Eps 9 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.
"Seumpama Coa sin mau menerima syarat yang mereka ajukan, belum tentu dia terima diperbudak oleh Cia Ling im. Ilmu silatnya jauh lebih tingggi dari mereka....."
"Betapa pandai dan licik cara Cia Ling im menundukkan seseorang, menghadapi Coa sin tokoh yang bosan itu, kalau tidak punya pegangan yang meyakinkan, masakah dia sudi membantu orang begitu saja?"
Bercekat pula hati Koan San Gwat teriaknya "Apakah betul betul dia bisa mengendalikan dan menundukkan Coa sin secara keseluruhannya?"
"Masakah diragukan. Disaat ia mengajar kan perpaduan Im yang itu, dia gunakan pula semacam ilmu sihir, asal Coa sin mau menerima pelajarannya, selamanya dia akan menjadi alat paling setia!"
"Koan toako !"
Teriak Kang Pan gugup.
"Marilah lekas...."
"Tidak!"
Koan San Gwat tegas "
Kilau Coa sin mau menerima ajaran Cia Ling im maka sekarang dia sudah bisa diperalat oleh Cia Ling im.
Kalau kita menyusul tiba disana, paling paling hanya mencegah operasi memulihkan anggota badannya menjadi manusia normal, bukankah waktunya sudah terlambat juga?"
"Belum terlambat!"
Seru Sebun Bu yam dengan penuh keyakinan.
"Asal kalian bisa datang tepat pada waktunya dan secara kebetulann pula Coa sin belum mampu bergerak kalian bisa melenyapkannya lebih dulu, tipu daya Cia Ling im tidak berguna lagi."
Koan San Gwat meliriknya sebentar, tanyannya.
"Kenapa mendadak kau mau membantu aku, kalau kau punya maksud baikmu ini, kanapa pula kau harus melepaskan kelabang beracun itu, sehingga menunda dan membuang waktu kami secara cuma cuma?"
Seban Bu yam menarik napas dan menundukkan, sahutnya menyesal "Mendadak aku menjadi sedih.
Bukan saja aku suka membantu kalian apalagi kalau kalian bisa melenyapkan Coa sin sehingga Cia Ling im kehilangan sandaran yang diandalkan, terpaksa dia harus menyembunyikan diri, maka aku masih ada harapan bersanding disebelahnya Atau sebalikanya, ambisinya amat besar, tujuannya hendak merajai dunia, kalau itu sampai terjadi selama hidup ini aku tidak akan mendapat penghargaan nya...."
Berpikir sebentar lalu Koan San Gwat berkata kepada Kang Pan.
"Nona Kang, marilah kita lanjutkan menggali!"
Sembari berkata dia sudah siap hendak melompat turun. Keruan Kang Pan menjadi gugup, serunya.
"Koan toako! kenapa kau tidak begitu prihatin akan persoalan ini?"
"Prihatin juga tidak berguna, kalau sekarang kita menyusul kesana, paling paling hanya bisa membunuh Coa sin, apalagi aku tiada permusuhan atau dendam kepadanya, malah sebelum ini aku menerima kebaikannya! Demikian juga kau, pantaskah kita membunuhnya? Jangan kau melulu terlalu kuatir dia bakal menjadi alat setia Cia Ling im, toh kenyatan belum terjadi atau sudah kau saksikan sendiri!"
Kang Pan terbungkam. Sebun Bu yam menyela bicara sambil menghela napas.
"Kau tidak, percaya padaku, akan datang saatnya kau menyesal diri."
Koan San gwat menggeleng, ujarnya "Aku percaya akan keteranganmu, tapi aku seorang laki laki sejati, keturunan perguruan tenar, apalagi untuk menghadapi seorang yang pernah memberikan manfaat kepadaku, tidak bisa aku membalas kebaikan budinya dengan kejahatan.
Aku tidak bisa memberi penilaian pada sepak terjang dan kebaikan hatimu ini, cuma kurasa kau terkekang oleh rasa kesetiaan dan cinta kasih yang tidak berharga, bukanlah menjadi seorang kelana Kangouw tulen yang harus dipuji...."
"Masakah aku berani angkat diri jadi pendekar segala. Tapi aku punya sebuah prinsip, setiap tindak tandukku hanyalah menuruti kelurusan hati dan kesucian nurani belaka, untuk membunuh orang kitapun harus punya alasan alasan yang setimpal. Waktu di Sin li hong, aku pernah membebaskan Cia Ling im, karena kurasa dia belum melakukan kejahatan yang keluar takaran, mengenai Coa sin, aku berpegang akan keyakinan yang sama. Bila dia benar benar melanggar kejahatan yang sudah tidak terampun, aku pasti tidak akan memberi ampun padanya. Tapi sekarang bagaimana juga aku tidak bisa membunuhnya."
Sebun Bu yam derdiam sebentar, lalu katanya.
"Belum tentu aku harus membunuh dia mungkin meski kau hanya bisa mencegah pulih nya menjadi manusia normal sehingga selamanya mengurung diri didalam Jian coa kok dia tidak akan keluar menimbulkan bencana bagi dunia ramai...."
Koan San Gwat tertawa besar, ujarnya.
"Hal ini lebih tidak bisa kulakukan. Karena aku menelan empedu ular wulung bertanduk itu, shingga hilang harapan Coa sin pulih menjadi manusia normal, karena hal itu hatiku jadi tidak enak dan rasanya hutang budinya padanya. Kini kalau toh ada cara lain bisa mengabulkan angan angannya ini, sepantasnya aku ikut bergirang dan syukur baginya, mana boleh merusak usahanya..."
Sebun Bu yam menjublek tidak bersuara lagi. Adalah Kang Pan yang menyeletuk.
"Koan toako, jadi untuk apa pula kita tergesa gesa hendak memburu tiba disana?"
"Semula aku belum tahu rencana apa yang sedang di atur oleh Cia Ling im, maka aku ingin buru buru menyusul kesana melihatnya kini setelah aku tahu aku jadi tidak perlu tergesa gesa, jadi kau tidak takut bila Coa sin sampai diperalat oleh Cia Ling im?"
Tanya Kang Pan gelisah.
"Jadi kau tidakatakut bila Coa sin sampai diperalat oleh Cia Ling im?"
Tanya Kang Pan gelisah.
"Tidak salah! Memang aku sedang memikirkan hal itu, tapi akupun tidak percaya kan terjadinya hal itu, mungkin Coa sin memang punya cacat, dia suka kepincut paras cantik namun tidak kuasa menikmatinya, tapi dia adalah manusia, sebagian besar badannya adalah raga manusia, adalah pantas mempunyai keinginannya itu, tidak bisa aku beranggapan bahwa hal ini adalah kesalahannya. Mengenai takut dia diperalat oleh Cia Ling im, itu tidak mungkin terjadi, ilmu sihir merupakan semacam kepandaian silat juga, mengandal dasar latihan lwekang Coa sin yang tinggi, kemungkinan kena terpengaruh dan hilang ingatannya adalah kecil sekali, sebaliknya bukan mustahil Cia Ling im sendiri yang bisa ditundukan olehnya..."
Kang Pan tidak bicara lagi, kembali mereka terjun kedalan lubang, yang satu mengeduk yang lain membersihkan tanah, tak lama kemudian galian tanah itu sudah hertambah lebar dan dalam.
Koan San Gwat melompat keluar dan katanya tertawa.
"Semula dia perhitungkan memerlukan waktu enam jam, kini kita hanya memerlukan waktu empat jam, dari sini dapatlah dimengerti, bahwa bekerja harus memperhatikan cara dan manfaatnya, gunakanlah otak berpikir...."
Sebun Bu yam melemparkan kayu kayu bakar dibagian bawah sebgai alas dasar, Koan San Gwat membantu memotongi kayu kayu itu kecil kecil dengan pedangnya, setelah kayu merata baru mereka mulai mengotong mayat kelabang itu ditumpuk diatasnya.
Setelah persiapan selesai mulailah menyulut api pada sebatang dahan pohon kering, tak lama kemudian api sudah menyala besar berkobar kobar, mayat mayat kelabang itu ada mengeluarkan minyak gajihnya sehingga kobaran api semakin besar membantu kayu kayu itu terbakar semakin cepat dan membara.
Kira kira setengah jam kemudian tinggal abu abu dan karang karang masih membara yang tinggal dalam lubang, serempak mereka bertiga kerja sama lagi mengurukkan tanah ke dalam lubang lubang, serta menginjak injak dengan kaki biar rata dan padat.
Setelah pekerjaan selesai, barulah Sebun Bu yam berkata prihatin.
"Lekaslah Kalian beraungkat. Setelah bertemu dengan Cia Ling im tolong kirimkan kabar dariku, katakan aku akan kembali ke Ngo tai san, pulang ketempat lama untuk menetap disana. Kalau dia sudah tiada tempat untuk berteduh boleh datang kesana, aku akan melayaninya dengan setia selama hidup ini.. tapi kukira kata kataku ini pun bakal sia sia, aku berani pastikan dia tidak akan sudi kesana...."
Habis berkata dengan rawan dan sedu ia tinggal pergi lebih dulu.
Koan San Gwat dan Kang Pan jadi melongo dan hampa, sesaat lamanya mereka memjublek, akhirnya berangkat juga menuju ke Jian coa kok.
Keadaan Jian coa kok sudah tidak seperti keadaan semula tempo hari, celah celah batu yang sempit kecil itu kini sudah dipagari oleh tenaga manusia, jalan lebar dan datar, maka Koan San Gwat dan Kang Pan tidak perlu susah payah harus mencari jalan untuk masuk kedalam.
Belum jauh mereka memasuki jalan lurus ini, tibalah mereka dilapangan luar itu, tempat kediaman Coa sin msih berada disebelah belakang, lapangan kosong melompong tiada kelihatan bayangan seorangpun juga.
Adalah di kedua pinggiran lapangan sana tergantung dua ekor ular sanca yang amat besar, keduanya menegakan kepala dan membuka mulur menjulurkan lidah, sikapnya garang dan siap mematuk sambil mendesiskan suara.
"Apa yang terjadi ini?"
Tanya Koan San Gwat tidak mengerti. Kang Pan berpikir sebentar, lalu katanya.
"Mungkin mereka sedang repot mengerjakan sesuatu, maka mengatur ular ular besar ini untuk menjaga pintu, barisan ular macam ini adalah yang paling lihay....."
Koan San Gwat tidak percaya, katanya.
"Meski aku tidak pernah mempelajari strategi militer, namun aku tahu barisan ular hanyalah barisan yang paling gampang dan umum, dimana tempat kelihayannya."
"Ya, memang hanya pinjam nama saja, maknanya berlainan, sebetulnya semakin besar kadar racunnya ular semakin kecil, hanya ular sanca bersisik merah ini, semakin besar kadar racunnya semakin berbisa, sepanjang jalan ini semua dijaga oleh ular ular sanca peliharaan Coa sin selama puluhan tahun, tujuannya adalah untuk mencegah sembarangan orang masuk mengganggu."
"Bisa merintangi orang lain masakan bisa merintangi kita, sejak kecil kau dibesarkan di tempat ini, masakan mereka bisa menyerang terhadap kau juga, soal aku..."
Kang Pan menggeleng, katanya.
"Ular sanca berbisa macam ini tidak mengenal jenis dan persaudaraan, kecuali Coa sin, tidak lawan yang terpandang dalam mata mereka, meski kau pernah menelan empedu ular, merekapun tidak akan bisa kau gertak...."
Melihat orang bicara serius, Koan San Gwat jadi ragu ragu, katanya.
"Kenyataan kita sudah melewati puluhan ekor, kenapa tidak kelihatan mevunjukan sesuatu aksi apa?"
"Ya, aku sendiri juga sedang tidak mengerti, menurut biasanya, sejak tadi mereka sudah mulai bergerak, tapi kulihat mereka rada rada rakut dan bimbang, seolah olah ada sesuatu yang mereka takutkan...."
"Kalau toh tidak takut kepadaku dan kau apa pula yang mereka jerihkan?"
Sebegitu jauh Kang Pan sendiri belum bisa menyimpulkan sesuatu, cuma ia coba mendekati salah seekor yang terbesar, sikapnya kelihatan tegang dan menegakan kepala dengan garang dan berjaga jaga.
Cuma kelakuannya tidak sebegitu garang lagi, malahan badannya mengkeret mundur, sementara kedua biji matanya berjelalatan mengawasi kantong dibawah ketiaknya.
Mendadak Kang Pan menjadi paham duduk perkaranya, katanya tertawa besar.
"Ternyata mereka takut terhadap Siau giok!"
Kuatir Koan San Gwat tidak paham segera ia menjelaskan.
"Mereka adalah lawan bebuyutan dangan Siau giok tidak perlu takut, namun keadaan hari ini lain pula, mungkin Siau giok tidak akan kuasa menghadapi lawan sedemikian banyak, menuruti biasanya mereka sudah maju bersama, untunglah Sebun Bu yam telah memberi berkah kepadanya."
Tanya Koan San gwat masih rada bingung.
"Kenapa ada hubungannya dengan Sebun Bu yam?"
"Kelabang yang dilepas Sebun Bu yam itu telah menambah perbawa kekuatan Siau giok berlipat ganda, kebetulan menjadi lawan penunduk mereka lagi, tak heran mereka tidak berani banyak bergerak."
Kata Koan San Gwat mengerut kening "Coa sin mengatur barisan ularnya ini, tujuan nya hendak merintangi kita masuk, tentu sebelumnya dia tidak memikirkan bakal terjadi seperti ini, kesempatan baik bagi kita malah, marilah lekas maju!"
Segera dengai langkah lebar ia maju dengan cepat.
Kang Pan mengikuti jejakanya.
Tapi ular ular yang menghadang disebelah depan mendadak bergerak serempak, bersama dari kanan kekiri mematuk bersama.
Sigap sekali Koan San Gwat membacokan pedangnya memapak kearah ular yang menyerang paling depan.
Tapi ular itu sedikit pun tidak takut menghadapi Ui tiap kiam yang tajam luar biasa itu.
Kepala mendongak keatas badanpun menjulur maju lebih dekat dan membiarkan pedang Koan San Gwat membacok dipingangnya namun sedikitpun tidak cidera apa apa, malah dengan cepat dan gesit sekali badannya melingkar terus membelit pedang.
Dalam waktu dekat Koan San Gwat tidak kuasa menarik lepas pedangnya, sementara ular yang lain sudah menyerang tiba, didalam keadaan gawat, terpaksa ia angkat sebelah kakinya menendang telak sekali kepala ular kena ditendangnya, tapi paling paling ular hanya tergeliat sedikit, cepat sekali kepala nya sudah putar balik mematuk dengan beringas.
Ular sanca jenis ini bukan saja lihay merekapun punya daya kecerdikan, mereka me ngenal cara pengeroyokan yang dilancarkan secara bergelombang dan teratur, ular yang membelit pedang itu tidak mau melepaskan, dengan ketat ia menarik semakin kencang dan kuat.
Malah sisa badan kepalanya yang menegak masih bisa bergerak dengan leluasa, karena Koan San gwat harus menggerakan tangan menghadapi rangsakan ular yang lain, maka diapun ikut menyerang setiap ada kesempatan.
-oo0dw0oo.
Jilid 27 DASAR SUDAH PENGALAMAN, meski menghadapi mara bahaya sedikitpun Koan San gwat tidak menjadi gugup karenanya, sudah tentu ia cukup paham menghadapi tipu daya musuh musuh binatang ini, meski pedangnya bergubat ia gunakan kaki dan sebelah tangannya yang lain untuk melayani serangan ular ular yang lain.
Setelah kena tendangan ternyata ular tadi berlaku lebih waspada dan hati hati, meski serangannya gencar, namun kira kira setengah tombak didepan badan Koan San gwat mendadak ia menghentikan terjangannya.
Dengan badan bergoyang gontai pergi datang kepada nya mendandak mengincar musuh sambil menanti setiap kesempatan.
Apalagi badannya amat panjang jarak setengah tumbak cukup sekali melejit saja dapat diraihnya.
Adalah kaki tangan Koan San gwat tidak kuasa mencapai jarak yang begitu jauh posisinya kena terkekang oleh ular yang membelit pedangnya sehingga bidang gerakanya amat terbatas, sehingga ia mudah terima diserang sana sini tanpa kuasa maju melabrak.
Untunglah kedua ular sanca raksasa ini.
Agakanya tahu akan kelihayannya, mereka tidak berani sembarangan turun tangan, begitulah kedua pihak jadi sama bertahan, sebaliknya Koan San gwat menjadi gelisah dan membara sorot matanya.
Ular ular besar itu sama berjajar sepasang demi sepasang, setiap pasang berjarak dua tumbak, pasangan yang ini sudah bentrok langsung dengan musuh, maka pasangan selanjutnya segera siap hendak menerjunkan diri dalam gelanggang pertempuran pula.
Cukup sepasang saja Koan San gwat sudah kesalahan dibuatnya, kalau pasangan yang lain juga meyerbu datang Koan San gwat pasti terancam elmaut, makin gugup terpaksa ia terteriak.
"Nona Kang lekas kau lepaskan Siau giok!"
Waktu itu Kang Pan berdiri satu tumbak disebelah belakang menyaksikan pertempuran pertempuran dirinya, mendengar teriakanya, belum lagi ia membelikan tanggapan, Siau giok yang berapa dalam kantongnya sudah melesat keluar laksana anak panah cepatnya.
Sekaligus ia menyerang lebih dulu kepada ular besar yang berhadapan dengan Koan San gwat!
Begitu badan meluncur tiba mulut mendesis seraya di pentang menyemburkan segulung kabut putih kearah musuh.
Sungguh tidak nyana ular sanca raksasa yang garang dan buas itu, begitu kena semburan kabut putih Siau giok seketika meloso jatuh lemas ditanah dan tidak bergerak lagi.
Ular yang membelit pedang mebabat gelagat amat tidak menguntungkan lekas ia lepaskan belitannya dan hendak melarikan diri, namun Siau giok tidak membiarkan lawan lolos begitu saja, gesit sekali ekornya mematul tanah badannya secepat anak panah melesat kedepan lagi.
Seperti perbuatan pertama ia menyemburkan kabut putih, keruan ular raksasa itupun terjungkal jatuh lemas dan tidak berkutik lagi.
Dua ekor lainnya yang hendak mengeroyok datang tadi, seketika ia mengkerat ketakutan dan menrik diri kembali ketempat asalnya.
Waktu Koan San gwat menarik pedang nya, kedua ular sanca raksasa itu sudah mampus dengaa badan terbalik perut menghadap kelangit lekas Siau giok merambat menghampiri, sekali terjang ia tembusi perut ular raksasa itu terus menyusup masuk kedalam.
Di lain saat ia sudah menarik keluar kepalanya, namun mulutnya mengulum sebutir empedu ular yang berwarna hijau keputihan, sebesar buah salak, dengan cara demonstratif ia mengangsurkan kekepala Koan San gwat.
Kontan hidung Koan San gwat dirangsang bau amis dan anyir, cepat ia menggoyangkan tangan menolak.
Kata Kang Pan.
"Koan toako, empedu ular ini bila kau makan bisa menjernihkan matamu, di malam hari kau bisa melihat seperti disiang hari bolong, dapat membangkitkan semangat dan gairah lagi, Siau giok sedang membagi rejeki kepada kau."
Koan Sin Gwat menggeleng, katanya.
"Terima kasih akan kebaikannya. Dan lagi aku pun sudah sempurna melatih mata malam, silahkan kau saja yang makan!"
Siau giok rada kecewa, terpaksa ia merambat kehadapan Kang Pan. Kang Panpun menggoyangkan tangan, katanya.
"Aku tidak mau, kau makan sendiri saja!"
Terpaksa Siau giok menelannya sendiri. Kejap lain ia sudah menghampiri ular yang satunya lagi Kang Pan lantas mendekati Koan San gwat, melihat orang masih menjublek, ia tertawa geli, katanya.
"Koan toako! Aku tidak ngapusi kau bukan!"
"Ular ini memang cerdik dan lihay, kedua ular raksasa itu, tadi cukup membuat kau kerepotan!"
Untunglah ada Siau giok yang setiap saat siap membantu, kalau tidak puluhan ekor ini bila menyerbu bersama sejak tadi kami sudah tamat riwayatnya.
Kenapa Coa sin mengatur barisan ularnya yang terlihay ini!"
Dalam pada itu Siau giok sudah menelan empedu ular yang kedua, dengan senang dan buas ia datang menghampiri dan siap mendengar perintah selanjutnya.
Dihadapan Koan San gwat masih ada dua puluhan ular, ular ular raksasa menghadang jalan dengan barisannya yang kuat.
Maka ia perintah kepada Siau giok seraya menuding kedepanSiau giok.
"Kau boleh bereskan mereka sekalian!"
Baru saja Siau giok hendak bergerak menurut perintah, Kang Pan tiba tiba berseru "Jangan Siau giok! Kembalilah!"
Sementara itu Siau giok sudah tiba dihadapan sepasang ular sanca yang terdepan, mendengar seruan ini ia menghentikan badan tanpa melancarkan serangan, berpaling ia menunjukan rasa penasaran dan tidak mengerti.
Koan San gwat heran, tanyanya.
"Nona Kang, kenapakah? "
Kata Kang Pan dengan lirih "Coa sin mengayunkan barisan ularnya ini untuk merintangi kita masuk kedalam tentu dia mempunyai alasan alasannya yang penting, mungkin kuatir kita mengganggu dirinya, bukankah kau sendiri menghadapi dia bisa leluasa kembali dalam bentuk lainnya seperti manusia normal umumnya?"
"Ya, aku memang punya maksud demikian!"
"Kalau begitu biarlah kita sempurnakan keinginannya. Sekarang tidak perlu mencari dia tunggu setelah urusan selesai, tentu dia akan manarik semua barisannya ini!"
Koan San gwat berpikir sebentar lalu berkata.
"Tidak! Sebaliknya aku segera masuk melihatnya. Kalau dia memang sedang menjalani oprasi aku tentu tidak akan mengganggunya, karena Cia Ling im dan juga lain lain disana jikalau mereka sedang menggunakan ilmu sihir yang mempengaruhi daya pikiran Coa sin, kita akan bisa menghalang halangi perbuatan jahatnya ini, kukira hal itu tidak membawa pengaruh apa apa bagi dirinya....."
"Ucapamu memang masuk akal, Koan toako! Kenapa tidak sejak tadi kau jelaskan?"
"Agakanya kau salah paham terhadapku, waktu aku bicara dengan Sebun Bu yam kan sudah kuterangkan. Mungkin kau masih belum menaruh kepercayaan sepenuhnya terhadapku!"
Merah muka Kang Pan, katanya.
"Koan toako, secara mutlak aku percaya kepadamu, cuma sejak kecil aku dibesarkan oleh Coa sin dia begitu baik terhadapku, tidak bisa tidak aku ikut berkutir akan keselamatannya!"
"Berhutang budi berusaha membalasnya, hal ini tidak bisa Salahkan kau, tak heran tadi kusuruh kau pergi dulu kau tidak mau. Kau tidak usah kuatir, aku tidak akan menjilat ludahku sendiri!"
"Koan toako jangan kau berkata demikian, apapun yang terjadi aku sudah termasuk istrimu, terhadap Coa sin, aku hanya bisa berbuat sekuat tenaga, bila kelak dia berhadapan dengan kau, akupun masih akan berdiri sendiri dipihakmu, Koan toako kuharap kau percaya kepadaku."
Kuatir orang bicara ngelantur panjang pendek, cepat Koan San gwat berkata.
"Sudah tentu aku percaya kau sepenuh hati, sekarang kau beleh suruh Siau giok mulai bergerak!"
Mulut Kang Pan lantas bersuit dan bersiul beberapa kali, lalu katanya kepada Koan San gwat.
"Marilah maju!"
Dilihat oleh Koan San gwat Siau giok masih diam berjaga ditengah jalan, karuan ia jadi heran, katanya.
"Kenapa Siau giok tidak segera bertindak?"
Kang Pan memberi tahu dengan suara lirih.
"Kusuruh dia mengintil dibelakang, barisan ular ini tentu tidak berani sembarang bergerak. Sejak kecil aku tumbuh dewasa bersama ular ular ini, sungguh tidak tega aku melihat mereka menjadi korban..."
"Ular beracun adalah binatang yang berbisa, tiada gunanya dipertahankan hidup, jikalau suatu ketika Coa sin meninggalkan tempat ini, tidak mungkin ia bisa membawa mereka pergi, masyarakat sekitarnya..."
"Tidak mungkin terjadi !"
Tukas Kang Pan.
"Coa sin sudah malatih mereka sedemikian rupa, tanpa perintah Coa sin, mereka tidak akan berani sembarangan meninggalkan tempat ini, asal orang tidak sembarangan main terobosan kemari, mereka tidak akan keluar mengigit orang. Meski mereka beracun merekapun punya jiwa, apalagi tumbuh sampai sedemikian besar, sungguh sulit diketemukan dilain tempat, biarlah mereka hidup dan mati menurut kodratnya!"
"Yah, terserah! Memangnya akupun tidak tega main bunuh, cuma..."
"Kalau ada kemungkinan mereka bisa mencelakai jiwa manusia, tentu aku akan mencari akal untuk melenyapkan mereka semua, dalam hal ini aku punya pegangan yang cukup diandalkan, kau tidak usah kuatir!"
Koan San gwat tidak banyak cakap lagi, tanpa bicara mereka maju lebih lanjut, dengan Siau giok sebagai teman jalan, ular ular sanca raksasa itu hanya mendesis dan menunjuk sikap garang saja tanpa berani bertindak apa apa.
Jalan sepanjang empat lima puluh tumbak sekejap saja sudah mereka tempuh, tibalah mereka diambang sebuah pintu tergantung sebuah kerai yang menjuntai kebawah, sehingga tidak kelihatan keadaan sebelah dalam.
Kamar batu ini semula adalah tempat tinggal Kang Pun dulu, Koan San gwat pernah datang kesini, didalam kamar ada meja kursi dan dipan kayu, tiada penjagaan atau sesuatu yang ganjil.
Maka begitu tiba Koan San gwat lantas hendak menyingkap kerai dan masuk kedalam untung Siau giok lekas bergerak membelit tangan nya serta menarikanya.
Koan San gwat jadi heran dia bertanya.
"Siau giok! Apa yang kau lakukan?"
Siau giok lantas mendesis kepada Kang Pan, sikapnya takut takut dan kuatir. Seketika berubah air muka Kang Pan, katanya.
"Koan toako! Jangan kau menyentuh didalam ada jebakan yang amat lihay."
"Jebakan apa? "
Tanya Koan San gwat tegang.
"Semacam ular yang paling jahat dan berbisa!"
"Ular beracun lagi! Aku tidak percaya binatang apa bisa begitu lihay!"
Sembari bicara ia melangkah maju hendak menarik kerai tiba tiba didengarnya suara aneh dari dalam kamar dan menongollah keluar sebuah kepala aneh menerjang kemuka, keruan Koan San gwat berjingkrak kaget dan tersentak mundur.
Bukan dia takut menghadapi ular adalah kepala aneh serta bentuknya yang mengejutkan hatinya.
Karena Kang Pan mengatakan ular berbisa maka dalam hati ia sudah siap menggunakan cara untuk menghadapi ular berbisa sungguh diluar tahunya bahwa kepala aneh itu bentuknya mirip benar dengan kepala manusia, malah tampangnya kelihatan amat beringis dan menyeringai.
Besar kecilnya seperti kepala manusia, panca indranya lengkap, cuma sepasang kupingnya teramat kecil, kepalanya gundul pelontos, melelehkan lidah yang merah darah dan memuakkan, giginya perongos keluar mulut, mengunjuk senyum aneh yang sadis.
Dibawah kepalanya menjulur sebuah leher panjang yang kecil, dimana mulutnya terpentang terus hendak menggigit kepada Koan San gwat, karena tidak mengira dan siaga sebelumnya, kebetulan ia memegang selembar kulit ular itu menengkurep keatas kepala aneh itu, sedang badannya lekas mencelat mundur.
Sementara itu Siau giok sudah sembunyi kedalam kantong, Kang Pan juga mundur cukup jauh, melihat Koan San gwat tidak kurang suatu apa, cepat ia berseru.
"Koan toako! Lekaslah mundur kemari, jangan kau sampai terkena semburan hawa berbisa...."
Begitu kulit ular menengkup keatas kepala mahluk aneh itu seketika melayang terbang ketempat yang jauh, dari luncuran terbangnya jelas karena ditiup oleh kepala aneh itu.
Lekas Kang Pan memburu kesamping Koan San gwat, katanya "Koan toako!
Kau tidak terkena bahwa tipuannya bukan?"
"Tidak, kepala mahluk apakah yang tumbuh sedemikian aneh."
Kang Pan mengelus dan bersyukur, katanya "Bukan saja bentukanya yang jelek, hawa yang ditiup dari mulutnyapun teramat lihay barang apa saja yang terkena hawa berbisa itu sektika akan luluh tanpa berbekas, tidak percaya kau lihatlah kulit ular itu!"
Waktu Koan San gwat berpaling kesana, seketika berubah air mukanya.
Kirarya kulit ular itu kena di sembul tiga tumbak jauhnya, kedaannya seperti jala ikan saja yang berlubang lubang, tak lama lagi kulit ular yang utuh itu sudah luluh sama sekali tanpa meninggalkan bekas apa apa!
Sementara kepala aneh itupun sudah mengkeret masuk kedalam kamar.
Koan San gwat menjublek ditempatnya dengan heran dan tidak mengerti ia berseru.
"Ular apakah itu?"
Karena bentuk kepala aneh itu sedikit pun tidak menyerupai ular, badannya seperti naga, sebesar gentong raksasa, bertengger diatas meja baru, badannya disangga keempat kakinya yang pendek dan kekar.
Lehernya panjang dua tumbak, lega legok menyanggah sebuah kepala aneh menyerupai kepala manusia, kedua biji matanya melotot keluar, tidak punya alis dan tidak punya kelopak mata, maka biji matanya yang berkilauan hijau bening selamanya tidak pernah terpejam, kulitnya berkerut kering membungkus tulang, kedua pinggir mulutnya menjulur keluar dan taringnya panjang, gigi tertarik lebar sehingga menyeringai sadis, seolah olah selamanya tersenyum beringas.
Pucat muka Kang Pan, katanya menjelaskan "Mahluk ini tiada punya nama tertentu, tidak boleh dikata sejenis ular, menurut cerita Coa sin, mahluk ini adalah hasil perkawinan dari kura kura beracun dengan ular sanca kerkepala manusia, maka bentukanya amat menyeramkan, tapi racunnya nomor satu diseluruh dunia, terutama hawa beracun yang disemburkan dari mulutnya.
Batu besarpun bisa menjadi luluh."
Dengan mata kepalannya sendiri Koan San gwat menyaksikan kulit ular itu luluh tanpa bekas, sudah tentu ia percaya akan penuturan ini, katanya.
"Mahluk yang sedemikian lihay cara bagaimana Coa sin bisa menangkapnya? "
"Dia bukanlah tangkapan, adalah peliharaan Coa sin sejak kecil. Suatu ketika ia berhasil menangkap seekor kura kura raksasa betina, lalu dia kumpulkan dua puluh ekor sanca betina dikurung menjadi satu, akhirnya seluruh ular ular sanca betina itu kena dilalap habis oleh kura kura itu, setelah itu baru ular sanca bermuka manusia yang jantan ia kawinkan dengan kura kura rahasia itu dan lahirlah mahluk aneh ini! Hanya Coa sin seorang yang bisa mengendalikannya!"
Kata Koan San gwat dengan gusar "Coa sin nenaruh mahluk aneh ini didalam kamar entah apa maksudnya?"
"Tidak tahu, mungkin hendak merintangi kita maju lebih lanjut."
Ditengah udara mendadak berkumandang sebuah suara berkata.
"Koan San gwat! Kau terlalu tinggi menjunjung dirimu! Hanya untuk mencegah kau masuk kemari, tidak perlu aku bercapek lelah, memang tujuanku hendak membunuh kau!"
Dari suaranya dapatlah diketahui Coa sinlah yang bicara. Karuan Koan San gwat melengak katanya nya.
"Coa sin, apa maksudmu? "
Terdengarlah Coa sin tertawa terloroh loroh.
"Kubunuh kau adalah supaya kau mampus, masih ada maksud apa lagi? "
Koan San gwat murka, serunya.
"Untuk membunuh aku, boleh silahkan kau keluar dan bertempur secara jantan."
"Aku malah berbuat begitu, biarlah mestikaku ini yang meniup kau sehingga tulang belulang mu hancur luluh tanpa bekas, bukankah begini jauh lebih gampang. Kenapa aku harus bersusah payah."
Koan San gwat tertegun sebentar, lalu serunya.
"Kalau aku tidak masuk kerumah, mahluk anehmu ini apakah bisa mengjang keluar? "
"Tidak! Meski mestikaku ini lihay, sayang gerak gerikanya amat lamban, kulepas keluarpun tidak akan bisa mengejar kau, tetapi aku punya caraku sendiri supaya kau masuk mengantar jiwamu!"
"Kalau aku tidak sudi masuk? "
"Kalau kau tega tidak masuk kemari, biarlah jiwamu kuampuni saja. Tapi aku percaya kau tak akan tahan, coba kau dengar suara siapakah ini ..."
Lenyap suaranya dari dalam kamar belakang lantas terdengar rintihan orang, suaranya melengking kan masih kekanak kanakan terang keluar dari mulut Ling koh, seketika marah membara didada Koan San gwat teriaknya dengan beringas.
"Ling koh....!"
Dari dalam kamar terdengar Ling koh berteriak.
"Koan kongcu! Jangan kau tertipu olehnya, lekaslah pergi !"
"Ling koh! Cara bagaimana mahluk tua keparat itu menyiksa kau?"
Tiada jawaban Ling koh. Gelak tawa Coa sin yang berkumandang, serunya.
"Dia tidak enak menjelaskan, biarkan aku saja yang memberitahu! Cia Ling im sudah mengajarkan cara menikmati hubungan pria dan perempuan. Dalam lembah ini tiada perempuan lain, terpaksa dia kubuat percobaan!"
Terasa darah mendidih dan jantung hampir meledak, teriak Koan San gwat murka.
"Mahluk durjana! Berani kau...."
"Kenapa tidak berani! Nona kecil ini kan sudah tiga empat belas tahun, menurut kata Cia Ling im, perempuan seusia ini adalah paling menyenangkan, apalagi memang aku amat suka kepadanya."
Sungguh Koan San gwat tidak tahan lagi, kaki melangkah langsung ia menerjang masuk kedalam kamar.
Namun gerakan Kang Pan jauh lebih cepat dari dia, begitu tiba diambang pintu ia lantas berteriak "Coa sin?
Jangan kau memperkosa anak kecil, biarlah aku saja yang menggantikan, tidak?"
Diluar dugaan Coa sin malah marah marah, dampratnya "Menggelindinglah pergi.
Aku tidak sudi dengan kau.
Berani kau menerjang masuk biar kusuruh Siau hoa menyembur kau, kalau kau tidak takut mati silahkan coba?"
Kontan pecah tangis Kang Pan, serunya sambil menggerung gerung "Coa Sin?
semula kau adalah orang yang welas asih.
Kenapa sekarang berubah begitu rupa, apakah kau sudah tersesat oleh pengaruh Cia Ling im?"
Coa sin terkekeh kekeh dingin, ujarnya "Cia Ling im barang permainan apa, masakah dia mampu memincut aku, begitu dia mengembangkan ilmu sihirnya aku lantas dapat mengetahuinya, sekarang mereka kukuh didalam sang ular dibawah tanah...."
"Lalu kenapa kau berbuat demikian?"
Jerit Kang Pan pula sambil menangis.
"Karena aku suka, dulu bentukku malu dilihat orang, terpaksa harus tinggal dilembah yang sunyi dan dingin ini menderita hidup sengsara, sekarang aku sudah pulih apa saja yang menjadi keinginan hatiku. Sudah kau jangan banyak cerewet, minggirlah ketempat yang jauh, suruh bocah she Koan berbicara dengan aku."
Koan San gwat menyeret minggir Kang Pan, lalu serunya.
"Mahluk tua! Tiada omongan yang perlu kusampaikan kepada kau!"
"Memang kau tidak perlu benyak bicara, kau tunggu saja, setelah aku main cinta dengan genduk mungil ini, aku akan keluar dan bicara panjang lebar dengan kau!"
"Mahluk tua!"
Seru Koan San gwat sambil melolos pedang.
"Kau dengar, asal kau berani menyentuh Ling koh, pasti aku tidak akan mengampuni jiwamu, aku bisa memecah hancur badanmu dengan pedangku ini."
Sambil menenteng pedang Koan San gwat sudah siap menerjang maju, mendadak kepala aneh itu sudah menongolkan kepala pula, pipinya sudah melembang terang ia sedang menyedot hawa dan siap menyemburkannya keluar.
Terdengaar suara Ling koh berteriak menyedihkan.
"Koan kongcu! Kau pergilah! Jangan kau hiraukan aku."
Mana Koan San gwat kuasa menahan sabar, betapapun dia bukan seorang pemberani yang tidak punya daya pikiran cerdik, setelah berkepastian hendak menempuh bahaya, sikapnya makin tenang dan tindak tandukanya serba diperhitungkan.
Dia amat amati mahluk aneh itu lebih dulu, dalam hati ia sudah mendapat cara untuk menghadapinya, tempat mana yang terlemah di bagian badannya.
Letak kelihaiannya simahluk hanyalah semburan hawa berbisa dari mulutnya saja, dan mungkin tidak kuat lagi, kelihatannya sudah amat kepayahan.
Cuma gerak gerik kepalanya cukup gesit dia cepat sekali, cara bagaimana harus menghindari sergapannya dan memapas putus laher panjangnya itu, hal inilah yang perlu dipikirkan masak dan harus memeras otak, akan tetapi dia sudah memperoleh suatu cara.
Pertama tama ia melepas baju luarnya.
Kang Pan paham apa yang hendak dilakukannya, cepat ia menariknya dengan ketakutan "Koan roako!
Bajumu ini tidak akan bisa menghalanginya!"
Koan San gwat tidak peduli akan seruannya, sekonyong konyong ia taburkan baju luarnya sementara dengan kecepatan luar biasa badannya meleset masuk kedalam pintu.
Betul juga mahluk aneh itu meniupkan semburan hawa berbisanya.
Menggunakan baju luarnya yang ditarik kencang itu Koan San gwat menahan semburan hawa berbisa itu, tujuannya semula adalah menerjang masuk dan memapas kutung leher panjangnya, siapa nyana semprotan mahluk aneh itu ternyata amat keras, hanya dua tiga tindak kakinya melangkah badannya sudah tertolak balik, dikala ia hendak mundur sementara kepala mahluk aneh itu sudah putar balik dan menyerang kearahnya.
Tidak bisa mundur terpaksa harus maju, maka tanpa banyak pikir cepat ia menerjang maju, lalu berdiri tegak dengan punggung membelakangi dinding, sementara tangan meraih sebuah kursi batu, siap menunggu bila mahlu aneh itu menyerang pula.
Sebab saat mana baju luarnya itu sudah hancur luluh oleh semburan hawa beracun itu.
Melihat keadaanaya ini Kang Pan yang diluar kamar jadi ketakutan dan pucat parasnya, teriaknya.
"Koan toako, lekas kau berusaha lari keluar, batupun tidak akan kuasa merintanginya!"
Tapi keadaan Koan San gwat sudah keterlanjur serba sulit, namun lehernya yang panjang serta kepalanya yang aneh itu menghadang didepan pintu, sedang sebuah pintu lain yang menembus kesebelah dalam dibiarkan saja, terang memang hendak mendesak dirinya masuk kesebelah sana.
Akhirnya Kang Pan berlaku nekad serunya.
"Koan toako! Biar kucegat dia sebentar lekas menyingkir ketempat yang jauh!"
Sembari berkata diapun sudah menerjang masuk saking gugup takut orang menjadi mangsa kekejaman si mahluk aneh, lekas dia lemparkan kursi batu ditangannya kearah si mahluk aneh itu.
Sebetulnya mahluk aneh itu sudah siap menyemburkan hawa berbisanya kepada Kang Pan, namun samberan kursi batu itu teramat cepat terpaksa ia alihkan semburan mulutnya menyongsong kedatangan kursi batu itu.
Menggunakan peluang ini Koan San gwat menyelinap maju seraya mengayunkan pedangnya terus membabar kutung leher panjang simahluk aneh yang kecil itu.
Serempak Kang Pan dan Coa sin yang berada didalam kamar sebelah dalam sana mengeluarkan jeritan kaget, sementara itu kepala mahluk aneh itu menyeret lehernya yang panjang setumbak lebih, menerjang keluar dan entah terbang kemana.
Waktu sampai diambang pintu, kepala aneh itu masih sempat berpaling kebelakang menyeringaikan mulutnya kearah Koan San gwat, lalu laksana meteor jatuh melesat dan menghilang.
"Celaka! Celaka.."
Jerit Kang Pan gugup seraya membanting kaki. Koan San gwat terheran heran, tanyanya.
"Apa yang celaka? Apakah mahluk aneh itu belum mampus?"
"Bukan saja tidak mampus, dengan kau kutungi lehernya, maka gerak geriknya akan tambah leluasa, tanpa kendali, seluruh ular di jagat ini bakal menjadi mangsanya yang empuk, Koan toako, sungguh kau membikin celaka orang saja ..."
Meski belum paham, namun Koan San gwat merasa lega juga, karena kalau yang dijadikan mangsa makanan si mahluk aneh itu hanyalah binatang ular, seharusnya malah merupakan sesuatu yang menguntungkan bagi manusia.
Melihat mimik wajah Koan San gwat, Kang Pan tahu apa yang dipikirkan dalam hatinya, terpaksa ia hanya menggeleng menarik napas, malah sikap dan tindak tandukanya menunjukan rada prihatin yang serius.
Baru sekarang Koan San gwat menyadari bahwa kejadian tidak seperti dugaanya, keruan ia melengak, sebalikanya Kang Pan tidak memberi penjelasan lebih lanjut tak tahan segera ia bertanya "Nona Kang, sebetulnya ..."
"Mahluk itu setengahnya masih termasuk jenis ular, setengah lagi termasuk jenis kura kura yang paling dirasakan menjadi beban dan rintangan yang terberat olehnya adalah raganya yang berat dan besar itu. Celakanya kau justru memutus lehernya membantu dia bergerak lebih cekatan dan bebas !"
Koan San gwat masih belum mengerti katanya acuh tak acuh "Aku berhasil memutuskan lehernya, sehingga kepalanya terpenggal dari badan kasarnya, badan merupakan modal kehidupan bagi setiap mahluk hidup didunia, belum pernah kudengar sesuatu mahluk bisa hanya dengan sebuah kepala dan leher, masakah dia bisa hidup lama."
Kang Pan gegetun dan dongkol katanya menggeleng.
"Koan toako, jangan kau mengudak teorimu, kau tidak tahu justru sumber kehidupan jiwa mahluk aneh itu terletak pada kepalanya, badan justeru menjadikan belenggu bagi dia, kau memutuskan belenggunya, sehingga dia mendapat kebebasan selanjutnya tiada orang dan tiada cara apapun yang kuasa menundukkannya, lihatlah betapa cepat tadi ia terbang keluar,"
Merandek sebentar, bertanyalah Koan San gwat.
"Apa saja yang bisa dia lakukan? "
"Sejak mula dia menggunakan ular sebagai pengisi perutnya, kali ini dia akan bisa bersimaharaja, tak ada seekor ular berbisapun yang bisa lolos menjadi santapannya, dengan racun menambah racun, bisakah kau bayangkan akibatnya ..."
"Bukankah begitu lebih baik? Ular berbisa memang binatang yang suka mencelakai jiwa manusia ....."
"Aih... pikiranmu terlalu jenaka. Bukankah kau sendiri sudah mengecap kelihayan kelabang terbang ibu beranak itu, setelah mereka saling lalap ...."
"Jadi mahluk aneh itu tadi juga bisa semakin tumbuh besar? "
"Tidak! Dia justru berlawanan, semakin banyak ular ular beracun yang menjadi santapannya, racun yang mengumpul semakin keras, badannya malah menjadi semakin kecil. Dan karena dia tidak menelan bulat bulat setiap ular yang menjadi mangsanya, paling paling hanya mengisap inti sari kadar racunnya. Kalau dia sudah berhasil menghisap kadar racun dari dua ribu ekor ular berbisa, kepalanya itu akan mengkeret sebesar kepalan tangan saja, maka buntut dan lehernya yang panjang itupun akan semakin pendek."
Koan San gwat jadi uring uringan katanya tidak sabar "Bicara pergi datang yang menjadi korban toh hanya ular beracun melulu ..."
"Meski yang menjadi korban secara langsung adalah ular ular berbisa, tapi yang ketimpah bencananya secara tidak langsung justru lebih banyak. Hawa beracun yang di semprotkan dari mulutnya kau sendiri sudah menyaksikannya, kalau kehebatannya sudah mencapai puncaknya, setiap tempat yang pernah dilewatinya, sekitar sepuluh tumbak tiada barang berjiwa apapun yang bisa tetap hidup, karena wibawanya yang besar, setiap benda yang tersentuh olehnya, seketika itu juga menjadi luluh ..."
Baru sekarang Koan San gwat merasa betapa seriusnya urusan ini jadinya, setelah dipikir pikir, ia berkata.
"Dia tidak akan sembarangan terbang kemana mana bukan?"
"Kenapa tidak bisa?"
Ujar Kang Pan dengan nada berat.
"Ia pasti akan menyelinap kemana saja untuk mencari mangsa santapan nya. Kalau suatu saat tempat sudah dibersihkan dia akan ganti ketempat lain, sampai dia bosan sendiri, gerak geriknyapun semakin gesit dan cekatan...."
"Wah... kalau begitu memang celaka jadinya. Untunglah tempat dimana ular ular berbisa kebanyakan dihutan belukar atau pegunungan yang jarang diinjak kaki manusa, bencana yang dia akibatkan tentunya tidak begitu besar!"
"Panca indra jenis ular jauh tajam dari manusia, meski jauh berada dibeberapa li jauhnya, maka ular ular berbisa itu lantas bisa mencium kedatangannya maka diluar dugaan pastilah mereka akan melarikan diri kemana saja asal bisa menyelamatkan diri."
"Apakah mereka mampu melarikan diri? "
Tanya Koan San gwat.
"Lari sih tidak mungkin bisa lolos, cuma soal waktu belaka, maka dapatlah kau bayangkan ular ular yang lari ketakutan pasti bisa menjadikan bencana pula bagi manusia umumnya. Reaksi manusia setiap menemukan ular tidak lepas dari dua kemungkinan cara pertama lari menyingkir, cara lain adalah membunuhnya. Kalau menyingkir sih akan rada mending, kalau masyarakat ramai melihat ular beracun berbondong bondong, pasti mereka akan kerja sama menumpasnya, nah kalau sampat manusia dan ular bentrok paling ringan kedua pihak pasti jatuh korban, kalau mahluk aneh itu mengejar tiba pula, ular sih tidak peduli, namun banyak manusia akan ketiban malapetaka!"
Pucat dan berkecat hati Koan San gwat, ujarnya.
"Kenapa tidak kau jelaskan sejak semula, wah, celaka dua belas!"
"Keadaan waktu itu tidak memberi kesempatan padaku untuk banyak bicara!"
"Bahwasanya kejadian ini sukar diduga sebelumnya, karena mahluk aneh itu teramat lihay, selamanya tiada seorangpun yang berani mendekat padanya, aku sendiri sedang bingung cara bagaimana kau bisa mengutungi lehernya...."
Mendelong mata Koan San gwat sesaat lamanya tidak mampu bicara.
"Dan lagi sebelum mahluk itu terbang pergi, masih berpaling dan unjuk tawa kepada kau, jelas bahwa dia sudah diberkahi kecerdikan, kukira memang dia sengaja memberi kesempatan kau masuk, kau diperalat olehnya untuk membebaskan belenggunya itu"
Demikan Kang Pan menambahkan.
"Yang lain tidak perlu dibicarakan lagi, marilah kita pikirkan cara bagaimana baru bisa melenyapkannya? "
"Menutur apa yang kutahu tiada akal sehat apa lagi yang bisa menundukan dia kecuali membiarkan dia melanjutkan usia dan mati sendiri, binatang ganas macam itu usia nya tidak akan bisa panjang, paling lama hanya bisa hidap dua puluh tahun ...."
"Dalam jangka dua puluh tahun mengandal kecepatan terbangnya, dia sudah bisa menjelajahi sungai gunung dan kemana saja segala peloksok dunia ini, jiwa cari penghuni dunia ini bisa separuh terbunuh olehnya."
Kang Pan tertawa kecut, ujarnya.
"Habis, apa daya kita, maka aku sendiri jadi begitu gugup!"
Tak tertahan Koan San gwat mencaci maki sambil penasaran.
"Coa sin memang pantas mampus, kenapa dia memelihara bibit bencana ini!"
"Selanjutnya Coa sin amat hati hati terhadapnya, malah sejak lama ia sudah memberitahu seluk beluknya kepada aku, tujuan semula hanya untuk membunuh kau, siapa akan menduga kau sendirilah yang menimbulkan malapetaka ini!"
Tangan Koan San gwat terkepal dan digosok gosokkan, menandakan hatinya gelisah dan gegetun lagi, sesaat lamanya baru ia bersuara pula.
"Apakah Coa sin ada bilang mahluk itu benar tiada cara untuk menundukkan nya lagi? "
Kang Pan mengiakan.
"Aku tidak perduli, apapun yang terjadi akan kusuruh dia mencari untuk menghadapi nya...."
Sembari bicara ia menyingkap kerai terus mencobos masuk kedalam kamar sebelah dalam, didalam kamar ini hanya terdapat sebuah ranjang batu, diatasnya hanya digelar selembar kulit ular yang besar.
Ling koh sigadis mungil itu di belejeri telanjang bulat, sedang terlentang di atas kulit ular itu, air matanya berlinang linang mengawasi dirinya.
Melihat keadaannya ini seketika berdiri rambut Koan San gwat saking murka.
Gadis cilik ini baru berusia empat belasan, badannya yang kecil dan halus itu sedang mulai tumbuh akil balik, namun belum lagi kembang mekar sudah menjadi korban kekerasan semacam nafsu binatang jalang.
Bergegas Koan San gwat memburu maju serta memelukanya kedalam haribaannya, serunya tertahan dan haru.
"Ling koh! Kau...."
Mata Ling koh berkedip kedip meneteskan air mata, lalu berkata dengan suara yang lemah.
"Koan kongcu, Hiat toku tertutuk, tolong kau bebaskan aku dulu!"
Cepat Koan San gwat mengurut diberbagai jalan darah diatas badannya, namun ia tidak menemukan Hiat to yang mana yang tertutuk. Kang Pan menghela napas pedih, katanya.
"Yu cwan hiat yang tertutuk!"
"Hah!"
Teriak Koan San gwat tersentak.
"Itu Hiat to mematikan !"
"Tutukan jari Coa sin merupakan ilmu tunggal yang istimewa, jauh berlainan dengan ilmu tutuk umumnya."
Sembari bicara ia berjalan mendekat, lalu dibawah buah dada Ling koh, masing masing dia mengurut dan menepuk satu kali, seketika Ling koh mengerut alis memejamkan mata, namun kejap lain ia sudah bisa bergerak pula, tindakkan pertama yang dilakukan adalah cepat cepat meraih pakaian disampingnya terus bergegas memakainya.
Koan San gwat menahan gejolak amarah nya, katanya sambil menahan air mata.
"Ling koh!"
Kaulah yang menderita...."
Ling koh menggeleng kepala, katanya sambil tertawa getir.
"Masih untung, betapapun Coa sin masih punya rasa perikemanusiaan...."
"Sebetulnya dia hendak memperkosa aku tapi menjelang saat saat yang menentukan, mungkin dia teringat kebaikan kebaikkanku terhadapnya, ternyata ia mengendalikan diri...."
"Sungguh aku ikut gembira bagi kau!"
Terpejam kedua mata Ling koh sikapnya harus dikasihani dan aleman, katanya lirih "Kau senang...."
"Sudah tentu, kubawa kau keluar dari tempat Liu siancu, akhirnya terpaksa meninggalkan kau pula disini, kalau kau sampai menderita, sungguh aku tidak tahu ..."
Ling koh membuka matanya yang berlinang air mata, ujarnya.
"Tidak perlu kau menyesal dan kuatir lagi keselamatanku, menetap disini adalah demi keperluanku sendiri seumpama aku memang menghadapi sesuatu yang menyakitkan hati, akunun tidak akan menyalahkan kau!"
"Tidak!"
Cepat Koan San gwat berkata "Aku tidak akan membiarkan kau menderita dan disakiti... tadi...."
"Tadi demi menyelamatkan kesucianku kau sampai mengadu jiwa, aku pun amat terima kasih kepada kau. Akan tetapi bila kelak kebentur kejadian macam itu, sekali kali kau harus menjaga dirimu sendiri, karena ada seorang yang perlu kau pertaruhkan demi cintanya yang suci, seperti Thio Ceng ceng, karena kau dia ketimpah bencana dan sengsara. Kini terjatuh ketangan Liu siancu dan perlu segera kau tolong, seperti nona Kang, dia sudah termasuk ...."
"Dari mana kau bisa tahu? "
Tukas Koan San gwat tertegun.
"Segala sesuatu yang menyangkut dirimu, serta orang orang yang sangkut pautnya dengan kau, semua pasti kuketahui. Koan kongcu demi aku kau mengadu jiwa sungguh tidak setimpal, aku tidak lebih hanyalah gadis cilik yang...."
"Ling koh! Kau jangan banyak omong lagi, didalam benakku kau sama saja seperti manusia umumnya, siapa bilang tak setimpal? "
Menyala pandangan mata Ling koh seru nya.
"Apa benar? "
"Sudah tentu benar !"
Sahut Koan San gwat lantang.
"Jangan kata kau, meski seorang perempuan asing yang tidak kukenal, di dalam keadaan seperti kau tadi, akupun akan berlaku nekad demi keselamatan jiwanya!"
Pudar lagi sorot mata Ling koh, tidak tertahan ia menunduk. Koan San gwat menukas berkata.
"Aku bertindak hanya berpegang dengan landasan kebenaran, patut tidak aku melakukannya, selama tidak terpikir olehku soal setimpal segala."
Satelah merandek akhirnya Ling koh berkata dengan sedu "Bagaimana pun juga, aku amat bertertma kasih terhadap kau!"
Koan San gwat tertawa lebar ambil menepuk kepalanya tanyanya.
"Dimanakah Coa sin ?"
Ling koh menuding pintu yang menembus kerumah sebelah dalam, sahutnya.
"Tinggal pergi lewat sana, mungkin menyusul pergi kesarangan ular!"
"Benar, kau memenggal leher mahluk aneh itu, tentu dia langsung terbang kesarang ular itu berpesta pora, disanalah tempat Coa sin memelihara ular ular kesayangannya."
"Ada berapa banyak ular disarang itu?"
Tanya Koan San gwat.
"Tidak bisa dihitung jumlahnya, lekaslah kita menyusul kesana !"
"Jadi cukup ditempat itu saja ia sudah mendapakan mangsa dan bahan makanan untuk menjadikan puncak kesaktiannya bukan?"
"Bukan saja cukup, malah tiga empat kali lipat lebih banyak."
Koan San Gwat berpikir lalu berkata.
"Bila mahluk itu seperti yang kau katakan tiada tandingan diseluruh jagat, untuk apa pula Coa sin mengejarnya kesana? Apakah dia tak takut kena disembur oleh hawa beracunnya?"
Kang Pan juga menjadi bingung, katanya kemudian "Hal itu akupun kurang jelas, mungkin Coa sin punya cara lain untuk menundukan dia, tapi dulu hanya begitu saja dia menjelaskan kapada aku Koan toako, kita..."
"Sudah tentu kita harus segera menyusul kesana, kalau Coa sin tidak takut, maka tiada alasannya kitapun harus takut. Apalagi bila dia berani menempuh bahaya demi menumpas kejahatan maka harus membantu dia. Atau ingin juga aku melihat dengan cara apa Coa sin tidak perlu takut menghadapi keganasan mahluk itu."
"Seumpama Coa sin tidak berada disana bagaimana? "
"Kalau begitu aku harus segera kesana, mahluk aneh itu pasti berada disana sedang didalam sarang ular itu, Cia Ling im, Lau Yu hu dan lain lain disekap disana, aku harus berusaha membebaskan mereka, supaya mereka tida menjadi korban secara konyol. Meski kedua orang itu adalah musuh besarku, aku tidak bisa berpeluk tangan melihat mereka menemui ajalnya tanpa liang kubur!"
Selesai bicara segera ia mendahului bergerak, ia menerobos keluar lewat pintu samping baru saja Kang Pan hendak menelat perbuatan Koan San gwat, lekas Ling koh menarik nya.
"Nona Kang! Kalau bisa memahami martabat Koan kongcu, janganlah kau mencegah segala tekad dan usahanya. Kalau kau ingin menjadi isterinya, maka kau harus siap siap membiasakan diri menjadi seorang janda...."
Karuan Kang Pan melengak, sementara Koan San Gwat sudah tidak kelihatan bayangannya, segera Ling koh melepas pegangannya katanya.
"Begitulah perangai dan tindak tanduknya, demi setiap urusan yang hendak dia lakukan, selamanya dia tidak pernah memikirkan keselamatan pribadi, terutama ia tidak akan bisa terpengaruh oleh hubungan pribadi atau hubungan cinta asmara!"
Habis kata katanya ia mendahului menerobos keluar dihadapan Kang Pan malah.
Sementara Kang Pan menurunkan kantong kain dimana Siau giok disimpan, dielus elus kepalanya ia memberi pesan dengan suara halus.
"Siau giok, kau harus tetap tinggal disini, mahluk aneh itu justru merupakan lawanmu yang tangguh dan kau merupakan hidangan lezat bagi keperluannya, maka dengarlah nasehatku, baik baiklah bersembunyi disini ..."
Namun Siau giok menerobos keluar dari dalam kantong berusaha merintangi dia pergi.
"Siau giok,"
Ujar Kang Pan menghela napas.
"Aku sudah termasuk istri Koan toako, mati atau hidup harus bersama dia, kau sebaliknya tidak perlu menempuh bahaya bersamanaku, Manis! Dengarlah kataku!"
Siau giok malah melilitnya semakin kencang, berkata pula Kang Pan dengan rawan.
"Siau giok! Selamanya tidak pernah berpisah dengan aku, sekarang kau harus kutinggalkan. Jikalau aku menemui sesuatu, kau harus menjaga dirimu baik baik."
Akhirnya kata suara sudah tidak terdengar sama sekali.
Pelan pelan ia mendorong dan melepaskan diri dari libatan Siau giok, lalu menyelinap keluar dari pintu samping.
Keadaan disini sudah apal betul, maka dengan leluasa ia mengejar dengan cepat.
Waktu dia tiba disebelah kiri dekat sarang ular itu, dilihatnya Koan San gwat sedang melolos pedang sedang berhadapan dengan seseorang.
Sementara dari sarang ular dibawah sana terdengar suitan panjang yang melengking.
Sekali dengar cukup jelas bahwa suitan itu keluar dati mulut Coa Sin iapun kenal orang yang berhadapan dengan Koan San gwat adalah Lu Yu hu, karuan ia tertegun ditempatnya.
Sebalikanya begitu melihat kedatangannya, Koan San gwat lantas berteriak.
"Nona Kang! Kebetulan kau datang lekas kau hadapi keparat ini !"
Lau Yu hu menyeringai dingin, jengekanya.
"Jangan kau bermimpi, siapa bisa merintangi aku? "
Kang Pan melayang tiba diaamping Koan San gwat tanyanya.
"Koan toako apa yang telah terjadi?"
"Coa sin seorang diri sedang bergebrak dengan mahluk aneh itu didalam sana, sementara keparat itu menghalangi aku masuk ke sana membantu. Lau Yu hu, kau sadar apa yang sedang kau lakukan?"
"Kenapa aku tidak tahu? Ketahuilah segala kejadian ini adalah buah rencanaku. Coa sin keparat itu terlalu liar dan tidak tahu diuntung, memang dia cukup ampuh basa terhindar dari ilmu sihir Cia Ling im, terpaksa kami harus menggunakan Jian kau untuk mengendalikan dia, tapi Coa sin memang cukup cerdik, dia tidak mengijinkan kita berhadapan langsung dengan mahluk aneh itu, siapa nyana justru kau membantu mensukseskan segala rencana kita !"
Kang Pan melenggong, tanyanya.
"Mahluk aneh itu dinamakan Jian kau? "
"Thio Hun cu yang memberikan nama itu sebetulnya mahluk macam itu tiada nama tertentu, yang terang dia adalah alat paling berguna untuk mengekang Coa sin, dengan mahluk itu berada ditangan kami, jangan kata Coa sin, siapa saja menghuni dunia ini tiada seorangpun yang menjadi lawannya!"
"Masakah kalian punya cara untuk mengendalikan mahluk aneh itu? "
Tanya Kang Pan. Lau Yu hu terbahak bahak, ujarnya.
"Coa Sin hanya pintar memelihara ular, kecuali itu pengetahuannya memang terlalu sempit, dalam kolong langit ini masakah tiada sesuatu mahluk yang tidak bisa ditundukan. Thio Hun cu justru sudah mengatur segalanya yang sempurna!"
Dalam pada itu suitan Coa sin didalam sarang ular sana makin sengit dan keras, sungguh Koan San gwat tidak tahan lagi, Ui tiap kiam ditangannya segera teracung ke depan terus menusuk kedada Lau Yu hu.
Lekas Lau Yu hu memutar perglangan tangannya menangkis dengan pedangnya, dimana sinar ungu menyala, seketika Koan San gwat tergentak mundur dua tombak, hal ini bukan terjadi karena lwekang Koan San gwat kalah kuat, soalnya pedang pusaka lawanlah yang memang ampuh dan sakti luar biasa.
Ci seng kiam adalah pentolan dari kelima pedang pusaka, cukup asal menyalurkan tenaga dalam, batang pedang dengan sendirinya bisa memancarkan cahaya dan hawa pedang yang tajam dan deras, dengan kekerasan Koan San gwat sudah membuktikannya sendiri.
Kalau dia tidak segera mundur pastilah ia terluka oleh tenaga timbul dari kekuatan hawa pedang itu.
Bahwa senjata bukan tandingan lawan, karuan Koan San gwat mencak mencak seperti semut diatas wajan yang panas, namun ia kehabisan akal.
"Koan toako!"
Mendadak Kang Pan berkata.
"Serahka pedangmu kepadaku."
Koan San gwat melengak, lalu tanyanya "Kau tahu cara menggunakan pedang? "
"Meski aku tidak mahir ilmu pedang, tapi aku panya cara lain untuk menghadapinya"
Sembari berkata dia maju merebut Ui tiap kiam, lalu mengikat ronce ronce digagang pedang Ui tiap kiam dengan lengan bajunya, sekali gentak segera ia kembangkan sebuah tabir cahaya pedang yang berkilauan berceplok ceplok seperti kupu kupu, serempak memberondong kedepan.
Sekali lagi Lau Yu hu menggunakan keampuhan pedang pusakanya balas menyerang tapi usahanya kali ini tidak memperoleh hasil seperti semula.
Karena pedang Kang Pan tidak terpegang di tangannya, dengan terikat kontat kantil dilengan bajunya, sehingga tidak punya landasan kekuatan untuk menyalurkan tenaganya yang dahsyat, adalah dia hanya menggunakan lengan bajunya menggetar dan menarikan pedangnya menimbulkan gelombang cahaya terang sinar pedangnya, khusus menyergap setiap lubang kelemahan gelak lawan.
Umpama seorang yang bertangan kosong membendung arus gelombang lautan, meski ia bisa memukul bercerai berai damparan ombak lautan yang maha dahsyat namun tidak kuasa menghalangi butir butir air muncrat mengenai tubuh.
Justru butir butir air dari gelombang hawa pedang Kang Pan adalah setajam pisau seruncing tumbak untuk melindungi badan supaya tidak terluka oleh gempuran hawa pedang lawan terpaksa ia harus melarikan pedangnya sekencang kitiran untuk membungkus badan.
Rangsakan Kang Pan boleh dikata kena dibendung, tapi gerak gerik Lau Yu hu sendiri juga terkekang, tiada peluang bagi diri untuk menghalangi orang masuk kedalam sarang ular itu.
Barulah sekarang Kang Pan kerkata kepada Koan San gwat.
"Koan toako! Lekaslah kau masuk!"
Coa sin yang berada didalam mendengar percakapan diluar, segera ia berteriak keras.
"Keparat she Koan, semua memang kaulah yang menjadi gara gara sehingga terjadi bencana ini, kenapa tidak lekas kau masuk bantu aku melenyapkan semua ular ular beracun ini. Asal kita bisa mencegah binatang keparat itu tidak mengisap inti racun ular ular ini, dia tidak akan begitu berbahaya, kalau tidak akan begitu berbahaya, kalau tidak kita semua tidak akan bisa hidup tentram. Para durjana itu memang amat licik dan licin, begitu picik mereka menggunakan akal muslihat ini !"
"Koan toaka! Ayolah jangan berayal, Coa sin sudah buka suara minta bantuanmu, jelas bahwa urusan tidak segenting yang kita bayangkan sebelumnya, kau hati hatilah, jangan kau terlalu dekat dengan mahluk aneh itu !"
Sekali berkelebat Koan San gwat menyelinap masuk kedalam mulut sarang ular, keadaan disebelah bawah sana amat gelap, untung dia sudah melatih mata malam dengan sempurna.
Cukup asal ada setitik terang, matanya sudah bisa melihat sesuatu benda dengan jelas.
Tampak sarang ular yang lebar panjang ini dimana mana terdapat banyak ular yang sedang lari kemana mana saling terjang dengan simpang siur, banyak diantaranya yang sudah dipukul mampus oleh Coa sin.
Ternyata Coa sin memang sudah kembali asal dalam bentuk manusia normal.
Buntut ularnya sebatas paha kebawah sudah terpotong hilang, diganti dua kaki manusia normal, badan sebelah atas masih berbentuk asalnya semula, berkulit telanjang dan kekar berbulu.
Mungkin menggunakan kedua kakinya itu gerak gerikanya masih kurang leluasa dan biasa, waktu berjalan masih perlu berloncatan tapi gerak geriknya sudah amat cepat dan lincah, selintas pandang seperti terbang saja.
Sementara mahluk aneh yang dinamakan Jin kau itu sambil menyeret lehernya yang panjang sedang menerjang kesana kemari, mengejar ular ular berbisa, begitu ia berhail menerima seekor ular, terus digigitnya putus kepalanya dan menghisap racunnya.
Racun ular biasanya tersekam di kedua pinggir mulutnya yang dekat taringnya, begitu menggigit putus kepalanya terus dipentang mulutnya dan menghisap racunnya sampai habis lalu dibuang.
Agakanya Coa sin sendiri tidak berani terlalu dekat padanya, terpaksa menggunakan kesempatan setiap kali dia menghisap racun, dia mengintil di belakangnya serta melancarkan pukulannya, dengan mati matian ia berusaha membunuh semua ular ular yang berada didalam sarang itu sebelum Jin kau menerkam sasaran nya.
Tapi bila gerak gerik nya sedikit terlambat, akhirnya pasti didahului oleh mahluk aneh itu.
Dari kepala kepala ular yang terputus dan berserakan ditanah itu, dapatlah diperkirakan, Jin kau sudah menghisap racun hampir ratusan ular banyaknya, yang terpukul mati oleh hantaman Coa sin justru lebih banyak lagi, keadaannya sungguh amat giris dan menyeramkan.
Di bawah damparan angin pukulan Coa sia yang maha dahsyat, seluruh ular ular yang menjadi sasarannya pastilah terpukul remuk dan hancur lebur, bau anyir darah segera merangsang hidung.
Badan badan ular yang kepalanya tergigit putus oleh Jin kau masih bergerak gerak dan merambat kian kemari, kelihataanya amat menjijikan, adalah jumlah ular dalam sarang itu yang masih hidup tidak kurang dua tiga ribu ekor banyaknya.
Baru saja Koan San gwat mssuk, Coa sin lantas berkata.
"Lekas kau kejar dan bunuh semua ular yang berada disini, biar aku mengawasi dan kendalikan binatang keparat itu."
Sembari bicara tangaannya mencengkram seekor ular besar, dia pencet lehernya sehingga mulut ular terbuka lebar, dan dua taringnya yang besar segera merembes keluar air racunnya.
Jin kau kena tertarik oleh bau racun ini secepat kilat menubruk datang hendak menghisap sepuasnya, lekas Coa sin melontarkan sebuah pukulan memapak kedatangannya, sehingga Jin kau terpukul mental kebelakang, Jin kau hanya menggoyang goyangkan ekor nya yang panjang lalu menubruk maju pula.
Coa sin beruntun menyongsongnya dengan pukulan pukulan kerasnya, begitulah mereka jadi saling berkutet dan bertahan sama menghabiskan tenaga.
Bagaimana juga Jin kau merupakan binatang yang tidak sepintar manusia, yang di incar melulu racun dari ular yang berada di tangan Coa sin.
rasanya tidak terima sebelum berhasil menghisapnya, maka dia terus berusaha merebutnya.
Karena itu Koan San gwat jadi berkesempatan menunaikan tugasnya.
Akan tetapi tangannya tidak pegang senjata, terpaksa ia meniru cara Coa sin mengunakan tenaga pukulan tangannya menghadapi ular ular itu, cuma lwekangnya terpaut jauh dibanding Coa sin.
Baru puluhan ekor yang dia bunuh, tangan sudah pegal dan napas memburu, ia sudah kepayahan.
Soalnya ular ular itu berlari terpencar, sekali pukul hanya membinasakan seekor, sudah tentu amat makan tenaga.
Koan San gwat merasa caranya ini kurang praktis, ribuan ekor banyakanya belum lagi satu persepuluhnya yang ia bunuh, ia sendiri pasti sudah mampus keletihan Maka sambil bekerja terpaksa dia berseru kepada Coa sin.
"Coa sin, dapatkah kau memancing mahluk aneh itu keluar? Tempat buntu macam ini, cukup asal kita menutup lubangnya seluruh ular ular beracun bukankah sudah beres semuanya?"
Coa sin menggerung gusar, dampratnya "Kau tak usah cerewet. Kalau caramu itu bisa berhasil, sejak tadi sudah aku laksanakan, masakah perlu aku minta bantuanmu..."
Koan San gwat masih tidak terima, serunya pula.
"Cara demikian menghemat tenaga dan waktu. Kenapa tidak dapat dilaksanakan?"
"Memangnya aku menggunakan gerombolan ular ular ini mengurung mahluk aneh ini disini, setelah dia kehabisan tenaga dan tele tele baru perlahan lahan meringkus dan membinasakannya, bila sudah berada diluar ...."
Baru bicara sampai disitu, air beracun mengalir keluar dari taring ular sudah habis, lenyaplah daya tariknya terhadap Jin kau, mendadak ia putar badan terus memburu keular ular disebelah sana.
Coa sin setindak telah terlambar, Jin kau sudah berhasil menggigit putus kepala ular serta menghisap racunnya, dengan mendapat tambahan racun Jin kau jadi bergerak lebih lincah dan semangat, gairahnya lebih besar, sekali putar tubuhnya dia mengejar seekor ular yang lain lagi.
Tapi hantaman Coa sin lebih dulu memukul mampus ular itu, ia cepat cepat menangkap seekor yang lain pula dengan cara semula ia menarik perhatian Jin kau lagi, begitulah mereka mulai saling berkutet dan pergi datang dan nuju mundur.
Suatu kesempatan Coa sin segera berseru.
"Bocah keparat! Jangan cerewet, betapa sulitnya aku mempermainkan ia, menguras tenaganya, sekali kau menggangu, aku harus bekerja dari permulaan lagi silahkan kau melakukan tugasnya sendiri...."
Begitu juga Koan San gwat tidak mercecokinya lagi, tapi setelah ia membunuh puluhan ekor lagi, terasa kiranya ini memang terlalu berat, tak tahan ia berteriak pula "Coa sia!
Cara ini memang kurang praktis, aku seorang diri kekuatanku amat terbatas, jelas tidak mungkin bisa membunuh sekian banyak ular, kenapa kau tidak bisa keluar?"
"Bila sampai diluar, dia tinggal pergi tanpa kembali, siapa yang bisa mengejarnya?"
Teriak Coa sin pula dengan gusar.
Alasan ini seketika membuat Koan San gwat melenggong, kekuatiran Coa sin memang masuk di akal.
Kalau Jin kau terbang keluar dan entah kemana, bencana yang ditimbulkan tentu tidak terbatas.
Apa boleh buat terpaksa ia mengepos semangat, pukulannya mulai berjatuhan lagi menghantam kearah ular ular itu.
-oo0dw0oo-
Jilid 28 SETELAH KOAN SAN Gwat membunuh dua tiga ratus, saking keletihan tangan terasa susah digerakan lagi, sementara Coa Sin sudah berganti empat lima ekor, selama ini ia berkutet terus dengan Jin kau.
Gerak gerik Jin kau tampak tidak segesit dan selincah tadi, namun ia masih begitu besar gairahnya, begitulah saking ngiler ia menubruk dan berusaha terus mendesak maju, namun setiap kali tentu kena digempur terpental mundur oleh pukulan Coa Sin.
Terpaksa Koan San Gwat beahenti istirahat, namun Coa Sin tidak memberi kesempatan padanya, dengan penuh kebencian matanya melotot dan beringas, serunya mendesak.
"Anak muda! Jangan berhenti, bencana ini kaulah yang menimbulkan, akulah yang kena getahnya, kalau kau tidak lekas bekerja mati matian, akupun boleh cuci tangan."
Koan San Gwat naik pitam, serunya gusar.
"Mahluk ini adalah peliharaanmu."
"Tapi aku tidak suruh kau menguntungi lehernya, sampai dia meninggalkan badan kasarnya!"
"Menggunakan dia kau hendak bunuh aku! Masakah aku harus mandah terima kematian begitu saja!"
"Kentut!"
Maki Coa Sin tertawa.
"Aku mengurungnya didalam kamar, toh bukan aku yang memaksa kau masuk, seumpama kau terbunuh oleh dia, kau salah sendiri."
Koan San Gwat melengak, serunya "Kau berbuat tidak senonoh kepada Ling koh bagaimana aku bisa tidak turut campur."
"Apa benar kau mampu mengurusnya! Kalau bukan aku sendiri yang membatalkan niatku, budak kecil itu sejak tadi sudah menjadi korban, tahumu sih hanya main gagah gagahan dan main jempolan, kebanyakan urusan cuma mencelakai jiwa orang melulu."
Tersumbat mulut Koan San gwat, sekian lama ia tidak mampu bersuara lagi.
Namun Coa Sin tidak memberi hati, katanya lebih lanjut sambil tertawa dingin "Kalau toh kau hendak menjadi pendekar menolong yang lemah menumpas yang jahat, sekarang justru bukan saatnya kau istirahat main malas malasan, mesti lelah sampai mati juga setimpal, karena pekerjaanmu ini menyangkut laksaan jiwa insan hidup, kalau sampai mahluk keparat ini keluar, adalah kesalahanmu seorang, meski aku memelihara binatang ganas ini, kalau kau tidak banyak urusan, dia tentu tidak akan sembarang melukai orang !"
Benak Koan San Gwat bergelora penuh amarah, namun sepatah katapun tidak mampu diucapkannya.
Sesosok bayangan berkelebat dimulut lubang, ternyata Ling koh sedang menyelinap masuk, segera ia berkata dingin.
"Coa Sin! Kau salah! Kalau Koan kongcu tidak berbuat kesalahannya itu, Jin kau peliharanmu ini pun tidak akan lepas menjadi incaran Cia Ling Im untuk memperalatnya. Ketahuilah sejak mula mereka sudah mengatur segala sesuatunya dengan sempurna."
"Kau membual apa !"
Sentak Coa Sin gusar.
"Sedikit pun aku tidak membual, pengetahuan Thio Hun cu mengenai Jin kau jauh lebih banyak dari kau, rencana mereka semula adalah menggunakan Jin kau itu untuk menundukan kau cuma persiapannya saja yang terlambat dan belum lagi mereka sempat bekerja Koan kongcu sudah bergerak lebih dulu...."
Coa Sin tertegun, tanyanya heran.
"Mereka mampu mengekang mahluk keparat ini?"
"Tidak salah!"
"Menggunakan cara apa?"
"Daun jatuh kembali keakarnya, sudah tentu menggunakan kelongsong telurnya yang keras waktu dia dilahirkan dulu, konon kabarnya kelongsong telurnya itu bila dibubuk lembut ditebarkan diatas badannya, dia pasti bisa menjadi jinak!"
Coa Sin terbahak bahak, serunya "Hal itu akupun sudah tahu, tapi kelongsong telurnya itu jauh lebih keras dari besi baja, dibakar dua ribu tahun dalam bara api juga tidak akan terbakar menjadi abu ...."
"Terserah kau mau percaya, aku tidak ngapusi kau, sekarang Thio Hun cu sedang menggunakan tungku raksasa untuk membakar kelongsong telur itu, malah sebentar lagi bakal selesai, waktu aku datang, kelongsong itu tinggal sedikit lagi ..."
Karuan berubah air muka Coa Sin, cepat ia bertanya.
"Apa benar? Cara bagaimana dia bekerja?"
"Mana aku tahu, yang terang dia sudah menyelesaikan kerjaannya dengan baik..."
Berubah pula air muka Coa Sin, serunya "Hal itu tidak boleh terjadi! Aku harus segera mencegah usahanya itu."
Sembari bicara ia lempar ular di tangannya terus menerjang kemulut lubang.
Cepat Jin kau menyongsong lemparan itu terus membuka mulut dan menggigit kepalanya sampai putus menghisap racunnya dengan lahapnya, setelah memuntahkan kepalanya, ia mengejar ekor yang lain pula.
Baru saja Koan San Gwat bergerak hendak merintang, Ling koh sudah menarikanya.
"Koan kongcu! Kau tidak akan mampu merintangi dia. Lwekangmu jauh tidak ungkulan dibanding Coa Sin."
"Lalu bagaimana baikanya?"
"Tidak cara apapun, malah kau harus cepat mengundurkan diri bila Jin Kau sudah kenyang menghisap racun, untuk mundur kau pun sudah terlambat."
"Tidak!"
Sahut Koan San Gwat menggeleng.
"Binatang ganas ini betapapun tidak bisa dibiarkan hidup, bila terjatuh ketangan Cia Ling im, akibatnya bakal lebih celaka."
"Lebih baik terjatuh ketangan Cia Ling Im dari pada dia beterbangan kemana mana mencelakai orang orang tidak berdosa, paling tidak keganasannya masih ada orang yang bisa mengendalikan, tidak akan sembarangn terbang dan main terjang."
"Tapi bila Cia Ling Im memiliki binatang ganas pembunuh orang dan malang melintang bersimaharaja, siapa pula yang kuasa mengendalikan dia? Apakah benar Thio Hun cu membakar kelongsongan kura kura itu?"
"Benar, Cia Ling Im menyoreng pedang sedang berjaga dipinggiran, aku ingin mengganggu dan menggagalkan usaha mereka tapi aku kewalahan, dan lagi aku sendiri ragu ragu untuk mengganggu karena aku tidak bisa berbuat dosa..."
Disaat mereka bercakap cakap inilah beruntun Jin kau sudah menghisap puluhan racun ular, semangatnya terbangkit gerak gerik nya semakin lincah dan gesit.
Gerak terbangnya pun menjadi cepat sekali gigit satu ekor, segampang orang makan kwaci saja.
Lama kelamaan Koan San Gwat menjadi merinding dan mencelos hatinya.
Ling kohpun amat prihatin, serunya.
"Kau sudah lihay belum. Betapa hebat lwekang Coa Sin, sedikitpun ia tidak kuasa menundukan, kalau dia betul betul kehilangan belenggu yang mengekang dirinya, dapatlah kau bayangkan akibatnya!"
"Kalau sejak mula tahu begini akibatnya aku lebih suka disembur oleh hawa beracun dari mulutnya!"
Demikian ujar Koan San Gwat gegetun.
"Tiada gunanya, bila kau mampus hanya sia sia belaka, setelah Cia Ling Im gagal menggunakan ilmu sihirnya untuk mempengaruhi Coa Sin, langkah selanjutnya adalah menggunakan rencana ini ...."
Koan San Gwat menerawang sebentar, lalu bertanya.
"Apa Kang Pan masih bergebrak dengan Lau Yu hu diluar?"
"Tidak, waktu aku masuk kemari, bayangan seorangpun tidak kulihat."
"Aku punya akal, mari lekas kita keluar,"
Bergegas ia seret Ling koh menerjang keluar dari mulut sarang yang kecil itu. Kang Pan dan Lau Yu hu memang tidak kelihatan lagi diapun tidak sempat pikirkan mereka. Lekas ia berkata kepada Ling koh.
"Lekas kau bantu aku menutup rapat lubang ini."
"Tiada gunanya, orang lain masih membukanya lagi!"
"Adakah cara lain untuk menggugurkan lamping gunung ini?"
Ling koh berpikir sebentar, mendadak berkata.
"Tidak bisa! Tapi aku punya cara lain, kita bisa naik kepuncak sana, dimana ada lubang angin dari sana kita memasukkan bahan belerang sebanyak mungkin. Marilah kita sumbat dulu lubang ini, baru memasukkan belerang dan membakarnya habis perkara Mungkin Jin kau bisa terbakar mampus cuma kita bekerja cepat."
Koan San Gwat tidak berani berayal lagi lekas ia salurkan tenaga terus menggempur mulut lubang, namun batu batu gunung disini amat keras, hanya sebagian kecil saja yang runtuh.
Ling koh menjadi gugup teriaknya "Cara itu mana bisa, biasanya Coa Sin menggunakan sebuah batu besar untuk menyumbat lubang ini, tuh disana, mari kita kerja sama, mungkin kuat memindahkannya kemari."
Tampak oleh Koan San Gwat bentuk batu dan besarnya memang tepat dan pas menyumbat mulut lubang ini, cuma terlalu tebal mungkin beratnya ada laksaan kati, maka sedikitpun tidak terpikir olehnya.
Biasanya ia menggunakan senjata peninggalan garunya yang beratnya ribuan kati, maka ia percaya didalam dunia ini dalam adu tenaga tiada seorangpun yang akan kuasa menandingi dirinya.
Maka meski mendengar seruan Ling koh ia berusaha menggeser batu itu, namun sedikitpun tidak bergeming.
Di saat napasnya sudah ngos ngosan dengan muka merah padam, lekas Ling koh maju membantu, kedua tangannya ikut mendorong dari sisi yang lain, untunglah batu bisa bergeser sedikit.
Begitulah dengan kerja sama meski makan tenaga dan waktu akhirnya mereka bisa juga menutup lubang dengan batu besar itu.
Lingkoh menarik napas serta berkata tertawa.
"Sungguh berat batu ini perlu dua orang baru mampu menggesernya, Coa Sin hanya seorang diri saja sudah bisa melakukannya, kekuatan raksasanya memang tiada bandingannya!"
Koan San Gwat menghela napas pelan pelan, katanya.
"Ling koh, tidak usah menyinggung Coa Sin, kenyataan kau lebih kuat dari aku!"
Melihat sikap orang yang mendelu dan malu, cepat Ling koh menjelaskan.
"Koan kongcu, di bawah bimbingan Coa Sin, dan petunjuknya sekarang aku kira kira mampu mengguakan tenaga sampai lima ribuan kati, baru itu berat laksaan kati, meski kita harus kerja sama baru bisa menggesernya, dihitung hitung tenagamu masih jauh lebih besar, kenapa kau bicara begitu sungkan dan merendah?"
"Aku hanya menyesal pada diriku sendiri bahwa kau bisa lebih kuat dari aku, sudah tentu aku harus senang"
"Kekuatan seseorang tidak bisa dijadikan pertanda, kau tidak usah senang bagi diriku dan tidak perlu menyesal pada diri sendiri! Masih perlu manjat kepuncak?"
"Marilah sudah tentu harus kesana. Hal ini justru paling penting."
"Kukira kau sudah lupa, seumpama tenagaku memang lebih kuat dari kau, tidak perlu kau harus menyesal sedemikian rupa, tujuan mu kemari kan bukan hendak main gagah gagahan dan menang sendiri bukan!"
Kata katanya laksana obat mujarab, dan telak menusuk lubuk hati Koan San gwat, seketika pikiran jadi jernih dan terang.
Bersama Ling koh mereka berlompatan terbang naik keatas lereng gunung, terus menuju kesebelah bangunan rumah kecil diatas sana.
Didalam rumah batu ini ternyata banyak benar ada disimpan bahan bahan belerang yang tidak terhitung banyaknya yang gampang dibakar.
Di tengah tengah rumah batu itu ada sebuah lubang jendela yang menembus kebawah itulah lubang angin yang dimaksud, lubang itu menembus kebawah dan bisa melihat keadaan sarang ular.
Jin kau masih mengejar ular ular dan menghisap racunnya tanpa merasakan capai dan kekenyangan.
Urusan tidak boleh main lambat lambat tepat mereka melemparkan belerang belerang yang tersedia dibawah lubang, setelah cukup banyak mereka mengumpulkan kayu bakar serta menyumbatnya terus dilempar kebawah.
Begitu terjilat api belerang lantas terbakar, dimana bara apinya mengeluarkan asap biru menyala, ular ular dimana berlarian saling terjang, sekejap saja kira kira ada setengahnya sudah putus nyawanya.
Sisa lain yang masih hidup sama berebutan menyingkir kepinggir sambil mendesis dan bersuara ribut, bila bata api belerang itu merambat keempat penjuru, tentu merekapun menunggu giliran belaka.
Mau tidak mau Koan San Gwat merasa sedih dan tidak tega pula.
Ular beracun memang pantas dibunuh, namun dengan cara pembakaran sekaligus dengan sedemikian banyaknya, seolah olah cara ini terlalu kejam.
Melihat mimik wajah Ling koh pun dapat merasakan kerawanan hati orang.
Katanya dengan tertawa.
"Koan kongcu! Kau tidak usah bersedih, ular dalam sarang yang penuh ini, seumpama tidak kita bunuh dengan membakarnya, akhirnya toh akan dibakar orang lain. Ketahuilah simpanan belerang disini adalah Cia Ling Im yang membawanya."
"Dia yang membawa kemari? Untuk apa dia membawa sedemikian banyak?"
"Menurut anggapan Cia Ling Im semula pasti dia berhasil mengundang Coa Sin keluar, lalu dikatakan ular sedemikian banyak ini tiada gunanya lagi, dia sulit untuk melenyapkannya semua. Semula Coa Sin sendiripun sudah setuju..."
"Lantas kenapa mereka tidak segera turun tangan?"
"Lantaran Cia Ling Im salah langkah dia hendak main licik, disaat Coa Sin menjalani oprasi dia hendak menggunakan ilmu sihirnya mempengaruhi pikiran Coa Sin, alhasil tipu dayanya ini gagal karena kenangan oleh Coa Sin...."
"Bukankah Coa Sin tadi bilang bahwa mereka sudah teringkus dan terkurung dalam sarang ular dibawah ini?"
"Memang benar, namun dia hanya membekuk Cia Ling Im dan Lau Yu hu dua orang masih ada Thio Hun cu tidak ikut terkurung, tentu dialah yang melepas mereka keluar!"
Saat mana ular ular didalam sarang di bawah ada sudah banyak yang mampus, hanya Jin kau masih dengan semangat menyala nyala menerjang kian kemari, mengejar dan membunuh serta menghisap racun mereka.
Tampak oleh Koan San Gwat dipojokan sana masih ada beberapa bongkah belerang besar, ia hendak mengangkatnya dan dilempar kebawah untuk menambah bara api.
Segera ia membakar mampus Jin kau sekalian, namun Ling koh dengan tegas mencegahnya.
Segara ia menyumbat beberapa bongkah belerang diantaranya didalam kamar batu itu.
Namun tidak dilemparkan kebawah.
Baru saja Koan San Gwat tidak habis mengerti, Ling koh sudah menjemput sebuah diantaranya dan dipegangi.
Lama kelamaan Jin kau merasa kepanasan dan pengap oleh bara belerang itu, akhirnya tak tertahankan lagi, mendadak ia menggetar ekornya yang panjang, badannya lantas meluncur keatas menerjang kearah lubang angin di atas ini.
Keruan mencelos hati Koan San Gwat lekas ia lontar pukulan deras untuk menutup lubang menghalang halangi, tapi gerakan Ling koh lebih cepat lagi, belerang besar yang menyala itu ditangannya itu lekas ia sumbatkan kelubang angin.
Terpaksa Jin kail terdesak mundur pula oleh bara belerang, segera mulutnya menyeringai seram mengeluarkan suara aneh, sikap nya sungguh amat mengerikan.
Serta merta Koan San Gwat berseru memuji.
"Kiranya kau sudah memikirkan cara yang baik ini, sungguh cerdik kau!"
"Belum tentu Jin kau takut api, namun bau belerang punya kasiat untuk memusnahkan racun ular, maka sementara masih bisa merintangi dia, kalau tidak tamparan pukulanku tidak mungkin kuat membendung terjangannya!"
Koan San Gwat tidak banyak bicara lagi, dijemputnya sebuah belerang besar terus di lempar kedalam sasarannya kebetulan adalah tempat yang belum terbakar, Jin kau terdesak untuk melompat kesana sini...
Melihat orang masih hendak menimpukkan belerang lagi, lekas Ling koh mencegah "Koan kongcu, perangai mahluk ini cukup sabar dan tahan uji, sisa belerang tidak banyak lagi, jangan kau terlalu boros, yang terpening kita harus menjaganya upaya tidak melarkan diri!"
Koan Sao Gwat mengerut alis, ujarnya.
"Bukankah lebih baik melenyapkannya secepat mungkin?"
"Jangan, bila tidak mampu membunuh nya dan tidak kuasa menghalangi dia melarikan diri bukankah lebih celaka? Apa guna nya cepat cepat kalau tidak membawa hasilnya, biarlah kita tunggu saja kalau dia sudah kelelahan dan semaput karena pegal!"
Dihitung sisa belerang yang ada, menurut perhitungan Koan San Gwat paling lama malah kuat bertahan satu jam lamanya, maka ia tidak berani terlalu boros lagi.
Dari lubang angin itu ia dapat melihat Jin Kau disebelah bawah sedang terjang sana terjang sini, gerak geriknya sudah tidak selincah tadi kalau kepanasan dan diuap lagi satu jam mungkin sudah dibereskan.
Maka timbullah semangatnya katanya senang.
"Jika Jin kau dapat dibunuh, Cia Ling Im tidak akan mampu mengekang Coa Sin lagi malah dia mengikat permusuhan dengan Coa Sin yang merupakan lawan tangguh memang setimpal dengan perbuataanya."
Sebalikanya Ling koh tidak sependapat, katanya.
"Apakah kau sendiri tidak takut sama Coa Sin? Bukan mustahil dia lebih jahat dari Cia Ling im!"
Koan San Gwat melongo, ujarnya.
"Rasa nya belum tentu tindak tanduk Coa Sin sedikit masih kenal prikemanusiaan."
"Kukira sulit dikatakan, sejak lama ia menetap ditempat pengasingan, tidak pernah bergaul dengan khalayak ramai, tindak tanduk selalu menuruti kemauan hatinya. Cukup asal ada seseorang dapat mempengaruhi pikirannya maka dia bisa merubah sikap dan menuruti yang lebih matang . Lalu siapa yang mampu mempengaruhinya?"
"Kesempatan orang orang jahat jauh lebih banyak dari orang orang bijaksana, karena perbuatan jahat yang membawa dosa hakikatnya jauh lebih gampang dilakukan dan lebih menyenangkan, maka dosa dosa dialam baka ini sulitlah diberantas!"
Koan San Gwat menggeleng, ujarnya "Dosa hanya bisa dikecap sementara saja, adalah kemenangan bagi seorang yang bajik adalah kehormatan yang tidak akan luntur, abadi sepanjang masa maka sesat tidak lebih unggul dari kelurusan atau kemurnian, keadilan akan selalu bisa ditegakkan...."
"Teorimu ini boleh kau uraikan kepada orang lain, jangan kau lupa kondisi Coa Sin yang bara saja kembali normal dari dunia setengah binatangnya, didalam sanubarinya, bakal kesenangan yang berfoya foya mungkin jauh lebih besar dari kenormalan ...!"
Koan San Gwat jadi gelisah, mendadak dilihatnya mimik muka Ling koh menampilkan perasaan yang aneh, seketika tergerak hatinya, cepat ia berkata.
"Ling koh, soal ini hanya kau seorang yang mampu menunaikannya!"
Ling koh menghela napas katanya.
"Kenapa, harus diriku yang melakukan nya?"
"Hanya kau yang punya pengaruh paling mendalam terhadap Coa Sin Ling koh...."
Berlinang air mata Ling koh, katanya terisak "Mungkin aku bia menuntunnya kejalan benar, namun pengorbananku teramat besar, selama hidupku aku harus mendatangi orang aneh ini, tiada kehidupan sendiri yang bahagia!"
"Kemudian orang itu jikalau dia terpengaruh oleh perbuatan jahat, mungkin dia bisa jadi lebih jahat, maka seluruh dunia bakal tidak aman lagi ..."
"Memang hal itu perlu suatu pemikiran."
"Ling koh! Aku tahu pengorbananmu teramat besar dan suci, tapi manusia hidup di alam semeta ini bukan untuk diri sendiri, ku kira kau paham akan pengertian ini."
"Aku tidak paham! Sejak kecil aku diasuh oleh Lim siancu, pendidikan yang kuterima di Bu san, tidak pernah ada pelajaran yang mengharuskan aku hidup untuk dan bagi siapa...."
Koan San Gwat gelisah, katanya membujuk.
"Kenapa kau tidak mengerti? Seperti Lim siancu dan guruku, semula mereka bisa saja hidup tanpa segala gangguan tapi demi menindas ambisi Cia Ling im, mereka...."
Ling koh mendengak kepala, katanya tegas "Mereka toh tidak mendirikan pahala, disaat urusan mencapai saat yang paling genting, sebalikanya mereka tinggal ngumpat hidup di pengasingan di tempat Lolo...."
"Itulah karena mereka belum mampu untuk mengendalikan Cia Ling im, maka harus menunggu sekian lamanya, sampai pada waktu aku bisa menanggulangi tugas berat ini, baru mereka mundur dan mengasingkan diri. Jikalau mereka mencari hidupnya sandiri, sejak lama sudah bisa tinggal pergi tanpa mengurus tugas tugas ini di Liong hwa hwe, kenapa pula harus mandah diserang penyakit rindu pada tempat yang sedemikian jauh dengan hidup merana...."
"Meski mereka menderita akhirnya toh menemukan akibat dari imbalannya. Kalau aku ikut Coa Sin, sepanjang masa ini, aku harus hidup dalam kesengsaraan, akibat apa yang harus kuterima?"
Berkata Koan San Gwat sungguh.
"Akibatnya bakal menjadi mendapat kehormatan dan sanjungan puji insan hidup diseluruh jagat !"
"Kau kelana Kangouw tanpa hiraukan mati hidup, apakah tujuanmu juga hanya itu itu saja ?"
Koan San Gwat tertawa getir, ujarnya "Aku sendiri tidak berani punya harapan seperti itu, karena aku sadar tenaga dan kemampuanku amat terbatas, masakah setimpal mendapat kehormatan yang begitu tinggi dari kalayak ramai, aku hanya bermodal dengan tekad hatiku, melakukan apa saja yang kuanggap pantas."
"Baklah!"
Akhirnya Ling koh berkata setelah melongo sebentar.
"Sedapat mungkin aku akan mendekati Coa Sin, akan kukasihkan untuk mempengaruhi dia, supaya dia tidak diperalat oleh manusia manusia durjana. Tapi aku bekerja bukan demi orang lain, hanya untuk kau."
"Demi aku?"
Tanya Koan San Gwat melengak.
"Ya, demi kau! Waktu dikamar betul hampir saja aku diperkosa oleh Coa Sin, kau pernah berlaku begitu nekad menempuh bahaya hendak menolong aku untuk membalas budi kebaikanmu ini, aku tidak bisa menolak segala permintaanmu, Coa Sin amat benci dan dendam terhadap kau, jikalau sampai kena dipengaruhi orang lain, tindakan pertama yang dia lakukan pasti membunuh kau. Aku harus menghalang halangi perbuatannya!"
Belum lagi Koan San Gwat bicara lebih lanjut, terdenr suara ribut ribut dibawah gunung, pertama tama terdengar suara Coa Sin yang berteriak gugup "Celaka!
Kenapa lubang ini tersumbat?
Tercium bau belerang lagi...."
Selanjutnya terdengar lagi jeritan Kang Pan.
"Celaka dua belas, Koan toako dan Ling koh masih ada di dalam..."
Begitu batu penyumbat dipindahkan dan terbuka, Jin kau yang sudah bertele tele setengah sekarat itu mendadak menegakan ekornya terus menerjang keluar.
Hal ini terjadi sangat cepat, Koan San Gwat tidak keburu berseru mencegah.
Waktu Koan 8an Gwat dan Ling koh buru buru turun tiba dibawah gunung, seketika mereka sama menjublek dihadapi situasi didepan mata ini, karena disini hadir seorang yang benar benar di luar dugaan mereka.
Keadaan Coa Sin tidak berubah, cuma sekarang menggunakan celana pendek yang terbuat dari kulit ular keadaannya memang enak dipandang dari pada sebelumnya, sementara Cia Ling Im dan Lau Yu hu menjublek juga d sebelah samping sana.
Kang Pan terlihat sedang menerobos ke luar dari sarang ular, pakaian putihnya berlepotan kotoran hitam dan hanya sekilas pandang melihat Koan San Gwat dan Ling koh tidak kurang sesuatu apa seketika ia berjingkrak kegirangan, serunya "Koan toato!
Kukira kau sudah binasa terbakar didalam...."
Dengan mendelik Cia sin mengawasi Ling koh, tapi kedua orang ini sedikitpun tidak mempelihatkan reaksi apa apa perhatian mereka sama tertuju seorang yang lain, halaman 30 n 31 gak ada ia tangannya memukul batu besar untuk menyambur lubang itu, lwekangnya memang amat mengejutkan, batu besar berat laksana kati seketika kena dipukulnya pecah menjadi beberapa potong.
Liu Ih Yu malah terloroh loroh kesenangan ujarnya.
"Bagus sekali pukulaamu! Dengan seorang tokoh selihay ini, tidak perlu aku takut manusia diseluruh kolong langit ini tidak tergengam dalam telapak tanganku. Selanjutnya aku bisa berbua apa saja menurut keinginan hatiku, tidak akan ada orang yang bisa merintangiku lagi."
"Jangan takabur,"
Semprot Coa Sin gusar.
"Seekor Jin kau memangnya bisa berbuat apa terhadapku!"
Liu Ih Yu menyeringai, ejeknya.
"Apa kau ingn mencobanya!"
"Labrak dia!"
Sembari memberi aba aba tangannya segera terangkat, Jin kau segera terbang mumbul ketengah udara.
Dengan mengerahkan setaker tenaga Coa Sin menyongsong keatas menghantam kemuka Jin kau, namun pukulan maha dahsyat itu sedikit pun tidak membawa pengaruh terhadap Jin kau.
"Wut"
Tahu tahu Jin kau hinggap diatas pundakanya, dimana kedua pipinya melembung terang dia hendak menyemburkan hawa beracunnya, karuan Coa Sin tersirap darahnya, lekas ia ajukan tangannya, menutupi muka dan hendak menangkis.
Liu Ih Yu terloroh loroh, serunya.
"Dapatkah kau bertahan?"
Pucat pasi muka Coa Sin terpaksa ia turunkan kedua tangannya, ia insaf akan kelihayan binatang ganas ini, didalam sarang ular dia sudah menghisap anti racun yang diperlukan sehingga dia laksana harimau tumbuh sayap, tiada sesuatu benda yang mampu melukainya.
"Kau usah takut!"
Cemooh Lau Ih Yu tertawa.
"Aku tidak menghendaki kau binasa Halaman 34 n 35 gak ada kan sudah lama pula kupikirkan !"
"Sudah lama kau pikirkan?"
Tanya Coa Sin tidak percaya.
"untuk dapat menjinakkan dan terima menghamba kepadaku kau hanya menggunakan abu dari kelongsongnya itu baru bisa berhasil. Kukira kalian tidak akan memberi sepakat tindakan ini sebelumnya bukan?"
"Coa Sin kukatakan pengetahuanmu memang terlalu cetek !"
Demikian cemooh Liu Ih yu, kecuali kelongsong kura kura itu, masih ada sebuah benda lain yang manfaatnya jauh lebih besar, yaitu yang sudah kugunakan untuk menaklukan dan menjinakan Jin kau tadi...."
"Apakah itu? tanya Coa Sin tertegun.
"Tidak menjadi soal, sekarang kuberi tahu kepada kau, waktu kau pertama kali memelihara Jin kau ini, kau lupa menyimpan barang pusaka itu..."
Coa Sin memeras otak dan berpikir, akhirnya, dia berkata menggeleng.
"Aku masih punya barang pusaka...."
Liu Ih Yu terloroh loroh lagi, ujarnya.
"Bahwa abu dari kelongsongan kura kura itu bisa menundukan Jin kau, yang penting karena kelongsongan kura kura itu adalah modal dari tulang punggung jiwanya, adalah barang pusaka itu sebalikanya adalah sumber dan asal mula jiwanya!"
"Aku tahu sekarang!"
Tetiak Coa Sin.
"maksudmu adalah kelongsongan telurnya setelah dia dilahirkan ?"
"Tidak salah,"
Sahut Liu Ih Yu manggut.
"Kelongsongan telurnya itu justru merupakan titik tolak dari asal mula jiwanya yang murni, binatang kembali kesarangnya, burung pulang kepucuk pohon yang lama, kasiat dari kelongsongan telur itu bukankah lebih besar dari kelongsongan kura kura itu? Apalagi kelongsongan kura kura itu sendiri teramat keras, dibakar tidak akan luluh. Meski ilmu pengobatan Thio Han cu teramat tinggi, juga tidak akan mampu melakukan hal itu..."
Cia Ling Im segera juga berkata tidak percaya.
"Lalu bagaimana Thio Hun cu bisa membakarnya menjadi abu didepan mata hidungku !"
Coa Sin menimbrung.
"Benar! Waktu aku menyusul kesana kebetulan kerjaannya selesai...."
"Kalian sudah tertipu oleh permainan ilmunya yang bisa mengaburkan pandangan orang, sebetulnya diatas kelongsong kura kura ia sudah meneteskan semacam obat, obat itu bisa melenyapkan kelongsong kura kura ini sehingga tidak berbekas lagi, abu yang kalian dapatkan bukan lain hanyalah daging dan isi perutnya yang sudah terbakar hangus, sudah tentu abu itu tidak membawa pengaruh apa apa terhadap Jin kau !"
Coa Sin menjublek diam Cia Ling Im pun tertegun melongo. Berkata pula Liu Ih yu.
"Kemaren Thio Hun cu sudah mendatangi lubang dimana dulu Jin kau dilahirkan dan mengambil keluar kelongsong telurnya itu. Karena kalian selalu menguntit setiap jejaknya, sehingga ia tidak berkesempatan membakarnya, maka secara diam diam Jian coa kok. Hari ini aku baru kembali dan kebetulan aku masih sempat memburu waktu!"
Lalu ia berputar kearah Koan San Gwat serta katanya tersnyum.
"Dalam hal ini aku harus berterima kasih kepada kau, meski kami punya barang pusaka untuk menaklukkan Jin kau, tapi tidak kuasa mendekati Jin kau, karena Coa Sin sendiri menjaganya begitu ketat, tabasan pedangmu justru telan membantu banyak pada kami!"
Koan San Gwat mendengus, katanya.
"Kuharap kau menaklukkan Jin kau dan memeliharanya baik baik, jangan kau memperalat dia untuk mencelakai jiwa manusia, kalau tidak aku tidak akan memberi ampun kepada kau!"
Liu Ih Yu menyeringai dingin, jengeknya.
"Mati hidupmu sendiri sekarang berada ditanganku, masih kau sembarang, kau tahu cukup aku memberi perintah saja, tulang belulangmupun tidak akan tersisa lagi."
Tegak alis Koan San gwat, baru saja ia hendak mengumbar amarah, Liu Ih Yu sudah menghela napas dan berkata.
"Tapi legakan saja hatimu, aku tidak akan membunuh kau, malah karena permintaan Thio Hun ca, dia berpikir demi masa depan putrinya, Thio Ceng Ceng si nona cilik itu sudah amat kepincut terhadap kau, tapi bila dia sudah tahu bahwa kau sudah setuju memperistri Coa ki, mungkin keadaanmu sekarang tidak seenak dulu!"
Koan San Gwat melenggong, Liu Ih Yu segera menambahkan.
"Maka kukatakan demi keselamatan pribadimu, lebih baik kau berpisah dengan Kang Pan."
Berubah air muka Kang Pan, serunya dengan sedih.
"Koan toaku! Kau tidak akan meninggalkan aku bukan!"
Koan San Gwat menariknya lebih dekat katanya "Tidak akan tejadi!
Kalau toh mereka sudah tahu kau adalah calon istriku, masakah aku berpeluk tangan tanpa melindungi keselamatanmu.
Legakan saja, mati hidup kita tetap bersama!"
Kang Pan amat terhibur dan tersenyum bahagia. Adalah beringas muka Liu Ih Yu bentaknya.
"Koan San gwat! Kau tidak ingin hidup?"
"Liu Ih yu! Mungkin hanya maksud hatimu sendiri belaka. Menurut apa yang kuketahui Thio Ceng Ceng adalah seorang gadis jujur polos dan bajik, tidak mungkin dia punya jalan pikiran yang sesat itu!"
Semakin beringas muka Liu Ih yu, teriaknya kalap "Tidak salah, memang maksudku sendiri, kau mau apa?
Toa suci berkeputusan menjodohkan aku kepada kau, kau berani menolak mentah mentah, jikalau lantaran Thio Ceng Ceng bolehlah aku memberi maaf kepada kau.
Karena kalian kenal jauh lebih dulu dan diapun berulang kali pernah menolong jiwamu, tapi Kang Pan baru saja kau kenal, mana boleh kau memperistri dia."
"Kan toako memang belum mengetahui aku, tapi dia sudah setuju untuk memperistrikan aku..."
"Tak usah kau cerewet, mengandal apa kau hendak menjadi istrinya, masakah aku tidak lebih unggul dari kau?"
"Liu Ih yu!"
Koan San Gwat menyeringai dingin.
"Terhadap nona Kang Pan kami baru mengikat jodoh dalam pembicaraan tapi karena ucapanmu tidak bisa tidak aku harus mengawininya!"
"Akan kulihat masakah pernikahan kalian bisa terjadi?"
Ancam Liu Ih yu.
"Kenapa tidak jadi biar sekarang juga aku menikah dengan dia dihadapanmu."
Lalu ia menghadap orang banyak serta berseru lantang.
"Para hadirin harap dengar, sejak sekarang, nona Kang sudah kuakui mtnjadi istrku, kuharap kalian suka menjadi saksi. Meski upacara ini terlalu sederhana, tapi aku percaya pernikahan ini sudah boleh dianggap resmi, dan tekad kami tidak akan berubah...."
Lau Yu hu segera mengolok ngolok dengan sindiran tajam.
"Kiong hi! Kiong hi! Koan San Gwat meski diantara kita ada pertikaian yang belum diselesaikan, tapi aku mengharap bisa menyuguhkan arak bahagia kepada kau....."
"Benar!"
Cia Ling Im menimbrung.
"Koan San Gwat kau bisa mengawini seorang isteri sedemikian cantik molek laksana bidadari, akupun ikut gembira, apalagi aku bisa menjadi saksi didalam upacara perkawinan yang begini sederhana dan tiada keduanya dikolong langit ini, sungguh hatiku amat senang dan ikut bangga, keadaan memang serba menyulitkan, silahkan kau pinjam secawan arak kepada Coa Sin, marilah kira rayakan bersama!"
Koan San Gwat melotot dingin kepada mereka, ujarnya.
"Kebaikan kalian sungguh kuterima dengan setulus hati. Arak kebahagiaan tidak kupersiapkan, tapi pedang ucapan terima kasih justru sudah kupersiapkan, siapa diantara kalian yang suka terima kematian dulu!"
Cia Ling Im bergelak tertawa, serunya "Upacara perkawinan baru saja selesai, kau lantas berniat membunuh jomblang, wah terlalu tergsa gesa kau ini...."
Koan San Gwat menarik muka dengus nya "Cia Ling im, tidak usah putar bacot, kaulah yang mengundang aku kemari untuk menentukan mati hidup, marilah bekerja jangan kepalang tanggung lawanlah pedang ku ini!"
"Meski hari ini adalah waktu yang dijanjikan, sungguh aku pun tidak menduga hari ini merupakan hari bahagiamu juga, bolehlah kita mengganti waktu lain saja!"
"Tidak usah diubah!"
Seru Koan San gwat.
"Hari ini juga kita harus selesaikan pertikaian ini!"
Mata Cia Ling Im menyapu kearah Koan San Gwat katanya.
"Tidak bisa! Sungguh aku tidak tega hari ini mengadu jiwa dengan kau, apalagi bila mempelai perempuan sampai menjadi janda. Lebih baik setelah kalian mengecap malam pertama perkawinan bahagia ini baru dilangsungkan pertempuran yang menentukan!"
Dari tangan Kang Pan Koan San Gwat merebut Ui tiap kiam, teriaknya "Kalau kau tidak tampil kedepan aku tidak sungkan lagi !"
Berubah muka Liu Ih yu, mengangkat tangan memberi aba.
"Ayolah! Bunuh saja perempuan itu !"
Jin kau mencelat mumbul ketengah udara terus menubruk kearah Kang Pan, lekas Koan San Gwat menghadang disebelah depan pedang terayun kontan ia membacok kearah Jin kau, lekas Jin kau mengabitkan ekornya panjangnya membelit batang pedang.
"Cras"
Ekor panjang yang lembut itu tiba tiba terputus sebagian. Lekas Coa ki berteriak memperingatkan.
"Kalau seluruh ekor panjangnya kau kutungi gerak geriknya akan lebih cepat dan bebas, tatkala itu jauh lebih sulit dihadapi, sekali kali kau tidak boleh sembarangan..."
Liu Ih Yu menyeringai dingin ujarnya "Meski ia membawa ekor panjang, tiada seorangpun yang akan mampu menghadapinya !"
Setelah ekornya putus sebagian gerak gerik Jin kau jauh lebih gesit, mencelat mumbul lagi lagi ia menukik kearah Kang Pang.
Kali ini Koan San Gwat tidak berani melancarkan serangan pedangnya secara teledor.
Setelah mengincar tepat sebuah sasaran, secepat Kilat mendadak ia menusuk batok kepala bagian belakang Jin kau, tapi belakang punggung Jin kau seakan akan juga tumbuh mata, dimana ekornya melejit miring, lagi lagi berhasil menyampok miring pedangnya.
Dan karena benturan ini, ekornya lagi lagi putus sebagian pula, kini tinggal dua kaki lebih panjangnya.
Dikala untuk ketiga kalinya dia menubruk kearah Kang Pan, Kang Pan menjerit ketakutan sambil putar tubuh terus lari terbirit birit.
Jin kau mencelat terbang mengejar dengan kencang, kecepataanya jauh lebih gesit.
Maka baru saja Kang Pan lari puluhan langkah, Jin kau sudah mengudak tiba dibelakangnya, membuka mulut, terus menyemburkan segulang kabut berbisa, Koan San Gwat ketinggalan rada jauh, untuk menolong terang tidak mungkin.
Disaat keadaan kritis itu, jelas Kang Pan bakalan melayang jiwanya oleh semburan hawa yang berbisa itu, sekonyong konyong dari samping menerjang datang sesosok bayangan putih menghadang ditengah antara mereka, beruntunglah Kang Pan terhindar dari ancaman elmaut.
Adalah bayangan putih itu yang tersembur jatuh oleh hawa beracun itu bayangan putih itu bukan lain adalah Siau giok, ular kesayangan Kang Pan yang sakti itu.
Begitu badannya menyentuh tanah, dengan nekad ia terus menerjang kearah Jin kau malah.
Begitu melihat Siau giok, Jin kau malah menyeringaikan mulutnya dan melelehkan lidah, kelihatannya amat senang, lenyap hasratnya membunuh Kang Pan, sasaran kini dialihkan kepada Siau giok.
Tadi Koan San Gwat sudah mendengar kelihayan Jin kau, dalam hari ia sudah rada jeri serta dilihatnya Siau giok ternyata mampu hadapi semprotan hawa beracunnya, tak terduga terasa ia menjerit "Bagus Siau giok!
Lekas kau gigit mampus mahluk ganas ini!"
Dalam pada itu Kang Pan pun menghentikan larinya, dilihatnya Jin kau terbang berputar putar mengelilingi Siau giok, sementara Siau giok menegakkan kepalanya, lidahnya terjulur keluar masuk, mulutnya mendesis garang dan sengit.
Lekas Koan San Gwat mengejar kesamping Kang Pan, tanyanya.
"Apa yang dikatakan Siau giok?"
Seketika Kang Pan mengalirkan air mata terisak sedih.
"Demi menolong jiwaku Siau giok rela berkorban jiwa apapun yang terjadi aku tidak akan tinggal pergi meninggalkan dia begini saja, mau mati biarlah kami mati bersama...."
Sembari berkata dia terus menerjang kearah Jin kau, kebetulan Jin kau sudah memperoleh suatu kesempatan dan sedang menukik turun menyergap keperut Siau giok, tidak sempat melawan, tiba tiba ekor Siau giok menyamber keluar mengubat kedua kaki Kang Pan terus disendal pergi sampai Kang Pan terpental mundur beberapa langkah, sementara dia sendiri secara kebetulan malah bisa terhindar pula dari tubrukan Jin kau.
Karena tusukannya mengenai tempat kosong Jin kau jadi mengamuk, putar haluan ia mengincar kepada Kang Pan lagi.
Ditengah udara sekonyong konyong menerjang datang pula sesosok bayangan orang menghadang dihadapan Jin kau, tanpa perduli tiga kali tujuh puluh dua kali, membuka mulut Jin kau lantas mematuk kearah orang itu.
Tapi lekas orang itu mengayun tangan menaburkan segenggam bubuk abu.
Kalau dikatakan memang aneh, begitu Jin kau terkena bubuk abu itu, seketika ia menghentikan serangannya, begitu orang itu menjulurkan tangan menggapai kepada Jin kau serta memanggilnya dengan suara halus.
"Kemari! Kau dilarang melukai orang !"
Dengan jinak Jin kau menurut terbang dan hinggap diatas tangan orang itu.
Baru sekarang semua melihat jelas orang itu ternyata adalah seorang perempuan yang sedih dan sendiri dirundung kepedihan, dia tak lain tak bukan adalah Thio Ceng ceng yang dicari ubek ubekan oleh Koan San gwat.
Pertama tama Lau Yu hu memburu maju kearahnya serta berseru.
"Ceng ceng! Kenapa kaupun datang kemari ..."
Thio Ceng ceng mengacungkan tangannya, serta berteriak bengis.
"Aku larang kau mendekat, kalau tidak dengan kata biar kusuruh dia menggigit mampus kau."
Jin kau sudah bergerak garang siap menerjang, karuan Lau Yu hu menceles hatinya, cepat cepat dia menghentikan langkahnya, Liu Ih Yu segera tampil kedepan serunya.
"Thio siocia... Apa yang sedang kau lakukan ?"
Sekilas Thio Ceng ceng meliriknya, segera katanya "Sejak tadi aku sudah tiba, ayah amat kuatir terhadap kau, katanya tentu kau menggunakan Jin kau malang melintang melakukan perbuatan tercela, suruh aku menyusul kemari mencegah perbuatanmu, memang tepat jaga dugaan ayah..."
"Aku kan melanggar perjanjian, perempuan ini adalah...."
Air muka Thio Ceng ceng amat kalem dan sabar katanya.
"Aku tahu, dia adalah istri Koan toako, tadi waktu ikatan jodoh mereka kebetulan aku tiba disini. Untuk tidak mengganggu kalian terpaksa aku menyembunyikan diri. Liu siancu, perbuatanmu memang keterlaluan, kalau toh kami tidak bermusuhan dengan Koan toako, mana boleh kau mencelakai istrinya?"
Liu Ih Yu pucat pasi lalu berubah merah padam pula, tiba tiba ia ulurkan tangan hendak merebut Jin kau ditangan Thio Ceng ceng.
Tapi Thio Ceng ceng menarik muka serta mengancam dengan suara berat "Liu siancu!
Kau rebutpun tiada gunanya, kadar obat yang ayah berikan kepada kau tidak begitu benar, asal aku hadir disini, jangan harap Jin kau mendengar perintahmu."
Agaknya Liu Ih Yu tidak percaya, Thio Ceng ceng berkata pula "Selamanya ayah bekerja pasti dengan parhitungan cukup matang, tidak mungkin dia mau menyerahkan seekor binatang ganas seperti Jin kau ini padamu maka lebih baik urungkan saja rencana jahatmu!"
Beruntun Liu Ih Yu sudah manggil dan memberi aba aba kepada Jin kau, namun Jin kau tidak perdulikan, terpaksa dengan lesu dan kecewa akhirnya ia mundur kesamping, sorot matanya memancarkan dendam kebencian yang menyala nyala.
Baru sekarang Koan San Gwat ada kesempatan maju kehadapan orang, cuma ia jadi kemekmek, tak tahu apa yang hendak diucapkan.
Malah Thio Ceng ceng bersuara lebih dulu sambil tersenyum getir "Koan toako, aku haturkan selamat pada kau, mempelaimu sungguh amat cantik."
"Ceng ceng!"
Seru Koan San Gwat gugup dan tersipu sipu.
"Kau... kau tak tahu."
"Memang aku tidak tahu, dan sekarang pun tidak perlu tahu,"
Ujar Thio Ceng ceng mendelu.
"Nona ini jauh lebih cantik dari aku, aku ikut gembira akhirnya kau memperoleh seorang jodoh idaman yang sangat setimpal."
Koan San Gwat menjublek di tempatnya, sepatah katapun tidak kuasa diucapkan. Thio Ceng ceng mengacungkan Jin kau, lalu menyapu pandangan keseluruh hadirin, lalu berkata pula kepada Koan San gwat.
"Koan toako! Jin kau berada di tanganku, kau boleh seratus persen melegakan hatimu, aku tak akan menggunakan dia untuk melakukan kejahatan. Pertikaianmu dengan Cia Ling Im dan Lau Yu hu, aku tidak bisa ikut campur lagi. Tapi Coa Sin dan kau tiada punya permusuhan dendam yang mendalam, aku bisa membatasi dia supaya tidak mempersulit dirimu. Coa Sin sekarang juga kau ikut aku pergi!"
Coa Sin berdiri menjublek tidak bergerak dan tidak bersuara.
Thio Ceng ceng segera mangangkat Jin kau katanya bengis "Jika kau tidak mendengar ucapanku, segera akan kubuat kau konyol, sebetulnya bila kau ikut aku banyak manfaatnya yang bakal kau dapatkan, kedua kaki yang disambungkan ayah diatas badanmu itu sebelumnya sudah dibubuhi racun, dalam waktu satu bulan, kau akan menjadi seorang yang lumpuh cacat dan tidak akan bisa berjalan lagi, marilah kucarikan tempat untuk memusnahkan racun itu..."
Coa Sin berjingkrak murka, makinya.
"Thio Hun cu memang keparat..."
"Soalnya ayah terpaksa,"
Demikian ujar Thio Ceng ceog kalem.
"Ilmu silatmu teramat tinggi, watakmu tidak menentu lagi maka dia harus meninggalkan suatu cara supaya dapat menekan segala tindak tandukmu, sekarang aku sudah memperoleh Jin kau, cukup berkelebihan menghadapi kau, maka tidak perlu harus mengganggu gerak gerikmu, sekarang kau mau ikut aku?"
Meski Coa Sin tidak memberi jawaban, namun reaksinya terang bahwa dia sudah tunduk dan patuh. Thio Ceng ceng lalu berkata pula kepada Liu Ih yu.
"Serahkan kembali Pek hong kiam mu kepada Koan toako, ikut aku meninggal tempat ini!"
Ternyata Liu Ih Yu tidak berani membangkang, menurunkan pedang yang tersanggul dibelakang punggungnya terus dilempar kedepan kaki Koan San gwat, adalah Thio Ceng Ceng yang membungkuk tubuh menjemputnya dan diserahkan kepada Koan San gwat, katanya.
"Koan toako! Aku harus pergi! Ayah berkeputusan kembali kepadang pasir di Thian san lagi bersama aku, kalau ada waktu kuharap kalian suami istri bermain kesana..."
Habis berkata dengan sorot matanya ia suruh Liu Ih Yu dan Coa Sin pergi, begitulah mereka mengintil dibelakangnya, Lau Yu hu juga hendak ikut, segera Thio Ceng ceng membentak dengan bengis .
"Orang she Lau! Apakah belum cukup kau mempersulit aku? Kuperingatkan yang terakhir kepada kau, jangan sekali lagi kau terlihat olehku, kalau tidak aku tidak kenal kasihan lagi kepada kau!"
Lau Yu hu menghentikan langkahnya dengan lesu dan putus asa, sebetulnya Koan San Gwat hendak bicara beberapa patah kata kepadanya, tapi mendadak ia berkeputusan tidak bicara saja, melolos Pek hong kiam ia tantang Cia Ling im.
"Sekarang tibalah saatnya menyelesaikan urusan kita!"
Agaknya Cia Ling Im tidak menduga bahwa situasi bakal berubah sedemikian rupa, setelah terlongong sekian saat baru ia menyeringai dingin, katanya.
"Koan San gwat, selamanya nasibmu agaknya selalu beruntung, sudah kuperas otak dengan berbagai daya upaya namun nasibmu masih juga kau lebih unggul, naga naganya untuk membunuhmu memang bukan soal gampang."
Dengan memicingkan mata dan air muka membeku bengis Lau Yu hu membalik badan katanya penuh kebencian.
"Untuk membunuh anjing kurap ini segampang mengangkat tangan belaka, waktu di Ngo tai san sebetulnya aku sudah bisa membunuhnya, gara garamu memancingnya kemari hendak mempamerkan tipu muslihat segala ..."
"Lau lote."
Ujar Cia Ling Im tersenyum.
"Tujuan kita bukan hanya membunuh dia lantas urusan selesai, kau masih harus merebut Thio Ceng ceng yang molek itu, sedang aku hanya ingin membuat Thian mo kau sebagai kumpulan terbesar yang menguasai Bulim merajai dunia, maka bila harus memikirkan urusan kelanjutannya, umpamanya kalau Coa Sin tidak dibereskan, kau dan aku tidak akan tidur nyenyak ..."
"Kau terlalu mengagulkan dirimu sebagai cerdik cendekia dengan berbagai akal muslihat, selamanya tidak pernah gagal segala. Bagaimana buktinya sekarang?"
Dengus Lau Yu hu. Cia Ling Im tertawa getir, katanya.
"Dalam hal ini tidak bisa salahkan aku, yang terang rencanaku sudah sukses, soalnya kita terlalu percaya akan obrolan Thio Hun Cu, sehingga begitu mudah ditipu mentah mentah olehnya!"
"Aku tidak peduli segala tetek bengek itu,"
Seru Lau Yu hu.
"Yang terang aku tidak bisa memiliki Thio Ceng ceng, maka tujuanku terakhir hanyalah membunuh anjing kurap ini..."
Cia Ling Im menyeringai sadis, katanya membakar.
"Benar, menurut gelagat sekarang hal ini merupakan urusan yang tepenting bagi kita Lote, perlukah aku membantu kau?"
"Tidak perlu, aku sendiri sudah lebih cukup?"
"Aku percaya memang kau sendiri sudah cukup dulu aku dikalahkan dia karena ketajaman pedang tidak sebading, sekarang kita sama membekal dua pedang pusaka yang terunggul diantara Ngo Ih kiam perduli siapa, kita tidak perlu gentar dan pasti gampang membunuhnya Lau lote, dendam kesumat kalian jauh lebih mendalam terpaksa babak pertama ini kuserahkan kepada kau!"
Sambil menenteng Ci seng kiam Lau Yu hu maju kedepan, sebalikanya Koan San Gwat berteriak "Kau minggir dulu, persoalan kita cepat atau lambat pasti bisa diselesaikan.
Sekarang aku tak punya semangat untuk menghadapi kau, aku ingin membunuh durjana itu dulu."
"Sebalikanya aku beranggapan urusan kita perlu segera diselesaikan lebih dulu."
"Lau Yu hu, persoalan kita hanyalah urusan pribadi, sebalikanya membunuh Cia Ling Im adalah demi keamanan dan kesejahteraan umat manusia diseluruh dunia ini, kepentingan umum harus diutamakan, kau tahu sepak terjang Thian mo kau..."
Mendadak Lau Yu hu bergelak tertawa. Melihat orang tidak berniat mundur, Koan San Gwat semakin murka.
"Apa yang kau tertawakan? Aku bicara dengan jujur, kuharap kau bisa membedakan kepentingan umum dan pribadi."
Tiba tiba Lau Yu hu menghentikan tawanya, ujarnya dingin.
"Kutertawakan mulutnya yang suka mengundal teori lapuk itu, namun tidak menunjukkan sasarannya yang tepat, ketahuilah pertempuran kita sekarang ini sekaligus menyelesaikan kepentingan umum dan pribadi sekaligus, jangan kau lupa bahwa aku adalah Hu kaucu dari Thian mo kau."
Koan San Gwat tercengang, katanya.
"Kukira karena hendak mencari permusuhan dengan aku baru kau menjadi anggota Thian mo kau."
Lau Yuhu menarik muka desisnya.
"Koan San gwat, kau terlalu pandang dirimu sendiri, jikalau hanya untuk menghadapi kau, mengandal pedang ditanganku ini sudah cukup berkalebihan, buat apa aku harus meminjam tenaga orang lain!"
"Lalu apa tujuanmu?"
"Demi usaha, selama hidup ayahku ilmu pedangnya tiada bandingan dan menjagoi dunia akhirnya dia tenggelam begitu saja tanpa meninggalkan nama, malah cara kematiannya bagiku konyol, maka aku harus melampiaskan penasarannya."
"Bedebah, kemana saja kau bisa membangun usahamu, justru kau menggunakan komplotan sesar sebagai tulang punggungmu."
"Tutup mulutmu. Memang kau anggap dirinya paling murni dan menempuh jalan lurus?"
"Paling tidak aku tidak pernah melakukan perbuatan melangar zas prikemanusiaan."
"Tidak salah, kau lebih beruntung dari aku, kelana di Kangouw jauh lebih pagi dari aku, segala urusan seolah olah sudah kurebut seluruhnya, kalau aku berjuang didalam jalan lurus dan murni, sukses yang kucapai tentu tidak akan lebih ungul dari kau.... ketenaran namaku pasti juga tidak akan kumandang dari namamu....."
"Tegak sebagai laki laki dan berjuang demi pardamaian dunia bukanlah untuk angkat nama dan menanam gengsi."
"Itukan pikiranmu. Ayahku mati jengkel gara gara ayahmu, putra Liu Ih Yu tidak bisa kelelap dan kena kau ungkuli begitu saja, aku harus memperjuangkan dan melampiaskan penasaran ini!"
"Jadi hanya karena alasan itu belaka?"
Damprat Koan San Gwat berubah mukanya.
"Itu hanyalah alasan yang bisa dikatakan saja, masih banyak unsur unsur lain yang sukar kukemukakan dengan kata kata, yang terang sejak aku belum pernah melihat kau sudah amat membencimu. Dalam arti kata lain sejak aku mengetahui seluk beluk urusan, lantas kucantumkan kau sebagai musuh hebatku yang terutama, maka aku harus bertentangan dengan kau disetiap tempat diberbagai bidang." -oo0dw0oo-
Jilid 29
"Dari mana asal mula alasanmu ini? Untuk membenci aku kan kaupunya alasan."
"Tanyakan kepada ibumu."
"Apa sangkut paut hal ini dengan beliau!"
"Amat besar hubungannya, sebelum dia melihat kau, hatinya selalu dirundung kesedihan dan yang dibayangkan selalu adalah putranya yang hilang, mungkin dia anggap aku tidak tahu, sebetulnya sejak lama Hwi kak sudah memberi tahu kepadaku, sejak saat itu aku sudah mulai benci kau, akhirnya ditambah persoalan Thio Ceng Ceng, maka aku tidak bisa berdiri sejajar dengan kau."
Koan San gwat menjublek mendengar uraian yang dianggap gila ini. Lau Yu hu meneruskan dengan suara gegetun dan benci.
"Selamanya kalian dipihak yang unggul, ayahku terima diperhina dan hidup merana, rela rujuk kembali demi kebahagiaan rumah tangga, namun ia tidak bisa menarik kesenangan hati ibu, setelah generasi mendatang keadaan lebih parah lagi, didalam sanubari ibu kedudukannya jauh lebih berat dan disayang, didalam lubuk hati Ceng ceng, aku malah tidak bisa menempati posisi yang kuharapkan, apakah aku tidak pantas membenci kau?"
"Kau salah...."
Ujar Koan San gwat menghela napas.
"Sedikitpun aku tidak salah, apa yang kuuraikan adalah kenyataan, suruh aku meningalkan Thian mo kau adalah kumpulan sesat, akupun tahu Cia Ling im adalah seorang durjana, tapi tanpa banyak pikir aku rela masuk menjadi salah satu dari kelompok mereka, malah tidak kepalang tanggung kubongkar kuburan ayah almarhum, kuberikan sebarang pedang Ceng so kiam kepadanya kau tahu apa sebabnya?"
"Aku tidak tahu."
Sahut Koan San gwat menggeleng.
"Aku hanya tahu bahwa kau sudah gila!"
Lau Yu hu menyeringai seram, ujar nya.
"Boleh dikatakan demikan, aku gila karena penyebabnya, setiap orang yang menjadi musuhku, adalah sahabat karibku, apapun yang bakal menjadi milikmu aku akan menempuh jalan yang berlawanan dari kau!"
Koan San gwat berpikir sejenak, mendadak ia berkata dengan sikap serius.
"Lau yu hu, tidak kata kata yang perlu kukatakan pula kepada kau, sebetulnya aku sudah berjanji kepada ibu untuk mengampuni jiwamu, sekarang aku terpaksa mohon pengampunannya..."
"Kau tidak perlu minta pengampunannya hakikatnya dia hanya punya kau sorang putra dia, kau dan Bing Gwat yang sudah mampus itu, kalian bertiga baru satu keluarga...."
"Lalu kau ini apa?"
Damprat Koan San gwat naik pitam. Lau Yu hu menarik muka dan berkata.
"Aku hanyalah bibit pembalasan dendam yang ditinggalkan ayahku, biar kuberi tahu kepada kau, setelah kubunuh kau, lawan yang kedua yang kuincar adalah ibu!"
"Keparat dan durhaka! Apakah beliau bukan ibumu?"
"Bukan!"
Teriak Lau Yu hu beringas.
"Lau Yu hu tidak punya ibu, Liu Ih yu pun tidak punya istri, walau ayahku menyuruh aku memaafkan dia, sebaliknya tidak pernah kupikirkan hal ini."
Amarah Koan San gwat tidak tertahan lagi, mengayun pedang kontan ia menusuk ke dada orang, lekas Lau Yu hu melintangkan pedang, tenaga yang dikerahkan cukup kuat.
"Trak"
Kedua senjata beradu amat keras dan berbunyi nyaring, seketika Koan San gwat terhentak mundur dua tapak, dan lagi Pek hong kiamnya bukan lawan kesaktian Ci seng kiam, tajam pedangnya tergumpil pecah sebesar kacang.
Lekas Kang pan mengansurkan Ui tiap kiam kepadanya, serta berteriak.
"Koan toako gunakanlah pedang yang ini!"
"Yang mana bolehlah, didalam Ngo ih kiam, Ci seng merupakan yang terunggul."
Koan San gwat sudah keretak gigi, sambil menenteng Pek kong kiam ia sedang menghimpun tenaga murni siap melancarkan Pek hong kiam itu, salah satu jurus terganas yang mematikan dari Hu mo kiam hoat.
Mendadak dari samping sana menerobos keluar dua sosok bayangan, mereka ternyata Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin adanya.
Kang Pan berdiri melongo, cepat Gwat hoa Hujin sudah melejit tiba terus rebut Ui tiap kiam dari tangannya.
Koan San gwat terkejut dan heran, cepat ia memapak maju, serunya.
"Bu, kenapa kaupun kemari ?"
Gwat hoa Hujin tidak menghiraukan seruannya, matanya berkilat melata Lau Yu hu. Adalah Li Sek hong memberi jawaban sambil datang menhampiri.
"Hujin amat kuatir akan keselamatanmu. Jing Tho disuruh memimpin orang orang lain menuju, ke Tay pa san menunggu di sana, lalu dia mengajak aku untuk membaatu kau! bagaimana keadaan disini?"
Koan San gwat tidak sempat menjawab pertanyaannya, dengan gelisah ia berseru kepada Gwat hoa Hujin.
"Bu biar aku saja..."
"Tidak usah!"
Sahut Gwat hoa Hujin tegaz dan perihatin.
"Dengan tanganku sendiri akan kubunuh anak durhaka ini!"
Waktu Koan San gwat memburu menghadang diantara mereka, Gwat hoa Hujin lantas menghardik bengis.
"Anak Gwat! Kaupun tidak mendengar ucapanku lagi!"
Tampak oleh Koan San gwat muka orang pucat dingin lagi, hatinya menjadi luluh, terpaksa ia mundur kesamping, adalah Lau Yu hu Sa mundur beberapa langkah didesak oleh Gwat hoa Hujin yang maju menghampirinya.
"Bukankah kau hendak bunuh aku?"
Damprat Gwat hoa Hujin beringas.
"Kenapa tidak berani turun tangan?"
Lau Yu hu tidak mundur lagi, matanya pun memancarkan rasa penasaran dan berteriak kalap.
"Tak usah tergesa gesa kau ingin mampus, tunggulah setelah aku membinasakan bocah she Koan itu, akan datang giliranmu nanti, sekarang jangan kau desak aku turun tangan!"
Gwat hoa Hujin tertawa pedih dan seram.
"Aku paksa kau? Kalau aku tahu kau seorang yang berhati lebih kejam dari binatang, masakah aku bisa membiarkan kau tumbuh dewasa sebesar ini? Sungguh aku menyesal kenapa diwaktu melahirkan aku tidak mencekik mati kau saja!"
Pancaran kilat Lau Yu hu yang sudah kesetanan itu semakin menyala, pekiknya.
"Menyesalpun sekarang kau sudah terlambat."
Lenyap suaranya pedang ditangannya kontan menyambar kedepan, ujung Ci seng kiam seketika memancarkan cahaya ungu yang menyala dimana sinar pedang berelebat, hanya terdengar kesiur angin deras yang melengking, rambut panjang yang tersanggul diatas kepala Gwat hoa Hujin seketika rontok dan terpapas berhamburan separuh diantaranya.
Sembari melintangkan pedang dengan kedua tangannya, berkata Lau Yu hu tertawa.
"Sudah kulihat sendiri belum inilah Bau hun sam sek peninggalan ayahku, hanya permainan pedang jurus jurus itu barulah bisa mengembangkan wibawa dan keampuhan Ci seng kiam. Jurus pemainan merontokkan rambut sebagai ganti memenggal kepala, anggap saja sebagai balas budi akan kebaikanmu melahirkan aku ...."
Belum lenyap suaranya, sinar ungu memancarkan dan berkelebat pula, ia memapas kutung lengan baju Gwat hoa Hujin pula, katanya tertawa dingin.
"Jurus kedua, aku memotong pakaian sebadai ganti badan sebagai penebus budimu membimbing dan mengasuh aku, maka jurus ketiga ini akan menagih pembalasan ayahku. Yang hidup merana bersanding dosa...."
Sekonyong konyong seperti kesurupan Gwat hoa Hujin menerjang dengan kalap dimana Ui tiap kiam menyambar, tampak bayangan kupu kupu menari nari mengitari Lau Yu hu, dalam sekejap bayangannya sudah lenyap terbungkus libatan sinar pedang.
Setiap hadirin sama tertarik perhatiannya akan kejadian yang tegang dan serius ini, sehingga tiada seorangpun yang memperhatikan Cia Ling im secara diam diam menggeremet pergi dan menghilang seperti bayangan setan.
Ditengah bayangan kupu kupu yang sedang menari nari itu terdengarlah suara berdenting berulang ulang.
Tentulah Lau Yu hu sedang berjuang mati matian demi keselamatan jiwa didalam kepungan hawa pedang yang deras dan tajam itu.
Bagi penonton di luar arena hanya melihat ditengah cahaya kuning itu menggulung gulung ceplok ceplok kabut ungu yang semakin menebal, laksana didalam rumpun kembang yang mekar dimusim semi sedang dirubung oleh kupu kupu yang mesari nari tak terhitung banyakanya.
Kedua pihak terus berkutet dan bertahan cukup lama, rangsakan berantai Gwat hoa Hujin selama itu tidak mampu menjebol musuh tabir penjagaan Ci Sek Kiam yang kokoh rapat.
Sebalikanya selama ini Lau Yu hupun belum lagi melancarkan jurusnya yang ketiga.
Akhirnya Koan San gwat tidak sabar lagi, sambil bersuit nyaring pedang ditangannya dengan tipu Pek hong kiam jit, membawa cahaya memanjang seperti sabuk kemala menerjang masuk dalam arena.
Begitu hawa ungu kena diterjang oleh cahaya putih menyala seketika melembang besar dan meluas, seolah olah angin lesus yang deras dan mendampar dengan kekuatan yang tiada taranya melandai datang, yang pertama tama kena di diterjang adalah bayangan kuning yang membelit disekelilingnya, lalu menggulung seperti damparan ombak samudra kearah cahaya putih menyala.
"Trang"
Terdengar benturan nyaring menusuk ketelinga, tahu tahu Pek hong kiam ditangan Koan San gwat sudah tinggal separuh, badannyapun tergentak mencelat setengah tumbak.
Rambut Gwat hoa Hujin awut awutan, ia berdiri tegak ditempatnya tanpa bergerak ujung pedang Ui tiap kiam menjulur keatas Bumi, kedua tangannya lemas semampai dari pinggangnya mengalir darah deras tepeiti sumber air.
Sementara Lau Yu hu masih menentang Ci seng kiam, mukanya yang beringas tadi sudah hilang sekarang, sekarang terlihat seperti mimik aneh yang sulit diraba bagaimana perasaan hatinya, seperti hampa menyesal dan rawan pula.
Kang Pan menjerit ketakutan sambil menutupi mulutnya dengan muka pucat pias, akhirnya tak tertahan rasa amarahnya, teriakanya.
"Siau giok, gigit mampus manusia durhaka yang lebih kejam dari binatang itu !"
Siau giok siular sakti secepat kilat segera menerjang keluar, lekas Lau Yu hu menebaskan pedangnya, namun gerak gerik Siau giok teramat cepat lincah dan gesit, cukup badannya melengkung dan melinting, tahu tahu giginya sudah mematuk pergelangan tangannya.
Lekas Koan San gwat melangkah lebar memburu kedepan, pedang kutungan ditangannya kontan terayun.
"Cras"
Tangan sebatas sikunya ia tebas kutung, lalu ia menjemput Ci seng kiam dan diserahkan kepada Lau Yu hu, katanya.
"Kau pergilah lalu dipaksa untuk bertindak begini, racun berbisa Siau giok tiada obat pemunahnya, tunggulah setelah luka luka mu sembuh, biar kita mencari perhitungan lagi."
"Koan toako."
Ujar Kang Pan terbelak.
"Kenapa kau menolong dia? Kenapa melepasnya pergi pula?"
Koan San Gwat tidak hiraukan pertanyaan, ia memburu kedepan Gwat hoa Hujin dan berlutut didepan kakinya, suaranya tersendat "Ibu, anak...."
Darah mengucur semakin deras dari pinggang Gwat hoa Hujin, tapi agaknya ia sudah lupa merasakan sakit, sebelah tangannya terulur mengelus kepalanya.
"Nak, bukan salahmu kalian adalah putra putraku yang baik... aku amat girang, betapapun Yu hu masih punya perasaan, kuharap kau bisa memberi maaf kepadanya."
Koan San gwat mengadahkan mukanya yang berlinang air mata, sahutnya terisak.
"Bu! Aku patuh akan pesanmu...."
Memancar terang sinar mata Gwat hoa Hujin, mukanya menampilkan senyum lebar yang terhibur, katanya.
"Watak asli Yu hu masih bajik dan welas asih, ayahnyalah yang dipersalahkan, tidak pantas dia menanam bibit dendam kesumat kedalam relung hatinya, dialah yang membuatnya menjadi seperti sekarang, tapi dia...."
Bicara sampai disini agakanya dia sudah tidak kuat bertahan lagi, namun ia menguatkan hati dan meneruskan kata katanya.
"Betapapun dia adalah anak yang baik hati, kau.... bukan saja harus memaafkan dia, harus pula membimbingnya ke jalan lurus, jangan kau biarkan dia bergaul dengan orang orang jahat ...."
Akhirnya badan rubuh juga, tapi Koan San gwat berada dihadapannya, lekas ia memeluknya, Gwat hoa Hujin menekan tangannya katakan pula.
"Nak! Cabutlah kutungan pedang dalam pinggangku!"
"Jangan bu,"
Lekas Koan San gwat mencegah.
"Luka luka mu masih ada harapan disembuhkan."
Dengan lemah Gwat hoa Hujin menggeleng kepala, ujarnya.
"Tidak mungkin nak. Tusukan pedang ini amat kebetulan memutuskan urat nadiku lekas cabut keluar. Aku masih punya dua pesan yang amat penting..."
Tapi Koan San gwat mash belum berani menyentuh potongan pedang itu.
terpaksa Gwat hoa Hujin mengerakkan sisa tenaganya mencabut potongan pedang yang menghujam kedalam pinggangnya dengan kekerasan.
Darah segar memancar deras.
Lekas dengan sebelah tangannya ia menekan luka lukanya, tangan yang lain mengangsurkan kutungan pedang kepada Koan San gwat ujarnya "Anak ku!
Ambil dan simpanlah.
Kalau Lau Yu hu meluruk datang mencari kau pula, atau bila kau teringat hendak mencari dia, boleh kalian melihat pedang kutung ini, bayangkan kematianku..."
Mulutnya menyemburkan darah juga, diwaktu Koan San gwat gerung gerung memeluk dm sesambatan memanggil namanya, lambat laun ia sudah kehilangan kesadaran kutungan pedang itupun tidak kuat dipegangnya lagi.
Orang lain yang menonton dipinggiran termasuk Li Sek hong Kang Pan dan Ling koh sama heran dan tidak habis mengerti.
Gwat hoa Hujin sudah meninggal mati diujung kutungan pedang itu, kutungan pedang adalah Pek hong kiam yang dibekal oleh Koan San gwat, apakah Koan San gwat yang membunuh ibu kandungnya sendiri?
Sudah tentu tidak mungkin terjadi, lalu cara bagaimana kutungan pedang itu bisa berada didalam pinggang Gwat hoa Hujin?
Mereka tiada yang bisa menjawab.
Meski sejak tadi mula dengan penuh perhatian dan cermat mereka mengikuti pertempuran sengit tadi akan tetapi sulit diikuti oleh pandangan mata, sehingga apa yang terjadi mereka sama tidak tahu.
Tangisan Koan San Gwat yang gerung gerung dan melolong seperti pekikan serigala kesakitan yang terkena panah, air mata berderai membasahi selebar mukanya.
Orang orang lain yang hadir menjadi ikut sedih dan mencucurkan air mata pula.
Berselang agak lama, Ling koh baru maju menarik narik tangannya katanya.
"Koan kongcu, kau jangan menangis lagi. Orang meninggal tidak akan bisa hidup lagi, kau bersedih tiada gunanya, yang penting sekarang harus mengurus pemakaman Hujin...."
Li Sek hong yang mendekat, katanya.
"Koan kongcu serahkanlah jenasah ibumu kepadaku menghadapi kematiannya ini, aku jauh lebih sedih daripada kau! Tidak lebih hanya kehilangan seorang ibu..."
Meski sedang dirundung yang tak terhingga, mau tidak mau Koan San gwat tercengang mendengar katanya ini. Li Sek hong tertawa pilu, ujarnya rawan.
"Mungkin kau tidak akan bisa memahami ucapanku bicara soal cinta, sudah tentu aku tidak lebih berat dari hubungan kalian ibu dan anak, tapi semula kau tahu bahwa kau punya seorang ibu, setelah kau dapatkan kini kau ditinggalkan pula. jadi tidak akan membawa banyak pengaruh terhadap kelanjutan hidupmu, sebalikanya aku kehilangan saudara hidup yang terakhir..."
Koan San gwat bingung mendengar kata kata orang.
Li Sek hong mengusap air mata lalu berkata pula "Kau tahu sejak mening galkan Sin ti hong, seperti perahu terombang ambing ditengah samudra, aku tidak punya tempat berteduh lagi, akhirnya secara kebetulan berjumpa dengan ibumu dia begitu baik laksana adik kandung sendiri terhadap ku, dia ingin selanjutnya kami bisa hidup berdampingan mengecap hari tua yang penuh penderitaan ini.
Siapa tahu nasib telah mempermainkan kita setitik harapan kinipun tidak bisa kunikmati lagi."
Koan San gwat amat haru, tak tertahan ia menekuk lutut dan berkata pelan.
"Li sian cu kau sebetulnya memang angkat tuaku, mengikat persahabatan yang begitu mendalam lagi dengan ibuku, selanjutnya kau adalah bibiku yang terdekat."
Li Sek hong menerima Gwat hoa Hujin dari tangan Koan San gwat, lalu ia menariknya bangun, setelah menatap sebentar ia berkata pelan "Aku amat senang punya famili seperti kau, tapi aku tidak mau mengakui keponakan macam kau ini, sebab aku akan mengajukan berbagai pertanyaan yang mempersingkat jawabanmu..."
"Persoalan apa?"
"Dengan ibumu aku sudah angkat saudara kali ini dia ajak aku kemari seolah olah sudah mendapat firasat bahwa umurnya tidak akan panjang maka sebelumnya sudah memberi pesan kepadaku, seluruh milik dan persoalannya ia serahkan padaku termasuk Khong ham kiong di Tay pa san dan kalian pelayannya..."
Cepat Koan San gwat berkata.
"Hal itu tidak menjadi soal, biar aku memberi tahu mereka supaya mereka ikut kau saja!"
"Tidak perlu, mereka sudah tahu karena bibimu sudah berpesan langsung dihadapan mereka tapi yang harus kuberi tahu kepada kau bukan paroalan ini"
"Persoalan apa saja?"
"Pertama tama aku harus tahu cara bagaimana kematiannya?"
"Kenapa kau harus menanyakan hal ini?"
"Ini sangat penting aku harus berpegang pada hal ini baru berkeputusan untuk mengurus pesan pesannya, karena dia ada memberi dua pesan yang berlainan. Pesan yang kau tidak perlu tahu."
Koan San gwat berpikir sebentar, lalu katanya "Boleh dikata beliau mati ditanganku tapi boleh dikatakan mati ditangan Yu hu..."
Tegak alis Li Sek hong.
"Sebenarnya siapa yang membunuh dia?"
"Sudah tentu aku."sahut Koan San gwat terisak. Berubah air muka Li Sek hong, berkata pula Koan San gwat "Jurus ketiga dilancarkan Yu hu memang bukan olah olah hebatnya, mungkin tiada tandingan diseluruh jagat. Waktu mengharap ibu ia masih ragu ragu dan segan menggunakan jurus itu, tapi setelah ku kejar kedalam gelangang, baru ia melancarkan jurus yang lihay itu, sasarannya adalah aku, ibu melihat aku akan kehebatan dan mara bahaya yang mengancam jiwaku, lekas ia menghadang kedepan, akhirnya dia sendiri yang menjadi korban..."
Li Sek hong bingung tanyanya.
"Jadi pedangnya yang membunuhnya..."
"Benar, melihat ibu memapak keputaran pedangnya, Yu hu didesak menarik kembali ditengah jalan, di saat ia menarik pedangnya itulah ia mengutungi pedangku..."
"Jadi kutungan pedang itulah yang menusuk pinggang ibumu ?"
Koan San gwat menunduk diam. Li Sek hong menghela napas perlahan lahan, gumamnya.
"Serba salah kalau begitu."
"Sebetulnya pesan apa yang ibu katakan kepada kau?"
"Bahwa akhirnya ia pasti mati di tangan putranya sendiri hal ini sebelumnya dia sudah duga, cuma tidak duga adalah kau, dia selalu menyangka adalah Lau Yu hu."
Tak tahan Ling koh menyeletuk bicara "Kalau teliti secara keseluruhan, kita harus menyalahkan Lan Yu hu, kalau dia tidak turun tangan kepada Hujin, mana bisa terjadi peristiwa ini?
Koan kongcu hanya..."
"Keduanya tidak bisa disalahkan"
Li Sek hong menukas.
"Hanya nasiblah yang harus disalahkan. Urusan selanjutnya yang belum terlaksana dia minta aku mengerjakan, ia merasa berdosa terhadap Lau Yu hu, kalau dia mati ditangan Lau Yu hu dalam sakit hati ini boleh dikata terlampias. dan tidak perlu banyak mulut, sekarang terpaksa aku harus melaksanakan pesannya yang terakhir."
"Pesan terakhir apa, mungkin aku bisa...."
"Kau tidak bisa, apalagi kau tidak akan mampu mengerjakan!"
Koan San gwat tertegun, kata Li kek hong lebih lanjut "Ia minta dikubur bersama ayahmu !"
"Sudah tentu, ayahku dikubur di Chang ya san, paman bungkuk tahu..."
"Ibumu pernah menyinggung orang itu, tapi dia minta dikubur setelah menunaikan sebuah urusan kau tahu urusan apa yang dia minta."
"Aku tidak tahu!"
"Pertama dia ingin menemui gurumu, kedua, hendak menuntut balas bagi Lau Ih yu mencari orang yang melukainya dulu!"
"Itulah...."
Koan San gwat menjadi gugup.
"Itulah Sinio, sekarang beliau berada bersama gurumu kedua urusan ini bisa dikerjakan bersama, tapi dapatkah kau mewakili aku mengerjakan kedua urusan ini?"
"Aku tidak bisa aku dan oen lolo. .."
"Aku tahu kau tidak mungkin bisa ibumupun tidak mau suruh akan menyelesaikan urusan ini."
"Memangnya kau sendiri bisa?"
"Tiada soal bisa atau tidak bisa bagi aku sebab aku tidak punya hubungan hutang budi dengan perguruan sebaliknya persahabatan dengan ibumu amat kental dan mendalam aku harus bekerja demi menentramkan arwahnya dialam baka."
"Tapi Lim siancu dan guruku berada disana, jikalau mereka..."
"Melihat aku, mereka tidak akan berani merintangi aku bekerja, pendek kata jelaskanlah dimana tempat itu kepada aku. Demi ketentraman arwah ibunya kau harus memberi tahu kepada aku!"
Koan San Gwat tenggelam dalam pikiran yang serba menyulitkan, mengawasi jenasah ibunya, lalu ia pandang pula Sek hong sekian lama ia sulit ambil kesulitan.
Melihat orang tidak memberi reaksi yang tegas, Li Sek hong menjadi jengkel katanya "Ibumu cukup bijaksana dalam menghadapi persoalan antara dendam dan budi, semasa hidupnya dan setelah meninggal, sedikitpun ia tidak suka hutang dan berbuat salah terhadap seseorang kenapa kau begitu tele tele tidak punya pendirian"
Berkata Koan San Gwat dengan pedih "Lau Yu hu adalah putra Lau Ih hu, soal balas dendam boleh diserahkan kepadanya..."
"Kalau Lau Yu hu minta kepada kau supaya mengantar manemukan Oen lolo bagaimana"
"Aku akan mengajak kesana, karena dia punya alasan yang kuat."
"Justru akupun punya alasan yang lebih kuat lagi,"
Dengus Li Sek hong dongkol.
"Karena ibumu sudah menyerahkan persoalan ini kepadakau, kalau tidak dia harus dikubur bersama Lau Ih yu, apa kau rela melaksanakan hal ini?"
"Sudah tentu tidak sudi, tapi bibi tidak perlu memberi kepastian ini?"
"Sebalikanya ibumu harus berbuat demikian, karena secara resmi dia adalah istri Lau Ih yu, dia harus berbuat menurut tugas dan kewajiban seorang janda."
"Mengasuh dan membimbing Lau Yu hu sampai dewasa, dia sudah menunaikan kewajibannya itu!"
"Pengertianya terhadap ibumu terlalu cetek, megasuh anak adalah kewajiban seorang ibu, menuntut balas bagi kematian suami justru adalah tanggung jawabnya, kalau urusan ini belum sempurna masakah dia ada muka dikubur bersama ayahmu. Dimasa hidup sudah berbuat salah, setelah mati arwah tidak bisa tenang.... Lihatlah kedua mata tidak mau terpejam, kau sebagai putranya ini sebenanya mengandung maksud apa?"
Memang kedua mata Gwat hoa Hujin hanya setengah terpejam, lekas Ling koh coba mengusap wajahnya pelan pelan, sudah terpejam lalu membuka lagi.
Sambil meneteskan air mata Kang Pan maju mendekat, katanya "Koan toako katakan saja, kau harus memberi ketentraman kepada bibi."
Li Sek hong tertawa dingin, ujarnya "Sebetulnya ibumu cukup bijaksana dan sayang kepada kau.
Coba kau pikir kalau urusan ini dia serahkan kepada kau, apakah kau bisa menolakanya?
Umpama dia mohon kau sebelum ajalnya tadi."
Koan San gwat berlutut lagi, katanya sambil menangis.
"Ibu, kuharap kau suka memaafkan, aku benar benar tidak bisa, bukan persoalan Oen lolo seorang, masih ada guruku, aku pernah berjanji tidak akan memberitahukan tempat itu, kuharap arwahmu dapat memaapkan aku, bu... kau minta aku segera mampus juga bolehlah."
Li Sek hong menarik napas, ujarnya.
"Terpaksa aku membawanya pulang ke Khong ham kiong dan menguburnya bersama Lau Ih yu... Kiok ci, sungguh aku tidak nyana kau melahirkan anak seperti..."
KoanSan gwat amat terpukul oleh kata kata ini, mengangkat pedang kutung ia sudah bergerak hendak menghujam ke ulu hati sendiri, untunglah Kang Pan mencegah perbuatannya ini.
"Koan toako, apa yang hendak kau lakukan?"
"Kalau kukatakan aku tidak setia dan ingkar janji, kalau tidak dikatakan aku menjadi anak durhaka yang tidak berbakti kepada orang tua, begini sukar menjadi manusia, lebih baik mati saja."
"Koan kongcu!"
Mendadak Ling koh menyela dingin.
"Silahkan kau mati saja silakan bunuh diri. Kalau kau sudah mati Cia Ling im tentu tertawa lebar sampai mulut nya sukar terkatup seluruh dunia ini tiada seorang pun yang akan mampu menundukan dia."
"Cia Ling im? Dimana dia?"
Baru sekarang Koan San gwat tersentak sadar.
"Sudah pergi sejak tadi! masakah dia harus tetap disini menunggu kematiannya?"
"Oh, Thian!"
Jerit Coan San gwat sambil memukul kepala.
"Apakah yang harus kulakukan !"
"Cara yang amat gampang! Kau tidak usah mati, tidak perlu menjadi putra yang tidak setia tidak berbakti, angan angan ibu mupun bisa terkabul !"
"Kau punya cara apa?"
Tanya Koan San gwat terlongong.
"Biar aku yang kawani Li siancu, menemui Lolo!"
"Kau ..."
Teriak Koan San gwat berjingkrak.
"Tidak salah! Hanya aku yang tahu tem pat itu meski beritahu belum tentu Li sian cu bisa menemukan tempat itu ada lebih baik aku saja yang membawanya..."
Dengan nanar. Koan San gwat mengawasi gadis cilik ini, hampir ia tidak percaya akan pendengarannya.
"Bukankah begitu lebih baik?"
"Tapi..."
Koan San gwat tersendat bicaranya."
"Terhadap kejadian melukai Lau Ih yu Lolo amat menyesal dan selalu menjadi beban pemikirannya, sabagai seorang beribadah yang memperdalam ajaran Thian, dia paling mengutamakan sebab dan akibat, beliau menghadapi persoalan ini lekas dibereskan, supaya tanpa membawa ganjelan hati meninggalkan dunia fana ini. Maka sebetulnya kau tidak perlu merahasiakan tempatnya, waktu aku keluar kalian pernah berpesan wanti wanti kepada aku, suruh aku hati hati dan menyirapi urusan ini..."
Koan San gwat masih belum percaya, terpksa Ling koh berkata pula.
"Silahkan kau tanyakan Li siancu, waktu aku pertama kali aku bertemu dengan ibumu, kami pernah membicarakan soal ini waktu itu aku sudah berjanji kepadanya."
Sorot mata Koan San Gwat beralih ke arah Li Sek hong dilihatnya orang tersenyum manggut manggut, serta merta ia meng hirup napas panjang katanya masgul "Li sian cu, kau sudah tahu, kenapa pula harus bertanya kepada aku ?"
Li Sek heng tersenyum, katanya "Ibumu sendiri yang menyuruh aku berbuat begini."
"Ibuku?"
Tanya Koan San gwat menegas heran "Kenapa ?"
"Cara ini baru bisa menyelesaikan angannya tentu tidak akan sia sia, lihatlah bukankah kedua matanya sudah tertutup?"
Koan San gwat menunduk, betul juga kedua kelopak mata Gwat hoa Hujin sudah tertutup rapat, raut wajahnya tenang dan wajar, ujung mulutnya malah mengulum senyum manis dan tertawa.
Koan San gwat garuk garuk kepala dan tidak habis mengerti.
"Kenapa kau tidak berpikir."
Ujar Li Sek hong kalem.
"Ibumu menyerahkan tugas terakhir ini kepada aku, mengandal kemampuanku masakah bisa ungkulan melawan Sunio? Kalau aku tidak bisa menang, apa pula gunanya?"
"Lalu bagaimana sekarang ?"
"Sekarang aku percaya pasti bisa, kalau Ling koh menceritakan sikapmu terhadap Sunio, demi putra Kiok cici, Sunio pasti akan menyempurnakan keinginannya."
"Benar,"
Ling koh menimbrung.
"Kesan Lolo terhadapmu amat baik dan luar biasa aku percaya bila dia tahu sikap setiamu tanpa hiraukan hubungan kekeluargaan tentu beliau akan suka rela mengabulkan cita cita ibumu."
"Cara bagaimani mengabulkannya?"
Tanya Koan San gwat tidak mengerti.
Berkata Ling koh sungguh sungguh "Pandanganku, paling tidak pasti memberi sebelah tangannya untuk dipapas kutung oleh Li siancu, lengan dikorbankan untuk menebus kesalahan, tapi juga untuk menentramkan hatinya."
"Bukankah cara ini malah aku .."
"Tidak mungkin! Lolo sendiri suka membebaskan kesalahannya diwaktu hidup, sudah tentu tujuannya juga demi kau, usahanya ini sebenarnya mengandung suatu makna yang amat mendalam."
Koan San gwat menjadi bingung, tanyanya "Cara begitu terhitung Lolo menyempurnakan diriku?"
"Tepat!"
Sela Li Sek hong.
"Beliau menyempurnakan supaya tulang belulang ayah mu bisa terkubur sama ibundamu, sebab kalau hal ini tidak sampai terlaksana betapapun ibumu tidak akan mau berbuat demikian."
Muka Koan San gwat menampilkan senyum dikulum, katanya "Jadi ibu mem peralat aku untuk mewakili Lau Ih yu menuntut balas?"
"Kehendak ibu terhadap anak tidak termasuk "memperalat"
Apalagi seumpama tiada unsur unsur yang menentukan dari kau ini, toh belum tentu rencana ibumu tidak bakal sukses.
Bukankah tadi sudah kau dengar ucapan Ling koh Sunio sendiri juga ingin menyelesaikan kejadian yang selalu mengganjal dalam sanubarinya, kena terpengaruh oleh kau pula sehingga urusan ini lebih gampang diselesaikan."
Berubah air muka Koan San gwat, Li Sek hong lekas menambahkan "Kau tidak perlu merasa janggal, ayah bundamu memang rada keterlaluan terhadap Lau Ih yu, kau sebagai putranya adalah jamak menunaikan, tugas dan mewakili mereka untuk penebus kesalahan kesalahan ini."
Sekilas Koan San gwat terlengong, akhirnya berkata kepada Ling koh dengan sikap kereng "Ling koh!
Kau boleh pergi dan dihadapan Lolo kau harus bicara jujur apaadanya secara terus terang kepada beliau.
Tapi kaupun harus memberi satu hal kepadanya, dia suka cara bagaimana menyelesaikan terserah kepadanya, jangan karena aku jadi ragu ragu dan serba salah.
Bukan saja aku tidak sudi menerima kebaikannya, sabaliknya aku akan membenci selama hidup ini..."
Li Sek hong melengak, ujarnya "Cara bagaimana kami harus menjelaskannya?"
"Begitulah maksudku, dalam segala tindak tandukku selamanya aku berpegang kepada nurani dan kelurusan hati, aku paling ben ci kepada orang yang suka membual dan tukang menjilat, menggunakan tipu daya dan lain lain cara."
Li Sek hong terdiam mematung, Koan San gwat segera menambahkan "Li Siancu aku tidak ingin memberikan penilaian terhadap mu, tapi aku tidak percaya bahwa kau suka menerima tugas terakhir, cita cita ibuku ini hanya karena persahabatanmu saja dengan beliau."
Berubah rona wajah Li Sek hong, Koan San gwat tertawa serta berkata pula "Selama ini kau diam diam mencintai guruku, tapi dia tinggal menyembunyikan diri dengan Lim siancu kan hendak menggunakan kesempatan ini untuk melihatnya.
Aku tidak menentang keinginan dan perbuatanmu.
Tapi perlu ku beri nasehat kepada kau, bahwa meski kau bertemu dengan mereka tidak akan membawa manfaat kepadamu, beginilah perasaan dan nurani manusia, jodoh tidak bisa dipaksakan...."
Li Sek hong tersenyum getir, sesaat kemudian baru dia berkata pilu "Aku sudah tahu mungkin kali ini aku bisa jauh lebih sedih, tapi aku harus kesana.
Pertama luka hatiku biarlah luka lebih parah dan padam.
Kedua aku akan menentang uraianmu tadi bahwa hubunganku dengan ibumu memang amat intim laksana kakak adik sekandung, tugas yang pernah kujanjikan harus kulaksanakan."
Dengan hormat tersipu sipu Koan San gwat menjura kepadanya.
katanya "Kalau begitu akulah yang salah, setulus hati aku mohon maaf kepada kau, dengan setulus hati aku memanggik (bibi) kepada kau.
Setelah tugasmu selesai, setelah aku membrantas Cia Ling im serta kamrat kamratnya, tentu aku akan kembali dan hidup berdampingan bersama sampai hari tuamu!"
Dengan berlinang air mata dan tidak bicara Li Sek hong tinggal pergi. Dengan terlongong Ling koh berkata "Koan kongcu, adakah omongan yang perlu kau sampaikan kepada gurumu?"
"Ling koh,"
Ujar Koan San gwat perlahan lahan "Usiamu masih kicil namun kutlihat kau sudah pandai berpikir dan tahu urusan, hal itupun tidak bisa disalahkan, guruku dan Lim sianculah yang medidikmu menjadi begini nakal..."
Berubah aia muka Ling koh, mulutnya sudah terbuka hendak bicara, lekas Koan San gwat menyela "Tidak perlu banyak bicara, semua aku sudah paham, kalau ketemu guruku sampaikan salamku, ucapan banyak terimakasih akan asuhan dan bimbingannya yang berbudi, katakan bahwa akang datand suatu kerika aku akan membalas kebaikannya ini...."
"Hanya kata kata itu saja?"
"Kedua patah kata ini sudah lebih dari cukup sungguh aku tak mengerti kenapa kehidupan dalam dunia ini saling memperalat? Dan sampai antara ibu beranak, guru dan murid pun tidak terkecuali."
Lingkoh tertegun tanyanya."Maksudku Ui ho Sianjing juga sedang memperalat dirimu?"
"Tidak salah !"
Sahut Koan San gwat tersenyum getir.
"sejak mula guruku sudah mengatur diriku sebagai wakilnya didalam Liong hwa hwe, supaya cita citanya bisa terkabul mengasingkan diri dan hidup bahagia bersama Ting siancu. Baru hari ini aku paham akan tetapi aku masih simpatik dan salut kepada beliau akupun akan membalas budinya, lekasilah kau pergi, Li siancu sudah jauh."
Dengan mendelong Ling koh memandang jauh kedepan lalu berkata menekan suara "Koan Kongcu adakah orang yang bersahabat secara suci murni terhadapmu, tanpa punya maksud memperalat dirimu?"
"Sudah tentu ada. Umpamanya Thio Ceng ceng, demi aku dia melakukan banyak pekerjaan, namun terhadapku tiada sesuatu yang diinginkan, aku jadi serba susah malah, entah cara bagaimana aku harus membalas kebaikannya."
Berubah air muka Kang Pan mendengar ucapannya, lekas ia menyeletuk.
"Koan toako! Bagaimana dengan aku? Meski aku belum pernah melakukan sesuatu kepada kau, tapi aku...."
"Kaupan temasuk satu diantaranya. Akupun amat berterima kasih kepadamu, ku harap selama kau berlaku polos jujur dan murni"
"Koan Kongcu!"
Mendadak dengan suara linu yang hampir tidak terdengar Ling koh berkata.
"Jangan kau lupakan aku..."
Habis berkata ia terus lari memburu di belakang Li Sek hong.
Koan San gwat menjadi merasa hampa Kang Pan mendekat disampingnya, katanya "Koan toako, maukah kau percaya?
Ling koh pun sedang mencintai kau."
Koan San gwat menggeleng, ujarnya."Aku tidak tahu, dia masih bocah kecil"
"Tidak, ia tidak kecil lagi, aku berani katakan sejak lama dia sudah jatuh cinta kepada kau, tempo hari dia rela tinggal disini menemani Coa sin, adalah demi kau pula."
Koan San gwat menjadi , uring uringan sentaknya.
"Jangan peduli janji tetek bengek segala macam, marilah kitapun pergi!"
"Pergi kemana ?"
"Akupun belum ambil kepastian, meski dunia amat luas, seolah olah tiada suatu tempat yang benar benar menjadi tempat tujuan ku, tapi, marilah kita menuju ke Ngo tai san dulu."
"Ya, Cia Ling im tentu sudah kembali kesana lebih dulu!"
"Sulit dikatakan, tapi peduli dia ada tidak disana kerjaannya tentu bukan urusan yang baik."
Kang Pan bingung dan tidak paham. Koan San gwat menjelaskan.
"Cia Ling im bukan orang goblok, tahu bahwa pasti tidak akan melepas dia, kalau dia masih tinggal di Ngo tai san, itu pertanda dia punya cukup tenaga untuk menghadapi aku, atau sebalikanya tentu dia sudah menyembunyikan diri, kemungkinan pula Thian mo kaupun tidak menunjukkan aktivitasnya lagi."
"Kalau begitu tak usah kau meluruk kesana tempat itu cukup berbahaya bagi kau kalau dia tidak disana. Thian mo kaupun sudah diboyong kelain tempat, apa pula gunanya kita menyusul kesana?"
Koan San gwat tertawa lantang, ujarnya.
"Kalau dia masih disana ku ingin melabrakanya, kalau sudah pindah tempat akan kucari sumber penyelidikkan disana untuk mengejar jejaknya lebih lanjut. Kalau durjana itu tidak dibrantas dunia tidak akan aman."
Kang Pan memasukan Siau giok kedalam kain kantongnya, katanya "Entahlah, yang terang kemanapun kau pergi kesitu pula aku ikut!"
Koan San gwat menarik napas panjaug Ui tiap kiam milik Gwat hoa Hujin ia masukkan kedalam sarungnya terus diserahkan kepada Kang Pan, menunjuk kantong kainnya berkata "Kang Pan!
Aku tidak perlu menggunakan senjata, ada Siau giok sudah lebih dari cukup, kau saja yang bawa Cia Ling im dan Lau Yu hu masing masing punya sebilah pedang mustika, kaupun perlu membawa pedang tajam ini.
Koan San gwat menimang nimang pedang ditangannya, katanya.
"Selama hayat dikandung badan, aku akan membekal pedang ini tidak menggunakan senjata lainnya."
Kang Pan maklum bahwa perasaan hati orang sedang risau maka ia diam saja tak berani banyak bicara mengganggu ketenangan nya, lekas ia bantu menggantung Ui tiap kiam dipiggangnya, namun Koan San gwat tertunduk menjublek mengawasi tanah.
Tampak oleh Kang Pan kutungan lengan itu, itulah lengan Lau Yu hu yang ditebas kutung oleh Koan San gwat, tak urung berdetak jantungnya, dengan rasa was was ia berkata.
"Koan toako! Aku tidak tahu keadaan pertempuran, kukira...."
"Bukan salahmu. Lau Yu hulah yang harus memikul pertanggungan jawab terbesar akan kematian ibuku, terhadap ibu kandung sendiri mana boleh ia bersikap begitu..."
Kang Pan berpikir lalu bertanya.
"Koan toako! Menurut omonganmu jadi Lau Yu hu belum terhitung terlalu bejat, yang jahat adalah ayahnya serta pengasuh yang membimbing nya sampai besar bemama Hwi kak itu. Merekalah yang menanamk n bibit, dendam kesumat didalam sanubarinya sampai tumbuh dewasa."
"Semua salah, semua juga tidak salah mungkin perbuatan Hwi kak memang tidak dapat dibenarkan, berdiri pada pihakanya adalah demi kesetiaannya terhadap Lau Yu hu, lalu siapa pula yang bisa mengatakan dia salah?"
"Koan toko, aku tahu banyak urusan ucapanmu ini membuat bingung hatiku, jadi dalam persolan ini pihak siapa yang benar dan pihak mana yang salah?"
"Sulit untuk menjelaskannya ayahku menyintai nyonya muda yang sudah bersuami hal ini memang boleh dibenarkan, tapi cinta mereka adalah suci dan murni. Setelah mati Lau Ih yu masih mengatur langkah langkah jahatnya, namun dia pula orang yang langsung terkena getahnya, melihat istri tercinta direbut orang adalah jamak kalau dia teramat benci dan sakit hati, kalau dinilai keseluruhannya mereka sama tidak bersalah!"
"Aku tahu sekarang! Kodratlah yang akan permainkan manusia, jikalau ibumu sudah berkenalan lebih dulu dengan ayahmu sebelum menikah dengan Lau Ih yu, peristiwa ini tentu tidak akan terjadi !"
"Terpaksa hanya begitu kesimpulan kita."
"Ibumu memang seorang tua yang patut dihormati, ia jelas membedakan dendam dan budi."
"Apa yang diatur oleh ibu dalam persoalan ini memang betul, cuma tidak seharusnya dia memperalat aku....."
"Koan toako, pikiranku amat sederhana tidak dapat kupikirkan aturan besar apa apa, tapi naluriku bicara aku tidak percaya bahwa hal itu adalah maksud langsung dari bibi!"
"Memangnya kenapa?"
Tanya Koan San gwat tersirap.
"Jikalau ia hendak memperalat kau untuk menuntut balas bagi Lau Yu hu, bukankah lebihh baik ia menyerahkan persoalan ini kepada kau. Kalau toh dia hendak membedakan budi dan dendam, kenapa pula harus bertindak putar balik....."
"Tepat! Tapi kenapa Li Sek hong harus berbuat demikian."
"Kukira Li Sek hong hendak mengabulkan kepintarannya, dia mendapat pesan wanti wanti dari ibumu, tapi kuatir dirinya tidak bisa menunaikan tugas yang diberikan itu, maka dia pikir hendak mengajak dirimu...."
Sebentar Koan San gwat terlongong, mendadak berjingkrak dan berteriak.
"Betul! Kenapa tidak kupikirkan kearah itu! Marilah lekas kejar!"
"Untuk apa?"
"Akan kubongkar akal licik Li Sek hong ini, akan ku cegah dia bekerja menggunakan nama baikku, supaya ibuku tidak meninggal dengan rasa was was."
Lekas Kang pan menarikanya, katanya "Kukira tidak perlulah, Li Sek hong berbuat demikian juga demi ibumu, kalau dia tidak menempuh cara ini, tulang belulang ayahmu tidak bisa akan di kubur bersama ibumu..."
Koan San gwat masih hendak bicara, lekas Kang pan bicara dahulu "Cukup asal kau paham bahwa ibumu tidak mengandung maksud maksud seperti itu, kenapa kau haru mempersulit Li Sek hong, semua bekerja demi keyakinan sendiri sendiri, hubungan Li Sek hong dengan ibumu tidak lebih hanyalah saudara angkat, bahwa dia rela melaksanakan tugas tugasnya ini, dan kau sebagai putra keturunannya, masakah tidak rela menerima sedikit getahnya?"
Koan San gwat menjublek sekian lamanya, akhirnya berkata menarik napas.
"Kang Pan ucapanmu memang betul, agaknya pikiranmu jauh lebih tinggi dari aku!"
"Aku tidak mengenal akan licik dan tipu muslihat, semua ku gunakan keringanan, secara lincah dan tulus kupandang maya pada ini, maka didalam pandang aku maya pada ini jauh lebih indah, lebih elok dari apa yang kau lihat..."
Koan San gwat tidak bersuara. Kang Pan berkata lebih lanjut.
"Li Sek hong sendiri kurang pengertian terhadap kau, jikalau dia memaparkan maksud keinginan ibumu secara blak blakan kepadamu, mungkin kau suka rela akan mewakilinya menyelesaikan urusan itu."
Koan San gwat menghela napas, ujarnya.
"Mungkin ucapanmu benar, yang terang Li Sek hong tidak pantas berbuat demikian, karena maksud ibuku tidak ingin aku terlibat dalam persoalan ini... Kang Pan! Ucapanmu memang benar, sekarang aku jadi simpatik dan berterimakasih kepada Li Sek hong, tujuan dan maksudnya memang jujur, tadi tidak pantas aku bersikap demikian terhadapnya!"
"Asal kau seperti diriku, pandanglah maya pada ini dengan nurani yang suci murni, akan segera kau dapatkan dimana mana penuh bertaburan bunga bunga mekar semerbak, alam semesta ini diliputi cinta dan kehangatan... Koan San gwat dan Kang Pan kembali sudah berdiri didepan gunung Ngo tai san, sikap mereka kelihatan melengak dan heran. Bendera kebesaran Thian mo kau ternyata sudah lenyap dari tempatnya berkibar, yang ada hanyalah selarik panji panjang yang tersulam sebatang pedang dan satu huruf Im yang besar dibelakang pedang adalah sebuah lukisan Pat kwa. Gambar Pat kwa ini cukup dikenal oleh Koan San gwat, karena itu tanda kebesaran dan keluarga In dari Bu khek pay. Bu khek pay hanyalah sebuah sendikat kecil yang bercokol ditengah arus gelombang pertikaian didunia persilatan, masakah mereka mampu merobohkan atau menumbangkan kekuatan Thian mo kau yang besar dan kokoh serta menggantikan kedudukannya. Hal inilah yang membuat orang heran dan melengak. Adalah pertanda yang terukir diatas panji itu menjadi kenyataan dan tidak biaa disangkal lagi, mau tidak mau mereka harus percaya akan kenyataan ini. Disaat mereka melenggong dan kebingungan, dari jalan pegunungan sana tampak lari mendatangi seekor kuda yang ditunggangi seorang laki laki bertubuh kekar, golok tersoreng dipinggangnya sikapnya kereng dan angker. Begitu melihat orang ini semakin heran dan menjadi curiga hati Koan San gwat. Laki laki ini adalah Cit sing to Lau Sam thay, dulu waktu orang menyelidiki persoalan Hwi tho ling cu baru berkenalan dengan dirinya, dan karena orang ini pula sehingga dirinya timbul persengketaan dengan pihak Bu khek pay. Sungguh tidak nyana, ditempat ini dan saat ini pula ia bisa bertemu dan melihatnya dan karena inilah, maka Koan San gwat lebih yakin bahwa panji panjang itu jelas pasti ada sangkut paut yang erat dengan Bu khek pay dari keluarga Im. Badan Lau Sam thay rada gemuk dari dulu, sikapnya lebih gagah dan bersemangat, muka tampak berseri tawa bercokol diatas tunggangannya cuma sikapnya saja yang masih sopan santun dan sungkan sungkan, dari kejauhan lantas turun dari punggung kuda dan menjura memberi hormat, sapanya "Lingcu! Sejak berpisah apakah dia baik baik saja. Kabarnya dalam satu tahun ini kau sudah melakukan perjuangan besar yang menggemparkan seluruh jagat, sekarang namamu tenar sampai keseluruh pelosok dunia, sebagai pendekar yang tiada bandingannya. Koan San gwat tertawa tawar, ujarnya.
"Lau Samcu, kau sendiri juga tambah gemuk dan hidup senang agaknya! Tempat ini adalah...."
"Teima kasih! Masakah aku berani menerima pujian Lingcu. Disini akupun beruntung bisa bercokol berkat muka dan nama Lingcu belaka...."
"Karena nama dan mukaku apa?"
Tanya Koan San gwat tidak mengerti.
Lau Sam thay berseri tawa, sahutnya "Tempo hari beruntunglah karena Ling cu sudi mengangkat hamba menjadi pengiring Ling cu, maka nona Im baru sudi mengundang hamba disini aku mendapat tugas sebagai penerima dan menyambut tamu."
Koan San gwat lebih heran, tanyanya.
"Nona Im? Nona Im yang mana?"
"Ling cu memang sering agung yang suka melupakan urusan, nona Im adalah putri terkecil dari Ciangbujin Im Siok kun dari Bu khek pay di Im san yang bernama Im Lee hoa. Bukankah dulu Ling cu pernah melihatnya satu kali?"
Teringat oleh Koan San gwat dulu Thio Hun cu pernah memincut Im Le hoa ini, sehingga pihak Bu khek pay salah paham hendak mencari perhitungan dan adu jiwa pada dirinya.
Dan karena peristiwa itulah maka Thio Ceng Ceng tanggal lari dengan jengkel dan malu.
Kenapa Im Le hoa bisa berada ditempat ini?
Lau Sam thay masih tertawa tawa ujar nya.
"Nona Im sekarang cukup jempolan, kedudukannya jauh lebih tinggi entah berapa lipat dari ibunya sekarang dia adalah Ciangbunjin dari Tay khek pang oh ya, mungkin kau belum tahu akan Thay khek pang bukan?"
Koan San gwat menggeleng, sahutnya "Betul, aku belum mengetahuinya!"
"Hal ini tidak perlu dibuat heran, Thay khek pang selalu bekerja secara diam diam baru pertama kemarin menerima peninggalan Thian mo kau ini, baru pertama kali ini kita kibarkan panji kebesaran ini!"
"Cara bagaimana Thian mo kau sudi menyerahkan markas besarnya ini? Dimana Cia Ling im?"
"Selama ini Cia Ling im tidak pernah muncul, seluruh anggota Thian mo kau kemarn dipimpin oleh Ki Houw semua mengundurkan diri, dengan leluasa kita lantas menempatinya"
"Bicaramu semakin tidak genah! Cara bagaimana Ki Houw mau menyerahkan pangkalannya kepada kau?"
Lau Sam thay tertawa kesenangan, sahut nya.
"Sudah tentu Ki Houw tidak sudi, tapi setelah dia melihat Liu tongcu, terpaksa mencawat ekor seperti halnya dengan Bu khek pay, Thay khek pang seluruhnya dipegang oleh kaum perempuan!"
Koan San gwat keheranan, tanyanya.
"Siapa pula Liu tongcu itu?"
"Semua adalah kenalan lamamu, dia ber nama Liu Ih yu, sekarang menjabat sebagai Cong tongcu juga kenalanmu yang paling rapat, kau tahu siapa dia?"
Koan San gwat berpikir sebentar, lalu berkata "Thio Ceng ceng!"
"Sekali tebak kena betul. Orang orang dalam Thay khek pang yang banyak kau kenal seperti Sing tong Tongcu Lok Siang kun, Kong kun tong Tongcu Lok Heng kun, Sian hong tongcu Lok Sia hong dan masih banyak lagi."
Semakin bingung dan tak mengerti Koan San gwat dibuatnya, setelah terpekur ia berkata "Coba katakan cara bagaimana Im Lee hoa bisa diangkat menjadi Ciang bun jin?"
"Sudah tentu karena adanya sangkut paut dengan Thio loyacu, sebetulnya hak kekuasaan Ciang bun jin ini tidak lebih besar dari berkuasa dari Lwe tong Tongcu, karena didalam tingkatan dia lebih tinggi satu angkatan..."
"Dia lebih tinggi seangkatan dari Ceng Ceng. Jadi dia...."
Lau Sam thay menekan suara, katanya "Soal ini tiada halangan kuberitahu kepada kau toh kau memang sudah tahu, nona Im adalah nyonya muda dan Thio loyacu, jadi ibu tiri nona Thio....."
Berubah air maka Koan San gwat, katanya.
"Jadi kejadian dulu itu memang kenyataan?"
"Bagaimana duduk perkara sebenarnya?"
"Dulu Thio loyacu pernah berkunjung ke berbagai golongan dan partai silat yang tersebar di mana mana, merebut buku rahasia pelajaran silat mereka, hal ini kau sendiri tentu tahu, kejadian itu...."
"Jadi betul dia adanya!"
Bentak Koan San gwat.
"Tua bangka ini masih pura pura welas asih di Liong hwa hwe dulu terhadapku!"
Lekas Lau Sam thay menggoyang tangan katanya.
"Ling cu salah paham, dalam hal ini Thio loyacu mempunyai maksud maksud tertentu, sudah tentu hal ini amat erat sangkut pautnya dengan Liong hwa hwe , ilmu silat Bu tong dan Siau lim merupakan yang lain dari yang lain, sejak lama Cia Ling im sudah mengincer mereka dan hendak melebar kedua partai ini masuk kedalam kekuasaannya. Thio loyacu mendapat bisikan dulu, membunuh kedua Ciang bun jin kedua partai ini, terhadap luar disiarkan kabar bahwa dia merebut buku rahasia pelajaran silat mereka, sebetulnya hanya buku tiruan saja yang dia bawa buku aslinya masih berada ditempatnya semula!"
Koan San gwat mendengus jengeknya.
"Lalu kenapa ia harus membunuh ke dua Ciang bun jin kedua partai itu?"
Kedua Ciang bun jin itu insaf mereka tiada kekuatan untuk melawan kehendak Cia Ling im, demi melindungi ilmu silat peninggaalan cikal bakal mereka supaya tidak terjatuh ketangan orang luar, dengan suka rela mereka mengorbankan diri!"
"Aku tidak percaya !"
"Ciang bun jin angkat bahu dari kedua partai itu, sedikitpun tidak menaruh dendam sakit hati terhadap Thio loyacu dari hal ini kau akan mendapat bukti bukti yang cukup banyak !"
"Lalu bagaimana pula persoalannya dengan Im Le hoa?"
"Bicara soal ini jauh lebih mengesankan Thio loyacu mendapat kabar bahwa Bu khek pay merekapun termasuk dalam daftar yang ditundukan, tapi waktu itu tiba insaf dan melihat kenyataan, terasa bahwa ilmu pedang mereka bahwasannya tiada sesuatu keanehan nya, maka ia membatalkan niatnya semula. Tapi, dasar ilmu pengobataanya teramat tinggi, sekilas pandang ia melihat bahwa Im Le hoa semacam penyakit aneh yang cukup gawat."
"Penyakit apa?"
"Katanya penyakit Hoa cit!"
"Bohong! Kenapa ibunya tidak tahu?"
"Hoa cit adalah semacam penyakit yang aneh, penyakit ini sejak dilahirkan sudah mengeram dalam tubuh anak perempuan akan kumat setelah dia berusia delapan belas tahun. Waktu Thio loyacu tiba disana kebetulan penyakitnya itu kumat, kalau penyakit itu sedang gawat, seperti gila saja dia mencari laki laki, karena Thio loyacu tidak kenal dengan keluarga Im, maka sulit ia memberi penjelasan, terpaksa dia bekerja diam diam memberi pengobatan."
Koan San gwat terlongong sekian saat, sungguh tidak kira dalam persoalan ini mengandung seluk beluk yang liku liku.
"Tapi tugas dan kerjaan Thio loyacu amat banyak dan sibuk sekali, tanpa menunggu penyakit orang disembuhkan dia lantas tinggal pergi, tapi dia sudah menyembuhkan sebagian penyakit itu... akhinya...."
"Akhirnya terjadilah peristiwa yang kita alami dulu!"
"Benar! Penyakit Im Lee hoa waktu itu belum sembuh seluruh nya, mulutnya mengoceh kalang kabut, ibunya tidak tahu duduk perkaranya lantas main tuduh dan bertekad hendak menuntut balas kepada Thio loyacu!"
Ilmu pengobatan Thio Ceng Ceng pada waktu itu sudah cakup baik juga, kenapa ia tidak melihat adanya penyakit aneh itu pada diri Im Lee hoa?
Kalau tidak mungkin dia mengalami pukulan batin yang begitu berat."
"Nah disitulah letak kesalahannya, penyakit Im Le hoa baru sembuh separuh, lahirnya sukar diketahui, maka semua orang mau percaya obrolannya, sebetulnya Thio loycu tidak berbuat tidak senonoh terhadapnya, kau masih ingat hari itu bukankah nona Thio memberikan sebutir obat? Obat itu justru menyembuhkan seluruh penyakit nona Im secara tidak sengaja."
"Selanjutnya bagaimana?"
"Setelah penyakit Im Lee hoa sembuh ia tuturkan duduk perkara sebenarnya kepada ibu nya, barulah Im Siok kun insaf bahwa dia salah menuduh Kepada Thio loyacu, tapi waktu itu semua berada di Bu san!"
"O, jadi begitulah duduk perkatanya, tapi waktu di Sio li hong disaat pembukaan Liong hwa hwe, kenapa Thio loyacu tak memberi penjelasan kepada aku?"
"Sebelumnya dia sudah mendapat pesan dari Go hay ci hang, dia disuruh masuk kelompok orang orang Cia Ling im, sudah tentu menjadi sulit memberi keterangan kepada kau sehingga terjadilah peristiwa berbuntut panjang ini!"
"Kejadian selanjutnya aku sudah mengerti, tapi kenapa Im Lee hoa bisa betul betul menikah dengan Thio lopek? Cara bagaimana pula bisa mendirikan Thay khek pay disini?"
"Karena disembuhkan oleh Thio loyacu Im Lee hoa bersumpah kecuali menikah dengan Thio lopek? Cara bagaimana pula bisa mendirikan Thay khek Pang disini?"
"Karena disembuhkan oleh Thio loyacu. Im Lee hoa bersumpah kecuali menikah dengan bulim, selama hidup tidak mau kawin, kebetulan akupun ikut kau pergi ke Bu san aku hanya jelas mengetahui keadaan kalian, waktu Im Siok kun mencari aku membawa putrinya, minta aku menemukan Thio loyacu, aku tahu Thio loyacu berada didalam Thian mo kau, namun tidak berani aku menemui dia, sampai kira kira beberapa selang nona Thio Ceng eeng ketemu aku dan bertemu pula dengan nona Im, setelah mendapat penjelasan duduk perkaranya, baru hilanglah kesalah pahamnya terhadap ayahnya. Saat itu pula ia membuat satu keputusan!"
"Keputusan apa?"
Baca Juga: Jodoh Si Naga Langit 1
Baca Juga: Pendekar Buta 10