Eps 7 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.
"Sudah sekian lama kami ibu beranak berpisah, selama ini tidak tahu berita masing masing, baru setengah bulan yang lalu, secara kebetulan kami jumpa dan berkumpul, namun tidak lebih dua jam kami berkumpul, mendadak ia menghilang tanpa meninggalkan bekas!"
"Menghilang!"
Teriak Li Sek hong terkejut. Gwat hoa Hujin manggut manggut ujarnya "Kuharap dia menghilang, kalau tidak aku tidak akan memberi ampun kepada anak keparat itu!"
Li Sek hong amat gelisah sudah tentu ia tidak sempat hiraukan kata kata orang yang kurang dimengerti itu, katanya."
Bagaimana pun kita harus cepat cepat menemukan Koan kongcu, kekuatan Thian mo kau dibawah pimpinan Cia ling im hari kehari bertambah besar, kalau tidak lekas lekas ditumpas seluruh jagat ini bakal tergenggam di telapak tangan iblisnya.."
"Maksudmu ilmu pedang orang she Cia itu amat mirip dengan jurus pedang permainan pembantuku ini?"
Tadi tiba tiba Gwat ho Hujin menegas.
"Ya, memang ada beberapa orang yang bisa memainkan Siu lo ji sek, namun hanya Cia Ling im seorang yang paling sempurna"
Gwat hoa Hujin menggeleng dengan tidak percaya, katanya.
"Belum tentu! Dari penuturan Koan San gwat kudengar masih ada seorang perempuan lain ..."
"Tidak mungkin! Cia Ling im adalah Suhengku, diantara kami berempat bersaudara perguruan, tiada seorangpun yang lebih unggul dari dia, kalau tidak, tak perlu kami mengandal tenaga bantuan Koan kongcu."
"Aku percaya putraku tidak akan ngapusi aku, kalau begitu, biarlah aku ikut kalian mencari orang she Cia itu, mungkin dari mulutnya aku dapat menemukan jejak perempuan yang kumaksud itu..."
Li Sek hong menjadi bingung dan gopoh oleh berbagai persoalan dan urusan yang dihadapinya ini, sesaat dia menjadi kehilangan akal untuk bertindak, adalah Ling koh sinona kecil yang cerdik ini tampil bertanya .
"Untuk apa Hujin mencari perempuan itu?"
Sejenak Gwat hoa Hujin melongo dan merandek, katanya .
"Perempuan itu pernah menggunakan ilmu pedang itu membunuh suamiku, aku hendak mencarinya untuk menuntut balas kepadanya."
"Apa?"
Teriak Ling koh.
"Maksudmu perempuan itu membunuh ayah Koan San gwat?"
"Apa kau tahu dimana perempuan itu sekarang berada?"
Cepat Ling koh menggoyangkan kedua tangan, serunya "Tidak! Tidak ..."
Berubah tegang muka Gwat hoa Hujin katanya mendesak "Aku percaya, kau pasti tahu!"
Dibawah tatapan tajam sorot mata Gwat hoa Hujin, nyali Ling koh menjadi kuncup, tanpa sadar akhirnya ia berseru "Jangan kau bertanya kepadaku, Koan kongcu jauh lebih tahu dan jeli dari aku..."
Gwat hoa Hujin menggeleng, ujarnya "Dia tidak mau mengatakan!"
Ling koh mengunjuk rasa heran, tanyanya "Kenapa, masakah Koan kongcu sudi melepaakan musuh besar pembunuh ayahnya?"
"Biarlah aku bicara terang Koan San gwat memang putra kandungku, namun dia bukan anak suamiku, malah diantara mereka ada terikat permusuhan yang amat mendalam soal ini amat rumit tidak perlu kujelaskan disini, Gwat tidak mau menjelaskan karena dia punya permusuhan dengan suamiku, tidak bisa aku mendesak dan minta keterangan kepadanya untuk menuntut balas sakit hatinya sumiku ..."
Perasaan Ling koh rada longgar, ujarnya .
"Hujin, kalau begitu duduknya perkara bolehlah kubantu kau mencari orang itu, bahwasanya orang itu sedang menunggu nunggu untuk menyelesakan persoalan ini."
"Apa katamu!"
Tanya Gwat hoa Hujin tidak mengerti "Selama hidupnya Lolo hanya pernah melukai satu orang selama hidupnya ini ia amat tidak tentram dan ganjal dalam sanubarinya karena peristiwa itu.
Pernah beliau menceritakan hal ini kepada kami, minta kami supaya mencari tahu dan menemukan seseorang yang terkutung sebelah lengannya, menurut anggapannya ilmu pedang itu amat tingg, pasti tidak rela menyekam diri menyembunyikan nama ...
sungguh tidak nyana orang yang dimaksud itu ternyata adalah suami Hujin"
Li Sek hong segera menyela bertanya "Ling koh, maksudmu orang itu adalah Sunio?"
Ling koh mangut mangut sesaat ia termenung lalu katanya.
"Tempat bersemayam Lolo dalam waktu dekat tidak akan pindah cepat atau lambat kau kesana, tiada halangannya, kami harap Hujin bantu kami dulu melenyapkan persoalan kita dengan Cia Ling im bagaimana?"
Gwat hoa Hujin menyahut kurang semangat.
"Aku tidak ingin terlibat dalam pertikaian orang orang kangouw ..."
"Setiap anggota dari Thian mo kau sama mengikat permusuhan mendalam dengan Koan kongcu, musuh utama yang hendak mereka hadapi adalah Koan kongcu pula, kau adalah ibunda Koan kongcu, masakah mandah berpeluk tangan saja?"
Demikian desak Ling koh. Gwat hoa Hujin mendengus hidung, jengeknya "Jadi kau mengajarkan aku cara bagaimana harus bertindak?"
"Mana hamba berani, namun sebelum permusuhan dengan Thian mo kau dapat dibikin selesai, hamba tiada waktu meluangkan tempo mengingat Hujin mencari Lolo, apakah kau sudi menunggu beberapa waktu lagi."
Gwat hoa Hujin mengawasinya sambil tersenyum, katanya.
"Sangkamu aku harus kau tuntun untuk menemukan tempat nya itu?"
Ling koh tertawa, ujarnya "Kecuali hamba dengan Koan kongcu seluruh jagat tiada orang ketiga yang tahu tempat tinggal Lolo, kecuali kau bisa menemukan Koan kongcu dan minta padanya menemani kau, kalau tidak kau harus melulusi permintaan hamba ini."
Terpaksa Gwat hoa Hujin bepikir sejenak, akhirnya berkata tertawa "Budak kecil kau ini cukup licin, agakanya terpaksa aku harus melulusi permintaanmu, tapi coba aku pikir dulu, apakah aku mampu menghadapi manusia she Cia itu?"
"Yang diandalkan Cia Ling im tidak lebih hanyalah Sin lho jit sek nya itu, bahwa suamimu terluka dibawah ilmu pedang itu, menurut pikiran hamba, bila kau tidak punya pegangan yang cukup kuat, betapapun tidak akan keluar menuntut balas!"
Gwat hoa Hujin tidak mampu banyak mulut lagi, katanya manggut manggut.
"Baiklah setan kecil, biar aku ikut kalian meluruk ke Ngo tai san. Tay Su! Urusan sudah ketemu sumbernya, kita tidak perlu main terobosan kemana mana, lekas kau memberi kabar pada Jing Tho dan Sui Ki, suruh mereka segera menyusul kesana. Ingat bila kalian ketemu Yu hu, jangan sekali sekali kalian bentrok dengannya, suruh dia segera berangkat ke Ngo tai san pula, sakit hati ayahnya sudah sepantas nya dia yang menyelesaikan!"
Tay Su mengiakan, ia serahkan kuda Gwat hoa Hujin kepada Jip Hoat lalu membedal tunggangannya sendiri tinggal pergi.
Dalam pada itu Li Sek hong sudah pimpin rombongan maju mendekat, satu persatu Li Sek hong memperkenalkan orang orang tua bawahannya itu.
Gwat hoa Hujin hanya manggut manggut tawar, namun ia jadi ketarik dan keheranan mendengar nama It ouw, Ban li bu in dan It lun bing gwat segala.
Tanyanya mengerut alis.
"Kenapa kalian menggunakan nama nama yang begitu aneh?"
Li Sek hong menjelaskan.
"Mereka adalah tokoh tokoh dari Sian Pang, didalam Liong hwa hwe ditentukan suatu undang undang hanya memanggil julukan tanpa mengenakan nama aslinya."
Tempo hai aku sudah dengar dari penjelasaan Koan San Gwat mengenai apa itu Dewi, iblis dan setan, sebetulnya apakah yang telah terjadi?"
Tanya Gwat hoa Hujin. Li Sek hong menghela napas, ujarnya.
"Ceritanya amat panjang, silahkan Hujin naik kuda, biar kujelaskan sambil berjalan."
Begitulah semua orang sama naik keatas kuda masing masing, rombongan besar ini langsung putar balik keutara.
Disepanjang jalan ini Li Sek hong menemui Gwat hoa Hujin bicara, sementara Ling koh menemui Jip hoat, sembari berjalan mereka mengobrol panjang pendek, sudah tentu pembicaraan mereka berkisar dalan persoalan Liong hwa hwe serta Koan San gwat.
Mereka sama menguatirkan keselamatan Koan San gwat yang menghilang tanpa jejak.
Mereka melampaui Cin tiong memasuki wilayah Siam say, letak Ngo tai san berada di perbatasan antara Siam say dan Hopak, dalam perjalanan ini mereka menghabiskan waktu satu bulan, setelah diperhitungkan, kira kira satu hari lagi baru mereka bisa tiba di bawah Ngo tai san.
Kekuatan Thian mo kau sudah berkembang luas dan bercokol dimana mana, sepanjang jalan ini tidak sedikit orang orang persilatan yang mengawasi gerak gerik mereka dengan mata mencong, jelas mereka adalah mata mata Thian mo kau yang berani bertindak terang terangan secara sewenang wenang, memang rombongan besar ini terlalu menyolok mata, namun kalau mereka tidak mengenal Gwat hoa Hujin dan Jip Hoat, siapa pula ymg tidak kenal pada Li Sek hong dan tokoh tokoh besar dalam Liong hwa hwe dulu, maka sepanjang jalan ini dapatlah mereka menghindari banyak kesulitan.
Hari itu mereka tiba disebuah desa kecil yang terletak, di kaki Ki san, karena di tempat ini tidak ada hotel, mereka terpaksa minta menginap disebuah rumah gedung yang cukup besar milik hartawan setempat, namun toh hanya terdapat dua sisa kamar lain yang cukup besar untuk tidur pulahan orang, kedua kamar tidur ini terbagi untuk kaum pria dan wanita.
Setelah cuaca sudah gelap dan berlarut malam, Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin bersimpuh samadi, demikian juga Ling koh tidak ketinggalan berlatih lwekang, hanya Jip hoat seorang yang pulas dalam mimpinya.
Sekonyong konyong dari sebelah kandang kuda di luar sana terdengar sedikit keributan suara, Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin membuka mata bersama, gerak gerik Ling koh ternyata jauh lebih cepat dan lincah, sejak tadi ia sudah menerobos keluar pintu berlari kearah sana.
Disaat berdua menyusul tiba disana, tampak kejauhan melesat sebuah bayangan putih besar, di belakangnya mengejar ketat setitik hitam kecil.
Tak perlu dijelaskan bahwa bayangan itu adalah unta sakti milik Koan San gwat, sementara titik hitam kecil adalah Ling koh yang menguntit dengan tangkas.
Unta sakti adalah binatang cerdik yang pandai, kenapa mendadak bisa berlari kabur begitu cepat?
Sekilas mereka saling pandang tanpa berjanji secepat kilat berbareng mereka pun melesat mengejar.
Malam amat gelap, mengandal kelap ke lip sinar bintang, mereka menguntit kerat ke arah bayangan yang bergerak gerak dikejauhan depan sana, begitulah kejar mengejar berlangsung cukup lama, dataran semakin tinggi menanjak, agakanya mereka sedang menuju keatas gunung.
Di waktu mereka tiba disebuah pengkolan sebuah puncak gunung, bukan saja kehilangan bayangan putih unta sakti yang besar dan samar samar itu, bayangan Ling kohpun menghilang.
Dinding batu gunung yang tinggi melintang disebelah depan, kesebelah depan lagi tiada jalan yang bisa ditempuh.
Gwat hoa Hujin segera menghentikan langkah dengan heran dan bingung, Li Sek hongpun berkata tak kalah herannya .
"Aneh sekali! Sepanjang jalan ini kita tidak menemukan jalan bercabang lainnya bukan?"
Gwat hoa Hujin tidak bersuara, dengan cermat ia periksa keadaan sekelilingnya akhir nya ia menuju sebuah celah celah kecil dinding batu sebelah samping sana, katanya .
"Kukira binatang dan gadis kecil itu lari lewat jalan sini"
Li Sek hong melengak, katanya "Hujin jangan berkelakar, badan kasar unta itu lebih tinggi dari kuda, celah celah ini hanya satu kaki lebih lebarnya, mana mungkin bisa mendesak masuk kesana."
Sebalikanya Gwat hoa Hujin bicara dengan serius .
"Aku tidak akan membual, kecuali binatang itu tumbuh sayap bisa terbang melampaui lamping gunung setinggi ratusan tumbak ini, kalau tidak, pasti dia lewat tempat ini. Karena disini ada ketinggalan sebuah tapak kakinya."
Malam itu ada hujan rintik rintik, maka unta sakti ada meninggalkan bekas tapak kaki nya ditanah berlumpur, terakhir meninggalkan bekas kotoran berlumpur pula diatas batu cadas pegunungan, kelihatannya analisa Gwat hoa Hujin memang cukup beralasan.
Sudah tentu Li Sek hong menjadi keheranan, katanya .
"Celah yang sedemikian sempitnya bagaimana mungkin bisa diliwati binatang berbadan sebesar itu."
Tengah mereka keheranan dari celah celah sebelah dalam sana mendadak terdengar sebuah suara dingin yang mengerikan .
"Betapa besar dunia ini, tiada sesuatu yang tidak aneh, kaliai memang jarang melihat bayang keheranan."
Keruan Li Sek hong berdua tarsentak kaget, mereka celingukan kian kemari, namun tiada kelihatan bayangan seorangpun, jelas suara itu terdengar di celah celah sebelah dalam tidak kelihatan begitu jelas.
Untuk masuk ke sebelah dalam mereka harus memiringkan tubuh namun mana meraka mau menembus bahaya, musuh atau kawan orang yang bersuara didalam itu belum diketahui, bila menghadapi bokongan secara menggelap didalam celah celah kecil itu, jangan kata mengelit balas menyerang tidak mungkin.
Tidak menjawab jawaban orang didalam celah itu bersuara pula "Seekor unta besar dan seorang gadis kecil memang kena kupancing masuk kedalam lembahku ini, kalau kalian tidak percaya, silahkan masuk sendiri memeriksa kemari."
"Siapa kau?"
Tanya Li Sek hong. Orang didalam celah itu berkata, seru nya .
"Setelah kalian masuk, belum terlambat kita saling berkenalan"
Dengan pandangan tajam Li Sek hong mengawasi Gwat hoa Hujin, seolah olah bertanya apakah mereka harus masuk? "Sudah tentu kami harus masuk"
Demikian jengek Gwat hoa Hujin dingin.
"Tetapi aku tidak akan masuk dari celah celah kecil secara berdesakan."
Orang didalam dinding itu bersuara tertawa "Hanya celah celah kecil itulah satu satunya jalan untuk masuk kedalam lembahku ini."
"Bohong!"
Damprat Gwat hoa Hujin.
"Meski kau punya kepandaian menembus langit menelan bumi, betapapun aku tak akan percaya kau bisa menggeret unta sebesar itu masuk dari celah celah sekecil ini. Lebih tidak percaya pula bila kau bisa masuk melalui celah celah kecil ini seperti ular berlegat legot mendesak masuk kedalam."
Agakanya orang didalam dinding tertegun sebentar, sejenak ia termenung lalu bertanya dengan suara lirih.
"Cara bagaimana kau bisa berpikir mengumpamakan manusia seperti ular?"
"Karena diatas dinding celah celah kecil ini ada ketinggalan kulit ular, jelas sekali bahwa binatang sejenis ular tentu keluar masuk lewat celah celah ini."
Orang didalam tersumbat mulutnya, sesaat kemudian baru bersuara pula "Ucapan mu setengah benar setengah salah.
Untuk masuk kedalam Jian coa kok (lembah ribuan ular) ini, memang ada sebuah jalan lain, unta besar itu memang masuk dari jalan lain itu, akan tetapi aku sediri memang kenyataan keluar masuk dari celah celah kecil itu, kulit ular itu justru bekas kulit yang brungsungi dan rontok dari badanku"
Kontan tersentak dan merinding Gwat hoa Hujin berdua, dengan setengah percaya Li Sek hong bertanya "Kau ini manusia atau ular? Bagaimana mungkin dari tubuhmu bisa menelotok kulit ular ...?"
Orang dalam dinding itu tertawa ringan ujarnya "Setelah kalian masuk kemari, tentu akan jelas duduk perkaranya"
Menunggu sebentar baru Gwat hoa Hujin berkata pula .
"Kita tentu akan masuk, dan lewat jalan yang lain itu."
"Bagus sekali!"
Seru orang didalam dinding tertawa.
"Silahkan kalian cari sendiri jalan yang lain itu."
Segera Gwat hoa Hujin mulai bekerja mencari kesekelilingnya, beberapa lama berselang mendadak ia mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya, dimana sinar pedang berkelebat, mengincar rumput rumput rotan diatas dinding ia bolang balingkan pedangnya pulang pergi.
Terdengar orang dalam dinding itu memperingatkan .
"Awas, hati hatilah, tempat itu amat berbahaya."
Sedikitpun Gwat hoa Hujin tidak hiraukan peringatan orang, begitu tusukan pedang nya menembus kerumpunan daun daun rotan mendadak menyandal dengan keras, daun dan dahan dahan rotan semua sama berantakan.
Sekonyong konyong dari rontokan daun itu menerjang selarik bayangan abu abu menyongsong kearah ujung pedangnya.
Lekas Gwat hoa Hujin menyapukan dan mengiriskan pedangnya menapak kearah bayangan itu, namun tahu tahu pedangnya kena digubat kencang oleh bayangan abu abu itu.
Lekas ia menyendalkan pedangnya kearah samping, namun tidak kuasa melepaskan libatan bayangan abu abu itu, dibawah cahaya bintang yang kelap kelip, akhirnya baru ia melihat jelas yang menggubat pedangnya adalah seekor ular hijau yang bertubuh kecil panjang badan ular melingkar tujuh delapan gubatan, rasanya berat, kepalanya yang besar persegi tiga sedang tegak berdiri dan berdesis menjulurkan lidah kearah mukanya.
Takut ular adalah menjadi kodrat bagi kaum perempuan, betepapun tinggi kepandaian Gwat hoa Hujin, sifatnya tidak ketinggalan akan kebiasaan ini, seketika ia menjerit keras, pedang bersama ularnya ia lemparkan ke atas tanah.
Begitu menyentuh tanah, ular hijau panjang itu segera melepaskan libatannya dan ..."Wut"
Tahu tahu menerjang datang kearah Gwat hoa Hujin.
Lekas Li Sek hong mendesak maju, secepat kilat ia mencabut pedang, mengincar kepala ular terus membacok.
Badan ular itu cukup liat dan kuat, sedikitpun tidak takut terkena senjata tajam, akan tetapi letak lehernya adalah tempat yang paling lemah, sudah tentu ia tidak kuasa membiarkan dirinya disembelih begitu saja, lekas lekas ia mengkeretkan kepalanya ditengah udara terus melejit kesamping menghindarkan diri.
Mengincar titik kelemahannya ini Li Sek hong merangsak lebih lanjut, pedang panjang nya berkelebat pula, yang diincar tetap adalah batok kepala ular itu, lekas ular itu melingkarkan badannya membundar serta menyusupkan kepalanya kebawah lingkaran badannya.
Pedang Li Sek hong dengan telak mengenai badan ular, namun sedikitpun tidak meninggalkan bekas luka.
Lekas Gwat hoa Hajin memburu kesana menjemput lagi pedangnya.
"Binatang!"
Ma kinya kearah ular itu dengan kebencian.
"Dua bilah pedang sekaligus mengincar jiwamu, cara bagaimana kau hendak menyembunyikan diri pula"
Sembari berkata dengan ujung pe angnya ia menyongkel lingkaran badan ular itu, lalu dari celah celah disebelah bawahnya ia menuduk kearah kepalanya.
Agaknya ular itu insaf jiwanya sedang terancam, sembari mengkeretekan kepalanya semakin kencang, mulutnyapun berdesis keras, kejap lain tiba tiba dari dinding batu yang bersemak daun tebal itu berbondong menjalar keluar puluhan ular yang bersuara mengerikan tanpa kuasa mereka berdua sudah terkepung ditengah.
Agakanya kawanan ular itu tiada maksud menyerang, namun Li Sek hong berdua sudah menjadi kerepotan untuk terjaga jaga tanpa sempat melukai ular tadi, cuma semakin lama mereka terdesak mundur kearah sebelah kanan.
Sekonyong konyong mereka sama tempat berpijak mereka mendadak menjadi amblas kebawah, kontan mereka sama terjungkal masuk kedalam jebakan, bersama ular ular itu mereka sama meluncur kebawah.
Mengandal bekal kepandaian Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin sudah tentu tidak begitu gampang mereka kena dijebak begitu saja, soalnya mereka tidak menduga dan kurang waspada, sehingga terlena menginjak jebakan dan yang jelas bahwa jebakan ini terang di kendalikan oleh seseorang, tanpa menunggu mereka bergerak berusaha mengendalikan diri akan terangkat tubuh kebawah, tutup disebelah atas dengan bersuara keras tiba tiba menutup pula.
Sejak semula mereka berdua memang sudah menahan napas dan mengerahkan tenaga, cepat mereka meringankan tubuh sehingga luncuran badan kebawah dapat tertahan sedikit, lalu mereka berusaha melejit keatas mencapai keatas namun sudah terlambat bagian atas sudah tertutup, terpaksa mereka meluncur turun kebawah pelan pelan.
Ular ular yang ikut kejeblos jatuh itu entah kemana tahu tahu sudah menghilang semua, begitu meluncur mencapai jarak tertentu tiba tiba tergerak hati Gwat hoa Hujin, cepat ia berteriak.
"Calaka kita tidak bisa meluncur kebawah lagi ..."
Li Sek bong menginsafi hal ini, tanpa berjanji keduanya segera menggunakan daya luncur kebawah melayang kesebelah samping untunglah jurang jebakan ini tidak terlalu lebar, tak lama kemudian tangan mereka sudah berhasil menyentuh dinding yang menonjol keluar.
Disaat dinding secara alamiah tumbuh bata batu cadas yang menonjol diatas dinding curam itu, untunglah mereka berdua berhasil memeluk batu batu gunung bergelantungan di tengah udara sehingga badan tidak amblas ke awah.
Sesaat lamanya keduanya berdiam diri menghimpun semangat mengerahkan tenaga, Li Sek hong layangkan pandangan nya kesekelilingnya, keadaan amat gelap tidak kelihatan apa apa, maka dengan perasaan kuatir ia berkata "Dinding batu ini terlalu curam dan tinggi, kalau ada tempat tempat untuk berpijak sudah tentu tidak menjadi soal, kalau tidak, jarak sejauh empat lima puluh tumbak ini, mengandal Yu liong sut saja cara bagaimana bisa merambat sedemikian jauh."
"Tidak menjadi soal,"
Ujar Gwat hoa Hujin.
"Menurut dugaanku, jebakan ini pasti ada jalan lain yang dikatakan orang itu, cuma jalan itu tentu berada diatas. kalau sekali tidak berhasil, marilah kita bagi menjadi dua atau tiga kali"
"Benar, waktu melayang jatuh tadi kulihat didinding batu sebelah samping terdapat sebuah lubang besar, tentu disanalah letak ujung jalan yang dimakaud itu, cuma sayang jarak sedemikian jauh Yu Iiong sut yang hanya mengandal pertahanan napas panjang, kalau tiada tempat berpijak untuk, mengganti napas mana bisa dibagi menjadi tiga kali."
Mendadak Gwat hoa Hujin tertawa, ujar nya "Dalam hal ini kau tidak perlu kuatir.
Silahkan kau naik lebih dulu, biar kukuntit di belakangmu, disaat kau sudah tidak kuat bertahan lekas kau beritahu kepadaku, aku bisa menyanggah kakimu, supaya kau bisa istirahat mengganti napas."
Li Sek hong heran, tanyanya "Lalu Hujin bertahan dengan apa, meski Yu liong sut mampu menahan seseorang sehingga tidak terjungkal jatuh namun merupakan usaha yang amat berat juga, jangan kata menahan berat badan dua orang ..."
"Sudah tentu aku punya caraku sendiri, lekaslah kau bekerja saja menurut petunjuk ku."
Li Sek hong tahu dalam keadaan genting ini Gwat hoa Hujin tidak akan bicara main main, maka tanpa banyak pikir lagi segera ia mengiakan .
"Baiklah aku jalan lebih dulu."
Lalu dia membalikkan tubuh menempelkan punggungnya kedinding, dia menarik napas panjang, baru saja ia hendak gunakan kekuatan kaki tangannya pelan pelan mendorong tubuhnya mumbul keatas, tiba tiba didengarnya Gwat hoa Hujin membentak.
"Tunggu dulu kumurlah benda ini dalam mulutmu,"
Dalam kegelapan terbang datang selarik sinar putih kemilau, karena tidak menduga Li Sek hong jadi kurang hati hati dan tidak sempat mengulur tangan menyambuti, maka titik sinar kemilau itu hancur membentur dinding, seperti percikan bintang bintang kecil yang beterbangan sama jatuh kedalam jurang.
Li Sek hong tidak tahu benda apakah ini tapi Gwat hoa Hujin hendak memberikan kepadanya, tentu punya manfaat yang berguna sanggah hatinya amat menyesal, sayang baru saja dia hendak bersuara, Gwat hoa Hujin sudah berkata pula "Untunglah masih ada sebutir, kali ini jangan kau lena lagi!"
Dilain saat selarik sinar putih melayang tiba pula, sudah tentu Li Sek hong sudah waspada lekas ia ulurkan sebelah tangannya menyambut, begitu berada didalam genggamannya baru dia tahu, itulah sebutir mutiara bintang yang sebesar telur burung mengeluarkan cahaya putih kemilau, keadaan sekelilingnya menjadi terang benderang dan lapat lapat terlihat rada jelas.
Saat mana Gwat hoa Hujin bergelantungan diatas sebuah batu disebelah kanan bawahnya, katanya sambil mendongak "Itu adalah Ya bing cu, kau kumur dalam mulut, tonjolkan sebagian keluar mulutmu, ingat harus sering sering kau basahi dengan ludahmu, maka cahayanya akan semakin terang menyala."
Li Sek hong menurut saja, lekas ia masukan kedalam mulut, dengan giginya ia gigit separuh sementara lidahnya terjulur keluar menahan sebelah luar, benar juga begitu basah oleh ludahnya cahaya semakin terang menyala, jarak setumbak lebih dapat dilihatnya dengan jelas.
Kecuali tempat mereka berpijak ini ada batu batu menonjol yang lekak lekuk, kesebelah atas lagi keadaan amat licin seperti kaca.
Malah bisa mereflek cahaya sinar mutiara sehingga kelihatan dindingnya bercahaya putih seperti perak.
"Untung kita cukup waspada,"
Demikian ujar Gwat hoa Hujin tertawa.
"Kalau sampat jatuh kedasar jurang sana, jangan kata untuk merambat keatas, mungkin tenaga untuk mengerahkanpun tidak mampu lagi! Sungguh kejam keparat itu ..."
Karena mengulum mutiara maka Li Sek hong tidak berani buka suara, namun hatinya pun kebat kebit, setelah menenangkan hati, pelan pelan ia mulai menggeremet naik keatas pula, kaki tangan bekerja sama terus merambat keatas.
Untuk mengetahui keadaan sebelah atas, ia dapat mungkin mendongakan kepala meminjam cahaya mutiara menyinari sebelah atas, sudah tentu caranya bekerja ini amat memakan tenaga, kira kira merambat naik empat lima tumbak kemudian, ia sudah kehabisan tenaga dan lelah sekali.
Dari gerak gerikanya Gwat hoa Hujin dapat mengetahui keadaan nya, lekas ia merambat maju mendekati, dia sangah sebelah bawah kakinya serta menghibur "Jangan kau terlalu memaksa diri, sekali kau menghabiskan tenaga sulit untuk menghimpunnya pula dalam waktu dekat, urusan bisa menjadi berabe."
Karena kakinya mendapat tempat berpijak, barulah Li Sek hong berkesempatan menggerakkan sebelah tangannya menggenggam mutiara dari mulutnya, setelah napasnya teratur ia berkata.
"Terima kasih Hujin, aku sedang gelisah cara bagaimana untuk menjelaskan kepada Hujin!"
"Aku lupa mulutmu mengulam mutiara maka tidak leluasa bersuara, selanjutnya bila kau merasa lelah, gunakanlah hidungmu mendengus keras keras, aku akan segera menolong mu!"
Li Sek hong manggut manggut, waktu ia menunduk melihat kebawah, tampak sebelah tangan Gwat hoa Hujin menyanggah kedua kakinya, sementara sebelan tangan yang lain turun semampai, demikian juga kedua kakinya goyang gontai ditengah udara, cuma bagian pinggang saja yang melekat didinding, malah mukanya menghadap kearah dinding lagi.
Menggunakan cara yang aneh dan lucu ini, ternyata dapat bertahan dibebani berat badan dua orang, karuan Li Sek hong merasa amat kagum.
Sesaat kemudian baru dia berkata .
"Tak nyana lwekang Hujin ternyata sudah dilatih begitu sempurna ..."
"Salah terkaanmu, mungkin memang aku lebih kuat dari kau, tetapi belum mencapai tingkat seperti yang kau bayangkan."
"Lalu dengan cara apa Hujin bisa menahan berat badan kita berdua?"
"Itu merupakan rahasia, saat ini tidak leluasa kujelaskan kepadakau, setelah tiba diatas kau akan paham sendiri"
Li Sek hong setengah percaya setengah curiga, setelah istirahat sekian lamanya, tenaganya sudah pulih kembali, lalu katannya .
"Marilah kita mulai maju lagi."
Gwat hoa Hujin mendongak dan tertawa kepadanya, belum lagi ia bergerak tiba tiba sebelah tangannya mengarahkan tenaga terus menyentak mendorongnya mencelat mumbul beberapa tumbak, sementara mulut berbareng membentak.
"Rapatkan tubuhmu kedinding jangan banyak bergerak!"
Li Sek.hong tidak tahu apa yang terjadi namun keadaan tiada memberi kesempatan padanya banyak berpikir, baru saja ia mengerahkan tenaga dan menempelkan badannya merapat kedinding, tampak Gwat hoa Hujin menyebal sebilah pedang pendek berwarna merah gelap, terus menghujamkan di dalam dinding hingga amblas seluruhnya secepat itu pula tiba tiba badannya terayun bergelantung kesamping meninggalkan dinding batu.
Bersamaan dengan itu tampak pula selarik cahaya kehijauan menyambar lewat dari pinggir badannya terus melayang ketanah.
Dalam pada itu Gwat hoa Hujia sudah tersenyum balik lagi, kini menempel rapat pada dinding lagi katanya menjengek dingin "Tidak lepas dari dugaanku, keparat itu memang amat keji, dalam keadaan yang serba bahaya ini dia berlaku curang main bokong segala ..."
Semangat Li Sek hong serasa sudah amblas, cepat ia bertanya "Hujin, apakah yang telah terjadi?"
"Keparat diatas itu melepaskan seekor ular berkepala segi tiga membokong kita, sejak tadi sudah kuduga sebelah atas pasti akan bertindak jabat, maka tadi kuperintahkan kepadamu untuk hati hati. Tak nyana disaat kita berbicira itulah dia melancarkan serangan membokong dengan keji, untunglah aku cukup berwaspada, kalau tidak kaulah yang menjadi korban lebih dulu ..."
Menyesal dan terima kasih pula Li Sek hong katanya tergagap "Terima kasih akan pertolongan Hujin atas jiwaku ..."
Sekonyong konyong dari sebelah atas terdengar seorang berkata dingin "Jiwa kalian berdua memang cukup panjang, ternyata berhasil dari dua kali tipu dayaku ..."
Gwat hoa Hujin menjadi gusar damprat nya.
"Bisamu hanya main bokong, terhitung Enghiong apa kau. Kalau punya kepandaian marilah bertanding secara berhadapan ..."
Orang diatas itu menjengek tawa .
"Kenapa tergesa gesa, menghadapi manusia aku punya kebiasaan yang tidak boleh dirubah, bagi orang yang mampu selamat dari tiga kali tipu dayaku, baru setimpal dia berhadapan dengan aku. Kalian sudah dua kali lolos, ketiga kali nya akan segera kalian hadapi, tunggu sajalah."
Mendengar ancaman itu, kontan mereka berdua meningkatkan kewaspadaan, terutsma Li Sek hong mengangkat mutiara lebih tinggi diatas kepalanya menyinari sebelah atas.
Tapi setelah ditunggu setengah harian, keadaan tetap tening tiada gerak gerik apa apa.
Li Sek hong hanya mengandal menahan napas sehingga dapat menempel diatas dinding, setelah bertahan sekian lamanya akhir nya ia kepayahan lagi, lekas ia lemparkan mutiara ditangannya kepada Gwat hoa Hujin seraya berteriak "Hujin harap sambut ..."
Belum habis ia bicara badannya sudah melorot turun.
Sebelah tangan Gwat hoa Hujin berpegang diatas gagang pedang pendek, cuma sebelah tangan yang lain bisa bergerak, baru saja ia menyambuti mutiara itu, badan Li Sek hogpun sudah melorot turun, terpaksa ia layangkan sebelah kakinya merendang, kebetulan berhasil menyetop daya luncurannya kebawah.
Berbareng menggunakan sebelah tangan nya yang bebas itu dia meraih baju pakaian Li Sek bong.
Tapi karena tergesa gesa sehingga dia lupa bahwa tangannya menggenggam mutiara, beruntung dia berhasil menahan badan Li Sek hong, namun mutiara itu tidak kuasa digenggamnya, terus melayang jatuh kebawah.
Keadaan sekelilingnya menjadi gelap gulita, Li Sek hong insyaf bahwa dirinya berhasil diselamatkan sekali lagi oleh Gwat hoa Hujin, tanpa terasa dia menarik napas panjang.
Katanya penuh penyesalan .
"Lwekangku memang tidak becus, sehingga membebani Hujin belaka, kenapa pula Hujin tadi menolongku lagi."
Gwat hoa Hujin menjinjing tubuhnya ke atas, serta berkata.
"Jangan banyak mulut, lekas istirahat dan memulihkan tenaga, kita harus naik lebih lanjut. Kali ini biar aku berada diatas, gunakan gigimu menggigit ujung bajuku, bila kau tidak lahan lagi, tentu aku akan merasakan juga, barulah saat itu kita berhenti istirahat pula!"
"Kalau kita dibokong lagi dari sebelah atas bagaimana?"
"Peduli begitu banyak urusan, kalau kuat bertahan itulah untung, kalau tidak pasrah nasib saja."
"Ya, marilah Hujin mulai!"
"Li siancu, bahwa berulang kali kutolong jiwamu, karena aku harap setelah tiba diatas kau dapat membantu kepentinganku, janganlah kau rewel dan putus asa!"
Sesaat Li Sek hong melongo sebetulnya disaat Gwat hoa Hujin mulai bergerak, dia sudah siap hendak memutuskan usaha hidupnya keatas, pura pura tangan terlepas dari pegangan dan terjungkal mampus kebawah, supaya tidak menjadikan beban bagi Gwat hoa Hujin.
Tak nyana Gwat hoa Hujin seperti meraba isi hatinya.
Mendengar orang tidak bersuara, Gwat hoa Hujin tahu bahwa terkaannya tepat mengenai lubuk hati orang, maka berkatalah dia menghela napas "Li sian cu!
Karena sikap dan tindak tandukmu terhadap anak Gwat selama ini, maka akupun tidak akan membiarkan kau meninggal dengan cara yang tidak setimpal ini, apalagi kelak masih kuperlukan tenaga bantuanmu, maka kuharap kau tidak bercabang pikiran lagi, kerahkan tenaga dan himpunlah gairah semangatmu!"
Habis bicara ia mulai bergerak naik ke atas tanpa kuasa Li Sek hong terseret naik juga, kira kira empat lima tumbak kemudian Li Sek hong sudah tidak kuat bertahan lagi, Goat hoa Hujin juga merasakan hal ini, cepat ia berhenti, katanya tersekat "Cara ini akan membikin Hujin kecapaian !"
"Tidak menjadi soal, aku bisa meminjam pedang pendek ini untuk mengerahkan tenaga, rasanya tidak begitu meletihkan."
Tergerak hati Li Sek hong, cepat iapun melolos pedang, terus menusuk kedinding gunung, sementara dalam hatinya membodohkan diri sendiri, kenapa sejak tadi tidak pernah memikirkan hal ini.
Siapa nyana terdengar suara "Pletak"
Daa "Trang,"
Tangannya tergetar hebat, ternyata ujung pedangnya patah dan batang pedangnyapun tidak kuasa menusuk masuk kedalam dinding.
Begitu mendengar suara, Gwat hoa Hujin sudah tahu apa yang terjadi, katanya tertawa ringan .
"Jangan kau membuang tenaga dinding batu disini betapa sangat kuat dan kerasnya, kecuali pedang pendekku ini, senjata tajam apapun jangan harap bisa menyentuhnya."
Terpaksa Li Sek hong memasukkan kembali pedang buntungnya kedalam serangkanya.
Sejenak keduanya berdiam diri.
Mendadak Li Sek hong berkata"Keparat diatas itu bukankah hendak berlaku licak sekali lagi?
Kenapa sampai sekarang tiada kelihatan gerak gerikanya?"
"Entah, mungkin ia belum mendapat akal cara bagaimana hendak menghadapi kita lebih lanjut."
Tengah bicara mendadak Li Sek hong mendongak, segera mulutnya berseru "Itulah sudah datang!"
Dari sebelah atas pelan pelan melorot turun dua titik sinar kehijauan, setelah berjarak kira kira lima enam tumbak, baru terlihat jelas itulah dua titik sepasang mata seekor ular berkepala segi tiga sebesar mengkok.
"Berikan pedangmu kepadaku!"
Pinti Gwat hoa Hujin.
"Ular aneh macam ini kebanyakan berkulit kebal, pedangku ini tiada gunanya ..."
"Aku tahu, aku hanya hendak menggantikan pedang pendekku ini." -oo0dw0oo-
Jilid 21 LI SEK HONG PAHAM maksudnya, lekas ia keluarkan pedang buntungnya, lalu ia menggeremet naik kesebelah atas katanya.
"Biarlah kugantikan bertahan disana, Hujin bisa bebas bergerak untuk menghadapinya."
Gwat hoa Hujin manggut serta mengiakan, tiba tiba ia mencabut pedangnya, sementara secepat kilat Li Sek hong melesat naik memasukkan pedangnya kedalam bekas lubang pedang pendek itu, sebelah tangan memegang kencang gagang pedang sementara tangan lain memeluk kedua kaki Gwat hoa Hujin serta mengangkatnya keatas, sehingga badan dan kedua tangannya tergerak leluasa.
Gerakan ini dilakukan dalam waktu yang amat singkat dan lagi mencabut pedang dan mengganti pedangnya semua dilakukan dengan meminjam cahaya sinar kedua mata ular yang mendatangi, semakin dekat, sehingga mereka bisa bekerja secara sempurna.
Jarak kedua pihak sudah cukup dekat, luncuran ular itu juga semakin cepat seperti angin lesus saja mendadak menerjang kearah mereka berdua.
Kebetulan Gwat hoa Hujin bisa memapak kedatangannya, pedang pendeknya terangkat keatas menusuk tujuh dim bawah lehernya, gerak gerik kedua pihak sama cepat, maka dengan telak pedang pendek kedalam badan siular, tujuh dim dibawah leher ular justru letak kelemahannya yang mematikan.
Mulut ular terpentang lebat dan berdesis beberapa kali, cahaya matanya semakin guram dan sirna.
Gwat hoa Hujin merasakan badan ular meronta ronta dan akhirnya menjulur turun bergerak lagi, untunglah ia bekerja cekatan, hampir saja pedang pendeknya ikut terbawa jatuh kebawah.
Dari sebelah atas didengarnya helaan napas panjang, disusul cahaya guram bergerak turun lambat lambat.
Gwat hoa Hujin menyangka ular beracun lagi yang meluncur turun lekas ia menyedot napas meningkatkan kewaspadaan.
Tapi setelah jarak menjadi dekat baru mereka melihat jelas, cahaya itu ternyata adalah sebuah kutungan lilin yang menyala.
Karuan Gwat Hoa Hujin melengak heran, serunya keatas.
"Apa apaan maksudmu ini?"
Dari atas terdengar jawaban dingin.
"Kalian bisa tidak mampus dalam sumur jebakan lolos pula dari tipu dayaku, ketiga kali jebakkanku berhasil kau hindari, sudah tentu aku harus menyambut kalian keatas sesuai dengan janjiku tadi ..."
Gwat hoa Hujin jadi ragu ragu dan melongo, apakah dia harus percaya atau tidak.
"Menghemat tenaga kalian, kalau kalian tidak percaya, masakah aku sudi memberikan pertolongan cuma cuma, silahkan kalian merambat naik pelan pelan saja."
Habis berkata pelita lilin itu pelan pelan terangkat naik lagi. Karuan Gwat hoa Hajin gugup, cepat ia berteriak."Tunggu sebentar!"
Sebelah kakinya terangkat menjungkir pundak Li Sek hong sehingga badan orang mencelat naik kearah kayu melintang itu.
Sementara Gwat hoa Hujin sendiri pun melejit jumpalitan meraih kayu itu sehingga keduanya terayun ayun goyang gontai di tengah udara.
Kayu itu pelan pelan terangkat naik, dari atas terdengar pula suara dingin itu berkata."Nyali kalian sungguh tidak kecil, masakah tidak takut aku mencelakai pula jiwa kalian?"
Bercekat hati Gwat hoa Hujin, namun mulutnya berteriak."Kami percaya akan ucapanmu, mana berani naik keatas kayu ini, kalau kau memang hendak main main dengan segala akal licikmu silahkan lakukan saja, kami tidak akan perduli!"
Tengah bicara kayu itu terangkat semakin cepat, sekejap saja sudah tiba dilubang besar yang dikatakan oleh Li Sek hong tadi, disini kayu berhenti, namun tiada kelihatan bayangan seorangpun disini.
Tak tahan segera Gwat hoa Hujin berteriak."Hai, dimana kau!"
Lubang besar itu amat gelap dan tidak terdengar reaksi apa apa, sinar lilin diatas kayu lintang itu memancarkan cahaya kekuningan, menyinari empat lima kaki sekeliling nya, kiranya di sebelah depan sana adalah tanah datar cukup untuk berpijak.
Kejap lain mereka sudah melompat turun dipinggir lubang besar itu, Gwat hoa Hujin angkat lilin diatas kepalanya berjalan kesebelah depan.
Karena orang tadi mengatakan tempat itu adalah Jian coa kok, malah beruntun mereka disergap oleh ular ular berbisa, maka dengan rasa was was dan kebat kebit mereka maju terus kedepan dengan langkah hati hati dan pelan pelan.
Akan tetapi mereka sudah jalan setengah harian, sepanjang jalan ini tiada seekor ularpun yang mereka lihat, demikian juga tiada nampak bayangan seorangpun.
Sedang orang yang bicara disebelah atas tadi entah kemana pula.
Lorong panjang yang mereka lewati cukup lebar dan besar, cuma keadaan disini amat lembab, sehingga hawanya amat apek dan mengganggu pemapasan.
Mereka naik lebih lanjut, tak lama kemudian jalanan menanjak naik semakin tinggi, keadaan disini rada kering, waktu Gwat hoa Hujin angkat kepala, tampak tak jauh didepan sana tampak sebuah lubang keluar, meski cahayanya masih remang remang, namun hati menjadi lega dan senang.
Dengan langkah lebar mereka mempercepat kearah sana.
Jarak menuju kearah lubang terang itu ternyata masih cukup jauh dan harus melewati beberapa jalan bercabang entah menembus kemana, sepanjang jalan ini mereka tidak buka suara, namun baru saja Li Sek hong berkata, tiba tiba didengarnya suara keresekan dari sebelah samping sana, begitu ia memandang kearah sana, tak tahan lagi segera ia menjerit kaget.
Gwat hoa Hujin juga mendengar suara ini, cepat ia mencegat disebelah depan dan membentak."Jangan takut!
biar aku yang menghadapinya!"
Dimulut ia berlaku garang, sebenarnya hatinyapun sudah gugup dan kebingungan.
Karena dari sebelah kiri sana sedang mendatangi seekor mahluk aneh yang belum pernah meraka lihat selama hidupnya.
Badannya tinggi seperti manusia, dibawah sinar bintang yang kelap kelip, tampak seluruh tubuhnya dilumuri sisik sisik warna hijau kehitaman, kepala dan kaki tangannya menyerupai bentuk manusia, namun seluruh kulitnya tertutup rapat oleh lembaran sisik yang kecil kecil Gwat hoa Hujin sudah mengacung pedang pendeknya, baru saja ia hendak menyerang mendadak mahluk aneh ini bersuara."Jangan bergerak!
Aku tidak ingin bergerak dengan kau ditempat dan disaat ini juga"
Suaranya juga dingin, namun bukan suara yang bicara disebelah atas tadi. Batal menyerang Gwat hoa Hujin masih berlaku waspada, pedang melintang didepan dada, bentakanya."Jangan kau maju mendekat!"
"Li Sek hong!"
Mahluk aneh itu tiba tiba tertawa dingin suaranya jelas adalah seorang perempuan,."Adalah jamak kalau kau tidak menalar bentuk rupaku yang menakutkan ini, masakah suara akupun kau tidak mengenalnya lagi?"
Sembari bicara mahluk aneh itu angkat sebelah tangan meraih keatas muka nya.
Ternyata mukanya mengenakan kedok kulit ular, setelah kedok kulit ularnya itu ditanggalkan, maka terlihatlah seraut wajah yang rupawan, kedua biji matanya yang bundar besar memancarkan cahaya kilat yang dingin.
Begitu melihat raut muka itu, seketika Li Sek hong melengking pula.
"Sumoy!! Bagaimana bisa kau adanya!"
Ternyata mahluk aneh yang mengenakan kulit ular ini bukan lain adalah sumonya Liu Ih yu.
Kata Liu Ih yu tertawa dingin."Li Sek hong, jangan kau panggil aku sumoy lagi, di atas Sin li hong mulai kau bertekad hendak membunuh aku maka hubungan persaudaraan kami sejak kecil sudah putus!"
Li Sek hong menjadi tercengang, ia terdiam membayangkan tindakannya waktu itu yang memang cukup kejam, sesaat ia jadi bingung bagaimana ia harus bicara, setelah merandek dia berkata.
"Sumoy, cara bagaimana kau bisa tiba ditempat ini?"
"Aku bukan sumoymu!"
Sentak Liu Ih yu.
"Sumoy, terserah betapa bencimu kepadaku, bagaimana juga kau masih menjadi sumoy ku!"
"Waktu diatas Sin li hong, kaulah yang pertama yang mengusulkan untuk membunuh jiwaku!"
"Memang, karena sejak kecil kulihat kau tumbuh dewasa, aku teramat paham akan segala galamu. Sejak dilahirkan kau mempunyai bawaan watak yang kejam, kalu ada Toa suci dia masih kuasa menekan sepak terjangmu, kalau Koan San gwatpun suka mengawini kau, mungkin mereka bisa merubah watakmu ini tapi begitu orang ini ada di sampingmu maka terpaksa aku harus bertindak tegas. ..."
Sorot dingin kedua biji mata Liu Ih yu memancar semakin menyala desisnya bengis."Apakah kau sekarang masih juga mau membunuh aku?"
"Ya, asal tenagaku mampu aku tidak akan mengubah niatku itu. Tapi hubungan persaudaraan kita masih tetap ada, mungkin setelah aku berhasil membunuh kau, aku pun bisa menyusul kealam baka. Kubunuh kau supaya kejahatan tidak tumbuh, demi keadilan dan kebenaran, kususul kau mati adalah karena hubungan pribadi."
Ucapannya ini boleh dikata cukup merasuk dan mengetuk sanubari, tetapi sedikitpun Liu Ih yu tidak terpengaruh oleh kata katanya jengeknya dingin."Masakah benar kau sudi mampus bersamanaku?"
Li Sek hong menghela napas ujarnya.
"Kenapa tidak? Masa depan bagaikan mimpi kehidupan akan datang kosong dan hampa, kehidupan jiwa bagi aku sudah tidak perlu di gandoli lagi...."
Kata katanya ini agakanya cukup berpengaruh dan meluluhkan kekerasan hati Liu Ih yu, dengusnya.
"Li Sek hong, orang lain tidak perlu dibicarakan, hanya kau seorang boleh kuberi sedikit maaf, aku percaya didalam tekadmu untuk membunuh aku sedikitpun tidak terkandung rasa jelus atau demi kepentingamu pribadi, akan datang suatu hari disaat aku sudah tidak ingin hidup lebih lama lagi, pasti aku akan menyempumakan keinginanmu, supaya aku mampus di tanganmu, tapi sekarang belum tiba saatnya, masih banyak urus an yang belum sempat kuselesaikan...."
Melihat nada bicara orang sudah lembek segera Li Sek hong bertanya.
"Cara bagaimana kau bisa berada di tempat ini?"
Liu Ih yu menjadi marah pula, katanya."Tidak ketempat ini dimana aku bisa menempatkan diriku.
Kelompok Cia Ling in tidak mau melepaskan diriku, demikian pula kalian mengejar ngejar aku hendak mencabut jiwaku.
Mengndal lwekang dan kepandaianku sekarang belum setimpal aku berlawanan dengan kalian, sudah tentu aku harus menyembunyikan diri disuatu tempat yang tidak mungkin bisa kalian temukan."
"Maksudku cara bagaimana kau bisa berubah bentuk seperti itu?"
"Jangan kau menghina bajuku yang menjijikan ini, asal aku mengenakan pakaian kulit ular sakti ini, siapa saja jangan harap bisa melukai aku."
Pada waktu itu juga di tengah udara terdengar suara desisan yang keras. Liu Ih yu segera mengulap tangan dan berkata.
"Coa Ki (selir ular) suruh aku membawa kalian! Hayolah ikut aku!"
"Siapakah Coa Ki itu?"
Tanyangwat hoa Hujin. Liu Ih yu mendelikkan mata tanyanya."Siapakah Hujin itu?"
"Dia adalah Le Hujin ibu kandung Koan kongcu!"
Liu Ih yu melengak, ujarnya.
"Koan San Gwat masih punya ibu, kenapa dia tidak pernah membicarakan hal ini kepadaku...."
Tergetar hati Li Sek hong sama Gwat hoa Hujin, tanyanya."Kau tahu dimana sekarang Koan kongcu berada?"
Liu Ih yu tersenyum manis, sahutnya.
"Sudah tentu tahu !"
"Dimana?"
Hampir berbareng Gwat hoa Hujin berdua bertanya.
"Disini juga!"
Sahut Liu Ih yu kalem. Lega hari Gwat hoa Hujin, paling ia sudah mengetahui jejak putranya, namun ia masih rada kuatir juga, lalu tanyanya pula.
"Cara bagaimana dia bisa sampai disini?"
"Kalau dikatakan memang kebetulan."
Demikian tutur Liu Ih yu..
"Aku mendapat perintah dari Coa Ki pergi ke Toa cu ho untuk menangkap seekor ular berbisa, hasilnya aku berhasil menjala jenasahnya dari dalam air...."
"Dia sudah meninggal...."
Gwat hoa Hujin menjerit.
"Waktu kuangkat dari dalam air, seluruh badannya penuh luka luka, memang keadaannya seperti orang mati, cuma badannya masih rada hangat, untunglah aku berhasil menangkap ular yang kucari itu empedu ular ini bisa mengobati orang yang sudah hampir menemui ajalnya, beruntunglah aku berhasil merenggut nyawanya dari jurang elmaut...."
"Oh, terima kasih kepada Thian Yang Maha Esa, bahwa aku masih diberi kesempatan untuk melihat putraku lagi...."
Demikian Gwat hoa Hujin berdoa.
"Jangan kau keburu senang,"
Demikian kata Liu Ih yu..
"Mungkin tidak mudah kau dapat menemui dia.
"Kenapa?"
Tanyangwat hoa Hujin melongo.
"Karena ular yang menolong jiwanya itulah, empedu ular yang membawa pengaruh yang amat besar bagi Coa sin (malaikat ular) karena gelisah dan putus asa tanpa pikir aku berikan empedu untuk mengobatinya, sekembalinya hampir aku tidak bisa menyampaikan tugasku, maka Coa sin akan mengeluarkan empedu ular itu dari dalam badan nya!"
"Siapa pula Coa sin itu?"
"Coa sin adalah majikan dari Jian coa kok ini, mahluk aneh yang berbadan setengah ular setengah manusia!"
Gwat hoa Hujin ingin bertanya lagi, namun suara desisan ditengah udara kedengaran semakin gencar, cepat Liu Ih yu berkata."Lekas Coa ki sedang mendesak kita, aku tidak bisa berlaku lambat lambat lagi, urusan yang belum dimengerti Coa ki akan menjelaskan kepada kalian....
dan lagi kuperingatkan kepada kalian, kalau kalian ingin melindungi jiwa Koan San Gwat, jangan sekali kali kalian berbuat salah atau bersikap kasar terhadap Coa ki saat ini hanya dia sajalah yang mampu menghalangi Coa sin membunuh Koan San Gwat...."
Habis berkata bergesa ia putar badan terus berlari kedepan, hati Gwat hoa Hujin dan Li Sek hong dirundung berbagai pertanyaan, namun merekapun tidak berani berayal, cepat mengintil ketat dibelakang.
Setelah melewati dataran lembah yang gelap gulita, sekelilingnya hanya melingkar ular ular besar kecil yang beraneka jenis, namun ular ular itu sudah dijinakan, tiada seekorpun yang menyerang mereka.
Tak lama kemudian mereka tiba dibawah sebuah tebing, diatas tebing ini dibangun beberapa kamar berbatu, dari dalam beberapa kamar itu menyorot keluar sinar lampu.
Diatas pintu kamar batu terbesar melintang sebuah batu besar, diatas batu ini melingkar berbagai jenis ular besar ada pula yang menjulurkan badannya yang besar dan panjang panjang itu diluar pintu seperti kerai.
Dengan tangannya Liu Ih yu menyingkap badan ular teras menerobos masuk.
Sementara Gwat hoa Hujin menggunakan pedang karena kepala kepala ular itu mendongak sambil menjulurkan lidahnya, mulutnyapun berdesis amat menakutkan.
Dari dalam kamar terdengar Liu Ih yu berkata.
"Jangan kuatir masuk saja, ular ular ini tidak dan menggigit kalian, mereka hanya dibuat pajangan untuk menakuti orang saja, tapi bisa kalian bikin mereka gusar sulitlah dibayangkan akibatnya"
Gwat hoa Hujin merandek sebentar, akhirnya ia simpan pedangnya terus menerobos masuk saja, benar saja diwaktu ia maju mendekat ular ular itu lantas melingkarkan badan kesebelah atas memberi jalan kepadanya.
Li Sek hong mengintil dibelakangnya, saking ngeri mukanya sudah pucat pias.
Keadaan dalam kamar ternyata cukup bersih dan teratur, luas lagi, perabot kursi dan meja serta segala keperluan dalam kamar ini semua terbuat dari batu batu, cuma semua perabot itu semua dilembari kulit kulit ular.
Diatas sebuah ranjang duduk bersimpuh seorang perempuan muda yang telanjag bulat berusia sekitar enam tujuh likuran, parasnya amat cantik ayu, terutama seluruh kulit badan nya, boleh dikata laksana batu jade yang tiada cacatnya, putih halus mengkilap lagi.
Yang membuat orang merasa ngeri dan giris di atas badannya itu melingkar seekor ular aneh, ular ini selurah badannya berwarna putih hitam, badannya rada gepeng lebar satu dim lebih, entah berapa panjang badannya, karena melingkar lingkar dibadan gadis rupawan itu, secara kebetulan badannya membelit bagian vital dari badan gadis.
Dalam pada itu Liu Ih yu sudah menanggalkan seluruh pakaian anehnya, sebelah dalam ia mengenakan pakaian sutra warna putih yang ketat, sebetulnya bukan pakaian lagi tepat kalau dikatakan mengenakan bikini, karena hanya pada dada dan bagian bawahnya saja yang tertutup, kedua paha dan perut serta pundakanya kelihatan putih halus juga.
Begitulah Li Sek hong berdua melangkah masuk, gadis itu secara halus dan penuh hormat segara berdiri serta berseri tawa, sapanya.
"Silahkan kalian duduk!"
Tangannya menunjuk kursi kursi batu.
Sekilas Gwat hoa Hujin sedikit membungkuk badan terus duduk tanpa sungkan sungkan.
Sementara Li Sek hong amat jijik akan kulit ular itu, dia terima berdiri saja.
Dengan tangannya Liu Ih yu menunjuk gadis itu serta memperkenalkan.."Dia adalah Coa ki...."
"Ih yu"
Tukas Coa ki."Coa ki hanyalah nama yang kugunakan didalam Jian coa kok terhadap orang luar mana boleh kau memperkenalkan namaku demikian? Sebutkan saja nama asliku kepada mereka...."
Liu Ih yu tertegun katanya."Hampir satu bulan aku berada disini, belum pernah Coa ki, beritahu kepadaku nama aslimu!"
Coa ki tertawa geli ujarnya."O.. Kalau begitu akulah yang teledor, namaku hanya pernah kuberitahukan kepada Koan San Gwat kukira dia bisa memberitahu kepada kau!"
Rona muka Liu Ih yu rada berubah namun cepat kembali seperti biasa katanya tertawa."Sejak Koan San Gwat tiba disini aku hanya berkesempatan melihatnya dua kali setiap kali pasti ada Coa sin disampingku perkataan yang bisa kami bicarakan!"
Coa ki manggut manggut, katanya"Kalau begitu biarlah aku memperkenalkan diri sendiri.
Aku she Kang bemama Pan, kukira nama ini jauh lebih enak didengar dan gampang diucapkan dari pada Coa ki.
Cuma selama puluhan tahun menetap didalam Jian coa kok ini, jarang ada orang memanggil nama asliku ini...."
Pertama kali mendengar nama Coa ki semula Li Sek hong menyangka dia pasti seorang perempuan tua buruk rupa yan jahat dan kejam melebihi kuntilanak, kini setelah beradu muka, kesannya jadi tampak beruban malah merasa simpatik pula kepadanya, segera ia tersenyum manis dan berkata."Aku yang rendah Li Sek hong...."
"Aku tahu!"
Ujar Kang Pan,."Tadi Liu Ih yu ada melihat kalian datang Ke Ki san."
Li Sek hong melengak Kang Pan berkata pula dengan tertawa."Karena kalian membawa unta sakti inilah, menurut Ih yu binatang itu adalah peliharaan Koan San Gwat yang paling disayangi, untuk mengambil hatinya, sengaja aku minta Coa ki untuk memancingnya kemari, siapa tahu membuat geger kalian pula, semula orang gadis kecil...."
"Itulah dayangku bemama Ling koh, bagaimana dia sekarang...."
"Dia baik baik saja! Coa sin paling suka pada anak anak perempuan, dia tidak akan disakiti! Nyonya ini adalah...."
Pandang mataya tertuju kepada Gwat hoa Hujin. Gwat hoa Hujin tertawa ringan, katanya."Aku bemama Le Ciu kiok, Koan San Gwat adalah putraku!"
Kang Pan berseru heran, kata nya haru."Ternyata kaulah ibunya, Gwat hoa Hujin yang belum lama ini dia temukan bukankah kau bersemayam di Tay pa san? Kenapa berkecimpung juga didunia ramai?"
Tergerak hati Gwat hoa Hujin, katanya."Apakah putraku sudah menjelaskan kepada kau!"
Kang Pang tertawa sahutnya."Kami hanya pernah bicara sekali, sungguh aku amat tertarik akan pengalaman hidupnya yang aneh penuh liku liku dan aneh, aku pun merasa sedih pula akan nasibnya, untunglah tak lama lagi kalian ibu beranak bakal berkumpul kembali."
"Terhadap putraku itu akupun amat menyesal, sebab aku belum menunaikan tanggung jawab seorang ibu kepada putranya, maka masa hidup selanjutnya sampai hari ajal aku bersedia berjerih payah demi kebahagiaannya...."
"Dia sendiri sih cukup mampu berjuang dalam kehidupan, dia cukup mampu berdiri sendiri, kau tidak perlu kuatir baginya..."
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
Tanya Gwat hoa Hujin penuh prihatin.
"Jauh lebih baik."
Sahut Kang Pan.."Cuma tenaganya saja yang belum pulih, luka luka yang dia derita amat parah, untunglah dia terjungkal jatuh kedalam air dari tempat ketinggian, namun terlanda batu besar pula sehingga seluruh badannya lecet dan penuh luka luka.
Sungguh aku menjadi kurang paham, mengandal lwekangnya yang ampuh itu, cara bagaimana dia bisa berlaku begitu ceroboh!"
Berkerut kulit muka Gwat hoa Hujin, namun dengan perlahan ia menyahut."Aku sendiripun tidak tahu! Ingin nanti aku tanyakan hal ini kepadanya!"
"Sekarang tak perlu dikuatirkan lagi, mungkin Liu Ih yu memberi makan empedu ular yang kasiatnya bisa menghidupkan orang diambang kematiannya. Baru tadi kuberi minum darah ular sanca yang amat berguna, beberapa hari lagi tentu kesehataanya bisa sembuh seluruhnya."
"Terima kasih akan rawatanmu! Bisakah aku bertemu dengan Coa sin?"
Tanya Gwat hoa Hujin. Hujin tidak perlu susah bercapek lelah, sebentar lagi Cia sin akan keluar menemui kalian!"
"Untuk apa dia hendak bertemu dengan kami?"
"Masakah Hujin lupa bukankah kalian punya janji yang belum ditepati sama Coa Sin!"
"Jadi Coa sin adalah mahluk aneh yang berulang kali mengatur tipu daya hendak mencelakai kami itu...."
Berkerut alis Kang Pan, ujarnya.
"Bila berhadapan dengan Coa sin aku harap kalian bersikap cukup hormat kepada beliau."
"Kenapa?"
Omel Li Sek hong."Hampir saja dia merenggut nyawa kami...."
"Sekali kali Coa sin tiada berniat mencelakai jiwa kalian, tipu dayanya itu tidak lebih hanyalah untuk menjajal sampai dimana tingkat kepandaian silat kalian. Bila kalian benar benar terjebak didalam sumur itu, pasti Coa sin akan menolong kalian."
Li Sek hong masih kurang terima, katanya.
"Lalu bagaimana dengan ular berbisanya yang dia lepas hendak menyerang kami?"
"Ular ular itu hanyalah jenis ular yang tidak begitu jahat bisanya, dibanding dengan ular diatas badanku ini, entah betapa kali lipat bedanya. Ular ular itu paling paling hanya membuat kalian sedikit terluka, apalagi Coa sin punya obat pemunahnya yang mustajab, betapapun jiwa kalian tidak sampai dikorbankan!"
"Aku tidak percaya !"
Dengus Li Sek hong uring uringan.
"Kalau tidak percaya boloh kau tanya kepada Ih yu!"
Liu Ih yu mencebirkan bibir, katanya."Ucapannya memmg tidak salah, sekali kali Coa sin tidak akan melukai seorang perempuan.
Terutama perempuan yang rada cantik dan bisa main silat, dia ingin mengumpankan seluruh perempuan didunia ini tak perduli tua muda asal cantik dan bisa main silat didalam Jian coa kok ini."
"Apakah ilmu silat Coa sin amat tinggi?"
Tanya Gwat hoa Hujin.
"Bukan maha tinggi, malah tidak terukur tingginya. Maka kuperingatkan kepada Hujin lebih baik kau tidak bermusuhan dengan Coa sin."
Gwat hoa Hujin berpikir sebentar, lalu berkata "Asal dia tidak melukai putraku, sudah tentu aku tidak bermusuhan dengan dia tapi kudengar ...."
"Soal itu bisa diselesaikan dengan lain cara!"
"Cara apa?"
"Sekarang aku belum tahu, tapi pelan pelan pasti akan dapat kita pikirkan cara yang cukup sempuma demi kebaikan kedua belah pihak Belum lenyap suaranya, dari kamar sebelah dalam tiba tiba kumandang suara dingin.
"Sekali kali tidak akan terjadi cara sempuma yang menguntungkan kedua pihak. Dalam dunia ini hanya terdapat seekor ular wulung bertanduk tunggal, akupun hanya punya kesempatan bagus lagi sekali saja untuk pulih menjadi manusia biasa, maka betapapun aku tidak akan melepaskan bocah itu!"
Gwat hoa Hujin dan Li Sek hong membalik badan bersama, berbareng pula mereka menjerit ngeri.
Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sudah tentu mereka tidak akan mau percaya bahwa didunia ini terdapat mahluk aneh macam ini.
Itulah mahluk aneh yang berkepala manusia berbadan ular.
Rambut diatas kepalanya awut awut dan kaku seperti duri landak, selebar mukanya tumbuh jambang bauk tebal, mulut, kuping, mata dan hidungnya persis seperti dengan manusia, malah perawakannya kelihatan kereng dan gagah, badan sebelah atas telanjang, daging ototnya keras bergempal, kedua lengannya kelihatan besar dan bertenaga, dari sebatas dada bentuknya mirip seperti manusia umumnya.
Akan tetapi tubuh bagian bawah mirip benar dengan ular berekor cabang dua.
Sebatas pinggang terus kebawah badannya tumbuh sisik sisik binatang yang memancarkan sinar kemerahan, meski kedua kakinya melempang ketanah, namun kenyataan merupakan dua ekor ular yang bercabang.
Dari atas semakin bawah mengecil dan lembut, tempat yang menyanggah tanah cuma sebesar ibu jari.
Dari sikap dan kelakuan kedua orang ini mahluk aneh itu sudah paham akan perasaan hati mereka.
Ditengah jengek tawa air mukanya mengandung perasaan hampa dan sedih, katanya dengan rasa penasaran "Kalian sudah melihat jelas belum.
Aku inilah Coa sin, manusia diantara ular, malaikat diantara manusia !"
Saking kaget dan ngeri Gwat hoa Hujin dan Li Sek hong sekian lamanya belum mampu bersuara.
Coa sin bergelak tertawa, serunya."Maka aku suka pada perempuan yang bisa main silat, nyali mereka jauh lebih besar, tidak bakal begitu melihat aku lantas jatuh semaput, terutama kalian berdua sungguh harus dipuji cukup hanya menjerit saja.
Masih kuingat pertama kali Ih yu melihat aku, saking kaget ia jatuh kelenger."
Setelah menenangkan hati, berkatalah Gwat hoa Hujin."Kalau sebelum ini aku tidak mendengar cerita mereka, begitu melihat kau secara mendadak, tidak urung pasti jatuh semaput juga...."
Coa in menjadi rada kecewa, ujarnya."Kalau begitu, tiada seorangpun dalam dunia ini yang melihat diriku tak akan ketakutan!"
Rasa takut Li Sek hong sudah lenyap, segera ia menyela bicara."Bentuk seperti tampangmu ini, kalau tidak mau dikata tidak menakutkan orang, masakan bukan sesuatu hal yang lucu belaka."
"Bohong !"
Sentak Coa sin sambil angkat kepala.."Kenyataan ada orang yang setelah melihat aku bukan saja tidak takut malah sikapnya amat aleman terhadapku."
Li Sek hong tidak percaya, katanya.
"Kalau benar ada manusia seperti itu, nyalinya itu sungguh keliwat besar!".
"Kenapa tidak, bukankah gadis cilik itu kemaren masih berada sama kalian ?"
Li Sek hong melengak, tanyanya."Gadis Cilik maksudmu Ling koh?"
"Tepat! Gadis kecil ini adalah gadis lincah yang menyenangkan yang pertama kali ku temui selama hidupku ini, jikalau bukan dia yang minta pengampunan bagi kalian, sikapku tidak akan begitu sungkan terhadap kalian."
Li Sek hong tertawa dingin, baru saja ia hendak mendebat, keburu Gwat hoa Hujin menyela bicara."Kami datang tanpa mengandung maksud maksud jahat, tujuan kami adalah mengejar unta itu sehingga masuk kelembah ini tanpa sengaja...."
Coa sin tertawa aneh, ujarnya."Akhirnya kalian tahu juga bahwa bocah itu berada didalam lembah ku ini, lantas ingin menolong nya keluar bukan?"
Gwat hoa Hujin manggut mangggut, sahut nya."Benar, maka kami harap Coa sin suka memberi pengampunan kepadanya, melepasnya keluar."
"Tidak mungkin!"
Sahut Coa sin tegas."Gadis kecil itu juga minta pengampunannya kepadaku, tapi aku tidak bisa menyetujui!"
Sedapat mungkin Gwat hoa Hujin menahan sabar, pintanya lagi.
"Bukankah ia tak berbuat sesuatu kesalahan terhadap kau."
"Meski tidak berbuat salah terhadapku, namun ia sudah melanggar dua laranganku."
"Bagaimana harus menjelaskan ucapamu ini?"
Coa sin menggaruk garuk rambutnya yang awut awutan, lalu pelan pelan menggeser ekor ular yang menyanggah badannya, katanya."Pertama, dia adalah seorang laki laki, selama hidupku paling membenci laki laki.
Laki laki di dalam Jian coa kok ini melulu umpan ular piaraanku, tiada seorang pun yang pernah hidup meninggalkan tempat ini."
Tak tahan lagi Gwat hoa Hujin menjadi gusar, dampratnya."Perbuatan ini boleh dikata keluar batas bagi seorang yang sudah pikun dan menjdi gila...."
Coa sin terbahak bahak serunya."
Hal itu masih merupakan urusan kecil, laranganku ini kutegakkan sendiri, boleh pula kubatalkan juga, Kang Pan dan Ih yu sama mintakan ampun bagi jiwanya, bukannya tidak boleh kulepas dia, cuma dia sudah menelan empedu ular wulung bertanduk tunggal, sehingga kedua ekorku ini tidak bisa sembuh menjadi kaki seperti manusia umumnya..."
Gwat hoa Hujin lantas menjengek dingin, debatnya."Tampangmu ini memang sudah terjadi sejak kau dilahirkan mana mungkin disembuhkan lagi?"
"Kurang ajar kau!"
Maki Coa sin murka."Siapa bilang tampangku ini sejak dilahirkan, sebetulnya akupun seorang manusia normal seperti kalian pula...."
"Masakah keadaanmu sekarang adalah perbuatan manusia pula?"
Tanya Gwat hoa.
"Sudah tentu perbuatan manusia, aku kena ditipu dan dijadikan percobaan sehingga menjadi bentukku sekarang."
"Siapa dia?"
Tanya Gwat hoa Hujin mencelos dan heran.
"Dia Ibuku....."
Gerang Coa sin dengan penuh amarah.
"Ibumu? Kenapa dia berbuat sekeji itu?"
Sikap Coa sin menjadi kasar dan marah marah, suaranya keras dan lantang."Tidak perlu kau tahu hal itu!
Yang terang untuk memulihkan badanku seperti manusia normal menelannya, maka aku harus berusaha mengembalikan kembali!"
"Empedu itu sudah sekian lama ditelan kedalam perutnya, kasiat obat sudah bekerja dan terbaur didalam badannya, cara bagaimana kau bisa mengambilnya?"
Coa sin menyeringai dingin, jengeknya.
"Sudah tentu aku punya caraku sendiri kasiat obat empedu ini meski berhasil merengut nyawanya dari jurang kematian namun yang bekerja hanyalah satu persepuluh saja kasiatnya yang asli justru makin tersekam didalam badannya..."
"Meski masih tersekam didalam badannya, namun tentu berpencar disegala sendi sendi tulang dan urat nadinya, kecuali kau menelannya bulat bulat, kalau tidak tidak mungkin kau bisa mengambil sisa kasiat obat empedu itu dari dalam badannya."
"Menelan bulat terang tidak bisa, kalau mengunyahnya sampai hancur lulu masakah tidak bisa kulakukan."
"Apa!"
Sela Li Sek hong.
"Berarti kau menggunakan cara yang begitu keji untuk menghadapinya?"
Sebaliknya Gwat hoa Hujin berlaku amat tenang ujarnya "Kukira tiada gunanya, kasiat empedu yang tersekam didalam badan itu tentu sudah berakar didalam tubuhnya asal, kau mematahkan sebuah tangan atau kakinya, yang berada dibagian lainpun akan ikut buyar dan tiada gunanya lagi, paling paling hanya bisa memperoleh sebagian kecil saja dari seluruh kasiat obat yang kau kehendaki!"
Memembalik biji mata Coa sin, katanya"
Agaknya kau cukup paham didalam bidang ini."
"Maka itu kunasehatkan pada kau, jangan kau melakukan perbuatan yang merugikan orang lain dan tidak menguntungkan dirimu sendiri !"
"Kau anggap aku ini seorang bodoh, ucapanmu ini masih berguna untuk menipu orang lain..."
Gwat hoa Hujin menarik muka katanya.
"Aku bicara secara kenyataan siapa bilang menipu orang?"
"Kau masih berpura pura pikun, bicara secara terus terang. Untuk menyedot kasiat obat empedu didalam badannya itu aku tidak perlu banyak memeras keringat, malah tidak perlu aku melukai sedikitpun kulit nya sudah tentu aku tidak perlu pula merenggut nyawanya ...."
"Maksudmu, kau hendak menggunakan Siap liong ci hoat?"
"Akhirnya kau sendiri yang mengatakan"
"Apakah yang dinamakan Siap hong ci hoat?"
Tanya Kang Pan dengan tak mengerti.
Gwat hoa Hujin menarik muka tanpa bicara sebaliknya Coi sin bergelak tertawa, serunya."Siap hong ci hoat amat gampang yaitu diwaktu dia tidur berkecukupan, semangat dan tenaganya penuh gairah, disaat hawa positif dalam tubuhnya bergelora karena sentuhan dari luar yang membangkitkan hawa nafsu nya, aku berkesempatan bisa menyedot kekuataanya itu.
Mungkin cukup satu bulan saja, bukan saja bisa kusedot seluruh kasiat obat empedu itu, malah daya gunanya jauh lebih besar dan berharga."
Kang Pan masih kurang paham, adalah ketiga perempuan yang lain sama berubah air mukanya, terutama Li Sek hong karena ilmu latihannya justru mengutamakan kekuatan perpaduan antara negatif dan positif dari aliran sesat yang nyeleweng, bagaimana baik buruk terhadap ilmu macam itu dia paling paham.
Maka dia dulu berteriak."Perhitunganmu ini mungkin bisa gagal total, Koan kongcu berjiwa murni dan sulit terpengaruh oleh kekuatan luar, pertahanannya amat kuat dan suci bersih terutama Lwekangnya sudah mupuk dasar kekuatan yang luar biasa dalam ajaran yang lurus segala gempuran dari luar jangan harap bisa meluluhkan sanubarinya !"
"Tepat sekali omonganmu,"
Ujar Coa sin tertawa lebar.
"Sudah dua hari ini kuselidiki kondisi bocah itu, memang dia tak lain tak bukan laksana sebuah batu jade asli yang sudah gemblengan, semakin murni hasil yang kucapai semakin besar..."
"Besarpun tidak berguna dan tidak bisa membangkitkan nafsu birahinya maka caramu itupun tidak akan berguna!"
Tidak menjawab, tapi mata Coa sin melirik ke arah Kang Pan sambil berseri tawa. Tergerak hati Li Sek hong, cepat ia berkata kepada Kang Pan.
"Nona Kang! Katamu setiap hari kauberi Koan kongcu minum darah ular sanca...."
Kang Pan melongo, sahutnya tidak mengerti "Ya, Coa sin yang menyuruhku berbuat demikian."
Li Sek hong semakin gugup, tanyanya."Coa sin masih menyuruh kau melakukannya lagi?"
"Tiada cara lain,"
Kata Coa sin "bila ada kerjaan apa apa, dia suruh aku ajak dia bicara!"
Dengan muka serius berkata pula Li Sek hong "Nona Kang, kalau kau tidak ingin menceritkannya, dan yang penting lebih baik mulai sekarang jangan kau menemui dia lagi."
"Kenapakah sebetulnya?"
Tanya Kang Pang tidak mengerti.
"Darah ular sanca dapat membantu dia menyehatkan badan...."
"Mungkin maksudmu baik, namun tanpa kau sadari kau malah mencelakai dia. Memang darah ular sanca dapat mempercepat memulihkan kesehatannya, tapi sifat darah Koan kongcu seorang kuncu, karena dibawah pengaruh obat obatan, menghadapi kau yang berwajah begitu ayu rupawan, tentu tidak akan kuasa mengendalikan diri lagi..."
"Lalu apakah yang akan terjadi ?"
Tanya Kang Pan lebih lanjut masih belum paham.
Dapat membuatnya sulit mengekang kesadaran dan birahinya, kalau itu sampai terjadi kebetulan masuk perangkap yang diatur mahluk tua bangkotan ini, satu bulan kemudian, walau Koan kongcu tidak mati, badannya menjadi kurus tinggal kulit pembungkus tulang, meski ada obat dewatapun tidak akan bisa menolongnya...."
"Dengan rasa curiga Kang Pan berpaling kearah Coa sin, tanyanya."Coa sin! Benarkan seperti yang diucapkan?"
"Kira kira memang demikian, tapi Coa ki soal ini menyangkut cita cita dan harapanku selama hidup ini, aku percaya kau pasti akan membantu aku."
Kang Pan tertunduk merenung, agakanya ia tenggelam dalam perang batin.
"Coa ki!"
Coa sin coba membujuk.
''Bukankah kau merasa hidup didalam pengasingan ini terlalu sunyi, kau selalu minta padaku untuk keluar melihat dunia ramai?
Setelah badanku menjadi normal kembali, kita akan bisa keluar dengan bebas dan leluasa...."
Kang Pan termenung cukup lama, akhir nya ia berkeputusan bulat.
"Coa sin! Kau merawat dan mengasuh aku selama puluhan tahun mempelajari ilmu silat tingkat tinggi kepadaku lagi, sudah sepantasnya aku membalas budimu ini !"
Coa sin bergelak tertawa, serunya puas dan bangga.
"Coa ki, kau benar benar anak yang baik, kelak aku akan lebih baik terhadap kau, akan kudidik kau menjadi seorang tokoh nomor satu tanpa tandingan diseluruh jagat ini, kau akan menjadi wanita tercantik pula diseluruh dunia...."
Tapi alis lentik Kang Pan berkerut, katanya dengan berlinang air mata."Tapi Coa sin! Aku tidak mau disuruh mencelakai Koan kongcu..."
Coa sin melongo sejenak, teriaknya keras.
"Kenapa?"
"Akupun tidak tahu, cuma hatiku tidak tega untuk mencelakai Koan kongcu, dia adalah seorang yang baik hati..."
Coa sin berjingkrak gusar serunya."Jadi kau suka melihat aku cacat seumur hidup! Masih kurangkah kebaikanku terhadap kau?"
"Coa sin! Kau sendiri tidak kena dirugikan apa apa, paling paling tidak menjadi manusia normal, kau lepaskan saja Koan kongcu, aku akan menemanimu didalam lembah ini seumur hidup......"
Berubah air muka Coa sin, katanya dengan seringai sadis "Baik!
Coa ki sungguh kau amat baik!
Selama sepuluh tahun kutanamkan budi kepada kau, namun kau tidak ungkulan dibanding pertemuan hanya tiga empat hari belaka.
Sebetulnya aku hanya membenci laki laki, hari ini terpaksa aku harus membenci perempuan pula."
Tiba tiba Kang Pan menangis gerung gerung, kata nya tersendat.
"Coa sin... apapun yang kau minta kaulakukan pasti kulaksankan, cuma jangan kau suruh aku mencelakai Koan kongcu, kalau tidak, kau bunuh aku saja...."
Sekian lama rona muka Coa sin berganti ganti, mendadak berubah sabar lagi, katanya tertawa lebar "Jian ca kok selamanya tidak pernah membunuh perempuan, aku tak akan melanggar undang undang ini meski sudah terdesak seperti ini.
Sudahlah, jelas kau tak mau membantu aku, akupun tidak perlu harus minta bantuanmu."
Mendengar nada bicaranya sudah lembek semua orang menyangka orang sudah merubah niatnya.
Siapa nyana dia masih tetap tidak mau melepakan Koan San gwat.
Cepat Gwat Hoa hujin bertanya."Kau masih punya cara apa?"
"Caranya masih cukup banyak!"
Sela Kang Pan dengan keheranan "Apakah kau hendak menggunakan perempuan lain?"
"Kecuali kau, dalam Jian coa kok ini tiada perempuan lain yang dapat kuperalat."
Mendadak Liu Ih yu bersuara tegas."Ada saja! Aku...."
"Sumoy! Kau..."
Teriak Li Sek hong.
"Aku kenapa! Koan San Gwat pernah menolong aku, akupun pernah menolong dia hutang piutang ini sudah lunas, budi hilang dendam semakin membara !"
"Sumoy. Koan kongcu punya dendam apa terhadap kau?"
"Siapa bilang tidak, dia menolak lamaran ku, membuat malu dihadapan orang banyak ingin rasanya aku menyiksanya, kini tibalah saatnya ..."
"Sumoy, aku tahu kau tidak bicara menurut keinginanmu dan sanubarimu, kau bisa menolongnya dari air, terima dimarahi kau berikan empedu ular itu untuk mengobatinya, ini membuktikan bahwa cintamu masih belum pudar...."
Kaku dan dingin seraut wajah Liu Ih yu dengusnya.
"Lain dulu lain sekarang, keparat itu memang keterlaluan. Terhadap Coa ki yang baru bertemu dua hari saja ia menerocos seperti burung beo ajak bicara dengan dia aku yang telah menolong jiwamu malah menyapapun tidak terhadapku!"
Lalu ia berpaling kearah Coa sin, sambungnya."Coa sin! Dengan suka rela aku mohon biarlah aku yang mewakili Coa ki melaksanakan tugas itu!"
Coa sin berpikir sebentar, mendadak ia tersenyum, ujarnya.
"Ih yu! Orang sering bilang manusia paling jahat adalah jiwa perumpuan, keadaanmu sekarang merupakan bukti yang nyata."
"Tapi aku tidak bisa mempercayai kau!"
"Kenapa!"
Seru Liu Ih yu.
"Tidak percaya ya tidak percaya, kaupun tak perlu cerewet lagi, kalau aku menyerahkan tugas ini kepada kau, bukan mustahil menjual kepercayaanku kepada kau!"
Liu Ih yu melotot berapi api kearahnya terus putar badan tinggal pergi.
"Kau hendak kemana?"
Coa sin berteriak.
"Toh kau tidak percaya kepadaku, peduli lagi turut campur urusanmu."
"Ih yu, aku paham akan maksudmu, tapi kuperingatkan kepada kau, tempat dimana bocah itu terkurung, sekelilingnya ada aku atur penjagaan dari ular ular yang paling jahat bisanya sekali kena tergigit, aku sendiri pun tak kuasa menolong, apa lagi kau !"
Liu Ih yu terlongong, benar juga ia berdiri disana tak berani bergerak lagi.
Sesaat keadaan menjadi kaku, semua sama berdiri diam tanga bersuara atau bergerak, tapi akhirnya Gwat hoa Hujin yang membuka kesunyian.
"Coa sin, sebetulnya dengan cara apa kau hendaki anakku?"
"Cara semula, apapun yang tetjadi aku tidak akan membatalkan niatku."
"Jelas kau sudah tidak punya orang yang dapat kau peralat, bagaimana kau akan melaksanakan rencanamu?"
"Tiada orang yang dapat kuperalat, memangnya aku tak bisa menggunakan ular. Ular dapat ku kendalikan dan mereka tak akan berani membangkang perintahku!"
"Ular!"
Semua orang sama sama menjerit kaget.
"Benar! Orang tidak bisa digunakan, terpaksa aku menggunakan ular. Akan kupilih jenis ular yang paling cabul dan suka bersetubuh, setiap hari dalam waktu dan jangka tertentu supaya mereka bersetubuh dihadapan bo cah itu, akan kugunakan adegan romantis ini untuk membakar nafsu birahinya. Cara ini pasti tidak akan gagal, kuduga jauh lebih bermanfaat daripada menggunakan manusia, cuma hasil yang kuperoleh saja rada berkurang. Meski caraku ini rada memalukan, namun keadaan memaksa tiada pilihan lain untuk aku bertindak, sekarang masih ada cara apa yang dapat kalian lakukan untuk mencegah perbuatanku ini?"
Berubah hebat air muka Gwat hoa Hujin, mendadak ia nencabut pedang pendekanya teriakanya kalap "Berani kau melakukan rencanamu biar kubunuh kau lebih dulu!"
Coa sin gelak gelak, air mukanya menun jukan rasa menghina, cemoohnya."Lebih baik kalau kau tidak bertingkah terhadapku, kalau menggunakan ilmu silat atau pedang, selamanya aku tidak pernah memikirkan lawan yang tangguh dapat melawan aku, kunasehatkan lebih baik simpanlah tenagamu, jangan kau bikin aku marah, meski tidak akan kurengut jiwamu, paling tidak akan kusiksa kau!"
Gwat hoa Hujin tidak banyak bicara lagi, tiba tiba pedangnya menusuk kedepan mengarah dada orang.
Coa sin berdiri tegak tanpa bergerak, tiba tiba ia angkat sebelah kaki kanan yang mirip ekor ular itu, ringan ringan saja ia menepuk dan menggulung, tahu tahu Gwat hoa Hujin tergentak mundur beberapa langkah.
Karuan Gwat hoa Hujin tercengang, selamanya belum pernah ia menghadapi cara tempur yang aneh dan lucu ini.
"Bagaimana?"
Olok Coa sin.."Jangan kata kau tidak mampu menusuk aku, meski kau kena menusuk tidak akan mampu melukai aku!"
Gwat hoa Hujin membentak pedang pendekanya meluncur lagi menusuk kelambung sebelah kiri.
Lagi lagi Coa sin hanya menggerakkan kaki panjang yang berbentuk buntut ular, cepat sekali terbang keatas terus menggulung dan telak sekali melibat batang pedang sehingga pedang pendek Gwat hoa Hujin tergubat dan tidak mampu bergerak lagi.
Lekas ia membetot dan menarik mundur sekuatnya namun sedikitpun tidak bergeming.
Coa sin terbahak bahak serunya."Silahkan kau cari bantuan asal kau dapat pedang mu, boleh aku mengaku kalah."
"Hujin, biar kubantu kau!"
Tanpa ayal Li Sek hong segera memburu maju. Gwat hoa Hujin mengeleng kepala menolak, katanya dengan muka dingin kaku.
"Coa sin! Apakah ucapanmu dapat dipercaya?"
Coa sin melengak sahutnya."Sudah tentu kata kataku selamanya masuk hitungan!"
"Kalau kau benar benar kalah bagaimana?"
"Belum pernah aku memikirkan persoalan demikian"
"Lekas sekarang kau pikirkan dulu, biar kutunggu jawabanmu!"
Melihat orang bicara sungguh Coa sin menjadi sangsi akan kebenarannya, sejenak ia berpikir lalu berkata."Kalau kau bisa mencabut pedangmu, apapun yang kau minta bolehlah kuterima seluruhnya!"
"Baik! Banyak orang menjadi saksi, jangan kau nanti pungkir janji!"
Mendadak ia kerahkan tenaga pada telapak tangannya, pedang pendek itu mendadak bisa mengkeret sendiri menjadi lebih kecil. Secara tiba tiba pula ia lalu menarik sekuat tenaga. Coa sin berteriak.
"Barang bagus! Tak nyana pedangmu ini bisa main sulap juga."
Ekornya tiba tiba dikencangkan pula belitan nya, sementara pedang pendek sudah mengkeret semakin kecil menjadi seutas tali panjang kira kira dua kali lebih, namun hanya kuasa tertarik separuhnya, ujungnya kena dibelit lebih kencang pula oleh ekor ular orang.
Akan tetapi dengan pengerahan tenaga menarik dan membetot, cahaya batang pedang semakin mencorong terang, tajamnya berlipat ganda pula secara tidak terduga, berhasil mengiris luka sisik kulitnya yang tebal itu, melalui batang pedangnya yang panjang mengalir keluar cairan merah berketes ketes, itulah darah segar.
Seketika muka Coa sin mengunjuk kemurkaan yang luar biasa, tiba tiba ekornya semakin mengencang, menggulung kedalam la lu mengendal keluar lagi.
Koatan Gwat hoa Hujin merasa dari batang pedangnya tersalur gelombang tenaga yang maha kuat melawan!
tenaga betotannya, sehingga tanpa kuasa ia mempertahankan cekalannya pada gagang pedangnya, sambil menjerit kesakitan badannya mencelat terpental jauh sekali.
Sigap sekali Li Sek hong memburu maju menyanggah badannya, tampak Gwat hoa Hujin pucat pasi, telapak tangan kanan yang mencekal gagang pedang lecet berlumuran darah, tergetar pecah oleh tenaga lawan.
Berhasil merebut pedang Coa sin lalui mengambil pedang itu serta diamat amati bolak balik, tiba tiba kedua tangan memotes."Kletak"
Pedang pendek itu dipuntir kutung menjadi dua potong, tangan terayun terus dilempar jauh jauh dengan mengeluarkan suara nyaring membentur batu gunung.
Serunya dengan penuh kebencian."Kiranya kau mengandal pedang aneh itu, maka berani mengajukan perjanjian dengan aku....."
Sambil menahan rasa kesakitan pada telapak tangannya lekas Gwat hoa Hujin memburu maju menjemput kutungan pedangnya, serta berteriak bengis."Mahluk keparat!
Berani kau merusak pedang pusakaku, kalau tidak membikin badanmu hancur lebur, aku bersumpah tidak jadi manusia!"
"Perempuan jalang!"
Coa sinpun menjadi gusar,."Sudah melukai aku masih berani sesumbar kurang ajar, rasakan hajaranku yang setimpal!"
Melihat Coa sin marah marah dan hendak melabrak Gwat hoa Hujin, Kang Pan menjadi gugup, lekas ia berterik maju.
"Coa sin Kau ...."
"Jangan kuatir!"
Coa sin menyeringai dingin "Jian coa kok selamanya tak akan membunuh wanita, aku tidak akan melanggar undang undangku ini.
Hukuman mati boleh dibatalkan, siksaan berat harus dia rasakan, aku harus menghukumnya berat untuk melampiaskan rasa penasaranku!"
"Cara bagaimana kau hendak menghukum dia?"
Tanya Kang Pan gelisah.
"Aku tidak pernah menghukum wanita,"
Demikian sahut Coa sin setelah tertegun sebentar.
"Aku sendiripun tidak tahu hukuman apa yang cukup setimpal ... sudahlah biar kutampar pipinya pulang pergi saja."
Dengan mendelik dan kereng Gwat hoa Hujin membentak."Berani kau menyentuh aku!"
Agakanya Coa sin terpangaruh akan wibawa orang, sejenak ia merandek, akhirnya dia berkata tertawa.
"Kenapa aku tidak berani?"
Dibarengi ancamannya telapak tangannya melayang menampar kemukanya.
Gwat hoa Hujin insyaf bahwa ilmu silat lawan teramat tinggi untuk menghindari penghinaan ini, terpaksa dia berlaku nekad, pedang kutungan sendiri ia angkat teras menghujan keulu hati sendiri.
Karuan kejut Li Sek hong bukan kepalang, lekas ia menubruk maju berusaha merebut pedang kutung itu serta berteriak."Hujin!
Kenapa harus cari jalan pendek..."
Tangan Gwat hoa Hujin kena dicengkram oleh Li Sek hong, sementara telapak tangan Coa sin juga karena adanya gangguan ini teracung ditengah udara tidak jadi ditamparkan turun.
Sesaat lamanya semua orang sama berdiri terlongong, akhirnya Gwat hoa Hujin berkata rawan.
"Nona Li, lepaskan tanganku, coba kau pikir, bila mahluk aneh ini benar benar menampar pipiku, ada lebih baik aku mati saja."
Li Sek hong dapat memaklumi perasaan orang, akhirnya ia melepaskan tangannya, tak nyana gerak gerik Coa sin teramat cepat, entah bagaimana jari jari tangannya berkembang dan berkelebar, tahu tahu pedang kutungan di tangan Gwat hoa Hujin sudah direbutnya, bersama itu sebelah tangan yang lain bergerak pula secepat kilat, kontan jalan darah Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin kena tertutuk.
Seperti batu batu keduanya berdiri tegak tidak bergeming lagi.
Coa sin melempar kutungan pedang itu jauh jauh.
Lalu bergelak tertawa sepuas puas nya serunya.
"Kau perempuan ini sungguh bandel dan keras kepala, selamanya aku amat sungkan menghadapi perempuan, hari ini betapapun harus kutampar dua kali pipimu, akan kulihat sampai dimana rasa kebencianmu terhadapku!"
Jalan darah Gwat hoa Hujin tertutuk sehingga badannya tidak mampu bergerak, namun pendengarannya masih bisa bekerja, ia tahu penghinaan paling besar tidak mungkin terhindar lagi terpaksa ia limpahkan rasa gusar hatinya dengan pelototkan matanya yang berapi api.
Diselangi seringainya yang dingin, Gwat hoa Hujin sudah angkat telapak tangannya pula, baru saja hampir diturunkan, mendadak dari sebelah belakangnya membentak sebuah suara laksana geledek mengguntur .
"Mahluk keparat! Berhenti !"
Coa sin berpaling kebelakang dengan melongo, tampak diambung pintu berdiri tegak Koan San Gwat yang memegang senjata gada emasnya berkaki satu.
Air mukanya menampilkan kemurkann yang berapi api, sikap nya yang garang ini mengunjukan wibawa agung yang tidak boleh ganggu usik.
Sekilas dia melongo baru Coa sin bersuara.
"Bedebah kau! Cara bagaimana kau bisa keluar!"
Koan San Gwat tidak hiraukan pertanyaan orang, malah dia berpaling dan katanya "Ling koh! Lekas kau bebaskan jalan darah ibuku dengan Li siancu!"
Siapapun tidak akan menduga Koan San gwat bakal muncul dalam keadaan yang kritis ini, terutama Coa sin, hampir dia tidak percaya anak muda ini bisa lolos dari kamar tahanan yang berkepung berbagai jenis ular berbisa tanpa kurang suatu apa.
Secara diam diam Ling koh segera menyelinap kesebelah sana, beruntun ia membebas jalan darah Gwat hoa Hujin dan Li sek hong yang tertutuk, tak lama kemudaan mereka sudah bisa bergerak lagi seperti sediakala.
Kalau Li Sek hong masih berdiri menjublek ditempatnya, adalah Gwat hoa Hujin segera memburu kearah Koan San Gwat serta berteriak.
"Nak! Kau...."
Sekali raih ia peluk lengan anak nya yang besar kuat dan keras berotot, pancaran matanya penuh rasa prihatin dan rasa cinta kasih yang tak terhingga.
Koan San gwat sendiri juga terpengaruh akan pertemuan yang tidak terduga ini, sesaat ia menenangkan hati, serta katanya."Bu!
Kau minggir dulu, biar kuhadapi mahluk keparat ini!"
"Hati hati nak! Dia amat lihay!"
"Bukan soal, aku tahu seluruh badannya terbungkus sisik tebal yang tidak mempan senjata, tapi aku percaya dia tidak akan kuat menahan pukulan Kim sin kaki tunggal di tanganku ini."
Gwat hoa Hujin masih agak kuatir, namun Coa sin sudah mendesak maju seraya menyeringai lebar, tidak bisa dia memeluk lengan Koan San Gwat lagi sehingga mengganggu gerak geriknya terpaksa ia lepas tangan dan mundur kesamping.
Tujuh delapan kaki dihadapannya Coa sin menghentikan langkah, matanya memancarkan sinar beringas buas bentakanya keras."Anak keparat!
Cara bagaimana kau bisa keluar lari dari kamar tahananmu?"
"Masakah ular ular busukmu itu mampu mengurung aku!"
"Bedebah! Jangan kau takabur, ular ular dalam kamar itu cukup berkelebihan untuk menghadapi pasukan tentara ribuan orang, kalau kau tidak mendapat bantuan dari luar sekali kali sulit aku percaya kau dapat meloloskan diri."
"Terserah kau mau percaya, yang terang aku sudah berada disini." -oo0dw0oo-
Jilid 22 MATA COA SIN BERKILAT KILAT itu mendadak jelalatan, mendadak ia mendadak ia mendesak kedepan terus menerjang maju Koan San Gwat menyangka orang menyergap kearah dirinya lekas ia angkat patung masnya mengepruk kearah kepalanya.
Tak nyana cukup meliukan badan dan melejit kesamping Coa sin sudah melesat lewat seperti angin lesus terus menubruk kearah Ling koh, cukup mengulur tanpan dengan enteng ia cengkeram dan jinjing keatas, bentakanya bengis.
"Budak busuk! Tentu kaulah yang membuat gara gara ini!"
Badan Ling koh kontal kantil dijinjing keatas, namun sedikitpun ia tidak kelihatan menjadi takut, hal ini benar benar diluar dugaan Koan San gwat lekas ia angkat patung masnya terus menubruk maju, lekas Coa sin mengangsurkan badan Ling koh kedepan nampak senjatanya, kuatir melukai gadis kecil ini, terpaksa Koan San Gwat menyurut mundur dua tindak, bentakanya.
"Lepakan dia!"
"Tidak! Kalau kau ingin berkelahi, akan kugunakan dia sebagai senjata!"
Sungguh gusar Koan San gwat bukan kepalang, namun dia sendiri tidak bisa berbuat apa apa, terpaksa berteriak.
"Mahluk keparat! Sungguh tidak tahu malu, kau mempermainkan anak kecil......."
"Anak kecil apa. Hmm, budak ini kecil orangnya besar otakanya, bukankah kau mendapat bantuannya yang menolongmu keluar!"
Koan San Gwat tidak mampu menjawab namun ia berteriak pula dengan gugup."Kau hendak berbuat apa atas dirinya?"
"Akan kulempar kesumur ular supaya dijadikan hidangan ular mereka berpesta pora!"
Saking gugup Koan San Gwat sudah hendak menyerang, menerjang dan melabrakanya, bagaimanapun dia harus berusaha menolong Ling koh, tapi berulang kali Ling koh memberi isyarat dengan kedipan matanya, menghalangi perbuatannya.
Lalu dengan seri rawa halus ia berkata kepada Coa sin.
"Paman tua! Peganganmu terlalu keras, tengkukku sakit sekali."
Aneh, suaranya kedengaran kalem dan halus, tanpa sadar Coa sin mengendorkan pegangannya. Mata Ling Koh lantas berkedip kedip, katanya pula tertawa.
"Paman tua! Benarkah kau hendak membuang diriku dijadikan umpan ular?"
Coa sin menjadi gusar pula, teriakanya.
"Benar! Siapa suruh kau menjual aku?"
"Tidak! Kapan aku pernah menjual kau?"
"Kau ngapusi aku, katanya takut ular...."
"Kapan aku menipu kau? Ular ular peliharaanmu itu memang amat menakutkan, terpaksa aku minta obat penghindar ular itu kepada kau."
"Mana obatnya sekarang?"
Ling koh mengeluarkan sekeping obat warna hitam bundar sebesar mata uang, katanya."Nih, masih ada padaku bukan?"
Sekali raih Coa sin merebutnya kembali tanyanya.
"Bukankah kau mengandal kasiat obat ini untuk menolong bocah keparat itu?"
Ling koh berpikir sebentar, akhirnya dia manggat manggut dan mengiakan. Berubah air muka Coa sin, cepat cepat Ling koh menambahkan.
"Diwaktu kau memberikan obat itu kepadaku, kau ada berkata, asal aku membawa obat penghindar ular ini segala macam ular tidak akan berani menggigit aku, setelah kucoba ternyata memang amat manjur, karena iseng dan ingin coba coba lebih lanjut, sengaja aku ke tempat dimana saja yang terdapat ular yang banyak, secara tidak sengaja setelah main terobosan aku tiba ditempat tahanan Koan kongcu...."
Coa sin tertegun, katanya.
"Obat ini hanya ada sekeping, kalian berdua cara bagaima kau bisa keluar?"
"Aku pinjamkan obat ini kepada Koan kongcu, lalu dia menggendong aku, akhirnya dengan mudah kami lolos keluar. Paman tua! Cara ini akulah yang memikirkannya, cobalah kau nilai bagus tidak?"
Dengan gusar Coa sin menyahut tertawa "Baik! Amat baik! Dengan caramu ini kau menjual kepercayaanku padamu!"
Berputar biji mata Ling koh, katanya "Paman, di waktu kau memberikan obat itu padaku, kau tidak melarang aku kemana mana, juga tidak kau jelaskan melarang aku meminjamkan kepada orang lain.
Koan kongcu adalah sahabat karibku, aku hanya meminjamkan obat itu, mana boleh kau katakan aku menjual kepercayaanmu !"
"Siapa bilang tidak! Kebetulan bocah keparat ini punya dendam yang amat besar dengan aku, dia merebut empedu ular wulung bertanduk tunggalku, jerih payahku selama bertahun tahun menjadi hampa dan nihil."
"Darimana aku bisa tahu!"
Sahut Lin koh aleman dan merengek.
"Toh kau tak pernah beritahu kepada aku."
Coa sin melongo sesaat lamanya, sekian lama ia tidak mampu bersuara lagi, akhirnya ia menghela napas dan lepas tangan, katanya "Setan kecil, terhitung mulutmu pintar bicara biar kali ini kuampuni kau!"
Dengan tangannya Lingkoh mengelus elus tengkukanya yang tercengkram tadi, katanya sambil memonyongkan mulut.
"Paman tua! Kau sungguh kejam. Coba lihat begitu keras cengkramanmu sampai kulitku lecet dan mengeluarkan darah! Aduh sakit sekali."
Coa sin mendorongnya kesamping beberapa langkah, katanya.
"Nanti, setelah aku membereskan bocah keparat ini, biar kuberi obat!"
Tetapi dengan bandel Ling koh segera memburu maju pula, serunya.
"Paman tua! Kenapa kau tidak sudi melepas Koan kongcu pergi! Bukankah dia tidak bersalah padamu?"
"Minggir!"
Sentak Coa sin gusar "Jangan kau cerewet lagi! Harapanku untuk pulih menjadi manusia normal direnggut habis oleh bocah keparat ini, bagaimana juga aku harus mencari gantinya dari anggota badannya."
"Cara bagaimana mencari ganti? Kalau tidak menyangkut keselamatan jiwa Koan kongcu dan kesehatannya, aku percaya dia pasti akan memberi ganti kerugianmu."
Koan San Gwat menjadi bingung dan terheran heran, mengenai soal empedu ular itu memang ia pernah dengar dari penuturannya Kang Pan, hatinya selama ini selalu tidak tentram, maka segera, dia menyela bicara.
"Cian pwe! Soal empedu yang kau maksud baru terakhir ini kuketahui, kalau memang ada cara untuk mengatasi kesulitanmu itu, tanpa banyak pikir pasti aku......"
"Koan kougcu!"
Cepat Li Sek hong menyela bicara.
"Jangan sekali kali kau melulusi segala permintaannya, caranya itu kau tidak akan bisa menerimanya !"
"Kenapa?"
Tanya Koan San Gwat melengak.
"Khasiat empedu itu sudah terbaur dan menyatukan diri dengan hawa murnimu cara satu satunya adalah menyedot hawa murnimu itu, apakah kau masih berjiwa?"
Koan San Gwat menjublek sekian lama nya, katanya."Ternyata begitu duduk perkaranya, Cianpwe!
Menurut aturan, memang jiwa ku ini tertunjang karena adanya kasiat empedu ular wulung bertanduk tunggal itu sehingga aku bisa hidup sampai sekarang.
Tapi kasiat empedu itupun akan berguna bagi Cianpwe bahwa aku harus mengorbankan jiwa raga sendiri untuk menebus jiwa Cianpwe adalah pantas!"
Coa sin melongo, agakanya ia tidak pernah menduga sifat Koan San Gwat begitu terbuka tangan dan suka rela mengorbankan jiwa sendiri, sesaat ia ragu lalu katanya.
"Benarkah kau bisa berbuat begitu bajik dan suka rela?"
"Seorang lak laki sejati harus bisa membedakan baik buruk dan mana benar dan salah, cuma dalam waktu dekat ini aku mempunyai tugas tugas yang amat penting harus segera kuselesaikan, mohon Cianpwe suka menunda sementara waktu......"
"Anak muda !"
Seringai Coa sin dingin.
"Ucapanmu kedengaran amat merdu, entah apa yang terkandung didalam benakmu yang busuk itu. Setelah kau meninggalkan Jian coa kok, masakah sudi kembali lagi mengantarkan jiwa sendiri?"
Koan San Gwat menjadi naik pitam, semprotnya.
"Ucapan Cianpwe ini terlalu memandang rendah orang. Aku orang she Koan selamanya berani berkata pasti menepati ianji, masakah kau anggap aku manusia rendah tidak kenal budi!"
Coa sin tergelak tertawa, ujarnya.
"Anak muda! Anggap saja aku sudah percaya akan obrolanmu, kenyataanpun tidak mungkin bisa terlaksana. Kasiat empedu itu ada batas batasnya tertentu, setelah setengah bulan, setelah berakar dan bersatu padu dengan darah daging tubuhmu, begini saja marilah kira adakan cara tukar menukar!"
"Cara tukar menukar bagaimana?"
"Kau serahkan hawa murni kasiat empedu itu, bantulah aku menjadi manusia normal kembali. Segala urusan yang hendak kau selesaikan serahkan seluruhnya kepadaku, terhadap kemampuanku, aku percaya kau cukup jelas, segala urusan yang kuselesaikan tanggung jauh lebih sempurna dari kau!"
Koan San gwat menepekur sejenak, mendadak ia berkata tegas.
"Boleh!"
Jawaban ini seketika membuat semua orang berjingkrak kaget. Terutama Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin, mereka menentang dengan keras, namun dengan serius Koan San Gwat berkata pula.
"Urusan amat sederhana, ti dak lebih hanya memberantas beberapa orang pentolan jahat, mengandal kemampuan Cianpwe, pasti dapat memperoleh kemenangan, dan lagi aku harap Cianpwe sejak saat ini suka mengutamakan jiwa kependekaran, berhati lurus suka menegakkan keadilan bagi kaum lemah, dengan demikian hatiku akan cukup lega..."
"Bagaimana dengan Thio Ceng ceng"
Tanya Li Sek hong.
"Dapatkah persoalan kau wakilkan orang lain?"
Gwat hoa Hujin juga menimbrung "Kau adalah putraku, dapatkah diwakilkan orang lain pula?"
Kata Koan San gwat dengan senyum kecut dan rawan "Bu!
Kau masih punya seorang putra lain, anggap saja kau tidak pernah melahirkan aku.
Dan lagi Liu Yu hu amat cinta kepada Thio Ceng ceng, biar aku menyempurnakan pernikahan mereka, cuma kau harus membimbing Lau Yu hu kejalan yang benar dan melakukan pekerjaan genah, mengenai diriku, sejak tugas dan tanggung jawab Bing tho ling diberikan kepadaku oleh Suhu, badan kasarku ini seolah olah sudah bukan menjadi milik pribadiku sendiri, tugas untuk melenyapkan manusia sebangsa Cia Ling im, aku sendiripun tidak punya pegangan kuat untuk memberantasnya.
Kalau Coa sin sudi mewakili aku muncul di Kangouw, tentu hasilnya akan jauh lebih baik."
Lalu ia berpaling kearah Coa sin serta menambahkan dengan serius.
"Cianpwe! Tangung jawab Bing tho ling boleh kuserahkan kepada kau, asal kau berada didunia luar kau segera umumkan hal ini dikalangan Kangow tentu akan datang banyak orang yang suka membantu segala kesulitanmu, mereka akan memberitahu apa saja yang hendak atau ingin kau lakukan!"
Coa sin melongo sekian saat, ia menjadi bimbang dan kuatir. Adalah Ling koh berbisik dipinggir telinganya.
"Paman tua! Tanggung jawab dan tugas sebanyak itu dapatkah kau pikul seorang diri?"
Coa sin mengerut kening, katanya "Untuk membunuh orang sih amat mudah bagi aku, tapi keadaan dunia ramai diluar sana aku terlalu asing, kudengar bocah ini bicara semua dan rasanya amat berat, aku jadi merasa kewalahan...."
Tapi dengan halus Koan San Gwat membujuk.
"Cianpwe tidak usah kuatir, cukup asal kau membawa Ling Koh, banyak dan luas yang dia ketahui, segala persoalan yang menyusahkan dirimu pasti dia bisa berutahu cara untuk mengatasinya...."
"Nanti dulu! Nanti dalu, kurasa urusan masih perlu ku pikirkan lebih masak. Sekian lama aku menetap di Jian coa kok, semua besar keinginanku, setelah pulih menjadi manusia normal lagi akan keluar berfoya foya dan mengecap kesenangan dunia, tapi kalau setiap hari aku harus repot mengurus segala urusan mu yang tetek bengek itu mana ada kesempatan berfoya foya dengan bebas."
Coa sin berpikir sebentar lalu berkata.
"Anak muda! Aku tidak sudi kau tipu mentah mentah, urusanmu terlalu sukar dan rumit daripada aku keluyuran diluar, lebih baik aku tetap tinggal dalan lembah duniaku ini menemani ular ularku."
Ling koh berjingkiak kesenangan, serunya."Paman tua, jadi kau tidak akan mempersulit Koan kongcu lagi?"
Coa sin menjengek.
"Gara gara ku sendiri yang masuk perangkap jebakan dengan mengajukan syarat penukaran segala. Sekarang jelas aku tidak akan mampu mewakili dirinya menanggung berbagai tanggung jawab dan tugas berat itu, terpaksa harus membiarkannya berlalu..."
Semua orang tidak menduga bahwa urusan akhirnya akan selesai begitu saja, terutama Ling koh saking kegirangan dia berjingkrak dan memeluk Coa sin kencang kencang, serunya.
"Paman tua, kau sungguh baik hati."
"Memang kau setan cilik ini yang nakal"
Omel Coa sin mendelu.
"Kau menimbulkan banyak kesulitan bagi aku, kalau tidak apapun aku tidak perlu kuatir dan harus mempertimbangkan segala, tumbuh sayap pun aku tidak perlu kutir anak muda itu bakal meloloskan diri.... sekarang terpaksa aku harus mengurung diri selama hidupku didalam lembah ular ini."
"Sebetulnya lebih baik bila kau tidak keluar, dumi diluar sana bahwasanya tidaklah seindah yang kau khayalkan, disana banyak tipu muhlihat dan kekejamann rasa jelus iri hati dan culas ada lebih baik kau berkawan dengan ular ularmu yang jujur dan mungil mungil ini."
Tiba tiba mata coa sin menyorot terang katanya.
"Setan kecil, jadi kau juga suka kepada ular ularku?"
"Ya! Asal mereka tidak menggigit aku aku merasa mereka amat menyenangkan."
Cepat Coa sin berkata.
"Kalau begitu kau tinggal disini saja, biar kuajarkan kepandaian menjinakkan ular kepada kau! Bukan saja mereka tidak akan menggigit kau, malah suka mendengar perintahmu...."
Ling koh melengak, tanyanya "Kau ingin supaya aku menetap disini?"
Coa sin manggut manggut, sahutnya "Ya!
Setan cilik kau ini agakanya seperti amat berjodoh dengan aku, sejak pertama kali aku berhubungan dengan manusia normal, setiap orang yang melihat aku pasti anggap aku ini mahluk gila dan aneh.
Cuma kau sekali buka mulut lantas memanggil aku "Paman", sikapmu cukup simpatik dan suka bicara dan berkelakar dengan aku, kalau tidak masakah aku sudi memberikan obat penghindar ular yang amat berharga itu kepada kau..."
Ling koh masih merasa sangsi, Coa sin segera menambahkan dengan haru.
"Hakikatnya kau pun tidak akan selamanya tinggal di sini. Paling lama aku hanya bisa sepuluh tahun lagi, sang tempo belalu tanpa terasa, sepuluh tahun sekejap akan lampau, seterah aku wafat, kau menjadi bebas..."
Terketuk lubuk hati Ling koh oleh kata kata yang merupakan ini, cepat ia berseru "Paman tua, kau tidak akan sependek itu hidup."
"Ah, budak bodoh! Usia ular satu sama, jenis lain tidak sama, ada yang bisa hidup sampai puluhan tahun ada pula yang hidup sekian tahun. Seperti aku yang berbadan kombinasi antara manusia dan ular ini berapa lama pula bisa hidup. Kalau aku bisa mendapatkan empedu ular wulung tertanduk tunggal dan memulihkan bentuk asliku sebagai manusia normal, mungkin usiaku bisa lebih tua, sekarang apapun tidak perlu dibicarakan lagi. Nak sudikah kau tinggal disini?"
Ling koh berpikir sebentar, lalu menjawab "Aku akan menetap disini menjadi kawan mu, belum tentu hanya sepuluh tahun, asal kau belum meninggal, selama itu aku tidak akan meninggalkan tempat ini!"
Harr dan mendelu perasaan Coa sin, sekali raih ia peluk gadis cilik ini kedalam haribaannya, ia ciumi pipi kanan kiri Ling koh lalu katanya pula "Anak baik!
Terima kasih akan kesediaanmu, paling lama hanya sepuluh tahun, mungkan tidak begitu lama, tapi disaat aku masih hidup akan kudidik kau asuh kau bukan saja akan kujadikan kau ratu dalam negri ular, akan kujadikan pula kau seorang teraneh didunia."
Koan San Gwat terlengong, tanyanya."Ling Koh! Benarkah kau suah berkeputusan ?"
"Ya! Secara sukarela aku senang tinggal disini. Koan kongcu kuharap kau lebih gemilang dalam perjuangan menegakan keadilan dan kebenaran di Kangouw, mungkin akan datang suatu ketika setelah aku berhasil mempelajari ilmu, biarlah akupun keluar membantu kau!"
Koan San Gwat menunduk tidak bicara lagi, kejap lain ia menjura kepada Coa sin serta berkata.
"Harap Cianpwe suka menyusahkan diri merawatnya baik baik..."
Rasa benci Coa sin terhadap Koan San gwat belum hilang, semprotnya gusar.
"Memangnya perlu kau tegaskan lagi ! Kalau bukan karena dia, masa demikian gampang aku suka melepas kau demikian saja !"
Kuatir pembicaraan mereka semakin tegang dan bentrok cepat Ling koh menyela bicara.
"Koan kongcu, lekaslah kalian pergi! It ouw dan Jip hoat dan lain lain masih menunggu kalian diluar sana, melihat kalian menghilang secara misterius tentu mereka jadi geger bila ada keselamatan kau bertemu dengan Lim Siancu, harap sampaikan kabar beritaku disini, mengenai unta saktimu sebentar akan kuminta paman melepasnya keluar, dia akan menemukan kau !"
Waktu bicara berulang kali ia memberi tanda kedipan mata kepada semua orang Gwat hoa Hujin dan Li Sek hong memang sudah gugup hendak meninggalkan tempat itu, cuma Kang Pan seorang yang mengunjuk rasa iba dan berat berpisah.
Koan San Gwat segera menjura kepada Coa sin siap mengundurkan diri.
Mendadak Coa ki berteriak kejut.
"Aih dimana Ih yu?"
Memang semula Ih yu berlalu ditempat yang dekat dengan pintu keluar, di saat semua orang ribut ribut dan suasana cukup tegang tadi, entah kapan dia mengeloyor pergi secara diam diam.
Segera Coa sin memeluk tangan dan menepekur sebentar, mendadak ia membuka mata dan berkata.
"Dia sudah pergi. Celakanya tongkat ularkupun dibawanya pergi!"
Kontan Kang Pan menjerit lirih. Sementara Ling koh cepat bertanya.
"Paman, dari mana kau bisa tahu?"
Diatas tongkatku itu ada kupelihara tiga ekor ular yang paling jahat diseluruh dunia ini, ketiganya sudah dapat kukendalikan sesuka hatiku dengan kekuatan batinku, tadi aku mengerahkan lwekang memberikan tanda peringatan, kuperintahkan ketiga ular diatas tongkatku itu memanggil Ih yu kemari, namun aku tidak mendapat jawaban.
Malah ular sanca terbesar yang menjaga mulut gua memberi jawaban katanya dia sudah pergi!"
"Apakah Ih yu bisa mengendalikan ketiga ular itu ?"
"Bisa! Diwaktu kusuruh dia menangkap ular wulung bertanduk itu kuatir tenaganya kurang memadai maka kuberikan tongkatku itu supaya ketiga ekor ular itu membantu padanya."
Berubah air muka Li Sek hong. Ling kohpun ikut gugup.
"Celakalah kalau begitu ..."
"Takut apa! Meski ketiga ular teramat jahat, tapi masih kalah dibanding Ciok tai yang melingkar dibadan Coa ki ini!"
"Bukan takut yang kau maksud, aku menjadi kuatir bagi keselamatan orang lain. Jiwa Liu siancu itu kurang normal, kini mendapati tiga ekor ular jahat itu, mungkin banyak orang akan menjadi korban keganasannya. Yang terang hal ini akan menjadikan tekananan berat bagi Koan kongcu sendiri!"
Coa sin menggeleng kepala, ujarnya.
"Urusan orang lain, apa sangkut pautnya dengan kita! Aku justru mergharap bocah keparat itu biar digigit ular berbisa, baru dapat melampiaskan rasa penasaran hatiku!"
"Paman bagaimana juga kau harus segera meringkus Liu Ih yu kembali, paling tidak ketiga ekor ular berbisa itu harus dirampas kembali, supaya Liu siancu tidak mencelakai jiwa orang dengan ketiga ekor ular itu."
"Tidak mungkin! Aku pernah bersumpah, bila aku tidak pulih menjadi manusia normal sekali kali aku tidak akan keluar dari sini."
"Kalan begitu berikanlah obat penghindar ular itu kepadaku, bukankah kau sudah memberikan kepada aku..."
"Tidak! Aku hanya punya sekeping ini kuberikan kau sih boleh, tapi bila kau berikan pula kepada orang lain, sekali kali aku tidak setuju. Obat itu merupakan benda pusaka dari lembah ini, kalau obat itu keluar dari lembah ini, bagaimana pula aku mengendalikan ribuan ular yang ada disini. Jikalau mereka melarikan diri, mungkin lebih banyak orang yang akan menjadi korban..."
Saking gelisah Ling kohpun sampai menangis, katanya membanting kaki "Kalau begitu carilah akal, atau aku tidak sudi tinggal di sini menemani kau!"
Kata katanya tarakhir ini membuat Coa Sin melengong, setelah berdiam diri sebentar akhir nya ia berkata.
"Terpaksa kusuruh Coa ki saja yang keluar, hanya Giok tai diatas badannya itu yang kuasa menundukan ketiga ular diatas tongkatku itu!"
"Aku ...."
Jerit Kang pan tertegun. Coa sin manggut manggut, ujarnya.
"Bukankah sejak lama kau sudah ingin keluar? Minggatnya Ih yu ini menjadi kebetulan bagi kesempatanmu."
Kata Kang Pan ragu ragu."Jadi kau sudah tidak memerlukan aku lagi?"
"Tidak perlu! Sudah cukup ada setan kecil ini."
"Kemana pula aku harus mencari Ih yu aku masih terlalu asing mengenai dunia luar!"
"Cukup asal kau mengikuti jejak Koan kongcu,"
Demikian timbrung Ling koh.
"Akan datang suatu ketika Liu Ih yu akan datang sendiri mencari kalian!"
Baru saja Koan San Gwat hendak menentang saran ini, cepat Li Sek hong juga berkata.
"Koan kongcu, menurut hematku memang kita perlu minta bantuan nona Kang, kalau tidak tiada orang yang akan mampu mengatasi Sumoyku, bila dia mengumbar adatnya, akibatnya pasti amat fatal!"
"Benar!"
Sela Ling koh pula.
"Mungkin kau sendiri tidak akan menjadi soal, Liu sian cu mungkin tidak akan mencelakai jiwamu, tapi lain pula bagi orang lain. Liu Sian cu, It ouw dan Go hay ci hang dan lain lain mereka adalah orang orang yang amat dibenci oleh Liu Siancu!"
Terpaksa Koan San Gwat berkata.
"Nona Kang harap lekas kau mengemasi bekalmu, segera kita akan berangkat!"
Merah muka Kang Pan sahutnya.
"Aku tiada punya barang apa yang perlu kubawa kecuali ular yang ada diatas badanku ini, apa pun aku tidak punya!"
Mengawsi tubuh orang yang telanjang bulat Koan San Gwat mengerut alis, katanya.
"Masakan kau harus keluar dengan keadaanmu seperti itu!"
Baru sekarang Kang Pan sadar bahwa dirinya memang tidak berpakaian, didalam lembah sudah biasa ia bertelanjang, memang tidak punya perasaan malu sedikitpun.
Kini melihat Gwat hoa Hujin dan lain lain sama berpakaian, kini ia sendiri berhadapan langsung dengan Koan San Gwat seketika merah jengah mukanya.
Cepat Li Sek hong menanggalkan pakaian luarnya dan diberikan kepada Kang Pan.
Mendadak Coa sin terbahak babak.
Serunya "Dunia ramai diluar memang tiada apanya yang menarik dan tiada artinya.
Seorang perempuan yang cantik elok, kenapa pula harus ditutupi pakaian segala, tempat tempat fital yang paling indah diselubungi segala, agakanya lebih baik aku tidak usah keluar saja!"
Sudah tentu orang lain sama dongkol mendengar ocehannya yang tidak genah itu.
Tapi mereka toh maklum, bahwa mahluk aneh setengah manusia setengah ular ini memang tidak pernah hidup dalam keramaian dunia sehingga tidak mengenal tata kehidupan orang serta adat istiadatnya.
Lekas Kang Pa menjura hormat serta katanya.
"Coa sin ijinkanlah aku pergi!"
"Ya, pergilah!"
Ujar Coa sin mengulapkan tangan.
"Satelah kau menyelesaikan tugas ini, kau boleh tidak usah kembali lagi, disini kau tidak akan merasa kerasan!"
Kang Pan rada bingung dan sangsi, katanya "Coa sin kau tidak suka padaku lagi"
"Kita sudah hidup berdampingan cukup lama, tidak bisa kukatakan aku tidak menyukai kau, justru karena menyukai kau, maka tidak ingin kau selalu memendam diri ditempat tersembunyi ini selama hidupmu, diluar sanalah tempatmu hidup senang dan bahagia pergilah kau mulai tempuh hidup baru!"
Beberapa kata kata ini adalah ucapan biasa, bahwa seorang manusia setengah ular bisa mengeluarkan kata kata seperti ini, seketika membuat semua orang melenggong, terasakan betapapun sanubarinya masih penuh diliputi kehangatan perikemanusiaan.
Dikala mereka sudah meninggalkan lembah dan turun gunung dengan langkah lebar belum jauh mereka menempuh perjalanan, dari sebelah belakang terdengar suara kelentingan nyaring, tak lama kemudian tampak unta sakti tunggangan Koan San gwat sedang berlari mendatangi, kepalanya dielus elus kelengan Koan San Gwat, sikapnya amat aleman dan mesra sekali.
Koan San Gwat menepuk lehernya, katanya penuh iba.
"Kawan tua, hampir saja kita tidak bisa bertemu lagi. kali ini untunglah berkat pertolonganmu pula sehingga aku bisa lolos dari segala kesulitan!"
Kang Panpun manggut manggut, katanya "Unta sakti tunggangan Koan koncu ani memang binatang yang cerdik benar henar sakti, Ih yu hanya membawa pedangmu diayun ayunkan sekitar udara pegunungan sini, dia lantas dapat mengendus baunya, secepat terbang terus berlari menyusul kemari, sampai Ih yu yang berlari begitu cepatpun kena disusul!"
Karena orang mengingatkan pedang, sontak Koan San Gwat menjerit kaget.
"Celaka! Dimana pedangku?"
"Wah, keadaan semakin menyulitkan!"
Demikian timbrung Li Sek hong.
"Kalau pek hong kiam berada ditangannya, mungkin jauh lebih berbahaya dari ketiga ular itu?"
Kang Pan ikut ketarik, tanyanya.
"Apakah pedang itu punya keistimewaan?"
"Ya! Pedang itu peninggalan dari jaman kuno, merupakan sebilah pedang tajam yang dapat mengiris besi seperti memotong tahu, masih lebih banyak lagi manfaatnya!"
"Aku tidak sependapat dengan kau!"
Ujar Kang Pan.
"Dengan mata kepalaku sendiri Coa sin pernah mencoba ketajaman pedang itu, katanya pedang biasa saja yang tak maupu menusuk tembus kulit ular yang dikenkan oleh Ih yu itu. Kukira pedang pendek milik Lehujin yang dipatahkan Coa sin itu jauh lebih berharga malah!"
Li Sek hong melengak mendadak ia bertanya kepada Gwat hoa Hujin.
"Apakah pedang pendek milik Hujin itu benama Meh tai?"
"Benar! Darimana Li Siancu bisa tahu?"
"Sayang! Sayang sekali! Pedang itu jauh lebih berhanga dari Pek hong kiam..."
Agakanya Gwat hoa Hujin acuh tak acuh katanya tawar.
"Berhargapun tiada gunanya! Begitu direbut oleh Coa sin dengan gampang saja dia patahkan menjadi dua. Kau belum pernah melihat pedang yang dibawa putraku itu."
"Bagaimana dengan pedang yang dibawa Lau Yu hu?"
Tanya Koan San Gwat.
"Pedang itu dinamakan Ci seng....."
"Ci seng!"
Li Sek hong menjerit kaget.
"Bagaimana mungkin Ngo ih kiam beruntun bisa muncul dalam terbuka ini?"
Memang diwaktu Koan San Gwat petama kali melihat Pek hong kiam ditempat kediaman Cen Kiau dulu pernah mendengar kisah ini, tapi Gwat hoa Hujin tidak tahu menahu tentang hal itu, tanyanya heran.
"Apa yang dinamakan Ngo ih kiam?"
"Guruku almarhum pernah memperoleh se
Jilid buku pelajaran pedang, didalam buku itu, ada tercatat nama nama aneh dari kelima pedang mustika itu, masing masing dinamakan.
"Ci seng, Ceng so, Meh tai, Ui tiap, dan Pek hong kiam, Pek hong kiam adalah yang terendah nilainya..."
Sedikit berubah tegang air muka Gwat hoa Hujin, dengan terlongong mulutnya berkemik menyebut kelima nama nama pedang itu. Sementara Li sek hong meneruskan berkata.
"Ngo ih kiam merupakan pedang pusaka terbesar pula pada jaman ini, tak nyana Hujin bisa memperoleh dua diantara kelima itu..."
"Tidak! Salah ucapanmu! Nama Ngo ih kiam menurut yang kau sebutkan, kecuali Pek hong kiam, empat yang lain semua terjatuh ditanganku!"
Li Sek hong terbelalak, agakanya ia tidak percaya, kata Gwat hoa Hujin tertawa.
"Keempat pedang itu semua dibawa pulang oleh Lau Ih yu, sepulangnya merantau."
"Darimana ia mendapatkan keempat pedang itu aku tidak jelas, mengenai keistimewaan keempat pedang masing masing aku cukup mengetahui, malah pernah kudengar juga bahwa pedang pedang itu terbagi dalam lima warna, hijau, ungu, hitam, kuning dan putih, kalau kelima pedang itu bisa memperoleh semua menjadi koleksi pribadi seseorang digunakan bersama oleh lima orang yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi, seluruh jagat ini tidak akan menemui tandingan. Bahwa akhirnya dia sampai kena dilukai dan menanam permusuhan dengan orang karena dia akhirnya mengetahui bahwa Pek hong kiam terjatuh ditangan seorang perempuan. Untuk merebut pedang itu sehingga ia bertempur, tak nyana akhirnya dia sendiri yang kena dikalahkan dan terkutung sebelah lengan nya...."
"Benar dan orang yang dimaksudkan itu adalah Oen Cianpwe!"
Gwat hoa Hujin lantas melirik kearah Koan San Gwat.
Koan San Gwat tersiap bahwa dia sudah kelepasan omong, lekas ia tutup mulut dan menundukkan kepala.
Gwat hoa Hujin sudah paham akan maksud hatinya, katanya tertawa.
"Nak kau tak usah merasa sulit, Ling koh sudah menjelaskan Mo li Oen Kiau kepadaku, kelak bila aku bentrok sama dia, kau sudah tidak punya tanggungjawab lagi."
Dengan heran Koan San Gwat hendak bertanya, namun Li Sek hong menyela lebih dulu.
"Hujin! Dimana sekarang keempat pedang itu?"
"Setelah Lau Ih yu meninggal,"
Demikian tutur Gwat hoa Hujin.
"Sekarang Ceng so kiam menemani jenasahnya di Khong ham kiong, Ci seng dia berikan kepada putranya Lau Yu hu, Ui tiap diberikan kepadaku sedangkan Meh tai diberikan kepada Tam kiam, setelah Tam ktam mati, kebetulan waktu aku hendak turun gunung mencari anak Gwat lantas kubawa serta, tak kira akhirnya kena dipatahkan oleh Coa sin!"
"Lalu dimana sekarang Ui tiap kiam?"
Tanya Li Sek hong.
"Wakru berada di Khong ham kiong, aku jarang menggunakan pedang, maka pedang itu kuberikan pada Pelayan dekatku Coh bing untuk menyimpannya, sekarang masih tertinggal di Khong ham kiong...."
"Bagaimana juga harap Hujin segera mengirim orang untuk membawa Ui tiap kiam itu kemari selekasnya dan diserahkan kepada Koan kongcu untuk dipakai. Kalau tidak situasi terlalu menyulitkan bagi kita!"
"Anak Gwat, perlukah kau menggunakan pedang itu?"
Tanya gwat hoa Hujin. Koan Sau gwat berpikir sejenak, sahutnya.
"Perlu! Tanpa pedang Tay lo kiam hoat tidak mampu kukembangkan."
"Diantara Ngo ih kiam hanya Ceng so saja yang kuasa menandingi Ci seng, lebih baik kalau mengeluarkan Ceng so..."
Demikian Li Sek hong mengusulkan.
"Jangan, jangan hanya karena sebilah pedang lantas menbongkar kuburan orang."
"Kalau kita hanya menghadapi Cia Ling im dan Liu sumoy saja sih cukup menggunakan Ui tiap kiam, tapi dari penuturan Hujin tempo hari bahwa Koan kongcu hampir saja menemui ajalnya dibawah tekanan hebat dari Ci seng kiam itu, kalau kali ini mereka bentrok sekali lagi, aku jadi tidak berani membayangkan bagaimana akibatnya."
Demikian Li Sek hong coba membentangkan situasi.
Agaknya teregrak hati Gwat hoa Hujin, sesaat ia menepekur mempertimbangkan.
Adalah Koan San gwat malah berkata "Kukira tidak perlu, pertandingan pedang tergantung dari kematangan latihan ilmu pedangnya bukan terletak pada senjatanya."
"Anak Gwat kurasa uraian Li siancu memang cukup beralasan, Ci seng kiam ditangan Lau Yu hu itu memiliki dayanguna yang ajaib sikapnya terhadapmu kau sendiri sudah melihatnya, kalau kelak kalian bentrok lagi, akupun akan tidak kuasa melerai lagi, jelas aku sudah kehilangan dia, masakah aku harus kehilangan sekali lagi....."
Koan San Gwat maklum akan maksud hati ibunya, namun dengan tegas dia berkata "Tidak Bu!
Meski Lau Yu hu sakit hati dengan ayah, namun pertikaian diantara mereka sulit dijelaskan, sekarang mereka sudah sama meninggal, pertikaian kesumat ini biarlah turut berlalu ditelan masa ...."
Merah muka Gwat hoa Hujin. Sebalikanya Li Sek hong berkata.
"Kongcu, jangan kau lupa, Lau Ya hu tidak berpikiran seperti kau!"
"Aku tahu, banyak alasannya kenapa dia amat membenci aku, bukan hanya persoalan dendam sakit hati angkatan tua kami!"
"Maka kau harus berlaku hati hati menjaga segala kemungkinan! Rasa bencinya terhadap kau meresap ketulang sumsum."
"Aku mengerti! Diwaktu pertanding pedang di Khong ham kiong dulu, dia sudah berniat membunuh aku.. diatas Bong Gwat hong, sekali lagi dia mengatur tipu muslihat untuk mencelakai aku..."
"Benar diakah yang mengatur muslihat hendak mencelakai jiwamu? waktu aku memeriksa keadaan tempat itu, aku masih tidak percaya bahwa dialah yang berbuat."
"Mungkin juga bukan dia, yang terang pasti mendapat petunjuknya, tapi kejadian itu hanya bisa menyalahkan aku sendiri, kenapa tidak berlaku hati hati, sehingga tertipu mentah mentah oleh budak kecil yang bemama Siu hong itu...."
Mereka tidak saling debat lagi, sejak itu mereka turun ganung tanpa membuka suara, Koan San Gwat disebelah depan bersama Kang pan diiringi unta sakti, sementara Li Sek hong dan Gwat hoa Hujin disebelah belakang sedang bisik bisik, membicarakan banyak persoalan yang serba rahasia.
Waktu cuaca masih remang remang menjelang fajar, romboagan mereka kembali tiba dipondok desa dimana mereka menginap.
Betul juga Sian yu It ouw, Jip hoat dan lain lain karena Gwat hoa Hujin, Li Sek hong mendadak menghilang tanpa karuan mereka sedang ribut dan gelisah.
Setelah melihat Gwat hoa Hujin berdua kembali serta membawa pulang juga Koan San Gwat, karuan bukan kepalang girang mereka.
Begitulah suasana dalam pondok desa itu dari suasana ribut dan kalut semula kini menjadi pesta pora dalam suasana yang riang gembira, betapa mereka takkan takjub mendengar cerita seperti di dalam dongeng saja.
Untuk mengambil Ui tiap kiam dan diberikan kepada Koan San Gwat, maka Gwat hoa Hujin mengutus Jip boat kembali ke Khong ham kiong di Tay pa san.
Untuk menyerapi gerak gerik Cia Ling im yang berpangkalan di Ngo tay san dengan Thian mo kau nya, Koan San Gwat merasa tidak leluasa sembarang bergerak diluaran supaya tidak menimbulkan sesuatu peristiwa yang tidak diinginkan, mereka beramai terus menetap didalam pondok desa itu, tak lupa Ban li bu in dan it lun bing Gwat diutus keluar untuk mencari berita dan menyelidiki situasi di luar.
Soalnya kedudukan mereka di Liong hwa hwe rada rendahan, seumpama kebentur oleh anggota Thian mo kau tentu tidak akan membuat perhatian mereka.
Memangnya nganggur dan tiada pekerjaan apa apa, dari pemilik pondok Gwat hoa Hujin membeli bahan pakaian dan membuatkan baju dan celana untuk Kang Pan.
Karena ada ular yang membelit badannya itu, jadi Li Sek hong sulit untuk mengukur badannya terpaksa main raba dan langsung dijahit begitu saja, tak lupa merekapun membuatkan sebuah kantong dari karung untuk menyembunyikan ular putih Kang Pan itu.
Saking tegang, kalau tidak bercakap cakap dengan It ouw dan lain lain tentu Koan San Gwat bercengkerama dengan unta saktinya, atau dia menceritakan pula adat istiadat dan tata kehidupan manusia ramai kepada Kang Pan, hari hari mereka lewatkkan dengan aman dan tenang.
Tapi didalam ketenangan itu ada kalanya hatinya bergejolak pula bila memikirkan nasib Thio Ceng ceng.
Dikala ia hidup berdampingan dengan Thio Ceng ceng tidak pernah dirasakan oleh nya batapa besar pengaruh anak gadis itu terhadap relung hatinya.
Kini setelah dia tahu betapa besar dan murni cinta Thio Ceng ceng terhadap dirinya, baru ia sadar betapa besar ia mengharap harap cemas akan bertemu dengannya...
Thio Cog ceng berada dicengkeraman Lau Yu hu, tentu dari mulur Lau Yu hu dia sudah mendengar kematian Koan San Gwat.
Didalam renungannya sering berbagai pertanyaan yang berbeda beda mengetuk sanubari nya, dan oleh berbagai pertanyaan itulah hatinya semakin risau dan gelisah.
Keadaan semacam ini belum pernah terjadi selama ini.
Sejak dia mulai berkecimpung di Kangouw dia sudah hidup didalam perjuangan demi menegakan keadilan dan kebenaran, dalam lemparan keperwiraan yang gagah berari, belum pernah terpikirkan olehnya akan persoalan cinta asmara muda mudi.
Serta merta timbul rasa kebencian yang meluap luap terhadap Lau Yu hu.
"Kalau Ceng ceng sampai ajal karena aku, pasti aku tidak akan mengampuni dia !"
Ini hanya tekad dalam sanubarinya saja.
"Kalau Ceng ceng merubah haluan, dan merubah cintanya kepada Lau Yu hu bagaimana? Apakah pantas aku merebut Ceng ceng dari pelukan Lau Yu hu! Aku akan tinggal pergi secara diam diam, biar mereka menempuh hidup baru dan bahagia sampai hari tua biarlah aku mengendam dan mendambakan cinta kasihnya didalam khayalan belaka, akan kupersembahkan jiwa ragaku ini demi kepentingan umat manusia..."
Amat sulit untuk mengambil keputusan ini, siapa akan terima melihat kekasih sendiri di rebut orang lain?
Tapi Koan San Gwat merelakan hal ini, watak lurusnya yang suci murni membuat ia mengambil keputusan yang cukup bajik dan mengubah kelapangan jiwanya, dan sebab yang utama dan keputusan yang drastis ini adalah karena cinta Lau Yu hu kepada Thio Ceng ceng serta pengorbanannya jauh lebih besar dan setimpal dibanding apa yang pernah dia berikan sebagai imbalan cinta Thio Ceng ceng.
Suasana tenang itu mereka lewatkan sepuluh hari.
Desa kecil ditengah pegunungan yang biasanya sunyi sepi mendadak menjadi ramai dan gaduh.
Keramaian ini terjadi karena berdatangan pula serombongan orang.
Terutama benda mengejutkan yang dibawa pulang oleh It lun bing Gwat dan Ban li bu in hasil penyelidikkan mereka, yaitu bahwa Hu kaucu (wakil Kaucu) Thian mo kau ini dijabat Sebun Bu yam, kini sudah diganti orang.
Koan San gwat adalah orang yang paling kaget dan mencelos hatinya, karena Hu kaucu dari Thian mo kau ini dijabat oleh saudara lain bapaknya sendiri, yaitu Lau Yu hu adanya.
Tak lama kemudian kelima pembantu Koan ham kiongpun sama berdatangan, ternyata Jing Tho, Sui Ki pun diajak datang pula oleh Tay Su.
Sedang Jip hoat secara kebetulan bersuara dengan Coh Bing.
Seperti diketahui Coh Bing ditugaskan untuk menjaga dan merawat Khong ham kiong, kenapa sekarang diapun ikut datang?
Hal inipun merupakan berita yang amat mengejutkan bagi Gwat hoa Hujin.
Ternyata Lau Yu hu sudah pulang kandang, langsung dia membongkar kubuaran ayahnya sendiri dan membawa pergi Ceng so kiam, celakanya pedang pusaka itu kini sudah diberikan kepada Cia Ling im.
Ada lagi sebuah berita mengenai Thio Ceng ceng, katanya setelah mendapat berita akan kematian Koan San Gwat setiap hari kerjanya hanya mengangis dan sesambatan.
Wajahnya menjadi pucat bersih dicucuri oleh air matanya kira kira tiga hari yang balu dikabarkan dia menghilang secara misterius.
Kemana dia?
Cara bagaimana dia menghilang?
Tiada seorangpun yang bisa memberi jawaban.
Kejadian yang beturut turut ini sungguh sungguh merupakan suatu pukulan berat bagi Gwat hoa Hujin dan Koan San Gwat beramai terutama perubahan sepak terjang Lau Yu hu yang keliwat batas ini.
Bagaimanapun mereka harus lekas lekas bertindak dan mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan ini.
Perubahan apapun yang terjadi, mereka harus benar benar berlawanan dengm pihak Thian mo kau.
Setelah Lau Yu hu menjadi Hu kaucu seperti macan tumbuh sayap, sekali kali Cia Ling im akan semakin brutal dan bersimaharaja, jiwa mereka sewaktu waktu terancam bahaya, apalagi Ceng so dan Ci seng dua pedang terlihay dari Ngo ih kiam berada ditangan mereka.
Untunglah meski harus mempertaruhkan jiwa Coh bing berhasil menyelamatkan diri.
Membawa lari pula Ui tiap kiam, hanya pedang pusaka terakhir inilah yang menjadi andalan terampuh untuk memberantas musuh musuh laknat yang jahat itu, disamping Ui tiap kiam, Koan San Gwat pun hanya mengandal Tay oo kiam hoatnya saja.
Adanya perubahan besar diluar dugaan ini, mereka tidak bisa terlalu lama menetap di desa pegunungan itu lagi, maka Koan San Gwat pimpin rombongan besar dari puluhan orang itu siap membuat pertempuran secara berhadapan dengan orang Thian mo kau.
Dari Ki sin menuju ke Ngo tai hanya berjarak ratusan li, mengandal kekuatan langkah unta sakti, cuma memakan waktu satu hari, tapi kuda tunggangan orang orang lain tidak mungkin bisa menempuh jarak sejauh itu dengan cepat, terpaksa ia harus menunggu dan menunggu dengan sabar untuk tiba ditempat tujuan bersama.
Waktu berlalu dengan cepat, akhirnya mereka memasuki daerah pegunungan Ngo tay san, tapi masih amat jauh untuk tiba dipuncak tertinggi Ngo tai san.
Mereka berbondong dijalan raya yang lebar, menurut terkaan Koan San Gwat, pihak Thian mo kau sudah tentu mulai begerak lagi , betul juga di luar kota Hap tai sin dipangkalan Ngo tay san, Ki How menuggang seekor unta hitam sedang menghadang ditengah jalan.
Liong Hwa hwe sudah bubar, tiada ikatan kedudukan dan tingkatan lagi diantara mereka, namun sikapnya masih amat pongah dan takabur, mungkin karena Cia Ling im sudah mengajarkan Siu lo jit sek kepadanya, jelas bahwa tingkat kedudukannya didalam Thian mo kau tentu tidak rendah.
Begitu rombongan Koan San Gwat mendekat, unta sakti segera mengumbar adat menerjang maju lebih dulu.
Agaknya unta hitam itu sudah menjadi takut karena kekalahannya tempo hari melihat musuh besarnya menerjang tiba ia jadi gugup dan ketakutan, beruntun mundur lagi.
Dengan mengumpat caci Ki Hou melompat turun terus menendang pantatnya keras keras makinya.
"Binatang tidak berguna!"
Melihat wibawa dan keangkerannya menakutkan unta hitam itu, unta sakti mendongkol dan mengembor keras dan panjang sikapnya amat senang dan puas.
Dengan tertawa Koan San gwat menepuk nepuk lehernya serta katanya.
"Kawan tua! Sungguh hebat kau, didalam negara kebinatangan kau boleh dianggap sebagai jagoan yang tergagah dan nomor satu, tiada seekor binatang tunggangan macam apapun yang kuasa menandingi kau..."
Dari punngung unta hitamnya Ki Hau menurunkan sebuah buntalan, didalamnya terbungkus sebuah senjata yang berbentuk aneh dan khusus dibuat untuk dirinya.
Senjata ini adalah sebuah patung patung berkaki tunggal warna hitam legam menyerupai patung mas berkaki tunggal milik Koan San Gwat.
Cuma kepalanya lebih besar, dengan gigi yang menyeringai muka setan.
Untuk senjatanya ini dia menamakan Tok kak kui ong (raja setan berkaki tuggal).
Sambil mengayunkan senjatanya itu Ki Hauw menantang.
"Koan San Gwat mari turun, lawanlah aku tiga ratus jurus!"
"Aku tiada tempo main main dengan kau lekas panggil Cia Ling im kemari!"
"Tanpa kau bisa menjebol pertahananku ini, jangan harap kau bisa berhadapan dengan Kaucu kami!"
It ouw merasa sebal melihat kelakuan tengikanya, apalagi kedudukannya di Liong hwa hwe dulu lebih tinggi dari pemuda lakanat ini, segera ia maju beberapa langkah serta seraya "Koan kongcu berikan kepada Lohu, biar kugencet mampus bocah kurangajar ini!"
Belum Koan San Gwat sempat bersuara, Kang Pan pun yang jelita segera ikut tampil kedepan, serunya "Lo siansing! Jangan kau yang maju!"
"Kenapa Lohu tidak boleh maju?"
"Apakah Lo siansing hendak melawannya dengan bertangan kosong mungkin cukup segebrak saja, jiwamu kau angsurkan kepadanya..."
"Lohu tidak percaya, biar kucoba coba dulu!"
Lenyap suara tiba tiba badannya betkelebat menerjang kearah Ki Houw seraya melontarkan sebuah pukulan tangan.
Ki Houw mandah tersenyum ejek pelan pelan ia angkat patung hitamnya menyapu miring mengetuk kejari It ouw.
Disaat kedua lawan sentuh, dari samping menyelinap sesosok bayangan, entah bagimana tahu tahu sudah menyela di tengah tengah mereka seraya mengebutkan lengan bajunya, telak sekali ia menyampok gada setan Ki Houw menyelonong kesampuag It ouw menjadi gusar, sahutnya."Apa apaan tingkah lakumu ini nona Kang?"
Kang Pan tertawa sahutnya.
"Lo siansing jangan marah, dengan kosong melawan senjata terang kau tidak akan ungkulan, apalagi diatas senjatanya ini ada dilumuri racun jahat, kenapa kau harus mengorbankan jiwa mu dengan sia sia !"
Mencelos hati It ouw, matanya terbelalak.
Benar juga dilihatnya mata Ki Hou memancarkan sorot tajam dengan senyum sinis, Tok kak kui ong ditangannya sudah diangkat pula, cepat Kang Pan berkelebat maju pula menghadang maju pula didepannya serta kata nya.
"Kalau kau memang ingin berkelahi, hanya akulah yang cocok menghadapi kau, aku tidak takut menghadapi racunmu!"
Karena kibasan lengan baju orang tadi, senjata Ki Hou kena disampok menyelonong kesamping maka Ki Hou tahu bahwa gadis ayu ini memiliki lwekang yang cukup ampuh dan lagi memang orang benar benar tidak takut pada racunnya, hal ini benar benar membuat dia mati kutu, hatinya menjadi jeri dan tidak berani gebrak melawannya.
Akan tetapi kali ini merupakan kesempatan paling baik, ia jadi merasa getol tidak bisa tercapai keinginannya, tiba tiba biji matanya berputar, sengaja ia tertawa besar dan sesumbarnya.
"Koan San Gwat, apakah kau ini laki laki sejati, kok menggunakan tenaga perempuan menjadi anjing pelindungmu?"
Terbakar hati Koan San Gwat, baru saja ia hendak melabrak maju, lekas Li Sek hong berseru mencegah "Koan kongcu!
Kau harus mementingkan tugasmu yang utama, segala apa yang harus bisa tahan sabar, rombongan Cia Ling im masih memerlukan kamu untuk menghadapinya, jangan kau bekerja membawa adatmu kemari !"
Apa boleh buat Koan San gwat menghela napan, katanya berpaling kearah Kang pan.
"Nona Kang ! Mencapaikan kau saja!"
"Tidak apa! Orang ini memang jahat, aku perlu menghajarnya supaya kapok. Dihadapanku dia berani mentang mentang main racun, nanti bila kubekuk biar kusuruh Siau giok (nama ular putihnya) menggigitnya sekali, biar dia rasakan betapa nikmat orang kena racun!"
Sembari berkata ia melangkah menghampiri Ki Hou melangkah mundur.
"Lho, kenapa lari bukankah mulut cukup garang tadi, kiranya nyalimu lebih kecil dari pada tikus, bukankah kaupun seorang laki laki sejati, masakah takut menghadapi anak perempuan?"
Merah padam muka Ki Houw, karena olok olok ini ia tidak mundur lagi mulutnya gerung sambil mengayun senjatanya.
"Perempuan lakanat! Kau terlalu menghina!"
"Ya, keluarkan segala kemampuanmu, mari lawanlah aku!"
Seperti orang kalap segera Ki Houw mengobat abitkan senjatanya maju menerjang dengan membabi buta, rangsakan senjatanya itu boleh di kata cukup hebat dan cepat namun ujung baju orang saja dia tidak mampu menyentuhnya, suatu ketika Kang Pan merasa sebal cukup dia kibaskan pula lengan bajunya, kontan Ki Hou tergentak mundur setengah tumbak.
Kang Pan tertawa ejek.
"Bebalmu masih terlalu jauh, mengandal kepandaian serendah ini sudah berani bermulut besar mengagulkan diri, menjegal jalan segala, sungguh tidak tahu diri!"
Gerak gerik Kang Pan yang acuh tidak acuh dan seenakanya itu cukup menggentak mundur terjangan Ki Hou dengan senjatanya yang dahsyat, bukan saja Ki Hou yang jadi lawannya amat kaget, Koan San Gwat dan lain lainpun ikut tercengang, hanya diantara mereka yang secara langsung pernah bentrok dengan Ki Houw dan tahu mengukur sampai dimana tingkat lwekang Ki Houw, tak nyana sekarang begitu kena dipukul gentayangan cukup degnan kebasan lengan baju belaka, lawan yang semula seganas harimau, begitu berhadapan dengan Kang Pan menjadi seperti tikus.
Ki Houw merandek sebentar, diam diam ia mengerahkan tenaga murninya sambil kertik gigi ia melabrak maju pula sambil mengayun senjatanya.
Kali ini Kang Pan bekerja tidak kepalang tanggung, cepat lengan bajunyapun dikebas keluar memapak senjata lawan, cukup sekali sendal lengan bajanya sudah membelit senjata lawan, cukup sedikit angkat pergelangan tangan, sementara mulut membentak.
"Pergilah!"
Bersama senjata beratnya tak terkendali Ki Houw mencelat terbang ketengah udara seperti layang layang putus benang, secara kebetulan melayang jatuh keatas kepala Koan San Gwat melihat gelagat yang jelek ini cepat Li Sek hong melejit maju sembari berteriak memperingatkan.
"Koan kongcu, lekas minggir!"
Buru buru ia mengejar tiba, jarinya yang berkuku panjang segera mencakar ketengah udara mengarah pundak Ki Houw.
Ki Houw menyeringai sadis dan begelak tertawa panjang, dari atas tubuhnya meluncur turun seraya mengeprukan senjata yang besar dan berat laksana sebuah batu gunung menindih keatas kepala Koan San Gwat.
Begitu besar niat Li Sek hong untuk menolong Koan San Gwat, maka dia dulu yang terkena pulutnya dengan menubruk maju tanpa hiraukan keselamatan jiwa sendiri.
Tapi Koan San gwatpun tidak tinggal diam, kuatir Li Sek hong terluka oleh senjata lawan yang berbisa, lekas ia jejakkan kedua kakinya sembari kerahkan tenaganya, ia ayun kim sin ditanganya menyanggah keatas.
Karena senjata gada patung mas berkaki tunggal panjang tiga empat kaki meski ia bergerak rada belakang, namun senjatanya menyambar tiba didepan Li Sek hong.
"Trang!"
Kembang api beterbangan ditengah udara, badan Ki Houw seperti seekor burung terbang yang terkena panah ditengah udara, pertama, tergentak mumbul lagi satu tumbak lebih lalu menukik turun pula, lekas ia memburu kedepan dan menyerampangkan patung emasnya dengan setakar tenaga pula, suatu benturan kedua senjata lebih keras memekakkan telinga, gada raja setan ditangan Ki Houw kontan berbentur hancur lebur tercerai berai.
Lekas Ki Houw menjatuhkan diri ketanah terus mengelundng beberapa tumbak jauhnya, beruntung ia terhindar dari gempuran ketiga Koan San Gwat yang lebih dahsyat.
Waktu ia berdiri tegak, telapak tangannya berlepotan darah.
Itulah karena tenaga hantaman gada mas Koan San Gwat teramat hebat, pada benturan kedua, bukan saja Tok kak kui ong milik Ki Houw, celakanya telapak tangannya tergetar pecah dan berdarah, lebih mengenaskan lagi dua jari Ki Houw berpindah dari tangannya.
Ki Houw mengertak gigi, menahan sakit dan merasa geram, segera ia menyobek lengan bajunya untuk membalut luka lukanya katanya menyeringai bengis.
"Bagus! Koan San Gwat. Dalam jangka begini pendek, lwekangmu ternyata maju begitu pesat, waktu bertanding di sin li hong tempo hari, lwekangmu masih berada dibawahku, tidak lebih kau menang karena mengandal permainan tipu tipu permainan gada mu sehingga menang sejurus, tak nyana hari ini kau sudah membekal lwekang yang begitu hebat sungguh aku harus memuji dan salut kepada kau!"
Koan San Gwat sendiri juga keheranan, sungguh iapun tidak habis mengerti, dulu memang dirinya bukan tandingan Ki Houw, tapi kenyataan hari ini dia berhasil mengalahkan Ki Houw dengan gemilang, jelas bahwa lwekang Ki Houw pasti sudah lebih maju dari dulu, adalah lwekang sendiri pun maju berlipat ganda sungguh mengejutkan.
Meski terluka dan kesekitan, sedikit pun Ki Houw tidak berubah air mukanya, ujarnya "Perduli lwekangmu setinggi langit, toh kou tidak lepas dari tipu dayaku, beruntun kau terkena racun Bu ing hoat hiat sin diatas senjataku, kini tentu sudah meresap masuk kedalam isi perutmu.
Aku harus segera membawa pulang berita baik ini kepada Kaucu , nanti sebentar biar aku kemari lagi untuk mengantar jenasahmu!"
Sehabis berkata segera dia lari sekencang kencangnya tanpa menoleh lagi.
Koan San Gwat tahu orang takut dibalasi oleh Kang Pan, namun ia tiada minat mengejarnya, lekas dia berkata kepada Kang Pan "Nona Kang!
Bisakah ularmu memunahkan racun?"
"Tidak bisa lagi! Ludahnya sudah kering kalau disuruh membersihkan racun diatas senjatamu, mungkin jiwanya bisa terancam bahaya, kau harus hati hati, jangan sampai orang lain tersentuh olehnya!"
"Bukan racun diatas senjataku, racun dalam tubuhku maksudku...."
Kang pan tertawa geli, ujarnya.
"Badanmu mana terkena racun. Kau pernah menelan empedu ular wulung, minum darah ular sanca sakti lagi badanmu sekarang sudah kebal terhadap ratusan jenis racun, kecuali beberapa jenis ular yang terbatas dapat mengancam jiwamu, segala racun apapun tidak akan berguna pada dirimu!"
Koan San Gwat terlongong, demikian pula orang lain ikut merasa lega, kata Li Sek hong sembari menghela napas.
"Kenapa tidak kau jelaskan sejak tadi, hampir saja aku ikut berkorban jiwa."
"Salahmu sendiri yang bertindak terlalu tergesa gesa. Memang sengaja kulempar kearah Koan kongcu, karena senjatanya itu hanya Koan kongcu saja yang mampu menghancukannya karena dia pernah menelan empedu ular wulung bertanduk tunggal, sehingga tenaga nya amat besar...." -oo0dw0oo-
Jilid 23 BARU SEKARANG KOAN SAN GWAT sadar dan paham duduk perkatanya, katanya.
"Tak heran lwekang ku mendadak maju berlipat ganda ternyata demikian duduk perkaranya!"
"Begitulah!"
Ujar Kang Pan menjelaskan lebih lanjut "Sayang diwaktu kau menelannya keadaanmu amat payah, sehingga kasiat obat itu menjadi berkurang sebagian besar, karena untuk menolong kehidupan jiwamu, kalau tidak dalam dunia ini mungkin tiada seorang pun yang kuasa melawan kekuatanmu!"
"Apa yang kumiliki sekarang sudah jauh lebih dari cukup dan akupun cukup puas. Aku tidak ingin menjadi tokoh kosen nomor satu diseluruh jagat, cuma besar keinginanku menyumbangkan kehidupan ini, demi kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia damai dibumi sentosa dalam kehidupan. Di kala seluruh orang orang jahat diselusruh dunia ini sudah tersapu bersih, aku rela memunahkan seluruh kepandaian silatku, menjadi manusia biasa....."
Semua orang merasa takjup dan tepekur oleh ucapan Koan San Gwat yang keluas dari relung hatinya yang paling dalam, timbul rasa hormat dan segan mereka kepadanya. Akhirnya It ouwlah yang membuka suara.
"Marilah lekas kita pergi! Cia Ling im bersama kamrat kamratnya mungkin sedang kegirangan mendengar bahwa Koan siheng sudah keracunan marilah kita melurukanya ke sana biar mereka merasa terkejut dan heren."
"Tidak usah tergesa gesa, mereka sendiri yang akan meluruk kemari, Cia Ling im pasti akan berusaha merintangi nona Kang memberi pengobatan kepada Koan kongcu, karena mereka tidak tahu perkembangan disini, kuduga secepat mungkin mereka sudah akan tiba, malah yang datang tentu tidak sediklah jumlahnya,"
"Apakah Lau Yu hu juga pasti ikut datang?"
Tanya Gwat hoa Hujin.
"Sekarang dia sebagai Hu kaucu, dapatlah kita bayangkan akan penghargaan Cia Ling im terhadapnya, sudah tentu ia harus datang!"
"Binatang itu, setelah kulihat kedatanpan nya, pasti akan kubunuh dia !"
Demikian desis Gwat hoa Hujin geram.
Tengah mereka bicara, dari jalan raya sebelah depan sana tampak serombongan orang yang berjumlah besar memenuhi jalan sedang memburu datang dengan langkah lebar.
Yang berjalan paling depan memang Cia Ling im dan Liu Yu hu, disebelah belakangnya lagi adalah Sebun Bu yam dan Hwi Kak, dan dibelakangnya lagi Ki Houw dan Ki Cu seng, salah satu Hwecu yang pernah dikalahkan oleh Koan San Gwat dulu.
Begitu tiba perhatian mereka semua tertuju kepada Koan San Gwat.
Waktu mereka melihat Koan San Gwat berdiri paling depan dengan masih segar bugar, serempak mereka berpaling kepada Ki Houw dengan mata mendelik, agakanya menyaksikan pambicaraannya yang membual.
Ki Houw kelihatan amat gugup dan berkeringat dingin, menggaruk garuk kepala yang tidak gatal, dengan gelagapan akhirnya ia menunjuk ketanah, katanya.
"Kau cu! Ucapan hamba bukan bohong belaka, lihatlah besi besi pecahan senjataku yang hancur tadi...."
Cia Ling im hanya mendengus tawar, perhatiannya kini tertuju pula kepada Koan San Gwat. Dengan muka tidak menunjukkan perasaan hatinya, Koan San Gwat menyapa.
"Kalian para dedemit kerbau dan siluman siluman ular tidak sedikit ya jumlahnya."
Cia Ling im tersenyum, ujarnya "Jumlah kalian pun tidak sedikit bukan? Kita harus main keroyokan atau maju satu satu?"
Koan San Gwat berpaling kearah orang orangnya dibelakang, meski jumlah pihakanya mungkin kelebihan satu dua orang, namun bila bertempur secara keroyokan belum tentu pihaknya bisa menang, terutama pihak musuh membekal dua pedang pusaka yang hebat perbawanya, sementara pihak sendiri cuma punya Ui Ciap kiam yang paling diandalkan.
Kalau di pertimbangkan ada lebih baik bertempur satu lawan satu saja, maka dengan tawar dia menanggapi.
"Thian mo kau hanya kau seorang belaka yang durjana, aku hanya ingin melenyapkan jiwamu saja, tidak perlu merembet yang lain."
Cia Ling im bergelak tertawa, serunya "Pendapatmu ini ternyata cocok dengan keinginanku, Thian mo kau belum lama berdiri, pihak kita sedang perlu tenaga tenaga berbakat, kulihat beberapa orang di pihakmu bisa kami pakai, soalnya mereka sama mengandalkan dirimu, setelah kau kami lenyapkan pasti mereka akan suka rela menghambakan diri pada pimpinanku!"
"Jadi urusan hari ini cukup diselesaikan antara kau dan aku saja?"
"Boleh dikatakan demikian. Tapi masih ada seorang yang ingin mengadu jiwa pula dengan kau ...."
Lau Yu hu tidakatahan sabar lagi segera tampil kedepan, teriakanya bengis.
"Koan San gwat, serahkan Ceng Ceng kepadaku!"
Seketika Koan San Gwat melenggong katanya.
"Apa katamu?"
Merah padam muka Lau Yu hu, teriaknya lebih bengis.
"Jangan pura pura pikun, bukankah Ceng ceng sudah kau rebut kembali."
Baru sekarang Koan San gwat paham orang anggap menghilangnya Thio Ceng ceng sebagai perbuataanya, keruan iapun gusar, dengusnya.
"Didalam Khong ham kiong dengan tipu muslihat tendah kau bendak mecelakai aku, menculik Ceng ceng pergi pula, sampai sekarang aku belum pernah melihatnya, belum sempat aku meluruk padamu minta pertanggungan jawabmu, kini kau mencak mencak di hadapanku mengenai Ceng ceng, sungguh dunia sudah terbalik agaknya."
Lau Yu hu tampak tercengang, katanya lebih kalem.
"Apa! Jadi orang berkedok malam itu bukan kau."
"Kalau aku datang se Ngo tai san tentu datang secara terang terangan, tidak bakal mengenakan kedok menutupi muka segala dan lagi kalau aku berhasil memasuki markas Thian mo ka kalian, tidak bakal hanya Thio Ceng ceng saja yang kubawa keluar."
Sekian lama Lau yu hu menjublek di tempatnya tanpa bersuara lagi, tiba tiba Cia Ling im menyeringai dingin, ujarnyu.
"Lau lote! Jangan kau dengar obrolannya menurut para penjaga pedang yang dibawa orang berkedok itu adalah Pek hong kiam, siapa lagi kalau bukan bocah keparat ini?"
"Orang itu membawa Pek hong kiam?"
"Aku tidak tahu, hari kebetulan kami tiada dimarkas kalau tidak masa kami membiarkan orang itu membawa lari Ceng ceng?"
"Pek hong kiam semula memang berada ditanganku, tapi sepuluh hari yang lalu Liu Ih yu, jelas orng yang menculik Ceng ceng pasti Liu Ih yu adanya."
"Siapa itu Liu Ih yu?"
Tanya Lau Yu hu.
"Dia adalah sumoyku."
Sahut Cia Ling im.
"Lote tidak usah kuatir kalau begitu, kalau nona Thio jatuh ditangannya, kutanggung dapat kaudapatkan kembali, cuma satu hal harus kau ingat, meski nona Thio dapat kami bawa pulang, diapun tidak akan mau ikut kau....."
Lau Yu hu mamicingkan mata mengawasi Koan San Gwat, mukanya kaku dan menampilkan perasaan jelas yang berkelebihan,.
"Sheng"
Tiba tiba ia mencabut Ci eng kiam yang tergantung dipinggangnya.
"Binatang kau!"
Segera Gwat hoa Hujin, maju beberapa langkah sambil menudingnya.
"Masihkah kau kenal padaku?"
Sejenak Lau Yu hu menjublek ditempat nya, akhirnya dengan dingin ia berkata"Ihh, kalau kau hendak merintangi aku bunuh Koan San gwat aku tidak akan mengakuimu lagi!
Pucat pias selebar muka Gwat hoa Hujin, mendadak ia mencabut Ui tiap kiam serta makinya pula.
"Binatang! Biar kubunuh kau dulu!"
Lau Yu hu mundur selangkah, lalu dengan suara berat berkata.
"Ibu! Kuharap kau tidak mendesakku, meski ilmu pedangku kebanyakan adalah kau yang mengajarkan, tapi jangan kau lupa ayahku ada meninggalkan pelajaran ilmu pedangnya kepadaku, sekarang kau bakan menjadi tandinganku!"
Gemetar seluruh badan Gwat hoa Hujin, desisnya.
"Baik, biar aku mampus dibawah pedangmu!"
"Bila perlu biar kubunuh kaupun tidak menjadi soal, terhadap ayah, boleh dikata kau sudah bukan menjadi istrinya!"
"Keparat!"
Tiba tiba Koan San Gwat menghardik dengan murka.
"Apa kau ini manusia begitukan kau berkata terhadap ibu kandungmu sendiri!"
"Justru karena itulah aku harap kau lekas menampilkan diri, jangan memaksa aku untuk melawannya!"
"Bu!"
Ujar Koan San gwat berpaling.
"Serahkan pedang itu kepadaku!"
"Tidak!"
Sahut Gwat hoa Hujin tegas.
"Biar aku sendiri yang menghukumnya, sejak saat ini dia bukan menjadi putraku sendiri!"
"Memangnya sejak dulu aku sudah bukan menjadi putramu, maka kubongkar tulang tulang belulang ayahku dan membakar habis seluruh Khong ham kiong karena tempat itu milik Ban Sin Gwat, aku tidak akan membiarkan tulang belulang ayahku diselubungi rasa malu.? Saking murka badan Gwat hoa Hujin sampai bergetar dan berkeringat dingin, Koan San Gwat hendak merebu pedangnya, namun kena didorong minggir, begitu pergelangan tangan dipelintir ujung pedangnya tahu tahu menusuk kearah Lau Yu hu. Lekas Lau Yu hu angkat pedangnya menangkis, Cia Ling im segera melolos pedang, dan maju ketengah gelanggang, katanya.
"Lau lote! Betapapun kau rada kurang leluasa gebrak ini berikan saja kepadaku!"
Lekas Liu Yu hu melompat mundur sambil menjinjing pedang ia terus menerjang kearah Koan San gwat makinya "Bedebah mari...."
Apa boleh buat terpaksa Koan San gwat gerakkan Tok kak kiam sin menyambut kedatangannya, maka terjadilah dua babak pertempuran dari ke empat orang ini, serang menyerang dengan kalap dan seru.
Pertempuran kedua kelompok ini bukan saja adu kekuatan, yang jelas adalah berlawanan antara lurus dan sesat, jahat dan baik, dari pertempuran kali ini akan mejadikan titik tolak keselamatan dan kesejahteraan bagi umat persilatan seluruh dunia.
Dengan berdirinya Thian mo kau merupakan puncak kejayaan kaum sesat yang secara langsung dikepalai oleh Cia Ling im yang merupakan gembong penjahat terbesar dan kiai muncul pula seorang wakilnya yang terjeblos kedalam jurang kesesatan sehingga kekuatan mereka bertambah lipat ganda.
Terjunnya Gwat hoa Hujin didalam percaturan tegang antara sesat dan lurus ini sungguh merupakan suatu hal yang diluar dugaan adalah Koan San gwat tempat dimana seluruh kaun persilatan yang berjiwa lurus dan luhur mendambakan kemenangan atas dirinya.
Maka seluruh perhatian semua orang tertuju kepada babak pertarungan mereka berdua kakak beradik sama ibu lain bapak.
Akan tetapi pertempuran pihakanya jauh tidak setegang dan sesengit pertempuran antara babak yang lain, soalnya senjata perlawanan kedua pihak jauh berbeda, senjata Lau Yu hu adalah Ci seng kiam, merupakan pedang mestika terampuh pada jaman ini.
Mski pedang itu mengandung keajaiban, namun kebentur Tok kak kim sin milik Koan San Gwat yang tidak kalah ampuhnya segala keajaiban itu sirna tanpa guna.
Entah terbuat dari babat apa pula Tok kak kim sin senjata Koan San gwat itu, keras dan liat sekali, tajam pedang pusaka membacok telak diatas kepala patung emas berkaki tunggal, hanya meninggalkan segaris bekas geresan belaka.
Dari taraf karuan tidak berarti yang diderita oleh senjata Koan San gwat ini paling tidak harus dibacok dan diiris untuk berapa ribu kali baru bisa membacokanya kutung, tapi sudah jelas bahwa pertempuran antara kedua lawan setanding ini tidak akan kuat betahan sampai sedemikian banyak jurus.
Sebaliknya demikian juga bagi Koan San gwat, tok kak kim sin merupakan senjata pondasi yang amat kokoh dasarnya.
Justru karena terlalu berat bobotnya, maka diapun tidak mampu mengembangkan seluruh kemampuannya dengan sempurna.
Untunglah Kim sin tidak kena pengaruh oleh ketajaman Ci seng kiam serta keajaibannya, sehingga banyak orang berlega hatinya maka segera ia, kembangkan ilmu ajaran gurunya memainkan senjata beratnya ini dengan tenang, tanpa bura buru mengejar kemenangan maka semua jurus permainannya boleh dikata jarang menyerang daripada membela diri dengan rapat mengandal latihan dan tenaga raksasa pembawaan sejak lahir, dengan mantap dan tenang dia layani rangsakan pedang lawan yang gencar.
Adalah pertarungan antara Cia Ling im dengan Gwat hoa Hujin jauh lebih seru dan ramai, menarik lagi keduanya adalah ahli ahli dalam ilmu pedang senjata yang dipakai pun pedang mestika.
Hawa pedang Ceng so kiam menguap berwarna kehijaun sementara cahaya pedang Ui tiap kiam cemerlang seperti bulu bangau kekuningan dan keajaiban kedua pedang masing masing sesuai benar dengan namanya.
Hawa pedang Ceng so kiam berwarna kehijauan melintir lintir seperti seutas tali tambang besar, bergerak aneh dengan segala perubahannya mengikati tipu tipu pedangnya yang lihay, liku liku tidak dalam satu garis melingkar besar seperti sebuah gubatan besar, lambat laun mengkeret manjadi kecil dan ketat jikalau lwekang lawan lebih rendah dan kalah kuat, sejak tadi tentu sudah terkekang dan terikat tidak mampu bergerak lagi, namun Gwat hoa Hujin bukanlah seorang lawan yang biasa yang berkepandaian rendah.
Memang wibawa atau kekuatan Ui tiap kiam memang lebih asor dibandingkan dengan Ceng so kiam.
Untunglah pedangnya ini mempunyai suatu keanehan yang amat berguna, hawa pedang ini ternyata merupakan titik titik besar kecil yang menyerupai kupu kupu kuning yang sedang menari dan berloncatan timbul tenggelam dalam sangkar, maka ia jauh lebih leluasa bergerak menghindar daya lengket dari kekuatan lwekang lawan yang dilancarkan melalui batang Ceng so kiam, maka sedemikian jurus dia masih dapat melawan dengan tenang dan mantap, tapi untuk menjebol keluar dan meloloskan diri dari kepungan hawa pedang Ceng so kiam yang ketat itu agaknya merupakan suatu perjuangan yang amat berat baginya.
Bahwa keempat orang itu bertempur mati matian, para penontonpun ikut menjadi tegang, karena pertempuran ini adalah tokoh utama dari kedua pihak yang Sedang mempertaruhkan jiwa dan raga, menang atau kalah dalam pertempuran ini bakal menjadikan keputusan nasib mereka.
Begundal begundal yang dibawa Ca Ling im tidak banyak, Hwi Kak datang ikut Lau Yu hu, yang termasuk menjadi kaki tangannya yang paling diandalkan cuma Sebun Bu yam dan Kik Hoa serta Kik Cu seng.
Kepandaian Sebun Bu yan masih setingkat dibawah Li Sek hong, sementara Sian yu it ouw jelas dapat menglahkan Kik Cu seng, cuma kepandaian Ki Houw saja agakanya jauh lebih tinggi dan keluar batas kedudukannya, tapi belum tentu dia bisa menang melawan keroyakan Ban li bu in dan It lun bing gwat.
Setelah terluka melawan Koan San Gwat tadi.
Soal Hwi Kak kiranya cukup dihadapi oleh dayang dayang Goat kiong yang dikepalai oleh Jip Hoat apalagi pihak sini masih ada seorang senderan yang cakup kuat dan ampuh yaitu Kang Pan.
It ouw dapat melihat gelagat yang mengutungkan ini, diam diam segera ia berbidik kepada Li Sek hong.
"Li siancu, untuk memberantas kaki tangan Cia Ling im, kinilah saatnya yang paling tepat, Cia Ling im terlihat tak mampu membagi awak, musuh musuh yang lain tiada artinya bagi kita...."
Sudah tentu Li Sek hong juga maklum akan hal ini, namun baru saja ia hendak bicara, pihak sana didahului oleh Hwi Kak sudah tampil ke depan sambil menjinjing pedang, serunya.
"Kalau kalian hendak main keroyokan marilah silahkan maju rasakan betapa tajam pedangku ini."
Watak Sui Ki berangasan, segera ia memburu kedepan, dampratnya.
"Perempuan jalang, sebagai dayang Gwat kiong, berani kau membangkang majikan mendurhakai dunungan. Melawan Hujin, dosamu tidak terampunkan, serahkan jiwamu!"
Senjatanya adalah sebuah papan catur yang selalu dibawanya kemana ia pergi, sekali kepruk ia hendak gecak kepala orang.
Tapi Hwi Kak mandah tersenyum dingin, pedang panjangnya terangkat miring terus disendal kesamping dengan gampang ia sampok catur Sui Ki, terpental beberapa jauhnya.
Sui Ki amat keget diantara sepuluh dayang dari Khong ham kiong, bicara soal pedang termasuk Tam Kiam saja yang paling hebat dan tinggi, setelah Tam Kiam meniggal dunia hanya Jip Hoat saja yang berkepandaian paling matang dan lihay.
Bicara soal ilmu silat kepandaian Hwi Kak paling rada unggul sedikit dari Coh Bing yang berusia paling tua, namun tangkisan pedang atas senjata Sui Ki tadi agakanya cukup lihay dan jauh lebih unggul.
Jing Hoat dan Tay Su juga merasakan akan hal ini, tanpa berjanji segera melabrak maju, Jing Tho mennggunakan harpanya, sedang Tay Su menggunakan senjata potlot, masing masing adalah senjata khusus sesuai dengan bakat dan pembawaan mereka, bersama papan Catur Sui Ki, tiga macam senjata yang aneh aneh itu memberondong gencar menghujani Hwi Kak, tapi gerak gerik Hwi Kak amat lamban dan seperti berlenggang saja ditengah gempuran gencar ketiga lawannya, pedangya balas menyerang amat leluasa dan berkecukupan menghadapi ketiga rangsakan musuh.
Akhirnya Jip Hoatpun takatahan lagi, ajaran silatnya paling banyak ragamnya, kini dengan bertangan kosong ia ikur terjun dalam arena pertempuran, kekuataanya seorang agakanya tidak dibawah ketiga kawannya.
Tapi dengan empat melawan satu, mereka tetap terbendung diluar kiblatan sinar pedang Hwi Kak yang kokoh dan rapat, paling paling hanya mampu bertahan ditempat masing masing tidak sampai tersurut mundur namun mereka tidak kuasa menerjang masuk meski sejurus tipu serangan yang bagaimana lihaynya.
Melihat adu kekuatan secara menyeluruh sudah dimulai, It ouw segera melolos pedang pula terus menentang Kik Cu seng.
"Marilah kitapun jangan nganggur!"
Kik Cu seng tidak hiraukan tantangannya, malah Ki Houw lah yang menandingi seringainya.
"Tua bangka! Kau ingin mati mari biar aku saja menyempurnakan kau!"
Sian yu it ouw menggerung gusar, dampratnya.
"Bedebah kau! Kau ini terhitung barang apa?"
Ki Houw menjadi murka, tanpa ayal lagi segera ia gerakkan pedangnya terus menerjang dengan serangan yang cukup ganas dan keji, It ouwpun tidak berani pandang rendah lawannya, cepat iapun menggerakan pedangnya melawan dengan sengit, pertempuran menjadi kacau balau, dimana mana terdengar berdentingnya senjata tajam dan teriak keras memberi semangat dan kesakitan.
Tanpa ditantang Sebun Bu yam segera menantang Li Sek hong seraya mencabut pedangnya.
"Li suci! Kita termasuk satu perguruan, tapi kalian yang cantik rupawan selalu merendahkan derajat aku yang bermuka, buruk, selama ini memang aku mencari kesempatan untuk melampiaskan penasaranku hari inilah tiba kesempatan itu, marilah beri aku beberapa gebrak petunjuk, biar kenyataan menentukan kau lebih unggul atau aku asor! Li Sek hong tidak banyak suara ia pun mengeluarkan senjata, kejap lain merekapun sudah berhantam dengan main kekerasan, tidak peduli hubungan seperguruan segala, yang jelas mereka serang menyerang dengan tidak kalah sengitnya. Situasi semakin gaduh dan ramai seluruh gelanggang terbagi lima kelompok pertempuran, dengan tiga belas orang saling labrak dan terjang. Babak yang kelihatan enteng adalah pihak Li Sek hong yang melawan Sebun Bu yam, maklum mereka berdua tamat dari ajaran perguruan yang sama, meski ajaran yang mereka terima berlainan namun satu sama lain dapat menyelami intisari permainan lawannya maka selintas pandang, seoloh olah mereka sedang berlatih belaka. Yang paling ramai adalah kelompok di mana Hwi Kak dikeroyok empat sekoleganya pedang panjang diputar secepat angin lesus menunjukan perbawa yang amat hebat. Waktu berada di Khong ham kiong, meski Hwi Kak membekal kepandaian silat yang dipelajari secara diam diam, namun tidak berani ia mengunjukan kemampuan sendiri, maka keempat temannya ini selalu memandangnya rendah, diapun mandah saja dihina dan menelan rasa penasaran selama ini, maka pedangnya berkali kali memantulkan jurus jurus aneh dengan tipu serangan yang cukup keji dan culas, untunglah keempat pengeroyoknya dapat bekerja sama secara ketat dan rapat, kalau tidak mungkin sejak tadi satu diantara mereka sudah mampus ditembus pedangnya. Yang tinggal menganggur kini cuma empat orang, pihak Cia Ling im tinggal Kik cu seng, sementara pihak Koan San Gwat masih ada Ban li bu in dan It lun bing gwat serta Kang Pan. Watak Kang Pan masih kekanak kanakan dan lincah, tidak pernah ia memikirkan diman dirinya berpihak, ia minggir saja menjauh menonton dengan penuh perhatian dan kesenangan, peduli pihak manapun yang kena serangan atau terluka dan kena pukulan hingga terjungkir segera ia berjingkrak sambil tepuk tangan. Setelah menonton sebentar, Ban li bu in dan it lun bing gwat hanya Kik Cu seng, seorang saja yang menjadi musuhnya, namun agaknya mereka tiada minat turun gelanggang itulah karena mereka terpengaruh oleh kata kata It ouw tadi. Didalam Liong hwa hwe dulu kedudukan Kik Cu seng jauh lebih tinggi dari mereka, namun setelah melihat tampapang dan sikap serta kedudukannya sekarang, mereka jadi segan tidak sudi turun tangan melawannya. Seolah hanya mengotori tangan belaka. Adalah Kik Cu seng sendiri yang akhirnya tidak kuat menahan sabar katanya menantang.
"Kalian berdua apakah tiada minat melemaskan otot?"
Ban li bu in menyeringai dingin ejekanya "Sebetulnya kami tidak bersedia nganggur, namun tiada semangat untuk melabrak manusia macam tampangmu ini"
Dari malu Kik Cu seng menjadi murka, dampratnya.
"It ouw bicara demikian masih bisa kuterima, kalian berdua teramasuk barang permainan apa?"
"Meski kami bukan barang permainan masakah sudi berhantam dengan angkatan muda tak berguna seperti tampangmu ini, justru karena kau tuan besar ini terlalu besar dan agung, maka kami jadi segan minta petunjuk!"
Demikian olok It lun bing gwat. Membesi muka Kik Cu seng, ejekanya tiada kalah pedasnya.
"Jadi kalian sendiri yang cukup ternama dan berkedudukan tinggi, kenapa terlalu mengekor dan berontak mengikuti jejak Koan San Gwat, bukankah dia pun seorang anak hijau yang masih berbau bawang apakah karena terima menjadi anak buyut Ui ho yang setaraf lebih rendah dari muridnya?"
Ban li bu in tertata bergelak, ujarnya.
"Apakah Ki Houw cukup setimpal dijajarkan dengan Koan San Gwat? Ingat kami ikut dalam rombongan Koan kongcu ini bukan untuk menerima perintahnya, Koan kongcu selalu menyapa aku dengan sebutan Cinpwe! Bagaimana dengan Ki Houw? Tak ku dengar secara langsung dia memanggil nama kasarmu namun toh rada rada kedengaran cukup sungkan terhadap kau...."
Menggelap air muka Kik Cu seng, tanpa bicara lagi tiba tiba mengeluarkan sebuah senjata yang berbentuk amat aneh, seluruh nya terwarna hitam legam, bentuknya membulat menyerupai batok yang peranti untuk wadah nasi bagi kaum Hwesio, cuma disebelah belakangnya disambung dengan sebuah gagang kayu yang pendek, Ban li bu in bergelak tawa menjadi jadi serunya.
"Kik Cu seng, kenapa semakin tua kau semakin celaka dan rudin agaknya. Apakah pihak Thian ko kau tidak memberi makan sedekah padamu, sehingga kau haru mengemis dikota dari rumah kerumah...."
Kik Cu seng tidak hiraukan olok olok yang tajam dan memalukan ini, mukanya semakin gelap membesi, tangan kiri perlahan lahan diangkat, dimana pada jari kelingkingnya mengenakan sebentuk cincin terbuat dari besi baja, dengan ringan saja ia ketukan di atas gagang pendek itu, disusul dengan terdengarnya suara jepretan yang berbunyi aneh dari dalam batok yang bermulut rada kecil membundar itu terbang melesat segulung bayangan hitam, dengan cepat dia tidak bersuara sedikitpun melesat kearah Ban li bu in.
Acuh tak acuh segera Ban li bu in mengebaskan lengan bajunya, meski ia tidak melihat jelas benda hitam apa yang menyambar kearahnya, tapi karena daya luncurannya tidak begitu keras dan kuat pikirnya cukup dengan sekali kebas saja untuk menyampoknya jatuh.
Akan tetapi kenyataan justru jauh diluar dugaannya, titik hitam itu seperti berbentuk namun tiada kelihatan nyata jadi sulit dibedakan, yang terang titik hitam itu menerjang tembus kebasan lengan bajunya, dan tahu tahu terporot tepat mengenai hidungnya.
Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, badan Ban li bu in kontan terbanting terjengkang ke belakang.
Waktu It lun bing Gwat memburu maju memeriksanya, ternyata jiwanya sudah melayang.
Cara membunuh orang macam ini sungguh amat aneh dan menakjupkan serta menakutkan sekali, kejut dan murka pula It lun bing Gwat dibuatnya, begitu angkat kepala matanya mendelik kearah Kik Cu seng seperti kelereng yang hampir mencelat keluar dari kelopak matanya, teriakanya beringas.
"Dengan cara apa kau turun tangan keji..."
Kik Cu seng angkat batokanya sembari menyeringai sadis, ejeknya.
"Mainan inilah apakah kau pernah lihat?"
Mengawasi batok besi hitam legam di tangan orang It lun bing gwat terlongong, sekian lamanya, sekilas pandang batok besi ini tidak menimjukan suatu keanehan tapi kenyataan jiwa Ban li bu in melayang tanpa dia sempat membela dari.
Dengan nenangkat senjata anehnya Kik Cu seng dengarkan tawa panjang yang mengiriskan, nada tawanya mengandung kegetiran hati dan sendu, namun mengandung kepuasan hati pula sesaat kemudian baru dia bersuara.
"Kukira kaupun tidak akan mengenalnya senjata kuno sejak Ko Ciam le dulu, sampai sekarang sudah tiada orang yang mengenalnya lagi, kalau jaman dulu Ko Ciam le dapat melatih diri sampai ketingkat seperti keadaanku sekarang, kukira meski Cin Si ong mempunyai pasukan pelindung laksaan jumlahnya juga tidak akan terhindar dari kematiannya. Dengan meninggalnya Ban li bu in yang aneh ini, serta merta dua pihak yang sedang bertarung menghentikan perkelahiannya masing masing, mereka terbagi dua rombongan pula yang saling berhadapan, masing masing menunggu perkembangan lebih lanjut. Mendengar penjelasan Kik Cu seng orang orang dari dua pihak sama mencelos dan kejut. Pertama tama Koan San Gwat yang bersuara heran.
"Itukan Cu ...."
"Benar,"
Tukas Kik Cu seng.
"Kalau tidak darimana namaku "Kik Cu seng"
Kuperoleh?"
Semua orang sama bungkam.
Semua orang yang hadir sama pernah mendengar cerita sejarah ini dimana seorang patriot bangsa dari negeri Tio Cian le pada suatu pertunjukkan dihadapan Cin si ong yang lalim itu berusaha membunuhnya menggunakan kepandaian mengetuk batok manyambitkan peluru besinya yang amat lihay, sayang dia seorang yang buta sehingga tujuannya tidak tercapai malah harus berkorban diri dengan badan hancur lebur batok kepalanya dibacok ratusan golok para pasukan pengawal raja.
Adalah diluar dugaan tahu mereka bahwa begituan bentuk senjata yang aneh dan pernah menggemparkan jagat itu, tak mereka nyana pula bahwa Kik Cu seng berhasil mempelajari ilmu aneh dengan menyambitkan pelor dari dalam batokanya, malah Cia Ling im sendiri juga merasa terheran heran, maka air muka nya pun seperu juga orang lain mengunjuk rasa heran dan kagum.
Kata Koan San Gwat.
"Mesti Ko Ciam le gagal dalam usaha membunuh raja lalim namun dia meninggalkan nama harum dalam sejarah, meski kau sekarang membekal kepandaian yang lebih hebat dari dia, namun terima bertekuk lutut dibawah tekanan manusia jahat dan laknat, bukan saja harus malu diri terhadap pahlawan bangsa yang telah mendahului kita kaupun harus malu terhadap senjata aneh yang berada ditanganmu itu."
"Binatang kecil!"
Tidak perlu kau mengudar teori falsafahmu, selamanya aku berpihak terjang menurut keinginan hatiku sendiri, selamanya tidak perduli lurus atau jahat, hanya ketentraman jiwa dan kesenangan hati saja yang kukejar.
Siapa berani menghina aku kepada dialah aku tidak menaruh kasihan lagi."
It lun bing gwat segera menyela.
"Begitu hina dan rendah penghargaan Cia Ling im terhadapmu, apakah termasuk dia memandang tingi harga dirimu?"
Berubah pula air muka Kik Cu seng diam diam Cia Ling im berlaku waspada dan siap siap, siapa tahu air muka Kik Cu seng pulih seperti biasa pula, katanya tawar.
"Didalam Liong hwa hwe dulu, kalian suka main sindir dan mengolok kepadaku, hanya Kau cu seorang yang selalu membujuk dan mengendalikan diriku sungguh aku amat berhutang budi terhadapnya, maka akupun tidak perdulikan lagi situasi selanjutnya...."
Berlega hati Cia Ling im, katanya.
"Kim Cu seng! Kau sungguh bisa mengendalikan diri, kalau sejak lama aku tahu kau membekal kapandaian yang lain dari yang lain ini, betapapun tidak ku kesampingkan bakatmu ini, sekarang aku sedang membutuhkan tenaga untuk membangun dasar Thian Mo kun kita, ku kira kau bisa memaklumi kesulitanku...."
"Kaucu tidak perlu menjelaskan, hati ku sudah cukup paham sendiri,"
Demikian sahut Kik Cu seng.
"Kalau tidak masakah aku sudi tetap berteduh didalam Thian mo kau!"
Kata Cia Ling im "Kalau sejak lama kau pertunjukan bekal kepandaian tunggalmu ini sudah tentu sejak lama pula kumanfaatkan kepandaianmu ini...."
"Bukan hamba sengaja hendak menyembunyikan kepandainku ini maksudku hanya untuk digunakan perlu saja, bila perlu biar ku sumbangkan tenagaku ini disaat Kaucu menghadapi bahaya yang paling besar, soalnya aku tidak kuat menahan gejolak hati mendengar olok olok mereka yang keterlaluan sehingga kuumbar amarah hatiku...."
Tak tahan It lun bing gwat segera berteriak.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 18
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 9