Eps 10 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh
Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh
Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.
"Adik Ang, kau dan mereka bertiga segeralah pulang!"
"Tapi kau hanya seorang diri mana bisa aku lega hati..."
"Kau tidak perlu banyak kuatir tentang diriku."
"Biar kutugaskan Sim tong serta tiga orang Hiangcu untuk menjadi pengawalmu..."
"Ini juga tidak perlu!"
"Aku hanya tugaskan mereka mengikuti secara diam2, kalau perlu mereka bisa memberi kabar kepada kita"
Tak enak Suma Bing selalu menolak kebaikan istrinya, terpaksa dia manggut2.
"Begitu juga baik."
"Engkoh Bing jagalah dirimu baik2, setelah segalanya selesai segeralah kembali."
"Aku pasti kembali, Adik Ang kau juga hati2!"
"Hamba beramai menghaturkan selamat berpisah!"
Coh yu hu pit dan Teng Tiong cwan berbareng membungkuk memberi hormat. Suma Bing sedikit membungkuk sebagai balasan serta katanya.
"kalian tak perlu banyak peradatan!"
Dengan rasa berat yang menekan, Pit Yau ang ambil berpisah. Dengan nada berat si maling bintang Si Ban cwan berkata kepada Suma Bing.
"Buyung, menghadapi tipu muslihat yang rendah ini kau mempunyai perhitungan yang bagaimana?"
"Terutama harus menangkap pentolannya dulu."
"Menurut anggapanmu siapakah orangnya yang telah berbuat semua ini?"
"Saat ini susah dikatakan!"
"Eh, kenapa bibimu pergi lantas tidak kembali lagi?"
Sejenak Suma Bing melengak, lantas sahutnya.
"Mungkin mengejar musuh!"
Dimulut dia berkata demikian, namun dalam batin ia berpikir.
bibi sudah mewarisi seluruh kepandaian Pek kut Hujin, betapa tinggi kepandaiannya, susah dicari tandingan didalam Bulim, keselamatannya tak perlu dikuatirkan.
Kata si maling bintang lagi.
"Ciangbunjin Bu khek bun yang terdahulu adalah sahabat karibku yang paling kental, perguruannya tertimpa bencana sedemikian mengenaskan, dapatlah atau tegakah aku menggendong tangan menonton saja..."
Baru sekarang Suma Bing paham mengapa si maling tua tadi mentang2 dan sesumbar hendak menuntut balas tanpa memikirkan resikonya malah rela untuk gugur bersama.
Mendadak teringat olehnya waktu dirinya membunuh Bu khek Sianglo tempo hari, gadis remaja bernama Tio Keh siok itu, kepandaiannya jarang dicari tandingannya diBulim.
Masa orang yang menyamar sebagai dirinya itu berkepandaian sampai puncak yang tertinggi, kalau tidak masa sedemikian gampang dia membabat habis seluruh Bu khek po?
Sebelum dirinya datang, pihak Bwe hwa hwe juga telah meluruk kesana dan sesumbar hendak menumpas habis seluruh Bu khek po, tujuannya yang utama adalah Kipas batu pualam itu.
Sedang si durjana yang menyamar sebagai dirinya itu, telah merebut Kipas pualam itu juga, kedua belah pihak ini bertujuan sama, semua untuk mendapatkan Kipas pualam itu.
Apakah bukan perbuatan orang yang diutus oleh pihak Bwe hwa hwe?
Tapi darimana datang tokoh silat sedemikian lihay dari Bwe hwa hwe?
Seumpama Loh Cu gi sendiri Lwekangnya juga tidak unggul banyak dibanding Tio Keh siok.
Dalam jangka satu bulan, Perkampungan bumi kehilangan Kiu im cinkeng, Ce giok pe yap benda pusaka pelindung perguruan Ngo bi pay juga direbut orang, ini benar2 suatu berita yang menggemparkan, juga merupakan suatu tipu daya yang menakutkan.
Untuk memecahkan tabir rahasia ini, pertama2 harus menemukan dulu orang yang menyamar sebagai dirinya itu.
Siapakah dia?
Karena pikirannya dengan gelisah ia pandang si maling bintang serta tanyanya.
"Cianpwe, ada beberapa pertanyaan aku minta petunjukmu?"
"Coba kau katakan!"
"Kipas pualam dan daon giok ungu itu dikatakan sebagai mestika pelindung perguruan mereka, dimanakah letak kemujijatannya?"
"Konon kabarnya. Kipas pualam dari Bu khek po dan daon Giok ungu dari Ngo bi pay itu adalah benda2 mestika yang jarang didapat didunia ini, Kipas itu dibuat dari batu pualam yang sudah berusia laksaan tahun, sedang daon giok ungu itu dibuat dari batu giok hangat yang diukir berusia laksaan tahun juga. Jikalau kedua kipas dan daon ini digabung timbullah antara hawa negatif dan positip lalu dua hawa ini dapat membantu seseorang tokoh silat untuk menembus jalan darah mati dan hidup, sehingga bisa mencapai titik paling sempurna!"
Suma Bing manggut2 paham.
"Ada pertanyaan lain?"
"Dalam Bulim masa ini, siapakah kiranya yang paling pandai dalam ilmu rias?"
"Ini... terutama dari aliran Pek Kut Hujin yang mempunyai ilmu Hian goan tay hoat ih sek!"
Diam2 Suma Bing mengangguk, lalu katanya lagi.
"Menurut apa yang cayhe ketahui, ilmu Hoan goan tay hoat ih sek hanya dapat merobah bentuk badan sendiri tapi tak dapat untuk menyamai bentuk rupa orang lain..."
"Ya, memang begitulah!"
"Adakah tokoh yang lain?"
"Sin liong kay Ho Heng salah satu tertua Tianglo dari Kaypang adalah seorang ahli dalam bidang ini".
"Sin liong kay Ho Heng? Tiada orang lain lagi?"
"Agaknya tidak ada lagi yang perlu diketengahkan!"
Alis Suma Bing mengerut semakin dalam, dua sumber yang dikatakan si maling bintang ini agaknya kurang tepat dan tak mungkin terjadi.
Betapa tenar dan mulia Kaypang Tianglo itu sudah tentu dia takkan mau melakukan perbuatan rendah yang terkutuk itu.
Sedang aliran dari Pek Kut Hujin, adalah bibinya Ong Fong jui dan muridnya, mereka tidak perlu dikuatirkan dan tak perlu dicurigai lantas tanyanya lagi.
"Apa benar2 tidak ada yang lain?"
Sekian lama si maling bintang pejamkan mata berpikir, tiba2 dia membuka mata dan berkata ragu2.
"Ada sih ada, tapi..."
"Tapi kenapa?"
"Iblis itu sudah puluhan tahun yang lalu tidak muncul di Kangouw..."
Tergerak hati Suma Bing, tercetus seruan dari mulutnya.
"Pek bin mo ong?"
"Tidak salah!"
"Benar tentu dia!"
Teriak Suma Bing berjingkrak.
"Apa benar dia?"
"Tak perlu disangsikan lagi!"
"Buyung, dengan alasan apa kau berani memastikan?"
Suma Bing berdiam diri, dia tengah tenggelam dalam pemikiran untuk menyusun rasa kecurigaannya yang mengalutkan pemikirannya.
Menurut apa yang dikatakan bibinya tempo hari katanya bahwa Pek bin mo ong sudah muncul lagi didunia persilatan, mungkin dia inikah yang diangkat sebagai Maha pelindung oleh pihak Bwe hwa hwe.
Sedang Pek Chio Lojin sendiri juga pernah mengatakan, bahwa gabungan antara Kiu im cinkeng dengan Kiu yang sinkang dapat melatih suatu ilmu digdaya yaitu Bu khek sinkang.
Sesepuh atau tulang punggung dari Bwe hwa hwe adalah Loh Cu gi, siapa telah dapat melatih Kiu yang sinkang sampai tingkat kedua belas, kalau dia mengincar dan ingin mendapatkan pula Kiu im cinkeng adalah jamak dan tak perlu dibuat heran.
Pek chio Lojin adalah ayah mertua Loh Cu gi.
Sedang Raja iblis seratus muka adalah Suheng Pek chio Lojin, menurut sumber dari aliran ini, mungkin analisanya ini takkan salah dan luput.
Dirinya adalah musuh bebuyutan dari Bwe hwa hwe, kalau pihak musuh menyamar dirinya untuk menyebar maut berbuat kejahatan ini berarti satu kali panah mendapat dua ekor burung, bukan saja tujuan dapat tercapai, malah mendatangkan musuh menimpakan bencana ini kepada dirinya.
Tak tertahan lagi, ia membuka kata.
"Tepat pasti perbuatan raja iblis itulah!"
"Buyung."
Ujar si maling bintang gelisah.
"coba terangkan secara ringkas!"
Secara ringkas Suma Bing terangkan analisanya tadi, ber-ulang2 si maling tua membanting kaki dan menggaruk kepala.
"Buyung, ini mungkin terjadi, mungkin terjadi!"
"Cayhe masih ada sedikit kecurigaan."
"Tentang apa?"
"Bu khek Ciangbun Tio Leng wa mempunyai seorang anak perempuan bernama Tio Keh siok..."
"Ya, memangnya kenapa?"
"Kepandaiannya tidak lemah!"
"Budak itu semasa kecilnya ketemu rejeki, dia bukan terhitung anak murid Bu khek bun lagi, tapi asal-usul perguruannya kurang jelas, setiap tahun jarang pulang untuk menilik orang tuanya. Waktu peristiwa yang mengenaskan itu terjadi kebetulan dia tengah pergi keluar!"
"O, tidak heran, kalau tidak dengan kelihayan kepandaiannya pasti sedikitnya dia dapat mencegah atau merintangi ketelengasan musuh!"
"Ini sudah kehendak Allah, dan tak perlu penjelasan lagi, Buyung, dia... Cara bagaimana Phoa Kin sian bisa meninggal?"
Sekali lagi Suma Bing harus menghadapi kenyataan yang merenggut hati dan menyedihkan ini, sambil menahan airmata, secara ringkas ia bercerita.
Si maling bintang menggeleng2 kepala sambil berdiam diri, gumamnya.
"Takdir!"
Suma Bing ganda tertawa pahit. Kata si maling bintang sungguh2.
"Buyung, bagaimana tindakanmu selanjutnya?"
"Mencabut rumput sampai seakar2nya!"
"Bwe hwa hwe maksudmu?"
"Tepat sekali!"
"Dapatkah kau memasuki barisan pohon bunga Bwe itu?"
"Cayhe sudah mempunyai perhitungan, sekarang juga aku harus mengerjakan satu urusan besar!"
"Urusan besar apa?"
"Aku hendak menyambangi Si gwa sianjin, akan kuminta petunjuk tentang cara pemecahan barisan itu!"
"Kalau begitu, biarlah kita berpisah lagi melakukan kerjaan masing2!"
"Cianpwe silahkan!"
Tubuh si maling tua yang tambun bergolek seperti mentok berjalan, sebentar saja tubuhnya yang bundar itu sudah menghilang dibalik hutan sana.
Menghadapi pusara Phoa Kin sian Suma Bing mengheningkan cipta dan memanjatkan doa serta ambil berpisah, air mata meleleh deras tanpa terasa.
Setiap tiga tindak pasti dia menoleh dan berat untuk tinggal pergi, tapi toh akhirnya dia pergi juga sambil membekal hatinya yang sudah hancur luluh.
Gundukan tanah itu memendam istri serta anaknya yang belum lahir.
Tidak jauh dari letak kuburan itu, diluar rimba sebelah sana adalah jalan raya.
Kuda yang membedal keras dan para kaum persilatan yang melesat lewat dari sampingnya secepat terbang, lambat laun membangunkan semangatnya yang sudah lesu sekian lama ini sadarlah dia dari kesedihan yang mencekam sanubarinya, tanpa terasa gerak kakinya juga semakin cepat dan akhirnya dia berlari dengan pesatnya.
Bu eng san, sesuai dengan namanya atau gunung tanpa bayangan, untung tempo hari Suma Bing pernah datang satu kali, sedikit banyak dia sudah apal akan jalanan yang harus ditempuhnya, tanpa banyak memakan waktu ia langsung menuju ketempat tujuan.
Tidak lama kemudian tibalah dia dilereng gunung dipinggir sebuah batu besar yang berbentuk lancip.
Disinilah letak tempo hari dia bertanding dengan Si gwa sianjin.
Tempat yang lebih tinggi sebelah depan sana dia belum pernah datang.
Kini dia menjadi ragu2, haruskah dia terus menerjang keatas?
Karena keraguannya ini segera dia gunakan ilmu gelombang suara memancar ribuan li, dia salurkan seluruh hawa murninya terus berseru lantang kearah puncak.
"Si gwa Cianpwe, cayhe Suma Bing ada sedikit persoalan ingin bertemu!"
Sudah ber-kali2 ia ber-kaok2 tanpa reaksi atau penyahutan.
Beruntun lima kali dia menggembor sangat keras, setelah dinanti selama sepeminuman teh dan masih tanpa reaksi, timbullah rasa heran dan curiganya.
Sifat Si gwa sianjin sangat ganjil dan suka menyendiri.
Bagaimana juga dia takkan mau meninggalkan tempat pertapaannya ini, tapi mengapa keadaan tetap sunyi senyap tanpa reaksi apa?
Apa mungkin orang tua aneh ini tidak mau menemui orang yang belum dikenalnya?
Atau...
sekian lama dia ragu2 dan bimbang, akhirnya diambil keputusan untuk langsung meluruk keatas saja.
Kabut dipuncak lebih tebal, keadaannya sangat gelap pekat, tapi Suma Bing sekarang lain dengan Suma Bing tempo hari waktu pertama kali datang, kejelian matanya dapat memandang sejauh sepuluh tombak.
Tak lama kemudian tibalah dia diatas sebidang tanah datar, pemandangan disini lain dari yang lain, dihadapannya berdiri tiga bangunan rumah gubuk, kira2 tiga tombak diluar rumah gubuk itu berserulah Suma Bing lantang.
"Suma Bing mohon bertemu dengan Cianpwe!"
Sungguh aneh masih tetap tiada penyahutan.
Tanpa terasa merinding tubuh Suma Bing jikalau si orang tua itu tinggal pergi entah kemana, tentu telah terjadi sesuatu...
Dengan rasa was2 dia pandangi ketiga bangunan gubuk itu, kedua pintunya hanya dirapatkan saja sehingga ber-gerak2 keluar masuk dihembus angin pegunungan mengeluarkan suara kereyat-kereyot, suara ini menimbulkan suasana giris dan seram.
Akhirnya dengan memberanikan diri dia beranjak maju mendorong pintu terus melangkah masuk, dimana pandangannya menyapu, tanpa terasa dia berseru kejut heran.
Tampak seorang tua berambut ubanan yang mengenakan jubah kuning, dengan tenang dan kerengnya, duduk diatas sebuah bale2, dia bukan lain adalah Si gwa sianjin yang ingin ditemuinya.
Tersipu2 Suma Bing membungkuk tubuh memberi hormat serta sapanya.
"Cayhe sembrono menerjang masuk kemari, harap Cianpwe suka memaafkan!"
Sepasang bola mata Si gwa sianjin yang berkilat2 itu memancar memandang Suma Bing tanpa berkesip, lama kemudian baru dia mengeluarkan suara dengan ogah2an.
"Buyung kau inikah Sia sin kedua Suma Bing?"
Pertanyaan ini membuat hati Suma Bing melonjak kaget, bukan untuk pertama kali orang tua ini pernah bertemu dengan dirinya, bagaimana bisa mengeluarkan pertanyaan seperti ini, apalagi nada suara itu agaknya berlainan, cuma yang terang bahwa orang itu memang Si gwa sianjin adanya...
Maka sambil mengerut alis ia menyahut.
"Agaknya Cianpwe seorang pelupa, bukankah dulu cayhe pernah datang mohon sebatang rumput ular, masa..."
"0, lantas apa, maksud kedatanganmu kali ini?"
Suma Bing semakin tertegun heran, suara ini benar2 bukan keluar dari mulut Si gwa sianjin yang masih dalam ingatannya.
Maka dengan seksama penuh, rasa kecurigaan ia tatap wajah Si gwa sianjin, hatinya tengah berpikir keras.
Terdengar Si gwa sianjin berkata dingin.
"Suma Bing tempat kediaman Lohu ini selamanya dilarang siapapun sembarangan terobosan disini?"
Mendadak Suma Bing mendapat satu akal, cepat2 ia angkat tangan sembari berkata.
"Cianpwe harap sukalah kau memberi lagi sedikit rumput ular itu..."
Si gwa sianjin mengekeh tawa ejek, serunya.
"Buyung rumput ular adalah barang berharga yang tidak ternilai, darimana aku punya begitu banyak untuk diberikan kepada bocah seperti kau ini yang serakah."
Penyahutan ini seketika menghilangkan rasa kecurigaan Suma Bing, katanya pula memutar.
"Sebetulnya cayhe masih ada satu urusan minta petunjuk!"
"Coba katakan!"
"Urusan ini mengenai Bwe lim ki tin (barisan hutan bunga Bwe yang aneh)..."
"Apa?"
"Barisan hutan pohon Bwe!"
"Selamanya belum pernah Lohu dengar tentang barisan semacam itu!"
Suma Bing bungkam menelan ludah, memang dirinya sendiri yang menamakan barisan itu sebagai Bwe lim ki tin.
Sebab Bwe hwa hwe menggunakan pohon2 Bwe itu untuk membentuk barisan, hakikatnya dia sendiri tidak mengetahui barisan apakah ini namanya, cuma sembarangan saja dia namakan Bwe lim ki tin, kini setelah diberondong pertanyaan dia sendiri menjadi geli, maka segera ia menambahkan.
"Barisan ini terbentuk dari pohon2 bunga Bwe secara..."
"Lantas kau sendiri yang menamakan begitu?"
"Ya, begitulah!"
"Berapa banyak perobahan semua barisan dikolong langit ini takkan dapat meninggalkan dari sumbernya semula. Semua tidak akan lepas dari Ngo heng, Im dan yang atau aturan2 Kiu kong pat kwa, hanya caranya saja yang penuh variasi dari sang pencipta sendiri. Lohu sendiri belum pernah melihat barisan macam apakah itu, sudah tentu tidak dapat memecahkan barisan apakah itu?" 52 NENEK KEJAM YANG DOYAN MEMBUNUH. Suma Bing menjadi serba susah, namun dia belum putus asa, desaknya lagi.
"Cianpwe sudilah kiranya ikut wanpwe turun gunung..."
"Buyung, sudah puluhan tahun lohu belum pernah meninggalkan gunung ini!"
"Dapatkah dibuat kecualian?"
"Tidak mungkin!"
"Cayhe rela mengorbankan apa saja sebagai penggantian atas jerih payah ini!"
"Penghargaan?"
"Benar, dengan syarat apapun untuk saling tukar!"
"Lohu tiada niat untuk memperebutkan nama lagi, dan tak mau mohon kepada orang lain!"
"Apa cianpwe tak sudi membantu kesukaran ini?"
"Benar!"
Dingin perasaan Suma Bing, katanya apa boleh buat.
"Kalau begitu cayhe minta diri."
Merangkap tangan terus membalik tubuh hendak pergi.
"Nanti dulu!"
"Cianpwe masih ada pertanyaan?"
"Mendadak timbul niatku untuk berkenalan dengan Bwe lim ki tin seperti yang kau sebutkan itu!"
Diam2 Suma Bing membatin. 'orang aneh bertabiat aneh pula.' Cepat2 ia memberi hormat lagi serta ujarnya.
"Cayhe mengucapkan banyak terima kasih!"
"Tidak perlu, masih terlalu pagi kau menyatakan terima kasihmu. Kan lohu belum pasti mau memberitahukan cara bagaimana untuk memecahkan barisan itu!"
Suma Bing menjadi gopoh dan mangkel dalam hati, namun apa boleh buat, ujarnya.
"Terserah apa yang cianpwe kehendaki, kapan kita berangkat?"
"Sekarang!"
"Kalau begitu, silahkan!"
Se-konyong2 terdengar sebuah seruan yang nyaring melengking.
"Losuheng(kakak tua)!"
Mendengar suara ini tergerak hati Suma Bing, suara ini agaknya pernah didengarnya entah dimana.
Sebuah bayangan putih berkelebat, tahu2 dalam gubuk itu sudah bertambah seorang gadis serba putih yang cantik rupawan bak bidadari.
Dia bukan lain adalah Tio Keh siok itu putri Bu-khek Ciangbun Bu khek chiu Tio Leng wa.
Tanpa tertahan Suma Bing berseru kejut.
Tibanya Tio Keh siok ini benar diluar dugaannya, sedang panggilan kakak tua itu ternyata ditujukan kepada Si gwa sianjin, ini lebih mengejutkan hatinya.
Kalau Tio Keh siok dengan Si gwa sianjin ternyata adalah Suheng moay ini benar2 susah dapat dipercaya.
Paling banyak usia Tio Keh siok baru duapuluh tahun, sedang Si gwa sianjin sedikitnya juga sudah mencapai tujuhpuluh tahun, bagaimana bisa mereka belajar dalam satu perguruan?
Tokoh macam apa pula guru mereka itu?
"Losuheng!"
Sekali lagi Tio Keh siok memanggil.
Sorot mata Si gwa sianjin berjelalatan tidak tenang samar2 saja ia mendehem.
Waktu pandangan Tio Keh siok menyapu kearah Suma Bing, kontan dia tersentak kaget bagai disengat kala, wajahnya segera berobah beringas dan merah padam, makinya sambil tuding Suma Bing.
"Suma Bing, akan kubeset kulitmu dan kuhancurkan tubuhmu!"
Suma Bing menyeringai dingin sahutnya.
"Menuntut balas bagi Bu Khek sianglo?"
Tio Keh siok mendelik semakin buas, teriaknya.
"Suma Bing, kau ini seekor anjing yang rendah, sedemikian kejam kau menggunakan tanganmu memusnahkan seluruh Bu Khek po!"
Suma Bing sudah paham apa yang dimaksud oleh lawan sahutnya dingin.
"Nona Tio, sudikah kau dengar beberapa patah perkataanku?"
"Tidak sudi, aku hanya hendak membunuhmu!"
"Hal itu mungkin susah terlaksana!"
Sambil menggerung keras Tio Keh siok melesat maju menggerakkan tangan secepat kilat, pukulannya mengurung seluruh tubuh Suma Bing.
Kekuatan pukulan ini bukan olah2 dahsyatnya, apalagi dilancarkan dalam nafsu kebencian yang me-nyala2.
Suma Bing berkelebat sebat sekali bagai belut, dengan lincah dan tepat serta indah sekali ia hindarkan diri dari serangan lawan berbareng tubuhnya melesat keluar sampai diluar gubuk.
Tio Keh siok memekik gusar sambil mengejar keluar pintu.
Yang mengherankan ternyata Si gwa sianjin masih tetap duduk ditempatnya tanpa bergerak atau bergeming, serta tidak juga mengeluarkan suara.
Sedemikian dahsyat dan hebat pertempuran dua tokoh silat tinggi yang sudah mencapai kesempurnaan kepandaiannya.
Suma Bing bermaksud memberi penjelasan secara terang, maka dia tidak mau melukai lawan, maka setiap jurus gerak serangannya pasti mempunyai perhitungannya sendiri.
Sebaliknya bagi Tio Keh siok, bukan saja kepandaiannya memang sudah sempurna, apalagi lawan melancarkan serangannya dengan gencar serta sengit, maka tak heran Suma Bing mencak2 dan terdesak dibawah angin.
Dalam sekejap mata saja, dua belah pihak sudah melangsungkan gebrak yang kedua puluh jurus lebih.
Sampai akhirnya mau tak mau Suma Bing harus berpikir, kalau dirinya tidak memberikan sedikit hajaran kepada lawan, tak mungkin dia dapat membuat lawannya tunduk.
Hubungannya dengan Si gwa sianjin sebagai kakak adik seperguruan, kalau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan mungkin bisa membawa akibat jelek bagi tujuan kedatangannya ini.
Karena pikirannya ini segera ia membentak.
"Nona Tio, berhenti aku ada perkataan hendak kukatakan!"
Sikap Tio Keh siok mendengar tapi acuh tak acuh, malah serangannya semakin dipergencar, perbawa akibat dari serangannya ini benar2 laksana geledek menggelegar.
Sambil melayani setiap serangan musuh.
Suma Bing masih sempat berkata lagi.
"Kalau kau tidak mau berhenti, jangan salahkan aku berbuat dosa padamu!"
"Suma Bing!"
Desis Tio Keh siok menggertak gigi.
"kalau bukan kau yang mati biar aku yang mati!"
Suma Bing mejadi dongkol dan gemas, terpaksa akhirnya ia lancarkan jurus kedua dari Giok ci sinkang yaitu bintang berpindah jungkir balik.
Kontan terdengar suara keluhan seperti orang hampir muntah, terlihat Tio Keh siok terhuyung puluhan langkah jauhnya, tubuhnya limbung hampir roboh, mulutnya yang kecil melelehkan darah segar, wajahnya yang memang membesi gusar berobah semakin menakutkan.
Terbayang rasa menyesal diwajah Suma Bing, serunya gugup.
"Nona Tio, cayhe membunuh Bu khek sianglo adalah untuk menuntut balas sakit hati orang tuaku, perhitungan ini dapat kuakui. Tentang peristiwa yang menggemparkan Kangouw dengan terjadinya pembunuhan besar2an dan habis-habisan di Bu khek po serta peristiwa di Ngo bi san dll. Perlu kutegaskan sekali lagi aku menolak dan menyangkal tuduhan itu."
Tio Keh siok mendelik gusar dan menatap Suma Bing dengan kebencian.
"Kau menyangkal? Hm..."
"Ada seseorang yang menyamar sebagai aku menyebar maut dan melakukan kejahatan, sekarang cayhe sendiri tengah menyelidiki akan peristiwa ini, entah siapakah kiranya durjana itu...?"
"Ah, omong kosong!"
Berobah airmuka Suma Bing, sahutnya.
"Keteranganku sampai disini saja, terserah kau mau percaya tidak?"
Rona wajah Tio Keh siok tidak menentu, otaknya tengah menerawangi tindak apa yang harus dia lakukan selanjutnya, lama kemudian baru dia membuka suara lagi.
"Apakah bentuk tubuh seseorang juga dapat dipalsukan?"
"Betapa besar dunia ini, tidak sedikit orang pandai dan yang ahli dalam bidang ini!"
"Bagaimana tentang ilmu silatnya?"
"Ilmu silat?"
"Benar, dalam dunia Kangouw selain aliran dari Lam sia Kho Jiang, ada siapa lagi yang pandai menggunakan Kiu yang sinkang?"
Tanpa terasa tergetar dan berdebar keras jantung Suma Bing serunya kaget.
"Maksud nona bahwa semua korban itu adalah karena terkena pukulan Kiu yang sinkang?"
Tio Keh siok mengiakan sambil bertolak pinggang. Mendadak Suma Bing membanting kaki, serta merta mulutnya berseru.
"Pasti dia!"
"Dia siapa?"
Suma bing tidak menjawab dendam dan kebencian bergelora dan tengah mengalir deras dalam darah panasnya tidak perlu disangsikan lagi bahwa semua peristiwa ini pasti adalah perbuatan Loh Cu gi atau orang lain suruhannya.
Dia sudah menurunkan ilmu Kiu yang sinkang kepada para anak buahnya, ketiga pemuda yang dibunuhnya di Bu khek po tempo hari sebagai bukti yang nyata.
Bukankah mereka bertiga dapat atau mampu melancarkan ilmu dari ajaran Kiu yang sinkang...
"Siapakah dia?"
Desak Tio Keh siok lagi.
Kejadian ini merupakan penghinaan dan menjelekkan nama perguruannya, sudah tentu sukar baginya untuk membuka mulut memberi keterangan secara jelas, terpaksa dia mengalihkan bahan pembicaraan.
"Apakah nona kenal dengan si maling bintang Si Ban cwan?"
"Dia sebagai sahabat kental dari kakekku!"
"Asal mula peristiwa ini dia mengetahui paling jelas, kalau ada kesempatan silahkan nona langsung tanyakan kepadanya!"
"Kenapa tidak kau katakan sendiri?"
"Aku mempunyai kesukaran yang susah kuucapkan!"
"Suma Bing mengandal ucapanmu yang ngelantur dan tanpa bukti dan saksi ini, lantas kau hendak menghindari tanggung jawabmu?"
"Lalu apa kehendak nona sebenarnya?"
Tepat saat itu mendadak dari dalam gubuk itu terdengar jeritan serak yang menyayatkan hati.
Tio Keh siok dan Suma Bing terkejut bersama, berbareng mereka berpaling, ternyata bayangan Si gwa sianjin sudah menghilang dari dalam gubuk.
Sebentar Suma Bing mengerutkan alis, lantas dia juga ikut terbang masuk ke dalam gubuk.
Terdengar dari bilik sebelah samping jeritan Tio Keh siok yang menyedihkan.
"Losuheng, losuheng...!"
Sedikit berpikir tanpa ayal lagi segera Suma Bing juga menerobos kebilik sebelah kiri itu, sekali pandang seketika ia tertegun ditempatnya.
Tampak Si gwa sianjin menggeletak celentang diatas sebuah dipan dalam bilik itu, badannya berlepotan penuh darah, keadaan kematiannya sangat ngeri dan menyedihkan.
Siapakah yang dapat turun tangan sebegitu cepat dalam waktu yang singkat ini, sedemikian gampang dia membunuh seorang aneh yang tidak kemaruk harta dan nama didunia fana?
Kepandaian silat Si gwa sianjin sendiri bukan olah2 lihaynya, maka dapatlah dibayangkan algojo kejam itu pasti berkepandaian yang susah diukur tingginya?
Terang dia tadi duduk tenang diruang depan itu, bagaimana mendadak kedapatan telah mati konyol diatas dipan dalam bilik sebelah samping ini?
"Ganjil sekali!"
Suma Bing berkata seperti tengah menggumam, dengan langkah lebar dia mendekati tempat tidur... Sambil mengusap air mata, Tio Keh siok bertanya.
"Apanya yang ganjil?"
Tanpa menjawab terlebih dulu Suma Bing memeriksa jenazah dengan seksama, lalu serunya ter-buru2.
"Kejar jangan sampai si algojo itu lolos!"
Sekali melesat tubuhnya melompat keluar dari jendela.
Tampak alam disekitar dirinya hitam kelam diliputi kabut putih, sepuluh tombak diluar pandangannya keadaan semakin kelam dan remang, tanpa terasa dia menghela napas, ujarnya.
"Sayang, dalam suasana demikian, sepuluh orang juga gampang saja melarikan diri dengan selamat!"
"Apakah yang telah terjadi?"
Tanya Tio Keh siok keheranan dan tak mengerti.
"Si pembunuh itu telah lolos!"
"Apa kau melihat si pembunuh itu?"
"Tidak!"
"Lalu apa maksud perkataanmu tadi?"
"Suhengmu sudah meninggal kira2 setengah harian..."
"Setengah harian? Apa betul?"
"Betul, jenazah itu sudah dingin kaku, darahnya juga sudah membeku, kulitnya juga sudah berubah kehitaman semua ini sudah cukup membuktikan."
Tergetar seluruh tubuh Tio Keh siok beruntun dia mundur tiga langkah, katanya gemetar.
"Lalu orang didalam ruang tengah tadi...?"
"Dialah pembunuhnya!"
Lagi2 Tio Keh siok mundur dua langkah, air mukanya berobah, serunya penuh haru.
"Dia bukan losuhengku..."
"Palsu!"
"Jadi kau sudah tahu sebelumnya?"
"Tidak, sekarang baru aku tahu!"
"Mengapa?"
"Waktu tadi cayhe tiba kemari, lantas aku merasa sikap dan nada perkataan suhengmu agak ganjil, tapi aku tidak berani memastikan, selanjutnya kau lantas datang, begitulah duduk penjelasannya!"
"Siapakah dia?"
"Menurut hemadku, pastilah ini perbuatan dari Pek bin mo ong yang pandai merias diri dan malang melintang di Bulim itu. Jadi yang memalsu cayhe membabat habis Bu khek po dan melakukan kejahatan di Ngo bi san dan ngapusi..."
Sampai disini ia telan kembali perkataannya, sebab dia merasa tidak semestinya... menceritakan juga tentang hilangnya Kiu im cinkeng. Maka setelah merandek sejenak lantas dia menyambung lagi.
"Mungkin semua peristiwa itu dilakukan oleh satu orang!"
Tio Keh siok berkata dengan curiga dan tak percaya.
"Bukankah Raja iblis seratus muka itu sudah lama tidak muncul dalam Bulim?"
"Memang, tapi sekarang dia muncul lagi!"
"Apa maksudnya dia berbuat begitu?"
"Membabat habis Bu khek po adalah untuk Kipas pualam, sedang di Ngo bi san tujuannya adalah hendak merebut Ce giok pe yap..."
"Lalu mengapa pula dia membunuh suhengku juga?"
"Karena dia paham pelajaran tentang ilmu barisan!"
"Kiranya kau sudah tahu semuanya?"
Tanyanya Tio Keh siok sambil memandang Suma Bing penuh kekaguman.
"Ini hanja sedikit analisaku menurut keadaan!"
"Aku ingin mendengar penjelasanmu?"
"Kalau kipas pualam dan daon giok ungu itu digabung, dalam waktu yang singkat dapat membuat seseorang memperoleh tenaga dalam yang tiada taranya... Tentang tujuannya membunuh suhengmu adalah supaya rintang utama dari barisan pohon2 bunga Bwe diluar markas besar Bwe hwa hwe tetap utuh!"
"Bwe hwa hwe?"
"Ya, sebuah perkumpulan yang berambisi hendak menguasai dunia persilatan!"
"Raja iblis ini mungkin adalah Maha pelindung yang baru saja diangkat belum lama ini. Tapi, ini hanya merupakan dugaan saja, bagaimana duduk persoalan sebenarnya, perlu pembuktian dengan kenyataan yang harus kita selidiki secara mendalam!"
Sekian lama Tio Keh siok bungkam akhirnya berkata menggertak gigi.
"Bwe hwa hwe, pasti aku dapat menyelidikinya!"
Memandang kearah Tio Keh siok Suma Bing membuka mulut hendak berkata apa2 namun ditelannya kembali.
Kalau dia seperguruan dengan Si gwa sianjin, pasti dia ini juga paham intisari pelajaran tentang segala barisan.
Sekarang Si gwa sianjin sudah wafat, maka perjalanannya ini gagal total, kalau minta petunjuk kepadanya berat rasanya untuk mengucapkan.
Bukankah setengah jam yang lalu mereka adalah musuh bebuyutan yang harus menentukan mati dan hidup.
Tio Keh siok balas pandang Suma Bing dan berkata.
"Untuk apa tuan datang kemari?"
"Untuk menyambangi suhengmu!"
"Untuk apa?"
"Ada persoalan hendak minta petunjuknya, kini dia sudah menemui ajalnya maka tak perlu disinggung lagi. Hanya aku agak heran, suhengmu pandai dan paham akan segala pelajaran barisan mengapa ditempat kediamannya ini tidak dipasang perangkap semacam itu?"
"Seorang aneh kelakuannya juga aneh, dia anggap tiada rasa tamak untuk memperebutkan segala kemewahan duniawi, maka dia segan mengatur barisan jebakan!"
Suma Bing mengiakan dan manggut2 paham.
"Sekarang tuan boleh pergi!"
Sebetulnya ingin rasanya Suma Bing hendak menanyakan asal-usul perguruan orang, dasar sifat pembawaannya yang dingin dan congkak setelah mendengar pengusiran orang secara halus ini, dia manggut2 serta menyahut.
"Kalau begitu baiklah aku minta diri."
"Dan tentang..."
"Tentang apa?"
"Tentang kematian kedua susiokcoku, baiklah perhitungan ini kita batalkan!"
Suma Bing terharu dibuatnya, agaknya Tio Keh siok juga seorang gadis yang berpandangan obyektif dan tahu aturan maka ujarnya sopan.
"Sungguh cayhe sangat menyesal. Tapi memang terpaksa aku harus melakukannya!"
"Sudahlah, silahkan!"
Sudah dua kali Suma Bing diusir secara halus sudah tentu tiada muka dia terus tinggal ditempat itu, maka tanpa banyak kata lagi dia terus melesat turun gunung.
Begitulah tengah ia berlarian pesat, samar2 terlihat olehnya sebuah bayangan berkelebat dikejauhan sana bergerak cepat ditengah lautan kabut.
Tergerak hatinya, batinnya.
'Bukan mustahil dia ini orangnya!' karena pikirannya ini gerak tubuhnya dipercepat, maka secepat burung terbang dia mengejar dengan kencangnya.
Gerak tubuh bayangan itu tidak lemah, teraling oleh kepekatan kabut lagi, serta keadaan alam pegunungan itu sangat berbahaya dan penuh semak belukar pula, maka bayangan itu kadang2 terlihat dan kadang2 menghilang.
Sedemikian kencang Suma Bing mengejar namun sebegitu jauh masih belum dapat menyusulnya.
Satu jam kemudian mereka sudah keluar dari lingkungan lautan kabut.
Kini bayangan misterius itu sudah menghilang dan tak terlihat lagi.
Berdiri diatas sebuah puncak bukit, sungguh hati Suma Bing merasa sangat menyesal dan mashgul.
Dia curiga kalau bayangan itu adalah Raja iblis seratus muka orang yang membunuh Si gwa sianjin.
Atau mungkin juga orang yang memalsukan dirinya untuk melakukan berbagai kejahatan yang menggemparkan dunia persilatan itu.
Kalau bisul jahat ini tidak lekas2 dilenyapkan, akibatnya susahlah dibayangkan.
Karena tekadnya yang besar, sepasang matanya mencorong tajam menyapu keempat penjuru.
Se-konyong2 jeritan beberapa orang yang mengerikan memecah kesunyian alam pegunungan.
Terkejut Suma Bing dibuatnya, dialam pegunungan yang belukar ini darimana datangnya suara jeritan itu?
Terdengar dua kali jeritan lagi samar2 terbawa angin.
Didengar dari datangnya suara agaknya berada dibalik bukit dimana dia berada.
Suma Bing jejakkan kedua kakinya, seenteng burung walet tubuhnya melesat turun menuju kebukit sebuah belakang sana.
Sesampai dibawah bukit, tepat didepannya terbentang sebuah mulut selat yang sempit, beberapa mayat manusia tampak bergelimpangan tergenang dalam cairan darah.
Sekilas pandang lantas Suma Bing mengenal mereka adalah para anak buah Bwe hwa hwe, semua berjumlah tujuh orang, cara kematian ketujuh orang ini semua sama, yaitu hancur lebur batok kepalanya, sungguh sangat mengerikan.
Sungguh aneh, siapakah yang membunuh mereka, sedemikian kejam cara dia membunuh?
Para anak buah jagoan Bwe hwa hwe untuk apa datang diatas pegunungan yang jarang dijajaki manusia ini?
Waktu dia angkat kepala memandang kemulut selat, tergetar seluruh tubuhnya, merinding dan berdiri pula bulu kuduknya, beruntun mundur tiga langkah.
Tampak seorang nenek berhidung betet berpipi tepos dan bermuka lebar tengah duduk angker diatas sebuah batu besar yang mencegat dijalanan masuk kedalam selat sempit itu, kedua mata nenek tua beruban ini seakan mata burung hantu yang memancar dimalam hari memancarkan sinar kehijauan, dengan tajam dan mengancam tengah menatap Suma Bing.
Tak perlu disangsikan lagi, orang yang membunuh para jagoan dari Bwe hwa hwe itu pastilah si nenek tua ini.
Tanpa membuka mulut si nenek aneh itu angkat telapak tangannya yang kurus kering itu diarahkan kepada Suma Bing terus pelan2 ditarik mundur.
Dalam kejut dan herannya Suma Bing mendadak merasa sesuatu kekuatan daya sedot yang besar sekali tengah menarik dirinya maju kedepan.
Jarak kedua belah pihak kira2 empat tombak, tapi lawan dapat mengeluarkan tenaga daya sedot sedemikian besar ini benar2 sangat mengejutkan.
Dalam keadaan yang tidak bersiaga, Suma Bing terseret oleh daya sedot itu sampai sempoyongan maju beberapa langkah, maka cepat2 ia kerahkan hawa murninya serta sekuatnya menahan tubuh sendiri.
Tenaga daya sedot itu semakin lama semakin kuat.
Suma Bing kerahkan kekuatan Giok ci sinkang, pelan2 tenaga murninya tersebar keseluruh tubuh terus saling bertahan dan bentrok dengan tenaga daya sedot itu.
Seketika pandangan mata si nenek aneh mengunjuk rasa heran dan kejut, sekarang dia menggunakan kedua tangannya terus ditarik mundur sehingga rambutnya yang ubanan berdiri tegak, maka keadaannya yang ganjil semakin aneh dan lucu lagi seram menakutkan.
Kini Suma Bing sudah bersiaga daya pertahanannya sekokoh gunung, wajahnya yang membesi mengunjuk kehampaan.
Tiba2 si nenek aneh itu menarik kedua tangannya, suaranya terdengar serak kasar seperti suara burung kokok beluk.
"Setan kecil ada isinya juga, tapi kau harus mati."
Perkataan tanpa juntrungannya ini membuat Suma Bing melengak sambil garuk2 kepala, begitu ketemu orang lantas hendak membunuh, inilah kejadian aneh yang belum pernah didengarnya, apakah dia seorang kuntilanak yang kehilangan kesadarannya?
Tengah berpikir ini pandangannya menyapu keempat penjuru, tanpa terasa tenggelam dan membeku perasaan hatinya, tampak dimana2 terserak tulang2 putih manusia, ada kerangka yang masih lengkap ada pula yang sudah berantakan tak genah.
Maka sahutnya tertawa ejek.
"Apa aku pasti mati?"
"Benar!"
"Mengapa?"
"Bagi siapa yang melihat aku dia harus mampus!"
Suma Bing mengekeh dingin, serunya.
"Belum pernah kudengar kejadian seaneh ini."
Bola mata si nenek aneh memancarkan sinar kehijauan, tanpa berkedip dia pandang Suma Bing dengan perasaan gusar dan kebencian yang me-luap2.
Biasanya bagi mereka yang bermusuhan besar baru terunjuk sikap garang seperti itu.
Namun lain halnya dengan si nenek aneh ini, ternyata dengan sikap dan pandangan yang mengancam itu dia pandang Suma Bing, benar2 sangat aneh dan susah dipercaya.
Suma Bing sendiri juga melongo heran.
Si nenek aneh tertawa ter-serok2, seringainya dingin.
"Setan kecil, kulanggar kebiasaanku untuk memberi kesempatan kau meninggalkan namamu..."
"Melanggar kebiasaan? Kebiasaanmu itu tak perlu kau langgar, aku tidak sudi meninggalkan namaku!"
"Setan kecil, kau tidak tahu kebaikan!"
"Memangnya kau bisa apa?"
"Jadi kau ingin menjadi tulang2 kering tanpa nama?"
Suma Bing geli dan jengkel dibuatnya, ejeknya tak acuh.
"Cayhe masih belum ingin mati!"
"Tapi kau sudah pasti harus mati!"
"Kalau begitu ingin aku minta pengajaran, entah siapakah tokoh kosen ini?"
"Setan kecil, jangan banyak cerewet!"
"Sayang sekali!"
"Apa yang sayang?"
"Engkau tidak mau menyebut nama atau gelaranmu, kalau kau mati bukankah juga menjadi tulang2 kering yang tidak bernama seperti mereka2 itu."
Tenggorokan si nenek aneh berkerok2 mengeluarkan suara aneh yang keras, rambutnya yang ubanan seperti perak berdiri tegak semua teriaknya beringas.
"Setan kecil, terhitung kaulah yang sudah pernah melihat wajahku dalam waktu yang paling panjang sekarang serahkanlah jiwamu!"
Belum lenyap suaranya tubuhnya mendadak melejit maju kedepan Suma Bing terus ulur tangan mencengkram dada.
Cara cengkramnya ini benar2 hebat luar biasa kiranya tiada tandingan diseluruh kolong langit ini.
Sampai Suma Bing sendiri yang berkepandaian sedemikian tinggi juga tidak mampu berkelit lagi.
Keruan kejutnya bukan kepalang, tanpa disadari tubuhnya bergerak secara reflek menggeser kedudukan kesamping setombak lebih.
Tanpa disadarinya dia menggunakan gerak Bu siang sin hoat untuk menyingkir dari cengkraman lawan, setelah itu lantas dia menyesal.
Dia pernah bersumpah pada Giok li Lo Ci selamanya takkan menggunakan gerak tubuh ini, juga kepada pihak Siau lim si dia pernah berjanji untuk mengubur ilmu ini dari sanubarinya, untuk selamanya takkan muncul, dikalangan Kangouw, sungguh tidak nyana dalam keadaan yang kepepet dan tanpa sadar dia telah menggunakan ilmu yang digdaya itu.
Melihat cengkramannya mengenai tempat kosong, si nenek aneh mengeluarkan seruan kejut, tapi tangannya masih tetap bergerak secepat kilat, tahu2 cengkraman jurus kedua sudah merangsang tiba pula.
Lwekang Suma Bing setiap saat timbul menurut kesigapan perasaannya, dalam waktu yang pendek Giok ci sinkang sudah menyelubungi seluruh tubuhnya, telapak tangannya bergerak miring seperti membacok memapak cengkraman musuh.
Memang Giok ci sinkang sakti mandraguna, waktu cengkraman si nenek aneh merangsang tiba terpaut tiga senti diatas kepala Suma Bing, mendadak tertolak kembali oleh tenaga kuat yang merintangi tenaga serangannya.
Hanya dalam waktu yang pendek itulah bacokan telapak tangan Suma Bing juga sudah memapas tiba didepan dada musuh.
Kepandaian si nenek aneh ini memang luar biasa sekali, kalau dia teruskan cengkramannya pasti dirinya juga akan konyol.
Maka gesit sekali dia tekuk sikutnya kebawah untuk menangkis.
'Blang!' bacokan telapak tangan Suma Bing telak sekali membentur sikut lawan.
Terdengar si nenek aneh memekik kesakitan, cepat2 ia mundur tiga langkah.
Suma Bing sendiri juga terkejut melihat kekuatan musuh, agaknya inilah musuh paling tangguh selama dia kelana didunia persilatan.
Mendadak si nenek aneh berteriak nyaring.
"Tidak benar!"
Suma Bing tertegun dan melongo. Sorot si nenek ubanan memancarkan kemurkaan, makinya sambil menuding Suma Bing.
"Setan kecil, tadi kau melancarkan Bu siang sin hoat bukan?"
Suma Bing menjadi serba salah, harus mengakui atau tidak, seperti diketahui secara ceroboh tanpa sengaja dia lancarkan ilmu yang sudah pernah dijanjikan untuk tak diunjukkan lagi dikalangan Kangouw.
Kini telah ditunjuk secara terang2an oleh lawan tak heran dia maju mundur dan bimbang dibuatnya.
"Katakan setan kecil!"
Teriak si nenek beruban sambil berjingkrak seperti orang gila. Naiklah hawa amarah Suma Bing, sahutnya dingin.
"Kalau benar kau mau apa?"
Si nenek beruban melangkah setindak, geramnya sambil menggigit gigi.
"Kiong Ji lan si budak rendah itu termasuk apamu?"
Suma Bing tersentak kaget sampai mundur dua langkah, matanya kesima memandangi si nenek aneh.
Dari Kang Kun Lojin diketahui bahwa Kiong Ji lan adalah nama asli dari Bu siang sin li.
Bu siang sin li adalah tokoh aneh yang sangat disegani pada ratusan tahun yang lampau, kini secara se-mena2 dimaki sebagai budak rendah oleh lawan, ini benar2 sangat keterlaluan dan luar biasa.
Dari sini dapatlah diperkirakan kalau si nenek aneh ini pasti juga bukan tokoh sembarangan, mungkin tingkatannya juga tidak rendah.
Tapi siapakah dia ini?
Agaknya si nenek aneh ini terpengaruh oleh perasaannya kulit mukanya yang kurus tepos tinggal pembungkus tulang itu bergerak dan gemetar, raganya juga tergetar.
Keadaan ini membuat Suma Bing semakin heran dan tak habis mengerti.
Sekian lama bibir si nenek ber-gerak2 baru akhirnya terdengar suaranya berkata.
"Katakan setan kecil!"
"Apa yang harus kukatakan?"
Balas tanya Suma Bing.
"Kiong Ji lan si budak busuk itu apamu?"
"Maksudmu Bu siang sin li Locianpwe?"
"Cis, Locianpwe apa segala, budak rendah..."
Suma Bing pernah menerima ilmu digdaya dari Bunga iblis yang diwarisi oleh Bu siang sin li, dalam hatinya merasa sangat kagum dan hormat kepada cianpwe aneh yang sudah lama mangkat itu.
Tatkala mendengar makian lawan dia menjadi gusar dan merasa ikut terhina, sahutnya dingin kaku.
"Kau sudah tua dan jangan sembarangan membuka mulut memaki orang lain, untuk selanjutnya kuharap kau bicara mengenal sopan santun!"
"Setan kecil, berani kau memberi kuliah pada aku orang tua?"
"Jikalau kau tua tapi tidak mengenal penghargaan, seumpama tinggi tingkatanmu apa pula faedahnya?"
"Setan kecil, sebetulnya kau ini apanya?"
"Apapun bukan."
"Hah, lalu Bu siang sin hoat itu darimana kau pelajari?"
"Kiranya hal itu tidak menyangkut persoalanmu!"
"Aku orang tua harus menanyakan secara jelas."
Otak Suma Bing harus bekerja keras, batinnya, lebih baik kukorek keterangan yang lebih jelas dari mulutnya, siapa tahu persoalan itu merupakan rahasia terpendam dalam sejarah dunia persilatan yang sangat berharga.
Maka segera ia menyahut dengan suara berat.
"Apa kau benar2 ingin mengetahui?"
"Sudah tentu!"
"Terlebih dulu kuminta kau mau bicara secara terang, nanti biar kututurkan dan kubeberkan secara terang gamblang."
"Setan kecil, kau tidak setimpal untuk menanyakan urusan pribadiku!"
"Kalau begitu aku juga keberatan memberi tahu!"
"Kau ingin mampus?"
"Tidak gampang kau hendak membunuh aku!"
Agaknya si nenek beruban hampir saja hendak mengumbar nafsu amarahnya, namun sikapnya berobah menjadi lunak lagi, serunya uring2an.
"Setan kecil, karena dialah maka selama puluhan tahun ini kedua tanganku selalu berlepotan darah!"
Suma Bing mengerut kening, tanyanya.
"Jadi kau membunuh karena Bu siang Locianpwe?"
Si nenek manggut2 sambil mengiakan.
"Kenapa?"
"Karena dia telah membuat aku merana selama hidupku ini!" ________________________________________________ ___________________________________ Apa alasannya sehingga si nenek berani berkata begitu? Siapakah si nenek ini, mengapa pula dia berlaku begitu kejam? Mengapa dia memegat dijalan masuk kedalam selat sempit itu, ada apa dan siapakah yang berada didalam sana? Dalam usahanya menuntut balas, Suma Bing harus menghadapi berbagai jebakan dan rintangan malah dia harus berkecamuk dalam pertempuran dibawah keroyokan gembong2 silat lihay dari pihak Bwe hwa hwe langsung dibawah komando Loh Cu gi sendiri! 0oodwoo0
Jilid 14 53 CINTA ABADI SEORANG NENEK PEYOT. Perkataannya ini membuat jantung Suma Bing berdebar keras, tanyanya.
"Mohon dijelaskan!"
"Perkataanku habis sampai disini!"
"Kalau begitu harap diketahui bahwa cayhe dengan Bu siang Locianpwe hanya ada sedikit jodoh."
"Jodoh, apa artinya?"
"Aku pernah menerima kebaikan dari dia orang tua!"
"Kau bukan muridnya?"
"Bukan!"
"Dapatkah dipercaya omonganmu ini?"
"Terserah kepada cianpwe!"
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Ini..."
"Hm, dia membuat aku merana selama hidup ini, aku harus membalas, aku harus menghadapinya secara langsung."
"Itu tidak mungkin!"
"Kenapa?"
"Sebab dia orang tua sudah lama wafat."
Mendadak si nenek aneh itu membanting kaki, sambil menggerung gusar.
"Dia sudah mati."
Suma Bing mengiakan.
"Dia... sudah mati? Tidak, dia tak boleh mati, dia harus mati ditanganku, dia... setan kecil, dimana dia dikubur... dia..."
"Masa cianpwe hendak menuntut balas terhadap orang yang sudah meninggal?"
"Benar, kuhancur leburkan tulang belulangnya dulu, baru membabat keturunannya."
"Baiklah aku tidak akan membuka mulut lagi."
"Setan kecil, tiada tempatmu turut bicara disini..."
Dingin perasaan Suma Bing, serunya.
"Orangnya mati permusuhanpun himpas."
"Katakan, dimana dia dikubur?"
"Aku tidak akan memberi tahu."
"Kau berani?"
"Bukan soal berani atau tidak, kan sudah cayhe katakan tidak akan memberitahu!"
"Kau ingin mati?"
"Mengandal kepandaianmu kau belum mampu mencabut nyawaku!"
"Lihat serangan!"
Diiringi ancamannya ini serangannya juga lantas merangsang maju, seketika gelombang angin puyuh bagai gugur gunung menerpa keras ber-gulung2 kearah Suma Bing.
Ter-sipu2 Suma Bing angkat tangan untuk menangkis.
Dentuman keras menggetar bumi membuat si nenek aneh itu terpental mundur tiga tindak, sedang Suma Bing hanya limbung bergoyang gontai, namun kakinya sedikitpun tidak bergeser.
"Setan kecil, kau..."
"Aku kenapa?"
"Kau murid siapa?"
"Tak dapat kuberitahu!"
Si nenek aneh beruban ber-teriak2 gusar sambil menyerang lagi, tampak dalam kedua tangannya bergerak diayun itu berpetalah bayangan delapan belas telapak tangannya bersama itu semua menungkrup kearah delapan belas jalan darah penting ditubuh musuh.
Jurus serangan semacam ini benar2 belum pernah dengar dan lihat.
Sudah tentu Suma Bing tidak berani berlaku gegabah, tidak kalah sigapnya jurus bintang berpindah jungkir balik, jurus kedua dari Giok ci sinkang juga segera diberondong keluar untuk menandingi serangan musuh.
Karena tidak mampu memunahkan serangan musuh yang hebat dan ajaib itu maka terpaksa dia menyerang untuk balas menyerang.
Mendadak si nenek aneh menarik pulang serangannya ditengah jalan, gesit sekali tubuhnya terus melesat kesamping sejauh setombak lebih, mulutnya juga berseru heran.
Reaksi Suma Bing sendiri juga tidak kalah sigap, melihat lawan batal menyerang diapun mengendorkan tenaga, dan membatalkan serangan balasannya.
Sekarang sinar mata si nenek aneh memancarkan cahaya yang aneh, dengan tajam dia menatap Suma Bing, tapi sinar matanya ini tidak seperti tadi yang beringas dan ber-api2, malah suaranya kini terdengar kalem dan sabar.
"Buyung agaknya terpaksa aku harus melanggar sumpahku!"
Sikap Suma Bing tetap dingin angkuh, tanyanya.
"Melanggar sumpah apa?"
"Mendadak aku tidak ingin membunuh kau lagi."
Diam2 Suma Bing tertawa geli, pintar juga nenek aneh ini mengikuti arah angin memutar haluan, terang dia takkan bisa menghadapi dirinya, sebaliknya mengatakan melanggar sumpah apa segala, diapun segan menyindirnya, hanya sikapnya tetap angkuh katanya.
"Itupun kenapa?"
"Pertama cara bersilatmu kentara kau bukan murid budak rendah itu."
"Lalu ada apa lagi?"
"Kedua, mungkin kau dapat membantu aku melaksanakan satu cita2!"
Bukan terkejut sebaliknya Suma Bing merasa aneh tanyanya.
"Cita2 apa?"
"Aku tidak akan minta kepadamu secara cuma2!"
"Cayhe sendiri juga belum tentu setuju!"
"Hm, orang paling sombong yang pernah kulihat selama seabad ini."
"Ah, terlalu dipuji2."
"Buyung, cobalah kau pandang kedalam selat sempit itu."
Dengan heran Suma Bing memandang menurut apa yang diminta, tampak selat sempit itu hanya selebar puluhan tombak, kedua sampingnya adalah dinding batu yang terjal seperti dipapasi dengan senjata tajam, sedemikian tinggi kedua lamping ini sehingga menembus langit, keadaannya sangat sunyi dan gelap menyeramkan apapun tidak kelihatan.
"Sudah lihat belum?"
"Melihat apa ?"
"Lihatlah mulut lembah itu."
Sekarang Suma Bing memandang lebih seksama, memang dimulut lembah itu muncul dan merintang ditengah jalan sebuah batu cadas besar persegi setinggi dua tombak lebih dibelakang batu besar ini terserak tidak teratur banyak sekali batu2 runcing yang sekilas pandang saja tiada sesuatu yang kelihatan aneh.
"Bagaimana?"
"Maksudmu batu besar itu? Adakah guna faedahnya?"
"Sudah enampuluh tahun lebih batu itu menghalangi aku masuk kedalam lembah!"
Sudah tentu Suma Bing semakin heran dan tak mengerti, sambil garuk2 kepala.
Meskipun batu itu besar dan tepat berada ditengah, namun lembah itu lebar sepuluh tombak jadi masih banyak tempat luang yang tidak terintang untuk keluar masuk, orang akan menyangka perkataannya itu bukan keluar dari mulut seorang yang berotak waras.
Melihat sikap Suma Bing yang ragu2, si nenek menegasi.
"Buyung, kau tidak percaya?"
"Memang susah untuk dipercaya!"
"Lebih baik kau pergi mencobanya!"
"Mencoba bagaimana?"
"Coba kau dapat melewati batu besar itu sejauh sepuluh langkah tidak?"
Melihat sikap orang yang sungguh, timbul keinginan Suma Bing batinnya, 'bukan mustahil memang ada sesuatu keganjilan didalam sana, biarlah kucoba.' Cepat sekali dia berlari badannya melenting kearah mulut lembah itu, baru saja ia mengitar kebelakang batu besar itu, pandangan didepannya mendadak berobah terlihat batu2 aneh bermunculan dan berserakan bagai hutan, jalan diantara empitan batu2 itu berliku2 tidak menentu, dihembus angin sepoi2 lagi sehingga terasa dingin menembus tulang, bila dia berpaling melihat kebelakang, tanpa terasa berjingkrak kaget, pemandangan dibelakangnya juga sama saja batu aneh dan jaluran jalan yang sempit belak-belok ber-lapis2 susah dibedakan mana timur barat atau selatan.
Ini merupakan sebuah barisan.
Baru sekarang dia percaya akan perkataan si nenek aneh ternyata bukan bualan belaka sekali melejit Suma Bing lompat keatas sebuah batu runcing yang agak tinggi, pemandangan dari ketinggian ini ter-lihat remang2 gelap tanpa terlihat ujung pangkalnya.
Mendadak sebuah suara terkiang dipinggir telinganya.
"Buyung, jangan banyak bergerak, biar kutolong kau keluar dari sini!"
Terasa lengannya kenceng dicengkram seolah2 tubuhnya dijinjing ketengah udara, tahu2 dimana pandangannya kembali terang ternyata dirinya sudah tiba pula diluar mulut selat lagi.
Pemandangan didepannya tidak berobah tetap batu besar itu yang terlihat merintangi jalan.
"Bagaimana Buyung?"
Tanya si nenek aneh setelah duduk kembali dibatu tempatnya tadi.
"Itu merupakan sebuah barisan?"
"Ya,"
Sahut si nenek sambil manggut2.
"Siapakah yang membangun?"
"Orang yang selalu kuingat selama enam puluh tahun itu."
"Siapa?"
"Aku tidak senang menyebut namanya!"
"Dengan cianpwe adalah..."
"Musuh bebuyutan!"
"Dia menetap dalam lembah ini?"
"Benar, sudah selama enampuluh tahun aku menunggunya diluar sini..."
"Enampuluh tahun lebih?"
Tanya Suma Bing terperanjat.
"Barisan itulah yang merintangi cianpwe sehingga tidak bisa masuk kedalam lembah sana?"
Si nenek ganda manggut2 sebagai penyahutan.
"Pernahkah dia muncul?"
"Pernah!"
"Lalu kenapa cianpwe tidak segera menyelesaikan secara berhadapan?"
"Itu terjadi sebelum enampuluh tahun yang lalu,"
Si nenek menjelaskan dengan uring2an dan penuh kebencian.
"Waktu pertama kali aku datang kemari dia pernah keluar katanya jikalau aku dapat memecahkan barisannya itu dan masuk kedalam sana, dia mandah terima perintah apa saja dan pasrah nasibnya ditanganku. Sejak saat itu, lantas dia tidak pernah muncul lagi sampai sekarang!"
Diam2 Suma Bing melelet lidah, entah ada permusuhan apakah si nenek tua ini dengan penghuni dalam lembah itu, sedemikian berat dan rela dia mau menunggunya diluar lembah ini selama enampuluh tahun tanpa bosan2.
Kalau dia memaki Bu siang sin li sebagai budak busuk, terang kalau usia dan tingkatannya pasti tidak berbeda seberapa.
Itu berarti bahwa usianya pasti juga sudah seabad lebih.
Dari nada perkataannya, antara si nenek tua ini dengan Bu siang sin li agaknya ada ganjalan hati atau permusuhan lama.
Tapi siapa pula orang yang menghuni didalam lembah itu.
Mengapa dia sampai sedemikian sabar menunggunya selama puluhan tahun?
Kalau barisan aneh itu merintangi dan dia sendiri tidak mampu memecahkan bukankah seumur hidup dia menunggu disini juga akan sia2?
Akhirnya pikiran Suma Bing melayang dan terkenang akan Sucinya Sim Giok sia bukankah karena "cinta"
Sehingga Sucinya itu menderita dan sengsara selama tigapuluh tahun, sehingga mengubur seluruh masa remajanya.
Akhirnya meskipun dapat mencapai cita2nya yang terakhir dan dapat terlaksana pertemuan kembali dengan Tiang un Suseng.
Sayang nasib dan kodrat ilahi telah menuntun dan mengatur perjalanan hidup mereka selanjutnya.
Sepasang kekasih yang dimabuk cinta ini akhirnya harus menemui ajalnya, didalam penjara bawah tanah Bwe hwa hwe.
Lantas terbayang juga akan sumpah setia Giok li Lo Ci kepada suhunya, sedemikian besar rasa cintanya kepada suhunya sehingga lupa waktu lupa segalanya sampai usia sendiri sudah lanjut masih tanpa disadari.
Wanita aneh tua, dihadapannya ini bukan mustahil juga seorang yang menjadi korban akan kegagalan cintanya?
Maka tak tertahan lagi segera ia bertanya.
"Penghuni dalam lembah itu apakah seorang pria?"
Bermula sikap si nenek menjadi lesu dan mashgul, namun lantas berkobar pula perasaan bencinya, desisnya rendah.
"Buyung kau berkata benar!"
"Orang dalam lembah itu berhubungan sangat erat dengan cianpwe?"
"Ya erat sekali sampai aku bersumpah harus membunuhnya baru lega hatiku."
Tubuh Suma Bing gemetar dan bergidik, kalau terkaannya tidak salah, pasti rasa benci yang berlebihan ini timbul karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Lalu kenapa cianpwe harus selalu membunuh orang?"
"Aku benci seluruh lelaki diseluruh kolong langit ini!"
"Kenapa?"
Tanya Suma Bing berjingkat.
"Buyung, sudah terlalu banyak kau bertanya!"
"Hanya karena benci maka cianpwe membunuh orang?"
"Benar, itu juga terbatas ratusan li dalam lingkungan selat ini. Jikalau ada orang berani menerjang masuk, hanya ada satu jalan bagi dia, yaitu mati!"
"Bukankah perbuatan ini terlalu kejam?"
"Kejam? Hahaha..."
Gelak tawa yang menggila ini seakan tangisan setan dimalam hari, seumpama lolong srigala ditengah malam, membuat orang mengkirik seram.
Agak lama kemudian baru tawanya yang memilukan itu berhenti dan katanya lagi.
"Secara mentah jiwa hidupku selama ini dikubur hidup2, seorang gadis jelita, dia harus hidup merana dalam jurang kesedihan sehingga menjadi seorang nenek2 tua yang bongkok dan tinggal kulit pembungkus tulang ini, apakah ini tidak terlalu kejam?"
"Ini..."
Suma Bing kehilangan kata2nya, bukankah dirinya sendiri juga tengah terombang-ambing dalam dendam dan budi. Berhenti sebentar lantas dia melanjutkan memutar haluan.
"Lalu apa yang cianpwe tunggu sampai sekarang?"
"Memecahkan barisan dan masuk kedalam!"
"Tapi..."
"Hahahaha... puluhan tahun yang sudah terbuang ternyata tidak sia2, telah kutunggu2 saatnya seperti ini, akhirnya Tuhan telah mengirim kau datang kemari!"
Diam2 terkejut Suma Bing, tanyanya heran.
"Apa maksud perkataan cianpwe ini?"
"Kau dapat membantu aku memecahkan barisan itu!"
"Sedikitpun aku tidak paham akan segala barisan?"
"Itu tidak menjadi soal!"
"Sungguh aku tidak paham?"
"Kulihat dari cara turun tanganmu tadi, agaknya kau melatih suatu ilmu sakti semacam Sian thian bu khek sinkang yang peranti untuk melindungi badan, kalau kau dapat menggunakan ilmu saktimu itu untuk memecahkan batu besar itu, barisan itu akan hancur total tanpa kita menyentuhnya lagi. Kau sudah paham?"
Baru sekarang Suma Bing sadar, ternyata si nenek tua ini hendak meminjam tenaganya atau ilmu Giok ci sinkangnya untuk menghancurkan batu besar itu. Maka katanya menyindir.
"Kiranya cianpwe juga seorang welas asih!"
"Memangnya kenapa?"
"Apakah cianpwe berpendapat kalau aku pasti mau membantu?"
Si nenek tua berjingkrak berdiri, semprotnya gusar.
"Apa bocah jadah kau tidak mau membantu?"
Sahut Suma Bing tawar.
"Tiada alasannya aku harus membantu kau memecahkan barisan itu supaya kau dapat leluasa membunuh orang."
"Berani kau menentang aku"
Teriak si nenek dengan murkanya. Sekilas Suma Bing menyapu pandang lawan dingin, lalu katanya ogah2an.
"Ini bukan soal berani atau takut?"
"Kubunuh setan cilik seperti kau ini!"
"Tidak segampang perkataan yang kau ucapkan?"
Saking murka badan si nenek sampai gemetar, rambutnya yang ubanan juga riap2an sepasang matanya memancarkan cahaya yang menakutkan. Namun sikap Suma Bing tetap tenang seolah2 tidak melihat, katanya.
"Maaf cayhe minta diri."
"Setan kecil, seumpama tumbuh sayap juga kau takkan dapat lolos!"
"Apakah perkataan cianpwe ini tidak keterlaluan?"
Se-konyong2 sebuah bayangan putih bagai awan mengembang laksana air mengalir enteng sekali tanpa suara melayang tiba.
Diam2 tercekat hati Suma Bing melihat bayangan orang yang sudah dikenalnya ini.
Sesaat dia berpikir, bayangan putih itupun telah melayang tiba.
Tanpa kuasa Suma Bing berseru kejut.
"Kau!"
Memang yang mendatangi ini bukan lain adalah Tio Keh siok, putri Bu khek ciangbun atau adik seperguruan dari Si gwa sianjin.
Entah untuk apa Tio Keh siok muncul disini.
Aneh sikap si nenek tua sedikitpun dia tidak memberikan reaksi akan kedatangan Tio Keh siok ini, acuh tak acuh tanpa mengerling matapun jua.
Agaknya Tio Keh siok sendiri juga heran melihat kehadiran Suma Bing ditempat ini.
Dengan penuh tanda tanya ia pandang Suma Bing dan berseru.
"Kau!"
"Apakah nona Tio sudah selesai mengurus jenazah Suhengmu?"
"Bagaimana bisa kau..."
Baru setengah perkataannya, matanya lantas mengerling kearah si nenek aneh, seketika ia telan kembali perkataan selanjutnya.
Maka terdengar si nenek mendengus se-keras2nya sambil menggerung.
Setelah memandang Suma Bing keheranan dan ber-tanya2 akhirnya Tio Keh siok berkelebat melesat memasuki selat sempit itu, sebat sekali dia sudah memutar kebelakang batu besar itu lantas tubuhnya terbang menghilang.
Kecepatan gerak tubuhnya itu benar2 luar biasa seumpama setan melayang dibawa angin lalu.
Suma Bing terhenyak dan terpekur ditempatnya.
Kalau Tio Keh siok dapat masuk keselat itu sedemikian gampang tanpa rintangan, pasti dia adalah murid orang dalam selat itu, dia memanggil Si gwa sianjin sebagai Losuheng, kalau diukur dari usia Si gwa sianjin, maka usia orang dalam selat itu sedikitnya sudah seabad, dan rekaannya ini agaknya memang sedikit mendekati kenyataan, justru yang mengherankan kalau penghuni lembah itu sudah selama enam puluh tahun tidak pernah keluar meninggalkan tempat kediamannya lalu darimana dia bisa peroleh seorang murid wanita yang masih sedemikian muda?
Si gwa sianjin termashur akan ilmu barisannya, maka dapatlah diperkirakan kalau penghuni lembah itu pasti juga seorang ahli dalam bidang ini.
Maka timbullah sedikit harapan dalam benaknya.
"Buyung,"
Terdengar si nenek aneh berkata mendesis.
"Kau kenal dengan budak kecil itu?"
"Ya, pernah bertemu beberapa kali!"
"Hm,"
Entah apa maksud suara dehemannya ini, Suma Bing tidak sudi banyak memikirkan, malah lantas tanyanya ingin tahu.
"Dia juga orang dari lembah itu?"
"Benar!"
"Murid penghuni lembah itu? Bukankah penghuni lembah itu sudah mengasingkan diri selama enam puluh tahun tak pernah keluar, darimana dia dapat memperoleh murid semuda itu?"
"Sepuluh tahun yang lalu, budak kecil itu masih merupakan orok kecil yang mungil, dia diculik seorang penjahat dan dibawa lari lewat daerah ini, penculik itu telah kubunuh dan budak kecil itu lantas dibawa masuk kedalam lembah oleh murid terbesar penghuni lembah itu, dan selanjutnya lantas dirawat sampai besar..."
"O, tidak heran..."
"Apanya yang tidak heran?"
"Agaknya cianpwe tidak bersikap bermusuhan terhadap dia!"
"Sudah kukatakan aku hanya membenci kaum pria!"
"Boleh dikata cianpwe pernah menanam budi karena menolong jiwanya bukan?"
"Omong kosong, selamanya aku tidak pernah menanam budi pada orang lain. Sudah suratan takdir yang mengatur cara hidupnya!"
Suma Bing membatin, watak si nenek aneh ini mungkin tidak lebih sesat dan lebih ganjil dari sifat2 gurunya Lam sia! Bola mata si nenek aneh berputar, agaknya dia teringat sesuatu, serunya.
"Buyung, kau mau membantu aku memecahkan barisan itu bukan?"
"Cayhe tidak pernah mengatakan demikian!"
Tiba2 terdengar derap langkah orang banyak disertai suara ribut percakapan orang tengah mendatangi semakin dekat. Si nenek aneh berubah membalikkan mata, katanya berbisik.
"Buyung, ada orang datang!"
"Memangnya kenapa?"
"Kau jangan se-kali2 berani melanggar ketentuanku, sekarang kau minggir kesamping!"
Lebih baik aku menonton saja cara bagaimana dia hendak menghadapi orang2 yang baru datang itu, demikian pikir Suma Bing, maka sambil mengiakan ia minggir kesamping mengumpat dibelakang sebuah batu besar.
Si nenek aneh masih tetap duduk diatas batu besar dimulut selat itu tanpa bergerak.
Warna pakaiannya hampir sama dengan warna batu yang diduduki, ditambah sekelilingnya ditumbuhi rumput dan dedaonan yang agak lebat dan tumbuh subur, kalau tidak maju mendekat memang sukar dapat dibedakan dan dapat melihat tegas.
Derap langkah dan suara percakapan orang2 itu semakin keras dan sudah dekat didalam hutan sebelah sana.
Terdengar sebuah suara serak berat tengah berkata.
"Lapor kepada Hu hoat(pelindung), dimulut selat itulah Hu hiangcu beramai menemui ajalnya."
Terdengar pula sebuah jawaban yang bernada dingin kaku.
"Apa kalian benar2 melihat sendiri kalau mereka mampus ditangan seorang nenek tua renta?"
"Ya, ketujuh rekan itu semua meninggal dalam sekejap saja!"
"Kenapa kalian tidak maju membantu?"
"Ini... hamba memang berdosa, sebab dilihat situasi waktu itu jikalau kita maju juga seumpama kutu menerjang api saja. Sedang tugas penting hamba beramai hanyalah mencari jejak Sia sin kedua!"
"Hm, baik, justru Lohu tidak percaya akan semua kejadian ini, biar kuselidiki sendiri secara seksama..."
Seketika timbul amarah dan nafsu membunuh Suma Bing yang bersembunyi dibelakang batu itu.
Kiranya para kurcaci dari Bwe hwa hwe ini tengah mencari jejaknya sehingga sampai disini.
Agaknya setiap gerak geriknya selalu menjadi incaran dan dalam pengawasan ketat pihak musuh.
Terdengar suara serak berat itu berkata lagi.
"Lapor Hu hoat..."
"Ada apa lagi?"
Menurut pendapat hamba yang bodoh ini, lebih baik kita nantikan dulu kedatangan Thay siang hu hoat (maha pelindung)..."
"Tak usah, Lohu mempunyai perhitungan sendiri."
Tanpa terasa melonjak keras jantung Suma Bing, Maha pelindung yang dikatakan pihak lawan itu entah tepat atau tidak dengan rekaannya yaitu Pek bin mo ong atau raja iblis seratus muka itu.
Jikalau benar, terhitung raja iblis ini memang sudah ditakdirkan untuk mampus hari ini.
Tengah benak berpikir ini, terlihat sebuah bayangan orang muncul dari balik rimba sebelah sana, pelan2 tengah menghampiri kemulut lembah!
Begitu melihat tegas orang yang mendatangi ini Suma Bing berjingkrak kaget.
Kiranya orang yang mendatangi ini bukan lain adalah Hui bing khek itu sisa dari empat setan gantung yang masih ketinggalan hidup, dia merupakan pelindung atau kaki tangan terpercaya dari Loh Cu gi musuh besarnya nomor satu.
Menggunakan ilmu Coan im jip bit cepat2 ia mengisiki kepada si nenek aneh beruban.
"Cianpwe, orang yang mendatangi ini adalah musuh besarku, cayhe hendak turun tangan membunuhnya?"
"Tidak bisa, jangan kau melanggar perundang2ku!"
"Aku tidak perduli segala peraturan tetek bengek!"
"Buyung berani..."
Pada saat itu juga Hui bing khek sudah melihat si nenek beruban, seketika ia menghentikan langkahnya serta tertawa menyeringai dan katanya.
"Tokoh kosen siapakah ini?"
Sikap si nenek ogah2an tanpa membuka suara menjawab, tiba2 kedua tangannya diangkat lalu pelan2 ditarik kembali...
Baru sekarang Hui bing khek merasakan keadaan ganjil yang tidak menguntungkan dirinya, ter-sipu2 ia memutar tubuh, namun sudah terlambat, suatu daya tenaga sedot yang maha kuat tiba2 menyeret tubuhnya kembali.
Pada saat itulah Suma Bing juga sudah bertindak, sebelah tangannya diayun, sejalur gelombang kekuatan hawa yang kuat menerjang tiba di-tengah2 antara kedua orang itu.
'Bum!' terdengar ledakan dahsyat, kontan Hui bing khek terjungkal jungkir balik namun lantas dia merasa bebas dari kekangan tenaga daya sedot itu.
"Setan kecil, berani kau!"
Terdengar si nenek beruban berteriak gusar.
Hui bing khek mengira diam2 ada seorang tokoh telah membantu menyelamatkan jiwanya, maka tanpa ayal lagi secepat kilat ia menjejakkan kedua kakinya terus melesat jauh kembali kedalam hutan.
Tapi tiba2 'blang' dia memekik kaget tubuhnya yang tengah melayang ditengah udara itu terpental balik lagi dan jatuh diatas tanah, waktu dia melihat tegas, tanpa terasa dia berseru ketakutan.
"Sia sin kedua!"
Pelan2 Suma Bing merogoh keluar cundrik penembus dada serta desisnya mengancam.
"Hui bing khek serahkanlah jiwamu!"
Serasa terbang arwah Hui bing khek saking ketakutan tanpa berani bercuit lagi dia terus melesat kesebelah samping sana hendak melarikan diri...
Sebuah teriakan panjang yang menyayatkan hati memecah kesunyian alam sekelilingnya.
Tubuh Hui bing khek terbanting mampus diatas tanah tanpa berkutik lagi, dadanya berlobang tertembus cundrik tajam sampai kepunggungnya, darah mengalir ber-limpah2!
Dalam waktu yang bersamaan dalam hutan yang berjarak puluhan tombak sana terdengar pula suara seruan kejut dan ketakutan yang riuh rendah.
Sebuah bayangan abu2 berkelebat melewati samping Suma Bing langsung melesat kedalam hutan sebelah sana.
Tersirap darah Suma Bing, tanpa berayal ia juga melesat menyusul...
Belum dia tiba terdengarlah jeritan saling susul yang menggiriskan bulu roma.
Waktu Suma Bing menginjakkan kaki diatas tanah, dihadapannya sudah bergelimpangan ber-puluh2 mayat yang pecah dan hancur batok kepalanya, keadaan mereka sangat menggenaskan.
Si nenek aneh beruban mengulapkan tangan serta katanya.
"Mari kembali, kita rundingkan urusan yang penting itu!"
Terhadap Bwe hwa hwe dari Loh Cu gi sampai semua anak buah atau kamrat2nya benci Suma Bing meresap sampai ketulang sumsumnya.
Maka dia tidak anggap perbuatan atau cara turun tangan si nenek aneh ini terlalu kejam.
Tanpa buka suara dia ikuti si nenek aneh kembali kemulut lembah lagi.
Namun dalam benaknya masih terganjal satu pertanyaan yaitu tentang Maha pelindung seperti yang dikatakan oleh para korban tadi.
Seperti diketahui, kalau dugaan bibinya Ong Fong jui tidak salah, yang diangkat sebagai Maha pelindung itu pasti bukan lain adalah Raja iblis seratus muka yang menyamar dirinya menyebar maut dan melakukan kejahatan.
Kalau ini betul bagaimana juga dia takkan melepas durjana laknat ini begitu saja.
Bersama itu suatu keraguan juga tengah terbenam menusuk sanubarinya, yaitu bila Kiu im cinkeng benar2 sudah terjatuh ketangan Loh Cu gi, sedang latihan Kiu yang sinkang Loh Cu gi sudah mencapai puncak kesempurnaannya, maka bila ditambah lagi dengan Kiu im cinkeng, tanpa memerlukan banyak waktu lagi pasti dia dapat menyempurnakan diri melatih Thay khek sinkang, sampai saat itu seumpama dirinya berhadapan untuk menuntut balas pasti menghadapi banyak rintangan.
Saat ini tugas yang terpenting baginya adalah berdaya upaya untuk mencari cara supaya dapat memecahkan barisan pohon bunga Bwe itu, kalau ini bisa terlaksana untuk menuntut balas dan menyapu bersih musuh tidak terlalu sukar.
Lain halnya dalam pemikiran si nenek aneh ini agaknya perhatiannya tengah tercurahkan untuk memecahkan batu besar yang merintangi dimulut lembah itu, maka katanya mendesak.
"Buyung, bagaimana jawabanmu?"
Otak Suma Bing harus bekerja keras, jikalau membantu memecahkan barisan itu, tujuan si nenek masuk kedalam untuk membunuh orang demi melampiaskan dendam dan penasarannya selama enampuluh tahun, hakikatnya tidak ada jalan damai.
Sebaliknya dia juga sangat memerlukan petunjuk dari penghuni lembah ini untuk dapat memecahkan Bwe lim ki tin, demi kepentingannya ini sudah tentu tidak mungkin dia membantu si nenek untuk memecahkan barisan dalam mulut lembah itu.
Setelah diterawangi secara masak baru dia menjawab.
"Maaf aku tidak mungkin bisa membantu!" -oo0dw0oo
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ 54. HWE HUN KOAY HUD MAHA PELINDUNG BWE HWA HWE "Benar2 kau tidak mau?"
"Tidak mungkin!"
Sigap sekali si nenek beruban berjingkrak bangun namun akhirnya meloso duduk lagi dengan lesu katanya mashgul.
"Buyung, aku tidak akan menyia2kan budi bantuanmu ini."
Hati Suma Bing tidak tergerak oleh bujukan yang mengharukan ini, malah jawabnya.
"Bagaimana juga aku tidak sudi membantu orang secara se-mena2!"
"Buyung, mari kita persoalkan untung ruginya!"
"Dengan syarat maksudmu?"
"Benar, silahkan kau ajukan syaratmu!"
Tergerak hati Suma Bing, katanya.
"Syarat yang kuajukan, apa benar cianpwe pasti dapat mematuhi?"
Hampir saja si nenek mengumbar kemarahannya, tapi sekuat mungkin dia tekan dan bersabar, apa boleh buat akhirnya ia berkata.
"Buyung, baiklah coba kau katakan."
"Aku tidak berminat untuk mengajukan!"
"Setan keparat, kau pembual besar yang bermulut kosong!"
"Kenapa harus kukatakan, toh cianpwe takkan mampu melaksanakan!"
"Setan kecil, kalau tidak kau katakan darimana kau tahu kalau aku tidak mampu."
"Kenyataan memang begitu."
"Kenyataan apa?"
"Cianpwe terintang oleh barisan dalam mulut lembah itu sehingga tidak dapat masuk selama enam puluh tahun, ini sudah menyatakan..."
"Menyatakan bahwa Lwekangku tidak becus?"
"Bukan!"
"Lalu apa?"
"Syarat yang hendak kukatakan juga mengenai ilmu tentang barisan yang aneh2."
"Ini..."
"Maka kukatakan kalau cianpwe takkan mampu melaksanakan."
"Eh, aku ada akal."
"Ada akal apa?"
"Penghuni lembah ini adalah seorang ahli dalam bidang itu, kalau kau dapat membantu aku masuk kedalam lembah, maka boleh kuperintahkan penghuni lembah itu untuk memberi petunjuk tentang persoalanmu itu."
"Bukankah tujuan cianpwe masuk kedalam untuk membunuh orang?"
"Memang tidak salah, tapi penghuni lembah itu sendiri pernah berkata kalau aku mampu memecahkan barisan itu dan masuk kedalam, maka dia rela dan tunduk menerima segala perintahku tanpa berani membangkang."
"Termasuk juga akan jiwa mati hidupnya?"
"Sudah tentu."
"Tapi aku tidak sudi berbuat serendah itu."
"Apa?"
"Cayhe membantu kau membunuh dia, lalu dari dia mendapat petunjuk untuk kebaikanku, dapatlah aku melakukan perbuatan yang rendah begitu?"
Agaknya si nenek beruban sudah tak kuat lagi menahan amarahnya setelah dikocok pulang pergi oleh Suma Bing, dengan beringas pelan2 dia bangkit berdiri, sorot matanya memancarkan kebuasan.
Pada saat itulah tiba2 terdengar gelak tawa aneh yang melengking tinggi, menusuk telinga dan menyedot semangat orang.
Mengandal keampuhan Lwekang Suma Bing saat itu ternyata juga terpengaruh sampai darah terasa bergolak menyesakkan dada, jantungnya berdebar keras, jelas pendatang baru ini agaknya bukan tokoh sembarang tokoh.
Si nenek beruban sendiri juga terpengaruh dan tersedot oleh suara tawa itu sehingga memandang kedepan tanpa berkedip.
Begitu lenyap suara tawa itu disusul segulung bayangan merah secepat kilat terjun tiba dari tengah udara.
Waktu Suma Bing menegasi, serta merta giris dan dingin perasaan hatinya.
Kiranya pendatang baru ini adalah seorang laki2 yang berbadan tinggi besar mengenakan jubah merah marong, rambut dan jenggotnya juga merah malah kedua bola matanya juga memancarkan sinar merah, seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah serba merah, raut wajahnya seram dan menakutkan lagi.
Terdengar si nenek beruban berseru kejut lalu tegornya.
"Kau ini Hwe hun koay hud bukan?"
"Tidak salah!"
Sambil menjawab Hwe hun koay hud mundur setindak, agaknya dia terkejut karena tidak mengenal siapakah si nenek beruban ini, sebaliknya lawan sekali buka mulut lantas dapat menyebut nama julukannya.
Suma Bing sendiri juga melengak, Hwe hun koay hud, nama ini sangat asing baginya.
Akhirnya terdengar Hwe hun koay hud berkata tergagap.
"Kau ini..."
"Tidak kenal ya sudah."
Sahut si nenek beruban dengan sikap angkuh. Sepasang mata aneh Hwe hun koay hud tengah menyapu dan menatap kearah Suma Bing, seringainya dingin.
"Buyung, kau inikah calon majikan Perkampungan bumi yang bernama Suma Bing?"
Si nenek aneh beruban terperanjat, setelah mendengar asal-usul Suma Bing. Terdengar Suma Bing tengah menyahut dingin.
"Benar."
Hwe hun koay hud ter-loroh2, serunya.
"Bagus sekali."
Tergerak hati Suma Bing, tanyanya.
"Apanya yang bagus tuan?"
"Bedebah, kau panggil aku dengan sebutan tuan?"
"Ini terhitung kupandang kau cukup tinggi."
"Ha, keparat, Lohu sudah hidup seratus tahun lebih, tak duga hanya dipanggil sebagai tuan oleh bocah hijau berbau tetek ibumu..."
"Kalau tuan merasa ini kurang tepat, tak usah kau banyak mulut."
Dimulut Suma Bing bersikap angkuh, sebenarnya hatinya juga terkejut dan kebat-kebit, ternyata orang aneh serba merah ini juga sudah berusia seabad lebih, tidak heran sekali bertemu si nenek aneh beruban itu lantas kenal asal-usulnya, yang mengherankan dan merupakan pertanyaan darimana dia dapat mengetahui nama dan asal-usul dirinya.
Sorot mata Hwe hun koay hud yang merah marong itu berjelalatan, dengan nanap dan tajam dia awasi Suma Bing sekian lama lalu katanya.
"Buyung, kau tahu maksud kedatangan lohu kemari?"
Acuh tak acuh Suma Bing menyahut.
"Kedatangan tuan kemari lantaran aku?"
"Tepat sekali!"
"Harap tanya..."
"Untuk mencabut nyawamu!"
Membesi wajah Suma Bing, dengusnya dingin.
"Lantaran aku tuan kemari?"
"Sudah tentu!"
"Coba katakan."
"Kau tahu apa kedudukan aku orang tua saat ini?"
"Kalau tidak tuan katakan sendiri, siapa dapat tahu?"
"Akulah Maha pelindung dari Bwe hwa hwe, sudah jelas?"
Suma Bing melonjak kaget sampai mundur tiga langkah, bukan karena takut namun karena anggapannya yang dinamakan sebagai Maha pelindung dari Bwe hwa hwe itu pasti dijabat oleh Raja iblis seratus muka.
Tapi sekarang kenyataan menghancurkan semua kepastiannya.
Tentang Perkampungan bumi kehilangan buku berharga, Ngo bi juga kehilangan pusaka pelindung perguruan, malah Bu khek po terjadi banjir darah, apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan Bwe hwa hwe sekarang lantas menjadi teka teki lagi.
Terdengar si nenek aneh menyeringai seram dan berdesis.
"Hwe hun lo koay, tidak gampang kau hendak membunuhnya?"
"Kenapa, apa kau hendak mencampuri?"
"Mungkin!"
"Nenek keropos, kau sendiri sukar menyelamatkan diri, bukankah puluhan anak buah Bwe hwa hwe semua mampus ditanganmu?"
"Hehehehe, Hwe hun lokoay, kau sendiri sudah tiba disini, terhitung kau sendiri juga harus mengikuti jejak mereka!"
"Baik, nanti setelah kubereskan bocah keparat ini, baru aku menyelesaikan perhitungan kita."
Suma Bing melangkah lebar kembali ketempat asalnya, wajahnya membeku diselimuti kekejaman, nadanya berat tertekan.
"Kedatangan tuan ini atas perintah Loh Cu gi?"
"Wah, bocah keparat kurangajar. Seharusnya kau katakan aku diundang oleh Loh Cu gi kemari, tahu!"
"Mengandal perkataanmu ini, kau setimpal untuk mampus!"
"Keparat, besar benar monyongmu itu."
"Kenyataan akan membuktikan perkataanku ini."
Saking gusar sambil menggerung Hwe hun koay hud lantas angkat tangan mengepruk kebatok kepala Suma Bing, serangan ini bukan saja hebat dan dahsyat kekuatannya juga tipunya lain dari yang lain.
Siang2 Suma Bing sudah mengerahkan Giok ci sinkang sampai tingkat kesepuluh bagian tenaganya, tanpa menggeser kedudukan kepala hanya dimiringkan sedikit berbareng sebelah tangannya diangkat lurus kedepan untuk menangkis.
'Plak' terdengar benturan keras dari beradunya telapak tangan kedua orang, masing2 tergetar mundur satu langkah.
Diam2 tercekat hati Suma Bing, dari gebrak pertama itu dapatlah dia mengukur kiranya Lwekang musuh tidak lebih rendah dari dirinya.
Adalah Hwe hun koay hud juga bukan kepalang kejutnya, musuhnya ini seorang muda yang belum penuh berusia duapuluhan bukan saja kuat menandangi latihannya selama seratus tahun, malah kesudahannya seri tanpa ada pihak yang unggul atau asor.
Sementara itu, Suma Bing mengerahkan tenaga lagi meningkatkan pertahanannya satu bagian lagi...
Sebentar melengak, lantas Hwe hun koay hud melancarkan lagi serangannya sebanyak tiga jurus berantai.
Setiap jurusnya merupakan ilmu yang jarang terlihat dan keampuhannya boleh dibanggakan.
Suma Bing tidak berani ayal kedua tangannya juga bergerak tidak kalah cepatnya untuk menangkis dan memunahkan serangan musuh.
"Bagus."
Diluar dugaan si nenek beruban berteriak memuji keras. Tiba2 Hwe hun koay hud mundur lima kaki, jubah merahnya yang besar gondrong melembung besar, pelan2 kedua tangannya diangkat lapang didepan dada.
"Buyung, awas menghadapi ilmu Hong lui sin lo yang lihay!"
Terdengar si nenek berseru memperingati.
Tercekat hati Suma Bing.
Giok ci sinkang terkerahkan sampai tingkat keduabelas, siap menghadapi segala kemungkinan.
Pelan2 Hwe hun koay hud menarik lalu menyurung pelan kedua tangannya kedepan, seketika angin ribut diselingi geledek menggelegar...
Kontan Suma Bing merasakan dirinya diterpa suatu gelombang kekuatan yang tidak kentara menindih keseluruh tubuhnya, cepat2 ia ayun kedua tangannya terus dipukulkan kedepan.
Ledakan dahsyat disertai badai dan suara geledek menyambar membuat pasir batu dan tanah beterbangan membumbung tinggi keangkasa, gelanggang menjadi kelam diselubungi kabut hitam dari berhamburannya debu.
Saking hebat ledakan ini sampai menimbulkan pantulan suara sekian lama diempat penjuru alam pegunungan.
Keadaan macam ini se-olah2 dunia sudah hampir kiamat.
Darah bergolak dirongga dada Suma Bing, kakinya sampai amblas setengah kaki kedalam tanah.
Sedang Hwe hun koay hud juga telah tersurut mundur ketempat asalnya berjarak setombak.
Si nenek beruban terkesima memandangi Suma Bing, agaknya dia terpesona akan gebrak pertandingan yang hebat seumpama memecahkan bumi menggegerkan langit ini.
Se-konyong2 segulung awan merah melenting tinggi terus menghilang dalam rimba.
"Lari kemana kau!"
Suma Bing membentak beringas, secepat anak panah dia terus berlari mengejar masuk kedalam hutan, tapi bayangan Hwe hun koay hud sudah menghilang tanpa kerana.
Diam2 Suma Bing mengumpat caci dan menyumpah2.
"Hari ini kau dapat merat, besok kau takkan dapat lolos."
Tak lama kemudian dia sudah kembali kehadapan si nenek aneh. Kata si nenek aneh beruban penuh kekaguman.
"Buyung, tidak kira Hwe hun koay hud ternyata tidak kuat menahan sekali pukulanmu?"
"Sayang dia dapat melarikan diri!"
Ujar Suma Bing penasaran.
"Apa kau benar2 ingin mencabut jiwanya yang sudah tua itu?"
"Akan kukremus tubuhnya."
"Untuk balas dendam?"
"Boleh dikata demikian!"
"Bagaimana bisa setan tua itu sampai bermusuhan dengan kau?"
"Dia sebagai Maha pelindung musuh besarku, bukankah kedatangannya itu lantaran aku!"
"O,"
Si nenek aneh tercengang.
"Orang macam apakah Hwe hun koay hud ini?"
"Masa kau belum pernah dengar?"
"Belum!"
"Kira2 delapan puluh tahun yang lalu, partai Siau lim si muncul seorang murid murtad dan durhaka, dia itulah orangnya!"
"Apa pihak Siau lim si tidak ambil tindakan terhadap dia?"
"Bukan tidak diambil tindakan, adalah kewalahan menghadapinya. Dia mencuri se
Jilid buku Hong lui keng, dengan latihannya selama setengah abad dia berhasil meyakinkan Hong lui sin lo.
Sedemikian ampuh ilmu silat ini sampai tiga tokoh terlihay dari Siau lim si yang kenamaan dengan julukan Siau lim sam cun yaitu Hui Kong, Hui Gong dan Hui Bing juga terkalahkan dalam mengeroyok dia orang..."
Teringat oleh Suma Bing akan Hui Kong Taysu yang dipandang sebagai Buddha hidup oleh Siau lim si ternyata adalah salah satu dari Siau lim sam cun itu.
Sampai sekarang Hui Kong Taysu masih hidup, kalau pihak mereka mendengar kabar akan munculnya lagi murid durhaka dari tingkatan atas ini, entah cara bagaimana mereka hendak menghadapinya?
Kiranya ini merupakan noda hitam bagi lembaran sejarah jayanya Siau lim sejak partai ini didirikan beratus tahun yang lalu.
"Selanjutnya,"
Demikian si nenek melanjutkan penuturannya.
"Seluruh kekuatan Siau lim sudah diboyong keluar untuk mengepung dan mengeroyok manusia laknat ini, entah berapa banyak korban berjatuhan dari anak murid Siau lim, tapi akhirnya toh dia masih dapat melarikan diri dan sejak saat itu terus menghilang entah kemana. Peristiwa ini dulu pernah menggegerkan seluruh dunia persilatan."
"Peristiwa itu masih ter-katung2 sampai sekarang?"
"Buyung, kita bicarakan soal kita yang penting. Bagaimana dengan syarat yang ku ajukan tadi?"
"Tak mungkin aku melulusi."
"Bedebah, benar2 kau tidak mau lakukan?"
"Tidak!"
"Berani kau katakan sekali lagi?"
"Tidak!"
"Baik, lihat ini!"
Sambil berseru berbareng dia menubruk dari atas batu besar tempat duduknya kearah Suma Bing, serangan kedua tangannya sangat gencar dan bergerak secepat kitiran.
Suma Bing juga tidak mau kalah wibawa, dengan penuh semangat dia layani setiap jurus serangan pihak lawan.
Maka terjadilah pertempuran hebat yang jarang terjadi selama ini, sehingga batu dan pasir beterbangan membumbung tinggi keangkasa.
Dalam sekejap mata saja tiga puluh jurus telah berlalu, si nenek aneh menyerang semakin gencar seperti orang kalap, jurus serangannya adalah tipu2 yang mematikan, keruan Suma Bing yang tiada niat melukai lawannya menjadi keripuhan dan mencak2 terdesak mundur.
Akhirnya terpaksa dia menjadi nekad, jurus Bintang berpindah jungkir balik dilandasi seluruh kekuatan tenaganya dilancarkan keluar secepat kilat.
Terdengar si nenek menguak keras hampir muntah tubuhnya terhempas dan terpelanting mundur sempoyongan delapan kaki.
Menggunakan kesempatan peluang ini tanpa ayal lagi Suma Bing jejakkan kedua kakinya terus melesat kearah mulut lembah.
Dia berkesimpulan barisan yang dibentuk oleh penghuni lembah itu adalah untuk mencegah atau tegasnya merintangi si nenek masuk kedalam.
Jikalau dirinya mohon bertemu secara hormat mungkin dilulusi siapa tahu, sebab tekadnya untuk memecahkan barisan Bwe lim ki tin itu rasanya lebih penting dari segala urusan.
Mendadak terdengar si nenek beruban berteriak di belakangnya.
"Budak, cegat dia!"
Mendengar ini Suma Bing malah melengak heran, entah apa yang disuruh si nenek untuk mencegat dirinya, tanpa terasa cepat2 dia hentikan langkahnya.
Maka dilain saat sebuah bayangan putih meluncur tiba menghadang didepannya, lalu disusul bayangan beberapa orang lagi juga merintangi ditengah jalan.
Begitu melihat orang terdepan yang mencegat dihadapannya ini, tercekat hati Suma Bing, ter-sipu2 ia berlutut menyembah sambil berseru.
"Bu, kaukah yang datang!"
Betul juga yang baru datang ini ternyata adalah San Hoa li Ong Fang lan adanya.
Terang ibundanya menjadi ahli waris dari Bu lim ci sin dan menjadi majikan Panggung berdarah.
Bagaimana mendadak sekarang muncul disini malah dipanggil sebagai budak oleh si nenek aneh beruban itu, ini benar2 kejadian yang luar biasa.
Agaknya San hoa li Ong Fang lan sendiri juga ter-heran2 tanyanya.
"Nak, bagaimana kau bisa berada disini?"
"Bu, kau..."
"Kudengar kau menimbulkan banjir darah di Bu khek po, merebut Kipas pualam dan menerjang ke Ngo bi san dan melukai tiga pelindungnya dan lima Tianglo mereka untuk mengangkangi Ce giok pe yap..."
"Karena peristiwa inikah maka ibu keluar dari pesanggrahan?"
"Ya, nak, perbuatanmu itu..."
"Apa ibu juga beranggapan anak dapat berbuat begitu rupa?"
"Tapi kenyataan..."
"Itu bukan kenyataan yang berbukti!"
"Bukan kenyataan?"
"Ada seseorang yang menyamar sebagai aku telah melakukan semua itu."
"O, siapakah dia?"
"Saat ini masih belum ketahuan, anak tengah menyelidikinya secara seksama."
Agaknya San hoa li merasa sangat diluar dugaan, katanya sambil menggandeng tangan Suma Bing.
"Kalau begitu kau bangunlah nak."
Suma Bing berdiri. Segera empat pengikut dibelakang dirinya membungkuk memberi hormat sambil menyapa.
"Menghadap pada majikan muda!"
Suma Bing balas manggut2 serta merta dia berpaling memandang kearah si nenek aneh lalu katanya berbisik.
"Dia orang..."
Wajah San hoa li Ong Fan lan sedikit berobah, cepat dia melesat maju kedepan terus berlutut dan menyembah dengan hikmatnya didepan si nenek, keempat pengikutnya juga turut berlutut dan menyembah.
Si nenek aneh ulapkan tangan serta serunya.
"Bangunlah, tak perlu peradatan."
Keruan Suma Bing melongo dan ter-heran2 dibuatnya betapa janggal keadaan ini benar2 susah dilukiskan, setelah terlongong sekian lamanya diapun maju mendekat.
Segera San hoa li Ong Fang lan menggape tangan serta katanya.
"Nak, ayo menghadap Sukohco!"
Kontan Suma Bing terhenyak ditempatnya... Salah satu dari empat gadis seragam putih itu, yaitu yang menjadi pentolan dari Rasul penembus dada yang bernama Ih Yan chiu segera berkata berbisik.
"Tuan muda, kau sudah dengar!"
Suma Bing tergagap bagai sadar dari mimpi, cepat2 ia tampil kedepan terus berlutut, serunya.
"Menghadap pada Sukohco!"
"Sudahlah bangun!"
Pelan2 Suma Bing bangkit berdiri, teringat pengalamannya selama ini tanpa terasa merah padam seluruh mukanya, sikapnya risi dan kikuk.
Si nenek sendiri juga merasa serba salah dan keheranan memandang San hoa li Ong Fang lan dia berkata.
"Apa jadi dia ini anakmu?"
"Benar, Sukoh!"
"Kenapa kau tidak pernah bilang?"
"Memang ini kecerobohanku, harap Sukoh suka memaafkan."
Si nenek termenung sekian lamanya, mendadak dia mengulap tangan dan berkata.
"Kalian boleh pergi."
San hoa li Ong Fang lan berkata penuh hormat.
"Apakah anak kurangajar ini telah berbuat salah terhadap Sukoh?"
"Tidak tahu tidak berdosa, lekas kalian pergi."
San hoa li menatap tajam kearah Suma Bing, agaknya dia ber-tanya2 akan semua kejadian yang baru saja berlangsung, sinar matanya penuh tanda tanya.
Suma Bing berpikir dalam waktu dekat begini bagaimana dirinya harus memberikan penjelasan kepada ibunya, cepat2 dia berputar menghadap si nenek lantas berkata.
"Mohon kau orang tua segera memberikan perintah."
Si nenek aneh beruban mendengus dingin.
"Tidak perlu lagi, pergilah!"
Suma Bing melongo, katanya lagi.
"Bukankah Sukohco ingin..."
"Sekarang tidak perlu!"
"Mohon bertanya, kenapa?"
"Urusan aku orang tua tidak perlu kalian dari tingkatan rendah turut campur."
"Tapi..."
Sebetulnya dia hendak mengatakan; bukankah kau tergesagesa ingin memecahkan barisan itu dan masuk kedalam lembah?
Setelah sampai diujung bibir terasa perkataannya ini kurang hormat maka ditelannya kembali.
Agaknya San hoa li ada sedikit paham setelah mendengar percakapan tadi, katanya menyela.
"Sukoh ada urusan apakah yang memerlukan tenaga anak Bing?"
"Tidak perlu lagi!"
Sentak si nenek uring2an sambil menggoyangkan tangan.
"Cepat kalian pergi saja."
Tentang asal usul atau riwayat ayahbundanya sendiri Suma Bing sedikitpun tidak tahu, bahwa si nenek beruban ini mendadak bisa menjadi Sukohconya benar2 mimpi juga tak terduga olehnya.
Sungguh dia sangat menyesal waktu melihat keadaan rupa si nenek waktu bertemu untuk pertama kalinya tadi.
Dalam pertimbangannya sebab daripada Sukohconya rela dan sudi menunggu dan merana selama enam puluhan tahun pasti tidak lepas dari persoalan 'cinta'.
Sekarang setelah diketahui duduk tingkatannya sudah tentu dia tidak sudi minta bantuan pada angkatan mudanya.
Persoalan bak teka-teki ini mungkin ibunya mengetahui, tapi dihadapan Sukohconya tak enak pula dia menanyakannya.
Mengenai usia Sukohconya mungkin sudah melebihi seratus tahun.
Tiada orang yang takkan mati dalam dunia ini, meski betapa tinggi dan dalam latihan semadinya paling banyak bisa hidup lebih lama dan kuat puluhan tahun dari orang biasa.
Kalau dia sendiri tidak mampu memecahkan barisan itu dengan kemampuannya sendiri, akhirnya juga pasti meninggal dunia diluar mulut lembah itu.
Sekarang kalau dia mau membantu si nenek yang menakutkan dan harus dikasihani ini menghancurkan batu besar itu, bagaimanakah akibatnya?
Dia masuk kedalam lembah adalah untuk membunuh orang, tak perduli apa sebab musababnya yang terang sebuah tragedi bakal terjadi.
Dapatkah dibenarkan perbuatannya?
Sorot mata ibunya yang gelisah gugup dan penuh tanda tanya melerok lagi kearah dirinya.
Dalam situasi sekarang ini mau tak mau dia harus mengambil suatu keputusan.
Mungkin karena malu akan kedudukannya yang tinggi maka si nenek segan membuka mulut, tapi sebetulnya sanubarinya benar2 ingin dirinya membantu untuk menyelesaikan cita2nya yang tertunggak sampai puluhan tahun?
Setelah dipertimbangkan dengan tegas dia berkata kepada ibunya.
"Bu, Sukohco minta aku menghancurkan batu besar dimulut lembah itu untuk memecahkan barisan didalamnya."
San hoa li Ong Fang lan menjadi tegang, sahutnya tergagap.
"O, nak..."
"Cepat kalian menggelinding pergi!"
Teriak si nenek aneh berjingkrak gusar. Ter-sipu2 San hoa li Ong Fan lan berlutut dan berseru.
"Sukoh, mohon dimaafkan kalau perkataan Tecu ini kurangajar, apakah faedahnya Sukoh menunggu selama ini?"
Daging diwajah si nenek ber-kerut2 dan gemetar, katanya sedih.
"Budak, bangunlah."
"Sukoh setuju?"
Tanya San hoa li Ong Fang lan sambil bangkit berdiri.
"Tidak!"
Nadanya sudah agak lembek tidak seketus semula.
"Sukoh, Tecu mewarisi kepandaian Unsu adalah karena jodoh. Mungkin Unsu tidak akan menduga setelah beliau meninggal puluhan tahun bisa mendapat seorang murid seperti aku. Sekarang aku juga ada jodoh dapat menemukan Sukoh yang masih sehat waalfiat meskipun sudah tua, meskipun aku sebagai Sutit hakikatnya seperti murid sendiri juga, maka Tecu memberanikan diri berlaku kurangajar, harap Sukoh berpikir panjang."
Suma Bing melengak mendengar perkataan ibunya itu.
Naga2nya si nenek ini pasti ada hubungan saudara sepupu dengan majikan Panggung berdarah yaitu Bu lim ci sin.
Didengar dari nada perkataan ibunya, kiranya setelah dia mendapat buku pelajaran ilmu silat peninggalan Bu lim ci sin baru dia bersua dengan Sukohnya ini.
Kejadian dalam dunia ini memang serba-serbi dan susah diduga sebelumnya.
Hanya belum diketahui siapakah nama julukan si nenek beruban ini, yang terang pasti dia juga salah seorang tokoh silat nomor wahid pada jaman mudanya dulu.
Karena desakan pikirannya ini, tanpa terasa mulutnya bertanya.
"Sutitsun mohon bertanya nama julukan Sukohco!"
Sekian lama si nenek aneh beruban ragu, akhirnya berkata dingin2.
"Hian thian ceng li!"
Suma Bing mundur tiga langkah saking kaget, wajahnya juga berubah.
Dia pernah dengar dari penuturan Suhunya Sia sin Kho Jiang, tentang Hian thian ceng li ini sebetulnya seorang gadis cantik rupawan pada puluhan tahun yang lalu, kecantikannya pernah menggegerkan dunia persilatan dan banyak pemuda yang ter-gila2 olehnya, bukan saja cantik malah kepandaian silatnya juga bukan olah2 tinggi dan lihay.
Sungguh tidak nyana si nenek tua kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang yang reyot ini ternyata adalah Hian thian ceng li dulu yang serba pandai dalam ilmu silat dan sastra.
"Sukoh."
Terdengar San hoa li berkata pula.
"Setelah cita2mu dapat terkabul, Tecu mohon kau orang tua suka kembali lagi ke Panggung berdarah, supaya Tecu dapat melayani..."
Mendadak Hian thian ceng li ter-loroh2 keras seperti orang gila, serunya.
"Budak, kalau cita2ku terkabul, buat apa aku terus merana didunia fana ini!"
"Sukoh, kau..."
"Ai!"
Helaan nafas yang menyedihkan ini sungguh memilukan hati.
Suma Bing sendiri juga ikut mendelu, dia tidak paham apa yang dipersoalkan tentang cita2.
Namun dalam pandangannya Hian thian ceng li si makhluk aneh yang tua renta ini kini berobah menjadi seorang tua yang harus dikasihani.
Waktu hanya terpaut satu jam saja, namun anggapannya sudah berobah sama sekali, timbul keinginannya sekarang untuk mendharma baktikan sedikit tenaganya untuk seorang angkatan tua yang benar2 memerlukan bantuan sebelum mangkat.
Terdengar San hoa li berkata dengan nada berat dan sungguh.
"Anak Bing, dapatkah kau melakukan?"
Suma Bing tercengang, sahutnya.
"Bu, melakukan apa?"
"Menghancurkan batu besar itu?"
"Aku percaya aku dapat!"
"Baik, lekaslah kau bekerja!"
Hian thian ceng li tetap membungkam, agaknya dia setuju.
Suma Bing manggut2 terus melangkah kedepan mulut lembah.
Kira2 terpaut dua tombak didepan batu besar itu Suma Bing berhenti.
Hatinya kebat kebit tidak tentram, namun saat itu sudah tiada tempo baginya untuk memikirkan apakah tindakannya ini benar atau salah.
Pelan2 kedua tangan terangkat didepan dada, Giok ci sinkang sudah terkerahkan sampai puncaknya.
"Buyung, nanti dulu!"
Tiba2 Hian thian ceng li berseru mencegah.
Serta merta Suma Bing menunda gerakannya, dalam pada itu Hian thian ceng li sudah melompat tiba disebelah sampingnya, sedang ibunya berserta empat pengikutnya masih tetap berdiri ditempatnya semula.
"Sukohco masih ada petunjuk apa?"
"Buyung, kau masih ingat permintaanmu tadi?"
"Ini..."
"Aku dapat minta penghuni lembah itu nanti memberi petunjuk memecahkan persoalanmu."
Sifat pembawaan Suma Bing yang terkeram dalam sanubarinya tiba2 berontak, sahutnya menggeleng dengan angkuhnya.
"Tidak perlu lagi!"
"Kenapa?"
"Masih banyak para ahli lain yang dapat membantu aku dalam bidang itu."
"Mengapa harus sedemikian susah payah?"
"Tesun (cucu murid) membantu Sukohco menghancurkan batu dan memecahkan barisan, sebaliknya tujuan Sukohco adalah untuk menuntut balas. Memang Tesun tidak berbakti, kalau aku masih minta petunjuk dan bantuannya bukankah ini menambah dosa yang tak terampunkan dalam lembaran sejarah dunia persilatan!"
Berobah airmuka, Hian thian ceng li, agak lama kemudian baru dia berkata.
"Kau memang benar, sekarang kau boleh pergi!"
"Tidak!"
Sahut Suma Bing menggeleng kepala.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
"Berbuat menurut perintah ibunda!"
"Aku tidak mengizinkan!"
"Terpaksa Tesun berlaku kurangajar!"
Habis ucapannya sebat sekali ia memutar tubuh kedua tangannya terus terayun sekalian...
"Jangan!"
Teriak Hian thian ceng li keras berusaha, mencegah.
Namun kedua tangan Suma Bing sudah keburu dipukulkan keluar.
Dentuman menggelegar menggetarkan bumi pegunungan dalam selat itu seakan gugur gunung menggelegar sekian lamanya, batu dan debu berhamburan se-olah2 bumi merekah dan laut tumpah, ternyata setelah suasana mereda tampak batu cadas sebesar gajah raksasa itu telah hancur lebur menjadi setumpukan debu kerikil yang bergugus tinggi.
Melihat ini tubuh si nenek tampak gemetar dan bergidik, kedua matanya memancarkan cahaya tajam ber-kilat2 memandang kemulut lembah tanpa berkesip, lama dan lama kemudian mendadak dia mengakak tinggi seperti orang kehilangan semangat.
Pada saat itulah sebuah bayangan putih langsing meluncur tiba dari mulut lembah sebelah dalam sana, sekejap mata saja dia sudah dihadapan mereka.
Dia bukan lain adalah Tio Keh siok yang belum lama berselang masuk kedalam lembah.
Setelah kakinya menginjak tanah sepasang mata Tio Keh siok setajam ujung pedang menatap kearah Suma Bing dengan nanap.
Tanpa terasa Suma Bing merinding dipandang begitu rupa, sinar mata yang mengandung rasa kebencian yang ber-api2 itu takkan terlupakan selama hidup ini, kontan terasa olehnya suatu keganjilan dalam kejadian ini.
-oo0dw0oo-55.
SI KAKEK TUA PENGHUNI LEMBAH.
Per-lahan2 pandangan Tio Keh siok beralih kearah Hian thian ceng li, sedikit menekuk lutut dia memberi hormat serta ujarnya dingin.
"Locianpwe, Suhu tengah menantimu didalam lembah."
"Suruh dia keluar menemui aku."
"Kesehatan Suhu terganggu dan tidak leluasa untuk bergerak."
"Hm, tidak leluasa apa segala?"
"Kenapa Locianpwe mendesak orang sedemikian rupa?"
"Budak setan, berani kau kurangajar terhadap aku?"
Membesi wajah Tio Keh siok, desisnya geram.
"Locianpwe, Suhu telah menantimu dengan segala perlengkapan!"
"Apa, dia hendak turun tangan dan mengingkari janjinya?"
"Suhu sudah mandi dan ganti pakaian, dengan tenang dia tengah menantikan dewa kematian mencabut nyawanya, tapi..."
"Tapi apa?"
"Ada satu hal yang belum dapat kumengerti!"
"Coba katakan!"
"Apa hubungan Suma Bing dengan Locianpwe?"
"Sutitsun (cucu murid keponakan)."
"Apakah Locianpwe ada melulusi untuk melindunginya..."
"Tutup mulutmu..."
Hian thian ceng li menggerung keras saking murka rambutnya yang ubanan itu sampai berdiri, tanpa kuasa tubuhnya terhuyung dua langkah. Tanpa takut2 Tio Keh siok terus berkata dengan dongkol.
"Sebelumnya Wanpwe sudah dengar, jikalau Suhu ada terjadi apa2, Wanpwe bersumpah untuk membalaskan sakit hati ini. Kalau Cianpwe tidak ingin menimbulkan bencana dikemudian hari silahkan sekarang juga turun tangan melenyapkan Wanpwe sekalian!"
Hati Suma Bing sedih dan perih sekali, dia maklum bahwa tindakannya ini salah, namun seumpama naik harimau susah turun, tak mungkin dia membiarkan Sukohconya mendapat malu dan serba susah, maka senggaknya dingin.
"Nona Tio, selalu cayhe nantikan pembalasanmu!"
Tio Keh siok melirik kearah Suma Bing dengan benci dan kemarahan yang me-luap2, makinya.
"Suma Bing, aku takkan melepas kau!"
Mendadak terdengar sebuah suara berat serak berkata.
"Anak Siok, mundur, jangan kurangajar!"
Dari belakang tumpukan puing2 batu sana muncullah bayangan seseorang yang membelok turun terus hinggap diatas tanah.
Bayangan yang mendadak muncul ini kiranya adalah seorang tua yang rambut serta jenggot dan kumisnya sudah beruban semua, wajahnya penuh kerutan, sinar matanya redup agaknya mengandung kesedihan yang ber-limpah2.
Begitu menginjak tanah langsung terus duduk ditanah tanpa bergerak.
Sekali lagi Tio Keh siok menyapu pandang semua hadirin dengan gemes terus mundur dibelakang orang tua itu serta panggilnya.
"Suhu!"
Kalau tadi beringas dan mentang2, sekarang Hian thian ceng li sebaliknya terbungkam seribu basa, tubuhnya gemetar semakin keras.
Dengan penuh keanehan Suma Bing pandang orang tua ubanan ini, batinnya pasti dialah penghuni lembah yang dikatakan oleh Sukohco itu.
Seperti orang tua umumnya yang loyo penghuni lembah ini duduk diatas tanah dengan sikapnya yang lesu, tiada sesuatu yang mengejutkan malah sepasang sinar matanya juga guram, sikapnya dingin dan tenang menatap kearah Hian thian ceng li tanpa membuka suara.
Tokoh macam apakah sebenarnya Penghuni lembah ini?
Setelah hening sekian lamanya akhirnya Hian thian ceng li membuka kesunyian katanya.
"Ada apa lagi yang perlu kau katakan?"
Berkatalah penghuni lembah dengan berat dan tersendat.
"Kau dan aku kan sudah menjadi tua bangka yang dekat masuk liang kubur..."
"Omong kosong, yang kumaksudkan adalah janjimu dulu!"
"Silahkan apa yang hendak kau perbuat, aku menurut saja."
"Masih ada urusan apa lagi yang perlu kau sampaikan kepada muridmu?"
"Urusan terakhir?"
"Benar, hari ini juga kau harus kubunuh!"
Sekilas sepasang mata penghuni lembah memancarkan cahaya terang lantas menghilang lagi, katanya tenang.
"Silahkan kau turun tangan!"
"Sampai mati juga kau tidak menyesal?"
Teriak Hian thian ceng li kalap. Penghuni lembah bergelak tawa, ujarnya.
"Menyesal? Apanya yang perlu disesalkan? Orang hidup bagai mimpi, setelah sadar dari tidur, semuanya juga lantas hilang..."
"Sedemikian kejam dan keji kau menghancurleburkan impian orang lain?"
"Mimpi itu timbul dari hati..."
"Dasar kau tanpa perikemanusiaan!"
"Terserah bagaimana kau hendak berkata. Sekarang biarlah aku menebus dengan jiwaku, masa masih belum cukup?"
"Li It sim,"
Hian thian ceng li menggeram sambil mengertak gigi.
"Setelah kubunuh tetap juga kubenci kepadamu!"
Nama Li It sim itu menggetarkan sanubari Suma Bing, teringat olehnya akan cerita yang dikisahkan oleh Kang Kun Lojin itu.
Sungguh tidak nyana dia masih hidup.
Li It sim yang berjuluk Hwe soh ki khek adalah suami Bu siang sin li, atau ayah kandung Li Hui perempuan yang terkurung selama dua puluh tahun dibelakang puncak Siau lim si itu.
Tidak perlu disangsikan lagi persoalannya dengan Hian thian ceng li ini pastilah menyangkut tentang asmara muda mudi pada masa remaja mereka dulu.
Memang soal cinta merupakan persoalan yang susah diselesaikan, sampai sekarang tua yang peyot berusia seratus tahun lebih juga masih terbawa dalam pertikaian yang menyedihkan ini.
Begitulah karena pikirannya ini bahna heran tanpa terasa mulutnya berseru kejut.
"Bu lim sam ki!"
Seruan kagetnya ini menggetarkan seluruh hadirin.
Terutama Li It sim dan Hian thian ceng li sendiri merasa heran dan terperanjat, darimana Suma Bing bisa mengetahui asal usul riwayat si orang tua ini.
Sedang sebaliknya.
San hoa li Ong Fang lan terkejut karena mendengar akan kebesaran nama Bu lim sam ki itu.
Sorot mata Li It sim bercahaya terang, katanya haru.
"Buyung, apa yang kau katakan?"
Suma Bing membungkuk dan menyahut hormat.
"Bukankah Locianpwe salah satu dari Bu lim sam ki yang berjuluk Hwe soh ki khek?"
"Darimana buyung semuda kau ini bisa tahu?"
"Apakah Cianpwe masih ingat kepada Buyung Ceng Locianpwe?"
Tiba2 Hian thian ceng li menyelak bicara.
"Kang Kun Lojin?"
"Ya, benar,"
Sahut Suma Bing manggut2.
Mendadak Hwe soh ki khek Li It sim bangkit berdiri.
Hampir saja Suma Bing berseru kaget, baru sekarang dia melihat tegas bahwa Li It sim ini ternyata cacat sebelah kakinya hanya tinggal satu.
Maka terbayang dalam benaknya cerita yang dikisahkan Kang Kun Lojin itu.
Demi memperoleh cinta kasih Bu siang sin li, dengan menempuh bahaya besar dia menyelundup ke Siau lim si untuk mencuri Bu siang po liok itu, karena konangan akhirnya dia terkepung dan terluka parah malah menjadi invalid untuk se-lama2nya.
"Buyung,"
Ujar Li Itsim, suaranya tersenggak dalam tenggorokan.
"Kau kenal pada Kang Kun Lojin?"
Suma Bing membenarkan.
"Dia... masih hidup dalam dunia fana ini?"
"Dia orang tua masih sehat walafiat!"
"O, adakah dia pernah menyebut tentang diriku..."
"Dia pernah menuturkan kepadaku!"
"Semua cerita itu?"
"Ini... ya benar, beruntung Wanpwe ada kesempatan untuk mendengarkan!"
"Ada hal lain apa lagi yang dia katakan tidak?"
"Dia pernah berkata dan berpesan jikalau Wanpwe bertemu dengan Locianpwe, dia minta aku menyampaikan dia ingin bertemu kembali ditempat perpisahan dulu."
"Tapi sudah tidak mungkin!"
Ujar Li It sim hampir berbisik suaranya tertekan. Suma Bing melenggong, tanyanya.
"Mohon tanya kenapa tidak mungkin?"
Tanpa menjawab pandangan Li It sim beralih kearah Hian thian ceng li.
Baru sekarang Suma Bing paham akan duduknya perkara, dia manggut2.
Rona wajah Hian thian ceng li ber-ubah2 beberapa kali, akhirnya tekadnya sudah bulat dan berkata tegas.
"Li It sim, tidak keterlaluan bukan bila kau kubunuh?"
"Mungkin begitu!"
"Mungkin apa maksudmu?"
"Hanya itulah yang dapat kukatakan!"
Sekali melejit Hian thian ceng li melesat dihadapan Li It sim, sedemikian dekat jarak mereka sekali jamah saja cukup untuk merenggut jiwanya.
Per-lahan2 Hwe soh ki khek Li It sim duduk kembali diatas tanah, sikapnya tenang dan pasrah nasib.
Tangan yang kurus kering dari Hian thian ceng li pelan2 diangkat tinggi...
suasana menjadi sedemikian tegang mencekam hati, suatu tragedi yang menyedihkan bakal terjadi dihadapan kita.
Tampak tubuh Tio Keh siok bergerak bersiaga...
Kata Hwe soh ki khek dengan tenang.
"Anak Siok, kau mundur dan lagi kau harus ingat, selamanya jangan kau bersikap hendak menuntut balas apa segala."
"Suhu, kau..."
"Minggir, ini perintah!"
Apa boleh buat Tio Keh siok mundur beberapa langkah sambil menggigit gigi dua butir airmata meleleh membasahi pipinya.
Betapa perih dan sedih hati Suma Bing susah dilukiskan dengan kata2, jikalau dirinya tidak menghancurkan batu besar itu, tragedi yang mengenaskan ini tidak bakal terjadi.
Adalah sekarang menyesalpun sudah kasep, memang hakekatnya dia sendiri juga tidak akan mampu dan kuasa untuk merintangi akan terjadi tragedi yang bakal terjadi ini sebab Hian thian ceng li adalah Sukohconya.
Tanpa terasa pandangan matanya beralih kearah ibunya San hoa li Ong Fang lan, sorot matanya seakan2 tengah berkata apakah aku telah bekerja salah?
Tangan Hian thian ceng li yang sudah terangkat tinggi gemetar semakin hebat, lama dan lama sekali tak kuasa dipukulkan.
Untuk detik seperti sekarang inilah maka dia rela menunggu dengan sabar tekun diluar lembah selama enampuluh tahun, karena dia (Li It sim) pula maka dia menyebar maut dan banyak membunuh orang2 yang tidak berdosa, sehingga kedua tangannya berlepotan darah tokoh2 persilatan yang mati penasaran.
Namun setelah detik yang dinantikan ini sudah diambang mata, dia sendiri agaknya tak kuasa turun tangan.
Mengapa?
"Li It sim, betul2 kau rela mati?"
Terdengar Hian thian ceng li berkata pilu.
"Ya, benar!"
"Tiada omongan apalagi yang perlu kau ucapkan?"
"Yang sudah lalu biarlah tenggelam, dan yang akan datang buat apa disesalkan!"
"Hanya kalimat itu saja?"
"Jikalau... ai!"
Mendadak Hian thian ceng li berpaling dan berkata kepada San hoa li Ong Fang lan.
"Kalian menyingkir dari sini!"
Wajah San hoa li Ong Fang lan berubah tegang, serunya kuatir.
"Sukoh, kau..."
"Lekas minggir!"
San Hoa li tak berani banyak bercuit lagi, sambil menggape kepada Suma Bing dia berseru.
"Anak Bing, mari pergi!"
Suma Bing tak kuat lagi menahan perasaan dukanya, teriaknya penuh haru dan menyesal.
"Li locianpwe, Wanpwe akan merasa menyesal seumur hidup ini!"
Sepasang mata Hwe soh ki khek dipentang berkilat, nadanya berat serak.
"Buyung, jangan kau mereras diri. Lohu tidak salahkan kau, malah aku harus menyatakan terimakasih akan berita dari kawan tuaku itu!"
Tanpa bersuara Suma Bing mengikuti dibelakang ibunya beserta keempat gadis serba putih itu.
Kira2 ratusan tombak kemudian baru mereka menghentikan langkah.
Tanpa membuang waktu lagi segera Suma Bing bertanya.
"Bu, sebenarnya karena persoalan apakah sehingga Li locianpwe dan Sukohco sampai bermusuhan?"
"Karena cinta!"
"Mereka adalah..."
"Duduk perkara yang jelas aku kurang terang, mungkin pada masa remajanya dulu Sukohcomu terlalu ter-gila2 mencintai Li locianpwe itu, sayang dia bertepuk sebelah tangan,akhirnya dari cinta timbullah rasa benci!"
"Mereka sudah berusia sedemikian lanjut, kenapa..."
"Nak, sejak dahulu kala sampai sekarang, ada berapa manusia yang dapat melepaskan diri dari belenggu cinta asmara?"
"Bu, sebetulnya aku hendak minta petunjuk kepada Li locianpwe tentang..."
"Tentang urusan apa?"
"Mengenai sebentuk barisan yang aneh."
"Lantas bagaimana?"
"Diluar lingkungan markas besar Bwe hwa hwe dibangun sebuah barisan aneh sebagai tedeng aling2nya yang kokoh ampuh!"
"Kenapa dalam kesempatan tadi kau tidak mau bilang?"
"Dalam keadaan yang begitu, mana ada muka aku membuka mulut."
"Kau masih ada kesempatan!"
"Kesempatan apa?"
"Menurut hematku Sukohcomu tidak akan tega turun tangan membunuhnya."
"Kukira tidak begitu, betapa besar sikap kebencian Sukohco tadi!"
"Nak, masih ada sesuatu yang belum dapat kau selami, cobalah sekarang kau bercerita tentang pengalamanmu selama ini!"
Suma Bing bercerita tentang pengalaman menuntut balas di Bu khek po, cara bagaimana istri tercinta Phoa Kin sian meninggal dan mengenai orang lain memalsukan dirinya menimbulkan banyak bencana diberbagai tempat.
Kata San hoa li sambil menghela napas.
"Nak, kau harus belajar dan dapat menghadapi nasibmu yang sudah tersurat dalam takdir, sebagai seorang persilatan selama hidupmu ini kau harus berani dan tabah menghadapi gelombang hidup yang tidak menentu dan banyak bahayanya ini. Agaknya perlu aku perintahkan Ih Yan chiu dan sebelas Rasul lainnya untuk membantu kau!"
"Bu, jangan!"
"Nak, ini tidak akan mempengaruhi hasratmu untuk menuntut balas seorang diri."
"Tapi anak berharap dapat bekerja seorang diri."
"Nak, kau jangan kukuh dan keras kepala, inilah maksud baik ibumu, jangan kau menampik lagi, mereka hanya akan selalu membuntuti gerak gerikmu secara diam2, mungkin dalam suatu keadaan yang mendesak tenaga mereka sangat berguna bagi kau."
Terdesak oleh kebaikan ibunya, terpaksa Suma Bing mengangguk setuju. Mendadak San hoa li berpaling kearah hutan sebelah sana dan berseru nyaring.
"Sahabat darimana itu, harap keluar untuk bertemu."
Benar juga beruntun dua kali berkelebat sebuah bayangan, tahu2 sudah hinggap dihadapan mereka. Jantung Suma Bing ber-debar2, teriaknya gugup.
"Nona Tio."
Yang datang ini memang adalah Tio Keh siok murid Hwe soh ki khek Li It sim.
"Nona Tio apa yang telah terjadi?"
Tanya San hoa li gelisah dan tegang. Agaknya Tio Keh siok sudah kehilangan perasaan gusar dan bencinya, sikapnya kalem katanya sambil bersoja.
"Sungguh tak nyana Cianpwe kiranya adalah ahli waris dari Panggung berdarah, harap terimalah hormat Wanpwe."
"Nona jangan banyak peradatan, tentang Suhumu..."
"Mereka sudah pergi."
"Siapa yang pergi?"
"Suhu dan Hian thian ceng li sudah pergi semua."
"Bagaimana akhir keadaan disana?"
"Kedua orang itu sudah mendapat kata sepakat, sekarang suhu pergi menuju tempat perjanjiannya dengan Kang kun Lojin Buyung Ceng untuk bertemu, dia bersumpah untuk tidak mengunjukkan diri lagi selama hidup ini. Tentang Hian thian ceng li Locianpwe entahlah dia pergi kemana"
"Bagus, penyelesaian begini sungguh membuat hatiku puas!"
Kata Tio Keh siok kepada Suma Bing.
"Tuan ingin mengetahui cara pemecahan barisan yang melindungi markas besar Bwe hwa hwe itu bukan?"
Suma Bing tercengang, lantas dia paham pasti Sukohconya tidak lupa akan janjinya dan mengajukan persoalannya ini kepada Hwe soh ki khek, maka segera sahutnya.
"Benar memang begitulah."
"Pernah satu kali secara kebetulan aku sudah berkenalan dengan barisan itu. Menurut teorinya barisan itu termasuk yang dinamakan Im yang ngo heng tin."
Kening Suma Bing berkerut dalam, untuk membalas dendam ayahnya dengan tangannya sendiri dia telah membunuh Bu khek sianglo yang menjadi Susiokco Tio Keh siok, malah melukai Tio Keh siok pula.
Besar anggapannya kalau lawan pasti membencinya sampai ketulang sumsum, haruskah dirinya menerima kebaikan ini dari dia?
Meskipun saat ini dia betul2 ingin mengetahui cara pemecahan barisan itu.
Tapi dia tidak mengharap mendapat keterangan dari mulutnya.
Karena pikirannya ini dengan berat dia berkata.
"Nona, hendak memberitahu kepada cayhe..."
"Aku mendapat perintah Suhu untuk menyampaikan saja."
Sela Tio Keh siok dingin.
"Ini bukan maksudku sendiri, harap tuan maklum akan hal ini."
"Jikalau nona tidak sudi memberitahu, boleh tak usah dikatakan."
"Hm, tuan aku hanya menyampaikan penjelasan Suhu, ini juga berarti melaksanakan perintah beliau yang terakhir. Aku tak kuasa dan tuan juga harus dengar."
Suma Bing menjadi serba susah dibuatnya. Kata Tio Keh siok selanjutnya.
"Im yang ngo heng tin termasuk barisan luar dari perguruan sesat yang aneh, barisan ini merupakan kombinasi dari dua unsur barisan yang berlawanan, susah untuk dapat diselami, tapi gampang untuk dipecahkan, asal mengerahkan tujuh tenaga orang yang bekerjasama, sekali gebrak saja pasti barisan ini akan berantakan..."
"Satu orang saja tak dapat mengatasi?"
"Bisa keluar masuk tanpa rintangan, tapi susah untuk memecahkan. Ketujuh orang itu harus melalui pintu tengah terus menerobos kepusatnya, lalu begini..."
Selanjutnya dia berjongkok dan mengambil ranting kayu untuk menggambar dan memberi penjelasan men-coret2 diatas tanah.
Dasar otak Suma Bing memang encer, sekali lihat dan dengar saja cukup dapat dipahami, segera ia memberi salam dan berkata.
"Cayhe menyatakan banyak terima kasih."
"Mana aku berani terima, selamat bertemu!"
Habis berkata sedikit membungkuk kearah San hoa li terus melejit jauh menghilang dibalik pohon.
"Nak,"
Kata San hoa li serius.
"Ibumu percaya akan kekuatan Lwekangmu, pasti kau dapat melaksanakan pembalasan dendam ini, harap jagalah dirimu baik2, aku pergi."
Suma Bing berat untuk berpisah, katanya tersenggak.
"Bu, kapan aku baru dapat bertemu pula dengan kau orang tua?"
"Kapan2 saja pasti kita dapat bertemu kembali."
"Bu, kuatkanlah imanmu, aku pergi!"
Begitulah setelah keluar dari alas pegunungan Suma Bing langsung meluncur ke markas besar Bwe hwa hwe, semakin cepat kakinya bergerak, semakin berkobar rasa dendamnya, terbayang akan saat2 pembalasan dendam ini, darah musuh besar akan mengalir keluar rasanya belum puas dan belum terlampias sebelum terjadi banjir darah di Bwe hwa hwe.
Dia lupa waktu lupa perutnya yang kosong dan lupa akan badannya yang capek lelah, terus berlaju cepat menuju markas besar musuh yang misterius itu.
Hari itu dia tengah meluncur secepat anak panah melesat dari busurnya.
Tiba2 sebuah bayangan seorang perempuan yang rasanya sangat dikenalnya berkelebat dikejauhan sana.
Disaat mereka bertemu pandang setelah dekat, kedua belah pihak berseru kejut berbareng, dan sama2 menghentikan kakinya.
Perempuan ini bukan lain adalah Thong ping yang diperkosa oleh Racun diracun sehingga melahirkan didalam gua itu.
Sesaat Suma Bing merasa serba salah dan kikuk, sebab dia tak bisa melaksanakan janjinya terhadap Thong Ping untuk membunuh Racun diracun atau duplikat dari Phoa Cu giok.
Thong Ping sedikit menekuk tubuh dan memberi salam.
"Suma Siauhiap, tidak nyana ditempat ini bisa bertemu dengan kau!"
Terpaksa Suma Bing keraskan kepala dan menebalkan muka berkata.
"Nona Thong, aku..."
Wajah Thong Ping tampak agak kurus dan pucat, tanyanya gelisah.
"Ada apa?"
"Nona Thong, cayhe sangat menyesal!"
Kata Suma Bing masgul.
"Kenapa?"
"Tak tahu bagaimana aku harus memberi penjelasan."
"Maksud Suma Siauhiap tentang Racun diracun..."
"Ya, terpaksa cayhe harus ingkar janji dan menelan ludahku sendiri..."
Thong Ping menghela napas sedih dan merawan hati, katanya.
"Suma Siauhiap, aku heran dan curiga mengapa aku masih hidup sampai sekarang?"
Suma Bing gelagapan tak dapat bicara, dia pernah melulusi Thong Ping untuk membunuh Phoa Cu giok, namun dia tidak melaksanakan sumpahnya itu, sekarang dia tidak mengerti bagaimana dia harus mengambil sikap untuk membujuk kepada orang yang sangat dikasihani ini.
Thong Ping menyambung lagi.
"Baru sekarang aku sadar ternyata imanku sedemikian lemah, aku telah kehilangan keberanian untuk menghadapi kematian, tapi rela dan mandah ditimpa kemalangan dan penderitaan hidup yang sengsara ini, mengapa...?"
Suma Bing merasa hati kecilnya perih seperti di-tusuk2 jarum, karena ingkar janji dia merasa sangat sedih suaranya berkata rendah.
"Nona Thong, aku tidak perlu mohon kau memaafkan, tapi selamanya aku akan merasa menyesal terhadapmu."
"Suma Siauhiap tidak perlu kau bersikap demikian."
"Nona Thong, seorang laki2 sejati harus dapat menepati janjinya, tapi aku..."
"Aku tahu, karena kau terdesak oleh keadaan!"
Suma Bing berjingkrak kaget.
"Apa, kau sudah tahu?"
Thong Ping manggut2.
"Darimana kau..."
"Dia sendiri yang mengatakan kepadaku!"
Wajah Thong Ping semakin pucat, sekuat mungkin dia menahan mengalirnya air mata, namun akhirnya dia sesenggukkan juga.
"Dia, siapa?"
"Phoa Cu giok!"
"Dia... berani menemui nona?"
Air mata meleleh di kedua pipinya yang pias, ujar Thong Ping sambil sesenggukkan.
"Dia datang dan bertobat dihadapanku, dia minta aku turun tangan membunuhnya. Aku maklum bahwa rasa kebencianku ini selama hidupku ini takkan mungkin dapat terhimpas lagi. Anaknya diberi nama Phoa Ki, dengan nama ini dia berharap kelakuan bejat ayahnya ini tidak menurun kepada anaknya. Diapun sudah menerangkan semua sejujurnya, Siauhiap, selamanya aku akan membenci dia, tapi... aku sangat sayang kepada anakku!"
Bagai terlepas dari belenggu yang mengekang dirinya Suma Bing menghela napas lega ujarnya.
"Nona Thong, sungguh kau seorang yang bijaksana dan baik, Yang Maha Kuasa sungguh kurang adil, mengapa segala sengsara dan derita hidup ini semua ditimpahkan kepada seorang wanita lemah seperti kau ini!"
"Siauhiap,"
Kata Thong Ping sambil mengusap air matanya.
"Yang sudah lalu biarlah pergi, jangan sampai semua peristiwa sedih ini mengganjal dalam sanubarimu."
"Nona Thong, tiada apa lagi yang dapat kuucapkan, selain aku merasa menyesal dan minta maaf kepadamu!"
"Ai!"
Keluhan yang merawan ini melimpahkan semua penderitaan dan kemalangannya.
"Nona, kau jadi membunuhnya?"
"Aku... tatkala itu rasanya ingin benar tapi bagaimanapun juga aku tidak tega turun tangan."
"O, seharusnya memang dia setimpal dihukum mati..."
"Aku harus merasa malu karena tak berbakti kepada ibu dialam baka."
"Kemana dia sekarang?"
"Dia sudah pergi entah kemana!"
"Hanya begitu saja pertanggungan jawabnya terhadapmu?"
"Sebelum pergi, dia berkata kelak dia akan mengatur bertanggungan jawabnya serta berharap melakukan kerjaan besar yang dapat membawa kesejahteraan bagi kaum persilatan khususnya dan bagi masyarakat umumnya untuk menebus segala dosa2nya dan untuk menghibur arwah cicinya yang berada dialam baka."
"Demikian juga pengharapanku supaya dia bisa hidup kembali menjadi manusia yang berguna, kalau tidak..."
"Bagaimana?"
"Nona Thong, kalau kudapati perbuatannya tidak sesuai dengan kemanisan mulutnya itu, pasti aku akan bertindak tanpa kepalang tanggung!"
"Gubukku yang reyot tidak jauh dari sini, harap Siauhiap..."
"Sungguh menyesal, aku ada urusan sangat penting yang harus segera kuselesaikan, biarlah kita berpisah untuk sementara waktu!"
Setelah berpisah dengan Thong Ping, suma Bing melanjutkan perjalanan semakin cepat.
Memang segala sesuatu kejadian didunia ini sulit diduga sebelumnya.
Sebetulnya dia tengah kuatir cara bagaimana dia harus memberi penjelasan kepada Thong Ping, siapa duga kejadian ternyata demikian akhirnya.
Beberapa hari kemudian diluar barisan pohon bunga Bwe didalam lembah sempit dimana Markas besar Bwe hwa hwe berada, datanglah seorang pemuda cakap ganteng yang berwajah dingin membeku dan diselubungi hawa membunuh yang tebal.
Dia tak lain tak bukan adalah Sia sin kedua Suma Bing atau calon majikan Perkampungan bumi yang dipandang sebagai tempat kramat oleh kaum persilatan.
Tiba didepan barisan pohon Bwe darah Suma Bing bergolak semakin keras, nafsu kekejaman yang sadis terbayang pada wajahnya.
Hutan pohon Bwe dihadapannya sekarang sudah tidak menjadikan rintangan berarti lagi bagi dirinya...
Setelah menyapu pandang situasi atau keadaan barisan yang dinamakan Im yang ngo heng tin dia perdengarkan suara dinginnya ber-ulang2 terus melejit cepat sekali menerobos masuk dari pintu tengah langsung menuju...
Mendadak tubuhnya yang melambung tinggi itu terpental balik dan meluncur turun diatas tanah, jantungnya terasa menciut se-akan2 seluruh tubuhnya membeku.
Diatas sebuah pohon Bwe yang tinggi besar terpancang sebuah mayat manusia, mulutnya terpentang dan giginya meringis, kedua matanya melotot keluar, kaki tangannya terpentang lebar, telapak tangan dan kaki serta ditengah dadanya menonjol keluar pentolan paku sebesar buah kelengkeng, jadi tubuhnya ini terpantek diatas pohon.
Darah yang membeku berwarna hitam, mengalir dari sang korban terus membasahi seluruh pohon dan membasahi seluruh tanah dibawahnya, keadaan ini sungguh menusuk hati dan seram menakutkan.
Mayat yang menggenaskan ini tak lain adalah jenazah si maling bintang Si Ban cwan dari wajah sang korban yang berkerut dan menakutkan itu agaknya dia hidup2 dipantek diatas pohon hingga meninggal, kematiannya ini kira2 terjadi satu hari yang lalu.
Sedemikian seram dan mengenaskan cara kematian si maling bintang, malah mati dipantek didepan barisan pohon pelindung markas besar Bwe hwa hwe, siapapun takkan dapat menduga akan peristiwa yang mengharukan ini si maling bintang terkenal akan kebijaksanaannya dan jujur serta suka mengulur tangan membantu kesukaran yang lain.
Demi membantu Suma Bing mencapai cita2nya menuntut balas sakit hati orang tua serta gurunya telah menjalin hubungan erat dan kental dengan Suma Bing.
Melihat keadaan dan cara kematian orang yang dianggap sangat berbudi ini kedua mata Suma Bing sampai merah padam hampir melelehkan air darah, tubuhnya kejang dan tangan mengepal keras ingin rasanya sekali hantam dia bikin mampus para musuhnya.
Untuk menghadapi si maling bintang Si Ban cwan tidak segan2 Bwe hwa hwe menggunakan cara kejam dan telengas menghabisi jiwanya.
Terang karena si maling bintang secara terang gamblang membantu usaha Suma Bing mencapai angan2nya dan ini berarti juga secara terbuka bermusuhan dengan pihak Bwe hwa hwe.
Suma Bing menggerakkan langkahnya yang berat mendekati jenazah diatas pohon.
Dua butir air mata tanpa terasa meleleh keluar membasahi raut mukanya yang membesi kehijauan.
Diulurkan sebelah tangannya menyentuh jenazah itu, segulung bayangan putih tiba2 melesat kencang meluncur mengarah mukanya.
Sigap sekali ia miringkan kepalanya sambil ulur tangan menjepit benda yang meluncur tiba itu dengan kedua jarinya.
Kontan dia berjingkat kaget karena yang meluncur tiba itu kiranya bukan senjata rahasia tapi ternyata adalah segulungan kertas.
Sejenak dia melengak lalu mundur dua langkah celingukkan kian kemari tidak tampak olehnya bayangan seorangpun jua.
Waktu gulungan kertas itu dibuka, dimana terlihat empat huruf besar yang berbunyi 'Jangan sentuh mayat ini!' Ditulis dengan arang dan agaknya ditulis secara ter-gesa2 sehingga tulisannya agak corat coret.
Apakah maksudnya ini?
Siapakah yang mengirim gulungan kertas ini?
Sekarang dirinya telah memasuki pintu tengah, namun tidak terlihat bayangan seorangpun, ini sudah merupakan suatu kejanggalan yang harus diperhatikan.
Tapi mengandal kekuatan ilmunya nyalinya menjadi besar, sedikitpun tidak gentar menghadapi segala bahaya lagi.
Gulungan kertas itu menyadarkan semangat dari kesedihan, perasaan indran keenamnya mengetuk hati memberitahukan, bahwa bukan mustahil pihak Bwe hwa hwe sudah mengatur tipu daya hendak menjebak dirinya.
Tapi siapakah orang yang memberi peringatan ini?
Kenapa tidak boleh menyentuh mayat ini?
Sekian lama dia bimbang dan ragu, akhirnya pandangannya menatap kearah jenazah si maling bintang yang tak enak dipandang mata.
Tidak, aku harus mengubur jenazahnya dulu.
Demikian dalam hati ia berkata, terus melangkah maju dua langkah dan mengulur tangan...
Se-konyong2 terdengar kesiur angin dari melambainya baju yang terbawa terbang diselingi derap langkah yang ramai.
Terpaksa Suma Bing harus menarik kembali tangannya terus memutar tubuh bersiaga.
Terlihat olehnya bayangan puluhan orang berkelebatan meluncur tiba dihadapannya.
Dua diantaranya yang paling gesit sigap sekali melangkah maju kehadapannya berjarak tiga tombak terus membungkuk dan berseru lantang.
"Hamba beramai menghadap Huma."
Para pendatang ini kiranya adalah para kerabat dari Perkampungan bumi dibawah pimpinan Sim dan Bu dua Tongcu. Suma Bing sedikit mengangguk dan bertanya heran.
"Kalian..."
Sim tong Tongcu Song Lip Hong segera tampil kedepan dan lapor dengan hormat.
"Hamba beramai begitu menerima kabar bahwa ternyata Huma seorang diri telah meluruk kemarkas besar Bwe hwa hwe, maka bergegas kami menyusul tiba untuk terima tugas!"
"Ini..."
"Harap Huma suka mundur dahulu, hamba ada pesan yang perlu disampaikan!"
Suma Bing mengiakan dan mundur sejauh lima tombak diikuti kedua Tongcu itu.
-oo-dw-oo-5 6 .
S U M A B I N G M E N A W A N K E T U A B W E -H W A -H W E .
Dengan sikap serius berkatalah Bu-tong Pan Bing-say.
"Menurut laporan mata2 yang hamba sebar, ternyata belakangan ini Bwe-hwa-hwe telah mengundang berbagai gembong2 penjahat dari aliran hitam yang sudah lama tidak pernah muncul. Diantaranya Hwe-hun-koay-hud juga telah diundangnya datang dan diangkat sebagai Maha pelindung mereka...................."
"Selain itu masih ada Lam-hay-si-niu, Tiang-pek-siang-pan. Tok-jiau Kho Wan, dan Ngo-tay-tok-hok Thauto dan lain2. Mereka sudah menggabungkan diri kepihak Bwe-hwa hwe"
Terpancar sinar kemarahan pada kedua mata Suma Bing, desisnyai.
"Lamhay-si-niu (empat camar dari Lam-hay) juga menggabungkan diri kepihak Bwe-hwa-hwe?"
"Benar!"
"Bagus sekali!"
Sim dan Bu kedua Tongcu menjadi melengak heran, entah apa yang dimaksud "bagus"
Oleh Suma Bing ini mereka tidak tahu. Tanya Suma Bing selanjutnya.
"Bagaimana keadaan di perkampungan ?'' "Sejak Huma samaran itu datang dan menipu Kiu-im-cin-keng, sampai sekarang tiada terjadi apa2 lagi!"
Demikian jawab Sim-tong Song Lip-hong.
"Baik, sekarang kalian boleh pimpin anak buahmu tinggalkan tempait ini."
"Huma........"
"Kedatanganku ini untuk menuntut balas, aku tidak ingin ada lain orang turut campur"
"Namun hamba beramai menerima perintah dari Kiong-Hu........"
"Tidak perlu lagi......"
"Huma, jenazah jatas pohon itu........"
"Jenazah simaling bintang Si Ban-cwan!"
Kata Suma Bing sambil kertak gigi.
"Ah, tidak mungkin jadi!"
"Kenapa tidak mungkin?"
"Dua hari yang lalu kita pernah bertemu dengan si maling bintang. Katanya dia terburu2 hendak menuju ke Ngo-san untuk menjelaskan kesalah pahaman Huma!!"
"Apa betul?"
"Tidak akan salah!"
"Bukan mustahil dia tertawan setelah berpisah dengan kalian..............."
"Bagaimana juga si-maling bintang berkepandaian tinggi banyak pula akal muslihatnya, tak mungkin sedemikian gampang dia kena tertawan?"
"Lalu bagaimana dengan jenazah yang terpancang di pohon ini?"
"Hamba merasa sangat ganjil!"
"Aku harus segera mengubur jenazah ini!"
"Biarlah hamba beramai yang mengerjakan."
Segera Sim-tong Song Lip-hong melangkah lebar menghampiri kearah jenazah si maling bintang yang terpantek diatas pohon itu "Nanti dulu Song Tongcu!"
"Huma masih ada perintah apa lagi?"
"Ada orang mengirim surat memberi peringatan, Katanya jangan menyentuh jenazah itu!"
Song Lip-hong berjingkat, tanyanya menegas.
"Jangan menyentuh mayat?"
"Apa mungkin merupakan jebakan...."
"Hamba ada akal untuk mencobanya!"
"Cara bagaimana mencobanya?"
"Tadi kami menawan dua orang peronda, biarlah aku suruh kedua peronda, itu yang menurunkan mayat itu, kalau ada jebakan apa2 pasti segera dapat kita bongkar'"
"Baiklah laksanakan caramu itu!"
Song Lip-hong segera berpaling sambil memberi isyarat dengan tangannya, dua orang anak buahnya segera berlari keacaih semak belukar sebelah sana, tidak lama kemudian mereka sudah kembali sambil menggusur dua orang anak buah Bwe-hwa-hwe.
"Lepaskan!"
Menurut perintah kedua laki2 tegap itu segera melepas tali yang mengikat kedua tangan tawanannya yang ditelikung kebelakang itu.
Dengan sinis Song Lip-hong menatap kedua peronda musuh ini sambil berkata hambar.
"Kalian berdua kuberi tugas menurunkan jenazah yang terpantek diatas pohon besar itu, setelah itu kamu boleh pergi, tapi ingat jangan sekali-kali kamu berani bermain lagak, meskipun berada didaerahmu sendiri, kamu takkan ada, kesempatan untuk bertingkah "
Setelah saling berpandangan kedua anak buah Bwe-hwa-hwe itu terus berlari maju Song Lip-hong dan Pau Bing-sian mengikuti maju dikanan kiri berjarak tiga tombak.
Suma Bing juga tidak mau ketinggalan......
Agaknya kedua peronda musuh itu insaf tiada harapan untuk hidup lebih lama lagi, sekian lama mereka takut2 dan saling pandang dengan hampa dan putus asa, akhirnya mendekati pohon besar itu, mulailah mereka mencabuti paku yeng amblas diatas badan jenazah itu........
Sebuah dentuman yamg menggelegar menggetarkan bumi Disertai teriakan yang mengerikan.
Cepat sekali kejadian yang tak terduga ini, begitu suara sudah sirap dan keadaan menjadi terang kembali, tampak pohon besar Itu sudah toboh dan hancur berantakan, dahan dan daon pohon beterbangan ke-mana2.
Kedua peronda Bwe-hwa-hwe itu bersama jenazah si malihg bintang bayangannya saja sudah tidak kelihatan lagi, tubuh mereka hancur luluh tanpa meninggal kan bekas.
Tersirap darah Suma Bing, giginya sampai ber-kerot2 saking gusar.
Sim dan Bu kedua Tongcu segera maju mendekat dengan badan yang kotor oleh runtuhan debu, suaranya gemetar haru.
"Huma tidak kurang suatu apa?"
Suma Bing mengangguk, dalam hati ia membatin;
"jikalau tiada orang memperingati aku dengan gulungan kertas tadi, mungkin aku sudah cecel duel tak berujud manusia lagi. Tipu muslihat jebakan ini benar2 keji, sungguh kasian si maling bintang .setelah mati sampai jenazahnya juga tidak dapat dikubur malah hancur lebur. Baru saja pikirannya lenyap, tampak seiringan orang tengah bergegas berjalan keluar dari hutan pohon Bwe sebelah dalam sana, mereka mendatangi dengan cepat.
"Siap Bertempur!"
Terdengar Pau Bing-sam memberi aba2 kepada seluruh anak buahnya Empat puluh para kerabat Perkampungan bumi serentak mengiakan berbareng, sebat sekali mereka berpencar membentuk sebuah lingkaran setengah bundar, siap siaga menghadapi pertempuran.
Suma Bing berpaling dan berkata angkuh.
"Kalian tidak perlu turun tangan."
Para pendatang itu kira2 berjumlah lima puluh orang dipimpin seorang pemuda yang gagah tegap, dia bukan lain adalah ketua Bwe-hwa-hwe sendiri Chiu Thong.
Begitu mendekat lantas sorot mata ketua Bwe-hwa-hwe menyapu pandang sekelilingnya seketika dia berseru kejut terus angkat sebelah tangan dan memberi perintah.
"Berhenti, cepat laporkan kejadian disini kepada dia orang tua!"
Muka Suma Bing merah padam dan membesi diliput hawa sadis, matanya menyala dan melotot besar menatap ketua Bwe-hwa-hwe dan anak buahnya.
Semua rombongan dari Bwe-hwa-hwe yang baru muncul ini semua mengunjuk rasa kejut dan terkesima.
Bahwa-sanya Sia
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com/ sin Kedua tidak mampus dan hancur lebur karena ledakan tadi, ini benar2 diluar perhitungan mereka. Tiba2 ketua Bwe-hwa-hwe menggerung gusar dan membentak berat.
"Dimana Go-hiangcu berada?"
"Hamba ada disini!"
Terdengar sebuah sahutan, lantas muncul sebuah bayangan dari antara kelompok dibelakang sana maju menghadap sambil menekuk lutut.
Begitu melihat orang yang dipanggil sebagai Go-hiangcu ini, seketika berdetak keras jantung Suma Bing, sebab bentuk tubuh ini agaknya sudah sangat dikenal olehnya.
Terdengar ketua Bwe-hwa-hwe bertanya gugup.
"Apa yang telah terjadi disini?"
Go-hiangcu menyahut hormat.
"Setengah jam yang lalu, mendadak Racun diracun muncul, semua saudara yang menjaga di pos2 terdepan telah meninggal semua keracunan". Sungguh kejut Suma Bing bukan kepalang, Racun di racun adalah duplikat istrinya Phoa Kin-sian dan Phoa Cu-Sok Sekarang istrinya tercinta sudah meninggal, maka orang yang dikatakan sebagai Racun di Racun itu pasti bukan lain adalah penyamaran Phoa Cu-giok adanya. Tapi mengapa Phoa Cu-giok berbuat begitu? Tak heran demikian lelusa dirinya masuk kedalam sini, ternyata semua penjaga2 pos sudah mampus keracunan semua, lantas teringat olehnya orang yang memperingati dengan gulungan kertas itu, apakah itu perpuatan Phoa Cu-giok? Menurut penuturan Thong Ping. sebelum Phoa Cu-giok pergi dia pernah berkata hendak melakukan kerja bakti untuk menebus dosa dan untuk menghibur arwah kakaknya yang berada dialam baka, apakah inilah yang dia maksudkan dengan kerja bakti itu. Dalam pada itu, terdengar ketua Bwe-hwa-hwe mendengus keras, semprotnya "Go-hiang-cu, lalu kenapa kau sendiri tidak keracunan ?"
"Kebetulan hamba sedang bergerak meronda, beruntung hamba lolos dari lobang jarum!"
"Kenapa kau tidak bunyikan pertanda bahaya?"
"Belum sempat karena Sia-sin kedua Suma Bing sudah keburu tiba, maka..............."
"Baiklah, kau mundur!"
"Terima kasih!"
Go-hiangcu berdiri sambil putar tubuh menghadap kearah rombongan Suma Bing, sekilas mata melirik terus mengundurkan diri Suma Bing menjadi melongo dan kecele, bentuk tubuh Go-hiangcu yang sangat dikenalnya ini ternyata adaiah seorang laki2 yang berwajah kuning seperti orang penyakitan, selamanya belum pernah dilihat dan dikenal orang macam ini.
Ketua Bwe hiwa-hwe mengangkat kedua tangannya keatas, semua anak buahnya segera berpencar kedua samping dan berbaris rapi, meluangkan sebuah jalan diantara mereka, Pelan dan berat langkah Suma Bing maju berderap di atas tanah, jarak mereka dari delapan tombak mendekat menjadi tiga tombak jauhnya.
Tiba2 ketua Bwe-hwa-hwe merangkap tangan memberi hormat dan menyapa.
"Menghadap kepada Susiok."
Semula Suma Bing melengak dan kejut, serta merta ia menghentikan langkahnya. Namun di lain saat lantas dia paham, maka sahutnya menjengek.
"Chiu Thong, apa katamu?"
"Menghadap kepada Susiok!"
"Siapa yang menjadi Susiokmu?"
"Selain kau Sisiok, masa masih ada orang lain!"
Suma Bing bergelak tertawa, ujarnya.
"Chiu Thong, Loh Cu-gi menghina guru dan mendurhakai perguruan kematiannya masih belum setimpal untuk menebus dosanya....."
Heran sikap ketua Bwe-hwa-hwe ternyata tetap kalem dan sabar, sahutnya.
"Sebetulnya Suhu hanya terfitnah saja, peristiwa itu........................."
"Tutup mulutmu!"
Bentak Suma Bing murka.
"Apa kau tahu maksud kedatanganku hari ini?"
"Harap Susiok suka menerangkan."
"Mencuci bersih seluruh Bwe-hwa-hwe!"
Rona Wajah ketua Bwe-hwa-hwe berubah tak menentu katanya lagi.
"Suhu segera akan tiba, nanti dia akan menerangkan sendiri kepada Susiok."
Suma Bing mengertak gigi, desisnya.
"Chiu Thong, di mulai dari kau untuk membuka pesta darah ini!" -habis berkata ringan sekali sebuah tangannya diayun memukul kedepan. Dimana gelombang angin badai menerpa tiba, terdengar Ketua Bwe-hwa-hwe mengeluh tertahan sambil sempoyongan setombak lebih, serunya lantang.
"Untuk membuktikan kebersihan hatinya Suhu telah mengusung jenazah Suco kemari."
Hampir pecah jantung Suma Bing, tubuhnya berkelejotan seperti orang sakit ayan. suaranya gemetar.
"Apa yang kau katakan?"
"Jenazah Suco sekarang sudah berada didalam markas, tubuhnya sudah direndam obat anti pembusuk. Sebentar lagi pasti Susiok dapat lihat sendiri."
Tubuh Suma Bing limbung, pandangan terasa gelap hampir saja dia terjungkal jatuh.
Mimpi juga dia tidak menyangka bahwa jenazah Suhunya Sia-sin Khong Jiang telah terjatuh ditangan Loh Cu-gi, manusia jahat berhati serigala ini, entah mengandung maksud muslihat apa lagi?
Dendam dan sakit hati yang ber-limpah2 hampir membuatnya gila.
Sebat sekali selicin belut tiba2 dia turun tangan secepat kilat.
Dimana terdengar jerit tertahan, tahu2 ketua Bwe-hwa-hwe sudah tercengkram pergelangan tangannya tanpa mampu berkelit atau menghindar diri.
Para kerabat dari perkampungan bumi tanpa bersuara serentak maju kedepan tiga tombak.
Berubah pucat airmuka ketua Bwe hwa-hwe, matanya menunnjuk rasa ketakutan yang luar biasa, suaranya sember gemetar.
"Susiok........"
"Sekali lagi kau berani sembarangan mengoceh,"' demikian ancam Suma Bing sambil kertak gigi.
"Biar kubeset tubuh-mu hidup2!"
Se-konyong2 dari dalam hutan sebelah sana lamat2 terdengar sebuah seruan yang saling bersahutan.
"Sesepuh tiba!"
Maka beramai2 para jagoan anak buah Bwe-hwa-hwe yang berjajar itu membungkuk sembilanpuluh derajat tanda penghormatan akan kedatangan sesepuhnya Kedua mata.
Suma Bing ber-kilat2 melotot besar mengawasi tajam kearah hutan sebelah dalam sana.
Tampak serombongan orang tengah mendatangi, orang terdepan ternyata bukan lain adalah Loh Cu-gi musuh besarnya.
Dibelakang Loh Cu-gi mengintil pula Hwe-hun-koay-hud yang di angkat sebagai Maha pelindung itu.
dan rombongan yang terakhir adalah sepuluhan lebih orang2 tua yang berwajah bengis.
Sekejap saja mereka sudah datang mendekat.
Tampak Loh Cu-gi sedikit mengernyitkan kening, katanya dingin "Suma Bing, lepaskan dia!"
Darah Suma Bing mendidih dan bergolak semakin cepat otot dijidatnya merongkol keluar, rasa kebencian yang me-luap2 membuat wajahnya merah padam, sungguh keadaannya ini dapat memibuat hati orang gentar, desisnya dengan bengis.
"Loh Cu-gi. hari ajalmu sudah tiba!"
Sambil menggeram ini tanpa merasa kedua tangannya niencengkram semakin keras.
Kontan terdengar jerit kesakitan yang menggetarkan seluruh hadirin.
Ternyata pergelangan tangan ketua Bwe-hwa-hwe sudah tercengkram hancur.
"Suma Bing."
Bentak Loh Cu-gi gusar.
"berani kau melukai dia."
"Ada apanya yang tidak berani."
Jengek Suma Bing ,"biar dia menjsdi contoh untuk kamu lihat!"
Dimana terlihat sinar dingin berkelebat, cundrik penembus dada tahu2 sudah digenggam ditangannya.
Keringat sebesar kacang membasahi jidat ketua Bwe hwa-hwe Chiu Thong, tubuhnya lemas semampai, wajahnya ber-kerut2 dan pucat pasi kehilangan kewibawaannya seperti seekor domba dibawah cengkraman seekor singa matanya memancarkan rasa belas kasihan mengerling kearah Suhunya Loh Cu-gi.
"Apa hubungannya bocah keparat Ini dengan Rasul penembus dada yang dikabarkan itu?'' demikian tanya seorang Thauto berwajah seperti singa dengan sebuah matanya saja. Loh Cu-gi melenggong, sahutnya.
"Saat ini masih belum diketahui"
Hwe-hun koay-hud juga menggerung gusar, makinya .Buyung, berani kau menyentuh seujung rambutnya ketua saja, selain kau bocah kapiran ini juga akan kami bakar dan kita babat semua penghuninya sebagai pembalasan."
Perkampungan bumi sebagai salah satu tempat kramat yang ditakuti kaum persilatan, meskipun sang Te-kun sudah pergi, namun mengandal kekuatan jago2 yang lihay2 ditambah letak pembawaannya yang tersembunyi serta peraturan dan penjagaannya yang ketat untuk menghancurkannya, memang gampang dikatakan seperti dalarn mimpi.
Suma Bing mendengus acuh tak acuh.
"Hwe-hun Lokoay, kematian sudah didepan mata masih berani pentang mulut sembarangan mengoceh. Sekarang tontonlah cara aku turun tangan!'' -Sinar terang berkelebat cundrik penembus dada itu sudah diayun mengarah keulu hati ketua Bwe-hwa-hwe. Meskipun rombongan pihak Loh Cu-gi itu kebanyakan adalah gembong2 iblis yang kenamaan dan berkepandaian tinggi, tapi siapapun takkan ada yang mampu menolong Chiu Thong yang sudah terancam dibawah runcing senjata, mereka hanya mampu berseru kaget dan berubah airmuka.
"Suma Bing,"
Cepat2 Loh Cu-gi berseru gugup.
"Kau akan menyesal se umur hidup!'' Ucapannya ini ternyata membuat Suma Bing melengak dan menghentikan tindakannya, sehingga cundrik ditangannya tertunda ditengah jalan. Segera Loh Cu-gi melanjutkan berkata.
"Suma Bing, jenazah suhu berada disini, apakah kau hendak melihatnya?"
Hampir meledak dada Suma Bing, teriaknya beringas.
"Loh Cu-gi, mulutmu yang kotor itu sudah tidak berharga untuk memanggil "Suhu"
Lagi".
"Suma Bing. kau lepas dia dulu, marilah kita bicara"
"Tidak mungkin!'' "Jangan kau menyesal nanti?"
"Tidak ada yang perlu disesalkan-"
"Berani kau buruh dia, biar aku hancurkan juga jenazah Kho-lo-sia!"
"Binatang kau berani?"
Bentak Suma Bing, Loh Cu-gi menyeringai iblis, ujarnya dingin.
"Boleh kau coba, nanti juga boleh kau lihat, aku berani atau tidak!"
Lalu dia memberi tanda kebelakangnya Maka terlihat empat laki2 bertubuh tinggi tegap dengan otot2nya yang merongkol keluar menggotong keluar sebuah peti mati terus diletakkan dihadapan Loh Cu-gi.
"Suma Bing, peti mati ini terbuat dari kaca yang tembus cahaya, cobalah maju dan lihat biar tegas, apakah tulen atau palsu!"
Kedua bola mata Suma Bing sudah merah membara, tubuhnya gemetar dan berkeringat-Dia makfum manusia seperti Loh Cu-gi yang bersifat, kejam melebihi binatang, kalau sudah berani mencelakai Suhunya semasa masih hidup, tentu berani juga menghancurkan jenazahnya sesudah mati.
Mengandal kekuatan Kiu-yang-sin-kang yang terlatih olehnya sekarang, jarak tiga tombak masih gampang baginya untuk menghancurkan peti itu segampang membalikkan tangan.
Hakikatnya sekarang dia harus berusaha cara bagaimana dia harus menyelamatkan jenazah Suhunya ini, dan lagi apakah jenazah didalam peti itu betul2 tulen atail palsu belaka!
Setelah direnungkan sekian lama, sambil mengempit ketua Bwe-hwa-hwe dia melompat maju sampai dimuka peti mati Memang pet i mat i dibuat dar i k aca yang tembus cahaya, sekal i pandang saja jelas ter l ihat jenazah yang rebah di dalamnya memang bukan lain adalah guruny a Sia-s in Kho J iang adanya, wajahnya ter l ihat tenang bagai mas ih hidup seper t i sedang t idur nyenyak Air mata tanpa merasa deras meleleh keluar.
Sia-sin Kho Jiang telah membuatnya hidup kembali dari lembah kematian, dari umur tiga tahun dirinya dibesarkan dan dididik.
betapa besar budinya ini seumpama langit tingginya dan sedalam lautan, mana bisa dirinya tinggal diam melihat jenazah gurunya akan dihancurkan.
Terang situasi tidak menguntungkan, didalam pengawasan sekian banyak gembong2 iblis yang laknat ini, sulit dikatakan dapatkah dirinya tetap melindungi peti mati ini tanpa kurang suatu apa.
Terdengar Loh Cu-gi berkata lagi.
"Suma Bing. lepaskan dia!"
Dalam keadaan yang mendesak ini mau tak mau Suma Bing harus berpikir panjang, sahutnya.
"Boleh, tapi kau harus serahkan dulu peti mati ini kepada pihak kami!"
"Kau sangka kamu mampu berbuat begitu?"
"Kalau begitu kau lihat dan gusurlah jenazah Chiu Thong Ini dulu."
"Suma Bing kau salah perhitungan, Chiu Thong adalah muridku, meskipun menjabat sebagai ketua, seumpama dia harus berkorban demi kepentingan perkumpulan, pengorbanannya itu harus dibanggakan malah!"
"Jadi kau rela membiarkan dia mati lebih dulu?"
"Kalau perlu apa boleh buat, ada banyak orang yang tak terhitung jumlahnya akan mengiring jenazahnya ke liang kubur termasuk kau sendiri dan jenazah Kho-lo-sia!"
Hampir meledak dada Suma Bing, desisnya.
"Loh Cu-gi, kaukah manusia?"
"Aku tidak peduli apa yang kau katakan."
"Lalu apa kehendakmu?"
Loh Cu-gi menyeringai iblis, ujarnya.
"Gampang sekali bukan, Chiu Thong harus kau bebaskan, baru kita perbincangkan syaratnya."
Jalan darah dan sendi2 tulang Suma Bing berkeretokan rasanya hampir meledak.
Sedemikian besar semangatnya dengan bekal dendam kesumat yang me-nyala2 untuk menuntut balas, tak duga setelah tiba diambang pintu, ternyata terjadi hal2 yang diluar prasangka sebelumnya.
Bukan saja tubuh si maling bintang hancur lebur, sekarang jenazah Suhunya juga dijadikan tanggungan untuk mendesak dan menjepit dirinya.
Seumpama tidak menghiraukan jenazah Suhunya, segera dia dapat melepas tangan mulai turunkan tangan jahatnya membunuh para musuhnya serta antek2nya.
Tapi dapatkah dia berbuat demikian?
Akhirnya apa boleh buat dia lepaskan ketua Bwe-hwa-hwe Chiu Thong.
Pergelangan tangan Chiu Thong sudah hancur, sakitnya bukan kepalang, setelah dilepas badannya menjadi lemas dan segera diusung kedalam oleh beberapa anak buahnya.
Loh Cu-gi menyeringai dingin ber-ulang2 dengan puas, ujarnya.
"Suma Bing, sekarang marilah kita persoalkan perhitungan kita..........."
"Coba katakan."
"Sudah tentu kau ingin benar membawa pergi jenazah Kholo-sia ini untuk dikubur, benar tidak?"
"Binatang, kau manusia yang lebih rendah dari binatang, katakan kehendakmu!"
"Suma Bing, bicaralah kenal aturan, syaratku gampangi dipenuhi dan sangat adil sekali, diantara kau dan aku terbentang sebuah jurang kesumat yang sangat dalam, hanya satu diantara kita yang boleh hidup di dunia fana ini, kau tidak akan menyangkal ucapanku ini bukan?"
"Tepat sekali!"
"Jikalau kau dapat bersumpah untuk selamanya tidak mencari perkara lagi kepada Bwe-hwa-hwe. Maka jenazah Suhu ini dapat segera kau bawa pergi........
"Tidak mungkin, Loh Cu-gi!"
"Kau dengar dulu perkataanku, tiga hari lagi, mari kita berjanji untuk bertanding satu lawan satu, mati atau hidup mengandal kemampuan kita masing2, bagaimana?"
Suma Bing mendengus dingin, jengeknya.
"Loh Cu-gi, jangan kau berani main licik dan akal busuk. Aku sudah bersumpah dan sesumbar hendak membuat banjir darah di Bwe-hwa-hwe, mengandal kemampuanmu yang rendah itu, jangan harap kau kuat bertanding melawan aku secara kesatria."
"Suma Bing, jangan kau bicara terlalu takabur, menjangan bakal mampus ditangan siapa sulit ditentukan. Tujuanku yang utama adalah untuk menyelesaikan sakit hati dan dendam kesumat, mati hidup tidak perlu dihiraukan lagi, asal kau mau menyetujui untuk selamanya tidak mencari perkara lagi kepada Bwe-hwa-hwe!"
"Loh Cu-gi sungguh pintar dan rapi benar rencanamu ini".
"Kau tidak setuju?"
"Ya, tidak."
Loh Cu-gi berpaling kesamping dan menunjuk orang2 disampingnya lantas berkata.
"Suma Bing, lihatlah biar tegas. Inilah Hwe-hun-koay-hud Maha pelindung perkumpulan kita, Ngotai-tok-bok Thauto, Tiang-pek-siang-hoan, Cakar beracun Kho Wan dan mereka itu adalah Lam-hay-si-niu, bagaimana kepandaian kawan2 seangkatan ini pasti kau juga sudah pernah dengar. Ditambah aku sendiri, jikalau kita bergabung dan serentak menyerangmu, kau kuat bertahan berapa gebrak?"
Sepasang mata Suma Bing ber-ki!at2 penuh dendam menyapu pandang kearah Lam-hay-si-niu.
Sebetutnya dia tengah merasa serba susah karena keempat tokoh yang tercatat dalam buku daftar hitamnya jauh berdiam di Lam-hay, untuk menuntut balas tentu sulit.
Siapa tahu sekarang mereka malah datang sendiri dan menggabungkan diri kedalam Bwe-hwa-hwe, ini boleh dikata, Tuhan selalu menuruti permintaan umatnya-Maka segera ia menjengek dingin.
"Tak peduli siapapun yang sudi diperbudak oleh Bwe hwa-hwe semua akan ku-sempurnakan!'' Kata2 yang takabur dan angkuh ini membuat para gembong2 iblis Ytu naik pitam dan menggerung gusar. Sebaliknya Loh Cu-gi acuh tak acuh, katanya.
"Suma Bing, kau sudah ambil kepastian belum?"
"Ya, akan kutumpas dan kucuci bersih seluruh Bwe-hwa-hwe!"
"Tanpa memikirkan segala akibatnya?"
Tanya Loh Cu-gi sambil angkat kedua-tangannya serta ancamnya sungguh.
"Bagaimana pendapatmu, apakah sekali pukulanku ini cukup untuk menghancurkan petimati itu?"
Dingin sanubari Suma Bing.
Seumpama kepandaiannya setinggi langit juga tak mungkin dirinya dapat menyelamatkan jenazah Suhunya dari kepungan sekian banyak gembong iblis yang lihay dan tinggi kepandaiannya.
Apalagi latihan Kiu-yang-sin-kang Loh Cu-gi sudah mencapai kesempurnaannya, sekali pukul saja dapat melumerkan besi baja.
Kini dia berdiri tidak jauh dari peti mati itu, untuk membumi hanguskan dan menghancurkan peti itu boleh dikata sangat gampang membalikkan tangan saja.
Meskipun akhirnya dirinya dapat membabat habis seluruh musuh2nya ini.
bagaimana juga dia akan menyesal karena toh jenazah Suhunya sudah rusak.
Sebaliknya kalau menerima usul lawan, hatinya berat dan tidak rela..
Sesaat itu, hatinya gundah dan susah mengambil kepastian saking gugup dan gelisah dia menggigit gigi sehingga berbunyi ber-kerot2 Loh Cu-gi mendesak terus tanpa memberi hati.
"Suma Bing, semua akibat dari keputusan ini terletak dari kebijaksanaanmu'' Pandangan Suma Bing kesima memandangi peti mati mana, Suhunya terbaring, terbayang akan masa lalu pedih dan berat rasa hatinya Agaknya Loh Cm-gi dapat meraba isi hatinya ini, serunya sambil mengekeh dingin.
"Pada tengah hari tiga hari kemudian, kunantikan kedatanganmu diluar lembah, saat itu baru kita tentukan lagi dimana kita harus bertempur, bagaimana?"
Suma Bing membanting kaki keras, sahutnya terpaksa "Balk. tapi ada sedikit syarat"
"Katakan"
"Para durjana yang ikut dalam perisitiwa berdarah dipuncak kepala harimau dulu. tak peduli apa kedudukannya, aku harus memberantas mereka semua."
Setelah merenung sekian lama, baru Loh Cu-gi menyahut.
"Baiklah!"
"Kalau begitu bolehlah kau hidup lebih panjang tiga hari lagi."
"Nanti dulu, kau harus bersumpah untuk selamanya tidak mencari perkara pada Bwe-hwa-hwe!"
"Perkataan seorang kesatria berat laksana gunung, buat apa me-rengek2 harus sumpah apa segala seperti kaum lemah?"
"Terhitung kau licik, kau boleh membawa jenazah Itu, tapi, peti mati itu harus kau tinggalkan"
"Loh Cu-gi. dialam baka pasti Suhu juga akan menolak mengubur jenazahnya dengan menggunakan peti rnatimu. Legakan hatimu. Seumpama tidak kau katakan, aku Suma-Bing juga tidak sudi membawa peti matimu.' Loh Cu-gi ter-loreh2 tanpa membuka suara lagi dia terus memberi aba2 pada semua anak buahnya, beriring mereka segera tinggal pergi. Demi menyelamatkan jenazah Suhunya, Suma Bing tidak sayang untuk menerima segala hinaan yang terbesar. Dia berlutut didepan peti mati dan menggumam bersabda.
"Suhu semasa hidup kau larang aku panggil suhu, setelah berada di alam baka harap kau terima panggilan ku ini. Tecu sungguh tidak berbakti sehingga membuat kau tidak tentram setelah meninggal, setelah penguburan selesai nanti, aku bersumpah untuk menunaikan perintahmu mencuci bersih nama baik perguruan, akan kuhancur leburkan murid murtad itu "
Selesai sembahyang, pelan2 bangkit berdiri terus maju hendak membuka.....
"Huma, nanti dulu!"
Demikian cegah Bu-tong Pau Bing Kiam dengan gugup.
"Kenapa ?"
Tanya Suma Bing sambil menarik pulang tangannya "Tentu Huma belum melupakan kehancuran jenazah si maling bintang si Ban-cwan tadi!"
Suma Bing berjingkat kaget, serunya.
"Menurut Pangcengcu peristiwa itu bisa terulang lagi?"
"Kemungkinan sangat besar!"
"Masa..... Tiraik asih Websi te
http.// kangz usi.co m/ Sim Tong Seng Liphong membungkuk hormat serta berkata.
"Harap Huma mundur dulu!"
"Maksud Seng Tongcu......"
"Biarlah hamba yang membuka peti ini'' Suma Bing tersenyum, ujarnya.
"Tak ada alasan untuk kamu yang menempuh bahaya. silakan kalian mundur!"
Sahut Sim-tong Song Lip-hong dengan serius.
"Betapa tinggi dan luhur kedudukan Huma, mana boleh sembarangan bekerja dan menempuh bahaya, ini memang sudah menjadi tugas yang harus hamba lakukan"
Tengah perdebatan ini.
Se-konyong2 sebuah bayarngan hitam melesat tiba secepat kilat terus meluncur dihadapan mereka, itulah seorang berbentuk tinggi lencir dan seluruh tubuhnya serba hitam seperti arang-"Racun di racun!'' tanpa merasa Sim-tong Song Lip-hong berseru kejut.
-o0o-Benarkah peti mati itu merupakan jebakan?
Mengapa 'Racun di racun duplikat Phoa Cu-giok ini muncul lagi?
Dapatkah Suma Bing memberantas semua musuh2 besarnya?
Tak urung dia sendiri hampir mengorbankan jiwanya dalam cengkramian Irama seruling seorang tokoh lihay yang berjuluk Dewi irama iblis.
Siapakah Dewi irama iblis ini ?
-oo0dw0oo-
Jilid ke-15..IRAMA SERULING IBLIS Suma Bing sendiri sudah tahu siapakah orang yang datang itu, maka jengeknya.
"Phoa Cu........"
"Cepat mundur!"
Racun diracun segera menukas perkataan Suma Bing, dengan gugup.
"Lekas!"
Serunya lagi.
Terhadap Phoa Cu-giok boleh dikata Suma Bing sudah membencinya sampai ketulang sungsumnya, meskipun karena janjinya terhadap istrinrya almarhum sehingga dia tidak membunuhnya, namun rasa kebenciannya masih me-luap2, maka segera katanya dengan nada rendah.
"Apa maksudmu?"' Dalam pada itu tampak lagi beberapa bayangan berkelebatan dari hutan sebelah dalam sana....... Racun diracun menjadi gugup dan gelisah, serunya pula sambil membanting kaki.
"Lekas mundur, nanti terlambat!"
Suma Bing menjadi ciuriga dan insaf mungkin ada gejala2 apa lagi, maka dengan penuh tanda tanya ia tatap Racun diracun lalu sekali berkelebat mundur lima tombak.
Demikian juga Sim dan Bu dua Tongcu juga ikut mundur.
Secepat kilat tiba2 Racun diracun mengayun tangannya Terus memukul kearah peti mati dari kejauhan............
Melihat ini keruan Suma Bing berjingkrak gusar.
"Berani kau!"
Sebuah ledakan dahsyat menggelegar menggetarkan bumi nan langit, debu membubung tinggi keangkasa sehingga alam sekelilingnya seketika menjadi gelap, tercium bau belirang.
Lapat2 terdengar suara Racun diracun dari kejauhan.
"Cihu, jenazah simaling bintang dan Suhumu adalah palsu belaka!"
Suma Bing tergetar mundur dan kesima.
Palsu, apakah artinya ini?
Waktu keadaan merajadi terang kembali, bayangan Racun diracun sudah menghilang, sedang peti mati Itu juga telah hancur lebur tanpa bekas Keringat dingin membasahi seluruh tubuh Suma Bing.
kurang lebih dua jam lamanya sudah dua kali dia terhindar dari malapetaka yang mengancam jiwanya ini.
Dia tengah merenungi perkataan Phoa Cu-giok tentang kepalsuan dari kedua jenazah itu.
Bukankah bentuk tubuh simaling bintang dan gurunya lain dari bentuk tubuh manusia umumnya, sekali pandang saja lantas, dapat tahu, lantas bagaimana cara menjeiaskan tentang 'palsu' itu?
Apakah mungkin Bwe-hwa-hwe betul2 dapat mencari penggantinya Yang palsu untuk membuat jebakan yang keji ini?
Mendadak sepecik sinar terang berkelebat diotaknya, teringat olehnya tentang penyamaran orang atas dirinya itu "Raja iblis seratus muka!"
Diam2 hatinya berseru.
Dia berani memastikan kalau Raja iblis seratus muka ini pasti berada di Bwe-hwa-hwe, dengan kepandaian khusus yang lihay serta, keahliannya dalam ilmu penyamaran Itu, tidak sukar baginya mencari bentuk tubuh orang lain yang hampir sama untuk diolah dan dirias untuk memalsu si maling bintang serta gurunya Tapi sebuah pikiran lainnya, segera menghapus analisanya ini.
Betapa sukar dan rumit serta terahasia, tempat gua Suhu nya itu, malah dia sendiri yang menyumbat mulut gua itu setelah Suhunya meninggal.
Seumpama betul Loh Cu-gi dapat menemukan tempat itu, jarak yang sedemikian jauh serta kematian Suhunyapun sudah sekian lamanya masakan jenazahnya belum membusuk dan rusak.
meskipun telah diberi obat anti pembusuk, itu juga terjadi setelah diusung keluar, tak mungkin tetap dapat membuat mukanya sedemikian hidup seperti sedang tidur saja.
Karena pemikirannya, ini seketika terbangun semangatnya dan berkobarnya semangat ini bergolak pula darahnya dan timbul nafsunya untuk membunuh Ucapan Bu-tong Pau Bin-sam menyadarkan dirinya dari lamunan.
"Huma, kita sudah terkepung!"
Selayang pandang Suma Bing menyapu pandang sekitarnya, tampak rombongan Loh Cu-gi sudah mendatang sampai di hadapannya, empat penjuru sudah terkepung oleh ber-lapis2 tembok manusia, semua adalah anak buah Bwe-hwa-hwe, jumlahnya tidak kurang dari limaratus orang.
Para kerabat Perkampungan bumi Yang berjumlah empat puluh orang itu segera menyebar menghadap kearah musuh, menanti perintah untuk bergerak.
Baca Juga: Si Bangau Merah 11
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 13