Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 2

Eps 2 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

Terpaksa Suma Bing menggertak gigi dan mengulur ta-ngan menyambut dua pukulan musuh ini.

"Bum, Bum!"

Dua kali benturan yang menggeledek, Suma Bing tergetar mun-dur satu langkah besar.

Pek-hoat-sian-nio menggeram gusar, tubuhnya menerjang maju sambil ulurkan cakar tangannya mencengkeram kedada lawan, cara gerak turun tangan ini, hakekatnya tidak memandang musuh sebelah mata.

Selama limabelas tahun Suma Bing ditempa dan digembleng oleh Lam-sia, kepan-daiannyapun sudah bukan olah2 hebat, kedua tanganya membalik dan berputar cengkeraman Pek-hoat-sian-nio tertolak terhenti ditengah jalan.

Kalau musuh tidak membatalkan Serangannya, sudah tentu Suma Bing tak mungkin terhindar dari mara bahaya kematian, namun demikian kedua tangan pek-hoat-sian-nio pun harus dikorbankan.

Tanpa merobah jurus serangannya, secepat kilat Pek-hoatsian-nio merobah gerak jarinya dari mencengkeram ganti memukul, telapak tangannya tahu2 menggenjot kemuka musuh, sedang sebuah tangan yang lain jari2nya bergantian menjentik, melancarkan lima carik kekuatan tenaga angin berbareng tubuh juga ikut menyelonong maju membantu kecepatan serangannya.

Betapapun cepat reaksi Suma Bing sudak tak mungkin lagi dapat berkelit, dalam keadaan gawat itu cepat2 ia miringkan kepala dan menggeser kedudukan kakinya kesamping, perasaan sakit menembus tulang segera menyerang tubuhnya, dua jalur kekuatan selentikan jari lawan dengan telak menembus pundaknya, darah segar segera rnembanjir keluar bagai air mancur, tubuhnya terhuyung mundur delapan kaki hampir roboh, tapi dia mengertak gigi menahan sakit tanpa mengeluarkan keluhannya.

Pek-hoat-sian-niopun menghentikan serangannya, suaranya tetap mengancam.

"Kau mau katakan atau tidak?"

Suma Bing menutuk jalan darahnya sendiri untuk mengurangi mengalirnya darah dilukanya itu, wajahnya yang putih cakap saat itupun penuh diselubungi hawa pembunuhan yang dalam, jawabannya tetap kaku dan garang.

"Tidak kukatakan."

"Pendek kata kau harus mengatakan." ~ Habis berkata Pek-host-sian-nio melancarkan serangannya. Sungguh murka Suma Bing bukan alang kepalang, dua tangannya diangkat berbareng ia mendorong sekuatnya kedepan. Pukulannya ini mengandung seluruh tenaga Kiu-yang-sin-kang, maka gelombang panas bergulung2 bagai lahar gunung berapi yang meletus. Suara benturan mengguntur memekakkan telinga Sekali lagi Suma Bing terdesak mundur tiga langkah, tubuh Pek-hoat-sian-nio hanya ber-goyang2 saja, jengeknya dingin.

"Kiu-yang-sin-kang, pelajaran tunggal dari Lam-sia, sayang latihanmu masih terpaut ter-lalu jauh."

Suma Bing melihat bahwa pukulan Kiu-yang-sin-kang yang telah mengerahkan setaker tenaganya masih belum mampu merobohkan lawan malah seujung rambutpun tidak terluka, seketika luluhlah semangatnya, namun begitu hatinya ma-sih mantap untuk tidak mundur begitu saja.

Sambil berteriak panjang Pek-hoat-sian-nio lancarkan sebuah pukulan lagi.

Kedua mata Suma Bing merah membara, tahu dia bahwa dirinya bukan tandingan orang, tapi bagaimanapun ia tidak mau mandah terima ajal, tangan diangkat lagi2 ia menangkis.

"Blang"

Ditengah suara mengge-ledek itu, Suma Bing mengeluh panjang, darah segar me-nyembur keluar bagai anak panah, tubuhnyapun terbang tiga tombak jauhnya-Pucat pasi wajah Ting Hoan, tanpa me-rasa ia berseru kejut dan kuatir, keempat gadis pemikul tandupun tak urung ikut kaget dan berobah air mukanya.

Suma Bing merasakan kesakitan yang luar biasa menyerang seluruh tubuhnja, pandangan mata ber-kunang2, namun sifat angkuh dan kukuhnya masih tetap bertahan dalam be-naknya, seakan2 terkiang dipinggir kupingnya sebuah suara.

"Jelek2, kau murid Lam-sia yang ditakuti, mana boleh ber-tekuk lutut dihadapan orang lain!" ~ Sambil mengertak gigi, tubuhnya terhuyung bangun, seluruh tubuh penuh berlepotan darah, kiranya luka dipundak kiri karena cengkeraman siwanita baju hitam itu dan lobang pundak kanan karena tusukan jari Pek-hoat-sian-nio itu pecah lagi dan mengeluarkan darah karena benturan adu kekuatan dahsyat ini. Ditambah noda darah dari mulutnya, keadaannya boleh dikatakan sangat seram dan mengenaskan seperti setan da-rah. Kecut serta dingin perasaan Pelc-hoat-sian-nio melihat ke-angkuhan dan tekad anak muda yang besar ini.

"Suma Bing, selamanya aku orang tua tidak suka tu-run tangan kejam terhadap orang, tapi untuk menge-tahui jejak bajingan Loh Cu-gi itu, terpaksa aku me-langgar kebiasaanku. Kurasa kaupun tahu betapa enak me-rasakan menjungsang nadi memuntir urat?"

Bergidik dan gemetar tubuh Suma Bing mendengar pernyataan orang, namun ia tetap berkeras hati.

"Pek-hoat-sian-nio, kau turun tanganlah, paling banyak aku Suma Bing mati di tanganmu."

Mimik wajah Pek-hoat-sian-nio berobah tak menentu, dengan kedudukan dan namanya yang tenar kiranya tidak pa-tut ia turun tangan terhadap angkatan muda.

Akan tetapi, untuk mengetahui dimana jejak Loh Cu-gi itu terpaksa dia harus berlaku sekejam mungkin, tidak peduli akan gengsi dan kedudukan apa segala.

Sebelum Pek-hoat-sian-nio turun tangan, Ting Hoan maju beberapa langkah dan berkata gemetar.

"Suhu, lebih baik digusur pulang saja dan per-lahan2 ditanyai."

Pek-hoat-sian-nio mendelik.

"Apa kau sudah melupakan peraturan gurumu?"

"Murid tidak berani, hanya...."

"Bagaimana?"

"Mungkin dia bisa.... mati!"

"Kau jangan melupakan seorang yang lebih menderita daripada mati."

Ting Hoan tidak berani bersuara lagi, sambil tunduk la mengundurkan diri.

Hakekatnya Suma Bing tidak tahu persoalan apa yang di percakapkan antara guru dan muridnya itu.

Tapi sedikit banyak ia dapat menduga persoalan itu menyangkut per-buatan busuk Loh Cu-gi Suhengnya yang murtad itu.

Kalau mau bicara terus terang, mungkin perkembangan selanjutnya akan berobah.

Dasar sifat Suma Bing memang angkuh dan ketus sampai matipun dia takan bertekuk lutut.

Setelah merenung sekian lama, mendadak Pek-hoat-sian-nio menghardik lebih bengis lagi.

"Ada guru tentu ada mu-rid, sifat pembawaan binatang serigala yang harus diberan-tas. Hoan-ji, musnahkan dia."

Sekilas Ting Hoan memandang gurunya, dengan ragu2 ia mendekat kedepan Suma Bing bibirnya gemetar.

"Suma Bing, mengapa tidak kau katakan saja?"

Suma Bing hanya pelototkan kedua matanya yang mengembang air darah, mulutnya terkancing rapat tak menggubris pertanyaan orang.

Wajah Ting Hoan penuh mengunjuk belas kasihan, de-ngan suara yang paling lirih hampir tak terdengar ia mem-bisiki.

"Suma Bing, rebahlah mengikuti telunjuk jariku."

Lantas disusul suaranya membentak keras.

"Kau mencari kematianmu sendiri, jangan sesalkan orang lain."

Ditengah suara bentakannya kedua jarinya dirangkapkan menutuk jalan darah kematian didada Suma Bing.

Tanpa ber-suara Suma Bing roboh terkapar diatas tanah.

Pet-hoat-sian-nio ulapkan tangan terus membalik tubun masuk kedalam tandu lagi, segera keempat gadis baju hijau mengangkat tandu terus tinggal pergi.

Diam2 Ting Hoan memandang iba kearah tubuh Suma Bing yang meng-geletak diatas tanah, terus tinggal pergi ikut dibelakang tandu.

Begitu bayangan Pek-hoat-syan-nio beramai menghilang.

Suma Bing terhuyung bangun berdiri.

Mulutnya menggu-mam.

"Mengapa dia menolongku? Aku berhutang nyawa kepadanya, sebaliknya Suhunya berhutang darah padaku."

Suma Bing menunduk melihat seluruh tubuhnya yang pe-nuh berlepotan darah, katanya tertawa sedih.

"Aku sudah mati dan hidup sekali lagi."

Dengan sempoyongan ia berjalan menyusur balik memasuki hutan, untung hutan ini tidak begitu besar, setelah sekian lama ubek2an ditengah rimba ditemukan sebuah gua cukup untuk menetap semen-tara waktu.

Saat mana yang paling penting adalah menge-rahkan tenaga untuk berobat diri.

Luka2nya terlalu berat, pukulan Pek-hoat-sian-nio itu hampir saja memutuskan seluruh urat nadinya, hawa murninya susut terlalu banyak, se-telah berkutetan sekian lama jalan darah tertembuskan semua rintangan dalam tubuhnya.

Begitulah tanpa mengenal lelah ia semadi dan berobat diri, dua hari dua malam kemudian baru usahanya itu berhasil memuaskan.

Tengah hari pada hari ketiga, dengan sikap gagah dan semangat me-nyala2 ia sudah melanjutkan perjalanannya ditengah jalan raya..TANGBUN YU = PUTRA RACUN UTARA Tujuan perjalanan kali ini adalah markas besar Ngo-ouwpang.

Didepan pintu gerbang markas besar Ngo-ouw-pang terpancang sebuah bendera putih tanda duka-cita, semua anak murid perkumpulan itu mengunjuk rasa duka dan lesu.

Saat mana tiba waktu tengah hari, seorang pemuda ganteng yang bersikap agak angkuh dan kasar memasuki ruang menyambut tamu pada markas terdepan.

Seorang tua berwajah hitam sekian lama mengamat-amati orang yang baru datang ini, lalu maju menyapa.

"Harap tanya nama Siauhiap yang mulia?"

""Suma Bing."

"Ada hubungan apa dengan Pangcu kami?"

"Sahabat lama."

"O, jadi kedatangan Siauhiap dari jauh ini tentu hendak ikut melawat, sepanjang jalan tentu melelahkan silahkan duduk dan minum teh untuk menyegarkan badan, nanti ...."

"Tidak usahlah."

Tukas Suma Bing dingin.

"Harap saja saudara mengundang orang untuk mengantarkan aku bagai-mana?"

"Ini.... baiklah, The-hiangcu!"

"Hamba berada disini."

Seorang laki2 pertengahan umur maju memberi hormat.

"Tuan Suma Siauhiap ini adalah sahabat kental Pangcu waktu masih hidup, dari jauh dia datang ikut melawat, iringilah pergi keruang lajon."

Hiangcu she The itu mengiakan hormat terus memutar tubuh menghadapi Suma Bing dan merangkap tangan kata-nya.

"Suma Siauhiap silahkan ikut aku yang rendah."

Suma Bing mengangguk terus mengikuti dibelakang The-hiangcu, setelah keluar dari ruang penyambut tamu terus langsung menuju kemarkas besar, sepanjang jalan orang berlalu lalang tak putusnya, wajah mereka menunjuk rasa simpatik dan serius.

Diam2 Suma Bing tengah menimang2 satu persoalan yang penting.

Seperti dugaan Suhu-nya semula ternyata bahwa Tiang-un Suseng benar2 pura2 mati untuk menghindari kematian.

Sekarang Ngo-Jouw Pangcu Coh Pin juga mati bertepatan dengan kedatangannya ini.

Inilah kebetulan atau mengikuti cara Tiang-un Suseng untuk mengelabui dirinya?

Naga2-nya memang keadaan ini tak mungkin palsu, tapi pengalaman terdahulu membuatnya waspada, mana bisa ia membiarkan musuh lolos dengan secara licin.

Demi mem-balas sakit hati Suhunya dia bersiap untuk menghadapi segala resiko meskipun dirinya harus menjadi mu-suh bersama kaum persilatan tapi tujuan pertama untuk membelah peti mati harus tetap dilaksanakan.

Sudah tentu secara halus ia bisa minta supaya diberi kesempatan mem-buka peti mati untuk memeriksa, tapi itu tak mungkin terjadi.

Setelah jenazah masuk peti dan dipaku rapat, pasti tidak mungkin dibuka lagi untuk diperiksa, maka jalan satu2-nya menggunakan kekerasan membelah peti mati itu.

Dia sudah dapat membayangkan akibat perbuatannya itu.

Tanpa menimbulkan kecurigaan ia bertanya kepada The-hiang-cu yang membawa dirinya itu.

"The-hiangcu, terse-rang penyakit apakah hingga Pangcu kalian meninggal dunia?"

"Ini.... eh angin duduk."

"Angin duduk?"

"kejadian didunia ini susah diduga sebelumnya oleh manusia". Mulut Suma Bing menjebir ejek, sahutnya pura2 penuh perhatian.

"Benar, kejadian dikolong langit ini kadang2 memang diluar dugaan orang."

Tak lama kemudian tibalah mereka diluar gedung markas besar, gedung markas besar ini dibangun sedemikian megah dan angkernya.

Walaupun dalam saat2 duka-cita tapi pen-jagaan diadakan sedemikian kuat dan keras.

Tiba diluar pintu The-hiangcu menyingkir kesamping dan menyilahkan.

"Siauhiap silakan!"

Suma Bing tidak mau bermain sungkan, sambil mengang-kat dada ia melangkah memasuki markas besar.

Ruang lajon terletak ditengah bangunan gedung bertingkat dimana biasanya diadakan perundingan penting bagi kaum Ngo-ouw-pang.

Suasana dalam gedung sesak berhimpitan kare-na tamu2 yang datang melawat kelewat banyak.

Sampai didalam ruang lajon Suma Bing menjadi sangsi, sukar dipastikan untuk menentukan benar2 mati atau pura2 matikan Ngo-ouw Pangcu Coh Pin ini.

Coh Pin adalah satu.

diantara Bu-lim-sip-yu, pemalsuan kuburan Tiang-un Suseng merupakan pengalaman pahit yang pertama, maka kalini dia harus berani benar turun tangan untuk membuk tikau kebenarannya.

Tapi, dihadapan sekian banyak hadirin, hendak membelah peti mati, akfbatnya tentu akan menim-bulkan kemarahan massa-Lantas teringat olehnya bahwa kedatangannya ini adalah untuk penuntut balas sakit pergu-ruan, mengapa harus takut2 dan gentar menghadap; segala risiko.

Tengah berpikir itu Ia sudah melangkah mendekati layon, seorang tua berjubah panjang warna hitam segera maju menyapa.

"Banyak terima kasih atas kedatangan Siauhiap ikut memberi penghormatan kepada Pangcu."

Hidung Suma Bing mendengus dingin sikapnya angkuh. Melihat gelagat Yang tidak baik ini berobah air muka si OTang tua jubah hitam, namun ia masih berlaku hormat dan merendah.

"Siapakah Siauhiap Ini?"

"Aku yang rendah Suma Bing."

"Suma Siauhiap dan Pangcu kita semasa hidup adalah...."

Wajah Suma Bing berobah kelam, sinar matanya beri-ngas penuh nafsu membunuh, dengan angkuh ia tukas kata2 orang.

"Cayhe ingin menjenguk wajah jenazah Pangcu kalian.""

Siorang tua melonjak kaget, serunya.

"Jenazah Pangcu sudah masuk peti dan tertutup rapat."

Sekali berkelebat Suma Bing memutar kesamping meja sembahyang terus maju mendekat lajon. Orang tua jubah hitam menghardik keras.

"Berani kau-"

Sebat sekali memburu tiba dibelakang Suma Bing terpaut lima langkah Karena bentakan nyaring ini terkejutlah para hadirin dalam dan diluar gedung, beramai2 mereka merubung datang, maka dalam sekejap mata ribut dan gegerlah suasana dalam ruang lajon itu.

Segera seorang tua yang berwajah angker berjenggot kambing melangkah kedepan, berhadapan de-ngan Suma Bing terpaut peti mati, nada kata2nya berat-"Siauhiap ini apakah tujuan kedatanganmu?"

Sekilas Suma Bing melirik dingin kearah orang tua beru-ban ini. sahutnya kaku.

"Tidak apa2, hanya ingin kulihat jenazah Pangcu kalian."

Buncahlah semua hadirin Yang mendengar ucapanya itu, semua mengunjuk rasa gusar. Alis putih siorang tua beruban berjengkit, serunya.

"Lohu San Bok-sing Tongcu pejabat seksi hukum, Siauhiap ini siapa dan dari perguruan mana?"

"Aku Suma Bing."

Dari perguruan mana?"

"Tidak perlu kuberitahu kepada kau."

San Bok-sing Tongcu pejabat seksi hukum dari Ngo-ouwpang menarik muka keren, sinar matanya berkilat2, serunya bengis.

"Kedatangan tuan ini adalah hendak menuntut balas?"

"Tidak salah ucapanmu"

"Tidak perduli semasa hidup Pangcu kita ada permusuhan sebesar apa dengan kau. tapi pepatah mengatakan; orangnya mati permusuhan ludes. Masa tuan hendak membelah peti mati dan merusak jenazahnya?"

"Aku yang rendah hanya ingin memeriksa dia benar2 mau atau pura2 mati, tentang merusak jenazah itulah ucapan berkelebihan."

Ketegangan dalam ruang lajon meruncing, saat mana datang pula tiga orang tua dan dua laki2 pertengahan umur mendesak dibelakang Suma Bing berdiri jejer dengan si orang tua jubah hitam tadi, semua mengangkat alis membelalakan mata, wajah serius penuh ketegangan bersiaga menghadapi setiap perobahan.

Suma Bing ganda mendengus sekali, tangan diangkat langsung mencengkram kearah peti mati....

"Siaucu kau cari mati."

Teriak Sing-tong Tongcu (Tong-cu seksi hukum) San Bok-sing.

Berbareng kedua tangan-nya menjodok kedepan membawa kesiur angin dahsyat me-nerjang kearah Suma Bing.

Tangan kiri Suma Bing dikiblatkan, sedang tangan kanan tetap mencengkram kearah peti mati.

"Blang"

San Bok-sing tertolak undur tiga langkah.

Hampir dalam waktu yang bersamaan enam jalur angin keras bersama melanda dari belakang menerjang ke arah punggung Cuma Bing.

Betapa tinggipun kepandaian Suma Bing tak mungkin berani memandang enteng gabu-ngan tenaga enam tokoh silat tinggi, terpaksa ia melejit untuk menyingkir, kecepatan gerak tubuhnya ini hampir susah dilihat pandangan mata.

Baru saja enam tokoh silat dari Ngo-ouw-pang melancarkan pukulannya lantas mereka kehilangan bayangan musuh, maka cepat2 mereka harus berusaha untuk menarik tenaganya, atau mungkin tenaga pukulan mereka sendiri yang akan membelah peti mati itu.

Di sebelah sana Sing-tong Tongcu San Bok-siang sudah memutar tubuh berhadapan lagi dengan Suma Bing.

Nafsu membunuh semakin menegangkan.

Air muka Suma Bing beringas dan tebal diselubungi hawa membunuh, nada kata2nya dingin laksana es.

"Cayhe hanya ingin membuktikan kematian Coh Pin, tiada hasratku untuk mengalirkan darah, kuharap kalian tahu diri." -Sorot ma-tanya tajam ber-kilat2 menyapu kearah semua hadirin, bergidiklah semua orang yang dipandang sedemikian rupa. Tahulah mereka bahwa tiada seorangpun hadirin yang bakal mampu melawan kelihayan Suma Bing. Karena apa Suma Bing hendak membuka peti mati dan memeriksa jenazah? permusuhan apa dengan Pangcu mereka semasa masih hidup, semua bertanya2 dalam hati. Akan tetapi betapa besar wibawa nama Pangcu dari Ngo-ouw-pang ini, setelah mati di kandang sendiri pula, peti matinya hendak dibelah orang, bukankah merupakan penghi-naan yang terbesar. Ditengah suara bentakan yang riuh rendah itu, Sing-tong Tongcu San Bok-sing sudah merangsak maju lagi.

"Wut"

Langsung ia kirim sebuah pukulan mengarah dada Suma Bing. Pukulan ini dilancarkan dengan himpunan seluruh tenaganya, kekuatannya benar2 membuat orang kagum dan mengelus dada. Cepat"

Tangan Suma Bing berkelebat.

"Blang"

Terdengar San Bok-sing berseru tertahan darah segar berhamburan dari mulutnya, tubuhnya terpental mundur menerjang din-ding dan terpental balik lagi.

~ San Bok-sing merupakan to-koh kelas satu, namun hanya satu gebrak saja sudah terluka muntah darah, keruan semua hadirin mengkirik ke-takutan.

Namun tidak demikian dengan empat orang tua dan dua laki2 pertengahan umur itu, demi melindungi nama baik perkumpulan, mereka rela berkorban segalanya termasuk jiwa raga sendiri.

Maka sambil membentak2 serentak me-reka menubruk maju.

Walaupun ruang lajon itu sangat besar tapi karena terlalu banyak orang yang hadir dalam ruang itu, tempat yang tinggal kosong tidak lebih hanya tiga tombak lebarnya, maka begitu berkelebat keenam orang itu sudah menerjang tiba.

Suma Bingpun tidak mau unjuk kelemahan, kedua tangan bergerak membuat garis lintang beruntung ia lancarkan tiga kali pukulan menyam-but rangsakan musuh.

Dimana angin pukulannya melandai segera terdengarlah keluhan sakit dari mulut2 penjerangnya, keempat orang tua terdesak mundur beberapa langkah, se-dang dua laki2 pertengahan umur itu terpental terbang se-jauh tiga tombak menerjang kearah kawan2nya yang te-ngah menonton.

Dan pada saat itulah sebat luar biasa Suma Bing berkelebat tiba didepan peti mati dan tangan sudah diajun, sesaat sebelum tangannya tiba pada sasarannya....

"Siaucu, kau terlalu menghina orangl"

Dibarangi seruan itu, beberapa jalur desis angin selentikan jari secepat kilat menyerang dirinya.

Keruan kejut Suma Bing bukan kepalang, tahu dia bah-wa orang yang turun tangan ini tentu Lwekangnya hebat luar biasa, maka sebat sekali ia menggeser kesarnping lima"

Kaki, dimana pandangan matanya tertuju, seketika ia terte-gun heran, karena orang yang melancarkan serangan selen-tikan jari ini kiranya adalah seorang nenek2 tua yang me-ngenakan pakaian berkabung.

Sinar matanya berkilat2 mengandung penuh kebencian benar2 menciutkan nyali orang yang dipandang.

"Kau ini yang bernama Suma Bing?"

"Tidak salah, harap tanya...."

"Akulah janda tua Coh Pin, ada dendam dan sakit hati apakah suamiku itu terhadap kau hingga sedemikian tega kau menghadapi kematiannya?"

"Coh-hujin,"

Seru Suma Bing dingin.

"Saat ini lebih baik jangan mempersoalkan tentang permusuhan, aku hanya ingin membuktikan kebenaran Kematian suamimu ini?"

"Cara bagaimana kau hendak membuktikan?"

"Membuka peti mati dan melihat jenasahnya."

"Orang benar2 mati masa ada palsu atau tulen?"

"Aku yang rendah sudah pernah tertipu sekali"

"Tertipu?"

"Ya, Tiang-un Suseng membuat sebuah kuburan kosong untuk mengelabui mata hidung orang. Hanya sayang tipu muslihatnya yang llcik itu telah membuka kedoknya."

Berobah hebat air muka Coh-hujin, serunya ketakutan".

"Jadi kau sudah membongkar kuburan Tiang-un Suseng? "

"Memang begitulah tujuanku, tapi secara kebetulan su-dah ada orang lain yang turun tangan."

"Benar2 kau hendak membuka peti mati ini?"

"Maaf aku terpaksa harus berbuat demikian"

"Suma Bing, bila kau dapat mengatakan alasanmu, boleh kusilakan kau membuka peti mati ini untuk kau periksa."

Otak Suma Bing bekerja cepat, setelah sangsi sekian lamanya akhirnya ia merogoh saku mengeluarkan Mo-hoan dan dipakai dijarinya tengah terus diangsurkan kehadapan orang.

"Hujin sudah jelas?"

"Mo-hoan!"

Seru Coh-hujin ketakutan kontan wajah-nya pucat pasi.

Benda khas pertanda milik Sia-sin Kho Djiang itu tiada seorangpun dari kalangan Bu lim tidak mengetahui, andaikata belum pernah lihat juga pernah dengar.

Seruan ini benar2 membuat kejut semua hadirin.

Siapa akan mengira benda khas pertanda milik Lam-sia itu bisa terdapat ditubuh anak muda berkepandaian tinggi ini, jelas kalau bukan muridnya tentu cucu muridnya, ten-tang mengapa datang hendak menuntut balas kepada Pangcu kecuali Coh-hujin seorang, mungkin tiada seorangpun yang tahu akan latar belakangnya.

"Suma Bing, peristiwa dulu itu merupakan salah paham yang berat."

"Hujin, itulah kecerobohan, bukan salah paham."

"Sekarang susah untuk dijelaskan, apa tujuanmu hanya mau memeriksa jenazah suamiku saja?"

Suma Bing mengiakan sambil menggut2.

"Suma Bing, baik kuijinkan kau memeriksa, tapi jangan sekali2 kau sentuh jenazahnya!"

"Syarat ini dapat kululusi."

"Baik, silakan periksa"

Wajah Coh-hujin membesi kehijau2an, ia maju men-dekat disamping peti mati kedua tangannya menyanggah di tutup peti terus diangkat keras dan digeser kesamping satu kaki. Serunya sekali lagi.

"Lihatlah."

Dengan pandangan tajam Suma Bing memandang ke-dalam peti, terlihat olehnya seorang tua yang berwajah ke-ren berwibawa menjulur kaku didalam peti, wajahnya masih sedemikian hidup bagai tidur njenyak saja, segera alisnya dikerutkan dan bertanya.

"Sudah berapa hari dia meninggal?"

"Tiga hari."

"Tiga hari tapi wajahnya masih belum berobah?"

Serta merta tubuh Coh-hujin tergetar seperti kesetrom listrik, sahutnya.

"Jenazahnya sudah kita lumuri obat anti membusuk."

Suma Bing mengiakan dengan sangsi, katanya.

"O, be-gitu."

"Suma Bing, kau sudah puas?"...."

Dalam hati Suma Bing masih banyak persoalan yang me-nimbulkan kecurigaan.

Pertama.

Waktu kematian Coh Pin ini secara kebetulan terjadi setelah dirinya mulai menun-tut balas, bukankah sangat meragukan.

Kedua.

walaupun sudah dimasukan dalam peti mati, air mukanya masih ha-ngat seperti masih hidup.

Ketiga; Dengan adanya pengala-man pahit Tiang-un Suseng itu, sukarlah diduga bahwa apa yang dialami hari inipun ada yang harus dicurigai.

Namun dia sudah berjanji untuk tidak merusak jenazah, bagi kaum persilatan sangat menghargai ucapan yang harus dipercaya.

Kalau tidak hanya dengan sebuah jarinya saja dapatlah ia menghapus rasa curiganya ini.

Maka dengan dingin segera ia berkata.

"Coh-hujin, begitulah untuk se-mentara."

"Sementara, apa maksudmu?"

"Kuharap aku takan datang lagi kemari."

Wajah tua Coh-hujin berobah2, bahwa ucapan musuh yang penuh mengandung arti itu membuat tubuhnya bergidik seram.

Habis berkata dengan langkah lebar dan membusung da-da Suma Bing berjalan pergi.

Perjalanan ke Ngo-ouw-pang kali ini boleh dikatakan menemui kegagalan lagi.

Para durjana yang mengerojok dan menganiaja gurunya dulu itu masih ada Lo-san-siang-kiam, Leng Hun-seng Ciangbun dari Ceng-seng-pay dan Goan Hi Hwesio dari Siau-lim.

Setelah me-nimang2 dalam hati, Suma Bing memutar ha-luan meruju kearah Ceng-seng-san.

Hari itu matahari mulai doyong kebarat.

baru saja Suma Bing menangsel perut dan melanjutkan perjalanan belum beberapa li jauhnya, tiba2 terlihat olehnya sebuah bayangan manusia berkelebat seperti kecepatan elang terbang, bayangan itu melesat memasuki sebuah biara bobrok, diketiak bayangan itu agaknya mengempit seorang wanita.

Karena heran dan ingin tahu segera Suma Bingpun menyusul kearah biara bobrok itu.

Ditengah ruang sembayang yang tidak keruan keadaannya, terlihat olehnya seorang ga-dis cantik bagai bidadari terlentang rebah diatas tanah, kedua matanya dipejamkan.

Disampingnya berdiri seorang pemuda yang berpakaian sastrawan lemah berusia 20-an, wajahnya dingin membeku, kedua matanya tengah menatap wajah sigadis tanpa berkedip.

Baru saja Suma Bing melangkah kedalam biara, sipemuda sudah mengetahui, tanpa berpaling ia berseru tanya.

"Siapa itu?"

"Orang lewat,"

"Pergi keluar!"

"Hm," -Suma Bing sudah berkelebat tiba didalam ruang sembahyang itu, waktu ia pentang matanya tanpa merasa bergolaklah hawa amarahnya. Sebab gadis yang rebah diatas tanah itu bukan lain adalah Siang Siau-hun-Meskipun tiada sesuatu hubungan dengan Siang Siau-hun, hitung2 mereka sudah pernah bertemu satu kali. Pemuda berpakaian sastrawan itu perlahan2 memutar tu-buh, melihat orang yang datang ini kiranya adalah seorang pemuda cakap ganteng bertubuh kekar, diapun tertegun heran, suaranya dingin sambil menyeriangi.

"Siaucu, ku-suruh kau pergi dengar tidak?"

Sinar mata tajam dingin Suma Bing menatap garang, mendengus ejek sekali lalu menjawab.

"Kau tidak berhak berkata demikian."

"Ada tiada harganya segera kau akan tahu."

"Siang hari bolong yang terang benderang ini kau hen-dak mengapakan gadis ini?"

"Kau tak berharga bertanya"

"Aku sudah pasti harus tahu."

"Hahahaha, Siaucu. kalau begitu, kau sudah pasti mati,"

Sambil berkata dari kejauhan itu sebuah tangannya disodokkan mengirim serangan.

Serta merta Suma Bing juga mengangkat sebelah ta-ngan untuk menyambut pukulan musuh Mendadak terasa olehnya tenaga pukulan lawan sedemikian ringan"

Melayang mengandung hawa dingin laksana es, sedikitpun pukulan dirinya itu belum mampu mendesak balik serangan lawan malah terasa hawa dingin bagai es itu menembus masuk kedalam tubuhnya sampai2 kesendi2 tulangnya, seketika se-luruh tubuh terasa dingin bagai berada didalam gua gunung salju.

Sungguh kejutnya bukan alang kepalang, cepat2 ia kerahkan Kiu-yang.sin-kang untuk bertahan, sejalur hawa hangat timbul dan melebar keseluruh tubuh dari pusarnya, kekuatan hawa dingin itu segera lenyap seluruhnya Agaknya pemuda pelajar itu juga tercengang-bahwa Hawanya sedikitpun tiada menunjukkan reaksi pukulannya itu, dengan wajah penuh penasaran segera ia berseru lagi.

"Siaucu, cobalah sambut ini lagi" -berbareng dengar ucapannya ini kedua tangan sudah bergantian dikiblatkan kedepan, gelombang angin dingin segera bergulung mener-jang kearah Suma Bing. Tanpa ayal Suma Bing kerahkan kekuatan Kiu-yang-sin-kang, dimana kedua tangan ditarik lalu disodokkan kedepan, gelombang panas bagai gugur gunung melandai keluar. Sungguh ajaib begitu gelombang dingin saling bentur dengan gelombang panas kontan mengeluarkan suara "ces"

Nyaring sedikit tergelar kedua gelombang pukulan itu sirna menghilang tanpa bekas.

"Kiu-yang-sin-kang!"

Tanpa merasa sipemuda pelajar berseru kejut ketakutan. Melihat lawan sekali gebrak lantas mengetahui asal-usui ilmu saktinya, diam2 Suma Bing terkejut juga, sahutnya dingin.

"Tidak salah, luas juga pandanganmu."

"Siaucu, jadi kau inilah, murid Lam-sia?"

Pada saat itulah perlahan2 Siang Siau-hun membuka ke-dua matanya. setelah tertegun segera ia berseru marah.

"Dia....dialah Tangbun Yu, putra Racun utara"

Melonjak kaget hati Suma Bing, batinnya.

"Kiranya pemuda ini adalah putra Racun utara, tak heran Siang Siau-hun telah menemukannya. Racun tanpa bayangan yang membunuh Siang Siau-moay dan Li Bun-siang pastilah...."

Karena pikirannya ini wajahnya berobah bengis membesi, sambil tertawa dingin ia berkata.

"Tangbun Yu, Tuhan sudah mengatur segalanya, aku tengah mencarimu."

Tangan Yu melengak, tanyanya.

"Bocah seperti kau ini mencari aku?"

"Benar, bukan saja mencari kau, malah hendak kubu-nuh kau."

"Mulut yang takabur, sebutkanlah namamu dulu ""

"Suma Bing."....

"Ada urusan apa kau mencari tuanmu."

"Belum lama berselang, yang menggunakan "Racun tanpa bayangan"

Membunuh adik nona Siang ini dan seorang pe-muda bernama Li Bun-siang apakah itu buah karyamu?"

"Kalau benar bagaimana? Kalau bukan kau mau apa?"

Suma Bing maju satu langkah, suaranya mendesis hambar.

"Kalau benar perbuatanmu, jangan harap kau dapat tinggal pergi dengan masih hidup."

"Mengandal kau ini?"

"Tiada halangannya kau mencoba2-" -sebuah tangannya meluncur dengan sebuah serangan hebat kearah Tang-bun Yu, bukan saja cepat serangan inipun sangat aneh, sasaran yang diarah berbeda pada permainan silat umumnya. Sebagai murid "Racun utara"

Sudah tentu kepandaian Tangbun Yu juga tidak lemah, ringan sekali tubuhnya meng-geser kesamping menghindarkan pukulan dahsyat ini, berba-reng iapun kirim sebuah hantaman balas menjerang, serangannya inipun tidak kalah aneh dan kejinya dibanding pu-kulan musuh.

Segera Suma Bing angkat tangan untuk menangkis "Biang"

Kedua belah pihak mundur satu langkah.

Dalam gebrak permulaan ini menunjukkan bahwa ke-pandaian dan tenaga dalam kedua pihak sama kuat alias berimbang.

Tangbun Yu perdengarkan suara tawa dingin, katanya.

"Suma Bing. dalam dunia persilatan orang membanggakan bagaimana lihay dan ampuh Kiu-yang-sin-kang dari Lam-sia. Biar harini tuan mudamu menjajal sampai dimana kau bocah ini telah belajar ilmu yang diagul2kan itu."

Tidak kurang garangnya Suma Bingpun balas menjemprot.

"Bagus Sekali, aku juga ingin berkenalan sampai dimana kejam dan keji Hian-in-kang dari Racun utara". Setelah itu mereka masing2 mundur tiga langkah lalu ber-bareng mengangkat kedua tangan. Maka dilain kejap meng-gunturlah benturan dua tenaga dahsyat yang saling beradu debu berhamburan atap rumahpun tergetar. Kiranya Tang-bun Yu dan Suma Bing kerahkan duabelas bagian tenaga masing2 untuk mengadu pukulan ini. Kalau Suma Bing ma-sih dapat berdiri tegak ditempatnya, tidak demikian dengan Tangbun Yu ia terhujung mundur dua langkah. Kiu-yang-sin-kang termasuk pukulan positip sebaliknya Hiau-in-kang termasuk pukulan negatif. Perbedaan tenaga dalam kedua belah pihak berselisih tidak terlalu besar. Su-ma Bing cuma lebih unggul seurat, begitu saling bentur getaran tenaga pukulan itupun tidak terlalu berat, kalau sebaliknya mungkin rumah biara itu sudah runtuh berham-buran. Sejak tadi Suma Bing sudah bermaksud untuk membu-nuh lawannya, akan dibuatnya supaya bocah keji berbisa ini tak dapat pergi dengan jiwa masih hidup. Sambil mengge-ram keras secepat kilat ia menubruk maju lagi kedua tanganny berputar membuat lingkaran dengan jurus Liu-kim-hoat-ciok (emas murni berobah batu) ia turunkan ta-ngan kejinya. Jurus Liu-kim-hoat-ciok ini merupakan daya cipta Lam-sia yang telah menguras seluruh tenaga pikirannya selama ber-tahun2-meskipun hanya satu jurus, tapi perbawa pero-bahannya tak terhitung banyaknya, waktu melancarkan se-rangan ini harus mengandal kemurnian Kiu-yang-sin-kang sebagai landasan atau pendorong yang utama-Untuk masa itu tokoh2 silat dikalangan Kangouw yang mampu bertahan dari serangan jurus Liu-kim-hoat-ciok ciptaan Lam-sla ini mungkin dapat dihitung dengan jari. Walaupun tenaga dalam Suma Bing belum dapat menandingi gurunya, tapi be-gitu jurus ampuh ini dilancarkan, betapa dahsyat kekuatannya kiranya cukup juga menggetarkan dunia persilatan. Arwah Tangbun Yu seakan terbang meninggalkan badan melihat kehebatan pukulan musuh, cepat2 ia lancarkan tipu Te-tong-thian-han (bumi membeku udara dingin) untuk menjaga diri melindungi tubuh. Memang jurus Te-tong-thian-han ini diciptakan praktis untuk menjaga diri. Lagipula ciptaan Pak-tok ini memang khusus untuk menghadapi jurus serangan Liu-kim-hoat-ciok dari Lam-sia itu. Jurus Te-tong-thian-han ini selesai dan sempurna diciptakan setelah 20 tahun akhir2 ini, bahwasa-nya belum pernah saling diadu secara berhadapan. Bahwa Tangbun Yu menggunakan jurus itu tidak lebih hanya ber-harap dapat melindungi jiwanya. disamping itu karena te-naga dalamnya memang kalah setengah urat dibanding la-wan. Apalagi Kiu-yang-sin-kang justru merupakan ilmu sakti satu2nya yang dapat melumpuhkan Hian-in-kangnya itu. Sambil berteriak kesakitan yang sangat mulut Tangbun Yu menyembur darah segar bagai anak panah, tubuhpun tergoyang gontai hampir roboh. Suma Bing sendiripun merasa kaget, bahwa jurus ciptaan gurunya ini baru pertama kali ini dilancarkan ternyata keampuhannya begitu dahsyat diluar dugaannya. Air muka Tangbun Yu yang memang sudah pucat dan membesi itu kini semakin jelek membeku bagai wajah setan, serunya sambil mengertak gigi.

"Suma Bing, kau dengar, tubuhmu sekarang sudah terkena racun yang jahat, diseluruh kolong langit ini mungkin tiada seorangpun yang bisa mengobati...."

Suma Bing bergidik dia menjedot hawa dingin, sungguh dia tidak habis mengerti kapan lawannya telah menjebarkan racunnya.

Disamping sana Siang Siau-hun juga berseru kejut, na-mun suaranya lirih lemah.

Sekilas Tangbun Yu melirik kearah Siang Siau-hun dengan sorot mata penuh kebuasan lalu berkata kepada Suma Bing.

"Kau masih dapat hidup selama seratus hari, jangka seratus hari ini cukup untuk kau menyelidiki siapakah yang menyebar bisa racun tanpa bayangan itu-Sudah jelas bukan, itu berarti bahwa keluarga Tangbun kita tiada pernah mengguna-kan Racun tanpa bayangan itu."

Hal ini benar2 diluar sangkaan Suma Bing, serunya ka-get.

"Jadi bukan kau yang membunuh Siang Siau-moay dan Li Bun-Siang?"

"Omonganku cukup sampai disini saja...."

Tangbun Yu, berilah penjelasan mengapa kau bawa nona Siang Siau-hun kemari?"

"Begitu bertemu dia terus menjerang dengan kalap, maka terpaksa Siauya meringkusnya dan tujuanku membawanya kemari, pertama untuk memberi penjelasan, kedua untuk mengobati lukanya itu."

"Hm, gagah benar ucapanmu itu...."

"Suma Bing, kau jangan mengukur orang dari pandangan sela2 pintu, orang lain akan gepeng dalam pandanganmu. Aku Tangbun Yu bukan bangsa bejat yang suka berlaku tidak senonoh. Dia terluka oleh Hian-in-kangku, Kiu-yang-sin-kangmu itu cukup untuk menolongnya. Tapi kau jangan lupa, nyawamu hanya hidup untuk seratus hari saja."

"Tangbun Yu,"

Teriak Siang Siau-hun mendelik.

"Hatimu sungguh kejam, kau tidak....!"

Tangbun Yu ganda menyeringai seram ujarnya.

"Memang sudah merupakan tradisi keluarga Tangbun selamanya menggunakan racun, kaum wanita lemah takkan mengarti dun paham. Kuberitanu kau, dalam dan luar seluruh tubuhnya sudah terkena racun, namun terhadap kau aku tidak meng-gunakan racun, sebab kau sendiri belum ada harganya."

Saking gusar dan gugup, Siang Siau-hun muntahkan darah segar dan jatuh pingsan lagi. Air muka Suma Bing mengelam penuh diselubungi hawa membunuh dengan geram dan murka sekali dia mengancam.

"Binatang jahat, kau masih mengharap dapat pergi?"

Sambil mengusap darah di ujung mulutnya Tangbun Yu mengekeh tawa panjang lalu serunya dingin.

"Siaucu, coba kau kerahkan tenaga dalammu?"

Mendengar itu berdirilah bulu roma Suma Bing, dicobalah menjedot hawa dan mengerahkan tenaga, benar juga hawa murninya tidak dapat tersalur keluar dari pusarnya, seketika dingin membeku seluruh tubuhnya diam2 ia mengeluh dalam hati-"Siaucu, bagaimana, aku tidak bohong bukan?"

Seru Tangbun Yu puas sekali.

"Binatang jahat, cara turun tanganmu ini rendah hina dina...."

"Tutup mulutmu. Dalam dunia persilatan masa ini, yang berharga sampai Pak-tok ayah beranak terpaksa menggu-nakan racunnya hanya beberapa gelintir manusia saja, kau Siaucu ini harus merasa bangga akan hai ini"

"Binatang jahat, akan kubeset dan kucacah hancur tu-buhmu itu."

"Sedikitnya sekarang kau tidak mampu"

"Tunggulah saatnya akan tiba."

"Akan tetapi kau sudah terkena bisa "Pek-jit-kul" (seratus hari pulang), kalau kau hendak membunuh aku, harus kau lakukan dalam jangka seratus hari itu, kalau sudah lewat seratus hari, kau akan menyesal dan mungkin penasaran menghadap Giam-lo-ong."

Gugup dan gusar merangsang benak Suma Bing hingga keringat dingin membasahi seluruh tubuh. Selanjutnya Tangbun Yu berkata lagi.

"Siaucu, dalam jangka seratus hari ini, carilah sampai ketemu manusia yang, menjebar Racun tanpa bayangan itu, tentang tenaga dalam-mu setengah peminuman teh lagi bisa pulih sendiri seperti sediakala. Maaf tidak kuucapkan lagi "selamat bertemu"

Ke-pada kau".

~ Habis berkata tubuhnya melejlt terbang keluar biara.

Tinggal Suma Bing masih terlongong2 ditempatnya, sekian lama dia tak kuasa mengeluarkan suara.

Dendam per-guruan belum terbalas, musuh2 keluargapun belum ditumpas Musuh2 keluarga yang ikut membunuh ayah-bundanya selaut Tang-mo yang telah merebut pedang berdarah itu, yang lain tiada seorangpun yang diketahui.

Nyawanya tinggal hidup seratus hari.

Dalam jangka Seratus hari apa yang dapat diperbuatnya?

Suhunya berpesan supaja dirinya mendapatkan Pedang berdarah dan Bunga iblis untuk melatih kepandaian tiada taranya didunia, supaya Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ membersihkan nama perguruan, harapan besar ini agaknya akan terkatung2 sepanjang masa.

Tidak lama kemudian benar juga hawa murninya sudah berjalan lancar kembali.

Hatinya benci benar terhadap Tangbun Yu, namun demikian mau tak mau ia memudar juga cara binatang kecll itu menggunakan racun serta kecerdikannya.

Tadi kalau Tangbun Yu tidak membuat Suma Bing kehilangan tenaga untuk sementara waktu, pas-ti dia sukar meloloskan diri.

Kenyataan bahwa penyebar racun tanpa bayangan kiranya bukan perbuatan Pak-tok ayah beranak, ini benar2 diluar sangkanya, menurut nada ucapan bocah berbisa tad; seakan bukan saja mereka ayah beranak tidak mungkin menggu-nakan, malah rasanya belum kenal akan Racun tanpa bayangan itu.

Dikolong langit ini masa ada manusia lain yang pandai menggunakan bisa melampaui Racun-utara?" .

SI MALI NG BINT ANG MEM BUK A TABI R RAH ASIA .

Dalam pikiran tengah melayang2 itu, akhirnya sorot matanya menatap ketubuh Siang Siau-hun yang terlentang pingsan ditanah.

Tampak kedua matanya yang bundar itu tertutup rapat wajahnya pucat ke-hijau2an kaki tangannya mulai berkelejetan.

Sejenak ia berkerut alis, lalu menghampiri dan berjongkok disampingnya, membalikkan tubuhnya hingga tengkurap lalu diulurkan tangannya tepat menempel di jalan darah Bing-bun-hiat, Kiu-yang-sin-kang mulai disalurkan.

Untuk pengobatan memang Kiu-yang-sin-kang sangat mujarab seumpama dapat menghidupkan orang mati-Akan tetapi orang yang mengobati sendiri pasti banyak kehilangan tenaga, selama lima tahun tak mungkin dia bisa berkelahi dengan orang lain.

Justru sekarang Siang Siau-hun terluka oleh hawa dingin Hian-inkang.

Kiu-yang-sin-kang merupakan satu2nya lawan pemunah dan adanya teori berlawanan antara panas dingin ini, Suma Bing tidak perlu lagi menge-rahkan tenaganya sedemikian besar, untuk menolong jiwa Siang Siau-liun, boleh dikata hanya sekali jamah saja su-dahlah cukup!

Air muka Siang Siau-hun berobah kuning lalu lama kelamaan bersemu merah, napasnyapun mulai lancar dan ter-atur.

Setengah jam kemudian, mulut kecil Siang Siau-hun mengeluh lirih terus siuman kembali-Per-lahan2 Suma Bing-pun menarik tangannya.

Bergegas Siang Siau-hun membalik tubuh dan duduk diatas tanah, dengan rasa benci yang me-nyala2 ia bertanya.

"Mana bocah berbisa itu?"

"Sudah pergi."

"Suma-siangkong...."

"Ada urusan apa?"

"Kau.... untuk aku, kau terkena racun Pek-jit-kui, kau....kau hanya dapat hidup seratus hari lagi...."

Suma Bing tertawa pahit, sahutnya.. , Nona tidak perlu kuatir akan hal itu.""

Suma Siangkong, kalau kau berkata begitu, matipun aku tidak tentram."

"Nona Siang, selamat bertemu, selama hajat masih dikandung badan pasti aku akan melaksanakan janjiku itu, untuk menemukan sipenyebar Racun tanpa bayangan itu. Ta-pi dapat atau tidak terlaksana, susahlah dikatakan."

"Tidak, kau tidak boleh pergi"

"Aku, tidak boleh pergi, mengapa?"

Sahut Siang Siau-hun penuh perasaan haru.

"Aku akan selalu mengiringi kau selama seratus hari ini-Dalam jangka seratus harini kita mencari tabib ternama untuk memunah-kan racun yang mengeram dalam tubuhmu."

Suma Bing tertawa kecut, ujarnya.

"Apa kau tidak de-ngar Tangbun Yu mengatakan bahwa racunnya itu tiada seorangpun yang mampu memunahkan?"

"Tapi aku ingin bersama kau dalam seratus harini."

"Mengapa? "

Merah jengah selebar wajah Siang Siau-hun. achirnya sahutnya tegas.

"Sebab aku cinta padamu, aku ingin ber-samamu sampai akhir hidupmu."

Ucapan ini benar2 diluar dugaan Suma Bing, sekian lama ia tertegun lantas katanya. ,-Nona Siang, tapi aku tidak mempunyai maksud demikian."

Berobah wajah Siang Siau-hun, airmata meleleh semakin deras hingga kedua matanya merah, katanya gemetar.

"Ya. memang kau takkan mencintai aku, tapi, aku cinta kau bukankah beres...."

"Bukankah tujuan nona hanya untuk menghibur hidupku yang takkan lama lagi ini?"

Siang Siau-hun menggigit bibir, sahutnya.

"Aku tidak menyangkal ada sebab itu, tapi sejak pertama kali aku meli-hatmu, aku.... aku sudah tertarik olehmu"

Tersirap darah Suma Bing....

"Suma Siangkong ijinkanlah aku memanggilmu Bing-ko. dalam, seratus harini, segala milikku kupersembahkan kepa-damu. Tapi, aku harap kau jangan lantas anggap aku se-bagai wanita rendah yang tak bermartabat, seratus hari kemudian. Aku akan bunuh diri...." -airmata meleleh membasahi kedua pipinya-Suma Bing terperanjat hingga mundur satu langkah, serunya tergetar.

"Nona Siang, selamanya Suma Bing akan berterima kasih akan rasa cintamu, tapi aku tidak dapat menerima cara perbuatanmu itu."

"Bing-ko, seumpama kau bosan dan membenciku. Tapi hatiku sudah mantap tak mungkin dirobah lagi."

"Apa cukup berharga aku Suma Bing untuk kau berbuat demikian?"

"Cukup dan malah berkelebihan-"

"Kau salah, aku tidak sudi terima segala pengorbanan kasih orang,"

"Pengorbanan kasih, apa maksudmu?"

"Kau anggap aku keracunan karena kau, hatimu menyesal. lantas kau berbuat seperti apa yang kau katakan untuk menambal sanubarimu yang tidak tentram itu!""

"Tidak peduli bagaimana anggapanmu, aku cinta padamu, dari sejak sekarang ini, aku tidak akan berpisah setapakpun dengan kau."

Akhirnya tergerak juga hati kecil Suma Bing atas ke-teguhan dan kesetiaan orang, tapi lantas terpikir juga oleh-nya.

mengapa aku menggunakan tubuh yang hampir mati ini, membawa atau memendam kebahagiaan seumur hidup seorang gadis-Karena pikirannya ini segera ia merobah sikap, wajahnya kaku membesi ujarnya dingin.

"Nona Siang, kebaikanmu itu kusimpan dalam lubuk hati. banyak urusan penting yang harus kuselesaikan dalam jangka wak-tu seratus harini, maaf aku tidak dapat melajani kau terlalu lama." -habis berkata ia memutar tubuh dan baru saja hendak tinggal pergi.... Mendadak Siang Siau-hun mengeluh panjang serunya "Bing-ko, kau tetap tidak mau melulusi, baiklah biar Siau-moay pergi lebih dulu."

Tergetar hati Suma Bing mendengar seruannya itu, secepat kilat ia memutar balik, terlihat Siang Siau-hun sudah angkat sebelah tangannya hendak mengepruk batok kepalanya sendiri, dalam gugupnya secepat kilat sebuah jarinya menjentik dari jauh, seketika tangan Siang Siau-hun yang sudah terangkat itu lemas semampai.

Sungguh diluar dugaan bahwa Siang Siau-hun bisa mengambil jalan pendek, sa-king kejut keringat dingin membasahi seluruh tubuh.

"Nona Siang, kau....mengapa kau berbuat begitu?"

"Bing-ko...."

Seru Siang Siau-hun sambil berlari me-nubruk kedaiam pelukan Suma Bing dan pecahlah tangisnya tergerung2.

Selama hidup ini kapan Suma Bing pernah menghadapi adegan yang mendebarkan ini, kontan merah jengah seluruh wajahnya, jantung berdetak keras, kaki tanganpun lemas gemetar, entah apa yang harus diperbuatnya menjurungnya atau memeluknya.

Bau wangi khas seorang perawan merangsang hidungnya, dua tubuh hangat bersentuhan menimbulkan suatu perasaan mesra mengalir keseluruh tubuh.

Karena tangisnya yang penuh perasaan hingga badannya tergetar naik turun, Suma Bing merasakan dada sinona yang padat dan lunak menempel diatas tubuhnya, membuat pikirannya melayang se-perti di awang-awang.

Lengan Suma Bing yang kokoh kuat akhirnya melingkar memeluk tubuh yang montok dan langsing menggiurkan, Akhirnya terangkap juga hati sepasang muda-mudi ini setelah mengalami segala lika-liku aral lintang.

Tapi tidak dapat disangkal bahwa rangkapan jodoh mereka ini penuh mengandung sifat duka.

"Bing-ko, kalau kau....aku dapat melulusi segala permintaanmu."

Suaranya penuh buaian mesra mengandung daya tarik yang tiada batasnya.

Semangat Suma Bing terombang-ambing, namun pikiran-nya masih sadar, bagaimana boleh begitu saja ia mengor-bankan jiwa seorang gadis demi menghibur jiwa hidupnya yang sudah tak lama lagi.

Maka perlahan2 ia lepaskan pelukannya.

Wajah Siang Siau-hun masih bersemu merah, kedua matanya penuh mengembeng air mata, katanya sam-bil sesenggukkan.

"Bing-ko, untuk aku, kau mengorbankan jiwamu...."

"Tapi sekarang aku masih belum mati?"

"Memang belum, tapi seratus hari, betapa pendek jangka itu, aku....apa yang dapat kuberikan kepadamu?"

"Adik Hwi, hal itu terjadi diluar dugaan, sedikitpun aku tidak bermaksud mengorbankan jiwaku untuk kau, maka kaupun tidak perlu menaruh dalam hati, hidup memang menyenangkan, bagi seorang laki2 sejati matipun tidak perlu dibuat sedih, hanya....ai!"

"Bing-ko, bagaimana kau bisa menghapus kenyataan hakikatnya kau telah memberikan pengorbanan yang tiada taranya karena aku."

Meskipun Suma Bing seorang laki2 yang Keras hati, akhir-nya toh dia mengeluh juga akan nasibnya itu, dendam per-guruan dan musuh keluarga bagai dua pisau tajam me-lintang didalam benaknya.

Seratus hari, apa yang dapat di-perbuatnya?

Apa ada muka ia menemui gurunya yang ber-budi dan ayah bundanya dialam baka?

"Aku tidak boleh mati?"

Keluhannya ini seakan memperotes akan nasib yang sudah menentukan jalan hidupnya.

Siang Siau-hun merasa hatinya bagai di-iris2, namun mulutnya kehabisan kata2 untuk membujuk dan menghibur-nya, jikalau itu mungkin terjadi, besar harapannya ia rela menggantikan kematiannya itu, namun itu tak mungkin terlaksana.

"Bing-ko, sampai keujung langitpun kita harus mencari obat pemunah itu...."

Suma Bing membisu sambil goyang kepala, lalu katanya.

"Adik Hun, itu tidak mungkin, walaupun jangka seratus hari ada batasnya, aku ada banyak urusan yang harus ku selesaikan, aku tidak boleh menghamburkan waktu sedetik pun. Mungkin semua itu tidak bisa terlaksana, namun seta-pak demi setapak akan kucapai dengan sekuat tenagaku, setelah mati baru hatiku merasa tentram."

"Bing-ko!"

Siang Siau-hun mengeluh pendek, suaranya mengandung penjesalan, cemas, menghibur dan putus ha-rapan.... Nafsu membunuh segera merangsang dalam benak Suma Bing, achirnya diambilnya ketetapan teguh.

"Adik Hun, dimanakah tempat tinggal Racun utara ayah beranak?"

"Di lembah racun di belakang puncak ketujuh gunung Eu-san, ada apakah kau....

"Terlebih dahulu hendak kubunuh Racun Utara ayah ber-anak, baru menjelesaikan urusan yang lain."

Saking kaget Siang Siau-hun mundur tiga langkah, mata-nya membelalak tanpa bicara. Pada saat itulah, sebuah suara serak terdengar berkata.

"Bujung, mendengar nama Racun utara ayah beranak saja kaum persilatan sudah lari menyingkir, sungguh takabur ucapanmu itu."

Berobah kaget wajah Suma Bing dan Siang Siau-hun, sungguh diluar tahu mereka bahwa dalam biara bobrok itu kiranya masih ada orang ketiga yang sembunyi disitu.

Segera sinar tajam Suma Bing menatap kearah dari mana suara itu terdengar, serunya.

"Orang kosen dari manakah ini, si-lakan keluar untuk bicara."

"Hahahaha, Siaucu, darimana kau tahu kalau aku ini seorang kosen?"

Ditengah gema suaranya ini, seorang tua beruban yang bertubuh buntak dan pendek, dengan ringan-nya melayang turun dari atas penglari yang penuh kotoran debu, sedemikian enteng bagai asap tubuhnya menginjak tanah tanpa mengeluarkan suara.

Tanpa merasa Suma Bing berseru kejut tertahan.

Siang Siau-hunpun tidak kalah kaget dan malunya, bahwa orang tua pendek gemuk ini kiranya telah bersembunyi diatas penglari semalaman lamanya, terang segala gerak geriknya tadi tentu telah disaksikan olehnya, bersama itu iapun kagum akan kelihayan ringan tubuh orang.

Mulut siorang tua terbuka lebar tertawa besar, katanya.

"Siaucu, apa benar kau ini adalah muridnya Kho-losia?"

"Bagaimana pendapat tuan?"

"Ja, anggap saja benar. Kau tahu siapa Lohu ini?"

"To-singtau-gwat Si Ban-can."

Dalam pertempuran memperebutkan pedang darah tempo hari, Suma Bing pernah melihat orang muncul memberi peringatan, lalu segera tinggal pergi lagi, maka segera ia bisa menyebutt nama julukan siorang tua.

To-sing-tau-gwat Si Ban-cwan manggut -manggut.

"Tidak malu kau menjadi murid Lam-sia, pengalamanmu boleh juga."

"Tadi tuan mengatakan apa?"

"O, bukankah barusan kau bermulut besar hendak mem-bunuh Pak-tok ayah beranak?"

"Tidak salah, tapi aku tidak takabur."

"Itu berarti kau ingin mempercepat kematianmu,"

Berobah air muka Suma Bing, sahutnya lantang.

"Kukira belum tentu."

To-sing-tau-gwat (mencuri bintang merampok rembulan) Si Ban-cwan tertawa hambar katanya.

"Siaucu, kepandaian Pak

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ tok seumpama Suhumu sendiri juga harus menghadapi sekuat tenaga, kemampuanmu terpaut terlalu jauh, dan lagi dalam lembah beracun itu segala tumbuhan termasuk rumputpun mengandung bisa, apa kau jakin dapat mema-suki lembah itu?"

Suma Bing merinding, serunya penuh kebencian.

"Kalau aku tidak bunuh Pak-tok ayah beranak, belumlah terlampias rasa penasaran dalam hatiku."

"Buyung, mungkin kau menganggap hidup seratus hari itu terlalu panjang?"

"Tuan bicaralah sopan dan tahu aturan."

"Hihihihi, buyung, ini sudah sangat sungkan. Orang yang tidak masuk dalam pandangan Lohu, malas aku bicara dengan dia. Jangka seratus hari bukan waktu pendek, kau masih bisa menyelesaikan banyak urusan, buat apa kau main berlagak?"

"Lo-cianpwe,"

Tiba2 Siang Siau-hun menjelak.

"Racun Pek-jit-kui itu, adakah obat pemunahnya?"

"Tentang ini....Kecuali dapat menemukan tertua dari Bu limsip-yu yang bernama Wi-thian-chiu Poh Jiang."

Suma Bing merasa sangat terkejut, Bu-lim-sip-yu adalah musuh perguruannya, dia hanya tahu adanya Tiang-un Suseng Poh Jiang, namun belum pernah dengar adanya julukan Wi-thian-chiu (tangan membalik langit).

Maka dengan penuh curiga ia bertanya.

"Apa diantara Bu-lim-sip-yu itu ada terdapat dua Poh Jiang?"

"Tidak, satu saja."

"Lalu "Tiang-un Suseng Poh Jiang...."

"Asal julukannya adalah Wi-thian-chiu, pandai menyamar dan pintar pertabiban, akhirnya entah mengapa dia berganti julukan menjadi Tiang-un Suseng. Kalau kalian dapat menemukan orang ini, mungkin masih ada sedikit harapan."

Suma Bing mengiakan, hatinya berpikir.

"Su seng adalah salah seorang musuh besar perguruan yang ha-rus dibunuh, kini dia mengumpet dan melarikan diri, sam-pai keujung langitpun pasti kupenggal kepalanya, mana bisa aku minta obat penawar padanya."

Sebaliknya Siang Siau-hun berjingkrak kegirangan, seru-nya gemetar.

"Bing-ko, singkirkan semua itu dulu, lebih pen-ting kita pergi mencari Tiang-un Suseng?"

Tawar2 Suma Bing mengangguk kepala, lantas terpikirkan juga akan wanita seragam hitam yang juga ingin segera menemui Tiang-sun Suseng-Dia pernah berkata bahwa untuk Tiang-un Suseng dia telah rela menderita selama tiga puluh tahun lamanya, meskipun hubungan mereka itu terikat olen rangkaian cinta yang belum diselesaikan.

Demikian juga Pek-hoat-sian-nio, dia hendak mencari jejak Tiang-un Suseng, untuk apa hal ini belum jelas.

Setelah Pek-hoat-sian-nio mengetahui asal-usul perguruannya lantas dia mencecar menanyakan jejak Suhengnya Loh Cu-gi malah turun tangan keji terhadap dirinya, kalau gadis putih yang bernama Ting Hoan itu tidak membantunya secara diam2 mungkin dia sudah mati beberapa saat lamanya.

inipun kenapa?

Apa mungkin antara Pek-hoat-sian-nio dengan perguruannya ada permusuhan yang dalam?

Pikiran Suma Bing semakin tenggelam, lantas teringat pula akan Suhengnya Loh Cu-gi yang sudah menghianati perguruan, setelah merebut simbol teragung sebagai jago nomor satu diseluruh jagad terus menghilang sejak empat lima tahun yang lalu.

entah dimana dia sekarang, diapun salah seorang yang harus dicari dan dibunuh menurut pesan gurunya.

Nyata2 simaling bintang Si Ban-cwan menghentikan tawanya katanya.

-Siaucu, kalau kau dapat menemukan Tiang-un Suseng tentu kau takkan mati."

Katanya tegas.

"Aku tentu bisa, akan kucari dia dengan sekuat tenagaku"

Dimulut dia berkata begitu tapi maksud hati Suma Bing mengandung arti lain. Siang Siau-hun kegirangan ujarnya tertawa.

"Bing-ko, itulah baik, kita harus berpegang pada kesempatan hidup ini."

Sudah tentu dia tidak mengetahui arti ucapan Suma Bing yang mempunyai maksud tertentu. Simaling bintang berkata kepada Siang Siau-hun.

"Budak kecil, orang yang mati keracunan beberapa waktu yang lalu adalah adikmu?"

Air muka Siang Siau-hun berobah suram, sahutnya sedih "Ja, itulah adik kandungku Siang Siau-moay dan seorang kawannya bernama Li Bun-siang bersama menjadi korban."

"Jadi karena itu kau mencari Bocah beracun itu?"

"Benar, menurut hematku Racun tanpa bayangan yang jahat itu selain Pak-tok ayah beranak mungkin...."

"Sudah tentu hal ini tidak bisa menyalahkan kau. Racun tanpa bayangan konon adalah semacam bisa paling jahat, mungkin Racun-utara sendiripun kewalahan menghadapinya, adikmu itu adalah korban yang penasaran."

"Apa Lo-cianpwe mengetahui hal ihwal peristiwa itu."

Tanya Siau-hun terkejut.

"Tidak banyak, kutahu kulitnya saja."

"Harap Lo-cianpwe suka memeriahkan teka-teki ini?"

Sejenak simaling bintang berpikir, lalu katanya.

"Cerita ini harus dimulai dari pedang darah itu...."

Tergugah semangat Suma Bing mendengar Pedang darah disinggung lagi, sebab "Pedang darah"

Semestinya menjadi hak milik ayahnya Suma Hong, karena pedang darah itu pula maka ayah bundanya menemui ajal, untung dia sendiri dapat lolos dari kematian, maka Pedang darah itupun harus dike-jar kembali.

Dan hutang darah yang timbulkan pedang da-rah itu juga harus ditagih.

Disamping itu, sebelum meninggal Suhunya -Lam-sia pernah berpesan supaja dirinya merebut Pedang darah dan Bunga iblis supaja dapat melatih kepandaian mujijad yang tiada taranya untuk membersih-kan nama perguruan, sebab Suhengnya Loh Cu-gi yang ber-chianat itu telah mencuri sebutir Kiu-coan-hoan-yang-cau-ko, Lwekangnya sudah lebih tinggi dari gurunya sendiri.

Ini boleh dikata sebagai harapan Sia-sin Kho Jiang sebelum mati, dan Suma Bing sendiri besar hasratnya untuk melaksa-nakan harapan itu.

Siang Siau-hun menyambung mulut.

"Apa barang yang dititipkan kepada kita bertiga itu benar2 adalah "Hiat-kiam"

Itu?"

Si maling bintang Si Ban-cwan membalik mata, sahutnya.

"Jangan kau menyelak, dengarkan ceritaku ini; Lima belas tahun yang lalu Hiat-kiam pernah muncul sekali dan terjadilah penjembelihan besar2an, pemiliknya Su-hay-yu-hia.p Suma Hong suami-istri dan anaknya yang berusia kira2 tiga tahun mati mengenaskan, konon Hiat-kiam itu achirnya terebut oleh Tang-Mo (iblis timur)."

Setelah merandek sejenak lantas disambungnya lagi.

"Be-lum lama ini dikalangan Kangouw tersiar kabar yang menga-takan bahwa Pedang darah itu berada ditangan Mo-san-ji-kui. Pada waktu itu Lohu merasa heran, bahwa Tang-mo termasuk salah satu tokoh dari Bu-lim-su-ih (empat gembong aneh dari Bu-lim), kepandaiannya berimbang dengar Lam-sia Pak-tok dan Se-kui, barang yang sudah mereka dapatkan, mana mungkin bisa terjatuh ditangan orang lain lagi. Selain itu dengan kemampuan Mo-san-ji-kui, mana mungkin dapat merebut Hiat-kiam itu dari tangan Tang-mo?...."

Lahirnya Suma Bing berlaku tenang, namun sanubarinya bergejolak susah tertahan.

"Bagaimana selanjutnya?"

Tanya Siang Siau-hun ingin tahu benar.

"Gembong2 silat dari aliran hitam dan putih pada melurus kesarang Mo-san-ji-kui digua Kim pitong, disana mereka menemukan jenazah kedua setan itu sudah menggeletak di luar gua, maka banyaklah mulut2 usil yang mengatakan bahwa Hiat-kiam itu sudah direbut pula oleh orang lain lagi."

Simaling bintang menghela napas panjang lalu melanjutkan ceritanya.

"Secara sangat kebetulan, seorang tua yang berseragam hitam tengah membawa sebuah buntalan kain minyak sepanjang satu kaki, maka timbullah serakah dan ketamakan orang ceroboh dan gegabah itu, dan terjadilah pengerojokan, siorang tua itu akhirnya dapat lolos dari kepungan dengan membawa luka2 berat, karena lukanya terlalu berat ditengah jalan ia roboh dan kebetulan ber-temu dengan kalian kakak beradik lantas ia menitipkan buntalan kain itu supaya disampaikan kepada ketua kelenteng Yoktong-bio di Seng-toh...."

Siang Siau-hun manggut2 tak hentinya.

"Kiranya lo-cianpwe sangat jelas akan duduk perkara peristiwa itu?"

"Orang yang meracun adikmu dan merebut buntalan kain itu menamakan dirinya sebagai Tok-tiong ci-tok (Racun di racun)...."

"Racun didalam racun?"

"Betul, sebelum ini belum pernah terdengar adanya se-orang tokoh macam ini didunia persilatan. Tapi racun tan-pa bayangan yang dia gunakan itu boleh terhitung sebagai racun diracun...."

"Apakah buntalan kain itu benar2 berisi Hiat-kiam?"

"Bukan, hanya sebatang jinsom yang berusia ribuan tahun."

"Benar,"

Sahut Siang Siau-hun tersedar.

"Wanpwe pernah menjelidiki ke Yok-ong-bio di Seng-toh, ketua biara itu kebetulan meninggal belum lama ini, mungkin jinsom itu adalah obat yang untuk mengobati penyakitnya.... sungguh tak terduga terjadilah peristiwa diluar dugaan ini."

Sebaliknya Suma Bing tak habis mengarti, tanyanya "Apakah racun diracun dapat mengetahui bahwa apa yang dia rebut itu bukan Hiat-kiam? Atau mungkin tujuannya adalah memang Jinsom ribuan tahun itu?"

Mata simaling bintang Si Ban-cwan menatap tajam ke arah Suma Bing, katanya.

"Setelah mendapatkan buntalan kain itu, segera "Racun diracun"

Membuka buntalan itu, melihat hanya berisi sebatang Jinsom, dengan dongkol ia buang diatas tanah, entah karena pikirannya tergerak akhirnya ia kembali dan menjemputnya lagi.

Dari kejadian in dapatlah disimpulkan bahwa "Racun diracun"

Memang khusus mengincar Hiat-kiam itu?"

"Lalu bagaimana dengan peristiwa pedang berdarah palsu buatan Bwe-hwa-hwe itu?"

"Kejadian itu membuat orang susah mengarti, Lohu sendiripun belum jelas, mungkin Bwe-hwa-hwe mempunyai suatu muslihat...."

"Tuan pernah muncul memberi peringatan, untuk apa pula itu?"

"Kali ini Lohu salah melihat, aku tidak tahu bahwa Hiat kiam itu palsu, tujuanku mem-peringati mereka adalah ka-rena aku kuatir "Racun diracun"

Akan menjebarkan maut-nya untuk merebut pedang darah itu. Bukankah semua orang yang hadir akan mati konjol?"

Akhirnya sebagian pertanyaan dalam benak Suma Bing sudlah terjawab, tapi urusan agaknya semakin ruwet, de-ngan munculnya tokoh baru seperti "Racun diracun".

Siapa dan dari aliran manakah Racun diracun itu?

Bwe-hwa-hwe menggunakan Hiat-kiam palsu untuk menimbulkan perebu-tan, tanpa sengajakah atau memang sudah dalam rencana mereka?

Kalau memang sudah diatur demikian, apakah tujuannya?

Lantas Hiat-kiam tulen masihkah berada ditangan Tang-mo?

Mo-san-ji kui mati konyol disarangnya sendiri apakah berita itu benar bahwa kematiannya itu karena Hiat-kiam itu juga?

Dia menggelengkan kepalanya dengan ham-pa.

Justru yang paling diperhatikan oleh Siang Siau-hun ada-lah racun Pek-jit-kui yang mengeram dalam tubuh Suma Bing itu, dengan sinar pandang yang penuh harapan ia me-natap kearah To-sing-tau-gwat Si Ban-cwan dan berkata.

"Lo-cianpwe, dapatkah Tiang-un Suseng mengobati racun yang mengeram dalam tubuhnya itu?"

Si maling bintang melirik dan menyahut.

"Aku orang tua tidak dapat memberi pertanggungan jawab, namun itulah jalan satu2nya yang harus kalian tempuh."

"Jejak kau orang tua sudah kelana sampai dimana2. sukalah kau memberi petunjuk dimanakah kiranya kita da-pat menemukan Tiang-un Suseng?"

"Apa, jejakku tersebar diseluruh Kangouw. Budak kecil jadi kau mau maksudkan bahwa aku orang tua sudah mencuri diseluruh jagad ini?"

"Bukan begitu maksud Wanpwe."

"Konon bahwa Tang-un Suseng Poh Jiang sudah me-ninggal dunia, namun waktu kuburannya dibongkar orang kiranya kosong." -Dalam ber-kata2 Itu sengaja atau tidak matanya melirik kearah Suma Bing. Berdetak keras jantung Suma Bing. Siang Siau-hun berkerut alis, katanya.

"Kalau begitu berarti bahwa Tiang-un Suseng sengaja menghindarkan diri dari dunia ramai, untuk mencarinya mungkin sangat sukar"

"Semua kejadian dalam dunia tergantung pada djodoh, ucapanmu itu belum tentu."

"Tangbun Yu bocah berbisa itu benar2 jahat, karena sedikit salah paham saja dia lantas turunkan tangan keji meracuni orang?"

"Kau hanya tahu satu tak tahu kedua-Ketahuilah bahwa Lam-sia dan Pak-tok selamanya tidak akur bertentangan se-perti api dan air, begitu ada kesempatan bertemu tentu ti-daklah sia2 digunakan. Apalagi temanmu sebelumnya ini su-dah melukainya"

"Kalau Pak-tok sudah merajai dalam dunia racun, siapa yang berani bermusuhan padanya."

"Dia sejajar sebagai salah satu gembong aneh yang tinggi kepandaiannya, tanpa mengingat gengsi sendiri lantas turun tangan menggunakan racun, apalagi selama hidup situa bangka berbisa itu paling membanggakan kepintaran-nya itu."

"Lo-cianpwe sudah sekian lama mengumpet diatas belandar itu bukan? Tentu kau orang tua juga takut akan racun, jadi sampai sekarang baru muncul?"

Wajah tua simaling bintang merah jengah. katanya.

"Budak kecil runcing benar mulutmu. Akan tetapi bukan aku orang tua takut akan bisa itu, ada sebab lain maka aku tidak mau berurusan dengan bangsat tua beracun itu."

Segera Suma Bing mengalihkan pembicaraan.

"Bagai-manakah rupa atau bentuk orang yang mengaku sebagai Racun didalam racun itu?"

"Seorang aneh bertubuh tinggi lencir kurus kering seluruh tubuh kulitnya berwarna hitam gelap."

Suma Bing manggut2 dan mengingat keterangan itu. Kata Siang Siau-hun penuh kasih mesra.

"Bing-ko sudah saatnya kita berangkat."

"Benar kita harus segera berangkat."

"Nanti dulu."

Mendadak maling bintang perampok bulan Si Ban-cwan pentang tangannya.

"Tuan masih ada ucapan apa lagi?"

Tanya Suma Bing sambil mengerutkan alis.

"Apa kepergian kalian ini benar2 hendak mencari Tiang-un Suseng?"

"Sudah tentu,"

Selak Siang Siau-hun.

"Itulah baik, jikalau kalian lebih dulu dapat menemukan dia...."

Suma Bing menjadi heran dan bertanya.

"Jadi kau juga tengah mencari Tiang-un Suseng."

"Ja, tapi aku mendapat pesan orang lain, kalian tak perlu banyak tanya, jikalau kalian menemukan dia katakan saja bahwa Lohupun ingin segera menemuinya."

"Itu boleh, adik Hun, mari berangkat,"

Habis berkata segera ia mendahului angkat langkah keluar dari biara bobrok itu. Sebelum pergi Siang Siau-hun membungkuk memberi hormat kepada Si Ban-cwan serta berkata.

"Se-lamat bertemu". ~ terus mengintil dibelakang Suma Bing meninggalkan tempat itu. Sampai diluar segera Suma Bing menghentikan langkah, dan katanya.

"Adik Hun, dunia sedemikian besar, Tiang-un Susengpun sengaja menghindarkan diri dari keramaian, mencari jejaknya berarti mencari jarum didalam laut...."

"Ja, memang. Tapi hanya itulah harapan satu2-nya, janganlah kita buang kesempatan ini."

"Aku mempunyai sebuah cara."

"Cara apa?"

"Kita berpisah mencarinya, begitu lebih gampang dan praktis."

Berobah air muka Siang Siau-hun. katanya."Bing-ko kau hendak meninggalkan aku?"

"Adik Hun dengarkan penjelasanku; kita membatasi waktu tiga bulan, tiga bulan kemudian kita bertemu lagi dikelenteng bobrok ini. Sebelum bertemu tidak berpisah."

"Kalau.... kalau...."

"Bagaimana?"

"Kalau kau tidak datang?"

Pedih rasa hati Suma Bing seperti di-iris2, sebuah ucapan yang sederhana mengandung betapa besar rasa cinta kasih, pengharapan dan ketulusan hati.

Apa benar dia tidak akan datang?

Mengapa dia harus datang?

Obat pemunah itu merupakan angan2 hampa yang tidak mungkin terlaksana, tiga bulan kemudian, hidup jiwanya akan sampai pada titik terachir....

tapi sekuatnya ia menguatkan hati dan unjuk senjum dibuat2, katanya.

"Adik Hun, percayalah, aku pasti datang."

Kedua mata Siang Siau-hun merah tergenang air mata, dengan suara yang memilukan hati ia berkata.

"Bing-ko, aku percaya kepadamu. Tapi ingatlah ucapanku ini, kini jiwaku merupakan sebagian dari jiwamu sudah kupasrah-kan jiwaku kepada kau, itu berarti persamaan jiwa hanya sama akibatnya, tak mungkin ada dua akibat, tak peduli akibat itu baik atau buruk". Tergetar sanubari Suma Bing, walaupun dia tidak rela si nona belia ini menjadi pengiringnya masuk dalam liang kubur, tapi, apakah hanya dengan kata2 halus lantas dapat merobah tekadnya yang besar itu? Hatinya mendelu dia goyang2 kepala dengan hampa, sahutnya.

"Aku tahu!"

Setelah berpandangan sekian lamanya, mereka berpisah tanpa kata2, tanpa kata2 perpisahan sebagaimana lazimnya, tanpa ucapan selamat tinggal!

Cinta pertama adalah perjalanan hidup manusia yang termahal, akan tetapi cinta pertama mereka ini adalah pa-hit getir.

Suma Bing berusaha untuk menghilangkan ba-yangan kekasihnya ini dari sanubarinya untuk sementara, dia harus mengatur serapi mungkin akan acara yang harus di-lakukan selanjutnya.

Pertama menuju ke Ceng seng-san mencari Leng Hun-seng Ciangbun dari Ceng-seng-pay.

Dari mana menuju ke Siau-lim mencari Goan Hi Hwesio lalu memutar balik ke gunung Lo-san menemukan Lo-san siang-kiam.

Terachir baru sekuat tenaga berdaja mencari jejak Tang-mo, dan mengejar para pembunuh ayah-bundanya sembari berusaha mencari Tiang-un Suseng.

Tentang Hiat-kiam Mo-hoa dan mencuci nama perguruan mungkin tinggal suatu harapan hampa yang usah dicapai.

Setelah mengambil ketetapan hati bangkitlah semangatnya dibuangnya hal2 menakutkan dibenaknya, demi mencapai cita2nya dan untuk memperpendek waktu dia akan berlaku kejam telengas tak mengenal apa yang dinamakan kasihan atau welas-asih.

Dua hari kemudian jejaknya sudah berada di Sam-ceng-koan diatas Ceng-seng.san.

Begitu ia sampai diluar pintu bangunan agung yang angker itu tanpa merasa kakinya merandek dan was2, pikirnya; apa mungkin sekali lagi aku menubruk tempat kosong?

Pintu besar gedung megah itu tertutup rapat tanpa bayangan seorang jua.

Sudah beberapa kali ia bersuara tanpa ada penyahutan.

Setelah dipikir2 mendadak ia layangkan sebuah tangannya membelah kearah pintu besar itu, angin badai segera memberondong mener-jang kedepan terdengarlah suara gedubrakan yang nyaring, pecahan kaju beterbangan, pintu besar yang kokoh kuat itu sudah ambruk berkeping2 dan pecah berserakan diatas tanah.

Betapapun seorang yang tuli juga akan mendengar suara gedubrakan yang nyaring ini.

Sungguh aneh dan menghe-rankan sedikitpun tidak tampak adanya reaksi apa2.

**************** Pengalaman apa lagi yang akan Suma Bing alami diatas gunung Ceng-song-san ini?

Tokoh jahat kejam apakah Racun diracun yang segera akan berhadapan dengan Ketua Bwe-hwa-hwe yang serba misterius itn?

Bwe-hwa-hwe menggunakan Pedang darah palsu menimbulkan keributan, ada latar-belakang apa dibalik muslihat ini?

-oo0dw0o-

Jilid 3 9.

TOK TIONG-TJI-TOK = RACUN DIRACUN.

Lantas terasalah akan adanya hal2 yang mencurigakan Suma Bing, alisnya berkerut semakin dalam, sejenak ia ragu2 dilain saat tiba2 tubuhnya berkelebat cepat melesat kedalam biara besar yang angker itu.

Mendadak dilihatnja di sebelah sana dua laki2 yang mengenakan pakaian ketat warna biru, tengah mengertak gigi dan mendelik sambil melintangkan pedang didepan dada sikapnya mengancam, tanpa terasa ia tertawa dingin dan mengejek.

"Kukira seluruh penghuni biara ini sudah modar semua, kiranya..."

Hanya separo kata2nya dilihatnya keadaan kedua laki2 seragam biru itu sangat aneh, maka cepat2 ia telan ucapan selanjutnya, dan melangkah maju dua tindak, berdirilah bulu kuduknya.

Kiranya apa yang dihadapi itu adalah mayat yang sudah dingin kaku, dari keadaan kematiannya ini jelas menunjukkan mereka tertutuk jalan darah mematikan oleh seorang tokoh silat lihay luar biasa, maka setelah mati matanya tidak tertutup jenazahnyapun tidak roboh.

Dilihat suasana ini naga2nya pihak Ceng seng pay telah tertimpa bencana besar, waktu ia angkat kepala memandang sekitarnya, bukan olah2 lagi kejutnya, disana ditengah pelataran bergelimpangan beberapa sosok mayat.

Siapa yang telah turun tangan sekejam ini?

Melewati pelataran besar Suma Bing melangkah terus kedalam, sepanjang dimana ia lewat dilihatnya mayat bergelimpangan bau anyir darah merangsang hidung betapa seram dan mengenaskan keadaan kematian orang2 itu sungguh menggiriskan.

Sampai yang paling belakang berdiri bulu kuduk Suma Bing, terdengar ia berkata seorang diri.

"Semua mati, semua penghuni biara sebesar ini tiada satupun yang masih ketinggalan hidup,"

Betapa besar rasa benci dan dendam hatinya meluruk datang untuk menuntut balas, serta melihat banjir darah di Sam ceng koan ini, sungguh mimpipun tak terduga olehnya, sedapat mungkin ia menenangkan gejolak hatinya, pikirannya melayang kejadian yang telah dialaminya terdahulu, setelah tugas pertama memenggal kepala Ci Khong membawa hasil yang memuaskan lantas ber-turut2 ia menemui kegagalan yang menjengkelkan, entahlah itu hanya secara kebetulan ataukah memang telah diatur oleh pihak musuh, atau mungkin juga ada peristiwa lain telah terjadi tanpa setahu dirinya.

Dalam berpikir itu tanpa terasa tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringatnya sendiri, perobahan kejadian yang dialaminya ini benar2 diluar dugaannya dan lagi juga seram menakutkan.

Kalau dianalisa secara teliti se-olah2 merupakan serangkaian kejadian yang berhubungan satu sama lain.

Tapi hakikatnya tak bisa dicampur adukkan dalam satu persoalan.

Untuk selanjutnya entahlah beberapa musuh lain yang akan dicarinya itu bakal terjadi perobahan mengenaskan apa lagi?

Pandangan matanya penuh kecewa menyapu keempat penjuru, tidak tahu dia apakah Ciangbungjin Ceng seng pay Leng Hun seng juga berada diantara mayat2 itu, karena bukan saja belum kenal juga dia belum pernah ketemu, lama dan lama sekali sorot matanya berhenti diatas sesosok mayat yang rebah diserambi sebelah sana.

Dari pakaian yang dipakainya, usia dan wajahnya dapatlah diperkirakan mungkin dia itulah Leng Hun seng adanya.

Tapi dia sudah mati, apa aku harus menghancurkan jenazahnya?

Sudah tentu tidak!

Tekad bulatnya yang besar untuk menuntut balas dendam perguruannya lama kelamaan semakin goyah, serangkaian kejadian yang nyata menunjukkan bahwa dibelakang semua peristiwa ini terkandung suatu unsur bahaya yang susah dibayangkan.

Tengah pikirannya tenggelam dalam keadaan sadar tak sadar itulah, mendadak terdengar seruan dingin yang gemetar menarik kembali kesadarannya.

"Suma Bing. perbuatanmu ini benar2 sangat kejam."

Ter-sipu2 Suma Bing membalikkan badan, tampak dibawah teras sana berdiri tegak dan garangnya si orang berkedok yang belum lama ini berpisah dengan dirinya.

Si orang berkedok bisa muncul disini benar2 diluar tahunya.

"Saudara kecil, kiranya kau inilah murid Sia sin Suma Bing yang menggemparkan kalangan kangouw itu?"

"Benar, itu tidak akan kusangkal."

"Lantas kedatanganmu ini hendak menuntut balas?"

Tercekat hati Suma Bing tanyanya.

"Tidak salah, darimana Bong bian heng mendapat tahu?"

Agaknya si orang berkedok menahan gelora hatinya, sahutnya gemetar penuh haru.

"Apa masih ingat aku pernah berkata bahwa aku berhubungan sangat erat dan kental dengan Tiang un Suseng Poh Jiang. Maka kejadian permusuhan antara gurumu dengan Bu lim sip yu dulu sedikit banyak aku mengetahui, peristiwa itu merupakan, salah paham"

"Salah paham? Hm,"

Jengek Suma Bing.

Dimarkas besar Ngo ouw pang ia mendengar dari mulut Coh hujin akan perkataan 'Salah paham' itu.

Sekarang si orang berkedok yang misterius ini juga mengatakan 'salah paham'.

Apa mungkin.

Baru saja pikirannya me-layang2, se-konyong2 si orang berkedok berteriak dengan bengis.

"Saudara kecil, perbuatanmu ini sungguh tak terampunkan oleh Yang maha kuasa."

Alis Suma Bing menjengkit tinggi, tanyanya.

"Bong bian heng, perbuatan apa?"

"Apa karena kesalahan seseorang lantas kau membanjirkan darah diseluruh biara?"

"Apa kau tahu pasti bahwa aku yang turun tangan?"

"Apa bukan kau?"

Desis si orang berkedok kaget. Suma Bing manggut2 dengan geram, katanya.

"Aku datang terlambat, tak dapat kuturunkan tanganku sendiri untuk membalas sakit hati suhu, sungguh sayang dan harus disesalkan."

"Kalau begitu, saudara kecil benar bukan kau?"

"Aku ingin akulah yang berbuat, bermula memang begitulah maksud kedatanganku. Bila Leng Hun seng tidak mau unjukkan diri, aku tak akan mengenal kasihan. Sayang aku terlambat."

Sorot mata si orang berkedok menunjukkan kejut, heran dan gusar tercampur aduk, dengan nanar ia awasi mimik wajah Suma Bing, akhirnya berobah gelap dan luyu, katanya seperti menggumam.

"Siapakah yang telah berbuat sekejam ini?"

Memang atas munculnya si orang berkedok Suma Bing sudah merasa heran dan curiga, segera mulutnya menyeletuk.

"Bong bian heng bagaimana kaupun bisa tiba disini?".

"Mencari jejak Tiang un Suseng!"

"Kaupun mencari jejak Tiang un Suseng?"

"Ya, begitu aku dengar bahwa kuburan Tiang un Suseng ternyata kosong, lantas aku mulai mencari dan menyelidiki jejaknya. Sebab kita adalah sahabat kental tidak bisa tidak aku harus ikut mencari dan turut berkuatir akan keselamatannya. Tuan rumah biara besar ini adalah salah satu dari Bu lim sip yu, maka tempat inipun menjadi salah satu alamat yang harus kuselidiki juga."

Demikian si orang berkedok menjelaskan, tiba2 ia balik bertanya.

"Saudara kecil, apakah kuburannya itu adalah kau yang membongkar?"

"Bukan."

"Bukan, lalu siapa?"

"Seorang wanita misterius."

"Aneh, menurut apa yang aku tahu, belum pernah Tiang un Suseng bermusuhan dengan seorang wanitapun, wanita macam apakah itu?"

"Seorang wanita berambut panjang berseragam hitam". Sejenak si orang berkedok menunduk sambil merenung, lalu menggeleng2, naga2-nya tak teringat olehnya siapakah wanita misterius seperti yang dikatakan Suma Bing itu. Tiba2 ia mengalihkan bahan bicara, tanyanya.

"Saudara kecil, jadi kau benar2 adalah murid Lam sia."

"Kau tidak percaya?"

"Bukan tidak percaya, hanya gurumu itu..."

"Dia belum mati"

"Dia belum mati?"

Suara si orang berkedok gemetar.

"Betul, karena dibokong dia orang tua kehilangan sebuah matanya dan kedua kakinya. Justru sangat ajaib akhirnya dia tidak mati, sampai..."

"Bagaimana?"

"Belum lama berselang baru dia meninggal karena racun dalam tubuhnya kumat."

"O, saudara kecil, maukah kau dengar cerita tentang peristiwa sebab permusuhan itu?"

"Baik, coba kau ceritakan".

"Konon tiga diantara Bu lim sip yu yang tenar menggetarkan kalangan Kangouw itu telah terbunuh ditangan Sia sin Kho Jiang tanpa dosa. Dalam gusarnya tujuh kawan lainnya segera meluruk mencari Lam sia dan minta pertanggungan jawabnya. Lam sia sudah malang melintang didunia persilatan, sudah tentu tujuh kawan itu insaf bahwa merekapun tak bakal ungkulan menghadapinya. Sebaliknya bagaimanapun juga mereka harus membalaskan kematian tiga sahabatnya yang konyol itu. Siapa tahu begitu turun tangan baru mereka tahu bahwa urusan itu ada latar belakang diluar sepengetahuan mereka"

"Bagaimana duduknya perkara?"

"Naga2nya Lwekang Lam sia tidak seperti yang mereka duga sebelumnya, maka walaupun akhirnya lima dari tujuh kawan itu terluka berat, toh mereka terhitung mendapat hasil yang memuaskan. Setelah kejadian itu, Tiang un Suseng menganalisa sebelum dan sesudah kejadian itu, baru akhirnya dia insaf bahwa mereka telah terjebak dalam suatu tipu muslihat seseorang yang keji yang telah direncanakan sebelumnya"

"Tipu muslihat apakah itu?"

"Pertama; bahwa Lam sia membunuh Tam yu (tiga kawan; hanyalah berita angin, tiada seorangpun yang melihat sendiri. Kedua; dalam pertempuran itu sebelumnya Sia sin Kho Jiang sudah keracunan, ketiga; Suhengmu Loh Cu gi itu ganda menonton sambil menggendong tangan, hal ini diluar batas tata krama"

"Lalu kenapa sebelum turun tangan Tiang un Suseng tidak mau memberi penjelasan tentang maksud kedatangannya itu?"

"Gurumu beradat aneh dan tinggi hati begitu melihat orang luar menginjak batas daerahnya yang terlarang tanpa banyak mulut lantas menyerang lebih dulu, tujuh kawan itu tiada kesempatan untuk buka mulut. Apalagi begitu dia turun tangan, tambah besarlah kenyataan kabar berita itu, maka lahirlah akibat yang begituan."

"Benar, agaknja inilah suatu salah paham, pangkal dari semua kejadian ini atau dikatakan juga sebagai durjana si perencana bencana ini pasti adalah Loh Cu gi itu, tapi tujuh kawan itupun tidak mungkin terhindar dari bencana akibat perbuatan mereka."

Si orang berkedok tertawa melengking menyedihkan, serunya.

"Memang selain Tiang un Suseng yang sampai sekarang belum diketahui jejaknya yang lain semua sudah mati terbunuh oleh orang"

Sungguh kaget Suma Bing susah dilukiskan, serunya geram.

"Apa, tujuh kawan itu sudah mati terbunuh orang?"

"Betul, Lo san siang kiam menggeletak ditengah perjalanan Siang im. Goan Hi Hwesio dari Siau lim tulangnya terpendam diluar kota Kay hong"

Suma Bing terhuyung mundur tiga tindak, hampir ia tidak percaya bahwa dendam kesumat gurunya tak perlu dibalas lagi.

Karena semua musuh2nya telah mati secara aneh dan menghilang secara misterius.

Saking haru dan bersedih tubuh si orang berkedok gemetar keras, lalu katanya lagi.

"Bermula kukira semua itu adalah perbuatanmu, baru sekarang aku tahu kiranya masih ada orang lain yang berbuat sekeji itu, siapakah kiranya orang itu, susah diduga."

Mendadak sebuah lengking tertawa dingin bergema dalam biara itu, suara itu bagai bunyi burung kokok-beluk diwaktu malam, ditambah ditengah pegunungan yang sunyi dan dalam biara besar yang sekitarnya bergelimpangan mayat2 manusia, keadaan ini benar2 sangat seram dan mendirikan bulu roma manusia.

Keruan bergidik dan merinding seluruh tubuh Suma Bing dan si orang berkedok, berbareng mereka menoleh, terlihat terpaut jarak tiga tombak didepan sana berdiri seorang yang mengenakan jubah panjang warna ungu, wajahnya dingin membeku, sekali pandang dapatlah diketahui bahwa orang berpakaian ungu ini mengenakan topeng.

Sorot tajam dan dingin mata Suma Bing menatap kearah orang berjubah ungu itu, sapanya tidak kalah dinginnya.

"Orang kosen darimanakah tuan ini?"

Tidak menjawab si jubah ungu malah balas bertanya.

"Kau inilah murid Sia sin Kho Jiang yang bernama Suma Bing itu?"

"Untuk apa kau menanyakan aku?"

"Hehehehe"

Si jubah ungu perdengarkan tertawa dingin yang panjang, diselingi suara tawanya itu air muka si jubah ungu yang membeku bagai mayat itu benar2 membuat takut dan ngeri orang yang melihatnya.

Suma Bing mendengus hina, katanya.

"Tuan apa ada yang menggelikan?"

"Tidak ada, sungguh sangat kebetulan, dicari susah2 tidak ketemu, tanpa dicari ketemu sendiri."

Melonjak hati Suma Bing, kiranya si jubah ungu ini tengah mencari dirinya.

Dia belum lama kelana didunia persilatan, belum pernah bermusuhan secara langsung dengan orang, delapan bagian tentu perhitungan lama gurunya itu, maka sambil mengerut alis ia bertanya.

"Jadi tuan hendak mencari aku?"

"Betul, untuk mengambil jiwamu."

Sejenak Suma Bing tertegun lantas tertawa gelak2, serunya.

"Mulut tuan ini sungguh sangat temberang, apa kau mampu berbuat begitu?"

"Segampang membalikkan tangan!"

Sahut si jubah ungu tegas.

"Untuk apa kau bunuh aku?"

"Karena kau adalah murid Lam sia, ini sudah cukup jelas bukan?"

Diam2 Suma Bing membatin, tepat dugaannya kiranya malah salah seorang musuh gurunya. Nada ucapannya itu juga persis seperti kata Pek hoat sian nio, maka sahutnya sambil menyeringai.

"Sedikitnya tuan mempunyai sebuah nama bukan?"

"Ada, tapi kau tiada harganya bertanya, dijalan menuju keneraka 'sesat tua' itu dapat memberitahu kepadamu."

Seketika membaralah hawa amarah Suma Bing, nafsu membunuh sontak merangsang hatinya, keras2 ia mendengus lalu serunya.

"Baik, biar kuiringi keinginanmu."

Pada saat itulah mendadak si orang berkedok membentak dingin.

"Pembunuhan besar2an dalam biara ini apakah buah karya tuan?"

"Kalau benar kau mau apa?"

"Ada permusuhan apa Ceng seng pay terhadap kau, sampai demikian keji kau membanjirkan darah mencabut semua nyawa penghuni biara ini."

"Pertanyaanmu ini terlalu berlebihan. Begitu kau menginjakkan kaki kedalam biara ini sudahlah ditakdirkan kematianmu."

Rasa gusar dan benci Suma Bing yang belum terlampias saat itu sudah tak kuat ditahan lagi, segera ia menghardik keras.

"Bangsat takabur, biar kubunuh kau dulu."

Mengikuti bentakannya kedua tangannya disodokkan kedepan membawa damparan angin bagai gugur gunung melanda kearah si jubah ungu yang mengenakan kedok itu.

Si jubah ungu ganda tertawa ejek sambil kiblatkan sebuah lengannya.

Kontan Suma Bing rasakan angin pukulannya bagai menerjang sebuah tembok besi yang kokoh kuat 'bum' tenaga pukulannya membal balik.

Kejutnya bukan alang kepalang, bahwa lwekang lawan ternyata sedemikian tinggi susah diukur.

Maka cepat2 ia menarik kembali tangannya sambil menggeser kedudukan kesamping lima kaki.

Dalam waktu yang bersamaan si orang berkedokpun telah lancarkan sebuah hantaman hebat mengarah si jubah ungu.

Tanpa perhatian si jubah ungu menjengek hina, sekali berkelebat, bukan menyingkir malah tubuhnya meluruk maju kedepan si orang berkedok, dimana tangannya diulur langsung ia cengkram kedada si orang berkedok.

Berkelebat, menghindar dan melancarkan cengkraman boleh dikata dilakukan dalam sekejap mata, cepatnya sukar diikuti pandangan mata.

Saking kaget dan takut nyawa seakan terbang ke-awang2, demikianlah keadaan si orang berkedok waktu itu, untuk berkelit sudah tak mungkin lagi, dalam keadaan yang mengancam jiwa itu terpaksa ia berlaku nekad, sebelah kakinya diangkat secepat kilat menyepak kejalan darah Tan tian dipusar musuh.

Perbuatannya ini boleh dikata mengadu nyawa dan ingin gugur bersama, meskipun dirinya pasti terluka berat atau mati dibawah cengkraman musuh, tapi musuhpun harus membayar mahal dengan tersepak pusarnya.

Hebat kepandaian si jubah ungu dalam keadaan yang tak mungkin menarik balik serangan bagi orang lain tahu2 secara licin luar biasa tubuhnya melesat kesamping tiga kaki.

Maka dalam waktu yang bersamaan tendangan si orang berkedokpun mengenai tempat kosong, sebat sekali iapun segera berputar menyingkir lima kaki jauhnya.

Kini jarak mereka meski hanya setombak lebih, si jubah ungu berteriak melengking, 'Wut, wut' dua kali tangannya terayun aneh dan cepat sekali melancarkan pukulan dahsyat yang berkekuatan besar.

Belum si orang berkedok dapat menenangkan hatinya, angin tenaga pukulan musuh sudah merudung tiba bagai gugur gunung terpaksa lekas2 ia gerakan tangannya untuk menangkis.

Benturan menggeledek yang memekakkan telinga terdengar santer sekali, dibarengi seruan kesakitan yang sangat lalu disusul sebuah bayangan orang terpental terbang jatuh ditengah ruang sembahyang.

Hampir dalam waktu yang bersamaan, si jubah ungupun terhuyung mundur dua langkah, tak urung mulutnyapun mendehem keras seperti mau muntah.

Kiranya bersamaan dengan si jubah ungu memukul terbang si orang berkedok, dari sebelah samping sana Suma Bing pun lancarkan sebuah pukulan yang menggunakan setaker tenaganya.

Sebenarnya tujuannya hanya mau menolong keselamatan si orang berkedok, sayang ia terlambat setengah detik.

Si jubah ungu mengekeh tawa aneh lalu serunya.

"Suma Bing, apa Kho lo sia benar2 sudah mati?"

Tidak menjawab pertanyaan orang Suma Bing lancarkan lagi sebuah pukulan. Ringan sekali si jubah ungu melejit menyingkir sembari berkata.

"Cincin iblis kepunyaan Kho lo sia tentu sudah diturunkan kepadamu bukan?"

Suma Bing mendelik dan mengertak gigi, sahutnya.

"Tidak salah, kau ingin apa?"

"Hehehehehe, kematianmu sudah didepan mata, maka aku harus tahu jelas supaya tidak jatuh ketangan orang lain."

"Kau tahu pasti bahwa kau tidak mati?"

"Mengapa tidak kau coba2."

Sambil menggeram gusar Suma Bing lancarkan serangannya dengan jurus Liu kim hoat ciok.

Seperti diketahui jurus Liu kim hoat ciok ini pernah membuat putra Racun utara Tangbun Yu terluka berat, memang dunia persilatan masa itu yang kuat menyambut pukulannya ini hanya beberapa gelintir saja.

Siapa tahu apa yang dia saksikan dalam gelanggang yang dihadapinya ini ternyata benar2 diluar dugaan.

Tanpa menyingkir atau berkelit si jubah ungu cukup memutar dan melintangkan kedua tangan, perbuatannya ini kiranya cukup membuat Suma Bing tidak mampu melancarkan jurus serangannja, malah terdesak mundur tiga langkah lagi.

"Suma Bing, Kho lo sia telah mengajarkan kepandaian apa lagi kepadamu, silahkan berondong keluar semua, jangan nanti kau mati tidak meram, kalau kau mengabaikan waktu ini tidak akan mempunyai kesempatan lagi untuk selamanya?"

Saking marah uap putih mengepul dari atas kepala Suma Bing, tapi hatinya terkejut juga bahwa kepandaian lawan ternyata sedemikian tinggi, hal ini belum seberapa yang paling mengejutkan hatinya ialah bahwa semudah itu lawan memunahkan Liu kim hoat ciok jurus tunggal terlihay ciptaan gurunya.

Akan tetapi karena sifat pembawaannya yang keras kepala dan tinggi hati tak mau dia tunduk atau menyerah mentah2.

Sambil berteriak panjang Suma Bing lancarkan lagi pukulannya yang ketiga kali.

Kali ini si jubah ungu tidak berani berlaku gegabah, sedikit menggeser kaki tubuhnya melesat menyingkir.

Waktu Suma Bing menarik pulang pukulannya otaknya berputar seketika timbullah kekuatan Kiu yang sin kang dalam tubuhnya, kalau sekali pukulannya ini gagal lagi, maka susahlah dibayangkan bagaimana akibatnya.

Dibarengi bentakan nyaring gelombang panas bagai lahar gunung berapi ber-gulung2 melanda kedepan.

"Kiu yang sin kang!"

Seru si jubah ungu penuh nada mengejek.

Kali ini dia berdiri tenang sambil menggerakkan tangan kiri membuat satu lingkaran terus disurung kesamping, sedang tangan kanan bersamaan memukul kedepan dengan kecepatan luar biasa.

Seketika Suma Bing merasakan bahwa pengerahan Kiu yang sin kangnya itu karena gerakan memutar dan menyurung pihak lawan tenaganya kena tersedot dan ikut menyelonong kesamping.

Tanpa terasa arwahnya bagai melayang meninggalkan badannya, untuk menarik kembali atau berkelit sudah tidak sempat lagi, sedang sebuah pukulan musuh yang berkekuatan dahsyatpun sudah merangsang tiba.

'Blang' tubuh Suma Bing ter-huyung2 dan beruntun mundur delapan langkah, tidak tertahan lagi mulutnya menguak dan muntah darah.

Si jubah ungu tertawa gelak2 saking kepuasan, serunya.

"Siaucu, apa yang kau pelajari dari Kho lo sia kiranya hanya begitu saja, masih ada simpanan lain tidak?"

Suma Bing insaf bahwa dirinya bukan tandingan musuh.

Tapi terang gamblang bahwa musuh mencari dirinya, masa murid Lam sia yang ditakuti itu harus lari atau menyingkir menghadapi bencana.

Bahwasanya dirinya sudah terkena racun Pek jit kui, hidupnya tinggal seratus hari, kalau memang tiada harapan hidup, apa bedanya segera mati dengan berlebihan hidup selama seratus hari lagi.

Dalam berpikir itu secepatnya ia merogoh keluar Cincin iblis terus dimasukkan kedalam jari tengahnya.

Begitu melihat Cincin iblis itu, segera kedua mata si jubah ungu dibalik kedoknya itu menyorongkan rasa takut2 dan tamaknya, katanya dingin.

"Mo hoan, sedetik lagi dia akan menjadi milikku!"

Wajah Suma Bing sudah penuh diliputi nafsu membunuh, maju beberapa langkah ia kerahkan tenaga saktinya, seketika Mo hoan dijarinya itu menyorongkan sinar terang yang menyilaukan mata, tapi hanya secarik sinar yang menyeluruh memancar kedepan bagai sebatang pedang sejauh satu tombak lebih.

Terdengar si jubah ungu menggumam.

"Kalau Mo hoan ini ditanganku, dalam jarak dua tombak dapat kupenggal kepala orang, kukira tidak menjadi soal."

Suma Bing mendengus dan katanya.

"Dalam jarak setombak kupenggal kepalamu, kukira juga tidak menjadi soal."

Sambil berkata ia melangkah maju sambil mengayun tangan, sejalur sinar dingin kemilauan sepanjang satu tombak segera menyapu datang bagai kilat menyambar."

Sebat sekali si jubah ungu melompat jumpalitan kebelakang sejauh dua tombak, dimana kakinya menginjak tanah kini dia berada diluar pekarangan.

Tidak perlu disangkal lagi, ternyata diapun gentar menghadapi keampuhan Cincin iblis ini.

Suma Bing mendesak maju beberapa langkah dan turun dari undakan berdiri tegak ditengah pekarangan.

Saat mana si orang berkedok yang terpukul terbang oleh hantaman si jubah ungu juga sudah bangun lagi dan menggelendot dipinggir meja yang terbuat dari kayu cendana, sedikitpun ia tidak bergerak lagi, entah apa yang tengah direnungkan.

Sepasang mata Suma Bing mendelik bundar menatap si jubah ungu, katanya.

"Sebelum kubunuh kau, aku ingin tahu namamu dan tujuan kedatanganmu?"

Si jubah ungu ter-loroh2 ejek, serunya.

"Suma Bing namaku kau tidak perlu tahu, tujuanku hendak membunuh kau. Malah boleh kutambah mengapa aku harus membunuhmu, karena kau adalah murid Sia sin Kho Jiang"

Hampir meledak dada Suma Bing, bentaknya beringas.

"Kau sudah pasti mati" -sinar dingin yang menyorong dari Cincin iblis dijarinya semakin melebar dan tajam, dimana digerakkan terciptalah sebuah jaring sinar putih yang mengurung seluruh tubuh si jubah ungu, terdengarlah juga suara mendesis yang menambah keseraman keadaan sekelilingnya. Si jubah ungu berloncatan berkelit dengan lincahnya enteng dan tangkas seperti setan tanpa bayangan sungguh hebat pertunjukan ilmu ringan tubuhnya ini, namun sedikitpun ia tidak berani terang2an menyentuh sinar jaringan Mo hoan. Menggunakan Cincin iblis menghadapi musuh hanya mengandalkan tenaga murni yang didesak keluar menambah keampuhan senjata itu, kalau terlalu lama tentu hawa murni dalam tubuhnya akan semakin susut dan ludas. Agaknya si jubah ungu tahu akan kelemahan ini, selama ini ia hanya main petak dan pertunjukkan gerak tubuhnya yang lihay tiada taranya dalam dunia persilatan, karena berlompatan dan berlarian dalam pekarangan yang sedemikian besar, terpaksa Suma Bing pun harus mengejar dan menyerang kalang kabut hingga napaspun megap2. Setanakan nasi kemudian, keampuhan sinar Cincin iblis itu semakin suram sinarnya hanya menyorong tinggal delapan kaki jauhnya. Gundah dan gugup hati Suma Bing insaf dia bahwa tenaga murninya semakin susut, seluruh tubuhnya sudah basah kebes oleh keringat tapi ujung jubah musuh saja belum disentuhnya. Kini tibalah saatnya. si jubah ungu balas menyerang, dengan kekuatan pukulan yang susah diukur dia lancarkan, sembilan kali pukulan dari sembilan kedudukan yang tidak sama, angin pukulan bergelombang tinggi bagai damparan ombak yang berlapis2 menerjang tiba dari pelbagai penjuru mengarah satu sasaran. Begitu si jubah ungu selesai melancarkan sembilan pukulannya, sinar terang yang menyorong keluar dari Cincin iblis seketika lenyap dibarengi suara kesakitan yang luar biasa tubuh Suma Bing terpental terbang balik kedalam ruangan besar karena damparan gelombang pukulan musuh yang dahsyat. Agaknya si jubah ungu masih belum puas, sekali berkelebat dia melompat diatas undakan sambil lancarkan lagi sapuan tangannya. 'Blang' lagi2 Suma Bing mengeluarkan suara menguak keras darahpun menyembur deras dari mulutnya, tubuhnya terpental lagi lebih jauh kebetulan tubuhnya meluncur kearah si orang berkedok, cepat2 dia ulurkan tangan dan tepat sambut tubuh Suma Bing kedalam pelukannya. Per-lahan2 dan mantep si jubah ungu maju dua langkah berdiri diluar pintu sembahyang itu, kedua matanya menyorotkan sinar tajam yang menyedot semangat orang nada ucapannya sedingin es.

"Kau hendak bunuh diri atau harus aku yang turun tangan!"

Serta merta si orang berkedok mundur dua langkah, darahnya yang mendidih tadi kini terasa membeku dalam jantungnya, diam2 ia mengeluh.

"Tamatlah sudah!"

Mengandal kemampuannya saat itu tidak mungkin ia dapat lolos dari tangan jahat si jubah ungu, apalagi dia harus membopong dan melindungi Suma Bing, hanya kematianlah kiranya jalan satu2nya, tanpa terasa ia termenung menatap wajah Suma Bing yang pingsan dalam pelukannya, katanya menghela napas.

"Saudara kecil, segala dendam permusuhan selanjutnya boleh dihapuskan."

Pada saat itulah mendadak terdengar lolong suara aneh panjang yang menggetarkan bagai suara tertawa iblis atau jin raksasa.

Ter-sipu2 si jubah ungu membalik badan tampak olehnya ditengah pekarangan sana berdiri seorang aneh yang bertubuh kurus tinggi mengenakan jubah hitam, tidak ketinggalan wajah dan seluruh badannya berwarna hitam logam, dipandang dari kejauhan seperti tonggak yang habis terbakar.

Seluruh tubuh dari atas sampai bawah hanya terlihat dua titik putih diatas tubuhnya, yaitu kedua bola matanya yang aneh itu.

Si orang berkedok yang berada jauh didalam ruang sembahyangan tak luput merasa keder dan seram merinding, dengan pengalamannya yang luas dikalangan Kangouw, tidak diketahuinya siapa dan tokoh darimanakah si manusia aneh yang serba hitam ini.

10 HUTANG DARAH BAYAR DARAH.

Kedua bola mata manusia aneh yang banyak putihnya daripada hitam ber-putar2 jelalatan dengan suaranya yang melengking menusuk ia berkata kepada si jubah ungu.

"Sebagai ketua Bwe hwa hwe yang kenamaan mengapa harus mengenakan kedok menutup muka, apa kau malu dilihat orang?"

Agaknya si jubah ungu tergetar kaget, tanpa terasa ia mundur satu langkah.

Dilain pihak tidak kurang pula kejut si orang berkedok, sungguh diluar tahunya bahwa si jubah ungu ini kiranya adalah Ketua Bwe hwa hwe yang sangat misterius itu.

Kenapa Bwe hwa hwe Hwe tiang harus membabat rumput dan membuat banjir darah di Sam ceng koan ini?

Kenapa pula dia mengejar dan hendak membunuh Suma Bing?

Sementara itu terdengar si jubah ungu menyahut dingin.

"Tuan sebutkan nama besarmu?"

"Kau mengakui tidak kedudukanmu itu?"

Kiranya manusia aneh bagai arang inipun belum berani memastikan kalau si jubah ungu ini benar2 adalah Bwe hwa hwe Hwe tiang (ketua)! Si jubah ungu tertawa ringan, sahutnya.

"Kau dengar aku tidak menyangkal!"

Orang aneh serba hitam itu manggut2, serunya lantang .

"Kalau begitu baiklah kuberitahu. aku yang rendah ini tak lain tak bukan adalah "Tok tiang ci tok!"

"Tok tiong ci tok?"

"Benar, akulah Racun didalam racun!"

Ketua Bwe hwa hwe sendiri adalah seorang yang sangat misterius, tapi setelah dengar orang memperkenalkan diri tanpa terasa iapun terperanjat juga, beruntun mundur tiga langkah dan tanyanya lagi.

"Jadi tuan adalah Racun diracun yang baru saja muncul, kau menggunakan racun tanpa bayangan..."

Racun diracun terloroh2, katanya.

"Baru saja muncul, hm, tingkat kedudukanmu ketua Bwe hwa hwe toh belum tentu lebih tinggi dari aku?"

"Diseluruh jagad yang merajai menggunakan racun hanyalah Pak tok Tangbun Lu seorang, tuan berani menamakan diri sebagai Racun diracun, masa bisa lebih..."

"Hehehe, Pak tok terhitung barang apa?"

Lagi2 Bwe hwa hwe Hwe tiang tergetar hatinya, apa mungkin manusia aneh ini bisa lebih beracun dari Pak tok.

Tapi selama ini belum pernah dengar adanya seorang tokoh yang benar2 lihay dalam bidang itu.

Maka segera ia menarik muka dan berkata berat.

"Tuan kebetulan lewat disini ataukah..."

"Aku datang khusus mencari kau!"

"Ada pengajaran apakah?"

Dingin dan berat Racun diracun mengucapkan sekata demi sekata.

"Apakah Pedang darah berada ditanganmu?"

"Pedang darah, hahahaha, darimana Pun hwe tiang (ketua) mendapatkan Pedang darah itu?"

"Hm, Mo san ji kui mati ditangan siapa? Dengan sebilah Pedang darah palsu Bwe hwa hwe menimbulkan huru-hara dikalangan Kangouw, menimbulkan gelombang pertikaian besar, apa tujuan kalian?"

Dalam pada itu si orang berkedok yang masih berada diruang sembahyang melihat adanya kesempatan ini, secara diam2 segera ia payang tubuh Suma Bing mengeloyor pergi melalui pintu samping.

Sejenak Ketua Bwe hwa hwe menelan ludah dan ragu2 lalu serunya lagi lebih dingin.

"Bukankah pertanyaan tuan ini terlalu berkelebihan, kalau kau sudah tahu yang kita dapatkan adalah Pedang darah palsu, buat apalagi kau bertanya?"

"Mo san ji kui terkapar mati diluar guanya, apakah itu buah karya kumpulan kalian.

"Memang benar."

"Menurut apa yang tersiar dikalangan Kangouw, bahwa Pedang darah itu telah dimiliki oleh Mo san ji kui. Mo san ji kui kini telah terbunuh oleh orang2mu, bukankah itu mengatakan bahwa Pedang darah itu telah terjatuh ditangan kalian."

"Bukankah tuan tadi mengatakan juga bahwa Pedang darah yang kita, dapatkan itu adalah Pedang darah palsu"

"Hm, mencuri kelintingan menutupi kuping sendiri, begitu Pedang darah tulen terjatuh ditangan kalian, lantas dengan Pedang darah palsu kalian mengatur tipu daya dikalangan Kangouw, perbuatanmu ini benar2 masih sangat hijau!"

"Jadi tuan pasti menuduh bahwa Pedang darah yang tulen berada diperkumpulan kita?"

"Kenyataan memang demikian."

"Setelah peristiwa itu baru Pun hwe tiang (aku si ketua) sadar bahwa karena kurang teliti kita telah terjebak kedalam kabar angin itu."

"Bagaimana maksud ucapanmu ini?"

"Lima belas tahun yang lalu, Pedang darah terjatuh ditangan Tang mo, coba pikir dengan kemampuan Mo san ji kui mana mungkin dapat merebut Pedang darah itu dari tangan Tang mo. Maka kukatakan bahwa kita telah tertipu oleh kabar angin itu."

Mata Racun diracun yang banyak putihnya dari hitam ber-kilat2, sejenak ia merenung lalu tanyanya menegasi.

"Apa ucapanmu itu dapat dipercaya?"

"Percaya atau tidak terserah kepada tuan sendiri!"

"Kalau kelak aku dapatkan apa yang kau ucapkan ini bohong..."

"Bagaimana?"

"Aku tidak seperti Pak tok yang suka mengagulkan gengsi atau kedudukan, maka dapatlah kau bayangkan sendiri apa akibatnya."

Se-konyong2 Bwe hwa hwe Hwe tiang perdengarkan suara tawa yang menggelegar, nadanya seperti gembreng ditabuh sedemikian kerasnya hingga seisi biara itu terasa menggetar, setelah menghentikan suara tawanya segera ia berkata temberang.

"Tuan kau terlalu memandang rendah perkumpulan kita."

Wajah Racun diracun sedemikian hitam legam hingga susah dilihat bagaimana mimik air mukanya.

Tapi dilihat dari sorot matanya yang ber-kilat2 bengis itu, naga2nya sedikitpun ia tidak gentar atau terpengaruh oleh pertunjukan Lwekang Ketua Bwe hwa hwe dengan suara tawanya tadi, jawabnya dingin.

"Memang, jago2 kalian sangat banyak, tapi apa yang pernah kuucapkan tentu dapat kuperbuat, selamat bertemu!"

Sekali berkelebat bayangan hitam itu sudah menghilang bagai angin lalu.

Waktu ketua Bwe hwa hwe membalikkan tubuh lagi, jejak si orang berkedok dan Suma Bing sudah menghilang entah kemana.

**** Waktu Suma Bing siuman kembali yang terlihat dipandangan matanya adalah sebuah pelita minyak, bau apek yang basah menyerang hidung, terasa dirinya rebah diatas sebuah dipan batu, ia meng-ucek2 matanya lalu katanya seorang diri.

"Apa aku belum mati?"

"Kau belum mati."

Suma Bing memandang kearah datangnya suara, dilihatnya si orang berkedok tengah berduduk dipojok sana terpaut setombak, serunya kaget.

"Bong bian heng, kaulah yang menolong aku?"

"Itulah kewajiban seorang kawan."

"Tempat apakah ini?"

"Ruang rahasia dibawah Sam ceng koan"

"Ruang rahasia dibawah tanah."

"Benar."

"Kau bukan keluarga dalam Sam ceng koan ini, darimana kau tahu akan tempat ruang rahasia ini?"

"Ciangbunjin Ceng seng pay Leng Hun seng adalah salah satu dari Bu lim sip yu, sedang Tiang un Suseng adalah sahabat karibku, sudah tentu hubungankupun sangat erat dengan Sam ceng koan, ruang dibawah tanah inipun bukan rahasia lagi bagiku."

"O, lalu si jubah ungu itu"

"Dialah Bwe hwa hwe Hwe tiang"

"Bwe hwa hwe Hwe tiang?"

Seru Suma Bing melonjak kaget.

"Ada permusuhan apakah antara Bwe hwa hwe dengan Ceng seng pay? Ada dendam apa pula dengan, aku? Ini... ini"

"Inilah teka-teki, saat ini sukar untuk ditebak, sudah tentu ada sebabnya mengapa dia menimbulkan banjir darah di Sam ceng koan ini dan hendak membunuhmu lagi."

"Darimana saudara tua mengetahui bahwa dia adalah Ketua Bwe hwa hwe?"

"Ditunjuk oleh Tok tiong ci tok, untung Racun diracun muncul pada saat yang tepat, maka kita ada kesempatan menghindarkan diri."

Bukan olah2 kejut Suma Bing, sungguh tak terduga olehnya bahwa Racun diracun bisa muncul ditempat itu, serta merta mulutnya berkata.

"Si algojo yang menggunakan Racun tanpa bayangan membunuh adik Siang Siau hun dan Li Bun siang?"

"Darimana kau tahu?"

Tanya si orang berkedok heran. Terpaksa Suma Bing mengisahkan pengalamannya dikelenteng bobrok itu, tapi soal dirinya keracunan tidak dibicarakan. Si orang berkedok baru sadar dan jelas, katanya.

"Begitulah tujuan Racun diracun hanya menginginkan Pedang darah itu. Benda yang dititipkan kepada Siang Siau hun bertiga bentuknya sama seperti buntalan Pedang darah, maka Racun diracun salah sangka dan turun tangan keji, tidak heran iapun mendesak Ketua Bwe hwa hwe untuk mengetahui dimana jejak Pedang darah itu berada, kiranya masih banyak sebab lainnya,"

"Lalu akhirnya bagaimana?"

"Ketua Bwe hwa hwe menyangkal"

Bergegas Suma Bing bangun, mendadak dirasakan tiada keanehan dalam tubuhnya, serunya, kaget dan heran.

"Kuingat aku terluka berat"

"Memang lukamu tidak ringan, untung aku mengetahui sedikit cara pengobatan dan membekal obatnya pula"

Kata Suma Bing menghela napas.

"Lagi2 aku berhutang budi kepada saudara tua, ai"

"Apa maksud ucapanmu itu saudara kecil, seumpama aku yang terluka, masa kau tidak akan menolong aku."

"Meskipun begitu, tapi aku tidak suka berhutang budi kepada orang lain. sebab..."

"Sebab apa?"

"Aku tidak akan dapat membalasnya."

Si orang berkedok tertawa ringan ujarnya.

"Saudara kecil, agaknya kaupun keracunan."

Suma Bing melengak kaget, tanyanya.

"Darimana Bong bian heng dapat tahu?"

"Waktu aku mengobatimu tadi, kudapati diatas pusarmu ada setitik hitam, kalau titik hitam ini melebar sampai dijalan darah Pek hwe hiat, jiwamupun akan tamat."

Dengan penuh kebencian yang me-nyala2 segera Suma Bing bercerita tentang bagaimana dirinya terkena racun Pek jit kui dari Tangbun Yu itu.

Sontak si orang berkedok tutup mulut tak dapat bicara.

Suma Bing sendiripun tenggelam dalam renungannya, ruang bawah tanah itu menjadi sedemikian hening lelap yang terdengar hanyalah jalan pernapasan mereka saja.

Lama dan lama kemudian baru si orang berkedok memecah kesunyian dengan suaranya yang bernada berat berkata.

"Saudara kecil, aku tahu ada semacam benda dapat memunahkan racun dalam tubuhmu itu."

Keruan girang Suma Bing sukar dilukiskan mendengar keterangan itu.

Karena menurut Tangbun Yu sendiri mengatakan bahwa racunnya itu tiada orang lain yang dapat mengobati, sedang si maling bintang Si Ban cwan juga berpendapat hanya Tiang un Suseng seoranglah yang mungkin dapat mengobati dirinya.

Sungguh diluar tahunya bahwa si orang berkedok ini kiranya juga mengetahui cara memunahkan racun itu.

Ter-sipu2 ia melompat turun terus mendekati si orang berkedok sembari berkata.

"Apa saudara tua dapat mengobati racun berbisa itu?"

"Bukan aku yang dapat memunahkan, maksudku aku tahu ada suatu benda yang dapat memunahkan racun dalam tubuhmu itu, hanya..."

"Bagaimana?"

"Benda itu sukar diperoleh."

"Benda apakah itu?"

"Coa ham cau (rumput ular), rumput ini tumbuh ditengah lembah pegunungan yang berbahaya, bentuknya tidak begitu aneh hanya mengeluarkan bau wangi yang aneh justru baunya ini paling disenangi oleh ular berbisa. Dimana ada tumbuh rumput ini maka, disitulah tempat berkumpul ratusan atau ribuan macam ular berbisa, mereka berebutan untuk mengulum daun rumput itu, sedikitnya rumput semacam itu harus sudah pernah dikulum oleh ribuan laksa ekor ular2 itu hingga warnanya berobah menjadi putih bening bagai batu giok, baru ada khasiatnya untuk memunahkan racun. Tapi rumput Coa ham cau ini sukar dicari..."

Suma Bing menghembuskan napas panjang, ujarnya.

"Terhadap racun dalam tubuhku ini memang aku sudah tidak mengharap dapat dipunahkan lagi "

Si orang berkedok mengulap tangan menukas kata orang lalu katanya tersenyum.

"Saudara kecil, kalau tiada harapan tentu aku takkan buka mulut. Tentang rumput ular ini menurut apa yang kuketahui Si gwa sian jin ada menyimpan sepucuk"

"Si gwa sian jin?"

"Benar, manusia bebas diluar dunia itu bertabiat sangat aneh dan menyendiri, selamanya dia tak mau berhubungan dengan kaum persilatan."

Terbangun semangat Suma Bing, ujarnya.

"Dimanakah tempat tinggal Si gwa sian jin?"

"Bu in san (gunung tanpa bayangan), dari sini kira2 tiga hari perjalanan baru bisa sampai!"

"Baik, banyak terimakasih atas keteranganmu ini, biar kupergi kesana, mencoba peruntungan."

"Biar kuiring kau kesana, gunung tanpa bayangan itu sukar dicari biar aku yang menunjuk jalan."

"Ah, mana aku enak menyusahkan kau..."

Ujar Suma Bing penuh haru.

"Kita toh sudah terikat sebagai sahabat, terhitung apa bantuanku ini?"

"Kalau begitu marilah kita berangkat?"

"Nah kan begitu."

Mengintil dibelakang si orang berkedok Suma Bing berdua berjalan keluar menyusuri jalanan rahasia dibawah tanah, setelah belak-belok sekian lamanya kemudian tibalah mereka diujung lorong jalan rahasia itu, segera si orang berkedok mengulur tangan menekan dinding sebelah kanan, maka terdengarlah suara keresekan, tiba2 diatas kepala mereka terbukalah sebuah lobang selebar lima enam kaki persegi.

"Dari sinilah kita keluar !" -Beruntun mereka melompat keluar dan menginjak tanah, waktu mereka angkat kepala memandang tanpa terasa dingin perasaan mereka, karena kelenteng Sam ceng koan yang sedemikian megah dan agung itu kini sudah tinggal puing2 yang rata dengan tanah. Sang surya baru muncul dari peraduannya, itu berarti sudah selama satu hari satu malam mereka berada diruang bawah tanah itu. Kata Suma Bing penuh haru dan berang.

"Ketua Bwe hwa hwe itu benar2 keji, bangunan gedung yang megah inipun tidak ketinggalan dibakarnya juga. Aliran dari Ceng seng pay selanjutnya habis total, mungkin tiada saatnya lagi mereka dapat bangun kembali."

Saking haru dan bersedih si orang berkedok gemetar, ujarnya penuh kebencian.

"Hutang darah ini lambat atau cepat pasti ada orang yang akan menagihnya."

Begitulah kedua orang berdiri terlongo dan merenung sekian lamanya, lalu bersama2 melejit berlarian turun gunung.

Dan pada saat mereka mulai bergerak itulah dari jarak yang agak jauh disana terdengar derap langkah ramai yang tengah mendatangi dengan cepat.

"Kita mengumpat dulu dalam rimba, kita intip siapakah mereka itu."

Kata si orang berkedok.

Baru saja mereka membelok dan menghilang dalam hutan sebelah sana, beruntun lima bayangan manusia berlompatan tiba dipelataran diluar pintu kelenteng yang tinggal puing2-nya itu, mereka terdiri dua orang tua dan tiga orang gagah kekar, mereka berseragam hitam sekuntum bunga Bwe yang besar warna putih menghiasi baju depan dada mereka.

"Para begundal dari Bwe hwa hwe,"

Kata si orang berkedok lirih.

"mungkin mereka meluruk datang mencari kita!"

Suma Bing mendengus gusar, pendek singkat dan tegas ucapannya.

"Bunuh!"

Terdengar salah seorang tua baju hitam itu tengah berkata.

"Entah bagaimanakah hasil pemeriksaan?"

Salah seorang tua lainnya menjawab.

"Sepuluh li dalam lingkungan daerah ini seekor kelinci juga jangan harap dapat lolos, apalagi dua orang yang terluka berat, masa mereka dapat terbang kelangit..."

"Benar, masa dapat terbang kelangit!"

Sebuah suara dingin menggiriskan pendengarnya menandangi ucapannya.

Serentak kelima orang itu berputar balik, air muka mereka berobah heran dan kaget.

Tampak seorang pemuda gagah ganteng yang berlagak congkak dan bersikap angkuh tengah berdiri dua tombak jauhnya dari mereka, wajahnya penuh nafsu membunuh yang me-nyala2, mimik wajahnya itu benar2 membuat orang bergidik seram menggiriskan.

"Siapa kau, sebutkan namamu!"

Hardik kedua orang tua dengan nada berat. Orang yang mendadak muncul ini kiranya adalah jago kita Suma Bing. Dengan penuh ejek sambil melerok Suma Bing mendengus hidung, lalu katanya.

"Bangsat kurcaci seperti kalian belum berharga menanyakan namaku, tapi supaya kalian mati tidak penasaran, dengarlah, akulah Suma Bing."

Begitu si pemuda memperkenalkan diri seketika kelima gembong Bwe hwa hwe itu undur ketakutan, ketiga orang bertubuh kekar itu segera melolos senjata.

Perlahan dan pasti Suma Bing melangkah maju mendekat, setiap langkahnya mengandung nafsu membunuh yang ber-kobar2.

Kelima gembong Bwe hwa hwe itupun serta merta undur dan mundur terus.

"Berhenti!"

Mendadak sebuah suara lain menghardik keras dari belakang.

Melonjak kaget kelima orang itu sukma seakan terbang keluar badan kasarnya, waktu mereka berpaling dilihatnya seorang berkedok mengenakan pakaian warna hijau telah menghadang dibelakang mereka.

Salah seorang tua itu mendadak mengayun sebelah tangan, selarik bunga api warna merah darah segera melesat tinggi membumbung angkasa, terang bahwa mereka melepas pertanda bahaya dan minta bantuan.

Bunga api itu terbang setinggi lima puluh gunung sana minta bantuan.

Bunga api itu terbang setinggi lima puluh tombak baru meluncur turun dan jatuh dibelakang gunung sana.

Si orang berkedok ter-loroh2 sekian lamanya, katanya "Bagus sekali, undanglah semua para cakar anjing itu, darah yang mengalir di Sam ceng koan dari ratusan nyawa penghuninya, harus dicuci bersih oleh darah kalian bangsa kurcaci ini."

Serempak tiga orang kekar membentak berbareng, dimana sinar pedang berkelebat serentak mereka menyerang kearah si orang berkedok.

Sementara kedua orang tua itu saling pandang sebentar terus menerjang kehadapan Suma Bing.

Memang sudah sejak lama nafsu membunuh sudah bersemi dalam benak Suma Bing maka begitu turun tangan ia tidak mengenal kasihan lagi, kedua tangannya ditarik lalu disodokkan kedepan sedang kedua kakinyapun sedikit ditekuk, gelombang panas bagai hujan badai segera menerjang kearah kedua orangtua yang menubruk tiba.

Seketika terdengar pekikan panjang yang mengerikan bergema dikesunyian alas pegunungan.

Kedua orang itu masing2 menyemburkan darah segar dan tubuh mereka terpental sejauh tiga tombak sebelum tubuhnya menyentuh tanah jiwanya sudah melayang.

Disebelah sana terdengar juga sebuah jeritan, salah satu laki2 kekar itu terhantam remuk kepalanya oleh si orang berkedok, keruan kedua temannya ketakutan setengah mati berbareng mereka kiblatkan pedangnya terus putar tubuh hendak melarikan diri.

"Roboh!"

Si orang berkedok membentak keras, kedua tangannya bergerak bagai kilat, 'blang, blung' disusul teriakan mengerikan kedua sisa laki2 kekar inipun muntah darah dan roboh terkapar jiwapun melayang.

Baru saja Suma Bing berdua selesai membereskan musuh2nya, derap langkah yang ramai beruntun mendatangi dari pelbagai arah semua meluruk keatas puncak sini.

Serta merta sorot mata Suma Bing menyapu kearah orang berkedok, kebetulan mata orangpun tengah memandang kearah sini masing2 manggut2.

Anggukkan bersama yang menandakan kesepakatan hati ini akan menentukan nasib para tokoh Bwe hwa hwe yang mendatangi.

Maka terjadilah pertempuran hebat mati2an dibawa puing2 Sam ceng koan, darah mengalir deras, mayat2 beterbangan dengan anggota tubuh yang tidak lengkap.

Sedemikian banyak bantuan jago2 Bwe hwa hwe berdatangan dari segala penjuru, teriakan dan pekikan kesakitanpun tak henti2nya terdengar saling susul, mayat bergelimpangan semakin bertumpuk.

Beratus anggota Ceng seng pay dari ketuanya sampai muridnya terkecil tidak kecuali terbabat habis oleh pembunuhan kejam, tempat suci yang agungpun tidak luput terbakar habis menjadi puing.

Sekarang darah para anggota Bwe hwa hwepun membanjir menyiram diatas puing2 itu.

Inilah yang dinamakan hutang darah bayar darah, penyembelihan besar2an tengah berlangsung gila2an.

Puncak Ceng seng san diselubungi bau busuk dan anyir darah yang memualkan, lambat laun semakin sirap juga suara jeritan atau pekik kesakitan yang mendirikan bulu roma.

"Berhenti!"

Terdengar sebuah suara melengking mendatangi, suara ini tidak begitu keras tapi sangat mengejutkan pendengarnya.

Tanpa berjanji sebelumnya Suma Bing dan si orang berkedok segera menghentikan pertempuran.

Tampak seorang wanita berusia 30-an berwajah cantik molek entah kapan sudah berdiri ditengah gelanggang pertempuran, dibelakang wanita ini berdiri jajar dua belas busu laki2 berpakaian ketat.

Maka berkesempatanlah para jagoan Bwe hwa hwe yang masih ketinggalan hidup berlarian menyingkir menyelamatkan diri.

Dengan bola matanya yang cemerlang si wanita menyapu pandang kearah mayat2 yang bergelimpangan itu lalu dengan langkah ringan gemulai ia maju beberapa langkah, sepasang matanya jelalatan pelerak-pelerok menatap wajah Suma Bing yang ganteng, kedua pipinya agak kemerah2an, mimiknya cerah tidak tertawa tapi juga tidak tersenyum, sikapnya ini sungguh sangat menggiurkan dan memikat hati semua pria mata keranjang.

Sorot mata Suma Bing tajam bagai ujung pedang, wajahnya membeku dingin ia pandang pendatang baru ini lalu berpaling kearah si orang berkedok dan bertanya.

"Apa kedudukan wanita ini didalam Bwe hwa hwe?"

Si orang berkedok menggeleng kepala tanda tidak tahu. Pinggang dan pinggul si wanita berjentit ia maju beberapa langkah, suaranya nyaring bening bagai kicau burung.

"Kau inikah Suma Bing?"

"Benar."

"Perbuatanmu terlalu telengas!"

"Ini baru permulaan saja!"

"Hm, mungkin juga yang terakhir, kalau kukatakan bahwa kalian berdua mampir ke perkumpulan kita, tapi kalian tidak menampik bukan?"

"Kau ini terhitung barang apa?"

Jengek Suma Bing menghina.

"Barang apa? Ccce! Suma Bing, akulah Hun Cit koh pejabat Hoa than Thancu (kepala panggung kembang) dari Bwe hwa hwe!"

Suma Bing ganda mendengus ejek sambil menjerit katanya.

"Itulah bagus, semua orang yang datang semua mendapat bagian, aku tidak boleh memberi persen secara berat sebelah."

Semakin suram pandangan mata Hun Cit koh, wajahnyapun mengelam, katanya dingin.

"Suma Bing, kalau kau mau dengar kata ikut Pun than (aku), kujamin keselamatan jiwamu, kalau tidak"

Saking marah Suma Bing malah tertawa gelak2, ujarnya "Hun Cit koh. Sebaliknya aku tidak ingin menjamin keselamatan nyawamu!"

"Para murid pelindung dengar perintah!"

Tiba2 Hun Cit koh berteriak, wajahnya semakin beringas. Serentak keduabelas Busu seragam ketat itu mengiakan berbareng memencarkan diri menjadi dua kelompok. Masing2 enam orang dikanan kiri.

"Hadapilah si orang berkedok itu, tangkaplah hidup2"

Tanpa banyak kata lagi segera duabelas murid pelindung itu be-ramai2 menubruk kearah si orang berkedok.

Dalam waktu yang bersamaan Hun Cit kohpun melangkah maju mendesak kearah Suma Bing.

Sementara itu si orang berkedokpun telah terkepung oleh keduabelas musuhnya, terjadilah pertempuran seru, kiranya keduabelas murid pelindung itu rata2 berkepandaian lumayan juga, begitu saling gebrak masing2 lancarkan serangan hebat yang mengejutkan.

Disebelah sini Suma Bing masih berdiri ditempatnya dengan tenang, matanya dingin2 mengawasi gerak gerik Hun Cit koh bersiap melayani semua kemungkinan.

Pada jarak delapan kaki dari Suma Bing, Hun Cit koh menghentikan langkahnya, seketika berobah pula sikapnya, alis lentik matanya menjengkit lantas katanya.

"Suma Bing, aku... benar2 aku tidak ingin bergebrak dengan kau!"

"Mengapa?"

"Sebab kau persis benar dengan suamiku yang telah meninggal"

"Perempuan jalang yang tidak tahu malu."

Demikian Suma Bing memaki dalam hati, nadanya tetap dingin, katanya.

"Apa betul demikian?"

"Tiada faedahnya aku menipu kau."

"Lalu kau mau apa?"

"Kuharap kau suka ikut aku pergi keperkumpulan kita, kalau kau mau menjadi anggota kita tanggung paling rendah kau menjabat sebagai Thancu."

"Benarkah kalian mendapat perintah untuk mengejar dan membunuh aku?"

"Aku tidak menyangkal."

"Mengapa?"

"Aku bertugas menurut perintah!"

"Ketua kalian tidak akan berhenti sebelum meringkus aku, apakah maksud tujuannya?"

"Mungkin... mungkin dia iri pada kepandaianmu."

"Mungkin? Hm, tidak sedemikian gampang bukan?"

"Begitulah menurut hematku."

"Siapakah nama besar ketua kalian?"

"Ini, tidak leluasa kusebutkan".

"Kalau begitu segeralah turun tangan."

"Jadi kau harus berkelahi dengan aku?"

"Berkelahi? Hendak kubunuh kau"

Berobah hebat air muka Hun Cit koh, serunya sambil mendengus ejek.

"Suma Bing, kau tidak tahu kebaikan."

"Buat apa aku terima kebaikanmu?"

"Lihat serangan!"

Sambil berseru secepat kilat ia lancarkan sebuah pukulan mengarah dada Suma Bing.

Kekuatan pukulannya ini boleh dikata sangat berat sekokoh gunung juga secepat kilat, sekali serangannya ini menunjukkan bahwa kepandaiannya bukan olah2 lihay.

Sigap luar biasa Suma Bing pun julurkan tangan memapak pukulan musuh.

'Blang' kedua pukulan saling bentur dengan telak, seketika kedua belah pihak tergetar mundur satu langkah, dalam jangka sedetik itulah Suma Bing sudah melancarkan serangan balasan dengan tangan kanan.

Terkesiap darah Hun Cit koh melihat kehebatan serangan musuh ini, sekali menggeliatkan pinggang berbareng sebelah kaki menahan tanah terus tubuhnya berputar setengah lingkaran, secara tepat dan sangat berbahaya dia hindarkan serangan ini.

Bersamaan itu dari sebelah sana terdengar bentakan nyaring disusul dua suara pekik kesakitan.

Suma Bing berkesempatan melirik kearah sana, terlihat olehnya dua diantara Busu berpakaian ketat itu terhuyung mundur sambil muntah darah keluar kalangan.

Sedang si orang berkedok selicin belut dan selincah kera selulup timbul diantara kesepuluh lawannya, cara turun tangannya juga tidak mengenal kasihan lagi dan gerak-geriknya masih tetap garang dan semangat, hal ini melegakan sangat hatinya.

Sekali pukulannya meleset, pukulan kedua Suma Bing pun sudah merangsang tiba.

Kedua tangan Hun Cit koh me-nari2 berebut kesempatan untuk menyerang lebih dulu.

Kepandaian kedua belah pihak tidak terpaut jauh, sekali mereka bergebrak sengit mati2-an benar2 hebat pertempuran ini.

Dalam sekejap masing2 pihak sudah lancarkan lima puluh kali tipu lihay masing2, sedemikian jauh belum dapat ditentukan mana lebih unggul dan siapa yang asor.

Sementara itu, meskipun kepandaian si orang berkedok setinggi langitpun akhirnya terdesak juga oleh kerubutan nekad dari sepuluh lawannya yang menyerbu mati2an, lama kelamaan keadaannya terdesak dibawah angin, dari menyerang ia kini ganti siasat bertahan dengan rapat demi keselamatan nyawa sendiri.

Dalam pada itu otak Suma Bing bekerja keras, kalau dirinya tidak melancarkan ilmu simpanannya pertempuran ini tentu akan berjalan terlalu lama dan tiada akhirnya.

Kalau pihak Bwe hwa hwe kedatangan seorang kawan berkepandaian setingkat dengan Hun Cit koh, pasti berbahayalah mereka berdua.

Bersama itu iapun sudah melihat keadaan si orang berkedok yang sudah ber-kali2 menghadapi bahaya.

Dalam ber-pikir2 itu, segera ia merobah cara permainan silatnya, dalam melancarkan tipu2 silatnya diam2 ia kerahkan tenaga sakti Kiu yang sin kang sebanyak tiga bagian sebagai landasan pukulannya itu.

Hun Cit koh coba bertahan sekuat tenaga namun akhirnya tidak tahan diterjang badai gelombang panas seperti lahar gunung jebluk, sambil meraung kesakitan ia terhuyung mundur sejauh delapan kaki.

Agaknya Suma Bing pun sudah mulai mata gelap, tanpa mengenal belas kasihan meski yang dihadapi adalah seorang wanita, sekali berhasil dimana tubuhnya melejit maju beruntun ia kirim tiga kali pukulan berat pula.

Sesudah ketiga pukulannya dilancarkan terdengar Hun Cit koh memekik lebih keras badannya terbang sejauh satu tombak lebih, mulut kecilnya yang mungil menyembur deras darah segar, wajahnya kelihatan memucat dan beringas menakutkan.

Bagai setan gentayangan Suma Bing mendesak maju lagi seraya kirim satu hantaman pula.

Hun Cit koh berteriak panjang, tanganpun diangkat untuk menangkis serangan lawan pukulannya ini adalah himpunan seluruh sisa tenaganya, perbawanya bukan olah2.

'Blang' dibarengi setengah pekik kesakitan yang tertahan, beruntun Hun Cit koh hamburkan lagi tiga kali darah segar tubuhpun meloso duduk diatas tanah.

Sedang Suma Bing sendiripun terpental oleh tenaga perlawananan musuh yang hebat luar biasa, darah terasa bergolak dalam dada, tubuhnyapun terjorok dua langkah kebelakang.

Dalam pada itu, keadaan si orang berkedokpun tidak kalah berbahayanya, namun demikian diluar gelanggang pertempuran kini ditambah lagi rebah tiga Busu berpakaian ketat itu.

Sebat luar biasa Suma Bing sudah meluruk tiba dihadapan Hun Cit koh, sebelah tangan sudah diayun mengarah batok kepalanya, bentaknya bengis.

"Hun Cit koh, katakan asal usul Ketua kalian?"

"Tidak mungkin."

Sahut Hun Cit koh ketus sambil kertak gigi.

"Kau benar2 ingin mati?"

Hun Cit koh meramkan kedua matanya, dua butir air mata sebesar kacang meleleh membasahi kedua pipinya serunya penuh kepedihan.

"Silahkan turun tangan!"

Tergerak hati Suma Bing, pikirnya.

"Tidak sedikit jumlah anggota Bwe hwa hwe yang mati konyol, diusut dari semua pangkal mula peristiwa ini, hanya si ketua Bwe hwa hwe seoranglah yang benar2 merupakan musuh besarnya. Dalam keadaan yang belum jelas dan terang ini tiada faedahnya aku terlalu kejam turun tangan"

Karena pikirannya ini, tangan yang sudah diangkat tinggi itu per-lahan2 diturunkan lagi.

Lalu tanpa membuka suara lagi mendadak ia putar tubuh terus menubruk kearah si orang berkedok belum tubuhnya tiba angin pukulannya sudah sampai lebih dulu.

Seketika ada dua musuh terbawa terbang oleh angin pukulannya itu.

Begitu kelima kawannya menyapu pandang kesekitar gelanggang, terbanglah semangat mereka, serta merta mereka segera mundur dan menyingkir jauh.

Kalau si orang berkedok masih kuat bertahan adalah berkat keteguhan hatinya yang keras, namun demikian napasnya sudah empas empis seumpama pelita yang hampir kehabisan minyak tak urung tubuhnya terhuyung hampir roboh tak dapat berdiri tegak ditempatnya..MANUSIA BEBAS DILUAR DUNIA.

"Bong bian heng bagaimana keadaanmu?"

Tanya Suma Bing penuh perhatian.

"Tidak apa, aku hanya kehabisan tenaga,"

Habis berkata ia merogoh keluar dua butir obat dimasukkan kedalam mulutnya "mari kita pergi."

Si orang berkedok manggut2, dalam sekejap mata mereka sudah menghilang dan berlarian cepat turun gunung, langsung menuju kearah 'gunung tanpa bayangan'.

Ditengah perjalanan si orang berkedok berkata "dengar kejadian ini masih belum sirap, saudara kecil kalau hendak membuka tabir pembunuhan di Ceng seng san dan teka teki penyergapan terhadap kau, kecuali dapat membongkar kedok asli ketua Bwe hwa hwe, maka tiada kepikir untuk kau main tebak apa segala."

"Wajah aslinya atau asal usul Ketua Bwe hwa hwe masa tiada seorangpun yang tahu didunia persilatan?"

"Mungkin begitu!"

"Termasuk anak buahnya?"

"Itu soal lain lagi. Tapi menurut hematku, didalam Bwe hwa hwe sendiri yang mengetahui wajah asli ketuanya sendiri mungkin tidak banyak, kalau tidak mungkin sudah bocor dan tersiar dikalangan Kangouw."

"Namun cepat atau lambat pasti harus dibongkar kedoknya".

"Ketua Bwe hwa hwe sekali ini telah salah perhitungan..."

"Mengapa?"

"Menurut penilaiannya mungkin dia anggap kita berdua sudah terluka berat, kalau meratpun takkan dapat berjalan, maka dia hanya perintahkan anak buahnya untuk mengadakan razia besar2an, sedang dia sendiri tidak ikut muncul kalau tidak, mungkin saat ini kita sukar lolos dari lobang maut."

"ltupun belum tentu, kalau kemaren aku tidak terlalu bernafsu dan nekad, tidak sampai sedemikian mengenaskan kekalahanku"

Tiga hari kemudian, mereka tiba diatas sebuah puncak tinggi yang menembus langit. Menunjuk lautan awan didepannya yang tidak berujung pangkal si orang berkedok berkata.

"Disanalah letak gunung tanpa bayangan itu."

Tanpa terasa Suma Bing mengerut kening, katanya.

"Mana, sedikitpun aku tidak melihat?"

"Kalau sudah dinamakan tanpa bayangan, sudah tentu sampai bayangannyapun tidak begitu gampang dapat ditemukan orang. Kita hanya memerlukan melanjutkan terus mendekati kearah lautan awan itu, kalau jaraknya sudah dekat dan penglihatan lebih terang tentu gampanglah mencari jalan. Tapi watak manusia bebas diluar dunia ini sangat aneh diluar kesopanan. Suma Bing tersenyum ewa, katanya.

"Masa dia lebih aneh dari guruku Lam Sin Kho Jiang"

"Sifat sesat suhumu kesohor karena dia paling menentang adat istiadat atau kebiasaan umum, namun sedikit banyak ia masih mau bicara tentang kebenaran. Lain dengan manusia bebas dari dunia luar ini, saking aneh dia tidak mengenal apa yang dinamakan kebenaran."

"Peduli apa, pendek kata kita harus mendapatkan rumput ular itu."

Begitulah dengan cepat mereka telah mendekati dan mulai tiba dilautan awan, mereka langsung menerobos terus ketengah.

Dengan kekuatan tenaga Lwekang Suma Bing matanya dapat melihat terang dalam jarak sepuluh tombak, diluar jarak itu hanya remang2, maka mereka harus menggeremet maju per-lahan2.

Setengah jam kemudian si orang berkedok menunjuk sebuah bukit batu yang kelihatan remang2 dan berkata.

"Itulah disana, mari kita naik kesana!"

Ber-kobar2 semangat Suma Bing, segera ia mendahului berlari mendaki kearah bukit batu itu. Baru saja mereka tiba dilamping bukit, se-konyong2 terdengar sebuah suara berat dan keras membentak.

"Siapa itu, berhenti!"

Segera Suma Bing hentikan langkahnya, waktu ia angkat kepala terlihat seorang tua baju kuning, rambut dan jengot serta alisnya sudah beruban, berduduk tenang diatas sebuah batu yang menonjol.

Ter-sipu2 si orang berkedok maju memberi hormat serta berkata hormat.

"Wanpwe"

Orang tua baju kuning tertawa dingin dan menukas ucapan si orang berkedok.

"Kalau kalian tahu diri lekas menggelinding pergi!"

Kebentur kekerasan orang, siorang berkedok mendjadi tertegun dan melongo ditempatnja tanpa mampu mengeluarkan suara lagi.

Adalah Suma Bing malah berpikir, kalau dia menamakan orang aneh, buat apa bicara segala kesopanan apa segala, maka segera ia maju dua langkah, suaranyapun tidak kalah dingin dan ketusnya.

"Apa tuan ini yang bernama Si gwa sian jin?"

Orang tua baju kuning agaknya melengak karena sikap kasar Suma Bing ini, kedua matanya menyorotkan sinar dingin menatap kewajah Suma Bing, lama dan lama kemudian baru ia membuka mulut.

"Kau menyebut aku sebagai apa?"

"Apa tidak tepat?"

"Berapa umurmu sekarang?"

"Umur? Dalam Bu lim mengutamakan peribudi, buat apa mempersoalkan usia orang!"

"Bocah kurangajar, kau dari perguruan mana?"

"Tuan sendiri belum menjawab pertanyaanku?"

"Huh, memang aku inilah Si gwa sian jin."

"Kalau begitu akulah Suma Bing, guruku adalah Sia sin Kho Jiang."

Berobah air muka Si gwa sian jin, tanyanya.

"Kau adalah murid Kho lo sia?"

"Benar."

"Tak heran sifatmu nyeleweng, untuk apa kau datang kemari?"

"Konon tuan mempunyai sepucuk pohon rumput ular, tuk itulah aku datang kemari supaya diberi sedikit, sebab aku yang rendah terkena bisa Pek jit kui."

"Tidak salah, memang ada! Rumput ular adalah benda mujijat yang tak ternilai harganya, merupakan obat pemunah racun yang paling ampuh khasiatnya. Lantas dengan mulut kecilmu yang masih hijau itu, kau kira Lohu segera akan memberikan kepadamu? Hahahaha,"

Suma Bing mendengus keras, menghentikan tertawa orang, serunya angkuh.

"Tuan ada syarat apa, coba kemukakan."

"Syarat, kenapa?"

"Aku selamanya tidak sudi terima budi kasih orang lain kuharap dengan sesuatu syarat apa untuk dapat menukar rumput ular itu"

"Lohu tidak akan memberikan rumput ular kepadamu, juga tidak perlu syarat apa segala."

Namun Suma Bing masih keras kepala, serunya ketus.

"Tapi aku sudah pasti harus mendapatkan rumput ular itu."

"Apa mungkin kau berani menggunakan kekerasan?"

"Aku sudah minta kau mengeluarkan syarat untuk menukar, bukankah itu sangat adil!"

"Siaucu, barang itu kepunyaan Lohu, Lohu tidak ingin bertukar apa dengan kau."

"Kutegaskan sekali lagi, aku pasti harus memperoleh rumput ular itu."

Diam2 si orang berkedok menarik lengan baju Suma Bing dan membisiki dengan suara sangat lirih hampir tidak terdengar.

"Saudara kecil jangan kau mengeruhkan urusan ini, sabarlah sedikit, mintalah dengan kata2 halus, kepandaian! si tua bangka ini tidak dibawah salah seorang dari Bu lim su ih (empat gembong silat aneh)."

Baru saja Suma Bing menggelengkan kepala mendadak si manusia bebas diluar dunia sudah membentak marah2.

"Siaucu, Gurumu Kho lo sia sendiri melihat akupun tidak berani bersikap demikian kurangajar"

"Itu urusannya bukan urusanku."

Sahut Suma Bing temberang.

Memang orang aneh bertabiat aneh, karena watak Suma Bing yang berani berbantahan itu malah mencocoki selera si manusia bebas aneh ini.

Bukan marah dia malah tertawa gelak2 kegirangan ujarnya.

"Siaucu, sungguh menyenangkan sifat itu. Baiklah Lohu meluluskan permintaanmu, akan tetapi, selamanya Lohu paling benci dan tidak senang adanya kuat diluar dan keropos didalam, wajahnya gagah tapi otaknya tumpul. Begini saja, kalau kau kuat menahan tiga kali pukulanku, rumput ular boleh kau bawa pergi, kalau sebaliknya gunung tanpa bayangan ini adalah tempat keramat, tidak bakal kubiarkan orang seenaknya pergi datang."

Mau tak mau Suma Bing harus berpikir.

sudah pasti dirinya harus mendapatkan rumput ular itu atau jiwanya takkan hidup lewat seratus hari, mati atau hidup sudah ditakdirkan oleh Tuhan, buat apa aku main sangsi atau ragu?

Karena berpikir seperti itu segera mulutnya menjawab congkak.

"Apa hanya menyambuti tiga kali pukulanmu?"

Si gwa sian jin menarik muka, airmukanya mengelam desisnya.

"Siaucu, tiga pukulan itu bukan saja menentukan mati hidupmu, juga menentukan nasib kawan karibmu itu."

Terkesiap darah Suma Bing mendengar keterangan itu mati hidup dirinya tidak perlu dibuat sayang, tapi kalau sampai merembet keselamatan si orang berkedok, bagaimanapun hatinya tidak tega, maka segera ia memutar tubuh berkata kepada si orang berkedok.

"Bong bian heng, dengan setulus hatiku minta sukalah kau sekarang juga meninggalkan tempat ini."

Tanpa ragu2 si orang berkedok segera menjawab.

"Saudaraku, kau tahu aku tidak akan pergi."

"Namun kalau terjadi"

"Tentu aku tidak sesalkan kau!"

Apa boleh buat Suma Bing menggeleng kepala. Sedemikian besar budi si orang berkedok menolong jiwanya, tak urung dalam hati ia berkata.

"Saudara tua, terlalu banyak aku berhutang budi kepadamu."

Saat mana si manusia bebas telah melompat turun dari batu menonjol itu dan berdiri tegak dihadapan Suma Bing, Ia tanya menegas.

"Siaucu, kau sudah pastikan belum?"

Suma Bing mengertak gigi, sahutnya.

"Selamanya aku maju tidak mengenal mundur!"

"Matipun kau tidak penasaran?"

"Kurasa terlalu pagi mempersoalkan itu."

"Baiklah sambutlah jurus pertama ini."

Baru saja suaranya lenyap, sepasang tangan manusia bebas telah bergerak2 menjojoh kedepan.

Segera Suma Bing merasa bahwa pukulan lawan ternyata sangat aneh lain daripada yang lain, perobahannya sukar dijajaki, sukar pula untuk ditangkis atau memunahkannya, lagipula begitu dilancarkan serangannya segera merangsang tiba.

Sedikitpun tidak memberi kesempatan dirinya banyak berpikir.

Maka serta merta ia lancarkan sejurus Pit bun cia khe (menutup pintu menampik tamu) menjaga diri menutup jalan darah.

'Bum' jurus Pit bun cia khe Suma Bing ternyata masih belum mampu menahan serangan lawan, seketika dadanya seperti dipukul godam, sambil meraung kesakitan tubuhnya terhuyung lima langkah, darah hampir menyembur keluar dari mulutnya.

Tanpa tertahan si orang berkedokpun berseru kaget.

Si manusia bebas tertawa dingin, ia mundur satu langkah sembari berkata.

"Sekarang sambutlah jurus kedua."

Dua tangannya terayun lagi, gelombang angin pukulannya bagai gugur gunung menerjang dahsyat kearah Suma Bing.

Suma Bing mengertak gigi, seluruh kekuatan Kiu yang sin kang tersalurkan dikedua telapak tangannya menyambut pukulan lawan secara keras.

Benturan keras menggelegar memekakkan telinga, awan terapung disekitar mereka ikut tergulung menyiak keempat penjuru, saking dahsyat benturan pukulan mereka, batu2 gunungpun berguguran.

Tubuh Si gwa sian jin bergoyang gontai akhirnya terhuyung mundur satu tindak, wajah tuanya berobah merah padam membeku.

Suma Bing sendiri kontan jatuh terjerembab duduk diatas tanah, dua baris darah segar meleleh keluar dari ujung mulutnya, airmukanya pucat pias sangat mengenaskan.

Si orang berkedok mengeluh dalam hati.

Sekarang Suma Bing sudah terluka berat, bagaimanapun takkan mampu menyambuti pukulan ketiga, baru saja ia hendak maju membantu, Suma Bing sudah terhuyung2 bangkit dan bertindak maju tiga langkah, suaranya gemetar hampir tak terdengar.

"Silahkan lancarkan jurus ketiga."

Tak urung Si gwa sian jin tergerak sanubarinya, serunya dengan nada berat.

"Buyung, kau mempertaruhkan jiwamu?"

"Harap tuan segera turun tangan", teriak Suma Bing geram. Si gwa sian jin mengangguk kepala, kedua tangannya bergerak...

"Saudara kecil, sudahlah, mari kita turun gunung,"

Seru orang berkedok lesu penuh kepedihan.

"Tidak!"

Sahut Suma Bing tegas.

"Inilah jurus ketiga!"

Bentak Si gwa sian jin.

Kedua tangannya disodokkan keras2.

Damparan angin badai lebih deras menyambar bagai guntur seperti hujan badai.

Cepat2 si orang berkedok memalingkan muka, tak kuat hatinya menyaksikan sahabatnya mati konyol.

Dalam pada itu Suma Bing juga sudah himpun seluruh sisa tenaganya, kedua tangannya pun menyapu kedepan menyambuti pukulan musuh secara keras.

'Bum' ditengah suara mengguntur dari benturan dua tenaga dahsyat, tubuh Suma Bing terbang bagai layang2 yang putus benangnya, darah berhamburan ditengah udara.

'Blang' tubuhnya melurus jatuh keatas tanah kebentur batu gunung.

Sekali berkelebat gesit sekali si orang berkedok menubruk maju hendak menolong.

"Berhenti!"

Segera si orang berkedok menghentikan langkah, dan tanyanya gemetar.

"Apa maksud Cianpwe?"

"Dia sudah kalah!"

"Ya, memang aku tidak menyangkal bukan."

Saat mana Suma Bing merasakan seluruh tulang belulangnya terasa sakit bagai copot ruasnya, kupingnya mendengung pandangannya gelap bintang kecil2 beterbangan didepan matanya, meski demikian watak kerasnya masih berusaha untuk mengobarkan semangatnya, seolah2 sebuah suara berkata dalam benaknya.

kau jangan mati, jangan kau menyeret si orang berkedok mengorbankan jiwanya, maka dengan kedua tangannya ia menahan tubuh.

Ia berusaha berlutut lalu punggung mengelendot dibatu gunung perlahan2 bangkit berdiri.

"Saudara kecil, kau!"

Seru si orang berkedok dengan suara gemetar.

Si gwa sian jinpun tidak ketinggalan berseru kaget, rambut dan jenggotnya ber-gerak2 bahna heran dan kagumnya melihat kebandelan si bocah muda ini.

Bibir Suma Bing ber-gerak2 entah hendak mengatakan apa, tapi suaranya tidak terdengar, 'buk' tubuhnya jatuh lagi diatas tanah tanpa bergerak lagi.

Bukan kepalang kaget si orang berkedok, cepat2 ia menubruk maju dengan tangannya dirabanya denyut nadi darah Suma Bing, sekarang baru lega hatinya.

Namun bila teringat ucapan yang pernah diucapkan oleh manusia bebas tadi hatinya pilu.

Mendadak Si gwa sian jin memutar balik badannya dan berlarian cepat melesat keatas puncak.

Sungguh si orang berkedok tidak habis mengerti apa yang dikandung dalam benak orang aneh itu.

Tadi dia mengatakan kalau Suma Bing kuat menahan tiga kali pukulannya rumput ular segera dipersembahkan tanpa syarat namun kini walaupun Suma Bing belum menemui ajalnya tapi terluka berat sekali, apakah ini sudah terhitung lulus dalam ujian, maka segera dikeluarkan beberapa pulung obat lalu dijejalkan kedalam mulut Suma Bing.

Tidak lama kemudian Si gwa sian jin telah balik kembali ditangannya menggenggam sebatang rumput aneh berwarna putih bening bagai batu giok, batang pohon itu berupa daun delapan lembar, dan berbuah sebesar ibu jari dan berwarna hitam.

Hal ini diluar dugaan si orang berkedok, termenung2 dia memandangi orang entah apa yang harus diucapkan.

Sambil mengangkat tangannya si manusia bebas berkata.

"Inilah Coa hun cau, rumput ular ini adalah obat paling aneh, mustajab dan tak ternilai, sudah tumbuh selama seribu tahun lamanya, kalau ditelan bersama buahnya, begitu khasiatnya merembes keseluruh semua urat nadi dan jalan darah, tubuhnya akan kebal segala racun..."

Dalam ber-kata2 itu ia sudah berjongkok disamping tubuh Suma Bing lalu menjejalkan seluruh batang rumput ular itu kedalam mulut Suma Bing, lalu mengurut beberapa kali ditulang jidatnya terus menutuk pula jalan darah Hok thin hiat.

Kini legalah hati si orang berkedok, lantas tercetus pula katanya.

"terima kasih sebesarnya atas bantuan Cianpwe ini."

Mata Si gwa sian jin membalik, mendelong ia awasi si orang berkedok katanya.

"Tidak perlu terima kasih apa segala, kalau bukan sifat sesat bocah ini menyenangkan hatiku. Lohu tidak akan mengorbankan rumput ular ini, sekarang kau bawalah dia pergi carilah sebuah gua, dua jam kemudian bukalah jalan darahnya, begitu rumput ini masuk kedalam perutnya tentu bekerja khasiatnya dan dia akan merasakan suatu siksaan yang hebat sekali..."

Si orang berkedok tunduk dan patuh, sahutnya.

"Hal ini wanpwe sudah mendapat tahu..."

"Apa kau sudah mengerti?"

"Sedikit banyak aku sudah paham."

"Kalau begitu cepatlah pergi!"

Segera si orang berkedok membungkuk tubuh terus memanggul Suma Bing dibawa turun gunung.

Setelah berlarian sekian lamanya tibalah dia disebuah puncak tinggi, mendongak keudara ia menyedot hawa dalam2, perasaaannya lega dan nyaman bagai baru saja terlepas dari belenggu.

Dia harus segera menemukan sebuah gua untuk segera memberi pertolongan pada Suma Bing.

Mendadak didapatinya dipuncak sekitarnya ada bayangan beberapa orang berkelebatan hatinya menjadi gelisah dan gugup, kalau mereka itu anakbuah Bwe hwa hwe yang mengikuti jejaknya, maka sukarlah dibayangkan akibatnya.

Luka berat Suma Bing belum tersembuhkan, khasiat obat rumput ular akan segera bekerja pula.

Dengan pengalaman pahit digunung Ceng seng tempo hari, tentu Bwe hwa hwe mencurahkan seluruh tenaganya.

Kalau hanya dirinya seorang pasti gampang untuk mengundurkan diri, tapi kalau dibebani Suma Bing yang pingsan ini berbeda pula persoalannya.

Sejenak ia menyapu pandang keempat penjuru melihat keadaan sekitarnya terus berlari memasuki sebuah lembah disamping sebelah kanan sana.

Supaya jejaknya tidak konangan oleh orang lain dia menyusup diantara semak belukar, setelah bersusah payah sekian lamanya baru dia tiba dibawah lembah, disini ia berhenti sejenak memperhatikan sekelilingnya lantas maju terus kedepan...

"Berhenti!"

Mendadak suara dingin terdengar menghentikan langkahnya.

Sungguh terkejut si orang berkedok bukan kepalang, segera ia menghentikan langkahnya dan membalik kearah dimana suara itu terdengar.

Maka terlihat olehnya seorang nenek2 beruban dengan wajah yang merah bagai air muka seorang bayi dengan angkernya berdiri dua tombak jauhnya disebelah sana.

Dibelakang nenek tua ini berdiri pula seorang gadis ayu molek mengenakan pakaian serba putih.

Si nenek bukan lain adalah Pek hoat sian nio, sedang gadis dibelakangnya itu adalah Ting Hoan.

Bahwa Pek hoat sian nio muncul ditempat itu benar2 diluar persangkaannya.

Melihat yang muncul ini bukan orang dari golongan Bwe hwa hwe legalah hati si orang berkedok, segera ia memberi hormat sambil berkata.

"Kiranya Sian nio telah tiba, harap terimalah hormat cayhe."

"Tidak perlu banyak peradatan."

"Sian nio memanggil cayhe, entah ada petunjuk apa?"

"Beritahukan namamu"

"Nama cayhe sudah lama kulupakan, harap suka dimaafkan."

"Apa yang kau panggul itu adalah Suma Bing?"

Si orang berkedok terhenyak ditempatnya, sahutnya.

"Memang, inilah Suma Bing adanya."

"Apa hubunganmu dengan dia?"

"Sahabat karib."

"Baik sekarang kau letakkan dia, berikanlah kepadaku!"

Si orang berkedok mundur selangkah dengan kaget, tanyanya menegasi.

"Berikan kepada Sian nio, kenapa?"

"Kenapa kau tidak perlu tahu, letakkan dan tinggal pergi."

"Kalau Sian nio tidak terangkan sebabnya, tak mungkin cayhe melulusi."

"Apa kau berani membangkang?"

Saking gugup keringat membanjir ditubuh si orang berkedok, tahu dia bahwa dirinya terang bukan lawan Pek hoat sian nio, mungkin juga muridnya saja ia takkan mudah mengatasi.

Akan tetapi bagaimanapun juga dia tidak bisa menyerahkan Suma Bing kepada orang, sekilas ia berpikir lalu katanya.

"Saat ini Suma Bing tengah terluka berat dengan kedudukan dan nama Sian nio, tidak seharusnya memaksa orang disaat kesusahan?"

Berobah air muka Pek hoat sian nio mendengar cerita ini, katanya.

"Seumpama dia tidak terluka juga tak mungkin bisa lolos lari tanganku, tiada alasan aku memakai apa segala".

"Itu lain persoalan, tapi sekarang kenyataannya dia terluka berat."

Benar2 si orang berkedok tak habis mengerti mengapa Pek hoat sian nio demikian kukuh menghendaki dirinya menyerahkan Suma Bing, dendam baru atau permusuhan lama atau juga...

entahlah dia tidak tahu, maka segera ia membantah.

"Aku takkan menurut."

"Benar2 kau membandel?"

"Terpaksa aku harus berbuat demikian."

"Kau tahu apa akibatnya?"

Ucapannya ini mengandung ancaman yang serius. Si orang berkedok tertawa gelak2, katanya penuh keharuan.

"Kau minta aku dengar perintahmu, kecuali napasku sudah berhenti."

Kata Pek hoat sian nio dengan ketusnya.

"Mengambil nyawamu segampang membalikkan tangan, kau tidak sukar mencari kematian."

Melihat tiada harapan lagi berkobarlah amarah si orang berkedok, serunya murka.

"Pek hoat sian nio, tidak malukah kau menamakan diri sebagai datuk persilatan, tidak malu kau ditertawakan sesama kaum Kangouw. Memang aku bukan tandinganmu, tapi sebagai seorang kawan yang setia kau harus mencabut nyawaku dulu, kalau tidak aku takkan lepas tangan."

Wajah si gadis pakaian putih Ting Hoan pun penuh kekuatiran, bibirnya sudah bergerak hendak bersuara tapi kata2nya ditelannya kembali.

Kebetulan pada saat itulah dari puncak bukit sebelah sana berkumandang sebuah suitan nyaring tinggi yang mendebarkan hati orang.

Wajah Pek hoat sian nio kembali seperti sedia kala, tangan diulapkan dia berkata.

"Kali ini terpaksa kulepaskan dia, Mari berangkat!"

Si orang berkedok insaf bahwa banyak orang2 kaum persilatan tengah berkumpul disekitar situ, mungkin ada sesuatu kejadian penting telah terjadi.

Sudah tentu Pek hoat sian nio juga salah satu diantara mereka.

Bermula disangkanya orang2 Bwe hwa hwe yang menguntit dirinya, sekarang kenyataan membuktikan bahwa prasangkanya tadi salah.

Dalam saat ini dia tidak perlu tahu mengapa gembong2 persilatan itu berkumpul disini yang penting ia memikul tugas menyelamatkan jiwa Suma Bing maka cepat2 ia berlari semakin dalam kearah lembah.

Tidak lama kemudian ia menemukan sebuah gua, bergegas ia menerobos masuk lalu merebahkan Suma Bing diatas tanah, di-hitung2 waktunya kira2 tepat dua jam sejak ia meninggalkan tempat Si gwa sian jin, tanpa me-nunda2 lagi segera ia menutuk jalan darah Hek thin hiat ditubuh Suma Bing, lalu duduk diluar gua ber-jaga2.

Tidak lama kemudian Suma Bing mulai siuman, terasa mulutnya kering, jalan darah dan seluruh urat nadi dalam tubuhnya terasa melar mengembang bagai hendak meledak.

Sekuat tenaga ia coba bertahan lalu meng-amat2i tempat apakah itu, didapatinya dirinya rebah didalam sebuah gua, si orang berkedok tengah duduk terpekur dimulut gua, baru saja ia hendak membuka mulut memanggil, seluruh tubuh mendadak mengejang, lalu disusul beberapa jalur hawa dingin merangsang kepelbagai jalan darah dan nadinya.

Sakitnya bagai beribu jarum menyusup kepelbagai anggota tubuhnya.

Saking kesakitan tak tertahan lagi ia bergulingan diatas tanah, mulutnya mengeluarkan pekik dan merintih tak henti2nya.

Bagai tidak mendengar apa2 si orang berkedok tetap tenang duduk dimulut gua.

Kira2 setanakan nasi kemudian suara Suma Bing sudah serak dan tak kuasa lagi bergerak, ia rebah terlentang lemas didalam gua.

Segera si orang berkedok merogoh keluar tiga butir obat semua dijejalkan kedalam mulutnya, lalu secepat kilat beruntun ia menutuk tiga puluh enam jalan darah penting diseluruh tubuh Suma Bing.

Katanya.

"Saudara kecil, kerahkan tenaga murnimu bantulah obat bekerja."

Sekuat tenaga Suma Bing bangkit berduduk, terasa didalam pusarnya ada tiga macam hawa hangat yang ber-beda2 perlahan2 menjalar keatas, cepat2 ia kerahkan tenaga murni menuntun ketiga hawa hangat itu berputar menyeluruh kedalam tubuhnya, tiga kali putaran kemudian lambat laun terlupakanlah apa yang tengah dialaminya.

Si orang berkedok masih tetap berjaga dimulut gua dengan tekunnya.

Kalau disekitar pegunungan situ terang muncul jejak gembong2 silat yang tak terhitung banyaknya, tentu ada kemungkinan mereka bisa menerjang datang kemari, keadaan Suma Bing tengah mencapai tingkat yang paling gawat tidak boleh terganggu oleh apapun yang bisa mengagetkan.

Sebuah suitan nyaring bergema lama ditengah udara, tak berapa lama kemudian dari empat penjuru angin terdengar juga penyambutan suitan yang riuh rendah, apa yang tengah terjadi itu benar2 membuat pendengarnya tegang dan merinding.

Yang lebih mengejutkan bahwa suitan nyaring tadi terdengar diatas puncak dimana si orang berkedok dan Suma Bing tengah bersembunyi didalam gua.

Setelah sirapnya berbagai suitan tadi lalu disusul suara bentakan yang bergantian.

Terang kalau dipuncak bukit itu tengah terjadi suatu pertempuran dahsyat, tapi entah peristiwa apa yang telah terjadi.

Si orang berkedok nanar memandang keluar gua.

Hatinya pedih dan risau, bergantian iapun mengawasi keadaan Suma Bing.

Sebuah suara pekik panjang menggiriskan menyadarkan renungan si orang berkedok, jelas bahwa sudah ada yang terluka atau mati dalam pertempuran diatas bukit itu.

Tak lama kemudian disusul lagi sebuah teriakan panjang bergema dalam lembah itu sebuah bayangan manusia meluncur dari atas bukit bagai meteor jatuh.

Tanpa terasa merinding bulu kuduk si orang berkedok dengan penuh perhatian ia menunggu apa yang bakal terjadi.

'Bum' bayangan hitam itu berdentam terbanting beberapa tombak jauhnya dari gua sana terus tak bergerak lagi.

Si orang berkedok menghela napas panjang, gumamnya.

"O, kiranya sebuah mayat entah siapa yang memukulnya jatuh kedalam lembah, siapakah orang yang mati itu?"

Meski hatinya ingin tahu dan penuh curiga, tapi dia tidak berani meninggalkan gua untuk pergi memeriksa, keadaan Suma Bing sudah mencapai titik gawat yang terakhir keselamatan orang menjadi tanggung jawabnya!

'Blang' Lagi2 sebuah mayat terkapar jatuh diluar gua karena agak dekat si orang berkedok dapat melihat tegas siapa mayat itu, hampir saja ia berseru kaget sebab dari pakaiannya yang bercorak aneh itu diketahuinya bahwa si korban ini adalah gembong penjahat yang sudah biasa malang melintang ditujuh propinsi selatan yaitu Ngo jay bin eng Lu Pek.

Lwekang dan kepandaian elang sakti panca warna ini merupakan tokoh terkemuka dikalangan Kangow tapi toh kena dirobohkan dan terbanting mampus didalam jurang, maka dapatlah dibayangkan orang2 yang bertempur diatas bukit itu tentu bukan gembong2 silat sembarang tingkat.

Jelas yang diketahui Pek hoat sian nio adalah salah satu diantaranya.

Suara bentakan nyaring masih ber-ulang2 terdengar, sang surya sudah mulai doyong kebarat, keadaan dalam lembah sudah mulai remang2, pada saat itulah Suma Bing sudah selesai dalam pengobatannya, bergegas ia melompat bangkit dari atas tanah.

Sungguh girang si orang berkedok sukar dilukiskan dengan kata2, ter-sipu2 ia maju menyongsong sambil berseru girang.

"Saudara kecil, kuberi selamat kepadamu."

Suma Bing melengak katanya.

"Selamat, apakah maksudmu?"

"Lwekangmu sudah pulih menyeluruh, malah tubuhmu kini tidak takut lagi menghadapi segala racun berbisa, hal ini selalu merupakan keinginan semua kaum persilatan yang susah dicapai."

"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud!"

"Si gwa sian jin telah menjejalkan seluruh batang rumput ular bersama buahnya kepadamu, maka bukan saja racun Pek ji kui yang mengeram dalam tubuhmu sudah punah sama sekali, malah sejak kini tubuhmu menjadi kebal dan tidak takut lagi pada segala racun berbisa."

Lalu si orang berkedok bercerita secara ringkas.

"Bong bian heng, lagi2 aku berhutang budi yang susah dapat kubalas"

"Saudara kecil, tak usah kau mengambil dalam hati semua urusan kecil itu, mungkin juga pada suatu hari kelak lebih banyak permintaan bantuanmu kepadaku."

"Eh, suara apakah itu?"

"Diatas puncak itu tengah terjadi pertempuran sengit."

"Terjadi peristiwa apakah?"

"Entahlah, Pek hoat sian nio dan muridnyapun diantara mereka, malah ada dua mayat manusia yang terjatuh diluar gua sana."

Mendengar nama Pek hoat sian nio berkobarlah amarah Suma Bing, segera ia berseru.

"Mari kita coba lihat keatas."

"Saudara kecil, Pek hoat sian nio agaknya ada permusuhan apa dengan kau. Sebelum memasuki lembah ini tanpa di-sangka2 kita pernah bertemu, dengan keras dia minta supaya kau diserahkan kepadanya, aku berkukuh tak melulusi, untung sebuah suitan panjang menggugah maksudnya semula."

"Aku sendiri juga belum jelas sebab musababnya, tapi teka teki ini akhirnya pasti harus kupecahkan". Begitu mereka keluar gua kedua mayat itu masih menggeletak disana, salah seorang adalah seorang laki2 pertengahan umur yang mengenakan jubah sutra panjang. Seorang yang lain adalah seorang tua yang berpakaian serba ungu didepan dadanya tersulam sekuntum bunga besar warna hitam. Menunjuk mayat laki2 pertengahan umur itu si orang berkedok berkata.

"Itulah Ngo jay sin eng Lu Pek, tak terduga seorang gembong penjahat besar akhirnya musti mati ditempat ini tanpa tempat liang kubur yang tepat."

Tidak ketinggalan Suma Bing pun menyapu pandang kearah mayat lainnya, seketika ia berseru kaget.

"Diakan seorang tokoh Bwe hwa hwe yang berjuluk It Cian to hun Ciu Eng lian."

"Wah, kalau begitu tentu terjadi pertemuan tingkat tinggi diatas sana,"

"Marilah lekas pergi melihat."

"Mari!"

Berbareng mereka melejit dengan kecepatan susah diukur langsung menuju keatas puncak, terlihat sebidang tanah datar diatas puncak bayangan manusia tengah berseliweran, bentakan2 nyaring masih terdengar saling susul.

Suma Bing berdua bermain sembunyi dibelakang dahan pohon, per-lahan2 mereka menggeremet maju mendekat, akhirnya sembunyi dibelakang sebuah batu besar.

Gelanggang pertempuran sudah banjir darah, ber-puluh2 mayat bergelimpangan bertumpuk dipinggir arena pertempuran.

Saat mana Pek hoat sian nio tengah bertempur melawan seorang tua yang berwajah bengis dengan rambut dan jenggotnya berwarna merah.

Si orang berkedok berbisik kepada Suma Bing.

"Dilihat naga2nya musuh yang tengah mereka hadapi adalah Tang mo."

"Tang mo? Orang tua rambut merah itu?"

Seketika bergolak darah Suma Bing, timbullah nafsu membunuh dalam benaknya, saking bernafsu tubuhnya sampai gemetar hebat.

Sebab Tang mo adalah salah satu dari pengeroyok yang membinasakan ayah bundanya, satu2nya hal yang dapat diketahui ialah bahwa Pedang darah itu kini berada ditangan bangsat durjana ini..TANG MO = IBLIS TIMUR DIBIKIN KEOK Si orang berkedokpun telah melihat perobahan sikap Suma Bing yang aneh ini, tanyanya heran.

"Saudara kecil, ada apa kau?"

"Iblis timur ini harus kubunuh!"

Desis Suma Bing sambil mengertak gigi.

"Apa, kau hendak membunuh Iblis timur, ada permusuhan apakah kau dengan Tang mo?"

"Dendam sakit hati sedalam lautan."

"Tapi dengan kemampuanmu sekarang, mungkin kau masih bukan tandingan Tang mo?"

"Terpaksa aku harus nekad."

Sahut Suma Bing penuh kebencian.

"Saat ini belum menguntungkan kau untuk bergerak."

"Kenapa?"

"Pek hoat sian nio belum puas sebelum dapat meringkus kau. Dan lagi apa kau sudah perhatikan baju ungu disebelah timur itu?"

Waktu Suma Bing menyapu pandang ketempat yang ditunjuk, tanpa terasa ia melonjak kaget dan berseru.

"Bwe hwa hwe tiang!"

"Benar, orang inipun takkan melepaskan kau, ketahuilah bahwa lwekang ketiga orang ini jauh diatas kepandaianmu"

Suma Bing ganda mendengus tanpa buka suara lagi.

Gerak gerik kedua orang ditengah gelanggang kini berobah semakin lambat, lama sekali baru melancarkan satu jurus, namun setiap jurusnya adalah ajaran2 silat tingkat tinggi yang lihay, asal salah satu pihak berlaku sedikit lalai, hidup atau mati segera akan menentukan, sebab pertempuran macam demikian adalah lebih seram dan berbahaya.

Mendadak Tang mo berteriak panjang, kedua tangan bergerak melintang terus disurung maju, gerak serangannya ini aneh menakjubkan dan keras luar biasa.

Dalam waktu yang bersamaan Pek hoat sian nio juga melancarkan sebuah pukulannya, perbawanya bagai kilat menyambar dan guntur menggelegar.

Dua belah pihak sama2 melancarkan serangan tanpa salah satu pihak mau mengalah atau robah cara permainannya untuk bertahan misalnya.

Sebab inilah cara bertempur untuk gugur bersama, seakan kedua belah pihak mempunyai dendam kesumat sedalam lautan sebelum salah satu pihak menemui ajal takkan berhenti.

'Blang, bum!' dua kali ledakan menggoncangkan sekitar gelanggang pertempuran, diselingi suara pekik tertahan dua bayangan orang terpental mundur berbareng, para penonton pun ikut berseru kaget.

Kalau Pek hoat sian nio terhuyung hampir roboh, darah mengalir dari ujung bibirnya.

Adalah Tang mo menyemburkan darah, tubuhnya mundur setombak lebih dan untung masih kuat berdiri diatas tanah.

Sebuah bayangan berkelebat, tahu2 Ketua Bwe hwa hwe sudah berdiri diantara Pek hoat sian nio dan Tang mo.

Terdengar ia berkata dingin penuh ancaman.

"Tang mo, serahkan saja kepadaku, kenyataan sudah membuktikan kalau kau serahkan Pedang darah itu pasti jiwamu dapat terjamin, atau sebaliknya kau akan kehilangan segalanya, pedang dan jiwamu amblas keduanya."

Tergetar seluruh tubuh Suma Bing, desisnya mengertak gigi.

"Mereka tengah memperebutkan Pedang darah."

"Kiranya Pedang darah masih berada ditangan Tang mo, jelas bahwa kabar dikalangan Kangouw yang mengatakan Pedang darah itu terjatuh ditangan Mo san ji kui adalah bohong belaka!"

Perasaan hati Suma Bing susah dilukiskan, Pedang darah seharusnya menjadi hak milik ajahnya, dan ayah bundanya pun mati lantaran benda itu, dia sendiripun hampir direnggut oleh elmaut.

Sakit hati harus dibalas, Pedang darah juga harus direbut kembali.

Lantas teringat juga pesan suhunya sebelum ajal...

Pedang darah, Bunga iblis capailah pelajaran silat yang tiada taranya itu, untuk menuntut balas dan mencuci baik nama perguruan...

Belum habis pikirannya, terdengar Tang mo perdengarkan suara tawa menggila bagai lolong serigala seperti pekik orang hutan pula, lalu serunya.

"Kau ini terhitung barang macam apa?"

Ketua Bwe hwa hwe menyeringai dingin, katanya.

"Aku yang rendah inilah ketua Bwe hwa hwe."

"Silahkan tuan mundur!"

Jengek Pek hoat sian nio.

"Mengapa?"

"Urusanku dengan Tang mo belum selesai."

"Hahahahaha, tidakkah salah ucapan sian nio ini, barang berharga yang tiada pemiliknya siapapun yang melihat dia harus mendapat bagian semua kawan yang hadir hari ini tujuannya adalah benda itu, jadi bukan kita saja yang ingin merebutnya."

"Siapa bilang Pedang darah tiada pemiliknya?"

"Apa mungkin menjadi milik Sian nio?"

"Kenapa tidak mungkin!"

"Hahaha, meskipun nama Pek hoat sian nio diseluruh jagad raya, tapi semua orang bukan bocah umur tiga tahun!"

"Jadi kau sudah pasti penujui Pedang darah itu?"

"Aku tidak perlu menyangkal."

"Kalau begitu silahkan kau turun tangan."

"Maaf aku berlaku kurang hormat."

Wajah Bwe hwa hwe tiang tertutup oleh kedoknya, bagaimana wajah asli atau perobahan mimiknya sukar diketahui, namun dari sinar matanya dan nada ucapannya sangat garang tanpa banyak cakap lagi langsung ia ulurkan tangannya terus mencengkeram kearah pinggang Iblis timur.

Cara cengkramannya sangat keji dan cepat luar biasa menciutkan nyali orang.

Sebagai salah satu tokoh dari Bu lim su ih, meskipun sudah terluka parah namun Lwekangnya masih bukan olah2 hebatnya, tangan kiri melintang menangkis cengkraman ketua Bwe hwa hwe, berbareng tangan kanan bergerak miring menghantam muka lawan.

Juga dalam saat yang sama Pek hoat sian nio melancarkan sebuah serangan.

Seumpama kepandaian Ketua Bwe hwa hwe setinggi langitpun takkan berani menangkis serangan berbareng dari dua tokoh silat tingkat wahid, sebat sekali ia menggeser kedudukannya lima kaki kebelakang.

Terpaksa Pek hoat sian nio merobah gerakannya meneruskan serangannya merangsang kearah Tang mo yang kebetulan berada tepat dihadapannya 'biang,' begitu saling bentur kontan mereka terpental mundur, mulut Tang mo lagi2 menyemburkan darah segar.

Kesempatan ini tidak disia2kan oleh Ketua Bwe hwa hwe sambil berseru memperingatkan langsung ia menyerang kearah Pek hoat sian nio.

Bergulung2 gelombang angin badai mendampar deras kearah Pek hoat sian nio.

Melejitkan tubuh Pek hoat sian nio menyingkir sejauh satu tombak, selamatlah dia dari rangsangan pukulan musuh yang mengejutkan ini.

Hebat memang kepandaian Ketua Bwe hwa hwe sedetik kemudian tubuhnya sudah berputar sebat sekali mengirim sebuah jotosan kearah Tang mo juga.

Sudah sekian lama Tang mo terkepung dan dikeroyok, seumpama dewapun akhirnya pasti kelelahan, apalagi tubuhnya sudah terluka parah, mana kuat menahan serangan tenaga baru ini.

Sambil mengeluarkan pekik kesakitan sangat mulutnya menyemprotkan darah segar, badannya terpental mundur dan akhirnya jatuh duduk diatas tanah.

Tempat dimana ia terjatuh kebetulan dipinggir kalangan pertempuran.

Dua bayangan manusia dari kiri kanan segera menubruk maju kearahnya.

"Mencari mati!"

Baca Juga: Pusaka Pulau Es 2

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert