Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 8

Eps 8 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

Disertai gertakan nyaring ini, mendadak Suma Bing menggerakkan kedua tangannya, dengan kekuatan himpunan Lwekangnya sekarang, betapa dahsyat pukulannya ini susahlah diukur.

Maka dimana angin pukulannya melanda, kontan terdengar jerit dan pekik kesakitan saling susul, tiga bayangan manusia terpental terbang sedang dua yang lain ter-guling2 dengan muntah darah.

Bola mata Ketua Bwe hwa hwe Chiu Thong merah membara, sambil mengertak keras ia menerjang maju sambil menyerang dengan satu pukulan.

Pukulannya ini sungguh hebat dan aneh sekali, jarang terlihat dalam dunia persilatan gaya serangan semacam ini.

Tanpa berkelit atau menyingkir, Suma Bing malah memutar kedua tangannya terus memapak pukulan lawan secara kekerasan.

Keruan kaget Ketua Bwe hwa hwe bukan kepalang, serta merta gerak geriknya menjadi lamban dan ragu-ragu.

Sementara itu sambil tertawa ejek tangan kanan Suma Bing bergerak melintang terus menyelonong menjojoh dada musuh, baru saja serangannya ini sampai ditengah jalan disusul pula oleh serangan tangan kiri, kecepatannya bagai kilat berkelebat.

Tersipu2 Ketua Bwe hwa hwe menjejakkan kaki melejit menyingkir.

Dalam waktu yang bersamaan ini, dari sebelah belakang perempuan cantik setengah umur itu juga melancarkan serangan membokong punggung Suma Bing.

Mendadak Suma Bing kembangkan ilmu gerak kelit dari ilmu Bu siang sin hoat, tubuhnya berputar dan menggeser kedudukan selicin belut, maka tahu2 bayangannya sudah menghilang, terus terdengar dua kali seruan kaget dan kesakitan.

Perempuan cantik setengah umur bersama Ketua Bwe hwa hwe sama terhuyung mundur, wajah mereka pucat pias, terang mereka sudah terluka dalam yang bukan ringan oleh pukulan Suma Bing.

"Chiu Thong, kau rebahlah!"

Ditengah suara hardikan yang keras ini, terdengar pula lolong kesakitan, tampak ketua Bwe hwa hwe terhuyung limbung hampir roboh sambil muntah darah, tapi akhirnya meloso diatas tanah.

Tujuh bayangan manusia serempak berkelebat merintang didepannya.

"Kalian cari mati!"

Kiu yang sin kang menerbitkan gelombang dahsyat seumpama lahar gunung berapi menerpa kearah tujuh musuhnya yang berani coba2 merintangi.

Maka terdengar pula jerit dan pekik menyayatkan hati saling susul, ketujuh tubuh manusia itu juga lantas beterbangan sungsang sumbel keempat penjuru.

Bertepatan dengan saat itulah, mendadak terlihat selarik sinar merah disertai suara mendesis langsung meluncur kearah Suma Bing.

Se-konyong2 bayangan Suma Bing menghilang dan berputar secepat angin lesus, tahu2 dia sudah menggeser kedudukan tiga tombak jauhnya dari tempat ia berdiri semula.

Sambil melambaikan angkin merahnya perempuan cantik setengah umur itu menatap kearah Suma Bing dengan pandangan ber-api2.

Kiranya selarik sinar merah tadi bukan lain adalah kain ikat pinggangnya itu yang dibuat senjata untuk menyerang Suma Bing.

Kalau tidak mengandalkan kesaktian Bu siang sin hoat, sungguh sulit bagi Suma Bing dapat lolos dari serangan senjata lemas ini.

Maka sambil mengempit Ketua Bwe hwa hwe, berkatalah perempuan cantik setengah umur suaranya gemetar.

"Suma Bing, selamat bertemu!"

Keras2 Suma Bing menjengek hidung, ejeknya.

"Kau masih hendak lari?"

Sekali menjejakkan kaki perempuan setengah umur itu melejit jauh terus berlari keluar membobol kepungan...

"Kembali!"

Sekali berkelebat tahu2 Suma Bing sudah mencegat didepannya terus menghantam kearah musuhnya.

Kontan dengan telak perempuan setengah umur itu terpental mundur bebeberapa langkah.

Maka para jagoan Bwe hwa hwe lainnya beramai2 berlarian keluar hendak menyelamatkan jiwa sendiri.

Tapi mereka tercegat dan dirintangi oleh anak buah Perkampungan bumi yang sudah mengepung mereka.

Dalam keadaan yang terpaksa dan terdesak ini, maka berkatalah perempuan cantik setengah umur itu.

"Suma Bing, apa yang hendak kau perbuat?"

"Aku ingin jiwa kalian!"

Ancaman yang mengandung keanyiran darah ini benar2 menggiriskan semua pendengarnya.

Terang Ketua Bwe hwa hwe sudah terluka parah, perempuan setengah umur ini juga tidak ringan lukanya, mana dia kuat bertahan, ditambah para anak buah Perkampungan bumi juga bukan sembarangan jagoan silat, pula mereka sudah berjaga diempat penjuru.

Bagi Suma Bing untuk menyapu habis seluruh jagoan Bwe hwa hwe bukanlah suatu hal yang sukar seumpama membalik tangan saja gampangnya.

Setelah menyapu pandang keseluruh gelanggang, berserulah Suma Bing.

"Awas, aku hendak turun tangan."

Peringatannya ini berarti dimulainya pembunuhan besar2-an, keruan semua jagoan Bwe hwa hwe bergidik ketakutan.

Pada waktu itulah se-konyong2 sebuah bayangan orang meluncur tiba memasuki gelanggang.

Waktu pandangan Suma Bing menatap kearah bayangan yang baru tiba ini, tanpa terasa tergetar hatinya.

Ternyata pendatang baru ini bukan lain adalah gadis serba hitam yang pernah bersua didalam gedung kelenteng bobrok di Sengtoh tempo hari, yaitu murid Pek chio Lojin yang mengaku bernama Siau ling.

Sambil mengerling tajam berkatalah gadis serba hitam itu dengan dingin.

"Suma Bing, kita bertemu lagi?"

Suma Bing manggut2, sahutnya.

"Benar, kedatangan nona ini..."

"Suma Bing, apa kau masih ingat janji kita tempo hari?"

Suma Bing tertegun, sahutnya.

"Tentu masih ingat!"

"Kau masih utang satu syarat kepadaku, ya benar!"

"Ya."

"Kalau begitu, sekarang juga nonamu hendak menagih hutangmu itu!"

"Sekarang?"

"Ya, sekarang juga!"

"Dapatkah nona memberi kelonggaran supaya aku dapat menyelesaikan urusanku disini dulu?"

"Tidak bisa!"

Suma Bing serba salah dan tak habis mengerti.

Naga2nya kedatangan gadis seragam hitam yang tepat pada waktunya ini bukan secara kebetulan belaka.

Tapi untuk memohon sebutir Hoan hun tan dirinya pernah melulusi satu syarat apapun juga sebagai penggantian, seorang laki2 harus menepati apa yang pernah diucapkan, mana boleh ingkar janji, maka katanya sambil kertak gigi.

"Baik, katakanlah!"

Gadis serba hitam menyeringai sinis, ujarnya.

"Suma Bing sebelum kuajukan syaratku ini perlu kiranya aku memperkenalkan diri!"

"Bukankah, kau murid Pek chio Lojin?"

"Benar sih benar, tapi yang kumaksud adalah asal usulku!"

"Cayhe tidak ingin mengetahui riwayat hidup nona, lebih baik..."

"Kau perlu dan harus mengetahui!"

"Mengapa?"

"Supaya kau dapat mati dengan meram!"

Suma Bing tertawa hambar ujarnya.

"Kata2 seorang laki2 sejati pasti dapat dipercaya, berani bersumpah pasti berani mati, cayhe tidak akan menyesal."

"Ya, nanti setelah aku memperkenalkan siapa diriku, kau takkan berani berkata demikian!"

"Kalau begitu silahkan katakan!"

"Aku bernama Loh Siau ling!"

Suma Bing melengak tanyanya.

"Kau she Loh?"

"Benar, inilah ibuku bernama Ang siu li Ting Yan!"

Sambil berkata ia menunjuk perempuan setengah umur itu. Keruan berobah airmuka Suma Bing, suaranya tergetar.

"Dia adalah ibumu?"

"Tidak salah!"

"Jadi kau ini adalah putri Loh Cu gi?"

"Tepat sekali!"

Saking geram timbul nafsu membunuh Suma Bing, desisnya bengis.

"Aku harus membunuhmu". Loh Siau ling mengekeh dingin, jengeknya.

"Suma Bing, bayar dulu syarat yang kuajukan ini!"

Mimpi juga Suma Bing tidak menyangka bahwa gadis serba hitam ini ternyata adalah putri Loh Cu gi musuh bebuyutannya, maka katanya lagi.

"Aku harus membunuh kau!"

"Suma Bing, kau ini seorang ksatria?"

"Kenapa bukan?"

"Apakah ucapanmu dapat dipercaya"

"Tentu!"

"Kalau begitu dengar dulu syarat yang harus kuajukan."

Apa boleh buat, Suma Bing mengertak gigi serunya.

"Katakan!"

Kata Loh Siau ling mengulum senyum.

"Syaratku ini sangat gampang, kau tutuk sendiri jalan darah mematikan!"

Saking kaget Suma Bing terhuyung tiga langkah, serunya gusar.

"Tidak mungkin!"

Loh Siau ling menjengek dingin, umpatnya.

"Suma Bing, jadi ucapanmu dulu itu adalah kentut belaka?"

Bayangan kematian membuat seluruh tubuh Suma Bing merinding bergidik.

Kalau dirinya harus menutuk sendiri jalan darah yang mencacatkan badan, bukankah berarti juga menghendaki jiwanya, malah mungkin akibatnya lebih mengenaskan dari kematian.

Baru sekarang ia sadar telah tertipu dan masuk perangkap lawan, namun menyesal juga sudah kasep.

Apakah dia harus menepati janjinya dengan syarat yang kejam ini?

Bukankah menjadi makanan empuk dan enak bagi musuh besarnya ini?

Sakit hati orang tua!

Dendam perguruan, semua ini merangsang benaknya.

Setelah di-pikir2, lalu dia berkata.

"Janjiku pasti dapat kutepati, tapi setelah kamu sekalian sudah menjadi mayat baru bisa kulaksanakan!"

Loh Siau ling membentak bengis.

"Suma Bing, tidak malukah kau berkata demikian, jikalau aku tidak menjelaskan asal-usulku, jikalau waktu di Yok ong bio aku mengajukan syarat yang sama ini, apakah kau ragu2 dan bimbang? Apakah kau bakal mengeluarkan perkataanmu tadi?"

Cep kelakep, Suma Bing bungkam seribu basa tidak dapat menjawab.

Memang waktu di Yok ong bio dulu, kalau Loh Siau ling mengajukan syaratnya ini pasti tanpa ragu2 dia menerima syaratnya itu, sebab dia ingin sebutir Hoan hun tan untuk menolong jiwa bibinya Ong Fong jui, sebab dia tidak ingin bibinya mati karena dirinya.

Tapi, hakikatnya adalah dia tidak rela mati begitu saja ditangan putri musuh besarnya!

Namun ini adalah pilihan keputusan antara mati atau hidup, juga merupakan perbedaan batas antara sumpah dan ingkar janji.

Keadaan gelanggang seketika sunyi hening, namun masih dilingkupi suasana tegang dan hawa pembunuhan.

Terdengar Loh Siau ling berkata lagi.

"Suma Bing, kalau kau hendak menjilat ludahmu sendiri, katakan saja, nonamu ini tidak akan peduli lagi!"

Di b awah g e n c e t a n a n t a r a d e nd am k e s uma t d a n r a s a k e b e n c i a n y a ng me l u a p 2 , h amp i r s a j a S uma B i n g t e r t e k a n me ng g i l a , s e r u ny a g e r am s amb i l me n g e r t a k g i g i .

"Su n g g u h me n g g e l i k a n , a k u S uma B i n g s e o r an g l a k i 2 ma s a h a r u s i ng k a r j a n j i t e r ha d ap s "Keaolarua bnegg itpue, rseegmerpaulaahn t!u"ru n tangan, tutuklah jalan darah pencacatmu!"

Lagi2 Suma Bing terhuyung mundur satu langkah...

Mendadak diantara kelompok jagoan Bwe hwa hwe terdengar seruan kaget dan ketakutan be-ramai2 mereka menyiak kedua samping, maka terbentang sebuah jalanan.

Tampak seorang orang aneh yang seluruh tubuh berwarna hitam tengah melangkah memasuki gelanggang sambil berlenggang, dia tak lain tak bukan adalah Racun diracun.

Serta merta Suma Bing menelan setengguk ludah.

Lagi2 seorang musuh yang harus dia bunuh telah datang.

Begitu memasuki gelanggang, dengan sorot pandangan dingin Racun diracun menyapu pandang keseluruh gelanggang, lalu berkata kepada Loh Siau ling.

"Kau ini yang menginginkan Suma Bing menutuk sendiri jalan darah pencacat tubuhnya?"

"Memang begitulah kejadiannya!"

Sahut Loh Siau ling sambil manggut2.

"Mengapa?"

"Mengajukan syarat!"

"Syarat apa?"

"Ini bukan urusanmu tuan!"

"Belum tentu!"

"Jadi tuan juga ingin menangguk diair keruh?"

"Harus kulihat dulu, ini urusan apa dan untuk kepentingan apa?"

Sepasang bola mata Loh Siau ling yang bening cemerlang berputar, lalu katanya.

"Ini aku boleh beritahu kepadamu. Suma Bing mohon sebutir Hoan hun tan kepadaku, dia sendiri yang minta supaya aku mengeluarkan syarat apapun untuk mengganti obatku itu..."

"Maka syarat nona itu adalah menyuruh dia menutuk jalan darah sendiri supaya cacat tubuhnya?"

"Tidak salah!"

"Bukankah keinginanmu ini terlalu kejam?"

"Suma Bing boleh mengingkari janji atau tidak setuju dengan syaratku yang kuajukan kalau dia merasa itu terlalu kejam, telengas atau keji!"

Semprot Suma Bing dengan geramnya.

"Kau jangan banyak mulut untuk mengekang aku, tidak nanti aku Suma Bing ingkar janji terhadap kau!"

Lalu dia berpaling menghadapi Racun diracun, serunya.

"Urusan cayhe ini harap tuan jangan turut campur!"

Racun diracun menjengek dingin, ejeknya.

"Suma Bing, benar2 kau ingin mati?"

Sikap Suma Bing tetap angkuh dingin, sahutnya.

"Urusanku tidak perlu tuan turut kuatir!"

Racun diracun mengekeh panjang, katanya.

"Suma Bing, sakit hati orang tuamu belum kau balas, dendam perguruan juga belum kau himpas. Kalau sekarang kau membawa adatmu sendiri, kau akan menjadi seorang berdosa sepanjang masa, seorang anak yang tidak berbakti dan tidak mengenal kebajikan!"

Mendengar tegoran yang menusuk hati ini, tergetar seluruh tubuh Suma Bing, jidatnya basah oleh keringat, bukan dia tidak tahu, adalah karena terbawa oleh sifat angkuh dan keras kepalanya membuat dia malu untuk ingkar janji seumpama jiwa sendiri harus melayang juga harus dilakoni.

Sementara itu perempuan cantik setengah umur itu tengah menghimpun tenaga dengan tekun untuk mengobati luka parah Chiu Thong.

Semua jagoan Bwe hwa hwe tengah mengunjuk sorot mata yang penuh pengharapan menatap kearah Loh Siau ling.

Tanpa menghiraukan Suma Bing lagi, Racun diracun membalik menghadapi Loh Siau ling, tanyanya.

"Siapa namamu?"

"Aku bernama Loh Siau ling!"

"Ada permusuhan atau dendam sakit hati apa antara kau dengan Suma Bing?"

Agaknya Racun diracun belum mengetahui bahwa Loh Siau ling ini adalah putrinya Loh Cu gi. Loh Siau ling merasa sebal, katanya tak sabar.

"Tuan benar2 hendak turut campur?"

"Boleh dikata demikian!"

"Jadi tuan hendak membantu Suma Bing untuk mengingkari sumpahnya?"

"Ini belum tentu, apa kau tahu akibatnya setelah kau mengajukan syaratmu itu?"

"Akibat apa?"

"Bwe hwa hwe akan hancur dalam sekejap mata!"

"Huh, mengandal kau tuan, apa mampu?"

"Kau tahu siapa2 yang menjaga diluar lingkungan itu?"

"Siapa?"

Balas tanya Loh Siau ling acuh tak acuh.

"Sim dan Bu dua Tongcu serta anak buahnya dari Perkampungan bumi."

Mendengar keterangan ini, semua anak buah dari Bwe hwa hwe terperanjat dan gentar sungguh tidak mereka sangka bahwa musuh yang mengepung diluar itu ternyata adalah anak buah Perkampungan bumi yang merupakan salah satu tempat keramat dan ditakuti oleh kaum persilatan itu.

Demikian juga air muka Loh Siau ling berobah tegang, tanpa terasa dia mundur dua langkah, sorot matanya menyapu pandang kearah anak buah Perkampungan bumi serta serunya.

"Apa benar?"

Mulut Racun diracun ber-kecap2 mengejek, katanya.

"Loh Siau ling, terus terang kuberitahu. Suma Bing adalah Huma dari Te po, juga menjadi calon utama dari majikan Te po yang akan datang, maka cobalah kau berbuat menurut keinginan hatimu."

Wajah Loh Siau ling be-robah2 pucat dan kehijauan.

Tujuannya hendak melenyapkan Suma Bing adalah untuk menghilangkan perintang jalan bagi tujuan besar ayahnya.

Akan tetapi kekuatan Te po merupakan lawan ampuh yang susah diatasi bagi Bwe hwa hwe.

Maka dalam keadaan yang mendesak ini pikirannya menjadi butek dan kehilangan pedoman arah tujuan.

"Loh Siau ling,"

Kata Racun diracun pula.

"Apa kau tahu tempat apakah ini?"

Loh Siau ling tertegun, tanyanya.

"Tempat apa?"

"Daerah terlarang dalam kekuasaan Racun diracun!"

"Daerah terlarang?"

"Sedikitpun tidak salah!"

Loh Siau ling tidak ambil peduli, sahutnya dingin.

"Kalau daerah terlarang kau mau apa?"

"Yang melanggar daerahku terlarang harus mati!"

Kala itu Ang siu li Ting Yan sudah selesai mengobati luka parah ketua Bwe hwa hwe mereka sama2 bangkit berdiri. Air muka Loh Siau ling berobah membeku, tantangnya.

"Tuan sangka dengan racunmu itu kau lantas dapat malang melintang tanpa tandingan?"

Racun diracun mengakak tawa, serunya.

"Aku tahu kau adalah murid tabib sakti Pek chio Lojin yang kenamaan itu. Tapi perlu kujelaskan, mengandal kemampuan obat pemunahnya Pek chio Lojin, pasti takkan dapat mengatasi bisaku yang bernama Racun dalam racun! Kalau kau tidak percaya boleh silahkan dicoba!"

"Racun dalam racun?"

Gemetar suara Loh Siau ling.

"Tidak salah Racun didalam racun!"

Suma Bing sendiri juga tidak ketinggalan berobah wajahnya, dia sendiri sudah pernah merasakan kelihayan bisa yang bernama Racun dalam racun itu.

Jikalau Phoa Kin sian tidak menolongnya dengan obat Tan tiong tan, pasti dirinya sudah melayang jiwanya.

"Lalu apa maksud tujuan tuan?"

Bentak Loh Siau ling nekad.

"Semua hadirin dalam gelanggang ini sudah terkena racun didalam racun termasuk kau sendiri, tidak percaya coba kau empos pernapasan!"

Loh Siau ling adalah murid Pek chio Lojin seorang tabib kenamaan yang pandai dan paham pengobatan.

Begitu dia mencoba bernapas terasa memang dirinya telah terkena racun berbisa, dilihatnya semua anak buahnya juga mengunjuk rasa kejut dan ketakutan, terang mereka juga sudah terkena bisa racun, nyata bahwa ancaman Racun diracun bukan main2 belaka.

Ter-sipu2 dirogohnya keluar beberapa butir obat pemunah racun terus ditelannya, setelah sekian lama dia memeriksa, benar juga kiranya obatnya ini tidak mujarab dan tak berguna melawan bisa Racun dalam racun.

Baru sekarang dia benar2 terperanjat dan takut, maka bentaknya dengan bengis.

"Tuan apa maksudmu sebenarnya?"

Pelan dan tegas berkatalah Racun diracun.

"Semua orang yang memasuki daerahku terlarang harus dihukum mati, ini sudah merupakan undang2. Tapi hari ini baiklah aku melanggar kebiasaanku itu..."

"Kalau tuan melanggar pantangan sendiri pasti disertai syarat bukan?"

Tanya Ketua Bwe hwa hwe dengan perasaan haru.

"Tidak salah, kau ini pintar juga!"

"Syarat apa?"

Racun diracun tetap menghadapi Loh Siau ling, ujarnya.

"Gampang sekali, kau batalkan syarat yang kau ajukan kepada Suma Bing. Maka aku tidak akan menarik panjang urusan ini, segera kuberikan obat pemunahnya, maka kalian harus segera menggelinding pergi.

"Tidak mungkin terjadi!"

"Racunku itu dikolong langit ini tiada seorangpun yang mampu memunahkan. Maka semua yang telah terkena racunku ini dalam setengah jam saja bakal bergelimpangan mati."

Kata2nya ini diucapkan dengan enteng dan seenaknya saja, tapi dalam pendengaran para jagoan Bwe hwa hwe, se-olah2 perintah dari Giam lo ong, semua pucat dan gemetar saking ketakutan.

Terdengar Ang siu li Ting Yan ikut bicara.

"Apa tuan berani bertanggung jawab kita semua dapat keluar semua dengan selamat?"

"Sudah tentu!"

"Kalau begitu, anak Ling, lulusilah!"

Namun pada saat itulah mendadak Suma Bing menyelak dengan suara menggeledek.

"Racun diracun, cayhe tidak sudi menerima budimu ini!"

"Suma Bing, agaknya kau takut menghadapi kenyataan ini. Memang aku berhutang jiwa beberapa orang terhadap kau, tapi siang2 sudah kukatakan ini merupakan dua hal yang tersendiri jangan kau campur baurkan. Suma Bing jangan kau salah sangka bahwa aku bakal menanam budi untuk menebus dosa2ku yang tertunggak itu atau minta pengampunan kepadamu. Bukti menyatakan kalau aku ingin kau segera mati segampang membalikkan tangan. Akan tetapi, sudah kukatakan setengah tahun lagi aku akan memberikan pertanggungan jawabku kepada kau, mengapa tidak kau nantikan setengah tahun lagi, urusan hari ini adalah..."

"Aku belum pernah melulusi kau menanti setengah tahun lamanya!"

Demikian tiba2 tukas Suma Bing dengan angkuhnya.

"Jadi kau sekarang juga hendak turun tangan?"

"Ada kemungkinan!"

"Suma Bing kau ini binatang berdarah dingin!"

"Ketahuilah aku tidak sudi menerima kebaikanmu!"

"Kau takut akan hati nuranimu sendiri yang bakal tidak tentram?"

"Tidak peduli bagaimana juga aku tidak setuju!"

"Jadi kau sudah bertekad hendak mati?"

"Itu urusanku sendiri!"

"Tapi saat ini kau berada didaerahku yang terlarang diinjak orang luar, akulah tuan rumah disini, apa yang senang kuperbuat pasti kulakukan, siapapun tiada hak merintangi, kau sudah mengerti?"

Bukan main heran Suma Bing dibawah solokan didepan sana adalah tempat mengasingkan diri bibinya Ong Fong jui dan muridnya Phoa Kin sian.

Tapi dengan tandas Racun diracun berulang2 mengatakan bahwa daerah sekitar sini adalah daerahnya yang terlarang.

Tentu ada hal2 yang mencurigakan?

Betapa kejam dan telengas sifat Racun diracun ini, tulang belulang kekasihnya Ting Hoan masih belum dingin.

Mengapa pula dia mengambil resiko sedemikian besar untuk membantu dirinya?

Menurut apa yang pernah dikatakan Goan Hi Taysu dari Siau lim si bahwa dia sealiran dengan Pek kut Hujin malah mungkin adalah muridnya.

Sudah ber-ulang kali mereka guru dan murid ulurkan tangan menolong jiwanya dan menanam budi pada dirinya.

Sekarang ini juga dalam saat2 dirinya menghadapi mara bahaya dia muncul lagi, Mengapa?

Karena dia memperkosa dan membunuh Ting Hoan.

Karena mempermainkan Thong Ping yang tidak berdosa dan membunuh ibundanya.

Maka dia bersumpah hendak menumpas manusia laknat ini!

Tapi berbagai kenyataan sudah membuktikan sudah beberapa kali dia menolong jiwanya.

Ini juga kenyataan yang tidak mungkin disangkal lagi.

Antara dendam kesumat dan budi kebajikan membuat dia tertekan dalam kepedihan, sanubarinya menjerit dan mengeluh.

Sepak terjang Racun diracun ini benar2 hebat, apalagi kalau dipikirkan secara sehat agaknya sangat mustahil.

--ooo0dw0ooo--

Jilid 11 41 MASA DEPAN YANG HAMPA DAN SURAM. Setelah memikirkan timbal balik untung ruginya, segera Loh Siau ling berkata lantang dan tegas.

"Racun diracun, baiklah aku menyetujui jual beli ini!"

"Kita sudah saling tukar, maka antara kau dengan Suma Bing sudah tidak ada utang piutang lagi?"

"Baiklah."

"Ini adalah obat pemunah, ambillah, setelah tiga li dari sini baru kalian telan, bagikan setiap orang satu butir, jumlahnya tepat dan tidak kurang!" -Lantas dilontarkan sebuah botol kecil kearah Loh Siau ling. Enteng sekali Loh Siau ling ulurkan tangan menyambuti terus berpaling kearah perempuan cantik setengah umur seraya berkata.

"Mah, mari kita pergi!"

Maka terlihat bayangan orang berkelebat dalam sekejap mata saja semua jagoan anak buah Bwe hwa hwe berloncatan menghilang dari pandangan mata...

Tampak Sim tong Tongcu Song Liep hong, anak buah dari Perkampungan Bumi ter-sipu2 tampil kedepan menghadap Suma Bing serta berseru.

"Harap Huma memberi petunjuk!"

Suma Bing menghela napas panjang2, dan berkata.

"Biarkan mereka pergi, setelah itu kalian juga boleh pulang!"

"Hamba menerima perintah dari Te kun, untuk menyertai dan melindungi Huma!"

"Tidak perlu lagi, kalian boleh pergi!"

"Ini..."

Melotot mata Suma Bing, semprotnya.

"Aku ingin kalian pergi!"

"Baik", sahut Song Liep hong sambil membungkuk tubuh mengundurkan diri. Tak lama kemudian semua orang sudah pergi, keadaan gelanggang menjadi sepi tinggal Racun diracun berhadapan dengan Suma Bing, mereka tenggelam dalam pikiran masing2 tanpa buka suara sekian lamanya. Akhirnya Racun diracun membuka kesunyian, katanya.

"Suma Bing, kau anggap sepak terjangku tadi sangat menyinggung perasaan dan harga dirimu bukan?"

Kata2 ini langsung menusuk kelubuk hati Suma Bing, semangatnya menjadi lesu, katanya masgul.

"Mengapa tuan berbuat demikian?"

"Aku tidak ingin melihat kau mati secara konyol dan penasaran!"

"Mengapa?"

"Kelak kau akan paham!"

"Apa benar daerah ini adalah tempat terlarang tuan?"

"Ini... hehe, hanya menggertak supaya mereka pergi!"

"Silahkan tuan juga pergi!"

"Kau tidak ingin bicara dengan aku?"

Terlintas hawa membunuh pada air muka Suma Bing, desisnya dingin.

"Pertemuan yang akan datang mungkin aku harus membunuhmu!"

Tawar2 saja Racun diracun berkata.

"Terserah apa yang hendak kau perbuat, asal kau mampu melakukan!"

"Dan lagi, cayhe masih dapat membedakan antara budi dan dendam, memang hutangku terlalu banyak kepadamu, nanti setelah semua urusan pribadiku selesai kukerjakan, biarlah aku menebus hutangku itu dengan kematian jiwaku!"

"Untuk ini rasanya tidak perlu!"

"Silahkan, tuan boleh pergi!"

Sambil bersuit melengking tinggi laksana jeritan setan, tiba2 tubuh Racun diracun melayang jauh terus menghilang.

Suma Bing termangu memandangi bayangan manusia misterius yang menakutkan itu menghilang dari pandangan matanya, entah bagaimana perasaan hatinya.

Kawankah?

Musuhkah?

Berbudi atau berdosa?

Tak dapat dia membedakan dan menganalisa termasuk orang macam apakah Racun diracun ini.

Tapi bagaimanapun juga, dasar keinginannya hendak membunuhnya takkan goyah atau berubah.

Ia telah menerima budi dan kebaikan seorang lain, ingin benar dia membalas budi atau kebaikan orang itu.

Tapi alasan lain yang lebih kuat, mau tak mau mengharuskan dia membunuh orang yang menanam budi ini, perasaan dan perang batin yang kontras ini, sungguh sangat menyedihkan dan menekan jiwanya.

Apalagi bagi seorang yang jelas dapat membedakan antara budi dan dendam atau kejahatan, kekontrasan ini akan lebih mendalam.

Begitu juga keadaan Suma Bing pada waktu itu, berada dalam kekontrasan yang mencekam sanubarinya.

Mendadak ia tergugah dari lamunannya, teringat olehnya keadaan bibinya yang masih sangat kritis didalam solokan, dan istrinya Phoa Kin sian sedang pergi menolongnya.

Entah Hoan hun tan yang diperolehnya itu ada manjur atau tidak?

Dalam berpikir itu, kakinya segera ber-lari2 mengembangkan ilmu ringan tubuhnya terus melayang bagai terbang masuk kedalam solokan yang curam itu.

Kira2 ratusan tombak kemudian, terdengar olehnya suara bentakan dan makian yang riuh rendah dari balik rimba sebelah depan sana.

Tanpa terasa tergerak benak Suma Bing.

Tempat ini tidak jauh dari solokan tak bernama itu, siapakah yang tengah bertempur disini.

Sedikit merandek, terus dia putar haluan dan berlari kearah datangnya suara bentakan.

Semakin dekat suara bentakan dan pertarungan semakin nyata dan jelas.

Kiranya disebuah rimba yang membelakangi sebuah kaki bukit, samar2 terlihat berkelebatnya bayangan beberapa orang.

Begitu mengencangkan kaki, seenteng burung walet tubuhnya terbang menerobos hutan terus hinggap dipinggir gelanggang pertempuran.

Waktu melihat tegas siapa2 yang tengah bertempur itu, seketika mendidih darah panasnya.

Tampak dua orang Rasul penembus dada tengah bertempur seru dan sengit melawan Phoa Kin sian kakak beradik, malah masih ada dua Rasul lainnya yang berdiri menonton dipinggiran.

Phoa Kin sian kakak beradik tengah mati2an melawan seorang Rasul penembus dada, keadaannya sudah terdesak dibawah angin, tidak lama lagi pasti keduanya dapat dikalahkan oleh musuh2nya ini.

Terdengar salah seorang Rasul yang menonton dipinggiran itu berseru mengancam.

"Phoa Cu giok, serahkan Pedang darah kepada kami, supaya kuampuni jiwa anjingmu itu!"

Seketika berkobar semangat Suma Bing, naga2nya Pedang darah masih berada ditangan Phoa Cu giok. Maka segera ia tampil kedepan seraya menghardik.

"Berhenti!"

Bentakan yang keras bagai geledek ini kontan menggetarkan perasaan mereka yang tengah bertempur.

Serta merta mereka menghentikan pertempuran.

Wajah Suma Bing membeku bagai es, sorot matanya memancarkan sinar kebuasan yang mengandung nafsu membunuh, selangkah demi selangkah kakinya bertindak maju memasuki gelanggang.

"Sia Sin kedua!"

Tercetus seruan kaget berbareng pada keempat Rasul penembus dada. Begitu memasuki gelanggang pertama2 yang diperhatikan oleh Suma Bing adalah Phoa Kin sian, tanyanya penuh kuatir.

"Adik Sian bagaimana keadaanmu. Bagaimana pula keadaan bibi..."

"Aku tidak apa2. Suhu sudah siuman, tapi keadaannya masih sangat lemah, saat ini tengah bersamadi memulihkan tenaga!"

"O,"

Sahut Suma Bing terhibur lega. Lantas pandangannya menatap kearah Phoa Cu giok, katanya dengan nada rendah berat.

"Cu giok, yang sudah lalu tidak perlu dipersoalkan lagi. Sekarang kembalikan Pedang darah itu kepadaku!"

"Adik Giok."

Sambung Phoa Kin sian, suaranya gemetar.

"Keluarkanlah!"

Dengan rasa kikuk dan malu sambil melirik kepada Suma Bing, akhirnya Phoa Cu giok merogoh keluar Pedang darah dari dalam kantongnya...

Dimana terlihat bayangan berkelebatan, mendadak keempat Rasul penembus dada berbareng menubruk maju.

Dua diantaranya menerjang kearah Suma Bing, sedang dua yang lain menyerang kepada Phoa Cu giok dan Phoa Kin sian.

Maka angin pukulan bagai gelombang badai segera menerjang tiba dengan dahsyatnya.

Timbul kemurkaan Suma Bing, sambil menggertak keras kedua tangannya bergerak sambil mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menyongsong serbuan musuh.

Terdengar dentuman dahsyat yang memekakkan telinga.

Kedua Rasul yang menerjang kearah Suma Bing terpental balik dengan jungkir balik, namun Suma Bing sendiri juga tidak dapat berdiri tegak, beruntun kakinya terhuyung lima tindak.

"Pedang darah!"

Tiba2 terdengar seruan kaget dan kuatir Phoa Cu giok.

Maka terlihat sebuah bayangan orang melesat keluar dari gelanggang pertempuran terus berlari dengan kencang sekali.

Tanpa banyak pikir lagi, segera Suma Bing kembangkan ilmu Bu siang sin hoat, bagai bayangan setan iblis, tahu2 dia sudah menghadang didepan bayangan yang lari tadi, begitu tangan kiri bergerak membabat, tangan kanan juga ikut membalik terus mencengkram kedepan.

Berkelebat sambil menyerang sungguh kecepatannya susah diukur seumpama kilat menyambar.

Terdengar seruan tertahan, lantas terlihat bayangan itu limbung sempoyongan beberapa langkah.

Dari perawakannya dapat diketahui, bahwa yang merebut Pedang darah itu adalah pentolan dari keempat Rasul itu.

Tiga bayangan yang lain lagi sudah menubruk tiba lagi dengan kecepatan bagai bintang meluncur.

Pandangan Suma Bing menatap tajam Rasul yang berada dihadapannya, tiba2 kedua tangannya bergerak ber-putar2 terus disodokkan kedepan dengan kekuatan Kiu yang sin kang.

Bau terbakar dan hawa panas segera merangsang kedepan bagai gelombang badai gurun sahara.

Kontan ketiga bayangan orang itu berloncatan minggir menyelamatkan diri.

"Serahkan!"

Desis Suma Bing sambil mendesak maju dua langkah kearah Rasul penembus dada, wajahnya membesi diliputi hawa pembunuhan.

Tiba2 selarik sinar terang yang menyilaukan mata meluncur memapak kedatangan Suma Bing, kiranya itulah cundrik Rasul penembus dada yang disambitkan langsung mengancam dadanya.

Sambil menggeram gusar Suma Bing mengelak kesamping sambil mengirim sebuah pukulan.

Ternyata kepandaian Rasul penembus dada juga bukan olah2 hebatnya, hanya dalam waktu sedetik itu saja tiba2 tubuhnya juga sudah berkelit sejauh lima tombak.

"Seumpama tumbuh sayap juga jangan harap kau dapat lari!"

Belum habis suara Suma Bing, tahu2 dia sudah berada dihadapan lawan lagi, terus beruntun kirim lima serangan berantai yang dahsyat.

Maka terlihat Rasul penembus dada terhuyung mundur sambil mulutnya menguak, terlihat kerudung putihnya itu kini berobah berwarna merah.

Pedang darah bagi Suma Bing adalah sangat penting, lebih penting dari jiwa sendiri, bagaimana juga harus direbut kembali, maka bentaknya bengis.

"Kau mau serahkan tidak?"

"Suma Bing,"

Seru Rasul penembus dada gemetar.

"Kau akan mati tanpa tempat liang kubur yang layak."

"Serahkan!"

"Tidak bisa!"

"Jadi kau ingin mati!" -sambil membentak, Kiu yang sin kang sudah dilancarkan menyerang lagi. 'Blang!' terdengar Rasul penembus dada mengeluh tertahan, tubuhnya pelan2 jatuh terkulai. Disamping sana keadaan Phoa Kin sian dan adiknya juga dalam bahaya, mereka juga kewalahan menghadapi Rasul yang berkepandaian lihay diatas mereka, berulang kali mereka sudah terpukul dengan telak sehingga muntah darah, tinggal tunggu waktu saja mereka berdua bakal roboh tanpa nyawa lagi. Sementara itu Suma Bing sudah mengulur tangan hendak mencengkram pinggang Rasul yang telah roboh itu... Tiba2 sejalur angin kencang terasa menyerang punggung Suma Bing. Terpaksa Suma Bing harus miringkan tubuh sambil balas menyerang sekuatnya. Betapa cepat serangan bokongan ini maka Suma Bing juga harus melayani sama cepat, tapi toh tidak kuasa berkelit. 'Bum!' karena getaran yang kuat ini, Suma Bing sampai terpental sempoyongan. Menggunakan peluang ini, Rasul yang membokong ini gesit sekali melejit tiba terus meraup Pedang darah yang berada dipinggang kawannya terus loncat jauh hendak lari... Bola mata Suma Bing merah membara, kedua tangannya diayun bergantian, gelombang panas yang dahsyat segera mendera maju ditengah udara, dibarengi tubuhnya juga ikut melesat maju mencegat jalan lari musuh. Kontan Rasul yang lari itu terpukul balik oleh angin pukulannya itu. Dirangsang nafsu membunuh, serangan Suma Bing semakin deras dan dahsyat, lagi2 dua kali pukulan dilancarkan untuk merobohkan musuhnya. Maka terdengarlah lolong panjang yang menyayatkan hati memecah kesunyian dalam rimba raya. Tampak Rasul penembus dada itu terbang me-layang2 dan terbanting keras dua tombak jauhnya. Pedang darah yang dipegangnya juga terlempar jauh dari cekalan tangannya. Sebat sekali Suma Bing meraup Pedang darah itu terus dimasukkan kedalam kantong bajunya, baru sekarang dia dapat menghela napas panjang yang melegakan. Sekali lagi tubuhnya berkelebat, tahu2 dia sudah tiba ditempatnya semula dimana Rasul penembus dada yang lain rebah tak berkutik lagi, terus mencengkram mukanya... Begitu kedok dimuka Rasul penembus dada tertanggalkan, tanpa terasa Suma Bing berteriak kejut sambil mundur dua langkah. Kiranya Rasul penembus dada yang kenamaan dan sangat disegani diseluruh Kangouw itu ternyata adalah seorang gadis rupawan yang cantik jelita. Keruan hal ini benar2 sangat mengejutkan dan diluar dugaan Suma Bing. Dua pasangan lain yang tengah bertempur juga lantas berhenti sendirinya tanpa diminta, mereka maju mendekat. Pimpinan dari keempat Rasul itu kini sudah pelan2 merayap bangun, darah masih meleleh dari ujung bibirnya, katanya ber-api2 penuh kebencian.

"Suma Bing, kalau kau mau segeralah bunuh aku. Kalau tidak akan datang satu hari aku membunuhmu!"

Setelah Pedang darah dapat direbut kembali, lapang dan legalah hati Suma Bing, apalagi setelah diketahui kalau lawan ini ternyata seorang gadis rupawan, nafsu membunuhnya telah menghilang tanpa bekas.

Mendengar ancaman orang ini, segera ia bergelak tertawa, ujarnya.

"Mengandal ucapanmu ini, biarlah kulepaskan kalian pergi. Kalau ingin membalas dendam, se-waktu2 aku nantikan kedatangan kalian di kalangan Kangouw!"

"Kau jangan menyesal?"

"Omong kosong yang menggelikan!"

Maka tiga Rasul yang lain memayang salah seorang Rasul yang terluka paling berat terus tinggal pergi tanpa banyak mulut lagi. Suma Bing berpaling kearah Phoa Kin sian kakak beradik, tanyanya.

"Adik Sian, apa kau tahu perkumpulan apakah Jeng siong hwe itu?"

"Aku tidak tahu. Tapi kekejaman dan banjir darah yang ditimbulkan oleh Jeng siong hwe kini benar2 telah menimbulkan gelombang kemarahan kaum persilatan!"

"Diukur dari kepandaian keempat Rasul ini, dapatlah dipastikan pemimpin dari Jeng siong hwe itu pasti seorang misterius yang sangat menakutkan!"

"Itu sudah dapat dibayangkan!"

"Kenapa Cu giok bisa bersua dengan keempat Rasul penembus dada..."

Phoa Cu giok tunduk ke-malu2an. Agaknya Phoa Kin sian sangat terhibur, juga sangat menderita, katanya.

"Dengan membawa Pedang darah Cu giok merana di kalangan Kangouw, hampir saja dia dipukul mati oleh Kangkun Lojin. Untung dia mau bicara secara jujur, sehingga Kangkun Lojin mengampuni jiwanya dan memerintahkan dia mengembalikan Pedang darah itu. Tak terduga ditengah jalan bertemu dengan Rasul penembus dada, dengan kepandaian mereka yang aneh itu dilihatnya Cu giok menyimpan Pedang itu, maka mereka terus mengejar dan menguntit sampai disini. Kalau kebetulan kau tidak muncul, susahlah dibayangkan akibatnya!"

Se-konyong2 Suma Bing ingat sesuatu, tanyanya.

"Adik Sian, kuingat kau pintar menggunakan racun?"

"Kenapa?"

Balas tanya Phoa Kin sian, wajahnya berubah.

"Kenapa kau tidak gunakan racunmu itu menghadapi Rasul penembus dada?"

"Kejadian ini sungguh sangat ganjil. Ternyata kali ini para Rasul itu tidak takut lagi menghadapi racunku!"

"Ada kejadian begitu?"

"Kalau tidak buat apa kau memperingatkan!"

"Marilah kita kembali kedalam lembah solokan itu?"

"Kau tidak perlu kesana lagi!"

Suma Bing melengak, tanyanya.

"Mengapa?"

"Suhu yang menyuruh begitu!"

"Tapi aku harus menilik keadaan bibi!"

"Tidak perlu lagi, paling lama satu bulan dia sudah akan sembuh kembali!"

"Kenapa dia tidak izinkan aku pergi melihatnya lagi?"

"Mana aku tahu!"

Suma Bing membatin dan menimbang, menurut kisikan Kangkun Lojin bahwa Phoa Kin sian bakal mengalami bencana, menurut niatnya ia hendak minta bantuan bibinya untuk menjaga istrinya ini.

Tak terduga bibinya tidak ingin menemui dirinya lagi, urusan ini agaknya harus berlarut berkepanjangan...

"Engkoh Bing."

Kata Phoa Kin sian lembut.

"Agaknya kau ada omongan yang hendak kau katakan."

"Ya, memang kau menerka betul!"

"Apa yang hendak kau katakan?"

"Aku ada satu permintaan kepadamu!"

"Katakanlah!"

"Aku minta sukalah kau dalam jangka seratus hari ini tidak meninggalkan tempat tinggalmu ini barang selangkahpun juga?"

Phoa Kin sian heran dan tak mengerti, tanyanya.

"Mengapa?"

"Kelak biar kuberitahu kepadamu!"

Kata Phoa Kin sian berpaling kearah Phoa Cu giok.

"Dik, kau kembalilah dulu!"

Phoa Cu giok mengiakan terus memutar tubuh tinggal pergi.

"Engkoh Bing,"

Kata Phoa Kin sian.

"Katakanlah kenapa?"

Suma Bing menjadi serba susah, tidak mungkin dia menutur apa yang bakal menimpa istrinya sehingga menambah beban penderitaan batinnya. Oleh karena pikiran ini maka ia menyahut putar haluan.

"Sebab kau tak lama bakal menjadi ibu, jangan banyak bergerak sehingga melelahkan badanmu!"

Phoa Kin sian mengulum senyum bahagia, tapi secepat itu tawanya lantas menghilang, tanyanya.

"Mengapa harus dibatasi dalam seratus hari. Aku bakal... melahirkan... setelah seratus hari lagi?"

"Sudah tentu ada alasannya, tidak peduli bagaimana nanti, dalam seratus hari ini aku pasti datang menjenguk kau!"

"Baiklah, aku lulusi permintaanmu ini."

"Nah, inilah baru istriku yang baik!"

Phoa Kin sian tersenyum malu, tangannya mencubit sambil mencemooh.

"Cerewet!"

"Masa perkataanku tadi salah!"

Mendadak Phoa Kin sian menutup kedua matanya, terus membentang kedua lengannya dan berkata.

"Engkoh Bing, ciumlah aku!"

Sikapnya ini benar2 diluar dugaan Suma Bing.

Sifat Phoa Kin sian selamanya putih bersih dan dingin kaku.

Pernikahan mereka juga terjadi dalam peristiwa yang terjadi secara kebetulan.

Tatkala itu kalau bukan karena terkena tutukan jari Hian bu cui yang ci dari si mawar beracun Ma Siok ceng, itu pelindung Bwe hwa hwe yang terkenal cabul, tentu Phoa Kin sian tidak bakal kehilangan kesuciannya, maka mereka tidak mungkin bisa menjadi suami istri.

Walaupun sekarang dia sudah resmi menjadi istrinya.

Tapi kehendak yang merangsang minta dicium ini benar2 baru pertama kali ini terjadi.

Namun bagaimana juga mereka berdua adalah suami istri.

Maka setelah tertegun sejenak, Suma Bing lantas memeluknya kencang2 sambil mencium dengan mesra.

Phoa Kin sian tenggelam dalam rangsangan penuh nafsu, timbul suatu perasaan tak menentu dibenak mereka, tatkala itu, se-akan2 sang waktu sudah berhenti, selain terasa getaran jantung dan dengusan napas serta isapan yang menggelora, segalanya se-olah2 sudah tidak hidup dan berada lagi.

Lama dan lama sekali baru kedua suami istri ini sadar dari kenyataan ini.

Serta merta Suma Bing merasa sesuatu keanehan yang menakutkan sanubarinya.

Peringatan Racun diracun serta kisikan Kangkun Lojin itu, laksana duri yang tidak berbekas me-nusuk2 hati kecilnya sehingga membuatnya tidak tenang berdiri dan tidak enak duduk.

"Engkoh Bing,"

Ujar Phoa Kin sian penuh kasih mesra.

"Kau merasa diluar dugaan bukan?"

"Ini... ah, tidak!"

"Kau mengelabui aku. Dari air mukamu dapat kulihat kau berbohong!"

"Apa pikirmu mungkin demikian. Kau adalah istriku..."

"Engkoh Bing, aku selalu merasa segala sesuatu didunia ini dapat terjadi diluar sangka, tiada yang abadi dan kekal. Terutama bagi kaum persilatan, yang hidup dan terjun dikilatan ujung senjata, dengan bekal permusuhan dan dendam sakit hati. Siapa akan tahu malapetaka apa bakal menimpa dirinya secara mendadak."

Suma Bing bergidik, memang ini kenyataan, tapi juga pertanda alamat benih petaka.

"Adik Sian, mengapa timbul pikiranmu yang tidak genah itu?"

"Masa kau tidak mengakui akan kemungkinan ini?"

"Memang harus kuakui, tapi pasti ini tercetus dalam perasaan batinmu!"

"Benar, engkoh Bing. Pikiran semacam ini sudah lama timbul sejak perkawinan kita dulu, selalu berputar dan mengganjal dalam pikiranku."

"Adik Sian, dapatkah kau tidak berpikiran begitu? Kenapa tidak kau pikirkan kelak dan masa depan kita, pikirkanlah tunas muda yang bakal lahirkan itu..."

Mendadak kata2 Suma Bing terputus sampai disitu.

'Masa depan' kedua kata ini membuatnya bergidik, teringat olehnya akan janjinya kepada Racun diracun -"...kelak bila bertemu lagi, aku pasti membunuhmu, tapi hutang budiku terlalu banyak, biarlah aku membayar budimu itu dengan kematianku..."

Pertemuan yang bakal datang itu, betapa menakutkan. Kalau begitu dapatkah dirinya menanggung dan menyangkal akan pandangan Phoa Kin sian yang masuk akal itu.

"Adik Sian, kita tidak perlu me-nerka2 kejadian apa yang bakal terjadi dimasa depan, paling perlu kita tinjau masa kini!"

"Sekarang ini? Engkoh Bing, apa yang telah diberikan kepada kita sekarang? Namanya saja kita sebagai suami istri, tapi tiada waktu untuk kita hidup berdampingan secara kasih mesra, kau ketimur aku kebarat, masing2 berkelana demi kepentingan sendiri..."

Suma Bing tertawa ewa, ujarnya.

"Adik Sian, memang akulah yang salah, nanti setelah semua sakit hati dan dendamku sudah terhimpas beres, pasti kutambal kekuranganku..."

"Engkoh Bing, kita setali tiga uang, tapi..."

"Kenapa?"

"Apa yang bakal terjadi kelak, siapapun susah meramalkan!"

"Adik Sian, mengapa kau melulu mengatakan kata2 yang tidak baik saja?"

"Tidak, engkoh Bing, se-olah2 aku merasa mala petaka selalu menyertai disampingku..."

Perasaan Suma Bing semakin tenggelam, dipeluknya istrinya erat2 serta katanya.

"Adik Sian, aku tidak akan meninggalkanmu!"

"Tidak, jangan engkoh Bing, kau sendiri tahu ini tidak mungkin terjadi!"

"Tapi aku rela meninggalkan semua itu!"

"Kau salah, jangan kau mengingkari arti terbesar dalam jiwa hidupmu ini. Keluarga, perguruan dan beban yang kau pikul itu, adalah satu2nya tujuan terakhir yang harus kau laksanakan!"

"Adik Sian, cintaku kepadamu bukan termasuk..."

"Aku maklum, kau berangkatlah!"

Suma Bing lepaskan pelukannya terus mundur dua langkah, tanyanya.

"Kau ingin aku pergi?"

"Sudah tentu, apa kau hendak selalu mengeram disini?"

"Tapi..."

"Engkoh Bing, Pedang darah sudah kembali pada pemiliknya, kau harus menyelesaikan rencana dan mengejar cita-citamu..."

Tergetar perasaan Suma Bing, bangkitlah semangat jantannya, membekal Pedang darah memohon Bunga iblis untuk melatih ilmu tiada taranya didunia ini, supaya dapat menuntut balas.

Karena pikirannya ini maka katanya murung.

"Adik Sian, aku akan selalu berterima kasih akan cinta murnimu yang suci ini!"

Phoa Kin sian berseri, serunya.

"Engkoh Bing jagalah dirimu baik2!"

"Adik Sian, ingat apa yang kau luluskan padaku. Dalam jangka seratus hari jangan kau tingggalkan tempat kediamanmu ini."

"Pasti selalu kuingat!"

"Kau juga harus hati2 dan baik2 menjaga diri!"

Phoa Kin sian mengiakan.

Begitulah setelah berpelukan dan berciuman pula lantas mereka berpisah tanpa banyak kata lagi.

Begitu bayangan Suma Bing menghilang, dua titik air mata mengalir membasahi kedua pipi Phoa Kin sian.

Mengapa dia menangis?

Berat meninggalkan Suma Bing?

atau...

Baik kini kita mengikuti perjalanan Suma Bing yang meninggalkan istrinya dengan perasaan duka nestapa, langsung ia menuju ke Lembah kematian.

Memang letak Lembah kematian sangat curam dan misterius, bagi siapa yang berani memasuki hanya kematianlah bagiannya.

Namun bagi Suma Bing tempat yang kramat dan ditakuti ini dianggap seperti tempat datar yang lurus saja, dicarinya jalan dimana dulu dia bersua dengan Giok li Lo Ci terus mengembangkan Bu siang sin hoat meluncur turun.

"Nak, akhirnya kau tiba juga!"

Waktu pandangan Suma Bing menyapu sekitarnya, tampak Giok li Lo Ci sudah berdiri tegak didepan gua, maka ter-sipu2 ia merangkap tangan memberi hormat serta sapanya.

"Wanpwe menghadap Cianpwe!"

"Tidak perlu, mari ikut aku!"

Tak lama kemudian tibalah mereka diruang tempat pengobatan tempo hari, setelah mencari tempat duduk, lalu Giok li Lo Ci membuka mulut.

"Nak, kau sudah memperoleh Pedang darah?"

Suma Bing mengiakan dan dirogohnya keluar Pedang darah, dengan kedua tangannya terus dipersembahkan, ternyata kedua tangannya itu agak gemetar, betapa haru dan senang hatinya saat itu, bahwa impian selama ini bakal menjadi kenyataan bagaimana dia tidak akan terharu dan gembira.

Setelah menyambuti Pedang darah, sekian lama Giok li Lo Ci mengamat2i dan memeriksa, lalu katanya sambil manggut2.

"Nak, sungguh besar rejekimu, kudoakan setelah kau dapat mempelajari ilmu mujijat itu, kau dapat mendharma baktikan kepandaianmu ini kepada sesama hidup yang tertindas."

"Terima kasih akan nasehat Cianpwe!"

"Membekal Pedang darah adalah syarat pertama. Sekarang dengarlah syarat yang kedua!"

"Akan wanpwe perhatikan!"

"Setelah keluar dari pintu ini berputar kekanan disitu ada sebuah kamar batu, dengan tenaga murnimu sendiri kau tembusilah jalan darah mati hidupmu..."

Suma Bing tercengang, katanya.

"Jalan darah mati hidup wanpwe sudah tembus!"

"Apa, jalan darah mati hidupmu sudah tembus?" 42. GIOK CI SIN KANG MENUNJUKKAN KEAMPUHANNYA "Benar, agaknya Cianpwe sudah lupa, waktu wanpwe terjatuh kedalam lembah ini dulu seiring waktu menyembuhkan luka dalam wanpwe. Cianpwe sudah..."

Sampai disini mendadak dia menelan kembali kata2 selanjutnya, timbul rasa heran dan pertanyaan dalam benaknya.

Dia masih ingat bahwa Giok li Lo Ci memang pernah memberi bantuan menembuskan jalan darah mati hidupnya.

Namun waktu berada di Perkampungan bumi, setelah minum darah pusaka naga bumi, sekali lagi jalan darah mati hidupnya juga telah ditembuskan.

Ini benar2 kejadian yang susah dibayangkan apa...

Giok li Lo Ci juga terkejut, katanya.

"Waktu kutembuskan jalan darah mati hidupmu dulu hanya meliputi dua nadi Jim dan Tiok saja, semua hanya tertembuskan limapuluh empat, masih ketinggalan satu jalan darah yang susah dibobol, jadi belum berhasil... Baru sekarang Suma Bing paham, waktu dalam perkampungan bumi pasti jalan darah terakhir itu yang telah ditembusi, maka segera katanya.

"Wanpwe pernah ketiban rejeki, mungkin jalan darah yang tertinggal itulah yang telah dibobolkan."

"Coba biar kuperiksa!"

Setelah mengulur tangan dan memeriksa berkata pula Giok li Lo Ci.

"Benar, dua puluh lima jalan darah besar Jim meh dan tiga puluh jalan darah besar Tiok meh sudah tembus semuanya. Nak, sungguh kau beruntung, segala rejeki numplek diatas dirimu. Benar2 kejadian yang jarang terjadi dalam dunia persilatan!"

"Harap tanya apakah syarat yang ketiga itu?"

"Nanti kita bicarakan lagi, sekarang mari kau ikut aku!"

Suma Bing menurut saja mengikuti dibelakang Giok li Lo Ci, keluar dari kamar batu itu sampailah mereka disebuah lorong yang panjang, tak lama kemudian mereka tiba pula disebuah kamar batu yang agak kecil meliputi satu tombak persegi, menunjuk sebuah meja batu, berkatalah Giok li Lo Ci.

"Inilah disini!"

Begitu melihat apa yang terletak diatas meja batu itu tanpa terasa merinding bulu kuduk Suma Bing.

Ternyata diatas meja batu itu terletak sebuah kerangka sebuah kepala manusia yang besar luar biasa, ditengah batok kepala itu merekah pecah mengeluarkan hawa dingin yang menyeramkan.

"Tjianpwe, inikah..."

"Betul! Inilah Bunga iblis, kembang yang menggetarkan seluruh Bulim!"

"Ini... kerangka batok kepala ini?"

"Coba kau maju melihat!"

Dengan takut2 dan was-was Suma Bing maju mendekati meja batu, waktu tangan diulurkan terasa dingin menembus badan.

Ternyata bahwa kerangka batok kepala ini adalah terbuat dari batu Giok yang dipahat, tengahnya kosong dan atasnya berlobang.

"Cianpwe tengkorak ini terbuat dari batu Giok?"

"Benar!"

"Harap tanya..."

"Sekarang kau tubleskan Pedang darah kedalam lobang diatas batok kepala itu, lalu kau sirami dengan setalang air ini..."

"Ini..."

"Kau tidak perlu banyak tanya, inilah menurut pesan terakhir suhu sebelum ajal. Aku sendiri juga tidak mengetahui seluk beluknya."

Dengan ragu2 Suma Bing memasukkan ujung Pedang darah secara pelan2 dan hati2 kedalam lobang diatas kerangka tengkorak itu, lalu diangkatnya talang emas yang berada dipinggiran...

Terdengar Giok li Lo Ci berkata lagi.

"Gunakan tangan dan setetes demi setetes siramkan kelobang itu!" -habis berkata terus putar badan tinggal pergi. Suma Bing menahan gelora hatinya, pelan2 dengan telapak tangannya menciduk air terus pelan2 dituang keatas lobang yang ditancapi pedang itu. Dimana air itu mengenai badan Pedang lantas berobah warna merah darah lalu mengalir memasuki lobang tengkorak. Satu jam sudah berlalu tanpa menunjukkan sesuatu perobahan. Dua jam sudah berlalu pula, tanpa menunjukkan reaksi apapun juga. Suma Bing mulai gelisah, Tiga jam kemudian setalang air sudah habis semuanya. Suma Bing benar2 sudah risau dan gundah sekali. Se-konyong2 lobang diatas kerangka tengkorak itu melebar dan terus merekah semakin lebar. Darah Suma Bing terasa mengalir deras, jantungnya berdetak keras. Lobang itu semakin lebar dan semakin besar, sebuah benda berbentuk seperti sekuntum bunga pelan2 muncul keluar. Suma Bing menahan napas, matanya tidak berkedip menatap kearah benda aneh itu dengan penuh ketegangan, sehingga seluruh tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Kuntum bunga itu setelah naik setinggi satu kaki tiba2 berhenti dan tidak bergerak terus mekar sebesar mangkok. Maka terlihatlah sekuntum bunga putih seperti batu giok yang kemilauan dan se-olah2 tembus akan cahaya. Tanpa tertahan lagi Suma Bing berteriak kegirangan.

"Bunga iblis!" -tubuhnya bergemetaran, ini benar suatu keajaiban yang jarang terlihat dan pernah terdengar. Tiba2, muncullah Giok li Lo Ci dalam ruangan itu, suaranya gemetar penuh perasaan.

"Betapa besar dunia ini segala keanehan tak terhitung banyaknya. Nak, terhitung aku orang tua juga dapat membuka mata."

Ter-sipu2 Suma Bing maju memberi hormat serta katanya.

"Budi Cianpwe ini selamanya takkan kulupakan!"

"Ini memang sudah menjadi rejekimu, budi apa segala yang kuberikan kepadamu!"

"Harap Cianpwe suka memberi petunjuk selanjutnya!"

"Lihatlah kelopak kuntum bunga ini, semua terbagi dalam sembilan kelopak, setiap kelopaknya tertera huruf, baiklah kau baca dan selami sendiri pelajaran ilmu yang tiada taranya ini."

Bermula Suma Bing tidak ambil perhatian.

Baru sekarang diperhatikannya memang benar diatas kelopak bunga itu banyak tertulis huruf kecil yang rapat dan padat.

Satu diantaranya bertuliskan empat huruf yang sangat besar berbunyi.

"Giok ci sin kang."

Tak tertahan Suma Bing membaca keempat huruf itu keras2. K a t a G i o k l i L o C i p e l a n .

"N a k , memang kau sa ja yang ber jodoh , a k u ti dak bisa turut camp u r , b i a r l a h kau b e l a j a r dan menyelami p e l a j a r a n itu d i ruangan i n i saja , k e p e r l u a nmu se -har i2 aku dapat me nyediakan.

"Terimakasih akan bantuan Cianpwe yang tak ternilai ini."

Diam2 tanpa bersuara Giok li Lo Ci terus mengundurkan diri keluar ruangan.

Suma Bing mulai memusatkan segala pikiran dan semangatnya, setelah pikiran terasa jernih baru mulailah dia membaca dan menyelami pelajaran Giok ci sin kang itu.

Pelajaran Giok ci sin kang ini meliputi dua tahap, pertama melatih pernapasan, selain itu adalah tiga jurus pelajaran silat.

Jurus pertama bernama Bi cu hong bong (mayapada remang2), jurus kedua Che ih to cwan (bintang bergeser jumpalitan), ketiga adalah Kay thian pit te (membuka langit menutup bumi).

Betapa luas dan dalam pelajaran ketiga jurus ilmu silat ini, tidak mudah untuk dipahami dalam waktu singkat.

Namun dipandang sekadarnya kekuatannya pasti hebat dan luar biasa seumpama dapat mengejutkan langit menggetarkan bumi.

Sang waktu terus berlalu tanpa terasa.

Suma Bing tekun belajar dan belajar sampai lupa waktu dan lupa akan diri sendiri.

Waktu semua pelajaran sudah selesai dan berhasil dia pahami dan selami seluruhnya, baru Giok li Lo Ci muncul lagi.

"Nak, kuberikan selamat setinggi2nya kepadamu, ternyata kau berhasil mempelajari ilmu mujijat yang tiada taranya ini."

"Semua ini berkat bantuan Cianpwe yang menyempurnakan!"

"Pedang darah itu boleh kau bawa serta, tapi Bunga iblis biar tertinggal disini!"

Suma Bing mengiakan terus mencabut keluar Pedang darah.

Sungguh aneh dan ajaib, tiba2 kuntum bunga Giok itu mengkeret terus kembali masuk kedalam kerangka tengkorak itu, sekarang telah pulih seperti sedia kala lagi.

Suma Bing berdua merasa takjup dan kagum akan kepintaran orang si pembuat dan pengatur semua ini.

Setelah tiba didalam ruangan batu semula yang besar itu berkatalah Suma Bing.

"Cianpwe masih ada petunjuk apa?"

"Masih ada dua tugas yang harus kau lakukan!"

"Harap tanya tugas apakah itu?"

"Pertama, kau harus kembalikan Bu siang po liok kepada pihak Siau lim!"

"Bu siang po liok? (buku pelajaran Bu siang sinkang)"

"Tidak salah, buku ini memang milik Siau lim, sudah ratusan tahun lamanya dikangkangi oleh Suhu, sebab musabab kejadian ini, aku tidak dapat beritahukan kepadamu!"

Diam2 Suma Bing berkata dalam hati. 'Tidak kau katakan aku juga sudah tahu Kangkun Lojin sudah menuturkan kepadaku sejelasnya.' Maka segera katanya tawar.

"Wanpwe juga tidak ingin tahu!"

"Masih ada satu hal yang harus kau ingat. Kau sudah mempelajari gerak naik dan kelit dari ilmu Bu siang sin hoat, maksudku dulu hanya untuk membantu kau keluar dari lembah ini supaya dapat merebut pulang Pedang darah. Setelah keluar dari lembah nanti, kau harus melupakan se-akar2nya, jangan sekali2 kau kembangkan ilmu itu dihadapan orang lain atau kau turunkan kepada orang. Sebab ini merupakan ilmu pelajaran Siau lim yang tidak sembarangan diturunkan kepada anak muridnya. Apalagi kau bukan murid Siau lim si, maka lebih tidak boleh lagi kau unjukkan kepada orang luar. Ini adalah pesan terakhir yang wanti2 sudah diberitahu Suhu sebelum meninggal. Apa kau dapat mematuhi pantangan keras ini?"

"Pasti dapat kulakukan!" -dimulut Suma Bing berkata demikian, namun dalam hati sebaliknya dia berpikir, setelah aku dapat mempelajari Giok ci sin kang dan ilmu khikang (pernapasan) yang tiada taranya itu, meskipun Bu siang sin hoat itu sangat sakti dan ampuh, tapi kalau dibandingkan masih terpaut sangat jauh bagai bumi dan langit. Wajah keriput Giok li Lo Ci menunjukkan kesungguhan hati, ujarnya.

"Buku catatan ini jangan sampai jatuh atau hilang tercuri orang. Kau harus secepatnya mengantarkan ke Siau lim si dan harus langsung kau serahkan sendiri kepada Ciangbun Hong tiang. Supaya peristiwa seabad yang ter-katung2 itu ada penyelesaiannya yang menyeluruh".

"Wanpwe pasti dapat membereskan!"

"Dan syarat yang terakhir, kau harus mencari tahu mati atau hidup jejak seseorang!"

"Siapa?"

"Li Hui!"

"Seorang wanita?"

"Benar, dia adalah anak tunggal dari mendiang Suhu Bu siang sin li, umurnya lebih lanjut dari usiaku!"

Suma Bing mengiakan dengan suara keheranan! "Jejaknya menghilang sejak duapuluh tahun yang lalu, mati hidupnya masih belum diketahui."

"Baiklah, wanpwe pasti akan menyirapi dengan tekun dan sekuat tenaga."

"Kalau sudah ketemu mintalah jawabannya!"

"Jikalau Li Hui Cianpwe itu..."

"Maksudmu kalau dia sudah meninggal dunia?"

"Ya begitulah!"

"Tulislah kabar dukanya itu diatas secarik kertas dan lemparkan masuk lembah!"

"Wanpwe sudah maklum."

"Baiklah segera kau boleh berangkat!"

"Berapa lamakah wanpwe berdiam dalam lembah ini?"

"Tiga bulan!"

Suma Bing berjingkrak kaget, teriaknya.

"Sudah tiga bulan?"

"Sedikitpun tidak salah!"

Seketika risau gundah dan gugup hati Suma Bing.

Sungguh tak terduga dalam sekejap ini ternyata dirinya sudah tiga bulan berada dalam lembah kematian ini, teringat akan janji terhadap istrinya Phoa Kin sian hanya seratus hari bagaimana juga segera ia harus berangkat pulang menemuinya.

Karena jangka seratus hari sudah diambang pintu masihkah dia sehat waalfiat tanpa kurang suatu apa?

Karena pikirannya ini badannya sampai basah oleh keringat dingin.

Giok li Lo Ci mengeluarkan sebuah bungkusan kain merah dan berkata.

"Inilah buku catatan yang bernama Bu siang po liok itu, kau harus hati2 dan waspada menjaganya."

"Akan wanpwe perhatikan betul!"

"Ingat bagaimana juga kau harus menyirapi mati hidup Li Hui!"

"Wanpwe akan bekerja sekuat tenaga!"

"Bagus, sekarang kau boleh pergi!"

"Kalau begitu, wanpwe minta diri!"

Setelah membungkuk memberi hormat terus berputar dan berjalan keluar meninggalkan gua...

"Eh, kembali sebentar!"

Suma Bing melengak sambil memutar tubuh, tanyanya.

"Cianpwe masih ada pesan apa?"

Wajah keriputan Giok li Lo Ci penuh mengunjuk kepedihan yang tak terhingga, ujarnya.

"Persembahkan sekuntum bunga dan bakarkan kertas didepan kuburan gurumu untukku!"

Puluhan tahun sudah berselang, namun Giok li Lo Ci belum melupakan kekasihnya Sia sin Kho Jiang yang sangat dicintainya. Suma Bing mengangguk hikmad, sahutnya.

"Pasti akan wanpwe lakukan!"

"Pergilah!"

Suma Bing memutar tubuh lagi terus langsung keluar dari g u a batu i t u . P i k i r n y a setelah m e n g h a d a p i lamping g u n u n g setinggi r a t u s a n tombak i t u .

"Kalau Giokli Lo Ci sudah berpesan supaya setelah meninggalkan tempat ini aku tidak mengembangkan lagi ilmu Busiangsinhoat. Mengapa aku tidak mencoba saja ilmu pelajaran pernapasan dari Giok cisinkang yang baru kupelajari itu. Akan kulihat mana yang lebih sakti dan ampuh. Segera ia menghimpun semangat dan mengerahkan tenaga, hawa murninya berputar cepat dalam tubuhnya, mendadak kakinya menjejak tanah lantas tubuhnya melejit tinggi... Terasa tubuhnya sekarang seenteng asap, sekali enjot lima puluh tombak sudah dicapainya. Belum luncuran tubuhnya merandek ia sudah berganti napas dan merobah gaya sehingga tubuhnya terus mumbul dan naik semakin tinggi. Dalam sekejap mata saja tahu2 dirinya sudah menancapkan kakinya diatas batu cadas yang menyelonong keluar itu. Betapa girang hatinya sungguh sukar dilukiskan. Agaknya pelajaran pernapasan yang baru dipelajari ini kalau dibanding ilmu gerak naik dan kelit dari Bu siang sin hoat masih setingkat lebih tinggi. Karena sudah kangen betul dan menguatirkan keadaan Phoa Kin sian, maka tanpa berayal lagi tanpa membuang waktu dia terus ber-lari2 kencang secepat bintang meluncur turun gunung. Tengah ia ber-lari2 kencang itulah mendadak terdengar sebuah suara memanggil dibelakangnya.

"Buyung, berhenti sebentar!"

Tanpa terasa tergerak hati Suma Bing, saat mana dia tengah mengerahkan seluruh tenaga untuk mengembangkan ilmunya, betapa cepat larinya itu seumpama roket meluncur.

Bagi kaum persilatan umumnya, mungkin bayangannya saja tidak bakal dapat melihat jelas.

Adalah suara itu dapat mengintil kencang dibelakangnya, betapa hebat dan tinggi kepandaian orang ini sungguh sangat mengagumkan.

Maka tanpa terasa segera ia hentikan kakinya, begitu melihat orangnya, legalah hatinya, ter-sipu2 Suma Bing maju menyapa hormat.

"Locianpwe ada petunjuk apakah?"

Kangkun Lojin meng-goyang2kan kipas sambil mengurut jenggotnya yang panjang menjulai didepan dadanya, tanyanya.

"Buyung, kau keluar dari Lembah kematian?"

Suma Bing tertegun, sahutnya.

"Benar!"

"Apakah Bu siang sin li berada didalam lembah itu?"

"Ini..."

"Aku tidak memaksa kesukaranmu lohu sudah menanti selama tiga bulan diluar lembah ini. Sungguh menggirangkan kemajuanmu sedemikian pesat. Dari gerak gerik badanmu tadi, sungguh Lohu susah dapat dibandingkan lagi!"

"Locianpwe terlalu memuji!"

"Tidak ini kenyataan!"

"Wanpwe ada satu hal hendak kuberitahukan kepada Locianpwe!"

"Tentang urusan apa?"

"Tentang Bu siang po liok..."

Tanpa menanti habis ucapan Suma Bing, Kangkun Lojin sudah menyeletuk.

"Bagaimana?"

"Buku itu sekarang berada ditangan wanpwe!"

"O, bagaimana ini bisa terjadi?"

"Wanpwe mendapat perintah untuk mengembalikan kepihak Siau lim!"

Meski sudah mencapai latihan selama seratus tahun tak urung Kangkun Lojin masih terbawa oleh perasaan haru juga, katanya gemetar.

"Buyung, apa ini betul?"

"Mana wanpwe berani ngapusi kepada Cianpwe!"

"Bagus, bagus sekali! Terlaksanalah angan2 Lohu didunia fana ini. Buyung..."

"Locianpwe!"

"Apa kau masih ingat cerita yang kuberitahukan kepadamu itu?"

"Masih ingat betul!"

"Lohu sudah tidak lama lagi tinggal didunia fana ini, aku harus menceritakan semua kenyataan itu kepadamu."

"Dengan senang hati wanpwe akan mendengar penuh perhatian."

"Nama asli Lohu adalah Buyung Ceng!"

"Buyung cianpwe!"

"Nama asli Bu siang sin li adalah Lin Ji lan, seorang pelaku lain dari cerita itu bernama Li It sim!"

"Li It sim?"

Berpikirlah Suma Bing, menurut pesan Giok li Lo Ci dirinya harus mencari seorang wanita yang bernama Li Hui, tidak perlu disangsikan lagi bahwa Li Hui ini pasti anak dari Li It sim dan Lin Ji lan itu.

"Kalau Li It sim masih hidup, usianya tentu juga sudah mencapai seratus tahun lebih. Kalau kelak kau bertemu dengan orang ini, boleh kau beritahu segala kejadian terakhir ini kepada dia. Dan katakan pula bahwa Lohu tengah menanti kedatangannya ditempat perpisahan dulu!"

Suma Bing mengiakan.

"Buyung masa depanmu gilang gemilang, waspada dan hati21ah, Lohu pergi!" -habis berkata lengan bajunya yang gondrong dikebutkan tahu2 tubuhnya sudah menghilang. Sekian lama Suma Bing termangu ditengah jalan, batinnya. 'Tokoh aneh yang luar biasa ini sungguh baik hati dan tekun benar. Sungguh tidak sangka dia mengintil dibelakangku. Dengan sabar selama tiga bulan dia menanti diluar lembah kematian!' tak lama kemudian Suma Bing sudah mengayun langkah melanjutkan perjalanannya. Pada waktu tengah hari tibalah Suma Bing diluar solokan kediaman Phoa Kin sian dengan Suhunya. Jantungnya terasa mulai berdetak keras, selamat atau mautkah yang bakal dihadapi susah diterka sebelumnya. Mendadak pemandangan yang menggiriskan hati dan mendirikan bulu roma terbentang dihadapannya. Sekitar pinggiran solokan sebelah sana bergelimpangan beberapa mayat manusia. Darah yang membeku dan berobah warna itu merupakan perpaduan pandangan yang lebih menyeramkan. Tangan kaki tersebar di-mana2, kepala, biji mata atau isi perut orang berceceran disana sini, sungguh keadaan ini sangat mengerikan. Suma Bing sendiri juga merasa merinding dan bergidik, naga2nya dalam solokan ini telah tertimpa bencana dahsyat. Keselamatan Phoa Kin sian guru dan murid, membuat hatinya terasa hendak melonjak keluar. Akhirnya didapatinya beberapa tanda tertentu diatas beberapa mayat itu, tanpa terasa tercetus seruan kagetnya.

"Semua adalah anak buah Bwe hwa hwe!"

Kalau diluar solokan penuh diliputi bau anyir darah, entah bagaimana keadaan dan pemandangan didalam solokan sana?

Sambil berpikir tanpa ayal tubuhnya segera berkelebat melayang turun kedalam solokan sana seenteng daon melayang.

Selepas pandang, hatinya semakin kebat-kebit.

Dalam selokan di-mana2 terlihat tumbuh2an yang terbakar hangus atau sudah menjadi abu.

Tidak perlu disangsikan lagi pasti dalam solokan ini pernah terjadi kebakaran besar.

Bergegas ia berlari kearah gua.

Begitu tiba seketika dia berdiri termangu, sedikitpun tidak kentara lagi adanya bekas2 pintu gua, sekarang menjadi rapat seperti dinding batu semua.

Kemanakah mereka?

Ketimpa bencana, atau...

Tidak mungkin gua batu ini tertutup dan menghilang tanpa sebab, sudah terang kalau ditutup secara paksa oleh orang.

Ditutup sendiri oleh Phoa Kin sian guru dan murid atau disumpal dari luar.

ini susah dibedakan.

Inikah bukti dari ramalan Kangkun Lojin?

Sesaat dia menjadi bingung harus mundur atau terus maju.

Kepandaian Phoa Kin sian dengan gurunya dia tahu betul, seumpama mengalami serangan mendadak dari luar juga tidak sukar bagi mereka untuk mengundurkan diri dengan selamat.

Tapi yang membuatnya kuatir adalah Phoa Kin sian tengah mengandung dan hampir melahirkan.

Karena kekuatirannya inilah maka dengan teliti ia memeriksa setiap jengkal tanah dalam solokan itu.

Besar harapannya dapat menemukan sesuatu, tapi juga mengharap tidak menemukan apa2.

Ramalan Kangkun Lojin itu benar2 membuat dia bergidik.

Setengah harian sudah ia putar kayun dan membungkuk2, tiada diketemukan benda2 milik Phoa Kin sian dan gurunya atau jenazah mereka berdua.

Seumpama yang melepas api ini adalah perbuatan orang2 Bwe hwa hwe, maka mayat2 yang bergelimpangan diluar solokan itu pasti adalah buah karya dari Phoa Kin sian kakak beradik dan dibantu oleh bibinya.

Tapi kemana mereka sekarang?

Apakah maksud tujuan perbuatan Bwe hwa hwe ini?

Meskipun ditengah hari bolong, namun suasana dalam solokan ini menjadi sedemikian seram dan menakutkan.

Dalam keputus asaannya Suma Bing sudah bersiap hendak tinggal pergi keluar solokan.

Baru saja niat ini timbul dalam benaknya, se-konyong2 terdengar suara tawa yang mengekeh dingin, lantas terdengar sebuah suara berkata.

"Suma Bing, sudah lama kutunggu kedatanganmu."

Berdebar jantung Suma Bing, waktu dia berpaling, kontan darahnya mendidih, matanya melotot dan airmukanya membeku penuh nafsu membunuh.

Dihadapannya berdiri musuh besar bebuyutannya yaitu Loh Cu gi, dan dibelakangnya mengiringi anak buahnya, jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang.

Dari murka Suma Bing menjadi tertawa besar serunya.

"Loh Cu gi, ternyata semua ini adalah hasil karyamu!"

Loh Cu gi menjengek dingin, ujarnya.

"Buyung keparat, kau menyerah dan pasrah nasib saja."

Suma Bing maju dua langkah, katanya sambil kertak gigi.

"Loh Cu gi, agaknya Tuhan membantu akan kebenaran, seharusnya kau sendiri yang terima binasa saja!"

"Bocah keparat, cuma sedikit mengangkat tangan saja, aku dapat membuat seluruh tubuhmu hancur lebur menjadi abu!"

"Kau ini sedang bermimpi!"

"Masih ada satu soal hendak kutanya padamu, apakah kau benar2 keturunan Suma Hong?"

"Tak usah disangsikan lagi."

"Kalau begitu, kau memang harus mampus!"

Disertai bentakannya mendadak secarik sinar merah yang menyilaukan melesat menerjang kearah Suma Bing, betapa cepat cara turun tangannya ini betul2 sangat mengejutkan.

Inilah puncak kesempurnaan ilmu Kiu yang sin kang, kekuatannya dapat melumerkan benda2 keras dan dapat membumi hanguskan benda2 yang mudah terbakar.

Sebat sekali Suma Bing berkelebat menyingkir.

Loh Cu gi perdengarkan jengekan dingin, bagai bayangan yang selalu mengikuti bentuknya.

lagi2 dia lancarkan sebuah pukulan, kecepatan merobah serangannya sungguh susah dicari tandingan, cahaya sinar pukulannya, melebar dan melingkupi udara sekitar tubuhnya.

Memang Suma Bing kalah latihan dan kalah ulet, sampai akhirnya tiada tempat luang lagi untuk selalu bermain kelit.

Dalam gugupnya serta merta ilmu Giok ci sin kang timbul dan dilancarkan menyertai isi hatinya.

Dentuman keras yang menggetarkan bumi menggoncangkan semua hadirin.

Tampak Suma Bing tersurut tiga langkah dan berdiri tegak lagi dengan angkernya tanpa kurang suatu apa, sekelilingnya diliputi kabut asap yang bergulung gulung.

Sungguh kejut Loh Cu gi bukan kepalang, betapa hebat dan tinggi kepandaian tokoh silat siapapun, takkan mungkin kuat menahan kedahsyatan pukulan Kiu yang sin kang, seumpama besi baja juga pasti lumer.

Tapi sebaliknya Suma Bing masih tetap segar bugar tanpa kurang suatu apa setelah menyambuti pukulannya.

Semua tokoh2 silat dibelakang Loh Cu gi juga berobah pucat pias.

Begitu melancarkan kemurnian ilmu Giok ci sin kang, ternyata kuat bertahan melawan pukulan Kiu yang sin kang musuh, bertambah besar tekad hati Suma Bing, ia maju selangkah lantas bentaknya keras.

"Loh Cu gi, akan kucincang dan kuhancur leburkan manusia laknat seperti kau ini!"

Tanpa sadar Loh Cu gi mundur selangkah dengan gentar. Pada saat itulah tiba2 lima orang tua berkelebat maju dari belakang Loh Cu gi terus membungkuk berbareng serta berkata.

"Hamba beramai menunggu perintah!"

Loh Cu gi manggut2, tubuhnya melejit mundur sejauh delapan tombak.

Kelima orang tua ini matanya ber-kilat2, terang kalau latihan Lwekang mereka sudah mencapai titik kesempurnaannya, berdiri setengah lingkaran mereka menghadapi Suma Bing dan mulai bergerak siap untuk menyerang...

Terdengar bentakan dan hardikan yang riuh rendah, lima jalur angin pukulan serempak bergulung menerpa kearah Suma Bing.

Suma Bing menggigit gigi kencang2, airmukanya membesi hitam dirundung sifat kebuasan, tubuhnya berdiri tegak dan gagah perwira laksana malaikat elmaut tanpa bergerak.

Begitu diterpa kelima jalur angin pukulan itu, Suma Bing hanya terdorong mundur tiga tindak.

Bahwa gabungan pukulan kelima orang tua yang berkepandaian tinggi ternyata dipandang sebagai pukulan anak2.

Betapa hebat dan tinggi kepandaian Suma Bing ini kiranya tiada tandingannya lagi didunia ini.

Seketika kelima orang tua itu berdiri kesima dan termangu tanpa bergerak, timbul rasa gentar dan ketakutan dalam benak masing2.

Disaat kelima orang tua itu kesima tanpa bergerak itulah, tiba2 tangan Suma Bing bergerak melintang dan berputar.

Dilancarkannya jurus pertama dari ilmu Giok ci sin kang yang baru dipelajarinya itu, yaitu Bi cu hong bong (mayapada remang2).

Dimana gelombang badai melanda, tanah merekah dan batu hancur lebur, pohon dan rumput berterbangan.

Lima tombak sekitar gelanggang menjadi gegap gempita, terdengarlah beberapa kali jerit dan lolong panjang yang menyayatkan hati memecah kesunyian udara.

Tampak tubuh kelima orang tua itu hancur lebur dan tercerai berai kemana2 meliputi arena sepuluh tombak lebih.

Suma Bing sendiri juga terkejut dan kesima melihat hasil kekuatan ilmu Giok ci sin kang ini, kedahsyatannya sungguh diluar taksiran sebelumnya.

Semua jagoan Bwe hwa hwe yang hadir juga bukan main takut dan arwahnya terasa hampir melayang meninggalkan badan kasar.

Saat mana Loh Cu gi sudah mundur sejauh lima tombak lebih, wajahnya menunjukkan kejut dan keheranan, matanya terlongong memandangi Suma Bing, sungguh susah dibayangkan darimanakah Suma Bing dapat mempelajari ilmu digdaya yang sakti mandraguna seperti ini hanya dalam jangka tiga bulan saja?

Suma Bing maju beberapa langkah lagi.

"Loh Cu gi, serahkan nyawamu!"

Tiba2 dia menggertak keras, tubuhnyapun sudah melesat tiba dihadapan Loh Cu gi terpaut tiga tombak jauhnya.

"Buyung, jangan terlalu takabur!" -selarik sinar merah kemilau mendesis menerjang kearah Suma Bing. Sekali ini agaknya Loh Cu gi sudah kerahkan seluruh kekuatan Kiu yang sin kang yang dipandang sebagai ilmu yang tiada bandingannya didunia ini. Suma Bing juga menggerung keras, dengkulnya sedikit ditekuk, tangannya bergerak melancarkan jurus Mayapada remang2 itu tadi untuk menyongsong serangan lawan. Begitu dua ilmu sakti saling berhantam terbitlah guntur yang menggelegar, saking dahsyat benturan ini sampai bumi pegunungan sekitarnya terasa bergetar laksana gempa bumi. Karena benturan dahsyat ini Suma Bing terpental balik dan terhuyung delapan langkah baru bisa berdiri tegak lagi. Sebaliknya Loh Cu gi juga mencelat mundur tiga tombak jauhnya, air mukanya pucat pasi, darah meleleh keluar dari ujung bibirnya. Tokoh nomor satu pada empat belas tahun yang lalu ternyata tidak kuat menahan gebrak pertama serangan Suma Bing. Malah puluhan jago2 Bwe hwa hwe yang terdekat juga terpental sungsang sumbel dan jungkir balik keempat penjuru. Maka tanpa bersuara lagi, mendadak Loh Cu gi membalik tubuh terus melesat terbang memasuki hutan rimba sebelah sana. Maka semua anak buah Bwe hwa hwe yang masih ketinggalan hidup be-ramai2 melenting mencawat ekor coba melarikan diri.

"Mau lari kemana?"

Suma Bing menghardik keras sekali, tubuhnya juga melenting maju memburu dengan kencang.

Namun rimba itu sedemikian lebat didalam bawah jurang lagi maka dalam sekejap mata saja bayangan Loh Cu gi sudah menghilang tanpa bekas.

Saking gusar kepala Suma Bing sampai menguap, dada juga hampir meledak, tahu dia akan sia2 ia terus mengejar, maka begitu memutar balik ganti para kunyuk yang ketakutan itulah yang menjadi korban demi pelampiasan kedongkolan hatinya.

Maka dimana2 timbul pekik dan jerit kesakitan yang menyayatkan hati.

Mungkin hanya seorang dari sepuluh orang yang dapat menyelamatkan diri, selebihnya sudah menjadi setan gentayangan dibawah tangan Suma Bing.

Setelah mengumbar kedongkolan hatinya dengan berpesta pora dengan pembunuhan yang keji itu, baru Suma Bing merasa puas dan menghentikan sepak terjang selanjutnya, gumamnya sambil kertak gigi.

"Kalau aku tidak menimbulkan banjir darah di Bwe hwa hwe, aku bersumpah tidak menjadi manusia!"

Suasana sekelilingnya sunyi senyap se-olah2 tiada insan lagi yang masih tetap hidup didunia fana ini.

Sekuat tenaga Suma Bing menekan gejolak hatinya, serta menerawangi tindakan selanjutnya.

Langsung meluruk ke markas besar Bwe hwa hwe atau mencari dulu jejak istri dan bibinya?

Dimanakah kiranya sekarang ibunya berada?

Kalau ibunya belum ketemu sukar untuk dapat mengetahui siapa2 saja yang menjadi musuh besar keluarganya.

Apa lebih baik mengantar dan mengembalikan Bu siang po liok ke Siau lim si?

Setelah berpikir dan ditimang sekian lamanya, akhirnya dia ambil keputusan untuk pergi dulu ke gereja Siau lim.

Perempuan yang terkurung dibelakang puncak Siau sit hong itulah yang masih membuat hatinya kurang tentram, dia curiga mungkin perempuan itu adalah ibundanya yang telah hilang itu.

Maka tujuannya ini boleh dikata sekali tepuk dua lalat.

Meskipun Pek kut Hujin pernah memperingatkan, bahwa perempuan itu bukan orang yang tengah dicarinya, tapi ia harus membuktikan sendiri kenyataan ini, untuk membuka ganjalan hatinya selama ini.

Sekarang ilmu sakti sudah sempurna dipelajarinya, setahap demi setahap dia bakal dapat menyelesaikan dendam permusuhannya dengan para musuh besarnya, ini tinggal tunggu waktu saja.

Begitulah tanpa ayal lagi Suma Bing langsung berayun menuju ke Siong san Siau lim.

Hari itu dia sudah beranjak dijalan raya yang menuju kewilayah Ho lam, menurut perhitungannya lima hari lagi dia pasti sudah tiba diatas gunung Siong san itu.

Betapa tinggi ilmu ringan tubuh Suma Bing saat itu, luncuran tubuhnya seumpama bintang terbang.

Se-konyong2 terlihat didepan sana ada setitik putih tengah berlari kencang, semakin lama titik putih itu tersusul dan semakin besar.

Setelah membelok sebuah tikungan bayangan putih itu melesat memasuki hutan lebat dipinggir jalan sebelah kanan.

Sejak memperoleh ilmu Giok ci sin kang, pandangan mata Suma Bing semakin jeli dan tajam luar biasa.

Hanya sekali pandang saja diketahuinya bahwa bayangan putih itu tidak lain adalah Rasul penembus dada tokoh yang paling ditakuti kaum persilatan masa itu..SETELAH DITOLONG MALAH MENTUNG.

Kalau Rasul penembus dada muncul dengan gerak gerik yang mencurigakan ini pasti ada tujuan yang tertentu.

Mungkin disinilah markas atau sarang Jeng siong hwe itu berada atau mungkin juga...

Begitu membelok haluan dia juga mengikuti menerjang masuk kedalam hutan lebat itu.

Dengan kepandaiannya saat itu yang sangat sakti dan menakjupkan, meskipun gerak gerik Rasul penembus dada sangat cekatan dan gesit sekali selulup timbul diantara dahan2 pohon, tapi sebegitu jauh masih tak lepas dari pandangan matanya.

Dia sengaja mengendorkan langkahnya untuk mengintil terus dibelakangnya.

Betapa tinggi kepandaian Rasul penembus dada toh sejauh itu belum mengetahui bahwa dirinya dikuntit orang.

Setelah melewati hutan lebat ini, didepan sana terlihat melintang sebuah anak sungai yang lima tombak lebarnya, diantara keremangan dan himpitan dahan dan daun pohon samar2 terlihat bangunan sebuah gubuk.

Tanpa sangsi dan takut2 Rasul penembus dada langsung terbang melewati anak sungai itu terus melesat kearah gubuk bambu itu.

Bukan kepalang heran Suma Bing, buat apa Rasul penembus dada mendatangi sebuah gubuk reyot yang dibangun ditengah hutan belukar begini?

Mungkinkah...

Tengah ia ber-pikir2, terdengar Rasul penembus dada sudah perdengarkan tawa dinginnya dan membuka suara kearah gubuk bambu itu.

"Pek chio Lojin, apa kau minta tuanmu ini masuk kedalam gubuk untuk menyilahkan kau keluar?"

Begitu mendengar nama Pek chio Lojin, berdetak jantung Suma Bing.

Teringat olehnya waktu dirinya mohon sebutir Hoan hun tan di Yo kong bio dulu, layon jenazah Pek chio Lojin terang terletak diruang tengah sembahyang.

Apa mungkin seperti apa yang dikatakan oleh Rasul penembus dada dulu bahwa dia hanya pura2 mati untuk mengelabui?

Untuk apa dan kenapa Rasul penembus dada mati2an mengejar dan tidak melepaskan Pek chio Lojin?

Terbawa oleh keinginan tahunya dengan gerak raga yang cepat luar biasa, seenteng daun ia melayang melewati anak sungai itu terus menyelinap dan sembunyi dirumpun bunga yang terletak disamping gubuk bambu.

Terdengar pintu gubuk bambu berkereyotan terbuka.

Begitu pintu gubuk terpentang berjalan keluar seorang tua ubanan yang bertubuh tegap dan penuh semangat.

"Tua bangka!"

Maki Rasul penembus dada dengan sikap angkuh dan dingin.

"waktu di Yok ong bio untung kau dapat lolos, tapi dapat menghindari yang pertama takkan dapat lolos untuk yang kedua. Semua orang yang terdaftar dalam buku catatan, siapapun takkan dapat menyelamatkan diri!"

Wajah Pek chio Lojin menampilkan rasa kaget dan ketakutan, katanya gemetar.

"Lohu sudah lama tidak mencampuri urusan dunia, kenapa perkumpulan kalian tetap tidak melepas Lohu?"

"Enak benar kau berkata tiada turut campur urusan dunia. Ketahuilah, cundrik yang kemilau tajam ini selamanya belum pernah membunuh seorang tanpa berdosa!"

Pek chio Lojin tersurut selangkah, semprotnya bengis.

"Ada permusuhan apa Lohu dengan perkumpulan kalian?"

Rasul penembus dada menjengek dingin.

"Sudah tentu akan kubuatmu mati secara tulus ikhlas!"

Sambil berkata itu, sinar cundrik ditangannya berkelebat, tahu2 ia sudah mendesak tiba dihadapan Pek chio Lojin sejarak jamahan tangan. Pek chio Lojin tertawa getir, katanya.

"Rasul penembus dada, waktu cundrikmu menembus dadaku, juga saat ajalmu sudah tiba."

Rasul penembus dada tertawa gelak2, ejeknya tanpa mengacuhkan ancaman lawan.

"Tua bangka, kau pintar meramu rumput obat2an, paham betul akan sifat2 pengobatan juga pandai menggunakan racun. Tapi ketahuilah, kau akan sia2, hanya racunmu yang tidak berarti itu, kau mampu mengapakan aku apa?"

Berobah pucat wajah Pek chio Lojin, tubuhnya gemetaran, keringat dingin membanjir keluar.

Tiba2 mulut Rasul penembus dada kemak kemik entah apa yang dikatakan.

Seketika rambut Pek chio Lojin berdiri tegak, airmukanya semakin pucat sampai raganya juga terhuyung limbung, serta serunya tergagap.

"Kau... kau... kau ini..."

"Kau akan mati tanpa penasaran!"

Seru Rasul penembus dada sambil mengayun cundrik.

"Stop!"

Mendadak pada saat itu juga terdengar sebuah bentakan nyaring, diiringi suara bentakan ini, tampak seorang pemuda berwajah cakap ganteng dengan airmuka kaku dingin muncul dari rumpun bunga bagai bayangan setan saja.

Dia tak lain tak bukan adalah Sia sin kedua Suma Bing adanya.

Saking terkejut Rasul penembus dada mundur tiga tindak, serunya gemetar.

"Lagi2 kau!"

"Benar, inilah cayhe adanya!"

Sahut Suma Bing tawar.

"Suma Bing, apa kehendakmu?"

Nama Suma Bing ini agaknya membuat Pek chio Lojin tergetar dan melongo. Setelah melirik kearah Pek chio Lojin berkatalah Suma Bing.

"Tidak apa2, hari ini aku tidak izinkan kau membunuh orang!"

"Suma Bing, berulangkali kau merintangi dan menentang sepak terjangku, apa kau tahu apa akibatnya nanti?"

"Bagaimana?"

"Cundrik ini akan menembus dadamu!"

"Hehehe, meski cundrikmu sangat tajam, mungkin tidak mempan menembusi dadaku!"

"Ya, nanti kita buktikan!"

"Selalu cayhe nantikan, tapi sekarang kusilahkan kau segera menggelinding pergi?"

"Suma Bing, kau sangka aku tidak kuasa membunuhmu?"

"Memang kenyataan kau tidak mampu!"

Rasul penembus dada menggerung gusar, sinar cundriknya berkelebat bagai kilat langsung menusuk keulu hati Suma Bing. Tapi Suma Bing bergerak lebih cepat berkelit kesamping sambil bentaknya.

"Kau sendiri yang cari mati?"

Begitu serangannya gagal, mendadak Rasul penembus dada membalik tubuh terus menusuk kearah Pek chio Lojin.

Perbuatan Rasul penembus dada ini benar diluar dugaan Suma Bing, dalam gugupnya mendadak ia lancarkan pukulan jarak jauh.

'Blang' disertai pekik kesakitan, tampak Rasul penembus dada sempoyongan dua tombak jauhnya.

Darah segar mengalir deras dari dada Pek chio Lojin, tubuhnya limbung hampir roboh.

Agaknya pukulan Suma Bing tadi telah menolong jiwanya, sehingga tusukan Rasul penembus dada tidak menamatkan jiwanya.

Mata Suma Bing melotot ber-api2 menatap wajah dibalik kedok Rasul penembus dada, desisnya.

"Kali ini kuampuni jiwamu, lekas menggelinding pergi!"

Insaf kalau bukan tandingan Suma Bing lagi, maka setelah membanting kaki dengan gemesnya, Rasul penembus dada mencelat jauh terus menghilang.

Saat mana Pek chio Lojin sudah menutup jalan darah seperlunya, lalu katanya gemetar.

"Sudah dua kali Suma siau hiap mengulur tangan menolong jiwa Lohu, sungguh terima kasih Lohu tak terhingga."

Sebetulnya Suma Bing sendiri juga tidak tahu mengapa dia turun tangan menolong jiwa Pek chio Lojin.

Mungkin karena rasa dendamnya kepada Rasul penembus dada belum lenyap.

Dia tahu kalau Rasul penembus dada tengah menuntut balas, tapi akhirnya toh dia turun tangan juga.

Dulu walaupun dirinya pernah memperoleh sebutir Hoan hun tan, namun dirinya sudah membelanya mati2an dari renggutan elmaut ancaman Rasul penembus dada, sehingga layon Pek chio Lojin tidak sampai hancur berantakan.

Loh Siau ling itu murid perempuan Pek chio Lojin adalah putri musuh besarnya Loh Cu gi.

Kalau Racun diracun tidak muncul tepat pada waktunya, terang dirinya sudah konyol dibawah penggantian syarat yang diajukan oleh Loh Siau ling.

Kalau dikatakan budi dan dendam kedua belah pihak sudah sama hapus dan himpas, sudah tiada hutang piutang lagi.

Oleh karena pikirannya ini, maka dengan tawar ia menyahut.

"Tidak perlu terima kasih apa segala, cayhe tidak sengaja hendak menolong jiwamu!"

Ujar Pek chio Lojin dengan perasaan haru.

"Tapi kenyataan tetap kenyataan tak mungkin dihapus dan diakui!"

Segera Suma Bing angkat tangan serta ambil berpisah.

"Cayhe minta diri!"

Se-konyong2 terdengar keluhan panjang lantas terlihat Pek chio Lojin roboh terkapar.

Terperanjat Suma Bing, pikirnya.

'agaknya lukanya itu tidak ringan kalau sudah mau menolong jangan kepalang tanggung, biar kupayang masuk kedalam gubuk, mati atau hidup terserah kepada nasibnya sendiri.' Maka bergegas ia maju mendukung tubuh Pek chio Lojin terus dibawa masuk gubuk.

Keadaan dalam gubuk sangat sederhana, hanya terdapat sebuah meja kursi dan sebuah lemari dan sebuah dipan.

Keadaan ruang sebelah dalam sana tidak diketahui karena tertutup kain yang menjulai panjang diatas pintu.

Sedikit ragu2 lantas Pek chio Lojin direbahkan diatas dipan itu.

Baru saja ia hendak meletakkan tubuh yang dibopongnya itu, tiba2 terasa jalan darah Bing bun hiat kesemutan.

Hatinya tercekat dan sebelum suaranya keluar tubuhnya sudah terkapar jatuh lemas.

Pek chio Lojin melompat bangun sambil bergelak tawa kegila2an.

Mimpi juga Suma Bing tidak menyangka Pek chio Lojin bakal membalas kebaikannya dengan tipu muslihat keji ini.

Karena tidak mengira dan ber-jaga2 waktu sadar namun sudah terlambat, karena jalan darah sendiri sudah tertutuk oleh lawan.

Meskipun Giok ci sin kang merupakan ilmu digdaya yang tiada taranya yang dapat melindungi jiwa raganya, tapi sebelum pikiran bekerja ilmu ini takkan dapat bergerak sendiri.

Demikian juga keadaan sekali ini, belum pikiran siaganya timbul tahu2 sudah tertutuk maka bagaimanapun lihay dan ampuh ilmunya itu saat ini toh tidak berguna lagi, begitu kena tertutuk keadaannya tak ubahnya seperti manusia umumnya.

Kain panjang yang menjulai itu tersingkap, keluarlah seorang gadis cantik rupawan serba hitam dengan langkahnya yang ringan dan berlenggang.

Dia bukan lain adalah Loh Siau ling.

Putri musuh bebuyutannya.

Hampir meledak dada Suma Bing, ingin rasanya membeset dan mencincang kedua orang tua muda dihadapannya ini.

Tapi karena jalan darah sudah tertutuk, memaki atau gembar-gembor juga tidak berguna.

Dia insaf keadaannya ini sangat kritis, sudah terang kalau Pek chio Lojin ini adalah komplotan dari pihak Bwe hwa hwe, kebaikan hatinya tadi berarti mengantar badan sendiri kemulut harimau, keruan sangat kebetulan bagi mereka.

Maka diam2 ia kerahkan ilmu saktinya untuk coba2 membobol sendiri jalan darah yang tertutuk itu.

Sekilas Loh Siau ling melirik kearah Suma Bing serta jengeknya dingin.

"Gwakong (kakek), sungguh membuat aku gugup setengah mati. Untung ada makanan empuk ini yang menyibakkan kesialanmu!"

Walaupun Suma Bing tertutuk tidak dapat bergerak, namun pendengarannya masih terang.

Panggilan Gwakong itu membuktikan bahwa ibu Loh Siau ling yaitu Ang siu li Ting Yan pasti adalah anak perempuan Pek chio Lojin ini.

Pek chio Lojin bergelak tertawa, ujarnya.

"Ini benar2 suatu kebetulan yang sangat kebetulan."

"Bagaimana keadaan luka Gwakong?"

"Hanya luka luar saja, dalam dua hari pasti sudah sembuh."

"Lantas bocah ini bagaimana?"

"Lenyapkan ilmu silatnya dan bawa kembali kemarkas besar!"

"Melenyapkan ilmu silatnya?"

"Sudah tentu, kalau tidak siapa berani membawa2 harimau galak ini!"

"Bukankah dibunuh saja lebih beres?"

"Eeee, jangan!"

"Kenapa?"

"Hehehehehe, ketahuilah kedudukan bocah ini sangat penting dia adalah Huma dari Te po itu salah satu tempat kramat yang paling disegani, harga dirinya tidak dibawah benda2 pusaka dunia persilatan..."

"Aku tidak mengerti!"

"Lingji,"

Ujar Pek chio Lojin bergelak tertawa sambil mengurut janggutnya.

"Apa kau tahu tokoh macam apakah mertua bocah ini atau majikan dari Te po itu?"

"Aku tidak tahu!"

Pikiran Suma Bing tetap terpusat dalam pengerahan tenaga untuk menjebol jalan darah yang tertutuk. Terdengar Pek chio Lojin berkata riang gembira.

"Anak Ling, dia bernama Pit Gi!"

"Pit Gi? Memangnya kenapa?"

"Tokoh silat nomor satu pada pertandingan silat dipuncak Hoa san yang pertama!"

"O! Jadi ayah adalah tokoh silat nomor satu pada aduan silat yang kedua, ini juga tidak..."

"Anak Ling, kau ini orang kecil tapi pambekmu besar. Apa kau kira gampang memperoleh julukan tokoh silat nomor satu diseluruh jagad ini. Berapa banyak orang yang mengimpikan mendapat julukan yang diagungkan ini."

"Apakah tokoh silat nomor satu diseluruh jagad lantas benar2 tiada tandingannya diseluruh dunia?"

"Ini juga belum tentu. Orang pandai masih ada yang lebih pandai, gunung tinggi ada yang lebih tinggi lagi. Begitu juga tokoh silat nomor satu diseluruh jagad, hanya diukur dari keadaan waktu itu pada tokoh2 silat yang ikut bertanding saja, lantas dari pertandingan itu keluarlah sang juara..."

"Hal ini ada sangkut paut apa dengan Suma Bing?"

"Sudah tentu ada hubungannya. Konon waktu Pit Gi dulu merebut kedudukan korsi pertama yang teragung dalam kalangan persilatan, itu adalah karena mengandalkan Kiu im sin kang. Kalau kita menggunakan Suma Bing sebagai sandera dan minta, dia mengeluarkan Kiu im sin kang sebagai imbalannya, lalu digabung dengan Kiu yang sinkang ayahmu. Begitu negatif dan positif bergabung dapat melatih sebuah ilmu yang dinamakan Bu khek sin kang. Seluruh jagad raya ini takkan ada orang yang berani menandingi!"

"Apa benar?"

"Masa kakekmu mau ngapusi kau?"

"Darimana kau bisa tahu bahwa majikan Te po itu adalah tokoh nomor satu yang terdahulu itu?"

"Julukan Pit Gi adalah Kiu im Suseng. Waktu dia menduduki tokoh pertama dulu semua orang jelas mengetahui, hanya mereka tidak tahu bahwa dia ternyata adalah majikan dari Te po. Kebetulan Gandarwa merah Ngo Tang, anak buah dari Menara setan mendapat tugas untuk pergi menantang kepada Pit Gi, maka berita ini baru tersebar diseluruh Kangouw, kalau tidak teka-teki ini takkan ada yang dapat memecahkan."

"O, kiranya begitu!"

"Urusan ini sangat penting jangan di-tunda2 lagi, lenyapkan dulu ilmu silatnya!"

Habis ucapannya tangannya diulur hendak menutuk jalan darah dibawah perut Suma Bing.

"Eh, benda apakah ini?"

Tiba2 ia berseru heran.

Usaha Suma Bing sudah hampir mencapai hasil, begitu melihat Pek chio Lojin hendak melenyapkan ilmu silatnya lalu merogoh keluar buntalan merahnya, keruan kaget dan serasa semangatnya melayang keluar, karena tak dapat bergerak terpaksa dia diam saja.

"Apakah itu?"

Tanya Loh Siau ling cepat. Pelan2 Pek chio Lojin membuka buntalan merah itu, lalu diambilnya se

Jilid buku kecil yang agak tipis. Begitu melihat judul diatas sampulnya, kontan dia tertawa gelak2 bagai mendapat lotre jutaan.

"Gwakong, apakah itu sebenarnya?"

"Bu siang po liok, hahahahaha... Ilmu gerak tubuh paling hebat diseluruh jagad ini entah bagaimana bisa terdapat ditubuh bocah ini?"

"Coba kulihat!"

Seru Loh Siau ling terus maju merebut...

Pada saat itulah kebetulan jalan darah Suma Bing sudah bobol semua terus mendadak mencelat bangun langsung mencengkram kearah Bu siang po liok itu.

Terdengar dua seruan kaget dan tertahan, Loh Siau ling dan Pek chio Lojin lari lintang pukang keluar gubuk.

Begitu cengkramannya luput, Suma Bing juga ikut melesat keluar.

Sungguh bencinya kepada Pek chio Lojin luar biasa, tanpa banyak suara lagi dengan jurus Mayapada remang2 langsung ia menyerang Pek chio Lojin.

Dimana gelombang badai menerjang tiba menimbulkan angin ribut yang gegap gempita, tampak raga Pek chio Lojin terbang me-layang2 diselingi jeritannya yang menyayatkan hati, terus terbanting keras diatas tanah, kira2 sejauh sepuluh tombak sana.

Loh Siau ling sendiri juga terpental sempoyongan jungkir balik.

Mata Suma Bing menatap tajam kearah Loh Siau ling, pintanya.

"Kembalikan!"

Wajah Loh Siau ling pucat pasi, jantungnya berdetak keras hampir melonjak keluar, mundur ketakutan tanyanya gemetar.

"Kau bunuh Gwakongku?"

"Gwakongmu?"

Dengus Suma Bing penuh kebencian.

"Hehehe, ketahuilah, dari ayahmu sampai seluruh anak buah dan keluarganya akan kutumpas habis se-akar2nya!"

"Suma Bing,"

Seru Loh Siau ling bengis.

"Ada dendam dan sakit hati apakah kau dengan ayahku?"

"Dendam sedalam lautan, kebencian setinggi gunung. Sekarang kau dulu yang harus kubunuh!"

"Jangan bergerak!"

Loh Siau ling berteriak tinggi sambil mengacungkan Bu siang po liok serta ancamnya lagi.

"Suma Bing, berani kau bergerak, biar kuremas hancur bukumu ini!"

Suma Bing terkesiap, kalau lawan benar2 menghancurkan buku itu, bagaimana kelak dia memberi laporan kepada Giok li Lo Ci, dan bagaimana pula dia harus memberi pertanggungan jawab kepada pihak Siau lim?

Inilah buku catatan ilmu warisan yang sangat berharga dari partai Siau lim!

Loh Siau ling melihat akan kekejutan Suma Bing, tahu dia bahwa tindakan dan ancamannya ternyata membawa hasil, maka katanya lagi sambil tersenyum ejek.

"Suma Bing, sekarang kau boleh pergi. Kalau kau memang seorang jantan datanglah kemarkas besar Bwe hwa hwe untuk mengambilnya. Seumpama kau berani menggunakan kekerasan pasti kuhancurkan dulu Bu siang po liok ini!"

"Kau berani?"

"Kenapa tidak berani?"

"Berani kau merusak buku itu, akan kubuat tubuhmu hancur lebur menjadi abu!"

Pada saat itulah tiba2 melayang turun sebuah bayangan hitam, kiranya seorang pemuda ganteng.

"Kau..."

Tercetus seruan kejut dan heran dari mulut Suma Bing.

Pemuda ganteng yang tak diundang ini tidak lain adalah adik ipar Suma Bing yaitu Phoa Cu giok.

Kedatangannya yang mendadak ini benar2 mengejutkan Suma Bing.

"Engkoh Giok!"

Terdengar Loh Siau ling memanggil dengan mesranya.

Keruan Suma Bing melengak heran, agaknya Loh Siau ling ini adalah kekasih Phoa Cu giok, ini benar diluar tahunya.

Sekilas Phoa Cu giok memandang Suma Bing, lalu berputar menghadapi Loh Siau ling dan berkata.

"Adik Ling, ada kejadian apakah?"

"Dia hendak membunuh aku!"

"Bunuh kau, mengapa?"

"Katanya dia bermusuhan dengan ayahku, itu kakekku telah dibunuhnya!"

Suma Bing tidak tahan lagi, tanyanya.

"Cu giok, dimana Suhu dan toacimu?"

"Aku tidak tahu?"

Sahut Cu giok tertegun.

"Apa kau tidak tahu?"

"Bukankah didalam lembah?"

"Hm, disana sekarang sudah menjadi tumpukan puing, itulah karya dari Bwe hwa hwe!"

Berobah hebat airmuka Phoa Cu giok.

"Engkoh Giok, kau, kenal dia?"

Tanya Loh Siau ling heran.

"Dia adalah cihuku (suami kakak)!"

"Apa Suma Bing adalah cihumu?"

Suma Bing menatap Phoa Cu giok dan berkata berat.

"Suruh dia mengembalikan buku itu kepadaku!"

"Buku, buku apa?"

"Bu siang po liok. Kudapat titipan dari orang untuk dikembalikan ke Siau lim si!"

"Bu siang po liok, benda berharga dunia persilatan!"

Rona wajah Phoa Cu giok berobah tak menentu, akhirnya ia berpaling kearah Loh Siau ling dan serunya.

"Kembalikan kepada dia!"

"Tidak mungkin!"

"Kau tidak dengar kataku?"

"Nanti dia akan membunuh aku!"

"Ada aku disini tidak nanti dia membunuh kau!"

Menggunakan kesempatan percakapan mereka inilah bagai b a y a n g a n i b l i s s a j a S u m a B i n g b e r k e l e b a t m a j u l a l u m e n c e n g k r a m s e c e p a t k i l a t , t e r u s b e r k e l e b a t l a g i k e m b a l i k e t e m p a t a s a l n y a .

B u s i a n g p o l i o k s e k a r a n g s u d a h k e m b a l i d a l a m g e n g g a m a n n y a , b e t a p a c e p a t d a n s e b a t g e r a k a n n y a b e n a r 2 s a n g a t m e n g e j u t k a n .

Untuk membunuh Loh Siau ling sekarang bagi Suma Bing segampang membalikkan tangan.

Tapi dia menjadi ragu2 dan bimbang, karena dia adalah bakal atau calon istri Phoa Cu giok adik iparnya, tak mungkin dia turun tangan, seumpama tidak membunuhnya, kejengkelan hatinya ini rasanya sukar terlampias.

Dengan rasa kejut dan curiga bertanyalah Phoa Cu giok kepada Suma Bing.

"Cihu, menurut katamu cici dan suhu telah hilang?"

Suma Bing mengiakan.

"Benarkah dalam lembah sana sudah terbumi hangus menjadi tumpukan puing?"

"Kau kira aku berdusta?"

"Perbuatan dari Bwe hwa hwe?"

"Benar, malah pernah kutempur Loh Cu gi didalam lembah itu, sayang dia dapat meloloskan diri."

Terlintas bayangan nafsu membunuh diwajah Phoa Cu giok, namun mimiknya ini tidak kentara dilahirnya. Katanya sambil mendekat kearah Loh Siau ling.

"Adik Ling, cici dan Suhuku telah hilang, karena perbuatan ayahmu serta anak buahnya!"

Sahut Loh Siau ling lesu berduka.

"Itu bukan urusanku, apalagi kau sendiri tidak pernah memperkenalkan asal-usulmu, siapa tahu..."

"Setiap orang yang menyakiti hati Phoa Cu giok harus kubalas?"

"Engkoh Giok, kau..."

"Adik Ling, tubuhmu sudah menjadi milikku, sudah tentu kau tak mungkin lari menikah dengan orang lain, hidup atau mati jadi setan juga kau sudah menjadi keluarga Phoa, coba katakan betul tidak?"

Loh Siau ling mundur ketakutan, tanyanya.

"Engkoh Giok, untuk apa kau berkata demikian? Kau masih menyangsikan cintaku kepadamu?"

"Tidak, aku tahu kau sangat mencintai aku!"

"Lalu kau..."

"Mendadak aku sadar bahwa aku tidak mungkin mencintai kau lagi!"

Pucat wajah jelita Loh Siau ling, desisnya gemetar.

"Kau tidak cinta aku lagi?"

"Benar, bukan tidak cinta, tapi tidak mungkin mencintai kau!"

"Engkoh Giok, aku..."

Dua butir airmata meleleh membasahi pipinya yang putih halus ke-merah2an, agaknya cintanya terhadap Phoa Cu giok memang sangat dalam.

Phoa Cu giok masih tetap tenang tanpa berobah nada ia berkata lagi.

"Adik Ling, kau jangan salahkah aku?"

"Aku... engkoh Giok, aku cinta kepadamu! Perbuatan ayah yang durhaka itu jangan kau timpahkan kepadaku..."

"Siapa menyuruh kau menjadi putrinya?"

"Kau... apa yang hendak kau lakukan?"

Membesi raut muka Phoa Cu giok, geramnya.

"Aku harus membunuhmu!"

Ucapan ini membuat Suma Bing melonjak kaget, terus teriaknya.

"Cu giok, jangan sembrono..."

Tapi sudah terlambat, belum lenyap seruan Suma Bing, sudah terdengar jeritan panjang yang mengerikan memecah kesunyian udara.

Phoa Cu giok benar2 tega membunuh kekasihnya sendiri, ini benar2 kejadian yang susah dapat dipercaya.

Sedemian cakap dan ganteng pemuda ini, tidak nyana berhati kejam telengas dan buas melebihi binatang, sedemikian tega dia turun tangan jahat kepada kekasihnya.

Suma Bing sendiri sampai merinding dan berdiri bulu kuduknya, serunya gemetar.

"Phoa Cu giok, kau betul2 membunuhnya?"

Phoa Cu giok tenang2 seperti tak terjadi apa2, sahutnya acuh tak acuh.

"Aku Phoa Cu giok pasti membalas setiap perbuatan orang yang menyakiti hatiku. Kejadian ini harus kau salahkan ayahnya!"

"Tapi dia adalah kekasihmu?"

"Kekasih lantas terhitung apa, sedemikian besar dunia ini dimana2 aku dapat memetik bunga yang harum!"

Bergidik dan merinding seluruh tubuh Suma Bing. Baru pertama kali ini ditemuinya seorang yang kejam tidak mengenal kasihan ini, apalagi seorang pemuda yang cakap dan belum berusia dua puluh.

"Phoa Cu giok, kau terlalu kejam!"

"Suma Bing, terpaksa kau kuakui sebagai cihu, harap bicaralah sungkan sedikit!"

Keruan timbul kemurkaan Suma Bing, bukan karena menyayangi kematian Loh Siau ling, sebab Loh Siau ling adalah putri musuh besarnya, adalah karena sepak terjang dan perbuatan Phoa Cu giok yang keji tidak mengenal peri kemanusiaan itulah menimbulkan rasa tidak puasnya, maka sahutnya dingin.

"Kau tidak mau mengakui bahwa perbuatanmu ini mendekati perbuatan yang sadis?"

"Hal itu memang belum pernah kupikirkan, aku hanya memikirkan keselamatan cici dan Suhu saja!"

"Tapi kan belum tentu mereka benar2 sudah meninggal bukan?"

"Tidak peduli bagaimana, pendeknya dia memang setimpal menerima kematiannya!"

"Phoa Cu giok, perbuatanmu inilah yang setimpal harus dibunuh!"

Phoa Cu giok menyeringai sinis, ujarnya.

"Suma Bing jangan kau takabur akan kepandaianmu, jikalau tidak kupandang muka cici..."

"Kau mau apa?"

"Kau juga harus kubunuh!"

Hampir meledak dada Suma Bing, saking marah dia malah tertawa, serunya.

"Cobalah kau turun tangan."

"Kau sangka aku tidak berani?"

Sambil menggerang langsung ia menggenjot kedada Suma Bing, baru sampai ditengah jalan pukulannya mendadak bergetar menjadi bayangan beberapa buah kepelan seakan bunga salju yang me-layang2 ditengah udara terus mengurung dua belas jalan darah penting bagian atas tubuh Suma Bing.

Pukulan ini boleh dikata sangat aneh dan ganas sekali.

Sungguh gusar Suma Bing bukan kepalang, tanpa berayal iapun himpun kekuatan Kiu yang sin kang sampai sepuluh bagian untuk menyongsong pukulan musuh.

Maka terdengarlah gerungan tertahan, tampak Phoa Cu giok tergentak terbang dua tombak lebih, ujung bibirnya meleleh darah segar.

Suma Bing menjadi tertegun, pikirnya, agaknya pukulanku terlalu berat?

Wajah Phoa Cu giok penuh diliputi rasa kebencian yang ber-api2, sorot matanya buas, hardiknya bengis.

"Suma Bing, jangan kau sesalkan aku turun tangan kejam..."

Pada waktu yang tepat itulah mendadak terdengar sebuah bentakan nyaring.

"Cu giok, berani kau kurangajar kepada cihumu!"

Begitu lenyap suara itu, meluncurlah sebuah bayangan dihadapan mereka.

Pendatang ini bukan lain adalah bibi Suma Bing Ong Fong jui adanya.

Dengan kejut dan rasa takut2 Phoa Cu giok mundur dua langkah terus bertekuk lutut, sapanya.

"Suhu terimalah hormatku!"

Dingin2 saja Ong Fong jui melotot kearahnya, ujarnya.

"Cu giok, lagi2 kau berani lari keluar. Inilah yang terakhir kuperingatkan kepadamu, jikalau kau berani berbuat jahat menyebar bencana dimana2, pasti kuhukum menurut peraturan perguruan nomor satu!"

"Ampun Suhu, anak Giok sudah insaf akan dosanya!"

Baru sekarang Suma Bing berkesempatan maju memberi hormat serta sapanya.

"Bibi kau baik2 saja!"

"Bing tit, apakah yang telah terjadi?"

Segera Suma Bing menceritakan secara ringkas jelas. Sehingga Ong Fong jui gusar bukan kepalang, semprotnya kepada Phoa Cu giok.

"Cu giok, memang kau setimpal untuk dibunuh. Mengingat pesan terakhir ayah ibumu maka cicimu sangat menyayang dan mengeloni kau. Akan datang suatu hari pasti cicimu akan celaka ditanganmu sendiri."

Phoa Cu giok tunduk diam saja tanpa berani bergerak. Kata Suma Bing.

"Bibi, apakah Kin sian selamat?"

"Dia baik2 saja, kenapakah kau tanyakan dia?"

"Ini... tidak apa2 hanya bertanya saja, dimanakah dia sekarang?"

"Ubek2an kemana2 mencari bocah durhaka ini, ai, dia sungguh kasihan... dia seorang yang welas asih!"

"Waktu Titji kembali kedalam lembah, kutemui..."

"Karena curiga kau sembunyi didalam lembah, maka Bwe hwa hwe melepas api membakar lembah untuk memaksa kau keluar!"

"O!"

Demikian seru Suma Bing, baru sekarang ia tahu duduk perkara sebenarnya.

"Bing tit, agaknya Lwekangmu..."

"Titji sudah mencapai hasil mempelajari ilmu yang tertera didalam Pedang darah dan Bunga iblis!"

"Ah, apa benar, sungguh menggirangkan dan kuberi selamat kepadamu. Bagaimana jejak ibumu dan musuh besarmu?"

"Ini... masih belum ketemu!"

"Kau harus berusaha sekuat tenaga untuk menyirapi keadaan ibumu, kalau tidak para musuh yang turut dalam pengeroyokan di puncak kepala harimau itu susah dapat kau selidiki!"

"Benar!"

"Aku juga akan membantu sekuat tenaga mencari."

"Terima kasih akan bantuan bibi!"

"Sekarang kemana kau hendak pergi?"

"Aku diutus seorang Cianpwe untuk menyelesaikan pertikaian ratusan tahun yang lalu digereja Siau lim!"

"Pertikaian apakah itu?"

"Untuk mengembalikan Bu siang po liok kepunyaan Siau lim yang hilang pada ratusan tahun yang lalu!"

"O, kalau begitu kau harus segera berangkat!"

Setelah berpisah dengan bibinya, Suma Bing menyusuri jalan raya terus melanjutkan perjalanan menuju ke Siau lim si.

Hari itu, pagi2 benar sebelum sang surya mengunjukkan diri dari peraduannya.

Didepan pesanggrahan gereja Siau lim muncullah seorang pemuda yang bertubuh tegap garang dengan sikap kaku dingin dan angkuh.

Dia bukan lain adalah Suma Bing.

Terbayang olehnya peristiwa yang terdahulu waktu dirinya teringkus dan dikurung didalam gereja agung ini.

Maka tersimpullah dalam benaknya suatu tekad yang melebihi batas...

"Tuan darimanakah itu sepagi ini sudah berkunjung ke biara kita, silahkan berhenti."

Disusul muncul dua pendeta yang beralis tebal ditengah jalan yang menuju keatas gunung.

"Cayhe Suma Bing, berkunjung untuk kedua kalinya."

Setelah melihat tegas siapa yang datang ini, kedua pendeta itu mundur ketakutan, salah seorang pendeta memberanikan diri bertanya.

"Ada keperluan apa Sicu berkunjung?"

Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ "Laporkan kepada Ciangbun kalian bahwa aku Suma Bing ada urusan penting mohon bertemu!"

"Harap Sicu suka menanti sebentar!"

Kedua pendeta itu terus berlari bagai terbang.

Tak lama kemudian seorang pendeta tua yang berwajah bersih dan angker melayang tiba diluar pintu pesanggrahan luar itu.

Sekali pandang tahulah Suma Bing, pendeta yang mendatangi ini bukan lain adalah Liau Ngo Hwesio, segera ia angkat tangan menyapa.

"Selamat bertemu Taysu!" . SUM A BIN G MEN GAL AHK AN HUI KON G TAYS U Liau Ngo bersabda Buddha, lalu berkata dengan suara gemerantang.

"Suma sicu berkunjung pula kebiara kita, tentu ada keperluan bukan?"

"Kalau tiada urusan takkan berkunjung ketempat suci, sudah tentu cayhe ada urusan sangat penting!"

"Harap tanya..."

"Setelah bertemu dengan Ciangbun kalian pasti akan cayhe terangkan!"

Pelajaran dan pengalaman yang terdahulu membuat Liau Ngo serba salah mengambil keputusan, setelah bimbang sekian lamanya akhirnya dia berkata.

"Kenapa sicu tidak terangkan sekalian maksud kedatanganmu, supaya Pinceng ada alasan memberi laporan!"

Sahut Suma Bing dingin.

"Sebelum bertemu dengan Ciangbun kalian, maaf aku tidak akan menerangkan!"

"Kalau begitu terpaksa pinceng menolak permintaan sicu, harap sicu..."

"Cayhe minta bertemu secara hormat, lebih baik Taysu jangan mempersukar, kalau tidak..."

Nada Suma Bing mengancam.

"Kau mau apa?"

"Aku bisa langsung pergi menemui Ciangbun kalian tak usah Taysu pergi melapor."

Berobah airmuka Liau Ngo, sabdanya.

"Omitohud. sicu terlalu memandang rendah Siau lim kita..."

"Kau sendiri yang mengatakan begitu!"

"Biara kita adalah tempat suci yang agung, harap sicu berpikir sebelum bertindak!"

"Sudah kukatakan ada urusan penting baru aku datang kemari!"

"Silahkan terangkan maksudmu itu?"

"Belum tiba saatnya!"

"Kalau begitu Pinceng tak dapat menyetujui!"

"Maka jangan kau salahkan aku berlaku kurang hormat, awas aku akan menerjang masuk!"

Dari belakang Liau Ngo serempak muncul delapan pendeta yang rata2 berusia pertengahan membekal pentungan, berdiri jajar diluar pintu pesanggrahan. Suma Bing mendengus dingin, katanya menegasi.

"Taysu aku tiada minat turun tangan. Kalau kalian masih tidak mengalah dan memaksa cayhe turun tangan, segala akibatnya harus kalian sendiri yang bertanggung jawab?"

Liau Ngo si penyambut tamu bergetar hatinya, ujarnya tersendat.

"Sicu tidak mengingat pelajaran yang terdahulu?"

Maksud ucapan Liau Ngo ini hendak memperingati Suma Bing, bahwa dia dulu sudah pernah diringkus oleh Hui Kong Taysu dalam satu gebrakan, dan dikurung dikamar Ceng sim sek, peristiwa itu merupakan noda hitam bagi Suma Bing.

Justru ini sangat menusuk perasaan dan gengsi Suma Bing, timbullah sifat ugal2annya, serunya sambil bergelak tertawa.

"Taysu, setiap waktu aku juga selalu ingat peristiwa yang memalukan itu!"

Liau Ngo tertegun, tanyanya.

"Jadi maksud kedatangan sicu ini adalah untuk..."

Suma Bing menukas kata2 orang.

"Aku tidak sabar menanti lagi?"

"Kalau sicu tidak mau menerangkan maksud kedatanganmu, maka Pinceng tidak akan menyambut secara hormat!"

"Kalau begitu silahkan kalian minggir!"

Wajah Liau Ngo berobah tegang, matanya melotot gusar dan bersiaga, serempak kedelapan pendeta berpentung itu juga mengayunkan senjatanya.

Agaknya bila Suma Bing benar2 hendak menerjang dengan kekerasan, pasti mereka akan turun tangan mengeroyok.

Suma Bing ganda mendengus ejek, tantangnya.

"Kalian menantang berkelahi?"

Bentak Liau Ngo dengan bengisnya.

"Ditempat yang kramat dan agung ini jangan kau main lagak dan bertingkah!"

Memang Suma Bing sengaja hendak menuntut balas kekalahannya tempo hari untuk menjunjung pulang gengsinya, tapi tiada maksudnya hendak melukai orang.

Maka diam2 ia kerahkan kekuatan Giok ci sin kang untuk melindungi badan, mulutnya berejek menghina.

"Aku tidak percaya akan obrolanmu!"

Sambil berkata bergegas ia angkat langkah terus menerjang maju.

Sambil bersabda Buddha Liau Ngo angkat sebelah tangannya terus mengepruk.

Tanpa berkelit atau menyingkir Suma Bing seakan2 tidak merasa dan melihat serangan lawan ini.

'Blang,' dentuman yang keras ini malah membuat tubuh Liau Ngo membal balik menumbuk pintu pesanggrahan, tangannya seperti memukul diatas besi baja yang keras luar biasa sehingga telapak tangannya kesakitan sendiri.

Menggunakan peluang inilah tiba2 Suma Bing berkelebat menghilang terus berlenggang menuju keatas gunung.

Terdengar bentakan dan makian yang riuh rendah, delapan senjata pentungan berbareng meluruk mengepruk keatas kepalanya.

Betapa hebat serangan gabungan ini sampai menerbitkan angin badai yang menderu2.

Diiringi jerit dan pekik kesakitan terlihat beberapa bayangan orang jumpalitan terbang keempat penjuru, kiranya kedelapan pendeta Siau lim itu semuanya terpental sungsang sumbel bergelindingan diatas tanah.

Tanpa pedulikan lawan2nya lagi, Suma Bing terus berlenggang menuju kebiara besar.

Mendengung suara sabda Buddha, tahu2 lima pendeta tua beralis putih sudah mencegat diluar pintu biara.

Mereka bukan lain adalah Siau lim ngo lo.

Ter-sipu2 Suma Bing angkat tangan sambil sapanya.

"Taysu sekalian apa baik2 saja selama berpisah?"

Kelima Tianglo mengunjuk kejut2 gusar, sahut Hi Bu Taysu tertua diantara mereka.

"Apa sicu hendak memainkan peranan cerita yang sudah lalu itu?"

"Cerita seperti dulu itu tidak bakal terulang lagi!"

Sahut Suma Bing dengan ketus.

"Harap kau terangkan maksud kedatanganmu?"

"Mohon bertemu dengan Ciangbun kalian Liau Sian Taysu ada keperluan penting!"

"Terangkan sejelasnya?"

"Ini sudah cukup terang!"

Pada saat itulah Liau Ngo dengan delapan muridnya, menyusul tiba dengan napas ngos2an, mukanya penuh keringat dan kotoran. Hi Bu Taysu mengerut alis, semprotnya.

"Sicu menggunakan kekerasan melukai orang"

"Cayhe belum turun tangan, Taysu boleh tanyakan kepada mereka?"

Mata Hi Bu Taysu menatap tajam kearah Liau Ngo. Liau Ngo menunduk malu dan berkata.

"Tecu tergetar oleh ilmu pelindung badan, tapi tidak terluka."

"Kalian boleh mundur!"

Liau Ngo bersama delapan muridnya merangkap tangan terus mengundurkan diri.

Air muka kelima Tianglo semakin mengelam mengunjuk kekuatiran, setelah memandang pada keempat kawannya segera Hi Bu Taysu maju berkata.

"Kalau Sicu tidak terangkan maksud kedatanganmu, Lolap sekalian tidak akan memberi izin."

"Cayhe tidak boleh masuk kedalam biara?"

"Ya, begitulah!"

"Apa kalian mampu merintangi cayhe?"

"Sicu keterlaluan memandang rendah kita!"

Memang Suma Bing mempunyai maksud tertentu, sengaja dia memancing kemarahan kelima Tianglo ini untuk mencari gara2, maka serunya sambil tertawa dingin.

"Baiklah aku akan menerjang masuk!"

Dulu Suma Bing sudah pernah membuat ribut di Siau lim si sampai dimana kepandaian dan Lwekang Suma Bing kelima Tianglo sudah dapat menjajaki.

Sudah tentu, mereka tidak bakal menyangka dalam jangka yang tidak lama ini ternyata Suma Bing sudah berganti rupa dengan berbagai pengalaman yang menguntungkan dirinya.

Betapa tinggi Lwekangnya sekarang mungkin dalam jaman ini sudah tiada tandingannya.

Pada saat Suma Bing melangkah maju itulah, kelima Tianglo berbareng bersabda terus masing2 mendorong sebelah tangannya.

Gabungan tenaga pukulan kelima Tianglo ini sudah tentu bukan olah2 hebat dan dahsyatnya.

Suma Bing juga tidak berani ayal2an, kedua tangan diputar terus disodokkan kedepan untuk menyambut secara keras, yang digunakan adalah tenaga Kiu yang sin kang sampai sepuluh bagian kekuatannya.

Bersamaan dengan terdengar geledek mengguntur, terlihat kelima Tianglo tersurut mundur beberapa langkah.

Menggunakan peluang inilah bagai bayangan setan saja, tubuh Suma Bing menyelinap segesit belut memasuki ruangan Tay hiong po tian, dalam sekejap mata tibalah dia dipelataran depan Tay hiong po tian itu.

Suara genta ber-talu2, sekali lagi Siau lim si berkancah didalam kegemparan yang menegangkan hati.

Semua anak murid Siau lim si menjadi ribut dan keluar merubung disekitar pelataran yang luas itu.

Semua mengunjuk kaget dan rasa ketakutan.

Wajah Suma Bing membeku dingin, raganya tegak sekokoh pohon besar sikapnya garang, dengan pandangan menantang kearah Tay hiong po tian.

Ditengah bertalunya suara genta itulah dari dalam Tay hiong po tian beriring berjalan keluar Liau Sian Taysu Cianbun Hong tiang dari Siau lim si.

Dibelakangnya mengikuti Liau Seng pengawas kelenteng dan Liau Ngo si penerima tamu, dan yang paling akhir adalah delapanbelas murid pelindung.

Bertepatan dengan itu, kelima Tianglo juga kebetulan telah menyusul tiba dan berdiri jajar dipinggiran sebelah kanan.

Suma Bing maju beberapa langkah serta memberi hormat dan sapanya.

"Ciangbunjin selamat bertemu."

Ciangbun Liau Sian merangkap tangan dan bersabda, katanya.

"Untuk kedua kalinya Sicu membikin onar dikelenteng kami, apakah tujuanmu?"

"Cayhe minta bertemu secara hormat, darimana bisa dikatakan membikin onar!"

"Silahkan kau terangkan maksud kedatanganmu!"

"Cayhe ada tiga urusan penting yang harus diselesaikan!"

"Silahkan terangkan satu persatu!"

"Yang pertama. setelah memperoleh budi kebaikan Hui Kong Taysu dari kuil kalian tempo hari, setiap saat tidak cayhe lupakan barang sedetikpun jua, sekarang aku datang untuk minta pengajaran lagi!"

Ucapan Suma Bing yang menantang secara terang2an ini membuat seluruh hadirin kaget dan berobah air mukanya.

Maklum bahwa Hui Kong Taysu adalah Hudco (kakek guru) dari Ciangbun Hongtiang yang sekarang.

Dipandang sebagai pendeta sakti yang tidak boleh dibuat permainan oleh semua generasi tua dan muda.

Sungguh tidak nyana Sia sin kedua Suma Bing ternyata berani terang gamblang menantang untuk berkelahi.

Berobah gusar air muka Ciangbun Liau Sian, serunya lantang.

"Sicu kau terlalu takabur, Pun hong tiang (aku) tidak dapat mengabulkan permintaan ini?"

Suma Bing kerahkan tenaga didalam pusatnya terus menggunakan suara gelombang panjang berserulah lantang kearah dalam sana.

"Suma Bing kaum keroco Bulim tengah menunggu dan minta pengajaran dari Hui Kong Taysu!"

Keruan semua anak murid Siau lim si mengunjuk rasa gusar yang berlimpah2 karena sikap Suma Bing yang congkak ini, entah berapa banyak sorot mata yang melotot murka menatap kearah dirinya.

Sampai Ciangbun Hongtiang dan para pendeta seangkatannya juga tidak ketinggalan merasa gusar bukan kepalang.

Tiba2 terdengar seruan yang kumandang dari ruang sebelah sana.

"Hudco tiba!"

Meskipun sebetulnya Suma Bing bertekad dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, tapi tak urung juga merasa kebat-kebit.

Dia sendiri belum berani memastikan, apakah dengan bekal Lwekangnya sekarang sudah dapat menandingi Pendeta sakti ini.

Jikalau kena terkalahkan lagi, maka ketenarannya bakal lenyap tanpa berbekas lagi.

Sebetulnya ini hanya pandangan sepihak saja Tokoh sakti siapa lagi dalam Bulim ini yang dapat atau ada harganya bisa mengukur kepandaian dengan Hui Kong Taysu, seumpama terkalahkan juga tidak perlu diambil malu.

Suasana menjadi sedemikian hening walaupun beratus orang turut hadir.

Semua berdiri hikmat sambil meluruskan kedua tangannya.

Serempak Ciangbun Hongtiang menyingkir kesamping sambil merangkap tangan serta bersabda Buddha.

Tampak seorang pendeta tua yang bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang sambil pejamkan mata pelan2 beranjak keluar dari ruang sebelah dalam sana.

Walaupun sikap Suma Bing angkuh dan congkak, tapi masih tidak berani berlaku kurang hormat, segera ia membungkuk dalam serta serunya.

"Wanpwe Suma Bing menghadap kepada Taysu yang mulia."

"Jangan banyak peradatan!"

Seru Hui Kong, kedua matanya tiba2 dipentang, sorot matanya yang dingin tajam menatap Suma Bing. Serta merta Suma Bing bergidik mundur satu tindak.

"Tempo hari Lolap terbawa oleh nafsu sehingga menanam akibat ini. Kuharap sukalah Siau sicu menghapus bersih sebab dan akibat ini!"

"Tidak berani, wanpwe memberanikan diri untuk minta pengajaran sebanyak tiga jurus kepada Taysu!"

Timbul keributan diantara hadirin.

Tempo hari sekali gebrak dengan mudah saja Hui Kong Taysu lantas meringkus Suma Bing.

Tapi ternyata sekarang Suma Bing berani minta bertanding sebanyak tiga jurus, ini benar2 sangat mengejutkan dan hampir susah dipercaya.

Kelopak mata Hui Kong dipejamkan lalu dipentang lagi, ujarnya.

"Pasti Siau sicu telah melatih suatu ilmu yang digdaya?"

"Tidak berani, hanya sedikit hasil saja!"

"Siau sicu, silahkan mulai!"

"Silahkan Taysu!"

"Mana bisa Lolap turun tangan dulu?"

"Kalau begitu maaf wanpwe berlaku kurang hormat."

Seluruh gelanggang sunyi senyap seumpama jarum jatuh juga pasti terdengar, semua anak murid Siau lim se-olah2 sudah berhenti bernapas.

Suma Bing mulai menggerakkan tangan membuat bundaran, jurus pertama dari Giok ci sin kang yaitu Mayapada remang2 mulai dilancarkan.

Hui Kong Taysu merupakan ahli dalam gelanggang silat yang sakti luar biasa sudah tentu dia juga tahu baik buruknya sesuatu ilmu, maka cepat2 ia kerahkan Sian thian sin kang untuk balas menyerang.

Dua ilmu sakti yang tiada taranya kontan saling gempur sehingga menimbulkan benturan menggeledek bagai gunung longsor, sehingga seluruh gelanggang diliputi kabut hitam gelap, genteng dan atap rumah sekelilingnya juga tergetar pecah, malah para pendeta yang berdiri didepan juga sempoyongan jatuh bangun kemana-mana.

Gebrakan pertama yang mengejutkan ini baru pertama kali ini terjadi dalam lembaran sejarah Siau lim si.

Waktu kabut menghilang dan keadaan menjadi terang, tampak jarak antara Suma Bing dengan Hu Kong Taysu kini semakin jauh kira2 enam tombak.

Semua anak2 murid Siau lim terlongong2 heran, seakan2 mereka berdiri mematung tanpa semangat.

Setelah istirahat dan menormalkan jalan darahnya berkata pula Suma Bing.

"Taysu harap sambutlah jurus kedua!" -sambil berkata kakinya dijejakkan melompat maju empat tombak memperpendek jarak antara mereka. Wajah tirus Hui Kong yang kurus kering itu mendadak mengunjuk mimik yang aneh, mendengar seruan Suma Bing ini hanya manggut2 saja. Mulailah Suma Bing lancarkan jurus kedua yaitu Ih che to cwan (bintang berpindah jungkir balik). Tampaklah berbagai bayangan pukulan berkelebatan, susah diraba mana pukulan asli atau pukulan gertakan, semua bergerak dari segala jurusan yang diarah juga tempat2 vital yang tidak menentu. Hui Kong Taysu juga mulai menggerakkan kedua jubah tangannya, sehingga timbullah kekuatan hebat tidak kentara yang melindungi seluruh tubuh... 'Blang!' tampak tubuh Hui Kong tergetar mundur selangkah lebar, mimik aneh pada wajahnya itu seketika buyar. Ternyata jurus Ih che to cwan ini dapat menembus pertahanan kekuatan dinding tak kentara dari ilmu sakti Hui Kong dan malah mengenainya. Hui Kong Taysu dijunjung sebagai Hudco merupakan lambang tertinggi bagi tingkatan perguruan Siau lim si, adalah satu2nya, tokoh silat nomor wahid bagi Siau lim selama dua ratusan tahun terakhir ini. Sungguh tidak nyana dalam dua gebrak saja sedemikian mudah dapat dikalahkan oleh seorang angkatan muda yang berusia lebih dari 20 tahun. Hal ini benar2 merupakan tamparan pedas bagi semua anak murid Siau lim sehingga mereka berdiri terlongong dengan sedih, memang betapa pedih dan duka hati mereka susahlah dilukiskan dengan kata2. Meskipun watak dan sifat pembawaan Suma Bing sangat angkuh dan keras kepala, tapi lubuk hatinya sangat bijaksana dan jujur. Setelah mengandal Giok ci sin kang dapat mengalahkan pendeta sakti nomor wahid dari seluruh jagad ini, hati kecilnya malah merasa rikuh dan kurang tentram. Maka segera ia membungkuk hormat serta berkata.

"Harap Taysu suka memaafkan kekurang ajaran wanpwe ini!"

Sungguh tidak malu Hui Kong Taysu dipandang Pendeta teragung dan sakti, lahirnya tetap tenang dan wajar, setelah bersabda berkatalah ia.

"Bagi umat Buddhis paling mempercaya akan adanya sebab dan akibat, atau hukum karma. Orang yang menanam kacang akan memperoleh kacang, demikian juga orang yang menanam semangka dia juga akan memperoleh semangka. Siau sicu adalah tunas harapan bagi kaum persilatan, harap kembangkanlah kebijaksanaan dan cinta kasih, bertakwa kepada Tuhan berdharma bakti kepada sesama umatnya, ini akan membawa bahagia dan keberuntungan bagi kaum persilatan!"

Sahut Suma Bing dengan hikmatnya.

"Wanpwe pasti akan patuh akan petuah berharga dari Taysu tadi!"

Tanpa bicara lagi, segera Hui Kong memutar tubuh terus tinggal pergi dan menghilang diruangan dalam sana.

Rona wajah Siau lim Ciangbun Liau Sian Taysu berobah tak menentu, dengan tindakan lebar ia melangkah ketengah pelataran dan serunya.

"Siau sicu, harap katakanlah urusanmu kedua?"

Airmuka Suma Bing berubah serius, katanya.

"Aku ingin tahu siapakah perempuan yang kalian kurung dibelakang puncak itu?"

"Ini... Pinceng tidak bisa menjawab!"

"Kuharap Ciangbunjin suka menghindari kesukaran, terangkan saja secara jelas!"

"Urusan ini menyangkut peristiwa rahasia perguruan kita, harap Siau sicu jangan memaksa kesukaran orang lain!"

Wajah Suma Bing semakin mengelam, katanya.

"Cayhe sudah bertekad, harus mengetahui!"

"Mengapa Siau sicu harus mengetahui?"

"Untuk membuktikan apakah benar perempuan itu adalah orang yang tengah kucari!"

"Siapakah yang tengah Siau sicu cari?"

"Seorang perempuan!"

"Perempuan?"

"Tidak salah!"

"Perempuan macam apakah?"

Setelah ditimang2, akhirnya berkatalah Suma Bing.

"San hoa li Ong Fang lan yang telah menghilang pada lima belas tahun yang lalu!"

Wajah Siau lim Ciangbun berobah lega, katanya.

"Omitohud, biarlah Pinceng beritahu kepada Sicu, bahwa perempuan yang terkurung dibelakang puncak itu bukan orang yang kau cari."

Dingin perasaan Suma Bing, katanya menegasi.

"Dapatkah cayhe percaya?"

"Omitohud, sebagai kepala dari suatu perguruan, masa Pinceng mengobral omongan."

Timbul perasaan duka yang susah dibendung dalam benak Suma Bing, satu2nya harapan yang dinantikan sekian lama ternyata buyar dalam sekejap ini.

Sedemikian besar dunia ini kemana pula ia harus mencari jejak ibundanya?

Kalau jejak dan keadaan ibundanya masih merupakan teka-teki, sebagai seorang putranya betapa dapat tenang dan lega hatinya, apalagi para musuh besarnya selain Iblis timur yang telah mati, Loh Cu gi beruntung dapat meloloskan diri.

Dan selain mereka berdua dirinya tidak tahu apa2!

Selain ibunya sendiri tiada orang kedua yang dapat menyebut siapa2 lagi musuh2nya yang turut dalam peristiwa berdarah dulu itu.

Terdengar Siau lim Ciangbun berkata lagi.

"Siau sicu masih ada urusan ketiga bukan?"

Suma Bing menenangkan pikiran, lalu katanya.

"Tentang peristiwa ratusan tahun yang ter-katung2 itu!"

Kata2nya ini membuat seluruh hadirin dari Ciangbunjin sampai anak muridnya yang terkecil tidak ketinggalan tergetar kaget, mereka memasang kuping penuh perhatian.

"Maksud Siau sicu adalah..."

"Aku diutus untuk mewakili menyelesaikan peristiwa ratusan tahun yang terjadi didalam kuil kalian itu!"

Mata Siau lim Ciangbun berkedip2 penuh keharuan, tanyanya.

"Mewakili siapa??"

"Pesan terakhir dari Bu siang Hujin!"

"0, bagaimana cara penyelesaiannya?"

"Cayhe mengantar pulang Bu siang po liok. Bersama itu kami nyatakan bahwa Bu siang sin hoat sejak saat ini tidak akan berkembang lagi dikalangan Kangouw!" -setelah berkata dirogohnya keluar buntalan merah itu dari dalam bajunya. Berulang kali Siau lim Ciangbun bersabda sambil merangkap tangan dan menunduk meram, lalu dengan kedua tangannya yang tampak gemetar menyambuti buntalan merah itu terus dibukanya untuk diperiksa sekian lamanya, katanya.

"Pinceng mewakili perguruan Siau lim menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Sicu."

"Terima kasih kembali!"

Siau lim Ciangbun berpaling kearah Liau Seng dan berkata.

"Harap Sute pergi melepas perempuan yang terkurung dibelakang puncak itu!"

"Terima tugas!"

Seru Liau Seng sambil merangkap tangan, lalu mengundurkan diri.

Tergerak hati Suma Bing, selalu Siau lim Ciangbun menandaskan bahwa perempuan yang terkurung dibelakang puncak itu menyangkut peristiwa rahasia perguruan mereka.

Lantas mengapa sekarang mendadak diperintahkan untuk dilepas, ini benar2 susah dimengerti.

Agaknya Siau lim Ciangbun sudah mengetahui isi hati Suma Bing, katanya.

"Siau sicu, perempuan yang terkurung dibelakang puncak itu bernama Li Hui..."

Tergetar hebat perasaan Suma Bing, serunya keras.

"Li Hui?"

"Benar."

"Putri Bu siang sin li?"

"Tidak salah, untuk mencari kembali Po liok yang hilang itu, terpaksa kita kurung dia sekian lama."

Suma Bing menghela napas panjang yang melegakan, katanya.

"Bukankah tindakan ini terlalu tidak bijaksana?"

Merah wajah Siau lim Ciangbun, katanya.

"Menurut undang2 kelenteng kita, perempuan tidak diperbolehkan menginjak pintu biara ini. Harap Siau sicu suka menanti didepan pintu pesanggrahan sana saja!"

"Kalau begitu baiklah cayhe minta diri."

Setelah memberi hormat Suma Bing terus mengundurkan diri.

Setelah tiba diluar pintu pesanggrahan Suma Bing berdiri tenang menanti kedatangan Li Hui orang yang ditugaskan oleh Giok li Lo Ci harus diketemukan.

Terhitung perjalanannya kali ini tidak sia2, dapat menyelesaikan tiga urusan sekaligus.

Tidak lama ia berdiam diri tampak sebuah bayangan terbang mendatangi dengan cepat sekali, begitu tiba terlihat itulah seorang nenek yang berambut uban.

Cepat2 Suma Bing berseru lantang.

"Apakah yang mendatangi ini adalah Li Hui Cianpwe?"

Nenek tua itu menghentikan langkahnya, sinar matanya tajam mengawasi Suma Bing, lalu tanyanya.

"Kau ini Sia sin kedua Suma Bing?"

"Itulah wanpwe adanya!"

"Ibuku yang mengutus kau untuk menyelesaikan pertikaian ini!"

Berpikir Suma Bing, Li Hui sudah terkurung selama duapuluh tahun, dia masih belum tahu kalau Bu siang sin li sudah wafat, ada lebih baik minta dia pulang kelembah biarlah Giok li Lo Ci yang menceritakan secara langsung kepada dia.

Oleh karena pikirannya ini secara samar2 saja ia menyahut.

"Benar!"

Kata Li Hui gemes.

"Begitu tega ibu membiarkan aku terkurung disini selama duapuluh tahun lamanya."

"Ini... wanpwe tidak tahu menahu!"

"Lalu darimana pula kau ketahui bahwa akulah yang terkurung dibelakang puncak itu"

"Wanpwe disuruh mengembalikan buku yang hilang itu, adalah pihak Siau lim sendiri yang memberitahu kepada wanpwe!"

"Jadi kau bukan khusus datang untuk menolong aku?"

"Begitulah, hitung2 secara kebetulan saja, tapi..."

"Tapi apa?"

"Wanpwe sudah melulusi kepada Lo Ci Cianpwe untuk menyirapi dan menyelidiki jejak Li Cianpwe..."

"Apakah sumoayku itu baik2 saja?"

"Dalam keadaan sehat waalfiat!"

"Lembah kematian adalah tempat buntu, selamanya belum ada orang pernah keluar masuk, darimana kau dapat..."

"Ini juga terjadi secara kebetulan, kelak pasti Locianpwe dapat menceritakan kepada Li Cianpwe!"

Li Hui manggut, katanya.

"Kau pergilah!" -lalu dia beranjak dulu menuju kedalam pesanggrahan. Keruan Suma Bing melengak heran. Menurut aturan Siau lim perempuan dilarang masuk ke biara suci itu. Kalau dia benar2 menerjang masuk tentu akan menimbulkan keonaran yang berkepanjangan. Betapa hebat kepandaian Hui Kong Taysu, kalau sampai dia tertawan dan dikurung lagi, susahlah dibayangkan akibatnya, maka segera ia maju merintangi serta katanya.

"Cianpwe hendak menuju kemana?"

Li Hui mendengus dingin, katanya.

"Selama duapuluh tahun aku disekap dalam gua yang gelap, perhitungan ini harus kuhimpas!"

"Pihak Siau lim sendiri juga terpaksa melakukan tindakan yang kurang bijaksana ini!"

"Kau pergilah!"

"Wanpwe tidak bisa pergi!"

"Kenapa?"

"Wanpwe pernah berkata setelah menemukan Li Cianpwe, aku harus segera membawa Cianpwe pulang kembali kedalam lembah!"

"Kalau aku tidak mau kembali?"

Suma Bing tersenyum kikuk, ujarnya.

"Pertikaian antara Siau lim dengan Lembah kematian sudah hapus. Ada lebih baik Cianpwe segera, kembali kelembah saja!"

"Kau hendak merintangi aku?"

"Tidak berani aku merintangi, hanya membujuk saja!"

"Kau tidak terima perintah untuk mengekang gerak gerikku bukan?"

Apa boleh buat, terpaksa Suma Bing berlaku terus terang.

"Memang tidak!"

Mengelam wajah keriput Li Hui, semprotnya.

"Kalau tidak kupandang kau bekerja demi kepentingan ibu, pasti tidak kuampuni kau!"

Suma Bing berpikir. meskipun usianya sudah lanjut tapi tabiatnya tetap kasar dan suka membawa adatnya sendiri, maka sahutnya dingin.

"Wanpwe menerima pesan dari orang, bagaimana juga..."

"Suma Bing, kau ini cerewet, jangan salahkan aku berlaku kejam nanti?"

"Wanpwe tidak peduli!"

"Sungguh katamu ini?"

"Sudah tentu sungguh2"

Sambil menggeram gusar Li Hui mengayun sebelah tangan terus menggenjot kedada Suma Bing.

Serangan ini bukan saja secepat kilat, juga perbawanya sangat hebat serta mengandung banyak perobahan.

Dari gebrak pertama ini dapatlah dinilai bahwa kepandaian ini masih setingkat lebih atas dari kepandaian kelima Tianglo Siau lim.

Suma Bing kerahkan Giok ci sin kang untuk melindungi badan, dengan tenang ia berdiri tanpa menyingkir atau berkelit.

'Blang.' dada Suma Bing kena digenjot dengan keras, badannya tergoyang gontai.

Wajahnya sedikit berobah.

Sebaliknya Li Hui terpental mundur ber-ulang2 karena tolakan tenaga pukulannya sendiri.

Sungguh kejutnya bukan kepalang.

Kehebatan Lwekang bocah tunas muda ini benar2 diluar persangkaannya.

Suma Bing berkata tawar.

"Harap Cianpwe segera pulang kelembah!"

Lama dan lama sekali Li Hui terlongong memandangi Suma Bing, mulutnya mengerang lirih terus berkelebat menghilang dari pandangan mata.

Suma Bing menghela napas lega, terhitung ia sudah menunaikan tugas yang dipasrahi oleh Giok li Lo Ci.

Tapi disamping itu hatinya juga duka dan masgul, bahwa ternyata perempuan yang terkurung dibelakang puncak itu kiranya adalah Li Hui dan bukan ibunya yaitu San hoa li Ong Fang lan yang sangat diharapkan itu.

Pikirnya, ibunya adalah perempuan yang paling merana dan harus dikasihani.

Bukan saja suami sudah meninggal, kehilangan anak dan mendapat malu lagi, malapetaka yang sukar dapat tertahan bagi orang lain ini, semua menumpuk keatas tubuhnya.

Berpikir dan berpikir, lama kelamaan ia tenggelam dalam kedukaan yang merawan hati tanpa terasa airmata meleleh deras dikedua pipinya.

Se-konyong2 terdengar sebuah suara serak yang sudah sangat dikenalnya.

"Buyung, kaki si maling tua ini sudah hampir patah, tapi kiranya tidak sia2 menemukan kau disini!"

Yang datang ini bukan lain adalah si maling bintang Si Ban cwan. Sejenak Suma Bing tertegun, lantas serunya.

"Cianpwe tengah mencari aku?"

"Buat apa aku jauh2 kemari kalau tidak mencari kau?"

"Darimana Cianpwe mengetahui kalau wanpwe berada di Siau lim si?"

"Diberitahu oleh bibimu!"

"0, ada urusan apakah?"

"Sudah tentu ada soal penting!"

"Urusan apa?"

"Bapak mertuamu dikabarkan sudah terkuburkan di Telaga air hitam."

Keruan kejut Suma Bing bukan buatan tanyanya gemetar.

"Majikan perkampungan bumi?"

"Apa kau masih mempunyai bapak mertua lain?"

"Dia... bagaimana ini bisa terjadi?"

"Seorang diri dia pergi menepati janji undangan Majikan Menara iblis dan disana dia mendapat kecelakaan!"

"Betapa hebat kepandaian Te kun itu masa tidak dapat meloloskan diri?"

"Buyung aku si maling tua hanya memberi kabar kepadamu. Sebagai Huma atau calon majikan Perkampungan bumi yang akan datang ini. Kalau Te kun sudah mati, jadi kaulah sekarang yang menjadi penggantinya. Dalam jangka sepuluh hari ini, seluruh kekuatan Perkampungan bumi hendak diboyong keluar untuk membalas dendam bagi Te kun mereka. Selama empat hari empat malam aku mengencangkan kaki berlari kesini. Sekarang tinggal enam hari lagi, kau harus mengejar waktu menyusul ke Telaga air hitam yang terletak diperbatasan Sucwan. Pertempuran kali ini menyangkut jaya atau runtuhnya Perkampungan bumi, kau... apakah kau tidak menyusul kesana?" -oo0dw0oo-

Jilid 12 45. SUMA BING MENYONGSONG BAHAYA.

"Sudah pasti wanpwe harus segera berangkat untuk menyelesaikan persoalan ini!"

"Kalau begitu segeralah berangkat, supaya secepatnya kau tiba disana. Aku si maling tua masih banyak urusan lain, kelak kita bertemu lagi!"

Habis bicara terus tinggal pergi.

Hati Suma Bing menjadi gundah dan kurang tentram, sungguh diluar sangkanya bahwa Te kun bisa terjungkal ditangan majikan Menara iblis.

Sebenarnya dia ketarik menjadi warga Perkampungan bumi bukan atas kehendaknya sendiri.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, malah bibi dan istrinya Phoa Kin sian juga tidak banyak cakap dalam persoalan ini, sudah tentu ia menyerah saja kepada nasib yang sudah menjadi suratan takdir.

Sebagai menantu dan calon penggantinya memang seharusnya dia menuntut balas bagi kematian Te kun.

Disamping itu, menurut undang2 Te po, dia adalah majikan dari perkampungan bumi yang akan datang, sudah tentu menjadi kewajibannya pula untuk menunaikan tugas mulia ini.

Kepandaian Te kun sudah sedemikian tinggi dan hebat, namun toh masih terkalahkan dan tertimpa bencana di Menara iblis.

Jikalau istrinya Pit Yau ang sendiri yang memimpin anak buahnya pergi menuntut balas, dapatlah dibayangkan akan akibatnya.

Sambil berpikir itu kakinya terus tancap gas beranjak dengan cepatnya turun dari puncak Siau sit hong langsung kejalan raya yang menuju keselatan.

Telaga air hitam terletak diperbatasan antara Sucwan dengan Kui ciu, luas telaga ini kira2 seratusan li, memang serasi nama dan kenyataannya, air telaga ini hitam legam bagai arang, malah mengandung racun lagi, tak peduli manusia atau binatang begitu tersentuh oleh air telaga ini pasti akan mati keracunan.

Karena itulah maka dipandang sebagai salah satu tempat kiamat yang disegani didunia persilatan.

Sepuluh li sekitar telaga ini tiada jejak manusia atau binatang.

Menara iblis, itulah sebuah bangunan tinggi yang bersusun dua belas tingkat berwarna cat hitam pula, berdiri dengan megah dan angkernya ditengah danau.

Pada suatu hari, ditepi telaga air hitam yang sangat ditakuti sebagai tempat bertuah bagi kaum persilatan itu, muncullah sebuah bayangan orang, dia bukan lain adalah Suma Bing yang telah menyusul tiba dari Siauw lim si.

Menghadapi telaga dan menara serba aneh dan seram ini tanpa terasa timbul perasaan mengkirik dan merinding.

Memang Menara iblis, nama ini sesuai dan cocok benar dengan keadaannya, bagi siapa saja yang melihat pasti timbul perasaan seram dan takutnya.

Sungguh mengherankan jejak para kerabat dari Perkampungan bumi kok tidak kelihatan.

Menurut berita yang dibawa oleh si maling tua, kedatangannya ini justru tepat pada waktunya, namun sepanjang jalan bayangan atau jejak orang2 dari Perkampungan bumi sedikitpun tidak terlihat, ini betul2 membuat orang tidak mengerti.

Apakah semua orang2 Perkampungan bumi sudah tertumpas habis, tapi sekitar sini tiada gejala2 yang mencurigakan yang dapat membuktikan akan rekaan hatinya ini.

Atau mungkin orang2 Perkampungan bumi itu sudah mengundurkan waktu untuk meluruk datang.

Tapi bagaimanapun juga kini dirinya sudah tiba disini, biarlah seorang diri aku tandangi mereka untuk menuntut balas bagi kematian Te kun.

Baru saja ia berpikir sampai disitu, tiba2 terdengar sebuah lengking tinggi bagai jeritan setan, belum lenyap suara lengking jeritan ini lantas disusul empat penjuru sekelilingnya terdengar pula suitan panjang yang saling bersahutan.

Sungguh keadaan ini sangat mencekam hati dan mendirikan bulu roma.

Suma Bing celingukan kian kemari, namun tak terlihat adanya bayangan orang.

Mendadak terdengar gelombang air tersiak, dimana ombak telaga bergulung2, terlihat muncul sebuah benda putih yang lonjong, waktu ditegasi kiranya itulah sebuah peti mati berwarna putih bersih.

Tanpa terasa berdiri bulu kuduk Suma Bing, bagaimana mungkin dari tengah telaga muncul sebuah peti mati?

Ombak air hitam itu terus bergulung2 satu demi satu bermunculan peti mati yang serupa bentuk dan warnanya, jumlahnya tidak kurang dari duapuluh buah.

Semua peti mati itu seumpama sampan kecil yang melaju pesat, tengah meluncur kearah tepian.

Suma Bing ber-pikir2, naga2nya anak buah Menara iblis semua, sembunyi didalam peti mati itu.

Dan peti mati ini pasti peralatan untuk mereka keluar masuk dari dalam air.

Benar juga, kenyataan memang seperti dugaannya.

Begitu peti2 mati itu menepi ke pantai tutup2 peti lantas menjeplak dan duapuluh lebih bayangan manusia serempak berloncatan keluar terus berlari kehadapan Suma Bing.

Suma Bing berdiri tegak dengan angkuhnya sekokoh gunung, sikapnya tenang dan garang menunggu perobahan apa yang bakal terjadi.

Setelah jaraknya agak dekat dengan Suma Bing, mereka berdiri berkeliling membentuk sebuah lingkaran dihadapan Suma Bing.

Satu diantaranya yang terdepan adalah seorang tua yang bermuka tirus bermulut monyong dan berdagu panjang, dengan kedua matanya yang berjelalatan seperti mata tikus itu, mengamat2i Suma Bing sekian lamanya, lalu serunya.

"Buyung kau inikah Sia sin kedua Suma Bing yang kenamaan didaerah dataran tengah itu?"

Dingin Suma Bing menyapu pandang kearah mereka, lalu sahutnya.

"Tidak salah!"

"Kau ini pula yang menjadi Huma dari Te po?"

"Tepat sekali!"

"Untuk apa kau datang kemari?"

"Untuk melihat tampang majikan dari Menara iblis."

"Hehehehe, buyung, kau belum berharga untuk itu!"

Suma Bing mendengus keras, jengeknya.

"Majikan menara iblis itu terhitung barang apa?"

Semua anak buah Menara iblis tersentak kaget dan berubah air muka mereka mendengar hinaan Suma Bing ini. Si orang tua pemimpin itu perdengarkan kekeh tawanya yang menusuk telinga, katanya.

"Buyung, agaknya kau datang untuk mencari kematian?"

"Dengar!"

Hardik Suma Bing dingin.

"Suruh majikan kalian keluar menemui aku?"

"Tidak sudi!"

"Sekali lagi kau berani menolak, kubunuh kau?"

"Buyung, kau tidak berharga menemui majikan kami. Beringas wajah Suma Bing, ancamnya sambil maju setindak.

"Kaulah orang pertama dari Menara iblis yang harus mampus!"

Seiring dengan ancamannya ini Suma Bing pelan2 angkat kedua tangannya terus didorong kemuka.

Kontan terlihat si orang tua pemimpin itu melolong tinggi, tubuhnya melayang jauh kecebur kedalam danau.

Berbareng dengan serangan Suma Bing itu, berpuluh jalur angin pukulan juga telah melanda tiba kearah Suma Bing, sedemikian dahsyat pukulan2 ini disertai bunyi guntur yang menggetarkan bumi.

Memang kedatangan Suma Bing untuk menuntut balas sudah tentu cara turun tangannya juga tidak mengenal kasihan lagi, begitu jurus Mayapada remang2 dilancarkan, terbitlah angin badai, bumi terguncang dan alam sekelilingnya menjadi gelap remang2.

Ditengah gemuruhnya angin badai itu terdengar jerit dan pekik yang menyayatkan hati.

Duapuluh lebih anak buah Menara iblis semua melayang jiwanya dalam satu gebrak saja.

Mayat2 bergelimpangan dimana2 dengan tubuh yang tidak lengkap lagi.

Keadaan ini benar2 sangat seram menakutkan.

Pada saat itulah sebuah suara dingin yang serak gemetar terdengar berkata.

"Suma Bing, kejam benar perbuatanmu ini!"

Terkejut Suma Bing, waktu berpaling dilihatnya tiga tombak disebelah sana sudah berdiri tiga orang.

Yang ditengah adalah seorang perempuan pertengahan umur yang bersolek dan tidak kalah cantik dari gadis2 muda yang rupawan.

Kedua sampingnya masing2 berdiri dua orang tua berjubah hitam dan yang lain berjubah merah.

Yang berjubah merah itu bukan lain adalah Gandarwa merah Ngo Tang.

Pastilah sudah yang berjubah hitam itu adalah Gandarwa hitam adanya.

Lalu siapakah perempuan ditengah itu?

Enam sorot mata yang berapi2 mendelik menatap Suma Bing.

Gandarwa merah tampil kedepan serta katanya sinis.

"Suma Bing, tidak peduli apa maksud kedatanganmu, berani semena2 kau turun tangan membunuh para jagoan anak buahku, maka jangan harap kau dapat meninggalkan Telaga air hitam ini dengan tetap bernyawa."

Suma Bing ganda tertawa ejek.

"Legakan hatimu, sebelum tujuanku terkabul, aku pasti takkan pergi!"

"Apa tujuanmu?"

"Bagaimana cara kematian Pit Gi majikan dari Perkampungan bumi?"

"Mati? Siapa yang mengatakan?"

Suma Bing melengak, tanyanya menegas.

"Masa dia belum meninggal?"

Tiba2 perempuan ditengah itu membuka suara, senggaknya dingin.

"Benar, dia belum mati, tapi dia juga tidak boleh hidup bebas."

"Apa2an ucapanmu ini?"

"Dia hanya boleh hidup ditempat ini, sekali berani beranjak keluar kematianlah bagiannya!"

"Dimana dia sekarang?"

"Dimana dia kau tidak perlu tahu!"

Suma Bing mendesak maju, desisnya.

"Jikalau sampai terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan majikan Perkampungan bumi, hm..."

"Kau mau apa?"

"Akan kuratakan Menara Iblis!"

"Hahahahaha, buyung hijau yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, besar mulut dan takabur!"

"Tuankah yang menjadi majikan Menara iblis?"

"Benar!"

"Bagus sekali, kuharap segera kau lepaskan majikan Perkampungan bumi!"

"Buyung enak benar kau berkata?"

"Lalu apa maksud kalian sebenarnya?"

"Pit Gi pantas untuk dihukum mati, tapi aku tidak tega turun tangan, hanya kukurungnya saja seumur hidup!"

Sejenak Suma Bing berpikir, lantas serunya.

"Mohon tanya ada permusuhan apakah antara majikan Perkampungan bumi dengan kau?"

"Anak muda seperti kau belum berharga menanyakan soal ini!"

"Apakah urusan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?"

Berobah rona wajah majikan Menara iblis, bentaknya lirih.

"Mulutmu kotor dan kurang ajar, ringkus dia!"

"Terima perintah!"

Demikian Gandarwa merah mengiakan.

Memang jarak mereka terpaut paling dekat, begitu lenyap suaranya tahu2 cakar setannya sudah mencengkram tiba menyerang Suma Bing, cara dan kecepatan serangan ini benar2 menakjupkan.

Begitu mendengar perintah lawan, pikiran Suma Bing lantas bersiaga, serta merta Giok ci sin kang lantas timbul melindungi badannya.

Cengkraman Gandarwa merah meraih pundak kiri Suma Bing, begitu jarinya dikerahkan mencengkram seketika ia rasakan sesuatu yang ganjil...

"Pergilah kau!"

Tiba2 Suma Bing menggertak sambil menyodok dengan sikutnya.

'Buk' sambil mengerang dan menguak menyemprotkan darah segar Gandarwa merah terhuyung puluhan langkah, tubuhnya juga limbung hampir roboh.

Sungguh mimpi juga Gandarwa merah tidak menyangka, dalam jangka tiga bulan saja musuh kecilnya ini sudah berganti orang dengan Lwekangnya yang luar biasa.

Hampir dalam waktu yang bersamaan ketika Gandarwa merah terhuyung mundur sambil muntah darah itu.

Gandarwa hitam juga sudah bergerak secepat kilat sambil lancarkan pukulannya, kecepatannya juga tidak kalah hebat, sungguh mengejutkan.

Karena sudah tidak mungkin lagi berkelit.

Suma Bing menjadi nekad, dan mandah saja menerima pukulan keras ini.

Benturan keras membuat tubuh Suma Bing tersurut tiga langkah, sedang Gandarwa hitam sendiri juga terpental mundur dua langkah lebar, wajahnya membesi hitam dan mengunjuk kekejutan yang tak terperikan.

Gandarwa merah hitam sudah sangat tenar dan kenamaan dikalangan Kangouw, susah dicari tandingan yang kuat melawan mereka berdua, siapa nyana bagi Suma Bing mereka tidak lebih laksana kutu yang menyambar api mencari gebuk sendiri.

Segera majikan Menara iblis mengulapkan tangan serta perintahnya.

"Kalian mundur!"

Dengan wajah merah jengah Gandarwa hitam segera mengundurkan diri.

Sementara itu Gandarwa merah tengah duduk samadi mengerahkan tenaga untuk berobat diri.

Setelah menyuruh Gandarwa hitam mundur, berkatalah majikan Menara iblis dingin.

"Suma Bing, hebat juga kepandaianmu, tapi jikalau kau berpikir untuk pergi dengan nyawa tetap hidup, kau tengah bermimpi!"

Suma Bing menjengek hina, sahutnya acuh tak acuh.

"Aku percaya kepada kemampuanku sendiri bahwa tiada seorang juga yang mampu merintangi aku. Tapi, maksud kedatanganku ini hanya ingin mengetahui apakah majikan Perkampungan bumi benar2 mati atau masih hidup. Sebelum terlaksana keinginanku, takkan kutinggalkan tempat ini!"

"Kau akan susah menjaga diri!"

"Belum tentu!"

"Jadi kau tidak percaya?"

"Sudah tentu tidak percaya?"

"Baiklah kau coba ini!"

Seiring dengan lenyap suaranya tahu2 tubuhnya sudah melejit tiba dihadapan Suma Bing langsung mengirim sebuah serangan.

Seketika Suma Bing merasa seluruh tubuhnya tergetar hebat, dalam waktu yang bersamaan terasa ada empat tempat ditubuhnya yang sekaligus kena terserang sehingga darah bergolak dirongga dadanya sampai badannya terhuyung hampir roboh.

Belum dia dapat berdiri tegak dan berganti napas, jurus serangan kedua musuh sudah merangsang tiba pula, sungguh kecepatannya luar biasa.

Jurus kedua ini telah mengenai enam jalan darah mematikan didepan dada Suma Bing.

Jikalau tidak mengandal keampuhan Giok ci sin kang yang melindungi badan, pasti saat itu tubuhnya sudah terkapar menggeletak tanpa bernyawa diatas tanah.

Kepandaian semacam ini, baru pertama kali ini Suma Bing merasakan.

Sambil menggerung tertahan Suma Bing tersurut lagi beberapa langkah, darah segar sudah menerjang ketenggorokkannya hampir saja tersemprot keluar.

Dilain pihak Majikan Menara iblis sendiri juga bukan kepalang kejutnya.

Dia percaya dengan dua jurus serangannya ini takkan ada seorang tokoh silat siapapun yang kuat bertahan.

Tapi sekarang kenyataan Suma Bing bukan saja kuat bertahan malah agaknya tidak kurang suatu apa.

Keruan ia terlongong.

Dalam detik2 inilah mendadak Suma Bing menghardik keras.

"Diberi tidak membalas, itulah kurang hormat!"

Secepat kilat jurus Mayapada remang2 dilancarkan.

Dimana gelombang badai menerjang tiba lima tombak sekitarnya menjadi gelap dan menggetar.

Majikan Menara iblis ternyata tidak kuasa bertahan diterpa angin kencang yang membadai ini, beruntun terhuyung empat tombak jauhnya wajahnya mengunjuk rasa kejut dan heran tidak percaya.

Begitu mendapat angin, Suma Bing tidak sia2kan kesempatan ini, jurus Ih sing to cwan lantas diberondong keluar juga.

Agaknya Majikan Menara iblis gentar menghadapi serangan dahsyat ini, tubuhnya melejit tinggi dan hinggap diatas sebuah peti mati yang terapung diatas air.

Saat mana Gandarwa merah juga sudah berdiri dan melompat menyingkir bersama Gandarwa hitam.

Suma Bing bertengger dipinggir danau, airmukanya merah diliputi nafsu membunuh katanya menegasi.

"Aku tekankan sekali lagi, harap kau suka melepas orang?"

Majikan Menara iblis mengejek dingin.

"Tidak bisa!"

"Apa kau tidak bayangkan akibatnya?"

"Coba kau lihat dulu!"

Waktu Suma Bing berpaling, tanpa terasa ia menyedot hawa dingin, tampak berpuluh2 orang pemanah yang sudah siap dengan senjatanya mengepung bundar dibelakangnya, busur sudah ditarik tinggal tunggu perintah saja.

Waktu ia menoleh lagi.

Majikan Menara iblis dan Gandarwa merah hitam sudah menyingkir jauh ketengah telaga sejauh puluhan tombak.

Bahwasanya kalau ilmu ringan tubuh sudah dilatih sempurna dapat terbang atau berjalan diatas gelombang air, tapi jikalau disuruh berhenti tanpa bergerak dipermukaan air, ini sangat ganjil dan tak mungkin terjadi.

Tapi kenyataan didepan matanya ini betul2 membuat jantungnya berdetak keras.

Suara majikan Menara iblis terdengar dari permukaan telaga sana.

"Suma Bing, sekali kuberi aba2, sekejap saja kau akan mati dengan tubuh penuh ditaburi anak panah!"

"Itu berarti kau juga membawa keruntuhan hebat luar biasa bagi Menara iblis!"

Demikian balas ancam Suma Bing.

"Kematian sudah didepan mata masih berani keras mulut?"

"Silahkan tuan memberi perintah!"

Dimulut Suma Bing berkata demikian, sebenarnya hatinya gugup setengah mati tengah mencari akal untuk mengatasi.

Sudah tentu dengan keampuhan Lwekangnya sekarang, hanya anak2 panah saja tidak akan dapat mengapakan dia.

Tanpa berayal lagi majikan Menara iblis mengayun lengan bajunya yang melambai2 dibawa angin lalu.

Kontan anak panah bersuitan bagai hujan derasnya, semua meluncur kearah Suma Bing.

Perbawa serangan ini benar2 mengejutkan dan menyedot semangat orang.

Suma Bing kerahkan seluruh kekuatan Giok ci sin kang untuk melindungi badan, semua anak panah begitu mendekat ketubuhnya semua terpental balik tanpa melukai seujung rambut.

Tiba2 tubuh Suma Bing melejit terus menubruk ketengah2 para pemanah itu.

Pembunuhan besar2an seperti membabat rumput saja terbentang dihadapan sang majikan.

Suara jerit dan pekik kesakitan yang menyayat hati terdengar saling susul, sungguh ngeri dan mendirikan bulu roma.

"Stop!"

Terdengar majikan Menara iblis membentak keras sambil melompat kedaratan lagi.

Tanpa terasa Suma Bing menghentikan perbuatannya.

Hanya dalam sekejap itu mayat sudah bertumpuk dan bergelimpangan dimana2, jumlahnya tidak kurang dari limapuluh orang jiwa mereka melayang semua.

Gigi majikan Menara iblis gemeretak saking murka, gerungnya.

"Suma Bing, benar2 kau ingin menjual jiwamu untuk kepentingan Pit Gi?"

"Dianggap begitu juga boleh!"

"Kalau begitu baiklah kuberi tahu, sekarang Pit Gi terkurung dipuncak tertinggi dari Menara iblis itu, kalau kau punya kepandaian silahkan naik kesana untuk menolongnya."

"Alah, apa sukarnya?"

Jengek Suma Bing dengan sombongnya.

"Ya, silahkan coba!"

Habis berkata bagai terbang berloncatan menginjak gelombang majikan Menara iblis menghilang didalam menara hitam itu.

Para pemanah yang masih ketinggalan hidup juga secara diam2 tanpa bersuara sudah lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Tak lama kemudian semua peti mati yang terapung diatas air itu juga lenyap menghilang.

Menghadapi air telaga yang hitam legam dan memandang jauh Menara iblis yang berdiri tegak bagai jin ditengah danau itu, Suma Bing tenggelam dalam pikirannya.

Walaupun air danau mengandung bisa jahat, tapi dia tidak perlu kuatir karena dirinya pernah menelan rumput ular.

Meskipun permukaan danau ini sangat luas, namun mengandal kepandaiannya saat itu, untuk terbang beranjak diatas permukaan air bukanlah soal sukar baginya.

Justru yang tengah diragukan adalah karena Menara iblis itu dijajarkan sebagai salah satu tempat kramat yang bertuah bagi kaum persilatan, sudah pasti didalam menara itu dipasang berbagai jebakan yang dapat mengancam jiwanya.

Dilain pihak seumpama bapak mertuanya dapat lolos dari menara iblis itu, dapatkah selamat tiba diatas daratan.

Karena mungkin ditengah perjalanan diatas air itu mereka bakal dicegat dan diserang mati2an oleh musuh, akibat dari kenekadan musuh inilah yang harus dipertimbangkan.

Tapi dalam situasi yang sekarang ini, selain maju tiada alasan untuk mundur.

Tentang kenapa orang2 Perkampungan bumi sampai saat itu masih belum terlihat bayangannya ini juga membuat hatinya risau.

Tiba2 otaknya mendapat suatu ilham yang membuat terang hatinya.

Baru sekarang dia sadar mengapa Majikan Menara iblis serta Gandarwa merah dan hitam bisa dengan antengnya berdiri dipermukaan air.

Maka dicarinya dua lembar papan kayu selebar telapak tangan terus diikat dibawah sepatunya.

Waktu ia melompat turun kedalam air, eh benar juga ternyata anteng dan ringan sekali.

Begitu Giok ci sin kang dipusatkan, seketika terasa badannya seenteng daon, secepat burung walet terbang terus melesat kearah Menara iblis itu.

Sebentar saja tibalah dia didepan pintu Menara iblis.

Kiranya bangunan Menara iblis ini melingkupi tanah seluas puluhan tombak, selain Menaranya yang tegak meninggi sekelilingnya masih ada tanah pelataran kosong.

Memandangi Menara iblis didepannya ini, tanpa terasa ciut nyali Suma Bing, seluruh bangunan Menara ini terbuat dari besi baja, selain dua pintu besi yang terpasang ditingkat paling bawah, lapisan selanjutnya sampai paling puncak tiada pintu atau jendela sebuahpun, se-akan2 berbentuk seperti keong.

Diatas pintu besi besar itu terpancang papan besi yang bertuliskan 'Menara Iblis'.

Sejenak Suma Bing ragu2, lalu dengan langkah lebar mendekat kedepan pintu, waktu tangannya mendorong ternyata tidak bergeming, maka ia mundur tiga langkah, kedua tangannya menghimpun seluruh tenaganya terus dihantamkan kearah pintu besi itu.

Dentuman keras menggelegar membuat seluruh bangunan Menara itu tergetar.

Pintu besi itu terpentang lebar bertepatan dengan itu hujan anak panah memberondong keluar.

Tercekat hati Suma Bing, sebat sekali kakinya menggeser kesamping delapan kaki, untung bisa terhindar dari serangan keji ini.

Setelah menenangkan gejolak hatinya, sambil melintangkan kedua tangan didepan dada gesit sekali ia melompat masuk kedalam Menara iblis.

Terdengar suara kereyat kereyot, pintu besi Menara iblis itu mulai menutup sendiri.

Keadaan dalam menara seketika gelap gulita sampai lima jari sendiri tidak terlihat.

Betapapun tinggi dan hebat kepandaian Suma Bing, dalam keadaan sekarang ini tak urung hatinya kebat-kebit dan was2 juga.

Sekian lama kedua matanya dipejamkan, lalu dibuka kembali, samar2 pemandangan dihadapannya mulai jelas, dimana sorot matanya memandang mendadak ia menjerit kaget dan melompat mundur.

Tampak ber-puluh2 kerangka tengkorak yang lengkap berdiri berjajar membelakangi dinding, sikapnya mengancam dengan menjulurkan kedua tangannya kedepan siap hendak menubruk mangsanya.

Perasaan dingin timbul diatas tengkuknya terus menjalar keseluruh tubuh.

Seram dan menakutkan benar sehingga tanpa terasa telapak tangan Suma Bing basah oleh keringat.

Tiba2 suara ringkik jeritan setan terdengar saling bersahutan menusuk telinga.

Semua kerangka itu mendadak bergerak2 dan mulai bertindak maju dengan langkah kaku terus merubung kearah dirinya.

Keruan Suma Bing merasa arwahnya terbang ke-awang2, keringat dingin ber-ketes2 membasahi tubuh.

'Trap, trap!' irama tulang2 yang bergeser diatas tanah menambah keseraman suasana yang menakutkan.

Kerangka sudah tentu tidak akan bisa bergerak, tidak perlu disangsikan pasti semua ini ada peralatan yang mengendalikan.

Suma Bing mengheningkan cipta menenangkan gejolak hatinya, tiba2 tangannya terayun terus memukul kedepan.

Kontan beberapa kerangka yang berada didepan tersapu roboh berantakan menumbuk dinding.

Suara tulang2 yang tercerai berai menumbuk dinding terdengar riuh rendah, asap putih kehijauan ber-gulung2 dari tulang2 yang hancur ber-keping2 itu.

Kerangka lain yang tidak terserang masih tetap melangkah kaku mendekat kearahnya dengan sikap mengancam.

Bahwa pukulannya dapat merobohkan beberapa kerangka itu, ini menambah keberanian Suma Bing.

Sambil menggereng keras dia menggerak2kan kedua tangannya sambil memutar badan sekaligus Suma Bing serang semua kerangka yang mengelilingi dirinya.

Maka dalam sekejap saja kerangka2 itu menjadi setumpukan tulang2 kering yang hancur berantakan berserakan dimana2.

Tapi asap putih kehijauan yang menguap dari dalam tulang2 yang hancur itu bertambah lebat memenuhi ruangan.

Kabut putih ini mengeluarkan bau harum yang dapat memabukkan orang.

Suma Bing merasa kepala pening dan badan terasa enteng, tahu dia bahwa kabut putih ini ternyata mengandung racun jahat.

Cepat2 ia kerahkan hawa murni dalam tubuhnya untuk membendung serangan hawa beracun ini.

Untung dia pernah menelan rumput ular yang berkhasiat menolak segala bisa, kalau tidak tanggung sejak tadi ia sudah terkapar roboh tanpa bernyawa lagi.

Waktu angkat kepala memandang keatas, lapis kedua kira2 setinggi dua tombak, tampak undakan atau tangga untuk naik keatas.

Hanya disebelah kanan sana terbuka sebuah lobang kecil kira2 lima kaki, lobang kecil inilah agaknya menjadi pintu penghubung untuk menerobos masuk ketingkat dua itu.

Dengan adanya pengalaman yang berbahaya pada tingkat permulaan ini, sudah pasti pada tingkat kedua juga tidak bakal selamat begitu saja, mungkin bahaya yang mengancam lebih menakutkan dan lebih seram.

Sekian lama Suma Bing mengamat2i lobang kecil itu, tiba2 ia menghantam kearah lobang bundar itu, terus tubuhnya ikut melejit kesamping...

Baca Juga: Suling Emas 7

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert