Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 9

Eps 9 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

'Blum!' terdengar dentuman menggelegar, sebuah papan baja bundar sebesar lobang diatasnya itu meluncur mengemplang keatas kepalanya, untung dia cepat menyingkir sehingga papan baja itu jatuh diatas tanah menggetarkan seluruh bangunan Menara iblis, dari sini dapatlah dibayangkan betapa berat papan besi baja itu.

Kalau secara ceroboh tadi Suma Bing terus meloncat keatas hendak menerobos naik, pasti tubuhnya akan tertindih hancur lebur menjadi perkedel.

Sekian lama Suma Bing kesima dan menelan air liur sambil melelet lidah.

Tapi bagaimana juga karena Majikan Perkampungan bumi terkurung dipuncak menara ini, seumpama gunung golok dan wajan minyak mendidih juga harus dihadapi dan diterjang terus.

Begitulah setelah hatinya tenang dan semangatnya pulih kembali, beruntun tangannya bergerak memukul tiga kali, setelah dilihatnya tiada reaksi apa2 baru kakinya dijejakkan, tubuhnya terus melejit keatas menerobos lobang bundar itu.

Pada saat tubuh Suma Bing baru saja muncul diambang lobang kecil itu, segulung angin pukulan laksana gugur gunung sudah menerjang tiba mengarah tubuh Suma Bing.

Kesempatan untuk berpikir saja belum ada tahu2 badan Suma Bing sudah terpental jauh menumbuk dinding besi baja.

'Blang', tubuhnya terpental balik lagi terus terkapar diatas tanah, terasa kepalanya pusing tujuh keliling, mata ber-kunang2.

Waktu ditegasi terlihat seorang perempuan berpakaian serba hitam dengan rambut terurai panjang tengah berdiri membelakangi dirinya.

Jadi yang membokong dengan pukulan tadi terang adalah perbuatan perempuan ini.

Timbullah hawa amarahnya bentaknya.

"Berputarlah untuk terima kematianmu!"

"Terima kematian? Hahahahahahaha..."

Nada kata dan tertawanya hakikatnya bukan suara yang keluar dari mulut makhluk berjiwa, sedemikian dingin kaku seram dan aneh menakutkan..MENEBUS CINTA.

Tanpa terasa berdiri bulu kuduk Suma Bing, gertaknya sekali lagi.

"Aku tidak ingin membunuhmu dari belakang!"

"Membunuh aku? Apa kau mampu?"

"Segampang membalikkan tangan!"

"Huh, kau sedang bermimpi?"

"Baik, lihatlah ini!"

Diiringi bentakan kedua tangannya sudah bergerak...

Namun sebelum tenaga terkerahkan keluar, mendadak terasa papan besi dimana dia berpijak bergerak terus berputar, semakin berputar semakin cepat.

Kontan pandangannya menjadi kabur dan kepala terasa berat dan pening.

Diam2 hatinya mengeluh, kalau berputar terus seperti ini tak sampai sepeminuman teh pasti dirinya akan roboh secara konyol.

Suara dingin yang menusuk telinga itu mendadak terdengar lagi.

"Suma Bing, bagi yang berani memasuki Menara iblis, selain menjadi setan tiada jalan lain untuk hidup". Pecah nyali Suma Bing, tapi apa yang dapat diperbuatnya, dalam keadaan tubuh turut berputar seperti gangsingan itu, darah mulai bergolak dirongga dadanya. Apakah harus mandah saja terima kematian? Biasanya orang yang terdesak dalam bahaya bisa timbul akal sehatnya, demikian juga mendadak Suma Bing mendapat ilham cara bagaimana dia harus menyelamatkan diri. Tiba2 tubuhnya meluncur tinggi terus bergantungan diatas atap loteng tingkat ketiga se-olah2 seekor kelelawar besar. Terdengar sebuah seruan kejut, besi berputar itu juga segera berhenti. Perempuan aneh bagai setan itu masih tetap berdiri ditempatnya. Suma Bing melayang turun terus mencengkram kearah lawan... Selicin belut perempuan itu berkelit kesamping terus membalik badan. Napas Suma Bing hampir berhenti dan serta merta mundur berulang2. Sungguh dia tidak dapat membedakan apakah makhluk dihadapannya ini manusia atau setan. Seumur hidupnya belum pernah dilihatnya makhluk seaneh ini. Panca indra perempuan ini tidak lengkap, wajahnya penuh goresan luka dan daging yang menonjol2 matanya tinggal satu dan miring kesamping, hidungnya bolong plong dan mulutnya meringis kelihatan dua baris giginya yang memutih menyeramkan...

"Kau ini manusia atau setan?"

"Terserah apa yang hendak kau katakan!"

Suma Bing menjadi nekad dan bertekad, katanya.

"Tak peduli kau ini manusia atau setan, yang terang kau memang harus mampus!"

Ih sing to cwan(bintang bergeser jumpalitan) yaitu jurus kedua dari Giok ci sin kang dengan kecepatan yang susah diukur dilancarkan untuk menyerang.

Jurus Ih sing to cwan inilah yang telah mengalahkan Hui Kong Taysu, si padri agung dari Siau lim si yang diabdikan sebagai Hudco.

Betapa dahsyat kekuatannya dapatlah dibayangkan.

Apalagi sekarang dilancarkan didalam ruang menara yang luasnya hanya empat tombak saja, hampir setiap senti peluang yang kosong sudah terlingkup dalam kekuatan pukulan Suma Bing ini.

Baru saja perempuan aneh tadi hendak menggerakkan alat rahasianya, tapi sudah terlambat.

Terdengar keluhan tertahan lantas badan perempuan itu limbung kebelakang terus terkapar roboh tak bergerak lagi.

Suma Bing menyeringai dingin, sekali cengkram dengan mudah saja ia jinjing tubuh orang terus mendongak memandang ketingkat ketiga, dia bersiap menggunakan perempuan yang terluka berat ini sebagai perintis jalan menerobos lobang kecil yang menuju ketingkat tiga itu.

Memang perbuatannya ini agak kejam.

Tapi bagaimana juga perempuan jelek rupa ini harus dikorbankan menjadi makanan bagi alat2 rahasia yang dipasang ditingkat ketiga itu.

Pada saat itulah mendadak sebuah nada dingin kaku berkata gugup.

"Suma Bing, letakkan dia!"

Sebat sekali Suma Bing memutar tubuh, dilihatnya majikan Menara iblis sudah berdiri dihadapannya.

"Letakkan dia!"

Seru majikan Menara iblis pula. Suma Bing mendengus ejek, katanya.

"Kau anggap sedemikian gampang?"

"Lalu kau mau apa?"

"Kuharap dia membuka jalan untuk naik ketingkat ketiga itu!"

"Tidak mungkin!"

"Tidak mungkin? Kalau kau bilang tidak lantas benar tidak?"

Berulangkali wajah majikan Menara iblis ber-ganti2 tak menentu, desisnya dingin.

"Suma Bing, dia sudah terluka berat sekali..."

"Memang, tapi justru cayhe baru saja terhindar dari ancaman elmaut!"

"Letakkan dia!"

"Tidak bisa."

"Kalau sampai terjadi apa2, awas, tubuhmu pasti hancur lebur!"

"Kalau kau anggap kau bisa berbuat begitu, silahkan lakukan, aku anggap sepele!"

"Suma Bing, menara ini dibangun dengan besi baja, selain lobang hawa tiada pintu atau jendela. Seumpama kau dapat menerobos sampai ketingkat teratas, juga hanya kematian saja bagimu, jangan harap kau dapat tinggal pergi dengan masih bernyawa!"

"Itukan urusanku sendiri nanti!"

"Jadi kau sudah bersiap mengantar nyawamu didalam menara ini?"

"Belum tentu, masih terlalu pagi untuk menentukan itu!"

Sikap gugup dan nada ucapan majikan Menara iblis yang lunak ini benar2 membuat Suma Bing ter-heran2.

Kenapa sedemikian besar perhatian majikan Menara iblis ini terhadap perempuan jelek yang sudah setengah mampus ini?

"Suma Bing, lepaskan dia, biar kululusi kau naik terus tingkat teratas dengan selamat."

Suma Bing me-nimang2 mati hidup Tekun masih belum diketahui daripada menerjang secara sembrono, lebih baik menyetujui permintaan orang saja.

Orang ini adalah ketua dari suatu aliran yang ditakuti, sudah tentu tidak akan ingkar janji, maka segera katanya dingin.

"Apa benar majikan Perkampungan bumi terkurung dipuncak sana?"

"Benar!"

"Apa benar dia belum mati?"

"Pertanyaanmu ini berlebihan."

"Baik, aku setuju dengan permintaanmu itu!"

Lalu dilemparkan perempuan jelek itu kearah majikan Menara iblis.

Ter-sipu2 majikan Menara iblis maju menyambut terus memeriksa lukanya, lalu mengusap wajahnya.

Pandangan Suma Bing serasa kabur, matanya terbelalak.

Ternyata perempuan jelek menyerupai setan itu adalah penyamaran dari seorang gadis yang cantik rupawan.

Kiranya dia mengenakan kedok muka untuk me-nakut2i orang.

Baru sekarang dia paham, gadis ayu ini pasti ada hubungan sangat erat dengan majikan Menara iblis, mungkin juga anaknya, kalau tidak mana mungkin dia begitu gugup dan perhatian malah mau mengalah mengajukan syarat tukar menukar.

Sekian lama majikan Menara iblis memeriksa dengan teliti, akhirnya pandangannya beringas dan membentak bengis.

"Suma Bing, kalau lukanya sampai tak dapat ditolong akan kubalas dengan tindakan keji yang paling kejam!"

Nada ucapannya mengandung ancaman serius yang berlimpah2. Acuh tak acuh Suma Bing menyahut.

"Kalau kau mampu melaksanakan ancaman itu cayhe takkan berkerut alis!"

"Baik, semua alat rahasia kini sudah kututup semua, silahkan kau naik keatas!"

Sejenak Suma Bing bimbang, lalu melejit menerobos lobang bundar diatasnya.

Benar juga tanpa rintangan yang membahayakan dalam sekejap saja, dia sudah tiba ditingkat kesebelas.

Setingkat lagi adalah yang terakhir, itulah tempat dimana Te kun sekarang tengah dikurung.

Seperti yang sudah2, hanya lobang bundar sebesar kakilah satu2nya, penghubung antara tingkat demi tingkat itu.

Perasaan Suma Bing mulai tegang.

Dia ingin berteriak memanggil, tapi setelah dipikir2, akhirnya dia urung membuka suara, sekali kakinya mengenjot tanah, tubuhnya terus menerobos lewat dan tiba ditingkat teratas.

"Siapa itu?"

Terdengar sebuah bentakan nyaring serak.

Sekali dengar lantas Suma Bing tahu itulah bentakan yang keluar dari mulut Te kun sendiri.

Suma Bing menyapu pandang kesekelilingnya, melihat apa yang terpajang dihadapannya seketika ia terlongong2.

Sampai lupa memberi jawaban!

Itulah sebuah ruang atau kamar yang dihias sedemikian indah dan mewah seumpama kamar penganten, sinar mutiara berkilauan menerangi seluruh kamar itu.

Tampak Te kun tengah duduk tegap diatas sebuah korsi malas.

Wajahnya mengunjuk rasa kejut, matanya kesima memandangi Suma Bing.

Ini bukan kamar tahanan, jadi terang bahwa Te kun juga bukan ditahan.

Pasti ada hal2 apa yang mencurigakan?

Konon bahwa seorang diri Te kun meluruk datang menepati janji dan terkubur didasar Telaga air hitam.

Tapi kenyataan dia masih segar bugar?

Ada pula yang mengatakan Te kun terkurung dipuncak Menara iblis, namun kenyataan ini juga berlawanan dengan berita yang dikabarkan?

Adalah majikan Menara iblis ternyata adalah perempuan setengah umur yang masih cantik molek, mungkinkah disini letak persoalannya?

Otaknya sampai terasa berdenyutan memikirkan persoalan ini.

Akhirnya Te kun Pit Gi membuka suara.

"Menantuku, untuk apa kau kemari?"

Suaranya sudah tidak berat dan berwibawa seperti waktu masih berada di Perkampungan bumi, tak ubahnya seperti orang tua biasa yang tengah bicara dengan menantunya.

Sesaat Suma Bing tertegun, lalu sahutnya sambil membungkuk hormat.

"Siau say(menantu) menghadap Te kun!"

"Sudahlah, coba katakan mengapa kau datang kemari?"

"Menurut kabar bahwa Te kun sudah terkubur di Telaga air hitam. Seluruh kekuatan Perkampungan bumi akan diboyong kemari untuk menuntut balas. Maka jauh2 Siau say menyusul tiba, tapi..."

"Kenyataan tidak seperti apa yang dikabarkan?"

"Ya, benar!"

"Kabar kematian itu memang aku sendiri yang suruh orang menguarkan!"

"Kenapa?"

Tanya Suma Bing tersentak kaget. Agaknya Raja bumi sudah berobah sangat tua dalam sekejap mata ini, katanya sambil menghela napas.

"Selama hidup ini aku sudah berkeputusan untuk tidak kembali lagi ke Perkampungan bumi atau muncul didunia persilatan!"

Lebih heran dan tak mengerti, dalam ingatan Suma Bing betapa garang dan besar wibawa Raja bumi tempo hari sungguh tidak nyana hari ini bisa bicara demikian lunak dan lembek, ini benar2 susah dapat dipercaya.

Berkata pula Te kun Pit Gi.

"Kau merasa diluar dugaan bukan?"

"Ya."

"Sudah kebancut kau datang kemari, terpaksa harus kututurkan duduk perkara sebenarnya. Tapi, kau harus ingat satu hal..."

"Harap jelaskan?"

"Duduk perkara peristiwa ini hanya kuijinkan kau sendiri yang tahu, selamanya jangan kau bocorkan kepada siapapun juga!"

"Terhadap adik Ang juga tidak boleh?"

Terbayang rasa duka pada wajah Raja bumi, sahutnya.

"Dia boleh dikecualikan, tapi juga harus tiba saatnya yang tepat baru boleh kau beritahu kepadanya."

"Yang dimaksud tiba saatnya adalah..."

"Sedikitnya setelah duapuluh tahun kemudian."

"Duapuluh tahun kemudian?"

"Bersama itu, kau juga harus tahu benar bahwa aku sudah mati."

"Ini..."

"Inilah perintahku yang pertama dan yang terakhir kepadamu, kau harus patuh!"

"Tapi Perkampungan bumi tiada yang memimpin..."

"Kaulah calon penggantinya."

Berobah airmuka Suma Bing, sungguh dia tidak berani membayangkan masa depannya, sebab dia masih berhutang budi terhadap Racun diracun, namun dia juga harus membunuh Racun diracun.

Dia sendiri pernah berkata akan menebus budi orang dengan kematiannya, untuk membuktikan kejantanannya bahwa dia dapat membedakan antara budi dan dendam.

Baru saja pikiran Suma Bing melayang2, terdengar Raja bumi berkata lagi.

"Menantuku, kau tahu mengapa aku berbuat demikian?"

"Siau say tidak paham!"

"Untuk menebus cinta!"

"Menebus cinta? Apakah artinya?"

Berobah nada ucapan Raja bumi, sedemikian berat serak dan merawan hati.

"Dulu, aku menelantarkan seorang perempuan. Sekarang, dengan sisa hidupku ini aku harus menebus kesalahanku itu kepadanya!"

"Siapakah dia?"

"Majikan Menara iblis!"

"O!"

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing.

Mimpi juga tidak nyana bahwa urusan ini ternyata ber-liku2 sedemikian jauh.

Bahwa dua majikan dari Perkampungan bumi dan Menara iblis yang sangat disegani itu kiranya adalah sepasang kekasih, tapi dia salah berpikir...

"Dia adalah istriku sah, kita mempunyai seorang anak perempuan, lebih tua dua tahun dari Yau ang. Dia bernama Yau cu!"

"O!"

Tercetus seruan kaget dari mulut Suma Bing.

Teringat olehnya gadis molek yang terluka berat oleh pukulannya ditingkat kedua tadi, pastilah dia itu Pit Yau cu adanya.

Dia adalah toaci dari istrinya kedua Pit Yau ang, entah bagaimana keadaannya.

"Apa kau tahu siapakah aku ini dulu?"

Terbayang oleh Suma Bing percakapan Pek chio Lojin dan muridnya, segera ia manggut2 dan sahutnya.

"Tahu!"

"Tahu! darimana kau tahu?"

"Dengar dari percakapan orang!"

"Coba katakan yang kau tahu!"

"Kiu im Suseng adalah tokoh silat nomor satu diseluruh jagad ini pada pertandingan silat pertama dipuncak Hoa san..."

"Ya, kau benar. Sejak aku menggondol gelar jago nomor satu seluruh jagad yang kosong itu, pengalamanku hampir sama dengan nasibmu itu!"

"Sama dengan nasibku?"

"Ya, sama benar, seperti kau menjadi duplikatku!"

"Terpilih sebagai huma oleh Perkampungan bumi?"

"Semua benar, dalam keadaan yang tidak merdeka aku dinikahkan dengan ibu Yau ang. Sejak itu aku menduduki jabatan sebagai Raja bumi. Sedang ibu Yau ang sejak melahirkan Yau ang terus meninggal dunia. Dan bertepatan dengan waktu aku terpilih sebagai calon Huma di perkampungan bumi, Yau cu ibu beranak mendadak menghilang, kemana2 aku telah mencari tanpa hasil. Tak nyana takdirlah yang menentukan, kiranya dia telah menjadi majikan dari Menara iblis ini!"

Habis berkata ia menghela napas panjang dengan lesu! Suma Bing manggut2, ujarnya.

"Sekarang aku paham!"

Pada saat itulah sebuah bayangan mendadak muncul bagai bayangan setan.

Terlihat bayangan itu tengah membopong bayangan orang lain.

Mereka bukan lain adalah majikan Menara iblis ibu beranak.

Air muka majikan Menara iblis membesi kaku, matanya menyorotkan kemarahan yang ber-api2.

Melihat gelagatnya, ciut nyali Suma Bing, perasaannya ikut tenggelam dan mendelu mungkin Pit Yau cu sudah meninggal?

Terdengar Te kun berjingkrak kaget, serunya.

"Dia... Yau cu kenapa?"

"Dia sudah mati!"

Sahut majikan Menara iblis penuh kebencian. Te kun melompat bangun serunya gemetar.

"Apa katamu?"

"Cuji sudah mati?"

"Bagaimana bisa mati?"

"Menantumu yang bagus itulah yang turun tangan!"

Bergetar seluruh tubuh Te kun, dua kilat matanya menatap tajam ke wajah Suma Bing lama dan lama kemudian baru tercetus pertanyaannya.

"Kau yang membunuh dia?"

Suma Bing menggigit gigi, sahutnya.

"Benar, sebelum ini kita masing2 adalah musuh besar yang harus menentukan mati atau hidup!"

Te kun maju memayang tubuh Yau cu, dua titik air mata meleleh keluar menetes di wajahnya yang pucat pias tanpa darah. Ancam majikan Menara iblis gemetar.

"Suma Bing, sudah kukatakan akan kuhancur leburkan tubuhmu menjadi perkedel!"

Serta merta Suma Bing mundur selangkah! Suara Te kun terdengar sangat sedih.

"Istriku, dia tidak sengaja..."

Mata majikan Menara iblis semakin me-nyala2, semprotnya beringas.

"Kau berani merintangi aku menuntut balas anak gadisku?"

Sementara itu Te kun tengah memeriksa denyut jantung anak gadisnya, mendadak dia berseru kegirangan.

"Nadi besarnya masih belum putus..."

"Aku tahu, tapi seumpama tabib Hoa tho(tabib kenamaan pada jaman Sam kok) hidup lagi juga jangan harap dapat menyembuhkan dia!"

Mendengar ini, Suma Bing berseru girang, tanyanya gugup.

"Apa betul nadi besarnya belum putus?"

"Betul."

Sahut majikan Menara iblis mengertak gigi.

"delapan nadi diseluruh tubuhnya sudah hampir musnah, meskipun..."

"Bisa ditolong."

"Apa, bisa ditolong?"

Te kun dan majikan Menara iblis berseru kejut berbareng. Suma Bing mengusap keringat yang membasahi jidatnya, serta katanya.

"Ilmu Kiu yang sin kang yang Siau say pelajari dapat menolongnya!"

Majikan Menara iblis masih kurang terima, jengeknya.

"Suma Bing, kau menolong dia untuk menolong jiwamu sendiri!"

Watak Suma Bing juga keras dan congkak, hampir saja kemarahan hatinya meledak namun karena berhadapan langsung dengan Te kun sedapat mungkin ia tahan kemarahannya, sahutnya dingin.

"Aku menolongnya karena aku kenal budi pekerti, bukan untuk menolong diriku sendiri."

Te kun Pit Gi meletakkan Pit Yau cu diatas ranjang lalu katanya.

"Menantuku, lekaslah kau menolongnya!"

Setelah menenangkan hatinya dan menghimpun semangat, Suma Bing maju mendekati ranjang, secepat terbang tangannya bergerak menutuk berbagai jalan darah besar, lalu mencopot sepatu naik dan duduk diatas ranjang.

Kiu yang sin kang mulai dikerahkan melalui tangan yang menekan batok kepala terus disalurkan, hawa murni yang positip bersifat panas terus membanjir masuk...

Sepeminuman teh kemudian, badan Suma Bing basah kuyup bagai kehujanan, wajahnya pucat pasi.

Sebaliknya Pit Yau cu bernapas teratur, darahnya sudah berjalan normal airmukanya juga sudah bersemu merah.

Tanpa berkesip Te kun dan majikan Menara iblis mengawasi keadaan anaknya.

Setengah jam telah berlalu lagi, terdengar Pit Yau cu mulai mengerang lirih Pit Yau cu membuka mata dan pelan2 bangkit berduduk, begitu melihat Suma Bing yang tengah bersamadi diatas ranjang, sambil menggerung gusar terus angkat tangan mengepruk kebatok kepala Suma Bing...

"Jangan Cuji!"

Cegah Te kun sambil menyambar pergelangan tangannya serta katanya pula.

"Kejadian ini akibat salah paham, untuk menolong kau dia sudah kehilangan banyak hawa murni. Kau turunlah beristirahat!"

Pit Yau cu menarik pulang tangannya, setelah melerok sekali lagi kearah Suma Bing terus putar badan dan menghilang dipintu rahasia.

Waktu Suma Bing selesai dengan samadinya, itu sudah berselang satu jam kemudian dihadapannya tinggal Te kun seorang saja.

Kata Te kun dengan sedihnya.

"Menantuku, tugas berat Perkampungan bumi selanjutnya kini terjatuh diatas pundakmu?"

"Siau say akan junjung tinggi pengharapan Gak tio(bapak mertua) yang mulia!"

"Bagus sekali, masih ada lagi, kuharap kau perlakukan Angji baik2..."

"Pasti aku bisa."

"Jagalah dirimu baik2, sekarang boleh kau pergi. Ingat dan jangan lupa pesanku tadi."

"Siau say ingat betul, sekarang juga minta diri!"

Setelah membungkuk dan memberi hormat langsung Suma Bing turun dari Menara iblis.

Kini pintu besar Menara iblis sudah terbuka lebar, hanya sekarang tidak tampak bayangan seorang jua.

Seperti datangnya tadi dia menyebrangi danau dan kembali tiba didarat.

Memandang kearah Menara iblis dikejauhan sana, hatinya terasa hampa dan masgul, Sang junjungan yang agung majikan Perkampungan bumi kenamaan dan ditakuti akhirnya harus menghabiskan sisa hidupnya ditempat pengasingan.

Tapi, sudah seharusnya ia merasa tentram dan puas, seperti apa yang dikatakan sendiri tengah menebus cintanya yang tertunggak.

Baru sekaranglah diinsafi pula olehnya bahwa semua kejadian dan peristiwa dikalangan Kangouw ternyata serba-serbi dan tiada sesuatu yang selalu abadi.

Sekonyong2 terdengar derap langkah kaki yang ramai tengah mendatangi dari kejauhan sana, disusul berkelebat beberapa bayangan manusia tengah melayang tiba bagai bintang terbang.

Betapa jeli pandangan Suma Bing sekarang, dari kejauhan sudah dilihatnya bahwa mereka itu bukan lain adalah anak buah dari perkampungan bumi.

Yang mengepalai dan terdepan adalah istrinya sendiri yaitu Pit Yau ang bersama Coh hu dan Yu pit dua perdana menterinya, dan dibelakangnya lagi adalah para Tongcu dan semua petugas hukum serta para kerabatnya, jumlahnya tidak kurang dari dua ratusan orang.

Ditengah ramainya suara kaget bayangan orang2 itu melayang tiba semua.

Pit Yau ang berjingkrak kegirangan diluar dugaan serunya.

"Engkoh Bing, tak terduga kau telah tiba lebih dulu!"

Suma Bing tertawa ewa, sahutnya.

"Adik Ang, semua anak buahmu sudah kau kerahkan datang semua?"

"Ya, hanya tinggal beberapa orang saja untuk menjaga rumah."

Coh hu Yu pit segera maju menghadap dan menyembah.

"Menghadap Huma!"

Cepat2 Suma Bing goyang2 tangan, katanya.

"Kalian bangun tak perlu banyak peradatan."

Lalu beramai2 para Tongcu dan semua kerabatnya bergiliran maju dan menyembah.

Sambil melayani semua anak buah Perkampungan bumi, otak Suma Bing bekerja keras, dengan alasan apakah dia harus mencegah supaya Pit Yau ang tidak berkukuh untuk menuntut balas?

Semua anak buah Perkampungan bumi tengah berkabung dan geram hatinya, mereka meluruk datang dengan hati panas yang me-luap2 untuk membalas dendam, bara api tengah ber-kobar2 disetiap sanubari mereka.

Setelah dipikirkan secara mendalam, Suma Bing ambil keputusan, untuk perintah Te kun yang terakhir itu, terpaksa dia harus berlaku keras dan tegas untuk berbohong.

Mata Pit Yau ang mengembeng airmata, ujarnya sedih merawan hati.

"Engkoh Bing, sekarang kaulah yang memimpin untuk bertindak...

"Aku yang memimpin?"

"Sudah lajim dan jamak sekali bukan, masa kau..."

"Urusan ini sudah selesai sebagian..."

"Apa?"

"Apa kau tidak melihat mayat2 dipinggir telaga dan noda2 darah itu? Semua sorot mata beralih mengikuti tempat yang ditunjuk Suma Bing. Lalu kembali lagi menatap kearah Suma Bing. Tanya Pit Yau ang heran dan tak mengerti.

"Engkoh Bing, apakah yang telah terjadi?"

"Aku sudah menuntut balas bagi Te kun!"

"Kau..."

"Ya Menara iblis sudah kucuci bersih dengan banjir darah!"

Semua anak buah Perkampungan bumi mengunjuk rasa kagum dan kaget luar biasa.

Dengan tenaga seorang saja dapat mencuci bersih seluruh kekuatan Menara iblis, ini benar2 susah dibayangkan dengan akal pikiran sehat.

Tapi, kenyataan ini terucapkan dari mulut Huma sendiri, siapa yang berani tidak percaya.

"Engkoh Bing,"

Ujar Pit Yau ang pilu.

"Lalu bagaimana dengan jenazah ayahku?"

Suma Bing tidak menduga bakal mendapat pertanyaan ini, seketika ia terhenyak ditempatnya tanpa mampu menjawab. Tapi akhirnya tersimpul suatu akal dalam benaknya, sahutnya.

"Jenazahnya tenggelam didasar danau hari itu juga waktu dia datang kemari."

"Tenggelam didasar danau?"

Pit Yau ang mengeluh panjang terus berlutut dan menyembah kearah danau, pecahlah tangisnya ter-gerung2.

Tidak ketinggalan semua anak buah Perkampungan Bumi serempak juga berlutut dan menyembah kearah danau sebagai penghormatan terakhir kepada Te kun almarhum.

Sebagai Huma sudah tentu tidak bisa tidak Suma Bing harus menunjukkan teladan, terpaksa dia juga berlutut dan menyembah disamping Pit Yau ang.

Suasana seketika menjadi sunyi menyedihkan diliputi isak tangis berkabung yang merawan hati.

Tapi keadaan sebenarnya hanya Suma Bing seoranglah yang jelas mengetahui.

Agak lama kemudian baru Suma Bing bimbing Pit Yau ang bangkit berdiri dan membujuk supaya menghentikan tangisnya.

Semua berdiri dan mengheningkan cipta kearah Menara iblis yang berada ditengah danau sana.

Tiba2 Pit Yau ang membanting kaki, serunya geram.

"Engkoh Bing, menara itu harus kita hancurkan."

Tercekat hati Suma Bing, sahutnya gugup.

"Adik Ang, menurut hematku, kita sudahi saja sampai disini..."

"Kenapa?"

"Air danau hitam ini mengandung racun yang sangat jahat, bagi siapa yang terkena pasti segera mati. Aku sudah menebus hutang darah Te kun, kalau ada pula tindakan apa2, sedikitnya harus mengorbankan tenaga dan mungkin malah jiwa!"

"Sejak semula kenapa tidak kau runtuhkan saja menara itu?"

"Itu tak mungkin terjadi!"

"Kenapa tak mungkin?"

"Menara itu dibangun dengan lapisan papan2 besi baja, mana gampang untuk merusaknya!"

"Lantas kita mandah saja terima nasib ini?"

"Adik Ang, Menara Iblis sudah mengorbankan apa yang harus dia korbankan. Pasti Te kun dapat meram dialam baka."

Namun kecintaan Pit Yau ang terhadap ayahnya sangat dalam, sekian lama dia masih meributkan ini itu serta bertangisan sekian lamanya pula.

Sehingga membuat Suma Bing jengkel tapi juga tak tega.

Namun bagaimana juga dia tidak bakal berani membangkang akan perintah Te kun itu, untuk mengatakan duduk perkara sebenarnya.

Coh hu Si Kong teng, Yu pit Ciu Ing tiong berbareng maju menghadap sambil membungkuk tubuh.

"Hamba berdua minta sedikit petunjuk?"

"Silahkan katakan!"

Kata Coh hu hormat.

"Perkampungan kita tidak bisa tanpa pimpinan, harap Huma segera kembali kedalam kampung untuk menduduki jabatan Te kun ini?"

Suma Bing tertegun, sahutnya.

"Te kun baru saja wafat, urusan ini harus dirundingkan lagi seratus hari kemudian. Apalagi urusan pribadiku dikalangan Kangouw masih belum selesai. Sekali aku menduduki jabatanku, nama dan kedudukanku akan membuat penghambat belaka. Bagaimana menurut pendapat kalian berdua?"

Lalu dia berpaling kearah Pit Yau ang dan katanya pula.

"Adik Ang, kau jelas mengetahui keadaanku yang serba sulit ini. Semua urusan dikampung sementara biarlah kau yang urus dan pimpin maukah?"

Sesaat Pit Yau ang ragu2, akhirnya manggut2 setuju. Sekilas Coh hu dan Yu pit saling berpandangan, lalu membungkuk dan berseru lagi.

"Menurut perintah Huma!"

Terus mengundurkan diri. Suma Bing menghela napas lega, ujarnya.

"Adik Ang, perintahkan segera kembali!"

"Lalu kau bagaimana?"

"Kuharap kau dapat memaafkan aku. Segera aku harus kembali ke Tionggoan untuk menuntut balas kepada musuh2ku!"

"Kau tidak mengiring..."

Bicara setengah terus ditelan kembali. Suma Bing tertawa ringan, bujuknya.

"Adik Ang, hari2 yang akan datang masih panjang."

Mata Pit Yau ang merah dan berlinang air mata, katanya.

"Baiklah, engkoh Bing, jagalah dirimu baik2!"

"Aku pasti dapat, kau juga hati2 dan jagalah kesehatanmu!"

Sekian lama dipandangnya Pit Yau ang lekat2, diam2 benak Suma Bing mengeluh, sungguh dia tidak berani membayangkan masa depannya, janjinya terhadap Racun diracun merupakan ketentuan dari nasibnya kelak.

Demi dendam dan demi kesejahteraan kaum persilatan dia harus membunuh Racun diracun.

Dan untuk menebus budi kebaikan Racun diracun yang berulangkali menolong jiwanya, hanya dengan kematianlah dapat melunasi hutang budinya ini.

Demikianlah dengan rasa pilu dan masgul dia ambil berpisah dengan istri keduanya Pit Yau ang terus beranjak cepat menuju ke Tionggoan.

Dendam kesumat dan kebencian sudah semakin deras berderap dalam aliran darahnya.

Tujuannya yang pertama kali ini adalah menangkap hidup2 Loh Cu gi dan menumpas habis seluruh Bwe hwa hwe dengan banjir darah.

Dua jam kemudian dia sudah menempuh perjalanan sejauh dua ratusan li.

Tengah berlari kencang itulah, mendadak dilihatnya tiga orang Tosu tengah berdiri jajar dibawah sebuah pohon besar dipinggir jalan.

Saking heran dan ingin tahu, segera Suma Bing menghentikan langkahnya.

Ketiga Tosu ini masing2 mengenakan seragam jubah panjang berwarna abu2 kehitaman.

Suma Bing melengak.

Dari jubah seragam yang aneh ini dia tahu bahwa ketiga Tosu ini adalah anak murid Bu tong pay yang sangat kenamaan dengan ilmu pedangnya yaitu Bu tong sam siu.

Bu tong sam siu tidak bergerak juga tidak membuka suara, mereka berdiri tegak bagai tiga buah patung hidup.

Suma Bing semakin heran dan besar hasratnya ingin tahu.

Entah untuk keperluan apa Bu tong sam siu ini datang keperbatasan yang belukar ini?

Tapi mereka sedemikian angkuh tanpa menyapa sekedarnya, buat apa pula dirinya mencari penyakit.

Setelah dipikir2, kakinya diangkat hendak tinggal pergi...

Mendadak dilihatnya jubah didepan dada Bu tong sam siu itu bersemu merah darah!

Keruan hatinya terperanjat, sebat sekali tubuhnya berkelebat tiba dihadapan Bu tong sam siu.

Waktu ditegasi merindinglah tubuhnya.

Kiranya ketiganya sudah menjadi mayat dan kaku tanpa roboh.

Bu tong sam siu mati bersamaan dipinggir jalan, ini betul2 sangat mengejutkan dan susah dipahami.

Dilihat dari noda darah yang masih merembes keluar, agaknya kematian mereka terjadi belum lama ini.

Setelah diteliti sekian lamanya tanpa terasa tercetus seruan kaget dari mulutnya.

"Rasul penembus dada!"

Ternyata dada ketiga Tosu dari Bu tong pay ini masing2 berlobang karena tusukan cundrik. Cara2 pembunuhan Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ semacam ini, selain perbuatan Rasul penembus dada tiada keduanya lagi.

Betapa tenar dan kenamaan Bu tong sam siu ini, kenapa bisa mati ditangan Rasul penembus dada.

Perkumpulan macam apakah Jeng siong hwe sebenarnya?

Apa tujuannya menyebar maut dengan pembunuhan sadis yang menakutkan itu?

Tokoh macam apakah Ketua mereka?

Waktu pertamakali dirinya bertemu dengan Rasul penembus dada, orang pernah menyangka bahwa dirinya adalah sekomplotan dengan Loh Cu gi.

Maka, naga2nya bahwa Loh Cu gi, juga pasti adalah salah satu sasaran yang harus dibunuh pula oleh pihak Jeng siong hwe.

Kalau sampai Loh Cu gi diketahui oleh Rasul penembus dada sebagai sesepuh atau pemegang peranan belakang layar Bwe hwa hwe.

Bukankah jerih payah sekian lama ini bakal menjadi sia2 belaka?

IBU SUMA BING ADALAH KETUA JENG SIONG HWE Berpikir sampai disini, semakin besar hasratnya untuk segera meluruk kemarkas besar Bwe hwa hwe, supaya sakit hatinya dapat segera terbalas.

Namun ber-turut2 lain pikiran segera merangsang juga dalam benaknya.

Itulah persoalan tentang barisan pohon2 bunga Bwe itu.

Barisan inilah merupakan perintang utama sebagai penghambat untuk terlaksananya cita2nya untuk menuntut balas.

Kalau tidak dapat memecahkan barisan pohon2 bunga Bwe ini, bagaimana juga dirinya tidak bakal dapat memasuki markas besar musuh.

Alis tebalnya berkerut semakin dalam.

Pada saat itulah, se-konyong2 terdengar sebuah suara memanggil.

"Suma Bing, selamat bertemu."

Terperanjat Suma Bing, dimana pandangannya menyapu, dilihatnya sebuah bayangan putih melayang tiba bagai bayangan setan tahu2 sudah tiba dihadapannya.

Pendatang ini tak lain tak bukan adalah Rasul penembus dada.

Agaknya setelah membunuh Bu tong sam siu Rasul penembus dada masih belum pergi jauh.

Sinar mata Suma Bing berkilat menyapu lawan, katanya dingin.

"Bu tong sam siu ini adalah kau yang membunuh?"

"Tidak salah!"

"Untuk kejahatan apa mereka harus dibunuh?"

"Sudah tentu ada alasannya untuk dibunuh!"

"Alasan apa? Coba katakan!"

"Ini tidak menyangkut urusanmu!"

"Kalau aku mau mengurus?"

"Kau tidak akan mampu mengurus!"

Berkobar marah Suma Bing, dengusnya berat.

"Aku tidak percaya tidak dapat mengurus."

Rasul penembus dada menyeringai dingin.

"Suma Bing, keselamatanmu sendiri susah diramalkan, masih berani banyak tingkah dan membela orang yang sudah mati?"

Suma Bing maju dua langkah, tantangnya.

"Dalam dua gebrak kalau kau masih tetap hidup, untuk selanjutnya biarlah aku tidak bernama Suma Bing."

Tanpa sadar Rasul penembus dada mundur selangkah lebar, desisnya.

"Mungkin kau tiada kesempatan turun tangan!"

"Hm, biar kau rasakan..."

"Nanti dulu!"

"Masih hendak kentut apalagi kau?"

"Suma Bing bicaralah sopan sedikit!"

Panas rasa wajah Suma Bing, baru sekarang disadari bahwa musuhnya ini adalah seorang perempuan, memang ucapannya tadi terlalu kasar. Maka tanyanya mendesak.

"Ada omongan apalagi, lekas katakan?"

"Ketua kami ingin bertemu dengan kau!"

Suma Bing melengak, tanyanya menegasi.

"Ingin ketemu aku?"

"Tidak salah!"

"Untuk apa?"

"Kau takut?"

Semprot Suma Bing dengan sombongnya.

"Selamanya aku tidak kenal apa artinya takut!"

Rasul penembus dada keluarkan suara tawa ringan, jengeknya.

"Tuan terlalu besar mulut!"

"Apa kau tidak terima?"

Dengus Suma Bing.

"Setelah bertemu dengan ketua kita, baru kau akan kenal apa yang dinamakan takut!"

Suma Bing berludah menghina.

"Sekarang mari kau ikut aku!"

"Baik, tunjukkan jalan!"

Suma Bing mengintil dibelakang Rasul penembus dada, sepanjang jalan mereka berlari secepat terbang.

Tidak lama kemudian tibalah mereka di-tengah2 sebuah selat sempit dimana tersebar batu2 runcing bagai hutan batu.

Tiba2 Rasul penembus dada menghentikan langkah sembari berkata.

"Sudah sampai!"

Suma Bing menyapu pandang keempat penjuru, tanyanya.

"Disinikah markas besar Jeng siong hwe kalian?"

"Jangan banyak cerewet, nanti sebentar kau akan tahu!"

Pada waktu itulah tiba2 muncul seorang gadis serba putih yang membekal sebilah pedang merah darah, serta serunya nyaring.

"Suci sudah kembali!"

"Dimana suhu berada?"

"Berada didalam kamarnya!"

"Segera laporkan kepada Suhu, bahwa Suma Bing sudah tiba!"

"O!"

Gadis itu mengunjuk rasa kejut dan mengerling kearah Suma Bing, sekejap saja bayangannya sudah menghilang dibalik batu. Tiba2 berkatalah Rasul penembus dada.

"Suma Bing, konon kabarnya dalam dua gebrak kau dapat mengalahkan Hui Kong Taysu yang dipandang sebagai Hudco oleh Siau lim si. Apakah hal ini benar?"

Suma Bing membatin, kabar yang tersiar dikalangan Kangouw sedemikian cepat, tak tahunya kabar ini sudah sampai di perbatasan yang sepi dan belukar ini. Otak berpikir mulutnya menyahut pelan.

"Benar, memang begitulah halnya!"

"Kepandaian yang kau lancarkan pasti bukan asli dari pelajaran Lam sia."

"Ini... memangnya kenapa?"

"Kau ketiban rejeki?"

"Rasanya aku tidak perlu jawab."

Gadis serba putih itu muncul kembali, katanya.

"Suci, menurut perintah Suhu, harus langsung dibawa ke Hiat tham(panggung berdarah)."

Berdetak jantung Suma Bing.

Panggung darah, suatu nama yang menusuk telinga.

Berulangkali dirinya bermusuhan dengan Jeng siong hwe, entah cara bagaimana mereka hendak menghadapi dirinya nanti...

Belum hilang pikirannya, tampak Rasul penembus dada sudah bertindak seraya ajaknya.

"Mari ikut aku."

Batin Suma Bing, mengandal apa yang telah dipelajarinya, masa perlu takut2 lagi.

Maka dengan tenang dan angkernya dia mengikuti dibelakang orang.

Batu2 runcing itu sedemikian banyak bagaikan hutan, setelah selulup timbul dan belak belok kekanan kiri, se-akan2 mereka tengah berada didalam suatu barisan yang menyesatkan saja.

Tak lama kemudian mendadak pemandangan didepannya berubah.

Didepannya sekarang muncul sebuah panggung batu putih setinggi lima tombak.

Didepan panggung batu ini terdapat sebuah papan batu yang dipasang melintang diatas papan batu ini bertuliskan dua huruf besar warna merah darah Hiat tham.

Dibelakang papan batu bertuliskan Panggung darah ini adalah undakan batu yang menjurus keatas sampai puncak panggung.

Melihat suasana dan keadaan ini, tanpa terasa Suma Bing menyedot hawa dingin.

Kira2 setombak terpaut dari panggung batu itu Rasul penembus dada menghentikan langkahnya.

Segera terlihat dua baris wanita serba putih pelan2 keluar dari dua samping panggung darah terus berbaris rapi di kedua samping, mereka berdiri tegak dengan hikmad.

Terlihat sebuah bayangan bergerak diatas panggung, lantas terdengar dua kali suara 'Tang, tang!' suara lonceng dari atas panggung ini sangat nyaring, menambah seram suasana yang mencekam sanubari ini.

"Silahkan naik panggung!"

Rasul penembus dada menyilahkan.

Sedikit bimbang lantas Suma Bing beranjak diatas undakan dengan mengangkat dada.

Rasul penembus dada mengikuti dibelakangnya.

Begitu tiba diatas panggung, langsung ia berhadapan dengan sebuah kursi batu.

Kursi batu ini sudah berubah warna dan berlepotan noda2 hitam, sekali pandang dapatlah diketahui itulah bekas2 noda2 darah yang bertumpuk sampai sekian lamanya.

Ditengah panggung terletak sebuah meja batu panjang, dibelakang meja ini duduk diatas kursi kebesaran seorang mengenakan cadar serta pakaian serba putih.

Sebelas Rasul penembus dada lainnya mengelilingi dibelakangnya.

Setelah membungkuk dan memberi hormat kepada orang ditengah yang mengenakan cadar itu lantas Rasul penembus dada mengundurkan diri bergabung dengan sebelas teman lainnya tanpa bersuara.

Dengan angkuh serta membusung dada Suma Bing menghadapi orang serba putih ditengah itu.

Sorot mata si orang serba putih ini bagai tajam pedang menatap tajam kewajah Suma Bing tanpa berkesip.

Dari sinar matanya yang ber-kilat2 ini dapatlah diukur bahwa orang serba putih ini Lwekangnya sudah mencapai taraf yang sangat mengejutkan.

Tidak tertahan lagi, Suma Bing membuka suara lebih dulu.

"Tuankah ketua Jeng siong hwe?"

"Tidak salah!"

Suaranya dingin dan melengking menusuk telinga, ini menandakan bahwa ketua Jeng siong hwe ini ternyata adalah perempuan juga.

Sungguh tidak nyana bahwa sebuah perkumpulan rahasia seperti Jeng siong hwe yang menggetarkan seluruh dunia persilatan ternyata diketuai oleh seorang perempuan.

"Ada petunjuk apakah tuan mengundang cayhe kemari?"

Dengan nada suara yang menyedot semangat orang berkatalah ketua Jeng siong hwe.

"Suma Bing, apa betul kau murid Lam sia?"

"Tak usah disangsikan lagi!"

Sahut Suma Bing sambil mengacungkan cincin iblis yang dipakai dijari manisnya.

"Apa hubunganmu dengan Loh Cu gi?"

Mengungkit nama Loh Cu gi membuat darah Suma Bing mendidih dengusnya dengan penuh kebencian.

"Untuk apa tuan Ketua menanyakan hal ini?"

"Sudah tentu ada keperluanku!"

"Kalau dikatakan kita terhitung sebagai kakak adik seperguruan!"

Berkelebat sorot kebuasan dimata ketua Jeng siong hwe yang secepat itu pula terus menghilang, tanyanya menegasi.

"Kalian adalah kakak adik seperguruan?"

"Tidak salah!"

"Dimana sekarang Loh Cu gi berada?"

"Untuk apa tuan Ketua ingin mengetahui jejaknya?"

"Kenapa kau tidak perlu tahu. Jawab saja pertanyaan yang kuajukan!"

Nada perkataannya seakan tengah mengompres pesakitan. Keruan timbul watak sombong Suma Bing.

"Tuan ketua sedang mengompres keteranganku?"

"Boleh dikata demikian!"

"Ingat cayhe bukan menjadi pesakitan disini?"

"Suma Bing, sekarang kau sudah termasuk pesakitanku tahu!"

Saking gusar Suma Bing malah tertawa, serunya.

"Kau seorang ketua, obrolanmu..."

"Tutup mulut! Suma Bing. Meskipun kau seorang Huma dari Perkampungan bumi, itu tidak menjadi soal, biar aku bicara terus terang padamu, namamu sudah tercatat dalam daftar kami."

"Hahahaha..."

"Kau mau bicara tidak?"

Setelah mengakak kegilaan, berserulah Suma Bing.

"Tidak!"

"Ringkus dia!"

Tiba2 ketua Jeng siong hwe membentak memberi perintahnya. Dua orang serba putih mengiakan terus melesat kearah Suma Bing.

"Cari mati!"

Suma Bing menggertak keras.

Namun baru saja badannya bergerak tiba2 terasa kakinya kencang, beberapa borgolan tahu2 sudah membelenggu seluruh kakinya dalam sekejap mata.

Alat rahasia semacam ini sungguh praktis dan lihay sekali membuat orang susah berjaga2 sebelumnya.

Bagai harimau masuk perangkap, Suma Bing menggembor keras sambil meronta sekuat2nya namun sedikitpun kakinya tidak dapat digerakkan lagi, maka dapatlah dimengerti bahwa alat2 rahasia semacam ini memang khusus dibuat secara istimewa.

Dalam pada itu, kedua orang serba putih itu sudah mendesak tiba dihadapan Suma Bing terus ulur tangan menutuk...

Meskipun kedua kakinya terbelenggu tanpa dapat bergeming, namun kedua tangannya masih bebas bergerak, menyongsong kedatangan kedua musuh ini langsung dia lancarkan pukulan Kiu yang sin kang.

Dalam kemampuannya saat itu apalagi tengah dirangsang gusar, betapa dahsyat kekuatan pukulannya ini susahlah diukur.

Terdengar jeritan panjang yang menyayatkan hati, kedua orang serba putih itu kontan terbang jauh melayang jatuh kebawah panggung.

Ketua Jeng siong hwe menggeram gusar, tangannya menggablok diatas kursinya, tempat dimana Suma Bing berdiri mendadak merekah kontan tubuhnya terus membrosot turun sampai sebatas pinggang baru berhenti, dan secepat itu pula batu yang merekah tadi sudah merangkap lagi sehingga separuh tubuhnya terjepit.

Dengan keadaan seperti ini hilanglah kemampuannya untuk melawan.

Mata Suma Bing mendelik hampir melotot keluar, desisnya sambil mengertak gigi.

"Jikalau aku Suma Bing tidak sampai mati. Anjing dan ayam diseluruh Jeng siong hwe sini tidak akan ketinggalan hidup."

Ketua Jeng siong hwe juga tidak mau kalah wibawa, jengeknya sinis.

"Tapi sayang kau sudah pasti mati."

"Perbuatan rendah seperti kalian ini termasuk..."

"Menghadapi binatang semacam kau ini, apa perlu mempersoalkan kejujuran dan kebajikan?"

Darah hampir menyemprot dari mulut Suma Bing, sekuat tenaga dia telan kembali, semprotnya.

"Keganasan Jeng siong hwe kalian, bukankah lebih kejam dan buas dari binatang alas..."

"Tutup mulut, cundrik tajam kami selamanya belum pernah membunuh manusia tanpa dosa!"

"Bohong!"

"Suma Bing, katakan dimana jejak Loh Cu gi, nanti kami beri pengampunan kepadamu."

"Tidak sudi!"

"Kau akan sudi!"

Lantas terdengar suara mencicit dari samberan angin tutukan jari tangan yang melesat kearah Suma Bing.

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing, terasa hawa murni dalam tubuhnya mulai lumer dan meluber, darah mengalir terbalik, seketika terasa kesakitan luar biasa dalam tubuhnya se-akan2 dirambati ribuan semut, se-olah2 pula dibeset hidup2, siksaan ini benar2 sangat berat dan menderita.

Memang inilah cara kompres yang paling kejam dan berat didunia ini.

Meskipun tubuh terbuat dari tulang besi dan otot kawat juga akhirnya tidak kuat bertahan.

Saking kesakitan gigi Suma Bing hampir copot dari gusinya sehingga berdarah, keringat dingin berceceran, sekuat tenaga ia bertahan, mengeluhpun tidak.

"Suma Bing, mau katakan tidak?"

"Ti... dak."

"Akan kulihat sampai kapan kau kuat bertahan?"

"Ku... bunuh..."

Akhirnya ia jatuh pingsan. Waktu jalan darah Thian in hiat bergetar, ia siuman kembali, rasa nyeri yang menyusup sampai ketulang sumsum datang bergelombang menyiksa dirinya.

"Suma Bing, katakan nanti kuberi keringanan!"

"Tidak... bisa!"

Ia jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

Tidak lama kemudian dia siuman lagi, lama kelamaan tubuhnya semakin terasa linu dan semakin membeku, otot diatas jidatnya sudah merongkol keluar segede kacang hijau.

Sikap ketua Jeng siong hwe tetap sinis dan dingin.

"Suma Bing, katakan?"

"Tidak..."

"Kalau kau tidak mau katakan, baiklah aku tidak memaksa lagi. Asal Loh Cu gi masih hidup, akan datang suatu hari dapat kutemukan. Sekarang kau adalah sesajen pertama dipanggung berdarah ini setelah penggantian majikan disini!"

Ucapannya ini terdengar sedemikian menggiriskan membuat orang mengkirik. Ternyata Suma Bing akan dijadikan korban persembahan atau sesajen diatas panggung berdarah itu.

"Siapkan sembahyangan!"

Begitu perintah ketua Jeng siong hwe ini dikeluarkan, suasana menjadi semakin tegang dan menyesakkan napas.

Sepuluh orang berpakaian serba putih ber-sama2 bekerja mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.

Arwah Suma Bing serasa copot dari raganya, naga2nya memang sudah nasibnya hari ini tiba ajalnya ditangan ketua Jeng siong hwe.

Kedua orang seragam putih itu menyeret tubuh Suma Bing terus dibaringkan diatas meja batu panjang yang terletak ditengah panggung itu.

Kaki tangannya dipentang keempat penjuru dan diborgol dengan kuat.

Begitu sebuah tombol ditekan mendadak meja panjang itu bergerak dan menegak menghadap ketengah dimana Ketua Jeng siong hwe tengah duduk dengan angkernya.

Dengan membekal cundrik yang berkilau2an dan diangkat tinggi diatas kepalanya.

Rasul penembus dada berdiri tegak dihadapan Suma Bing, sikapnya mengancam.

Para seragam putih lainnya berpencar dan berdiri tegak diempat penjuru.

Setelah terkena tutukan angin jari yang aneh dan ketua Jeng siong hwe itu.

Suma Bing merasakan hawa murninya semakin terkuras keluar, maka ilmu saktinya sukar dikerahkan untuk melindungi badan, sedikitpun tak kuasa lagi melawan atau berontak, terpaksa mandah saja menerima entah nasib apa yang bakal menimpa dirinya.

Saking putus asa matanya dipejamkan.

Saat mana hanya malaikat elmaut saja yang selalu terbayang dan melingkupi sanubarinya, hatinya terasa kosong melompong.

Dengan tenang tanpa bergerak dinantikannya cundrik musuh yang berkilauan itu menembusi ulu hatinya.

Sampai mati dia juga tidak akan mengerti mengapa namanya bisa termasuk dalam daftar buku hitam musuh.

Satu hal yang dimengerti alasannya hanyalah karena dirinya seperguruan dengan Loh Cu gi.

Sedang Loh Cu gi adalah sasaran terpenting bagi Jeng siong hwe, sehingga dirinya kena tersangkut dan terseret dalam pengalaman yang menggetirkan ini...

Terdengar suara ketua Jeng siong hwe dingin menusuk telinga.

"Jalankan hukuman!" 'Bret!' kontan Suma Bing merasa dadanya silir dingin, kiranya baju didepan dadanya sudah tersobek seluruhnya.

"Tahan dulu!"

Tiba2 ketua Jeng siong hwe berseru kejut, suaranya panik dan tergetar penuh kejut serta keheranan. Mata Suma Bing ber-kilat2 menatap kearah ketua Jeng siong hwe. Kata ketua Jeng siong hwe gemetar.

"Suma Bing, siapakah ayah ibumu?"

Suma Bing menyangka bahwa dirinya sudah pasti bakal mati, sungguh tak terduga mendadak ketua Jeng siong hwe berobah haluan dan menghentikan pelaksanaan hukuman, menanyakan asal-usul dirinya lagi.

Kejadian ini sungguh sangat janggal dan mencurigakan.

Meski berada diambang jurang kematian namun dasar wataknya memang angkuh dan keras kepala, maka sahutnya dingin.

"Apa maksudmu ini?"

"Kutanya riwayat hidupmu."

"Riwayat hidup? Agaknya tidak perlu kuberitahu kepadamu?"

"Suma Bing, jalur bekas luka diulu hatimu itu...?"

Sejenak Suma Bing melengak lantas melonjak keraslah jantungnya.

Darimana dia tahu tentang bekas luka tusukan diulu hatinya ini, apa mungkin...

Tubuhnya gemetar!

Terbayang tragedi seperti apa yang pernah diceritakan oleh si maling bintang Si Ban cwan dulu itu.

Tubuh ketua Jeng siong hwe gemetar semakin keras, tanyanya lagi.

"Suma Bing, katakan, bekas luka diulu hatimu itu?"

"Kau... Siapakah kau?"

Tanya Suma Bing.

"Aku yang bertanya kepadamu!"

"Aku yang rendah Suma Bing!"

"Aku sudah tahu. Apa benar kau she Suma?"

"Kau sangka aku membual?"

"Siapa ayahmu?"

Suma Bing mengertak gigi sahutnya.

"Su hay yu hiap Suma Hong!"

Mendadak ketua Jeng siong hwe melonjak bangun sekali berkelebat tahu2 tubuhnya sudah melesat tiba dihadapan Suma Bing, tanyanya gemetar.

"Siapa katamu?"

"Suma Hong!"

"Tidak salah?"

"Malu aku meng-aku2 orang lain sebagai bapakku!"

Ketua Jeng siong hwe tersurut dua langkah lebar, gumamnya.

"Tidak mungkin! Betulkah dia? Dia... sudah terang tak dapat tertolong lagi... oh tidak mungkin..."

Tanpa terasa jantung Suma Bing berdebur keras, dari perkataan orang, agaknya telah menemukan apa2.

Apa mungkin orang dihadapannya ini adalah...

Sungguh dia tidak berani membayangkan bahwa apa yang tengah dihadapinya ini adalah kenyataan.

Maka dengan nada menyelidik ia bertanya.

"Apa tuan ketua kenal dengan ayahku Suma Hong?"

"Bukan saja kenal. Aku adalah..."

"Adalah apa?"

"Apa kau benar2 putra Suma Hong?"

"Sedikitpun tidak salah."

"Tapi Suma Hong sudah meninggal dunia pada limabelas tahun yang lalu..."

"Benar, ayahku mati karena dikeroyok sekian banyak sampah2 persilatan!"

"Kau benar adalah..."

"Waktu itu cayhe terluka berat dan hampir mati, karena tidak tega melihat putranya hidup menderita maka ibunda menusuk ulu hatiku dengan sebuah cundrik. Malah tubuhku akhirnya ditendang masuk jurang oleh musuh besar yang laknat itu. Memang Tuhan Maha Kuasa beruntung aku tertolong..."

Tubuh ketua Jeng siong hwe hampir roboh, tanyanya tersendat gemetar.

"Darimana kau ketahui riwayatmu ini?"

"Tatkala peristiwa tragis itu terjadi, kebetulan ada seorang yang mengintip!"

"O, jadi kau sudah jelas dan mengetahui semua peristiwa itu?"

"Ya, menurut cerita orang itu!"

Tiba2 ketua Jeng siong hwe ulapkan tangannya memerintahkan semua anak buahnya menyingkir.

Sambil membungkuk hormat serta mengiakan semua orang2 seragam putih itu serentak turun dari atas panggung berdarah itu terus menghilang dibalik tikungan sana.

Suma Bing tak berani memikirkan akan kenyataan yang tengah dihadapinya ini.

Semua kejadian yang datang secara mendadak dan aneh ini sungguh terasakan seumpama dialam mimpi saja.

Sampai saat mana dia sudah dapat menerka siapakah orang dihadapannya ini, tinggal menunggu waktu dan pernyataan saja.

Pelan2 ketua Jeng siong hwe menanggalkan cadar yang menutupi mukanya, terlihat sebuah wajah yang halus putih dan cantik rupawan dibasahi airmata.

Katanya sesenggukan.

"Nak, kau tahu siapa aku ini?"

"Ibu!"

Keluh Suma Bing dengan sedihnya.

Airmata membanjir keluar dengan derasnya.

Sungguh mimpi juga dia tidak nyana bahwa ketua Jeng siong hwe ini ternyata adalah ibundanya, yaitu San hoa li Ong Fang lan yang dirindukan siang dan malam.

Sejak dapat berpikir dalam ingatannya tiada terbayang bentuk wajah ibundanya.

Namun dari bentuk wajah dan raganya Ong Fong jui dapat diperkirakan keadaan ibunya.

Dan ternyata bahwa perkiraannya tidak berbeda jauh dengan keadaan ibundanya yang sebenarnya.

Sambil berkeluh panjang San hoa li Ong Fang lan menubruk maju terus mencopoti borgol yang mengekang Suma Bing terus memeluknya kencang sambil menangis gerung2.

"Nak, apakah ini bukan dalam mimpi?"

"Bu, bukan mimpi, inilah kenyataan! Sudah lama sekali aku mencari kau orang tua!"

"Nak, beritahukan pengalamanmu sekian tahun ini?"

Sambil mencucurkan airmata, Suma Bing menceritakan keadaan dalam jurang dibawah puncak kepala harimau itu, secara kebetulan dirinya tertolong oleh gurunya Sia sin Kho Jiang, sampai pertemuan mereka ibu dan anak ini.

Bercerita pada saat2 yang menyedihkan, ibu dan anak tanpa terasa saling berpelukan sambil menangis tanpa tertahan.

Setelah ceritanya habis, baru Suma Bing menyinggung tentang permusuhannya dengan Bwe hwa hwe...

Begitu mendengar anaknya menyinggung Loh Cu gi itu musuh bebuyutan, berobah airmuka ketua Jeng siong hwe geramnya sambil mengertak gigi.

"Jadi Loh Cu gilah yang menjadi sesepuh dan tulang punggung dari Bwe hwa hwe?"

Suma Bing mengiakan.

"Aku bersumpah harus mencacah dan menghancur leburkan tubuhnya."

"Bu, urusan ini biarlah berikan kepadaku saja. Bukan saja Loh Cu gi itu adalah musuh besar keluarga kita, dia juga seorang murid murtad yang mendurhakai guru. Menurut pesan suhu aku harus mencuci bersih nama baik perguruan dan menuntut balas sakit hatinya. Maka biarlah kedua urusan ini kulaksanakan bersama."

"Nak, memang Tuhan yang Maha Kuasa selalu memberkahi umatnya yang saleh, sungguh tidak nyana secara aneh kau dapat tetap hidup. Malah ketiban rejeki besar dan dapat mempelajari ilmu digdaya yang tiada taranya lagi. Memang benar, hutang darah ini seharusnya kaulah yang menagih. Dialam baka tentu ayahmu dapat istirahat dengan tentram dan meram! Hanya aku ini..."

"Kau kenapa bu?"

Ketua Jeng siong hwe tertawa getir, sahutnya.

"Nak, tiada muka aku bertemu lagi dengan orang dikolong langit ini, lebih2 malu rasanya berjumpa dengan ayahmu dialam baka..."

Berkata sampai disitu suara tawanya berganti menjadi sesenggukkan.

Sudah tentu Suma Bing maklum akan maksud perkataan ibunya.

Siapa dapat menduga Loh Cu gi si binatang buas berkedok manusia itu dapat memerankan tragedi yang dapat menyayatkan hati dalam dunia fana ini.

Maka katanya dengan suara sember.

"Bu, sebabnya sampai kau mengeluarkan pengorbanan sedemikian besar adalah untuk anak. Aku percaya pasti ayah tahu dan memaklumi keadaanmu yang terdesak itu..."

"Nak, dulu itu memang salah ibumu!"

"Tidak, bu, kau tidak salah kau terdesak oleh keadaan. Kalau kau berkata demikian maka tiada tempat lagi bagi anakmu ini berpijak."

"Sudah nak, tak perlu kita perbincangkan persoalan itu lagi. Ibumu masih tetap hidup sampai sekarang setelah ternoda, hanyalah karena aku hendak menuntut balas..."

"Bagaimana ibu sampai bisa menjadi ketua Jeng siong hwe ini?"

"Apakah kau pernah dengar julukan Ceng gi ci sin?"

Suma Bing tertegun, katanya.

"Malaikat keadilan? Tokoh kenamaan yang ditakuti dan dipandang sebagai malaikat dunia persilatan oleh aliran hitam dan putih pada enampuluh tahun yang lalu itu?"

"Benar, dia orang tualah yang menjadi ketua Panggung berdarah ini!"

"Ketua Panggung berdarah?"

"Tujuan dia orang tua membangun Panggung berdarah ini adalah untuk menghukum para durjana dan penjahat2 besar di kalangan Kangouw yang memang setimpal menerima hukumannya, dengan darah para hukuman itulah panggung ini dibangun. Supaya dunia bisa aman tentram tanpa kejahatan..."

"Limabelas tahun yang lalu, secara kebetulan ibumu menemukan buku catatannya yang tertinggal, dimana tertera pelajaran ilmu silat. Maka kuangkat diriku sebagai murid ahliwarisnya..."

"Lalu asal-mula nama Jeng siong hwe ini..."

Wajah San hoa li Ong Fang lan mendadak berobah penuh kebencian, katanya sambil kertak gigi.

"Nak, nama Jeng siong hwe hanyalah suatu simbol yang kenyataan saja!"

"Simbol yang kenyataan?"

"Ya, tujuannya hanyalah untuk menuntut balas!"

"Kenapa harus menggunakan nama itu untuk menuntut balas?"

"Nak, pedang pendek yang menusuk ulu hatimu dulu, adalah cundrik yang selalu menembusi dada musuh2 besar itu. Untuk memperingati kematianmu karena kebencian yang ber-limpah2, aku bersumpah menggunakan cundrik ini untuk menembusi dada setiap musuh besar kita itu!"

Air mata meleleh dengan derasnya, baru sekarang Suma Bing paham, jebul apa yang dinamakan sebagai daftar catatan itu kiranya adalah daftar nama2 para musuh besar keluarganya.

Jadi para tokoh2 silat yang sudah mati tertembus ulu hatinya oleh cundrik Rasul penembus dada itu ternyata adalah musuh2 besar yang sudah terdaftar dalam buku itu.

"Nak, mari kita bicara didalam saja!"

Suma Bing mengusap air matanya sambil manggut2.

Saat mana sifat2 gagah dan kegarangannya sudah lenyap terbawa angin.

Dihadapan ibunya seperti orok kecil saja ia mandah dituntun jalan.

Setelah turun dari panggung berdarah, tibalah mereka disebuah lorong yang belak belok dan tak lama kemudian tibalah dalam sebuah rumah kuno yang dibangun dengan batu.

Empat orang perempuan seragam putih segera muncul dari balik pintu sebelah sana terus berdiri jajar dengan hormatnya.

Menunjuk kearah Suma Bing berkatalah San hoa li Ong Fang lan.

"Inilah tuan muda!"

Serentak keempat perempuan seragam hitam itu membungkuk hormat sambil memanggil.

"Tuan muda!"

Suma Bing manggut2, entah sengaja atau tidak sorot matanya menyapu satu diantaranya.

Gadis itu bukan lain adalah Rasul penembus dada yang pernah dibuka kedoknya oleh Suma Bing.

San hoa li Ong Fang lan tertawa tawar, katanya.

"Nak, kukira kalian sudah berkenalan dia adalah pemimpin dari dua belas rasul itu, bernama Ih Yan chiu!"

Ih Yan chiu pimpinan Rasul penembus dada menunduk kepala dengan malu2.

Siapa akan menduga seorang gadis ayu rupawan yang lemah lembut ini jebul adalah Rasul penembus dada yang ditakuti dan disegani oleh kaum persilatan.

"Kalian boleh mundur."

Kata San hoa li kepada keempat rasul.

"Pindahkan meja perjamuan keruangan dalam, Yan chiu antarkan tuan muda pergi mandi dan salin pakaian."

Ih Yan chiu mengiakan lalu mempersilahkan Suma Bing ikut kebelakang.

Sebetulnya Suma Bing segan dan tak mau dilayani oleh Ih Yan chiu ini, tapi rasanya tak enak menolak kebaikan ibunya, maka terpaksa dia ikut pergi.

Puluhan batang lilin besar dipasang dalam ruang tengah yang besar dan angker dengan perabotnya yang serba antik itu.

Dimana di tengah2 ruangan itu sudah tersedia meja perjamuan dengan segala masakan yang lezat2.

Tampak San hoa li sedang duduk berhadapan dengan Suma Bing, mereka sedang makan minum.

Disamping berdiri Ih Yan chiu yang melayani.

Mungkin karena terlalu berduka atau karena terlalu gembira sehingga ibu beranak ini kehilangan selera untuk menelan makanan yang serba mewah itu.

"Nak, ini seperti dalam alam mimpi saja..."

"Benar, bu, sebuah impian yang kenyataan!"

"Nak, hari ini ibumu merasa sangat puas. Bukan saja kau sudah dewasa malah sudah berumah tangga lagi. Malah sudah melaksanakan impian ayahmu dulu yaitu mempelajari ilmu yang tertera didalam Pedang darah dan Bunga iblis..."

"Bu sejak kini lebih baik nama Jeng siong hwe ini kita hapus saja!"

"Kenapa?"

"Sejak saat ini menuntut balas sudah merupakan tugas yang harus dibebankan kepadaku!"

"Baik, nak!"

Sahut San hoa li, lalu berpaling kearah Ih Yan chiu dan katanya.

"Ambilkan cundrik itu kemari!"

Ih Yan chiu mengiakan sambil membungkuk hormat terus mengundurkan diri.

Tak lama kemudian dibekalnya sebuah pedang pendek kecil yang berkilauan, dengan kedua tangannya dia letakkan diatas meja, masih ada se

Jilid buku kecil yang tipis juga dikeluarkan. San hoa li Ong Fan lan mengambil cundrik itu, matanya berlinang air mata, katanya.

"Nak, cundrik ini kuserahkan kepadamu. Ingat, selain para musuh besar, kularang kau membunuh orang tanpa berdosa!"

Ter-sipu2 Suma Bing bangkit terus berlutut, dengan kedua tangannya dia menerima cundrik itu serta ujarnya gemetar.

"Anak akan selalu ingat peringatan ibu!"

"Kau bangunlah!"

"Terima kasih ibu!"

"Buku kecil ini adalah daftar catatan. Nama2 yang tertera didalam buku ini adalah para durjana yang ikut mengeroyok ayahmu dulu. Diantaranya yang sudah tercoret dengan potlot merah sudah menjadi mayat!" 48. BU KHEK PAY DIAMBANG KEHANCURAN "Anak pasti akan melanjutkan tugas penuntutan balas ini!"

"Nanti sebentar biar kuturunkan ilmu ciptaanku cara2 menggunakan cundrik ini!"

Suma Bing manggut2 dengan girang.

"Ibumu mendoakan supaya kau sukses dalam tugasmu!"

"Bu dikala tugas penuntutan balas ini sudah selesai semua, pasti anak akan selalu mendampingi kau orang tua..."

Sampai setengah ucapannya segera ditelan kembali selarik arus dingin menjalar keseluruh tubuhnya sehingga hatinya dingin membeku.

Teringat olehnya janjinya kepada Racun diracun.

Namun agaknya ibunya tidak memperhatikan mimik wajahnya yang berubah ini.

Katanya tertawa getir.

"Nak, segala ucapan semacam itu terlalu pagi untuk dikatakan, kau adalah majikan dari Perkampungan bumi, sedang ibumu adalah ahli waris dari aliran Panggung berdarah ini, dan juga, ai..."

Agaknya masih banyak kata2 yang hendak diucapkan, namun tidak kuasa dicurahkan keluar.

Lahirnya Suma Bing bersikap tenang dan wajar, tapi hakikatnya jantungnya tengah berdebar dan hatinya mengeluh, sungguh dia tidak berani membayangkan masa depan...

Sepasang ibu beranak yang masih ketinggalan hidup setelah mengalami berbagai kesengsaraan duniawi, masing2 menyimpan isi hati yang tak boleh diketahui orang luar.

Suasana gembira akan pertemuan yang meriangkan hati ini, tenggelam dalam titik kesedihan yang membekukan hati.

Tapi, masing2 berusaha untuk menahan ketenangan dalam lahir.

Kalau San hoa li selalu ingat dan menahan malu dan hinaan untuk hidup dan menuntut balas bagi kematian suaminya.

Adegan dimana dirinya ternoda seumpama seekor ular berbisa yang senantiasa menggerogoti hatinya.

Dalam diluar dugaan setelah bersua kembali dengan anaknya malah semangatnya melempem.

Dia merasa dengan tubuh yang sudah ternoda ini rasanya malu untuk bertemu dengan suaminya dialam baka.

Lebih malu lagi bertemu dengan putranya, inilah cacat kesedihannya.

Meskipun sebagai majikan atau pimpinan dari Panggung berdarah.

Namun kedudukan ini takkan dapat membuka belenggu yang menekan hatinya.

Demikian juga keadaan Suma Bing dalam rangsangan berbagai bayangan yang kontras.

Satu pihak dia harus menunjukkan wibawa sebagai seorang gagah yang menjunjung tinggi keadilan dan dapat membedakan antara budi dan dendam, melaksanakan dan menepati janjinya terhadap Racun diracun, dipihak lain dia juga harus berbakti kepada orang tua, sebagai anak yang kenal kebajikan.

Sebaliknya sebagai kaum persilatan, dalam sesuatu keadaan yang memaksa, dia rela dan lebih baik tidak berbakti daripada badan hancur dan nama berantakan dikalangan Kangouw.

Ganjalan hati inilah yang tidak kuasa diutarakan, betapa pedih dan susah hatinya kiranya tidak kalah dalamnya seperti keadaan ibundanya.

Tiga hari kemudian dengan berlinang airmata Suma Bing ambil berpisah dengan ibunya dan mulai lagi kelana dikalangan Kangouw.

Nama2 para musuh2 besar yang tercatat dalam buku daftar itu sudah hapal diluar kepala.

Loh Cu gi adalah nama yang tercatat nomor satu.

Rintangan terbesar yang menghalangi usahanya adalah barisan pohon bunga Bwe yang mengelilingi markas besar Bwe hwa hwe itu, jikalau tidak dapat memecahkan barisan itu atau paham inti letak rahasia barisan itu susah baginya untuk mencari musuh besarnya itu.

Benaknya tengah berpikir, siapakah kiranya dalam dunia ini yang paham dan pintar ilmu mengenai barisan yang aneh itu?

Begitulah berpikir sambil berjalan, tiba2 dilihatnya dikejauhan sana terlihat sebuah bangunan benteng yang mengelilingi sebuah perkampungan.

Diatas benteng itu terpancang tiga huruf besar warna emas yang berbunyi.

'Bu khek po'.

"Bu khek po!"

Gumam Suma Bing, seketika timbul darah panas menjalar keseluruh tubuhnya.

Bu khek po adalah tempat berdirinya aliran Bu khek bun.

Bu khek siang lo dua tokoh kenamaan dari aliran ini sangat tenar dan disegani dikalangan Kangouw.

Bukankah Bu khek siang lo ini tercatat sebagai nomor enam dan tujuh dalam buku daftar ibunya.

Serta merta Suma Bing mengelus2 cundrik yang digembol dipinggangnya, ujung bibirnya mengulum senyum dingin, dengan langkah lebar dia mendatangi pintu gerbang benteng perkampungan itu.

Pintu besar yang terbuat dari besi baja ini tertutup rapat.

Setelah tiba diambang pintu berserulah Suma Bing lantang.

"Adakah orang didalam?"

Beruntun dua kali dia menggembor tanpa penyahutan.

Keruan Suma Bing merasa sangat heran, betapa besar dan kenamaan tempat dan aliran dari berdirinya golongan Bu khek po ini, mengapa seorang penjaga pintu saja tiada terlihat, ini benar2 suatu kejanggalan yang mengherankan.

Setelah menanti sekian lama tanpa adanya reaksi apa2, akhirnya dia maju dan mengetuk pintu dengan kerasnya.

Tak kira begitu terdorong oleh ketukannya pintu besar itu terbuka sendirinya.

Ternyata pintu ini hanya ditutup begitu saja tanpa dikunci.

Waktu Suma Bing beranjak masuk dan dimana pandangannya menyapu, tanpa terasa tercekat hatinya.

Didalam pintu sebelah sana tampak dua orang seragam hitam rebah dalam genangan darah yang sudah hampir membeku, agaknya kematian mereka ini terjadi belum lama berselang.

Kejadian ini sungguh aneh, siapakah yang berani main bunuh di Bu khek po ini?

Alisnya berkerut semakin dalam, akhirnya dengan kesebatan luar biasa tubuhnya melesat masuk kedalam pintu sana.

"Siapa itu?"

Terdengar bentakan saling susul, tahu2 empat orang Laki2 yang membekal pedang sudah berjajar menghadang dijalan masuk.

Mendengar tegoran ini Suma Bing menghentikan langkah begitu melihat keempat orang penghadangnya, semakin geram hatinya timbul sifat buas dalam benaknya.

Keempat orang ini mengenakan seragam yang didepan dadanya, tersulam bunga bwe warna putih, ini merupakan pertanda siapakah mereka adanya.

Salah satu yang berdiri ditengah mengayun2 pedang dan membentak kasar.

"Bocah keparat siapa kau sebutkan namamu?"

Tanpa menyahut Suma Bing maju dua tindak, rona wajahnya penuh diselubungi hawa membunuh yang tebal. Tiba2 satu diantara keempat erang itu berseru gemetar.

"Kau, kau ini Suma Bing?"

Mendengar nama Suma Bing, pucat ketakutanlah ketiga kawannya itu bagai melihat hantu disiang hari bolong.

Tanpa terasa mereka menyurut mundur.

Sebagai Huma dari Perkampungan bumi dalam dua gebrakan mengalahkan Hui Kong Taysu yang dipandang sebagai padri teragung bagi Siau lim si berita ini sudah tersebar luas dikalangan Kangouw, boleh dikata tua muda besar kecil semua sudah dengar dan tahu tentang peristiwa besar itu.

Apalagi empat kaum keroco Bwe hwa hwe ini betapa mereka tidak ketakutan serasa arwah sudah meninggalkan badan.

Jadi sudah terang kalau pihak Bwe hwa hwelah yang meluruk dan merupakan duri bencana bagi pihak Bu khek po.

Ini betul2 diluar prasangka Suma Bing.

Setelah saling berpandangan, mendadak keempat orang itu terus memutar tubuh dan lari terbirit2 bagai dikejar hantu.

"Jangan bergerak!"

Suara bentakan ini seolah2 mempunyai wibawa besar se-akan2 kaki mereka tumbuh akar sehingga terpaku ditempat masing2.

Suma Bing sudah mengayun tangan tinggal mengerahkan tenaga memukul mampus keempat laki2 didepannya ini, namun tiba2 tergeraklah hatinya, pikirnya lebih baik jangan membuat gaduh dan mengejutkan orang lain, dilihat dulu bagaimana keadaan didalam perkampungan sana.

Karena pikirannya ini, tangan yang sudah terangkat itu ditarik kembali, begitu melejit enteng sekali bagai burung walet tubuhnya terbang lewat diatas kepala keempat orang laki2 itu.

Dikala bayangan Suma Bing menghilang dibalik barisan para2 puluhan tombak didepan sana, baru terdengar suara 'blak, bluk' keempat laki2 itu roboh terkapar dan melayang jiwanya tanpa mengeluarkan suara.

Lingkungan benteng perkampungan Bu khek po ini ternyata sekian luasnya.

Ratusan tombak kemudian baru terlihat bangunan rumah2, sepanjang perjalanan mayat bergelimpangan di-mana2, diantaranya ada anak murid dari perbentengan dan ada juga anak buah Bwe hwa hwe.

Menyusuri sebuah jalanan batu hijau yang diapit pohon2 siong dan pek, terbentanglah sebuah lapangan yang luas disebelah depan sana.

Dipinggir lapangan sudah tertumpuk tujuh mayat, dan terlihat pula dua kelompok manusia tengah berhadapan.

Kelompok pertama dari pihak Bu khek bun, jumlahnya tidak kurang empat limapuluhan orang.

Sedang kelompok kedua dari Bwe hwa hwe, jumlahnya lebih kecil tidak lebih dari duapuluh orang.

Saat mana seorang tua berjubah merah bersulam sekuntum bunga Bwe tengah berdebat seru menghadapi seorang lelaki pertengahan umur yang berpakaian perlente...

Dari cara berpakaiannya itu dapatlah diketahui bahwa orang tua jubah merah itu adalah salah satu dari pelindung Bwe hwa hwe.

Sedang laki2 perlente itu pasti pejabat Ciangbunjin yang sekarang dari Bu khek bun yaitu Bu khek chiu Tio Ling wa adanya.

Terdengar orang tua jubah merah tengah ter-gelak2, serta serunya.

"Ciangbunjin, ucapanku sudah habis, sebenarnya bagaimana pendapatmu?"

Wajah Bu khek chiu Tio Ling wa mengunjuk rasa gusar, semprotnya.

"Sebagai pejabat Ciangbunjin, kepalaku boleh putus, darahku boleh mengalir, aku tak sudi menjadi pengkhianat dari perguruanku!"

"Hm, Ciangbunjin, berpikirlah secara jantan?"

"Persoalan sudah terang dan tak perlu diperdebatkan lagi!"

"Jadi kau rela melihat Bu khek po terjadi banjir darah?"

"Selamanya aku tidak takut diancam!"

"Aku menerima tugas kalau tujuan belum terlaksana, akan..."

"Akan apa?"

"Bu khek po harus dicuci bersih dengan darah kalian"

Ancaman serius ini membuat semua anak murid Bu khek bun berobah airmukanya, malah yang berdarah panas sudah menggeram gusar dan hendak melabrak musuh2 tak diundang pembuat bencana ini.

Bu khek Ciangbunjin Bu khek chiu Tio Ling wa sendiri juga sampai mundur selangkah, geramnya mengertak gigi.

"Perbuatan kalian dari Bwe hwa hwe ini, akan menambah kebencian masyarakat seumpama Tuhan juga tidak akan memberi ampun terhadap kedholiman kalian ini. Hari saat2 runtuhnya Bwe hwa hwe sudah diambang pintu. Perguruan kita rela hancur lebur sebagai batu giok yang suci murni daripada pecah berantakan sebagai genteng yang tak berharga."

Orang tua jubah merah ganda mendengus ejek, jengeknya.

"Ciangbunjin, nasib Bwe hwa hwe kelak, kau tak perlu banyak urus. Sebaliknya saat2 runtuhnya perguruan kalian sudah tiba didepan mata!"

Pada saat itulah sekonyong2 seorang laki2 seragam hitam bergegas memasuki gelanggang terus memberi lapor dengan muka ketakutan.

"Lapor kepada Hu hoat, semua penjaga gelap yang kita tanam diempat penjuru mengalami bencana..."

"Apa?"

Tanya si orang tua jubah merah dengan kejut.

"Semua penjaga gelap yang kita sebar disepanjang jalanan telah musnah sama sekali. Semua mati karena tertutuk jalan darah kematian mereka oleh tutukan jari dengan tenaga Lwekeh yang hebat sekali. Siapakah orang yang turun tangan belum diketahui jejaknya."

Semua hadirin tergetar dan terperanjat akan perobahan luar biasa yang terjadi mendadak ini.

Bagi pihak Bu khek po, mereka heran dan terkejut.

Bagi Bwe hwa hwe selain kejut juga merasa gentar dan mulai dirundung ketakutan.

Siapa dan termasuk tokoh macam apakah orang yang turun tangan itu?

Tidak kurang empat puluh orang anak buah Bwe hwa we yang disebar secara gelap diempat penjuru, kini tanpa bersuara, semua sudah menggeletak menjadi mayat, ini benar2 sangat mengejutkan dan susah dapat dipercaya.

Mata si orang tua jubah merah menyorotkan sorot gusar dan buas, katanya dengan nada berat.

"Chi dan Tan dua Tongcu dengar perintah!"

Dua orang berseragam abu2 melesat keluar serunya berbareng.

"Tecu disini?"

"Silahkan kalian berdua pergi memeriksa!"

"Terima perintah!"

Sebat sekali mereka sudah berlari pergi meninggalkan gelanggang.

"Ciangbunjin, kuberi peringatan yang terakhir. Harap segera serahkan Hui jui san (kipas pualam hijau), kalau tidak segera kukeluarkan perintah untuk menghancurkan seluruh Bu khek po ini!"

"Tidak bisa!"

Teriak Bu khek chiu Tio Ling wa dengan sengitnya.

Mendadak dua jeritan yang melolong tinggi menusuk pendengaran jauh2 terdengar dengan jelas sekali.

Kontan berobah airmuka semua anak buah Bwe hwa hwe.

Kenyataan ini sudah jelas bahwa Chi dan Tan kedua Tongcu itu pasti sudah menemui ajalnya mengikuti para penjaga gelap yang disebar dimana2 itu.

Mata si orang tua jubah merah melotot besar bagai dua kelereng yang hampir mencotot keluar.

Otot dijidatnya juga merongkol keluar.

Sesaat dia mati kutu tak tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya.

Sementara itu pihak Bu khek po termasuk Bu hek chiu sendiri mengunjuk rasa heran tak mengerti, entah siapakah yang telah membantu secara menggelap ini?

Terdengar kesiur angin yang keras dua bayangan orang bagai burung raksasa melayang jatuh ketengah gelanggang.

Kontan berjingkrak girang dan gegap gempitalah sorak sorai pihak Bu khek po.

Kedua bayangan itu kiranya adalah dua orang tua yang sudah beruban dan berjenggot panjang sebatas dada.

Seketika berseru giranglah Bu khek chiu Tio Ling wa, sapanya sambil unjuk hormat.

"Para Susiok baik2 saja selama ini!"

"Ciangbunjin juga baik!"

Sahut kedua orang tua berbareng.

Lalu mereka berputar menghadap kelompok pihak Bwe hwa hwe, empat sorot mata yang ber-kilat2 menatap tajam kearah lawan tanpa berkesip.

Si orang tua jubah merah acuh tak acuh membuka suara.

"Kiranya Bu khek siang lo."

Bu khek siang lo mendengus gusar, semprotnya dengan nada yang menyedot semangat.

"Kam Peng cun, sungguh tak duga kau sekarang telah menjadi pelindung dari Bwe hwa hwe, pantas kau berani main lagak dan menyebar maut ke-mana2 malah turun tangan keji terhadap anak murid kami. Hehehe, orang she Kam, kau hendak berbuat apa terhadap perguruan kami?"

Sahut Kam Peng cun dengan kalem tanpa berobah air mukanya.

"Terlebih dahulu perlu aku bertanya, para penjaga gelap sebanyak empat puluh orang dengan kedua Tongcu kami, apakah kalian berdua yang membunuh mereka?"

Siang lo sama2 melengak, sahut salah seorang.

"Lohu berdua baru saja tiba!"

"Benar bukan kalian yang turun tangan?"

Kam Peng cun menegasi.

"Bukan, sebaliknya para murid dari Bu khek bun yang melayang jiwanya itu, hutang darah ini kau orang she Kam..."

"Ingat catatlah dalam perhitungan dengan Bwe hwa hwe!"

"Orang she Kam, kau sangka Bwe hwa hwe lantas bisa menutupi matahari dengan sebelah tangan?"

"Cayhe tidak perlu banyak debat!"

"Lalu apa maksudmu?"

"Aku menerima tugas untuk minta pinjam Kipas pualam hijau dari perguruan kalian."

"Hahahahahaha!"

Bu khek siang lo perdengarkan gelak tawa yang serak memekakkan telinga. Kam Peng cun Hu hoat jubah merah menggereng gusar, makinya.

"Ada apa kalian tertawa?"

Setelah menghentikan tawanya, berobah kereng wajah Siang lo, bentaknya.

"Kipas pualam hijau adalah benda pusaka pelindung perguruan kita, kecuali perguruan kita sudah musnah dari muka bumi ini, kalau tidak..."

"Kalau tidak dipinjamkan kepada kita kipas pualam hijau itu,"

Demikian Kam Peng cun menukas dan menyambung.

"Bukan saja nama kalian harus tersapu dari dunia persilatan, malah Bu khek po ini juga harus menjadi tumpukan puing!"

Saking marah Bu khek siang lo berjingkrak2, wajahnya berobah hijau dan seluruh tubuh gemetaran.

Malah seorang yang agak muda berdarah panas tanpa kuasa menahan gelora hatinya lagi terus merangsang maju sambil menyerang kearah si jubah merah Kam Peng cun betapa hebat dan keji serangan ini benar2 hebat luar biasa.

Kam Peng cun menepuk kedua tangan terus mendorong maju menyongsong serangan lawan.

Begitu tangan kedua belah pihak saling bentur, terdengarlah suara 'plak, plok' tiga kali.

Kontan salah satu Siang lo itu tergetar mundur dua tindak.

Ini menunjukkan bahwa Lwekang Kam Peng cun masih berada diatas Siang lo.

Sebagai tokoh tertinggi dari perguruannya, ternyata Siang lo bukan menjadi tandingan seorang Hu hoat seperti Kam Peng cun saja, maka dapatlah dibayangkan akibat dari pertempuran besar2an yang akan datang ini.

Semua anak murid Bu khek bun termasuk Ciangbunjin sendiri berobah pucat dan kecut hatinya.

Dalam pada itu, kalau lahirnya saja Kam Peng cun bersikap tenang dan acuh tak acuh, namun hatinya risau dan jantungnya berdebur keras.

Orang yang turun tangan secara gelap itu merupakan ancaman terbesar bagi kedudukannya.

Berpuluh jagoan kelas tinggi semua mampus tanpa karuan paran, malah sampai orang yang memberi aba2 juga tidak ada.

Maka dapatlah diukur betapa tinggi ilmu silat orang yang turun tangan itu, sungguh ngeri dan menakutkan.

Tak terpikirkan olehnya siapakah orangnya yang berani terang2an main propokasi terhadap Bwe hwa hwe, malah sudah turun tangan secara keji pula?

Setelah di-pikir2, segera ia berpaling dan perintahnya kepada seorang seragam hitam.

"Ban hiangcu, lepaskan tanda bantuan!"

Orang yang diperintah mengiakan, selarik sinar merah melesat tinggi ketengah angkasa terus meledak keras dan berhamburanlah bunga2 api yang berbentuk seperti bunga Bwe besar.

Bu khek chiu Tio Ling wa, juga segera angkat sebelah tangan, berpuluh anak muridnya segera berpencar kedua samping siap siaga sambil menyoreng senjata.

Sekilas Bu khek siang lo berpaling kearah Ciangbunjin mereka, lalu keduanya maju bersama menerjang kearah musuh.

Pelindung jubah merah Kam Peng cun membentak keras memberi aba2 untuk mulai melabrak musuh.

Sedang dia sendiri mendahului memapak kedatangan Bu khek siang lo.

Puluhan anak buahnya juga tidak mau ketinggalan terus merangsak maju dan menyerbu musuh mati2an.

Dimana2 terdengar suara bentakan diiringi suara jerit kesakitan yang riuh rendah.

Terjadilah pertempuran serabutan yang besar, jiwa manusia seumpama rumput dibabat habis2an, mayat mulai bergelimpangan.

Para jagoan Bwe hwa hwe yang diikut sertakan dalam penyerbuan adalah para Hiangcu keatas, mereka adalah tokoh2 silat pilihan yang berkepandaian tinggi, setiap turun tangan tanpa sungkan2 lagi, maka dalam sekejap itu dapatlah dibedakan pihak mana lebih kuat dan asor.

Meskipun para murid Bu khek bun bertempur membekal rasa gusar yang me-luap2 serta bertempur dengan gigihnya, apa mau kepandaian sendiri lebih rendah dari musuh bagaimana besar tekad dan semangatnyapun toh satu persatu kena dirobohkan.

Terlebih lihay dan hebat adalah pertempuran antara Kam Peng cun melawan Bu khek siang lo.

Sedang seorang tua jubah merah sebagai pejabat pelindung lainnya melawan Tio Ling wa.

Hanya dalam beberapa gebrak saja Bu khek chiu sudah terdesak hebat dibawah angin, setindak demi setindak terus mundur, setiap saat menghadapi bahaya.

Jerit menyayatkan hati terus saling susul terdengar menusuk telinga.

Gemboran pertempuran dan denting senjata beradu telah memenuhi seluruh perbentengan Bu khek po.

Tidak sampai setengah jam, pihak Bu khek bun sudah jatuh korban hampir separonya.

Sungguh menggiriskan pembunuhan besar2an ini.

Se-konyong2 terdengar jeritan tertahan, tampak Ciangbunjin Bu khek chiu Tio Ling wa menyemprotkan darah segar, tubuhnya juga limbung hampir roboh.

Salah seorang dari Bu khek siang lo bergegas meninggalkan Kam Peng cun terus menubruk tiba merintangi didepan Bu khek chiu sembari menyambuti serangan pelindung jubah merah lainnya ini.

Tinggal Siang lo yang seorang itu menghadapi Kam Peng cun, hanya dalam tiga gebrak saja dirinya sudah terdesak pontang panting tanpa mampu balas menyerang lagi.

Sampai saat itu kenyataan membuktikan bahwa Bu khek bun terang susah terhindar dari keruntuhan total.

Dalam saat2 yang menentukan itulah, sekonyong2 terdengar sebuah hardikan keras yang lantang.

"Semua berhenti!"

Suara ini tidak begitu besar tapi dapat menutupi semua keributan yang bergelombang rendah itu, sehingga semua orang yang tengah bertempur merasa tergetar hatinya, kuping juga serasa ditusuk jarum.

Tanpa terasa kedua belah pihak menghentikan pertempuran ini...

Sebuah bayangan seenteng kapuk melayang tiba memasuki gelanggang.

Pendatang ini adalah seorang pemuda yang cakap ganteng seumpama Arjuna hidup kembali.

Tapi diantara kerut alisnya itu terkandung hawa membunuh yang tebal.

Wajah tua pelindung jubah merah itu seketika pucat pasi, gumamnya gemetar.

"Sia sin kedua Suma Bing!"

Kedatangan Suma Bing ini seumpama malaikat elmaut bagi pihak Bwe hwa hwe, keruan ciut dan gentar nyali mereka.

Sebaliknya pihak Bu khek po merasa takjup, heran dan kejut sampai terlongong.

Meskipun diberi julukan sebagai Sia sin kedua, tapi ketenaran dan kepandaian Suma Bing sekarang, rasanya lebih tinggi dan lebih agung dari gurunya yang sudah wafat yaitu Lam sia Kho Jiang.

Kehadiran Suma Bing diluar sangka ini benar2 mengejutkan dan diluar dugaan kedua belah pihak.

Tanpa diterangkan lagi sudah jelas, bahwa para penjaga gelap yang ditanam dimana2 oleh Bwe hwa hwe itu pastilah telah dibabat habis oleh Suma Bing.

Memang hanya Suma Bing saja yang mampu melakukan pekerjaan besar yang berat itu.

Serta merta para anak buah Bwe hwa hwe menggeremet dan saling mepet.

Wajah Suma Bing membeku bagai es kedua matanya mencorong berkilat bagai bintang kejora dimalam hari, menyinarkan cahaya dingin yang menyilaukan mata.

Setelah menyapu pandang kearah Bu khek siang lo, terus berpaling menghadapi semua jagoan Bwe hwa hwe.

Kam Peng cun si pelindung jubah merah sebagai pemimpin dalam penyerbuan ini.

Tak dapat tidak dia harus menghadapi kenyataan yang serius ini, terpaksa mengeraskan kepala dia tampil kedepan.

"Apakah tuan ini Sia sin kedua?"

Suma Bing menggereng dingin sebagai jawaban.

"Apa maksud tuan datang kemari?"

"Membunuh orang!"

Dua patah kata yang gampang diucapkan ini keluar dari mulut Suma Bing, betapa besar wibawanya seumpama lonceng kematian bagi anak buah Bwe hwa hwe, bayangan kematian melingkupi sanubari setiap hadirin.

Pelindung jubah merah Kam Peng cun menyedot hawa dingin dan mundur dua langkah, sudah tahu namun dia sengaja bertanya.

"Jadi kedatangan tuan khusus hendak membunuh?"

"Tidak salah!"

"Siapa yang hendak kau bunuh?"

"Semua orang yang mengenakan pertanda dari Bhe hwa hwe."

Keruan terasa terbang arwah semua anak buah Bwe hwa hwe, semua gemetar ketakutan.

Pelindung jubah merah Kam Peng cun celingukan kian kemari, pandangannya menyapu keempat penjuru.

Besar harapannya bala bantuan segera tiba, namun dia putus asa karena yang sangat diharapkan itu tidak kunjung datang juga.

Akhirnya dipandangnya Suma Bing, nadanya mulai lembek.

"Lohu beramai toh tiada permusuhan dengan tuan bukan?"

"Memang tidak! Sayang kalian mau menjadi anak buah Bwe hwa hwe!"

"Tapi tuan tidak bisa turun tangan keji terhadap setiap orang?"

Sikap Suma Bing tetap angkuh dan dingin, jengeknya.

"Justru aku harus bunuh kalian semua, seluruh penghuni Bwe hwa hwe termasuk ayam dan anjing tidak akan ketinggalan hidup!"

Hawa pembunuhan semakin tebal, suasana ini laksana sesaat sebelum datangnya hari kiamat, membuat semua orang susah bernapas dan gemetar!"

Jidat pelindung jubah merah Kam Peng cun berkeringat dingin, suaranya sember.

"Suma Bing, lalu tindakan apa yang hendak kau perbuat?"

Suma Bing maju beberapa langkah, sikapnya tetap dingin.

"Tak usah banyak mulut, kamu sekalian hendak bunuh diri atau..."

"Maju!"

Dibarengi dengan bentakan aba2 ini, Kam Peng cun mendahului menerjang maju, sekali ayun kepelan langsung ia mengepruk kebatok kepala Suma Bing.

Disusul para anak buahnya juga beramai2 menubruk maju merangsek dengan sengitnya, bayangan pukulan ber-lapis2 bagai bayangan gunung, angin berkesiur kencang seperti angin lesus seumpama taufan yang menyerang mendadak di gurun pasir.

Sambil mengertak gigi dan menggerung keras, jurus Bi cu hong bong dilancarkan.

Suara lolong dan pekik kesakitan memecah udara, dimana gelombang badai menerpa dan mengembang, tampak puluhan bayangan manusia melayang keempat penjuru sejauh puluhan tombak.

Sebagian yang lain juga ter-guling2 porak poranda sampai tiga tombak jauhnya.

Hanya sekali gebrak saja, duapuluhan tokoh2 silat lihay itu sudah bergelimpangan diatas tanah tanpa bergerak, kalau tidak melayang jiwanya juga pasti terluka berat.

Kepandaian semacam ini betul2 belum pernah terlihat dan sungguh menakjupkan.

Semua kerabat Bu khek po termasuk Bu khek siang lo semua terlongo heran dan melelet lidah.

Agaknya kepandaian pelindung jubah merah Kam Peng cun dan seorang kawannya berkepandaian lain dari yang lain, mereka terluka paling ringan dan masih dapat bergerak lincah, tanpa mengeluarkan suara lagi mereka berdua sama2 melejit keluar gelanggang hendak lari...

"Lari kemana kamu?"

Suma Bing menghardik keras sambil berkelebat mengejar, bagai bayangan yang mengikuti bentuk, tubuhnya melesat pesat sekali.

Jurus Bi cu hong bong lagi2 dilancarkan dari tengah udara menungkrup kearah kedua pelindung jubah merah itu.

Dua gulung bayangan merah terpental tinggi ketengah udara sambil perdengarkan jeritan yang menusuk hati.

Sedemikian hebat pukulan Suma Bing ini sehingga tubuh mereka melayang jauh masuk kedalam hutan diluar gelanggang sana.

Ditengah udara Suma Bing jumpalitan dan menginjak tanah ditempatnya semula.

Dengan pandangan tajam dipandangnya para anak buah Bwe hwa hwe yang terluka dan masih ketinggalan hidup.

Mayat dan darah bercecer menyadarkan sanubarinya yang baik dan bijaksana, nafsu dan rasa kebenciannya ber-angsur2 lenyap, akhirnya tangannya diulapkan serta berseru.

"Menggelinding pergi! Tapi jangan sekali2 kembali ke Bwe hwa hwe, kalau tidak nasib yang sama akan menimpa kalian lagi pada suatu hari kelak!"

Para jagoan Bwe hwa hwe yang masih ketinggalan hidup bagai lolos dari pintu elmaut, tanpa diperintah lagi segera mereka angkat kaki dan serabutan lari ter-birit2.

Sekian lama Suma Bing memandangi mayat2 yang bergelimpangan hasil karyanya itu, lalu per-lahan2 membalik tubuh...

Se-konyong2 terdengar kesiur angin yang membawa suara lambaian baju, tiga bayangan orang seenteng burung kepinis melayang tiba memasuki gelanggang!

"Tuan kejam benar perbuatanmu, keterlaluan kau memandang rendah pihak Bwe hwa hwe kita?"

Suma Bing membalik tubuh lagi.

Dihadapannya kini berdiri tiga orang pemuda seragam putih yang bersulam kembang Bwe besar, mereka memandang gusar kearah dirinya.

Timbul pula hawa amarah Suma Bing yang sudah hampir padam tadi, alisnya dikerutkan dalam, jengeknya.

"Kalian memburu tiba untuk mengantar kematian?"

Salah satu pemuda serba putih itu mencibir bibir dan melotot gusar, sanggahnya.

"Kita datang untuk mengantar keberangkatanmu!"

"Mengandal kalian tiga kurcaci ini rasanya kurang berharga!"

Gesit sekali ketiga pemuda itu menggeser kedudukan menjadi formasi segitiga mengelilingi Suma Bing.

Dilihat dari gerak tubuh mereka, agaknya Lwekang mereka masih berada diatas para pelindung jubah merah tadi, tidak heran mereka berani takabur membuka mulut besar.

Setelah saling berpandangan sebentar tanpa membuka suara lagi serentak mereka mengangkat tangan bersiap hendak menyerang.

Amarah Suma Bing semakin terangsang wajahnya semakin membesi dirundung nafsu kekejian, dia tahu dari gaya ketiga pemuda ini bahwa mereka tengah menghimpun kekuatan hendak melancarkan ilmu Kiu yang sinkang.

Kiu yang sinkang merupakan pelajaran tunggal dari Lam sia Kho Jiang.

Tapi sekarang terunjuk pada ketiga pemuda ini, betapa tidak membuat hatinya terbakar dan mendidih darahnya, desisnya sinis.

"Rupanya kalian bertiga menjadi murid Loh Cu gi?"

Berobah wajah ketiga pemuda itu.

"Kalau benar kau mau apa?"

Sanggah salah satu diantaranya. Suma Bing merogoh kedalam baju lalu pelan2 diacungkan keatas, tampak sebilah cundrik yang berkilauan sudah digenggam ditangannya.

"Cundrik penembus dada!"

Terdengar ketiga pemuda dan para kerabat dari Bu khek bun berseru kejut.

Sungguh tak terduga bahwa Sia sin kedua Suma Bing ternyata menyandang cundrik penembus dada yang sangat ditakuti oleh kalangan hitam dan putih.

Apakah mungkin Rasul penembus dada yang selama ini muncul dan malang melintang menyebar maut itu adalah duplikatnya Suma Bing?

Ketiga pemuda itu serentak menggertak keras masing2 luncurkan sebuah pukulannya.

Ternyata angin pukulan mereka mengandung sinar merah yang berkelebat bagai kilat.

Ini menandakan bahwa latihan Kiu yang sinkang ketiga pemuda ini sudah mencapai suatu taraf yang dapat dibanggakan.

Serta merta karena pikiran siaganya bekerja, ilmu Giok ci sinkang sudah terkerahkan melindungi seluruh tubuh Suma Bing.

Maka terdengarlah suara 'Blang, blung' tiga kali sedemikian keras suara dentuman pukulan ini sehingga menggetarkan seluruh gelanggang.

Suma Bing hanya menggeliat tubuh, sebaliknya ketiga pemuda itu masing2 mundur selangkah lebar.

Kontan pucat pasi ketiga pemuda itu, kegarangannya tadi seketika lenyap dan kuncuplah nyalinya, mimik wajah mereka dari beringas marah berganti menjadi tegang ketakutan.

-oo0dw0oo-

Jilid 13 49.

AJAL BU KHEK SIANG LO Sebetulnya ketiga pemuda itu percaya benar akan kekuatan gabungan pukulan mereka, bahwa dikolong langit ini takkan ada tokoh lihay siapapun yang kuat melawan keampuhan Kiu yang sinkang.

Tapi kenyataan bahwa Lwekang Suma Bing jauh diluar perkiraan mereka sendiri.

Mendadak bayangan Suma Bing berkelebat tubuhnya menubruk kearah salah satu pemuda itu, dimana terlihat sinar kilat berkelebat.

Kontan terdengar lolong panjang kesakitan yang menggetarkan sanubari seluruh hadirin.

'Blang', raga pemuda baju putih itu terbanting keras terkapar diatas tanah, darah menyembur bagai air ledeng dari dadanya.

Hampir dalam waktu yang bersamaan, dua jalur angin pukulan yang dahsyat menerjang tiba mengarah punggung Suma Bing.

Keruan Suma Bing terpental kedepan menubruk angin, namun secepat itu pula tubuhnya sudah memutar balik, dan hanya sekali berkelebat lagi2 tubuhnya sudah kembali ketempat asalnya tadi, sorot matanya dingin menggiriskan menatap kearah seorang pemuda baju putih yang lain.

Pucat pasi wajah kedua pemuda baju putih yang masih ketinggalan hidup ini, serta merta mereka saling mepet dan mundur setindak demi setindak.

Sungguh kecepatan gerak tubuh Suma Bing susah diikuti oleh pandangan mata, secepat tubuhnya bergerak secepat itu pula terdengar pekik kesakitan yang menyayatkan hati, pancuran darah membasahi bumi, lagi2 salah seorang dari kedua pemuda itu sudah ajal ditembusi dadanya.

Tiga diantara pemuda baju putih itu kini tinggal seorang yang masih ketinggalan hidup.

Keruan serasa terbang arwahnya, insaf kalau dirinya juga bakal tidak mungkin menyelamatkan diri, namun betapapun daya kekuatan untuk hidup masih merangsang benaknya sehingga dia harus meronta dan berontak dari kekangan elmaut kematian ini.

Setelah menghimpun seluruh kekuatannya, bukan lari malah dia menubruk kearah Suma Bing dengan nekad.

Terdengarlah suara 'blang, blung' yang keras dalam sekejap mata beruntun Suma Bing mandah digenjot dan dihantam sebanyak lima kali, tubuhnya hanya mundur tiga tindak.

Sebaliknya si pemuda merasakan kedua tangannya terasa hampir patah, sakitnya bukan buatan, ia berdiri termangu bagai patung.

Maka dengan mudah saja cundrik yang tajam berkilauan itu menusuk amblas kedalam dadanya malah terus menembus sampai kepunggungnya.

Sebuah jeritan panjang memecah kesunyian, darah menyembur keluar lagi tubuhnya terkapar tanpa bergerak lagi.

Suma Bing menyimpan kembali cundriknya, terus angkat langkah menghampiri kearah rombongan Bu khek bun.

Sejauh satu tombak baru ia berhenti melangkah.

Bagai tersadar dari lamunannya cepat2 Bu khek chiu Tio Leng wa tampil kedepan sambil angkat tangan serta, katanya.

"Saudara ini terimalah hormat serta pernyataan terima kasih kami!"

Tawar2 saja Suma Bing berkata.

"Ciangbunjin jangan banyak peradatan."

"Terima kasih banyak akan bantuan Siauhiap yang sangat berharga ini!"

"Ah, tidak perlu sungkan2!"

"Kalau tiada Siauhiap membantu tepat pada waktunya, susahlah dibayangkan akibatnya."

"Sudah cayhe katakan tidak perlu sungkan2, kubunuh semua kurcaci Bwe hwa hwe itu bukan lantaran hendak menalangi ancaman bahaya perguruan kalian."

Semua anak murid Bu khek bun mengunjuk rasa heran dan kaget. Segera Bu khek siang lo tampil kedepan sembari angkat tangan, ujarnya.

"Lohu kakak beradik mewakili sekalian anak murid kita menyampaikan banyak terima kasih!"

Suma Bing ganda mendengus ejek, sorot matanya yang mengandung kebencian menatap kearah kedua orang tua ini.

Keruan berobah airmuka Siang lo, tanpa sadar mereka mundur selangkah lebar saking gentar.

B u k h e k c h i u T i o L e n g w a m e r a s a k a n k e g a n j i l a n s u a s a n a y a n g m e n g u a t i r k a n i n i , c e p a t 2 i a m a j u s a m a t e n g a h d a n b e r k a t a s a m b i l m e m b e r i h o r m a t .

"S i a u h i a p s i l a h k a n i s t i r a h a t d i d a l a m s a m b i l m e n i k m a t i s e k e d a r m i n u m a n t e h !"

"Terima kasih akan kebaikanmu ini!"

"Siauhiap..."

"Ketahuilah bahwa kedatanganku ini mempunyai satu tujuan!"

"Harap tanya..."

"Kedatanganku diperguruan kalian ini untuk menagih perhitungan lama!"

"Perhitungan lama?"

"Tepat sekali!"

"Aku kurang paham apa yang Siauhiap maksudkan?"

Sorot pandangan Suma Bing melirik kearah Bu khek siang lo, katanya.

"Kurasa Siang lo kalian sudah paham apa yang kumaksudkan."

Memang Bu khek siang lo sudah menduga akan urusan apa, wajah tuanya kontan berubah pucat kebiru2an terus berubah pucat memutih, salah seorang tua itu tampil kedepan serta katanya penuh keharuan.

"Kau ini..."

Sepatah demi sepatah Suma Bing berkata.

"Keturunan Su hay yu hiap Suma Hong!"

"Oh!"

Siang lo berseru kejut berbareng dan mundur tiga langkah tubuhnya bergemetaran hebat sekali.

"Kalian berdua sudah paham?"

Desak Suma Bing menyeringai.

"Siauhiap". seru Bu khek chiu Tio Leng wa gugup.

"Kalau ada urusan baiklah dirundingkan per-lahan2!"

Suma Bing ulapkan tangan, katanya.

"Ciangbunjin, lebih baik kau tidak turut campur dalam urusan ini!"

Mulut Bu khek chiu Tio Leng wa bagai disumbat tanpa kuasa membuka mulut lagi.

Sedang anak muridnya semua melongo dan saling pandang, mereka tidak tahu peristiwa apakah yang pernah terjadi.

Setelah menghela napas panjang, Siang lo sama2 angkat sebelah tangan terus menghantam kebatok kepalanya sendiri.

Sigap sekali Suma Bing tudingkan jarinya, kontan dua jalur angin telunjuknya mencicit melesat kedepan.

Terdengar Sianglo mengeluh tertahan, tangan masing2 yang sudah terangkat tinggi itu kini tergantung lemas tanpa mampu bergerak lagi.

Tertua dari Sianglo mendelik gusar semprotnya.

"Suma Bing, apa2an maksudmu ini?"

Tanpa banyak cakap lagi, Suma Bing melolos keluar cundrik penembus dada.

"Suma Bing, bagimu membunuh orang segampang kau menganggukkan kepala. Memang dulu Lohu berdua pernah berbuat salah, tapi masa belum cukup kita menebus dengan kematian?"

Wajah Suma Bing membeku dingin, katanya.

"Semua orang yang turut mengeroyok dan menganiaya ayahku dulu tiada seorangpun yang boleh luput dari hukuman yang serupa."

"K a u t e r l a l u k e j a m ..."

"Kal i a n m e n y e s a l s e t e l a h t e r l a m b a t ? "

T e r s i p u 2 B u k h e k c h i u T i o L e n g w a m a j u s a m a t e n g a h , katanya gugup.

"Siauhiap..."

Tanpa berpaling Suma Bing ulapkan sebelah tangan, kontan Bu khek chiu terhuyung mundur. Bu khek sianglo menjerit dengan penuh kepedihan.

"Sebab dan akibat saling berbalasan, Suma Bing, silahkan kau turun tangan!"

Pada saat itulah tiba2 terdengar sebuah bentakan nyaring dari kejauhan sana.

"Suma Bing, berani benar kau!"

Suma Bing terperanjat, tanpa terasa tangannya diturunkan kembali, matanya berkilat memandang kearah datangnya suara.

Begitu melihat tegas, kontan tubuhnya merinding dan berdiri bulu kuduknya, matanya kesima mulutnya melongo.

Seorang gadis serba putih melayang datang seperti Dewi yang melayang tiba dari kahyangan.

Dia adalah Ting Hoan?

Tapi sebuah pikiran lain segera menghapus perasaannya dalam kenyataan ini.

Sebab Ting Hoan sudah meninggal setelah diperkosa oleh Racun diracun, malah dia sendiri yang turun tangan mengubur jenazahnya, orang yang sudah mati sudah tentu takkan hidup lagi.

Tapi kenyataan yang datang ini memang Ting Hoan adanya.

Dia meng-ucek2 mata, dan melihat lagi lebih tegas, memang tidak salah, Ting Hoan adanya.

Betapa besar rasa kejut hatinya susah diuraikan dengan kata2, tubuhnya limbung tiga langkah.

Apa mungkin Ting Hoan benar2 hidup kembali?

Kenyataan ini lantas menghancurkan segala pikiran.

Dalam pada itu, gadis serba putih itu sudah berdiri tegak diatas tanah, matanya menyapu keseluruh gelanggang, per-tama2 dipandangnya Bu khek sianglo penuh perhatian.

Lalu berpaling kearah Bu khek chiu Tio Leng wa serta panggilnya.

"Ayah!"

Bu khek chiu Tio Leng wa berjingkrak kegirangan serunya.

"Anak Siok, kau...sungguh tepat kedatanganmu..."

Percakapan ini membuktikan bahwa gadis serba putih ini bukan Ting Hoan adanya.

Ini benar2 sangat aneh dan ganjil, sungguh tak terduga dikolong langit ini ternyata ada dua orang yang mirip sedemikian rupa bagai pinang dibelah dua.

Gadis serba putih ini merengut gusar, jengeknya dingin.

"Suma Bing, apa yang hendak kau lakukan?"

"Siapa kau ini?"

"Nonamu ini Tio Keh siok, putri tunggal Bu khek Ciangbun, sudah jelas belum?"

"Kalau begitu, dengarlah biar jelas, kedatangan cayhe ini untuk menuntut balas."

"Menuntut balas?"

Suma Bing mengiakan.

"Siapa yang bermusuhan dengan kau?"

"Bu khek sianglo!"

"Susiokco!"

Seru Tio Keh siok lirih sambil memandang kearah Bu khek sianglo.

Rasa duka dan ketakutan Bu khek sianglo masih belum hilang, berbareng mereka manggut2.

Sekilas Tio Keh siok memandang kearah Sianglo penuh tanda tanya dan tak mengerti lalu berputar menghadapi Suma Bing, katanya.

"Kau menjadi anak buah dari Jeng siong hwe."

Suma Bing angkat cundrik ditangannya tinggi2, serunya lantang.

"Dalam dunia persilatan hakikatnya tiada kumpulan yang dinamakan Jeng siong hwe apa segala?"

"Lalu Rasul penembus dada yang muncul itu...?"

"Rasanya tidak perlu aku memberi penjelasan kepadamu."

"Suma Bing, susiokcoku berdua ada permusuhan apa dengan kau?"

Suma Bing menggigit gigi.

"Dendam setinggi langit sedalam lautan!"

Lagi2 Tio Keh siok melirik kearah Sianglo, dia mengharap pembuktian dari mulut Sianglo sendiri. Akhirnya salah satu Sianglo itu membuka mulut juga.

"Suma Bing, peristiwa dipuncak kepala harimau pada limabelas tahun yang lalu, antara hitam dan putih yang ikut serta dalam pengeroyokan tidak kurang dari ratusan orang jumlahnya. Tahukah kau siapakah sebenarnya yang turun tangan secara langsung kepada ayahmu Su hay yu hiap Suma Hong?"

Sorot mata Suma Bing memancarkan kebuasan, desisnya bengis.

"Ayahku terbunuh karena keroyokan kalian bangsa sampah persilatan!"

"Kau jangan menuduh se-mena2 tanpa bukti!"

"Tuan hadir tidak dalam peristiwa itu?"

"Ya, kami hadir tapi sebagai penonton saja!"

"Hm, pembual nomor satu. Tuan ikut turun tangan tidak?"

"Ini..."

"Jangan ini itu, hutang jiwa bayar jiwa, hutang darah bayar darah..."

Tio Keh siok maju beberapa langkah merintangi didepan Sianglo, jengeknya dingin.

"Suma Bing, cundrik ditanganmu itu entah sudah berlepotan darah berapa banyak tokoh2 silat, masa sebanyak itu masih kurang dapat menghimpas jiwa ayahmu seorang. Balas membalas tiada habisnya, kiranya sudah saatnya kau hentikan kekejaman yang mengalirkan banyak darah dan jiwa ini?"

"Sesudah tiba saatnya pasti akan berhenti, kalau para kurcaci yang tidak tahu malu dari sampah persilatan itu sudah tertumpas habis."

"Jadi tekadmu hendak membunuh habis mereka semua sampai ke akar2nya?"

"Bukan sampai ke akar2nya. Seorang anak harus membalaskan dendam ayahnya, ini sudah jamak dan adil bukan?"

"Tapi kurasa hari ini kau pasti akan kecewa!"

"Jadi nona hendak merintangi tindakanku?"

"Tidak salah!"

"Apakah kau mampu?"

"Mari kau coba2?"

Suma Bing berkata dengan nada berat.

"Nona Tio, perguruan Bu khek bun belum pernah melakukan kejahatan besar dalam Bulim, maka aku tidak mau melukai atau membunuh orang yang tidak berdosa..."

"Suma Bing lebih baik kau silahkan pergi saja!"

"Tidak mungkin!"

"Kalau begitu janganlah kau ber-pura2 welas asih dan berbuat bajik, kau sangka pasti dapat berhasil?"

Keras2 Suma Bing mendengus, ancamnya.

"Bagus sekali, aku Suma Bing tidak keberatan untuk menambah banyak pembunuhan!"

Sembari berkata tubuhnya mendadak bergerak memutar setengah lingkaran melewati tubuh Tio Keh siok terus menerjang kearah Sianglo, berkelebat sambil menyerang, sungguh kecepatan gerak tubuhnya ini bagai kilat menyambar.

"Berani kau!"

Terdengar sebuah bentakan nyaring diiringi gelombang angin pukulan menerjang kearah Suma Bing, kekuatannya bagai gugur gunung dan geledek menggetar.

Dentuman keras bagai bom meledak ini membuat tubuh Suma Bing terpental balik ketempat asalnya.

Sedang Tio Keh siok sendiri juga bersamaan terpental balik terkena daya tolakan luar biasa sehingga terhuyung beberapa langkah.

Kedua belah pihak sama kaget dan melengak akan kekuatan lawan masing-masing.

Diam2 tercekat hati Suma Bing, bahwa kepandaian lawan ternyata hebat luar biasa diluar perhitungannya.

Serangan tadi bukan olah2 dahsyat kekuatannya sungguh susah diukur.

Sedang Tio Keh siok sendiri juga tidak kalah kejutnya, ternyata hanya mengandal kesaktian tenaga pelindung badan musuh cukup membuat dirinya terpental balik tanpa terkendali.

Kalau bergebrak sungguh, bukankah lebih hebat menakutkan.

Tapi dalam keadaan dan situasi sekarang ini, tiada tempat baginya untuk mengundurkan diri, sebab bagaimana juga ia tidak tega melihat kedua Susiokconya tewas di ujung cundrik musuh.

Sebenarnya Bu khek sianglo bukan penjahat dari aliran hitam, justru karena temaha dan loba saja sehingga berbuat tindakan yang sesungguhnya sangat memalukan perguruan, menyesal juga sudah kasep.

Kini mereka termangu bagai patung di tempatnya.

Bu khek chiu Tio Leng hwa membanting kaki sembari meremas2 kedua tangannya dengan sedih.

Sebagai pejabat ketua dari satu aliran, dia tidak tahu kalau dalam perguruannya ada anggota tertua yang ikut dalam komplotan memperebutkan benda pusaka orang lain, ini merupakan suatu penghinaan dan pengrusakan nama baik perguruan.

Sudah tentu dia tidak kuasa untuk merintangi musuh untuk menuntut balas.

Tapi hakikatnya memang tak mungkin dan tak kuasa dirinya merintangi.

Sebaliknya dalam batin dia juga tidak rela untuk mencegah putrinya turun tangan mencampuri urusan ini, yang diharapkan satu2nya hanyalah kemungkinan timbulnya suatu keanehan yang ajaib...

Para anak murid yang lain lebih2 tak dapat berbuat apa2, bagian mereka hanya menonton sambil melongo saja.

Memang cara Suma Bing turun tangan membereskan seluruh anak buah Bwe hwa hwe tadi sungguh menciutkan nyali mereka.

Amarah Suma Bing semakin memuncak, sambil menggerung keras, sekali lagi tubuhnya melejit langsung menubruk kearah Sianglo lagi.

Tio Keh siok menggertak geram, secepat kilat dikirimkannya sejurus serangan yang aneh bin ajaib...

Siang2 Suma Bing sudah mempunyai perhitungan, ditengah jalan mendadak ia rubah permainan silatnya, jurus Mayapada remang2 kontan diberondong keluar secepat kilat.

Timbullah pemandangan yang mengerikan dan mengejutkan semua orang dalam gelanggang batu beterbangan pasir dan debu bergulung menari2 ditengah udara, tanah tergetar merekah, saking hebat angin badai yang timbul ini seakan geledek menyambar menggoncangkan seluruh mayapada.

Hampir dalam waktu yang bersamaan terdengar dua kali jeritan panjang yang mengerikan menusuk pendengaran telinga.

Setelah angin dan badai berhenti keadaan sudah menjadi terang lagi, tampak Bu khek sianglo sudah rebah diatas tanah dalam genangan air darah, dada mereka masing2 berlobang dan mengalirkan darah dengan derasnya.

Maka beramai2 Bu khek chiu Tio Leng wa dan anak muridnya memburu maju kearah kedua jenazah itu.

Sementara itu, dengan kalem Suma bing tengah memasukkan cundriknya kedalam baju.

Tio Keh siok memekik nyaring terus menubruk kearah Suma Bing.

Sebat sekali Suma Bing melejit mundur sejauh delapan kaki, serunya tanpa emosi.

"Nona Tio, aku tidak ingin membunuh kau!"

"Tapi akulah yang ingin membunuh kau!"

Desis Tio Keh siok penuh kebencian.

Seiring dengan habis suaranya, tubuhnya yang ramping semampai itu melejit maju lagi sambil mengayun sebelah tangannya, berpetalah gambar pukulan tangan yang menderu membawa kesiur angin keras melengking terus bergulung menungkrup keseluruh tubuh Suma Bing.

Suma Bing terkejut melihat kehebatan serangan ini, sungguh susah diukur dan ganjil benar serangan ini, sedemikian keji tiada bandingannya di kolong langit ini.

Seluruh sudut kedudukan dirinya semua terancam dalam jurus serangan musuh ini, sedikitpun tak terlihat lobang kelemahannya sehingga membuat orang tak tahu cara bagaimana dirinya harus membela diri atau menyingkir.

Sungguh dia tidak mengerti, bahwa Lwekang Tio Keh siok ternyata jauh diatas Bu khek sianglo, malah hakikatnya kepandaiannya ini bukan pelajaran dari Bu khek bun mereka sendiri?

Waktu tiada memberi tempo untuk dia banyak berpikir, terpaksa dengan jurus Mayapada remang2 lagi dia balas menyerang untuk menandingi serangan musuh.

Angin badai saling tumbuk dan saling terjang dengan dahsyatnya menimbulkan dentuman keras yang menggetarkan seluruh langit dan bumi.

Seketika Suma Bing merasa darah dan pernapasannya sesak dan mengembang, tapi tubuhnya masih kuat berdiri tegak tanpa bergeming.

Sebaliknya Tio Keh siok terhuyung mundur lima langkah, wajahnya berobah pucat.

Yang benar2 terkejut sebenarnya adalah Suma Bing sendiri.

Pernah secara gampang saja dalam dua jurus dia mengalahkan Hudco dari Siau lim si Hui Kong Taysu, tapi nona jelita yang masih muda dan berusia tidak lebih dari dua puluh tahun ini ternyata kuat dan mampu menahan jurus serangannya tanpa kurang suatu apa, ini benar2 luar biasa.

Setelah melancarkan pernapasannya kembali Tio Keh siok melompat maju lagi, wajah membesi, kedua tangannya bergerak bergantian terus dikebutkan keluar.

Jangan kira hanya gerak kebutan saja kelihatannya enteng dan biasa saja, namun sebenarnya mengandung kekuatan dalam yang tidak kentara, betapa besar kekuatannya ini benar2 sangat mengejutkan.

Suma Bing merasa tiba2 dirinya dilingkupi gelombang kekuatan bagai gugur gunung yang meluruk semua kearah tubuhnya.

Maka pikirnya, biar kucoba betapa besar kemampuanmu.

Karena pikiran siaganya ini, Giok ci sinkang terkerahkan sampai sepuluh bagian tenaganya terus menyelubungi seluruh tubuhnya.

Melihat sikap lawannya yang acuh tak acuh dan ogah2an se-akan2 tak terjadi apa2 semakin geram hati Tiok Keh siok, kekuatan tenaga pukulannya ditambah dan dipergencar terus diberondong semakin dahsyat.

Dentuman yang menggelegar membuat hawa udara lima tombak sekelilingnya pepat dan berputar membumbung tinggi seperti angin lesus.

Para hadirin yang menonton termasuk Bu khek chiu sendiri sampai tidak kuat berdiri lagi, mereka terdesak mundur sempoyongan, malah ada yang jungkir balik terguling.

Suma Bing masih berhadapan dengan Tio Keh siok tanpa bergerak, hati masing2 maklum, salah satu pihak menyerang dengan seluruh himpunan tenaganya, sedang yang lain mandah diserang secara kekerasan, kalau dibandingkan anak kecil juga segera dapat membedakan siapa kuat siapa asor.

"Nona sudah saatnya kau menghentikan sepak terjangmu ini?"

"Suma Bing,"

Teriak Tio Keh siok beringas "Kecuali kau memberikan keadilan!"

"Apa keadilan?"

"Apakah kematian kedua Susiokcoku itu lantas sia belaka?"

"Memang setimpal kematian mereka."

"Tutup mulut, kalau nonamu ini tidak membunuhmu, aku bersumpah tidak menjadi manusia."

"Apakah kau mampu?"

"Serahkan jiwamu!"

Seiring dengan gertakan nyaring ini, untuk ketiga kalinya Tio Keh siok lancarkan serangan jurus ketiga, jari dan telapak tangan bergerak berbareng, sedemikian aneh dan hebatnya cara geraknya ini sehingga semua tempat2 vital yang mematikan ditubuh lawan semua dalam ancaman renggutannya.

Sedemikian jauh Suma Bing terus mengalah, tapi dalam keadaan yang terdesak ini akhirnya hatinya berpikir, kalau aku tetap mengalah terus kapan akhir urusan disini.

Maka dia juga membarengi membentak keras.

"Rebahlah!"

Jurus kedua dari Giok ci sinkang yaitu Bintang berpindah jumpalitan dilancarkan.

Benar juga seperti apa yang diteriakkan Suma Bing, terdengar keluhan tertahan seperti orang hampir muntah, kontan Tio Keh siok terpental jatuh dan rebah diatas tanah, mulutnya terpentang dan muntahlah darah segar.

Semua kerabat dari perguruan Bu khek bun menjerit kaget.

"Anak Siok!"

Pekik Tio Leng wa sambil memburu maju. Pada saat itu juga Tio Keh siok meronta dan merangkak bangun berdiri, dengan nadanya yang menggiriskan ia berkata.

"Suma Bing, bunuhlah aku?"

"Aku tidak ingin membunuh kau."

"Kelak kau akan menyesal!"

"Selamanya aku tidak kenal menyesal."

"Ingat, akan datang suatu hari pasti aku akan membunuhmu."

Nada ancaman ini penuh rasa kebencian yang meluap2. Tanpa terasa Suma Bing sampai bergidik seram, tapi dimulut dia masih bersikap congkak.

"Selalu cayhe nantikan saat itu!"

Kakinya menjejak tanah, tubuhnya terus terbang berlari keluar dari Bu khek po.

Sejak berhasil dan mencapai sukses dalam mempelajari Giok ci sinkang.

Dalam satu jurus saja Loh Cu gi kena dikalahkan dan ngacir terbirit-birit membawa luka.

Hui Kong Taysu pendeta agung dari Siau lim si dalam dua jurus kemudian mengaku kalah.

Sebaliknya Tio Keh siok seorang gadis muda belia yang belum cukup berusia dua puluh ternyata kuat bertahan sebanyak tiga jurus serangannya, betapa tidak mengejutkan.

Siapa dan tokoh macam apakah yang mampu memberi pelajaran sedemikian hebat kepada seorang gadis kecil?

Setelah tiba diluar perbentengan musuh, Suma Bing menghela napas panjang.

Baru pertama kali ini dia secara terang atas namanya sendiri menuntut balas, yang digunakan juga cundrik yang dulu pernah digunakan ibunya untuk melepaskan penderitaan dirinya maka ditusuknyalah ulu hatinya.

Terkenang akan penderitaan selama ini.

Sekarang terasalah enteng beban dirinya, hatinya berseri girang.

Sekarang tujuannya yang utama adalah markas besar Bwe hwa hwe.

Barisan pohon Bwe yang aneh itulah merupakan ganjalan paling berat dalam batinnya, sampai saat itu, masih belum terpikirkan cara2 pemecahannya untuk memasuki barisan aneh itu.

Tapi bagaimanapun juga keinginan hendak menuntut balas selalu merangsang jiwanya sehingga mendorongnya segera harus tiba dimarkas besar Bwe hwa hwe.

Betapa banyak para jagoan silat dari Bwe hwa hwe, namun demikian dalam anggapannya mereka tidak lebih hanya kaum keroco yang tidak perlu diambil perhatian, membunuh mereka segampang membalikkan tangan baginya.

Mencuci bersih seluruh Bwe hwa hwe dengan darah mereka sendiri, ingatan yang seram dan menakutkan ini selalu merasuk dan merangsang benaknya.

Untuk mempercepat tiba ditempat tujuan, Suma Bing kerahkan seluruh tenaga untuk berlari bagai terbang.

Tengah mengayun langkah itulah tiba2 dilihat sebuah bayangan hitam tengah mendatangi dari arah depan sana dengan tidak kalah cepatnya.

Ketajaman pandangan Suma Bing sekarang luar biasa, sekilas pandang saja dia sudah mengenal siapakah yang tengah mendatangi itu.

Segera ia hentikan langkahnya dan mencegat ditengah jalan gertaknya keras.

"Berhenti!"

Sambil berseru kaget bayangan hitam itu segera berhenti. Mata Suma Bing mencorongkan sorot kebuasan, menyapu pandang kearah musuh, berkatalah dingin.

"Racun diracun, tak duga kita bertemu disini!"

Memang benar yang baru datang ini adalah Racun diracun, tampak matanya yang banyak putih dari hitamnya itu berjelalatan, serta sahutnya angkuh.

"Suma Bing, kau hendak apa?"

"Kukira kau masih belum lupa perkataanku sebelum kita berpisah dulu bukan?"

"Coba kau katakan sekali lagi?"

"Aku hendak membunuhmu!"

"Suma Bing,"

Desis Racun diracun gemetar.

"Sudah kukatakan setengah tahun lagi akan kubereskan sendiri pertikaian kita itu!"

"Aku sudah tidak sabar lagi!"

"Jadi kau hendak turun tangan sekarang juga?"

"Memang begitulah yang kuinginkan."

"Suma Bing sebenarnya aku juga bisa melenyapkan jiwamu dalam sekejap mata."

"Menggunakan racunmu?"

"Memang itulah bekal dan modalku, lebih baik kalau kau sudah tahu!"

Berkelebat cepat pikiran Suma Bing, jikalau dia lancarkan sekuat tenaga salah satu dari jurus kepandaian Giok ci sinkang, sudah pasti Racun diracun tiada kesempatan untuk bertahan apalagi balas menyerang.

"Racun diracun,"

Kata Suma Bing dengan nada berat.

"Dendam dan budi masih dapat kubedakan, hutang budiku kepadamu, biarlah kubalas dengan jiwa ragaku, mengenai kau tak dapat tidak kau harus kulenyapkan dari bumi ini."

"Suma Bing sedemikian kukuh dan besar tekadmu sampai tidak memberi sedikit kelonggaran?"

Suaranya tergetar sedih.

Suma Bing menggigit gigi.

Kedua tangannya mulai bergerak terangkat naik, Giok ci sinkang sudah terkerahkan sampai puncaknya yaitu dua belas bagian hawa murninya.

Pada saat kritis itulah mendadak terdengar sebuah suara yang sudah agak dikenalnya.

"Suma Bing, kau tidak boleh membunuhnya!"

Suma Bing menoleh kearah datangnya suara, seketika tubuhnya merinding seram, tampak samar2 diatas puncak sebuah pohon besar dipinggir sana terlihat seperangkat kerangka memutih yang terbungkus kain sutera putih pula me-lambai2 ditiup angin.

Serta merta Suma Bing membatin.

"Pek Kut Hujin."

Maka segera ia hentikan tindakan selanjutnya terus memberi hormat sembari berkata.

"Cianpwe ada pengajaran apa?"

Berkatalah Pek Kut Hujin dengan irama yang menusuk telinga.

"Kau tidak boleh melukainya."

Berkerut alis Suma Bing, tanyanya.

"Apakah Cianpwe sudah tahu sepak terjang muridmu yang laknat ini?" 50. SESAL KEMUDIAN TAK BERGUNA.

"Aku sudah tahu!"

Mendadak Racun diracun berlutut diatas tanah serta menyembah berulang2, serta mengeluh menyedihkan.

"Suhu!"

Suara panggilan ini seakan bukan keluar dari mulut Racun diracun, hal ini membuat Suma Bing tertegun, namun sudah tiada tempo untuknya banyak berpikir panjang.

"Kalau Cianpwe sudah tahu perbuatan jahat diluar perikemanusiaan muridmu ini, mengapa..."

"Jadi maksudmu kau anggap aku sengaja hendak melindungi dan mengeloni muridku?"

"Memang begitulah pikiran wanpwe sebenarnya!"

"Lalu kau hendak berbuat apa?"

"Aku hendak menuntut balas bagi yang sudah mati dan melampiaskan dendam yang masih hidup."

"Sesuatu keluarga mempunyai peraturan keluarga sendiri demikian juga suatu aliran mempunyai aturannya sendiri, aku orang tua sudah pasti mempunyai caraku sendiri untuk membereskan persoalan ini?"

"Cara bagaimana Locianpwe hendak membereskan persoalan ini?"

"Dalam persoalan ini kau sudah tidak boleh turut campur."

"Maaf kalau wanpwe berlaku kurangajar..."

"Kenapa?"

"Agaknya Locianpwe sudah terlambat untuk bertindak!"

Nada ucapan Pek Kut Hujin terdengar marah, serunya.

"Masa kau berani dihadapanku membunuh dia?"

Suma Bing menggigit gigi, sahutnya lantang.

"Cayhe terpaksa harus melakukan!"

Dingin dan menusuk benar suara tawa Pek Kut Hujin, katanya.

"Suma Bing, dalam masa sekarang ini, tiada seorang tokoh silat siapapun yang berani berkata demikian kepadaku."

Ini memang kenyataan, nama Pek Kut Hujin sudah menggetarkan dan menggoncangkan seluruh Kangouw pada ratusan tahun yang lalu, sampai pendeta agung dari Siau lim Hui Kong Taysu sendiri juga mesti mengalah dan memberi muka padanya, apalagi tokoh2 lainnya.

Tapi, sifat pembawaannya yang angkuh dan keras kepala pula turunan dari sifat2 Lam sia yang agak sesat menjadikan wataknya semakin ugal2an tidak mengenal apa artinya takut dan mundur, semprotnya menantang.

"Wanpwe tidak gentar diancam!"

"Suma Bing kau jangan berlagak dan banyak tingkah karena ilmu saktimu itu!"

"Bukan wanpwe hendak memamerkan ilmu saktiku, aku hanya melakukan apa yang harus kuperbuat."

"Sekali lagi kuperingatkan kepadamu, jikalau kau melukainya, kau akan menyesal seumur hidup!"

"Apa Cianpwe bertekad hendak merintangi?"

"Sudah tentu!"

"Aku tidak perdulikan akan segala akibatnya!"

Sementara itu Racun diracun sudah bangkit dan berteriak gemetar.

"Suhu, tecu sudah berkeputusan rela untuk mengorbankan segala apa yang perlu kukorbankan!"

"Apakah kau sudah bayangkan akibatnya?"

"Sudah tecu pikirkan!"

"Tapi aku tidak mengizinkan!"

Suma Bing tidak paham maksud percakapan mereka guru dan murid.

Pada saat itu yang ia pikir adalah rangsangan darah panasnya untuk melenyapkan makhluk aneh dihadapannya ini.

Kalau tidak bagaimana ia harus memberikan pertanggungan jawab kepada Thong Ping dan Ting Hoan yang sudah berada dialam baka.

Sekonyong2 sebuah bayangan bayangan langsing terbang mendatangi dengan gesitnya tanpa mengeluarkan suara terus menubruk kearah Racun diracun.

Kejadian ini benar2 diluar dugaan, seketika Suma Bing tertegun mematung.

'Blang!' disertai keluhan kesakitan sangat tampak Racun diracun terhuyung beberapa langkah, hampir saja roboh terkapar.

Setelah melihat orang yang baru mendatangi ini tercetuslah seruan kaget dari mulut Suma Bing.

"Adik Hun, kaukah itu."

Memang bayangan langsing yang baru mendatangi ini adalah kekasih pertama Suma Bing yaitu Siang Siau Hun adanya.

Wajah Siang Siau Hun diliputi rasa kebencian yang meluap2, mendengar panggilan Suma Bing dia hanya mendehem sekali, kedua matanya dengan nanar mengawasi Racun diracun.

Berkelebat sebuah bayangan putih yang melayang tiba didepan matanya.

Suma Bing berteriak kaget, kontan jurus Mayapada remang2 dilancarkan sekuatnya.

Ditengah gelombang badai yang bergulung2 itu, tampak bayangan putih itu kena terpental sampai tiga tombak jauhnya.

Jurus serangannya merupakan gerakan reflek dan kesigapannya.

Karena begitu bayangan putih berkelebat tahulah dia bahwa Pek Kut Hujin sudah bertindak memasuki gelanggang.

Untuk membela diri dan untuk melindungi Siang Siau Hun, maka tanpa pikir lagi kontan dia lancarkan serangannya.

"Auh..."

Terdengar pekik yang menyayatkan hati, Racun diracun sempoyongan lagi, akhirnya tak kuat berdiri dan roboh telentang diatas tanah.

Hal ini malah membuat Siang Siau Hun tertegun bengong.

Mengapa Racun diracun tidak membela diri atau balas menyerang, tidak mengerahkan tenaga murninya, juga tidak menyebar racunnya?

Jelas dia mengetahui bahwa kepandaian dan lwekang Racun diracun jauh berada diatas kemampuannya.

Dirangsang nafsu untuk menuntut balas tanpa banyak pikir akan segala akibatnya, mati2an dia turun tangan, sebenarnya kecil harapannya dapat berhasil, namun kenyataan tidak seperti perhitungan semula, ternyata sedemikian gampang dirinya berhasil melukai musuh.

Karena kesima sampai lupa untuk bertindak lagi...

Suma Bing sendiri juga bukan main heran dan kagetnya, sikap Racun diracun kali ini benar2 sangat ganjil.

Sementara itu Pek Kut Hujin sudah melayang tiba pula disisi tubuh Racun diracun, suaranya hampir menjerit sedih.

"Muridku, tidak setimpal kau mengeluarkan pengorbanan sedemikian besar. Kau... kau..."

Mendadak tubuh Racun diracun berkelejetan dua kali. Terjadilah suatu keanehan, kulit seluruh tubuh yang semula warna hitam itu kini perlahan2 berobah. Menjadi kuning dan berobah pula menjadi putih...

"Ah...!"

Suma Bing menjerit keras, dan sempoyongan mundur puluhan langkah, kedua matanya melotot hampir mencelat keluar.

Phoa Kin sian.

Itulah istrinya Phoa Kin sian.

Mimpi juga dia tidak mengira bahwa Racun diracun ternyata adalah duplikatnya Phoa Kin sian.

Pucat pias wajah Siang Siau hun, tubuhnya menggigil keras sekali.

Sementara itu.

Pek Kut Hujin itu juga mulai berobah, bentuk wajah yang seram menakutkan tadi seolah2 kena sihir telah berobah menjadi bentuk asalnya.

Dia bukan lain adalah Ong Fong jui, bibinya.

Suma Bing menggigil semakin keras sehingga tubuhnya terasa dingin membeku.

Hampir2 dia tidak mempercayai kenyataan yang dihadapinya ini.

Dengan wajah diliputi kesedihan dan suaranya yang pilu berkatalah Ong Fong jui.

"Keponakanku, kau harus bertanggung jawab akan tragedi ini, dua jiwa manusia telah dikorbankan. Seorang adalah istrimu sedang yang lain adalah anakmu yang bakal lahir."

Hitam gelap pandangan Suma Bing, tubuhnya limbung hampir roboh.

Keringat dingin deras mengalir dari atas jidatnya.

Sesaat terasa seperti dunia kiamat sudah tiba diambang pintu, juga seperti pesakitan yang mendadak mendengar keputusan hukum mati baginya, otaknya terasa kosong melompong.

Siang Siau hun membanting2 kaki sambil menggenggam kedua tangan erat2, teriaknya mengeluh.

"Oh Tuhan. Apakah yang telah kuperbuat?"

Wajah Ong Fong jui sudah basah oleh airmata, katanya sesenggukkan.

"Nona Siang, ini bukan salahmu sudah sepatutnya kau menuntut balas bagi adikmu. Durjana yang meracun dan membunuh adikmu serta Li Bun siang sebenarnya adalah adik Kin sian sendiri. Karena pesan ayah bundanya sebelum ajal, dia mewakili adiknya mengorbankan dirinya..."

Berkatalah Siang Siau hun menghadap Suma Bing.

"Engkoh Bing, selamanya aku akan menyesal terhadap kau... aku..."

Kala itu Suma Bing berdiri kesima seperti patung, biji matanya tidak bergerak.

Apa yang dikatakan Siang Siau hun ini sudah tentu dia tidak mendengar.

Siang Siau hun menjerit sesenggukkan terus berlari pergi sambil menutup mukanya.

Suasana menjadi hening sekian lamanya diliputi kesedihan dan kepiluan hati.

Lama dan lama kemudian baru Suma Bing dapat membuka mulut bertanya.

"Bibi dia... masihkah dapat ditolong?"

Ong Fong jui menggeleng kepala penuh putus asa, sahutnya sedih.

"Tak bisa ditolong lagi"

"Tak bisa ditolong? Oh Tuhan...!"

"Dia tengah mengandung tua dan hampir melahirkan, terkena pukulan berat dan terluka parah masihkah ada harapan untuk tetap hidup"

Suma Bing menjerit sambil menubruk maju, kedua kakinya menjadi lemas dan terus jatuh berlutut diatas tanah.

Muka Phoa Kin sian memutih seperti kertas, jubah panjang dan celananya sudah basah kuyup tergenang air darah.

Gugur!

Kandungannya telah gugur!

Semangatnya semakin runtuh, hatinya terasa juga tengah meneteskan darah.

Apakah dosa istrinya?

Kini dia telah meninggal!

Apapula dosa anak yang belum lahir itu, dia juga ikut menemui ajalnya!

Dia berteriak2 dan menggumam entah apa yang terucapkan yang terdengar hanya samar2 saja.

"Akulah pembunuhnya, aku adalah... pembunuh... aku..."

"Keponakanku,"

Bujuk Ong Fong jui pilu.

"Tak berguna kau salahkan diri sendiri, kita berada dipinggir jalan raya, marilah dipindah kesuatu tempat lain!"

Suma Bing manggut2 seperti patung, tanpa hiraukan noda2 darah, dipayangnya tubuh Phoa Kin sian terus dibawa kedalam sebuah hutan dan mencari sebuah tempat yang rindang dibawah sebuah pohon besar terus dibaringkan kembali.

Jarak yang dekat tidak lebih dari puluhan tombak ini baginya terasa seperti dibebani ribuan kati beratnya.

Kesedihan yang berkelebihan membuat hatinya lemah, semangatnya runtuh, langkahnya sedemikian berat, dan perlahan.

Melihat lakunya ini Ong Fong jui menggeleng kepala tanpa bersuara.

Bagai sadar impiannya, berkatalah Suma Bing.

"Bibi, dia masih dapat ditolong?"

"Apa, dapat ditolong?"

"Seumpama tenaga murniku akan terkuras habis biarlah dengan Kiu yang sinkang..."

"Ai... keponakanku, isi dalam perutnya sudah jungkir balik, kandungannya juga sudah gugur, seumpama tabib dewa juga takkan kuasa menolongnya"

"Tapi... dia tidak boleh mati, jangan, aku harus membuatnya hidup kembali..."

"Keponakanku, tenangkanlah pikiranmu."

Setelah menyeka airmatanya, secepat kilat Ong Fong jui ulurkan telunjuknya beruntun jarinya menutuk duapuluh lebih jalan darah besar, lalu dengan sebuah gaplokan yang keras dia memukul jalan darah Khi hay, lalu dengan telapak tangannya menekan dijalan darah Thian toh, mulailah hawa murninya sendiri disalurkan gelombang demi gelombang.

Sebentar saja wajah Phoa Kin sian mulai bersemu merah, dadanya juga mulai bergerak naik turun secara teratur, tak lama kemudian tiba2 ia membuka mata.

Baru sekarang airmata Suma Bing membanjir keluar suaranya sedih dan tersenggak.

"Adik Sian, kau... Mengapa kau berbuat demikian?"

Agaknya Phoa Kin sian tengah meronta menahan sakit bibirnya bergerak2 sekian lama baru terdengar suaranya yang lirih seperti bunyi nyamuk.

"Engkoh Bing, aku... tidak salahkan kau..."

"Tidak, adik Sian, kau harus membenci dan mengutukku... katakanlah kau benci padaku..."

"Engkoh Bing, sungguh aku menyesal... tidak melahirkan... anak untuk kau..."

"Oh aku... akulah algojonya, akulah yang membunuh anakku, membunuh istriku...!"

"Engkoh Bing, ... jangan kau salahkan diri dan mereras diri, inilah takdir!"

"Takdir? Tidak, inilah tragedi buatan manusia!"

Suma Bing mengelus2 rambut istrinya, airmata terus mengalir dengan deras. Kata Ong Fong jui dengan suara serak.

"Kin sian, kau sudah lakukan perbuatan yang paling goblok dikolong langit ini, mengapa kau tidak mau dengar nasehatku..."

Sepasang mata Phoa Kin sian yang redup dan guram berkedip2, ujarnya sedih.

"Suhu, kau... pandang aku sebagai putrimu sendiri, budimu yang luhur setinggi gunung dan setebal bumi ini terpaksa dalam penitisan yang akan datang baru dapat kubalas!"

"Adik Sian."

Tanya Suma Bing.

"Mengapa kau... tidak siang2 terangkan asal-usulmu?"

"Aku... tidak boleh..."

"Mengapa?"

"Pertama; peraturan... perguruan. Kedua. ... sebelum ayah bunda meninggal, mereka serahkan Cu giok kepadaku... dia melakukan kejahatan diluar perikemanusiaan... semua ini adalah kesalahanku, aku... harus menebus dosanya itu, dengan pengharapan dia... merobah diri dan kembali kejalan yang benar..."

"Phoa Cu giok!!"

Gumam Suma Bing sambil kertak gigi.

Seumpama saat itu Phoa Cu giok berada dihadapannya pasti tanpa pikir lagi dia akan dibunuhnya.

Agak lama Phoa Kin sian pejamkan matanya, lalu dengan susah payah dipentangkan lagi, serta katanya semakin lemah.

"Engkoh Bing... kuharap kau meluluskan satu permintaanku..."

"Coba katakanlah?"

"Apakah kau dapat mengampuni... Cu giok?"

"Ini...!"

Terbayang nafsu membunuh yang tebal diwajah Suma Bing. Kata Phoa Kin sian pula dengan sekuat tenaga.

"Engkoh Bing, tiada... lain permintaanku hanya... inilah satu2nya pengharapanku, lulusilah... mengampuni jiwanya... bantu dan bimbinglah dia kearah jalan yang benar, meskipun mati..."

"Tidak adik Sian... aku tidak bisa membiarkan kau... tidak, seumpama mesti mengorbankan jiwaku aku juga harus berusaha..."

Airmuka Phoa Kin sian berobah merah, napasnya mendadak memburu dan batuk2.

Tangan Ong Fong jui yang menempel dijalan darah Thian toh itu juga kelihatan gemetar, keringat membanjir dengan derasnya membasahi tubuh.

"Engkoh Bing,"

Kata Phoa Kin sian pula suaranya lirih hampir tak terdengar.

"Lu... lusilah permintaanku!"

Suma Bing merenggut rambut sambil kertak gigi, sahutnya terpaksa.

"Baiklah, aku penuhi permintaanmu yang terakhir ini..."

Warna merah dimuka Phoa Kin sian menghilang dan kembali pucat pasi, tapi ujung bibirnya tersungging senyum dikulum, kepalanya tekluk kesamping mangkatlah arwahnya kealam baka.

Dengan lesu dan perih Ong Fong jui menarik pulang tangannya.

"Dia sudah meninggal!"

Suma Bing berteriak menggila.

"Adik Sian!"

Terus menubruk jenazah Phoa Kin sian.

Seketika terasa pandangannya gelap dan bumi berputar jungkir balik, pikirannya kosong melompong.

Mendadak Suma Bing meloncat bangun, sesaat ia pandang wajah pucat jenasah Phoa Kin sian, tiba2 angkat sebelah tangannya terus mengepruk keatas batok kepalanya sendiri.

"Gila kau!"

Hardik Ong Fong jui keras, secepat kilat ia bergerak mencengkram kencang pergelangan tangannya terus berkata lagi.

"Suma Bing, apa kau ingin membuatnya mati tidak meram. Apa yang hendak kau lakukan? Tugas berat menuntut balas belum terlaksana, pesan terakhir gurumu hendak kau ingkari. Beginilah kelakuan seorang gagah!"

"Bibi,"

Gumam Suma Bing.

"Betapa aku dapat mengampuni diriku sendiri?"

"Keponakanku yang baik. Hubunganku dengan Kin sian sebagai guru dan murid, tapi hakikatnya seperti anak kandungku sendiri. Perih dan kesedihan hatiku rasanya tidak kalah beratnya dari kau. Tapi semua ini dapatlah ditarik kembali oleh kekuatan manusia. Semua ini sudah menjadi suratan takdir!"

"Ya bibi, aku akan menyesal dan merana sepanjang hidupku ini!"

Sebuah gundukan tanah dari sebuah kuburan baru muncul diantara alingan pohon2 lebat dalam rimba itu. Dimana diatas sebuah batu nisan yang sederhana tertuliskan beberapa huruf yang berbunyi.

"Kuburan Kin sian istri Suma Bing yang tercinta"

Dibawah sebelah kiri tertanda nama Suma Bing.

Tampak Suma Bing berendeng bersama Ong Fong jui didepan kuburan, mereka berdiri mematung tanpa bergerak dan mengheningkan cipta.

Agak lama kemudian baru Ong Fong jui buka suara memilukan.

"Keponakanku yang sudah pergi biarlah pergi, yang mati takkan dapat hidup kembali. Marilah kita tinggal pergi!"

"Tidak!"

"Kau..."

"Aku hendak mendampingi kuburan Kin sian selama seratus hari, sebagai curahan rasa cinta kasih sebagai suami istri!"

"Kau mempunyai maksud yang suci dan mulia itu sudah cukup. Janganlah kau memeras diri merusak kesehatanmu sendiri."

"Bibi, kurasa dengan berbuat begitu dapatlah memperingan beban tekanan batinku!"

"Ai, apa boleh buat, baiklah. Aku harus segera mencari durjana Phoa Cu giok itu, harus cepat2 kucegah supaya dia tidak memperbanyak melakukan kejahatannya."

"Bi, silahkan aku tidak bisa mengantar!"

"Ada yang masih harus kuberitahu kepadamu. Pek Kut Hujin adalah guruku, dia sudah meninggal dunia pada duapuluh tahun yang lalu, akulah yang menjadi murid ahli warisnya."

"O!"

"Kau sudah paham?"

"Ya, bibi, tentang ibunda..."

"Ibumu bagaimana?"

"Aku sudah dapat menemukan dia!"

"Ha! Apa benar?"

Teriak Ong Fong jui kegirangan dan haru. Kata Suma Bing lagi.

"Dia menjadi ketua dari Jeng siong hwe yang menggetarkan kalangan Kangouw itu. Tapi sebenarnya dia adalah majikan dari Panggung berdarah!"

Saking kaget Ong Fong jui undur selangkah, suaranya gemetar.

"Sungguh diluar dugaan, lalu dimana sekarang cici berada?"

Secara ringkas jelas Suma Bing menuturkan dimana letak daripada Panggung berdarah itu. Ong Fong jui manggut2, katanya.

"Tuhan sungguh maha pengasih, keponakanku tentang para musuh besarmu...!"

"Aku sudah mempunyai catatan nama2 mereka, Loh Cu gi adalah biangkeladinya!"

Menyinggung nama Loh Cu gi seketika timbul nafsu kekejaman Suma Bing.

"Keponakanku apa kau masih ingat pada Pek chio Lojin?"

"Ya, dengan tanganku sendiri telah kubunuh dia!"

"Apakah kau pernah dengar tentang Pek bin mo ong (raja iblis seratus muka)?"

"Raja iblis seratus muka?"

"Benar, gembong aliran hitam yang kejam dan telengas, ilmu kepandaian riasnya tiada keduanya di kolong langit ini. Kepandaian Lwekangnya juga malang melintang dalam dunia persilatan. Dia adalah Suheng dari Pek chio Lojin!"

"Memangnya kenapa?"

"Konon kabarnya Bwe hwa hwe baru2 ini mengundang dan mengangkat seorang Maha pelindung. Orang itu mungkin adalah raja iblis ini."

"Masa betul?"

"Sudah sekian lama raja iblis ini tidak muncul dikalangan Kangouw, belakangan ini katanya ada orang yang melihat jejaknya!"

"Kalau dia secara terang berani membantu kejahatan menyebar maut, pasti keponakan takkan melepas dia."

"Raja iblis ini sangat cerdik dan licik serta licin sekali, kau harus waspada hati2 menjaga diri."

"Terima kasih akan petunjuk bibi ini!"

"Lalu tentang barisan pohon bunga Bwe yang aneh diluar markas besar Bwe hwa hwe itu apakah kau sudah..."

"Justru hal inilah yang membuat keponakan serba susah!"

"Ini... coba kau pergi menemui Si gwa sianjin dan minta petunjuk padanya mungkin dia bisa membantu kau!"

Terbangun semangat Suma Bing, katanya.

"Si gwa sianjin juga mahir tentang ilmu barisan yang aneh2 itu?"

"Diantara tokoh2 Bulim sekarang ini termasuk dia yang paling kuat dan pandai!"

"Apa selain dia tiada lain orang lagi?"

"Ada, tapi..."

"Mengapa?"

"Mungkin dia sudah meninggal dunia. Jikalau ada dia persoalan ini pasti dapat dipecahkan seumpama membalik tangan gampangnya."

"Siapakah dia?"

"Ih lwe siu ki khek Li It sim!"

"Li It sim?"

"Benar, apa, kau..."

"Aku pernah dengar Kang Kun Lojin menyinggung tentang namanya."

"Apakah orang tua itu masih dalam dunia fana ini?"

"Entahlah"

"Lebih baik kau khusus mencari dan menemui Si gwa sianjin saja."

"Baiklah."

"Aku hendak pergi, jagalah dirimu baik2!"

Setelah menghela napas panjang Ong Fong jui melayang pergi dan menghilang.

Berdamping batu nisan Suma Bing duduk terpekur tenggelam dalam kenangan lama yang menyedihkan.

Begitulah tanpa terasa sang surya muncul dari peraduannya, dan tahu2 sang surya sudah tenggelam lagi kearah barat, hari berganti hari dengan cepatnya tanpa terasa.

-oo0dw0oo-Pada suatu tengah hari kira2 satu bulan kemudian.

Suma Bing baru saja kembali dari kota yang berdekatan untuk membeli ransum kering.

Waktu mendekati kuburan dari hembusan angin yang sepoi2 tercium olehnya bau harum wangi dari terpasangnya dupa dan terbakarnya kertas sembahyang.

Siapa yang datang dipusara Phoa Kin sian untuk sembahyang dan membakar kertas.

Tergerak hati Suma Bing mengempos semangat mengerahkan tenaga maka dengan enteng sekali tanpa bersuara ia berputar memasuki hutan.

Tampak didepan kuburan seorang tengah berlutut dan menyembah dia bukan lain adalah Phoa Cu giok manusia berhati serigala.

Seketika timbul amarah Suma Bing, saking menahan gusar napasnya sampai memburu.

Setindak demi setindak ia menghampiri maju, matanya melotot merah buas...

Phoa Cu giok tetap berlutut dan tubuhnya tampak gemetar kiranya dia tengah menangis menghadapi kuburan cicinya.

Kira2 sejauh satu tombak Suma Bing hentikan langkahnya.

"Phoa Cu giok!"

Hardiknya lantang dan dingin. Phoa Cu giok bangun berdiri terus memutar menghadap Suma Bing sinar matanya redup dan semangatnya layu, sekian lama baru keluar suaranya.

"Cihu!"

"Phoa Cu giok, kau tahu kenapa cicimu sampai mati?"

"Karena perbuatanku yang durjanalah sebabnya?"

"Kau sudah tahu, baik sekali. Sekarang gunakanlah racun atau jurus2 keji apapun juga terserah kau, mari kau serang aku, jikalau tidak kau tidak akan mempunyai kesempatan. Lekas turun tangan, seranglah aku...!"

"Cihu..."

"Phoa Cu giok hendak kuhancur leburkan tubuhmu yang kotor itu!"

Sikap Phoa Cu giok tetap lesu dan menelaah saja kekasaran sikap Suma Bing, kedua matanya tampak membengkak merah, berkatalah ia dengan tenang.

"Cihu, aku insaf bahwa dosaku besar dan harus dihukum mati, silahkan kau saja yang turun tangan, tiada apa2 yang perlu kukatakan lagi"

Suma Bing malah tertegun dibuatnya menghadapi sikap orang yang aneh dan pasrah nasib ini, tapi hawa amarahnya masih merangsang dengan hebatnya, desisnya, mengertak gigi.

"Phoa Cu giok, dengan Racun tanpa bayangan kau meracuni Siang Siau moay dan Li Bun siang, sebaliknya kakakmulah yang menjadi kambing hitamnya. Kau ngapusi dan memperkosa Thong Ping gadis suci yang tak berdosa malah setelah kedokmu terbongkar kau meracun dan membunuh ibunya juga. Sekarang dia sudah melahirkan seorang anak perempuan, tapi dia mohon kepadaku untuk membunuh kau..."

Wajah Phoa Cu giok berkerut2 gemetar, agaknya tengah menahan gejolak hatinya. Sejenak berhenti lalu Suma Bing melanjutkan lagi.

"Kau juga memperkosa dan membunuh murid Pek hoat Sian nio Ting Hoan, dia adalah sahabat karibku..."

"Cihu..."

"Kau manusia berhati binatang, cicimulah yang menjadi kambing hitamnya untuk menebus semua kejahatan dan dosa2mu!"

"Cihu, biarlah aku mati ditanganmu sendiri, gunakanlah cara kejam yang paling telengas..."

Habis berkata dia, menundukkan kepala, sekarang dia, benar2 sudah insaf dan bertobat namun semua ini sudah terlambat.

"Pandanglah aku!"

Hardik Suma Bing keras, kedua matanya melotot besar hampir meneteskan air darah.

Terpaksa Phoa Cu giok angkat kepalanya pula, wajahnya penuh diliputi kekesalan sedikitpun tak terbayang rasa takut akan bayangan kematian, airmata mengalir tanpa hentinya membasahi kedua pipinya.

Ini bukan sikap atau tingkah laku yang dibuat2, inilah jiwa tersesat yang hidup kembali kejalan terang dan lurus.

Dengan beringas Suma Bing ayun kepalannya terus menghantam mengarah batok kepala Phoa Cu giok.

Pada saat kepalannya terpaut setengah kaki diatas kepala Phoa Cu giok, tiba2 Suma Bing menghentikan gerakannya, dia tak bisa turun tangan terhadapnya.

Teringat dia akan pesan Phoa Kin sian sebelum ajal.

"...Ampuni dia... tuntunlah kejalan benar menjadi manusia kembali..."

Apakah tindakannya ini tidak membuat istrinya putus harapan dan kecewa di alam baka?

Memang ingin dan rasanya harus dia membunuh manusia laknat ini menjadi hancur lebur, tapi pesan istrinya sebelum ajal membuat dia tak kuasa turun tangan.

Akhirnya sambil mendengus keras2 dia tarik kembali tangannya.

Phoa Cu giok tetap bersikap tak acuh, katanya agak diluar dugaan.

"Kenapa cihu tidak jadi turun tangan?"

"Aku sudah melulusi cicimu untuk tidak membunuh kau."

Ujar Suma Bing gegetun.

"Phoa Cu giok, dia menjadi korban demi menebus dosa2 mu, sebelum ajal dia masih selalu ingat pada kau, dia mintakan ampun bagi kau, kau... inikah manusia?"

Mendadak Phoa Cu giok menubruk kedepan batu nisan dan berlutut sambil menangis meng-gerung2, kepalanya diadu dengan tanah, serunya sesambatan.

"Cici, memang dosaku besar, aku tidak memohon pengampunanmu, hanya kuminta kau tahu bahwa adikmu yang jahat dan rendah melebihi binatang ini sekarang sudah insaf, aku bertobat... cici... apa kau dengar?... Oh, semua ini sudah terlambat!"

Jari tangannya yang gemetar mendadak menusuk mengarah jalan darah Thay yang hiat dipelipis sebelah kanannya.

"Berhenti!"

Suma Bing menggertak keras, secepat kilat jarinya menutuk dari kejauhan, sejalur angin kencang tepat sekali menutuk jalan darah Ji ti, seketika tangan Phoa Cu giok itu lemas semampai.

"Kau ingin mati juga sudah terlambat, seharusnya kau mati sebelum cicimu menemui ajalnya. Sekarang dia sudah mati, dia ingin kau tetap hidup untuk menyambung keturunan keluargamu."

Pelan2 Phoa Cu giok berdiri, pelipisnya merembes air darah karena tusukan jarinya tadi, keadaannya sungguh sangat mengerikan, mulutnya mendesis seperti orang menggumam.

"Yang harus mati tidak mati, yang tidak seharusnya mati malah mati. Masih adakah derajatku untuk tetap hidup?"

Amarah Suma Bing yang membara mulai mereda dan hampir padam, dia sudah mau kembali kejalan yang benar dan lurus, apalagi yang dapat dikatakan?

"Phoa Cu giok, untuk kau Thong Ping sudah melahirkan seorang orok mungil, itulah keturunan keluarga Phoa kalian.

Dan lagi terhadap Thong Ping kau harus memberikan ketertiban hidup selanjutnya!"

Phoa Cu giok manggut2 tanpa bersuara. Katanya kepada Phoa Cu giok lagi.

"Kau boleh pergi, kuharap kau jangan membuat cicimu mengandung penasaran dialam baka, baik2lah menelaah nasihat2 baik untuk petunjuk hidup yang benar dan lapang!"

"Cihu, aku pasti menurut segala nasehatmu!"

"Baiklah kau boleh pergi!"

Sekali lagi Phoa Cu giok berlutut dan menyembah didepan pusara cicinya, sekian lama dia mengheningkan cipta lalu berdiri dan tinggal pergi sambil berlenggot.

Memandang bayangan punggung orang, Suma Bing menghela napas panjang, entah bagaimana perasaan hatinya.

Tanpa terasa ia mengulangi kata2 yang diucapkan oleh Phoa Cu giok tadi 'Yang harus mati tidak mati, yang tidak seharusnya mati, malah mati.' Sekonyong-konyong sebuah suara yang bernada dingin sebagai ejekan menyambung perkataannya.

"Ya, memang kau seharusnya mampus!"

Suma Bing terkejut sigap sekali ia memutar tubuh memandang kearah datangnya suara, tampak seorang buntak tua berjenggot panjang sebatas dada dan beruban tahu2 sudah mendatangi didepannya sejauh tiga tombak.

Dia bukan lain adalah si maling bintang Si Ban cwan.

Cepat2 Suma Bing angkat tangan memberi hormat, serta sapanya.

"Cianpwe baik2 saja selama berpisah ini!"

Mulut si maling bintang Si Ban cwan ber-kecek2 dingin, dengusnya.

"Buyung, sungguh tidak kira ternyata begitulah pribadimu, hm, aku si maling tua agaknya sudah picak..."

Suma Bing melengak heran, tanyanya.

"Apa maksud ucapan Cianpwe ini?"

Mata si maling bintang memancarkan sorot ber-api2, semprotnya beringas.

"Buyung, ternyata setelah dapat mempelajari ilmu sakti, kau gunakan untuk kejahatan diluar perikemanusiaan."

Tahu2 dimaki, dicercah dan dituduh sebagai manusia durjana, keruan Suma Bing berjingkrak kaget dan terheran2, tanyanya pula.

"Tuduhan Cianpwe ini mengenai hal apa?"

"Buyung, diseluruh jagad ini tiada kepandaian yang tiada tandingannya, se-tinggi2 gunung ada yang lebih tinggi, sepandai2 orang ada orang lain yang lebih pandai, bukan karena mempunyai sebuah kepandaian sakti lantas tiada lawan diseluruh penjuru angin. Berbuat jahat dan malang melintang menyebar elmaut, memang manusia punya bisa tapi Tuhanlah yang berkuasa, kelak kau pasti akan menerima pembalasan yang setimpal."

"Cianpwe, kenapa kau bicara ngelantur, aku kurang jelas?"

"Aku si maling tua inginkan jiwamu, apa ini belum jelas?"

Saking kaget Suma Bing tersurut dua langkah, hampir2 dia tidak percaya akan pendengaran kupingnya, suaranya gelagapan.

"Cianpwe hendak membunuh aku?"

"Ya, aku tahu si maling tua ini bukan lawanmu, tapi untuk membalas sakit hati kawan tuaku, terpaksa aku harus jual jiwaku ini."

Habis berkata langkahnya berat beranjak maju, rambut dan jenggotnya yang memutih berdiri tegak dan beterbangan dihembus angin, wajah tuanya merah padam diselubungi hawa membunuh.

"Apa ini bukan kelakar belaka?"

"Hm, kelakar..."

"Sedikitnya Cianpwe harus mengemukakan alasanmu bukan?" 51. ULAR SAKTI PENGHISAP DARAH.

"Alasan? Bu khek bun adalah aliran putih yang menjunjung tinggi keadilan, siapa duga dengan cara keji demikian kau menumpas seluruh penghuni Bu khek po, buyung masihkah kau berperikemanusiaan?"

Baru sekarang Suma Bing paham duduk perkaranya, kiranya tentang perihal dirinya menuntut balas di Bu Khek po tempo hari, maka si maling bintang ini meluruk datang membuat perhitungan kepada dirinya.

Entah ada hubungan apakah antara mereka.

Tapi kan secara terang gamblang dirinya menuntut balas kepada Bu khek sianglo...

Maka sahutnya dengan tenang.

"Cianpwe, terpaksa wanpwe harus berbuat begitu!"

"Jadi menurut hematmu kau harus berbuat begitu?"

"Ya, tak perlu banyak mulut lagi, selama hidup ini meskipun si maling tua ini belum pernah melakukan kejahatan dan berbuat dosa, tapi juga belum pernah menyebar kebajikan, sekarang diambang kematian karena usia tua ini, baik juga melakukan pembasmian demi kesejahteraan kaum persilatan!"

Kata2 membasmi sangat menusuk telinga dan perasaan Suma Bing, jikalau tidak memandang hubungan yang terdahulu, siang2 dia sudah turun tangan menampar mulut orang.

Si maling bintang Si Ban cwan maju lagi semakin dekat, kini jarak kedua belah pihak kurang dari dua tombak.

Apa boleh buat karena didesak sedemikian rupa, akhirnya Suma Bing nekad.

"Tegasnya Cianpwe benar-benar hendak turun tangan!"

"Sudah tentu!"

"Kuharap Cianpwe suka berpikir dua kali sebelum bertindak?"

"Sudah lama si maling tua ini memikirkan secara masak akan segala akibatnya!"

"Tapi aku tidak ingin melukai Cianpwe!"

"Buyung, sebaliknya bagi aku si maling tua, hari ini bagaimana juga kau harus kulenyapkan."

Membaralah sifat pembawaan Suma Bing, saking dongkol keluar juga jengekannya.

"Mungkin tujuan tuan takkan dapat terlaksana!"

"Kurcaci, marilah coba ini!"

Demikian gertak si maling tua Si Ban cwan sambil menubruk maju, habis suaranya serangannyapun sudah merangsang tiba.

Suma Bing tetap tenang dan diam saja berdiri tegak tanpa bergerak, mengandal kekebalan ilmu pelindung badannya, si maling tua ini takkan mampu melukai seujung rambutnya.

Tak terduga begitu melesat tiba dihadapan Suma Bing si maling tua membatalkan serangannya, sedemikian dekat jarak mereka sekali ulur tangan saja cukup meranggeh lawannya.

Mendadak si maling tua malah bergelak tawa gila2an, tapi suara tawanya tidak seperti suara tawa umumnya, agaknya si maling tua ini sudah terbawa oleh perasaan hatinya, rasa sedih dan jengkel dilampiaskan dengan tawanya ini...

Tanpa terasa giris perasaan Suma Bing, susah diterka apakah yang tengah dimainkan oleh si maling tua yang terkenal susah dilayani dan diajak berembuk ini.

Mendadak sebuah bentakan keras terdengar dari sebelah samping sana.

"Maling tua jangan!"

Disusul bayangan beberapa orang berdatangan memasuki gelanggang.

Heran dan kaget Suma Bing dibuatnya, yang muncul ini adalah istrinya Pit Yau ang beserta semua kerabat dari Perkampungan bumi, diantaranya terdapat juga Coh yu Hu pit serta Teng Tiong cwan dan lain2.

Sedang yang membentak merintangi tadi adalah Coh hu Si Kong teng.

Dengan pandangan rasa kuatir dan takut2 Pit Yau ang berempat mengawasi si maling bintang.

Suma Bing semakin tidak mengerti...

"Maling tua."

Kata Si Kong teng tertekan.

"Apa faedahnya kau berbuat begitu?"

Si maling bintang hentikan tawanya, setelah menyapu pandang kearah mereka berempat jengeknya dingin.

"Keputusan si maling tua ini selamanya harus terlaksana!"

"Jadi kau si maling tua ini bersedia gugur bersama?"

Tanya Yu pit Ciu Eng tiong.

"Benar!"

"Kau ini..."

"Untuk melenyapkan bencana di kalangan persilatan!"

Tergerak hati Suma Bing, apa artinya dengan ucapan gugur bersama tadi, apa...

belum lenyap pikirannya, mendadak dilihatnya si maling tua menggenggam sesuatu benda ditangan kanannya, entah barang apa yang disembunyikan itu.

Kini dia paham, mengenai ilmu silat sudah pasti si maling tua takkan mampu melukai dirinya, sedemikian lantang dia sesumbar hendak melenyapkan dirinya pasti ada apa2nya dibelakang perkataannya ini.

Turun tangan atau tidak?

Dia menjadi ragu2.

Kalau saat itu mendadak dia menyerang pasti si maling tua takkan luput dari kematian, tapi agaknya hatinya kurang tega.

Agaknya si maling tua dapat mengerti isi hati Suma Bing, jengeknya sambil menyeringai.

"Buyung, kau turun tangan atau tidak sama saja pasti mati. Jiwa tua si maling tua ini sudah kutaruhkan. Kau tahu apa yang kugenggam ditanganku ini? Ketahuilah, sekali aku lepas tangan Sip hiat leng kong (ular sakti penghisap darah) ini, seumpama kau tumbuh sayap juga takkan dapat lolos. Buyung meski kau ada kesempatan membunuh aku, tapi kau tiada kesempatan lagi untuk terhindar dari kejaran ular sakti penghisap darah ini..."

Berdiri bulu kuduk Suma Bing, sungguh diluar sangkanya bahwa si maling tua menggunakan binatang aneh yang dikabarkan sebagai penghisap darah itu untuk menghadapi dirinya.

Selama ratusan tahun sukar dicari seekor saja ular sakti penghisap darah ini.

Ular semacam ini merupakan raja ular diantara ular, badannya kebal senjata tajam, besarnya hanya sebesar jari manis, ditengah tubuhnya tumbuh sepasang sayap sehingga dia dapat terbang dengan pesat sekali, begitu membaui darah manusia, segera dia memecah kulit terus mengerong kedalam tubuh orang dan masuk kedalam jalan darah, sambil menyedot darah sembari dimuntahkan kembali sampai orang itu darahnya dihisap habis dan mati.

Wajah Pit Yau ang pucat ketakutan bersemu kehijauan, takut dan gugup merangsang benaknya, teriaknya tersendat.

"Si cianpwe, aku adalah istrinya..."

"Lohu sudah tahu!"

"Bolehkah Siau li bicara beberapa patah kata dulu?"

"Silahkan!"

"Cianpwe menggunakan cara sedemikian keji untuk menghadapi dia, pasti mempunyai alasan yang kuat?"

"Sudah tentu!"

"Wanpwe minta penjelasan?"

"Menggunakan cundrik penembus dada dia membunuh Bu Khek sianglo, ini demi menuntut balas, hal itu dapat dimaklumi. Tapi tidak semestinya dia membanjirkan darah dan membabat seluruh Bu khek po seakar2nya sampai ayam dan itik juga tidak ketinggalan telah dibunuhnya semua. Malah yang paling keterlaluan dengan kekerasan dia merebut Kipas batu pualam."

Keterangan ini membuat Suma Bing melonjak kaget, darimana soal ini harus dijelaskan, serunya menegasi.

"Apa membanjirkan darah di Bu khek po?"

"Masa kau berani menyangkal?"

Bentak si maling bintang beringas.

"Memang, aku menyangkal!"

"Bu khek Ciangbun sendiri yang mengatakan kepadaku sebelum ajal, ini bukti yang paling kuat kau takkan luput dari tuntutan keadilan ini!"

"Ingin kutanya, kapan peristiwa itu terjadi?"

"Setengah bulan yang lalu!"

"Setengah bulan yang lalu?"

Si maling bintang membenarkan dan menegaskan sekali lagi. Legalah hati Suma Bing, ujarnya.

"Aku mendampingi pusara disini sudah satu bulan lebih, setindak juga belum pernah tinggal pergi."

"Siapa yang menjadi saksi bahwa kau belum pernah tinggal pergi setindakpun?"

Desak si maling bintang.

"Ini..."

"Buyung, mungkin dijagad ini ada dua Suma Bing?"

Sebuah bayangan berkelebat mendatangi pula, itulah seorang perempuan pertengahan umur yang bersolek berkelebihan, dia bukan lain adalah Ong Fong jui bibinya Suma Bing.

Semua hadirin tertegun dibuatnya.

"Bibi!"

Seru Suma Bing kegirangan. Napas Ong Fong jui agak memburu, wajahnya agak kumal dan sedikit pucat, sekilas ia menyapu pandang keseluruh hadirin lalu matanya melotot kearah Suma Bing dan berkata.

"Anak Bing, apakah kau sudah gila?"

Berobah airmuka Suma Bing, sahutnya.

"Aku..."

"Secara kekerasan kau merebut Ce giok pe yap benda pusaka pelindung perguruan Ngo bi pay malah kau lukai dan bunuh Ong Tionglo salah satu dari ketiga pelindung mereka."

Suma Bing merasa adanya sesuatu keganjilan dalam urusan ini, sangkalnya gemetar.

"Bibi, aku belum pernah berbuat demikian!"

"Kau tidak"

Desak Ong Fong jui mengangkat alis.

"Ya, selama sebulan lebih, setindakpun aku belum pernah pergi dari sini!"

"Apa benar?"

"Tiada perlunya keponakan berbohong, apa kau juga berpendapat keponakanmu bisa berbuat hal2 yang demikian itu?"

"Engkoh Bing."

Sela Pit Yau ang dengan wajah berobah, suaranya juga gugup.

"Katamu selama satu bulan kau tidak meninggalkan tempat ini?"

Dirangsang berbagai pertanyaan ini Suma Bing menjadi pusing tujuh keliling, sahutnya keras saking jengkel.

"Tidak salah!"

"Kau... benarkah..."

"Adik Ang, apa artinya ini?"

"Duapuluh hari yang lalu bukankah kau kembali ke Perkampungan..."

Pit Yau ang menyangka karena untuk menghindari tuntutan yang mendesak ini baru dia mengeluarkan kata2 seperti diatas tadi, maka perkataannya hanya diucapkan setengah2 saja untuk mengawasi reaksinya.

Lain halnya dengan Suma Bing, memang hatinya putih bersih dan tiada ganjalan apa2, begitu mendengar perkataan Pit Yau ang yang diucapkan setengah2 ini, lantas dia merasakan kalau persoalan ini pasti ada latar belakangnya.

Kejadian ini terjadi mendadak dan semua menimpa keatas bahunya, ini pasti bukan terjadi secara kebetulan saja.

Maka dengan mendelikkan mata ia bertanya.

"Adik Ang, apa yang kau katakan?"

"Aku..."

"Katakan!"

"Duapuluh hari yang lalu, bukankah kau pernah kembali ke Perkampungan secara ter-gesa2 untuk mengambil Kiu im cinkeng..."

"Kiu im cinkeng?"

"Ha, kau..."

"Demi Allah setindakpun aku belum pernah meninggalkan tempat ini!"

Semua hadirin berobah airmukanya. Si maling bintang Si Ban cwan mundur beberapa langkah serunya terheran2.

"Buyung, jadi bukan kau yang membabat habis seluruh penghuni Bu khek po?"

"Cianpwe, masa kau tidak percaya kepadaku?"

"Aneh..."

"Pasti ada seseorang yang menyamar seperti bentukku untuk menyebar kejahatan ini."

"Ya, selain ini tiada keterangan lain yang dapat menjelaskan. Tapi siapakah dia? Dan apa maksud tujuannya?"

Mendadak Ong Fong jui membentak keras.

"Siapa itu main sembunyi2!"

Tubuhnya juga lantas melenting dengan kecepatan bagai kilat keluar hutan.

"Bujung,"

Ujar si maling bintang penuh penyesalan.

"aku si maling tua terlalu sembrono."

Suma Bing tertawa, sahutnya.

"Cianpwe tak usah gelisah dan jangan pikirkan lagi hal ini, yang sudah lalu tak perlu dipersoalkan lagi."

Pit Yau ang tampil kehadapan Suma Bing, suaranya gugup, gelisah.

"Engkoh Bing, buku Kiu im cin keng itu adalah kepunyaan ayah..."

Kata Suma Bing dengan gemas.

"Adik Ang, aku akan mencarinya kembali sekuat tenaga, orang yang menyaru sebagai aku itu, aku bersumpah akan menghancur leburkan!"

"Eh, engkoh Bing, pusara ini..."

"Phoa Kin sian telah meninggal,"

Kata Suma Bing pilu.

"sebab kematiannya biarlah kelak kuceritakan kepadamu!"

Meskipun pernikahan Pit Yau ang dengan Suma Bing dirayakan dengan peraturan adat istiadat yang resmi, tapi kalau diselami secara mendalam hakikatnya Phoa Kin sian adalah istri pertama yang sah, jadi mau tak mau Pit Yau ang hanya sebagai istri kedua.

Setelah mengetahui saingannya itu telah meninggal, entah bagaimana perasaan hatinya susahlah diutarakan.

Maka ter-sipu2 ia maju kedepan kuburan dan berlutut memberi penghormatan terachir serta mengheningkan cipta sekian lamanya baru berdiri lagi.

Suma Bing berpikir bolak-balik, serunya tegas.

"Sebetulnya aku hendak mendampingi pusara ini selama seratus hari, dengan adanya kejadian diluar dugaan ini, terpaksa kubatalkan janjiku kepada almarhum!"

"Engkoh Bing, aku..."

"Adik Ang, lebih baik kau kembali saja ke Perkampungan!"

"Aku ingin ikut kau..."

"Adik Ang, untuk mencegah kejadian yang terjadi seperti ini, lebih baik kau pulang saja."

Perkataan ini membuat tergetar perasaan Pit Yau ang, terpaksa dia manggut2. Mendadak Suma Bing teringat sesuatu, sikapnya serius.

"Adik Ang, letak Perkampungan kita sedemikian rahasia, orang yang menyamar sebagai aku itu bagaimana bisa masuk?"

Komisaris luar Teng Tiong cwan tiba2 bertekuk lutut dan menyahut tersenggak.

"Lapor Huma, karena kesalahan hamba yang ceroboh tanpa penelitian yang seksama, maka kusuruh seorang Hiangcu untuk mengundang serigala itu masuk kedalam rumah..."

"Coba kau tuturkan secara jelas!"

"Anak buah hamba Toan Bu jiang Hiangcu bergilir piket untuk memeriksa daerah sekitar seratusan li, secara tiba2 dia ketemu dengan orang yang menyamar sebagai Huma itu, kita tak dapat menduga antara tulen dan palsu, maka diundang masuk..."

"Aku sudah paham!"

Kata Suma Bing terus berputar menghadap Pit Yau ang katanya pula.

"Adik Ang, selanjutnya bagaimana?"

Kata Pit Yau ang penasaran.

"Bajingan itu pura2 sedang sakit selesma, hingga suaranya berobah serak. Karena tak menduga sehingga aku kurang periksa dan terjebak kedalam tipu dayanya. Begitu ketemu dia lantas menanyakan Kiu im cinkeng katanya ada keperluan yang sangat mendesak. Lalu cepat2 dia pergi lagi membawa Kiu im cinkeng, setelah kejadian itu aku baru sadar dan merasa adanya hal2 yang ganjil, maka buru2 aku keluar menyusul kau untuk menanyakan kebenaran ini!"

Komisaris luar Teng Tiong cwan tampil kedepan lagi dan berkata.

"Anak buah hamba Toan Hiangcu bertugas secara lalai, nanti setelah kembali pasti akan dihukum secara setimpal sesuai dengan peraturan dan undang2 kita. Tentang hamba sendiri harap Huma suka jatuhi hukuman yang setimpal juga."

Suma Bing mengulap tangan, katanya.

"Teng congkoan silahkan bangun, kejadian ini terjadi diluar dugaan, kesalahan bukan terletak pada kau seorang, sejak kini tidak perlu dipersoalkan lagi, hanya untuk selanjutnya kalian harus hati2 dan waspada!"

"Terima kasih akan kemurahan hati Huma!"

Baca Juga: Pedang Ular Merah 1

Baca Juga: Petualang Asmara 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert