Ceritasilat Novel Online

Patung Emas Kaki Tunggal 8

Eps 8 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.

"Kepandaian mu ini terhitung ilmu tinggi apa? Tadi kumaki kau, sekarang tetap kumaki kau juga...."

Kik Cu seng tidak memperlihatkan perubahan mimik wajah, angkat batok besinya sememtara cincin ditangan kiri segera mengetuk gagangnya kontan setitik bayangan hitam melesap keluar dari mulut bundar yang rada kecil terus menerjang kearah It lun bing gwat.

Kali ini banyak orang sudah berjaga jaga, sebelum titik hitam itu melayang datang, Koan San Gwat, It ouw dan enam tujuh orang serempak tanpa janji sebelumnya masing masing angkat senjata untuk menangkis dan m nyampok jatuh titik hitam itu.

Jelas sekali jalan lewat titik hitam itu sudah tertutup rapat, namun semua orang sama menubruk tempat kosong, entah cara bagaimana titik hitam itu bisa menembus pertahanan nan rapat dari berbagai senjata yang menyerang itu.

Detik lain terdengar It lun bing gwat menjerit ngeri, kedua tangan mencakar cakar diatas mukanya, sementara badanpun jatuh terjengkang kebelakang, setelah berkelejetan sebentar, badannya tidak bergerak lagi.

Yang mengherankan semua orang tampak ditengah tengah hidungnya telak sekali terporot sebuah pelor bundar terbuat dari besi berwarna hitam legam, seolah olah mukanya kini tumbuh sebuah mata ketiga diatas hidangnya.

Kejadian kali ini benar benar membuat seluruh hadirin berjingkrak kaget.

Cara Kik Cu seng membunuh orang ternyata begitu ganjil, boleh dikata tidak mampu bertahan dan tidak bisa dihindari lagi, bukankah berarti semua orang bakal menjadi sasaran empuk untuk mudah digasak habis habisan jiwanya.

Mata Cia Ling im memancarkan cahaya luar biasa tajam, namun hanya sekejap saja sirna ditutupi seri tawa lebarnya, katanya sambil mengacungkan jempol kepada Kik Cu seng."Kepandaian tunggal yang sakti saudara sungguh tiada bandingannya dengan senjata lain ini, kau tiada lawan diseluruh jagad Thian mo kau kita punya seorang tokoh kosen macammu ini, masakah kuatir seluruh jagat ini tiada bakal masuk dalam genggaman tanganku.

Kuharap saudara menggunakan senjata aneh ini sekaligus berantas habis seluruh musuh, seluruh anggota Thian mo kau akan bisa tidur nyenyak dalam buaian mimpi..."

Siapa tahu Kik Cu seng malah menyimpan senjata tunggalnya itu, sahutnya.

"Maaf hal ini hamba tidak bisa menuruti kemauan kaucu !"

"Kenapa?"

Cia ling im menegas heran.

"Kalau kelinci yang lincah dan licik itu sudah habis terbunuh, maka anjing pemburu pun tidak berguna lagi, kalau Kaucu benar benar sudah dapat hidup tenang dan tidur nyenyak tanpa ada yang menggangu, mungkin jiwa hamba inipun tidak akan dapat diperhankan lagi."

"Apa apaan ucapanmu ini?"

Tanya Cia Ling im.

"Hamba amat jelas terhadap seluk beluk Kaucu, mungkin kata kataku ini terlalu kurang ajar, namun aku bicara secara kenyataan kukira Kaucu tidak akan menyangkal kata kataku ini"

Cia Lim im berditi terlongong tanpa bergerak tidak menunjukan reaksi.

Kata pula Kik Cu seng tertawa "Tapi harap Kauca banyak berlega hati, meski hamba punya sikap yang kurang hormat, namun tiada keinginan untuk berbuat durhaka dan main menghianat, bahwa aku harus meninggalkan beberapa musuh tangguh ini, barulah akupun basa mempertahankan keselamatan jiwamu sendiri.

Adapula sebuah hal yang perlu Kaucu ketahui kecuali kepandaian dengan senjata aneh ku ini, aku tidak membekal ilmu kursus lain nya yang lihay, maka tiada pula aku punya angan angan untuk merajai dunia, jiwa ragaku selanjutnya bisa kukorbankan demi kejayaan dan kedudukan Kaucu sekali kali aku tidak akan saling berikut kekuasaan atau jabatan, kuharap Kaucupun tidak perlu main jaga dan waspada secara berkelebihan terhadapku...."

"Saudara terlalu kuatir, masih banyak tenaga yang kuperlukan dari bantuan saudara masakah perlu ragu ragu lagi akan kesetiaanmu, dulu memang akulah yang ceroboh, tidak tahu bahwa saudara memiliki kepandaian hebat kelak apapun yang menjadi miliku akan berarti pula menjadi milik saudara, apapun yang kukecap akan menjadi kesenanganmu pula..."

"Tidak perlu sedemikian jauh, Kaucu adalah seorang benggolan sakti yang tiada taranya, dapat bekerja menunaikan bakti kepada Kaucu adalah menjadi cita citaku, maka bila Kaucu sudi mandang diriku, ingin aku punya kedudukan setingkat dengan saudara Lau ini, kiranya cukup puas dan tercapailah cita citaku selama ini, karena Kaucu tidak boleh dijabat dua orang. Kalau Ha Kaucu bertambah seorang lagi rasanya tidaklah menjadi soal!."

Cia Ling im segera manggut magggut, sahutnya cepat.

"Kenapa tidak boleh, setelah kita pulang kemarkas segera kuundang berkumpul seluruh anggota kita, akan kuumumkan jabatan baru bagi saudara Kik,..."

Sembari seri tawar lebar, lekas Kik Cu seng menjura.

"Kalau begitu silahkan Kaucu segera kembali kemarkas!"

Cia Ling im tertegun, serunya.

"Sekarang juga kembali! Bagaimana kita menghadap mereka?"

Sekilas melirik kearah rombongan Koan San Gwat barkatalah Kik Cu seng dengan angkuh.

"Asal mereka berani mati, silahkan meluruk datang satu li dekat markas kita, biar hamba seorang yang menghadapi mereka, tapi hamba percaya mereka tidak akan punya nyali begitu besar untuk seluruh meluruk datang"

Melihat semua lawanya agaknya kena gertak oleh kata kata Kik Cu seng, Cia Ling im tertawa terpingkal pingkal, serunya.

"Benar! Satu hari saudara Kik bekerja bagi kepetingan Thian mo kau kita, siapapun jangan harap berani melangkah didalam markas kita, para musuh ini memang ada yang berisi dan ada yang kosong, apa pula yang harus ku kuatirkan lagi."

Habis berkata didalam iringan gelak tawa yang ramai menusuk pendengaran, beramai ramai mereka putar balik kearah datangaya semula.

Sebun Bu yam dan Ki Houw mengintil dibelakang Cia Ling im tinggal pergi, hanya Lau Yu hu saja yang masih bertengger ditempatnya dengan tawar hidung Kik Cu seng segera mendengus, katanya.

"Saudara Lau kau masih punya urusan apa yang belum sempat diselesaikan?"

Jawab Lau Yu hu sambil menatap Koan San Gwat.

"Persoalan aku dengan orang she Koan itu, bagaimanapan harus kami selesaikan hari ini juga."

Jengek Kik Cu seng dingin "Cayhe bakal diangkat menjadi Hu kaucu, jikalau tidak hadir, rasanya amat mengecewakan sekali, masakan saudara Lau tidak sudi memberi muka dan ikut meramaikan upacara pengangkatan diriku?"

Sembari berkata tangannya merogoh kedalam bajunya pula, agakanya hendak mengeluarkan senjata ampuhnya itu, dibawah ancaman dan tekanannya, terpaksa Lau Yu hu mengundurkan diri dengan penasaran, lekas ia memberi perintah kepada Hwi Kak.

"Pulanglah! Hari ini sementara kita lepas mereka pulang!"

Setelah mereka berdua berjalan pergi barulah Kik Cu seng terbahak bahak, baru saja ia hendak putar tubuh tinggal pergi mendadak Koan San gwat memburu maju beberapa langkah, serunya bengis "Berhenti!

Aku tidak percaya pelor besi dalam alat senjatamu itu betul betul lihay!"

Kik Cu seng tetap langkahkan kakinya kedepan sementara acuh tak acuh ia berkata.

"Kalau kau tidak percaya silahkan mengikuti jejak asal satu li sebelum kau tiba dimarkas besar akan kubuat kau mampus tanpa ada tempat untuk liang kuburmu......."

Benar benar Koan San Gwat memburu dengan langkah lebar, sudah tentu yang lain menjadi kuatir dan mengintil dibelakangnya, terpaksa Kik Cu seng menghentikan langkah serunya.

"Jadi kalian benar benar sudah bosan hidup."

"Benar!"

Sahut Koan San Gwat angkuh.

"Kalau kau mampu silahkan kau bunuh kami semua..."

Kik Cu seng berpaling kebelakang, dilihatnya Lau yu hu dan Hwi Kak sudah berjalan cukup jauh, buru buru ia merogoh kantong mengeluarkan segulungan kertas, terus di selentikan kearah Koan San Gwat, serunya.

"Usiamu masih amat muda, kenapa buru buru ingin mampus..."

Sembari bicara, beruntun ia memberi isyarat dengan kedipan mata.

Koan San gwat menjadi heran dan tidak mengerti, namun Kik Cu seng sudah berlalu pergi dengan langkah cepat, soalnya jarak mereka berhadapan tadi cukup dekat, gulungan kertas yang disambitkan Kik Cu seng langsung terbang masuk kedalan tangannya, jadi tiada orang lain melihatnya, waktu It ouw memburu datang, di lihatnya Koan San gwat masih berdiri menjublek ditempatnya, tak tahan ia bertanya.

"Koan kongcu, apakah kita mudah membiarkan mereka pergi begitu saja?"

Lekas Koan San gwat mengulapkan tangannya pelan pelan ia membeber gulungan kertas itu, setelah dibaca dengan cepat leka lekas ia masukan kedalam mulutnya lalu dikunyah dan ditelan kedalam perut.

Semua orang hanya melihat giginya berkecamuk, seperti mengunyah sesuatu meski mereka tidak paham akan tingkah lakunya ini, namun melihat sikapnya yang serius maka mereka pun tidak terlalu banyak tanya lagi, satu persatu mereka cemplak naik keatas kuda.

Koan San Gwat naik kepunggung untanya, serta merta mukanya menampilkan perasaan lega dan senyum dikulum.

Setelah rombongan mereka meninggalkan Ngo tai san, akhirnya Koan San Gwat menghentikan rombongannya didalam sebuah hutan untuk istirahat tak tahan lagi Gwat hoa Hujin segera bertanya lebih dulu katanya "Anak Gwat!

Sebetulnya tindakan apa yang hendak kau lakukan?"

Sebalikanya berkatalah Koan San gwat terhadap Jip hoat berempat dengan sungguh sungguh dan prihatin.

"Toaci! Harap kalian suka mencapaikan diri berjaga disekitar hutan, hati hati jangan membiarkan seorangpun mendekat hutan ini, soalnya kaki tangan Thian mo kau tersebar luas, persoalan yang akan rundingan amat penting, sedikit bocor saja bakal menimbulkan bencana bagi kita semua...."

Sebetulnya Jip hoat berempat juga ingin tahu persoalan apa yang hendak dijelaskan dan dirundingkan oleh Koan San Gwat, namun melihat sikap Koan San Gwat yang serius dan penuh prihatin, membuat mereka sungkan untuk menampik, maka bersama Sui Ki, Tay su dan Jing Tho berpencar menunaikan.

Setelah mereka menenpati posnya masing masing, maka Koan San Gwat mengumpulkan seluruh orang yang masih tinggal, dengan kalem ia menjelaskan persoalan yang hampir saja sulit dapat dipercayai oleh mereka bersama.

Ternyata gulungan kertas sambitan Kik Cu seng itu ada bertulisan beberapa baris huruf yang berbunyi.

"Saudar sekalian sudah terjebak masuk bahaya, Cia dan Lau dua orang bila tidak mampu menang dalam adu kekuatan hendak menggunakan akal muslihat yang amat keji untuk menjebak kalian. Aku mendapat pesan dari Ui ho, sementara menyerahkan diri terima menghamba kepihak musuh untuk menjadi mata mata dipihak sana, silahkan segera mandur lima puluhan li, nantikan kedatanganku atau akan kukirim seorang untuk memberi kabar lebih lanjut."

Setelah mendengar surat itu dibacakan Li Sek hong menanggapi.

"Mana mungkin bisa terjadi begitu ..."

Sebalikanya Sian yu it ouw berkata dengan penuh keyakinan.

"Mungkin adalah benar, kalau tidak, masakah Ui ho sudi memilih dia sebagai Hwe cu diantara sekian calon calon lain yang lebih tinggi kepandaian silatnya, dan lagi dilihat dari sepak terjangnya tadi ..."

"Sepak terjangnya tadi masakah menunjukkan bahwa dia dapat dipercaya, bahwa dia membekal ilmu hebat yang tunggal itu seharusnya sejak dulu harus sudah membunuh Cia Ling im, akan tetapi dia malah membunuhi dua orang pihak kita..."

Demikian bantah Li Sek hong. Belum lenyap suaranya, dari atas kepala mereka terdengar seseorang menjawab.

"Kematian Ban li bu in dan It lun bing Gwat cukup setimpal, bahwasannya mereka adalah mata mata Cia Ling im yang terpendam dipihak kalian, khusus bertugas mencari berita dan membocorkan segala rahasia..."

Seiring dengan kata katanya ini, dari atas pohon melayang turun seorang yang berjubah hijau, jenggot panjang menjulai dipehan dada, kiranya bukan lain Go ay ci hang yang serba misterius itu.

Melihat siapa adanya, baru legalah hati It ouw makinya.

"Kepala gundul, kenapa kau selalu bertindak main selundup...."

Go ay ci hang tersenyum segera ia mencampurkan diri dalam percakapan mereka.

"Perhitungan semua ini memang sudah dalam genggaman Lolap, soalnya kedatangan kalian terlalu menempuh bahaya Lolap tidak keburu mencegah terpaksa aku harus kirim kabar kepada Kik Cu seng kusuruh dia bekerja melihat gelagat serta memberi bantuan dan petunjuk kepada kalian betul juga tua bangka ternyata bisa bersandiwara dengan amat baikanya, maka Lolappun tidak perlu unjukkan diri lagi..."

"Jadi kau sudah menyaksikan apa yang terjadi tadi?"

Tanya Li Sek hong. Go hay ci hang manggut manggut ujar nya.

"Lolap selalu berada dibelakang kalian sampai saja kalian mengundurkan diri baru lolap mendahului menyembunyikan diri disini."

Segera It ouw ikut menyeletuk bicara.

"Memang Ki Cu seng masuk Liong hwa hwe atas perkenalan Ui ho, namun setelah dia menjadi anggota, ternyata bergaul lebih rapat dengan Cia Ling im, waktu itu aku sudah amat curiga...."

"Tiada sesuatu yang perlu dicurigai, kecerdikan Tokko Bing seluas lautan, kalau sahabat yang tidak dia pujikan, tidak mungkin dia mau bersahabat kental padanya tapi usahanya ini menang merupakan tugas berat dan sulit, hanya orang macam Kik Cu seng saja yang baru bisa mendapat kepercayaan langsung dari Cia Ling im...."

"Sudahlah, kenapa ngelantur panjang lebar, bicarakan saja mengenai bantuan Kik Cu seng secara rahasia..."

Demikian tugas Li Sek hong.

Dengan penuh perhatian Go hay ci hang menggeleng kepala, ujarnya "Kik Cu seng sendiri tiada persoalan yang perlu dibicarakan Ui ho Sianjin dan Lim Hiang ting Sian Cu tahu bahwa Cia Ling im, punya ambisi besar hendak pegang kekuasaan, tahu bahwa pihak sendiri tidak akan kuat menumpasnya, maka dia mengatur dua rencana untuk menghadapinya.

Pertama yaitu Kik Cu seng bersahabat sekental mungkin dengan Cia Ling im, lama kelamanan menjadi tangan kanan yang paling dipercaya.

Kedua adalah menuntun Koan si heng masuk menjadi anggota Liong hwa hwe, atas prakasanya dia mendapat pelajaran Hu mo kiam sek dan mendapat Pek hong kiam dapat mengekang Cia Ling im, betapapun harus memakan latihan selama tiga tahun, setelah pedang dapat bersatupadu dengan batin dan raga, baru bisa mengembangkan perbawanya yang tulen.

Menurut maksud semula Ui ho hendak mempertahankan berdirinya Liong hwa hwe sampai dua tiga tahun lagi, setelah Koan San Gwat tempat mempelajari ilmu pedangnya, barulah mengambil keputusan positif, siapa tahu Cia Liam im ternyata meletuskan pemberontaan dengan segala muslihatnya, terpaksa harus bekerja cepat mengganti siasat dan mengundurkan diri dari pertemuan besar Liong supaya aku bisa memberi penjelasan kepada kalian."

"Utusan yang dikatakan Kik Cu seng apakah Lo siansu adanya?"

Tanya Koan San gwat.

"Bukan !"

Sahut Go hay ci hang menggeleng.

"Cuma rada tahu sedikit mengenai seluk beluk ini, baiklah kujelaskan persoalan yang kuketahui, soal tipu muslihat apa yang diatur Cia Ling im, untuk menjebak kalian terpaksa harus kita tunggu dari penjelaaan utusannya, karena Lolap tiada kesempatan bisa berhadapan langsung dengan Kik Cu seng paling paling hanya bisa kabar kepadanya kepada, sebalikanya, tidak bisa memperoleh jawabannya..."

Segera Li Sek nong bertanya.

"Sebetulnya bagaimana dengan asal usul Kik Cu seng?"

Hwa hwe tahun ini jadi Koan sihenglah yang ditugaskan untuk bertindak menguasai suasana secara untung untungan dan menyerempet bahaya...."

"Tak heran dengan mengerahkan seluruh kekuatan masih belum kuasa membunuh Cia Ling im,"

Demikian ujar Koan San Gwat.

"Suhu dan Oen lolo kenapa tidak memberi tahu lebih pagi kepadaku...."

"Dalam bertempur melawan musuh tangguh bukan saja tergantung pada latihan tinggi rendahnya ilmu silat itu sendiri, juga harus dilandasi keberanian yang berlimpah, kalau sebelumnya memberi tahu kepada kau, muugkin bisa memupuk kepercayaan dan keyakinan hatimu sendiri, perjuangan menyangkut banyak jiwa manusia, terpaksa harus bertindak amat hati hati, untunglah kecerdikan otakmu luar biasa, meski pertempuran itu belum mencapai puncak tertinggi untuk melenyapkan musuh laknat, namun situasi tegang pada waktu itu mau tidak mau banyak berubah dan banyak manfaatnya bagi pihak kita bersama...."

"Selanjutnya bagamana ?"

Tanya Koan San gwat setelah menepekur sebentar sebentar. Go hay ci hang menggeleng, ujarnya.

"Urusan selanjutnya kau adalah kau sendiri yang menimbulkan. Kau mendadak pergi megghilang di Sin li hon dan Bu san, bukan saja membeber rahasia asal usul dirimu, kaupun membuat seorang musuh besar macam Lau Yu hu yang cukup tangguh pula. Kecerdikan Cia bahwasanya tidak lebih asor dari Ui ho, seperti juga Kik Cu seng, dipihak kalianpun sudah menanam mata mata disamping kalian..."

Jadi Ban li bu in dan It lun bing gwat adanya?"

Tanya It ouw.

Go hay ci hang manggut manggut, ujarnya "Cara kedua orang ini menyembunyikan nama dan kedudukan mereka memang cukup rapi dan pintar, sengaja Cia Ling im membuat gara gara mengeluarkan mereka dari kelompok Sian pang menyuruh mereka bersikap benci dan mendendam, lalu masuk dalam kelompok kita, maka dengan leluasa mereka dapat mengelabui kalian, untunglah ada Kik Cuseng kalau tidak tiada seorangpun bisa tahu rahasia ini."

"Kedua keparat itu memang setimpal di bunuh !"

Demikian damprat It ouw.

"Yang pantas mampus sudah mati. Dalam membunuh mereka sedikitpun Kik Cu seng tak menunjukkan tanda tanda, mau tidak mau Lolap harus memuji akan kecermatan dan kelihayannya bertindak, dari sini dapatlah dimaklumi, untuk merahasiakan sesuatu ada lebih baik dari jumlah jangan tarlalu banyak asal usul Kik Cu seng hanya Lolap seorang yang tahu. Sebalikanya karena kedua tua bangka keparat itu membocorkan perihal Gwat hoa Hujin kepihak markas besar Thian Mo kau, baru diketahui asal usul mereka oleh Kik Cu seng."

"Sungguh menakutkan!"

Demikian desis Li Sek hong.

"Memang kedua orang ini cukup menakutkan, kalau tidak segera diberantas, Cia Ling im selalu akan bertindak selangkah dihadapan kita, baru saja asal usul Koan siheng terbongkar, Cia Ling im segara menemui Lau Yu hu dan menariknya kedalam komplotan nya, lebih jauh dengan akal muslihatnya ia menipu dua pedang mustika kepihanya..."

Sesaat kemudian baru Li Sek hong membuka kesunyian.

"Kik Cu seng membekal kepandaian tunggal yang tiada taranya, kenapa tidak dia gunakan untuk membunuh Cia Ling im ?"

Agaknya kalianpun tertipu olehnya, kepandaian tunggalnya untuk membunuh Ban li bu in dan Se lun hing Gwat memang berkecukupan, kalau untuk menghadapi Cia Ling im terpautnya masih amat jauh.

Kalau tidak sejak lama dia sudah bekerja dengan baik masakah perlu diulur ulur sampai sekarang?"

It ouw kurang percaya katanya "Waktu dia membunuh It ouw tadi, kami beramai berusaha untuk menggagalkan usahnya namun toh sia sia menghadapi kelihayannya itu, masakah tidak mampu melukai Cia Ling im ?"

"Pelor tebang yang keluar dari senjatanya yang aneh itu, bahwasanya dilandasi dengan tenaga khikang, titik hitam yang melesat keluar itu merupakan bentuk yang abstrak, mana mungkin kalian bisa menangkisnya?"

Koan San Gwat juga heran dan tidak mengerti, timbrungnya.

"Tapi kedua orang yang dibunuhnya itu, kedua hidungnya sama terkena pelor yang melekat dihidungnya."

"Itu hanyalah bubuk besi, mengmdal ketukan tenaga dalam dan suaranya untuk menggerakkannya keluar sewaktu mengenai sasarannya baru berkumpul jadi satu membentuk sebutir pelor bundar, Ban li bu in mati karena tidak berjaga jaga, sedang It lun saking ketakutan mereka hanya perhatikan bayangan kosong, tanpa mengerahkan hawa murni untuk bertahan, maka mereka mampus demikian gampang!"

Semua orang terbungkus mulutnya, maka berkata pula Go hay ci hang dengan tertawa.

"Mengandal latihan ilmu silat Cia Ling im sudah mencapai taraf tidak usah mengerahkan hawa murni, dalam tubuh secara reflek bisa timbul daya perlawanan yang cakup kuat, maka pelor Kik Cu seng... tidak! Seharusnya dinamakan pasir terbang dari dalam batoknya lebih tepat, pasir terbang dari dalam batoknya itu untuk mencelakai jiwanya boleh dikata tidak mungkin terjadi, tapi, paling tidak kejadian tadi sudah menggertak dan cukup membuat hatinya rada jeri...."

Koan Sau Gwat bepikir sebentar, mendadak ia membanting kaki, serunya.

"Kalau kenyataan seperti itu, posisi Kik Cuk seng menjasi amat bahaya, betapa licik manusia seperti Cia Ling im itu, mana dia sudi kena ditekan oleh seorang bawahannya, maka hatinya pasti amat murka dan dendam, meski lidah Kik Cu seng, bisa melimpahkan madu manis Cia Ling im tidak akan berlega hati, maka permainan pasir terbang dari dalam batokanya itu, akhirnya pasti tidak bisa lagi mengelabui matanya."

Go hay ci hang manggut manggut ujarnya "Lolap juga pernah memikirkan hal ini, maka pernah kupesan Kik Cu seng didalam keadaan yang amat kepepet baru boleh dia menunjukkan kepandaian tunggalnya itu, saat ini kukira tidak akan ada perubahan apa apa, bukankah dirinya bakal celaka!"

Berubah air muka seluruh hadirin, Go hay ci hang yang menjadi gugup.

"Benar, Kenapa kita lupa melenyapkan kedua mayat mereka. Omitohud! Semoga Thian yang maha pengasih memberi berkah dan perlindangan padanya, Kik Cu seng sendiri pun dapat memikirkan akan keteledoran ini ...."

Hati semua orang menjadi gundah dan gelisah, mereka mulai kuatir bagi keselamatan Kik Cu seng.

Tak lama kemudian dari luar hutan sana terdengar derap kaki kuda yang dibedal kencang mendatangi, terdengar bagi Koan San Gwat, cepat ia menyongsong keluar hutan katanya penuh dengan semangat.

"Mungkin utusan Kik Cu seng sudah tiba!"

Semua orang mengikuti dibelakangnya, sebelum mereka tiba diluar hutan didengarnya derap kaki kuda lari kencang semakin menjauh malah, karuan mereka mereka merasa heran dan diluar dugaan, segera mereka mempercepat langkah tampak, Jip hoat yang berjaga diluar hutan sedang menenteng sebuah buntalan, sedang berdiri menjublek dilemparnya jauh kira kira satu li didepan sana tampak setitik hitam sedang membedal kencang lari kudanya.

"Jip hoat!"

Lekas Gwat hoa Hujin maju bertanya.

"Siapakah yang datang!"

Dengan terlongong Jip hoat menjawab.

"Hwi Kak barusan datang!"

Semua orang melengak pula, tanya Koan San gwat cepat.

"Hwi Kak! Untuk apa dia kemari."

"Dari kejauhan dia melempar buntalan ini kepadaku, tanpa bicara terus memutar kudanya tinggal pergi pula, hamba sendiri sedang kebingungan maksud kedatangannya!"

Seketika berubah air muka Koan San Gwat, baru ia menyambuti buntalan itu terus dibuka diatas tanah, disebelah dalam terdapat sebuah buntalan kertas minyak, segera terdengar Koan San Gwat menjerit.

"Kik Cu seng tentu menemui bahaya!" -oo0dw0oo-

Jilid 24 SEMUA ORANG JUGA MERASA KUATIR dan gugup, karena sebelah lempitan kertas minyak itu ada melelehkan cairan darah kental, apa yang terisi didalam buntalan itu dapatlah dibayangkan sendiri.

Dengan tangannya yang gemetar pelan pelan Koan San Gwat membuka lempitan kertas minyak itu, seketika ia terbelalak, itulah batok kepala Kik Cu seng yang berlepotan darah.

Disebelah samping terdapat pula senjata batok besi itu yang ikut berlepotan darah pula.

Didalam batok itu berisi secarik kain yang bertuliskan dengan tinta darah.

Itulah surat pendek yang ditulis menggunakan darah Kik Cu seng sebagai tinta sedang kain itu adalah sobekan dari pakaian Kik Cu seng, pula nada tulisan didalam surat itu, jelas adalah hasil karya Cia Ling im.

"Dua lawan satu, kecerdikanku memang tidak seunggul Ui ho, namun sejak kini dua pihak sama putus hubungan, marilah sekarang mengandal kepintaran dan kecerdikan kita masing masing untuk mengukur sampai dimana keunggulan aktifiteit kami. Markas besar Thian mo kau sekokoh benteng mas, kalau kalian ingin main coba coba secara tidak berarti tiga hari kemudian kami akan datang kesuatu tempat, tanyakan kepada Koan San Gwat apakah dia berani datang berhadapan langsung dengan aku? "

Kata kata bagian depan ini penuh nada menantang disebelah bawah masih terdapat barisan huruf huruf yang lebih kecil barbunyi.

"Perjalanan kali ini aku hanya datang bersama Lau hu kaucu, kalau Koan San Gwat berani dan punya maksud menepati undangan ku ini mungkin ditengah jalan kalian menghadapi berbagai rintangan dan bahaya!"

Lekas Go hay ci hang numbuntal kepala dan batok itu terus menggali tanah disitu juga ia pendam kedalam liang kubur yang sederhana itu.

Tak tertahan air mata bercucuran, dengan mengheningkan cipta mulutnya berkemik memanjatkan doa.

It ouw dan Li Sek hong pun tak tertahan mencucurkan air mata.

Dengan muka kecut berkatalah Koan San Gwat.

"Dari kejadian ini dapatlah disimpulkan bahwa Cia Ling im, sejak lama sudah mengetahui asal usulnya, kalau tidak meski ia berhasil membongkar keanehan yang ganjil dari pasir terbang dari dalam batok itu, belum tentu ia menurunkan tangan keji."

Gwat hoa Hujinpun amat berkuatir, katanya.

"Kedua orang macam itu betul betul amat menatakan, Anak Gwat! Kau...."

Dengan gagah dan teguh pendirian Koan San gwat angkat kepala, katanya.

"Maksud ibu mengenai perjanjiannya ini, sudah tentu aku harus menepati undangnnya!"

Tak tahan bertanya Li Sek hong.

"Apakah Cia Ling im menyebutkan alamat pertemuan didalam suratnya? "

"Mungkin aku bisa meraba, memang sengaja ia hendak menguji kecerdasanku, maka aku tidak boleh unjuk kelemahan, paling tidak harus kubuktikan, bahwa kecerdasan hakikatnya tidak disebelah bawahnya."

"Dimaakah tempatnya? Perlukah kami berangkat bersama? "

Tanya Li Sek hong pula.

"Tidak usah! Dia hanya menjanjikan aku membawa seorang teman, kukira lebih baik menuruti pesannya saja, kalau tidak tindakan apapun bisa dilakukan sesuai dengan ancamannya! Ibu...."

Semula Gwat hoa Hujin menyangka Koan San Gwat hendak mengajak dirinya, karena mereka adalah ibu beranak, hendak menghadapi Lau Yu hu pula, lain orangpun merasa Gwat hoa Hujin seoranglah yang pantas mengiringi kaberangkatannya, tak nyana Koan San gwat malah berkata.

"Ibu! Kuharap kau sudi pinjamkan Ui tiap kiam kepadaku!"

"Anak Gwat! Apakah kau mengajak aku? "

"Tidak!"

Kali ini aku hanya mengandal pedangmu saja, mengenai siapa yang hendak kuajak, sekarang tidak perlu kuumumkan dan akupun tidak ingin orang lain tahu.

Pihak Thian mo kau tidak akan bertindak apa apa lagi terhadap kita, boleh kalian istirahat saja besok pagi pagi silahkan kau bawa seluruh orang pulang ke Khong ham kiong, bangunlah kembali tempat itu jadikan tempat pangkalan kita, disamping itu untuk mengenang jasa jasa ayahku pula."

Setelah beragu sebentar, akhirnya gwat hoa Hujin menanggalkan pedangnya dan diberikan kepada putranya. Setelah menyambuti berkata pula Koan San Gwat setelah menghela napas.

"Ibu! ada sebuah hal yang harus kujelaskan dulu kepada kau, kalau sekali ini aku kebentur dengan Lau Yu hu sekali bukan karena dendam sakit karena hubungan kami pribadi dia bergaul dan sekongkol dengan manusia macam Cia Ling im itu, tidak akan mungkin lagi bisa kembali kedalam haribaanmu, menjadi puteramu yang tersayang..."

"Koan kongcu,"

Tanya Li Sek hong menyela."Kapan kau akan berangkat? "

"Nanti tengah malam, aku akan memberi janjiku kepada teman yang akan kuajak secara diam diam meninggalkan kalian! Maka aku minta diri lebih dulu kepada kalian, tiba saatnya tidak perlu membuat gaduh!"

Tak tahan It ouw bertanya "Koan kong cu! Sebenarnya siapakah yang kau pilih, kami akan patuh keputusanmu, tidak akan mengalangi keberangkatanmu."

Koan San Gwat tersenyum, ujarnya.

"Dalam hal ini aku sudah menunjuk satu orang, tapi tidak perlu kukatakan, kukira orang itu juga maklum, aku percaya di waktu aku berangkat dia pasti sudah menunggu kedatanganku di tengah jalan!"

Melihat kata katanya penuh arti dan serba rahasia, semua orang jadi risi bertanya lebih jauh.

Cuaca sudah mendekati magrib, tabir malam segera menjelang, mereka tahu tidak perlu terlalu gugup, cukup asal nanti malam sedikit menaruh perhatian teka teki ini pasti dapat mereka bongkar.

Maka Tay Su berempat segera dipanggil untuk kumpul bersama, semua orang sama berkumpul didalam hutan mengeluarkan bekal rangsum mengenyangkan perut tak lama kemudian mereka mencari tempat untuk istirahat.

Tadi siang mereka sama mengalami pertempuran sengit yang habiskan banyak tenaga maka mereka merasa amat letih, namun semua orang menaruh perhatian akan keberangkatan Koan San Gwat nanti, maka tiada seorangpun yang memejamkan mata.

Hanya Koan San Gwat seorang yang bersikap amat tenang, duduk membelakangi sebatang pohon dan tidur mendengkur kelelap dalam impiannya.

Semua orang sudah menunggu nunggu tanpa melihat reaksi apa apa.

Saking lelah tak tertahan lagi akhirnya gwat hoa Hujin memejamkan mata, di waktu ia tersentak bangun oleh dinginnya air embum ditengah malam, Koan San gwat dengan unta saktinya ternyata sudah menghilang.

Dalam hutan tinggal dirinya bersama kelima dayangnya orang seorang yang lain tidak kelihatan mata hidungnya, karuan ia melengak heran, tanyanya kepada Jip Hoat yang berada di sampingnya.

"Dimana Koan kongcu? "

Jip hoat tertawa, tuturnya.

"Kongcu berangkat paling akhir, mereka sama mengharap adalah orang yang dipenujui oleh Koan kongcu, maka beramai ramai menuju ke tempat menurut rekaan hati masing masing untuk menunggunya. Entahlah siapa nanti yang tepat meraba ketempat yang benar benar dituju!"

"Kau tahu ke mana tujuan Koan kongcu? "

Tanya gwat hoa Hujin. Jip hoat tertawa tawa sambil menggigit bibir. Gwat hoa Hujin mendesakanya lagi.

"Tempat apakah itu?"

"Hujin sendiri dan Li siancu pernah ke tempat itu!"

Sahut Jip Hoat tersenyum. Hampir saja Gwat hoa Hujin berjingkrak bangun, teriakanya.

"Jian coa kok? Mana mungkin terjadi? "

"Bukan saja mungkin, malah tidak akan salah lagi. Setelah Hujin pulang dari Jian coa kok bersama Li siancu semua orang merdengar dengan jelas cerita Hujin dan Li siancu bukan mustahil pula Ban li bu in dan Lt lun bing Gwat membocorkan hal ini kepada Cia Ling im, setelah tahu didalam dunia ini terdapat seorang aneh macam itu masakah tidak segera memeras otakanya..."

"Memeras otakpun tidak berguna, ilmu silat Coa sin maha tinggi Cia Ling im dan Lau Yu hu kuasa apa terhadap dirinya? "

Jip hoat menggeleng, katanya "Mereka kesana bukan untuk mencari permusuhan dengan Coa sin, mereka tidak akan takut menghadapi segala penentang!"

"Bicaramu semakin aneh,"

Kata Gwat hoa Hujin menggeleng "Coa sin mana mungkin Coa sin bisa diperalat oleh mereka? "

Kata Jip hoat.

"Cia Ling im adalab seorang gembong iblis yang amat lihay, kalau toh dia mau bertindak dan punya suatu tujuan, tentu sebelumnya sudah diperhitungkan masak masak dan punya pegangan yang amat kuat."

Gwat hoa Hujin jadi gugup ujarnya "Ya, hal ini tidak boleh dipandang enteng, agakanya kita harus segera menyusulnya kesana seorang diri anak Gwat mana bisa menghadapi begitu banyak persolan, jikalau sampai terjadi sesuatu...."

Tiba tiba dari berbagai arah berkelebat bayangan orang, mereka adalah Li Sek hong, It ouw dan Go hay ci hang, Hwesio tua segera berkata dengan tertawa.

"Hujin tidak usah kuatir, Koan kongcu tidak akan bisa dikalahkan oleh iblis itu."

Gwat hoa Hujin berpaling bingung, katanya.

"Kalian sama pulang, lalu dengan siapa anak Gwat berangkat?"

"Silahkan Hujin periksa sendiri kurang siapa diantara kita? "

Sahut Li Sek hong. Gwat hoa Hujin celingukan sebentar, dilihatnya Coa Ki Kang Pan tidak hadir, serta merta berkerut alisnya."Nona Kang...."

Li Sek hong manggut sambil tersenyum ujarnya.

"Pikirannya kami beramai seperti juga jalan pikiran Jip hoat, maka tanpa berjanji sebelumnya beramai ramai menuju jalan pikiran kesana yang sama, tapi setelah kami melihat nona Kang juga menempuh jalan yang sama, secara suka rela kami tahu diri terus mengundurkan diri tanpa memperlihatkan jejak kami, setelah kami melihat dia mengejar bersama Koan kongcu menunggang unta sakti baru kami pulang bersama."

Gwat hoa Hujin mengerut kening dan berkata lesu.

"Apa gunanya dia ikut pergi? Dia hanyalah seorang gadis yang tidak tahu urusan...."

"Kalau menuju Jian coa kok tiada seorangpun yang paling cocok kecuali nona Kang, ilmu silatnya cukup tinggi bakal bantuan, dan lagi terhadap Coa sin ia banyak membawa pengaruh yang bermanfaat, aku percaya orang yang dipenujui oleh Koan kongcu pasti dia adanya."

Gwat hoa Hujin tenggelam dalam renungannya. Sebaliknya Go hay ci hang berkata.

"Perjalanan Koan kongcu kali ini tidak akan menghadapi kesulitan apa apa, kalian tidak perlu kuatir, marilah kita bekerja menurut pesan Koan kongcu, bangun kembali Khong ham kiong Hujin lebih megah, disana kita nantikan kabar baikanya. Kaki tangan Thian mo kau tersebar luas, untuk berhadapan dan melawan kekuatan mereka, Lolap harus segera mengumpulkan kembali para kawan sehaluan yang tersebar diberbagai tempat. Kitapun perlu menggabung sesuatu kekuatan besar untuk bertanding dan menentukan jantan atau betina dengan Thian mo kau..."

Belum jauh Koan San Gwat mencongklang unta saktinya, tiba tiba dirasakan sesuatu bergerak disebelah belakangnya, seolah olah selembar daun pohon daun melayang jatuh dibelakangnya dengan enteng.

Panca indranya amat tajam, sesaat ia berpaling kebelakang kebetulan ia berpapasan dengan wajah Kang Pan yang ayu jelita sedang tersenyum.

"Nona Kang, ternyata betul kau yang datang!"

"Jadi kau memang sedang menunggu aku? "

"Ya, waktu kulajukan unra saktiku, kulihat beberapa bayangan orang sudah berjalan disebelah depan, aku tahu mereka sedang meraba raba keinginanku dan bergejolak sanubarinya!"

"Apa yang kau kuatirkan? "

Tanya Kang Pan.

"Aku kuatir mereka ikut datang, dan aku pun jadi sulit menampik."

"Apa yang dapat kau pikirkan, orang lain pun bisa memikirkan, tapi setelah mereka sama melihat diriku, beramai ramai mereka mundur teratur."

Berlega hati Koan San gwat, namun ia masih kurang percaya. Melihat mimik wajah orang, Kang Pan tertawa geli katanya cekikikan .

"Apa sih yang belum dapat kau mengerti. Bicara soal ilmu silat, mereka lebih asor, yang paling mereka kuatirkan hanyalah otakku yang tumpul dan berpikir amat sederhana, tidakkah setimpal menjadi pembantu yang setia, akhirnya setelah melihat akupun dapat meraba jalan pikiranmu, terbukti bahwa aku tidak lebih asor dari mereka, apa pula yang mesti mereka kuatirkan? "

"Aneh benar, kenapa mereka sama berpikiran bahwa Cia Ling im mengajak aku bertemu di Jian coa kok? Bicara terus terang, aku sendiripun semula ragu ragu!"

"Kecuali Coa sin, siapa pula yang dapat melemaskan hati Cia Ling im, kalau rekaanmu tidak melest, bahwasanya tidak perlu kau pedulikan mereka, kecuali Coa sin terhadap siapapun mereka tidak menaruh rasa takur dan gentar!"

"Tepat sekali! Begitu pula jalan pikiranku Kecuali Coa sin siapapun yang mereka cari dan temukan tidak perlu ditakuti."

Kata Kang Pan dengan sungguh "Kau pun jangan terlalu puas diri, jikalau dugaan mu tidak meleset, urusan jadi sulit diselesaikan, bila Coa sin kena mereka bujuk, siapapun dari pihak kalian jangan harap bisa lolos dari keganasannya,"

"Ada tiga macam cara untuk menundukkan manusia, pertama dengan ancaman kedua ditipu lalu di rekan, dan ketiga meluluhkan hati orang dengan budi pekerti, ketiga cara ini tidak berguna bagi Coa Sin, ilmu silat Coa sin jauh lebih tinggi dari mereka, gengsi dan nama tidak akan menggerakkan hatinya, apalagi dengan budi pekerti seglaa, jangan dibicarakan lagi...."

"Tapi jangan kau lupa Coa sin bukan manusia normal, namun dia punya satu cacad seperti manusia umumnya, diapun punya cita cita dan harapan seperti orang lain, demikian pula kesenangan dan keinginan hatinya..."

"Hobby apa yang paling disenangi Coa sin? "

"Kenapa kau tanyakan kepadaku? "

"Sudah sekian lamanya bergaul dengan Coa sin tentu tahu tethadap segala tingkah laku dan kesenangannya,"

"Sebenarnya sulit kukatakan, Coa sin tidak punya hobby apa apa, dia benci laki laki, suka perempuan, namun hanya terbatas pada suka belaka, karena dia terkekang oleh keadaan jasmaninya, tidak mungkin bisa bergaul lebih intim dengan perempuan, maka sampai sekarang belum bisa kumengerti, mereka dua laki laki pergi menemuinya, dengan kata apa dapat mengetuk hati Coa sin? "

Koan San gwatpun tidak habis mengerti maka dia tidak perlu tergesa gesa menempuh perjalanan, sepanjang jalan ini hatinya selalu memikirkan persoalan ini dan mencari pemecahannya, disamping itu juga menganalisa situasi yang bakal dihadapinya nanti.

Dari Ngo tai san ke Jian coa kok paling lambat dua hari perjalanan, namun Cia Ling im menjanjikan tiga hari, berarti satu hari lebih lama, sudah tentu menggunakan waktu peluang itu untuk membujuk Coa sin, namun dalam satu hari itu apa saja yang mereka lakukan?

Dalam tulisan suratnya Cia Ling im agakanya punya pegangan kuat, seolah olah seratus persen dia pasti dapat berhadapan dengan dirinya didalam Jian coa kok, mengandal apa?

Melihat orang selalu bermuram durja bujuk Kang Pan tertawa "Sudahlah jangan murung saja, mungkin tempat perjanjian yang mereka temukan bukan didalam jian coa kok."

"Memang kuharap bukan disana, tapi naluriku bicara bahwa tempat yang dia tentukan pasti disana sebab kalau mereka manemukan tempat lain, atau mencari orang lain, berarti orang yang belum pernah kukenal dan kuketahui, tidak bisa tidak Cia Ling im harus menyebutkan nama tempat itu, kecuali dia punya tujuan lain, hakikatnya tidak membuat perjanjian dengan diriku, jadi diapun tidak perlu berbuat atau bertingkah sedemikian rupa."

"Ya, anggap saja benar di jian coa kok kan tidak perlu kau menjadi gugup dan gelisah begitu rupa, bukan mustahil begitu tiba disana mereka lantas terbunuh oleh Coa sin."

"Kalau benar terjadi seperti itu, sungguh merupakan keberuntungan umat manusia!"

"Seandainya mereka capat memikirkan sesuatu cara lain untuk membujuk Coa sin, oh Ling koh berada disana pula, budak kecil ita tentu akan dapat merintangi Coa sin kena ditipu dan dibujuk oleh mereka"

Pikir punya pikir, Koan San gwat berpendapat situasi tidak sedemikian parah seperti keadaannya semula, kata kata Kang Pan terakhir ini banyak menghibur sanubarinya yang bergejolak.

Berkatalah Kang Pan.

"Marilah kira lekas jalan mendahului tiba di Jian coa kok, mengandal tenaga lari unta saktimu, kita harus tiba di sana lebih dulu dari mereka sehingga mereka tidak berkesempatan bertemu muka dengan Coa sin..."

"Betul!"

Teriak Koan San Gwat girang.

"Usulmu ini memang tepat, kita harus menjaga segala kemungkinan sebelum hal itu sendiri terjadi, maka tidak perlu kita kuatir akan segala sesuatu yang bakal terjadi, begitulah segera ia bedal unta saktinya supaya lari kencang, ingin rasanya hari itu juga ia tiba di tempat tujuan. Lewat lohor mereka tiba disuatu kota kecil kebetulan memang perut sudah kelaparan, segera mereka mencari sebuah rumah makan. Perdagangan mereka agakanya cukup makmur, meski hari sudah lewat lohor, namun tamu didalam rumah makan ini masih cukup banyak dan ramai, setelah hidangan tersedia didepan meja, mereka mulai gegares dengan lahapnya, terutama Kang Pan makan dengan bernapsu sekali maklumlah sebesar itu jarang ia menikmati hidangan lezat yang berharga cukup mahal. Tengah mereka makan minum tiba tiba berjalan masuk seorang laki laki pertengahan umur mengenakan jubah panjang dandanan seorang tabib keliling, langsung menghampir ke meja makan mereka serta berkata sambil menjura hormat.

"Apakah kalian yang memiliki unta diluar itu? "

"Saudara ini ada petunjuk apa? "

Pertanyaan San Gwat hati hati.

"Aku membekal ilmu membawa berkelana didunia Kangouw, khusus mengobati binatang sakit? "

"Binatang tunggangan kami itu amat sehat dan segar bugar..."

"Unta itu memang cukup gagah dan hebat, jarang terdapat seekor tunggangan sehebat itu. kuharap kalian jangan terlalu kikir untuk mengeluarkan beberapa tail uang untuk ongkos pengobatannya, kalau tidak menyesal pun sudah kasep, ketahuilah bintang kalian sudah terserang semacam penyakit jahat..."

Kontan Koan San Gwat menyanggah dan tidak percaya.

"Tidak mungkin bisa terjadi hal demikian bahwasanya memang sulit di percaya, karena unta tunggangannya itu cukup cerdik dan bisa dengar perkataan manusia, tidak mungkin begitu gampang terserang penyakit, seumpama benar sakit diapun bisa mencari daun daun obat obatan untuk mengobati diri serdiri. Namun laki laki itu berkata pula dengan tertawa.

"Kalau tuan tidak percaya silahkan keluar untuk memeriksanya, penyakit tunggangan tuan sudah cukup parah, paling lama dua tiga hari lagi bakal kumat dan celakalah jiwanya!"

"Mana mungkin terjadi,"

Seru Koan San Gwat gugup.

"Selamanya dia tidak pernah kena sakit."

"Betapapun kuat dan sehat tunggangan mu ini, dia toh binatang yang tidak dapat bicara, apalagi biasanya unta hidup dipadang pasir, mana bisa tahan lama hidup didalam iklim yang berbeda, bibit penyakitnya sudah lama bersemi dalam badannya, cuma belum kumat dan soal waktu saja...."

Karena ucapan orang masuk diakal, Koan San Gwat jadi sangsi, katanya.

"Siansing, apakah penyakitnya masih keburu diobati? "

"Memang jiwanya belum ditakdirkan mampus, hari ini kebetulan kebentur ditanganku, tapi kalau mau ditolong harus cepat turun tangan, kalau terlambat celakalah jiwa nya...."

Demikian kata laki laki itu sembari tertawa tersipu sipu Koan San Gwat bersoja serta katanya.

"Harap Siancing suka mencapaikan diri memberi pertolongan padanya, berapa honor yang harus saya bayar silahkan katakan saja kami akan bayar menurut tarifmu...."

Laki laki itu bergelak, ujarnya.

"Saudara sudah berjanji, akupun tidak perlu banyak bicara lagi, marilah segera dimulai, cuma ditempat ini kurang mencocoki...."

"Menurut Siancing dimana lebih sesuai? "

"Di luar kota sana ada sebuah aliran sungai, dipinggir sungai terdapat sebidang hutan rindang cukup luas dan nyaman, marilah kita bawa kesana saja."

Koan San Gwat manggut manggut, lekas ia tuntun unta sakti mengikuti dibelakang orang, Kang Pan mengintil dibelakangnya.

Kira kira setengah li diluar kota, sudah jauh meninggalkan keramaian kota, tibalah meraka ditempat yang diunjuk, memang dimana terdapat sebuah alilan sungai kecil yang bening airnya, disebelah sampingnya terdapat sebidang hutan palawija.

Segera laki laki itu menyuruh Koan San gwat menurunkan barang perbekalan dari punggung unta lalu disuruh unta itu berbaring miring sementara ia membuka peti obat yang dibawanya.

Dari dalam peti obatnya, dia mengeluarkan sebotol obat cair, setelah diseduh dengan air kali terus diminumkan pada si Unta lalu ia mengeluakan sebuah gayung, sisa dari obat cair itu dituang didalam gayung lalu diisi air penuh setelah diaduk rata, ia memetik daun pohon, dengan daun pohon ini ia menyiram basah seluruh badan unta sakti.

Dengan mendelong Koan San gwat meneliti setiap gerak gerikanya, setelah orang bekerja hampir selesai, ia maju mendekat membuka kelepak unta sakti, dilihatnya matanya yang buram tadi kini sudah mulai bersinar pula, demikian pula napasnya rada wajar dan semangat kelihatan pulih pelan pelan.

Namun laki laki itu menarik napas panjang dan ujarnya.

"Cukup sudah! Dia harus istirahat supaya tenaganya pulih kembali."

"Berapa lama dia harus istirahat? "

Tanya Koan San gwat.

"Menutur keadaan biasa istirahat kurang lebih dua tiga hari, namun kulihat kalian seperti hendak melakukan perjalanan jauh cukup sehari saja kukira tenaganya sudah segar bugar."

"Harap Siansing, apakah penyakitnya kelak bisa kumat lagi? "

"Sebelum berkecimpung dalam pengobatan puluhan tahun, sekali turun tangan penyakit pasti lenyap selama lamanya!"

Demikian dengus laki laki itu rada kurang senang.

"Banyak terima kasih akan bantuan Siansing, entah berapa banyak aku harus bayar!"

"Kalau binatang biasa, paling paling hanya kutatik tiga atau lima tail, namun unta tua ini merupakan binatang sakti yang tiada keduanya, aku jadi sulit menetapkan berapa tarif nya, terserah berapa saja tuan hendak bayar!"

Koan San Gwat berpikir sebentar, lalu katanya.

"Seribu tail emas, Siansing tidak merasa terlalu sedikit bukan."

"Kenapa begitu banyak? "

Seru Kang Pan melengak.

Laki laki itupun diluar dugaan, katanya "Aku tidak berani mengharap bayaran yang begitu tinggi, tapi tuan sendiri yang hendak bayar begitu banyak terpaksa kuterima dengan senang hati, siapa nyana hari ini aku bakal ketiban rejeki...."

Segera Koan San Gwat mengambil Tok kak kim sin senjata tunggalnya, langsung ia angsurkan kehadapan orang, tiba tiba air mukanya berubah ketus dan kereng, jengekanya dingin.

"Membawa yang receh menyulitkan sekali, seluruh uang masku kujadikan seluruh patung mas ini silakan Siagsing memotongnya sendiri sesuka hatimu."

"Lho, ini...."

Laki laki itu tertegun.

"Aku tidak membawa alat potong, tidak membawa timbangan pula, mana bisa memotongnya secara tepat, harap tuan bayar dengan yang lain nya saja, kurang sedikitpun tidak menjadi soal."

"Tidak bisa! Lebih baik bayarlah banyak dari pada kurang, patung masku ini seluruh nya berat seribu dua puluh kati, jadi bernilai enam belas ribu tiga ratus dua puluh tail bukan kira kira potong sebagian, terlalu banyak juga tidak menjadi soal."

"Agakanya tuan memang sengaja tidak mau bayar, kenapa main pura pura mempersulit orang saja? ah, sebel anggap saja aku yang sial."

Habis berkata terus putar badan hendak tinggal pergi.

Koan San Gwat nalah tertawa dingin, paung mas diangkat terus mengepruk kebatok kepala orang, lekas laki laki itu berkelit kesamping.

Tapi peti obatnya yang menjadi korban pecah berantakan, obat obatan didalamnya tercecer ditanah berumput, sudah tentu pucat air mukanya, tetiaknya gusar.

"Aku sudah bersusah payah, sepeserpun tidak kau bayar, apa pula kehendakmu? "

"Tinggalkan jiwamu sebagai penebus perbuatan mencelakai tungganganku,"

Mendengar kata katanya ini, seketika berubah air muka laki laki itu, putar tubuh terus lari sipat kuping.

Gerak Kang Pan jauh lebih cepat, sekali melesat tahu tahu ia sudah menghadang didepan orang, agakanya laki laki itu sudah kalap, tanpa ayal lagi segera ia angkat telapak tangan terus menggempur kedepan dada, tanpa mengerahkan pandangan matanya kepada lawan dipepannya, sebat sekali tangan Kang Pan menyelonong maju menggenjot tenggorokkan laki laki itu serangan ini enteng dan cepat luar biasa.

Koan San Gwat tahu ilmu silat Kang Pan luar biasa, cepat ia berteriak.

"Nona Kang ampuni jiwanya!"

Sebetulnya jati Kang Pan sudah menyentuh tenggorokkan orang, serta mendengar teriakkannya gesit sekali telapak tangannya melayang miring dan "plak", dari menceng keram ia ganti sebuah tamparan keras kepipi laki laki itu.

Tenaga dalam ini tidak terlalu keras, orang itupun hanya gentayangan mundur empat lima tindak, maka pukulan telapak tangannya yang mengarah dada Kang Pan dengan sendiri mengenai tempat kosong.

Lawan balas menyerang setelah dirinya memukul lebih dulu, ditengah jalan cengkeraman diganti sebuah tamparan lagi namun toh masih jauh lebih cepat dari serangan sendiri, ilmu silat macam ini sungguh amat mengejutkan hatinya.

Yang dia kuatirkan semula hanyalah Koan San Gwat seorang sungguh diluar dugaannya bahwa gadis ayu ini justru lebih sulit dilayani, bahwa kejut dan ketakutan muka menjadi pucat pasi penuh ditaburi bintik bintik keringat, kakipun gemetar.

Koan San Gwat maju mendekat sambil menenteng senjatanya, katanya.

"Kawan! Aku tahu kau pasti kaki tangan Thian mo kau yang diutus oleh Cia Ling im, siapakah namamu? "

Terlongong setengah harian, baru laki laki itu kuasa menjawab dengan suara lirih "Ma Pek poh!"

Mendengar nama orang tak tahan Koan San Gwat tertawa geli, olokanya.

"Tampang tuan memang sesuai dengan namamu, kerjamu suka mencelakai binatang tunggangan orang, tak heran unta saktiku kebentur ditanganmu menjadi lesu dan patah semangat."

"Koan San Gwat!"

Seru Ma Pek poh gusar.

"Jangan kau mentang mentang, aku cukup sungkan terhadap binatangmu, kalau tidak segera kuberikan pertolongan, tanggung jiwamu tidak akan bertahan sampai besok pagi."

Koan San Gwat mangut manggut, katanya.

"Memang benar! untaku sudah mencapai kecerdikan luar bias dan sakti, namun masih jaga kau bokong berarti kau cukup mampu juga, tapi diwaktu kau menaruh racun dan memunahkan racun, gerak gerikmu menunjuk banyak lubang kelemahan, sebenar nya apa tujuanmu? "

Ma Pek poh tertawa dingin, jengekanya.

"Kaucu memberi batas tiga hari kepada kau sepagi ini kau hendak meluruk kesana, sudah tentu aku dan berusaha merintangi perjalananmu ini...."

Tergerak hati Koan San Gwat, katanya mendadak.

"Kebetulan malah kalau begitu, aku jadi berkesempatan mengadu kecerdikan dengan Cia Ling im. Nona Kang ringkus keparat ini, berikan sedikit penderitaan, supaya para kamrat kamratnya disebelah depan melihat dan tahu, coba beranikah mereka berlawanan dengan kita!"

Kang Tan manggut manggut, dengan langkah gemulai ia minta ampun, karuan berubah pula air muka Ma pek poh, sebelum orang bergerak, ia mendahului menyerang dengan tutukan jarinya menyodok kebawah ketiak orang.

Kang Pan berdiri diam sambil tertawa manis, sebalikanya Ma Pek poh menyerang dengan kalap dan hendak mengadu jiwa, tenaga tutukan diujung jarinya segera dilipat gandakan namun baru saja jarinya menyentuh baju Kang Pan, kontan ia berjingkrak mundur dengan hati mencelos.

Ternyata dibawah ketiak Kang Pan mengempit sebuah kantong yang menyimpan ular putihnya yang dinamakan Giok tai itu, ular dalam kantong begitu melihat jari tangan orang diangsurkan kemulutnya segera menongolkan kepalanya terus menggigit dengan telak sekali.

Ular itupun seekor binatang aneh yang amat cerdik juga, mendengar perkataan Koan San Gwat agakanya iapun cukup paham, maka dikala dia menggigit jari orang, kadar racun yang ditumpahkan dari giginya cukup hanya membuat orang jatuh pingsan dan tidak terlalu parah.

Dalam pada itu Ma Pek poh sudah berguling guling ditanah, kecuali kepala dan makanya, seluruh tubuhnya mulai melepuh membesar seperti bola, rasanya panas gatal dan sakit menusuk tulang.

"Membawa contoh hidup seperti keadaanmu ini, kukira cukup membuat kamrat kamratnya kuncup nyalinya untuk bertindak secara gegabah.... Kawan tua! Marilah berangkat jangan menghabiskan waktu melulu, agakanya kau harus dibebani seorang lagi..."

Unta sakti yang sejak tadi berbaring tiba tiba berjingkrak bangun, sikapnya gagah penuh semangat dan segar bugar, sedikitpun tidak kelihatan sakit, sebalikanya keadaan Ma Pek poh sangat menderita, mulutnya mendesis tak mampu bersuara.

Tanpa banyak bicara Koan San Gwat menjinjing tengkuknya terus mengikatnya disebelah pantat tunggangannya sebelum berangkat ia beresi dulu barang barang yang ketinggalan ditanah, terus mengundang Kang Pan serta melanjutkan perjalanan.

Sudah tentu sepanjang perjalanan ini mereka menimbulkan perhatian orang orang dijalan ini mereka menimbulkan perhatian orang dijalan, maklum yang laki laki gagah kereng yang perempuan cantik rupawan me nunggang seekor unta besar yang gagah berani dan yang lebih kontras adalah keadaan Ma Pek poh yang amat sengsara dengan terikat kencang tidak mampu bergerak lagi.

Entah karena jeri melihat wibawa Koan San Gwat yang besar atau melihat keadaan Ma Pek poh yang menderita, sepanjang jalan ini mereka tidak mendapat gangguan dan rintangan, meski dibebani tiga orang, sedikitpun unta sakti tidak merasa payah dan tenaga kaki nya sudah bisa berlari kencang seperti mengejar angin.

Hari kedua meeka sudah tiba di lereng sebuah gunung, tempat mana agak nya tidak jauh dari pondok desa yang mereka inapi beberapa waktu yang lalu.

Itu berarti bahwa jarak Jian coa kok tidak jauh lagi.

Saking senang Kang Pan menepuk nepuk leher unta sakti, katanya.

"Koan toako! Hampir tiba ketempat tujuan, kukira keparat ini tiada gunanya lagi, lebih baak di tinggalkan saja disini, supaya Lo pek (unta sakti) rada enteng bebannya."

Pergaulan dua hari yang cukup pendek membuat hubungan Kang Pan dengan Koan San Gwat semakin dekat dan intim, bukan saja dia membahasakan Koan San Gwat sebagai Koan toako, terhadap unta sakti iapun memanggil lebih mesra dengan sebutan Lo pek.

Terpaksa Koan San Gwat melompat turun dan melepas ikatan Ma Pek poh terus melemparkannya dipinggir jalan, karuan ia menjerit kesakitan.

Agakanya Kang Pan tidak tega, lekas ia ikut melompat turun, dari dalam bajunya ia keluarkan sebuah botol kecil dimana ia menuang sebutir pil merah terus dijejalkan ke mulut Ma Pek poh Katanya.

"Menurut perbuatanmu, memang setimpal dihukum mati cuma aku tidak tega melihat kau mampus dipinggir jalan, makanlah obatku dan istirahatlah sebentar, sejam lagi kau akan bebas bergerak selanjutnya kuharap kau bisa berkelakuan jujur dan baik, jangan mencari gara gara kepada kami,"

Kasiat pil obat ini ternyata amat mujarab, badan Ma Pek poh yang melepuh besar segera mengempes semangatnya jauh lebih baik, tapi dia masih bermuka getir dan merengek.

"Koan tayhiap Kang siocia terima kasih akan pengampunan kami berdua, tapi lebih baik kalian bunuh aku saja, kau kalian melepas aku pulang saja, Kaucu tidak akan mengampuni diriku....."

Berdiri alis Koan San Gwat katanya.

"Satu jam lagi kau bisa bebas seperti sedia kala, masakah tidak mampu melindungi keselamatan sendiri? Cia Ling im sendiri tidak akan punya waktu untuk mengurus dirimu..."

"Mesks Kaucu dalam waktu dekat tidak akan menemukan aku, kelak sama saja aku tidak akan bisa lepas dari genggamannya, kalau aku sampai terjatuh ketangan Kaucu siksaan yang kuterima sungguh tidak berani kubayangkan..."

Kang Pan menjadi heran, katanya.

"Cia Ling im menugaskan kau membokong kami, kau sudah bekerja cukup baik, cuma kemampuanmu saja yang tidak becus, masakah karena hal itu Cia Ling im akan menjatuhkan hukuman kepada kau?"

"Kang siocia kau tidak tahu aturan aturan disiplin didalam Thian mo kau, setelah kami menerima suatu tugas, jikalau bisa sukses pahalanya sudah tentu juga besar, sebalikanya kalau gagal, hukumannya pasti amat berat, aku mendapat perintah untuk merintangi perjalananan kalian, akhirnya tidak terlaksana sesuai perintahnya, tidak bekerja menurut aturan tertentu pula..."

"Aturan tertentu apa?"

Tanya Koan San Gwat.

"Terhadap anggota bawahannyayang menerima tugas Kaucu ada memberikan sebutir pil beracun, bilamana kita gagal menunaikan tugas yang diperintahkan, untuk bunuh diri menggunakan pil racun itu, hanya diperbolehkan bunuh diri daripada ditawan...."

Koan San Gwat tertawa dingin, jengeknya.

"Disaat kau tahu kau tidak berhasil, kenapa tidak segera bunuh diri saja? "

Ma Pek poh menunduk kepala, ujarnya.

"Begitu tergigit ular seluruh badanku lantas melepuh dan kesakitan luar biasa, hakekatnya tidak bisa gerak secara bebas, Tayhiap mengingat diriku diatas unta lagi, sehingga pil obat ku itu terguncang jatuh didalam perjalanan."

"Cara mencari kematian ada banyak macam, masakah harus menggunakan obat racun saja, jikalaa kau memang bertekad gugur demi tugas, dengan cara apapun dapat kau lakukan, kenapa harus...."

"Ucapan Tayhiap memang benar, namun hidup manusia di dalam dunia fana ini ada kalanya sesuatu persoalan tidak bisa diterapkan dengan keadaan tertentu atau dengan nalar saja diwaktu aku kena ditahan, memang aku tidak takut mati, soalnya aku tidak mampu bergerak, kini aku sudah bebas, justru aku tidak ingin mau lagi. Celakanya untuk hidup teruspun susah...."

"Lalu apa kehendakmu? "

Tanya Koan San Gwat mengerut kening.

"Untuk bunuh diri aku sudah tidak punya keberanian, hati sudah jeri pula menghadapi hukuman berat tiada punya kemampuan melawan Kaucu lagi, maka harap Tayhiap suka berbelas kisihan silahkan bunuh aku saja."

"Tidak mungkin! Aku sudah membebaskan kau berati tidak ingin membunuh kau !"

Tergerak hati Ma Pek poh, katanya tersipu sipu "Kalau begiru harap Tayhiap suka bawa aku serta, hanya menghamba pada Tayhiap baru jiwaku tidak terjatuh ketangan orang orang Thian mo kau kalau tidak, begitu kalian tinggal pergi, segera detang beberapa orang uuruk membereskan diriku..."

"Bohong!"

Sentak Koan San Gwat.

"Kenapa aku tidak melihat jejak mereka? "

"Disepanjang jalan ini, entah berapa banyak kaki tangan Thian mo kau yang tersebar luas mengawasi segala gerak gerik kita, karena Tayhiap meringkus diriku baru mereka tidak berani bertindak terhadap Tayhiap...."

"Jadi dengan meringkus kau sepanjang jalan ini berarti tindakanku tepat, terhindar berbagai rintangan dan halangan, meski sebenarnya aku tidak takut terhadap segala gangguan itu!"

"Terhadap gangguan itu sendiri sudah tentu Tayhiap tidak takut, tapi paling tidak bisa menghambat perjalanan Tayhiap satu hari lebih lama. Perjalanan secepat ini hanya memakan satu setengah hari, itu berati aku sudah membantu mempercepat setengah hari diantaranya."

"Jadi maksudmu kami harus mengucap terima kasih kepadamu malah !"

Olok Koan San Gwat tertawa.

"Meski aku tidak takluk kepada Tayhiap orang orang Thian mo kau tak akan mau percaya keadaan memaksa aku harus menyerah dan terima diperbudak saja kepada Tayhiap!"

"Aku tidak perduli kau menyerah atau takluk, melihat keadaanmu, memang patut aku melindungi keselamatanmu, cuma kini aku tiada tempo....."

"Kalau begitu harap Tayhiap suka bawa aku serta, meski harus digantung di pantat unta juga bolehlah, hal itu akan lebih baik daripada aku kau tinggalkan disini...."

"Tidak ! Tujuan yang akan kucapai cukup sulit, membawa kau menambah beban belaka dan lagi disana aku harus berhadapan langsung dengan Cia Ling im, disana belum tentu kau bisa selamat ..."

Gelisah dan gugup membuat Ma Pek poh mencak mencak dan hampir saja ia melelehkan air mata rengeknya.

"Kalau begitu Tayhiap kusilahkan menyempurnakan hidupku saja, lebih baik daripada jatuh ketangan orang orang Thian mo kau,"

Koan San Gwat berpikir sebentar, lalu berpaling pada Kang Pan, katanya.

"Nona Kang! Apakah didalam satu jam ini dia bisa pulih seluruhnya ?"

"Tidak akan salah! Kalau Siau giok kena menggigit urat nadinya, jiwanya pasti sudah mampus, akupun tidak akan bisa menolongnya. Soalnya Siau giok mendengar pesan mu, hendak menawannya sebagai sandera, maka kadar racunnya hanya meresap kedasar kulitnya saja, setelah menelan obat pemunahku, satu jam lagi dia akan pulih seluruhnya seperti sedia kala."

"Baiklah orang she Ma!"

Ujar Koan San gwat.

"Aku percaya akan keteranganmu, aku akui secara tidak sengaja kau telah membantu sedikit mengatasi kesulitanku, maka kutunggu kau satu jam disini, setelah kau sehat kembali baru kutinggal pergi, kelak kau beruntung atau celaka terserah pada nasibmu sendiri....!"

"Jelas aku tidak akan selamat di bawah ancaman kekuatan Thian mo kau, kecuali ikut kau Koan Tayhiap, tiada tempat berteduh yang aman bagiku. Bahwa aku bsa menjadi begundal mereka tidak lebih hanyalah karena aku mengenal sendikit ilmu pengobatan terhadap hewan, maka aku diperbudak oleh Ki Houw untuk mencarikan unta serta melatih unta terbang hitamnya itu...."

Tergerak hati Koan San Gwat, tanyanya.

"Jadi unta terbang itu hasil dari pilihan dan didikanmu?"

"Ya, untuk menandingi dan menghadapi unta sakti kepunyaan Tayhiap ini, sejak lama aku sudah diperintahkan mencari seekor unta yang setanding untuk menghadapi unta sakti mu ini. Meski aku menemukan seekor itu, betapapun belum setanding menghadapi tunggangan Tayhiap yang sakti ini, karena kekalahan itu, Ki Houw sendiri sudah merasa sakit hati terhadapku, kini terjadi pula suatu peristiwa ini...."

Koan San Gwat berpikir sebentar, lalu katanya.

"Kalau kau punya pengetahuan macam itu, ingin aku menguji kau, dapatkah kau mengatakan asal usul dari unta saktiku ini? Berapa umurnya tahun ini? Punya kemampuan khusus apa saja..."

Agakanya Pek poh sudah lupa akan rasa sakit badannya, bangkitlah semangatnya katanya.

"Unta sakti Tayhiap ini kelahiran dari Se ek, merupakan keturunan campuran dari naga dan unta liar, sejak jaman kuno turun temurun hanya ketinggalan seekor milik Tayhiap ini, dasar cerdik dan sakti langkah nya enteng secepat angin lalu, satu hari dapat menempuh seribu li pulang pergi, jalan digunung seperti jalan datar menerjang gelombang laksana berlaju dilautan tenang, apalagi dibawah asuhan dan bimbingan Tokko Bing gurumu, bukan saja pandai dan menjadi cerdik mengenal huruf dan bisa membaca, tidak sedikit pula ajaran silat yang berhasil dipahami, cuma sayang dia merupakan unta jantan, tidak bisa lagi melahirkan anak menyambung keturunan, sayang sekali kalau selanjutnya harus putus keturunan. Sejenak Koan San Gwat terlongong, katanya.

"Apa yang kau uraikan memang benar apakah benar dia tidak akan bisa melanjutkan keturunan? "

"Unta biasa tidak setimpal menjadi jodohnya, hanya unta hitam milik Ki Houw itu sedapat mungkin bisa dipakai, tapi telah binasa oleh kekejaman Ki Hou!"

"Apakah kau tak bisa mencari yang lain? "

"Unta hitam itu sebenarnya merupakan binatang pilihan yang cukup pandai juga, cuma belum bisa menandingi kesaktiannya, kemungkinan aku masih bisa menemukan seekor yang lain yang cukup lumayan, cuma waktu sudah tidak memberikan kesempatan padaku."

"Asal kau dapat menemukan seekor jodoh, aku bersumpah akan melindungi keselamatanmu, sekali kali tidak akan kubiarkan orang orang Thian mo kau melukai seujung rambutmu..."

Berjingkrak girang Ma Pek poh mendengar janji Koan San Gwat, serunya.

"Tayhiap sudah mengucapkan janjimu, aku pasti akan bekerja sekuat tenaga, bicara terus terang aku pun merasa sayang bila unta sakti ini sampai putus turunan....."

Koan San Gwat menuntun unta sakti kemari, dia turunkan semua perbekelannya serta Tok kak kim sin, senjatanya lalu diletakkan disamping Ma Pek poh dengan laku yang amat prihatin.

Dari dalam bajunya dia mengeluarkan sebentuk Bing tho ling, tanda kebesaran dari Bing tho ling cu serta se

Jilid buku tipis yang ia letakkan pula bersama senjatanya, katanya dengan serius.

"Ma siansing, sebelum ini memang aku berlaku kurang hormat kepada kau, kuharap kau tidak menjadi berkecil hati dan suka memaafkan kesalahanku itu, sekarang segala sesuatunya kuserahkan semua kepadamu...."

Dalam pada itu keadaan Ma Pek poh sudah berangsur angsur baik, bergegas ia melom pat bangun dari tanah serta serunya.

"Koan tayhiap! Apa apaan maksudmu ini? "

Dengan kereng dan penuh wibawa Koan San Gwat menjelaskan.

"Karena unta sakti ini bakal putus turunan maka guruku pernah beritahu kepadaku bahwa aku bakal menjadi generasi terakhir dari kejayaan Bing tho ling cu, tapi aku percaya, secara diam diam kubersiap siap, buku ini merupakan catatan hasil ciptaan Suhu didalam mendalami ilmu silat tingkat tinggi, Tok kak kim sin adalah senjata tunggal dari kebesaran Bing tho ling cu, sekarang semua kuserahkan kepada kau untuk menyimpan dan menjaga baik baik...."

Lekas Ma Pek poh menggoyangkan tangan. Tapi Koan San Gwat tidak memberi kesempatan orang buka suara, katanya lebih lanjut.

"Cia Ling im menjanjikan aku bertamu di Jian coa kok, mati hidupku sulit diramalkan, seumpama tidak beruntung aku menemui ajalku disana, kuharap Siansing menunggang unta sakti meninggalkan tempat ini. Sepihak kan harus berdaya untuk melanjutkan keturunan unta sakti ini, dilain pihak harap carilah seorang tunas muda yang benar benar punya bakat dan berhati luhur serta bajik untuk mewarisi jabatan Bing tho ling cu, pelajaran silat dalam buku itu, boleh silahkan Siansing juga membaca serta mempelajarinya tapi dasar pelajaran silatmu sudah cukup kokoh, tidak akan banyak membawa manfaat bagi kau, bagi calon penerus dari Bing tho ling Cu harus mengutamakan seorang yang berbakat tinggi dengan tanpa pernah mempelajari dasar ilmu silat cabang lain..."

Ma Pek poh amat haru dan terketuk, sanubarinya, ujarnya.

"Begitu besar kapercayaan Tayhiap terhadap diriku? "

Koan Sangwat tetawa lantang, katanya "Terhadap unta sakti Siansing cukup kenal segalanya, sudah tentu kaupun amat sayang memandangnya sebagai milikmu pribadi, aku percaya Siansing tidak akan bikin aku kecewa, segalanya kuserahkan kepada kau untuk mengurusnya...."

Ma Pek poh berpikir sebentar lalu berkata.

"Aku akan bekerja sekuat tenaga sesuai dengan pesan Tayhiap, yang aku kuatirkan sulit terhindar dan kejaran orang orang Thian mo kau, aku tahu jago jago dalam kumpulan mereka cukup banyak."

"Siansing tidak usah kuatir, asal aku tetap berada disini, Cia Ling im tentu tumplek perhatiannya pada diriku, orang lain tidak perlu dibuat takut, kalau Siansing tidak suka bentrok langsung, mengandal kekuatan lari unta sakti tentu dapat meninggalkan mereka jauh di belakang, tapi jangan sekali kali Siansing meningalkan punggung unta sakti, aku berani pastikan Siansing pasti akan selamat dan terlindung,"

Ma Pek poh tidak banyak bicara lagi, kedua mata dipejamkan, seolah oleh sedang merenungkan sesuatu, seperti pula sedang mengerahkan hawa murni untuk selekasnya memulihkan tenaganya.

Sebalikanya si unta agaknya juga tahu bahwa segera mereka akan berpisah, mungkin untuk selamanya, lekas ia menemui Koan San Gwat, mulutnya berbunyi aneh, maeanya memancarkan rasa iba dan berat berpisah, tak tertahan lagi air matanya meleleh keluar.

Tenggorokan Koan San gwatpun terasa tersumbat air mata sudah berlinang di kelopak matanya sambil mengelus ngelus bulunya yang halus berkatalah ia "Sahabat tua!

Kau sudah mendengar kata kataku, dapatkah kau memahami perasanku?"

Unta sakti manggut manggut, air mata meleleh semakin deras.

"Sahabat tua, jangan kau bersedih, aku hanya mempersiapkan diri untuk menjaga segala kemungkinan, mungkin selekasnya kita sudah bertemu lagi, apakah kau rela dalam pertempuran kali ini aku mampus di medan laga? Aku adalah Bing tho ling cu dan kau adalah penyanggah dan tulang punggung dari Bing tho ling, sekali kali , pantang mengucurkan air mata !"

Lekas unta sakti menggeleng kepala mengeringkan air mata.

"Nah kan begitu, pergilah kesarang tinggalmu istirahat baik baik disana mungkin dalam waktu singkat Ma siansing sudah berhasil mencarikan teman hidupmu, setelah kalian melahirkan unta kecil, aku akan minum arak bagianmu !"

Unta sakti menggeleng tanda tidak setuju dengan ucapan Koan San Gwat. Koan San Gwat mejadi heran, tanyanya.

"Kenapa? Kau tidak ingin punya keturunan? "

Unta sakti menggeleng lagi lalu dengan kaki depannya diatas tanah mencoret coret dua huruf, lapat lapat huruf itu seperti berbunyi "Menunggu kau"

Koan San Gwat bergelak tertawa, serunya."Untuk apa kau menunggu aku? Kan tidak bisa aku bantu kau melahirkan unta kecil!"

Unta sakti menunduk dan melengking keras tanda hatinya marah, lekas Koan San Gwat membujukanya.

"Sahabat tua, jangan marah, aku hanya guyon guyon saja. Sebalik nya kau jangan main main, bila kau punya keturunan Bing tho ling cu baru bisa hidup disanubari masyarakat dengan abadi........"

Unta sakti menggeleng kepala pula, dengan kaki depannya ia menulis beberapa huruf yang berbunyi.

"Melahirkan anak...."

"Menunggu kau melahirkan anak....."

Koan San Gwat membaca lebih lanjut.

"Apakah maksudnya?"

Sekilas berpikir akhirnya ia tahu kemana juntrungan kata kata ini, ujarnya sambil tertawa lebar.

"Bagus sekali! Kau melahirkan unta kecil, aku melahirkan seorang putra, biarlah mereka yang mewarisi Bing tho ling, baik! Sahabat tua, aku pasti tidak akan menyia nyiakan harapanmu, asal aku tidak menemui ajal, aku tidak akan membiarkan Bing tho ling cu terjatuh ketangan orang lain, lega tidak hatimu ."

Unta sakti mendongak dan melengking suara panjang, dengan kaki depannya ia menulis satu huruf pula.

"Lekas !"

Koan San Gwat menahan geli, katanya.

"Soal jodoh dan punya anak tidak bisa dibuat cepat pertama tama kita harus sama sama mencari jodoh..."

Demikian asyik Koan San Gwat melayani untanya bicara serta hubungan mereka yang begitu intim membuat Kang Pan sarat haru tak tertahan ia mengalirkan air mata.

Tiba tiba unta sakti menggerakkan leher nya mendorong Koan San Gwat, lalu mengedip ngedipkan mata memberi tanda, lekas Koan San gwat mendapat tahu, cepat ia bertanya.

"Nona Kang! kenapakah kau? "

Lekas Kang Pan menghapus air mata dengan rikuh, jawabnya.

"Tidak apa apa, keakraban kalian membuat hatiku terharu...."

Mendadak unta sakti menggigit ujang baju Koan San Gwat, lalu di tanah ia menulis satu huruf lagi.

"Dia!"

Dengan kakinya ini dia menutul dua kali lalu menutul ke huruf "cepat"

Itu dua kali pula. Koan San Gwat tahu maksudnya, dengan tertawa ia tepuk kepalanya serta serunya "Hus, jangan main main!"

Lekas ia menghapus huruf itu dengan telapak kakinya, kuatir terlihat oleh Kang Pan.

Akan tetapi Kang Pan keburu melihat semula merah jengah selebar mukanya, kejap lain dengan sikap mesra dan aleman segera ia maju menghampiri memeluk leher unta sakti, katanya "Terima kasih Lo pek!

Aku...

apakah aku setimpal?"

Unta sakti manggut manggu t lalu memicingkan mata pula kearah Koan San gwat, keruan Koan San Gwat menjadi rikuh dan kikuk, terutama menghadapi pandangan mata Kang Pan hampir saja dia tidak berani beradu pandang.

Tapi Kang Pan tidak melepaskan kesempatan ini, tanyanya dengan suara lirih.

"Koan toako! Kenapa kau tidak bicara? "

Koan San Gwat menjublek ditempatnya sanubarinya sedang bergejolak, ia rasakan gentingnya persoalan ini.

Karena penolakannya secara tegas akan lamaran Liu Ih yu membuat orang menyeleweng menempuh jalan sesat sejak saat itu diam diam ia sudah dapat memahami dan menyelami betapa berbahaya dan menakutkan jiwa seorang perempuan yang kena diperalat oleh cinta asmara yang membabi buta.

Terutama mengahadapi Kang Pan dia adalah gadis remaja yang baru mekar dan belum mengenal kehidupan yang sesungguhnya, perasaannya jelas amat lemah dan masih liar lagi, sulit dia dapat membedakan antara cinta dan benci yang amat kuat mendasari jiwanya.

Sedikit meleset dan kurang hati hati ia menghadapi persoalan ini, Liu Ih yu kedua akan terjadi pula gara garanya, lebih celaka pula karena Kang Pan belum sematang Liu Ih yu, maka akibatnya akan jauh menakutkan.

Kalau sekarang juga ia melulusi permohonan orang, bagaimana pula kelak ia harus menghadapi Thio Ceng Ceng?

Pikir punya pikir sekian lamanya baru dia memperoleh jawaban.

Jawaban yang lucu yang menggelikan, ia arahkan persoalan ini kepada pertanyaan soal cocok atau tidak.

Maka dengan tersenyum ia berkata.

"Nona Kang! Mengandal parasmu yang cantik serta ilmu silatmu yang tinggi, tidak sembarang kau memperoleh jodoh, maka pertanyaanmu itu seharusnya, diajukan orang lain, kukira jarang orang yang cocok untuk menjadi pasanganmu!"

Agakanya Kang Pan puas akan jawaban Koan San Gwat pada permulaan, maka secara spontan ia memberikan jawaban akan ucapan terakhir Koan San Gwat.

"Koan toako! Kau adalah laki laki pertama yang pernah kulihat, kau pula laki laki yang paling kuhormati dan kukagumi, aku kuatir kau tidak sudi mempersunting diriku, jangan kau singgung soal lain kecuali kau, selama hidupku tidak akan kupikirkan laki laki kedua!"

Koan San Gwat menjublek ditempatnya, tak tahu apa pula yang harus ia lakukan, sebalikanya unta sakti angkat kedua kaki depannya dan berjingkrak kegirangan.

Untunglah pada saat itu juga Ma Pek poh tersadar dari samadinya, terhitung dialah yang mengubah suasana kaku dan kikuk ini, agakanya dia tidak tahu menahu akan kejadian yang baru berlangsung.

Dengan hati hati ia membungkuk tubuh menjemput Bing tho ling cu terus disimpan kedalam baju, lalu diangkatnya pula Tok kak kim sin, setelah ditimang timang berat lalu dipanggul di atas pundak, katanya.

"Hanya senjata Tayhiap yang berat ini, dapatlah dibayangkan kenapa Bing tho ling cu kuasa malang melintang dan menggetarkan Kangouw soal nama dan gengsi sekali kali bukan diperoleh secara untung untungan. Maka terhadap calon pengganti atau ahli waris dari Bing tho ling cu sekali kali Cayhe tidak akan berani ambil keputusan sendiri, lebih baik kutunggu Tayhiap kembali saja...."

Tanpa menunggu Koan San Gwat men jawab, Kang Pan sudah menukas.

"Persoalan itu tidak perlu kau banyak pikiran, kalau hari ini aku dan Koan toako terhindari dari bencana, dalam dua tiga tahun kami akan mengantar anak kami....."

Koan San Gwat melongo dan tidak tahu apa harus diperbuat, mukanya merah malu namun dengan suara mantap dan penuh keyakinan Kang Pan menambahkan.

"Aku hanya mematuhi maksud Lo pek, dia benar benar seekor binatang sakti yang mempunyai kepribadian manusia, cerdik dan bisa menulis lagi, tadi dengan tulisannya dia mengharap keturunan Koan toako kelak bakal menjadi ahli waris dari Bing tho ling cu. Lopek ! Benarkah begitu maksudmu ?"

Unta saku manggut manggut Kang Pan tertawa ujarnya.

"Lihat malah diapun dapat menjadi comblang, katanya supaya aku menikah sama Koan toako, Koan toakopun sudah setuju !"

Ma pek poh manggut manggut, sambil mengiakan katanya.

"Kalian menjadi pasangan sungguh merupakan karunia Tuhan ...."

Kata Kang Pan dengan tertawa riang "Sedapat mungkin kita akan selekasnya melahirkan anak dan kukirim ketempatmu untuk belajar silat, kelak biar menjadi penerus yang lebih gagah dan perwira sebagai tokoh besar yang lebih tenar!"

Ma Pek poh bergelak tawa, serunya "Keturunan naga melahirkan naga pula. anak kalian kelak pasti menjadi seorang besar yang tiada bandingan diseluruh jagat...."

Melihat sikap Kang Pan yang begitu serius dan sungguh sungguh, semakin berkerut pula alis Koan San gwat, terpaksa ia mendesak.

"Ma siansing, sudahlah lekas kau berangkat." -oo0dw0oo-

Jilid 25

"O YA! BIARLAH AKU MENUNGGU kabar baik kalian...."

Sebalikanya Koan San Gwat lantas berkata."Ma siansing!

Mengenai calon ahli waris, kau harus hati hati, jikalau kau temukan anak muda pilihan yang benar benar berbakat, sekali kali jangan kau sia siakan kesempatan....."

Berubah air muka Kang Pan, katanya.

"Koan toako, bukankah tadi kau sudah setuju untuk mencalonkan anak kita sebagai ahli warismu? Kenapa pula kau ingkar janji? "

Sungguh Koan San Gwat amat kewalahan katanya menghela napas.

"Bukan aku ingkar janji, mati hidup kita sendiri masih merupakan persoalan...."

Kang Pan manggut manggut dan paham maksudnya, katanya.

"Aku tidak memikirkan kearah hal itu, begini saja! Tiada halangannya Ma siansing bersiap siap mencari seseorang calon, seumpama kami tidak mati, baru kau..."

"Ya, aku akan waspada, untunglah untuk membimbing seorang tunas muda menjadi orang yang betul betul matang diperlukan masa yang cukup panjang, sembarang waktu masih bisa diubah."

"Betul! Ma siansing, lekaslah berangkat kami sudah menghabiskan banyak waktu!"

Demikian ujar Kang Pan. Unta sakti datang mendekat terus menekuk kaki depannya membiarkan Ma Pek poh naik kepunggungnya, Koan San Gwat tidak banyak bicara lagi, segera ia melambaikan tangan serunya.

"Ma siansing, hati hati dan bekerjalah dengan cermat! Sahabat tua, kaupun harus hati hati, pergilah ikut Ma siansing semoga kita masih bisa bertemu...."

Unta sakti manggut manggut, kakinya di pentang dengan langkah lebar ia tinggal pergi menuju kebarat laut.

"Ma siansing! Lo pek! Jagalah diri kalian baik baik, kami pasti segera melahirkan anak dan kubawa kepada kalian! Selamat bertemu! Selamat bertemu!"

Demikianlah teriak Kang Pan sambil melambaikan tangan. Koan San Gwat mengerutkan alis, katanya.

"Nona Kang, selanjutnya jangan kau tuturkan ucapanmu itu kepada orang lain!"

Kang Pan melengak katanya.

"Omongan apa? "

Koan San Gwat merandek sebentar baru berkata.

"Sudah tentu kata katamu yang barusan kau ucapkan kepada Ma siansing..."

Kata Kang Pan tertawa.

"Soal pesanmu terhadap Ma siansing adalah sebuah rahasia, sudah tentu aku tidak akan katakan kepada orang lain! Soal pernikahan kita..."

"Hal itu lebih tidak boleh kau katakan,"

Lekas Koan San Gwat menukas.

"Kenapa?"

Tanya Kang Pan tertegun.

"Meski aku tahu urusan, namun aku tahu soal pernikahan adalah urusan agung yang harus dibuat gembira, tiada alasan harus main sembunyi sembunyi, aku berpendapat bisa menjadi istrimu betapa bangga dan menyenangkan, ingin rasanya aku beritahukan kepada setiap orang."

Koan San Gwat menarik napas, ujarnya "Setelah kita menikah secara resmi sudah tentu kita boleh beritahukan kepada siapa saja, tapi sekarang belum terikat menjadi istri ...."

"Kukira tidak menjadi soal, yang jelas... toh kau sudah setuju soal pernikahan ini, aku tanpa kau pun tidak akan menikah cepat atau lambat masyarakat bakal tahu akan hal ini. Kenapa harus main rahasia segala? "

Apa boleh buat Koan San Gwat menjelaskannya.

"Pernikahan jelas memang suatu hal yang harus dibanggakan dan terjadi secara gamblang, tapi sebelum upacara resmi dilakukan masakah boleh setiap ketemu orang lantas cerita padanya, terutama bagi anak perempuan sebelum menikah...."

"Aku tidak paham,"

Sela Kang Pan sambil memonyongkan mulut.

"Sebelum dan sesudah menikah ada perbedaan apa...?"

"Sebelum menikah anak perempuan harus menjaga nama baik dan kesuciannya, meski sudah bertunangan, juga dilarang membicarakan soal hubungan antara laki laki dengan perempuan, kalau tidak orang akan mentertawakan dan menghina kita...."

"Aku tidak perduli dengan segala cemoohan atau obrolan mereka...."

Ujar Kang Pan menggeleng kepala.

"Aku perduli!"

Sentak Koan San Gwat keras.

"Aku tidak bisa membiarkan kau menjadi bahan tertawaan khalayak ramai."

Melihat orang marah, terpaksa Kang Pan berlaku kalem, katanya lembut.

"Baiklah tidak kukatakan saja! Koan toako, jangan kau marah marah."

Melihat sikap aleman dan mesra orang, Koan San gwat menjadi luluh hatinya, katanya perlahan.

"Pethatikanlah baik baik! Aku tidak marah, hanya kuberitahu bagaimana jadi manusia bebas yang hidup dalam lingkungan adat istiadat yang mengekang segala tindak tanduk kita, didalam kebiasaan itulah kau tidak patut melakukan perbuatan seperti keinginanmu tadi!"

Kang Pan mengerling tertawa, katanya.

"Baik! Masih banyak yang belum kuketahui, kau harus pelan pelan menjelaskan kepadaku. Aku pasti mendengar nasehatmu, tapi adat istiadat itu sebetulnya kurang beralasan...."

"Banyak adat istiadat yang memang tidak memenuhi selera dan janggal, tapi manusia hidup diatas dunia ini mau tidak mau harus mematuhi segala aturan aturan lapuk itu! Perlahan lahan kau akan paham sendiri!"

Begitulah sembari bicara mereka melanjutkan kedepan.

Entah berapa jauh kemudian tiba tiba dilihatnya Ma Pek poh putar balik dan sedang mendatangi dengan tergesa gesa.

Cepat mereka menyongsong maju serta bertanya.

"Ma siangsing, kenapa kau putar balik lagi? "

Sahut Ma Pek poh dari atas unta.

"Tadi aku sudah menempuh kira kira dua li perjalanan, didepan sebuah toko dalam desa didepan sana kulihat dua orang, meskipun mereka mengenakan kedok samarannya, namun masih dapat kukenali bahwa mereka adalah Ki Houw dan Sebun Bu yam...."

Koan San Gwat melengak, tanyanya.

"Apakah mereka tak merintangi perjalananmu? "

"Tidak!"

Tutur Ma Pek poh.

"Melihat aku mendatangi menunggang unta sakti, kelihatannya Ki Houw hendak turun tangan tapi lekas Sebun Bu yam merintangi dengan menarik lengannya, karena gerak gerik mereka yang mencurigakan ini maka dapat kulihat kedok penyamaran mereka. Ki Houw menyamar sebagai petani, sementara Sebun Bu yam menutupi wajahnya dengan secarik kain, mengenakan pakaian laki laki."

"Cara bagaimana kau bisa mengenali penyamaran mereka? "

Ma Pek poh tertawa geli, ujarnya.

"Dada Sebun Bu yam amat montok meski mengenakan pakaian laki laki toh tidak dapat mengelabui pandangan seorang ahli seperti aku ini. Meski Ki Houw sendiri tidak menunjukkan suatu tanda khusus, namun sepasang matanya itu memancarkan hawa beringas yang sesat, sudah lama aku bergaul dengan dia, sekali pandang lantas konangan,"

Koan San Gwat berpikir, katanya kemudian "Tentu mereka sedang menunggu dan hendak mempersulit aku."

"Betul !"

Sahut Ma Pek poh.

"Semula begitu melihat unta sakti ini, tentu mereka menyangka Tayhiap yang datang, untunglah mata Sebun Bu yam cukup celi, dia lebih dulu melihat aku yang bercokol diatas unta maka lekas lekas menarik lengan Ki Houw, maka aku bisa lewat dengan leluasa. Kuatir Tayhiap kena dijebak maka aku putar balik kemari memberitahu Tayhiap supaya kalian tidak terjebak kedalam perangkap mereka."

Setelah menepekur akhirnya Koan San Gwat berkata.

"Baiklah, aku sudah tahu terima kasih akan pemberitahuan ini, silahkan kau berangkat lagi lebih dulu !"

"Jangan!"

Tiba tiba Kang Pan menyela.

"Sekali mereka sudah memberi kelonggaran kepada Ma siansing tentu tidak akan mereberikan kedua kalinya apalagi jejak mereka sudah konangan, apakah Lo pek cukup mampu menerjang lewat rintangan mereka berdua? "

"Analisamu cakup beralasan"

Demikian ujar Koan San Gwat.

"Meski Lo pek cukup sakti, namun untuk menerobos sergapan dari kekuatan mereka berdua, mungkin memerlukan tenaga yang bukan kecil..."

Berpurar biji mata Kang Pan, tiba tiba ia berkata.

"Kalau Ma siansing hendak lewat dengan aman dan tidak kurang suatu apa, aku mendapat sebuah akal!"

Lalu ia suruh Ma Pek poh maju mendekat bertiga mereka berbisik bisik merundingkan sesuatu. Akhirnya terdengar Koan San Gwat berseru memuji.

"Bagus sekali! Nona Kang, akalmu ini cakup baik, biarlah kita bekerja menurut rencanamu."

Mendapat pujian Kang Pan berseri tawa lebar kesenangan. Sebalikany Ma Pek poh merengut dan sungkan, katanya.

"Cara itu memang dapat membebaskan aku dari kesulitan tapi kalian berdua..."

"Tidak menjadi soal !"

Ujar Koan San Gwat goyang tangan.

"Ingatlah akan tugasmu yang berat, nasib unta sakti dan masa depan Bing tho ling cu berada ditangan Siansing, aku harap kau tidak banyak kuatir dan main sungkan segala....."

Terpaksa Ma Pek poh manggut manggut, urusan akhirnya berkeputusan dan mereka mulai bekerja menurut rencana.

Unta sakti berlenggang kedepan pelan pelan dengan Ma Pek poh tetap bercokol dia atas punggungnya.

Sikap orang yang duduk di punggung unta kelihatan amat tegang dan was was, sementara gerak gerik serta langkah unta sakti kelihatan tidak wajar dan seperti risi dan keri.

Untunglah jarak satu li akhirnya mereka tempuh dengan susah payah, desa yang dimaksud disebelah depan sudah kelihatan dari kejauhan kira kira puluhan tumbak dari warung kecil di pinggir desa, dari dalam rumah mendadak menerobos keluar seorang laki laki berpakaian petani, panggulnya menyandang sebuah pacul besi, mencegat ditengah jalan ia membentak dengan murka.

"Ma Pek poh! Kau bangsat yang makaa dilain membantu orang luar, masih hendak lari kemana kau?"

Laki laki itu memang samaran Ki Houw samarannya memang cukup pintar, bentukanya sekarang sama sekali lain.

Mendengar Ma Pek poh buka mulut lantas mengenali dirinya, seketika ia tertegun, kiranya sambil menurunkan caping diatas kepalanya.

"Ma Pek poh! Cara bagaimana kau bisa kenali aku? "

Ma Pek poh tersenyum manis, ujarnya.

"Penyamaran Ki congkoan cukup lihay, hamba hanya mana bisa tahu, cuma hamba punya suatu keahlian yaitu memelihara dan menundukkan binatang, dapat pula membedakan bau rengus dari berbagai jenis binatang, dari bau itulah hamba dapat mengenali Ki congkoan..."

"Badanku ada bau apa?"

Tanya Ki Houw melengak.

"Kalau dikatakan mungkin Ki congkoan bisa marah, karena bau di atas badan Ki congkoan amat istimewa dan lain dari yang lain meski berada ditempat jauh empat lima li hamba juga merasakannya!"

Ki Houw menjadi tidak sabar, sentakanya.

"Jangan ngelantur! Lekas katakan badanku ada rasa bau apa? "

"Bau badan Ki eongkoan tidak akan sama dengan bau manusia, namun mirip benar dengan bau amis badan keledai!"

"Kunyuk."

Seketika Ki Houw berjingkrak gusar.

"Kemarin didepan mata. berani kau menghina dan memaki aku!"

Ma Pek poh tergelak tertawa, serunya.

"Bukan saja bau badan Ki congkoan seperti bau apek badan keledai, sampai suara bicaramupun seperti dengus dan berbenger keledai malah...."

Sudah tentu Ki Houw amat murka mendengar olok olok yang menyakiti hati nya ini, kontan pacul diatas pundaknya terangkat terus menyapu keatas.

Sikap Ma Pek poh amat tenang, seakan akan sedkitpun tidak melihat akan serangan dahasyat ini, disaat pacul besi lawan sudah hampir saja mengenai perutnya....

Dari biwah perut unta sakti mendadak menerobes keluar sesosok bayangan, sebat sekali menyambut kedatangan samberan pacul terus didorong mundur, sedemikian besar daya tolakannya ini sampai Ki Houw ikut tersurut mundur beberapa langkah.

Setelah berdiri tegak terlihat oleh Ki Houw orang yang merintangi dirinya ini ternyata adalah Kang Pan.

Karuan ia melongo di tempatnya.

Sementara Ma Pek poh bergelak tertawa terpingkal pingkal diatas unta, serunya.

"Ki congkoan, nona Kang mendapat kabar katanya daging keledai dari Samsay amat gurih dan enak rasanya, dia ingin coba mencicipi jangan kau membuatnya kecewa. Maaf aku tidak bisa melayani kau lama lama."

Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa orang itu adalah Sebun Bu yam adanya, meski dia menyamar dengan pakaian laki laki dan menutupi mukanya pula.

Tapi seperti yang dituturkan oleh Ma Pek poh, kedua buah dadanya yang montok besar itu lapat lapat masih kelihatan, apalagi diwaktu ia bergerak kelihatan lebih nyata pula, terpaksa Ma Pek poh menghentikan tunggangannya, serunya tertawa terloroh loroh sambil menuding dada orang.

"Sebuh huhoat! Tidak pantas kau mengenakan pakaian laki laki, seorang laki laki masa punya dada yang sedemikian montok dan menggiurkan, sungguh lucu dan ganjil sekali...."

Karena mukanya tertutup, jadi sulit mengetahui bagaimana perubahan air mukanya tapi dari gerak geriknya, terang Sebun Bu yam sudah naik pitam dan amat murka.

Begitu menyingkap baju ia segera mengeluarkan sebuah bumbang bambu yang dicat merah, panjang kira kira satu kaki sebesar lengan bocah, dengan garang matanya mendelik sementara tangan yang lain sudah siap hendak membuka tutup bumbung yang terbuat dari kapok kapas.

Disebelah sana lekas Ki Houw berteriak "Sebun huhoat, jejak musuh belum kelihatan jangan kau sembarangan gunakan...."

Dari bawah perut unta sakti tiba tiba keluar Koan San Gwat, serunya tertawa seraya bertepuk tangan.

"Aku ada disini, kalian punya pusaka apa untuk menghadapi aku, silahkan keluarkan saja, jangan sungkan, ingin aku lihat barang permainan apa sih......"

Lalu ia tepak pantat unta sakti dan berkata pula.

"Sahabat tua! Bikan susah kau saja, sungguh aku menyesal, sekarang kami sudah turun, silahkan kau berangkat lebih dulu."

Unta sakti segera pentang keempat kakinya berlari pergi bagai terbang.

Ternyata karena hendak muncul secara tiba tiba dan tidak terduga untuk menggertak dan merintangi Sebun Bu yam dan Ki Houw supaya unta sakti membawa Ma Pek poh pergi dengan selamat mereka menggunakan cara yang diusulkan Kang Pan, yaitu mereka berdua sembunyi dibawah perut unta sakti menggunakan bulu bulunya yang panjang untuk menutupi badan, tak heran gerak gerik jalan unta sakti tadi kelihatan berat dan risi serta keri.

Dengan mendelong Sebun Bu yam dan Ki Houw mengawasi unta sakti berlenggang pergi karena dihalangi oleh Koan San Gwat berdua.

Tapi tujuan, utama mereka memang terhadap Koan San Gwat, lekas Ki Houw mendekat Sebun Bu yam, sementara Kang Pan juga kumpul bersama Koan San Gwat.

Dalam pada itu Ki Houw menanggalkan topi caping nya, sementara Subun Bu yam sudah mencopot pakaian luar dan kain penutup mukanya, Koan San Gwat jadi geli, godanya.

"Kenapa kalian merubah bentuk lagi bukankah samaran begitu lebih baik? Untung Ma Pek poh mengenali samaran kalian, kalau tidak bagaimanapun aku tidak akan kenal tampang kalian sekarang yang lucu ini ..."

Ki Houw menjengek dingin.

"Sekarang sudah kau ketahui juga tidak menjadi soal, karena tujuan kami menghalangi kau maju ke depan, batas perjanjian tiba hari belum lagi tiba mimpimu jangan harap kau bisa tiba disana."

Koan San Gwat tersenyum, tanyanya.

"Apakah Cia Ling im berjanji bertemu di Jian Coa kok bersamanaku?"

"Kau sudah tahu kenapa banyak tanya segala? "

"Dia minta bertemu di Jian coa kok, tentunya hendak menggunakan Coa sin untuk nenghadapi aku, tapi batas tiga hari perjalanan, sisa dua hari yang lain, dengan cara apa ia hendak membujuk dan menundukkan Coa sin? Apakah Coa sin sudi mendengar obrolannya?"

"Setelah tiba waktunya, pasti kau akan itahu segalagalanyai"

Justru aku tidak sabar menunggu, ingin kususul kesana melihat kenyataan."

"Tidak mungkin!"

Seru Sebun Bu yam bengis.

"Kaucu bilang tiga hari ya tiga hari, sebelum tiba waktunya sekali kali kau dilarang kesana, maksud kami justru merintangi kau kesana."

"Aku tidak peracaya kalian mampu menghalangi aku. Ma Pek poh sudah megcobanya sekali akibatnya dia malah menyerah dan tunduk kepadaku, kalian...."

"Kami berdua jangan kau samakan dengan Ma Pek poh. Kausu ada pesan bila kau hendak main kekerasan, segera bunuh saja habis perkara."

Koan San gwat terbahak bahak, serunya.

"Tujuan utama Cia Ling im memang hendak membunuh aku, kalau kalian mampu melaksanakan kenapa harus masih ulur waktu sampai tiga hari lagi? "

"Orang she Koan, jangan kau takabur untuk membunuh kau sebetulnya Kaucu tidak perlu banyak mengeluarken tenaga, soalnya beliau dulu pernah kau tusuk sekali, sakit hati ini harus dia balas dengan cara pertandingan pedang, maka jiwamu bisa bisa terulur sampai sekarang, tapi jikalau kau sudah bosan hidup, kami bisa bantu kau lekas mampus..."

Koan San Gwat berpikir sebentar, lalu katanya.

"Untuk membalas sakit hati luka luka pedangnya itu, tidak pantas Cia Ling im mencari Coa sin untuk membantunya, menurut apa yang kuketahui, paling paling Coa sin hanya ilmu silat yang maha tinggi soal ilmu pedang amat biasa aja...."

"Perseten dengan obrolanmu."

Demikian damprat Ki Houw.

"Bagaimana pesan Kaucu begitulah aku menunaikan tugas, mau percaya tidak terserah kepada kau, kalau kau memang tidak takut mati, marilah coba coba."

"Manusia siapa yang tak takut mati mendengar ucapanmu ini, aku jadi tidak berani mempertaruhkan jiwaku untuk menyerempet bahaya, terpaksa baiklah kutunggu sampai tiga hari seperti batas yang dijanjikan saja."

Habis berkata Koan San Gwat lantas tarik tangan Kang Pan hendak tinggal pergi, sudah tentu perbuataanya ini berada diluar dugaan Ki Houw, sejenak ia melengak, buru buru menyusul maju sambil mengayun paculnya, serunya "Koan San Gwat pulang atau pergi sama saja bakal mampus, kenapa kau tidak sekarang saja mencari jalan kematianmu?"

"Wah, aneh benar kata katamu ini,"

Demikian sindir Koan San Gwat menyeringai dingin.

"Kau melarang kami melanjutkan perjalanan, kini melarang kami kembali."

"Kaucu ingin membanuh kau di bawah tusukan pedangnya, sebaliknya ingin rasanya aku segera dapat membunuh kau. Maka kuharap silahkan kau coba menerjang maju kedepan."

"Tidak!"

Sahut Koan San Gwat geleng kepala.

"Biar hidup sehari lebih lama jauh lebih enak daripada mati konyol,"

Sembari berkata ia sudah putar badan hendak tinggal pergi pula. Saking gugup Ki Houw berpaling kepada Sebun Bu yam, teriaknya "Sebun hu hoat, apa lagi yang sedang kau tunggu? Lekasilah turun tangan!"

Tak nyana Sebun Bu yam malah menggeleng kepala, ujarnya "Tidak!

Aku harus mematuhi perintah Suheng, kalau dia tidak mau main terobos dengan kekerasan, akupun tidak akan turun tangan, biar Suheng sendiri yang membereskan dia."

Jelas bahwa bujukan dan desakannya tidak berhasil terpaksa Ki Houw menghadapi Koan San gwat pula serta mengumpat caci "Orang she Koan, kau memang manusia durjana yang lemah dan takut mati, kau ini anak haram dan hina dina, kau adalah keturunan liar yang tak pantas menjadi manusia..."

Untuk memancing kemarahan Koan San Gwat supaya orang mau turun tangan, Ki Houw menggunakan segala makian yang paling kotor.

Namun sikap Koan San Gwat tetap wajar seperti tidak mendengar belaka, sebalikanya Kang Pan tidak tahan lagi, dampratnya "Bedebah!

Mulutmu ini memang terlalu kotor dan perlu disikat !"

Lekas Koan San Gwat menahannya, katanya tersenyum.

"Nona Kang! Anjing gila sedang menggonggong kenapa kau hiraukan ocehannya? "

Namun Kang Pan masih uring uringan omelnya "Tapi aku sebal dan tidak bisa kubiarkan dia berani menghina kau !"

"Kalau anjing sedang menggonggong anggap saja kau tidak mendengar. Tujuannya adalah hendak membunuh aku, namun dia tidak berani membangkang perintah Cia Ling im, maka sengaja dia menyakiti perasaanku, supaya aku kena tipu muslihatnya dan dia punya alasan yang tepat untuk turun tangan..."

Kang Pan tidak percaya, selanya.

"Masa kau percaya bahwa mereka betul betul membunuh kita?"

"Bahwa dia begitu besar tekadnya supaya lekas aku turun tangan, kemungkinan sudah mempersiapkan suatu muslihat yang cukup sempurna, bukan aku takut mati, namun kalau mampus di bawah perangkap keji lawan yang licik macam mereka ini sungguh penasaran dan tiadi harganya...."

Tak tahan Sebun Bu yam bertanya.

"Darimana kau bisa tahu bila kami hendak menghadapi kalian dengan perangkap licik?"

Koan San Gwat bergelak tertawa besar, u jarnya "Mengandal tampang kalian berdua yang tidak becus ini, kalau tidak mengandal tipu muslihat licik, masakah berani mentang mentang berdiri dihadapanku, kalau tidak langsung sejak tadi kalian sudah mencawat ekor dan sembunyi ke tempat yang jauh, jangan kata berani unjuk diri menongolkan kepala pun pasti tidak berani!"

Kata kata ini mengobarkan amarah Sebun Bu yam.

"Sret"

Kontan ia mencabut pedang, teriak nya beringas sambil mengacungkan pedang.

"Koan San Gwat, aku hanya pernah dengar katanya betapa tinggi ilmu silat dan permanian pedangmu, namun selama ini belum pernah menjajal mohon petunjuk kepada kau. Malah ingin aku menempur kau dengan sebilah pedangku ini!"

Raut muka Ki Houw mengunjuk sekulum senyum licik yang sadis, dari samping ia menghasut.

"Sebun hu Howe! Jangan kau kena ditipu olehnya, ilmu pedang bocah keparat ini jauh lebih lihay dari gurunya, Lim Hiang ting sendiripun sudah bukan lawannya, mana kau mampu melawan dia?"

Kata katanya terakhir lebih mengobarkan amarah Sebun Bu yam, dampratnya berjingkrak.

"Kentut! Lim Hiang ting terhitung golekan apa?"

Seperti menyiram minyak diatas api unggun, Ki Houw menambahkan.

"Tapi, Kaucu masih amat kangen dan tidak melupakan selama lamanya,"

Mungkin Sebun Bu yam paling pantang mendengar kata kata ini, tiba tiba ia membalik badan berbareng pedangnya menyambar balik membabat kearah Ki Houw malah.

Ki Houw lekas melejit menyingkir, teriakanya.

"Sebun Hu hoat, jangan kau salah mengincar lawan, kalau hendak adu jiwa lawanlah Koan San Gwat, dialah murid Ui ho, Lim Hiang ting sekarang sudah jadi istri Ui ho, hanya membunuh bocah keparat ini, baru kau bisa memancingnya keluar...."

Seperti sudah gila Sebun Bu yam segera putar tubuh terus menerjang kearah Koan San Gwat dengan kalap.

Lekas Koan San Gwat melolos pedang menangkis menyampoki nya terhuyung kesamping, sementara hatinya amar mendelu dan kasihan.

Agakanya perempuan jelek ini amat kepincut dan berkelebihan cintanya terhadap Cia Ling im, sebalikanya Cia Ling im diam diam mencintai Lim Hiang ting, sementara Lim Hiang ting justru jatuh cinta kepada gurunya yaitu Tokko Bing, hingga terjadilah tragedi yang berkepanjangan sampai sekarang ini.

Seperti anjing gila yang kesurupan setan Sebun Bu yam menyerbu datang pula dengan kalap, lagi lagi Koan San Gwat harus acungkan pedangnya menyongsong maju, kali ini ia gunakan tajam pedangnya, betapa tajam dan lihaynya Ui tiap kiam ditangannya.

"Trang"

Pedang panjang Sebun Bu yam seketika putus menjadi dua potong, lebih celaka lagi lengannyapun kena tergores luka panjang, untung Koan San Gwat masih menaruh belas kasihan lekas lekas menarik pedang ditengah jalan, kalau tidak sebuah lengannya ini tentu sudah kutung dan menjadi cacat.

Seperti diketahui dibagian depan cerita sewaktu di Sin li hong dulu, Sebun Bu yam pernah mengorbankan kedua tangannya untuk menolong jiwa Cia Ling im dari ancaman pedang Koan San Gwat, tapi hari ini Koan San gwat menjadi tidak tega hati menurunkan tangan keji, terutama ia melihat bahwa kedua tangan Sebun Bu yam sekarang adalah sepasang tangan palsu.

Dikatakan tangan palu karena kedua tangannya itu bukan asli miliknya, itulah tangan orang lain yang ditrapkan atau disambung dengan kedua lengannya setelah melalui oprasi jangka panjang, cara oprasi menyambung tangan macam ini di bidang ilmu pengobatan memang suatu hal yang menakjubkan, tapi serta ia teringat bahwa ayah Thio Ceng ceng, yaitu Thio Hun cu pun terima menjadi antek dalam Thian mo kau.

maka kejadian ini tidak perlu dibuat heran.

Betapa tingginya pengetahun pengobatan Thio Hun cu, mungkin hanya mertuanya sa yaitu Soat lo thay thay yang dapat menandinginya.

Dengan tangan asli menyambung tangan yang lain, sudah tentu bukan menjadi persoalan bagi dirinya.

Cuma betapapun lihay dan tinggi keahlian seorang tabib dalam menyambung tangan yang sudah kutung itu, sedikit banyak masih meninggalkan cacat dan tidak bisa menjadi wajar seperti sedia kala, maka mau tidak mau permainan ilmu pedang Sebun Bu yam dengan sendirinyapun jauh menurun dari sejak mulanya dulu, apa lagi gerak gerik kedua tangan palsunya tidak begitu cekatan lagi.

Pek hong kiam milik Koan San Gwat dulu kini sudah dicuri oleh Liu Ih yu, pedang yang berada ditangannya ini adalah Ui tiap kiam yang dapat ia pinjam dari ibunya.

Bicara soal pedang Ui tiap kiam masih jauh lebih sakti dari pada Pek hong kiam, tapi bagi Koan San gwat, Pek hong kiam jauh lebih mencocoki seleranya, terutama bila dia perlu mengembangkan Tay lo kiam hoat.

Alasan Tay lo kiam hoat yang diselami oleh Mo li Oen Kiau biasanya mengandal Pek hong kiam untuk latihan, kalau menggunakan Ui tiap kiam malah tidak bisa menunjukkan perbawa semula yang angker dan penuh.

Namun demikian Sebun Bu yam toh tidak kuasa melawannya, kutungan pedang dibuang lekas ia mendekati luka luka dilengannya, kedua biji matanya memancarkan sorot buas, liar dan beringas.

Dari samping Ki Houw menyeringai dingin pula.

"Bagaimana Sebun Hu hoat! Betul tidak kata kataku! Tempo dulu bocah keparat ini mengutungi kedua tanganmu, meski kini sudah diganti yang baru, bagaimana juga terpaut terlalu jauh dari yang asli, masih untung kau terluka ringan, asal dia mau mengerahkan sedikit tenaga, tanggung seluruh lenganmu yang sudah buntung. Thio Hun cu tidak akan mampu lagi mengoperasi menyambung dengan lengan orang lain pula...."

Kata kata ini tepat mengenai borok lamanya, cepat ia melompat mundur rada jauh seraya berteriak dengan beringas.

"Ki Houw! Siappp!"

Sementara bumbung bambu itu sudah dicekal pula ditangannya. Ki Houw angkat paculnya, katanya ringan.

"Nah, semestinya sejak tadi kau sudah bertindak begitu, kenapa pula harus mandah terima dilukai dulu."

Sambil gertak gigi Sebun Bu yam segera mencopot kapuk kapas yang menutup mulut bumbung bambu itu.

Sementara Ki Houw mengetuk ngetuk ujung paculnya sehingga mengeluarkan suara yang menusuk kuping dengan nada dan irama yang tertentu.

Begitu Sebun Bu yam meneriaki Ki Houw bersiap, diam diam Koan San gwat sudah bersiaga menghadapi segala kemungkinan, dia melihat bumbung itu ditutupi kapuk kapas maka ia menduga isinya tentu semacam asap atau kabut beracn yang jahat, lekas lekas ta menutup hidung menahan napas, disampmg itu ia angkat tangan memberi tanda kepada Kang Pan suruh orangpun siap siaga.

"Koan toako!"

Ujar Kang Pan menggoyang tangan sambil tertawa.

"Tidak menjadi soal memangnya kau sangka aku takut menghadapi racun..."

Belum habis ia bicara, tiba tiba ia menjerit kaget dan tersentak mundur, cepat sekali ia melejit kesamping Koan San Gwat serta ia tarik lengannya, sikapnya amat gelisah dan gugup serta takut lagi, serunya.

"Koan toakol Hati hatilah, binatang itu amat lihay...!"

Koan San gwat sendiri sih bersikap adem ayem, karena yang merayap keluar dari bambu bambu itu hanyalah dua ekor kelabang panjang satu kaki, meski bentukanya kelihatan jelek dan menjijikan, namun gerak geriknya amat lamban dun malas malasan.

Maka dengan pongah Koan San gwat berkata.

"Sebun Bu yam, jadi kau mengandal kedua ekor binatang ini untuk mengadapi aku..."

Raut muka Sebun Bu yam amat perihatin, bibirnya mencebir dan mendesis keras dan cepat, suaranya berpadu dengan ketukan pacul Ki Houw dengan adanya perpaduan suara yang memimpinnya, kedua kelabang itu bergerak dari kanan ke kiri, merambat maju lambat lambat, badan mereka memancarkan warna merah yang terang menyala, pasangan kakinya yang banyak itu bergerak gerak sangat menjijikan ke depan.

Cekalan Kang Pan senakin kencang malah mulai gemetar.

Koan San Gwat menjadi keheranan dan tidak habis nengerti, tabyanya.

"Nona Kang! Kenapa kau begitu menjadi ketakutan? "

Jawab Kang Pan dengan suara gemetar.

"Memangnya aku paling takut pada kelabang mereka adalah satu satunya lawan tertangguh dari binatang ular...."

Koan San gwat sambil tertawa sombong.

"Kelabang dapat mengatasi ular, belum tentu mampu mengatasi kita, legakan saja hatimu. Lihatlah aku, nanti kalau maju lebih dekat lagi, biar sekali tebas kubunuh mereka..."

Di mulut ia bicara sombong, secara diam diam ia bersiap waspada karena dia tahu bila Ki Houw dan Sebun Bu yam mau menggunakan kedua binatang berbisa ini pastilah mereka merupakan musuh musuh yang jahat yang amat tangguh pula.

Apalagi dari nada bicara Ki Houw tadi, seolah olah ia anggap kedua binatang ini benar benar merupakan terampuh untuk membunuh dirinya.

Lambat namun pasti kedua ekor kelabang itu merambat maju terus, setelah ada dekat bentuk asli mereka sudah terlihat jelas seluruh panjang tubuhnya terbagi dalam tiga puluh enam ruas, setiap ruasnya tumbuh sepasang kaki lembut.

Ruas terdepan dan paling besar adalah kepalanya, dimana tumbuh sepasang sungut yang berdiri tegak, namun berwarna hitam legam, mulutnya mendesis menyemburkan kabut tipis warna kehijauan.

Koan San Gwat tidak tahu, kelabang itu sendiri yang bisa melukai orang atau kabut hijau yang tersembur dari mulutnya yang dapat melukai orang.

Tapi ia sudah berkeputusan bahwa kedua binatang menjijikan itu tidak boleh maju lebih dekat lagi.

Diwaktu kelabang sebelah kiri sudah maju berjarak lima enam kaki dan menongolkan kepalanya, belum lagi ia menunjukkan sesuatu gerakkan apa pedang Koan San Gwat sudah berkelebat menebas miring.

Gerak tebasannya ini boleh dikata dilakukan amat cepat sekali, namun masih ada yang bergerak jauh lebih cepat lagi, disaat tajam pedang hampir saja mengenai kepala kelabang, dari samping mendadak melesat datang selarik bayangan putih menerjang batang pedang.

Waktu Koan San Gwat melihat tegas, ki ranya ulah Kang Pan yang dinamakan Giok tai, sungguh ia tak habis mengrti, apa maksudnya merintangi dirinya turun tangan, membunuh kedua kelabang ini.

Maka dilihatnya ular putih seperti sabak kumala itu melentingkan badan, sementara ekornya menyapu kedepan telak sekali menyongsong kearah badan kelabang yang merambat maju terus disendal keluar, kontan badan kelabang itu terpental terbang satu tumbak jauhnya gerak gerik Giok tai teramat cepat, dengan cara yang sama dia singkirkan pula seekor kelabang yang lain ketempat yang jauh.

Setelah kedua kelabang itu disingkirkan rada jauh, baru ular putih menegakkan kepala yang bergerak dan berpaling kearah Koan San gwat, pula menggeleng geleng kepala sementara mulut berdesis aneh.

Kang Pan segera berkata "Koan toako!

Kata Siau giok jangan kau gunakan pedangmu untuk membacok mereka...."

Raut muka Ki Houw seketika berubah seringainya dingin.

"Koan San gwat! Ularmu ini memang aneh dan amat cerdik sekali..."

Habis berkata ia sendiri angkat pacul tanpa banyak cingcong beruntun ia bacok kutung kedua kelabang itu menjadi puluhan banyakanya, sementara suara suitan dari mulut Sebun Bu yam Semakin kencang dan cepat.

Kejadian ini membuat Koan San Gwat tambah bingung dan tidak mengerti bahwa mereka melepas kelabang untuk menghadapi musuh, kenapa pula sekarang membunuhnya sendiri?

Tapi teka teki ini tidak lama berselang lantas mendapat jawabanya yang pasti dan aneh serta menggiriskan.

Ternyata potongan potongan kelabang itu begitu terhembus angin seketika tumbuh memanjang, sekejap lain setiap potonganya menjelma bentuk seperti asalnya tadi, kejap lain lengkap dengan kepala dan kakinya, terang bahwa potongan potongan kecil badan kelabang itu bisa tumbuh menjadi puluhan kelabang lain yang sama besanya.

Kejadian aneh ini seketika membuat Koan San Gwat tersirap darahnya, terutama Kang Pan amat takut dan kebingungan, teriakanya dengan pucat.

"Koan toako mari lekas mundur !"

Ki Houw terloroh loroh dingin, serunya "Sekarang baru ingin mundur, sudah terlambat!"

Sembari berkata paculnya terus bekerja beruntun ia mengutungi pula beberapa kelabang menjadi puluhan potong dan potongan potongan itu dilempar keberbagai penjuru dengan merata, dalam kejap lain tanah sekitar Koan San Gwat, berdua sudah penuh bertebaran merata, kelabang kelabang yang sama besarnya.

Karena setiap potongan potongan badan kelabang itu tumbuh lagi menjadi kelabang hidup, sementara Sebun Bu yam masih bersuit suit tak henti hentinya, memberi aba aba kepada kelabang kelabang itu untuk menyerang, saat mana sudah tidak terhitung banyaknya kelabang kelabang merah darah yang tersebar luas dimana mana.

Koan San Gwat dengan Kang Pan berdiri menjublek di tengah kepungan, hanya lima enam kaki sekelilingnya yang masih kosong, sementara kelabang kelabang yang mengepung disitu mulai bergerak maju mau menyerang bersama.

Tanah kosong Seluas enam kaki itu masih mengandal kehebatan Siau giok untuk meluangkannya, diapun berdiri tegak dengan lidah terjulur keluar masuk dan mendesis desis dengan tak kalah garangnya, sedang ditengah kepalanya tumbuh sebuah jambul berdaging wana merah darah pula.

Agakanya kawanan kelabang itu masih rada jeri juga menghadapinya, sehingga sekian lama masih belum bergerak menyerang, akan tetapi jumlah kelabang bertambah banyak, di bawah aba aba dan dorongan suara Sebun Bu yam mereka maju berhimpitan dan bertumpuk tumpuk kedepan.

Yang berada paling depan terdorong dorong oleh yang ada disebelah belakang, mau tidak mau terdorong maju semakin dekat, dikala mereka maju sampai tiga empat kaki, Siau giok mendadak bersuara aneh dengan gesit bagaikan angin lesus tiba tiba badannya melejit kedepan, dengan kecepatan luar biasa tiba tiba badannya melingkar terus berputar, sementara buntut panjangnyapun berbareng menyapu kedepan, tampak sinar merah terpental berhamburan ketempat jauh, kiranya kelabang kelabang yang mendekat itu kena disapunya terpental jauh keluar kalangan.

Ternyata menggunakan kekuatan ekornya yang keras dan kuat itu ia menyapu terpental kawanan kelabang yang mendekat, untunglah tanah kosong seluas enam kaki itu masih tetap bertahan sekian lamanya.

Akan tetapi kemampuan Siau giok paling paling hanya demikian saja untuk mengusir kawann kelabang itu dengan cara lain terang tidak mampu, selesai bekerja diapun lekas melingkar dibawah kaki Kang Pan, sikapnya kelihatan rada payah dan mengeluarkan banyak tenaga.

Kalau kejadian berlangung terus akhirnya bakal celaka juga.

Koan San Gwat menjadi kuatir, lekas dia berkata.

"Nona Kang! Tahukah kau permainan apa ini?"

Kang Pan menggeleng kepala. Ki Houw yang berada dikejauhan segera bergelak tertawa.

"Koan San Gwat, biar kuberitahu kepada kau, inilah yang dinamakan Ce ho hwi siong (kelabang terbang ibu beranak), setiap kelabang punya tiga puluh enam ruas asal setiap ruasnya dipotong dan disebar kemana mana dalam waktu singkat akan tumbuh dan hidup menjadi kelabang yang berbentuk seperti asalnya, anak beranak terus menerus tidak putus putus, dibunuhpun tidak bisa. dilenyapkan juga tidak mungkin, jiwa kalian terang amblaslah hari ini..."

Koan San Gwat menjadi gusar, dampratnya.

"Aku tidak percaya, kecuali cepat tumbuh berkembang biak, kelabang kelabang ini tiada menunjukan sesuatu kelebihan apa apa biarlah kubunuh saja! Lihat!"

Sembari bicara pedang ditangannya diobat abitkan membacok ke kelabang disekitarnya, cuma gerak gerikanya amat hati hati dan cermat, bukan membacok kebadan kelabang tapi sinar pedang berkelompok seperti kupu kupu itu sama berjatuhan diatas kepala.

Cara ini agaknya membawa hasil diluar dugaan, kelabang kelabang yang terbacok kepalanya tidak tumbuh lebih jauh, malah badan terbaik jiwa lantas melayang.

Semula Koan San Gwat hanya main coba coba saja, karena terpikir olehnya bahwa Kepala merupakan pusat dari kehidupan sesuatu mahluk mungkin bisa membunuh mereka.

Cara yang dicoba coba ini ternyata membawa hasil, keruan hatinya girang bukan main, beruntun pedangnya bergerak lagi, ia congkel mayat mayat kelabang yang bergelimpangan itu ketempat yang jauh, sementara mulutnya berseru.

"Ki Houw! Kau sudah lihat belum?"

Ki Houw berdiri diluar lima enam tumbak jauhnya, ia mandah tersenyum ejek saja ujarnya.

"Koan San Gwat otakmu cukup cerdik tak kunyana kau bisa berpikir kearah itu!"

"Hal ini tidak perlu dibuat heran, membunuh ular harus mengincar tujuh centi dibavah lehernya, membunuh binatang binatang jahat begini harus mencari tempat kelemahannya...."

"Jangan kau keburu senang, segera kau akan menyesal dibuatnya."

"Apa yang harus kusesalkan?"

"Kau akan menyesal bahwa kecerdikkan otakmu yang menemukan cara baik bakal menjadikan kebodohan keluar batas"

Mendengar olok olokanya ini, lekas Koan San gwat berpaling kesana, seketika berubah air mukanya, rasa senang dan puasnya tadi seketika tersapu bersih, seperti yang dikatakan Ki Houw, diam diam hatinya memang sangat menyesal.

Ternyata mayat mayat kelabang yang berjatuhan dikelompok kelompok kelabang yang hidup itu seketika dibuat rebutan dan digares cepat, setiap kelabang yang sudah makan mayat kelabang kelabang itu seketika badannya tumbuh besar satu lipat.

Dari satu kaki menjadi dua kaki, semula hanya sebesar ibu jari, kini sudah berlipat ganda sebesar lengan, kelabang kelabang yang badannya membesar ini kekuatan dan gerak gerikinyapun bertambah besar dan gesit lagi.

Beramai ramai mereka berhimpitan dan berdesakan, kawan kawannya yang berbadan kecil disibakkan ke samping terus menerjang maju kedepan, sekejap saja kelabang kelabang bertubuh besar panjang bermunculan disekitar gelanggang.

Seperti cara semula Siau giok menyapukan ekornya pula memukul mundur terjangan, kawanan kelabang itu, namun kali ini sudah jauh lebih sulit dilayani, paling paling hanya bisa memukul mundur tiga kaki jauhnya.

Malah ada beberapa ekor diantaranya pentang mulut menggigit kearah ekornya, untuk Siau giok mengandal sisik kulitnya yang tebal dan keras sehingga tidak terluka, namun untuk menghabiskan kelabang kelabang itu harus memeras tenaganya juga, diwaktu ia kembali ketengah gelanggang untuk istirahat, perutnya kembang kempis, kelihataanya amat keletihan.

Ki Houw bergelak tawa, serunya.

"Koan San Gwat! Kalau kau sudi bantu membunuh beberapa ekor, supaya badan mereka tumbuh lebih besar, ular saktimu itupun tidak kuasa merintangi lagi!"

Kawanan kelabang itu sudah mulai bergerak hendak menyerbu pula, Koan San Gwat tidak berani sembarangan bertindak, dilihat nya keadaan Siau giok belum lagi pulih, namun sekuat tenaga ia menggerakkan badannya ia bertindak cepat ia gerakan tangannya mencegah, katanya berpaling kepada Kang pan.

"Bagaimana kalau tergigit oleh kelabang macam ini? "

"Aku tidak tahu, kelabang biasa saja tergigit sekali sudah membuat orang sekarat, apalagi kelabang sedemikian besarnya, sudah tentu kadar racunnya jauh lebih jahat, terutama terhadap kita...."

Koan San gwat mengerutkan alis ujarnya.

"Kita bagaimana? Masakah kita mesti takut menghadapi kelabang kelabang ini? "

Sejak kecil aku diasuh dengan racun racun ular, kau sendiri pernah menelan empedu ular wulung bertanduk tunggal racun apapun kita tidak perlu takut, hanya kelabang ini saja, karena kadar racun mereka berlawanan, lihatlah Siau giok sebagai bukti, dia terhitung raja dari segala ular, sekarang keadaannya begitu kasihan..."

Koan San Gwat terpekur sebentar, mendadak ia berkata tegas.

"Apapun yang terjadi, aku harus menerjang keluar."

Lalu dia siap bergerak.

"Jangan!"

Kang Pan segera menarik lengannya.

"Koan toako caramu ini amat berbahaya!"

"Tujuan orang hendak bunuh kita masakah kita harus mandah terima nasib saja berdiri disini, dari pada konyol lebih baik berjuang dengan mengadu jiwa."

Kang Pan melepas tangannya, namun ia bertanya terlongong.

"Cuma cara bagaimana mengadu jiwa?"

"Entahlah! Menggunakaa tangan, dengan pedang, gigi dan apa saja yang dapat kita gunakan, asal dapat menerjang keluar dari kepungan kelabang ini."

Kan Pan berpikir sebentar, lalu katanya.

"Mungkin aku punya cara, biarlah suruh Siau giok membuka jalan bagi kau."

"Tidak!"

Sahut Koan San Gwat tegas.

"Siau giok harus dipertahankan untuk melindungi kau, tujuan utama mereka adalah aku, kalau kita berpisah, mungkin kau dan Siau giok punya harapan meloloskan diri."

Kata Kang Pan rawan.

"Kalau kau mati untuk apa aku harus melarikan diri ?"

Koan San Gwat tertawa getir, katanya "Tanggung jawabmu cukup besar, Ma Pek poh berangkat bersama unta sakti, dikala generasi mendatang dari Bing tho ling cu ketiga dilahirkan, dia masih memerlukan bantuan mu ..."

Kang Pan tersengguk katanya.

"Aku hanya kenal kau, peduli apa dengan Bing tho ling cu segala!"

Mendadak Koan San Gwat merendahkan suara berbisik di pinggir kupingnya.

"Nona Kang! Bukankah kau sudah setuju bakal menjadi isteriku? Meski kita belum resmi menjadi suami istri, namun sudah mejadi istri Bing tho ling cu, maka terhadap Bing tho ling cu, kita punya tanggung jawab yang sama. Pan! Dengarlah kata kataku, jagalah dirimu baik baik demi masa depan kita bersama...."

Panas selebar muka Kang Pan, baru pertama kali ini ia mendengar ucapan Koan San Gwat yang cukup mesra, namun kali inipun yang terakhir tak tertahan berlinang air mata nya.

Dalam pada itu Koan San Gwat sudah mulai beraksi, sambil melangkah lebar kedepan Ui tiap kiam diputar sekencang kitiran terus menerjang keluar kepungan.

Kelabang kelabang itu menjadi marah berbondong bondong menyerbu bersama, namun nafsu juang Koan San Gwat sudah menghayati sanubarinya yang nekad sedemikian kencang pedang diputar seumpama hujan lebatpun tidak akan tertembuskan.

Dimana sinar pedangnya berkelebar menyambar badan kelabang kena ditebas kutung berterbangan kemana mana, namun potongan potongan badan kelabang itu dalam sekejap tumbuh dan hidup berkembang biak semakin banyak jumlahnya tidak berkurang kurang malah semakin banyak dan sesak berjubel.

Puluhan langkah kemudian, sekilas Koan San Gwat berkesempatan melirik kedepan, di lihatnya gerombolan kelabang yang luas puluhan tumbak sekarang semakin meluas menjadi dua puluhan tumbak.

Ki Hauw semakin bersorak kegirangan, serunya.

"Koan San Gwat! Serahkan saja jiwamu! bukankah tadi sudah kuberitahu kepada kau, semakin kau cacah semakin banyak kelabang Ibu beranak ini, kalau keadaan ini berkembang lebih lanjut, seumpama mereka tidak gigit kau, didesak dan dihimpitpun akhirnya kau bakal mampus!"

Olok olok ini menyadarkan Koan San Gwat namun juga membuatnya semakin dongkol, kini setiap ia menggerakkan pedang dan memang harus dimainkan terus untuk membendung gelombang serbuan kelabang kelabang itu, hanya permainannya menggunakan perhitungan yang cukup matang, setiap tebasan pedangnya cakup hanya mementalkan badan kelabang kelabang itu menjauh tanpa melukai sedikitpun juga.

Usaha ini memang cukup baik, cuma serbuan kelabang kelabang itu semakin gencar dan buas, malah ada diantaranya melesat terbang menyerang dari sebelah atas.

Apa boleh buat terpaksa Koan San Gwat memapak kedatangan serbuan kelabang kelabang itu.

Kali ini dia gunakan pedang sebagai golok membacok lurus dan lempang dari atas kebwah, cara inipun merupakan penemuan baru saja untuk menghadapi musuh musuhnya yang semakin banyak ini, kalau toh main babat dan potong tidak berhasil, apa pula akibatnya dengan cara bacokan lurus ini.

Kelabang pertama kena terbacok terbelah dua dari atas kepala sampai keekornya, akibatnya ternyata benar tidak menjadi tumbuh dan hidup kembali, cuma dua belah badan kelabang itu menjadikan bahan makanan buat pesta pora oleh kawan kawan sejenisnya.

Kelabang kelabang yang gegares badan kawannya tubuhnya berkembang besar dan kasar, tujuan Koan San Gwat hanyalah hendak mengurangi jumlah mereka, maka tidak bisa berbuat terlalu banyak, sambil berjalan pedang bekerja terus membacok kekanan kiri.

Kira kira dua puluh langkah kemudian separoh dari jumlah sekian banyakanya kena terbunuh oleh pedangnya namun luas gelanggang kepungan nya tidak menjadikan lebih sempit karenanya, karena ada beberapa ekor diantaranya sudah tumbuh melar sampai segede gantang besarnya, panjangnya kira kira ada lima enam kaki.

Sebun Bu yam dan Ki Houw sekarang sudah tidak kuasa tertawa lagi, karena kelabang yang badannya tumbuh semakin besar itu lama kelamaan sudah tidak mau mendengar aba abanya lagi ada sebagian diantaranya malah menyerbu mereka.

Suitan Sebun Bu yam diperggencar dan melengking tajam, kawanan kelabang itu rada jeri dan tidak berani menyerbu kearahnya, sebalikanya Ki Houw sudah dikepung oleh puluhan kelabang yang cukup besar besar, saking gugup dan takut ia berteriak.

"Sebun Huhoat lekas kau suruh meraka mundur...."

Sebun Bu yam membelalakan mata, sahutnya menggeleng.

"Tidak mungkin, mereka tidak mendengar perintah lagi, kecuali kita gunakan cara terakhir, namun kita tidak akan mampu merintangi Koan San Gwat lagi..."

Mendengar percakapan mereka semakin girang Koan San Gwat, sinar pedang ditangan nya memancar semakin terang, kini ia mengincar kelabang kelabang yang rada gede karena mayat kelabang besar, yang kecil tidak mampu menelannya, kecuali kelabang yang amat besarnya baru bisa sekali telan setengah badan, selanjutnya badan sendiripun melar sekali lipat.

Apalagi semakin besar mereka, tidak mau lagi mendengar aba aba, sampai akhir nya ada beberapa ekor diantaranya sudah tumbuh setumbak lebih, Sebun Bu yam sendiri sudah tidak kuasa mengendalikan mereka, kini dia sendiri pun kena terkurung tak bisa berkutik lagi.

Setelah badan menjadi besar selera makan kelabang kelabang itupun semakin besar tidak menemukan yang mati, yang hiduppun bolelah, kelabang kelabang satu dua kaki panjang nya sama menjadi sasaran mereka, satu kali telan tiga empat ekor dapat digaresnya bersama.

Yang besar mencaplok yang sedang, yang sedang untuk menghindarkan diri dan menyelamatkan jiwanya terpaksa mengalihkan sasarannya kepada yang kecil kecil, supaya badan sendiri tumbuh besar pula.

Dengan adanya saling rebut dan bunuh membunuh sendiri diantara kawanan kelabang itu, tekanan terhadap Koan San Gwat mejadi ringan, namun keadaannya tidak bagitu mendingan, karena setelah kelabang kelabang itu menjadi raksasa kulit dagingnya pun menjadi keras, kalau tenaga kurang kuat bahwasanya pedang tidak kuasa melukai mereka, kalau sekuat tenaga ia berhasil membunuh dua tiga ekor pula, namun kelabang yang lain tumbuh semakin besar dan banyak.

Pacul di tangan Ki Houw hanya berguna untuk menghalangi serbuan kelabang kelabang itu, sementara Sebun Bu yam tidak membekal gaman apa apa, hanya bumbung bambu yang dibawanya tadi dibuatnya alat untuk berusaha mempertahankan diri.

Dalam gelanggang kini tinggal ada empat belas ekor kelabang yang besar besar, tiga diantaranya mengepung Koan San gwat, masing masing panjang dua tumbak, tajam pedang ditangn Koan San Gwat sudah tidak kuasa melukai mereka lagi.

Sementara Ki Houw dan Sebun Bu yam masing masing dikepung empat lima ekor kelabang cuma rada kecil kira kira setumbak lebih panjang, dan yang paling besar kira kira tiga tumbak panjangnya, begitu besar sampai badannya sebesar gentong air.

Dia menyendiri berhadapan dengan Kang Pan dibela oleh Giok tai yang siap siaga, kedua pihak bertengger saling pandang dengan tajam, masing masing siap menyergap ketempat lemah bagi musuhnya.

Melihat keadaan ini, tak tertahan bergelak tawalah Koan San Gwat, serunya.

"Ki Houw, Sebun Bu yam, kalian tidak menduga bukan, semula kalian hendak mencelakai aku, kini jiwa kalian sendiripun terancam bahaya...."

Ki Hou mengertak gigi, serunya sengit.

"Ya, meski harus ajal bersama kau pun akan kulakoni!"

Habis berkata, tiba tiba ia membalikan pacul terus membacok putus lengannya sendiri, sungguh hebat dia, sedikitpun tidak mengeluh kesakitan, dengan sebelah tangannya yang lain ia jemput potongan tangannya terus d lempar kearah Koan San Gwat.

Sigap sekali Koan San gwat bolang baling kan pedang nya, tangan potongan itu kontan hancur lebur berserakan kemana mana.

Karena bau anyir darah yang merangsang kelabang kelabang raksasa itu menjadi buas dan liar, serempak mereka menyerbu dengan lebih ganas, memang sudah kelaparan mereka menyerang dengan membabi buta.

Sementara Ki Houw sendiri seketika juga menjerit ngeri, entah bagaimana tahu tahu badaanya sudah tergigit seekor kelabang dan terangkat tinggi di tengah udara.

Dengan sekuat tenaga Koan San Gwat dorongkan pedangnya menyampok mundur kelabang pertama yang menerjang datang, sementara dua ekor yang lain menyerbu dari kiri kanan, kedua sungutnya yang besar laksana dua bilah golok baja berkilauan.

Dengan setaker kekuatannya, Koan San gwat ayunkan pedangnya memapas kutung gigi kelabang besar yang menyerbu dekat, sekonyong konyong ia rasakan pinggangnya mengencang, tahu ia bahwa seekor kelabang yang lain sudah menyerang datang dari jurusan lain.

Di kejap lain ia pun merasakan badannya seperti keadaan Ki Houw terangkat naik kontal kantil ditengah udara, ia tahu bahwa pinggangnya sudah tergigit masuk ke mulut kelabang raksasa itu, karuan takut dan tersiap darahnya.

Tapi itu hanya perasaan gugup semetara saja kejap lain terasa olehnya meski gigitan mulut kelabang raksasa itu amat kencang dan kuat namun belum sampai bisa melukai dirinya.

Semula ia sendiri tidak paham akan kejadian ini, cuma di saat ia sedikit berontak dan menggerakkan badan, pelan pelan terasa sakit, apalagi bila dia menggunakan tenaga, jepitan atau tekanan pada pinggangnya semakin berlipat kuatnya.

Gigi runcing kelabang itu teraba seperti tangan besi yang kuat menjepit pinggang, sehingga terasa sakitnya itu pun segera lenyap.

Hal itu bukan terjadi karena ia tidak bergerak lantas kelabang raksasa itu mengendorkan gigitannya.

Demikian pula keadaan Ki Houw di sebelah sana, cuma keadaannya jauh lebih runyam dan menyedihkan.

Karena hendak memancing kemarahan dan kebuasan kelabang kelabang itu, Ki Houw mengorbankan sebuah lengannya, menggunakan bau anyirnya darah untuk merangsang kemarahannya sehingga mereka menyerbu lebih gencar dan ganas, namun dia sendiri justru menjadi korban pertama dari sergapan kelabang raksasa itu, begitulah dia terangkat kontal kantil ditengah udara tanpa mampu berbuat apa apa.

Untunglah sebelumnya Ki Houw sudah punya persiapan, setelah lengannya buntung lekas di bubuhi obat ditempat potongan lengan nya sehingga darah tidak mengalir keluar lebih lanjut, lalu ia mengerahkan hawa murni untuk bertahan, sehingga gigitan keras dari gigi kelabang tidak sampai mengutuskan seluruh pinggangnya.

Dengan menghisap darah segarnya, tenaga kelabang raksasa itu agaknya bertambah kuat, terasa oleh Ki Houw tenaganya semakin terkuras keluar, dan pertahanan dirinya sudah semakin lemah, keringat sudah membanjiri diseluruh badannya.

Melihat keadaan Ki Houw yang berontak mati matian, lama lama Koan San gwat menjadi paham, kelabang kelabang raksasa itu karena pertumbuhan badan mereka yang membesar secara serempak memerlukan bahan makanan yang cukup banyak pula, maka perut terasa amat lapar sehingga jadi liar dan ganas, ingin rasanya seketika ia telan mangsa manusia diujung mulutnya ini kedalam perut.

Tapi adalah kebalikan dari keadaan Ki Houw, karena secara reflek dari dalam badannya timbul tenaga perlawanan yang maha hebat, itulah karena dia pernah menelan empedu ular wulang bertanduk ribuan tahun, kasiat dari empedu ular itu bisa menjadikan kulit dagingnya kebal dan kuat, senjata tajam biasa tidak akan kuasa melukai seujung rambutnya, sudah tentu betapapun tajam gigit kelabang raksasa ini tidak berguna pula atas dirinya dan lagi empedu ular wulung bertanduk usia ribuan tahun juga menambah lwekangnya berlipat ganda.

-oo0dw0oo-

Jilid 26 BUKAN SAJA JALAN DARAH MATI HIDUP DALAM BADANNYA SUDAH terjebol, malah pada tubuhnya timbul suatu keajaiban yang tidak bisa diterima akal sehat, semakin besar dan kuat, tekanan luar bertambah besar pula tenaga pertahanan dari dalam tubuhnya.

Tenaga perlawanan ini timbul wajar dan tidak perlu dipaksakan, soalnya latihan belum matang sehingga ia tidak mampu menggunakan tenaga perlawanan wajar dalam tubuhnya ini, jika ditempat lain ia menggunakan tenaga, tenaga pertahanan dalam badannya menjadi kendor dan lemah, itulah sebabnya kenapa sektiap kali ia menggunakan tenaga untuk berontak, terasa pinggangnya kesakitan malah.

Jikalau dia lepas dan diam saja pasrah nasib, sedikitpun tidak menggunakan tenaga, tenaga pertahanan itu bisa berkembang mencapai puncakanya yang tertinggi, sehingga segala tenaga luar apapun tidak akan mampu meluakai dirinya.

Jelas bahwa hidangan lezat sudah berada didalam mulut, namun tidak mampu mengegaresnya, sementara Koan San Gwat yang telah menyadari keadaan diri tinggal diam saja sehingga kelabang raksasa itu mencak mencak sendiri, makin kelaparan dengan marah ia merambat kian kemari seperti gila, sampai akhirnya sambil merambat dan mencak mencak mulutnyapun mengeluarkan suara aneh, Koan San Gwat berpeluk tangan dan enak enakan menonton kemarahan sang kelabang yang menjadi jadi, dilihatnya sorot matanya sudah berapi api, seolah olah hampir membawa, tak tertahan ia bergelak tertawa.

Keadaannya memang cukup longgar, adalah lain pula keadaan Kang Pan begitu melihat Koan San Gwat kena dicaplok diujung mulut kelabang raksasa itu kaget dan gugup Kang Pan luar busa, meski tahu dihadapannya sedang berjaga seekor kelabang raksasa yang terbesar, ia tidak hiraukan keselamatan diri sendiri.

Sembari menghardik, sebat sekali badannya melebat terbang kearah sana.

Kelabang raksasa itu sudah sekain lama mengincar mangsanya, selama ini selalu dirintangi oleh Giok tai, sehingga sia sia segala usahanya.

Maka begitu Kang Pan bergerak, inilah kesempatan yang ditunggunya sejak tadi cepat ia pentang mulut menyemburkan segulung asap tebal, sementara Giok taipun tidak tingggal diam, dimana ekornya menyeendal dadanya lantas menegak tinggi sekaligus ia sedot masuk kedalam mulutnya, sementara badannya mendadak melar menjadi besar beberapa lipat, semula badannya, panjang setumbak lebih, sebesar lengan tangan, setelah memanjang kini tinggal sebesar ibu jari.

Dengan kencang ia belit, seluruh badan kelabang raksasa itu, keduanya lantas bergulingan ditanah.

Begitu menerjang datang disamping Koan San gwat, King Pan berteriak.

"Koan toako... bagaimana kau....."

Sikap Koan San gwat tenang, sahutnya tersenyum lebar "Nona Kang! Aku tidak apa apa. Lebih baik kau perhatikan dirimu saja!"

Memang keadaan Koan San gwat tidak perlu dikutirkan, sebalikanya kedatangan Kang Pan membuat ia terjeblos ketempat bahaya, seperti diketahui ada tiga ekor kelabang raksasa yang mengepung Koan San Gwat.

Seekor kena tertabas kutung seluruh giginya, kecuali menyemburkan asap berbisa, tidak mampu berbuat apa lagi.

Seekor lagi berhasil menggigit Koan San Gwat, sementara seekor yang lain jadi kehilangan sasaran.

Kedatangan Kang Pan justru menjadi sasarannya yang utama, maka sambil menggerakkan kedua sungutnya yang tajam seperti pisau itu, dengan buas ia menerjang tiba tiba.

Meski Kang Pan tidak membekal senjata, namun kepandaian ilmu silatnya mempunyai dasar yang cukup kuat, boleh dikata sudah mendapat taraf dimana setiap benda bisa dia gunakan sebagai alat senjata, lekas ia kebaskan lengannya, lengan baju sutranya segera menggulung kedepan membelit gigi runcing kelabang raksasa itu, dimana ia kerahkan tenaga, seketika kelabang raksasa itu kena diseretnya kesamping.

Kelabang raksasa itu tidak putus asa, putar badan ia menyerbu balik lagi.

Lekas Koan San Gwat berseru kepadanya.

"Nona Kang! Sambutlah!"

Lalu Ui tiap kiam ditangannya ia lontarkan kesana.

Lengan baju Kang Pan meski dapat membendung serbuan kelabang raksasa itu, namun lengan baju sutranya itu pun sobek karena tajamnya gigi seperti ujung pisau itu.

Kalau pertempuran dilanjutkan Kang Pan tentu terdesak dan menghadapi bahaya.

Maka begitu memegang senjata pusaka ditangan Kang Pan tidak perlu takut lagi menghadapi kelabang raksasa yang sedang menubruk maju pula.

Otakanya memang cukup cerdik, ia tahu bahwa kelabang raksasa ini tidak gampang dibunuh, kalau ditebas kutung sebatas pinggang nya, kedua potongan tubuhnya bisa tumbuh pula menjadi dua kelabang yang lain yang sama besarnya pula, kalau dibacok terbelah menjadi dua dari atas kepala sampai keekornya.

meski kena terbunuh namun mayatnya bakal menjadi hidangan kelabang lainnya, akibatnya bakal tumbuh seekor kelabang yang lain yang lebih besar lagi, untuk menghadapinya tentu teramat susah dan makan tenaga.

Maka dia mencontoh tindakan Koan San gwat tadi, maka pedangnya hanya memapas kutung gigi kelabang itu, begitu pedang dan gigi saling sentuh, terdengarlah suara benturan yang cakup keras ternyata gigi kelabang raksasa itu sedikitpuu tidak kurang satu apa!

Bukan karena Ui tiap kiam sudah kehilangan kesaktiannya, juga bukan karena kelabang raksasa itu bertambah lihay, adalah tenaga tebasan Kang Pan sendiri yang kurang kuat dan keras.

Bicara mengenai lwekang, sebetulnya kekuatannya tidak lebih lemah dari Koan San Gwat, soalnya dasar ajaran mereka berlainan, demikian kondisi merekapun berbeda.

Koan San gwat termasuk positip sedang Kang Pan termasuk negatip, Ui tiap kiam termasuk positip, maka berada ditangannya, sudah tentu tidak bisa menunjukan perbawanya yang tulen, akan tetapi benturan itu mengakibatkan sesuatu yang menguntugkan juga.

Karena benturan keras itu, hampir saja pedang ditangan Kang Pan tergetar lepas, tak kuasa ia tergentak dan mencelat beberapa langkah.

Sementara kelabang raksasa itu karena giginya terpapas rompal sebagian, sakitnya bukan main sampai kepala terasa pusing, hingga sesaat ia tidak bisa mendesak kepada Kang Pan, malah menentang mulut menggigit kearah Koan San Gwat yang berada didekatnya.

Koan San Gwat terangkat ditengah sementara pinggang tergigit dimulut kelabang, meski tidak luka, namun gerak gerikanya terganggu juga, sasaran mulut kelabang adalah sebelah atas badannya.

Meski ia tahu jika kelabang raksasa itu menggigit dirinya tidak akan kurang suatu apa, namun ia tidak berani menyerempet bahaya, lekas ia membentang kedua tangan, gesit sekali ia berhasil menangkap kedua gigi taringnya, sehingga kelabang itu tidak bisa mendesak lebih dekat.

Begitu merasa mulutnya mengulum benda, peduli apapun lekas lekas kelabang itu mematupkan mulutnya.

Terasa oleh Koan San Gwat tenaganya besar sekali, maka ia tidak berusaha mengadu tenaga dengan lawannya.

Begitu gigi runcing itu hampir katup lekas Koan San gwat lepaskan sebuah tangannya, sementara tangannya yang lain kebetulan memegang ditempat peluang dimana pipinya terkurung oleh tebasan pedang Kang Pan tadi.

Maka meski gigi runcing kelabang terkatup rapat, namun tidak membawa akibat apa apa bagi tangan Koan San Gwat.

Begitu ia menunduk kepala hendak menyerang lebih lanjut, kepala susah di gerakan lagi karena Koan San gwat menyekal kencang gigi taringnya dan tidak dilepas lagi.

Karena dia harus memecah perhatian untuk menghadapi kelabang lain ini tenaga pertahanan dalam tubuh menjadi lemah, tekanan pada pinggangpun terasa bertambah besar, namun Koan San Gwat tidak bisa hiraukan keadaan diri sendiri.

Karena kalau kelabang lain yang menyerbu lagi dan berhasil menggigit anggota badan lainnya, tentu dirinya bakal jadi umpan yang dibuat bulan bulanan.

Kedua kelabang raksasa ini ditengah udara, betapa rasanya sungguh ia tidak berani membayangkan.

Kelabang yang gigi taringnya digenggam kencang koan San gwat meronta mengeleper geleper, kepalanya digoyang goyangkan, namun Koan San Gwat tidak mau melepaskannya, setelah bertahan dan main berontak, mendadak terasa olehnya jepitan pinggangnya menjadi kendor dan badanpun terjatuh ketanah.

Itulah karena kelabang yang mengigit pinggangnya melepaskan gigitaanya, maklum karena perut amat kelaparan, namun tidak kuasa menelan Koan San gwat, di saat ia kebingungan dan marah marah, kelabang yang lain menyerbu datang pula, meski giginya kena dipegang Koan San Gwat dan tidak dilepaskan, namun kelabang raksasa itu tidak tahu disangkanya kawannya datang hendak merebut mangsanya.

Langsung gusar seluruh rasa penasaran dan kemaranan dia tumplekan kepada kawan sejeninya ini lebib baik ia lepaskan Koan San gwat dia terus menggigit kebadan kelabang yang lain.

Melihat kesempatan yang amat baik dan mengantungkan ini lekas Koan San Gwat lepaskan pegangannya dan mundur ketempat jauh.

Kedua kelabang raksasa itu jadi tergumul dan berkelahi mati matian.

Melihat Koan San Gwat terhindar dari marabahaya, sungguh girang Kang Pan bukan main, serunya "Koan toaku!

Marilah kita tinggal pergi saja!"

Koan San Gwat menjelajah keempat penjuru, di lihatnya Ki Houww masih tergigit pinggangnya dan terangkat kontal kantil di udara agaknya tenaga sudah terkuras habis sehingga gerak berontakanya sudah jauh amat lemah, sementara tiga ekor kelabang lainnya masih menunggu disamping.

Cuma badan mereka rada kecil maka tidak berani mengeroyok mangsa dengan kelabang raksasa yang menggigit Ki Houww ini, namun demikian mereka toh telah siap gegares sisa sisa dari badan Ki Houw yang ketinggalan.

Sementara dengan bumbung bambunya Sebun Bu yam masih berusaha menghalau dan menundukan kelabang kelabang itu supaya tidak menyer ng dirinya, namun kini ia sudah tidak kuasa memberi aba aba dan main perintah lagi supaya mereka menyerbu kepada musuh.

Dalam pada itu, kelabang raksasa paling besar yang dibelit Giok tai masih bergumpul dan bertempur amat sengitnya badan Giok tai sudah mengecil semakin panjang dan kencang sebesar jari kelingking, begitu kencang ia belit seluruh kelabang besar itu.

Koan San Gwat jadi berpikir, katanya.

"Kalau kita tinggal pergi, bagaimana dengan Siau giok?"

Kata katanya ini didengar oleh Giok tai, kelas ia mengeluarkan suara mendesis yang keras, mendengar itu Kang Pan lantas berkata.

"Dia suruh kita jalan lebih dulu, dia akan bisa berusaha meloloskan diri, kelabang itu tidak akan mampu melukai dia, setelah dia mengatasi habis tenaga lawannya Siau giok akan dapat menundukannya, selanjutnya dia akan menyusul dan menemukan kita pula. Koan toako! Kalau sekarang tidak segera pergi, nanti mungkin tidak bisa...."

"Takut apa?"

Ujar Koan San Gwat menggeleng.

"Beberapa kelabang itu kini tidak akan sempat menghadapi kita, biar kira tonton dulu kedua keparat durjana ini mati dengan konyol dimulut mereka...."

Kang Pan menjadi gugup, katanya.

"Bila kelabang kelabang itu makan daging manusia, menghisap kemudian darah yang bakal menambah besar tenaganya, selera makannyapun bertambah besar, kecuali daging manusia, bahan makanan apapun dia tidak akan mau makan lagi, saat mana bisakah kita melawannya?"

Koan San Gwat tertegun, tanyanya "Masakah benar seperti apa yang kau katakan?"

"Memangnya aku menipu kau!"

Seru Kang Pan gugup.

"waktu di jian coa kok kulihat Coa sin menggunakan cara ini untuk memelihara ular ularnya beracun, setelah mereka mendapat daging berdarah watakanya menjadi liar dan ganas, tidak mau makan makanan lain."

Berubah air muka Koan San Gwat mendadak ia merebut Ui tiap kiam ditangan Kang Pan terus memburu kearah Ki Houw, beberapa kelabang yang lain serempak putar badan menghadapi dirinya.

Karena kelabang kelabang itu jauh lebih kecil cukup Koai San Gwat mainkan pedang nya, tanpa menggunakan banyak tenaga ia berhasil mengutungi seluruh gigi gigi mereka.

Kejap lain pedangnya sudah menyambar ke arah Ki Houw.

Ki Houw sudah kehabisan tenaga dan tongol tongol, begitu melihat sinar menyambar datang kontan mulutnya menjerit.

"Koan San Gwat, sungguh kejam kau!"

Belum lenyap suaranya tiba tiba badannya sudah terbanting diatas tanah.

Ternyata kilat pedang Koan San Gwat menyambar kemulut kelabang dan mengutungi giginya.

Sungguh mimpi pun Ki Houw tidak menyangka bahwa Koan San gwat bakal menolong jiwanya.

Disaat ia menjublek, sementara Koan San Gwat sudah memburu kearah Sebun Bu yam.

Pengalamannya kali ini cukup luas, beruntun pedangnya terayun pulang pergi, satu persatu ia kutungi seluruh gigi kelabang kelabang itu.

Serelah kehilangan gigi kelabang itu tidak bisa mengganas lagi terpaksa hanya menyemburkan kabut berbisa.

Begitu tekanan menjadi ringan Sebun Bu yam menjawab.

"Bisa! Kami sudah menelan obat pemunahnya, tidak sampai terkena bisanya, kalian...."

Kang Pan mendengus. jengeknya.

"Sejak kecil aku dibesarkan makan ular, Koan toako pernah menelan empedu ular kami justru tidak perlu takut lagi. Kalian hanya meninggalkan bibit bencana bagi manusia lain saja...."

Koan San Gwat menjadi gugup, tanyanya.

"Adakah cara untuk melenyapkan kabut berbisa ini?"

"Tiada cara apa apa, terpaksa dibiarkan saja dihembus angin keperkampungan manusia bagaimana kalau sampai tersedot oleh orang?"

Sebun Bu yam tergagap, sahutnya.

"Orang yang menyedot hawa beracun ini seluruh badannya bakal melepuh bernanah dan mati membusuk menjadi genangan air darah. Malah mungkin bisa menjadikan penyakit menular yang jahat..."

Dengan bengis Koan San gwat menyercah "Kalian hanya hendak menghadapi ku namun berani melakukan perbuatan durjana yang pasti akan dihukum oleh Thian, bagaimana kalian hendak menempatkan diri selanjutnya ?"

Sebun Bu yam tertunduk menyesal, sesaat baru bersuara.

"Aku sendiri tidak menduga kejadian bisa berkembang sampai sedemikian rupa, tak kuketahui pula mereka bisa tumbuh semakin besar, malah akhirnya aku sendiri tidak kuasa mengendalikan mereka!"

"Kau sendiri yang melepas binatang binatang jahat ini, cara bagaimana kau tidak tahu akan akibatnya?"

Demikian maki Koan San Gwat.

"Aku memang tidak tahu, waktu Thio Hun cu memberikan kepada aku, dia hanya mengajarkan cara untuk menundukan dan mengatasinya saja, kau sendirikan sudah lihat aku sudah tidak mampu mengendalikan lagi..."

"Thio Han cu !"

Seru Koan San gwat naik pitam.

"Akan kucari padanya dan membuat perhitungan...."

"Aku pun tidak akan mengampuninya, dia bikin aku serba celaka dan sengsara...."

Waku itu Giok tai kembali mendesis desis, mendengar itu lekas Kang Pan berkata "Koan toako!

Siau giok bilang dia bisa melenyapkan kabut beracun ini, tapi kau harus bantu dia membunuh kelabang kelabang raksasa itu, baru dia bisa bebas bekerja...."

"Oh ya,"

Teriak Koan San gwat kegirangan.

"Aku menjadi pikun malah, kabut beracun semburan kelabang raksasa tadi bukankah tersedot hilang oleh Siau giok, memang aku harus segera bantu dia membebaskannya,..."

Lekas ia memburu maju dimana pedangnya berkelebat ia memapas kegigi kelabang raksasa itu.

"Trang!"

Batang pedangnya tergentak balik, sedikitpun gigi kelabang itu tidak cidera keruan Koan San gwat melengak katanya.

"Binatang ini teramat besar, aku sendiri sudah tidak mampu menundukannya lagi...."

Siau giok mendesis panjang pendek Kang Pan lekas memberi tahu.

"Tusuk kedua matanya ...."

Lekas Koan San Gwat angkat pedang dan menusuk, kedua biji mata kelabang itu ternyata amat lemah, cukup pedangnya menyambar kontan biji matanya pecah dan darah muncrat, karena kesakitan kelabang raksasa itu menggeleper dan berguling ditanah.

Menggunakan kesempatan ini lekas Siau giok mengkeretkan badan terus menerobos masuk kedalam perutnya, gerak gerikanya amat gesit dan cekatan, sekejap saja seluruh badannya sudah tertelan masuk kedalam mulutnya dan tahu tahu kepalanya sudah menongol keluar pula diujung buntut kelabang raksasa itu.

Setelah kelejetan sebentar, kelabang raksasa itu akhirnya berhenti bergerak jiwanya melayang.

Namun Siau giok tidak lantas berhenti, cepat sekali ia sudah menerobos masuk pula kemulut kelabang raksasa yang lain.

Koan San Gwat keheranan, serunya "Mereka sudah tidak akan mampu menggigit orang, kenapa harus mengeluarkan banyak tenaga..."

Kata Kang Pan tertawa.

"Meski mereka tidak bisa menggigit orang, namun masih bisa menyemburkan kabut beracun, kalau tidak dilenyapkan keakar akarnya, malah merupakan bencana juga, hanya cara Siau giok ini yang dapat melenyapkan mereka sebersih bersihnya,"

"Memang benar,"

Ujar Koan San Gwat mengerti.

"Agakanya ularmu itu amat cerdik dan lebih tahu urusan dari manusia...."

Setelah kabut hilang seluruhnya, baru Koan San Gwat berkata dengan tertawa riang.

"Siau giok! Terima kasih padamu, untunglah ada kau dan berkat bantuanmu pula...."

Siau giok menegakan kepala dan mendesis desis, kepala diangguk anggukan kepada Koan San Gwat. Kang Pan segera memberi penjelasan.

"Siau giok juga mengucapkan terima kasih kepadamu, kabut berbisa dan empedu meski berbahaya bagi manusia, namun teramat berguna bagi dia, hari ini hasil pendapatannya berlimpah ruah...."

Koan San Gwat tertawa dan manggut manggut, lalu ia berpaling kepada Sebun Bu yam dan Ki Houw katanya.

"Sekarang apa pula yang perlu kalian katakan?"

Terdiam sebentar akhirnya Sebun Bu yam menjawab "Adu pedang kita bukan lawanmu, Cu bo hwi siong juga kau lenyapkan, apa pula yang harus kami katakan, terserah pada mu saja apa yang hendak kau lakukan kepada kami..."

Koan San Gwat berpikir sebentar lalu berkata dengan sikap sungguh.

"Menurut perbuatan kalian hari ini serta selalu bersikap bermusuhan terhadap aku. sebetulnya tidak patut aku mengampuni jiwa kalian, tapi selama nya aku tidak pernah membunuh musuh yang sudah tidak mampu melawan lagi...."

"Bila kau hendak bunuh aku, akan kuberi kesemparan kepada kau,"

Demikian Sebun Bu yam segera menukas berkata.

"Harap pinjam pedang mu, mari kita bertempur sekali lagi, supaya kau punya alasan terang dan jujur..."

Koan San Gwat jadi tertegun, serunya.

"Kau tidak ingin hidup?"

"Hiduppun tiada artinya lagi bagiku, Cia Ling im sudah tidak lagi menarah perhatian lagi terhadap aku. Apa lagi kau menolong aku dari mulut Cu bo hwi siong, aku berhutang jiwa kepada kau...."

"Sudahlah, bukan maksudku menolong kau, kalau toh aku sudah menolong jiwamu tiada alasan untuk menghabisi jiwamu pula. Silahkan kau pergi, lebih baik kalau kau tidak bantu Cia Ling im melakukan kejahatan menjadi kaki tangannya kau tidak akan memperoleh akibat yang baik bagi dirimu."

"Selanjutnya aku tidak akan mengekor kepadanya lagi, sudah tiada tempatku berpihak lagi disana, namun tiada tempat lain pula aku berteduh, kecuali mengikuti dia kemana pula tempat yang haru kupilih?"

"Apa apaan ucapanmu ini, asal kau tidak mengikuti jejakanya, kami akan suka menyambut kedatanganmu."

"Tidak!"

Ujar Sebun Bu yam menggeleng.

"Suruh aku ikut kelompok kalian untuk melawan Cia Ling im sekali kali tidak boleh terjadi. Meski dia tidak mau menerima diriku, apapun yang terjadi, dia sudah terhitung suamiku..."

"Terserah kepada kau! Aku tak bisa memberi nasehat kepada kau, kau pun tidak bisa mati mendengar pesanku, cuma perlu juga ku beritahu kepada kau, kau tidak cocok menjadi jodoh Cia Ling im...."

"Sejak lama aku sudah tahu,"

Demikian ujar Sebun Bu yam manggat manggut dengan pilu.

"Maka tidak pernah aku berangan angan supaya dia mencintaiku sepenuh hati, namun sekarang cinta palsunya terhadap akupun sudah tidak berbekas lagi aku sendiri pun sudah sadar, seorang yang bermuka jelek tiada punya kuasa untuk memikmati atau mengharapkan berempuan cinta yang indah, Ibu guruku merupakan contoh yang paling gamblang, cuma boleh dikata aku jauh lebih bahagia diban ding beliau..."

"Kau lebih bahagia?"

"Ya, ilmu silatku jauh bukan tandingan Cia Ling im maka ia akan memberi ijin aku hidup didalam dunia fana ini, supaya aku bisa memberikan sekedar sumbangan tenaga dan bakti, sebaliknya ilmu silat ibu garuku jauh lebih ungggul dari guruku akhirnya betapa suci dan besar rasa cintanya terhadap guruku, sebaliknya guru selalu berdaya upaya hendak membunuhnya..."

Koan San Gwat menjublek, katanya kemudian.

"Lubuk hatimu jauh lebih elok dari bentuk luarmu, kau bisa membekal lubuk hati yang begitu bajik dan bijaksana, asal kau tidak punya angan angan kosong, kelak pasi bisa mencari seorang kekasih..."

"Terlambat! Sudah terlambat...."

Demikian ujar Sebun Bu yam menggeleng.

"Dulu aku terima diperalat oleh Cia Ling im karena atas perintah guru dan demi keperluan latihan silat, sejak mana sudah menjadikan ketentuan bagi nasib hidupku ini."

"Jalan pikiranmu ini tidak dibenarkan,"

Lekas Koan San Gwat menyanggah.

"Li Sek hong sama seperti keadaanmu, kenapa dia bisa...."

"Li Sek hong berwajah cantik, dia bisa memisahkan perasaan dan kenyataan, aku sebalikanya tidak bisa, perempuan jelek tiada hak untuk memilih laki laki tampan, tidak peduli siapapun yang ditemui, kalau sudah salah ya biar salah lebih lanjut. Jangan kata usiamu jauh lebih cukup lanjut, meski aku masih muda belia, akupun tidak akan mencari laki laki lagi. Memang begitulah pasangan hidup dan nasib seorang bermuka jelek seperti aku, terpaksa aku mudah menerima permainan nasib ini..."

"Jadi kau masih ingin kembali pada Cia Ling im?"

"Ya, terpaksa aku menjadi seekor anjing nya yang paling setia, selamanya mengekor padanya, sampai dia sendiri tidak sudi lagi memberi sedekah makan kepadaku, baru akan ku cari sebuah tempat untuk menyembunyikan diri, selama hidup tidak akan bertemu lagi dengan manusia lagi..."

Koan San Gwat mendelong, akhirnya ia berpaling menghadapi Ki Houw.

Sementara itu semangat Ki Houw sudah rada pulih, katanya sambil mengerahkan lengan tunggalnya "Koan San gwat, aku tidak perlu banyak cerewet lagi, kami sudah berkeputusan meski kau sudah menolong jiwku, aku tidak akan berterima kasih kepada kau selanjutnya aku tetap akan menjadi musuhmu!"

"Memangnya aku sudi terimakasih, soalnya aku kuatir bila kelabang kelabang itu menelan badanmu, hanya menambah keliaran dan kebuasannya saja untuk mencelakakan orang lain!"

"Begitu lebih baik, sekarang aku tidak usah menaruh dalam hati akan kejadian ini, bila aku harus hidup dengan menanggung belas kasihan dan pertolongan musuh aku lebih baik bunuh diri saja!"

Koan San Gwat menyeringai dingin. Kang Pan tidak tahan, jengekanya.

"Dalam hal ini aku punya keyakinan yang cukup besar dalam hati Koan San Gwat berharap membunuh aku, tetapi bukan pada saat sebelah tanganku sudah buntung begini...."

Habis berkata ia putar tubuh tinggal pergi tanpa berpaling lagi.

Mengawasi panggung orang, hampir saja Koan San Gwat tidak kuasa menahan gejolak hatinya, ingin rasanya mengajar orang serta menggenjotnya sampai mampus.

Tapi setelah Ki Houw bejalan cukup jauh, dia masih tidak bergerak dari tempatnya.

Sebun Bu yam menonton diam dari samping, sesaat kemudian baru ia bersuara lirih.

"Sebetulnya tidak patut kau melepaskan dia orang macam itu mungkin adalah musuh besar yang paling menakutkan, rasa bencinya jauh lebih besar dari Cia Ling im,...."

Koan San Gwat medengus ujarnya.

"Kalau tadi dia bicara menghadap kepadaku, tentu dia tahu bahwa aku tidak akan turun tangan membunuh orang dari belakang."

"Memang, Ki Houw adalah orang yang menyelami pribadimu paling mendalam, sampai ilmu silat, watak dan hobby serta lain lain dia pernah menyelidikinya secara cermat."

"Dia menyelidiki aku? Apa tujuannya?"

"Semula dia hendak kebaikanmu dan menadingimu, akhirnya mengorek ngorek cacad atau kelemahanmu untuk melenyapkan jiwa mu, alhasil kedua tujuannya itu sama sama gagal total...."

Koan San Gwat heran katanya.

"Untuk melenyapkan aku sih masih logis, bahwa dia hendak menandingi dan menjiplak diriku, hal itu aku jadi kurang paham!"

"Bila kau paham tujuannya tentu tidak akan hendak lagi. Dia mempelajari kau atau membunuh kau, malah menjadi antek Cia Ling im yang paling setia, tujuannya hanya satu... yaitu hendak mempersunting Ih yu sumoy !"

"Jadi demi Liu Ih yu !"

Teriak Koan San Gwat.

"tidak perlu dia bertindak sedemikian jauh !"

Sebun Bu yam tertawa getir, katanya.

"Diapun sudah tahu bahwa kau tidak punya maksud apa apa terhadap Sian sumoy, kenyataan memang begitu sifat manusia, sepenuh hati dengan seluruh jiwa raganya Sian sumoy mencintai kau, sebalik nya sejak lama dia sudah terpincut, dan tergila gila kepada sian sumoy, Cia Ling im pernah memberikan janjinya untuk membantu merangkap perjodohan ini soal itu bukan mustahil namun sejak kamu maucul, posisinya menjadi terdesak, maka hilanglah harapan nya..."

Koan San Gwat melongo lagi, sunguh suatu uraian yang lucu dan mengherankan sekali, sulit ia menerima dengan nalar yang sehat akan kejadian yang sebenarnya tidak masuk di akal.

Namun diapun tahu bahwa Sebun Bu yam tidaklah bicra dengan karangan khayal belaka, apa yang dikatakan memang benar benar terjadi dan kenyataan.

Begitulah sekian saat mereka berdiri mematung tanpa bicara, sesaat kemudian baru sebun Bu yam berkata sambil menuding mayat mayat kelabang itu.

"Koan San Gwat! sekarang ada sebuah permintaanku terhadap kau kuharap kau suka bantu aku membereskan mayat kelabang kelabang ini. Tapi terserah akan kerelaanmu, tidak menjadi soal kau menolak."

Koan San Gwat berpikir sebentar lalu tanyanya.

"Kita kjra perlu berapa lama?"

"Badan mereka sudah sedemikian besar, untuk membereskannya seluruhnya sampai bersih paling cepat perlu makan waktu setengah harian, dengaa demikian kau...."

"Dengan demikian aku tidak akan bisa menyusul tiba ke Jian coa kok dalam waktu tiga hari sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan...."demikian jengek Koan San Gwat.

"Permintaanku ini bukan demi keuntungan Cia Ling im untuk mengejar waktunya, dan karena itu maka aku berani mengajukan permintaanku , kalau tidak, aku juga bisa masa perduli, biar mereka membusuk disini dan menjadi bibit bencana bagi masyarakat sekitar sini..."

Sedikit berubah air muka Koan Sai Gwat tanyanya "Bencana apa saja yang ditimbulkan oleh mayat mayat kelabang ini?"

"Kata kataku mungkin kau tidak percaya, oleh karena itu silahkan kau tanyakan kepada nona Kang Pan saja!"

Tanpa ditanya segera Kang Pan menjelas kan.

"Mayat mayat kelabang ini gampang membusuk dalam waktu singkat, dalam dua belas jam bakal menjadi air darah beracun, bila terkena sinar matahari dan menguap, hawanya yang beracun tiada bedanya dengan kabut beracun yang mereka semburkan tadi!"

SebunBu yam menambahkan tertawa dingin.

"Koan San Gwat! Kau mendengar tidak? menurut tabiatku biasa nya boleh kutinggal pergi saja habis perkata, soal bencana atau mala petaka apa yang bakal terjadi, hakikatnya bukan menjadi perhatianku. Adalah setelah melihat sepak terjang dan tindak tanduk belakangan ini, memangnya setimpal disebut sebagai Enghiong teladan, maka kuajukan permintaanku ini, kalau kau salah paham menyangka kehendakku ini demi keuntungan Cia Ling in, baiklah biar kulakukan sendiri saja!"

"Apakah orang lain bisa membantu kesulitanmu ini?"

Tanya Koan San Gwat.

"Tidak bisa! Ki Houw sudah pergi hanya kau dan nona Kang yang tidak takut kena pengaruh racun kelabang ini, orang lain jangan kata menyentuh dalam jarak yang agak dekat saja mereka bakal mampus seketika...."

Disaat Koan San Gwat sedang ragu ragu Sebun Bu yam segera menjemput pedang kutung yang terjatuh ditanah tadi terus mulai menggali lubang.

Gerak gerikanya cukup cepat dan cekatan.

Menurut pertimbangan Koan San Gwat setelah memperhitungkan besarnya mayat mayat kelabang kelabang itu, paling kecil mereka harus menggali lubang lima enam tumbak persegi, dengan empat tumbak dalamnya baru bisa memendam seluruh mayat mayat kelabang itu.

Mengandal kecepatan kerja Sebun Bu yam ini paling cepat dua hari baru selesai, malah harus terus bekerja tanpa istirahat, makan minum atau tidur.

Tatkala itu mayat mayat kelabang itupun sudah membusuk.

Naga naga permintaan orang supaya dirinya membantu memang bukan bertujuan demi keuntungan pribadi, maka setelah ragu ragu sebentar maka dengan menggairahkan semangat segera ia melolos Ui tiap kiam mulai ikut bekerja menggali tanah.

Melihat orang toh akhirnya sudi membantu, sedikitpun Sebun Bu yam tidak menam pilkan perubahan air mukanya.

Akan tetapi tiba tiba ia menghentikan kerjaannya, putar tubuh terus tinggal pergi masuk kedalam hutan dipinggir tanah.

Keruan Kang Pan menjadi naik pitam makinya.

"Kau perempuan keparat ini memang patut dibunuh, satelah kami terikat kerja disini, kau hendak tinggal pergi malah !"

Tanpa orang bicara habis Sebun Bu yam segera mendengus, ujarnya.

"Siapa mau bekerja silahkan, tidak mau silahkan pergi, tiada orang yang memaksa kau untuk mengerjakan nya!"

Karena semakin membara amarah Kang Pan, cepat ia melompat maju seraya mengayun tangan menampar pipi orang, sedemikian keras tamparan ini sampai Sebun Bu yam terpental mundur sempoyongan, ujung mulutnya melelehkan darah, pipi pun bengap, sambil mengusap darah dipinggir mulutnya tanpa bicara ia terus masuk kedalam hutan.

Saking marah Kang Pan hendak memburunya lagi, lekas Koan San Gwat mencegahnya.

"Nona Kang! Jelas kerjaan ini harus kita lakukan, marilah bekerja sekuat tenaga tidak perlu minta bantuan orang lain. Marilah kau bantu aku!"

Dengan bersungut Kang Pan kembali ke tempatnya, memungut potongan pedang yang ditinggalkan Sebun Bu yam, mulai dia bantu mengeduk ranah, namun masih penasaran ia menggerundal.

"Perempuan buruk ini memang bukan manusia, kukira memang dia sengaja hendak menahan kita disini. Kelabang kelabang kan dia yang melepas, kenapa kita mesti...."

"Nona Kang!"

Ujar Koan San Gwat menggeleng sambil menarik napas.

"Dia anggota Thian mo kau, terhadapnya jangan kita meminta sesuatu banyak, peduli kemana tujuannya, bagaimana juga kita tidak bisa berpeluk tangan apalagi jalan raya ini cukup ramai, orang berlalu lalang tidak sedikit, janganlah mereka yang tidak berdosa menjadi korban secara konyol."

"Peduli Kau pihak Thian mo kau yang memikul dosanya!"

"Ya, namun paling tidak kelabang ini dilepas gara gara kita, kau kau pula yang membunuh, kalau aku tidak tahu bencana apa yang ditimbulkan sudah tentu boleh tinggal pergi saja, habis perkara, namun persoalan sekarang jauh berbeda...."

"Apakah kau seorang bisa mengurus segala persoalan tetek bengek di seluruh jagat ini!"

Seru Kang Pan sengit dan keras.

"Segala urusan yang ganjil didunia ini meski tidak seluruhnya bisa kuselesaikan, namun setiap urusan yang kebentur ditanganku tidak bisa tidak harus kuurus. Itulah sumpah setiaku diwaktu aku menerima jabatan Bing tho ling cu nan jaya dan agung..."

Kang Pan jadi melongo sesaat berkata dengan lirih "Koan toako!

Memang kau yang benar, sungguh aku harus menyesal kenapa punya pikiran egois, agakanya untuk menjadi istri idamanmu, aku harus banyak belajar..."

Bicara sampai disini tenaga dikerahkan kedua tangan bekerja semakin cepat tanah batu seketika beterbangan dan berjatuhan, sekejap saja ia berhasil mengduk tanah beberapa banyak dan dalamnya, malah dengan kedua tangan yang halus dan putih itu ia menyerok tanah serta dihamburkan keluar lubang.

Koan San Gwat menjadi risau malah oleh beberapa patah kata katanya yang terakhir.

"Masa iya!"

Sahut Kang Pan, setelah mengendurkan tanah galiannya, Kang Pan ganti menggunakan kedua lengan baju yang di saluri tenaga dalam mengebut beberapa kali, kontan tanah tanah yang digalinya itu beterbangan ke luar lubang, kejap lain ia berhasil menggali sebuah lubang cukup besar.

Begitulah mereka bekerja sepera saling berlomba, lambat laun Kang Pan mendekati di pinggir Koan San Gwat, karena ketajaman pedang Ui tiap kiam dimana tajam pedang bekerja tanah berhamburan menjadi kendor, kontan Kang Pan membantu dengan caranya tadi, setiap padang Koan San gwat bekerja, lekas lengan bajunya dikebutkan.

Cara kerja sama ini ternyata hasilnya lebih besar dan cepat.

Kira kira setengah jam kemudian, mereka sudah mengeduk lubang lebar dua tumbak dan setumbak lebih dalamnya.

Tiba tiba diatas lubang berkelebat sesosok bayangan orang, kiranya Sebun Bu yam kembali lagi.

Sambil mendongak bertanya Kang Pan.

"Untuk apa kau kembali pula?"

Sebun Bu yam menyeringai, sahut nya.

"Jangan kau anggap setiap orang Thian mo kau orang jahat jahat, terutama aku Sebun Bu yam bukanlah seorang manusia rendah hati ini, bhwa aku kembali memangnya aku hendak membuktikan kata kataku."

"Lalu kenapa kau tadi tinggal lari?"

"Kenapa kau tidak naik kemari melihat nya?"

Kang Pan segera melompat naik, tampak dipinggir lubang sana bertumpuk setumpuk kayu kayu kering, tanyanya dengan heran. Mata Sebun Bu yam tertawa dingin.

"Bekerja harus sempurna, berapapun dalamnya kau memendam mayat mayat kelabang itu. bila menguap menjadi hawa beracun, masih ada kemungkinan bisa merembes keluar bumi, terpaksa harus dibakar dulu...."

"Menang benar!"

Kata Kang Pan sesaat kemudian setelah tertegun.

"Tadi akulah yang salah, kenapa kau tidak menyelesaikan lebih dulu? Sampai kupukul kau, maafnya!"

Sebun Bu yam tertawa dingin, ujarnya "Setiap orang boleh bekerja sekuat tenaga melakukan kerjaan apa saja yang harus dia kerjakan.

Kenapa harus menjelaskan kepada kau lebih dulu.

Sekali pukulanmu akan ku ingat dalam hati...."

Sifat Kang Pan memang polos dan jujur sungguh hatinya amat menyesal, cepat ia berkata.

"Kalau kau hendak membalas boleh sekarang juga silahkan....."

Sebun Bu yam mendengus, katanya.

"Aku tak punya waktu!"

Habis berkata ia tinggal pergi lagi kali ini rada lama baru kelihatan dia kembali, satu jam kemudian ia kembali membawa seonggok bersamaa kayu kering.

Waktu itu lubang sudah tiga tumbak.

Maklumlah waktu itu musim rontok sedang mendatang, apalagi kedua tangan Sebun Bu yam sudah cacad, gerak geriknya tidak begitu leluasa, tanpa menggunakan alat senjata dan tidak bisa menggerakkan tenaga lagi, sedang dahan dahan kayu itu harus dipanjat diatas pohon untuk mendapatkasnnya, meski hasilnya kira kira sudah dua ratusan kati, dilihatnya keadaannya kelihatan sudah amat payah.

Kang Pan jadi tidak tega, setelah berpikir ia berkata "Kau istirahatlah, biar aku yang cari kayu bakar..."

"Tidak usahlah!"

Sahut Sebun Bu yam menggeleng."Kerja sama kalian suami istri amat baik, kalau aku yang melakukan tentu tidak sebaik dan cepat itu, bagi seorang yang sebatang kara hanya kerjaan tunggal saja bagiannya!"

Mendengar sindiran tajam ini seketika merah jengah muka Kang Pan.

Setelah pekerjaan memakan waktu kira kira tiga jam, lubang itu sudah sedalam tiga tumbak, dan luas empat tumbak.

Koan San Gwat dan Kang Pan sudah sama keletihan, mereka berdiri dipinggir lubang, istirahat.

Dalam pada itu, cuaca sudah gelap bintang bintang kelap kelip dicakrawala dan cerah tampak Sebun Bu yam menyeret dua onggok kayu besar sedang mendatangi dengan tertatih tatih.

Setelah meletakkan kayu kayu itu, ia berkata menarik napas "Mencari kayu bakar dalam musim sekarang ini sungguh sukar sekali.

Kedua onggok ini kutemukan empat li dihutan sana."

Sikap dan pandangan Koan San Gwat terhadapnya sudah berubah sama sekali, katanya lemah lembut.

"Kau tidak usah bercapek lelah kukira sedemikian banyak sudah lebih dari cukup!"

"Masih kurang banyak lagi,"

Sahut Sebun Bu yam menggerakan kepala.

"Tapi kalian tidak perlu kuatir, biar kukerjakan sendiri mengubur dan membakar mayat mayat kelabang ini. Kalian boleh sekarang berangkat saja!"

Koan San Gwat melihat cuaca, lalu berkata.

"Sampai saat ini, cepat atau lambat kita berangkat sama saja..."

"Tidak!"

Tukas Sebun Bu yam.

"melihat tekad kerja kalian, sungguh aku tidak rela kalian kena terjebak dan menjadi korban kelicikan Cia Ling im. Boleh kau perhitungkan, sebelum terang tanah bisakah kalian tiba di Jian coa kok?"

"Sudah tentu tidak menjadi soal, tapi setelah terang tanah, berarti sudah lewat hari ketiga seperti yang dijanjikan, menyusul tiba kesana juga tidak berguna lagi, ada lebih baik..."

Sebun Bu yam menjadi gelisah, katanya.

"Asal sebelum matahari terbit kalau sudah bisa sampai disana, mungkin masih bisa mencegah tipu daya Cia Ling im, melindungi keselamatan jiwa kalian, kalau terlambat habis sudah ..."

Koan San Gwat merasa heran, tanyanya "Dengan cara apa Cia Ling im hendak menghadapi kami?"

Sebun Bu yam ragu ragu sebentar, akhirnya bicara juga.

"Dari mulut Ban li bu in Cia Ling im mengetahui segala seluk beluk mengenai Coa sin, maka dia lalu mengatur suatu tipu daya yang keji, dengan caranya ini dia dapat menundukkan Coa sin dan memperalatnya...."

Diam diam bercekat hati Koan San gwat. Justru yang dikuatirkan memang hal itu, namun lahirnya dia berlaku tetap tenang, kata nya acuh tak acuh.

"Kukira tidak mungkin! Cara bagaimana Coa sin bisa mendengar perintahnya?"

"Cia Ling im tidak akan melakukan kerjaan yang semduma, di sudah berhasil memegang dua titik kelemahan Coa sin, dengan dua alat kepercayaannya ini, Coa sin pasti terjeblos kedalam tipu dayanya "Kelemahan Coa sin yng mana dipegang Cia Ling im?"

"Seseorang pasti punya cacat karena dia tidak melakukan sesuatu keinginan yang tidak bisa dikerjakan. Coa sin kemaruk akan paras cantik, namun dia tidak mampu bersenggama dengan perempuan, ada tidak kejadian ini?"

Pucat muka Kang Pan, teriakanya.

"Benar, masakah Cia Ling im bisa membuatnya."

"Ya, kepandaian simpanan Thian mo kau yang paling diandalkan adalah Im yang sin hap perpaduan ganjil antara negatif dan positif justru Cia Ling im paling ahli dalam bidang ini, memang benar dia bisa mengajarkan sesuami kepandaian yang aneh, sehingga dia bisa mencapai kenikmatan dari hubungan antara perempuan dan laki laki. Belum cukup dibekalnya ini, Cia Ling im pun membawa serta Thio Hun cu, pasti mereka bisa mengubah bentuk Coa sin sekarang menjadi manusia yang normal."

Mencelos hari Koan San Gwat, katanya.

"Kedua hal itu memang kejadian yang paling diharapkan oleh Coa sin...."

"Maka kalian harus cepat menyusul ke sana. Ilmu perpaduan Im dan Yang itu cukup dalam tempo sehari sudah bisa diajarkan sempurna, cuma operasi untuk menormalkan anggota badan itu yang rada sulit dan makan waktu, paling cepat harus dua hari baru bisa selesai dan baru bisa digerakan dengan leluasa seperti manusia umumnya. Cia Liog im beramat dua hari lebih dulu tiba disana Coa sin sebelum matahari terbit kalian bisa tiba disana, Coa sin masih belum mumpu bergerak....."

Koan San Gwat berpikir sebentar lalu katanya.

Baca Juga: Pendekar Sadis 12

Baca Juga: Raja Pedang 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert