asal usul Suma Sicu ini sangat mencurigakan tidak bisa tidak partai kami harus membikin terang urusan ini!"

"Kalau urusan ini belum jelas, mana boleh kalian menahan dan mengurungnya secara se-mena2?"

"Justru tujuan kita adalah membikin terang urusan ini!"

"Tujuan Suma Bing mendatangi Siau sit hong ini terutama hanya ingin membuktikan perempuan yang kalian kurung dibelakang puncak itu, adalah orang yang tengah dicarinya. Beginilah penjelasannya!"

"Ya, memang mungkin perempuan itu adalah orang yang tengah dicari oleh Suma sicu itu!"

"Siapakah dia?"

Tanya Suma Bing terharu.

"Hati Sicu sendiri pasti sudah tahu!"

Darah Suma Bing bergolak terasa dadanya hampir meledak, sinar matanya memancarkan kebencian yang menyala2 buas, jikalau Lwekangnya tidak tertutup, mungkin segera ia turun tangan melabrak musuh ini, maka sambil kertak gigi suaranya mendesis.

"Perhitungan ini aku Suma Bing harus menebusnya berlipat ganda!"

Tanpa menghiraukan sikap Suma Bing itu, Liau Sian berpaling kearah si maling bintang.

"Omitohud, dosa, dosa... Silahkan Lo sicu dan Li sicu (maksudnya Siang Siau hun) ini segera turun gunung!"

"Tidak bisa!"

Hampir bersamaan maling tua dan Siang Siau hun berseru.

Jawaban ketus dan kasar ini membuat semua anak murid Siau lim si yang hadir merasa gusar, dengan penuh kemarahan mereka melotot kearah maling tua dan Siang Siau hun.

Kata Liau Sian Taysu kepada Liau Seng Taysu.

"Harap Sute menggusur tawanan!"

Liau Seng si pengawas kelenteng segera mengiakan lantas menghampiri kearah Suma Bing dengan langkah lebar!

'Sreng.' Siang Siau hun mencabut keluar pedangnya.

Si maling bintang juga bergegas menghadang didepan Suma Bing.

Ketegangan semakin meruncing se-akan2 dalam kesenyapan sebelum hujan badai bakal mendatang.

Pada saat itulah mendadak terdengar sebuah suara tawa aneh yang mendirikan bulu roma orang mendengung ditengah udara.

Berobah hebat air muka para jagoan dari Siau lim si, serta merta Liau Seng juga menghentikan langkahnya.

Sebuah bayangan hitam bagai setan seenteng burung hinggap memasuki gelanggang.

Kiranya itulah seorang aneh yang berpakaian serba hitam sampai kulit dan wajahnya juga berwarna hitam, hanya sepasang bola matanya banyak putih daripada hitamnya.

Se-konyong2 diantara barisan anak murid Siau lim si sana terdengar sebuah seruan kaget.

"Racun diracun!"

Tentang Racun diracun pernah mengalahkan Pak tok Tangbun Lu baru terbatas beberapa orang saja yang mengetahui.

Tapi dia berani menggunakan julukan Racun diracun malang melintang didunia persilatan, sehingga membuat Tangbun Lu yang selama ini sudah merajai dalam dunia Racun akhirnya toh mandah sembunyi diri, maka dapatlah dibayangkan betapa berbisanya manusia beracun ini.

Kehadiran Racun diracun di Siau lim si ini benar2 diluar dugaan Suma Bing.

Demikian juga para pendeta Siau lim si tidak kalah besar kejut dan takutnya, entah apa maksud tujuan manusia paling beracun ini muncul disini?

"Apakah Sicu ini yang disebut Racun diracun oleh kaum persilatan?"

Tanya Liau Sian penuh kewaspadaan. Racun diracun mengiakan, suaranya dingin menusuk telinga membuat orang merinding karenanya.

"Ada urusan apa Sicu berkunjung kemari?"

"Sudah tentu, kalau tiada urusan penting tidak bakal aku sudi berkunjung."

"Pinceng minta penjelasan?"

"Bukankah pertanyaan Ciangbunjin ini sangat berkelebihan. Karena urusan Sia sin kedua Suma Bing inilah aku datang!"

Berobah pucat wajah Liau Sian, para pendeta lainnya juga sontak unjuk rasa gusar dan gentar.

"Sicu khusus datang untuk Suma Bing?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Harap sicu menerangkan secara jelas?"

Racun diracun ter-loroh2, lalu serunya.

"Urusan ini sangat gampang, kubawa dia turun gunung!"

Liau Cin Taysu tidak kuat menahan sabar lagi, sambil menggerakkan senjata tongkatnya ia membentak.

"Sicu anggap Siau lim tiada orang kosen?"

Racun diracun tertawa ejek.

"Aku tidak peduli kesimpulan apa yang Taysu pikirkan!"

Kejut dan heran merangsang benak Suma Bing.

Ternyata Racun diracun datang hendak menolong dirinya.

Sepak terjangnya selama ini sudah tentu bukan terjadi secara kebetulan saja.

Tapi, mengapa dia berbuat demikian?

Liau Sian ulapkan tangan mencegah perbuatan Liau Cin selanjutnya, suaranya terdengar sangat berat.

"Mengandal alasan apa Sicu berani membawa orang pergi?"

Tidak kalah garangnya Racun diracun balas bertanya.

"Lalu mengandal apa pula partai kalian mengurung dan menghukum orang lain?"

"Sebab dia berkeliaran dalam kelenteng melukai orang, dan juga karena dia tersangkut dalam peristiwa yang sudah ter-katung2 selama seabad!"

"Peristiwa apa yang ter-katung2 itu?"

Tanya Racun diracun sambil tertawa sinis.

"Peristiwa itu merupakan rahasia partai kita, harap maaf Pinceng tidak bisa memberi keterangan!"

"Itulah bagus sekali, urusanku juga sangat penting dan terahasia maka hendak kubawa dia pergi, maaf aku juga tidak bisa menerangkan panjang lebar!"

Wajah Liau Sian mengelam dalam, matanya memancarkan cahaya terang tajam, agaknya ketua Siau lim si yang diagungkan ini benar2 sudah marah besar, perlahan dan berat dia maju tiga langkah, suaranya bengis.

"Apa Sicu berani berbuat se-mena2?"

"Sungguh menggelikan, ini mana boleh dianggap se-mena2. Kalian meng-ada2 menimpahkan dosa untuk mengurung orang, apa ini bukan se-mena2?"

Saking murka badan Liau Sian Taysu sampai gemetar, serunya gusar.

"Aku sangsi keinginan Sicu itu takkan dapat terkabul!"

"Belum tentu!"

Memangnya sifat Liau Cin Taysu paling kasar dan berangasan, tak kuat lagi dia menahan gejolak amarahnya, sambil menggerung keras tongkatnya diangkat menggunakan jurus Thay san ap ting mengemplang kearah Racun diracun, karena gusar dan bertenaga besar maka perbawa serangan ini bukan olah2 hebatnya angin menderu2 bagai geledek menyambar.

Menghadapi serangan tongkat yang hebat ini Racun diracun tenang2 saja tanpa beringser dari tempatnya, tidak menyingkir malah diangkat sebelah tangannya untuk menyampok kearah datangnya samberan tongkat...

'Blang' dimana terdengar suara keras ini, kontan Liau Cin Taysu sempoyongan satu tombak lebih wajahnya pucat pias.

Tongkatnya bengkok terlepas dari tangannya.

Gebrak pertama keras lawan keras benar2 menggetarkan sanubari seluruh hadirin.

Maklum Liau Cin Taysu setingkat dengan Ciangbun Hong tiang, Lwekangnya boleh dikata sudah sangat tinggi dan paling dibanggakan diantara seangkatannya, tidak kira hanya satu gebrak saja sudah dibikin keok oleh musuh.

Betapa tinggi kepandaian Racun diracun ini benar2 mengejutkan.

Hening sejenak lantas terdengar bentakan2 gusar bagai geledek, tampak Liau Seng dan Liau Ngo melompat maju berbareng.

Racun diracun angkat sebelah tangannya, serunya lantang.

"Nanti dulu!"

Liau Seng Taysu pengawas kelenteng dan Liau Ngo penyambut tamu segera menghentikan langkahnya. Dengan sorot mata tajam Racun diracun menatap kearah Liau Sian, katanya.

"Ciangbunjin, kalau tuan tidak suka melihat terjadi banjir darah ditempat suci yang agung ini, lebih baik kalian jangan banyak tingkah!"

"Urusan ini sangat penting dan besar artinya, partai kita rela berkorban untuk menghadapi meski harus terjadi banjir darah."

"Tapi sekarang belum saatnya menimbulkan banjir darah!"

"Apa maksud ucapan Sicu ini?"

Racun diracun menunjuk kearah Suma Bing dan berkata.

"Kita nantikan setelah kawan ini sudah membuktikan siapakah perempuan yang kalian kurung dibelakang puncak itu baru dapat dipastikan apakah ada harganya kalian harus mengeluarkan darah sebagai imbalannya."

Ucapan Racun diracun ini malah menambah ketekadan Liau Sian Taysu untuk meringkus Suma Bing kembali, setelah bersabda lalu dia berseru.

"Demi gengsi dan peristiwa lama itu, Suma Bing harus tetap tinggal dalam kelenteng kami, harap Ngo lo maju meringkus bocah itu!"

Kelima Tianglo mengiakan berbareng lalu bersama-sama melangkah maju...

Dalam waktu yang bersamaan Liau Seng Taysu dan Liau Ngo Taysu mendesak maju lagi kearah Racun diracun.

Jidat Siang Siau hun basah oleh keringat saking tegang pedang panjangnya juga telah dilolos pula bersiap siaga.

Sedang si maling bintang Si Ban cwan menggeser kedudukan mendekati Suma Bing dan berdiri disampingnya.

Mendadak Racun diracun membentak keras.

"Liau Sian Hwesio, apa kau paksa aku untuk menggunakan Racunku?"

Bentakan serta ancaman yang serius ini seketika membuat para pendeta yang hadir giris dan merinding bulu romanya.

Serta merta kelima Tianglo yang mendesak maju itu juga lantas menghentikan tindakannya.

Mereka maklum betapa kejam dan hebatnya ancaman Racun diracun ini.

Sebab racun takkan dapat ditahan meski dengan kepandaian atau Lwekang yang tinggi.

Dengan sorot matanya yang dingin Racun diracun menyapu pandang keseluruh gelanggang lalu berkata lagi.

"Aku masih menghargai dan mengingat bahwa partai kalian adalah golongan dan aliran lurus yang mengutamakan kebenaran dan keadilan, maka tidak tega aku turun tangan kejam. Tapi jikalau kalian memaksa, demi terlaksana maksudku aku tidak akan mengenal kasihan menggunakan segala kekejianku. Aku percaya kalian pasti tahu betapa besar dan jelek akibatnya? Perlu kuperingatkan sekali lagi, dalam jangka tiga tindak pasti jiwa kalian bisa melayang, kalau ada diantara kalian tidak percaya boleh silahkan keluar mencoba!"

Ciangbun Taysu Liau Sian berseru dongkol.

"Sicu ini ada hubungan apa dengan Suma Bing?"

"Hubungan kami sangat kental!"

Se-konyong2, terdengar tembang parita yang mengalun panjang dan menyusup tinggi diudara dari dalam ruang dalam.

Tembang parita dari keagamaan Buddha ini benar2 mengandung kekuatan atau perbawa yang tiada taranya, semua pendeta yang hadir berbareng bersabda sekali sambil merangkap tangan dan menundukkan kepala beramai2 mereka menyingkir kesamping.

Sekarang ditengah gelanggang ketinggalan Racun diracun, Suma Bing, si maling bintang Si Ban cwan dan Siang Siau hun empat orang.

Menggunakan peluang ini Racun diracun berpaling kearah Si Ban cwan dan berkata.

"Tuan lekas bawa Suma Bing secepatnya tinggalkan tempat ini, biar aku yang melayani mereka."

Alis putih si maling bintang Si Ban cwan berkerut dalam, sahutnya.

"Saat ini sudah terlambat untuk pergi!"

"Kenapa?"

"Suara tembang parita tadi dinamakan Thian in sian jiang (irama langit), orang yang bertembang tadi Lwekangnya sudah mencapai kesempurnaannya, pasti orang itu bukan lain adalah Hui Kong Taysu yang diagungkan sebagai Buddha hidup oleh kaum Siau lim si. Tua bangka ini usianya sudah hampir satu setengah abad..."

"Masa kita harus mandah saja ditangkap dan diringkus?"

Seru Siang Siau hun gugup.

"Belum tentu mereka mampu!"

Jengek Racun diracun.

Baru saja ucapannya selesai, tampak seorang pendeta tua kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang sudah muncul diambang pintu.

Maka semua pendeta, segera memberi hormat sambil menundukkan kepala.

Dalam hati Suma Bing berkata "Akan datang satu hari aku harus tempur pendeta tua ini!"

Tanpa sadar Racun diracun mundur satu langkah lebar. Terdengar Suma Bing berbisik kepada si maling bintang.

"Cianpwe, tiga bulan yang lalu Rasul penembus dada pernah menerjang masuk ke Siau lim si dan membunuh Liau Khong kepala Lohan tong dan kedua muridnya. Kedatangannya itu sedemikian gampang dan berhasil dengan gemilang, mengapa pendeta tua ini..."

"Waktu itu dia tidak muncul!"

Dalam pada itu sepasang mata Hui Kong Taysu tengah menatap wajah Racun diracun lalu katanya.

"Sicu ini menggunakan ilmu make up yang dinamakan Hian goan tay hoa ih sek untuk merobah bentuk wajah agaknya kau sealiran dengan Pek kut Hujin?"

Tiba2 tubuh Racun diracun tergetar, baru pertama kali ini kedoknya dibongkar terang2an dihadapan orang banyak, sejenak ia tertegun, lalu sahutnya.

"Benar, memang harus kuakui!"

Mendengar nama Pek kut Hujin di-sebut2 berobah air muka semua hadirin.

Karena Pek kut Hujin adalah momok wanita paling ditakuti yang sudah malang melintang pada seabad yang lalu.

Siapa saja bagi kaum persilatan yang mendengar akan namanya pasti merinding ketakutan.

Sungguh tidak nyana bahwa Racun diracun ini kiranya sealiran juga dengan momok wanita nomor satu pada jaman yang silam itu..RELA BERKORBAN DEMI JIWA KEKASIH Lebih2 kejut dan heran Suma Bing bukan kepalang, semua sepak terjang dan tindak tanduk Racun diracun selama ini dan munculnya Pek kut hujin ber-turut2 itu benar2 membuat dia tidak habis mengerti.

Sekarang boleh dikata sudah separuh dapat diketahui, dan sebagian lagi yang belum jelas baginya adalah mengapa Racun diracun dan Pek kut hujin selalu muncul secara tepat pada saat2 dirinya, menghadapi mara bahaya?

Ada latar belakang apakah dibalik semua kejadian itu?

Terdengar Hui Kong Taysu bersalut lalu berkata.

"Ditempat yang agung dan sunyi ini jangan kalian berbuat dosa dan melanggar peraturan2 ditempat ini, maka silahkan Sicu segera turun gunung saja!"

"Jadi Locianpwe tetap berkukuh hendak menahan Suma Bing?"

Desak Racun diracun.

"Benar, dia tidak boleh pergi!"

"Kalau begitu terpaksa wanpwe tak dapat menyetujui keinginanmu itu!"

Sekilas sorot mata Hui Kong Taysu memancarkan cahaya terang dingin, tapi sedetik itu lantas menghilang lagi, katanya.

"Sekali lagi Lolap tekankan, kuharap Sicu sekalian segera turun gunung."

Sedikitpun Racun diracun tidak mau mengalah, serunya.

"Agaknya perlu juga kuulangi pernyataanku tadi. Tidak!"

"Apa Sicu hendak memaksa Lolap melanggar pantangan?"

"Terserah!"

"Yang sicu andalkan tidak lebih hanya kelihayan racunmu saja. Masih ada kesempatan untuk menginsafi otakmu yang sesat itu, jangan kau menyesal sesudah kasep!"

"Nasehat Taysu ini tidak berguna bagi aku!"

Entah bagaimana Hui Kong Taysu bergerak, tiba2 tubuhnya melayang maju berhadapan dengan Racun diracun, suaranya berat.

"Sicu tetap mengukuhi pendirianmu?"

"Kalau kalian tetap hendak menahan Suma Bing terpaksa aku harus berjuang sampai titik darah penghabisan!"

"Sicu tidak menyesal?"

"Yang harus menyesal mungkin adalah Lo siansu sendiri!"

"Untuk melindungi nama baik tempat agung dan suci ini terpaksa Lolap melanggar sumpah dan pantangan!"

Lengan jubahnya yang gondrong dan besar itu tiba2 dikebutkan membawa kesiur angin yang membadai sehingga seketika itu Racun diracun kena terdesak mundur delapan kaki jauhnya, darah bergolak dalam rongga dadanya.

"Lo siansu, terpaksa aku menggunakan racun!!"

"Siancay! Siancay! Agaknya Sicu sudah tersesat terlalu dalam, silahkan kau unjukkan kemampuanmu!"

Pada saat itulah sekonyong2 segulung hembusan angin dingin menderu2 sehingga api obor berkelap-kelip hampir terhembus padam, semua hadirin gemetar dan merinding kedinginan oleh hembusan angin yang terasa menyusup sampai ke-tulang2.

Mendadak Hui Kong Taysu mundur dua langkah terus berpaling kearah sebuah pohon terpaut lima tombak sebelah sana dan berseru lantang.

"Tokoh kosen darimanakah yang berkunjung ke biara kami, mengapa tidak segera unjukkan diri?"

Maka sorot pandangan semua hadirin ikut menatap kearah pohon besar itu, namun apapun tidak terlihat oleh mereka. Terdengar sebuah suara meringkik dingin menjawab.

"Taysu, kau mengandal ilmu Sian thian sin kang dan tidak takut menghadapi racun. Tapi kau jangan lupa beberapa ratus jiwa para pendeta dalam biara Siau lim si ini, mereka tidak akan kuat bertahan menghadapi racun berbisa. Apa kau sudah membayangkan akibatnya?"

Terdengar suaranya tapi tak terlihat orangnya, hal ini benar2 membuat semua pendeta yang hadir merinding dan gentar, apalagi ucapan dingin yang mengandung ancaman serius itu lebih2 menakutkan sanubari mereka.

Orang yang bicara ini sudah tentu membela kepentingan Racun diracun, didengar dari nada ucapannya jelas bahwa dia juga seorang wanita.

Siapakah dia?

Sekaligus dia dapat menyebut dasar dari ilmu andalan Hui Kong Taysu maka sudah tentu orang itu juga seorang tokoh kosen yang luar biasa lihay kepandaiannya.

Agaknya Hui Kong Taysu terpengaruh juga akan ancaman itu, tanyanya gemetar.

"Tokoh kosen darimanakah Sicu ini?"

"Ada bayangan tiada bentuk. Kukira Taysu pasti tahu siapakah aku ini!"

"Sungguh tidak duga Li sicu ternyata masih sehat waalfiat!!"

"Jadi anggapan Taysu bahwa aku sudah harus mati?"

"Omitohud! Apakah maksud kunjungan Li sicu ini?"

"Ketahuilah bahwa Suma Bing tiada sangkut-pautnya dengan peristiwa yang terbengkalai pada ratusan tahun yang lalu itu, partai kalian tidak seharusnya mengurungnya lagi."

Jantung Suma Bing berdetak keras, matanya dengan tajam mengawasi kearah rimba lebat yang gelap kelam itu, hatinya ber-tanya2, namun sekian lama ia masih bingung dan tidak tahu siapakah orang yang bicara itu.

Demikian juga semua pendeta Siau lim si termasuk Ciangbunjin mereka berobah pucat dan kaget.

Sejenak Hui Kong Taysu merandek, lalu membuka suara lagi.

"Apakah Lolap dapat percaya ucapan Li sicu ini?"

"Taysu, terserah kau mau percaya, apa kau ingin melihat anak muridmu menemui ajalnya secara mengenaskan?"

"Li sicu juga hendak turun tangan?"

"Jikalau terpaksa apa boleh buat?"

"Jadi Li sicu memandang rendah Siau lim kita?"

"Tidak berani, latihan ilmu Taysu sudah mencapai taraf kesempurnaan, tingkat kedudukan Taysu juga tertinggi. Maksudku hanya untuk meredakan gelombang angkara murka yang bakal terjadi!"

"Lalu bagaimana kalau Suma Bing tersangkut-paut dengan peristiwa ratusan tahun itu?"

"Aku bertanggung jawab untuk membekuk dan menyerahkan kepada Siau lim si!"

"Kuharap ucapan Li sicu ini dapat dipercaya penuh?"

"Taysu salah seorang tokoh Buddhis yang sudah sempurna, apakah pertanyaan Taysu ini tidak berkelebihan?"

"Kalau begitu, Li sicu silahkan!"

Sejenak Hui Kong Taysu memandang kearah Liau Kian terus berkelebat masuk kedalam biara. Maka segera Liau Sian ulapkan tangan sambil berseru "Kembali"

Dalam sekejap saja para pendeta Siau lim itu sudah menghilang didalam biara suasana dalam rimba kembali diliputi kesunyian dan kegelapan.

Dari dalam rimba sana terdengar pula suara yang misterius tadi.

"Suma Bing, wanita yang terkurung dibelakarg puncak Siau sit hong itu bukan orang yang tengah kau cari, kembalilah jangan me-nyia2kan tenagamu."

Suma Bing merasa heran dan aneh, orang sedemikian jelas akan maksud kedatangannya.

Maksud kedatangannya ke Siau lim si ini adalah hendak mencari ibundanya, dan hal itu selain si maling bintang dan Siang Siau hun berdua tiada orang ketiga yang mengetahui, darimana tokoh misterius itu dapat mengetahui.

Tengah berpikir2 itu mulutnya berkata gemetar.

"Harap Locianpwe suka memperkenalkan diri!"

Suasana dalam rimba sunyi senyap tanpa terlihat gerak apa2 terang bahwa tokoh misterius itu pasti sudah pergi jauh.

Siapakah dia?

Beratus pertanyaan mengganjal dalam benak Suma Bing.

Segera Racun diracun menghampiri kearah Suma Bing seraya berkata.

"Biar kubebaskan jalan darahmu yang tertutup itu!" -tanpa menanti reaksi Suma Bing, beruntun jarinya menyentik dari kejauhan. Seketika Suma Bing rasakan seluruh tubuhnya tergetar sekali lantas ia merasa hawa murni dalam tubuhnya sudah berjalan normal kembali dan tenaganya sudah pulih seperti semula. Dengan perasaan terharu segera ia memberi hormat kepada Racun diracun serta katanya.

"Tuan, aku Suma Bing terlalu banyak berhutang budi kepadamu."

"Tidak perlu dipersoalkan tentang utang piutang apa segala..."

"Mengapa tuan selalu berbuat baik kepada aku yang rendah ini?"

"Kelak kau akan tahu sendiri."

"Kalau tidak tuan jelaskan sungguh hatiku kurang tentram?"

"Kurasa tidak perlu dan belum tiba saatnya."

"Sudah berulangkali tuan mengatakan kepada orang bahwa hubungan kita sangat kental dan erat sekali. Apakah itu benar?"

"Segala sesuatu terjadi tanpa dapat diduga sebelumnya, tiada yang sempurna dan abadi, kadangkala benar, tapi kadang kala juga salah, buat apa kau harus menanyakan sebab musabab ini?"

Suma Bing meng-geleng2 dengan hampa dan lesu, sungguh dia tidak mengerti maksud juntrungan ucapan orang! Tiba2 Racun diracun merogoh keluar sebuah kotak kecil panjang dan berkata.

"Suma Bing apa kau masih ingat janji kita waktu mau berpisah tempo hari?"

"Sudah tentu masih ingat!"

Sahut Suma Bing kesima.

"Kalau begitu ambillah."

"Tuan apa kau tidak mengajukan syaratnya?"

"Sudah kukatakan tanpa syarat!"

Suma Bing menyambut dengan tangan gemetar.

Pedang darah.

Merupakan salah sebuah benda berharga dalam kalangan persilatan, semua kaum persilatan pasti ingin merebutnya meski harus mengorbankan jiwanya sendiri.

Tapi sekarang Racun diracun menyerahkan kepadanya tanpa syarat.

Hampir2 dia tidak percaya akan kenyataan ini.

Namun menghadapi bukti yang nyata ini mau tak mau dia harus percaya.

Mendadak Siang Siau hun menatap tajam kearah Racun diracun, katanya.

"Kupandang muka engkoh Bing, perhitungan kita kelak kita selesaikan lagi!"

Racun diracun mendengus dingin, sahutnya.

"Sewaktu2 kunantikan."

Habis ucapannya bayangannya juga lantas menghilang dikegelapan malam. Suma Bing menghela napas panjang, ujarnya.

"Sepak terjang Racun diracun susah diraba sebelumnya!"

"Buyung."

Seru si maling bintang Si Ban cwan sambil menggerak2an kepalanya yang sudah penuh ubanan.

"Semua pengalamanmu ini bukan terjadi secara kebetulan tentu jadi latar belakang yang ganjil. Apakah bakal membawa berkah atau bencana bagi kau susah disangka!"

"Benar, memang wanpwe juga merasa begitu! Eh, apakah Cianpwe dapat meraba siapakah tokoh lihay yang sembunyi dalam rimba tadi?"

"Tentang ini... dia pernah mengatakan 'ada bayangan tanpa bentuk', tapi setahuku belum pernah kudengar ada seseorang yang menggunakan simbol empat kata itu sebagai julukannya. Dari nada percakapan Hui Kong Taysu dengan dia, sedikitnya, tokoh misterius ini berkedudukan tinggi..."

"Mungkin tidak, berhubungan erat dengan Racun diracun?"

"Kemungkinan itu sangat besar!"

"Darimana dia bisa tahu maksud kedatangan wanpwe meluruk ke Siau lim ini?"

"Teka-teki ini susah ditebak. Kecuali kita dapat membuka kedoknya!"

"Dia mengatakan orang yang terkurung dibelakang puncak itu bukan ibuku, dapatkah keterangannya dipercaya?"

"Dapat dipercaya, tapi kelak kau perlu membuktikannya sendiri."

"Benar, aku harus membuktikan."

"Mari kita segera turun gunung!"

"Wanpwe ingin..."

"Kau ingin apa?"

"Aku ingin sekarang juga membuktikan bahwa orang yang dikurung dibelakang puncak itu siapakah sebenarnya?"

Ter-sipu2 si maling bintang Si Ban cwan menggoyangkan tangan.

"Jangan!"

"Kenapa?"

"Pertama; saat ini kau masih bukan tandingan Hui Kong Taysu, kedua; Orang dalam rimba itu sudah memberitahu kepadamu bahwa orang yang dikurung dibelakang puncak itu bukan ibumu, kalau kau berkukuh hendak kesana membuktikan itu berarti kau tidak mempercayai ucapannya itu, juga berarti kau menyia2kan kebaikan orang. Dan yang terpenting sekarang kau sudah memperoleh Pedang darah, kau harus tahu apa yang harus kau lakukan..."

Tergerak hati Suma Bing, maka sahutnya.

"Baiklah, mari kita pergi."

Ditengah kegelapan malam, tiga bayangan manusia sekencang angin berlarian turun dari puncak Siong san.

Pada terang tanah mereka bertiga sudah jauh meninggalkan Siong san, dalam sebuah kota kecil mereka istirahat sebentar dan menangsal perut terus melanjutkan perjalanan lagi.

Ditengah perjalanan itu mendadak Suma Bing ingat sesuatu lantas bertanya kepada si maling bintang.

"Cianpwe, aku ada sebuah pertanyaan?"

"Coba kau katakan!"

"Apakah yang disebut 'Bu lim sam coat te' itu?"

Bu lim sam coat te adalah tiga tempat bertuah yang mematikan bagi kaum persilatan.

"Oh, konon kabarnya adalah lembah kematian, Te po (perkampungan bumi) dan Kui tha (menara setan). Bagaimana keadaan dan letak ketiga tempat ini mungkin tiada seorangpun yang jelas dan dapat memberi keterangan."

"Mengapa?"

"Bagi kaum persilatan yang mendatangi ketiga tempat keramat itu, pasti takkan dapat hidup kembali. Lembah kematian adalah tempat dimana kau terjungkal jatuh oleh pukulan Si tiau khek itu. Dimanakah letak Te po itu tiada, seorangpun yang tahu. Sedang Kui tha terletak ditengah Hek cui ouw (danau air hitam) diperbatasan Kui ciu dan Su cwan!"

"Wanpwe berharap ada kesempatan untuk berkenalan dengan tempat2 kramat itu."

"Ah, anak muda berdarah panas, lebih baik kau jangan mempunyai ingatan2 yang berbahaya itu."

Suma Bing tidak bersuara lagi, namun dalam hati ia tengah berpikir; Lembah kematian adalah tempat bersemayam Bu siang sin li, dirinya sudah pernah pergi kesana, dan sekarang juga dia tengah menempuh perjalanan hendak menuju ketempat.

Pengalamannya yang aneh dilembah kematian itu belum pernah dia beberkan kepada orang lain.

Tentang Perkampungan bumi dan Menara setan diharap pada suatu ketika dia dapat pesiar ketempat yang menakutkan itu.

Tengah mereka mengayun langkah itu, mendadak wajah Siang Siau hun berubah pucat ketakutan dan segera menghentikan langkahnya, kedua matanya terbelalak lebar, serunya gemetar sambil menunjuk keatas sebuah pohon.

"Engkoh Bing apakah itu?"

Suma Bing dan si maling tua menghentikan kakinya, mereka memandang menurut arah yang ditunjuk oleh Siang Siau hun.

Maka terlihat dipinggir jalan sebelah depan sana diatas pohon berjajar bergantungan empat mayat manusia, keempat mayat itu bergoyang gontai dihembus angin lalu, keadaan yang seram ini benar2 membuat merinding dan takut orang yang melihat.

Suma Bing mendengus ejek terus melesat menubruk kearah keempat mayat gantung itu.

"Engkoh Bing."

Teriak Siang Siau hun.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Ha, itulah Si tiau khek!"

Seru si maling bintang bagai tersadar dari lamunannya, tidak mau ketinggalan segera dia juga menubruk maju.

Memang dugaan si maling bintang tidak salah, keempat orang gantung ini memang bukan lain adalah Si tiau khek jagoan kelas istimewa dari Bwe hwa hwe.

Agaknya Si tiau khek memang menanti kedatangan Suma Bing.

Berbareng keempat setan gantung itu perdengarkan tawa melengking yang menggiriskan bulu roma terus melayang turun keatas tanah.

Melihat musuh2 besarnya ini mata Suma Bing merah membara, wajahnya membeku diliputi nafsu membunuh yang tebal.

Terdengar Heng si khek pentolan dari Si tiau khek membuka suara nadanya dingin.

"Suma Bing, agaknya usiamu panjang sampai sekarang kau masih hidup."

"Kalau aku sudah mati lalu siapa yang akan menyempurnakan kalian?"

Desis Suma Bing dengan geram.

"Bedebah!"

Maki Bau bong khek.

"Biar hari ini kita sobek badanmu menjadi delapan bagian. Akan kulihat apakah kau masih bisa hidup kembali?"

"Agaknya kau ingin mati lebih dulu, baiklah aku mulai dari kau!" 'Blum' dengan kecepatan yang susah dibayangkan pukulan Suma Bing dengan telak menghantam Bau bong khek sehingga terpental terbang beberapa tombak jauhnya. Kiranya Suma Bing telah lancarkan Bu siang sin hoat mendesak maju kehadapan Bau bong khek dan kontan memberinya sebuah pukulan telak. Memang Bu siang sin hoat bukan olah2 hebat dan menakjupkan, sebelum Bau bong khek melihat tegas bayangan musuh tahu2 terasa dada dihantam sebuah godam besar hingga jungkir balik. Segera Heng si khek membentak gusar dan memberi aba2 kepada saudara2nya.

"Awas gerak-gerik bocah ini sangat aneh, mari kita maju berbareng."

Serempak sambil berteriak menggeledek ketiga setan gantung lainnya ini lancarkan pukulan2 dahsyat.

Suma Bing insaf bahwa salah seorang dari keempat musuhnya ini saja Lwekangnya lebih tinggi dari dirinya, mana ia berani menyambuti serangan musuh secara keras, sekali berkelebat bagai setan gentayangan tubuhnya lenyap ditengah2 damparan dan pusaran angin pukulan musuh2nya.

Boleh dikata baru kali ini Si tiau khek melihat ilmu kepandaian yang menakjupkan ini, saking kaget dan gentar keringat dingin membanjir keluar.

Sungguh mereka tidak habis mengerti dalam jangka pendek selama tiga bulan ini entah darimana bocah ingusan ini dapat mempelajari ilmu sesat yang mandraguna sakti dan hebat ini.

'Blang.' untuk kedua kalinya tubuh Suma Bing berkelebat maju dan menyerang, kali ini sasarannya adalah punggung Heng si khek, kontan tubuhnya terhuyung beberapa langkah sambil menyemburkan darah segar.

Dalam pada itu, meskipun Bau bong khek kena terpukul terbang, namun lukanya tidak terlalu berat, sekali melejit bangun segera ia tiba dalam kalangan pertempuran lagi.

Sementara Suma Bing masih tenang2 berdiri ditempatnya semula, se-olah2 belum pernah berkisar atau bergerak.

Sambil menyeka noda darah diujung bibirnya, tersipu2 Heng si khek mengisiki ketiga saudaranya.

Maka dilain saat keempat setan gantung ini sudah berpencar lagi terus mendesak kearah Suma Bing.

Heng si khek dan Hui bing khek yang sudah cacat buah tangannya masing2 lancarkan sebuah pukulan tengah.

Belum lagi angin pukulannya mengenai sasarannya bayangan musuh lagi2 sudah menghilang dari pandangan mata.

Bertepatan dengan itu Bau bong khek dan Teh cian khek juga sudah ayun tangan masing2 beruntun lancarkan serangan membadai dari dua pinggiran.

Begitu Suma Bing berkelit dari hantaman tengah kebetulan menyongsong kearah damparan angin pukulan yang kokoh kuat bagai dinding ini, keruan tubuhnya tergetar jumpalitan delapan kaki jauhnya, tanpa kuasa mulutnya menguak seperti hendak muntah.

Mendapat peluang ini, secepat kilat Heng si khek dan Hui bing khek segera menubruk maju sambil menendang dan menghantam dengan serangan dahsyat yang mematikan.

Untung gerak gerik Suma Bing masih sangat sebat, tersipu2 ia berkelit kesamping.

Bahwasanya Bu siang sin hoat memang sangat lihay dan aneh, tapi kebentur musuh2 lihai yang tenaga dalamnya terlalu tinggi, malah empat orang bergabung dan bersatu padu bekerja sama secara rapi lagi.

Dua menyerang dan dua lainnya menjaga diri, serangan kilat dengan cara bokongan yang mengandal kegesitan tubuhnya itu akhirnya toh kena diatasi oleh penjagaan musuh yang rapat.

Seperti yang diberitahukan Giok Li Lo Ci kepadanya, bahwa ilmu Bu siang sin hoat cukup kelebihan untuk menjaga diri, namun kurang memadai untuk menyerang musuh.

Kalau yang dihadapi Suma Bing bukan tokoh lihay sebangsa Si tiau khek ini, atau secara satu lawan satu seumpama lawan dua orang juga keadaannya akan lebih menguntungkan.

Jikalau Si tiau khek selalu melancarkan serangan tindakan mereka ini akan sia2, sedikitpun mereka takkan dapat menyentuh seujung rambut Suma Bing.

Sebaliknya, kalau Suma Bing turun tangan juga tidak membawa untung bagi dirinya sendiri kekuatan gabungan Si tiau khek, mungkin tiada seorang tokoh lihay dari kalangan persilatan yang kuat menandingi.

Se-konyong2 Heng si khek berteriak menggeledek.

"Serang!"

Tiga gelombang angin pukulan yang dingin membeku bergulung2 menerpa kearah Suma Bing dengan dahsyatnya.

Seperti yang sudah2 dengan mudah Suma Bing berkelebat pindah tempat menghindar...

Bertepatan dengan itu terdengar sebuah seruan kaget dan ketakutan.

Tahu2 Siang Siau hun sudah kena diringkus oleh Heng si khek, sebuah tangannya mencengkram pergelangan tangan, sedang tangan yang lain menekan jalan darah Thian to hiat dibatok kepalanya.

Tindakan musuh yang licik dan kejam ini benar2 diluar dugaan Suma Bing, sungguh tidak nyana bahwa Heng si khek bisa mengalihkan sasarannya ketubuh Siang Siau hun, sampai2 si maling tua yang berada tak jauh disampingnya juga tak kuasa mencegah lagi.

Dada Suma Bing hampir meledak menahan gusar, bentaknya bengis.

"Heng si khek berani kau menyentuh seujung rambutnya saja, kuhancur leburkan tubuh kalian."

Heng s i k he k menge k eh t awa s e r am, sahut ny a .

"Buy ung , t ak b e rg una k au umb a r anc aman, p o k ok ny a j iwa no na k e c i l i ni t e r l e t ak d iuj ung j a r i k u, b e r ani k au b e r g e r ak , l i hat l ah d i a mat i l eb i h d ul u! "

Dalam pada itu, Bau bong khek, Hui bing khek dan Teh cin khek sudah beruntun berdiri dibelakang Heng si khek, punggung beradu punggung, masing2 menjaga satu jurusan.

Betapapun aneh dan lihay gerak tubuh Suma Bing, takkan mungkin dapat melancarkan serangannya lagi.

Wajah Siang Siau hun kelihatan hijau membesi, alisnya berdiri tegak, sedikitpun dia tak kuasa berkutik lagi.

Keadaan Suma Bing serba runyam, mata melotot gigi gemeratak menahan gusar, ingin rasanya ia mengkeremus habis2an empat setan gantung ini.

Sebaliknya Heng si khek sangat puas dan bangga, ujarnya.

"Suma Bing, sekarang mari kita tawar menawar jual beli ini!"

"Jual beli apa, coba katakan!"

"Kau sendiri yang menggantikan kedudukan nona ayu ini, bagaimana?"

Sungguh gusar Suma Bing tak terperikan, namun karena Siang Siau hun sudah cidera karena dirinya, maka sambil kertak gigi ia menegasi.

"Cara bagaimana menukarnya?"

"Kau ikut kita pergi, maka kita lepaskan nona ayu ini."

"Boleh!"

"Tapi kita harus menotok jalan darahmu dulu."

Tanpa terasa Suma Bing menghela napas dalam dan merinding tubuhnya.

Mati hidupnya adalah soal kecil, setelah dirinya kena tertotok jalan darahnya bila Si tiau khek ingkar janji tidak melepaskan Siang Siau hun, bukankah pengorbanannya akan sia2 dan hampa.

Apalagi kekejaman Si tiau khek melebihi binatang buas, mungkin si maling tuapun tidak akan luput dari kekejaman mereka.

Karena pikirannya ini segera ia bertanya.

"Kalau aku sudah tertotok, apa kalian berani bersumpah pasti melepaskan nona Siang dan Si cianpwe?"

Tersipu2 si maling bintang Si Ban cwan menggoyang tangan dan berkata.

"Buyung, jangan kau seret aku kedalam pertikaian ini, maaf aku orang tua harus pergi dulu!"

Habis ucapannya segera tubuhnya yang bundar cebol itu melenting tinggi menghilang didalam rimba.

Tindakan si maling tua ini benar2 diluar dugaan Suma Bing, keruan hatinya tambah dongkol, namun setelah dipikirkan lantas dia paham maksud kepergian si maling tua ini.

Jikalau dia tidak lekas2 menyingkir kalau terlambat mungkin takkan dapat tinggal pergi secara masih bernyawa.

Sebab hakikatnya keadaannya sekarang dipihak yang terdesak dan tak mungkin lagi dirinya berani bermain garang dan main kekerasan terhadap Si tiau khek.

Kalau si maling tua sudah mengundurkan diri, pasti dia dapat mencari akal dan mencari bantuan untuk menolong dirinya.

Terdengar Heng si khek mendesak lagi.

"Buyung, kau sudah ambil kepastian belum?"

"Kau harus melepaskan dia dulu!"

"Kalau kau tidak percaya kepadaku, apa aku harus percaya kepadamu?"

"Engkoh Bing,"

Teriak Siang Siau hun, suaranya serak dan menyedihkan.

"Kau pergilah, asal kau selalu ingat untuk menuntut balas bagiku, aku sudah cukup puas!"

Hati Suma Bing bagai di-iris2 pisau, bagaimana bisa dia mengorbankan seorang gadis muda belia yang mencintai dirinya, maka sambil menggeleng kepala dia berkata.

"Tidak!"

"Engkoh Bing, apa kau ingin mati bersama Siau moay?"

Dada Suma Bing hampir meledak, kedua matanya melotot bagai menyemburkan api tindakan Si tiau khek meringkus Siang Siau hun sebagai sandera untuk menukar dirinya, membuat dia patah semangat dan pasrah nasib.

"Baik, kau lepaskan dia."

"Tapi, kita harus totok dulu jalan darahmu!"

"Kau lepaskan dulu, segera aku ikut kalian berangkat."

"Kalau kau berontak ditengah jalan?"

"Sungguh menggelikan, ucapan seorang laki2 bagai kuda berlari kencang yang susah dikejar, mati hidup seseorang tergantung ditangan Tuhan."

Setelah ragu2 dan bimbang akhirnya, Heng si khek berkata juga.

"Keparat, kali ini boleh aku percaya, tapi perlu kuberitahu, kalau kau sampai ingkar janji, nona ayumu ini juga tidak bakal dapat terbang jauh." -Habis berkata begitu, juga ia lepas tangan mendorong tubuh Siang Siau hun kedepan. Bergegas Siang siau hun memburu kehadapan Suma Bing, ratapnya.

"Engkoh Bing, mari kita pergi, biar perhitungan ini kita tagih kelak"

"Tidak!"

Sahut Suma Bing dingin acuh tak acuh.

"Apa, terhadap iblis, dan setan kejam demikian kau juga percaya?"

"Adik Hun, kau lekas pergi saja"

"Kau... kau hendak ikut mereka pergi?"

"Apa boleh buat, ucapan seorang laki2 harus ditepati!"

"Apa kau tahu apa akibatnya?"

"Paling banyak mati!"

Tergetar tubuh Siang Siau hun wajahnya juga lantas pucat pasi, sambil membanting kaki ia berkata gemes.

"Kecuali aku sudah mati, selama ini aku tidak akan berpisah dengan kau!"

"Adik Hun, kau..."

Suma Bing benar2 terharu dibuatnya, terbayang dalam otaknya kejadian dalam biara bobrok itu, waktu dirinya keracunan bisa Pek jit kui oleh Tangbun Yu putra Racun utara, dia bersumpah hendak menyertainya kealam baka, keadaan saat itu persis benar dengan sikapnya ini.

"Adik Hun, jangan kau membuat aku serba salah?"

"Aku sudah berkeputusan untuk berbuat begitu."

"Adik Hun, untuk menepati janji seorang gagah, aku harus ikut mereka menuju ke Bwe Hwa hwe..."

"Aku juga ikut serta."

"Tidak mungkin!"

Terdengar Heng si khek menyeringai iblis.

"Suma Bing apakah ucapanmu masuk hitungan?"

"Sudah tentu"

"Kalau begitu, silahkan kau totok sendiri jalan darahmu, Lohu berjanji tidak akan melukai seujung rambut nona ayu ini."

"Permintaanmu ini tidak dapat kuturuti!"

"Ha, kau ingkar janji dan menjilat ludahmu sendiri?"

"Aku hanya melulusi untuk ikut kalian tapi tidak berjanji untuk menutuk jalan darahku!"

"Tindakanmu ini cerdik juga, kalau mau ikut segeralah berangkat, keraguanmu akan menentukan keselamatan nona ayu ini!"

"Setelah sampai pada tempat tujuan, aku hendak pergi atau lari adalah urusanku, tapi selama dalam perjalanan, jangan kuatir aku tidak akan meninggalkan kalian."

Empat setan gantung itu saling berpandangan lalu mengeluh, lantas terdengar Heng si khek angkat bicara.

"Buyung, kita mempercayaimu sekali ini, adalah kau sendiri yang mengatakan selama dalam perjalanan tidak akan merat, jikalau ditengah jalan ada orang mencegat dan turut campur urusan ini, apakah kau masih tetap dapat menepati janjimu?"

"Sudah tentu!"

Diam2 dalam benak Suma Bing sudah mempunyai perhitungannya sendiri.

Menggunakan kesempatan ini dia berharap dapat membongkar kedok Ketua Bwe hwa hwe, mengapa lawan selalu mengejar2 jiwanya.

Mengandal kelihayan ilmu gerak tubuhnya yang baru itu dia percaya tidak gampang2 dirinya bakal dapat dikekang oleh musuh.

"Adik Hun, harap kau dengar kataku sekali ini, lekaslah pergi, percayalah kepadaku, tidak lama lagi pasti kita dapat bertemu lagi!"

"Tidak!"

Sikap kaku dan ketus Siang Siau hun ini, membuat Suma Bing serba runyam.

Pada saat itulah mendadak terdengar sebuah gelak tawa orang yang keras memekakkan telinga.

Suara tawa ini sedemikian mendadak dan mengejutkan sehingga semua orang yang hadir tercekat dan tergetar perasaannya.

Baru saja suara gelak tawa itu lenyap lantas terlihat seorang tua aneh yang berjenggot panjang menjulai sampai keperutnya, mengenakan jubah panjang yang bersulam Pat kwa didepan dadanya, kepalanya dibungkus kain saten, tangannya membekal sebuah kipas yang di-goyang2kan.

Kalau Suma Bing dan Siang Siau hun ter-heran2.

Sebaliknya kehadiran orang tua aneh ini malah membuat empat setan gantung yang biasa berlaku garang dan telengas itu kuncup nyali dan gemetar tubuhnya.

Terpaut kira2 lima tombak orang tua aneh ini menghentikan langkahnya, kipas ditangannya terus di-goyang2kan, sikapnya acuh tak acuh bagai seorang nabi yang tengah menikmati panorama alam yang indah permai.

Seger a H e n g s i k h e k maju menyapa .

"Orang tua kosen darimana kah kau ini ? "

"Hahahaha, aku si orang tua yang kenamaan saja kalian tidak tahu, masih berani berlagak sebagai tokoh dunia persilatan apa segala!"

"Apakah kau orang tua adalah Kong kun Lojin?"

"Tidak salah, agaknya pengalamanmu luas juga!"

Serta merta keempat setan gantung itu menyurut mundur satu langkah.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 4

Baca Juga: Petualang Asmara 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert