Ceritasilat Novel Online

Pedang Darah Bunga Iblis 1

Eps 1 Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Baca online Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh

Cersil Pedang Darah Bunga Iblis - Gkh.

Pedang Darah Bunga Iblis. (Hiat Kiam Mo Hoa) Judul Lama . Terror Bwe Hwa Hwe Diceritakan oleh G.K.H.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/.

Jilid 1 PENDAHULUAN Darah yang mengalir memanjang sudah membeku seperti beratur ekor ular hitam yang mati kaku dibawah terik matahari.

Mayat-mayat dengan anggota tubuh yang tidak lengkap bergelimpangan di puncak Hou-thou-hong (puncak kepala harimau) di gunung Tiam-tjong-san; kepala, tangan atau kaki berserakan dimana-mana mengeluarkan bau amis yang memualkan.

Satu jam yang lalu beberapa ratus gembong silat dari berbagai aliran atau golongan hitam dan putih telah melakukan suatu upacara penyembelian besar-besaran di puncak gunung ini, sekarang keadaan sudah tenang, namun bau darah dan keseraman masih meliputi bekas gelanggang jagal manusia ini.

Seorang wanita yang mengemban seorang anak kecil kira-kira berusia tiga tahun berjalan keluar sempoyongan dari balik batu gunung sana, walaupun rambutnya awut-awutan tubuhnya penuh luka dan berlepotan darah, bajunya koyak-koyak tak karuan, namun semua itu masih belum dapat menutupi wajahnya yang ayu molek dan tubuh yang langsing menggiurkan, dibelakangnya muncul pula seorang laki-laki pertengahan umur berdagu panjang dan berwajah putih halus sambil berjalan dia sedang merapikan celana dan bajunya.

Si wanita langsung mendekati sesosok mayat yang penuh luka-luka dan susah dikenal lagi, perlahan-lahan ia berlutut disamping mayat dan menggumam dengan suara igauan seperti orang bermimpi "Hong-ko, aku tidak minta agar kau memaafkan aku, tapi kau harus mengerti, demi keturunan keluarga Suma, demi darah dagingmu dan dendam kesumat ini, terpaksa aku berbuat demikian, aku...."

Anak kecil dipelukannya mendadak menggigil gemetar dan mengejang, mulutnya yang kecil megap-megap, bibirnya gemetar tapi sedikitpun tidak mampu mengeluarkan suara.

"Nak, apakah kau sangat menderita, ibumu ingin menggantikan kau, oh ibumu relah menderita segala kesengsaraan dalam dunia fana ini asalkan dapat menggantikan jiwamu nak.... kau.... kau jangan mati...."

Demikian ratap si wanita.

Anak itu tetap membisu, kedua matanya terpejam, tubuhnya basah kuyup oleh keringat, wajahnya penuh diliputi hawa hijau, bibirnya mulai membiru dan tubuhnya tak henti-hentinya berkelejetan, naga-naganya jiwa kecilnya tengah berontak dari renggutan elmaut.

Mendadak si wanita angkat kepala dan berseru kepada laki-laki pertengahan umur yang tengah berdiri kira-kira dua tombak jauhnya.

"Kumohon padamu, tolonglah jiwa anakku ini."

"Menolong dia?"

Sahut si lelaki pertengahan umur sambil menyeriangi.

"Suara si wanita penuh mengandung permintaan dan harap"

"Kau sendiri pernah berjanji hendak menolong jiwanya?"

"Nadi pengantanya sudah putus, kalau aku menolong jiwanya dengan menggunakan Kiu-yang -sin-kang, tenaga murniku akan susut terlalu banyak, dalam jangka waktu lima tahun aku tidak dapat bergebrak dengan orang, padahal tahun depan tibalah waktunya mengadu kepandaian di puncak Hoa-san, aku tidak mau kehilangan kesempatan memegang simbol teragung sebagai tokoh silat nomor satu di dunia.!"

Wajah si wanita yang memang pucat kini semakin pucat keabu-abuan, dengan suara hampir menggila ia berseru "tadi kau mengatakan mau menolong anakku, kau menginginkan tubuhku, aku sudah berikan padamu.

Oh....

kumohon padamu, tolonglah jiwanya, aku rela selama hidup ini melayani kau, akan kupersembahkan segala milikku, termasuk jiwa ragaku...."

"Tidak bisa!"

"Kau.... kau tidak boleh begitu, tolonglah, tolonglah jiwanya...."

"Maaf, aku tidak dapat melulusi permintaanmu!"

Seketika kedua mata si wanita mendelik, sambil menuding laki-laki pertengahan umur itu dengan suara melengking menyeramkan ia memaki.

"Loh Tju-gi, binatang kau, anjing.... kau manusia hinda dina, tubuhku sudah kau nodai tapi kau...."

Sekilas wajah Lo Tju-gi berubah, tapi lantas pulih lagi seperti semula, katanya.

"San hoa li, aku tidak mungkin menolongnya, tapi aku cinta padamu."

"Tutup mulut, binatang...."

"San hoa li, memang tidak salah aku telah merasakan kenikmatan tubuhmu, akan tetapi jikalau bukan karena aku, mungkin hari ini kamu sudah menemui ajal!"

"Anjing, karena kau hendak melampiaskan nafsu kebinatanganmu, tujuan kau anjing hina dina ini, bukankah hendak mengangkangi "Hiat-kiam" (Pedang darah)...."

Wajah si anak dari hijau telah berubah ungu gelap, berkelejetan semakin menjadi-jadi, rasa sakit yang sangat tengah menyiksa nyawa kecil yang sudah diambang pintu kematian itu.

San hoa li memeluk anaknya semakin kencang, kedua matanya yang redup kuyu mengalirkan air darah dengan suara yang sangat memilukan ia berkata.

"Nak, ibumu tak dapat menolong kau, tapi aku dapat membuatmu tidak menderita terlalu lama, nak kau tidak akan menderita lagi selamanya!"

"Sret!"

Tangan San hoa li tahu-tahu sudah menghunus sebilah cundrik yang berkilauan, sambil menggertak gigi ia tusukkan cundrik itu ke ulu hati anaknya, namun cundrik itu hanya menusuk satu dim tangannya sudah gemetaran hampir tak kuat lagi memegang cundrik itu, Setelah berkelejetan dua kali lagi si anak kecil itu berhenti bergerak.

"Anakku, kau tidurlah tenang menyusul ayahmu...."

Diletakkannya jenasah anakanya dipinggir mayat yang penuh berlepotan darah itu, lalu ia berdiri.

"Lo Tju-gi, kau ingat pada suatu hari tentu cundrik ini akan menusuk kedalam ulu hatimu, termasuk juga dada anak muridmu!"

Mendadak San hoa li mendongak dan tertawa panjang histeris, sekali berkelebat dengan cepat ia berlari turun gunung.

"Dia sudah gila!"

Loh Tju-gi menggumam, dimana tanganya menyapu jenasah anak kecil itu terpental terbang masuk ke dalam jurang yang dalam di samping sana, lalu sekali melejit tubuhnyapun terbang menghilang dari pandangan mata..BANJIR DARAH DI KUIL KUNO Hujan lebat disertai angin puyuh membuat jagat remangremang gelap, keadaan seluruh kehidupan dalam dunia fana ini menjadi sedemikian sunyi senyap yang terdengar hanyalah deru angin dan hujan, jarang terlihat ada manusia atau insan hidup berlalu lalang dibawah hujan lebat ini.

Tapi didepan pintu sebuah biara "Pek-hun-ko-sat" (biara kuno awan putih) berdirilah seorang pemuda dengan tenangnya diterpa air hujan, dengan nanar kedua matanya memandang pintu biara kuno ini, pemuda ini kira-kira berusia tujuh delapan belas tahun berwajah ganteng dan membawa sedikit sifat keangkuhan, air mukanya penuh diliputi hawa membunuh membuat siapa yang bertemu pandangan bergidik seram ketakutan.

"Masa para kepala gundul ini semua sudah modar!", si pemuda bicara seorang diri, tangan diangkat dengan ringannya sebuah jarinya menyentil dari kejauhan.

"Blang"

Gelang besi diatas pintu biara itu mengeluarkan suara keras yang menggetarkan telinga, tidak lama kemudian pintu biara terpentang perlahan-lahan, seorang hwesio beralis tebal bermata besar dengan marah-marah melangkah keluar dari dalam, dan sebelum sempat membentak sapa, sinar matanya bentrok dengan pandangan si pemuda yang berdiri dibawah hujan lebat di depan pintu biara, tanpa merasa bulu kudunya mengkirik seran, diam-diam hatinya berkata.

"nafsu membunuh yang besar!"

Dingin si pemudah menyapu pandang kearah si hwesio, kaki diangkat ia langkahi undakan didepan pintu biara, sejenak si hwesio menenangkan hati lalu berkata dengan nada berat .

"Sicu (tuan) harap berhenti!"

Si pemuda berhenti di undakan paling atas.

"Apa keperluan sicu berkunjung ke biara kita?"

"Mencari Tji Kong si hwesio tua!"

Berobah wajah si hwesio, semprotnya gusar. dia, adalah taysu ketua, sicu bicaralah mengenal aturan!"

"Ini, sudah terhitung paling beraturan1"

"Huh,"

Jengek si hwesio.

"Kau mengejek siapa?"

Sontak timbullah gelora kemarahan di benak si hwesio, bentaknya keras.

"Pek hun ko sat bukan tempat kau bertingkah tahu?"

Si pemuda melerok hina kearah si hwesio serta ujarnya dingin.

"Kau perlu memberitahukan kedatanganku dulu atau aku harus masuk sendiri?"

"Silahkan sicu sebutkan namamu."

"Bu (go) Bing!"

"Bu bing? (tak bernama)"

"Lebih baik kau jangan cerewet!"

Si hwesio sudah tidak sabar menahan gusar, teriaknya menggeledek.

"Siaucu...."

"Plak!"

Seketika si hwesio terhuyung mundur tiga langkah, pipinya berpeta jelas bekas lima jari tangan, agaknya si pemuda masih berdiri tenang di tempatnya, dan bagaimana si hwesio kena ditempeleng dia sendiri tidak melihat, tahu-tahu pipinya sudah bengap.

Nada si pemuda tetap sedingin es.

"berani sekali lagi kau buka mulut kotor, akan kubuat kau selamanya tidak bisa bicara"

Keder dan kuncuplah nyali si hwesio, tahu dia bahwa si pemuda dihadapannya ini ternyata berkepandaian silat sangat tinggi, tanpa merasa ia berdiri termangu ditempatnya tanpa berani membuka suara lagi.

Terdengan langkah berat mendatangai, dua hwesio tua yang berusia 50an bergegas mendatangi, selayang padang terhenyaklah mereka beberapa langkah jauhnya, dua pasang mata yang tajam berbareng menatap kearah si pemuda.

Segera si hwesio yang barusan kena ditempeleng segera bersabda dan melapor dengan suara lirih.

"Lapor Susiok, sicu ini ingin bertemu dengan ketua kita."

Kedua hwesio tua mengiakan berbareng lalu salah seorang diantaranya lantas bertanya.

"Apa sicu benar-benar hendak menemui ketua kami?"

"Tidak salah!"

"Harap sukalah terangkan maksud kedatanganmu ini!"

"Setelah bertemu dengan Tji Khong Hwesio dia sendiri tentu akan tahu!"

Berbareng kedua hwesio tua menarik muka, seorang yang lain segera menyahut.

"Mengapa datang-datang sicu lantas memukul anak murid kami?"

"Itu hanya suatu hukuman kecil bagi mulutnya yang kotor."

Lagi-lagi kedua hwesio tua ini bersungut dongkol, salah seorang yang membuka suara dulu tadi bicara pula dengan sabar.

"Kalau sicu tidak menerangkan maksud kedatanganmu, maaf pinceng tidak dapat melayani?"

Si pemuda mendengus sekali.

"Kalau begitu terpaksa aku mencari sendiri."

Habis berkata dengan langkah lebar ia hendak memasuki pintu besar biara.

"Mana boleh kamu bertingkah ditempat Budha yang tenang suci."

Kedua hwesio tua itu menghardik berbareng dengan melayangkan pukulan masing-masing. Sipemuda tidak peduli dan bagai tak merasa apa2, kakinya masih tetap melangkah maju.

"Plak -plok. dua suara nyaring menggema, seketika kedua hwesio tua merasakan pukulan mereka membal atau dirutul balik menerjang mereka sendiri, kontan tubuh mereka tergetar mundur sempoyongan, ditengah suara keluhan mereka, sipemuda sudah memasuki pintu biara dengan tenangnya. Karena ribut2 ini sudah menggemparkan para hwesio lain dalam biara, waktu si pemuda melenggang melalui samping patung pemujaan, belasan hwesio sudah bersiaga mencegat didepannya, dari belakang terdengan seruan gusar kedua hwesio tua tadi;

"Kedatanganya bermaksud jahat, cegat dia!"

Serentak belasan hwesio itu berjajar menghadang ditengah jalan, sambil berjalan si pemuda berkata mengancam.

"Kalau kalian tahu diri lebih baik menyingkir, aku tidak ingin melukai kalian."

"Bocah sombong rasakan ini!"

Serempat kepelan dan jotosan beruntun dilancarkan untuk merintanginya.

Sekilas berkelebat sinar merah dalam mata sipemuda, sebelah tangan diangkat dan diayun, seketika terbit angin badai menghembus deras kedepan, sontak terdengar suara keluhan dan kesakitan, beberapa hwesio yang memberondong tiba terpental jauh oleh gulungan angin kencang yang menerjang mereka, hanya sekali berkelebat bayang sipemuda tahu2 sudah tiba dipekarangan dalam.

"Tang-tang-tang!"

Lonceng tanda bahaya bergema keras maka ributlah suasana dalam biara itu, para hwesio yang tak terhitung banyaknya bergegas berlarian keluar dari empat penjuru sambil membekal golok dan pentungannya, mereka berdiri rapi bagai pagar mengepung sipemuda.

"Kalian mundur!"

Mendengar suara keras berwibawa ini serempat para hwesio membungkuk tubuh dan merangkap tangan terus mundur kesamping, Ditengah ruangan sana berdiri seorang hwesio berusia lanjut mengenakana kas warna merah marong, sepasang matanya berkilat2 menatap si pemuda, tanyanya "Siau-sicu siapakah namamu?"

"Go bing!"

"Ada urusan apa kau mencari lolap?"

Pandangan dingin bagai aliran listrik Go Bing mata menyorong kearah si hwesio tua.

"Kau inikah Tji Kong Hwesio!"

Tanyanya lantang. Ucapannya ini menimbulkan gereman gusar dari semua hwesio yang hadir, tidak ketinggalan si hwesio itupun berobah air mukanya.

"Omitohud, itulah gelarang pinceng". Go Bing ulurkan jari tengah tangan kanannya, secarik sinar terang mencorong keluar dari tengah jarinya, katanya dingin "Apa kau masih kenal ini?"

Seketika wajah Tji Kong Hwesio berobah pucat lesi dan terhuyung mundur ketakutan, mulutnya mendesis.

"Mo hoan (cincin iblis)".

"Tidak salah!"

Begitu "Mo-hoan"

Disebut seketika gemparlah seluruh hadirin, semua hwesio yang hadir berobah pucak dan bergemetaran.

"Apa hubunganmua dengan Sia-Sin Kho Djiang?"

Suara Tji Khong tergetar menahan gelora hatinya.

"Muridnya!"

"Dia.... dia.... belum mati?"

Hawa membunuh diwajah Go bing semakin memuncak, mendengus sekali dia menjawab.

"Hal itu kau tidak perlu tahu!"

Otot dijidat Tji Kong Hwesio merongkol keluar, keringatpun membajir membasahi tubuh, tanyanya gemetar.

"Kau.... apa maksud kedatanganmu?"

"Mengambil batok kepalamu!"

Betapa keder dan takunya para hwesio mendengar nama Sin-sin Kho Djiang, serta mendengan sipemuda hijau ini berani hendak mengambil batok kepala ketuanya, semua menggeram gusar, masa mereka harus diam saja membiarkan orang memenggal kepala ketuanya, satu bergerak yang lain mengikuti beramai2 mereka merubung tiba di depan ruang besar.

Dengan pandangan dingin Go Bing menyapu pandang kearah para hwesio itu lalu serunya dengan datar.

Tji Khong Hwesio aku tidak suka membunuh orang yang tidak berdosa, lebih baik kau perintahkan mereka menyingkir saja!"

"Sudahlah!"

Teriak Tji Khong keras sambil mengebutkan lengan jubahnya yang besar, seruannya hampir mengeluh.

"Saudara2 dan semua anak muridku, lekas kalian mundur!"

Sejenak para hswesio itu merandek, tidak mundur malah dengan nekad mereka maju lagi.

"Tji Khong maaf aku hendak turun tangan", habis ucapannya tubuhpun menerjang maju, sebuah jotosan mengarah tepat kedada Tji Khong. Serangan pukulan ini bukan saja sangat cepat laksana kilat juga hebat dan seram, meskipun kelihatannya hanya sekali pukulan namun diantaranya mengandung banyak perobahan yang susah diselami, seluruh halan darah didada lawan sudah dalam incaran cengkeramannya. Sudah tentu Tji Khong tidak mandah terima binasa, akan tetapi kecepatan musuh turun tangan tiada kesempatan lai untuk dirinya berkelit atau balas menyerang, dalam saat-saat jiwa diambang pintu kematian sekuatanya ia lintangkan tangannya untuk menjaga didepan data.

"Blang"

Disertai suara keras seperti orang hendak muntah dari mulut Tji Kong tubuhnya terhuyung surut ting langkah ke belakang.

Bersamaan dengan itu dua batang tongkat besar dan tiga sinar pedang berbareng memberondong mengurung tubuh Go Bing dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Tanpa berpaling lagi, sebelah tangan diajun kebelakang terbitlah angin deras bergulung2 menerpa kebelakang hingga tujuh hwesio yang menyerang didirnya terpental pontang panting keempat penjuru, hampir saja mereka tidak kuat lagi mencekal senjata masing2, masih untung Go Bing masih belu mau turunkan tangan jahatnya, Sebat luar biasa tubuh Tji Khong berkelebat lari memasuki Tay-hiong-po-tian.

"Tji Khong, kemana kau hendak lari?"

Seru Go Bing, belum habis ucapannya tubuhnyapun sudah melejit tiba bagai kilat menghadang dihadapan Tji Khong.

Terasa semangat Tji Khong bagai terbang ke awang2 dilihatnya bibit bencana yang menyertai kedatangan anak muda ini berkepandaian tidak kalah lihay dari Sia sin Kho Djiang dulu, jelas bahwa dirinya tentu bukan tandingan musuh, Elmaut kematian terbayang didepan matanya hingga wajahnya yang pucat lesi berobah kehijau2an.

Go Bing kerahkan tenaganya di jari tengah, maka menyoronglah sinar dingin dari "cincin Iblis"

Itu lebih lebar dan terang, perlahan2 tangan bergerak dimana sinar dingin itu menyambar, terdengarlah suara jeritan panjang yang menyayat hati.

Kepala Tji Khong yang gundul terbang meninggalkan tubuhnya, darahpun menyembur keras bagai mata air dari luka dillehernya, mayatnya terkapar di lantai tanpa bergerak lagi.

Seketika para hwesio yang memburu tiba didepan pintu Tay hiong po tian terkesima menyaksikan adengan pembunuhan yang aneh dan kejam ini, Mereka terlongong bagai patung dan kehilangan semangat dan kesadaran.

Dengan tenang dan seenaknya Go bing mengeluarkan sebuah kantongan dan memasukkan kepala Tji Khong kedalamnya, sekali melejit tubuhnya terbang melewati kepala para hwesio dan menghilang ditengah udara dalam sekejap mata.

Sayup2 terdengar gema lonceng pertanda dukacita dari pada biara pek hun ko sat.

Dalam pada itu begitu sampai diluar dengan kecepatan yang susah diukur Go Bing berlarian keras, cuaca masih tetap gelap, namun hujan dan angin badai sudah lama berhenti, ditengah keremangan cuaca itulah dia berlari tiba didepan sebuah gua.

"Siapa?"

Bentakan dingin dan serak terdengar dari dalam gua.

"Murid sudah kembali, Su...."

"Apa tugasmya sudah kau selesaikan?"

"Sudah selesai menurut perintah!"

"Masuklah!"

Sambil menjinjing kantongannya Go Bing berkelebat memasuki gua, gua itu tidak terlalu dalam, ditengah gua tersulut api unggun, dibawah penerangan api unggun itulah terlihat dipojok dinding sebelah dalam sana berduduk sila seorang aneh yang rambut dan cambang bauknya menutupi mukanya, matanya tinggal sebelah dan merem melek, kedua kakinya sudah buntung tinggal tulang keringnya saja yang masih kelihatan memutih.

Go Bing meletakkan buntalan kantongnya serta berkata.

"Suhu...."

Mata tunggal si orang aneh mendelik sinar matanya hijau mengancam desisnya gusar.

"Bocah, sekali lagi kau berani memanggil "Suhu", kubunuh kau?"

Go bing menyahut sedih.

"Budi kau orang tua membesarkan murid selama lima belas tahun ini...."

"Kentut!, dulu secara kebetulan kau terjatuh dalam tanganku, itu pertanda ajalmu memang belum tiba saatnya, Lohu menolong dan memberi pelajaran silat kepadamu adalah supaya kau kelak dapat menyelesaikan urusanku. Budi apa segala...."

"Akan tetap.... suhu...."

Si orang aneh ayunkan tangannya, seketika Go Bing tersurut mundur tiga langkah dengan ketakutan.

"Bocah, ingat, panggil aku Kho Lo-sia (Kho tua sesat), kau dengan tidak, dulu Lohu sudah bersumpah untuk tidak terima murid selama hidup!"

Dimulut Go Bing mengiyakan namun dalam hati ia membatin; kau melarang aku memanggil kalau dalam hati aku tetap menganggap kau sebagai Suhu, bukankah beres.

Selama lima belas tahun ini berkawan dengan siorang aneh yang cacat kedua kakinya dan sebuah matanya.

Bermula dia menyangka siorang aneh ini sudah gila atau sinting, lama kelamaan menjadi kebiasaan.

Dalam ingatannya yang pertama memang gurunya ini sangat aneh dan sesat tindak tanduk dan ucapannya selalu bertentangan dengan adat dan peraturan umum, selain kata "Sesat"

Susahlah mengungkat keanehan wataknya itu.

Terhadap riwayat hidup suhunya ini boleh dikata hanya samar2 saja diketahui dari mulut orang2 dikelangan kang-ouw.

Yang jelas diketahui hanyalah bahwa nama Sia-sin Kho Djiang (Kho Djiang si malaikat sesat) sudah sejak dua puluh tahun yang lalu menggetarkan dan menciutkan nyali setiap toko silat dari aliran hitam maupun golong putih.

Selama belasan tahun dirinya dibimbing sampai beesar, mengajarkan kepadaian silat lagi kepadanya hakikatnya hubungan mereka adalah guru dan murid, naum dia melarang mengaukui hubungan antara guru dan murid ini.

Teringat sebelum dirinya melaksanakan perintah suhunya pergi membunuh orang, si orang aneh ini hanya menerangkan bahwa orang yang harus dibunuhnya ini adalah salah satu biangkeladi yang menggunakan akal muslihat menyebabkan sebuah mata dan kedua kakinya menjadi cacat selamanya.

Selain itu apapun tidak diterangkan.

"Buka kantongan itu!"

Segera Go Bing mengerjakan apa yang diminta dan mengeluarkan batok kepala gundul itu. Sia-sin Kho Djiang mengekeh tertawa, serunya.

"Tidak salah, memang dialah Tji Khong si kepala gundul itu, bawa kebelakang gua dan direndam dalam obat supaya tidak membusuk."

Go Bing mengiyakan terus masuk ke gua belakang, tidak lama kemudian ia berjalan keluar lagi. Sia-sin Kho Djiang ulapkan tangannya dan berkata.

"Bocah kau duduklah". Go Bing duduk ditepi api unggun. Terdengan Sia-sin Kho Djiang menyambung katanya "Siaucu, Lohu pernah melulusi setiap kali kau selesai mengerjakan tugasmu, aku menjawab satu pertanyaanmu, sekarang kau tanyalah?"

"Murid.... aku ingin mengetahui riwayat hidupku!"

"Go Bing atau Bu Bing hampir sama nada ucapannya dan itu berarti kau sendiri tidak mempunyai nama, tentang riwayatmu sedikitpun Lohu tidak mengetahui, sekarang pertanyaan sudah selesai!"

Go Bing menjadi geli dan angkat pundak, pertanyaannya menjadi sia-sia, baru saja ia hendak membuka mulut lagi, Sia-sin Kho djiang sudah menggoyang tangan.

"Kalau maasih ada pertanyaan, tanyakanlah setelah kau selesai mengerjakan tugasmu."

Go Bing menelan ludah dan mengurungkan ucapannya, tapi lanatas timbullah rasa sedih dalam benaknya bahwa ternyata dirinya adalah insan yang harus dikasihani tanpa mengetahui riwayat sendiri.

Suhunya sendiripun tidak mengetahui, bukankah teka-teki riwayat hidupnya takkan terpecahkan selama hidup ini.

Go Bing, Bu bing (tak bernama) sungguh tak terduga hanya nama saja dirinya tidak punya.

Bagaimana dirinya sampai dibimbing dan dibesarkan oleh Sia-sin Kho Djiang, tiada pangkal mulanya yang dapat diingat.

Mungkin dari permulaan apa yang pernah dialami, dapat dicari pangkal sumbernya, akan tetapi dia tahu akan sifat aneh gurunya, tiada gunanya banyak tanya.

Satu2nya jalan hanya menunggu kesempatan lain yang akan datang.

Mata tunggal Sia-sin Kho Djiang berkedi2, katanya.

"Siaucu dengarlah orang kedua yang harus kau bunuh adalah Tiang-un Suseng...."

"Tiang-un Suseng (pelajar nestapa)?"

"Tidak salah, apa kau pernah dengar tentang orang itu dikalangan kangouw?"

"Pernah kudengar, nama pendekar dan kepahlawaman Tiang-un Suseng...."

"Bohong, nama kosong dan perbuatan palsu kaum keroco di kalangan bulim sangat banyak!"

"Aku hanya dengar dari cerita sementara orang."

"Tiang-un Suseng tiada mempunyai tempat tinggal tetap, kau harus lebih banyak mengeluarkan tenaga untuk mencari jejaknya".

"Mengapa kau orang tua tidak secara total menyebutkan nama2 orang yang harus kubunuh, kalau dapat sekaligus kubereskan bukankah menghemat tenaga dan waktu untuk pulang pergi...."

"Siaucu ambekmu terlalu besar, apa kau kira setiap orang yang harus kau bunuh ini sama rata dengan Tji Khong sikepala gundul yang tidak becus ini?"

"Maksudku orang yang harus kucari itu mungkin tidak ketemu dan secara kebetulan dapa kebentrok dengan yang lain...."

"Memang omonganmua sangat beralasan, tapi apa yang pernah Lohu ucapkan tidak pernah kujilat kembali."

Go bing tidak membuka suara lagi, dengan langkah lebar dia meninggalkan gua itu, sejak kecil hidup bersama Sia-sin Kho Djiang sedikit banyak sifat aneh gurunya itu menular pada muridnya.

"Siaucu kau kembali!"

"Kau masih ada omongan lagi?"

Walaupun Sia-sin tidak mengijinkan dia memanggil Suhu dan harus memanggil Kho Lo-sia, tapi dia tidak mau secara terang2an menyebut itu, sebab meskipun hubungan mereka tidak resmi, tapi hakekatnya adalah guru dan murid, dan sebab yang lebih penting adalah bahwa dirinya senantiasa harus berkelana di kalangan kangouw, sifat menyendiri yang aneh sudah berdarah daging dalam tubuhnya.

Membunuh tji Khong hwesio merupakan tugasnya yang pertama kali, sebelumnya belum ada seorangpun yang mengenal dirinya dikalangan kangouw.

Terdengan Sia-sin berkata haru.

"Kalau kau bertemu dengan orang yang dapat menggunakan "Pek-pian-kui-djiau", tidak peduli siapa dia dan apa kedudukannya, kau tidak boleh turun tangan, lebih penting lagi jangan kau katakan jejakku ini, ingatlah hal ini."

"Lalu mengapa?"

"Kenapa? kau tidak perlu tahu!"

"Masa, murid Sia-sin Kho Djiang harus takut...."

"Kentutu, siapa bilang bocah macammu ini adalah muridku?"

"Akan tetap kepandaian silatku dan cincin iblis ini bukankah itu berarti mencuri kelintingan menutupi telinga sendiri?"

"Berani banyak bacot lagi kubunuh kau."

Apa boleh buat Go Bing angkat pundak terus tinggal pergi keluar gua.

Mala itu juga dia tinggalkan gunung dimana Suhunya bersemayam dan menginap disebuah hotel.

Terdengar olehnya banyak para tamu penginapan itu tengah ribut2 mempercakapkan tentang murid Sia-sin Kho djiang yang muncul lagi dikalangan kangouw.

Sekali gebrak menanggalkan batok kepala Tji Khong hwesio ketua biara Pek-hun-ko-sat.

Selama malang melintang dulu Sia-sin Kho Djiang selalu menuruti kata hatinya, sifatnya jahat2 jantan, dikatakan sesat bukan karena dia adalah penjahat besar yang laknat, adalah karena sifatnya yang aneh semua perbuatannya bertentangan dengan kehendak umum, dan lagi ilmunya sangat tinggim maka orang2 memberikan julukan Sia-sin (malaikat sesat) padanya.

Timbullah dugaan dalam benak Go bing, mungkin peristiwa pembunuhan di Pek-hun-ko-sat telah menggemparkan seluruh bulim, untung selain para hwesio itu tiada seorangpun yang mengenal wajah dirinya.

Kalau cincin iblis ditangannya tidak diketahui orang, asal-usul dirinya masih dapat dirahasiakan, kalau tidak tentu membawa banyak kesukaran akan tugas yang harus dilaksanakan itu.

Maka terpaksa ia tanggalkan Mo-hoan dari jarinya dan disimpan di dalam kantong bajunya..MAYAT JELITA DIDALAM HUTAN Waktu terang tanah dia tinggalkan penginapan dan berjalan seenaknya dijalanan raja tanpa tujuan yang menentu, Tiang-Un Suseng tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, sedemikian besar kangouw ini mencari seorang berarti mencari sebatang jarum dilautan, disamping itu nama Tiang-Un Suseng sangat disanjung puji sebagai seorang pendekar budiman yang tenar, sekali dia menemui ajalnya, geombang heboh kematiannya itu dapatlah dibayangkan, akan tetapi perintah guru bagaimanapun harus dilaksanakan.

Tapi bila teringat kejadian betap kejam waktunya suhunya dikorek sebuah matanya dan kedua kakinya dikutungi, ia maklum akan dendam kesumat suhunya ini, mereka lebih dulu mencelakai gurunya dengan cara keji dan busuk, kini kalau dirinya membunuh mereka agaknya sangat setimpal dan tiada salahnya.

Bagaimana wajah dan perawakan Tiang-Un Suseng sedikitpun dia belum mengetahui, seumpama bertemu ditengah jalan juga tidak mungkin mengenalnya, lagipula tidak mungkin ia tidak mungkin bertanya pada orang lain....

Tengah bejalan sebuah suara yang melengking mengerikan bergema ditengah udara dari kejauhan sana, suara itu membuat bulu kuduk orang mengkirik mendengarnya.

Terkesiap hati Go Bing terbangun semangat dari lamunannya, lalu dengan cermat dia pasang kuping, tapi setelah suara jeritan itu tak terdengar lagi suara lain atau reaksi apa2, dari arah suara yang melengking tinggi itu agaknya tidak jauh didepan jalanan sana, maka sebat sekali tubuh Go Bing berkelebat melayang kedepan dengan kecepatan bagai anak panah.

Sebelah samping kanan dari jalan itu adalah sebuah hutan kecil, sebelah kiri adalah padang rumput yang luas tak berujung pangkal, sekilas ia berpikir cepat2 ia memutar arah memasuki hutan didepannya ini, kedua matanya bagai kilat menyapu keempat penjuru.

Kira2 sepuluh tombak didepan sana tampak sesosok tubuh seorang wanita rebah membujur diatas tanah, baju atasnya hancur lebur, sedang bawah tubuhnya tanpa mengenakan seutas benangpun.

Seketika merah padam wajah Go Bing, hati berdetak keras napaspun memburu, baru saja hendak putar tubuh tinggal pergi, sekonyong2 tergeraklah hatinya, bukankah suara jeritan panjang tadi adalah suara seorang wanita apa mungkin dia ini....

karena pikirannya ini ia putar balik lagi sambil menahan gelora hatinya ia maju mendekat dan melihat lebih tegas.

Terlihat olehnya orang itu adalah seorang gadi remaja, keduanya matanya tertutup rapat dari lobang panca inderanya mengalir darah segara, kedua tangannya mencengkram kencang kedalam tanah, bawah tubuhnya merah bernoda darah.

Tergetar kecut hati Go Bing, batinnya.

"mayat seorang wanita yang diperkosa dulu sebelum dibunuh."

Meski menghadapi sesosok mayat, namun bagi jiwa muda yang belum pengalaman mengalami gelora hidup manusia dan usia yang baru menanjak dewasa seperti Go Bing hampir2 tidak kuat menahan gejolak hatinya, terasa jantungnya hampir melonjak keluar.

Tapi itu kejadian dalam sekejap saja, lantas terpikir olehnya inilah tragedi mengenaskan yang penuh diliputi suasana seram mengerikan, gadis remaja ini kira2 baru berusi lma -enam belas, mengapa diperkosa dan dibunuh orang?

Lalu siapakah dia, orang dari kalangan persilatan atau....

"Siapakah algojo yang berbuat demikian kejam?".

"harus dibunuh!"

Demikian ia menggumam seorang diri. Lalu terpikir dalam hatinya.

"gadis ini diperkosa dan dibunuh oleh bangsat rendah yang tidak bertanggungjawab, enggenaskan dan harus dikasihani, aku tidak bisa membiarkan jenasanya demikian saja, aku harus menguburkannya!". Baru saja hatinya mengambil ketetapan, mendadak terdengar suara dingin mengejek dibelakangnya.

"bukankah perbuatan sarudara ini sangat telengas!"

Sungguh kejut Go Bing bagai disengat kala, lekas2 ia memutar tubuh, dilihatnya tiga tombak jauhnya berdiri seorang pemuda gagah yang mencoreng pedang tengah mengawasi dirinya, wajahnya membeku geram dan penuh hawa membunuh.

Diam2 Go bing mengeluh.

"Celaka, kalau orang salah paham bagaimanapun susah menerangkan peristiwa ini."

Dari itu diapun balas bertanya dingin.

"Apa yang kau katakan?"

"Disiang hari bolong, saudara berani memperkosa dan membunuh seorang wanita lemah...."

"Tutup mulutmu!"

Hardi Go Bing dengan amarah yang menggelora didada.

"Dengan alasan apa kau memfitnah orang semena2?"

"He he he he, saudara tak perlu main debat, kenyataan didepanmu itu membuktikan ............"

"Sekali lagi kau berani buka bacot kubunuh kau!"

Wajah beku pemuda itu berobah abu2, maju berapa langkah dia memandang atajam kearah mayat wanitu itu, mendadak ia menggerung gusar dan memaki.

"bangsat cabul, beani kau memperkosa dan membunuh tunanganku, kalau hari ini aku tidak mencacah jiwam, aku bersumpah tidak menjadi manusia!"

Sambil berkata2 itu tubuhnya menerjang maju sambil menggerakkan kedua tangannya melancarkan serangan hebat.

Mendengar sikorban adalah tunangan orang, timbullah rasa simpatik dalam benak Go Bing, tanpa membalas dengan ringan sekali ia berkelit kesamping delapan kaki sambil berseru;

"hai, berhenti dulu!"

Bagai tidak mendengar sipemuda masih lancarkan lagi dua pukulan keras dengan kalap. Laig2 Go bing harus melejit kesamping.

"Sret"

Seketika sinar terang berkilatan, kiranya si pemuda telah menjoreng pendang panjang, dan belum sempat Go Bing membuka suara lagi, sei pemuda telah berteriak panjang, pedang ditangannya menusuk enteng kedepan, kelihatannya tusukan ini biasa saja tapi sebenarnya mengandung perubahan tersembunyi yang susah diukur kehebatannya, sebelum ujung pedang menusuk tiba didepan tubuh, susahlah diduga sasaran mana yang diincarnya, dari sini dapatlah diketahui bahwa ilmu pedang si pemuda sudah hebat dan sempurna betul.

Bagai bayangan setan iblis lagi2 tubuh Go Bing berkelebat menghilang, mulutnyapun berseru.

"Inilah jurus ketiga!"

Begitu sipemuda lancarkan tusukannya, bayangan musuh seketika menghilang, mala suaranya terdengar dibelakangnnya, keruan hatinya tergetar kecut, sambil kertak gigi ia ayunkan pedangnya kebelakang sambil memutar tubuh, gerak perobahan yang cepat ini benar2 membuat orang kagum meleletkan lidah, namun demikian kepandaian lawan beberapa tingkat lebih tinggi dari kemampuannya.

"Lepas tangan!"

Ditengah bentakan dingin itu, sipemuda rasakan pergelangan tangan tergetar, tahu2 pedang panjangnya sudah terampas oleh lawan, saking kecut serasa jiwanya melayang ke awang2, dengan ketakutan ia mundur beberapa langkah.

Ia menyesal karena memandang rendah kepandaian musuhnya ini.

Go Bing membolang-balingkan pedang, lalu melontarkan balik sambil berseru.

"Sambutlah."

Sipemuda menyambut pedang wajahnya berobah2 tak menentu. Go bing mendengus sekali lalu bertanya.

"Sikorban ini benar2 adalah tunanganmu?"

"Tidak salah!"

Sahut sipemuda sambil kertak gigi.

"Kau belum memeriksa lantas dengan alasan apa kau menuduh orang seenakmu dewek?"

"Aku hanya melihat kau disini, masa bisa...."

"Aku mendengar teriakan mengerikan lalu bergegas memburu tiba, selain si korban ini tak kulihat bayangan seorangpun, kalu dia benar2 adalah tunanganmu, tentu kau dapat mencari sumber penyelidikanmu...."

Pada saat itulah sebuah bayangan langsing terbang tiba dalam gelanggang pertempuran, waktu Go Bing menoleh ternyata sipendatan ini adalah seorang gadis ayu jelita, wajahnya cerah secantik bidadari.

Si pemuda berseru girang dalam dukanya.

"Hun-ci, lihatlah adik Moay...."

Si Gadis memutar bola matanya melihat jenasah diatas tanah, seketika ia terbelalak ngeri dan berobah air mukanya, mulutnya memekik keras.

"Li Bun siang apakah yang telah terjadi?"

Kirnya nama sipemuda adalah Li Bun siang. Li Bun siang tergagap sambil menunjuk Go Bing.

"Dia...."

Bergegas sigadis maju sambil melepaskan mantelnya terus ditutupkan ditubuh adiknya, seketika air mata membanjir bagai air mancur, pekiknya penuh duka.

"Adik Moay, biar cicimu membalas sakit hatimu ini". Memutar tubuh dia menghadapi Go Bing wajah jelita itu menunjukkan nafsu membunuh yang menggelora, serunya bengis.

"Bangsat, aku siang Siau-hun berumpah pasti membeset kulitmu dan mencacah jiwamu"

Go Bing berseru gugup.

"Nona, aku...."

Saking dka hati Siang Siau hun terasa bagai diiris2.

"Serahkan jiwamu!"

Bentaknya diserai serangan kilat me n j o j o h mu k a Go B i n g s e d a n g t a n g a n y a n g l a i n b e r g e r a k s e p e r t i c a k a r g a r u d a me n c e n g k r am k e u l u h h a t i n y a b e t a p a k e j am d a n g a n a s s e r a n g a n i n i s e k a a n 2 s e k a l i g e b r a k i n g i n r a s a n y a me Baganigmkaenarpeumn utasj aGmo m Buliunt gG.o bing susahlah memberi penjelasan, baru saja ia berkelit kesamping lantas terasa samberan angin dingin dari belakangnya, tahu dia bahwa Li Bun siang telah mencuri kesempatan ini untuk membokong dirinya, dibawah gencatatan dari depan dan belakang, musuhpun bukan lawan enteng, cara turun tangannyapun secepat kilat, dalam keadaan gawat itu, tak sempat serangan Siang Siau hun dihiraukan sambil miringkan tubuh ia lancarkan sebuah pukulan menerjang kearah Li Bun Siang.

"Blang!"

Disertai suara tertahan pukulannya membuat Bun siang terpental jauh membawa pedangnya, tapi punggungnya sendiripun tidak urung kena terpukul oleh serangan siang Siau hun tubuhnya terhuyung maju.

Tergetar hati Siang Siau hun bahwa pukulannya itu dilancarkan dalam kegusarannya yang memuncak telah menggunakan seluruh tenaganya, seumpama batu gunung yang keraspun pasti hancur lebur, tapi tidak demikian dengan lawan ini, bukan saja tidak terluka mala timbul suatu tenaga mental balik dari tubuh lawan hingga tangan sendiri tergetar dan linu kesakitan.

Namun gejolak hati ini hanya sekilas saja merisaukan hati, pada lain kejap kedua tangannya bergerak dan tubuh melejit menyerang Go Bing lagi.

Mau tak mau Go Bing harus ambil keputusan nekat dan tegas, kalau lawan tidak ditundukkan hakikatnya tiada kesempatan baginya untuk memberi penjelasan, sebenarnya dengan kepandaiannya gampang saja tinggal pergi tapi dengan tuduhan dosa tak terampunkan itu kalau tersiar luas dikalagan kangouw susahlah dibayangkan akibatnya, sambil berpikir2 itu kedua tangan bergerak melingkar dan menyapu, seruang keras tertahan segera terdengar Siang Siau hun tersurut mundur lima langkah, dari mulut kecilnya melelh keluar darh segar.

Gerak gerak Go bing tidak berhenti sampai disitu, sebat luar biasa ia memutar tubuh terus melesat tiba didepan Li Bun siang, dari sampai dilancarkan sebuah pukulan, tanpa sempat menggerakkan pedangnya Li Bun siang mendem keras badannya meliuk dan jatuh duduk diatas tanah.

Perlahan2 Go Bing putar tubuh menghadapi Siang Siau hun ujarnya.

"Siang-kohnio, maafkan perbuatanku ini, aku tidak sengaja hendak melukaimu, tapi kau terlalu mendesak hingga terpaksa aku harus turun tangan."

"Bangsat cabut, ingin nonamu ini mencacah tubuhmu dan minum darahmu...."

"Nona sukalah kau dengan sepata kataku?"

Siang Siau hun sudah nekat, matanya merah membara tubuhnya gemetar saking duka dan gusarm wajahnya membesi tanpa ekspresi, tangan diangkat lagi2 ia hendak lancarkan serangannya....

Pada saat2 genting inilah sebuah bayangan tinggi lencir mendadak terbang datang dari belakang phon lima tombak sana, sekali berkelebat bayanga ini sudah berdiri dihadapan mereka, bayang ini ternyata adalah seorang yang mengenakan pakaian hijau.

Siang siau hun sudah pasti bahwa si algojo yang membunuh dan memperkosa adiknya adalah Go bing, ingin rasanya menelan musuh ini bulat2.

makanya munculnya si orang berkedok ini sedikitpun tidak dihiraukannya, adalah Go Bing malah melihat tegas, cara orang baju hijau ini bergerak sungguh sangat aneh dan menakjubkan ginkang orang ini.

"Nona berhenti sebentar!"

Seru orang berkedok itu, suaranya dingin menggiriskan tubuh membuat bergidik pendengarnya.

Berdetak jantung Siang Siau hun, serangannya dibatalkan lalu mundur satu langkah, baru sekarang ia melihat kehadiran si baju hijau berkedok yang berdiri didepannya.

Suara kata dingin tadi terang diucapkan olehnya, Maka dengan gemes ia bertanya .

"Siapa tuan ini?"

"Orang lewat!"

Sahut siorang berkedok seenaknya.

"Hm, apa tujuan tuan muncul disini?"

"Untuk melerai!"

"Apa maksudmu?"

"Kepandaian nona tidak lemah, tapi kau masih bukan lawan engkoh kecil ini!". Siang siau hun mengangkat alis, serunya geram.

"Aku ingin mencacah hancur tubuhnya."

"Karena adikmu dibunuh dan diperkosa?"

"Ya, tuan orang lewat, silahkan lanjutkan perjalananmu!".

"Dengan alasan apa nona memastikan bahwa engkoh kecil ini adalah sipembunuh yang memperkosa adikmu itu?"

"Ini...."

Siang siau hun melengak bungkam, tergugahlah hatinya, karena pertanyaan ini seketika ia terhenyak ditempatnya, bola matanya melirik kearah Li bun siang yang berdiri disamping sana.

Dengan haru dan rasa terima kasih yang tak terhingga Go Bing meliring kearah siorang berkedok, terdengan si orang berkedok bicaa lagi.

"dalam peristiwa ini Lohu dapat menjadi saksi."

"Saksi?"

Jengek Siau siau hun dengan geramnya.

"Ya!"

"Punya bukti apa kau hendak menjadi saksi, apa kau tahu siapa pembunuh itu?"

"Engkoh kecil ini datang kemari setelah mendengar teriakan adikmu yang sudah menjadi korban, ini Lohu melihat sendiri."

Siang Siau hun mendesak maju dan berseru haru.

"jadi tuan mengetahui siapakah pembunuh itu?"

"Sudah tentu!"

Sahutnya, dua jalur sinar dingin mencorong keluar dari belakang kedoknya menatap kearah Li Bun Siang. Li Bun siang bergidik lemas, serunya gugup.

"Hun-ci waktu aku memburu tiba, kulihat bocah ini tengah berdiri disamping jenasah adik Moay, dia...."

Mata Go Bing pun tidak kalah tajamnya dan bengisnya menyapu Li Bun siang, suaranya mendesis.

"Siaucu mengingat si korban ini adalah tunanganmu, aku tidak ambil panjang urusan ini, kalau tidak sejak tadi sudah kulumas nyawamu, berani kau memfitnah semen2 tanpa bukti?"

Suara siorang berkedok dingin menyambung ucapan Go Bing.

"Tapi Lohu melihat kau berlari pontang panting dan kembali lagi, waktu engkoh kecil ini datang tadi kebetulan kau baru saja lari pergi...."

"Bohong, dia adalah tunanganku, masa...."

Dengan penuh kecurigaan Siang Siau hun bertanya pada orang berkedok.

"Apakah keterangan tuan ini dapat dipercaa?"

"Apa faedahnya aku berbohong!"

Pucat pias wajah Li Bun Siang, tubuhnya gemetar keras. Siang siau kun berbalik menghadapi Li Bun siang, sinar matanya mengandung kebencian yang menyala2, hardiknya bengis.

"Li Bun siang coba kau katakan!"

Mendadak Li Bun siang menggembor keras bagai orang gila, tubuhnya terkapar jatuh, kedua tangannya mencakar dan menggaruk keseluruh tubuhnya hingga seketika itu bajunya dedel dowel hancur lebur.

Perobahan mendadak yang tidak terduga ini membuat ketiga orang lainnya bercekat hatinya dan berdiri kesima.

Gesit sekali tubuh orang berkedok melejit maju mendekat, jari tangan menutuk dari jauh mengarah jalan darah Tiong-tong, jalan darah kematian didada Li Bun siang, setelah berkelejet sekali tubuh Li Bun siang diam tak bergerak, mati!

Bergetar hati Go Bing, sebelum sempatia buka suara, Siang Siau hun sudah memburu maju beberapa langkah, matanya menatap tajam sambil menuding orang berkedok suaranya gemetar.

"Tuan, apa maksudmu ini? "Membebaskan dia dari penderitaan!"

"Apa bebas dari penderitaan?"

"Ya."

Ucapan ini seakan menhentikan napas Go Bing dan Siang siau hun, wajah mereka menunjukkan perasaan penuh curiga dan ketakutan. Siorang berkedok menggeleng kepala, ujarnya.

"Lohu terburu nafsu menyalahkan dia"

"Jadi dia mati terbokong?"

Tanpa merasa tercetus pertanyaan dari mulut Go Bing. Dengan suara sangat haru siorang berkedok berkata kepada Siang Siau hun.

"Nona siang, coba kau lihat cara kematiannya itu apakah sama dengan kematian adikmu?"

Go bing dan Siang Siau hun berseru kaget hampir bersamaan.

"tujuh lobang (panca indra) keluar darah.", memang darah melelh keluar dari mata, hidung, kuping dan mulut Li Bun siang. Suara siorang berkedok kini tidak lagi dingin dan menggiriskan, tapi berobah haru dan sember.

"Adikmu ini bukan mati lantaran diperkosa, tapi karena keracunan!"

"Keracunan?"

Tergetar suara Siang Siau hun.

"Ya, setelah Lohu meliat bocah ini baru mendadak aku teringat, kalau dugaanku tidak salah racun jahat ini adalah yang sering dikabarkan sebagai bisa paling lihai bernama racun tanpa bayangan...."

"Racun tanpa bayangan?"

"Ya, racun tanpa bayangan! racun tanpa bayangan ini boleh dikata merupakan racun yang paling jahat dikolong langit ini, kalau racun ini bekerja dalam tubuh terasa sangat panas, seluruh tubuh gatal2 susah ditahan, maka sipenderita menggaruk dan mencakar badan sendiri, setelah mati darah merembes keluar dari panca indra, selayang pandang tidak kentara adanya bekas2 keracunan, hampir mirip benar karena mati tergetar remuk oleh pukulan berat, maka itu dinamaakan racun tanpa bayangan."

Mendengar keterangan ini Go Bing menghela napas dalam, sungguh ajaib bahwa didunia ini ternyata ada bisa yang sedemikian jahat.

Siang Siau hun sesungukan menutupi mukanya, Lagi2 suara siorang berkedok bertanya.

"Apa nona mempunyai musuh besar atau...."

"Tidak ada!"

Jawab Siang Siau hun sambil mengusap air mata.

"Apalagi adikku belum penuh berusia enam belas, selama ini belum pernah kelana di kangouw, sudah tentu tak perlu diragukan adanya musuh besar apa segala, adalah kematiannya ini yang membuat aku tak habis mengerti."

"Lalu saudara kecil ini?"

"Dia bernama Li Bun siang, kawan karib adikku sejak kanak2, diapun jarang kelana di Bulim."

Go Bing turut bicara.

"Apakah adikmu membawa suatu benda apa yang bisa membuat tokoh kangouw mengincar dan ingin merebutnya?"

"Ya, itu satu kemungkinan"

Sambungnya siorang berkedok sambil manggut2. Siang Siau hun mengiakan, tapi lantas menggeleng kepala.

"Benar2 tidak!"

"Tidak!"

"Inilah mengherankan, mengapa orang membunuh adikmu dan Li Bun siang ini, coba nona pikir2 lagi, sebelum kalian tiba disini, apakah suatu peristiwa terjadi yang harus diambil perhatian."

Mendadak Siang siau hun melompat maju menubruk kearah jenasah adiknya. Siorang berkedok membentak keras"

"jangan sentuh!" ~ disusul tubuhnya menyambar maju dengan kecepatan yagn susah diukur ia menghadang didepan Siang Siau hun, sekuatnya Siang Siau hun menghentikan luncuran tubuhnya, tanyanya kaget.

"Mengapa jangan?"

"Menurut kabarnya, racun tanpa bayangan ini melebar keseluruh tubuh sikorban, kalau nona menyentuh kulitnya saja tentu kaupun akan mengikuti jejak adikmu bersama Li Bun siang itu."

Mengkirik bulu tengkuk Siang siau hun, keringat dingin membasahi tubuhnya.

"Nona ada menemukan apa?"

Tanya siorang berkedok lagi. Dengan rasa pedih dan pilu Siang Siau hun memandang jenasah adiknya, sahutnya.

"Mendadak teringat olehku suatu perstiwa...."

"Peristiwa apa?"

Karena heran dan ingin tahu perkembangan selanjutnya Go Bing urungkan niatnya hendak tinggal pergi, ia maju mendekat sambil pasang kuping. Kata Siang Siau hun.

"Kira2 sepuluh li didepan jalan tadi kita bertiga bertemu dengan seorang tua yang sudah hampir menemui ajalnya, karena terluka berat, dititipkan kepada kita bertiga sebuah barang yang minta tolong supaya dihantarkan ke Yok-ong bio diluar kota Seng-toh, barang itu harus langsung diserahkan kepada ketua kelenteng itu, karena kasihan kita...."

"Lalu kalian melulusi hendak menyampaikan barang itu?"

Tukas siorang berkedok cepat.

"Ya, memang tujuan kitapun hendak ke Seng-toh."

"Barang apakah itu?"

"Agaknya sebuah kotak panjang yang dibungkus kain berminyak."

"Mana barang itu?"

"Disimpan oleh adikku!, justeru tadi aku hendak memeriksa apa barang itu masih ada ditubuhnya."

"Coba nona periksa menggunakan dahan pohon."

Siang Siau hun menjemput sebatang dahan pohon sebesar lengan lalu mengcungkil-cungkil baju yang hancur lebur dan membalikkan juga tubuh adiknya, tapi apapun tidak kelihatan, dengan kejut dan keheranan ia berseru.

"Sudah hilang!"

Siorang berkedok manggut2, ujarnya.

"disitulah pangkal mula peristiwa ini, barang itu pasti suatu benda berharga di bulim, mungkin siorang tua yagn sudah dekat ajal itu memang terluka berat dan terpaksa minta bantuan kalian untuk mengantarkanb enda itu, dan juga mungkin karena dikejar2 musuh besar, lalu pura2 terluka berat dan hendak mati, menitipkan barang itu kepada kalian adalah untuk mengelabuhi musuhnya itu, tapi bagaimana adikmy lantas bisa keluyuran seorang diri...."

"Adikku masih bersifat kanak2 karena sedikit selisih mulut dia lantas berlari mendahului kita, aku dan Li Bun siang tidak ambil perhatian, berjalan seenaknya dibelakang, akhirnya karena kuatir seorang diri Li Bun siang berlari menyusul kedepan dan aku bejalan paling belakang, sungguh tak terduga...."

Bicara sampai disitu Siang siau hun tidak kuat lagi meneruskan penuturannya, air mata mengucur semakin deras. Siorang berkedok berdehem berat, lalu katanya.

"Benar, menurut dugaan Lohu, buntalan itu pasti berisi suatu benda pusaka apa yang sangat berharga di Bulim, sipembunuh mungkin adalah siorang tua yang pura2 terluka dan hampir mati itu, setelah tipunya dapat mengelabuhi musuh2nya, secepat terbang dia menyusul tiba dan membunuh adikmu untuk menutupi mulutnya, bahwa dia menggunakan racun tanpa bayangan tujuannya adalah hendak sekaligus secara tidak langsung hendak membunuh kalin bertiga, dalam perhtitungannya setelah adikmu mati tentu kalian akan menyentu tubuhnya dan ini berarti sekali panah terkena tiga ekor burung, akan tetapi juga kemungkinan adalah perbuatan musuh yang mengejar siorang tua hampir mati itu, setelah dapat mengetahui tipu licik orang tua hampir mati itu dia menyusul tiba terus membunuh adikmu!"

Tanpa terasa Go Bing mendengus sekali dan menggumam.

"jahat, harus dibunuh!"

Mendengar itu Siang siau hun melirik kearah Go bing, tergerak hatinya baru kini didapatinya pemuda yang salah sangkanya sebagai pembunuh adiknya ini ternyata adalah seorang pemuda yang cakep ganteng, tapi wajah yang ganteng itu bersemu hawa pembunuhan yang lebat, daya tarik laki2 jantan menyedot hatinya, tanpa terasa ia membungkuk minta maaf;

"Sukalah dimaafkan kecerobohan ku tadi"

"Tidak menjadi soal,"

Sahut Go Bing kaku.

"Bolehkan kuketahui nama besarmu?"

Berputarlah otak Go Bing, waktu di Pek hun ko sat ia pernah menyebut namanya sebagai Go Bing kalau sekarang dikatakan bukankah akan membuka rahasia dirinya, hal itu tentu tidak menguntungkan dirinya untuk menuntut balas sakit hati gurunya kelak.

Apabila Go Bing itu berarti dirinya tidak mempunyai nama, karena pikiran ini dengan tawar dia menyahut.

"Aku seorang keroco dari kangouw, kiranya tidak perlu nona mengetahui namaku."

Merah jengah wajah siang Siau hun, berpaling muka dia bertanya kepada siorang berkedok.

"Apakah cianpwe mengetahui siapa2 kiranya yang menggunakan racun tanpa bayangan itu dikalangan kangouw?"

Sejenak siorang berkedok berpikir lalu berkata.

"Racun tanpa bayangan hanya kudenganr dari cerita orang saja, menurut keadaan kematian adikmu itu persis benar dengan kabar cerita itu, jadi itu hanya dugaanku saja, benar atau tidak belum tentu dapat dipastikan, namun dikalangan kangouw sekarang ini yang merajai menggunakan racun berbisa terhitung Pak-tok Tangbun Lu seorang...."

"Apa tidak mungkin Pak-tok (racun utara) yang turun tangan?"

"Tidak mungkin!"

"Kenapa?"

"Selain pandai menggunakan racun juga ilmu silat Tangbun Lu lihat jarang ada tandingannya didunia persilatan. Selama hidup ini dia hanya punya seorang musuh yang paling ditakuti, itulah Sia-sin simalaikat sesat Kho Djiang yang berjuluk Lam-sia (sesat dari selatan)...."

Bicara sampai disini dengan sengaja siorang berkedok merandek dan entah sengaja atau tidak matanya melerok kearah Go Bing.

Mendengar orang menyinggung nama gurunya, tergerak hati Go Bing, namun sejak kecil dia sudah digembleng simalaikat sesat, tindak tanduk Sia-sin yang bertentangan dengan kebiasaan umum sedikit banyak membawa pengaruh pada jiwanya, perobahan perasaan hatinya tidak kentara dari lahir wajahnya, pikirnya .

kalau kepandaian racun utara sudah jarang menemui lawan didunia persilatan apalagi merupakan musuh bebuyutan suhuna, bukankah itu berarti bahwa kepandaian suhu mungkin lebih tinggi dari racun utara ini, lalu bagaimana terjadinya suhu sampai celaka dibawah tangan orang?

Tanpa merasa mulutnya terpentang bicara.

"Antara sesat dari selatan dan racun utara itu siapakah lebih kuat dan lemah?"

"Ilmu Hian-In-kang dari racun utara boleh dikata sukar dicari tandingannya, tapi Kiy-yan-sin-kang dari Lamsia justeru merupakan lawan mematikan bagi ilmu Hian-In-kang itu, tapi karena racun utara berkelbihan pandai menggunakan bisa maka mereka masing2 memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri2"

"Tadi cianpwe belum memberi penjelasan mengapa racun utara tidak mungkin turun tangan?"

Siang Siau hun mengajukan pertanyaan lagi. Siorang berkedok manggut2, sahutnya.

"Pertama. racun utara sangat menjunjung tingkatan dan kepandaianya tentu tidak mungkin ia turunkan tangan jahat kepada tingkatan rendah, hal ini semua orang dikalangan kangouw tentuk maklum, kedua seumpama terdesak oleh keadaan dengan kepandaian silatnyapun tidak perlu dia menggunakan racun, ketiga, sudah belasan tahun dia tidak pernah muncul didunia persilatan, maka kukatakan...."

Bola mata Siang Siau hun berputar.

"Apa tidak mungkin perbuatan anak muridnya?"

Siorang berkedok ragu2, lalu sahutnya.

"Ya, itu kemungkinan."

"Aku bersumpah harus mencari tahu perbuatan siapa ini, untuk menuntut balas bagi kematian adikku dan Li Bun siang."

Suara Go Bing dingin kaku menyambung.

"Secara kebetulan aku memergoki peristiwa ini, akan kubantu sekuat tenaga untuk menyelidiki siapa pembunuh adikmu itu."

Ucapan ini diluar dugaan Siang Siau hun, sungguh dia tidak habis mengerti bagaimana watak dan tindak tanduk pemuda ini sebenarnya, bukan saja dingin dan garang serta congkak, namun ucapannya itu menunjukkan pula sifat jujurnya, sinar matanya lagi2 menatap wajah cakep ganteng yang mengandung daya tarik bagi semua lawan kelaminnya, lupa akan sifat dingin dan congkak orang terhadap dirinya, dengan suara lembut ia berkata.

"Saudara menjunjung keadilan dan kebenaran, biarlah sebelumnya aku mengucapkan terima kasih."

Go Bing ulapkan tangannya.

"Itupun tidak perlu, aku bukan pendekar yang suka menanam budi, tadi sudah kukatakan secara kebetulan saja aku memergoki peristiwa ini, terpaksa aku harus ikut campur."

Sahutan ini membuat Siang Siau hun hampir susah bernapas saking dongkol, raut mukanya mengelam dan sahutnya.

"Kalau begitu tak berani aku menyusahkan saudara."

Go Bing menarik muka wajahnya membesi.

"turut campur atau tidak adalah urusanku, nona tidak perlu banyak komentar, selamanya aku melakukan apa kata isi hatiku, tiada sangkut pautnya dengan orang lain dan orang lainpun tidak perlu memberi pendapat."

Ucapan yang seakan2 benar tapi juga seolah2 tidak mengenal perasaan ini membuat Siang Siau hun serba susah, serunya jengkel.

"Saudara yang menjadi korban adalah adikku...."

"Adikmu adalah orang persilatan."

Tukas Go Bing tegas.

"Sudah tentu sipembunuh itu jug aorang persilatan, orang persilatan mengurus persoalan bulim, lalu apanya lagi yang salah?"

"Orang aneh ucapannyapun aneh"

Gerutu Siang Siau hun sambil berpaling muka, tapi setelah mengatakan itu ia merasa ucapannya rada2 kurang sopan, merah jengahlah raut wajahnya. Siorang berkedok turut bicara lagi.

"Nona Siang, urusan selanjutnya disini biarlah kau bereskan sendiri, Lohu akan mencari jejak siorang tua luka berat hampir mati itu, akan kuperiksa sepanjang jalan sepuluh li ini, jikalau benar jenasah orang itu itu berada disana, maka kau harus mencari tahu ke Yong-ong-bio di Seng-toh itu, atau sebaliknya inilah tipu muslihat orang2 licik dari dunia persilatan, kalau tidak bisa mencari tahu barang macam apakah dalam buntalan itu, maka susahlah untuk mencari tahu siapakah sipenyebar racun itu."

Siang Siau hun terharu dan dan sangat berterima kasih.

"Cianpwe seorang budiman yang suka membantu kesukaran oran glain, tapi bagaimana baik menyukarkan...."

"Hahahaha, nona Siang, bukankah Thay-kek-tjhiu siang Se-ing adalah ayahmu?"

"Lho apa cianpwe kenal pada ayah?"

"Boleh dikata sahabat lama, maka sudah tentuk dalam peristiwa ini Lohu harus turut campur!"

Merah kedua mata Siang Siau hun ia membungkuk memberi hormat serta berkata.

"Kalau begitu cianpwe adalah seangkatan dengan ayah, harap sukalah memberitahu nama...."

"Jangan, tak usah"

Tukas siorang berkedok.

"Sudah lama Lohu mengasingkan diri dan melupakan nama sendiri."

Lalu ia berputar berkata pada Gi Bing.

"Saudara kecil apa kau ada minat turut pergi menyelidiki kedepan sana?"

Otak Go Bing berkerja cepat.

"Agaknya orang berkedok ini berpengalaman luas dikalangan kangouw, menggunakan kesempatan ini baik aku bersahabat dengan dia, dari mulutnya mungkin aku dapat meencari tahu jejak Tiang-Un Suseng!"

Oleh karena itu segera ia melulusi.

"Memang aku bermaksud demikian!"

"Kalau begitu marilah segera kita berangkat."

Dua sosok bayangan dengan kecepatan seperti meteor terbang menghilang dari pandangan mata, tanpa terasa lagi2 dari mulut Siang Siau hun tercetus kata2nya.

"manusia yang bersifat aneh!"

Dalam benaknya terkandung suatu perasaan yang menyegarkan tubuhnya, seakan2 ia kehilangan sesuatu dan seolah2 menemukan sesuatu apa pula!

MEMPEREBUTKAN PEDANG BERDARAH Dalam pada itu, dengan kecepatan lari Go Bing dan orang berkedok itu dalam waktu singkat sepuluh li sudah dicapai, sepanjang jalan sudah mereka teliti dan selidiki namun tidak diketemukan seperti apa yang diceritakan Siang Siau hun tentang orang tua yang terluka berat dan hampir mati, jangan kata mayatnya bayangannya saja tidak kelihatan.

Siorang berkedok menghela napas, katanya.

"gelombang perkitaian dikalangan kangouw sangat berbahaya, agaknya lagi2 suatu peristiwa yang susah dipecahkan."

Gerak kaki mereka semakin lamban, Selama dalam perjalanan sudah berulang kali Go bing hendak membuka mulut menanyakan tentang jejak Tiang-Un Suseng, tapi tidak tahu dia darimana ia harus membuka mulut.

Siorang berkedok telah membuka mulut lagi.

"Saudara kecil kemanakah tujuanmu?"

"Tiada tujuan yang menentu, kemana2pun boleh jadi."

"Lohu ingin bersahabat dengan kau, bagaimana pendapatmu?"

"Hal ini.... sudah tentu boleh!"

"Saudara kecil lulus dari perguruan mana?"

Go Bing ganda tersenyum, katanya.

"Kita mengikat persahabatan sejati saja, bagaimana?"

"Apa yang dinamakan persahabatan sejati?"

"Tuan tidak perlu menanyakan asal usul dan riwayatku, akupun tidak usah menanyakan nama atau gelaranmu, umpamanya kalau aku minta kau menanggalkan kedokmu, itu bukankah membuat kau serba susah, kalau tuan mengenakan kedok itu tentu mempunyai kesukaran sendiri. Maka itu kita mengikat persahabatan sejati, dua belah pihak sama membawa keuntungan masing2."

Siorang berkedok tertawa gelak2, serunya.

"tepat, sungguh tepat! Tapi lantas bagaimana memanggil nama masing@?"

"Dilihat dari usia tentu kau jauh lebih tua, baiklah kupanggil kau Bong-bian-heng (kakak berkedok), tentang aku, terserah kau mau panggil aku apa?"

"Bagus sekali, aku lebih tua dan menjadi kakak, baiklah kupanggil kau "Saudara kecil"

Saja?"

"Aku sih menurut saja."

"Saudara kecil kalau kau tiada apa2 yang perlu dikerjakan...."

"Yang dimaksud tiada tujuan tertentu adalah sekarang ini,"

Demikian tukas Go Bing memberi penjelasan.

"Kelak tidak termasuk dalam maksudku itu."

"Baiklah kita persoalkan sekarang ini, kau ikut aku pergi ke suatu tempat, lalu kita sama2 pergi menyelidiki barang yang dititipkan non Siang dan telah tercuri hilang itu, asal kita dapat menemukan barang itu, tentu mudah saja kita mengejar sipembunuh yang telah meracuni adik nona Siang dan Li Bun siang itu."

"Kemana Bong-bian-heng hendak pergi?"

Panggilan ini boleh dikata tidak berarturan dalam garis sopan santun, dasar murid Sia-sin yang terkenal sesat dan suka membangkang dari garis umum sedikit banyak Go Bing ketularan sifat gurunya itu, sedikitpun ia tidak ambil peduli pendapat itu, justeru siorang berkedokpun tidak ambil perhatian malah ia tertawa geli dalam hati.

"Pergi menyambangi seorang sahabat lama."

"orang macam apakah dia?"

"Sahabatku itu sudah meninggal dunia."

"Lalu...."

"Pergi sembayang dideapan kuburannya."

"Oh, jadi begitu!"

Selama dua jam Go Bing mengintil dibelakang siorang berkedok sampailah mereka didepan sebuah lereng gunung kecil, benar juga disana dilihatnya sebuah gundukan tanah tinggi diantara semak2 rumpun bambu.

"Inilah dia."

"Berapa lama sahabatmu meninggal?"

"Belum lama ini."

Dalam berkata2 itu mereka sudah tiba dideapan kuburan, waktu Go Bing angkat kepala memandang batu nisan, seketika tubuhnya tergetar hebat, meski sudah sekuat tenaga ia menekan gelora hatinya, tapi tidak urung air mukanya berobah juga, sebab apa yang dihadapinya ini benar2 diluar dugaannya, hampir saja ia tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Diatas batu nisan itu jelas tertulis "Tempat istirahat Tiang-Un Suseng Po Djiang".

Delapan hurup besar.

Dia mendapat tugas dari gurunya untuk memenggal kepala Tiang-Un Suseng, sungguh tak terduga olehnya bahwa orang yang tengah dicari itu ternyata sudah terpendam dalam tanah.

Setiap kali ia menyelesaikan tugas gurunya melulusi untuk menjawb satu pertanyaannya, sebetulnya segala ap yang ingin diketahui terlalu banyak, sekarang kesempatan untuk bertanya itu mungkin sudah ludas, justeru yang paling penting dan dikuatirkan mungkin gurunya akan menyesal dan berdua karena kematian musuh besarnya ini.

"Saudara kecil, agaknya kau sangat haru?"

Tanya siorang berkedok. Sadari dari lamunannya terkejutlah hati Gio Bing, sahutnya segera.

"ya, betul memang sangat mengharukan!"

"Apa kau kenal dengan Tiang-Un Suseng?"

"Tidak kenal orangnya tapi pernah kudengar namanya, menurut kabarnya dia seorang pendekar yang menunjung pribudi, namanya tegar dan cemerlang, entah mengapa dia meninggal dunia?"

"Dia meninggal karena menghabisi jiwanya sendiri."

"Bunuh diri?"

"Ya, benar"

"Kenapa?"

"Julukannya saja Tiang-un (selalu berduka), sudah tentu dia seorang yang membenci dunia fana ini, akan tetapi yang mendorong dia nekat membunuh diri karena akhir2 ini dia sadar bahwa dahulu kala dia pernah melakukan perbuatan tercela, maka dia bunuh diri untuk menebus dosanya itu."

Tergerak hati Go Bing, tanyanya lagi.

"entah perbuatan apakah itu, masa sedemikian berat?"

"Waktu dia bunuh diri aku tidak disana, ini hanya menurut kabar yang tersiar dikalangan kangouw!"

"Tahu salah tapi tidak memperbaiki, masa dengan bunuh diri lantas bisa...."

"Saudara kecil, mungkin perbuatannya itu merupakan kesalahan yang sudah ditolong lagi?"

"Kalau kesalahan tanpa sengaja, kalau sudah salah memang salah, apa perlu ditakutkan lagi!"

"Seumpama kesalaha tanpa sengaja, lantas melahirkan suatu akibat yang berat, umpamanya membahayakan jiwa orang lain, lalu bagaimana dia harus menerangkan perbuatannya itu kepada sahabat2 di kangouw?"

Go bing bungkam seribu bahasa. Siorang berkedok merubah haluan kata2nya.

"Akhir ini, kabarnya ada seorang pemuda yang tidak diketahui namanya, ia mengaku sebagai murid Sia-sin Kho Djiang, mendatangai Pek-hun-ko-sat mengambil batok kepala Tji Khong hwesio, apakah saudara kecil pernah dengar berita ini?" ~ sinar matanya yang tajam dingin dengan tajam menatap wajah Go Bing. Terkesiap hati Go bing, waktu berada di Pek-hun-ko-sat ia memperkenalkan diri sebagai Go Bing, mungkin pihak sana salah dengar dan menganggap Bu bing (tak bernama), maka kabar itu mengatakan dirinya sebagai pemuda tak bernama maka dengan pura2 heran dan kejut ia balas bertanya.

"Apa benar ada peristiwa itu?"

"Menurut hematku tidak mungkin kabar itu bohong, akan tetapi urusan ini membuat orang bertanya2."

"Mengapa?"

"Menurut kabarnya, Kho Djiang sisesat dari selatan itu sudah mati pada dua puluh tahun yang lalu, semasa hidupnya ia mempunyai seorang murid, bernama Lo Tju-gi, empat belas tahun yang lalu waktu diadakan du kepandaian dipuncak Hoa-san dia merbut kedudukan tokoh silat nomor satu diseluruh jagat ini, sejak itu dia terus menghilang dari dunia persilatan, lalu darimana pula baru2 ini mendadak muncul soerang muridnya, tapi menurut beritua itu katanya sipemuda tak bernama itu membekal cincin iblis tanpda pengenal dari Lam-sia dan hal ini tidak mungkin palsu...."

Baru sekaranglah Go Bing mengetahui bahwa gurunya ternyata pernah mempunyai seorang murid lainnya, tapi menurut kata gurunya bahwa pada dua puluh tahun yang lalu dia sudah bersumpah untuk tidak menerima murid, apa mungkin sumpahnya itu ada hubungan erat dengan Lo Tju-gi atau suhengnya itu?

Otaknya berpikir demikian, namun mulutnya berkata "Ya hal itu benar2 membuat heran dan tak mengerti!"

Pada saat itulah tiba2 terdengar suara bentakan2 nyaring dari kejauhan dibalik lereng sebelah sana, sejenak siorang berkedok pasang kuping, lalu berkata.

"mari kita coba lihat!"

Berbareng mereka melesat dan berlari kencang kebalik lereng sebelah sana, dibalik lereng ini adalah sebuah tanah datar kira2 satu bau luasnya, hutan lebat mengelilingi separoh tanah berumput dan ditanah berumput inilah berkelebat banyakan banyak orang, ada tosu ada hwesio dan ada juga orang preman sekitara lima puluhan orang.

Tiga orang tua berpakaian serba hitam terkepung ditengah2 dan disebelah sana seorang laki2 pertengahan umur berbaju abu2 tengah bertempur seru melawan seorang Thau-to (hwesio yang memelihara rambut), teriakan dan bentakan mereka yang keras terdengar sampai jauh.

Bergegas Go Bing dan siorang berkedok menyembunyikan diri diantara rumpun lebat diatas sebuah pohon besar dan dari ketinggian inilah mereka diam2 menonton pertempuran seru ini.

Sebuah bentakan keras disertai suara jeritan yang mengerikan menggetarkan seluruh hadirin, darah segar menyembur deras bagai anak panah dari mulut si Thau-to "Blang"

Tubuhnya terkapar keras diatas tanah. Laki2 pertengahan umur baju abu2 menyapu pandang keempat penjuru, suaranya dingin melengking.

"masih ada kawan mana yang menginginkan pedang berdarah ini, silahkan...."

Seorang hwesio gendut yang menyeret Hong-piang-djan (tongkat kaum hwesio) melangkah maju masuk gelanggang. Go Bing tidak tahan bertanya kepada siorang berkedok dengan suara lirih.

"Mereka tengah memperebutkan "pedang berdarah"

Apa...."

"Ya, pedang berdarah merupakan gbenda pusaka dari dunia persilatan, juga benda keramat yang membawa bencana."

"Bagaimana maksudnya ini?"

"Setiap orang yang memiliki Pedang berdarah, tiada seorangpun yang selamat jiwanya."

Dalam gelanggang sana, si hwesio yang bersenjata tongkat sudah bertempur seru melawan laki2 berbaju abu2 itu, terlihat bayangan tongkat diputar kencang bagai sebuah gunung, kesiur angin pukulanpun tidak kalah hebatnya bagai badai gelombang menderu2 menggetarkan bumi memekakkan telinga.

Sekilas Go Bing menyapu keadaan gelanggang pertempuran lalu berkata lagi .

"Bong-bian-heng, harap sukalah kau memberi sedikit penjalasan sekdaranya kepada siaute?"

"Menurut berita yang tersiar di Bulim, pedang berdarah menyangkut se

Jilid buku Bu-lim-pit-kip, bagi siapa yang mendapatkan rahasia buku silat ini dapat malang melintang dikolong langit ini tanpa tandingan, tapi kebenarannya siapapun tidak tahu, lima belas tahun yang lalu pedang berdarah itu pernah muncul didunia ini untuk ketiga kalinya, pemiliknya adalah Swu-hay-yu-hiap Suma Hong, begitu berita itu tersiar luas maka semua tokoh2 silat dari segala aliran hitam atau putih mengiri dan mengincar benda keramat itu, akhirnya jejak suami istri Su-hay-yu-hiap Suma Hong berdua ditemukan dipuncak gunung Tiam-Tjong-san, maka dipuncak Hou-thau-hong digunung Tiam-tjong-san itulah terbuka suatu penyembelian besar2an untuk memperebutkan benda berharga itu...."

Tanpa meresa tergerak hati Go Bing, bukankah gua tempat tinggal gurunya berada dibawah jurang disamping puncak Hou-thau hong digunung Tian-tjong-san itu. Siorang berkedok menyambung ceritanya lagi.

"Su-hay-yu-hiap Suma Hong (sikelana bebas keempt penjuru angin, bersama istrinya San-hoa-li (wanita penyebar bunga) Ong Fang Lan juga terhitung tokoh silat kelasw satu, dibawah kerubutah ratusan gembong2 silat mereka bertempur dengan gigih sampai titik darah penghabisan, akhirnya mereka rebah tak bergerak lagi dipuncak itu, malah ada pula yang mengatakan ada seorang anak kecil berusia tiga tahun ikut meregang nyawa dalam keributan itu, korban dari pihak pengeroyokpun tidak terhitung banyaknya."

Diluar sadar Go Bing bergidik seram, dalam dunia persilatan sudah menjadikan suatu peraturan tidak resmi bahwa yang kuat pasti malang melintang menindas yang lemah, bunuh membunuh dan balas membalas tiada habisnya.

"Lalu selanjutnya bagaimana?"

"Akhirnya pedang berdarah itu terjatuh ditangah Tang-mo (iblis timur) dan akhir2 ini katanya berpindah ditangan penjahat besar dari aliran hitam Mo-san-dji-kui bersaudara."

"Lalu bagaiamana pula sekarang bisa diperbutkan disini...."

"Kejadian di bulim susah diduga, banyak perobahan terjadi diluar kehendak manusia, mungkin Mo-san-dji-kui juga mengikuti jejak Su-hay-yu-hiap suami istri sudah tamat riwayatnya."

Terdengarlah sebuah jeritan lagi dari dalam gelanggang sana, kiranya si hwesio gendut itu sudah menemui ajalnya juga ditangan laki2 baju abu2 itu. Kata siorang berkedok hambar.

"Liau Sing, hwesio bakpau dari Ngo-tai-san akhirnyapun mati diatas pegunungan tanpa tempat kubur yang layak karena ketamakan hatinya sendiri."

"Kepandaian laki2 baju abu2 itu agaknya tidak lemah, tiga orang berseragam hitam dibelakangnya itu agaknya segolongan dengan dia?"

"Apa kau tidak melihat tanda bergambar diatas baju meraka.?"

"Oh, sekuntum bunga bwe, Bwe-hoa-hwe!"

"Laki2 baju abu2 itu berjuluk Tjhit-ou-tjiu, Tjong lun, salah satu dari Tongcu luar dari Bwe-hoa-bwe."

"Tokoh macam apakah ketua dari Bwe-hoa-bwe itu?"

"Mungkin tiada seorangpun yang tahu, belum ada sepuluh tahun Bwe-hoa-bwe muncul didunia persilatan, kekuatan mereka sudah menjagoi sampai berbagai aliran dan golongan, gembong2 silat tingkat tinggi yang lihat tak terhitung banyaknya terhimpun dalam kumpulan itu...."

Tiba2 gelak tawa aneh yang ngekek bergelombang memekakkan telinga dan menggetarkan sukma mengiringi kedatangan tiga manusia aneh berpakaian aneh pula rambut mereka awut2an dengan langkah lebar memasuki gelanggang.

Go Bing berseru heran.

"Ketiga orang tua ini agaknya seperti Lam-hong-sang-hiong...."

"Tidak salah, pengalamanmu saudara kecil cukup luas juga."

Lam-hong-sang-hiong (tiga garang dari gunung Lan diselatan) menghentikan langkah setombak lebih didepan Tjit-ou-tjiu Tjong Lun.

Tjui-hun-siu (aki mengejar sukma) tertua dari manusia aneh ini perdengarkan ejek tawanya, lalu serunya bengis.

"orang she Tjong, apa kau tahu maksud kedatangan kami bersaudara kemari?"

Suara Tjit-ou-tjiu Tjong Lunpun tidak kalah dinginnya.

"Semua kawan yang masuk gelanggang hari ini semua satu tujuan, kiranya tidak perlu aku banyak mulut lagi bukan?"

Tjiu-hun-siu mengumbar suaranya lebih keras.

"tjong Lun, apa kau tahu apa hubungan kami bersaudara dengan Mo-sandji-hiong?"

Mo-san-dji-kui dimulut Tjui-hui-siu menjadi Mo-san-dji-hiong, dua setan menjadi dua gagah, tanpa merasa Go Bing tertawa geli. Suara Tjit-ou-tjhiu Tjong Lun masih tetap dingin dan kaku.

"Yang saudara maksudkan adalah Mo-san-dji-kui?"

"Ya, tidak salah!"

Seru Tjui hun siu merah padam.

"Justeru aku belum pernah dengar kalin bersaudara ada hubungan erat apa segala dengan Mo-san-dji-kui?"

"He he, hubungan kita sangat erat bagai saudara sepupu dengan Mo-san-dji-kui, kini Mo-san-dji-kui sudah menggeletak diluar Kim-pi-tong, tapi pedang berdarah itu berada di tanganmu...."

"Lalu apa maksud kalian?"

"Menebus keadilan kepadamu."

"Bagaimana aku harus membayar?"

"Serahkan dulu pedang berdarah, urusan belakang."

"Jadi tujuan kalian bertiga hendak menuntut keadilan bagi Mo-san atau hendak minta pedang berdarah?"

"Orang she Tjong, pedang berdarah itu adalah milik sahabat kami, sudah selayaknya harus kami minta kembali tentang utang darah itu sudah tentu harus ditagih."

Sekonyong2 diantara para hadirian diluar gelanggang terdengar suara orang tertawa dingin menjengel, suaranya tidak keras namun semua hadirin mendengar dengan jelas, lalu disusul satu suara dingin berkata.

"Kiranya diseluruh jagat ini masih ada manusia yang tidak kenal rasa malu seperti kalian Lam-hon-sam-hiong!"

Lam-hon-sam-hiong sudah biasa malang melintang dan bersimaharaja didaerah selatan, sudah tentu mereka sangat mendongkol dan murka mendengar ejekan yang menghina ini, berbarang mereka memutar tubuh, segera To-bing-siu (aki pencabut nyawa) tokoh nomor dua dari tiga manusia aneh dari selatan itu membentak gusar.

"Kurcaci darimana yang bicara itu kalau berani silahkan keluar, biar kita bertiga belajar kenal."

Belum habis kata2nya sebuah bayangan orang seringan asap melayang berkelebat masuk ditengah gelanggang, itulah seorang tua berambut uban mengenakan baju kasar dan dipunggungnya terselip sebatan joran dan sebatang dayung.

Begitu melihat kehadiran orang tua ini, berbareng Lamhong-sam-hiong melengak heran, Tjui Hun siu tertawa kaku dibuat2.

"Kiranya saudara Kwe Lih ada pengajaran apakah?"

Kiranya orang tua ini adalah Tang-hay-hi-hu si nelayan lautan timur, Kwe lih yang menggetarkan dunia persilatan daerah timur, begitu melihat kehadiran Tang-hay-hi-hu ini semua hadirin tercekat dan kuatir dalam hati.

Tedengar si nelayan dari lautan timur tengah bicara.

"Song put tjwan, jangan kau sebut sadara apa segala denga aku, kalian bertiga ada persahabatan kentut apa dengan Mo-san, tujuan kalian pergi ke Kim-pi tong bukankah hendak mengincar pedang berdarah itu, tapi kalian kembali dengan hampa karena didahului orang lain, ya bukan?"

Merah jengah selebar muka Lam hong sikapnya kikuk dan risi karena dikorek boroknya dihadapan sekian banyak orang, dasar licik dan tebal muka segera sip hun siu (aki penyedot sukma) si buncit dari ketiga manusia aneh itu bicara dengan suara serak.

"orang she Kwe lalu apa tujuan kau datang kemari?"

Tang-hay-hi-hu bergelak bebas, sahutnya . aku orang tua selalu berterus terang dant idak perlu menggunakan segala alasan tetek bengek, tujuanku adalah pedang berdarah itu juga."

Ributlah para tokoh silat yang turut hadir dalam gelanggang itu, kala itu Tji ou tjiu tjong Lun sudah mengundurkan diri dan berjajar dengan tiga orang tua berseragam hitam itu.

Tjui hun siu mendengus keras, ejeknya.

"Apa tuan bermaksud menjajal kepandaian kami bertiga?"

"Barang itu masih berada di tangan orang lain, apa ada harganya perkelahian itu?"

"Lalu bagaimana pendapat tuan?"

"Mengandal kepandaian masing2, siapa berkepandaian tinggi dia berhak memiliki benda itu". Setelah saling berpandangan Lam hong berseru berbarang "Baiklah!"

Mereka memutar tubuh mengambil posisi masing2 menghadapi Tji ou tjiu berempat.

Disebelah sana Tang-hay-hi-hu Kwe Lih pun maju tiga langkah, suasana dalam arena seketika menjadi tegang, semua tokoh 2 silat yang hadir dengan mendelong mengawasi arena tanpa berkedip, sinar mata mereka mengaundung maksud yang sama, itulah sinar mata serakah, licik dan buas bercampur aduk menjadi satu.

Dalam pada itu, Tjit ou tjiu dan tiga orang tua seragam hitam sudah bersiap punggung menduduki satu posisi tersendiri, mereka siap waspada menghadapi segala kemungkinan.

Tiba2 Go Bing bertanya lirih kepada siorang berkedok.

"menurut pendapatmu siapa yang bakal berhasil?"

"Sudah diduga, menurut situasi dalam arena, kepandaian Tang-hay-hi-hu agak lebih tinggi, tapi dalam jumlah Lam hong berada diatas angin, akan tetapi tak peduli siapa yang bakal berhasil mungkin susahlah dapat meninggalkan gelanggang pertempuran ini, orang2 gagah diluar gelanggang itu dimana ada kesempatan pasti juga akan turun tangan dan entah masih berapa banyak tokoh2 lihai lainnya yang main sembunyi, lagipula keempat tokoh lihai dari anggota Bwe hoa bwe itupun bukan olah2 hebat kepandaiannya."

"Apa kamu ada maksud turun campur?"

"Kau sendiri bagaimana?"

Go Bing menggeleng kepala, maka siorang berkedok berkata.

"Akupun demikian."

Dimana terdengar suara bentakn riuh rendah, Lam hong serentak turun tangan menyerang kearah Tjiu ou tjiu, segera tiga orang tua seragam hitam melompat maju menandangi serangan mereka, adalah pada saat yang bersamaan itu si nelayan dari timur telah menuburuk maju kearah Tjong Lun, maka terbentanglah suatu pertempuran mati2an yang seru dan gegap gempita.

Lam hong bertiga masing2 menandangi tiga orang tua seragam hitam dari bwe hoa hwe, kepandaian dan iwekang mereka agaknya seimbang, maka susahlah dapat ditentukan siapa bakal unggul dan siapa asor, lain halnya dengan kepandaian Tang-hay-hi-hu agaknya sedikit unggul dari Tjit ou tjium namun untuk mengambil kemenangan dalam waktu dekat dan memperoleh barang yang diperebutkan ia harus memeras keringat juga.

Delapan orang terbagi dalam empat pasang menunjukkan kepandaian masing2 yang paling hebat dan simpanan yang paling lihai, hingga angin menderu kerikil dan debu berterbangan diselingi suara bentakan dan geraman, malah terdengar juga suara menggeledek dari benturan angin pukulan yang dahsyat.

Tiba2 siorang berkedok berseru kaget dan menyatakan keheranannya.

Go Bing berpaling dan bertanya "Apa yang mengherankan?"

"Gembong2 silat dari bwe hoa hwe tidak terhitung banyaknya, tokoh berkepandaian lebih lihat dari Tjong Lun tidak kurang jumlahnya, benda berharga sangat penting seperti pedang berdarah itu mengapa tidak dilindungi oleh para jagoan yang lebih lihai, malah tidak terlihat adanya penyambutan atau bantuan."

Sekonyong2 terdengar sebuah suara serak dari samping sebelah sana katanya.

"tuan ini terlalu banyak prihatin"

Go Bing dan orang berkedok terperanjat, lekas2 mereka berpaling kearah datangnya suara, tampak diatas sebuah pohon besar yang jauhnya hanya tiga tombak dari tempat mereka sembunyi duduk ongkang2 diatas sebuah dahan seorang tua yang berpakaian serba kuning, siorang tua berpakaian kuning ini sudah sejak tadi sembunyi disitu atau baru saja tiba sedikitpun mereka tidak mengetahui, jika dikatakan baru saja tiba dan tidak diketahui sedikitpun oleh mereka amaka kepadanaian ringan tubuh yang hebat ini benar2 membuat orang merasa kagum dan meleletkan lidah.

Sekilas Go Bing dan orang berkedok melirik kearah si baju kuning, lalu berpaling lagi menyaksikan pertempuran seru dalam gelanggang, mereka tidak bersuara lagi.

Karena sudah sekian lamanya belum dapat mengalahkan ketiga lawan seragam hitan ini, kumatlah sifat buat dan kegarangan Lam hong mereka menggeram dan berteriak2 seperti binatang buas, setiap jurus serangannya adalah pukulan dahsyat yang mematikan, adalah ketiga orang tua berseragam hitam itu masih berlaku sabar dan tidak tamak kemenangan, meereka tetap tenang dan menjaga diri dengan rapat, lebih banyak membela diri daripada menyerang.

Disebelah sana, Tang hay hi hu mendesak Tjit ou tjhiu Tjong Lun sedemikian rupa hingga yang belakangan ini mencak2 kerepotan, setiap saat jiwanya terancam bahaya, dimana tedengar sebuah gerungan keras dan panjang, disusul terdengar seruant ertahan dari empat penjuru, jubah panjang didepan dada Tjit ou tjhiu Tjong Lun tahu2 sudah sobek panjang dan bertepatan dengan itu sebuah buntalan kain berminyak sepanjang satu kaki menggelundung keluar dari dalam bajunya dan jatuh ditengah gelanggang, sedang Tjong Lun sendiripun terhuyung mundur beberapa langkah.

Hati Go Bing berdetak keras, tanpa tertahan iapun berseru heran, cepat2 siorang berkedok sedikit menarik lengannya memberi tanda supaya dia tidak bersuara lagi.

Sementara itu Tang hay hi hu sudah ulurkan sebelah tangannya hendak meraup buntalan kain diatas tanah itu...., tiga gelombang angin deras bagai gugur gunung berbareng menerpa tiba mengurung diseluruh tubuh Tang hay hi hu tergetar mundur jumpalitan delapan kaki jauhnya.

Kiranya begitu melihat Tang hay hi hu dapat mengalahkan Tjong Lun lalu hendak menjemput buntalan diatas tanah itu, segera Sam hiong tinggalkan musuhnya lalu berbareng meluruk tiba bersama serta lancarkan tiga pukulan berat kepada tang hay hi hu.

Sam hiong (tiga jahat) bertujuan sama cara turun tangannyapun serentak dalam waktu yang sama pula.

Pada detik2 Tang hay hi hu terpental oleh desakan pukulan gabungan Sam hiong itulah sebuah bayangan orang dengan kecepatan yang susah diukur terbang menyamber buntalan kain diatas tanah itu, sekali raup tubuhnya terus melejit tinggi....

Menubruk tiba, meraup buntalan ditanah lalu melejit tinggi semua ini dilakukan sekaligus boleh dikata secepat kilat.

"In Hong Lokoay, tinggalkanlah barang itu untuk Toayamu"

Bersamaan dengan datangnya suara, sebuah bayangan lain melesat tiba pula dari tengah udara bagai meteor terbang dengan cepatnya.

"Blang"

Kedua bayangan itu saling tumbuk ditengah udara dan keduanya sama2 terpental jatuh diatas tanah, dan buntalan kain itu juga terjatuh lagi diatas tanah ditengah2 antara mereka, situasi yang menegangkan ini benar2 membikin orang menahan gelora hatinya yang susah bernapas.

Kedua orang yang terpental jatuh itu salah soerang adalah In Hong Lokoay dan yang lain adalah Sang Gan Todjin dari Kong tong pay, dan dalam kejap buntalan kain itu terjatuh diatas tanah lagi, kebetulan jarak dimana Sip hun siu satu diantara lam hong sam hiong kira2 hanya lima kaki, gesit luar biasa tanganya diulur hendak mengambil, tapi dengan kecapatan kilat Tang hay hi hu mengayun sebelah tangannya, dimana angin pukulannya menyamber buntalan kain itu tergulung angin menggelundung jauh melesat kearah Tjiu hun sui, hal ini sangat kebetulan bagi tjui hun siu, girang luar biasa ia ulurkan tangan menyambut....

"Bluk"

"hoak"

Diselingi suara jeritan ngeri tjhiu hun siu menyemburkan darah segar dari mulutnya, tubuhpun sempoyongan mundur delapan kaki jauhnya.

Musuh licik yang memukul mundur tjui hun suiu hingga luka berat ini kiranya adalah In Hong Lokoay, sekali lagi buntalan kain itu terjatuh ditengah gelanggang.

Karena menubruk tempat kosong, Tang hay hi hu sangat gusar, tanpa menghentikan gerak tubuhnya, kedua tangannya menerjang maju kearah Sip hun siu dengan seluruh kekuatan tenaganya maka pukulan ini seakan gugur gunung dahsyatnya, saat mana Sip hun siu tengah kesima karena tidak menduga bukan saja tidak mendapatkan buntalan itu mala tjiu hun siu terluka berat terbokong oleh In Hong Lokoay, sedikitpun ia tidak emnduga bahwa pada saat itu juga dirinya terancam bahaya pukulan Tang hay hi hu waktu dia sadar dan coba berkelitu sudah tidak keburu lagi....

sebuah jeritan panjang yang menggema ditengah udara menambah keseraman gelanggang pertempuran, tubuh Sip hun siu terbang jauh dan muntah darah, bersamaam dengan itu, Sam Gan Todjin dari Kong Tong pay sudah melesat tiba menjangkau buntalan diatas tanah itu.

"Bkang"

Tanpa ampun Sam Gan Todjin pun juga terhuyung mundur diterpa angin pukulan yang bergulung tiba, agaknya tjit ou tjiu Tjong Lun dari bwe hwa hwe juga tidak tinggal diam melancarkan pukulan hebatnya.

Situasi dalam gelanggang semakin kacau balau, para tokoh2 silat yang menontong diluar gelanggangpun beramai2 merubung maju dan bimbang untuk turut ikut campur, tapi merekapun tidak rela tinggal pergi begitu saja karena tengah ditunggunya kesempatan, ya siapa tahu bahwa dirinya nanti yang bakal ketiban rejeki.

Dua diantara tiga dari Lam hong sam hiong sudah terluka berat, kesempatan untuk menang bagi mereka sudah nihil, terdengan To bing siu mengerung keras.

"In Hong Lokoay, Tang hay hi hu kita bertemu pada lain kesempatan!"

Namun seruannya ini sudah tidak menimbulkan perhatian orang, sebab perhatian orang tengha dicurahkan kepada buntalan kain itu, segera Toh bing siu memanggul sip hun siu dan mengemput tjui hun siu mencawat ekor meninggalkan gelanggang.

Pada waktu itulah mendadak terdengar sebuah suara keras bagai kitat menggeledek disiang hari bolong menggelegar memekakkan telinga semua hadirin.

"Saudara2 sekalian harap berhenti sebentar!"

Tanpa merasa para tokoh silat itu berbareng hentikan pertempurand an berpaling kearah suara itu tedengar, maka terlihat seorang tua berambut putih pendek ekcil gendut lagi mendatangi dengan cepat memasuki gelanggang seperti bola menggelundung, seketika para hadirin mengunjuk rasa heran dan kejut, sudah sekian lama mereka kenal manusia kerdil buntak ini merupakan seorang tokoh yang paling susah dilayangi yaitu Tong sing to gwat (mencuri bintang merampok rembulan) Si Ban-tjwan.

Bintang dilangitpun hendak dicurinya, amaka dapatlah dibayangkan betapa aneh martabat manusia aneh ini, barang berapa apapun bila sudah diincar olehnya, jangan harap kau dapat melindungi atau dapat menyimpannya dengan aman, sebelum barang samapi ditangannya dia takkan berhenti bekerja.

Segera sinelayan lau timur Kwe Lih angkat tangan memberi salam hormat.

"Silahkan Si heng, apa kau juga...."

Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ Tong sing to gwat Si Ban tjwan segera goyangkan tangan seraya berkata.

"Eh, sipengail kunasehatkan padamu jangan kau pancing ikan ini."

"Mengapa?"

"Duri ikan akan mencocok tanganmu."

Disebelah samping Sam Gan Todjin tertawa dingin jengeknya.

"Maling tua apa maksud ucapanmu itu?"

Setelah menyapu pandang keempat penjuru segera Tou sing to gwat membuka suara lagi.

"entah mengapa hati Lohu hari ini tidak tenteram dan timbul kewelas-asihan dalam benakku untuk menasehati kepada kalian, kalau kalian tidak mau mati konyol, ada lebih baik kalian jangan sentuh benda keramat yang membawa banyak bencana ini."

Semua hadirin menjadi melongo heran dan saling panang, tiaa seorangpun dapat menebak apa juntrungannya ucapan sipencuri lihai itu?

Walaupun terkenal sebagai manusia yang sudah dilayani dan susah diajak kompromi, tapi perkataannya selamanya dapat dipercaya, belum pernah bicara main2 atau ingkat janji.

Susana diseluruh gelanggang menjadi sunyi senyap tanpa suara, adalah In Hong Lokoay agaknya tidak percaya, serunya.

"Maling tua, kau jangan main gertak dengan ucapan teka-tekimu itu, kenapa tidak kau terangkan sejelasnya maksudmu itu?"

"Omonganku sampai disini saja, titik. Percaya atau tidak terserah kalian, aku Maling tua minta diri!"

Habis berkata benar2 dengan cepat ia menggelundung pergi dan menghilang dalam sekejap mata..PEK HOA T SIAN NIO = DEW Memang tidak mengherankan bahwa pedang berdarah adalah sebuah benda keramat yang dapat menyedot hati manusia, meskipun tahu berbahaya tapi mereka ingin untuk memilikinya, begitulah setelah saling merasa curiga, kuatir dan bimbang, akhirnya pandangan semua mata tertuju lagi kearah buntalan kain diatas tanah itu.

Para tokoh silat yang berada ditengah gelanggang itu rata2 adalah gembong penjahat yang kejam dan telengas, siapa berani turun tangan lebih dulu pasti lawan2nya akan serentak menyerang menamatkan jiwanya, oleh karena itu, beberapa saat itu suasana menjadi agak tenang, dan semua orang mengambil sikap untuk menonton saja sementara.

Tahu2 seorang tua baju kuning dengan langkah tenang dan tetap berjalan memasuki gelanggang dan langsung menghampiri kearah Tjiu ou tjiu Tjong Lun berempat, dihadapan mereka ia hentikan langkahnya, orang tua baju kuning ini bukan lain adalah siorang tua yang sembunyi diatas pohon disamping Go Bing dan orang berkedok it.

Jubah panjang didepan dadanya tersulam bunga bwe besar, jelas menunjukkan kedudukannya.

Pertama2 In Hong Lokoay berseru kejut lalu serunya.

"eh, sungguh diluar dugaan bahwa It tjiang toan hun (sekali pukul menamatkan nyawa) Tjiu Eng lian kiranya juga sudah menjadi anggota Bwe hwa hwe?"

It tjiang toan hun menyahut dingin.

"memangnya kenapa, apa tidak boleh?"

In Hong Lokoay menjengek hina, katanya.

"Setiap orang mempunyai cita2nya sendiri, ah buat apa aku banyak mulut!"

Kedua mata It tjiang toan hun berkilat menyapu pandang keseluruh gelanggang, serunya lantang.

"Buntalan kain ini menurut perintah ketua kami harus dilindungi dan diantar kemarkas besar, apa didalamnya adalah pedang berdarah atau bukan, cayhe sendiripun tidak mengetahui, kini kupersilahkan para hadirin sekalian berpikir2 dulu sebelum bertindak, jikalau kalian mendengar nasehat berharga dari simaling tua tadi dan tidak turun memperebutkan buntalan ini lagi, biarlah aku mewakili perkumpulan kami menyatakan banyak terima kasih, atau sebaliknya cayhe sedang tugas menurut perintah, terpaksa aku harus melayani setiap kehendak kalian beramai."

Keadaan dalam gelanggang menjadi hening lelap. Dengan penuh keharuan Go Bing berkata keapda siorang berkedok.

"bukankah buntalan kain itu adalah benda yang dititipkan kepada Siang Sian hun dari siorang tua yang hampir mati itu hingga menyebakan kematian Siang Siau moay dan Li bun siang?"

"Benar!"

"Jadi sipembunuh adalah orang dari Bwe hoa bwe?"

"Belum tentu, ucapaan Tou sing to gwat Si Ban tjwan tadi harus diperhatikan, mungkin ada udang dibalik batu!"

"Aku ingin mengambil buntalan kain itu untuk mengejar sipembunuh itu, kalau barang itu sudah berada ditangan kita tidak perlu disangsikan pasti sipembunuh itu akan muncul sendiri?"

"Saudara kecil, apa kau benar2 hendak turut campur?"

"Aku pernah berjanji dihadapan nona Siang untuk menyelidiki jejak sipembunuh itu, apalagi aku sudah bersumpah hendak membunuh manusia durjana yang menggunakan racun tanpa bayangan itu, pada hakekatnya tujuan utamaku bukan melulu merebut Pedang berdarah ini."

"Saudara kecil apa kau ada pegangan untuk dapat merebut barang itu?"

"Akan kucoba sekuat tenagaku", sahut Go Bing.

"Mereka adalah gembong2 besar yang berkepandaian tinggi, kau akan menjadi sasaran empuk bagi mereka!"

"Aku tidak peduli akan hal itu."

Pada saat itulah sebuah bayangan kecil lenjir melayang tiba dari tengah udara, setelah jumpalitan tiga kali terus melayang dengan entengnya memasuki gelanggang.

Pertunjukan ilmu ringan tubuh yang mengejutkan ini membuat semua hadirin tergetar kesima.

Orang yang berputar ditengah udara dan hingga ditanah ini ternyata adalah seorang gadis yang cantik molek menggiurkan mengenakan baju serba putih.

Bahwa ilmu ringan tubuh jarang terlihat didunia persilatan dipertontonkan oleh seorang gadis muda belia dan cantik rupawan lagi, benar2 mengejutkan hati semua hadirin.

Go Bing sudah berdiri dan bersiap hendak melompat turun, tapi siorang berkedok keburu mencegah, katanya.

"Saudara kecil, kedatangan gadis ini sangat aneh dan mendadak, kenapa kau tidak sabar sebentar, siapa tahu ada sesuatu kejadian diluar dugaan!"

Terpaksa Go Bing duduk lagi diatas dahan pohon. Terdengar gadis cantik bagai bidadari itu tengah berkata.

"Sian nio segera akan tiba, sementara kuharap kalian mundur lima tombak jauhnya!"

Ucapan ini menimbulkan suasana bunca dalam gelanggang, tokoh2 silat yang berada ditengah gelanggang mengunjuk rasa kejut dan heran, beramai2 mereka mundur teratur dan menyingkir memberi sebuah jalan, hanya Tang hay hi hu dan beberapa orang yang menganggap dirinya berkedudukan tinggi masih ragu2 tanpa bergerak.

It tjiang toan hun mengekeh tawa dan berseru.

"Kalau Sian nio akan datang, memang kita sekalian harus mengundurkan diri, maka buntalan kain ini sementara waktu biar Lohu simpan kembali, nanti biarlah kita rundingkan lagi bagaimana cara menyelesaikan urusan ini?" ~ dalam berkata2 itu ia melangkah maju dan ulurkan tanganya hendak mengambil buntalan kain itu.... In Hong Lokoay dan Sam Gan Todjin berbareng maju satu tindak, disebelah sana Tang hay hi hu pun perlahan2 angkat kedua tangannya, jikalau ti Tjiang toan hun benar2 mengambil buntalan kain itu, ketiga orang ini pasti akan melancarkan serangan berbareng, adalah Tjit ou tjiu dan ketiga orang tua seragam hitampun merapat dibelakang It tjiang toan hun bersiap menjaga segala kemungkinan. Maka suasana dalam gelanggang mulai tegang mendebarkan hati. Sepasang mata gadis cantik yang jeli itu memancarkan sinar tajam yang aneh, suaranya tajam tandas.

"Silahkan kalian mundur lima tombak jauhnya biarkan benda itu tetap ditempatnya!"

Sungguh tak nyana para gembong iblis yang kejam dan ternama itu ternyata takut dan tunduk betul karena bentakan gadis ini, tanpa merasa mereka mundur teratur perlahan2 tapi mereka masih ndablek tiada seorangpun yang mundur sejauh lima tombak.

Go Bing terheran2 dan tak habis mengerti, tanyanya.

"Bong bian heng, tokoh macam apakah Sian nio itu?"

Siorang berkedok menekan suaranya sedemikian lirih, sahutnya.

"Pek hoat sian nio!"

"Pek hoat sian nio? (dewi rambut putih).

"Benar, Pek hoat sian nio, namanya sudah menggoncangkan dunia kangouw pada 60 tahun yang lampai, selamanya ia jarang muncul didunia persilatan, tentang asal usul atau riwayatnya mungkin tiada seorangpun yang mengetahui!."

"Orang2 yang hadir hari ini adalah tokoh2 lihai yang besar namanya, sungguh tak nyana sedemikian takut mereka terhadap Dewi berambut putih itu...."

"Betapa tinggi kepandaian Pek hoat sian nio susah diukur, gadis itu adalah muridnya kepandaiannya saja agaknya lebih tinggi dan lebih lihay dari siapa saja yang hadir dalam gelanggang itu"

Diam2 Go bing menimang dalam hati.

"Betapa tinggipun kepandaian Pek hoat sian nio itu masa bisa lebih tinggi dari kepandaian Suhu?"

Sementara itu wajah sigadis semakin kaku dingin, suaranya mengancam.

"Apa kaoian sudah dengar omonganku?"

It tjiang toan hun mendadak mengulapkan tangan bersama tjit ou tjiu berempat perlahan2 mereka mundur lima tombak jauhnya, terpaksa Tang hay hi hu, In Hong Lokoay dan Sam Gan Tojin tiga gembok iblis inipun turut mundur tanpa berani banyak mulut.

Sedemikian sunyi dan hening lelap suasana gelanggang pertarungan yang ramai tadi seumpama jarun jatuhpun bisa terdengar, namun demikian dalam keheningan ini terkandung ketegangan hati yang menggetarkan semangat, Bahwa Pek Hoat sian nio benar akan berkunjung dan turut hadir tanpa diundang benar2 diluar dugaan semua orang, apakah tokoh misterius berkepandaian tinggi susah diukur itu juga hendak ikut merebut pedang darah.

Kalau Pek hoat sian nio benar2 mengincarnya maka semua hadirin harus mengalah dan mandah saja barang itu diambil olehnya.

Sebaliknya Go Bing berpikir, peduli apa dewi atau dewa lebih penting aku mencari tahu jejak sipembunuh dengan menggunakan racun itu habis perkara, kalau dalam otaknya dia berpikir begitu segera ia bertindak mendadak tubuhnya melejit tinggi dan menubruk masuk kedalam gelanggang, Siorang berkedok ingin mencegah tapi sudah tidak keburu lagi, dan karena kehadirannya yang mendadak ini membuat semua orang terperanjat serta melihat tegas kiranya hanya seorang muda yang masih hijau pelonco ini, wajah mereka mengunjuk rasa heran dan bertanya2.

Bola mata sigadis cantik berputar2 tergerak hati kecilnya, sebesar usianya itu baru pertama kali ini dilihatnya seorang pemuda yang gagah ganteng mempunyai daya tarik yang meluluhkan hati setiap insan lawannya, hanya sayang sikap gagahnya itu mengandung kecongkakan.

Begitu menginjak tanah dan berdiri tegak Go Bing langsung menghampiri buntalan kain itu tanpa memperdulikan orang lain dihadapannya.

"Behenti!"

Suara si gadis membentak halus. Tanapa diminta lagi Go bing menghentikan langkahnya dan bertanya.

"Ada keperluan apa nona menghentikan aku?"

"Apa yang hendak kau buat?"

"Mengurus pekerjaan!"

"Mengurus pekerjaan apa?"

"Tiada perlunya cayhe memberita kepadamu."

Berobah kelam wajah si gadis, timbul hawa membunuh pada air mukanya.

Sementara itu, sekali berkelebat tahu2 Go Bing sudah menjemput buntalan kain itu ditangannya, kecepatan gerak tubuhnya benar2 membuat semua orang melelet lidah.

Para tokoh silat diluar gelanggangpun tunduk mundur lima tombak jauhnya karena gentar mendengar nama Pek ho sian nio, kini pemuda tak bernama dan masih hijau ini secara terang2an berani merebut barang incaran mereka dalam gelanggang, hal ini merupakan suatu kesempatan bagi semua orang malah mereka dapat mengganggap sipemudah sebagai biang keladi dalam kekacauan yang berani membangkang perintah sidewi rambut putih.

Adalah gadis ayu rupawan itu malah tertegun kaget benar2 diluar dugaannya bahwa sipemuda ini ternyata tidak memandang sebelah mata perintah Pek hoat sian nio.

Maka terdengar In Hong Lokoay memelopori membantak.

"Siaucu letakkan buntalan itu!"

Berbareng tubuhnyapun berkelebat menerjang maju dengan kecepatan seperti angin lesus.

"Kembali! ` diselingi suara bentakan nyaring ini terjangan langsing tubuh sigadis berkelebat tangannya membuat sebuah lingkaran terus disorong kedepan menyongsong kedatangan tubuh In Hong Lokoay yang menerjang tdatang, dan karena dorongan ini tubuh In Hong Lokoay terdampar terbang balik ketempatnya, hampir dalam waktu yang bersamaan Sam Gan Tojin pun sudah menubruk tiba sambil mengayun tangan kanan mengenjet muka Go Bing sedang tangan kiri dengan kecepatn kilat mencengkram kearah buntalan itu.

"Bum!"

Diselingi suara tertahan keras, San Gan Tojin terhuyung mundur sepuluh langkah, dari ujung mulutnya melelah darah segar, suasana diluar gelanggang menjadi gempar.

Bahwa nama dan kedudukan Sam Gan Tojin sangat tenar dan tinggi bukan nama kosong belaka, tapi baru setengah jurus saja telah dapat dikalahkan oleh seorang pemuda yang masih hijau benar2 membuat semua orang sangsi akan penglihat sendiri, apalagi cara bagaimana sipemuda melukai Sam Gan Tojin mungkin hanya beberapa orang saja yang dapat melihat tegas.

Hati sigadispun bukan alang kepalang kejutnya, tahu dia bahwa kepandaian sipemuda ini ternyata sangat mengejutkan, sambil mengusap noktah dara dibibirnya Sam Gan Tojin berseru dengan penuh kebencian.

"Siaucu beritahukan namamu?"

Go Bing menyebut dingin.

"Kalau kau tahu gelagat lekaslah mengelinding jauh sedikit!"

Hitung2 nama Sam Gan Tojin sangat ternama dan sangat disegani dikalangan kangouw, mana kuat ia menahan hinaan ini, apalagi lawannya ini hanya seorang pemuda yang berusia belum lebih dari dua puluh tahun, saking gusar ia membentak keras.

"Siaucu biar kubunuh kau!" ` sambil mengerahkan setaker tenagannya tubuhnya merangsak maju melancarkan pukulannya dengan derasnya. Go Bing ganda tertawa dingin dan membentak.

"Kau ingin cari mampus sendiri!" ` buntalan dipindah ketangan kiri, tangan kananpun membalik dan menyurung kedepan segulung gelombang panas dengan perbawa bagai geledek menyambar bergulung2 mendampar kedepan, maka terdengarlah suara ledakan keras yang memekakkan telinga dan menyedot semangat diselingi teriakan panjang mengerikan menggetarkan seluruh arena pertempuran, ditengah gelombang terpaan angin keras itulah tubuh Sam Gan Tojin terbawa terbang setinggi tiga tombak, mulutnya menyembur darah dan terbanting keras tanpa bergerak lagi. Pukulan Go Bing ini telah menggunakan kepandaian sakti Kiy yang sin kang yang menjagoi seluruh dunia, namun karena selama hidup dan mengembara Sia sin jarang menggunakan kepandaian ini maka semua tokoh silat yang hadir termasuk sigadis, tiada seorangpun tahu kepandaian apa yang telah digunakan oleh sipemuda ini. Wajah gadis baju putih berobah asam, sungguh sukar dibayangkan betapa tinggi kepandaian silat pemuda ini, timbul suatu perasaan yang susah dilukiskan dalam hatinya. Sam Gan Tojin terhuyung2 berdiri perlahan2 dia tinggalkan gelanggang sambil beringsut2. Gerak gerik sigadis baju putih adalah sedemikian lemah gemulai terdengar suaranya tawar bertanya kepada Go bing.

"Bolehkan saudara memberitahukan namamu?"

"Ini.... agaknya tidak perlu!"

"Saudara datang untuk merebut Pedang darah juga?"

"Boleh dikata betul, tapi juga tidak benar."

"Apa maksudmu ini?"

"Tujuan yang penting tidak terletak pada Hiat kiam ini, tapi dari hiat kiam ini akau akan mencari jejak seorang pembunuh."

"Sian nio segera tiba, silahkan saudara letakkan buntalan itu dan menyingkir keluar gelanggang."

Go Bing mendengus dan menyahut dingin.

"Selamanya aku tidak senang diperintah orang lain."

Berobah air muka sigadis baju putih, suranya mengancamg.

"Apa kau dapat berbuat seenakmu disini?"

"Aku bebas melakukan apa yang ingin kuperbuat, tidak percaya, boleh kau coba2"

Suasana dalam gelanggang mencekik leher lagi, kalau kedua muda mudi ini saling gebrak, bakal terjadilah pertempuran yang dahsyat yang jaring terlihat di bulim, siapa yang takkan senang kalau dunia ini aman tentram tanpa perang, adalah daya tarik hiat kiam itu sedemikian besar sehingga susah menarik pikiran tamak untuk tidak memilikinya.

Pada saat itulah sebuah tandu warna hijau mulus berayun2 memasuki gelanggang, tandu sedemikian besar dipukul begitu enteng bagai memikul kapuk dengan cepat sekali dalam sekejap mata tandu itu sudah tiba ditengah gelanggang, kerai didepan tandu tertutup rapat, tidak kelihatan siapa yang duduk didalamnya, keempat orang pemikul tandu itu adalah gadis2 yang masih muda belia dan cantik2 lagi mengenakan seragam hijau mulus.

Sorot mata semua orang tertuju kearah tandu yang baru datang ini, setelah tandu diletakkan ditanah, keempat gadis baju hijau itu berjajar didua pinggir pintu.

Suasana tegang dan seram meliputi seluruh hadirin, air muka sigadis berobah pucat dengan sinar kebencian yang sangat ia melerok kerah Go Bing lalu berpaling dan menghampiri kedepan tandu, tubuh sedikit membungkuk mulutnya komat kamit mungkin tengah melapor keadaan yang terjadi didalam gelanggang ini.

Tanpa merasa berdetak keras hati Go Bing, tidak lama kemudian, gadis baju putih itu memutar tubuh dan maju beberapa langkah terus menggape kearah Go Bing dan berseru "Sian nio mengundang kau mendekat!"

Go Bing tertegun melongo, tanyanya.

"Maksud non adalah aku?"

"Siapa lagi kalau bukan kau!"

Diam2 Go bing membatin;

"justeru aku tidak percaya segala kabar angin itu, Pek hoat sian nio apa segala dapat mengapakan aku? Maka sambil membusung dada dan mengangkat kepala ia maju mendekat dengan langkah lebar kearah tandu itu, diantara jarak delapan kaki dari tandu itu segera salah satu gadis berbaju hijau itu angkat tangan dan berseru.

"Berhenti disitu!"

Go bing menurut menghentikan langkah, dengan kencang ia masih memegang buntalan kain yang diperebutkan itu.

Kerai tandu terbuat dari anyaman butir2 mutiara yang kecil lembut, orang didalam tandu dapat melihat keluar dengan tegas namun orang diluar susah melihat tembus kedalam tandu, dengan sikap angkuh dingin Go Bing menatap pintu tandu, diam2 hatinya berpikir akan kulihat kau dapat berbuat apa terhadapku?"

Lama dan lama kemudian baru terdengar suara lembut halus dari dalam tandu.

"Siapa namamu?"

Tanapa merasa tergerak hati Go Bing, Pak hoat sian nio serasi dengan nama ini tentu dia adalah seorang nenek2 tua yang sudah berambut uban, tapi didengar dari suaranya yang halus nyaring agaknya usianya masih muda, karena itu dengan sikap kaku ia menyahut.

"Aku yang rendah adalah kaum keroco dikalangan kangouw, reasanya tidak perlu menyebut nama apa segala."

"Kau dari perguruan mana?"

"Hal itu aku tidak dapat memberi tahu!"

"Hm, sedemikian congkak dan sombong kau ini?"

"Jauh dari pada sombong dan congkat, karena memang begini tabiatku!"

Keempat gadis baju hijau dipinggir tandu itu bersama mengunjuk rasa heran dan kejut, baru pertama kali ini mereka melihat dan dengar ada orang berani main bantah dengan Sian nio, lagipula nada ucapan Sian nio pun agak berbeda dengan biasanya.

Sejenak Go Bing ragu2 lantas ia balas bertanya.

"Kau adalah Pek hoat sian nio yang disanjung puji oleh dunia persilatan?"

"Ya, benar, kau datang untuk merebut hiat kiam itu?"

"Bukan, harus dikatakan mencari jejak seorang pembunuh!"

"Tapi hiat kiam itu sudah kau rebut?"

"Justeru dari benda inilah aku hendak mencari jejak manusia kejam itu!"

"Apa kau tahu kedatangan semua yang hadir disini justeru hendak merebut benda itu?"

"Itu aku tahu"

"Lalu bagaimana kau hendak menghadapi mereka?"

"Setelah urusanku beres benda ini segera kukembalikan kepada mereka, aku sendiri tidak kepingin memiliki benda pembawa bencana ini."

"Hm, sementara aku dapat percaya ucapanmu itu...."

"Apa kedatangan Sian nio juga hendak merebut hiat kiam ini?"

"Tidak!"

Penyahutan pendek dan tegas ini membuat Go Bing melengak, kalau pek hoat sian nio sendiri berkata bahwa kedatangannya bukan karena hendak merebut hiat kiam, hal itu sudah dapat dipercaya, tapi untuk apa dia datang kemari?

"Nak, kau tidak percaya bukan?"

Panggilan "nak"

Ini membuat tergetar seluruh tubuh Go Bing, baru pertama kali inilah selama hidup ia mendengar orang memanggilnya dengan sebutan itu, maklum selama bercampur dengan suhunya, Sia sin Kho Djing selalu memanggilnya dengan siaucu, sebutan ini menimbulan suatu perasaan ganjil dalam sanubarinya, tapi selang tak lama teringat olehnya kebiasaan watak Sia sin serta tindak tanduknya, maka dengan sikap kaku dingin ia menyahut.

"Apakah panggilanmu itu tidak berkelebihan."

"Eh, apa makmudmu, usia setuaku ini apa tidak boleh panggil kau anak?"

"Dalam dunia persilatan mengutamakan luhur budi dan bijaksana."

Keempat gadis hijau dipinggir tandu lekas2 menutup mulut dengan lengan bajunya, hampir saja mereka tak kuat menahan rasa gelinya. Berhenti sekian lamanya baru Pek hoat sian nio bicara lagi.

"Komentar aneh, boleh dibandingkan dengan Lam sia dahulu."

Go Bing menjadi tidak sabar, serunya.

"Kau memanggil aku kemari, hanya untuk omong beberapa patah kata ini.?"

"Sekarang kau kembalikan buntalan ditanganmu itu kedalam gelanggang."

Go Bing menarik muka, suaranya ketus.

"tidak bisa!"

"Benda itu tiada membawa manfaat bagimu."

"Seperti kukatakan aku hanya mengejar jejak seorang pembunuh dengan benda ini."

"Coba kau ceritakan, mungkin Sian nio dapat memberi sedikit sumber penyelidikan untuk kau!"

Sejenak Go Bing bimbang, akhirnya ia ceritakan juga pengalamannya didalam hutan kecil itu. Nadi ucapan Sian nio tandas dan berat.

"menurut ceritamu itu, memang tidak salah sikorban itu mati karena terkena racun tanpa bayangan, tapi diseluruh jagat ini yang mungkin bisa menggunakan racun tanpa bayangan itu hanya racun utara seorang, dan lagi selain seorang putra yang keliwat dimanjakan racun utara tidak mempunyai seorang muridpun...."

"Maksud Sian nio adalah...."

"Tidak mungkin racun utara campur tangan."

"Dengan bukti apa Sian nio berani memastikan begitu!"

"Menurut martabat dan karakter racun utara ayah beranak, barang apa yang sudah ditangannya tak mungkin dilepas lagi, apalagi benda yang sudah disentuh tangan mereka, tak mungkin orang berani menjamahnya lagi, selain itu juga tidak sedemikian gampang dan murah mereka mau menggunakan racunnya!".

"Maksud pertanyaan saya ialah siapakah orangnya yang menyebar racun itu?"

"Mungkin sukar untuk mencari tahu!"

"namun terang gamblang barang ini berada ditangan orang2 Bwe hoa hwe, tidakkan beres mencari jejak siorang pembunuh ini dari tubuh mereka?"

Pek hoat sian nio tertawa ringan, ujarnya.

"Kau bisa menyesal?"

"Mengapa?"

"Sebab pedang berdarah ditanganmu itu adalah palsu!"

"Palsu?"

Tercetus serusan kaget dari mulut Go bing.

"Ya, memang palsu, maka kusuruh kau melempar kembali ketengah gelanggang."

Otak Go Bing bekerja cepat, setelah itu baru ia membuka lagi.

"tulesn atau palsu tidak menjadi soal, tujuanku yang utama adalah mengejar jejak sipembunuh itu."

"Kau masih hijau dan perbuatanmu ini terlalu semberono."

"Ha, dengan alasan apa kau berkata begitu?"

"Coba kau jelaskan, benda itu direbut orang sebelum adik Siang Siau hun itu keracunan atau setelah keracunan baru direbut orang, kau tahu pasti tidak, lagipula hanya Pak tok Tang bun Lu ayah beranak yang dapat menggunakan racun tanpa bayangan itu, merekapun tidak sembarangan menggunakan racun, dengan kepandaian silat racun utara anak beranak untuk menghadapi non sian itu kalau dia sampai menggunakan racun apakah tidak menimbulkan cercaan dan tertawaan orang bulim, bwe hwa bwe memamerkan pedang berdarah palsu, apakah tujuannya belum dapat diketahui, tapi menurut apa yang kita hadapi ini, kalau pedang berdarah ini adalah tulen, betapa banyak tokoh2 silat lihat yang terhimpun dalam bwe hwa hwe tentu mereka takkan tinggal diam barang yang sudah menjadi milik mereka diperebutkan orang banyak."

Analisa panjang lebar ini membuat Go bing bungkam seribu bahasa, sekali ayun ia lemparkan buntalan kain itu ketempat asalnya, perbuatan diluar dugaan ini membuat semua orang yang hadir melongo heran dan garuk2 kepala, sebab mereka tidak tahu apa yang telah dipercakapkan Pek hoat sian nio dan sipemuda aneh yang berkepandaian hebat ini.

Setelah merandek sejenak Pek hoat sian nio bicara lagi "

Sekarang kau boleh undurkan diri!"

Sekali berkelebat tubuh Go bing melayang mundur lima tombak jauhnya. Gadis baju putih melangkah cepat kearah tandu, setelah mendengarkan apa2 terus memutar tubuh dan bicara lantang .

"Sian nio mempersilahkan Tang hay hi hu dan Im hong Lokoay berdua maju menjawab pertanyaan."

Setelah saling berpandangan heran, berbareng Tang hay dan Im Hong melangkah maju kedepan tandu, entah apa yang dikatakan oleh Sian nio, yang jelas setelah mendengar, Tang hay dan Im Hong berseru kaget berbareng tubuhnya sempoyongan mundur begitu memutar tubuh terus melejit jauh hendak melarikan diri....

Kerai mutiara yang menjulai turun didepan pintu terbuka sedikit lalu menutup kembali, dibarengi suara jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma, tubuh Tang hay dan Im Hong yang terbang tinggi terlempar jatuh bersama terus tak bergerak lagi, mati.

Dua gembong iblis durjana bergelimpangan mati didepan tandu, kenapa Pek hoat sian nio menamatkan jiwa kedua orang ini tiada seorangpun yang tahu, semua hadirin berobah air mukanya kuatir dan takut2, siapa tahu ancaman elmaut itu juga akan menimpa dirinya atau orang2 jahat lainhya?

Rasa ketakutan dan bayangan mau tercekam dalam benak masing2 bahwasannya nyawa adalah sangat berharga, dalam keadaan ada sedikit kesempatan menyelamatkan diri ini, banyaklah gembong2 silat itu yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu secara diam2 dan sembunyi2 mereka pergi.

Siapa berani mencabut gigi dimulut harimau, merebut benda yang telah diincar oleh Sian nio kematianlah hadiahnya.

Dalam pada itulah terdengar sigadis baju putih mendadak berseru lantang.

"Kawan2 dari Bwe hwa hwe, perhatikan! Sampaikan kepada ketua kalian, bahwa tipu muslihat kalian gagal total, cara bekerja mencuri kelintingan menutupi telinga adalah menipu diri sendiri dan sangat menggelikan."

Karena dikorek borok dan akal liciknya, It tjian toan hun Tjiu Eng lian bersama para kerabatnya dari Bwe hwa hwe merah jengah dan malu luar biasa, sikapnya kikuk dan serba runyam.

Keempat gadis baju hijau itu segera memikul tandu dan tinggal pergi dengan cepat bagai terbang, sedang buntalan yang diperebutkan tadi masih tetap berada diatas tanah dan tiada orang yang mau menyentuhnya lagi.

Sebelum pergi sepasang bola jeli sigadis baju putih melirik kearah Go Bing sambil unjuk senyum menggiurkan, namun hati Go Bing tetap membeku bagai tak berperasaan, dalam hati ia tengah membatin.

"bahwasannya Pek hoat sian nio siang2 sudah tahu kalau peang berdarah itu adalah palsu, mengapa ia datang dan unjukan diri juga, malah sekaligus ia bunuh juga Tang hay hi hu dan Im Hong Lokoay?" ~ Lalu apa pula tujuan Bwe hwa hwe memancing dengan pedang darah palsu untuk menimbulkan perebutan dan pertempuran yang menimbulkan banyak korban ini? Siapa pula sipembunuh yang menurunkan tangan jahatnya kepada Siang siau moay dan Li Bun siang? Mendadak teringatlah sebuah persoalan lainnya, tanpa merasa ia tertawa geli sendiri. Hanya percaya pada sedikit cerita Siang Siau hun yang kurang jelas itu lantas dirinya bertindak serampangan menganggap buntalan kain ini adalah benda yang dititipkan kepada mereka itu, benar2 terlalu ceroboh dan semberono. Pendapat Pek hoat sian nio ternyata sangat tepat dan persis benar dengan uraian si orang berkedok, racun utara Tang bun Lu ayah beranak tidak mungkin turunkan tangan jahatnya, akan tetapi racun tanpa bayangan itu hanya terdapat dari satu aliran ini tanpa ada cabang atau orang lain yang pandai menggunakan hal inilah yang menjadi teka teki dan susah dipecahkan. Go Bing berdri melongo tenggelam dalam pikirannya, tidak diketahuinya bahwa semua hadirin sudah menghilang tanpa kelihatan bayangannya lagi, lalu timbullah suatu keingin aneh dalam benaknya, meski benda ini palsu mengapa aku tidak coba membuka dan memeriksanya maka segera ia membungkuk membuka buntalan kain itu, kiranya yang terbungkus itu sebuah kotak kayu gepeng sepanjang satu kaki lebih, perlahan2 dibukanya tutup kotak itu ternyata didalamnya terletak sebilah pedang kecil panjang satu kaki selain gagaknya panjang batang pedang kecil itu tidak lebih dari enam dim. Hati2 dilolosnya pedang kecil itu dari sarungnya seketika secarik sinar merah marong memancar keluar menembus ketengah udara, pada saat itu juga terdengar seorang berseru kejut dibelakangnya, cepat2 Go Bing memasukkan kembali pedang kedalam sarungnya lalu perlahan2 memutar tubuh, kiranya siorang berkedoklah yang berseru kaget tadi.

"Saudara kecil, mari kita bicara dalam hutan?"

Dengan rasa heran dan tak habis mengerti Go Bing memandang bayangan si orang berkedok, setelah menjemput kain buntalan itu diapun mengikuti jejak orang masuk kedalam rimba.

"Saudara kecil, keadaan ini sangat ganjil dan perlu disangsikan."

"Mengapa?"

"Mungkin pedang berdarah ini adalah tulen!"

"Apa benar? kurasa tak mungkin, bahkan Pek hoat sian nio juga mengatakan bahwa benda ini adalah palsu, sampaipun para tokoh2 lihai dari Bwe hoa hwepun tinggal pergi tanpa ambil perhatian lagi, bagaimana bisa...."

"Justeru disitulah sebab musabab keganjilan itu"

"Aku tidak habis mengerti."

"Kalau pedang ini palsu mana bisa memancarkan sinar terang yang merah marong itu, harus kau ingin Hiat Kiam merupakan benda keramat yang berharga siapapun belum pernah ada yang melihat, tulen atau palsu susah dibedakan, lebih baik jangan kau buang, simpanlah untuk sementara waktu, siapa tahu kelak ada gunanya."

Tawar2 Go Bing mengiyakan, ucapan siorang berkedok tidak masuk dalam perhatiannya, tapi akhirnya ia masukkan pedang berdarah itu kedalam kotak dan dibungkus lagi lalu disimpan dalam bajunya.

"Banyak kejadian didunia ini sukar dijelaskan dengan alam pikiran yang sehat, untuk kedua kalinya pedang berdarah muncul dipuncak Tian tjong san terjatuh ditangan Tang mo (iblis timur), cara bagaimana sampai terjatuh ketangan Mosan ji kui tidak dapat diketahui, pendek kata segala kemungkinan bisa terjadi!"

Demikian kata si orang berkedok.

"Akan tetapi dimana letak keanehan dan betapa tinggi harga pedang berdarah ini?"

"Mana dapat diketahui, menurut kabarnya bila siapa dapat memiliki pedang berdarah lantas dapat menemukan se

Jilid kitab pelajaran silat yang tiada taranya, setelah dapat melatih sempurna akan tiada lawannya diseluruh dunia." -oo0dw0oo-

Jilid 2 5.

S1APAKAH AKU INI?

Go Bing semakin bingung dan pepat pikiran, berbagai peristiwa yang beruntun terjadi ini benar2 merupakan teka-teki yang susah dipecahkan olehnya.

Teringatlah akan tugas yang dibebankan oleh Suhunya, jaitu harus memenggal ke-pala Tiang-un Suseng, kenyataan bahwa Tiang-un Suseng sekarang sudah mati, maka ia harus segera kembali melaporkan hal ini dan minta petunjuk sang guru selanjutnya.

Tentang kematian Siang Siau-moay dan Li Bun-siang terpaksa ia harus menunda sementara waktu, biar kelak dilanjutkan lagi penyelidikan ini pada lain kesempatan.

Karena pikirannya ini segera ia berkata kepada siorang berkedok.

"Siaute masih banyak urusan yang harus dikerja-kan, terpaksa kita harus berpisah untuk sementara waktu!"

Dengan rasa berat siorang berkedok berkata.

"Apakah memerlukan tenagaku untuk membantu?"

"Terima kasih, rasanya tidak perlu!"

"Ya, kuharap tidak lama lagi kita dapat bertemu pula!"

Sekali melompat tinggi Go Bing melesat keluar dari dalam rimba terus berlari kembali mengikuti jalan besar.

Hari kedua tibalah dia digua tempat kediaman Gurunya, waktu memasuki gua tiada terdengar bentakan gurunya yang sudah kebiasaan itu, hatinya berdetak tidak tenteram, langkahnya dipercepat memburu masuk, terlihat gurunya tengah duduk menggelendot dinding, mata tunggalnya sudah kehilangan sinar murni yang biasa menjedot semangat orang.

"Kau sudah kembali?"

Suaranya kedengaran sangat lelah. Go Bing menyahut hampa.

"Kau.... bagaimana kau orang tua?"

"Aku sudah tak kuat lagi, kau kebetulan kedatanganmu ini."

"Apa, apa kau mengalami sesuatu?"

"Bagaimana tugasmu? "

"Tiang-un Suseng sudah mati bunuh diri."

"Bunuh diri, mana batok kepalanya?"

"Murid.... eh, aku hanya melihat kuburannya."

Mata tunggal Sia-sin Kho Jiang membelalak besar, serunya tergetar .

"Darimana kau ketahui bahwa dia mati bu-nuh diri?"

"Kebetulan kujumpai seorang sahabatnya yang sembahyang dikuburannya, dari mulutnyalah kuketahui."

"Hm, kepandaian dan kecerdikan Tiang-un Suseng merupakan pentolan diantara sepuluh kawannya, Bunuh diri? Apa kau melihat sendiri jenazahnya?"

Go Bing menggeleng kepalanya.

"Kau harus mengeduk kuburannya untuk mengetahui kebenarannya. Kematian Ci Khong sigundul itu, cukup membuat para kurcaci ini waspada, mereka tidak akan sayang menggunakan segala akal muslihat demi keselamatan jiwa-nya sendiri. Siaucu, dulu waktu Lohu dicelakai sebelumnya telah keracunan oleh mereka, untung mengandal Sian-thian-sin-kang aku masih dapat melindungi nadi jantungku, sehingga tidak segera mati. Sekarang racun itu sudah luber dan menjalar semakin dalam, Lohu sudah tidak lama dapat hidup lagi."

Rambut dan jenggot Sia-sin Kho Jiang ber-gerak2, dia tengah paksakan diri unjuk bicara, tangannya bergoyang cepat, katanya.

"Dengar kataku, dua puluh tahun yang lalu dipuncak Sin-li-hong (puncak dewi suci) digunung Bu-san, aku disergap oleh tujuh orang diantara "Bui lim-sip-yu"

Yang kenamaan didunia persilatan.

Dalam pertempuran itulah baru kuketahui bahwa sebelumnya aku telah dibokong, tubuhku terkena racun yang amat berbisa kepandaianku sudah susut separoh lebih, untung saat itu aku dapat melindungi nadi dan jalan darah terpenting menggunakan Kiu yang-sin-kang, untuk sementara aku dapat mencegah racun itu supaya tidak menjalar karena aku hanya bertempur seru...."

Mendengar sampai disini, saking tegang jantung Go Bing berdetak cepat darahpun bergolak dalam tubuhnya. Berhenti sejenak lalu Sia-sin Kho Jiang melanjutkan ceritanya lagi.

"Betapa gusar dan benci Lohu waktu itu maka sewaktu turun tangan akupun tidak kepalang tanggung lagi, sekaligus kulukai lima diantara mereka, tapi karena tubuh keracunan tenaga murni susah dikerahkan lagi, maka aku mandah dikorek sebuah mataku dan dikutungi kedua kakiku terus dibuang kedalam jurang dipuncak Dewi suci...."

Sepasang mata Go Bing-merah membara beringas. napaspun memburu cepat. Setelah napasnya yang memburu tenang kembali, Sia-sin kho Jiang melanjutkan lagi.

"Untung Tuhan maha pengasih jiwa Lohu belum tiba ajal, aku tersangkut diatas pohon2 jalar dan tertolong oleh seorang penebang kayu, setelah susah payah secara sembunyi2 aku menyingkir dan mengumpet di jurang Tiam-cong-san ini. Teringat olehku akan keadaan pertempuran hari itu baru aku insaf bahwa biang keladi semua peristiwa ini kiranya adalah Suhengmu Loh Cu-gi itu, tidak kau jangan pandang dia sebagai Suheng, kau belum resmi menjadi muridku. Binatang rendah itu waktu itu juga turut hadir, namun dia hanya menggendong tangan menonton saja"

"Loh Cu-gi?"

"Ya, Benar, apa kau pernah dengar jejaknya di kalangan Kangouw"

"Konon empat belas tahun yang lalu setelah dia merebut kedudukan tokoh silat nomor satu dari seluruh jagad ini terus menghilang tanpa meninggalkan jejak".

"Kau harus cari dia sampai ketemu, dan bunuh serta cacah hancur tubuhnya."

"Baik, pasti akan kulakukan."

"Oleh karena itulah, dulu Lohu bersumpah untuk tidak terima murid lagi seumur hidup. Selain Ci Khong Hwesio, Tiang-un Suseng, masih ada lima kurcaci lainnya "

"Siapakah kelima kurcaci itu?"

"Lo-san-siang-kiam. Leng Hun seng ciangbunjin Ceng-sengpay, Ngo-ouw Pangcu Coh Pin dan Goan Hi dari Siau-lim".

"Akan selalu kuingat kelima kurcaci ini!"

Geram Go Bing. Sejenak Sia-sin Kho Jiang pejamkan mata untuk istirahat, lalu katanya lagi.

"Siaucu, latihan kiau-yang-sin-kang mu baru mencapai tingkat keempat, pasti kau bukan tandingan Loh Cu-gi murid durhaka itu"

"Dia sudah melatih sampai tingkat keberapa?"

"Mungkin sudah sampai tingkat kesepuluh!"

Go Bing melonjak kaget, serunya.

"Tingkat kesepuluh Bukankah lebih tinggi dua tingkat dari kau orang tua sendiri?"

"Latihan bajingan durhaka itu sebenarnya sudah men-capai tingkat keenam, setelah aku celaka, dia mencuri se

Jilid Kiu

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/ yang-cin-keng dan sebutir Kiu-coan-hoan-yang cau-ko yang kuperoleh secara kebetulan"

Suma Bing tertegun heran memandangi wajah Suhunya, dia belum pernah dengar perihal Kiu-coan-hoan-yang-cau ko segala. Setelah istirahat sekian lamanya, Sia-sin Kho Jiang ber kata lagi.

"Sebutir Kiu-coan-hoan-yang-cau-ko kiranya cukup membantu untuk melatih Kiu-yang-sin-kang sampai tingkat kesepuluh. Di seluruh jagad pada saat ini mungkin tiada seorangpun yang kuat melawannya, agaknya Lohu harus membawa dendam nestapa ini kealam baka!"

Kata Suma Bing penuh haru dan sedih.

"Apa benar2 tiada tandingan di seluruh jagad?"

"Ada, selain...."

"Selain apa?"

"Kecuali mendapat....ai, tidak mungkin, angan kosong belaka."

"Cobalah kau terangkan!"

"Hiat-kiam Mo-hoa!"

Kedua mata Suma Bing memancarkan sinar aneh, kata-nya gemetar.

"Hiat-kiam Mo-hoa?"

"Benar carilah Pedang berdarah dan Bunga Iblis. Dua benda mestika di Bu-lim, bila siapa mendapatkannya dapat melatih suatu ilmu silat tiada taranya di seluruh kolong langit ini."

"Pedang berdarah...."

"Bagaimana?"

"Tanpa sengaja aku mendapatkan sebilah pedang, namun entah tulen atau palsu!"

"Mata tunggal Sia-sin membelalak bundar besar, bibirnya tergetar sampai sekian lamanya baru tercetus perkataannya.

"Coba kulihat"

Lekas2 Go Bing merogoh kantong mengeluarkan pedang berdarah itu, dengan kedua tangannya ia angsurkan kehadapan Suhunya.

Cepat2 Sia-sin Kho Jiang menyambut dan terus melolosnya keluar, seketika sinar merah marong mencorong keluar menyilaukan mata dan menerangi seluruh Ruangan.

"Siaucu, ambil secawan air."

Sebentar Go Bing memandang Suhunya penuh kecurigaan lalu berlari mengambil secawan air. Sia-sin merendam ujung pedang kedalam air dan tak lama kemudian lantas membantingnya diatas tanah, serunya.

"Palsu!"

"Palsu? Darimana kau orang tua berani memastikan"

"Pedang berdarah yang tulen direndam dalam air bisa berobah menjadi darah, itu berarti kalau pedang berdarah Itu tulen maka air dalam cawan itu segera berobah menjadi darah!"

"O, direndam menjadi darah!"

"Siaucu....kau harus mendapatkan Pedang berdarah dan bunga iblis bunuh "

Tubuh Sia Sin Kho Jiang yang renta loyo semampai didinding batu.

"Suhu, kau...."

"Siaucu, sesudah kau menyelesaikan tugas yang belum terlaksana itu kau boleh kuijinkan menjadi muridku...."

Go Bing maju memayang tubuh Suhunya yang sudah lebih lunglai, tak tertahan air mata membanjir keluar, siorang tua aneh yang membesarkan dirinya ini agaknya sudah kehabisan tenaga seumpama pelita kehabisan minyak atau pohon yang sudah keropos tinggal menunggu waktu saja.

Lam-sia salah seorang tokoh yang terkenal lihay kepandaiannya dan aneh sifatnya, akan mengakhiri hidupnya yang telah menggemparkan dunia secara diam2!

"Suhu....

eh tidak dapatkah kau orang tua menceritakan sedikit perihal asal usulku?"

Terbangun semangat Sia-sin. dengan susah payah ia berkata.

"Sudah tentu Lohu harus memberi tahu kepadamu. Lima belas tahun yang lalu, diluar gua kudengar dipuncak bukit terdengar suara pertempuran yang gegap gumpita, dua jam kemudian kau melayang jatuh dari puncak bukit itu, dan kebetulan dapat Lohu-tangkap hanya kebetulan saja, atau mungkin kau sudah hancur lebur terjatuh diatas batu2 gunung itu. Kau saat itu mungkin tidak lebih berumur tiga tahun, napasmu sudah berhenti, untung nadi jantungmu masih belum putus, tulang igapun patah lima seluruh urat nadi tergetar putus...."

Tubuh Go Bing terasa membeku, giginya berkereotan saling beradu.

"Didepan dadamu masih terdapat sebuah luka lagi, terpaut setengah dim menembus jantung. Selamanya Lohu tidak percaya akan adanya nasib, itu hanya kebetulan saja, kebetulan! Terkecuali ilmu Kiu-yang-sin-kang Lohu, seluruh jagad ini tiada seorangpun yang dapat menarik kembali nyawamu yang sudah dipinggir jurang kematian...."

Go Bing semakin tenggelam dalam lamunannya. Teringat olehnya akan cerita tentang perihal pedang berdarah. Menurut cerita siorang berkedok; lima belas tahun yang lalu "Hiat-kiam"

Muncul lagi didunia persilatan untuk ketigakalinya.

pemiliknya adalah Su-hey-yu-hiap Suma Hong suami-isteri.

Lantas terjadilah pertempuran besar2an dipuncak kepala harimau digunung Tiam-coang-san, dibawah kepungan dan keroyokkan beratus gembong2 silat dari aliran putih dan hitam, Suma Hong suami-istri bersama anaknya yang baru berumur tiga tahun semua mati mengenaskan!

Waktu dan alamat peristiwa itu semuanya cocok satu sama lain, apa tidak mungkin kalau dirinya ini adalah titisan anak kecil itu?

Ja, takkan salah lagi pasti aku inilah anak yang dilempar kedalam jurang dan secara kebetulan telah ditolong oleh Suhu.

Itu berarti bahwa dirinya adalah keturunan Suma Hong, jadi ia harus she Suma juga.

Terbayanglah mayat bergelimang diantara merah darah yang susah dikenal lagi didepan matanya.

Ayahnya Su-hay-yu-hiap Suma Hong dan ibunya San-hoat-li Ong Fang-Ian bertempur mati2an sampai titik darah penghabisan dikepung sekian banyak tokoh silat, akhirnya menemui ajal dan pe-dang berdarahpun direbut orang.

"Pedang berdarah"

Sudah seharusnya menjadi milik warisan orang tuanya, seumpama harus mengorbankan jiwanyapun harus kurebut kembali.

"Bunuh! Biar darah mengalir, biar jiwa melayang tapi jiwa para pengerojok itupun harus dicabut."

Lama dan lama sekali ia berteriak2 histeris bagai orang gila.

Sebuah helaan napas berat memulihkan kesadarannya, waktu ia menunduk hampir2 ia jatuh kelengar saking kaget sebab Suhunya atau berarti juga penolong jiwanya, sudah berhenti bernapas, kepalanya terkulai didepan dadanya.

ia meninggal dalam pelukannya!.

Lama dan lama sekali seakan dia kehilangan perasaan, kedua matanya kuju dan redup memandang ke Iangit2 gua.

Saking bersedih dia tidak bisa menangis juga tidak mengalirkan air mata, Sungguh mengenaskan kematiannya ini, namun lebih sengsara dengan penderitaan hidupnya ini.

Dari terang keadaan dalam gua menjadi gelap, dan dari gelap menjadi terang lagi.

Itulah pagi hari pada hari kedua.

Kedua matanya penuh tergenang air darah, terbayang suatu pikiran menggila dalam benaknya; Bunuh, ja, bunuh!

Diangkatnya jenazah Suhunya lalu diletakkan di tengah2 gua lalu dia berlutut dan berdoa.

"Suhu, sewaktu kau hidup kau melarang aku menganggapmu sebagai guru, namun hakekatnya aku adalah muridmu. Sekarang aku akan memanggilmu demikian, budi mengasuh aku hingga besar selama lima belas tahun, muridmu bersumpah akan memberantas habis mereka itu untuk membalas budimu, Suhu, istirahatlah dengan tenang, harap dialam baka kau mendapat tahu dan melihat muridmu pasti akan melaksanakan tugas dan angan2mu yang belum selesai itu."

Baru sekarang dia bisa menangis ter-gerung2, hingga lama sekali baru ia menghentikan tangisnya, sekali lagi dipandangnya jenazah Suhunya, dengan rasa pedih dan berat terpaksa ia tinggal keluar dan menutup mulut gua dengan batu2 besar dan rumput2 kering untuk menutupi jejak.

Setelah itu dikembangkannya ilmu ringan tubuhnya yang hebat berlarian cepat menuju kepuncak Hou-thau-hong.

Tampak olehnya di mana2 diatas tanah berserakan tulang2 manusia yang tidak lengkap, rumput liarpun sudah tumbuh tinggi.

Kedua matanya mengembeng air mata, karena di antara sekian banyak tulang2 itu ada kerangka ayah-bundanya.

Tapi cara bagaimana dirinya dapat mengenali?

Rasa dendam dan benci sudah mencekam dalam hatinya.

Akhirnya terpaksa ia turun gunung, sepanjang jalan dia sudah mengatur segala rencana untuk melaksanakan sumpahnya itu.

Nama2 para musuh yang ikut menganiaya Suhunya sudah tercatat dan dapat dihitung, tidaklah sukar untuk melak-sanakan tugasnya itu menurut catatan itu.

Terutama si durjana yang harus dicarinya adalah Suhengnya Loh Cu-gi yang telah menghianati perguruan dan perancang segala; peristiwa penganiayaan itu, konon setelah merebut simbol sebagai jago nomor satu di seluruh jagad ini ia menghilang sejak empat belas tahun yang lalu, terpaksa dia harus perlahan2 dan sabar serta tahan uji untuk mencari jejaknya.

Bersama itu teringat olehnya ucapan gurunya sebelum ajal bahwa Loh Cu-gi telah mencuri se

Jilid buku Kiu-yang-sin-kang dan sebutir Kiu-coan-hoan-yang-cau-ko yang susah dicari keduanya.

Ilmu Kiu-yang-sin-kang itu mungkin sudah dilatihnya sampai pada tingkat kesepuluh, masih lebih tinggi dua tingkat dibanding Suhunya, sudah tentu dirinya bukan tandingan orang.

Benar, kecuali memiliki Pedang berdarah dan Bunga iblis, tapi apakah itu mungkin bisa terjadi!

Konon Hiat-kiam berada ditangan "iblis timur"

Cara ba-gaimana bisa beralih ditangan Mo-san-ji-kui?

Susah diduga.

Berapa banyak musuh2 besarnya termasuk yang turut ber-tempur di puncak Hou-thau-hong digunung Tiam-cong-san pada lima belas tahun yang lalu, yang terang "iblis timur"

Adalah salah seorang dari mereka itu, kalau dapat menemukan Iblis timur pasti dapat mengejar jejak musuh2 besar lainnya.

Teringat akan Tang mo, dingin dan bekulah hati Go Bing, nama iblis ini sejajar dengan Suhunya Lam-sia, betapa tinggi kepandaiannya dapatlah dibayangkan.

Sekarang tugas utama yang harus diselesaikannya yaitu membuktikan apa benar Tiang-un Suseng sudah mati atau hanya pura2 mati.

Tidak perlu disangsikan, karena kematian Ci Khong, begitu mendengar berita ini para kawan2nya yang ikut dalam pengeroyokan dulu itu pasti sudah melarikan diri atau sudah pura2 meninggal dunia.

Selama satu hari satu malam melakukan perjalanan, akhirnya ia sampai juga didepan kuburan Tiang-un Suseng.

Sejenak ia ragu2, achirnya diangkat juga tangannya perIahan2 hendak dibongkarnya kuburan dihadapannya ini untuk membuktikan kecurigaan hatinya, di saat ia mengerahkan tenaga dan hendak menghantamkan tangannya itulah tiba2 terdengar bentakan nyaring.

"Perbuatan tuan ini terlalu keji."

Sungguh kejutnya bukan kepalang, memang luar biasa bahwa ada orang menggeremet tiba disampingnya tanpa diketahuinya.

Terpaksa ia tarik pulang tangannya dan membalik tubuh secepat kilat, waktu ia angkat kepala memandang kedepan tanpa merasa dia berdiri melongo.

Karena orang yang buka suara tak lain tak bukan adalah gadis baju putih murid Pek-hoat-sian-nio itu.

Bahwa sigadis baju putih ini mendadak muncul disitu benar2 diluar dugaannya.

"Apa tuan hendak membongkar kuburan dan menghancurkan jenazah?"

"Membongkar kuburan memang benar, tapi belum tentu menghancurkan jenazah!"

"Mengapa?"

"Untuk membuktikan kebenaran orang dalam liang kubur itu."

"Inilah aneh, masa orang mati ada tulen atau palsu?"

"Itu kan urusanku sendiri!"

"Apakah tuan bermusuhan dengan Tiang-un Suseng?"

"Benar, memangnya kenapa?"

"Orangnya mati permusuhanpun ludas, bukankah perbuatan tuan ini keterlaluan?"

"Itu bukan urusan nona"

Bola mata sigadis berputar lalu mengunjuk senyum manis, ujarnya.

"Tak perlu memperpanjang urusan ini, aku....aku bernama Ting Hoan, bolehkah aku mengetahui nama tuan yang besar?"

Bahwa tanpa diminta sigadis baju putih ini langsung memperkenalkan diri membuat dia melengak heran, hatinya membatin.

Sekarang asal usulku sudah terang namun aku punya she tak punya nama, untuk mengenang guru tercinta baiklah aku mengambil nama pemberian Suhu jaitu "Go Bing"

Dipetik huruf "Bing"nya. Maka lantas sahutnya dingin.

"Aku yang rendah Suma Bing."

"Suma Bing?"

"Apa saudara pasti harus membongkar kuburan ini?"

"Terpaksa harus kulakukan."

"Selama hidup Tiang-un Suseng Poh Jiang banyak melakukan kebaikan dan banyak menanam budi terhadap kalangan tertindas, sebenarnya ada permusuhan besar apakah dengan saudara?"

"Untuk hal ini lebih baik nona Ting jangan banyak tanya."

"Tapi aku juga harus mengetahui?"

Berobah wajah Suma Bing (Go Bing sudah merobah na-ma aslinya) desaknya.

"Lalu apa maksud nona Ting?"

Ting Hoan sigadis baju putih membasut rambut dikeningnya yang terhembus angin seraya berkata.

"Sebab Tian un Suseng berhubungan erat dengan perguruanku."

"Hubungan apa, itu?"

"Untuk hal itu kaupun tidak perlu mengetahui."

Suara Suma Bing semakin kaku ketus.

"Kalau aku tetap harus melakukannya?"

Ting Hoan menarik muka wajahnya berobah mengelam.

"Suma Bing, ada salah apa jenazah itu terhadap kau, mengapa harus kau bongkar kuburannya, kecuali...."

"Bagaimana?"

"Kecuali aku sudah kehilangan tenaga untuk merintangi perbuatan gilamu itu, atau jangan harap keinginan edanmu itu bisa terlaksana."

"Jadi maksud nona memaksa hendak berkelahi dengan aku?"

"Mungkin kalau terpaksa."

Otak Suma Bing berputar cepat.

Sudah tentu dia harus mematuhi perintah gurunya, bila perlu seumpama mesti bermuusuhan dengan Pek-hoat-sian-nio pun akan ditandangi, asal seorangpun musuh perguruan tidak sampai lolos dari kematian.

Dalam geramnya tanpa banyak bicara lagi mendadak ia angkat kedua, tangannya terus menghantam sekuat tlenaga, gelombang tenaga dalam bagai gugur gunung segera melanda menerjang kearah kuburan Tiang-un Suseng.

"Tahan!"

Berbareng hardikan ini, sebelah tangan Tin Hon pun diayun, dari samping angin pukulan bagai angin badai menerjang kedepan, ditengah suara banturan mengeledek yang menggetarkan bumi kedua orang ini masing2 tersurut mundur satu langkah lebar, masing2 terkejut atas kekuatan lawannya.

Suma Bing mendengus sekali lalu berkata ""Apa nona benar2 hendak merintangi perbuatanku?"

"Bukankah sudah kukatakan sejak tadi?"

"Kalau begitu jangan kau salahkan aku karena berbuat kejam"

Dalam ber-kata2 itu wajahnya penuh terselubung hawa membunuh.

Tanpa merasa kecut hati Ting Hoan, betapapun dia tidak ingin bertempur mati2an terhadap lawannya ini.

Akan tetapi bagaimanapun dia tidak mengijinkan orang merusak kuburan Tiang-un Suseng.

Selain itu, sebagai murid tersayang Pekhoat-sian-nio yang ditakuti dan disegani oleh seluruh kaum persilatan mana boleh mengunjuk kelemahan dihadapan orang, segera dengan galaknya ia maju mendesak dua langkah sambil menantang.

"Boleh kau coba2-"

"Baik, sambutlah ini!"

Seru Suma Bing dingin, sekaligus lancarkan tiga kali serangan berantai, betapa kuat dan dahsyat pukulannya ini sungguh mengejutkan dan menggetarkan sukma.

Cepat2 tangan Ting Hoan berputar membuat sebuah garis lintang sambil menggeser kedudukan kaki kearah kiri untuk memunahkan hamparan angin pukulan musuh disamJ ping itu juga dikirimnya sebuah pukulan menggeledek yang tidak kalah hebatnya.

Terjadilah pertempuran seru yang jarang terjadi didunia persilatan, kepandaian silat masing2 boleh dikata sudah mencapai tingkat tertinggi masing2 lancarkan ilmu2 lihay dari perguruannya, sebab yang satu adalah murid Lam-sian yang sudah kenamaan sifat dan ilmu silatnya, dan yang lain adalah murid Pek-hoat-sian-nio tersayang yang sudah menggetarkan Bulim pada enam puluhan tahun yang lalu, untuk menjaga nama baik perguruan maka masing2 keluarkan simpanan kepandaian perguruan yang paling ampuh dan digdaja.

Angin disekitar gelanggang pertempuran berputar demikian dahsyat dan deras bagai angin lesus sehingga debu membumbung tinggi keangkasa.

lima tombak sekitar gelanggang dahan dan daun pohon berguguran.

Dalam sekejap mata keduanya sudah bertempur lima puluh jurus, dan masih belum kelihatan pihak mana yang bakal unggul atau asor.

Tiba2 terdengar teriakan nyaring melengking, mendadak Ting Hoan merobah permainan silatnya, sekaligus ia pertunjukkkan lima perobahan gerakan pelajaran tunggal perguruannya hingga seketika bayangan pukulan berkelebatan bagai bayangan gunung dan rapat tiada sedikit lobangpun, selayang pandang seperti puluhan kepalan berbareng melancarkan serangan yang dapat menambal langit dan menutup bumi merangsang kearah Suma Bing.

Bercekat hati Suma Bing terpaksa iapun harus bergerak cepat melindungi seluruh tubuh dengan rapat sekali.

Sekonyong2 tubuh Ting Hoan jumpalitan mundur delapan kaki jauhnya, hal Ini membuat Suma Bing terheran2, dan tengah Suma Bing terlongo itulah tubuh Ting Hoan sudah merangsak maju lagi secepat kilat, lima buah jarinya menjentik beruntun, maka lima jalur angin kencang yang tajam dengan suaranya yang memekakkan telinga melesat bagai geledek, tidak sampai disitu ia bergerak, tangan kiripun menyusul kirim sebuah hantaman dahsyat juga.

Serangan kali ini bukan saja hebat juga sangat aneh, seakan2 lambat namun sebenarnya cepat luar biasa.

Tergetar keras jantung Suma Bing, sebat luar biasa tubuhnya berkelebat menghindari serangan jari lawan, berba-reng tangan kanan didjodjohkan kedepan menyambuti serangan tangan kiri musuh, cara geraknya luar biasa, cepat dan perobahan gerak tubuhnya benar2 membuat siapa yang melihatnya merasa kagum dan melelet lidah.

Pada detik sebelum kedua pukulan mereka saling bentur itulah, tiba2 Ting Hoan unjukkan kepandaiannya yang luar biasa, hakekatnya kedua pukulan itu pasti dan tentu akan saling bentur tetapi dahsyatnya justru kali inilah Ting Hoan unjukkan kemampuannya diluar kemampuan orang lain, begitu tangan bergerak berputar membuat satu lingkaran, tenaga dalam bagai gelombang badai melanda keluar dari telapak tangannya terus menerjang maju.

"Blang"

Disertai suara tertahan yang keras.

Kontan Suma Bing tergetar mundur tiga langkah, darah segar hampir menyembur keluar dari mulutnya.

Tapi tenaga tolakan dari pukulan Suma Bing juga membuat Ting Hoan tergetar bergoyang gontai.

"Suma Bing, kita sudahi sampai disini saja, janganlah memperpanjang persoalan itu lagi, bagaimana?"

"Tidak mungkin terjadi"

"Jikalau pukulanku tadi kutambah lagi tiga bagian tenagaku, kau dapat membayangkan akan akibatnya?"

"Jadi Itu berarti kau sudah menanam budi atas keselamatan nyawaku?"

"Buat apa kita harus bertempur mati2an!"

"Aku Suma Bing tidak sudi terima belas kasihanmu, budimu itu akupun tidak terima."

Wajah Ting Hoan berobah gusar dan penuh nafsu membunuh, suara dingin mencekam hati.

"Suma Bing, sebelum darah membanjir kau tidak rela menghentikan pertem-puran?"

"Kecuali kau tahu diri dan tinggal pergi!"

"Apa kau sangka aku bisa berbuat begitu?"

"Tentu kau bisa."

Dengus Suraa Bing tidak kalah angkuhnya. Tanganpun perlahan-lahan diangkat lagi. Alis Ting Hoan tegak berdiri.

"Wut"

Tanpa banyak cingcong lagi ia mendahului kirim serangannya.

Bertepatan dengan serangan Ting Hoan ini.

Kedua tangan Suma Bingpun sudah diangkat setinggi dada terus disurung kedepan, gelombang panas bagai gugur gunung menggulung kedepan bagai hujan badai, saking marahnya tanpa sungkan2 lagi ia gunakan Kiuyang-sin-kang.

Tiraik asih Websi te

http.// kangz usi.co m/ Begitu tenaga murni saling bentur, seketika Ting Hoan insaf bahwa bahaya tengah mengancam jiwanya, kontan air mukanya berobah pucat pasi.

"Bum!"

Meledaklah benturan yang lebih dahsyat, hawa panas bergulung mengembang keempat penjuru.

Ditengah keluhan sakit, tubuh Ting Hoan yang langsing itu terbang satu tombak lebih, namun begitu tubuh menjentuh tanah segera ia melompat bangun lagi, mulutnya yang kecil bagai delima merekah itu bernoktah merah darah.

Tanpa merasa Suma Bing tertegun kejut ditempatnya.

Wajah Ting Hoan beringas dan penuh kegusaran yang meluap2, dengan lengan bajunya ia mengusap darah yang meleleh keluar dari mulutnya serta desisnya bengis.

"Suma Bing, sekarang dapatlah kau berbuat sesuka hatimu. Tapi kau ingat, pada suatu saat nonamu ini pasti akan menghantammu juga hingga kau muntah darah!" -Sekali melenting tubuhnya segera melesat menghilang diantara bayangan pohon. Sambil berkerut alis Suma Bing mengiringi kepergian orang dengan pandangan mendelong. Batinnya.

"entah ada hubungan apakah antara Pek-hoat-sian nio dengan Tiang-un Suseng? Hingga tanpa memperdulikan keselamatan sendiri Ting Hoan rela berkorban untuk merintangi perbuatannya yang tercela ini? Dan kalau benar2 dirinya membongkar kuburan ini, itu berarti dirinya harus bermusuhan juga dengan Pek-hoat-sian-nio, teringat olehnya waktu memperebutkan Pedang berdarah tempo hari dengan mudah saja Pek-hoat-sian-nio turun tangan membinasakan Tang-hay-hi-hu dan In Hong Lokoay dua gembong iblis yang terkenal hebat dan ampuh kepandaiannya. Tanpa merasa bergidik dan merindinglah seluruh tubuhnya..WAN ITA MIST ERIU S SER BA Akan tetapi betapapun musuh perguruan harus ditumpas. Para durjana yang turun tangan keji mencelakai Suhunya mana bisa begitu saja dibiarkan lolos dari pembalasan. Setelah mengambil ketetapan hati dia memutar badan menghadapi kuburan dan kedua tangannya Iagi2 sudah berada ditengah udara. Mendadak, diujung pandangan matanya terlihat sebuah bayangan seperti bayangan setan saja tengah melayang mendatangi sangat lambat kearah dimana ia tengah berada. waktu ia melebarkan mata dan melihat tegas, tanpa merasa ia menjedot hawa dingin, kedua tangan yang diangkatpun tanpa kuasa menjulai turun. Kalau saat itu diwaktu malam tentu disangkanya ia melihat setan. Sebab bangun tubuh itu bayangan itu benar2 mirip dengan setan gentayangan yang sering diceritakan orang. Kiranya bayangan yang muncul ini adalah seorang wanita yang mengenakan pakaian serba hitam, rambutnya yang panjang dan hitam kelam menjulai turun dari atas kepalanya menutupi pundak dan dadanya, ditangannya menjinjing tergenggm bunga berwarna merah darah. Yang terlihat dari seluruh tubuhnya itu hanya kedua tangannya yang menjinjing bunga, pucat memutih bagai bunga salju, seakan tangan itu bukan tangan seorang hidup. Tanpa sadar Suma Bing mundur beberapa langkah ke belakang. seakan tidak melihat kehadiran Suma Bing, sigadis hitam Ini langsung mendekati kedepan kuburan, dan meletakkan seonggok bunga itu didepan batu nisan. Suma Bing berpikir. siapakah gerangan perempuan baju hitam ini, bagaimana bisa meletakkan bunga didepan kuburan Tiang-un Suseng? Mendadak dilihatnya wanita itu menggelendot diatas batu nisan dan nangis sesenggukkan dengan sedihnya, suara tangisnya sedemikian memilukan hati, bagai pekikan orang hutan diatas pegunungan, juga seperti seorang kekasih yang ditinggal pergi kawan hidupnya tercinta. Serta merta Suma Bing juga merasa pilu dan sedih hampir saja air matapun meleleh keluarr termenung ia memandang wanita misterius ini. Entah sudah berselang berapa lama akhirnya siwanita baju hitam itu menghentikan tangisnya dan berkata menggumam.

"Jiang-ko, kau pernah berkata seumpama dunia kiamat, lautan kering dan batu hancur lebur cintamupun takkan berobah, untuk sepercik harapan ini aku rela menderita segala siksaan selama tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun! Jiang-ko, seperti tiga ratus, laksana tiga ribu tahun, tapi juga seperti baru berlangsung tiga jam yang lalu, namun akhirnya, sekarang kau telah pergi, meninggalkan dunia fana ini, didalam segunduk tanah diantara semak belukar dalam hutan ini"

Diam2 terkejut hati Suma Bing, tidak perlu diragukan lagi bahwa wanita baju hitam ini pasti adalah tunangan Tiang-un Suseng.

Demi cintanya ia rela menderita siksaan selama tiga puluh tahun lamanya.

Tekad yang besar dan cinta yang murni ini agaknya akan selalu abadi selama hajat masih dikandung badan.

Mendadak siwanita baju hitam mendongak dan tertawa gelak2 bagai orang kesurupan suaranya serak dan menyedihkan penuh kegetiran hidup yang menyayatkan hati, lebih seram dan menusuk telinga dari suara tangisnya tadi, membuat siapa yang mendengar merinding dan bergidik seram.

Tiga puluh tahun merupakan hari2 yang cukup panjang dan kelebihan untuk menghilangkan masa remaja dan membawa jiwa manusia sampai titik pangkal terachir, wa nita yang teguh dalam lahir batin ini demi cinta dan cita2 rela tersiksa selama tigapuluh tahun.

Sehari begitu ia terlepas dari belenggu kesengsaraan yang diperoleh kiranya hanyalah kehampaan dan putus segala harapan dan cita2, betapa pedih dan sedih hatinya dapatlah dibayangkan.

Cinta murni yang abadi ini kiranya cukup meluluhkan setiap hati manusia yang mempunyai perasaan.

Sekonyong2 suatu tawanya terhenti dan mendadak wanita baju hitam itu mundur tiga langkah, terdengar mulutnya mengigau bagai orang bermimpi.

"Jiang-ko, aku ingin melihat kau."

Membarengi kata2nya ia ayunkan sebelah tangan menghantam kearah kuburan itu.

Mimpipun Suma Bing tidak menduga bahwa siwanita baju hitam bisa berbuat begitu membongkar kuburan Tiang-un Suseng, tanpa merasa ia berseru kejut dan heran.

Ditengah suara mengguntur yang dahsyat tanah dan batu bergulung beterbangan, maka terlihat sebuah lobang sebesar satu tombak sedalam lima enam kaki.

"Eh!"

Tanpa merasa Suma Bing dan siwanita baju hitam berseru kejut berbareng dan tertegun dimasing2 tempatnya. Kiranya bahwa liang kubur itu kosong melompong tiada jenazah atau benda apapun juga.

"Sibaju hitam tergetar dan berseru gemetar;

"Kiranya dia tidak mati, eh. Jiang-koku tidak mati-Kenapa dia harus berbuat demikian?"

"Sebab dia takut mati, dia menghindari kematian."

Perlahan2 sibaju hitam memutar tubuh, sinar matanya ingin menembus dari belakang rambut yang terurai menutup mukanya. keadaannya ini benar2 membuat orang merinding ketakutan.

"Apa yang kau katakan?"

Suaranya dingin melebihi es, tapi nyaring melengking Seperti suara seorang gadis remaja.

Serta merta Suma Bing melangkah mundur lagi satu tindak tindak.

Didengar dari suaranya usia wanita misterius ini agaknya belum terlalu lanjut, tapi dia sendiri tadi mengatakan telah tersiksa selama tigapuluh tahun, hal ini benar2 susah dibayangkan.

sayang wajahnya tertutup oleh rambutnya yang hitam lebat susah dilihat wajahnya, mungkin....

"Hei, apa yang kau katakan tadi?"

Tanya siwanita baju hitam lagi. Nada suara Suma Bing berat dan sinis, sahutnya.

"Kukatakan ia takut mati, dia membangun kuburan kosong ini untuk menghindari kematian!"

"Siapa yang bilang?"

"Aku"

"Alasanmu?"

"Orang yang akan mencabut nyawanya adalah aku!"

Bahna kaget siwanita baju hitam mundur melangkah. serunya bengis.

"Kau berani?"

Sikap Suma Bing sangat temberang, sahutnya.

"Kenapa tidak berani?"

Siwanita baju hitam mengekeh tawa panjang, nada tawanya mengandung nafsu membunuh yang besar, katanya;

"Siaucu biar kuhancurkan kau lebih dulu!"

Wajah Suma Bing mengelam dan katanya hambar.

"Aku kuatir kau tidak mampu."

Wanita baju hitam itu menyeringai dingin, ujarnya "Tidak percaya, boleh kau coba2!" --Bertepatan dengin kata2 terakhirnya kesepuluh jari tangannya ditekuk bagai cakar binatang langsung ia menerjang kearah Suma Bing pundak dan dada Suma Bing diancam cengkeraman maut.

Tergetar hati Suma Bing melihat cara penyerangan lawan, bahwa cengkeriaman lawan ini temyata begitu ganjil dan keji luar biasa, Yang lebih lihay lagi adalah sekali jarak seakan ada beberapa ratus cakar tajam sekaligus mengancam berbagai jalan darah penting diseluruh tubuhnya Rasanya susah dihindari atau ditangkis.

lagipula sebelum ujung cakar mencengkeram tiba lebih dulu terasa angin di ngin msnerjang tiba menyusub kedalam badan.

Terpaksa ia jejakkan kedua kakinya, secepat anak panah tubuhnya melejit minggir delapan kaki jauhnya.

Dan sebelum ia dapat punahkan diri hawa dingin dari cakar setan lawan sudah membayang tiba pula menungkrup tubuhnya Lagi2 Suma Bing harus menggeser kedudukan setombak lebih, maka kekuatan Kiu-yang-sin-kangpun sudah terhimpun dikedua telapak tangannya.

"Siaucu, boleh juga kepandaimu ya,"

Seru wanita baju hitam melengking dingin.

"Dapat kau menghindari dua kali cakaranku. Tapi ketahuilah bahwa dalam dunia persilatan yang dapat tetap hidup dibawah rangsangan Pek-pian cui-jiau dapat dihitung dengan jari!"

"Apa, Pek-pian-kui-jiau! (cakar setan Seratus perobahan)"

Lengking Suma Bing melonjak kaget.

"Tidak salah, tidaklah penasaran mati dibawah Pek-pian cui-jiau, apalagi kau sudah dapat menghindari dua jurus seranganku, kepandaianmu sudah boleh dibanggakan di kalangan Kangouw!"

Suma Bing membuyarkan Kiu-yang-sin-kang, teringat akan pesan Suhunya sebelum ajal, terasa omongan itu masih terngiang2 ditelinganya, meskipun dia tidak tahu mengapa Gurunya harus berbuat demikian, tapi perintah guru bagaimanapun harus ditaati.

Untuk ketiga kalinya siwanita baju hitam menjerang lagi, terpaksa Suma Bing harus berkelit dan main hindar saja tanpa berani balas menjerang.

"Siaucu, kau mampu balas menyerang, mengapa tidak menyerang?"

Susah bagi Suma Bing untuk memberi penjelasan, ter-paksa ia tetap bungkam seribu bahasa.

Maka menjadi2lah serangan wanita baju hitam itu, bayangan cakar putih bagai berkelebatnya bayangan setan seakan jala berlapis2 mengurung sekitar tubuhnya.

"Kena!"

Berbareng dengan bentakan nyaring ini, terdengar pula Suma Bing berseru tertahan lima cakar jari tangan kanan siwanita hitam dengan telak mencengkeram dipundak kiri Suma Bing, kelima jarinya itu ambles sedalam satu dim, dari ujung cakar jarinya itu merembes keluar hawa dingin yang mengalir masuk kedalam tubuhnya merembes sampai ke tulang2nya.

Masih untung Suma Bing melatih Kiu-yang-sin-kang, hawa dingin masih belum seberapa hanya kelima cakar yang menusuk kedalam daging itulah terasa sangat sakit menembus jantung, seketika keringat dingin berketel2 membanjir keluar.

Wanita baju hitam menyeringai bengis, katanya.

"Kau tadi mengatakan hendak membunuhnya lagi?"

Suma Bing mengertak gigi, sahutnya congkak.

"Andaikan aku tidak mati, aku tetap akan membunuhnya!"

"Akan tetapi, sudah pasti bahwa kau sendiri akan mati hari ini."

Kontan bergejolak perasaan Suma Bing, sungguh sedih dan perih hatinya susah dilukiskan.

Bukan dia takut mati adalah ia merasa berat kalau mati begitu saja, karena dendam perguruan dan musuh keluarga masih belum tertumpas habis.

Jikalau bukan mematuhi perintah gurunya, dengan Kiu-yang-sin-kang untuk menghadapi lawan serba hitanm ini, seumpama tak dapat menang, melarikan diri dengan selamat bukanlah hal yang sukar.

Sekarang, semua telah terlambat, terasa seandainya ia matipun takkan meram.

Wanita serba hitam mengangkat tangan kiri dan mengancam.

"Siaucu, cakar ini akan mencengkram hancur batok kepalamu!"

Dengan tenang Suma Bing meramkan mata menanti ajal. Dinanti2 siwanita serba hitam masih belum turunkan tangannya, malah terdengar suaranya mengkili2."

"Kau tidak takut mati?"

"Kalau memang sudah suratan takdir, perlu apa ditakuti!"

Debat Suma Bing ketus.

"Dengan usiamu yang masih muda dan kepandaianmu yang susah didapat ini, bukankah sayang kematianmu ini"

"Aku tidak akan minta belas kasihanmu!"

Tiba2 sikap wanita serba hitam ini menjadi lesu, ia turunkan tangan kirinya sambil menghela napas panjang, katanya seorang diri.

"Persis benar dengan dia dulu! Dia belum mati, tapi kenapa tidak pergi mencari aku, apa dia betul2 menjadi seorang penakut? Tidak mungkin, tidak mungkin dia begitu takut mati seperti apa yang dikatakan Siaucu ini, pura-pura mati untuk mengelabui musuhnya tidak mungkin, tapi mengapa? Mengapa?"

Cengkeraman dipundak Suma Bing perlahan2 dilepaskan.

Bergegas Suma Bing mundur tiga langkah lebar, Sebelah kiri tubuhnya sudah basah kujup oleh merah darah.

Setelah merenung sekian lamanya, wanita serba hitam membuka suara lagi.

"Siapa namamu?"

"Suma Bing!"

"Dari perguruan mana?"

"Tidak dapat kuberitahukan."

"Kenapa kau tidak turun tangan, kau mampu dan punya tenaga untuk balas menyerang?"

"Maaf, aku tidak dapat menerangkan!"

"Hm, aku tidak jadi membunuhmu, kau pergilah!"

"Apa kau tidak menyesal?""

"Menyesal, mengapa menyesal?"

"Sebab aku tidak merobah pendirianku untuk membunuh Tiang_un Suseng."

Sejenak wanita baju hitam melengak dan berpikir, lalu katanya.

"Akupun perlu memperingatkan kau, lain kali bertemu lagi, jangan harap kau dapat tinggal pergi dengan masih bernyawa"

"Itu akan terukir dalam benakku."

"Baik, kau boleh pergi"

Suma Bing menjejak tanah dan baru saja tubuhnya melesat ditengah udara, berserulah siwanita baju hitam me-manggilnya kembali-Tanpa merasa Suma Bing menghentikan luncuran tubuhnya dan berpaling balik.

Disangkanya lawan merobah niatnya.

"Apa sedemikian besar hasratmu hendak membunuh Tiang-un Suseng Poh Jiang?"

"Tidak salah, kau menyesal?"

Wanita baju hitam tertawa terloroh2, jengeknya.

"Apa yang sudah kuucapkan tidak akan kusesali. hanya maukah kau melulusi satu syaratku?"

"Syarat apa itu, coba katakan."

"Setelah kau dapat menemukan Tiang-un Suseng, harap jangan kau segera turun tangan, kau harus tunggu setelah bertemu dengan aku, kita putuskan menurut kebenaran dan duduk perkara yang terang, kau akan mendapatkan kesempatan yang adil, dapatlah kau melulusi?"

"Boleh, tapi aku juga ada dua keterangan!"

"Coba katakan?"

"Pertama; begitu Tiang-un Suseng bertemu dengan aku, kalau dia yang turun tangan lebih dulu, susahlah aku untuk tidak membunuhnya."

"Tidak bakal terjadi asal kau mengatakan, sahabat-lama di Te-jui-hong pada tiga puluh tahun yang lalu kini telah melihat sinar matahari, tentu dia takkan turun tangan menyerang kau!"

"Kedua, beritahu dulu alamat dan nama besarmu, kalau tidak sedemikian lebar dunia kangouw ini"

"Itupun tak perlu, karena dia pasti dapat membawamu, menemui aku. Kalau begitu jadi kau melulusi syaratku itu?"

"Baiklah!"

"Suma Bing-aku percaya kau?"

"Ucapan seorang Tianghu takkan dijilat lagi harap legakan hatimu!" -Selesai kata2nya la memutar tubuh terus terbang cepat kedalam hutan. Sudah ada satu keteta-pan hati untuk langkah selanjutnya Tiang-un Suseng ada-lah salah satu tokoh dari Bulim-sip-yu (sepuluh kawan Kaum Bulim), dan Bu-lim-sip-yu ini adalah komplotan Loh Cu-gi itu murid murtad gurunya atau biang keladi dalam pengerojokan dan penganiajaan tcrhadap gurunya dulu, kecuali empat orang yang sudah mati, masih sisa enam orang berada di kalangan Kangouw, asal dapat mencari lima orang lainnya lagi, tidaklah sukar untuk mengejar jejak Tiang-un Suseng. Baru saja tubuh Suma Bing melesat keluar dari hutanl dan belum menginjak kaki dijalan besar dari depan sana telah mendatangi sebuah tandu warna hijau mulus bagai terbang. Berdetak hati Suma Bing, karcna yang mendatangi itu bukan lain adalah Pek-hoat-sian-nio. Maka segera ia menghentikan langkah dan berdiri tenang menantikan apa yang bakal terjadi, dapatlah diduga bahwa kedatangan orang pasti mencari dirinya. Benar juga terpaut lima tombak dari dirinya tandu hi jau itu berhenti, dan muncullah si gadis baju putih Ting Hoai yang beium lama ini terluka oleh pukulannya, sinar matanya bengis me-nyala2 penuh kebencian.

"Suma Bing majulah kedepan!"

Suara ini terucapkan dari dalam tandu. Sejenak Suma Bing menenangkan gejolak hatinya, Ia lantas dengan sikap angkuh tanpa takut2 ia melangkah lebar kedepan tandu kira2 dua tombak jauhnya.

"Kau tadi yang melukai Hoan-ji?"

Sekilas Suma Bing melirik kearah Ting Hoan, lalu sahutnya.

"Ja, memang begitulah telah terjadi!"

"Kau benar2 sangat takabur dan sombong?"

"Apa perkataan Sian-nio ini tidak terlalu berat sebelah."dua harimau bertarung tidak mungkin tidak terluka!"

"Tapi dia menaruh belas kasihan lebih dulu membuang kesempatan untuk melukaimu."

"Akupun tidak menghendaki jiwanya bukan."

"Membongkar kuburan dan meusak jenazah, apa kau tidak merasa bahwa perbuatanmu itu sangat hina, rendah dan keji?"

"Cayhe hanya ingin membuktikan apakah musuhku itu benar2 mati atau pura2 mati, sedikitpun tiada niatku me-rusak jenazahnya."

"Ada permusuhan apa antara kau dengan Tiang-un Su-seng Poh Jiang?"

"Dendam kesumat sedalam lautan!"

"Perguruanmu dari aliran mana""

"Tentang itu.... aku tidak dapat memberi tahu"

Pek-Hoat-sian-nio tertawa terloroh2, serunya.

"Hoan-ji, coba kau serang dia."

Tanpa diminta kedua kalinya sigadis baju putih yitu Ting Hoan mendesak maju terus mengayn tangannya melancarkan sebuah pukulan jarak jauh.

Suma Bing maklum bahwa lawan hendak mengorek asal usul dirinya dari ilmu kepandaiannya.

mka tanpa balas menjerang, sekali meleit tubuhnya melayang menghindar.

"Hoan-ji, gunakan jurus Ban-Iiu-kui-cong."

Suara Pek-hoatsian-nio bergema lagi.

Tubuh Ting Hoan menerjang maju sambil berputar, seketika bayangan pukulannya laksana bunga salju beterbangan memenuhi udara, melayang2 mengepung seluruh tu-buh Suma Bing, sedemikian rapatnya serangan ini seumpama hujan badaipuu takan tertcmbuskan.

Diluar dugaan, tampak tubuh Suma Bing bergoyang guntai tahu2 bagai setan yang bisa menghilang tubuhnya sudah berkelebat menghindar dari bayangan pukulan lawan.

"Hoan-ji, mundur!"

Ting Hoan mendelik benci memandang Suma Bing, tanpa bersuara ia mengundurkan diri.

Dimana terlihat tirai rangkaian mutiara dipintu tandu itu tersingkap, seorang nenek tua berambut putih bagai perak dan wajah bersemu merah bagai wajyh seorang baji muncul dari dalam tandu.

Tergetar jantung Suma Bing, darahpun terasa berjalan.

semakin cepat seumpama, Pek-hoat-sian-nio benar2 turun tangan sendiri, dapatkah dirinya tetap merahasiakan asal usul dirinya susahlah diduga.

Baru ia tengah berpikir terasa pandangannya kabur tahu2 Pek-hoat-sian-nio sudah berdiri dekat dihadapannya, demikian dekat sampai dijamahpun dapat dipegang.

Gerak tubuh yang hebat luar biasa ini dia mengakui tak mungkin dirinya bisa melawan.

Wajah kekanak2an Pek-hoat-sian-nio yang kemerah2an itu mengunjuk sikap serius dan kaku menatap Suma Bing sampai sekian lamanya, katanya "benar2 kau sudah membongkar kuburan Tiang un Suseng"

"Memang kuburan itu sudah terbongkar, tapi...."

"Tapi apa?"

"Bukan aku yang membongkarnya!"1 Berkelebat rasa heran dan tak habis mengarti pada wa cljah Pek-hoat-sian-nio. tanyanya lagi.

"Lalu siapa yang membongkar?"

"Seorang wanita serba hitam yang misterius".

"Siapakah dia?"

"Aku tidak kenal!"

Dari samping Ting Hoan perdengarkan ejekannya, jengeknya.

"Seorang laki2 berani berbuat berani bertanggung jawab, buat apa bohong mengelabui orang lain!"

Suma Bing melotot dengan rasa gusar meluap2, serunya keras.

.Siapa dusta dan tidak berani bertanggung jawah?"1' "Kau!

Pek-hoat-sian-nio ulapkan tangan menghentikan perkataan Ting Hoan, lalu katanya pula.

"Suma Bing, tidak peduli sia-pa yang membongkar, bagaimana. dengan tulang kerangka nya...."

Suma Bjng berseru geram.

"sebuah kuburan kosong, hakekatnya tiada tulang kerangka Tiang-Un Suseng Poh Jiang apa segala."

Ucapannya ini benar2 diluar dugaan siapapun. Tidak ketinggalan Pek-hoat-sian-niopun kerutkan alisnya, tanyanya menegas.

"Apa betul ucapanmu itu?"

"Apa perlu aku berdusta?"

Jengek Suma Bing mendongkol Wajah Pek-hoat-sian-njo mengunjuk rasa curiga dau tidak percaya (sangsi), katanya seorang diri.

"Aneh, mana mungkin terjadi. Mengapa dia berbuat begitu? Baiklah, kita doakan begitulah sesungguhnya.' selanjutnya berobahlah nada ucapannya.

"Suma Bing, beritahukan perguruanmu" -dua sinar mata yang dapat menyedot semangat orang menatap tajam kedua mata Suma Bing.

"Sudah kukatakan, tidak mungkin kuberitahukan,"

Sikapnya angkuh dan dingin luar biasa.

"Tidak kau katakan apa kau dapat mengelabui mata tuaku ini,"

Ditengah ucapannya secepat kilat sebuah tangannya menjelonong maju.

Suma Bing insaf tak mungkin dirinya dapat menghindar atau berkelit.

secara langsung gerakan reflek tangannya maju menjongsong tangan lawan.

Se-konjong2 Pek-hoat-sian-nio berseru kejut dan mundur selangkah besar, wajahnya yang merah bagai wajah orok itu berobah ber-ulang2, suaranya bengis dan tajam berkata.

"Suma Bing, ilmu silatmu berasal dari "Lam-sia". Tapi Siasin Kho Jiang sudah meninggal pada duapuluh tahun yang lalu, tentu tidak mungkin mempunyai seorang murid muda belia seperti kau ini...."

Sampai disini suaranya merandek, sinar matanya su-dah mengunjuk nafsu membunuh.

Tergetar semangat Suma Bing, nama Pek-hoat-sian-li yang tenar dan disegani bukan kosong belaka.

dalam satu gebrak saja lantas dapat mengenali asal sumber ihnu silatnya maka dapatlah dibayangkan betapa luas dan tinggi kepandaiannya.

Namun nafsu membunuh pada sinar matanya itu betul2 membuatnya tak habis mengerti.

Setelah berhenti sebentar suara Pek-hoat-sian-nio semakin bengis menakutkan.

"Apa hubunganmu dengan Loh-Ju-gi?"

Lagi2 Suma Bing tertegun dibuatnya, tidak nyana bahwa Orang dapat menyebuttkan nama Suhengnya yang menghianat pada perguruan itu, entah apakah maksud tujuannya.

Dilihat dari sepak terjang orang, tentu mengandung mak-sud tidak baik.

Akan tetapi sejak kecil dirinya dibesarkan dan dibimbing oleh Lam-sia, sedikit banyak ketularan sifat pembawaan gurunya yang aneh itu Timbullah perlawanan dan rasa tak puas terhadap sikap Pek-hoat-sian-nio yang menantang itu, maka sahutnya dengan congkaknya.

"Tidak sudi aku memberi tahu.""

Sikap kamarahan Pek-hoat-sian-nio semakin menjadi2, kedua matanya merah membara, sekali lagi ia menghardik.

"Apakah Loh Cu-gi itu adalah Suhumu?"

"Tidak perlu kuberitahu."

"Jangan sesalkan aku mengompes mulutmu."

"Aku selamanya tidak senang diancam."

"Dimana Loh Cu-gi sekarang berada?"

"Sekali lagi kukatakan tidak bisa kuterangkan."

"Budak kecil, masa benar kau tidak mau menerangkan-"

Wut, dilancarkannya sebuah pukulan membawa kekuatan dahsyat yang menggetarkan bumi.

Suma Bing berkelebat kesamping, menghindar sambil membalas kirim tiga pukulan-kekuatan tiga pukulannya inipun bukan olah2 hebatnya.

Pek-hoat-sian-nio memutar kedua tangannya membuat sebuah lingkaran besar, maka lenyap sirnalah kekuatan tiga pukulan Suma Bing itu bagai tenggelam dalam lautan tanpa jejak.

Wut-wut, Iagi2 lawan lancarkan dua kali pukulan berbareng.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 14

Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert