Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 6

Eps 6 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

Demikian juga Suma Bing dan Siang Siau hun terbeliak kaget dibuatnya, mimpipun mereka tidak menyangka bahwa si orang tua aneh dihadapan mereka ini ternyata adalah Kong kun Lojin yang dipandang sebagai malaikat penyelamat bagi aliran putih dan dipandang sebagai Giam lo ong oleh golongan hitam.

+=============================+ Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ Benarkah orang tua aneh ini adalah Kong Kun Lojin?

Apakah kedatangannya ini hendak menolong Suma Bing?

Ada latar belakang apakah dibalik tugas Si tiau khek yang hendak meringkus Suma Bing ke Bwe Hwa Hwe?

Siapakah Ketua Bwe Hwa Hwe yang sebenarnya?

untuk pertanyaan ini silahkan Baca

Jilid ke 8 -oo0dw0oo-

Jilid 29.

LOH CU GI JEBUL ADALAH SESEPUH BWE HWA HWE.

Konon bahwa Kang-kun Lodjin ini sudah wafat pada enam puluhan tahun yang lalu, apa mungkin berita itu adalah kabar angin belaka?

Untuk apakah Cianpwe aneh dari kaum persilatan ini muncul secara mendadak disini?

Sekian lama Kang kun Lojin menatap Suma Bing, lalu katanya.

"Buyung, apa kau ini yang diberi julukan Sia-sin kedua Suma Bing murid Sia sin Kho Jiang?"

Sejenak Suma Bing melengak, lantas ter-sipu2 memberi hormat dan menyahut.

"Memang itulah wanpwe, entah Locianpwe ada pengajaran apa?"

Kang kun Lojin me-ngelus2 jenggotnya yang panjang memutih, seraya berkata dengan nada berat.

"Buyung, apa kau tahu tentang perjanjianku dengan Lam sia dulu kala itu?"

Suma Bing tertegun, sahutnya.

"Hal itu wanpwe tidak tahu!"

Mengelam wajah Kang kun Lojin, serunya.

"Apa benar Sia sin Kho Jiang sudah meninggal dunia?"

"Itulah benar!"

"Hm, janjinya seperti kentut tidak dapat dipercaya, manusia rendah sampah persilatan!"

Mendengar orang memaki dan menghina gurunya, sontak berkobar hawa amarah Suma Bing, semprotnya dengan angkuh.

"Mengapa Locianpwe sedemikian menghina dan memaki guruku?"

"Buyung, coba katakan apa benar suhumu tidak memberitahukan kepada kau tentang janji dan sumpahnya kepadaku?"

"Tidak, tapi..."

"Tapi apa?"

"Asal Locianpwe suka memberitahu tentang janji dan sumpahnya itu, biar wanpwe yang mewakili menyelesaikannya!"

"Apa kau mampu melakukannya?"

"Pasti dapat, hutang guru muridnyalah yang bayar!"

"Ketahuilah utang piutang ini tidak mudah dilunasi!"

"Sebenarnya tentang piutang apakah?"

"Hutang jiwa!"

Tanpa kuasa Suma Bing berjingkrak kaget.

Bagaimana mungkin gurunya berhutang jiwa kepada Kang kun Lojin.

Semasa hidup gurunya pernah berkata bahwa orang tua aneh ini selain ilmunya tinggi sifatnya kejam dan berpandangan sempit, juga senang turut campur urusan orang lain.

Tidak pernah gurunya memberitahukan tentang hal2 lainnya.

Malah pernah dikatakan bahwa orang tua aneh ini sudah meninggal dunia pada empatpuluh tahun yang lalu.

Lantas bagaimana penjelasannya tentang hutang jiwa yang dikatakannya ini?

Karena tidak mengerti segera ia bertanya .

"Locianpwe sukalah kau memberi penjelasan sekadarnya?"

Kata Kong kun Lojin serius.

"Limapuluh tahun yang lalu, terbawa oleh sifat2 jahat dan sesatnya gurumu telah membunuh keluarga muridku sebanyak tiga jiwa. Akhirnya ia menginsafi kesalahannya dan berjanji kepadaku setelah urusan pribadinya dapat diselesaikan semua dia hendak menghadap kehadapanku untuk membunuh diri menebus dosa2nya dulu!"

Keruan tergetar perasaan Suma Bing tercetus seruannya.

"Apa benar terjadi hal itu?"

"Hm, buyung, apa kau sangka aku seorang pembual? Kalau dia tidak memberi pesan kepadamu, bukankah dia seorang rendah yang menjilat ludahnya sendiri, tuduhan Lohu ini tidak salah bukan?"

Semangat Suma Bing serasa terbang, tanpa kuasa tubuhnya terhuyung tiga langkah, lalu sambil kertak gigi ia berseru tegas.

"Hutang jiwa ini biarlah wanpwe yang akan bayar!"

Pucat wajah Siang Siau hun, teriaknya kaget.

"Engkoh Bing, kau..."

Se-konyong2 Kong kun Lojin berputar menghadapi Si tiau khek dan berkata.

"Kalian boleh segera pergi dari sini."

Si tiau khek gentar menghadapi kebesaran nama Kong kun Lojin, hati mereka kebat-kebit, namun dalam hati mereka berat untuk tinggal pergi begitu saja, segera Heng si khek tampil kedepan sambil unjuk hormat dan berkata.

"Wanpwe berempat tengah menjalani tugas untuk menggusur Suma Bing..."

Kong kun Lojin maju beberapa tindak sambil menggoyangkan kipasnya, tukasnya.

"Selamanya aku orang tua hanya berkata sekali!"

"Wanpwe berempat terpaksa dan..."

"Keparat, apa kalian minta aku orang tua mengantar kalian dengan kipasku ini?"

Keruan Si tiau khek ketakutan, setelah saling berpandangan, akhirnya mereka tinggal pergi tanpa bersuara lagi. Sementara itu Suma Bing menjadi gugup, serunya.

"Cianpwe, harap kau suka memberi kelonggaran supaya aku pergi menepati sebuah janji!"

"Janji apa?"

"Aku sudah berjanji dengan Si tiau khek untuk ikut mereka menuju kemarkas besar Bwe hwa hwe!"

"Apa kau ada pegangan dapat kembali dengan masih bernyawa?"

"Ini... mungkin bisa."

"Jikalau kau mengalami bencana, lalu bagaimana kau hendak membayar piutang suhumu dulu itu?"

"Wanpwe bersumpah pasti kembali!"

"Buyung, ada berapa banyak jiwamu, agaknya kau memang sudah bosan hidup."

Mendengar nada ucapan terakhir ini agak ganjil, Suma Bing menjadi naik pitam, bentaknya dengan aseran.

"Siapakah tuan ini sebenarnya?"

Maka terlihat Kong kun Lojin meraup jenggotnya dan menanggalkan ikat kepalanya, kipasnya juga lantas dilempit sambil tertawa ter-kekeh2.

"Buyung, siapa aku?"

Suma Bing tidak kuat lagi menahan rasa geli dan meng-garuk2 kepalanya yang tidak gatal.

Ternyata yang berdiri dihadapannya ini bukan lain adalah si maling bintang.

Siang Siau hun sendiri juga tidak kuat menahan gelinya, dan tertawa ter-pingkal2 sampai perutnya terasa mulas.

"Cianpwe bagaimana kau bisa merubah menjadi wajah Kong kun Lojin?"

"Hehehe, Kong kun Lojin sudah meninggal dunia pada enam puluh tahun yang lalu, dalam Bu lim yang masih mengenal wajah aslinya kukira tiada berapa orang saja, karena terpaksa baru aku mendapat akal yang licik ini."

"Locianpwe."

Seru Siang Siau hun masih memegangi perutnya.

"Agaknya kau sering bermain samaran ini, kalau tidak darimana secepat itu kau mendapatkan perlengkapan itu."

"Budak ayu, tak perlu kau mengocok aku. Semua perlengkapan ini kupinjam dari patung pemujaan Cukat siansing didalam biara tak jauh didepan sana, tentang jenggot panjang ini? Hahaha, kupinjam dari Ui Tiong itu salah satu dari Ong hou ciang jendral perang yang termashur pada jaman Sam Kok!"

Lagi2 Siang Siau hun ter-pingkal2 tak hentinya, Suma Bing juga merasa lega dan bersyukur. Kata si maling bintang Si Ban cwan.

"Mari kita melanjutkan perjalanan."

Wajah Suma Bing berobah sungguh2, sahutnya.

"Tidak!"

"Ha, tidak! Apa maksudmu?"

"Aku seorang laki2, mana bisa aku ingkar janji terhadap Si tiau khek?"

Seketika lenyap seri tawa Siang Siau hun kini wajahnya berganti penuh kesedihan. Si maling bintang menjadi gugup, teriaknya.

"Buyung Bwe hwa hwe takkan puas sebelum merenggut jiwamu. Kepandaian Si tiau khek mungkin masih lebih unggul dari Bu lim su ih. Toh mereka mandah terima perintah orang lain. Maka kepergianmu ini, mana bisa kau kembali dengan masih tetap bernyawa. Apa kau tidak berpikir bahwa kau sendiri memikul tugas berat penuntutan balas dendam kesumat keluarga dan suhumu, lalu kenapa kau memandang jiwamu sedemikian murah..."

Suma Bing tertawa getir, sahutnya.

"Tapi wanpwe tidak mungkin mengingkari janji."

"Apa kau benar2 harus pergi?"

"Ya, mungkin disana aku dapat memecahkan tabir rahasia Bwe hwa hwe mengapa selalu mengejar2 jiwa wanpwe!"

"Sudah tentu dapat kau bongkar rahasia itu, tapi kau juga harus mengorbankan jiwamu sendiri sebagai imbalannya!"

"Itu belum tentu!"

"Engkoh Bing."

Suara Siang Siau hun gemetar.

"Apa kau benar2 hendak masuk kedalam jebakan musuh?"

"Adik Hun, maafkanlah kesukaranku ini, kuharap kelak dapat bertemu lagi!"

"Tidak, kau tidak boleh pergi. Engkoh Bing, aku tak bisa hidup tanpa kau..."

Airmata Siang Siau hun akhirnya mengalir dengan deras membasahi kedua pipinya. Si maling bintang juga menahan keperihan hatinya, ujarnya.

"Buyung, menuntut balas, mencari ibumu, dan mencuci bersih nama perguruan, apa kau masih ingat akan semua tugas itu?"

Sejenak Suma Bing tertegun mendelong, lalu sahutnya dengan penuh tekad.

"Cianpwe, tidak bisa tidak aku harus memenuhi kepercayaan orang!"

"Hm, kepercayaan? Kalau kau dapat memenuhi kepercayaan orang, apa kau sudah membayangkan akan akibatnya?"

Tiba2 Siang Siau hun menubruk maju memeluk Suma Bing kencang2, serunya.

"Engkoh Bing, berjanjilah kau tidak akan pergi!"

Kulit wajah Suma Bing ber-kerut2 sebentar, secepat kilat sebuah jarinya menutuk jalan darah Hek tiam hiat lalu per-lahan2 membaringkannya diatas tanah, lalu katanya kepada si maling bintang.

"Cianpwe, setelah aku pergi harap bebaskanlah jalan darahnya, maaf aku minta diri!"

Habis berkata tubuhnya berkelebat menghilang. Saking gusar dan dongkol si maling bintang mem-banting2 kaki dan melotot matanya, mulutnya mengoceh tak karuan.

"Sesat, sesat! Sifat2 sesat dari Kho Lo sia semua sudah diturunkan kepada bocah tak genah ini..."

Dalam pada itu, belum Suma Bing mencapai jarak tiga li, benar juga jauh2 terlihat Si tiau khek tengah berlarian balik, agaknya mereka sudah merasa kena dikibuli bahwa Kong kun Lojin itu sebenarnya adalah palsu.

Segera ia menghentikan langkah.

Berbareng Si tiau khek mengeluarkan suara kaget dan heran, Heng si khek tertua dari mereka segera menyeringai seram, katanya.

"Suma Bing, hampir saja kita berempat kena dikibuli, hehehe, pintar juga si maling tua itu bermain sandiwara."

Suma Bing menjengek dingin, sahutnya.

"Aku Suma Bing selamanya menepati apa yang pernah kuucapkan, mari berangkat bawa aku menuju ke Bwe hwa hwe!"

Ucapan Suma Bing ini agaknya diluar dugaan Si tiau khek, sejenak mereka melengak, lalu Heng si khek membuka kata.

"Gagah benar, mari ikut!"

Lima bayangan manusia dengan kecepatan bagai angin lesus berlarian menuju kedepan sana.

Begitulah selama sehari semalam mereka berlarian melalui alas pegunungan dan jalan2 sempit yang jarang dilalui manusia.

Pada hari ketiga pagi2 benar tibalah mereka didepan sebuah lembah yang sempit.

Baru saja mereka menancapkan kaki, harum kembang bunga Bwe sepoi2 dibawa angin merangsang hidung.

Setelah ber-putar2 dalam lembah sempit itu sampailah mereka didepan sebuah rimba pohon Bwe, sedemikian lebat dan luasnya hutan pohon Bwe ini agaknya ber-lapis2 tanpa ujung pangkalnya.

Diam2 Suma Bing membatin.

Serasi benar nama Bwe hwa hwe dengan tempat ini, apakah mungkin markas besar Bwe hwa hwe berada didalam lembah hutan pohon Bwe ini?

Tengah Suma Bing ber-pikir2 ini terdengar Heng si khek berkata.

"Sudah sampai."

"Apa markas besar Bwe hwa hwe dibangun dalam lembah sempit ini?"

"Tidak salah, diujung hutan pohon Bwe inilah!"

Si tiau khek berempat membuka jalan didepan, terus memasuki hutan pohon Bwe itu, sejenak Suma Bing ragu2.

Akhirnya dia mengikuti juga sambil membusung dada dan memasang mata dengan waspada.

Justru yang mengherankan kalau tempat ini adalah letak markas besar Bwe hwa hwe mengapa tidak kelihatan bayangan manusia, suasana dalam hutan ini sedemikian sunyi senyap menyeramkan.

Tidak lama kemudian setelah belak belok beberapa kali mendadak Suma Bing kehilangan bayangan Si tiau khek, mereka menghilang begitu saja tanpa keruan paran.

Keruan Suma Bing menjadi gugup dan terkejut, sebat sekali ia kembangkan ilmu gerak tubuhnya selulup timbul diantara lebat2nya pohon2 bunga Bwe, namun sekian lama dia berkeliaran sampai keringat membanjir keluar, sekelilingnya masih gelap pekat, hutan bunga Bwe ini agaknya tak berujung pangkal.

Saking gugup segera dia melompat keatas sebuah pohon, dimana matanya lepas memandang empat penjuru angin adalah pohon bunga Bwe melulu, sampai bayangan lembah sempit darimana tadi dia masukpun sudah menghilang entah dimana.

Kiranya itulah sebuah barisan!

Baru sekarang Suma Bing tersadar bahwa dirinya telah terjebak masuk jaringan musuh yang aneh ini, kalau tidak mengenal inti perubahan barisan ini, seumpama berlarian ubek2an sampai mati juga akan sia2 belaka.

Saking kewalahan akhirnya dia turun kembali dan duduk dibawah sebuah pohon tenang2 dia berpikir mencari akal untuk meloloskan diri dari kurungan barisan ini.

Tapi sedikitpun dia tidak kenal akan aturan barisan ini, pikir punya pikir, otaknya semakin bebal, sungguh dia tidak habis mengerti mengapa Si tiau khek memancingnya dan mengurung dirinya kedalam barisan ini?

Kalau toh tempat ini sudah termasuk kekuasaan Bwe hwa hwe itu berarti dirinya sudah menepati janjinya, mau datang atau pergi sudah terserah kepada kehendaknya sendiri, akan tetapi dirinya tak mungkin dapat meloloskan diri.

Sang waktu berjalan dengan cepatnya.

Bagai binatang jalan yang terkurung dalam kerangkengan, demikian juga keadaan Suma Bing, kakinya terus melangkah tanpa arah tujuan yang menentu.

Se-konyong2 tidak jauh didepannya sana berkelebatan muncul beberapa bayangan manusia, yang terdepan adalah seorang pemuda berwajah culas, sekali pandang Suma Bing lantas mengenalinya, itulah Ketua Bwe hwa hwe Chiu Thong adanya, dibelakangnya mengikuti Si tiau khek dan pelindungnya Ma Siok ceng.

Sontak berkobar hawa amarah Suma Bing, sambil mendengus dingin, segera ia menubruk maju.

Sebat sekali Si tiau khek berpencar dari dua jurusan masing2 ulurkan sebuah tangan melancarkan pukulan, empat gelombang angin pukulan dingin segera memapak kedatangan Suma Bing, kontan tubuh Suma Bing terpental balik ketempatnya.

Terdengar Ketua Bwe hwa hwe Chiu Thong menyeringai iblis.

"Suma Bing, menyerah saja, seumpama kepandaianmu setinggi langit juga percuma."

"Chiu Thong,"

Teriak Suma Bing gusar.

"Kau hendak berbuat apa kepada diriku?"

"Tidak lama lagi kau akan tahu sendiri!"

Seorang wanita ayu molek bak bidadari muncul dengan langkah lenggang lenggok dari belakang Chiu Thong.

Serta merta berdetak jantung Suma Bing, kecantikan wanita setengah umur ini benar2 baru kali ini dilihatnya selama hidup.

Chiu Thong dan anak buahnya, segera menyingkir kesamping terus membungkuk memberi hormat dan berseru menyapa.

"Menghadap hormat kepada ibu guru."

"Jangan banyak peradatan!"

Lagi2 tergetar perasaan Suma Bing, kiranya wanita ayu setengah umur ini adalah ibu guru dari Ketua Bwe hwa hwe Chiu Thong.

Lalu siapakah gurunya?

Benar, tentu yang pernah dikatakan oleh Ketua Bwe hwa hwe sendiri sebagai 'dia orang tua' itulah...

"Mohon ibu guru memberi petunjuk?"

"Bawa kembali kemarkas, biar suhumu sendiri yang menyelesaikannya!"

"Terima perintah!"

Seru Chiu Thong, lalu ia berpaling kepada Si tiau khek dan berkata lagi.

"Harap kalian berempat turun tangan meringkusnya!"

Sikap dan tingkah laku Si tiau khek agaknya takut2 menghadapi wanita setengah umur itu, berbareng mereka mengiakan.

Lalu dari jurusan yang berlainan serempak menubruk kearah Suma Bing, delapan cakar kurus kering bagai kilat mencengkram datang.

Sekali berkelebat secara menakjupkan Suma Bing lolos dari kurungan cengkraman bayangan cakar musuh2nya.

Gerak gerik Suma Bing yang hebat ini membuat Ketua Bwe hwa hwe dan Ma Siok ceng berobah airmukanya.

Demikian juga wanita ayu setengah umur itu menegakkan alisnya dan berdiri kesima.

Begitu menubruk tempat kosong gesit sekali Si tiau khek melompat mundur lalu menerjang kembali.

Ber-ulang2 Suma Bing unjuk kegesitan tubuhnya, sambil berkelit kedua tangannya tidak tinggal diam diayun ber-ulang2, maka Cincin iblis yang dikenakan tengah jarinya itu segera memancarkan sinar berkilauan, ditengah seruan kejut dan ketakutan, tali panjang dileher Bau bong khek sudah terpapas jatuh, keruan semangatnya serasa terbang ke-awang2.

"Mundur semua!"

Suara perintah dengan nada yang nyaring merdu mengandung kewibawaan yang menciutkan nyali.

Bergegas Si tiau khek melompat mundur sambil membungkuk tubuh dengan tubuh gemetar.

Wanita ayu setengah umur maju dua langkah, dua bola matanya yang bening indah menjalari seluruh tubuh Suma Bing.

Entah karena wanita setengah umur ini terlalu cantik rupawan, atau kedua matanya itu mengandung kekuatan sihir.

Suma Bing yang biasanya bersikap dingin keras kepala itu kini ternyata ter-longong2 semangatnya se-akan2 me-layang2, tanpa terasa ia menundukkan kepala tak berani beradu pandang dengan orang.

Tiba2 Suma Bing merasa pandangannya kabur, tahu2 sebuah jari yang putih halus dari wanita cantik itu sudah menyelonong hendak mencengkram dadanya, dalam kagetnya serta merta timbul reaksinya, sebat sekali kakinja menggeser lima kaki jauhnya.

Gerak tubuh kedua belah pihak sedemikian tjepat benar2 hebat dan mengagumkan.

Dimana terlihat bayangan berkelebat, untuk kedua kalinya wanita ayu setengah umur lancarkan serangannya kearah Suma Bing, cara turun tangannya ini aneh dan ganas sekali jarang terlihat ilmu semacam ini dikalangan Kangouw.

Dingin perasaan Suma Bing menghadapi serangan yang menakjupkan ini, untuk mengandalkan gerak kelit dari Bu siang sin hoat yang sangat ampuh itu dia selalu lolos dari marabahaya, kalau tidak diukur dari kepandaiannya tentu dirinya takkan mampu bertahan satu jurus saja.

Tanpa terasa wanita ayu setengah umur berseru memuji.

"Ringan tubuh yang hebat!"

Sambil berseru itu, tahu2 pergelangan tangannya digentakkan, sebuah selendang warna merah sepanjang dua tombak tahu2 sudah dicekal ditangannya.

Melihat wanita ayu setengah umur ini mengeluarkan selendang senjatanya segera Ketua Bwe hwa hwe dan anak buahnya bergegas mundur sejauh tiga tombak.

Hati Suma Bing kebat kebit kurang tentram, naga2nya wanita setengah umur ini hendak mengunjuk kepandaian aslinya.

Baru saja pikiran ini terlihat dalam otaknya, bayangan merah berkelebat didepan matanya bagai seekor naga hidup langsung menyapu kearah tubuhnya, tiga tombak sekitar tubuhnya terkekang oleh kekuatan tenaga sapuan selendang merah ini.

Ciut dan merinding tubuh Suma Bing, beruntun dua kali dia berkelit sejauh tiga tombak, kini dirinya sudah melampaui beberapa batang pohon bunga Bwe.

Se-konyong2 dia kehilangan bayangan musuh, pada saat dia melengak heran, secarik angin dingin melesat tiba dari arah belakangnya.

Baru saja dia hendak berkelit agaknya sudah terlambat tahu2 pinggangnya terasa linu serta merta tubuhnya menjadi limbung dan pada saat itulah dia merasakan pergelangan tangannya sudah dipegang oleh musuh.

Terasa pula tubuhnya tergetar lantas hilanglah seluruh tenaganya.

Wanita ayu setengah umur itu pandang wajah Suma Bing lekat2, timbul sebuah mimik aneh pada wajahnya yang rupawan itu, namun hanya sekejap saja lantas lenyap.

"Bawa kembali k e m a r k a s ! "

S i t i a u k h e k s e r e m p a k m e n g i a k a n , H e n g s i k h e k s e g e r a tampil kedepan menutuk beberapa jalan darah Suma Bing, terus dijinjing dan dikempit dibawah ketiaknya.

Mereka mengintil dibelakang wanita setengah umur itu terus memasuki hutan lebat sebelah sana.

Pada saat itu juga Suma Bing kehilangan kesadarannya.

Waktu Suma Bing siuman kembali, ia merasakan dirinya berbaring didalam sebuah kamar yang dihias sedemikian mewah.

Ditengah ruang besar terdapat meja kursi besar yang terukir indah terbuat dari kayu cendana, diatas kursi besar inilah duduk dua orang laki2 dan perempuan.

Laki2 itu berumur empatpuluhan, berpakaian sebagai sastrawan berwajah cakap gagah.

Sedang wanita itu adalah wanita setengah umur yang dipanggil sebagai ibu guru oleh ketua Bwe hwa hwe itu.

"Suma Bing, bangunlah dan jawab pertanyaan!"

Bergegas Suma Bing bangkit berdiri, matanya nanap memandang laki2 setengah umur. Seringai laki2 pertengahan umur itu mengandung kelicikan, lalu tanyanya.

"Kau inikah murid Sia sin Kho Jiang?"

"Benar!"

"Apa benar Kho lo sia sudah mati?"

Suma Bing menjawab dengan mendengus hidung.

"Jadi kau sudah diangkat sebagai ahli warisnya?"

"Tidak salah!"

"Selain kau apakah Kho lo sia mempunyai murid lainnya?"

Timbul rasa curiga dalam benak Suma Bing siapakah laki2 ini?

Untuk apa dia menyelidiki keadaannya sampai serumit itu?

Berulangkali Bwe hwa hwe mengejar2 dan hendak membunuh dirinya, tentu semua itu keluar dari kehendaknya, tapi untuk apakah?

Karena pikirannya ini, segera ia balas bertanya.

"Siapakah tuan ini?"

"Nanti kau akan dapat tahu, sekarang kau jawab dulu pertanyaanku!"

"Aku menolak!"

"Jawablah pertanyaanku!"

"Untuk apa tuan menanyakan semua itu?"

"Hehehe, Suma Bing, kuharap kau tahu diri, apa sebelum ajal kau hendak merasakan siksaan jasmaniah yang mengerikan itu."

Mendengar ancaman ini, berkobar darah Suma Bing matanya menyala ber-api2, semprotnya bengis.

"Siapa kau sebetulnya?"

Timbul seringai sadis pada wajah laki2 pertengahan umur, se-olah2 tak terjadi apa2 dia berkata.

"Sudah kukatakan nanti sebentar kau akan tahu. Coba katakan pada duapuluh tahun yang lalu selain kau seorang apakah Kho lo sia menerima murid lainnya?"

Suma Bing semakin naik pitam, sambil menggeram gusar tangannya diangkat terus menyerang.

"Hehehehehe..."

Kedua bola mata Suma Bing melotot besar hampir mencelat keluar, pelan2 tangannya menjulai turun tanpa bertenaga lagi, baru sekarang dia sadar bahwa ilmu silatnya kiranya sudah lenyap sama sekali.

Kata laki2 pertengahan umur lagi.

"Kau mau katakan tidak?"

"Tidak!"

"Baik, tidak kau katakan ya sudah, sekarang biar kau melihat tegas kepandaianku", sembari berkata per-lahan2 ia bangkit dari tempat duduknya, dimana tangan diayun lantas memancarlah secarik sinar merah marong melesat keluar kearah pintu ruangan besar. Kontan Suma Bing rasakan arus hawa panas merangsang lewat dari samping tubuhnya. Maka terdengarlah sebuah dentuman yang dahsyat disusul hidungnya dirangsang bau sesuatu yang hangus terbakar, kiranya sepasang pintu besi ruangan itu sudah hangus terbakar dalam sekejap mata tinggal setumpukan abu. Dalam kagetnya Suma Bing berteriak.

"Kiu yang sin kang."

Saking puas dan bangga laki2 pertengahan umur itu mendongak dan tertawa gelak2.

"Benar, begitulah batas kedahsyatan dari Kiu yang sin kang. Suma Bing, untuk melatih sampai tingkatanku ini, seumpama Kho lo sia sendiri juga harus melatihnya sampai seratus tahun lamanya. Tentang kau? hahahahaha!"

"Siapakah kau sebenarnya?"

Bentak Suma Bing.

"Aku? Hitung2 masih termasuk Suhengmu!"

"Kau... kau... kau ini Loh Cu gi?"

"Benar, akulah Loh Cu gi!"

Suma Bing terhuyung tujuh delapan langkah, seluruh tubuhnya berkelojotan, raut wajahnya berkerut2 kekejangan.

Tidak kuat lagi, mulutnya mengoak lebar menyemburkan darah segar.

Sebenarnya usia Loh Cu gi sudah mencapai enam puluhan, tapi raut wajahnya masih menunjukkan kecakapan sebagai laki2 berusia empatpuluhan yang ganteng.

Dari sini dapatlah diukur bahwa latihan Lwekangnya agaknya sudah mencapai titik kesempurnaannya.

Kepala Suma Bing terasa men-dengung2, matanya beringas menatap musuh besarnya ini.

Dendam kesumat dan rasa kebencian yang menyala2 merangsang dalam aliran darahnya, ingin rasanya saat itu juga ia melimpahkan seluruh rasa kebenciannya ini, namun tenaganya hilang, tubuhnya gemetar dan basah kuyup oleh keringat dingin.

Loh Cu gi musuh besar yang setiap saat setiap detik selalu terbayang dalam ingatannya ternyata adalah orang yang memegang peranan penting dibelakang layar dari orang2 Bwe hwa hwe ini.

Bergantian terbayang keadaan suhunya yang merana dengan badan cacat dan akhirnya meninggal dengan mengenaskan.

Keadaan ibunya yang hampir menggila setelah diperkosa dan harus kehilangan seorang putranya.

Akhirnya terbayang juga kematian ayahnya dibawah kepungan beratus manusia2 kejam yang mengeroyoknya...

lantas tercetus ucapan dari mulutnya.

"Loh Cu gi, binatang jalang, hendak kurobek dan kupotong2 seluruh tubuhmu, kubakar tulang2mu dan kusebarkan kemana2."

Loh Cu gi ganda bergelak tawa seram, serunya.

"Jadi kau hendak menuntut balas bagi Kho lo sia gurumu itu?"

"Benar, suhu meninggalkan pesan untuk mencacah jiwamu."

"Apa kau mampu?"

"Jangan ter-gesa2. Kukira kau tidak melupakan peristiwa diatas puncak kepala harimau pada delapan belas tahun yang lalu bukan?"

Berobah hebat wajah Loh Cu gi, tubuhnya melenting bangun dan serunya gemetar.

"Siapa kau?"

Sahut Suma Bing sambil mengertak gigi.

"Akulah anak tunggal Suma Hong, orok kecil yang kau sapu masuk jurang. Kau tidak menyangka bukan?"

Lagi2 berobah air muka Loh Cu gi, mulutnya mengekeh tawa ke-gila2an, nada tawanya mengandung nafsu kekejaman sadistis yang menyeramkan.

Adalah si wanita ayu pertengahan umur itu mengunjuk rasa heran dan penuh pertanyaan.

Suma Bing sudah angkat kedua tangannya hendak menyerang, namun sedetik itu ia urungkan tindakannya, saat mana tenaganya sudah lenyap, keadaannya seperti ayam jago yang tinggal tunggu saat untuk disembeleh saja.

Sinar matanya menyapu kearah wanita ayu setengah umur itu.

Kalau bukan terjebak didalam barisan, mengandal ilmu Bu Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ siang sin hoat, cukup berkelebihan untuk menyelamatkan diri, tentu tak mudah wanita ayu ini dapat meringkus dirinya.

"Kalau aku tidak mati pasti akan kubunuh kau juga."

Demikian dalam hati Suma Bing berjanji pada dirinya sendiri. Setelah menghentikan tawanya, Loh Cu gi berkata menyeringai.

"Suma Bing, inilah yang dikatakan Tuhan Yang Maha Kuasa selalu mengabulkan keinginan pemujanya, kau pasrah nasib saja!"

Bayangan kematian merangsang dan melingkupi perasaan Suma Bing. Dia insaf setelah dirinya terjatuh kedalam cengkraman Loh Cu gi tentu tiada harapan lagi untuk hidup. Maka teriaknya penuh kebencian.

"Loh Cu gi, kau binatang jalang ini, menjadi setan juga aku tidak mengampunimu." . AJAL TIAN G UN SUSE NG YAN G MEN GEN ASK AN.

"Anak keparat, kedua belah pintu itu menjadi contohmu, tinggal mengangkat tangan saja, segera kau tinggal setumpukan abu."

Tak kuat Suma Bing menahan rangsang kegusaran yang menerjang hatinya, lagi2 mulutnya mengoak menyemburkan darah segar.

Loh Cu gi menyeringai sadistis, per-lahan2 kedua tangan diangkat...

Bola mata Suma Bing bagai butir kelereng yang hampir mencelat keluar, per-lahan2 ujung matanya melelehkan air darah.

Pada saat2 menghadapi kematian ini perasaan Suma Bing ber-angsur2 menjadi tenang malah, berkelebatan dalam pandangannya beberapa wajah gadis pemujanya, terakhir tatapannya terhenti pada bayangan seorang gadis ayu bak bidadari, dia bukan lain adalah istrinya Phoa Kin sian, serta merta terunjuk senyum getir pada wajahnya, teringat olehnya bahwa Phoa Kin sian sekarang sudah mengandung keturunannya.

Timbullah sepercik api pada detik2 keputus asaannya ini, tak kuatir kelak takkan ada orang yang menuntutkan balas baginya.

Rona wajah Loh Cu gi berobah tak menentu, sesaat tengah dia ragu2 mengerahkan tenaganya kearah kedua tangannya yang sudah terangkat tinggi itu.

Se-konyong2 wanita ayu setengah umur itu berseru.

"Apa kau benar2 hendak membunuh dia?"

Raut wajah Loh Cu gi berobah mengeras, matanya memandang liar, sahutnya.

"Sudah tentu, apa kau hendak meninggalkan bibit bencana dikelak kemudian hari?"

"Tapi apa kau sudah mempertimbangkan secara masak?"

"Apanya yang perlu dipertimbangkan?"

"Tokoh2 lihay dibelakangnya itu."

Daging diwajah Loh Cu gi gemetar sebentar, lalu katanya.

"Tokoh2 lihay apa maksudmu?"

"Dia sudah terpukul masuk kedalam jurang lembah kematian, namun kenyataan dia masih hidup, ilmu gerak tubuh dari Bu siang sin hoat yang dipertunjukkan itu, dan munculnya Panji tulang putih, kau harus memikirkan akan sebab musabab semua ini..."

"Tapi tidak bisa tidak aku harus bunuh dia?"

"Kalau kau benar2 bunuh dia akibatnya..."

"Akibat apa?"

"Mungkin membawa bencana dan kenaasan bagi Bwe hwa hwe kita!"

"Apa mungkin...?"

"Kurung dia sementara waktu. Mungkin dengan jiwanya masih hidup, nilainya akan lebih berharga dari kematiannya!"

"Nilai apa?"

Per-lahan2 kedua tangan Loh Cu gi yang terangkat itu diturunkan lagi, agaknya 'nilai' kata ini membawa pengaruh sangat besar dan memincut hatinya.

Dorna bejat yang telah dianugerahi sebagai tokoh silat nomor satu diseluruh jagat ini, agaknya masih belum puas dengan apa yang telah dicapainya pada saat itu.

Cita2nya yang terakhir adalah hendak bersimaha raja dan memerintah diseluruh kolong langit.

Oleh karena itu, ucapan wanita ayu setengah umur ini benar2 tepat mengenai lubuk hatinya.

Memang benar, kalau dibelakang punggung Suma Bing ada Bu siang sin li, Pek kut Hujin dll, gembong2 silat lihay sebagai andalannya.

Dinilai kekuatan dan kemampuan dari Bwe hwa hwe pada saat itu, sedikit salah tindak memang mungkin bisa membawa bencana bagi pihaknya sendiri.

Sebaliknya kalau mengurung Suma Bing, dalam saat2 yang menentukan mungkin bisa digunakan sebagai sandera, memang nilai dari akal licik ini tidak akan terhitungkan.

' P l a k , p l o k !

' s e s u d a h t e r d e n g a r d u a s u a r a k e p l o k a n i n i , t e r l i h a t H e n g s i k h e k t e r t u a d a r i S i t i a u k h e k t e r -s i p u 2 m e l a n g k a h m a s u k r u a n g a n .

"Cujin, entah ada perintah apakah?"

"Gusur anak jadah ini, masukkan kedalam penjara dibawah tanah!"

Heng si khek segera mengiakan dengan hormat.

Sekali jinjing ia kempit Suma Bing dibawah ketiaknya terus berjalan keluar dari ruangan besar itu, tak lama kemudian dia memasuki hutan bunga Bwe yang penuh jebakan dan barisan itu, tak lama kemudian tibalah dia didepan sebuah gunung2an palsu, segera Heng si khek membentak keras.

"Buka pintu!"

Dari tengah2 gunung2an palsu itu segera per-lahan2 terbuka sebuah lobang yang gelap gulita.

Dua orang laki2 yang berwajah bengis menakutkan berseragam hitam sigap sekali melompat keluar dari lobang gelap itu, mereka berdiri tegak dan hormat dikanan kiri terus membungkuk memberi hormat kepada Heng si khek.

Kata Heng si khek penuh lagak.

"Keadaan nomor tujuh bagaimana?"

Salah seorang seragam hitam membungkuk tubuh serta menjawab dengan hormat.

"Tiada kesukaran apa2"

"Sekarang anak jadah ini menjadi nomor delapan?"

Kedua penjaga bengis seragam hitam itu segera mengiakan.

"Nomor tujuh dan delapan ini bukan sembarang tahanan, kalian harus menjaga lebih ketat dan waspada, jangan se-kali2 kalian lalai menjalankan tugas!"

"Baik!"

"Unjukkan jalan."

Kedua laki2 seragam hitam itu segera mengiakan dan memutar tubuh terus memasuki lorong gelap itu.

Heng si khek mengikuti dibelakang mereka.

Selama ini Suma Bing tidak mengeluarkan suara barang sekejappun juga.

Karena kehilangan tenaga, terpaksa dia pasrah nasib dan membiarkan saja apa yang hendak diperbuat atas dirinya.

Lorong gelap itu agaknya sangat panjang dan dalam, semakin lama hawa terasa dingin basah dan berbau apek.

Setelah membelok satu tikungan, terlihat diatas dinding diatas undakan batu yang menurun tergantung sebuah pelita minyak yang menyinarkan cahaya redup.

Kira2 sepeminuman teh kemudian baru mereka tiba disebuah ruangan batu yang besar dari cahaya pelita yang remang2 dapat terlihat beberapa pintu2 besi berjajaran.

Agaknya tempat inilah yang mereka namakan sebagai penjara bawah tanah.

Salah seorang seragam hitam itu maju membuka sebuah pintu besi nomor empat dari deretan sebelah kiri, enteng sekali Heng si khek membuang tubuh Suma Bing kedalam ruang gelap dibawah sana.

'Bum!' pintu besi yang tebal dan berat itu kembali ditutupkan.

Mulai saat itu Suma Bing merasakan hidup dalam dunia gelap yang menyerupai neraka.

Suma Bing pejamkan kedua matanya dan rebah diatas tanah yang lembab dan berbau apek.

Saat mana terasa hatinya kosong melompong, tak terpikirkan apapun juga dalam benaknya, perasaannya se-akan2 sudah membeku, hanyalah keputus asaan dan khayalan saja yang merangsang sanubarinya.

Entah sudah berselang berapa lama, terdengar suara ketokan yang berirama panjang menyadarkan dirinya dari lamunan dan khayalannya.

Sedemikian gelap pekat keadaan penjara itu sampai lima jari sendiri juga tidak terlihat.

Tenaga dalam Suma Bing sudah lenyap, keadaannya tidak lebih seperti orang biasa.

Dengan keadaannya saat itu tak mungkin ia dapat melihat tegas keadaan sekeliling dirinya.

Tapi suara ketokan itu terus bergema, lama kelamaan menimbulkan rasa heran dan menarik hatinya.

Maka pelan2 dia bangkit berdiri dan mulai meraba2 dan menggeremet maju, kiranya kamar penjara itu lebarnya tidak lebih dari dua tombak, dimana tangannya menyentuh dinding terasa dingin dan licin penuh lumut.

Dipojokan dinding sebelah dalam terdapat sebuah dipan, diatas dipan terdapat sebuah bantal dan kemol.

Demikianlah dengan penuh semangat dia me-raba2 dan memperhatikan dimana letak asal suara ketokan itu.

Akhirnya diketemukan juga ternyata suara itu datang dari sebuah celah2 batu diatas dinding dimana terletak dipan itu.

Didekapkan kupingnya dicelah2 batu itu, maka terdengar sebuah suara lemah tengah berkata.

"Pesakitan nomor delapan, pesakitan nomor delapan. Apa kau dengar suaraku?"

Tanpa terasa berdetak jantung Suma Bing.

Apa suara ini itu adalah pesakitan nomor tujuh yang dipesankan wanti2 oleh Heng si khek kepada penjaga2 itu?

Entah orang macam apakah pesakitan nomor tujuh ini.

Karena rasa heran dan ketarik tangannya juga mengetuk2 dinding dua kali, sambil mendekatkan mulutnya dicelah2 dinding batu lalu berseru.

"Sudah dengar, siapakah tuan ini?"

"Siapa kau?"

"Aku!"

Sejenak Suma Bing ragu, lalu serunya.

"Aku yang rendah Suma Bing".

"Apa, coba katakan sekali lagi." -Suara itu terdengar gemetar penuh keheranan. Tergerak hati Suma Bing, apa mungkin orang disebelah itu mengenal dirinya, maka katanya lagi.

"Aku yang rendah Suma Bing!"

"Suma Bing."

"Benar."

"Kau murid Sia sin Kho Jiang?"

"Tidak salah!"

Suara itu kini berobah mengeluh bagai berputus asa.

"Kau... bagaimana bisa terjatuh ditangan Bwe Hwa hwe?"

"Siapakah tuan ini?"

"Oh, aku... aku... saudara kecil, aku adalah Poh Jiang."

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing kejutnya luar biasa bagai mendengar guntur ditengah hari bolong.

Bahwa Tiang un Suseng Poh Jiang ternyata juga dikurung didalam penjara dibawah tanah, mimpi juga dia tidak menduga sama sekali.

Persahabatannya dengan Tiang un Suseng sedemikian erat bagai saudara kandung sendiri.

Karena hubungannya dengan Sucinya Sim Giok sia, maka dia hapus seluruh permusuhan gurunya dengan Bu lim sip yu.

Wi thian chiu Poh Jiang karena patah hati lantas dia mengganti nama julukannya menjadi Tiang un Suseng.

Demikian juga Sim Giok sia karena mencintainya, lantas dikurung oleh ibunya yaitu Setan barat selama tigapuluh tahun.

Sepasang kekasih yang mengalami penuh derita ini akhirnya bertemu kembali setelah tigapuluh tahun kemudian, terkabullah cita2 mereka bersama, meski masa remaja mereka sudah silam, namun kebahagiaan yang terlambat datang ini, masih tetap berharga, sungguh tidak duga...

Suma Bing tidak membayangkan terlebih jauh.

"Engkoh Poh!"

Suaranya lirih dan serak.

"Saudara kecil, peristiwa apa yang telah kau alami?"

Suma Bing mengertak gigi, desisnya.

"Tidak beruntung aku terjatuh ditangan Loh Cu gi..."

"Loh Cu gi?"

"Benar!"

"Eh bagaimana penjelasannya, bukankah ini tempat penjara dibawah tanah dari Bwe hwa hwe?".

"Justru Loh Cu gi adalah orang yang pegang peranan dibelakang layar dalam Bwe hwa hwe?"

"Oh."

"Engkoh Poh, kau..."

"Ada orang datang, nanti kita bicarakan lagi, kau rebahlah, pura2 tidak terjadi sesuatu apa!"

Suma Bing menurut dan rebah diatas dipan. Terdengar derap langkah kaki berhenti didepan pintu penjara, lalu terbukalah sebuah lobang persegi diatas pintu besi itu.

"Suma Bing, terimalah makananmu."

Untuk dapat bicara lagi dengan Tiang un Suseng, terpaksa Suma Bing tekan gelora amarah hatinya, ogah2an ia sambuti makanan itu.

'Brak.' lobang persegi itu tertutup lagi.

Tidak lama kemudian suara ketokan itu terdengar lagi.

Bergegas Suma Bing kembali berdiri dicelah2 dinding batu itu, ujarnya.

"Kakak Poh, bagaimanakah pengalamanmu?"

"Kurang lebih satu bulan kemudian sejak berpisah dengan kau, kami kena teringkus oleh Su tiau khek. Kalau menurut katamu tadi bahwa Loh Cu gi adalah dalang dibelakang layar dari semua peristiwa ini, maka aku tidak perlu heran, aku paham mengapa mereka hendak menawan kamu. Naga2nya diantara kawan2 dari Bu lim sip yu yang meninggal secara aneh itu pasti perbuatan dari Bwe hwa hwe".

"Kenapa mereka tidak segera membunuh kau malah mengurungmu disini."

"Kau harus ingat sebutan nama julukanku dulu?"

"Wi thian chiu?"

"Benar, Bwe hwa hwe menghargai kepandaian ilmu ketabibanku. Mereka hendak memaksa aku menyerah dan mengabdi diri kepada Bwe hwa hwe!"

"Apa kau sudi?"

"Saudara kecil, apa kau anggap aku Poh Jiang orang semacam itu?"

"Poh heng, lalu bagaimana Suci Sim Giok sia..."

"Dia..."

Perasaan tak enak segera merangsang hati Suma Bing, tanyanya menegas dengan suara gemetar.

"Bagaimana dia sebenarnya?"

Tiang un suseng menggeram dan mengertak gigi, sahutnya.

"Dia sudah mati."

"Sudah mati?"

"Benar dia sudah mati!"

Tubuh Suma Bing bergetar dan mengejang, pandangannya menjadi gelap dan bumi dimana dia berpijak terasa berputar2, hampir2 dia tidak kuat menunjang tubuhnya sendiri.

Budi yang diterimanya dari Sia sin Kho Jiang suhunya terlalu besar.

Maka besar hasratnya hendak membalas kebaikan budi suhunya atas tubuh sucinya Sim Giok sia ini, sungguh tidak kira ternyata dia sudah meninggal.

"Cara bagaimana kematiannya itu?"

"Mati disampingku!"

"Disampingmu?"

"Benar, dia juga tertawan bersama aku dan terkurung dalam penjara ini!"

"Yang kutanyakan adalah cara kematiannya?"

"Bunuh diri."

"Apa! Bunuh diri? Apa kau diam saja melihat dia bunuh diri?"

"Waktu kita tertawan masing2 terluka berat, malah tenaga dalam kita kena mereka lenyapkan terus dikurung dikamar batu ini. Karena terlalu gusar dan darah merangsang jantung sehingga aku jatuh pingsan, karena kurang teliti dia menyangka aku sudah mati, maka..."

Bercerita sampai disini Tiang un Suseng sudah sesenggukkan tak dapat mengeluarkan suara lagi.

Darah Suma Bing terasa berjalan semakin cepat, dadanya terasa rada2 sakit, giginya gemeratak, suaranya geram penuh kemurkaan.

"Maka bagaimana?"

"Dia... mati menumbukkan kepalanya didinding batu!"

Dua butir airmata pelan2 meleleh dikedua pipi Suma Bing. Terdengar Tiang un Suseng bicara lagi.

"Saudara kecil, dapatlah kau bayangkan betapa sedih keadaanku saat itu, aku ingin mengejar kepergiannya, tapi sebelum sakit hati ini terbalas, mana aku bisa mati meram. Maka terpaksa aku harus hidup. Sekarang, saudara kecil, untung Tuhan mengaturmu sampai tiba ditempat ini. Dapatlah terkabul keinginanku..."

"Keinginan apa?"

"Karena aku Sim Giok sia menderita dan hidup sengsara selama tigapuluh tahun dalam penjara, kita sudah mengorbankan masa remaja kita untuk cinta kita itu. Sekarang dia telah mati, bagaimana aku bisa meninggalkan dia, saudara kecil, pembalasan dendam ini, kuwakilkan kepada kau!"

Lagi2 timbul rasa kejang dan merinding seluruh tubuh Suma Bing, perasaan dingin pelan2 merangsang hati kecilnya.

"Engkoh Poh, kau..."

"Selama hidup ini aku tidak akan meninggalkan kamar penjara ini lagi."

"Kau... tindakanmu ini..."

"Saudara kecil, mengenai dirimu terhadap diriku merupakan keajaiban, kalau orang berharap hidup diambang kematiannya. Sebaliknya aku berdoa supaya dapat mati ditempat ini juga. Saudara kecil, kalau kau tidak sampai dipenjarakan dipenjara bawah tanah ini, kematianku ini pasti akan sia2."

"Poh heng, apa kau beranggapan aku bisa lolos keluar dengan masih hidup?"

"Sudah tentu!"

Jawaban tegas ini membuat Suma Bing tertegun, tanyanya tak mengerti.

"Mengapa bisa pasti?"

"Karena aku sudah merencanakan cara melarikan diri!"

"Rencana?"

"Benar!"

"Kenapa kau sendiri tidak mau lolos keluar menurut rencanamu itu?"

"Rencanaku ini adalah untuk orang lain, dan bukan untukku sendiri!"

"Mengapa?"

"Sudah kukatakan selama hidup ini aku tidak akan meninggalkan kamar penjara ini. Aku ingin pergi menyusul Sim Giok sia ditempat yang sama ini."

"Poh heng kata2mu ini keterlaluan!"

"Saudara kecil, inilah keajaiban yang susah kuharapkan sebelumnya, kau tak perlu banyak kata lagi. Sekarang biar kujelaskan tentang rencanaku itu. Satu jam kemudian kau akan dapat melihat matahari..."

"Tidak mungkin!"

"Kau belum dengar habis ucapanku, darimana kau tahu tidak mungkin?"

"Sebab Lwekangku sudah amblas sama sekali..."

"Aku sudah tahu!"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Tanya Suma Bing heran.

"Sudah merupakan tradisi bagi mereka bahwa semua pesakitan yang dikurung dalam penjara bawah tanah ini pasti dilenyapkan tenaganya. Tapi, saudara kecil, ingat nama Wi Thian chiu tidak kuperoleh secara sembarangan kepandaian cara menutuk nadi dan menyumbat tenaga bagi aku bukan hal yang menyukarkan hanya sekali angkat tangan saja segera bisa kupulihkan tenagamu."

Keterangannya ini hampir susah dimengerti dan dipercaya. Sejenak Tiang un Suseng berhenti, lalu melanjutkan keterangannya.

"Aku sendiri juga mengalami kena tertutuk jalan darahku sehingga hilang tenagaku. Tapi tidak sampai setengah jam aku sudah dapat membebaskan diri dan kembali seperti sedia kala. Kalau tidak, mana bisa aku menyelesaikan rencanaku."

"Rencana apa?"

"Landasan kamar batu ini tidak dalam, satu kaki kemudian sudah menembus tanah, menggunakan waktu selama sebulan aku bekerja keras dan dapat kugali sebuah jalan tanah yang terus menembus keluar dari barisan pohon bunga Bwe itu, untuk meloloskan diri sudah segampang seperti membalikkan tangan."

Suma Bing hampir tidak percaya akan pendengarannya, karena keterangan seperti dongeng ini benar2 susah dipercaya, maka tercetus seruan herannya.

"Apa betul?"

"Saudaraku, saat apakah ini masa aku masih main berkelakar?"

"Menurut katamu rencanamu itu bukan untuk kau sendiri?"

"Ya, begitulah!"

"Jadi kau sebelumnya sudah tahu bahwa aku bakal terkurung disini?"

"Tidak. Aku hanya mengharap dapat menolong seorang kawan, tujuanku yang utama waktu itu ialah supaya dapat memberi kabar kepada kau. Maka secara diam2 telah kubuat sebuah pintu rahasia diantara dinding kamar kita ini. Dicelah2 batu inilah letaknya, sungguh tak terduga setelah rencanaku selesai, orang pertama yang terkurung dikamar sebelah ini ternyata adalah kau. Bukankah ini suatu keajaiban?"

Suma Bing berdiri ter-longong2, hatinya terharu darahnya mengalir semakin cepat.

Mimpi juga tidak terkira olehnya akan mendapat rejeki nomplok ini, satu jam kemudian dirinya bakal melihat matahari lagi, dendam kesumat dan sakit hati bakal dapat diselesaikan.

Dengan adanya harapan yang bakal tiba ini, timbul juga perasaan bencinya yang menyala2 kepada para musuhnya.

"Saudaraku, sekarang kau kemarilah."

"Aku..."

Celah2 batu yang semula berlobang kecil itu lama2 semakin melebar dan akhirnya berlobang sebesar dua kaki persegi, sebuah tangan terulur keluar dari kamar sebelah.

Sambil berjingkrak girang Suma Bing genggam tangan itu erat, jantungnya serasa hendak melompat keluar.

Tanpa mengeluarkan banyak tenaga pada lain saat dia telah tiba dikamar penjara nomor tujuh.

Serta merta mereka berpelukan sedemikian kencang penuh haru.

Secepat kilat tiba2 Tiang un Suseng beruntun menutuk jalan darah Suma Bing yang terbagi tujuh jalan darah besar dan dua belas jalan darah kecil.

Seketika Suma Bing rasakan sendi2 tulangnya berkeretekan, urat2 nadi dan jalan darahnya bergetar, lantas terasa hawa murninya menjalar lebar keseluruh tubuh dalam sekejap mata pulihlah seluruh kekuatannya.

Kata Tiang un Suseng sambil menunjuk kebawah dipan.

"Pintu rahasia jalan tanah itu dibawah dipan itulah."

"Poh heng, mari kita pergi bersama!"

Demikian ajak Suma Bing, suaranya tergetar.

"Tidak!"

"Mengapa kau sedemikian kukuh?"

"Ini bukan kukuh adikku, pengorbanan Sucimu Sim Giok sia terlalu besar bagi aku sebaliknya apa yang telah kuberikan kepada dia? Masa aku masih begitu melit untuk hidup merana?"

Tiba2 terdengar langkah2 berat semakin mendatangi. Tiang un Suseng menjadi gugup, sambil mendorong Suma Bing katanya.

"Lekas berangkat!"

"Tidak, kalau mau pergi, mari kita bersama!"

"Adikku aku mohon kau suka mengabulkan permintaanku ini!"

"Segalanya kita rundingkan lagi setelah kita bebas!"

"Sedikit lagi terlambat, segalanya akan gagal total?"

"Poh heng, bagaimana juga aku tidak tega meninggalkan kau didalam kamar neraka ini!"

Saat mana suara derap langkah itu sudah mendekat sampai diluar pintu penjara. Tiang un Suseng Poh Jiang menekan suaranya, katanya gemetar.

"Suma Bing, kebandelanmu ini akan mengakibatkan kita berdua melayang jiwa secara sia2. Kalau tiada aku yang melindungi dan membendung serbuan mereka, kau takkan dapat keluar bebas dari jalan tanah ini. Suma Bing, jadi setan juga aku akan membencimu!" 'Brak!' terdengar jendela kecil diatas pintu besi terbuka lalu disusul terdengar seruan kaget.

"Hai, dimana tawanan nomor delapan?"

Tuiiiiiiiiit...

sebuah suitan panjang bagai lengking setan membuat suasana diluar kamar menjadi gaduh, terdengar langkah kaki serabutan dan seruan para petugas yang menjadi gugup dan ribut.

Desis Suma Bing sambil kertak gigi.

"Kubunuh dulu para anjing..."

"Kau sudah gila. Seumpama kau dapat keluar dari penjara bawah tanah ini, apa kau mampu keluar dari kurungan barisan pohon Bunga Bwe itu. Lekas berangkat, kalau tidak terpaksa kubunuh kau?"

Terdengar pintu kamar sebelah atau kamar nomor delapan sudah terbuka, disusul sebuah seruan.

"Kamar nomor tujuh, sudah merat melubangi dinding!"

Sebuah kepala manusia tiba2 menongol keluar dari lobang dinding itu.

Dan orang2 lain sudah memburu tiba diluar pintu besi kamar nomor tujuh...

Suasana tegang mencekik leher ini semakin meruncing dengan adanya keributan mulut2 yang ber-kaok2 gugup.

Dimana terlihat sebuah tangan Suma Bing melayang segera terdengar sebuah jeritan ngeri disusul hujan darah ber-derai2.

Ternyata kepala yang nongol keluar itu kini sudah hancur berkeping2, darah kental dan otaknya berhamburan, kontan tubuhnya yang tanpa kepala lagi itu terbanting keras diatas tanah.

Mendadak Tiang un Suseng kerahkan tenaganya menekan dan mendorong tubuh Suma Bing kearah kolong dipan.

Sambil berseru.

"Suma Bing, kalau kau menggagalkan rencanaku, menjadi setan juga aku tidak akan ampuni kau!"

Dalam keadaan yang terpaksa itu akhirnya Suma Bing kertak gigi terus menyusup masuk kedalam lobang yang telah digali oleh Tiang un Suseng itu, lobang itu sangat kecil tapi cukup untuk seorang merambat didalamnya.

Dalam pada itu, pintu besi kamar nomor tujuh sudah terbuka.

Beberapa orang laki2 bertubuh tegap dan bermuka bengis menerjang masuk.

Satu diantaranya yang terdepan segera membentak sambil menuding Tiang un Suseng.

"Mana orangnya?"

"Orang siapa?"

"Tawanan nomor delapan!"

"Mana aku tahu?"

"Keparat agaknya kau sudah bosan hidup".

"Benar, tapi kalian harus menjadi imbalan, jiwaku."

"Ong Sun, segera laporkan kepada markas besar."

Setelah memberikan perintahnya, orang ini segera ulurkan cakar tangannya hendak mencengkram dada Tiang un Suseng.

Begitu miringkan tubuh, secepat kilat Tiang un Suseng gerakan sebelah tangannya maka terdengar jeritan ngeri yang panjang, kontan orang terdepan itu roboh terkapar dengan batok kepalanya hancur luluh.

"Tenaganya sudah pulih kembali." -dibarengi dengan seruan2 yang gegap gempita beberapa orang itu serempak mengirim serangan mengurung Tiang un Suseng. Tiang un Suseng sudah bertekad untuk mati, sedikitpun tidak takut2 lagi akan keselamatan jiwa sendiri. Sambil membentak bagai guntur kedua tangannya bergerak dengan pukulan dahsyat terus menyapu kedepan, seketika itu ada dua orang didepannya kena tersapu roboh terguling. Begitu dapat merobohkan dua musuh segera Tiang un Suseng mundur mepet dinding, kedua tangannya masih bergantian bergerak menyerang musuh yang berani mendekat. Maka akhirnya tiga orang laki2 tegap yang masih ketinggalan hidup lari terbirit2 keluar kamar tahanan. 'Blang', pintu kamar tahanan itu tertutup dan dikunci pula dari luar. Baru sekarang Tiang un Suseng dapat menghela napas lega, wajahnya mengunjukkan senyum kecut yang menyedihkan, cepat2 dia menutup lobang dibawah dipan, setelah semuanya diatur rapi, dalam waktu dekat pasti tidak mudah dapat diketemukan tempat rahasia ini. Lalu terdengar ia menggumam sedih.

"Adik Sia, aku menyusulmu!" -Begitu mengerahkan tenaga dengan mudah saja jarinya sendiri amblas kedalam jalan darah Tay yang hiat dipelipisnya. Demikianlah akhir riwayat hidup Tiang un Suseng, salah seorang dari Bu lim sip yu yang masih ketinggalan hidup. Sepasang kekasih yang telah tergembleng dan kenyang merasakan penderitaan pahit getir percintaan akhirnya meskipun telah memperoleh buah percintaan yang mereka angan2kan, tapi itu hanya sekejap saja bagai asap seperti khayalan belaka. Sementara itu, dengan penuh, kemarahan yang me-luap2 Suma Bing terus merangkak se-cepat2nya menggunakan kaki dan tangannya, sekuat tenaga dia bekerja mati2an mengejar waktu untuk secepatnya keluar dari lorong bawah tanah itu. Kira2nya sepeminuman teh kemudian, selarik sinar cahaya menyorot masuk kedalam lorong bawah tanah itu. Melihat mulut gua sudah diambang pintu semangat Suma Bing semakin berkobar, merangkaknya juga makin dipercepat, tak lama kemudian tibalah dia diluar lorong kecil itu. Setelah lolos dari renggutan elmaut terasa lega dan bebaslah dirinya, ia menghela napas panjang. Jiwa hidupnya ini telah diganti dengan kematian Tiang un Suseng. Setelah menghela napas lega, matanya liar menyapu kesekelilingnya. Kiranya mulut lorong kecil itu memang benar berada diluar barisan pohon bunga Bwe, letak mulut gua kecil itu tersembunyi dibalik gundukan tanah yang teralingi oleh jajaran bunga Bwe yang tumbuh sangat lebat itu. Terdengar Suma Bing mengertak gigi dan bicara seorang diri.

"Akan datang suatu hari aku pasti menyapu bersih seluruh Bwe hwa hwe!"

Pada saat itulah mendadak terlihat berpuluh bayangan orang berkelebatan mendatang.

Seketika timbul nafsu yang bergelora dalam benak Suma Bing -Bunuh!

Dia lupa bahwa dirinya baru saja lolos dari belenggu musuh, dilupakan pula bahwa tempat dia berada sekarang masih merupakan lingkungan kekuasaan Bwe hwa hwe.

"Ha, itulah dia disana!"

"Benar, segera kirim kabar!"

Ditengah suara bentakan yang riuh rendah puluhan orang2 itu serabutan berlari mendekat terus mengepung Suma Bing.

Terdengar suara suitan yang saling bersahutan semakin jauh dan jauh sekali.

Agaknya pihak Bwe hwa hwe sudah mengetahui akan lolosnya Suma Bing, maka segera memberi pertanda kepada semua anak buahnya dan pos2 penjagaan supaya waspada dan mencegat atau mengejar Suma Bing.

Rasa kebencian Suma Bing kepada musuh2nya sudah berlimpah2, saat mana sudah tidak teringat olehnya untuk tinggal pergi menyelamatkan diri, juga tidak terpikirkan bahwa kemampuannya sekarang masih bukan tandingan pihak Bwe hwa hwe.

Yang terpikirkan dalam otaknya hanya hendak melampiaskan rasa benci dan dendam, yaitu -membunuh!

Sinar matanya mencorong buas dan memandang liar meneliti para musuh2nya yang mengelilingi sekitarnya.

Serta merta para jagoan Bwe hwa hwe itu mundur ketakutan berpadu pandang dengan sinar mata Suma Bing.

Akhirnya terdengar suara bentakan Suma Bing yang menggeledek, maka terlihat ia lancarkan jurus Liu kim hoat ciok, salah satu jurus paling dahsyat dari ilmunya Kiu yang sin kang.

Dimana gelombang panas mendampar kontan terdengar suara pekikan dan jeritan saling susul, lima orang dihadapannya sungsang sumbel dan mati seketika dengan tujuh lobang panca indra meleleh darah segar.

Sisa kawan2nya yang masih ketinggalan hidup semua mundur ketakutan serasa semangat mereka sudah terbang ke-awang2.

Setelah jurus pertama dilancarkan, dimana terlihat tangannya ber-gerak2 dikerahkannya tenaganya menuju keujung jari, seketika Cincin iblis dijari tengahnya memancarkan sinar kemilau.

Melihat gelagat yang membahayakan ini, para anak buah Bwe hwa hwe itu segera putar tubuh hendak melarikan diri.

Namun kecepatan gerak sinar kemilau itu lebih cepat, dimana sinar itu menyambar dan menyapu, lantas terjadilah hujan darah dan pekik kesakitan yang menggiriskan saling susul memecahkan kesunyian.

Dua diantaranya terbang terpenggal batok kepalanya dua yang lain terputus menjadi dua sebatas pinggang, dan yang lain2 banyak yang kehilangan kaki tangan, sedang yang tidak terluka juga berdiri kesima tak bergerak, kaki dan tangan terasa lemas tak bertenaga.

"Suma Bing, kejam benar perbuatan ini!"

Disusul seruan nyaring ini terlihat sebuah bayangan langsing melesat keluar dari rimbun pohon bunga Bwe sana.

Bayangan orang yang mendatangi ini bukan lain adalah Ma Siok ceng, salah satu pelindung dari Bwe hwa hwe.

Melihat kedatangan Ma Siok ceng ini lebih tebal lagi nafsu membunuh Suma Bing bentaknya dingin.

"Ma Siok ceng, wanita jalang yang tidak tahu malu, sangat kebetulan kedatanganmu ini!"

Memang Ma Siok ceng terkenal akan kecabulannya,terhadap pemuda cakap ganteng dihadapannya ini sampai mati juga dia tidak bakal melupakannya,rasa pelampiasan nafsu yang ber-kobar2 menghilangkan rasa takutnya terhadap kepandaian orang yang lihay luarbiasa,sambil pelerak pelerok dengan genitnya ia berkata.

"Suma Bing,sepuluh li disekitar markas besar ini sudah terbentang jaring2 jebakan yang teratur rapi bagai gelagasi,seumpama kau tumbuh sayap juga jangan harap dapat terbang keluar,kalau kau tidak ingin mati,aku dapat menolong kau,tapi..."

"Tutup mulut, dengar kataku, hari ini kau pasti mati!"

Berobah membeku wajah Ma Siok ceng, dampratnya.

"Jangan kau tidak tahu kebaikan."

"Serahkan jiwamu!"

Ditengah bentakannya ini tubuhnya berkelebat mengirim serangan.

Ma Siok ceng sudah pernah merasakan kelihayan gerak tubuh Suma Bing yang hebat, maka begitu mendengar Suma Bing membentak cepat luar biasa tubuhnya melejit mundur dua tombak jauhnya, adalah sangat untung sekali dia dapat menghindari serangan gebrak pertama ini, tapi tidak urung wajahnya sudah berobah pucat ketakutan.

Begitu serangan pertama menemui kegagalan.

Suma Bing mendengus keras, serunya.

"Ma Siok ceng, dapat kau menghindari dua kali seranganku lagi, biar hari ini kuampuni jiwa kotormu itu!"

Baru saja suaranya lenyap tubuhnya sudah berkelebat lagi bagai gerakan malaikat...

'Blum!' dimana jerit kesakitan terdengar, terlihat Ma Siok ceng terhuyung delapan langkah, mulut mungilnya terpentang terus menyemburkan darah segar, tubuhnya juga limbung hampir roboh..PERTEMPURAN ADU JIWA Bu siang sin hoat dikombinasikan dengan Kiu yang sin kang, bisa dihitung dengan jari para tokoh2 silat pada jaman itu yang kuat bertahan dari serangan kilat ini.

Apalagi Suma Bing bertekad bulat hendak melenyapkan jiwa musuhnya ini untuk melampiaskan kedongkolan hatinya selama ini.

"Sambutlah jurus kedua ini."

Jeritan panjang yang mendirikan bulu roma memecah kesunyian.

Tampak tubuh Ma Siok ceng terbang tiga tombak jauhnya terus terbanting keras diatas tanah tanpa bisa bergerak lagi.

Lama dan lama kemudian baru terlihat wajahnya yang terbenam ditanah itu per-lahan2 terangkat tinggi dan kaku suaranya lemah tapi mengandung kebencian yang tak terperikan.

"Su...ma Bing. Kau... kejam benar..."

Wajah yang penuh noda darah dan kotoran tanah itu terkulai lagi menghadap tanah tak bergerak lagi, melayanglah jiwanya.

"Bocah keparat seratus kali kematianmu juga belum dapat melunasi dosamu ini!"

Menyusul bentakan ini terdengar kesiur angin dari lambaian pakaian orang.

Tak tertahankan lagi berderak keras jantung Suma Bing, dimana matanya memandang terlihat beberapa bayangan manusia berkelebatan ber-bondong2 mendatangi dari berbagai penjuru.

Yang tiba terlebih dahulu adalah Si tiau khek dan dua pemuda, kepandaian dua pemuda ini tidak dibawah Si tiau khek.

Dalam sekejap itu Suma Bing sudah terkurung dalam berlapis pagar manusia, perbawa kepungan musuh2nya ini benar2 menciutkan nyali orang.

Heng si khek ter-kekeh2 sekian lamanya, lantas berkata menyeringai.

"Bocah keparat hebat benar ya kau, dapat lolos dari penjara bawah tanah. Tapi, hehehe, tetap kau takkan dapat lolos!"

Cahaya mata Suma Bing bersinar tajam menyapu keempat penjuru, mulutnya terkancing rapat, dengan penuh kewaspadaan dia bersiaga menunggu sergapan musuhnya.

Si tiau khek dan kedua pemuda itu masing2 mengambil kedudukan dienam penjuru angin, mata mereka menatap tajam, kearah Suma Bing.

Sebenarnya mengandal gerak aneh dari Bu siang sin hoat, dengan mudah saja Suma Bing dapat meloloskan diri dari kepungan musuh2 ini.

Tapi hakikatnya dia tiada niat hendak tinggal pergi begitu saja.

Omongan ibu gurunya -Setan barat, yang disampaikan oleh bibinya Ong Fong jui, terkiang lagi dikupingnya.

"...jangan kau melemahkan nama kebesaran dan ketenaran Lam sia!"

Apalagi setelah diketahui bahwa Loh Cu gi ternyata adalah sesepuh dari Bwe hwa hwe, terhadap setiap anggota Bwe hwa hwe lantas timbullah rasa permusuhannya yang mendalam.

Pada saat ketegangan semakin memuncak dan hendak terjadi penyabungan nyawa itulah mendadak terdengar sebuah tertawa dingin yang menusuk telinga.

Suara tawa ini begitu mengerikan bagai tangisan setan ditengah malam, hembusan angin juga terasa dingin.

Walaupun disiang hari bolong tapi suasana seram masih melingkupi sanubari setiap orang.

Memang suara tawa panjang ini membuat seluruh hadirin terkejut melongo dan kesima.

Suara tawa itu semakin mendekat dan nyaring, semua orang termasuk Suma Bing sendiri merasakan darahnya mengalir semakin cepat, malah yang Lwekangnya masih cetek seketika tergetar pucat pias, tubuhnya ber-goyang2 hampir roboh.

Tiba2 suara tawa itu berhenti dan hilang lenyap, lantas terlihat diatas puncak dahan pohon bunga Bwe terpaut lima tombak sana samar2 terlihat bayangan seorang yang mengenakan pakaian serba hitam, rambutnya terurai panjang, tubuhnya ramping tinggi tinggal kulit pembungkus tulang seperti jerangkong.

"Pek kut Hujin!"

Tercetus seruan kaget dari mulut Heng si khek.

Nama Pek kut Hujin ini menambah ketakutan semua hadirin.

Pek kut Hujin adalah tokoh yang paling ditakuti pada seabad yang lampau, sudah puluhan tahun lamanya tidak pernah muncul lagi dikalangan Kangouw.

Sudah dipermaklumkan sejak dulu bahwa Pek kut ji (panji tulang putih) merupakan pertanda khas dari Pek kut Hujin.

Mengenai bentuk dan wajah sesungguhnya dari Pek kut Hujin ini, mungkin hanya beberapa gelintir tokoh2 lihay saja yang pernah melihatnya.

Sekarang tokoh menakutkan pada jaman yang lalu ternyata bisa muncul secara mendadak disini, hal ini benar2 susah dibayangkan sebelumnya.

Dalam kejutnya lantas terlintas dalam ingatan Suma Bing akan ucapan Hui kong Taysu dari Siau lim si dulu yang mengatakan bahwa Racun diracun sebetulnya adalah sealiran dengan Pek kut Hujin.

Munculnya Pek kut ji dan sepak terjang Racun diracun serta sikapnya, ditambah munculnya Pek kut Hujin pada saat itu, agaknya bukan terjadi secara kebetulan, tapi kenapa semua itu bisa terjadi?

Secepat itu bayangan Pek kut Hujin muncul secepat itu pula menghilang dari pandangan semua hadirin, bagi yang berkepandaian rendah malah menyangka bahwa pandangannya sendiri yang telah kabur.

Sebuah suara kecil lirih terkiang dikuping Suma Bing.

"Suma Bing, tidak segera pergi masih tunggu apalagi?"

Tergetar perasaan Suma Bing, suara itu sudah sangat dikenalnya.

Sekarang teringat dan terbuktikan olehnya.

Waktu di Siau lim si orang yang menyebut dirinya sebagai 'ada bayangan tiada bentuk' lantas menggebah mundur Hui kong Taysu tokoh tertinggi dari Siau lim si itu tidak terduga kiranya adalah Pek kut Hujin ini.

Kalau begitu semua sepak terjang Racun diracun pasti mempunyai latar belakang yang susah diduga.

Jadi jelas juga sudah beberapa kali Pek kut Hujin menolong dan melindungi jiwanya semua itu juga bukan secara kebetulan belaka.

Tapi, kenapakah semua itu terjadi, dia tak kuasa menjawab.

Terdengar suara itu berkata lagi.

"Suma Bing, jangan kau berlagak sebagai kesatria yang maha sakti tak terkalahkan, kelak kau menyesal pun sudah terlambat. Kalau Pedang darah sudah kau peroleh, mengapa tidak segera kau mohon Bunga iblis. Berpikirlah panjang dan menitikberatkan pada tugasmu yang mulia, jangan membawa suara hatimu sendiri. Sekarang juga kau harus pergi!"

Suma Bing tergetar dan bagai tersadar dari lamunannya, sekali berkelebat tubuhnya melesat keluar dari kepungan musuh2nya.

Per-tama2 Si tiau khek dan dua pemuda ringkas itulah yang terjaga, serempak mereka berseru.

"Cegat dia" -sambil berseru berbareng mereka memburu mengejar. Seketika suasana menjadi gempar, be-ramai2 mereka berlompatan hendak mencegat dan merintangi gerak gerik Suma Bing. Tapi Bu siang sin hoat merupakan ilmu sakti mandraguna yang menakjubkan, hanya sekejap mata saja, bayangan Suma Bing sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak. Dalam pada itu menggunakan kelihayan gerak tubuh Bu siang sin hoat Suma Bing lolos dari kepungan para musuhnya, sepanjang jalan dia kerahkan seluruh tenaganya untuk berlarian, sekejap saja sepuluh li telah dicapainya. Perbuatan Pek kut Hujin sekali ini juga membuat dia ter-heran2 dan tak habis mengerti. Pikirnya, mungkin selain suhunya Sia sin Khong Jiang atau ayah-bundanya pernah ada sedikit hubungan dengan Pek kut Hujin ini, tiada keterangan lain dapat membenarkan sepak terjang tokoh misterius itu. Jikalau mau dikatakan Racun diracun adalah murid Pek kut Hujin. Sudah berulangkali mereka guru dan murid selalu muncul pada waktu yang tepat menolong jiwanya dari renggutan elmaut, semua ini pasti ada latar belakang tertentu, mengenai latar belakang apa, hal ini susah ditebak dengan kesimpulan yang kurang matang ini. Tengah ia berlari2 kencang itulah tiba2 terdengar sebuah panggilan.

"Nak, berhenti sebentar!"

Cepat2 Suma Bing hentikan langkahnya, begitu melihat siapa yang memanggilnya, kontan ia berjingkrak girang, serunya.

"Bibi Jui, Adik Sian!"

Kedua orang yang mendatangi itu memang bukan lain adalah Ong Fong jui dan muridnya Phoa Kin sian.

"Nak kuucapkan selamat kau telah lolos dari bahaya!"

"Lho, darimana Bibi Jui bisa tahu?"

"Kudengar seorang diri kau meluruk ke Bwe hwa hwe maka jauh2 aku dan Sian ji menyusul datang!"

"O, terima kasih akan perhatian Bibi Jui!"

Sambil ber-kata2 serta merta sorot matanya menyapu pandang keperut Phoa Kin sian yang sudah mulai membesar itu, susahlah dilukiskan rasa girang hatinya, sebab tidak lama lagi dia bakal menjadi seorang ayah.

Agaknya Phoa Kin sian juga merasa akan lirikan itu, wajahnya yang semula pucat memutih itu menjadi merah jengah, matanya melerok kearah Suma Bing.

Kata Ong Fong jui penuh perhatian.

"Anak Bing, bagaimanakah pengalamanmu?"

Suma Bing hendak mengatakan bahwa tokoh dibelakang layar yang mengendalikan Bwe hwa hwe adalah musuh besarnya Loh Cu gi, tapi setelah dipikirkan lagi, adalah lebih baik hal itu dirahasiakan dulu sementara.

Hutang jiwa ini hendak ditagihnya sendiri kepada orang yang harus membayar, tidak ingin dia mendapat bantuan orang yang tidak berkepentingan secara langsung dengan tugas sucinya itu.

Karena pikirannya ini pengalamannya didalam ruangan besar dan berhadapan langsung dengan musuh besarnya tidak ia ceritakan, hanya bagaimana ia terjebak dalam barisan dan kena ditawan terus dimasukkan kedalam penjara dibawah tanah, dimana bersua dengan Tiang un Suseng dan ternyata sucinya Sim Giok sia telah bunuh diri.

Semua pengalaman suka dukanya ia ceritakan jelas dan ringkas.

Berobah wajah Ong Fong jui setelah mendengar cerita Suma Bing, katanya.

"Begitukah Poh Jiang dan Sim Giok sia mengakhiri hidupnya?"

"Bibi Jui."

Kata Suma Bing geram.

"Hutang darah ini, aku dapat menagih untuk mereka berdua!"

"Sungguh tak duga Pelajar duka nestapa (Tiang un Suseng) akhirnya benar2 duka sepanjang masa."

"Apakah kabar duka ini harus kuberitahukan kepada ibu guru?"

"Jangan, dia tidak akan kuat mendengar pukulan batin ini, memang dia adalah seorang yang pernah putus harapan dan patah hati dalam gelanggang asmara"

Suma Bing mengiakan.

"Anak Bing, apa kau sudah tahu bahwa Kin sian sudah mengandung?"

Merah jengah selebar muka Suma Bing, sikapnya kikuk sambil mengangguk kepala.

"Aku tahu!"

Betapa malu Phoa Kin sian kepalanya ditundukan semakin dalam, namun hati kecilnya girang luar biasa. Kata Ong Fong jui dengan sikap sungguh2.

"Anak Bing, menurut adat istiadat kuno mau tak mau kau harus segera menikah secara resmi dengan Kin sian?"

Sekilas Suma Bing melirik kearah Phoa Kin sian serta sahutnya.

"Benar, setelah bertemu dengan ibunda dan dendam kesumat sudah terbalas..."

"Tidak bisa begitu!"

"Menurut maksud Bibi Jui..."

"Kau harus menikah dengannya sebelum anak dalam kandungannya itu lahir."

"Tapi sekarang ini jejak ibu tidak menentu, mana bisa..."

"Anak Bing aku dan ibumu adalah saudara kandung, apa aku boleh mewakili dia?"

"Ini... sudah tentu!"

"Kalau begitu dengarlah. Yang kumaksudkan dengan menikah tidak perlu menggunakan upacara apa segala. Kaum persilatan tidak perlu mementingkan adat istiadat kuno, asal kedua belah pihak sepaham dan sehaluan sudah cukup. Sekarang aku sebagai wali upacara, langit sebagai saksi dan bumi sebagai bukti, disini dan sekarang juga kalian kuresmikan menjadi suami istri. Kau berkelana di Kangouw jejak tidak menentu, kalau sudah menikah secara resmi kelak kalau orok sudah lahir baru dapat mengikuti she dari leluhur keluarganya."

Sekian lama Suma Bing ragu2 dan bimbang, baru akhirnya menjawab.

"Terserah kepada kebijaksanaan Bibi Jui"

Ong Fong jui mengangguk kepala lalu berpaling kearah Phoa Kin sian, katanya.

"Kin sian, apa kau tidak menampik keputusan suhumu ini bukan?"

Phoa Kin sian mengangguk tanpa bersuara.

Maka Suma Bing dan Phoa Kin sian segera berlutut menyembah kepada bumi dan langit, lalu menyembah pula kepada arwah ayahbunda yang sudah dialam baka, bersumpah untuk setia dan hidup rukun sampai tua.

Setelah itu mereka menyembah juga kepada wali upacara begitulah secara resmi mereka sudah menjadi suami istri meskipun upacara pernikahan ini diadakan sederhana saja.

Maka sejak itu Phoa Kin sian sudah resmi menjadi istri Suma Bing, anak dalam kandungannya itu juga menjadi milik keluarga Suma.

Setelah memberi selamat kepada sepasang mempelai ini, Ong Fong jui berkata.

"Anak Bing, Pedang darah sudah kau peroleh, harus segera kau minta Bunga iblis, supaya dapat melatih ilmu digdaya tiada bandingannya, dengan bekal ini pasti kau dapat menuntut balas sakit hati keluarga dan perguruan!"

"Benar, Bibi Jui."

"Kau boleh segera pergi, bersama Kin sian aku masih ada urusan yang perlu diselesaikan."

Suma Bing manggut2 matanya menatap Phoa Kin sian, rasa berat dan segan berpisah, katanya.

"Adik Sian, jagalah dirimu baik2"

Phoa Kin sian tertawa malu2, matanya balas pandang Suma Bing dengan penuh kasih mesra.

Dengan penuh perhatian dan kasih sayang Ong Fong jui menatap wajah Suma Bing lalu berpaling kepada Phoa Kin sian dan berkata.

"Mari kita berangkat!"

"Engkoh Bing selamat bertemu!"

"Selamat bertemu. Bibi Jui selamat bertemu!"

"Selamat bertemu!"

Suma Bing mengantar kepergian Ong Fong jui berdua dengan penuh perasaan duka timbullah rasa kehampaan dalam benaknya.

Se-olah2 terasakan dia tengah mimpi dalam pengalaman yang aneh2, lama dan lama sekali dia masih belum kuasa menggerakkan kakinya...

Se-konyong2 sebuah suara dingin mengejek berkata dibelakangnya.

"Suma Bing, selamat berjumpa!"

Kejut Suma Bing bukan kepalang, tidak nyana orang sudah sedemikian dekat dibelakangnya masih tidak diketahuinya, tubuhnya berkelebat melenting maju setombak lantas secepat kilat membalik tubuh, waktu melihat siapa orang dihadapannya tanpa terasa merinding bulu kuduknya.

Seorang berpakaian serba putih dengan mengenakan kerudung kepala putih juga, baju didepan dadanya bergambar sebuah cundrik merah darah, kedua mata orang ini mencorong tajam mengawasi dirinya.

Orang yang mendadak muncul ini bukan lain adalah Rasul penembus dada, itu tokoh yang paling ditakuti oleh kaum persilatan.

Munculnya Rasul penembus dada ditempat ini benar2 diluar dugaan Suma Bing.

Setelah menenangkan hatinya, Suma Bing berkata dingin.

"Ada pengajaran apa?"

"Ada beberapa patah kata hendak kutanya kau, ujar Rasul penembus dada.

"Kuharap kau suka menjawab secara jujur"

"Coba katakan!"

"Apa kau benar2 murid Lam sia?"

"Apa perlu kutegaskan lagi!"

"Lalu ilmu Bu siang sin hoat itu kau pelajari darimana, itu bukan kepandaian yang kau peroleh dari Sia sin Kho Jiang?"

Jawab Suma Bing dengan angkuhnya.

"Tiada perlunya aku beritahukan kepada kau."

"Kau akan menyesal?"

"Selamanya aku tidak kenal akan arti menyesal."

"Hm, Suma Bing, kau congkak benar, tapi benar2 kuharap k a u b i c a r a t e r u s t e r a n g ."

"U n t u k a p a k a u m e n a n y a k a n h a l i t u ? "

"S u d a h t e n t u a d a m a k s u d t e r t e n t u ! "

"D a p a t k a h a k u m e n g e t a h u i m a k s u d m u i t u ? "

R a s u l p e n e m b u s d a d a m e r a n d e k s e j e n a k , l a l u b e r k a t a .

"Maksudku ingin mengetahui apakah kau ada hubungan erat dengan Bu siang sin li?"

"Kalau ada bagaimana, kalau tidak kau mau apa?"

"Ada tidaknya menyangkut nasib jiwamu!"

Berkobar amarah Suma Bing dengusnya dingin.

"Tiada seorangpun dapat menentukan nasibku."

"Persoalan itu sementara kita tunda dulu. Sekarang kau katakan, apa sangkut pautmu dengan aliran Bu siang sin li?"

Otak Suma Bing berputar cepat, teringat olehnya akan pesan Giok li Lo Ci yang wanti2 menekankan supaya dirinya tidak menguarkan keadaan Lembah kematian kepada orang luar, sudah tentu sebagai seorang laki2 ia harus menepati sumpahnya.

Apalagi tindakan dan maksud tujuan Rasul penembus dada sukar diraba, sepak terjangnya yang angkuh dan tinggi hati sangat menyebalkan, masa seorang laki2 sejati harus tunduk kepada seorang wanita.

Maka sahutnya dingin.

"Tak mungkin kujelaskan."

Rasul penembus dada menyeringas sinis, serunya.

"Suma Bing, Bu siang sin hoat takkan dapat melindungimu dari kematian!"

Diam2 berdetak hati Suma Bing.

Kepandaian Rasul penembus dada luar biasa lihay apakah dirinya dapat lolos dari tangan jahatnya benar2 susah diraba.

Akan tetapi sifat kepala batu dan keangkuhannya sudah ketularan dari kesesatan sifat2 gurunya, membuat teguh dan kokoh pendiriannya.

Dampratnya gusar.

"Rasul penembus dada, kau terlalu congkak dan memandang rendah orang lain!"

"Lantas kau mau apa?"

"Aku Suma Bing sebal dan tidak puas akan tingkahmu ini"

"Baik biar kubikin kau puas!"

"Sebenarnya apakah maksud tujuanmu?"

"Sebelum kau menjawab pertanyaanku, belum dapat maksud tujuanku kuutarakan."

Suma Bing berjingkrak gusar, semprotnya.

"Kalau aku juga menolak untuk menjawab pertanyaanmu?"

Agaknya Rasul penembus dada juga kewalahan menghadapi kebandelan Suma Bing, lama dia merenung tanpa suara lagi, namun sepasang matanya bagai tajam pedang memandang liar meneliti seluruh tubuh Suma Bing.

Mendadak Rasul penembus dada menggertak keras, serunya.

"Suma Bing, benda apa yang kau simpan dibalik bajumu itu?"

Suma Bing berjingkrak mundur, bukan kepalang kejutnya, terbayang dalam ingatannya pada waktu Pedang darah palsu Racun diracun yang direbut itu.

Memang Rasul penembus dada membekal suatu kepandaian yang menyebabkan matanya sangat jeli dan sedemikian tajam sampai dapat melihat benda dibalik persembunyian yang rapat.

Benda dibalik bajunya adalah Pedang darah asli yang baru saja diperoleh dari Racun diracun.

Justru Pedang darah ini juga benda berharga yang tengah di-kejar2 oleh lawan.

Maka dengan wajah berobah tegang dia menjawab.

"Perduli benda apa!"

Rasul penembus dada menjengek, katanya dingin.

"Suma Bing, Pedang darah benar tidak!"

"Kau tidak perlu tahu."

Sahut Suma Bing gemetar.

"Justru tuan besarmu ini ingin campur tahu."

"Kalau begitu silahkan kau campur tangan."

Memang Rasul penembus dada sudah bertekad bulat hendak merebut Pedang darah, mendengar tantangan terang2an ini, tanpa bicara lagi segera sebelah tangannya menyelonong maju mencengkram kearah baju didepan dada Suma Bing.

Cara cengkramannya bukan saja aneh dan lihay juga cepat luar biasa.

Suma Bing juga tidak berani ayal2an, begitu kembangkan Bu siang sin hoat, cepat2 ia menghindar, tapi meskipun gerakgeriknya sudah begitu cepat, terpaut serambut saja dadanya pasti sudah bolong oleh cengkraman musuh.

Saking kaget bergidik tubuh Suma Bing, keringat dingin membanjir keluar.

Baru saja ia menghindar dan belum berdiri tegak, serangan kedua Rasul penembus dada sudah menyosor tiba pula.

Lagi2 Suma Bing berkelebat menyingkir dengan susah payah.

Begitulah beruntun terjadi beberapa kali, saking payah dan tegang napas Suma Bing sampai megap2 tubuhnya basah kuyup oleh keringat sendiri.

Bahwasanya gerak Bu siang sin hoat adalah ilmu digdaya yang paling ampuh sejak jaman dulu kala.

Tapi kepandaian dan kehebatan serangan Rasul penembus dada juga bukan olah2 lihay boleh dikata tiada keduanya didunia ini.

Oleh karena itu Suma Bing harus mencurahkan seluruh perhatian dan konsentrasi untuk berkelit menghindari ancaman maut dari serangan2 musuh ini, sebab setiap gebrak setiap jurus adalah serangan2 yang mematikan.

Se-konyong2 Rasul penembus dada menghentikan serangan dan berdiri tegak serta katanya sungguh.

"Suma Bing, lebih baik kau serahkan saja Pedang darah itu."

"Tidak mungkin!"

"Suma Bing, biar aku bicara terus terang. Tugasku yang utama berkelana dikalangan Kangouw adalah mencari jejak Pedang darah itu. Boleh dikata bahwa aku harus mendapatkannya!"

"Jadi kau mendapat perintah dari Ketua Jeng siong hwe kalian?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Kalau kau mampu silahkan kau rebut, sebaliknya bila minta aku menyerahkan secara mentah2 itulah tidak mungkin!"

"Suma Bing, kalau bukan karena Bu siang sin hoat itu, sudah sejak tadi aku tidak main sungkan lagi kepadamu"

Diam2 tergerak hati Suma Bing.

Apa mungkin antara Jeng siong hwe dengan Lembah kematian ada hubungan atau ikatan.

Kalau tidak tak mungkin Rasul penembus dada bisa mengatakan demikian.

Akan tetapi hakikatnya dirinya tiada hubungan atau ikatan apa2 dengan Lembah kematian.

Adalah karena memandang muka suhunya Sia sin Kho Jiang maka Giok li Lo Ci mau menurunkan llmunya kepadanya.

Malah dia juga sudah melulusi memberikan Bunga iblis asal dirinya membekal Pedang darah.

Karena pikirannya ini, lantas dengan sikap kaku ia berkata.

"Seumpama kau tidak bermain sungkan?"

"Siang2 sudah kucabut jiwamu."

"Hm, belum tentu kau mampu?"

Rasul penembus dada membentak keras, suaranya gemetar.

"Suma Bing, jadi kau memaksa aku membunuh orang?"

Ancaman yang mengandung nafsu membunuh yang serius ini benar sangat menggiriskan. Ucapan ini malah membangkitkan kepala batu Suma Bing, timbul juga amarahnya, sambil mengertak gigi desisnya.

"Rasul penembus dada, coba tunjukkan kegaranganmu!"

"Baik, aku tidak akan pedulikan segalanya untuk mencabut jiwamu!"

"Dengar, kalau hari ini kau tidak mampu membunuh aku, adalah aku yang akan membunuh kau, silahkan kau turun tangan!"

"Adalah kau sendiri yang minta?"

"Tidak perlu banyak bacot lagi!"

Sinar terang berkelebat didepan matanya, tahu2 Rasul penembus dada sudah menggenggam sebilah cundrik yang tajam mengkilap.

Entah sudah berapa banyak jiwa kaum persilatan yang sudah melayang dibawah cundrik ini.

Tanpa terasa tubuh Suma Bing merinding sendirinya.

Namun rasa takut ini hanya selintas saja berkelebat dalam benaknya, rasa angkuhnya malah timbul dan berkobar semakin besar.

Hawa murni pelan2 dikerahkan dan dihimpun diujung jari dimana Cincin iblis lantas memancarkan cahaya terang yang menyilaukan mata sejauh dua tombak lebih.

Kata Rasul penembus dada dengan nada rendah dan berat.

"Benar2 kita harus menyabung nyawa?"

"Benar, sampai mati baru berhenti, kalau bukan kau yang mati biarlah aku yang gugur."

Suasana semakin tegang melingkupi sanubari dua lawan yang tengah berhadapan hendak menyabung nyawa. Inilah pertempuran yang menentukan mati atau hidup.

"Suma Bing, turun tanganlah!"

Bentak Rasul penembus dada suaranya parau.

"Kau adalah wanita,"

Sahut Suma Bing bersikap tenang.

"sudah seharusnya kaulah yang turun tangan dulu!"

"Keparat, jangan kau main lagak dan main takabur."

Ditengah suara bentakannya ini.

Rasul penembus dada sudah menggerakkan cundriknya secepat kilat menusuk kedada Suma Bing.

Bagai bayangan setan Suma Bing berkelebat menghilang secepat kilat, begitu menggeser kedudukan cahaya sinar Cincin iblisnya juga turut disapukan.

'Tjreng!' cahaya sinar Cincin iblis bentrok dengan cundrik Rasul penembus dada sehingga mengeluarkan suara nyaring.

Kontan Suma Bing rasakan tangannya kesemutan, serta merta tubuhnya limbung dan terhuyung dua langkah.

Ini membuktikan bahwa latihan Lwekang Rasul penembus dada masih lebih unggul dari kemampuannya.

Sekali mengayun tangan, cundrik ditangan Rasul penembus dada terbang bagai meteor menerjang kearah Suma Bing.

Ber-ulang2 sebelah tangan Suma Bing bergerak membuat lingkaran2 besar kecil, maka semakin kuatlah pancaran sinar Cincin iblis dijarinya itu, seketika timbullah berlapis gulungan bunga berkilau laksana bentuk gunung.

Sebenarnya dipangkal pegangan cundrik Rasul penembus dada ada terikat benang sutra halus dan kecil yang menggubat dipergelangan tangan Rasul penembus dada, maka itu cundrik ini bisa ditarik ulurkan sesuka si pemakai.

Sinar tajam yang dingin dari cundrik ini juga tidak kalah seram dan menyilaukan mata dari cahaya senjata lawan, dimana dua sinar cahaya saling bentrok terdengar pula suara 'Crang'.

'Creng' berulang sampai beberapa kali.

Kira2 sepeminuman teh kemudian, lambat laun tenaga murni Suma Bing semakin kewalahan menghadapi keuletan musuhnya.

Malah pisau terbang musuh semakin lincah dan ganas mengancam setiap lobang kelemahannya.

Tiba2 terdengar sebuah bentakan nyaring, disertai angin pukulan yang dahsyat, cundrik terbang Rasul penembus dada lagi2 melesat tiba pula mengarah ulu hatinya.

Bahna besar tenaga pukulan tangan Rasul penembus dada, Suma Bing kena terdesak dibawah angin, tubuhnya sempoyongan beberapa tindak, cahaya sinar Cincin iblis juga semakin guram.

Sambil perdengarkan lengking tawanya, Rasul penembus dada melejit menubruk maju.

Tidak kalah cepatnya Suma Bing bergerak menyingkir.

Dalam gebrak yang susah diikuti oleh pandangan mata ini, lagi2 cundrik terbang Rasul penembus dada sudah terbang ber-putar2, dua tombak sekelilingnya terkekang oleh angin puyuh yang membumbung tinggi keangkasa.

Tipu serangan ini boleh dikata lihay dan sangat ajaib, betapapun menakjupkan gerakan Bu siang sin hoat agaknya kali ini susah dapat lolos keluar dari kurungan angin puyuh yang bergelombang tinggi ini.

'Sret!' disusul keluhan tertahan mulut Suma Bing, tahu2 punggungnya sudah tergores luka mengeluarkan darah sepanjang setengah kaki, darah kental segera membasahi tubuhnya.

Rasul penembus dada menarik kembali serangannya, dan menegaskan.

"Suma Bing, pertanyaanku yang terakhir, apa hubunganmu dengan aliran Bu siang sin li?"

Mata Suma Bing melotot membara dan buas bagai mata binatang, bentaknya beringas.

"Apa pedulimu!"

Sambil membentak lagi2 ia kembangkan gerak Bu siang sin hoat, gerakan kelit dipertunjukkan sedemikian hebat sekuat kemampuannya, begitu cepat ia bergerak mengitari Rasul penembus dada, lalu dalam suatu kesempatan ia kerahkan seluruh kekuatannya dikedua tangannya dan beruntun lancarkan tiga kali serangan berantai, setiap serangan pukulannya mengandung kekuatan Kiu yang sin kang.

'Blang!' sambil menguak seperti orang hampir muntah kelihatan Rasul penembus dada terhuyung beberapa tindak, kedok putih dimukanya seketika berobah merah darah.

Sejak Suma Bing menarik napas panjang terus bergerak lagi menubruk kearah musuh.

Hampir dalam waktu yang sama, Rasul penembus dada juga berkelebat maju menyerang.

Gerak gerik kedua belah pihak boleh dikata hampir sama cepatnya.

Kontan terdengar dua kali pekik tertahan.

Tampak Rasul penembus dada terpental satu tombak lebih.

Sedang lengan kanan Suma Bing lagi2 tergores luka panjang, darah memancur bagai air ledeng, tubuhnya juga limbung hampir roboh.

Inilah pertempuran antara mati atau hidup yang jarang terjadi sehingga menciutkan nyali dan menyedot semangat orang.

Begitu mendapat peluang untuk mengatur napas dan jalan darahnya, segera Rasul penembus dada meng-ayun2 cundriknya dan setindak demi setindak mendesak mendekati Suma Bing.

Derap langkahnya yang berat dan tenang seumpama irama pengantar kematian yang menyeramkan dan menakutkan.

Berulangkali Suma Bing mengalami luka berat, ditambah Cincin iblisnya menguras tenaganya terlalu besar, maka keadaannya saat itu sudah bagai pelita yang sudah hampir kehabisan minyak tinggal tunggu waktu saja.

Melihat Rasul penembus dada yang setindak demi setindak semakin dekat, hati kecilnya semakin tenggelam dalam bayangan kematian.

Sekali lagi dia menghadapi kematian...

Sesaat sebelum Suma Bing ajal ditembusi cundrik musuhnya.

Tiba2 sebuah bayangan manusia melesat mendatangi dengan kecepatan seperti bintang jatuh dari arah rimba sebelah samping sana.

"Siapa kau?"

Reaksi Rasul penembus dada sangat cepat, baru saja bayangan itu berkelebat dia sudah membentak keras.

Akan tetapi bayangan itu bergerak sedemikian cepat, sampai waktu untuk orang berpikir juga tidak sempat lagi tahu2 arus gelombang puyuh sudah melingkupi seluruh tubuh Rasul penembus dada, sedemikian hebat dan besar kekuatan angin ini melanda benar2 sangat mengejutkan.

Rasul penembus dada insaf dengan tubuhnya sendiri yang sudah terluka beberapa kali takkan kuat bertahan dari serangan angin puyuh ini, secepat kilat ia berkelit menyingkir jauh.

Bertepatan dengan itu, begitu menyentuh tanah bayangan itu lantas melenting lagi dan tahu2 sudah menghilang.

Bahwasanya Rasul penembus dada adalah tokoh kosen yang jarang dicari tandingannya, tapi toh dia sendiri tidak melihat tegas apakah bayangan itu adalah seorang laki2 atau seorang wanita.

Tahu2 bayangan Suma Bing sudah menghilang dari tengah gelanggang.

Bayangan itu dapat menggondol pergi Suma Bing sedemikian gampang dari hadapan Rasul penembus dada.

Betapa tinggi kepandaian ini benar2 susah dibayangkan.

Sekali membanting kaki tubuh Rasul penembus dada melejit tinggi terus mengejar.

Sementara itu, Suma Bing hanya merasa tiba2 pandangannya kabur, dan belum ia paham apa yang telah terjadi tubuhnya sudah terangkat tinggi terus dibawa terbang, disusul jalan darahnya tertutuk hilanglah kesadarannya.

Entah sudah berselang berapa lamanya, waktu siuman ia dapatkan dirinya rebah diatas sebuah ranjang yang empuk dengan seprei yang tersulam indah, kamar ini sedemikian mewah, megah dan indah se-olah2 dirinya berada di istana raja.

Keruan kejutnya luar biasa, bergegas ia melompat bangun.

Dimana pandangannya menjelajah, hampir2 dia tidak percaya akan apa yang telah dilihatnya, ber-kali2 ia kucek2 matanya, namun pandangan dihadapannya tidak berobah.

Saking heran dan kesima mulutnya melompong dan tak tahu ia apa yang harus diperbuat.

Ditengah sana dibelakang sebuah meja yang membujur panjang duduk seorang tua yang jenggotnya sudah putih menjulai sampai diperutnya, kepalanya mengenakan mahkota kebesaran, wajahnya kereng berwibawa.

Dikiri kanan dipinggir meja panjang diatas kursi yang berlapiskan kulit harimau masing2 duduk seorang tua berjubah indah berikat kepala, tangan mereka masing2 mencekal sebuah lencana panjang terbuat dari gading gajah.

Ber-turut2 dibawahnya duduk atau berdiri tidak menentu beberapa orang tua muda puluhan orang banyaknya.

Pelan2 pandangan matanya teralihkan keatas tubuh sendiri, lagi2 bergetar hatinya.

Kiranya pakaian yang dikenakan kini sudah berganti baru dan serba mewah.

Terang ia masih ingat dirinya tergores luka dua tempat oleh cundrik Rasul penembus dada, lukanya itu sangat berat, namun pada saat itu sedikitpun ia tidak merasakan lagi kesakitan.

Apakah ini bukan mimpi atau khayalan?

Tidak.

Dia masih ingat tiba2 dirinya disamber oleh sebuah bayangan.

Di-timang2 agaknya dirinya sudah tiba disebuah istana, dan orang tua yang berduduk ditengah itu terang adalah seorang Raja.

Tapi, apakah semua ini mungkin?

Ruang istana ini cukup besar, meskipun ada puluhan orang turut hadir, tapi suasana sedemikian hening lelap bagai berada ditengah alas pegunungan.

Sinar lampu terang benderang bagai di siang hari, sekali lagi ia angkat kepala menyapu pandang orang2 dalam ruang istana itu.

32 TE PO = PERKAMPUNGAN BUMI.

Tiba2 orang tua yang duduk sebelah kanan berdiri lalu membungkuk hormat kepada orang tua ditengah sebagai raja itu dan berkata.

"Orangnya sudah siuman, apakah yang mulia hendak mengajukan pertanyaan?"

Kata2 'Yang mulia' ini membuat berdebar keras hati Suma Bing, batinnya apakah aku berhadapan langsung dengan Raja. Terdengar raja junjungan itu berkata suaranya keras lantang.

"Hu pit (nama pangkat; penasehat raja) berdua tinggal, yang lain bubar!"

"Terima perintah!"

Orang tua yang memegang lencana itu memutar tubuh sambil mengulapkan tangan.

"Sidang selesai!"

Maka orang2 yang berdiri dikedua pinggiran itu beramairamai membungkuk hormat tanpa bersuara mereka beriring keluar meninggalkan ruang istana besar itu.

Sekejap saja semua orang sudah mengundurkan diri, tinggal dua orang tua yang memegang lencana masih tetap berdiri didua pinggiran, agaknya kedua orang tua inilah Coh yu Hut pit atau Coh hu dan Yu pit (penasehat dikiri dan kanan).

Terdengar Yu pit bertanya dengan nada berat.

"Suma Bing, majulah menghadap Te kun (raja bumi)."

Nama Te kun ini lagi2 membuat hati Suma Bing berdetak.

Terhitung sebutan apakah ini.

Dengan penuh keheranan dan tak mengerti matanya menatap kedepan, kakinya tidak bergeser dari tempatnya.

Dari sinar mata orang yang tajam berkilat dapatlah diketahui bahwa mereka2 ini juga kaum persilatan, tapi keadaan dan jubah2 kebesaran...

Yu pit berseru lagi.

"Suma Bing, maju menghadap!"

Kaki Suma Bing bergeser sedikit tapi tidak maju melangkah, hatinya bimbang dan penuh tanda tanya. Segera Coh hu ikut berkata.

"Yang mulia adalah junjungan resmi dari Giok te (raja kahyangan), kau seorang rakyat jelata, berani kau menghadap tanpa berlutut". Seketika Suma Bing mengucurkan keringat dingin, kiranya mereka ini adalah malaikat dan bukan manusia biasa. Jadi sebenarnya dirinya ini masih hidup sebagai manusia atau tinggal arwah halusnya saja? Tanpa terasa lemah kedua kakinya per-lahan2 ditekuk terus berlutut, mulutnya berkemik lirih.

"Menghadap..."

Menghadap apa dia tidak kuasa meneruskan, entah dia harus menyebut apa kepada raja junjungan dihadapannya ini. Te kun (raja bumi) angkat sebuah tangan serta berseru.

"Silahkan duduk!"

Coh hu segera melangkah maju menarik Suma Bing sambil menunjuk sebuah tempat dibawah sebelah kiri.

Hati Suma Bing kosong hampa dan tidak tentram, meski tempat duduknya itu empuk tapi dalam perasaannya dia tengah duduk diatas permadani yang penuh bertaburkan jarum.

"Suma Bing, laporkan keterangan leluhurmu!"

"Ayah almarhum Suma Hong..."

"Sudah cukup, dari perguruan mana?"

Sejenak Suma Bing melengak, lalu sahutnya.

"Murid dari perguruan Sia sin Kho Jiang!"

"Apakah kau pernah berguru pada perguruan lain?"

"Tidak!"

"Lalu kepandaian Bu siang sin kang itu kau pelajari dari siapa?"

Menyinggung Bu siang sin hoat, timbul kecurigaan dalam benak Suma Bing, dia berani pastikan bahwa orang2 dihadapannya ini juga dari kaum persilatan, dan bukan malaikat apa segala.

Tentang mengapa menyamar malaikat dan memboyong dirinya ketempat itu sampai saat itu dia, masih tak mengerti dan tak dapat membayangkan sebab musababnya.

"Memang Bu siang sin hoat bukan kupelajari dari mendiang guruku, kupelajari dari seorang Cianpwe..."

"Siapa?"

"Aku yang rendah pernah bersumpah untuk tidak menyebut2 namanya dihadapan orang lain"

Mendadak dia merobah sebutan dirinya dengan aku yang rendah sehingga Te kun serta Coh hu dan Yu pit berobah air mukanya.

"Apakah Bu siang sin li?"

"Maaf aku tidak berani menjawab!"

Air muka Te kun sedikit berobah, matanya melirik kekanan kiri dan berkata kepada dua orang penasehatnya.

"Urusan selanjutnya biar kalian selesaikan sendiri!"

"Terima perintah!"

Bergegas Raja bumi bangkit terus menghilang dibalik pintu angin sebelah samping.

Setelah membungkuk tubuh mengantar Rajanya mengundurkan diri.

Coh hu dan Yu pit duduk kembali ditempat duduk masing2.

Sekian lama mereka meng-amat2i Suma Bing, lalu Coh hu berkata.

"Suma Bing, apa kau tahu mengapa kau diundang masuk kedalam istana?"

"Aku yang rendah tidak mengerti?"

"Kau berjodoh dengan Kiongcu, maka kau diundang masuk istana diangkat sebagai Hu ma (menantu raja)!"

Diam2 Suma Bing memaki omong kosong dan ngaco belo belaka.

Sudah terang aku digondol kemari secara paksa, indah benar kalian menggunakan istilah mengundang menghadap raja.

Karena batinnya ini segera ia menyahut dingin.

"Untuk hal ini aku tidak mau terima!"

"Kau salah!"

"Dimana letak kesalahan aku yang rendah?"

"Ini merupakan perintah dari Raja bumi!"

"Tapi aku bukan punggawa dari Raja bumi kalian, maka tidak perlu aku harus tunduk akan perintahnya."

"Jodoh telah mengikat dan sudah terdaftar diatas batu kelahiran. Kau tidak boleh menolak atau membangkang lagi!"

"Urusan perjodohan bukan main2, mana bisa menggunakan paksaan?"

"Hahahahaha, Suma Bing, marilah kau ikut aku!"

Dengan penuh keheranan Suma Bing mengintil dibelakang Coh hu, mereka memutar kesamping pintu terus memasuki sebuah ruang lain yang lebih kecil.

Dengan tangan kiri Coh hu menunjuk sebuah bola kaca yang terporot melesak kedalam dinding, katanya.

"Kau lihatlah sendiri!"

Dengan hati kebat-kebit Suma Bing maju mendekati bola kaca itu, begitu matanya mendekat dan melihat pemandangan didalamnya, seketika ia menjerit keras tubuhnya terhuyung hampir roboh.

Kiranya pemandangan dalam bola kaca itu menunjukkan sebuah hutan dimana tempat dia berkelahi melawan Rasul penembus dada, diatas tanah rebah sesosok mayat yang berlepotan darah susah dikenali dan tidak perlu disangsikan bahwa mayat itu adalah dirinya sendiri.

Jengek Coh hu dingin.

"Sudah jelas belum?"

Otak Suma Bing serasa buntu pepat bekerja, semangatnya lesu, sahutnya lirih.

"Apa benar aku sudah mati."

"Benar, kau sudah mati!"

"Jadi aku ini adalah arwah halus, bukan manusia lagi?"

"Ditempat perjodohan yang sembabat ini, kau sekarang adalah malaikat!"

Begitulah mereka berdua kembali lagi keruang besar tadi, Suma Bing terlena duduk ditempat asalnya, kenyataan menumbangkan keraguan hatinya bahwa orang2 yang dia hadapi ini ternyata adalah malaikat dan bukan manusia.

Tapi cara bagaimanakah kematian dirinya?

Kecurigaan hatinya masih belum lenyap.

Tapi kenyataan membuktikan mau tak mau dia harus mengakui bahwa dirinya memang benar2 sudah mati, malah mayatnya terlantar dalam rimba tanpa liang kubur yang layak.

Terpikir olehnya dendam kesumat dan sakit hatinya semasa masih hidup, tanpa terasa dia mengeluh dan berteriak panjang.

"Aku tidak boleh mati, aku tidak rela mati."

Yu pit menjengek dengan suara dingin.

"Tapi sekarang kau sudah mati!"

"Aku... tidak boleh mati!"

"Apa ada angan2mu yang belum terlaksana?"

"Dendam perguruan, sakit hati orang tua, budi para sahabat aku harus menyelesaikan semua itu satu persatu."

"Tentang itu gampang dilaksanakan!"

"Benar, setelah melangsungkan pernikahanmu dengan Kiongcu, sudah secara resmi kau sebagai Huma, keluar masuk istana terserah sesuka hatimu tiada orang yang berani melarang. Sampai pada saat itu, bolehlah kau melegakan hatimu untuk menuntut segala sakit hati dan dendam sesuka hatimu."

"Apakah omonganmu benar?"

Tanya Suma Bing gemetar.

"Sudah tentu benar!"

"Tapi..."

"Tapi apa?"

Mendadak teringat olehnya akan Phoa Kin sian istrinya yang sudah mengandung itu, hati terasa seperti di-iris2 dengan pisau hampir2 saja airmata meleleh keluar.

Sungguh tak kira belum lama mereka berpisah, ternyata harus bercabang jalan untuk tidak akan bertemu lagi se-lama2nya.

Tidak ketinggalan terbayang juga wajah Siang Siau hun gadis rupawan yang mati2an mencintai dirinya, Ting Hoan gadis simpatik yang juga telah terang2an menyatakan isi hatinya kepadanya, semua ini kini sudah menjadi bayangan belaka dan akan menjadi kenangan sepanjang masa.

Seumpama dia melulusi untuk menjadi Hu ma, atau calon menantu raja, apakah tindakannya ini tidak terlalu kejam terhadap istrinya Phoa Kin sian yang merana itu?

Karena pikirannya ini tercetus seruan dari mulutnya.

"Tidak, aku tidak seharusnya begitu."

Alis Coh hu berkerut dalam, tanyanya.

"Apanya yang tak boleh?"

"Aku tidak boleh menyia2kan cinta..."

"Suma Bing, jalan terang dan gelap harus dapat kau bedakan, malaikat dengan rakyat jelata mana boleh bercampur baur, jangan kau menyiksa dirimu sendiri, perjodohanmu ini sudah merupakan takdir ilahi, kau tidak boleh menolak, kalau tidak... kau akan mendapat hukuman Tuhan."

Suma Bing menjadi nekad, sahutnya.

"Aku yang rendah rela mendapat hukuman itu."

"Keputusan tidak terletak ditanganmu"

Segera Yu pit mengetok meja dengan sebuah mistar dan bertembang lantang.

"Harap Te kun segera membuka sidang!"

Disusul lonceng dibelakang istana sana berdentang ramai, orang2 yang tadi mengundurkan diri kini be-ramai2 memasuki pula ruangan istana itu secara teratur dan rapi.

Otak Suma Bing terasa pepat, hatinya kosong matanya mendelong mengawasi segala perobahan dihadapannya, ingatan yang selalu mengganjel dalam benaknya adalah 'Aku sudah mati!' bayangan ini bagai gigitan seekor ular yang selalu menggerogoti sanubarinya.

Betapapun dia tak rela mati begitu saja.

Akan tetapi, kenyataan dia sudah mati.

Gambaran yang terlihat dalam bola kaca itu merupakan kenyataan.

Begitu Te kun menempati tempat duduknya, be-ramai2 para hadirin memberi hormat.

Coh hu tampil kedepan dan angkat bicara.

"Dipersilahkan junjungan yang mulia memberikan restu dalam pernikahan ini."

"Silahkan Kiongcu menghadap!"

Diluar pintu ruangan sana terdengar seruan yang sama.

"Silakan Kiongcu menghadap!"

Dalam sekejap tampak serombongan dayang2 istana membimbing seorang putri yang berpakaian mewah dan mengenakan banyak perhiasan berderap memasuki istana.

"Menghadap Baginda raja."

"Duduklah disebelah!"

"Ayah baginda memanggil anak, entah ada keperluan apakah?"

"Untuk menyelesaikan perjodohanmu yang sudah tersurat oleh takdir."

Serta merta Suma Bing melirik kearah Kiongcu, tergerak hatinya.

Kiongcu ini sedemikian cantik rupawan bak bidadari.

Kebetulan sinar mata sang Kiongcu juga tengah melerok kearahnya, begitu sinar mata mereka bentrok, kontan merah jengah wajah mereka.

Tapi Kiongcu malah unjuk senyumnya yang menggiurkan.

Cepat2 Suma Bing tundukan kepala, hatinya berdetak keras, darah terasa mengalir deras tanpa terkendali.

"Apapun juga yang bakal terjadi, aku tidak akan menyia2kan cinta Phoa Kin sian kepadaku."

Demikian dalam hati ia berdoa dan ambil ketetapan. Wajah tua Raja bumi kelihatan berseri girang suaranya lantang.

"Segera perintahkan upacara pernikahan segera dimulai."

Begitu perintah ini disampaikan, suasana menjadi ramai musik mulai mengalun merdu.

Dua orang protokol yang mengenakan jubah panjang warna merah segera tampil kedepan dan berdiri dikanan kiri.

Ingin rasanya Suma Bing menolak, tapi dalam keadaan yang penuh kewibawaan ini tak kuasa dia mengeluarkan kata2, sebab sekarang dia bukan lagi manusia yang masih hidup, ingatan atau pikiran ini selalu merangsang dan mengganggu ketenangannya.

Dengan kesima mematung dia menurut saja dituntun berdiri jajar dengan Kiongcu, lalu berlutut menghadap raja dan sembahyang janji setia kepada langit dan bumi.

Setelah semua upacara selesai lalu mereka diantar masuk kamar penganten.

Cara mengatur dan hiasan kamar penganten ini juga sedemikian mewah dan anehnya tidak menyerupai cara2 dan adat2 kebiasaan dari manusia jelata umumnya.

Menghadapi istri yang cantik rupawan ini pikiran Suma Bing malah semakin kabur dan me-layang2.

"Siangkong!"

Dengan malu2 Kiongcu memanggilnya. Bergetar sanubari Suma Bing, sahutnya.

"Kiongcu..."

"Siangkong, aku bernama Pit Yau ang!"

"O!"

"Biarlah aku panggil kau engkoh Bing, kau panggil aku adik Ang saja."

Suaranya sedemikian halus merdu, apalagi dalam suasana malam penganten yang mempesonakan ini lebih menambah kemesraan ikatan batin mereka.

"Adik Ang!"

"Engkoh Bing!"

Mereka tersenjum berpandangan, lalu berpelukan dan berciuman.

Lama kelamaan yang terdengar hanyalah suara tawa halus kegelian dan helaan napas yang memburu, alam sekelilingnya menjadi sunyi senyap.

Entah sudah berselang berapa lamanya.

Pelan2 Suma Bing mulai siuman, pelan2 dia bangkit dari tempat tidur, sekilas dipandangnya Pit Yau ang yang masih tidur nyenyak dialam mimpinya, dengan penuh kasih sayang diciumnya keningnya.

Sambil mengenakan pakaiannya dia turun dari tempat tidur dan duduk diatas sebuah kursi, mulailah dia mengenangkan segala apa yang telah dialaminya...

Per-tama2 yang masuk dalam ingatannya, ialah sesaat sebelum dirinya terhujam oleh cundrik Rasul penembus dada, terang dirinya ditolong dan dibawa lari oleh seseorang, malah dia juga merasakan jalan darahnya linu kesemutan, lantas dia lupa se-gala2nya, bagaimana dirinya bisa mati?"

Sebenarnya istana apakah ini dan dimana letaknya?

Te kun atau raja bumi itu mengapa menanyakan riwayat dan leluhur serta perguruannya, terutama malah menekankan dalam bertanya tentang Bu siang sin hoat?

Kalau dirinya benar2 sudah mati, mengapa dirinya tidak merasakan adanya hal2 yang janggal sebagai setan atau malaikat, semua2 ini dirasakan wajar dalam kenyataan sebagai badan kasar manusia umumnya, dan yang terpenting...

berpikir sampai disini matanya melirik kearah ranjang gading dengan kelambu sutranya yang tersulam indah masih menjulai panjang.

"Janggal!"

Tiba2 tercetus pekik keras dari mulutnya.

"Engkoh Bing, apanya yang janggal?"

"Aku adalah manusia, aku belum mati!"

Sambil mengenakan pakaiannya pelan2 Pit Yau ang turun dari atas ranjang, Suma Bing tidak berani beradu pandang dengan sinar mata bening tajam bak bintang kejora, cepat2 ia tundukan kepala.

"Engkoh Bing!"

Terpaksa Suma Bing angkat kepalanya, suaranya gemetar.

"Kita sudah menjadi suami istri?"

Pit Yau ang tertawa menggiurkan, ujarnya.

"Siapa bilang bukan?"

"Tapi..."

"Tapi bagaimana?"

"Aku tidak percaya dan meragukan apa yang tengah kualami ini!"

"Tapi kenyataan sudah kau alami!"

"Aku merasa bahwa aku masih belum mati?"

Pit Yau ang tertawa penuh arti, katanya.

"Mengapa kau pikirkan hal2 yang tidak genah itu?"

Berobah serius wajah Suma Bing, katanya.

"Bagaimana kau bisa mengatakan hal ini urusan tidak genah?"

"Kita sudah menjadi suami istri, kita sudah bersumpah untuk seia sekata dan hidup rukun sampai tua, apakah ini belum cukup."

Berobah hebat air muka Suma Bing, bergegas dia bangkit dari tempat duduknya, serunya berjingkrak gusar.

"Sebetulnya tempat apakah ini?"

Sekilas berobah juga air muka Pit Yau ang, tapi pada lain saat berobah pula dengan senyuman yang menggiurkan, katanya lemah lembut.

"Engkoh Bing, duduklah kita bicarakan hal ini pelan2, mengapa mesti marah2?"

Tapi darah Suma Bing malah terasa mengalir semakin cepat, wajahnya merah padam bentaknya murka.

"Sebetulnya dimanakah sekarang aku berada?"

Sahut Pit Yau ang dengan suara lirih lembut.

"Perkampungan bumi, salah satu tempat kramat bertuah dari dunia persilatan."

"Perkampungan bumi!"

Teriak Suma Bing gemetar, tubuhnya terhuyung menggigil.

Mimpi juga tidak menyangka bahwa dirinya bakal terjatuh kedalam cengkraman Te po, salah satu dari tiga tempat keramat yang paling ditakuti dalam dunia persilatan.

Pura2 menjadi malaikat menyamar setan untuk memincut dan menipu dirinya supaya menikah dengan Pit Yau ang.

Suatu perasaan kena tipu membuat darahnya mendidih, gusarnya bukan alang kepalang.

'Plok!' sebelah pipi Pit Yau ang yang putih halus itu seketika berpeta merah bekas lima jari yang jelas sekali, air darah kontan meleleh keluar dari ujung bibirnya.

Dalam murkanya tamparan Suma Bing ini ternyata bukan olah2 kerasnya.

Air muka Pit Yau ang berobah pucat dan merah bergantian, tubuhnya yang semampai itu menggigil terhuyung, bentaknya bengis.

"Suma Bing, kau berani turun tangan memukul orang?"

Suma Bing menggigit bibir, teriaknya.

"Kuhajar wanita tidak tahu malu seperti kau ini, mau apa?"

Malu dan gusar merangsang gejolak hati Pit Yau ang, matanya merah hampir menangis, bergegas dia bangkit dari tempat duduknya, serunya gemetar.

"Dimana aku tidak tahu malu?"

"Menipu aku untuk menikah dengan kau!"

"Aku menikah menurut kehendak orang tua, bagaimana dikatakan menipu?"

"Pura2 menjadi malaikat menyamar setan, dengan obrolan membujuk dan setengah ancaman bukankah ini menipu?"

"Kau dengarlah dulu penjelasanku..."

"Tidak perlu penjelasan."

Pekik Suma Bing sambil ulapkan tangan. Berobah membesi wajah Pit Yau ang, timbul nafsu membunuh pada air mukanya, suaranya gemetar dingin.

"Kau tidak mau dengar penjelasanku?"

"Tidak perlu!"

"Lalu kau hendak apa?"

"Kubunuh kau!"

"Apa kau mampu melakukan?"

"Mari kucoba."

"Kiongcu, ada terjadi apakah didalam?"

Para dayang yang menjaga diluar kamar menjadi gugup dan bertanya gelisah.

"Tidak ada urusan kalian, kamu pergi semua."

"Baik."

Air mata Pit Yau ang akhirnya meleleh juga membasahi pipi, ujarnya penuh haru dan sesenggukan.

"Suma Bing, seumpama menipu kau, juga tidak mengandung maksud jahat, mana boleh kau tidak membedakan antara kebaikan dan kejahatan?"

"Masa tindakan kalian ini bermaksud baik?"

"Boleh dikata demikian."

"Cis."

Suma Bing berludah.

"Suma Bing, kau pandang aku Pit Yau ang sebagai orang apa?"

"Perempuan tidak tahu malu!"

"Berani kau katakan sekali lagi?"

"Tidak tahu..."

Belum kata2 'malu' keluar dari mulutnya, Pit Yau ang sudah mencengkram jalan darah pergelangan tangan Suma Bing, cara geraknya yang cepat dan aneh benar2 sangat menakjupkan, sedikitpun Suma Bing tidak sempat berkelit.

"Suma Bing, berani kau menghina aku?"

"Menghina kau mau apa, perbuatan ini sangat rendah dan hina, sungguh tidak kira nama Te po yang dikumandangkan ternyata..."

"Tutup mulut, Suma Bing, kalau aku tidak segera turun tangan, siang2 kau sudah mati konyol dibawah cundrik Rasul penembus dada!"

Tertegun Suma Bing mendengar kata2 orang, ternyata bayangan misterius itu adalah dia (Pit Yau ang), dengan mudah dan seenaknya saja dia dapat menggondol pergi seseorang, betapa tinggi kepandaian dan Lwekangnya ini benar susah dibayangkan.

Tapi begitu teringat akan maksud dari latar belakang semua itu, tanpa terasa ia mendengus dingin.

"Maksudnya semula memang sudah hina dina, aku Suma Bing tidak terima budimu ini."

Pit Yau ang kertak gigi, katanya.

"Suma Bing, keterlaluan kau menghina aku!"

"Hm."

Sebelah tangan Pit Yau ang dibalik menekan jalan darah Thian leng hiat di-embun2 kepalanya, ancamnya serius.

"Baik biar kulenyapkan kau."

Tanpa kuasa bergidik badan Suma Bing, namun dasar sifatnya angkuh dan keras kepala kematian tidak akan melumerkan sifat pembawaannya ini, serunya penuh kebencian.

"Boleh silahkan kau turun tangan"

Airmata mengalir semakin deras, Pit Yau ang kewalahan tangan dilepaskan katanya sedih memilukan.

"Engkoh Bing, mengapa kau berbuat demikian, terhadap aku?"

"Lalu kau mau apa?"

"Jelek2 kita sudah menjadi suami istri!"

"Aku tidak mengakui!"

"Apa, kau... kau tidak mengakui?"

"Semua ini adalah tipuan belaka!"

"Suma Bing, badanku yang suci bersih ini sudah kupersembahkan kepadamu, ternyata kau..."

Berkata sampai disini, tangisnya semakin keras.

Tanpa terasa Suma Bing melirik keatas ranjang, benar juga terlihat noktah2 darah berlepotan diatas seprei, badannya gemetar seperti ayam kedinginan, memang betul badan Pit Yau ang yang masih perawan suci sudah diserahkan untuk dirinya, malah samar2 masih teringat dalam otaknya upacara pernikahan itu.

Kecantikan Pit Yau ang bak bidadari, lain dari yang lain, kepandaian silatnya juga luar biasa, malah putri dari majikan Te po yang kenamaan itu, mengapa tidak memperdulikan nama dan gengsi sendiri, melakukan tindakan2 yang memalukan ini?

Kalau perkampungan bumi hendak mencari menantu, bisa secara terang2an dan bebas memilih diantara sekian banyak manusia umumnya, mengapa pura2 menjadi malaikat menyamar setan untuk menipu dan menakuti orang?

Terutama gambaran yang terlihat dalam bola kaca bundar itu susah dimengerti, apakah itu ilmu sihir?

Waktu teringat akan istrinya Phoa Kin sian yang sudah mengandung, terasa pilu dan seperti di-sayat2 hatinya, kelak bagaimana dirinya harus berhadapan dengan bibinya Ong Fong jui, bagaimana pula dia memberikan pertanggungan jawabnya kepada istri tercinta?

Karena pikirannya ini giginya gemertak, tanyanya.

"Pit Yau ang, kalian ayah beranak sebenarnya mengandung maksud apa?"

Pada saat itulah tiba2 diluar pintu terdengar seruan seorang dayang berkata.

"Ada perintah dari Te kun, diminta Kiongcu dan Hu ma segera menghadap beliau diistana belakang!"

"Baik, sudah tahu!"

Segera sahut Pit Yau ang. Suma Bing mendengus keras, serunya.

"Kebetulan hendak kutanyakan kepada ayahmu, apakah maksudnya semua perbuatan ini..."

Berobah pucat wajah Pit Yau ang, suaranya ketakutan.

"Jangan!"

"Mengapa jangan?"

"Kalau kau berlaku kurang ajar terhadap ayah, adalah kau cari mati sendiri!"

Lebih memuncak kemurkaan Suma Bing, matanya mendelik bagai kelereng.

"Aku Suma Bing sudah terjatuh dalam cengkraman kalian ayah beranak, aku tidak peduli akan mati hidup."

"Kau... jangan!"

Suma Bing mendengus ejek.

"Aku mohon kepadamu!"

"Kau Pit Yau ang memohon kepadaku? Sungguh menggelikan kau salah menilai aku, Suma Bing ini bukan budak hina dina yang lemah tulang..."

"Engkoh Bing, sedikitpun tiada rasa cinta kasihmu terhadap pernikahan kita."

Tergerak sanubari Suma Bing wajahnya membeku, tanyanya.

"Apakah maksudmu ini?"

"Engkoh Bing, sehari menjadi suami istri akan terkenang sepanjang masa, meski kau buang aku bagai barang rongsokan yang tidak berguna lagi, tapi masa aku tega melihat kau..."

"Beberapa kata ini enak didengar dan dapat meluluhkan hati. Tapi sayang aku Suma Bing bukan manusia lemah semacam itu."

"Engkoh Bing, kuminta kepadamu bila berhadapan dengan ayah, haraplah kau berlaku sabar!"

Sejenak ia merandek, lalu katanya lagi sambil menggigit bibir.

"Tidak peduli syarat apapun yang kau ajukan, biar aku lulusi semua."

Sikap Suma Bing tetap dingin membeku.

"Ucapanmu dapat dipercaya?"

"Sudah tentu!"

"Baik, kululusi permintaanmu!"

"Mari ganti pakaian segera kita keistana belakang."

Istana belakang juga tidak kalah besar dan megahnya, suasana disini lebih hening lelap, sinar lampu memancarkan cahayanya yang redup.

Terlihat Raja bumi mengenakan pakaian preman tengah duduk penuh wibawa diatas kursi kebesaran.

Suma Bing mengiringi Pit Yau ang memasuki ruang istana, begitu dekat segera Pit Yau ang mendahului berlutut dan bersembah.

"Anak menghadap ayah baginda!"

Sebaliknya Suma Bing berdiri mematung tanpa bergerak, diam2 Pit Yau ang menarik ujung celananya, sinar matanya memancarkan permohonan yang harus dikasihani.

Bentrok dengan sorot mata ini luluh dan lemah hati Suma Bing, terpaksa dia berlutut juga.

Sedikit mengerut kening Raja bumi angkat sebelah tangan seraya berkata.

"Bangun, duduk dipinggiran!"

"Terima kasih ayah!"

Berdua mereka duduk diatas kursi yang terletak disebelah samping.

Sorot mata Suma Bing menatap lurus kedepan, air mukanya yang dingin membeku membuat gentar dan takut orang yang melihatnya.

Terdengar Raja bumi membuka kata dengan nada kalem dan berat.

"Menantuku yang bagus, menurut undang2 tradisi dari kakek moyang kita, dari sejak sekarang juga, kau sudah merupakan ahli waris dari perkampungan bumi kita ini."

Keruan bergetar perasaan Suma Bing, cara bagaimanakah penjelasannya ini.

Bagaimana mungkin dirinya menjadi ahli waris dari perkampungan bumi ini, malah menurut undang2 tradisi kakek moyang mereka lagi.

Ini benar2 kejadian yang aneh bin ajaib dikolong langit.

Maka segera sahutnya dingin.

"Ini, sukar aku dapat menerima!"

Berobah pucat air muka Pit Yau ang, diam2 ia me-narik2 lengan baju Suma Bing. Wajah Raja bumi berobah membesi dan gusar.

"Ini merupakan undang2 besi selamanya tidak dapat diganggu gugat!"

Dasar sifat Suma Bing memang angkuh dan keras kepala, terlupakan sudah akan janjinya kepada Pit Yau ang, bantahnya.

"Mengenai urusan besar begini harus tergantung kepada orang yang berkepentingan rela menerima atau tidak, mana bisa main paksa apa segala?"

Wajah Te kun berobah lagi lebih seram tak enak dipandang, kedua matanya memancarkan sinar hijau yang menakutkan, geramnya.

"Keputusan tidak terletak pada dirimu?"

"Aku yang rendah..."

"Apa, terhadap aku kau sebut aku yang rendah?"

Bentak sang raja. Tubuh Pit Yau ang gemetar semakin keras, wajahnya pucat pasi, ber-ulang2 matanya ber-kedip2 memberi isyarat tapi sedikitpun Suma Bing tidak hiraukan se-akan2 tidak melihat.

"Dengan kedudukan Te kun dan nama kebesarannya, semestinya tidak seharusnya berbuat..."

"Bedebah, tutup mulutmu. Berani kau membangkang perintah raja."

"Aku yang rendah seorang yang telah mempunyai istri!"

"Apa? Kau sudah mempunyai istri?"

Badan Pit Yau ang gemetar semakin keras, dengan lengan baju ia tutup mukanya.

"Benar!"

Seru Suma Bing dengan tidak kalah gusarnya.

"Sebelum ini kenapa tidak kau jelaskan?"

"Adalah kalian yang memaksa dan mengatur keadaan ini, sehingga aku yang rendah tiada kesempatan untuk membela diri!"

Agaknya Te kun sendiri juga merasa tegang dan murka luar biasa, wajahnya berkerut2 menahan perasaan hatinya.

'Pak, Plok' dua kali tangannya bertepuk, segera muncul dua laki2 yang mengenakan pakaian Busu sambil menghadap dengan hormatnya diambang pintu.

"Panggil menghadap Komisaris luar!"

"Terima perintah!"

Kedua busu itu membungkuk tubuh terus mengundurkan diri.

Suma Bing tetap duduk ditempatnya dengan sikap dingin kaku, dengan tenang ia nantikan perkembangan selanjutnya.

Tidak lama kemudian, seorang tua yang bertubuh tinggi tegap dan bersikap garang bergegas memasuki ruang istana, segera kedua lutut ditekuk sambil sembahnya.

"Komisaris luar Teng Tiong cwan menghadap Baginda raja!"

"Bangun dan jawab pertanyaan!"

"Terima kasih baginda!"

"Siapa orang yang bertugas menyelidiki asal usul ahli waris kali ini?"

"Sim tongcu dan Bu tongcu dua tongcu bawahan hamba langsung bertugas dikalangan Kangouw!"

Terdengar Te kun mendengus gusar, serunya.

"Bawa Sim dan Bu Tongcu keluar penggal kepalanya!"

Tanpa terasa berdetak keras jantung Suma Bing. Saking kaget komisaris luar Teng Tiong cwan mundur selangkah, tubuhnya membungkuk sambil memberi hormat, ujarnya.

"Harap baginda suka memberi ampun, ketahuilah bahwa kedua Tongcu ini sudah pernah mendapat empat kali pahala utama!"

"Penggal kepalanya!"

"Hamba memberanikan diri bertanya, apakah kesalahan mereka?"

"Bekerja secara ceroboh, merusak gengsi dan nama kebesaran Te po!"

"Harap diberikan data2 yang jelas?" -oo0dw0oo-

Jilid 9 33. DARAH PUSAKA NAGA BUMI.

"Hu ma Suma Bing ternyata sudah mempunyai istri. Ini menandakan bahwa cara bekerja kedua Tongcu itu teledor dan kurang teliti!"

"Sebelumnya terima kasih akan budi luhur dan kebajikan hati baginda. Harap suka diizinkan kedua Tongcu itu memberikan keterangan untuk membela diri, kalau memang kenyataan mereka bersalah barulah hukuman dijalankan!"

"Baik, kululusi permohonanmu!"

"Terima kasih!"

Komisaris luar Teng Tiong cwan ter-sipu2 mengundurkan diri, kepala dan badannya basah kuyup oleh keringat.

Tidak lama kemudian, dia kembali lagi membawa dua orang laki2 pertengahan umur terus berlutut dan menyembah dilantai.

Suara Te kun terdengar berat lantang.

"Silahkan Sim tong Tongcu membela diri!"

Terdengar salah satu dari dua laki2 pertengahan umur itu mengiakan dan berkata gemetar.

"Sim tong Tongcu Song Lip hong memberi keterangan sebagai berikut. Hamba terima perintah khusus untuk menyelidikl Suma Bing Hu ma yang sudah ditunjuk. Menurut apa yang telah hamba selidiki. Sebelum ini Hu ma memang benar2 belum menikah. Dia mempunyai tiga kawan wanita yaitu. Siang Siau hun, Ting Hoan dan Phoa Kin sian. Diantaranya seluk-beluk Phoa Kin sian ini paling mencurigakan, dia pernah berhubungan lebih mendalam dengan Huma, tapi belum diadakan ikatan jodoh!"

"Tap i Hu ma s end i r i me ny a ng k a l k e t e r ang a nmu i ni ? "

"Ha r ap b ag i n d a r a j a s uk a meme r i k s a s e c a r a j e l a s ! "

Me no nt o n s amb i l me nd e ng a r k an h a t i Suma Bi ng s ema k i n kebat kebit, ternyata sedemikian jelas mereka2 ini mengetahui tentang segala seluk beluknya dikalangan Kangouw, kalau dirinya masih tetap mengukuhi pendapatnya yang terdahulu, maka kedua Tongcu ini pasti akan dipenggal kepalanya dan mati secara konyol.

Meskipun sifatnya angkuh dingin, namun hakikatnya wataknya welas asih dan jujur, mana tega dia melihat kedua orang ini dihukum mati karena dirinya, maka segera ia campur bicara.

"Aku yang rendah berani menjadi saksi bahwa apa yang diucapkan oleh Tuan ini memang benar adanya."

Sebutan diri dengan istilah 'aku yang rendah' ini, bagi pendengaran kuping Teng Tiong cwan dan lain2 sangat menusuk telinga, sebagai Hu ma atau menantu raja mengapa sedemikian merendahkan derajat.

Te kun tambah gusar, semprotnya.

"Suma Bing, mengapa kau begini plin plan menjilat ludahmu sendiri?"

Suma Bing tertawa ejek, sahutnya.

"Upacara pernikahan kami terjadi sejam sebelum aku tertawan oleh kalian kemari?"

"Apa betul demikian?"

"Kenyataan memang begitu!"

Rona wajah Te kun be-robah2 tak menentu, tangannya diangkat serta berseru.

"Kalau begitu, hal ini bukan menjadi kesalahan kalian berdua, kalian boleh mengundurkan diri."

Komisaris luar bersama kedua Tongcu itu berlutut ber-ulang2 sambil menyatakan rasa terima kasih se-besar2nya akan kebajikan dan keadilan sang raja.

Segera mereka mengundurkan diri.

Sebelum pergi entah sengaja atau tidak sinar mata Sim tong Tongcu Song Lip hong melirik kearah Suma Bing cahaya matanya menyatakan syukur dan terima kasih yang tak terhingga.

Sekian lama Te kun terpekur dan berpikir, air mukanya berobah sungguh2, serunya dengan suara rendah dan kuat.

"Kalau kenyataan sudah terjadi, tidak bisa diganggu gugat..."

Dengan penuh perasaan, segera Suma Bing menukas.

"Aku yang rendah tidak sudi menjadi manusia yang tidak mengenal budi. Phoa Kin sian dengan cayhe sudah mengikat jodoh terlebih dahulu!"

"Tentu Lohu akan mengambil keputusan yang sempurna untuk kebaikan kedua belah pihak, kalian berdua boleh mengundurkan diri!"

Sebenarnya Suma Bing masih hendak mengucapkan apa2, tapi sejak dia mengetahui sedikit persoalannya, sirap dan tenanglah gejolak hatinya, apalagi janji Pit Yau ang yang bersedia membantu dan takkan menolak apapun yang diajukan olehnya, maka mulutnya ditutup rapat, tanpa bersuara ia ikuti Pit yau ang mengundurkan diri keluar dari ruang istana belakang ini.

Begitu sampai dikamar sendiri, tanpa membuang waktu segera Suma Bing bertanya.

"Kau masih ingat janjimu sendiri?"

"Sudah tentu ingat!"

Sahut Pit Yau ang tertegun.

"Kalau begitu, aku mengajukan satu permintaan!"

"Coba katakan!"

"Dalam waktu dekat ini aku harus segera meninggalkan perkampungan ini."

Berobah sedih air muka Pit Yau ang, tanyanya,.

"Kau hendak pergi?"

"Kenapa aku harus tinggal disini?"

"Apa tidak kau pikir2 lagi?"

"Tidak!"

"Tapi..."

"Kau hendak mengingkari janji?"

Merah mata Pit Yau ang, ujarnya.

"Engkoh Bing, memang ini sudah nasib, aku tak kuasa menentang kehendak Allah, tapi aku sudah menjadi milikmu, meskipun kau tidak sudi pandang dan membuang aku, tapi isi hatiku hanya Tuhan yang tahu. Aku berani menempuh bahaya dan membangkang terhadap orang tua untuk mengantarmu keluar. Tapi ayah pasti tidak mau melepaskan kau, dikalangan Kangouw setiap langkahmu pasti selalu terancam bahaya..."

"Itu urusanku selanjutnya!"

Kata Pit Yau-ang sambil menggigit bibir.

"Baik, selama tiga hari ini biarlah aku coba membujuk pada ayah baginda supaya kau boleh keluar, tentang aku ini, ai..."

Betapa sedih dan perih perasaan hatinya semua tercurahkan dalam helaan napas panjang ini.

Manusia tidak bisa disamakan batu atau kayu, betapapun masih mempunyai perasaan, sampai saat itu Suma Bing sendiri juga merasa menyesal, memang bagaimanapun juga mereka sudah menjadi suami istri secara resmi, tapi, apa yang dapat diperbuatnya, tak mungkin dia mengabaikan begitu saja pada istrinya yang pertama, yaitu Phoa Kin sian yang tidak lama lagi bakal melahirkan anaknya!

Dia menggelengkan kepala dengan hampa.

"Engkoh Bing,"

Ujar Pit Yau ang sambil tersenyum getir.

"Maukah kau dengar sedikit penjelasanku?"

"Baik, ceritakanlah!"

Sejenak Pit Yau ang ragu2 lalu katanya dengan rasa berat.

"Engkoh Bing, ini merupakan rahasia dari perkampungan kita, tapi tidak bisa tidak harus kuajukan kepadamu..."

"Kalau ada kesukaran, kau boleh tidak usah mengatakan, aku tidak minta kau membocorkan rahasia!"

Rona wajah Pit Yau ang agak berobah, tapi sekuat mungkin ia menahan perasaannya dan telan segala hinaan dan kedongkolan hatinya, mulailah dia memberikan penjelasan.

"Menurut tradisi majikan dari perkampungan bumi ini dinamakan Te kun (raja bumi), semua punggawa atau hulubalangnya juga turun temurun adalah keturunan asli dari perkampungan ini, demikian juga pangkat dan pakaian dinas mereka sudah tertentu tidak gampang2 dirobah, hal2 ini kau sendiri sudah melihat, bukan kita sengaja hendak main sandiwara dihadapanmu. Tentang cara penggantian Te kun, disini ada suatu undang2 tersendiri, yaitu bahwa kedudukan raja harus diturunkan kepada putranya yang terbesar, tapi bila tidak mempunjai putra, maka anak putrinya diperbolehkan mencari calon suaminya sendiri dikalangan Kangouw, calon Hu ma ini harus seorang ksatria yang gagah perwira dan mempunyai pambek besar untuk diselundupkan masuk Perkampungan bumi untuk menjabat kedudukan Te kun ini. Ini adalah undang2 keras dari kakek moyang kita maka terpaksa aku harus berbuat begitu..."

"Betapa besar kalangan Kangouw ini, bagaimana bisa memilih aku?"

"Ini..."

"Ini apa?"

"Adalah aku sendiri yang menaruh hati kepada siangkong..."

"Jadi jelasnya adalah kau yang penujui aku?"

"Ya, begitulah jelasnya!"

"Gambar dalam bola kaca bundar itu, bagaimana pula kau hendak menerangkan?"

"Itu hanya sebuah lukisan belaka!"

"Sebuah lukisan?"

"Benar, aku sedikit pandai menggambar, maksudku semula hanya hendak menyimpan gambar lukisan itu sebagai peringatan saja."

Sedikit banyak akhirnya Suma Bing paham dan maklum sudah akan duduk semua peristiwa ini.

Sungguh tak terkirakan sebelumnya bahwa dirinya bakal terpilih sebagai calon Hu ma atau majikan dari perkampungan bumi ini.

Setelah mendengar semua penjelasan itu, rasa gusar dan tidak puas hatinya lambat laun sudah lumer dan tenanglah hatinya.

Kalau mereka tidak bermaksud jahat dan sengaja mau menipu, tiada alasan lagi ia harus memusuhi atau dendam kepada mereka.

Sebaliknya, ia harus menerima satu kenyataan bahwa Pit Yau ang adalah istrinya.

Kenyataan ini benar2 membuat dia serba runyam, tidak bisa tidak harus mengakui istri kedua ini, tapi, terhadap Phoa Kin sian serta gurunya, bagaimana dia mesti memberi penjelasan dan pertanggungan jawabnya.

Bukan saja sudah resmi menjadi istrinya malah dia sekarang sudah mengandung, tinggal tunggu waktu melahirkan...

Karena pikirannya ini tanpa terasa ia menghela napas panjang, katanya gemas.

"Adik Ang, kau salah pilih orang!"

Panggilan 'adik Ang' ini membuat lega perasaan Pit Yau ang, suaranya gemetar.

"Engkoh Bing, mengapa kau katakan aku salah memilih kau?"

"Sebab aku sudah mempunyai istri!"

"Semua ini terjadi diluar dugaan, sebab menurut keadaan semula apa yang kami tahu tentang kau belum pernah menikah, sekarang beras sudah menjadi nasi, jangan kata seorang wanita dari semula sampai akhir selamanya akan setia kepada suaminya, tapi entah bagaimana aku harus memberikan pertanggungan jawabku kepada Te po atau seluruh penghuni perkampungan ini. Tapi Engkoh Bing, aku tetap masih menepati janjiku semula kepada kau, tiga hari lagi kau pasti dapat berada lagi dikalangan Kangouw, tentang selanjutnya..."

Tak kuasa ia melanjutkan kata2nya, airmata semakin deras meleleh keluar.

Sepasang kemanten baru yang bahagia seharusnya merasa riang gembira, ini merupakan saat yang paling menggembirakan selama hidup ini, adalah sebaliknya mereka lewatkan saat2 yang bahagia itu digenangi airmata yang memilukan hati.

Tengah mereka ber-cakap2 inilah mendadak terdengar suara seorang dayang berkata.

"Lapor Kiongcu, Coh yu hu pit tengah menanti kedatangan Hu ma diluar ruangan istirahat!"

"Sudah tahu, segera kita datang!"

Alis Suma Bing berkerut dalam, katanya.

"Mau pergi kau pergilah sendiri, aku tiada minat bertemu dengan mereka."

"Engkoh Bing, tidak dapat tidak kau harus temui mereka."

"Tidak!"

"Engkoh Bing, kedudukan Coh yu hu pit ini hanya lebih rendah dibawah ayah baginda, kalau dia minta bertemu, pasti ada urusan apa2 yang sangat penting, harap kau suka menyusahkan diri sebentar untuk bertemu dengan mereka!" -wajahnya mengunjuk rasa memohon yang harus dikasihani. Apa boleh buat terpaksa Suma Bing mengangguk juga. Dibimbing dan diiringi serombongan para dayang2 be-ramai2 mereka menuju ruang istirahat yang terletak disebelah kamar mereka. Dua orang tua yang masing2 tangan kiri kanan mereka membekal lencana gading mengenakan pakaian kebesaran lengkap sudah menanti ditengah ruang istirahat ini.

"Coh hu Si Kong teng. Yu pit Ciu Goan tiong menghadap Hu ma dan Kiongcu!"

Kedua orang tua ini berbareng memperkenalkan diri sambil membungkuk hormat!"

Sikap Suma Bing tetap dingin, tangan diulapkan dan berkata.

"Kalian tidak perlu banyak peradatan, ada kepentingan apakah?"

Co hu Si Kong teng berkata dengan sikap serius.

"Kami dapat perintah dari Te kun untuk mempersembahkan arak kepada Hu ma!"

"Memberi arak?" -dengan penuh keheranan dan tak mengerti Suma Bing melirik kearah Pit Yau ang. Pit Yau ang berkata lirih.

"Nyatakan terima kasih akan pemberian arak ini!"

Sekian lama Suma Bing ragu2, akhirnya berkata ogah2an.

"Terima kasih!"

Dia tidak tahu persoalan apalagi tentang pemberian arak ini, pikirnya, apa mungkin ada muslihat apalagi?

Yu pit Ciu Goan tiong segera mengeluarkan sebuah cangkir kecil yang terbuat dari batu giok dari balik jubahnya yang besar kedodoran, serta sebuah poci kecil berwarna putih kehijau2an, dengan hati2 dan penuh hormat dituangkannya secangkir penuh, lalu Coh hu Si Kong teng maju mempersembahkan dengan kedua tangannya seraya berkata.

"Hu ma silahkan minum!"

Suma Bing menyambuti dan melihat isi dari cangkir itu seketika berobah airmukanya.

Arak apa ini yang terang adalah darah kental dengan warna merahnya yang menyolok mata, tanpa sadar bergidik tubuhnya.

Sebaliknya Pit Yau ang malah mengunjuk rasa girang luar biasa, katanya lemah lembut.

"Pemberian dari orang tua tidak bisa ditolak. Engkoh Bing, lekaslah minum!"

Suma Bing menjadi nekad sekali tenggak ia habiskan isi cangkir itu.

Siapa tahu begitu masuk tenggorokan, arak itu terasa dingin dan berbau wangi, beruntun tiga cangkir ia habiskan sehingga seluruh isi poci kecil itu kering.

Coh hu Yu pit berseru berbareng.

"Selamat Hu ma."

Sambil membungkuk hormat segera mereka mengundurkan diri.

Tidak lama setelah Coh hu Yu pit keluar, Suma Bing lantas rasakan kepalanya berat, pandangannya kabur, terasa dimana tempat dia berpijak berputar jungkir balik, diam2 ia mengeluh celaka pasti aku terjebak pula dalam tipu muslihat mereka.

Maka tanpa banyak pikir lagi segera dia membentak keras.

"Bangsat rendah, kubunuh kau!"

Tangannya sudah terangkat memukul kearah Pit Yau ang, namun baru saja tenaganya dikerahkan, kepalanya terasa berat dan kakinya lemas kontan dia roboh terkapar tak ingat diri.

Entah sudah berselang berapa lama, pelan2 Suma Bing siuman dari tidurnya, didapatinya dirinya rebah diatas ranjang gading dalam kamarnya.

Terlihat Pit Yau ang tengah bertopang dagu duduk diatas kursi, entah apa yang tengah direnungkan.

Diam2 Suma Bing juga tengah berpikir dan mengenang kembali akan pemberian arak dari Te kun itu lantas dirinya jatuh mabuk.

Masak sedemikian besar khasiat tiga cangkir arak itu, seketika membuat dirinya mabuk dan jatuh pingsan?

Pelan2 dicobanya mengerahkan tenaga murni dalam tubuh, begitu dikerahkan sungguh kejutnya tidak kepalang, jantungnya berdetak sangat keras.

Terasa hawa murninya penuh padat bergelora ber-gulung2 bagai gelombang badai, sehingga terasa tubuhnya ringan bagai terapung ditengah udara.

Apakah yang telah terjadi, bagaimana bisa Lwekangnya mendadak tambah dalam satu kali lipat lebih?

Sekian lama dia ter-longong2 mematung rebah dipembaringan, kedua matanya melotot kesima memandang langit2, perasaannya hampa semangatnya lesu.

Apa mungkin ini hasil khasiat dari arak berwarna merah darah itu...

"Adik Ang!"

Ter-sipu2 Pit Yau ang bangkit berdiri terus ber-lari2 kecil mendekati pembaringan, matanya tajam penuh kasih mesra memandang Suma Bing, tanyanya.

"Engkoh Bing, kau sudah bangun, ada apakah?"

"Aku... agaknya merasa..."

"Merasa apa?"

"Tenaga dalamku maju berlipat ganda!"

Pit Yau ang lantas unjuk senyum berseri, katanya.

"Engkoh Bing, silahkan kau coba2 tembusi jalan darah mati hidupmu!"

"Apa jalan darah mati hidup?"

Seru Suma Bing berjingkrak kaget.

"Benar, coba2 adakah gejala2 yang aneh?"

Suma Bing masih tidak mengerti namun dia menurut mengerahkan tenaga murni terus disalurkan keseluruh tubuh, begitu satu putaran sudah selesai, tanpa terasa dia menjerit kaget.

"Jalan darah mati hidupku sudah tembus?"

"Tidak salah."

"Bagaimana sebenarnya..."

"Ayah baginda memberikan tiga cangkir Te liong po hiat kepadamu, apa kau sudah lupa?"

Suma Bing berjingkrak bangun dari atas pembaringan, kagetnya belum hilang.

"Apa Te liong po hiat? (darah pusaka naga bumi)"

"Benar, dalam perkampungan bumi ada sebuah sumber alam yang keluar dari nadi bumi dinamakan Te liong atau naga bumi, setiap bulan pada malam terang bulan dari sumber nadi ini menetes keluar setitik getah berwarna merah darah, maka itu dinamakan darah pusaka naga bumi!"

"Setiap bulan hanya satu titik saja?"

"Ya, setiap bulan hanya keluar setitik saja!"

Hampir2 Suma Bing tidak percaya akan pendengaran kupingnya, ini benar2 suatu keajaiban dalam dunia, maka katanya penuh haru.

"Jadi aku sudah minum sebanyak tiga..."

"Tiga cangkir darah pusaka, itu sudah disimpan selama enam puluh tahun!"

"O, mengapa ayahmu mau menghadiahkan barang pusaka yang tak ternilai itu untuk..."

Wajah Pit Yau ang berobah sungguh.

"Ini juga merupakan undang2 dari Te po!"

"Undang2 lagi? Aku tidak paham!"

"Sebab kau adalah ahli waris raja yang akan datang, maka dalam waktu dekat tenaga dalammu harus segera disempurnakan!"

Pucat wajah Suma Bing, sungguh dia menyesal telah minum tiga cangkir arak itu, kalau tahu demikian halnya tidak bakal dia mau minum darah pusaka naga bumi itu.

Berbagai tugas berat menuntut balas tengah mengikat dirinya.

Mati hidup ibundanya juga belum diketahui, masa depan selanjutnya susah diraba, mana mungkin...

Karena pikirannya ini berkatalah dia dengan lesu.

"Tapi aku belum setuju untuk menjadi ahli waris Raja bumi kalian..."

Pit Yau ang menarik muka, katanya.

"Engkoh Bing, upacara menurut undang2 kakek moyang sudah berlaku dan tak mungkin dirobah lagi. Kalau kau berkukuh tidak mau terima aliran Te po ini mungkin untuk selanjutnya juga akan ludas, tapi aku sudah berjanji sebelumnya, kau tak usah kuatir aku menggunakan segala daya upaya untuk membujuk dan menahanmu disini, setelah besok hari, kalau memang aku tidak bisa membujuk ayah Baginda supaya kau diluluskan keluar perkampungan, aku... tetap akan mengantarmu keluar. Tentang akibatnya, ai, engkoh Bing, kuharap selalu kau ingat seorang sengsara yang pernah tidur semalam dengan kau!"

Suaranya sedih memilukan. Suma Bing juga merasa sesak tenggorokannya, katanya penuh penyesalan.

"Adik Ang, maafkan aku, aku terpaksa berbuat demikian!"

"Aku paham, tidak perlu maaf apa segala, agaknya kita berjodoh dalam khayalan belaka, nasib manusia tidak bisa ditentang!"

"Adik Ang, kalau aku mengabaikan seorang istri, aku lebih tidak berbudi, dendam perguruan dan sakit hati orang tua kalau tidak kubalaskan lebih2 aku tidak berbakti, cinta kasihmu adik Ang, akan kukenang dalam lubuk hatiku sepanjang masa!"

Didalam Perkampungan bumi tidak kenal perbedaan siang dan malam, selalu terang benderang, setiap kali berganti pelita atau menambah minyak lampu itu menandakan hari kedua mulai mendatang.

Begitulah dalam kamar tidurnya Suma Bing tengah berjalan mondar mandir tidak tenang, hatinya berdebar tidak tentram menanti jawaban dari Pit Yau ang.

Apakah ia dapat membujuk ayahnya supaya dirinya keluar dan muncul lagi di Kangouw?

Kalau dia membangkang dan berani ambil resiko mengantarkan dirinya keluar, apakah yang bakal dialaminya?

Setelah dirinya bebas dikalangan Kangouw, apakah Te po mandah saja membiarkan dirinya bebas berkelana?

Tidak dapat disangkal lagi bahwa dirinya sudah ada ikatan sebagai suami istri dengan Pit Yau ang, tidakkah perbuatannya ini keterlaluan?

Te kun sendiri pernah mengatakan hendak mengatur sedemikian rupa terhadap Phoa Kin sian, cara bagaimana dia bisa mengatur sesempurna mungkin?

Tengah pikirannya me-layang2 terlihat Pit Yau ang bergegas mendatangi, mimik wajahnya menunjukkan urusan tidak menyenangkan seperti apa yang diharapkan sebelumnya!

"Bagaimana adik Ang?"

"Ayah tidak mengijinkan!"

"Tidak diijinkan!"

"Dia orang tua berkata, setelah kau dapat mempelajari seluruh kepandaian tunggal dari Te po baru boleh dirundingkan apakah kau boleh keluar atau tidak!"

Dingin perasaan Suma Bing. Wajah Pit Yau ang penuh kesedihan, airmata berlinang dikelopak matanya, katanya lagi.

"Engkoh Bing, biar kuantar kau keluar!"

"Kau..."

"Ya, terpaksa aku membangkang pada ayah baginda, habis tiada cara lain yang lebih sempurna." 'Ucapan membangkang kepada orang tua' benar2 membuat Suma Bing ragu2 dan terpukul batinnya. Pit Yau ang sudah melakukan tanggung jawab sebagai seorang istri kepada suaminya, masa sedikitpun dirinya tiada rasa cinta kasih antara suami istri. Untuk dirinya tidak kepalang tanggung dia berani membangkang kepada orang tua, sebaliknya dirinya tidak memikirkan untuk menghindarkan segala akibat buruk yang bakal terjadi. Tak peduli cara bagaimana mereka telah menikah, hakikatnya dia sudah menjadi istrinya, betapa luhur dan bajik hati istrinya, benar2 diluar dugaannya. Begitulah akhirnya dia berkata.

"Adik Ang, aku tidak bisa mem-bawa2 kau, biarlah aku langsung berhadapan dengan Te kun untuk mohon..."

"Kalau begitu selamanya kau takkan dapat keluar lagi, kata2 ayah selamanya keras sekokoh gunung tak dapat diganggu gugat, dia takkan merobah maksudnya semula."

"Tapi setelah aku pergi, kau akan..."

"Engkoh Bing, kau dapat berkata demikian, hatiku sudah terhibur. Sekarang gantilah pakaianmu yang semula, biar kuantar kau keluar dari jalan rahasia!"

Bahwasanya memang tidak bisa tidak Suma Bing harus keluar lagi dikalangan Kangouw berbagai tugas suci tengah menunggu penyelesaiannya.

Maka pada saat2 sebelum berpisah ini baru dia sadar, sebenarnya bahwa hatinya juga mencintai Pit Yau ang.

Sejak mengetahui seluk beluk duduk perkara sesungguhnya, rasa gusarnya sudah lenyap seluruhnya, dan kini berganti suatu perasaan berat dan menderita, pukulan batin yang kontras.

Tapi dia tidak bisa tidak harus berpisah, sebab lebih banyak atasan yang harus memisahkan dengan istrinya ini.

Pit Yau ang mengeluarkan pakaian asal Suma Bing terus diangsurkan kepadanya, lalu membantunya berganti dan katanya.

"Engkoh Bing, apa kau benci aku?"

Suma Bing menjawab sungguh.

"Memang begitulah sebelum ini. Tapi sekarang tidak!"

"Kau tidak membenci aku?"

"Malah aku harus berterima kasih akan bantuanmu ini, ini takkan terjadi pada wanita umumnya."

"Kuharap kau tetap ingat kepadaku..."

"Aku pasti!"

Tanpa terasa dipeluknya Pit Yau ang, bibir bertemu bibir mereka berciuman dengan gairahnya.

Selama tiga hari setelah mereka menikah baru sekali inilah mereka sama2 merasakan kenikmatan dan kemesraan yang takkan terlupakan lagi.

Tapi bagi Pit Yau ang ciuman ini merupakan ciuman perpisahan yang sedih dan meluluhkan hatinya.

Sebab saat itu juga sang suami harus meninggalkan dirinya.

Tangan bergandeng tangan mereka sudah melewati berbagai penjagaan ketat dari tempat2 terlarang, lahirnya mereka ber-cakap2 dan bersendau gurau bersenang hati, tapi batin mereka sangat tertekan.

Tidak lama kemudian mereka tiba disebuah kamar buku yang penuh rak2 yang berjajar.

Pit Yau ang langsung ulurkan sebuah tangan menekan salah sebuah buku yang ber-jajar2 itu, seketika rak buku itu bergeser mundur dan terluanglah sebuah pintu.

Tanpa membuka suara Suma Bing mengintil terus dibelakang Pit Yau ang, mereka terus memasuki sebuah lorong panjang yang belak belok, melewati undakan yang menanjak naik me-lingkar2 semakin tinggi, kira2 sepeminuman teh kemudian baru mereka sampai diujung lorong.

Begitu menggerakkan alat2 rahasianya, diatas lorong itu segera terbuka sebuah lobang sebesar dua kaki persegi.

Sekali loncat Pit Yau ang melesat keluar.

Bergegas Suma Bing juga ikut loncat keluar, seketika ia berdiri mematung kesima.

Ternyata tempat dimana mereka berada sekarang ini adalah didalam ruang sembahyang sebuah kelenteng yang bobrok dan tidak terurus lagi, dan lobang itu tepat berada dibawah patung pemujaan yang kini sudah bergeser kesamping.

Suma Bing menjadi heran, tanyanya.

"Apa disini tiada orang jaga?"

"Tidak, jalan rahasia ini hanya para Tongcu dan pejabat lebih tinggi saja yang mengetahui, selamanya jarang digunakan, maka tidak gampang diketemukan. Apalagi tempat ini berada dialas pegunungan yang jarang didatangi manusia!"

"Jadi perkampungan bumi dibangun dibawah tanah?"

"Tidak salah, didalam bumi!"

"Bagi kaum persilatan, dipandangnya Te po sebagai tekateki!"

"Ini tidak dapat menyalahkan mereka, selamanya perkampungan kita jarang turut campur dalam segala pertikaian didunia persilatan. Seumpama petugas kita kelana di kalangan Kangouw juga tidak pernah memperkenalkan diri, maka yang mengetahui boleh dikata sangat jarang!"

Pada saat itulah, sebuah suara berat dan kereng mendadak terdengar dibelakang mereka.

"Budak kurang ajar, sungguh besar nyalimu!"

Kontan berobah pucat wajah Pit Yau ang, beruntun mundur tiga langkah, matanya ketakutan memandang kearah pintu kelenteng.

Suma Bing juga cepat2 membalik tubuh dan memandang kedepan, tidak terasa semangatnya juga serasa terbang.

Entah kapan datangnya ternyata Te kun sudah berdiri diambang pintu, sinar matanya memancarkan kegusaran yang me-nyala2.

Ter-sipu2 Pit Yau ang menekuk lutut menyembah, mulutnya berseru.

"Ayah!"

Agaknya Te kun benar2 murka sekali, serunya.

"Budak, apakah maksudmu sebetulnya, berani terang2an melanggar pantangan undang2 perkampungan, juga berani mendurhakai orang tua?"

"Yah, anak terpaksa berbuat begini..."

"Maksudmu dia menekan kau?"

Sinar mata Te kun bagai kilat menyapu kearah Suma Bing, tanpa terasa bergidik Suma Bing dipandang sedemikian rupa. Pit Yau ang menjawab gemetar.

"Dia tidak menekan anak!"

"Jadi ini keluar dari tujuanmu sendiri?"

"Anak pernah melulusi mengantar dia keluar di kalangan Kangouw untuk menyelesaikan tugas sucinya menuntut balas bagi perguruan dan orang tuanya!"

Wajah Te kun semakin membesi.

"Bagaimana bunyi undang2 ketiga?"

Seketika pucat pasi wajah Pit Yau ang, pekiknya menyedihkan.

"Ayah!"

"Katakan, bagaimana bunyi peraturan ketiga?"

"Apa ayah tidak mengingat hubungan ayah dan anak lagi?"

"Peraturan tidak boleh dilanggar!" 34 KANG KUN LOJIN BERKISAH. Suma Bing menjadi serba salah dan runyam keadaannya, tidak enak pula dia turut campur bicara. Wajah Pit Yau ang yang pucat pasi itu mendadak berubah merah membara mengandung tekad yang besar, sekilas ia lirik Suma Bing, lalu berkata sepatah demi sepatah.

"Peraturan ketiga berbunyi. Barang siapa sengaja melanggar harus dihukum mati!"

Tiba2 gemetar tubuh Suma Bing, apa Te kun sudah tidak peduli lagi akan hubungan antara ayah dan anak dan benar2 hendak menghukum Pit Yau ang menurut undang2 dari Te po.

Kalau ini sampai terjadi, pangkal dari semua peristiwa ini adalah karena dia yang menjadi biang keladi, mana bisa dirinya tinggal berpeluk tangan saja.

Dengan nada suara yang mendebarkan orang Te kun berkata.

"Kau sudah tahu itulah baik..."

"Yah, anak ada satu permintaan!"

"Katakan!"

"Anak rela dihukum karena batas2 undang2 perkampungan, tapi aku harap ayah dapat melepaskan Suma Bing, meskipun mati anak juga sangat berterima kasih..."

"Tidak mungkin terjadi!"

Suma Bing melangkah setindak, jengeknya dingin.

"Akulah yang memaksanya berbuat demikian."

Te kun menggeser tubuh menghadapi Suma Bing, sinar matanya mencorong setajam ujung pedang, bentaknya bengis.

"Kau yang paksa dia?"

"Tidak salah!"

"Cara bagaimana kau paksa dia?"

"Mengandal kekuatanku!"

"Tutup mulut, berani kau berbohong dihadapanku?"

"Apa yang kau anggap aku berbohong?"

Te kun mendengus lalu berkata.

"Tentang ilmu silat kau masih terpaut sangat jauh dibanding budak kurangajar ini, setelah kau minum Te liong po hiat, meskipun tenaga dalammu bertambah berlipat ganda, tapi latihan dan kepandaian sejati kau masih bukan tandingannya. Berani kau membual hendak menipu aku, dengan kemampuanmu pasti tidak mungkin menundukkan dia, apalagi jalan rahasia ini penuh jebakan dan alat2 rahasia, dimana2 dipasang peluit tanda bahaya, kalau dia tidak sengaja hendak membangkang, seumpama tumbuh sayap juga jangan harap kau dapat terbang keluar!"

Saking malu merah padam wajah Suma Bing bantahnya.

"Lalu Te kun hendak apa?"

"Kedudukanmu saat ini sudah jadi salah satu dari kerabat perkampungan bumi, kalian berdua harus menjalani hukuman yang sama."

Suma Bing mengertak gigi, semprotnya.

"Aku yang rendah sekarang hendak menentang"

"Sekali lagi kau berani mengatakan 'aku yang rendah' biar Pun te kun (aku sang raja) membunuhmu lebih dulu!"

"Aku yang..."

"Bedebah!"

Dibarengi bentakan makian ini, Te kun langsung memukul kearah Suma Bing. Tercekat hati Suma Bing, baru saja tangannya diangkat...

"Ayah!"

Ditengah pekikan yang memilukan ini secepat kilat mendadak Pit Yau ang melesat menghadang dan memapak kearah angin pukulan Te kun.

Perbuatan nekad ini benar2 diluar dugaan siapapun.

Dalam gusarnya Te kun melancarkan pukulan sepenuh tenaga mana mungkin dapat ditarik kembali.

'Blang!' terdengar pekik kesakitan yang menusuk telinga tubuh Pit Yau ang yang ramping itu kontan terbang jauh keluar halaman kelenteng.

Tampak sebuah bayangan berkelebat, ternyata Suma Bing gunakan gerak kelit dari Bu siang sin hoat, sekali berkelebat tiba diluar kelenteng dan tepat menyambuti tubuh Pit Yau ang yang hampir terbanting keras ditanah.

"Gerak tubuh yang hebat!"

Seorang tua berpakaian sebagai pertapa tiba-tiba muncul bagai bayangan setan! "Engkoh Bing,"

Panggil Pit Yau ang lantas mulutnya menguak menyemprotkan darah segar, orangnya juga segera jatuh pingsan. Hati Suma Bing seperti di-sayat2, tubuhnya bergetar dan hampir mengejang.

"Pit lote, begitu tega kau turun tangan terhadap anakmu sendiri?"

Waktu Suma Bing berpaling, terlihat seorang tua berjenggot panjang menjulai sampai diperutnya, mengenakan baju bersulam patkwa, kepalanya diikat kain sutera, di tangannya menggenggam sebuah kipas, sikapnya angker laksana seorang pertapa sakti siapa berdiri lima kaki dibelakangnya.

Seruan memuji bernada kagum tadi agaknya keluar dari mulut orang tua ini.

Sebab seluruh perhatiannya ditujukan kepada Pit Yau ang, maka dia tidak hiraukan seruan tadi.

Dilihat dari cara orang berpakaian dan sikapnya ini diam2 benak Suma Bing tidak tentram.

Siapa dia?

Te kun raja yang dipertuan agung dari Te po ternyata dipanggilnya saja sebagai Lote (adik tua).

Saat mana rona wajah Te kun tidak menentu susah diselami, dia berdiri mematung tanpa mampu buka suara.

Pikiran Suma Bing berkelebat cepat, batinnya, apa mungkin dia ini?

Teringat olehnya waktu dulu si maling bintang Si Ban cwan menyamar menjadi Kang kun Lojin menggebah lari Si tiau khek itu.

Konon kabarnya bahwa Kang kun Lojin sudah meninggal dunia pada empat puluh tahun yang lalu, tapi bentuk wajah dan cara berpakaian orang tua ini benar2 serupa dan persis benar dengan penyamaran si maling bintang dulu.

Apa mungkin kabar di kalangan Kangouw itu adalah bohong belaka, dan ternyata si orang tua ini masih sehat waalfiat hidup didunia ini?

Karena pikirannya ini, tercetus seruan mulutnya.

"Apakah nama julukan Lo cianpwe adalah Kang kun Lojin?"

Orang tua berjenggot putih itu bergelak tawa sekian lamanya, lalu ujarnya.

"Buyung, pengalamanmu luas juga!"

Sebaliknya Suma Bing malah tertegun, tidak terduga olehnya bahwa orang tua ini ternyata betul2 adalah Kang kun Lojin yang sangat kenamaan diseluruh dunia.

Situasi ketegangan mulai mereda setelah Kang kun Lojin mendadak muncul.

Dengan tajam Kang kun Lojin pandang Pit Yau ang yang rebah dalam pelukan Suma Bing, lalu alis dikerutkan katanya kepada Te kun.

"Lote, apakah yang telah terjadi?"

Te kun menghela napas panjang, sahutnya.

"Loko (saudara tua), dia inilah menantu dan ahli waris raja Suma Bing yang terpilih menurut undang2 tradisi kita!"

"Tepat, berbakat dan bertulang bagus, pandanganmu benar2 hebat!"

"Budak itu sendirilah yang memilihnya!"

"O, jeli dan tajam benar pandangan budak ini!"

Agaknya Te kun enggan mempersoalkan semua apa yang sudah terjadi dihadapan Suma Bing, maka lantas digunakan ilmu Coan im jip bit bercerita kepada Kang kun Lojin yang terakhir baru dia berkata keras.

"Loko urusan ini biarlah kuserahkan kepadamu bagaimana?"

Kang kun Lojin menggoyang2 kipas, katanya.

"Aku juga ada sedikit urusan dengan engkoh kecil ini. Baiklah, biarlah urusan ini engkoh tuamu ini yang tanggung."

"Kalau begitu terima kasih!"

"Tidak perlu, bawalah budak kecil itu pulang, lukanya tidak ringan!"

Dari samping Suma Bing semakin keheranan, agaknya dengan beberapa patah kata saja Kang kun Lojin sudah dapat membujuk Te kun.

Kang kun Lojin maju memayang tubuh Pit Yau ang dengan sebuah tangannya dia raba pernapasannya sebentar lalu diserahkan kepada Te kun, berputar lalu menghadap Suma Bing, katanya.

"Buyung, aku orang tua tidak memaksa kau, kalau kau rela, berlutut dan minta maaflah kepada mertuamu!"

Selamanya sifat Suma Bing sangat angkuh dari pembawaan lahir, sebenarnya hatinya hendak membangkang, tapi karena budi Pit Yau ang terhadapnya sedemikian besar serta memandang muka Kang kun Lojin maka terpaksa dia menurut berlutut dan berseru.

"Harap Te kun suka memberi ampun!"

Dia tidak mau menyebut 'Gak tio' atau mertua dan menyebut diri pribadi sebagai siau say atau menantu.

Terang bahwa permintaan maafnya ini adalah sangat terpaksa.

Te kun ulapkan sebelah tangan dan berseru.

"Sudahlah, bangun!"

Kang kun Lojin mengebutkan kipasnya dan berkata.

"Buyung, mari kita pergi!"

Habis berkata ringan sekali tubuhnya melayang keluar kelenteng.

Penuh keheranan dan tak mengerti Suma Bing kesima memandang bayangan punggung Kang kun Lojin.

Lalu dipandangnya Pit Yau ang yang masih pingsan itu lekat2, sekali berkelebat tubuhnya juga melenting keluar kelenteng.

Kelenteng bobrok ini dibangun diatas gundukan tanah gundul dilamping sebuah gunung, empat penjuru adalah semak belukar, tempat ini benar2 sangat liar dan sunyi tersembunyi.

Kang kun Lojin sudah menanti diluar kelenteng tangannya menunjuk kepuncak sebelah kiri sana serta berkata.

"Buyung mari kita kepuncak gunung itu untuk bicara!"

Suma Bing manggut2 tanpa bersuara.

Dua bayangan secepat kilat terbang menuju kepuncak gunung yang ditunjuk tadi.

Dengan kehebatan ilmu ringan tubuh mereka dalam sekejap saja mereka sudah tiba di puncak gunung itu.

Ternyata puncak ini merupakan puncak tertinggi dari puncak2 tetangga sekelilingnya.

Mereka mencari duduk diatas sebuah batu.

Suma Bing membuka mulut lebih dulu.

"Entah Locianpwe ada petunjuk apa?"

Sambil me-ngelus2 jenggotnya, Kang kun Lojin berkata sungguh.

"Buyung, apa kau tahu mengapa orang tua reyot seperti aku yang sudah lama mengasingkan diri ini, mau muncul lagi didunia Kangouw?"

"Hal ini wanpwe tidak tahu!"

"Karena masih ada sebuah angan2 yang belum terlaksana!"

"Angan-angan?"

"Benar, inilah buah yang kutanam secara tidak sengaja, sehingga sampai sekarang masih belum bisa dibikin terang, terpaksa maka aku harus berkelana lagi di Kangouw untuk menyelesaikan urusan itu. Ini boleh dikata suatu akibat, aku orang tua bukan dari agama Buddha, tapi mengenai hukum sebab dan akibat atau juga dinamakan hukum karma hitung2 sekarang aku sudah mulai melek dan dapat menyelaminya!"

Suma Bing manggut2 hampa, entah mengapa dia tidak tahu orang tua dihadapannya ini kok berbicara persoalan sebab musabab dengan dirinya. Setelah merandek sebentar lantas Kang kun Lojin melanjutkan.

"Buyung, apa kau sudi melakukan sesuatu untuk aku orang tua?"

Suma Bing melengak heran, tanyanya.

"Urusan apakah yang harus wanpwe lakukan?"

"Menyelesaikan sebab dan akibat ini!"

"Coba Locianpwe terangkan!"

"Itulah tentang hilangnya Bu siang po liok dari Siau lim sie!"

Suma Bing melonjak kaget, serunya.

"Bu siang po liok?"

"Sedikitpun tidak salah!"

"Ini... wanpwe masih belum jelas!"

"Buyung, dihadapanku jangan kau pura2 main tidak tahu dan main sembunyi."

"Apakah yang Locianpwe maksudkan?"

"Yang kumaksudkan adalah Bu siang po liok itu?"

"Hakekatnya memang wanpwe tidak mengetahui!"

Mata Kang kun Lojin dipentang lebar, sorot matanya nanap mengawasi wajah Suma Bing, sampai sekian lama tidak berkedip, agaknya tengah menyelami hati kecilnya, lama dan lama kemudian baru dia pejamkan mata dan berkata.

"Apa benar2 kau tidak tahu menahu tentang persoalan ini?"

"Memang aku tidak tahu!"

Jawab Suma Bing sejujurnya. Kang kun Lojin manggut2, seperti menggumam ia berkata seorang diri.

"Ai, mungkin peristiwa itu belum pernah dia tuturkan kepada anak muridnya..."

Dari Bu siang po liok empat huruf ini sedikit banyak Suma Bing sudah dapat menebak persoalannya, maka tercetus pertanyaan dari mulutnya.

"Siapakah yang Locianpwe maksudkan?"

Mendadak Kang kun Lojin berkata penuh haru.

"Buyung bagaimanapun juga, urusan ini hanya kau seorang yang dapat menyelesaikan, sudah tentu, harus kulihat apakah kau rela melakukannya!"

"Mengapa Locianpwe tidak jelaskan lebih terang?"

Kang kun Lojin mendongak kelangit, janggut panjangnya bertebaran dihembus angin pegunungan, katanya dengan suara rendah.

"Buyung, dengarkanlah sebuah cerita pada seabad yang lalu..."

Suma Bing mengangguk dengan bersemangat, dia maklum bahwa cerita itu pasti mengenai suatu kejadian rahasia di Bulim, mungkin ada sedikit atau banyak dirinya tersangkut didalamnya akibat dari ekor peristiwa itu.

Kedua mata Kang kun Lojin mendelong mengawasi langit, mulailah dia bercerita.

"Seabad yang lalu, didunia persilatan muncul tiga muda mudi yang berkepandaian sangat tinggi dan malang melintang tiada tandingan, mereka dinamakan Bu lim sam ki. Sebenarnya Sam ki berpencar dan kenamaan didaerah masing2. Dalam suatu kesempatan yang tidak disengaja Sam ki bertemu tanpa berjanji sebelumnya. Sungguh diluar dugaan bahwa salah satu dari Sam ki atau tiga aneh itu ternyata adalah seorang perempuan yang cantik..."

Sampai disini tidak tahan lagi segera Suma Bing ajukan pertanyaan.

"Setelah Sam ki kenamaan, apa dalam dunia, persilatan masih belum ada yang tahu bahwa salah satu dari mereka adalah perempuan?"

"Kau berkata benar, sebelum Sam ki bertemu memang betul2 tiada seorang jua yang tahu, sebab biasanya dia menyamar sebagai pemuda!"

"Waktu dua yang lain mengetahui bahwa seorang yang lain ternyata adalah perempuan, mulailah mereka berlomba hendak mengambil hatinya maka terjadilah percintaan segitiga yang merisaukan. Kedua pemuda itu sama2 ganteng dan cakapnya, ilmu silatnya juga sudah sempurna. Maka perempuan itu susah mengambil keputusan positip diantara mereka berdua. Maka akhirnya kedua pemuda itu mengadakan perundingan rahasia untuk menyelesaikan urusan secara jantan dengan pertempuran adu silat, bagi yang kalah harus bersumpah untuk tidak muncul lagi didunia persilatan selama hidup ini...

"Waktu pertempuran berjalan dengan seru, masing2 bertempur mati2an untuk merobohkan lawannya, tiada salah satu pihak yang mau mengalah, hampir saja waktu mereka bakal gugur bersama, mendadak perempuan itu muncul dan menghentikan pertempuran berdarah itu akhirnya perempuan itu mengajukan cara2 bijaksana untuk menyelesaikan pertikaian ini..."

"Cara apakah itu?"

"Perempuan itu berharap dapat melatih semacam ilmu gerak tubuh yang hebat tiada taranya, untuk menambal kekurangannya sebagai perempuan. Menurut kabarnya bahwa dalam perpustakaan rahasia dikuil Siau lim si ada se

Jilid buku yang dinamakan Bu siang po liok, buku ini khusus mencatat tentang ilmu gerak tubuh yang diharapkan itu.

Karena arti dalam buku catatan itu sangat dalam dan susah dimengerti, maka sampai pemiliknya sendiri yaitu para padri Siau lim si juga tiada seorang juga yang mampu mempelajari, sudah berabad lamanya tiada orang yang sempurna mempelajari ilmu ini.

Justru perempuan itu minta kedua pemuda itu menuju ke Siau lim si untuk mencuri buku pelajaran itu, siapa mendapatkan lebih dulu, dia rela menjadi istrinya untuk se-lama2nya...

"Lalu bagaimana akhirnya?"

Tanya Suma Bing ketarik benar. Agaknya Kang kun Lojin harus memeras keringat untuk mengenang lagi cerita masa silam itu, setelah berhenti sekian lamanya baru dia menyambung lagi.

"Karena 'cinta' kedua pemuda itu rela dan tega melakukan perbuatan rendah yang paling dipandang hina oleh kaum persilatan, mereka menyamar dan mengenakan kedok, masing2 menggunakan caranya sendiri menuju ke Siau lim si..."

"Akhirnya salah satu diantara mereka mendapat hasil?"

"Memang, salah satu diantara mereka berhasil dengan gemilang, tapi salah seorang yang lain bukan saja tidak berhasil malah terkepung dan mendapat luka berat dibawah keroyokan padri2 Siau lim sie, walaupun akhirnya dapat melarikan diri tapi sejak itu dia menjadi tanpa daksa alias cacat seumur hidup!"

Sudah tentu pemuda yang berhasil itu dengan perempuan..."

"Kau dengar saja ceritaku. Waktu pemuda yang berhasil itu mengetahui bahwa saingannya itu sampai terluka berat dan menjadi tanpa daksa, hatinya turut berduka dan menyesal, dia merubah tujuannya yang semula, bukan saja ia menyesal akan perbuatannya yang gila2an dan hina dina ini, disamping itu dia juga tidak puas akan sikap dan tindakan perempuan itu yang menggunakan cara demikian keji untuk menguji mereka. Maka diberikan Bu siang po liok yang berhasil dicurinya itu kepada pemuda saingannya yang cacat itu, terus tinggal pergi dan tidak pernah muncul lagi..."

Tanpa terasa Suma Bing memuji kagum.

"Sungguh mengagumkan sikap gagah dan kebajikan hati pemuda itu."

"Ya, tapi waktu dia mengambil kepastian ini betapa pahit getir dan berduka hatinya"

"Selanjutnya bagaimana?"

"Sudah tentu pemuda cacat itu menikah dengan perempuan itu. Mereka mengundurkan diri untuk mempelajari isi dari pelajaran Bu siang po liok itu. Maka sejak itu kalangan Kangouw kehilangan jejak Bu lim sam ki, lambat laun ketenaran nama Bu lim sam ki menjadi luntur dan hilang dilupakan orang ditelan masa..."

Baru sekarang Suma Bing paham, pasti perempuan diantara Bu lim sam ki itu adalah Bu siang sin li itu.

Maka tidak heran waktu dirinya meluruk ke Siau lim si hendak mencari ibunya tanpa sengaja ia pertunjukkan Bu siang sin hoat, para pendeta Siau lim si itu lantas hendak meringkus dan mengompresnya, mereka menuduh dirinya ada tersangkut paut dengan peristiwa ter-katung2 tanpa penyelesaian pada ratusan tahun yang lalu, ternyata semua ini ada latar belakang yang belum dimengerti oleh dirinya.

Kang kun Lojin merendahkan kepalanya, kedua matanya menatap tajam kearah Suma Bing, katanya.

"Setelah pemuda dan perempuan itu menikah, setahun kemudian lahirlah seorang anak perempuan. Tidak lama setelah anak itu lahir, terjadi perpecahan diantara suami istri itu lantas masing2 berpisah hidup sendiri2. Dan selanjutnya lantas muncul didunia persilatan seorang perempuan yang misterius dia menyebut dirinya sebagai Bu siang sin li..."

"Selama puluhan tahun tidak henti2nya pihak Siau lim si mengutus para jagoan silatnya untuk mengejar dan mencari jejak Bu siang sin li, mereka berharap dapat merebut kembali buku pelajaran yang paling berharga itu. Tapi, Bu siang sin li sendiri sudah merupakan teka teki, munculnya dikalangan Kangouw hanya merupakan bayangan belaka."

Tergerak kesadaran Suma Bing, tanyanya mencari tahu.

"Jadi karena urusan ini maka Locianpwe merasa menyesal dan mengganjal dalam sanubari?"

"Ya, memang begitulah!"

"Kalau begitu pasti Locianpwe adalah salah satu dari Bu lim sam ki itu, yaitu pemuda yang berhasil mendapatkan buku Bu siang po liok itu?"

Mata Kangkun Lojin memancarkan sinar aneh, sahutnya penuh haru.

"Sedikitpun tidak salah, memang akulah orang tua adanya!"

"Lalu bagaimana wanpwe harus membantu?"

"Apa sangkut pautmu dengan Bu siang sin li?"

"Tiada sangkut paut apa2."

Sahut Suma Bing tertegun.

"Lalu Bu siang sin hoatmu itu kau pelajari darimana?"

"Ini, mungkin karena jodoh secara kebetulan aku memperoleh pelajaran ini!"

"Siapa orang itu?"

Mengingat sumpahnya kepada Giok li Lo Ci, terpaksa dia menjawab.

"Dalam hal ini maaf wanpwe tidak bisa menerangkan!"

Agaknya Kangkun Lojin sangat terpengaruh oleh perasaannya sendiri, tiba2 ia bergegas berdiri, katanya keras.

"Buyung, katakan alasanmu?"

Suma Bing juga bangkit berdiri, sikapnya ragu2 dan serba susah, sahutnya.

"Locianpwe, wanpwe pernah bersumpah untuk tidak menceritakan persoalan ini kepada siapapun"

"Tapi, terhadap aku orang tua..."

"Sungguh aku sangat menyesai!"

"Apa kau betul2 bukan anak murid Bu siang sin li"

"Hal ini dapat wanpwe jawab sejujurnya, bukan!"

Janggut panjang Kangkun Lojin ber-gerak2, perasaan harunya masih belum lenyap katanya menegasi.

"Jadi jelasnya kau menolak membantu aku orang tua untuk menyelesaikan urusan ini?"

"Wanpwe tidak akan mampu melakukannya."

Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 3

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert