Eps 10 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.
"Ia keputusan hendak mendirikan satu kekuatan lain untuk menandingi Thian mo kau. Dia suruh aku mencari bala bantuan dan mengumpul tenaga, yang kukenal hanyalah keluarga Lok ibu beranak, maka kucari mereka akhirrnya urusan terjadi perubahan, entah dengan cara apa Thio loyacu berhasil menundukan seorang aneh, kepandaian silat orang aneh itu cukup berkelebihan untuk menundukkan Cia Ling im. Koan San gwat tahu orang aneh yang dimaksud tentulah Coa sin adanya, cepat ia bertanya.
"Apakah mereka berkumpul diatas gunung?"
"Betul! Thio loyacu tidak mau berkecimpung dalam urusan dunia lagi, ia berkeputusan hendak hidup dalam pengasingan diatas gunung sampai hari tua, nona Im bertekad menjadi istrinya, nona Thio Ceng ceng juga mengharap belaian orang tua ada yang merawat dan melayani, dia ikut menyokong dan memberi dorongan, dan lagi ia mengusulkan supaya nona Lu menjadi Ciang bun jin dari Thay khek pang."
"Kenapa harus menggunakan nama ini?"
"Itulah hasil dari pemikiran nona Thio dari Bu khek ke Thay khek pertanda bahwa Thay khek kun adalah bersumber dari Bu khek karena dulu diapun pernah membunuh beberapa anggota keluaga Im, dengan cara ini ia hendak melimpahkan rasa penyesalannya terhadap Bu khek tay, sebetulnya mengandal kekuatan Thay khek pay sekarang, jelas Bu khek pay bukan apa apanya lagi!" -oo0dw0oo-
Jilid 29
"Dari mana asal mula alasanmu ini? Untuk membenci aku kan kaupunya alasan."
"Tanyakan kepada ibumu."
"Apa sangkut paut hal ini dengan beliau!"
"Amat besar hubungannya, sebelum dia melihat kau, hatinya selalu dirundung kesedihan dan yang dibayangkan selalu adalah putranya yang hilang, mungkin dia anggap aku tidak tahu, sebetulnya sejak lama Hwi kak sudah memberi tahu kepadaku, sejak saat itu aku sudah mulai benci kau, akhirnya ditambah persoalan Thio Ceng Ceng, maka aku tidak bisa berdiri sejajar dengan kau."
Koan San gwat menjublek mendengar uraian yang dianggap gila ini. Lau Yu hu meneruskan dengan suara gegetun dan benci.
"Selamanya kalian dipihak yang unggul, ayahku terima diperhina dan hidup merana, rela rujuk kembali demi kebahagiaan rumah tangga, namun ia tidak bisa menarik kesenangan hati ibu, setelah generasi mendatang keadaan lebih parah lagi, didalam sanubari ibu kedudukannya jauh lebih berat dan disayang, didalam lubuk hati Ceng ceng, aku malah tidak bisa menempati posisi yang kuharapkan, apakah aku tidak pantas membenci kau?"
"Kau salah...."
Ujar Koan San gwat menghela napas.
"Sedikitpun aku tidak salah, apa yang kuuraikan adalah kenyataan, suruh aku meningalkan Thian mo kau adalah kumpulan sesat, akupun tahu Cia Ling im adalah seorang durjana, tapi tanpa banyak pikir aku rela masuk menjadi salah satu dari kelompok mereka, malah tidak kepalang tanggung kubongkar kuburan ayah almarhum, kuberikan sebarang pedang Ceng so kiam kepadanya kau tahu apa sebabnya?"
"Aku tidak tahu."
Sahut Koan San gwat menggeleng.
"Aku hanya tahu bahwa kau sudah gila!"
Lau Yu hu menyeringai seram, ujar nya.
"Boleh dikatakan demikan, aku gila karena penyebabnya, setiap orang yang menjadi musuhku, adalah sahabat karibku, apapun yang bakal menjadi milikmu aku akan menempuh jalan yang berlawanan dari kau!"
Koan San gwat berpikir sejenak, mendadak ia berkata dengan sikap serius.
"Lau yu hu, tidak kata kata yang perlu kukatakan pula kepada kau, sebetulnya aku sudah berjanji kepada ibu untuk mengampuni jiwamu, sekarang aku terpaksa mohon pengampunannya..."
"Kau tidak perlu minta pengampunannya hakikatnya dia hanya punya kau sorang putra dia, kau dan Bing Gwat yang sudah mampus itu, kalian bertiga baru satu keluarga...."
"Lalu kau ini apa?"
Damprat Koan San gwat naik pitam. Lau Yu hu menarik muka dan berkata.
"Aku hanyalah bibit pembalasan dendam yang ditinggalkan ayahku, biar kuberi tahu kepada kau, setelah kubunuh kau, lawan yang kedua yang kuincar adalah ibu!"
"Keparat dan durhaka! Apakah beliau bukan ibumu?"
"Bukan!"
Teriak Lau Yu hu beringas.
"Lau Yu hu tidak punya ibu, Liu Ih yu pun tidak punya istri, walau ayahku menyuruh aku memaafkan dia, sebaliknya tidak pernah kupikirkan hal ini."
Amarah Koan San gwat tidak tertahan lagi, mengayun pedang kontan ia menusuk ke dada orang, lekas Lau Yu hu melintangkan pedang, tenaga yang dikerahkan cukup kuat.
"Trak"
Kedua senjata beradu amat keras dan berbunyi nyaring, seketika Koan San gwat terhentak mundur dua tapak, dan lagi Pek hong kiamnya bukan lawan kesaktian Ci seng kiam, tajam pedangnya tergumpil pecah sebesar kacang.
Lekas Kang pan mengansurkan Ui tiap kiam kepadanya, serta berteriak.
"Koan toako gunakanlah pedang yang ini!"
"Yang mana bolehlah, didalam Ngo ih kiam, Ci seng merupakan yang terunggul."
Koan San gwat sudah keretak gigi, sambil menenteng Pek kong kiam ia sedang menghimpun tenaga murni siap melancarkan Pek hong kiam itu, salah satu jurus terganas yang mematikan dari Hu mo kiam hoat.
Mendadak dari samping sana menerobos keluar dua sosok bayangan, mereka ternyata Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin adanya.
Kang Pan berdiri melongo, cepat Gwat hoa Hujin sudah melejit tiba terus rebut Ui tiap kiam dari tangannya.
Koan San gwat terkejut dan heran, cepat ia memapak maju, serunya.
"Bu, kenapa kaupun kemari ?"
Gwat hoa Hujin tidak menghiraukan seruannya, matanya berkilat melata Lau Yu hu. Adalah Li Sek hong memberi jawaban sambil datang menhampiri.
"Hujin amat kuatir akan keselamatanmu. Jing Tho disuruh memimpin orang orang lain menuju, ke Tay pa san menunggu di sana, lalu dia mengajak aku untuk membaatu kau! bagaimana keadaan disini?"
Koan San gwat tidak sempat menjawab pertanyaannya, dengan gelisah ia berseru kepada Gwat hoa Hujin.
"Bu biar aku saja..."
"Tidak usah!"
Sahut Gwat hoa Hujin tegaz dan perihatin.
"Dengan tanganku sendiri akan kubunuh anak durhaka ini!"
Waktu Koan San gwat memburu menghadang diantara mereka, Gwat hoa Hujin lantas menghardik bengis.
"Anak Gwat! Kaupun tidak mendengar ucapanku lagi!"
Tampak oleh Koan San gwat muka orang pucat dingin lagi, hatinya menjadi luluh, terpaksa ia mundur kesamping, adalah Lau Yu hu Sa mundur beberapa langkah didesak oleh Gwat hoa Hujin yang maju menghampirinya.
"Bukankah kau hendak bunuh aku?"
Damprat Gwat hoa Hujin beringas.
"Kenapa tidak berani turun tangan?"
Lau Yu hu tidak mundur lagi, matanya pun memancarkan rasa penasaran dan berteriak kalap.
"Tak usah tergesa gesa kau ingin mampus, tunggulah setelah aku membinasakan bocah she Koan itu, akan datang giliranmu nanti, sekarang jangan kau desak aku turun tangan!"
Gwat hoa Hujin tertawa pedih dan seram.
"Aku paksa kau? Kalau aku tahu kau seorang yang berhati lebih kejam dari binatang, masakah aku bisa membiarkan kau tumbuh dewasa sebesar ini? Sungguh aku menyesal kenapa diwaktu melahirkan aku tidak mencekik mati kau saja!"
Pancaran kilat Lau Yu hu yang sudah kesetanan itu semakin menyala, pekiknya.
"Menyesalpun sekarang kau sudah terlambat."
Lenyap suaranya pedang ditangannya kontan menyambar kedepan, ujung Ci seng kiam seketika memancarkan cahaya ungu yang menyala dimana sinar pedang berelebat, hanya terdengar kesiur angin deras yang melengking, rambut panjang yang tersanggul diatas kepala Gwat hoa Hujin seketika rontok dan terpapas berhamburan separuh diantaranya.
Sembari melintangkan pedang dengan kedua tangannya, berkata Lau Yu hu tertawa.
"Sudah kulihat sendiri belum inilah Bau hun sam sek peninggalan ayahku, hanya permainan pedang jurus jurus itu barulah bisa mengembangkan wibawa dan keampuhan Ci seng kiam. Jurus pemainan merontokkan rambut sebagai ganti memenggal kepala, anggap saja sebagai balas budi akan kebaikanmu melahirkan aku ...."
Belum lenyap suaranya, sinar ungu memancarkan dan berkelebat pula, ia memapas kutung lengan baju Gwat hoa Hujin pula, katanya tertawa dingin.
"Jurus kedua, aku memotong pakaian sebadai ganti badan sebagai penebus budimu membimbing dan mengasuh aku, maka jurus ketiga ini akan menagih pembalasan ayahku. Yang hidup merana bersanding dosa...."
Sekonyong konyong seperti kesurupan Gwat hoa Hujin menerjang dengan kalap dimana Ui tiap kiam menyambar, tampak bayangan kupu kupu menari nari mengitari Lau Yu hu, dalam sekejap bayangannya sudah lenyap terbungkus libatan sinar pedang.
Setiap hadirin sama tertarik perhatiannya akan kejadian yang tegang dan serius ini, sehingga tiada seorangpun yang memperhatikan Cia Ling im secara diam diam menggeremet pergi dan menghilang seperti bayangan setan.
Ditengah bayangan kupu kupu yang sedang menari nari itu terdengarlah suara berdenting berulang ulang.
Tentulah Lau Yu hu sedang berjuang mati matian demi keselamatan jiwa didalam kepungan hawa pedang yang deras dan tajam itu.
Bagi penonton di luar arena hanya melihat ditengah cahaya kuning itu menggulung gulung ceplok ceplok kabut ungu yang semakin menebal, laksana didalam rumpun kembang yang mekar dimusim semi sedang dirubung oleh kupu kupu yang mesari nari tak terhitung banyakanya.
Kedua pihak terus berkutet dan bertahan cukup lama, rangsakan berantai Gwat hoa Hujin selama itu tidak mampu menjebol musuh tabir penjagaan Ci Sek Kiam yang kokoh rapat.
Sebalikanya selama ini Lau Yu hupun belum lagi melancarkan jurusnya yang ketiga.
Akhirnya Koan San gwat tidak sabar lagi, sambil bersuit nyaring pedang ditangannya dengan tipu Pek hong kiam jit, membawa cahaya memanjang seperti sabuk kemala menerjang masuk dalam arena.
Begitu hawa ungu kena diterjang oleh cahaya putih menyala seketika melembang besar dan meluas, seolah olah angin lesus yang deras dan mendampar dengan kekuatan yang tiada taranya melandai datang, yang pertama tama kena di diterjang adalah bayangan kuning yang membelit disekelilingnya, lalu menggulung seperti damparan ombak samudra kearah cahaya putih menyala.
"Trang"
Terdengar benturan nyaring menusuk ketelinga, tahu tahu Pek hong kiam ditangan Koan San gwat sudah tinggal separuh, badannyapun tergentak mencelat setengah tumbak.
Rambut Gwat hoa Hujin awut awutan, ia berdiri tegak ditempatnya tanpa bergerak ujung pedang Ui tiap kiam menjulur keatas Bumi, kedua tangannya lemas semampai dari pinggangnya mengalir darah deras tepeiti sumber air.
Sementara Lau Yu hu masih menentang Ci seng kiam, mukanya yang beringas tadi sudah hilang sekarang, sekarang terlihat seperti mimik aneh yang sulit diraba bagaimana perasaan hatinya, seperti hampa menyesal dan rawan pula.
Kang Pan menjerit ketakutan sambil menutupi mulutnya dengan muka pucat pias, akhirnya tak tertahan rasa amarahnya, teriakanya.
"Siau giok, gigit mampus manusia durhaka yang lebih kejam dari binatang itu !"
Siau giok siular sakti secepat kilat segera menerjang keluar, lekas Lau Yu hu menebaskan pedangnya, namun gerak gerik Siau giok teramat cepat lincah dan gesit, cukup badannya melengkung dan melinting, tahu tahu giginya sudah mematuk pergelangan tangannya.
Lekas Koan San gwat melangkah lebar memburu kedepan, pedang kutungan ditangannya kontan terayun.
"Cras"
Tangan sebatas sikunya ia tebas kutung, lalu ia menjemput Ci seng kiam dan diserahkan kepada Lau Yu hu, katanya.
"Kau pergilah lalu dipaksa untuk bertindak begini, racun berbisa Siau giok tiada obat pemunahnya, tunggulah setelah luka luka mu sembuh, biar kita mencari perhitungan lagi."
"Koan toako."
Ujar Kang Pan terbelak.
"Kenapa kau menolong dia? Kenapa melepasnya pergi pula?"
Koan San Gwat tidak hiraukan pertanyaan, ia memburu kedepan Gwat hoa Hujin dan berlutut didepan kakinya, suaranya tersendat "Ibu, anak...."
Darah mengucur semakin deras dari pinggang Gwat hoa Hujin, tapi agaknya ia sudah lupa merasakan sakit, sebelah tangannya terulur mengelus kepalanya.
"Nak, bukan salahmu kalian adalah putra putraku yang baik... aku amat girang, betapapun Yu hu masih punya perasaan, kuharap kau bisa memberi maaf kepadanya."
Koan San gwat mengadahkan mukanya yang berlinang air mata, sahutnya terisak.
"Bu! Aku patuh akan pesanmu...."
Memancar terang sinar mata Gwat hoa Hujin, mukanya menampilkan senyum lebar yang terhibur, katanya.
"Watak asli Yu hu masih bajik dan welas asih, ayahnyalah yang dipersalahkan, tidak pantas dia menanam bibit dendam kesumat kedalam relung hatinya, dialah yang membuatnya menjadi seperti sekarang, tapi dia...."
Bicara sampai disini agakanya dia sudah tidak kuat bertahan lagi, namun ia menguatkan hati dan meneruskan kata katanya.
"Betapapun dia adalah anak yang baik hati, kau.... bukan saja harus memaafkan dia, harus pula membimbingnya ke jalan lurus, jangan kau biarkan dia bergaul dengan orang orang jahat ...."
Akhirnya badan rubuh juga, tapi Koan San gwat berada dihadapannya, lekas ia memeluknya, Gwat hoa Hujin menekan tangannya katakan pula.
"Nak! Cabutlah kutungan pedang dalam pinggangku!"
"Jangan bu,"
Lekas Koan San gwat mencegah.
"Luka luka mu masih ada harapan disembuhkan."
Dengan lemah Gwat hoa Hujin menggeleng kepala, ujarnya.
"Tidak mungkin nak. Tusukan pedang ini amat kebetulan memutuskan urat nadiku lekas cabut keluar. Aku masih punya dua pesan yang amat penting..."
Tapi Koan San gwat mash belum berani menyentuh potongan pedang itu.
terpaksa Gwat hoa Hujin mengerakkan sisa tenaganya mencabut potongan pedang yang menghujam kedalam pinggangnya dengan kekerasan.
Darah segar memancar deras.
Lekas dengan sebelah tangannya ia menekan luka lukanya, tangan yang lain mengangsurkan kutungan pedang kepada Koan San gwat ujarnya "Anak ku!
Ambil dan simpanlah.
Kalau Lau Yu hu meluruk datang mencari kau pula, atau bila kau teringat hendak mencari dia, boleh kalian melihat pedang kutung ini, bayangkan kematianku..."
Mulutnya menyemburkan darah juga, diwaktu Koan San gwat gerung gerung memeluk dm sesambatan memanggil namanya, lambat laun ia sudah kehilangan kesadaran kutungan pedang itupun tidak kuat dipegangnya lagi.
Orang lain yang menonton dipinggiran termasuk Li Sek hong Kang Pan dan Ling koh sama heran dan tidak habis mengerti.
Gwat hoa Hujin sudah meninggal mati diujung kutungan pedang itu, kutungan pedang adalah Pek hong kiam yang dibekal oleh Koan San gwat, apakah Koan San gwat yang membunuh ibu kandungnya sendiri?
Sudah tentu tidak mungkin terjadi, lalu cara bagaimana kutungan pedang itu bisa berada didalam pinggang Gwat hoa Hujin?
Mereka tiada yang bisa menjawab.
Meski sejak tadi mula dengan penuh perhatian dan cermat mereka mengikuti pertempuran sengit tadi akan tetapi sulit diikuti oleh pandangan mata, sehingga apa yang terjadi mereka sama tidak tahu.
Tangisan Koan San Gwat yang gerung gerung dan melolong seperti pekikan serigala kesakitan yang terkena panah, air mata berderai membasahi selebar mukanya.
Orang orang lain yang hadir menjadi ikut sedih dan mencucurkan air mata pula.
Berselang agak lama, Ling koh baru maju menarik narik tangannya katanya.
"Koan kongcu, kau jangan menangis lagi. Orang meninggal tidak akan bisa hidup lagi, kau bersedih tiada gunanya, yang penting sekarang harus mengurus pemakaman Hujin...."
Li Sek hong yang mendekat, katanya.
"Koan kongcu serahkanlah jenasah ibumu kepadaku menghadapi kematiannya ini, aku jauh lebih sedih daripada kau! Tidak lebih hanya kehilangan seorang ibu..."
Meski sedang dirundung yang tak terhingga, mau tidak mau Koan San gwat tercengang mendengar katanya ini. Li Sek hong tertawa pilu, ujarnya rawan.
"Mungkin kau tidak akan bisa memahami ucapanku bicara soal cinta, sudah tentu aku tidak lebih berat dari hubungan kalian ibu dan anak, tapi semula kau tahu bahwa kau punya seorang ibu, setelah kau dapatkan kini kau ditinggalkan pula. jadi tidak akan membawa banyak pengaruh terhadap kelanjutan hidupmu, sebalikanya aku kehilangan saudara hidup yang terakhir..."
Koan San gwat bingung mendengar kata kata orang.
Li Sek hong mengusap air mata lalu berkata pula "Kau tahu sejak mening galkan Sin ti hong, seperti perahu terombang ambing ditengah samudra, aku tidak punya tempat berteduh lagi, akhirnya secara kebetulan berjumpa dengan ibumu dia begitu baik laksana adik kandung sendiri terhadap ku, dia ingin selanjutnya kami bisa hidup berdampingan mengecap hari tua yang penuh penderitaan ini.
Siapa tahu nasib telah mempermainkan kita setitik harapan kinipun tidak bisa kunikmati lagi."
Koan San gwat amat haru, tak tertahan ia menekuk lutut dan berkata pelan.
"Li sian cu kau sebetulnya memang angkat tuaku, mengikat persahabatan yang begitu mendalam lagi dengan ibuku, selanjutnya kau adalah bibiku yang terdekat."
Li Sek hong menerima Gwat hoa Hujin dari tangan Koan San gwat, lalu ia menariknya bangun, setelah menatap sebentar ia berkata pelan "Aku amat senang punya famili seperti kau, tapi aku tidak mau mengakui keponakan macam kau ini, sebab aku akan mengajukan berbagai pertanyaan yang mempersingkat jawabanmu..."
"Persoalan apa?"
"Dengan ibumu aku sudah angkat saudara kali ini dia ajak aku kemari seolah olah sudah mendapat firasat bahwa umurnya tidak akan panjang maka sebelumnya sudah memberi pesan kepadaku, seluruh milik dan persoalannya ia serahkan padaku termasuk Khong ham kiong di Tay pa san dan kalian pelayannya..."
Cepat Koan San gwat berkata.
"Hal itu tidak menjadi soal, biar aku memberi tahu mereka supaya mereka ikut kau saja!"
"Tidak perlu, mereka sudah tahu karena bibimu sudah berpesan langsung dihadapan mereka tapi yang harus kuberi tahu kepada kau bukan paroalan ini"
"Persoalan apa saja?"
"Pertama tama aku harus tahu cara bagaimana kematiannya?"
"Kenapa kau harus menanyakan hal ini?"
"Ini sangat penting aku harus berpegang pada hal ini baru berkeputusan untuk mengurus pesan pesannya, karena dia ada memberi dua pesan yang berlainan. Pesan yang kau tidak perlu tahu."
Koan San gwat berpikir sebentar, lalu katanya "Boleh dikata beliau mati ditanganku tapi boleh dikatakan mati ditangan Yu hu..."
Tegak alis Li Sek hong.
"Sebenarnya siapa yang membunuh dia?"
"Sudah tentu aku."sahut Koan San gwat terisak. Berubah air muka Li Sek hong, berkata pula Koan San gwat "Jurus ketiga dilancarkan Yu hu memang bukan olah olah hebatnya, mungkin tiada tandingan diseluruh jagat. Waktu mengharap ibu ia masih ragu ragu dan segan menggunakan jurus itu, tapi setelah ku kejar kedalam gelangang, baru ia melancarkan jurus yang lihay itu, sasarannya adalah aku, ibu melihat aku akan kehebatan dan mara bahaya yang mengancam jiwaku, lekas ia menghadang kedepan, akhirnya dia sendiri yang menjadi korban..."
Li Sek hong bingung tanyanya.
"Jadi pedangnya yang membunuhnya..."
"Benar, melihat ibu memapak keputaran pedangnya, Yu hu didesak menarik kembali ditengah jalan, di saat ia menarik pedangnya itulah ia mengutungi pedangku..."
"Jadi kutungan pedang itulah yang menusuk pinggang ibumu ?"
Koan San gwat menunduk diam. Li Sek hong menghela napas perlahan lahan, gumamnya.
"Serba salah kalau begitu."
"Sebetulnya pesan apa yang ibu katakan kepada kau?"
"Bahwa akhirnya ia pasti mati di tangan putranya sendiri hal ini sebelumnya dia sudah duga, cuma tidak duga adalah kau, dia selalu menyangka adalah Lau Yu hu."
Tak tahan Ling koh menyeletuk bicara "Kalau teliti secara keseluruhan, kita harus menyalahkan Lan Yu hu, kalau dia tidak turun tangan kepada Hujin, mana bisa terjadi peristiwa ini?
Koan kongcu hanya..."
"Keduanya tidak bisa disalahkan"
Li Sek hong menukas.
"Hanya nasiblah yang harus disalahkan. Urusan selanjutnya yang belum terlaksana dia minta aku mengerjakan, ia merasa berdosa terhadap Lau Yu hu, kalau dia mati ditangan Lau Yu hu dalam sakit hati ini boleh dikata terlampias. dan tidak perlu banyak mulut, sekarang terpaksa aku harus melaksanakan pesannya yang terakhir."
"Pesan terakhir apa, mungkin aku bisa...."
"Kau tidak bisa, apalagi kau tidak akan mampu mengerjakan!"
Koan San gwat tertegun, kata Li kek hong lebih lanjut "Ia minta dikubur bersama ayahmu !"
"Sudah tentu, ayahku dikubur di Chang ya san, paman bungkuk tahu..."
"Ibumu pernah menyinggung orang itu, tapi dia minta dikubur setelah menunaikan sebuah urusan kau tahu urusan apa yang dia minta."
"Aku tidak tahu!"
"Pertama dia ingin menemui gurumu, kedua, hendak menuntut balas bagi Lau Ih yu mencari orang yang melukainya dulu!"
"Itulah...."
Koan San gwat menjadi gugup.
"Itulah Sinio, sekarang beliau berada bersama gurumu kedua urusan ini bisa dikerjakan bersama, tapi dapatkah kau mewakili aku mengerjakan kedua urusan ini?"
"Aku tidak bisa aku dan oen lolo. .."
"Aku tahu kau tidak mungkin bisa ibumupun tidak mau suruh akan menyelesaikan urusan ini."
"Memangnya kau sendiri bisa?"
"Tiada soal bisa atau tidak bisa bagi aku sebab aku tidak punya hubungan hutang budi dengan perguruan sebaliknya persahabatan dengan ibumu amat kental dan mendalam aku harus bekerja demi menentramkan arwahnya dialam baka."
"Tapi Lim siancu dan guruku berada disana, jikalau mereka..."
"Melihat aku, mereka tidak akan berani merintangi aku bekerja, pendek kata jelaskanlah dimana tempat itu kepada aku. Demi ketentraman arwah ibunya kau harus memberi tahu kepada aku!"
Koan San Gwat tenggelam dalam pikiran yang serba menyulitkan, mengawasi jenasah ibunya, lalu ia pandang pula Sek hong sekian lama ia sulit ambil kesulitan.
Melihat orang tidak memberi reaksi yang tegas, Li Sek hong menjadi jengkel katanya "Ibumu cukup bijaksana dalam menghadapi persoalan antara dendam dan budi, semasa hidupnya dan setelah meninggal, sedikitpun ia tidak suka hutang dan berbuat salah terhadap seseorang kenapa kau begitu tele tele tidak punya pendirian"
Berkata Koan San Gwat dengan pedih "Lau Yu hu adalah putra Lau Ih hu, soal balas dendam boleh diserahkan kepadanya..."
"Kalau Lau Yu hu minta kepada kau supaya mengantar manemukan Oen lolo bagaimana"
"Aku akan mengajak kesana, karena dia punya alasan yang kuat."
"Justru akupun punya alasan yang lebih kuat lagi,"
Dengus Li Sek hong dongkol.
"Karena ibumu sudah menyerahkan persoalan ini kepadakau, kalau tidak dia harus dikubur bersama Lau Ih yu, apa kau rela melaksanakan hal ini?"
"Sudah tentu tidak sudi, tapi bibi tidak perlu memberi kepastian ini?"
"Sebalikanya ibumu harus berbuat demikian, karena secara resmi dia adalah istri Lau Ih yu, dia harus berbuat menurut tugas dan kewajiban seorang janda."
"Mengasuh dan membimbing Lau Yu hu sampai dewasa, dia sudah menunaikan kewajibannya itu!"
"Pengertianya terhadap ibumu terlalu cetek, megasuh anak adalah kewajiban seorang ibu, menuntut balas bagi kematian suami justru adalah tanggung jawabnya, kalau urusan ini belum sempurna masakah dia ada muka dikubur bersama ayahmu. Dimasa hidup sudah berbuat salah, setelah mati arwah tidak bisa tenang.... Lihatlah kedua mata tidak mau terpejam, kau sebagai putranya ini sebenanya mengandung maksud apa?"
Memang kedua mata Gwat hoa Hujin hanya setengah terpejam, lekas Ling koh coba mengusap wajahnya pelan pelan, sudah terpejam lalu membuka lagi.
Sambil meneteskan air mata Kang Pan maju mendekat, katanya "Koan toako katakan saja, kau harus memberi ketentraman kepada bibi."
Li Sek hong tertawa dingin, ujarnya "Sebetulnya ibumu cukup bijaksana dan sayang kepada kau.
Coba kau pikir kalau urusan ini dia serahkan kepada kau, apakah kau bisa menolakanya?
Umpama dia mohon kau sebelum ajalnya tadi."
Koan San gwat berlutut lagi, katanya sambil menangis.
"Ibu, kuharap kau suka memaafkan, aku benar benar tidak bisa, bukan persoalan Oen lolo seorang, masih ada guruku, aku pernah berjanji tidak akan memberitahukan tempat itu, kuharap arwahmu dapat memaapkan aku, bu... kau minta aku segera mampus juga bolehlah."
Li Sek hong menarik napas, ujarnya.
"Terpaksa aku membawanya pulang ke Khong ham kiong dan menguburnya bersama Lau Ih yu... Kiok ci, sungguh aku tidak nyana kau melahirkan anak seperti..."
KoanSan gwat amat terpukul oleh kata kata ini, mengangkat pedang kutung ia sudah bergerak hendak menghujam ke ulu hati sendiri, untunglah Kang Pan mencegah perbuatannya ini.
"Koan toako, apa yang hendak kau lakukan?"
"Kalau kukatakan aku tidak setia dan ingkar janji, kalau tidak dikatakan aku menjadi anak durhaka yang tidak berbakti kepada orang tua, begini sukar menjadi manusia, lebih baik mati saja."
"Koan kongcu!"
Mendadak Ling koh menyela dingin.
"Silahkan kau mati saja silakan bunuh diri. Kalau kau sudah mati Cia Ling im tentu tertawa lebar sampai mulut nya sukar terkatup seluruh dunia ini tiada seorang pun yang akan mampu menundukan dia."
"Cia Ling im? Dimana dia?"
Baru sekarang Koan San gwat tersentak sadar.
"Sudah pergi sejak tadi! masakah dia harus tetap disini menunggu kematiannya?"
"Oh, Thian!"
Jerit Coan San gwat sambil memukul kepala.
"Apakah yang harus kulakukan !"
"Cara yang amat gampang! Kau tidak usah mati, tidak perlu menjadi putra yang tidak setia tidak berbakti, angan angan ibu mupun bisa terkabul !"
"Kau punya cara apa?"
Tanya Koan San gwat terlongong.
"Biar aku yang kawani Li siancu, menemui Lolo!"
"Kau ..."
Teriak Koan San gwat berjingkrak.
"Tidak salah! Hanya aku yang tahu tem pat itu meski beritahu belum tentu Li sian cu bisa menemukan tempat itu ada lebih baik aku saja yang membawanya..."
Dengan nanar. Koan San gwat mengawasi gadis cilik ini, hampir ia tidak percaya akan pendengarannya.
"Bukankah begitu lebih baik?"
"Tapi..."
Koan San gwat tersendat bicaranya."
"Terhadap kejadian melukai Lau Ih yu Lolo amat menyesal dan selalu menjadi beban pemikirannya, sabagai seorang beribadah yang memperdalam ajaran Thian, dia paling mengutamakan sebab dan akibat, beliau menghadapi persoalan ini lekas dibereskan, supaya tanpa membawa ganjelan hati meninggalkan dunia fana ini. Maka sebetulnya kau tidak perlu merahasiakan tempatnya, waktu aku keluar kalian pernah berpesan wanti wanti kepada aku, suruh aku hati hati dan menyirapi urusan ini..."
Koan San gwat masih belum percaya, terpksa Ling koh berkata pula.
"Silahkan kau tanyakan Li siancu, waktu aku pertama kali aku bertemu dengan ibumu, kami pernah membicarakan soal ini waktu itu aku sudah berjanji kepadanya."
Sorot mata Koan San Gwat beralih ke arah Li Sek hong dilihatnya orang tersenyum manggut manggut, serta merta ia meng hirup napas panjang katanya masgul "Li sian cu, kau sudah tahu, kenapa pula harus bertanya kepada aku ?"
Li Sek heng tersenyum, katanya "Ibumu sendiri yang menyuruh aku berbuat begini."
"Ibuku?"
Tanya Koan San gwat menegas heran "Kenapa ?"
"Cara ini baru bisa menyelesaikan angannya tentu tidak akan sia sia, lihatlah bukankah kedua matanya sudah tertutup?"
Koan San gwat menunduk, betul juga kedua kelopak mata Gwat hoa Hujin sudah tertutup rapat, raut wajahnya tenang dan wajar, ujung mulutnya malah mengulum senyum manis dan tertawa.
Koan San gwat garuk garuk kepala dan tidak habis mengerti.
"Kenapa kau tidak berpikir."
Ujar Li Sek hong kalem.
"Ibumu menyerahkan tugas terakhir ini kepada aku, mengandal kemampuanku masakah bisa ungkulan melawan Sunio? Kalau aku tidak bisa menang, apa pula gunanya?"
"Lalu bagaimana sekarang ?"
"Sekarang aku percaya pasti bisa, kalau Ling koh menceritakan sikapmu terhadap Sunio, demi putra Kiok cici, Sunio pasti akan menyempurnakan keinginannya."
"Benar,"
Ling koh menimbrung.
"Kesan Lolo terhadapmu amat baik dan luar biasa aku percaya bila dia tahu sikap setiamu tanpa hiraukan hubungan kekeluargaan tentu beliau akan suka rela mengabulkan cita cita ibumu."
"Cara bagaimani mengabulkannya?"
Tanya Koan San gwat tidak mengerti.
Berkata Ling koh sungguh sungguh "Pandanganku, paling tidak pasti memberi sebelah tangannya untuk dipapas kutung oleh Li siancu, lengan dikorbankan untuk menebus kesalahan, tapi juga untuk menentramkan hatinya."
"Bukankah cara ini malah aku .."
"Tidak mungkin! Lolo sendiri suka membebaskan kesalahannya diwaktu hidup, sudah tentu tujuannya juga demi kau, usahanya ini sebenarnya mengandung suatu makna yang amat mendalam."
Koan San gwat menjadi bingung, tanyanya "Cara begitu terhitung Lolo menyempurnakan diriku?"
"Tepat!"
Sela Li Sek hong.
"Beliau menyempurnakan supaya tulang belulang ayah mu bisa terkubur sama ibundamu, sebab kalau hal ini tidak sampai terlaksana betapapun ibumu tidak akan mau berbuat demikian."
Muka Koan San gwat menampilkan senyum dikulum, katanya "Jadi ibu mem peralat aku untuk mewakili Lau Ih yu menuntut balas?"
"Kehendak ibu terhadap anak tidak termasuk "memperalat"
Apalagi seumpama tiada unsur unsur yang menentukan dari kau ini, toh belum tentu rencana ibumu tidak bakal sukses.
Bukankah tadi sudah kau dengar ucapan Ling koh Sunio sendiri juga ingin menyelesaikan kejadian yang selalu mengganjal dalam sanubarinya, kena terpengaruh oleh kau pula sehingga urusan ini lebih gampang diselesaikan."
Berubah air muka Koan San gwat, Li Sek hong lekas menambahkan "Kau tidak perlu merasa janggal, ayah bundamu memang rada keterlaluan terhadap Lau Ih yu, kau sebagai putranya adalah jamak menunaikan, tugas dan mewakili mereka untuk penebus kesalahan kesalahan ini."
Sekilas Koan San gwat terlengong, akhirnya berkata kepada Ling koh dengan sikap kereng "Ling koh!
Kau boleh pergi dan dihadapan Lolo kau harus bicara jujur apaadanya secara terus terang kepada beliau.
Tapi kaupun harus memberi satu hal kepadanya, dia suka cara bagaimana menyelesaikan terserah kepadanya, jangan karena aku jadi ragu ragu dan serba salah.
Bukan saja aku tidak sudi menerima kebaikannya, sabaliknya aku akan membenci selama hidup ini..."
Li Sek hong melengak, ujarnya "Cara bagaimana kami harus menjelaskannya?"
"Begitulah maksudku, dalam segala tindak tandukku selamanya aku berpegang kepada nurani dan kelurusan hati, aku paling ben ci kepada orang yang suka membual dan tukang menjilat, menggunakan tipu daya dan lain lain cara."
Li Sek hong terdiam mematung, Koan San gwat segera menambahkan "Li Siancu aku tidak ingin memberikan penilaian terhadap mu, tapi aku tidak percaya bahwa kau suka menerima tugas terakhir, cita cita ibuku ini hanya karena persahabatanmu saja dengan beliau."
Berubah rona wajah Li Sek hong, Koan San gwat tertawa serta berkata pula "Selama ini kau diam diam mencintai guruku, tapi dia tinggal menyembunyikan diri dengan Lim siancu kan hendak menggunakan kesempatan ini untuk melihatnya.
Aku tidak menentang keinginan dan perbuatanmu.
Tapi perlu ku beri nasehat kepada kau, bahwa meski kau bertemu dengan mereka tidak akan membawa manfaat kepadamu, beginilah perasaan dan nurani manusia, jodoh tidak bisa dipaksakan...."
Li Sek hong tersenyum getir, sesaat kemudian baru dia berkata pilu "Aku sudah tahu mungkin kali ini aku bisa jauh lebih sedih, tapi aku harus kesana.
Pertama luka hatiku biarlah luka lebih parah dan padam.
Kedua aku akan menentang uraianmu tadi bahwa hubunganku dengan ibumu memang amat intim laksana kakak adik sekandung, tugas yang pernah kujanjikan harus kulaksanakan."
Dengan hormat tersipu sipu Koan San gwat menjura kepadanya.
katanya "Kalau begitu akulah yang salah, setulus hati aku mohon maaf kepada kau, dengan setulus hati aku memanggik (bibi) kepada kau.
Setelah tugasmu selesai, setelah aku membrantas Cia Ling im serta kamrat kamratnya, tentu aku akan kembali dan hidup berdampingan bersama sampai hari tuamu!"
Dengan berlinang air mata dan tidak bicara Li Sek hong tinggal pergi. Dengan terlongong Ling koh berkata "Koan kongcu, adakah omongan yang perlu kau sampaikan kepada gurumu?"
"Ling koh,"
Ujar Koan San gwat perlahan lahan "Usiamu masih kicil namun kutlihat kau sudah pandai berpikir dan tahu urusan, hal itupun tidak bisa disalahkan, guruku dan Lim sianculah yang medidikmu menjadi begini nakal..."
Berubah aia muka Ling koh, mulutnya sudah terbuka hendak bicara, lekas Koan San gwat menyela "Tidak perlu banyak bicara, semua aku sudah paham, kalau ketemu guruku sampaikan salamku, ucapan banyak terimakasih akan asuhan dan bimbingannya yang berbudi, katakan bahwa akang datand suatu kerika aku akan membalas kebaikannya ini...."
"Hanya kata kata itu saja?"
"Kedua patah kata ini sudah lebih dari cukup sungguh aku tak mengerti kenapa kehidupan dalam dunia ini saling memperalat? Dan sampai antara ibu beranak, guru dan murid pun tidak terkecuali."
Lingkoh tertegun tanyanya."Maksudku Ui ho Sianjing juga sedang memperalat dirimu?"
"Tidak salah !"
Sahut Koan San gwat tersenyum getir.
"sejak mula guruku sudah mengatur diriku sebagai wakilnya didalam Liong hwa hwe, supaya cita citanya bisa terkabul mengasingkan diri dan hidup bahagia bersama Ting siancu. Baru hari ini aku paham akan tetapi aku masih simpatik dan salut kepada beliau akupun akan membalas budinya, lekasilah kau pergi, Li siancu sudah jauh."
Dengan mendelong Ling koh memandang jauh kedepan lalu berkata menekan suara "Koan Kongcu adakah orang yang bersahabat secara suci murni terhadapmu, tanpa punya maksud memperalat dirimu?"
"Sudah tentu ada. Umpamanya Thio Ceng ceng, demi aku dia melakukan banyak pekerjaan, namun terhadapku tiada sesuatu yang diinginkan, aku jadi serba susah malah, entah cara bagaimana aku harus membalas kebaikannya."
Berubah air muka Kang Pan mendengar ucapannya, lekas ia menyeletuk.
"Koan toako! Bagaimana dengan aku? Meski aku belum pernah melakukan sesuatu kepada kau, tapi aku...."
"Kaupan temasuk satu diantaranya. Akupun amat berterima kasih kepadamu, ku harap selama kau berlaku polos jujur dan murni"
"Koan Kongcu!"
Mendadak dengan suara linu yang hampir tidak terdengar Ling koh berkata.
"Jangan kau lupakan aku..."
Habis berkata ia terus lari memburu di belakang Li Sek hong.
Koan San gwat menjadi merasa hampa Kang Pan mendekat disampingnya, katanya "Koan toako, maukah kau percaya?
Ling koh pun sedang mencintai kau."
Koan San gwat menggeleng, ujarnya."Aku tidak tahu, dia masih bocah kecil"
"Tidak, ia tidak kecil lagi, aku berani katakan sejak lama dia sudah jatuh cinta kepada kau, tempo hari dia rela tinggal disini menemani Coa sin, adalah demi kau pula."
Koan San gwat menjadi , uring uringan sentaknya.
"Jangan peduli janji tetek bengek segala macam, marilah kitapun pergi!"
"Pergi kemana ?"
"Akupun belum ambil kepastian, meski dunia amat luas, seolah olah tiada suatu tempat yang benar benar menjadi tempat tujuan ku, tapi, marilah kita menuju ke Ngo tai san dulu."
"Ya, Cia Ling im tentu sudah kembali kesana lebih dulu!"
"Sulit dikatakan, tapi peduli dia ada tidak disana kerjaannya tentu bukan urusan yang baik."
Kang Pan bingung dan tidak paham. Koan San gwat menjelaskan.
"Cia Ling im bukan orang goblok, tahu bahwa pasti tidak akan melepas dia, kalau dia masih tinggal di Ngo tai san, itu pertanda dia punya cukup tenaga untuk menghadapi aku, atau sebalikanya tentu dia sudah menyembunyikan diri, kemungkinan pula Thian mo kaupun tidak menunjukkan aktivitasnya lagi."
"Kalau begitu tak usah kau meluruk kesana tempat itu cukup berbahaya bagi kau kalau dia tidak disana. Thian mo kaupun sudah diboyong kelain tempat, apa pula gunanya kita menyusul kesana?"
Koan San gwat tertawa lantang, ujarnya.
"Kalau dia masih disana ku ingin melabrakanya, kalau sudah pindah tempat akan kucari sumber penyelidikkan disana untuk mengejar jejaknya lebih lanjut. Kalau durjana itu tidak dibrantas dunia tidak akan aman."
Kang Pan memasukan Siau giok kedalam kain kantongnya, katanya "Entahlah, yang terang kemanapun kau pergi kesitu pula aku ikut!"
Koan San gwat menarik napas panjaug Ui tiap kiam milik Gwat hoa Hujin ia masukkan kedalam sarungnya terus diserahkan kepada Kang Pan, menunjuk kantong kainnya berkata "Kang Pan!
Aku tidak perlu menggunakan senjata, ada Siau giok sudah lebih dari cukup, kau saja yang bawa Cia Ling im dan Lau Yu hu masing masing punya sebilah pedang mustika, kaupun perlu membawa pedang tajam ini.
Koan San gwat menimang nimang pedang ditangannya, katanya.
"Selama hayat dikandung badan, aku akan membekal pedang ini tidak menggunakan senjata lainnya."
Kang Pan maklum bahwa perasaan hati orang sedang risau maka ia diam saja tak berani banyak bicara mengganggu ketenangan nya, lekas ia bantu menggantung Ui tiap kiam dipiggangnya, namun Koan San gwat tertunduk menjublek mengawasi tanah.
Tampak oleh Kang Pan kutungan lengan itu, itulah lengan Lau Yu hu yang ditebas kutung oleh Koan San gwat, tak urung berdetak jantungnya, dengan rasa was was ia berkata.
"Koan toako! Aku tidak tahu keadaan pertempuran, kukira...."
"Bukan salahmu. Lau Yu hulah yang harus memikul pertanggungan jawab terbesar akan kematian ibuku, terhadap ibu kandung sendiri mana boleh ia bersikap begitu..."
Kang Pan berpikir lalu bertanya.
"Koan toako! Menurut omonganmu jadi Lau Yu hu belum terhitung terlalu bejat, yang jahat adalah ayahnya serta pengasuh yang membimbing nya sampai besar bemama Hwi kak itu. Merekalah yang menanamk n bibit, dendam kesumat didalam sanubarinya sampai tumbuh dewasa."
"Semua salah, semua juga tidak salah mungkin perbuatan Hwi kak memang tidak dapat dibenarkan, berdiri pada pihakanya adalah demi kesetiaannya terhadap Lau Yu hu, lalu siapa pula yang bisa mengatakan dia salah?"
"Koan toko, aku tahu banyak urusan ucapanmu ini membuat bingung hatiku, jadi dalam persolan ini pihak siapa yang benar dan pihak mana yang salah?"
"Sulit untuk menjelaskannya ayahku menyintai nyonya muda yang sudah bersuami hal ini memang boleh dibenarkan, tapi cinta mereka adalah suci dan murni. Setelah mati Lau Ih yu masih mengatur langkah langkah jahatnya, namun dia pula orang yang langsung terkena getahnya, melihat istri tercinta direbut orang adalah jamak kalau dia teramat benci dan sakit hati, kalau dinilai keseluruhannya mereka sama tidak bersalah!"
"Aku tahu sekarang! Kodratlah yang akan permainkan manusia, jikalau ibumu sudah berkenalan lebih dulu dengan ayahmu sebelum menikah dengan Lau Ih yu, peristiwa ini tentu tidak akan terjadi !"
"Terpaksa hanya begitu kesimpulan kita."
"Ibumu memang seorang tua yang patut dihormati, ia jelas membedakan dendam dan budi."
"Apa yang diatur oleh ibu dalam persoalan ini memang betul, cuma tidak seharusnya dia memperalat aku....."
"Koan toako, pikiranku amat sederhana tidak dapat kupikirkan aturan besar apa apa, tapi naluriku bicara aku tidak percaya bahwa hal itu adalah maksud langsung dari bibi!"
"Memangnya kenapa?"
Tanya Koan San gwat tersirap.
"Jikalau ia hendak memperalat kau untuk menuntut balas bagi Lau Yu hu, bukankah lebihh baik ia menyerahkan persoalan ini kepada kau. Kalau toh dia hendak membedakan budi dan dendam, kenapa pula harus bertindak putar balik....."
"Tepat! Tapi kenapa Li Sek hong harus berbuat demikian."
"Kukira Li Sek hong hendak mengabulkan kepintarannya, dia mendapat pesan wanti wanti dari ibumu, tapi kuatir dirinya tidak bisa menunaikan tugas yang diberikan itu, maka dia pikir hendak mengajak dirimu...."
Sebentar Koan San gwat terlongong, mendadak berjingkrak dan berteriak.
"Betul! Kenapa tidak kupikirkan kearah itu! Marilah lekas kejar!"
"Untuk apa?"
"Akan kubongkar akal licik Li Sek hong ini, akan ku cegah dia bekerja menggunakan nama baikku, supaya ibuku tidak meninggal dengan rasa was was."
Lekas Kang pan menarikanya, katanya "Kukira tidak perlulah, Li Sek hong berbuat demikian juga demi ibumu, kalau dia tidak menempuh cara ini, tulang belulang ayahmu tidak bisa akan di kubur bersama ibumu..."
Koan San gwat masih hendak bicara, lekas Kang pan bicara dahulu "Cukup asal kau paham bahwa ibumu tidak mengandung maksud maksud seperti itu, kenapa kau haru mempersulit Li Sek hong, semua bekerja demi keyakinan sendiri sendiri, hubungan Li Sek hong dengan ibumu tidak lebih hanyalah saudara angkat, bahwa dia rela melaksanakan tugas tugasnya ini, dan kau sebagai putra keturunannya, masakah tidak rela menerima sedikit getahnya?"
Koan San gwat menjublek sekian lamanya, akhirnya berkata menarik napas.
"Kang Pan ucapanmu memang betul, agaknya pikiranmu jauh lebih tinggi dari aku!"
"Aku tidak mengenal akan licik dan tipu muslihat, semua ku gunakan keringanan, secara lincah dan tulus kupandang maya pada ini, maka didalam pandang aku maya pada ini jauh lebih indah, lebih elok dari apa yang kau lihat..."
Koan San gwat tidak bersuara. Kang Pan berkata lebih lanjut.
"Li Sek hong sendiri kurang pengertian terhadap kau, jikalau dia memaparkan maksud keinginan ibumu secara blak blakan kepadamu, mungkin kau suka rela akan mewakilinya menyelesaikan urusan itu."
Koan San gwat menghela napas, ujarnya.
"Mungkin ucapanmu benar, yang terang Li Sek hong tidak pantas berbuat demikian, karena maksud ibuku tidak ingin aku terlibat dalam persoalan ini... Kang Pan! Ucapanmu memang benar, sekarang aku jadi simpatik dan berterimakasih kepada Li Sek hong, tujuan dan maksudnya memang jujur, tadi tidak pantas aku bersikap demikian terhadapnya!"
"Asal kau seperti diriku, pandanglah maya pada ini dengan nurani yang suci murni, akan segera kau dapatkan dimana mana penuh bertaburan bunga bunga mekar semerbak, alam semesta ini diliputi cinta dan kehangatan... Koan San gwat dan Kang Pan kembali sudah berdiri didepan gunung Ngo tai san, sikap mereka kelihatan melengak dan heran. Bendera kebesaran Thian mo kau ternyata sudah lenyap dari tempatnya berkibar, yang ada hanyalah selarik panji panjang yang tersulam sebatang pedang dan satu huruf Im yang besar dibelakang pedang adalah sebuah lukisan Pat kwa. Gambar Pat kwa ini cukup dikenal oleh Koan San gwat, karena itu tanda kebesaran dan keluarga In dari Bu khek pay. Bu khek pay hanyalah sebuah sendikat kecil yang bercokol ditengah arus gelombang pertikaian didunia persilatan, masakah mereka mampu merobohkan atau menumbangkan kekuatan Thian mo kau yang besar dan kokoh serta menggantikan kedudukannya. Hal inilah yang membuat orang heran dan melengak. Adalah pertanda yang terukir diatas panji itu menjadi kenyataan dan tidak biaa disangkal lagi, mau tidak mau mereka harus percaya akan kenyataan ini. Disaat mereka melenggong dan kebingungan, dari jalan pegunungan sana tampak lari mendatangi seekor kuda yang ditunggangi seorang laki laki bertubuh kekar, golok tersoreng dipinggangnya sikapnya kereng dan angker. Begitu melihat orang ini semakin heran dan menjadi curiga hati Koan San gwat. Laki laki ini adalah Cit sing to Lau Sam thay, dulu waktu orang menyelidiki persoalan Hwi tho ling cu baru berkenalan dengan dirinya, dan karena orang ini pula sehingga dirinya timbul persengketaan dengan pihak Bu khek pay. Sungguh tidak nyana, ditempat ini dan saat ini pula ia bisa bertemu dan melihatnya dan karena inilah, maka Koan San gwat lebih yakin bahwa panji panjang itu jelas pasti ada sangkut paut yang erat dengan Bu khek pay dari keluarga Im. Badan Lau Sam thay rada gemuk dari dulu, sikapnya lebih gagah dan bersemangat, muka tampak berseri tawa bercokol diatas tunggangannya cuma sikapnya saja yang masih sopan santun dan sungkan sungkan, dari kejauhan lantas turun dari punggung kuda dan menjura memberi hormat, sapanya "Lingcu! Sejak berpisah apakah dia baik baik saja. Kabarnya dalam satu tahun ini kau sudah melakukan perjuangan besar yang menggemparkan seluruh jagat, sekarang namamu tenar sampai keseluruh pelosok dunia, sebagai pendekar yang tiada bandingannya. Koan San gwat tertawa tawar, ujarnya.
"Lau Samcu, kau sendiri juga tambah gemuk dan hidup senang agaknya! Tempat ini adalah...."
"Teima kasih! Masakah aku berani menerima pujian Lingcu. Disini akupun beruntung bisa bercokol berkat muka dan nama Lingcu belaka...."
"Karena nama dan mukaku apa?"
Tanya Koan San gwat tidak mengerti.
Lau Sam thay berseri tawa, sahutnya "Tempo hari beruntunglah karena Ling cu sudi mengangkat hamba menjadi pengiring Ling cu, maka nona Im baru sudi mengundang hamba disini aku mendapat tugas sebagai penerima dan menyambut tamu."
Koan San gwat lebih heran, tanyanya.
"Nona Im? Nona Im yang mana?"
"Ling cu memang sering agung yang suka melupakan urusan, nona Im adalah putri terkecil dari Ciangbujin Im Siok kun dari Bu khek pay di Im san yang bernama Im Lee hoa. Bukankah dulu Ling cu pernah melihatnya satu kali?"
Teringat oleh Koan San gwat dulu Thio Hun cu pernah memincut Im Le hoa ini, sehingga pihak Bu khek pay salah paham hendak mencari perhitungan dan adu jiwa pada dirinya.
Dan karena peristiwa itulah maka Thio Ceng Ceng tanggal lari dengan jengkel dan malu.
Kenapa Im Le hoa bisa berada ditempat ini?
Lau Sam thay masih tertawa tawa ujar nya.
"Nona Im sekarang cukup jempolan, kedudukannya jauh lebih tinggi entah berapa lipat dari ibunya sekarang dia adalah Ciangbunjin dari Tay khek pang oh ya, mungkin kau belum tahu akan Thay khek pang bukan?"
Koan San gwat menggeleng, sahutnya "Betul, aku belum mengetahuinya!"
"Hal ini tidak perlu dibuat heran, Thay khek pang selalu bekerja secara diam diam baru pertama kemarin menerima peninggalan Thian mo kau ini, baru pertama kali ini kita kibarkan panji kebesaran ini!"
"Cara bagaimana Thian mo kau sudi menyerahkan markas besarnya ini? Dimana Cia Ling im?"
"Selama ini Cia Ling im tidak pernah muncul, seluruh anggota Thian mo kau kemarn dipimpin oleh Ki Houw semua mengundurkan diri, dengan leluasa kita lantas menempatinya"
"Bicaramu semakin tidak genah! Cara bagaimana Ki Houw mau menyerahkan pangkalannya kepada kau?"
Lau Sam thay tertawa kesenangan, sahut nya.
"Sudah tentu Ki Houw tidak sudi, tapi setelah dia melihat Liu tongcu, terpaksa mencawat ekor seperti halnya dengan Bu khek pay, Thay khek pang seluruhnya dipegang oleh kaum perempuan!"
Koan San gwat keheranan, tanyanya.
"Siapa pula Liu tongcu itu?"
"Semua adalah kenalan lamamu, dia ber nama Liu Ih yu, sekarang menjabat sebagai Cong tongcu juga kenalanmu yang paling rapat, kau tahu siapa dia?"
Koan San gwat berpikir sebentar, lalu berkata "Thio Ceng ceng!"
"Sekali tebak kena betul. Orang orang dalam Thay khek pang yang banyak kau kenal seperti Sing tong Tongcu Lok Siang kun, Kong kun tong Tongcu Lok Heng kun, Sian hong tongcu Lok Sia hong dan masih banyak lagi."
Semakin bingung dan tak mengerti Koan San gwat dibuatnya, setelah terpekur ia berkata "Coba katakan cara bagaimana Im Lee hoa bisa diangkat menjadi Ciang bun jin?"
"Sudah tentu karena adanya sangkut paut dengan Thio loyacu, sebetulnya hak kekuasaan Ciang bun jin ini tidak lebih besar dari berkuasa dari Lwe tong Tongcu, karena didalam tingkatan dia lebih tinggi satu angkatan..."
"Dia lebih tinggi seangkatan dari Ceng Ceng. Jadi dia...."
Lau Sam thay menekan suara, katanya "Soal ini tiada halangan kuberitahu kepada kau toh kau memang sudah tahu, nona Im adalah nyonya muda dan Thio loyacu, jadi ibu tiri nona Thio....."
Berubah air maka Koan San gwat, katanya.
"Jadi kejadian dulu itu memang kenyataan?"
"Bagaimana duduk perkara sebenarnya?"
"Dulu Thio loyacu pernah berkunjung ke berbagai golongan dan partai silat yang tersebar di mana mana, merebut buku rahasia pelajaran silat mereka, hal ini kau sendiri tentu tahu, kejadian itu...."
"Jadi betul dia adanya!"
Bentak Koan San gwat.
"Tua bangka ini masih pura pura welas asih di Liong hwa hwe dulu terhadapku!"
Lekas Lau Sam thay menggoyang tangan katanya.
"Ling cu salah paham, dalam hal ini Thio loyacu mempunyai maksud maksud tertentu, sudah tentu hal ini amat erat sangkut pautnya dengan Liong hwa hwe , ilmu silat Bu tong dan Siau lim merupakan yang lain dari yang lain, sejak lama Cia Ling im sudah mengincer mereka dan hendak melebar kedua partai ini masuk kedalam kekuasaannya. Thio loyacu mendapat bisikan dulu, membunuh kedua Ciang bun jin kedua partai ini, terhadap luar disiarkan kabar bahwa dia merebut buku rahasia pelajaran silat mereka, sebetulnya hanya buku tiruan saja yang dia bawa buku aslinya masih berada ditempatnya semula!"
Koan San gwat mendengus jengeknya.
"Lalu kenapa ia harus membunuh ke dua Ciang bun jin kedua partai itu?"
Kedua Ciang bun jin itu insaf mereka tiada kekuatan untuk melawan kehendak Cia Ling im, demi melindungi ilmu silat peninggaalan cikal bakal mereka supaya tidak terjatuh ketangan orang luar, dengan suka rela mereka mengorbankan diri!"
"Aku tidak percaya !"
"Ciang bun jin angkat bahu dari kedua partai itu, sedikitpun tidak menaruh dendam sakit hati terhadap Thio loyacu dari hal ini kau akan mendapat bukti bukti yang cukup banyak !"
"Lalu bagaimana pula persoalannya dengan Im Le hoa?"
"Bicara soal ini jauh lebih mengesankan Thio loyacu mendapat kabar bahwa Bu khek pay merekapun termasuk dalam daftar yang ditundukan, tapi waktu itu tiba insaf dan melihat kenyataan, terasa bahwa ilmu pedang mereka bahwasannya tiada sesuatu keanehan nya, maka ia membatalkan niatnya semula. Tapi, dasar ilmu pengobataanya teramat tinggi, sekilas pandang ia melihat bahwa Im Le hoa semacam penyakit aneh yang cukup gawat."
"Penyakit apa?"
"Katanya penyakit Hoa cit!"
"Bohong! Kenapa ibunya tidak tahu?"
"Hoa cit adalah semacam penyakit yang aneh, penyakit ini sejak dilahirkan sudah mengeram dalam tubuh anak perempuan akan kumat setelah dia berusia delapan belas tahun. Waktu Thio loyacu tiba disana kebetulan penyakitnya itu kumat, kalau penyakit itu sedang gawat, seperti gila saja dia mencari laki laki, karena Thio loyacu tidak kenal dengan keluarga Im, maka sulit ia memberi penjelasan, terpaksa dia bekerja diam diam memberi pengobatan."
Koan San gwat terlongong sekian saat, sungguh tidak kira dalam persoalan ini mengandung seluk beluk yang liku liku.
"Tapi tugas dan kerjaan Thio loyacu amat banyak dan sibuk sekali, tanpa menunggu penyakit orang disembuhkan dia lantas tinggal pergi, tapi dia sudah menyembuhkan sebagian penyakit itu... akhinya...."
"Akhirnya terjadilah peristiwa yang kita alami dulu!"
"Benar! Penyakit Im Lee hoa waktu itu belum sembuh seluruh nya, mulutnya mengoceh kalang kabut, ibunya tidak tahu duduk perkaranya lantas main tuduh dan bertekad hendak menuntut balas kepada Thio loyacu!"
Ilmu pengobatan Thio Ceng Ceng pada waktu itu sudah cakup baik juga, kenapa ia tidak melihat adanya penyakit aneh itu pada diri Im Lee hoa?
Kalau tidak mungkin dia mengalami pukulan batin yang begitu berat."
"Nah disitulah letak kesalahannya, penyakit Im Le hoa baru sembuh separuh, lahirnya sukar diketahui, maka semua orang mau percaya obrolannya, sebetulnya Thio loycu tidak berbuat tidak senonoh terhadapnya, kau masih ingat hari itu bukankah nona Thio memberikan sebutir obat? Obat itu justru menyembuhkan seluruh penyakit nona Im secara tidak sengaja."
"Selanjutnya bagaimana?"
"Setelah penyakit Im Lee hoa sembuh ia tuturkan duduk perkara sebenarnya kepada ibu nya, barulah Im Siok kun insaf bahwa dia salah menuduh Kepada Thio loyacu, tapi waktu itu semua berada di Bu san!"
"O, jadi begitulah duduk perkatanya, tapi waktu di Sio li hong disaat pembukaan Liong hwa hwe, kenapa Thio loyacu tak memberi penjelasan kepada aku?"
"Sebelumnya dia sudah mendapat pesan dari Go hay ci hang, dia disuruh masuk kelompok orang orang Cia Ling im, sudah tentu menjadi sulit memberi keterangan kepada kau sehingga terjadilah peristiwa berbuntut panjang ini!"
"Kejadian selanjutnya aku sudah mengerti, tapi kenapa Im Lee hoa bisa betul betul menikah dengan Thio lopek? Cara bagaimana pula bisa mendirikan Thay khek pay disini?"
"Karena disembuhkan oleh Thio loyacu Im Lee hoa bersumpah kecuali menikah dengan Thio lopek? Cara bagaimana pula bisa mendirikan Thay khek Pang disini?"
"Karena disembuhkan oleh Thio loyacu. Im Lee hoa bersumpah kecuali menikah dengan bulim, selama hidup tidak mau kawin, kebetulan akupun ikut kau pergi ke Bu san aku hanya jelas mengetahui keadaan kalian, waktu Im Siok kun mencari aku membawa putrinya, minta aku menemukan Thio loyacu, aku tahu Thio loyacu berada didalam Thian mo kau, namun tidak berani aku menemui dia, sampai kira kira beberapa selang nona Thio Ceng eeng ketemu aku dan bertemu pula dengan nona Im, setelah mendapat penjelasan duduk perkaranya, baru hilanglah kesalah pahamnya terhadap ayahnya. Saat itu pula ia membuat satu keputusan!"
"Keputusan apa?"
"Ia keputusan hendak mendirikan satu kekuatan lain untuk menandingi Thian mo kau. Dia suruh aku mencari bala bantuan dan mengumpul tenaga, yang kukenal hanyalah keluarga Lok ibu beranak, maka kucari mereka akhirrnya urusan terjadi perubahan, entah dengan cara apa Thio loyacu berhasil menundukan seorang aneh, kepandaian silat orang aneh itu cukup berkelebihan untuk menundukkan Cia Ling im. Koan San gwat tahu orang aneh yang dimaksud tentulah Coa sin adanya, cepat ia bertanya.
"Apakah mereka berkumpul diatas gunung?"
"Betul! Thio loyacu tidak mau berkecimpung dalam urusan dunia lagi, ia berkeputusan hendak hidup dalam pengasingan diatas gunung sampai hari tua, nona Im bertekad menjadi istrinya, nona Thio Ceng ceng juga mengharap belaian orang tua ada yang merawat dan melayani, dia ikut menyokong dan memberi dorongan, dan lagi ia mengusulkan supaya nona Lu menjadi Ciang bun jin dari Thay khek pang."
"Kenapa harus menggunakan nama ini?"
"Itulah hasil dari pemikiran nona Thio dari Bu khek ke Thay khek pertanda bahwa Thay khek kun adalah bersumber dari Bu khek karena dulu diapun pernah membunuh beberapa anggota keluaga Im, dengan cara ini ia hendak melimpahkan rasa penyesalannya terhadap Bu khek tay, sebetulnya mengandal kekuatan Thay khek pay sekarang, jelas Bu khek pay bukan apa apanya lagi!" -oo0dw0oo-
Jilid 30 TERASA lega dan kendor perasaan tegang Koan San gwat selama ini, katanya tertawa.
"Kau sebagai penyambut tamu dari Thay khek pay, tiada heran kau sekarang lebih gemuk dan hidup kesenangan."
Lau Sam thay terkekeh geli, katanya "Ling cu terlalu sungkan bekalku hanyalah cukup banyak makan saja, Thay khek bu hari ini baru didirikan secara resmi, aku sedang hendak berangkat menyampaikan undangan kepada para sahabat Bulim ...."
Koan San gwat mendadak bertanya.
"Bagaimana nona Thio membuat penyelesaian dengan Thian mo kun?"
"Nona Thio adalah orang yang bijaksana, dia tidak suka main bunuh, kemaren waktu Ki Houw membawa kamrat kamratnya nona Thio pernah memberi nasihat dan ancaman keras kepadanya, supaya selanjutnya tidak membuat kejahatan, kalau tidak tentu tidak akan diberi keampunan, tanpa berani bercuit Ki Houw mencawat ekor."
"Ceng ceng memang seorang yang gagah yang patut diberi penghargaan, Thian mo kau sudah lenyap, semoga dunia aman sentosa, jasa jasanya kali ini sukar ditakar, sudah pantas aku menyampaikan selamat dan salut setingginya."
Lau Sam thay memicingkan mata, katanya tergagap.
"Ling cu! kau...."
"Ada persoalan apa? Silahkan tanyakan saja!"
Lau Sam thay tampak ragu ragu dan pelegak peleguk, katanya "Ling cu!
nona Thio pernah berpesan, katanya siapa saja dia tidak mau menemui termasuk kau pula, dan lagi dia tidak mendinginkan kau naik ke atas gunung."
"Dia tidak mau menemui aku? "
"Ya, diapun berkata, umpama kau datang, dia hendak menyampaikan dua patah kata, menurut katakan tugas dan kewajiban untuk mengamankan dunia silahkan serahkan kepadanya saja, kau boleh mengejar kehidupan bahagia bersanding dengan istrimu!"
"Betulkah mereka berkata demikian? "
"Aku punya berapa kepala berani berkata bohong. Ling cu, aku tahu rasa cintanya terhadap kau amat mendalam, mungkin hanya karena kedongkolan hati sementara saja, kau tidak perlu ambil dalam!"
Koan San gwat menjublek di tempatnya. Lau Sam hay berkata pula.
"Penghuni gunung ini kebanyakan adalah kenalan lama mu, semua ingin bertemu sekali lagi dengan kau, terutama Liu tongcu dan Lok Siau hong setiap saat mereka selalu mengenang dan memikirkan dirimu. Kukira lebih baik kau keatas dulu, meski aku harus dihukum penggal kepala, aku pun rela memikul tanggung jawab ku ini, mungkin setelah bertemu muka dengan kau, dia bisa mengubah pendiriannya!"
Koan San gwat menggeleng kepala, katanya.
"Tidak usahlah! Lebih baik tidak bertemu saja, aku tahu bahwa dia sudah mencapai maksud yang begitu tinggi akupun ikut senang dan puas!"
Lalu ia panggil Kang Pan dan mengajakanya berlalu.
Lau Sam thay lekas mengejar, serunya "Lingcu!
Kalau toh kau tidak mau naik keatas gunung, silahkan tunggu di sini sebentar, aku bisa mengundang yang lain lain kemari, mereka benar benar ingin bertemu dengan kau!"
"Tidak usah! Siapapun aku tidak mau menemui, tidak usah kau bicara dengan mereka bahwa pernah kemari. Lau samko selamat bertemu, semoga kalian hidup rukun dan senang semunya lancar dan mendapat sukses lebih besar."
Habis berkata bersama Kang Pan mereka berjalan cpat, setelah jauh dan keluar dari lingkungan pegunungan Ngo tai san baru mereka mengendorkan langkah, air muka Kang pan tampak sungguh, katanya ragu ragu.
"Koan toako, apakah nona Thio bertengkar dia berpisah dengan kau karena gara garaku?"
"Aku percaya karena bukan hal itu."
"Lalu kenapa dia tidak mau menemui kau? "
"Kau tidak akan paham."
Kang Pan membelalakan matanya, namun Koan San gwat sudah segan bicara lebih lanjut. Sesaat kemudian baru dia bertanya dengan suara lirih.
"Koan toako, kemana sekarang kita hendak pergi?"
Koan San gwat tertegun dunia selebar ini, belum terpikirkan olehnya suatu tempat yang menjadi tujuannya.
Sejak ia muncul di dunia bebas dengan nama kebesaran Bing tho ling cu, sampai sekarang belum ada kesempatan istirahat melepaskan istilah, karena selalu sibuk dan dikejar kejar oleh tugas dan urusan yang belum bisa diselesaikan selama ini sekarang agakanya tiada sesuatu yang perlu dikerjakan lagi.
Dia pernah berjanji pada diri sendiri untuk menempatkan diri sebagai penyelamat kehidupan masyarakat umum dari tindasan dan kelaliman kelompok kelompok penjahat akan tetapi berdirinya Thay kek pang sudah merupakan tandingan pula bagi tugas tugasnya yang bisa dipikul bersama, berarti tugas tugasnya mendatang menjadi berbagi dua dan rada ringan namun rasa hati menjadi hampa kosong, setelah menjublek setengah harian baru ia menarik napas, dan berkata.
"Sekarang terpaksa aku harus menyusul kebelakang Bu san untuk menengok kerjaan Li sek hong bagaimana, tapi aku kuatir kedatatanganku sudah terlambat."
"Sudah terlambat? Kenapa bisa terlambat? "
Bahwa Oen lolo suka menyempurnakan diri dalam soal sebab dan akibat, kerjaan Li Sek hong pasti dapat dilakukan dengan leluasa maka kukatakan terlambat!!!...."
Koan San gwat manggut manggut, ujarnya "Ya, hanya tugas itulah yang bisa kulakukan sekarang,"
"Selanjutnya bagaimana ?"
"Kelak kita harus pulang ke Kho ham Kiong di Tay pa san, disana kita bisa hidup secara tenang dan tentram, persoalan di kangouw tidak perlu aku yang mengurusnya lagi!"
Kata katanya mengandung kehawatiran hati. Kang Pan dapat merasakan gejolak hatinya ini, katanya kalem.
"Koan toako! kau pasti tidak akan bisa mengecap kehidupan demikian."
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku tidak akan bisa mengecap kehidupan macam itu?"
"Aku pun sulit menjelaskan tapi aku tahu orang macam kau ini, mutlak tidak akan bisa hidup secara tenang dan tentram, karena kau laksana seekor kuda liar yang lepas dari pingitan."
"Kuda liar yang lepas dari pingitan? Maksudmu kecuali hantam menghantam, aku tidak punya cara kehidupan kehidupan lain yang lebih harmonis, kau tahu watakku paling membenci pembunuhan!"
"Bukan maksudku hendak mengatakan kau suka membunuh orang, tapi aku percaya kau tidak bisa hidup tenang tanpa terlibat urusan, cukup asal mendengar benturan alat senjata, darah panas dalam rongga dadamu seketika akan bergolak sifat perjuangan yang perwira selalu melandasi sanubarimu, apalagi jiwamu masih amat muda."
Baru saja Koan San gwat mendebat uraiannya, mendadak didengarnya derap kaki kuda dan kelintingan kumandang disebelah belakang, waktu ia berpaling dilihatnya Thio Ceng ceng sedang menuggang seekor kuda tinggi besar berlari mendatangi.
Seketika ia mendelong dan berdiri mematung menunggu orang membedal kudanya lebih dekat, begitu tiba Thio Ceng ceng lantas melompat turun, kedua matanya memancarkan sinar terang dan sinar mengawasi dirinya tanpa bersuara.
Menunggu sesaat kemudian baru dia berkata "Koan toako, kau tidak akan membenciku bukan?"
Suaranya lirih dan gemetar.
"Tiada alasan aku membenci kau, kebalikannya cukup alasan kau membenci aku."
"Tidak! Koan toako kau salah sangka bukan karena aku pribadi aku tidak menemui kau dan bukan karena aku membenci kau aku tidak mau menemui kau, sedikitpun aku tiada maksud hendak membenci kau!"
Kata kata orang membuat Koan San gwat melenggong. Melihat orang berdiri mematung Thio Cen ceng bertanya.
"Koan toako kau paham maksudku? "Thio Ceng, ceng! sungguh aku tidak paham!"
Thio Ceng ceng tertawa getir.
"Koan toako, dalam perjuangan hidup ini, kau memerlukan wadah kekeluargaan untak melanjutkan kehidupan dihari tua yang mendatang, tapi diatas Ngo tai san terlalu banyak permpuan perempuan yang membawa nasib jelek ada lebih baik kau tidak bersua dengan mereka!"
Seperti diiris iris hati Koan San gwat lekad ia ulapkan tangan, katanya.
"Sudah Ceng ceng, kau tidak perlu mengutarakan lebih lanjut!"
Sekilas Thio Ceng ceng melirikanya dengan lesu, akhirnya berkata dengan tegas, dan lirih.
"Secara objektif kupandang situa si Bulim dalam beberapa tahun belekangan ini, kukira kekuatanku masih kuasa mengendalikannya tapi aku tidak berani tanggung kuasa menguasai keadaan selamanya."
"Ceng ceng. Aku paham akan maksud mu, tapi kau harus tahu .."
Tiba tiba ia sadar bahwa Kang Pan berada disampingnya lekas ia menghentikan kata katanya, akan tetapi sorot matanya menampilkan bahwa maksud hatinya masih belum kuasa melimpahkan isi hatinya.
Namun Ceng ceng cukup paham dan manggut manggut, katanya.
"Koan toako! Aku pun memaklumi isi hatimu, malah sedikitpun aku tidak menaruh kebencian terhadapmu, sedikitpun aku tak cemburu atau jelus teerhadap nona Kang yang bisa selalu mendampingi kau..."
Mendadak Koan San gwat angkat tangan katanya.
"Ceng ceng, aku tak kan melupakan budi kebaikanmu ini selama hidupku ini, maka akupun tidak perlu banyak kata lagi! "Koan toako, bagaimana perhitungan langkah langkahmu selanjutnya? "
"Ada sebuah urusan yang belum sempat kulaksanakan, setelah urusan itu dapat kuselesaikan, mungkin aku akan menetap di Khong ham kiong sampai di hari tua, selama hidup tidak akan terjun kedunia ramai."
"Baiklah, aku tak akan lama lama, menahan kau, silahkan. Cuma kau harus tetap ingat bahwa kita tetap masih bersahabat, bila kau perlu bantuanku...."
"Aku percanya tidak perlu lagi, urusanku hanya aku sendiri baru bisa diselesaikan, siapapun tidak akan bisa membantu aku, tapi aku selalu mengingat ucapanm, kalau kau punya waktu luang..."
"Aku akan menengok kau, entah kapan belum bisa kutentukan !"
Koan San gwat melengak, katanya "Kapan saja kau merupakan tamu agung paling ku nanti dan kusambut dengan senang hati."
Thio Ceng ceng tertawa getir katanya.
"Koan toako, aku tidak percaya selamanya kau akan menjadi naga sakti yang tidak bisa dikekang, tapi aku sediri juga tahu lama lama kau bisa menemukan belenggu dalam bidang asmara, maka akan kuajakan hari pertemuan kita dalam batas waktu yang tidak bisa di tentukan, bicara terus terang yang akan ku tengok bukanlah kau, adalah ...."
"Itu tidak mungkin"
Sahut Koan San gwat pendek dan tegas.
"Aku tidak percaya, gurumu harus menunggu dua puluh tahun baru mendapatkan nya, masakah kau akan lebih lama lagi, tapi aku pecaya dalam masa hidupmu ini, akan datang suatu ketika terjadilah peristiwa yang kutunggu tunggu."
Sejenak Koan San gwat terlongong akhir nya ia bersaja dan berkata.
"Ceng ceng, selamat bertemu kapan saja!"
Selama itu Kang Pan mendengar percakapan mereka dengan berdiri mematung, saat itulah mendadak dia berkata! "Nona Thio Tempat tinggalmu di Ngo tai san apakah masih bisa menerima seorang lagi?"
Thio Ceng ceng melengak sebentar, sahutnya "Kenapa mendadak kau bisa berpikir demikian."
"Beruntunglah aku mendengar percakapanmu dengan Koan toako barusan, sehinga aku menjadi paham karena aku harus menuju, sepantasnya aku termasuk dalam golongan kalian..."
Koan San gwat tersentak kejut, katanyangugup.
"Kang Pan, darimana kau bisa punya pikiran yang tidak genah ini? "
Thio Ceng cengpun berkata "Nona Kang!
Ngo tai san, adalah tempat penampungan bagi perempuan perempuan penasaran dalam mengarungi kegagalan hidup, kau adalah istri Koan toako, hari depan kalian adalah bahagia dan menyenangkan!"
"Koan toako, Thio cici, kalian tidak usah ngapusi aku, meski urusan yang ku mengerti amat sedikit, tapi aku tidak ceroboh terhadap sesuatu urusan yang harus kupahami!"
"Nona Kang! Aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan kepada kau, tapi aku tidak menolak bila kau hendak ikut masuk kedalam kelompok kelompok perempuan perempuan penasaran di Ngo tai san...."
"Ceng ceng, kau...."
Koan San gwat menjadi gugup.
"Koan toako!"
Kata Ceng ceng dengan serius.
"Aku tiada maksud menggangu dan memecah belah perkawinan kalian yang bahagia, tapi aku merasa bila nona Kang meninggalkan kau betapapun adalah suatu pilihan yang harus dimengerti, dan berani kukatakan pula merupakan jalan pilihan tetap!"
Koan San gwat tidak mampu mendebat.
Dengan berlinang air mata Kan Pan berkata "Koan toako!
Aku sendirilah yang ingin meninggalkan kau, meski pernikahan kita hanya berlangsung tutur kata dimulut belaka namun aku tetap akan mengekangmu dan terima kasih kepadamu."
"Kang Pan, aku bukan orang yang suka menjilat ludahku sendiri..."
"Bukan begitu maksudku dan aku paham kau adalah seorang yang baik hati, kau setuju hendak mengawini aku meski hanya karena merasa kasihan padaku, tapi aku percaya kau akan baik baik menghadapi aku, tapi aku sudah berkeputusan untuk meninggalkan kau...!"
"Aku tak akan menyia nyiakan kau."
"Sudahlah jangan kau berkukuh pendirian peninggalanku jadi tidak berharga nanti, bahwa aku harus berpisah dengan kau adalah untuk memberikan peluang kepadamu untuk segera bebas memilih jalan yang harus kau tempuh, aku akan seperti Thio cici selamanya akan menunggu kau!"
Tak tertahan Thio Ceng ceng merangkul erat erat, katanya.
"Nona Kang, cara bagaimana kau bisa berpikiran sedemikian mendalam? "
"Sebetulnya aku hanya setengah paham setelah kudengar percakapan kalian baru aku paham, ucapanmu memang betul, Koan toako adalah naga sakti yang sukar dibelenggu, dalam lubuk hatinya selamanya belum pernah jatuh cinta terhadap seorang perempuan, sampai sekarang juga, segala sepak terjangnya, adalah tertekan oleh kesetiaan, keadilan dan kebenaran! Koan toako, ucapanku tidak salah bukan!"
Koan San gwat tak bicara, adalah Thio Ceng ceng berkata dengan suara gemetar "Ucapanmu tidak salah, malah kata katamu lebih tegas lebih menyeluruh, demi aku Koan toako menempuh bahaya menyusul ke Tay pa san, bahwa dia mau menyetujui perkawinan adalah benar karena terikat oleh kesetiaan keadilan, sekali kali tidak pernah tersekap rasa cinta asmara didalam sanubarinya.
Sudah tentu terhadap kita bukan seluruh tidak punya perasaan cinta macam itu belum bisa memenuhi kebutuhan kita!
Maka..."
Cepat cepat Kang Pan melanjutkan "Maka kita harus menunggu nunggu didalam harapan kosong!"
Thio Ceng ceng tertawa getir, katanya.
"Kau masih belum mencapai harapan itu, sementara aku sudah putus asa didalam harapan ini."
"Asal dalam lubuk hati Koan San gwat tiada bayangan orang lain, meski sedikit kita masih punya setitik harapan. Thio cici, kau tidak perlu kecewa...."
"Aku paling lama mengenal dia.."
"Kau paling banyak memberikan apa apa kepadanya, juga paling mendalam mencintainya...."
"Pada titik sekarang ini bolehlah dikatakan demikian!"
"Kelak pun tidak akan ada orang yang melampaui kau!."
"Bagaimana juga tidak akan bisa menggerakan hatinya apa pula yang harus kuharapkan? "
Kang pan tidak berkata kata lagi.. Berkata Koan San gwat dengan rasa malu dan uring uringan "Ceng ceng! Kalian menilai aku seolah olah menjadi manusia dingin tidak berperasaan!"
Ceng ceng menggeleng, katanya dengan suara tegas "Koan toako!
Sekali kali aku tidak punya maksud demikian, aku percaya, nona Kang Pan tidak punya maksud demikian.
Didalam sanubari kita, kau tetap seorang laki laki yang patut dihormati, patut bagi kita mengorbankan segala galanya demi kau, maka kami tidak membenci kau, malah ku sampaikan selamat dan doa semoga...."
"Terima kasih akan kebaikan kalian selamanya aku tidak lupa akan ketulusan hatimu."
"Koan toako !"
Kang Pan menyeletuk."Kami tak perlu rasa terima kasihmu, seperti pula kami tidak suka memaksakan pengetrapan perasaanmu pada kami, aku akan hidup berdampingan bersama Thio cici sampai ajal."
"Dikala kau sudah menemukan cinta yang murni, kami akan datang menengok kau."
"Kukira tidak mungkin lagi, dalam dunia ini tiada orang lain yang lebih paham diriku kecuali kalian!"
"Kalau begitu silahkan kau tengok kami, sudah tentu kala itu kau harus membekal cinta yang suci dan murni, tidak perduli terhadap siapa, kami akan tetap menyambut kedatanganmu."
"Itu sih mungkin saja, perasaanku sekarang amat kalut, berilah aku jangka waktu yang cukup lama untuk menenangkan pikiran dan menentukan arah, mungkin aku akan merasakan kepentingan hal itu."
"Didalam memilih sasaran cinta kau punya kebebasan yang penuh!"
"Kalau aku berkepastian untuk mencintai orang, aku akan memilih satu diantara kalian !"
"Koan toako tidak usah kau membatasi dirimu dalam lingkungan yang begini sempit, persoaan cinta tidak bisa kau putuskan sendiri, tapi untuk ucapanmu ini, kami pasti menuggu kau"
"Kalau begitu kalianpun tidak perlu membatasi diri dengan patokan yang mematikan kalau kalian menemukan..."
"Tidak mungkin! Kita cukup paham terhadap diri sendiri!"
Koan San gwat tidak berani banyak kata lagi, lekas ia cemplak keatas kuda, serunya.
"Selamat tinggal, kuharap kalian menjaga diri baik baik!"
Dia tidak berani banyak berpaling memandang kepada mereka, tidak bicara pula, cepat cepat ia keprak kudanya tinggal pergi.
Kedua anak perempuan ini mengawasi punggungnya yang lari semakin jauh dengan berlinang air mata.
Debu mengepul tinggi dan lambat laun menipis dan akhirnya hilang, setelah bayangan Koan San gwat tidak kelihatan lagi, baru Kang Pan berkata terisak."Apakah dia bisa kembali?"
Thio Ceng ceng mengusap air matanya, sahutnya.
"Siapa tahu? Tapi jikalau kau sudah melepas pergi janganlah kau mengandung harapan itu, kalau tidak hanya akan menambah kesengsaraan hidupmu!"
"Tidak! Kesetiaan Koan toako menjadi jaminan dan harus dipercaya, aku percaya akan datang suatu hari dia pasti kembali."
Thio Ceng ceng menuntun kudanya, ujarnya.
"Sudah jangan kau mengena-ngena lagi, cukup asal kau mempersembahkan hatimu untuk menentramkan sanubari, jangan sekali kali kau memikirkan sesuatu permintaan terhadapnya, untuk mendapatkan laki laki macam itu, hanya cara inilah yang harus kau tempuh, aku dapat membenarkan bahwa kau dapat bertindak tegas untuk berlisan dengan dia, kalau tidak, kau hanya bisa mendapatkan raganya saja tanpa bisa memperoleh rasa cintanya, sebetulnya dia...."
"Sebetulnya dia hanya menjadi milik kau sendiri, sebaliknya sekarang...."
Thio Ceng ceng tertawa, katanya.
"Benar! sekarang harus membagi sama rata dengan kau tapi aku sedikitpun tidak menyesal, tenagaku seorang terlalu lemah, ditambah kau, kita tidak akan gampang kehilangan dia, marilah pulang, masih banyak urusan yang perlu diselesaikan di Ngo tai san, mungkin kita harus menunggu dalam waktu yang cukup lama."
Mereka memutar kuda dan berlalu enteng menuju kejalan pulang.
Koan San gwat mengeprak kudanya kencang dilinkupi debu tobal yang membumbung tinggi dibelakangnya, beberapa kali ia hendak berpaling kebelakang, tapi akhirnya ia tahan tahan, ia tahu bahwa kedua gadis yang memujanya itu sedang mengantar bayangan tubuhnya.
Setelah melepaskan diri dari beban berat dari Kang Pan, ia merasa enteng dan bebas kelana, sedikitpun tidak ada ganjelan dalam hati, hilanglah rasa was was dan kuatir.
Thio Ceng ceng memang orang terdekat yang paling memahami pribadinya, begitu metan ia melimpahkan isi hatinya, seperti sebidang kaca bundar yang terang dan jelas menyoroti segala galanya mengenai dirinya.
Sejak pertama kali ia muncul dikalang kangouw di padang pasir menggunakan kebesaran nama Bing tho ling cu, dalam hati nya selalu dihayati oleh semangat juang yang menyala nyala dan sukar dipadamkan.
Thio Ceng ceng adalah anak perempuan yang dikenalnya pertama kali, selanjutnya adalah Khong ling ling, dan kelanjutaanya Lok Siau hong, Liu Ih yu dan Kang Pan, yang terakhir adalah Ling koh yang melimpahkan isi hatinya didalam Jian coa kok.
Beberapa anak gadis itu entah terus nyerang atau secara samar samar dan sembunyi sembunyi sama pernah melimpahkan rasa cintanya terhadap dirinya, yang berani cukup mendalam seolah olah meresap ketulang sumsum, ada pula karena cintanya tidak terbalas menjadi benci, ada pula yang lapat lapat terpaksa mereras diri.
Akan terapi diantara sekian gadis gadis ayu tiada seorangpun yang pernah menggerakkan hatinya.
Setelah dipikir bolak balik ia belum bisa menemukan keputusan terakhir.
Lama kelamaan ia menjadi curiga pada diri sendiri, kecuali dirinya adalah makhluk aneh yang tidak mengenal perasaan ___ alasan ___ untuk menjawab, keadaanya yang relatif tidak mengenal cinta ini.
Anehnya sedikitpun ia tidak punya angan angan untuk membangun keluarga, terhadap keributan dalam dunia ini iapun seperti sudah bosan.
Padang pasir nan luas dan terbentang luas tanpa ujung pangkal barulah menjadikan teman hidup abadi, hanya kelana bebas seperti angin tanpa rintangan, barulah merupakan kebutuhan hidup yang utama.
Masih banyak urusan dunia yang janggal dan tidak kenal keadilan dan tidak kenal, bahwa Bing tho ling cu belum lagi ia serahkan kepada generasi mendatang, maka menjadi keharusan bagi dirinya untuk mempertanggung jawabkan keluhuran nama besar nan agung dan abadi, terus mempersembahkan nyawa dan raganya, mungkin masih banyak berbagai macam kehidupan yang aneka ragam tanyakanya sedang menunggu dirinya.
Tamat
Baca Juga: Pendekar Sadis 8
Baca Juga: Pendekar Kelana 6