Eps 7 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh
Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh
Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.
"Baiklah, coba katakan dimana Bu siang sin li mengasingkan diri?"
"Ini..."
Sebetulnya Suma Bing hendak mengatakan bahwa Bu siang sin li sudah meninggal dunia pada sepuluh tahun yang lalu, tapi teringat akan sumpahnya akhirnya ia telan kembali maksudnya.
"Bagaimana?"
"Maaf wanpwe tidak dapat memberitahu!"
"Kenapa?"
"Karena sumpah!"
"Buyung, kau harus beritahu kepada aku orang tua!"
Seru Kangkun Lojin gugup sambil mencengkram pergelangan tangan Suma Bing, begitu jarinya mengerahkan tenaga seketika Suma Bing rasakan tubuhnya lemah lunglai, hawa murni dalam tubuhnya buyar lenyap.
"Buyung, katakan!"
"Wanpwe takkan menurut!"
Jari2 Kangkun Lojin mencengkram semakin keras, gertaknya bengis.
"Katakan!"
Suma Bing rasakan seolah2 tulang2 dan seluruh nadinya sungsang sumbel dan terlepas dari ruas2nya, hawa murni susah dihimpun, keringat dingin sebesar kacang merembes keluar.
Tapi dasar wataknya memang keras kepala, sedikitpun dia tidak kerutkan alis atau mengeluh kesakitan, malah katanya menjengek dingin.
"Apa Locianpwe memaksa wanpwe melanggar sumpah dan kepercayaan?"
"Mengingat akan nama kebesaranku, pasti Bu siang sin li tidak akan salahkan kau."
"Tidak mungkin terjadi."
"Kau... harus katakan dimana alamat Bu siang sin li?"
"Tidak!"
"Kau ingin mati?"
Suma Bing mendengus ejek, katanya.
"Kalau Locianpwe beranggapan begitu, silahkan turun tangan, aku Suma Bing tidak akan mengerut alis."
Akhirnya Kangkun Lojin menghela napas panjang dan melepaskan cengkramannya, sikapnya lesu dan tidak bersemangat, tangannya diulapkan seraya berkata.
"Kau boleh pergi."
Kini ganti Suma Bing sendiri merasa tidak enak dan risi, hitung2 ia adalah seorang Cianpwe angkatan tua, malah dari cerita itu dapatlah dinilai sepak terjang orang tua ini sangat gagah perwira, hatinya sangat mengaguminya.
Tapi seorang laki2 harus menepati janji dan sumpahnya mana dia boleh menjilat ludahnya sendiri akan sumpahnya kepada Giok li Lo Ci dan membocorkan rahasia lembah kematian, maka berkatalah ia sejujurnya.
"Locianpwe, meskipun wanpwe tidak dapat sepenuhnya membantu, tapi dalam batas2 tertentu dimana wanpwe dapat melakukan, mungkin kelak aku bisa memberikan jawabanku!"
"Buyung, kau pergilah!"
Suma Bing membungkuk hormat terus memutar tubuh lari turun gunung, hatinya terasa seperti kehilangan sesuatu.
Mendadak terpikirkan suatu akal dalam benaknya, diam2 ia manggut2 girang.
Pikirnya saat ini memang dirinya tengah akan menuju ke Lembah kematian, mengandal Pedang darah dia hendak minta Bunga iblis.
Jikalau Kangkun Lojin menguntit dirinya dan menemukan rahasia lembah kematian itu, ini tidak terhitung dirinya melanggar sumpah.
Tapi dengan kedudukan dan ketenaran nama Kangkun Lojin, apa dia bakal berbuat begitu?
Memang besar hasratnya hendak melakukan sesuatu untuk membantu kesukaran orang tua ini, namun hakikatnya kenyataan ini tidak mengijinkan ia berbuat begitu.
Pengalamannya kali ini se-akan2 dialami dalam mimpi belaka.
Bahwa dirinya bisa terpilih sebagai ahli waris Raja didalam perkampungan bumi benar2 suatu hal yang aneh diluar tahunya.
Ber-hari2 kemudian tibalah dia dijalan raya, setelah mencari tahu baru diketahui tempat dimana sekarang dia berada kira2 terpaut ribuan li jauhnya dari tempat pertempuran waktu melawan Rasul penembus dada dulu, diam2 ia melelet lidah.
Setelah menimang2 bergegas dia mengambil jalan yang langsung menuju ke Bu kong san.
Membekal Pedang darah untuk mohon Bunga iblis, ini bukan saja tujuan utama yang tengah di-impi2kan, juga merupakan pesan terakhir dari Gurunya Sia sin Kho Jiang sebelum ajal, dan yang lebih tepat boleh dikatakan sebagai cita2 yang belum terlaksana oleh ayahnya yaitu Su hay yu hiap Suma Hong.
Setelah Pedang darah dan Bunga iblis dapat disatu padukan pasti dirinya dapat mempelajari ilmu yang tiada taranya, kelak pastilah terkabul cita2nya untuk menuntut balas dendam perguruan dan sakit hati orang tua pasti dapat dihimpas.
Lantas dari sini terpikir juga akan ibundanya San hoat li Ong Fan lan yang belum diketahui mati hidupnya.
Jikalau ibundanya belum ketemu, maka para musuhnya yang dulu kala ikut mengeroyok ayahnya pasti susah diselidiki jejaknya.
Sumber berita yang paling utama dapat diandalkan hanya Iblis timur seorang, namun Iblis timur sudah mati dibawah cundrik Rasul penembus dada.
Dan orang kedua adalah Loh Cu gi.
Tapi saat ini mungkin dirinya masih bukan tandingannya Loh Cu gi.
Apalagi Loh Cu gi belum tentu mau memberi keterangan siapa2 saja yang ikut serta dalam pengeroyokan dan perebutan Pedang darah itu, ini merupakan suatu soal juga.
Teringat akan Loh Cu gi, mendidih darahnya, murid murtad perguruan, algojo pembunuh ayahnya, bajingan besar yang memperkosa ibundanya, rasanya hanya dibunuh saja manusia durhaka ini masih belum dapat melunasi kejahatan yang sudah diperbuatnya.
Tengah kakinya melangkah, tiba2 teringat olehnya akan tiga cangkir darah pusaka naga bumi yang telah diminumnya itu, menurut kata Pit Yau ang Lwekangnya sekarang sudah bertambah dalam seumpama berlatih enam puluh tahun.
Jikalau menurut Lwekangnya sekarang dikombinasikan sebagai landasan dari ilmu Kiu yang sin kang entah dapat mencapai tingkat keberapa, apakah dapat menandingi latihan Loh Cu gi?
Otaknya bekerja matanya pun menjelajah keempat penjuru, tampak rimba lebat disebelah depan sana membelakangi sebuah bukit kecil, maka segera ia putar haluan menuju kepinggir bukit, disitu ia hendak mencari suatu tempat tersembunyi, untuk melebur kekuatan dari darah pusaka naga bumi kedalam Kiu yang sin kang.
Tidak lama kemudian tibalah dia diluar rimba lebat itu, sekian lama dia belak belok menerobos semak belukar didapatinya dibawah bukit sebelah sana terdapat sebuah gua, pikirnya, tempat ini sangat tersembunyi tentu tiada sembarangan orang dapat menerobos datang mengganggu.
Sekali berkelebat tubuhnya melesat kearah mulut gua.
Mendadak Suma Bing menjerit kaget dan menghentikan luncuran tubuhnya, matanya mendelong mengawasi lepotan darah yang berceceran menjurus kedalam gua.
Darah manusia ataukah darah binatang?
Dilihat dari warnanya, darah yang berlepotan diatas tanah ini pasti belum lama ini saja.
Se-konyong2 terdengar suara napas ngos2an dari dalam gua diselingi keluhan kesakitan yang luar biasa, karena ditekan maka suara itu hampir tidak terdengar.
Itulah suara manusia!
Pasti seseorang terluka berat didalam gua ini, begitulah setelah me-nimbang2, kakinya melangkah maju dan berseru keras kearah gua.
"Sahabat manakah yang berada didalam gua?"
Suara keluhan dan napas memburu itu seketika berhenti, tapi tanpa terdengar reaksi apa2. Sekali lagi Suma Bing berseru.
"Siapa itu yang didalam?"
"Siapakah yang diluar?"
Terdengar suara penyahutan yang lirih tapi nyaring.
Tanpa terasa Suma Bing melengak, ternyata orang didalam itu adalah seorang perempuan.
Entah bagaimana dia terluka didalam gua di tengah2 hutan belukar begini?
Maka serunya lagi lebih lantang.
"Agaknya nona terluka berat?"
"Tidak!"
"Tidak? Bukankah kau tadi mengeluh kesakitan dan darah..."
"Aku..."
"Kau bagaimana?"
"Tidak... apa2, silahkan kau menyingkir."
Karena tertarik dan ingin tahu, Suma Bing berkeputusan hendak mengetahui kejadian sebenarnya secara jelas, alisnya dikerutkan, katanya.
"Dapatkah kiranya aku yang rendah menyumbangkan tenagaku?"
Ber-kali2 terdengar pula suara keluhan dan gerengan sakit yang tertahan, se-akan2 dia sangat menderita menahan rasa sakitnya itu. Maka lebih besar rasa curiga Suma Bing, lantas serunya sekali lagi.
"Sudah terang kalau nona terluka berat, mungkin cayhe dapat membantu?"
Suara perempuan itu terdengar agak mendongkol.
"Ketahuilah... bukan... terluka. Kau! Mengapa begitu cerewet... bertanya saja?"
Suaranya lemah menggagap ter-putus2, ini menandakan suara hatinya bertentangan dengan keadaannya, tapi mengapa dia menolak bantuan orang lain?
Ini tentu ada latar belakangnya yang mencurigakan?
Orang itu adalah seorang perempuan, sudah tentu Suma Bing tidak bisa memaksa harus berbuat bagaimana.
Walaupun hatinya penuh tanda tanya, tapi apa boleh buat.
Maka pikirnya, kalau kau menolak bantuanku, baiklah aku tinggal pergi saja!
Baru saja ia hendak mengundurkan diri, tiba2 suara perempuan itu balik bertanya.
"Siapakah tuan ini?"
"Cayhe Suma Bing!"
"Apa? Jadi kau adalah Suma Siau hiap yang kenamaan itu?"
"Tidak berani aku terima puji sanjunganmu yang berlebihan itu, memang itulah Cayhe."
"Kalau begitu..."
"Nona siapa?"
"Aku bernama... Thong Ping..."
Lalu disusul suara keluhan dan gerengan yang menghebat. Alis Suma Bing dikerutkan semakin dalam, tak tertahan lagi ia bertanya.
"Apakah nona terluka berat?"
"Ti... dak..."
"Lalu apakah yang terjadi?"
"Aku... aku..."
"Kau kenapa?"
"Aku... aduh..."
"Bolehkah cayhe masuk untuk memeriksa?"
"Jangan... sekali2 kau... jangan masuk... aduh!"
Suma Bing menjadi serba susah dan garuk2 kepala. Entah perempuan yang mengaku bernama Thong Ping ini tengah bermain sandiwara apa.
"Sebenarnya nona kenapa?"
"Tidak... apa!"
"Kalau nona memang ada kesukaran yang sulit untuk dibantu, terpaksa cayhe minta diri..."
"Tidak... Suma Siau hiap, kau... jangan pergi!"
"Tapi nona harus menjelaskan yang sebenarnya kepada..."
"Aduh... Suma Siau hiap... harap kau... menunggu sebentar diluar... aku... aduh!"
Lagi2 terdengar suara pekik kesakitan lebih keras, sedemikian menusuk hati suara kesakitan itu sehingga mendirikan bulu roma.
Terpaksa Suma Bing berdiri diluar gua dengan bingung keadaannya serba runyam.
Se-konyong2 terdengar suara tangis bayi yang nyaring dari dalam gua.
Seketika merinding seluruh tubuh Suma Bing.
Ternyata perempuan bernama Thong Ping ini bersembunyi dalam gua untuk melahirkan.
Lalu dia minta dirinya menunggu sebentar untuk apa?
Ya, betul, mungkin dia akan minta dirinya panggil dokter dan beli obat, atau mungkin....RACUN DIRACUN MANUSIA LAKNAT.
Sepeminuman teh kemudian baru terdengar suara Thong Ping yang lemah tak bertenaga.
"Suma Siau hiap silahkan kau masuk!"
Sekarang Suma Bing menjadi ragu2 malah, tapi akhirnya mengeraskan kepala dia memasuki gua itu.
Diujung gua sebelah sana, tampak seorang wanita duduk menggelendot didinding batu, rambutnya awut2an, tangannya mengemban seorang orok yang baru lahir.
Satu tombak dihadapan perempuan itu Suma Bing menghentikan langkahnya, wajahnya merah jengah, katanya.
"Nona Thong bagaimana bisa..."
Thong Ping angkat kepala, sebelah tangannya menyingkap rambut yang menutupi mukanya, terlihatlah wajahnya yang pucat tapi ayu menggiurkan, katanya lemah.
"Suma Siangkong, ada satu urusan hendak kuminta bantuanmu?"
"Silahkan katakan!"
Sepasang mata Thong Ping yang jeli itu mendadak memancarkan cahaya dingin yang menakutkan, katanya sambil kertak gigi.
"Aku minta kau membunuh seorang!"
"Membunuh orang??!"
Jantung Suma Bing me-lonjak2 keras, serta merta dia mundur selangkah.
"Benar, membunuh seorang, tidak, dia bukan terhitung manusia, seekor binatang yang kejam dengan kedok manusia!"
"Siapa dia?"
"Ayah dari orok celaka ini."
Lagi2 Suma Bing terkejut, tanyanya berjingkrak.
"Apa, kau ingin aku membunuh suamimu?"
Air mata meleleh dengan derasnya dikelopak mata Thong Ping katanya sesenggukan.
"Dia bukan suamiku, kita belum pernah menikah, dia hanya mempermainkan aku..."
"Siapakah dia?"
"Racun diracun!"
"Siapa?"
"Racun diracun!"
Suma Bing bagai mendengar geledek dipinggir telinganya tanpa kuasa tubuhnya terhuyung hampir roboh.
Sungguh tidak kira Racun di racun bisa mempermainkan seorang perempuan yang tidak berdosa.
Memang sepak terjang Racun diracun susah dijajaki, sudah beberapa kali dia menanam budi atas dirinya, malah tanpa syarat mengembalikan Pedang darah kepada dirinya.
Menurut apa yang dikatakan Hui Kong Taysu dari Siau lim si bahwa Racun diracun ternyata adalah sealiran dengan Pek Kut Hujin, sedang Pek Kut Hujin juga sudah berulangkali memberi bantuan yang tidak ternilai kepada dirinya.
Haruskah dia melulusi permintaan Thong Ping.
Tapi, perbuatan Racun diracun kali ini benar2 mendirikan bulu roma.
Kata Thong Ping membesut airmata.
"Suma Siau hiap apa kau kenal Racun diracun?"
"Begitulah seorang manusia aneh dengan seluruh badan hitam legam, manusia paling beracun diseluruh dunia!"
"Itu bukan wajahnya yang asli."
"O!"
"Dia berkepandaian suatu tenaga dalam yang dapat merubah bentuk wajahnya dalam sekejap mata..."
Diam2 Suma Bing manggut2, memang dia pernah dengar akan ilmu Kun goan tay hoat ih sek suatu ilmu yang paling susah dipelajari. Kata Thong Ping lagi.
"Wajah aslinya walaupun tidak begitu ganteng tapi juga cukup gagah, siapa tahu, dia... hatinya jahat melebihi serigala."
"Dia menelantarkan nona?"
Air mata, meleleh lagi lebih deras kata Thong Ping dengan nada kebencian yang ber-limpah2.
"Dia menipu cintaku menodai tubuhku, waktu aku sadar kalau aku sudah mengandung dan minta supaya segera kita menikah, dia..."
"Dia bagaimana?"
"Dia berkata bahwa aku bukan calon istri yang diangan2kan dia minta aku melupakan dia..."
Suma Bing ikut gusar dibuatnya, dengusnya.
"Lalu dia menelantarkan nona?"
"Tidak sampai disitu saja!"
"Masih ada ekornya?"
"Akhirnya kejadian ini diketahui oleh ibuku, kontan dia dicaci maki. Dalam gusar dan malunya, ternyata..."
"Bagaimana?"
"Dia bunuh ibuku menggunakan racun tanpa bayangan!"
Bercerita sampai disini Thong Ping tak kuat menahan duka dan keperihan hatinya, seketika ia muntah darah.
"Keparat kejam yang harus dibunuh!"
Teriak Suma Bing dengan gemesnya.
Terbayang juga kematian adik Siang Siau hun dengan Li Bun siang yang juga dibunuh oleh Racun diracun yang menggunakan Racun tanpa bayangan juga, memang Racun diracun harus ditumpas dan dilenyapkan dari alam semesta ini.
Tapi, teringat pula akan hutang budinya yang belum sempat terbalas, seketika dingin perasaan hatinya.
Agaknya Thong Ping ini sangat teliti dan cermat sekali, dia sudah melihat kesukaran2 yang bakal dialami Suma Bing maka katanya lagi.
"Suma Siau hiap, kalau kau ada kesukaran, permohonanku itu anggaplah omong kosong saja!"
Suma Bing berpikir cepat, manusia yang tidak berperikemanusiaan ini mana boleh dibiarkan tinggal hidup didunia ini, budi dan dendam harus dibedakan, melenyapkan kejahatan adalah tugas utama bagi kaum ksatria, maka sahutnya sambil kertak gigi.
"Nona Thong, baiklah aku akan bunuh dia"
Tubuh Thong Ping mendadak membungkuk maju mendekam diatas tanah dan berkata.
"Suma Siangkong, harap terimalah hormatku ini!"
"Tidak... tidak... mana boleh begitu!"
Suma Bing mencak2 menyingkir, karena tidak leluasa dia membimbing bangun maka dia minggir kesamping. Thong Ping duduk seperti semula, katanya sambil tertawa pahit.
"Suma Siau hiap, konon kabarnya bahwa Siau hiap tidak takut akan segala racun berbisa. Maka selain kau seorang Siau hiap, mungkin tiada seorangpun dalam Bu lim yang dapat membunuh Racun diracun. Memang Tuhan maha adil, dia mengutus Siau hiap kemari..."
Kata Suma Bing menegaskan.
"Nona Thong, pasti aku dapat menyelesaikan urusan ini."
"Siau hiap walaupun harus mati aku Thong Ping juga sangat berterima kasih akan budimu ini"
"Nona jangan berkata demikian, manusia jahat berhati binatang seperti dia itu, siapapun wajib melenyapkannya."
Thong Ping sesenggukkan lagi, ujarnya.
"Siau hiap semua sudah kusampaikan, silahkan berangkat"
Alis Suma Bing berkerut, hatinya tidak tega tinggal pergi begitu saja, katanya.
"Nona bagaimana dengan kalian ibu beranak?"
"Kami ibu beranak? hahahahaha..."
"Nona kau..."
Thong Ping menghentikan tawanya, katanya.
"Suma Siau hiap, apa kau beranggapan aku Thong Ping masih ada harganya tetap hidup?"
Tanpa terasa bergidik tubuh Suma Bing.
"Nona, yang sudah lalu anggaplah sebuah mimpi yang paling buruk dilupakan sajalah."
"Ini, dapatkah dilupakan?"
"Tapi nona, masih ada bayi ini..."
"Hehehe... hihihi... bayi, anak celaka ini biar kubunuh saja dengan tanganku sendiri!"
Nada ucapannya sedemikian seram dan menyayat hati, mendirikan bulu roma. Ber-ulang2 Suma Bing bergidik seram, katanya penuh haru.
"Nona, sebuas2 macan dia takkan menelan anaknya sendiri jelek2 dia adalah anak yang kau lahirkan?"
Thong Ping agak tercengang. lalu katanya menggigit gigi.
"Dia anak haram!"
"Kau salah nona Thong, anak ini tidak berdosa, dosa orang tua mana dapat kau limpahkan ketubuh orok kecil yang baru lahir ini."
Pada saat itulah mendadak sang bayi itu menangis dengan kerasnya, se-olah2 dia tengah meronta dan menentang akan nasib jeleknya yang bakal dihadapinya. Dengan berlinang airmata Thong Ping menggumam.
"Anak ini tidak berdosa?"
Suma Bing manggut2, katanya.
"Nona Thong bagaimana juga dia adalah anak yang kau lahirkan, kau adalah ibu dari bayi ini!"
Thong Ping menunduk lekat2 mengawasi bayi dalam buaiannya, sinar matanya memancarkan cahaya cerlang cemerlang yang aneh, sedemikian tenang dan welas asih sedikit juga tidak mengandung kebencian lagi, itulah cinta ibunda pertanda dari kemajuan perikemanusiaan.
Diam2 Suma Bing menghela napas lega, tanyanya.
"Nona Thong masih ada kerabat siapa lagi dalam rumahmu?"
"Masih ada adik laki2 yang masih belum dewasa!"
"Lebih baik nona pulang saja, kalau bundamu sudah meninggal secara mengenaskan, janganlah adikmu sampai terlunta2 dan hidup sengsara!"
Mendengar bujukan yang menusuk hati ini seketika menggerung2lah tangis Thong Ping.
Suma Bing diam saja tanpa suara membiarkan orang menangis sepuas2nya.
Memang dia perlu menangis perlu akan mencuci bersih segala dukacita dan keputusasaannya, melampiaskan kesedihan dan kedongkolan hatinya.
Lama dan lama kemudian baru Thong Ping menghentikan tangisnya.
"Nona Thong dimanakah kau tinggal?"
"Aku tinggal di Thong keh kip jalan Kip bwe nomor dua dalam wilayah Su cwan!"
"Baiklah, nona Thong sekarang aku minta diri, kelak kalau ada kesempatan pasti aku mampir kerumahmu!"
"Siau hiap, terima kasih akan keluhuran budimu ini..."
"Ini tidak terhitung budi apa segala, nona terlalu berat berkata!"
"Kata2 emas Siau hiap tadi menyadarkan kesesatan pikiranku, itu berarti kau telah menolong jiwa kita ibu beranak..."
"Nona jangan kau berkata demikian, harap jagalah dirimu dan anakmu baik2, cayhe minta diri."
Habis berkata segera ia mengundurkan diri keluar gua sebetulnya tujuannya semula adalah hendak mencari suatu tempat untuk melebur Kiu yang sin kang dengan tenaga barunya, sungguh tidak diduga disini ia menghadapi kejadian yang paling menyedihkan dalam dunia ini.
Sekian lama dia termangu memandang mulut gua, lalu menghela napas panjang, batinnya.
'Seorang wanita yang harus dikasihani.' Sekali melejit, secepat terbang dia berlari menuju kepuncak bukit dibelakang rimba sebelah sana.
Dia harus segera mencari suatu tempat untuk berlatih diri.
Beruntun dia lewati tiga puncak bukit, namun sebegitu jauh belum menemukan tempat yang strategis untuk latihannya, diam2 hatinya mulai gugup.
Karena latihan Kiu yang sin kang ini paling mudah Cap hwe ji mo atau tersesat, sedikitpun tidak boleh sampai terganggu.
Begitulah setelah celingukan kesana kesini, dilihatnya tidak jauh disebelah bawah sana terdapat sebuah selokan tersembunyi, bangkitlah semangatnya.
Selokan ini jauh dibawah sana kira2 sedalam ratusan tombak, seumpama jagoan kelas satu dari kalangan Kang ouw juga sukar dapat turun kesana, sejenak setelah diukur2 segera ia kembangkan ilmu gerak naik dari Bu siang sin kang, tubuhnya sedemikian enteng bagai daun melayang pelan2 menurun, tidak lama kemudian dengan ringannya kakinya menginjak tanah didasar selokan sempit itu.
Dipilihnya sebuah batu cadas besar yang menonjol keluar seperti sayap seekor burung, mulailah dia berlatih diri.
Te liong po hiat atau darah pusaka naga bumi itu betul2 mustajab dan mandraguna sedikit saja ia kerahkan tenaga hawa murni dalam tubuhnya segera bergejolak dengan kerasnya bagai sumber air yang ber-gulung2 menyemprot keluar.
Menurut teori pelajaran Kiu yang sin kang pelan2 dia tuntun hawa murni itu meresap masuk kedalam pusar dan mulai dilebur dan digodok bersama.
Kira2 setengah hari kemudian, seluruh tubuhnya sudah tertutup oleh kabut tebal yang berwarna merah menyolok mata, hawa panas ber-gulung2 melingkupi lima tombak sekitarnya.
Pada saat itulah sebuah bayangan manusia bagai bayangan malaikat saja melayang tiba menghampiri kedekat Suma Bing.
Sudah sedemikian dekat tapi sedikit juga Suma Bing tidak mengetahui, latihannya sedang mencapai titik terakhir.
"Ha, Kiu yang sin kang!"
Mendadak bayangan itu berpekik ke-gila2an.
Kontan buyar dan hilang kabut merah itu lalu disusul jeritan yang menyayat hati.
Seketika Suma Bing roboh terkapar tanpa bergerak, dari panca indranya mengalir darah segar dengan derasnya.
Bayangan itu agaknya juga sangat kaget, sekali lagi dia berseru kejut.
"Tersesat!"
Untung Lwekang Suma Bing sudah mencapai kesempurnaannya apalagi jalan darah mati hidup sudah tembus, cepat2 ia tutup sendiri jalan2 darah penting untuk merintangi darah berputar dan menerjang balik.
Walaupun demikian tidak urung separuh badannya sudah kaku tak dapat bergerak lagi.
Mimpi juga dia tidak mengira bahwa diselokan dibawah jurang begini bakal ada orang lain yang datang kemari.
Waktu dia pentang matanya memandang, terlihat tiga tombak disebelah sana berdiri seorang pemuda yang berwajah putih ganteng, matanya mendelong mengawasi dirinya.
Dia insaf karena seruan kaget yang mendadak tadi sehingga membuat latihannya tersesat, meskipun dia dapat segera mencegah akan akibat yang lebih mengenaskan sehingga jiwanya tertolong dari kematian, tidak urung separuh tubuhnya sudah menjadi cacat, ini sudah terang menjadi kenyataan.
Betapa sedih dan pilu hatinya beratus kali lebih sengsara dari kematian.
Seandainya lantas mati malah akan beres dan tidak bikin kapiran, paling celaka kini badannya mati separuh malah harus menghadapi lagi kenyataan hidup dengan pahit getir ini, benar2 lebih baik mati daripada hidup menderita begini.
Seketika airmata ber-linang2, hatinya seperti di-sayat2 dukanya luar biasa.
Hampir saja dia melupakan biang keladi atau durjana yang menyebabkan semua kecelakaan ini.
Pemuda itu berkerut alis, lalu membuka mulut.
"Karena keteledoran cayhe sehingga saudara tersesat dalam latihan, sungguh aku sangat menyesal dan beribu2 maaf!"
Suma Bing melotot beringas mengawasi pemuda itu, katanya.
"Sekarang aku sudah celaka, cukup dengan minta maaf saja pertanggungan jawabmu?"
Sikap pemuda itu acuh tak acuh, sahutnya.
"Lalu saudara maunya bagaimana?"
Darah semakin merangsang dijantung Suma Bing, gusarnya bukan kepalang, serunya gemetar.
"Sebenarnya ada permusuhan atau dendam apa aku dengan kau?"
"Permusuhan atau dendam sakit hati sih tidak ada"
"Kau juga seorang persilatan, masa pengetahuan umum yang cetek begini saja tidak tahu?"
"Tadi sudah kukatakan keteledoran yang tidak disengaja."
"Gampang dan ogah2an benar sikapmu ini?"
Si pemuda menarik muka, katanya mendesis.
"Seumpama memang aku sengaja mencelakai kau, kenapa harus diributkan?"
Hampir meledak jantung Suma Bing, ingin benar rasanya sekali pukul dia hancurkan pemuda kurangajar ini, namun badannya sudah tidak mampu bergerak terpaksa dia kertak gigi.
"Karena kata2mu itu kau setimpal untuk dibunuh!"
"Siapa berani membunuh aku? Siapa bisa membunuh aku? Hahahahaha!"
"Dengan perbuatanmu ini, cepat atau lambat pasti ada orang yang bakal membunuhmu!"
"Kau ingin mati?"
"Kau berani?"
Si pemuda tertawa menyeringai, ejeknya.
"Membunuh orang terhitung apa, apa perlu dipersoalkan berani atau tidak berani apa segala. Ketahuilah, tanpa menggerakkan tangan aku dapat..."
"Bagaimana?"
"Eh, kau... yang kau latih tadi adalah Kiu yang sin kang, bukankah kau ini yang bernama Suma Bing?"
Suma Bing tertegun, tanyanya.
"Kalau benar kau mau apa?"
Berubah air muka si pemuda, suaranya gemetar.
"Benar kau adalah Suma Bing?"
"Tidak salah!"
"Wah ini benar2 celaka!"
Suma Bing menjadi melengak heran, entah apa maksudnya dengan ucapan celakanya itu, maka tanyanya tak mengerti.
"Apanya yang celaka?"
Agaknya kaget si pemuda masih belum hilang, matanya termangu dan mulutnya menggumam.
"Kesalahan sudah sudah terjadi, ini... bagaimanakah baiknya?"
Suma Bing tambah tidak paham, suaranya semakin gemetar.
"Siapakah kau ini?"
"Aku? Lebih baik jangan kau tanyakan, mungkin akan datang suatu hari kau bisa tahu. Suma Bing, selamanya aku membunuh orang tanpa banyak pikir, tapi terhadap kau aku tak bisa turun tangan. Mengenai urusan kali ini benar2 aku sangat menyesal dan minta maaf. Kira2 satu jam lagi pasti ada orang datang, aku harus segera pergi!"
Habis suaranya tubuhnya melesat terbang dalam sekejap mata saja bayangannya sudah menghilang, kecepatan gerak tubuhnya itu benar2 sangat menakjubkan.
Suma Bing termangu memandangi bayangan orang menghilang dari penglihatannya, sepatah katapun tidak mampu diucapkan lagi.
Sifat pemuda itu bukan saja kejam juga licik banyak tipu muslihatnya, ini dapat didengar dari nada perkataannya.
Dia mengatakan satu jam lagi bakal datang seseorang, orang macam apakah yang bakal tiba?
Latihannya sudah tersesat, separuh tubuhnya juga sudah mati kaku, seumpama orang datang apalagi gunanya.
Badan Suma Bing serasa lemas tak bertenaga, begitu mata dipejamkan, bayangan pengalaman lalu segera berkelebatan dalam benaknya, diantaranya rasa dendam sakit hati, cinta, menuntut balas dan budi kebaikan para kawan, seumpama ujung pedang menusuk ulu hatinya, 'Kalau aku tidak mati, aku harus membunuhnya!' demikian ia bertekad dalam hati.
Tiba2 dia tertawa keras menggila dengan suara serak, kegelapan dan keputus-asaan tanpa berujung pangkal mulai mendatang melingkupi dirinya, dapatkah dirinya sembuh lagi seperti sedia kala?
Ini benar2 merupakan angan2 kosong dalam impian belaka, bahwa dia masih helum mati karena latihannya ini tersesat sudah merupakan untung yang paling besar.
Tengah pikirannya me-layang2 ini, sebuah bayangan berkelebat lagi didepan matanya.
Kiranya pemuda licik itu lagi yang muncul.
Waktu pandangan Suma Bing beradu pandang dengan sinar mata si pemuda yang berjelalatan tak henti2nya itu, tanpa terasa dia bergidik gemetar, dia pergi dan kembali lagi, pasti ada maksud2 jahat apalagi yang hendak diperbuatnya.
Si pemuda menyeringai dingin, katanya.
"Suma Bing, aku teringat sesuatu..."
"Sesuatu apa?"
Bentak Suma Bing bengis.
"Bukankah Pedang darah berada ditanganmu?"
Suma Bing semakin murka dan berputus asa, kiranya dia kembali lagi karena ingin merebut Pedang darah dari tangannya.
Setelah mengalami berbagai rintangan baru Pedang darah ini diserahkan oleh Racun diracun kepadanya, jikalau hilang lagi, semua angan2nya bakal kandas seluruhnya.
Memang keadaan dirinya sekarang ini mana mungkin dapat melindungi Pedang darah itu sehingga tidak sampai terebut oleh lawan.
Tentang Pedang darah berada ditangannya, selain pihak Bwe hwa hwe tiada orang lain yang tahu.
Apa mungkin pemuda licik ini adalah dari pihak Bwe hwa hwe?
Kalau dia memang benar dari Bwe hwa hwe mengapa tidak segera mencabut jiwanya?
Ini tidak benar.
Lalu bagaimana bisa dia mengetahui kalau dirinya menyimpan Pedang darah?
Pelan2 si pemuda mendekat kehadapan Suma Bing, tangan diulurkan dan katanya.
"Suma Bing, serahkan kepadaku!"
"Siapakah kau sebenarnya?"
"Aku, tiada halangannya kuberitahu, aku bernama Phoa Cu giok!"
"Phoa Cu giok?"
"Benar!"
Rasa kebencian yang me-luap2 merangsang hati Suma Bing, serunya beringas.
"Phoa Cu giok, akan datang satu hari kubeset dan kucacah tubuhmu."
Phoa Cu giok ganda menyeringai, katanya tertawa.
"Selama hidupmu kau takkan mampu berbuat apa2, tapi, meskipun mulutmu kurangajar, aku tetap segan membunuh kau. Kau sendiri tahu, setelah latihanmu tersesat kau tidak akan dapat hidup lama lagi!"
Suma Bing menjerit kalap seperti orang gila, darah menyemprot dari mulutnya.
Phoa Cu giok maju lagi dua langkah, secepat kilat ia cengkram tangan Suma Bing yang masih dapat bergerak, sedang tangan yang lain mencengkram kebaju didepan dadanya.
'Bret!' sebilah pedang kecil sepanjang satu kaki sudah berada ditangan Phoa Cu giok.
Duka dan gusar merangsang bersamaan, kontan Suma Bing jatuh pingsan.
Entah sudah berselang berapa lamanya, akhirnya Suma Bing baru tersadar.
Perasaan pertama yang dirasakannya adalah se-akan2 dirinya berada dipelukan seseorang, bau wangi juga segera merangsang hidung, dipinggir telinganya terdengar sebuah suara halus mesra tengah memanggil dirinya.
"Engkoh Bing, engkoh Bing!"
Waktu dia membuka mata keruan kejutnya luar biasa, dihadapannya berdiri bibinya Ong Fong jui, ternyata dirinya rebah dipangkuan istrinya Phoa Kin sian.
Mereka guru dan murid bisa muncul ditempat itu benar2 diluar sangkanya.
Pertama kali melihat keluarga terdekat setelah mengalami bencana, tak urung Suma Bing yang terkenal berhati baja dan keras kepala juga akhirnya mengucurkan air mata.
"Nak,"
Ujar Ong Fong jui sambil mengerutkan alis dalam2.
"Kau tersesat dalam latihanmu?"
"Ya, begitulah!"
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
"Kalau diceritakan sangat panjang!"
"Ceritakanlah pelan2!"
Dengan sapu tangan sutra Phoa Kin sian membesut keringat diatas jidat Suma Bing, sehingga terasa kasih mesra yang menghangatkan badannya.
"Bi, aku... dapatkah aku sembuh kembali?"
"Nak, bibimu akan sekuat tenaga membantumu sembuh kembali, sekarang ceritakanlah pengalamanmu sampai keadaanmu jadi sedemikian rupa!"
Maka mulailah Suma Bing bercerita sejak dari mereka berpisah tempo hari, ditengah jalan bersua dengan Rasul penembus dada dan tertolong oleh pihak Perkampungan bumi dimana dia dicalonkan sebagai ahli waris raja mereka begitulah dari mula sampai akhir ia ceritakan dengan ringkas dan jelas.
Selanjutnya, dia mendongak memandang Phoa Kin sian dan berkata.
"Adik Sian, aku berbuat salah terhadapmu!"
Sahut Phoa Kin sian lemah lembut.
"Ini tidak bisa salahkan kau!"
Ong Fong jui menghela napas ringan, katanya.
"Nak, pengalamanmu didalam Te po aku dan Kin sian sudah mengetahui!"
"Apa, bibi Jui sudah tahu? Darimana bibi bisa tahu?"
"Tengah hari yang lalu aku sudah bertemu dengan Kangkun Lojin!"
Suma Bing terperanjat.
"Apa bibi Jui kenal dengan Kangkun Lojin?"
"Tidak kenal, sudah lama kudengar ketenarannya!"
"Bagaimana bisa..."
"Mata telinga pihak Te po sangat awas dan jeli, siang2 mereka sudah tahu hubunganmu dengan Kin sian. Adalah Sim tong Tongcu Song Liep hong dari perkampungan bumi itulah yang menuntun orang tua itu menemui aku!"
Baru sekarang Suma Bing paham, kiranya waktu diluar jalan rahasia itu, tugas yang diserahkan kepada Kangkun Lojin oleh Te kun itu ternyata adalah soal ini. Ujar Ong Fong jui lagi.
"Kangkun Lojin mendapat pesan dari Te kun, untuk merembukkan tentang persoalanmu masuk warga dalam perkampungan bumi, aku sudah melulusi mereka."
Suma Bing melengak.
"Bibi sudah melulusi!"
"Kayu sudah menjadi perahu, apalagi Kangkun Lojin sendiri yang ikut campur, terpaksa aku harus setuju!"
"Tapi bagaimana adik Sian..."
"Kin sian paham dan maklum akan keadaanmu, ini tiada persoalan baginya!"
"Tapi aku... selalu merasa tidak tentram bibi Jui, aku..."
"Kenapa?"
"Aku berkeputusan untuk tidak kembali lagi ke Te po!"
"Tidak bisa, cara memilih menantu sudah merupakan tradisi bagi mereka, peraturan ini sudah menjadikan undang2 tetap dikalangan Kangouw. Apalagi kau dengan Pit Yau ang sudah melangsungkan upacara pernikahan secara resmi, bagaimana rasa tanggung jawabmu kepadanya?"
Sampai sekarang Suma Bing masih rada dongkol dan jengkel, sahutnya.
"Mereka menipu aku!"
"Nak, kau tidak bisa berkata demikian!"
"Lalu adik Sian?"
"Sudah tentu dia ikut kau ke Te po!"
"Ini..."
"Kin sian sendiri sudah setuju!"
Suma Bing memandang istrinya dengan penuh penyesalan yang tak terhingga, betapa resah perasaan hatinya susah dikatakan.
Sebenarnya cinta itu sangat egois, adalah sebaliknya bagi Phoa Kin sian waktu mengetahui suaminya terjatuh kedalam pelukan perempuan lain, bukan saja tidak mengunjuk perasaan cemburu, malah sinar wajahnya mengunjuk rasa girang berseri, ini benar2 susah dimengerti.
Ong Fong jui mengalihkan pokok pembicaraan.
"Nak, kau masih belum menceritakan bagaimana kau bisa tiba ditempat selokan yang tersembunyi ini."
Lagi2 Suma Bing harus dipaksa mengenang kenyataan yang menyedihkan itu, katanya penuh kebencian.
"Tit ji (keponakan) diberi minum tiga cangkir darah pusaka naga bumi. Aku ingin melebur tenaga baru ini kedalam ilmu Kiu yang sin kang, maka akhirnya kupilih tempat selokan yang tersembunyi ini untuk berlatih, sungguh tak terduga ditengah jalan aku mendapat gangguan..."
"Siapakah yang mengganggu kau?"
Tanya Phoa Kin Sian terharu. Sebaliknya Ong Fong jui segera mendengus dingin.
"Tiada orang lain pasti dia."
Suma Bing menjadi keheranan, naga2nya si pemuda yang mengaku bernama Phoa Cu giok ada hubungan erat dengan Ong Fong jui guru dan murid.
Kalau tidak sebelum pergi Phoa Cu giok juga tidak bakal mengatakan satu jam kemudian pasti ada orang datang, maka pura2 tidak tahu dia bertanya.
"Bibi Jui, siapakah dia?"
Mendadak tubuh Phoa Kin sian menggigil gemetar.
Suma Bing terbaring dalam pangkuannya sudah tentu dia merasa akan hal ini, tanpa terasa tergerak hatinya.
Sejenak Ong Fong jui ragu2, lantas balas bertanya.
"Apa kau tahu siapa dia?"
"Dia mengaku dirinya bernama Phoa Cu giok!"
"Hm, dia adalah adik kandung Kin sian, juga adik iparmu!"
Keruan Suma Bing terperanjat, tidak diketahuinya bahwa Cu giok ternyata adalah adik istrinya, bagaimana dia harus membalas perhitungan ini?
Pada saat itu mendadak Phoa Kin sian melelehkan airmata dengan derasnya.
Panjang2 Suma Bing menghela napas katanya.
"Adik Sian, jangan kau berduka karena peristiwa ini, mungkin dia tidak sengaja, aku... tidak salahkan dia."
"Engkoh Bing kau tidak tahu, kelak... ai, mungkin pada suatu hari akan kuberitahukan kepada kau!"
"Apa?"
"Sekarang tidak bisa kukatakan!"
"Sebenarnya apakah yang telah terjadi?"
"Ai? Mungkin aku berbuat salah, tapi sudah terlambat!"
Wajah Ong Fong jui berubah serius, katanya.
"Kin sian harus cari dia kembali."
Tercetus ucapan Suma Bing.
"Dia juga membawa Pedang d a r a h k u ! "
P h o a K i n s i a n me r e b a h k a n S uma B i n g d i a t a s t a n a h , t e r u s berjingkrak bangun serunya gemetar.
"Apa dia membawa Pedang darah?"
Suma Bing mengiakan. Airmuka Ong Fong jui juga berobah marah, serunya geram.
"Ada kejadian begitu, anak itu sudah tidak dapat ditolong lagi!"
Wajah Phoa Kin sian penuh airmata, katanya penuh duka.
"Suhu, engkoh Bing kuserahkan kepadamu, aku..."
"Kau kenapa?"
"Bagaimanapun aku harus mencarinya kembali, sedikitnya Pedang darah itu harus diminta pulang!"
Habis berkata tubuhnya terus melejit terbang menghilang.
"Adik Sian!"
"Kin sian!"
Ong Fong jui dan Suma Bing berseru berbareng, tapi Phoa Kin sian bagai tidak mendengar, pada lain kejap bayangannya sudah menghilang dikejauhan sana.
Terang kalau keadaannya saat itu sangat berduka dan sedih luar biasa...
Suma Bing menyesal dan menghela napas, katanya.
"Hm, kejadian ini benar2 diluar dugaan"
Wajah Ong Fong jui membesi kehijauan, suaranya mengandung kebencian.
"Phoa Cu giok banyak berbuat jahat dan bertabiat rendah, akan datang suatu hari dia termakan akan buah perbuatannya ini, malah mungkin bisa mencelakai cicinya sekalian!"
"Bibi Jui, Phoa Cu giok juga menjadi muridmu?"
"Ya, kupandang muka Phoa Kin sian maka kuterima dia menjadi murid. Siapa tahu diluar bagus tapi busuk didalam kalau dia tidak bisa merubah tabiatnya ini, tidak dapat tidak aku harus menghukumnya menurut undang2 perguruan!"
"O, bibi Jui, bagaimana kau bersama Kin Sian bisa datang diselokan yang tersembunyi ini?"
"Disinilah tempat aku menetap."
"Tempat sepi ditengah alas pegunungan ini?"
"Tak lama lagi kau pasti dapat tahu, sekarang lebih baik kita kembali ketempat kediamanku dulu!"
Sambil berkata ia jinjing tubuh Suma Bing terus berlari bagai terbang kearah selokan yang lebih dalam sana, sekejap saja mereka tiba didepan sebuah gua.
Tanpa banyak pikir langsung Ong Fong jui terus menerobos masuk.
Gua ini sedemikian bersih dan nyaman sedikitpun tak terlihat ada kotoran, ruangan dalam gua itu selebar tiga tombak persegi, meskipun kecil namun dihias sedemikian rupa bagai kamar seorang putri raja.
Langsung Ong Fong jui membaringkan Suma Bing diatas sebuah dipan yang lengkap dengan kasur dan bantal guling.
Menyapu pandang keadaan ruangan ini berkatalah Suma Bing.
"Bibi Jui, disinikah tempat kediamanmu?"
"Bukan, ini hanya tempatku bersemadi."
"Bibi Jui, mengenai kabar ibunda..."
Rona wajah Ong Fong jui berubah tak menentu, katanya.
"Nak, sejak kuketahui riwayat hidupmu, setiap saat setiap Tiraik asih Websi te
http.// kangz usi.co m/ waktu selalu aku berusaha mencari... Sekarang jangan kita perbincangkan soal itu, biar kuperiksa dulu lukamu itu."
"Dapatkah badanku sembuh kembali?"
"Sekarang belum bisa ditentukan, tapi, nak, aku akan berusaha sekuat tenaga!"
Sambil berkata tangannya diulur menekan dan memeriksa nadi jalan darah Suma Bing yang sebelah tubuhnya sudah tak dapat bergerak lagi.
Lama dan lama sekali tanpa bersuara.
Suma Bing menjadi risau dan tak sabar.
"Bagaimana bibi Jui, masih dapat ditolong?"
Ong Fong jui terpekur dalam se-olah2 tengah memikirkan persoalan besar yang susah dipecahkan, begitulah dia berdiam diri tanpa menyahuti pertanyaan Suma Bing.
Kira2 setengah harian kemudian baru dia menepuk dipinggir ranjang, dan berkata seperti menggumam.
"Terpaksa begitulah!"
Suma Bing tertegun, tanyanya.
"Bibi Jui, lebih baik bagaimana?"
"Biar aku menempuh bahaya!"
"Menempuh bahaya?"
"Benar, menggunakan tenaga murniku diaduk bersama dengan Kan goan kay hiat sip meh tay hoat, untuk menjebol jalan darahmu yang buntu karena latihanmu yang tersesat itu. Selain dengan cara ini tiada cara lain yang lebih sempurna. Ingat, setelah tenagamu pulih kembali, kalau melihat keadaanku sangat janggal jangan kau gugup dan takut, kau harus tenang dan pindahkan saja aku dikamar dalam disebelah gua ini..." . TABI B KEN AMA AN PEK CHI "Terletak dimanakah kamar dalam itu?"
Tanya Suma Bing penuh was.
"Kau geser dipan ini tiga senti kekanan, pintu kamar dalam itu akan membuka sendiri, kalau digeser lima senti kekiri dia akan menutup sendiri pula..."
"Kenapa ini..."
"Dengar, setelah kau pindahkan aku dikamar sebelah, kau harus segera keluar dari selokan ini pergilah ke Yok ong bio di Seng toh. kepada Pek Chio Lojin kepala dari biara itu, mintalah sebutir Hoan hun tan. Dalam jangka waktu sepuluh hari kau sudah harus kembali disini, masukkan Hoan hun tan itu kedalam mulutku, lalu dengan Kiu yang sin kang kau bantu bekerjanya obat itu, mungkin aku bisa selamat tanpa kurang suatu apa..."
Suma Bing berkuatir.
"Untuk aku bibi Jui hendak menempuh bahaya?"
"Mana bisa aku melihat kau mati setelah cacat begini?"
"Masa tiada jalan lain?"
"Tidak ada!"
"Biarpun mati aku juga tidak setuju!"
"Omong kosong, kau sudah lupa dendam dan, sakit hatimu, masih berapa banyak kebahagiaan orang lain tergantung diatas tubuhmu, mana boleh kau pandang kematian begitu ringan!"
Suma Bing semakin berduka, airmata mulai meleleh keluar, katanya.
"Tapi kau bibi Jui..."
"Asal dalam sepuluh hari kau bisa mendapatkan Hoan hun tan, aku tidak bakal mati."
"Kalau terjadi sesuatu..."
"Serahkan saja nasib kita kepada Tuhan!"
"Tidak!"
Wajah Ong Fong jui berobah kaku membengis.
"Jangan kau membawa adatmu sendiri."
"Bibi, jangan, jangan kau..."
"Jangan bergerak, sekarang mulai!"
Beruntun Ong Fong jui memukul se-keras2nya diduabelas jalan darah suma Bing, lalu duduk bersila disamping Suma Bing, kedua tangannya menekan jalan darah Bing bun dan Thian leng, maka arus hawa hangat mulai disalurkan.
Bagaimana juga Suma Bing tidak rela Ong Fong jui menempuh bahaya demi jiwanya namun dia tak kuasa melawan dan mendebat, terpaksa dia mandah saja menerima pengobatan.
Sedemikian keras dan derasnya arus hawa hangat itu mengalir bagai banjir air bah terus menerjang dan menjebol segala apa saja yang merintang didepannya demikian juga semua jalan darah Suma Bing yang buntu bobol pertahanannya.
Setelah menjebol tiga jalan darah besar, karena benturan hawa hangat ini terlalu keras tak tahan lagi Suma Bing jatuh pingsan.
Waktu dia siuman kembali terasa jalan darahnya sudah normal dan berjalan seperti biasa, hawa murninya penuh sesak bergairah, ternyata semua tenaga murninya sudah terbaur didalam Kiu yang sin kang, dalam berpikir2 itu gelombang panas masih mengalir deras dalam tubuhnya.
Waktu pandang bibinya disamping, tampak wajahnya pucat pias, tubuhnya rebah kaku tanpa bergerak, waktu diraba pernapasannya sudah berhenti, kaki tangan juga sudah dingin, tinggal jantungnya saja yang masih sedikit berdetak.
Betapa perih perasaan Suma Bing kala itu, sungguh dia tidak berani membayangkan, kalau bibinya meninggal karena dirinya...
Mematuhi pesan bibinya dia geser dipan itu kekanan, mendadak dinding sebelah kiri terbuka sebuah pintu, dimana terlihat sebuah kamar lagi lebih besar dan lebih mentereng, tanpa banyak pikir segera ia pindah tubuh bibinya kekamar dalam ini dan direbahkan diatas ranjang lalu mulutnya menggumam.
"Bibi, dalam sepuluh hari, seumpama harus mengorbankan jiwa juga obat itu pasti dapat kubawa kembali!"
Memandang awan yang terapung bebas ditengah udara hatinya terasa kecut dan sedih.
Sejak dirinya berkelana semua tugas yang harus dikerjakan satupun belum ada yang membawa hasil.
Entah kapan tugas suci dan angan2nya bisa terkabul.
Perjalanan kali ini sebetulnya hendak menuju ke Lembah kematian, dengan Pedang darah minta Bunga lblis, besar harapannya dapat melatih ilmu sakti yang tiada taranya, supaya leluasa dia menuntut balas, untuk menyumbangkan tenaganya juga bagi kepentingan dan kesejahteraan kaum persilatan.
Akan tetapi, kenyataan semua berlawanan dengan kekendaknya, selalu terjadi rintangan2 yang menjengkelkan ini, bukan saja dia kehilangan Pedang darah, malah jiwa sendiri juga hampir melayang.
Saking marah istri tercinta lari mengejar adiknya yang tidak berbakti dan banyak melakukan kejahatan, entah bagaimana keadaannya sekarang?
Sekian lama dia terpekur mengenangkan pengalamannya yang pahit getir itu, baru akhirnya dia tersadar akan tugas barunya ini, menuju ke Seng toh minta sebutir Hoan hun tan di Yok ong bio.
Begitu Bu siang sin hoat dikembangkan seenteng burung dia terbang keluar dari solokan terus menuju jalan raya langsung menuju ke Seng toh.
Tidak jauh diluar kota Seng toh terdapat sebuah bukit kecil, diatas bukit ini, dibangun sebuah biara yang kini sudah rusak dan bobrok tidak terurus.
Ditengah belandar diatas pintu terpancang sebuah papan besar yang bercat merah dan sudah luntur, samar2 diatas papan ini tertulis 'Yok ong bio' tiga huruf besar warna kuning.
Waktu matahari sudah doyong kebarat, burung gagak mulai cecowetan kembali kesarangnya, didepan Yok ong bio ini mendatangi seorang pemuda berwajah dingin kaku.
Dia bukan lain adalah Suma Bing yang datang hendak minta sebutir obat.
Berdiri diluar biara Suma Bing termangu dan ber-tanya2 dalam hati, biara ini sudah bobrok tidak terurus masa ada orang yang mau datang bersembahyang disini, mungkinkah ada orang mau mengurus biara bobrok ini?
Tapi ucapan bibinya pasti tidak salah, kedatangannya ini adalah minta bantuan orang tidak boleh berlaku sembrono dan kurang adat, maka dari tempatnya dia berseru kearah dalam.
"Apakah ada orang didalam, aku Suma Bing minta bertemu!"
Beruntun tigakali ia berseru tanpa ada penyahutan.
Dingin perasaan Suma Bing, setelah bimbang segera ia berkelebat memasuki pintu biara.
Biara ini tidak begitu besar, hanya terdapat sebuah ruang sembahyang dan dua emperan samping yang memanjang kebelakang.
Rumput alang2 dipekarangan sudah setinggi pinggang orang, malah undakan batu juga sudah berlumut, suara burung gagak yang riuh rendah menambah keseraman keadaan sekelilingnya.
Hati Suma Bing kebat-kebit dan berdetak keras, naga2nya perjalanannya ini menemui kegagalan lagi, sebab agaknya biara ini tanpa penghuni.
Kalau perjalanannya ini benar2 gagal tamatlah riwayat hidup bibinya.
Tengah berpikir itu tubuhnya melesat menuju ruang tengah tempat sembahyang, begitu tiba melihat apa yang terpancang didepan matanya, seketika dia menyedot hawa dingin, tanpa terasa dia mundur satu langkah besar, badannya gemetar dan merinding.
Ditengah ruang sembahyang ini terletak sebuah peti mati warna merah, didepan meja peti mati ini tersulut sebuah pelita minyak, sinar pelita yang redup ber-goyang2 hampir padam terhembus angin lalu, beberapa batang hio masih tersumat.
Waktu pandangannya menjelajah keringat dingin membanjir keluar, ternyata didepan peti mati itu menjulai kertas putih yang bertuliskan.
Layon ketua biara Pek chio Lojin.
Habis sudah segala pengharapannya.
Ternyata bahwa Pek chio Lojin sudah mati.
Menghadapi layon Pek chio Lojin ini Suma Bing berdiri mematung seperti orang linglung yang sakit ingatan, terpikir olehnya akibat yang menakutkan, bibinya bakal tertidur terus untuk se-lama2nya.
Se-konyong2 timbul sepercik harapan dalam keputus-asaannya, dilihat dari pelita dan hio yang terpasang itu, ini membuktikan bahwa masih ada orang lain dalam biara ini, mungkin anak murid Pek chio Lojin, meskipun Pek chio Lojin sudah meninggal, obat2annya tentu masih tersimpan dan masih ada harapan dirinya bisa memperolehnya.
"Adakah orang didalam?"
Dia berteriak lantang.
"Siapa itu?"
Sebuah suara dingin mendadak terdengar dari samping sebelah sana.
Girang hati Suma Bing, dimana pandangannya menyapu, terlihat dipintu samping pojok sana pelan2 berjalan seorang gadis jelita berpakaian serba hitam.
Suma Bing tertegun, gadis ini berpakaian sedemikian mentereng, wajahnya ayu jelita, keadaan ini sangat kontras dengan situasi yang tengah dihadapinya ini.
Mata gadis baju hitam itu dipentang lebar menatap kearah Suma Bing, tiba2 berobah airmukanya, serunya kaget.
"Tuan adalah Sia sin kedua?"
Suma Bing melengak, sebat sekali ia melesat masuk keruang tengah, diam2 ia heran darimana dia bisa mengetahui dirinya, terdengar mulutnya menyahut.
"Benar, itulah cayhe harap tanya nama nona yang harum?"
Nona serba hitam ini mengerut alis, biji matanya berputar2, jawabnya.
"Aku bernama Siau ling!"
"Siau ling!"
"Ya, kenapa?"
"Apa nona tidak punya she?"
"Siapa bilang aku tidak punya she?"
"Minta, bertanya..."
"Aku tidak ingin memberitahu!"
Suma Bing tertawa kecut, sikapnya rada risi entah apa yang harus dikatakan. Nona serba hitam itu berkata lagi.
"Untuk apa tuan datang kemari?"
"Mengunjungi seorang Cianpwe."
"Siapa?"
"Pek chio Lojin!"
"Apa kau tidak melihat peti mati ini?"
"Sudah lihat, harap tanya apa hubungan nona dengan Pek chio Lojin?"
"Mendiang guruku."
Berjingkrak girang hati Suma Bing, namun lahirnya tetap bersikap dingin, katanya.
"Sungguh tidak terduga gurumu sudah mangkat?"
Sepasang mata jeli nona serba hitam ini ber-putar2 menatap kepada Suma Bing, tanyanya.
"Maksud kedatangan tuan..."
"Cayhe ingin minta sebutir Hoan hun tan kepada Pek chio Cianpwe!"
"Hoan hun tan?"
Suma Bing mengiakan.
"Darimana kau tahu kalau mendiang suhu ada membikin Hoan hun tan?"
"Ini... cayhe hanya menerima pesan orang lain."
"Pesan dari siapa?"
"Bibiku Ong Fong jui!"
"Untuk apa?"
Mau tak mau Suma Bing harus berpikir, sudah tentu dia tidak bisa memberi penjelasan se-terang2nya, maka samar2 saja dia menjawab.
"Untuk menolong orang!"
"Tapi suhu sudah meninggal!"
"Dapatkah kiranya nona memberi satu butir saja?"
"Setelah mengalami jerih payah selama hidup suhu hanya membuat tiga butir Hoan hun tan, obat ini dipandang barang berharga dalam Bu lim..."
"Maksud nona..."
"Selamanya kita belum berkenalan, mengandal ucapanmu dapatkah aku lantas memberikan Hoan hun tan peninggalan suhu yang sangat berharga itu?"
Sikap Suma Bing berobah sungguh2.
"Tiada halangannya Nona mengajukan syarat penggantian!"
"Syarat?"
"Begitulah!"
"Dapatkah syarat yang kuajukan kau kerjakan?"
"Coba saja nona sebutkan?"
"Diganti dengan batok kepalamu, bagaimana syarat ini?"
"Dengan batok kepalaku untuk mengganti sebutir Hoan hun tan?"
"Kau sendiri mengatakan aku boleh mengajukan syarat sesuka hatiku."
Sekian lama Suma Bing bimbang dan serba salah, namun demi menolong jiwa bibinya, akhirnya dia menjadi nekad, katanya.
"Apakah nona sedang bergurau?"
"Suma Bing, kau ingin minta Hoan hun tan, ini juga berkelakar bukan?"
Suma Bing benar2 nekad, sahutnya.
"Baik, aku setuju!"
Sedikit berobah rona wajah gadis serba hitam ini, agaknya jawaban tegas Suma Bing ini benar2 diluar sangkanya, tanpa terasa tercetus seruannya.
"Kau setuju?"
"Aku setuju, tapi..."
"Tapi apa?"
"Kusertai sebuah permintaan!"
"Permintaan ana?"
"Kepala cayhe ini setengah tahun kemudian baru bisa kupersembahkan!"
"Mengapa?"
"Masih banyak urusan yang harus cayhe selesaikan!"
Nona serba hitam mendengus, katanya dingin.
"Kalau aku tidak setuju!"
Suma Bing tertegun dan mundur selangkah, katanya terharu.
"Tabib pandai harus mengobati, obat mujarab untuk menolong orang, bukan untuk membunuh orang?"
"Hm, jadi kau menyesal dan menarik balik ucapanmu?"
"Cayhe tidak bermaksud demikian!"
"Kalau begitu ketahuilah, begitu aku sudah serahkan Hoan hun tan itu kau harus segera serahkan kepalamu."
"Nona memaksa keterlaluan!"
"Kalau kau beranggapan syarat ini terlalu kejam. Kau tidak perlu adakan jual-beli ini?"
"Cayhe sudah bertekad harus mendapatkan Hoan hun tan itu!"
"Bagaimana tuan harus mendapatkan?"
Sejenak ragu2, lantas Suma Bing berkata dengan nada tegas.
"Aku minta dengan hormat, kalau terpaksa yah apa boleh buat!"
"Itu berarti tuan hendak menggunakan kekerasan?"
"Bila memang terpaksa apapun akibatnya akan kulakoni!"
Tatkala itu sang surya sudah silam kebarat, sang malam sudah mulai mendatang, keadaan sekelilingnya sudah mulai gelap remang2.
Mendadak terlihat si gadis baju hitam berubah air mukanya tubuhnya menggeser maju mendekati layon, matanya mendelong mengawasi keluar dengan ketakutan.
Suma Bing heran dan tak mengerti dibuatnya menurut arah pandangan si gadis baju hitam dia melihat seketika bergejolak darahnya seakan jantungnya hampir pecah, hawa membunuh menyelubungi wajahnya.
Kiranya diatas belandar sebelah barat sana berdiri seorang berpakaian serba putih dengan kedok kepala putih pula, sebilah cundrik merah darah tergambar didepan dadanya, dia bukan lain adalah Rasul penembus dada.
Mata Rasul penembus dada bersinar tajam menyapu keadaan ruang sembahyang lalu perdengarkan suara lengkingnya yang menyedot sukma orang.
"Pek chio anjing tua, keluarlah serahkan jiwamu!"
"Tuan orang kosen darimana?"
Tanya gadis baju hitam itu gemetar.
"Akulah Rasul penembus dada!"
"Ada permusuhan apakah kau dengan mendiang guruku?"
"Kau tiada harganya bertanya, suruh anjing tua itu menggelinding keluar!"
"Suhu sudah meninggal dunia!"
"Apa anjing tua sudah mati?"
"Tuan bicaralah kenal sopan santun!"
"Cara bagaimana dia mati?"
"Sakit keras!"
"Hahahaha... Mati sakit? Pek chio Lojin seorang tabib kenamaan yang pandai pengobatan, mana bisa dia mati karena sakit?"
"Kalau memang sudah ajal, betapapun mustajap obat dewa juga tidak mungkin dapat menyembuhkan orang sakit. Seumpama Hoa toh (tabib kenamaan pada jaman Sam kok) sendiri juga tidak bisa hidup sepanjang masa."
"Kau ini muridnya!"
"Benar, akulah muridnya!"
"Jenazahnya berada didalam peti mati itu?"
"Ya."
"Bongkar kembali!"
"Tidak mungkin!"
Seru gadis baju hitam beringas.
"Terpaksa aku sendiri turun tangan!"
Hilang suaranya tiba pula tubuhnya, bagai bayangan malaikat secepat kilat dia melayang tiba didalam ruang sembahyang.
Sementara itu Suma Bing sendiri sudah tidak kuat menahan sabar, serta mendengar ucapan orang, pikirnya, 'aku sendiri malah tidak berpikir sampai disitu, mungkin Pek chio Lojin memang pura2 mati, mengapa aku tidak menonton saja mengikuti suasana.' Karena pikirannya ini segera ia melejit mundur menyingkir lima kaki.
Sekilas Rasul penembus dada pandang Suma Bing dengan sorot mata yang me-nyala2, lalu mengalihkan pandangannya kepeti mati itu.
Tiba2 sebelah tangannya diangkat mengarah kepeti mati itu dan berseru dingin.
"Lebih baik kau tahu diri dan buka peti mati itu?"
Gadis berbaju hitam menggigit gigi sambil mendengus.
"Orang mati dendamnya himpas, apa kau hendak merusak jenazahnya?"
"Sedikitpun tidak salah!"
"Kau berani?"
Rasul penembus dada menyeringai seram.
"Kau tidak akan mampu merintangi aku!"
Dibarengi sebuah bentakan nyaring tangannya diayun memukul kearah gadis baju hitam, pukulannya ini betul2 hebat dan menakjubkan, diam2 Suma Bing melelet lidah melihat kelihayan serangan ini.
Kontan gadis baju hitam itu terpental mundur terdesak sampai mepet dinding.
'Blang!' dimana terlihat kayu hancur ber-keping2 begitu peti itu hancur terlihat sesosok mayat rebah didalam peti mati itu, itulah seorang tua ubanan yang berbadan kurus kering bagai kayu.
"Iblis laknat, biar nonamu adu jiwa dengan kau!"
Gadis baju hitam menubruk maju sambil melancarkan sembilan kali pukulan berantai yang menggila.
Sekaligus sembilan pukulan ini dilancarkan perbawanya bagai gelombang badai dan kilat menyambar.
Dibawah serangan lawan yang nekad ini Rasul penembus dada terdesak mundur lima langkah.
"Kau cari mati!"
Bentak Rasul penembus dada.
Sambil membentak beruntun ia balas menyerang tiga hantaman.
Memangnya kepandaian gadis baju hitam ini kalah jauh, lagi2 ia terdesak mundur ber-ulang2.
Dimana terlihat sinar putih berkelebat, tahu2 Rasul penembus dada sudah mencekal sebilah cundrik yang kemilau bersinar dingin.
Tampak kedua tangan gadis baju hitam bergantian diayun, seketika berhamburan kabut warna hitam melayang tiba mengurung Rasul penembus dada.
Tapi sebelum kedua tangan gadis baju hitam berhenti bergerak terdengar dia berpekik kesakitan terus roboh terkapar tanpa bergerak lagi.
Kiranya kabut hitam itu adalah pasir beracun yang disambitkan.
Sungguh bukan olah2 hebat kepandaian Rasul penembus dada, sebelum pasir2 beracun itu mengenai tubuhnya, sebat sekali tubuhnya berkelebat keluar dari kurungan taburan pasir beracun lawan lalu sekaligus dia kirim sebuah tutukan menutuk jalan darah gadis baju hitam.
Kepandaian, seperti ini benar2 sangat mengejutkan.
Suma Bing ter-longong2 memandangi peti mati yang sudah pecah berantakan itu.
Terbayang olehnya sewaktu dirinya untuk pertama kali terjun didunia persilatan.
Mendapat perintah gurunya untuk membunuh Bu lim sip yu.
Keadaan waktu berada di Ngo ou pang persis benar seperti hari ini.
Kala itu dirinya juga tidak percaya kalau Ngo ou pangcu Coh Pin sudah mati dengan kukuh dia minta peti mati dibuka kembali untuk diperiksa.
Sekarang bukan saja Rasul penembus dada sudah memecah peti mati juga akan merusak jenazah itu.
Bersamaan waktu gadis baju hitam roboh terkapar.
Rasul penembus dada langsung berkelebat tiba dipinggir peti mati, dimana cundriknya yang kemilauan sudah terangkat.
Benak Suma Bing berputar cepat, tak peduli Pek chio Lojin benar2 mati atau pura2 mati.
Yang benar dirinya hendak minta obat kepada orang, Rasul penembus dada ini juga merupakan musuh besarnya, mana bisa dibiarkan saja...
Karena pikirannya ini gesit sekali tubuhnya mendesak maju mendekati Rasul penembus dada, bentaknya sinis.
"Letakkan cundrik itu!"
Rasul penembus dada melotot gusar kearah Suma Bing sambil membanting kaki, tanpa terasa dia turunkan cundrik yang sudah terangkat tinggi itu, katanya.
"Suma Bing, kau hendak berbuat apa?"
"Membuat perhitungan!"
"Nanti setelah kerjaanku selesai, seumpama kau tidak mencari aku, malah aku akan mencarimu!"
"Tidak kuizinkan kau menyentuh jenazah itu."
"Tidak boleh? Apa kau bisa?"
"Silahkan kau coba2."
Rasul penembus dada mendesis geram, sinar tajam berkelebat cundrik ditangannya itu tahu2 sudah menyelonong mengarah ulu hati Suma Bing.
Cara tusukan ini benar secepat kilat dan aneh sekali.
Suma Bing insaf dirinya tak bakal dapat melawan tusukan maut ini, gesit sekali badannya melayang berkelit, kalau tidak mengandal kehebatan Bu siang sin hoat, sudah siang2 cundrik musuh itu sudah bersarang didadanya.
Memang sudah terhindar dan selamat dari serangan maut itu.
Tapi tak urung jantungnya berdetak keras, keringat dingin membasahi jidatnya.
Baru saja Suma Bing berkelebat menyingkir.
Mendadak Rasul penembus dada membalik tubuh, cundriknya lagi2 menusuk kearah peti mati!
"Cari mati!"
Suma Bing membentak sengit, segulung angin pukulan bagai gugur gunung langsung menerjang tiba, sejak dia minum Darah pusaka naga bumi, betapa tinggi dan dalam kekuatan tenaga dalamnya, sukar dicari tandingan di Bu lim.
Rasul penembus dada membalik sebuah tangan untuk menangkis.
Ternyata kali ini dia tidak kuat bertahan, beruntun mundur lima tindak.
Mendapat peluang ini cepat2 Suma Bing mendesak maju merintang didepan peti mati.
Pada saat itulah kebetulan gadis baju hitam kebetulan berdiri, tanpa buka suara tangannya diangkat terus menghantam kepunggung Rasul penembus dada.
"Menyingkir!"
Lalu disusul seruan kejut yang ketakutan.
Dengan kecepatan bagai kilat Rasul penembus dada membalik tangan menangkis lalu disusul cundriknya berkelebat menusuk.
Gadis baju hitam itu tak mampu lagi menyingkir.
Baju didepan dadanya seketika dedel dowel, buah dadanya yang putih montok itu membal keluar, sambil berseru kaget cepat2 kedua tangan disilangkan didepan dada untuk menutup sambil mundur sampai dipojokan.
Kontan merah jengah wajah Suma Bing melihat adegan yang lucu menggelikan ini.
"Cundrik penembus dada hanya khusus untuk membunuh para durjana, kau tidak tercatat dalam daftar, maka kuampuni jiwamu!"
Gadis baju hitam tidak berani banyak tingkah dan bercuit lagi.
Tanpa terasa tergerak hati Suma Bing, apa maksud dengan daftar yang tercatat itu?
Naga2nya Jeng siong hwe mengutus Rasul penembus dada membunuh dan menimbulkan banjir darah dikalangan Kangouw merupakan kejadian yang sudah direncanakan terlebih dulu.
Mungkin mereka membunuh karena menuntut balas, atau mungkin juga ada latar belakang lainnya.
Tapi tak peduli bagaimana, hari ini dirinya harus merintangi perbuatan keji Rasul penembus dada.
Kalau tidak jikalau Hoan hun tan tidak bisa diperoleh bukanlah berarti jiwa bibinya Ong Fong jui akan melayang.
Maka hardiknya keras.
"Rasul penembus dada, perhitungan kita selesaikan dalam pertemuan selanjutnya. Sekarang silahkan kau menggelinding pergi!"
Rasul penembus dada ganda mendengus ejek.
"Suma Bing, kau sedang bermimpi!"
"Kau enyah tidak?"
"Kau hendak menjual jiwamu untuk Pek chio Lojin?"
"Kalau benar kau mau apa?"
"Apa hubunganmu dengan setan tua itu?"
"Kau tidak perlu tahu!"
"O, mungkin kau ketarik dengan muridnya ini?"
"Kau kentut apa?"
"Suma Bing, jiwamu hanya sementara saja kutitipkan diatas badanmu. Cundrik penembus dada setiap saat bisa melobangi dadamu. Ketahuilah diatas daftar pencabutan jiwa namamu masih tercantum dan belum kucoret!"
Suma Bing menggerung gusar, semprotnya.
"Meski cundrikmu itu tajam, takkan mempan menusuk dadaku!"
"Boleh kau tunggu saja!"
"Sekarang aku ingin kau enyah!"
"Suma Bing, jiwamu sendiri belum tentu bisa selamat, masih banyak lagak menjual jiwa bagi kepentingan orang lain?"
"Belum tentu!"
"Coba kau berpaling!"
Suma Bing agak terkejut, waktu ia berpaling seketika merinding bulu tengkuknya, diarah dekat pintu biara sebelah luar berjajar berdiri empat orang serba putih dan berkedok putih pula, jubah didepan dada mereka bergambarkan sebuah cundrik merah darah.
Benar2 Suma Bing merinding dibuatnya, sungguh diluar sangkanya dalam waktu bersamaan ini sekaligus muncul lima Rasul penembus dada.
Jikalau kepandaian dan Lwekang kelima Rasul penembus dada ini sama tinggi dan lihaynya, hari ini mungkin dirinya susah menang, kalau untuk merat saja tidak menjadi soal, tapi untuk melindungi Pek chio Lojin guru dan murid agaknya tidak gampang.
Tapi pembawaan wataknya yang keras dan sifat2 sesat gurunya yang sudah menular dan berdarah daging itu membuat dia tidak tahu apa artinya mundur, sekilas ia menyapu pandang para musuhnya, wajahnya membeku dingin tanpa mengunjuk reaksi, jengeknya dingin.
"Mengandal kekuatan kalian berlima?"
"Masa belum cukup untuk mengantar kematianmu?"
"Mari segera dimulai!"
Rasul penembus dada yang berhadapan dengan Suma Bing itu ulapkan tangan, segera empat rasul lainnya yang berdiri diambang pintu serentak menubruk kearah Suma Bing sambil kirim serangan gabungan, empat gelombang badai pukulan menerpa mengurung seluruh tubuh Suma Bing.
Suma Bing insaf kalau dirinya berkelit menyingkir meninggalkan peti mati ini, pasti Rasul yang seorang itu menggunakan peluang ini untuk turun tangan.
Maka terpaksa dia tetap berdiri ditempatnya dan kerahkan tenaga dikedua belah tangan untuk menyambut serangan tenaga gabungan empat musuhnya secara keras.
Dar...
ditengah benturan yang menggeledek ini, terjadilah hujan abu dan pecahan genteng berhamburan, seluruh bangunan kelenteng itu tergetar ber-goyang2 hampir ambruk.
Kalau Suma Bing masih berdiri tanpa bergeming dengan muka pucat, sebaliknya keempat musuhnya itu tergetar mundur sempoyongan.
Sementara itu gadis baju hitam sudah membetulkan letak pakaiannya, dengan sorot mata yang susah dijajaki dia tengah mengawasi Suma Bing.
Begitu dapat berdiri tegak lagi keempat Rasul itu segera merangsang maju lagi lebih hebat dari jurusan yang berlainan, masing2 lancarkan sebuah pukulan lagi.
Seketika terlihat bayangan pukulan berkelebat bagai bentuk gunung, perbawanya bagai gelombang lautan yang tidak kenal putus.
Sedemikian keras dan deras samberan angin pukulan itu seumpama keserempet saja pasti kulit manusia bisa terkupas, bukan saja perlawanan Suma Bing ini sangat aneh dan ajaib kecepatan bergerak juga bagai kilat.
Seluruh tokoh silat pada masa itu yang kuat bertahan dari kepungan empat Rasul sekaligus mungkin dapat dihitung dengan jari.
Pertempuran para tokoh silat yang berkepandaian sempurna, kalah menang hanya tergantung dalam waktu sedetik saja, hampir boleh dikata tiada kesempatan untuk berpikir.
Tanpa sadar terpaksa Suma Bing gunakan gerak kelit dari ilmu Bu siang sin hoat berkelebat keluar dari kepungan para musuhnya, dan hampir dalam waktu yang bersamaan Rasul penembus dada yang membekal cundrik terhunus itu dengan kecepatan kilat terus menubruk maju kearah peti mati.
Suma Bing berpekik kalap.
"Berani kau!"
Seluruh kekuatan dihimpun untuk melancarkan pukulan Kiu yang sin kang yang dahsyat.
Sejak minum darah pusaka naga bumi, dan sudah membaurkan kekuatan tambahan ini kedalam Kiu yang sin kang, perbawa kekuatan pukulan Kiu yang sin kangnya sekarang sudah berlipat ganda lebih hebat dari sebelumnya.
Meskipun belum bisa mencapai tingkatan Loh Cu gi yang dapat sekali pukul membumi hanguskan benda tapi juga sudah sangat mengejutkan.
Gelombang panas bagai lahar gunung berapi segera menggulung tiba, kecepatannya juga sangat mengejutkan.
Terdengar jerit panjang yang mengerikan, tampak Rasul penembus dada terbang sejauh satu tombak lebih, kedok putih yang menutup mukanya berobah warna darah.
Belum lenyap suara jeritan pertama disusul lagi jeritan kedua, kini Suma Bing sendiri yang terpental terbang kebelakang menumbuk dinding, dan 'Bum' tubuhnya melorot jatuh lagi dikaki tembok.
Yang turun tangan membokong Suma Bing ini bukan lain adalah keempat Rasul lainnya itu.
Sambil menggigit bibir Suma Bing merangkak bangun, ujung bibirnya berlepotan darah segar, baju depan dadanya juga basah kuyup oleh darah.
Melihat keadaan Suma Bing ini, keempat Rasul itu agak gugup dan kesima, mereka mundur ketakutan.
Wajah Suma Bing sedemikian pucat menakutkan, sorot matanya memancar buas menggiriskan bulu roma, dengan langkah lebar dia menghampiri kearah peti mati, lalu berputar menghadapi keempat Rasul itu lagi.
Agaknya keempat Rasul itu sesaat terpengaruh oleh sorot mata dan sikap gagah Suma Bing, mereka berdiri terlongong tanpa bergerak lagi.
Rasul yang terpukul oleh hantaman Suma Bing saat itu juga sudah terhuyung bangun, tangannya masih tetap menggenggam cundriknya itu, sorot matanya menembus keluar dari balik kedoknya menatap wajah Suma Bing, keadaan ini benar2 membuat merinding bagi yang menyaksikan.
Walaupun malam semakin larut, keadaan sekelilingnya hitam pekat, tapi bagi mereka tokoh2 silat kelas tinggi, kegelapan malam tidak menjadi halangan, mereka masih tetap dapat melihat seperti disiang hari.
Sementara gelanggang pertempuran hening senyap, tapi mengandung nafsu membunuh yang me-luap2 dan setiap saat dapat meledak.
Agaknya Rasul yang mencekal cundrik itu adalah kepala dari kawanan Rasul itu, sedang empat yang lain hanya pembantunya saja.
"Maju!"
Rasul yang mencekal cundrik itu memberi aba2, keempat Rasul lainnya bagai tersadar dari lamunannya, serempak mereka maju mendesak.
Saat mana Suma Bing juga menghimpun kekuatannya pada kedua lengannya siap menghadapi setiap serangan.
Setelah maju beberapa langkah, berbareng keempat Rasul itu lancarkan sebuah pukulan.
-oo0dw0oo-
Jilid 10 37.
LIMA RASUL DIBIKIN KEOK SEKALIGUS.
Bagai bayangan setan tubuh Suma Bing berkelebat memutar kebelakang keempat Rasul itu, kedua tangan tiba2 diayun berbareng.
'Blang', disertai sebuah seruan tertahan, satu diantara keempat Rasul itu terbang jauh keluar pintu kelenteng.
Bertepatan dengan itu sebilah cundrik yang berkilau dingin tahu2 sudah mengancam didepan dada Suma Bing.
Keruan kaget Suma Bing bukan alang kepalang, begitu tangan digentakkan, Cincin iblis yang dikenakan ditengah jari kontan memancarkan sinar mencorong 'Creng' kontan Suma Bing tergetar sempoyongan, Rasul yang membekal senjata itu juga terhuyung beberapa langkah.
Ketiga Rasul yang lain juga pada saat itu menyerang tiba pula.
Bu siang sin hoat benar2 sakti mandraguna, begitu tubuhnya limbung karena benturan keras tadi, kakinya lantas menggeser selicin belut berganti tempat, dimana kekuatan tenaga dipusatkan ditangan kanan, lagi2 cahaya sinar Cincin iblis mencorong lebih tajam terus disapukan kearah ketiga Rasul yang menyerang tiba.
Kaget ketiga Rasul itu bukan alang kepalang serasa arwah mereka terbang meninggalkan badan, cepat2 mereka menjejakkan kaki melejit jauh menyingkir.
Kini Suma Bing kembali berdiri tegak didepan peti mati lagi, sikapnya garang dan siap siaga.
Pada saat itulah Rasul yang terpental keluar pintu kelenteng itu agaknya lukanya tidak terlalu berat, kini melangkah masuk lagi kedalam ruangan ini.
Kelima Rasul berdiri dalam posisi lima penjuru, Suma Bing terkepung ditengah.
Sekian lama kedua belah pihak sama berdiri mematung siap siaga menunggu serangan musuhnya.
Setengah jam telah berlalu, keadaan tetap sunyi tanpa seorang jua bersuara.
Akhirnya Suma Bing sendiri berlaku kurang sabar.
Dimana sinar Cincin iblisnya menyapu datang.
Dua Rasul yang berdiri dihadapannya segera melejit menyingkir kebelakang.
Tapi sebelum cahaya Cincinnya mengenai sasarannya mendadak tubuh Suma Bing membalik terus kirim sebuah hantaman dahsyat kebelakang dengan kekuatan Kiu yang sin kang, gerak kecepatan tubuhnya benar2 mempesonakan sampai susah diikuti oleh pandangan mata.
Betapapun tinggi kepandaian Rasul penembus dada, juga susah menghadapi rangsangan yang datang secara mendadak ini.
Kontan terdengar dua lolong jeritan panjang, satu diantara Rasul yang menerjang tiba lebih dulu kontan roboh terkapar, sedang yang lain terpental jungkir balik setombak lebih, kedok dimukanya basah oleh air darah, agaknya lukanya tidak ringan.
Bentakan2 nyaring memekak telinga, tiga Rasul lainnya menubruk maju berbareng sambil lancarkan serangan berantai, jurus dan tipu serangannya sangat aneh menakjubkan se-akan2 air sungai mengalir deras tanpa putus-putus.
Keruan Suma Bing kebingungan dan gugup mencak2, beruntun empat kali tubuhnya berputar sambil menangkis, baru tubuhnya dapat berdiri tegak lagi.
Cara turun tangan ketiga Rasul itu adalah menggunakan gerak cepat, jurus dan tipu serangannya sedemikian gencar dan rapat bagai hujan derasnya.
Sehingga tiada sempat Suma Bing menggunakan Cincin iblis dan melancarkan pukulan Kiu yang sinkang.
Dalam sekejap mata tiga puluh jurus telah berlalu.
Tadi berulangkali Suma Bing lancarkan Kiu yang sinkang dan Cincin iblis tenaga murninya banyak terkuras keluar, meskipun jalan darah mati hidupnya sudah tembus, tenaga dalamnya tidak mengenal putus.
Tapi bagaimana juga musuh terlalu tangguh untuk menghadapinya ia harus kerahkan setaker tenaganya, maka dengan cepat tenaga murninya semakin susut, keadaannya semakin payah dan terdesak dibawah angin.
Sebaliknya ketiga Rasul penembus dada itu lebih gencar lagi menyerang secara mati2an, ditengah berkesiurnya angin pukulan diselingi juga sinar berkeredep dari cahaya cundrik yang menciutkan nyali orang, perbawa dan kekuatan gabungan mereka bertiga ini benar2 mengagumkan.
Memangnya kelenteng itu sudah tua dan reyot, apalagi angin pukulan sedemikian deras sehingga atapnya bergetar, genteng dan debu berterbangan tak henti2nya.
Agaknya kalau kedua belah pihak yang bertempur tiada seorangpun yang mau menghentikan pertempuran ini, tanggung tak lama lagi kelenteng reyot ini pasti ambruk sama sekali.
Bagi Suma Bing yang kedatangannya memang ada maksud tertentu, sudah tentu tidak bakal mau mundur atau mengalah.
Terdengar sebuah bentakan menggeledek, kontan terlihat salah satu dari ketiga Rasul itu terjengkang mundur sambil muntah darah.
Dalam waktu yang bersamaan, cundrik Rasul penembus dada juga menyobek kulit lengan Suma Bing sehingga terluka panjang, darah membanjir keluar dengan derasnya.
Maka wajahnya yang semula sudah tegang penuh nafsu membunuh kini tambah pucat menakutkan, napasnya juga mulai memburu.
Suma Bing insaf mara bahaya selalu mengancamnya, dia harus secepat mungkin mengakhiri pertempuran ini, kalau tidak entah bagaimana akhirnya susah dibayangkan.
Karena ketetapan hatinya ini, tenaganya dikerahkan seluruh sambil kertak gigi beruntun dia lancarkan sembilan kali pukulan berantai.
Begitu sembilan pukulan ini dilancarkan habis tepat sekali satu diantara Rasul pengeroyok itu dengan telak kena terpukul roboh terjungkal tak bisa bergerak lagi.
Karena pengerahan tenaga yang ber-lebih2an ini, seketika Suma Bing rasakan pandangannya ber-kunang2, kepala terasa berat sebaliknya tubuhnya enteng bagai terapung ditengah udara.
Demikian juga keadaan Rasul penembus dada yang membekal cundrik itu, napasnya juga ngos2an, dadanya turun naik dengan keras.
Sekarang tinggal Suma Bing dengan Rasul penembus dada yang pegang cundrik saja masih berhadapan seperti dua ayam jago yang sudah kehabisan tenaga saling pentelengan tanpa bergerak lagi.
Agak lama kemudian baru Suma Bing membuka mulut dengan suara gemetar.
"Hari ini akan kubuat kalian berlima menggeletak tak bernyawa lagi dalam kelenteng bobrok ini."
Rasul penembus dada menyeringai sinis.
"Suma Bing, cundrikku ini juga dapat menembus ulu hatimu!"
Lantas terdengar pula suara bentakan dan teriakan yang simpang siur mereka berkutet dan bertempur lagi dengan sengitnya.
Tapi sudah tidak sehebat tadi sebab kedua belah pihak sudah sama2 kehabisan tenaga, mereka hanya bergerak dan meronta demi kemenangan terakhir saja.
Bukti dan kenyataan sudah jelas, akhirnya mereka berdua pasti akan sama2 gugur dan tamat riwayatnya.
Pada saat itulah mendadak terdengar sebuah bentakan nyaring.
"Berhenti!"
Tanpa diminta kedua kalinya serta merta mereka berhenti bertempur.
Masing2 mundur dua langkah sambil pentelengan dengan mata membara gusar.
Ternyata gadis baju hitam itu kini tampil lagi kedepan, alisnya dikerutkan dalam2, matanya mendelik buas penuh nafsu membunuh.
Baru sekarang Suma Bing berkesempatan menghela napas lega.
Dia maklum dengan terluka berat pasti kelima Rasul penembus dada tidak bakal berani mengumbar keganasannya lagi.
Pasti gadis baju hitam ini berkecukupan untuk menghadapi mereka.
Maka segera ia mengundurkan diri kesamping, diam2 ia kerahkan tenaga untuk berobat diri.
Sorot mata gadis baju hitam menyapu pandang kepada empat Rasul yang terluka berat, lalu beralih menatap kearah Rasul penembus dada yang mencekal cundrik itu katanya.
"Kalian mendapat perintah dari siapa untuk mengambil jiwa suhuku?"
"Dari ketua Jeng siong hwe!"
Sahut Rasul penembus dada.
"Siapakah ketua kalian?"
"Kau tidak perlu tahu!"
"Ada permusuhan dan dendam apa dengan guruku?"
"Tidak perlu kujelaskan."
Gadis baju hitam mengacungkan sebelah tangannya, ancamnya.
"Ini segenggam pasir beracun yang dinamakan Cui hun soa. Segenggam ini kukira cukup untuk menamatkan riwayat kalian berlima bukan?"
"Mungkin, tapi kau sendiri juga tidak akan tetap hidup!"
Gadis baju hitam menurunkan tangan, ujarnya.
"Sekarang ini aku tidak akan berbuat begitu. Sebab suhu memang benar sudah meninggal, orangnya mati permusuhan himpas. Hanya aku ada sedikit permohonan, jangan kalian merusak jenazahnya!"
"Tidak mungkin!"
Seringai Rasul penembus dada dingin. Gadis baju hitam naik pitam teriaknya.
"Orangnya sudah mati, jenazahnya juga tidak kau lepaskan!"
"Ya, cundrik ini harus menembusi dadanya dulu!"
"Kujelaskan sekali lagi, suhuku betul2 sudah meninggal!"
"Mati atau hidup sama saja!"
"Kalau begitu jangan kalian sesalkan cara turun tanganku terlalu kejam!"
"Silahkan sesuka hatimu kau turun tangan, tapi kau sudah tiada kesempatan lagi!"
"Omong kosong!"
Tiba2 badan gadis baju hitam melejit mundur setombak lebih, tangannya sudah terangkat tinggi, siang2 tangannya sudah menggenggam pasir beracun tinggal menaburkan saja...
Rasul penembus dada ganda mendengus dingin tanpa bergerak dan membuka suara.
Namun mendadak gadis baju hitam menurunkan tangannya pula, ujarnya.
"Kalian pergilah!"
Rasul penembus dada juga masukkan cundrik kedalam balik bajunya, suaranya sedingin es.
"Inilah kesempatan, kenapa tidak kau turun tangan, untuk selanjutnya, selamanya kau takkan ada kesempatan lagi?"
Rona wajah gadis baju hitam berobah bergantian, timbul lagi nafsunya membunuh, namun secepat itu pula terus menghilang, katanya dengan suara tawar.
"Silahkan kalian pergi!"
Sekilas Rasul penembus dada melirik kearah Suma Bing yang tengah bersemedi, lalu berkata kepada gadis baju hitam.
"Beritahu kepada gurumu, soal cundrik ini menembusi dada tinggal tunggu waktu saja, dia tidak akan dapat lolos!"
Berobah hebat air muka gadis baju hitam, serunya gemetar.
"Dia sudah mati!"
"Mati? Pek chio Lojin pandai meramu obat yang aneh2, pura2 mati hanya dapat mengelabui orang saja!"
Habis berkata beruntun ia menutuk dan menepuk beberapa jalan darah ditubuh keempat Rasul lainnya, satu persatu mereka berdiri terus beriring berjalan keluar.
Kaki gadis baju hitam maju selangkah agaknya hendak merintangi kepergian mereka, tapi dia urung bersuara.
Dia maklum seumpama membunuh kelima Rasul ini juga tidak bakal dapat membereskan persoalan ini.
Mereka hanyalah petugas yang menjalankan perintah orang lain saja.
Orang dibelakang layar itulah yang lebih kejam menakutkan, bersama itu dia juga insaf bahwa Lwekang Rasul penembus dada, meskipun sudah terluka berat, mungkin dirinya masih bukan tandingannya, maka akhirnya dia ambil kepastian untuk tidak turun tangan.
Bayangan kelima Rasul itu akhirnya menghilang ditengah kabut malam.
Gadis baju hitam menyumat sisa lilin didepan meja sembahyang.
Air muka Suma Bing pelan2 mulai bersemu merah, itulah pertanda bahwa tenaganya sudah mulai pulih kembali.
Diam2 gadis baju hitam menggeremet kebelakang Suma Bing, sebuah tangannya sudah menekan jalan darah besar Thian leng hiat.
Mimpi juga Suma Bing tidak menduga bahwa bayangan kematian sudah mengulur tangan kepadanya.
Rona wajah gadis baju hitam ini be-robah2 susah diraba, entah apa yang tengah diterawangi.
Dia tengah berpikir haruskah dia turun tangan membunuhnya.
Tangannya agak gemetar, hatinya bimbang untuk mengerahkan tenaga.
Pada saat itulah mendadak Suma Bing membuka matanya, melihat suasana yang sepi ini tanpa terasa dia berseru heran.
"Eh!"
Cepat2 gadis baju hitam menarik tangannya. Suma Bing juga sudah merasa, badannya berkelebat terus membalik, serunya kejut.
"Ternyata kau, dimana mereka?"
"Sudah pergi!"
"Sebenarnya gurumu..."
"Lebih baik tuan jangan menanyakan hal itu lagi!"
"Baik kita kembali pada persoalan pertama, aku mohon diberi sebutir Hoan hun tan!"
"Karena kau mati2an melindungi jenazah guruku, biarlah kuberi sebutir, tapi..."
"Bagaimana?"
Bola mata gadis baju hitam ber-putar2, memancarkan cahaya aneh, lama kemudian baru dia bersuara.
"Ada syaratnya!"
"Syarat apa? Syarat yang tadi kau ajukan..."
"Bukan!"
"Syarat apa?"
Suma Bing menegas. Agaknya gadis baju hitam ingat sesuatu, maka sambil manggut2 dia berkata.
"Aku berhak menunda dulu syarat yang bakal kuajukan itu!"
"Menunda?"
"Benar, asal kau ingat bahwa kau masih hutang satu syarat kepadaku sudah cukup. Mungkin suatu waktu kelak bisa kuajukan, tapi... juga mungkin tidak kuajukan..."
"Ini! Mengapa begitu?"
"Sudah tentu ada alasanku!"
Suma Bing tak habis mengerti, orang hendak menunda hak pengajuan syarat yang hendak diajukan, kemana tujuannya susah diraba.
Tapi bila diingat waktu dirinya pertama kali memasuki biara ini, orang mengajukan penggantian dengan kepalanya, dengan tegas dirinya sudah setuju, mati saja tidak ditakuti, apalagi syarat lainnya.
Maka segera ia mengangguk.
"Baik aku setuju!"
"Tapi perlu kutandaskan, bila kelak syarat itu kuajukan, lalu tuan tidak menepati janji..."
"Nona terlalu berkuatir, aku yang rendah bukan manusia macam itu!"
"Aku percaya kau, ambillah!"
Lalu dari balik bajunya dikeluarkan sebuah botol kecil yang terbuat dari porselin terus diangsurkan kepada Suma Bing.
Tangan Suma Bing gemetar menyambuti botol kecil itu.
Legalah hatinya, kalau obat ini sudah ditangannya maka jiwa bibinya Ong Fong jui tidak perlu dikuatirkan lagi.
"Cayhe minta diri!"
"Silahkan!"
Begitu keluar dari Yok ong bio malam itu juga Suma Bing berlarian kencang, ingin rasanya tumbuh sayap dan segera tiba diselokan yang belum diketahui namanya itu untuk menolong bibinya.
Hari kedua tengah hari, Suma Bing sudah menempuh sejauh lima ratusan li, karena perut terlalu lapar terpaksa dia memasuki sebuah kota hendak menangsel perut.
Baru saja sampai diujung jalanan, sebuah bayangan dengan cepat memapak datang terdengar pula suara yang sangat dikenalnya.
"Buyung, sudah lama benar kucari kau!"
Cepat2 Suma Bing menghentikan larinya, waktu angkat kepala kiranya yang mendatangi ini adalah si maling bintang Si Ban cwan, cepat2 ia memberi hormat.
"Cianpwe apa baik2 saja selama berpisah?"
"Masih baik, belum mati. Buyung, sungguh tak duga kau bisa lolos dari Bwe hwa hwe dengan tetap masih bernyawa."
"Cianpwe, musuh besar sudah kutemukan jejaknya!"
"Siapa?"
"Loh Cu gi!"
"Loh Cu gi?"
Seru si maling bintang penuh keharuan.
"Benar!"
"Kau sudah menuntut balas?"
"Belum, hampir saja jiwaku melayang ditangannya!"
"Dimana dia berada?"
"Bwe hwa hwe!"
"Dia juga..."
"Dia adalah sesepuh atau tulang punggung dari Bwe hwa hwe. Chiu Thong ketua mereka itu adalah muridnya."
"O, dia kenal kau tidak?"
"Aku sendiri yang memperkenalkan asal-usulku!"
"Masa dia mau melepasmu begitu saja?"
"Tidak, dalam penjara bawah tanah, kebetulan aku bertemu dengan Tiang un Suseng Poh Jiang, dialah yang membantu aku lolos dari kurungan!"
"Lalu bagaimana dengan Tiang un Suseng?"
Mengelam air muka Suma Bing, ujarnya sedih.
"Dia sudah mati, bersama suciku Sim giok sia!"
"Benar2 terjadi demikian?"
"Suci Sim Giok sia meninggal karena diperas, sedang Tiang un Suseng hanya mengikuti jejaknya saja. Kalau tidak dengan gampang dia dapat lolos dari penjara itu. Hm, hutang darah itu kelak biar kubalaskan secara total!"
"Loh Cu gi pernah merebut kedudukan jago silat kelas satu, Lwekangnya tentu..."
"Yang lain aku tidak tahu, yang jelas Kiu yang sinkang telah dilatihnya sampai sempurna, lebih tinggi dari dugaan suhu semula. Sekali pukul dia dapat membumi hanguskan benda sasarannya!"
Berobah wajah keriput si maling tua, katanya.
"Sekali pukul membumi hanguskan benda sasarannya, siapa pula tokoh yang kuat melawannya, buyung, selain..."
"Selain apa?"
"Dapat kau mempelajari ilmu sakti yang tersembunyi didalam Pedang darah dan Bunga iblis itu!"
"Tapi..."
"Bagaimana?"
"Pedang darah telah hilang!"
"Apa, Pedang darah kau hilangkan?"
"Ya, tapi masih ada harapan dapat diminta kembali!"
"Siapakah orang yang mengambil?"
"Phoa Cu giok!"
"Belum pernah kudengar nama itu!"
"Ai, dia adalah adik kandung Phoa Kin sian!"
Maka berceritalah Suma Bing akan pengalamannya dalam latihannya yang sesat karena terganggu, dan kini tengah menjalankan tugas minta obat di Yok ong bio.
Si maling tua Si Ban cwan meng-geleng2 sambil menghela napas panjang.
Suma Bing tertawa kikuk, katanya.
"Cianpwe, mari kita tangsel perut dulu baru bicara lagi bagaimana?"
"Bagus sekali, buyung, memang ada omongan yang perlu kuberitahukan kepadamu, untuk tidak mengurangi selera makan kita, setelah perut kenyang baru kita perbincangkan lagi."
Begitulah mereka memasuki kota terus mencari rumah makan, kebetulan tak jauh disebelah depan sana ada sebuah rumah arak Tiau yu kip, langsung mereka masuk dan mencari tempat duduk terus pesan makanan dan minuman.
Saat itu kebetulan tiba tengah hari para pengunjung sangat banyak yang makan minum suasana menjadi ramai dan gaduh.
Tengah makan minum, tak kuat Suma Bing menahan sabar lagi, tanyanya.
"Cianpwe, nona Siang Siau hun..."
Si maling tua membalik mata, ujarnya.
"Dia pulang kerumahnya. Dia salahkan aku tidak mencegah kau menepati janjimu ke Bwe hwa hwe!"
"Ada lebih baik dia pulang kerumah, betapa berbahayanya berkelana di Kangouw."
"Siapa tahu apa benar dia pulang kerumah."
Suma Bing terkejut, serunya.
"Mengapa?"
"Ada kemungkinan dia pergi mencari kau!"
"Mencari aku? Wah celaka, markas Bwe hwa hwe bagai sarang naga dan gua harimau."
"Ini hanya dugaan saja, aku sudah mencari tahu susah payah, tapi tiada kabar beritanya."
Tanpa terasa tenggelam dan berat perasaan Suma Bing, hatinya risau dan gundah.
Siang Siau hun adalah perempuan yang berhati kukuh dan berpendirian teguh, mungkin dia bisa melakukan hal2 yang bodoh, maka katanya.
"Jadi untuk persoalan ini maka Cianpwe mencari wanpwe?"
"Tidak, masih ada urusan lain."
"Urusan apa?"
"Mari kita bicara diluar."
Bergegas mereka tinggalkan rumah arak itu terus berlarian keluar kota, setelah ditempat yang agak sepi baru si maling tua bicara dengan nada berat tertekan.
"Buyung, kau kenal seorang gadis yang bernama Ting Hoan?"
Sebuah wajah ayu dan jelita segera terbayang dalam benak Suma Bing.
"Ya, aku kenal dia."
Sahut Suma Bing.
"Dia minta aku si maling tua menyampaikan berita kepadamu."
"Berita apa?"
"Dia minta aku si maling tua membawa kabar untuk kau!"
"Kabar apa?"
"Dia ingin melihatmu untuk yang terakhir."
Suma Bing berjingkrak kaget, tanyanya gemetar.
"Yang terakhir, apakah maksudnya?"
"Dia sudah hampir mati, tapi sebelum ajal ini dia ingin benar bertemu dengan kau!"
"Dia, sudah hampir mati?"
"Benar, sudah kempas-kempis tinggal menunggu waktu saja!"
"Kenapa terjadi demikian?"
"Setelah bertemu kau akan tahu segala2nya."
"Dimana dia sekarang berada?"
"Kira2 limapuluh li dari sini ada sebuah kampung bernama Sam keh cheng. Didalam gubuk reyot disamping jembatan batu merah itulah dia berada"
"Baik, segera aku berangkat..."
"Nanti dulu!"
"Cianpwe masih ada pesan apa?"
"Tadi kau berkata kau tersesat waktu berlatih. Apakah bibimu yang menembusi jalan darah setengah tubuhmu yang terbuntu itu?"
"Begitulah!"
"Apa kau tahu asal usul perguruannya?"
"Ini... aku tidak begitu jelas."
"Aneh!"
"Apakah Cianpwe ada menemukan sesuatu?"
"Dalam dunia persilatan, entah sudah berapa tokoh2 silat kosen yang mati atau cacat karena tersesat dalam latihannya itu. Maka kalau tersesat dalam latihan dipandang sebagai jalan buntu yang membawa maut. Dia dapat dan kuat menggunakan tenaga murni dalam tubuhnya untuk menjebol dan menembusi jalan darahmu yang tertutup. Bukan saja Lwekangnya itu sangat tinggi juga sangat ajaib. Aku si maling tua curiga pasti dia adalah satu murid gembong persilatan yang kenamaan pada ratusan tahun yang lalu."
"Siapa?"
"Yang mengenal ilmu Kan guan kay hiat sip meh tay hoat, boleh dikata hanya satu aliran ini saja tiada keduanya!"
"Siapakah sebenarnya?"
Si maling tua Si Ban cwan berkerut alis, ujarnya.
"Masing2 aliran dan golongan dalam dunia persilatan ada peraturan dan pantangannya. Lebih baik kelak kau tanyakan sendiri."
Apa boleh buat Suma Bing manggut2.
Memang selama ini belum pernah terpikirkan untuk menanyakan asal usul perguruan bibinya.
Malah tidak terpikirkan juga olehnya bahwa Phoa Kin sian adalah istrinya, sebelum ini yang diketahui hanyalah bahwa dia adalah murid bibinya saja.
"Cianpwe masih ada pesan apalagi?"
"Tidak ada, kau pergilah. O, ya..."
"Harap katakan!"
"Maling tua ini sudah menyirapi kemana2, tapi kabar berita tentang ibumu masih belum dapat kuperoleh. Mengenai perempuan yang terkurung dibelakang puncak Siau lim itu aku masih tetap bercuriga..."
Suma Bing memandang penuh rasa terima kasih kepada maling tua katanya.
"Kelak wanpwe pasti akan kembali ke Siau lim si untuk membuka tabir rahasia ini untuk berita ibunda sampai Cianpwe susah payah kian kemari, wanpwe menyatakan banyak2 terjma kasih!"
"Tidak menjadi soal, ini kan kerelaan dari maling tua ini. Kau pergilah!"
"Selamat bertemu!"
Dengan rasa kesal dan kuatir Suma Bing berlarian menuju tempat yang ditunjuk oleh si maling tua.
Satu jam kemudian tibalah dia didepan sebuah gubuk reyot dipinggir jembatan batu merah.
Gubuk ini terbagi dalam tiga susun bilik, sebuah pintu dan tiada jendela, keadaannya sangat jorok dan bobrok sekali agaknya sudah lama tidak ditinggali manusia.
Entah bagaimana Ting Hoan bisa menetap ditempat semacam ini?
Eh, bukankah si maling tua mengatakan dia sudah kempas kempis tinggal menunggu ajal.
Mungkin mendadak dia terserang penyakit berat atau telah mengalami apa2?
Berpikir sampai disini tanpa terasa bergidik dan merinding tubuhnya.
Waktu kakinya melangkah kedalam, hidungnya segera diserang oleh bau apek yang menyesakkan dada.
Suma Bing menahan napas dan memandang kearah dalam sebelah kiri sana.
Kosong melompong, lalu berputar memandang kearah kanan.
Dipojokan kamar dalam sana mendekam dan melingkar sebuah benda warna putih, apa mungkin dia adanya?
Mulai berdebar keras jantung Suma Bing.
Waktu dia mendekati, memang tidak salah, itulah seorang perempuan yang berpakaian warna putih.
"Kau... kau adalah... nona Ting?"
Tubuh orang berbaju putih itu bergerak, tapi tidak mengeluarkan suara.
"Apakah kau adalah adik Hoan?"
"Siapa?"
Suara lemah dan lembut sekali hampir tidak terdengar.
"Akulah Suma Bing."
Seru Suma Bing agak keras. Bergetar tubuh orang baju putih itu bergegas membalik tubuh menghadap atas...
"Oh, kau..."
Beruntun Suma Bing mundur tiga langkah, kaki tangan terasa dingin.
Tidak salah lagi memang dia adalah Ting Hoan.
Gadis rupawan yang berwajah cemerlang itu sekarang telah berobah menjadi sedemikian pucat kurus dan peyot, sinar matanya redup, tapi mengandung perasaan kebencian yang ber-limpah2, membuat bergidik dan berdiri bulu roma orang.
"Kau... akhirnya kau datang? Benar... kah kau ini?"
Suma Bing maju lagi terus membungkuk disampingnya, katanya gemetar.
"Adik Hoan, inilah aku, Suma Bing!"
"Ini... bukan mimpi?"
"Ya, ini kenyataan, aku, akulah Suma Bing, aku memburu tiba setelah mendengar kabar dari Si cianpwe si maling bintang!"
Ting Hoan pejamkan kedua matanya sambil menenangkan gejolak hatinya, napasnya mulai teratur, sesudah sekian lamanya kedua matanya dipentang lagi, agaknya semangatnya sudah pulih sebagian besar.
"Engkoh Bing, bolehkah aku... memanggil demikian?"
"Adik Hoan, asal kau suka!"
Wajah pucat dan kurus keropos dari Ting Hoan menampilkan rasa girang dan tersenyum simpul, katanya.
"Engkoh Bing, sejak pertama kali melihatmu, aku... berjanji dalam hati, aku tidak minta balas cintamu, asal aku mencintai kau... sudah cukup!"
"Adik Hoan, aku... sangat mencintaimu, tapi, beban yang kupikul terlalu berat!"
"Engkoh Bing, aku tidak perlu mendengar penjelasanmu. Aku sudah merasa girang dan puas dalam waktu sebelum ajal ini kau dapat berada disampingku. Ini sebetulnya hanyalah khayalanku belaka, tapi sekarang menjadi kenyataan!"
Tenggorokan Suma Bing menjadi tersumbat, sekuatnya ia menahan mengalirnya airmata.
Terbayang dalam ingatannya waktu pertama kali dirinya menunaikan tugas yang diserahkan gurunya, kalau bukan Ting Hoan membangkang perintah gurunya, pasti jiwanya sudah lama melayang...
"Adik Hoan, kau terserang penyakit atau..."
"Aku? Hahahaha..."
Meski suara tawanya lemah dan rendah tapi mengandung kedukaan dan nestapa yang tak terperikan.
"Adik Hoan,"
Tergetar suara Suma Bing.
"Sebetulnya apakah yang telah terjadi?" 38. GUGURNYA SEKUNTUM BUNGA AYU Ting Hoan menghentikan tawanya, wajahnya berganti serius, katanya sambil mengertak gigi.
"Engkoh Bing, sebetulnya aku malu bertemu dengan... kau, tapi, sebaliknya aku juga mengharap betul bertemu dengan kau. Kalau tidak aku tidak akan bisa mati... meram."
"Adik Hoan, kau..."
"Engkoh Bing, aku... aku telah diperkosa orang..."
Bergolak darah Suma Bing.
"Siapa?"
Tanyanya gusar. Tutur Ting Hoan.
"Iblis itu menodai aku karena aku telah menyebut... namamu, dengan tutukan berat dia hendak mencabut nyawaku, tapi... aku tidak segera mati, aku hidup lagi selama tiga hari,... sekarang, sebab... aku ingin bertemu sekali lagi dengan kau!"
Tanpa terasa meleleh keluar air mata Suma Bing, serunya beringas.
"Siapa dia, akan kubeset dan kuremukkan tubuhnya?"
"Dia... adalah..."
"Siapa?"
"Racun diracun!"
"Apa, Racun diracun?"
"Be... nar!"
Kontan pandangan Suma Bing terasa gelap, dadanya hampir meledak saking gusar.
Dengan Racun tanpa bayangan Racun diracun sudah membunuh adik Siang Siau hun dan Li Bun siang.
Juga memelet Thong Ping sehingga perempuan malang ini melahirkan anak diluar perkawinan, malah membunuh juga ibunda Thong Ping.
Sekarang lagi seorang telah dinodainya, malah orang yang malang ini adalah kekasihnya lagi.
"Kalau tidak kuhancur leburkan tubuh manusia laknat itu, aku bersumpah tidak akan menjadi manusia!"
Begitulah Suma Bing menggerung dan memaki kalangkabut dan mengertak gigi untuk melampiaskan kedongkolan hatinya.
"Engkoh... Bing..."
Dari warna pucat pasi air muka Ting Hoan mulai berobah menjadi bersemu kuning ke-abu2an.
Dengkul Suma Bing tertekuk dan memeluknya kencang2.
Bibir Ting Hoan ber-gerak2, matanya juga ber-kedip2, entah apa yang hendak diucapkan, namun suaranya tidak terdengar.
"Adik Hoan!"
Keluh Suma Bing sesenggukan, tubuhnya mulai merinding, ia menyadari apa yang bakal terjadi.
Se-konyong2 teringat Hoan hun tan yang digembol ditubuhnya, mungkin jiwa kekasihnya ini masih bisa ditolong dengan obat mujarab itu.
Wajah Ting Hoan berobah ke-biru2an dan unjuk senyuman yang terakhir, lantas kepalanya teklok kesamping, nyawanya meninggalkan badan kasarnya.
Tak tertahan lagi air mata Suma Bing meleleh semakin deras, sebutir demi sebutir menetes diatas wajah Ting Hoan yang sudah mulai membeku.
Waktu hidupnya dia tidak pernah memberikan apa yang diharapkan, kini setelah orang mati, hanya air matalah yang diberikan sebagai pengantar keberangkatan jiwanya kealam baka.
"Ia sudah mati, mati dibawah cengkraman setan iblis!"
Demikian Suma Bing menggumam. Satu jam kemudian, tak jauh dari letak jembatan batu merah itu dibangun sebuah kuburan baru. Batu nisan didepan kuburan digores dengan jari bertuliskan.
"Kasihan bunga jelita dipetik gugur, tinggal daku hidup merana didunia fana."
Tulisan ini tanpa nama dan she serta tanda tangan, diatas kuburan terletak seonggok bunga-bunga liar.
Tampak seorang berdiri menunduk dan terpekur nglamun, berdiri tegak mematung.
Dia bukan lain adalah Sia sin kedua Suma Bing yang baru saja ditinggalkan kekasihnya yang tercinta.
Se-konyong2, terdengar sebuah panggilan dingin.
"Suma Bing!"
Suma Bing tergugah dari rasa kepedihan hati oleh panggilan dingin ini, pelan2 dia membalik tubuh, begitu matanya melihat siapa yang berada didepannya ini, kontan dia bergelak tawa menggila, nadanya penuh mengandung kepedihan hati dan nafsu membunuh untuk pelampiasan yang menyeluruh.
Ternyata orang yang baru muncul ini tak lain tak bukan adalah Racun diracun.
Kedatangan Racun diracun ini bagi Suma Bing seumpama Tuhan memberikan restunya kepada pemohonnya.
Belum dingin jenazah Ting Hoan dikebumikan, kalau dirinya membunuh iblis laknat ini didepan kuburan, benar2 suatu hal yang sangat menyenangkan.
Bola mata Racun diracun yang banyak putih dari hitamnya itu mengunjuk rasa heran tak mengerti.
Hardiknya dingin.
"Tutup mulut!"
Suma Bing menghentikan tawanya, wajahnya dirundung kekejaman membunuh yang buas matanya me-nyala2 menatap lawannya. Dengan nada tidak mengerti Racun diracun bertanya.
"Suma Bing, apa yang kau tertawakan?"
Rasa kebencian semakin merangsang benak Suma Bing, geramnya gemetar.
"Aku girang bahwa kedatanganmu ini sangat kebetulan!"
"Apa maksudmu?"
"Kedatanganmu ini meringankan aku, jadi tidak perlu jauh2 mencarimu kian-kemari".
"Mencari aku, untuk urusan apa?"
"Apa tuan kenal seorang perempuan yang bernama Thong Ping?"
"Thong Ping?"
"Benar, dia bernama Thong Ping!"
"Belum pernah kudengar nama ini."
"Tuan benar2 tidak ingat atau..."
"Suma Bing, apa maksudmu ini?"
"Tidak apa, dia minta aku melakukan sesuatu!"
"Terangkanlah secara jelas!"
Sebelum bicara Suma Bing mendengus keras2.
"Racun diracun, cocok dan serasi benar nama julukanmu ini, sungguh kejam, telengas tak mengenal peri kemanusiaan..."
Sejenak Racun diracun melengak, lalu semprotnya gusar.
"Suma Bing, berkatalah secara terus terang?"
"Bukankah ini sudah jelas. Thong Ping minta padaku untuk menagih sesuatu kepadamu!"
"Siapakah Thong Ping itu?"
"Kau tidak berani mengakui?"
"Suma Bing, perlu kutandaskan sekali lagi, bicaralah yang terang!"
Sekian lama Suma Bing memandang nanap kepada musuhnya ini sambil menggigit gigi, desisnya.
"Tuan sendiri yang minta aku berkata terus terang, baiklah, kau dengar. Setelah kau memelet cinta Thong Ping lantas kau menodai tubuhnya selanjutnya kau buang dan tinggal pergi begitu saja, malah lebih durhaka lagi kau bunuh ibunya, kau... inikah manusia?"
Saking kaget mendengar tuduhan yang berat ini, Racun diracun terhuyung tiga tindak, suaranya gemetar.
"Apa yang kau katakan?"
Suma Bing maju dua langkah, serunya.
"Sekarang Thong Ping telah melahirkan anakmu!"
"Anak?"
"Ya, seorang bayi perempuan!"
"Anak? dia... dia..."
Racun diracun mengeluh dengan sedihnya, mulutnya kemak-kemik entah apa yang diucapkan, seluruh tubuhnya bergemetaran.
"Kau tidak akan menyangkalnya lagi bukan?"
"Aku... tidak menyangkal... tidak..."
Suma Bing mendesak maju lagi selangkah serta ujarnya.
"Maka aku melulusi dia untuk menagih sesuatu kepadamu!"
"Sesuatu... apa?"
"Jiwamu!"
"Ha! Suma Bing... kau... jangan..."
Dirangsang rasa kebencian yang ber-limpah2 Suma Bing tidak memperhatikan sikap dan mimik Racun diracun yang luar biasa aneh dari kebiasaannya.
"Dengar, masih ada..."
"Masih ada apa?"
Setelah melirik kearah gundukan tanah kuburan yang meninggi itu, wajah Suma Bing berkerut mengejang dengan penuh kepedihan, desisnya serak.
"Racun diracun, kukira kau sudah tahu siapakah yang berbaring dibawah gundukan tanah ini?"
"Siapa?"
Sepatah demi sepatah Suma Bing berkata.
"Ting Hoan yang telah kau perkosa!"
"Ting... Hoan?"
"Ya, Ting Hoan. Gurunya Pek hoat sian nio mungkin takut menghadapi racunmu, tapi ketahuilah, yang menagih jiwanya adalah aku Suma Bing."
Racun diracun mengeluh panjang dengan sedih menyayatkan hati, tiba2 tubuhnya melenting tinggi terus tinggal pergi...
"Lari kemana kau!"
Betapa mujijat Bu siang sin hoat itu, dalam suara bentakan yang keras itu, tahu2 Suma Bing sudah berkelebat menghadang didepannya sambil mengayunkan tangan.
Kontan Racun diracun terhuyung dan sempoyongan sepuluh langkah lebih.
"Kau hendak pergi begitu saja?"
"Suma Bing, apa yang hendak kau lakukan?"
"Hendak kuhancur leburkan tubuhmu, untuk melampiaskan dendam korbanmu yang mati penasaran."
"Kau... berani pastikan bahwa semua itu adalah perbuatanku?"
Suma Bing menjengek gusar.
"Apa mungkin bukan kau?"
Seakan tergugah oleh suatu hal, Racun diracun terlongong sejenak naga2nya ada apa-apa yang tengah dipikirkan, tak lama kemudian mendadak dia menghela napas dan berkata.
"Suma Bing, saat ini tidak leluasa aku memberi penjelasan..."
"Ada apa lagi yang perlu dijelaskan?"
"Aku ada satu permintaan..."
"Katakan!"
"Setengah tahun lagi kuberikan pertanggungan jawabku kepadamu!"
"Tidak bisa, hari ini juga didepan kuburan Ting Hoan harus kuselesaikan urusan ini!"
"Suma Bing, kau jangan terlalu memaksa."
"Sehari lebih panjang umurmu, akan lebih menambah penasaran orang yang menjadi korbanmu!"
"Suma Bing, jangan kau terlalu takabur!"
"Bagaimana?"
"Menjangan bakal mati ditangan siapa masih susah ditentukan!"
Sambil mengacungkan tangannya Suma Bing membentak.
"Mari kau coba2!"
"Nanti dulu!"
"Masih ada pesan apalagi yang perlu kau sampaikan?"
"Yang kau andalkan tidak lebih hanyalah kemujijatan Bu siang sin hoat dan tidak mempan racun, paling2 ditambah lagi dengan Lwekangmu yang baru dilebur itu, benar bukan? Tapi jangan kau lupa betapa hebat Racun diracun bukanlah omong kosong belaka."
Berdetak jantung Suma Bing, darimana Racun diracun bisa mengetahui dirinya ketambahan Lwekang baru?
Peristiwa dirinya minum darah naga pusaka diperkampungan bumi, selain bibinya Ong Fong jui dan istrinya Phoa Kin sian, belum pernah dirinya ceritakan kepada lain orang.
Sudah tentu tidak bisa karena beberapa patah kata itu lantas dia dilepas begitu saja.
Maka serunya penuh kemurkaan.
"Racun diracun kalau hari ini aku Suma Bing tidak mencincang tubuhmu menjadi perkedel, aku bensumpah tidak akan menjadi manusia!"
"Suma Bing, kau ini binatang yang berdarah dingin!"
"Apa, aku binatang berdarah dingin. Memangnya kau adalah binatang berdarah panas?"
"Aku Racun diracun jangan kau anggap takut kepadamu. Seumpama tiada menanam budi kepadamu, tapi hubungan sekedarnya yang tak berarti masih ada. Sedemikian kukuh dan keras kepala kau ini, kenapa kau tidak terima permohonanku untuk menunda urusan ini sampai setengah tahun lagi."
Serta-merta Suma Bing mundur dua langkah, ucapan orang tepat menusuk lubuk hatinya.
Memang, musuhnya ini pernah beberapa kali mengulur tangan menolong jiwanya, malah secara jantan mau menyerahkan Pedang darah tanpa syarat.
Semua ini adalah kenyataan yang tak mungkin dihapus dan tidak bisa dilupakan.
Mungkinkah dirinya turun tangan mencabut jiwanya?
Sumpahnya kepada Thong Ping, dendam sakit hati Ting Hoan, dapatkah hapus dan impas begitu saja?
Sesaat mulut Suma Bing tersumbat tak bisa memberi jawaban.
Perasaan Racun diracun agak tenang, katanya.
"Suma Bing, urusan didunia ini kadang2 susah diselami dan dipahami dengan pikiran sehat. Lebih baik kau berpikir tenang sedikit."
"Jadi maksud tuan dalam peristiwa ini masih ada latar belakangnya?"
"Mungkin sekali!"
"Peristiwa diluar perikemanusiaan ini bukan kau yang melakukan?"
"Aku tidak mengakui. Tapi juga tidak menyangkal tuduhanmu itu"
"Bagaimana maksud jawabanmu ini?"
"Setengah tahun kemudian, akan kuberikan pertanggungan jawabku. Hutang jiwa bayar jiwa, hutang darah bayar darah!"
"Kenapa harus ditunda sampai setengah tahun?"
"Suma Bing, kalau saat ini juga aku minta kau segera mati, apakah kau tidak merasa berat karena banyak hal2 yang belum kau laksanakan?"
Suma Bing mendengus dingin, jengeknya.
"Kau ingin aku mati?"
"Kau sangka aku tidak sanggup?"
"Marilah dicoba!"
"Ketahuilah, walaupun rumput ular yang kau telan itu dapat memunahkan kadar racun umumnya, tapi tidak dapat memunahkan racun dalam racun, apa kau tidak percaya?"
"Racun dalam racun?"
"Benar, selama aku berkecimpung didunia persilatan bellum pernah kugunakan, kalau kau memang memaksa ya kau akan tahu sendiri apa akibatnya!"
"Adalah kau sendiri yang menimbulkan pertikaian ini."
"Kau mengancam aku?"
Ujar Suma Bing dengan angkuhnya.
"Silahkan kau sebarkan racunmu itu, aku pandang sepele saja!"
Racun diracun menyeringai dingin, katanya.
"Sekarang boleh kau coba2 menyalurkan hawa mumimu!"
Keruan bergidik dan dingin perasaan Suma Bing, dalam keadaan yang tidak berasa ini apa mungkin lawan sudah tebarkan racunnya yang lihay itu?
Karena pikirannya ini, tiba2 ia menyedot napas panjang terus menyalurkan hawa murni dari pusarnya.
Benar juga Yang kiau dan Im kiau dua nadi besar ada tanda2 mulai mengerat, sedang empat dari delapan jalan darah besar juga sudah buntu.
Kejutnya ini benar2 bukan kepalang, kiranya ucapan Racun diracun bukan main2 belaka betul2 dirinya sudah terkena racun berbisa lawan.
Tapi kapan dan bagaimanakah lawan menyebarkan racunnya itu?
"Bagaimana?"
Desak Racun diracun. Timbul sifat2 angkuh dan kesesatan turunan gurunya dalam benak Suma Bing, katanya nekad.
"Seumpama aku mati karena racunmu ini kumat, terlebih dulu aku harus membunuh kau manusia laknat ini!"
"Saat ini kau tak mungkin dapat melakukan!"
Cepat2 Suma Bing menyalurkan Kiu yang sin kang, baru saja tenaganya timbul lantas dia merasakan adanya banyak rintangan dijalan darahnya banyak yang sudah buntu.
Kecut perasaannya, keringat dingin membanjir keluar, sambil membanting kaki serunya.
"Baik, kita bertemu pada lain kesempatan!"
"Nanti dulu, kau telanlah dulu obat pemunah ini!"
"Tidak perlu"
Jantung Suma Bing berdetak semakin keras, tapi bagaimana bisa ia menerima obat pemunah musuhnya? "Kalau begitu kau tidak akan dapat pergi jauh!"
Racun diracun menghela napas lalu berkata lagi.
"Suma Bing, aku menggunakan racun hanya untuk mengambil kesempatan membuatmu kepepet saja, tiada maksudku hendak mengambil jiwamu. Hendak kutanya kepadamu, hari2 yang lalu sedikit banyak bukankah kita mengikat persahabatan yang erat?"
"Ya, memang hal itu boleh kuakui."
"Maka pandanglah persahabatan kita itu, terimalah obat pemunah ini!"
"Tidak!"
"Sebelum sepuluh li kau akan mati keracunan!"
Suma Bing menyeringai sedih, ujarnya.
"Itu urusanku sendiri!"
"Suma Bing, seorang laki2 harus dapat secara tegas membedakan antara budi dan dendam. Persahabatan kita dulu adalah satu soal. Sekarang kau menuntut balas untuk orang lain juga lain soal lagi, jangan kau campur adukan kedua persoalan itu menjadi satu, sudah kukatakan dan sekarang kutegaskan sekali lagi, setengah tahun kemudian akan kuberikan pertanggungan jawabku kepadamu supaya kau puas."
Suma Bing menjadi bimbang, dia ragu2 bukan karena tergerak oleh bujukan orang atau takut mati, adalah dia teringat akan sakit hati ayahnya dan dendam kebencian ibundanya dan dendam kesumat perguruan.
Dan sekarang yang terpenting adalah menolong jiwa bibinya yang tergenggam dalam tangannya, dia harus secepat mungkin mengantar tiba Hoan hun tan.
Aku tidak boleh mati, demikian hatinya berteriak.
Kata Racun diracun lagi.
"Suma Bing, menurut apa yang kutahu, istrimu Phoa kin sian setengah tahun lagi bakal melahirkan, mungkin sekali dia akan mengalami kesukaran, apakah kau tidak memikirkan akan masa depan keturunanmu?"
Tanpa terasa tergerak sanubari Suma Bing, Racun diracun mengatakan Phoa Kin sian mungkin mengalami kesukaran, darimana dia mengetahui?
Kesukaran apakah itu?
Darimana pula dia tahu bahwa Phoa Kin sian tengah mengandung dan bakal melahirkan.
Karena pikirannya ini, tanyanya heran.
"Apa, tuan katakan istriku bakal mengalami kesukaran?"
"Benar!"
"Kesukaran apa?"
"Kelak kau akan tahu sendiri, kau takkan percaya mendengar penjelasanku."
"Darimana tuan mengetahui hal itu?"
"Ini tidak perlu kau tanyakan, pendek kata hal itu adalah kenyataan."
Risau dan gundah perasaan Suma Bing, hatinya penuh tanda tanya.
Kalau orang tidak mau mengatakan, tidak mungkin dia memaksa orang bicara.
Namun naga2nya ucapannya itu sungguh2 dan boleh dipercaya.
Tiada perlunya Racun diracun membual dan membuat sensasi.
Satu hal yang mengherankan adalah darimana dia tahu bakal terjadinya peristiwa yang susah diketahui orang sebelumnya ini?
Tapi sifat angkuh dan keras kepala Suma Bing membuat dia tidak suka tunduk dihadapan orang lain, sahutnya dingin.
"Terima kasih akan petunjukmu ini, selamat bertemu."
"Benar2 kau hendak pergi?"
"Sudah tentu, sebab sekarang aku tidak mampu lagi melenyapkan jiwamu!"
"Kau tidak takut mati?"
"Apa yang perlu ditakutkan, yang kutakuti adalah susah membedakan antara budi dan dendam, ini akan mengganjal dalam hati dan menyesal seumur hidup!"
Habis berkata dia putar tubuh menghadapi kuburan Ting Hoan dan berkata penuh haru.
"Adik Hoan, kau nantikanlah, waktunya tidak akan terlalu lama."
Sekali melejit tubuhnya sudah berlarian ditengah jalan raya.
Dibelakangnya terdengar suara helaan napas sedih Racun diracun.
Suma Bing ber-lari2 kencang, hatinya ber-tanya2 dan tak habis mengerti akan sepak terjang Racun diracun selama ini terhadap dirinya, betul2 susah diduga.
Perkataan Racun diracun terkiang lagi ditelinganya.
"Sebelum sepuluh li kau akan mati keracunan!" -Benar juga baru lima li kemudian hawa murninya mulai luber kepala terasa berat, kecepatan larinya semakin lamban, sampai akhirnya gerak geriknya tak ubah seperti orang biasa yang tidak pandai bermain silat. 'Apa memang sudah suratan takdir aku Suma Bing harus mati keracunan?' -demikian ia bertanya pada dirinya sendiri, timbul rasa sedih yang mencekam sanubarinya. 'Apa aku harus menerima pengobatannya. Tapi aku hendak membunuhnya!' -begitulah sambil berpikir2 itu tak terasa dia sudah berjalan lagi sejauh tiga li. Mendadak tubuhnya terhuyung pandangan mata ber-kunang2, kakinya berhenti melangkah, tubuhnya limbung hampir roboh. Bayangan kematian sontak melingkupi sanubarinya. Benar, memang tidak kanti sejauh sepuluh li dirinya dapat berjalan. Berkat rumput ular dari pemberian Si gwa Lojin dirinya kebal akan segala racun, sungguh tak duga ternyata masih tidak kuat bertahan akan bisa racun dalam racun yang ditebarkan oleh Racun diracun. Pikirannya mulai kabur dan melayang, tanpa kuasa tubuhnya limbung terhuyung terus roboh terlentang... Mendadak samar2 terasa olehnya tubuhnya ada rebah dalam pelukan seseorang, sebuah suara terkiang dalam telinganya.
"Engkoh Bing, kuatkan semangatmu!"
Begitu mendengar suara itu tahulah Suma Bing siapakah orang yang bicara itu, benar juga bangkit semangatnya, katanya gemetar.
"Adik Sian, kaukah itu?"
"Ya, akulah!"
"Aku... aku sudah payah!"
"Kau, kenapakah kau ini?"
"Aku telah keracunan!"
"Apa kau keracunan?"
"Benar."
"Siapa yang meracun kau?"
"Racun diracun!"
"Rebahlah biar kuperiksa. Engkoh Bing, sungguh kebetulan, dulu tanpa sengaja aku beroleh sebutir Tan tiong tan dari seorang tua tak bernama, khasiatnya dapat menyembuhkan penyakit dan segala bisa..."
"Adik Sian, racun dalam racun bukan sembarang bisa, rumput ular juga tidak mempan lagi, apalagi..."
"Coba saja kau telan dulu." -sambil berkata dari dalam bajunya ia merogoh keluar sebuah peles kecil warna hijau, begitu tutup peles itu dibuka bau wangi segera merangsang hidung, seketika membuat pikiran segar dan semangat bangkit hati juga terasa lapang. Katanya lemah lembut.
"Engkoh Bing, coba telanlah ini!"
Tanpa bersuara Suma Bing pandang istrinya lekat2 penuh kasih mesra, mulutnya dipentang terus telan obat pemberiannya itu.
Saat itu terasa bahagia tak terhingga dalam benaknya, sebelum ajal ini dirinya rebah dalam pangkuan istrinya tercinta.
Alangkah indah hidup manusia ini.
Matanya dipejamkan menikmati kehangatan pelukan sang istri.
Seumpama Tan tiong tan tidak mujarab, namun dapat mati dipelukan istri tercinta rasanya juga cukup puas dan terhibur.
"Engkoh Bing, kerahkan tenaga mengeluarkan racun."
Suma Bing menurut, sebelumnya ia hilangkan segala pikiran lalu pelan2 mulai kerahkan hawa murninya...
Dalam saat2 genting inilah dari kejauhan terdengar berkesiur angin baju dan derap langkah kaki beberapa orang tengah mendatangi kearah mereka dengan cepat, dilain saat beberapa bayangan manusia meluncur turun tiga tombak dihadapan mereka.
Waktu Phoa Kin sian melihat para pendatang ini, seketika berobah air mukanya.
Kiranya mereka tak lain adalah Si tiau khek.
Suma Bing tengah rebah dalam pangkuannya dan menyalurkan tenaga untuk mengusir racun dalam tubuhnya, tak mungkin dia melepas diri untuk menghadapi mereka, seumpama mereka turun tangan pasti mereka suami istri bakal mengantar jiwa secara konyol.
Air muka Si tiau khek yang membeku bagai setan hidup itu tanpa menunjukkan mimik yang susah diraba, sorot matanya memancarkan sinar kehijauan yang menyeramkan, tali yang terikat dileher mereka menjulur turun didepan dada, keadaan ini benar2 menggiriskan.
Sambil berpaling kearah ketiga kawannya Heng si khek berkata.
"Inilah kesempatan baik yang diberikan oleh Tuhan."
Hui bing khek menggerakkan tangan tunggalnya sambil terkekeh2, ujarnya.
"Lotoa, ingin yang hidup atau yang mati?"
"Sudah tentu lebih baik masih hidup, Losi, ringkus mereka!"
Tenggorokan Teh ciam khek ber-kerok2 mengiakan, terus angkat langkah maju...
Sudah tentu gugup dan gelisah Phoa Kin sian bukan main, keringat membanjir membasahi tubuh.
Begitu melihat Teh ciam khek mendatangi serasa kabur sukmanya.
Dia tidak dapat bergerak dan tidak boleh membentak merintangi orang, kalau sedikit saja Suma Bing terganggu, maka akibatnya susah dibayangkan.
Dalam keadaan yang terpaksa ini diambilnya sebutir batu dipinggir tubuhnya terus disambitkan kearah Teh ciam khek.
Teh ciam khek menyeringai tawa iblis, serunya.
"Nyonya manis, apa2an kau jual lagak dihadapanku, berani main sambit2an dengan batu!" -tengah berkata itu dia ulurkan tangan untuk menyambuti batu yang melayang tiba. Mendadak terdengar Teh ciam khek berpekik panjang mengerikan terus roboh terlentang. Keruan kaget ketiga setan gantung lainnya bukan alang kepalang, mereka sama2 berseru heran, tanpa berjanji menubruk maju berbareng.
"Jangan sentuh, racun!"
Terdengar Heng si khek berseru gemetar.
Wajah membeku bagai setan hidup dari Hui bing khek dan Bao bong khek seketika berobah ketakutan, berbareng mereka menyurut mundur.
Sekian lama Heng si khek mengawasi Phoa Kin sian penuh dendam, lalu serunya.
"Maju berbareng, gunakan pukulan jarak jauh, kalau tidak bisa hidup biar mati juga tidak menjadi soal!"
Serempak ketiga setan gantung ini maju dari tiga jurusan, pelan2 tangan masing2 sudah diangkat, dalam detik2 yang tegang mencekam hati ini.
Hati Phoa Kin sian semakin tenggelam dan pasrah pada nasib saja.
Se-konyong2 terdengar sebuah bentakan nyaring.
"Berhenti!"
Ketiga setan gantung sama2 melengak heran, tanpa terasa mereka menghentikan langkah terus berpaling kebelakang.
Tampak seorang nyonya muda yang cantik rupawan dengan wajah membeku dingin tengah berdiri setombak dibelakang mereka.
Betapa hebat kepandaian ketiga setan gantung ini, toh masih belum mengetahui ada musuh yang mengintip gerak gerik mereka, maka sudah terang kalau kepandaian pendatang ini bukan olah2 lihaynya.
Dengan penuh keheranan Phoa Kin sian mengawasi nyonya muda yang datang tanpa diundang ini.
Heng si khek menjengek dingin, tanyanya.
"Siapa kau?"
Sorot mata nyonya muda itu menatap kearah Suma Bing, tapi mulutnya menyahuti.
"Kau belum berharga menanyakan namaku!"
Kontan timbul nafsu keji ketiga setan gantung, Bao bong khek terloroh2, serunya sinis.
"Nyonya busuk besar benar mulutmu itu!"
Berobah gusar wajah nyonya muda itu mendengar makian 'nyonya busuk' itu, timbul juga nafsu membunuh yang membayang mukanya, matanya mendelik memancarkan sinar dingin.
Tanpa terasa Bao bong khek bergidik seram dan mundur selangkah.
Terdengar nyonya muda itu mendesis berat.
"Karena ucapanmu ini kau pantas dihukum mati!"
Masih suaranya itu terdengar, tanpa terlihat bagaimana ia bergerak, tahu2 tubuhnya sudah melejit tiba dihadapan Bao bong khek, kelima jarinya yang lencir dan runcing2 memutih bagai kilat mencengkram tiba, cara cengkraman ini benar2 aneh dan belum pernah terlihat selama ini.
Betapa tinggi kepandaian Bau bong khek, kiranya juga tidak mampu berkelit atau menyingkir, maka dilain saat terdengar jeritan yang menyeramkan diselingi suara kejut tertahan.
Serasi benar kematian Bau bong khek dengan nama julukannya ini, kepalanya pecah otaknya berhamburan keluar, tubuhnya roboh tanpa bernyawa lagi.
Betapa kaget Heng si khek dan Hui bing khek serasa arwahnya terbang ke-awang2.
Kepandaian nyonya muda ini benar2 lihay dan dan jarang terlihat atau terdengar dalam dunia persilatan.
Tapi betapapun nama Si tiau khek sudah kenamaan akan kekejian dan kekejamannya, kini dua diantara empat setan gantung itu sudah tamat riwayatnya, mana mereka mau tinggal diam dan mandah saja disembelih.
Maka sambil mengacungkan tangan yang tinggal sebelah itu Hui bing khek menubruk nekad kearah nyonya muda itu.
Dalam waktu yang bersamaan Heng si khek juga menubruk kearah Suma Bing suami istri...
"Berani mati!" -dimana terlihat nyonya muda itu menggertak nyaring sambil memutar sebelah tangannya, kontan Hui bing khek dihantam terpental balik, jeritan kesakitan memecah kesunyian, lantas disusul sebuah bayangan manusia terbang mumbul beberapa tombak terus terbanting mampus diatas tanah. Demikian sebat dan gesit luar biasa gerak gerik nyonya muda itu, begitu melancarkan serangannya terus dia memutar tubuh, seketika terhiburlah hatinya dan menghela napas lega. Tampak Suma Bing telah berdiri dengan kerengnya, wajahnya diseliputi hawa membunuh, sedang Heng si khek terlihat rebah tak bergerak lagi dikejauhan sana. Ternyata waktu Heng si khek menubruk tiba hendak membokong kebetulan Suma Bing siuman dari latihannya yang telah sempurna dan pulih lagi tenaganya, begitu melihat ada bayangan orang menubruk tiba tanpa banyak bicara lagi, Kiu yang sin kang dikerahkan sepuluh bagian terus dihantamkan keluar. Mimpi juga Heng si khek tidak menduga akan serangan balasan dari Suma Bing, kontan isi perut dan dadanya rontok berantakan tanpa dapat membela diri tubuhnya terbanting mampus. Sinar mata Suma Bing menyapu pandang kearah nyonya muda itu serunya penuh kepedihan.
"Kaukah ini?"
Nyonya muda mengangguk sayu, sahutnya.
"Ya, akulah Engkoh Bing!"
Nyonya muda yang berwajah ayu cemerlang ini bukan lain adalah putri Perkampungan bumi yaitu Pit Yau ang.
"Siapa dia?"
Senggak Phoa Kin sian dingin. Suma Bing unjuk tertawa kecut, katanya.
"Adik Sian, dialah Pit Yau ang!"
"O!"
Seru Phoa Kin sian terperanjat, ter-sipu2 ia maju mendekat sambil berseru riang.
"Oh, adikku!"
Pit Yau ang melengak, tanyanya.
"Kau..."
"Akulah Phoa Kin sian!"
"O, cici, terimalah hormat adikmu!"
Sambil berkata dia membungkuk tubuh memberi hormat. Ter-sipu2 Phoa Kin sian menarik tangannya serta berseru.
"Jangan dik, tidak perlu banyak peradatan!"
Mendelu dan terpukul batin Suma Bing.
Meskipun lahirnya sikap Phoa Kin sian dingin dan kaku, namun hakikatnya dia adalah seorang perempuan yang polos dan welas asih, buktinya terhadap Pit Yau ang sedikitpun tidak merasa iri atau cemburu dan jelus.
Sudah tentu Pit Yau ang sendiri juga merasa terhibur dan lega sekali, kedudukannya saat itu tidak lebih hanya gundik Suma Bing saja.
Memang sikap dan tingkah laku Phoa Kin sian ini benar2 diluar dugaannya.
Sekilas Suma Bing menyapu pandang tiga mayat diatas tanah terus berseru kejut.
"Wah, Hui bing khek telah melarikan diri."
Phoa Kin sian dan Pit Yau ang berbareng celingukan keempat penjuru, benar juga memang bayangan Hui bing khek sudah menghilang tanpa jejak. Tiraik asih Websi te
http.// kangz usi.co m/ Waktu pandangan Suma Bing bentrok dengan mayat Teh ciam khek, ia berseru kejut.
"Dia ini mati karena keracunan?"
Wajah Phoa Kin sian sedikit berobah. Pit Yau ang melirik kearah Phoa Kin sian dan menyahut.
"Dia ini mati ditangan cici?"
Berkerut alis Suma Bing, tanyanya.
"Adik Sian, kau juga pintar menggunakan racun?"
Phoa Kin sian tertawa kikuk, katanya.
"Ya, tidak begitu mahir, karena terpaksa dan terdesak baru aku turun tangan!"
Berputar cepat pikiran Suma Bing, dirinya terkena Racun dalam racun yang disebarkan Racun diracun, kebetulan dia mempunyai Tan tiang tan untuk memunahkan.
Sekarang diketahui pula bahwa dia juga pandai menggunakan racun, hal ini mustahil dan kurang masuk akal.
Bersama ini lantas terlintas ucapan si maling bintang Si Ban cwan tentang bibinya Ong Fong jui dan Phoa Kin sian, katanya bahwa asal-usul perguruan mereka ada sedikit mencurigakan.
Tapi karena mengingat pantangan dan peraturan dunia persilatan dia tidak mau menjelaskan secara terang, sekarang lebih baik dia menanyakan secara langsung kepada istrinya, maka tercetus pertanyaannya.
"Adik Sian, aku ada satu soal hendak bertanya padamu!" . GAN DAR WA MER AH DUT A DAR I MEN ARA IBLI S.
"Tentang urusan apa?"
"Tentang asal-usul perguruanmu!"
Phoa Kin sian bersikap serba susah dan tertawa pahit, katanya.
"Engkoh Bing, maaf Siau moay tidak bisa beritahukan kepadamu!"
"Mengapa?"
"Karena peraturan perguruan, sangat keras!"
Suma Bing menghela napas, ujarnya.
"Kalau demikian, aku tidak memaksa kau!"
Habis berkata lalu dia berpaling kearah Pit Yau ang dan berkata.
"Adik Ang, kenapa kau tinggalkan Perkampungan Bumi..."
"Perkampungan Bumi? Hahahahahahaha..."
Terdengar suara gelak tawa yang keras dan berat sampai menggetarkan telinga.
Kontan tergetar perasaan ketiga orang ini.
Ditengah suara gelak tawa itu tampak seorang tua gagah kereng mengenakan jubah merah, pelan2 menghampiri kearah mereka bertiga.
"Tuan ini orang kosen darimana?"
Tanya Suma Bing dingin!
Orang tua jubah merah seakan tidak mendengar, langsung dia berlenggang sampai didepan mereka kira2 berjarak satu tombak baru menghentikan langkahnya, kedua matanya bagai mata elang memancarkan sinar terang menatap tajam kearah Pit Yau ang.
Melihat kelakuan orang tua yang kurang ajar ini, bangkitlah kemarahan Suma Bing bentaknya keras.
"Hei, tuan tidak tuli bukan?"
Pelan2 baru orang tua jubah merah ini mengalihkan pandangannya, tanyanya.
"Buyung, kau ini gembar-gembor terhadap siapa?"
"Terhadap kau!"
"Buyung seperti kau ini memanggil aku dengan sebutan tuan?"
"Karena kupandang kau seorang laki2!"
Mata elang si orang tua jubah merah melotot besar, memancarkan cahaya kehijauan yang berjelalatan, katanya sambil tertawa kering.
"Siapa namamu?"
"Suma Bing!"
"Dari perguruan mana?"
"Tiada perlu kuberitahu kepada tuan!"
"Kau inikah buyung yang kenamaan dikalangan Kangouw sebagai Sia sin kedua?"
"Itulah cayhe adanya!"
"Kedua anak jelita ini apamu?"
"Istriku!"
"Heehe, besar keberuntunganmu, sayang mujur tapi kurang abadi!"
Suma Bing mendengus dingin, semprotnya.
"Tuan apa maksudmu itu?"
"Kau tetap memanggil Lohu sebagai tuan?"
"Bagaimana anggapan tuan aku harus memanggil?"
"Locianpwe!"
"Kau tidak sembabat!"
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak sembabat!"
"Hm, kau pintar membual dan pintar putar lidah!"
"Dalam Bulim mengutamakan keluhuran dan budi pekerti, tiada perbedaan antara tua dan muda."
"Buyung agaknya kau terlalu fanatik akan kekuatan ilmu silatmu?"
"Ini juga kurang benar, silat atau kekuatan tidak lepas dari pengertian kebajikan".
"Jadi anggapanmu aku ini tidak pandai silat juga kurang bijaksana?"
"Tepat sekali, terhadap kedua pengertian itu sedikitpun tuan tidak menonjolkan bahwa tuan sudah paham dan tuan sebagai seorang tua yang harus dijunjung puji!"
"Nanti sebentar akan Lohu tunjukkan kepada kalian."
Lalu dia berputar menghadapi Pit Yau ang, tanyanya.
"Pit Gi itu apamu?"
"Orang tuaku!"
"Bagus sekali, kau ikut Lohu saja, aku tidak perlu kuatir lagi Pit Gi bakal mengeram diri terus seperti bulus."
"Kau ini mengoceh apa?"
Semprot Pit Yau ang marah.
"Budak, berani kau berkata kurang ajar?"
"Akan kumaki kau ini orang tua tidak tahu mampus..."
"Cari mati!"
"Belum tentu?"
Pit Yau ang tidak tahu ada permusuhan apa antara orang tua jubah merah ini dengan ayahnya, namun kata2 'mengeram diri sebagai bulus' benar2 menusuk dalam pendengarannya.
Baru saja selesai perkataannya, kelima jarinya dipentang terus mencengkram kearah batok kepala si orang tua jubah merah.
Kedua mata orang tua jubah merah melotot keluar bagai kelereng, sedikitpun dia tidak bergerak atau berkelit.
Tadi sekali cengkram dengan mudah sadja Pit Yau ang mencengkram mati Bau bong khek salah satu dari empat setan gantung yang kenamaan, maka dapatlah diukur betapa hebat serangan cengkraman ini.
Begitu melihat orang tua jubah merah tidak menyingkir dan tidak bergerak, segera ia tambah tenaganya berlipat ganda pada kelima jari2 tangannya langsung mengarah batok kepala orang.
Sudah dalam dugaan bahwa orang tua jubah merah ini bakal pecah dan tercengkram hancur batok kepalanya.
Tapi lantas terdengar seruan kaget tertahan, tampak Pit Yau ang mundur terhuyung beberapa langkah, wajahnya menunjukkan keheranan.
Karena waktu tangannya menyentuh batok kepala orang, yang terasa tangannya mencengkram selapis besi baja yang kokoh kuat, karena terlalu besar tenaga yang dia gunakan untuk mencengkram, sampai tangan sendiri yang terasa tergetar linu.
Keruan bukan kepalang kejut Suma Bing dan Phoa Kin sian.
Entah darimana asal-usul orang tua jubah merah ini.
Sedemikian hebat dan tinggi kepandaiannya sampai berani terang2an mandah dicengkram batok kepalanya tanpa kena cidera sedikitpun jua.
Orang tua jubah merah menyeringai puas, katanya.
"Budak kecil, kau masih terpaut sangat jauh, cengkramanmu ini hanya menggaruk2 gatal diatas kepalaku, lebih baik kau menurut saja ikut Lohu pergi, atau kau ingin Lohu turun tangan?"
Sudah kejut dirangsang amarah lagi, saking dongkol sampai tubuh Pit Yau ang gemetar, bentaknya.
"Siapa kau sebenarnya?"
Orang tua jubah merah ngakak dingin, serunya.
"Setelah melihat ini pasti kau akan tahu."
Baru saja lenyap suaranya entah cara bagaimana dia bergerak tahu2 pergelangan tangan Pit Yau ang sudah digenggam keras olehnya.
Gerak tubuh dan cara turun tangan yang begitu aneh benar2 luar biasa dan tiada bandingannya.
"Tangan setan!"
Tanpa terasa tercetus seruan kaget dari mulut Phoa Kin sian. Orang tua jubah merah manggut2.
"Terhitung kau yang luas pengalaman!"
"Kalau tidak salah dugaanku."
Kata Phoa Kin sian bersikap sungguh2.
"Tuan pasti adalah Ang go ngo tang salah satu dari Kui tha siang go bukan?"
"Tepat sekali memang itulah Lohu adanya"
Tergetar perasaan Suma Bing, tidak nyana, bahwa si orang tua jubah merah ini ternyata adalah anak buah Kui tha itu salah satu tempat keramat yang disegani oleh kaum persilatan.
Entah ada permusuhan atau pertikaian apakah antara Kui tha(menara iblis) dan Perkampungan bumi?
Atau mungkin antara Ang go ngo tang dengan raja bumi yaitu Pit Gi mempunyai ganjelan hati pribadi?
Dilihat cara orang turun tangan, agaknya ilmu silat Kui tha juga sangat mengejutkan dan tidak kalah hebatnya.
Namun Pit Yau ang adalah istrinya, mana bisa dirinya berpeluk tangan tinggal diam, maka segera dia tampil kedepan dan berseru, mengancam.
"Lepaskan dia!"
Ang go ngo tang atau gandarwa merah Ngo Tang mengekeh iblis, serunya.
"Buyung, ringan benar ucapanmu!"
Desis Suma Bing dengan geramnya.
"Tuan hendak berbuat apa kepada dia?"
"Tersangkut-paut apa dengan kau buyung kecil ini?"
"Dia adalah istriku, kenapa tiada sangkut-pautnya dengan aku?"
"Lalu kau buyung kecil ini hendak apa?"
"Lepaskan dia!"
Sebagai putri kesayangan Perkampungan bumi, selama hidup baru pertama kali ini Pit Yau ang merasa dihina dan direndahkan, betapa malu dan gusarnya, namun karena jalan darah sendiri dicengkram oleh lawan, tenaga untuk bergerak saja tidak ada, saking gugup dan gelisah keringat membanjir keluar membasahi tubuh.
Terdengar si gandarwa merah Ngo Tang menjengek acuh tak acuh.
"Buyung, kalau kau adalah suaminya, tentu kau adalah salah satu anggota dari Perkampungan bumi juga, baiklah kupinjam mulutmu untuk memberi kabar kepada Pit Gi, katakan kepadanya; dalam satu bulan dia harus tiba ditelaga hitam dalam perbatasan Kui ciu dan Sucwan, untuk menyelesaikan urusan lama. Dalam jangka sebulan ini kujamin keselamatan putrimasnya ini, selewatnya..."
"Selewatnya satu bulan bagaimana?"
"Keselamatannya susah diramalkan!"
Suma Bing tertawa hambar, serunya.
"Aku minta kau lepaskan dia!"
"Mengandal kau masih belum mampu!"
"Baiklah biar kucoba!"
Ditengah suara bentakannya secepat kilat ia turun tangan, langsung kirim sebuah pukulan mengarah dada si gandarwa merah ini.
'Blang.' kontan gandarwa malah Ngo Tang tergetar mundur tiga langkah.
Terdengar dia malah bergelak tawa, serunya.
"Buyung, hebat juga tenaga dalammu, tapi masih belum mampu mengapakan Lohu?"
Berobah airmuka Suma Bing, kecut perasaan hatinya, secara keras, si gandarwa merah mandah digenjot dadanya, ternyata tanpa kurang suatu apa.
Betapa dahsyat himpunan kekuatan tenaga dalamnya ini, kenyataan si gandarwa merah ini hanya tergetar mundur tiga langkah.
Naga2nya memang dirinya bukan tandingan orang, tapi mana ia mau menyudahi begitu saja.
Maka begitu mengerahkan hawa murninya, terus disalurkan kearah jari tengah tangan kanan, kontan cincin iblisnya memancarkan cahaya terang menyilaukan mata.
Agaknya gandarwa merah ini insaf akan kekuatan cincin iblis yang hebat itu, air mukanya sedikit berubah tegang.
Wajah Suma Bing penuh diselimuti kekejaman, seringainya dingin.
"Kau lepas tangan tidak?"
"Tidak!"
"Kalau tidak kukremus kau hidup-hidup!"
"Kau tidak akan mampu!"
"Lihat saja nanti!"
Dimana sorot cahaya cincin Iblisnya berkelebat, tenggorokan gandarwa merah Ngo Tang yang diincar.
Gandarwa merah mengelak kesamping, sambil bergerak itu, tubuh Pit Yau ang dibawa berputar untuk memapaki cahaya serangan cincin iblis...
Diam2 Suma Bing mengumpat dan mencaci kelicikan lawan, ter-sipu2 ia harus mendoyong tubuh sambil menekuk lengan tangannya sehingga sorot cahaya cincin iblis mencong kesamping, terpaut serambut hampir saja Pit Yau ang kena terlukakan.
Dalam saat itulah seumpama berkelebatnya sinar kilat, secara diam2 Phoa Kin sian mengayunkan sebelah tangannya tanpa mengeluarkan suara menghantam kearah gandarwa merah Ngo Tang.
Serangan bokongan secara tiba2 ini betapa tinggi dan kosen kepandaian orang yang diserang juga susah menghindari diri lagi...
Dimana terlihat bayangan merah berkelebat, tahu2 gandarwa merah Ngo Tang bagai bayangan setan, sudah menggeser tempat sejauh satu tombak lebih, lalu seringainya sambil berpaling.
"Mengandal hasil latihanmu ini masih kurang cukup sempurna."
Bukan saja serangannya gagal malah diejek lagi, keruan gusar dan malu Phoa Kin sian bukan buatan, wajahnya sampai pucat dan gemetar.
Betapa cepat cara gandarwa merah ini menghadapi reaksi bokongan musuh sungguh sangat mengejutkan.
Sekali membanting kaki, tiba2 bayangan Suma Bing menghilang...
"Bu siang sin hoat!"
Terdengar gandarwa merah berseru kaget. Tiba2 badannya berputar cepat seperti gangsingan...
"Lepaskan dia!"
Tahu2 sebelah tangan Suma Bing sudah mencengkeram jalan darah Kian kin hiat sebelah kanan.
Tapi betapa kaget dan herannya sungguh susah dilukiskan.
Ternyata dimana tangannya menyentuh ternyata badan orang sedemikian keras bagai besi baja, keruan ia tertegun.
Dan pada detik2 ia tertegun itulah, gandarwa merah Ngo Tang sudah berkelebat selicin belut lolos dari cengkeramannya.
Keruan gemes dan dongkol Suma Bing bukan main.
Tampak gandarwa merah Ngo Tang mengunjuk rasa kejut2 heran, katanya.
"Buyung, sabar sebentar, Lohu ada sedikit omongan!"
"Lekas katakan!"
"Benar2 kau adalah murid Sia sin Kho Jiang?"
"Apa perlunya aku membual?"
"Lalu darimana kau peroleh pelajaran Bu siang sin hoat tadi?"
"Darimana, kau juga tidak perlu tahu!"
"Buyung, kuharap kau suka bicara secara terus terang, jangan kau nanti menyesal sudah terlambat!"
"Menyesal, apa maksudmu?"
"Apa hubunganmu dengan Bu siang Hujin?"
Suma Bing me-nimang2, apakah musuh gentar dan takut menghadapi ketenaran nama Bu siang Hujin, atau ada sebab lain? Maka sahutnya sinis.
"Tiada sangkut-paut apa2!"
"Lalu Bu siang sin hoat yang kau kembangkan tadi kau pelajari darimana?"
"Tidak perlu kuberitahukan kepadamu!"
Wajah tua gandarwa merah berkerut membesi, katanya sungguh2 dengan nada berat.
"Benar2 tiada sangkut-paut apa2?"
"Tidak salah!"
"Bagus sekali. Masih tetap seperti yang kukatakan tadi, beri kabar kepada Pit Gi dalam satu bulan dia harus tiba di Telaga air hitam untuk menyelesaikan urusan lama dan mengambil pulang putri kesayangannya ini. Selewatnya satu bulan, segala akibatnya susahlah dikatakan sekarang!"
Habis berkata sambil mengempit Pit Yau ang, tubuhnya berkelebat sepuluh tombak lebih jauhnya.
"Lari kemana kau!"
Betapa sakti Bu siang sin hoat sambil membentak gusar itu, tubuh Suma Bing sudah berkelebat mencegat dihadapan orang. Gandarwa merah mengekeh gila2an, serunya.
"Buyung, kalau kau tidak rela dia segera mati, lebih baik kau tahu diri."
Sambil berkata sebelah tangannya yang lain menekan jalan darah Tay yang hiat di pelipis Pit Yau-ang, lalu ancamnya lagi.
"Hanya dengan tenaga jari Lohu..."
"Kau berani!"
"Bukan soal berani atau tidak berani!"
"Ingin kutanya, kau ini tengah menjalankan tugas atau sedang..."
"Ya, Lohu tengah menjalankan tugas!"
"Menerima tugas dari siapa?"
"Majikan dari Menara iblis!"
"Ada pertikaian apa antara Menara iblis dengan Perkampungan bumi?"
"Bocah kecil seperti kau tidak perlu tahu."
"Justru aku ingin bertanya!"
"Lohu juga tidak akan beritahu kepada kau."
Saking murka kepala Suma Bing sampai menguap, ingin rasanya sekali keremus telan musuh ini bulat2.
Tapi bagaimanapun dia tidak bisa sembarangan turun tangan, karena Lwekang sendiri masih kalah jauh dengan musuh.
Maka mulutnya saja yang dapat bekerja, ejeknya.
"Ngo Tang, betapa tenar dan besar nama majikan menara iblis kalian, sungguh tak nyana bisa menyuruh anakbuahnya melakukan perbuatan rendah yang memalukan ini?"
Wajah gandarwa merah mengelam biru, sahutnya sinis.
"Habis kalau tidak begini, Pit Gi selamanya akan mengeram diri seperti bulus..."
"Kentut!"
"Keparat kau memaki siapa?"
"Memaki kau, kau mau apa?"
"Kau cari mati!"
Orangnya bergerak mengikuti hilangnya suara makiannya, dengan kecepatan yang paling cepat, langsung ia mencengkram kedada Suma Bing, serangan cengkraman ini bukan saja aneh, lihay juga sangat ajaib jarang terlihat sebelum ini.
Seumpama tokoh silat kosen juga susah dapat menghindar diri...
Tapi hanya sekali menggeser kaki dan berkelebat menghilang dengan mudah Suma Bing melepas diri dari ancaman musuh.
Sudah tentu kalau tidak mengandal keampuhan Bu siang sin hoat, tak mungkin Suma Bing mampu meluputkan diri dari serangan cengkraman setan ini.
Gandarwa merah menyeringai seram, ujarnya.
"Buyung, kalau kau mau menerangkan dimana letak Perkampungan bumi berada, segera Lohu melepas dia!"
Selama diringkus oleh musuh itu, sampai detik itu belum pernah Pit Yau ang membuka mulut. Sekarang mendadak dia bersuara.
"Engkoh Bing, biarkan saja, dia takkan dapat berjalan sejauh lima li!"
Tanpa terasa Suma Bing melengak sendiri, entah apa maksud perkataan istrinya ini, apa mungkin... Gandarwa merah ter-loroh2 sikapnya sangat angkuh, katanya.
"Justru Lohu tidak percaya akan bualanmu!"
Pada saat itulah sebuah suara serak dingin yang keras menyahut.
"Bualannya ini kau harus percaya betul!"
Begitu mendengar penyahutan ini, semua orang terperanjat, waktu memandang kearah datangnya suara.
Tampak seorang tua yang memegang kipas, dengan ikat kepala sutra dan jubah panjang bergambar patkwa didepan dadanya, sikapnya tak ubahnya seperti malaikat dewata.
Entah kapan kedatangannya, tahu2 sudah berdiri terpaut dua tombak dari mereka.
Begitu melihat orang tua ini, bergegas Suma Bing maju memapak terus membungkuk tubuh memberi hormat sambil sapanya.
"Menghadap pada Locianpwe!"
Cepat2 Phoa Kin sian juga maju turut memberi hormat. Ternyata si pendatang ini tak lain tak bukan adalah Kang kun Lojin yang kenamaan itu. Kata Kang kun Lojin sambil menunjuk Phoa Kin sian.
"Dia ini..."
"Istriku!"
Sahut Suma Bing cepat.
Sekian lama Kang kun Lojin mengamat2i Phoa Kin Sian, wajah tuanya mendadak mengelam dalam sambil geleng2 kepala.
Gerak geriknya ini membuat Suma Bing tidak habis mengerti.
Adalah Phoa Kin sian sendiri juga berpaling kearah lain sambil tunduk terpekur.
Baru saja Suma Bing hendak membuka mulut bertanya, terdengarlah sebuah suara halus lirih seperti bunyi nyamuk terkiang dalam telinganya.
"Buyung, Lohu ada sedikit paham ilmu meramal. Dalam jangka seratus hari ini istrimu bakal tertimpa suatu bencana, maka ber-hati2 dan waspadalah!"
Berobah airmuka Suma Bing.
Seorang aneh dan kenamaan seperti Kang kun Lojin pada jamannya dulu, sudi menggunakan ilmu coan im jip bit untuk memperingati dirinya, sudah tentu bukan bualan belaka.
Entah mala petaka apakah yang bakal menimpa diri Phoa Kin sian, sebab saat ini dia tengah mengandung, kalau ada kejadian apa2, bukankah...
Karena batinnya ini tanpa terasa tubuhnya bergidik dan merinding.
Pandangan Kang kun Lojin beralih menyapu kepada gandarwa merah Ngo Tang, katanya.
"Lepaskan dia!"
Kata2nya ini seolah2 mengandung suatu kekuatan yang tidak terbendung, gandarwa merah Ngo Tang mundur ketakutan, hilanglah sikap angkuh dan kegarangannya tadi, sahutnya tergagap.
"Apakah cianpwe ini yang bernama Kang kun Lojin?"
"Hm, tepat sekali!"
Lagi2 berobah airmuka gandarwa merah, kata Ngo Tang.
"Wanpwe menerima tugas dan terpaksa..."
"Kau lepaskan dia dulu!"
"Baiklah!"
Segera Gandarwaa merah melepaskan Pit Yau ang.
Karena sedikit teledor maka Pit Yau ang sampai teringkus oleh lawan, gemes dan dongkol benar hatinya.
Maka begitu dirinya dilepas tanpa tanggung2 lagi segera tangannya diayun terus menggablok membalik.
'Plak' kontan gandarwa merah terhuyung lima langkah sambil meringis kesakitan.
"Siau ang kau mundur!"
Seru Kang kun Lojin sambil mengulapkan tangan. Ter-sipu2 Pit Yau ang mengundurkan diri kesamping Suma Bing. Wajah Kang kun Lojin berobah serius, katanya kepada gandarwa merah Ngo Tang.
"Aku orang tua bekerja selamanya tidak kepalang tanggung, dalam jangka sebulan. Pit Gi pasti menepati janjinya pergi ke Telaga air hitam. Sekarang kau boleh pergi!"
Tanpa banyak bercuit lagi, segera gandarwa merah melejit tinggi terus menghilang. Alis Pit Yau ang berkerut dalam, katanya.
"Paman, sebenarnya ada pertikaian apakah antara ayah dengan majikan Menara iblis?"
Sahut Kang kun Lojin sambil mengipas2.
"Tentang itu kau tanya sendiri kepada ayahmu."
"Selamanya tidak pernah dengar dia menyinggung tentang urusan ini?"
"Sudah tentu tidak semua urusan terus bercerita kepada kau. Sekarang segera kau kembali ke Perkampungan bumi, suruh ayahmu dalam sebulan ini menepati janji. Kalau aku orang tua sudah mewakilinya berkata, janji ini tidak dapat tidak harus, ditepati.
"Akan tetapi..."
"Bagaimana, berat meninggalkan suami mudamu ini?"
"Tua2 keladi, semakin tua semakin jadi!"
Semprot Pit Yau ang dengan muka merah dan malu. Suma Bing sendiri juga merasa mukanya panas. Kata Kangkun Lojin sungguh2.
"Kalau majikan Menara iblis mengutus orang untuk meringkus kau buat memaksa ayahmu keluar, pasti urusan ini bukan sembarang urusan, kau harus segera kembali, supaya dia bisa bersiap sebelumnya!"
"Biar Titli mengutus orang memberi kabar..."
"Tidak boleh, sekarang juga kau harus pulang sendiri."
Keadaan Pit Yau ang serba susah dipandangnya Kangkun Lojin dengan sorot tanda tanya, lalu berpaling kearah Suma Bing, katanya.
"Engkoh Bing, kapan kau akan pulang kampung?"
Suma Bing tertawa kecut, sahutnya.
"Aku...?"
"Masa kau..."
"Urusanku belum selesai, kapan aku kembali susah ditentukan."
Sambil berkata sorot matanya melirik kearah Phoa Kin sian, selalu dia merasa mengganjal dalam hati, lirikan selayang pandang ini mengandung rasa penyesalan yang dalam.
Sebaliknya Phoa Kin sian mengunjuk tertawa tawar saja.
Pit Yau ang menghampiri kearah Phoa Kin sian dan berkata.
"Cici, kau sudah berjanji hendak menetap bersama Engkoh Bing di perkampungan bumi bukan?"
"Ya, dulu aku pernah berjanji!"
"Sekarang saja kau berangkat dulu bersama aku?"
"Jangan, masih ada urusan pribadiku yang belum selesai kukerjakan."
"Urusan pribadi apa?"
"Saat ini tidak leluasa kuberitahukan kepadamu, tapi ada sebuah pertanyaan hendak kutanya kepada kau..."
"Silahkan cici katakan."
"Apa kau benar2 cinta dia?"
"Ini... apa maksud cici?"
"Jawablah menurut isi hatimu."
"Ya, memang aku cinta dia, malah perkawinan kita sudah direstui oleh orang tuaku."
"Harap selalu ingatlah perkataanku ini, berilah bahagia kepada dia."
Pit Yau ang mengunjuk rasa tak mengerti dan termangu heran, katanya.
"Cici, mengapa kau berkata demikian?"
"Kelak kau akan paham!"
Alis Suma Bing berkerut semakin dalam, ucapan atau kisikan Kangkun Lojin tadi membuatnya risau dan was2.
Pikirnya, apa benar2 dalam jangka seratus hari ini Phoa Kin sian bakal tertimpa malapetaka?
Ini benar2 menakutkan cara yang sempurna untuk mengatasinya adalah segera dirinya mengantar tiba Hoan hun tan kedalam solokan untuk menolong bibinya Ong Fong jui, lalu secara diam2 memberi kisikan kepada bibinya supaya mengawasinya selalu tanpa berpisah selangkahpun juga.
Karena pikirannya ini hatinya sedikit terhibur dan dada terasa lapang.
Terdengar Kangkun Lojin mendesak lagi.
"Siau ang, kau segera berangkat!"
Dengan penuh rasa berat Pit Yau ang ambil berpisah kepada mereka bertiga terus berlari menghilang dikejauhan sana. Kangkun Lojin kebutkan lengan bajunya serta berkata.
"Aku orang tua juga harus pergi. Buyung, selamat bertemu!"
"Selamat bertemu!"
Begitu habis ucapannya bayangan Kangkun Lojin juga lantas menghilang.
Suma Bing terlongong memandangi Phoa Kin sian, hatinya penuh diliputi kuatir dan ketakutan.
Kata Phoa Kin sian sambil mengulum senyum.
"Engkoh Bing, kenapa kau pandang aku demikian?"
"Oh, tidak apa2."
Sudah tentu dia tidak akan memberitahukan kisikan Kangkun Lojin kepada Phoa Kin sian.
"Agaknya kau ada urusan apa2 yang mengganjal hatimu?"
"Adik Sian, jejak adikmu..."
Berobah gelap air muka Phoa Kin sian, sahutnya lesu.
"Belum ketemu!"
Tanpa terasa tenggelam juga perasaan Suma Bing.
Pedang darah dibawa lari oleh Phoa Cu giok ini benar2 mempengaruhi segala rencananya.
Tapi orang itu adalah adik iparnya sendiri, dia hanya dapat mengeluh dalam hati, maka katanya apa boleh buat.
"Cari saja pelan2, tak perlu tergesa2."
"Tidak, engkoh Bing, aku harus terus mencarinya sampai ketemu."
"Urusan ini biarlah serahkan saja kepadaku..."
"Tidak mungkin..."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Dia seorang kukuh yang senang membawa adatnya sendiri, aku tidak suka terjadi hal2 yang jelek akibatnya."
"Kau tidak perlu kuatir, aku pasti..."
"Sudah kukatakan tidak mungkin!"
"Tapi keadaanmu saat ini tidak leluasa banyak bergerak!"
"Kenapa?"
"Sebab kau... sedang mengandung dan tak lama lagi bakal melahirkan!"
Ucapan Suma Bing ini setengah benar, tujuan Suma Bing adalah supaya dia tidak berkelana seorang diri, karena dia kuatir ramalan Kangkun Lojin bisa menjadi kenyataan, itulah sangat menakutkan.
Kata Phoa Kin sian tawar.
"Itu tidak menjadi soal, toh bukan hendak bertempur mati2an."
"Tapi aku tidak izinkan kau berbuat begitu!"
Merah mata Phoa Kin sian, air mata sudah berlinang dikelopak matanya, ujarnya sedih.
"Engkoh Bing, aku hanya punya seorang adik yang nakal dan tak genah ini, menurut pesan ayah dan bunda aku harus menjaga dan melindunginya. Mungkin ini kesalahanku, akulah yang terlalu memanjakan sehingga dia menyeleweng dan tersesat. Kalau aku tidak mencarinya kembali, pasti dia bakal melakukan sesuatu hal yang siapapun tidak berani membayangkan akibatnya..."
"Mari kita pulang dulu menilik bibi Jui!"
"Dia, kenapakah Suhu?"
"Untuk menyembuhkan luka dalamku karena tersesat dalam latihan, saat ini masih dalam keadaan pingsan!"
"Oh, lalu..."
"Aku sudah dapat memohon sebutir Hoan hun tan, kau tidak perlu kuatir."
"Syukurlah, mari cepat pulang!"
Berbareng mereka berlarian melanjutkan perjalanan menuju kesolokan yang tidak bernama itu.
Hati Suma Bing masih merasa was2 dan kuatir, dia tidak tahu apakah Hoan hun tan ini benar2 manjur atau tidak.
Kalau tidak manjur, bukankah bibinya bakal tertidur untuk selama2nya.
Hari itu, Suma Bing suami istri sudah tiba didepan solokan dimana sembilan hari yang lalu Suma Bing pergi mencari obat.
Segera Suma Bing me-nekuk2 jari menghitung, lalu katanya.
"Adik Sian, bahaya betul, hari ini kebetulan adalah tepat hari kesepuluh!"
Baru saja selesai ucapannya, mendadak dari empat penjuru bermunculan beberapa bayangan manusia.
Orang terdepan yang memimpin rombongan pendatang tidak diundang ini tak lain adalah ketua Bwe hwa hwe Chiu Thong dan perempuan setengah umur yang cantik molek bersama Loh Cu gi itu.
Kontan timbul nafsu membunuh Suma Bing, dia mereka dalam hati, kalau toh perempuan molek ini sudah mengunjuk diri, pasti Loh Cu gi sendiri juga turut hadir disini, dendam dan sakit hati mulai bergolak dalam darahnya yang mulai deras mengalir.
Diam2 ia merogoh kantong dan mengeluarkan Hoan hun tan terus diserahkan kepada Phoa Kin sian, serta katanya.
"Adik Sian, segera kau menyingkir, bibi rebah diatas pembaringan kamar dalam, lebih penting kau pergi menolong jiwanya!"
"Lalu kau bagaimana?"
"Hendak kubunuh semua para kurcaci rendah ini!"
"Kita bersama ganyang mereka dulu baru masuk kedalam!"
"Jangan, segala urusan susah diramalkan, jangan kau main kelakar dengan jiwa bibi. Hari ini adalah hari terakhir."
"Apa kau cukup kuat menghadapi mereka?"
"Mereka sudah mendesak tiba, lekas kau pergi. Jangan sampai diketahui rahasia dalam solokan dibawah sana."
"Hm, kalau ada orang berani masuk kesolokan sana, berarti mereka mencari mati!"
"Adik Sian lekas pergi!"
Phoa Kin sian ulurkan tangan menyambuti Hoan hun tan terus melejit tinggi berlari keluar...
"Lari kemana?"
Ditengah suara bentakan yang riuh rendah, empat orang jagoan dari Bwe hwa hwe maju mencegat jalan larinya.
"Cari mati!"
Terdengar Suma Bing juga menghardik keras terus berkelebat maju.
Belum sempat Suma Bing turun tangan empat jagoan Bwe hwa hwe yang mencegat jalan keluar Phoa Kin sian itu baru saja terpaut setombak didepan Phoa Kin sian, mendadak melolong tinggi terus roboh kelejetan, jiwanya lantas melayang.
Tanpa terasa Suma Bing sendiri juga tertegun heran, cepat2 ia hentikan langkahnya.
Maka terdengarlah seruan kejut dan kaget saling susul dari empat penjuru.
"Ha racun!"
"Awas sundel ini menebarkan racun!"
Dalam keributan itulah sekejap mata saja Phoa Kin Sian sudah lolos keluar dari kepungan.
Keadaan yang diluar dugaan ini, benar2 membuat ciut dan gentar nyali setiap jagoan dari Bwe hwa hwe.
Mendadak Suma Bing memutar tubuh menghadap kearah Ketua Bwe hwa hwe Chiu Thong dan perempuan cantik itu.
Wajahnya membeku diliputi hawa membunuh.
Musuh2nya yang mengepung diempat penjuru mulai mendesak maju, tiga orang satu kelompok, dua orang satu iringan.
Tercekat hati Suma Bing, terang lawan agaknya tengah mengatur satu barisan untuk mengepung dirinya.
Terdengar Ketua Bwe hwa hwe Chiu Thong tertawa menyeringai, ujarnya.
"Suma Bing, kau menyerah saja untuk diringkus!"
Suma Bing mendengus, jengeknya.
"Chiu Thong, hari ini kau pasti mati!"
Baru saja suaranya lenyap, tahu2 tubuhnya sudah berkelebat tiba didepan ketua Bwe hwa hwe itu, terus kirim sebuah pukulan mengarah dada...
Gerak-geriknya ini adalah menggunakan ilmu Bu siang sin hoat, kecepatannya susah diikuti oleh pandangan mata, tapi begitu tangannya menyerang mendadak ia kehilangan bayangan musuhnya.
Malah pada saat itu juga ia rasakan beberapa jalur angin pukulan melanda tiba dari berbagai jurusan menyerang dirinya, benar2 hebat angin pukulan gabungan ini, kontan Suma Bing terpental balik ketempat asalnya lagi.
--ooo0dw0ooo--40.
BWE HWA HWE KONTRA PERKAMPUNGAN BUMI.
Sungguh kejut Suma Bing bukan kepalang, terang dirinya sudah terkepung dalam barisan, barisan apa yang diatur oleh musuhnya dia juga tidak tahu.
Terdengar perempuan cantik itu tertawa genit, serunya.
"Suma Bing, kau benar2 hebat dapat lolos dari kurungan penjara bawah tanah. Tapi hari ini seumpama kau tumbuh sayap juga jangan harap dapat terbang keluar."
Suma Bing mengertak keras.
"Siluman rase, aku ingin jiwamu!"
Kiu yang sin kang dikerahkan sampai sepuluh bagian terus dihantamkan keluar.
Sejak minum darah pusaka naga bumi.
Lwekangnya sudah tambah berlipat ganda, maka diantara angin pukulannya itu samar2 sudah mengandung berkelebatnya sinar merah.
Sedikit bergoyang badan perempuan cantik setengah umur itu tahu2 sudah menggeser kedudukan.
Maka pukulan Suma Bing yang mengejutkan ini mengenai tempat kosong lagi.
Kata ketua Bwe hwa hwe Chiu Thong dengan nada mengancam.
"Suma Bing, kalau kau ingin melawan itulah mimpi belaka, kau seorang laki2 harus tahu diri dan pasrah nasib saja, jikalau barisan ini kugerakkan, kau Sia sin kedua tidak lebih seperti anjing yang bergulingan diatas tanah saja."
Hampir meledak dada Suma Bing, bukan saja karena diejek dan dihina, adalah kedua kali pukulannya yang mengenai tempat kosong tadi menurunkan semangat tempurnya.
Disinilah baru ia sadari sebelum mengetahui seluk beluk barisan ini janganlah sembarangan bergerak, itu akan sia2 dan menghabiskan tenaga saja.
Maka dia menahan gusar dan menekan perasaan, matanya tajam dan memasang kuping bersiaga mencari kesempatan untuk lolos.
Perempuan cantik setengah umur itu berseri girang, katanya kepada Chiu Thong.
"Thongji, gerakkan barisan, supaya tidak membawa buntut dikelak kemudian hari..."
Ketua Bwe hwa hwe sedikit mengangguk terus angkat sebelah tangan memberi aba2...
Dalam sekejap itu bayangan orang terus berkelebatan, angin pukulan juga terus bergulung dan menerjang tiba dari empat penjuru seperti angin lesus, suara benturan yang menggelegar tak henti2nya sehingga memekakkan telinga, angin pukulan yang dahsyat seumpama gugur gunung terus melanda bergantian menerjang ketengah dari berbagai penjuru terus menebar dan berputar balik lagi...
Betapapun Suma Bing sudah menggunakan seluruh kekuatannya untuk melindungi tubuh, bagaimana juga susah mengendalikan badan sendiri, tubuhnya tergoyang gontai dan sempoyongan kekanan kiri terbawa arus angin pukulan yang mengekang dari luar.
Kekuatan pukulan sendiri juga amblas ditelan gelombang pukulan gabungan para musuhnya tanpa meninggalkan jejak.
Dalam keadaan demikian, betapa tinggi juga Lwekangnya, pasti takkan kuat bertahan selama sepeminuman teh, pada saat itu mau tak mau dia harus mandah menyerah dan diringkus saja.
Sungguh dia sangat menyesal, sebetulnya dia sudah harus bergerak sebelum lawan sempat atau sempurna mengatur barisannya, tapi sekarang sudah terlambat, sesal kemudian tak berguna.
Sang waktu sedetik menuju kesemenit terus berjalan tanpa menanti.
Keadaan Suma Bing sudah semakin payah, karena tenaga tidak dapat mengimbangi kekerasan hatinya, tubuhnya terus bergulingan mengikuti arus angin pukulan yang keras ber-gulung2.
Keadaan ini sangat berbahaya, sungguh dia tidak berani membayangkan kalau dirinya sudah kehabisan tenaga dan mandah diringkus oleh musuh.
Loh Cu gi adalah musuh bebuyutannya, kalau dirinya terjatuh ditangan orang2 Bwe hwa hwe, kematian hanyalah bagiannya.
Pada saat itulah, mendadak terdengar berbagai seruan kejut dan pekik kesakitan, barisan yang mengepung itu menjadi ribut dan kocar kacir, kekuatan angin pukulan yang mengekang dirinya juga susut sebagian besar.
Suma Bing menenangkan pikiran dan menghimpun semangat, kini dengan gampang saja dia dapat menerjang keluar dari kepungan barisan musuh, waktu matanya menyapu kesekelilingnya, tampak dua orang berseragam hijau dan berpuluh orang hitam tengah bertempur seru melawan para jagoan Bwe hwa hwe.
Terutama kedua orang seragam hijau itu, bagai banteng ketaton dan harimau kelaparan, cara bertempurnya hebat luar biasa, dimana terlihat tangan bergerak dan kaki menendang lantas terdengar seruan kesakitan.
Maka dalam sekejap mata saja mayat bergelimpangan diatas tanah, jumlahnya tidak kurang dari duapuluh lebih.
Sekali pandang Suma Bing sudah jelas bahwa mereka ini tak lain adalah anak buah dari Perkampungan bumi.
Kedua orang seragam hijau itu tidak lain adalah Sim tong Tongcu Song Liep hong dan Bu tong Tongcu Pau Bing sam.
Bahwa Sim dan Bu dua Tongcu datang tepat pada waktunya memecahkan barisan dan menolong jiwanya, hal ini benar2 diluar dugaan Suma Bing.
Betapa gusar dan murka perempuan cantik setengah umur itu dan Chiu Thong kelihatan pada mimik wajahnya yang merah padam, susahlah dilukiskan betapa geram hati mereka.
Maka terdengar Chiu Thong membentak keras.
"Berhenti!"
Gelanggang pertempuran seketika sunyi senyap. Menggunakan kesempatan ini, segera Sim dan Bu dua Tongcu maju menghadap Suma Bing sambil memberi hormat.
"Sim tong Tongcu Song Liep hong menghadap Huma!"
"Bu tong Tongcu Pau Bing san menghadap Huma!"
Berkerut alis Suma Bing, katanya acuh tak acuh.
"Sudahlah!"
"Terima kasih kepada Huma!"
"Kalian berdua sejak kini panggil saja namaku..."
"Hamba tidak berani."
Semua jagoan Bwe hwa hwe dari sang Ketua sampai anak buahnya sama pandang memandang, sungguh tidak nyana bahwa Sia sin kedua ternyata sudah menjadi Huma (menantu raja) hal ini sebelumnya tidak diketahui oleh mereka.
Segera Bu tong Tongcu Pau Bing sam maju sambil membungkuk tubuh serta berseru.
"Harap Huma memberi petunjuk bagaimana kita harus bertindak!"
Sorot mata Suma Bing yang mengandung nyala kebencian menyapu keseluruh gelanggang lalu serunya.
"Harap kalian pimpin semua anak buahmu menjaga empat penjuru, jangan lepaskan satu orangpun."
"Terima perintah!"
Tiba2 perempuan cantik setengah umur mendesak maju kearah Song Liep hong serta tanyanya.
"Tuan ini dari aliran atau golongan mana?"
Sebelum menjawab Song Liep hong memandang dulu Suma Bing... Segera Suma Bing yang menyanggah.
"Jangan banyak mulut ladeni dia, jalankan perintah!"
"Baik!"
Begitu kedua Tongcu ini keluarkan perintahnya, semua anak buahnya yang berseragam hitam segera berpencar keempat penjuru mengepung diluar barisan.
Jadi situasi dalam gelanggang kini berobah, pihak Bwe hwa hwe yang semula mengepung kini berganti dikepung.
Sorot pandangan dingin Suma Bing menatap Ketua Bwe hwa hwe tajam2, desisnya.
"Chiu Thong, biar kusempurnakan kau dulu!"
Tanpa terasa Ketua Bwe hwa hwe mundur satu langkah.
Segera lima jagoannya melejit tiba menghadang dihadapannya untuk melindungi sang Ketua.
Pelan tapi pasti selangkah demi selangkah Suma Bing mendesak maju, mimik wajahnya semakin gelap dirundung kekejaman yang buas.
Situasi sangat tegang mencekam hati.
"Minggir!"
Baca Juga: Pedang Ular Merah 4
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 8