Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 11

Eps 11 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

Suma Bing harus cepat2 menerawangi situasi yang dihadapi ini, cepat dia ambil keputusan, lantas katanya terhadap kedua Tongcu itu.

"Kalian harus memimpin semua anakbuahmu untuk berusaha menerjang keluar kepungan'' Bu-tong Pau Binsan mengunjuk rasa berat, sahutnya.

"Huma, hamba Sekalian......"

"Ini perintahku!"

Sim dan Bu dua Tongcu saling pandang sekali, lalu sahutnya. berbareng.

"Terima perintah."

Pada saat itu juga terdengar bentakan dan teriakan yang gegap gempita, kiranya para anak buah Bwe-hwa-hwe itu telah mulai bergerak menyerang, seketika terdengarlah berdentingnya senjata beradu serta angin yang ribut dan jeritan kesakitan bagi yang luka, darah mulai mengalir dan membanjir diatas tanah Suma Bing mendesak maju sambil bentaknya bengis.

"Loh Cu-gi, jebakanmu yang hina dan rendah itu kiranya sia2 juga."

Sebuah bayangan meraih berkelebat, tahu2 Hwe hun-koay-hui sudah merebut maju dihadapan Loh Cu-gi, sambil terkekeh tawa dia berkata.

"Buyung, kau sangka kau takkan mati ?"

Suma Bing mendengus ejek.

"Hwe-hun Lokoay, hari itu kau dapat lari. tapi harini tumbuh sayappun kau takkan dapat merat lagi."

"Bedebah, serahkan jiwamu."

Sambil menggerung keras segulung badai yang dahsyat bagai gugur gunung segera melanda kearah Suma Bing terdengar geledek menggelegar dan disertai angin ribut yang memekakkan telinga.

Sekali turun tangan tanpa kepalang tanggung dia lancarkan kepandaian andalannya yaitu Liong-lui-in-lo Serta merta terpusatkan perhatian Suma Bing, Giok-ci-sin-kang terkerahkan sampai dua belas bagian tenaganya tanpa berkelit atau menyingkir, dia juga lancarkan pukulannya.

Dentuman keras memecah kesunyian angkasa, saking dahsyat benturan kekuatan ini sampai hawa yang sangat panas menerjang keempat penjuru.

Kontan Hwe-hu Lokoay tersentak mundur tiga langkah Mendapat angin Suma Bing tidak me-nyia2kan kesempatan ini, bagai bayangan setan saja tubuhnya melejit maju secepat kilat dia susulkan juga jurus Mayapada remang-remang Debu dan pasir bergulung seperti terjadi hujan badai ditengah gurun pasir, tampak Hwe-hun-koay hud terbang menyingkir tiga tombak jauhnya baru untung2an terhindar dari pukulan dahsyat yang dapat memecahkan bumi mengejutkan langit ini.

Terdengar berdentingnya suara senjata gelang beradu, disusul dua bayangan berkelebat menubruk maju kearah Suma Bing dari kanan kiri.

Kali ini yang turun tangan adalah Tiang-pek-siang-hoan dua gembong penjahat dari utara.

Kedua gembong penjahat ini kenamaan akan senjatanya yang berupa gelang bundar yang besar, maka dapatlah dibayangkan kepandaian mereka akan senjata aneh lain dari yang lain ini pasti bukan olah2 hebatnya.

Tampak bayangan bundar gelang berkelebatan ber-lapis2 sehingga memenuhi angkasa, sedikitpun tidak terlihat lobang kelemahannya sungguh perbawa serangan gabungan mereka ini laksana geledek dan kilat menyamber.

Suma Bing paham pertempuran hari ini merupakan pertempuran mati hidup yang menentukan, sudah pasti pihak lawan bertarung dengan cara keroyokan untuk menghadap dirinya.

Sedang para gembong penjahat yang dihadapi ini rata2 adalah tokoh2 silat yang lihay dan kenamaan, merobohkan atau membunuh salah satu diantara mereka berarti mengurangi beban dalam pertempuran yang harus dihadapinya ini.

Karena kesiagaannya inilah maka kedua tangan diayun mengerahkan seluruh tenaganya kedua tangan dipentang ke kanan kiri sambil memutar bundar terus didorong keluar.

Kontan bayangan sinar gelang musuh yang ber-lapis2 hendak menindih tiba itu tenggelam dilanda arus gelombang angin pukulan Suma Bing yang hebat ini, tampak Tiang-lek-siang-hoan sendiri juga terpental sempoyongan berapa tindak.

Menggunakan peluang yang pendek inilah, secepat kilat mendadak Suma Bing bergerak dengan kecepatan yang susah diukur menubruk ke arah musuh yang berada di sebelah kanan.

Jeritan yang menyayatkan hati menelan segala keributan di sekelilingnya sehingga mengagetkan pihak yang sedang bertempur.

Kiranya salah satu dari Tiang-pek-siang-hoan itu sudah terpukul mabur sejauh tiga tombak dan terkapar diatas tanah tanpa bergerak lagi.

Boleh dikata hampir dalam waktu yang bersamaan dimana terdengar jeritan panjang itu, salah seorang sisa Tiang-pek-siang-hoan itu juga terpental sungsal sumbel sampai lima tombak jauhnya.

Hanya dua gebrak saja cukup untuk melenyapkan dua lembong penjahat besar yang kenamaan, kepandaian se-liacam ini benar2 belum pernah terlihat selama seratus tahun ini.

Begitu dapat merobohkan Tiang-pek-siang-hoan, tanpa berhenti sedikitpun tubuh Suma Bing langsung melesat kearah Loh Cu-gi.

Terdengar gerungan gusar yang keras, lagi2 Hwe-hun-koay-hud melancarkan serangannya dari sebelah samping.

kontan tubuh Suma Bing yang tengah meluncur kedepan itu tertolak ke samping delapan kaki Dan belum lagi ia sempat berdiri tegak dan bernapas, secarik sinar merah yang membawa hawa panas menungkrup tiba puia kearah dirinya.

Kiranya Loh Cu-gi bermain licik menggunakan kesenpatan ini untuk turut membokong dan menyerang.

Mengandal keampuhan dan kesaktian Giok-ci-sin-kang untuk melindungi badan, sedikitpun Suma Bing tidak terluka atau kurang suatu apa karena serangan Kiu-yang-sin-kang Loh Cu-gi ini, namun tak urung badannya juga terpental setombak lebih.

Rumput dan dedaunan dimana tadi dia berpijak kini sudah terbakar hangus dan mengepulkan asap tebal betapa hebat Kiu-yang-sin-kang itu dapatlah dibayangkan.

Terlihat bayangan berkelebatan lagi, Ngo-tai-tok-ho-Thauto, sicakar beracun Kho Wan dan Empat burung camar dari Lam-hay berbareng menubruk maju meluruk kearah Suma Bing.

Sorot mata Suma Bing memancarkan sinar kehijauan yang menakutkan, hanya sejurus Mayapada remang2 saja cukup membuat keenam musuhnya tertolak balik tanpa mampu mengendalikan badan sendiri, disusul jurus Bintang berpindah jungkir balik yang diarah adalah Ngo-tai-tok-bal Thayto.

Kontan terdengar pula pekik yang mengerikan nyata si Thauto mata satu dari Ngo-tay-san ini menyemburkan darah segar sambil terhuyung mundur terus jatuh duduk diatas tanah tanpa dapat bergerak lagi.

"Brak."

Telak sekali sebuah pukulan sicakar beracun juga telah menghantam punggung Suma Bing dengan keras nya.

Seketika si cakar beracun terpental balik tiga langkah karena tolakan ilmu pelindung badan Suma Bing, sedang yang terpukul sampai terdorong kedepan tujuh langkah.

"Setan kecil, robohlah kau."

Sambil memaki ini Hwe hun-koay-hud mengajukan telapak tangannya segede kipas itu memapak dada Suma Bing yang terdorong sempoyongai itu.

Dalam keadaan yang kritis ini, terpaksa Suma Bing menggerakkan tangan untuk menangkis, cara perlawanannya ini dilakukan ter-gesa2, maka kekuatannya juga sangat lemah kurang separo dari kekuatan tenaga biasanya.

Sedang musuh sebaliknya mengerahkan seluruh kekuatannya.

Dimana terdengar beradunya tangan masing2 diselingi deheman keras seperti orang muntah2, Suma Bing terpental jungkir balik setombak lebih.

Belum lagi tubuhnya menginjak tanah, empat jalur angin pukulan sudah menerjang pula datang, keruan tubuh Suma Bing lagiL bergulingan diataa tanah sebagai bola sampai dua tombak jauhnya.

Untung ilmu saktinya melindungi badan, kalau tidak seumpama tidak mati juga,pasti sudah terluka parah Begitulah segesit kera, begitu badan menyentuh tanah tubuhnya lantas melejit bangun berdiri.

Beruntun terkena pukulan telak yang keras dan berat, namun tanpa kurang suatu apa, keruan para gembong2 penjahat itu terkesima dan giris serta gentar dibuatnya.

Pertempuran diluar gelanggang sebelah sana, saat itu sudah terjadi banjir darah dan, tertumpuklah gunung jenazah manusia, bunuh membunuh masih terus terjadi tanpa mengenal kasihan seperti srigala kelaparan atau banteng ketaton, senjata beradu dan jerit-kesakitan terus terdengar saling susul.

Suma Bing prihatin akan keselamatan para kerabat dari Perkampungan bumi, waktu matanya melirik tergetarlah hatinya, ternyata dalam gelanggang pertempuran sana kini sudah bertambah dengan para gadis berkerudung serba putih, kiranya duabelas Rasul penembus dada utusan ibundanya itu sekarang juga telah terjun dalam pertempuran sengit itu.

Sambil memekik panjang Lam-hay-si-niu menyamber tiba pula sambil lancarkan serangannya.

Sambil kertak gigi Suma Bing lancarkan jurus Membuka langit menutup bumi salah satu jurus dari ilmu Giok-ci-sin-kang yang paling hebat.

Supaya dapat sekali serang menamatkan para musiih yiamg tercatat dalam buku daftar hitam itu maka untuk pertama kali ini dia lancarkan ilmunya yang paling ampuh ini.

Empat bayangan manusia laksana layang2 yang putus benangnya meluncur tinggi ketengah angkasa terus melayang jauh entah kemana Yang celaka dan konyol adalah Thanto simatai satu.

dari Ngo-tay-san itu.

karena terluka parah tadi dia duduk ditanah tanpa mampu bergerak lagi, kini tergulung pula oleh kekuatan angin pukulan Suma Bing yang dahsyat bagai gugur gunung ini tubuhnya terguling2 sambil menyemburkan darah terus tak bergerak lagi Baru pertama kali Suma Bing lancarkan pukulan Membuka langit menutup bumi yang terampuh ini, betapa dahsyat dan perbawa ilmu ini sungguh luar biasa, saking kejut dia tampak berdiri kesima tak bergerak-gerak Waktu suasana menjadi sepi dan tenang kembali, bayangan Loh Cu-gi, Hwe-hun-koay-hud dan sicakar beracun Kho Wan sudah menghilang tanpa kerana.

Dalam pada itu pertempuran diluar gelanggang juga sudah mereda, suara gaduh tadi sudah sirap, anak buah Bwe-hwa-hwe sudah lari terbirit2 tanpa memperdulikan kawan2nya yang menjadi korban dan tertumpuk d'imana2-Salah seorang gadis berkedok serba putih itu menghampiri kedepan Suma Bing memberi hormat serta sapanya.

"Menghadap tuan muda!'' -dia bukan lain adalah Ih Yan-chiu pemiimpin dari dua belas Rasul penembus dada. Maka beruntun sebelas Rasul lainnya juga maju satu persatu memberi hormat-Suma. Bing manggut2 membalas hormat, katanya.

"Terima kasih akan bantuan kalian"

"Ah, tuan muda terlalu sungkan, hamba beramal hanya bekerja menurut perintah majikan."

Tidak ketinggalan Sim dan Bu dua Tongcu juga maju sambil membungkuk hormat katanya.

"Hamba berdua menunggu perintah"

Suma Bing menyapu pandang kesekelilingnya. lalu tanya nya.

"Bagaimana keadaan para saudara dari Perkampungan bumi ?"

Lapor Sim-tong Song Lip-hong.

"Lima orang terluka parah, duabelas luka ringan, sedang yang meninggal ada sembilan orang!'' Suma Bing mengunjuk rasa sedih dan prihatin, ujarnya.

"Kuburkan yang meninggal, yang terluka Segera diobati, setelah itu kalian boleh segera pergi."

Tanpa berani berciut kedua Tongcu itu mengundurkan diri sambil membungkuk tubuh. Lalu Suma Bing berpaling kearah Ih Yan-chiu dan berkata.

"Nona Ih beramai juga boleh segera meninggalkan tempat ini!"

Habis berkata tanpa menanti reaksi terus putar tubuh melesat masuk kedalam hutan barisan itu.

Sejak mendapat petunjulk dari Tio Keh-siok itu murid Hwasoh-ki-khek, mengenai inti perobahan atau rahasia barisan Imyarg-ngo-hengtin ini Suma Bing sudah apal diluar kepala, maka tanpa takut atau sangsi2 lagi dia terus menerobos masuk tanpa rintangan-Setelah sekian lama dia beranjak, mendadak terasa keadaan sekelilingnya, sangat asing dan lain dari petunjuk yang diberikan kepadanya.

Karena keraguannya ini cepat2 dia, hentikan kakinya, dengan nanap dia awasi keadaan sekitarnya.

Seputarnya.

terdapat banyak dahari pohon Bwe besar yang malang melintang diselingi tumpukan batu2 yang membumbung tinggi.

Tahu2 dia sudah terlalu dalam terjebak dalam barisan Perasaan benci dan dendam segera merangsang dalam benaknya,.

Sungguh mimpi juga dia tidak menyangka bahwa.

Tio Keh-siok ternyata bisa Bertindak sedemikian jauh memberi keterangan palsu.

Begitulah dalam keadaan yaaig mendesak ini terpaksa dia harus berlaku tenang dan menerawang sekali lagi pada waktu pertama kakinya melangkah masuk tadi serta kedudukan-nya sekarang.

Tapi semakin dipikirkan terasa semakin rumit dan membingungkan semakin putar malah semakin kacau balau, dimana timur atau selatan susah dibedakan lagi Gelisah dan gusar membuat Sifat2 gilanya kambuh, mengarah satu sasaran dengan sekuat tenaga dia menghantam ke-depan, besar harapannya dapat membuka sebuah jalan hidup dalam kurungan ini.

Demikianlah setiap kali tangannya ter ayun pohon2 dan baru2 itu berterbangan sampai porak peronda.

namun tenaganya ini sia2 saja akhlinya saking lelah dia berhenti sendiri-Mendadak terdengar suara Loh Cu-gi di sebelah samping sana yang mencemoohkan .

"Suma Bing, semua dendam dan sakit hati Selanjutnrya akan berakhir sampai disini."

Saking gusar kepala Suma Bing sampai menguap, pandangannya menyapu kearah datangnya suara, namun tak terlihat bayangan manusia Terdengar suara itu berkata lagi.."Suma Bing.

mengingat kita masih seperguruan, biarlah kubuat kau mati dengan badan utuh."

Bentak Suma Bing sambil mengertak gigi.

"Loh Cu gi, kalau berani keluarlah."

"Suma Bing, kau sangka aku sudi bergelut mati2an melawan kau? Hahaha. kau salah"

"Loh Cu-gi. kau anjing hina dina. yang paling rendah!'' "Bocah keparat, maki dan udallah ludahmu, inilah saat2 terakhir bagimu.' Se-konyong2 lapat2 terdengar suara irama seruling yang sangat merdu dari hutan sebelah dalam sana. Suma Bing terkesima heran, darimana terdengar irama seruling ini? Sedemikian merdu irama seruling ini bagai suara pancuran air di alas pegunungan seperti gema suara didalam lembah nan sunyi laksana angin sepoi2 menghembus daon2 pohon, tanpa merasa membuat pendengarnya tenggelam dalam lamunan yang menyegarkan badan, rasa penasaran dan dendam sakit hati yang merangsang dengan kBinginan membunuh se-akan2 tersedot hilang oleh irama yang mempersonakan ini. Tiba2 irama seruling berubah sedemikian halus panjang dan mesra, se-olah2 sepasang kekasih yang tengah sayang2an di tengah malam dengan saling berbisik sehingga menimbulkan rangsangan nafsu yang menggelora, lapat2 terbayang sang kekasih tengah me-nari2 lemah gemulai dengan selendang sutranya yang panjang terurai, sungguh mempersonakan dan menakjupkan sekali. Tanpa merasa Suma Bing terlongong seperti orang mabuk, kupingnya panas dan jantungnya berdebur keras, timbullah suatu keinginan yang susah dibendung lagi. Bagaimanapun kesadaran Suma Bing masih belum lenyap seluruhnya, lapat2 terasa olehnya suara seruling ini sangat aneh dan janggal, karena sedikit kesadaran ini tersentaklah hati nuraninya, cepat2 dia kerahkan ilmunya untuk menenangkan gejolak hatinya. Irama seruling masih terus bergelombang sambung menyambung dengan iramanya yang menyedot semangat dan sukma orang. Lambat laun Suma Bing merasa semakin gelisah, perhatiannya susah dipusatkan karena gangguan ini, hatinya keri seperti di-kili2, ter-nyata usahanya sia2. Maka akhirnya dia meramkan mata mulutnya kemak kemik menghapalkan pelajaran Giok-ci-sing-kang...........................

"Brak", mendadak Suma Bing merasa tubuhnya tergetar hebat sehingga ter-huyung2, diam2 ia mengeluh.

"Celaka!"

Waktu dia membuka mata di hadapannya berdiri tiga bayangan orang.

Seorang diantaranya adalah Loh Cu-gi musuh besarnya seorang lagi adalah Maha pelindung Bwe-hwa-hwe, Hwe-hun-koay-hud.

Sedang yang terakhir adalah seorang gadis ayu jelita bak bidadari yang mengenakan selendang panjang untuk menutupi seluruh tubuhnya, kulitnya putih halus, wajahnya se-akan2 tertawa penuh mengandung arti, ditangannya menyekal sebatang seruling batu giok.

Sekilas Suma Bing pandang ketiga orang ini, lantas secepat kilat dia bergerak memukul kearah Loh Cu-gi.

Loh Cu-gi ganda tertawa ewa, menghadapi serangan Suma Bing yang dahsyat ini sikapnya tetap angin2an.

"Blang,'' dengan telak pukulan Suma Bing ini mengenai dada musuh. Bukan saja Loh Cu-gi tidak kurang suatu apa, malah berubah air mukanya pun tidak, sebaliknya Suma Bing sendiri malah tergetar mundur dan jatuh duduk di atas tanah.

"Hahahahahaha....................."

Loh Cu-gi bergelak tertawa panjang ke-gila2an saking puas.

Bergegas Suma Bing melompat bangun, seketika dia merasa se-olah2 dirinya telah terjatuh kedalam jurang yang dalam dan air danau yang dingin, kaki tangannya dingin membeku, hatinya mengkeret, kedua kakinya hampir tak kuat lagi menyanggah berat tubuhnya.

Baru sekarang dia sadar dan merasakan bahwa mendadak ternyata tenaga da-lamnya lenyap seluruhnya, hawa murninya susah dipusatkan lagi.

Betapa perih hatinya ini beribu kali lebih sedih dari kematian.

Siapa kan menduga dalam keadaan begini dirinya terjatuh kedalam tangan musuh besarnya ini.

Sambil tertawa Loh Cu-gi bertanya kepada gadis yang membawa seruling itu.

"Jikalau bukan karena irama seruling iblis Siancu (dewi), mungkin bocah ini susah dibekuk."

Sepasang bola mata sigadis pelirak pelirik sambil menatap Suma Bing, mulutnya menyahut halus.

"Dia kuat mendengarkan tiga gelombang irama iblis, kekuatan pemusatan hatinya itu sungguh harus dipuji."

Terdengar Hwe-hun-koay-hud juga turut bicara.

"Entah ada hubungan apa antara bocah keparat ini dengan Hian-thianceng-li itu?"

Berubah wajah Loh Cu-gi, sahutnya.

"Susah diketahui."

Gadis itu juga tersentak kaget, tanyanya sambil tersenyum simpul.

"Hian-thian-ceng-li yang mana?"

Agaknya tulang2 Hwe-hun-koay-hud sudah lemas, wajahnya berseri tawa dengan mulut terpentang lebar, sahutnya.

"Dewi kan sudah tahu pura2 tanya saja?. Masa di dunia ini ada dua Hian-thian-ceng-li?"

"oh ini sungguh susah dipercaya, dia masih belum mati?"

"Jikalau bukan karena mengejar bocah ini dan secara kebetulan bertemu aku sendiri juga tidak tahu kalau dia masih hidup!"

"Kukira kalian masih ingat majikan panggung berdarah Bulim-ci-sin bukan. Kalau mau dikata Hian-thian-ceng-li masih hidup, mungkin juga Bu-lim-ci-sin juga masih hidup, seumpama bocah ini........................"

Bicara sampai disini dia merandek, matanya melirik tajam kearah Suma Bing, lalu sambungnya lagi.

"Benar2 ada hubungan dengan Hian-thian-ceng-li, kita harus hati2 untuk bertindak!"

Loh Cu-gi manggut2, ujarnya.

"Siancu, Cayhe sudah ada rencana lain."

Suma Bing heran dan tak habis mengerti, tokoh macam apakah sigadis membekal seruling ini, dilihat usianya belum cukup dua puluh, tapi toh Loh Cu-gi membahasakan diri-nya Cayhe sedemikian merendah diri, sedang Hwe-hun-koay-hud juga sudah berusia seabad tapi toh juga berlaku sedemikian hormat kepadanya.

Tengah dia ber-pikir2 ini, terdengar Hwe-hun-koay-hud tertawa keras, katanya.

"Kenapa tidak tanyakan langsung kepada bocah ini?"

Loh Cu-gi menyeringai dingin, katanya.

"Cayhe mempunyai cara tersendiri, silakan Jiwi kembali untuk istirahat!"

Sigadis tertawa genit, ujarnya.

"Mendadak aku merasa ketarik kepada bocah ini....................."

Sekilas airmukt Loh Cu-gi berubah, dasar licik secepat itu pula sudah kembali seperti biasa, katanya.

"Ucapari Siancu ini...."

"Ingin kulihat cara bagaimana sesepuh ketua hendak menghukumnya hal ini tidak menjadi halangan bukan?"

"Tentu tidak, tentu tidak!'' demikian sahut Loh Cu-gi sambil mcnyeringai, lalu berpaling kepada Hwe-hun-koay-hud katanya..

"Silakan Thay-siang Huhoat kembali dulu, jikalau ada terjadi apa2 isupaya dapat memberi bantuan seperlunya."

Hwe-hun-koay-hud mengiakan terus memutar tubuh dan melangkah pergi.

Dalam pada itu berulang kali Suma Bing sudah berusaha menggunakan hawa murni dalam tubuhnya untuk menjebol jalan darahnya yang tertutup, namun dia kewalahan-Cara memutus urat dan menutup nadi ini benar2 lihay aneh dan keji benar, sehingga tenaga murni dalam tubuhnya menjadi bocor dan susah dihimpun lagi.

"Siancu silakan!"

Demikian ujar Loh Cu-gi sambil mengempit Suma Bing-Sekuat tenaga Suin.a Bing coba berontak, tapi perbuatannya ini sia2 saja seperti cacing kepanasan-Tanpa, merasa dia mengeluh.

"Tamatlah riwayatku!"

Tak lama kemudian mereka sampai didepan sebuah gundukan tanah tinggi, dengan ujung kakinya Loh Cu-gi menginjak sebuah tombol, mendadak gundukan tanah itu terbelah kedua samping dan terbukalah sebuah pintu terowongan.

Tampak undakan batu menjurus turun kebawah dan serong kesamping.

Sambil tetap mengempit Suma Bing Loh Cu-gi mendahului masuk, Sigadis membawa seruling itu rnengintil dibelakang-nya Pintu dibelakang mereka tahu2 sudah menutup sendiri.

Ternyata keadaan dalami terowongan ini terang benderang seperti disiang hari bolong.

Setelah habis menuruni undakan batu kira2 berjalan maju kedepan sepuluhan tombak mereka sampai disebuah ruang dibawah tanah yang terbuat dari batu2 gunung.

Perabot dalam ruang ini sangat sederhana, hanya terdapat sebuah kursi dan sebuah dipan kayu.

Agaknya memang ini merupakan sebuah kamar tahanan istimewa yang khusus dibuat untuk mengurung tawanan Setelah menutuk lagi beberapa jalan darah penting ditubuh Suma.

Bing.

"Bum', sekali lempar tubuh Suma Bing dibuang keatas tanah, terus dia sendiri duduk diatas kursi itu. baru dia menyilakan sigadis.

"Menyusahkan Siancu saja, harap duduk saja diatas dipan kayu ini!"

Hampir meledak dada Suma Bing saking menahan gusar, tapi saat itu untuk bergerak saja dirinya tidak mampu, terpaksa dengan sepasang matanya yang merah membara ber api2 dia melotot kepada Loh Cu-gi-Tanpa ragu2 Loh Cu-gi maju mendekat pertama2 cincin iblis yang berada dijari tengah Suma Bing ditanggalkan, baru dia menggeledah cundrik penembus dada.

dan Pedang berdarah Yang disimpan diikat pinggangnya-Bola mata Suma Bing hampir mencelat keluar sampai bibir matanya pecah dan mengaurkan air darah, sikapnya yang penuh kebencian yang meluap-luap ini benar2 dapat menggiriskan bulu roma.

"Pedang beidarah!"

Tiba2 terdengar sigadis membawa seruling itu berseru kejut-"Tidak salah'' sahut Loh Cu-gi dengan tersenyum puas.

"benda pusaka yang paling diincer oleh kaum persilatan.'' "Dapatkah aku melihatnya untuk membuka mataku?'' "Ini......silakan Siancu ambil dan melihatnya biar puas!"

Lantas dia angsurkan pedang berdarah itu kepada gadis membawa seruling itu. Sambil me-nimang2 dan mengelus2 Pedang darah sigadis bertanya.

"Entah dimana letak kasiat Pedang berdarah ini?'' Loh Cu-gi nada bimbang, namun akhirnya berkata.

"Konon kabarnya selain Pedang berdarah ini masih ada sekuntum Bunga iblis, bila Pedang darah dan bunga-iblis disatu padukan dapat memperoleh kepandaian sakti yang tiada bandingannya didunia ini. Ini menurut cerita orang entah tentang kebenarannya' "Benda macam apakah Bunga-iblis itu?"

"Hal itu aku sendiri tidak dapat menerangkan. Dengan pengalaman Siancu yang luas saja masih belum tahu, apalagi Cayhe tak perlu dikatakan lagi-"

"Kita kembali kepersoalan penting ini, cara bagaimana kau hendak mengompres dia?" -oo-dwoo

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ 58.

MO IN SIANCU JATUH CINTA KEPADA SUMA BING "Bagaimana kalau menurut pendapat Siancu?'' "Bukankah tuan tadi mengatakan ada rencanamu senj-"Menurut pendapatku lebih baik kita punahkan dulu ilmu Silatnya.-"

Suma Bing menggerung murka, mulutnya menyemprotkan darah segar, bentaknya beringas.

"Loh Cu-gi, dalam hidup ku tak dapat mengkremus tubuhmu, setelah mati aku akan menjadi setan gentay3angan mengejar sukmamu!"

Loh Cu-gi menyeringai sadis. Gadis membawa seruling mengerutkan alis, katanya.

"Apatidak sayang?"

"Sayang?'' balas tanya Loh Cu-gi heran dan terperanjat "Kalau kepandaian silatnya dipunahkan betul2 harus disayangkan' "Tapi kalau diumbar begitu saja bukankah sangat menakutkan?Y"

"Apa tuan tidak memikirkan akibatnya?"

"Akibat apa?"

"Suma Bing adalah Huma dari Perkampungan bumi, mempunyai sangkut-paut dengan Pek-kut Hujin, Ketua Jeng. kang-hwe dan Bu-lim-ci-sin mungkin juga ada hubungan"

"Kekuatiran Siancu terlalu besar, asal jiwanya, masih hidup, cukup untuk menggertak mereka mundur teratur"

"Menggunakan dia sebagai sandera maksudmu?"

"Sementara terpaksa begitu!"

"Selanjutnya bagaimana ?'' "Siancu. setahun kemudian, bukannya aku berani besar mulut, dalam dunia persilatan ini tiada seorangpun yang perlu ditakuti lagi-'' "Bagaimana kalau kita gunakan dan manfaatkan tenaganya"

"Hal itu tidak mungkin."

"Agaknya kau lupa satu hal-Bukankah istrimu itu adalah putri Pek-chio Lojin tentu dia dapat memberi tahu cara nya kepada tuan!"

Agaknya Loh Cu-gi sadar dan ingat sesuatu, tanyanya "Maksud Siancu menggunakan I-sing-hoan?"

"Benar, Sebutir I-sing-hoan cukup membuat dia lupa se gala2nya dan setulusnya menjadi budakmu seumur hidup.'"

"Cayhe tidak berani menyerempet bahaya .ini!"

"Kenapa ?"

"Kuatirku kalau terjadi sesuatu diluar dugaanku, bukankah tokoh2 dibelakangnya itu tak dapat dipandang enteng."

Sigadis membawa seruling tertawa geli, ujarnya.

"Apakah tuan pernah mencurigai asal usul ilmu silatnya yang hebat itu?"

Agaknya Loh Cu-gi tergetar kaget oleh pertanyaan ini. sahutnya.

"Siancu ada pendapat apa?'' Terlihat bibir sigadis membawa seruling itu kemak kernylt, agaknya tengah berkata, menggunakan ilmu Thoan-in-jip-bit kepada Loh Cu-gi. Rona wajah Loh Cu-gi berubah ber-gantian, akhirnya tampak dia berkakakan. Serunya.

"Sungguh tidak merendahkan pamor julukan Mo-in Siancu (Dewi irama iblis), sungguh aku merasa kagum dan takluk"

Dengan sendirinya Suma Bing lantas membatin.

"O, kira-nya dia bernama Mo-in Siancu sebelumnya. belum pernah terdengar nama julukan ini, entah rencana apa lagi yang tengah diaturnya bersama Loh Cu-gi."

Terdengar Dewi irama iblis tertawa terkikik, ujarnya.

"Kalau kenyataan tepat seperti dugaan, tuan sendirilah yang harus memberi putusan."

"Baiklah, aku menurut pendapat Siancu."

"Dalam Waktu tiga jam, pasti aku memberi laporan yang memuaskan'' "Sungguh mencapaikan Siancu saja, sebelumnya Cayhe ucapkan terima kasih.''' Habis berkata Loh Cu-gi mendekati dinding lalu menekan sebuah batu, segera terbuka sebuah pintu rahasia disampingnya, setelah menoleh memandang Suma Bing, terus melangkah lebar kesebelah, pintu itupun menutup kembali Begitu pintu itu tertutup segera Suma Bing merasa hidung.nya. mencium bau harum, ternyata Mo-in Siancu mendekat dan membebaskan jalan darahnya yang tertutuk. Suma Bing merangkak bangun dengan sikapnya yang garang.

"Silakan duduk!"

Kata Mo-in Siancu tersenyum simpul, suaranya merdu menarik.

"Tidak perlu."

Dengus Suma Bing kaku.

"Suma Bing duduklah jangan keras kepala, itu tidak akan menguntungkan bagimu."

Sambil berkata tangannya yang putih halus menekan pundak Suma Bing sehingga dia terduduk diatas kursi Loh Cu-gi tadi.

Meskipun jalan darahnya sudah bebas, namun urat dan nadinya yang tertutup masih belum bebas, tenaga, untuk berontak atau melawan saja tak ada

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ Tindak tanduk Dewi irama iblis ini sungguh sangat genit dan menggiurkan, sayang benak Suma Bing diliputi kebencian dan dendam kesumat, sedikitpun dia tidak terpengaruh oleh godaan yang dapat merangsang dan membangkitkan sifat ke-laki2annya., seumpama, tenaga dalamnya masih tetap seperti sedia kala, pasti tanpa banyak pikir lagi dia sudah turun tangan membunuhnya.

Kata Dewi irama iblis dengan nadanya yang menyedot sukma..

"Suma Bing, berkata setulus hati aku tidak tega. melihat kau hancur lebur' "Mo-in Siangu', semprot Suma Bing dongkol.

"Kalau ada omongan bicaralah secara gamblang, jangan main diplomasi apa segala."

"Sikapmu ini benar2 takabur dan sombong luar biasa."

Demikian ujar Mo-in Siancu mendadak sikapnya berubah serius.

"Suma Bing, jikalau kau ingin mati, seratus jiwa mu juga sudah melayang semua."

Suma Bing melotot gusar, katanya gemes.

"Ingin rasanya kuhantam mampus kau ini."

Mo-in Siancu malah terkekeh-kekeh, katanya.

"Suma Bing. kau sendin apa kau masih ingin hidup?"

Suma Bing melengak lantas terpikir olehnya mungkin lawan tengah menjebak dirinya lagi, maka lantas sahutnya acuh tak acuh.

"Mati atau hidup tidak kukuatirkan lagi"

"Aku bicara sungguh!'"

"Ingin kudengar rencana apa saja yang tengah kau atur untuk menjebak aku?"' "Rencanaku adalah menolongmu keluar elmaut."

"Hahahahaha, aku Suma Bing bukan bocah berumur tiga tahun, tahu!"

"Suma Bing kau betul2 tidak penyaya?"

"Tidak percaya! Ingin aku tahu untuk apa kau hendak menyelamatkan aku?"

"Masa kau tidak tahu?"

"Tidak!"

"Baiklah kuberi tahu, sebab......"' "Sebab apa?"

Dengan lengan bajunya Mo-in Siancu menutup mulut dan tertawa genit, sahutnya.

"Sebab aku cinta padamu-"

Betapapun dingin dan kaku sikap Suma Bing tak urung menjadi merah jengah mukanya, baru sekarang dia, berhadapan dergan seorang gadis cantik jelita yang bebas dan berani, sesaat mulutnya seperti tersuimbal tak mengeluarkan suara.

"Ai, katakanlah, mengapa kau diam saja.'' bola matanya yang jeli dan bening itu pelerak pelerok genit dan mesra "Mo-in Siancu kau tidak tahu malu, coba, katakan maksudmu sebenarnya, aku Suma Bing tidak suka menikmati tingkahmu yang manis ini"

"Aku cinta padamu aku hendak menolongmu."

"Terima kasih akan kebaikanmu ini"

"Suma. Bing, baiklah aku bicara terus terang kepadamu. Jikalau bukan serentetan bujukanku, saat ini kau sudah menjadi seorang invalid-Loh Cu-gi tidak akan memberi ampun padamu, aku mengatakan kepadanya untuk menggunakan pengaruh nama serulingku untuk mengekang semangatmu dan mengorek asal usul ilmu silatmu yang lihay itu. Kalau dugaanku tidak meleset pasti kau sudah memperoleh Bunga-iblis bukan.?"

Ber-debar2 jantung Suma Bing, sungguh lihay gadis ini, tepat benar dugaannya kalau menurut apa Yang dikatakan ini, agaknya ucapannya tadi boleh dipercaya, tapi........ Kata Mo-in Siancu selanjutnya.

"Loh Cu-gi licik dan banyak akal muslihatnya untuk menghadapi kau dia sudah mengatur sepuluh langkah biji caturnya seumpama, kepandaianmu setinggi langit juga jangan harap dapat lolos dari kekangannya-Dua jenazah palsu itu tidak membuat tubuhmu hancur lebur, Irama seruling iblisku ini, baru langkah ketiga, terserah kau mau pencaya."

Tidak mau tidak Suma Bing harus percaya.

tapi apakah maksud tujuan orang benar2 seperti yang dikatakan itu?

mungkin rnundur itu untuk maju, biarlah dengan kenyataan saja untuk membuktikan, tapi apakah rencananya selanjutnya?

Sesaat hatinya risau dan sulit mengambil kepuasan.

Kata Mo-in Siancu lagi.

"Suma Bing, kau percaya tidak terserah, sekarang biarlah kutolong dulu meninggalkan tempat ini. Hanya perlu kujelaskan terlebih dulu, aku sendiri tak mampu membuka urat nadimu yang tertutup itu......"

Sampai disini keteguhan hati Suma Bing semakin goyah sebenarnya ia tidak sudi menerima budi seorang gadis tapi dia harus hidup terus untuk menuntut balas inilah harapannya sekarang yang terbesar-Kalau dia dapat lolos dari kurungan elmaut ini, boleh dikata memang merupakan suatu kejadian ganjil-Setelah direnungkan sekian lamanya.

Tiba2 la berkata.

"Entah siapa nama nona yang harum?"

Mo-in Siancu tersentak kaget dan girang diluar dugaan, sahutnya.

"Aku bernama Phui Kiau-nio.'' "Nona ada pegangan dapat menyelamatkan diriku?"

"Tentu!"' "Sebelumnya, perlu kuterangkan bahwa aku tidak mungkin menerima uluran cintamu"

"Apa, kau........"

"Aku tidak mungkin cinta kepada nona, jikalau nona terasa putus asa, boleh silakan tak usah urus diriku."

Berubah airmuka Mo-in Siancu, sekian lama dia terlolong memandangi Suma Bing, lalu katanya.

"Suma Bing takk duga aku Phui Kiau-nio......ah sudahlah, memang salahku sendiri Yang terlalu gampang mengudal perasaan-Tapi aku tidak akan merubah maksudku-"

"Aku tidak bermaksud untuk memaksa kau,' Kata Suma Bing rada risi dan kikuk. Tiba2 terdengar derap langkah kaki yang agak lirih dar| kamar sebelah Segera Mo-in Sancu berkata berbisik;

"Ada orang datang berbuatlah seperti kau sudah kehilangan semangat." -habis berkata serulingnya diangkat kedekat bibirnya terus terdenga lah irama seruling yang halus merdu. Tiba2 terbuka sebuah pintu rahasia didinding sebelah sana seorang perempuan setengah umur bergegas masuk Dia bukan lain adakah istri Loh Cu-gi Ang-siu-li Ting Yan-Kedatangan Ang-siu-li Ting Yan tanpa diundang ini benar2 mengejutkan Suma Bing dan Mo-in Siancu. Mo-in Siancu menarik serulingnya lalu berkata tersenyum simpul .

"Ada urusan apakah Hujin berkunjung kemari!"

Alis Ang-siu-li Ting Yan berkerut dalam, sekilas dia me-lerok kearah Suma Bing dengan gemes. lalu katanya, kepada Mo-in Siancu.

"Harap Siancu memaafkan kelancanganku "Mana berani, Hujin ada keperluan apa?"

"Ada beberapa patah kata hendak kutanyakan kepada bocah ini,'' Mo-in Siancu mengerut kening, katanya ragu2.

"Menurut pesan Sesepuh ketua.......... Hujin sendiri pasti sudah tahu akan aturan itu bukan?"

Terpaksa Ang-siu-li, mengunjuk senyum kecut. Katanya mendesak.

"Aku hanya ingin tanya berapa patah.

"Kalau begitu silakan hujin tanya dia!' Ang-siu-li Ting Yan beranjak kedepan Suma Bing bentaknya bengis.

"Suma Bing, aku hendak tanya padamu!"

Suma Bing terrsentak seperti bangun tidur sahutnya "Apa, ada apa kau........'"

"Jawab pertanyaanku........"

"Apa yang harus kujawab?"

"Cara bagaimana kematian putriku Loh Siau-ling?"

Bercekat hati Suma Bing, Loh Siau-ling sebenarnya dipukul ma t i o l e h P h o a Cu -g i o k , t a p i s e ump ama P h o a Cu -g i o k t i d a k memb u n u h n y a j u g a p a s t i d i r i n y a y a n g a k a n memb u n u h g a d i s i t u k a r e n a d i a a d a l a h p u t r i mu s u h b e s a r n y a -K a r e n a p i k i r a n n y a i n i s e g e r a s a h u t n y a d i n g i n .

"Di p u k u l mamp u s b a g a ima n a ? "

"Kau yang membunuhnya?'' desis Ang-siu-li Ting Yan beringas.

"Akan kuhancur leburkan tubuhmu ini."

Sambil membentak, sepuluh jari2nya yang runcing itu terus mencengkeram kebatok kepala Suma Bing.

Tenaga Suma Bing sudah punah, terpaksa dia mandah saja terima nasib dan menunggu ajal.

Mendadak sebuah suara yang dingin menjengek.

"Hu jin, katamu kau hanya ingin bertanya berapa patah kata eaja."

Tanpa kuasa Ang-siu-li Ting Yan menarik balik tangan-nya, tapi lantas diayun lagi sambil berteriak penuh kebencian.

"Aku hendak membalas sakit hati putriku"

Ringan sekali Mo-in Siancu berkelebat maju terus mengulur seruling diatas kepala Suma Bing, katanya Berat .

"Hujin, seumpama hendak menuntut balas juga tidak perlu ter-gesa2!"

"Siancu."

Kata Ang-siu-li Ting Yan lesu.

"Maaf akan kecerobohanku ini"

"Ah, Hujin terlalu sungkan, silakan kembali dulu."

Sebuah derap langkah yang berat lapat2 terdengar mendatangi. Berubah airmuka Mo-in Siancu. Ang-siu-ll sendiri juga mengunjuk rasa tegang, katanya.

"Mungkin suamiku datang!"

Sekali loncat Mo-in Siancu tiba dipinggir pintu rahasia.begitu ujung kakinya menginjak diatas tanah, pintu rahasia itu segera tertutup, lalu ujung jarinya menekan sebuah batu diatas dinding, terbukalah sebuah lobang sebesar kepalan tangan.

Karena kecerobohan Ang-siu-li setelah masuk lupa, menekan tombol rahasia, pintu supaya tertutup lagi, hakikatnya mereka takkan mungkin mendengar kedatangan orang ini, jikalau benar Loh Cu-gi yang datang, situasi dalam ruang tahanan ini pasti berubah Mo-in Siancu mendekatkan mukanya kelobang kecil untuk mengalingi pandangan sipendatang, lalu serunya dengan garang.

"Siapa yang datang itu?"

Terdengar sebuah suara yang dapat dikenal menyahut.

"Siancu, ini Cayhe!"

"Sesepuh ketua? Ada petunjuk apakah?"

"Apakah istriku ada.

"Ya memang Hujin pernah datang tapi sudah pergi lagi Sekarang aku tengah bekerja menurut rencana, dan sudah mencapai taraf yang sangat memuaskan Harap tuan kembali dulu ke Lengsiu-tiam menanti kabar baik ini"

Keadaan kembali menjadi sunyi senyap, agaknya Loh Cu gi sudah percaya dan sudah kembali.

Sambil menutup kembali lobang kecil itu Mo-in Siancu menyeka keringat diatas jidatnya.

tanpa terasa tercetus kata2nya.

"Sungguh berbahaya, jikalau secara diam2 tanpa bersuara dia masuk kemari, pasti terbongkarlah kelemahan kita ' Seketika Ang-siu-li Cng Yan mengunjuk rasa kejut dia heran serta curiga, tanyanya.

"Apa kata Siancu?'' Karena lena Mo-in Siancu sampai lupa bahwa Ang-siu-li Ting Yan masih berada dalam ruangan itu, kata2nya tadi sebenarnya ditujukan kepada Suma Bing, maka begitu pertanyaan diajukan baru dia tersedar akan kecerobohanhya, tapi dasar pintar dan cerdik dengan tenang dia menerangkan.

"Hujin, aku masih ada urusan penting yang harus kukerjakan, tentang kenapa, pasti suamimu nanti dapat memberi penjelasan 'kepada Hujin Sekarang silakan Hujin menyingkir dulu bagaimana?"

Agaknya Ang-siu-li ada pengertian sambil manggut2 dia menyahut.

"Maaf akan gangguanku ini," -setelah melirik kearah Suma Bing dengan benci terus dia memutar tubuh.. Sebuah jeritan keras yang mengerikan terdengar dibarengi dengan muncratnya air darah keempat penijuru. Kontan raga Ang-siu-li Ting Yan terkapar roboh diatas tanah Kiranya dengan cara kilat tanpa kepalang tanggung Mo-in Siancu telah menyerang dan membunuh Ang-siu-li Ting Yan-Suma Bing merinding dan kaget, serunya. Nona membunuh dia?"

Seakan tidak terjadi apa2 Mo-in Siancu ter-tawa2.

"Terpaksa harus dibunuh untuk menutup mulutnya."

"Mengapa?"

"Jikalau dia sampai keluar dari kamar rahasia ini, Kita tidak ada waktu lagi untuk meninggalkah tempat ini."

"Kenapa pula begitu ?"

"Tadi tanpa sadar aku telah kelepasan omong. dia sudah merasa cunga. sedang Loh Cu gi juga sedang mencari dia, dengan kecerdikan Loh Cu-gi pasti dia dapat menerka sesuatu peristiwa yang bakal terjadi, saat ini tenagamu hilang seluruhnya. ini menambah kesukaran untuk lolos dari sini?"

Sampai sekarang baru Suma Bing paham akan duduknya perkara, lambat laun hilanglah rasa curiganya terhadap Mo-in Siancu. Kata Mo-in Siancu.

"Mari sekarang juga kita harus pergi."

Sebetulnya Suma Bing sudah pasrah nasib bahwa riwayat nya pasti tamat, siapa nyana. Situasi ternyata berubah sedemikian cepat, sudah tentu hatinya merasa terharu, maka katanya.

"Untuk selamanya pasti Cayhe tidak akan melupakan budi kecintaan nona-' "Sekarang tidak perlu banyak berkata, yang penting kita harus segera keluar" -lalu dia menekan dinding sebelah kanan sana, terbukalah sebuah pintu rahasiai lain.

"Mari berangkat!" -katanya terus masuk lebih dulu kedalam pintu rahasia itu. Suma Bing mengikuti dibelakangnya Kiranya diluar pintu rahasia itu adalah sebuah lorong bawah tanah yang sangat panjang dan tera,sa dingin lembab. Lorong iny agaknya tak berujung pangkal, kadang2 tinggi kadang2 menurun rendah-Karena tenaganya lumpuh penglihatan Suma Bing banyak berkurang didalam lorong ini gelap gulita sampai lima jari sendiri juga tidak kelihatan, sambil menggeremet dan me-raba2 serta mendengarkan derap langkah Mo-in Siancu dia berjalan sehingga sebegitu lama meieka masih belum pergi jauh. Akhimya Mo in Siancu menjadi tidak sabar, katanya "Berjalan cara demikian, sedikitnya kita harus membuang waktu setengah jam baru dapat keluar dari lorong ini-Kalau sampai kenangan oleh Loh Cu-gi, celakalah kita, berdua, seumpama tumbuh sayap juga jangan harap dapat lolos."

Dengan ilmu saktinya yang digdaya kepandaian Suma Bing tanpa tandingan, kini keadaan dirinya malah membuat susah orang lain saja.

berapa perih dan duka hatinya susahlah ia uraikan dengan kata2, maka katanya risi.

"Kalau begitu silakan nona tanggal pergi saja tak usah urus diriku lagi."

"Apa tinggal pergi? Suma Bing. kalau bukan karena kau masa aku sudi menyerempet bahaya ini."

"Maaf akan kata2ku yang menyinggung tadi. hanya......'' "Sudahlah tak perlu banyak mulut, mari kau ikut aku'' tanpa menunggu persetujuan Suma Bing lengannya terus di cekal kencang lantas diseret dan sedikit dijinjing lari kedepan dengan cepatnya-Sepeminuman teh kemudian jalanan lorong itu terus menanjak keatas kira2 ratusan tombak tinggmya, akhirnya sampailah mereka diujung lorong terus Mo-in Siancu menekan alat rahasia sejalur sinar matahari tiba2 mencorong masuk kedalam. Sesaat Suma Bing tak kuasa membuka mata.-Mo-in Siancu menghela napas panjang, tangan yang mengempit Suma Bing masih belum dilepaskan. Keruan Suma Bing menjadi malu dan kikuk, tanyanya.

"Siancu, tempat apakah ini ?' "Panggung hukuman."

"Panggung hukuman, apa artinya?"

"Tempat Bwe-hwa-hwe melaksanakan hukuman. Coba kau lihat biar tegas, di kanan kiri itu merupakan sebuah garis batu dinding yang hanya cukup lewat satu orang, di belakang dinding itu adalah sebuah jurang yang dalam tak kelihatan dasarnya. Setiap kali Bwe-hwa-hwe melaksanakan hukuman cukup sekali dorong saja menyurung sipenyakitan kedalam jurang sana menjadi beres dan tidak meninggalkan jejak!"

Suma Bing bergidik seperti kedinginan, katanya.

"Marilah kita cepat pergi."

"Nanti sebentar, aku sedang berpikir siapakah yang mampu membuka urat nadimu yaHg tertutup itu. Selama belum terbuka kau akan menjadi seorang invalid.'"

Suma Bing mendengus dengan gemes, lalu menghela napas dan ujarnya.

"Tak peduli aku harus mengorbankan apa segala, aku harus berikhtiar membukanya."

"Suma Bing, memberanikan diri kupanggil kau sebagai adik. Sekarang aku teringat seorang yang mungkin dapat membantu kita."

"Siapa?"

"Tay-mo-tho-ih!"

"Dimanakah Tay-mo-tho-ih (tabib bungkuk padang pasir) sekarang berada?"

"Diluar perbatasan!"

"Sedemikian jauh, dengan keadaanku ini masa kuat menempuh perjalanan jauh."

"Habis tiada jalan lain, kepandaian semacam itu merupakan kebanggaan Loh Cu-gi sendiri, sudah tentu dia takkan sudi membukakan untuk kau!"

Bergolaklah darah panas Suma Bing, desisnya penuh dendam.

"Kalau aku tidak memberantas Bwe-hwa-hwe sampai se-akar2nya, jangan namakan aku Suma Bing."

Tanya Mo-in Siancu sungguh2.

"Sebenarnya ada permusuhan apakah kau dengan Loh Cu-gi?"

Pada saat itulah mendadak terdengar sebuah gelak tertawa panjang yang menusuk telinga. Berubah air muka Mo-in Siancu, serunya gugup.

"Celaka, cepat kita pergi!"

Tampak beberapa bayangan orang telah muncul diatas tembok batu itu.

Seakan terbang semangat Suma Bing, dilihat dari keadaan dan situasi, untuk menerobos keluar agaknya sesukar naik ke langit.

Betapapun tinggi Lwekang Mo-in Siancu juga takkan mampu membawa kabur seorang yang telah kehilangan tenaganya.

Dalam pada itu bayangan2 beberapa orang telah melesat tiba dan turun diatas tanah.

Orang yang terdepan adalah Loh Cu-gi sendiri, di belakangnya mengintil ketua Bwe-hwa-hwe Chiu Thong dan Hwe-hun-koay-hud serta sicakar beracun Kho Wan.

Sekejap saja mereka sudah berdiri tiga tombak di hadapan Mo-in Siancu.

Loh Cu-gi menyeringai seram, ujarnya.

"Siancu, kau tidak sengaja bukan?"

Mo-in Siancu menyahut dingin.

"Memang kusengaja, kau mau apa?"

Wajah Loh Cu-gi membayang hawa kebuasan yang sadis, semprotnya. ,.Siancu akan menyesal sesudah kasep."

Kata Suma Bing sambil menarik baju Mo-in Siancu.

"Cici, silakan kau tinggal pergi jangan pedulikan aku lagi."

"Jangan omong kosong,"

Kata Mo-in Siancu tanpa berpaling.

"Dik, kalau terpaksa biarlah aku mendampingimu selamanya."

Suma Bing tergetar seperti kesetrom aliran listrik, baru beberapa jam saja mereka berkenalan, namun orang sudi berkorban untuk dirinya sampai sehidup semati. Katanya penuh keharuan yang melimpah.

"Cici, kau tiada harganya berbuat begitu".

"Dik, mungkin inilah yang dinamakan jodoh yang membawa dosa, tapi saat ini tak perlu kita risaukan tentang mati atau hidup!"

Loh Cu-gi ter-loroh2 panjang, ujarnya.

"Suma Bing, kuperingatkan sebelum kau mati, robahlah cara panggilan-mu, dia cukup menjadi nenekmu tahu!"

Suma Bing berjingkat kaget, tak heran Loh Cu-gi dan sekalian gembong2 penjahat itu sedemikian menaruh hormat dan tunduk padanya; tapi lahirnya dia kelihatan masih sedemikian muda tidak lebih dari dua puluhan tahun!

Mo-in Siancu melintangkan serulingnya, tantangnya.

"Loh Cu-gi, apa yang hendak kau lakukan?"

Dengan nada yang menakutkan Loh Cu-gi berkata.

"Siancu, apa istriku harus mati secara penasaran? Tidak bukan?!"

"O, jadi kau hendak menuntut balas bagi dia."

"Hutang jiwa bayar jiwa, inikan sudah umum dan jamak!"

"Jangan kau main gertak terhadap aku. Sudahkah kau bayangkan akibat dari irama seruling iblisku?"

"Siancu kau takkan ada kesempatan merampungkan sebuah lagumu saja?"

Lahirnya Mo-in Siancu berlaku tenang, sebenarnya hatinya risau dan kebat-kebit, dia sendiri paham kesempatan untuk menang sangat mendesak.

Mengandal kepandaian Loh bertiga, sedikitnya kuat bertahan sampai lima gelombang irama serulingnya.

Meskipun kelima gelombang irama iblis-nya ini dapat dilancarkan dalam waktu yang pendek sependek2nya, namun waktu yang sekian pendek ini juga sudah cukup berkelebihan untuk ketiga orang ini melancarkan pukulannya untuk menyerang dirinya.

Kalau hendak meloloskan diri saja tenaganya cukup berkelebihan, tapi bagaimana dengan Suma Bing?

Bukankah dia sudah berjanji hendak mendampinginya selalu.

Sudah tentu Suma Bing juga sudah dapat menerawangi situasi yang tegang dan akibatnya, maka katanya kepada Mo-in Siancu.

"Cici, lulusilah sebuah permintaanku."

"Urusan apa?"

"Kuharap kau dapat sekuatnya meloloskan diri sendiri."

"Tidak dik, sudah kukatakan..........................."

"Cici, kalau kau tidak mau melulusi, aku akan mati tidak meram!"

"Tidak mungkin."

"Cici kalau kau dapat membawakan kabar untukku, seumpama harus mati aku akan mati dengan lega dan puas."

"Pesan apa yang hendak kau katakan?"

Karena jalan darah tertutup maka tak mungkin Suma Bing dapat melancarkan ilmu Thoan-im-jip-bit, terpaksa dia berkata berbisik.

"Belum lama berselang, yang ikut pertempuran sengit diluar markas besar itu diantaranya ada dua belas gadis serba putih. Kumohon kau beritakan keadaanku ini kepada salah satu diantara mereka."

Loh Cu-gi bergerak tertawa, serunya.

"Siancu"

Tiada waktu lagi, kalau masih ada omongan apa silakan katakan Kalam perjalanan menuju ke neraka saja."

Mo-in Siancu bersikap tak acuh dan pura2 tidak mendengar, hanya matanya tetap menatap tajam kearah lawan, namun mulutnya berkata kepada Suma Bing.

"Dik, apa kabar berita ini sangat penting?"

"Sudah tentu, ini menyangkut cita2ku yang belum terlaksana..........................." ,Dik, mungkin kita masih ada kesempatan untuk lolos!..."

"Agaknya tak mungkin. Ada lebih baik menggunakan kesempatan ini hendak kuberkata sepatah kata kepadamu. Selama hidup ini aku akan menyesal dan berhutang budi kepadamu". Mereka berdua bukan terhitung sepasang kekasih, sebab biasanya cinta itu harus berpadu antara dua insan yang berlawanan. Bahwasanya Suma Bing tidak menerima curahan cinta orang, sebaliknya secara sepihak Mo-in Siancu mencurahkan seluruh cintanya. Pertemuan mereka yang aneh dan kebetulan itu, mungkin akan membawa akibat yang menyedihkan, agaknya hal ini tak mungkin dihindari lagi. Saat itu, memang banyak sekali omongan yang hendak dicurahkan, namun situasi yang mendesak ini terpaksa biarlah selama terpendam dalam sanubari masing2. Suara Suma Bing terdengar gemetar, katanya lagi.

"Ci-ci, dapatkah kau menyampaikan beritaku itu?"

Nada perkataan Mo-in Siancu seberat laksaan kati.

"Dik, untuk harapanmu itulah aku harus tetap hidup."

"Cici, selamanya aku berterima kasih kepadamu."

"Dik masa kau masih sedemikian kikir untuk mengatakan?"

Tanpa merasa ragu Suma Bing bergoyang gontai hampir roboh, suaranya gemetar .

"Aku............... suka pada......... kau!"

Dalam pada itu, Loh Cu-gi, Hwe-hun-koay-hud dan si cakar beracun Kho Wan sudah mencari kedudukan mengepung mereka, jarak mereka kini tinggal setombak lebih.

Jikalau ketiga gembong silat lihay ini serentak melancarkan serangannya yang celaka lebih dulu pasti Suma Bing adanya.

Sepasang mata Mo-in Siancu memancarkan sinar kebencian, seruling batu giok diangkat melintang didepan dadanya.

Suma Bing berteriak dengan garangnya.

"Loh Cu-gi, ingin rasanya kukremas tubuhmu, saat itu kelak pasti akan terlaksana."

Loh Cu-gi mendengus ejek.

"Bedebah, tak mungkin tiba hari itu." -habis ucapannya, bagai singa mengaum keras dia memberi aba2 .

"Maju !"

Badai angin pukulan yang dahsyat ini serempak mener-jang kearah mereka berdua dengan hebatnya.

Mengayun dan menggerakkan serulingnya Mo-in Siancu kerahkan seluruh tenaganya untuk memapak serangan gabungan tiga musuhnya.

Ditengah suara benturan menggelegar ini, kontan Mo-in Siancu tersurut mundur lima langkah.

Sedang Suma Bing yang berada di belakangnya tergulung terbang ke tengah udara setinggi tiga tombak meluncur jatuh dan terbanting keras.

Namun sambil menggigit gigi dia merangkak bangun.

Loh Cu-gi menyeringai sadis, sebelah tangannya pelan2 diangkat...........................

"Kiu-yang-sin-kang!"

Tanpa merasa Suma Bing berteriak kejut.

Tepat pada waktu itu juga sejalur sinar merah melesat keluar secepat kilat, dalam waktu yang bersamaan, gesit dan selicin belut Mo-in Siancu menyeret Suma Bing melesat menyingkir setombak lebih.

Suara seruling iblis Mo-in Siancu sudah mulai ditiup.

Tiga bayangan manusia dengan kecepatan kilat sekaligus menubruk kearahnya.

Sambil tetap meniup serulingnya, Mo-in Siancu sigap sekali memutar sebuah tangannya terus didorong ke depan.

Dan secara kebetulan Loh Cu-gi bertiga yang meluncur datang tepat memapak kearah angin pukulan serangan Mo-in Siancu ini.

Saking dahsyat angin pukulan ini, kontan mereka bertiga tertolak turun dan mengin-jak tanah, sedang Mo-in Siancu sendiri juga terhuyung-huyung.................................

Irama seruling mendadak melengking tinggi, se-olah2 laksaan tentara serentak menyerbu maju.

Sicakar beracun yang Lwekangnya agak rendah seketika pucat pasi, keringat dingin membasahi jidatnya.

Para anak buah Bwe-hwa-hwe yang mengepung diluar gelanggang pertempuran juga mulai kacau balau.

Loh Cu-gi dan Hwe-hun-koay-hud sendiri juga bercekat hatinya, kalau Mo-in Siancu dibiarkan terus meniup serulingnya pasti mereka berdua juga susah dapat melawan, demikian batin mereka bersama dalam hati.

Sambil menggerung keras, serentak mereka bergerak menghantam dengan seluruh kekuatan tenaganya.

Terdengar jeritan panjang yang mengerikan, tampak tubuh Suma Bing ber-putar2 terbang ketengah udara terus melesat jatuh kedalam jurang yang dalam sana.

Irama seruling seketika sirap dan berganti suara pekik gugup dan ketakutan, sebat sekali Mo-in Siancu meluncur menyambar ke arah tubuh Suma Bing, tapi sudah terlambat......

Bagai bintang jatuh Suma Bing sudah meluncur jauh ketengah jurang sana, hanya tertinggal suaranya yang menjerit panjang bergema ditengah udara.

Hancur luluh sanubari Mo-in Siancu, saking duka dia menjadi gusar dan mengamuk, serulingnya digerakkan berpetakan sinar berkeredep terus menubruk balik kearah musuh2nya dengan kalap.

Terdesak dan kaget karena kehebatan serangan seruling yang mengacam jiwa ini, terpaksa Loh Cu-gi dan Hwe-hun-koay-hud melompat mundur.

Celaka adalah sicakar beracun, sedikit berlaku lena, baru saja tubuhnya bergerak sinar seruling sudah menungkrup keatas kepalanya.

Dimana terdengarjeritan keras, kontan batok kepala si cakar beracun hancur lebur dan tamatlah riwayatnya.

"Sundel, terimalah kematianmu!"

Sambil menghardik Loh Cu-gi sudah memutar balik secepat angin lesus sambil kirim pukulannya ke arah Mo-in Siancu.

Memang Mo-in Siancu sudah bertekad untuk gugur bersama, serulingnya diputar sekencang kitiran terus menubruk maju juga melawan dengan kekerasan pula.

Dalam seke-jap mata saja, mereka sudah serang-menyerang sebanyak enam gebrak, tenaga kekuatannya seimbang.

Tiba2 sinar merah merangsang masuk ke dalam gelanggang pertempuran, kiranya Hwe-hun-koay-hud juga tidak mau ketinggalan turut mengerubut, keruan situasi pertempuran seketika berubah.

Sepuluh jurus kemudian Mo-in Siancu sudah terdesak mundur tanpa mampu balas menye-rang lagi, ber-ulang2 menghadapi detik2 berbahaya, dilihat dari keadaannya yang mengenaskan ini, mungkin dalam lima gebrak lagi pasti jiwanya bisa melayang dibawah kerubutan dua gembong iblis jahat ini.

-ooo0dw0ooo-59.

RAJA IBLIS SERATUS MUKA MENOLONG SUMA BING Sedikit mengendorkan serangannya, Loh Cu-gi menyeringai iblis.

"Phui Kiau-nio. aku harus namakan kau dewi atau sundel. Kiu-yang-sin-kang cukup dapat membumi hanguskan tubuhmu, namun cara demikian terlalu murah untuk kau, tahukah kau cara bagaimana aku akan menghadapimu? Hahahaha.............................."

Rambut Mo-in Siancu awut2an, wajahnya berkeringat dan pucat pias, napasnya juga kempas-kempis. Setelah merandek sejenak Loh Cu-gi berkata lagi.

"Sundel, sedemikian cantik jelita wajah dan tubuhmu menggiurkan kalau kuhancurkan sungguh sangat sayang, nanti setelah kau kehabisan tenaga, baru kututuk urat nadimu untuk memunahkan seluruh ilmu silatmu. Hehe, dengan ke-molekanmu ini, biarlah para anak buahku menikmati ha-rumnya bunga secara bergilir didalam kamar..............."

"Tutup mulutmu!"

Mo-in Siancu berteriak beringas, matanya mendelik besar, seruling ditangannya bergerak semakin gencar dan ganas, tapi seumpama semut didalam kuali kekuatannya juga hampir terkuras habis, tingkahnya ini malah menjadi buah tertawaan Hwe-hun-koay-hud.

"Roboh!"

Serentak Hwe-hun-koay-hud lancarkan delapan kali pukulan berantai, geledek dan bayu menggelegar dan berhempas kencang, perbawa serangan ini sungguh menakjupkan.

Kontan Mo-in Siancu pentang mulutnya darah segar segera menyemprot bagai anak panah, sedang tubuhnya juga terhuyung lima tindak, terus roboh celentang diatas tanah.

Seruling ditangannya terbang terpental jatuh ke dalam jurang.

"Ah, sayang sekali!"

Tanpa merasa Loh Cu-gi berseru kejut.

Pada saat yang bersamaan itulah para anak buah Bwehwa-hwe yang berada diatas dinding batu sebelah sana tiba2 menjadi gaduh, lalu disusul terdengar jerit dan pekik kesakitan dan ketakutan, satu per satu mereka terjungkal jatuh dari atas.

"Apa yang terjadi?" -Ketua Bwe-hwa-hwe Chiu Thong berseru kejut terus melesat memburu tiba ke tempat itu. Laksana seekor burung raksasa merah Hwe-hun-koay-hud juga tidak ketinggalan memburu maju ke arah tempat itu. Loh Cu-gi sendiri tak urung juga berubah pucat air mukanya. Tampak sebuah bayangan hitam lencir tengah melayang keluar dari jalan rahasia sebelah samping dan ringan sekali bayangan itu meluncur tiba di tengah ge-langang.

"Racun diracun!" -hardik Loh Cu-gi murka. Sinar merah melesat, kontan Kiu-yang-sin-kang dilancarkan untuk menyerang. Sungguh lihay dan indah gerak gerik Racun diracun, tubuhnya jumpalitan ke arah kiri begitu kaki menyentuh tanah terus berputar balik pula ke tempat asalnya. Berbareng dengan gerak tangannya, bau harum segera terbawa angin merangsang ke arah Loh Cu-gi. Seketika Loh Cu-gi merasa mata ber-kunang2, kepala terasa berat. Diam2 dia mengeluh dalam hati.

"Racun!"

Cepat2 dengan hawa murninya dia tutup panca indranya terus berputar ke seluruh sendi dan urat nadi, berbareng tubuhnya melesat ke tempat yang berlawanan dengan hembus angin lalu.

Pada saat Loh Cu-gi melesat menyingkir itulah, tiba2 Racun diracun menjinjing Mo-in Siancu yang rebah diatas tanah itu, terus berlari ke arah yang berlawanan.

Maka anak buah Bwe-hwa-hwe yang menjaga di bagian tugu sebelah sana be-ramai2 keluar mencegat dan merintangi jalan larinya.

Begitu tangan Racun diracun bergerak mengebut, beberapa orang yang memapak paling depan kontan menjerit roboh, tujuh lobang indranya mengalirkan darah hitam.

Keruan yang masih ketinggalan hidup serasa terbang ar-wahnya, cepat2 mereka menyingkir kesamping memberi luang bagi jalan Racun diracun.

Maka dengan gamang saja Racun diracun terbang menghilang dalam se-fejap mata.

Waktu Hwe-hun-koay-hud beramal menyusul tiba dari arah Yang lain, keadaan sudah sunyi senyap, mana pula tampak bayangan Racun diracun.

Memangnya Racun diracun sendiri paham bahwa mengandal ilmu silat tak mungkin dirinya kuat bertahan menghadapi Loh Cu-gi dan Hwe-hun-koay-hud, maka secara mendadak dia membokong dengan racunnya yang hebat itu terus menghilang tanpa jejak.

Setelah berlarian sepuluh li lebih baru dia mencari sebuah gua dan meletakkan Mo-in Siancu diatas tanah.

Sebetulnya luka Mo-in Siancu tidak sedemikian berat sampai tidak bisa bergerak atau tidak bisa berjalan.

Bahwasanya dia hanya pura2 pingsan untuk mencari kesempatan meloloskan diri.

Suma Bing sudah terjatuh kedalam jurang, tak mungkin jiwanya bisa hidup.

Dia masih ingat akan pesan Suma Bing yang minta mengirimkan kabar, dan lagi sakit hatinya ini betapapun dia harus membalas juga.

Baru saja Racun diracun meletakkan tubuhnya, dia lantas bergegas bangun berdiri hal ini malah membuat Racun diracun berjingkrak kaget.

Sudah tentu Racun diracun ini adalah duplikat Phoa cu-giok.

"Kau mikah Racun diracun?"

Segera tanya Mo-in Siancu dengan heran.

Phoa Cu-giok mengiakan.

Kalau dulu mendengar cara Mo-in Siancu bertanya yang kasar begitu pasti Phoa Cu-giok tidak sudi menjawab malah mungkin membunuhnya.

Sekarang lain halnya dengan Phoa Cu-giok tempo hari, dan lagi dia sudah tahu jelas asal-usul orang maka dia tidak ambil dalam hati.

Tanya Mo-in Siancu lagi.

"Kenapa kau menolong aku?"

"Karena Suma Bing !"

"Kenapa pula dengan Suma Bing?"

"Sebab Cianpwe pernah menolong Suma Bing, maka terpaksa Wanpwe harus menyerempet bahaya turun tangan."

"Apa hubunganmu dengan Suma Bing?"

"Hubungan kita sangat erat, maaf aku tidak dapat menjelaskan."

Mata Mo-in Siancu berlinang air mata, katanya pilu.

"Dia sudah meninggal."

"Wanpwe akan menuntut balas bagi dia."

"Aku juga pasti menuntut balas untuknya, tapi, aku harus mengerjakan sesuatu.................."

"Dia ada permintaan apa kepada Cianpwe?"

"Ini..................dia minta aku menyampaikan pesannya."

Racun diracun berpaling ke mulut gua dengan gelisah, tanyanya.

"Luka Cianpwe..............."

"Tidak menjadi soal!"

"Kalau begitu Wanpwe minta diri!"

Habis berkatayya memberi hormat terus berlari keluar gua.

Dengan pandangan yang tak habis mengerti Mo-in Siancu memandangi bayangan orang menghilang di kejauhan sana, entah bagaimana perasaan hatinya susah dibayangkan.

Sampai disini marilah kita ikuti keadaan Suma Bing yang meluncur jatuh kedalam jurang, tubuhnya meluncur semakin cepat, mendadak dia merasa seluruh tubuhnya terge tar hebat seperti menumbuk sesuatu, saking kesakitan dia kehilangan kesadarannya.

Rasa sakicang nyeri membuat dia tersedar lagi dari pingsannya.

"Eee, kiranya masih hidup!"

Terdengar sebuah suara yang serak dan berat.

Waktu Suma Bing membuka mata per-tama2 yang terlihat olehnya adalah seorang tua berambut uban yang buta sepasang matanya, orang tua ini duduk bersila di hadapannya, sedang dirinya tengah rebah diantara tumpukan tulang-belulang manusia.

Sedikit bergerak miring saja kontan dia merasa seluruh tubuh kesakitan luar biasa se-akan2 tulang2 ruasnya copot hampir saja dia jatuh pingsan lagi.

"Sungguh ajaib!"

Terdengar si orang tua buta itu berseru heran.

Setelah kesadaran Suma Bing pulih seluruhnya dengan tajam ia awasi si orang tua buta duduk bersila di hadapannya ini, seketika mulutnya melompong keheranan tak dapat bicara.

Dari tempat sedemikian tinggi dirinya jatuh namun tidak mati, ini sudah suatu keajaiban, yang lebih aneh didalam jurang ini ternyata masih tinggal seorang hidup, lebih diluar dugaan lagi.

Kata pula si orang tua buta.

"Kudengar dari suaramu agaknya kau ini seorang bocah cilik ya?"

Suma Bing mengiakan, lalu bertanya.

"Bagaimana Cian-pwe bisa tinggal ditempat seperti ini?"

"Tinggal ditempat ini ? Hahahaha.................."

Nada tertawanya seperti orang gila yang menangis, sedemikian keras suaranya sehingga kuping Suma Bing hampir pecah.

Batinnya, latihan tenaga dalam orang tua ini agaknya tidak lemah, maka segera tanyanya lagi.

"Entah siapakah nama Cianpwe yang mulia?"

Balas tanya si orang tua tanpa mempeduli pertanyaan ima Bing.

"Buyung, bagaimana kau sampai terjatuh ke dalam jurang ini?"

"Terpukul jatuh kemari!"

"Kau ini termasuk anak buah dari bagian mana?"

"Aku...............Cayhe bukan anak buah Bwe-hwa-hwe !"

"Lalu kenapa bisa..................."

"Aku terjebak !"

"Kau terjatuh kesini dan tidak mati ini sudah aneh, hampir saja lohu............"

"Hampir kenapa?"

"Kusangka kau sebagai hidangan lezat !"tanpa merasa Suma Bing merinding, apa mungkin orang ini makan daging manusia untuk melewatkan hidupnya dalam jurang ini? Serta merta pandangannya menyapu kesekelilingnya. Didapatinya jurang ini berbentuk lurus seperti sebuah sumur, luasnya tidak lebih hanya setengah hektar, tulang2 putih bertumpuk di mana2, keadaan yang remang2 menambah suasana menggiriskan dan seram menakutkan. Baru sekarang Suma Bing merasakan hawa apek dan hampir saja dia muntah2 saking nek dan mual.

"Orang yang kelaparan tak memilih segala makanan lagi kau tahu?"

Lalu terdengar tenggorokan berbunyi agaknya tengah menelan air liur, lalu katanya lagi mendesis.

"Buyung, Lohu............"

Sepasang tangannya yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang meraba keatas tubuh Suma Bing Serasa terbang semangat Suma Bing, luka dalamnya sangat berat ditambah luka2 luar apalagi jalan darah dan urat nadinya tertutup, sehingga tenaga untuk berontak atau meronta saja tak kuasa sampai membalik tubuh saja juga tidak bisa.

Hanya terasakan suatu perasaan ketakutan yang mencekam hatinya, darah juga seolah berhenti mengalir, makinya gemetar.

"Tua bangsat, berani kau!"

Si orang tua se-olah2 tidak mendengar, kedua tangannya terus me-raba2 dan memijat-mijat di seluruh tubuh Suma Bing, mendadak dia menarik balik tangannya sambil berseru kejut.

"Buyung, tidak heran kau tidak sampai mati!"

Suma Bing menghela napas lega, tanyanya.

"Apa kata Cianpwe ?"

"Ajaib, aneh bin ajaib !"

"Ajaib? Apanya yang ajaib?' "Memang Lwekangmu sangat tinggi tentu jarang tandingan didalam Bu-lim. Urat nadimu tertutuk oleh cara memutuk nadi dan menutup hawa murni, dan oleh karena inilah malah melindungi jalan darah jantungmu yang terpenting, hingga dari ketinggian sekian ini kau tidak mampus terpelanting"

Jantung Suma Bing berdebur keras, tak tersangka sekali raba siorang tua buta aneh ini sekalligus dapat mengetahui bahwa urat nadinya tertutuk buntu, agaknya orang tua ini.

bukan tokoh sembarang tokoh.

Sekuntum bunga harapan ketika tumbuh dalam hati kecilnya yang sudah putus asa Kalau orang tua ini mengetahui seluk beluk tentang menutup urat nadi tentu juga paham cara membukanya Tapi siapakah dan tokoh macam apakah siorang tua Ini?

Kenapa dia terjatuh juga didalam jurang ini sehingga menjadi cacat?

Puncak dari atas jurang ini adalah merupakan Panggung Hukuman Bwe-hwa-hwe, bukan mustahil dia salah satu pesakitan yang dijatuhi hukuman......

"Buyung, apa kau masih ingin hidup?'"

Mendadak siorang tua bertanya Suma Bing tersentak kaget.

"Apa maksud ucapan Cianpwe ini?"

"Kalau kau masih ingin hidup, Lohu dapat membuka urat nadimu yang buntu, tapi........"

"Apa syaratnya?"

"Mungkin tak urung Mau juga harus mati, ketahuilah dinding jurang yang curam setinggi ratusan tombak ini, seumpama kera juga jangan harap dapat manjat naik."

"Hal itu Wanpwe dapat mencobanya!"

Serunya Suma Bing girang dan terharu.

"Baiklah, mari biar Lohu bebaskan penderitaanmu ini."

Sambil berkata segera jarinya bergerak menutuk dengan cepat.

Begitu hawa murni dalam tubuh Suma Bing terbuka, terasa hawa murni seperti air dalam bendungan yang bobol melanda keluar bagai air bah.

Dalam sekejap saja mengalir dan memenuhi seluruh tubuh, rasa kesakitan yang menyiksa badan sekian lama seketika hilang seluruhnya, tergegas dia bangkit berdiri Kata siorang tua buta sambil menarik balik jari2nya.

"Buyung, kau harus berobat "

Suma Bing menurut, segera dia duduk diatas tanah dan mengheningkan cipta mengerahkan tenaga mengobati luka dalamnya-Kiu-yang-sin-kang dan Giok-ci-sin-kang adalah dua unsur ilmu silat yang tiada bandingannya dijagat ini.

Tak sampai setengah jam kemudian semangat dan kesegaran tubuhnya sudah pulih seluruhnya, kesegaran badannya juga bertambah lipat ganda, begitu sepasang matanya dipentang.

seluruh keadaan dalam jurang itu dapat dilihatnya dengan jelas.

Pemanaangan semacam ini sungguh sangat seram dan mengerikan, dimana2 terlihat mayat2 bergelimpangan tiada tempat luang.

Terdengar siorang tua buta berseru memuji.

"Buyung, hebat benar Lwekangmu.'' Segera Suma Bing membungkuk memberi hormat.

"Sungguh tak ternilai besarnya budi Cianpwe ini, adakah keperluan yang harus wanpwe lakukan?"

"Buyung, apa kau ada pegangan dapat terbang keluar dan jurang sumur ini?'' "Mungkin tidak terlalu sulit!'' "Bagus, susah payahku tidak sia2, matipun aku dapat merarn!"

"Sudah tentu Wanpwe akan berusaha menolong Cianpwe keluar dari tempat ini......'"

"Tidak perlu lagi!"

"Tidak perlu? Cianpwe...."

"Sepasang mata Lohu sudah buta, urat nadi kakiku juga sudah putus, masa ada muka aku muncul lagi dimuka umum?'' Suma Bing terperanjat, tanyanya.

"Apa Cianpwe teraniaya........"

Rambut ubanan siorang tua buta mendadak berdiri tegak, giginya berkerot gusar, desisnya.

"Buyung. kuminta kau melakukan sesuatu untukku!"' "Wanpwe wajib melakukan!"

"Bagus, kau harus menuntut balas untukku!"

"Harap tanya siapakah musuh itu......'"

"Mengandal Lwekangmu sekarang cukup berlebihan, sungguh Tuhan maha pengasih!"

"Siapakah musuh besar Cianpwe itu?"

"Dia termasuk murid keponakanku. Dengan jarum emas kedua mata Lohu ini ditusuk hingga picak (buta), urat nadi kakiku juga dipotong terus diterjunkan kedalam jurang sini, sampai sekarang sudah tujuh hari lamanya, siapa-nyana ditempat seperti neraka ini aku bisa bersua dengan bocah seperti kau-"' "Siapa dan apakah nama julukan orang itu?"

"Sesepuh ketua Bwe-hwa-hwe Loh Cu-gi''' Bercekat hati Suma Bing, tanyanya gemetar.

"Loh Cu-gi ?"

"Ya, kau sendiri sampai terjatuh kemari tentu juga...."

"Siapakah nama Cianpwe.?"

"Akulah Pek-bin-mo-ong"

Suma Bing berjingkrak mundur saking kaget seperti disamber geledek-Siapa nyana orang tua buta dan cacat kedua kakinya ini kiranya adalah Raja iblis seratus muka yang sangat diharap2kan untuk dilenyapkan-Agaknya Pek-bin-mo-ong merasakan keganjilan sikap Suma Bing yang mendadak berubah, tanyanya heran.

"Buyung, ada apakah?"

Dalam waktu singkat Suma Bing tak kuasa menjawab, orang tua ini adalah musuh besarnya, tapi juga penolong jiwanya.

"Eh, ada apakah?"

Tanya Pek-bin-mo-ong sekali lagi. Kata Suma Bing dingin.

"Menyamar sebagai Sia-sin kedua Suma Bing, menipu Kiu-im-cin-keng dari Perkampungan bumi, mencuci bersih dengan darah seluruh Bu-khek-po, merampas Kipas pualam dan membunuh tiga Tianglo serta lima pelindung partai Ngo-bi-pay, merebut Ce-giok-pe-yap dan membunuh Si-gwa-sian-jin......'"

Mendadak Pek-bin-mo-ong bangkit berdiri, tapi karena kedua kakinya sudah cacat dia jatuh terduduk lagi, serunya kejut.

"Buyung, kau tahu semua?"

"Sudah tentu aku tahu, karena akulah Suma Bing tulen!'"

Badan Pek-bin-mo-ong limbung hampir roboh, wajah tuanya bergemetar ber-kerut2, saking terharu mulutnya menggumam entah apa yang diucapkan Untuk melenyapkan Pek-bin-mo-ong sekarang ini bagi Suma Bing segampang membalikkan tangan, tapi orang tua ini tadi telah menolong jiwanya.

berarti dirinya berhutang budi, apalagi sekarang dia sudah menjadi seorang tua yang buta dan cacat.

Mimpi juga dia tidak menduga bakal bertemu dengan musuh besar yang selalu dicarinya di dalam jurang seperti neraka ini.

Kata Pek-.bin-mo-ong dengan lesu dan patah semangat.

"Jalan Tuhan itu memang lurus ke-mana-2 juga akhirnya bertemu, Suma Bing, bolehlah kau turun tangan"

Lama dan lama kemudian baru Suma Bing menghela napas dan berkata.

"Dendam dan budi saling himpas, berarti diantara kita sudah tiada utang-piutang lagi-Tapi seperti yang pernah kuucapkan tadi, betapapun, aku tetap akan membawamu keluar dan tempat ini?' "Suma Bing, mengandal ucapanmu ini, baiklah Lohu mendoakan supaya daun jatuh kembali keakarnya, Lohu sudah bertekad untuk tetap tinggal disini selamanya."

Suma Bing merasa seriba kikuk dan tak enak, bagaimana juga jiwanya ini telah tertolong oleh orang tua cacat ini, maka katanya.

"Tuan benar2 sudah bertekad demikian?"

"Suma Bing, usia Lohu sudah hampir seabad apalagi yang perlu diberatkan, Lohu seorang yang dekat dengan liang kubur, namun aku masih ingin mengetahui suatu rahasia."

"Tentang apakah Itu?"

"Apa benar kau telah memperoleh Pedang darah dan Bun g a -i b l i s ? "

T e r g e r a k h a t i S u m a B i n g , s e t e l a h m e n g i a i k a n d i a b a l a s bertanya.

"Bendai2 pusaka yang telah tuan peroleh itu apakah semua terjatuh ketangan Loh Cu-gi?"

Sekian lama Pek-bin mo-ong merenung, lalu ujarnya kalem.

"Betapa jaya dan tenar nama Lohu selama ini sudah malang melintang melakukan berbagai pekerjaan besar, siapa nyana dalam usia yang sudah lanjut-ini malah terjungkal ditangan Loh Cu-gi binatang itu. Mungkin inilah yang dinamakan hukum alam. Memang Kipas pualam dan Daun giok ungu telah berada ditangan manusia serigala itu."

"Lalu Kiu-im-cin-keng dimana?'' Tubuh Pek-bin-mo-ong gemetar semakin keras, wajahnya juga berkerut2, desisnya dengan penuh kebencian.

"Karena soal buku itulah maka mata Lohu dibutakan serta diputus urat nadi kedua kakiku ini, terus diterjunkan kedalam jurang ini.'' Sampai disini dia menelan ludah lalu melanjutkan penuturannya.

"Besar tekad Loh Cu-gi hendak mempersatukan Kiu-im cin-keng dengan Kiu-yang-sin-kang supaya dapat terlatih ilmu kombinasi yang dinamakan Bu-khek-sin-kang Hehe, manusia berusaha. Tuhanlah yang menentukan, setelah Lohu memperoleh Kiu-im-cin-keng itu tak lama kemudian telah hilang lagi........"

Keruan bercekat hati Suma Bing, Kiu-im-cin-keng adalah benda peninggalan leluhur dari Perkampungan bumi yang paling berharga dan tak ternilai, hatinya menjadi gugup dan bertanya.

"Siapakah yang telah memperolehnya?"

"Pek-kut Bujin!"

Suma Bing menghela napas lega, Pek-kut Hujin adalah duplikat penyamaran bibinya, kalau buku itu terjatuh ketangannya seperti juga dirinya sendiri yang telah merebutnya kembali.

Kata Pek-bin-mo-ong lagi.

"Loh Cu-gi menyangka Lohu sengajia hendak mengangkangi Kiu-im-cin-keng itu, maka tak segan2 dia turun tangan keji terhadapku'' Diam2 Suma Bing memaki dalam hati.

"Bangsat durjana yg. kejam telengas!"

Pek-bin-mo-ong adalah Suheng dari mertuanya Pek-chio Lojin, sedemikian tega dia turun tangan.

Tiba2 dari tumpukan tulang2 sebelah sana menonjol keluar sebuah benda putih yang berkilauan.

Segera Suma Bing maju mendekat dan memungutnya.

Seketika hatinya dingin dan berkeringat Seluruh tubuhnya Itulah seruling batu giok milik Mo-in Siancu, kalau seruling ini terjatuh kesini pasti keselamatannya juga dalam bahaya.

Karena batinnya ini dia merasa tak dapat mengabaikan waktu yang sangat berharga meskipun hanya sedetik jua, cepat2 dia kembali kedepan Pek-bin-mo-ong dan katanya.

"Tuan, setulus hati aku berkata, tetap aku ingin berdaya untuk membawa tuan keluar dari tempat yang mengenaskan ini.'' "Kuucapkan banyak terima kasih dan kuterima kebaikan mu ini, tapi tak usahlah!"

Melihat orang tua ini berkukuh Suma, Bing tidak enak terlalu memaksa maka katanya.

"Kalau begitu Cayhe segera akan pergi !"

"Ya, nanti dulu. Lohu masih hendak berkata. Loh Cu-gi sudah memiliki semua kedok penyamaranku, binatang itu sangat licik tan telengas, kau harus selalu meningkatkan kewaspadaanmu jangan lena sedetikpun!'' "Terima kasih akan petunjuk ini!'' ujar Suma Bing terus memutar badan. ...... 'Brak"

Terdengar sebuah suara lalu disusul benda berat yang jatuh ketanah.

Waktu Suma Bing berpaling, seketika dia terkesima ditempatnya Kiranya Pek-bin-mo-ong telah bunuh diri dengan memukul hancur batok kepalanya sendiri.

Setelah ragu2 rekian lama lalu dia mengeduk tanah didasar jurang itu untuk memendam jenazahnya dan membangun sebuah batu nisan yang bertuliskan.

"Tempat istirahat Pek-bin-mo-ong"

Enam huruf dengan ukiran jari tangannya.

Setelah semuanya selesai baru dia mulai menjelajah seluruh dasar jurang itu, agaknya selain dirinya tiada orang lain yang baru terjatuh kedalam jurang ini, maka dia mendongak mengawasi dinding jurang yang curam, menurut taksirannya tingginya ada duaratusan tombak-Tempat ketinggian seperti ini bagi kaum persilatan umumnya sudah sangat melampaui kemampuan dari seseorang yang betapa hebatpun ilmu silatnya Tapi lain halnya bagi Suma Bing yang membekal ilmu sakti mandraguna, betapapun dia akan berdaya mencapai kepuncak.

Begitulah sambil bersuit panjang tubuhnya mendadak melejit tinggi ketengah udara, sekali meluncur lima puluh tombak telah dicapainya, begitu daya luncurannya hampir habis cepat2 ujung kakinya menutul dinding batu, maka tubuhnya melenting lagi lebih tinggi ditengah udara dia berjumpalitan dengan gayanya yang sangat indah terus membalik lagi mendekat dinding dan sekali tutul tubuhnya melesat lagi tiga puluhan tombak, setelah tiga empat kali jumpalitan dalam sekejap mata saja tubuhnya sudah meluncur turun dan hinggap diatas Panggung hukuman.

Tatkala itu sang surya sudah tenggelam di peraduannya, sang malam mulai mendatang keadaan bumi alam ini mulai remang2.

Darah dan mayat masih bergelimpangan di mana2 menambah suasana bertambah seram dengan bau anyir darah lagi.

Mendadak Suma Bing bergelak tawa, tawa yang penuh mengandung hawa membunuh dan ejekan, dia tengah me-ngejek dan menertawakan hari kiamat Bwe-hwa-hwe telah mendatang diambang pintu, dia merasa menang dan puas bahwa berulang kali dia sudah lolos dari bolang jarum, secara aneh dan ajaib dia hidup kembali dari elmaut ke-matian ?

Lalu dia memeriksa setiap jenazah yang bergelimpangan dan girang, karena dia tidak menemukan jenazah Mo-in Siancu.

Sebat sekali tubuhnya meluncur tinggi kepuncak sebelah kiri sana ditempat inilah dia dan Mo-in Siancu lolos dari kepungan dalam ruang bawah tanah itu, pintu rahasia itu kini telah hilang dan susah diketemukan lagi.

Baru saja dia sampai di atas lantas terlihat olehnya di kejauhan sana bara api yang me-nyala2 tinggi menembus angkasa, malah lapat2 terdengar pula teriak dan seruan gegap gumpita agaknya sebelah sana tengah terjadi pertempuran sengit.

Sungguh kejut dan heran dia dibuatnya, karena tempat kebakaran itu adalah Markas besar Bwe-hwa-hwe.

Siapakah yang telah dapat memecahkan barisan Im-yang-ngo-heng-tin dan melepas api di markas besar Bwe-hwa-hwe ini?

Dari gemuruhnya teriakan pertempuran dapat dipastikan bahwa orang yang menyerbu datang itu jumlahnya amat banyak.

Tiada waktu lagi buat Suma Bing merenungkan tindakan apa yang perlu dilakukan.

Dia harus cepat2 bertindak supaya tidak kehilangan kesempatan untuk menuntut balas.

Setelah mencari arah tujuannya secepat anak panah tubuhnya melesat ke arah bangunan gedung2 yang tengah dimakan api itu.

Semakin dekat suara pertempuran semakin jelas, jerit dan pekik yang mengerikan terdengar dimana2.

Api berkorbar semakin besar dan mengganas semakin hebat.

Beberapa bayangan manusia memapak kedatangan Suma Bing, sekilas didapati jubah para pendatang ini bersulam Bunga Bwe besar, maka tanpa banyak mulut lagi, sekali tangan diayun para pendatang itu disapu jungkir balik.

Daya luncuran tubuhnya terus laju semakin cepat, waktu suara jeritan para korbannya itu terdengar tubuhnya sudah meluncur jauh sampai di gelanggang pertempuran.

Darah mulai membanjir di tanah, mayat bergelimpangan dan bertumpuk di mana2, bayangan berkelebatan, sinar ber-keredep dari kilauan senjata yang tertimpa sinar api seperti bintang2 me-nan2 di angkasa.

Tanpa bersuara Suma Bing tiba di pinggir gelanggang pertempuran, dia harus meneropong dulu situasi pertempuran ini.

Per-tama2 dilihatnya diantara berkelebatnya bayangan pertempuran itu ada beberapa bayangan seragam putih yang selulup timbul, itulah dua belas Rasul penembus dada.

Malah dia melihat pula Coh-yu-hu-pit dari Perkampungan bumi, agaknya tidak sedikit pula para kerabat dari Perkampungan bumi yang ikut meluruk datang, justru yang mengherankan diantara sedemikian banyak orang yang ikut bertempur tidak sedikit pula terdapat orang2 dari golongan suci.

Terdengar suara terkekeh tawa orang laksana gembreng berbunyi, Suma Bing memandang ke arah datangnya suara, matanya menjadi terbelalak.

Terlihat olehnya Siau-lim-ngo-lo tengah mengepung ketat Hwe-hun-koay-hud, ternyata mengandal tenaga gabungan Ngo-lo masih terdesak sedemikian hebat sehingga mereka harus ber-putar2 seperti sedang menari, sejuraspun mereka tidak mampu balas menye-rang.

Akhirnya dia menjadi paham, bukankah Hwe-hun-koay-hud adalah murid murtad dari Siau-lim-si?

Nafsu kekejian Suma Bing semakin tebal, sekali meluncur langsung dia menubruk masuk kedalam gelanggang pertempuran.

Kontan dimana tangan dan kakinya bergerak segera terdengar lolong kesakitan dan jerit kematian saling susul.

Bayangan manusia saling roboh bergantian, darah dan anggota tubuh yang tidak lengkap lagi beterbangan keempat penjuru.

Kini sorot mata semua orang tertuju kearah Suma Bing.

Maka gegap gumpitalah seruan kegirangan.

"Tuan muda!" -"Huma" -"Suma Siauhiap !" -"Siau-sicu !"

Mata Suma Bing merah membara seperti kesetanan, kaki tangannya terus bergerak seperti harimau mengamuk diantara gerombolan kambing, siapa saja yang berada di hada-pannya pasti roboh tanpa ampun.

Demikianlah tubuhnya selulup timbul di tengah gelanggang pertempuran, dari barat ke timur dari selatan ke utara dimana dia lewat darah dan daging manusia pasti cecel dowel beterbangan di selingi jeritan yang memekakkan telinga.

Yang membuat hatinya heran yalah sedemikian jauh dia masih belum melihat bayangan Loh Cu-gi musuh besar utama yang harus mampus.

Se-konyong2 terdengar gelak tawa yang menusuk telinga diselingi seruan tertahan seperti orang muntah2.

kiranya Siau-lim-ngo-lo masing2 sudah menyemburkan darah segar Kan serentak terkapar diatas tanah.

Sekali melenting Suma Bing meluncur menubruk kearah itu.

"Minggir!"

Demikian hardiknya, suaranya tidak keras tapi menggetarkan semangat setiap hadirin. Hwe-hun-koay-hud mendelik terbelalak, serunya kejut.

"Bedebah, kau tidak..............."

Sebelum habis ucapannya kedua tangan Suma Bing sudah nenghantam tiba membawa kekuatan bagai gugur gunung terus merangsang keatas tubuhnya.

Selicin belut Hwe-hun-koay-hud menggeser delapan kaki ke samping.

Bagai orang gila yang kesurupan laksana ba-angan yang selalu mengikuti bentuknya Suma Bing terus nenyerbu dengan hebatnya, sekaligus dilancarkan delapan lelas kali pukulan.

"Brak,' diselingi dengus yang aneh seperti babi hendak disembeleh, kontan tubuh Hwe-hun-koay-hud ter-huyung2 sambil muntahkan darah segar.

"Serahkan jiwamu !" -dengan gerak kilat sekali cengkeram tahu2 Suma Bing sudah menyekal pergelangan tagan lawan dan sekali gus tangan yang lain diangkat megepruk keatas kepala. Mendadak dia teringat sesuatu dan cepat2 menarik balik tangannya, lantas berpaling dan menggape kepada tertua dari Siau-lim-ngo-lo, serunya.

"Taysu, mari kuserahkan kepadamu!"

Habis berkata tubuhnya terus berkelebat menghilang.

Sambil bersabda Budha Ngo-lo segera menubruk maju meringkus murid murta yang jahat itu.

Sebuah bentakan yang nyaring dan sangat dikenal terdengar dari pojokan yang agak gelap sana.

Sebat sekali Suma Bing melejit ke arah datangnya suara.

Dimana terlibat dua orang tengah bertempur sengit, pihak musuh adalah ketua Bwe-hwa-hwe Chiu Thong sedang lawannya adalah seorang perempuan yang bukan lain adalah istrinya, yaitu putri dari perkampungan Bumi Pit Yau-ang.

"Adik Ang, minggirlah !"

"Engkoh Bing, kaukah itu !"

Teriak Fit Yau-ang kegirangan sambil menyurut mundur. Begitu melihat Suma Bing muncul serasa terbang arwah ketua Bwe-hwa-hwe Chiu Thong, begitu memutar tubuh terus hendak lari.

"Lari kemana kau?."

Bagai bayangan setan Suma Bing berkelebat menyegat kehadapan Chiu Thong terus mencengkeram dada lawan.

"Blang!"

Telak sekali pukulan Chiu Thong yang dahsyat menghunjam di dada Suma Bing, namun kontan dia tertolak sempoyongan oleh tenaga sakti pelindung badan Suma Bing, tangannya sakit seperti tulang-nya hancur lebur, sedikit lena dan kesima, tangan Suma Bing sudah menyengkeram dadanya terus dijinjing tinggi...

Serentak pada saat itu juga delapan sinar berkilau dari ujung pedang menusuk dan membabat tiba-Pit Yau-ang menghardik keras terus menubruk maju mehalangi sera-ngan yang membokong ini, dimana lengan bajunya dikebut-kan sekaligus empat batang pedang terpental serong ke samping, sedang empat bilah pedang lainnya tak urung masih tetap menyelonong ke punggung Suma Bing.

Sudahlah tentu Suma Bing tidak mandah saja dilobangi tubuhnya begttu tangan lainnya membalik dan diayun, jeritan yang ngeri dari empat orang yang bersamaan menambah ribut suasana yang memang gaduh itu.

Mereka terpental terbang jauh dan entah bagaimana nasibnya, hal ini membuat Pit Yauang tergetar kaget dan kesima.

Wajah ketua Bwe-hwa-hwe Chiu Thong pucat pasi, tubuhnya gemetar dan lemas seperti tidak bertulang lagi.

Dimana Loh Tiu-gi berada?" -tanya Suma Bing beringas gusar "Tidak tahu!"

Terdengar suara dari mulut Chiu Thong yang gemetar.

Sambil kertak gigi, sekali tarik dan betot Suma Bing tanggalkan lengan kiri Chiu Thong dari badannya.

Keruan Chiu Thong memekik kesakitan seperti babi hendak disembeleh, wajahnya mengkeret dan ber-kerut2 saking menahan sakit.

-oo0dw0oo-60.

BWE-HWA-HWE HANCUR LEBUR.

Wajah Suma Bing sudah berubah hitam membesi.

sepasang matanya memancar jalang seperti serigala yang kesetanan, tanyanya lagi.

"Katakan tidak?"

Saking kesakitan Chiu Thong menjadi nekad dan membandel.

"Tidak !"

Suaranya serak lirih.

"Bagus !' -tanpa kepalang tanggung telapak tangan Suma Bing mengepruk batok kepala musuh bebuyutan ini, sambil menjerit seram Chiu Thong terkapar di tanah, badannya hancur lebur menjadi bergedel.

"Engkoh Bing, aku............aku terlalu girang, sungguh tidak nyana..............."

Dua butir air mata mengalir membasahi pipinya, dia menangis saking gembira.

"Adik Ang, segala persoalan nanti kita bicarakan lagi, sekarang aku harus menemukan Loh Cu-gi !"

Tanpa memperdulikan istrinya lagi dia terus berlari keluar gelanggang pertempuran.

Suma Bing sudah menjelajah keempat penjuru dimana dia lalu dan melihat anak buah musuh semua dibunuhnya tanpa ampun.

Se-konyong2 sebuah bayangan memapak datang dan berseru gugup.

"Suma Bing, lekas ikut aku! Sebenarnya Suma Bing sudah bersiaga hendak menyerang serta mendengar suara orang sedikit melengak dia tarik kembal1 tenaganya, bentuk tubuh orang ini memang sangat dikenalnya. Waktu pertama kali dirinya menerjang masuk ke dalam barisan Im-yang-ngo-heng-tin tempo hari, justru laki2 berwajah kuning seperti berpenyakitan ini juga pernah muncul, hanya wajahnya saja sedikit pun tidak terkesan dalam sanubarinya. Untuk apa dia minta dirinya mengikuti dia ? Demikian singkat dia membatin, laki2 berwajah kuning itu sudah melesat sejauh puluhan tombak, gerakan tubuhnya ternyata sedemikian lincah dan tangkas sekali, Maka tanpa ayal segera Suma Bing angkat kaki mengejar dengan kencang, sekejap mata kemudian mereka tiba,diluar hutan pohon Bwe, sekali berkelebat bayangan laki2 berwajah kuning itu lantas menghilang entah kemana. Di dalam hutan sebelah sana terdengar angin pukulan yang membumbung tinggi, debu dan kerikil bergulung ke tengah angkasa. Suma Bing melihat keganjilan ini dan mulai waspada, diam2 dengan langkah ringan dia maju mendekat memasuki hutan. Tampak seorang laki2 kekar berjambang bauk tengah bertempur sengit dikeroyok dua perempuan. Suma Bing heran dan terperanjat. karena kedua perempuan itu bukan lain adalah bibinya Ong Fong-jui dan Tio Keh-siok. Mengandal Lwekang dan kepandaian Ong Fong-jui dan Tio Keh-siok ternyata tidak mampu merobohkan laki2 berewok itu, malah mereka lebih banyak menjaga diri dari pada menyerang. Sekilas Tiok Keh-siok melirik melihat kehadiran Suma Bing, segera dia berseru kejut.

"Suma Bing. kau itu?"

Ong Fong-jui juga tergetar kaget mendengar seruan Tio Keh-siok itu sehingga gerak geriknya menjadi sedikit lamban.

Sepasang mata laki2 brewok itu memancarkan siar aneh dan ketakutan, menggunakan peluang ini segera dia melesat terbang melarikan diri.

"Cegat dia."

Teriak Ong Fong-jui keras dan gugup Namun gerak tubuh laki2 berewok itu ternyata secepat kilat hanya sekali berkelebat saja lantas hilang.

Waktu Suma Bing sadar dan memburu dengan kencang sekaligus dia berlari sejauh ratusan tombak namun bayangan orang sudah tidak terlihat lagi.

Dilain saat Ong Fong-jui dan Tio Keh-siok juga sudah mengejar tiba.

Kata Ong Fong-ju gegetun.

"Kalau tahu begini, siang2 aku harus sudah menggunakan racun'.'' "Siapakah dia sebenarnya?'' tanya Suma Bing heran dan tak mengerti-"Dia itu Loh Cu-gi,"

Sahut Ong Fong-jui gemes. Berubah airmuka Suma Bing sambil menggerung keras kakinya sudah melangkah......

"Anak Bing,"

Cegah Ong Fong-jui sambil menggape.

"Kau takkan dapat mengejar dia, alat rahasia Bwe-hwa-hwe tersebar di-mana2, jalan gelap dan jebakan malang-melintang disana-sini."

Sambil mengertak gigi Suma Bing berkata .

"Masa bisa kita harus membiarkan dia lolos ?"

"tentu tidak, namun kita harus menghadapinya dengan perhitungan yang masak "

Sampai disini tiba2 Thio Keh-Siok menyela bicara .

"Bukankah kau ...kau..sudah....."

"Ya, aku terjebak dalam barisan dan tertawan oleh musuh, akhirnya aku terpukul masuk kedalam jurang........."

"Semua itu kita sudah tahu.'' "

"O, kalian tahu darimana?'"

"Kita dikisiki seorang lelaki yang tidak diketahui namanya"

Suma Bing garuk2 kepala penuh tanda tanya, apa mungkin Mo-in Siancu tidak mati dan menyampaikan pesannyai itu, maka tanyanya gelisah.

"Yang mengisiki kalian itu seorang perempuan?'' "Bukan, seorang laki2 berwajah kuning-Kau kenal dia?"

Suma Bing menggeleng kepala.

Bayangan Go-hiangcuseperti sangat dikenalnya itu terbayang dalam benaknya dia semakin heran, bukankah orang itu pula tadi yang memancingnya ketempait ini-Tapi bukankah dia seorang pangcu dari Bwe-hwa-hwe ini benar2 membuat orang susah menduga dan sulit dimengerti Agaknya Ong Fong-jui ingin cepat2 mengetahui pengalaman Suma Bing, desaknya.

"Coba ceriterakan pengalamanmu bel;akangan ini "

"Untung aku tidak mati terbanting didalam jurang ialah diluar dugaan aku bertemu dengan seseorang!"

"Orang macam apakah itu?"

"Dialah Raja iblis seratus muka yang menolong jiwaku"

"Dimana sekarang Pek-bin-mo-ong itu berada?'' tanya Tio leh-siok berlinang airmata. Suma Bing menjawab tenang.

"Sudah maiti.'"

"Apa mati? Kau yang membunuhnya."

Bentak Tiok Keh-Siok beringas-"Bukan! Dia mati bunuh diri."

Agaknya Tio Keh-siok tidak puas sebelum dapat menuntut balas sejak kematian Suhengnya Si-gwa-sian-jin, maka desaknya sambil mengerut kening-;

"Suma Bing. kau sendiri tahu betapa jahat dan kejam sepak terjang Raja iblis ini-Mengapa kau biarkan dia membunuh diri. Hm, aku paham sekarang, karena dia telah menolong jiwamu bukan? Bunuh diri? Dapatkah dipercaya?"

"Nona Tio jangan kau terangsang oleh emosi, kalau kau berada didalam kedudukan seperti aku, pasti kau sendiri juga, tidak tega turun tangan. Ketahuilah dia sendiri juga menjadi alat orang lain, setelah menunaikan tugasnya dia dibokong dan dicelakai sehingga matanya buta dan kedua kakinya, cacat........' "Dimanakah jenazahnya?''' "Didalam jurang dibelakang panggung hukuman dalam markas besar Bwa-hwa-hwe, nona bisa pergi kesana membuktikan sendiri-"

"Sudah pasti aku mesti kesana,"

Geram Tio Keh-siok meng-gigit gigi-"Akan kuhancurkan dan kubuang kemana2 anggota tubuhnya."

"Pangkal mula dari semua, permusuhan ini. algojonya adalah Loh Cu-gi, sedang para anak buah Bwe-hwa-hwe itu cuma pelaksana saja'' "Setelah pertempuran kali ini."

Demikian sela Ong Feng-jui.

"Boleh dikata pihak Bwe-hwa-hwe sudah hancur luluh dan porak peronda."

Bangunan gedung markas besar yang megah itu sudah terbakar habis, pertempuran juga sampai titik penghabisan, namun masih terdengar beberapa kali jerit dan seruan yang mengerikan Tiba2 sebuah bayangan orang kecil bundar dan tromok melayang dan nieluncur tiba teriaknya keras.

Buyung, sungguh besar dan panjang jiwamu."

Sipendatang ini bukan lain adalah simaling bintang Si Ban-cwan. Suma Bing terperanjat, serunya. ,,Cianpwe, kau ----"

"Hehe, kau heran kenapa aku simaling-tua tidak hancur meledak bukan ?"

"Itu hanya jebakan saja, Cayhe sudah mendapat tahu dari peringatan Phoa Cu-giok, dan sekarang sudah terbukti"

"Phoa Cu-giok?"

Sela Ong Fong-ji "Kau bertemu dengan dia?"

"Ya, dia muncul dengan bentuk Racun diracun, sekejap saja sampai tak sempat untuk blcara barang sekejap jua!"

"Ai, semoga dia tidak mengecewakan pengorbanan cicirya"

Simaling bintang Si Ban-cwan menggape kepada Suma Bing dan berkata.

"Buyung, mari ikut Lohu menunaikan tugas penting !"

"Tugas penting?"

"Ikut saja tidak akan salah, kalau ada omongan nanti kita bicarakan lagi-" -tengah berkata mendadak dia ingat sesuatu lalu sambungnya lagi.

"Simaling bintang ini kiranya tidak mengecewakan hidupnya, jual beli kami ini ternyata paling lancar."

Kalau Ong Foiag-jui dan Tio Keh-siok mengunjuk rasa girang, sebaliknya Suma Bing garuk2 kepala keheranan.

Setelah me-rogoh2 saku didalam bajunya, siimaling bintang angsurkan kedua tangan kehadapan Ong Fong-jui serta katanya .

"Daun giok ungu ini harap tolong disampaikan kepada It-hu-cu ketua Ngo-bi-pay" -lalu dia angsurkan sebuah benda lain kepada Tio Keh-siok, katanya.

"Kipas pualam ini kembali kepada pemiliknya lagi--' Tio Keh-siok menerima dengan kedua tangannya sambil memberi hormat, ujarnya.

"Terima kasih Cianpwe!"

Simaling tua mengangkat alisnya yang sudah memutih, serunya.."Ah, kerjaan gampang saja jangan ambil dalam hati!" -Lalu ia lempar dua

Jilid buku kecil kearah Suma Bing, serunya.

"Buyung. sambutlah Kyu-im-cin-keng ini."

Suma Bing sampai terbelalak, hampir dia tidak penyaya kalau semua ini kenyataan Kata Ong Fong-jui setengah memuji.

"Maling bintang perampok rembulan, nama ini kiranya tidak omong kosong belaka."

Simaling bintang berseri tawa, ujarnya.

"Semua nya juga berkat bantuan dari dalam". Suma Bing melengak heran, tanyanya.

"Bantuan dari dalam, siapa?"

"Go Hiangcu, laki2 muka kuning itu, kau pernah melihat bukan!"

"Lagi2 orang muka kuning itu?"

"Buyung, waktu sudah sangat mendesak, kalau ada urusan minta saja disampaikan, sebab kita tiada tempo untuk kembali lagi dalam waktu singkalt!"

Suma Bing melenggang mengawasi simaling bintang, hatinya tak mengerti dan penuh tanda tanya. Akhirnya simaling bintang tidak sabaran lagi, katanya, sambil membanting kaki.

"Lekas, buyung, kalau tidak kau akan menyesal sesudah kasep."

Suma Bing manggut2, lalu berpaling menghadap Ong Fong-jui. katanya.

"Bibi, harap sampaikan kepada Pit Yau-ang, setelah semua urusan disini selesai mintalah dia pimpin anak buahnya kembali ke Perkampungan bumi, demikian juga para gadis pengikut ibunda"

Ong-Fong-jui mengiakan lalu mengawasi simaling bintang tanyanya.

"Cianpwe sebetulnya terjadi apalagi?"

Simaling bintang tertawa, misterius, ujarnya.

"Kelak kalian akan tahu. rahasia alam saat ini tidak boleh dibocorkan."

"Cianpwe,"

Ujar Suma Bing gelisah,"

Loh Cu-gi itu sempat meloloskan diri"

"Buyung, ikut aku saja tidak akan salah' -tanpa menanti jawaban ia terus seret tangan Suma Bing lantas berlari kencang masuk kedalam hutan. Setelah belak belok kekanan kiri tak lama kemudian mereka. Sudah keluar dari lingkungan barisan Im-yang-ngo-heng-tin. Suma Bing menurut saja diseret sekian lama dengan keheranan hatinya risau dan gelisah Seperti mencari sesuatu simaling bintang celingukan kesana-sini, lalu kata nya pasti.

"Ke arah sini mari!"

Sekarang Suma Bing mengintil dibelakangnya terus berlari kencang.

Meskipun kepandaian simaling bintang terpaut jauh dibanding dengan Suma Bing, namun ilmu ringan tubuhnya ternyata hebat sekali.

begitu dikembangkan tubuhnya melesat bagai meteor terbang Sepanjang jalan setiap kali sampai dipersimpangan jalan, simaling bintang tentu membungkuk tubuh entah memeriksa apa.

Waktu sang malami berganti pagi, mereka sudah, berlari sampai ratusan li lebih.

Simaling bintang menunjuk sebuah kota Yang terlihat tak jauh didepan sana, katanya.

"Buyung, mari kita masuk kota tangsel perut dulu, bagaimana juga mereka tidak bakal dapat lari!"

Suma Bing sendiri tidak tahu apa yang dimaksud tidak bakal lari, dengan hampa dia mengiakan.

Setelah masuk kota langsung mereka, memasuki sebuah rumah makan yang bernama Ko-siu-lau terus pesan makanan dan minuman Setelah meneguk secangkir arak simaling bintang berkata.

"Ayo gares semua, jangan melamun saja, kita harus memburu waktu!"

Sambil makan bertanyalah Surna Bing.

"Cianpwe, bagaimanakah kejadiannya semalam?"

"Semua terjadi secara kebetulan. Sebetulnya aku simaling tua menuju ke Ngo-bi-san untuk memberi penjelasan tentang penyamaran orang atas dirimu itu-Ternyata sigundul dari Ngo-bi It-hu-cu seorang yang bijaksana dan gampang di-ajak bicara, kiranya dia mau memberi muka kepada simaling itua ini, mencoret perhitungan dalam haitinya atas dirimu itu"

"Untuk kepentinganku sampai Cianpwe susah payah, Wan-pwe ucapkan terima kasih!"

"Tidak perlu, setelah aku turun gunung, ternyata It-hu-cu pimpin tigapuluh anak muridnya yang berkepandaian tinggi menceburkan diri dalam kalangan Kangouw untuk menyelidiki jejak Pek-bin-mo-ong. Kebetulan pihak Siau-lim juga mendapat kabar a'ran munculnya kembali Hwe-hun-koay-hud simurid murtad didalam Bwe-hwa-hwe, maka dibawah pimpinan Ngo-lo mereka hendak membekuk murid durhaka ini, tanpa berjanji sebelumnya dua rombongan ini lantas bergabung menjadi satu"

"Sedang bibimu dan perkampungan bumi berturut2 juga mendapat kisikan dari seseorang. Peristiwa Bwe-hwa-hwe memasang jebakan untuk melenyapkan jiwamu juga sudah mereka ketahui, maka buru2 mereka menyusul tiba pula. Akhirnya mereka mendapat kabar lagi katanya, kau terjebak dan tertawan musuh, waktu mereka tengah memikirkan cara bagaimana harus menolong dirimu, kebetulan rombongan Siau-lim dan Ngo-bi telah tiba dan paling menggirangkan Tio Keh-siok sigadis jelita itu juga ikut datang Dibawah petunjuk Tio Keh-sioklah maka dengan mudah mereka. menerjang masuk kedalam barisan Im-yang-ngo-heng-tin. Peristiwa, selanjutnya kau sudah melihat sendiri!"

"Siapakah orang yang memberi kisikan itu?"

"Go-hiangcu dari Bwe-hwa-hwe, laki2 muka kuning itu!"

"Apa tujuannya dia membantu kita?"

"Siapa tahu!"

Pertanyaan ini mengganjal dalam sanubari Suma Bing, apakah tujuan dan maksud perbuatan Go-hiangcu ini ?

Selama ini Mo-in Siancu tidak muncul, agaknya dia mengalami bencana Tutur simaling bintang lebih lanjut.

"Laki2 muka kuning itu memberikan padaku sebuah peta rahasia, dan sebelum-nya dia sudah merusak beberapa alat rahasia sehingga dengan gampang saja aku memperoleh benda2 pusaka yang telah dikangkangi oleh Loh Cu-gi"

Suma Bing manggut2 tanpa bersuara, namun hatinya tengah membatin, entah dapat atau tidak Cincin iblis dan Pedang darah kelak dapat direbut kembali, Cincin iblis terang berada ditangan Loh Cu-gi sedang Pedang darah berada ditangan Mo-in Siancu.

Apalagi kalau Mo-in Siancu meng di mi bencana, maka jejak Pedang darah itu susah dicari.

Begitulah sambil makan dan ber-cakap2, setelah perut merasa kenyang terus mereka melanjutkan perjalanan lagi.

Saking tak tertahan akhirnya Suma Bing bertanya "Cian-pwe sebetulnya kita ini tengah mengejar siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan Loh Cu-gi si durjana itu,"

Jawaban simaling bintang diluar dugaan Suma Bing, tanyanya menegas.

"Loh Cu-gi? Apa Cianpwe sudah tahu kemana dia pergi?"

"Ada orang yang menunjukkan jalan. Tapi aku sendiri juga belum tahu asal-usul orang ini !"

"Apa mungkin laki2 muka kuning lagi ?"

"Tebakkanmu betul !"

Dalam ber-cakap2 itu mereka tiba di persimpangan jalan lagi, lagi2 simaling bintang mem-bungkuk2 dan celingukkan kian kemari.

Sekali ini Suma Bing turut memperhatikan dan menemukan apa2, matanya mengikuti gerak-gerik si maling bintang yang saat itu telah berhenti di pinggir jalan di hadapannya tampak jajaran batu yang ber-bentuk bunga Bwe, maka tanyanya.

"Inikah yang kau cari?"

"Terhitung kau cerdik, batu besar di depan bentuk bunga Bwe ini menunjukkan arahnya, mari jalan"

Berkobar semangat Suma Bing.

Waktu tengah hari mereka membelok menuju jalanan kecil di alas pegunungan, tak lama kemudian mereka tiba di depan sebuah selat kecil.

Di mulut selat mereka dapati lagi batu2 yang berben-tuk bunga Bwe hanya kalini kurang sebutir batu yang menunccukkan arah itu Kata simaling bintang dengan nada berat dan perihatin.

"Kita sudah tiba ditempat tujuan."

"Didalam lembah ini?"

"Begitulah menurut petunjuk rahasia ini."

Rasa dendam dan sakit hati merangsang deras dalam aliran darah Suma Bing, ujung bibirnya menyinggung senyum ejek yang sinis, dan di belakang senyum sinis inilah tersembunyi sifat kebuasan dengan hawa membunuh yang sadis.

Betapa sudah dia mengharapkan waktu yang sekian lama di-nanti2kan ini.

Batu berserakan tak teratur didalam mulut lembah, pohon2 besar juga tidak kurang banyaknya menambah seram suasana yang sunyi ini.

Setelah saling berpandangan Suma Bing dan simaling bintang mengembangkan ilmu ringan tubuh terus melesat ke dalam lembah.

Mendadak di hadapan sana berkelebat sebuah bayangan terus menghilang.

Gerak Suma Bing secepat kilat, sekali loncat tubuhnya melenting keras terus menubruk tiba.

Agaknya kepandaian orang itu juga tidak lemah, sekali melayang Lima tombak dengan mudah dicapainya terus menghilang kebalik batu.

Sudah tentu Suma Bing tidak rela kehilangan jejak musuh, bagai bayangan setan tubuhnya melenting ketengah udara dari ketinggian inilah dia bergerak setengah lingkaran terus menubruk turun, dimana jarinya ditekuk dan ditutukkan melesatlah angin tusukkan jarinya itu.

Kontan terdengar jeritan keras, bayangan itu jumpalitan dua kali terus roboh diantara himpitan batu.

Waktu Suma Bing hinggap diatas tanah langsung dia jinjing tubuh musuh ini.

Sementara itu simaling bintang juga sudah menyusul tiba.

Kiranya bayangan itu adalah seorang pemuda berwajah halus cakap mengenakan seragam hitam yang tersulam bunga Bwe di depan dadanya, gambar putih bunga Bwe itu kini sudah berlepotan darah!

"Dimana Loh Cu-gi sembunyi?

Katakan !"

Suma Bing mengancam dengan bengisnya.

Tiba2 pemuda seragam hitam itu mengulur jarinya menusuk ke pelipisnya sendiri, Suma Bing sudah tidak keburu mencegah perbuatan yang nekad ini.

Simaling bintang menggeleng kepala, ujarnya.

"Agaknya kunyuk ini adalah pengawal pribadi Loh Cu-gi sendiri."

Suma Bing mendengus dongkol, terus melemparkan clyena-ah pemuda itu, katanya.

"Loh Cu-gi pasti sembunyi di sekitar sini, dan pasti mereka suaah bersiaga mendengar teriakan yang keras tadi. Mari kita harus bergerak cepat."

Sepuluh tombak kemudian sebuah bayangan berkelebat menghilang lagi.

Begitu mengembangkan ginkang masing2 Suma Bing dan simaling bintang berloncatan gesit selincah kera diatas ujung2 batu tanpa mengeluarkan sedikit suara, ketangkasan dan kemahiran yang menakjubkan ini benar2 harus dipuji.

Tatkala itu, ditengahi dinding lembah ada beberapa sorot mata tengah mengmati Suma Bing dan simaling bintang yang tengah berlari lewat.

Itulah sebuah gua yang besar, atau boleh dikatakan sebuah ruangan besar di dalam tanah dikatakan ruangan karena perhiasan dan perabot dalam gua ini sedemikian mewah, mulut atau pintu ruangan ini tertutup oleh alingan batu2 runcing, jadi sebelum dekat tidak gampang dicari atau diketemukan.

Di tengah ruangan seorang tua ubanan mengenakan jubah panjang warna hijau tengah duduk dengan angker di atas korsi kebesaran, kedua sampingnya berdiri tegak tidak kurang lima puluh anak buahnya yang paling setia, tua muda dan tinggi rendah tak teratur.

Seorang laki2 seragam hitam bergegas lari masuk terus berlutut di depan orang tua ubanan itu, serunya.

"Lapor sesepuh, musuh sudah menerobos sampai dasar lembah."

"Sudah tahu, mundur !"

Sepasang mata orang tua ubanan ini memancarkan sorot terang yang menakutkan pandangannya menyapu seluruh para jagoannya yang berdiri tegak itu, suaranya terdengar dingin menciutkan nyali.

"Aneh, Suma Bing si bocah keparat dan simaling bintang cara bagaimana bisa mengejar sampai disini, hanya terpaut langkah depan dan belakang."

Keadaan sunyi mencekam hati, tiada seorang yang bersuara menjawab. Berhenti sebentar suara orang tua ubanan semakin dingin mengancam .

"Diantara kita sendiri pasti ada pengkhianat yang menjadi mata2 musuh !"

Sambil berkata pandangannya menyapu selidik semua hadirin, agaknya dari mereka ini ia hendak mendapatkan siapakah yang telah murtad dan mendurhakai perkumpulan.

Suasana sedemikian hening lelap seumpama jarum jatuh juga bisa terdengar, hampir semua orang dapat mendengarkan jalan pernapasannya masing2.

Pandangan yang tajam satu per satu menatap wajah semua orang, terakhir berhenti diwajah laki2 bermuka kuning, sikap laki2 muka kuning tetap tenang tanpa berubah air mukanya, namun tak urung sinar matanya mengunjuk rasa takut.

Perkataan orang tua ubanan sepatah demi sepatah seta-jam ujung golok.

"Go-hiang-cu, apakah kau adanya?"

Seluruh pandangan semua orang seketika tertuju ke arah laki2 muka kuning yang dipanggil Go-hiangcu itu. Segera laki2 muka kuning menekuk sebuah lututnya sambil berseru lantang.

"Harap sesepuh suka periksa biar betul!"

Orang tua ubanan menyeringai, tanyanya tajam.

"Gohiangcu, waktu kau masuk menjadi anggota, apakah kau pernah baca sepuluh undang2 peraturan besar kita?"

Go-hiangcu mengiakan.

"Apa bunyi nomor tiga?"

"Segala perintah sesepuh harus dijunjung tinggi melampaui segalanya, semua anak murid harus tunduk dan patuh akan perintah ini !"

"Bagus, kalau begitu kau bereskan sendiri jiwamu !"

Laki2 muka kuning berjingkrak berdiri sambil angkat kepala serta mundur berapa langkah. suaranya gemetar membela diri.

"Hamba ada melanggar pantangan apa?'"

"Lebih baik aku salah membunuh seratus dari pada melepas seorang, ini perintah !"

Laki2 muka kuning mundur lagi beberapa langkah.

Dari mulut gua terdengar suara jerit kesakitan yang rendah dan berat, sebuah bayangan orang merangkak bergelindingan masuk kedalam, perkataannya tersenggak di tenggorokannya.

"Lapor sesepuh, musuh............"

Belum habis ucapannya, dua bayangan orang sudah berkelebat masuk ke dalam ruangan, yang datang ini bukan lain adalah Suma Bing dan simaling bintang.

Mendadak orang tua ubanan bergegas bangun sambil menghardik keras.

"Serang dengan sekuat tenaga !"

Seketika terdengar gerungan dan bentakan riuh rendah, angin pukulan ber-gulung2 menerpa ke arah pintu ruangan besar. Suma Bing berteriak keras .

"Serahkan jiwa kalian !" -Membuka langit menutup bumi jurus ketiga dari Giok-ci-sin-kang dilancarkan dengan hebatnya. Gempuran yang dah-syat membuat seluruh ruangan tergetar hebat sehingga terasa tergunjang ganjing. Keadaan dalam ruangan sungguh sangat mengenaskan darah dan daging manusia yang cecel dowel beterbangan keempat panjuru, tiga puluhan musuh yang lihay2 tiada satupun yang masih ketinggalan hidup dengan tubuh yang masih utuh. Dua puluhan orang yang masih hidup juga sudah terkesima dan banyak yang terluka pula, mereka berdiri kesima bagai patung. Sepasang mata Suma Bing ber-kilat2 menyapu pandang keempat penjuru. dia mencari jejak Loh Cu-gi.

"Serang !" -tiba2 orang tua ubanan itu memberi aba2 lagi. Puluhan jago2 yang masih hidup itu setelah melengak dan tertegun terus serempak menyerbu ke arah pintu. Terdengar simaling bintang berseru gelisah.

"Buyung, an-jing tua ubanan itulah!"

Tergerak hati Suma Bing, kedua tangan dipentang dan bergerak sebat sekali sambil melesat masuk ke dalam.

Di mana terdengar jeritan dan teriakan puluhan orang telah melayang jiwanya ditangan Suma Bing.

Mendadak terdengar sebuah suara berkata.

'Loh Cu-gi menyerahlah saja !"

Tanpa merasa Suma Bing terhenyak ditempatnya, orang yang membuka mulut ini bukan lain adalah Go-hiangcu yang berwajah kuning itu.

Pada saat dia terlongong inilah orang tua ubanan ber-gerak turun tangan sekali raih dia cengkram tengkuk laki2 muka kuning lantas mundur mepet ke dinding !

Sementara itu, simaling bintang tengah berkelahi dengan sengit melawan anak buah Bwe-hwa-hwe.

Baru sekarang Suma Bing dibikin terang segalanya, matanya mendelik besar menatap orang tua ubanan itu, desis-nya.

"Loh Cu-gi, hari akhirmu sudah tiba, gunakanlah darahmu untuk menebus dosa2mu !"

Orang tua ubanan perdengarkan gelak tawa yang menusuk telinga, ditengah tawanya, pelan2 dia tanggalkan kedok di mukanya, tampaklah sebuah muka pertengahan umur yang cakap namun mengandung kekejaman yang sadis.

Tidak salah dia bukan lain adalah sesepuh Bwe-hwa-hwe Loh Cu-gi adanya.

Wajah Suma Bing membesi hitam mengandung hawa membunuh yang tebal menakutkan, matanya memancarkan sorot kebencian yang menciutkan nyali, katanya sambil maju setindak.

"Loh Cu-gi, kau harus bersedia menerima pembalasan dari segala perbuatanmu."

Wajah Loh Cu-gi gemetar, gigitnya ber-kerot2.

tiba2 dia ulur jarinya menutuk beberapa jalan darah diatas tubuh laki2 muka kuning.

Ditengah keluhan yang mengerikan terjadilah suatu keanehan, seketika air muka laki2 kuning itu berubah hebat, dalam sekejap mata saja telah berubah menjadi wajah seorang pemuda yang cakap halus.

"Phoa Cu-giok !"

Teriak Suma Bing kaget.

Tanpa merasa dia mundur beberapa langkah, mimpi juga dia tidak sangka bahwa laki2 muka kuning yang dipanggil Gohiangcu ini ternyata adalah penyamaran Phoa Cu-giok, rahasia teka-teki sekian lama ini kini telah terbongkar seluruhnya.

Terang dengan menyamar dan menyelundup ke dalam Bwe-hwa-hwe maksud Phoa Cu-giok adalah hendak membantu usaha Suma Bing.

Apakah perbuatan inilah yang dia katakan kepada Thong Ping dengan istilah kerja bhakti yang mengandung arti demi kesejahteraan masyarakat ?

Sementara itu pertempuran dipintu besar sana sudah selesai, simaling bintang dengan mudah telah membereskan Semua musuh2nya.

Mendadak Phoa Cu-giok tertawa hambar dan berteriak serak.

"Cihu, lekas turun tangan, jangan pedulikan aku!"

"Cu-giok", ujar Suma Bing penuh haru.

"Kenapa kau harus menyiiksa diri?"' Bola-mata Loh Cu-gi berputar, mendadak dia menggembor keras.

"Keparat, sambutlah!"

Sambil bersuara dia angkat tubuh Phoa Cu-giok terus dilempar kearah Suma Bing.

Terpaksa Suma Bing ulur tangan untuk menyambuti tubuh adik iparnya ini.

Menggunakan peluang inilah cepait2 Loh Cu-gi menekan alat rahasia didindmg belakangnya terus menyelinap masuk dan menghilang.

Dari samping simaling bintang memburu tiba merebut tubuh Phoa Cu-g}ok sambil berkata .

"Berikan padaku!"

Phoa Cu-giok berteriak tertekan.

"Jangan kejar, tunggulah dimulut lembah......"

Suma Bing lepas tangan terus melenting keluar gua secepat kylat dia ber-lari2 menuju kemulut selat, dimana dia mencari sebuah tempat untuk menyembunyikan diri dan menanti dengan sabar dan waspada.

Lahirnya dia berlaku tenang, namun hati kecilnya.

bergejolak keras-Betulkah Loh Cu-gi bakal muncul dimulut selat ini seperti yang dikatakan Phoa Cu-giok tadi?

Apa mungkin ruang batu itu hanya mempunyai sebuah jalan rahasia yang menembus keluar dimulut selat ini?

Kalau kali ini sampai dia merat dan melarikan diri lagi, untuk mencarinya lagi pasti sulit dan berabe.

Se-konyong2, jantung Suma Bing berdetak semakin keras.

Sebuah batu besar yang terletak lima tombak dari tempat persembunyiannya itu tiba2 bergerak2 terus pelan2 menggeser kesamping, muncullah sebuah lobang kecil kira2 lima kaki persegi, dari dalam melesat keluar bayangan seseorang.

Bayangan mi bukan lain adalah Loh Cu-gi adanya.

Begitu keluar dari dalam lobang baru saja dia celingukan dan hendak bergerak.

Tiba2 Suma Bing sudah bangkit menyerbu sambil memibentak lantang.

"Loh Cu-gi. sudah lama tuan mudamu menunggu kau disini."

Loh Cu-gi berjingkrak kaget dan tersurat mundur, wajahnya berubah ketakutan, namun matanya memancarkan sorot kebencian yang me-luap2.

Tokoh lihay yang pernah menduduki kursi tertinggi dian kaum persilatan dengan sebutan tokoh silat nomor satu diseluruh jagat pada pertandingan kedua dipuncak Hoa-san, kini mulai ketakutan seperti anjing kepepecang mengkeret mencawat ekor.

Sementara itu Suma Bing sudah melejit tiba dihadapan Loh Cu-gi untuk mencegah dia melarikan diri.

Sekelebatan wajah Loh Cu.gi berubah ungu membeku, tanpa mengeluarkan suara lagi, kedua tangannya diangkat terus rnendorong kedepan.

Sinar merah yang mencorong terang kontan meluncur kedepan.

Sekali serangan ini dia sudah himpun seluruh kekuatan Kiu-yang-sin-kang yang sudah dilatihnya sempurna.

Suma Bing melompat mundur setombak lebih, menyingkir dari serangan dahsyat, matanya dengan tajam mengawasi gerak gerik musuh-Begitu serangannya mengenal tempat kosong.

Loh Cu-gi lantas meloncat mundur sekuatnya kebelakang.

"Lari kemana!" -hal ini sudah menjadi dugaan Suma Bing. maka siang2 dia sudah siaga-Bagai gerakan setan gentayangan Suma Bing berputar terus melejit kearah musuh jurus Bintang menggeser jumpalitan terus diberondong keluar secepat kilat. Dalam gebrak keras lawan keras ini, Loh Cu-gi tersurut mundur lima langkah. Tanpa memberi hati, pukulan Suma Bing merangsak dengan derasnya secara berantai. Seketika terbitlah angin lesus yang membumbung tinggi ketengah angkasa-Dibawah rangsakan Suma Bing yang keras dan hebat ini, Loh Cu-gi menjadi mati kutu dan tak mampu lagi balas menyerang. Saking bernafsu, sekaligus Suma Bmg lancarkan sepuluh jurus empatpuluh delapan pukulan Saking kewalahan akhirnya terpaksa Loh Cu-gi menggunakan cincin iblis yang direbutnya dari Suma Bing tempo hari. Seperti diketahui Cincin iblis adalah benda pusaka yang jarang digunakan milik Lam-sia, betapa kuat dan hebat perbawa sorot sinarnya yang mencorong terang, dalam jarak tiga tombak ketajaman dan keampuhan sorot sinar-nya tidak kalah oleh sembarangan senjata tajam. Mengandal kekuatan latihan Loh Cu-gi sudah tentu perbawanya lain dari yang lain. Suma Bing juga sudah kerahkan seluruh kekuatan Giok-ci-sin-kang untuk berkutat pertempuran sengit berebut antara mati dan hidup terbentang dialam pegunungan yang semak belukar, betapa hebat dan seru pertempuran ini cukup mengejutkan margasatwa dihutan sekelilingnyia. Kedua belah pihak telah kerahkan setaker tenaga masing2-tipu lawan tipu, licik lawan licik, setiap jurus tipu serangan mereka mengandung kekuatan dahsyat yang mematikan. Lima puluh jurus! Seratus jurus dan dua ratus jurus kemudian pancaran sinar cincin iblis Loh Cu-gi semakin guram-Maklumlah dalam mempergunakan cincin iblis sebagai alat senjata harus mengerahkan hawa murni sebagai landasan kekuatannya, kekuatan dan perbawa sinar cincin iblis ini tergantung dari panjang dan kerasnya tenaga murni si-pemakai. Sekejap mata lima puluh jurus telah berlalu lagi-Serangan Suma, Bing bukan lemah malah semakin gencar dan semangat Sebaliknya Loh Cu-gi semakin payah dan terdesak terus sampai kempas kempis. -ooo0dw0ooo-61. SABDA BUDHA MENGAKHIRI CERITA INI. Dua bayangan orang muncul dari balik batu dalam mulut selat sana. Mereka bukan lain adalah simaling bintang yang menggendong Phoa Cugiok yang terluka berat. Se-konyong2 terdengar Suma Bing menggembor keras.

"Roboh!" -sambil kerahkan seluruh tenaganya, dllaiicarkannya jurus Membuka langit menutup bumi. Kontan Loh Cu-gi memekik seram, tubuhnya jungkir balik tergulung oleh angin badai pukulan Suma Bing, demikian hebat pukulan ini. sampai tubuhnya melayang tiga tombak jauhnya, mulut menyemburkan darah dan "Blang"

Dengan kerasnya terbanting diatas tanah. Gembong penjahat nomor wahid dari kaum persilatan ternyata sedemikian tinggi dan dalam Lwekangnya, begitu menyentuh tanah bergegas dia 'bangkit kembali.

"Roboh!"

Lagi2 terdengar hardikan lebih keras, tangan Suma Bing bergerak miring menjojoh tepat kedada lawan.

Loh Cu-gi menyemburkan darah dan terhuyung mundur, akhirnya ia jatuh terduduk tanpa bergeming lagi Suma Bing angkat langkah maju mendekat, wajahnya diliputi kemenangan dan kekejian, desisnya sambil mengertak gigi.

"Loh Cu-gi, hukum alam tak memberi ampun bagimu."

Suara Loh Cu-gi melengking bagai teriak setan, yang setan batuk.

"Bocah keparat, kau puas sudah?"

"Tentu-nanti setelah saat ini sudah lewat."' Loh Cu-gi melolong sedih, tangannya diangkat terus mengepruk kebatok kepalanya sendiri. Sigap sekali jari2 Suma Bing rnenyelentik, dua jalur angin keras melesat keluar. Terdengar keluhan yang memualkan, tangan Loh Cu-gi yang sudah terayun itu seketika lemas semampai, dilain saat sebelah tangannya juga sudah tertutuk lemas.

"Loh Cu-gi, sedemikian gampang kau hendak mengakhiri dosa2mu ?"

"Keparat, apa yang hendak kau perbuat atas diriku?"

"Akan kubikin darahmu habis setetes demi setetes, supaya jiwamu amblas sedetik demi sedetik."

Loh Cu-gi berteriak beringas, tubuhnya mendadak meronta bangun, tapi baru setengah jalan sudah roboh lagi serta menyemburkan darah lagi Suma Bing maju selangkah mencengkram dadanya terus dijinjing tinggi2 Sebuah lolong yang mengerikan, memecah kesunyian alam.

pegunungan, lengan kanan Loh Cu-gi yang mengenakan Cincin Iblis telah dibetot putus dari badannya seperti membetot pupu ayam saja.

Inilah pertunjuk an yang paling seram kejam dan mengerikan.

Dari jari yang sudah putus lengannya itu Suma Bing menanggalkan Cincin iblis miliknya, lalu dia menutuk pundak Loh Cu-i mencegah mengalirnya darah yang sangat deras Nadanya seram menakutkan.

"Loh Cu-gi kau menghina dan mencelakai guru serta, mendurhakai leluhur, lenganmu ini terhitung sekedar sebagai penebus dosa kepada perguruan"

Tubuh Loh Cu-gi berkelejotan, wajahnya pucat pasi tanpa darah. Teriakan yang menggetarkan sanubari dan menyedot semangat terdengar lagi, lengan kiri. Loh Cu-gi telah dipuntir putus pula dan pundaknya.

"Dengar, kau mencelakai Suci Sim Giok-sia, membunuh Tiang-un Suseng Pho Jiang menyebar kejahatan dan, menyebar maut dikalangan Kangouw, dimana2 menimbulkan gelombang pertengkaran dan keributan, kematianmu ini masih belum Cukup untuk menebus segala dosa2mu itu, biarlah lenganmu ini sebagai barang tangggungan"

Kalau dadanya tidak dicengkeram oleh Suma Bing, pasti Loh Cu-gi tidak kuat lagi berdiri sekian lama Sekarang Suma Bing merogoh saku dalam baju orang darimana dikeluarkan sebilah senjata tajam yang berkilau memancarkan sinar dingin, jengeknya.

"Sungguh tak diduga kaupun tidak melupakan membawa cundrik Penembus Dada ini "

Sambil berkata pelan2 tangannya telah diangkat dan serunya dengan nada dingin.

"Loh Cu-gi, hutang darah di puncak kepala harimau dulu, sekarang.."

"Nanti dulu anak Bing!"

Mendengar seruan ini tubuh Suma Bing gemetar, tanpa merasa dia lepaskan pegangannya.

Tubuh Loh Cu-gi limbung dan terhuyung mundur terus roboh tercelentang.

Seorang perempuan setengah umur yang cantik dengan Wajahnya yang membesi beku entah kapan tahu2 sudah ada dibelakang Suma Bing Begitu membalik tubuh Suma Bing segera berlutut dan menjerit dengan, sedih .

"Bu"

Tak tertahan lagi airmata mengalir deras.

"Nak bangunlah ayahmu pasti tahu di alam baka selanjutnya dia bisa tentram dan meram istirahat disana"

Setelah berkata cundrlk penebus dada ditangan Suma Bing dimintanya lalu beranjak kedepan Loh Cu-gi, bentaknya geram.

"Orang she Loh apa kau masih ingat akan cundrik ini, seharusnya kau sudah harus ingat akan hari yang pasti akan datang ini "

Tergetar tubuh Loh Cu-gi, matanya dimeramkan Pelan2 San-hon-li Ong fan-lan menggerakkan cundriknya.

cundrik penembus dada dengan telak menusuk ke dada Loh Cu-gi.

Tak terdengar jeritan sakit, hanya dengusan putus napas yang terdengar seperti keluar dari dalam bumi-Kala jiwa dari seorang gembong sudah padam, ambisi dan ketamakan yang hendak menguasai seluruh dunia persilatan juga ikut lenyap, perkumpulan Bwe-hwa-hwe yang menggetarkan Bulim juga terhapus dari catatan sejarah dunia persilatan.

Simaling bintang dan phoa ciu-giok terkesima tanpa berbicara menonton adegan yang seram dan mengerikan ini.

Tanpa mencabut kembali cundriknya dia memutar tubuh seluruh tubuh berkeringat dan menggigil.

Wajahnya tenang dan wajar seperti murid sang Budha yang saleh.

"Bu"

Panggil Suma Bing senggugukkan "Nak."

Ujar San-hon-li Ong Fang-lan sambil menepuk pudaknya, suaranya tenang .

"Baiklah jaga dirimu, Ibu mendoakan kebahagianmu."

Tergetar perasaan Suma Bing. Katanya.

"Bu' sejak saat ini anak akan selalu mendampingi kau."

"Tidak nak, kau mempunyai jalan hidupmu sendiri kuharap kau berani menyelusuri jalan itu, sampai ujung pangkalnya. Ibu mengucap selamat bertemu kembali...."

Suma Bing menggerung nangis seperti anak kecil, ujarnya sedih.

"Bu, kau........"

Ong Fan-lan tersenyum pahit, menyela perkataan Suma Bing.

"Nak, kau sudah besar dan dewasa, sudah tentu kau harus memahami maksud ibumu. Ibumu adalah seorang Yang sudah berdosa, dosa ini akan kubawa masuk keliang kubur. Sebelum nyawaku ini sampai titik penghabisan, aku ingin dengan tenang merenungi dan menebus dosa ini-Nak, selamat bertemu, jangan terlalu banyak kata, ibu maklum isi hatimu .........."

Habis berkata dengan ringan seakan mengembang laksana awan tubuhnya melayang pergi........

"Bu!"

Pekik Suma Bing dengan sedihnya.

Ingin dia mengejar dan baru saja badannya bergerak, sebuah bayangan tahu2 sudah menghadang dihadapannya.

Dia bukan lain adalah simaling bintang Si Ban-cwan yang sejak tadi menonton diam di pinggir.

Dia memanggil diluar kebiasaan, katanya serius.

"Suma Bing, kau tidak boleh......"

"Cianpwe, apanya yang tidak boleh?"

Senggak Suma Byng sambil sesenggukan.

"Ya, ikutlah ibumu pergi, kalau kau tidak ingin lagi bertemu dengan ibumu kelak."

"Ini, kenapa?"

"Pasti kau belum lupa bahwa ibumu dulu pernah ternoda oleh Loh Cu-gi, hal itu merupakan noda hitam yang tak dapat dihapus dalam sanubarinya dan takkan terlupakan selama hidupnya. Jangan kau memaksa dia. kalau tidak kau dapat membayangkan akibatnya."

Baru sekarang Suma Bing tersedar dan bercekat hatinya, katanya.

"Terima kasih akan petunjuk Cianpwe ini."

"Kuucapkan selamat akan usahamu yang berhasil menuntut balas ini"

"Bantuan Cianpwe yang besar dan berharga itu selamanya Wanpwe takkan melupakan."

"Urusan kecil simaling bintang bekerja hanya untuk menentramkan hati kecilnya. tak perlu banyak dipersoalkan Setelah segala urusan selesai apakah kau hendak kembali ke Perkampungan bumi?"

"Wanpwe masih ada satu urusan yang belum, selesai.'"

"Urusan apa?"

"Masih ada seorang musuh besar yang ikut pengeroyokan dalam peristiwa dipuncak kepala harimau itu belum kucabut nyawanya"

"Siapa?"

"Thi-koan-im Lim Siang-hiang !"

"Dia juga ikut?"

Seru simaling bintang terkejut mendelik.

"Apa kau tahu dimana sekarang Thi-koan-im berada?"

"Apa Cianpwe tahu jejaknya?"

"Secara kebetulan saja Lohu ketahui, siluman yang jaya dan malang melintang dulu, kini sudah menjadi pemeluk agama yang saleh"

"Apa. jadi dia sudah mencukur gundul menjadi pendeta?"

"Tidak salah!'"

"Dapatkah Cianrwe memberi petunjuk, dia berada...."

"Dia berada di Pek-jio-gay Yok-cu-am. Jauhnya kira2 tiga hari perjalanan."

"Terima kasih akan petunjuk ini"

"Cihu!"

Panggilan yang serak dan lemah berat ini membuat Suma Bing tersentak kaget, hampir saja dia lupa bahwa dihadapannya masih ada Phoa Cu-giok, pemuda yang sudah insaf akan kejahatan2 yang telah diperbuatnya dulu.

Jikalau Phoa Cu-giok tidak menyamar dan menyelundup kedalam Bwe-hwa-hwe, pasti tidak sedemikian gampang dan lancar dia dapat menunaikan tugasnya dalsm menuntut balas ini.

Maka segera dia maju bertanya .

"Cu-giok. bagaimana lukamu?"

Phoa Cu-giok tertawa getir, ujarnya.

"Lwekangku sudah punah seluruhnya"

"Apa, jadi Loh Cu-gi telah melenyapkan seluruh kepandaianmu ?"

"Ya, waktu dia. melemparkan tubuhku, sebelumnya telah menutuk jalan darahku"

Saking gegetun Suma Bing menggigit gigi sampai berkereyotan. katanya sungguh2.

"Cu-giok, penderitaanmu ini oleh karena aku, selain aku merasa menyesal aku bersumpah akan membantumu sekuat tenaga untuk memulihkan Lwekangmu lagi."

"Cihu, tidak perlu lagi......"

"Kenapa?"

"Orang macamku ini, seharusnya siang2 sudah mati!'' "Cu-giok, orang lang sudah insaf masih dapat diampuni, dialami baka pasti cici mersa terhibur dan meram."

"Budi cici terhadapku, mati seratus kali juga. belum menampilli seperseribu kebaikannya."

"Cu-giok, yang sudah silam tak perlu disinggung lagi."

"Cihu, hanya untuk menebus dosa2ku itulah maka aku menyelundup kedalam Bwe-hwa-hwe, kupikir, kalau cici tahu dialam baka, pasti dia senang melihat sumbangsihku ini sebetulnya aku dapat menggunakan racun. tapi bila teringat kau harus menuntut balas dan membunuh dengan tanganmu sendiri........"

Suma Bing terharu, tenggorokannya tersumbat dan hidung terasa kecut, hampir saja dia mengalirkan airmata lagi-Entah apa yang tengah dipikirkan Phoa Cu-giok terlongong2 mendongak memandangi langit lama dan lama kemudian batu bersuara pula.

"Cihu, kuminta kau mengiringi aku pergi Su-cwan barat kerumah keluarga Thong Ping!"

"Betul, kau harus pergi melihat Thong Ping serta putrinya. dia seorang wanita yang welas asih dan budiman, pasti dia dapat memaafkan segala kesalahanmu dulu"

"Semoga begitu,"

Sahut Cu-giok sambil tunduk.

"Cihu mari kita berangkat."

Suma Bing berpikir sebentar lalu sahutnya.

"Baiklah!' lalu dia berputar mencabut cundrik penembus dada dari ulu hati Loh Cu-gi setelah menyeka noda darah terus diselipkan dipinggangnya, dengan tajam dia awasi jenazah Loh Cugi dan katanya.

"Loh Cu-gi. serigala dan binatang alas akan membereskan badanmu yang kotor ini."

Simaling bintang meng-geleng2 sambil menghela napas panjang ujarnya getol.

"Suma Bing selamat bertemu kelak, Lohu juga harus pergi."

Sumo Bing merasa berat berpisah, katanya.

"Cianpwe hati2lah sepanjang jalan, kalau ada senggang harap mampir dan berkumgul di Perkampungan bumi."

Tanpa bersuara lagi, simaling bintang menggerakkan tubuhnya yang tromok bundar seperti bola, sekejap saja bayangannya sudah hilang dari pandangan mata.

Dua hari kemudian Phoa Cu-giok serta Suma Bing sudah sampai diatas sebuah bukit kecil diluar perkampungan Thong-keh-kip di Sucwan barat.

Kiranya bukit ini merupakan pekuburan bagi keluarga perkampungan Thong-keh-kip itu, sambil mengerut kening Suma Bing bertanya.

"Cu-giok, apa yang hendak kau lakukan disini, bukankah hendak menilik Thong Ping......."

Segera Phoa Cu-giok menunjuk sebuah kuburan yang agak besar dan berkata.

"Cihu inilah tempat istirahat ibu mertuaku."

Suma Bing melenggong, hatinya giris.

"Cihu, terima kasih akan kesudianmu berkunjung kemari sejauh ini. Aku ada satu permintaan harap kau suka memberi muka kepadaku !"

"Permintaan apa?"

"Thong Ping seorang yang harus dikasihani, putrinya juga masih bayi, kuharap kau suka membantu mengawasi, kuminta kau suka memberi kabar kepada guruku.........."

Suma Bing kuatir, tanyanya gugup.

"Apa maksudmu ini?'' "Phoa Cu-giok seorang yang paling berdosa di dunia ini masi ada muka aku hidup terus........."

"Cu-giok, janganlah kau mensia2kan pengharapan cicimu, dan yang terpenting pertanggungan jawabmu kepada Thong Ping ibu beranak.........."

"Cihu. sedikit kesalahanku sehingga aku membunuh ibu mertua pasti Thong Ping selamanya tidak akan memberi ampun kepadaku, memang hakikatnya juga tidak bisa dimaafkan. Beruntung keluarga Phoa sudah ada kuturunan. arwah cici pasti tidak menyesal lagi.'' "Cu-giok, janganlah kau lakukan perbuatan bodoh ini."

"Cihu, terhadap kau, aku juga menyesal dan bertobat, biarlah aku mati untuk menebus kesalahanku itu!"

"Cu-giok..........................."

"Aku akan minta pengampunan dulu kepada ibu mertua................."

Sambil berkata dia menubruk maju terus terkapar di depan kuburan.

Suma Bing merasa kaki tangannya membeku linu, keringat dingin membasahi tubuh, mimpi juga tidak terduga olehnya Phoa Cu-giok benar2 senekad ini, waktu diraba denyut nadinya ternyata napasnya sudah berhenti, selain menggunakan racun.

dia tak berhasil mencari pangkal kematian Phoa Cu-giok yang sedemikian cepatnya.

"Mungkin dia yang benar, dosanya terlalu besar, seumpama hidup terus juga akan sengsara dan menderita seumur hidup. Ah, sungguh kasihan Thong Ping dan anaknya."

Demikian Suma Bing menggumam sendiri.

Manusia itu tetap manusia, dia rnempunyai perasaan dan mempunyai pikiran, tak tertahan lagi Suma Bing mencucurkan air mata tanda ikut berduka cita.

Phoa Cu-giok pernah berkata kelak akan memberikan pertanggungan jawabnya kepada Thong Ping, inikah pertanggungan jawabnya?

Pada saat itulah sebuah bayangan tengah berlari terbang mendatangi, dia bukan lain adalah Thong Ping istri Phoa Cu-giok yang ditinggal pergi.

"Surna Siauhiap!"

"O, nona Thong !"

"Dia...................................."

"Dia sudah mati,"

Kata Suma Bing pilu.

"Dia membunuh diri untuk menebus kesalahannya dan minta pengampunan terhadap ibumu."

Wajah Thong Ping berubah pucat, sambil menjerit panjang dia menubruk jenazah Phoa Cu-giok terus menangis menggerung2.

Lama dan lama kemudian baru Thong Ping menghentikan tangisnya.

Baru sekarang Suma Bing ada kesempatan membuka mulut.

"Nona Thong, aku tahu kau tetap mencintainya, tapi, memang hanya itulah jalan satu2nya yang harus dia tempuh."

Thong Ping berusaha menekan perasaannya, sambil menyeka air mata dia berkata.

"Suma Siauhiap apa yang dapat kukatakan. Dia adalah kekasihku, ayah dari anakku, tapi dialah musuh besarku yang membunuh ibuku !"

"Nona, biarlah sang waktu menghanyutkan semua ini, biar rasa kebencianrnu ikut terkubur karena kematiannya, berikanlah rasa cintamu dan alihkan kepada anakmu serta keturunannya.......................

"Benar, aku pasti dapat!"

"Sebelum ajal dia berpesan supaya aku mengawasi hidup kalian dan memberi bimbingan kepada putrinya. Dia adalah adik iparku sudah tentu tugas ini harus kupikul juga. Sekarang aku masih ada urusan penting menanti penyelesaian, setelah semua urusan dapat kubereskan pasti aku kembali kesini untuk mengatur hidup kalian ibu beranak selan-jutnya."

"Suma Siauhiap. budimu ini kutanam dalam sanubariku, aku hidup tentram dan senang ditempat ini, tak usah........."

"Itu kelak kita bicarakan lagi, sekarang yang terpenting urus dulu jenazah Cu-giok."

"Biarlah nanti aku yang mengurus penguburannya. Suma Siauhiap masih ada urusan silakan kau melaksanakan tugasmu."

Agak lama Suma Bing menimbang, akhirnya berkata.

"Kalau begitu terpaksa aku berangkat dulu. Dalam setengah bulan pasti aku sudah kembali kemari."

"Silakan Siauhiap!"

Dengan rasa berat Suma Bing meninggalkan Thong Ping langsung menuju ke Pek-jio-gay.

Menurut keterangan si maling bintang, Thi-koan-im Lim Siang-hiang telah mencukur rambut menjadi pendeta di biara Yok-cuam di bukit gajah putih.

Inilah musuh terakhir yang harus dibunuhnya juga.

Bukit gajah putih menjulang tinggi di selatan sungai Tiangkang, dinamakan bukit gajah putih karena bentuknya seperti gajah juga batu2nya berwarna putih seperti seekor gajah yang sedang mendekam.

Di puncak bukit di dalam hutan rimbu itu letak biara Yok-cu-am yang berdinding merah dan berbenteng batu putih.

Tatkala itu sang surya baru saja muncul dari peraduan-nya, kabut masih tebal dipuncak bukit, namun sepagi itu didepan pintu biara Yok-cu-am datanglah seorang pemuda berwajah ganteng bermuka dingin membesi tanpa emosi.

Tidak perlu banyak kata., pendeknya pemuda ini bukan lain adalah Suma Bing yang meluruk tiba hendak menuntut balas-Tiba2 terdengar gema genta ber-talu2, lantas terdengar ke-lintingan serta sabda Budha dan mantram yang halus merdu, suasana yang tentram dan tenang mi menghilangkan segala perasaan kesal dan hawa nafsu.

Demikian juga Suma Bing terlongong sekian lama tenggelam dalam renungannya, hilang lenyap segala kemurkaannya.

Tapi bagaimana juga, tekadnya hendak menuntut balas tak dapat digoyahkan bergegas dia melangkah kedepan pintu terus mengetok pintu biara dengan gelang tembaga-Setelah terdengar derap langkah ringan dari sebelah dalam, baru dia tarik kembali tangannya-Dilain saat pintu biara terpentang mengeluarkan suara, berkereyotan, seorang nikoh muda belia berdiri diambang pintu, begitu melihat wajah sang tamu.

kontan berubah airmukanya, saking kejut sampai dia mundur berapa langkah, cepat2 kedua tangan jrangkapkan terus bersabda,.

"Omitohur selamat pagi Sicu. harap maaf bahwa biara kita tidak menerima tamu pria......"

Sampai ditengah jalan tiba2 suaranya terhenti. Dua pasang mata saling tatap dengan tajam. wajah masing2 berubah ber-ulang2. Suma Bing berkeluh dengan sedihnya.

"Adik Hun!"

Kiranya nikoh muda belia ini bukan lain adalah Siang Siau hun yang telah lari pergi setelah melukai Phoi Kin-sian tempo hari-Bahwa ternyata akhirnya Siang Siau-hun mencukur rambut dan menjadi pendeta dibiara Yok-cu-am ini.

mimpi juga tidak tersangka oleh Suma Bing.

Siang Siau-hun menundukkan kepala, suaranya hampir tak terdengar.

"Pinni berjuluk Liau In!"

Perih rasa hati kecil Suma Bing seperti ditusuk2 jarum, pengalaman yang lalu segera terbayang didepan mata.

Siang Siau-hun adalah kekasihnya yang pertama.

Didalam kuil bobrok itulah mereka bercuman dan mengikat janji pertama kalinya, secara terang2an dia pernah melimpahkan perasaan seorang gadis remaja yang baru tumbuh dewasa, dia pernah berjanji untuk sehidup semati sampai akhir jaman......

Waktu dirinya keracunan Pek-jit-kui oleh racun berbisa Tangbun Yu, Siang Siau-hun juga pernah bersumpah untuk menyertainya keliang kubur.

Tatkala jiwanya sudah tergantung dibibir jurang kematian, juga Siang Siau-hun pernah rela mempersembahkan segala miliknya termasuk kesuciannya.

Semua pengalaman yang lalu satu persatu terbayang di-depan matanya.

akhirnya Suma Bing menghela napas dan ujarnya.

"Adik Hun, kenapa kau........"

"Pinni sudah menjadi seorang pendeta, harap sicu memanggil gelaranku saja."

Inilah ucapan yang dikatakan dari mulut kekasihnya yang pernah bersumpah sehidup semati.

Bagi yang sudah mensucikan diri.

apa benar segala sesuatu miliknya harus ikut dikuburkan?

Akhirnya Suma Bing tertawa, tawa yang getir, tawa ejekan bagi hidup mana yang harus mengilami penderitaan gelombang "Adik Hun kematian Pho-Kin-sian bukan karena kesalahanmu.

buat apa kau sedemikian tega menyiksa dirimu, kenapa kau memilih jalan ini?

Adik Hun.

ini bukan perbuatan .-seorang cerdik..."

Kepala Siang Siau-hun ditundukkan semakin rendah, jubahnya yang gondrong dan tebal tampak gemetar berdesir. Dengan sedih Suma Bing menelan air liur, katanya pula.

"Adik Hun apakah semua ini sudah terlambat?"

Mendadak Siang Siau-hun angkat kepala sepasang matanya berlinang airmata namun sskapnya tenang dan serius, ujarnya sesenggukan.

"Sicu, Pinni sudah bertekad menjadi murid sang Buddha yang saleh untuk menghimpas segala dosa dan akibat. Harap Sicu tidak menanam dosa lagi diatas tubuhku-"

Perasaan Suma Bing semakin dingin sampai jantungnya terasa membeku, ujarnya sambil tersenyum ewa.

"Adik Hun, semua kejadian dalam dunia ini memang sulit ditentukan sebelumnya, tiada sesuatu yang abadi dalam dunia fana ini, memang kaulah yang benar, aku minta maaf......"

"Omitohud! Kedatangan Sicu ini adalah....'' Bercekat hati Suma Bing. segera, tekad lain melenyapkan segala keraguanrrya. katanya dengan nada berat.

"Apakah gurumu ada didalam?' "Tengah sembahyang pagi!' "Apakah julukan gurumu sebelum menjadi pendeta adalah Thi-koan-im Lim Siang-hia,ng?"

"Benar, jadi kedatangan Sicu ini adalah hendak menuntut balas pada peristiwa delapanbelas tahun yang lalu itu?"

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing, sahutnya mengertak gigi.

"Benar!"

"Karena insaf dan menyesal sebab perbuatan2 dosa pada masa yang lalu, maka beliau masuk menjadi murid sang Budha. Pernah berapa kali beliau mengatakan selalu menunggu kedatangan Sicu ini !'' Lagi2 Suma Bing tergetar kaget hatinya merasa sesuatu yang susah dikatakan. Baru sekarang terpikirkan olehnya. bagi kaum persilatan hidupnya selalu dilembari bayangan pedang dan warna darah, apakah sepakterjangnya sendiri tidak keterlaluan. Hanya karena kematian ayahnya seorang, entah sudah berapa banyak jiwa dan darah mengalir karenanya. Tapi pikiran ini hanya, berkelebat sebentar saja dalam benaknya. Dendam masih menjaiari seluruh tekad bajanya maka dengan pandangan menyesal dia pandang Liau In sebentar lalu melangkah masuk kedalam biara. Bangunan biaran ini tidak besar, hanya terdapat sebuah ruang sembahyang di tengah yang saat itu penuh diselubungi asap dupa yang ber-gulung2 ke tengah angkasa. Penerangan api lilin berkelap-kelip, denting kelintingan masih terdengar nyaring diselingi suara mantram yang berirama halus. Tampak seorang nikoh setengah baya mengenakan jubah yang terbuat dari kain ungu kasar tengah berlutut diatas kasur bundar, sikapnya tenang angker. Suma Bing terhenyak ditempatnya, suasana yang tenang angker dan damai ini menyebabkan tekadnya yang besar membekal hawa membunuh tak kuasa lagi diungkat keluar. Nikoh tua itu meneruskan tembang mantramnya tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. B e r g e g a s L i a u I n j u g a I k u t m a s u k k e d a l a m r u a n g s e m b a h y a n g i n i , d i a b e r d i r i t e g a k h i d m a t d i p i n g g i r a n , w a j a h n y a w a j a r t a n p a e m o s i s e p e r t i s e b u a h p a t u n g b a t u .

"Apa dengan tingkahnya yang bertakwah ini lantas nikoh tua ini dapat menghapus hutang darahnya?"

Karena pikirannya ini timbullah nafsu membunuh Suma Bing, kepala diangkat dia merogoh keluar cundrik penembus dada yang terselip di ikat pinggangnya.

Bersamaan dengan itu, nikoh tua juga kebetulan selesai menjalankan sembahyangannya, setelah menutup kitab suci per-lahan2 dia bangkit dari kasur bundar itu lalu berputar menghadapi Suma Bing, sikapnya wajar dan tenang.

Katanya dengan nada halus dan damai.

"Agaknya Siau-sicu ini adalah keturunan Suma Hong Sicu bukan?"

"Benar !"

"Dulu karena ketamakan Pinni sehingga menanam akibat ini, seperti apa yang dikatakan; menanam kat yang mendapat kat yang menanam semangka mendapat semangka, pelajaran kita mengutamakan adanya hukum karma dan ada sebab pasti ada akibat. Maka silakan Siau-sicu segera turun tangan !"

Habis berkata dia duduk kembali diatas kasur bundar itu, dari mula sampai akhir wajahnya tidak menunjukkan emosi apa-apa.

Enteng sekali Suma Bing melejit kehadapan nikoh tua ini, cundrik ditangannya sudah diayun tinggal menusukkan ke ulu hati nikoh tua ini.

Sikap nikoh tua ini agaknya acuh tak acuh sampai alisnya juga tidak bergerak.

Waktu ujung cundrik Suma Bing terpaut satu senti di depan ulu hati nikoh tua terasa tangannya mulai gemetar, rona wajahnya sukar ditentukan perobahannya Bagi seorang tua yang sudah insaf dan rela bertobat di hadapan Tuhan, betapapun dia tiada keberanian lagi menusukkan senjatanya ke tubuh orang.

Mendadak dia menjadi lemah mungkin pula sekarang dia sendiri juga sadar dan insaf bahwa dosa yang ditanamnya juga terlalu berat, meskipun tujuannya itu adalah menuntut balas, tapi semua ini tidak akan terampunkan dan menyalahi wet Tuhan?

Wajahnya semakin guram hilanglah angkara murka yang menyesatkan pikirannya.

Dia keluarkan buku daftar catatan terus dibakar dengan api lilin, sekejap saja buku itu telah habis terbakar menjadi abu, setelah menghela napas panjang dia berpaling kepada Liau In serta katanya.

"Adik Hun, inilah untuk penghabisan kali aku memanggilmu, sekarang aku pergi!"

Muka Liau In gemetar, sikapnya tidak tenang lagi, sedekian pucat menakutkan, mulutnya sudah bergerak namun ditelannya kembali, sampai terakhir baru tercetus suaranya yang lirih.

"Maaf Pinni tidak mengantar !"

Suma Bing merasa hatinya kosong dan hampa, pelan2 dia berjalan keluar, langkahnya terasa sedikit limbung.

Setelah berada diluar biara, dari puncak bukit dipandang-nya air sungai Tiangkang yang mengalir bergelombang, mendadak tangannya terayun dia lempar cundrik penembus dada itu kedalam sungai dan sebentar saja lenyap ditelan ombak, kini semua sudah berakhir dan tammat !

"Dik !"

Pada saat itulah mendadak terdengar helaan napas sedih di belakangnya.

Suma Bing terperanjat dan berpaling ke belakang, hampir saja dia tidak percaya akan pandangannya, entah kapan tahu2 Mo-in Siancu Phoa Kiau-nio sudah berdiri di belakangnya, justru yang mengherankan kini wajahnya sudah kehilangan sifat2 genitnya yang menggiurkan itu.

Suma Bing berseru penuh haru .

"Cici !"

"Dik, pertemuan kita ini memang jodoh. namun hampir saja aku berdosa karena pertemuan ini. Ketahuilah aku seorang perempuan yang sudah lanjut usia, karena sebutir buah saja sehingga aku tetap kelihatan remaja. Biarlah pertemuan kita akhiri sampai disini. Pengurus biara ini adalah Sumoayku. Sejak saat ini dikalangan Kangouw selamanya tidak akan terdengar nama Mo-in Siancu lagi."

Sampai disini dia merandek lalu mengeluarkan sebuah benda serta katanya lagi.

"Inilah Pedang darah, kukembalikan kepadamu."

Suma Bing menyambuti sambil mengangsurkan seruling batu giok juga, katanya.

"Cici seruling ini juga milikmu silakan kau ambil kembali."

"Dik simpanlah saja sebagai kenang2an, aku tak perlu menggunakan lagi."

Dari dalam biara masih terdengar tembang mantram yang halus tenang dan damai.

Sambil mengangguk dan tersenyum simpul, pelan2 Mo-in Siancu mengundurkan diri.

Dia tidak mengucapkan selamat berpisah.

Mulut Suma Bing menggumam entah apa yang diucap-kan.

Di lain saat dia sudah ber-lari2 kencang turun dari bukit gajah putih.

T A M M A T

Baca Juga: Kisah Sepasang Naga 2

Baca Juga: Jago Pedang Tak Bernama 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert