Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 3

Eps 3 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

Bentak Ketua Bwe hwa hwe dan dengan kecepatan yang paling cepat tubuhnya mendesak maju sambil kirim serangan masing2 menghantam kearah dua bayangan yang menubruk kearah Tang mo.

Kontan terdengar suara jeritan ngeri dua bayangan manusia itu terhantam terbang kekanan kiri sejauh setombak lebih, setelah kelejetan beberapa kali akhirnya diam tak bergerak untuk se-lama2nya.

Kiranya bayangan orang yang mati itu seorang adalah Tosu dan yang lain adalah seorang tua berpakaian baju sutera abu2.

Suara si orang berkedok gemetar.

"Kepandaian Ketua Bwe hwa hwe benar2 mengejutkan, Sam Gan Tojin dan Tiong ciu it ok bukan kaum keroco, siapa tahu setengah jurus saja tak kuat melawan."

Menyaksikan adegan pertempuran hebat ini kecut hati Suma Bing, naga2nya semua tokoh yang hadir tiada seorangpun yang menjadi tandingan ketua Bwe hwa hwe.

Dan semua hadirin kecuali anak buah Bwe hwa hwe tiada yang tak tergetar kaget dan ciut nyalinya.

Dengan pandangan dingin ketua Bwe hwa hwe menyapu pandang keempat penjuru seolah2 dia hendak berkata, siapa lagi yang berani turun tangan biar kubikin mampus.

Lalu dengan nada penuh ejek ia berkata kepada Tang mo.

"Tuan sebagai salah satu dari Bu lim su ih mengapa pandanganmu sedemikian cupat?"

Tang mo mendongak dan mengeluarkan suara tawa kecut, lalu dari dalam bajunya dikeluarkan sebilah pedang kecil sepanjang satu kaki.

"Pedang darah!"

Seru Suma Bing sambil bangkit berdiri.

"Kau hendak apa?"

Tanya si orang berkedok sambil menarik tangannya.

"Pedang darah itu tidak akan kubiarkan terjatuh ketangan ketua Bwe hwa hwe!"

Se-konyong2 dari sebelah belakangnya terdengar sebuah suara halus tapi dingin kaku berkata.

"Legalah hatimu, dia takkan berhasil!"

Suma Bing dan si orang berkedok terkejut bersama, orang bicara begitu dekat tanpa diketahui kapan dia datang.

Waktu mereka berpaling tampak dipinggir sebuah batu besar sejauh dua tombak berdiri tegak seorang wanita berwajah ayu jelita, sanggul rambutnya dihiasi penuh mutiara yang berkemilau ditimpa sinar bintang2.

Sekilas Suma Bing mengamati wanita itu lalu berpaling lagi mengawasi gelanggang pertempuran.

Tatkala itu, sorot mata semua hadirin tengah terbelalak memandang kearah pedang kecil ditangan Tang mo itu, suasana gaduh segera sirap menjadi hening lelap seumpama jarum jatuhpun dapat terdengar, se-olah2 pernapasan semua orang terhenti seketika.

Wanita ayu penuh hiasan itu berkata lagi memecah kesunyian.

"Tuankah yang bernama Suma Bing?"

Suma Bing melengak, membalik tubuh ia menyahut.

"Ya, tidak salah."

"Kau murid Sia sin Kho Jiang?"

"Benar harap tanya..."

Se-konyong2 terdengar seruan kaget riuh rendah dalam gelanggang pertempuran disusul sebuah lolong jeritan yang mengerikan.

Cepat2 Suma Bing memutar balik, kini bayangan Tang mo sudah tidak kelihatan lagi olehnya, Pedang darah itupun terlempar jatuh ditengah gelanggang, disamping Pedang darah itu rebah sesosok mayat manusia.

Ber-ulang2 ketua Bwe hwa hwe perdengarkan tawa dingin, lalu serunya lantang.

"Masih ada kawan siapa lagi yang ingin mengambil pedang kecil ini?"

Berulang tiga kali ia bertanya tanpa penyahutan atau reaksi apapun.

Maka segera ia melangkah maju membungkuk tubuh mengulur tangan hendak menjemput Pedang darah itu.

Pada detik sebelum tangan ketua Bwe hwa hwe menyentuh Pedang, se-konyong2 sejalur gelombang angin menggulung kearah Pedang darah itu hingga terkisar satu tombak lebih.

Ketua Bwe hwa hwe melengak dan cepat2 angkat kepala tanpa tertahan ia berseru kejut dan katanya.

"O, kau tuan?"

"Ya, tak duga kita berjumpa lagi tanpa berjanji sebelumnya, hehehehehe..."

Orang yang baru muncul ini kiranya adalah manusia serba hitam termasuk pakaian dan kulit tubuhnya, ditengah kegelapan malam yang mendatang ini rupa dan bentuk tubuhnya itu sungguh menyeramkan dan menakutkan.

Kontan semua hadirin tergetar kaget dan ber-tanya2 siapakah gerangan manusia aneh ini.

Si orang berkedok menyentuh tubuh Suma Bing serta berbisik.

"Apa kau tahu siapakah manusia aneh itu?"

"Tidak tahu!"

"Dialah Tok tiong ci tok!"

"Jadi inilah manusia yang menggunakan Racun tanpa bayangan membunuh adik Siang Siau hun dan Li Bun siang itu? Hm, biar segera kutempur dia."

"Jangan kesusu, nantikanlah bagaimana ketua Bwe hwa hwe hendak menghadapinya!"

Terdengar Racun diracun tertawa aneh, katanya.

"Hwe tiang. Bukankah kau tadi mengatakan benda keramat itu tiada pemiliknya, siapapun yang melihat mendapat bagian?"

Ketua Bwe hwa hwe tertawa lebar, sahutnya.

"Ya, memang aku pernah berkata begitu, apa tuan juga ada minat untuk merebut benda keramat itu?"

"Kalau ada bagiannya sudah tentu aku tidak menyia2kan kesempatan ini."

"Tuan jangan lupa semua kawan yang hadir juga setujuan dengan kita."

Sinar tajam mata Racun diracun menyapu pandang acuh tak acuh keempat penjuru, akhirnya sinar matanya berhenti pada tubuh Pek hoat sian nio, katanya.

"Apa Sian nio juga ada minat turut merebut?"

Tidak menjawab Pek hoat sian nio berbalik tanya.

"Tuan ini siapa?"

"Aku yang rendah Racun diracun!"

"Racun diracun!"

Seru Sian nio sambil manggut2 berarti diapun ikut berminat.

"Masih ada kawan siapa lagi yang ingin ikut?"

Seru Racun diracun lantang dengan angkuh dan congkaknya.

Semua diam tiada yang memberi reaksi atas tantangan itu.

Gesit sekali bagai terbang Racun diracun berlari memutari Pedang darah satu lingkaran terus tertawa menyeringai seram sembari berkata.

"Biar aku terus terang, bahwa disekeliling Pedang darah itu sudah kutaburi racun Sam pou to (roboh tiga tindak), sedikit saja kalian terkena racun dalam tiga tindak saja pasti kalian akan roboh binasa, siapa diantara kalian yang tidak percaya ingin mencoba? marilah kupersilahkan..."

Belum habis ucapannya sebuah bayangan manusia secepat kilat menubruk tiba didalam arena, si pendatang baru ini kiranya adalah seorang pemuda berusia 20-an berwajah cakap ganteng.

Berbareng Pek hoat sian nio dan Ketua Bwe hwa hwe berseru heran pandangan mata mereka penuh selidik dan tanda tanya kearah pemuda yang datang tanpa diundang ini.

Kedatangan si pemuda inipun diluar dugaan Racun diracun, tanyanya mendelik.

"Siaucu, siapa kau?"

"Akulah Suma Bing!"

"Murid Lam sia?"

"Ada apa kau datang kemari?"

"Mengambil pedang!"

"Kalau kau sudah bosan hidup silakan coba."

Sejak menelan rumput ular serta buahnya sekalian tubuh Suma Bing sudah kebal akan segala bisa, maka dengan congkak dan dinginnya ia menyahut.

"Hm, hanya racun mainan dapat mengapakan aku!"

Sembari berkata dengan langkah lebar ia menghampiri kearah Pedang darah.

Seketika semua sorot mata dengan nanap kesima mengawasi gerak gerik Suma Bing, masa benar2 dia tidak takut racun?

Setindak, dua tindak, tiga tindak; segera ia membungkuk menjemput Pedang darah itu...

Tiga bayangan secepat burung terbang melesat keluar dari kalangan para penonton terus menubruk kearah Suma Bing...

Baru saja kaki mereka menutul tanah dan hendak melompat lagi mendadak mereka pentang mulut lebar dan berteriak panjang mengerikan, tubuhnya juga lantas roboh terbanting diatas tanah tanpa bergerak lagi mati!

'Tiga tindak roboh' kiranya bukan omong kosong belaka, benar2 boleh dianggap racun berbisa paling lihay dan berbahaya diseluruh kolong langit.

Sementara itu, sepasang bola mata Racun diracun yang banyak putih dari hitamnya menyorongkan sinar berkilat menatap Suma Bing, sungguh dia tidak habis mengerti dalam mimpipun dia takkan menduga bahwa Suma Bing ternyata kebal terhadap racun bisanya.

Terutama Pek hoat sian nio dan Ketua Bwe hwa hwe juga tidak kalah besar rasa kejutnya bahwa Suma Bing kiranya sudah sedemikian lihay dan ampuh.

Mengelus2 Pedang darah perasaan Suma Bing haru dan penuh kepedihan, inilah benda dari warisan ayahnya, hari ini ia dapat merebutnya kembali.

Tang mo sudah minggat meninggalkan pedang ini, jadi tiada kesempatan lagi untuk dirinya mencari keterangan siapa2 saja gerangan yang menjadi musuh keluarganya.

Dalam pada itu si orang berkedok sendiripun terpaksa harus muncul juga dari tempat persembunyiannya dan berdiri diantara kelompok penonton.

Sudah tentu saat mana tiada orang yang memperhatikan kehadirannya sebab sorot mata semua orang tengah tersedot oleh perbuatan Suma Bing yang menegangkan urat syaraf itu.

Suma Bing sendiri juga insaf bahwa untuk membawa Pedang darah itu meninggalkan bukit pegunungan itu pasti sangat sukar.

Kepandaian salah satu dari Racun diracun, Pek hoat sian nio dan ketua Bwe hwa hwe sudah melampaui kemampuannya sendiri.

Apalagi diantara Pek hoat sian nio dan Ketua Bwe hwa hwe seumpama bukan karena Pedang darahpun pasti akan meringkus atau membinasakan dirinya.

Racun diracun mendongak keatas memandang langit, agaknya dia tengah memikirkan persoalan yang susah dipecahkan.

Adalah Pek hoat sian nio dan Bwe hwa hwe tiang dengan tatapan mendelong tanpa berkedip selalu mengawasi gerak gerik Suma Bing, setindak saja Suma Bing meninggalkan lingkungan beracun yang disebar Racun diracun tadi pasti mereka akan melancarkan serangan untuk membunuh atau meringkusnya.

Tiga sosok mayat yang memasuki lingkungan beracun ini sudah berobah lapuk dan hitam seperti tiga batang balok yang habis terbakar.

Sudah tentu siapapun tiada yang berani mencoba2 lagi, sebab racun tidak mungkin dapat diatasi dengan kepandaian yang betapa tinggipun jua.

Lama dan lama kemudian baru Racun diracun tersentak dari lamunannya, matanya menyapu pandang kearah Pek hoat sian nio dan Bwe hwa hwe tiang serta tanyanya.

"Bagaimana menurut pendapat kalian berdua?"

"Saat ini aku hanya ingin meringkus bocah ini saja."

Sahut Pek hoat sian nio tanpa banyak pikir. Racun diracun mengekek tawa, serunya.

"Bagus sekali pendapat kita berdua tidak berselisih!" -lalu ia berpaling dan bertanya kepada Bwe hwa hwe tiang.

"Tuan ketua bagaimana?"

Sejenak Bwe hwa hwe tiang menatap kearah Suma Bing lalu berputar dan menjawab pertanyaan Racun diracun.

"Tuan silahkan kau jelaskan maksudmu sendiri."

"Tujuanku pada Pedang darah itu!"

"Bagaimana kalau pendapatku sama dengan tuan?"

"Kita tentukan dulu urusan ini."

"Bagaimana cara penyelesaiannya?"

"Masing2 bergulat menunjukkan kepandaiannya."

"Yang tuan maksudkan kepandaian ditentukan dalam ilmu silat atau termasuk juga keahlian tuan sendiri?"

"Hehehehehe, kalau julukanku menamakan Racun didalam racun, menggunakan racun adalah sudah pasti."

"Kalau begitu"

Seru Bwe hwa hwe tiang menyeringai.

"Sementara aku ingin orangnya."

"Sementara."

Jengek Racun diracun.

"Itu berarti kelak tuan juga akan merebut pedang darah ini lagi bukan?"

"Tidak salah,"

"Baik, paling penting sekarang kita selesaikan persoalan ini dulu. Kalau begitu setelah kuperoleh Pedang darah itu biar kudesak dia keluar dari lingkungan bisa Sam pou to, hitung2 sebagai tanda rasa terima kasihku kepada kalian berdua yang sudi mengalah kepadaku."

Pada lain saat Racun diracun sudah melangkah maju mendekati Suma Bing, ketegangan mulai meruncing lagi disekitar gelanggang perebutan ini.

Ter-sipu2 Suma Bing menyelipkan Pedang darah itu kedalam ikat pinggangnya lalu bersiap siaga menjaga segala kemungkinan.

Tok tiong ci tok menghentikan langkahnya sejauh satu tombak didepan Suma Bing, jengeknya dingin.

"Suma Bing, tidak kuduga kaupun cukup hebat dalam permainan racun, sedikitpun kau tidak gentar terkena racun 'tiga tindak roboh' itu!"

"Racunmu ini terhitung barang apa?"

Ejek Suma Bing.

"Siaucu jangan kau takabur, kukira kau pernah dengar tentang Racun tanpa bayangan bukan?"

"Hm apa kau hendak menggunakan racun itu untuk menghadapi aku? Kiranya, perlu juga kuperingatkan kepadamu. Karena sebatang jinsom, sepasang muda mudi tewas karena perbuatanmu menggunakan racun tanpa bayangan itu?"

"Benar, lalu kenapa?"

"Hutang darah ini sudah kucatat dalam hatiku!"

"Sudah jangan omong kosong, serahkan saja Pedang darah itu?"

"Apa kau mampu?"

"Marilah kau coba2."

Dibarengi dengan habis ucapannya sepasang cakar hitamnya secepat kilat sudah merangsang tiba, yang satu meraup muka sedang yang lain mencengkram kearah Pedang darah, kecepatan dan kehebatannya turun tangan ini sungguh sangat menakjubkan dan mengejutkan.

Siang2 Suma Bing sudah siap siaga, disaat serangan belum merangsang tiba kedua tangannyapun sudah bergerak tidak kalah cepatnya menepuk kedepan, serangannya ini mengerahkan seluruh himpunan tenaga Kiu yang sin kang dalam tubuhnya.

Damparan gelombang panas bagai lahar gunung berapi membuat Racun diracun mau tak mau harus menyingkir mundur delapan kaki sambil mengurungkan serangannya sendiri, tak urung mulutnyapun tercetus seruan.

"Kiu yang sin kang!"

Seruan ini benar2 membuat semua hadirin tergetar kaget, sebab Kiu yang sin kang merupakan pelajaran tunggal dari Lam sia yang paling ampuh, hebat dan menjagoi didunia persilatan dimasa silam.

Namun mereka hanya pernah dengar namanya dan belum menyaksikan sendiri kehebatan ilmu yang dibanggakan itu.

Sejenak Racun diracun merandek lalu serunya lagi.

"Walaupun ilmu saktimu hebat perbawanya, sayang latihanmu belum sempurna betul" -'Wut"

Lagi sebuah jotosan keras yang dapat menghancurkan batu dan menggugurkan gunung merangsang kearah Suma Bing.

Tanpa berkelit atau menghindar Suma Bing angkat tangannya untuk menangkis.

Begitu benturan mengguntur terdengar, tubuh Racun diracun ber-goyang2 tersurut mundur setapak, sedang Suma Bing terpental mundur tiga langkah darah bergolak dirongga dadanya.

Dan dilain saat Suma Bing terhuyung mundur itu belum sempat pula pertahankan diri lagi2 Racun diracun sudah kirim dua kali jotosan pula.

Kali ini Suma Bing miringkan sedikit tubuh untuk menghindar namun tidak urung tubuhnya sempoyongan juga terdampar oleh angin pukulan.

Gerak-gerik Racun diracun sungguh sebat luar biasa seperti bayangan setan tahu2 dia melejit tiba mendekat dan sekali raup Pedang darah sudah berada ditangannya.

Gemparlah suasana gelanggang pertempuran dengan sorak sorai para hadirin, Suma Bing berseru beringas.

"Racun diracun, pada suatu hari tentu Siauyamu akan menelanmu bulat2"

Racun diracun bergelak menggila kepuasan, serunya.

"Jikalau malam ini kau tidak mati, tentu aku akan mnunggu kedatanganmu." -'Wut' tahu2 ia mengirim lagi sebuah hantaman dahsyat karena tidak menduga tubuh Suma Bing tergetar sempoyongan kebelakang dan keluarlah dia dari lingkaran berbisa itu... Begitu memutar tubuh Racun diracun melejit tinggi, sebentar saja bayangannya menghilang dikegelapan malam. Kini Pedang darah berpindah ketangan lain orang lagi, tapi ketegangan dalam arena masih sedemikian tegang mencekik leher. Maka dalam waktu yang bersamaan segera Pek hoat sian nio dan Ketua Bwe hwa hwe berbareng mendesak dan menubruk kearah Suma Bing. Kedua mata Suma Bing melotot hampir keluar menatap kearah Ketua Bwe hwa hwe dan Pek hoat sian nio, sampai pada detik itu ia masih belum jelas akan sebab musabab mengapa kedua orang ini berkukuh hendak menamatkan riwayatnya. Tanpa banyak mulut lagi Ketua Bwe hwa hwe segera mengayun kedua tangannya dilancarkannya pukulan jarak jauh yang dahsyat sekali. Bersamaan itu Pek hoat sian nio pun tidak mau ketinggalan, cepat2 tangannyapun diayun mengirim serangannya yang tidak kalah pula kehebatannya. Dua gembong persilatan kelas wahid bersama melancarkan pukulannya betapa kuat dan hebat perbawanya seumpama gunungpun bisa gugur. Dasar sifat Suma Bing memang keras kepala dan angkuh sekali, tanpa mau berkelit iapun menggerakkan tangannya menangkis. Letak kedudukan Pek hoat sian nio dan Ketua Bwe hwa hwe kebetulan berlawanan, maka kedua kekuatan pukulan mereka menjadi saling hantam dan saling bentur dengan dahsyatnya, suara mengguntur menggetarkan seluruh gelanggang, saking keras benturan angin pukulan ini Suma Bing tergulung sungsang sumbel dan terpental setombak lebih, darah bagai air mancur menyemprot dari mulutnya. Sungguh sangat kebetulan karena getaran kekuatan benturan itu tubuh Suma Bing terpental balik lagi kedalam lingkaran berbisa itu malah. Ketua Bwe hwa hwe dan Pek hoat sian nio melengak. Bahwa racun 'tiga tindak roboh' merupakan salah satu bisa paling lihay dikolong langit, sudah tentu mereka tidak berani memandang enteng, namun garis tengah lingkaran berbisa itu tidak kurang dari tiga tombak, kalau kirim serangan jarak jauh dari luar lingkaran Suma Bing masih dapat dipukul mampus. Sebaliknya kalau mau menawannya hidup2, rasanya tidaklah begitu gampang. Sejenak berpikir, berobah pikiran Ketua Bwe hwa hwe, katanya kepada Pek hoat sian nio.

"Sian nio, aku merobah pendirianku, kubatalkan maksudku semula"

"Jadi kau hendak mengundurkan diri?"

"Tidak, aku ingin membunuhnya."

Mau tak mau Pek hoat sian niopun harus berpikir, lantas sahutnya.

"Kalau begitu aku pun hanya ingin bertanya beberapa patah kata saja!"

"Kalau begitu silahkan lebih dulu."

Sinar mata Pek hoat sian nio setajam ujung gunting menatap kearah Suma Bing, desisnya.

"Suma Bing, kau ini murid atau cucu murid Lam sia?"

"Tidak perlu kau tahu."

Jengek Suma Bing.

"Jawablah pertanyaanku sebenarnya, aku tidak akan..."

"Tidak bisa."

Berobah kelam air muka Pek hoat sian nio, hardiknya gusar.

"Suma Bing, dulu beruntung kau masih hidup, tapi hari ini jangan harap kau dapat hidup. Dengar, hanya dua jari tanganku saja jarak sejauh tiga tombak masih dapat meremukkan batok kepalamu."

"Mengapa tidak kau coba turun tangan?"

Jengek Suma Bing sambil mengertak gigi.

"Kau sangka aku tidak mampu membunuhmu, hehehe..." -diiringi, suara tawanya dua jari tengah dirangkapkan terus menutuk lempang kedepan, seketika mendesis angin tutukan jarinya melesat bagai anak panah kearah Suma Bing. Sedikit menggeser kaki dan miringkan tubuh tanpa banyak mengeluarkan tenaga Suma Bing menghindarkan serangan hebat ini. Melihat serangannya gagal Pek hoat sian nio mendesis geram, kedua tangannya bergerak cepat mempergencar serangannya, dirabu serangan bertubi2 ini, Suma Bing gertakan gigi sambil angkat tangannya untuk menangkis. 'Blang' Suma Bing tersurut mundur terhuyung. Dan sebelum ia berdiri tegak secepat itu pula Pek hoat sian nio telah lancarkan lagi serangan serupa tadi, sepuluh jari tangannya bergantian menyelentik, lengking pantulan angin jarinya berseliweran bagai kilat melesat me-nyamber2. Terpaksa Suma Bing harus berputar jumpalitan untuk selamatkan diri walaupun tempat penting tidak terserang tak urung pundaknya tertembus juga berlobang hingga darah membanjir keluar membasahi tubuh, sakitnya sampai meresap ketulang sumsum. Tengah Pek hoat sian nio menarik kembali tangannya dan sebelum melancarkan lagi serangannya. Sambil menggereng keras Suma Bing melejit keluar dari lingkaran berbisa langsung menubruk kearah Pek hoat sian nio, dimana kedua tangannya bergerak bergantian sekaligus ia lancarkan dua belas kali pukulan balasan. Perbuatannya ini boleh dikata sudah nekat beringas seperti orang gila, setiap kali pukulannya mengandung tenaga yang dapat menghancurkan batu. Pek hoat sian nio kena terdesak mundur tiga langkah. Agaknya Suma Bing sudah kelewat membenci lawannya tidak kepalang tanggung tipu Liu kim hoat ciok dilancarkan. Pek hoat sian nio terdesak lagi mundur selangkah dan balas memukul tiga kali, dimana angin ribut bergulung membumbung tinggi keangkasa Suma Bing tersurut mundur tergetar oleh pukulan balasan lawan. Kini agaknya Pek hoat sian nio sudah marah besar, mulutnya menggeram lirih, dimana kedua tangannya bergerak dan diayun bayangan tangan ber-lapis2 seakan ribuan banyaknya semua menungkrup kearah tubuh Suma Bing, ditengah gemuruhnya angin pukulannya samar2 terdengar suara geledek yang mengguntur. Kedua mata Suma Bing melotot merah membara, merabu kedalam bayangan pukulan lawan berkali2 ia lancarkan serangan dahsyat tanpa hiraukan lagi keselamatan diri sendiri. Cara bertempur yang nekad ini mau tak mau membuat Pek hoat sian nio gentar dan kecut hati. Tapi hakikatnya kepandaian Suma Bing memang masih kalah jauh, pada benturan pukulan kedelapan Suma Bing terpekik seram darah menyembur keras dari mulutnya dan tepat menyemprot deras kemuka Pek hoat sian nio, tubuhnya lantas roboh terkapar diatas tanah. Pek hoat sian nio menyeka noda darah dimukanya terus angkat tangan hendak menepuk kepala Suma Bing...

"Berhenti!"

Tiba2 menggelegar sebuah suara bentakan.

Serta merta Pek hoat sian nio menghentikan tangannya dan undur selangkah, seorang berkedok mengenakan pakaian warna hijau tahu2 sudah menghadang didepan Suma Bing.

"Siapa kau?"

"Kaum keroco dari Bu lim, tidak perlu aku memperkenalkan diri, akulah kawan karib Suma Bing."

"Hm, kau hendak apa?"

"Ada dendam atau permusuhan apa antara Sian nio dengan Suma Bing, kenapa kau pasti harus membunuhnya?"

"Kau jangan turut campur, tidak akan kuberitahu padamu."

"Bukankah tujuanmu hanya ingin bertanya sepatah kata saja kepadanya? Baik, aku akan mewakilinya menjawab."

"Kau... kau bisa menjawab pertanyaanku tadi?"

"Benar, dia murid Lam sia dan si Sesat tua itu sekarang sudah meninggal..."

Saat itulah Ketua Bwe hwa hwe sudah perdengarkan suaranya tawanya.

"Sian nio, kini urusanmu sudah selesai bukan?"

Keras2 Pek hoat sian nio mendengus hina terus putar tubuh tinggal pergi, si gadis baju putih Ting Hoan segera ikut dibelakangnya, sebentar saja bayangan mereka sudah menghilang.

Si orang berkedok memutar tubuh menghadapi Bwe hwa hwe tiang, katanya.

"Apa benar2 Hwe tiang menginginkan jiwanya?"

"Termasuk jiwamu juga, keajaiban tidak akan terulang kembali, keberuntungan hanya didapat sekali, peristiwa di Sam ceng koan tidak akan kelakon lagi disini, kuberitahu kau, kau tiada kesempatan lagi barang sedetikpun."

Si orang berkedok bergelak tertawa, serunya.

"Aku tahu kepandaianku rendah, tapi aku tidak mengharapkan keberuntungan itu lagi."

Pada saat itulah Suma Bing sudah merangkak bangun sempoyongan suaranya gemetar.

"Bong bian heng, kau menyingkirlah"

"Saudara kecil tidak nanti aku berbuat sebodoh itu, agaknya memang kita berjodoh, nasib kita berdua naga2nya sudah terikat menjadi satu."

"Kalian berdua masih ada pesan apa tidak?"

Kata Ketua Bwe hwa hwe sembari mendesak maju. -oo0dw0oo

Jilid 13. PEK-KUT-JI = PANJI TULANG PUTIH. Bola mata Suma Bing melotot besar se-akan2 hampir melompat keluar bagaikan dua butir kelereng, katanya tajam.

"Aku menyesal karena tidak dapat membongkar kedok aslimu, lebih besar pula rasa kesalku karena belum bisa membunuh kau!"

"Hehehe, Suma Bing, sebelum ajalmu, Pun-hwe-tiang (aku ketua) boleh membantu melaksanakan keinginanmu yang pertama, begitu kau mengetahui siapakah aku ini, ku percaya kau akan mati dengan tentram."

Si orang berkedok menyapu pandang kesekitar gelanggang, dilihatnya yang hadir diluar gelanggang itu kebanyakan adalah anak buah Bwe-hwa-hwe, tahu dia bahwa harapan lolos untuk hidup sudah tak mungkin lagi, dalam saat2 keputusan harapan ini, semangat dan pikirannya malah semakin tenang dan tentram.

Ketua Bwe-hwa-hwe beralih pandang kearah siorang berkedok, katanya.

"Tuan lebih baik kau bunuh diri saja."

"Tutup mulut..!"

Hardik Suma Bing geram, namun baru dua patah kata saja mulutnya yang terpentang lebar malah menyemburkan darah segar lagi, tubuhnyapun lantas terhuyung hampir roboh.

Sementara itu si orang berkedok sudah menyahut lantang dengan gagahnya.

"Kalau aku tidak beruntung mati ditanganmu, harus kusesalkan karena kepandaianku tidak becus. Kau ingin aku bunuh diri jangan kau sangka semudah itu."

"Ya, apa boleh buat, biar Pun-hwe-tiang menamatkan kau sekalian"

Secepat habis kata2nya tahu2 lima cakar jarinya sudah menyelonong tiba mencengkeram kearah dada si orang berkedok, cara turun tangannya boleh dikata sangat cepat dan aneh sekali.

Tidak kalah sebatnya si orang berkedok menjejakkan kakinya melejit mundur lima kaki, berbareng ia kirim sebuah pukulan mendesak lawan juga, nyata kekuatan pukulannya juga bukan olah2 kuat dan derasnya.

Ketua Bwe-hwa-hwe ganda menggerakkan tangan kiri berputar satu lingkaran mudah sekali ia punahkan kekuatan pukulan musuh, sementara tangan kananpun sudah diayun keluar...

'plak', terdengar benturan keras, si orang berkedok tergetar mundur dua langkah.

Sementara itu Suma Bing sendiripun telah menghimpun seluruh tenaganya, sambil menggeram keras ia hantam sisi punggung Ketua Bwe-hwa-hwe dari samping.

Ketua Bwe-hwa-hwe tidak menoleh dan tidak bergerak, seakan tidak merasakan sedikitpun pukulan keras itu.

"Plok"

Karena mandah diserang dengan kekerasan ini tubuh Ketua Bwe-hwa-hwe ber-goyang2, adalah Suma Bing sendiri malah terpental balik oleh tenaga pantulan yang diritul oleh kekuatan tenaga pukulannya sendiri, tubuhnya meliuk jatuh duduk dan muntah darah.

Sementara itu si orang berkedok juga telah membentak keras sambil menyerang dengan sekuat tenaga, kedua tangannya terbagi dua merangsang kedada dan perut ketua Bwe-hwa-hwe, kedahsyatan dan kelihayan tipu serangannya ini benar2 mengejutkan orang.

Dirabu pukulan sedemikian dahsyat Ketua Bwe-hwa-hwe masih tetap tenang ganda mendengus dan angkat tangan menangkis.

Begitu kedua pukulan saling beradu menggeledek si orang berkedok terpental setombak lebih, baru saja badannya berdiri tegak dan belum sempat menghela napas lega, tubuhnya sudah melayang tinggi terdampar gelombang angin pukulan musuh, disertai teriakan panjang yang bergema ditengah udara tubuhnya melambung setinggi dua tombak terus melayang jatuh kedalam jurang.

Suma Bing memekik kalap darah berhamburan lagi dari mulutnya.

Terpaksa dia saksikan si orang berkedok dipukul terbang masuk jurang oleh Ketua Bwe-hwa-hwe sedang dia sendiri tidak mampu menolong kawan yang sudah berulangkali menolong jiwanya.

Sudah tentu karena dipukul terjungkal kedalam jurang ini pasti badannya terbanting mampus hancur lebur.

Boleh dikata sang kawan mati karena dirinya.

Segera Ketua Bwe-hwa-hwe ulapkan tangannya serta berseru.

"Bawa pergi!"

Dua orang laki2 berpakaian sepan warna hitam segera mengiakan sambil melompat keluar terus menubruk kearah Suma Bing yang sudah tele2 tak mampu bergerak itu.

Sedetik sebelum kedua anak buah Bwe-hwa-hwe menyentuh tubuh Suma Bing itulah mendadak terdengar sebuah bentakan halus nyaring berkata.

"Cari mati!"

Disusul kedua laki2 seragam hitam itu memekik keras dan tubuhpun terus roboh binasa.

Keruan bukan kepalang gusar Ketua Bwe-hwa-hwe, sedemikian besar nyali orang berani membunuh anak buahnya terang2an didepan matanya, matanya ber-kilat2 menyapu pandang keempat penjuru namun jejak musuh tidak kelihatan, tanpa tertahan lagi segera ia membentak murka.

"Siapa itu?"

"Kau tidak berharga bertanya!"

Betapa congkak dan tinggi hati nada ucapannya ini, boleh dikata sangat berkelebihan, masa sebagai Ketua Bwe-hwa-hwe sebuah perkumpulan besar dikalangan Kangouw masih tidak sembabat mengetahui nama besar musuh, hal ini benar2 membuat semua hadirin heran dan hampir tidak percaya atas pendengarannya.

Saking murka Ketua Bwe-hwa-hwe berbalik bergelak tertawa.

"Takabur dan congkak benar ucapanmu tuan, kenapa tidak lekas kau unjukkan diri. Apa malu bertemu dengan orang?"

Seruan nyaring merdu tadi terdengar lagi, kali ini mengandung ancaman seram yang susah dijajaki.

"Minta aku muncul boleh, namun apakah semua hadirin rela meninggalkan semua tulang belulangnya diatas puncak bukit ini?"

Mendengar ancaman ini, dingin perasaan Ketua Bwe-hwa-hwe, ter-sipu2 ia maju menghampiri mayat kedua anak buahnya, begitu ia melihat tegas semangatnya bagai terbang ke-awang2, badannyapun sempoyongan mundur tiga tindak, suara perintahnya gemetar dan ketakutan.

"Semua. Mundur!"

Begitu perintah diserukan semua anak buahnya berserabutan lari jungkir balik turun gunung bagai dikejar setan, dalam sekejap mata saja semua sudah menghilang dikegelapan malam.

Suma Bing sendiripun tidak kurang kejut dan herannya, entah orang kosen macam apa yang sudi mengulurkan tangan menyelamatkan jiwanya.

Sampai Ketua Bwe-hwa-hwe yang bukan olah2 lihay kepandaian dan tinggi kedudukannyapun lari ketakutan.

Tengah ia me-nebak2 itu serta merta pandangan matanya lantas tertuju kearah kedua mayat yang rebah tidak berapa jauh dari dirinya itu.

Begitu melihat apa yang menggeletak disampingnya itu arwahnya se-olah2 melayang pergi dari badan kasarnya, tubuhnya bergidik merinding.

Kiranya dalam sekejap mata ini kedua mayat itu kini hanya tinggal tulang belulangnya saja yang memutih jelas ditengah kegelapan malam, diatas kedua tulang2 itu tertancap masing2 sebuah panji kecil terbuat dari sutera, ditengah panji itu tersulam gambar sebuah tengkorak dengan dua batang tulang bersilang.

Lantas teringatlah ia akan cerita suhunya mengenai asal-usul panji tengkorak bersilang ini.

Kiranja panji itu bernama Pek-kut-ji (panji tulang putih), pertanda khas dari Pek-kut Hujin seorang momok wanita yang menggetarkan dunia persilatan pada enam puluhan tahun yang lalu.

Setiap kali dimana panji serupa itu muncul, meski betapa lihay atau tinggi ilmu silatnya, begitu terkena panji keramat ini dalam sekejap mata saja, pasti badannya hancur menjadi cairan air darah dan tinggal kerangka tulangnya saja.

Maka begitu melihat panji sakti ini tiada seorang pun kaum persilatan yang tidak segera lari lintang-pukang menyelamatkan diri.

Bahwa sekarang Pek-kut Hujin mendadak muncul disini, hal ini benar2 diluar dugaan siapapun.

Apa mungkin gembong iblis wanita itu sekarang masih hidup?

Kenapa pula dia mau menolong jiwanya?

Suma Bing tidak habis mengerti, lama dan lama sekali suasana tetap tenang tanpa ada reaksi apa-apa.

Akhirnya hilang kesabaran Suma Bing, segera ia berseru keras.

"Apakah Pek-kut Hujin Tjianpwe yang kesudian menolong jiwaku yang rendah ini?"

Baru kali inilah Suma Bing menyebut orang dengan panggilan "Tjianpwe"

Selama ini. Beruntun tiga kali ia berseru bertanya tanpa penyahutan atau reaksi apapun jua, heran dan curigalah hatinya, batinnya.

"Aneh, mengapa dia membantu diriku? Belum lama ini aku berkelana di Kangouw, tiada seorang juga yang mengetahui tentang asal-usulku. Mungkin karena memandang muka Suhu maka dia sudi menolong aku, namun mengapa dia tidak unjukkan dirinya, sampai setengah patah katapun tidak diucapkan, munculnja secara misterius perginyapun sangat aneh..."

Luka dalam tubuh Suma Bing sangat parah, setelah terluka berat dia terlalu banyak menggunakan tenaganya pula, boleh dikata tenaga murninya sudah ludas sama sekali, untung dia melatih Kiu-yang-sin-kang yang khusus sangat berguna untuk melindungi urat nadi, kalau tidak mungkin sejak tadi ia sudah tewas.

Begitulah setelah ter-longong2 sekian lamanya ia coba kerahkan tenaga untuk berobat diri, siapa tahu begitu tenaga murninya berkembang seketika ia merasakan diantara ketigapuluh enam jalan darah besarnya, tujuh diantaranya bumpet(tertutup) tak tertembuskan, bagaimanapun ia sudah susah payah kerahkan tenaganya untuk menjebol rintangan itu tetap nihil hasilnya, keruan dalam hati ia mengeluh dan putus asa.

Kalau tiada obat mujarab dan tenaga luar yang membantunya, tentu tenaga sendiri takkan mampu membobol jalan darahnya yang buntu itu.

Kalau jalan darah buntu terlalu lama tidak matipun pasti dirinya menjadi tanpa daksa alias cacat seumur hidup.

Selang berapa lama setelah beristirahat ia coba kerahkan lagi tenaganya, seketika ia rasakan seluruh tubuh tergetar hebat, tenaga murni yang terkerahkan menerjang balik dengan kerasnya kontan ia jatuh pingsan tubuhnyapun terus roboh terlentang.

Sang malam dengan cepat telah berlalu, suasana dalam puncak bukit itu masih sedemikian sunyi, alam sekelilingnya masih diliputi kabut tebal, tak lama kemudian puncak bukit itu sudah bermandikan sinar sang surya yang memancar terang benderang, hawa cerah menyejukkan badan.

Per-lahan2 Suma Bing siuman dari pingsannya, perasaan pertama yang dirasakan saat itu ialah bahwa rasa kesakitan seluruh tubuh semalam kini sudah hilang sama sekali, sebaliknya semangat me-nyala2 tenaga penuh gairah, sejenak ia meng-ucek2 matanya lalu merenungkan apa yang telah dialaminya semalam.

Kedua kerangka tulang disampingnya masih ada hanya panji kecil itu yang telah lenyap.

Bergegas ia melompat bangun sambil berseru kejut dan heran.

Siapakah yang telah menolong dirinya?

Bau semerbak wangi terbawa angin merangsang hidungnya membuat ia sadar dari rasa kejutnya dengan penuh kewaspadaan matanya menyapu pandang keempat penjuru.

Seketika ia melonjak kaget lagi, terlihat terpaut lima kaki dibelakangnya berduduk wanita cantik molek bagai bidadari yang seluruh tubuhnya penuh bersolek dengan berbagai perhiasan yang tak ternilai harganya, kedua matanya tengah terpejam, kedua pipinya juga bersemu kemerahan, kiranya orang tengah istirahat memulihkan tenaga.

Teringat olehnya waktu semalam ia menonton pertempuran bersama si orang berkedok dibelakang batu besar itu, wanita cantik ini yang pernah mendadak membuka suara kepada mereka.

Siapakah dia?

Tak perlu disangkal lagi, ia inilah yang telah menolong jiwanya dengan tenaga dalamnya, karena pengerahan tenaga yang ber-limpah2 untuk menyembuhkan lukanya, maka kini orang tengah bersamadi untuk memulihkan tenaga sendiri.

Wanita ini boleh dikata secantik bidadari dari kahyangan namun dari kecantikannya itu mengandung juga sikapnya yang dingin dan angkuh, dari keangkuhan ini timbul perbawanya yang agung membuat orang yang melihatnya merasa tunduk dan keder.

Siapakah dia?

Tak putus2 benak Suma Bing ber-tanya2.

Lantas dia teringat akan nama Pek-kut Hujin yang kedengaran suaranya dan tidak kelihatan wujudnya semalam, hanya dengan dua panji kecil kiranya cukup untuk menggebah pergi ketua Bwe-hwa-hwe yang terkenal kejam dan besar pengaruhnya itu lari lintang pukang.

Mungkin dia inilah...

bergidik seram bila ia teringat akan nama itu.

Tapi akhirnya ia geli sendiri akan kekuatirannya sendiri, karena pikiran demikian agaknya sangat ganjil dan jenaka.

Pek-kut Hujin sudah tenar pada enampuluh tahun yang lalu, tingkat kedudukan dan ketenaran namanya jauh lebih unggul dari Bu-lim-su-ih, apalagi wanita dihadapannya ini dilihatnja kira2 baru berusia 20-an lebih.

Tengah pikirannya me-layang2 itulah, wanita itu sudah berdiri lemah gemulai, mengunjuk senyum manis kearah Suma Bing, syur, jantung Suma Bing melonjak keras bagai kesetrum aliran listrik matanya kesima melihat senyuman yang mempesonakan itu.

Sejenak Suma Bing menenangkan gejolak hatinya terus membungkuk memberi sapa hormat.

"Terima kasih atas bantuan nona tadi."

"Ah bantuan tak berarti, tak perlu dirisaukan"

Sahut wanita itu sambil ulapkan tangannya.

"Cayhe harus membedakan antara rasa kebencian dan kebaikan budi, aku tidak sudi menerima kebaikan orang secara gratis!"

"Lalu kau mau apa?"

"Harap sebutkan nama besarmu, biar kelak kubalas kebaikan hatimu ini."

"Cara bagaimana kau hendak membalas kebaikan budiku?"

"Ini... mungkin aku bisa berbuat sesuatu untukmu... atau..."

"Tapi aku tidak mengharap balas budimu itu?"

"Kebebasan terletak padaku!"

Wanita itu sedikit menggeleng kepala, katanya.

"Aku tiada sesuatu apa buat kau kerjakan, seumpama ada..."

"Bagaimana?"

"Kau tidak akan mampu melakukan?"

Suma Bing bersikap sungguh2.

"Coba kau katakan?"

"Coba kutanya dulu, apa kedatanganmu ini khusus hendak merebut Pedang darah itu?"

"Hanya kebetulan saja kepergok disini, tapi cayhe me mang pasti harus mendapatkan pedang darah itu!"

"Jadi maksud tujuanmu sama dengan mereka kaum persilatan itu?"

"Tidak!"

"Itulah aneh..."

"Sebab... sebab..."

Suma Bing ragu2 untuk menerangkan asal usul dirinya.

"Sebab apa?"

Desak wanita ayu itu. Sekian lama Suma Bing bimbang dan ragu, akhirnya ia berkata juga.

"Sebab Pedang darah itu seharusnya menjadi hak milikku."

"Bagaimana maksud ucapanmu itu?"

"Karena ayah-bundaku tewas setelah memiliki Pedang darah itu."

Berobah pucat wajah wanita cantik itu, badannya mundur satu tindak, katanya penuh perasaan.

"Apa, jadi kau inilah putra Su-hay-yu-hiat Suma Hong?"

Suma Bing mengiakan sambil mengangguk serta menggertak gigi.

Tubuh wanita cantik itu gemetar karena menahan perasaan hatinya, lama dan lama sekali ia terlongo memandang wajah Suma Bing.

Suma Bing sendiripun tengah keheranan melihat perobahan sikap wanita misterius ini entah mengapa orang mendadak berobah sedemikian serius dan terbawa oleh perasaan hatinya.

Apa mungkin dia salah seorang sahabat kental ayah semasa masih hidup, atau...

Lagi2 airmuka si wanita berobah dan bertanya.

"Konon kalian bertiga sudah ketimpa bahaya semua..."

"Cayhe tersapu jatuh kedalam jurang dan kebetulan tertolong oleh In-su Sia-sin Kho Jiang!"

"Oh, untung keluarga Suma masih ada keturunan, kau tahu siapa aku?"

Suma Bing melengak, sahutnya gagap.

"Ini... harap suka kau perkenalkan diri..."

"Akulah bibimu Ong Fong-jui!"

Saking kejut Suma Bing berdiri melongo tertegun hampir saja dia tidak percaya pada pendengarannya, bahwa wanita ayu bersolek ini ternyata adalah bibinya, benar2 mimpi juga takkan terduga sebelumnya.

Kelopak mata Ong Fong-jui merah ber-kedip2, katanya.

"Suma Bing, apa kau sudah tahu siapa2 saja para musuhmu itu?"

Sejak kecil mengalami bencana dan hidup dalam penderitaan, sekali bertemu dengan salah seorang famili yang terdekat, tanpa merasa airmata Suma Bing meleleh deras sahutnya.

"Saat ini baru kuketahui Tang-mo seorang, entahlah yang lain, apa Bibi Jui..."

"Akupun tidak tahu, setelah peristiwa itu terjadi baru aku dengar tentang kabar jelek itu. Sekarang untuk mengetahui jelas duduk perkara peristiwa dipuncak kepala harimau itu, hanya Tang-mo seoranglah yang dapat memberi keterangan."

"Pikiran Tit-ji (keponakan) juga begitu, sayang kemaren Tang-mo dapat melarikan diri."

"Saat ini kau masih bukan tandingan Tang-mo, akupun datang terlambat, kalau tidak takkan mungkin dia dapat lolos!"

Suma Bing menghela napas sedih katanya.

"Kalau bukan karena pertolongan Bibi, mungkin aku sekarang sudah tewas!"

"Urusan sudah berlalu, sudahlah tak perlu diungkit lagi."

"Tidak dapat tidak aku harus merebut kembali Pedang darah itu dari tangan Racun diracun"

"Itu urusan kecil. Yang penting kau harus segera mengerjakan urusan besar, hanya... mungkin terlalu sukar!"

Suma Bing melengak.

"Urusan kecil? Lalu urusan besar apakah itu?"

"Kalau kau bisa mendapatkan Mo-hoa (bunga iblis), tidak sukar kau menjadi tokoh paling kosen dijagad ini."

"Memang Tit-ji sudah ada maksud itu,"

Sahut Suma Bing penuh perasaan.

"Pesan Suhu juga begitu, tapi entah dimanakah Mo-hoa itu..."

"Menurut apa yang kutahu,"

Sambung Ong Fong-ju.

"Mo-hoa berada ditangan seorang Tjianpwe gembong Iblis wanita."

"Siapa dia?"

"Bu-siang-sin-li!"

"Bu-siang-sin-li?"

"Benar, usia Bu-siang-sin-li sudah seabad lebih, betapa tinggi kepandaiannya, benar2 susah dibayangkan. Seumpama Bu-lim-su-ih bergabung mengeroyoknyapun belum tentu dapat selamat dari kehebatannya."

Tergetar hati Suma Bing, tanyanya.

"Bagaimana kalau dibanding Pek-kut Hujin?"

Berobah wajah Ong-Fong-jui.

"Kau tahu tentang Pek-kut Hujin?"

"Bibi Jui."

Ujar Suma Bing sambil menunjuk dua kerangka tulang tidak jauh itu.

"Masa kau tidak melihat inilah buah karya Pek-kut Hujin itu."

Ong Fong-jui tersurut mundur, katanya.

"Aku pernah pergi beberapa saat lamanya, waktu kembali lagi keadaan disini sudah sepi tanpa seorangpun, kulihat kau jatuh pingsan dan terluka parah, maka buru2 kumengobatimu, maka tidak sempat aku memperhatikan segalanya"

"Sebelumnya Bibi Jui belum tahu siapa aku, mengapa kau menolong aku?"

"Mungkin inilah jodoh aku tidak tega melihat seorang berbakat seperti kau harus mati secara konyol."

"Tentang kepandaian Bu-siang-sin-li..."

"0h, Pek-kut Hujin juga bukan tandingan Bu-siang-sin-li."

"Kalau begitu berarti Bu-siang-sin-li sudah tanpa tandingan diseluruh kolong langit?"

"Selama seratus tahun belakangan ini tiada seorangpun yang berkepandaian sejajar dengan Bu-siang-sin-li. Tapi apakah Bu-siang-sin-li masih hidup, ada tidak muridnya, ini merupakan teka-teki."

Mencelos perasaan Suma Bing.

"Jadi Bunga iblis itupun hanya merupakan dongeng saja?"

"Belum tentu, kejadian dijagad ini mengutamakan jodoh, tiada halangan kau men-coba2 keberuntungan itu."

"Cara bagaimana mencobanya?"

"Konon Bu-siang-sin-li mengasingkan diri digunung Bukong-san, tentang alamatnya yang pasti tiada seorangpun yang tahu, boleh kau pergi ke Bu-kong-san mencoba keberuntunganmu, siapa tahu kau berjodoh..."

"Lalu bagaimana dengan Pedang darah itu?"

"Ini... sudah pernah kukatakan itu urusan kecil kalau kau bisa mendapatkan Bunga iblis itu, Pedang darah pasti dikembalikan kepadamu!"

"Maksud Bibi hendak..."

"Saat ini terlalu pagi mempersoalkan itu."

"Aku masih ada hal2 yang belum kumengerti."

"Soal apakah itu?"

"Pek-kut Hujin itulah. Mengapa dia turun tangan menolong aku? Dan lagi, dengan kepandaiannya yang tinggi, kalau toh dia sudah datang, mengapa mandah saja. membiarkan Racun diracun seenaknya membawa lari Pedang darah itu?"

"Mungkin ada latar belakang yang susah dimengerti orang luar."

Se-konyong2 terdengar sebuah suitan panjang berkumandang ditengah udara. Ong Fong-jui berkerut kening, katanya.

"Bing-tit, aku harus pergi, jagalah dirimu baik2..."

Entah cara bagaimana bergerak tubuh yang lemah semampai itu mendadak berkelebat hilang dalam sekejap mata, gerak tubuhnya itu benar2 membuat Suma Bing melongo heran melelet lidah.

Terang dia pergi karena tertarik oleh suitan panjang tadi, lalu siapakah orang yang bersuit panjang itu?

Dari wajah dan bentuk tubuh Ong Fong-jui yang agung menggiurkan itu, lantas teringat ia akan kecantikan ibunya San-hoa-li Ong Fong-lan tentu tidak kalah ayu dan rupawan, meski dalam ingatannya tiada setitikpun bayangan ibunya, namun dapatlah dibayangkan dari Bibinya jni, karena mereka adalah saudara sekandung tentu tidak banyak bedanya.

"Buyung, tak duga kau inilah keturunan Suma Hong!"

Sebuah suara mengejutkan Suma Bing dari lamunannya, ter-sipu2 ia berpaling dilihatnya seorang tua pendek buntak dengan rambut beruban tengah berlenggong menghampiri kearahnya.

Kiranja itulah To-sing-tau-gwat Si Ban-tjwan simaling bintang.

Jelas bahwa si maling tua ini agaknya sudah lama sembunyi disini.

Suma Bing merangkap tangan memberi hormat, ujarnya.

"Tuan, tak duga kita bertemu lagi disini."

"Hehehihi, benar sembarang waktu pasti dapat bertemu lagi."

"Tuan sudah lama datang bukan?"

"Dikata lama tidak lama, kira2 sepeminuman teh, hanya aku si maling tua ini paling sayang akan jiwaku, tidak berani sembrono unjukkan diri!"

"Mengapa?"

Tanya Suma Bing tidak mengerti. Bola mata si maling bintang Si Ban-tjwan jelalatan menyapu pandang kesekelilingnya, sambil menggeleng ia menyahut.

"Tidak mengapa, si maling tua ini ada satu persoalan hendak kusampaikan kepadamu."

"Coba katakan."

"Apa kau benar2 putra Suma Hong?"

"Masa aku bohong, apa perlunya aku meng-aku2 menjadi anak orang?"

"Kalau begitu baik, kukasih tahu, bahwa ibundamu San hoa-li Ong Fong-lan sebenarnya belum mati."

Tiba2 seluruh tubuh Suma Bing gemetar hebat, tanyanya.

"Tuan bilang apa?"

"Ibumu masih hidup!"

"Ah!"

Suma Bing tersurut tiga langkah, kedua matanya terbelalak bagai dua biji kelengkeng, saking haru dan menahan perasaan jidatnya basah oleh keringat.

Sungguh diluar dugaannya bahwa ibunya ternyata masih hidup.

"Benarkah ucapan tuan?"

"Masa orang setua aku ini masih main guyon dan membual kepadamu!"

"Dia... dia... dimanakah ibu sekarang?"

"Hal ini aku tidak tahu!"

Suma Bing menarik muka keren, katanya.

"Tuan berani bicara apakah ada buktinya?"

"Bukti, aku si maling tua sendiri yang melihatnya, seluruh kolong langit ini yang tahu bahwa ibumu masih hidup mungkin hanya dua orang, satu adalah aku, dan yang lain adalah suhengmu..."

"Loh Tju-gi?"

"Benar."

"Coba tuan tuturkan secara jelas."

Sambil mengurut jenggot putihnya mulailah si maling bintang berkisah per-lahan2.

"Limabelas tahun yang lalu, karena memperebutkan Pedang darah terjadilah penyembelihan besar2an kaum persilatan dipuncak Hou-thau-hong digunung Tiam tjong san. Waktu Lohu mendengar berita, dan memburu tiba, suasana sudah sunyi pertempuran sudah bubar. Tapi, suatu tragedi yang mengenaskan diluar batas tengah terjadi... Seorang wanita memeluk putranya yang terluka parah empas empis tengah menyembah dan memohon kepada seorang laki2 supaya dia suka menolong putranya, sebab jalan darah pengantar anak itu sudah putus, dijagad ini hanya Kiu yang sin kanglah yang dapat menolong jiwa kecil itu, sedang laki2 itu justru melatih ilmu sakti semacam itu..."

"Diakah Suhengku Loh Tju-gi?"

"Dengar ceritaku. Laki2 itu melulusi untuk menolong anak itu dengan suatu syarat, syarat kejam diluar prikemanusiaan, demi hidup anaknya terpaksa wanita itu melulusi..."

"Syarat apakah itu?"

Tanya Suma Bing gemetar.

"Dia minta tubuh si wanita itu."

Gelap pandangan Suma Bing, tubuhnya sempoyongan hampir roboh. Sambung si maling tua lagi.

"Setelah menodai tubuh si wanita itu, laki2 itu mengingkari janjinya, dia tidak mau mengobati anak itu. Melihat jiwa anaknya semakin meregang dan dia sendiri tak mampu berbuat apa2, tidak tega pula melihat penderitaan anaknya sebelum ajal itu, segera ia mencabut sebuah cundrik dan menusuk sekali didada anak itu, lalu berlari turun gunung sambil tertawa menggila, dia bersumpah hendak menuntut balas..."

"Bangsat rendah!"

Teriak Suma Bing, darahpun berhamburan dari mulutnya. Setelah merandek sejenak si maling tua melanjutkan lagi penuturannya.

"Buyung, mungkin kau mencaci aku karena tidak berusaha memberi pertolongan, ai, kalau dikatakan aku sangat menyesal. Waktu itu baru saja aku terkalahkan oleh Pak-tok, Hian-in-kang membuat seluruh kepandaian Lohu amblas sama sekali, maka... untuk selanjutnya kuharap dapat membantu kau membalas sakit hatimu, untuk menebus penyesalanku dulu."

Suma Bing membelalak geram, hatinya mendelu dan pedih seperti di-iris2.

Loh Tju-gi menipu dan memperkosa ibunya, salah seorang pembunuh ayahnya juga dalam perebutan Pedang darah.

Loh Tju-gi dengan tipu muslihat keji mencelakai jiwa suhunya pula, menurut pesan suhunya murid murtad ini harus dibunuh dan dihancur leburkan.

Demi nama perguruan dia harus dibunuh, demi dendam kesumat keluarganya lebih2 dia harus dihancurkan.

Jelas para musuh besar yang telah diketahui yaitu Tang-mo dan Loh Tju-gi berkepandaian lebih tinggi dari dirinya, maka lebih besar lagi niat dan tekadnya untuk dapat melatih kepandaian tertinggi Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ tiada taranya diseluruh jagad raya.

Sekarang tujuan utamanya harus merebut kembali Pedang darah, lalu mencari Bunga iblis.

Bersama itu diapun ingin segera dapat menemukan jejak ibunya, asal ibunya sudah ketemu, seluruh musuh2nya pasti dapat diketahui dan tak usah mesti me-raba2.

Lantas terbayang juga olehnya bahwa ibunya adalah wanita paling tak beruntung dan paling menderita didunia ini.

Suatu pikiran yang seram menakutkan mulai bersemi dalam hati kecilnya.

Bunuh!

Semua manusia tamak, licik, rendah dan jahat serta telengas diluar peribudi kaum persilatan harus dibunuh dan dihancurkan.

Menghela napas panjang si maling bintang berkata lagi.

"Buyung, kau harus mencari dulu ibumu, baru setelah itu memperhitungkan cara2 untuk menuntut balas."

Suma Bing menggertak gigi, sahutnya.

"Terima kasih atas petunjuk tuan."

Tubuhnya melejit dengan kecepatan terbang ia berlari turun gunung.

Mengawasi bayangan Suma Bing To-sing-tau-gwat Si Bantjwan menghela napas panjang.

Kini kita ikuti perjalanan Suma Bing, sambil menyandang hati yang penuh gelora kemarahan dan keperihan, ia berlarian cepat turun gunung.

Mendadak teringat olehnya akan nasib si orang berkedok yang terpukul jatuh kedalam jurang oleh Ketua Bwe-hwa-hwe itu..SETAN BARAT DJEBUL ADALAH KEKASIH SI SESAT DARI SELATAN.

Boleh dikata si orang berkedok mati lantaran dirinya, paling tidak ia harus mencari jenazahnya dan dikubur selayaknya.

Maka segera ia putar balik dan berlari menuju kekaki jurang terus memasuki sebuah selat sempit, selama kurang lebih beberapa jam lamanya ia sudah obrak-abrik seluruh lembah itu, jejak jenazah si orang berkedok belum juga diketemukannya, dia heran dan tak habis mengerti, batinnja.

"Apa mungkin dia belum mati? Tapi jatuh dari puncak beratus meter tingginya, mustahil kalau tubuhnya tidak terbanting hancur lebur, namun kenyataan ini benar2 sukar dipercaya. Setelah direnungkan sekian lamanya, akhirnya dia ambil keputusan tak peduli si orang berkedok sudah meninggal atau belum, dia wajib menuntut balas kepada Ketua Bwe-hwa-hwe. Dan yang harus disesalkan bahwa sampai pada detik itu sedikitpun dia belum mengetahui tentang asal-usul si orang berkedok. Siapakah namanya dan bagaimana riwayat hidup si orang berkedok, entahlah dia tak tahu apa2, terutama yang lebih mengherankan adalah si orang berkedok ternyata rela menjual jiwanya untuk kepentingannya. Kalau seandainya si orang berkedok benar2 mati maka teka-teki ini takkan mungkin dapat dipecahkan untuk selamanya."

Tahu2 sebuah bayangan hitam muncul kira2 tiga tombak dihadapannya.

Rambutnya terurai panjang, pakaiannya serba hitam, kepalanya tertutup rapat oleh rambutnya yang terurai panjang.

Dialah wanita misterius yang membongkar Kuburan Tiang-un Suseng itu.

Bahwa wanita serba hitam dengan rambut terurai panjang ini bisa muncul ditempat semacam itu benar2 diluar dugaan Suma Bing.

Maka segera terlintaslah akan pesan suhunya dulu bahwa dia dilarang menghadapi orang yang pandai menggunakan ilmu Pek-pian-kui-djiau, sejenak ia ragu2 pikirnya.

"Apa lebih baik aku menyingkir saja."

Maka dia lantas memutar tubuh hendak tinggal pergi.

Sebelum ia bergerak mendadak pandangannya terasa kabur, tahu2 si wanita serba hitam itu telah menghadang didepannya.

Tanpa merasa Suma Bing mengerut kening, naga2nya dia memang tengah mencari dirinya.

Demi mematuhi pesan suhunya dia takkan bergebrak dengan orang, maka sesaat sikapnya menjadi kikuk dan risi sekali.

Si wanita serba hitam sudah membuka suara.

"Suma Bing, sungguh tak tersangka kau inilah kiranya murid Lam-si itu..."

Suma Bing melengak heran, tanyanya.

"Memangnya kenapa?"

"Kalau sejak dulu kuketahui, aku sudah harus membunuhmu!"

Terperanjat Suma Bing, serunya.

"Membunuh aku? Kenapa?"

Sahut wanita serba hitam penuh rasa kebencian.

"Karena aku telah mengecap penderitaan selama tigapuluh tahun dalam penjara!"

Suma Bing garuk2 kepala ter-heran2, bahwa orang telah dipenjarakan selama tigapuluh tahun lamanya, sedang dirinya sejak lahir dari kandungan ibunya belum cukup dua puluh tahun umurnya, bagaimana hal itu harus dijelaskan.

Betul, tentu hal ini menyangkut akan sepak terjang Suhunya semasa masih hidup.

Tapi justru Suhunya berpesan supaya dirinya tidak turun tangan berkelahi dengan lawannya ini, ini benar2 lucu dan susah dimengerti, maka dia lantas menyahut dingin.

"Apakah karena Suhuku itu?"

"Benar!"

Suma Bing membatin.

"Kalau bukan karena pesan suhu yang harus dipatuhi itu, mungkin kau sudah kubunuh lebih dulu."

Maka sambil mendengus ia berkata lagi.

"Kau dipenjarakan selama tigapuluh tahun ada sangkutpaut apa dengan aku?"

"Soal ini menyangkut suhumu itu, sedang kau adalah muridnya!"

"Karena alasan itu lantas kau hendak membunuhku?"

"Kenapa tidak?"

"Apa kau mampu?"

"Kau boleh coba2."

"Kukasih tahu dulu karena aku tidak ingin melanggar pantangan suhu maka aku tidak sungguh2 melayani kau, memangnya kau sangka aku takut padamu."

"Pantangan apakah itu?"

"Tidak perlu kuberitahu kepadamu."

"Huh, Suma Bing, akupun tidak mengharap kau memberitahu, sekarang kau ikut aku!"

"Ikut kau, mengapa?"

"Kaupun tidak perlu bertanya, sampai saatnya kau akan tahu sendiri."

"Kalau begitu maaf aku tidak ada minat."

Tiba2 wanita serba hitam itu mendesak maju dua tindak, suaranya bengis mengancam.

"Kau mau ikut tidak?"

Naga2nya kalau Suma Bing berani menjawab "tidak"

Pasti segera ia turun tangan menyerangnya.

"Kalau kau tidak jelaskan alasanmu,"

Jengek Suma Bing dengan angkuhnya.

"Kenapa aku harus ikut kau pergi?"

Apa boleh buat terpaksa si wanita serba hitam berkata.

"Suhuku ingin bertemu dengan kau."

"Siapakah suhumu?"

"Mengapa kau begitu cerewet."

Berputar otak Suma Bing, batinnya.

"Suhu berpesan supayaku tidak bergebrak dengan orang yang pandai menggunakan ilmu Cakar setan beratus perobahan, tentu ada sebabnya. Apalagi wanita aneh seperti setan gentayangan inipun mengatakan karena urusan itulah maka dia dipenjarakan selama tigapuluh tahun lamanya, tidak perlu disangsikan lagi bahwa hal itu pasti tersembunyi suatu latar belakang yang panjang ceritanya, kenapa aku tidak ikut saja untuk menyingkap tabir rahasia ini. Maka segera sahutnya.

"Baiklah, aku ikut kau."

Tanpa membuka kata lagi segera wanita serba hitam itu berlari kearah mulut lembah, betapa cepat gerak tubuhnya benar2 membuat orang melelet lidah kagum.

Suma Bing harus mengerahkan seluruh tenaganya baru dapat mengimbangi kecepatan lari wanita itu.

Begitu tiba dimulut lembah sebuah bukit tinggi melintang didepan mereka, tanpa menghentikan langkah si wanita serba hitam segesit kera terus berloncatan keatas sekaligus ia melampaui berpuluh bukit tinggi.

Pikiran Suma Bing semakin pepat dan ber-tanya2, entah orang kosen macam apakah suhunya itu!

Dimana ia bersemayam?

Bukit2 habis dilalui lantas terbentanglah sebuah danau tak berujung pangkal dihadapan mereka, dipinggir danau penuh ditumbuhi semak belukar, bergegas si wanita itu menuju ketepi danau, dari rumpun alang2 ia menyeret keluar sebuah sampan kecil terus berseru.

"Naiklah kemari!"

Sekilas Suma Bing melirik hatinya membatin.

'aku sudah terlanjur tiba buat apa gentar', sekali melejit tibalah dia diatas sampan kecil itu.

Wanita serba hitam duduk diburitan, begitu kedua tangannya menepuk kebelakang, sampan kecil itu segera meluncur dipermukaan air seperti anak panah cepatnya langsung menuju ketengah danau.

Tidak henti2nya kedua tangannya menepuk kebelakang, sungguh ajaib dan lucu gerak geriknya, tanpa menggunakan gayuh sampan kecil itu ternyata berlaju semakin cepat.

Sampan kecil itu berlaju cepat dialunan gelombang air, tak lama kemudian dikejauhan sana terlihat sebuah pulau kecil yang menghijau ditengah danau, setelah semakin dekat terlihat lebih jelas diatas pulau itu tumbuh bermacam pohon dengan suburnya, samar2 terlihat juga ada beberapa bangunan rumah-rumah gubuk.

Wanita serba hitam merapatkan sampannya ketepi pantai serta serunya.

"Sudah sampai naiklah!"

Sekali loncat Suma Bing menginjakkan kaki diatas pulau itu, segera wanita serba hitam mendahului berjalan didepan, serunya.

"Mari ikut aku."

Suma Bing menjadi was2, pikirnya tempat ini tiada jalan darat, kalau tiada perahu betapapun tinggi kepandaiannya tak mungkin dapat kabur dari pulau ini.

Beberapa tombak kemudian setelah membelok dua tiga kali terlihat didepan sana berdiri tegak beberapa batang pohon Siong yang tinggi besar mengelilingi sekitar beberapa bangunan rumah, diatas setiap batang pohon tergantung sebuah tengkorak, selayang pandang keadaan ini sangat seram menakutkan, selain itu tiada pandangan lain yang menggiriskan.

"Suma Bing,"

Seru wanita serba hitam dingin.

"Inilah barisan Le-kui-tjui-kun-tin, diseluruh kolong langit orang yang dapat keluar masuk dari barisan jeritan setan pengejar sukma ini mungkin tiada ketiganya"

Tercekat hati Suma Bing, namun lahirnya tetap tenang ujarnya.

"Aku datang karena undanganmu, kedudukanku sebagai tamu ada sangkut paut apa barisan ini dengan aku?"

Melewati barisan pohon siong ini didepan sana mereka harus menerobos jalanan kecil diantara himpitan pohon2 bambu hijau lantas terbentanglah sebuah pekarangan besar didepan beberapa bangunan gubuk, mungkin orang luar akan menyangka bahwa tempat yang sepi dan nyaman ini adalah tempat pengasingan seorang tokoh kosen yang menyendiri seandainya tengkorak putih yang tergantung diatas pohon Siong itu dilenyapkan.

Wanita serba hitam itu menyurung pintu sebuah gubuk, lalu tiba2 menggape tangan dan serunya.

"K a u t u n g g u s a j a d i s i n i ."

L a l u i a t e k a n s u a r a n y a b e r k a t a l a g i .

"Bagaimana je jak Tiang -un?"

Suma Bing menggueleengn g kepala,h la nDtajsi taernbgay?a"ng lah kejadian didepan kuburan kosong Tiang-un Suseng itu, menurut katanya karena Tiang-un Suseng hingga ia menderita dalam penjara selama tiga puluh tahun, ah, cinta itu benar2 buta!

Tengah pikirannya me-layang2, mendadak wanita itu muncul lagi dan menggape padanya serta serunya.

"Suma Bing, kau boleh masuk!"

Suma Bing mengiakan terus melangkah maju sampai diluar pintu, waktu pandangannya bentrok dengan apa yang dilihatnya itu hatinya melonjak kaget, bulu roma berdiri perasaanpun dingin.

Kiranya, rumah gubuk yang terletak ditengah ini hanya merupakan sebuah ruang besar tanpa segala peralatan atau perabot seperti umumnya, yang lebih mengherankan bahwa ditengah ruangan besar menghadap kepintu terdapat sebuah peti mati yang besar warna merah marong.

Terasa suasana seram mencekam keadaan sekelilingnya, sesaat ia berdiri melongo tak tahu apa yang harus diperbuatnya, waktu ia melirik kearah wanita hitam, tampak rambutnya terurai menutupi seluruh wajahnya keadaannya ini lebih menambah keseraman dan menakutkan keadaan waktu itu.

"Kau ini yang bernama Suma Bing?"

Sebuah suara tiba2 bertanya.

Suma Bing melonjak kaget, kiranya suara itu keluar dari dalam peti besar itu, agaknya penghuni peti besar itu bukan jenazah tapi adalah seorang hidup.

Tapi mengapa baik2 menjadi seorang hidup kok sembunyi didalam peti mati, hal inilah yang susah dimengerti.

"Kau dengar pertanyaanku tidak?"

Suma Bing menenangkan hatinya lalu menyahut.

"Memang aku yang rendah Suma Bing adanya"

"Kau menjadi murid Sia-sin Kho Djiang?"

"Benar, kau mengundang aku yang rendah kemari ada pengajaran apakah?"

"Sudah tentu ada urusan!"

"Kau masih hidup mengapa menyamar jadi setan menakuti orang?"

"Hahahahaha..."

Lengking suara tawa bergema panjang berat dan menyayatkan hati, seakan bukan keluar dari mulut manusia, hingga timbul prasangka orang yang mendengar akan ringkikkan iblis ditengah malam.

Dasar sifatnya memang keras, Suma Bing menjadi gusar karena merasa dicemoohkan oleh suara tawa itu, segera ia membentak keras.

"Ada apa yang lucu hingga kau tertawa seperti setan gila?"

Seketika suara tawa itu sirap lantas terdengar pula suara itu berkata.

"Sudah terang aku ini setan, tapi kau mengatakan aku menyamar jadi setan, bukankah sangat menggelikan?"

"Huh, setan apa segala adalah cerita badut yang melucu mana ada setan didunia?"

"Jadi kau tidak percaya?"

"Kalau kau tidak membicarakan urusan sebenarnya, lebih baik aku permisi saja."

"Kau hendak pergi? Hahaha, kuberitahu Suma Bing, ada jalan masuk untukmu tapi tiada pintu untuk keluar, kalau tidak percaya kau boleh coba2"

"Belum tentu kau dapat mengekang aku?"

"Terserah kau mau percaya apa tidak, akan tiba saatnya kau dapat membuktikan. Sekarang jawablah satu pertanyaanku, sebebenarnya Sia-sin Kho Djiang mengumpat dimana?"

"Mengumpat, huh, diseluruh jagad raya ini mungkin tiada seorangpun yang dapat memaksa dia orang tua mengumpat!"

"Kutanya kau dimana dia sekarang?"

"Tentang..."

Otak Suma Bing berputar cepat, pesan Suhu sangat keras dia melarang aku turun tangan terhadap wanita yang pandai menggunakan ilmu cakar setan seratus perobahan juga dilarang menerangkan jejaknya, bagaimana mungkin dia melanggar pesan Suhunya itu, maka setelah merandek sekian lamanya segera ia menyahut tegas.

"Tak bisa kukatakan!"

Agaknja orang didalam peti mati itu menjadi gusar bentaknya garang.

"Tidak kau katakan!"

"Benar aku tidak bisa memberitahu."

Sahut Suma Bing kaku.

"Huh, gurunya sesat muridnyapun nyeleweng, memangnya kau sangka aku kewalahan menghadapi kau?"

"Brak,"

Tiba2 tutup peti mati berkisar kesamping disusul sebuah bayangan orang muncul berduduk dari peti mati, jelas itulah seorang wanita pula keadaannya seperti si serba hitam, rambutnya terurai panjang awut2an, yang berbeda hanya rambut yang menutupi muka itu sudah hampir seluruhnya beruban.

Berdetak keras jantung Suma Bing, serta merta ia mundur dua tindak.

Suasana tegang mengandung keseraman yang mencekam hati.

Entah cara bagaimana orang bergerak, tahu2 orang dalam peti mati itu sudah melejit tiba diambang pintu dan berdiri dihadapan Suma Bing, dengan ketajaman pandangan Suma Bing ia tidak tahu kapan dan bagaimana orang bergerak.

"Suma Bing, kau katakan tidak?"

"Tidak."

"Kau jangan menyesal ya."

"Selamanya aku tidak mengenal apa artinya menyesal!"

Orang aneh dari peti mati itu mendesis seram, katanya.

"Kau tahu bagaimana aku hendak menghadapimu?"

Ancaman ini benar2 membuat orang bergidik takut. Suma Bing menjadi nekad, sahutnya.

"Cara bagaimana kau hendak menghadapi aku?"

"Kulenyapkan ilmu silatmu, kurusak wajahmu juga baru kulepas kau dikalangan Kangouw."

Suma Bing tidak tahu wanita aneh ini ada permusuhan apa dengan suhunya sehingga sedemikian kejam ia hendak menghukum dirinya.

Karena suhu melarang aku turun tangan masa aku harus mandah terima binasa?

Karena pikirannya ini tanpa terasa rnulutnya berkata.

"Ada permusuhan apa suhuku kepadamu?"

"Dendam! hehehehe, aku benci dia, juga membenci seluruh laki2 dikolong langit ini."

"Kenapa?"

"Benci, karena benci, tidak karena apa? sekarang kuperingatkan yang terakhir, kau katakan tidak?"

"Tidak!"

Sahut Suma Bing menggeleng dengan angkuhnya.

Tangannya diulur langsung, wanita aneh didalam peti mati mencengkram kemuka Suma Bing.

Selayang pandang Suma Bing dapat lihat bahwa lawan melancarkan jurus2 dari ilmu cakar setan beratus perobahan itu, karena mematuhi pesan gurunya, segera ia batalkan serangan tangan yang sudah diayun, tubuhnyapun segera melesat mundur secepat kilat sejauh lima kaki, terpaut serambut hampir saja mukanya dedel dowel.

Wanita aneh mengekeh dingin, lagi2 cakar tangannya sudah mencengkram tiba, bukan saja cara mencengkramnya sangat cepat juga sangat aneh dan menakjubkan.

Keringat dingin membanjir membasahi tubuh Suma Bing, sedapat mungkin ia miringkan tubuh berusaha berkelit, namun 'bret' lengan bajunya terkoyak panjang, sepanjang lengannya membekas jelas lima jalur merah darah bekas cakaran tangan.

"Suma Bing, kalau kau dapat menghindari jurus ketiga, segera kulepas kau pergi,"

Bayangan cakar setan berkelebat melayang2 bagai hujan salju semua menungkrup kearah Suma Bing.

Arwah Suma Bing seakan melayang keluar, terasa olehnya tiada tempat atau waktu untuk dirinya menyingkir atau berkelit lagi, tahu2 pundaknya terasa kesakitan lima cakar lawan mencengkram amblas masuk da ging.

Seketika buyarlah semua hawa murni dan tubuhpun terasa lemas lunglai.

"Kau masih ada omongan apa lagi?"

Ancam wanita aneh menyeringai. Bergolak darah Suma Bing serunya beringas.

"Kalau bukan karena pesan suhu, belum tentu kau dapat berhasil sedemikian gampang."

Agaknja wanita aneh itu tergetar kaget, tanyanya.

"Pesan guru apa itu?"

"Dia orang tua melarang aku turun tangan terhadap orang yang menggunakan jurus2 Pek-pian-kui djiau!"

"Apa betul?"

"Apa kau lihat aku balas menyerang?"

"Dia... dia... hm, bohong. Siautju, sekarang biar kurusak wajahmu ini."

Sebuah cakar tangan yang halus pucat memutih per-lahan2 bergerak kearah wajah Suma Bing.

Dalam saat2 diambang ajal itu terbayang oleh Suma Bing akan tugas menuntut balas yang belum terlaksana, juga teringat akan benci, hutang budi pada orang lain, semua ini terbayang dikelopak matanya dan sekejap itu pula menghilang dari ingatannya.

Dia ingin berontak, tapi lantas teringat akan pesan suhunya yang selalu mengekang dan membatasi gera-gerik dirinya...

Dengan membelalak ia awasi cakar tangan itu semakin dekat didepan matanya.

Terpaut setengah dim dari wajahnya cakar tangan itu berhenti dan tidak bergerak lagi.

Keringat dingin segede kacang mengalir deras diatas jidatnya.

"Kasih tahu aku, dimana dia berada?"

Ratapnya sedih menyayatkan hati mengandung kegetiran hati yang tak terperikan.

"Tidak bisa!"

Sahut Suma Bing tetap keras kepala.

"Jadi kau rela menjadi tanpadaksa dan rusak wajahmu, lebih baik mati daripada hidup?"

"Siluman jalang, turun tanganlah."

"Plok,"

Sebuah tamparan nyaring membuat mata Suma Bing ber-kunang2, darahpun meleleh dari sudut bibirnya lalu disusul jari2 berat berkali2 menutuk diberbagai jalan darah diseluruh tubuhnya.

Mengikuti setiap tutukan Suma Bing merasakan hawa murninya pun ber-angsur2 membuyar dengan cepat.

Diam2 ia mengeluh dalam hati, seluruh kepandaian silatnya sudah ludas dalam sekejap itu.

Untuk seorang persilatan hal ini lebih mengenaskan beratus lipat dari kematian, saking tak tahan mulutnya berteriak memaki.

"Siluman jalang kau..."

"Blang"

Badan Suma Bing terbang sejauh tiga tombak darah menyembur keras dari mulutnya, tubuhnya lemas lunglai tergolek diatas tanah tanpa bergerak.

Segera wanita aneh dari peti mati itu berpaling kearah wanita serba hitam dan berkata.

"Giok-sia kurung dia didalam barisan teriakan setan mengejar nyawa, seumur hidup ia tidak membuka mulut, kurung dia selama itu jua."

Si wanita serba hitam mengiakan, bagai menangkap anak ayam ia jinjing tubuh Suma Bing dengan langkah lebar ia keluar terus memasuki hutan pohon siong sebelah sana, ditengah antara rumpun pohon siong dibangun sebuah rumah kecil serba hitam pula, dimana hanya ada sebuah pintu dan sebuah jendela.

Suma Bing dilempar masuk kedalam rumah kecil itu, lantas pintu ditutup keras2 dan dikunci dari luar.

Sungguh mimpipun Suma Bing takkan menduga bahwa akhirnja ia harus menjadi tawanan dan dipenjarakan dalam rumah hitam itu oleh wanita aneh itu.

Karena kepandaiannya sudah lenyap, tak mungkin lagi dia berobat diri, lebih tak mungkin dapat meloloskan diri.

Kiranya rumah hitam itu terbuat dari besi baja, seumpama Lwekangnya belum hilangpun takkan mungkin dapat membobol rumah besi yang kokoh kuat ini.

Se-olah2 dia tengah bermimpi buruk, ya buruk sekali.

Dalam rumah besi itu selain sebuah dipan kayu tiada perabot lainnya.

Setiap hari wanita bernama Giok-sia itu menghantarkan setalang air dan secawan nasi.

Begitulah Suma Bing lewatkan hari2 dalam kegelapan.

Dia masih mengandung secercah harapan, namun harapan itu adalah sedemikian kecil bagai bayangan saja, sang waktu berjalan terus dan berlalu tanpa terasa.

Namun bagi seorang yang menderita dalam kurungan, seumpama satu jampun sudah terasa bagai satu tahun lamanya.

Hari itu seperti biasanya wanita serba hitam itu datang lagi mengantar makanan, akhirnya tak sabar lagi Suma Bing bertanya.

"Sudah berapa lama aku terkurung disini?"

"Tiga bulan."

"Tiga bulan?"

Suma Bing berteriak kejut tubuhnyapun sempoyongan hampir roboh, raut wajahnya ber-kerut2 tak hentinya.

Teringat dia akan janji pertemuan dengan Siang Siau-hun dalam jangka seratus hari didalam biara bobrok itu.

Sudah tentu Siang Siau-hun takkan tahu bahwa racun dalam tubuhnya sudah punah.

Dalam jangka seratus hari kalau dirinya tidak menepati janji, dapatlah dibayangkan akibatnya, pasti Siang Siau-hun akan bunuh diri untuk membuktikan kesetiaannya.

Di-hitung2 waktunya masih tinggal tiga hari lagi.

Tiga hari, seumpama badannya sehat waalfiat dan bebas dari kurungan, juga sukar dapat menyusul tiba ditempat perjanjian.

Apalagi kini dirinya terkurung dalam penjara apa dia harus membiarkan Siang Siau-hun berkorban karena dirinya.

"Tidak!"

Dia berteriak histeris, suaranya serak menggila dan sesenggukkan. Wanita bernama Giok-sia itu mendengus hina ujarnya.

"Kau berteriak apa? Aku terkurung disini tiga puluh tahun lamanya, mengeluhpun aku belum pernah. Kau hanya terkurung tiga bulan terhitung apa?"

"Tidak, aku... aku..."

"Kau kenapa?"

"Dalam waktu tiga hari, kalau aku tidak menepati sebuah janji pertemuan, seorang gadis akan melayang jiwanya."

"Kenapa?"

"Dia menganggap aku sudah tak dapat hidup lagi...

"Dia itu kekasihmu?"

"Benar."

"Tapi kau tak mungkin keluar, apalagi ilmu silatmu sudah punah?"

Suma Bing mengeluh panjang serta memohon.

"Aku Suma Bing selamanya belum pernah minta belas kasihan orang lain. Sekarang aku mohon padamu, silakan kau lapor kepada gurumu supaya aku keluar menepati janji pertemuan itu, setelah urusan selesai aku pasti kembali lagi, mau bunuh atau mau diapakan terserah pada kalian, aku takkan berkerut kening."

Wanita bernama Giok-sia itu bergelak tawa, serunya.

"Ceritamu ini memilukan hati, tapi masih terlalu hijau. Kau sangka suhumu Kho Lo-sia bisa datang menolongmu?"

Saking gugup otak Suma Bing agak limbung dan kelepasan mulut.

"Tidak, dia sudah mati suhuku sudah lama meninggalkan dunia fana ini."

Sebuah suara gemetar yang memilukan menyambung.

"Apa dia mati, dia... sudah mati?"

Suma Bing melirik kearah suara itu, wanita aneh dari peti mati itu tengah berdiri kaku tiga tombak jauhnya.

Baru sekarang ia insaf telah kelepasan Omong, karena sudah terlanjur segera ia berpikir.

Suhu berpesan supaya jangan membocorkan jejaknya, tapi itu waktu dia masih hidup, sekarang dia sudah meninggal, tak perlu lagi dipersoalkan tentang jejak apa segala.

Sungguh dia sangat menyesal mengapa tidak sejak dulu2 ia berpikir akan hal ini, kalau tidak dia takkan terkurung dan menderita dalam penjara ini, namun sekarang semua sudah terlambat, maka ia manggut2 dan berkata.

"Benar dia sudah mati."

Wanita aneh mengabitkan kepala hingga rambutnya panjang menjulur kebelakang kepala, maka terlihat jelas raut mukanya, sebenarnya wajah itu tidak buruk, namun saat itu menyeringai macam rupa setan menakutkan, dapatlah dimengerti bahwa kabar kematian suhunya memberikan suatu pukulan berat bagi sanubarinya.

"Hahaha... dia sudah mati... hahaha..."

Suara tawa yang menyayatkan hati bagai ringkikan setan iblis, seperti juga lolong serigala yang haus darah, membuat takut dan mengkirik pendengarnya.

"Suhu... kau..."

Wanita serba hitam maju memayang tubuh wanita aneh yang lemas karena terpengaruh oleh perasaannya sendiri.

Lama dan lama sekali baru dia menghentikan sengguk tertawanya, kini wajahnya berobah penuh kegetiran hati dan gusar sekali, desisnya.

"Suma Bing kau tahu siapa aku?"

"Ini aku tidak tahu."

"Setan barat, kau sudah pernah dengar nama itu?"

Terperanjat hati Suma Bing, sungguh diluar tahunya bahwa nenek tua aneh ini kiranya adalah 'Setan barat' yang sejajar dengan suhunya dalam Bu-lim-su-ih.

Akan tetapi ada dendam apakah antara Setan barat dan Lam-sia?

"Harap tanya Tjianpwe dan guruku..."

"Hal itu kau jangan tanya,"

Tukas Setan barat sambil mengulapkan tangan.

"Bagaimana suhumu sampai meninggal?"

"Mati keracunan."

"Apa, mati keracunan?"

Hardik Setan barat, saking gusar rambutnya berdiri menegak bentaknya lebih bengis.

"Siapa yang meracuninya?"

"Murid murtad yang pertama bernama Loh Tju-gi."

Badan Setan barat ber-gerak2 hampir roboh, kedua matanya, mendelik besar memancarkan sinar kekejaman, desisnya.

"Mati ditangan muridnya sendiri?"

Sehijau dan sebodoh2nya Suma Bing kini ia dapat menerka bahwa antara suhunya dan Setan barat ini tentu ada pertikaian cinta asmara yang sangat ruwet.

"Benar mati ditangan muridnya yang dididik dan diasuhnya sejak kecil."

"Ceritakan sejelasnya."

"Loh Tju-gi meminjam nama suhu membunuh tiga antara Bu-lim-sip-yu. Maka tujuh kawan lainnya segera meluruk datang ke Sin-li-hong membuat perhitungan, akibat dari pertempuran yang sengit itu, suhu dikorek sebuah matanya dan ditabas kedua kakinya, lalu dibuang kedalam jurang..."

Tubuh Setan barat tergetar lagi, katanya.

"Masa dia tidak ungkulan melawan keroyokan tujuh orang dari kawanan Bu-lim-sip-yu?"

"Tidak, Loh Tju-gi sebelumnya sudah mengatur tipu daya yang keji lagi telengas, dia meracuni suhu hingga Lwekang suhu surut sebagian besar."

"Anak serigala berhati kejam, apa tujuannya?"

"Dia mencuri se

Jilid buku Kiu-yang-tjin-keng dan sebutir Kiu-tjoan-hoan-yang-tjau-ko.

Dengan keampuhan dari benda mustajab itu dia merebut kedudukan jago nomor satu dari seluruh dunia persilatan, lalu sejak itu dia menghilang tidak keruan paran."

"Sudah berapa lama peristiwa itu terjadi?"

"Kira2 delapan belas tahun yang lalu."

"Delapan belas tahun, delapan belas tahun. Oh, aku terlalu menyalahkan dia!"

Akhirnya Setan barat tak kuat menahan tubuhnya dia meloso lemas duduk diatas tanah. Suma Bing bagai tenggelam ditengah kabut, pikirannya kosong hampa.

"Kau sudah menuntut balas belum?"

Tanya Setan barat lagi.

"Seumpama terbang kelangit dan masuk kebumi wanpwe juga harus mengejar Suheng Loh Tju-gi si murid murtad itu untuk menumpasnya. Tentang Bu-lim-sip-yu selain Tji Khong Hwesio yang sudah mati ditanganku yang lain sudah mati semua tinggal Tiang-un Suseng seorang yang menyembunyikan diri..."

Berkilat2 mata Setan barat menatap kearah muridnya Giok-sia. Wanita serba hitam yang bernama Giok-sia itu perlahan2 menundukkan kepalanya. Tiba2 Setan barat mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya.

"Suma Bing, tadi kau bilang ada janji?"

"Ya, benar."

"Kalau kau tidak menepati janjimu, maka orang itu pasti mati?"

"Ya begitulah!"

"Begitu besar rasa cintanya kepadamu?"

Suma Bing mengiakan sambil manggut2.

"Apa kau juga mencintainya?"

"Sudah tentu!"

"Seumpama kau harus mengorbankan jiwamu demi cintanya itu?"

Suma Bing melengak, entah apa maksud pertanyaan ini? Namun dengan tegas segera ia menjawab.

"Kalau memang harus begitu, akan wanpwe lakoni."

Rona wajah Setan barat berobah tak menentu, agaknya dia tengah menahan perasaan hatinya akhirnya ia berkata lagi dingin kaku.

"Suma Bing, kau tahu bahwa kau pasti mati. Tapi biarlah kubantu melaksanakan keinginan hatimu itu. Kuberi kau tujuh hari untuk hidup, kusembuhkan kembali kepandaian silatmu untuk sementara, supaya kau dapat pergi menepati janjimu. Setelah selesai kau harus segera kembali kesini menyerahkan jiwamu, apa kau sanggup?"

Persoalan berat ini membuat Suma Bing ragu2 maju mundur, sudah pasti bahwa janjinya dengan Siang Siau-hun itu sangat penting.

Tapi, dendam perguruan, sakit hati keluarga, siapa lagi yang akan menuntut balas setelah dia mati?

Apakah dia bisa meram?

Setan barat perdengarkan suara tawa dingin ber-ulang2, jengeknya.

"Suma Bing, macam inikah cintamu itu, kau ragu2 dan bimbang bukan?"

Suma Bing mengertak gigi, sahutnya.

"Aku teringat dendam perguruan dan sakit hati keluarga, kalau aku..."

"Hahaha, kalau kau tidak menepati janji, kalau kau selamanya dipenjarakan diatas pulau ini, kalau riwayatmu sudah tamat, semua ini apakah sudah kau pikirkan? Lalu bagaimana pula akibatnya?"

"Baiklah begitu kita atur."

Akhirnya Suma Bing nekad.

"Pada hari ketujuh kau harus sudah kembali disini?"

"Aku pasti kembali."

"Seandainya kau tidak pulang, kau juga takkan lolos, dari tanganku!"

Habis berkata ia menunjuk wanita serba hitam itu dan berkata.

"Dia bernama Sun Giok-sia, muridku satu2nya, nanti pada hari ketujuh dia akan menantimu dengan sebuah sampan dibawah Te-tjui-hong! (puncak titik lajung)."

"Te-tjui-hong?"

"Benar, terletak didepan danau itulah."

Lalu ia berpaling dan berkata lagi .

"Giok-sia lepaskan dia."

Segera Sim Giok-sia maju membuka kunci dan mementang pintu.

Dengan langkah berat Suma Bing keluar dari rumah hitam.

Seakan ia hidup kembali setelah selama tiga bulan mengecap penderitaan dalam penjara, seakan sudah tiga ratus tahun dia berpisah dengan dunia ramai.

Setan barat segera maju mendekat dengan jarinya ia menutuk beberapa jalan darah ditubuh Suma Bing lalu berkata.

"Lwekangmu bukan kupunahkan, hanya kututup dengan ilmu tutukan tunggalku, sekarang kau pulih kembali seperti biasa"

Suma Bing menyedot hawa dalam2 dan coba2 mengerahkan tenaga, benar juga hawa murni dalam tubuhnya segera bergolak. Setan barat berputar dan per-lahan2 tinggal pergi masuk rumah.

"Mari ikut aku,"

Segera Sim Giok-sia berkata dan menggape.

Suma Bing mengintil dibelakang Sim Giok-sia.

setelah belak-belok beberapa kali, mereka tiba diluar barisan jeritan setan pengejar sukma itu.

Tampak sinar sang surya berkilau2 dipermukaan danau, hari cerah dan pemandangan Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ disekitarnya sangat menyejukkan.

Beruntun mereka naik keatas sampan, seperti datangnya dulu Sim Giok-sia melajukan perahunya dengan cepat.

Kira2 sepeminuman teh kemudian mereka sudah tiba dibawah sebuah bukit kecil yang menghijau.

"Sudah sampai, tempat inilah yang dinamakan Te-djui-hong, tujuh hari kemudian kunanti kedatanganmu disini."

Suma Bing tertawa hambar, katanya.

"Selamat bertemu!"

Melompat tiba didarat segera ia kembangkan ilmu ringan tubuh dan kerahkan seluruh kekuatannya berlari kencang keluar lingkungan bukit kecil ini, dalam tempo tiga hari dia sudah harus tiba dibiara bobrok tempat dimana ia berjanji untuk bertemu pula dengan Siang-Siau-hun.

Begitulah siang dan malam dia terus berlari tak hentinya, pada hari ketiga pagi2 benar tepat waktu sang surya muncul dari peraduannya dia tiba disebuah kota kecil yang tinggal terpaut tigapuluh li dari biara bobrok itu.

Baru sekarang legalah hatinya yang was2 dan kuatir, setelah menangsel perut sekadarnya, bergegas ia melanjutkan pula perjalanannya.

Belum jauh dia meninggalkan kota kecil itu, se-konyong2 sebuah bayangan lencir hitam berkelebat melintang melintasi jalan raya dengan kecepatan seperti angin lesus, sekejap itu bayangan itu menghilang didalam rimba sebelah sana..RAC UN UTA RA KON TRA RAC UN DIR ACU N.

Serta merta Suma Bing menghentikan langkahnya karena ia merasa sangat kenal akan bayangan hitam itu.

Setelah merenung sekian lamanya, teringat dia bahwa bayangan hitam itu tak lain tak bukan adalah Racun diracun yang merebut Pedang darah dari tangannya.

Hari masih begitu pagi dan Racun diracun muncul disini tentu ada peristiwa apa yang telah terjadi.

Apa mungkin didalam rimba itukah sarang Racun diracun?

Tanpa hiraukan bahaya bakal mengancam segera ia melesat memasuki hutan lebat itu.

Kiranya rimba itu adalah sebidang tanah pekuburan.

Membelakangi hutan sebelah kanan sana berdiri sebuah gardu segi delapan, didalam gardu itulah berdiri dua orang entah sedang apa.

Selincah kucing yang hendak menubruk mangsanya Suma Bing berkelebat sembunyi dibelakang sebuah pohon besar yang tidak terlalu jauh dari gardu itu.

Salah seorang dalam gardu itu kiranya adalah Tangbun Yu putra Racun utara.

Melihat musuh besarnya ini timbullah gelora amarah Suma Bing yang tertekan selama ini.

Karena bocah beracun inilah sehingga timbul berbagai peristiwa yang menyakitkan hatinya, maka bocah beracun ini harus dibunuh untuk melampiaskan rasa dendamnya itu.

Seorang lain dalam gardu itu adalah seorang tua berwajah tirus, hidung bengkok mata juling menunjukkan kelicikan wataknya.

Terdengar Tangbun Yu tengah berkata.

"Ayah apa dia pasti datang?"

"Dia sudah datang!"

Tanpa merasa Suma Bing tergetar kaget, adalah diluar sangkanya bahwa siorang tua ini kiranya Pak-tok Tangbun Lu adanya, entah siapakah yang mereka maksud 'dia' dalam percakapan itu?

Tangbun Lu si Racun utara bergelak tawa dengan angkuhnya, serunya.

"Lohu sudah menunggu sekian lamanya, keluarlah!"

Sebuah bayangan berkelebat keluar tidak jauh dari tempat sembunyi Suma Bing, sekali berkelebat enteng dan gesit sekali tahu2 sudah tiba diluar gardu.

Bayangan hitam itu tak lain tak bukan adalah Racun diracun.

Menghadapi Racun diracun, Pak-tok menyeringai tawa hina, sapanya.

"Tuan ini Racun diracun?"

"Benar, tuan mengundang aku ketanah pekuburan ini ada pengajaran apakah?"

"Kalau kau mau menghapus nama julukanmu, Lohu tidak akan memperpanjang urusan ini."

Racun diracun bergelak sombong, katanya.

"Bagi kaum persilatan dia memandang nama julukan lebih berharga dari nyawanya sendiri. Omongan tuan tadi benar2 keterlaluan menghina orang."

Wajah tua Pak-tok semakin mengelam kaku, jengeknya.

"Apa kau tahu mengapa Lohu memilih tempat semacam ini untuk tempat pertemuan kita?"

"Silakan tuan jelaskan."

"Kalau dipendam disini, setelah mati pasti tidak akan kesepian."

Racun diracun mengekeh tawa meliuk tubuh, ujarnya.

"Sama2! Tuan benar2 teliti dan rapi bekerja, mungkin selama ini tuan paling takut akan kesunyian maka sudah mengatur ditempat semacam ini, lain halnya bagi aku yah tidak menjadi soal!"

Saking marah wajah Pak-tok berobah membesi kehijau2an, kepalanya menguap putih, nafsu kekejaman semakin tebal pada wajahnya. Kata Racun diracun lagi.

"Sebaliknya aku belum berpikir untuk minta pada tuan supaya tuan menanggalkan nama julukan Pak-tok..."

"Tutup mulut! Nama Racun diracunmu itu, apa kau bermaksud hendak mengungkuli Lohu?"

"Itu terserah bagaimana tuan ambil kesimpulan, aku tidak ingin main debat!"

"Siaupwe sungguh sombong benar..."

"Siaupwe? Hahahaha, sebaliknya kau Tangbun Lu jangan kau mengangkat dirimu terlalu tinggi."

Gemetar tubuh Racun utara saking menahan kemarahan hatinya, suaranya mengandung ancaman membunuh.

"Jadi kau beranggapan bahwa kau lebih beracun dari Lohu?"

Racun diracun tertawa sinis, sahutnya.

"Akan tetapi tuan belum tentu kau lebih unggul dari aku."

"Baiklah, biar Lohu mengukur sampai dimana kemampuanmu."

"Dengan senang hati aku mengiringi."

"Yu-ji, tuang arak suguhkan pada tamu."

Tangbun Yu mengiakan dan segera menuang dua cangkir arak terus diletakkan diatas meja batu ditengah gardu.

Ketegangan melingkupi suasana sekelilingnya, sebab dua belah pihak sama2 menggunakan racun2 berbisa yang bertujuan membunuh lawannya tanpa menggunakan kekerasan.

Sementara itu Suma Bing sendiripun tepekur dibelakang pohon bersitegang leher, dua pihak yang tengah menyabung nyawa dalam gardu adalah musuh2nya, ingin dia menyaksikan siapa lebih unggul dan siapa lebih berbisa.

Tangan Racun utara diulapkan dan berkata.

"Inilah Jip-gau-toan-yang (masuk mulut meremukkan usus) silahkan.", terus ia angkat cangkir langsung ditenggak habis. Racun diracun melangkah masuk kedalam gardu, tanpa ragu2 ia angkat juga cangkir yang lain terus ditenggak habis. Lalu dia sendiri menuang dua cangkir penuh arak, jari kelingkingnya menyelentik sekali dibibir cangkir terus berkata.

"Pemberian yang tak dibalas kurang hormat, silahkan inilah It-te-siu (setitik istirahat)."

"Inilah Giam-ong-leng (perintah raja akhirat), silakan"

"Inilah Racun tanpa bayangan, silakan."

"Inilah Biat-seng-tjui, (air pelenyap bentuk) silakan."

Racun diracun menuang dua cangkir terakhir, serta katanya.

"Inilah cangkir yang terakhir, kalau tuan mampu bertahan, aku mengaku kalah saja, untuk selanjutnya biar kalangan Kangouw tiada seorang kosen macam Racun diracun..."

"Apa nama racun ini?"

"Tuan berjuluk Racun utara, masa tidak dapat melihat sendiri?"

Rona wajah Racun utara berobah mengeras, sekian lama ia terlongo ditempatnya tanpa kuasa buka suara. Racun diracun menyeringai hambar, lalu ujarnya.

"Inilah Ban-lian-tok-bo!"

Racun utara mundur terhuyung tubuhnya semampai lemas dijagak gardu mulutnya mendesis gemetar.

"Induk racun berlaksa tahun?"

"Yah, inilah racun diracun, racun diluar racun, kombinasi berlaksa racun dari seluruh jagad."

Suma Bing yang bersembunyi ditempat gelappun merinding dan berdiri bulu kuduknya, permainan adu racun yang menentukan mati hidup dan gengsi macam ini agaknya belum pernah terjadi dalam dunia persilatan selama ini.

Begitulah Racun diracun segera angkat sebuah cawan terus ditenggak habis dan mengacungkan cangkir kosong kehadapan Racun utara.

Agaknya Racun utara keder, setelah bimbang sekian lamanya terpaksa ia minum juga arak terakhir ini, seketika otot hijau diatas jidatnya merongkol keluar, tubuhpun terhuyung hampir roboh.

Kata Racun diracun pula.

"Tuan selamanya pandai menggunakan racun, sudah tentu Induk racun berlaksa tahun ini takkan dapat membuat tuan mati. Tapi untuk membersihkan racun itu dari dalam tubuhmu, sedikitnya kau harus berjerih payah selama sepuluh tahun!"

Dengan kebencian yang me-nyala2 Tangbun Lu mendengus, serunya.

"Yu-ji, mari pergi!"

"Bocah berbisa tunggu dulu!"

Berbareng dengan habisnya suara ini sebuah bayangan sudah melesat tiba diluar gardu. Tangbun Yu menyeringai bengis, desisnya.

"Suma Bing kau belum mati. Oh, ya, waktunya belum tiba bukan?"

Bagai bola api yang membara kedua mata Suma Bing berkilat2 menatap Tangbun Yu geramnya.

"Bocah jadah barang permainan seperti racun Pek-jit-kui mu bisa mengapakan aku? Hari ini silahkan kaupun merasakan kelihayan aku punya Lip-sip-kui"

"Apa? Lip-sip-kui (segera pulang)?"

"Benar, Lip-sip-kui-thian (segera mati)!", sembari kedua tangan langsung disodokkan kearah Tangbun Yu, bahna gusarnya pukulannya ini meliputi pengerahan seluruh tenaganya yang berlandaskan Kiu-yang-sin-kang, gelombang panas bagai badai dipadang pasir segera ber-gulung2 melanda kearah Tangbun Yu. Ter-sipu2 Tangbun Yu juga angkat tangan menangkis.

"Blang"

Ditengah ledakan dahsyat itu tubuh Tangbun Yu tergetar terbang jauh setombak lebih.

Belum cukup puas melihat hasil pukulannya Suma Bing berkelebat menyusul tiba lagi dengan serangan yang lebih hebat.

Sebuah tangan Tangbun Yu ber-goyang2 sambil membentak.

"Roboh!"

Suma Bing tahu bahwa lawan tengah menyebar racun berbisa.

Namun sejak menelan seluruh batang rumput ular serta buahnya pemberian Manusia bebas diluar dunia itu Suma Bing sudah kebal dan tidak lagi takut segala racun berbisa.

Bertepatan dengan seruan 'roboh' Tangbun Yu dengan kecepatan kilat sebuah pukulan Suma Bing sudah menghantam ke dada Tangbun Yu.

Sungguh mimpipun Tangbun Yu takkan menyangka bahwa Suma Bing kini sudah tidak gentar lagi menghadapi segala racun, baru saja ia tertegun kejut pukulan Suma Bing sudah menyodok tiba.

"Blang"

Diselingi pekik kesakitan Tangbun Yu mulutnya muntah darah badannyapun terbang sejauh tiga tombak.

Melihat putra tunggalnya terpukul luka parah, keruan Racun utara murka sekali bergegas ia melejit maju serta bertanya.

"Kau ini murid Kho-lo-sia?"

"Kau mau apa?"

"Sambutlah sebuah pukulan Lohu."

Habis ucapannya sejalur angin dingin segera menerpa deras kearah Suma Bing.

Hian-in-kang kebanggaan Racun utara merupakan salah satu ilmu tunggal yang diakui kehebatannya oleh kaum persilatan.

Meskipun Suma Bing melatih Kiu-yang-sin-kang, ilmu sakti lawan pemunah dari Hian-in-kang sayang Lwekang dan latihannya belum sempurna.

Begitu ia menangkis, kekuatan pukulannya bagai amblas kedalam lautan hanya terdengar suara mendesis.

Kontan dia sendiri lantas merasakan jalur2 angin sedingin es meresap memasuki seluruh tubuhnya terus merangsang kearah jantung, tubuhnya gemetar kedinginan dan limbung hampir jatuh.

Pak-tok menyeringai iblis, ujarnya.

"Siau-sia (sesat kecil), biar Lohu sempurnakan kau!"

Angin puyuh laksana sebuah gunung menindih kearah Suma Bing, dalam melancarkan pukulannya ini Pak-tok tidak mengerahkan ilmu Hian-in-kang lagi, namun dengan latihan Lwekang Racun utara berpuluh tahun itu cukup kiranya membuat Suma Bing gentayangan, apalagi sebelumnya ia sudah kesurupan hawa dingin jahat dari pukulan musuh, sedikit banyak hawa murninya sudah susut sebagian.

"biang"

Untuk sekian kalinya Suma Bing muntah darah dan terpental jauh setombak lebih.

Sementara itu sambil menggendong tangan Racun diracun mandah menonton saja dipinggiran.

Memangnya antara Pak-tok dan Lam-sia adalah musuh bebuyutan, besar niatnya hendak melenyapkan murid musuh besarnya ini.

Maka tanpa mengenal ampun lagi tubuhnya lagi2 sudah melejit tiba dan sebuah pukulan keras dilancarkan pula.

"Bum"

Sebelum Suma Bing sempat bernapas tahu2 tubuhnya sudah sungsang sumbel jungkir balik terbang dua tombak lebih jatuh dipinggir hutan.

Memang sifat Pak-tok kejam telengas, tubuhnya berkelebat maju lagi...

Mendadak sebuah bayangan putih berkelebat juga melayang tiba menghadang didepan Suma Bing.

Pak-tok melengak, desisnya.

"Budak kecil, minggir!"

Bayangan putih yang baru tiba ini kiranya adalah murid Pek-hoat-sian-nio yang bernama Ting Hoan. Wajah Ting Hoan penuh rasa ejek, semprotnya.

"Tua bangka beracun perbuatanmu sungguh kejam dan tidak tahu malu!"

"Siapa kau?"

"Ting Hoan!"

"Murid siapa?"

"Kau tidak perlu tahu."

"Aku tidak sudi turun tangan kepada angkatan muda kalau kau ingin hidup lekas menyingkir."

"Huh, kenyataan tingkah lakumu berbeda dengan obrolanmu itu."

Selamanya Pak-tok sangat menjunjung tinggi gengsi dan kedudukannya.

Tapi setelah dikalahkan oleh Racun diracun, putra kesayangannya juga dihantam luka parah oleh Suma Bing, dalam gusar dan malunya ia berbuat diluar kesadarannya, tingkah lakunya berlawanan dengan kebiasaannya, sambil menggeram murka ia membentak.

"Budak busuk, akan Lohu bikin kau mati tiada tempat liang kubur."

Melihat yang datang menghadang ini adalah Ting Hoan, Suma Bing gugup teriaknya.

"Nona Ting, minggirlah kau..."

Belum lenyap suaranya Racun utara sudah turun tangan menyerang kearah Ting Hoan.

Serangan kali inipun bukan olah2 dahsyatnya.

Sebenarnya Ting Hoan gampang saja berkelit, tapi bila dia menyingkir berarti serangan hebat ini pasti akan menerjang Suma Bing yang sudah luka parah itu, maka dapatlah dibayangkan akibat dari pukulan ini.

Terpaksa Ting Hoan nekad menyambuti pukulan musuh secara keras lawan keras.

Akan tetapi dalam dunia persilatan masa itu yang kuat bertahan terhadap pukulan hebat Hian-inkang dari Pak-tok ini mungkin dapat dihitung dengan jari.

Baru saja Ting Hoan melancarkan pukulannya, angin dingin pukulan musuh sudah menungkrup tiba mengurung seluruh tubuhnya, seketika tubuhnya bergidik kedinginan, tubuhnyapun terpental jatuh duduk diatas tanah, seakan badannya direndam dalam gudang es dan menjadi beku.

Memang tidak malu Pak-tok kenamaan karena kekejaman dan kelicikannya, sambil menyeringai seram ia mendesak maju lagi sambil angkat tangannya siap hendak memukul lagi.

Pada saat itulah mendadak Racun diracun melayang tiba mencegat dihadapannya, jengeknya.

"Tuan kiranja cukup sampai sekian saja!"

Wajah Pak-tok berobah keras membesi, desisnya.

"Kaupun turut campur dalam urusan ini?"

Racun diracun mendengus jijik, ujarnya.

"Dengan kedudukan tuan, turun tangan tiga jurus sudah harus segera mengundurkan diri!"

Air muka Tangbun Lu siracun utara berobah merah padam, sikapnya malu dan serba susah, setelah membanting kaki segera ia memutar tubuh mengempit Tangbun Yu terus berlari pergi bagai terbang.

Terdengar Suma Bing berseru keras.

"Jadah tua beracun, akan datang suatu hari akupun akan menghantammu muntah darah!"

Bahwa dengan gertakan saja Racun diracun dapat menggebah pergi Racun utara benar2 membuat Suma Bing kagum dan heran.

Sementara itu wajah Ting Hoan pucat pias, matanya terpejam rapat dan tengah menjalankan pernapasan untuk menghimpun tenaga dan mendesak hawa beracun yang bersifat dingin itu menguap keluar dari tubuhnya.

Racun diracun mengacungkan sebutir pil kearah Suma Bing serta katanya.

"Telanlah ini, segera tenaga kau akan pulih segar bugar!"

Suma Bing terlongo memandang Racun diracun dengan penuh tanda tanya, dilain saat wajahnya berobah kaku dingin dan berkata.

"Aku tak sudi terima budimu ini."

"Suma Bing, nona ini terluka parah karena menolong kau, hawa beracun sudah meresap kedalam tubuhnya, selain ilmu Kiu-yang-sin-kangmu tak mungkin dapat mendesak keluar hawa beracun itu dari dalam tubuhnya. Kalau tertunda terlalu lama, bila hawa beracun itu merembes masuk jalan darah Yang-wi dan Yang-kiau serta sendi2nya, seumpama dewapun takkan mampu menolongnya lagi."

Bergidik seram Suma Bing hal ini benar2 membuatnya serba susah.

Tak mungkin dia tinggal diam melihat Ting Hoan menderita terancam jiwanya karena membantu dirinya.

Tapi sebaliknya dia tidak sudi terima kebaikan yang diulurkan dari Racun diracun.

Lagi pula sepak terjang Racun diracun ini benar diluar dugaannya.

Terdengar Racun diracun telah berkata lagi.

"Apa kau benar2 tega melihat gadis rupawan ini berkorban karena menolong jiwamu?"

Lagi2 melonjak hati Suma Bing, katanya.

"Tuan mengandung muslihat apa silakan jelaskan sekalian."

Racun diracun tertawa ejek, ujarnya.

"Suma Bing, untuk merenggut jiwamu aku tidak perlu bersusah payah, entah dengan tanganku atau menggunakan racunku, mengapa sedemikian besar rasa curigamu?"

"Akan tetapi diantara kita masih ada hutang lama yang belum dilunasi."

"Maksudmu tentang Pedang darah itu?"

"Benar, dan juga peristiwa peracunan Siang Siau-moay dan Li Bun-siang termasuk pula dalam perhitungan itu."

Racun diracun tertawa sinis, ujarnya.

"Suma Bing beginilah macam murid Lam-sia yang ditakuti itu, sikapmu sangat tercela."

Suma Bing melengak, sahutnya.

"Mengapa?"

"Kelak masih ada waktu panjang untuk menyelesaikan perhitungan itu, aku tidak akan mungkir dan takkan menebus dengan perbuatan baik budiku, kau tidak perlu takut. Saat ini adakah minatmu untuk menolong jiwa orang?"

Kontan merah jengah selebar muka Suma Bing, ia bungkam seribu basa. Kata Racun diracun lagi.

"Sebelum kau turun tangan menolongnya kau harus menutuk seluruh jalan darah besar kecil diseluruh tubuhnya, supaya hawa dingin tidak merandek ketinggalan didalam tubuhnya. Sekarang aku pergi!"

Baru saja Suma Bing hendak mengucapkan apa2, Racun diracun sudah berkelebat hilang.

Sebetulnya dia tidak sudi terima obat orang, namun luka Ting Hoan itu tidak bisa tidak harus diobati.

Jikalau luka tubuhnya sendiri belum tersembuhkan, mana mungkin ia kuat mengerahkan Kiu-yang-sin-kang.

Seandainya dia kuat bertahan dan berobat dengan caranya sendiri, tanpa menggunakan obat pemberian orang, mungkin pada saat ia selesai berobat waktunya sudah terlambat.

Dulu waktu dirinya diringkus Pek-hoat-sian-nio, beruntung Ting Hoan diam2 membantu hingga dia lolos dari lobang jarum.

Sekarang Ting Hoan terluka parah oleh pukulan Hian-sin-kang karena dia pula, apa aku tidak harus menolongnya?

Sepak terjang Racun diracun yang diluar kebiasaan ini benar2 susah diselami, bahwa manusia beracun yang lebih berbisa dari Racun utara kiranya juga dapat berbuat bajik dan mengenal peribudi?

Begitulah setelah timang dan direnungkan sekian lamanya akhirnya ia telan juga obat pembelian Racun diracun itu.

Benar2 mustajab kenyataan seperti apa yang diucapkan oleh Racun diracun, dalam jangka waktu yang tidak begitu lama Suma Bing rasakan tenaganya sudah pulih seluruhnya, rasa sakit diseluruh tubuhpun lenyap tak berbekas, entah obat dewa apakah ini sedemikian hebat khasiatnya.

Setelah tenaga Suma Bing pulih kembali, segera yang harus dilakukannya adalah menolong Ting Hoan mendesak hawa berbisa dari pukulan Hian-in-kang keluar dari badannya.

Tapi setelah diingat bahwa dia harus menutuki jalan darah besar kecil diseluruh tubuh orang, seketika ia bimbang dan ragu, bukankah itu berarti dia harus menyentuh tubuh gadis rupawan yang masih suci bersih itu...

Namun setelah dipikirkan lagi, apa yang dilakukan ini demi untuk menolong jiwanya tentu Ting Hoan akan maklum dan memaafkan perbuatannya ini.

Maka tanpa ragu2 lagi segera ia turun tangan menutuk semua jalan darah ditubuh orang!

Dimana telunjuk jarinya menyentuh terasa kulit tubuh orang sedemikian halus dan lemas seakan tidak bertulang, suatu perasaan yang susah dilukiskan terasa meresap masuk kedalam badan dan mengambang keseluruh tubuh.

Matanya dipejamkan tak berani menatap wajah yang ayu molek bak bidadari, karena itu akan menambah gejolak hatinya yang tidak tentram.

Saat mana kebetulan dia menutuk sebuah jalan darah disamping Djiu-tiong-hiat, tiba2 Ting Hoan menggeliat hingga, jarinya dengan tepat menutuk diujung buah dadanya yang montok lunak.

Tubuh Suma Bing tergetar bagai kesetrom aliran listrik.

Untung Ting Hoan masih belum siuman dari pingsannya, kalau tidak entah bagaimana risi dan kikuk sikapnya.

Setelah semua jalan darah tertutuk habis badan Suma Bingpun basah kuyup oleh keringat.

Bukan karena terlalu lelah atau banyak mengeluarkan tenaga tapi adalah karena terlalu tegang dan gugup.

Ia menghela napas panjang lega lalu membalik tubuh Ting Hoan, tangan kiri melekat dijalan darah Bing-bun-hiat, lantas kekuatan Kiu-yang-sin-kang disalurkan melalui telapak tangannya merembes masuk dari Bing-bun-hiat keseluruh tubuh Ting Hoan.

Kiu-yang-sin-kang memang lawan pemunah dari Hian-in-kang, maka setengah jam kemudian per-lahan2 Ting Hoan siuman dari pingsannya.

Suma Bing segera menarik tangannya!

Ter-sipu2 Ting Hoan melompat bangun, dengan penuh haru ia berkata pada Suma Bing.

"Terima kasih kau telah mengobati aku."

"Nona terluka karena aku,"

Jawab Suma Bing sungguh2.

"Sudah seharusnya aku menolongmu, apalagi tempo hari nona diam2 telah membantu aku..."

Wajah Ting Hoan berobah serius, katanya.

"Memang waktu Suhu akhirnya tahu kau belum mati, dia marah2 dan hendak menghukum aku karena membangkang pada perintahnya. Dalam gugupku aku berbohong kukatakan bahwa kau pandai ilmu memindah jalan darah, maka meskipun kau tertutuk jalan darah kematianmu tapi tak dapat meninggal."

"Selamanya aku mengutamakan perbedaan budi dan dendam, kelak aku harus membalas..."

Dengan penuh perasaan mesra dan penuh perhatian Ting Hoan menukas ucapan Suma Bing.

"Siapa ingin kau mengucapkan perkataan itu, aku berbuat begitu, karena... karena.."

"Karena apa?"

Merah jengah selebar muka Ting Hoan, sambil menunduk malu2 akhirnya ia berkata.

"Karena aku suka kepadamu!"

Serta merta tergerak hati Suma Bing, sudah tentu ia maklum akan maksud perkataan 'Suka' ini.

Mendadak teringat olehnya akan tujuan kedatangannya yang utama serta janjinya kepada Setan barat.

Dalam tujuh hari dia harus kembali kepulau kecil ditengah danau itu.

Karena pikirannya ini tanpa terasa mencelos hatinya, serunya gugup.

"Nona Ting, saat ini aku ada urusan sangat penting, harap sukalah maafkan ucapanku yang teledor tadi. Budi kebaikan nona itu mungkin selama hidup ini tak mungkin dapat kubalas lagi. Tapi itu hanya suatu misal saja, asal aku dapat tetap hidup tentu tidak akan kulupakan keluhuran budi nona itu, harap kau menjaga diri baik2."

Berobah hebat wajah Ting Hoan mendengar ucapan Suma Bing itu, serunya tergagap.

"Kau... kau... Apa katamu?"

Namun Suma Bing sudah melesat terbang jauh tak mendengar seruannya, sebentar kemudian bayangan tubuhnya sudah hilang dari pandangan mata.

Ting Hoan tertegun melongo ditempatnya, entah bagaimana perasaan hatinya, dia tidak tahu mengapa Suma Bing bisa mengucapkan perkataan demikian?

Dengan penuh keperihan hati ia menghela napas panjang lantas menggerakkan tubuh berlari keluar rimba.

Dalam pada itu Suma Bing tengah berlari cepat bagai luncuran meteor, jarak tigapuluh li dalam sekejap mata saja telah ditempuhnya.

Samar2 bayangan tembok biara bobrok itu sudah kelihatan dari kejauhan, denyut jantungnya berdetak semakin cepat, dia berharap bahwa kedatangannya ini masih belum terlambat.

Sejenak ia menenangkan hati terus berkelebat memasuki biara.

"Ah..."

Tidak tertahan lagi Suma Bing berseru kejut bulu kudukpun berdiri seram saking kaget hampir saja jantung terasa hendak melonjak keluar.

Tujuh mayat manusia yang berlepotan darah susah dikenal malang melintang terkapar diatas tanah dipekarangan biara bobrok itu.

Dari tanda pengenal yang tersulam didepan dada para korban dapat diketahui bahwa mereka adalah anak buah Bwe-hwa-hwe.

Siapakah yang telah turun tangan sekejam itu?

Apakah Siang Siau-hun sudah datang menepati janjinya?

Apa ada sangkut paut kematian mereka ini dengan Siang Siau-hun?

Otaknya bekerja cepat memikirkan semua pertanyaan itu.

Kaki diangkat ia melangkah masuk kedalam ruang tengah yang kotor dan jorok, dimana ia tempo hari bertempur dengan putra Racun utara yaitu Tangbun Yu, dan karena kelicikan Tangbun Yu lah maka dia terkena racun dan terjadilah ikatan perjanjian sehidup semati itu.

Baru saja kakinya tiba diambang pintu sebuah bayangan punggung seseorang tersandang dalam pandangan matanya.

Sungguh girang Suma Bing bukan kepalang, kiranya dirinya belum terlambat, maka dengan suara riang gembira ia berseru nyaring.

"Adik Hun!"

Eh, aneh, mengapa bayangan tubuh langsing menggiurkan itu diam saja tanpa bergerak se-olah2 tidak mendengar seruannya.

"Adik Hun, aku..."

Dia berseru lagi lebih keras.

Wanita itu per-lahan2 memutar tubuh.

Seketika pandangan mata Suma Bing terbelalak se-olah2 didepan matanya terpasang sebuah lampu yang bersinar terang menyilaukan matanya serta melihat orang dihadapannya segera ia telan kembali kelanjutan kata2nya dan serta merta ia mundur dua langkah.

Orang itu (wanita) bukan Siang Siau-hun.

Namun lebih cantik lebih rupawan dari Siang Siau-hun, wanita ini sedemikian cantik molek, tapi wajahnya membeku dingin dan sikapnya angkuh sekali, membuatnya tidak berani beradu pandang.

Hati Suma Bing menjadi gundah dan risau, bahwasanya bagaimanapun juga tentu Siang Siau-hun tidak akan ingkar janji, namun kemana orangnya?

Mayat bergelimang darah didalam biara bobrok ini sangat mengherankan.

Adalah nona cantik bak bidadari bersikap kaku dingin ini lebih menambah hatinya tidak tentram.

Mulut mungil sigadis setengah terbuka dan berkata dingin.

"Siapa adik Hun-mu itu?"

Suma Bing merasakan mukanya panas, sahutnya kikuk.

"Maaf aku salah mengenal orang!"

"Huh, salah mengenal orang, apa adik Hunmu itu berparas seperti nonamu ini?"

"Ini... tidak..."

"Lalu bagaimana kau bisa salah mengenal orang?"

Sebenarnya Suma Bing ingin memberi penjelasan, dasar sifatnya sendiri memang angkuh dan congkak, melihat sikap kaku dan dingin sinona dongkol hatinya tanpa banyak kata lagi segera ia putar tubuh terus tinggal pergi.

"Kembali!"

Tanpa kuasa Suma Bing menghentikan langkahnya dan membalik tubuh, tanyanya dingin.

"Nona masih ada perkataan apa lagi?"

"Kau ini yang bernama Suma Bing?"

Suma Bing melengak tidak tersangka olehnya bahwa orang mengetahui namanya, sebaliknya dia belum kenal siapakah nona ini, maka sambil manggut dia menjawab.

"Benar!"

"Apa kau tidak ingin tahu siapa aku ini?"

"Hal ini... agaknya tidak begitu perlu!"

"Huh, serba sesat!"

"Apa maksud ucapan nona ini?"

Semprot Suma Bing dongkol. Gadis itu celingak-celinguk lalu berkata.

"Kau datang menepati janji seorang gadis bukan?"

"Darimana nona bisa tahu?"

"Gampang sekali, kau pontang panting berlari datang, salah mengenal orang, bukankah ini bukti yang nyata?"

"Apa nona melihat wanita sahabatku itu?"

"Ya, malah aku kenal namanya Siang Siau-hun!"

Suma Bing kegirangan serunya.

"Dimana dia?"

"Sudah pergi!"

"Pergi?"

Seru Suma Bing kejut sambil mundur setindak, sungguh dia tidak habis mengerti mengapa setelah Siang Siau-hun datang lantas pergi lagi, bukankah janji mereka kalau tidak ketemu tidak akan berpisah, apa mungkin...

"Kenapai dia pergi..."

"Pergi mencari kau."

"Mencari aku?"

Kedua mata Suma Bing membelalak keheranan. Sikap gadis itu tetap dingin dan kaku, sahutnya. Apa ada yang tidak beres?"

"Kita berjanji hanya bertemu disini, mana bisa..."

"Mungkin dia kuatir kau terluka waktu bergebrak dengan orang."

Bertambah besar rasa kejut dan heran Suma Bing, bagaimana bisa Siang Siau-hun mengetahui dirinya berkelahi dan terluka oleh musuh? "Dia... mengapa dia tahu..."

"Malah dia juga tahu sekarang tubuhmu sudah kebal akan segala racun."

"Dia... tahu... apa itu benar?"

"Apa kau sangka aku bohong?"

"Tapi itu tidak mungkin?"

"Terserah kau percaya tidak?"

"Dapatkah nona memberi sedikit penjelasan?"

Gadis itu merenung sebentar lantas katanya.

"Aku pernah lihat kau berkelahi dengan ayah beranak Racun utara hingga luka parah, lantas Racun diracun memberimu sebutir obat mustajab, supaya kau dapat selekas mungkin memberi pertolongan kepada murid Pek-hoat-sian-nio yang bernama Ting Hoan itu. Kebetulan waktu aku liwat disini kudengar ada suara pertempuran, kiranya para kurcaci dari Bwe-hwa-hwe itu tengah mengeroyok nona Siang maka kubunuh para kunyuk rendah itu. Kuberitahu pula apa yang barusan kulihat. Secara terus terang diapun menuturkan segalanya, dia sangat perihatin atas dirimu maka buru2 dia pergi menyusul kau didepan sana, mungkin kalian selisipan jalan."

"Nona jadi kaulah yang telah menolong jiwanya?"

Kata Suma Bing haru.

"Ah aku hanya melakukan apa yang senang kulakukan."

Suma Bing angkat kedua tangannya serta berkata.

"Kalau begitu biar ku mewakili nona Siang mengucapkan terima kasih atas pertolongan nona itu."

"Tidak perlu sungkan2"

"Bolehkah tanya nama nona yang harum?"

Mendadak gadis itu unjuk senyum tawa manis, tawanya ini bak bunga mekar dimusim semi, sahutnya.

"Aku bernama Phoa Kin-sian."

Serta merta tergerak hati Suma Bing. Terdengar Phoa Kin-sian berkata lagi.

"Apa kau tidak mau mencarinya?"

Suma Bing menggeleng kepala, sahutnya.

"Kalau dia sudah tahu sejelas itu lebih baik, akupun tidak perlu lagi mencari dia."

"Mengapa?"

"Sudah tiada waktu lagi"

"Tiada waktu, apa maksudmu?"

"Karena aku masih ada janji lainnya."

Agak berobah wajah Phoa Kin-sian, katanya.

"Begitu besar rasa kasih Siang Siau-hun kepadamu, jangan membuat dia putus harapan."

Suma Bing menjadi gugup, sahutnya.

"Nona salah paham akan keteranganku..."

"Lalu siapakah orang yang kau janjikan itu?"

Suma Bing tertawa hambar, sahutnya.

"Agaknya perlu kuterangkan, maaf aku minta diri."

Sekonyong2 dari luar biara sana terdengar derap langkah riuh ramai lalu disusul seruan kaget beberapa orang, agaknya mereka telah melihat mayat2 yang bergelimang darah itu.

Phoa Kin-sian tertawa ejek, katanya.

"Yang mengantar kematian telah datang lagi..."

Dengan langkah lemah gemulai dia melangkah keluar ruangan sembahyang, Suma Bing pun mengikuti dibelakangnya.

Ditengah pelataran berdiri lima orang laki2 dan seorang wanita.

Dua diantaranya berusia enam puluhan, dan tiga laki2 muda bertubuh tegap gagah, sedang si wanita sudah berusia agak lanjut, tapi sikapnya genit dan tengik.

Dari seragam yang mereka pakai jelas menunjukkan bahwa mereka juga para anak buah dari Bwe-hwa-hwe.

Kehadiran Phoa Kin-sian dan Suma Bing yang mendadak itu menimbulkan pula seruan kaget mereka, dari memandang Phoa Kin-sian sorot mata keenam orang itu beralih menatap Suma Bing.

Mata wanita genit itu pelerak-pelerok mengawasi kecakapan wajah Suma Bing dengan tingkah yang sangat tengik sekali, wajahnya mengunjuk senyum tawa, entah teringat apa mendadak wajahnya berobah kaget serta serunya.

"He, kau inikah Suma Bing?"

Begitu melihat para begundal Bwe-hwa-hwe ini muncul lagi, nafsu membunuh Suma Bing me-nyala2, sahutnya dengan dingin.

"Benar!"

Kontan kelima laki2 itu mundur terbelalak mendengar pengakuan Suma Bing, wajah mereka berobah pucat pias perlahan2 mereka mundur teratur dan bersiap siaga..SEBUAH TRAGEDI DIDALAM RIMBA.

Dengan ilmu Tjoan-in-djip-bit Phoa Kin-sian berkata kepada Suma Bing.

"Wanita itu bernama Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng, salah seorang pelindung Bwe-hwa-hwe, kepandaiannya hanya lebih rendah dari Ketua mereka."

Tanpa terasa Suma Bing juga terperanjat, bahwa nama serta kejahatan Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng, sudah lama dia pernah dengar, terutama sifat cabulnya sangat dibenci oleh kaum persilatan.

Sungguh diluar sangka bahwa dia kini menjadi pelindung Bwa-hwa-hwe malah.

Sambil menunjuk tujuh mayat dihadapan mereka Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng bertanya.

"Siapa yang membunuh mereka?"

Suma Bing mengajukan diri dan menjawab dengan nada berat dingin.

"Aku yang membunuh kau mau apa?"

Sekilas Phoa Kin-sian melirik kearah Suma Bing tanpa buka suara, wajahnya yang kaku bersemu merah dan senyum2 malu yang hampir tak kentara, entah apa yang tengah dipikirkan dalam benak nona jelita ini.

Ma Siok-tjeng menjengek dingin serunya.

"Bagus sekali Suma Bing, hutang jiwa bayar jiwa, hutang uang bayar uang..."

"Ma Siok-tjeng,"

Dengus Suma Bing menghina.

"Perhitunganku dengan Bwe-hwa-hwe kalian susah dilunasi, hanya beberapa gelintir jiwa rendah itu terhitung apa? Ketahuilah, asal aku ketemukan setiap anggota Bwe-hwa-hwe tentu tidak akan kulepas tinggal hidup!"

"Huh, kau tahu pasti dapat hidup pergi dari sini?"

Suma Bing menjadi murka sekali, sambil menggeram ia melompat maju ketengah pelataran.

Ma Siok-tjeng berenam gentar dan mundur beberapa langkah.

Suasana menjadi tegang meruncing.

Dengan tangannya Ma Siok-tjeng menunjuk Phoa Kin-sian dan bertanya.

"Dia apamu?"

"Kau tiada hak bertanya!"

Sahut Suma Bing mendengus hidung. Wajah jelita Ma Siok-tjeng berobah beringas penuh nafsu membunuh geramnya.

"Baik biar kusempurnakan kalian menjadi sepasang mendarin dialam baka.", habis berkata ia memberi aba2 kepada kelima teman laki2nya. Tiga orang laki2 bertubuh tegap itu segera melejit menubruk kearah Phoa Kin-sian yang berdiri dibawah serambi panjang sana.

"Mampus kalian!"

Mendadak Suma Bing menggembor keras sebat luar biasa tubuhnya bergerak sambil mengirim sebuah hantaman dahsyat, angin pukulannya bagai gelombang pasang menerpa deras kearah tiga laki2 gagah itu, seketika tubuh mereka yang tengah meluncur maju itu terporak poranda sungsang sumbel jungkir balik ketempatnya semula.

Pada saat Suma Bing membentak dan melancarkan serangannya itu, Ma Siok-tjeng pun telah turun tangan menyerang kearah Suma Bing dengan tidak kalah sengitnya.

Jangan dipandang rendah sebuah pukulannya ini, karena mengandung perobahan aneh menakjubkan yang susah diraba sebelumnya.

Suma Bing sendiripun tidak kepalang kejutnya terdampar oleh angin pukulan musuh, tubuhnya tersurut mundur selangkah.

Sungguh diluar tahunya kalau Lwekang Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng kiranya sedemikian hebat.

Dalam pada itu, tanpa mengenal takut atau keder lagi ketiga laki2 tegap itu nekad membandel menubruk kearah Phoa Kin-sian.

Timbullah amarah Suma Bing melihat kebandelan lawannya, dengan jurus Liu-kim-hoat-tjiok ia tetar Ma Siok-tjeng hingga kelabakan melejit tinggi dan menghindar jauh.

Mendapat peluang ini dengan kecepatan kilat badannya berkelebat miring, mengerahkan seluruh kekuatan Kiu-yang-sin-kang mengepruk kearah tiga laki2 tegap itu.

Gelombang panas bagai lahar gunung meletus segera melanda memberangus ketiga laki2 tegap itu.

Seketika mereka berpekik nyaring mengerikan, setelah menyemburkan darah dari mulutnya, tubuh mereka berobah hitam angus dan mati terkapar.

Memang kedudukan ketiga laki2 tegap itu hanya tingkat dua saja dalam Bwe-hwa-hwe, namun kalau dalam satu gebrak saja lantas mati konyol oleh pukulan lawan, hal ini benar2 membuat Ma Siok-tjeng dan kedua orang tua lainnya melongo dan kaget luar biasa.

Wajah Phoa Kin-sian diliputi suatu rasa yang sukar ditebak.

Sikapnya tenang dan acuh tak acuh menyaksikan adegan seram ini.

Maka sambil mengertak gigi, dengan nekad Ma Siok-tjeng menubruk kearah Suma Bing.

Berbareng kedua orang tua lainnya itupun menerjang kearah Phoa Kin-sian.

Sebagai pelindung Bwe-hwa-hwe sudah tentu bukan olah2 lihay dan hebat Lwekang Ma Siok-tjeng, dalam tiga jurus saja Suma Bing sudah terdesak kerepotan.

Sementara itu, kedua orang tua itupun sudah menerjang tiba diserambi panjang sana terus menyerang kepada Phoa Kin-sian.

Kontan terdengar suara benturan keras yang menggelegar disertai pekik dua suara ngeri.

Maka dilain saat terlihat kedua kakek tua itu sudah terkapar roboh ditanah pelataran tanpa berkutik lagi untuk selamanya.

Sungguh kejut Tok-bi-kui (bunga rose beracun) bukan olah2, sebat luar biasa tubuhnya melejit mundur, dengan sorot mata heran dan penuh tanda tanya matanya membeliak mengamati Phoa Kin-sian.

Dilain pihak kejut Suma Bing sendiripun tidak kalah besarnya, bahwa sedemikian hebat dan lihay Lwekang Phoa Kin-sian ini benar2 diluar tahunya, dalam sekali gebrak saja dengan mudah dia telah robohkan dua gembong silat kelas satu dari Bwe-hwa-hwe.

Bagaimanapun juga Ma Siok-tjeng takkan tahu akan asal-usul si gadis jelita yang ayu rupawan tapi berwajah kaku dingin ini.

Dengan kepandaian yang dipertunjukkan ini pastilah dia bukan kaum keroco yang berkedudukan rendah.

Namun nama Phoa Kin-sian ini benar2 menggetarkan jiwa dan semangatnya, meskipun baru kali ini ia dengar akan nama itu.

Apa mungkin dia salah seorang murid seorang Tjianpwe lihay yang mengasingkan diri, dan baru kali ini berkelana di dunia persilatan?

Setelah sadar dari kagetnya segera Suma Bing membentak keras.

"Tok-bi-kui kaupun rebahlah!"

Secepat kilat ia kirim sebuah pukulan deras mengarah muka Ma Siok-tjeng. Terpaksa Tok-bi-kui angkat tangan menangkis "blang"

Dimana kedua kekuatan saling bentur, tubuh Tok-bi-kui bergoyang gontai, sebaliknya Suma Bing limbung setindak.

Dalam gebrak adu kekuatan tenaga dalam ini jelas bahwa kekuatan dan latihan Lwekang Suma Bing masih kalah seurat dari lawan.

Maka terjadilah pertempuran sengit yang mengadu jiwa ini.

Mengandalkan kesaktian Kiu-yang-sin-kang Suma Bing masih dapat bertahan sementara waktu, namun tiga puluh jurus kemudian, keadaannya sudah semakin keripuhan terdesak dibawah angin.

Lima puluh jurus kemudian Suma Bing sudah kehilangan inisiatif untuk balas menyerang, terpaksa dia main bertahan mengurung diri dengan rapat.

Se-konyong2 terdengar sebuah bentakan nyaring disusul Suma Bing berseru tertahan, ujung mulutnya meleleh darah segar, tubuhpun terhuyung hampir roboh.

Dalam keadaan gawat itulah, tahu2 tubuh Phoa Kin-sian sudah berkelebat tiba ditengah gelanggang.

Suma Bing lintangkan tangan serta berkata.

"Nona Phoa, silakan mundur, aku tidak perlu bantuanmu!"

Berobah wajah Phoa Kin-sian, katanya.

"Kau bukan tandingan siluman jadah ini!"

Ucapan "siluman jadah"

Itu membuat wajah Tok-bi-kui berobah bengis mengancam, mulutnyapun segera memaki.

"Budak sundel, siapa yang kau maksudkan dengan siluman jadah itu?"

"Kau sangka siapa lagi yang berada disini selain kau?"

"Agaknya kau ingin segera mampus, biar aku sempurnakan kau juga..."

"Apa kau mampu?"

Maju selangkah Suma Bing menghadang dihadapan Phoa Kin-sian serunya.

"Nona Phoa, silakan mundur!"

Tanpa menanti reaksi Phoa Kin-sian segera ia menyerang kearah Ma Siok-tjeng.

Serangan ini dilancarkan dengan penuh kebencian yang ber-limpah2 maka kekuatannyapun bagai guntur menggeledek, kontan Tok-bi-kui kena terdesak mundur beberapa langkah.

Mendadak Phoa Kin-sian mendengus ejek sambil membanting kaki terus melesat tinggi bayangannya menghilang diluar tembok.

T o k -b i -k u i M a S i o k -t j e n g t e r p a k s a m e n d e l o n g s a j a m e n g a w a s i P h o a K i n -s i a n p e r g i , t a p i d i a s e n d i r i j u g a m a k l u m d e n g a n k e p a n d a i a n o r a n g t a k m u n g k i n d i r i n y a k u a t m e r i n t a n g i .

A p a l a g i h a n y a S u m a B i n g s e o r a n g s a j a c u k u p m e m b u a t d i a b e k e r j a b e r a t m e m e r a s k e r i n g a t .

J i k a l a u S u m a B i n g d a n P h o a K i n -s i a n b e r p a d u m e n g e r o y o k n y a , t a k m u n g k i n d i r i n y a d a p a t m e l o l o s k a n d i r i d e n g a n s e l a m a t .

M a k a d e n g a n b e r k u r a n g n y a s e o r a n g l a w a n l e b i h m a n t a p l a h h a t i n y a u n t u k s e p e n u h t e n a g a m e n g h a d a p i S u m a B i n g .

Dalam sekejap duapuluh jurus telah berlalu.

Tubuh Suma Bing sudah mandi keringat keadaannya sudah payah dan berbahaya diancam maut.

Se-konyong2 Tok-bi-kui merobah permainannya, bayangan pukulannya berkelebatan seperti kupu menari2, beruntun dia lancarkan enambelas kali pukulan, pada pukulan keenambelas terdengar Suma Bing berpekik kesakitan, tubuhnya sempoyongan setombak lebih.

Bagai bayangan yang selalu mengikuti bentuknya tubuh Ma Siok-tjeng melejit memburu tiba sekali jambak jalan darah Hoan-meh-hiat sudah dicengkramnya keras.

Suma Bing coba meronta namun sia2.

Sepasang mata Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng jelalatan menatap wajah Suma Bing yang cakap ganteng, lama kelamaan matanya memancarkan sinar gairah yang melemaskan hati orang, kedua pipinyapun per-lahan2 bersemu merah.

Rasa malu gusar dan gugup bergejolak dalam benak Suma Bing, matanya melotot besar dan merah membara.

Tiba2 Tok-bi-kui ulurkan tangan menutuk jalan darah lemas ditubuh Suma Bing terus dikempit dibawah ketiak dan dibawa lari kedalam hutan dibelakang biara bobrok itu.

Tak lama sesudah Tok-bi-kui mengempit tubuh Suma Bing berlalu pergi, sebuah bayangan kecil langsing berkelebat memasuki biara itu.

Dia tak lain adalah Siang Siau-hun.

Dalam biara sekarang ketambahan lima mayat lagi, namun bayangan kekasihnya tidak kelihatan.

Keruan gugup dan cemas hati Siang Siau-hun, dengan suara hampir berteriak ia mengeluh.

"O, engkoh Bing, dimana kau? Apa kau sudah datang? Mengapa kau tidak tunggu aku?"

Hanya kesunyian dan keseraman suasana yang menjawab keluhannya.

"Aku harus menemukan dia."

Demikian keluh Siang Sian-hun, terus belari secepat terbang keluar biara.

Kini kita ikuti jejak Si mawar beracun Ma Siok-tjeng yang membawa lari Suma Bing kedalam hutan dibelakang biara, setelah mendapatkan sebuah tempat yang tersembunyi dia letakkan tubuh Suma Bing diatas tanah, lalu dengan mesranya dia duduk berhimpit disampingnya.

Kata Ma Siok-tjeng.

"Suma Bing, ketahuilah bahwa Ketua kami belum lega sebelum dapat meringkus dirimu?"

Suma Bing menyesal karena dirinya tertutuk jalan darahnya hingga tak dapat bergerak, dasar sifatnya memang keras matanya melotot ber-api2 dan memaki garang.

"Aku pun belum lega sebelum dapat membunuh kurcaci itu."

"Tapi sekarang kau tiada kesempatan lagi. Untuk membereskan kau sekarang segampang membalikkan tanganku."

"Boleh silahkan kau turun tangan."

Ma Siok-tjeng malah unjuk tertawa genit, ujarnya.

"Tapi aku sayang untuk membunuh kau!"

"Lalu apa kehendakmu?"

Dengan tangannya Ma Siok-tjeng meng-elus2 wajah Suma Bing, suaranya halus dan merayu.

"Adikku yang baik, asal kau berlaku baik, tentu cicimu akan segera melepaskan kau"

"Cis, tidak tahu malu..."

Tok bi-kui malah perdengarkan suara ngakak yang menggiurkan, serunya.

"Tidak tahu malu, sebentar lagi kalau tidak kubikin kau menyembah2 kepadaku, kuhapus namaku si mawar beracun."

Hampir meledak dada Suma Bing saking menahan gusar namun apa yang dapat diperbuat.

Dia insaf perempuan jalang tidak tahu malu ini pasti dapat melaksanakan apa yang telah dikatakannya.

Bagi seorang laki2 jantan seperti dirinya, masa harus mandah saja dihina dan dipermainkan oleh sundel cabul ini?

Saat mana selebar muka Tok-bi-kui sudah merah padam napasnya empas empis memburu cepat, kedua matanyapun memancarkan sinar berapi, tubuhnya bergetar penuh birahi.

Tiba2 Suma Bing merasakan jalan darah Kiu-bwe-hiat kesemutan, lalu disusul jalan darah Gi-tjiat dan Kui-lan dibawah perutnya terasa suatu hawa hangat mengalir cepat merembes keseluruh tubuh.

Maka dalam sekejap saja sejalur hawa hangat timbul pula dari dalam pusarnya terus meresap kesegala sendi2 dan urat nadinya menyusuri seluruh jalan darah ditubuhnya, darah mengalir semakin cepat, jantungnya berdetak semakin keras, napasnya juga semakin berat.

Sekuat tenaga ia bertahan dan berkutet dan mencegah timbulnya nafsu berahi, supaya dirinya tetap dalam keadaan sadar...

Dengan penuh harapan sepasang mata Tok-bi-kui pelerak-pelerok, wajahnya penuh mengandung gairah menanti perkembangan selanjutnya.

Kesadaran Suma Bing semakin amblas, pandangannya mulai remang2, suatu arus keinginan yang keras membuatnya tenggelam dalam langkah kearah pelepas rakus yang menggila.

Seluruh tubuh panas membara, jalan darah se-olah2 hendak meledak.

Saat mana dalam tubuhnya sudah mulai dirasuki oleh setan nafsu birahi yang sedang mengembara dalam tubuhnya.

Selain keinginan liar yang buas itu otaknya kosong melompong tanpa sepercik kesadaran.

Per-lahan2 Tok-bi-kui melepaskan baju luarnya, lalu mengendorkan baju dalamnya terbentanglah kulitnya yang halus putih, buah dadanya yang montok menggiurkan setengah terbuka.

Pandangan yang memincuk hati ini betapa keraspun hati manusia akan luluh juga akhirnya bagi orang semuda Suma Bing yang mulai nanjak usia kedewasaan, pula Ma Siok-tjeng gunakan juga cara sesat untuk membangkitkan nafsu birahinya, keruan Suma Bing seperti kuda liar yang lama kehausan napasnya memburu ngos2an.

"Bagaimana Suma Bing?"

"Aku... aku... ingin..."

"Kau mau apa? Hahahahahihihihehehe!"

"Aku... ingin kau."

"Kau mau panggil aku cici?"

"Ci... ci"

"Ai, adikku yang baik!"

Girang si mawar beracun Ma Siok-tjeng bukan kepalang, segera ia bebaskan jalan darah pelemas Suma Bing yang tertutuk tadi.

Kontan Suma Bing melompat bangun, kedua matanya merah marong seperti serigala yang haus darah terus menubruk maju hendak memeluk...

Pada detik yang menentukan itulah tahu2 sebuah arus hantaman angin keras menerpa tiba menerjang kearah mereka berdua, kontan Suma Bing terpental mundur dan jatuh duduk diatas tanah.

Sedang si mawar beracunpun terguling sungsang sumbel.

Sungguh mimpipun Ma Siok-tjeng tidak menduga pada saat2 nafsu birahinya sudah memuncak pada titik tertinggi hingga perhatiannya peka pada diri Suma Bing itu dirinya bakal dibokong orang tanpa siaga sebelumnya.

Tidak malu kiranya si wanita cabul ini diangkat sebagai pelindung Bwe-hwa-hwe karena memang kenyataan kepandaiannya tidak lemah.

Reaksinya sangat cekatan setelah kena dibokong, begitu melejit bangun dan berdiri tegak segera ia tutupi dadanya dengan baju luar yang masih utuh terus memandang kedepan dengan berapi2.

Kiranya orang yang membokong dirinya itu adalah Phoa Kin-sian adanya.

Suma Bing sudah hilang kesadarannya, bagai binatang binal yang sudah kehausan darah mana dapat dia membedakan baik atau buruk, sambil berpekik beringas ia menubruk maju.

Sambil mengertak gigi terpaksa Phoa Kin-sian menyelentikkan sebuah jarinya.

"Buk,"

Kontan Suma Bing kena tertutuk roboh. Bahwa rasa nikmat yang bakal dikecapnya digagalkan oleh orang membuat si mawar beracun Ma Siok-tjeng gusar hingga kepalanya beruap, desisnya dingin.

"Budak busuk, kau cari mampus". Sebaliknya Phoa Kin-sian sendiri juga bukan kepalang geram dan malunya, sambil menuding ia memaki.

"Sundel yang tidak tahu malu, hari ini nonamu pasti akan membunuhmu."

Membarengi ancamannya ia kirim sebuah sodokan keras kearah musuhnya. Tok-bi-kui ganda mendengus gusar, sebelah tangannya juga diangkat untuk menangkis.

"Dar..."

Benturan menggelegar membuat tubuh Ma Siok-tjeng tersurut mundur tiga tindak, sungguh kejutnya bagai disengat kala bahwa Lwekang gadis muda ini kiranya sangat tinggi diluar perkiraannya.

Saking gusar ingin rasanya Phoa Kin-sian segera menamatkan jiwa wanita cabul ini, sekaligus ia lancarkan lagi tiga gelombang pukulannya yang disertai himpunan seluruh kekuatannya, maka betapa dahsyat akibat pukulannya ini dapatlah dibayangkan.

Arwah Ma Siok-tjeng seolah2 terbang dari badan kasarnya, lenyaplah nafsu birahinya yang berapi2 tadi, tubuhnya berkelebat sebat luar biasa menyingkir.

Tapi sayang ia agak sedikit terlambat, dua pukulan yang terdahulu memang dapat dihindari, namun pukulan ketiga dengan telak mengenai sasarannya.

Kontan si mawar beracun berpekik ngeri sambil muntah darah, tubuhnya terguling2 jauh.

Wajah Phoa Kin-sian semakin kelam penuh nafsu membunuh, desisnya bengis.

"Mawar beracun, disinilah tempat liang kuburmu."

"Wut"

Lagi2 ia lancarkan sebuah pukulan jarak jauh. Keruan Ma Siok-tjeng ketakutan setengah mati, sebat sekali tubuhnya melejit menyingkir jauh, lantas dengan penuh kebencian ia berkata.

"Budak busuk, kucatat perhitungan ini. Akan tetapi ada satu hal yang perlu kuberitahukan. Dia sudah tertutuk oleh Hian-to-tjui-yang-tji, dalam waktu setengah jam ini, jikalau tidak... hehehe, urat nadinya akan meledak dan hancur berkeping2.". Habis ucapannya bayangannyapun menghilang. Sekarang Phoa Kin-sian melongo dan tertegun ditempatnya tanpa mampu mengeluarkan suara. Sementara itu meskipun jalan darah Suma Bing tertutuk, namun nafsu birahinya masih bertegang sampai puncaknya, napasnya memburu wajahnya merah padam. Sungguh kacau dan gelisah benar hati Phoa Kin-sian, apa yang harus diperbuatnya. Kalau dalam setengah jam ini Suma Bing tidak dapat melampiaskan keinginannya, urat nadinya akan pecah dan putuslah jiwanya. Apakah dirinya harus mengawasi orang menderita sampai mati? Atau menolongnya! O, tak tahu dia apa yang harus diperbuatnya. Coba pikirkan sebagai seorang gadis yang masih perawan suci bersih bagaimana cara menolong jiwanya. Kalau menolongnya itu berarti dia harus mengorbankan kesuciannya. Keadaan Suma Bing sudah menunjukkan bahwa jiwanya sudah diambang diantara mati atau hidup.

"Itu tidak mungkin!"

Pekik Phoa Kin-sian keras sambil memutar tubuh hendak tinggal pergi, namun baru beberapa langkah tanpa merasa langkahnya berhenti lagi, hatinya gundah dan berperang dalam batinnya, dia harus mengambil kepastian yang ganjil, menolong dia?

atau membiarkan dia mati?

Akhirnya luluhlah hatinya, dia harus berkorban untuk menolong jiwa orang, dua titik air mata meleleh membasahi pipinya.

Sebenarnya betapapun dia tidak rela berbuat begitu, tapi tidak bisa tidak dia harus melakukannya.

Suaranya tergetar menggumam.

"Suhu, kaulah yang menjerumuskan aku, demi melaksanakan perintahmu, terpaksa aku harus mengorbankan tubuhku!"

Maka bagai perwira yang menuju kemedan bhakti dengan langkah lebar ia mendekati kehadapan Suma Bing, katanya sambil mengertak gigi.

"Suma Bing, sekarang aku menolong kau, kelak kalau kau menelantarkan aku, aku pasti akan membunuhmu."

Napas Suma Bing kempas kempis, ingatan dan pandangannya remang2 tidak dapat membedakan apa yang dilihatnya, sudah tentu dia tidak dengar ucapan Phoa Kin-sian itu.

Lantas dikempitnya Suma Bing dibawah ketiaknya dibawa masuk kedalam hutan yang lebih dalam dan tersembunyi, dimana ia buka jalan darah Suma Bing yang tertutuk, maka terjadilah sebuah tragedi yang tengah dipanggungkan dalam sebuah hutan lebat tanpa seorang penonton jua.

Kesadaran Suma Bing sudah hilang, bagai serigala buas yang haus darah begitulah dia tengah merangsang dengan menggila.

Bagai sekuntum bunga yang tengah mekar diterpa hujan badai, bunga yang lemah itu sedang mengeluh kesakitan, begitulah keadaan Phoa Kin-sian...

Setelah hujan badai mereda terasalah suatu keheningan yang mencekam sekelilingnya.

Ber-angsur2 ingatan Suma Bing mulai sadar dan ia merayap bangun, pandangan pertama yang dilihat matanya adalah tubuh yang separo telanjang disampingnya.

Suatu perasaan terhina menjalar dalam benaknya membuat ia melonjak bangun seperti disengat kala, sambil mengayun tangannya ia membentak.

"Kubunuh kau sundel jalang!"

Mendadak matanya menatap kearah noktah darah yang berceceran ditanah sekitarnya, tanpa terasa tergetar hatinya.

Apa mungkin Tok-bi-kui masih merupakan seorang gadis perawan tingting?

Waktu ia menegasi, seketika tubuhnya tergetar bagai tersetrom aliran listrik.

Hampir dia tidak percaya akan apa yang dilihat itu adalah kenyataan.

Dikucek2nya matanya dan menegasi lagi.

Ya, memang benar tidak salah, dialah Phoa Kin-sian adanya.

"Apakah yang telah terjadi? Mengapa Tok-bi-kui berobah menjadi Phoa Kin-sian."

Demikian ia ber-tanya2 dalam hati.

Entah karena malu atau tersiksa terlalu berat, keadaan Phoa Kin-sian seperti tidur nyenyak tanpa bergerak.

Suma Bing merenggut rambutnya sekuat2nya, ia mencoba mengenang kembali dan berharap dapat menemukan sepercik penemuan dalam pikirannya yang kabur dan mulai terang itu.

Samar-samar teringat olehnya bahwa dirinya telah tertawan oleh Tok-bi-kui Ma Siok-tjeng dan ditutuk dengan cara aneh dari aliran sesat hingga dirinya dirasuk oleh nafsu setan birahi, dalam saat2 genting itulah ia teringat ada seseorang menyerbu tiba lantas terdengar suara bertempur...

Ya begitulah, Phoa Kin-sian telah mengorbankan dirinya demi menolong dirinya.

Karena pikirannya ini tubuhnya terhuyung hampir roboh.

Dia insaf bahwa dirinya telah membuat suatu noda hitam yang berdosa selama hidupnya.

Bagian tubuh Phoa Kin-sian yang masih tersingkap itu membuat hatinya berguncang lagi, darah panas merangsang kepalanya.

Per-lahan2 ia maju mendekat dengan hati2 membetulkan bajunya yang tak karuan itu, menutupi bagian yang membuat hatinya bergejolak keras.

Pada saat itulah, sepasang mata Phoa Kin-sian yang bundar jeli terbuka lebar dan mendadak bergegas bangun berdiri.

"Plak, plok"

Kontan Suma Bing rasakan pandangannya berkunang2, darah meleleh dari sudut mulutnya ia tersurut dua langkah.

Dengan terbelalak heran dan kaget ia mengawasi Phoa Kin-sian, entah mengapa dia tidak tahu mendadak Phoa Kin-sian bisa menggampar mukanya dua kali.

Setelah persen dua kali tamparan dimuka Suma Bing, tiba2 Phoa Kin-sian memutar tubuh memeluk sebatang pohon dan menangis ter-gerung2.

Sedungu Suma Bing juga maklum dan ikut merasakan betapa pedih dan kecut perasaan hatinya itu.

Sampai pada detik itu tidak lebih dua jam mereka bertemu dan berkenalan, tapi demi jiwanya ia rela mempersembahkan kesuciannya yang tak ternilai.

Betapa besar pengorbanannya itu, bagaimana pula dia takkan menangis.

Saking sesal Suma Bing terbungkam mulutnya, tak tahu dia bagaimana dia harus mengeluarkan kata2 untuk menghiburnya.

Lama dan lama sekali baru dia tergagap membuka kata.

"Nona Phoa, sungguh menyesal aku telah berbuat salah terhadap kau!"

Phoa Kin-sian menghentikan tangisnya dan berpaling, katanya dengan nada pedih penuh kemarahan.

"Suma Bing, menyesal berbuat salah itulah tanggung jawabmu?"

"Maksud nona..."

"Kau sudah menghina dan menyiksa aku sedemikian rupa, akan kubunuh kau!"

Berobah tegang air muka Suma Bing, katanya.

"Aku bukan sengaja hendak berbuat begitu."

"Lalu dengan minta ma'af saja lantas beres?"

"Ini... tidak, selama hayat masih dikandung badan, Suma Bing pasti tidak akan membuatmu kecewa, tapi..."

"Bagaimana?"

"Saat ini aku kurang bebas."

"Bagaimana artinya itu?"

"Aku pernah dikurung oleh Setan Barat didalam barisan jeritan setan menyedot sukma. Untuk menepati janjiku dengan Siang Siau-hun, Setan barat meluluskan kedatanganku kemari, tapi dalam tempo tujuh hari aku harus kembali ketempat kediamannya itu!"

Phoa Kin-sian menunjuk rasa kejut, tanyanya.

"Mengapa Setan barat hendak mengurung kau?"

Suma Bing tertawa ewa, sahutnya.

"Sampai sekarang aku masih belum jelas persoalannya. Ada kemungkinan mengenai suka-duka perguruanku."

"Apa kau hendak kembali?"

"Tentu, seorang laki2 harus menepati ucapannya, mana boleh aku ingkar janji?"

"Setan barat terkenal kejam dan telengas, sepergimu ini..."

"Aku tidak perduli dengan akibatnya."

"Tapi menurut apa yang aku tahu, dendam kesumat dan sakit hatimu masih belum terbalas, mana boleh kau pandang jiwamu semurah itu?"

"Akan tetapi, aku tidak bisa menelan ludahku lagi? O, nona Phoa..."

"Huh, nona? kau..."

Mendengar Suma Bing masih memanggilnya nona wajah Phoa Kin-sian berobah gusar. Merah wajah Suma Bing, cepat2 ia ganti mulut.

"Adik Sian, kemana Tok-bi-kui si perempuan jalang itu?"

"Sudah kugebah pergi!"

"Sebenarnya apakah yang telah diperbuatnya diatas tubuhku, bagaimana bisa..."

Kontan merah jengah selebar muka Phoa Kin-sian, berselang agak lama baru dia menyahut.

"Dia menggunakan tutukan jari dari aliran sesat yang paling rendah. Kalau sudah tertutuk kepandaian macam itu, seumpama dewapun takkan kuat menahan gelora hatinya, apalagi tiada jalan lain..."

Sampai disini ia merandek, lalu berkata lagi.

"Aku tidak tega melihatmu meregang nyawa dalam waktu setengah jam ini. Bersama itu aku juga menerima perintah suhu untuk membantu kau secara diam-diam..."

Kaget dan heran Suma Bing dibuatnya, tanyanya.

"Suhumu menyuruh kau membantu aku?"

Phoa Kin-sian mengiakan.

"Siapakah suhumu itu?"

"Ong Fong-jui!"

Sungguh kejut Suma Bing bukan kepalang, kiranya Phoa Kin-sian adalah murid bibinya Ong Fong-jui, ini benar2 diluar dugaannya.

"Adik Sian, kau... kau adalah murid bibi Jui?"

"Bagaimana, kau merasa diluar dugaan bukan?"

Suma Bing bersorak girang, katanya.

"Benar diluar dugaan. Adik Sian, selama hidup ini pasti kau takkan aku lupakan."

"Lalu bagaimana kau hendak bertanggung jawab terhadap Siang Siau-hun?"

Sungguh Suma Bing tidak menduga akan mendapat pertanyaan ini, seketika merah dan merongkol otot dijidatnya, ia bungkam seribu basa.

Ya, betapa besar rasa cinta Siang Siau-hun, kejadian mati hidup dibiara bobrok itu masa dapat terlupakan olehnya.

Phoa Kin-sian tersenyum manis, katanya.

"Engkoh Bing, kau lebih siang berkenalan dengan dia, tak dapat aku melukai hati suci seorang gadis bersih. Hanya kau harus ingat, aku sekarang sudah menjadi milikmu, dan aku sudah puas."

"Adik Sian, pasti aku takkan lupa"

Sahut Suma Bing tegas.

"Apa kau benar2 harus kembali kecengkeraman Setan barat?"

"Tidak bisa tidak aku harus kembali!"

"Baik, kau berangkatlah"

"Adik Sian, aku..."

"Bagaimana?"

"Aku selalu akan merasa telah berbuat salah terhadap kau."

"Hal itu sudah lewat, soalnya terletak pada masa yang akan datang, sekarang pergilah tepati janjimu kepada Setan barat itu!"

"Adik Sian, kuharap kau baik2 menjaga dirimu, kuharap kelak kita dapat bertemu lagi dengan selamat."

"Pasti dapat."

Suma Bing maju memeluk Phoa Kin-sian dan memberinya sebuah ciuman panjang, ciuman yang mengandung penyesalan dan haru, bersama pula pengantar perpisahan yang berat.

Dia harus segera berangkat untuk menepati janjinya supaya tidak terlambat dalam jangka tempo tujuh hari.

Dipandangnya Phoa Kin-sian lekat2 dan katanya.

"Adik Sian, maafkanlah aku, waktu sangat mendesak, aku hendak berangkat!"

Phoa Kin sian manggut2, mengiring keberangkatan Suma Bing dengan senyum pilu.

Dengan langkah berat segera Suma Bing melejit tinggi berlari keluar rimba.

Bertepatan dengan hilang bayangan Suma Bing, dua titik air mata meleleh keluar membasahi pipi Phoa Kin-sian.

Betapa dia takkan kepincut dan memuja pemuda ganteng yang meluluhkan hatinya ini.

Akan tetapi persentuhan tubuh dalam keadaan yang mengenaskan itu benar2 membuat hatinya hancur luluh.

Memang pengorbanannya terlalu besar.

Segera ia membetulkan pakaiannya yang tidak karuan, setelah menghela napas panjang pendek, iapun berlari keluar rimba.

Dalam pada itu dengan rasa berat dan hampa Suma Bing tengah berlari kencang untuk menepati janji Setan barat.

Tak tahu dia bagaimana Setan barat hendak menghadapi dirinya?

Sepanjang jalan bayangan Ting Hoan, Siang Siau hun, dan Phoa Kin-Sian bergantian terbayang didepan matanya, membuat otaknya pepat hampir meledak rasanya.

Tujuh hari kemudian waktu matahari hampir tenggelam diujung barat sana akhirnya tiba juga dia dibawah bukit Te-tjui-hong.

Benar juga wanita serba hitam bernama Sim Giok-sia itu sudah menantinya dengan sebuah sampan.

Tanpa banyak cakap Suma Bing langsung melompat naik keatas sampan.

Segera Sim Giok-sia melajukan sampannya ketengah danau dengan cepat.

Dalam kesunyian sekian lamanya, akhirnya Sim Giok-sia membuka kata.

Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ "Suma Bing, kiranya janjimu dapat dipercaya dari matahari terbit aku menanti sampai sekarang, kusangka kau tidak akan datang lagi?"

"Sebagai seorang laki2 sejati aku pasti menepati janjiku, dan itulah modalku."

"Apa kau tahu bagaimana suhu hendak menghadapi kau?"

"Bagaimana apa kau tahu?"

"Mengurungmu seumur hidup!"

Melonjak keras hati Suma Bing.

"Mengapa suhumu berbuat begitu kejam terhadap diriku?" -oo0dw0oo

Jilid SUM A BIN G MEN OLO NG RAC UN DI RAC UN "Sebagai pembalasan!"

"Pembalasan?"

"Benar, pembalasan terhadap Kho-lo-sia, gurumu itu sekarang sudah mati, maka kaulah yang harus menebus dosanya."

"Tapi, kenapakah sebenarnya?"

"Karena benci!"

Seru Sim Giok-sia berang.

"Aku masih belum jelas!"

"Belum jelas ya sudah"

Pada saat itulah dari kejauhan ditengah danau sana mend atang i sebua h samp ditengah alunan ombak danau bagai seekor burung pinis melaju dengan cepat.

Sim Giok-sia berseru kejut dan menghentikan sampannya, tak lama kemudian sampan itu sudah tiba dihadapan mereka, terlihat diatas sampan kecil itu berduduk seorang wanita bersolek yang berpakaian sangat mewah dengan sanggul kepalanya penuh dihiasi mutiara.

Sejenak Suma Bing tertegun, lantas berseru kegirangan.

"Jui-ih!"

Memang wanita setengah umur yang duduk dalam sampan kecil itu adalah bibinya Ong Fong-jui. Ong Fong-jui manggut2, lalu berkata kepada Sim Giok-sia.

"Putar haluan!"

Selintas Sim Giok-sia melengak, lantas tanyanya.

"Siapa kau?"

"Ong Fong-jui!"

"Mengandal apa kau minta aku putar haluan!"

"Atas perintah Suhumu!"

"Mengandal ucapan mulutmu itu?"

Semprot Sim Giok-sia. Kata Ong Fong-jui dengan nada berat.

"Setelah tiba didaratan akan kujelaskan, sekarang putarlah dulu haluan!"

Sambil berkata sebelah tangannya diayun sejalur angin kencang berputar tiba membuat sampan yang dinaiki Sim Giok-sia dan Suma Bing berputar arah terus melesat jauh balik kearah Te-tjui-hong.

"Kau berani!"

Bentak Sim Giok-sia gusar.

Beruntun kedua tangannya memukul kepermukaan air untuk menghentikan luncuran perahunya, namun bagaimanapun usahanya sia2, sampannya itu tetap meluncur lempang kedepan.

Seperti permainan anak2 saja tanpa mengeluarkan tenaga besar, kedua tangan Ong Fong-jui bergerak bergantian mendera kedua sampan mereka.

Dalam waktu singkat mereka sudah tiba dibawah Te-tjui-hong.

Tanpa perdulikan apa yang bakal terjadi Suma Bing mendahului melompat kedarat.

Segera Ong Fong-juipun mengikuti jejaknya.

Sungguh dongkol dan gusar Sim Giok-sia bukan olah2, begitu kakinya menginjak tanah langsung ia kirim tiga kali pukulan hebat kearah Ong Fong-jui.

Ringan dan seenaknya saja Ong Fong-jui mengebutkan lengan bajunya, maka tiga kali serangan Sim Giok-sia itu sirna hilang bagai tenggelam dalam lautan.

Diam2 Suma Bing melelet lidah, sungguh diluar tahunya bahwa Lwekang bibinya ternjata sedemikian tinggi.

Naga2nya masih berada diatas Lam-sia dan Setan barat.

Saking gusar dan kewalahan Sim Giok-sia gemetar dan menghentikan serangannya.

Dia insaf bahwa kepandaian lawan berlipat ganda lebih tinggi dari kemampuannya, akan sia2lah tindakannya yang tanpa perhitungan.

Hanya dia heran bagaimana bisa lawan datang dari arah pulau ditengah danau sana.

Lagipula bukan saja melihat mendengar nama Ong Fong-jui saja dia belum pernah.

Pandangan Ong Fong-jui menyapu dua orang didepannya lalu berkata.

"Sim Giok-sia, dihitung usia kau lebih tua dari aku. Kalau menurut tingkatan aku lebih tinggi dari kau! Maka aku langsung memanggil namamu. Apa kau tahu apa hubunganmu dengan Suma Bing?"

Mendengar pertanyaan terakhir ini bukan saja Sim Giok-sia melengak heran, Suma Bing juga melonjak kaget.

"Hubungan apa?"

Tanya Sim Giok-sia gemetar.

"Kakak beradik seperguruan!"

Saking kaget Suma Bing mundur selangkah, pandangannya menyapu Sim Giok-sia, serunya heran dan tak mengerti.

"Kakak beradik seperguruan?"

"Benar, kakak beradik seperguruan."

Sahut Ong Fong-jui serius.

"Bagaimana jelasnya ucapanmu ini?"

Tanya Sim Giok-sia penuh haru.

"Kau tahu apa hubunganmu dengan Setan barat?"

"Dia Suhuku."

"Kau salah, dia adalah ibumu."

Sim Giok-sia terhuyung tiga langkah, tubuhnya menggigil, kepala diabitkan menyingkap rambut panjang kebelakang, maka terlihatlah wajahnya yang pucat pias setengah tua, wajah itu penuh keheranan dan bertanya gemetar.

"Dia adalah Bundaku?"

"Benar, dan Sia sin Kho Jiang adalah ayah kandungmu!"

Sim Giok-sia terkulai hampir roboh, ini benar2 suatu berita yang susah dipercaya dan dapat diterima olehnya.

"Apakah itu benar?"

Gumam Suma Bing penuh haru.

"Tentu, kalau tidak dikatakan langsung oleh Setan barat sendiri pada sejam yang lalu, aku sendiripun tidak tahu. Hati Sim Giok-sia terasa sangat pilu dan perih penuh haru, dia terlongong mematung seperti orang linglung, mulutnya menggumam.

"Aku tidak mengerti!"

"Sudah tentu,"

Ujar Ong Fong-jui menghela napas.

"Inilah kisah terpendam dalam sanubari orang, siapapun takkan tahu. Lam-sia dan Se-kui sudah bermain asmara pada lima puluh tahun yang lalu. Yang satu sesat sedang yang lain aneh, akhirnya mereka, berpisah karena suatu salah paham. Sejak mereka berpisah Se-kui lantas melahirkan seorang anak perempuan yaitu kau..."

Matanya menatap Sim Giok-sia. Tubuh Sim Giok-sia tergetar. Tutur Ong Fong-jui lagi.

"Karena patah hati Se-kui membenci seluruh lelaki diseluruh jagad ini. Maka setelah mengetahui hubunganmu dengan Wi-thian-tjhiu Poh Jiang dia mengurungmu, dan melarang kau bertemu dengan dia..."

Tiba2 Suma Bing menyelak.

"Wi-thian-tjhiu Poh Jiang mengapa berganti julukan jadi Tiang-un Suseng?"

Airmuka, Sim Giok-sia semakin pucat, sebenarnya dia menaruh dendam dan benci terhadap suhunya, sungguh diluar tahunya bahwa suhunya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri, luluhlah segala kekerasan hatinya, katanya lemah.

"Aku tidak dapat salahkan dia, dia tidak sengaja hendak menyiksa aku, adalah karena pukulan batinnya yang berat membuat jiwanya berobah, dalam pengertiannya dia takut aku kena tipu."

"Pikiranmu ini benar, tiada seorang ibu yang tidak mencintai anaknya, hal ini tidak dapat menyalahkan ibumu."

Baru sekarang Suma Bing jelas dan paham, sebab apa gurunya melarang dia berkelahi lawan orang yang pandai ilmu Pek-pian-kui-jiau. Setelah berhenti sekian lamanya, Ong Fong-jui melanjutkan ceritanya.

"Delapanbelas tahun yang lalu, sepasang kekasih tua ini mendapat kata sepakat dan pengertian, sayang Sia-sin Kho Djiang mengalami bencana. Setan barat mencurigainya berobah hati. Sampai tak lama kemudian baru dari kau..."

Matanya menatap Suma Bing.

"... dari mulutmu ia tahu mengapa pada delapanbelas tahun yang lalu ayahmu ingkar janji, kiranya karena, mengalami bencana itu. Hal ini tambah membuat hatinya hancur luluh ia bersumpah selama hidup ini tidak akan muncul lagi didunia Kangouw!"

Kedua mata Sim Giok-sia merah dan meneteskan airmata dikedua pipinya yang pias pucat, suaranya seperti orang mengigau.

"Semua peristiwa sudah lalu, bagai sebuah mimpi, tapi justru meninggalkan bekas. Semua ini seperti terjadi kemaren, adalah sekarang aku mendadak merasakan usiaku, aku sudah tua... tapi aku masih ingin bertemu dengan Poh Jiang sekali lagi."

Suaranya ini benar2 sangat berkesan dan memilukan hati. Mendadak sinar mata Sim Giok-sia ber-kilat2 menatap wajah Suma Bing, tanyanya.

"Sute apa kau benar2 hendak membunuh Tiang-un Suseng?"

Sejenak Suma Bing tertegun dan ragu2 lalu sahutnya hampa.

"Suci, perintah guru susah dibangkang."

"Bing-tit,"

Sela Ong Fong-jui.

"Peristiwa yang lalu kesalahan bukan dipihak Bu-lim-sip-yu. Adalah suhengmu Loh Tju-gi itu biangkeladinya. Betapa erat hubungan Bu-lim-sip-yu maka tiada salahnya kalau mereka menuntut balas. Lagi pula bila suhumu tahu hubungan sucimu dengan Tiang-un Suseng, mungkin dia tidak akan menyuruhmu berbuat demikian."

"Ya, mungkin juga begitu,"

Ujar Suma Bing sambil manggut2.

"Namun dia orang tua sudah dialam baka, aku sebagai muridnya harus melaksanakan pesannya."

"Tapi subomu juga berpendapat supaya kau tidak menuntut balas lagi kepada salah seorang dari Bu-lim-sip-yu yang masih ketinggalan hidup itu?"

"Ini..."

Sesaat lamanya Suma Bing menjadi gagu tak dapat menjawab. Ong Fong-jui berputar dan berkata kepada Sim Giok-sia.

"Sekarang kau boleh pulang, bujuklah beberapa kata patah pada ibumu. Kelak dikalangan Kangouw kau harus mencuci bersih nama perguruan bersama sutemu, carilah jejak Loh Tju gi."

Sim Giok-sia mengangguk tanpa membuka suara, terus naik kesampannya langsung kembali ketengah danau. Ong Fong-jui menghela napas dan berkata.

"Seorang wanita yang harus dikasihani, sang ibu telah mengubur masa remajanya."

"Benar,"

Ujar Suma Bing menyanggah.

"betul2 seorang wanita yang bernasib jelek, rasanya aku ingin berbuat sesuatu apa untuk dia..."

"Bing-tit, walaupun suhu dan subomu berpisah karena salah paham, namun cita2 mereka adalah sedemikian murni dan dalam, hanya sifat jelek masing2 merintangi mereka rujuk kembali. Jikalau kau dapat menemukan Tiang-un Suseng, mempersembahkan kembali bahagia sucimu yang sudah terlambat, tentu kau dapat menghibur arwah suhumu dialam baka."

Suma Bing mengiakan sembarangan, saat ini dia tidak ingin memperbincangkan soal itu, segera ia memutar bahan pembicaraan.

"Jui-ih, bagaimana kau dapat datang kemari?"

Wajah Ong Fong-jui agak berobah, katanya.

"Bing-tit, aku mendapat berita dari Phoa Kin-sian, lantas secepat terbang aku menyusul kemari, untung masih sempat kutolong kau dari renggutan Setan barat."

Menyinggung nama Phoa Kin-sian, kontan merah jengah selebar muka Suma Bing jantungnya berdetak keras, adegan didalam rimba itu terbayang pula dalam benaknya, tak tahu dia apakah Phoa Kin-sian telah menuturkan sejelasnya kepada suhunya ini.

Kata Ong Fong-jui lagi sungguh2.

"Kin-sian sudah melapor segala kejadian sejelasnya kepadaku, memang kesalahan bukan dipihakmu, tapi hakekatnya sekarang dia sudah menjadi istrimu, bagaimana rasa tanggung jawabmu?"

Sikap Suma Bing sangat kikuk dan risi, sahutnya.

"Kuakui dia sebagai istriku, aku tidak akan menelantarkan dia."

"Begitupun baik, kalau tidak akupun tidak akan mengampuni kau."

Sejenak merandek lalu katanya lagi.

"Subomu minta aku memberitahu kepadamu, dikalangan Kangouw kau jangan merendahkan derajat dan nama Sia-sin Kho Jiang?"

"Aku paham!"

"O, ya, dia masih ada sebuah barang hadiah untuk kau"

Suma Bing melengak, tanyanya.

"Hadiah apa?"

"Kiu-tjoan-hoan-yang-tjau-ko!"

"Kiu-tjoan-hoan-yang-tjau-ko, dia juga punya?"

"Ya, semua ada dua butir, subo dan suhumu masing2 menyimpan sebutir..."

"Milik suhu itu sudah dicuri dan mungkin sudah ditelan oleh Loh Tju-gi."

"Hal itu aku sudah tahu, setelah menelan Kiu-tjoan-hoanyang-tjau-ko ini dapat menambah Lwekangmu maju satu kali lipat."

"Aku... haruskah menerima?"

"Pemberian dari angkatan tua tidak boleh ditolak. Sekarang juga boleh kau telan, biar kubantu kau membaurkan kedalam tenaga murnimu."

Lalu dikeluarkannya sebuah peles kecil terbuat dari porselin lalu dituangnya sebutir buah sebesar kacang yang berbau harum yang aneh langsung diangsurkan kepada Suma Bing.

Segera Suma Bing menerima dengan kedua tangannya terus dimasukkan kedalam mulut.

"Duduklah dan mulai semedi, pusatkan pikiran dan hilangkan segala perasaan."

Suma Bing menurut apa yang diperintahkan.

Segera terasa segulung hawa panas timbul dari pusarnya, lalu disusul sejalur hawa panas yang kuat menembus masuk melalui jalan darah Bing-bun-hiat, ditambah hawa murni dalam tubuhnya, tiga macam hawa murni terbaur menjadi satu terus berputar dan mengalir deras keseluruh tubuh.

Tidak lama kemudian hilanglah segala perasaan jasmaniah.

Entah sudah berselang berapa lamanya, mendadak terdengar sebuah bentakan nyaring.

"Tarik tenaga."

Sigap sekali Suma Bing melompat bangun, terasa semangatnya me-nyala2 tenaganya bergairah padat memenuhi seluruh tubuh, hingga terasa nyaman dan ringan sekali.

Saat mana Bintang2 dilangit sudah berkelap-kelip kiranya hari sudah gelap.

"Bing-tit, sekarang juga lebih baik kau menuju ke Bu-kong-san mencoba keberuntunganmu..."

"Maksud Jui-ih tentang Bunga-iblis itu?"

"Benar, kalau kau bisa mendapatkan Bunga iblis, dengan mudah Pedang darah dapat kau rebut."

Rasa heran dan curiga membuat Suma Bing nanap mengawasi Ong Fong-jui, entah apa yang dimaksud tentang Pedang darah yang agaknya sangat disepelekan itu?

Pedang darah sudah terjatuh ditangan Racun diracun, masa dengan mudah dia bisa meminta kembali?

"Bing-tit, mengapa tubuhmu kebal akan racun, apa kau..."

"Dari Si-gwa-sian-jin aku diberi sebatang rumput ular serta sebutir buahnya."

"O, begitu kiranya, sungguh besar rejekimu."

"Jui-ih, ada satu berita hendak kuberitahu kepadamu."

"Coba katakan"

"Menurut kata Tou-sing-to-gwat Si Ban-tjwan si maling bintang, bahwa ibu masih hidup didunia fana ini."

"Apa betul?"

Seru Ong Fong-jui kaget, wajahnyapun berobah. Lantas secara singkat Suma Bing menutur pertemuannya dengan si maling bintang Si Ban-tjwan dan mengisahkan lagi cerita yang didengarnya itu dengan haru.

"Bing-tit,"

Seru Ong Fong-jui berlinang air mata girang.

"Benar2 suatu hal yang tak terduga. Kalau dapat menemukan ibumu, pasti seluruh musuh besarmu dapat dibereskan. Tapi aku masih curiga, sudah selama puluhan tahun, mengapa tiada sesuatu reaksi dikalangan Kangouw."

"Benar, akupun berpikir begitu. Tapi ucapan si maling bintang pasti dapat dipercaya mungkin masih ada sesuatu sebab lain yang belum kita ketahui!"

"Lebih baik kau segera menuju ke Bu-kong-san, meskipun harapan itu sangat kecil belum tentu tercapai. Tapi inilah cita2 ayahmu semasa hidup, sudah seharusnya kau melaksanakan keinginannya terakhir."

"Baiklah."

"Tentang jejak ibumu, aku juga harus ikut mencari sekuat tenaga"

Sebentar Suma Bing berpikir2, lalu memberi hormat serta katanya.

"Jui-ih, baiklah Tit-ji minta diri."

"Baik, kudoakan kau berhasil, tapi semua kejadian didunia ini tergantung jodoh, jangan kau terlalu paksakan diri, kuharap kau selalu ingat perkataanku ini."

"Tit-ji akan selalu ingat."

Hilang suaranya tubuhnya sudah berkelebat hilang.

Waktu terang tanah, Suma Bing sudah berlarian sejauh ratusan li.

Seperti kata bibinya bahwa perjalanannya ini belum tentu bisa mendapat sukses karena harapan itu adalah sangat kecil.

Coba pikir, Bu siang-sin-li adalah tokoh aneh yang sudah berusia seabad lebih, apakah masih hidup didunia fana ini, masih merupakan persoalan baginya.

Dan lagi sedemikian besar gunung Bu-kong-san itu, siapa tahu dimana Bu-siang-sin-li bersemayam?

Diumpamakan saja secara kebetulan dapat diketemukan, apakah orang mau memberikan Bunga-iblis itu yang dipandang sebagai benda keramat dan paling berharga malah di-kejar2 oleh kaum persilatan?

Ya, meskipun sepercik harapan saja, namun dia harus mencoba sekuat tenaganya, perintah guru dan cita2 orang tua harus dilaksanakan dan diselesaikan secara menyeluruh.

Bahwa Pedang berdarah dan Bunga iblis mengandung rahasia ilmu silat mujijat yang paling digdaya dan merupakan raja dari seluruh ilmu silat adalah menjadi incaran dan impian seluruh kaum Kangouw.

Begitulah tengah Suma Bing berlangkah ringan, mendadak sebuah suara yang sangat dikenal tengah memanggil dibelakangnya.

"Suma-hiante!"

Segera Suma Bing menghentikan langkah dan berputar tubuh, tanpa terasa ia terlongo kaget, karena orang yang berseru memanggil dirinya kiranya adalah si orang berkedok yang telah terjungkal kedalam jurang yang juga disangkanya sudah meninggal itu.

"Bong-bian-heng, kau... kau belum meninggal?"

Si orang berkedok maju mendekat kehadapan Suma Bing dan tertawa gelak2, katanya.

"Berkat rahmat Tuhan, aku masih hidup didunia fana ini!"

"Tidak heran aku tidak menemukan jenazahmu dalam jurang itu. Tapi sudah jelas bahwa kau telah terjungkal masuk jurang oleh pukulan ketua Bwe-hwa-hwe itu..."

"Ya, memang, tapi ditengah jalan aku dapat menjangkau sebuah batu yang menonjol keluar, terhindarlah aku dari terbanting mampus hancur lebur didasar jurang itu."

"Heng-tai (saudara tua) dari mana?"

"Sungguh sangat kebetulan, aku tengah mencari kau."

"Mencari aku?"

"Ya, begitulah!"

"Ada urusan apakah?"

"Racun diracun kini terkurung dalam sebuah barisan kira2 beberapa li dari sini..."

Suma Bing melonjak kaget, serunya.

"Terkurung oleh siapa Racun diracun itu?"

"Oleh Racun utara!"

Suma Bing lebih kaget dan heran tak mengerti, tanyanya.

"Agaknya tidak mungkin..."

"Kenapa?"

"Aku menyaksikan sendiri waktu Racun utara dan Racun diracun beradu kepandaian minum racun. Akhirnya Racun utara kalah berbisa dari Racun diracun, dia terluka oleh bisa Ban-lian-tok-bo dari Racun diracun, dalam sepuluh tahun baru dapat memunahkan seluruh racun berbisa dalam tubuhnya itu. Mana mungkin dia mengurung..."

Tanpa menanti orang selesai bicara si orang berkedok segera menukas.

"Tapi kejadian inipun kusaksikan sendiri, malah sekarang masih dalam kenyataan, karena Racun diracun saat ini masih terkurung dalam barisan itu."

"Racun utara yang membentuk barisan itu?"

"Bukan, ada lima puluh jagoan silat dari Bwe-hwa-hwe turut hadir disana, naga2nya mereka berkomplot saling bantumembantu..."

"Selamanya Racun utara paling menjaga gengsi dan tingkat kedudukan, sungguh tak terduga akhirnya ia minta bantuan orang lain juga."

"Benar, mungkin dia diperalat oleh Bwe-hwa-hwe khusus untuk menghadapi Racun diracun. Bukankah kau mengatakan bahwa Racun utara pernah dikalahkan oleh Racun diracun. Mungkin karena tamak hendak menebus kekalahannya, dan lagi sehari sebelum Racun diracun lenyap dari bumi ini, dia takkan dapat merajai menggunakan racun berbisanya lagi. Sebaliknya Bwe-hwa-hwe tengah mengincar Pedang berdarah itu. Bukankah bakal terlaksana tujuan mereka masing-masing?"

Suma Bing manggut, katanya.

"Pendapat Heng-tai memang tepat!"

Kata si orang berkedok lagi.

"Tujuanku mencari kau adalah untuk mencari kesempatan merebut pulang Pedang darah itu."

Sejenak Suma Bing merenung dan berpikir, lalu ujarnya.

"Tidak, sekali ini aku hendak menolong Racun diracun!"

"Apa kau hendak menolong Racun diracun?"

"Benar?"

"Tanpa syarat?"

"Ya, menolongnya tanpa syarat!"

"Mengapa?"

"Aku pernah terluka parah oleh pukulan Racun utara, untung dia memberiku sebutir obat dan merintangi Racun utara waktu dia hendak turunkan tangan kejinya kepadaku, ini terhitung dia ada budi kepadaku, maka akupun harus menolongnya sekali."

"Lalu bagaimana dengan Pedang darah itu?"

"Seorang laki2 harus tegas membedakan antara dendam dan budi, kelak masih ada kesempatan."

"Apa boleh buat, mari segera kita kesana!"

Sebat luar biasa tubuh mereka melenting tinggi terus menghilang dikejauhan. Tidak lama kemudian tibalah mereka disebuah rimba raya, dimana terlihat puluhan jago2 silat Bwe

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ hwa-hwe tengah mengepung puluhan pohon besar seluas lima enam tombak, ditengah diantara puluhan pohon2 besar itu ber-tumpuk2 batu2 dan dahan2 pohon yang sudah kering!

Didalam lingkungan bundaran batu dan dahan pohon itu terlihat berduduk sila seorang berkedok serba hitam.

Sedang disebelah sana terlihat Racun utara tengah duduk diatas sebuah dahan pohon besar.

Gesit dan lincah luar biasa mereka sembunyi diantara dahan2 pohon yang lebat itu, Suma Bing bertanya heran.

"Tumpukan batu dan dahan pohon itulah barisan yang kau katakan?"

"Benar!"

Sahut si orang berkedok lirih! "Hanya seluas lima tombak lantas dapat mengurung Racun diracun?"

"Justru disitulah kehebatan dan keanehan barisan itu. Dilihat dari luar memang biasa saja, tapi sekali kau berada didalam lain lagi keadaannya, kalau kau tidak mengetahui duduk barisan ini, meskipun kepandaianmu setinggi langitpun mandah saja terima binasa."

"Masa begitu lihay?"

"Benar!"

"Apakah Heng-tai mengenal bentuk barisan macam apakah itu?"

Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 3

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert