Eps 5 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH
Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.
"Setelah jemu menjelajah seluruh Tionggoan, tujuanpun tidak tercapai, guru makin berputus asa, malah beliau menerima aku menjadi murid, beliau ajarkan semua kepandaiannya kepadaku tanpa ketinggalan sedikitpun, mungkin beliau ada maksud mengirim aku sebagai wakil dalam pertemuan besar kali ini, senentara beliau sendiri berkeputusan menghabisi jiwa sendiri untuk menyatakan terima kasih kepada Sian cu berdua, entah bagaimana guru akhirnya sadar dan membatalkan niatnya itu..."
Dengan rasa lega Li Sek hong berkata.
"Untung akhirnya dia sadar, kalau tidak berapa besar rasa benciku terhadap diriku sendiri, entah bagaimana setelah tujuh belas tahun ini baru dia berhasil membuka ikatan mematikan yang mengganjel sanubarinya itu..."
Sampai disiini mendadak dari luar ada orang menyambung "Karena Lolap turur campur, jauh ribuan li membawa surat darah Hiang ting Sian cu kepadanya, surat itulah yang menyadarkan kepalanya yang sekeras batu itu."
Seiring dengan suaranya Go hay hang yang gundul pelontos berjalan masuk.
"Hweshlo tua! "Liu Ih yu menghardik.
"Tempat apa ini? Kenapa kau terobosan masuk kemari?"
Go hay ciheng menyengir, ujarnya .
"Liong hwa hwe sudah berantakan, daerah terlarang bagai Thian gwat thian sudah tidak berlaku lagi."
"Bukankah kau minta waktu dua jam baru datang? "
Liu Ih yu.
"Lolap tidak ingkar janji, tampak sang surya doyong kesebelah barat, pembicaraan yang panjang lebar tanpa terasa sudah menghabiskan waktu dua jam lebih."
Liu Ih yu mengunjuk rasa malu dan jengah, gugup lagi. Go hay ci hang tertawa, godanya .
"Sian cu tidak usah gelisah, kutanggung urasan ini bakal beres..."
Bertaut alis Lin Ih yu, semprotnya .
"Ada urusan apa yang aku harus minta bantuanmu?"
"Sudah tentu kenapa harus tanya, hati Sian cu sendiri sudah paham, urusan ini tidak boleh terburu napsu, pertemuan Koan Siheng jangan dibanding keadaan Ui ho dulu, harus di lakukan setapak demi setapak, meleset sedikit bakal menyesal seumur hidup...."
Gusar Lin Ih yu, dibuatnya baru saja ia hendak mengumbar adat, cepat Go hay cihang maju kesampingnya, berbisik bisik dipinggir kupingnya, pelan Pelan Lin Ih yu sabar kembali katanya terlongo.
"Apa benar! lalu bagaimana aku baikanya?"
"Pelan pelan! pelan! pelan kalau air tiba bendunganpun jadi, kalau lolap sudah berani bertanggung jawab, Sian cu pasti tidak akan kecewa, kini serahkan Koan siheng selama dua hari ini......"
Lin Ih yu melengak, katanya .
"Satu dua hari, kenapa begitu lama?"
"Kalau Sian cu sudah pernah melihat sabar peninggalan Lim siancu, seharusnya ku tahu tempo dan hari ini bahwasanya terlalu cepat batasnya...."
Lin Ih yu tidak banyak bicara lagi, tapi Koan San gwat sendiri yang dibuat keheranan. Go hay tertawa nyengir, katanya "Koan siheng, urusan jangan terlambat, mari ikut Lolap pergi!"
Koan San gwat sangsi, lekas Go hay menambahkan "Kalau Si heng tidak lekas berangkat, semua rencana yang aku atur diluar gunung itu bakal kocar kacir semua, agakanya Siheng terlalu rendah menilai persoalan ini beberapa orang itu mana bisa menunaikan tugas berat ini.
Seandainya mereka bentrok dengan gerombobrolan Cia Ling im...."
Berubah air muka Koan San gwat, cepat ia berseru "Ya benar Lo siansu mari lekas berangkat!"
Li Sek hong melengak, tanyanya tidak mengerti "Koan siheng mengatur rencana apa di luar gunung?"
"Kedatangan Koan siheng sudah bertekad gugur bersama, disekirar Bu san sudah tersebar kawan kawannya yang berani mati, bila pada mereka akan melakukan sergapan dengan nekad...."
Merah muka Koan San gwat, katanya .
"Lo siansu, jangan kelakar, waktu itu aku masih buta terhadap seluk beluk Liong hwa hwe maka timbul angan anganku yaag bodoh itu kini kita harus cepat keluar!"
Baru sekarang Go hay bicara sungguh sungguh .
"Ada sebuah jalan rahasia dibelakang gunng, lewat jalan itu bisa menghemat banyak waktu suruh budak kecil ini menunjukkan jalan!"
Ling koh memicingkan mata, godanya "Hweshio tua, kelihatannya kau amat jelas sekali mengenai segala sesuatu Thian gwat thian!"
Go hay ci hang pelototkan matanya, sentakanya pura pura marah .
"Hus! genduk cilik! jangan mentang mentang, awas, akan kubeber caramu mencuri daging anjing tempo hari,"
Seraya menyabitkan kedua kuncir ramburnya cepat ia menerobos keluar lebih dulu. Liu In yu tertegun, ujarnya "Agakanya Ling koh banyak mengelabui aku!"
"Somoy,"
Ujar Li Sek hong.
"Kita betul betul orang paling bodoh, Toa suci dan Cia Ling im sama sama mengelabui kita."
"Sian cu berdua tidak usah banyak curiga,"
Demikian ujar Go hay.
"Ada kalanya mengelabui atau ngapusi seseoang itu ada manfaatnya, sekarang Lolap tidak sempat beri keterangan, nanti setelah mengatur beres orang orang disebelah bawah harap kalian berdua suka mencapaikan diri, bila datang waktunya Lolap dan Koan siheng akan menyelesaikan seluruh urusan ini...."
Lalu sambil menyeret Koan San gwat ia mendahului melangkah keluar, langkah kakinya laksana terbang, sekejap saja sudah menghilang diluar pintu.
Koan San gwat diam saja diseret Hweshio tua ini maju kedepan menerjang gumpalan mega, tampak Ling koh sedang duduk di atas batu yang diselimuti awan mengembang menunggu mereka, begitu mereka mendekat cepat sekali dia melompat kebalik batu sebelah sana terus terjun didalam lautan mega yang tebal.
Go hay menggandeng Koan San gwat ikut melompat batu besar itu, telinganya merasa angin menderu keras, tubuhnya meluncur turun semakin pesat, cepat ia mengempos hawa meringankan tubuh, sehingga daya luncur tubuhnya menjadi enteng dan lambat.
Maka terdengar Go hay ci hang berkata tertawa .
"Tidak usah gugup ada setan cerdik itu menyambut kedatangan kita, terbanting ke bawah pun tidak akan luka!"
Tengah mereka berbicara tiba tiba dirasakan kakinya tergetar seperti menyentuh suatu benda yang lunak, kiranya itulah sebuah jalan besar yang terbuat dari tali rotan begitu mereka masuk jala rotan, jala yang besar itut lantas bergerak kesamping dan meluncur cepat menembus lautan mega, tak lama kemudian pandangan menjadi terang benderang.
Ternyata, mereka sudah berada dibawah gunung.
-oo0dw0oo-
Jilid 14 TAMPAK CIONG LAM Ciangbunjin Lu Bu wi dan Lau Sam thay sedang berdiri di kejauhan dengan terlonjong.
Tidak jauh disebelah kanan Ling koh berdiri dengin cengar cengir bangga.
Disebelah kiri terlihat pula Thian ki mo kun Ki Kouw dan It ping ketua dari Sip coa ya kun sirasul Ungu sedang bertempur sengit melawan Ban li bu in dan It lun bing gwat.
Serangan Ki Houw amat culas, kepandaiannya memang hebat, dengan satu melawan dua ia masih bermain dengan santai malah balas mendesak lawan hingga kerepotan seperti badut melucu belaka.
begitu Go hay ci hai g muncul Ban li se gera berteriak .
"Hweshio tua! Kau terlambat datang sedetik lagi, kami berdua sudah tidak kuat bertahan lagi!"
"Genduk cilik!"
Ujar Go hay ci hang ke pada Ling koh "Harap kau melelahkan diri menggebah pergi cecunguk iblis ini!"
Ling koh mengiakan terus tampil kedepan.
Agaknya Ki houw tahu kelihayannya, seraya bersuit ia bawa si Rasul Ungu lari terbirit birit.
Lekas Lu Bu wi maju memapak serta bersoja kepada Koan San gwat, katanya.
"Ling cu! Losiu ..."
"Sudah jangan cerewet lagi !"
Tukas Ban li bu in sambil terngangah.
"Lekas tarik mundur semua anak buahmu serta bongkar semua bahan peledak yang kalian pendam, kalau terlambat kita hancur lebur!"
Lu Bu wi menjadi sangsi, lekas Koan San gwat menimbrung"
Silahkan Ciangbunjin keluarkan perintah, duduk perkaranya nanti kujelaskan lebih lanjut"
"Ya lebih cepat lebih baik.
"sela Go hay.
"Meski Lolap sudah minta bantuan orang untuk merintangi segala sepak terjang para iblis itu, tapi kalau Ciangbunjin atau bentrok dengan bala bantuanku ini ..."
Terpaksa Lu Bu wi membawa Lau Sam thay. Kata Ban li bu in kepada Koan San gwat.
"Anak muda tidak kuduga kau mengatur sedemikian rapihnya. Untung Hweshio tua mengetahui segala rencanamu ini, kalau tidak kita bakal terkubur diatas gunung. Cara bagaimana kau gunakan cara yang buntu begini!"
Merah muka Koan San gwat, sahutnya "Sebelum aku naik keatas gunung, aku belum paham benar akan seluk beluk Liong hwa hwe karena kupapari banyak anggota dari Liong hwa hwe berdiri para gembong gembong iblis, buaya darat serta gembong gembong penjahat lainnya ..."
"Kau sendiripun diatas gunung, apa kau tidak takut terkubur bersama mereka? "
Senggak Ban li bu in.
"Kita dapat memberantas kejahatan bagi umat manusia, tidak perlu saya adu jiwa sendiri. Soalnya kalian tokoh tokoh silat lihay dan berkepandaian tinggi, hanya jalan yang kutempuh inilah satu satunya cara untuk memberantas gembong gembong iblis itu ..."
Demikian ujar Koan San gwat dengan sikap kereng. Go hay ci hang tertawa, karanya .
"Sekarang silahkan buang panah peledak tanda bahaya yang kau simpan dalam lengan bajumu, meski rencana kerjamu amar rahasia, namun mana bisa mengelabui anak buah Thian ki mo kun, untuk Lolap mendapat bisikan, kalau dedak bahan peledak yang kau sebar diempat penjuru itu, terbalik akan mereka gunakan untuk menjebak kita, orang gagah yang tinggal diatas gunung bakal ajal semua, seluruh jagat akan dikuasai gembong gembong iblis yang bersimaharaja!"
Merah padam muka Koan San gwat, mulutnya terkancing rapat.
"Koan kongcu!"
Ling koh menimbrung.
"Gurumupun mungkin berada diatas gunug apa kau tidak kuatir beliau ikut menjadi korban dari ledakan hebat itu?"
"Berdasar pengertianku semula terhadap Liong hwa hwe, sebagai organisasi sesat, maka aku siap melaksanakan rencana aku itu dengan segala tekad dan resiko."
"Tidak sudah Siheng terangkan lagi,"
Ujar Go hay.
"Maksud baikmu memang harus dipuji. Kalau Liong hwa hwe seperti dugaan mu, sekali meledak seluruhnya bakal hancur lebur, dunia selanjutnya bakal aman tentram dan sentosa, meski yang tidak berdosa ikut cidera umpamanya juga setimpal!"
"Agaknya Losiansu dapat menyelan sanubariku!"
Ujar Koan San gwat bersoja.
"Tekadmu memang baik, cuma caramu yang kurang dapat dihangai, malah terlalu berbahaya, dan lagi kau mengerahkan tenaga begitu banyak sehingga menyolok mata dan membocorkan rahasia. Begitu kau tiba diatas gunung Ki Houw sudan membekuk seluruh anak buahmu yang kau pendam itu, malah menggunakan bahan peledak yang sudah tersedia itu berbalik hendak menghadapi kita beramai.."
Sungguh sesal dan gegetun lagi Koan San gwat d buatnya, katanya "Wanpwe harus mengakui kesalahan ini, untung Losiansu cukup cermat dan bisa bertindak cepat lagi, sehingga kesalahan besar ini bisa terhindar ..."
"Urusan tidak perlu diperbincangkan lagi, masih ada tugas lain yang lebih penting, kawan kawan tua harap naik kegunung tunggu disana sementara waktu, harap sampaikan pula pada sahabat lainnya supaya melegakan hati, tiga hari lagi bila Cia Ling im meluruk datang Lolap sudah punya cara mengatasi mereka!"
Sekias Ban li dan It lun saling pandang dengan bimbang, namun tanpa bicara mereka terus putar tubuh tinggal pergi.
Sementara sambil berdiri menjublek hati Koan San gwat dirundung berbagai pertanyaan yang tidak habis dimengerti.
"entah apa pula yang hendak dilakukan oleh Hweshio tua yang serba misterius ini!"
Sikap Ling koh serius, cepat ia putar tubuh jalan depan dengan rasa heran Koan San gwat mengintil dibelakang, kira kira satu li kemudian tibalah mereka dipinggir sungai Tiang kang, dari semak alang alang Ling koh menyeret sebuah sampan kecil terus lompat ke atasnya pegang dayung sudah siap untuk berangkat, segera Go hay merangkap tangan bersoja bersabda .
"Siheng silahkan naik kesampan, dua hari lagi Lolap akan tunggu kedatanganmu ditempat ini pula!"
"Losiansu!"
Tanya Koan San gwat bingung.
"Kau tidak ikut? "
"Lolap tiada jodoh! Disebelah depan tentu ada orang menyambut kedatanganmu, Si heng memikul tugas berat, kuharap kau dapat menjag diri."
Dengan bingung dan heran Koan San gwat melompat keatas sampan, cepat Ling koh kerjakan dayungnya, sanpan kecil itu laju dengan pesatnya menerjang gelombang sungai Tiang kang yang besar.
Koan San gwat bertanya .
"Adik cilik, apa yang terjadi, kemana pula kami hendak pegi? "
Ling oh tertawa cekikikan sambil mengerjakan dayung nya lebih cepat lagi tanpa suara kira kira satu jam kemudian, magrib sudah menjelang, mendadak Ling koh membelokan sampannya kearah tepi, sekilas pandangan daerah ini semak belukar melulu, daun welingi tumbuh subur setinggi manusia, menutupi sebuah jalan kecil yang berliku liku.
Sampai disini tiba tiba Ling koh menjura dengan laku hormat katanya "Hamba hanya bisa menngantar sampai disini, silahkan Kongcu maju lebih lanjut lewat jalan kecil ini didepan akan kau temukan sesuatu.
Dua hari lagi hamba akan manunggu ditempat ini menyambut Kongcu!
Selamat bertemu!"
Lalu ia putar haluan sekejap saja sampan sudah menghilang dibawa arus sungai yang deras.
Seorang diri Koan San gwat terlongong dipinggir sungai yang sunyi senyap, sekian lama ia bingung dan hambar, sebab pengalaman hidupnya semakin lama semakin aneh dan sulit dipercaya, dengan segala jerih payah akhir nya ia membongkar seluk beluk Liong hwa hwe yang serba misterius itu, kini dia dipermainkan oleh Hwesio tua yang serba misterius, Ling koh yang nakal dan pintar itu membawanya ketempat yang asing dan semak belukar begitu, mulailah ia memasuki suatu persoalan yang serba rahasia lagi.
Tempat apakah ini!
Siapa yang menetap ditempat terasing ini?
Sudah tentu sia sia pertanyaan ini, karena tiada orang yang memberi jawaban.
Ada satu kepastian yang tidak bisa d bantah lagi, yairu tiga hari yang akan datang Siu lo cun sia Cia Ling im bakal meluruk datang beserta seluruh begundalnya untuk merebut kekuatan yang sudah ludes di puncak Sin li hong, kedatangannya itu laksana airbah yang sangat sulit dibendung, dan agaknya tiada seorangpun yang nampu mengendalikan serbuan besar ini.
Go hay ci hang bilang punya pegangan yang cukup diandalkan, kepercayaan ini tergantung pada diriku, akulah yang bakal dijadikan tameng atau bendungan untuk menahan arus besar itu.
"Dapatkah kekuatanku menahan serbuan Cia ling im ing itu? "
Sudah tentu tidak mungkin.
Pertempuran didepan gunung Gi hi thia hit Cia Ling im tidak pandang diriku sebelah matanya, memandang rendah itulah cacat yang terbesar sehingga dia kukelabuhi.
Bila bentrok lagi untuk kedua kalinya tentu sulit memperoleh kesempatan sebaik itu.
Sudah tentu Go hay ci hang juga maklum akan hal ini, namun ia masih meletakan harapan satu satunya pada dirinya, malah sekarang dirinya diantar ketempat ini, seperti dia tahu dirinya bakal menemukan sesuatu yang berhanga disini.
Pertemuan macam apakah?
"Siapapun tidak akan mungkin, dalan jangka tiga hari menggembleng diriku berlipat ganda, mencapai setingkat atau unggul dari Ci Ling im."
Meski hatinya diiundung berbagai pertanyaan yang sulit dijawab, namun kakinya tidak berhenti melangkah, menyusuri jalan kecil yang sudah belukar itu ia terus maju kedepan menyibak pohon yang tumbuh subur.
Jalan kecil ini benar benar sudah belukar, agaknya hutan ini sudah lama tidak diinjak manusia, beberapa kali ia kesasar, keadan memang seperti sebuah jalanan, namun setelah diselusuri baru dia tahu jalan itu menuju ke lubang binatang kecil, seperti kelnci atau musang yang kaget dan lari seraburan menyembunyikan diri.
Terpaksa ia kembali ketempat semula mulai lagi mencari jalan yang tepat.
Malah setelah pulang pergi bolak balik ia menyadari akan kesalahannya, sebab setiap kali ia menuju kejalanan yang salah dihadapinya lantas dihadang gumpnlan kabut tebal dan tidak mungkin maju lebih lanjut.
Lambat laun ia baru menyadari bahwa semak belukar yang dihadapi ini bukan semak belukar biasa, jelas didalam semak belukar ini diatur semacam barisan yang dapat menyesatkan padangan orang.
Diantara sekian banyak jalan jalan itu hanya satu yang benar, jalan lurus yang benar ini baru ia dapat melepas pandangannya yang terang benderang dan melalui jalan lurus yang benar ini pula dia bisa tiba disatu tempat.
Karena ia menginsafi akan kelihayan barisan itu, maka setiap kali ia masuk kejalan sesat dan sebelum terlanjut lekas mundur balik ketempat semula sehingga ia tidak terjebak dan mati kutu ditengah barisan.
Setelah mengalami kesalahan langkah berulang kali, lama kelamaan tersimpul oleh Koan San gwat cara pemecahannya, teraba olehnya sebuah jalan yang tepat untuk mengatasi segala kesesatan itu.
Setiap kali ia menghadapi jalan sesat yang membingungkan, setiap kali kepala ia memutar dan menyelusuri jalan sebelan pinggir kanan dan itulah jalan lurus yang benar, begitulah jalan punya jalan ia tidak terpengaruh lagi akan keajaiban barisan yang menyesatkan itu, akhirnya dengan leluasa ia menyelusuri jalanan yang dia harus tempuh.
Entah berapa lama ia menghabiskan waktu, di ufuk timur sudah menunjukkan setitik sinar terang, air embun sudah membasah kuyup seluruh pakaiannya, baru dia lolos dari semak belukar yang menyesatkan itu dan berdiri di atas sebuah lereng bukit yang rendah.
Selayang pandang menjelajah, seketika ia terbelalak, dan berjingkrak kaget, napaspun seperti sulit ditarik.
Dari cahaya pagi yang menerangi jalan raya ini, dikejauhan sana ia melihat tempat di mana kemarin petang mendarat, jarak dengan tempatnya berdiri ini cuma satu li lebih, damparan ombak disungai terdengar jelas olehnya.
Jadi semalam suntuk aku menggerayangi dalam semak belukar ini tidak lebih hanya tiga empat bau saja.
Semak belukar sekecil ini menghabiskan waktu semalam suntuk, naga naganya orang yang menciptakan barisan ini amat lihay, sungguh tidak bisa diukur betapa hebat daya ciptanya.
Untung secara serampangan aku bisa menembus barisan yang menyesatkan itu.
Setelah terlongong sejenak, ia melanjutkan kesebelah depan.
Pandangan didepan berganti rupa dan bentuknya pula.
Kelompok demi kelompok tanaman kembang seruni sedang mekar semerbak dan subur sekali, beraneka warna lagi bulan sembilan memang musim kembang seruni mekar, pandangan didepan mata tidak perlu dibikin heran, dari deretan kelompok kembang kembang ttu mengalir air jernih dalam sebuah anak sungai yang bening, sepanjang sungai pohon itu berbaris meliuk dahan dengan lambaian daunnya yang lemah gemulai, melepas pandang kesebelah depan, di sana keadaan lebih menakjubkan.
Begitu takjub Koan San gwat menghadap keadaan didepan matanya sampai ia lupa diri dan mulutpun ternganga lebar, perasaan menjadi nyaman dan lega.
Entah berapa lama ia terlongong, akhir nya ia menghela napas, ujarnya "Tempat bagus!
Dan menetap ditempat seindah ini sungguh hidup laksana dewata!"
Sekonyong konyong didengarnya suara perempuan berkata "Angan angan bocah ini ternyata sama dengan kau!"
Lalu disambung oleh suara laki laki berkata.
"Keparat ini terlalu tebal diliputi hawa membunuh dan napsu asmara, tidak setimpal dia menetap ditempat macam ini."
Suara perempuan itu masih asing bagi pendengaran Koan San gwat, tapi suara laki laki itu membuat hatinya seperti terpukul godam, itulah suara gurunya yang berbudi, Tokko Bing yang selalu dikenangkannya.
Sambil berlinang air mata, suara Koan san gwat gemetar, teriaknya.
"Suhu ... dimanakah kau ..."
Percakapan mereka kedengarannya dekat, kemana Koan San gwat sudah mencari ubek ubekan tidak menemukan jejak atau bayangannya, saking gugup ia terus berlutut dan berseru sambil sesenggukan.
"Suhu Tecu kangen benar terhadap kau orang tua, mengapa tidak memberi kesempatan bagi Tecu untuk menghadap padamu? "
Cukup lama ia menangis, namun sekelilingnya masih sepi. Entah berapa lama kemudian akhirnya terdengar pula suara perempuan itu berkata.
"Sudah jangan kau permainkan dia, lihat betapa kasihannya!"
"Biarkan saja !"
Terdengar sahutan Tokko Bing.
"Bocah itu perlu diajar adat kalau tidak siapa kelak yang mampu mengendalikan dia."
"Kau tidak perlu banyak mulut? Perangaimu dulu lebih jelek dari dia, hanya selama dia dapat memecahkan Kiu gan toa mi tin, ini bukti bahwa dia lebih kuat dari kau. Dan lagi dia sudah letih semalaman, lahir dan batin sudah diperas habis habisan, kalau terlambat istirahat bila diserang penyakit tentu runyam akibatnya."
"Hiang ting kau selalu tergesa gesa, coba lihat hatimu masih kamaruk kerinduan duniawi halangan besar yang harus kita hadapi kuduga sulit ditembus!"
"Kalau memang sudah dekat tentu segera dapat kita hadapi, aku sendiri sudah jemu dan pasrah nasib saja. Seiring dengan perkataan ini, pandangan Koan San gwat seperti kabur, diatas batu dipinggir kali sebelah sana entah kapan tahu tahu duduk dua orang dengan angker nya yang perempuan cantik rupawan laksana bidadari, laki lakinya kereng dan gagah seperti ... Tersipu sipu Koan San gwat memburu maju menjatuhkan diri berlutut, serunya haru "Suhu ..."
Mendadak pandangaan mata menjadi gelap hampir saja ia jatuh semaput.
Cepat perampuan itu mengebaskan lengan baju nya mengangkat pundaknya, katanya tertawa "Nak, jangan hanyut oleh perasaan, tuntun hawa muri kedalam pusar ..."
Terasa oleh Koan San gwat kebasan lengan baju orang mengandung tenaga kuat yang menahan gejolak hawa dalam dadanya, cepat ia menggiring tenaga dari luar yang merembes masuk terus berputar sehaluan diseluruh badan, akhirnya kembali kedalam pusat, sekuat tenaga ia mengendalikan perasaan hatinya hingga tenang kembali.
Pelan pelan Tokko Bing berdiri, ujarnya "Hiang ting, kau tergesa gesa lagi lwekang harus dilatih secara tekun dan makan waktu, hasil yang diperoleh tanpa bekerja ini, hanya akan mencelakakan dia belaka."
"Banyak sekali persoalan yang harus kuminta bantuannya. Sudah kau tidak usah turut campur!"
Melihat guru sehat Walafiat tidak kurang suatu apa, gagah serta jauh lebih matang, sungguh hati Koan San gwat girang bukan main, baru saja ia hendak buka mulut, didengar nya Tokko Bing sudah membentak dengan ketus.
"Binatang! Lim sian cu sudah menganugrahi bekal kepadamu, masih kau melantur kemana lagi!"
Tercekat hati Koan San gwat, lekas ia hilangkan pikiran tetek bengek, memusatkan semangat serta menyalurkan hawa digabung dengan tenaga lunak yang merembes dari luar, kejap lain, terasa segulung hawa hangat menggulung gulung menyusup kesegala badan dan urat nadinya, perasaan hati pun terasa sangat segar dan sejuk, Tidak lama kemudian tiba tiba Tokko Bing mengulur sebelah tangannya mendorong lengan baju yang menempel di pundak Koan San gwat, katanya.
"Sudah cukup! Kalau di lanjutkan apa kau tidak suka hidup lagi!"
Perempuan itu menarik lengan bajunya, mukanya lesu seperti keletihan, katanya menghela apas pelan pelan .
"Kau memang suka ngaku sendiri? "
Dengan badan segar dan semangat bergairah lekas Koan San gwat menyembah kepada gurunya, sapanya.
"Suhu ... Tecu ..."
Dengan sikap kereng Tokko Bing berkata "Tak perlu banyak adat lagi, ucapkan terima kasih kepada Sian cu, untuk kau dia sudah mengeluarkan pengorbanan besar!"
Koan San gwat menggeser badannya menyembah pula kepada perempuan itu, lekas perempuan itu memapahnya bangun seraya berkata tertawa .
"Sudah, sudah! Lekas bangun, jangan kau hiraukan ucapan gurumu!"
Tapi Koan San gwat menyembah sekali baru bangkit berdiri, perempuan itu berkata tersenyum "Nak!
Kau lebih baik dari apa yang pernah kami bayangkan!
Mari duduk di sini, kukira kau sudah tahu siapa aku ini bukan ?"
Koan San gwat menyahut sambil soja .
"Tecu sudah dengar cerita Li siancu, kau adalah ..."
"Aku adalah Lim Hiang ting!"
Tukasnya perempuan itu tersenyum.
"Perkelahianmu melawan Cia Ling im benar benar mengagumkan ilmu sadar serta kepandaian otak sama bagusnya maka segera aku membantu ..."
Koan San gwat unjuk rasa bingung dan tak mengerti.
Lekas Lim Hiang ting menjelaskan tidak tahu.
Aku tahu Cia Ling im terlalu liar dan sulit ditunduk, mana mungkin aku bisa membiarkan Li sek hong menempuh bahaya!
Untuglah kesulitan itu dapat kau tanggulangi dengan baik sehingga kami tak perlu unjukan diri."
Baru sekarang Koan San gwat paham namun masih ada setitik persoalan yang belum dia ketahui.
yaitu bahwa bantuan Lim Hiang ting terhadap dirinya sendiri tadi kelihatannya dia begitu letih, malah menurut gurunya dia sudah berkorban besar bagi dirinya entah ...
Agaknya Tokko Bing cepat meraba jalan pikiranya ini, dengan sikep garang ia berkata "Lim Siancu menggunakan In giok sin kang, menyalurkan tenaga dalam yang dilatih selama dua puluh tahun kedalam tubuhmu ..."
Dengan rasa haru lekas Koan San gwat berkata .
"Terima kasih Sian cu, begitu baik kau menyempurnakan diriku ..."
"Ai, jangan sungkan, tindakanku ini ada maksudnya lho. Karena apa yang akan kuminta terhadap kau teramat banyak!"
Tokko Bing menggeleng kepala, ujarnya "Kau serahkan kepadanya saja, kenapa memberi imbalan dan kebaikan segala ..."
Koan San gwat berkata ."
Perintah apapun silakan Sian cu beritahu kepadaku, seumpama harus berkorban jiwapun Teccu akan melaksanakan dengan senang hati, kenapa harus mengorbankan tenaga sendiri ..."
"Ah, bagaimana, bocah keparat ini tidak mau terima kebaikanmu bukan!"
Sela Tokko Bing tertawa.
"Sekali kali Teccu tiada maksud demikian,"
Cepat Koan San gwat menambahkan. Lim Hiang ting mengulapkan tangan, katanya "Ui ho, jangan kau campur bicara, kau tahu untuk apa aku salurkan lwekangku kepadanya?"
"Bukankah karena Cia Ling im dan kamrat kamratnya? "
"Bukan! cara untuk menghadapi Siu lo, Lolo sudah memberi pesan khusus, tidak perlu aku sendiri yang merepotkan diri!"
"Lalu ada urusan lain apa lagi? "
"Demi Ih yu!"
"Apa! Soal itu lagi bukankah sudah betapapun tidak boleh..."
"Ui ho, aku mohon kepada kau, hanya inilah satu satunya permintaanku."
"Jangan kau mohon kepada aku,"
Ujar Tokko Bing sedih.
"Urusan ini aku tidak punya hak memutuskan, meski dia ialah muridku, tapi aku tidak bisa perintahkan dia atau memaksanya untuk menerima, karena ini ..."
"Aku hanya mohon supaya kau tidak turut campur dan menentang!"
Tokko Bing tenggelam dalam pikirannya, sesaat kemudian baru menjawab .
"Baik, aku tidak akan turut campur, tapi aku harap kau berpikir lebih cermat, jangan nanti kejadian menjadi ruwet dan tiada kesudahannya, bukankah menimbulkan keributan belaka!"
"Pernyataanmu sudah cukup. Aku bsa mencari kesempatan yang paling tepat untuk mengaturnya dengan sempurna dan rapi!"
Koan San gwat garuk garuk kepala keheranan, tanyanya .
"Ada tugas, silakan Sian cu perintahkan kepada Tecu? "
"Suatu tugas tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran."
"Asal Tecu mampu dan bisa melaksanakan, Tecu tidak akan bikin Sian cu kecewa!"
"Anak muda harus bicara hati hati, jangan tergesa gesa menerima permintaannya, lebih baik kau tanya dulu tugas apa yang harus kau lakukan !"
"Ui ho!"
Senggak Lim Hang ting gugup.
"Tadi kau sudah berjanji tidak akan turut campur."
"Baik! Aku tidak perduli lagi, coba kulihat cara bagaimana kau jelaskan kepada dia!"
Lim Hiang ting tertawa getir, katanya .
"Sebenarnya juga bukan tugas berat, hanya sebuah urusan pribadi, jangan karena urusan pribadi aku mengabaikan kepentingan umum, maka lebih baik dibicarakan kelak saja, sekarang kuajak kau menghadap Lolo!"
Tokko Bing manggut manggut. Dengan heran Koan San gwat bertanya .
"Siapakah Lolo?"
"Bukankah kau tahu seluk beluk mengenai persoalan kita?"
Tanya Lim Hiang ting.
"Lim siancu sudah bercetita kulitnya saja, tapi belum lengkap seluruhnya!"
"Ada persoalan apa pula yang hendak kau tanyakan? "
"Banyak persoalan, umpamanya kenapa Sian cu dai Suhu mengundurkan diri dari pertemuan besar itu? Cara bagaimana pula menyembunyikan diri ditempat ini? Untuk apa pula Go hay ci bang mengantar aku ketempat ini? "
"Banyak benar pertanyaanmu."
Ujar Lim Hiang ting tertawa.
"Setelah kau bertemu dengan Lolo, dengan sendirinya kau akan paham seluruhnya!"
Koan San gwat sudah membuka mulut hendak bertanya, Lim Hiang ting sudah bicara lebih lanjut.
"Lolo adalah penghuni atau majikan tempat ini, beliau adalah Sunioku (ibu guru)!"
Koan San gwat menjerit kaget, teriaknya.
"Beliau adalah Oen locian we ... masih hidup kah beliau?"
"Tidak salah! Agaknya Li Sek hong cu kup jelas menerangkan kepada kau."
"Li siancu tidak tahu bila Oen locianpwe masih hidup!"
"Benar, kecuali aku dan gurumu, tiada orang ketiga yang tahu perihal ini."
"Sungguh sulit dipercaya, bahwa Oen lo cianpwe ..."
Tokko Bing mengoreksi, katanya "Kau sebut Lolo saja, tidak perlu dengan istilah Cianpwe segala."
Koan San gwat mengiakan, katanya .
"Usia Lolo tentu sudah amat lanjut."
Lim Hiang ting menjawab .
"Lolo sudah seratus lebih, guruku terburu nafsu ingin menjadi dewa, akhirnya malah celaka dan berumur pendek, sebaliknya Lolo yang meninggalkan dunia keramaian, menggunakan kesadaran otak dan kebajikan sanubarinya, membina diri menempuh jalan suci menuju kesempurnaan jiwa."
"Apakah benar manusia bisa menjadi dewa? "
Tanya Koan San gwat bingung.
"Pertanyaan ini sulit kujawab. Kalau ku jawab benar, jelas aku menipu kau, kalau sebaliknya, padahal keadaan Lolo sekarang tak ubahnya seperti dalam kehidupan kedewaan."
"Jangan kau bikin otaknya butek,"
Timbrung Tokko Bing.
"Dewa hanya terdapat dalam dongeng, kehidupan manusia tak ubahnya seperti pelita, kalau minyaknya habis maka pelita itu pun makin guram dan akhirnya padam sendiri, semakin besar nyala api pelita minyak nya akan lebih cepat kering. Bahwa Lolo bisa hidup sampai lanjut melampaui orang biasa, karena beliau paham cara manusia mensucikan diri dan membina jiwa batinnya, sehingga minyak pelita itu tidak terhambur percuma, tapi cepat atau lambat akhirnya beliaupun akan meninggal jua!"
"Pendapat mu betapapun setingkat lebih unggul dari aku, jadi menutur uraianmu, berarti kedatangan kami menyembunyikan diri di sini adalah berkelebihan belaka, tiada artinya!"
Demikian ujar Lim Hiang ting tertawa.
"Juga bukan begitu saja arti dari ucapan ku, kehidupan itu masing masing mempunyai dasar dan haluan, selama kehidupan, manusia tentu mengejar kesempurnaan sendiri, ada kalanya seseorang hidup sambil meraba raba jalan yang harus ditempuhnya tapi tanpa hasil, terhitung beruntung, sebelum ajal kami menemukan suatu cara yang tepat meski penemuan ini agak terlambat, betapapun masih sempat digunakan untuk menikmati kehidupan abadi nan suci dan kebahagiaan nan murni!"
Begitu lenggang Koan San gwat mendengar uraian yang mendalam ini, sampai dia terlongong, mendadak Tokko Bing menarik muka, sentaknya "Melamun apa kau!
Setiap orang punya pengalaman hidup sendiri sendiri punya cara kehidupan masing masing, yang cocok bagi kami belum tentu cocok untuk kau!
Kehidupanmu harus kau tempuh dan aku cari dulu di Kangouw"
Berkatalah Koan San gwat setulus dan jujur hatinya .
"Suhu, Tecu berkelana belum terlalu lama, menghadapi kehidupan yang penuh nafsu dan angkara murka bunuh membunuh melulu sudah cukup jemu, bilamana Suhu mengijinkan, Tecu ingin ikut Suhu disini ..."
Tokko Bing mendengus, ujarnya "Ucapanmu belum setimpal dengan usiamu, masih terlalu pagi kau berkeputusan menentukan hidupmu, dua puluh tahun lagi, kalau kau masih punya pikiran yang sama, akan kusambut kedatanganmu ditempat ini, tatkala itu kita tidak terikat sebagai guru atau murid, anggap saja sebagai kawan seperjalanan dalam menempuh jalan suci itu."
Koan San gwat sudah membuka mulut, namun Lim Hiang ting mendahului berkata dengan halus "Nak!
Ucapan gurumu memang benar, pengalaman hidup seperti yang kami alami ini tidak akan bisa diselami oleh orang muda sebaya kau, baru setelah pertangahan umur kau akan mengerti makna yang sebenar nya.
Kin bila kau melepas pandang tentu merasa kehidupan disini teramat tenang dan tentram, rasanya tempat ini sesuai untuk menghabiskan waktu sampai hari tua, namun lama kelamaan kau akan merasa jemu dan kau tidak akan bisa menahan sabar lagi!"
"Aku tidak akan berpikir demikian!"
Sahut Koan San gwat. Tokko Bing dan Lim Hiang ting hanya tertawa tak bersuara lagi. Dalam keheningan terdengar suara Bokhi yang nyaring disebrang kali sana. Cepat Lim Hiang ting berkata .
"Tuh Lolo memanggil kami!"
"Ya, Lolo memberi peringatan, supaya kau tidak banyak bicara."
"Lekas turun kebawah, kalau terlambat bisa dimaki nanti!"
Demikian desak Lim Hiang ting.
Cepat sekali mereka sudah sampai di pinggir sungai, mereka melesat terbang seperti burung walet, Tokko Bing pun ikut melesat kedepan dengan entengnya, baru saja Koan San gwat bergerak hendak melihat perbuatan mereka di dengarnya Tokko Bing berkata dengan berteriak .
"Lewat jembatan, kau tidak mampu lompat kemari !"
Terlihat oleh Koan San gwat lebar sungai ini tidak lebih hanya satu setengah tombak, mengandal kekuatan dan kemampuannya sekarang pasti tidak akan terjadi apa apa.
Bukankah Lim Hiang ting dan gurunya seenaknya melompat kesebrang.
Maka ia kurang percaya akan peringatan Tokko Bing, cepat ia mengempos semangat dan menarik hawa, badan seenteng asap melambung kedepan, menurut tafsirannya sekali lompat sedikitnya mencapai lima enam tombak jauhnya, dikala badannya merorot turun dilihatnya dirinya sedang meluncur ditengah sungai.
Disaat tubuhnya hampir kecebur kedalam sungai itulah cepat dia menggentak kedua lengannya serta mengganti napas dua kali, sehingga tubuhnya melejit mumbul kembali satu tombak, sekuat tenaga ia berusaha meluncur kedepan pula, luncuran kedua ini mencapai dua tiga tombak lagi, namun dimana kakinya meluncur tempat berpijaknya masih merupakan sungai yang mengalirkan air bening.
Karuan kejutnya bukan kepalang, padahal hawa sudah tidak mungkin diempos, tenaga pun sudah ludes, tak mungkin melejit keatas lagi, terpaksa ia menggerakkan kepala, telapak kakinya menutul permukaan air, harapannya menggunakan tenaga tutulan badannya bisa melambung kedepan lebih lanjut.
Tapi begitu kakinya menyentuh air, tempat yang dipijak ternyata seperti kosong tak bisa buat menggentakkan tenaga, karuan badan nya amblas kebawah, kakinya sudah basah oleh dinginnya air sungai, jelas bahwa kakinya sudah menyentuh air, baru sekarang hatinya menjadi gugup, secara reflek kedua tangannya berhasil meraih sebuah benda besar cepat ia kerahkan tenaga terus mengangkat badannya keatas, waktu ia melepas pandang, hampir ia tidak percaya akan kenyataan ini, entah kapan tahu tahu dihadapannya di hadang sebuab jembatan panjang, sementara kedua tangan nya berpegangan kencang padada tonggak diatas jembatan itu, dikala ia memanjat naik dan berdiri diatas jembatan baru ia melihat bahwa kedua kakinya sudah basah.
Maka dapat dipastikan bahwa kakinya sebenarnya sudah masuk air, tapi kenapa air sungai ini tidak mengandung daya mengembang?
Bagaimana pula cara jembatan ini muncul secara mendadak dihadapannya?
Tadi sama sekali aku tidak melihat adanya jembatan ini?
Akhirnya iapun berpikir dengan tidak habis mengerti "Sungai kecil yang lebarnya cuma satu tumbak ini, kenapa aku tidak mampu melompatinya?"
Meski hatinya dirundung berbagai pertanyaan, tapi Tokko Bing dan Lim Hiang Ting berpeluk tangan sedang mengawasi dirinya dengan tersenyum senyum, terpaksa mereka menundukan kepala ia terbang menghampiri dengan beberapa kali lompat dari jembatan.
Kali ini ia berlaku hati hati, menurut perhitungannya dirinya tepat berada ditengah jembatan, panjang jembatan ini hanya setumbak lebih, setiap kali langkah kakinya berjarak dua kaki, tapi ia harus berlari sebanyak tiga puluh langkah baru sampai diujung jembatan sebelah sana, maka timbul pula setitik pertanyaan dalam benaknya.
Waktu ia sampai dihadapan Tokko Bing berdua belum lagi ia bersuata Lim Hiang ting sudah bicara, sambil tersenyum .
"Nak, sekali lompat kau dapat mencapai sepuluh tombak ginkangmu sudah sulit dicari keduanya ..."
"Sepuluh tumbak lebih? "
Teriak Koan San gwat terbelalak.
"Mana bisa Tecu cuma meleompat begitu jauh? "
Kata Tokko Bing .
"Sudah sepuluh tahu dia belajar, dasarnya cukup kuat untuk melompat enam tujuh tumbak, setelah kau tambah dengan salura lwekang selama dua puluh tabun, lompat sepuluhan tumbak tidak perlu dibuat heran ..."
Semakin lebar mata Koan San gwat memandang.
"Nak, apakah kau masih bingung dan tidak mengerti? "
Tanya Lim Hiang ting.
"Benar"
Sahut Koan San gwat mengangguk, Tecu dirundundung banyak pertanyaan seolah olah aku hidup dalam impian ..."
"Bukan nak, bukan dalam impian, seharusnya kau cukup bangga akan dirimu menurut perhitunganku, lompatmu pertama kira kira mencapai dua belas tumbak, waktu badan mu melambung tinggi untuk kedua kalinya kira kira melesat pula empat lima tumbak, di seluruh kolong langit ini, hanya beberapa orang yang dapat menyamai hasil latihan gingkangmu ini"
Kaget dan heran pula Koan San gwat di buatnya.
"Lalu berapa lebar sungai itu?"
"Empat puluh tombak!"
Sahut Lim Hiang ting tersenyum.
Koan San gvvat hampir berjingkrak saking terkejut, sungai sekecil ini ternyata seluas empat puluh tumbak, bagaimana ia hampir percaya!
Namun Lim Hiang ting menjelaskan dengan sikap sungguh bukan kelakar.
Melihat sikap kagetnya ini Tokko Bing lantas menyentaknya lagi "Binatang!
Dulu banyak kuajar berbagai kepandaian dan pengertian kepada kau kenapa kau lupa sama sekali!"
Sebsntar Koan San gwat berpikir, tiba tiba ia berteriak kejut "Apakah ini yang dinamakan Siok te sut (ilmu mengkerettkan bumi)."
"Didunta ini mana ada Siok te sut,"
JengekTokko Bing "Tiada dianggap ada tidak perlu dipercaya, seperti sesuatu kenyataan yang dihayalkan sama saja brutalnya."
Koan San gwat menjublek.
"Nak,"
Ujar Lim Hiang ting.
"agaknya kau makin bingung akan uraian gurumu, mengkeretkan bumi menjadi pendek adalah tidak mungkin, yang kau hadapi sekarang ini adalah semacam barisan yang mengelabuhi pandangan matamu sehingga kau melihat yang panjang menjadi pendek, demikianlah analisa kenyataan ini, di mana kau sendiri sudah menghadapi kenyataan, secara mendadak munculnya jembatan itu. Sejak tadi jembatan berada di sana, namun dalam aling alingan barisan serba rumit dan ajaib, sehingga pandanganmu seperti di kelabui. Semua benda yang kenyatataan didunia ini tidak mungkin berubah sedemikian saja, yang berubah hanyalah pandangan manusia itu sendiri ..."
Koan San gwat baru paham dan mengerti, ujarnya "Tak heran, kau dn Suhu bicara disebrang, tapi Tecu tidak melihatnya."
"Benar! Setelah kami menarik barisan itu baru kau melihat kami, sebetulnya kalau kau gunakan kecerdikanmu untuk berpikir secara teliti sebentar saja kau bisa paham. Semalam bukankah kau meraba raba dan maju mundur semalam suntuk disemak belukar itu? "
"Hal itu Tecu sudah paham, tapi kenapa air ini tiada punya daya mengembang? "
"Itulah air lemak Bulu burung pun tak akan mengembang diatas air!"
Ketukan Bokhi berkumandang ditengah udara, jelas mendengung dipinggir kuping.
"Ketukan Bokhi Lolo makin gencar, menyuruh kita lekas pulang!"
Demikian desak Lim Hiang ting lalu ia mendahului berlari ke depan.
Koan San gwat mengintai dipaling belakang, akhirnya mereka tiba disebuah gubuk yang terbuat dari anyaman rumput alang alang.
Tiba didepan gubuk sikap Tokko Bing dan Lim Hiang ting menjadi hikmat dan hormat, kata Tokko Bing.
"Lapor Lolo, muridku yang bodoh sudah datang!"
Dari dalam gubuk terdengar sebuah sua a tua yang serak.
"Bawa dia masuk! Ingin aku lihat bocah ini lebih baik dari apa yang kalian katakan."
Tokko Bing mengiakan, pelan pelan dia menyingkap kerai, terus menyelinap masuk membawa Koan San gwat.
Dari cerita Li Sek hong, Koan San gwat tahu bahwa Oen Kiau bermuka amat buruk, tapi disaat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri tak urung dia masih berjingkrak kaget.
Karena wanita tua yang satu ini benar benar amat buruk.
Kepala besar bermuka gepeng, diatas kepalanya tinggal beberapa lembar rambut saja yang sudah ubanan alisnya malah banyak dan menjuntai turun memanjang tergantung di kedua pinggir matanya, sementara kedua biji mata nya melotot keluar seperti mata ikan mas, hidungnya yang besar terbalik menghadap ke atas, bulu hidungnya menjulur keluar beberapa dim, bibirnya tebal giginya prongos tumbuh dua siung dikedua samping mulutnya, putih mengkilat mengerikan seperti dracula.
Kalau bentuk wajahnya ini diibaratkan betul sesuatu yang lain tak ubahnya seperti patung kuntilanak dibiara gunung.
Meski hatinya giris namun secara adat dan kesopanan Koan San gwat tidak berani berlaku lena, cepat ia maju berlutut serta menyapanya.
"Tecu menghadap Lolo."
Oen Kiau mengulurkan lengm tangan yang seperti cakar burung menghembus pelan pelan, ujarnya .
"Nak! Tak usah banyak peradatan, duduklah biar aku melihat tegas. Hiang ting, Tokko Bing kalian pun jangan berdiri saja, mari duduk sekalian. Hari ini terhitung gubukku dikunjungi banyak orang."
Panjang dalam gubuk amat sederhana Oen Kiau duduk bersimpuh diatas tikar, didepannya terletak sebuah meja kecil pendek, di atas meja menggeletak sebuah Bokhi kecil, se
Jilid buku Hud king, serenteng tasbih beliau pun mengenakan seperakat pakaian kasa sebagai pemeluk agama Budha.
Sekeliling dinding kosong melompong, kedua sampingnya menggeletak dua kasur rumput, Tokko Bing dan Lim Hiang Ting masing masing menduduki sebuah.
Sambil tertawa Oen Kiau berkata .
"Tempatku iin tidak siap untuk menyambut tamu lain, maka terpaksa kau duduk saja diatas lantai untung tempatku ini cukup kering ..."
Cepat Koan San gwat "Tidak menjadi soal dimana saja Tecu boleh duduk.!"
Sementara itu Lim Hian ting dan Tokko Bing sama bersimpuh, maka Koan San gwat segera duduk bersila, tapi ia tidak bisa menerima kata kata kering yang dikatakan oleh tuan rumah, karena dimana tanah ia duduk lembab dan dingin, sungguh risi dan tak enak bagi perasaannya.
Dan perubahan air muka Koan San gwat agaknya Oen Kiau bisa menebak isi hatinya katanya tertawa mengunjuk gigi yang prongos "Nak!
apakah kau tidak merasa bentukku ini amat menakutkan?"
"Sedikitpun Tecu tidak takut!"
"Kau yang lebih jujur dari gurumu. Waktu pertama kali gurumu melihat aku, katanya aku ini tidak begitu jelek, kupikir bila aku tidak jelek, pasti diduma ini tidak akan ada manusia buruk rupa."
Merah jengah muka Tokko Bing sementara Koan San gwat menjadi kurang tentram katanya .
"Tecu memang berdosa, harap Lolo luka memberi ampun."
"Nak, kaulah orang pertama yang bicara sejujurnya kepadaku, meskipun bicaramu pakai diplomasi segala, kau katakan tidak takut kepadaku, padahal kenyataan aku buruk setengah mati, cakup membuat takut seorang pemberani pun, betul tidak? "
"Lolo,"
Ujar Koan San gwat dengan setulusnya .
"Bagaimana sikap orang lain terhadap kau orang tua aku tidak tahu, tapi Tecu benar benar tidak takut ..."
Berkata Oen Kiau lemah lembut "Terima kasih Nak! Kau bicara sejujurnya. Kejadianku mungkin kau sudah jelas!"
Koan San gwat manggut manggut.
Kata pula Oen Kiau seraya menghela napas "Nak,!
Jarang ada orang seperti kau dalam dunia ini, selama hidupku aku hanya pernah berjumpa dua orang saja.
Yang pertama adalah orang aneh yang mengasuh dan mendidik aku sampai besar, selalu dia memberi wejangan kepada aku, beliau menyuruh aku menyembunyikan diri dalam hidupku, aku sudah melakukan suatu tindakan yang salah ...!
Untunglah beliau menyuruh aku menyembunyikan diri dalam hidup kesunyian saja, aku melanggar petuahnya sehingga begini lah akhir hidupku, aku sudah melakukan suatu tindakan yang salah!
Untunglah sebelum ajal aku masih bisa jumpa dengan orang macam kau ..."
Baru saja Koan San gwat hendak buka mulut, lekas Oen Kiau menggoyangkan tangan mencegah, katanya "Nak!
Jangan kau menukas omonganku, masih banyak perkataan yang perlu kuucapkan, malah semua adalah urusan penting, kau harus perhatikan benar benar"
Koan San gwat mengangguk dengan prihatin. Tapi Oen Kiau tidak membuka suara lagi, sepasang matanya menatap nanar sekian lamanya kepada dirinya, akhirnya menarik napas dan berkata terhibur.
"Nak! Kau memang hebat! Ui ho dapat menemukan kau, benar benar lihay pandangannya."
Cepat Tokko Bing menyahut "
Kalau begitu silahkan Lolo membimbingnya!"
Oen Kiau manggut manggut, ia ulur tangan menyingkirkan meja pendek didepannya lalu menyingkapkan tikar dan mengeduk tanah dibawah meja, dari dalam tanah ia keluarkan sebuah buntalan kertas minyak, lalu katanya halus .
"Nak, kau kemarilah!"
Bergegas Koan San gwat maju kedepan serta sahutnya .
"Lolo ada petunjuk apa? "
Oen Kiau angsurkan buntalan kertas minyak itu serta berkata "Kau bukalah!"
Dengan hormat Koan San gwat menerima lalu pelan pelan membuka buntalan kertas minyak yang terbungkus didalamnya adalah sebilah pedang berserangka, serangka pedang terbuat dari kulit ikan hiu yang dibalut tembaga putih, bentuknya amat kuno, sekilas pandangan dapatlah dinilai bahwa pedang pusaka kuno yang tidak ternilai.
Sambil memegangi pedang Koan San gwat bingung dan tidak paham.
Kata Oen Kiau sambil tertawa .
"Nak, Kau tahu pedang apakah itu? "
Diatas serangka pedang itu terukir dua hurup yang bergaya kuno dan sudah buram Tokko Bing barteriak "Pek hong kiam!"
Lim Hiang ting juga tidak kalah kejutnya serunya .
"Pek hong kiam! Lolo, sebenarnya apakah yang telah terjadi? "
"Kalau kau sudah tahu perihal Pek hong kiam, masih tanya apa lagi? "
Kata Lim Hiang ting .
"Meski suhu mewariskan Pek hong kiam kepada Tecu, malah beliau juga pernah menjajal kehebatan pedang ini, tapi pedang itu hanya tiruan belaka!"
"Ya, pedang yang diwariskan kepada kau oleh Suhumu adalah pedang tiruan, tapi apa yang dia tuturkan mengenai seluk beluk pedang ini pun tidak salah, ada se
Jilid buku pedang dimana ada tercatat sangat jelas..."
"Buku catatan pedang itu kami perlu melihatnya, bahwa Cia Ling im amat takut terhadap aku karena diapun pernah membaca buku catatan itu, tapi Tecu...."
Oen Kiau menukas kata katanya .
"Karena pedangmu palsu maka kau anggap catatan buku pedang itupun palsu."
"Benar, maka Tecu bakar buku catatan pedang itu !"
Berubah air muka Oen Kiau agaknya terketuk sanubarinya, akhirnya ia menghela napas.
ujarnya "Baik juga dibakar, pedang yang tercatat didalam baku pedang itu mungkin tidak akan muncul dalam dunia ini, bilamana pedang pedang itu tenggelam ditelan masa, kehilangan buku catatan pedang lagi, biarlah wibawa dan nilai pedang itu sendiri tersembunyi selamanya begitupun baiklah."
Tak tahan Tokko Bing lantas bertanya .
"Lolo, masih ada pedang ternama apa saja yang tercantum dalam buku catatan pedang itu? "
"Ui ho, apa kau ketarik pada pedang pedang ternama itu? "
"Tidak! Aku cuma ingin paham terhadap sesuatu yang belum ku ketahui."
"Dalam buku catatan itu ada tercantum lima bilah pedang, yaitu Ci seng, Ceng so, Bek tai, Ui tiap dan Pek hong, siapa pencipta serta bentuk dan manfaat dari masing masing pedang itu ada dijelaskan secara terperinci ..."
"Kenapa hanya lima bilah? "
Tanya Tok ko Bing heran.
"Seperti Liong cwan, Thay ah, Hu yang, Ceng bing, Ceng sian, Ci tian, Mo sia, Kan ciang dan lain lainnya bukankah termasuk pedang pedang kuno ternama? "
"Benar pedang pedang itu memang amat tenar, tapi pedang pedang itu hanya lebih tajam dan kuat dari pedang pedang biasa, kecuali dapat memotong besi seperti mengiris sayur, tiada kemujijatan lainnya, jauh berlainan dengan lima pedang yang kusebutkan tadi."
Tiga orang menaruh perhatian dan mendengarkan dengan cermat, tapi Oen Kiau malah menghela napas, katanya .
"Sudahlah, Pedang lain kita tidak perlu persoalkan, karena aku sendiri tidak tahu apakah yang lain itu kenyataan seperti yang tertera dalam keterangan buku itu. Tapi Pek hong kiam ini sesuai dengan apa yang tcrcsuat didalarn buku keterangan pedang itu"
"Dari sini dapatlah dipastikan bahwa keterangan terperinci mengenai kelima bilah pedang itu tentu bukan bualan belaka."
Demikian sela Lim Hiang ting. Oen Kiau meliriknya sekali. Lekas Lim Hiang ting menambahkan .
"Lolo, bukan Tecu suka mengobrol, buku catatan pedang itu kami berlima pernah membacanya, Tecu memang berotak tumpul kini tidak begini ingat lagi keterangan yang tercatat dalam buku iru tapi Cia Ling im mempunyai kepandaian yang lain dari yang lain, apa yang pernah dilihatnya tentu tidak akan terlupakan olehnya."
"Kau kuatir bila dia memperoleh salah satu diantara kelima pedang itu? "
"Tidak bisa Tecu harus menguatirkan hal ini! Karena sesuai dengan apa yang tercatat di dalan buku itu, Pek hong kiam ini...."
"Wibawa dan ketajaman Pek hong kiam tidak lebih unggul dari empat bilah pedang yang lain, maka namanya tercantum pada urutan terakhir. Namun kau tidak usah kuatir, pasti Cia Ling im tidak bakal memperoleh pedang yang lain!"
Lin Hiang ting.
tidak mengerti.
Maka Oen Kiau menjelaskan "Sudah lama gurumu memeras otak tapi hasilnya nihil, terpaksa ia membuat sebilah pedang tiruan yang diberikan kepadamu itu, Pek hong kiam adalah yang terakhir dari kelima pedang itu, kenapa guru mu memilih pedang ini?"
"Tecu bodoh, Tecu tidak tahu!"
Sahut Lim Hiang ting "Tecu sebaliknya bisa menerka, entah betul atau tidak?"
Ucap Koan San gwat "Coba kau terangkan "
Ujar Oen Kiau tersenyum. Berpikir sebentar Koan San gwat lantas menjelaskan.
"Menurut apa yang diuraikan Lolo bahwa ketajaman sinar Pek hong kiam paling menonjol diantara kelima pedang pusaka itu sekilas pandang orang akan tahu bahwa itulah sebilah pedang pusaka, karena itulah sehingga dia masih tetap patuh sampai sekarang, empat bilah yang lain meski kwalitetnya lebih bagus namun luarnya tidak begitu menonjol, kalau terjatuh ketangan seorang yang tidak kenal nilai barang, tentu akan dibuat memotong kayu atau sebangsa senjata tajam umumnya, Cie Ling im adalah seorang yang cerdik, untuk mengelabuhi dia, terpaksa harus membuat tiruan Pek hong kiam, paling tepat.."
"Wah hebat kau bocah ini. Pendpatmu ini benar benar melebihi pandangan seorang akhli, Ui oh menurut pendapatku dia lebih kuat dari kau!"
"Benar maka kubawa dia kemari untuk menemui orang tua."
Mata Oen Kiuu mengandung pandangan welas asih, katanya pelan pelan.
"Nak! Sebetul nya masih ada sebuah lain kenapa Pek li Put ping harus menirukan sebilah pedang Pek hong Kiam yaitu karena dia tahu bahwa Pek hong kiam yang asli berada ditanganku, dia pun perah merasakan bahwa dan pedang pusaka itu, dulu waktu ia bertekad mencelakai jiwa ku menggunakan pedang itu baru aku menundukan dia, mengingat hubungan kami suami istri aku tidak bertindak kejam kepadanya, tapi beberapa tahun ini aku mengasingkan diri di tempat ini, secara diam diam aku selalu mengawasi sepak terjangaya yang tidak genah itu..."
Timbul perasaan acuh tak acuh pada muka Koaa San gwat. Melihat sikapnya ini Oen Kiau tertawa, katanya "Mungkin kau tidak puas akan tindakanku bukan?"
Terpaksa Koan San gwar manggut manggut, katanya .
"Benar! Kau tidak perlu kasihan dan memberi hukuman setimpal bagi perbuatananya".
"Benar, Nak! Ucapanmu memang benar "demikian ujar Oen Kiau.
"Tapi masih berliku liku dalam persoalan ini yang tidak kau pahami, ilmu yang dipelajari Pekli Put ling meski didapati dari aku, tapi semua ilmu pelajaran itu adalah peninggalan dari tokoh kosen yang membimbing aku, demi membalas budi dan kebaikkannya, apalagi aku sendiri tidak mampu mengembangkan ajaran dan nama perguruan, sebaiknya Pekli Put ping sudah melaksanakan hal itu dengan baik, betapapun aku tidak bisa merintangi usahanya!"
Sulit Koan San gwat mengutarakan apalagi, tapi sanubarinya tidak bisa mengakui sikap dan kelakuan Oen Kiau bisa dinyatakan benar.
Berkata pula Oen Kiau sembari menghela napas "Apalagi perbuatan Pekli Put piog tidak begitu jahat, karena ajaran yang ditinggalkan oleh tokoh kosen aneh sendiripun termasuk aliran sesat, perguruan kita sama, ajaran yang kita pelajaripun sealiran, sudah tentu secara lahir batin aku tidak merasakan bahwa apa yang dipelajari itu merupakan ilmu sesat!"
Cepat Koan San gwat menyela .
"Ya, sesat atau lurus biar umum yang memberi penilaian."
"Orang yang pernah kutemui teramat sedikit, pandanganku terhadap sesuatu soal tidak sama dengan kau, apalagi ajaran sesat yang kami pelajari secara lahiriah terkekang oleh nalar kita sendiri, betapapun tidak akan melakukan sesuatu perbuatan yang durhaka atau jahat. Begitulah tokoh kosen aneh itu, demikian juga aku, Pekli Put ping pun tidak ketinggalan yang paling ditakuti hanyalah bila ilmu ini terjatuh pada seseorang yang benar benar culas dan jahat seratus persen, kekangan nalar terhadap perbuatannya dengan sendirinya tak akan membawa hasil lagi!"
"Cia Ling im adalah orang macam itu."
Kata Koan San gwat menyambung.
"Benar. Pekli Put ping kurang cermat dalam memilih ahli waris, dia turunkan semua kepandaiannya kepada murid murtad itu, akhirnya setelah ia insyaf orang macam apa sebetulnya muridnya itu, Cia Ling im sudah tamat mempelajari ilmu yang ia turunkan, tidak mampu lagi untuk mengekangnya."
"Cianpwe membawa Pek hong kiam seharusnya bisa mencegah hal ini terjadi!"
"Aku tidak mampu, latihanku jauh dibandingkan Pekli Put ping. Pek hong kiam meski berada ditanganku, aku tidak kuasa menggunakannya."
Koan San gwat mengunjuk rasa tidak percaya. Oen Kiu lantas melanjutkannya dengan sikap serius .
"Aku tidak membual, bukan saja aku tidak mampu, Hiang ting pun tidak becus ilmu yang kita latih hanya berguna bagi laki laki kekar yang kuat. Cia Ling im paham akan intisari tersembunyi ini, kalau dia tidak gentar adanya Pek hong kiam yang hebat, sejak lama ia sudah mengumbar kejahatannya. Hanya Hiang ting seorang yang jelas mengenai seluk beluk ini, cuma sifatnya lebih tenang dan mantap sehingga selama itu tidak pernah menunjukkan gejala gejala yang mencurigakan maka Cia Ling im dikelabui, tapi kertas tidak bisa membungkus api, urusan akan tiba saat nya dibongkar orang, maka dia sangat kuatir akan hal ini, akhirnya ia mencari Suhumu, pikirnya hendak minta bantuan untuk menghadapi Cia Ling im, tapi Suhumu sendiri memandang rendah ilmu yang kita pelajari ..."
"Agaknya Lolo salah paham."
Demikian tukas Tokko Bing.
"Bukan aku memandang rendah kalian, adalah karena Kan thian cin khi yang kulatih jauh berlawanan dengan ajaran kalian, kalau dipaksakan tentu akibatnya sangat fatal!"
"Aku tahu akan teori ini, maka aku tidak paksa kepada kau."
Demikian jawab Oen Kiau tertawa.
"Syukurlah bila Lolo paham, dan lagi aku menerima muridku ini bukankah sama saja?"
Demikian ujar Tokko Bing tertawa.
"Suhu!"
Kata Koan San gwat mengarti.
"Tak heran selama ini kau orang tua tidak mau mengajarkan Kan thian cin khi itu kepadaku, ternyata ..."
"Tidak salah! Waktu pertama kali aku mengajarkan ilmu silat, aku memang sudah mengandung maksud ini, apakah kau sekarang menyesal karena sudah ku peralat?"
Demikian tanya Tokko Bing. Koan San gwat termenung sebentar lalu berkata dengan sungguh .
"Tecu menerima budi guru setinggi gunung sedalam lautan, mana berani punya maksud dan prasangka demikian, hanya ..."
"Hanya apa? "
Desak Tokko Bing tersenyum.
"Seharusnya jauh jauh hari Suhu beritahu aku, supaya Tecu punya persiapan."
"Waktu itu aku sudah menjadi anggota Liong hwa hwe, sebagai anggota terkekang dan harus patuh akan segala aturan aturan yang ada, sudah tentu aku tidak bisa beritahu kepada kau. Cia Ling im menyebar luar kaki tangannya kesegala penjuru, mata kupingnya amat tajam, kalau sampai diketahui olehnya menggunakan undang undang kedisiplinan organisasi untuk menindak diriku, bukankah bakal meggagalkan usaha belaka. Tapi untuk memandang kau masuk kedalam organisasi memang banyak mengorbankan jerih payahku, malah sengaja aku menandingi berbagai golongan dan aliran besar kecil diseluruh jagat, ku ciptakan keagungan Bing tho ling cu yang digjaya menggetarkan dunia sebagai warisanku kepada kau, tujaanku adalah supaya kau ternama dan disegani, pasti datang suatu ketika ada seseorang bakal menarik kau menjadi anggota Liong hwa hwe pula."
Koan San gwat manggut manggut, tanya nya.
"Putra Thian ki mo kun Ki Houw juga membuat Hwi tho ling, tujuannya adalah menandingi Bing tho ling cu."
"Aku tahu, malah itu usul Go hay ci hang si gila itu"
"Kenapa?"
"Belenggu yang mengikat seluruh anggota teramat banyak, betapa sulitnya untuk menarikmu masuk tanpa menunjukan sesuatu gejala yang mencurigakan, maka kepala gundul itu memikirkan suatu akal yang cukup sempurna, secara gosok dan bujuk ia anjurkan Ki Houw menampilkan diri menjadi penantang yang utama, menggunakan Ki Houw sebagai umpan lalu menarikmu menjadi anggota tentu tidak menimbulkan curiga orang lain. Kalau tidak Cia Ling im tentu sudah merintangi dan menghadapi kau lebih dulu"
"Benar, otak Cia Ling im teramat cerdas dan licik sekali, sulit dilayani, maka dalam surat peninggalanku kepada Li Sek hong pun hanya kuberitahu bahwa tidak lama lagi bakal muncul sesorang yang akan berhadapan langsung dengan Cia Ling im, tidak berani kusebut atau menjelaskan bahwa kau adanya. Urusan ini kecuali aku dan gurumu, hanya kepala gundul itu yang tahu!" -oo0dw0oo-
Jilid 15 KOAN SAN GWAT terlongong, tanyanya.
"Hwesio tua itu, sebenarnya orang macam apakah dia? "
"Kitapun tidak tahu, sebenarnya betapa kemampuan kepala gundul itu tiada seorang pun yang dapat meraba secara jelas. Waktu pertama kali bertanding dengan aku jelas dia lebih unggul, tapi sebaliknya ia menyerah kepadaku, secara suka rela mau tunduk dan menjadi anggota. Lolo mengasingkan diri disini juga kepala gundul itu yang menuntun kami kesini maka kami sendiri tidak mengerti orang macam apakah dia sebenarnya!"
"Hwesio tua punya asal usul yang luar biasa,"
Demikian sela Oen Kiau tertawa.
"Kalian tidak perlu menyelidiki riwayat hidupnya kini pembicaraan sudah selesai, tiba Santnya kita membicarakan pokok penting. Nak, beberapa urusan yang kuajarkan kepada kau tadi, kau punya pendapat apa? "
Koan San gwat menyembah seraya menyahut.
"Tecu tidak menampik dan akan bekerja sekeras tenaga."
"Bagus! Sejak sekarang kau adalah majikan baru dari Pek hong kiam ini, kuharap kau bisa memanfaatkannya!"
Demikian pesan Oen Kiau.
"Tecu bersumpah mati untuk memberantas kawanan iblis dengan wibawa pedang ini, tanpa sembarangan membunuh seseorang yang tidak berdosa!"
"Ai,"
Oen Kiau menghela napas.
"Biar kuberitahu pada kau, pedang ini adalah senjata iblis, begitu pedang ini muncul pembunuhan berdarah bakal terjadi dimana mana, dikala kau menggunakannya mungkin kau sendiri tidak akan mampu mengendalikan diri pula!"
Koan San gwat bercekat tertegun.
Oen Kiau malanjutkan tertawa "Kau tidak usah takut!
Dari hawa ditengah alismu, aku dapat melihat bahwa hatimu suci dan lurus, mungkin pedang akan mendapat perbaikan sifatnya dari kemurnian jiwamu, hilangkanlah sifat sifat iblisnya.
Sekarang cabutlah pedang itu!"
Segera Koan San gwat menekan gagang pedang, serangka pedang segera mencelat lepas.
Gubuk yang suram itu seketika ditaburi cahaya pedang yang gemerlapan menyilaukan mata, begitu cemerlang cahayanya sehingga hawa terasa dingin.
Berkatalah Oen Kiau dengan kereng .
"Sin lo su sek dan Tay lo jit sek merupakan pedang perguruan kami yang maha sakti, seluruh ilmu pedang dikolong langit ini, intisarinya sudah tercakup didalamnya. Sekarang kumulai menurunkan Siu li kiam sek kepada mu, sementara Hiang ting nanti akan memberi ajaran Tay lo kiam sek, betapa tumit dan luas pelajaran ini, temponya teramat mendesak lagi, maka kau harus rajin, giat dan tekun memperhatikan ajaran ilmu silat ini, jangan kau menyia nyiasan harapan besar kami kepada kau!"
"Anak muda, kau sudah dengar belum."
Tiba tiba Tokko Bing menimbrung.
"inilah satu anugrah besar yang tiada bandingannya bagi kau!"
"Ui ho! Jangan kau berkata demikian,"
Oen Kiau melirik.
"Siu lo su sek akupun menyelami kulitnya saja, bicara kesempurnaan dan mendalam aku masih kalah dibanding Cia Ling im, cuma kuharap dengan bakat dan kecerdikan otaknya yang melebihi orang lain dapat mempelajari intisarinya, dapat pula mengembangkannya secara bebas dan lebih luas. Kalau tidak aku tidak berani tanggung apakah nanti bisa mengalahkan Cia Ling im!"
"Ucapan Lolo memang benar, biarlah aku mengundurkan diri lebih dulu, silahkan kalian mulai mengajar kepadanya,"
Demikianlah ujar Tokko Bing terus mengundurkan diri.
Setelah dia keluar, Koan San gwat pun mulai menempuh titik tolak permulaan dari kehidupan selanjutnya.
Puncak Sin li hong di Bun san sedang suasana ketegangan yang memuncak, pihak lurus dan sesat saling berhadapan, dua kelompok kekuatan yang sedang berlawanan sedang bersitegang leher, seumpama air dan api tidak mungkin bercampur baur menjadi satu.
Akan tetapi secara kenyataan dua kekuatan yang berlawan ini sebelumnya pernah terbentuk dalam satu badan secara aneh.
Itulah Liong hwa hwe.
Diantara ketiga tingkat X susunan dari bagian, anggotanya yaitu Sian, Mo, Kui, tiga barisan diantara mereka terdapat kaum pendekar dan para kesatria gagah yang benar benar berhaluan lurus, tapi adapula gembong iblis dan para penjahat yang berhaluan sesat dan nyeleweng.
Namun mereka terkekang dan dibatasi oleh undang undang kumpulan, lahirnya mereka berkumpul dan tercampur aduk dalam satu wadah.
Akan tetapi pergaulan yang tidak wajar ini akan tiba Santnya bubar.
Maka suatu ketika bila kekuatan yang mengingat dan membelenggu itu hilang, orang orang itu lantas terpecah menjadi kelompok.
Bahwasannya negatip dan positip tidak mungkin akur, demikian juga lurus dan sesat tidak mungkin hidup bersama, maka keadaan yang saling bertentangan ini sudah tidak mungkin hidup bersama, maka keadaan yang saling bertentangan ini sudah tidak mungkin dihindari lagi, bentrokan yang tidak mungkin dielakan hanya bisa daselesaikan dengan satu cara yaitu berkelahi.
Tapi walau kedua kelompok sudah berhadapan secara langsung, namun mereka belum bentrok secara kekerasan.
Mereka sedang menunggu.
Mengawasi puncak yang terbungkus awan tebal, kelihatan sikap Cia Ling im sudah tidak tegas lagi, sebaliknya sikap Go hay ci hang yang ada didepannya kelihatan sangat tenang dan acuh tak acuh.
Suasana yang hening hawa yang panas hanya terdengar dengus napas orang banyak, sinar surya yang cemerlang dari warna merah semakin meninggi dan berubah kuning menyorot makin panas.
Akhirnya Cia Ling im tidak tahan lagi, serunya sambil menggeram "Gundul tua!
Pimpinan kalian kapan akan tiba?"
"Segera tiba!"
Sahut Go hay ci hang membalik mata.
"Sebelum lohor dia akan tiba!"
"Siapakah dia? "
Tanya Cia Ling im sambil menengadah melihat cuaca.
"Kalau dia datang kau akan tahu sendiri.. Sekarang Lolap tidak leluasa menjelaskan lebih dulu."
Cia Ling im berpikir sebentar, lalu kata nya mencemooh "Dapatkah dia menandingi aku? "
"Hal ini Lolap tidak berani memutuskan. Tapi kalau dia berani memikul tanggung jawab keselamatan jiwa sekian baayak orang, sudah tentu Lolap pribadi mengharap dia dapat mengalahkan kau!"
Cia Ling im terloroh loroh, serunya .
"Harapanmu itu hanya kosong belaka. Dalam dunia ini, termasuk Ui ho, Lim Hiang ting, aku percaya tiada seorangpun yang dapat melampaui kemampuanku!"
Dengan tawar Go hay ci hang menatapnya sekilas, ujarnya "Ucapanmu masih terlalu pagi kau katakan."
Cia Ling im menyeringai dingin, dengar memicingkan mata ia menyapu pandang semua rombongan orang dihadapannya.
"mungkin pimpinan yang kau istilahkan tadi hanya bualan belaka, sengaja kau mencari kesempatan untuk mengulur waktu belaka!"
"Berapa lama Lolap dapat mengulur waktu? Kalau hari ini kita tidak menentukan kalah menang, pasti kau tidak akan melepas kami semua!"
"Mungkin kau sedang mengatur tipu daya lain, maka sengaja mengulur waktu, supaya akal muslihatmu itu dapat diselesaikan dengan sempurna. Kalau demikian perhitunganmu, kau hanya mencari penyakit sendiri. Kau tahu bahwa sekitar gunung ini sudah kupasang penjagaan yang ketat, permainan itu tidak bakal mengelabui aku."
"Apakah Lolap orang macam yang kau maksudkan itu? "
"Sulit dikatakan, kau menamakan diri sebagai orang ibadah hanya sebagai alasan belaka yang benar perut mu itu penuh tipu muslihat yang keji. Tiga hari yang lalu bukankah Liong hwa hwe, bubar gara gara kau?"
Go hay ci hang malah tertawa saja tanpa bicara lagi, namun timbul prasangka jelek dari rombongannya sehingga perasaan mereka kurang tertawa, Sian yu it ouw segera tampil kedepan dan berbisik dipinggir telinganya .
"Hweshio tua, jangan kau berkelakar dalam suasana seperti ini ..."
Entah berapa banyak pasang mata menatap kearah dirinya, termasuk yang mengandung permusuhan atau tanda tanya persahabatan yang jelas semua pandangan mata itu juga mengandung rasa curiga yang berkelebihan ...
Akhirnya Go hay menghela napas, katanya .
"Mana bisa Lolap memegang urusan demikian besarnya untuk main main!"
Meski sikapnya sangat teguh dan besar keyakinannya, nauun pandangan curiga orang orang itu tidak menjadi sirna karenanya, malah terasa sang waktu terulur semakin lama, sampai pada akhirnya Go hay ci hang sendiri pun goyang dan hampir kehilangan kepercayaan.
Pada Sant itulah tiba tiba ditengah angkasa didengarnya pekik burung bangau yang berkumandang nyaring.
Seperti terlepas dari belenggu, Go hay ci han menarik napas lega, serunya .
"Sudah datang! Kenyataannya Lolap tidak menipu kalian!"
Semua hadirin serempak mengadah memandang awan, ingin mereka tahu siapakah sebenarnya yang bakal mewakili keadilan dan menjadi pimpinan pihak golongan lurus ini?
Dari balik awan pelan pelan melayang turun seokor burung bangau besar, dipunggung nya duduk seorang gadis kecil, setelah dekat kelihan jelas itulah Ling koh adanya.
Menyusul disebelah belakang melayang pula dua perempuan berpakaian serba putih, mereka tidak lain adalah Li Sek hong dan Liu Ih yu.
Dan paling belakang melayang turun pula seorang laki laki muda memanggul pedang, dia bukan lain adalah Koan San gwat.
Pandangan seluruh hadirin maih tertuju keatas.
Tapi setelah Koan San gwat hinggap ditanah, dibelakang tidak kelihatan pula orang lainnya.
Sementara itu Ling koh sudah melompat turun dari punggung bangau, wajah Li sek hong dan Liu ih yu menampakkan perasaan kurang tentram dan was was, meski mereka sudah berusaha agar tenang dan sewajar mungkin, namun mimik mereka yang masam itu mana dapat mengelabui pandangan semua orang.
Setelah mereka maju mendekat, tak tahan lagi segera Cia Ling im berseru tanya .
"Kepala gundul! Mana orang yang kau maksudkan itu? "
Gu hay ci hang menunjuk Koan San gwat, sahutnya .
"Dia ini bukan? "
Seluruh hadirin mengeluarkan suara kaget dan heran dengan nada yang berlainan, ada yang tertawa mengejek, ada pula yang menghela napas putus asa.
Gelak tawa yang paling keras adalah Cia Ling im, seSant kemudian baru dia bicara menuding Koan San gwat .
"Kepala gundul, sudah setengah harian kau bermain sandiwara, kiranya hanya unruk menonjolkan bocah mestika ini? "
Wajah Koan San gwar tidak menunjukkan perasaan apa apa.
Sebaliknya Ling koh melengking tajam "Cia supek!
Jangan kau memandang ringan Koan kongcu, tiga hari yang lalu bukankan kau tertusuk oleh pedangnya.
Merah muka Cia Ling im bentaknya mendelik .
"Budak setan! Berani kau cerewet lagi kubeset kulitmu nanti!"
Ling koh meleletkan lidah, ujarnya.
"Su pekli! Pintamu hanya menindas bocah kecil memangnya ucapanku salah ..."
Cia Ling im mengulur tangan hendak mencengkeram kepadanya, lekas Ling koh sembunyi di belakang Koan San gwat. Koan San gwac lantas unjuk senyum geli katanya .
"Ling koh! Jangan kau tidak tahu aturan!"
Lalu ia berputar kearah Cia Ling im, katanya.
"Kau pentolan dari kawanan iblis, sedikit banyak tahu aturan dan sikap berwibawa, buat apa muring murang terhadap anak kecil, apakah tidak terlalu iseng? "
Karuan Cia Ling im malu, teriaknya keras "Bocah busuk! Kau menggelinding pergi, Cun cia tak ada semangat ngobrol dengan kau!"
Koan San gwat tertawa lebar, ujarnya "Memangnya kau sangka aku datang untuk mengobrol kesini? "
"Lalu untuk apa kedatanganmu? "
"Aku datang untuk membunuhmu bila perlu. Watakmu bejat, kejam dan culas lagi, namun belum menunjukkan kejahatan keliwat batas, maka kuanjurkan kau ..."
"Tutup mulut!"
Hardik Cia Ling im murka.
"Bocah busuk! Apa kemampuanmu berani bicara takabur dengan Cun cia, meski aku sudah pernah kau tipu sekali, karena aku tidak pandang sebelah matamu ..."
"Benar! Tusukan pedangku tiga hari yang lalu memang kulakukan untung untugan, namun aku insaf tidak akan ada keuntungan kedua kali, maka hari ini tiada niatku mencari kesempatan untung untungan itu ..."
Karena Koan San gwat bicara dengan suara tegas penuh keyakinan lagi, Cia Ling im melengak, sejenak ia termenung lalu katanya.
"Agaknya dalam tiga hari ini kau banyak memperoleh kemajuan ...."
Koan San gwat tersenyum lebar tidak menanggapi. Maka Lok Siau hong berkesempatan berteriak dengan riangnya.
"Koan toako, Kemana saja kau tigi hari ini! Wah sulit dan capai benar aku mencari kau ..."
"Nona cilik,"
Ujar Go hay ci hang.
"Sant ini dalam keadaan tegang, kau tunggu lain kesempatan untuk bicara dengan Koan toako."
Bergegas Lok Heng kun memburu maju menarik mundur Lok Siau hong kesebelah belakang.
Cia Ling im termenung bimbang, dari sebelah belakangnya Ouw hay ih siu tampil kedepan serta katanya sambil menyeringai iblis "Cin cia!
Ijinkanlah Losia tampil pada babak pertama ini?"
Cia Ling im manggut manggut. Sebalik nya Koan San gwat lantas mencegah "Jangan tiada waktu kuberikan kepadamu untuk campur dalam soal ini."
Pek Sian cun terkekeh dingin, ujarnya "Anak muda!
Jangan terlalu pongah, betapa tinggi kedudukan Siu lo kun cia, masa beliau sudi bergebrak dengan dedengkot macammu yang tidak kenal asal usulnya.
Lohu terpaksa tampil boleh dikata sudah memberi muka kepada kau."
Koan San gwat menarik muka, katanya kereng .
"Mengingat perbuatan jahatmu yang tidak senonoh, dosa mu sudah bertumpuk, hari ini bisa aku potong kepalamu lebih dulu sebagai hukuman setimpal."
Pek siang cun terkekeh kekeh dingin, jengeknya .
"Anak muda! Jangan sombong. Memang Lohu sudah sebal hidup, tapi tiada cara untuk membikin mati diriku."
"Pok ciang cun! Jangan terlalu percaya pada ilmu sesatmu yang aneh itu, kau sangka badanmu kebal dari senjata tajam, kalau aku segan turun tangan sih menuding sekali turun tangan kutanggung kepalamu bakal copot dari badan kasarmu."
"Koan San gwat! Thian ki mo kun Ki Houw menimbrung seraya tertawa ngakak.
"Ucapanmu terlalu mengagulkan diru, jelek Lo po salah satu tokoh dari Sian pang dulu dia pun kuat menghadapi ujian Lui thing sam ki, masa dia tidak kuasa menandingi sejurus seranganmu"
"Kau tidakpercaya, silahkan tunggu dan saksikan sendiri!"
Ujar Koan San gwat tersenyum lalu ia tampil satu langkah kedepan serta serunya pula .
"Pok Siang cun, kalau kau hendak menggunakan senjata lebih baik lekas keluarkan, supaya kau mati dengan rela"
Dibawah pancaran mata Koan San gwat yang berkilat tajam tanpa sadar Pok Siang cun menyurut mundur selangkah, suaranya gemetar jeri "Kalau dalam sejurus kau tidak mampu bunuh aku bagaimana?"
"Kepalaku akan kupotong dan kupersembahkan kepada kau!"
Sahut Koan San gwat tertawa lebar.
Kata katanya diucapkan dengan teguh dan kuat, seketika ia mendapat sambutan berbeda beda, ada yang menjerit kaget, ada tarikan napas dalam, banyak diantara hadirin yang tiada percaya akan pernyataan itu, Cia Ling im daa Ki Houw sendiri pun menarik senyum tawanya.
Tampak Pok Siang cun menunjuk rasa gentar, dia tidak percaya Koan San gwat mampu membunuh dirinya dalam satu gebrakan belaka, namun sikap Koan San gwat yang tenang penuh ketenangan itu bisa tidak bisa ia harus dipercaya.
Dalam suasana hening lelap terdengarlah suara kertakan yang menyolok pendengaran, Pok Siang cun sedang mengerahkan tenaga dan menghimpun semangat, tak lama kemudian suara kertakan itu sudah lenyap.
Maka terlihatlah badan Pok Siang cun yang gemuk itu makin menjadi tambun dan buntak, itulah pertanda bahwa ilmu khikang dari aliran sesat yang dia pelajari sudah dikerahkan sampai puncak kesempurnaannya, demikian pula tenaga Cun yun ci dijari jari tangannya sudah dikerahkan dengan setekat tenaganya pelan pelan setindak demi setindak ia meluruk maju.
Koan San gwat berdiri tegak sambil menggendong tangan tanpa bergeming, katanya tertawa ringan.
"Kau tidak menggunakan senjata ?"
Pok Siang cun membentak "Selama hidup Lohu tidak pernah menggunakan senjata, akupun tidak gentar menghadapi senjata apa pun!"
Lenyap suara kelima jari jari tangannya sudah berkembang terus menubruk maju, di mana jari jarinya menyambar, masing masing mengarah lima jalan darah mematikan didada lawan, Koan San gwat tahu bahwa Cun yang ci lawan amat lihay, meski dirinya pernah menelan pil Ping si san dan tidak usah kuatir tarpengaruh hawa nafsu yang menyesatkan itu, namun demikian, melihat lawan melancarkan ilmu dengan sepenuh tenaga, berasa hebat keluaran musuh sungguh mengejutkan, sudah tentu tidak berani pandang ringan dan menghadapi secara kekerasan.
Sebat sekali badannya melesat, pertama ia berkelit menghindarkan jari lawan, berbareng dengan kecepatan melebihi kilat, mencabut pedang, menabas, tahu tahu pedang sudah kembali kedalam serangkanya mengeluarkan suara "Tak!"
Yang menyolok pendengaran hadirin.
Tiga gerak serangkai sekaligus dilannarkan bersama dalam waktu yang singkat, sementara tubuhnya berdiri tegak seperti tidak pernah berbuat apa apa, cuma kali ini ia sudah pindah kedudukan.
Pok Siang cun masih menyelonong maju tiga empat langkah lalu berhenti tidak berggerak, kedua lengannya terulur kedepan, gayanya masih tetap seperti semula dengan jari jari tangan mencengkeram.
Semetara Koan San gwat sudah kembali kesamping Li Sek hong dan lain lain.
Beberapa tokoh kosen yang berkepandaian tinggi sempat melihat tegas apa yang telah terjadi, selebihnya hanya melihat berkelebatnya selarik sinar putih laksana kilat, siapa menang siapa kalah belum ada kepastian, mereka tidak paham kenapa Koan San gwat mengundurkan diri dari gelanggang.
Terdengar Li Sek hong dan Liu Ih yu mengeluarkan jerit tertahan.
Cia Ling im dan Sebun Bu yan berpekik dalam tenggorokan, jerit dan pekik masing masing kedengaran berbeda secara nyata karena tiada suara lain yang terdengar.
Tidak lama kemudian baru Cia Ling im bertanya dengan muka dingin.
"Anak muda ! Senjata apa yang kau gunakan? "
Koan San gwat menyahut tawar.
"Seharusnya kau sudah tahu, kenapa tanya segala?"
Berubah air muka Cia Ling im, serunya "Tak heran kau berani bertingkah, ternyata kau sudah mendapatkan pedang itu. Tapi belum tentu kau dapat menggertak diriku."
"Kau sendiri yang menentukan!"
Koan San gwat, yang menyahut tawar.
Cia Ling im tidak buka mulut lagi, ia tarik Sebun Bu yam kesamping lalu berbisik bisik entah apa yang sedang mereka rundingkan.
Dalam pada itu Pok Siang cun masih berdiri ditengah gelanggang mendadak batok kepala diatas lehernya itu mencelat terbang sendiri, dari lubang lehernya yang kutUng darah segar menyemprot bagai air ledeng pelan pelan baru jasadnya rubuh terbanting.
Hadirin gempar dan kaget, baru sekarang hadirin paham selarik sinar putih tadi adalah pedang Koan San gwat yang membunuh orang secara gemilang, meski hadirin menyaksikan dengan mata kepala sendiri namun banyak diantaranya yang masih tidak percaya akan kenyataan ini.
Maklum ilmu sesat yang dilatih Pok Siang cun sangat kebal akan segala senjata tajam kekebalan tububnya itu sudah diketahui oleh hadirin, tapi sesuai apa yang dikatakan Koan San gwat, cukup segebrak ia benar benar mengatungi batok kepalanya, jurus apa yang digunakan.
Yang digunakan senjata apa?
Tidak seorangpun yang melihat jelas.
Lok Heng kun dan Lok Siang kun mendadak berlutut dan menyembah, serunya "Syukurlah dendam kematian suami dan penghinaan kami berdua mendapat bantuan Koan kongcu sehingga sakit hati ini terlampias ..."
Tersipu sipu Koan San gwat memapah bangun mereka, ujar nya "Cianpwe lekas bangun. Aku hanya menjalankan kewajiban saja ..."
Mata Li Sek hong terbelalak, Lok Heng kun benar melihat sikapnya yang ganjil ini lekas mengundurkan diri tidak berani banyak bicara lagi pada Koan San gwat.
Setelah mendengus terdengar Li Sek hong bersuara .
"Yang kau gunakan tadi adalah Pek hong kiam ?"
Koan San gwat manggut manggut. Berubahlah air muka Li Sek hong, Koan San gwat maklum apa yang terisi dalam benaknya, lekas ia menjelaskan .
"Pedang milik Lim siancu adalah barang tiruan, pedang asli ini kuperoleh dari seorang lain."
"Siapa? "
Bertanya Li Sek hong, suaranya tenggelam dalam tenggorokan.
"Oen Kiau Locianpwe !"
"Apa? Sunio masih hidup. ..."
Itulah teriakan bersama Li Sek hong dan Liu Ih yu.
"Benar!"
Sahut Koan San gwat, terpaksa ia menjelaskan.
"Oen locianpwe mengasingkan diri di tempat yang tak jauh dari sini, guruku itu dan Lim siancu berada disana."
Mendadak Li Sek hong tertawa dingin, katanya .
"Aku dapat membayangkan apa yang hendak kau ucapkan, kau tidak perlu bicara bagi mereka, dalam dunia mereka bahwasanya tiada orang macam diriku ini tapi ... aku tidak merasa jelas pada mereka, hidup manusia menurut takdir masing masing ... sekarang bicaralah jujur kepada aku, apakah kau yakin dapat mengalahkan Cia Ling im? Meskipun kau pegang Pek hong kiam. Koan San gwat menjawab sejujurnya.
"Siu lo su sek dan Tay lo ji sek hanya kuselami kulitnya saja, soalnya waktu sangat mendesak jelas latihankn masih kurang matang, maka pertempuran hari ini, aku sendiri belum berani memastikan ..."
Li Sek hong manggut manggut katanya "Bekerjalah menurut kemampuanmu, bila perlu dari samping aku bisa membantu kau!"
Bergairah semangat Koan San gwat, ujar "Baiklah sekali, dengin mendapat bantuanmu paling tidak pihak kita tidak akan terdesak dibawah angin.
Sebetulnya Lim sian cu menyuruh aku jangan bicara sejujurnya, karena kuatir kausalah paham...."
"Lalu kenapa kau bicara sejujurnya?"
"Aku tidak bisa membual, dan lagi aku pun merasa tidak enak mengelabui kau."
Li Sek hong terharu, ujarnya.
"Terima kasih, Kongcu! Pengertian Toa suci terhadapku agaknya kurang mendalam dari pada kau, dengan ketulusan hati, adalah setimpal bila aku pertaruhkan jiwaku untuk membalas kebaikan budimu."
Hidung Koan San gwat terasa masam, dadanyapun terasa sesak karena haru.
Tapi rombongan Cia Ling im, mulai bergerak, terpaksa Koan San gwat harus tumplek perhatian siap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Berkata Li Sek hong tertawa "Kau tidak usah tegang, Cia Ling im tidak akan keluar menghadapi kau sendiri, jiwanya licik dan licin"
"Yang lain masa hanganya dihadapi?"
"Jangan kau pandang ringan orang lain, kalau Sebun Bu yam Se gak mo sin Pak hong kui si dan Thian ki mo kun sendiripun adalah musuh utama yang cukup lihay, bila mereka main keroyok, betapapun tokoh tokoh kosen dari pihak kitapun sedikit jumlahnya, seperti kau Liu siancu, Go hay cihang, Sian yu It ouw, malah Ling koh sendiripun boleh di tampilkan bila perlu, kukira tenaganya cukup menggetarkan nyali musuh juga."
"Cia Ling im tidak sebodoh perkiraan mu, dia pasti menyuruh orang orangnya satu persatu menantang kepada kau."
"Cara demikianpun tidak usah dikuatirkan, Cia Ling im sendiri tidak ditakuti apalagi orang lain ..."
"Namun orang orang itu jangan kau anggap seperti Pek Siang cun, bila setiap orang harus kau layani tiga puluh jurus baru menentukan kalah menang, seandainya kau dapat menang seluruh nya, apa kau mampu menandingi Cia Ling im yang masih bertenaga baru?"
Koan San gwat menggeleng tanda tidak mengerti Li Sek hong lalu menjelaskan .
"Berapa cerdik kepandaiannya Cia Ling im, setelah kau melawan tiga orang secara beruntun seluk beluk kepandaianmu sedikit banyak sudah dialami olehnya, apalagi tenagamu sudah terkuras berapapun tajam Pek hong kiam, masa kuat merobohkan dia ..."
Tak tertahan Liu Ih yu mejelaskan bicara.
"Begitupun tidak perlu kuatir, bila orang lain menantang biar kami saja ynag menghadapi mereka."
"Dalam hal ini Cia Ling im pun tentu sudah memikir secara sempurna, bila dia menantang, mungkin Koan kongcu tidak alasan menolak, lebih tidak mungkin minta bantuan orang lain mewakilinya."
Demikian sanggah Li Sek hong.
Koan San gwat bimbang dan memeras otak, sementara dari rombongan musuh tampil Thian ki mo kun Ki Houw, bibirnya menyebir tiba tiba ia bersuit nyaring, maka dari belakang sana menerjang keluar seekor unta besar bertubur kekar warna hitam, dipunggung unta terselip sebatang tumbak panjang terbuat dari baja.
Ki Houw melayang naik kepunggung unta sambil mengacungkan tumbak bajanya, ia berteriak dengan bengis .
"Koan San gwat! keluarlah, mari kita selesaikan dulu persoalan Hwi tho ling dan Cing tho ling cu."
"Nah, bagaimana!"
Ujar Li Sek hong tersenyum.
"Siapakah yang mewakili tangtangan nya? "
Cepat Kaon San gwat pun bersuit rendah unta sakti itu segera berlari masuk gelanggang membawa gada mas sakti berkaki satu, sambil menenteng gada masnya, Koan San gwat melejit kepunggung tunggangannya, serunya tertawa lantang "Baik!
Memang urusan kita harus diselesaikan lebih dulu!"
Ki Houw melengek, serunya "Aku mohon petunjuk dengan pedang dipinggangmu itu"
Koan San gwat bersikap tenang, sahutnya tersenyum.
"Bing to ling cu kenamaan dan menggetarkan dunia karena unta sakti dan gada masku ini, orang lawan orang, unta lawan unta, itulah cara yang paling baik untuk menyelesaikan pertikaian ini, meski pedangku ini amat tajam, tapi tidak akan kugunakan untuk menghadapi kau."
Ki Houw mengertak gigi, untanya segera dikeprak menarjang kedepan, sementara tumbaknya teracung kedepan menusuk dengan dahsyat. Lekas Koan San gwat menangkis dengan gada masnya.
"Trang!"
Benturan kedua senjata berat mengeluarkan suara keras menusuk kuping, kedua tergetar.
Koan San gwat terkejut, perawakan Ki Houw tidak sekekar dan segagah dirinya, namun kekuatan lengannya benar benar diluar perhitungannya.
Mengingat kebesaran Bing tho ling cu pantang dikalahkan, cepat ia kertak gigi, Kim sia cap pwe lun ajaran guru, dikembangkan dengan keras, angin mendesu laksana hujan badai terus merangsak kepada musuhnya.
Mulut Ki Houw mengulum senyum ejek, bahwa Koan San gwat tidak menggunakan Pek hong kiam memang membuat kecewa, namun mempertebal keyakinan dirinya pula, tumbak bajanya dimainkan begitu gencar, seumpama hujan anginpun tidak akan tembus begitulah ditengah gelanggang diatas tunggangan, masing masing mereka bertempur sengit mati matian.
Kim sin pap pwe lun sudah seluruhnya dimainkan oleh Koan San gwat namun ia masih belum mampu menjebol pertahanan cahaya kuning dan putaran tumbak baja lawan, dalam perasaan kejut dan heran, lambat laun ia merasa kuatir dan gugup, sekonyong konyong ia ayun gadanya seraya menghardik keras, senjatanya mengrpuruk kepala lawan.
Keprukan senjata berat ini mengguna selurah kekuatannya.
Ki Houw tertawa dingin, cepat ia lintangkan tumbak terus menangkis keatas, maka terdengar pula benturan keras, leletu api berpercik, benturan keras laksana geledek mengguntur menggetarkan gelanggang.
Tumbak baja besar ditangan Ki Houw terpukul putus menjadi dua, sementara gada mas Koan San gwat mencelat lepas dari cekalannya ini pertanda bahwa kedua pihak sudah mengerahkan seluruh tenaganya.
Melihat Koan San gwat tangan kosong Ki Houw menyeringai dingin, dua kutungan tumbaknya segera dimainkan untuk menerjang pula, yang satu menindih dari atas sementara yang runcing menusuk dari depan, dari dua sasaran menyerang Koan San gwat.
Karena sedikit lalai, Koan San gwat bermaksud menggunakan kekuatan tenaganya untuk menundukkan Ki Houw, diluar perhitungannya meski luar nya perawakan Ki Houw tidak sekuat dirinya, tapi kekuatan lengannya ternyata tidak lebih asor dari dirinya.
Pertempuran itu belum lagi berhenti, Ki Houw menggunakan kedua senjata kutungan, menusuk dan mengepruk melanjutkan serangannya.
Banyak orang tumplek harapan kepada Koan San gwat jadi mencelos hatinya serangan Ki Houw hampir mengenai Koan San tapi Koan San gwat masih bimbang belum ambil keputusan, ia menjadi bingung apakah perlu dia mencabut Pek hong kiam, karena senjata ampuh ini khusus hanya untuk melawan Cia Liog im, jurus permainan pedangnya pun tidak banyak, apa yang dinamakan Tay lo kiam sek tidak lebih hanya mencakup empat jurus setiap kali dia melancarkan satu jurus berarti Cia Ling im bertambah setitik harapan ...
Tapi serangan Ki Hoaw tidak menjadi kendor karena rasa bimbangnya, kedua senjata musuh terpaut beberapa senti dari atas kepalanya, tubuh Koan San gwat mendadak mencelat naik keatas, badannya terbang melintang ditengah udara, sebelah kakinya menendang keatas, telapak kakinya tepat menahan ujung tumbak, kontan dia mengerahkan kekuatan yang maha dahsyat.
Agaknya Ki Houw tidak mengira Koan San gwat bakal mendemonstrasikan kepandaian yang aneh dan lucu ini, sudah tentu betapapun besar kekuatan lengannya, mana kuat menahan injakan kaki Koan San gwat yang hebat, ujung tumbaknya mental keatas dan telak sekali membentur kutungan tumbak lain yang mengepruk turun.
"Trang!"
Lelatu api beterbangan ditengah udara.
Kali ini walau kedua senjatanya sendiri yang beradu, namun kekuatan benturannya justru jauh lebih besar dari benturan pertama tadi, maka mulutnya mengeluarkan suara menguak yang keras, kedua potongan tumbak ditangannyapun terepas dari pegangan, celaka ke dua telpak tanganpun Sakit bukan main karena kulitnya pecah berdarah.
Dalam pada itu Koan San gwat sudah kembali pada tempatnya bertengger dipunggung untanya, katanya sambil tertawa berseri "Agaknya kau lebih bersemangat untuk menggempur diri sendiri dari pada menghadapi musuh.
Kalau toh demikian sebetulnya tadi aku tidak perlu turun tangan, silahkan kau labrak dirimu sendiri, pertunjukkan tentu lebih menaiik."
Selamanya Koan San gwat tidak pernah mengolok olok orang setajam itu bagi orang yang berangasan dan bertabiat kasar tentu sudah murka, tapi kelicikan Ki Houw benar benar diluar dugaannya, kedua telapak tangan saling genggam untuk mencegah darah keluar, sahutnya dingin.
"Orang she Koan! tidak perlu kau mengejek, pertandingan kita masih belum selesai."
"Kurasa baik dihentikan saja, apa artinya kalau diteruskan dengan bertangan kosong! Kedua telapak tanganmu terluka, jangan! nanti kau katakan aku mengambil keuntungan."
"Cara apa pun boleh, yang terang aku tidak sudi mengambil senjataku pula, pertikaian Hwi tho ling dan Bing tho ling cu betapapun hari ini harus diselesaikan."
"Kalau aku jemput gada kaki tunggalku, apakah kau pun melawan dengan bertangan kosong? "
"Benar!"
Sahut Ki Houw bandel.
"Hari ini kalau kau tidak mampu menjatuhkan aku dari punggung unta, aku tidak akan menyerahkan Whi tho ling. Dan lagi aku bukan bertangan kosong, matamu kan belum picak dipinggangku masih menyoren sebilah pedang! "Sreng!"
Segera ia mencabut pedang yang diselipkan dipinggangnya, dibawah cahaya matahari tampak pedangnya itu bekilau menyilaukan mata.
Koan San gwat tahu bahwa lawan sedang mendesak dirinya untuk menggunakan Pek hong kiam.
Sejenak ia pikir tiba tiba ia keprak untanya menghampiri gadanya lalu melorot turun menjemput senjatanya itu, sambil melintangkan senjatanya itu ia berkata "Baiklah mari kita tentukan!"
Agaknya Ki Houw tidak mengira akan Koan San gwat, setelah tercengang makinya.
"Apa kau tidak tahu malu? "
Koan San gwat tertawa lebar, sahutnya "Hari ini kita selesaikan Hwi tho ling dan Bing tho ling cu, kau punya otak kau dapat berpikir bahwa Bing tho ling cu angkat nama dan menggegarkan dunia karena membekal gada mas berkaki tunggal ini, maka akupun tidak akan melindungi kebesarannya dangan senjata lain.
Karuan Ki Houw melongo dan bungkam kalau pedang melawan gada Koan San gwat dalam ukuran senjata jelas ia sudah dirugikan namun ia jadi bingung cara bagaimana untuk mengatasi persoalan pelik ini ...
"Ki Houw!"
Cia Ling im segera berseru "Kau kembali! kalau nama Bing tho ling cu diciptakan dengan sepak terjang macam itu, memang tiada harganya kau memperjuangkan usahamu ini!"
Cemoohan ini terlalu menusuk kuping tapi perbuatan Ki Houw jauh menusuk perasaan, dengan rasa jijik ia merogoh keluar sebentuk Bing tho ling cu milik Koan San gwat yang diberikan sebagai tantangan tempo hari, diatas lencana kebesaran itu ia berludah lalu ditusuk dengan ujung pedang terus dilempar kedepan, serunya "Silahkan ambil kembali, itulah Bing tho ling cu yang menyorot cemerlang diseluruh jagat, pertanda gemilang Bing tho ling cu menegakkan gengsi dan memanggul nama!"
Koan San gwat meraih dan menangkap lencana itu, air mukanya menunjuk kegusaran yang meluap luap.
Itulah rasa gusar kerena dihina keluar batas, semua orang ikut merasakan betapa pedih perasaan hatinya.
Tapi kejap lain perasaan Koan San gwat sudah wajar dan tenang, ia bersihkan lencana itu dengan bajunya lalu disimpan kedalam baju, katanya sambil menghela napas.
"Cia Ling im! Apapun yang kau katakan aku tidak peduli, yang terang Pek hong kiam baru akan keluar dari serangkanya bila aku berhadapan langsung dengan kau!"
Cia Ling im tertegun, lalu ia berpaling kebelakang memberi tanda lirikan, kepada Pek bong kui si.
Bagaikan bayangan setan Pek bong kui si yang mengenakan kedok hitam segera melayang ketengah gelanggang, dengan suara yang ketus dan kereng berseru .
"Koan San gwat! Kalau aku tantang kau, dengan senjata apa kau menghadapi aku? "
Koan San gwat meliriknya, lalu menyahut dengan tegas .
"Aku menolak!"
Agaknya Pek bong kui si tengetar kaget, dari balik kedoknya terdengar kekeh tawanya yang aneh, serunya "Tak nyana Ui ho Siang jin mendidik murid yang lemah penakut tidak becus!"
Koan San gwat tidak ambil perhatian, ia balas mengejek "Anggapanmu aku tidak berani menerima tantanganmu?"
"Apakah kau punya penjelasan? "
Tiba tiba Koan San gwat tertawa lantang, serunya .
"Kau hanya pentolan dari barisan Kui pang, kedudukanmu jauh dibawah Thian ki mo kun, terhadap Ki Houw saja aku acuh tak acuh masa tidak berani menghadapi tantanganmu? "
"Lalu kenapa kau menolak tantanganku? "
Teriak Pek bong kui si gusar.
"Alasannya cukup sederhana, persoalan ini menyangkut kedudukkan dan tingkatan. Sekarang aku mewarisi kedudukan guruku dengan kedudukkan dan tingkat beliau didalam Liong hwa hwe, bahwasanya baru tidak setimpal menantang kepada aku!"
"Liong hwa hwe sudah bubar, kau masih punya kedudukkan kentut apa? "
"Ucapanmu memang beralasan, tapi aku she Koan adalah manusia sejati, aku tidak punya mianat main tangan terhadap bangsat cecunguk rendah yang tidak berani mengunjuk muka aslinya ..."
Pek bong kui si naik pitam akan olok oloknya ini, sembari menjerit keras tiba tiba badannya menubruk maju kedua cakar tangan nya menjalur kedepan mencolok kedua biji mata Kaon San gwat.
Koan San gwat diam saja seakan akan tidak melihat dan tidak terjadi apa apa, unta tunggangannya itu benar benar seekor binatang yang cerdik, lekas ia angkat kaki depan terus menggeser kesamping berputar arah dengan gesit sekali.
Sergapan Pek bong kui si mengenai tempat kosong, namun ia tidak putus asa, dengan tangkas ia berputar dan menubruk maju pula.
Pada Saat inilah dari arah samping berkelebat sesosok bayangan abu abu tahu tahu menghadang didepannya, orang ini bukan lain Go hay ci han, katanya "Koan kongcu tidak sudi membuat keramaian dengan kau, lekas menggelinding balik!"
"Kepala gundul! minggir kau, tiada urusanmu di sini!"
"Kau bikin keributan, Loceng ada hak untuk menindak kau kalau kau memang berkelahi biar Loceng mengiringi kau!"
Demikian tentang Go hay ci hang sungguh sungguh.
"Kepala gunpul! Kau tiada hak campur persoalanku dengan orang she Koan, suruh dia tampil kedepan untuk menyelesaikan, urusannya dengan aku!"
Demikian damprat Pek bong kui si dengan gusar yang meluap luap.
"Kenapa? "
Tanya Go hay ci hang dengan muka membesi.
Tiba tiba Pek bong kui si menanggalkan kedok hitam yang menutupi kepalanya, maka tampaklah muka yang pucat dan rambut panjang, teriaknya bengis "Tanyakan sendiri kepada orang she Koan itu!"
Karuan Go hay ci hang melengak, serunya heran "Ei, kau bukan Pak tong kui si? "
Setan diantara setan Sebun Bu yam tertawa dingin, timbrungnya "Pik ong kui si membangkang perintah, tadi sudah kubereskan secara rahasia, kutunjuk dia mewakili kedudukannya, semua urusan dalam Kui pang aku ada hak memutuskan nya ..."
"Meski demikian, kau harus memberitahu kepada pihak lain lebih dulu ..."
Debat Go hay ci hang.
"Kalau undang undang dan peraturan Liong hwa hwe masih berlaku, mungkin tindakanku itu salah, tapi sekarang tidak perlu berbuat demikian!"
Demikian sahut Sebun Bu yam. Sudah tentu Go hay ci hang bungkam, maka Koan San gwat turun dari punggung untanya, katanya "Harap Taysu minggir, persoalan ini memang harusku selesaikan sendiri."
Go hay ci heng masih ragu ragu, Koan San gwat menambahkan.
"Dia bernama Khong ling ling, ayahnya Khong Bun thong mampus ditangan Cayhe!"
Go hay ci hang manggut manggut ujarnya .
"Hal ini memang Loceng tidak leluasa ikut campur ..."
Lalu ia mundur kebelakang. Sambil menatap Koan San gwat, Khong ling ling menantang.
"Sekarang kau masih menampa tantanganku? "
"Bapakmu memang setimpal dihukum mati, namun kematiannya bukan lantaran perbuatanku saja, akan tetapi dendam orang tua jauh lebih berat dari segalanya, memang aku harus memberi kesempatan kepada kau!"
Khong Ling ling mendengus semprotnya.
"Kalau aku menantang bertanding melawan Pek hong kiammu itu bagaimana sikap mu."
Koan San gwat menepekur sejenak, akhirnya ia berpaling kearah Cia Ling im katanya.
"Siau lo cun cia! Memang hebat muslihatmu, akhirnya kau paksa aku mengeluarkan Pek hong kiam!"
Cia Ling im menengadah tertawa besar sepuasnya.
Sambil menantang pedang Ki Houw segera tampil pula kedalam gelanggang, sementara Khong Ling ling juga suda mencabut sebatang pedang dari punggungnya, cahaya pedangnya suram bentuknya persis dengan pedang ditangan Ki Houw.
Dengan marah Koan San gwat segera bertanya kepada Ki Houw.
"Kenapa kaupun ikut maju."
"Dia adalah istriku, betapa mendalam cinta suami istri, sudah tentu persoalannya merupakan urusanku pula, apalagi menantu boleh termasuk sebagai putra sekandung pula maka aku harus menuntut balas bagi sakit hati mertua, kau tiada alasan menolak diriku dalam penyelesaian dendam kesumat ini!"
Kelihatanya perasaan Koan San gwat bergolak, namun ia menyeringai dingin, katanya "Baiklah kalian suami istri maju bersama!"
Lalu ia mundur beberapa langkah menyelipkan gada masnya kepunggung untanya, lalu ia mencabut pedang, seketika terdengar suara nyaring mendengung seperti keluhan naga, cahaya cemerlang seketika melingkupi seluruh gelanggang Pek hong kiam benar benar menyilaukan pandangan setiap hadirin!
Seluruh hadirin meugeluarkan suara kagum dan helaan napas yang berbeda nada, Ki Houw dan Khong Ling ling menyurut mundur, pedang ditangan mereka adalah pasangan, dari pancaran cahayanya yang tajam tentu bukan pedang sembarangan pedang, ketajamannya luar biasa pula, namun bila dibanding Pek hong kiam, maka tampaklah perbedaan yang menyolok, seperti kunang kunang dibanding rembulan ...
Ki Houw dan Khong Ling ling angkat tangan sebelah lalu menggeser langkah mencari posisi, kakinya memasang kuda kuda siap menggunakan langkah tujuh bintang, kelihatannya seperti gaya permulaan dari Siu lo jit sek karuan Koan San gwat tercengang dibuatnya sikapnya jauh lebih prihatin.
Perhitungan Cia Ling im memang cukup lihay, bukan saja ia berhasil mendesak Koan Sin gwat mengeluarkan Pek hong kiam, malah tanpa sayang ia turunkan pula Siu lo jit sek kepada orang luar, secara tidak langsung ia memaksa Koan San gwat menggunakan Tay So su sek untuk melawan.
Tay lo kiam sek mengandung ajaran pedang yang rumit sekali, adalah bukan soal bagi Koan San gwat untuk menang dalam babak pertarungan ini, namun untuk menghadapi Cia Ling im, Tay lo kiam sek nya itu kurang meyakinkan lagi.
Kedua pihak saling pandang sebentar, kejap lain kedua pihak mulai serang menyerang dengan ilmu pedang tingkat tinggi yang tiada taranya, namun pada saat itu pula mendadak terdengar sebuah seruan nyaring "Tahan Tunggu dulu!"
Sesosok bayangan meluncur, itulah Liu Ih yu, ubahnya hinggap kesamping Koan San gwat, tangannya pun menyoren pedang, mata nya memancarkan sorot tajam, katanya "Dua lawan satu kurang adil, mari aku pun ambil bagian, dua lawan dua baru terhitung adil dan setimpal!"
Perbuatan Liu Ih yu yang mendadak ini membuat Cia Ling im berubah hebat rona wajahnya, cepat ia berseru "Sumoy! Apa apaan perbuatanmu ini?"
Liu Ih yu unjuk senyuman manis, sahut nya "Untuk menambah keramaian. Supaya peradaban Tay lo kiam sek tersimpan, bila turun tangan menghadapi kau kami tambah sebagian harapan pula."
Cia Ling im mencemooh "Mereka adalah suami istri yang mengurus sakit hati mertua dan ayahnya, kau terhitung apa menyelip diantara mereka?"
Bersemu merah muka Liu Ih yu, sahutnya "Sebagai calon istrinya boleh saja aku ikut Loa suci sudah menjodohkan aku kepadanya!"
Dikala bicara jari telunjuknya menunjuk kesamping, keruan Koan San gwat berjingkrak kaget seperti disengat kala, lekas ia berseru "Liu siancu! Ini ... jangan kau berkelakar!"
Berubah air muka Liu Ih yu, katanya bersuara dalam tenggorokkan "Kelakar apa? Apakah Toa suc tidak menjelaskan kepada kau?"
Baru saja Koan San gwat hendak menyangkal, Go hay cihang sudah tampil kedepan serta menariknya kepinggir, katanya "Koan siheng!
Hiang ting siancu sudah beritahu kepada Loceng, dia mohon aku jadi comblang, katanya kau sendiri sudah menyetujui, kenapa pura pura untuk mengakui ..."
Saking gugup hampir saja Koan San gwat hendak membanting kaki, lekas Go hay ci hang berbisik dipinggir telinganya .
"Siheng! Segala urusan baiklah dibicaraka belakangan saja, JIWA RATUSAN ORANG INI BERADA DALAM GENGGAMANMU, kuharap kau bertindak demi kepentingan umum lebih dulu, jangan menimbulkan huru hara lainnya!"
Terpaksa Koan San gwat melawan kembali sangkalannya yang sudah menerjang ke ujang mulutnya. Lekas Go hay mengedip mata pula, lalu serunya lantang mengumumkan .
"Jodoh ini sudah putus oleh Hiang ting siancu dan Ui ho berdua, sebetulunya Loceng diserahi tugas ini untuk mengumumkan kepada para hadirin sekalian, namun karena kejadian di luar dugaan selama beberapa hari ini, Loceng tidak punya kesempatan untuk mengumumkan berita gembira ini, kepada saudara saudara sekalian!"
Berubah hebat wajah Cia Ling im, serunya.
"Benar benar perbuatan liar dan membabi buta."
Go hay ci hang tertawa, ujarnya .
"Ih yu siancu cantik rupawan, Koan siheng tampan dan perwira, perjodohan ini cukap setimpal, mendapat restu dari angkatan tua lagi, kenapa dikatakan perjodohn liar atau menababi buta segala, apa lagi Koan siheng baru saja memperoleh gemblengan dari sorang tokoh aneh yang tingkat dan kedudukannya sejajar dengan Hoat hwa sengjin, itu pendiri Liong hwa hwe maka bolehlah mereka terhitung satu perguruan."
Wajah Liu Ih yu bersemu merah, suaranya menyindir katanya kepada Cia Ling im .
"Apa pula yang dapat kau katakan? "
Cia Ling im tidak menujukkan reaksi khusus, tapi pandangan Ki Houw memancarkan sorot aneh yang luar biasa, apa makna yang terkandung didalam sorot pandangannya itu hanya Cia Ling im seorang yang tahu, maka segera dia membentak "Ki Houw!
Bekerjalah sekuat tenaga.
Apapun yang terjadi aku yang bertanggung jawab ..."
Cara bagaimana bertanggung jawab?
Apa pula yang harus ditanggungnya?
Sudah tentu hanya mereka berdua yang tahu.
Yang terang setelah Ki Houw mendengar seruannya ini, semangatnya berkobar, air mukanya kembali menampilkan sikap kasar dan keberanian yang menyala nyala, sembari mengabitkan pedang ia berseru .
"Dua lawan duapun tak menjadi soal! Lekas dimulai saja!"
Lekas Go hay mundur ketempatnya semula, sebaliknya Khong Ling ling tidak begitu bersemangat seperti semula, Ki Houw segera melirik dengan gusar, bentaknya marah "Hayo jangan melamun saja!
Kalau kucapai bagianku, tidak ketinggalan pula bagianmu!"
Agaknya bentakannya ini menyadarkan Khong Ling ling, lekas iapun mengempos semangat dan mengerahkan tenaga dan semua perhatian untuk menghadapi pertarungan yang menentukan ini.
Terasa oleh Koan San gwat bahwa sikap kedua suami istri ini rada aneh dan janggal, mereka menggunakan alasan yang sama untuk menuntut balas bagi kematian khong Bun chong, namun jelas bahwa maksud tujuan mereka tidak sesuai dengan alasan yang dikemukakan.
Hal ini diketahui oleh semua orang, karena kedua sumi istri ini jelas mendapat petunjuk Cia Ling im, untuk mengorek inti sari Tay lo kiam sek yang dipelajarinya dari Oen Kisu, namun dari pembicaraan mereka yang mencurigakan itu, dapat pula disimpulkan bahwa masih ada latar belakang tersembunyi di dalam intrik mereka ...
Dalam pada itu Ki Houw dan Khong Ling ling sudah mengambil posisi dan bergaya siap untuk melancarkan labrakan pertama.
Liu Ih yu menggenggam pedangnya dengan kencang, siap menghadapi rangsakan musuh, sudah tentu perhatiannya tidak boleh terpecah dengan tekun dan waspada ia siaga.
Suasana tegang mencekam sanubari seluruh hadirin, didalam keheningan yang sekejap itu, mendadak Ki Houw dan Khong Ling ling menghardik bersama, kedua suami isteri melancarkan serangan pertama.
Itulah jurus permulaan dari Siu lo kiam sek yang dinamakan Hun jan cu jiu, (awan mengenaskan kabut berduka) apalagi jurus ini dilancarkan dua pedang bersatu padu, maka perbawanya hebat jauh lebih mengejutkan lagi.
Ditengah hawa pedang yang remang remang kehijauan, mengandung tekanan besar bagai gugur gunung, damparan angin pedang laksana hujan badai diprahara seperti teriakan dan keluhan setan dineraka ...
Meski Liu Ih yu termasuk satu dewi diantara dewi, menghadapi rangsakan ilmu pedang yang hebat ini sedikitpun ia tidak berani pandang rendah, lekas ia mainkan pedang ditangannya menaburkan gelombang perak yang membungkus dirinya rapat sekali disamping menjaga diri dengan rapat, sasaran pedangnya mengarah kepada Khong Ling ling karena ia melihat titik kelemahan dari rangsakan pedang lawan, sementara Ki Houw yang merangsak lebih kuat ia serahkan kepada Koan San gwat mendapat gemblengan singkat secara keras itu, ilmu pedanguya jauh lebih unggul dari kemampuan semula.
Sikap Koan San gwat sangat tenang dan mantap, lincah dan enteng, Pek hong kiam ia katukkan, maka terdengarlah oenturan nyaring menerbitkan lelatu api, kejap lain tampak Ki Houw menyurut mundur menarik pedang dengan muka dingin membeku.
Gaya permainan pedang Koan San gwat adalah jurus permulaan dari Tay lo kiam sek yang dinamakan ka gan si ung (maya pada mulai menentu), meski Tay lo kiam sek yang termasuk ajaran nyeleweng dari aliran iblis, namun sedikit banyak rada mendekati kelurusan, itulah jurus ampuh khusus dari ketenangan untuk mengatasi gerakan, sederhana mengatasi kerumitan, meski hanya gerakan sederhana yang biasa tapi cukup sejurus saja ia lelah berhasil menutup pedang Ki Houw yang mengurung gelanggang.
Apalagi ketajaman Pek hong kiam jauh lebih besar dibanding pedang kuno warna hijau milik Ki Houw itu, benturan keras dibawah rekanan tenaga raksasa, bibir pedang Ki Houw yang tajam itu gumpil sebesar kuku jari.
Begitulah jurus pertama sudah berlangsung, namun cukup menimbulkan berbagai reaksi yang berlainan dari sekeliling gelanggang.
Bagi orang orang yang berpihak kepada Koan San gwat, mengeluarkan suara sorak yang kegirangan dan lega, hanya Li Sek hong saja yang diam diam menghela napas.
Kawanan iblis yang menjadi begundalnya Cia Ling im mulai kuatir dan was was, hanya Cia Ling im dan Sebun Bu yam berdua yang saling pandang serta mengunjnk senyum penuh arti.
Dalam pada itu mengandal keampuhan lwekang Liu Ih yu serta permainan ilmu pedang yang amat mahir serta inggi itu ia berhasil membendung rangsakan Khong Ling ling yang hebat, namun perasaannya masih rada bimbang dan kurang tentram, dengan suara lirih segera ia bertanya kepada Koan San gwat.
"Benarkah pedang itu Pek hong kiam? "
"Tidak salah ...!"
Sahut Koan San gwat.
"Kukira Oeu Kiau Locianpwe tidak akan menipu aku."
Liu Ih yu tertawa getir, katanya .
"Kurasa masih ada latat belakang yang belum terang, agaknya dia tidak begitu sakti dan digjaya seperti apa yang pernah kutahu."
Sahut Koan San gwat tenang.
"Wibawa pedang ini tengantung pada orang yang menggunakan aku hanya mampu mengembang pada taraf yang kulakukan ini."
Jawaban Koan San gwat ini tidak selirih pertanyaan Liu Ih yu, bagi orang yang berdiri rada dekat dapat mendengar dengan jelas.
Karuan Liu Ih yu jadi gugup "Bicaralah perlahan sedikit, jangan sampai terdengar oleh Siu lo !"
Koan San gwat tertawa tawa, ujarnya.
"Didengar olehnyapun tidak menjadi soal, aku toh tidak mengandal kekuatan Pek hong kiam ini secara keseluruhannya untuk mengatasi dan melawan dia."
Ujung mulut Cia Ling im segera menampilkan senyum licik yang penuh arti, segera ia bersuara pula mendesak Ki Houw "Thian Ki!
lancarkan jurus kelima dan keenam, paksa dia melancarkan tiga jurus yang lain itu"
Pandangan Ki Houw memancarkan kebencian yang meluap luap, sambil menggerung ia kabitkan pedangnya yang sudah cacat terus merangsak maju pula.
Sementara disebelah sana Khong Ling ling segera mengiringi perbuatannya, melancarkan serangan yang sama merangsak dari jurusan lain.
Kali ini mereka menyerang dengan jurus jurus Liat yam teng siau dan Mo hwe lian thian, jurus kelima dan keenam dan Siu lo jit sek, kedua jurus ini merupakan serangan membadai dengan kekerasan dan panas, ditengah tengah bayangan sinar pedangnya menyemburlah bara api yang berwarna kehijauan, membayangkan api membara didalam neraka yang menghukum kejahatan, sungguh mengerikan.
Betapapun Siu lo kiam sek memang ilmu pedang iblis yang amat lihay meski lwekang Khong Ling ling jauh dibawahnya namun angin panas yang merembes keluar dari batang pedangnya itu dapat menembus pertahanan hawa dingin Liu Ih yu begitu panas tekanan hawa pedang lawan sehingga ia merasa tertekan dan mandi keringat.
Keadaan Koan San gwat tidak seperti gebrak pertama tadi, tiba tiba ia menghardik.
Pek hong kiam seketika mengembankan cahaya perak satu kaki luasnya, begitu hebat tenaga yang di salurkan sampai mendengung keras pertama menusuk kedalam bayangan pedang Ki Houw, lalu sebat sekali ia lancarkan jurus kedua dari Tay lo kiam sek yang dinamakan Si jit tang seng ( surya terbit diufuk timur).
Jurus ini dilandasi kekuatan positip yang maha hebat, begitu serangan membentur pertahanan lawan, Pek hong kiam segera menerjang kearah bara iblis yang menyala kehijauan, laksana cahaya surya menyapu habis kabut te bal di pagi hari, sekejap saja semua sirna tanpa bekas, disusul batang pedangnya menyusul dengan jurus ketiga Pek hong koan jit, laksana geledek menyambar.
"Trang!"
Pedang Ki Houw terpapas kutung, disusul ia putar kesebelah samping, bukan saja membebaskan Liu Ih yu yang terdesak sekaligus patahkan pula pedang panjang Khong Ling ling.
Memang bukan kepalang wibawa Pek hong kiam dilandasi ilmu Tay lo kiam sek, bukan saja berhasil mengobrak abrik rangsakan kedua musuhnya serta mematahkan kedua senjata musuh, malah kekerasan sambe ran angin pedangnyn.
berbasil mencabik pakaian Ki Houw dan Khong Ling ling, sekaligus menusuk jalan darah mereka pula.
-oo0dw0oo-
Jilid 16 HANYA TIGA GERAKAN serangkai yang seenakanya, Koan San gwat berhasil memperoleh kemenangan gilang gemilang, begitu Tay lo kiam sek, secara kenyataan sudah menunjukkan wibawa dan kesaktiannya.
Semula semua hadirin terpesona dan terbelalak keadaan hening sebentar, dilain saat terdengarlah sorak sorai gegap gempita menyambut kemenangan Koan San gwat.
Pelan pelan Koan San gwat mengendorkan tenaga menarik hawa murninya, mengawasi Ki Houw dan Khong Ling ling yang serba ngenas itu, ia berkata .
"Sebetulnya aku bisa bunuh kalian, namun aku tidak ingin berbuat demikian!"
Ki Houw tidak bicara, ia membalikkan badan terus pergi. Khong Ling ling mendelik, teriakanya .
"Kenapa? Kenapa kau tidak bunuh kami berdua? "
"Mungkin karena tantangmu kepadaku, karena kau hendak menuntut balas bagi kematian ayahmu, terpaksa aku harus memberi kesempatan pula pada kau."
Gigi Khong Ling ling berkerutukan, bibir sampai tergigit pecah berdarah, teriakanya "Kelak kau akan menyesal, akan datang saat nya kau terjatuh ditanganku, aku tidak akan sungkan terhadapmu!"
"Terserah! Aku punya prinsip dalam setiap tindakkanku masih ada sebab lain kenapa aku tidak membunuh kau, waktu di Kun lun san dulu, kau pernah merawat aku menurut apa yang pernah kudengar, maka aku rasa bahwa aku masih berhutang budi kepada kau!"
Berubah air muka Khong Ling ling sekian saat ia terlongong, lalu tanpa bersuara lagi ia mengundurkan diri. Berkata lah Liu Ih yu.
"Tujuanku bantu kau, kenyatan malah kau yang membantu aku. Begitu hidup leluasa kau menghadapi musuh sebetulnya tidak perlu aku membikin sulit kepada kau."
"Tidak, bantuanmu cukup berarti, betapa pun hebat keampuhan Tay lo kiam sek baru pertama kali kugunakan untuk menghadapi musuh, kalau kau tidak menghadapi Khong Ling ling, bila aku tergencet dari dua jurusan, mungkin tidak bisa menyelaminya begitu cepat!"
"Kukira babak selanjutnya Siu lo sendiri bakal tampil, apakah punya keyakinan, perlukah kubantu pula! Bila perlu biar kuminta Ji suci keluar membantu..."
"Tidak perlu!"
Sahut Koan San gwat menggeleng.
"Jurus keempat dari Tay lo kiam sek kekuatannya berlipat ganda, mungkin sendiri tidak kuasa menguasainya, kalian menyelip diantara kami mungkin sulit mengembangkan seluruh kekuatan dan keampuhanya."
Terpaksa Liu Ih yu mengundurkan diri. Sementara Cia Ling im, sudah beranjak maju dengan sikap percaya pada diri sendiri, setelah berada dihadapan Koan San gwat ia berdiri.
"Akhirnya kau sendiri yang keluar!"
Demikian cemooh Koan San gwat tenang.
"Ya! Sejak mula tidak pernah terpikir olehku untuk tampil sendiri menghadapi kau!"
"Salahmu sendiri kau memelihara sekawanan anjing anjing ajak yang tidak becus!"
Cia Ling im menjadi berang oleh olok olok ini, alisnya bertaut serunya .
"Anak muda! Kau hanya mengandal ketajaman pedang dan beberapa jurus Tay lokiam hoat belaka, sikapmu sudah pongah, meski kau sudah menang satu babak, belum dapat dikatakan bahwa Siu lo jit sek tidak ungkulan melawan Tay lo kiam ..."
"Dalam hal ini aku cukup mengerti, ilmu pedang tergantung pada manusia, aku percaya bila Siu lo kiam hoat kau yang mengembangkan, kekuatannya tentu jauh lebih hebat dari tadi."
Sikap Cia Ling im semakin takabur, jengekanya.
"Kalau kau sudah tahu akan kenyataan ini kau masih berani bergebrak dengan aku? "
"Situasi hari ini tiada pilihan lagi bagi aku meski aku tahu kurang becus, namun harus mencoba juga, karena ratusan jiwa manusia tiada seorangpun yang bisa lolos dari kekejianmu!"
Mendengar bicara orang lemas, Cia Ling im makin takabur, ujarnya.
"Penilaianmu terhadapku terlalu berkelebihan, membunuh orang aku tiada minat, asalkan mereka tidak membangkang keinginanku, Liong hwa hwe masih boleh dipertahankan, keadaan tetap seperti dulu kita boleh hidup rukun bersama!"
"Tidak mungkin, Liong hwa hwe sendiri merupakan organisasi gila, dulu mereka terpaksa karena tekanan dan ancaman, maka mereka gampang dibelenggu dalam kandang ..."
"Bohong!"
Semprot Cia Ling im gusar.
"Gurumu sendiri dulu tidak ditekan atau diancam, kenapa dia suka rela masuk menjadi anggota Liong hwa hwe selama dua puluhan tahun!"
"Karena Liong hwa hwe pada waktu itu dibawah pimpinan Hang tiang sian cu masih mengenal keadilan dan kebenaran, bilamana Liong hwa hwe berada didalam genggamanmu kau pernah berantas orang orang yang berhaluan lurus, mereka bakal merasakan hidup tidak matipun sulit..."
"Kentut!"
Damprat CIa Ling Im murka.
"Binatang! Kau sudah bosan hidup ya!"
Sikap Koan San gwat tetap tawar, sahut nya tawar "Benar! Aku sedang menunggu cara bagaimana kau hendak membunuh aku?"
Tiba tiba Cia Ling im tersentak sadar, ia tahan hati nya, katanya pelan pelan "Anak muda! Kau tahu aku selamanya tidak bekerja kepalang tanggung ..."
"Aku amat jelas, justru karena kau tidak rela dipimpin orang dalam Liong hwa hwe karena kaupun menyadari bahwa Hiang Ting sian cu sulit dihadapi, maka kau menekan ambisi ini sampai sekarang!"
"Tepat sekali! Sampai pada tahap terakhir baru aku menyadari bahwa sebetulnya Hiang ting sebetulnya tidak perlu ditakuti, rencanaku semula hendak minta dia menyerahkan hak kekuasaan pada pertemuan besar Liong hwa hwe kali ini, tak nyana dia cukup cerdik ..."
"Hiang ting sian cu sudah tahu akan ambisimu maka siang siang ia sudah siap siaga!"
"Dia menyingkir adalah tindakannya pertama, karena dia tahu bahwa dia tidak akan mampu menundukan aku ..."
Cia Ling im bergelak tertawa, serunya .
"Lalu apa tindakannya yang kedua! Apakah memilih kau sebagai tameng untuk menindas aku? "
"Benar! Dia percaya bahwa aku mampu menundukan engkau!"
Cia Ling im tercengang, lalu terloroh loroh latah, serunya .
"Dia memilih kau justru memperlihatkan kebodohannya ... aku percaya kau paham akan arti perkataanku ini!"
"Mungkin aku paham, namun orang lain justru sebalikanya, tiada halangan kau jelaskan kepada hadirin!"
Cia Ling im mulai heran dan kebingungan serta menebak nebak dalam hati, dengan rasa curiga ia menegas "Kau benar berat ingin sku mengumumkan secara terbuka?"
"Bagi aku tiada halangananya, Secara diam diam kau main akal dan berebut kekusaan dengan Hiang ting sian cu usahamu bukan sekali dua kali saja, dia sangat mengerti akan perangaimu, demikian pula kaupun sangat jelas seluk belukanya, kilau kau buka tsbir rahasia ini dihadapan umum, hal ini dapat membuktikan betapa kecerdikan otakmu ..."
Sekian lama mata Cia Ling im main selidik dan menjelajah perubahan muka dan gerak gerik Koan San gwat, akhirnya dengan nada kurang percaya ia berkata .
"Yang diandalkan oleh Lim Hiang ting untuk mengatasi aku hanyalah Pek hong kian dan Tay lo kiam hoat, tapi setelah kuselami dan kuselidiki selama beberapa tahun terakhir ini, baru kudapati bahwa kedua pusaka itu bersifat positip, ditangan perempuan betapapun tidak akan berkembang keampuhannya serta kesaktiannya ..."
Koan San gwat segera menyela "Kata katamu tepat sekali, karena kau sudah menemukan rahasia ini, ambisimu makin berkobar, maka Hang ting sian cu terpaksa harus sembunyi dan menghindari bentrokan, tapi kini ia sadah menurunkan ilmu pedang Tay lo kiam hoat dan Pek hong kiam kepadaku ..."
Cia Ling im menukas "Justru di situlah letak kebodohannya, meski Pek hong kiam ampuh dan Tay lo kiam hoat amat lihay, harus dilandasi lwekang tinggi baru bisa mengembangkan kesaktiannya, melihat pertunjukanmu tadi, memang aku harus memuji padamu, karena hanya tiga hari kau memperoleh pedang dan ajaran ilmu itu namun sudah mampu melancarkan kekuatan setaraf itu, memang sulir dicari bandingan yang kedua ..."
Tergerak hati Koan San gwat kini sikap nya semakin serius dan tegang, Cia Ling im dapat meraba akan perubahan mimik wajahnya ini, tertawalah dia terloroh loroh kepuasan, serunya .
"Kuberi waktu tigi tahun untuk kau berlatih secara giat mungkin aku bisa keder menghadipi kau, sekarang tak perlu aku bersikap demikian ..."
Ucapan selanjutnya sudah tidak terdengar lagi karena gelak tawanya, namun beberapa patah kata itu, membuat gempar seluruh hadirin, banyak orang yang yakin akan kemenangan Koan San gwat tadi mulai tenggelam dalam perasaan was was dan gelisah.
Sejenak Koan San gwat menepekur, lalu katanya .
"Pengamatanmu sungguh amat cermat, namun kau masih melalaikan satu hal!"
"Soal apa? "
Tanya Cia Ling im menghentikan tawanya. Sepatah demi sepatah dengan tandas dan tegas Koan San gwat berseru lantang .
"Tekad dan keyakinan!"
"Tekan dan keyakinan! Memangnya kau bisa berbuat apa? "
"Tekad dan keyakinan bisa menciptakan suatu keajaiban! Dapat merubah segalanya!"
Cia Ling im berpikir sebentar lalu terloroh loroh pula, serunya "Bagus sekali, bila kalian ingin lolos dari tanganku, mungkin harus mengandal keajaiban saja!
Matilah anak muda, ingin kulihat keajaiban apa yang kau ciptakan "
Dengan keteguhan dan penuh keykinan Koan San gwat menambahkan .
"Justru karena aku bertanggung jawab akan keselamatan jiwa akan banyak orang, maka timbullah keyakinan harus menang, dilandasi oleh tekad dan keyakjaan ini bukan mustahil bisa terjadi suatu keajaiban. Kau tunggu saja akibatnya!"
Ci Ling im tidak bisa tertawa lagi, dari kata kata Koan San gwat ia menyadari sesuatu pemuda ini merupakan lawan tangguh yang menakutkm, Karena dia berjuang dengan semangat pengorbanan diri, demi kepentingan umum!
Didalam keadaan lupa diri karena semangat pengorbanan, orang dapat mengesampingkan keselamatan dan kepentingan diri sendiri semua ini demi tujuan dan keyakinan membaja serta cita cita masa depan maka dia bertempur.
Hal ini mungkin bisa mempercepat kematian seseorang, tapi kemungkinan pula bisa melahirkan suatu kekuatan yang tiada taranya untuk menciptakan keajaiban itu.
Maka dia harus hati hati serta prihatin menghadapi pertarungan yang menentukan ini.
Lambat lambat Cia Ling im mencabut pedang, terpancar cahaya terang serta suara nyaring, dari senjatanya dapat dipastikan bahwa pedang kuno ini jauh lebih baik dari pedang yang digunakan Khong Ling ling dan Ki Houw sudah tentu tidak lebih unggul dari Pek hong kiam!
Pelan pelan Cia Ling im menyentil sayap pedangnya sehingga mengeluarkan suara "Ting, ting!"
Yang menusuk kuping, lalu ia berkata dengan sikap sungguh sungguh.
"Inilah Ceng ping kiam, milik Sun Kian pada jaman Sam Kok masih kalah dibanding Pek hong kiam tapi aku percaya dalam gebrak tujuan delapan jurus dia tidak akan gampang dikutungi!"
"Tidak salah! Bila Siu lo jit sek dilancarkan seluruhnya umpama pedang tidak kutung, kutanggung kau sulit mempertahankan batok kepalamu!"
"Benar! Ratusan jiwa pihakmu itu tergantung pada keyakinan dan tekadmu, sementara ratusan jiwa pihakku tergantung pada latihan ku selama puluhan tahun, ini merupakan pertempuran yang seadil adilnya!"
"Kau salah! Kalau aku kalah berapa banyk orang akan meninggal, aku tidak tahu, sebalikanya kalau kau kalah, darah mengalir cuma lima langkah, yang mampus sudah pasti hanya kau seorang..."
"Persetan dengan urusanmu, tiada sangkut pautnya dengan aku, kalau aku mati, aku tidak perduli keselamatan mereka, mau dibunuh atau dilepaakan terserah. Yang jelas nilai pertarungan ini cukup adil."
Kata kata yang harus diucapkan sudah habis seluruhnya, mata kedua orang sama pandang dengan tajam, sementara kaki mereka pelan pelan bergerak, tapak sepatu kedua orang terdengar berkeresekan mengosok tanah dan batu kerikil, sehingga menyolok pendengaran.
Suasana hening lelap.
Ditengah kesunyian yang mencekam perasaan ini mendadak meledaklah bentakan menggeledek, Cia Ling im menggetar pedang di tangannya, melancarkan jurus yang pertama.
Jurus yang sama yaitu Hun jan ou jiu (awan ngenes kabut berduka), namun perbawanya jauh lebih hebat, ujung pedang mengepul tabir asap hitam yang bergulung gulung, lama kelamaan seluruh gelanggang menjadi gelap tertutup rapat oleh asap hitam yang pekat, pandangan hadirin menjadi gelap, seluruh hadirin terbungkus didalam kegelapan yang menakutkan, yang terdengar hanya teriakan dan keluhan setan.
Keadaan yaag seram ini benar benar seperti didalam neraka, siapa pun tiada yang menyangka bahwa Siu lo kiam hoat Cia Ling im sudah dilatih mencapai taraf yang begitu tinggi, ada orang yang bersorak dalam hati, sudah tentu ada pula yang menjadi lesu dan kuatir.
Sudah tentu antara yang bersorak dan mengeluh ini berdiri pula kedudukan yang berlawanan.
Bagi yang mengeluh benar benar ber kuatir.
"Bagaimana keadaan Koan San gwat yang menempur Cia Ling im Hadirin gelisah didalam kegelapan, tiada seorangpun yang mendapat jawaban karena keadaan begitu gelap sampai lima jari sendiri tidak kelihatan, mana bisa mengetahui kedudukan dan keadaan Koan San gwat. Yang jelas kegelapan itu tidak berlangsung lama, lambat laun mulai tampak setitik terang menembus lapisan mega yang gelap pekat ini, seperti sinar surya menembus lapisan mega sehingga setitik sinar terang itu begitu menyolok dan jelas sekali. Lama kelamaan titik sinar itu semakin besar dan terang, semula sebesar cangkir menjadi sebesar mulut mangkok terus membesar semakin gede, seperti gentong air ... akhirnya! Seperti bara api yang menyala dalam kegelapan malam, jalur api yang menyala nyala itu seperti mendadak meledak. Awan pekat menjadi sirna, kabut pun hilang, dunia kembali dalam keadaan yang semula terang benderang, udara cerah dan nyaman. Setelah sekian lama tertekan baru sekarang semua orang menarik napas panjang dan lega, waktu mereka mencurahkan perhatian ke tengah gelanggang tampak Pek hong kiam di tangan Koan San gwat memancarkan cahaya kemilau yang cemerlang, meski jidatnya basah oleh keringat, namun masih kelihatan gagah teguh dan penuh keyakinan. CIa Ling im kelihatan memburu napasnya orang orang yang berkuatir dan mengeluh tadi sudah berlega hati, mereka tahu bahwa Koan San gwat sudah berhasil menggempur total jurus pertama lawannya, maka tersimpul senyum cerah diwajah, mereka rada lama kemudian baru Cia Ling im unjuk senyum tawar, katanya "Hebat! hebat! Aku terlalu rendah menilai kemampuanmu! Agaknya waktu menghadapi Ki Houw tadi kau masih banyak menyimpan kemampuan yang berkelebihan!"
Koan San gwat, mengusap keringatnya suaranya terdengar tegas dan tandas .
"Lwekang tidak mungkin disimpan! Hanya keyakinan dan tekadlah melandasi aku berhasil lolos dari ujian pertama!"
Seperti tertawa tidak tertawa Cia Ling im berkata "Masih ada enam jurus lagi. Dapatkah tekad dan keyakinan bertahan selama itu?"
"Selama hayat masih dikandung badan keyakinan dan tekad itu tidak akan padam!"
"Bagus! Sungguh gagah perwira! Jurus selanjutnya akan kubuat kau tidak sempat bernapas atau berkesempatan istirahat, akan kulihat dimana kau dapat pertaruhkan tekad dan keyakinanmu!"
Terlihat sinar pedang tersebar mengitari tubuh, jurus kedua ini dirubah menjadi Siu hun loh pek (menagih sukma merebut), kali ini ia tidak mengagulkan perbawaan dan kekuatan seluruh kekuatan hawa pedangnya terpusat meluruk kebadan Koan San gwat, setiap hadirin melihat dengan jelas, namun yang kelihatan bukan Koan San gwat dan Cia Ling im.
Karena Koan San gwat sudah digubah oleh cahaya pedang kehijauan, demikian pula Cia Ling im sudah terbungkus didalamnya.
Lingkaran sinar hijau semakin ketat kecil, perasaan hadirin makin ciut dan tegang.
Waktu berlangsung dalam sekejap saja, namun terata seperti bertahun tahun lamanya.
Sementara lingkaran sinar hijau makin kecil hampir sebesar bentuk badan seseorang, mendadak berhenti tidak mampu mengkerut lebih kecil lagi didalam sinar hijau yang terhenti itu, tangan Cia Ling im yang memegang pedang mulai gemetar, sebalikanya keadaan Koan San gwat kelihatan bebas dan tenang.
Banyak hadirin ingin tahu apa yang telah terjadi, cuma terdengarlah Cia Ling im bersuara lebih dulu.
"Anak muda! Kulihat kau sedang berpura pura dam bermuka muka apakah kau mengandal tekad dan keyakinanmu pula bertahan dari jurus kedua ini? "
"Benar! Cuma asal mula tekad dan keyakinan kali ini tidak sama!"
"Tidak sama bagaimana? Anak muda jangan kau jual mahal !"
"Kali ini bersumber pada tekad dan keyakinanku terhadap jurus jurus tipu pedang, itulah jurus keempat dari Tay lo kiam hoat yang dinamakan San gak ing si (gugus gunung kokoh abadi, seluruhnya merupakan jurus pertahanan, betapapun keji dan ganas serangan pedangmu, betapapun tidak akan mampu menagih sukma merebut raga segala!"
"Betul! Anak muda agakanya kau beruntung! Empat jurus selanjutnya akan kulancarkan beruntun, meski kau sekokoh gunung aku akan melelehkanaya, setenang lautan teduhpun akan kubakar kering seluruhnya!"
Ditengah suaranya yang sengit mulai kalap itu beruntun pedangnya bergerak dengan Hong hong pu hi (hujan badai mengamuk) Niu lui kip san (geledek murka kilat menyarn bar), Mo hwe lian thian (api iblis membakar langit), Liat gam teng saiu (bara membara uap mendidih).
Angin, hujan, kilat dan bara sekaligus bekeja, itulah kekuatan perusak paling hebat didunia bergabung dan meletus bersama.
Bumi bergoyang, gunung guguran, seluruh kekuatan perusak yang dahsyat itu tumplek kearah Koan San gwat, sepintas pandang kelihatan dia begitu lemah, begitu kecil, seolah olah setiap saat bisa pudar dan lenyap ditelan bencana tanpa bekas ...
Rambut dikepalanya mulai awut awutan, pakaiannya di badannya mulai mengepulkan asap dan percikan api.
Wajahnya saja yang kelihatan tegas, keras penuh dilandasi keyakinan, badannya berdiri tegap tak bergeming.
Perlahan lahan ia mulai mengacungkan Pek hong kiam, pertama ia menggaris setengah lingkaran, cahaya padang cemerlang laksana surya difajar menyingsing, ditengah berbagai lipatan dan kepungan, mendadak memancarkan warna kemerahan yang mencorong.
Hadirin sudah apal akan jurus yang pernah dia lancarkan tadi yaitu Si jit tang seng (surya menyingsing diufuk timur) Setiap pagi surya menyingsing disebalah timur, itu kenyataan abadi, maka jurus pedangnya inipun biasa dan sederhana saja tiada seluk beluk atau liku liku lainnya.
Dibawah pancaran sinar surya yang cemerlang dan cerah, hujan angin dan kilat maupun bara seketika sirna tanpa terasa.
Tiba tiba pergelangan tangan Koan San gwat tergetar, gaya serupa itu sudah terlihat tadi.
itu jurus serangan satu satunya dari Tay lok kiam sek yang dinamakan Pek hong koan it ( pedang putih menembus matahari ).
Ki Houw dan Khong Ling ling membagi pedangnya yang patah dan tertusuk jalan darahnya oleh jurus itu bagaimana pula pengalaman Cia Ling im menghadapi serangan telak ini?
Bagaimana juga dia tidak akan percaya akan pengalaman ini, demikian juga hadirin yang tidak percaya begitu saja.
Pancaran sinar Pek hong kiam mendadak menyala lebih terang, laksana bintang meteor membawa ekor panjang menjurus kedepan menusuk kearah Cia Ling im!
Cia Ling im berusaha melawan, namun baru saja Ceng ling kiam terangkat, kontan tersampok hancur berkeping mengetarkan suara gemeretak disapu oleh cahaya cemerlang Pek hong kiam.
Untung ada tangkisan pedang sehingga ia selamat dari babatan putus badan menjadi dua.
Sebatas pinggang, lekas ia melambung tinggi badannya jungkir balik sejauh lima enam tumbak.
Koan San gwat tidak berhenti sampai disitu, Pek hong kiam masih mengejar kedepan.
Terdengar Sebun Ba yam menjerit keras, tanpa hiraukan keselamatan sendiri mendadak ia menerobos kedepan, dengan kedua tangan kosong mencengkeram kebatang pedang terdengar lengking yang menyayat hati disertai hujan darah yang berceceran kemana mana.
Cia Ling im tidak roboh, yang roboh malah Sebun Bu yam, kedua tangannya hancur luluh tak berbekas, seluruh badannya berlepotan darah, demikian juga mukanya yang buruk oleh darahnya sendiri.
Dengan mendelong Koan San gwat menarik pedang, tanpa bergerak ia awasi Sebun Bu yam yang berlintingan ditanah menahan sakit yang bukan kepalang.
Wajah Cia Ling im kaku seperti tanah, rada lama kemudian baru ia menarik napas serta katanya .
"Anak muda! Sungguh keji kau! Begitu ketat kau menyembunyikan kepandaianmu ..."
"Ya, aku menyembunyikan serangan dahsyat yang terakhir, tujuanku untuk membunuh kau, dapat melenyapkan kau dari muka bumi, orang lain pasti tidak akan berani berbuat kejahatan "Lalu apa pula yang kau tunggu! Lekaslah turun tangan. Sungguh tidak nyana aku terjungkal di tanganmu ... salah mataku sendiri yang kurang tajam menilai lawanku, sejak mula aku tidak percaya kau mampu mengembangkan seluruhnya kekuatan Pek hong kiam !"
Napas Koan San gwat sendiri belum mereda, meski ia menang dalam babak penentuan namun ia merasa teramat sulit dan menderita pula, namun menghadapi musuh yang pasrah nasib terima ajal ini ia menggeleng kepala, katanya pelan .
"Tidak! Aku tidak dapat membunuh kau!"
Sudah tentu ucapannya menimbulkan reaksi hebat, Cia Ling im sendiri tidak percaya dengan pendengaran kupingnya.
Li Sek bong, Liu Ih yu serta Sian yu it ouw segara memburu ke depan, kata Li Sek hong geliah .
"Koan kongcu! Bila sekarang kau tidak bunuh dia, kelak bakal meninggalkan bibit bencana ..."
Koan San gwat menggeleng, sahutnya "Siapapun yang ingin membunuhnya silahkan aku tidak sudi turun tangan lagi !"
"Kenapa?"
Desak Liu Ih yu uring uringan, Koan San gwat angkat Pek hong kiam katanya .
"Waktu aku menerima pedang ini pernah bersumpah, demi menjaga keselamatan jiwa ratusan orarg baru aku akan menggunakan pedang ini, setiap kali kugunakan pedang cukup menghirup darah satu orang saja. Hari ini darah sudah membasahi pedang ini, meski melukai orang yang tidak ingin kubunuh, namun aku tidak akan menggunakannya lagi!"
Li Sek hong dan Liu Ih yu saling pandang, mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan.
Untuk melenyapkan jiwa Cia Ling im, hanya Kon San gwat seorang yang mampu melakukan, meski Koan San gwat sendiri harus mengandal kesaktian Pek hong kiam, siapa tahu dia justru menepati sumpahnya yang bertele tele itu.
Tahu Koan San gwat tidak akan membunuh dirinya, air muka Cia Ling im menampilkan perasaan yang sulit dilukiskan dengan kata kata.
Akhirnya dia baru bergelak tawa yang menusuk pendengaran, serunya .
"He ... siapa akan menduga! Aku...! Iblis diantara iblis dalam Liong hwa hwe, siu lo sun cia yang besar diagungkan, akhirnya diampuni oleh bocah keparat bebau pupuk bawang ..."
Gelak tawa nya jauh lebih buruk dalam pendengaran dari suara tangis.
Memang dia tertawa untuk mewakili tangisnya, tawa menangis untuk melampiaskai keperihan dan duka lara hatinya yang tercampur kemarahan pula.
"Siu lo sun cia!"
Ujar Koan San gwat.
"Kau tidak perlu bersedih, bicara terus terang tekadku membunuh kau jauh lebih besar dari segala keinginanku. Cuma aku harus menepati sumpahku, sulit aku turun tangan! Setelah hari ini semoga kau tidak kebentur di tanganku pula!"
Muka Cia Ling im berkerut kerut gemetar, namun mulutnya terkancing tak bersuara segera ia membungkuk membopong Sebun Bu yam, terlebih dulu ia tutuk jalan darah mancer darah menyemprot lebih lanjut, terus tinggal pergi!
Baru beberapa langkah, Go hay ci hang memburu dibelakangnya serta berkata merangkap tangan "Cun cia, derita tiada batasnya, kembalilah ketepian, kuharap kau suka mendengar beberapa patah kata Loceng!"
"Kepala gundul!"
Maki Cia Ling im sambil melotot.
"Cukup sepatah kata kuberitahu kepada kau, sukmaku selalu akan tenggelam dalam kesesatan, aku tidak usah berjerih payah menyadarkan aku!"
"Can ciu sungguh bandel dan tidak dengar nasehat ... apa boleh buat! Loceng tidak minta banyak, paling tidak kuharap membubarkan kumpulan orang jahat ini, supaya Lolap berkesempatan menyebarluaskan ajaran Budha kelain tempat ..."
Sembari bicara ia tunjuk ke begundal Cia Ling im. Cia Ling im tertawa getir katanya.
"Kau tidak usah kuatir, apakah mereka bakal dapat kau taklukan aku tidak peduli, paling sedikit setelah mengalami kekalahan yang mengenaskan ini, aku tiada muka untuk memimpin mereka lagi!"
Go hay ci hang merangkap tangan serta bersabda .
"Omitohud! Cun cia punya pikiran ini, betul betul merupakan jasa terbesar bagi umat nanusia"
Cia Ling im tidak menghiraukan dia lagi, sambil membopong Sebun Bu yam cepat melangkah pergi.
Di belakangnya mengintil Ki Houw dan Khong Ling ling, disebelah belakangnya lagi rombongan orang banyak, semua tertindak seperti ayam jago kalah dalam gelanggang aduan, seperti balon kempes, tinggal pergi tanpa bersuara.
Tiada seorangpun yang tinggal, memang tiada orang yang bersuara menahan mereka.
Setelah mereka mengundurkan diri dari puncak Sin li hong, Koan San gwat segera dirubung orang banyak sorak sorai gegap gempita, semua unjuk rasa girang yang berlimpah limpah.
Hanya Lan Ih yu Saja yang masih mengomel dengan nada kurang senang .
"Kau ini memang keras kepala, kukuh seperti gurumu. Sumpah apa segala, hari ini kau melepaskan dia, lain kali..."
Liu Sek.hong segera menukas "Kau takut apa! Kau kan punya sandaran!"
Liu Ih yu menjadi malu dan rasa jengah.
Lekas It ouw menyela sambil tersenyum.
Pendapa Losiu sesuai dengan perkataan Liu siancu, sehari Cia Ling im belum ajal, kelak merupakan bibit bencana.
Mendadak Koan San gwat tertawa getir katanya merendahkan suaranya "Biar kuberi tahu pada kalian, bahwasanya tidak pernah aku bersumpah segala, tapi aku tidak punya maksud hendak melepaakan Cia Ling im, hanya ..."
Karuan pernyataan Koan San gwat membuat semua orang kaget, lekas Liu Ih yu mendesak .
"Kenapa kau tidak membunh diri? "
"Hakikatnya aku tidak mampu membunuh dta, sebalikanya bila hendak bunuk aku, segampang membalikkan tangan ..."
Orang banyak terkejut. Sambil menggeleng Koan San gwat coba menjelaskan.
"Dengan bekal lwekangku, aku hanya mampu mengembangkan keampuhan pedang ini sekali saja, sampai sekarang aku tidak berani membayangkan akibat apa yang bakal terjadi. Untung Sebun Bu yam menjadi korban, bukan menolong dia malah menolong aku..."
Banyak orang yang mengerti, namun banyak pula yang kurang paham. Terpaksa Koan San gwat melanjutkan keterangan .
"Keampuhan Pek hong kiam tiada taranya, asal cahaya pedangnya dapat mencapai sasaran, tiada orang bisa hidup, akhirnya aku hanya mampu mengutungi kedua tangan Sebun Bu yam, maka dapatlah kalian bayangkan sampai dimana taraf kekuatanku, namun aku tidak berani menampilkan pada lahirku ..."
"Jadi ucapanmu tadi hanya untuk menipu saja? "
Tanya Liu Ih yu.
"Benar! Untung dia tidak tahu bualanku, waktu itu aku menyerempet bahaya, mulutku bicara, namun punggungku sudah basah kuyup oleh keringat, kukira kalian juga melihat aku bicara ambil bernapas ngos ngosan."
Perasaan longgar semua orang menjadi tertekan lagi.
Orang orang gagah yang ketinggalan sudah bubar, mereka tidak pamit kepada Koan San gwat saking lelah saat itu ia tertidur pula beralaskan bongkot pohon, hanya beberapa orang saja yang menjaga disekeliling nya, Liu Ih yu, Li Sek tiong, It ouw dan Ling koh mereka dengan setia dan penuh perhatian menjaga keselamatannya.
Mengawasi punggung orang orang yang bubar itu, perasaan menjadi hambar dan mendelu.
Pelan pelan It ouw berkat sambil menghela napas "Kali ini benar benar bubar, Liong hwa hwe ...
ketiga huruf ini sejak hari ini tidak akan menjadi timbul kebesaran lagi, selanjutnya tinggal menjadi kenangan belaka!"
Pada saat itu ada beberapa orang menghampiri, ternyata mereka adalah Hiat lo at Lok Heng kun, Coh san sin Liu Ju yang dan Pak kut sin mo Lok Siang kun suami istri serta Lok Siau hong It ouw sedikit mengangguk sambil bertanya tersenyum .
"Apakah kalian hendak pergi? "
Lok Heng kun manggut manggut, katanya perlahan .
"Dendam kesumat beberapa tahun sudah terlampiaskan oleh Koan kongcu. Koan kongcu tidak akan bangun dalam waktu dekat terpaksa harap Ouw lo suka menyampaikan rasa terima kasih kami!"
It ouw tidak menjawab, ia cuma meng nggak Segera mereka menjura terus putar tubuh tinggal pergi. Hanya Lok Siau hong yang merasa berat, katanya .
"Bu, kenapa tidak tunggu sebentar, aku ingin bicara dengan Koan toako!"
Lekas Lok Heng kun menarikanya serta di bawa lari. Liu Ih yu mengantar punggung mereka dengan pandangan penuh perasaan gusar dengusnya "Anak perempuan itu sangat menyebalkan..."
Li Sek hong melirikanya sekali, katanya .
"Sumoy! Kalau kau ingin mendapatkan laki laki ini, lebih baik jangan sampai dia mendengar ucapanmu..."
Berubah air muka I.iu Ih yu, sejenak ia termangu mendadak berkata dengan suara ganjil .
"Jikalau ada orang ingin memecah belah hubungan kami, akan ku ..."
Ucapan selanjutnya tidak diteruskan, namun jelas sekali sudah melimpahkan perasaan hatinya. Li Sek hong terperanjat, katanya menghela napas .
"Sumoy! Kau belum lagi mendapatkan dia, belum apa apa kau sudah melepaakan kesempatan baik ini ..."
Berubah sikap Liu Ih yu, hidung mendengus serta tertawa dingin, suasana jadi begitu dan tegang, tiada seorangpun diantara mereka yang buka mulut lagi.
Kecuali Li Sek hong, Liu Ih yu, Siao yu at ouw dan Go hay ci hang serta Ling koh yang melindungi Koan San gwat yang sedang tidur pulas ini, puncak Sin li hong sudah kosong melompong tiada seorang lagi.
Mendadak pandangan banyak orang tertuju kearah bayang bayang batu cadas besar disebelah depan sana, dikegelapan sana tampak bayangan tubuh manusia yang berdiri mematung.
Lekas It ouw memburu kesana, setelah melihat tegas raut muka orang itu, segera ia bertanya dengan heran.
"Eh! Kenapa kau belum pergi? "
Orang ini terayata Hwi thian ya ce Peng Kiok jin mukanya tidak menunjukkan perasaan berdiri tegak tak bergerak, sesaat baru ia menjawab "Aku sedang menunggu Koan San gwat!"
Memangnya Liu Ih yu sedang uring uringan, tiba saatnya ia lampiaskan kedongkolan hatinya meleset kedepan ia menbentak.
"Kenapa kau berani langsung memanggil namanya? "
Peng Kiok jin menyahut rawar.
"Dia memanggilku toanio! kenapa aku tidak boleh memanggil namanya! Dihadapannya juga aku memanggil namanya!"
Tegak berdiri alis Liu Ih yu.
Lekas Go hay ci hang maju "Liu sian cu, Koan siheng pernah terluka parah, berkat asuhan dan perawatannya sehingga kesehatannya pulih kembali, apa salahnya memanggil langsung namanya?"
Maka, berkatalah Peng Kiok jin dingin "Liong hwa hwe sudah bubar, bubungan kita tidak terikat lagi, tiada perbedaan tinggi dan rendahnya ..."
Liu Ih yu menahan amarah dan menahan sabar, tanyanya.
"Untuk apa kau menunggu dia!"
"Akan kutanya sebuah persoalan dan kuberi tahu satu urusan !"
"Tanya apa dan memberi tahu apa? Bicara saja padaku sama saja!"
Membalik biji mata Pek Kiok jin, jengek nya.
"Dengan apa kau akan mewakili dia? "
Berubah hebat air muka Liu Ih yu, sentakanya"Kenapa tidak bisa, memangnya aku belum dengar..."
Pek Kiok jin menyeringai dingin, jengek nya "Sudah tentu aku pernah dengar, tapi kam belum resmi?"
Tangan Liu Ih yu sudah meraba gagang pedang, tanyanya mendesis dingin.
"Cara bagaimana baru dianggap resmi? "
Pek Kiok jin acuh tak acuh, sahutnya.
"Aku ingin dia langsung bicara kepada aku!"
Liu Ih yu tidak kuat lagi menahan amarah, tiba riba ia mencabut pedang seraya berteriak bengis.
"Nenek tua keparat! Kau terlalu menghina orang."
Sebelum pedang terayun pergelangan tangannya sudah digenggam erat oleh Li Sek hong, alisnya tegak dan menegurnya."Sumoy! Jangan gegabah ..."
Sembari meronta Liu Ih yu berteriak "Manusia rendah dari kawanan iblis berani berlaku kurang ajar terhadapku, apakah pantas ..."
Lekas Go hay ci hang membujukanya perlahan "Liu sian cu, Liong hwa hwe sudah bubar batas kedudukan dan tingkat dewi, iblis dan setan sudah dihapus, kau perlu mencuci bersih pengertian ini ..."
Sedikit banyak Liu Ih yu masih merasa jerih terhadap Hweshio tua ini, menahan gejolak hatinya, dengan kuat kuat menyentak lepas tangannya dari cengkraman Li Sek hong, lalu menyarung pedangg menghampiri Koan San gwat serta menggoncang badannya yang sedang tidur pulas, teriakanya.
"Bangun ! Bangun !"
Koan San gwat menyingkat bangun, tangan mengucek ngucek kedua matanya yang masih kantuk ia bertanya, heran "Ada urusan ""
Apa..?"
Maka Liu Ih yu merah membara, napas pun memburu turun naik. Karuan semakin heran Koan San gwat di buatnya, tanyanya .
"Apakah yang terjadi? Agakanya kalian bentrok sendiri ..."
Peng Kiok jin batuk batuk ringan, katanya "Akulah yang bertengkar dengan Liu sian cu ..."
Heran Koan San gwat, tanyanya "Toanio? Kenapa kau bertengkar dengan Liu sian cu"
Karena sebutan "Liu sian cu"
Yang ganjil dari mulut Koan San gwat, berubah pula air muka Liu Ih yu, ia meluruk maju seraya berteriak kalap.
"Koan San gwat soal jodoh kita sebetulnya sudah masuk hitungan belum? "
Dalam hati Koan San gwat sudah maklum kemana juntrangan persoalan ini, namun lahirnya pura pura tidak mengerti "Urusan apa?"
Tanyanya.
Amarahnya sudah bergejolak dirongga dada Liu Ih yu, tangan sudah meraba pedang namun belum mencabut keluar, badannya tiba tiba ambruk pelan pelan.
Saking marah dan merasa terhina akhir nya ia semaput.
Cepat Li Sek hong memapah tubuhnya katanya dengan penuh kekuatiran.
"Koan kong Cu, berkat petunjuk Toa suci Sumoy pasrah nasibnya kepadamu, hal ini sudah diumumkan secara terbuka dihadapan orang banyak jangan kau anggap main main ..."
Koan San gwat gugup sekali, katanya "Darimana harus dibicarakan persoalan ini."
Li Sek hong tertegun, katanya "Apa! Masa Toa suci tidak pernah membicaran hal ini kepadamu?"
Koan San gwat garuk garuk kepala, sahut nya "Kukira tidak pernah ..."
"Lalu kenapa diam saja dihadapan sekian banyak orang ..?"
Koan San gwat berpaling kearah Go hay ci hang, tanyanya .
"Taysu! Harap kau saja yang memberi penjelasan, waktu itu kaulah yang menyuruh aku."
Terbuka lebar mulut Go hay, suaranya tersekat, sesaat baru ia mampu bicara .
"Lolap mendapat petunjuk Hiang ting siancu untuk merangkap perjodohan ini, sedang Hiang ting sian cu melalui Ling koh memberi kabar bahwa Koan siheng katanya sudah setuju!"
Li Sek hong mendelik kearah Ling koh, dampratnya .
"Setan cilik! Bicaralah yang jelas, apakah benar Toa suci beritahu kepada kau?"
Mendelong matanya Ling koh, sahutnya tergagap .
"Ya.. ya begitulah!"
"Bohong! Kapan aku pernah menyetujui!"
Teriak Koan San gwat! Lingkoh mencebirkan bibir, katanya "Hiang ting sian cu katanya kau pernah melulusi sesuatu kepadanya, malah katanya tidak akan ingkar janji ..."
Koan San gwat menjelajah lagi pengalamannya beberapa lari ini, akhirnya ia paham dua jawaban.
"mana bisa salah paham segala..."
Koan San gwat menhela napas, katanya.
"Lim sian cu minta aku melakukan sesuatu untuk dia tidak menjelaskan tentang persoalanya, demi membalas kebaikan budi Lim sian cu maka tanpa ragu ragu aku menyetujui permintaannya!"
"Ai!"
Desah Li Sek hong membanting kaki "Sungguh menyulitkan, kenapa Toa Suci begitu ceroboh ..."
"Hal ini tidak bisa salahkan Lim sian cu,"
Lekas Ling koh menyanggah.
"Meski beliau sudah ambil keputusan, tapi diapun beri tahu kepadaku, katanya waktu belum matang, minta ku memberitahu kepada Go hay Taysu supaya bekerja melihat gelagat ..."
Pandangan orang banyak tertuju kepada Go hay, hweshio tua menghela napas serta sahutnya "Sebetulnya Lolap tidak ingin mengemukakan, Liu sian cu sendiri yang terlalu bernafsu kemukakan isi hatinya."
Li Sek hong menghela napas, pandangan nya tertuju kearah Koan San gwat, katanya.
"Urusan sudah terlanjur, kuharap kau mengambil sikap yang tegas ..."
Koan San gwat jadi serba sulit. Kata Li Sek hong pula."Bagaimana keputusanmu? "
Koan San gwat berpikir mendalam, akhir nya ia menjawab perlahan.
"Aku tidak bisa menikah dengan dia ..."
Suaranya lirih namun orang mendengar jelas, kecuali Peng Kiok jin perasaan orang banyak tertekan. Maka sambil mendengus berkatalah Li Sek hong "Kenapa? Apakah dia tidak setimpal menjadi istrimu?"
"Bukan soal setimpal atau tidak, aku tidak akan menikah dengan perempuan yang tidak kucintai..."
"Busyet! cintanya begitu mendalam, jauh lebih hangat dari api membara!"
"Bukan dia yang kumakaud, aku sendiri lah yang tidak punya rasa cinta."
Li Sek hong geleng kepala, gelap sinar mukanya, ujarnya "Jodoh ini sulit dipaksakan!"
"Li sian cu aku salut setinggi tingginya kepada kau ..."
"Aku termasuk orang luar, sedikitpun tiada sangkut pautnya, tapi ingin kuberi nasehat kepada kau!"
"Harap siancu cu memberi petunjuk!"
Mengawasi Liu Ih yu yang pingsan berkatalah Li Sek hong penuh haru.
"Kalau kau tidak ingin mengawininya, lebih baik sekarang juga kau bunuh dia ..."
Koan San gwat berjingkrak kaget, sulit ia menerima maksud kata kata Li Sek hong.
Namun Li Sek hong segera menambahkan "Aku tidak berkelakar perasaan perempuan, entah cinta atau benci yang ditempuh adalah jalan paling ujang, sian sumoy justru menempuh jalan ujung yang buntu, cintanya bisa berubah menjadi kebencian yang keluar batas, hari ini kau menolak cintanya dibawah rangsangan perasaan yang kecewa dan gagal ini, mungkin dia akan jauh lebih menakutkan dari Cia Ling im?"
Koan San gwat mundur sambil geleng kepala. Li Sek hong menambahkan.
"Meski dia Sumoyku tapi aku tidak menyalahkan kau ku kira orang lain pula demikian, aku percaya pandangan mereka tentang hal ini sama seperti pendapatku ..."
It ouw mengangguk kepala, Ling kohpun manggut manggut, sedang Go hay ci hang tidak mengangguk tapi dia pun tidak menentang.
Sementara pandangan Peng Kiok jin malah memberi dorongan kepadanya.
Ini pertanda bahwa ucapan Li Sek hong bukan gertak belaka tapi kenyataan seratus prosen.
Namun Koan San gwat masih menggeleng katanya tegas .
"Tidak! Aku tidak bisa mengawininya, tapi akupun tidak bisa membunuhnya. Malah siapa saja akan kurintangi bila hendak melukai seujung rambutnya!"
"Kau tahu akibat sikapmu itu? "
Desak Li Sek hong dengan suara gemetar.
"Apapun akibatnya aku yang bertanggung jawab, kalau dia menjadi manusia baik baik akan kusampaikan salut setingginya, tapi bila dia berbuat kejahatan, dengan Pek hong kiam akan kubunuh dia!"
"Apakah tidak terlalu terlambat waktu itu?"
"Ya, mungkin rada terlambat, tapi kita tidak bisa membunuh orang tanpa alasan, apa lagi orang itu tidak punya dosa, apakah kita tidak berdosa malah bila membunuhnya? "
Li Sek hong merandek, akhirnya merebahkan Liu Ih yu diatas tanah, katanya menghela napas .
"Aku tidak tahu apakah tindakkanmu ini benar, namun kejujuran dan kepolosan hatimu membuat aku takluk, bicara soal aturan aku tiada ungkulan, baiklah kuserahkan dia kepada kau!"
Lahirnya ia bicara halus, namun Koan San gwat melihat sorot matanya mengandung napsu membunuh, demikian juga Ling koh dan It ouw, Go hay merangkap tangan serta bersabda katanya "Baiklah Lolap saja yang membawa nya pergi!"
Sembari berkata ia membungkuk menarik pakaian Liu Ih yu, sementara tangan yang lain menyelonong menepuk ulu hatinya.
Untung Koan San gwat cukup tajam dan cekatan, lekas ia dorong telapak tangannya menekan punggung sikut hweshio tua, sehingga tangannya tersampok miring, bentakanya."
Taysu! Apa yang kau lakukan...."
Lwekang Go hay amat tinggi, meski ia tersuluk dua tiga tindak oleh dorongan Koan San gwat, tapi Koan San gwat sendiripun terpental setengah tumbak, Go hay tidak ayal, ia lancarkan pukulan jarak jauh kearah Liu Ih yu yang rebah ditanah.
Koan San gwat tidak sempat menolong, saking gugup mulutnya menggerung seperti harimau gila.
Tak nyana begitu badan Liu Ih yu terpukul badannya mencelat tetrbang lima enam tumbak, namun dengan ringan badannya jatuh di tanah sedikitpun tidak mendapat luka apa apa.
Matanya memancarkan amarah yang mengandung dendam dan kebencian, Katanya dengan suara serak .
"Kalian kurang mengerti terhadapku pribadiku, demikian pula pengertianku terhadap kalian ternyata kurang mendalan."
Koan San gwat menjerit tertahan, ujarnya "Aih! Kau ... tidak pingsan ..."
Liu ih yu menyeringai.
"Maksudmu karena persoalan ayahnya dia jatuh sakit? "
Peng Kiok jin manggut manggut. Koan San gwat menghela napas , ujarnya.
"Sungguh bodoh dia! apa sangkut pautnya perbuatan ayahnya dengan dia! didalam Liong hwa hwe kali ini aku bertemu Thio Hun cu, pernah kutanyakan duduk persoalannya kelihatan nya kejadian itu bukan perbuatannya"
"Dia sudah menyikapi, yang bertanding ke semua golongan dan aliran silat besar memang dia, namun yang mencuri buku ajaran silat dan melukai orang adalah perbuatan orang lain."
"Sungguh sulit dimengerti, lalu apa pula yang dia kuatirkan."
"Tapi peristiwa yang menimpa Bu khek pay di Im san memang benar Thio Hun cu lah yang memelet putrinya Im Le hwa."
"Dari mana dia memperoleh berita ini"
"Boleh nanti kau tanya langsung kepadanya! aku sendiri tidak tahu, memang aku juga berani pastikan bahwa Thio Hun cu kena fitnah, namun ia bergaul dengan orang orang Mo kiong memang kenyataan, maka sulit membela Thio Hun cu."
"Untuk apa Ceng Ceng berada di Tay pa san? "
"Bukankah sudah kukatakan dia sakit, sudah tentu ia merawat penyakitnya disana,"
Demikian jawab Peng Kiok jin uring uringn. Koan San gwat tertawa, dengar sabar ia berkata "Aku merasa heran hanya untuk merawat penyakit kenapa mesti ke tempat yang sepi itu!"
Peng Kiok jin mendengus "Kecuali tempat itu tiada tempat lain ia bisa menempatkan dirinya.
Aku tidak perlu banyak omong, nanti kau akan mengerti dengan jelas, bicara terang atas makaudku sendirilah kau kubawa kemari untuk menemuinya, menurut tabiatnya, selama hidupnya ini ia tidak mau bertemu dengan kau!"
"Toanio, kata katamu makin membingungkan, aku tidak mengerti ..."
"Tidak perlu kau mengerti, cukup asal kau melimpahkan perasaanmu yang murni, mungkin uluran cintamu bisa menolongnya dari penderitaan!"
Koan San gwat geleng kepala denpan hambar, sejak mengetahui seluk beluk Liong hwa hwe, dia sudah berkecimpung dalam banyak persoalan serba rahasia, ia tahu bila bertanya lebih lanjut tidak akan membawa hasil.
Terpaksa ia tutup mulut, menggebah tunggangannya berlari lebih pesat.
Akhirnya Peng Kiok jin tidak lahan, tanya .
"Kenapa kau tidak bicara? "
"Apa gunanya bicara? Urusan yang harus ku ketahui kan tidak bisa memberi tahu makin tanya membuat hatiku gundah dan ruwet malah, lebih baik berlaku tenang menunggu perkembangan selanjutnya ..."
Peng Kiok jin menjadi gusar, dampratnya "Paling tidak kau harus menyatakan rasa prihatinmu terhadap kesehatannya!"
"Begitu mendengar beritanya, segera aku menyusul kemari bersama kau apakah aku masih kurang perhatian?"
"Begitu saja? Kau tahu betapa dia mengorbankan diri diri untuk kesehatanmu dulu? Untuk menolong jiwamu dia pertaruhkan jiwanya membawa Kau ke Kun lun san di tanah bersalju dia kira kau tidak tertolong lagi menangis sejadi jadinya berusaha menimbun tubuhnya dengan air matanya, sekarang dia lebih ..."
"Sekarang dia bagaimana? "
Peng Kiok jin sadar sudah kelepasen omong, cepat ia tutup mulut, kata nya .
"Kau tak usah tanya, yang terang ia telah mengorbankan segalanya, tenggelam dalam penderitaan!"
"Begitu besar dan dalam cintanya terhadapku, kenapa tidak ingin bertemu dengan aku? "
"Ai, akulah yang sudah linglung karena gelisah, bicaraku tidak genah, putar balik di mulut ia mengatakan tidak mau bertemu dengan kau, namun perasan hatinya tidak dapat mengelabui aku, rasa rindunya terhadap kau jauh lebih besar lebih membara dari apa saja ..."
"Aku mengerti! Akupun tidak menyia nyiakan cintanya, di Sian li hong secara tandas kutolak perjodohan dengan Liu Ih yu.."
"Karena sikapmu itu baru aku berketetapan untuk memberitahu jejakanya kepada kau!"
Tiba tiba Koan San gwat berkata sungguh.
"Toanio, bila kau percaya kepadaku, harap kau suka menuturkan keadaan yang sebenarnya! Sebetulnya bagaimana keadaan Ceng Ceng di Tay pa san..."
Peng Kiok jin menggeleng dengan perasaan pedih dan rawan, sahutnya.
"Harap maaf kan aku, tidak bisa aku banyak bicara, membawa kau kesanapun aku sudah bersalah besar, tapi demi nona Ceng, demi membalas kebaikan Soat lo Thay thay, aku banyak bisa menyumbangkan sekedar tenagaku ini!"
Koan San gwat maklum akan kesulitan orang, maka ia tidak mendesak lebih lanjut tunggangannya ia bedal lebih kencang, berlari lari kencang dialas pegunungan dengan bebas tanpa mengenal rintangan.
Untung jarak Tay pa san dengan Bu san hanya seribu li, sepanjang jalan ini mereka harus melewati alas pegunungan yang belukar jarang diinjak manusia, kekuatan lari unta Sakti memang tidak diragukan, naik gunung lompat jurang berlari seperti dijalan datar kira kira satu hari mereka menghabiskan waktu perjalanan, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan.
Tujuan mereka ialah puncak Tay pa san yang utama yaitu yang dinamakan Tay pi hong setelah tiba dibawah gunung, perasaan Peng Kiok jin kelihatan tidak tenang katanya.
"Aku tidak bisa turut keatas, boleh kau bekerja menurut keadaan! tapi rintangan apa serta kejadian memalukan apapun harus dapat kau terima dengan kebesaran jiwa demi nona Ceng."
"Jangan kau putus asa jangan patah semangat, maju terus pantang mundur, semoga Thian selalu melindungi kau..."
Habis berkata ia melompat turun dari punggung unta terus meleset terbang tinggi pergi.
Koan San gwat terlongong heran melihat tingkah lakunya yang aneh, tapi setelah maju lebih lanjut tiga empat li jalan disini semakin sempit dan sulit dilewati cukup untuk lewat satu orang.
Jalan gantung ini dibangun ditengah himpitan dua dinding gunung yang curam, dinding licin dan rata banyak tumbuh lumut hijau, kalau dia nasih bisa berlari, namun unta nya yang bertubuh tinggi besar sudah tidak mungkin maju lebih lanjut, terpaksa ia tinggalkan untanya, memanggul gada masnya serta menyoreng pedang di pinggang, ia maju lebih lanjut menyelusuri jalan pegunungan ini terus naik keatas.
Jalan gunung ini berputar membundar berbeatuk seperti kiong, semakin berputar semakin tinggi, kira kira tujuh delapan li kemudian baru dia melihat sebuah panggung datar dari batu gunung, awan mengembang angin gunung menghembus sepoi sepoi.
Koan San gwat mengeluarkan keringat panas, berjalan begitu lama diatas pegunungan yang sempit memang amat payah, apalagi ia harus selalu waspada menjaga keseimbangan tubuh.
Setelah berada diatas panggung baru, ia menarik napas panjang, setelah menjelajahkan pandangannya, tanpa menarik alis.
Ternyata jalan pegunungan ini sampai disini sudah putus, untuk maju lebih lanjut harus memanjat ke atas seperti kera, dengan akar akar pohon yang tumbuh lebat.
Akar akar rotan memang cukup besar, cukup kuat menahan berat badan satu orang, namun ia merasa sangsi.
Soalnya terletak pada gada masnya ini, beratnya ada tiga empat ratus kati, dia sendiri sih tidak keberatan, namun kuatkah akar akar rotan itu menunjang berat sedemikian besarnya.
Tebing ini cukup tinggi dan disebelah bawah adalah jurang yang tidak kelihatan dasarnya masakah ia harus bekerja mempertaruhkan jiwa sendiri, kalau gada masnya harus ditinggalkan begitu saja, rasanya berat dan tidak mungkin.
Begitulah sekian lama ia memeras otak mencari akal mengatasi kesulitan ini.
Dasar otakanya encer, mendadak timbul aksinya, lekas ia turunkan senjata beratnya, ambil mengerahkan tenaga saktinya, ia tancapkan malaikat mas berkaki tunggalnya diatas panggung batu gunung, begitu hebat tenaganya, gadanya itu sampai amblas seleher patung malaikat berkaki tunggalnya, lalu dikeluarkan pula sebentuk lencana Bing co ling.
Diporotkan diatas batu pula.
Ia membayangkan untuk mencabut gadanya itu dari dalam batu, memerlukan tenaga lwekang yang luar biasa, orang yang membekal lwekang sedemikian tinggi tidak akan ketarik oleh patung malaikatnya.
Umpama orang benar benar mencabutnya keluar itu pertanda bahwa orang itu menantang dirinya, dan untuk itu pasti dia akan mencari dan menemui dirinya, paling tidak pasti meninggalkan tanda pengenalnya dicari tentu tidak sukar.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, terasa hatinya lega dan longgar.
Tapi waktu ia angkat kepala, seketika hatinya terkejut bukan main.
Entah sejak kapan dihadapannya tahu tahu berdiri seorang, orang ini tiba tanpa mengeluarkan suara, entah datang dari bawah atau dari atas.
Orang ini berusia tiga puluhan, mukanya cakap dan cerah, mengenakan pakaian sekolahan, sikapnya sopan santun lemah lembut.
Tapi Koan San gwat tidak demikian, perduli orang datang dari bawah atau atas, kenyataan orang berada dihadapannya tanpa mengeluarkan suara dia tidak diketahui olehnya, jelas membuktikan bahwa orang ini bukan sembarangan orang.
Dengan kaku orang itu menghampiri matanya mengawasi tulisan jari Koan San gwat dipinggir patung malaikatnya yang berbunyi.
"Peninggalan Bing tho ling cu? "
Koan San gwat bersoja, sahutnya.
"Aku yang rendah Koan San gwat ..."
Perhatian orang itu tidak tertuju pada perkenalan namanya, matanya masih menatap tajam tulisan tulisan itu, katanya "Goresan jari saudara sungguh menakjubkan, kekuatan jari itu lebih harus dipuji!"
"Ah tulisan ceker ayam belaka, tidak perlu diperhatikan ..."
"Ai, kenapa sungkan, hobyku juga menulis, bisa bertemu dengan seseorang yang punya gaya tulisan sebagus ini kesempatan tidak kusia siakan, kuharap selanjutnya kami bisa sling belajar dan mamberi petunjuk!"
Sudah tentu Koan San gwat tiada hasrat msmbicarakan soal tulisan, cepat ia kerkata.
"Kelak kalau ada waktu pasti akupun mohon petunjuk pada saudara. Cuma hari itu..."
"Bagus sekali,"
Tukas orang itu.
"Aku tinggal diatas, sewaktu waktu saudara boleh datang untuk memberi pelajaran."
Koan San gwat melongo, tanyanya.
"Jadi saudara juga tinggal dipuncak sana? "
"Benar ... eh, kata kata "juga"
Yang saudara ucapkan kedengapannya aneh, apakah tempat tinggal saudara bertetangga dengan Siau te!"
"O, bukan, aku punya seorang kenalan yang tinggal disebelah atas."
Orang itu manggut, ujarnya.
"begitu! orang yang menetap diatas tidak banyak entah siapa sahabat saudara itu? "
"Seorang anak perempuan, dia bernama Thio Ceng Ceng..."
Berubah air muka orang itu, matanya menatap tajam katanya.
"Memang ada orang yang kau maksudkan, jadi saudara kemari mencari dia? Adalah urusan apa? "
Koan San gwat dongkol akan pertanyaan orang yang melit, namun ia menahan sabar sahutnya.
"Aku yang rendah adalah sahabat karib nona Ceng, sengaja kemari untuk menjenguknya ..." -oo0dw0oo-
Jilid 17 ORANG ITU MENURUNKAN bibir matanya, katanya .
"Thio siocia tidak mau terima tamu!"
Koan San gwat benar benar marah, kata nya.
"Jawabanmu tidak pantas seharusnya nona Thio sendiri yang mengucapkannya!"
Orang itu tertawa, lalu sahutnya tawar.
"Aku yang bicara juga sama, sejak nona Thio berada diatas gunung, ia bertekad putus hubungan dengan dunia ramai, siapapun tidak mau menemui aku!"
"Aku hanya omong saja, kalau tidak percaya, silahkan kau tanya sendiri."
Koan San gwat tertawa dingin, ujarnya.
"Meski tiada jalan tembus keatas, masa dapat mempersulit diriku? "
"Sudah tentu! Kau bisa sampai disini, meski memiliki kepandaian yang lumayan, mari perlihatkan!"
Koan San gwat melotot sekali kepadanya kedua kaki menjejak, badan segera melambung dua tambak lebih, lekas kedua tangannya menarik akar rotan yang menjulur turun, waktu ia turun kebawah, dilihatnya orang itu sudah mencabut keluar gada malaikat mas nya, sedang bolak balik memeriksa dengan teliti, sudah tentu terkejut Koan San gwat di buatnya, lekas ia lepas tangan serta berteriak.
"Hai! Itu barang milikku, jangan kau sentuh!"
Baru saja tubuhnya melayang turun di panggung batu orang itu tersenyum sambil mengacungkan malaikat mas keatas, tiba tiba ia melayang tinggi melampaui kepala Koan San gwat, terus hinggap diatas akar rotan, beberapa kali lompatan, ia sudah berkelebat lenyap dibalik awan.
Melihat gerak gerik orang yang begitu enteng dan lincah serta tangkas itu, diam diam Koan San gwat meleletkan lidah, sejak orang itu muncul, dia sudah menduga bahwa dia tentu bukan sembarangan orang, cuma tidak terpikir olehnya bahwa orang berkepandaian setinggi itu.
Yang lain tidak perlu dipersoalkan, bahwa orang dapat mencabut keluar malaikat masnya yang amblas seluruhnya kedalam batu dengan gampang, lalu membawanya pula dari ...
lari bagai terbang naik keatas, betapa lincah dan cekatan gerak gerikanya, walaupun dirinya bertangan kosong belum tentu dapat memadai.
Apakah diatas puncak berpenghuni orang orang kosen yang lihay pula?
Dari bicara orang itu jelas bahwa bukan dia seorang yang menetap di sana membuktikan pula bahwa Thio Ceng Ceng memang berada diatas puncak.
Cara bagaimana pula Thio Ceng Ceng bisa bergaul dengan orang orang itu?
Lalu terbayang akan tingkah laku serta kata Peng Kiok jin yang serba takut dan rahasia, lambat laun ia mulai paham.
Didunia ini banyak tokoh tokoh kosen yang mengasingkan diri dan tidak suka namanya tersiar di luar, Liong hwa hwe yang kocar kacir itu merupakan contoh yang nyata.
Dilihat dari kepandaian orang tadi, bekal ilmu silatnya tentu lebih tinggi dari beberapa to tertentu dari anggota Liong hwa hwe, tak heran mereka melarang Peng kiok jin membocorkan rahasia ...
Karena analisanya ini, maka Koan San gwat, menghadapi persoalan pelik.
"Manjat keatas? Atau cuci tangan sampai di sini saja? "
Kalau keatas jelas tidak akan memperoleh sambutan bukan mustahil timbul pertikaian yang sulit diselesaikan.
Kalau turun tak bisa menemui Thio Ceng Ceng.
Teringat akan pengorbanan gadis yang harus dikasihani, dia merasa tidak pantas menyia nyiakan kebaikan nya itu.
Dari penuturan Peng Kiok jin ia berkesimpulan bahwa Thio Ceng Ceng tidak ditekan atau diancam, namun pasti hatinya amat berduka.
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 5
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 12