Eps 6 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.
Kalau tidak masa Peng Kiok jin membawa dirinya kemari ...
Setelah direnungkan bolak balik, akhirnya ia berkeputusan untuk manjat keatas.
Pertama untuk menjenguk Thio Ceng Ceng, meski perasaannya terhadap gadis yang harus dikasihani ini tidak sehangat cinta Thio Ceng Ceng terhadap dirinya.
Kehidupan mengasingkan diri sejak kecil sudah mendarah daging dalam relung hatinya sehingga ia merasa tawar terhadap hubungan kaum adam dan hawa, tapi demi keadilan antara cinta dan budi, ia mewajib menjengukanya.
Tujuan kedua karena orang itu membawa pergi senjatanya, bagaimina juga secara tradisi perguruannya pantang hilang di tangannya, di harus memintanya kembali.
Setelah berkeputusan, mulai ia mempersiapkan diri memanjat keatas, waktu kakinya bergerak lututnya sedikit ditekuk, perlahan lahan ia menarik napas panjang, tiba tiba badan nya melambung tinggi meraih akar rotan, seperti kera layakanya ia manjat keatas.
Rotan yang tumbuh memanjang itu berbeda beda ada yang besar ada yang kecil bergoyangnya sudah tentu berlainan pula, yang besar tidak bergeming yang kecil bergoyang gontai.
Koan San gwat merasa tindakannya benar meninggalkan senjata malaikat masnya dibawah, kalau membawa benda yang begitu besar, mungkin ia bisa terjungkal jatuh dibawah, karena berat yang tidak tertahan oleh akar akar rotan itu.
Namun orang itu bisa membawanya naik begitu gampang, dari sini dapatlah dibuktikan bahwa kepandaian silat orang itu pasti sulit diukur.
Penghuni puncak gunung ini adalah orang kosen yang lihay menurut perkiraan Koan San gwat, maka ia berlaku sangat hati hati dan waspada.
Lambat laun ia merasa sudah hamipir tiba diatas puncak, karena pandangan matanya cukup terang, dilihatnya langit nan terang dan biru cemerlang ditimpa cahaya bulan sabit yang redup.
Awan tebal dibawah kakinya menjadi lautan gelap yang bergulng gulung, dua tiga umbak tak jauh dimukanya tumbuh sepucuk pohon siong, yang amat tua, kokoh dan kekar, lebih atas sudah tidak kelihatan sesuatu benda lagi.
Meski tidak terlalu letih, namun Koan San gwat cukup payah, maka perasaannya lambat laun menjadi kendor, begitu ia mengerahkan tenaga pada lengannya terus menggentak keatas, badannya melejit jumpalitan keatas, sekali raih ia pegang sebatang dahan pohon liong.
Dahan pohon itu sebesar lengan tangan nya, mestinya kuat menahan berat badannya tapi waktu tenaga dikerahkan, mendadak didengarnya suara "Krak!"
Yang keras dahan pohon itu patah tepat disebelah ujung tangannya, kontan badan dan dahan pohon itu melorot kebawah dan terjungkal kedalam jurang.
Mimpi juga Koan San gwat tidak menduga, bila terjadi hal ini, karena tidak siaga, sementara tubuhnya sudah meluncur tiga tumbak ke bawah, dalam gugupnya timbul akal cerdikanya, lekas ia lemparkan dahan ditangannya meminjam daya lemparan ini ia jejakkan tubuhnya diatas merapat kedinding gunung.
Lekas ia mengerahkan tenaga kelima jarinya mencakar amblas kedalam dinding batu cadas.
Ternyata dinding batu cadas ini teramat empuk, tangannya amblas seluruhnya, sementara ia bisa bertahan tidak sampai terjungkal kehawah.
Tapi dinding yang empuk itu tidak kuat menahan badannya, batu kerikil sudah berjatuhan, kelihatannya sebentar lagi ia bakal melorot turun pula kebawah.
Untunglah Koan Ssn gwat sudah digembleng serta dipupuk dasar pengalaman yang matang, meski menghadapi bahaya tidak menjadi gugup, segera ia melolos Pek hong kiam dari pinggangnya, beruntun ia menusuk dan membacok diatas dinding.
Pek hong kiam memang tajam luar biasa sebentar saja berhasil dikeduknya setuah lubang lubang yang cukup besar, menggunakan ilmu cecak merambat Koan San gwat merapatkan badannya didinding batu lalu kakinya berpijak masuk lubang yang dibuatnya pelan pelan ia menghirup napas, tiba tiba tumit kakinya mengerahkan tenaga, badannya melejit tiga empat tumbak tingginya badannya jumpalitan hinggap diatas dahan pohon siong.
Kali ini dia lebih hati hati, badannya tidak berhenti lama diatas dahan, sedikit meminjam tenaga, badannya melayang turun di tanah datar.
Menurut perhitungannya dahan pohon tidak akan patah sebab, kecuali terkena suatu tekanan besar atau dikerjakan orang.
Betul juga baru saja ujung kakinya meninggalkm dahan pohon itu, dahan tempat ia berpijak itu patah mengeluarkan suara nyaring.
Matanya yang tajam melihat berkelebatnya selarik sinar putih.
Terbukti akan perbuatan seseorang yang disengaja.
Koan San gwat berkobar amarah, baru berdiri tegak kontan memaki "Kunyuk dari mana yang suka membokong orang, menggelindinglah keluar!"
Suaranya menggelepar diatas, namun keadaan tenang tidak ada reaksi apa apa, di hadapannya terbentang serumpun hutan bambu, keadaan sepi hanya terdengar keretakan daun bambu yang dihembus angin Koan San gwat menduga orang yang membokong Itu pasti sembunyi didalam hutan bambu itu, maka ia berteriak memaki lagi "Bangsat rendah yang penakut, berani membokong kenapa bersembunyi?"
Baru saja lenyap suaranya dari hutan bambu terdengar sebuah suara berat berkata "Barang tak berguna, sekedar permainan saja sudah ketakutan begitu rupa!"
Mendengar suara amat dekat terbakar amarah Koan San gwat, sambil menghardik ia menyerbu seraya mengobat abitkan Pek hong kiam, dimana sinar perak menyambar terdengarlah suara keresekan yang riuh, empat lima kaki sekitar tubuhnya, pohon bambu terbabat tumbang berserakan, ditengah ramainya pohon pohon bambu itu tumbang tidak terlihat bayangan seorangpun.
Keruan Koan San gwat melongo heran kepandaian dengar suara menubruk bayangan sudah ia latih beberapa tahun, ia percaya akan kepandaiannya dia tidak mungkin gagal, namun kenyatannya ia menubruk tempat kosong.
Bahna herannya ia jelajahkan pandangannya, maka dilihatnya diantara batang pohon bambu yang roboh berserakan itu ditengah sana terdapat sebuah batu hijau yang datar seperti sebuah meja, dikedua sampingnya.
terdapat pula dua bongkah baru sebagai kursi duduk, diatas meja berserakan biji biji catur warna hitam dan putih.
Setelah dekat dilihatnya diatas meja batu itu diukir garis garis catur, permainan agaknya belum selesai, jelas ada orang sedang main catur disini, orang yang membokong dirinya tentu berada disini, sementara senjata rahasia yang digunakan adalah biji catur ini pula, cuma kedua orang itu cekatan melarikan diri menghindari serangannya.
Tengah ia berpikir, dari hutan sebelah sana terdengar seorang berkata "Sui ki!
Kelakarmu keterlaluan, hutan sebaik ini kau obrak abrik akan kulihat cara bagaimana kau laporkan hal ini kepada Gwat hoa hujin."
Menyusul dari belakang hutan bambu beruntun muncullah dua bayangan orang.
Meminjam sinar bintang Koan San gwat melihat kedua pendatang ini seorang tinggi yang lain penedek buntek, yang pendek bercambang bauk lebar seperti duri duri landak, kedua mata orang ini bersinar tajam.
Koan San gwat tahu satu diantara kedua orang ini adalah yang membokong diri nya, dari percakapan tadi ia tahu orang itu bernama Sui Ki, entah yang mana diantara ke dua orang ini, maka dengan suara keras dan kereng ia bertanya "Siapa yang membokong aku?"
Siorang pendek mendelik mata, sahutnya .
"Aku. Bocah kau memang sembrono, aku cuma berkelakar, kenapa kau lantas marah hutan bambu ini kau babat semua, cara bagaimana kau mengganti kerugian ini? "
Sipendek mengelus cambang baukanya lalu berkata .
"Anak muda, jangan kau memaki orang ya, bilang guyon ya guyon, kalau aku ingin menamatkan jiwamu, kedua biji caturku tadi, tidak akan mengincar dahan pohon ..."
Mendengar orang berani berdebat, berubah air mukanya, amarahnya sudah tak tertahan lagi.
Lekas setinggi menggoyangkan tangan katanya "Siheng tidak usah marah marah, Sui Ki memang hanya mempermainkan belaka tiada niat mencelakai jiwamu, seandainya Siheng terjauh juga tidak akan mati!"
Koan San gwat mendelikkan mata, semprotnya penuh kebencian .
"Bohong! Tempat setinggi itu kalau terjatuh ..."
Sitinggi tertawa, ujarnya .
"Dibawah ada dipasang jaring besar, paling Siheng menderita kaget setengah mati saja "
Koan San gwat melongo, sikap si tinggi ini ramah dan supel lagi maka ia percaya ucapan orang bukan bualan, dengan masih sangsi ia berkata "Mana aku tahu ..."
Sipendek mendengus, jengekanya "Huh, jika kau tahu, maka kelakar inipun tiada artinya lagi!"
Koan San gwat teramat benci terhadap sipendek ini katanya .
"Meski ada jaring di bawah kau tidak pantas berbuat begitu, berapa tinggi tebing curam ini, kalau seorang yang tidak bisa silat terjatuh kesana, tanggung mampus ketakutan ..."
"Orang yang tidak bisa silat jangan harap bisa manjat kemari,"
Demikian jengek si pendek.
"Menurut Tay Su kau kelihatan pintar, tak tahunya goblok melebihi kerbau dungu!"
Koan San gwat benar benar kena didebat, mulutnya terkancing, sipendek senang, ujarnya "Anak muda!
Masih ada omongan apa yang hendak kau katakan!
Begitu ceroboh kau menggunakan pedang hendak melukai orang, cari bagaimnaa kau mengganti hutan bambu ini, kau tahu untuk menanam pohon bambu diatas puncak ini, memerlukan jerih payah ..."
Koan San gwat hendak mengumbar amarahnyi lagi, lekas lekas si tinggi bicara "Sui Ke jangan kau mengingkari tanggung jawab, meski dia yang membabat habis bambu disini diusut asal mulanya kau tidak lepas dari tanggung jawab, siapa suruh kau berkelakar dengan jiwa orang."
Sipendek jadi gugup, teriakanya .
"Jing Tho kenapa kau membela orang luar."
"Aku bicara menurut aturan, kesalahan memang padamu, meski dilaporkan kepada Gwat hoa hujin, aku percaya kau tetap berada dipihak yang salah."
Sipendek mencibirkan bibir, lalu menggerutu "Salah, paling lari ke Tay ceng san kerja berat tiga bulan membantu sibunguk itu memegangi sibotak air sumber hidup kembali, untuk menyambung bambu bambu ini!"
"Pikiranmu sederhana, pertama sibungkuk itu tiada gampang diajak bicara, mau tidak mau memberi kepada kau sulit dikatakan, meski dia mau memberi, kerja berat selama tiga bulan rasanya cukup membuat kau menderita !"
"Apa boleh buat, siapa suruh aku mencari gara gara, beginilah akibatnya!"
"Meski kau memperoleh air sumber hidup kembali, tiga bulan kemudian, bambu bambu inipun sudah kering dan mati layu...."
Karuan si pendek semakin gelisah, katanya sambil garuk garuk kepala "La.. lu bagaimana baikanya? Anak muda! Kau benar benar membuat aku serba susah ..."
Melihat keadaan orang yang runyam, Koan San gwat jadi tidak tega, amarahnya menjadi tawar katanya lembut.
"Lo siansing ini tak usah gelisah, aku yang rendah terlalu sembrono menghancurkan bambu bambu ini, akupun punya kesalahan...."
"Apa gunanya ucapanmu ini, seperti kentut belaka, kalau Gwat hoa Hujin betul betul mengusut perkata ini, kau mau mewakili aku menanggung akibatnya!"
Demikian teriak si pendek.
Tergerak hati Koan San gwat, Sudah beberapa kali ia mendengar nama Gwat hoa Hu jin, sesuai dengan namanya Gwat hoa Hujin sudah tentu seorang perempuan ...
Laki laki dibawah puncak yang menggelari dirinya "Gila buku"
Bernama Tay Su, si pendek ini bernama Sui Ki, sementara sitinggi bernama Jing Tho, kelihatannya tingkat kedudukan mereka sama rata, sementara Gwat hoa hujin jelas berkedudukkan lebih tinggi dari mereka, orang orang macam apa dan apa pula hubungan mereka satu sama lain?
Demikian Koan San gwat bertanya tanya dalam hati, maka ia berkata "Tidak jadi soal, seluruh kesalahan biar aku yang tanggung."
"Cara bagaimana kau hendak menanggung kesalahan ini? "
"Akan kukatakan bambu ini akulah yang membabatnya hancur, sekecappun tidak ku singgung soal kelakarmu."
Dari bersungut si pendek menjadi tertawa lebar, katanya.
"Baik sekali kalau kau mau berbuat demikian ... baik sih baik, lalu bagaimana kau hendak mencari alasan?"
"Gampang saja, katakan saja aku bentrok dengan kalian, lalu berkelahi dan kubabat habis seluruh hutan bambu ini ..."
Si tinggi tertawa, ujarnya "Tindakan Siheng memang dapat membantu kesulitan Sui Ki ketahuilah Khong ham kong mempunyai sepuluh pemandangan alam, Gwat hoa Hujin justru paling menyukai hutan bambu ini, kalau kesalahan ditimpahkan Sui Ki memang cukup menderita untuk memikul hukumannya, namun Siheng adalah orang luar, Gwat hoa Hujin mungkin tidak akan mempersulit dirimu!
Dan lagi aku dan Sui Ki kan bisa minta ampun bagi kesalahan tidak sengaja ini ..."
Saking girang sipendek tertawa lebar, katanya "Begitu saja rencana kita, setelah berhadapan dengan Gwat hoa Hujin, jangan kau bicara ketus!"
"Sudah tentu , tapi ... orang macam apakah Gwat hoa Hujin itu? "
Kedua orang itu tertegun, sesaat baru sipedek menyahut "Siapa Gwat hoa Hujin kau tidak tahu, kenapa kau manjat kepuncak gunung ini?"
Ganti Koan San gwat yang melengak, sahutnya .
"Kedatanganku bukan untuk mencari Gwat hoa Hujin, aku hendak menjenguk seorang nona Thio!"
"Thio Ceng ceng!"
Teriak kedua orang bersama. Koan San gwat manggut manggut, kata nya "Tidak salah! kudengar dia berada di ..."
"Aneh !"
Mata sipendek berputar.
"Kenapa Tay Su tidak bicara sejelasnya ..."
Lekas si tinggi memberi tanda dengan tangannya, katanya lirih.
"Jangan banyak mulut! aku tahu maksudnya ..."
Lalu ia berputar menghadap Koan San gwat dan bertanya "Dari mana saudara tahu bila nona Thio berada disini ?"
Koan San gwat sangsi untuk menjelaskan karena ia tahu Peng Kiok jin sengaja hendak menyembunyikan rahasia ini, tentu ada sebab musababnya, mungkin akibatnya tidak menguntungkan bagi dia.
Tanpa menanti jawaban sitinggi sudah menyanbung.
"Kuduga tentu nenek tua she Peng yang beritahu kepada kau, sementara kau she Koan, Koan toako yang selalu disebut oleh nona Thio dan tak pernah dilupakan itu!"
Mendengar orang sudah bicara blak blak kan, tak enak rasanya mengingkari, maka Koan San gwat manggut manggut, sahutnya "Benar. Aku yang rendah Koan San gwat ..."
Sikap sitinggi serius, katanya menekan suara.
"Setelah bertemu dengan Gwat hoa Hujin lebih baik jangan kau sebut nama aslimu, jangan pula kau singgung nenek tua she Peng itu, lebih penting lagi jangan kau menyinggung nona Thio."
"Kenapa? "
Tanya Koan San gwat heran.
"Jangan tanya kenapa,"
Timbrung sipendek.
"Kalau kau ingin bertemu dengan nona Thio, kau harus patuh pesan kami! Kelak kita akan bantu kau mencari akal secara pelan pelan ..."
Koan San gwat menjadi bingung, ingin ia bertanya lebih lanjut, namun sikap sipendek kelihatan gelisah, ujarnya "Ada orang datang, kemungkinan adalah Jip Hoat, biarlah aku melihatnya kesana.
Jing Tho, boleh kau memberi pesan beberapa hal yang harus diketahui, jangan membuang waktu terlalu lama."
Selesai berkata bergegas ia berlari pergi. Cepat sitinggi menuding pedang Koan San gwat sambil berkata "Kau simpan dulu pedangmu, dengarlah beberapa keteranganku....."
Lekas Koan San gwat menyarungkan pedangnya, sitinggi segera berkata ."
Didalam Khong kam kiong Gwat hoa Hujin ini, semua ada tujuh orang pembantu, aku Sui Ki dan Tay Sui kau sudah melihatnya, selain itu masih ada Cio Bing, Jip Hoat, Tan Kiam dan Hwi Kak berempat, diantaranya cuma Tam Kiam seorang laki laki diapun akan membantu kau, kepada tiga cewek yang lain itu, jangan sekali kali kau membocorkan rahasia asal usulmu, masih ada satu ..."
Belum habis ia bicara dari hutan bambu sebelah sana terdengar jeritan Jip Hoat.
Sitinggi menjadi kaget dan tutup mulut, lalu menepuk pundakanya, makaudnya dia berlaku hati hati.
Maka didengarnya suara perempuan berkata .
"Hujin memberi perintah supaya bocah itu lekas dibawa menghadap! Apa kalian lakukan di sini, main sembunyi? "
Tampak bayangan orang melayang tiba, tahu tahu Sui Ki hinggap dihadapan mereka membawa seorang perempuan berpakaian mewah berusia delapan sembilan likuran, parasnya elok, bertubuh montok berpinggang ramping.
Begitu tiba kedua matanya laksana aliran listrik mengawasi Koan San gwat dari atas sampai kebawah, sekian lamanya baru mulutnya berkecek, katanya .
"Tay Su mangatakan anak muda ini bertubuh ganteng dan gagah, jarang terlihat dalam dunia ini, semula aku tidak percaya, kini setelah menyaksikan sendiri, memang kelihatannya cukup tampan dan hebat, saudara kecil! Apakah kau ini Bing Jian li? "
Koan San gwat menjublek, lekas Tay Sui buka suara "Benar Bing lote berwajah tampan ilmu silatnyapun amat hebat dari aliran tersendiri, beberapa jurus permainan pedangnya membuat aku dan Jin Tho terdesak keripuhan ..."
Sembari berkata matanya berkedip kedip memberi isyarat kepada Koan San gwat.
Baru sekarang Koan San gwat paham bahwa "Bing Jian li nama barunya yang mereka pilih, tentu buah karya Yay Sui itu, digubah jadi Bing tho jian li, meski hatinya kurang senang terpaksa harus mengakui, lekas ia bersoja katanya .
"Cayhe Bing Jian li, harap tanya.."
Siu Ki lekas memperkenalkan "Inilah Jip Hoat, usianya lebih besar dari kau, boleh kau memanggilnya Toa suci saja!"
Jip Koat tertawa terkekeh kekeh, seru nya .
"Toa suci ya Toa cilah, siapa suruh usiaku lebih tua dari kau! Bing hengte, menurut Tay Su kau pandai menulis, kedua tua bangka ini memuji kau pintar main pedang, kau masih bisa apa lagi? "
Jing Tho segera menyela ."Bing Iote serba bisa, ahli memetik harpa, pemain catur yang tiada lawannya, bersanjak membuat syair juga mahir, cuma minum arak dan teh saja yang kami belum sempat uji!"
Mulut jip Hoat berkecek memuji, katanya "Tentu kau tidak asor kedua bidang itu.
Khong ham kiong ketambah Bing hente menjadi lengkap seluruhnya.
Aku harus cepat laporkan kepada ...
oh ya, kami setiap orang hanya bisa sebuah bidang, sebalikanya Bing heng te serba bisa, bagaimana seharusnya kita memanggilnya?"
"Itu urusan Hujin,"
Ujar Sui Ki tertawa kering.
"Kau tidak perlu ribut? "
"Benar"
Ujar Jip Hoat manggut.
"Aku tiada hak menentukan, Bing hengte, lekas jalan!"
"Setelah ia memutar tubuh, baru dilihat potongan bambu yang berserakan itu, mendadak ia menjerit "Wah! siapa yang mengobrak abrik Jui hong yu king, kalau Hujin tahu bagaimana baikanya ...? "
Lekas Sui Ki menggerakkan mulut kearah Koan San gwat sikapnya mohon bantuan. Koan San gwat lekas maju beberapa langkah, katanya .
"Akulah yang merusakanya."
"Heh!"
Seru Jip Hoat gugup.
"Kenapa kau membuat kesalahan sebesar ini!"
Sui Ki batuk batuk kering, katanya terta tawa "Untuk menguji ilmu silat Bing lote, kami merintangi ia di sini, Bing lote marah, lalu cabut pedang menyerang kami berdua, untung kami keburu melarikan diri.
Celaka adalah rimbun bambu ini yang menjadi kocar kacir...."
Jip Hoat membanting kaki, serunya .
"Kalian keparat, ditempat mana saja kalian boleh membuat keributan, kenapa mesti ditempat ini ..."
Sui Ki pura pura getir, sahutnya .
"Kami tidak tahu adat Bing lote yang keras! Lihatlah usianya masih muda, siapa menyangka ilmu pedangnya demikian hebat ..."
Jip Hoat angkat pundak dan membuka kedua tangannya, ujarnya.
"Ini ... bagaimana harus lapor kepada Hujin! Baru saja Bing lote tiba lantas terjadi keonaran besar ..."
Dengan lantang Koan San gwat berkata .
"Urusan sudah ketelanjur, apa pula yang disesalkan, dihukum atau dibunuh akulah yang bertanggung jawab!"
Lekas Jip Hoat mengulap tangan, katanya!
"Bing hangte!
Kalau berhadapan dengan Hujin sikapmu jangan kasar dan ketus, bicaralah sopan, dari samping kita akan membela dan mohon pengampunannya, mungkin Hujin tidak mengusar panjang perkara ini ..."
"Benar!"
Timbrung Sui Ki.
"Hujin paling suka denagar kata katamu, pada waktunya harap kau suka bicara demi keselamatan Bing lote, sedapat mungkin kau puji kebaikan dan kepintaran, Bing lote, bila Hujin ketarik padanya urusan mudah diselesaikan ..."
Jip Hoat berpikir sejenak lalu katanya , menghela napas "Ya, begitulah caranya yang terang aku akan berusaha sebisa mungkin, siapa suruh aku menjadi Toa cinya tadi!
Bing hengte!
Jangan kau kira aku suka mengagulkan diri, aku sekali melihat kau aku lantas ..."
Tampak oleh Koan San gwat dalam bicara orang memicingkan mata, menunjukkan sikap genit yang memalukan, kuatir orang bicara tidak genah lekas ia menjura serta berkata.
"Sekali bertemu seperti sahabat lama! Harap Toa ci suka memberi perlindungan kepadaku! "Benar! Sekali lihat lantas tidak asing lagi, seperti sahabat kental! Meski bara pertama kali melihat kau, sebetulnya sudah lama aku ingin berkenalan dengan kau. Selanjutnya kuharap kita bisa bergaul lebih intim!"
Sui Ki mengelus jenggotnya, katanya.
"Kita bergaul sudah lama, kenapa kau tidak berlaku mesra dan intim kepada kami!"
"Cis tidak tahu malu!"
Damprat Jip Hoat dengan muka merah.
"Setan pendek jangan kau cerewet, awas kucomot hancur seluruh cambang tikusmu itu!"
Lekas Sui Ki mengkereteken lehernya Jip Hat jadi geli sendiri, secepat ia berkata kepada Koan San gwat.
"Bing hengte! Kau tidak merasa Toa sucimu terlalu kasar bukan? "
Koan San gwat serba runyam, tak tahu apa yang harus dikatakan. Lekas Jin Tho menimbrung "Jip Hoat ayo lekas jalan. Jangan kau bikin Hujin marah karena terlalu lama menunggu!"
"Benar!"
Seru Jip Hoat sadar.
"Hujin suruh aku menyusul kemari supaya kalian lekas menghadap! Mari lekas."
"Jip Hoat!"
Ujar Jing Tho tertawa berseri.
"Silahkan kau lari lebih dulu memberi lapor kepada Hujin segera kami membawa Koan lote kesana. Ingat agulkan Bing lote lebih dulu, supaya Hujin menaruh kesan baik kepadanya!"
Jin Hoat manggut manggut, katanya.
"Aku tahu, kalau Hujin marah, kalian berduapun pasti menerima akibatnya!"
Sembari bicara ia menggerakan pinggang nya , tahu tahu badannya berpusar seperti angin lesus lalu lenyap.
Meski Koau San gwat merasa lega, namun melihat gerak tubuh orang waktu melayang pergi, diam diam bersekat sa ubarinya.
"Lote!"
Kata Sui menghampiri Koan San gwat.
"Kau bakal ketiban rejeki, perempuan gila itu agakanya kepincut kepada kau, agakanya sekali pandang lantas jatuh cinta. Asal kau berhubungan intim dengan dia, didalam Khong ham kiong leluasa berbuat apa saja!"
Merah padam muka Koan San gwat.
Lekas Jing Tho menegor temannya itu "Sui Ki!
Kau membual apa, orang sudah memikul tangung jawab kesalahanmu, tapi kau masih menggodanya, Koan siheng, kulihat gendik itu memang jatuh hati kepada kau.
Sudah tentu kau tidak akan ketarik padanya namun kami harap kau jangan membuat runyam dan malu, di dalam Khong ham kiong kecuali Gwat hoa Hujin, dialah yang berkepandaian paling tinggi ..."
"Apa? Jadi aku harus memberi hati dan merayu dia? Tidak bisa begitu melilat dia aku lantas mual. Sungguh aku tidak mengerti apa yang sedang kalian ributkan, tanpa hujan dan angin tahu tuhu mengganti namaku seenak udel sendiri kini aku harus ..."
"Koan siheng, sabarlah.. sabar"
Demikian bujuk Jing Tho.
"Soal ganti nama mungkin adalah maksud Tay Sui, harap kau percaya bahwa kami sedang bantu kau, bantu nona Thio, kini tiada tempo kujelaskan, kelak kalau ada waktu, kami akan memberi penjelasan kepada kau..."
Koan San gwat marah marah, katanya "Urusan lain aku tidak perlu tahu tapi kalian harus jelaskan kepadaku. Gwat hoa Hujin siapa bila berhadapan supaya aku bisa bertindak menurut keadaan!"
Jing To menghela napas, lalu berkata pelan pelan, aku cuma bisa beritahu kepadamu bahwa ilmu silatnya sudah mencapai puncak tertinggi!
Cukup kau tahu akan hal ini saja.
Marilah kita berangkat, kalau terlambat Hujin bisa marah, harus ku betitahu pula kepadamu, bahwa Jip Hoat sebetulnya orang yang baik hati, tindak tandukanya mambuat kau sebal dan mual, tapi sebetulnya amat bijaksana dan saleh, jangan kau pandang rendah dirinya."
Sampai disini ia menghela napas pula, lalu angkat tangan mendesak .
"Lekas berangkat tabiat Hujin amat keras, bila beliau menunggu terlalu lama, memang bisa runyam akibatnya!"
Sui Ki lantas tarik lengan baju Koan San gwat terus diseret kedepan seperti menuntun binatang layaknya, setelah melewati rumpun bambu mereka terus beranjak kedepan.
Terasa oleh Koan San gwat tenaga orang amat besar, tanpa kuasa ia ditarik maju kedepan, rasanya kurang biasa, namun tenaga tarikan Sui Ki amat aneh, tangan menarik disebelah depan, namun tenaga nendorong disebeleh belakang seolah olah dirinya didorong dari belakang sehingga ia tidak mampu mengerahkan tenaga untuk berontak.
Setelah keluar dari hutan sampailah mereka disebuah taman kembang yang amat luas, berbagai tanaman kembang berkelompok berbeda beda, disebelah taman kembang adalah sederetan bangunan rumah berpetak petak yang serba indah dan megah, berloteng lagi deretan paling depan berpintu gerbang besar dengan daun pintu terbuat dari batu pualam putih, di atas belandar tergantung sebuah pigura besar yang bertuliskan Khong gam kiong tiga huruf emas.
Disaat mereka tiba didepan pintu gerbang menaiki tangga batu, tampak oleh Kon San gwat laki laki bernama Tay Su yang pernah dilihatnya dibawah gunung itu memapak maju, air mukanya gelisah.
Belum lagi Koan San gwat sudah angkat tangan dan berkata "Tay Sui, Aku maklum akan kesulitanmu tak usah dikatakan lagi."
Sedikit berubah air muka Tay Su, katanya.
"Aku hanya ingin mendarma baktiku tenagaku, kuharap kau memberi maaf karena aku mengganti namamu soalnya terpaksa, baru kuajak kau naik kemari untuk bertemu dengan Hujin, jangan kau manyinggung nona Thio ..!"
Jing Tho menyala "Kita sudah manjelaskan kepadanya, kau tidak usah rewel lagi ..."
Belum lagi Koan San gwat mengambil sikap, Jip Hoat muncul dengan suara keras berseru lantang "Hujin memberi ijin Bing Jian li segera menghadap!"
Meski Koan San gwat tahu bahwa Gwat hoa Hujin seorang tokoh yang segani, tapi dirinya harus munduk munduk didepan seorang tokoh yang disegani, betapapun tidak sudi.
Maka dengan sikap acuh tak acuh ia beranjak dengan lekas.
Begitu memasuki balairung, pandangannya menjadi terang.
Balairung besar dan panjang ini perasis istana raja, sangat hebatnya dibuat dan batu Tay li, lantainya batu hijau yang mengkilap di tengah balairung dibangun sebuah panggung batu persegi, sekeliling panggung dikeliling pagar pendek setengah tumbak terbuat dari emas, disebelah depan terdapat sembilan tangga batu dari jade, diatas panggung terletak sebuah kursi kebesaran yang terukir dan bertatakan perhiasan berbagai macam bentuk dari jambrud, manikam dan berlian yang tak ternilai harganya, diatas kursi kebesaran bercokol seorang perempuan pertengahan umur yang berpakaian mewah dan perlente, tak usah disangsikan lagi bahwa perempuan ini Gwat hoa Hujin adanya.
Usia Gwat hoa Hujin kelihatan baru empat puluh, rambut kepalanya tersanggul, menggunakan jubah panjang warna putih yang terbuat dari sutra kembang, wajahnya cantik mengandung wibawa, sikapnya angker dan agung, benar benar orang menaruh hormat dan tunduk kepadanya.
Di belakangnya berdiri dua perempuan berpakaian seperti Jip Hoat, usia mereka tiga puluhan, mereka adalah Hui Kak dan Coa Ping, dipanggung sebelah kiri berdiri seorang laki laki pertengahan umur, sikapnya garang gagah, mukanya bercambang bauk tebal warna hitam, berpakaian Bucu (kaum persilatan) mengenakan sepatu panjang, pinggangnya menyoren pedang panjang, jelas bahwa orang inilah yang bernama Tam Kiam.
Biasanya Koan San gwat amat sombong, namun ia tertekan oleh sikap agung dan wibawa sinar mata Gwat hoa Hujin, air mukanya mengunjuk sikap hormat, segera ia bersoja, serta berseru "Cayhe, Bing ...
Jian li menghadap Hujin!"
Hampir suji ia memperkenalkan nama aslinya sebagai Bing tho ling cu Koan San gwat, Tay Su, Jing Tho dan Sui Ki, yang mengintil dibelakangnya menarik napas lega.
Sikap Gwat hoa Hujin amat tawar, tidak menunjukkan sesuatu reaksi, salah satu perempuan yang berada dibelakangnya membentak sambil melotot.
"Kenapa tidak berlutut? "
Berdiri alis Koan San gwat, timbul sikap pongahnya, serunya angkat dada .
"Kenapa aku harus berlutut? "
Perempuan itu menegur, baru saja hendak mengumbar amarah, mendadak Gwat hoa Hujin mengulap tangan serta berkata perlahan.
"Hwi Kik! Tidak perlu cerewet, dia baru datang sebelum paham tata krama disini, kelak harus diajaikan padanya."
"Bing jian li! coba kau maju lebih dekat!"
Koan San gwat maju beberapa tindak, terpaut setengah tumbak dari kaki tangga di depan panggung, dengan cermat Gwat hoa Hujin mengamat amati sebentar lalu manggut manggut ujarnya "Ehm, perawakkanmu kekar dan gagah, Tay Su mengatakan tulisanmu amat bagus, tadi Jip Hoatpun mengatakan dengan pedangmu kau berhasil mengalahkan Sui Ki dan Jing Tho, kelihatannya kau serba pandai dalam ilmu sastra dan ilmu silat!"
Suaranya merdu, namun mengandung wibawa yang tidak boleh dibangkang, namua bagi Koan San gwat hal ini tidak dianggapnya, dengan tertawa sombong ia berkata "Cayhe sekolah belajar kungfu kepalang tanggung pujianmu ini sungguh tidak berani kuterima."
"Bing Jing li,"
Seru Jip Hoat gugup melihat sikapnya yang kurang ajar.
"Mana boleh kau bicara kasar dengan Hujin? "
Koan San gwat anggap lupa pesan tadi tanyanya dengan pongah.
"Bagaimana aku harus bicara?"
Seau sudah tahu? "
"Ya, pernah kudengar."
Jip Hoat menjadi gugap dan membanting kaki, sebalikanya Gwat hoa Hujin tertawa, katanya .
"Hoat! Kaupun tidak usah turut campur, sikapnya terang tidak mau tunduk, kalau tidak tunduk tentu ada alasannya, sebab sampai detik ini, kalian tiada berhasil membuatnya takluk"."
Kali ini bicara lebih lembut dan halus, tidak mengandung wibawa sewajarnya, karuan Jip Hoat dan lain lain menjadi heran dan tercengang. Sembari tertawa berkata pula Gwat hoa Hujin .
"Ketujuh pembantuku ini memiliki semacam kepandaian, yang berbeda mungkin kau sudah tahu ?"
"Ya, pernah kudengar."
"Nama mereka ditentukan sesuai dengan kepandaian masing masing, aku menganggap mereka ahli ahli didalam dunia ini, namun kudengar kau lebih unggul dari mereka ..."
Koan San gwat rikuh katanya tertawa kikuk .
"Terima kasih akan pujian yang berkelebihan ini Yang benar aku pernah menulis beberapa huruf, sebalikanya gaya tulisan Su sinseng amat kuat dan bagus, nila nila karyanya itu betapapun tidak memadai!"
Gwat hoa Hujin berpaling kesamping Tay Su menjadi gugup dan berkeringat, katanya tersipu sipu .
"Hujin! Bing lote memerlukan latihan yang lebih matang, padahal bakat bakat dan kepandaiannya amat hebat, bila berlatih beberapa lamanya pasti dapat melampaui hamba ..."
"Maka itu! Dengan latihannya dalam usia begini muda, aku percaya tiada tandingannya diseluruh kolong langit, terhadap nya kau merendah kuduga penilaian mu tentu tidek meleset! Mengenai kekalahan Sui Ki dan Jing Tho ..."
Bergegas Sui Ki tampil kedepan katanya, membungkuk "Ilmu pedang Bing lote benar benar hebat ..."
Gwat hoa Hujin tersenyum tanyanya.
"Yang kutanyakan bukan soal pedang, dalam bidang ini kalian memang jauh ..."
Sui Ki mengkeretekan leher, sahutnya tertawa.
"Dalam bidang musik dan catur sebetul nya kami belum pernah bertanding, namun dalam percakapan Bing lote dapatlah dinilai sampai dimana tingkatnya ..."
"Baik, kau tidak usah banyak omong, aku hanya heran, kalian biasanya tidak mau tunduk pada orang lain, kenapa terhadap anak muda ini belum bertanding sudah mengaku asor? "
Kata kata terakhir suaranya menjadi ketus dan kereng penuh wibawa, karuan Sui Ki, Jing Tho dan lain lain mencelos hatinya, bergegas Tay Su tampil kedepan serta katanya.
"Hamba sekalian melihat Bing lote punya bakat yang luar biasa dan merupakan pilihan yang tiada bandingannya, maka kami ingin mengundangnya kemari untuk dihadapkan kepada Hujin!"
"Apa persoalannya begitu saja?"
Jengek Gwat hoa Hujin.
"Kalian memujinya setinggi langit, aku jadi kurang percaya, Tan Kiam cobalah kau gebrak beberapa jurus dengan dia. Tam Kiam yang berpakian Busu segera mengiakan sambil menjura, dari pinggangnya ia melolos sebilah pedang panjang, batang pedangnya bersinar hijau gelap, kelihatannya tidak menyolok, cuma bentuknya kelihatan kuno! Koan San gwat melengak, katanya "
Aku kemari bukan untuk bertanding pedang."
Gwat hoa Hujin melirikanya, tanyanya."Lalu untuk apa kau kemari!"
Saking gelisah muka Tay Su basah oleh keringat, Koan San gwat melihat kelakuan orang gagap dan kuatir, maka dengan tawar ia berkata.
"Tay Su sianseng mengundangku kemari untuk berkenalan dengan beberapa orang kosen!"
Tay Su kelihatan bernapas lega, cepat ia menimbrung "Hamba mematuhi petunjuk Hujin, tidak berani sembarangan memberi keterangan keadaan di sini kepadanya, namun betapa sulit mendapat seseorang seperti Bing lote yang berbakat dan bertulang begitu bagus, sengaja kuundang kemari ingin kuperkenalkan dengan Hujin ...."
Gwat hoa Hujin mendengus, katanya.
"Jadi tadi kau ngapusi aku ?"
Gemetar badan Tay Su, lekas Jing Tho menyela.
"Tay Su tidak ngapusi Hujin, dia memberi pesan setelah kami, bertemu dengan Bing lote, baru akan menjelaskan keadaan disini kepadanya, hal ini sudah kami terangkan kepada Bing lote!"
Gwat hoa Hujin beralih kepada Koan San gwat tanyanya.
"Kalau kau sudah tahu kenapa tidak ingin diuji menurut ketentuan? "
"Ujian apa?"
Tanya Koan San gwat melengak.
"Sute kenapa kau begitu pelupa,"
Lekas Jing Tho berseru.
"Bukankah tadi sudah kuberitahu, untuk menetap di Khong ham kiong diharuskan mempunyai suatu kepandaian khusus, Hujin menyuruh Tam Kiam bertanding pedang dengan kau merupakan salah satu ujian bagi kau."
Melihat tampang orang yang harus dikasihani, Koan San gwat jadi kasihan. Untuk membongkar bualannya, segera ia tertawa, katanya.
"Kiranya begitu, aku tidak jelas, tadi hanya kudengar katanya harus adu senjata, tidak dijelaskan soal ujian segala. Dan lagi aku kemari bukan untuk adu jiwa, tanpa sebab kenapa harus menggerakkan senjata? "
Sikap acuh tak acuh amat takabur, karuan Gwat hoa Hujin dongkol, hidungnya mendengus.
"Mari silahkan!"
Tam Kiam merangkap kedua tangan lalu bergaya, pedangnya melintang menunggu serangan Koan San gwat.
Melihat gaya kuda kuda orang Koan San gwat jadi melongo dan terkejut, karena gaya kuda kuda itu amat dikenalnya, itulah gaya permulaan dari Siu la kiam hoat jurus pertama.
Siu lo jit sek adalah bekal kepandaian Cia Ling im yang diajarkan pekli Put ping ilmu pedang tunggal perguruan mereka rahasia, dari mana orang inipun dapat mempelajarinya?
Tapi justru selanjutnya belum lagi dilancarkan jadi belum berani memastikan.
Perlahan lahan Koan San gwat melolos Pek hong kiam, dibawah sinar pancaran pedangnya yang menyilaukan mata, dilihatnya rona wajah Gwat hoa Hujin berubah.
Melihat Koan San gwatpun sudah melolos, segera Tam Kiam berkata enteng "Silahkan Bing heng memberi petunjuk!"
Untuk membuktikan jurus jurus pedang orang adalah Siu lo kiam hoat, Koan San gwat menjawab sambil geleng kepala .
"Tidak Silahkan Sianseng mulai!"
Tam Kiam tidak sungkan lagi, pedang diangkat kedepan, sebelah kakinya maju selangkah terus menyerang.
Gaya serangannya tidak salah persis dengan tipu tipu pedang Siu lo jit sek, jurus pertama adalah Hau jan cu jiu yang berbeda hanyalah batang pedangnya tidak merembes gulungan asap tebal serta suara seperti jeritan setan neraka, namun perbawa dan kekuatan nya jauh lebih besar.
Tiada pilihan bagi Koan San gwat terpaksa harus keluarkan ajaran Tay lo kiam hoat untuk melayani, Pek hong kiam bergerak dengan jurus Kao kun sip ting.
Dua jalur hawa seketika berputar dan saling bentrok dengan hebatnya, namun benrokan kali ini tidak mengeluarkan suara, namun kejap lain tahu tahu kedua pihak mental mundur berpencar.
Koan San gwat menarik napas lega, diam diam merasa beruntung.
Karena Siu lo jit sek dibawah permainan Tam Kiam hakikatnya jauh lebih hebat dan besar kekuatannya dari Cia ling im tempo hari, namun karena tiada asap tebal menutupi udara hingga mengelabui pandangan mata, maka ia melihat jelas gerak perubahan ilmu pedang lawan, justru Tay lo su sek memang diciptakan khusus untuk mematahkan dan mengatasi segala gerak perubahan rumit dari siu lo su sek, maka beruntung ia dapat menandingi jurus pertama tadi.
Tapi lain pandangan mereka yang menonton, kecuali Gwat hoa Hujm, termasuk Tam Kiam sendiripun mengeluarkan sorak pujian malah Jing Tho, Siu Ki dan Tay Su bertiga memberi reaksi lebih hebat lagi.
Hening sejenak, Tam Kiam mulai melancarkan jurus kedua, yang dilancarkan adalah jurus pedang dari Siu lo kiam hoat pula yaitu Siu hun toh pek.
Tanpa ayal atau ragu sedikitpun Koan San gwat melawan dengan jurus San gak eng si.
Hawa pedang saling gubat dan untuk kedua kalinya, kali ini Koan San gwat tidak kelihatan enak dan enteng seperti jurus pertama, lwekang Tam Kiam masih diatas kemampuan Cia Ling im, kekuatan lwekangnya yang hebat menggerakan pedangnya dengan berat hingga menekan amat hebat, hampir saja ia tidak kuasa bergerak, untunglah San gak eng si merupakan jurus pertahanan yang maha ampuh, ia berhasil menangkis dan mengatasi jurus serangan lawan Tam Kiam menarik pedang lalu mundur dua langkah, air mukanya menunjukan yang sulit dilukiskan.
Demikian juga Gwat hoa Hujin tidak menguasai ketegangan hatinya, tak tertahan hidungnya bersuara keheranan.
Sejenak Koan San gwat mengatur napas dan mengembalikan semangat, tiba tiba ia bergerak lebih dulu, mendadak Pek hong kiam memancarkan cahaya lebih terang dan melebar dengan kecepatan kilat beruntun mendesak maju melancarkan dua jurus serangan sekaligus, yaitu Si jit tang sang seng dan Pek hong koan ju.
Kedua jurus ilmu pedang ini termasuk tipu penyerangan yang maha dasyat namun tindakannya ini justru melanggar kebiasaannya.
Tempo hari waktu berhadapan dengan Cia Ling im, ia menunggu pihak lawan menyerang lebih dulu, baru ikut bergerak menyesuaikan gerak serangan musuh.
Dalam prakteknya Tay lo su sek memang harus demikian, karena keempat jurus ilmu pedang berinti ketenangan untuk mengatasi gerakan, terutama untuk mengatasi rangsakan musuh lalu manyusup lobang kelemahan lawan dan memunahkan serangan lawan.
Akan tetapi Koan San gwat tidak mau mematuhi ketentuan itu, serangan pedang Tam Kiam kelihatannya tidak menunjukan lubang kelemahan yang diharapkan kalau dia harus menunggu orang menyerang, terpaksa dia harus bertahan dan membela diri belaka, kalau tidak kuat bertahan berarti dirinya bisa kalah secara konyol.
Bekal lwekang yang dimiliki Tam Kiam, bagaimana juga Koan San gwat tidak akan mampu melawannya, kecuali ia menyerang lebih dulu, tindakkan ini secara untung untungan belaka.
Jurus Si jit tang eng merupakan serangan menyeluruh yang amat dahsyat, lekas Tam Kiam angkat pedang mentabirkan cahaya pedang yang amat kokoh didepan badannya, laksana lapisan mega membendung sinar matahari, sehingga serangan Koan San gwat seluruhnya dibendung dan dipunahkan.
Namun jurus kedua Pek hong koan jit merupakan titik serangan yang dirobah menjadi tusukan lurus, serangannya teramat cepat lagi sehingga Tam Kiam tidak sempat lagi merubah gerakkan permainan pedangnya untuk menghadapi tusukkan lawannya, tusukkan lawannya bagaikan airbah yang dilandasi ketajaman Pek hong kiam yang menembus pertahanan cahaya tabir pedangnya.
"Trang!"
Dua senjata sakti itu saling bentur dengan keras sekali sehingga memercikkan kembang kembang api yang sangat terang.
Koan San gwat tergentak mundur selangkah, telapak tangannya terasa pedas dan kesemutan, sekuatnya ia memegang kencang senjatanya supaya jangan sampai terlepas jatuh, namun rona wajahnya tampak terkejut keheranan, yang dikejutkan bukan gaya permainan pedang lawan namun, adalah kehebatan lwekangnya yang amat aneh sekali.
Jelas bahwa tusukkan pedang Koan San gwat sudah berhasil menembus kelemahan lawan sungguh tidak terpikir olehnya pada saat yang sangat kritis itu Tam Kiam masih mampu menyalurkan kekuatan lwekangnya di batang pedangnya sehingga pedang kuno yang sakti itu berubah menjadi semacam besi sembrani, dan keluarlah tenaga sedot yang amat besar, maka Pek hong kiam tersedot balik dan membentur batang pedang lawan dengan keras.
Pedang lawan yang berwarna hijau gelap itu memang kelihatannya aneh, bentrokkan yang begitu kerasnya dengan pedang Pek hong kiam tapi tidak mendapat cidera sedikitpun, malah mengeluarkan daya sentulan yang amat keras pula, sehingga pedangnya hampir terlepas dari pegangannya.
Keadan Tam Kiam begitu tidak runyam, pedang panjangnya teracung tinggi lalu menukik terus berputar dan masuk kedalam serangkanya dengan berdiri tegak, lalu ia menghadap kearah Koan San gwat dan menjura, serta katanya "Ilmu pedang Bing heng memang teramat hebat, hamba bukan tandingan!"
Koan San gwat melengak, dalam gebrak yang berlangsung tadi, jelas dirinyalah yang berada dipihak yang kalah, kenapa orang itu mengaku kalah.
Sejenak ia berpikir akhirnya ia teringat akan pesan Jing Tho, bahwa Tam Kiam akan membantu dirinya, bukan mustahil orang sengaja mengalah kapadanya.
Dapatkah aku menerima kebaikannya?
Segera Koan San gwat berkata tertawa dingin.
"Sianseng terlalu sungkan pedangku tidak sampai lepas, aku sudah mendapat muka ..."
Tam Kiam tertawa ngeri tanpa bersuara lagi.
SegEra Jip Hoat tampil kedepan, serunya "Bing heng, tidak kira ilmu pedangmu begitu lihay, kecuali Hujin, Tam Kiam biasanya mengagulkan ilmu pedangnya, namun kau berhasil mengalahkan dia ..."
"Aku mengalahkan dia?"
Teriak Koan San gwat.
"Tidak salah,"
Ujar Jip Hoat cekikikan.
"Kalau dia tidak menggunakan Ceng so kiam sudah pasti tusukan pedangmu mungkin sudah mengenai kepalanya! Hal ini membuktikan bahwa ilmu pedangmu berada diatas tingkatannya, boleh dikata ahli pedang nomor wahid diseluruh jagat ..."
Sampai disini ia sadar ucapannya sudah keliru, lekas ia mEnambahkan "Sudah tentu yang kumaksud kecuali Hujin ..."
Maka Gwat hoa Hujin berbicara "Jip Hoat!
Kau salah lagi!
Mungkin aku bisa mengalahkan dia dengan lwekang.
namun bila dinilai permainan pedangnya, aku sendiri belum unggul melawan Tam Kiam, mana mungkin aku dapat mengalahkan dia!"
Kata kata ini membuat semua orang jadi melongo, cuma Koan San gwat kelihatan heran, karena seluruh perhatiannya tumplek pada nama Ceng so kiam yang berada ditangan Tan Kiam itu.
Diwaktu Koan San gwat menerima Pek hong kiam dari Oen Kiau, orang tua itu pernah menjelaskan kepada Kaon San gwat kecuali Pek hong kiam yang sakti ini diatasnya masih ada Ci seng, Ceng so kiam dan lain lainnya yang kesaktiannya melebihi Pek hong kiam, sungguh tidak nyana ternyata Ceng so kiam berada ditangan Tam Kiam ...
Kalau demikian jurus Pek hong koan jit tadi memang benar benar membuat lawan sukar untuk menandingi serangan pedangnya, bahwa Tan Kiam bisa selamat dari tusukkan pedangnya tidak lain karena ia mengandalkan dari keampuhannya Ceng so kiam, tidak heran kalau dia mau mengaku kalah.
Sementara itu tampak Gwat hoa Hujin mengulum senyum lebar, katanya.
"Bing Jian li, sejak saat ini kau sudah termasuk salah satu penghuni Khong ham kiong kita!"
"Tidak!"
Teriak Koan San gwat tegas.
"Aku ... ..tidak mungkin ..."
"Kenapa tidak mungkin? "
"Aku tidak mungkin menjadi pembantu Hujin..."
"Sudah tentu aku tahu kau berbakat dan mempunyai ilmu, jabatan pembantu sudah tentu merendahkan derajatmu, benar tidak? "
"Bukan begitu maksudku."
"Aku maklum akan maksudmu, kau punya kepandaian mencakup berbagai bidang, kedudukan kecil tidak akan memuaskan hatimu, namun kau perlu berpikir secara obyektif, kau hanya unggul dalam bidang permainan pedang, kecuali dari itu seperti memetik harpa main catur, dan menggambar ... Cukup meletihkan untuk kau pelajari, anak muda kau bersikap tinggi hati adalah baik, tapi kalau berkelebihan akhirnya akan menjadi sombong dan ponggah ..."
Berkerut alis Koan San gwat mendengar komentarnya, baru saja hendak bicara Gwat Hujin melanjutkan lagi.
"Aku tahu kau belum puas aku jadi kehilangan akal, tapi... aku memang ketarik akan bakat dan kepandaianmu, begini saja, kau kuangkat sebagai Hu hoat Su cia (duta pelindung) Khong ham kiong kita ketujuh pembantuku ini kuserahkan kepada kau bisa untuk memimpinnya, bagaimana sudah puas belum!"
Melihat Koan San gwat masih ingin menolak, lekas Jip Hoat menimbrung.
"Bing heng te! Begitu tinggi penghargaan Hujin kepadamu mungkin kami bertujuh tidak terpandang dalam matamu, tapi dapat selalu mendampingi Hujin, setiap saatkan dapat mohon petunjuknya berapa besar manfaat yang kau peroleh..."
Sembari bicara ia mengedipkan mata seperti membujuk dia lekas menerima anugrah ini.
Begitu pula Tay Su dan lain lain mengunjuk rasa kuatir.
Koan San gwat menjadi geli, kalau urusan berlarut, kapan ia bisa menyelesaikan tujuannya, akhirnya ia nekad, katanya bergelak apapun lantang.
"Bicara memang begitu, bagaimana pun tinggi jabatanku tetap sebagai orang bawahan, aku tidak Paham dalam hal apa Hujin memberi manfaat diriku ..."
Berubah air muka Jip Hoat, teriakanya "Bing lote! Gila kau! Jangan kau kurang ajar terhadap Hujin ..."
Koan San gwat tertawa lebar tanpa bersuara. Diluar dugaan Gwat hoa Hujin malah tersenyum manis, katanya.
"Dalam hal ini tidak bisa salahkan dia, keadaan sudah berlarut, kalau aku tidak menunjukan sejurus dua permainan, memang sulit menundukan dia. Anak muda, menurut kau dalam bidang apa kau lebih unggul untuk bertanding dengan aku?"
"Aku tahu Hujin punya kemampuan apa maka sulit menjawab pertanyaan ini!"
Gwat hoa Hujin tertawa katanya.
"Judul apapun yang kau ajukan pasti kuladeni!"
Amat sombong, tapi sikap Koan San gwat tebih pongah katanya bergelak tertawa.
"Apa yang Hujin bisa! Aku yakin dapat mencobanya."
Baru sekatang Gwat hoa Hujin tretegun dalam Khong ham kiong baru pertama ini ia mendengar orang bicara demikian kepadanya tujuh orang lainnya juga berdiri menjublek sepihak, mereka kuatir akan keselamatan Koan San gwat, dilain pihak merekapun takjup oleh kesombongannya, tak tahu apa yang harus mereka lakukan ...
-oo0dw0oo-
Jilid 18 Terdengarlah gwat hoa Hujin berkata tertawa .
"Bagus sekali, mungkin kau memang serba bisa, maka berani takabur, Khong ham kiong memiliki tujuh kepandaian biar kuperlihatkan satu diantaranya saja. Jing Tho! Keluarkan harpa dan siapkan pertandingan!"
Jing Tho mengiakan bergegas kepojok mengeluarkan sebuah harpa, setelah membuka kain sutra, dikeluarkannya sebuah alat musik yaitu harpa model kuno diletakan dibawah panggung batu, terus mengundurkan diri.
Lemah gemulai pelan pelan Gwat hoa Hujin bangkit lalu melangkah turun kedekat harpa, katanya tertawa.
"Untuk bertanding main harpa tidak perlu susah susah dengarkan saja petikan harpaku sampai selesai, bila tidak terpengaruh sedikitpun, baru aku mau percaya kau sebagai pemetik harpa nomor satu tanpa tandingan diseluruh jagat ..."
"Urusan sudah terlanjur, tidak mungkin dirinya mundur, terpaksa Koan San gwat harus menghadapi kenyataan. Sejak kecil ia sudah mendapat bimbingan Tokko Bing, tentang musik bakatnya memang cukup berbobot, apalagi menghadapi seorang ahli dalam bidang ini, sekali jiwa lena bisa celaka, seorang ahli lwekang dapat menyalurkan tenaga dalam permainan alat musiknya, melukai orang tanpa membawa bekas ... Tapi Koan San gwat tidak kelihatan takut. Pertama dia percaya bahwa Gwat hoa Hujin tiada niat mencabut jiwanya, kedua nada musik dapat melukai orang karena membingungkan alam pikiran orang itu lalu menguasai sanubari dan semua gerak geriknya. Asal dapat mendengar seperti tidak mendengar, tentu ia tidak akan terpengaruh oleh segala suara yang mengelabui semangatnya. Maka segera ia duduk bersimpuh, kedua telapak tangan diletakkan di atas kedua lutut nya seperti hwesio yang semedi, matanya di picingkan lalu katanya.
"Silahkan Hujin mulai!"
Gwat hoa Hujin tersenyum melihat gaya dudukanya itu, katanya perlahan "Kelihatanya kau mamang ahli dalam bidang ini, awas yaa!"
Seiring dengan kata katanya, jari jarinya yang runcing halus sudah mulai memetik senar harpa, begitu suara senar berbunyi, badan Koan San gwat seperti tersentak perlahan diam diam ia terkejut, terasa irama harpa ini luar biasa, seolah olah ujung jarum yang runcing menusuk telinga meski tidak terasa sakit, namun babak selanjutnya sulit dikatakan.
Gwat hoa Hujin memperhatikan reaksi nya , iapun sangat heran, karena selentikan senarnya yang pertama, jarang ada orang yang kuat bertahan, sebalikanya anak muda dihadapannya ini hanya mukanya saja yang mengkeret sedikit, badan sedikitpun tidak bergeming.
Sesaat ia menjublek, tiba tiba hatinya mangkel, seolah olah wibawa dan keagungannya tergempur, beruntun jari jarinya segera bergerak, irama musik yang mengalun panjang dan tinggi...
Semula Koan San gwat terpengaruh oleh gelombang musik itu, namun belakangan ia makin tenang dan akhirnya seperti tidak mendengar sama sekali, mengulum senyum manis malah.
Bukan saja keadaan ini membuat Gwat hoa Hujin melengak heran dan kaget, Jing Tho yang menonton disebelah sampingpun tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
Diantara tujuh bawahan Gwat hoa Hujin hanya dia seorang yang bahwa irama yang dipetik Gwat hoa Hujin adalah gelombang musik pembunuhan yang tiada taranya diadunia ini, meski beliau belum mengerahkan seluruh kemampuannya, tapi taraf yang diperlihatkan ini sudah bukan olah olah hebatnya.
Namun anak muda ini bukan saja tidak terluka, malah seolah olah sedang menikmati musik yang mengasikan pendengaran, tersenyum senyum lagi.
Hanya satu penjelasannya bahwa anak muda ini memang benar benar seorang ahli dalam bidang musik, seorang yang berbakat tinggi dan orang kosen pula dalam pedang.
Hilang senyum tawa yang terkumpul di wjah Gwat hoa Hujin, rona wajahnya amat serius dan kelam, jarinya bergerak semakin cepat seperti menari saja diatas senar.
Tiba tiba gema suara rendah berat dan kuat berkumandang semakin keras dan bertenaga.
Diantara tujuh pembantu itu, kecuali Jing Tho, semua sudah menutup kuping, tidak berani mendengar lebih lanjut.
Koan San gwat duduk tenang seperti tidak terjadi apa apa, ketenangan dan senyuman nya makin mengobarkan marah Gwat hoa Hujin, kulit mukanya yang putih halus makin merah padam dan matanya memancarkan napsu membunuh yang terkobar, kelima jari nya tertekuk bersama, ia sudah siap bergaya untuk menjentik senar senar diatas harpa di depannya.
Saking kejut tak tahan Jing Tho menjerit kuatir.
"Hujin jangan !"
Bentak Gwat hoa Hujin dengan amarah yang meluap luap.
"Memangnya aku harus mengaku kalah terhadap bocah sekecil ini? "
Sudah tentu Jing Tho tidak berani menjawab, Gwat hoa Hujin mendengus, jari jari dilanjutkan menjentik senar.
Agakanya dia sudah berkeputusan untuk gugur bersama, tindakan yang nekad.
Wajah Jing Tho pucat pasi, ia menunggu gelombang suara yang mengandung pembunuhan itu berkumandang ...
tapi tunggu punya tunggu sekian lamanya, masih belum terdengar suara yang dinanti nantikan, keruan ia jadi heran cepat ia angkat kepala memandang kearah Gwat hoa Hujin, tampak orang duduk menjublek tak bergerak.
Ternyata disaat ia siap menjentik senar yang menentukan, senar dihadapannya tiba tiba putus sendiri, putusnyapun aneh, putus tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Terlongong sekian lamanya, mendadak berubah air muka Gwat hoa Hujin, lekas tangan nya menuding keluar pintu, tujuh pembantu nya paham apa maksud tudingan itu, cepat sekali mereka melejit terbang keluar.
Baru saja mereka tiba diambang pintu, didengarnya suara lantang yang keras berkata tertawa.
"Aku ini tamu yang tidak diundang kenapa mencapaikan kalian menyambut kedatanganku!"
Tujuh pembantu itu terkejut, serta merta mereka berhenti, segera Jip Hoat beteriak "Si Bungkuk yang tiba!"
Baru suaranya berbunyi, diambang pintu muncul seorang tua bungkuk yang berperawakan besar, selebar mukanya merah menyala, tertawa terkekeh kekeh, sekali ulur tangan ia jewer pipi Jip Hoat, katanya.
"Budak tidak punya aturan, apakah kau sesuai memanggil aku Si Bunguk segala?"
Meski sakit Jip Hoat cuma mengerutkan alis, namun ia tidak berani meronta. Gwat hoa Hujin menarik muka, katanya dingin "Tho ong berlakulah yang genah, jangan kau bersikap seperti mereka!"
Orang tua bungkuk bergelak tawa sambil melepas serunya.
"Bagus! Bagus Hujin ada perintah, mana berani tidak dengar!"
Sambil mengusap pipinya segera Jip Hoat minggir kesamping, matanya mendelik. Terdengar Gwat hoa Hujin berkata dingin.
"Dari mana hasrat Tho ong untuk datang kemari? "
"Kudengar Hujin sakit, Losiu meluruk jauh ke ci ta bok ho diperbatasan Tibet, untuk meminta obat sumber air sakti ..."
"Terima kasih akan jerih payahmu, penyakitku sudah sembuh lama!"
"Dari bawah puncak Losiu mendengar Hujin memetik harpa dengan lwekang yang hebat, jelas memang sudah memperoleh obat mustajap, agakanya jerih payah Losiu ini sia sia ..."
Gwat hoa Hujin menarik muka, katanya "Jerih payahmu mengambil sumber air sakti kuterima dengan tulus hati, cuma Tho ong ..."
"Hujin menyalahkan Losiu kenapa memutus kesenangan Hujin ..."
Gwat hoa mendengus sambil bersungut gusar. Orang tua bungkuk berseri tawa, katanya "
Kuharap Hujin memberi maaf, sudah lama Losiu mendengar Hujin ahli pemetik harpa, sungguh beruntung dapat menikmati buaian musik yang mengisikan sehingga hati terasa gatal, tak tertahan lantas bersenandung untuk mengiringi ..."
Melotot mata Gwat hoa Hujin lalu berpaling kearah Koan San gwat katanya gegetun.
"Aku sudah menduga seorang membuat gara gara, kalau tidak mana bisa bocah ini kuat melawan petikan ..."
Ucapan ini menyentak, sadarkan ketujuh pembantunya itu, demikian pula Koan Sin gwat paham sekarang.
Ternyata disaat Gwat hoa Hujin memetik tadi, tusukan irama yang tajam seperti ujung jarum sungguh membuatnya menderita bukan main, namun sampai babak terakhir lapat lapat mendengar sebuah senandung yang amar lirih dan jelas terngiang dipinggir kupingnya, nada senandung ini enteng nyaman dan lembut, sehingga petikan harpa yang keras menusuk itu berubah menjadi gelombang halus, sehingga perpaduan kedua suara ini begitu mengasikan, maka raut mukanya lantas menampilkan senyum dikulum.
Waktu itu ia pun heran dan tidak tahu duduk perkara sebenarnya, kini setelah dikatakan oleh orang tua bungkuk ini, baru dia tahu bahwa dirinya mendapat bantuan yang berarti dari orang tua ini tak tahan segera ia dengan perasaan penuh terima kasih.
Diam kiam ia merasa kagum dan takluk terhadap lwekang orang yang ampuh dan tinggi itu.
Berkatalah siorang tua bungkuk.
"Dari irama harpa Hujin yang semula lembut itu, Lo siu merasakan napsu membunuh Hujin semakin besar, terpaksa Losiu memberanikan diri"
"Kau memberanikan diri menggerit putus senar harpaku!"
Demikian tukas Gwat hoa Hujin dingin.
"Ya karena Hujin sudah marah besar dan hendak menggunakan Cun thian sin mo Losiu maklum tidak kuat menandingi gempuran hebat itu, terpaksa aku bertindak lebih dulu!"
"Tho ong terlalu sungkan, Cun thian im memang lihay , namun aku tahu belum mampuh membuat kau cidera...."
"Jangnlah terbawa nafsu Losiu tidak ingin membuat gara gara dengan Hujin, Cun thian im itu banyak menguras tenaga dan hawa murni, apalagi penyakit Hujin baru sembuh kenapa harus mengorbankan jiwa orang dengan sia sia!"
Semestinya Gwat hoa Hujin hendak mengumbar adatnya, tapi agakanya ia gentar terhadap orang tua bungkuk ini, maka akhirnya ia bersabar, katanya "Ya, memang ada.
Tentang urusan yang paling ingin diketahui Hujin, Losiu sudah meadapat sedikit sumber penyelidikan."
Berubah hebat wajah Gwat hoa Hujin, cepat ia ulapkan tangan menyuruh tujuh pembantunya keluar.
Lekas Jing Tho menghampiri Koan San gwat serta hendak menariknya ke luar.
Tapi sibungkuk berseru mencegah, seru nya "Biar dia tetap di sini!"
Koan San gwat sudah berkesan baik terhadap orang tua bungkuk ini, diam diam dia sudah maklum bahwa sibungkuk ini tentu bukan orang sembarangan orang.
Dari pertandingan pedang melawan Tam Kiam tadi Koan San gwat menginsafi bahwa penghuni Khong ham kiong rata rata berkepandaian tinggi, terutama Gwat hoa Hujin, entah berapa lipat lebih tinggi kepandaiannya.
Untunglah sibungkuk telah membantunya secara diam diam melawan petikan harpanya, sehingga ia kuat bertahan.
Adalah lebih hebat pula sibungkuk ini, dari kejahuan ia kuat menggetarkan putus senar harpa Gwat hoa Hujin, dari sini dapatlah dinilai bahwa ilmu kepandaiinnya benar benar sulit diukur, Tidaklah heran kalau ketujuh pembantu Khong ham kiong menaruh hormat dan jerih terhadapnya.
Namun yang betul betul mengetuk sanubari Koan San gwat adalah kata kata terakhir si bungkuk ini.
Semula ia hanya mengatakan urusan penting yang amat ingin diketahui dan bersangkut paut dengan Gwat hoa Hujin.
Sementara Gwat hoa Hujin segera menyuruh para pembantunya keluar, dari sini dapatlah dabayangkan bahwa urusan ini amat rahasia, namun sibungkuk justru menyuruh dirinya tetap tinggal ...
Gwat hoa Hujin juga tidak mengerti, ini hanya melorot dan bertanya.
"Kenapa dia harus tetap tinggal disini? "
Si bungkuk tertawa, katanya "Sudah tentu Losiu punya alasan, kerena persoalan yang Bu jin ketahui, bocah ini bisa memberi keterangan, malah jauh lebih jelas dari apa yang Losiu ketahui!"
"Bohong!"
Sentak Gwat hao Hujin tidak percaya.
"Baru saja dia naik ke ..."
"Kenapa Hujin tidak dengar dulu penjelasanku baru memberi keputusan."
"Baik! Katakanlah!"
Si bungkuk mengelus jenggot kambingnya, lalu berkata pelan pelan.
"Pertama Losiu akan menyampaikan sebuah berita duka kepada Hujin. Bahwa orang yang ingin ketahui jejaknya sudah meninggal di Khong ay san dua puluh tahun yang lalu ..."
Berkerut kerut wajah Gwat hoa Hujin, sedapat mungkin ia menahan perasaan hatinya, akhirnya tercetus pertanyaan gemetar.
"Apakah benar?"
Si bungkuk manggut manggut, dari dalam bajunya ia mengeluarkan kutungan gelang jade, katanya sambil mengacung kedepam "Hal ini pasti tidak salah, untuk membuktikannya Losiu pernah berkunjung ketempat makamnya kukeduk kuburan dan kubongkar peti mati nya, tulang belulang sudah tiada."
Gwat hoa Hujin menerima kutungan gelang itu, lalu di elus elus dan diamati dengn seksama.
kelopak matanya lambat laun mengembang air mata, katanya dengan hambar "Aku tahu dia tidak dapat hidup lama, waktu meniggalkan aku, luka lukanya cukup berat"
Rona wajah Koan San gwat tiba tiba berubah, maju selangkah ia berkata.
"Hujin! kutungan gelang ditanganmu bolehkah aku melihatnya? "
"Minggir kau!"
Bentak Gwat hoa Hujin gusar.
"Jangan kau cerewet!"
Si bungkuk tertawa, katanya.
"Anak muda! Urusan ini tiada bagianmu, tunggulah sebentar ada urasan lain yang perlu penjelasan mu !"
Koan San gwat membandel, katanya.
"Tidak! Aku harus memeriksanya sebab ..."
Gwat hoa Hujm sudah penarik muka dan hampir mengumbar nafsunya, si bungkuk mengerutkan alis, katanya.
"Anak muda! kenapa kau harus memeriksanya? "
"Karena kuingat dulu akupun memilik benda yang hampir sama dengan itu!"
Gwat hoa Hujin dan sibungkuk tertegun Gwat hoa bertanya "Dimana? "
"Entahlah, waktu aku berusia sembilan, guruku menyimpannya, selanjutnya tidak pernah dikembalikan kepadaku. Sekarang mungkin masih ada pada guruku ..."
"Siapa gurumu? Dimana dia sekarang? "
Desak sibungkuk lebih lanjut.
"Guruku adalah Bing tho ling cu Tokko Bing, sekarang ... jejakanya menghilang"
Hampir ia menjelaskan jejak Tokko Bing, untung segera mengubah kata katanya, sebab ia tahu bahwa gurunya tidak sudi diganggu oleh sembarangan orang.
Si bungkuk menatap mukanya dengan tajam, sementara sikap Gwat hoa Hujin menjadi lemah lembut, segera ia angsurkan potongan gelang serta berkata "Coba kau lihat!
Apakah mirip dengan milikmu itu?"
Koan San gwat mengulur tangan menerima, gelang jade itu terlalu lama terpendam dalam tanah, sehingga kelihatan kotor dan guram, setelah digosok mengkilap lapat lapat masih kelihatan lukisan irisan berlingkar lingkar.
Setelah memeriksa sekian lamanya, ia kembalikan kepada Gwat hoa Hujin serta berkata "Bentukanya hampir sama, tapi agak berbeda dengan milikku itu ..."
Wajah Gwat hoa Hujin kelihatan tegang teriakanya.
"Apanya yang berbeda? Coba terangkan? "
Koan San gwat tidak tahu kenapa orang bersikap begitu aneh, setelah berpikir ia menjelaskan .
"Aku sudah lupa, tapi gelang jadeku itu terukir pemandangan gunung, diujung atas nya terdapat bulan sabit! Tidak sama ukiran melingkar ini ..."
Mulut Gwat hoa menjerit tertahan, tubuhnya tergeliat dan gemetar, Koan San gwat jadi heran, tanyanya .
"Hujin, kenapa kau? "
Gwat hoa berusaha menenangkan perasaannya, katanya pelan pelan sambil menggeleng.
"Tidak apa apa! Lanjutkan penjelasanmu, dari mana kau peroleh gelang jade itu? "
"Aku kurang terang, kuingat sejak kecil sudah tergantung dileherku, waktu kecil dulu aku tidak paham apa maksud ukiran kembang disebelah bawahnya sampai usiaku genap sembilan tahun, mendadak, teringat olehku namaku adalah Koan San gwat, bukan mustahil ada hubungannya dengan gambar ukiran itu. Waktu kutanyakan hal ini kepada Suhu menjadi marah besar dan memaki aku lalu merampas gelang jade itu, sejak itu tidak pernah dikembalikan lagi kepadaku!"
"Bukankah kau bernama Bing Jian li, kenapa ganti nama Koan San gwat segala!"
Tanya Gwat hoa Hujin heran. Kon San gwat merandek sebentar, lalu sahutnya "Tay Su mengganti namaku sementara waktu!"
Gwat hoa Hujin tidak pedulikau penjelasannya, tanyanya lebih lanjut.
"Adakah gurumu menjawab pertanyaanmu? "
"Tidak! Dia hanya suruh aku jangan berpikir sembarangan!"
"Apakah kau memang she Koan? Bagaimana sal usulmu ..."
"Entah! Sejak kecil aku ikut Suhu, sedikitpun tidak tahu menahu tentang asal usulku, nama Koan San gwat adalah pemberian Suhu pula!"
"Kenapa Suhumu memberi nama itu kepada kau?"
"Mana aku tahu!"
Sahut Koan San gwat geleng kepala.
"Kenapa kau tidak tahu apa apa."
Hardik Gwat hoa Hujin uring uringan.
"Memang aku tidak tahu. Suhu mengajarkan ilmu kepadaku, tapi tidak mau memberitahu asal usulku, cuma dikatakan bahwa aku anak yatim piatu, sejak kecil sudah diasuh dan dibesarkan beliau."
"Berapa umurmu tahun ini? "
"Tahun ini dua puluh enam!"
Gwat hoa Hujin menekuk jari menghitung hitung, air mata menetes deras, katanya perlahan .
"Tidak salah! Duapuluh enam tahun. Aku matipun dia masih membenci aku!"
Sibungkuk berseru sambil menepuk belakang lehernya .
"Sungguh kebetulan! Aku hampir tidak percaya, didunia ini ada kejadian sedemikian kebetulan ..."
"Tho ong,"
Ujar Gwat hoa Hujin angkat kepala.
"Soal itu harus ditanyakan biar jelas."
"Tidak usah tanya! Aku berani tanggung tidak salah lagi!"
"Tidak! Aku merasa kita hati hati. Perasaanku amat risau dan gundah, dan lagi ..."
Sibungkuk manggut manggut, katanya "Losiu paham, silahkan Hujin menyingkir dulu, setelah Losiu mencari tahu dan memang cocok dengan kabar yang kuperoleh diluaran, baru akan kusampaikan kepada Hujin mengenai kejadian dulu apakah perlu juga kukataan?"
"Kalau tidak salah!"
Demikian kata Gwat hoa Hujin setelah berpikir sebentar.
"Silahkan Tho ong menyampaikannya, meski sekarang aku tidak punya beban dan kekuatiran apa namun bila urusan lama disinggung pula betapapun rada ..."
"Hal itu Losiu tahu, Hujin silahkan!"
Sekilas Gwat hoa pandang Koan San gwat lagi, lalu pelan pelan masuk kedalam. Koan San gwat keheranan dibuatnya, setelah Gwat hoa Hujin tidak kelihatan, berkatalah sibungkuk dengan kereng.
"Anak muda! Duduklah kau! Losiu akan bercerita sebuah kisah lama kepadamu. Cerita ini mungkin ada hubungannya dengan kau, kau harus mendengar dengan cermat!"
Koan San gwat tidak tahu permainan apa yang hendak dilakukan orang, namun melihat sikap kerengnya itu, terpaksa ia duduk di lantai, siap mendengarkan ceritanya.
Sibungkuk menengadah sebentar lalu meaarik napas panjang dan mulai bercerita "Kisah ini harus diamulai sejak tiga puluh tahun yang lalu, waktu itu Losiu masih muda, baru lima puluhan..."
Mendengar orang berusia lima puluh masih di katakan muda, hampir saja Koan San gwat tertawa. Lekas si bungkuk melototkan mata, katanya.
"Jangan tertawa! Meski sudah berusia lima puluh namun rambut Losiu masih hitam pekat, kelihatan tidak lebih tua dari kau, kenapa tidak terhitung muda ... Ah kenapa aku ngelantur, baiklah kumulai saja.. Tiga puluh tahun yang lalu, Lohu berkenalan dengan seorang sahabat, temanku itu jauh lebih hebat dari aku, ilmu sastra atau ilmu silat sama sama hebat melebihi orang lain. Usianyapun baru tiga puluhan begitu bertemu dengan Lohu lantas menjadi sahabat kental. Waktu itu Losiu punya dua musuh buyutan kedua musuh buyutan ini terdiri suami istri, meski usia mereka rada muda dari aku, namun kepandaian silatnya tidak lebih asor dari Losiu, sejak mula sampai yang terakhir Losiu sudah bertanding puluhan kali dengan mereka belum pernah sekalipun aku bisa mengalahkan mereka!"
Koan San gwat menahan geli, katanya "Cianpwe tidak kenal putus asa selalu mengajak mereka bertanding, keberanian itu sungguh harus dipuji!"
"Losiu seorang diri menghadapi mereka berdua, sudah tentu tidak akan terima."
"Kenapa Caianpwe tidak mencari pembantu? "
"Siapa bilang Losiu tidak punya pikiran demikian? Cuma dunia seluas ini, untuk mencari pembantu yang setingkat dengan Losiu, betapa sulitnya? "
Dalam hal ini Koan San gwat percaya, selama tiga puluh tahun ini betapapun pesat kemajuan kepandaiannya tidak mungkin mencapai tingkatan yang lebih unggul dari kedua lawannya.
Melihat orang tidak menyela, sibungkuk segera meneruskan.
"Lohu mengembara menjelajah dunia, akhirnya memperoleh seorang yang dapat kujadikan pembantu yang ampuh betapa girang hatiku tidak perlu kulukiskan, segera kubawa dia dan menantang mereka suami istri..."
Semakin ketarik Koan San gwat dibuatnya tanyanya "Bagaimana akhirnya? "
"Akhirnya pertandingan itu tidak jadi!"
"Kenapa? "
"Diwaktu kami meluruk kerumahnya, kebetulan suaminya tidak berada dirumah!"
"Semula Losiu hendak mengajakanya berduel satu lawan satu, tak kira temanku itu sekali bicara dengan perempuan itu satu sama lain ternyata cocok."
"Kalau begitu cianpwe dirugikan, kalau mereka menjadi intim, bila suaminya kembali bukankah cianpwe bakal menghadapi mereka bertiga? "
Ternyata si bungkuk menjadi marah, katanya uring uringan "Anak muda, kalau kau tidak ingin mendengar ceritaku, Losiu tidak akan melanjutkan."
"Justru wanpwe amat ketarik, sehingga merasa kuatir bagi cianpwe!"
"Sudah tentu kawanku itu tidak akan bertolak belakang membantu musuh, kami bicara sambil menunggu suaminya kembali, baru akan bertanding satu lawan satu, maka Lohu berdua menunggu sampai satu bulan...."
"Apakah suaminya kembali? "
"Kalau suaminya kembali, urusan tidak bakal berlarut dan gampang diselesaikan."
"Apakah terjadi peristiwa lain? "
"Kita menunggu satu bulan, suami perempuan itu tidak kembali, namun ia menerima sepucuk surat suaminya, karena mendadak kebentur urusan amat penting dia harus pergi ketempat yang jauh, kapan pulang belum dapat ditentukan. Sudah tentu kami tidak bisa menunggunya terus dirumahnya itu, terpaksa kami berpamitan, siapa tahu setelah mengalami pergaulan yang amat intim selama satu bulan ini, kawanku itu ternyata jatuh hati pada perempuan itu, berat untuk berpisah, waktu itu ia terpaksa ikut Losiu pergi, beberapa hari kemudian, ia kembali kerumah perempuan itu!"
Kali ini Koan San gwat tidak menyela bicara, ia mandengar dengan penuh perhatian, tak nyana si bungkuk juga berhenti bicara.
Setelah tunggu punya tunggu, tak tahan Koan San gwat bertanya "Akhirnya bagaimana?"
Si bungkuk menghela napas, ujarnya "Bagaimana keadaan mereka Losiu kurang jelas, karena secara kebetulan Losiu memperoleh sebuah i kip buku ilmu silat, aku getol berlatih dan menggembleng diri di Tay Ceng san, tempat kediamanku, tiga tahun lamanya aku memperdalam ilmuku baru sempurna, lalu aku meluruh kerumah suami istri itu, baru aku tahu apa yang terjadi selama tiga tahun ini ..."
"Apa yang terjadi? "Pergaulan kawanku dengan perempuan itu terlalu erat bebas, akhirnya mereka tidak bisa mengendalikan diri, perempuan hamil ..."
"Suaminya tidak kembali selama itu? "
"Tidak! Tapi mengirim surat pula, katanya tak lama lagi ia bakal pulang!"
"Wah urusan bakal berabe, bagaimana perempuan itu menyelesaikan persoalan ini? "
"Memang mereka sedang kehabisan akal dan tidak tahu apa yang harus dilakukan kebetulan aku tiba, mereka mohon bantuan ku untuk mengatasi kesulitan ini."
"Cianpwe memberi saran apa kepada mereka? "
"Losiu punya saran baik apa? Aku tanya kepada perempuan itu siapa sebenarnya yang dia cintai, kalau dia cintai kawanku itu, jangan sangsi lagi ikut kawanku dan minggat ketempat jauh, atau sebalikanya segera putuskan hubungan kalian, mumpung bocah itu belum lahir gugurkan saja habis perkara, tunggulah suamimu pulang dengan tentram!"
"Ya, memang hanya cara itu saja yang baik, bagaimana keputusan perempuan itu!"
"Ai, dalam dunia ini memang tiada yang abadi, tiada sesuatu yang sempurna! Waktu suaminya pulang dari luar lautan, tahu istrinya hilang sudah tentu tidak bepeluk tangan segera ia keluar mencari kemana mana, seluruh pelosok dunia telah diobrak abrikanya, kira kira setahun kemudian jerih payahnya tidak sia sia, waktu itu anak yang dilahirkan dari hubungan gelap itu sudah berusia lima bulan ..."
Koan San gwat menjadi tegang, tanyanya.
"Setelah ketemu bagaimana? "
"Bagaimana lagi, sudah tentu terjadi perkelahian yang sengit, sayang waktu itu Losiu tidak hadir, sehingga tidak bisa nonton pertempuran yang benar benar hebat dan ramai!"
"Akhir pertempuran adu jiwa itu, siapa yang menang? "
"Ilmu silat kawanku amat tinggi, meski suaminya itu diluar lautan mendapat pengalaman aneh, namun belum mampu mengalahkan dia, disaat elmaut mengancam, perempuan itu mendadak sadar akan hubungan kasih suami istri, ternyata ia turun tangan mengeroyok kawanku itu!"
"Hati seorang perempuan memang suka dijagai, sungguh luar biasa..."
"Ya, maka Losiu beruntung dikaruniai bentuk badan jele ini, selama hidupku aku tidak bakal dibikin susah oleh urusan cinta tetek bengek begitu ..."
"Akhirnya bagaimana? "
"Kawanku tidak menduga perempuan yang dicintainya bakal melawan dirinya, meski ia tidak sudi turun tangan didalam keadaan serba runyam begitu, akhirnya ia membawa orok yang belum satu tahun turun gunung dengan mendongkol ..."
Melihat orang menghentikan ceritanya Koan San gwat jadi getol, tanyanya "Cerita ini habis sampai disitu saja?"
"Sudah tentu belum berakhir, tapi kejadian selanjutnya Losiu sendiri juga kurang jelas, yang kutahu bahwa suami istri itu rujuk kembali, menetap ditempat ini, dua tahun kemudian mereka melahirkan lagi, beberapa tahun kemudian suaminya itu meninggal dunia sementara perempuan itu masih tetap tinggal disini, mengasuh dan membesarkan putranya, dengan bekal kepandaiannya, ia menerima beberapa pembantu pilihan, menetap di sini untuk menghabiakan waktu ..."
"Aku tahu perempuan yang kau maksud adalah Gwat hoa Hujin, bagaimana jejak kawanmu? "
"Dengan amarah yang meluap luap ia pergi, selanjutnya tidak terdengar kabar beritanya, Losiu pernah mencarinya kemana mana tapi seperti batu kecemplung dilautan, hingga beberapa waktu yang lalu, secara kebetulan karena suatu urusan Losiu lewat di Khong ay san, baru kudapat berita mengenai kawanku itu, ternyata setelah pergi, kawanku, menetap di tempat itu, tidak lama kemudian diapun meninggal, mereres diri, sementara putranya diserahkan kepada seorang pelajar dan dibawa pergi ..."
"Orang macam apa pelajar itu?"
Tanya Koan San gwat tegang.
"Kejadian sudah terlalu lama, orang orang yang menetap disekitarnya sudah lupa, mereka hanya tahu bahwa pelajar itu, secara kebetulan lewat disana, namun berhubungan sangat kental dengan temanku itu, lima enam hari kemudian temanku itu meninggal, setelah pelajar itu mengurus penguburannya sampai selesai baru tinggal pergi membawa bocah itu, tanpa meninggalkan nama memberi tahu tempat tinggal..."
Koan San gwat kecewa, katanya.
"Apakah pelajar itu tidak menunjukkan sesuatu yang luar biasa pada dirinya!"
"Ada! Orang memberitahu kepadaku bahwa jari tangan kiri pelajar itu ada enam!"
"Benar! Itulah guruku!"
Teriak Koan San gwat.
"Jadi kaulah orok kecil yang dibawa oleh temanku itu!"
Sibungkuk berteriak.
KoanSan gwat amat haru, perasaannya bergolak, tak tahu bagaimana harus membuka mulut.
Sesaat kemudian bara si bungkuk berkata "Begitu kudengar kau memiliki sebuah gelang jade, lantas kuduga kemungkinan ini gelang jade ini memang sepasang, yang satu terukir bulan, dan yang lain diukir kembang seruni, semua milik Gwat hoa Hujin, ukiran melingkar itu adalah nama mereka berdua, Gwat hoa Hujin bernama Se Ciu kiok, kawan ku itu ...
anu ayahmu bernama Bun Sin Gwat.
Le Cia kiok bergelar Gwat hoa Hujin, nama untuk mengenang ayahmu ..."
Koan San gwat terlongong sekian lama baru berkata sambil mengalirkan air mata.
"Jadi seharusnya aku she Ban, kenapa guruku mengganti namaku menjadi Koan San gwat? "
"Untuk itu kau harus bertanya langsung kepada gurumu."
"Tidak perlu ditanyakan lagi,"
Tiba tiba Gwat hoa Hujin menerobos masuk sambil berlinang air mata.
"Aku tahu, Sin gwat tentu benci kapadaku, diapan tidak suka putranya kelak bertemu dengan aku, maka nama anak nya sendiripun ia ganti, Koan San gwat (hubungan gunung dan bulan) jelas di ibaratkan bahwa asal usul bocah itu ada hubungannya dengan gunung dan rembulan, dia membawa potongan gelangku kedalam liang kubur ... tentu ingin melupakan aku sama sekali ..."
Si bongkok tertawa ringan, katanya .
"Hujin! Segalanya sudah jelas, kalian ibu beranak silahkan bicara baik baik! Losiu harus mengundurkan diri!"
Habis berkata ia goyang tubuh melesat terbang keluar. Cepat Gwat hoa Hujin berseru.
"Tho ong Terima kasih! Harap kau suka duduk dulu diruang sebelah, sebentar aku harus menjamu secawan arak pada kau."
"Sudah tentu!"
Seru si bungkuk tua sambil tertawa lebar.
"Kau suruh aku pergi, aku tidak akan pergi! Beruntung hari ini aku bertemu dengan putra Sin gwat akupun perlu berkumpul dengan dia!"
Setelah dia pergi, tinggal Gwat hoa Hujin dan Koan San gwat saling berhadapan, hati mereka dirasuk haru yang tidak tertahan lagi, mereka terbungkam sekian lamanya, tak tahu apa yang harus dibicarakan.
Akhirnya Gwat hoa Hujin bersuara perlahan lahan "Nak!
Sudikah kau memanggil aku ibu?"
Dengan kebanjiran air mata lekas Gwat hao Hujin maju memeluknya erat erat, sambil mengelus rambutnya, ia berkata lemah lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak! Sungguh aku tidak kira bisa jumpa dengan kau, dua puluh lima tahun sudah, waktu kau pergi, kau baru berusia setengah tahun, tidak heran kita tidak saling kenal, mari biar kulihat, seperti siapa kau sebenarnya? "
Sembari berkata dia angkat muka Koan San gwat dengan kedua tangannya, serta di amat amati dengan seksama, sesaat kemudian berkata pula kalem.
"Matamu seperti ayah, demikian juga hidungmu, hanya alismu seperti aku bentuk mukamu kombinasi dari kami berdua. Aku sungguh bodoh, kenapa waktu bertemu tadi sedikitpun aku tidak teringat akan hal ini.. ai, waktu memang sudah terlalu lama, kesan ayahmu sudah makin pudar dalam benakku, adakalanya aku memejamkan mata, seolah olah kulihat dia berdiri dihadapanku, begitu aku membuka mata bayangan lantas hilang menghilang begitu saja, sehingga aku sulit mengingat bentuk mukanya lagi ..."
Lalu dielus elus pula kepala Koan San gwat, katanya.
"Nak! Asal usulmu sekarang sudah terang, tiba waktunya kau mengganti she dan nama!"
Entah kenapa tiba tiba rasa benci dalam benak Koan San gwat, mendadak ia meronta lepas dari pelukan ibunya, serunya .
"Tidak kupikir nama itu adalah maksud ayah sendiri! Lebih baik kita tetap mematuhi kehendaknya saja!"
Gwat hoa Hujin melengak, lalu katanya menghela napas .
"Begitu baik! Sampai ajal ayahmu masih membenci aku! Apakah kaupun membenci aku?"
Koan San gwat tidak mampu menjawab selama dua puluh tahun belum pernah ia memikirkan asal usul dirinya, kini mendadak harus mengakui seorang ibu, dia masih bingung bagaimana perasaan hatinya sekarang.
Waktu Jin Tho bertujuh dipanggil masuk kedalam balairung, mereka terkejut dan heran akan sikap dan kelakuan Gwat hoa Hujin yang berdiri dekat dengan Koan San gwat mereka melihat sebelah tangan Gwat hoa Hujin, pegang pundak Koan San gwat, sementara si tua bungkuk menunjukan mimik aneh.
Pandangan Gwat hoa Hujin menyapu ke tujuh pembantunya, katanya.
"Coa Ping, kau paling lama ikut aku, terhadap peristiwa yang lalu kau paling jelas, aku pernah bercerita secara sembunyi sembunyi kepada yang lain bukan ?"
Coa ping ketakutan ratapnya "Mana hamba berani ..."
"Kau tidak usah takut! Aku tidak akan menghukum kau aku cuma tanya pernah kau berbicara rahasia aku itu?"
Dengan ketakutan akhirnya Coa Ping mengaku "Diwaktu mengobrol, mungkin hamba pernah bicara sedikit dengan Jip Hoat dan Hwi Kak ..."
"Perkara sudah sampai ditelinga Jip Hoat budak cerewet ini, mana bisa dirahasiakan. Aku percaya ketujuh orang ini sudah tahu semua."
Demikian si bungkuk menyela bicara.
Keruan ketujuh pembantu itu tercekat hatinya, terutama Jip Hoat menjadi pucat mukanya, namun sedikitpun Gwat hoa Hujin tidak memperlihatkan rasa gusar, katanya dengan muka jengah "Kalian tidak perlu takut kalau kalian sudah tahu pengalamanku yang lalu, maka tidak perlu banyak penjelasan lagi, kalian tahu kecuali ilmu silat aku masih mempunyai seorang putra yang hilang pada dua paluhan tahun yang lalu ..."
Ketujuh pembantunya saling pandang, tidak tahu apa makaudnya. Segera sibungkuk tua menimbrung.
"Sekarang putranya itu sudah ketemu dia inilah..."
Sembari bicara ia menunjuk Koan San gwat. Berubah air muka ketujuh pembantu saking terperanjat Gwat hoa Hujin menjadi kikuk. Setelah menjublek sekian lama akhirnya Jip Hoat berteriak .
"Aduh! Bing hengte! Jadi kau adalah Toa kongou ... payah, payah! Kalau begitu selanjutnya aku tidak bisa panggil Bing hengte..."
Koan San gwat berseru"Aku bernama Koan San gwat ..."
"Apa? Koan San gwat? "
Jip Hoat tercengang dibuatnya. Koan San gwat manggut manggut.
"Benar!"
Gwat hoa Hujin menegas.
"Tay Su kau tidak usah kuatir, kau mengganti namanya untuk mengelabui aku, sungguh besar nyalimu, tapi kali ini aku boleh ampuni dosamu."
Sampai disini tiba tiba raut mukanya menjadi tegang, perlahan mengguman.
"Koan San gwat! Koan San gwat ... Jadi Koan San gwat yang selalu digaukan oleh Ceng Ceng adalah kau? "
"Benar! Aku kemari untuk mencarinya!"
Sahut Koan San gwat.
"Darimana kau tahu bila dia berada disini? "
Koan San gwat ragu ragu untuk menjelaskan.
"Tidak apa apa nak!"
Ujar Gwat hoa Hujin.
"Katakan saja, hari ini aku bisa menemukan kau, perkara apapun boleh ku kesampingkan!"
"Peng Kiok jin Toanio yang membawa kemari,"
Terpaksa Koan San gwat menjelaskan.
Berubah air muka Gwat hoa Hujin, Tay Su tampil menjelaskan "Hujin!
Tujuan Peng Kiok jin memang baik, melihat nona Thio menerjang naik keatas gunung, waktu itu kebetulan penyakit jantung Hujin sedang kumat, ilmu pengobatan nona Thio memang lihay dengan resep obatnya penyakitnya Hujin bisa disembuhkin oleh ..."
"O,"
Seru si bungkuk heran.
"Nona kecil itu ternyata mampu menyembuhkan penyakit lama Hujin, sungguh harus dipuji!"
"Beruntung Siautitpun pernah ditolong dua kali olehnya ..."
Demikian timrung Koan San gwat.
"Hubungan kalian cukup intim bukan, kalau, tidak kenapa sejauh itu kau meluruk kemari hendak mencari dia!"
Demikian goda si bungkuk itu. Koan San gwat tidak menjawab, Tay Su pula yang bersuara .
"Nona Thio amat cinta dan merindukan Koan kongcu, sering dalam tidurnya ia mengigau namanya..."
"Tidak salah lagi. Bocah ini memper (mirip) bapakanya, paling menonjol dikalangan perempuan, kawanku punya keturunan, sungguh aku situa bangka ini girang setengah mati ..."
Tiba riba dilihatnya air muka Gwat hoa Hujin ganjil, cepat ia hentikan tawanya serta bertanya.
"Hujin! Kenapa kau murung jadinya! Putramu sudah kembali keharibaan, malah membawa calon istri yang cantik lagi ..."
Perlahan lahan Gwat hoa Hujin menghela napas, mulutnya terkanciig, demikian juga sikap ketujuh pembantunya ikut prihatin dan menunduk diam, karuan keadaan janggal mem buat si bongkok tua daun Koan San gwat heran dan tidak mengerti.
Tak tahan si bongkok tua mendesak "Hujin, apakah yang terjadi sebetulnya?"
"Kelak saja dibicarakan!"
Demikian ujar Gwat hoa pelan pelan.
"Tho ong! Aku pernah mengundang kau makan minum, sekarang juga boleh dimulai, Hwi Kak keluarkan Pek ho a lok yang tersimpan digudang kamar satu guci, Jip Hoat pergilah menyiapkan makanan!"
Kedua perempuan itu mengiakan bersama sama terus mengundurkan diri melaksanakan perintah. Sementara Coa Ping mendekati Koan San gwat, karanya rada terpengaruh oleh perasaan harunya.
"Kongcu! Tentu kau tidak ingat aku lagi. Waktu kecilmu akulah yang sering membopongmu!"
"Waktu itu dia berusia lima bulan, mana mungkin bisa ingat kepada kau!"
Demikian ujar si bongkok tua dengan riang gembira.
"Kongcu, kau tumbuh demikian besar dan kekar, lebih tegap dari Ban loya dulu, apakah Ban loya baik...."
Gwat hoa menarik muka, sentakanya.
"Coa Ping! Jangan cerewet!"
Si bongkok menghela napas, katanya".
"Coa ping! Ban loya sudah meninggal !"
Kesilat Coa Ping mendengar berita duka ini, kelopak matanya mengembang air mata, katanya tetharu.
"Sudah meninggal... Ban loya begitu baik hati, kenapa tidak hidup lebih tua beberapa tahun lagi! Bila beliau masih hidup sampai sekarang betapa menyenangkan..."
"Coa Ping!"
Bentak Gwat hoa Hujin, menggebrak meja.
"Berani mati kau ..."
"Ya Hujin!"
Sahut Coa Ping sambil menyeka air mata, suaranya gametar "Hamba memang... kurang sopan. Setelah hamba melihat Kongcu, hatiku amat senang."
"Hujin, kenapa kau salahkan dia?"
Demikian bujuk si bungkuk dengan suara lembut.
"Dulu Sin gwat amat baik terhadapnya adalah jamak kalau dia kasih kepada bocah ini, anak muda, tiada halangannya kau memanggil suci kepadanya. Karena dulu pernah berkelakar hendak menerima dia sebagai murid. Kalau kau ingin tahu perihal ayahmu boleh kau minta penjelasannya dia lebih jelas dari aku."
Memang Koan San gwat simpatik terhadap perempuan ini, dengan hormat ia menyapa "Suci!"
"Kongcu terlalu sungkan, mana hamba berani terima."
Kata Coa Ping sambil menekuk dengkul.
"Anak muda! Aku berhasil menemukan ibu kandangmu cara bagaimana kau hendak menyatakan terima kasih kepadaku ?"
"Cianpwe ..."
Tersipu sipu Koan San gwat berlutut.
"Cianpwe apa? Ayahmu adalah sahabat kentalku, cukup panggil paman saja."
"Paman!"
Si bungkuk lekas menarikanya bangun, tanya.
"Anak baik, jangan berlaku bodoh, paman hanya berkelakar dengan kau, bagaimana latihan silatmu? bungkuk tua tidak berguna seperti aku ini ingin memberi ajaran kepada kau !"
Gwat hoa Hujin tertawa, timbrungnya "Ilmu pedang Tam Kiam bukan tandingannya, silahkan Tho ong membeli bimbingan..."
"Putra Sin gwat masa tidak jempol? Aku tidak punya ahli waris, kecuali dia siapa lagi yang mau kuberi ajaran silatku yang rendah ini, harap Hujin jangan marah, putramu yang lain itu aku justru kurang senang ..."
Sedikit berubah air muka Gwat hoa Hujin. Si bungkuk segera menyambung "Hujin, sama sama putramu, kalau aku berat sebelah namun kau tidak boleh berat sebelah!"
"Aku tahu kau masih membenci Liu Ih yu"
Demikian ujar Gwat hoa Hujin! "Aku Pek Thio kun memang musuh buyutnya. Tak mungkin aku bicara demi kebaikannya."
"Orangnya sudah meninggal, apanya lagi yang dapat kau benci? "
"Sudah mati ya sudah, tapi aku tidak suka melihat tampang putranya yang sama dengan bapakanya!"
"Kalau begitu silahkan kau membimbing putraku yang ini, soal ilmu pedang kau tidak perlu jerih payah, cuma dalam bidang tenaga saja, ia masih kurang, jika kau sudi mengajarkan Kay san kun hoat kepadanya, cukup menjadi bekal hidupnya."
"Masa perlu dikatakan lagi! Kepandaian ku akan kuajarkan seluruhnya sampai akar akarnya, bagaimana juga dia tidak boleh kalah dengan bocah she Liu itu!"
Gwat hoa Hujin tidak bersuara, sebentar ia berpikir, mendadak berkata .
"Tho ong! Seharusnnya ada persoalan lain yang hendak kau beritahu kepadaku, dan lagi urusan ini ada sangkut pautnya dengan bocah ini!"
Sejenak Pek Thi hun melengak, sahut nya tersekat "Ti ... tidak."
"Bohong! Sebelum ini kau belum tahu bila dia putra Sin gwat, namun kau menyuruh dia tetap tinggal, dari sini ..."
"Ya, memang begitulah Lohu mengenai urusan kedua yang kau suruh aku menyelidiki"
"Apa! Jadi kau sudah tahu jejak orang itu? "
"Ya, sebetulnya aku tidak sudi turut campur urusan ini, tapi kau mencurigai Sin gwat wafat sudah dua puluh lima tahun, kecurigaan itu sudah tersapu bersih, maka akupun tidak perlu banyak urusan lagi."
"Apakah kau tidak sudi membantu sedikit kesulitanku?"
Tanya Gwat hoa Hujin menarik alis.
"Bukan membantu kau, tapi membantu Lau Ih ya. Apa lagi urusan ini ada sangkut pautnya dengan bocah ini, maka aku lebih tidak sudi mengatakan! coba kau pikir, apakah putra Sin gwat bisa membantu kesulitan Lau Ih yu? "
"Bu, paman Pek, persoalan apakah yang sedang kalian debatkan? "
Tanya Koan San gwat.
"Anak muda! Jangan kau banyak urusan. Bapakmu meninggal membawa dendam derita, meski kau tidak perlu membalas dendam namun pantaskah kau mencelakai jiwa orang yang membalaskan dendam bapakmu? "
"Sebetulnya bagaimana persoalannya?"
Tanya Koan San gwat. Gwat hoa Hujin mendelik mencegah Pek thi hun membuka mulut, lalu katanya.
"Nak pamanmu sudah menjelaskan duduk perkara dulu, ayahmu adalah Ban Sin gwat, Lau Ih yu adalah suamiku berdiri pada posisimu sekarang, kau membela Lau Ih yu tidak? "
Koan San gwat berpikir sebentar, sahut nya "Kupikir tidak perlu aku membencinya sebab perbuatan dan sepak terjangnya cukup dimengerti"
"Bocah keparat!"
Teriak Pek Thi hun.
"Ceritaku tadi belum selesai seluruhnya, ketahuilah di waktu ayahmu pergi dia terluka parah, Liu Ih yu menusuk secara licik Coa ping melihat kejadian itu!"
Berubah air muka Koan San gwat. Sementara Gwat hoa Hujin melirik kearah Coa ping dan jengeknya.
"Coa ping kau lagi yang cerewet!"
"Ya ..."
Coa ping mengiakan dengan muka pucat.
"Soalnya pek loyacu mendesak hamba untuk mengatakannya"
"Seharusnya kau bicara secara gamblang!"
Damprat Gwat hoa Hujin. Coa ping menjadi gugup, katanya "Belum sempat hamba bicara habis, Hujin dan Loya keburu datang, selanjutnya pek loya tidak pernah menanyakan lagi!"
"Kalau begitu hari ini kau harus sejelas nya, kebetulan Kongcupun berada disini ..."
Coa ping menenangkan hati lalu katanya pelan "Waktu terjadi perkelahian sengit itu ilmu pedang Ban loya kelihatan amat tinggi, sehingga Lau terdesak mundur berulang ulang, akhirnya Hujin keluar dan terjun diantara mereka, karena kuatir tusukan pedangnya mengenai Hujin Ban loya menariknya saat itu Loya kebetulan menyerang dengan sebuah tusukan dan melukai pundak Ban loya.
Sekecap pun Ban loya tidak bersuara, melempar pedang merebut Kongcu dari gendongannu terus tinggal pergi!"
Pek Thi hun menyeringai dingin mendengar penjelasan ini. Gwat hoa Hujin segera menghadapi Koan San gwat serta bertanya.
"Kau percaya akan uraiannya itu? "
Koan San gwat manggut manggut Pak Thi hun semakin gusar teriakanya.
"BanSin gwat tidak mungkin mati karena gusar, tusukan pedang itupun tak bisa membuat ajal. Karena sedih dan berduka, apalagi membawa luka berat menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat, darah mengalir terlalu banyak, berapa sebab itulah hingga dia menemui ajal nya."
Tiba tiba Gwat hoa Hujin menghela napas, ujarnya "Kecuali Ban Sin gwat bangkit kembali dari liang kubur untuk memberi penjelasan kepada kalian, kalau tidak selamanya kalian tidak akan paham sebab kematiannya yang sebenarnya!"
"Maksudmu kematiannya itu karena sebab lain? "
Pek Thi hun menegas.
"Benar! Sebab utama karena berduka, tapi sebab dari dukanya itu bukan seperti yang kalian bayangkan, dia berduka karena dia kalah. Tho ong, kau yang paling menyelami wataknya, dapatkah dia mendapat penghinaan begitu rupa? "
"Ya, dia meninggal karena hatinya hancur, kalau kau mengatakan sebab dukanya itu karena kekalahannya, itulah karena kau pula yang menyebabkan, kau membuatnya patah arang."
Gwat hoa Hujin menggeleng, katanya.
"Tidak, dalam permainan asmara dia sebagai pemenang, dalam ilmu pedang, dia dipihak yang kalah, aku bukan bual, perasaanku waktu itu, mengharapkan Sin gwat dapat membunuh Lau Ih yu ..."
"Lalu kenapa kau terjun dalam pertempuran itu? "
Teriak Pek Thi hun.
"Karena aku harus menolong Sin gwat!"
Pek Thi hun menjublek.
Koen San gwat pun menjublek mematung.
Kata Gwat hoa Hujin meneruskan "Mungkin kalian tidak percaya, kalau waktu itu aku tidak lekas menerjang menerjunkan diri dalam gelanggang, Sin gwat pasti menemui ajalnya saat itu juga.
Karena jurus yang dimainkan Lau Ih yu amat lihay, perbawanya dapat mencapai kemenangan dalam posisi yang terdesak, karena aku mendesak ditengah mereka, sehingga ujung pedangnya menceng sedikit, maka Sin gwat cuma tertusuk pundak nya!".
Pek Thi hun masih kurang percaya, katanya .
"Jadi ilmu silat Sin gwat lebih asor dibanding Lau Ih yu sulit dipercaya!"
"Ilmu pedang Sin gwat sudah mencapai puncak kesempurnaannya, seperti pula orang nya, didalam nilai nilai tertentu dia lebih unggul dari Lau Ih yu maka ilmu pedangnya itu dapat mengalahkan musuh tapi tidak bisa melukai musuh ..."
"Tidak Salah! Sering San gwat berkata, ilmu pedang adalah ilmu kebaikan, ilmu cinta kasih memang ilmu pedangnya termasuk pedang yang bijaksana yang mengenal cinta kasih terhadap sesamanya...."
"Justru karena watak dan perangainya itulah yang menundukan sanubariku sehingga aku minggat bersamanya. Kalau kita bicara kesucian atau cinta kasih, maka janganlah kita bertempur mempertaruhkan jiwa, menaruh cinta kasih dan bijaksana terhadap musuh berarti berbuat kejam terhadap diri sendiri. Ilmu pedang Liu Ih yu justru mengutamakan kekejaman dan culas, waktu berkelali, meski Sin gwat menang juga tidak akan mampu merobohkan dia!"
Pek Thi hun terbungkam sekarang. Berkata pula Gwat hoa Hujin.
"Maka kesudahan dari pertempuran waktu itu Sin gwat maklum bahwa dia sudah kalah, waktu dia pergi dia membuang senjatanya. Bagi seorang ahli pedang, itu berarti bahwa selama hidup ini dia tidak akan menggunakan pedang lagi. Koan San gwat tetap bersikap wajar, katanya.
"Kalah satu kali terhitung apa? Bangkit kembali dan ajak berkelahi satu kali lagi!"
Gwat hoa Hujin tertawa getir, ujarnya "Pek tho cu boleh punya pambek demikian, tapi tidak demikian bagi ayahmu, kecuali dia membuang ajaran ilmu pedangnya semula, berlatih pula dari semula, berlatih dari permulaan ilmu pedang yang bisa membunuh orang.
Kalau tidak betapapun tinggi ilmu pedangnya sampai setinggi langit umpamanya, kalau dia tidak membunuh orang, orang sebalikanya ingin membunuh dia!"
Akhirnya Pek Thi hun menghela napas, uarnya "Waktu itu tidak seharusnya kau tampil kedepan, biar dia ajal tertusuk oleh pedang Liu Ih yu, keadaan mungkin jauh lebih baik!"
Jelas ia percaya akan keterangan Gwat hoa Hujin. Bahwa kejadian memang seperti apa yang diuraikan itu, Gwat hoa Hujin tertawa rawan, katanya .
"Memang, maka dia begitu benci terhadap aku, benci kerena aku menolong dia, dia lebih rela mati tertusuk pedang, betapapun tidak sudi mendapat pengampunan musuh!"
Koan San gwat belum paham, katanya "
Itupun belum terhitung minta pengampunan!"
"Nak! Kau masih belum paham sebagai ahli pedang seperti ayahmu dan Lau Ih yu, setelah melancarkan satu jurus kecuali punya maksud merubah ditengah jalan kekuatan luar tidak mampu mengganggu tekad mereke. Maka tusukan Lau Ih yu yang menceng itu karena aku terjun kedalam gelanggang! Jadi kau jangan salah paham bahwa tusukan itu memang sengaja dimencengkan kerena takut melukai aku!"
"Kalau dia tidak takut melukai kau, kenapa ujung pedangnya menceng?"
Tanya Koan San gwat.
"Begitu melihat aku tampil melindungi nya, maka dia paham maksudku bahwa aku tidak rela dia membunuh ayahmu, meski dia amat membenci ayahmu, namun demi aku maka dia mengabaikan kesempatan yang paling baik itu. Sudah tentu ayahmu pun paham akan hal ini, maki ia membuang senjatanya dan pergi tanpa bersuara ... waktu aku mendapat kabar kematiannya ayahmu sedikitpun aku tidak terpengaruh, aku paham bahwa waktu itu sebetulnya dia sudah meninggal."
Koan San gwat bungkam sekian lamanya akhirnya ia menyeletuk "Apakah ilmu pedang Lau Ih yu itu ada ahli warisnya."
"Ada!"
Cepat Pek Thi hun menjawabnya.
"Putranya yang bernama Lau yu hu!"
"Tho ong!"
Ujar Gwat hoa Hujin sambil mengawasinya.
"Apakah kau ingin mereka dua saudara bentrok dan bertanding sekali lagi? "
Pek Thi hun hanya tertawa tidak bersuara. Sebalikanya Koan San gwat menjawab dengan tegas.
"Bu! Hal itu tidak bisa terhindar lagi. Tapi legakan hatimu, asal aku menang, pertandingan ini tidak akan terjadi banjir darah. Meski aku tidak sempat mendapat kan warisan ilmu pedang ayah yang menempuh cinta kasih dan bijaksana itu, tapi aku mewarisi watak dan peranggainya yang bajik dan penuh kasih sayang terhadap sesamanya!"
"Bagus!"
Pek Thi hun menggembor ketus dengan bersemangat.
"Memang kau putra Sin gwat sejati! Hujin apakah anjing kecilmu itu punya pambek demikian? Anak baik sungguh kau membuat paman mati kegirangan."
Gwat hoa Hujin menghela napas, katanya pelan pelan.
"Nak, kau ... baru setengah hari Khong han kiong seolah olah seperti milik mu sendiri!"
"Sudah tentu! Tempat ini memang milik San gwat, kini harus diwarisi olehnya.."
Gwat hoa Hujin mendelu, katanya menggeleng.
"Adikmu mungkin tidak sebanding kau tapi usianya lebih muda kau harus mengasuhnya."
Membeku wajah Koan San gwat kata nya "Bu! Aku tidak punya adik!"
Gelap air muka Gwat hoa Hujin, namun ia bungkam seribu bahasa, sekian lama mereka berdiam diri, akhirnya bersuara lagi.
"Baiklah! Sementara kita tidak usah membicarakan ini. Kini kuminta kau menjelaskan tentang orang itu!"
"Siapa? "
Tanya Koan San gwat heran.
"Sudah tentu orang yang membunuh Lau ih yu!"
Berubah air muka Koan San gwat.
"Lau Ih yu mati dibunuh orang,"
Demikian tutur Gwat hoa Hujin.
Hal itu terjadi dua puluh tahun yang lalu, kebetulan kami sedang bertamasya sekitar Bing kang, disana kau bentrok dengan seorang berkedok, ilmu pedang orang itu aneh sekali, bergerak baru tujuh jurus, Lau Ih yu tertabas kutung lengan kirinya, begitu pulang gunung lantas meninggal.
Sejak kejadian itu aku mencari tahu kemana mana, namun tidak berhasil.
Soalnya aku tidak kenal wajahnya, terpaksa main selidik bersumber dari permainan pedangnya."
Koan San gwat melongo, katanya."Bagaimana aku bisa tahu? "
Pek Thi hun sertawa katanya tandas "Kau pasti tehu, karena kau pernah melawan ilmu pedangmu itu, ditas Bu San sekali, menghadapi Tam Kiam sekali lagi, dua kali kau menang."
Gwat hoa Hujin menyambung .
"Beberapa jurus ilmu pedang itu aku pernah melihatnya, samar samar, masih kuingat sebagian, sekembaliku lantas kuajarkan kepada Tam Kiam, siapa yang kau temui di Bu san? " -oo0dw0oo-
Jilid 19 MENDENGAR YANG DIPERSOALKAN adalah Siu lo jit sek, Koan San gwat melengak, heran bahwa peristiwa itu Sin li hong di Bu san bagaimana PekThi hun bisa tahu?
Melihat anakanya tenggelam dalam keraguan Gwat hoa Hujin kecewa, katanya .
"Nak.. mungkin kau tidak ingin memberitahu, aku pun tidak memaksa!"
"Tidak!"
Bukan aku tidak mau mengatakan, tapi aku belum jelas siapa sebenarnya yang membunuh Lau Ih yu, menurut apa yang kutahu, diatas dunia ini yang bisa menggunakan ilmu pedang ada beberapa orang ..."
"Orang dari barisan Dewa, iblis dan setan dalam Liong hwa hwe banyak yang mempelajari ilmu pedang itu!"
Gwat hoa Hujin makin heran dan ketarik katanya .
"Liong hwa hwe? Apa pula dewa iblis dan setan itu? "
Kian San gwat tahu bila dijelaskan satu persatu betapa panjang dan memakan waktu, maka setelah berpikir ia berkata "Bu!
Kau tidak perlu tanya sebanyak itu!
Cukup sal kau melukiskan perawakan orang berkedok pada dua puluh tahun yang lalu, mungkin aku tahu siapa dia?"
"Perawakan orang itu tidak terlalu tinggi suaranya serak kasar, sulit kutentukan dia laki atau perempuan, namun dari gerak gerik dan tingkah lakunya, mungkin kaum hawa!"
Koan San gwat melengak, pikirnya, Kaum hawa dalam Liong hwa hwe yang bisa melancarkan Siau lo jit sek tidak banyak, apalagi dua puluh tahun yang lalu, Lim Hiang ting belum setingkat duduk dalam barisan dewa, sementara Li Sik hong tidak pernah mempelajari ilmu pedang itu, sedang Liu Ih yu masih gadis kecil!
Sedang Sebun Bu yam pun tidak mungkin, sulit menentukan siapa sebenarnya perempuan itu.
Melihat orang masih termenung sekian lamanya, Gwat hoa Hujin mendesak.
"Sudah terpikir alehmu siapaka dia?"
"Sulit ditentukan, meski aku tahu ada beberapa perempuan, tapi mereka jelas tidak mungkin ..."
Pek Thi hun mempertegas "Benar!"
Beberapa orang perempuan, itu meski ilmu silatnya cukup baik, tapi tidak mungkin lebih kuat dari Lau Ih yu!"
"Paman Pek! kau kenal beberapa orang itu? "
"Mana bisa aku kenal mereka? "
"Lalu dari mana kau tahu perbuatan Siau tit di Bu san? "
"Aku mendapat tahu dari orang, orang itu boleh dikata seorang sahabatku! Dia tahu jelas tentang dirimu, waktu aku menanyakan persoalan ini kepadanya, dia menyinggung kau kepadaku, katanya cuma kau seorang saja yang tahu. Semula aku tidak kenal siapa kau, cuma waktu berada di bawah gunung kulihat kau naik kemari menunggang unta putih ..."
"Siapakah kawanmu itu? "
Tanya Koan San gwat heran.
"Kuberi tahu sekarang tidak menjadi soal dia adalah Hweshio tua!"
"Go hay ci hang!"
Koan San gwat berteriak.
"Kepala gundul itu pandai membadut, dengan watakanya yang edan edanan itu berani menggunakan Suci macam itu? "
"Hweshio tua ini memang aneh, setiap kejadian tentu ada bagiannya, orang macam apakah dia? "
"Aku sendiri kurang jelas, kita berkenalan setelah berkelahi. Pada suatu hari dia melancong ke Tay ceng san, tempat kediamanku dia hendak mencuri sumber air hidup mujarab kembali miliku, sudah tentu tidak kuberi ijin, akhirnya berkelahi. Begitu Kay san kun kang bentrok dengan Tau lik kim kong ciangnya, dia tergetar luka dalam, namun aku rasa dia orang baik, maka kuberi pengobatan, sejak itu terjalinlah hubungan kental, dia memanggil aku sibungkuk, aku memanggilnya kepda gundul ... Gwat hoa Hujin tidak sabar, selanya "Tho ong! Persoalan belum selesai!"
"Apa yang kutahu hanya begitu saja, sisanya kau tanya kepada putramu."
Demikian ujar Pek Thi hun Gwat hoa Hujin berpaling kearah Koan San gwat menggeleng, katanya"Aku juga kurang jelas, beberapa perempuan yang kukenal itu mahir beberapa gerakan ilmu pedang itu lwekangnya jelas tidak memadai untuk mengidahkan Liu Ih yu!"
Gwat hoa Hujin memejamkan mata, merenung sebentar, mendadak ia berseru "Bukan saja lwekang orang berkedok itu amat tinggi, usianya pun sudah cukup tua, badannya kurus kering seperti kayu, kulitnya hitam ..."
"Tahu aku sekarang!"
Teriak Koan San gwat, tentu dia adanya !"
"Siapa dia?"
Tanya Gwat hoa Hujin tersipu sipu.
Koan San gwat serba sulit teringat olehnya akan Mo li Oen Kiau, menurut bentuk yang digambarkan, jelas menyerupai keadaannya, tapi agaknya kurang tepat dan tidak mungkin pula, Oen Kiau mengasingkan diri puluhan tahun lamanya mana mungkin keluyuran di luar melukai orang?"
"Siapakah dia?"
Desak Gwat hoa gugup "Teringat olehku seorang Cianpwe, tapi selamanya dia tidak pernah keliaran, lebih tidak mungkin mengikat permusuhan dengan orang ..."
"Jangan urus begitu banyak"
Gwat hoa Hujin naik pitam.
"Beritahu dimana dia tinggal, biar kucari dia, asal aku berhadapan dengan dia, tentu aku tahu apakah dia orang yang dulu berkedok itu!"
Koan San gwat melengak. katanya "Bu! Harap kau maafkan aku ..."
"Kenapa?"
Teriak Gwat hoa Hujin mendelik.
"masa kau tidak mau beritahu kepadaku? "
"Tidak, aku pernah mendapat bantuan yang berharga dari dia, pernah berjanji supaya tidak membocorkan tempat pengasingannya kepada orang lain, dan lagi tempat itu amat tersembunyi tak pernah diinjak manusia, meski kukatakan, belum tentu kau bisa menemukan tempat itu!"
Berubah air muka Gwat hoa Hujin, tapi akhirnya ia manghela napas, katanya.
"Nak aku tahu apa maksudmu sebenarnya, tapi akut tidak hak memaksa kau untuk mengadakannya cukup asal aku tahu adanya orang itu, pasti aku akan berusaha menemukan dia."
"Tidak! Bu, Harap kau percaya kepadaku, aku pernah bersumpah kepada Cianpwe itu, aku tidak boleh ingkar janji, tapi aku bisa berjanji kepada kau akan menyelidiki peristiwa itu sampai terang duduk perkaranya"
"Bagaimana rencanamu? "
"Aku akan menghadap Cianpwe itu sekali lagi, akan kutanyakan padanya apakah pernah terjadi peristiwa itu? "
"Kalau benar? "
"Akan kuminta dia keluar membuat penelesaian dengan kau!"
"Bila sampai bergebruk, pihak mana yang kau bantu? "
"Pihak manapun tiada yang kubantu!"
"Bila kau melihat aku bukan tandinganya, kaupun tidak sudi membantu? "
"Benar!"
Sahut Koan San gwat mendelu "Bu, kau menuntut balas bagi suamimu, aku terhitung apa?"
Gwat hoa Hujin menarik napas, katanya .
"Tindakanmu memang betul, aku tidak bisa mohon terlalu benyak kepadamu!"
Berkerut muka Koan San gwat, katanya dengan suara rendah berat.
"Bu! Kalau kau terbunuh aku akan menuntut balas bagi kau hanya dalam keadaan demikian baru aku punya alasan untuk turun tangan."
Pek Thi hun menggebrak meja, serunya.
"Bocah bagus! Budi dan dendam berbeda tegas, benar benar sepak terjang seorang laki laki sejati, sahabatku akan meram dialam baka."
Mendengar orang menyinggung ayahnya almarhum, Koan San gwat tak tahu bagaimana perasaan hatinya, sebelum jelas akan asal usulnya sendiri tidak timbul perasaan apa apa, kini terasa kesunyian mencekam sanubarinya Jip Hoat melangkah masuk sambil membawa sebuah keranjang bersusun, dari dalam keranjang makanan ia keluarkan tujuh delapan macam masakan dijajar diatas meja, serta katanya lirih kepada Gwat hoa Hujin "Sebentar Kongcu akan tiba"
"Siapa sruh kau memberitahu dia!"
Damprat Pek Thi hun.
"Bintang kecil itu membuat orang mual dan muntah muntah belaka!"
Gwat hoa Hujin mengerut alis, omelnya "Jip Hoat, kau memang banyak tingkah, apa kau tidak tahu bila Tho ong tidak cocok dengan dia!"
"Hwi kak yang memberitaku kepadanya, hamba tak berhasil mencegahnya!"
"Hujin! Lekas suruh orang merintangi bocah itu kemari, kalau tidak Lohu akan pergi !"
Gwat hoa Hujin mengerut kening, katanya "Tho ong ! Pandanglah muka Sin gwat, bersabarlah sementara waktu!"
Belum Pek Thi hun menjawab, dari luar pintu sudah kumandang suara dingin .
"Bu! Biarkan saja tua Bungkuk itu pergi!"
Seiring suaranya, diambang pintu berkelebat masuk seorang pemuda yang mengenakan jubah berbulu, pinggang menyoren pedang, sikapnya angkuh dan sombong sekali.
Koan San gwat tahu, bocah ini adiknya yang bernama Lau Yu hu, maka dia mengawasinya penuh perhatian, usianya lebih muda, berparas cakap ganteng alisnya panjang lentik, membusung dada bertingkah takabur.
"Yu hu!"
Segera Gwat hoa Hujin membentak.
"Tidak tahu aturan terhadap tamu!"
Lau Yu hu menjengek dingin.
"Selamanya Khong ham kiong tidak menerima tamu liar!"
"Binatang kecil!"
Damprat Pek Thi hun "Kau bicara dengan siapa? "
Lau Yu hu melotot, sahutnya dingin .
"Sudah tentu terhadap kau Bungkuk tua!"
Keruan Pek Thi hun. berjingkrak marah, seperti kebakaran jenggot, teriakanya beringas "Binatang, kupandang kau sebagai bocah ingusan, kalau tidak sekali pukul biar hancur lebur!"
"Bungkuk tua!"
Ejek Lau Yu hu tertawa terkekeh kekeh, jangan tidak tahu malu di Khong han kiong jangan mengagulkan diri sebagai Cianpwe segala!"
Melihat putranya terlalu kurang ajar Gwat hoa Hujin marah serunya menggebrak meja "Yu hu! masih ada ibumu dalam matamu?"
Sikap Lau Yu bu makin pongah, matanya melirik kearah Koan San gwat, katanya .
"Bu! Kau punya seorang putra lagi, masakah peduli sama putramu ini ?"
Gwat hoa Hujin tertegun diam. Lau Ya hu mendapat angin, jengeknya "Dia ini putramu yang tersayang lihatlah betapa gagah tampangnya, Bu! Penyakit rindumu sekian tahun sudah terobati ..."
Saking marah Gwat hoa Hujin gemetar dan berkeringat dingin, sepatah katapun tidak mampu diucapkan lagi. Mendadak Pek Thi hun bergelak tertawa serunya.
"Hujin! Lau Ih yu punya putra macam ini, suatu hal yang patut dibanggakan juga !"
"Tutup mulutmu!"
Hardik Lau Yu bu.
"Jangan kau menyinggung nama ayahku, ayah ku mati lantaran kalian ..."
"Binatang kecil!"
Damprat Pek Thi hun "Kau mengoceh apa...?"
"Jangan kau kira aku tidak tahu, aku tahu lebih jelas dari kalian!"
Mendadak Gwat hoa Hujin melonjak berdiri, tangannya menuding Lau Yu hu dampratnya dengan suara gemetar.
"Kau paham apa? katakan coba kau katakan!"
Lau Yu hu menyeringai dingin, ujarnya.
"Bu, urusan menyangkut dirimu masa kau tidak Paham, kalau akU yang membeber borokmu, Kurang enak rasanya, lebih baik menutup borok sendiri saja supaya ..."
Mendadak Gwat hoa Hujin menyemburkan darah segar, orangnyapun meloso duduk kehabisan tenaga lekas Jip Hoat memayangnya tapi didorong pergi.
"Baik ..."
Katanya dengan suara lirih dan pedih.
"Yu hu! Diwaktu ayah mu meninggal kau baru berusia empat tahun, dengan jerih payah aku mengasuh kau sampai besar, tak nyana beginilah imbalan sikapmu yang kurang ajar ..."
Lau Yu hu berdiri diam sambil menyeringai dingin. Koan San gwat tidak tahan lagi, hardik nya dengan keras.
"Bedebah! Anak durhaka. Hayo berlutut!"
Lau Yu hu melirik mata, jengekanya dingin.
"Jangan berkaok kaok terhadapku, walau kau lebih besar dari aku, dilahirkan satu ibu lagi, tapi aku tidak punya kakak semacam dirimu."
"Siapa sudi menjadi abangmu!"
Damprat Koan San gwat gusar.
"Baik sekali, lalu berdasar apa kau suruh akan berlutut!"
"Akan kuajarkan kepadamu bagaimana menjadi manusia yang tahu aturan, supaya kau tahu menghormati ibumu!"
Demikian damprat Koan San gwat marah.
Lau Yu hu tertawa sambil menuding Gwat hoa Hujin, katanya "Dia ini ibumu, tapi bukan ibuku, karena kau hanya dari hubungan cinta murni yang serong, sedangkan aku ...
Hahaha ...
aku terpaksa harus lahir setelah dia mengingkari suaminya ..."
Pek Thi hun tidak kuasa mengekang amarahnya lagi, sambil menggebrek meja, ia melompat bangun, lekas Lau Yu hu merogoh secarik kain sutra dari kantong bajunya terus dibuang ketanah, serunya "Pek tho cu!"
"Inilah surat berdarah peninggalan ayahku, secara diam diam ia serahkan kepada Hwi kak, waktu aku berusia lima belas tahun, baru diserahkan kepadaku, setelah kalian melihat surat berdarah itu, tentu paham sebab musabab tingkah lakuku hari ini!"
Koan San gwat melengong, ia membungkuk hendak menjemput kain sutra itu, lekas Lau Yu hu mencabut pedang seraya berteriak "Nanti dulu!"
Sinar pedang berkelebat dihadapan Koan San gwat, mendesakanya mundur selangkah. Kata Lau Yu hu kemudian sambil menarik pedang.
"Setelah persoalan kami diselesaikan belum tarlambat kau membacanya!"
"Ada persoalan apa diantara kita? "
Tanya Koan San gwat heran.
"Meski kita belum pernah ketemu selama ini, tapi pertempuran hari ini sudah diatur oleh kodrat, sejak aku tahu adanya orang macam kau ini, aku selalu menunggu datangnya hari ini!"
"Apakah dalam surat peninggalan ayahmu ada menyuruh kau bertanding melawan aku? "
"Tidak! Bukan saja ayahku tidak menyuruh aku mengajak kau bertanding, malah dia menganjurkan aku mencari kau, merubah permusuhan menjadi persaudaraan, beliau suruh aku anggap kau sebagai saudara kandung sendiri ..."
"O,"
Koan San gwat melengak heran. Lau Yu hu menyeringai dingin, katanya.
"Aku menantang kau karena alasan pribadiku, selama hidupku aku hanya berkeinginan mencari dua orang untuk bertanding, beruntung kedua orang ini ternyata gabung menjadi satu, keduanya terpusat pada dirimu seorang ..."
Penjelasan ini makin membingungkan Koan San gwat, segera ia melolos Pek hong kiam serunya "Berkelahi ya berkelahi! Dua orang atau satu orang apa segala ..."
Lau Yu hu mendengus "Soal ini harus dibicarakan dulu biar jelas, kedua orang yang kumaksud adalah putra Ban hin gwat yang di lahirkan ibuku, karena orang yang belum pernah dilihatnya itu..
sehingga diriku tiada kedudukan dalam relung hati ibuku ..."
Kebetulan Gwat hoa Hujin siuman, mendengar kata kata putranya segera ia berteriak.
"Yu hu! Kau membual apa, beberapa tahun ini, sikapku masih kurang baik terhadap kau? "
"Baik atau tidak persoalan ini,"
Demikian jengek Lua Yu hu.
"Beberapa tahun ini kecuali Ban Sin gwat dan putra yang baru hari ini kau temukan, pernah kau memikirkan orang lain? "
Gwat hoa Hujin tercengeng. Lau Yu hu tertawa dingin, berkata kepada Koan San gwat "Orang kedua yang hendak aku cari Koan San gwat, sungguh kebetulan kaulah orangnya."
"Kenapa? Aku membuat kesalahan kepadamu."
Terbayang rasa kebencian pada tawa sinis Lau Yu hu, katanya bengis .
"Meski kita baru bertemu hari ini, namun namamu tidak asing lagi bagiku, boleh dikata setiap hari aku mendengar namamu empat lima kali dari mulut Ceng Ceng. Meski aku mengorek hatiku dihadapannya dia tidak pernah melupakan Koan toakonya, pernah aku bersumpah pada diri ku sendiri, asal aku ketemu Koan San gwat aku akan bertempur ..."
Baru sekarang Koan San gwat paham duduk persoalannya, Tay Su berjerih payah mengganti namanya menjadi Bing Jan li kenapa Jinhg Tho bertiga minta dirinya jangan membicarakan dan jangan membocorkan asal usuluya yang sebenarnya, ternyata semua itu hanya untuk menghindari pertikaian.
Koan San gwat menghela napas, ujarnya.
"Lau Yu hu, aku tidak keberatan menempur kau, tapi tidak karena dua alasan yang kau kemukakan tadi. Aku tidak ingin merebut kedudukan direlung hati ibu, lebih tidak sudi mengadu jiwa hanya demi seorang perempuan ..."
Lau Yu bu merasa terpukul, serunya berkaok kaok.
"Demi alasan apa ..."
Koan San gwat berkata dengan kereng "Karena kau putra Lau Ih yu, maka kutempur kau, tapi hari ini aku menempurmu untuk menghajar adat kepada kau sebagai putra yang durhaka kepada ibunya...."
Sikapnya yang kereng penuh wibawa membuat Lau Yu hu jeri, namun kilas lain sikapnya kembali congkak, teriakanya sambil mengayun pedang "Peduli apa alasanmu, yang terang kalau bukan kau biar aku yang mampus!
Marilah ."
Menerjang terus menusuk.
Koan San gwat menangkis serunya keras "Kau salah, hari ini kau berhasrat membunuh aku, aku tidak akan membunuh kau.
Dulu pedang bajik ayahku mangalah kepada ayahmu, hari ini aku tidak akan membuatmu cidera."
Amarah Lau Yu hu berkobar, tiba tiba pedangnya terayun membacok, teriakanya keras "Kentut jangan pura pura bajik, kalau bapakmu orang baik, tidak pantas dia merebut istri orang ..."
Koan San gwat merah mendengar ocehannya, sekali lagi dia menangkis dengan pedang, kini mulai dia balas menyerang dengan ilmu pedangnya, pertempuran berlangsung dengan seru.
Permainan ilmu pedang Lau Yu hu amat aneh, kekuatan pergelangan tangannya amat besar.
Biasanya Koan San gwat membanggakan tenaganya yang besar, namun ia merasa berat menghadapi rangsakan lawan yang bertubi tubi terpaksa ia keluarkan Tay lo kiam sek untuk melawan.
Tay lo kiam hoat diciptakan khusus untuk menghadapi Siu lo kiam hoat, tapi untuk melawan ilmu pedang lain juga mempunyai wibawa yang besar, Kas kun sip ting.
San gak eng si, dua jurus pertahanan sekokoh gunung dengan mudah menghalau seluruh rangsakan dahsyat lawan.
Akhirnya terdengar ia membentak laksana geledek, tangannya terayun melancarkan pek jon koan ji, Pek Hong kiam memancarkan cahaya cemerlang seluas satu tumbak sekitar badannya, Lau Yu hu terbendung didalam tabir cahaya terang itu.
Agakanya Lau Yu hu tidak menyangka serangan lawan begitu dahsyat dan ganas pula sejenak ia terpaku, sesaat ia bingung bagaimana harus melawan.
Pada saat gawat itu terdengar jeritan kuat r Gwat hoa Hujin, sebetulnya Koan San gwat tidak berniat melukai Lau Yu hu, maka disaat sinar pedangnya mengenai badan Lau Yu hu, segera ia hentikan permainannya serta membentak, dengan suara tendah.
"Lemparkan pedangmu? "
Mendadak Lau Yu hu tertawa dingin, pedang panjang berwarna merah gelap di tangannya itu menyandal keatas mengeluarkan gentakan tenaga yang maha dahsyat, Pek hong kiam Koan San gwat dihantamnya jatuh.
Berhasil melucuti senjata lawan, pedang Lau Yu hu berputar lalu menukik turun menusuk balik.
Keruan kejut Koan San wat bukan kepalang, lekas berusaha menarik Pek hong kiam untuk membela diri, namun pedangnya tidak bisa bergeming seperti tersedot kekuatan yang maha besar, tanpa mengenal kasihan pedang Lau Yu hu menusuk tiba, terpaksa Koan San gwat melepaskan senjata dan memiringkan tubuh berkelit.
"Rebahlah kau!"
Bentak Lau Yu hu.
Pedangnya berputar satu lingkaran, terbitlah cahaya merah berlapis lapis laksana sebuah jala yang terkembang lebar menungkup ke seluruh badan Koan San gwat.
Koan San gwat bertangan kosong, dengan sepasang kepalan sudah tentu tidak mampu melawan, apalagi ia tahu pedang ditangan Lau Yu hu adalah pedang pusaka, betapa tajam pedang sakti itu.
meski hawa pelindung badan betapapun sakti dan tinggi, takkan mungkin dapat melawan ketajaman pedang pusaka itu, terpaksa ia memejamkan mata menghela napas menunggu ajal..
Disaat yang amat genting tulah, dari sebelah samping melesat sesosok bayangan menerjang ketengah gelanggang sembari membawa taburan cahaya hijau, maka terdengarlah suara gemerinting yang keras, cahaya hijau itu tepat menangkis pedang Lau Yu hu, sekaligus menyelamatkan jiwa Koan San gwat.
Koan San gwat membuka mata kembali dengan rasa kejut dan heran seperti baru sadar dari mimpi, ternyata yang menubruk datang menolong dirinya bukan lain adalah Tam Kiam, salah satu dari tujuh pembantu Khong ham kiong.
Tampak rona Lau Yu hu menampilkan amarah yang tidak tertahankan, dampratnya bengis.
"Tam Kiam! Sungguh besar nyalimu!"
Tanpa bersuara Tam Kiam tarikan pedang di tangannya memancarkan cahaya hijau menubruk kearah Lau Yu hu.
Lau Yu hu terkekeh kekeh dingin, cahaya merah gelap dari pancaran sinar pedangnya mendadak muncul menjadi satu, lekas menerjang kedalam lingkaran cahaya hijau.
Maka terjadilah cahaya merah terpecah berhamburan, dibarengi darah muncrat kemana mana.
Badan Tam Kiam tertebas kutung menjadi dua sebatas pinggang, gerak pedang Lu Yu hu belum berhenti sampai disitu saja, pedang ditangannya yang menyala merah gelap itu mengejar datang menabas leher Koan San gwat.
Maka terdengarlah bentakan dan jerit kaget yang riuh didalam balairung itu.
Serempak Jing Tho, Sui Ki, Tay Su dan lain lain bergerak, ingin menolong Kon San gwat.
Lau Yu hu tidak peduli, beruntun pedangnya berpencar keberbagai arah, sekaligus perang empat orang penyerbu ini dengan empat kali tabasan pedang.
Diantara penyerang, Gwat hoa Hujin bergerak paling cepat.
Pek Thi hun ikut merangsak pula.
Luncuran Gwat hoa Hujin tiba lebih dulu, sebelah lengannya dikebutkan, lengan bajunya menggulung kedepan mengubat batang pedang Lau Yu hu terus ditarik ke samping.
Sementara itu Pek Thi hun juga menubruk tiba, kontan kepalanya menjotos dua kali ditubuh Lau Yu hu, sehingga munduy sempoyongan dua tindak.
Lau Yu hu menyeringai dingin, desisnya "Bagus!
Kalian barmusuhan denganku!"
"Yu hu!"
Suara Gwai hoa Hujin gemetar.
"Kau ......"
Tanpa bicara Lau Yu hu putar tubuh terus melesat pergi lewat pintu.
Pek Thi hun mengajar tiba dibelakag nya terus melompat tinggi pula hinggap menghadang jalan larinya, begitu kakinya menginjak tanah sementara kepalan tangannya menggenjot pula, kekuatan angin pukulannya menahan daya luncuran tubuh Lau Yu hu, seketika ia berdiri dan tidak mampu maju lebih lanjut.
Lau Yu hu mundur dua langkah, matanya memancarkan dingin dan sadis, seringai nya dingin "Setan bungkuk!
Apa keinginanmu?"
"Akan kubunuh binatang cilik macam ini!"
Desis Pek Thi hun.
"Betul! Mumpung pihak kalian lebih banyak lekaslah bunuh aku saja, kelak kalian akan mendapat bagian yang setimpal."
"Kentut!"
Damprat Pek Thi hun.
"Untuk menjegal binatang macam tampangmu segampang membalikan telapak tangan, masa perlu dibantu orang."
"Setan bungkuk!"
Teriak Lau Yu hu sambil bergelak tertawa.
"Jangan takabur, kalau kau punya kemampuan, tidak bakal kau terjungkal ditangan ayahku. Meski aku belum setaraf dengan ayahku almarhum, tapi bila satu lawan satu, masakan aku gentar menghadapi si bungkuk tua macam tampangmu."
Bukan kepalang gusar Pek Thi hun "Wut"
Kepalannya menjotos kedepan, angin pukulannya deras menerpa kedepan, lekas Lau Yu hu berkisar minggir menghindari tenaga pokok berbarengan kedua tangannya terpencar dari atas dan bawah menggencet ketengah.
Seketika Pek Thi hun melongo dan tersurut mundur, serunya .
"Binatang! Kepandaian yang kau pelajari darimana ini? "
Lau Yu hu menyeringai dingin tanpa meladeni ocehan orang, kedua telapak tangannya menari seperti kupu kupu, kejap saja beruntun sudah melancarkan puluhan pukulan tangan yang lihay dan aneh.
Serentetan pukulan aneh yang lihay.
Ini bukan hanya perobahan yang sulit diselami malah kecepatan gerak amat mengejutkan.
Beruntun Pek Thi hun harus berkelit dan menghindar, syukur dapat melayani rangsakan lawan dengan selamat, suatu kesempatan ia melancarkan pula sebuah pukulan, kelihatannya pukulan ini bisa saja tidak mengandung kekuatan, namun disaat ia melancarkan pula pukulan ini mimik mukanya sangat prihatin seperti urat syarafnya menjadi tegang.
Namun Lu Yu hu menyambutnya dengan senyum dikulum, jengekanya "Tua bangka!
Keluarkan seluruh kepandaian simpanan mu"
Mulut bicara badan tidak menunjukan reaksi.
Diwaktu pukulan Pek Thi hun terpaut dua kaki didepan badannya, baru kekuatan tenaganya dikerahkan, maka terdengar sebuah ledakan dahsyat seperti gempa bumi.
Seiring dengan suara keras ini, Lau Yu hu roboh celentang datar ditanah, hingga kekuatan pukulan dahsyat laksana gugur gunung itu menyerempet hidungnya, sisa kekuatan yang menyerang kedepan menerjang tembok pagar hingga jebol, balairung yang besar itu sampai hureg.
Cepat sekali kedua tangan Lau Yu hu menekan tanah, badannya mencelat kedepan menubruk lawan, kedua kaki terpentang, seperti gunting layakanya menggunting kedua kaki Pek Thi hun.
Agaknya Pek Thi hun tidak menduga lawan kecil ini bisa menggunakan jurus aneh dan lucu ini, sesaat ia kehilangan akal, kedua kakinya dililit dan keras, ia tidak mampu berdiri tegak pula, badannya roboh kesamping.
Beruntung ia terguling guling lima enam tumbak jauhnya baru mengendalikan badannya.
Sigap sekali Lau Yu hu sudah melejit badan berdiri tegak lebih dulu melihat Pek Thi hun mampu merangkak bangun tanpa kurang suatu apa, air mukanya menampilkan rasa heran dan terkejut, tapi wajahnya masih mengulum senyum ejek dan menghina, katanya.
"Bungkuk tua! Ilmu kekerasan badanmu ternyata sudah sempurna, kau mampu menerima serangan Kim Kiau Cian tui (guntingan kaki naga laut mas ) ..."
Pek Thi hun mengeretak gigi, jenggot dan rambut kepalanya berdiri dan berkembang seluruh tulang badanya berbunyi keretekan, jelas ia memusatkan tenaga mengerahkan lwekang yang lihay.
Gwat hoa Hujin menjadi terbelak, teriaknya.
"Tho ong! pandanglah mukaku, ampunilah jiwanya..."
"Dia mampu menedang Lohu berarti tahu akan dosa dosanya, tapi sengaja melakukannya. Banyak yang harus dibanggakan atas dirinya!"
Begitulah jengek Pek Thi hun saking gusar.
"Tho ong!"
Gwat hoa Hujin semakin gelisah.
"betapapun usianya masih muda, apa kau tidak pandang mukaku ..."
"Jadi ditendang tanpa diberi kesempatam membalas ..."
"Yu hu!"
Segera Gwat hoa Hujin berseru kepada putranya.
"Lekas minta maaf kepada paman, mintalah pengampunannya ketahuilah Poh giok kun kang paman Pek sudah mencapai sekali jotos meremukan batu gunung.. Bagaimana juga kau bukan tandingannya!"
Nada perkataannya mengandung permohonan yang amat dikasihani, disamping itu secara langsung ia beberkan rahasia ilmu pukulan Pek Thi hun kepada putranya.
Tak nyana sikap Lau Yu hu lebih pongah ujarnya "Putra Lau Ih yu hanya tahu mengadu jiwa, pantang minta maaf kepada lawan!"
"Hujin!"
Teriak Thi hun.
"Kau sudah dengar sendiri, jangan kau salahkan Lohu bertangan gapah!"
Lenyap suaranya, kepalannya sudah menjotos kedepan.
Gaya pukulan kali isi kelihatan lebih mantap dan tenang, pukulan nya tidak membawa kesiur angin atau suara.
Lahirnya La Yu hu bersikap takabur, sebenarnya ia menginsafi bahwa pukulan Pek Tai hun amat lihay, belum lagi serangan musuh melayang tiba ia sudah bersiap lebih dulu, kedua tangan menyentuh ujung kakinya, ia biarkan punggung sendiri terbuka dan kena pukulan dahsyat lawan.
Gaya perlawanan yang lucu dan aneh ini membuat hadirin melongo heran, sementara kepalan Pek Thi hun sudah telak mengenai punggungnya, namun ia merasa pukulannya menjotos diatas tumpukan bulu bulu burung yang empuk sedikitpun tidak menimbulkan daya perlawanan apa apa.
Sementara badan yang tertekuk membundar seperti bola itu menggelundung jauh diatas tanah terdorong oleh kekuatan angin pukulan yang dahsyat itu.
"Bagus sekali anak muda!"
Teriak Pek Thi hun.
"Hebat juga kepandaianmu, mari rasakan lagi dua pukulanku ini!"
Belum lagi pukulannya dilancarkan, tahu tahu Lan Yu hu melenting keudara setinggi satu tumbak, samentara cahaya merah membara ditangannya terus menungkrup keatas batok Pek Thi hun.
Ternyata disaat ia menggelundung di tanah itu, sekaligus ia menjemput pedang panjangnya yang tadi digulung jatuh oleh lengan baju Gwat hoa Hujin, ia insaf bahwa kekuatan pukulan Pek Thi hun bukan olah olah hebatnya, maka kali ini ia merangsak lebih dulu Pek Thi hun tertawa panjang, nadanya dingin dan menusuk kuping, secepat kilat pukulannya dilancarkan lagi.
Ditengah udara Lau Yu hu angkat pedang dan mengayunnya, membundar, maksudnya hendak menuntun kekuatan tenaga pukulan lawan kesamping serta memunahkannya.
Siapa duga pukulan Pek Thi hun kali ini hanya gertak sambal belaka, sehingga ayunan pedangnya tidak membawa saluran tenaga yang berarti.
Baru saja Liu Yu hu menginsafi kesalahannya, merubah gerak pedang jelas tidak keburu lagi, terpaksa ia kertak gigi pedangnya terayun kedepan sementara tubuhnya meluncur turun menusuk Pek Thi hun.
Kesempatan yang bagus ini, Pek Thi hun menghardik laksana geledek .
"Menggelindinglah!"
Pukulan tanganpun menyongsong kedepan.
Begitu keras dan hebat angin pukulannya, sehingga badan Lua Yu hu yang terapung dan meluncur turun itu diterjang membal balik ketengah udara pula, tapi dia sendiripun menghadapi elmaut.
Tusukan pedang Lau Yu hu mengadu jiwa, belum lagi menusuk tiba pedangnya memancarkan kabut merah sepanjang lima kaki, kabut merah ternyata menembus kekuatan angin pukulannya dan menyapu keras melanda badannya.
Untung Pek Thi hun siaga dan bermata jeli, begitu pukulan dilancarkan, sebat sekali kakinya menyurut mundur, kabut merah itu hanya menyapu disebelah bawah dagunya memapas jenggot panjangnya.
Sementara Lau Yu hu kena telak oleh jotosan, untung ia berada di tengah udara daya pukulan yang mengenai badannya sudah banyak berkurang kekuatan, namun demikian badannya terbang seperti layang layang putus benang melampaui pagar tembok, sedetik sebelum badannya melewati tembok, ia masih sempat mengayun pedangnya kedepan.
Kekuatan babat pedang yang ampuh itu membuat tembok tebal dan kokoh itu gugur berlubang besar, dari lubang besar inilah tubuhnya jatuh keluar.
Agakanya Pek Thi hun belum puas dengan menggerung seperti harimau kelaparan ia memburu keluar, Koan San gwat dan Gwat hoa Hujin menyusul dibelakangnya.
Tampak Liu Yu hu merayap bangun dengan susah payah dari runtuhan tembok, ujung mulutnya melelehkan darah segar.
"Binatang cilik!"
Hardik Pek Thi hun.
"Kau tidak boleh diampuni!"
Kedua kepalan tangan siap dihantamkan tiba tiba sesosok bayangan meledat datang menghadang didepannya.
Melihat penghadang ini adalah Koan San gwat, Pek Thi hun semakin berjingkrak gusar "Anak muda!
Apa apaan kelakuanmu ini?"
"Paman!"
Ujar Koan San gwat kalem.
"Harap lepaskan saja dia!"
"Apa? "
Terjak Pek Thi hun.
"Kaupun ingin melepas dia? "
"Ya! Ayahku meninggal dengan tekanan batin karena kalah dibawah pedang Lau Ih yu, kalau kau bunuh dia, ayahku tidak bisa meram dialam baka!"
Pek Thi hun menjadi heran dan tidak mengerti, serunya .
"Bagaimana maksud ucapanmu ini? "
Berkatalah Koan San gwat dengan lantang dan prihatin.
"Kekalahan yang memalukan dibawah pedang harus ditebus dengan pedang pula. Lau Ih yu sudah mati, untung ada keturunannya ini, kalau aku tidak dapat mengalahkan dia dengan ilmu pedang! Maka aku menjadi anak yang durhaka terhadap mendiang ayahku!"
Baru sekarang Pek Thi hun mengerti keruan maksud perkataannya, namun matanya terbelalak dan bertanya "Kau mampu?"
"Waktu kami saling gebrak tadi kaupun sudah menyaksikan, bukan karena ilmu pedangku tidak mampu menandinginya, cuma pedangnya itu amat aneh! Bila gebrak lagi untuk kelanjutannya, aku akan jauh lebih hati hati dan waspada ..."
Terpaksa Pek Thi hun menurunkan kepalannya, ujarnya menghela napas "Baiklah!
Kuterima permohonan!
Tapi bocah keparat ini amat culas dan berbahaya, kalau kau di rubuhkan oleh dia, jangan kau salahkan aku!"
Koan San gwat tertawa enteng, ujarnya.
"Siauit tahu! Bagaimana juga tidak akan menyalahkan kau orang tua."
Lau Yu hu menenteng pedang menunggu kesempatan untuk bertarung dengan Koan San gwat. Tak nyana Koan San gwat hanya tersenyum saja, katanya.
"Kau sudah terluka, meski aku dapat mengalahkan kau tiada artinya lagi, lebih baik kutunggu setelah luka lukamu sembuh barulah diadakan pertandingan yang benar benar adil!"
Lau Yu hu tidak bersuara lagi, putar tubuh terus tinggal pergi, baru melangkah lima enam langkah badannya tampak terhuyung sempoyongan hampir roboh.
Gwat hoa Hujin hendak memburu maju memayangnya, tapi ia acungkan pedang mengancam katanya.
"Jangan sentuh aku!"
Gwat hoa Hujin melengak, ujarnya.
"Yu hu ... kau ... ibumu sendiri sudah kau tidak pandang lagi...."
Air mata tak terbendung lagi membasahi kedua pipi Gwat hoa Hujin, saking haru ia sampai tidak kuasa mengeluarkan suara.
Lau Ya hu kendalikan darah yang menerjang naik kerongga dada, teriakanya terbatuk batuk "Hwi Kak!
Kemari payang akan turun gunung?"
Hwi kak bermuram durja, sambil mengiakan ia memburu maju cepat ia raih lengan nya, katanya "Kongcu! Kau hendak turun gunung?"
Lau Yu ha mendengus, sahutnya "Sudah tentu harus turun gunung bisakah aku menetap ditempat ini pula?"
"Yu hu!"tenak Gwat hoa Hujin.
"Kenapa kau bicara macam itu?"
"Tempat ini memang sarang rahasia Ban Sin gwat bersama kau, kenapa aku orang she Lau menetap disini? "
Saking marah Gwat hoa Hujin membanting kaki dan menangis sesenggukan.
Sementara Hwi Kak sudah memayang Lau Yu hu turun gunung tanpa menoleh pula Setelah mereka pergi jauh, tak tahan Gwat hoa Hujin ingin memburu dan memanggil nya pulang, cepat Jing Tho membujuk dengan lemah lembut "Hujin!
Biarlah dia pergi!
Dia pergi bukan lantaran tega meninggalkan engkau!"
"Apa maksudmu? "
"Karena nona Thio!"
Tergetar badan Gwat hoa Hujin, ia ber paling kearah Koan San gwat, katanya menggeleng pelan "Ai Nak! Kenapa kau justru Koan San gwat."
Koan San gwat paham, tapi ia tak dapat berbuat apa apa. Pek Thi hun kelihatan senang.
"Hujin."
Katanya.
"Putra yang selalu kau kenang sudah ketemu, kehilangan seorang putra mendapat ganti seorang putra, terhadap kau ganti mengganti ini tiada ruginya. Malah putramu yang ini jauh lebih baik dari putramu yang satu itu ..."
"Tho ong!"
Ujar Gwat hoa Hujin menyeka air mata.
"Kau tidak paham, dalam sanubari seorang ibu, putra putri mana bisa tukar menukar seperti barang layakanya ..."
"Jadi kau tidak mau mengakui putramu yang ini? "
"Tidak! Tho ong! Kau salah mengerti!"
Sahut Gwat hoa Hujin cepat.
"Terhadap putraku yang kembali setelah berpisah sekian lamanya betapa senang hatiku, tapi akupun amat berat kehilangan Yu hu, sebab diapun anak kandungku sendiri."
Pek Thi hun melongo sekian lamanya, akhirnya ia menarik napas sambil meraba jenggotnya yang putus "Memang Lohu tidak tahu, untung aku ini sebatang kara, tidak punya tanggungan keluarga jadi tidak perlu memeras keringat memikirkan segala tetek bengek itu, marilah kita masuk saja kita baca surat peninggalan Lau Ih yu, pesan apa yang dia tulis kepada putranya!"
Gwat hon Hujin masih menjublek mendelong ke bawah gunung, air mata masih bercucuran dari kelopak matanya.
Hwi Kak dan Lau Yu hu sudah tidak kelihatan bayangan nya, dengan rawan dan hambar ia masih menjublek sekian lamanya akhirnya tangannya tekan pundak Koan San gwat, pelan pelan ia ajak putranya kembali ke balairung.
Kain sutra yang dilempar Lau Yu hu masih menggeletak di lantai, warna kain sutra itu sudah luntur dan menguning, jelas sudah sekian tahun tersimpan tak pernah disentuh tangan manusia.
Pandangan semua orang tertuju kearah kain sutra itu, semua menunduk tanpa ada seorangpun yang bergerak untuk menjemput nya.
Pek Thi hun yang berangasan kurang sabar untuk lekas mengetahui isi surat itu, terpaksa ia suruh Koan San gwat, katanya .
"Hiantit! Coba kau saja yang membacanya."
Dengan rawan Gwat hoa Hujin birkata getir.
"Aku tidak suka melihatnya, kau bacakan saja."
Jing Tho, Sui Ki berlima segera bergerak hendak meninggalkan balairung itu. Lekas Gwat hoa menambahkan.
"Kejadian dulu kalian kalian sudah tahu, tak usah kalian menyingkir, kalian boleh mendengar!"
Sui Ki berlima menghentikan langkah dan mengurungkan niatnya keluar.
Dari sinilah dimengerti betapa besar keinginan mereka untuk mengetahui pesan yang tertera didalam kain sutra peninggalan Lau Ih yu itu.
Pelan pelan Koan San gwat membeber kain sutra itu lalu dibaca lantang perlahan lahan "Disampaikan kepada anak Yu untuk diketahui...
Aku sudah akan mati!
Sebab musabab kematianku sulit diselami orang lain, sebenar nya hatiku tidak bisa tentram karena marah, dan sedih dan penasaran!...
Kalau membicarakan pengalaman dulu, menambah perih dan membangkitkan amarah belaka!
Untuk ini anakku boleh bertanya kepada Hwi kak, dia tahu jelas semua seluk beluk peristiwa ini, sedemikian setianya kepadaku, tentu dia bisa menjelaskan segala rahasia apapun yang kan ketahui...
kini biar kukisahkan pengalaman pahit getirku,.
Kebencianku meliputi tiga persoalan .
Pertama Ban Sin gwat merupakan sasaran yang terbesar, Pek Thi hun sebagai pembantu perbuatan tidak senonoh yang tidak dapat diampuni pula, namun sebagai orang luar tidak perlu kau menuntut terlalu banyak kepadanya, cukup asal dapat membunuhnya saja..
Yang paling sulit dipercaya adalah ibu kandungmu sendiri, dikala aku cidera berbaring diatas ranjang, dia malah terkenang pada orang lain, hal ini merambah perih dan gusarku yang tidak tertahan lagi sehingga sulit penyakitku diobati, akan tetapi betapa besar cintaku kepadanya, tidak pantas bila kau berbuat durhaka membunuh ibu kandung mu sendiri, maka cukup asal kau menista dan memakinya saja sebagai pembalas dendam penasaranku...
Ibumu melahirkan seorang putra dari Han Sin gwat, usianya lebih tua dua tahun dari kau, ibumu amat merindukan dan prihatin pada putra besarnya itu.
Boleh setelah kau membunuh Ban Sin gwat, menyeretnya kehadiran ibumu, mengorek jantungnya dan mencacah hancur jasatnya.
Pembalasan ini..
Kukira cukup setimpal untuk membalas sakit hati dan melampiaskan rasa penasaran selama ini...
Dari luar lauran aku pernah memperoleh se
Jilid buku ilmu pedang, sejak kembali belum sempat kupelajari secara mendalam, kini sudah kubungkus secara rahasia dan kuserahkan kepada Hwi Kak untuk disimpannya nanti setelah kau berusia lima belasan, kau sudah cukup dewasa untuk memulai mempelajari ilmu pelajaran itu, carilah satu tempat yang sunyi untuk mempelajari ilmu peninggalanku ini secara sembunyi sembunyi, bekal ini kelak untuk menuntut balas bagi dendam sakit hatiku ini, sepuluh tahun mendatang kau sudah cukup matang untuk memulai usaha ini.
Sebelum latihanmu berhasil jangan kau sembarangan bertindak, karena Ban dan Pek kedua musuh amat tinggi dan lihay ilmu silatnya jangan sampai kau menjadi konyol...
Dan lagi orang yang melukai aku ilmu pedangnya teramat lihay, kelak bila ilmu silatmu sudah sempurna kau latih boleh kau cari dia dan balaskan sakit hati tusukan pedang pada diriku ini.
Jelasnya orang itu adalah seorang nenek tua yang berparas amat buruk menakutkan, boleh kau gunakan sim yang sio kang dari ce sia kau untuk melawannya ..."
Setelah Koan San gwat membaca surat itu, semua orang berdiam diri dan tenggelam dalam pikiran masing masing. Akhirnya terdengar Gwat hoa Hujin, berkata pilu .
"Tak nyana sedemikian dalam dan besar rasa benci Lau Ih yu terhadapku, sebelum ajal ia sudah mengatur semua ini ..."
Pek Thi hun juga menimbrung dengan prihatin .
"Tak heran bocah keparat itu berani melawan dua jurus pukulan Bok giok kun yang kulancarkan tadi, ternyata secara diam diam Lau Ih yu ada meninggalkan warisan pelajaran silat kepadanya. Tahun ini ia baru berusia dua puluh empat, kurang satu tahun lagi baru latihannya sempurna, tatkala itu mungkin Lohu sendiri tidak akan unggulkan melawannya."
Gwat hoa Hujin masih berdiri terlongo ujarnya.
"Sejak kecil dia selalu berada disampingku, setelah ia berusia belasan tahun, mendadak ia minta menepati sebuah villa tersendiri di puncak Ce kwi hong sana, semula kukira bocah jika sudah menanjak dewasa, tidak mau lagi bergaul terlalu rapat dengan ibu kandungnya, siapa tahu secara diam diam ia membelakangi aku melatih silat secara rahasia ..."
Suasana kembali hening lelap, tiada seoranpun yang buka suara tak lama kemudian Pek Thi hun, pula jauh membuka kesunyian.
"Ai , urusan sudah keterlanjur, bicarapun tidak berguna, yang jelas Lau Yu hu tidak akan kembali kehari depanmu!"
"Ya,"
Ujar Gwat hoa Hujin dengan berlinang air mata.
"Kalau tiada kejadian Thio Ceng Ceng. mungkin tidak begitu besar tekad nya unruk meninggalkan aku."
"Siapakah Thio Ceng Ceng itu!"
Tanya Pek Thi hun.
"Kejadian apa yang telah terjadi?"
"Thio Ceng Ceng adalah anak gadis yang cantik rupawan, ilmu pengobatannya yang sangat tinggi dan lihay, suatu ketika secara tidak sengaja ia menerobos naik keatas gunung bersama seorang nenek tua she Peng, waktu itu kebetulan penyakitku sedang kumat, kedatangannya amat kebetulan dan berhasil menyembuhkan menyakitku. Akan tetapi kecantikan serta sikapnya yang lembut sekaligus telah menambat sanubari Lau Yu hu terhadap nya, begitu besar rasa cintanya sehingga seperti orang sinting saja, bicara terus terang akupun amat suka dan sayang padanya maka kuminta dia tetap tinggal disini, semula aku hendak membujukanya supaya sudi menikah dengan Yu hu, namun genduk ayu itu ternyata sudah punya pujaan hatinya sendiri ..."
"Kini paham aku,"
Ujar Pek Thi hun.
"Pujaan hatinya itu adalah Koan San gwat, martabat dan karakter keponakanku ini jauh dari bocah keparat itu, mana bisa gadis ayu itu mengalihkan cinranya kepada pemuda ini!"
"Tepat dugaanmu! Berapa baik sikap Yu hu kepada Thio Ceng Ceng, namun setiap buka mulut tutup mulut Thio Ceng Ceng selalu tidak melupakan Koan toakonya, saking kewalahan akhirnya aku suruh nenek she Peng itu turun gunung mencari Koan San gwat ..."
Mendadak Pek Thi bun menjengek dingin "Tujuanmu mencari Koan San gwat adalah hendak membunuhnya bukan?"
Gwat hoa Hujin bungkam tidak mampu menjawab Pek Thi hun cepat mendesak.
"Kenapa kau tidak mau bicara? "
Gwat hoa Hujin menggigit bibir, katanya "Ya, semula memang aku punya maksud demikian!
Soalnya aku tidak tega melihat Yu hu menderita batin!
Seorang ibu demi kebahagiaan putranya dia dapat saja melakukan apa saja tanpa mengingat segala akibatnya ..."
"Bu! segera Koan San gwat berseru dengan "Mungkin tidak pantas aku mengeritik kau, namun perbuatanmu ini jelas salah dan amat tercela, persoalan cinta asmara sekali kali pantang dipaksakan, terutama menggunakan cara yang tidak senonoh dan memalukan ..."
Gwat hoa Hujin amat menyesal, ujarnya "Nak mana aku tahu bahwa Koan San gwat adalah kau!"
"Peduli kau tahu atas tidak yang jelas parbuatan ini amat hina dina, seumpama kau berhasil membunuh aku dan merangkap jodoh mereka, akhirnyapun akan terjadi suatu tragedi yang menyedihkan, kau sendiri sudah mengecap penderitaan yang menjadi kenyataan hidupmu kenapa pula harus melakukan kesalahan tumbal yang memalukan ini ..."
Gwat hoa Hujin tertunduk bungkam, sementara Koan San gwat, masih uring uringan, tanyanya "Dimana Geng Ceng sekarang?"
"Berada digedung kaca, lekas kau kesana menengoknya!"
Sahut Gwat hoa Hujin.
"Dimana letak gedung kaca? "
"Hamba suka membawa Kongcu kesana! "lekas Tay Su maju menyediakan diri. Begitulah dengan Tay Su sebagai penunjuk jalan Koan San gwat berdua menyelusuri sebuah jalan pegunungan kecil yang berliku liku kira kira beberapa li jauhnya, tak lama kemudian dari kejauhan tampuk didepan sana diatas puncak sebuah gunung mencorong reflek sinar putih kemilau yang menutupi sebuah bangunan berloteng kecil, setelah tiba dibawah puncak, lekas Tay Su menjura dan menunjukkan jalan yang harus ditempuh terus mengundurkan diri. Terpaksa Koan San gwat melanjutkan naik keatas seorang diri, baru saja ia tiba disamping gunung, dari kejauhan lantas dia tarik suara dan berteriak lantang."
Ceng ceng Adik Ceng! Aku telah datang! Koan toakomu sudah datang."
Tapi keadaan bangunan loteng kecil itu tetap sunyi lengang tiada terdengar suara apapun juga, keruan Koan san gwat menjadi gelisah, dengan langkah lebar cepat ia memburu kearah bangunan loteng tanpa sempat mengamati keadaan sekelilingnya, langsung menentang masuk kedalam.
Bawah loteng sunyi senyap tiada tampak bayangan seorangpun, lekas ia berlari naik keatas, kain sutra lembut semampai, sinar lilin masih menyala terang, segala perabot masih teratur rapi, namun tiada kelihatan bayangan atau jejak seorangpun.
Keruan hatinya semakin gugup dan gelisah.
"Kemana dan dimana Ceng ceng berada ?"
Demikian ia bertanya.
Sementara kakinya berlari kian kemari sambil menggeladah kesegala tempat, akhirnya disebuah kamar berloteng sebelah belakang ditemukan dua anak perempuan berusia lima belasan tahun rebah ditanah.
Seorang diantaranya batok kepalanya pecah terbacok senjata tajam, darah berceceran kemana mana, jiwanya sudah lama melayang.
Sementara seorang yang lain cuma rebah tak berkutik kena tertutuk jalan darahnya tanpa kena cidera apa apa.
Mencelos hari Koan San gwat, serta merta ia merasakan firasat jelek, lekas ia jinjin kesamping perempuan kecil yang belum ajal itu serta memeriksa keadaannya, akhirnya diketahui bahwa Hiat tou Ciang tai hiat dibelakang kepalanya kena ditabok keras keras oleh seseorang sehingga ia jatuh semaput.
Untuk mengetahui jejak dan kejadian apa yang dialami Thio Ceng ceng, terpaksa ia harus menekan gejolak perasaan hatinya, dengan sabar ia membuka pakaian perempuan kecil, itu kedua tangannya mulai mengurut dan menekan memberi pertolongan sekedarnya untuk membuatnya siuman.
Tak lama kemudian terdengar mulut si dara kecil ini mengeluh lalu pelan membuka mata dan siuman, begitu ia melihat jelas seketika ia menjerit ngeri dan ketakutan.
Dengan lembut segera Koan San gwat berkata "Adik cilik!
Jangan takut!
Lekas beri tahu padaku, kemana nona Ceng ceng pergi?"
Dara kecil itu membelalakkan matanya.
Sikapnya masih takut dan ngeri.
Sudah tentu Koan San gwat semakin gagap, teriakanya keras "Lekas katakan!
Dimana nona Thio?
Apa yang telah terjadi disini?
...
Aku bernama Koan San gwat."
Begitu mendengar namanya dara cilik ini lantas melompat bangun dan menunjuk kearah jendela, teriakanya","Jadi kau adalah Koan toako ... Koan siangkong yang sering dikatakan Siaucia..."
Lekas Koan San gwat manggut manggut, tanyanya cepat.
"Dimana nona Thio? "
"Siocia diusir pergi oleh bibi Hwi Kak, dia lari dari sana, aku bernama Siau hong, masih seorang lagi bernama Siao lik, dia dibunuh oleh bibi Hwi Kak..."
Dada Koan San gwat seperti dipalu godam, tak sempat mendengar penuturan lebih lanjut, sebab sekali badannya melayang menerobos keluar jendela terus berlari kencang kedepan, sementara Siau hong memburu ke jendela dan berteriak."Koan siankong, kau salah jalan, menuju sebelah kiri!"
Sejak Koan San gwat menghentikan langkahnya, sesaat jadi ragu ragu dan kurang percaya karena sekitarnya cuma sebuah jalan yang terbentang dearah depannya saja, letak bangunan berkaca ini dibangun dipuncak gunung yang kedua sampingnya merupakan jurang terjal yang amat curam.
Terdegar Siu hong berseru pula dengan gugup.
"Sedikitpun tidak akan salah, dia diusir siocia dan melompat turun kesana bersama."
Soalnya sebelah kiri adalah jurang, menurut tafsiran Koan San gwat tingginya ada tiga empat puluh tumbak, maka dia tambah kurang percaya.
Namun Si hong berteriak meyakinkan lagi "Koan siangkong, aku tidak akan ngipusi kau, Hwi Kak menenteng pedang dengan sikap kasar dan bengis mengancam nona Thio, semula nona Thio melawan, lekas Siau lik maju hendak memisah, namun dia kena dibunuh oleh bacokan pedang Hwi Kak, sementara aku sendiri pun lantas ditutuknya ..."
"Nanti dulu!"
Koan San gwat sadar "Kala toh kau kena tertutuk, darimana kau bisa tahu bahwa mereka lompat tutun dari sini?"
"Meski aku tertutuk jalan darahku kuping ku masih bisa mendengar dan matapun bisa melihat, kulihat nona Thio lompat dari jendela dikejar Hwi kak, malah kudengar pula suara mengancam sambil mengudak..
"Kau terjun kejurangpun akan kukejar kau!"
Saking gugup, aku sampai jatuh pingsan!"
Melihat sikap orang tidak seperti orang berbohong, namun Koan San gwat bertanya lebih tegas "Tempat apakah dibawah jurang sana?"
"Disebelah bawah sana terdapat sebidang hutan, diluar hutan terdapat sebuah aliran sungai yang bisa tembus keluar gunung ..."
Tanpa bertanya lebih lanjut Koan San gwat melompat kedepan dan terjun kebawah jurang.
Lompat turun dari tempat dan terjun kebawah jurang, Lompat turun dari tempat yang sedemikian tinggi baru pertama kali ia lakukan, namun terpikir olehnya kalau Thio Ceng ceng berdua bisa lompat turun kebawah kenapa aku sendiri tidak mampu?
Tepat kakinya dapat menginjak sebuah batu gunung yang menonjol keluar semetara sebelah bawah adalah jurang yang amat dalam tak terduga sebelum ia bisa berdiri tegak tiba tiba batu gunung tempat ia berpijak bergeming dan runtuh seluruhnya, kontan ia ikut terjungkal kebawah, tanpa kuasa ia terjun masuk kedalam aliran arus sungai yang deras dan tergulang gulung kebawah gunung, Koan San gwat tidak terlihat menongol pula keluar dari permukaan air.
Siau hong yang berdiri dipinggir jurang melihat kejadian ini tiba tiba ditambah seorang lain, bukan lain adalah Hwi kak, mengawasi Koan San gwat, yang tertelan gelombang sungai, ia tepuk tepuk pundak Siau hong pujinya.
"Siau hong! Bagus sekali kau menjalankan tugas! Sekarang lekas kita tinggalkan tempat ini!"
Dari bayangan besar dipinggir jurang sebelah sana mereka angkat bersama Thio Ceng ceng yang tidak sadarkan diri, Hwi Kak melolos ikat pinggangnya, terus mengangkat Thio Ceng ceng diatas punggungnya tak lama kemudian mereka sudah berlari lari kearah semula Koan San gwat tadi hendak menuju, sekejap bayangan mereka sudah tidak kelihatan lagi.
Semua hadirin di Khong ham kiong sama mengunjuk rasa prihatin dan membeku, hal ini terjadi kira kira setengah hari setelah Koan San gwat terjungkal kedalam jurang.
Dengan marah marah Pek Thi hun segera berteriak "Hujin!
Sampai detik ini kau masih berusaha mengeloni bocah keparat itu, menurut dugaanku pasti putra bangsatmu sekongkol dengan Hwi Kak yang melakukan perbuatan tercela itu ..." -oo0dw0oo-
Jilid 20 ALIS GWAT HOA HUJIN BERTAUT kencang, katanya "Bukan mustahil secara diam diam Koan San gwat membawa Thio Ceng ceng tinggal pergi secara diam diam?"
"Kau hanya mencari cari alasan belaka. Apa lagi alasannya dia harus tinggal minggat secara diam diam! Dan lagi bila hendak meninggalkan apa pula alasannya dia harus turun tangan keji membunuh orang yang tidak berdosa!"
Jing Tho juga mengerut kening, timbrungnya .
"Hambapun berpendapat demikian tidak mungkin Koan Kongcu minggat secara diam diam. Pertama Koan Kongcu tiada alasan berbuat demikian, kedua jejak Siau hong yang menghilang amat mencurigakan, biasanya Siau hong dan Siau lik adalah dayang Hujin yang terpercaya, namun dari apa yang dapat kutahu biasanya Siau hong jauh lebih rapat dan dekat kepada Hwi Kak, bukan mustahil mereka bersekongkol menculik lari nona Thio ..."
"Katakan!"
Sentak Gwat boa Hujin dengan marah marah.
"Dalam detik detik macam ini kau masih main ulur waktu dan jugal mahal segala."
Jing Tho mengiakan, lalu katanya lebih lanjut "Yaitu bahwa kemungkinan Koan kongcu sendiri sudah mengalami kecelakann."
"Bohong! Seumpama dia meninggal paling tidak mayatnya pasti dapat diketemukan."
"Dibawah jurang terdapat sebuah aliran sungai yang amat deras arus airnya, dan lagi batu menonjol disamping jurangpun telah hilang, hamba berpendapat kedua amat besar kemungkinannya"
Gwat hoa Hujin menarik muka dan tertunduk diam. Pek Thi hun segera berteriak "Kalau Kaon San gwat benar benar kena dibokong celaka, betapapun aku tidak akan mengampuni bocah keparat itu."
"Tho ong! duduk perkaranya belum lagi jelas ..."
"Lalu bagaimana dengan Koan San gwat?"
Sentak Gwat hoa Hujin dengan murka.
"Jejak Koan kongcu ada dua kemungkinan, pertama, begitu dia mendapat nona Thio menghilang, dilihat gelagat disekitarnya ia tahu hahwa telah terjadi sesuatu atas diri nona Thio, lekas lekas mengejar menurut apa yang dia dapat disana. Soal kedua hamba jadi kurang leluasa menjelaskan ..."
"Keduanya adalah putra kandungmu, tapi Koan San gwat adalah keturunan sahabat kentalku, segera aku harus menemukan bocah keparat itu. Asal Koan San gwat benar tidak kurang suatu apapun, dapat kuampuni jiwanya, atau sebalikanya akan kuhancurkan leburkan anak keparat dan durhaka itu. Aku tidak perduli bagaimana sikapmu terhadapku atas segala sepak terjangku ini, yang jelas keputusan dan tekadku tidak dapat ditawar lagi."
Habis bicara dengan marah marah ia tinggal pergi dengan langkah lebar.
Gwat hoa Hujin tidak berusaha merintang, setelah bayangan Pek Thi hun menghilang barulah dia manghela napas, dan ujarnya "Oh Thian!
Kenapa kau mengatur nasib ku sedemikian mengenaskan.
Yu hu, perbuatanmu memilukan hatiku ..."
Tak tertahan air mata bercucuran sesaat ia menambahkan.
"Jing Tho, Sui Ki! Kalian berdua segera mencari sepanjang sungai dan temukan jenasahnya bila ia benar benar mati kecemplung ke air, Coh bing tinggal di rumah menunggu rumah, sementara Tay Su dan Jip Hoat ikut aku turun gunung!"
"Hujin hendak turun gunung?"
Tanya Coh bing dengan rasa berat.
Gwat hoa Hujin manggut manggut, ujarnya "Ya, aku harus turun gunung!
Aku harus menemukan dia sebelum Pek Tho ong menyandaknya, akan kutanya biar jelas duduk perkara sebenarnya, bilamana dia memang melakukan perbuatan yang tercela ini bagaimana juga aku tidak bisa membiarkan Pek Tho ong membunuhnya."
Jing Tho tergagap, tanyanya "Hujin! maksudmu ..."
"Ya,"
Ujar Gwat hoa dengan pilu, aku sendiri yang akan merenggut nyawanya."
Sesaat kemudian Jing Tho segera minta diri, katanya.
"Hujin, biarlah kami berangkat lebih dulu, semoga Thian yang maha besar melindungi jiwa Koan kongcu ..."
Gwat hoa Hujin manggut manggut, ujarnya.
"Harapannya terlalu kecil, kalau kalian berhasil menemukan jenazahnya bawalah keatas dan kebumikan disini, kalau tidak berhasil lekaslah susul kami disebelah selatan, Yu hu pasti menuju ke Ni hay di Tian lam, kampung halaman ayahnya..."
Jing Tho manggut manggut.
Begitulah beberapa rombongan segera berpencar melaksanakan tugas masing masing.
Dijalan raya yang menembus ke propinsi Hun lam, tampak di kejauhan sana bayangan orang yang mengendarai empat tunggangan.
Gwat hoa Hujin menunggang seekor kuda hitam tinggi besar berada paling depan, Jip hoat berada di tengah, Tay Su berada di belakang, tunggangannya terakhir ternyata adalah unta sakti tunggangan Koan San gwat, tampak patung mas kaki tunggal terselip di punggung unta.
Unta sakti dan patung emas kaki tunggal adalah pertanda khas dari Bing tho ling cu, namun unta sakti masih ada sementara majikannya tidak kelihatan jejakanya, sungguh sukar dimengerti, sepanjang jalan ini sudah menimbulkan perhatian dan rasa heran dan curiga bagi kaum persilatan.
Meski Gwat hoa Hujin tidak punya pengalaman kangouw namun pedang yang tersoren dipinggangnya begitu menyolok, walau usianya rada lanjut namun sikap dan perbawanya amat agung dan kereng, para pengikutnya sama gagah dan bersemangat, terutama unta sakti yang mengintil di belakang mereka.
Maka orang orang persilatan yang tidak tahu asal usul mereka, sama tidak berani mengganggu sepanjang jalan ini mereka jadi aman dan tentram tanpa mendapat gangguan sedikitpun juga.
Setengah bulan kemudian, mereka sudah mulai memasuki daerah Hun lam, keadaan sini jauh berbeda.
Setelah mereka melewati kota Ih ping, didapatinya serombongan orang yana tidak dikenal juntrungannya mengintil rada jauh di belakang mereka, malah ada beberapa rombongan orang berkuda sama mencongklang pesat tunggangannya lewat kearah depan.
Rombongan itu kebanyakan terdiri kakek tua, tapi terdapat juga beberapa perempuan dan dara cilik berusia tiga empat belasan.
Akan tetapi dalam pandangan Gwat hoa Hujin mereka lama adalah tokoh tokoh kosen yang memiliki kepandaian silat dan lwekang yang amat tinggi, mau tidak mau ia mulai meningkatkan kewaspadaannya.
Rombongan terahir yang melampaui mereka terdapat pula seorang perempuan pertengahan umur, kata Gwat hoa Hujin dengan muka berubah "Aku parcaya disebelah depan kita bakal menghadapi kesulitan!"
"Darimana Hujin bisa tahu?"
Tanya Jip Hoat.
"Hari ini sudah beberapa rombongan melampaui kita kelihatannya mereka bukan kaum lemah dan lagi sikapnya amat memperhatikan tindak tanduk kita, terutama perempuan dalam rombongan terakhir ini, jelas kelihatan memiliki kepandaian yang jauh lebih matang dari orang orang yang lain. Kalau dugaanku tidak meleset, mereka tentu satu komplotan. Perempuan pertengahan umur tadi pasti pentolan mereka, rombongan rombongan itupun sedang menunggu kedatangannya untuk menerima perintah baru turun tangan."
"Selamanya kita sendiri tidak punya pertikaian dengan para sahabat kangouw, untuk apa mereka mencari kesulitan kita."
"Sepak terjang kaum persilatan biasanya memang serba aneh dan sulit diselami, maka sejak dulu aku tidak sudi berkeliaran dilur. Waktu bicara dilihatnya jauh disebelah depan terdapat sebidang hutan palawija, didepan hutan terdapat sebuah tanah lapang yang kosong. Terlihat beberapa kuda tertambat di batang pohon, ditengah lapang berkerumun beberapa puluh orang. Perempuan penengahan yang lewat terakhir tampak berada ditengah tengah mejeka agakanya seperti sedang merundingkan apa apa, begitu Gwat hoa Hujin bertiga mendatangi semakin dekat, serempak mereka berpencar keempat penjuru, seolah olah sengaja hendak mencegat jalan.
"Bagaimana, tepat bukan ucapanku?"
Ujar Goat hoa lirih. Dasar suka usil segera Jip hoat keprak kudanya memburu kedepan, seraya berteriak.
"Minggir! Minggir jangan menghadang ditengah jalan!! Kuda tunggangannya terus menerjang ke tengah rombongan orang yang berdiri jajar ditengah jalan. Diantara rombongan orang banyak segera tempil dara cilik, dengan gerak yang amat lincah dan tangkas langsung ia memapak maju sambil ulur tangan meraih tali kekang kuda Jip hoat, serunya .
"Turunlah! Ada urusan yang perlu kita tanyakan kepada kalian!"
Kuda yang dibedal kencang sekali kena diraih dan ditarik oleh dara cilik itu seketika berhenti dan tidak mampu laju kedepan, karuan ia besrseru panjang dan berdiri dengan kaki belakangnya, hampir saja Jip hoat terjengkang.
Keruan ia menjadi gusar, kontan pecut pecut ditangannya disabetkan kearah dara cilik itu semenjara mulutnya memaki.
"Setan! Cari mampus kau!"
Namun gerak gerik dara cilik ini amat gesit, cukup memikirkan kepala ia berhasil meluputkan diri terus menerobos lewat dari bawah perut kuda, sudah tentu lecutan pecut Jip Hoat mengenai tempat kosong, gagang pecutnya menggares luka leher kuda tunggang nya sendiri.
Mulut kesakitan kena dicekam tali kekangnya oleh dara cilik, kini tergores luka pula, karuan kuda itu kesakitan dan berjingkrak liar, kaki belakangnya segera mencak mencak dan melompat lompat tinggi, keruan Jip Hoat yang tidak menduga tersuruk kedepan dan terbanting jatuh, untuk ilmu silatnya cukup tinggi ditengah udara ia jumpalitan mengendalikan tubuh terus hinggap berdiri tanpa kurang satu apapun.
Waktu itu ia berhasil berdiri tegak, dilihatnya dara cilik itu sedang menerobos lewat dari perut kuda sebelah sana sambil tertawa cengar cengir, cukup kedua jarinya menjawil dipinggir setelinganya, kontan kuda itu bertekuk lutut dan tidak mampu bergerak lagi.
Sambil tertawa menggoda dara cilik itu membuang pecut yang berhasil di rampasnya serta berkata "Tabiat kudamu ini terlalu jelek, jangan kau naik kuda macam ini lagi, carilah tunggangan yang lain saja."
Dari cara dara cilik ini menundukkan kuda dapatlah dinilai bahwa bekal kepandaian nya cukup hebat, Jip hoat juga tahu bahwa orang memang sengaja hendak menahan dan mempersulit dirinya, karena sekian banyak orang yang hadir itu cuma tersenyum malahan ada yang bersorak dan bertepuk tangan memberi pujian.
Dalam pada itu Gwat hoa Hujin bersama Tay Su telah semakin dekat, dan ditempat yang cukup jauh mereka menghentikan tunggangan, tanpa memberi reaksi akan apa yang telah terjadi.
Tahu Gwat hoa Huj in tidak mencegah dirinya membuat keributan, tambah besar nyali Jip hoat, dengan muka membesi dan tanpa bersuara "Sreng"
Segera dia cabut pedangnya dari bawah perut kudanya, sambil menuding dara cilik itu dia membentak "Setan kecil! Kenapa kau melukai kuda tungganganku?"
Dara cilik itu tertawa cekikikan, ujarnya?
"Bukankah sudah kukatakan tabiat kudamu terlalu liar, untung aku pernah belajar cara menundukkan kuda liar, sehingga tidak kena cidera olehnya, kau sendiri untung tidak sampai terbanting jatuh, kenapa kau kelihatan malah begitu sayang terhadap kuda bawel ini?
Biar nanti kuganti seekor kuda lain."
"Baik, kau gantilah, kau tahu berapa harga kudaku ini?"
"Kudamu ini bukan kuda tunggangan, paling paling dagingnya yang gemuk dapat di potong dan dijual diwarung arak, sepuluh kali seharga lima sen, paling paling kudamu ini cuma seharga dua tiga tail perak..."
"Kentutmu busuk! Kau tahu aku membelinya seharga seribu tail perak ...."
"E, eh, kau jangan pura pura menjadi hartawan meninggikan nilai kudamu, termasuk dirimu sendiri, belum sampai seharga seribu tail."
Memang Jip hoat sedang menunggu alasan untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, lekas ia kiblatkan pedangnya diatas kepala orang serta semprotnya gusar "Setan kecil, berani kau melukai perasaan orang!"
Dara itu mengkeretkan kepalanya, agak nya seperti takut terhadap tajam pedangnya, setelah mundur rada jauh baru dia berteriak "Aduh! Perampok kuntilanak! Kau hendak main kekerasan membunuh orang ..."
Bahwa nya gerak caranya menghindar dari samberan pedang Jip Hoat amat tangkas dan lincah sekali, tidak mungkin pedang Jip Hoat dapat mengenai dirinya.
Jip Hoat menyengir dingin, dimana sinar pedangnya terangkat dan berputar sekaligus ia bungkus bayangan dara itu didalam lingkaran sinar pedangnya serunya .
"Jangan kau lari, kalau tidak kau ganti seribu tail perak, biarlah jiwamu sebaga penebus hutangmu!"
Dara itu berbelit kekanan dan menghindar kekiri, meski ia sudah bergerak dengan setangkas dan segesit mungkin, namun tidak kuasa membebaskan diri dari ancaman ujung pedang lawan, terpaksa akhirnya ia menghentikan langkah kakinya, dan berdiri tegak lalu papakkan dadanya sendiri keujung pedang lawan, katanya sambil menubruk maju.
"Kau bunuh akupun tidak akan mampu mengganti seribu tail uang perak, silahkan kau cabut nyawaku sebagai penebus kudamu!"
Untunglah sebelum urusan menjadi ke telanjur, keburu Gwat hoa Hujin dan perempuan pertengahan sama berteriak memanggil.
Jip Hoat dan dara kecil itu mundur menghentikan pertempuran.
Berbareng dengan itu mereka berduapun melayang maju ketengah kalangan.
Kini jadi Goat hoa Hujin dan perempuan pertengahan umur itu yang saling berhadapan dalam jarak setumbak lebih, usia Gwat hoa Hujin lebih tua namun sikapnya agung dan berwibawa berwajah halus lagi, segera perempuan pertengahan sedikit menekuk lutut membri hormat serta menyapa lebih dulu ."
Harap tanya Hujin ..."
"Aku bernama Liu Ciu kiok!"
Sahut Gwat hoa Hujin tawar.
"Aku yang rendah Li Sek hong,"
Perempuan pertengahan umur memperkenalkan diri. Sedikitpun Gwat hoa Hujin tidak mengunjuk reaksi apa apa, malah tanyanya! "Kalian sengaja mencegat jalan dan mencari gara gara, apa maksudnya?"
Li Sek hong berkata pelan pelan "Pernah apa Toaci itu dengan Hujin? Apakah ilmu pedangnya ajaran Hujin sendiri?"
Sembari bertanya tangannya menuding Jip Hoat.
"Dia adalah pelayanku, ilmu bedangnya memang ajaranku"
Sedikit berubah air muka Li Sek hong mulutnya kemak kemik lalu bertanya pula "Lalu apa sangkut paut Hujin dengan Cia Ling im?"
"Siapa Cia Ling im itu? Aku tidak kenal dia! Belum pernah kudengar namanya."
Tercengang Li Sek hong dibutnya, katanya ragu ragu "Gerak gerik permainan pedang toaci tadi adalah salah satu jurus dari Siu lo it sek, kecuali Cia Ling im tiada orang kedua yang mampu memainkannya, adalah mustahil bahwa Hujin berkata tidak kenal dengan Cia Ling im."
"Tidak kenal ya tidak kenal, memangnya aku ngapusi kau. Bicara soal ilmu pedang tadi, aku jadi ingin tahu orang macam apakah sebenarnya Cia Ling im itu?"
"Dia seorang laknat yang jahat ..."
"Peduli dia jahat atau baik yang kutanya dia laki laki atau perempuan?"
"Cia Ling im adalah seorang laki laki, ini dia berada di Ngo tai san mendirikan Thian mo kau ..."
"Seorang laki laki busuk, perlu apa kau mencari dia. Ingin aku tahu apa maksud kalian mencegat jalan kami?"
Segera Li Sek hong menuding unta sakti dan berkata "Unta itu cara bagaimana bisa terjatuh ketangan Hujin, dimana pula majikan nya?"
"Untuk apa kau menanyakan hal itu?"
"Kami beramai ramai sedang mencarinya kekuatan Thian mo kau sedang berkembang dengan pesat, hanya Koan San gwat sedang yang mampu mengatasinya ..."
Gwat hoa Hujin jadi tersirap darahnya, serunya "Adakah Koan San gwat punya kemampuan begitu besar?"
"Sudah tentu, Bing tho ling cu menggetarkan seluruh jagat, dimana ia tiba memberantas kejahatan melenyapkan kesesalan bila Hujin tahu jejakanya, harap suka segera memberitahu ..."
"Aku sendiri juga tidak tahu kemana dia pergi ..."
"Bohong"
Sentak Li Sek hong dengan muka beringas.
"Bing tho ling cu selamanya tidak pernah meninggalkan tunggangannya, kini unta dan senjata tunggalnya berada di tangan kalian, mustahil kalian tidak tahu jejakanya ... apakah Kalian sudah mencelakai jiwanya?"
Belum lagi Gwat hoa Hujin menyahut, Jip Hoat sudah menyela bicara.
"Kaulah yang membual, Koan kongcu adalah putra Hujin kami, mana bisa kami membuatnya celaka malah ..."
Kata katanya ini seketika membuat Li Sek hong serta orang orang dibelakang mengunjuk rasa sangsi dan keheranan setengah tidak percaya. Terpaksa Gwat hoa Hujin menegaskan sambil menghela napas.
"Koan San gwat adalah memang putraku!"
Sikapnya Li Sek hong segera berubah ramah, cepat ia menjura serta berkata "Kami yang rendah tidak tahu bahwa Hujin adalah ibunda Koan kongcu, soalnya Koan kongcu sendiri belum pernah menyinggung hal ini ..."
Baca Juga: Mutiara Hitam 7
Baca Juga: Pendekar Buta 1