Ceritasilat Novel Online

Patung Emas Kaki Tunggal 4

Eps 4 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.

"Aku tidak peduli apa maksudmu! Untung kau sebagai pelaksana hukum, hukuman apa harus dijatuhkan terhadap orang orang yang suka melanggar aturan dan disiplin kau paling apal! Silahkan kau putuskan sendiri!"

Biasanya sikap Ki Houw terhadap orang lain galak dan takabur, namun dihada pan gadis ini, ternyata bertekuk lutut tak berani bergeming, mukanya pun pucat pias seperti mayat, serunya gemetar .

"Hamba akan mengutungi sabelah tangan saja, bagaimana menurut Sian cu?"

Gadis itu tersenyum, ujarnya .

"Bukankah putusan sudah kuserahkan kepada kau kenapa harus tanya lagi kepadaku!"

Ki Houw kertak gigi, jari tangannya dirangkap terus mengetuk kesiku tangan yang lain, tempat yang diarah adalah urat pencacad tepat disaat ujung jarinya hampir mengenai sasarannya, gadis itu mendadak membentak .

"Tahan!"

Ki Houw merasa lega seperti memperoleh pengampunan, dengan haru ia pandang sekilas kearah segadis. Gadis iti. tertawa cekikikan katanya.

"Pertemuan besar sudah menjelang kalau sekarang lenganmu cacad tentu membawa pengaruh besar terhadap para kerabat di Mo pang kalian, mungkin mereka mengatakan hukuman ini kurang adil."

"Terima kasih sian cu"

Seru Ki Houw girang.

Tapi gadis ku menarik muka, katanya kereng "Jangan sangka bahwa aku ampuni kau, undang undang harus dilaksanakan secara ke keras dan tidak mengenal belas kasihan baru semua orang akan menaruh hormat dan patuh.

Maka hukuman putusan lengan boleh dilaksanakan setelah pertemuan besar itu berlangsung!"

"Hamba menerima hukuman dengan setulus hati, mempunyai tangan kalau tidak dimanfaatkan adalah merupakan suatu siksaan. Lalu bagaimana kau akan mengembalikan dirimu.... bagaimana pula aku tahu bahwa sebelum pertemuan besar itu kau benar benar tidak melanggar laranganku?"

Seketika Ki Houw mengunjuk rasa bingung dan serba sulit, tanyanya.

"Bagaimana menurut maksud Sian cu?"

"Begini saja!"

Ujar gadis itu setelah berpikir sebentar, untuk sementara kau serahkan saja padaku, nanti setelah waktunya tiba akan kuserahkan kembali kepada kau."

Sikap Ki Houw seperti sangat menderita, namun ia tidak berani membangkang, terpaks ia mengiakan, Koan San gwat keheranan dan tak habis mengerti, hanya karena menyebut Thian gwat thian tiga huruf Ki Houw harus memperoleh ancaman berat.

Peraturan itu memang cukup kejam, apalagi lengan merupakan salah satu anggota badan yang penting, gadis itu berkata hendak menyimpanya sementara waktu, akan dikembalikan pula setelah waktunya tiba, ini betul betul merupakan suatu kejadian yang aneh dan jarang terlihat maka dengan mendelong ia mengawasi, bagaimana cara orang akan bekerja.

Terdengar sigadis tertawa nyaring lalu bertanya.

"Kau suduh siap belum?"

Lekas Ki Houw menekuk lengan kirinya, gadis itu memberi tanda dengan kedipan mata salah seorang dayang membawa lampion maju kedepan Ki Houw melolos seutas benang warna merah amat kecil, lalu mengikat lengan Ki Houw dengan benang merah itu.

Baru sekarang Koan San gwat paham duduk persoalannya hatinnya.

"Kiranya disimpan demikian, gadis ini berjiwa sempit, daripada dihukum siksa demikian lebih baik dikuntungi saja lengannya kan beres."

Soalnya benang merah itu sangat kecil getas, dan sedikit bergerak pasti putus, diikat kencang dan ditali pati lagi, tak mungkin dibuka...

benang sekecil itu tentu tidak kuasa membelenggu sebuah lengan, maka dia paham betapa besar tenaga belenggu dari seutas benang sekecil itu serta artinya.

.."

Setelah memberi hukuman kepada Ki Houw, gadis itu mendekat kedepan It lun dan Ban li, katanya tertawa "Kusampaikan selamat kepada kalian, hari baik kailan sudah hampir tlba !"

"Sampai pada waktunya, mohon bantuan Siang cu yang berharga !"

Demikian sabda Ban li sambil menjura.

"Kau terlalu sungkan, aku tidak berguna yang penting kalian sendirilah yang harus berusaha, tapi akan kuberi kelonggaran kepada kalian, sehingga nama kalian dapat dicantumkan lagi diatas daftar dan menghadapi i rintangan yang tidak berarti."

"Terima kasih Sian cu!"

Seru It lun bin gwat dengan haru.

Sambil tertawa halus gadis itu maju ke depan Koan San gwat, kedua biji matanya yang bening laksana jamrud dengan tajam mengawasi Koan San gwat rada lama kemudian baru mulutnya mendesis perlahan "Em, baik sekali!

Sikapnya gagah dan perkasa, melebihi Ui ho, tak heran dia selalu memuji terhadap ahli warisnya, kalau tidak, sejak dulu, seharusnya aku sudah menjenguk kau !"

Meski Koan San gwat tahu bahwa gadis ini berkedudukan luar biasa sikapnya yang agung dan tindak tanduknya yang tegas, kata katanya seolah olah menjadikan dirinya sebagai angkatan muda belaka, sudah tentu hati nya kurang senang, maka dengan muka keteng ia bertanya lagi .

"Hai, siapa namamu?"

Gadis itu rada melengak agaknya selama hidupnya belum pernah ia menghadapi, sikaP karang ajar seperti ini, It lun bing gwat segera berkata .

"Bocah, jangan kau berkata kasar terhadap Sian cu..."

Gadis itu mengulapkan tangan, katanya tersenyum manis .

"Tidak jadi soal. Dia belum terhitung orang dalam, tak perlu dikekang oleh aturan aturan dan lagi aku suka ada seseorang bicara sama derajat dengan aku.... aku bernama Liu Ih yu!"

Dengan sikap wajar dan tenang Koan San gwat berkata .

"Aku harus panggil Sio cia atau Hujin?"

Merah wajah Lio Ih yu, sahutnya .

"Soal ini tidak perlu kujawab !"

Kata Koan San gwat tawar .

"Hanya sekedar menyusuaikan panggilan saja, kenapa tidak usah? Kalau langsung memanggil nama rasanya rada rikuh, kalau aku harus memanggil Sian cu seperti orang lain, aku tidak sudi."

"Hm, baru pertama kali ini kudengar orang mengeritik aku."

"Ya, dikata agung kau belum setaraf, dikata dewi kau belum setimpal"

""Dari penilaian apa kau bilang aku tidak setimpal?"

Tanya Liu Ih yu. Koan San gwat menunjuk keempat dayang itu, katanya .

"Keluarga dewa mengutamakan kebesihan dan kesucian yang tinggi, mana ada tontonan seperti itu."

"Orang menjadi dewa belum tentu seperti Li Ti koay menjadi pengemis, bukan kah dewi Koan im sendiripun membawa pembantu yang dinamakan Sian jay dan Liong li. Menurut hematku aturanku ini tidak keterlaluan !"

Koan San gwat jadi sebal diajak debat secara langsung ia bertanya "Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi dengan Thiaa gwat thian?"

"Suatu badan yang lebih tinggi dari Hong sin pang! termasuk kami suheng moay tujuh orang!"

"Apa pula hubungan Thian gwat thian dengan Liong hwa hwe?"

"Kami bertujuh yang mendirikan Liong hwa hwe, calon Hong sin pang kami pula yang memilih...."

Koan San gwat manggut manggut ujarnya "Aku paham sekarang.

Liong hwa hwe berpusat di Siau se thia, dan kalian menamakan diri sebagai Thian gwat thian, diatas Hong sin pang, jadi kalian dewa diantara dewa,"

"Uraianmu hanya benar separo,"

Tukas Liu Ih yu.

"Diantara Thian gwat thian hanya adalah tiga orang dewa diantara dewa, tiga yang lain adalah iblis diantara iblis, dan satu lagi setan diantara setan, maka Hong sin pang pun terbagi atas "Dewa".

"Iblis".

"Setan"

Tiga tingkat."

Tak tertahan Koan San gwat bertanya pula "Bagaimana azasi tujuan kalian mendirikan Liong hwa hwe ini?"

Liu Ih yu tersenyum manis katanya.

"Pertanyaan ini aku tidak mampu menjawabnya."

Koan San gwat kecewa, ujarnya "Lalu siapa yang bisa menjawab?"

Liu Ih yu berpikir sebentar lalu menjawab.

"Persoalan di Sian pang harus tanya kepada dewa diantara dewa, persoalan di Mo pang tanya kepada iblis diantara iblis...."

Cepat Koan San gwat bertanya pula "Kau termasuk bagian yang mana?"

"Orang memanggil aku Sain cu, menurut pendapatmu aku termasuk bagian yang mana?"

"Kalau begitu baiklah aku bertanya soal yang ada sangkut paut dengan Sian Pang saja bolehkan ?"

"Tidak boleh!"

Lin Ih yu geleng kepala.

"Dewa diantara dewa ada tiga orang, aku hanya nomor dua kalau hanya urusan sepele sih aku boleh menjawab, kalau urusan yang lebih penting lagi, terpaksa harus bertanya kepada Suciku!"

"Dimana ia berada?"

"Tentunya di Siau se thian, api kau tidak mungkin bisa bertemu dengan dia kecuali disaat Liong hwa hwe dibuka dia akan tnrun dan hadir serta berhadapan dengan semua hadirin."

"Kapan pertemuan besar itu diadakan??"

"Tanggal sembilan belas bulas sembilan".

"Apakah kau akan datang?"

"Ya, aku akan datang, karena aku ingin bertemu dengan guruku."

"Baiklah, kami bertemu pula pada waktu itu. Meski kau bukan orang dalam, ambil lah tanda pengenalku ini segala rintangan tiada menjadi persoalan bagi kau, sekarang harus kembali,"

Lalu dari ikat pinggangnya ia melepas sebentuk mainan kalung terbuat dari batu jade terus diangsurkan, tanpa sungkan Koan San gwat menerimanya, sekali berkelebat badan Lin Ih yu tiba tiba lenyap dari depan matanya.

Demikian juga kempat dayang kecil itupun ikut lenyap.

Sekian lama Koan San gwat duduk terbengong seperti orang linglung, sementara itu Ki Houw merangkak bangun dari lantai, karena lengannya terikat benang maka gerak geriknya sangat lamban dan hati hati sekali, seolah olah takut kalau benang itu putus.

Dengan mendelik ia mengawsai mainan kalung kalung ditangan Koan San gwat, matanya memancatkan dendam sakit hati yang berlimpah limpah.

Terdengar Ban li bersuara, dengan rasa iri "Bocah, sungguh besar rejekimu, kau berkesempatan jumpa dengan Sian cu, malah Liong hwa giok pwe miliknya itu diberikan kepada kau........"

"Apa gunanya Giokpwe ini?"

Tanya Koan San gwat tidak mengerti. Bang li menjelaskan.

"Giokpwe taau merupakan simbul kebesaran tertinggi, hak kekuasaannya teramat besar, seluruh tokoh Hong sin pang harus patuh dan tunduk akan perintahmu, sampai gurumu sendiripun tidak terkecuali!"

Koan San gwat, kurang percaya .

"Hanya sebuah Goik gu ini masa mengandung kebesaran sedemikian besarnya?"

"Melihat Giok hu atau simbul kebesaran itu berarti berhadapan langsung dengan Sian cu!"

Koan San gwat terlngong sebentar, lalu menghitung waktu, katanya "Hari ini tanggal Sembilan, sisa waktu tinggal sepuluh hari, dapatkah kita menyusul tiba pada saatnya ?"

"Waktu masih cukup lama asal kita melakukan perjalanan lewat darat dan tak sudah sepuluh hari kita sudah tiba di Bu san,"

Demikian Ban li menjelaskan pula "Waktu memang masih cukup panjang tapi jangan ayal ayalan, kalau kau tiada urusan lain sekarang juga kita harus berangsur, toh pertanyaan yang ingin kau ketahui sudah cukup kau ketahui, pertanyaan yang lain ku kira tiada orang yang bisa menjawab lagi..."

Demikian It lun ikut menimbrung. Koan San gwat merenung sebentar lalu berkata kepada Ki Houw "Apakah kau juga hadir dalam Liong hwa hwe nanti?"

Ki Houw menjengek gusar .

"Kau sudah tahu masih tanya segala, sebagai pertolan Mo pang, mustahil bila aku tidak hadi."

"Baik sekali! Tiba saatnya kuperintahkan kau bawa Khong Ling ling, pertikaiannya dengan pihak Ciong lam pay harus kuselesaikan!"

Ki Houw bermuka masam, sahutnya dingin .

"Berdasar apa aku harus dengar perintah mu!"

Koan San gwat anggap Giok hu pemberian Liu Ih yu, Ki Houw bungkam dan tak tunduk tidak berani bersuara lagi, kata Koan San gwat tertawa .

"Disamping soal itu, kau harus bertanggung jawab pula pada dua urusan lain!"

Ki Houw kertak gigt, desisnya .

"Sekarang kau bisa main kuasa, coba katakan!"

Koan San gwat dengan sikap sungguh sungguh .

"Pertama, sebelum tiba saatnya pertemuan besar itu, Giok hu ditanganmu itu tidak berlaku lagi, tatkala itu......"

"Tatkala itu aku akan mencarimu, untuk membuat perhitungan."

Tukas Koan San gwat.

"Kau harus siap membereskan persoalan kita!"

"Lalu bawa orang orangnya keluar dari pendopo besar ini langsung keluar dari Thian ki piat hu, alat rahasia dan segala aral rintang yang terdapat dI hutan pekatpun sudah ditarik semua, maka dengan gampang mereka bisa melintas lewat dan sampai diluar dengan selamat."

"Untung Giok hu itu melindungi kita kalau tidak jalan kembali ini entah harus menghadapi bahaya apa saja..."

Begitulah ujar Bin li sambil menghela napas lagi. Mendadak tergerak hati Koan San gwat, tanyanya.

"Masih ada sebuah pertanyaan, apa boleh kuajukan?"

"Kau membawa Giok hu itu, kan kuasa memerintah kami melakukan apapun yang kau inginkan!"

Sahut Ban li tertawa.

"Main perintah aku tidak berani. Aku hanya teringat suatu kejadian aneh, tadi Ki Houw ketelanjuran mengatakan Thian gwat thian, tak lama kemudian Lan Ih yu lantas muncul bagaimana dia tahu secepat itu?"

Ban li menjawab hidmat.

"Ini, Lohu tidak tahu, tapi ketiga huruf itu tidak boleh sembarangan diucapkan, hanya di Liong hwa hwe saja boleh bicara secara bebas, kalau sebaliknya hukumannya adalah mati, dalam Hong sin pang, lapis mengendalikan lapis, jadi yang bawah selalu digencet dari atas, gerak gerik harus hati hati, maka rahasia ini bisa dikendalikan sampai lama ..."

Koan San gwat mengeleng kepala katanya.

"Maksudku dengan cara bagaimana Liu Ih yu bisa kebetulan datang !"

Berubah air muka Ban li, sahutnya "Hal ini Lohu benar benar tidak tahu, seluruh anggota Liong hwa hwe selamanya tidak berani menyinggung ketiga huruf itu, karena hukumannya berat.

Para Sian cu seolah olah setiap waktu selalu mengontrol dan mengawasi segala gerak gerak kita...."

Koan Sangwat uring uringan, katanya.

"Mereka hanya bertujuh mana mungkin dapat mengendalikan ratusan orang ...."

Ban li gemetar dan berubah pucat, sahut nya. Maaf Lohu tidak berani banyak bicara kau dilindungi oleh Giok hu itu, sebaliknya Lohu masih ingin hidup beberapa tahun lagi."

Terpaksa Koan San gwat tidak banyak tanya lagi, setelah mereka tahu meninggalkan sarang iblis itu, lalu ia berkata kepada Lu Bu wi.

"Khong Ling ling tiada disini segala rencana yang kita atur itupun tiada gunanya lagi harap Ciangbunjin mengumpulkan seluruh anak murid kalian, mau membuat rencana lain,"

Lalu ia tarik Lu Bu wi kesamping diajak bicara, kelihatannya Lu Bu wi mengalami kesulitan. Maka Koan San gwat berkata .

"Ciangbunjin, tidak usah kuatir, aku sudah berpesan kepada Ki Houw, mereka pasti tidak akan berani bertindak terhadap kalian."

Lu Bu Wi mangut mangut terus membalikkan tubuh tinggal pergi, Lau Sam thay ikut bersamanya. Lok Siau hong yang suka usil ini bertanya .

"Koan toako apa yang tsdi kau rundingkan dengan mereka?"

Koan san gwat tertawa tawa ujarnya "Hal ini tidak boleh bocorkan, Liong hwa hwe selalu bertindak misterius, maka aku pun perlu berlaku ketat dan main sembunyi untuk menghadapi mereka bila sampai waktunya pasti kita bisa memperoleh perlindungan!"

Lok Siau hong jadi mangkel sambil membanting kaki ia berlari berjalan didepan seorang diri.

Tanggal sembilan belas bulan Sembilan, Tabir misteri di puncak Sin li hong akan segera tersingkap, disaat pertemuan besar yang serba misterius itu Koan San gwat menunggu unta saktinya di sampingnya Lok Siau hong bercokol dipunggung kuda, mereka berjalan pelan pelan dibawah petunjuk It lun dan Ban li yang jalan di muka jalan pegunungan sunyi senyap, lewat jalan yang berliku liku tidak rata itu hanya terdengar derap kaki kuda tunggangan Lok Siau hong membelah kesunyian dialam pegunungan.

Sepanjang jalan ini, banyak orang aneh yang bertindak tanduk aneh mereka jumpai ia tahu betapa penting dan gentingnya peretemuan besar itu, maka Lu Bu wi dan Lau San thay ia tugaskan dalam urusan lain, karena ikut akan merupakan beban saja, malah sebelumnya ia sudah mengatur rencana yang cukup baik, bila perlu rencana ini dapat membawa banyak bantuan bagi mereka.

-oo0dw0oo-

Jilid 11 SEMAKIN menanyak tinggi perjalanan semakin sukar, angin pegunungan menghembus semangkin keras, It lun dan Ban li melangkah mangkin cepat lagi, unta sakti dapat berlenggang seenakanya saja tanpa kepayahan adalah kuda Lok Siau hong mangkin ketinggalan jauh, napas sudah engos engosan kuda itu tidak kuasa berjalan ditempat sukar.

Koan San gwat lantas berseru kearah depan.

"Cianpwe mohon berjalan pelan pelan saja..."

Ban li berteriak dengan gelisanh.

"Liong hwa hwe akan dibuka nanti lohor, sekarang hampir setengah hari kalau terlambat kita tidak bisa masuk, harapan kita selama beberapa tahun akan menjadi nihil sama sekali."

Terpaksa Koan San gwat berkata kepada Lok Siau hong.

"Tinggalkan kudamu, duduklah dibelakangku "

Memang Lok Siau hong sudah mangkel menghadapi kudanya yang bandel ini, dengan tertawa riang segera ia melompat naik kepunggung unta dan duduk dibelakang Koan San gwat, kedua tangannya menyikap pinggang orang.

Meski ditambah satu orang lagi, langkah unta sakti masih ringan dan cepat laksana terbang, dua orang didepan itu malah berlari makin kencang.

Waktu matahari tepat bercokol ditengah cakrawala merekapun sudah tiba didepan sebuah papan baru besanyang berdiri tegak di pinggir jalan, diatas batu diukir tiga huruf yang bercoret indah dan dalam, ketiga huruf itu berbunyi "Siau ae thian!".

Kecuali dua barisan anak anak kecil berdiri jajar terbagi dua, seorang whesio berdiri tegak ditengah jalan, whesio ini bukan lain adalah Go hai ci hang yang telah menuntun mereka memasuki hutan pekat di Kiam bun san tempo hari.

Sambil menghela napas lega Ban li berkata.

"Untung belum terlambat!"

Memandang kearah mereka Go hay cu hang berkata sambil menarik napas.

"Baru saja Lolap bersyukur kukira kalian sudah melihat keseluruhannya, siapa tahu ternyata masih...."

"Kepala gundul."

Tukas Ban li dingin .

"Tak usah kau umbar budi darmamu terhadap kami, memang kami sengaja menjebloskan diri! nanti malah kami mengharap kau memberi kelonggaran atau bila sebalikanya kami mohon supaya kau suka mempersembahkan demi arwah kami!"

Go hai chiang menghela napas tanpa bersuara, matanya beralih kearah Koan San gwat dan Lok siau hong.

"untuk apa kalianpun datang kemari?"

Koan San gwat sudah merasa simpati padanya, lekas saja ia berkata "Wanpwe datang untuk tambah pengalaman!"

"Omitohud! Tempat terlarang ini paling banyak memusingkan kepala, kenapa kalian mencari kesukaran malah!"

"Baik buruk tergantung mulut berkata, kesulitan karena tingkah laku yang suka ugal ugalan, soalnya wanpwe tidak dapat mengendalikan diri, aku ingin menyelidiki beberapa hal yang mencurigakan, terpaksa kami ikut menerobos kemari!"

Demikian.

"Gampang masuk kedalam pintu, keluar sesulit manyat langit. Kebetulan Lolap ditugaskan menyambut tamu, kuberi nasehat kepada kalian berdua lekaslah kembali saja, persoalan dunia ini memang....."

Cepat Koan San gwat menyambung.

"Ti dak seperti kehidupan bebas para dewata Harap loa suhu suhu memberi jalan!"

"Dengan baik hat Lelap menasehati kalian tapi kalian masih berkukuh terpaksa kujalani aturan disiplin disini."

"Kepala gundul! Jangan kau banyak cingcong, mereka membawa Giok hu milik Sian cu, berani kau melarang mereka masuk?"

Ban berseru gusar. Terpaksa Koan San gwat keluarkan Giok hu dan diangsurkan kedepan, Go hay ci hang, berubah air mukanya, katanya menghela napas panjang .

"Ai, takdir menghendaki demikian, buat apa kau banyak kata lagi. Mari, silakan !"

Sembari berkata ia membungukan tubuh lalu menyingkir kesamping.

Lekas Koan San gwat membalas hormat.

Anak anak kecil laki perempuan itupun ikut menjura hormat.

Maka terdengarlah musik mengalun mengiringi perjalanan mereka yang dipimpin dua anak kecil laki perempuan yang membawa taburan kembang.

"Untuk apa itu?"

Tanya Koan San gwat melengak.

"Kalian ada membawa Giok hu milik Sian cu maka termasuk tamu agung dalam pertemuan besar ini, menurut aturan taburan kembang harus menunjuk jalan diiringi alunan musik gembira. Silakan!"

Koan San gwat mengatakan sambil menyatakan terima kaih, lalu sambil menarik untanya ia mendahului melangkah kedepan menerobos kabut tebal yang mengembangkan di jalan berliku, tak berapa lama kemudian tiba tiba pandangan mereka menjadi lebar dai terang, kabut dan mega hilang sama sekali, kiranya mereka sudah dipinggir lapangan luas.

Dilapangan besar ini hadir banyak terdiri dari berbagai rupa dan golongan, kebanyakan berusia lanjut atau pertengahan umur hanya beberapa pemuda yang hadir, mereka terbagi beberapa kelompok dan sedang mengobrol atau tercakap cakap, entah duduk entah berdiri.

Dilapangan besar sudah berderet meja kursi yang sudah siap ditaruh makanan dan buah buahan yang aneh, perjamuan belum di mulai, maka meja meja itu masih penuh dan lengkap.

Banyak pelayan pelayan kecil laki perempuan berpakaian seragam yang hilir mudik mempersilahkan para hadirin menempati meja kursi itu.

Karena mendengar iringan musik, semua hadirin kaget dan menoleh heran dengan pandangan aneh dan sikap yang lucu.

Koan San gwat bersikap wajar dengan sorot matanya ia menjelajah keseluruh pelosok, tiba tiba dilihatnya Peng Kiok jin Lok Heng kun, Lok Siang kun dan Liu Ju yang berkumpul dengan beberapa orang pertengahan umur lainnya, entah apa yang mereka bicarakan dengan bisik bisik.

Tergerak hati Koan San gwat, baru saja ia hendak menghampiri, lekas Peng Kiok jin memberi syatat dengan kelapan tangan merintangi maksudnya.

Demikian juga Lok Sian hong dIdelikI oleh Lok Hang kun sehingga tidak berani banyak bertingkah, dengan uring uringan ia menggerutu .

"Kenapa ibu tidak hiraukan aku lagi?"

"Mana aku tahu, tapi kukira mereka punya alasan, sekarang tak usah kau gelisah, nanti kalau ada kesempatan tanyakan kepada mereka...."

Saat mana mereka sudah tiba dihadapan sebuah meja batu, Koan San gwat melompat turun, di sini Koan San gwat dibuat melongo dan kaget, karena tidak jauh disebelah sana dilihatnya Thio Hun cu juga sedang menduduki sebuah meja tersendisi, dengan nanar matanya sedang mengawasi diri nya.

Tampak oleh Koan San gwat air muka Thio Hun cu pucat dan badannya rada kurus namun semangatnya kelihatan lebih menyala kulit mukanya yang kekuning kuarngan itu kelihatan bersemu merah setelah saling berpandangan sekian saat, akhirnya Koan San gwat maju menyapa .

"Paman Thio! Bagaimana kau pun disini?"

Thio Kun cu bergelak tawa ujarnya.

"Hah kiranya kau adanya, sejak tadi kuamat amati kau, kelihatannya mirip tapi aku belum yakin...."

Koan San gwat melongo, tanyanya .

"Paman! Kami berpisah baru setahun lebih, apakah Siautit ada banyak perobahan?"

"Perubahan sih tidak begitu besar, cuma aku sulit percaya kau masih bidup...... kalau begitu, nenek tua di Kun lun san itu memang cukup lihay?"

Koan San gwat terlongong sejenak lalu katanya "Kepandaian pengobatan Soat lo Thay thay memang cukp lihay, setelah makan waktu satu tahun baru berhasil menyembuhkan seluruh penyakitku..."

Thio Hun cu bersuara dalam tenggorokan wajahnya menunjuk mimik yang aneh dan lucu, lalu dengan sikap acuh tak acuh ia bertanya.

"Dimana Ceng ji? Kenapa kau tidak ikut kemari?"

Menyinggung Thio Ceng Ceng Koan San gwat jadi melengak, betapa besar cinta gadis itu terhadap dirinya, sebalikanya selama perjalanan dirinya terlalu sibuk memikirkan persoalan Liong bwa hwe jarang sekali ia teringat dan memikirkan keselamatannya, kini setelah ditanyakan baru ia benar benar merasa menyesal, setelah berpikir ia baru menyahut.

"Adik Ceng beberapa waktu yang lalu sudah berpisah dengan aku, entah kemana dia pergi..."

Sikap Thio Hun cu masih tenang dan wajar, katanya "O, bukankah dia begitu terpincut kepada kau?

Terhadap ayah kandung nya sendiripun dia berani membangkang dan mendurhakai, bagaimana mungkin dia rela berpisah dengan kau?"

Koan San gwat jadi mendongkol, suaranya meninggi dan ketus, katanya "Justru gara gara paman pula sehingga adik Ceug nekad meninggalkan aku..."

Thio Han cu tertawa sambil menggelengkan kepala, katanya .

"Masa terjadi hal demikian, setahun yang lalu dia sudah mengakui aku ayah kandungnya ini...."

Persoalan lama itu Koan San gwat tahu jelas, maka melihat sikap dingin Thio Hun cu ia kurang senang, debatnya .

"Meski adik Ceng mengingkari maksud dan kehendak paman, tulisan yang dia tinggalkan untuk paman kan sudah menjelaskan secara gamblang, semestinya paman mamaafkan dia......"

"Bukan soal memberi maaf, soalnya aku anggap urusan sudah terlanjur, apa itu hubungan kandung sedarah daging, kenyataan palsu belaka, yang paling penting dan diutamakan bagi anak gadis sekarang bukan lain adalah pujaan hatinya, dengan susah payah orang tuanya mengasuh dan membimbingnya menjadi besar, setelah besar rela minggat dengan seorang laki laki yang bara saja dikenalnya, budi kebaikan orang tuanya, sudah dilupakan sekali, anak perempuan diseluruh kolong langit kebanyakan demikian, maka akupun tidak perlu merasa sedih bagai urusan anak Ceng lagi!"

Karuan merah muka Koan san gwat, ucapan Thio hun cu terang sepihak dan berat sebelah, namun apa yang diucapkan menang ada benarnya, setelah termenung sebentar akhirnyi Koan San gwat menjawab.

"Asal paman sudi mengingat perjodohan paman dengan bibi diwaktu muda dulu, maka semestinya kau ikan merasa iba dan simpati akan nasib adik Ceng sekarang..."

Berubah air muka Thio Hun cu, katanya.

"Terhadap pengalamanku dulu agakanya kau sudah tahu semunya?"

"Benar Soa lo Thay thay sudah mengakui adik Ceng sebagai cucunya malah seluruh kepandaian keluanga Soat sudah beliau ajarkan kepada adik Ceng.... Kecuali ilmu pengobatan, kepandaian lain keluanga Soat lumayan saja tiada perlu dibanggakan... oh, tadi kau katakan anak Ceng lari pergi lantaran aku sebetulnya apakah yang terjadi?"

"Seharusnya tanya kepada paman sendiri, apa saja yang paman lakukan selama bulan bulan lalu?"

"Tiada apa apa yang kulakukan!"

Sesaat Koan San gwat tidak berani memastikan bahwa kejadian itu memang perbuatan Thio Hun cu, maka dengan menekan sabar ia bertanya lebih lanjut.

"Apakah dalam waktu dekat ini paman bertanding keberbagi partai golongan besar?"

"Tidak salah! bertanding, aku cuma memilih beberapa diantaranya untuk jalan jalan saja!"

"Jadi betul kalau begitu!"

"Betul atau tidak apa segala, coba jelaskan lebih lanjut!"

"Mencelakai para Ciangbunjin dari berbagai partai dan golongan besar, merebut barang pusaka atau buku rahasia pelajaran silat mereka ..."

"Uraiamu kedengarannya seperti menusuk kuping, duduk perkara sebenarnya tidak begitu penting dan seberat apa yang kau katakan..."

"Anak murid berbagai partai dan golongan itu tersebar luas mencari jejak paman...."

"Silahkan kau pergi mencari kabar pula, para Ciangbunjin itu sudah kembali, malah memperoleh hasil yang baik dan bermanfaat bagi mereka, perbuatanku itu bertujuan baik dan menguntungkan mereka..."

Sambil menahan amarah Koan San gwat menekankan "Tiong sian Taysu dari Siauw lim si diracun hingga lumpuh, Thian Ki Totiang dari Butong mati keracunan, apakah perbuatan paman itu baik dan menguntungan mereka ?"

"Hal itu ada sebab musabab lainnya, kalau kau tidak percaya silahkan kau meluruk kesana dan tanyakan sendiri, merek sudah memilh Ciang bunjin yang baru, asal mereka membaca surat warisan kedua tokoh itu, pasti mereka tidak akan benci kepadaku!"

Melihat orang bicara dengan tenang dan mantap Koan San gwat ragu ragu dan tertegun sesaat kemudian ia bersuara pula.

"""Lalu peristiwa yang menyangkut pihak Bu khek kiam pay dari Im san, cara bagaimana paman memberi penjelasan?"

Thio Hun cu membalikan matanya, dengusnya "Apa itu Bu Khek kiam pay dari Im san bahwasannya aku belum dengar adanya golongan pedang itu ?"

Koan San gwat berkata gusar.

"Disana ...... memperkosa putrid terkecil Ciang bun jin Im Siok kun yang bernama Im Le hoa, gadis itu kau guna guna, sedang tekun dan penuh kasih mesra menunggu kedatanganmu..."

"Bohong!"

Sentak Thio Han cu dengan berubah marah.

"Kau anggap apa aku ini?"

"In Siok kun teramat benci ketulang sumsummu, apakah kejadian ini hanya tipuan belaka?"

"Selamanya aku belum pernah melihat Im Siok kun, dan tak mungkin aku Melakukan perbuatan lakanat macam itu, mungkin mereka salah melihat orang.

"Menurut apa yang digambarkan Im Siok kun aku yakin bahwa orang itu memang benar kau adanya."

Thio Hun cu berpikir sebentar lalu katanya.

Urusan ini masih banyak segi liku liku nya yang harus kuselidiki, nanti sebentar mungkin bisa dibikin jelas ....

sungguh tidak nyana terjadi peristiwa macam itu, kelihatan nya, memang tahu, orang tahu muka tidak tahu hatinya..."

Koan San gwat tertegun dibuatnya, tanyanya.

"Pa......man, apakah yang telah terjadi?"

Sekarang jangan banyak tanya, cepat atau lambat aku pasti akan menyelesaikan urusan ini....jadi karena urusan ini anak Ceng..."

"Benar!"

Sahut Koan San gwat manggut.

"Urusan ini merupakan pukulan berat bagi sanubari adik Ceng, dengan nekad dan marah marah ia tinggal pergi, begitu saja katanya hendak mencari paman...."

"Buset! "dengus Thio Hun cu.

"Terhadap ayah sendiripun ia kurang pengertian,"

Berhenti sejenak lalu ia bertanya pula "Kalau kaupUn membiarkan dia pergi begitu saja ?"

"Tidak! Hwi thian ya ce Peng Kiok jin cianpwe ada ikut dan memberi perlindungan. Akulihat Peng cianpwe juga ada disini, sebentar nanti akan kutanyakan, dimana sekarang adik Ceng berada?"

"Sabar! Sabar!"

Ujar Thio Hun cu geleng kepala.

"Masih banyak urusan yang harus di selesaikan, sementara tak usah perdulikan urusan kecil itu!"

Koan San gwat bertanya .

"Untuk apa paman kemari? Apa kau pun sudah menjadi anggota Liong hwa bwe?"

"Boleh dikatakan demikian,"

Sahut Thio Hun cu.

"Sekarang aku belum menjadi anggota nanti sebentar akan. ...jangan bicara soal ini! kau sendiri sudah tiba disini, tentu kau tahu tidak boleh sembarangan omong tentang persoalan itu, duduk dan menontonlah dengan tenang? kau akan paham sendirinya."

Bimbang Koan San gwat dibuatnya, duduk menepekur sebentar, tiba tiba didengarnya suara gendrang dipukul bertalu talu, suasana seketika menjadi sepi dan hening, semua berdiri meluruskan tangan, wajah kelihatan tegang dan hikmat.

Thio Han cu ikut berdiri, dengan lirikan mata ia memberi isyatat kepada Koan San gwat supaya ia berdiri, terpaksa ia menurut.

Diatas panggung batu besar ditengah lapangan berdiri dua baris anak anak kecil laki perempuan berseragam mewah dan perlente, salah seorang anak perempuan dengan nada melengking suaranya yang tinggi memberi pengumuman.

"Liong hwa hwe dimulai, harap para hadirin berdiri menurut urutan masing masing supaya diabsensi!"

Hadirin bergerak serabutan tanpa suara dalam sekejap mereka sudah berkelompok sendiri sendiri terdiri dari tiga barisan.

Waktu Koan San gwat menjelajah pandang, tampak dalam barisan Sian pang ia hanya kenal Ouw hay ih siu pok iang cun saja.

Demikian juga dalam kelompok Mo pang yang dikenal hanya Lok Heng kun dan Liu Jiu yang bertiga.

Sementara Hwi thian ia ca Peng Kiok jin berada dalam Kui pang, Sip tha yu ...

yang kelihatan hanya si Rasul ungu Siau It ping.

Suara lengking anak perempuan itu terdengar pula.

"Para pimpinan dari barisan silahkan keluar mengabsen anggotanya"

Tampak Go hay ci hang melayang turun dari luar lapangan dan berseru paling dulu dengan suara rendah kuat "Kecuali dua Ling cu yang tercantum, dan dua calon penggantinya, Sian pang hadir selurahnya!"

Anak perempuan itu bertanya pula "Calon penggantinya apa sudah tiba?"

Go hay ci hang menjawab "Dua orang tercoret untuk diganti, serta tiga calon yang mendaftarkan diri semuanya hadir!"

Anak perempuan itu menepukan tangan nya kebawah dari gombrong lengan bajunya mengepul segulung asap yang terhembus angin terus naik ketengah udara, lama kelamaan asap itu membentuk sebuah huruf "Sian", seperti digantung ditengah udara layakanya asap itu berhenti tidak sampai buyar, warnanya hijau pupus.

Ki Houw mengenakan pakaian serba putih, sebuah tangannya masih tertekuk dan terikat, memasuki gelanggang dari jurusan lain, seirunya lantang.

"Mo pang hadir seluruhnya!"

Seperti yang pendahulu, anak perempuan itu melepaskan segumpal asap warna merah yang mengepul tinggi menjadi huruf "Mo"

Terdengar Ki Houw berseru pula.

"Pimpinan Mo pang mohon diberi ijin membuka ikatan benang merah, supaya dapat memimpin barisan menyambut kedatangkan para Sian cu!"

Tanpa bersuara anak perempuan itu mendongak kelangit, seolah olah sedang menunggu petunjuk, sekejap kemudian baru terdengar ia menjawab dengan suara bocah.

"Ijin diberikan!"

"Terima kasih akan kemurahan hati Sian cu!"

Seru Ki Houw sambil membungkuk tubuh, air mukanya kelihatan lega.

Di waktu ia meluruskan badan pula tangan yang tertekuk itupun sudah turun lutut cuma tidak bisa lempang, mungkin karena tertekuk terlalu lama.

Dari luar lapangan sebelah samping meluncur masuk seorang perempuan berpakaian serba hitam, raut mukanya tertutup cadar hitam pula, dari rambutnya yang panjang serta porongan tubuhnya yang langsing gemulai tentu orang tahu bila dia seorang perempuan.

Sambil membungkukkan tubuh ia berseru .

"Anggota Kui pang seluruhnya berjumlahsembilan puluh dua orang! Siap menunggu perintah !"

Anak perempuan itu mengerutkan alisnya.

"Kenapa tidak dibikin genap seratus."

Perempuan berkedok membungkuk lagi serta menjawab hormat.

"Sulit mencari orang!"

Anak perempuan itu mendongak kelangit lagi, sebentar kemudian baru berkata.

"Di ijinkan hadir, di perintahkan untuk bikin genap selekasnya."

"Terima kasih akan kemurahan hati Sian cu!"

Perempuan berkedok itu menyahut riang.

Jantung Koan San gwat berdebar keras, pikirnya Liong hwa hwe ternyata sangat mengesankan, anak perempuan itu usianya masih kecil, latihan lwekangnya ternyata sudah mencapai tingkat tinggi.

Hanya menepuk tangan mengeluarkan asap yang berkumpul sehingga tidak sampai buyar, jelas ia menggunakan ilmu khikang dari aliran lwekeh yang hebat.

Di dalam sari hawa murni dari pusar disalurkan ke jalan darah Thian kim maka warnanya menjadi hijau.

Kalau melalui urat darah dan dilandasi dari jantung mengepul warna merah.

Sebalikanya kalau dikepulkan dari pori pori kulit maka warnanya berubah hitam.

Anak perempuan kecil yang berusia dua belas dapat membentuk tiga warna asap, benar benar tidak boleh dipandang ringan, setiap kali ia menghadapi kesulitan dan tidak dapat memberi jawaban lalu mendongak ke langit, menerima petunjuk, mungkinkah orang yang memberi petunjuk itu benar berada diatas awang awang yang diselimuti mega tebal itu?

Sedang ia bertanya tanya dalam hati, anak perempuan itu sudah berseru lantang ke atas langit "Harap para Hwe cu turun ke panggung memimpin upacara besar!"

Maka terdengarlah irama musik mengalun halus ditenagah udara, semakin tegang hati Koan San gwat.

Sebab ia tahu bahwa gurunya termasuk salah satu Hwe cu, sebentar lagi ia bakal melihat beliau.

Awan tebal ditengah udara ini tiba tiba tersibak kesamping dan tampaklah sebuah lubang, dari lubang itu beruntun melayang turun empat orang badannya meluncur dengan lambat lambat saja, kain baju mereka melambai terhembus angin, seolah olah malaikat yang turun dari langit.

Sebagai seorang ahli segera Koan San gwat tahu bahwa ginkang keempat Hwe cu ini sudah mencapai tingkat yang paling sempurna, mereka kuat mengepos napas mengembangkan tubuh, seringan mungkin.

Keempat orang itu melayang turun pelan pelan, dikala hampir tiba diatas panggung, Koan San gwat membuka lebar matanya, ia hendak mencari gurunya diantara keempat orang itu, namun ia menjadi kecewa.

Keempat orang itu pertengahan umur dua diantaranya mengenakan baju panjang warna hijau, wajahnya putih bersih, rambutnya dan jenggotnya masih hitam gelap, seorang yang lain mengenakan jubah merah, jambang hitam tebal, sikapnya kereng, seorang lagi mengenakan pakaian hitam, badannya kurus kering tanpa berjenggot...

Tokko Bing tidak ada diantara mereka, seluruh hadirin saling berbisik dan suasana rada ribut, agakanya hal ini diluar dugaan hadirin.

Anak perempuan itu segera membentak.

"Hwe cu tiba dilarang ribut! Yang melanggar dihukum sesuai aturan !"

Seketika sirap dan tenang di bawah panggung, dua barisan anak kecil diatas panggung serempak membungkuk tubuh menunduk kepala, demikian jaga anak perempuan yang mengeluarkan perintah itu ikut membungkuk serta katanya .

"Hamba beramai menyambut kedatangan para Hwe cu!"

Salah seorang laki laki baju hijau berseru .

"Terima kasih! Membikin repot Ling koh saja ?"

Anak perempuan yang dipanggil Ling koh tersenyum lebar iapun mengundurkan diri kesamping. Semua hadirin dibawah panggung membungkuk tubuh serta berseru lantang .

"Hormat kepada yang mulia para Hwe cu."

Laki laki baju hijau menyambut pemberian hormat ini, sahutnya tertawa .

"Terimakasih akan perhatian saudara saudara sekalian... sang waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa dua tahun sudah berselang, saudara baik baik saja selama berpisah?"

Terdengar pula menyahut bersama dari bawah panggung .

"Berkat kebijaksanaan para Hwe cu!"

Dengan tujuan laki laki berbaju hijau menjelajah keseluruh lapangan, katanya.

"Para sahabat lama dalam Liong hwa hwe kini sudah tidak lengkap lagi, patah tumbuh hilang berganti, beruntung para ketua yang sudah lanjut mangkat punya penerus, generasi muda jauh lebih perkasa. Demikian pula para sahabat yang baru saja menjadi anggota kulihat tidak kalah pula gagah dan Perwiranya, Losiu berani merasa beramat beruntung dan bersyukur pula !"

Dari berbagai pelosok lapangan dibawah Panggung terdengar penyahut yang tidak rata.

"Terima kasih akan perhatian Hwe cu !"

Laki laki baju hijau tertawa lebar, kata nya pula?""Perempuan hari, ada sedikit perubahan, soalnya terjadi dalam keadaan mendadak sehingga Losiu belum sempat mengumumkan, adanya kesempatan ini baiklah kita saling beramah tamah satu sama lain, Ketua Hwa cu kali ini Ut ho Siang jin berhalangan hadir karena suatu keperluan,, terpaksa Losiu mengundang Kih Cu seng untuk menjabat sementara..."

Tiba tiba Koan San gwat berteriak .

"Suhu pergi kemana?"

Semua hadiran melengak demikian juga laki laki baju hijau tercengang, sekilas, ia melirik dengan pandangan penuh tanda tanya karena tak tahu asal usul Koan San gwat.

Anak perempuan yang bernama Ling koh maju berbisik dipinggir telingannya.

Baru sekarang laki laki baju hijau unjuk senyum lebar serta menyahut.

"Tak lama lagi gurumu pasti akan datang, harap saudara sadar jangan banyak tanya supaya tidak mengganggu jalannya acara."

Dengan tercengang Koan San gwat berdiri diam, laki laki baju hijau itu angkat tangan kembali bicara kepada semua hadirin.

"Silahkan saudara saudara sekalian menempati tempat duduknya masing masing setelah perjamuan selesai Thian gwat thian dan para pimpinan Sian, Mo dan Kui harap naik kedepan pangung mulai mengadakan pembetulan serta koreksi terhadap barisan masing masing."

Selesai bicara ia memberi tanda dengan lambain tangan, maka terdengarlah irama musik mengalun pula, seluruh barisan kembali menempati meja meja perjamuan kini tiada perbedaan tinggi rendah kedudukan, tua muda bergaul dan campur aduk menjadi satu, suasana mulai ramai dengan percakapan dan senda gurau.

Barisan anak kecil diatas panggung masih ditempatnya, sementara keempat Hwe cu sudah turun panggung dan berpencar dalam perjamuan dibawah, tampaklah pelayan pelayan kecil laki perempuan sibuk hilir mudik membawa arak menambah hidangan.

Lok Siau hong berada disamping Koan San gwat tak tahan berteriak .

"Koan toako, kemanakah ibuku?"

Tanya menanti jawaban sekali berkelebat cepat sekali ia menyelinap kearah tempat Lok Heng kun tadi berada, baru saja Koan San gwat hendak menyusul, tahu tahu sebuah bayangan melayang di depannya, kiranya laki laki baja salah satu dan Hwe cu tadi menghadang jalan, sapanya .

"Siheng! Jangan pergi, mari kita mengobrol!"

Memang Koan San gwat hendak tanya keadaan gurunya, sudeh tentu ia setuju akan ajakan orang cepat ia bersoja serta berkata .

"Cianpwe silakan duduk, memang wanpwe ingin mohon sedikit petunjuk!"

Sambil tertawa lebar si baju hijau duduk, dikursi batu depannya, sementara Ling koh menghampiri sambil membawa poci arak dan dua cangkir serta mangkok dan sumpit, katanya berdiri disamping .

"Hamba akan melayani!"

Laki laki baju hijau segera menjiwil pipinya serta katanya tertawa "Budak kecil, kau selalu mengawasi gerak gerikku, jangan kuatir, orang tua ini tidak akan sembarangan omong!"

Ling koh memicingkan mata, godanya.

"Banyak bicara pasti bisa terlanjur omong, apalagi bila Lyacu kebanyakkan air kata kata (arak), mulut tentu usil, maka Liu Ih yu Sian cu menyuruh aku kemari menemani kau, untuk mengontrol mulutmu yang cerewet."

Laki laki baju hijau kelihatan tertegun.

"Siapa bilang tiada hubungan, Koan kongcu adalah tamu agung undangan Ih yu Sian cu, kalau tidak mana bisa dia duduk ditempat ini."

"O,jadi begitu duduk perkaranya. San dara kecil, benar benar kejadian yang menggembirakan, selamanya Ih yu Sian cu tidak pernah pandang mata terhadap orang, namun kelihatannya begitu besar perhatian terhadap kau, betul betul...."

Ling koh segera mendengus, tukasnya "Lo yacu, kau belum minum arak! Kenapa sudah mulai ngelantur!"

Laki laki baju hijau meleletkan lidahnya, katanya .

"Maaf! Kakek tua ini kelupaan."

Melihat sikap tua dan muda yang bebas tidak terikat ini Koan San gwat jadi heran, tapi perhatiannya sedang tertarik pada persoalan lain, karena Thio Hun cu yang duduk tidak jauh berkumpul sama Kih Cu seng, mereka bicara menunduk dan bisik bisik, kelihatannya sedang mendebak sesutu, laki laki jubah merahpun ikutpun dalam perdebatan ini....

Laki laki baju hitam menarik bajunya serta berkata "Saudara muda!

Mari minum arak dan mengobrol, jangan kau melihati kunyuk kunyuk iblis itu, ular tikus satu sarang kerjaan apa pula yang mereka lakukan!"

Suaranya keras seperti sengaja biar didengar oleh pihak sana. Laki laki tua jubah mereka hanya tersenyum geli tanpa bersuara. Tapi Kih Ca seng marah, segera ia menanggapi .

"It ouwheng! Kalau bicara harap kenal sopan santun!"

Laki laki baju hijau terbahak bahak, serunya .

"Kih Cu seng! Jangan kau kira aku menghargaimu maka kuangkat kau sebagai pejabat Hwe cu, ketahuilah dalam pandanganku kau tidak lebih seperti anjing busuk yang sudah sekarat, jikalau Ui ho tidak pesan wanti wanti, aku lebih suka mengundang Ouw hay sibelut licin itu..."

Agakanya Kih Cu seng marah luar biasa, sambil menggebrak meja ia berjingkrak bangun, hendak melaharak kemari. Laki laki baju hijau segera mencegah .

"Duduk, duduk, sekarang bukan saatnya berkelahi, nanti masih ada waktu, cuma aku kuatir kau tidak tahan pada detik terakhir, jangan lupa kau cuma pejabat sementara, kalau orang lain ingin naik tingkat dan melewati ujian harus berhadapn dulu dengan kau, bila seseorang dari Kui pang dapat merobohkan dari panggung akan kulihat kemana kau akan menyembunyikan mukamu yang lonjong itu!"

Kata kata "muka lonjong"

Diucapkan lebih keras, sehingga seluruh hadirin tertawa ramai.

Soalnya bentuk muka Ki Cu seng memang panjang menyerupai muka kuda, maka olok olokanya itu rada tepat sesuai keadaan.

Gusar Kih Cu seng bukan kepalang.

"Plak"

Ia mengeprak meja teriakanya.

"Lo..."

"Cepat laki laki jubah merah menariknya serta menarik.

"Menghadapi urusan kecil tidak sabar dan menggagalkan urusan besar, tempat ini terlalu berisik, mari kita pindah tempat saja!"

Lalu ia tarik Kih Cu seng bersama Thio Hun cu ketempat lain.

"Kau tidak takut mereka berkelompok menghadapi kau !"

"Takut apa!"

Jengek laki laki baju hijau dengan sombong.

"Menang aku sudah lama ingin membuat perhitungnan deagan para cecunguk iblis ini!"

Ling koh mengulurkan tangannya menekuk jari seperti huruf delapan, katanya lirih.

"Kau tidak takut dia mencari gara gara kepada kau ?"

Tergerak hati laki laki baju hijau setelah menghela napas, ia berkata pelan pelan "

Kau memang pintar mengolok ... memang, aku tak kuat melawan mereka tapi, para Sian..."

Berubah kereng sikap Ling koh, tukasnya "Loya Cu, hati hatilah kau bicara!"

Walau nadanya kereng tapi suaranya lirih. Laki laki baju hijau terkejut, sesaat ia menjublek kalau katanya.

"Yah tak perlu banyak mulut lagi. Setan kecil tugasmu melayani kami makan minum, mana araknya, makananpun tidak kau hidangkan apa kami harus tangsel angin melulu..."

Ling koh terawa geli, sahutnya "Lo yacu ! kau adalah pentolan Sian pang, minum angin atau gegares batu adalah kebiasannmu!"

"Huh! pentotan Sian pang apa, Ui ho memang cerdik, ia minggat diam diam, menyerahkan tugas dan tanggungjawab ini kepada aku dan hwesio tua yang satu ngurus atas yang lain ngurus bahwa, begitu letih seperti kuda ...."

Ling koh cekikikan sambil mengisi cangkir mereka katanya.

"Ya, Lo yacu ! Silahkan minum, kenapa cerewet saja!"

Baru sekarang laki laki baju hijau sempat angkat cawan mengajak Koan San gwat minum "Benar saudara muda, mari minum, lebih baik minum sampai mabuk!"

Koan San gwat angkat gelasnya, tanyanya "Harap tanya siapakah sebutan Cianpwe yang mulia?"

Sekali tenggak laki laki baju hijau habiskan araknya lalu menepuk kepala sendiri serta sahutnya.

"Benar benar konyol aku ini, bicara sekian lama lupa perkenalkan diri! Aku bernama "Sian yu cu kang sian It sah ouw"

Nama ini terlalu panjang dan tidak enak diucapkan maka kalanya kusingkat menjadi Sian yu it ouw, lebih gampang lagi boleh panggil It ouw..."

Dengan ramah Koan San gwat mengiakan, kantanya tertawa .

"Cianpwe setaraf dengan guruku mana boleh ...."

Ling koh menimbrung "Lo yacu memang suka terus terang tanpa ikatan. Apa yang dia katakan turuti saja, kalau kau panggil dia Cianpwe, dia makin takkabur dan ponggah..."

It ouw terkekeh kekeh, ujarnya "Setan keparat, mulutmu memang pandai mengoceh olok olokmu tepat menggaruk jantungku yang gatal..."

Ling koh mengunjuk senyum penuh arti ejekanya .

"Tempat yang paling gatal ditubuh Lo yaco, kukira siapapun tiada yang bisa menggarukanya..."

Merah muka It ouw, dengusnya merengut .

"Setan kecil, kau harus dihajar,"

Sembari berkata tangannya menepuk pelan dipundak Ling koh, Ling koh cekikikan kesenangan, hampir saja ia terjatuh kedalam pelukan It ouw, tua muda berkelakar bebas dan riang seolah olah tiada perbedaan tingkat kedudukan.

Orang orang sekelilingnya berpaling sambil tersenyum manis dan geli mendengar banyolan yang lucu ini, tiada orang yang berani menimbrung, agakanya kedudukan mereka terpaut cukup jauh, diam diam Koan San gwat perhatikan tingkah laku orang disekitarnya.

lalu bertanya kepada Ling koh .

"Siapakah adik cilik ini?"

Ling koh menunduk kepala, sahutnya .

"Hamba adalah pelayan Sian cu saja."

"Gendut cilik kenapa sungkan!"

Olok It ouw.

"Kenapa tidak kau katakan sebagai lawan tangguh dari para malaikat."

Angkat kepala Ling koh angkat tangan seperti hendak memukul kepala It ouw.

Mendadak suara genta bertalu talu diangkasa, begitu keras bunyi genta itu sampai menusuk telinga dan menggetar hari semua hadirin, semua hadirin melongo dan menghentikan makan minum serta percakapan mereka, semua menengadah ke angkasa.

It ouw tertegun katanya .

"Kenapa King sian ciong (tanda bahaya) bisa bergema?"

Kedua lengan baju It ouw mengebas ke bawah laksana burung kuntul badannya melejit menembus mega, disusul laki laki tua jubah merah serta Kih Cu seng dan yang terakhir laki laki kurus tua berpakaian hitam itu gerak badan mereka enteng seperti meteor meluncur dengan gaya yang indah.

Kontan Koan San gwat berseru memuji .

"Bagus ! Ling hun sin hoat seperti itu sulit dicari tandingan dalam dunia ini....."

Ling koh juga keliharm gelisah dan was was, kepalanya mendongak keangkasa dengan harap harap cemas, setelah keempet Hwe cu itu naik keatas gema genta berhenti namun orang orang di bawah lantas dicekam kesunyian yang menekan sanubari setiap orang.

Melihat keadaan orang yang gugup itu, berkatalah Koan San gwat "Adik cilik!

Kenapa kau tidak ikut naik melihat keadaan di sana ?"

Ling koh memonyongkan mulut kata nya "Hari ini adalah pembukann pertemuan besar, Thian gwat thian menjadi daerah terlarang, hanya para Hwe cu yaag diijinkan naik kesana..."

Koan San gwat tahu aturan, aturan disini sangat keras maka iapun tidak berkata lebih lanjut. Setelah berpikir sebentar berkatalah Ling koh "Ah, Kau saja yang bawa aku keatas mau tidak?"

Koan San gwat terkejut, katanya .

"Kau sendiri tidak boleh, apalagi aku?"

Ling koh malah menggeleng, ujarnya "Tidak jadi soal kau belum jadi anggota, jika kau naik belum terhitung melanggar larangan, dan lagi Ih yu Sian cu pasti akan membela dan melindungi kau.

Kau boleh lari di muka aku pura pura mengejar kau tentu kita bisa sama sama naik!"

Ling koh makin gopoh, katanya "Tentu bisa, tingginya cuma dua puluh tombak, di balik awan ada tempat berpijak, walau kau tidak mampu lompat setinggi itu nanti aku bantu kau !"

Mana Koan San gwat mau dibantu anak kecil, cepat ia gentakkan kedua lengan laksana bangau melejit badannya terbang menjulang tinggi ketengah awan, kontan terdengatlah seruan ramai diseluruh lapangan.

Awan yang bergulung gulung itu ternyata hanya selapis saja, begitu badan menembus masuk, maka ia dihadapi sebuah puncak yang lebih tinggi, begitu kakinya berhasil berpijak pada sebuah batu menonjol, sementara Ling kohpun sudah menyusul tiba diatas ngarai dan tebing tinggi itu tiada kelihatan bayangan seorangpun juga.

"Sebelah kanan "

Ajak Ling koh lirih sambil menarik lengannya.

"Ikut aku!"

Tubuh kecil itu meleset terbang bagaikan meteor dan berloncatan segesit kera, Koan San gwat berkeringat mengintil dibelakangnya hampir saja jantungnya copot dari rongga dadanya saking tegang dan gugup.

Kiranya tempat berpijak Koan San gwat adalah puncak runcing sebuah batu yang menonjol sendirian di tengah awan, disebelah dengan mega tebal bergulung gulung, beruntun berjajar dan tersebar tidak teratur puluhan puncak puncak gunung ditengah awan itu, puncak runcing itu paling besar hanya sebesar kepalan tangan, jarak satu dengan yang lain kira kira ada puluhan tumbak.

Untung sejak kecil Koan San gwat sudah mendapat pupuk dasar ilmu kepandaian yang cukup hebat dibawah gemblengan gurunya, jangan kata harus berdiri dan berloncatan ditempat tinggi dan gunung yang begitu berbahaya, hembusan angin dahsyat di tengah ombak merah yang bergelombang itu cukup melempar tubuh segede gajah tanpa bekas.

Karena Koan San gwat tidak sempat menikmati pemandangan alam yang menakjupkan ini, yang terpikir hanyalah mengatur napas menentramkan gejolak jantungnya, belum lama ia berhenti, dilihatnya Ling koh sudah berdiri dibawah sebuah pohon besar sambil meleletkan lidahnya kearah dirinya, katanya "Maaf Koang kongcu!

Aku terburu napsu lupa memberitahukan kepada kau bahwa aku berada dibelakangmu melindungi kau, untunglah aku dapat tiba disini dengan selamat, bila sampai terpeleset dan jatuh kebawah sana, wah aku bakal menjadi orang yang paling berdosa didunia ini..."

Karena godaan ini muka Koan San gwat merah mau malu, ujarnya tertawa "Adik cilik sungguh hebat kau, paling tidak aku lebih lama belajar silat sepuluh tahun dari kau, tapi meihat Ling khong hwe toh yang kau lakukan tadi, sungguh aku harus malu diri..."

Ling koh mengedipkan mata, sahutnya .

"Jangan kau agulkan diriku, jalan ini setiap hari sudah biasa kulewati, sudah tidak perlu dibikin heran atau aneh lagi, adalah kau sendiri baru pertama kali ini, namun bisa bergerak begitu lincah dan cekatan, para kakek tua dari barisan Sian pang itu cuma beberapa orang saja yang berani naik kemari, tidak kalah heran In yu Sian cu menghargai dirimu...."

Koan San gwat tidak ingin membuang waktu, cepat ia bertanya "Dimana mereka berada?"

"Didepan itulah!"

Sahut Ling koh menunjuk kedepan.

"Aku sedang menunggu kau menunjuk jalan!"

Koan San gwat melengak, katanya.

"Apa aku yang harus menunjuk jalan?"

Ling koh cekikikan, sahutnya.

"Aku mengejar kau masa yang mengejar lari didepan."

Baru sekarang Koan San gwat tahu bahwa sebenarnya bocah ini takut dihukum karena melanggar larangan, maka dengan tertawa ia berkata "Baiklah aku berada didepan kuharap kau memberi petunjuk dari belakang, supaya aku tidak kesasar jalan!"

"Tidak akan salah, didepan hanya terdapat sebuah jalan datar!"

Dilain saat Koan San gwat melesat kedepan, setelah melewati beberapa puncak, tampak depan terdapat sebuah hutan pohon siong tumbuh rimbun dan tinggi menembus langit di tengah hutan ini terdapat sebuah jalan liku liku, karena tiada jalan lain dia terus memerjang kerah sana, cukup lama enam lompatan ia sudah menerobos masuk, tiba tiba didengarnya Ling Koh berteriak memperingatkan dia.

"Awas atas ..."

Koan San gwat segara menghentikan langkanya, namun dari atas kepalanya terasa samplokan angin yang menindih berat, dari dia sosok beyangan putri, dalan keadaan gawat dan tidak siaga belum lagi ia melihat jelas benda apa secara reflek kedua tangannya memukul kearah dua bayangan putih itu.

Siapa nyana kekuatan terjangan kedua bayangan putih itu ternyata begitu bear dan dahsyat, kontan ia merasa telapak tangannya luka kesakitan, kontan ia terdorong mundur dan roboh terguling ditanah, maka terdengarlah bayangan putih itu berpekik panjang terus melambung lebih tinggi ketengah angkasa.

Begitu melejit dan menjejakan kakinya cepat sekali Koan San gwat sudah melompat berdiri, baru sekarang ia tahu bahwa yang menyerang dirinya barusan adalah sepasang burung bangau yan teramat besar, keduanya berputar putar ditengah udara siap menukik dan menyerang dirinya pula.

Dari belakang terdengar Ling koh memaki bengis.

"Binatang kurang ajar! Dia adalah tamu agung undangan Ih yu Sian cu, kalian sudah bosan hidup ya, berani melukai dia!"

Terdengar kedua burung bangau itu berpekik panjang hinggap di pucuk pohon siong yang tertinggi. Lingkoh menghampiri serta bertannya penuh perhatian "Koan kong cu, kau tidak terluka bukan?"

Karena pertanyaan ini baru Koan San gwat sadar akan rasa sakit di kedua telapak tangannya yang belepotan darah, kiranya tangannya sudah berlobang besar dan darah mengalir deras, tersipu sipu Ling koh membuka tali pinggangnya untuk membalut luka luka itu, katanya dengan rasa menyesal .

"Maaf! Aku lupa beritahu kepada kau..."

Koan San gwat merasa heran dan aneh katanya .

"Cuma dua ekor binatangpun ternyata begitu lihay..."

Sahut Ling koh sambil membalut luka nya "Untung lwekangmu cukup tangguh, kalau tidak dibawah serangan Lui thing It kip besi bajapun dicakar hancur olehnya..."

Tengah mereka bicara, sesosok bayangan melayang tiba, tahu tahu Ih yu Sian cu sudah berdiri dihadapan mereka, begitu melihat Koan San gwat ia melengak dan katanya heran "Bagaimana kau bisa naik kemari, terluka lagi..."

Bergegas Ling koh melangkah mundur sambil membungkuk, sahutnya.

"Koan kong cu terluka oleh cakar Lui ji..."

Lekas Liu Ih yu melangkah maju membuka balut, dengan seksama ia periksa luka luka itu, lalu dari dalam kantong bajunya mengeluarkan sebutir pil warna merah terus remas hancur dan dipoleskan pada luka lukanya.

Koan San gwat tidak sabaran, katanya .

"Sian cu luka sekecil ini tidak menjadi soal! Bagaimana dengan guruku..."

Liu Ih yu tidak menjawab pertanyaan malah mendelik dan berkata bengis kepaaa Ling koh "Goblok kau! Besar nyalimu berani bawa dia naik kemari!"

Ling koh tidak berani menjawab, cepat Koan San gwat yang bicara, sahutnya "Bukan urusannya, aku sendiri yang naik kemari."

Liu Ih yu mendengus hidung, katanya pula kepada Ling koh .

"Apa orang orang di bawah itu sudah mati semua, kenapa tidak ada yang merintangi...."

Baru sekarang Ling koh menjawab dengan muka cemberut.

"Gema King sian ciong, terlalu mendadak, sehingga semua orang tidak memperhatikan dia, gerakan Koan kongcu teramat cepat lagi, terpaksa hamba mengejar di belakangnya, tapi tak berhasil menyusulnya..."

Sekilas Liu Ih yu melirik ke arah Koan San gwat, katanya .

"Kau cukup hebat, bisa melesat terbang melewati lautan mega...."

Ling koh menimbrung "Kepandaian Koan kongcu amat tingg, di bawah serangan Lui thing it kip ia hanya terluka sedikit ditangan nya!"

"Apa gunanya!"

Dengus Lio Ih yu.

"Kalau aku sedikit terlambat tiba, jiwanya tidak akan tertolong lagi...."

"Mana mungkin? Hamba segera menyusul datang...."

"Kau mapu apa ?"

Semprot Lio Ih yu gusar.

"Kau tahu cakar Lui ji sudah dipolesi racun yang amat jahat."

"Kenapa?"

Ling koh kelihatan lebih kaget.

"Apa..."

"Banyak mulut lagi !"

Teriak Lio Ih yu gusar.

"Kecil kecil besar nyalimu, kau sangka permainanmu dapat mengelabui aku... jelas kau sendiri yang ingin naik, kau seret Koan kongcu kemari alasan belaka....!"

Ling koh berlutut dan minta ampun .

"Harap Sian cu tidak, hamba sangat kuatir..."

Tiba tiba Liu Ih yu menghela napas, ujarnya .

"Sudahlah! Kedatanganmu memang diperlukan, lekas kau putar kebelakang, pergilah kekamar Toa suci dan ambillah Pek hong kiam kemari, hati hati jangan sampai terlihat orang lain..."

Berubah hebat air muka Ling koh. Cepat Liu Ih yu membentaknya pula "Masih ayal ayalan lagi, kalau terlambat kita semua...!"

Pucat muka Ling koh, tersipu sipu ia berlari bagai angin lesus. Dengan heran Koan San gwat bertanya "Apakah yang telah terjadi, apakah ada sesuatu ?"

"Bukan hanya perubahan belaka, huru hara telah terjadi, semua gara gara guru mestikamu itu membuat celaka orang lain..."

Dengan berjingkrak kaget Koan San gwat bertanya "Bagaimana dengan guruku?"

"Dia tinggal pergi habis perkara, malah menipu Toa suci ikut dia pergi, perkara besar ini ditinggalkan untuk kami hadapi sendiri..."

Koan San gwat semakin heran dan kejut lekas Liu Ih yu mengulapkan tanganya katanya .

"Aku tiada tempo menjelaskan, lekas kesana! Setindak terlambat mereka akan menyergap dan mengeroyok Ji suci..."

Sambil menggosok tangan Koan San gwat berkata "Obat Siancu sungguh mustajab, sekarang sudah tidak sakit lagi.."

Lega juga Liu Ih yu, katanya "Syukurlah. Mungkin nanti kau harus menjaga keselamatan dirimu sendiri!"

"Sebetulnya apakah yang telah terjadi di atas?"

"Sebentar kau akan tahu dan jelas duduk perkaranya!"

Sembari bicara mereka melesat terbang kedepan, langkah Lu Ih yu seperti berlenggang seenakanya, namun Koan San gwat harus mengerahkan tenaga baru bisa mengejarnya, setelah membelok dan melewati sebuah tanah lapang berumput, didepan terlihat pintu bertuliskan "Ci bi sian hu"

Tulisan warna kuning emas mengkilap, dari kejauhan sudah terlihat jelas.

Di depan deretan rumah gedung terdapat sebuah tanah lapang luas, dua kelompok rombongan orang saling berhadapan, rombongan disebelah kanan jumlahnya sedikit, hanya seorang nenek tua beruban dan laki laki baju hijau yang menyebut namanya sebagai Sian yu it ouw.

Kelompok lain terdiri berbagai bentuk manusia.

Koan San gwat hanya kenal Kih cu seng, laki laki tua jubah merah dan si kurus berpakaian hitam, selain itu terdapat dua orang berpakaian putih seorang tua muda dan seorang perempuan jelek berpakian hitam.

Ditengah kedua kelompok dua orang berpedang panjang sedang beradu kepandaian, seorang perempuan pertengahan masih kelihatan cantik molek, lawannya adalah laki laki pertengahan umur berpakaian merah, mukanya kelihatan cakap dan kedua matanya bersinar terang.

Melihat kedatangan Koan San gwat, It ouw memapak serta bertanya .

"Lui thing memberi peringatan, apakah yang teijadi?"

"Bukan apa apa!"

Liu Ih yu menjelaskan "Dia ini naik kemari."

It ouw melirik Koan San gwat, lalu berkata sambil menghela napas.

"Ai! saudara kecil, sunguuh kebetulan keributan disini dapat kau saksikan. Kalau terjadi sesuatu nanti mungkin kau akan menjadi sahabatku di tengah memaju akherat. Sebenarnya kuharap kau tidak kemari kali ini."

Koan San gwat heran, tanyanya "Lo ouw Sebenarnya apakah yang telah terjadi? Katanya guruku sudah pergi apa benar?"

"Benar! Dia memang pintar, akhirnya ia insaf dan tahu persoalannya kelana sesuka hati tanpa ada yang melihat dirinya. Tapi tindakannya ini justru mempersulit orang lain, entah kenapa dia pergi dalam detik yang gawat ini."

Liu Ih yu uring uringan, semprotnya .

"Lo ouw kau cerewet apa. Setelah aku pergi, beberapa gebrak sudah mereka lewatkan?"

It ouw menyahut."

Baru tiga jurus, kelihatannya masih perlu makan waktu lama ..."

Liu Ih yu manggut mangut tanpa bersuara dengan seksama ia ikuti jalannya pertempuran, sebetulnya masih banyak ingin Koan San gwat tanyakan, lekas It ouw mencegah dengan gerakan mulut keruan Koan San gwat melengek terpaksa ia batalkan niatnya dan menonton pertempuran di tengah lapangan.

Gerak gerik kedua lawan sangat lambat, setiap tindak langkah mereka sangat hati hati dan diperhitungkan kadang kala sepihak melancarkan jurus ilmu pedang, sementara pihak lain menangkis atau balas menyerang pula dengan tipu jurus yang menakjubkan serangan menyerang dilakukan dengan gerakan lambat namun penuh perhatian dan tumplek penuh semangat.

Bagi orang yang pasti anggap mereka sedang latihan atau senda gurau belaka.

Akan tetapi para penonton disekelilingnya kelihatan lebih tegang dari kedua orang yang sedang betempur.

Malah Koan San gwat juga merasa gatal dan berkesan.

Bagi pandangan seorang akhli akan tahu bahwa lawan ditengah gelanggang sedang mengadu jiwa dengan mainan ilmu pedang tingkat tinggi, bagi tokoh mempalajari ilmu pedang pasti tahu, semangkin lambat gaya pertempuran berarti semangkin mantap dan tinggi kepandaian ilmu pedang mereka, apa lagi adu kepandaian macam kerbau tua merusak keren ini jauh lebih membuktikan bahwa kepandaian mereka sudah mencapai tingkat tinggi.

Setiap jurus pedang yang dilancarkan pelan pelan itu sebetulnya mengandung banyak perubahan yang tidak bisa dihitung dan dilukis dengan kata kata, tapi cara mematahkan serangan lawan ini pun tidak kalah pula lihai dan hebatnya.

Dati situasi yang dihadapi ini Koan San gwat menduga perempuan itu pasti salah seorang suci Liu Ih yu, ini berarti diapun salah satu dari Thian gwat thian yaitu dewa diantara dewa !

Sebalikanya lawan itu kalau bukan iblis diantara ablis tentu setan diantara setan namun ia lebih condong bahwa laki laki pakaian merah itu adalah iblis diantara iblis, karena dalam beberapa kejap saja ia menghadiri pertemuan besar ini ia sudah dapat menyelami sampai dimana batas perbedaan antara dewa, iblis dan setan dalam Liong hwa hwe ini.

Para anggota Sian pang mengadakan pakaian hijau, sebalikanya Tokoh Kui pang mengenakan pakaian hitam.

Hanya orang Mo pang mengenakan warna merah atau putih.

Laki laki pertengahan ini mengenakan pakaian merah tentu dia pimpinaan Mo pang kalau tidak masa ada harganya berhadapan dengan tokoh tertinggi dari Thian gwat thian.

"Bukankah tujuh anggota dari Thian gwat thian adalah Suheng moay? Bagaimana mereka, saling bentrok dan berkelahi sendiri? Malah dari gaya serangan kedua pihak jelas diketahui bahwa mereka bertempur mati matian..."

Demikian Koan San gwat menduga duga dan curiga, namun dengan seksama matanya mengikuti jalannya perkelahian ini.

Dari pertempuran pedang yang hebat ini Koan San gwat mencangkok banyak inti dari permainan mereka, hingga lubang permainan ilmu silat sendiri bisa ia tambal dan sempurnakan dengan menyeluruh, jelasnya dia dapat menghayati kepandaian silat sendiri dari hasil serta perkelahian orang lain.

Sementara pertempuran sudah terjalan kira kira setengah jam, tapi kedua pihak baru melancarkan lima enam jurus serangan pedang.

Lambat laun Koan San gwat dapat memyaksikan bahwa laki laki pakaian merah itu lebih unggul sedikit, karena setiap jurus perubahan ilmu pedangnya lebih banyak menyerang dari pada menjaga diri, akan tetapi pertahanan pihak perempuan itupun cukup tangguh dan rapat, betapapun gencar dan hebat rangsakan pedang lawan, sedikitpun tidak, berdaya mengalahkan dia.

Dengan gugup terdengar Lui In yu berseru .

"Suci! Kenapa kau tidak gunakan Tay lo jit sek saja?"

Belum sempat perempuan itu memberi jawaban, laki laki pakaian merah itu menjawab tersenyum "Tay lo.jit sek adalah inti dari ilmu pedang, tapi dibawah permainan ka lian, akupun anggap sepele saja.

Kecuali Lim Hiang ting, tidak pernah memikirkan lawanku yang kedua!"

Liu Ih yu mendengus gusar, serunya marah marah .

""Cia Ling Im ! Jangan takabur, Siu lo su tay sek kebanggaanmu itu kapan dapat menandingi kami "

Sekarang Koan San gwat tahu lebih lanjut bahwa laki laki berpakaian merah itu bernama Cia Ling Im.

Terdengar orang itu menjawab sambil menyengir "Soalnya aku tidak ingin Lim Hiang ting tahu titik kelemahanku maka tidak pernah kumainkan sampai puncak kemampuanku, Lim Hiang ting sudah merasa, kalau kalian penasaran boleh silahkan lancarkan Tay lo jit sek, aku berani tanggung dalam tiga jurus Siu lo su sekku, kalau dia tidak melepaskan pedangnya, aku terima dipotong kepala, bagaimana?

Li Sek hong!

Kuanjurkan kau menyerah dan serahkan Cu sian ling kepadaku!"

Perempuan lawannya itu bernama Li Sek hong, kelihatan napasnya sudah memburu, dengan kertak gigi ia menjawab "Cia Ling Im Bakan satu dua hari kau mengincar senata pusaka itu.

Kalau Cu sian ling terjatuh ketanganmu, apakah kami bisa hidup aman?"

Cia Ling Im gelak gelak, serunya "Mengingat kita masih terhitung saudara seperguruan, aku tidak akan bunuh kalian, namun sedikit derita dan sengsara sih terpaksa kalian resapi bersama,"

"Cis!"

Li Sek hong berludah, makinya bengis .

"Jangan mimpi disiang hari bolong, lebih baik aku mati di bawah pedangmu dari pada kau hina."

"Mana boleh hal ini dianggap menghina! Hubungan kita sudah puluhan tahun, lagi bukan sekali ini saja bukan, dulu sebelum ini bukankah kita baik baik saja? Begitu Suhu meninggal, Lim Hian ting pegang kuasa, maka kaitan lantas tumbuh diatas kepala...."

"Tidak malu kau menyinggung persoalan lama ....?"

Bentak Li Sek hong gusar.

"Kenapa malu menyinggungnya, dulu ada Suhu yang menekan, sehingga aku tidak berdaya menghadapi kalian dengan seluruh perhatian dan kekuatan, sejak detik ini aku berjanji tidak akan bikin kalian kecewa....." -oo0dw0oo-

Jilid 12 KARUAN LI SEK HONG makin gugup dan gusar, pedang ditangannya mendadak diputar kencang, laksana kepala ular tiba tiba mematuk, cepat laksana kilat Cia Ling im memelintir pedang, pedang menjurus keposisi Tiong king dan sedikit digentak keatas kontan terdengar suara benturan nyaring, pedang di tangan Li Sek hong terpental terbang dari cekalannya, terdengar ia terloroh loroh, serunya .

"Kenapa kau begitu tidak becus, masa permainan membacok kayu juga dipamerkan dihadapan seorang ahli......."

Gerak pedangnya membuncar, mulutnya menyeringai lebar, ujarnya pula .

"Kini tibalah saatnya kau menyerahkan Cu sian ling!"

Li Sek hong sudah tidak bersenjata lagi, badannya terancam ujung pedang lawan, namun sikapnya masih begitu tegas dan berani, katanya sambil angkat kepala "Tidak akan kuserahkan!

Meski kau bunuh aku juga tidak akan kuserahkan!"

Liu Ih yu dan It ouw sangat gugup, namun mereka tidak berani maju. Sementara ujung pedang Cia Ling im masih mengancam, seringainya makin sadis, desis nya .

"Aku tidak perlu harus mendapatkan Cu sian ling itu menurut situasi sekarang, cukup mengandal pedangku ini, aku dapat menguasai Sian pang, menempatkan diri dalam Thian gwat thian..."

Dengan ketus Li Sek hong menukas .

"Tanpa memegang Cu sian ling, paling sedikit separuh dari seluruh anggota tidak akan tunduk kepada kau."

"Itupun tidak sulit! Yang menentang kebijaksinannku, cakup sstu hukuman bagi mereka, mati!"

Li Sek hong tertawa dingin, jengekanya "Dapatkah kau membunh nabi mereka?"

Dengan sombong Cia Ling im menjawab .

"Asal aku dapat menguasai separuh diantaranya, tak usah kuatir mereka terbang kelangit."

"Berani kau berbuat demikian? Meski Toa suci pergi meninggalkan urusan duniawi ini, tapi bila kau bersimaharaja secara kejam, akan datang suatu ketika dia akan meluruk kepada kau..."

Cia Ling im jadi tertegun, agakanya ucapan terakhir ini memang menusuk perasaan hatinya, sejenak ia berdiam diri, akhirnya berteriak dengan murka .

"Asal kubunuh kalian, memangnya Cu siang ling tidak menjadi milikku kalau Lim Hiang ting berani datang, dia akan berlutut dihadapan Ci sian ling!"

"Tapi kau harus tahu Cu sian ling hanya lambang kekuasaan tertinggi, bila orang tidak mau mematuhi aturan, maka perintah atau undang undang itu tidak akan berguna lagi, sekarang aku sebagai pejabat kekuasaan ini, kau berani beri ku kurang ajar dan mentang mentang terhadap aku Memangnya Lim Hiang ting takut pula menghadapi kau?"

Cia Ling im gelak gelak, ujarnya.

"Analisamu salah. Cu sian ling tidak membawa pengaruh bagi diriku, sebalikanya terhadap dia yang sangat patuh itu, kau tahu ia paling benci terhadp aku, tapi karena terkekang oleh undang unding Cu sian liang kenapa, selanjut nya dia tidak akan tunduk pula...."

"Orang rendah hina dina, entah begaimana Suhu angkat kau sebagai muridnya."

Demi kian maki Li Sek hong gusar.

Sikap Cia Ling im semakin pongah dan sombong, ujarnya sambil terkekeh kekeh "Ucapanmu salah dan lebih payah lagi.

Ketahuilah bahwasanya guru kita sebenarnya seorang sontoloyo, manusia keparat, kalau tidak tak mungkin mendirikan perkumpulan sesat macam Liong hwa hwe ini, mendirikan undang undang dan aturan aturan tengik, yang lebih celaka dia suruh kalian mempelajari kepandaian hitam yang makin menjerumuskan nurani dan nalar manusia sehat....

sebenarnyalah dia ialah kakek moyang dari iblis durjana, setelah tiba hari tuanya entah bagaimana jalan pikirannya, ia berangan angan gila ingin menetapkan dirinya dalam kehidupan dasata, kuat nya dia Cau hwe jip mo dan modar.

Meski ia serahkan Cu sian ling kepada Lim Hiang ting sebagai pegang kekuasaan, tapi ia menentukan sipaya Sian, Mo dan kui tiga pang berdiri sejajar dari sini menandakan pula bahwa jiwa iblisnya tersesat masih mendarah daging dalam sanubarinya.

Berubah hebat air mukanya Li Sek hong teriakanya baringas .

"Mau bunuh silahkan bunuh! Cu sian ling sudah menyembunyikan pada suatu tempat yang cukup aman. aku berani bertaruh selama hidupmu kau tidak akan berdaya memperolehnya."

Omong kosong! Kalau aku obrak abrik atau membongkor seluruh Ci hi thian hu ini masa tidak bisa mendapatkannya."

Li Sek hong membusungkan dada jengekanya.

"Kau tidak percaya silahkan kau cari saja."

Cia Ling im jadi gusar dan beringas, teriakanya.

"Kau tidak mau serahkan !"

"Tidak!"

Sikap Cia Ling im semakin bengis dan buas, pedang panjang ditangannya kontan bergetar mengeluarkan suara medengung betapa hebat getaran ujung pedang ini, baju didepan dada Li Sek hong koyak koyak tidak karuan dan beterbangan dadanya yang montok segera mencelat keluar.

Seluruh hadirin menonton dengan perasaan cemas dan mencelos hatinya, tapi mereka tidak berani berbuat apa apa, Koan San gwat yang tidak tahan lagi segera tampil ke depan seraya membentak "Nanti dulu!

Begitu hina tidak tahu malu dan caramu mempermainkan kaum hawa, terhitung orang apa ?"

Dengan lirikkan mencemoohkan hina Cia Ling im melirik kepadanya, dengusnya "Bocah keparat yang tidak mengenai mati dari mana kau?"

Teriakanya Koan San gwat dengan lantang "Bing tho ling cu, murid Ui ho itulah aku, hari ini ingin aku menggasak iblis lakanat macam tampangmu ini,"

Sambil bicara ia membungkukkan tubuh, memungut pedang panjang Li Sek hong yang tadi jatuh didepannya.

Sambil menenteng pedang dan mengangkat dada Koan San gwat menerjang maju.

Tindakan Koan San gwat ini benar benar diluar dugaan semua hadirin, karuan semua orang heran dan terkejut yang paling gugup justru Liu Ih yu, sambil memburu dibelakangnya ia berseru "Hai jangan kau antar kematianmu!"

Tapi hati Koan San gwat sudah dibikin gusar, sedikitpun dia tidak hiraukan seruan orang, setengah tombak dihadapan Cia Ling im.

Sedang ia tudingkan kemuka orang ia lalu memaki dengan sikap gagah dan garang "Iblis lakanat!

mungkin ilmu silat aku orang she Koan tidak setanding melawan kau.

Tapi menghadapi manusia durjana macammu ini Tuhanpun tidak akan memberi ampun kepadamu, sebadai seorang laki laki sejati aku orang she Koan tidak mandah membiarkan perbuatanmu yaag terkutuk ini, kupenggal kepalamu...."

Caci maki Koan San gwat cukup pedas dan menusuk kuping, Cia Ling im melongo dan menjublek ditempatnya, akhirnya ia berpaling dan bertanya.

"Siapakah bocah liar ini?"

Orang orang di belakangnya itu tiada seorangpun yang kenal Koan San gwat maka mereka hanya mendelong saja tiada yang memberi jawaban, akhirnya Liu Ih yu yang menjawab.

"Dia adalah murid Ui ho Siang jin! Kalau kau berani melukai dia hari hari suatu ketika Ui ho dan Toan suci pasti akan membuat perhitungan terhadapmu!"

Cia Ling im bergelak tawa, ujarnya.

"Ui ho orang itu sebetulnya cakup cerdik dan seksama, kenapa bisa mengambil murid dungu dan kurang ajar ini...."

Koan San gwat tidak kuasa menahan gejolak hatinya lagi, semprotnya mendelik "Iblis lakanat! Jangan cerewet majulah terima kematianmu."

Cia Ling im masih gelak gelak seperti orang gla, ujang pedangnya menunjang tubuhnya yang bergoyang goyang melarikpun ia tak sudi kearah Koan San gwat.

"Iblis durjana, angkat pedangmu awas aku mulai."

Ciang Ling im menghentikan tawanya jengekanya dingin "Bocah keroco! kuseratkam bocah ini kepada kau."

Terdengarlah Kih Cu seng mengankan lalu tampil kedepan, Cia Ling im serahkan pedangnya kepadanya serta tertawa dingin.

"Kalau kau tidak mampu menundukan dia dilam tiga jurus kedudukanmu sebagai Hwe cu terpaksa kucabut."

Dengan sikap acuh tidak acuh Kih Cu seng terima pedang itu, sambil menyeringai serta pelirikan memandang rendah ia menghadapi Koan San gwat, ejeknya "Bocah keparat silahkan serang.

Sin lo cun cia memberi batat tiga jurus padaku sudah terlalu banyak, satu gebrak bila tetap bisa mempertahankan batok kepalamu serta merta kuserahkan jiwa Lohu kepadamu."

"Tidak! Aku bukan menantang kau!"

Ujar Koan San gwat menggeleng. Kih Bu seng menarik muka, gerungnya gusar.

"Kau kira Siu lo cun cia sudi menghadapi kau! Lohu saja rada merendahkan derajat melawanmu."

Berkilat mata Koan San gwat, tanyanya berpaling kebelakang .

"Apakah orang ini patut digasak?"

It ouw segera menyahut "Orang orang yang berdiri dipihak sana patut dibunuh semua !"

Koan San gwat berpaling pula menghadapi Kia Cu seng, jengekanya "Baik kubereskan kau dulu baru kuhadapi iblis lakanat itu."

Saking gusar muka Kih Cu seng sampai membesi hijau, sambil melintangkan pedang didepan dada ia berteriak.

"Bocah keparat! Laporkan kematianmu kehadapan Giam lo ong !"

Tanpa banyak bicara Koan San gwat gerakkan pedangnya.

"Sret"

Pedang panjang tiba tiga kaki, namun sinarnya dapat mulur sampai setengah rumbak.

Kih Cu seng menjengek dingin, pedangnyapun terangkat balas menyerang dengan sebuah tebasan, kedua pihak sama menggukan jurus serangan mematikan.

Cepat sekali sambaran sinar pedang kedua pihak, kontan keduanya surut mundur setindak.

Semua hadirin melongo, belum lagi batang pedang mereka saling bentur kenapa bisa terjadi perubahan yang ganjil ini?

Kejap dilain saat semua hadirin bersuara kaget dan heran.

Bahwasanya cara permainan pedang Koan San gwat benar benar di luar dugaan mereka sejurus pedang tadi dari jarak yan masih cukup jauh namun sinar mencorong keluar dari hawa pedangnya dapat mencapai jarak yang cukup jauh, laksana sinar melampaui bayangan mantap dan tenang laksana air rawa sekokoh dinding besi, sekali gerak mengandung dua inti sari perubahan yang hebat antara tenang dan aksi, kedua unsur ini dapat di satu padukan dalam kilasan gerakan pedangnya itu.

Berubah hebat air muka Khi Cu seng waktu menunduk tampak dadanya sudah tergores luka berdarah, jelas kena tertabas oleh kilasan ujung pedang lawan.

Seketika suasana sangat hening.

Akhirnya dia bersuara sambil membelalakan mata.

"Bagus bocah keparat jiwa Lohu kuserahkan kepada kau!"

Begitu melintangkan pedang terus menusuk dada sendiri. Cepat Cia Ling im melejit tiba seraya menjentik.

"Trang"

Pedang itu kena diselentik jatuh ditanah. Sejenak Khi ca seng terlongong, lalu menjerit dengan penuh derita .

"Cun cia apakah Lohu tidak malu menyambung jiwa ini..."

"Kau tidak salah"

Ujar Cia Ling im menggeleng.

"Akulah yang pandang rendah bocah bagus ini!"

Lalu ia menggumam .

"Bocah ini menyembunyikan kepandaian, jurus serangannya itu kalau aku sendiri yang menghadapi, mungkin juga tidak akan mampu......."

"Baik sekali, boleh kau mempersiapkan diri menyambut jurusku yang kedua,"

Tantang Koan San gwat. Terpancar sinar aneh dari biji mata Cia Ling im, dengusnya.

"Anak muda jangan sombong, jurus pedangmu tadi cuma untung untungan belaka, kalau kau berani melancarkan nya sekali lagi, jangan kau kira bisa mempersulit Cun cia. Aku cuma heran, kemampuan Ui ho belum setimpal dia menciptakan ilmu pedang yang selihay itu, jurus seranganmu tadi kau pelajari dari siapa...?"

Koan San gwat tertawa besar, ujarnya.

"Kalau dikatakan mungkin kau tidak percaya, jurus tadi tercipta setelah kucangkok dari permainan pedangmu dan Sek hong Sian cu."

"Anak muda! Jangan kau main lidah, baru hari ini kulihat tampangmu...."

"Bukankah tadi kalian bertanding pedang, ilmu pedang kalian memang tiada tandingan nya, tapi jangan kau anggap tiada lubang kelemahannya aku hanya mengombinasikan inti sari dari kedua unsur ini..."

Berubah air muka Cia Ling im, tanyanya .

"Apa benar ucapanmu?"

"Menitik beratkan pada ucapanmu ini, dapat kusimpulkan bahwa latihan dan pengetahuan didalam ilmu pedang ternyata masih cetek, cobalah kau periksa dan layangkan kembali pikiranmu pada permainan jurus pedang tad i, pasti kau dapat memperoleh jawaban dari pertanyaanmu sendiri?"

Cia Ling im terlongong sebentar, akhir nya ia berkata pula.

"Bagus, anak muda. Ingin aku lihat berapa banyak hasil curian mu ini !"

"Sekali kau mengucapkan perkataan bodoh, ilmu pedang yang tinggi dan bebat itu, mana bisa ditiru dan dipelajari sepersis mungkin, sedikit banyak pendapatan dari sekilas pandang orang itu hanya tergantung dari bakat dan kecerdikan orang, mana kau melansir dengan istilah mencuri belajar! Jurus yang sama bila dilancarkan oleh orang lain, dalam taraf dan tingkatan tertentu ada batas dan perbedaannya, apalagi permainanku tadi sudah kukombinasikan dengan permainan ilmu pedang lain..."

Beruntun kena dicemooh dan diolok begitu rupa bocah ini memberi kuliah pula dalam pelajaran ilmu pedang, dari malu ia menjadi gusar, entah bagaimana tangannya menggape pedang yang terjatuh diatas tanah melejit naik dan kembali ketangannya, lalu dengan suara keras dan bengis ini mendesis .

"Anak muda mulutmu manis, pintar putar lidah lagi. Aku akan menggunakan Siu lo su sek supaya kau dapat memperoleh pelajaran lebih banyak."

Liu Ih yu menjadi gelisah, teriakanya.

"Siu lo? Apa kau tidak mulu, mana boleh kau gunakan keempat jurus permainan itu menghadapi dia ...."

Cia Ling im menyeringi ia sadis, ejekanya dingin .

"Adikku cilik, selamanya belum pernah kulihat kau begini prihatin terhadap pemuda, hari ini diluar biasanya, jangan lupa dia murid Ui ho, apa kau tak takut menyungsang sumbel aturan dan tingkat kedudukan...."

Muka Lu Ih yu seperti melebar saking marah dan berubah pucat, giginya berkerutukkan, namun sepatah katapun tidak kuasa diucapkan saking menahan gusar.

Cia Ling im terkekeh dingin pula, ujanya "Selama beberapa tahun ini ingin aku melawan sesuatu yang membuat hatimu menderita sedih, tak duga hari ini aku memperoleh kesempatan ini..."

Mendengar kata kata orang makin menusuk perasaan, Koan San gwat merasa sebal sambil membentak pedang berputar mengikuti gerak badannya terus merangsak maju, sekali ujung pedangnya melancarkan lima serangan tipu tipu pedang yang cukup berat kuat dan aneh perubahannya.

Meskipun Cia Ling im bisa mematahkan dan menangkis seluruh serangan ini, namun gerak geriknya kelihatan rada runyam, saking gugup ia berteriak keras "Anak muda permainan pedang apa pula ini..."

Permainan pedang Koan San gwat tidak ubahnya seperti main sulapan belaka, namun mulutnya menyahut .

"Kau punya mata, masa kau sendiri tak bisa melihat jelas..."

Tiba tiba Cia Ling im membacok pedang memuntahkan jurus rangsakan Koan San gwat seraya berteriak .

"Bocah keparat! Kau gunakan Kim sin cap pwe lun ciptaan Ui ho untuk menggertak dan mengelabui orang!"

Tergerak hati Koan San gwat, diam diam ia kagum akan pandangan dan kecerdikan otaknya.

Karena serangan yang sesungguhnya serabutan tidak beraturan itu memang Kim sin cap pwe lun (delapan belas jurus ilmu gada mas) ciptaan Tokko Bing, Kim in (patung mas) adalah senjata berat, setiap tipu tipu serangannya dilandasi kekuatan hebat dengan ayunan yang kuat pula, yang berbeda dengan permainan pedang yang berintikan kelincahan itu.

Soalnya Koan San gwat tahu bahwa kepandaian silat lawan sudah mencapai tingkat hampir sempurna keseluruhannya.

Walaupun diam menonton dua pedang tadi ia dapat mencangkok satu dua jurus ilmu pedang, tapi bila orang menaruh sedikit perhatian dan menyelami dengan cermat hasil kombinasi ilmu pedangnya itu tidak akan ada gunanya.

Maka jalan satu satunya ia harus main gertak, sehingga lawan ciut nyalinya namun betapa sulit untuk menggertak dan main ancam terhadap seorang ahli dalam bidangnya ini.

Setelah ia pikir bolak balik akhirnya baru dia berkeputusan, yaitu menggunakan permainan gada masnya yang berat itu dialancarkan secara lucu dan aneh dalam permainan ilmu silatnya.

Maka permainan gada dan senjata pedang harus menghayati permainan yang betul betul bisa di selami oleh akal sehat.

Kim sin cap pwe lun adalah ilmu gada ciptaan Tokko bing, tiap kali dimainkan laksana kuda sembrani terbang diangkat, seperti cahaya surya pagi yang cemerlang, sekitar tubuhnya diliputi cahaya terang yang menyilaukan mata.

Sekali gebrak usaha Koan San gwat ternyata berhasil, namun baru sampai jurus ketujuh sudah konangan oleh lawan.

Meski ia terkejut, namun lahirnya masih berlaku tenang jengekanya dingin "Berani kau mengagulkan diri sebagai seorang ahli, ternyata mengeluarkan kata kata yang memalukan!"

Cia Ling im melengak, serunya.

"Masa ucapanku salah. Dengan Cap pwe lun, dua puluh tahun yang lalu, Ui ho mampu melawan Kui thing sam ki dalam ujian masuk Liong hwa hwe, maka dia diangkat jadi salah satu Hwe cu, adegan waktu itu masih segar dalam ingatanku..."

"Melakukan perjalanan berapapun jauhnya, pasti ada titik permulannnya, perubahan segala tindak tanduk terletak di paling belakang. Silahkan kau belajar kenal keseluruhan permainanku dulu baru nanti memberi keririk atau boleh kemukakan analisamu."

Digoda sedemikian rupa merah padam muka Cia Ling im, gerungnya gusar.

"Anak muda! Berapa jurus permainan ilmu pedangmu ini?"

"Sembilan jurus, tadi sudah kulancarkan tujuh jurus, inti sari dan kehebatannya terletak pada jurus terakhir!"

"Sebetulnya sejak tadi aku dapat balas menyerang, mengingat ucapanmu ini terpaksa aku harus menunggu dua jurus yang terakhir, setelah itu baru aku gunakan Siu lok su sek untuk menghadapi kau!"

"Boleh! Setelah kau menyaksikan permainanku, menjadi giliranku menonton permainanmu. Tapi lebih baik kau berlaku waspada kedua jurus terakhir ini mengandung banyak perubahan yang tak mungkin dapat kau selami dalam waktu singkat, aku kuatir kau tidak akan mampu meloloskan jiwamu!"

Lahirnya Cia Ling im bersikap marah marah dan menghina serta tak acuh, padahal dalam hatinya sudah terpengaruh oleh gerakan orang, pengetahuan dan kepandaian serta keberanian anak muda ini jauh melebihi kemampuan gurunya, Ui ho Siang jin tidak boleh dibuat mainan, anak muda ini kelihatannya jauh lebih unggul lagi.

Karena timbulnya rasa kuatir ini, serta merta dengan tekun dan seksama ia perhatikan gerak gerik musuh mudanya ini.

Koan San gwat mandah tersenyum, lagi lagi pedangnya terayun kedepan dengan jalan melingkar dan meliuk seperti sedang menulis satu huruf tulisan, benar benar aneh dan sulit diraba, tergerak hati Cia Ling im, dia tahu separuh dari permainan lawan mencangkok ilmu pedangnya sendiri, sedang separuh yang lain entah hasil curian dari mana, tapi kombinasi kedua ilmu pedang ini ternyata hebat perbawanya, cepat ia melejit menghindar, tapi otakanya seperti terkuras untuk menyelami permainan pedang yang lucu ini.

Serangan pedang Koan San gwat ini bukan saja cepat juga tepat, dalam permainan pedang ia campur adukan permainan cambuk lemas Liok Siau hong yang bergerak seperti ular sakti, ternyata hasilnya amat mengesankan sekali karena Cia Ling im di desakanya mundur berulang ulang untuk menyelamatkan diri.

Diam diam Cia Ling im bersyukur dalam hati.

"Untung aku tidak kena, kalau tidak pasti sudah cidera oleh serangan lihay ini."

Bahwasanya permainan Koan San gwat tidak dilandasi inti sari ilmu pedang, dia cuma bermodal kecerdikan otak dan bakatnya saja, sewaktu waktu mengkombinasikan satu jurus ilmu pedang orang lain yang pernah di lihat dan sudah apal dalam ingatannya, ingat satu tipu melancarkan satu jurus begitu seterusnya.

Maka terdengarlah It ouw berteriak memuji .

"Bagus sekali anak muda! Sungguh menyenangkan dan berarti."

"Hanya sejurus kau bisa mendesak Sin lo cua cia seperti kera joget, cukup setimpal kau bercokol dalam barisan Siang pang...."

Cia Ling im mendengus dongkol mendengar olok olok itu, dalam hati ia berharap supaya lawan mudanya ini cepat melancarkan jurus permainan yang terakhir.

Bagi seorang ahli pedang yang benar benar sudah mencapai tingkat yang paling tinggs setiap kali menghadapi dengan semangat yang ber gelora, gairahnya luar biasa, sambil mecari akal untak mengatasi dan mematahkan serangan musuh, disamping iapun ingin mencangkok kelebihan ilmu lawan untuk menambah perbendaharaan ilmu pedangnya sendiri.

Sebetulnya tidak petlu dibikin heran bahwa permainan gado gado Koan San gwat tiada dilandasi aturan, tapi waktu menghadapi Kih Cu seng tadi, dibanding permainan terakhir itu betul betul terpaut amat jauh dan berbeda besar.

Untuk selanjutnya Koan San gwat harus memeras otakanya baru pedang panjangnya terulur kedepan dan lambat lambat menusuk Cia Ling im terlongong.

Besar harapan nya terhadap jurus paling terakhir ini, di luar dugaan Koan San gwat melancarkan sejurus ilmu pedang yang paling umum, yaitu Ka ceng jit hou.

Sembari menerawang, diam diam kedua mata Cia Ling im menatap layu pedang lawan dengan seksama.

Tapi pedang panjang Koan San gwat tetap maju lambat lambat, kira kira satu dim didepan dadanya, keadaan tetap semula tanpa menunjukan sesuatu perubahan.

Cia Ling im jadI sulit mengambil keputusan dan menentukan tindakan dirinya, maka dia diam saja namun sudah ia kerahkan hawa murninya sehingga tubuhnya sekeras basa, diam diam ia memperhitungkan andai kata lawan menusukan pedang nya, dirinya tentu tidak luka.

Setelah ujung pedang Koan San gwat menyentuh dadanya, baru dengan suara tegas ia berkata.

"Kau sudah kalah! Pedangku sudah menusukmu!"

Dengan tertegun Cia Ling im bertanya.

"Jurus apa ini?"

"Ka ceng jit hou ( Ka ceng menusuk harimau)!"

Hampir saja Cia Ling im berjingkrak saking gusarnya, teriakanya beringas .

"Apa! Jadi benar Ka ceng jit hou, kenapa kau gunakan jurus yang paling umum ini....."

"Meskipun jurus ini terlalu umum, tapi besar manfaatnya untuk menundukan musuh."

"Kentut! Bila tahu kau menggunakan jurus bau ini, sekaligus aku bisa melancarkan dua belas perubahan serangan pedang menggasakmu, kau akan mampus dengan badan hancur tercerai berai..."

"Aku percaya kau mampu melakukan, tapi kau tidak berani, karena kau sendiri tidak punya keyakinan, pengetahuan ilmu pedang amat luas dan tinggi, seseorang tak dapat memyelami keseluruhannya meski orang melancarkan jurus biasa yang paling umum, bila penggunannya tepat pada kondisi dan situasinya merobah yang biasa menjadi sesuatu yang ajaib dan hasilnya pasti biasa dan tanpa disadari oleh pihak lawan."

Terdengar It ouw memuji berteriak memuji.

"Hebat! Saudara cilik! Aku orang tua betul betul tunduk lahir bathin terhadap kau."

Maka berkatalah Koan San gwat lebih lanjut.

"Kehebatan setiap jurus ilmu pedang tergantaung pada orang yang menggunakan nya, jurus tadi kalau di lancarkan orang lain, melirikpun kau tIdak sudi melayani, tapI di saat ini di tempat seperti ini dalam keadaan seperti ini pula, kau sulit bertindak meletakkan keputusan hatimu. Bukan sedikit tokoh kosen yang berhadapan di medan laga, yang terjungkal oleh tipu permainan musuh karena dia lena memperhatikan titik yang paling tidak menyolok pandangan, seumpama naga besar terbenam mati dalam air kubangan. Meski yang kuuraian ini hanya pengetahuan cetek yang paling umum, namun merupakan suata kenyataan pula yang tidak bisa disangkal."

Bukan kepalang berang CIa Ling im, teriakanya mencak mencak "Bocah busuk! Kau memang cerdik. Kau sudah memperoleh kesempatan yang baik, kenapa kau tidak menusuk aku?"

"Tidak...!"

Ujar Koan San gwat tertawa.

"Tadi sudah kukatakan aku hendak memenggal kepalamu, jadi bukan menusuk jantungmu."

"Kau kira mudah melaksanakan ancaman mu ?"

"Aku tahu, hawa murni pelindung badan mu sudah kau latih begitu hebat, maka aku tidak akan ambil keuntungan, kau tahu kapan aku menggunakan tenaga dalam batang pedang ku? Tindakanku ini merupakan peringatan saja, supaya kau tidak selalu mengagulkan diri sebagai tokoh atau ahli pedang, begitu picik pandanganmu merendahkan kaum persilatan!"

Merah padam muka CIa Ling im, lekas ia kendorkan tenaga serta membubarkan pertahanan hawa murninya, sebagai orang yang mempunyai kedudukan dan tingkat kepandaian tinggi, keadanannya yang runyam menghadapi anak muda ini sudah memalukan, kalau dia tetap keras kepala bisa meruntuhkan gengsi dan menjatuhkan nama belaka.

Mendadak Koan San gwat menegakkan pergelangan tangan dan menyarung pedang, kontan ujung pedang amblas menembus sela sela, tulang iganya.

Cia Ling im menjerit ketakutan, badanay meacelat terbang jumpalitan kebelakang, begitu besar daya kekuatan kedua kakinya, Koan San gwat ikut terseret maju beberapa langkah hingga pedang yang dipegang nyapun terlepas.

Dengan badan tertancap pedang Cia Ling im berputar satu lingkaran di tengah udara, di kala kakinya menginjak tanah dan berdiri tegak pula, raut mukanya berubah kaku dan membesi hijau, suaranya seperti binatang buas "Bedebah!

Perbuatanmu rendah hina dina..."

Hadirin ikut kaget dan berubah air mukanya, mereka tidak menduga Koan San gwat bakal bertindak begitu memalukan. Dengan tenang Koan San gwat berkata.

"Aku orang she Koan selamanya tak pernah berbuat curang, aku bertindak dengan hati nurani polos, aku tidak kenal apa yang dinamakan licik atau picik, tapi menghadapi raja iblis macam tampangmu ini...."

Cia Ling im menjublek, mematung oleh caci maki itu. Berkata pula Koan San gwat sambil tertawa.

"Kudengar gelarmu adalah Siu lo cun cia, dari julukan ini aku tahu bahwa kau pentolnya lingkungan iblis laknat, kenapa dinamakan iblis karena tindak tanduk dan sepak terjangmu nyeleweng dari jalan kemanusiaan, salahmu sendiri megendorkan pertahananmu kalau aku bertindak karena adanya kesempatan baik ini merupakan perbuatan iblis untuk menundukkan iblis pula, kenapa kau memaki tindakan aku rendah atau hina dina segala?"

Dengan kedua tangannya Cia Ling im lalu mencabut pedang yang menancap didadanya menutup lubang lukanya dengan telapak tangan, bentakanya keras "Kalau keparat ini tidak dilenyapkan, Mo pang kita tidak akan angkat diri dan menjagoi Kangouw!"

Orang orang dibelakangnya serempak bergerak dan siap bertindak, mereka berpencar mengepung Koan San gwat Li Sek hong dan Liu Ih yu menghadapi bersama, sarentak mereka menyerbu ketengah demikian juga It ouw tidak mau ketinggalan ikut menerjang kedepan merintangi aksi mereka.

Cia Ling im menuding seraya berteriak.

"Kau sudah terluka, anak buahmu mampu menghadapi kami."

Berubah air muka Cia Ling im, mulutnya bungkam seketika, situasi tidak menguntungkan pihakanya kecuali dirinya anak buahnya tiada yang boleh diketengahkan, meski mereka main keroyak, belum tentu bisa mengalahkan Li Sek hong dan Liu Ih yu berdua, apalagi pihak musuh ada Koan San gwat dan It ouw adalah lawan yang paling tangguh.

Suasana tegang melingkup sanubari setiap hadirin, sesaat saling berhadapan dengan kaku akhirnya Cia Ling im buka suara.

"Li Sek hong! Anggaplah kau beruntung hari ini aku ditipu oleh keparat ini, tapi kau harus waspada, lukaku ini dalam tiga hari pasti bisa kusembuhkan, datang pada waktunya akan kulihat bagaimana cara kau hendak menyembunyikan diri."

"Tiga hari lagi, aku pun punya cara untuk menghadapi kau,"

Li Sek hong dengan berani. Dingin muka Cia Ling im, jengekanya.

"Baik kau tunggu saja! mundur!"

Orang orang yang mengepung diluar lingkaran itu serempak mengundurkan diri, berbondong bondong mereka mengintil dibelakang Cia Ling im menuju kepuncak luar, setelah mereka puluhan tumbak jauhnya, baru Koan San gwat bicara.

"melenyapkan kejahatan harus tegas dan secepat mungkin, kenapa Sian cu menanam bibit bencana ini?"

"Kau tidak tahu!"

Sahut Li Sek hong seraya geleng kepala dan menghela napas. Tengah mereka bicara bayangan Ling koh tampak menerobos keluar dari bawah loteng, teriaknya dengan tangan kosong "Sian cu! Celaka, Pek ...."

Li Sek hong segera menghardikanya dengan gusar.

"Setan Cilik! Kenapa kaupan naik kemari?"

Karena dampratan yang keras ini Ling koh menghentikan langkah dan tidak berani melanjutkan kata katanya. Lekas Ih yu bicara dengan nada berat.

"Suci! Urusan agakanya makin runyam, Toa suci agakanya pergi membawa Pek heng kiam pula."

Berkatalah Li Sek hong prihatin .

"Sejak tadi sudah kutahu, maka aku bertahan mati matian, kalau tidak..."

Lekas Liu Ih yu angkat jarinya kedepan mulut sambil mendesis .

"Jangan keras keras, supaya tidak kedengaran mereka! Sekarang bagaimana kita bertindak?"

Li Sek hong berpikir sebentar lalu katanya.

"Bekerja menurut situasi saja. Yang penting sekarang lekas selesaikan urusan dibawah! Mari kita pun turun kesana, jangan terlambat supaya mereka tidak bertindak diluar batas..."

Liu Ih yu manggut sambil mengiakan, ia lepas baju luarnya diserahkan kepada Li Sek hong, mereka berlari lari kecil menuju keluar, Ling koh mengintil di belakang mereka.

Berkatalah It ouw sambil menepuk pundak Koan San gwat .

"Saudara kecil, untung kau ikut memburu keatas, kalau tidak entah bagaimana akibatnya..."

Koan San gwat berdiri terlongong katanya "Lo ouw, aku masih merasa heran!"

"Nanti kami bicara lagi! Liong hwa hwe tiada rahasianya lagi, nanti bila ada waktu biar aku tua bangka ini memberi perjelasan kepadamu, kini tugas kita masih banyak dibawah sana!"

Lalu ia gandeng tangan Koan San gwat memburu keluar.

Mereka berloncatan pula dilautan mega setelah keluar dari lapisan awan, mereka melayang turun diatas panggung batu, tampak orang orang dibawah panggung sudah terbagi dalam dua kelompok, kedua kelompok berhadapan.

Keadaan sudah morar marit tidak terbagi atas barisan Sian, Mo atau Kui lagi mereka berkumpul tercampur baur tanpa teratur.

Kelihatannya Li Sek hong belum lama turun ke bawah, ia heran dan melengak akan keadaan yang dihadapinya ini, sunyi sebentar lalu dengan muka dingin Li Sek hong membuka suara.

"Maksud siapa yang menyuruh kalian membagi diri dalam dua kelompok ini?"

Segera Go hay ci hang tampil dari kelompok sebelah kiri, sahutnya sambil merangkap tangan .

"Lolap lah yang mengatur demikian."

Li Sek hong melengak, katanya .

"Dari mana kau tahu?"

Wjah Go hay ci hang menunjuk rasa iba yang menyedihkan, katanya .

"Sebulan yang Lolap sudah mendapat petunjuk Ui ho dan Hiang ting Sian cu, aku tahu bahwa Liong hwa hwe hari ini pasti bubar..."

"Apa!"

Hardik Li Sek hong.

"Jadi kalian sudah berunding sebelumnya!"

Bersabdalah Go hay ci hang .

"Derita tiada ujung pangkalnya, kembali mencapai tepian. Hian ting Sian cu sudah menyadari segala kebejatan duniawi ini, Sian cu kenapa kau sendiri malah belum menyadari akan hal ini..."

"Sudah berantakan bagaimana aku harus bertanggung jawab dan membereskan persoalan ini ...."

"Yang bijaksana memperoleh keberuntungannya, yang jahat pasti terhukum sesuai dengan perbuatannya, bajik atau jahat hati nurani manusia, terletak pada kepribadian orang itu sendiri, untuk membaurkan bijak dan jahat itu harus dalam suatu godokan, memang tekad Hoat hoa Seng cia harus dipuji, sayang sepak terjangnya keluar batas kehendak yang kuasa. Lolap sudah menjelaskan pada para sahabat, untuk selanjutnya Dewa, Iblis dan Setan boleh mengambil jalan hidupnya sendiri, kalau Sian cu punya minat menyadarkan pikiran sesat mereka, Lolap dan sekalian sahabat yang sehaluan rela menghambakan diri...."

Lalu ia menghampiri kearah Cia Ling im serta menudingnya, ujarnya "Selama puluhan tahun Lolap berjerih payah, baru hari ini terhitung berhasil usahaku, bila Cun cia memilih jalan benar menempuh jalan suci, kemana pun kau berada bukankah bisa bertindak bebas dan hidup laksana dalam dunia kedewaan.

Atau sebalikanya kau akan tenggelam dalam kebejadan iblis...."

"Keparar gundul! Tidak kukira bila kau punya angan angan begitu besar, mencerai beraikan Liong hwa hwe yang besar dan berwibawa dalam sekejap mata belaka. Kau tunggu saja, cepat atau lambat aku akan membuat perihitungan dengan mu..."

Go hay ci hang menghela napas, sahut nya "Selama hayat masih dikandung badan, sebelum ajal, Lolap tidak akan menyia nyia kan setiap kesempatan, harapan masih ada untuk menyadarkan Cun cia dari kesesatan dan mengambil pada jalan suci...."

"Boleh kau tunggu dan buktikan! Mungkin akulah yang akan menarik kau kedalam dunia iblis!"

Go hay ci hang merangkap kedua telapak tangan kedepan dada.

tiba tiba badannya memancarkan cahaya kuning mas yang cemerlang menyilaukan mata, serunya lantang "Kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang masuk neraka......."

"Omong kosong !"

Sentak Cia Ling im naik pitam.

"Siapa sehaluan ikut aku pergi!"

Sambil angkat tangan ia beranjak pergi kamrat kamratnya berbondong bondong berderap mengikuti jejakanya.

Kejap lain suasana hening lelap mencekam sanubari mereka yang berdiri menjublek tanpa bergerak.

Setelah bayangan Cia Ling im para begundalnya lenyap dari puncak Sin li bong, Koan San gwat alihkan pandangannya It ouw, sorot matanya mengunjuk pertanyaan tentang seluk beluk dan lantaran belakang Liong hwa hwe ini.

Beruntun pandangan matanya menyapu raut wajah beberapa orang, rona wajah mereka tampak hampa dan mendelu, seperti seseorang yang kehilangan sesuatu, gegetun dan sayang pula.

Sulit dilukiskan satu persatu mimik mereka yang berlainan.

Akhirnya It ouw menghela napas dan membuka kesunyian.

"Sungguh tidak nyana, organisasi yang jaya dan digdaya ini, akhirnya bubar demikian saja..."

Go hay ci kang tertawa, ujarnya "Bubar lebih baik.

Dalam kolong langit ini tiada perjamuan yang tidak akan bubar, apalagi perkumpulan macam ini, naga dan ular atau sarang baik yang jahat sulit dibedakan.

Dua tiga ratus tokoh tokoh silat Bulim, membawa dendam sakit hati serta budi pekerti mereka dalam suatu wadah yang sulit diselesaikan, kalau pertikaian dilanjutkan, entah apa pula yang bakal terjadi, ada lebih baik sebulum terlanjur dibubarkan saja, demikian kita semua bebas dari belenggu dan ikatan!"

"Kepala gundul!"

Seru It ouw sambil mendelik.

"Pandai kau menyembunyikan diri, bila tahu aku sehebat ini keduduken Hwe cu segala tak pecuma ku jabat, sejak kapan kau berhasil menyempurnakan Kong cing sin hoat!"

"Sejak lama Lolap sudah berhasil melatihnya!"

Sahut Go hay ci hang tertawa.

"Karena kuatir kebentur kesulitan maka tidak pernah kukembangkan ilmu itu, kalau tidak mana bisa aku berlenggang bebas, mana ada kesempatan mengatur segala rencana ini..."

It ouw mendengus katannya "Keparat gundul!

agakanya sejak lama kau berniat membubarkan Liong hwa hwe, kenapa kau tidak mau merebut kedudukan Hwe cu, bukankah mengandal kedudukanmu itu kau lebih bebas bergerak mengatur segala rencanamu."

"Bukankah sudah Lolap katakan tadi, dengan segala kebebasan dari ikatan dan dinas aku bisa bekerja lebih banyak! apalagi meski Lolap tidak menghambat Hwe cu sepak terjang orang orang Liong hwa hwe tidak lepas dari pengawasan Lolap."

Seperti tertawa It ouw berkata "Aku tahu, sejak lama memang kau sudah sekongkol dengan Ui ho..."

"Bukan Ui ho saja,"

Sela Go hay,"

Hiang ting Siau cu juga punya maksud yang sama, cepat atau lambat Liong hwa hwe harus bubar, soalnya kekuatan iblis makin lebar dan kuat, jalan kesucian bakal terdesak bila kekuatan dan pengaruh mereka sudah besar makin kuat, untuk membubarkannya tentu tidak mudah lagi.

Titik tolak persoalan ini kukira kau cukup jelas, tak perlu Lolap banyak mulut lagi!"

Baru sekarang Li hong menimbrung bicara "Cia Ling im manusia serigala berhati harimau, diam diam ia menumpuk kekuatan dan mengincar senjata pusaka, tindak tandukanya sebagai bukti.

Sudah lama Toa suci menyinggung hal ini kepada aku dan Ih yu.

Sayang sekali dalam saat yang menentukan dia justru pergi meniggalkan tugas berat ini...."

Go hay menjelaskan "Sebetulnya Hian ting Sian cu sudah mengatur segalanya, demikian juga Lolap sudah mengatur rencana untuk mengadakan akibat ini, cuma kami tidak mengira ambisi Cia Ling im sedemikian besar dan bertindak sedemikian cepat, belum lagi pertemuan besar dibuka dia sudah bertindak lebih dulu, hingga Lolap tidak sempat melaksanakan rencana semula, untunglah Koan suheng cukup cerdik...."

Li Sek hong mengulapkan tangan, ujarnya .

"Omong kosongku tak usah kau bicarakan lagi. Kemana Toa suci dan Ui ho memyembunyikan diri?"

"Hal ini Lolap kurang jelas, yang terang mereka sudah mendapatkan kemurnian hidup jiwa manusia, mungkin mereka tidak akan muncul pula dalam masyarakat."

Li Sek hong melenggong, lalu katanya dengan hambar "Memang mereka merupakan pasangan yang setimpal...

cuma tidak seharusnya ia membawa Pek hong kiam, hampir aku mati konyol oleh perbuatan Cia Ling im."

"Kiranya Sian cu marah kerena hal ini, kalau begitu pengertianmu terhadap Hiang ting Sian cu salah, ketahuilah justru untuk membantu dan menyelamatkan jiwa kalian maka dia bawa serta Pek hong kiam itu!"

"Omong kosong!"

Sentak Li sek hong muring.

"Pek hong kiam merupakan barang pantangan peninggalan guru, justru karena takut menghadapi kehebatan senjata pusaka itu maka Cia Ling im dan begundalnya takut berontak!"

"Itu hanya tipu daya peninggalan Hoa Seng cia belaka, ketahuilah Pek hong kiam tidak lebih seperti senjata tajam umumnya, jangan kalian percaya bahwa pedang itu digjaya atau sakti seperti kabar angin itu. Hal ini baik kujelaskan sekarang, tapi bila sampai di ketahui oleh gerombolan iblis itu, tanggung dunia ini, bakal geger..."

"Apa benar?"

Tanya Li Sek hong dan Ih yu melengak.

"Sedikitpun tidak salah, sebelum Hiang ting Sian ca pergi beliau ada memberi tahu rahasia ini, maka diapun membawa serta, supaya gembong gembong iblis itu merasa jeri dan was was, hingga mereka tidak berani bersimaharaja...."

Sek hong menjublek ditempatnya, sekian lama baru bersuara sambil menghela napas.

"Payah kalau begitu, tiga hari lagi bila Cia Ling im meluruk datang, cara bagaimana kita menghadapi mereka?"

"Sian cu tidak usah kuatir, Lolap punya cara untuk memukul mundur mereka!"

Li Sek hong ingin bertanya lebih lanjut namun Go hay ci hang menggoyang tangan ujarnya "Harap Sian cu percaya pada Lolap cara ini belam bisa kuumumkan!"

"Sungguh sulit untuk dipercaya bahwa Pek ho kiam hanya tipuan belaka,"

Kata Li sek hong "Karena terpaksa Seng cia (guru Li sek hong dll) melakukan hal itu, dulu waktu dia menerima lima murid, sebetulnya paling sayang pada Sin lo cun cia, maka dia turunkan seluruh kepandaiannya, maksudnya akan mendidikanya sebagai ahli waris...."

"Hal itu aku sudah tahu"

Ujar Li Sek hong tidak sabar.

"Buktinya Suhu memang menurunkan Siu lo su sek kepadanya saja !"

"Rencana semula memang demikian, tapi akhirnya dalam usaha mencapai Dewa melalui jalan iblis Seng cia melihat tindak tanduk serta angan angannya yang berambisi besar, baru beliau sadar dan insyaf bahwa tidak mungkin murid laki laki ini dapat memperoleh sukses besar. Soalnya Seng cia sendiri saat mana sudah Cau hwe jip mo, tak mampu menundukkan dia, terpaksa ia ciptakan ilmu lain yaitu Tay lo jit sek, diturunkan kepada Sian cu bertiga, tujuan untuk mengekang dan memundukkan Siu lo su sek itu, alhasil Tay lo jit sek sebetulnya merupakan ilmu yang mengandung kekerasan, harus dilandasi dengan tenaga positip, jauh berlainan dengan kondisi badan Sian cu bertiga maka sulitlah dilatih sampai puncak yang sempurna...."

"Hal itu memang benar, Toa suci mendapat anugrah yang begitu besar dengan paksa ia gunakan tiga macam hawa murni dalam tubuhnya untuk meleburnya kedalam hawa pedang, paling hanya dapat mengembangkan tujuh bagian perbawanya saja, aku dan Ih yu jauh ketinggalan malah....."

"Bahwa Hiang cing Sian cu memperoleh ajaran asli dari Tay lo jit sek adalah kjadian terakhir, tapi latihannya itu paling paling hanya berimbang melawan Cia Ling im. Dikala Seng cia mangkat dulu, dengan tenaga kalian bertiga mungkin juga belum tandingannya!"

Li Sek hong menunduk bungkam, mungkin ia mengakui akan apa yang dikatakan ini. Berkata pula Go hay ci hang .

"Setelah Seng Cia Ling im tidak setimpal menerima warisan itu, maka Hiang ting Sian cu lah yang di pilih, namun beliau masih kuatir kalian tidak akan mampu menundukkan dia, bukan mustahil selalu dipermainkan olehnya, maka ia menggunakan akal bulus atas Pek hong kiam itulah, waktu menganugrahkan pedang dulu, Sian cu juga hadir, kukira masih segar dalam ingatan kalian adegan waktu itu."

Li Sek hong menunduk lebih dalam orang di sekitarnya jadi gelisah ingin mendengar seluk beluk persoalan ini namun mereka tidak berani minta penjelasan.

Terutama sikap Koan San gwat paling menyolok, melihat kelakuan ini terpaksa Liu Ih yu menjelaskan.

"Tatkala itu akupua hadir..."

"Aku dan Sian Cu sudi memberi penjelasan?"

Pinta Koan San gwat. Liu Ih yu mulai bercerita.

"Waktu itu aku berusia enam belas, baru beberapa tahun belajar kepandaian dari Suhu. Suatu hari mendadak Suhu mengumpulkan kami beramai dengan tegas dan hikmat mengumumkan .

"Aku tahu ajalku tidak lama lagi, sayang Ling hwa hwe belum lama kudirikan, tokoh tokoh kosen yang ditarik masuk anggotapun belum sempurna, tanggung jawab dan tugas berat ini terpaksa kalian harus pikul bersama. Cu sian ling merupakan lambang kekuasaan tertinggi dari Liong hwa hwe, dengan memegang lencana sebesar ini, tentu mati hidup jiwa seluruh anggota tergenggam ditangannya, maka aku harus menyerahkan kepada seorang ahli waris yang benar benar pilihan! tatkala itu kami menduga pilihan yang dimaksud Suhu pasti Cia Ling im, demikian pula sikapnya waktu itu sangat pongah dan takabur, seolah olah jabatan tertinggi sudah bakal menjadi milikanya..."

Sampi disini ia bementi untuk ganti napas, semua orang mendengar dengan perasaan tegang.

Maka Liu Ih yu melanjutkan "Siapa tahu akhirnya Suhu justru memilih Toa suci waktu Toa suci bertutur menerima lencana kebesaran itu, berubah hebat air muka Cia Ling im, kedua biji matanya melotot keluar saking gusar, hampir saja dia menerjang maju merebutnya.

Soalnya guru sudah Cau hwe jip mo, badannya sudah cacad dan lumpuh separuh, apa lagi Se bun Bu yam sekelompok dengan dia, sungguh kami sangat kuatir mereka bisa berontak, tak nyana Suhu sudah tahu maksud mereka setelah begitu menyerahkan Cu sian ling, lalu beliaupun mengeluarkan sebatang pedang, itu lah Pek hong kiam adanya...

sambil menyoren pedang itu guru berkata lantang "Walau cu sian ling sebagai lambang kekuasaan tertinggi, namun tidak lebih medali itu cuma bersipat simbolis belaka, tidak punya kekuatan mengekang sesama mausia supaya Cu sian ling dapat mengembangkan hak kekuasaannya, aku anugrahkan pula Pek hong kiam sebagai dasar kekuasan itu.

pedang ini teramat manjur dan sakti, sesuai dengan namanya, setiap kali pedang keluar dari serangkanya harus mendapatkan korban darah yang setimpal, sekarang biar kucoba kekuatan pedang pusaka ini.

Sembari berkata Suhu melolos pedang cahaya putih kemilauan menyilaukan mata, Suhu melemparkan pedang kedepan tampak tertarik sinar terang mencorong kedepan, kontan gugusan gunung batu puluhan tombak didepan nya terbutuk bolong delapan sembilan kaki lebarnya, akhirnya pedang itu terbang kembali sendiri ketangan Suhu.

Pertunjukan hebat inilah yang menindas sikap pedang Cia Ling im, Suhu menyerahkan Pek hong kiam kepada Toa suci, kata beliau.

Hian ting dengan memegang medali dan pedang ini, kau adalah orang pertama dalam Liong hwa hwe kuharap kau dapat pegang setiap kesempatan baik dan menyebar luas kekuasan Liong hwa hwe yang digjaya tak peduli siapa saja bila tidak tundukan petunjuk atau perintahmu, bunuh saja habis pekara."

"Sambil berlutut Toa suci menerima pedang, selanjutnya Suhu suruh kita berlutut dan menyembah kepada Toa suci, kami sama bersumpah menerima dan patuh akan pimpinan nya. Mesti dalam hati merasa tidak senang, namun takut menghadapi wibawa Pek hong kiam yang luar biasa itu, terpaksa Cia Ling im dan Sebun Bu yam juga berlutut! Suhu tertawa senang dan riang, beliau mangkat begitu saja...."

Bercerira sampai disini suaranya rada tersendat haru, semua pendengarnyapun menghela napas pendek, mengendor rasa tegangnya. Berkatalah Go hay ci heng pelan pelan.

"Apa yang diuraikan Sian cu jauh lebih lengkap dan jelas dari apa yang telah Lolap ketahui...."

Li Sek hong menimbrung.

"Kekuatan Pek hong kiam sudah kami saksikan bersama, mana bisa merupakan tipuan belaka?"

"Kecuali Hian ting Sian cu mungkin hanya Lolap yang tahu akan hal ini. Dan lagi memperoleh pedang itu Hiang ting Sian cu sendiri masih belum tahu, di luar tahu orang diam diam ia mencobanya, baru ia sadar jerih payah dan maksud Seng cia."

"Bagaimaaa penjelasan hal itu?"

Tanya Li Sek hong.

Kini ganti Go hay ci hang yang menutur "Setelah Hiang ting Sian cu pegang kuasa, sesuai dengan janji dan tugas tugas yang diterimanya, dia mengembang luaskan liong hwa hwe, waktu itu Lolap dan Ui ho belum masuk anggota.

Suatu ketika dia bersua dengan lolap di Lu ling sub, sungguh harus dipuji pandangan Hiang ting Sian cu, dia tahu bahwa Lolap membekal kepandaian silat, maka dia paksa aku masuk anggota, sudah tentu Lolap keberatan dan menolak, karena tidak sepakat, akhirnya berkelahi dengan Kong bing hoat sin untung Lolap kuat menandingi Tay lo ju sek sudah tentu lwekang Hiang ting waktu itu masih belum setinggi sekarang, sampai akhirnya saking kewalahan ia mengeluarkan Pek hong kiam hendak membunuh Lolap, semula Lolappun merasa keder melihat pancaran sinar Pek hong kiam yang mencorong benderang itu agakanya Hiang ting Sian cu sudah dipengaruhi oleh kemarahan hatinya, hendak menunjukkan wibawa pedang itu menundukkan Lolap, alhasil sekali gebrak malah ia memperlihatkan kelemahan sendiri...."

"Bagaimana kejadiannya?"

Tanya Li Sek hong terkejut.

"Watu itu Hiang ting Sian cu ingin mencoba pedangnya itu pada batu gunung akibat nya batu itu memang tertusuk bolong, tapi bukan karena kedigjayaan pedang itu sendiri, tapi karena kekuatan lwekang Hiang ting Sian cu yang melandasinya, pedang itu amblas sampai satu kaki lebih, dinilai dari kekuatan lwekang seseorang, hasil pertunjukkan ini boleh dikata merupakan suatu kejadian yang cukup hebat...."

"Kau ngelantur kemana, bagaimana kesudahannya?"

Desak Li Sek hong tak sabar.

"Kwalitet besi untuk membuat pedang itu agakanya kurang baik dan terlalu keras ujung pedang ternyata, putus !"

"Putus!"

Teriak Li Sek hong dan Liu Ih yu berjingkrak.

"Ya, ujung pedang putus kira kira satu dua dim, ternyata pedang itu terbikin dari semacam tembaga pilihan yang bisa mengeluarkan cahaya bila digosok halus... maka sejak kejadian itu Hiang ting Sian cu tidak pernah meninggalkan Pek hong kiam, dan sejak itu pula ia tontonkan permainan kepada yang lain!"

"Tak heran Toa suci selalu menolak bila membicakan pedang itu, malah dia lebih giat berlatih memperdalam ilmu silatnya...."

Demikian ujar Li Sek hong lesu.

"Bakat dan kecerdikan Hiang ting Sian cu melebihi orang lain, sukses yang bakal dicapainya kelak jauh lebih besar dari perhitungan Lolap semula."

"Kepala gundul!"

Tiba tiba It ouw menimbrung.

"Bahwa Hing ting Sian cu tidak kuasa menundukan dengan ilmu pedangnya, cara bagaimana pula dia berhasil mengajak kau jadi anggota?"

"Hebat memang Hiang ting Sian cu, akhir nya Lolap tundak akan bujukannya."

"Percakapan kalian itu tentu sangat berkesan, bolehkah Lo siansu mengisahkan kejadian masa lalu itu, supaya kami beramai tambah pengalaman."

Go hay ci hang berpikir sebenrar, lalu katanya dengan sikap serius "Untuk ini Lolap tidak bisa melulusi!"

Koan San gwat tahu ia tak bisa memaksa, maka dengan hambar ia menghela napas, semua orang berdiri diam, semua dicekam rasa kuatir dan gelisah, sepeminum teh kemudian baru Koan San gwat membuka kesunyian "Kini aku masih setengah mengerti tentang seluk beluk Liong hwa hwe, siapa diantara kalian yang sudi memberi penjelasan selengkap nya?"

"Seluk beluk Liong hwa hwe tidak akan habis dijelaskan dalam dua tiga patah kata saja."

Demikian ujar Go hay tertawa.

"Kalau Koan si heng ingin tahu segala asal usul dan seluk beluk Liong hwa hwe, serta cara bagaimana gurumu masuk menjadi anggota, cuma kedua Sian cu dan Lolap saja yang tahu paling jelas."

"Hwesio tua,"

Seru Liu Ih yu.

"Apa yang kau tahu juga terbatas biar aku yang manjelaskan kepadanya.!"

"Kalan Sian cu sudi mencapaikan diri lebih baik, Lolap tidak berani banyak mulut..."

Mata Li Sek hong mendelik, lekas Liu Ih yu menambahkan .

"Suci, aku hanya mengatakan beberapa persoalan yang bisa dibicarakan saja."

Mendad k Li Sek hong tertawa getir, katanya.

"Kalan mau bicara tidak usah pakai tedeng aling, buat aku tidak menjadi soal."

Agakanya Liu Ih yu cukup prihatin, kata nya lirih "Mari kita bicara diatas...! banyak persoalan yang tidak boleh didengar orang banyak."

Berpikir Koan San gwat, ini betul betul suatu pertemuan rahasia, tempat yang misterius, dibelakang misterius itu ada pula rahasia nya, maka makin besar hasratnya untuk membuka tabir rahasia ini, cepat ia menganggukkan kepala.

Baru saja Liu Ih yu bergerak, Go hay berkata "Sian cu, kuharap kalian jangan bicara lama Lolap masih ada urusan yang perlu dirundingkan dengan Ciheng."

"Hwesio tua,"

Seru Liu Ih yu mendelik "Tak usah kau bertingkah, siapa pun yang hendak kau temui, pasti bukan urusan baik."

"Ui ho ada pesan sesuatu kepadaku supaya disampaikan kepada Koan siheng, urusan ini persoalan besar, kalau tidak Lolap tidak akan minta minta kepada kau. Lolap kuatir Sian cu..."

"Hwesio tua, coba kau bicara sekejap lagi!"

Demikian ancam Lin Ih yu dengan gusar.

"Aku merendah diri demi jiwa ratusan orang yang hadir ini. Harap Sian cu maklum..."

""Apa katamu?"

"Sarat peninggalan Hiang ting Sian cu untuk kalian, sudah menjelaskan secara terang tak perlu Lolap banyak bicara lagi !"

Dengan rasa tidak percaya Liu Ih yu mendesak "Benarkah dia! Jangan kau salah duga! Tadinya untung untungan belaka..."

Segera Go hay bicara dengan sikap serius "Tiada untung untungan yang terjadi dalam dunia ini, setiap kerja yang membawa hasil tentu ada sebab musababnya, waktu Lolap mendapat petunjuk Hiang ting Sian cu pun tidak percaya, kini...."

Liu Ih yu mengertak gigi, katanya .

"Sudahlah, tak perlu kau cerewet lagi, dua jam kemudian boleh kau menyusul keatas, ku tanggung...."

"Sepatah kata Sian cu laksana ribuan karat mas beratnya, Lolap mengucapkan terima kasih. Sebetulnya hal ini tidak merugikan Sian cu, sesuatu hal yang ingin diselesaikan biarlah terjadi menurut hukum alam, kelak pasti akan membawa kekuatiran. Pandangan Sian cu cukup lihay dan tahu persoalan, seperti Ui ho dan Hiang ting Sian cu, betapa bahagia dan gembira mereka hidup sekarang."

Merah muka Li Ih yu ujarnya malu malu "Omong kosong, kau tidak usah cerewet !"

Koan san gwat bingung dibuatnya, lekas Go hay berkata padanya .

"Si heng boleh silahkan. Dua jam lagi Lolap akan menyusul ke atas, waktu itu ada beberapa persoalan mohon petunjukmu...."

Lalu ia membalik tubuh mengajak seluruh hadirin mengundurkan diri.

"Adik Ih yu,"

Ujar Li sek hong.

"Kau dengar nasehatnya! dulu kami salah mata, tidak tahu bahwa kepala gundul ini punya kemauan besar. Ambilah diriku sebagai contoh kerena ceroboh dan bertindak keluar batas ak hirnya aku mengalami impian buruk belaka."

Liu Ih yu termenung sebentar baru memgangguk dan berkata kepada Koan San gwat "Marilah keatas!"

Lalu ia mendahului melejit ke dalam gumpalan mega, Li sek hong ikut dibelakangnya lekas Liong koh menarik lengan Koan San gwat terus diseretnya melompat tinggi meleset kedalam awan. -oo0dw0oo-

Jilid 13 SETELAH MELAMPAUI lautan mega yang bergulung gulung, mereka beranjak didalam hutan pohon siong, kedua ekor bangau besar itu masih bertengger dipucuk pohon.

Akhirnya mereka tiba dilapangan pertemuan yang menegangkan tadi terus memasuki pintu gerbang Ci hi sian hu yang megah dan agung.

Beberapa kejap lalu Liu Ih yu dan Li Sek hong sudah menghilang dibalik pintu, Ling koh terus menarikanya masuk, sembari berjalan Koan San gwat berkata "Dipuncak yang tinggi mendirikan gedung besar nan megah ini, sungguh merupakan jerih payah yang tidak ternilai!"

"Jangan kau tertipu oleh keadaan luarnya yang megah ini, setelah didalam nanti mungkin kau akan kecewa."

Tanpa kuasa Koan San gwat mengikuti langkah orang memasuki sebuah pendopo besar, baru saja ia heran kemana juntrungan kata Liong koh, sementara Liong koh masih menyeretnya terus kesebelah dalam.

Setelah melewati pendopo besar itu mereka menyelusuri serambi panjang yang belak belok, akhirnya Ling koh menyingkap kerai terus menarikanya masuk kedalam.

Begitu berada di dalam betul juga seketika Koan San gwat melongo dibuatnya, baru sekarang ia paham kenapa Ling koh berkata demikian.

Bahwasanya bentuk bangunan gedung besar ini adalah sedemikian megah dan angker dilihat dari sebelah luar, namun keadaan dalam justru sangat jorok dan bobrok sekali, kapur dinding sudah luntur dan ngelotok sarang gelegasi bertaburan dimana manana debu diatas lantai tebal beberapa mili, rasanya lembab dan basah lagi, didalam ruangan ini, kosong melompong, disebelah samping sana terletak anyaman kasur dari rumput.

Liu Ih yu dan Li Sek hong masing masing menduduki sebuah kasur rumput bersimpuh dengan tenang dan menunggu, berita ia masuk Liu Ih yu segera menunjuk sebuah kasur rumput yang lain dibadannya, katanya "Silakan duduk!"

Menurut gaya duduk orang pelan pelan Koan San gwat duduk menurut permintaan orang, namun wajahnya mengunjuk rasa heran dan tidak mengerti, Liu Ih yu tersenyum simpul, katanya "Mungkin merasa tempat ini terlalu bobrok bukan?"

Koan San gwat merandek sebentar, lalu sahutnya "Kata kata bobrok sulit diberikan penilaian, cuma keadaan di sini jauh berbeda dengan keadaan luarnya, seperti bumi dan langit layakanya!"

Li Sek hong tersenyum, selanya .

"Kau tahu tempat apakah ini? "

Koan San gwat menggeleng, Kata Li Sek hong tertawa .

"Disinilah tempat Suci moay berlatih kepandaian, setahun ada tiga ratus enam puluh hari, sedikitnya tigi ratus lima puluh sembilan hari kami menghabiskan waktu ditempat ini....."

"Kenapa begitu!"

Ujar Koai San gwat tidak paham.

"Banyak tempar diluar yang lebih bagus, disana lebih nyaman dan bersih untuk berlatih ilmu, tidak perlu mengurung diri disini,"

"Itulah jalan menjadi dewa, dalam ke royalan mengajar kemiskinan diantara "Ke"

Dan "Ke"

Itu, baru kita dapat menggembleng diri kearah kesempurnaan hidup, dan biasa dalam ketenangan nan sepi lelap."

Seperti paham tapi kurang mengerti, Koan San gwat manggut manggut.

"Bukan kau saja yang tak mengerti,"

Demikian sambung Li Sek hong.

"Seluruh manusia di kolong langit ini tiada seorangpun yang paham kecuali Nabi, karena hal hal seperti itu tidak menjadi suatu dalil yang tetap, sesuatu yang indah didalam dunia ini tidak akan tetap bertahan dimakan waktu, demikianlah seperti bentuk rumah ini, indah diluar keropos didalam. Dewa itulah palsu, itulah dalil yang benar, dalil dalil lapuk itulah yang merupa kehidupan manusia...."

Ia terloroh loroh rawan nadanya sedemikian sedih dan hampa.

Koan San gwat terlongong mematung.

Enam puluh tahun yang lalu, tengah malam Pekli Put ping si sastrawan Rudin yang gagah menempuh ujian memanjat puncak Sin li hong.

Tatkala itu ia berusia tiga puluhan, sastra dan ilmu silat yang diyakinkan kepalang tanggung, setelah gagal ujian ia mengembara menghabiskan waktu.

Konon kabarnya di puncak Sin li hong pernah terjdi suatu legenda Dewi bertemu dengan raja, maka besar hasiatnya naik keatas puncak untuk menikmati impian yang muluk muluk dikalangan dewata.

Dikala dia kehabisan tenaga dan napas ngos ngosan, tiba diatas puncak, dilihatnya seorang perempuan sedang berdiri diujung batu yang menjorok keluar sedang menikmati cahaya rembulan, karuan hatinya girang dan kejut pula, sebab ditengah malam buta rata, seorang perempuan berani tinggal sendirian di puncak gunung yang sepi dan di tempat ketinggian yang berbahaya lagi, kecuali bidadari siapa lagi?

Prempuan itu berdiri membelakangi dirinya, perawakan tubuhnya kelihatan ramping langsing, seperti bidadari dari khayangan, karena kedatangannya memang ingin bertemu dengan bidadari, segera ia menghampiri dan menyapa dengan rasa hormat.

Begitu perempuan itu membalik tubuh, seketika dia berjingkrak kaget setengah mati.

Karena beda dengan bentuk tubuhnya yang elok, raut muka perempuan ternyata begitu jelek, lebih buruk dari wajah setan.

Karena dia yang menyapa lebih dulu, tidak enak tinggal pergi begitu saja maka setelah sekedar basa basi, akhirnya tahu bahwa perempuan itu bernama Oen Kiau.

Sejak lahir bentuk mukanya memang sudah teramat buruk maka orang tuanya lantas membuangnya dibawah gunung, untung ketemu oleh seorang sakti, lalu mengasus, membimbing serta mendidikanya sampai besar, orang aneh itu she Oen, dia diangkat menjadi putri angkamya, Oen Kiau adalah asma yang diberikan oleh tokoh aneh yang sakti itu.

Setelah orang aneh itu meninggal belia meninggalkan pelajaran ilmu silat yang amat tinggi dan hebat sekali, tahu bahwa bentuk mukanya yang buruk maka Oen Kiau tidak berani muncul didunia ramai, dia mengasingkan diri di pedalaman gunung nan sepi dan tenang.

Sudah tentu Pekli Put ping tidak tertarik kepada Oen Kiau, namun ia sangat takjub dan mengiri akan kepandaian ilmu silatnya, maka dia berdiam cukup lama dipuncak gunung itu orang mengobrol panjang lebar, sebesar itu Oen Kiau belum pernah berdekatan dengan laki laki muda apa lagi dengan sikap yang mesra pula, sudah tentu mati matian ia mencintai laki laki pujaan hatinya ini.

Beginikah akhirnya mereka menjadi suami istri, mereka lebarkan hari hari bahagia itu beberapa bulan lamannya.

Hasrat Pekli Put ping untuk mempelajari berbagai ilmu kepandaian itu teramat besar, dengan tekun ia merangkai semua peninggalan orang aneh itu, alhasil diketemukan olehnya beberapa buku catatan mengenai ilmu silat, Oen Kiau sendiri tidak pandai membaca ia tidak tahu akan rahasia peninggilan ayah angkatnya itu, sebalikanya Pek Put ping seperti memperoleh lotre jutaan besarnya, girang bukan main, namun timbul rasa tamaknya untuk mengangkangi sendiri.

Dengan tekun ia pelajari ilmu ilmu yang tercatat didalam buku peninggalan itu tanpa memberi tahu atau menurunkan pula kepada istrinya.

Sampai akhirnya setelah kepandaian silamya jauh melampaui kemampuan istrinya, lama kelamaan ia menjadi sebal dan muak melihat tampang istrinya mesrapun menjadi kasar dan ketus.

Oen Kiau tahu sebab musababnya dan perubahan sikap suaminya itu, semula ia masih berlaku manis diri selalu mengalah saja tapi orang sabar ada batasnya, suatu ketika terjadi perang mulut yang sengit, suami istri berkelahi dan saling serang tidak kenal kasihan lagi, dengan nekad Pekli Put ping melancarkan ilmu ilmunya yang ganas, tujuannya hendak membunuh Oen Kiau.

Untunglah orang sakti yang aneh itu sebelumnya meramal bakal terjadi tragedi yang memalukan ini, sebelum ajal dan lumpuh dan semua ilmu peninggalannya yang dipelajari Pekli Put ping, akhirnya Pokli Put ping dibekuk oleh Oen Kiau, namun betapapun hati perempuan rada lemah, apalagi kehidupan suami istri sudah berlangsung sekian lama, maka ia tidak hendak melukai atau menyakiti suaminya, setelah memakinya kalang kabut terus tinggal pergi begitu saja.

Setelah Oen Kiau pergi, pengan ilmu yang dipelajarinya, Pekli Pua ping melakukan perbuatan kotor dan jahat, namun selama ia malang melintang sekian lama menjelajah seluruh dunia tidak pernah menemui seorang lawan yang tangguh, lama kelamaan ia jadi bosan sendiri akan kehidupan Kangouw, setelah puas akhirnya ia kembali ke Sin li hong dan menetap disana melanjutkan pelajaran ilmunya yang masih belum sempurna keseluruhannya.

Buku pelajaran silat peninggalan orang aneh itu terdiri tiga jilid, meski apa yang tercatat didalamnya kurang lengkap dan tidak berurutan, namun setelah dipelajari serta diraba raba lambat laun terjadilah suatu rumus yang dapat dijadikan landasan.

Tay lo sian kip mencatat pelajaran sara menjadi dewa.

Thian mo po lok adalah merupakan inti sari dari kumpulan segala macam ilmu sesat.

Sedang Yu Oing hian ki adalah pelajaran cara herlatih mengawasi mayat serta setan yang serba ganjil dan magik.

Ajaran yang tercatat didalam Thian mo po lok dan Yu bing hian king rada gampang dipelajari, rapi bagian Tay lo sian kip lebih su kar diselami.

Setelah mengasingkan diri beberapa tahun memperdalam ilmunya Pekli Put ping menjadi bosan dan kesepian, lalu ia menerima empat murid, yaitu Lim Hiang ting, Cia Ling im Li Sek hong dan Sebun Bu yam, diantara mereka hanya Cia Ling im saja murid laki kaki.

Lim Hiang ting dan Li Sek hong berparas cantik dan berbentuk elok lagi, sebalikanya paras Sebun Bu yam jelek sekali, bahwa Pekli Put ping mau menerima dia sebagai murid mungkin timbul kenangannya terhadap sang istri Oen Kiau.

Diantara keempat murid ini Cia Ling im paling cerdas, berbakat lagi, tapi sifatnya suka ugal ugalan, maka kepandaian yang dipelajari dari Thian mo pok lok pun maju teramat pesat, adalah Sebun Ba yam paling bodoh, terpaksa dia hanya mempelajari ajaran yang ada di Yu bing hian kiang, ilmu rendahan belaka.

Pekli Put ping sendiri belum banyak memahami pelajaran Tay lo sian dip, maka pelajaran yang dia turunkan kepada muridnya hanya terbatas pada Thian mo pok lok dan Yu bing hian kiang saja, karena pelajaran jalan iblis itu mengutamakan kombinasi antara negatif dan positif, maka setiap kali latihan perlu adanya campur baur, begitulah diantara mereka guru dan murid terjadi sesuatu hubungan yang sulit diketahui orang luar, Pekli Put ping tertarik pada Lim Hiang ting, maka Cia Ling im terpaksa gaul dengan Li Sek hong dan Sebun Bu yam, karena itulah Sebun Bu yan sangat setia terhadap Cia Ling im, dan patuh lahir batin.

Sudah tentu tidak pernah timbul hasrat Cia Ling im terhadap Sebun Bu yam, karena ia sudah terpincut pada Lim Hiang ting dan Li Sek hong, tapi Lim Hiang ting adalah idaman gurunya, ia tidak berani menjamahnya, boleh dipandang tidak boleh disentuh, bagi Li Sek hong karena ada tekanan dan perintah sang guru, meski sering latihan bersama, namun hatinnya teramat benci sekali, biasanya ia bersikap adem dan dingin.

Demikian juga keadaan Lim Hiang ting, karena perintah dan kehendak sang guru sulit dibangkang ia dipaksa untuk menyerahkan kesuciannya, sudah tentu iapun sangat bermusuhan terhadap Cia Ling im.

Begitulah dalam hubungan yang ruwet diantara kelima murid itu, mereka hidup bersama beberapa lamanya, lambat laun terjadi tiga kelompok didalam kehidupan mereka, Lim Hiang ting dan Li Sek hong satu pihak, Cia Ling im dan Sebun Bu yam pihak kedua, sementara Pekli Put ping merupakan pihak yang lain pula, tapi ia suka memberi angin dan membela kepentingan Cia Ling im, kecuali dilarang menyentuh Lim Kian ting, apapun yang diinginkan tentu disokong, maka Li Sek hong lah yang dijadikan kambing hitamnya, betapa derita hatinnya, tak perlu dikatakan lagi.

Sampai itu Pekli Put ping terus memperdalam Tay lo sian kip, sampai hari tuanya, tiba tiba tumbuh sebuah pikiran aneh dalam benakanya diselaminya bahwa jalan kedewaan tiada harapan ditempuh dengan kekuatan manusia oleh karena itu timbullah hasratnya untuk menghimpun dan mendirikan Liong hwa hwe.

Maka mulailah dia menyebar muridnya dia sendiripun bekerja menarik dan menciduk para tokoh tokoh persilatan diseluruh kolong langit puncak Sin li hong mereka ganti bernama Sian se thian, sebagai tempat tinggal dan tempat pertemuan para orang orang gagah jelasnya sebagai markas besar, setelah berjerit payah setengah tahun, akhirnya Liong hwa hwe berdiri secara resmi, dan saat itupun ia mengadakan pertemuan besar yang pertama.

Pertama kali mereka berhasil mengumpulkan sembilan puluh delapan tokoh tokoh kosen, namun pertemuan kali ini kurang begitu meriah, karena waktunya yang terlalu pendek dan kurang persiapan lagi, lebih banyak orang orang gagah diseluruh dunia ini belum empat ditarik menjadi anggota.

Di antara sembilan puluh delapan kosen itu terdiri berbagai golongan dan aliran, kerbau setan serta ular dan malaikat berkumpul bersama, sudah tentu keadaan menjadi kurang serasi dan tidak cocok satu sama lain.

Pekli Put ping memempatkan diri di Thian gwat thian sebagai pimpinan dalam dewa diantara dewa, namun ia merasa masih belum puas akan hasilnya ini, maka, kesembilan puluh delapan orang itu di uji dan dipilih, lwekangnya yang hebat dan tinggi ada tujuh belas orang, mereka masuk dalam barisan Siang pang, dia sendiri yang menjadi pimpinan Tingkat kedua adalah Mo pang tanggung jawab pimpinan diserahkan kepada Cia Ling im.

Dan yang paling rendah tingkatannya ada empat lima orang yang dimasukkan dalam barisan Kui pang Sebun Bu yam sebagai pimpinan, sementara ketiga pang ini di bawah pengawasan dan petunjukanya pula.

Kesembilan puluh delapan tokoh tokoh kosen itu merupakan tokoh Bu lim yang cukup tinggi kedudukan dan kepandaiannya, namun Pekli Put ping berpendapat tokoh kosen yang betul betul tulrn belum tentu punya nama diluar, dirinya sebagai contoh, maka ia mengeluarkan perintah, lima tahun yang akan datang membuka pertemuan lagi ia tugaskan semua orang mengumpulkan dan menarik sebanyak mungkin kaum cendikia dan kaum persilatan, kalau sejak itu ia membuat aturan aturan dan tara tertib yang ketat dan keras.

Pertemuan besar dihadiri sembilan puluh delapan orang, banyak diantaranya mareka hasil kerja berat Cia Ling im dan Sebun Bu yam menarikanya menjadi anggaota, malah tidak sedikit yang datang sendiri tanpa diundang.

Sementara kaum lurus karena terdesak oleh keadaan ancaman terpaksa terjun dalam kanca organisasi yang tak benar ini.

Tapi Cia Ling im merasa punya sandaran yang cukup kuat tindak tandukanya semakin berani dan mengembangluaskan kekuasaannya, lambat laun ia pun berani menentang atau tak mau dengar semua perintah Pekli Put ping lagi.

Lim Hiang ting dan Li Sek hongpun menyadari situasi yang gawat ini, kalau mereka tinggal diam dan tidak mencari bala bantuan, tentu kelak mereka terdesak dan disudutkan oleh Cia Ling im, maka merekapun giat menarik dan mengumpulkan anggota.

Memang jerih payah mereka tidak sia sia, beruntun mereka berhasil mencari beberapa tokoh kosen, yang lama mengasingkan diri, umpamanya Sian yu ti ouw, Ban li bu in, It lun bing gwat dan lain lain.

Sudah tentu Cia Ling impun tidak berpeluk tangan, demi menyebar luas kekuasaan dan wibawanya, tanpa mengenal tata dan menggunakan segala pengorbanan dia menarik entah secara suka rela atau paksa kamrat kamratnya, beruntung usahanya tidak sia sia, iapun berhasil memperoleh bantuan yang cukup tangguh pula, umpamanya Thian mo kun Ki Thian ting dan lain sebagainya...."

Pada hari tuanya Pekli Put ping menerima murid perempuan lagi, itulah Liu Ih yu adanya waktu masuk perguruan ia baru berusia empat belas tahun, terhadap murid kecilnya ini Pekli Put ping termasuk teramat sayang dan memanjakannya, malah dianggapnya sebagai putri sendiri, dalam tempo yang pendek kira kira dua tahun, dengan segala jerih payah sendiri, ia gembleng gadis kecil ini, karena usianya masih kecil, banyak ilmu yang tertera didalam Thian mo pok lok, dimana ilmu yang harus dilatih secara gabungan antara pria dan wanita tidak diturunkan kepadanya, paling hanya diajarkan ilmu yang memperkuat kondisi badan dan ilmu bagian luar yang cukup lihay, oleh karena itu sampai detik ini Liu Ih yu masih gadis suci bersih .

Sementara itu Pak Put ping sudah sedikit demi sedikit menyelami pelajaran Tay lo sian kip, waktu dan perangainya banyak berubah timbul hasratnya meninggalkan jalan iblis yang sesat ini.

Tapi karena ajaran iblis sudah mendalam daging dalam tubuhnya, apalagi antara jalan dewa dan iblis itu sendiri saling bertentangan, latih punya latih akibatnya ia tersesat dalam latihan, bagian bawah badannya menjadi lumpuh.

Setelah latihannya tersesat dan menjadi cacad itulah baru dia menyadari bahwa akibat hakikatnya jalan iblis itu tidak mungkin bisa ditempuh dengan sempurna, diinsyafinya pula Cia Ling im kini tidak bisa dipercaya lagi karena kesesatan ilmunya itu.

Sayang sekali ia sadar dan bertobat setelah terlambat, tak mungkin lolos dari belenggu kesesatan yang dilandasi oleh nafsu nafsu iblis itu.

Oleh karena itu dalam taraf terakhir ia lebih giat menciptakan Tay lo jit kiam yang khusus menundukan Sian to su sek kebanggaan Cia Ling im, Li Sek hong Liu Ih yu bertiga dan tak lupa ia serahkan Cu sian ling kepada Lim Kiang ting.

Kuatir Cia Ling im tidak terima patuh ia berlaku nekad meski jiwa sendiri akhirnya sulit dipertahankan, dia tunjukan kehebatan Pek hong kiam.

Sebetulnya jerih payahnya ini merupakan tipuan belaka, karena kejadian itu melulu mengandal kekuatan tenaga dalamnya untuk mengelabui semua orang.

Memang Cia Ling im kena digertak dan diapusi mentah mentah, namun dia sendiri mampus tak lama kemudian karena kehabisan tenaga.

Setelah mendengar kisah panjang lebar ini, sekian lama Koan San gwat duduk terlongong, betapapun ia sudah paham asal usul dan seluk beluk Liong hwa hwe tapi asal mula terbentukanya organisasi liar yang mengandung kekuatan besar ini betul betul aneh dan sulit dipercaya....

Setelah termenung sekian lama, akhirnya Koan San gwat bertanya.

"Go hay ci hang menyebut Pekli Put ping Ciangwe sebagai Hoat hoa Sing cia..."

"Itu nama gelar luhi sudah dalam Liong hwa hwe,"

Sahut Li Sek hong.

"Untuk seraresahan dengan nama organisasi, setiap anggota dalam Liong hw hwe diharuskan mengganti nama aslinya dengan gelar atau julukan, dilarang keras menggunakan nama aslinya, yang melangsir hukumannya amat berat......"

"Oleh karena itu guruku lantas dinamakan Ui Sianjin."

Li Sek hong manggut. Tanya Koan San gwat pula "Lalu bagaimana dengan Oen lo ciAnpwe ?"

"Entah selanjutnya beliau tidak pernah muncul lagi, dihitung usianya mungkin sekarang sudah hampir seratus tahun, kemungkinan besar beliau sudah wafat "

Koan San gwat merasa kasihan pada pengalaman Oen Kiau yang menyedihkan itu, di saat kemudian dia berkata pula "Bagaimana Hoe hoa Seng cia menyelesaikan ketiga

Jilid Pit kip itu ?"

Li Sek hong menjelaskan.

"Yu bing cin king dan Thian mo pok lok masih ada, tetapi ilmu yang tertera didalamnya sudah kami pelajari semua, tak ada manfaatnya lagi, sedang Tay lo sian kip sudah dibakar oleh Suhu."

"Bagus sekali, kalau buku itu sampai terjatuh ditangan Cia Ling im dunia akan geger diobrak abrik olehnya."

"Tapi kalau jatuh ketangan kami, bukankah dapat mengekang dan menundukkan dia?"

Sanggah Li Sek hong.

"Tay lo itu hanya namanya saja sebagai dewa bukan mustahil merupakan ilmu sesat pula, bagi yang mempelajarinya bakal tersesat."

Bercekat hati Li Sek hong, tanyanya "Darimana kau tahu?"

Berpikir sebentar barulah Koan San gwat menjawab "Secara tiba tiba timbul keinginan Pekli canpwe untuk mendirikan Liong hwa hwe kuduga ia mendapat ilham dari Tay lo sian kip itu, karena kedua buku setan dan iblis itu tak mungkin mencatat hal hal macam ini!"

"Uraianmu memang tidak salah, setelah Subhu memperdalam Tay lo sian kip itu baru timbul pikiran anehnya itu."

Koan San gwat tertawa tawa tanyanya "Cara bagaimana pula guruku menjadi anggota.....?

"Ui ho adalah undangan Toa suci, bagaimana kejadannya kami tidak tahu.

Dua puluh tahun yang lalu Liong hwa hwe dibuka untuk kedua kalinya jauh lebih ramai, tokoh tokoh kosen berkumpul jadi satu, tatkala itu kami bertiga sudah naik pangkat sebagai dewa diantara dewa, sementara Cia Ling im sebagai iblis diantara iblis, pimpinan barisan Mo pang adalah Thian ki mo kun, Sebun Bu yam sebagai ketua setan diantara setan, dan kami jarang mengurus tugas dalam organisasi dari para tokoh yang tercantum dalam Hong sin pang dipilih pula empat Hwe cu, Yi ho adalah salah satu diantaranya, bernama Sian yu it ouw dia termasuk dalam barisan Sian pang dan dua orang yang lain adalah Se gak mo sin dan Pak hong kui si..."

Koan San gwat manggut, ujarnya "Kedua orang inipun pernah kulihat!"

Li Sek hong menjelaskan lebih bnjut .

"Semula mereka adalah pimpinan dari berbagai Pang itu, dinaikkan pangkatnya menjadi Hwe cu, oleh karena itu pimpinan Sian pang terjatuh pada Go hay ci hang, begitu pula pimpinan Mo pang dijabat oleh Thian ki mo kun, sementara Kui pang di pimpin oleh Im hong kui si. Jumlah anggota Sian pang ada tiga puluh enam, Mo pang tujuh puluh dua, paling banyak Kui pang harus lengkap seratus orang, boleh dikata merupakan wadah dari kumpulan tokoh tokoh silat yang amat besar."

"Cara bagaimana pula memilih nama nama yang dicantumkan pada tiap tiap barisan itu ?"

"Semula ditentukan oleh kepandaian silat masing masing, tapi tidak semua dilaksanakan dalam cara yang sama, ada kalanya seseorang yang berkepandaian tinggi, tapi dia rela menempatkan dirinya dibarisan kedua, umpamanya Thian ki moi kun..."

"Aku malah paham akan maksud tujuannya, kalau berada dalam urutan Sian pang paling dia terhitung kelam dua, kalau menempatkan diri di Mo pang, maka dia dapat malang melintang main kuasa!"

"Itu hanya salah satu sebab saja,"

Ujar Li Sek hong.

"Yang penting karena tunduk pada Cia Ling im. Melihat pertemuan Liong hwa hwe kedua Toa suci dapat mengudang tokoh tokoh silat tingkat tinggi, dibanding kekuatannya tidak lebih asor dari dirinya maka dia meneggakkan banyak aturan dan undang undang, kekuasaan dari pertemuan besar ia serahkan pada Mo pang meski kedudukan orang orang dari barisan, Sian pang cukup tinggi, namun hanya bernama kosong begini adalah salah satu perbutan sewenang wenangnya setelah pegang kekuasaan, karena Thian ki mo kun adalah tangan kanannya yang paling setia!"

"Kenapa Lim siancu diam saja?"

"Begitu juga pikiranmu,"

Li Sek hong kertak gigi.

"Semula akupun tidak paham kenapa Toa suci diam saja mengumbar segala perbuatannya yang keluar batas, baru sekarang aku paham, meski waktu itu ia memegang Pek hong kiam, tapi ia tidak kuasa menundukkan Cia Ling im terpaksa ia tinggal diam tidak tahu menahu!"

Sampai sekarang baru Koan San gwat paham seluruh seluk beluk Liong hwa hwe, segala rahasia dan kecurigaan hatinya gusar sirna, cuma masih ada persoalan yang mengganjel dalam hatinya, yaitu hubungan antara gurunya dengan Lim Hiang ing.

Li Sek hong mengerti akan ksangsiaannya ini, sambil menghela napas ia berkata .

Liong hwa hwe pada waktu itu betul betul merupakan pertemuan besar amat meriah, Ui ho siangjin dapat mengalahkan beberapa lawan lawannya, hanya dia saja yang mampu bertahan dari rangsakan Liu thing sam ki tanpa cidera."

"Apa yang dinamakan Lu thing sam ki itu?"

Tanya Koan San gwat.

"Ujian ilmu silat, Lui thing pertama adalah menerima sergapan kedua burung bangau dari tengah udara, kedua burung itu sudah terlatih, baik kekuatannya luar biasa ...."

Li Sek hong mengunjuk rasa heran dan percaya.

Cepat Liu Ih yu menyela "Memang dia pernah menghadapi rangsakan bersama dari Toa pek dan Ji pek, tapi lebih asor dibanding Ui ho, telapak tangannya tercakar bolong, untung aku tiba tepat pada waktunya memberi obat pemunahya kalau tidak sejak tadi jiwanya sudah melayang"

"Kau tahu apa?"

Dengan Li Sek hong dengan sikap serius.

"Untuk menghadapi Cia Ling im selama dua puluh tahun mendatang Toa suci sudah berjerih payah mendidik dan mengasuhnya, kemauan Toa suci membubuhi racun Poh Pang san di kedua cakar masing masing tujuan untuk melenyapkan beberapa begundal Cia Ling im. Koan lote bisa melawan sekali sergapannya terbukti bahwa lwekangnya unggul dibanding Ui ho dulu. Koan San gwat merasa kikuk, cepat ia menyela.

"Harap tanya apa pula kedua ujian yang lain?"

"Yang lain menghadapi Siu lo it kiam Sek Cia Ling im dan Tay lo it kiam sek Toasuci. Kedua ujian terakhir ini kukira paling sulit dihadapi!"

"Sudah tentu Meski keempat Hwe cu dapat menghadapi ketiga ujian itu, hanya Ui ho seorang yang dapat lulus dengan gemilang, oleh karena itu bukan saja dia memperoleh kedudukan istimewa dalam Liong hwa hwe, diapun sudah mencuri sanubari Toa Suci!"

Terbayang betapa gagah dan perwiranya sepak terjang gurunya dulu, tak urung Koan San gwat merasa bangga dan senang, namun sampai disini Li Sek hong lantas bungkam tidak mau bicara lagi, setelah menunggu sekian saat, terpaksa Koan San gwat bertanya .

"Bagaimana keadaan selanjutnya?"

"Mengadu kepandaian serta mengatur tingkat, setelah berkumpul satu hari satu malam hari kedua semua orang bubar, sebetulnya semua orang setuju setiap lima tahun kumpul satu kali, cuma Ui ho Siangjin seorang yang tidak setuju, dia mengusulkan supaya dua puluh tahun sekali berkumpul, Toa suci menyokong usulnya ini, maka akhirnya diputuskan hari inilah sebetulnya pertemuan yang ketiga."

Koan San gwat kurang paham, tanyanya "Kalau begitu, sebetulnya Liong hwa hwe tiada sesuatu rahasia yang harus disembunyikan mengapa terhadap luar berlaku begitu misterius ?"

"Itulah salah satu tipu daya Cia Ling im yang culas, demi mengekang barisan yang lain maka sengaja ia membuat tata tertib yang keras, karena kekuasanan tangan Thian ki mo kun, terhadap sesama kawan dalam satu barisan suka memberi kelonggaran, tapi cukup berat. Coba pikir dalam jangka waktu yang sedemikian panjang bukan mustahil banyak mulut usil yang bakal membocorkan rahasia...."

"Anggota Liong hwa hwe tersebar luas dimana mana, siapa yang punya kemampuan begitu besar dapat mengawasi mereka satu persatu...."

"Thian ki mo kun sering berkeliling ke mana mana mata kupingnya tersebar luas pula setiap gerak gerik dan jejak para anggota tiada yang lepas dari genggaman tangannya, hanya beberapa orang terbatas saja yang bebas dari pengawasannya. Sudah tentu gurumu adalah salah satu diantaranya."

"Tapi guruku belum pernah membocorkan hal itu kepadaku!"

"Tindak randuk Ui ho memang sangat cermat dan teliti, tapi ia sudah mengatur sempurna bagi kau, ada maksud kau menjadi anggota untuk menggantikan kedudukan dan jabatannya, mungkin tidak terpikir bahwa urusan berubah begini cepat...."

Koan San gwat melengak, kata Li Sek hong pula tertawa "Untuk tahu lebih jelas silahkan tanya kepada Go hay ci hang, hubungan gurumu amat kental dengan dia. Hal ini aku dengar dari bisikan Toa suci."

Koan San gwat menjublek, hatinya sedang menerawang dan mencari putusan, dia tahu pesan apa saja yang tertera didalam surat peninggalan Lim Hiang ting, tapi sulit ia mencari alasan untuk menanyakan hal ini.

Sementam didengarnya Li Sek hong bertanya.

"Sekarang apa pula yang ingin kau ketahui?"

"Aku ingin tahu bagaimana Hiang ting Siancu menarik guruku sebagai anggota? "

"Hal itu aku kurang jelas, setiap orang menggunakan caranya sendiri, kebanyakan digunakan kepandaian silatnya menundukkan atau membujuk pihak lawan, lalu menarikanya menjadi anggota, tapi ada pula yang mengggunakan cara lain umpamanya cara aku menarik Hiai Lo Sat, Pek kut sin mo dan lain lainnya..."

"Jadi Sian cu yang menarik mereka jadi anggota ?"

"Benar, bagaimana kau kenal mereka?"

"Aku pernah mewakili mereka melabrak Ouw hay ih siu tua bangka keparat itu."

"Kalau begitu tentu kau sudah tahu sebab musabab mereka masuk jadi anggota? "

"Aku tidak tahu, yang jelas permusuhan mereka teramat mendalam"

"Itupun mungkin, selamanya mereka merahasiakan asal mula permusuhan itu, tapi kau pernah bergebrak dengan Pok Sian cun, paling tidak sudah paham akan cacad itu!"

"Ya, tapi aku belum mengerti, aku hanya merasa kepandaian Pok Sian cun merupakan suatu aliran sesat yang aneh, kebutuhan hari itu aku baru saja minum semacam obat penenang, maka sedikitpun aku tak terpengaruh."

"Lumayan juga bagi kau,"

Ujar Li Sek hong.

"Ilmu silat Pok Sian cun sebetulnya tidak tinggi, namun dia bisa masuk barisan Sian pang, karena dia punya keistimewaan. Pertama dia tidak gampang dilukai atau dibunuh orang. Kedua silatnya mengandung kekuatan yang dapat mengelabui dan seperti menyedot sukma lawannya. Waktu muda dia kepincut pada Lok Heng kun dan adikanya, tapi kedua kakak beradik itu memandang rendah dirinya setelah berkelahi kedua orang ini dibikin oleh maunya yang sesat itu seperti terbius secara tidak sadar kedua kakak beradik ini membuka seluruh pakaian sendiri sampai telanjang bulat, baru saja Pok Sian cun bemaksud menodai kesucian mereka, kebetulan Coh san si Lu Ju yang dan Suhengnya lewat di tempat kejadina kedua Suhengte ini segera melabrak Pok Sian cun mengusirnya pergi, karena pertolongan ini maka Lok Heng kun menikah dengan Si yok hong, sedang Lok Sian kun menikah dengan Li Ju yang, sejak mana kedua keluarga ini mengikat permusuhan yang lebih mendalam dengan Pok Siang cun. Pok Sian cun masuk Liong hwa hwe wajib tolong menolong soal dendam kesumat dan permusuhan pribadi boleh diselesaikan disaat pertemuan besar seluruh anggota. Ilmu silat mereka bertiga rada rendah, terpaksa hanya masuk dalam setan Mo pang, untuk membalas dendam terbuka harus minta bantuan orang, mereka jadi anggota tujuannya memang ingin minta bantuan."

Tambah pula sedikit pengertian Koan San gwat mengenai latar belakang yang rumit ini. Terdengar Li Sek hong menghela napas .

"Bahwasanya seluruh anggota Liong hwa hwe yang berjumlah seratus lebih itu. kalau tidak tanam budi tentu saling bermusuhan, maka sewajarnya terjadi dua kelompok yang saling bertentangan, karena terkekang oleh aturan aturan dalam perkumpulan sehingga sulit mereka menyelesaikan urusan pribadi. Pertemuan besar hari ini kalau benar benar terjadi pasti akan banyak tontonan yang ramai, Cia Ling im sudah membawa seluruh kamrat kamratnya, maka perbedaan keda kelompok yang saling berhadapan ini lebih jelas lagi...."

Koan San gwat tidak ingin tahu budi atau dendam orang lain, maka ia hanya bertanya "Bagaimana pula hubungan antara guruku dengan Lim siancu?"

Li Sek hong berpikir sebentar lalu menjelaskan.

"Ui ho menerima undangan Toa suci, ia tinggal diatas gunung sekian lamanya, setiap hari bergaul erat dan hubunganpun semakin intim keadaan ini diperhatikan Ca Ling im sudah tentu ia merasa jelas, karena sejak lama dia sudah menaruh hati pada Toa suci, dulu karena masih ada suhu, setelah beliau wafat ia menyangka sikap Toa suci bakal berubah terhadapnya, tak nyana muncullah Ui ho yang menjadi penentang utamanya karuan rasa cemburu membakar hatinya, tapi ia masih takut akan kelihatan Pek hong kiam ditangan Toa suci, maka ia gunakan cara lain untuk merusak hubungan mesra mereka. Dia buka rahasia pribadi Toa suci yang dulu sudah pernah dinodai oleh guru sendiri kepada kepada Ui ho!"

Sek hong manggut manggut, ujarnya "Gagal yang pertama Cia Ling im menggunakan akal nya kedua, kali ini jauh lebih keji secara kekerasan ia putuskan hubungan intim mereka."

"Tipu daya keji apa?"

Merah muka Li Sek hong, sesaat ia berdiam diri baru pelan pelan melanjutkan .

"Dalam mengatur tipu daya ini akupun tersangkut, malah aku sendirilah yaNg melaksankan."

Koan San gwat menatapnya tajam, tapi sikap Li SEk hong sudah wajar, katanya "Tidak usah malu kau tertawakan, terus terang sebetulnya Akupun jatuh hari kepada gurumu sebab laki laki macam dia memang jarang ada dan sulit diketemukan, tapi karena dia berhubungan intim dengan Toa suci, sehingga aku harus menyembunyikan perasaan hatiku, tapi bisikan hatiku ini tidak dapat mengelabui mata Cia Ling im, maka dia menggunakan tak tik kelemahanku ini...."

Biji mata Koan San gwat membelak semakin besar. Tak tertahan Liu Ih yu menimbrung.

"Suci! Apa kau harus membeber rahasia itu?"

"Ya"

Sahut LI Sek hong manggut manggut "Aku harus mencurahkan ganjalan hatiku selama ini, apalagi peristiwa memalukan itu sudah lama mencekam sanubariku, sehingga aku merasa bersalah terhadap Toa suci, meskipun dia memaafkan aku, namun ku tak bisa memaafkan diriku sendiri...."

Malam terang bulan, puncak Sin li hong di tabur cahaya nan redup, di mana sedang berkumpul lima orang makan riang gembira.

Lim Hiang ting elok rupawan laksana bidadari, Li Sek hong cantik molek seperti kuntum kembang yang baru mekar, sementata Liu Ih yu seperti seekor burung yang lincah dan senang mengoceh, suara tawa dan senda gurau kumandang dalam perjamuan yang meriah ini, Cia Ling im juga bicara dan senda gurau secara bebas tiada ikatan atau janggalan, Tokko Bing adalah seorang gagah dan kereng.

Pertamuan yang dihadiri orang orang penting Liong hwa hwe.

Cia Ling im menuang setengah cangkir arakanya seraya berkata "Sinar rembulan nan cemerlang laksana mencuci bersih alam semesta, minum arak riang gembira, benar benar merupakan kejadian yang paling menggirangkan hatiu, untunglah Ba yan tahu diri tidak keadaan yang semarak ini akan menjadi janggal karena keburukannya itu."

Toko Bing tersenyum lirih, katanya.

"Cia heng sebenarnya tidak boleh kau berkata demikian, bukankah dia begitu baik terhadap kau !"

"Itu persoalan lain, dalam perjamuan semarak ini tanpa dia hadir lebih baik, diantara kami berlima dapat dikisahkan dalam sair dan dilukis pula, kalau terdapat muka buruknya itu, bukankah menghilangkan selera belaka..."

"Suheng!"

Tak tahan Liu Ih yu ikut bicara "Omonganmu tidak adil bagi Sebun suci"

"Buruk ya buruk, memang aku harus membangkang kenyataan dan mengatakan cantik. Suhu mengganti namanya menjadi Bu yam (tanpa garam), beliaulah orang pertama yang berlaku tidak adil, kenapa kau cuma salahkan aku saja?"

Li Sek hong mendengus hidung, selanya .

"Begitu merasuk perhatiannya terhadap kau sikapnya ternyata kasar terhadapnya, apa kau tidak kuantir dia bersedih mendengarkan ucapanmu ?"

"Kalau dia sedih karena kukatakan dia jelek, berarti dia lebih tidak tahu diri, aku boleh berterima kasih akan perhatiannya itu, ia tidak bisa mengatakan buruk menjadi cantik...."

Tergerak hati Lim Hing ting.

"Kemana Bu yam sumoy?"

"Siapa tahu? Mungkin turun gunung, sudahlah jangan perdulikan dia...."

Tengah mereka bicara tiba tiba didengarnya suara pekik burung bangau, pekikanya seperti gugup dan gelisah jelas dia sedang menghadapi bahaya, serempak semua orang pasang kuping mendengarkan kata Cia Ling im.

"Suaranya kedengaran dari kamar latihan siapa yang berani naik keatas Bu yam...."

"Untuk apa dia kekamar latihan?"

Tanya Lim Hiang ting.

"Itu kurang jelas,"

Sahut Cia Ling im "Mungkin ingin melihat lihat Pek hon kiam itu....."

Seketika berubah air muka Lim Hiang ting sebat sekali tubuhnya mendadak melejit terus berlari kearah datangnya suara. Cepat Cia Ling im berkata .

"Kalau be Bu yam adanya, terpaksa aku harus mengulangi perbuatannya, supaya dia tidak bentrok dengan Hiang ting suci!"

Habis berkata bergegas iapun tinggal pergi. Li Ih yu adalah gadis kecil yang suka melihat keramaian, cepat iapun berseru.

"Aku ikut kesana!"

Li Sek hong segera menarikanya, sahutnya.

"Ui ho! Kamar latihan Suci merupakan tempat terlarang, meski hubunganmu kental tapi rasanya kurang pantas kau kesana, dan lagi urusan kami antara saudara seperguruan, kau kesanapun tak bisa turut campur!"

Terpaksa Tokko bing duduk kembali. Li Sek hong berkata sambil tertawa "Jangan pedulikan mereka mari kita minum sepuasnya."

Beruntun mereka menghabiskan beberapa cawan, perasaan Tokko Bing makin tidak tentrem. Li Sek hong lantas melirikanya katanya .

"Apa kau kuatir akan keselamaran Toa suci?"

Merah muka Tokko Bing, sahutnya.

"Siapa bilang..."

"Kalau begitu kenapa tingkah lakumu begitu linglung, mari tenggak lagi secawan besar ini, selamanya aku belum pernah senang seperti hari ini! Ui ho! Apa kau sudi mengiringi aku minum secawan besar ini?"

Tokko Bing tidak tahu kenapa dia menjadi begitu riang, namun tiada alasan menolak terpaksa ia mengerutkan kening, katanya sambil menuding saji perjamuan .

"Bukan tidak rela, soalnya tiada cawan besar di sini!"

"Apa kau minum, tentu aku bisa mencari akal!"

Sembari berkata telapak tangannya membabat miring kedepan, kontan dua poci arak yang bundar buntak cakup itu terpapas persis diperutnya sepeti diiris senjata tajam layakanya, lalu ia ulur sebelah tangan yang lain memencet mulut poci sehingga cawan besar, dalam bekas poci arak ini masih ada sisa setengah cawan arak, sambil mengulum senyum aneh Li Sek hong mengangsurkan satu diantaranya kepada Tokko Bing, katanya "Sayang bersua agak lamban, senang dapat minum bersama?"

Tokko Bing melengak heran, katanya .

"Sian cu! Apa maksud ucapanmu?"

"Itulah perasaan hatiku"

Ujar Li Sek hong tertawa getir.

"Mungkin sulit dicari orang kedua seperti kau, tapi sayang kau sudah terpilih oleh Toa suci lalu ada apa lagi yang perlu kaucapkan?"

Bukan pertama kali Tokko Bing menghadapi pandangan Li Sek hong yang membawa perih mengandung kamesraan, tapi tak ia sangka secara berhadapan ia berani melimpahkan isi hatinya, sesaat lamanya ia melenggong tak tahu bagaimana harus menjawab.

Li Sek hong tertawa tawar, ujarnya .

"Ui ho, legakan hatimu, kecuali secawan arak ini, tanda sesuatu permintaanku yang lain terhadap kau! Silakan habisi arak ini untuk selanjutnya kita hidup dalam arah masing masing."

Suaranya begitu sedih memilukan, Tokko Bing jadi iba dan tak tahan lagi, sekali raih ia angkat cawan terus ditenggakanya habis, Li Sek hong juga mengadah kepala, sekaligus ia habiskan sisa arakanya, lalu membanting cawan arak itu hancur berantakan diatas lantai.

Dengan gaya yang mempersona ia duduk gemelai, pelan pelan satu persatu mulai membuka pakaiannya selama ini Tokko Bing menatap dengan mata terbelak.

Li Sek hong membuka baju luar lalu digelar diatas lantai kiranya bagian dalamnya ia sedikitpun tidak mengenakan pakaian, pelan pelan ia merebahkan diri, sepasang matanya memancarkan cahaya hawa nafsu tenggorokannya berbunyi, genit katanya "Aku letih, tapi hatiku panas sekali, aku hendak tiduran disini, Ui ho!

Apakah kau tidak merasa gerah?"

Mendengar kata katanya ini, Tokko Bing segera merasa seluruh badanya seperti dibakar, keringat seperti air hujan membasahi selurh badan.

"Menepuk sisinya yang kosong Li sek hong berkata.

"Ayolah jangan lambat lambat lagi! Temani aku tiduran disini, rasanya cukup nyanan dan silir..."

Tanpa sangsi sedikitpun bergegas Tokko Bing mencopoti seluruh pakaiannya, terus rebah disampingnya, Kejap lain dua badan yang hangat membara, dua hati yang terbakar, saling peluk dengan mesranya...

Entah berapa lama berselang, disaat pikiran menjadi jernih, setelah dari impian sorga dunia, beberapa orang sudah berdiri disekeliling mereka.

Maka Cia Lim im dan Sebun Bu yan mengulum senyum sinis aneh sebaliknya sikap Lim Hiang ting tenang dan wajar, Cuma Lau Ih yu yang menjerit malu dan kaget.

"Sumoay !"

Ujar Cia Ling Im seraya menyeringai dingin.

"Kuhaturkan selamat kepada kau, hati nan rindu ini sudah tercapai..."

Li Sek Hong terlolong tak bersuara, pelan pelan ia mengenakan pakaiannya. Sebaliknya Tokko Bing tersipu sipu mengenakan pakaiannya, lalu ia menjura kepada Lim Hiang ting katanya.

"Maafkan! Hiang ting...."

Lim Hiang ting mengulapkan tangan, katanya.

"Tak apa apa! kejadian yang sudah kuduga sebelumnya, kau tidak perlu salahkan dirimu sendiri siapa yang kuat bertahan dibawah pengaruh obat bius yang keras itu...."

Tokko Bing menghela napas, katanya mendelu "Betapapun karena aku tidak becus, kalau tidak mana bisa terjadi...

ai!

Apapun tidak usah dibicarakan lagi, aka harus segera pergi!

Kelak bicara lebih lanjut!"

Berubah air muka Lim Hiang ting, katanya.

"Kau tidak perlu tergesa gesa. Aku tidak ambil parhatian kejadian ini, secara kebesaran jiwa dan kelapangan dadamu pernah kau memaafkan aku, bahwa kejadian lalu karena terpaksa bukankah keadaanmu sekarang juga demikian! Hatiku malah senang karena terjadi peristiwa ini, diantara kita bukankah jadi berimbang...."

"Tidak! terima kasih, Hiang ting, bagaimana juga aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri!"

"Kukuh benar kau ini, baiklah, kalau benar tekadmu hendak pergi terserah, aku pun tidak kuasa menghalangi kau, tapi dapatkah kau kembali lagi?"

Tokko Bing melirik kearah Li Sek hong tanpa bersuara. Lim Hiang ting maklum akan maksud orang, katanya tersenyum .

"Baiklah kita batasi sampai dua puluh tahun, kalau dalam jangka panjang ini kau dapat melupakan peristiwa ini, aku akan setia menunggu kedatanganmu kalau tidak terpaksa kita bertemu pula pada pertemuan besar yang akan datang."

Setelah berpikir Tokko Bing berkata.

"Aku akan berlatih mengatasi ikatan mati ini kapan aku dapat memaafkan, sesaat itulah aku akan datang, atau pada pertemuan besar yang akan datang aku akan mengutus wakilku kemari, sebab mungkin saat itu aku sudah tidak didunia fana ini..."

Habis berkata segera ia melayang pergi.

"Tujuh bulas tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu, kira kira tiga tahun yang lalu baru dia kembali ketempat ini, tatkala itu ia sudah berobah, perawakkannya tidak segagah dan seganteng waktu mudanya dulu, tekad dan watakanya jauh lebih keras dan tegas agakanya tidak sia sia Toa suci menunggu dia akhirnya mereka merangkap jodoh yang setimpal....."

Demikian Li Sek hong mengakhiri ceritanya.

Koan San gwat terlongong sesaat, lalu katanya "Cerita Sian cu cukup jelas, tapi aku masih kurang paham, dalam kejadian ini agaknya tiada persoalan yang menyangkut Cia Ling im bukan?"

"Ketahuilah CIa Ling im dapat menyelami rasa rindu sepihakku terhadap Ui ho, maka ia mengatur tipu daya ini bersamaku, perjamuan hari itu dia yang mengandalkan obat bius yang digunakan itu adalah Hiang bong sim un san yang keras sekali daya kerjanya, dulu kami pun ternoda karena obatbius ini, tapi menghadapi kecerdikan dan ketelitian Ui ho, sengaja ia mengatur rencana dengan sempurnanya, maka arak itu tidak menunjukkan kegajanjilan apa apa, Toa suci sendiripun diketahui. Poci ku kupapas jadi dua dan buat minum sehingga obatbius itu seketika terbuat dalam arak Sebun Bu yam pura pura membuat onar di kamar latihan, dikala Toa suci memburu ke sana ternyata dia memang sedang menggoda sepasang bangau itu, waktu Toa suci tiba dia merasa dirugikan dan tersinggung lalu merengek kepada suci, maka aku berkesempatan melaksanakan tipu dayaku... aku memang ceroboh dan terbawa nafsu, begitu mudah aku dipedaya......"

"Apa betul Lim sian cu tidak ambil perhatian akan peristiwa ini?"

"Toa suci seorang yang berpandangan luas dan berjiwa besar, iapun maklum akan lihaynya, obatbius itu, sudah tentu dia tidak bisa mengalahkan Ui ho, tapi Ui ho adalah seorang yang jujur dan paling tinggi menjaga gengsi, betapapun ia tidak akan bisa memaafkan diri sendiri. Cia Ling im sudah meraba titik kelemahannya ini, tujuannya adalah mendesak dan mengusir Ui ho, aku sendiri itu memang diapusi olehnya, kukira apa yang kulakukan bakal memperoleh sedikit bagian cinta Tokko Bing kepadaku, namun begitu Ui ho pergi, aku menyesalpun sudah kasep ..."

"Selama tujuh belas tahun guruku pergi, bagaimana sikap Cia Ling im terhadap Lim Sian cu ?"

Li Sek hong berkata dengan penuh kedongkolan.

"Sudah tentu ia berusaha mengambil hati Toa suci, namun Toa suci sudah dapat meraba akal bulusnya yang licik itu, dengan setia dan penuh kepercayaan ia menunggu kedatangan Ui ho, demikian juga aku teramat benci kepadanya, sejak kejadian itu aku tidak hiraunan dia lagi, akhirnya jerih payah Toa suci ternyata tidak sia sia, aku..... malah menelan pil pahit."

Koan San gwat menghela napas, ujarnya "Harap Hian cu tidak salah paham akan sikap guruku selama berapa lama itu beliau pun hidup dalam penderitaan, menyembunyikan diri ditengah gurun pasir, tutup pintu mereres diri, apa yang kulakukan bakal memperoleh sedikit hati, mungkin diapun menyesali perbuatannya itu merasa bersalah pula terhadap Sian cu..."

"Tidak perlu dia merasa bersalah terhadapku, karena akulah yang mengatur tipu daya itu menjebloskan dia, syukur kalau dia tidak membenci aku."

"Tidak! Suhu hanya kenal kesalahan sendiri selamanya tidak pernah mengomel terhadap orang lain setelah meninggalkan tempat ini, dengan tunggangan untanya ia menjelajah seluruh dunia, dengaja mencari perkara pada sembilan partai besar, tiga keluarga persilatan besar dan tujuh lembah empat belas pedepokan tujuannya supaya kaum persilatan gusar, mengeroyoknya dan membunuhnya. Soalnya pandangan Suhu terlalu tinggi akan gengsi mesti dengan berbagai usaha ia mencari kematian namun ia tidak akan menggunakan cara yang kotor dan tercela, bahwasanya kepandaian silatnya gembong gembong persilatan di Tionggoan memang terlalu rendah, bukan saja tercapai keinginannya beliau nama Bing tho ling cu malah menggetar kan Kengouw !"

Li Sek hong, manggut msnggut ujarnya pelan "Ilmu silat gurumu saat itu tidak perlu dipersoalkan, berapa banyak tokoh tokoh kosen dalam Liong hwa hwe, siapa mampu menandingi dia.

Terhitung apa aliran dan golongan besar itu, tiada seorangpun dari mereka yang setimpal menduduki salah satu dari barisan kami....."

Sambung Koan San gwat.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 8

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert