Ceritasilat Novel Online

Patung Emas Kaki Tunggal 3

Eps 3 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.

"Siheng gagah dan perkasa sungguh orang she Liu bersyukur bahwa sahabat lamaku mempunyai murid yang hebat macam kau!"

Belum sempat Koan San-gwat merendah, keburu Lok Hengkun berkata.

"Hayolah, jangan bicara di luar pintu, mari silahkan masuk."

Liu Ju-yang manggut-manggut sambil menghampiri kereta, katanya.

"Siang-kun, mari kugendong masuk!"

Sambil mengabitkan kerai, Lok Siang-kun berseru.

"Hus di hadapan wanpwe, apa-apaan kelakuan kami?"

"Kenapa sungkan, murid Tokko Bing bukankah sebagai keponakan kita?"

"Kau kira kulit mukaku setebal kulit kerbau?"

Jengek Lok Siang-kun, begitu kerai tersingkap, badannya melesat laksana kupu-kupu kembang tanpa menyentuh tanah badannya melesat ke depan hanya sekejap hilang masuk ke dalam rumah.

Koan San-gwat melihat jelas kedua kakinya sebatas dengkul ternyata sudah buntung, baru sekarang ia paham kenapa Liu Ju-yang yang hendak menggendong istrinya, tapi tak urung ia merasa takjub dan kagum akan ginkangnya yang betul-betul telah sempurna, katanya.

"Ginkang Lok cianpwe benar-benar hebat dan mencapai tarap tinggi yang tiada lawannya lagi!"

"Ilmu lain aku tidak berani bicara, soal ginkang mau percaya orang yang memiliki ginkang tanpa tandingan di seluruh jagat adalah seorang yang cacat kedua kakinya."

"Setan buruk,"

Lok Heng-kun menimbrung.

"Di belakang memakinya sebagai orang cacat lagi, kalau terdengar olehnya kan bakal dapat persen yang lumayan nanti. Nama julukan yang jelek itu, sebab dia sendiri sudah membuktikan bahwa mesti cacat masih berguna."

Lok Heng-kun tertawa, ujarnya.

"Tekad dan keyakinan kalian suami istri memang harus dipuji, siapa mau percaya bila dulu kau bermuka bopeng julukan Coh-san-sin kurasa sudah harus diganti...."

"Jangan! Jangan diganti. Seorang Kuncu tidak melupakan asalnya, Ayah ibu menganugerahi aku muka demikian, kalau sembarangan ganti berarti aku tidak berbakti pada orang tua, biarlah aku tetap menggunakan julukan lama untuk selalu peringatan bagi diriku!"

Sembari bicara ia bergelak tertawa. Koan San-gwat keheranan. Sambil menunjuk punggung orang Lok Heng-kun menjelaskan tertawa.

"Kau tidak akan percaya waktu mudamukanya buruk sekali bekas penyakit kudis."

"Memang sulit untuk Wanpwe percaya, apakah Liu-cianpwe sudah memperoleh obat mujarab untuk mengubah kulit mukanya?"

Tanya Koan San-gwat, sambil geleng kepala. Lok Heng-kun menggeleng, sahutnya.

"Menggunakan khasiat obat bukan terhitung aneh, secara kekerasan ia melatih semacam Hian-kan-gu sehingga kulit-kulit mukanya yang rusak bisa pulih dan berubah keadaannya seperti sekarang, dulu waktu mereka menikah, yang satu cacat yang lain buruk sejelek setan hingga menimbulkan bahan tertawaan orang banyak. Ada orang menyumbang pigura perak dimana ada tertulis Cu-lian-pi-hap (perjodohan mutiara), kata-kata ini menusuk perasaan namun dengan harapan supaya mereka berlomba untuk meyakini hidup ini sambil menambal kekurangan dirinya masing-masing."

Haru dan kagum Koan San-gwat dibuatnya, katanya.

"Hasil yang dicapai kedua Cianpwe memang harus dipuji dan membuat orang kagum! tapi orang yang memberikan Pigura Perak tu agak terlalu ......."

"Tulisan di atas pigura itu adalah hasil karya Ui-ho-sansian!"

"Guruku! jadi........"

Koan San-gwat berjingkrak kaget.

"Tak usah kuatir! Sedikitpun mereka tidak merasa sirik terhadap gurumu, sebaliknya merasa sangat berterima kasih. maka mereka pasang pigura itu di atas tempat tidur."

"Kejadian ini tentu sudah lama berselang."

"Benar! sudah tiga puluh tahun yang lalu, kala itu kami masih muda belia dan gagah bersemangat, entah bila Lionghoa-hwe dibuka kembali, apakah masih seramah dulu. Mungkin beberapa orang diantaranya sudah tidak bisa hadir dalam pembukaan besar itu. Begitu pula ayah Siau-hong sudah........."

Bergerak hati Koan San-gwat, meski mulut tidak bersuara, namun dalam hati membatin "Liong-hoa-hwe... Hong Sinpang............."

Melihat bibirnya bergerak, Lok Heng-kun seperti tersadar, cepat ia berseru .

"Anak jadah! Jangan kau menyinggung urusan lama pula dengan aku!" -lalu ia mendahului masuk ke dalam rumah. Koan San-gwat, Lau Sam-thay dan Lok Siauhong mengintil di belakangnya. Tak lama kemudian mereka sudah di ruangan tamu. Begitu menyingkap kerai, tampak Lok Siang-kun dan Liu Juyang sudah duduk di sana, dengan kikuk Lok Siau-hong lalu menceritakan pengalamannya semalam. Tanpa sungkansungkan Koan San-gwat mencari tempat duduk di pinggir dengan perasaan kurang tentram, Lau Sam-thay duduk di sebelahnya. Agaknya cerita Lok Heng-kun sangat menarik perhatian ketiga orang itu, setelah Lok Siau-hong selesai, baru Lok Heng-kun bertanya.

"Dik ! cara bagaimana pula kalian mengetahui jejak tua bangka itu?"

Liu Ju-yang tersenyum, ia mewakili menjawab."Kemaren hari ulang tahunku, setelah mengantar tamu pulang kutemukan dalam kamar sebuah kado yang lain dari pada yang lain."

"Kado apakah itu?"

Tanya Lok Siau-hong.

"Sebuah lukisan persembahan panjang umur!"

Jawab Liu Ju-yang tertawa.

"Wah, tentu gambar genduk burikan mempersembahkan buah tho!"

Habis berkata baru sadar sudah kelepasan omong, cepat-cepat ialeletkan lidah sambil bermuka setan.

"Bukan genduk burikan tapi adalah kakek burik persembahkan buah tho!"

Lok Heng-kun tertarik, tanyanya.

"Apa-apaan maksudnya itu?"

"Mungkin dia masih dendam pada peristiwa lama dulu, orang yang digambar dalam lukisan adalah muka burukku yang lalu, sepasang tangan memapah sebuah gundukan kotoran kerbau di atasnya tertancap sebuah bunga mekar!"

Lok Heng-kan tertawa geli, Lok Siau-hong belum mengerti, tanyanya.

"Apakah maksud gambar itu ?"

Baru saja Liu Ju-yang mau membuka mulut, Lok Siang-kun sudah menyentak dari samping .

"Berani Kau katakan!"

Liu Ju-yang mengkeret, katanya berkelakar ."Perintah junjungan hamba tak berani membangkang. Keponakanku yang baik, terpaksa pamanmu tidak bisa memberi penjelesan kepadamu."

Dengan uring-uringan Lok Siang-kun memaki.

"Selama tua bangka itu belum mampus, makan tidur kita tidak akan tentram, besok bila ketemu dia aku harus membuat perhitungan padanya, sudah sekian lama kita menyembunyikan diri, mungkin dia anggap jeri kepadanya."

"Jangan terlalu keburu napsu adikku, tua bangka itu memang sulit dilayani, mungkin sekarang juga sulit diatasi......"

"Takut apa?"

Jengek Lok siang-kun marah-marah.

"Masa beberapa tahun ini kita hidup nganggur belaka, besok bila tidak mampu mengganyangnya paling tidak membetot urat atau mematahkan beberapa tulangnya."

"Tua bangka itu sih tidak perlu ditakuti yang dikuatirkan orang kepercayaannya itu ikut muncul. Cit-tok-jiu-hoat orang itu lihay dan sulit dijaga-jaga..."

Mendengar Cit-tok-jiu-hoat tergerak hati Koan San-gwat, Lau-Sam-thay segera menimbrung teriaknya .

"Cit-tok-jiuhoat! Bukankah itu kepandaian yang dilancarkan oleh Hwi-lotho (Unta terbang)?"

Liu Ju-yang; bertiga tersentak kaget, tanyanya.

"Dari mana kau tahu Cit-tok-jiu-hoat, siapa pula itu Hwi-lo-tho ?"

Segera Koan San-gwat mengisahkan pengalamannya, setelah itu ia menambahkan Cit-tok-jiu-hoat itu Peng Kiok-jin sendiri bisa memunahkannya, agaknya bukan merupakan kepandaian yang terlalu menakutkan!"

Namun dengan nada berat Lok Heng-kun menjelaskan.

"Cit-tok-jiu-hoat mempunyai ratusan perubahan yang sulit diraba. Hwi-thian-ya-ce hanya mempu membebaskan salah satu tutukan yang paling gampang, tapi kalau toh ilmu macam ini sudah secara terang-terangan muncul di kalangan kangouw, malah orang itu menggunakan lencana unta terbang kurasa urusan ini tidak gampang diselesaikan."

"Lok-cianpwe,"

Koan San-gwat bicara lagi.

"Dari Cit-tok-jiuhoat kau menyinggung soal unta terbang, kini ada hubungan apa pula dengan peristiwa Ouw-hay-ih-siu dengan pertikaian kalian?"

Lok Heng-kun menggeleng katanya.

"Urusan ini tiada sangkut paut dengan kau."

"Tidak! Justru wanpwe merasa berhubungan erat, unta terbang secara terang-terangan hendak mengungguli unta saktiku itu. Menurut dugaan wanpwe urusan jelas punya hubungan erat dengan guruku !"

"Berdasar apa kau menganalisa sedemikian rupa?"

Tanya Lok Heng-kun.

"Soalnya setelah Unta terbang muncul dia menantang Wanpwe, untuk mengadakan pertemuan di Tay-san-koan. Tatkala itu, Peng-cianpwemasih bersama Wanpwe, sedikit banyak bellau ada memberi kisikan kepadaku, bila ingin bertemu dengan guru, lebih baik jangan sampai mengalahkan orang itu......."

"Tidak mudah! Hwi-thian-ya-ce berani memberitahu sedemikian banyak kepada kau,"

Demikian ujar Lok-Heng-kun sambil manggut-manggut.

"Apakah cianpwe tidak sudi memberi petunjuk lebih lanjut?"

Pinta Koan San-gwat, dengan rasa tegang. Lok Heng-kun tertawa genit, sahutnya sambil menggeleng .

"Tidak bisa! kita mempunyai kesukaran kita sendiri!"

Koan San-gwat uring-uringan, dengusnya ."Hwi Siau-suthian, Liong-ho-hwe, Hong-sin-pang, ada segelap apa, akan datang suatu ketika aku akan bikin jelas semua urusan yang penuh misterius ini, akan kubeberkan ke seluruh Bulim.

Seketika berubah air muka Liu Ju-yang bertiga, sebat sekali Lok Heng kun dan Liu Ju-yang melejit maju ke kanan kirinya, sementara kedua tangan Lok-Siang-kun sudah menekan kursi siap menubruk maju pula.

Keruan tercekat Koan San-gwat, serunya.

"Apa yang para cianpwe hendak lakukan kepada saya?"

Sesaat lamanya baru Lok Heng-kun menghela napas, katanya.

"Koan-hiantit! aku memberanikan diri memanggilmu demikian, sebagai sahabat kental dari gurumu, pula memberi peringatan kepada kau, kuharapkan kau dapat menerima...."

Koan San-gwat menghela napas, katanya.

"Apakah Cianpwe juga ingin supaya aku sengaja mengalah kepada Unta terbang?"

"Tidak! Meski demikian mungkin membawa manfaat bagi Tokko Bing, tapi seluk-beluk Tokko Bing kami jelaskan sekali, kalau toh dia sudah menyerahkan lencana sakti kepada kau, tentu menaruh harapan besar kepadamu, betapapun dia tidak akan senang bila kau bertindak lemah ......."

"Bila hal itu membawa manfaat bagi Suhu, menang atau kalah bagi aku seorang tidak menjadi soal!"

"Tidak perlu!"

Tiba tiba sikap Lok Heng-kun menjadi kasar dan beringas.

"Peng Kiok-jin berkata demikian karena pengertiannya terhadap Tokko Bing masih kurang mendalam, pertemuan di Tay-san-koan, engkau harus menang, sekarang cuma ada satu jalan untuk kau membalas budi kebaikan gurumu!"

"Cara bagaimana?"

Tanya Koan San-gwat.

"Yaitu semua persoalan yang kau kemukakan tadi, lebih baik kau lupakan sama sekali!"

Baru saja bibir Koan San-gwat bergerak, Liu-Ju-yang pun sudah angkat bicara.

"Karena hubungan kita dengan gurumu luar biasa, maka Kami mau menasehati kau. Kalau tidak sesuai dengan apa yang pernah kau katakan tadi, seharusnya kita sudah ......."

Koan San-gwat melengak, tanyanya .

"Seharusnya sudah apa?"

Dari tempat duduknya Lok Siang-kun menjengek .

"Seharusnya kau dibunuh, supaya soal ini tidak bocor!"

Berubah kelam air muka Koan San-gwat. Liu Ju-yang masih tertawa, ujarnya.

"Sudahlah! Siang-kun, dia terhitung angkatan muda, jangan kau gertak dia!"

Lok Siang-kun masih marah-marah, serunya.

"Bocah keparat macam dia masih suka ugal-ugalan, cepat atau lambat akan menimbulkan bencana......"

"Adikku! cepat Lok Heng-kun menukas sambil tertawa.

"Kata-katamu terlalu berat, menurut pandanganku, dibanding Tokko Bing di waktu masih muda dia jauh lebih pintar dan cerdik, mungkin situasi yang akan datang bakal tergenggam di tangan generasi yang akan datang, siapa tahu bakal terjadi perubahan besar-besaran....?"

"Maka dia harus tahu diri dan menjaga keselamatannya..."

Ujar Lok Siang-kun dengan nada yang sudah sabar.

"Hong-ji, kalian sudah setengah malaman tidak tidur, sudah tiba saatnya istirahat, lekas kau ke belakang, suruh mereka menyiapkan makanan sekedarnya lalu pergilah tidur, aku masih ada urusan dengan paman dan bibimu, tak bisa melayani tamu,"

Kata-katanya ditujukan kepada putrinya, namun secara tidak langsung juga menyuruh Koan San-gwat dan Lau Sam-thay mengundurkan diri juga.

Sebagai seorang cerdik sudah tentu Koan San-gwat maklum kemana juntrungan kata-kata itu, tanpa diminta segera ia berdiri, ujarnya berkata tertawa .

"Kalau Cianpwe tak memberi ingat, wanpwe sampai lupa makan tidak merasa lelah!"

Lok Siau-hong percaya, lekas ia berkata ."Koan-toako. Karena sejak tadi tidak kau katakan? Biar segera kusuruh Ongtoama menyiapkan pangsit mie untuk kalian!"

Tersipu-sipu ia bawa Koan San-gwat berdua mengundurkan diri.

Setelah Koan San-gwat bertiga tidak kelihatan, Liu Ju-yang bertiga berkumpul dan bicara bisik-bisik, entah apa yang mereka rundingkan.

Tengah hari dalam pendopo Si-yang-san ceng diadakan perjamuan, tampak dua laki-laki dan tiga perempuan.

Mereka menduga pertemuan nanti bakal terjadi sesuatu perkelahian yang cukup sengit, Lan Sam-thay yang tahu kepandaiannya sendiri teramat rendah, mungkin melindungi jiwa sendiri pun tidak akan mampu, terpaksa harus menyembunyikan diri di tempat yang agak jauh.

Kelima orang yang hadir dalam perjamuan itu, hanya Lok Siau-hong yang merasa tenang, tapi bukan takut atau jeri, dalam kehidupannya yang serba cukup dan tentrem.

belum pernah mengalami pertikaian yang menegangkan urat syarafnya.

Apalagi dia seorang gadis remaja yang mulai tumbuh gaireh hidupnya.

Maka dialah yang paling ribut, tanya ini tanya itu, mulutnya mengomel panjang pendek, kenapa tua bangka itu tidak lekas datang.

Sikap Liu Ju-yang justru sangat tenang dan dingin, cangkir demi cangkir, beberapa cangkir arak telah dihabiskan, mukanya sudah merah.

Lok Siau-hong lantas membujuk .

"Kau jangan terlalu banyak minum, kalau sampa mabuk, urusan bakal terbengkalai karenanya."

Sambil memicingkan mata Liu Ju-yang berkata tertawa .

"Meminum arak aku melampiaskan rasa sebalku! Sekali mabuk segala suka duka bakal amblas tak terasa!"

"Cianpwe juga kesal hati?"

Tanya Koan San-gwat.

"Ya,"

Sahut Liu Ju-yang pura-pura bersedih.

"Aku sedang kangen akan mukaku yang buruk dulu!"

Baru sekarang Koan San-gwat tahu orang sengaja bersenda gurau dengan riang gembira itulah, sayup sayup didengarnya beberapa kali suara tang ting, jelas dan nyata itu suara keleningan.

Mereka berhenti tertawa, dengan lirih Liu Ju-yang berkata .

"In-pa-liok-ting! Naga-naganya Mo-kun ketiga yang datang, bagaimana?"

Dengan suara tegang Lok Heng-kun berkata .

"Pasti tua bangka itulah yang mengundangnya kemari. Peduli apa, yang jelas keadaan sekarang berbeda dengan kebiasaan dan tata tertib, kalau perlu kita layani saja menurut aturan yang ada."

Belum lenyap suaranya, dari luar pendopo berjalan masuk dua orang, yang berjalan di depan adalah pemuda berperawakan tinggi kekar, raut mukanya cakap terselubung hawa dingin, sikapnya gagah dan wajar.

Ia mengenakan jubah panjang warna abu-abu.

Yang mengintil di belakangnya bukan lain adalah tukang perahu yang dinamakan Ouw-hay-ih-siu.

Begitu melihat pemuda itu, Lok Siang-kun bertiga tertegun, agaknya mereka tidak kenal pemuda ini, pemuda ini dengan pongahnya bersoja lalu menarik kursi dan duduk tanpa berbicara sekecap pun.

Ouw-hay-ih-siu juga memilih tetapi tempat duduknya di sebelah bawah pemuda itu.

Karuan Liu Ju-yang yang murka, serunya.

"Pok Thian-cun, apa-apaan maksudmu ini? Perjanjian pribadi di antara kita, kenapa kau bawa orang luar kemari, berani kau membunyikan kelinting....."

Pemuda itu segera menyeringai dingin, jengeknya sombong.

"Masa aku terhitung pihak luar? Lo-Pok mengundangku kemari sebagai saksi, kalian sudah berkelahi selama puluhan tahun tanpa berkesudahan, soalnya karena tidak memilih seorang wasit. Kukira pertikaian hari ini bakal bisa dibereskan, soal suara kelinting tadi, akulah yang suruh dia membunyikannya."

Lok Heng-kun terkejut, tanyanya.

"Saudara ini adalah... .......?"

"Bukankah asal-usulku sudah kujelaskan dalam suara kelinting tadi?"

Mereka bertiga melengak lagi, tanya Liu Ju-yang ragu-ragu.

"Suara kelinting enam kali adalah pertanda dari Thian-ki-kokun..."

Pemuda itu tertawa ringan, ujarnya.

"Ayah sudah wafat beberapa lamanya, kedudukan inikuperoleh secara tradisi....."

"Apa?"

Teriak Liu Ju-yang berubah pucat.

"Mo-kun sudah ajal...?"

"Benar!"

Sahut pemuda itu manggut-manggut, hal itu terjadi enam tahun yang lalu, menurut perintah ayah, akulah yang diwarisi jabatan, soalnya kejadian terlalu mendadak, maka belum sempat memberitakan kepada sahabat di seluruh kolong langit.

Kalau kalian percaya....."

"Tidak! sikap dan wajah saudara memang mirip dengan Mo-kun, hal ini tidak perlu disangsikan lagi, cuma ingin kami tahu gelaran saudara?"

"Aku Ki Hou adanya!"

Sahut pemuda itu dengan angkat dada. Liu Ju-yang batuk-batuk kecil lalu berkata.

"Ka.... si-heng, harap maaf akan kekurangajaran orang she Liu, saat ini terpaksa harus demikianlah kusebut namamu."

"Benar! Dalam keadaan sekarang di tempat ini pula, kenapa harus terikat akan segala peraturan lama. Hei Lo-Pok, sekarang tibalah saatnya kalian membuat perhitungan, ada urusan yang perlu kau selesaikan?"

Ouw-hay-ih-siu Pok Thian-cun melirik ke arah Koan Sangwat, lalu katanya .

"Kalian sendiri yang tidak menepati janji, menyeret seorang luar ikut hadir dalam pertemuan ini!"

Belum lagi pihak Liu Ju-yang menjawab. Ki-Hou sudah tertawa keras, ujarnya.

"Lo-Pok, kiranya matamu sudah kurang awas, orang yang kau anggap orang luar ini adalah murid Tokko Bing, Bing-tho-ling-cu II yang menggetarkan Kang-ouw!"

Tak terasa tercekat hati Koan San-gwat, katanya heran.

"Cara bagaimana saudara bisa mengenal diriku?"

"Itulah urusan jabatan, sudah seharusnya aku mengenal kau."

Dengan pandangan berapi-api Ouw-hay-ih-siu mendesis geram .

"Kalau sebelumnya kutahu siapa kau adanya, waktu berada di sungai kuning tempo hari seharusnya kuberi hajaran setimpal kepadamu."

Koan San-gwat tidak mau kalah garang. Liu Ju-yang terbakar amarahnya, serunya gusar.

"Bangsat anjing jangan ngelantur terlalu panjang."

Pok Thian-cun angkat pundak, ujarnya.

"Baiklah lohu tutupi saja borok ini, tapi Lohu tidak akan mundur menghadapi nona manis itu, inilah peraturan orang she Pok, perhitungan baru diselesaikan lebih dulu.... Haha...."

Agaknya hatinya semakin kesenangan, nada tawanya makin tinggi dan mengeras.

Lok Heng-kun dan Liu Ju-yang mengunjuk rasa gusar dan putus asa, apa boleh buat akhirnya Lok Heng-kun berkata kepada Ki Hou dengan nada memohon.

"Sebagai putra Mokun dan kini memperoleh warisan jabatannya, tentu kongcu dengan pertikaian kami terhadap tua bangka ini...."

"Ya pernah kudengar kulitnya saja!"

Sahut Ki Hou manggutmanggut. Merah muka Lok Heng-kun, ujarnya.

"Harap Kongcu memberi muka karena kami sesama kerabat sesama anggota bicara secara adil, harap suka batalkan tantangan kepada putriku yang masih kecil ini, urusan yang belum pernah dipahami olehnya."

Ki Hou tertawa dingin, sahutnya.

"Untuk hal ini aku yang rendah tidak akan turut campur, soalnya aku hadir sebagai saksi, kecuali memberi keputusan kalah dan menang, aku tidak bisa mencampuri urusan lain, memang kita sejajar dalam satu pang, Lo Pok setingkat lebih tinggi, masa aku pilih kasih kepada sesama kerabat satu tingkat ?"

Lok Heng-kun menjadi murka, sindirnya.

"Sungguh kita harus bangga punya pentolan kerabat dalam satu tingkat."

"Hiat-lo-sat?"

Tiba-tiba suara Ki Hou berubah dingin kaku.

"Tiga kali kau datang, laporan setiap sepuluh tahun sekali, kalau aku menggunakan kekuasaanku sebagai pentolan sesama kerabat, bila kejatuhan hukuman karena kesalahanmu ini, kalian pasti bertobat kepadaku, sekarang kau berani bertingkah kepadaku, apakah dalam pandangan kalian masih ada mendiang ayahku sebagai pentolan dalam satu kerabat?"

Lok Heng-kun tertegun mematung, nyalinya muncul, karena ditekan dan diancam dengan lemas ia duduk kembali ke tempatnya.

Saat mana Ouw-hay-ih-siu menantang kepadaLok Siauhong seumpama domba yang tidak takut menghadapi harimau, sambil menenteng cambuknya Lok Siau-hong hendak menerjang keluar, lekas Lok Heng-kun menarik serta berkata dengan tertekan.

"Nak, salahmu sendiri kau banyak urusan, semoga kau nanti dapat pengajaran."

Lok Siau-hong keheranan katanya.

"Ma, jangan kuatir, akan kuhajar habis-habisan tua bangka keparat ini ..."

Kiranya secara diam-diam Koan San-gwat dan Lok Siauhong sudah berjanji, begitu bertemu dengan Ouw-hay-ih-siu mereka akan turun tangan lebih dulu untuk melabraknya, soalnya Ouw-hay-ih-siu tak pernah membunuh orang, tentu tiada ancaman bahaya terhadap jiwa sendiri.

Kalau urusan lama dibikin geger semakin besar, mungkin dalam peristiwa besar ini ia dapat mengorek sedikit rahasia yang diharapharapkan.

"Gampang kau memutar lidahmu yang tidak bertulang itu!"

Berubah air muka Pok Thian-cun. Cepat Liu Ju-yang menimbrung .

"Pok Thian-cun, jangan kau mencari keributan lain, lebih baik selesaikan dulu perhitungan kita, soal siapa benar mana yang salah tidak perlu diperdebatkan lagi."

"Sudah tentu!"

Senggak Ki Houw.

"para kerabat Mo-pang selamanya tidak meributkan soal tetek bengek!"

Liu Ju-yang melirik ke arahnya serta berkata.

"Ki-siheng, ahli waris Unta sakti tidak termasuk dalam pertikaian ini!"

"Aku tahu !"

Sahut Ki How, tertawa besar.

"Kalian jangan kuatir, sampai dimana aku harus berbicara aku bisa membatasi diriku sendiri."

Bergegas Pok Thian-cun berdiri, serunya "Caranya bagaimana kita harus menyelesaikan perhitungan ini.

Lok Heng-kun, kau jangan bertingkah lagi dengan cambuk panjangmu, meski malam kemaren putri mestikamu, membuat aku rugi, tapi permainannya betapapun masih terpaut lauh dari kepandaianmu, sekarang aku sudah dapat menyelami seluk beluk dari permainanmu yang serba rahasia itu."

Sebelum Lok Heng-kun membuka suara, lekas Koan Sangwat mengedipkan mata kepada Lok Siau-hong, kontan ia berteriak.

"Bangkotan tua yang harus mampus! Kau membual apa? Kalau berani, silakan rasakan lagi cambuk nonamu yang lihay ini!"

Lok Heng-kun terkejut, cepat ia membentak .

"Tutup mulut! Budak setan, tiada bagian kau bicara di sini!"

"Bagus! Hiat-lo-sat!"

Seru Pok Thian-cun menyeringai dingin.

"Agaknya Lohu memang berjodoh dengan keluarga Lok kalian, urusan angkatan tua belum lagi selesai, urusan angkatan muda bakal dimulai lagi....."

"Tua bangka keparat yang tidak tahu malu. Dia masih bocah ingusan."

"Sudah berusia tujuh belas masa terhitung bocah ingusan. Menurut kebiasaan Lohu pertama kali bertemu di atas perahu kemarin, seharusnya tidak kulepas mangsa yang empuk ini,apalagi dia berani bertingkah kepada lohu tapi tidak tahu berdosa, maka Lohu tiada alasan mencari perkara kepadanya. Hari ini dia sudah tahu tapi sengaja berani mainmain dengan aku, maka jangan salahkan aku berbuat........"

"Kau berani!"

Teriak Lok Heng-kun dengan beringas gusar.

"Berani kau menyentuh seujung rambutnya saja....."

Pok Thian-cun tertawa besar, serunya .

"Selama hidup Lohu tiada kenal rasa takut dalam menunaikan hasratku sendiri.... Terutama terhadap kalian kakak beradik, sungguh aku menyesal rasanya belum mendapat rejeki... Kepada Koan-Siheng, maksudnya kelak pun akan mendapat warisan kedudukannya, bicara soal kedudukan dan jabatan, boleh dikata dia sejajar dengan kau, malah mungkin setingkat lebih tinggi, meski dia bersikap kasar terhadap Ki-siheng, kurasa tidak termasuk bersikap kurang ajar!"

Saking marah muka Ki Houw sampai pucat, jengeknya.

"Agaknya kau tahu banyak mengenai segala peraturan itu." -oo0dw0oo-

Jilid 8 Kini Lok Siau hong memang bekerja menurut rencananya, tapi sikap Lok Heng kun bertiga, rasa urusan agak berbeda, hal ini di luar dugaannya karuan ia tertegun dan kebat kebit, terpaksa ia tanya kepada Liu ju yang yang duduk disebelahnya.

"Cianpwe, kenapa kalian tidak mengijinkan nona Lok melawan bangkotan tua itu, umpama kalah jiwanya kan tidak bakal terancam!"

"Sulit dijelaskan"

Sahut Liu ju yang "Siau hong memang sembrono, akibatnya akan jauh lebih berat dari pada ia segera mati, istri ku dan Lok toaci justru sudah merasakan penderitaan ini, sehingga meraka membekal dendam dan kebencian selama hidup ini...."

Koan San gwat tidak berhasil menggerek keterangan yang diinginkan, tapi ia menyadari urusan sangat penting, diam diam hatinya jadi menyesal Siau hong seorang gadis yang polos yang tidak mengenal seluk beluk keculasan manusia, aku yang membujuk dia untuk melakukan perbuatan bodoh ini bila terjadi sesuatu yang marugikan dirinya, aku akan menyesal selama hidup ini.

Karena tekanan Pok Thian cun terpaksa Pok Siau hong harus turun gelanggang, sambil menenteng cambuk dengan sikap gagah ia sudah siap berhadap dengan musuh, adalah Pok Thian cun menyeringai lebar.

Sekonyong konyong Koan San gwat, berkelebat meninggalkan tempat duduknya melesat kehadapan Pok Thian, tangan terayun koatan ia persen dua kali tamparan dikanan kiri pipi Pok Thian cun, tenaga yang digunakan besar sekali, suaranyapun nyaring.

Karena tidak bersiaga meski Pok Thian cun kena digampar, sedikitpun ia tidak cedera, cuma dengan gusar ia berteriak.

"Bocah keparat apa apaan perbuatanmu ini?"

"Tua bangka yang harus mampus!"

Ujar Koan San gwat tersenyum.

"Kalau kau suka menyelesaikan urusan baru, babak pertama ini kau harus menghadapi aku dulu!"

Kejadian diluar dugaan semua hadirin, Lok Heng kun bertiga berjingkrak berdiri, demikian juga Ki Hauw gusar, Lok Siau hong merasa heran, tak tahu kenapa Koan San gwat melanggar janjinya sendiri.

SeSant lamanya suasana hening tegang, akhirnya Ki Houw membuka suara dengan amarahnya yang meluap "Koan San gwat!

Berani kau bertingkah dihadapan Pun coh."

Sambil bertolak pinggang Koan San gwat balas bertanya tidak kalah garangnya.

"Tuan ini orang macam apa?"

Baru saja Ki Houw hampir mengumbar amarahnya. Liu ju yang keburu menyela bicara.

"Kedudukan Siheng hari ini hanya sebagai saksi lebih baik jangan tersesat kedalam pertikaian ini apa pun yang terjadi hari ini kelak masih bisa diselesaikan, dan lagi akhli waris unta sakti belum terhitung kalangan dalam."

Ki Houw tidak menduga alasan yang di kemukakan tadi malah mengikat dirinya pula terpaksa dengan mendengus dingin ia berkata.

"Orang dari kalangan luar ternyata berani kurang ajar terhadapku, maka dosanya lebih tidak berampun!"

Liu Ju yang berpikir sebentar lalu menjawab.

"Kedudukan Siheng diperoleh secara tradisi, sebaliknya Tokko Bing seara langsung menyerahkan lencana unta sakti kepada Koan Siheng, maksud kelak pun akan mendapat warisan kedudukannya, bicara soal kedudukan dan jabatan, boleh dikata dia sejajar dengan kau, malah mangkin setingkat lebih tinggi, meski dia bersikap kasar terhadap Ki siheng, kurasa tidak termasuk bersikap kurang ajar!"

Saking marah muka Ki Houw sampai pucat jengeknya.

"Agaknya kau tahu banyak mengenal segala peraturan itu!"

"Benar"

Sahut Liu Ju yang tersenyum.

"Dalam rapat anggota waktu menegaskan perundang undang ini aku dipercayakan sebagai notulis, maka aku sangat jelas segala seluk beluk peraturan ini, jauh lebih jelas dan mengerti dari orang lain. Meski Siheng berkedudukan diantara ketiga Sam kun, dalam peraturan yang berbelit belit ini, aka percaya belum tentu kau tahu jelas soal peraturan itu dari aku orang she Liu!?"

Sejenak Ki Houw kebingungan, mendadak ia angkat jari kelingking tangan kirinya diatas diatas kelingking itu, ia mengenakan sebuah cincin batu jade warna putih, dia memutar cincin itu dari sebelah sama tampak ukiran kepala setan yang sangat hidup, kata nya bengis "Apakah kalian kenal benda ini?"

Liu Ju yang dan Lok Heng kun berdua seketika berubah air mukanya, mereka berdiri tegap menurunkan kedua tangannya. Ki Houw terkekeh kekeh dingin, katanya .

"Secara resmi sekarang aku keluarkan perintah Sam mo ling, kuberi wakru tiga bulan dalam jangka waktu itu kalian harus datang kemarkas melaporkan diri!"

"Menurut perintah!"

Serempak mereka bertiga menyahut dengan hormat. Sikap Ki Houw berubah kalem dan tertawa tawa lagi katanya.

"Sampai jangka waktunya, aku masih belum melihat kalian, jangan salahkan aku berlaku telengas!"

Dengan suara bergetar Lok heng kun berkata.

"Seumpama dalam tiga bulan ini kami tidak keburu mampus, pasti kami akan mengutus orang mengirim tulang belulang kami ke markas untuk menerima hukuman!"

"UntuKitu kalian tidak perlu kuatir. Cara kerjaku jauh lebih cermat dari mendiang ayah, dalam tiga bulan ini aku tanggung tidak ada orang yang berani menyentuh seujung rambut kalian, tapi kalian masih berani menyembunyikan diri, sampai keujung langit pun aku bisa menemukan kalian, Silahkan duduk!"

Liu ju yang bertiga mengiakan lalu duduk, jelas hati mereka semakin tidak tentram. Maka terdengarlah Ki Houw berkata kepada Pok Thian cun.

"Lok Pok! kau tunggu apa lagi, ayolah mulai!"

Segera Pok Thun cun menggerung kepada Koan San gwat, makinya.

"Keparat majulah! perhitungan lama Tokko Bing hari ini kau bayar seluruhnya!"

Tanpa gentar sedikitpun Koan San gwat menyahut.

"Guruku punya pertikaian apa de ngan bangkotan tua kau ini?"

Seringai Pok Thian cun makin sadis, katanya menggerung . Yang terang kau masih hidup dapat menemui Tokko Bing dan langsung tanya kepadanya. Seumpama jiwamu pendek kaupun bisa bertanya kepadanya."

Koan San gwat tidak sabar, kontan ia ayun telapak tangannya memukul dada orang seraya memaki bangsat, anjing geladak, jangan cerewet!

Kekuatan pukulan telapak tangannya bagai damparan ombak menyapa kedepan, namun pok Thian cun mandah tersenyum lebar, tidak berkelit juga tidak menangkis, ia biarkan pukulan dasyst itu mengenai tubuh nya tapi sedikit pun tidak menimbulkan reaksi apa malah membarengi dengan jengek hidungnya, jari tangannya kedepan mengetuk sendi tulang lengan Koan San gwat.

Sedikit banyak Koan San gwat sudah tahu seluk beluk orang, maka pukulannya dia lancar dengan kekuatan penuh dan tidak akan ditarik kembali, kenyataan tenaga pukukan nya memang tidak menimbulkan reaksi apa apa atas musuhnya, maka begitu melihat ketukan jari Pok Thian cun tergerak hatinya sengaja memapak maju ingin dia menjajal sampai di mana kehebatan kepandaian lawan.

Liu Ju yang terperanjat serunya cepat.

"Awas Koan San gwat, jangan menyetuh dia..."

Belum lenyap suaranya pukulan kedua pihak saling bentur.

Koan San gwat tidak merasai benturan ini meski tenaga ketukan jari itu cukup kuat namun ia masih kuat bertahan dan tidak terluka tapi timbul semacam perasaan aneh yang timbul dalam badannya seperti gatal dan hangat tidak bisa dikatakan bagaimana perasaannya, ternyata Koan San gwat tidak ambil perhatian sebat sekali kakinya menggelincir mundur, sementara otaknya mencari akal untuk mengatasi musuh.

Wajah Liu Ju yang menunjuk rasa watir yang berlebihan, baru saja ia mau buka suara, Ki Houw sudah menarik muka membentak dingin "Sebagai saksi aku larang penonton banyak mulut mengganggu pertandingan!"

Terpaksa Liu Ju yang bungkam sambil melirik kepada istrinya, agak nya ia mengharap bantuan isterinya.

Tapi Lok Siang kun dingin dan laku seperti tidak peduli sikap suaminya dengan mendelong ia mengawasi gelanggang pertempuran.

Sementara itu, setelah Koan San gwat berputar puluhan langkah sekonyong konyong ia kirim sebuah jotosan.

Agaknya Pok Thian cun punya persiapan yang cukup matang, sikapnya tetap tenang, acuh tak acuh menghadapi serangan hebat ini.

Namun sebelum pukulan Koan San gwat nengenai sasarannya tiba tiba ia merasakan adanya gejala gajul, cepat ia mengerahkan tenaganya hendak merubah haluan, namun sedikit terlambat.

Secara mendada Koan San gwat menarik tenaga pukulanrya , tanpa tertahan Pok Thian Cu terseret maju sehingga badannya sebelah atas doyong kedepan Koan San gwat tersenyum lebar, kontan ia persen dengan sebuah tamparan membalik kesebelah belakang dan tepat menggaplok punggung orang.

Seperti bola tertendang badan Pok Thian cun jatuh terjerembab dan mengelundung beberapa tombak jauhnya baru berdiri lagi.

Serta merta Lok Heng kun menghela napas dan berkata tertegun.

"Bocah ini benar benar jenius, bergebrak baru satu jurus ia sudah meraba, kondisi lawan dan memperoleh akal untuk menguasainya sayang akalnya tidak akan maju gebrak selanjutnya ..."

Tergerak hati Kaon San gwat mendengar kata kata Lok Hen kun, untuk mencapai hasil tadi, Koan San gwat sudah menghabiskan jerih payah yang cukup berat.

Setelah tahu bahwa kepandaian Pok Thian cun aneh dari luar biasa, tapi ia tidak percaya didalam dunia ini ada manusia yang tidak bisa terluka karena dipukul dan dihajar, pertarungan dengan kepandaian silat adalah pertarungan adu tenaga dan kekuatan, jelas Pok Thian cun memandang ringan pukulannya tentu ada sesuatu aturan tersendiri yang melandasi kepandaian nya.

Maka serangannya yang partama kali tadi hanyalah pancingan belaka untuk menjagai di mana sebenarnya sebab musabab dari keanehan itu.

Dengan bekal ilmu silat dan bakatnya, akhirnya ia menemukan letak keanehan itu.

Ternyata Pok Thian cun memang memiliki semacam ilmu aneh yang luar biasa, badan nya secara reflek timbul suatu tenaga terpendam yang melawan tekanan atau pukulan dari luar semakin besar tekanan atau tenaga itu, semakin besar pula daya perlawanannya kekuatan perlawanan ini tidak kentara dan sulit diketahui orang luar , maka setelah dia kena pukulan kedua kekuatan itu saling bentrok dan sirna tanpa bekas, maka selintas pandang seolah olah sedikitpun ia tidak terpengaruh oleh pukulan yang keras itu.

Otaknya bekerja kilat, akhirnya terpikir olehnya suatu teori dalam ilmu silat yang berbunyi .

"Bagi seorang cerdik cendikia, dia harus dapat merobah tenaga perlawanan itu menjadi tenaga bantuan untuk mendorong...."

Menurut teori, pada waktu melancarkan pukulan kedua, tenaga yang dikerahkan bukan tenaga dorongan tapi tenaga sedot yang hebat.

Kali ini Pok Thian cun tidak sadar, maka ia melawan tetap menggunakan caranya yang terdahulu.

Daya perlawanan terhadap tekanan luar kini malah memperkeras daya sedot yang kuat itu sehingga tanpa kuasa badanya tersuruk maju, untung latihannya cukup sempurna, maka reaksinya pun cepat, lekas ia merubah tenaga perlawanannya, namun demikian ia sudah terlambat dan kecundang.

Lok Heng kun dapat meraba seluk beluk ini, dengan gumamnya ia memberi peringatan kepada Koan San gwat, bahwa cara itu sekali berhasil tidak akan berguna untuk kedua kalinya.

Keruan Pok Thian cun naik pitam, seru nya bengis sambil berpaling.

"Lok Heng kun, tak usah kau memberi peringatan kalau bocah keparat ini mampu membanting aku lagi, aku menyerah dengan suka rela."

Koan Sana gwat terseyun sahutnya.

"Untuk membantingmu sekali lagi tedak sulit usia dan kedudukanku cukup tua dan tinggi, setelah kalah sejurus pantas kau tak malu dan mengaku kalah saja!"

"Benar!"

Liu Ju yang ikut menimbrung.

"Pok Thian cun, kau seangkatan dengan Tokko Bing, gurunya, kalah yang sudah sepantasnya mengaku kalah!"

"Tidak!"

Sahut Ki Houw menggeleng.

"Terhitung juri apa kau ini? Kenapa kau bantu tua bangka ini memungkiri kekalahannya!"

Demikian maki Koan San gwat gusar, Ki Houw menarik muka, sikapnya ketus ujarnya.

"Dalam hal apa aku berlaku kurang adil?"

Kata Koan San gwat menuding Pok Thiam cun.."Dia sudah terbanting jatuh, apakah tidak terhitung kalah?"

Ki Houw manggut manggut, sahutnya ""Sudah tentu, tapi kau tadipun kena tutukan Cun yang ci, satu sama lain saling impas, malah kau rada mengambil sedikit keuntungan!"

Koan San gwat melengak dibuatnya tanyanya "Bagaimana setelah kena tutukan Cun yang ci tadi?"

"Silahkan kau tanya kepada mereka taci adik, nanti kau tahu bagaimana akibatnya!?"

Demikian jengek pok Thian cun sambil menuding Lok Heng kun berdua.

Gejulak amarah membuat selebar muka Lok Heng kun dan Lok Siang kun merah padam namun mereka malu membuka mulut.

Mendengar nama tutukan itu serta melihat sikap Lok Heng kun berdua ditambah perasaan hatinya, lambat laun Koan San gwat dapat meraba sasaranya, maka sambil tertawa ia bertanya.

"Berapa lama Cun yang ci mu itu akan menunjukan kasiatnya?"

Pertanyaan ini merubah air muka pok Thian cun, Liu Ju yang dan Lok Heng kun berduapun sama mengunjuk rasa heran dan curiga.

Kaca Lok Heng kun kepada adiknya "Aneh, mungkin lwekang bangsat tua ini sudah loyo dan tak berguna lagi?"

"Bohong!"

Teriak Pok Thian cun.

"Apakah kalian berani mencoba sekali lagi, kutanggung kalian bakal menikmati pula sorga dunia..."

"Bangsat keparat! Lok Siang kun yang berangasan segera mengumpat.

"Tidak malu kau membuka mulut demikian, ingin rasanya kubeset kulit mu secara hidup hidup!"

Kedua tangannya menekan kursi, badannya segera melayang kedepan, ditengah udara lengan bajunya dikebutkan kedepan menggulung muka Pok Thian cun, lekas Pok Thian cun menekuk leher berkelit, tapi gerak gerik Lok Siang kun tidak berhenti sampai disitu saja, lengan bajunya lagi lagi dikebaskan keluar.

Sebelum rangsakkan hebat ini mengenai sasarannya tiba tiba ditengah udara berkelebat pula sesosok bayangan, tangannya miring ke bawah, cras.

lengan baju Lok Siang kun ditabasnya sobek separo.

Karena kehilangm keseimbangan badan, terpaksa badan Lok Siang kun meluncur kesamping duduk ditanah.

Karuan Lok Heng kun dan Liu Ju yang terkejut, serempak mereka menubruk maju hendak membantu.

Bayangan yang menabas kutung lengan baju itu ternyara Ki Houw adanya, kontan ia membentak bengis .

"Apakah kalian sudah bosan hidup, berani bertingkah dihadapan Pun coh!"

Suaranya keras bagai geledek mengguntur Lok Heng kun berdua jadi kuncap nyalinya cepat mereka berdua menghentikan aksinya dan berdiri tegak, sejenak kemudian dengan rasa was was baru Liu Ju yang angkat bicara.

"Siheng sebagai juri kenapa kaupun turun tangan mencampuri urusan ini?"

"Kau harus tanya istrimu yang cacad itu."

Liu ju yang terbungkam, sambil menahan gusar terpaksa ia payang istrinya kembali ketempat duduknya.

Dibawah pandangan Ki Houw yang dingin dan tajam terpaksa Lok Heng kun mundur ketempat duduknya.

Maka berkatalah Ki Houw sambil berpaling kepada Koan San gwat.

"Lo pok, agaknya memang kau sudah kalah."

"Aku tidak percaya?"

Teriak Pok Thian cun.

"Harap juri suka menanti sebentar lagi."

"Tidak usah menunggu tutukanmu tadi memang terasa juga, tapi sekarang sedikitpun tidak menimbulkan gejala apa apa."

Dengan nanar Pok Thian cu mengamati Koan San gwat, dilihatnya sikap orang masih gagah penuh semangat, gairahnya melimpah limpah, sedikitpun tidak menujukan perubahan apa apa, terpaksa ia tutup mulut.

Tergerak hati Ki Houw ia manggut kearah Koan San gwat seraya berkata.

Saudara memang luar biasa, entah dapatkah kami mengjukan sebuah pertanyaan?"

"Saudara sebagai juri sudah tentu punya hak mengajukan pertanyaan?"

"Tidak"

Kata Ki Houw menggeleng.

Juri hanya memutuskan kalah dan menang, mencegah orang main keroyok, soal mengajukan pertanyaan, belum tentu dia punya hak main selidik terhadap seseorang, maka saudara boleh menolak pertanyaan yang kuajukan!"

"Aku tidak merasa simpatik terhadap kau, namun sebagai juri agaknya kau dapat bertindak secara adil, maka bolehkah aku menjawab pertanyaanmu."

Berubah air muka Ki Houw, tapi ia menahan sabar, katanya.

"Tutukan Cun yang ci Lo pok tidak pernah gagal, dengan apa saudara menghindar dari tutukan jarinya?"

Koan Sangwt berpikir sebentar lalu menjawab.

"Sebelum menjawab pertanyaan, inginku tahu lebih dulu sifat sifat dari Cun yang ci itu!"

"Masa kau tidak merasakan? tanya Pok Thian cun sebal.

"Perasaan sih ada cuma waktunya terlalu pendek, seolah olah punggung kena sinar msatahari pagi, panas hangat seperti ada ulat merambat didalam badan."

"Selanjutnya bagaimana?"

Tanya Pok Thian cua pula.

Selanjutnya sepeti tidur dalam impian, musim semi, maka kuusulkan lebih baik nama tutukan itu diginti dengan Cun bang ci saja.

Saking murka Pok Thian cun hendak mengumpat caci, tapi kuncup oleh pandangan tajam mata Ki Houw.

Itulah semacam ilmu sesat yang jahat dan memalukan Liu Ju yang meninbrung coba menjelaskan "Goh San sin,"

Tukas Ki Houw dengan mendelik, sebagai seorang kerabat Mo pang tidak pantas kau menimbulkan ilmunya seburuKitu!"

Terpaksa Liu Ju yang tutup mulut Koan San gwat tahu mereka takut sama Ki Houw segera berkata.

"Kini ku rada paham, Cun yang ci itu mungkin semacam ilmu yang dapat membangkitkan nafsu yang berkobar kobar sehingga manusia hilang kesadarannya."

"Tepat sekali. Itulah ilmu tunggal Lo pok yang tiada duanya,"

Ujar Ki Houw tertawa lebar.

Koan San gwat mencemoh dengan hina "Tak heran ku tidak terpengaruh oleh kesesatan ku.

Karena beberapa Waktu yang alu aku pernah diracun oleh manusia licik dan diobati sebutir pil Ping sip cian bing san dari seorang tabib kenamaan, kasiat obat itu dapat memunahkan segala racun, dapat pula membersihkan hati menghilangkan hawa nafsu"

"Kiranya begitu, sekarang aku paham!"

Ujar Ki Houw manggut mangut lalu berpaling kearah Pok Thian cun dan berkata dengan kereng.

"Lo pok sekarang kau terima kalah tidak?"

Pok Thian cun tunduk tak bersuara. Ki Houw berkata pula.

"menurut adat kebiaSannmu setelah kalah harus segera menggelinding pergi, untuk apa kau tinggal disini?"

Baru saja Lok Heng kun hendak membuka suara, Ki Houw sudah mengepalkan tangan katanya "Sudah jangan banyak kata lagi!

Aku tahu maksud kalian, pertikaian kalian dengan Lo pok memang sulit dibereskan.

Maka biar aku yang menugar, tiga bulan yang akan datang, kalian datang lapor kemarkas besar di sana nanti kalian bisa menyelesaikan urusan ini, baru selanjutnya membicarakan urusan lain."

"Terima kasih Mo kun!"

Ujar Lok heng kum lirih. Sebaliknya Lok Siang kun diam saja "Tidak perlu sungkan sesama kerabat dalam satu Pang. sudah sepantasnya aku sedikit memberi kelonggaran kepada kalian."

Lalu ia mengulap tangan, pok Thian cun segara mau ngeloyor pergi. Ki Houw menjura kepada Koan San gwat serta berkata.

"Selamat bertemu, Selamat bertemu! Naga naganya kita harus berkenalan lebih intim."

Koan San gwat membalas hormat, katanya.

"Tuan tadi cuma mengunjuk sejurus kepandaian, tapi sudah kelihatan membekal kepandain yang hebat, aku orang ske Koan jadi gatal dan ingin mohon pengajaran."

Lok Heng kun dan Liu ju yang berdua jadi gelisah, berulang mereka memberi isyarat dengan kedipan mata Tapi Koan San gwat anggap tidak melihat, Ki Houw bersikap kalem ujarnya "Kasempatan masih banyak, kenapa mesti hari ini!"

Sebaliknya Koan San gwat mendesak katanya.

"Aku memikul banyak tugas berat, mati hidup sulit diduga, kuharap saudara bisa menentukan waktunya."

Ki Houw tersenyum ujarnya.

"Bukankah kira sudah mengajukan waktu, kuharap tiba pada waktunya, saudara tidak ingkar janji dan tiba di Tay San koan tepat pada waktunya."

Koan San gwat terkejut, teriaknya "O, jadi kau adalah unta terbang."

Seiring gelak tawa Ki Houw bcrkelebet mengejar dibelakang Pok Thian cun dan sebentar saja menghilang, di udara berkumandang suara jawabannya.

"Aku memang Hwi te ling cu!"

Semua orang dalam pendopo sekian lama nya menjublek tak bersuara dan tidak bergerak akhirnya Koan San gwat yang membuka kesunyian.

"Tak terduga unta terbang kita adalah dia."

"Koan siapa,"

Ujar Lok Heng kun dengan wajah kaku "Ada persoalan aku mohon bantuanmu."

"Cianpwe ada pesan silakan karakan saja!"

"Aku hanya punya anak tunggal Siau hong, biasanya terlalu kuumbar jadi sifatnya suka aleman dan bugal untuk selanjutnya kuharap Siau hiap luka memberi petunjuk dan bimbingan, supaya dia tidak menjurus kejalan sesat..."

""Kenapa Cianpwe berkata demikian...."

"Bukankah Siauhiap saksikan sendiri, tiga bulan ini kami harus melaporkan diri sekali pergi entah mati atau hidup sulit diduga apakah bisa kembali lagi, sukar di ramal kami harap adanya hubungan kental kami denga gurumu, kau pandang patriku....."

Hembusan angin musim ronrok yang deras menghamburkan daun pohon yang beterbangan, sinar surya redup menyinari Tay san koan, benteng pertempuran kuno yang sunyi sepi.

Bertengger diatas kuda, cahaya matahari menarik panjang bayangan badannya kesebelah samping.

Hatinya sedang gundah dan, gelisah, waktu yang telah dijanjikan oleh Unta Terbang.

Hari yang sudah dinanti nantikan sekian lamanya untuk mendapat jawaban berbagai pertanyaan yang selalu mencekan dalam sanubarinya.

Tapi dari pagi ia menunggu sempai magrib bayangan Unta terbang tak kunjung tiba.

"Apakah dia ingkar janji?"

Tidak jauh di sebelah sana Lok Siem hong dan Lam Sam thay sedang duduk di atas tunggangannya, menunggu dengan tenang.

Biasanya Lok Siau hong paling lincah, namun kini ia berusaha pendiam, dalam waktu yang pendek ini, banyak pengalaman dan perubahan yang dialami.

Hari ketiga setelah kedatangan Cu hay ih siu, ibu, dan pamannya sama menghilang, ia tahu bahwa mereka menuju, ke suatu tempat untuk melaporkan diri, namun semua kejadian ini justru meninggalkan teka teki baginya.

Kini dalam dunia ini ia tidak punya sanak kadang lagi, terpaksa ia ikut Koan San gwat.

Sang surya sudah tenggelam, hari sudah mulai gelap, Koan San gwat jadi tidak sabar lagi, sambil keprak kudanya menghampiri kearah Lok Siauw hong berdua mulutnya mengomel .

"Mungkin dia tidak datang!"

Tiba tiba dari kejauhan didengarnya derap langkah kuda yang ramai mendatangi, seketika terbangkit semangat Koan San gwat gumamnya.

"Sudah datang! Kenapa terlambat selama ini!"

Setelah dekat tampak dua kuda berlari mendatangi, kedua penunggangnya jelas adalah dua laki laki, perasaan Koan San gwat kembali tenggelam, ia tahu bahwa yang mendatangi terang bukan unta terbang, alias Ki thian mo kun Ki Houw.

Setelah tiba di hadapan lebih jelas lagi ke dua penunggang kuda itu ternyata adalah Sun Cit dari Siang ing Piaukiok, seorang yang lain adalah Ciong lam Ciangbun Lu bu wi.

Kedatangan Lu bu wi ini jelas hendak menuntut balas bagi kematian kedua muridnya yaitu Loh he siang ing, tapi kenapa datang sendiri tanpa membawa pengiring.

Tapi bergegas ia bersoja.

"Cianbujin apa khabar, apakah anda hendak mencari unta terbang? Dia ingkar janji!"

Diluar dugaan Lu bu wi malah menjawab "Tidak! Sebentar lagi Unta terbang akan tiba!"

Koan San gwat melengak, katanya.

"Dari mana Ciangbunjin tahu?"

"Waktu datang sebenarnya Losiu membawa enam murid yang paling kuat ditengah jalan tadi kena dibunuh orang semuanya menurut laporan Sun Cit bahwa perempuan adalah unta terbang!"

"Apa! unta terbang seorang perempuan?"

Sambil melelehkana air mata Lu bu wi berkata menarik napas "Benar!

perempuan memiliki kepandaian silat yang aneh, dalam empat lima juru saja enam muridku yang terkuat itu dirobohkan mandi darah.

Kalau dia tidak menaruh belas kasihan, Losiu juga tidak luput dari kematian!"

Koan San gwat tertunduk, ia menerawang unta terbang mana yang tulen. Terdengarlah Lu Bu wi melanjutkan.

"Setelah membunuh keenam muridku seru Unta terbang ada titip kabar supaya disampaikan kepada Lingcu katanya karena Unta sakti dan patung emas Ling cu terlambat tiba, maka diapun baru akan tiba setelah bulan bercokol dicakrawala!"

"Aku jadi bingung,"

Kata Koan San gwat sebenarnya yang mana yang tulen.

"Maksud Lingcu Unta terbang ada yang tulen dan ada yang palsu?"

"Ya, beberapa waktu yang lalu aku pernah berhadapan langsung dengan Unta terbang, dia adalah laki laki tulen bernama Ki Houw........"

"Salah!"

Ujar Lu Bu wi menggeleng kepala.

"Unta terbang yang Losiu hadapi jelas adalah seorang perempuan!"

Koan San gwat menerawang sebentar lalu katanya tegas.

"Peduli apa laki atau perempuau yang jelas sepak terjang unta terbang terlalu culas dan kejam, nanti aku harus menumpas nya supaya tidak meninggalkan bibit bencana pada masyarakat ramai!"

Ditengah malam nan sunyj jauh dibawah sana sayup sayup terdengar suara kelentingan unta yang nyaring nan jelas.

Seketika bergerak Koan San gwat, serta merta seperti akan dirinya ia berteriak sekeras keras.

"Sahabatku! Aku disini!"

Tak lama kemudian seekor unta tingi besar berbulu putih berlari cepat bagai terbang, menghampiri kearah dirinya, kelenting dibawah lehernya berbunyi semakin nyaring.

Lekas Koan San gwat melompat terbang maju memapak dan memeluk lehernya dengan perasaan haru ia berteriak .

"Sahabatku, akhirnya kita bertemu lagi, sungguh aku sangat kangen kepadamu!"

Unta putih itu juga mengusupkan kepalanya dalam pelukan Koan San gwat, lidahnya menjilat punggung tangannya, manusia dan binatang saling berpelukan sedemikian akrab dan mesra.

Dibawah cahaya rembulan yang redup dari balik semak semak pohon muncul pula sebuah bayangan hitam yang tinggi besar.

Itulah seekor Unta hitam mulus di punggung nya bercokol seorang gadis yang memakai baju serba hitam pula, terdengarlah ia mejengek dingin, Koan San gwat bertanding kita boleh dimulai sekarang.

Waktu Koan San gwat angkat kepala dalam keadaan yang masih diliputi keharuan seketika ia terperanjat.

Raut wajah sigadis yang dingin dan kaku ini lapat lapat masih berkesan dalam sanubarinya sejenak ia berpikir, baru ingat gadis ini ternyata bukan lain adalah Khong Ling ling adanya.

Kontan menjerit kaget .

"Bagaimana bisa kau!"

Khong Ling ling tertawa tawar, sahutnya.

"Kenapa tidak boleh aku, kau bisa jadi Bing tho ling cu, akupun boleh saja menjadi Hwi tho ling cu."

"Aku pernah ketemu dengan orang yang bernama Ki Hauw, diapun mengatakan dirinya sebagai Hwi tho ling cu..."

"Itupun tidak salah, Hwi tho ling cu tidak terbatas cuma satu orang saja, boleh dia boleh juga aku. Aku adalah dia, dia adalah aku.."

Sudah tentu Koan San gwat menjadi bingung dan tak mengerti, sekian lama ia menjublek mengawasi gadis dihadapannya ini, bukan saja ia tidak mengerti maksud kata katanya, iapun tidak percaya bahwa dia adalah Hwi tho ling cu itu.

Melihat orang berdiri rnenjublek, Khong Ling ling jadi berang teriaknya "Koan San gwat jangan kau pura pura pikun, masa kau tidak kenal aku..."

"Sudah tentu aku kenal kau, waktu di Kun lun san..."

"Jangan kau singgung tempat itu?"

Tukas Khong Ling ling dengan sikap kasar dan uring uringan.

"Sudah tentu kau tidak berani menyebut pula nama tempat itu karena disana kau melakukan perbuatan durhaka, dan berusaha membunuh guru sendiri..."

"Kejadian itu bukan apa apa bagiku nenek tua renta tidak setimpal menjadi guruku. Meskipun selama sepuluh tahun dia mengajar ilmu silat kepadaku tapi diapun telah nenyia nyiakan waktuku 10 tahun permainan cakar ayamnya itu dalam pandanganku sekarang, tidak berharga sepeserpun..."

"Kentut, jangan mengudal mulutmu yang busuk. Nada bicaramu ini masa terhitung seorang manusia..."

"Orang she koan, kaupun jangan memaki orang. Kau tahu kenapa aku tidak suka kau menyinggung urusan lama di Kun lun san itu. Aku cuma benci pada diriku kenapa aku menyiakan kesempatan untuk membunuh musuh besar ayahku. Waktu itu bila aku tahu kau adalah pembunuh ayahku, tentu..."

"Khong Ling Iing! kedengarannya mulutmu manis, sedangkan terhadap guru yang berbudi sedalam lautan kau berani membangkang, aku tidak percaya kau begitu simpatik akan kematian ayahmu."

"Orang she Koan!"

Desis Khong Ling ling dengan marah yang meluap luap, serunya sambil melolos pedang .

"Jangan cerewet lagi, patung emasmu ada diatas untamu, ayo keluar kan dan kita tentukan siapa menang siapa kalah. Hari ini adalah pertempuran mati atau hidup jangan berhenti bila satu pihak belum roboh binasa."

"Hari ini aku berjanji dan hanya bertanding melawan Unta terbang yang tulen!"

"Akulah Unta terbang adanya!"

"Tapi yang mengikat perjanjian bukan aku, dia bernama Ki Houw seorang laki laki."

"Dia adalah suamiku, kami menggunakan julukan yang sama, kau paham!"

"Suamimu? Kapan kalian menikah?"

"Hal ini tidak ada sangkut paut dengan kau, yang benar aku tidak menipukau."

"Tidak, aku harus tahu duduk perkaranya. Pertikaian dengan Unta terbang bukan meliputi perebutan nama julukan saja, masih banyak urusan yang lain..?"

"Baiklah, masih ada urusan apa yang kau tanyakan?"

"Pertama tama aku ingin tahu, siapakah yang membegal dan membunuh orang di Ling ciu?"

"Aku! Karena Ciong lam pay berlaku kurangajar terhadap ayahku,"

"Yang menggunakan perintah Unta terbang dan sengaja mencari aku untuk beritanding juga kau?"

"Bukan! Suamiku, karena dia punya alasan khusus untuk berbuat demikian!"

"Alasan apa?"

"Tidak tahu! Dia tidak memberitahu kepadaku."

"Lebih baik kau undang dia kemari, masih ada sebuah urusan besar diantara kita harus diselesaikan, urusan Unta sakti dan Unta terbang, hal ini kau tidak akan bisa mewakili dia dan lagi akupun tidak sudi main tangan dengan kaum hawa seperti kau."

"Orang seh Koan, kalau kau tidak berani lekas berlutut minta ampun saja!"

"Keparat, matipun aku tidak takut, masa gentar menghadapi kau, cuma pertikaian antara Unta sakti melawan Unta terbang teramat besar sangkut pautnya, aku beranggapan kau tidak setimpal menggunakan nama julukan itu untuk menantang aku."

Rona wajah Khong Ling ling menjadi pucat pias, kentara bahwa amarahnya sudah menghantui sanubarinya namun sikap Koan San gwat yang memandang hina dan dingin terhadap dirinya membuat ia tidak kuasa melampiaskan amarahnya, sejenak ia berdiam diri sambil bernapas ngos ngosan, lalu kata nya dengan suara berat.

"Kalau begitu aku menuntut balas bagi kematian ayahku, alasan ini cukup setimpal bukan!"

Sejenak Koan San gwat ragu ragu, sahutnya .

"Untuk ini aku orang she Koan serba sulit menampik!"

Khong Ling ling keprak untanya berlari puluhan langkah berpaling dan berteriak .

"Pegang kencang patung masmu, kita boleh mulai...!"

Koan San gwat tidak hiraukan seman orang, ia berbalik kepada Lu bu wi dan berkata.

"Ciangbunjin harap pinjam pedang sebentar !"

Lekas Lu bu wi melolos pedang dan di serahkan kepadanya, sambil menenteng pedang Koan San gwat melompat naik kepung gung untanya, patung emas berkaki atu yang berada di punggung untanya ia lemparkan kc atas tanah.

Terdengar Khoni Ltng Iing berteriak di kejauhan.

"Koan San gwat, kenapa kau tidak pakai patung emas saktimu?"

Koan San gwat tertawa lantang serunya.

"Kim sin (patung emas sakti) adalah perlambang Bing tho ling cu, hanya menghadapi Hwi tho ling cu yang tulen baru akan kugunakan! Aku punya alasan menghadapi kau dengan Pedang ini adalah milik Ciong lam pay dengan pedang ini aku hendak menuntut hutang darah dari puluhan jiwa para murid Ciong lam Pay yang kau bunuh,"

Kong Ling ling berjingkrak gusar seraya berteriak ia keprak untanya maju menerjang begitu dekat pedang terangkat terus membacok.

Koan San gwat bercokol tenang dan angker diatas puuggung unta pedangnya terangkat mengkis "tring"

Lelatu api berpercik suaranya berkumandaog dan berguma diudara.

Koan San gwat masih tidak bergeming sebaliknya Khong Ling ling tergentak mundur dua tiga tindak, tapi bukan karena tenga pergelangan tangannya yang kalah kuat adalah unta hitamnya yang tidak kuasa menahan dari tenaga benturan yang dahsyat dari kekuatan raksasa yang saling hantam itu, Koan San gwat terbahak bahak serunya.

"Waktu di Liang cu kau menantang, orang bertanding, unta lawan unta, kini tunggangan siapa lebih unggul sudah dapat dipastikan, lebih baik kau lekas beri tahu kepada suamimu, kalau benar benar ingin mengadu kekuatan dengan aku, harap dia mencari tunggangan lain dan aku, harap dia mencari tunggangan lain yang lebih hebat!"

Saking gusar mendadak Khong Ling Ling mengayun pedangnya kebawah dan "cres"

Kepala Unta hitam tunggaaga nya itu mencelat terbang tertabas kutung dari badannya, sebelum badannya roboh Khong Ling Ling sudah melompat turun di tanah.

"Apa apaan perbuatanmu ini?"

Seru Koan San gwat tertegun.

"Binatang tidak berguna sudah tentu harus di mampuskan saja!"

"Aku hanya omong sambil lalu, sebetulnya unta hitam, ini binatang pilihan juga, kau begitu kejam membunuhnya."

"Barangku sendiri aku punya hak untuk memutuskannya, tak perlu kau banyak, urusan turunlah kita lajutkan diatas tanah!"

Koan San gwat melompat turun seraya berteriak gusar.

"Kau tiada hak berbuat seudelmu sendiri terhadap suatu jiwa!"

Kong Ling ling menjadi sengit teriaknya pula .

"Orang she Koan, jangan takabur, unta putihmu belum tentu seekor binatang tiada tandingan dikolong langit ini, yang kubunuh ini tiada lain barang apkiran belaka, nanti kalau tunggangan suamiku datang, tanggung dia tidak kalah oleh tunggangan milikmu."

"Kenapa suamimu hari ini tidak datang?"

"Bila kau dapat mengalahkan dia, sudah tentu dia akan muncul, sekarang kau tidak perlu banyak tanya."

Seiring dengan ucapannya pedangnya terayun menyerang kepada Koan San gwat, terpaksa Koan San gwat angkat pedang menangkis dan melayani rangsakan lawan.

Karena berada ditanah datar, gerak gerik tidak terhalang, maka tidak perlu setiap gebrak harus mencari peluang mengendalikan tunggangan maka serang menyerang kedua belah pihak berlangsung teramat cepat, dalam sekejap saja puluhan jurus sudah berselang.

Setiap jurus masing masing mengerahkan tenaga dalam yang kuat dan keras setiap dua senjata saling bentur pasti mengiluarkan suara keras dan kercikan letusan api, semakin lama semakin seru dan hebat, diam diam Koan San gwat mencelos hatinya.

Bagi dia yang tenaga raksasa pembawaan sejak kecil, meski senjata yang digunakan hanya sebatang pedang, tapi setiap gerak serangan nya mengandung tenaga ratusan kati beratnya, Khong Ling ling mampu bertahan setanding melawan dirinya, apalagi seorang perempuan bisa memiliki kekuatan yang sedemikian dahsyatnya sungguhnya patut dipuji.

Dan lagi sejurus ilmu pedang yang dia lancarkan memang sangat aneh dan menakjubkan, gerak geriknya lucu dan sulit diraba.

Seperti diketahui Khong Ling ling memperoleh didikan sejak kecil di Kun lun san di bawah asuhan Soat lo Thay Thay, tapi kepandaian silat keluarga Soat itu sudah diturunkan ke pada Thio Ceng Ceng dia sendiri menonton dari pinggir, sedikit banyak ia kenal ilmu silat ajaran keluarga Soat itu.

Tapi ilmu pedang yang dimainkan Khong Liag ling sekarang selamanya belum pernah dilihatnya, setiap jurus serangannya, sulit diraba dan menyelonong tiba dari jurusan yang tidak mungkin diraba sebelumnya, dan lagi serangan itu adalah sedemikian ganas dan keji sekali kena jiwa pasti melayang, maka tidaklah heran beberapa murid Siong lam pay itu hanya beberapa gebrak saja sudah dibunuh olehnya dengan cara yang begitu mudah, jikalau dirinya tidak dibekali ajaran Tokko Bing yang digjaya dan murni itu, sejak tadi mungkin iapun sudah melayang jiwanya oleh keculasan lawannya.

Pertempuran sudah berjalan tiga puluh jurus, tapi Koan San gwat cuma balas menyerang dua jurus, setiap jurus serangan harus ia layani atau tangkis dengan memakai tenaga dalam yang cukup besar pula, sehingga selalu pihak lawan dapat menempatkan diri dalam posisi yang menguntungkan, meraba dingin serangan yang membadai, terpaksa ia hanya membela diri saja.

Rangsakan pedang Khong Ling ling justru semakn gencar dan telengas, sikapnyapun semakin beringas, terdengar ia mengejek dingin.

"Koan San gwat kudengar betapa tinggi namamu di kalangan Kangouw, kiranya cuma nama kosong belaka, Bing tho ling cu menggetarkan dunia, agaknya tidak lebih cuma gentong nasi belaka."

Dengan tenang mantap Koan San gwat melayani rangsangan lawan, sedikitpun tidak terpengaruh oleh lawan, namun Khong Ling ling mangkin mandapat angin tedengar ia menccemooh lagi.

"Dilihat dari permainan pedang yang menyerupai cakar ayam ini, dapatlah dinilaibetapa sebenarnya Tokko Bing, hanya tokoh dungu tidak becus belaka, kalau aku dilahirkan beberapa tahun lebih pagi tanggung didunia ini tidak akan ada Bing tho sebutan yang menyebalkan ini..."

Pedang Koan San gwat diputar kencang melindungi seluruh badannya, tak tahan ia balas menjengek dingin.

"Mungkin kau mendapatkan tambahan ilmu dari Ki Houw, berani kau membual mulutmu yang busuk. Kenapa kau tidak gunakan otakmu, dulu pusaka Lo hun kok dari keluarga Kiong besar kalian yaitu Bi seng cu kenapa bisa tearampas dan berada ditangan guruku selama 20 tahun lamanya demikian ayahmu mampus di tangan gentong nasi kalau dibandingkan justru kau ini lebih celaka dari aku yang kau anggap gentong nasi ini."

Dimulut Khong Ling ling mencemoh dan menghina tapi dalam hatipun terkejut dan was was sebab meski setiap permainann pedang Koan San gwat selalu dapat dipatahkan, tapi gerak geriknya sangat mantap dan dapat maju mundur sesuka hatinya tanpa terpengaruh sedikitpun berulang kali ia sudah memancing dengan berbagai tipu yang cukup meyakinkan tapi pertahanan pedang lawan memang tidak tertembuskan, maka sengaja mencemooh dan menghina, tujuannya membakar kemarahan orang sehingga ia berkesempatan menjebol pertahanan orang yang kokoh.

Tak nyana latihan Koan San gwat memang sudah sangat matang, ejekan balasannya sangat tajam ini menusuk perasaan, bukan saja tidak terpancing malah diri sendiri kepermainkan karuan ia naik pitam.

Sambil melancarkan rangsakan membadai mulutnya berteriak beringas.

"Koan San gwat kau memang harus mampus!"

Pedang nya berputar memetakan puluhan kuntum kembang cahaya pedang yang bertaburan keatas dan menukik kebawah, sulit di tentukan yang mana yang kosong dan yang mana yang berisi, sebelah atas lebih dulu atau sebelah bawah lebih cepat menggasak tiba?

Menunjak ketiga lobang didada Koan San gwat tawa Khong Ling ling semakin menjadi jadi serunya "Boleh kau tambahi sebuah huruf Bing tho ling menatap lobang didepan dada orang itu.

Karena itulah yang harua dibanggakan oleh Bing tho ling cu yang katanya pernah menundukan dunia."

"Bertanding silat sudah pantas kalau ada yang menang dan kalah, tidak perlu mengudal lidahmu dengan sikap tengikmu itu."

Jelas bahwa dirinya sudah menang dengan pukulan tiga lobang kecil di depan dada orang tapi serta melihat sikap Koan San gwat masih begitu tenang dan seperti acuh tak acuh mau tak mau Khong Ling ling mejengak marah akhinya tidak tertahan ia berjingkrak gusar, serunya.

"Kalau tau begitu, lebih baik ku tusuk dadamu saja!"

"Salahmu sendiri! kenapa kau tidak berbuat demikian?"

"Karena suamiku melarang, dia sendiri yang akan membunuh kau!"

"Pendapat suamimu memang, untuk melawan aku memang dia sendiri yang harus maju!"

"Melawan aku saja kau bukan tandingan, masih ingin bertanding dengan suamiku jangan kau bermain api, lekas serahkan lencana unta saktimu, selanjurnya carilah suatu tempat dan menyembunyikan diri!"

"Kalau kelak suamimu benar benar dapat mengalahkan aku, baru aku akan pikirkan lagi."

"Koan San gwat apa kau ini laki laki. Kenapa tidak tahu malu kau masih tidak mengaku kalah!"

Mendadak Koan San gwat menarik muka serunya lantang.

"Orang she Koan laki laki sejati Bing tho ling cu pun sudah menggetarkan Kangouw, soal menang kalah mesti didebatkan kalau kau angggap dirimu sudah menang, coba ketuklah hatimu dan tangannya meraba kedepan dadanya, seketika berubah air mukanya sekian lamanya ia tidak mampu bersuara. Ternyata baju depan dadanya dari kiri, tapi tergores sebuah garis yang lurus, hanya baju luarnya saja yang tergores maka ia tidak merasakan. Tapi ia tidak tahu kapan baju luarnya ini tergores ujung pedang lawan. Terbayang olehnya adegan pertempuran selami tiga puluh jurus tadi, Koan San gwat cuma membalas serangan tiga jurus, dua jurus yang terdahulu ditarik ditengah jalan, hanya jurus terakhir dilancarkan dengaa nekad dengan tujuan gugur bersama, tapi serangan itupun berhasil ia hindari. Pikirannya hanya jurus ini yang terakhir inilah yang besar. Maka dengar menempelkan muka ia bertanya dengan kereng.

"Tipu yang bagus! Apa nama jurus seranganmu itu?"

"Meski ada namanya, tapi kedengannya tidak enak yaitu si li kiu seng (mencari hidup dalam kematian)."

Khong Ling ling berpikir sebentar lalu berkata dingin .

"Mesti dengan ini nama kedengarannya "Untuk bisa gagur bersama suatu kejadian yang sulit, itu diperlukan permainan tipu serangan kedua belah pihak seimbang pula kehebatannya, sehingga pihak yang lain berkesempatan membunuh lawannya lebih dulu, tapi ilmu pedang sudah terlatih setaraf kau sekarang, mungkin sulit dicari waktu yang kebetulan itu, maka kita perlu sama sama mengejar waktu yang pendek itu, mungkin kau masih ingat, tadi siapa yang bergerak lebih dulu?"

Berubah pula muka Khong Ling ling mulutnya, terbungkam, menang dan kalah sudah jelas duduk perkaranya, memang gerakan serangan pedang Koan San gwat lebih cepat dari tutulan tiga kali ujung pedangnya, kalau tabasannya itu betul betul dia laksanakan maka ketiga tutulan ujung pedangnya itu tidak mungkin mengenai sasarannya.

Setelah terpaku sekian lamanya, dengan muka menghijau ia berkata .

"Koan San gwat hari ini kepandaianmu lebih tinggi, tapi jangan kau takabur, cepat atau lambat aku pasti menebus kekalahan ini!"

"Sekarang tibalah giliran suamimu, mengunjukkan diri!"

Jengek Koan San gwat.

"Hari ini tidak lain yang lebih penting maka akulah yang mewakili dia kemarin!"

Dengan suara kereng Koan San gwat.

"Urusan apapun tidak sepenting pertemuan ini, seorang manusia tidak punya kepercayaan tiada berharga hidup kalau dia seorang yang tidak dapat dipercaya, aku menyusul mengadakan janji pertemuan disini!"

Berapi api biji mata Khong Ling ling teriaknya "Orang she Khoan, kau sudah bertemu dengan suamiku, kau harus tahu bahwa dia tidak takut terhadap kau, dan lagi kau pasti tahu bila sekarang dia tidak kemari itu menandakan bahwa urusan itu tentu jauh lebih penting."

Koan San gwat berpikir sebentar lalu manggut manggut, sahutnya "Baik aku percaya sekali obrolanmu ini, tapi dapatkah kau beritahu kapan dan dimana perjanjian yang akan datang? "Aku pun tidak tahu,"

Sahut Khong Ling ling menggeleng.

"Tapi aku percaya dia pasti memberi khabar kepada kau!"

"Baik, selalu ku tunggu kabarnya."

Sambil mendengus Khong Ling ling putar tubuh terus tinggal pergi, tapi beberapa langkah ia dihentikan oleh Koan San gwat, sambil membanting kaki Khong Ling ling berseru gusar.

"Ada apa lagi! Apa kau tidak mau melepas aku pergi?"

"Bukan! Kalau aku ingin menahan kau tabasan pedangku tadi tidak melukai cuma menggores baju luarmu saja, kalau hari ini kau terima kalah, maka harus mematuhi satu syaratku!"

"Syarat apa? Jangan kau ajukan persoalan berabe dan serba runyam, aku tidak bisa memberi kepastian kepada kau,"

Tanya Khong Ling ling curiga.

"Sebelum pertemuan kedua dan sebelum adanya adu kepandaian yang akan datang dengan suamimu, aku larang Lencana Unta terbang kalian muncul didunia persilatan."

Khong Ling ling bimbang, Koan San gwat segera menandaskan.

"Kalau tadi kau mewakili Hwi tho ling cu, kau sudah menyerah kalah, maka Hwi tho ling cu tidak boleh di pakai lagi, kalau kau tidak berani mengambil keputusan, suamimu ingkar janji, maka diapun terikat oleh syarat yang kuajukan ini!"

Mendengar alasan ini Khong Lia ling malah tertawa dan perasaan menjadi longgar katanya.

"Boleh karena alasan ini pasti suamiku tiada alasan menolak maka baiklah aku akan meyetujui usulmu ini!"

"Silankan pergi!"

Ujar Koan San gwat mengulapkan tangan.

"Beritahu pada suami mu semakin cepat lebih baik!"

Kini Khong Ling ling pergi tanpa menoleh lagi.

Koan San gwat mendekati Unta saktinya dia berbisik bisik di pinggir telinganya, entah apa yang diucapkan, tapi sang unta selalu manggut manggut atau menggeleng sebagai menjawabnya.

Dengan lesu Lu Bu Wi menuntun kudanya, menghampiri Koan San gwat, katanya "Lingcu Losiu mohon diri lebih dulu!"

"Ciangbunjin hendak kemana?"

Tanya Koan San gwat.

"Ai, pihak Ciong lam pay sudah runtuh total, tiada muka Losiu menduduki jabatan yang memalukan ini, tiada harapan menuntut balas, masa depanmu suram, Losiu ingin membawa jenasah murid pulang gunung, akan ku umumkan penutupan dan pembubaran golongan kami."

"Losiu akan mengasingkan diri saja !"

Koan San gwat membujuk katanya.

"Ciong lam pay sudah ternama puluhan tahun lamanya di Bulim, menderita rugi adalah jamak dalam percaturan dunia persilatan, Ciangbun jin tidak perlu putus asa."

Lu Bu wi menghela napas panjang ujarnya.

"Perguruan mengalami bencana yang menengenaskan, kepandaian sendiri tidak becus lagi, hagaimaa Losiu tidak kecewa!"

Koan Sangwa berpikir sejenak lalu berkata.

"Bagaimaua Kalau Ciangbunjin sementara ini melakukan perjaiananaa dengan Cayhe, siapa tahu dalam waktu yang dekat bisa membalas dendam secara langsung, sekaligus dapat memulihkan muka dan mengangkat nama pula."

Tergerak hati Lu Bu wi Katanianya.

"Ling cu ada petunjuk apa?"

"Beri petunjuk sih tidak berani, mendadak Cayhe teringat suatu persoalan, kalau Ciangbunjin ikut melakukah perjalanan ke barat, mungkin disana bisa memperofeh suatu ketuntungan."

"Untuk apa Lingcu pergi ke barat daya?"

Koan San gwat tertawa sambil menunjuk suaranya, katanya.

"Sahabat tuaku inilah yang memberi tahu kepadaku."

Semua orang melengak tidak mengerti, kata Koan San gwat.

"Untaku ini adalah binatang sakti yang cerdik dari daerah barat, setelah mendapat didikan dan bimbingan dari guru selama beberapa tahun, ia punya banyak kemampuan yang luar biasa, bukan saja dapat menempuh perjalanan ribuan li sehari naik gunung terjun keair dan segala tugas berat apa pun dilakukannya ada pula suara kepandaian khas yang dimilikinya yaitu daya penciuman nya teramat tajam, sippapun bila terendus hidungnya, meski kau sembunyi keujung langit pun dapat dikejar dan menemukan tempat persembunyianmu."

Lu Bu wi kagum dan manggut manggut katanya .

"Unta memang merupakan kapal padang pasir, biasa menjelajah seluruh dunia, untuk ini Losiu tidak akan sangat sedikit pun, entah siapa yang hendak Ling cu kuntit?"

"Sudah tentu Khong Ling ling adanya, dengan menguntit dia dapatlah aku secepat nya berhadapan dengan Unta terbang!"

Lu Bu wi termenung tak bersuara, Lok Siau hong berjingkrak kegirangan. Cuma Lau Sam thay yang mengunjuk rasa kuatir, katanya.

"Apaka tujuan Ling cu tidak akan berbahaya?"

Koan San gwat berkata"

Ki Houw mengingkari janjinya, tentu urusannya ini ada sangkut pautnya dengan perkara yang kubayangkan teka teki ini sudah lama tersekap dalam sanubariku, maka aku harus berdaya upaya untuk menbongkar rahasia, dan sekarang tibalah saatnya..

kalau Lau heng merasa tidak leluasa boleh tidak usah ikut soalnya memang Lau heng tiada hubungannya, dengan persoalan ini...."

"Kenapa Lingcu bicara demikian!"

Seru Lau Sam thay sambil menggoyangkan tangan.

"Aku orang she Lau hanya kaum keroco di kalangan Kang ouw, namun sejak ikut Ling cu kini akan menyelidiki suatu, rahasia besar kaum Bulim, terhitung hidup ini tidak sia sia, meski harus berkorban jiwa aku orang she Lau tidak perlu menyesal, cuma aku kuatirkan keselamatan Ling cu sendiri."

"Tiada sesuatu yang perlu dikuatirkan bagi diriku."

"Belum tentu, dalam pandangan kaum Bulim sedang terancam malapetaka yang masih terpendam dan bakal meletus dalam waktu tidak lama lagi, keselamatan kaum persilatan hanya tergantung pada usaha Ling cu seorang untuk mengatasinya, kalau tidak sulit lah dibayangkan apa yang bakal terjadi kelak."

"Betapa tinggi penilaian Lau heng terhadap diriku, hakikatnya memang aku sudah terlibat dalam pusaran yang rumit ini, seumpama hendak menyingkir juga tidak mungkin lagi, bukan aku saja nona Lok dan Lau heng sendiri pun sudah tidak bisa berpeluk tangan. Kalianpun pernah bertemu dengan Ki Houw kalian pun sudah tahu sedikit seluk beluk mengenai persoalan ini ..."

Lau Sam thay tidak bicara lagi, sebalik Lok Siau hong membelalakan matanya serunya.

"Koan toako ditempat tujuan kita apakah dapat betemu dengan bibi?"

"Aku tidak berani pastikan."

Sahut Koan San gwat setelah termenung sebentar.

"Tapi aku percaya sedikit banyak kita bakal memperperoleh bahan bahan sebagai pemikiran kita selanjutnya...."

"Tiba tiba Lu Bu wi menyeletuk tanya dengan heran .

"Soal rahasia apa yang sedang kalian perbincangkan?"

"Sekarang belum pasti dapat aku jelaskan Ciangbunjin perlu memastikan mau ikut tidak menempuh bahaya sudah pasti dapat terhindar "Losiu mencari hidup seorang diri, jiwaku sih tak perlu dipikirkan cuma dengan tenaga ku yang tidak becus ini, aku kuatir bukan saja tidak membantu Ling cu malah jadi beban belaka!"

"Cianghunjin jangan merendah, sulit dikatakan sekarang, mungkin banyak urusan yang nanti harus mohon bantuan, dan lagi entah beberapa banyak anggota dari perguruan kalian?"

Lu Bu wi berpikir sebentar lalu katanya.

"Enam diantara sembilan saudara seperguruan kami sudah ajal tinggal tiga orang lagi dimarkas, para murid dari generasi kedua kira kira masih tiga puluhan orang yang tersebar luas dimana mana, dengan sebuah tanda rahasia, Losiu dapat mengumpulkan mereka untuk mendengar perintah seluruhnya!"

"Tidak prlu banyak harap Ciagbunjin mengundang tiga Enghiong yang berada dimarkas itu serta, lima, enam murid yang terdekat saja. Tugas ini lebih baik diserahkan kepada Sun Cit sebagai kurir atau penghubung, suruh mereka menyalin rupa. Tidak usah bertemu muka secara langsung dengan kami, asal memperhatikan tanda rahasia penghubung dari perguruan kalian, harus ketat pula mengikuti jejak kita disaat tenaga mereka benar benar diperlukan, biarlah nanti Ciangbunjin sendiri yang memberi tugas yang perlu dilakukannya."

Lu Bu wi tidak tahu persiapan apa yang sedang dilakukan oleh Koan San gwat namun ia menurut perintah saja, sahutnya.

"Khong ling ling membunuh beberapa saudara perguruan kita, kini berkesempatan ikut Ling cu untuk menuntut balas, tugas mulia yang memang sangat kita harapkan!"

Lalu ia memberikan aba aba kepada Sun Cit, serta menyuruh membereskan jenasah para saudara seperguruannya dan dikirim kembali ke Ciong lam pay untnk dikebumikan."

Setelah segalanya diatur dengan rapi, Koan San gwat mencemplak kepunggung unta saktinya, katanya.

"Mari berangkat! Mungkin perjalananan kita masih bakal menimbulkan gelombang besar yang mendapat seluruh kaum persilatan, mungkin pula seperti mega yang mengembang di angkasa, terhembus lenyap tanpa bekas oleh angin lalu! Tapi apapun yang akan terjadi, inilah jalan satu satunya yang harus kita tempuh!" -o0dw0o-

Jilid 9 HILANG SUARANYA IA LANTAS keprak tunggangannya dan berlari cepat dikeremangan malam menuju kearah depan sana, maka terdengarlah derap kaki kuda yang ramai dibelakangnya mengejar dengan cepat.

Lu Bu wi seketika keprak kudanya mengejar dibelakangnya.

Derab kuda dan langkah unta yang tegap dan berat itu seolah olah menjadi perpaduan musik yang gagah mengiringi mereka maju kemedan laga.

Kira kira setengah bulan kemudian, mereka berempat sudah tiba disungai Pe long kang yang terletak di perbatasan Su cwan dan Kam siok, setelah menyebrang sungai mereka memasuki wilayah Su cwan yang terkenal sulit dan penuh bahaya.

Setelah tiba di daerah sulit perasaan Koan San gwat malah lebih longgar, mereka menginap disebuah rumah penginapan kecil, setiap hari kerjanya cuma makan minum dan pelesir dipinggir sungai besar, melihat pemandangan, sedikit waktu bertemu muka dengan Lu Bu wi, waktunya sebagian besar berada d luar.

Beberapa hari sudah berselang Lok Siau dan Lau Sam thay tidak sadar kalau Lau Sam thay tidak berani banyak bicara, Lok Siau hong sudah tidak tahan lagi, maka pada suatu pagi dikala Koan San gwat sudah siap berangkat, cepat ia memburu serta bertanya .

"Koan toako, kau hendak kemana lagi?"

"Hari ini aku akan tamasya ke Mo thian ling (bukit pencakar langit) konon puncak gunung itu sangat tinggi menembus awan, pemandangan disana lain dari pada yang lain!"

"Koan toako,"

Ujar Lok Siau hong kedatangan kita kesini bukan untuk bertamasya bukan?"

"Aku tahu, hidup ini sangat terbatas, mumpung ada waktu baiklah menikmati tempat tempat indah yang menyenangkan, kelak mungkin tiada kesempatan lagi!"

Lok Siau hong melengak, tanyanya.

"Koan toako apa maksudmu?"

"Tiada maksud apa apa, mungkin kau terlalu iseng karena senggang, baiklah hari ini kau boleh ikut!"

Lok Siau hong paham dimulut kedengarannya Koan San gwat bicara enteng, tapi urusan tentu tidak sepele, serta mendengar Koan San gwat hendak mengajak kesuatu tempat, karuan ia berjingkrak kegirangan.

Mereka menunggang unta dan kuda yang dibedal kencang, tidak lama kemudian sudah menempuh perjalanan pegunungan yang berliku liku menjurus kearah puncak gunung, Mo thian ling termasuk dalam wilayah Bing san, susun bersusun sepanjang ribuan li ke barat memasuki wilayah Ceng hay ketimur menjorok kepropinsi Ouw pak, merupkan pegunungan terpanjang.

Waktu hampir tiba dipuncak bukit, hembusan angin pegunungan sedemikian kerasnya awan menggembung dibawab kaki, seolah olah karena susah berpisah dengan dunia fana ini pohon siong dan Pek menjulang dan berdiri kekar, tumbuh subur dimana mana tersebar luas, burung bangau berterbangan, kera berloncatan dipucuk pohon, ternyata pemandangan di sini memang mempersonakan.

Selama hidup belum pernah Lok Sian hong melihat pemandangan seperti yang disaksikan sekarang, tak tertahan ia tuding sana tnnjuk sini seperti menari saja ia diatas punggung tunggangannya.

"Hati hati, jalananan disini tumbuh lumut dan licin sekali, kendalikan kudamu baik baik, jangan sampai terpeleset, kalau sampai jatuh kau bisa lenyap tanpa bekas!"

"Jangan kuatir, meski kudaku tak sehebat untamu, dia merupakan tunggangan yang lumayan juga, jalan pegunungan begini tidak bakal mempersukar dia...."

Tengah bicara tiba tiba kaki depan tunggangannya mendadak tertekuk kedepan entah tersandung apa, hampir saja ia terjengkang ke depan, untung gerak geriknya cekatan gesit sekali ia melesat kedepan, untunglah unya tunggangan Koan San gwat lekas menyusul tiba, leher panjangnya terulur menahan tubuh k da itu sehingga tidak tergelincir jatuh kebawah gunung.

Begitu menginjak tanah Lok Siau hong lantas mengayun cambuknya memecut pantat kudanya seraya memaki "Celaka, baru saja memuji kau, secepat itu pula kau bikin aku sakit"

Cepat menyampok cambuknya. Terdengar Koan San gwat berseru.

"Jangan kau ribut dan main pukul ditempat ini, kalau dia kesak itan dan mergumbar adatnya, sekali loncat tamatlah riwayatnya!"

Lok Siau hong memonyongkan mulutnya katanya bersungut.

"Tamat ya sudah, paling aku turun gunung jalan kaki."

"Enak berkata, dua hari lagi kita harus melanjutkan pejalanan, masa kau hendak menjadi buntut mengejar jalan kaki."

"Jadi harus berangkat lagi?"

Tanya Siau hong tertegun.

"Sudah tentu, kan belum sampat ketempat tujuan, aku sedang menanti bala bantuan dari pihak Ciong lam pay!"

"Tidak heran setiap hati kau bicara dengan Lu bu wi toako, sungguh aku kurang paham untuk apa kau memerlukan sedemikian banyak orang, kalau berkelahi masa mereka bantuan kau?"

"Aku tidak perlu bantuan mereka untuk berkelahi, yang jelas ada tugas lain yang lebih penting perlu bantuan mereka untuk mengerjakan!"

Lok Siau hong hendak bicara lagi tapi Khoan San gwat menggeleng kepala, katanya.

"Kau bukan anak kecil lagi, tapi sifatmu masih suka merengek masa nona besar masih suka merengek!"

Demikiin goda Koan San gwat.

Merah muka Lok Siau hong, selanjutnya ia banyak berdiam diri.

Sementara itu Koan San gwatpun sudah turun dari tunggangannya matanya menjelajah sekelilingnya akhinya ia menghela napas serta berkata mangut manggut.

"Tempat ini sungguh segar dan menyenangkan, semoga kelak akupun dapat memperoleh tanah subur nan sunyi begini, selama hidup terpisah dari keramaian dunia...."

"Apakah baiknya tempat ini.

"sela lok Siau hong.

"Kecuali mega pohon dan gunung serta burung dan binatang liar, kalau seng gang dan iseng untuk mencari orang ajak bicarapun tiada, kadang kala bermain man sih boleh, kalau selama hidup tinggal di tempat yang sepi begini, kalau tidak mati kebal sudah untung!"

"Nanti setelah usia mu dewasa kau akan tahu menikmati kehidupan bersih dan sunyi paling nikmat, akan datang saatnya kaupun bisa menyenangi tempat semacam ini!"

Mata Lok Siau hong berkedip kedip mendadak ia tertawa cekikikan, ujarnya "Koan Toako katamu tempat ini tiada jejak manusia?"

"Ya, pohon siong dan burung bangau yang diselimuti awan putih mengembang, seolah tempat kediaman para dewata saja tempat ini."

Mata Lok Siau hong berputar katanya.

"Dewa yang kau maksud tentu adalah Lu Tong pin dan Thi koay dari dongeng delapan dewa menyebrangi lautan itu bukan!"

"Kenapa kau bicara begitu?"

Tanya Koan San gwat melengak.

Lok siau hong berjingkrak sambil bertepuk tangan sahutnya "Karena Lu Tong pin paling suka minum arak, sedang Li Thi koay paling suka gegares (suka makan) sayup sayup sepeti terendus olehku bau arak dan daging panggang!"

Lekas Koan San gwat angkat kepala mengendus endus ia membenarkan ucapan orang katanya keheranan.

"Puncak gunung sedemikian tingginya ada siapa makan minum ditempat ini?"

"Sudah tentu para dewata! Manusia umum nya suka kehiduapan dewata yang sunyi dan suci, Sebaliknya para dewa menyukai arak dan daging buatan manusia, dapat disimpulkan bahwa konatradiksi di dunia fana ini memang terlalu banyak !"

Tergerak hati Kon San gwat dengan sikap serius ia berkata.

"Jangan kelakar, mari kira tinjau kesana!"

Lok Siau hong berloncatan cepat, ia berlari mendahului kedepan, terpakai Koan San gwat menguntit dibelakangnya, mereka menerjang kabut tebal dan langsung mamanjat lebih atas, tak lama kemudian bau arak dan panggang daging semak in keras, tak lama kemudian dia lantas batu besar yang menonjol keluar di kejauhan sana tampak bayangan dua orang sedang duduk berhadapan.

Seorang sedang angkat guci arak menenggak dengan lahapnya, seorang yang lain sedang gegares daging panggang dengan nikmatnya.

Koan San gwat mendekat maju, setelah jarak dekat dengan jelas ia sudah melihat kedua orang itu berusia lanjut pakaiannya biasa seolah olah mereka adalah tukang tebang kayu atau pemburu diatas gunung ini, maka perasaan dan waa was tadi menjadi kendor.

Lok Siou hong sangat terkejut sambil ia berkata kiranya tua bangka....

suaranya keras cepat Koan San gwat menggoyangkan tangan kepadanya maksudnya supaya bicraa perlahan supaya tidak didengar oleh mereka dan menimbulkan perkara, karena dandanan kedua orang ini, Koan San gwat menduga mereka pasti bukan orang sembarangan, bila terjadi pertengkaran, watak Lok siau hong berangasan itu tentu urusan bakal berpanjang.

Tak nyana Lok Siou hong tidak pedulikan isaratnya, dengan suara lantang ia berteriak lagi kukira dewata, ternyata dua kakek rencana hampir mampus, sungguh menyebalkan!

Koan San gwat kurang senang, baru saja ia menegor keberandalannya kedua orang tua diatas batu itu sudah bersuara.

Engli heng, ternyata ada manusia yang kita anggap bangsa dewata.

Orang yang bicara ini bermuka gemuk, seorang tua lain masih menenggak araknya, dengan sikap acuh tak acuh bermalas malasan ia menjawab.

"Seumpama kita anggap diri sebagai dewa kan tidak berkelebihan!"

Tergerak hari Koan San gwat, Lok Siau hong menjebirkan bibir dan mencemoh .

"Masa dewa seperti tampang kalian ini?"

Simuka gendut membanting tulans ditangannya, seraya berpaling dia tertawa, katanya .

"Nona cilik, coba katakan seperti apa sebetulnya dewa itu?"

Pertanyaan ini menyegal mulut Lok Siau hong, memang ia tidak bisa menggambarkan seperti apakah sebenarnya bentuk dewa itu.

Sikurus menurunkan guci araknya tertawa gelak gelak, sarunya "Aku Tong pin menengok arak sampai mabuk di Gak yang lau, padahal dia seorang gelandangan yang rudin, Thi koay sian adalah peminta sedekah nasi yang gelandangan sepintas pandang jauh lebih celaka dari kami berdua, masa kita berdua tidak menyerupai dewa malah."

Berdetak jantung Koan San gwat, Lok Siau hong malah bertepak senang, serunya.

"Mendengar percakapan kalian, jadi kalian adalah dewa asli?"

Sambil membersihkan kedua tangannya yang berlepotan minyak kebaju depan dadanya si gendut tertawa ujarnya.

"Kita hidup harus menikmati kesenangan, jiwa adalah yang paling berharga dalam dunia ini, dengan hidup senang dan bebas baru boleh dinamakan dewa"

Tergarak pula hati Koan San gwat, cepat ia bertanya.

"Siapakah gelarmu dewa kalian..."

"Sudah menjadi dewa masa perlu gelar lagi, nama sudah cukup dan lebih diagungkan!"

Si kurus cepat menjawab.

"Kalau begitu mohon nama dewa kalian?"

Koan San gwat menambahkan. Si muka gendut terbahak bahak sahutnya.

"Aku bernama It lun bing gwat, dia bernama Ban li bu in"

Dengan tenang dan penuh keyak inan Koan San gwat berkata .

"Kiranya kalian tokoh yang tercantum dalam daftar Sian pang ?"

Kelihatan kedua orang melengak, tapi tidak memperlihatkan reaksi yang berarti akhirnya sikurus bergelak tertawa, ujarnya .

"Siang pang (golongan dewa) atau Kui pang (golongan setan) apa segala! Kami tidak paham!"

Ucapan Kan San gwat memang sengaja hendak memancing belaka, dari sikap mereka terlihat delapan puluh persen ia yak in dugaannya tidak meleset, tapi lahirnya ia tetap tertawa tawa katanya.

"Karena ku dengar kalian menamakan diri sebagai Sian sian (dewa sakti) menyebut nama yang begituan lagi, maka kuurutkan nama kalian kedalam golongan dewa itulah."

"Kalau begitu kau salah terka"

Ujar si muka gemuk.

"Secara serampangan kita menarik sebuah nama untuk apusi kau. Hai, bocah, kau bernama apa?"

Koan San gwat berpikir pula lalu berkata "Banli koan san bu im (berlaksa li sepanjang gunung gunung tiada awan), It lun bing gwat tok bing (bulan sabit memancarkan cahaya tunggal)"

Si muka gendut tersentak kaget air muka nya berubah hampir saja ia hendak berteriak, keburu simuka kurus melorot kepadanya, cepat si muka gendut sadar dan mengubah kata.

"Bagus! It lun gwat tok bing, ucapanmu sungguh agung mengandung arti yang sesungguhnya, agaknya kau bocah ini pernah bangku sekolah, marilah silakan naik ikut merasakan daging panggang!"

Sembari berkata tangannya segera meraih kedepan mencomot segempal daging panggang terus dilempar dari jarak jauh, lekas Koan San gwat angkat tangan menyambuti terasa lemparan siorang tua cukup kuat sampai telapk tangannya tergetar sak it, hatinya jadi lebih mantap, Diwaktu ia menjelaskan makna namanya dia menyinggung nama Tokko Bing gurunya sengaja ia sisipkan nama gurunya ini didalam penjelasan itu, lantas tampak sigemuk terkejut dari mulutnya yang bergerak itu jelas ia hendak berseru.

"Tok,"

Namun karena delikan mata sikurus cepat ia mengubah seruannya, dari sini ia lebih yak in bahwa kedua ini pasti hubungan yang erat dengan Liong hoa hwe, Hong sin pang, Siau se thian dan lain lain yang selalu menjadi pemikirannya.

Akan tetapi sikap orang sangat rahasia betapapun ia harus mencari akal untuk mengorek keterangan mereka, maka sekian lama ia menjublek di tempatnya.

Kelihatannya Lok Siau hong ketarik oleh tingkah lucu kedua orang ini, apalagi setelah perjalanan jauh sejak pagi perutnya memang mulai lapar, dan daging pangang itu merangsang hidungnya lagi, maka air liurnya selalu ditelannya kembali, teriaknya.

"Ai, orang tua kenapa kau begitu kikir, ada daging panggang kenapa tidak bagi bagi kepadaku. Tingkah si gendut yang bernma It lun bing gwat itu lebih jenaka, katanya cengar cengir.

"Nona cilik, kau ingin makan daging panggang tapi ada syaratnya yaitu kau harus menjawab dua pertanyaanku dulu!"

Lok Siau hong jengkel, jengeknya "Kedua pertanyaan itu sangat gampang, aku cuma ingin menjajak kecerdikanmu!"

Penjelasan ini menarik Lok siau hong yang masih kekanak kanakan, tanyanya cepat "soal apa yang kau tanyakan?"

Sambil menuding hidung sendiri it lun bing gwat berkata .

"Pertama, kau harus menjelaskan kenapa aku dipanggil it lun bing gwat!"

Lok Siau hong cekikikan sahutnya.

"Wah gampang sekali kulihat mukamu yang gendut banyak dagingnya itu bukan, bukankah seperti bentuk rembulan yang bundar?"

It lun bing gwat tercengang, sebaliknya yang bernama Ban li bu in terloroh loroh, serunya.

"Gendut julukan mu memang cocok keadaanmu, sekali tebak tepat kena sasaran."

It lun bing gwat berpikir sebentar lalu berkata pula "Pertanyaan kedua harus menebak secara jitu pula, daging apa yang kupanggang ini."

Waktu Lok Siau hong pandang daging ditangan Koan San gwat, bentuknya selonjor paha ayam.

Diam diam ia membatin "Bila daging ayam sekali pandang pasti ketahuan, masa aku menebak...

tapi dari bentuknya ini pasti sebangsa daging burung ....

burung yang boleh dimakan sangat banyak, pasti besar kecilnya paha panggang itu dapat diperkirakan bentuk burung itu pasti cukup besar, sesast ia bingung dan sulit ambil kepastian, ia diam berpikir sekian lamanya.

Sebaliknya It lun bing gwat gelisah malah kuatir tidak tertebak sengaja ia menambahkan, daging ini setiap sast dapat didapatkan diatas gunung ini, coba kau memikirkan dari sumber yang dekat saja.

Lok Siou hong masih memeras otak, karena burung digunung bermacam macam, untuk menunjuk salah satu memang sulit, terpaksa It lun bing gwat memberi tambahan pula "Mahluk itu bisa terbang menjulang tinggi di atas awan!"

Cepat Lok Siou hong berteriak daging burung elang.! It lun bing gwat jadi lesu dan murung, katanya kesal.

"Betapa gagah nama julukanku masa gegares daging binatang yang menyebalkan itu!"

"Kalau begitu sulit ditebak,"

Sahut Lok Siou hong sambil merengut.

"Apa mungkin daging bangau?"

"Siapa bilang daging bangau,"

Teriak it lun bing gwat sambil menepuk paha.

"Tebakanmu jitu, mari silahkan mencicipi sekerat daging ini!"

Lalu ia mencomot sekerat daging lalu dilemparkan kepada Lok Siau hong.

Meski Lok Siou hong mengulur tangan menerima tapi secepat itu pula ia lempar ketanah hatinya mual karena tadi ia melihat sang bangau bertengger di pucuk pohon, sikapnya yang bebas dan tentram seperti seorang dewa yang mengasingkan di mana terpikir olehnya dagingnya bakal dipanggang dan digares oleh manusia.

Bergegas Ii lun bing gwat melopat turun dari atas batu besar menjemput daging panggang itu seraya menggerutu.

"Nona cilik tidak tahu kebaikan secara baik hati kuberikan panggang daging bangau ini kepada kau, agaknya kau tidak sudi menikmati kehidupan yang serba bebas menyenangkan ini, dibuang buang begini saja sungguh sayang!"

Dengan lapar ia masukan daging panggang kedalam mulutnya lalu dikunyah seperti orang kelaparan air liur membasahi pakaiannya. Lok Siau hong semak in mual, serunya gusar.

"Mengagulkan diri sebagai dewa, sedikitpun tidak punya rasa pengasih, sungguh menyebalkan!"

"Anak perempuan kenapa bicara begitu kasar,"

Ujar It lun bing gwat.

"kau tidak percaya betapa enak dan lezat daging panggang ini, tuh diatas masih ada, mari kau keatas, nanti kau cicipi sendiri!"

Sambil berkata ia ulur tangan hendak menarik lengannya, kontan Lok Siau hong menghardik keras, cambuk ditangannya melecut kepunggung orang, It lun bing gwat masih tersenyum simpul, membalik pergelangan ia mencengkram gagang cambuk orang.

Takkira permainan Ling coa piang hoat Lok Siau hong memang sangat hebat, sedikit pergelangan memelintir, gerak cambuknya berubah menggulung balik mengetuk punggung tangan orang karena perubahannya cepat serangan jitu lagi "plak"

Telak sekali punggung tangannya kena dilecut sekali.

Agaknya It lun bin gwat tidak mengira bila permainan cambuk cewek ini sangat menakjubkan, maka tangan tidak terasa sak it tapi merasa malu, bentaknya gusar.

"Nona cilik! Kenapa kau tidak tahu aturan."

Lok Siau hong pun berjingkrak gusar, teriaknya.

"Tua bangka menyebalkan, siapa yang tidak tahu aturan, siapa yang main tangan lebih dahulu?"

"Dengan baik hati Lohu ingin mengajak kau mencicipi daging panggang"

"Aku tidak sudi makan panggang bangau mu!"

Hati Lok Siau hong tidak kalah gasarnya. It lun bing gwat gusar menggerung "Selama hidup belum pernah keinginan Lohu ditolak orang secara mentah, kau harus makan sekerat dagingku ini!"

Sembari berkata jarinya berkembang hendak meraih lengan, lekas Lok Siau hong mengayun cambuknya seperti daun daun pohon berguguran melecut dari berbagai arah keatas kepala dan muka orang.

Adanya pelajaran pertama It Iun bing gwat kali ini berlaku lebih hati hati, meski perawakannya tambun namun gerak geriknya amar gesit dan lincah, kelit kiri menghindar kekanan selalu dapat berputar putar diantara sambaran bayangan cambuk.

Meski Lok Siau hong tidak berhasil menyerang sasarannya, namun permainan cambuk nya yang hebat itu dapat merintangi rangsakan lawan beginilah pergi datang mereka saling menyerang dengan serunya sampai puluhan jurus.

S i kurus Ban li bu in masih ungkang ungkang di atas batu sambil menghirup araknya, terdengar ia menggoda .

"Gendut! Semakin lama kau mak in tidak berguna, di Siau se thian kau diusil orang, untuk ini alasan cukup setimpal, hati ini kau kau dipermainkan gadis cilik serunyam ini, benar benar memalukan, menurut hematku lebih baik kepalamu ditumbuk keatas batu gunung saja biar mampus!"

Karuan It lun bing gwat berkaok kaok teriaknya "Ban li! Jangan kau ngoceh belaka, soalnya Lohu tidak melukai gadis cilik ini, kalau tidak cukup sejurus saja sudah kutamatkan riwayatnya...."

Setelah menenggak araknya Ban li bu in , berseru tertawa .

"Menghadapi seorang nona cilik, tidak malu kau bicara demikian, memangnya kau ingin menggunakan Thay im ciang yang jahat. Kini sudah sembilan belas jurus, masih sejurus lagi, bila kau tidak berhasil akan kulihat cara bagaimana kau akan tampil dihadapan orang banyak!"

Mendengar seruan ini cepat It lun bing gwat menerobos keluar dan melompat mundur ujarnya menghela nafas.

"Nona cilik! Kau membuat Lohu celaka, sengaja kau menggunakan akal mempermainkan aku, Lohu sudah terdesak sehingga tidak nyangka hari ini jiwaku bakal melayang ditanganmu!"

Lok Sian hong tercengang, serunya .

"Aku tidak bermaksud membunuhmu."

"Selama bertanding dengan orang, Lohu pantang dari dua puluh jurus sebaliknya aku harus bubuh diri saja, sekarang kita sudah mencapai jurus kesembilan belas masih sejurus belum tentu aku mampu meringkasnya kau... ai sudahlah, Lohu tidak ingin dikalahkan gadis cilik lebih baik kuturuti nasihat setan kurus menumbuk kan gunung saja!"

Habis berkata ia putar tubuh terus menerjang kearah batu besar di belakangnya.

Kaget Lok Siau hong bukan kepalang, tak terduga olehnya jiwa orang tua ini demikian keras dan ketus, cepat ayun cambuk hendak menggulungnya kembali, di luar perhitungan gerakan si orang tua terama.

"Blang"

Telak sekali kepalanya sudah menumbuk batu.

Sungguh aneh bin ajaib benturan keras itu ternyata tidak membuat kepalanya pecah malah badannya terpental balik dan sekali raih ia pegang ujung cambuk Lok Siou hong, sementara tangan yang lain menekan pundaknya, serunya sambil bergelak tawa.

"Nona cilik, kali ini berhasil kutangkap kau, mari keatas makan daging panggang."

Seperti bola yang tertendang badannya mencelat naik keatas batu besar yang tinggi itu meski membawa Lok Siau hong gerak geriknya masih sedemikian enteng dan gasiran, tapi baru saja ujung kakinya menginjak ujung batu, tiba tiba ia menjerit keras lekas ia lepaskan Lok Siau hong yang dikempitnya.

Dengan tenang dan cermat Koan San gwat mengikuti pertarungan mereka, ia tahu ilmu Silat kedua orang tua ini sudah mencapai tingkat tinggi, dan lagi dari mulut Ban li bu in tadi ia mendengar disebutnya Siau se thian, lebih meyak inkan pula dan dugaannya bahwa mereka adalah tokoh tokoh yang terdaftar diatas Hong sin pang dari sekian banyak anggota Liong hwa hwe yang serba misterius.

Lok Siau hong jelas bukan tandingan orang, cuma dalam pertarungan ini It hin bing gwat tidak mengerahkan tenaga dalamnya, ia tahu permainan cambuk Lok Siau hong pasti dapat melayani dengan baik maka ia tidak bersedia membantu orang.

Meski akhirnya Lok Siau hong teringkus, ia masih berlaku tenang karena ia tahu jiwa cewek itu tidak bakal terancam tapi dikala Lok Siau hong terbanting jatuh di atas batu besar, badannya terjerumus masuk jurang yang dalam, baru sekarang ia kaget, tepat ia melompat kedepan menangkap gagang cambuk serta menarik sekuatnya, untung jiwanya dapat di selamatkan.

Sambil memegangi sebelah tangan It hun bing gwat berdiri menjublek diatas batu, sebaliknya Koan San gwat gusar, bentaknya.

"Tua bang, kau tidak tahu malu terhadap gadis cilik kau bertindak secara keji."

Dengan bingung It hun bing gwat turun dari aras batu, katanya dengan lesu .

"Terserah apa yang hendak kau katakan! kau ingin berbuat apa kepadaku! Lakukan saja!"

Ban li bu in kelihatan sangat heran, dengan suara penuh prihatin ia bertanya "Bing gwat, kenapa kau, jelas kau sudah berhasil, kenapa kau lepas dia pula ditengah jalan."

It hun bing gwat menunduk murung tanpa bersuara, sebaliknya Lok Siau hong tidak menyadari betapa berbahaya dirinya tadi, dengan riang ia berseru tertawa.

"Koan toako. Aku menggunaka duri Ling coa diujung cambuk menusuknya...."

Konta Ban li bu in berjingkrak sambil meletakan guci araknya terus melompat turun teriaknya gusar .

"Walaupun sikap gendut terhadapmu kurang sopan, maksudnya tidak jahat terhadap kau kenapa kau gunakan akal licik, apa kau ingin membunuhnya?"

Lok Siau hong melengak gusar, semprotnya "Siapa ingin membunuhnya."

Ban li bu in menggerung serunya .

"Bila gendut berkelahi dengan orang, batasnya dua puluh jurus bila melampaui batas, dia rela menempuh jalan kematian, sejurus saja sebetulnya kau tidak mampu melawan dia. Tapi dia suka kelekar, maka sengaja dia memberi hati kepada kau, tepat pada jurus kedua puluh baru menundukkan kau, paling dia paksa kau makan daging panggang itu, sebaliknya kau pakai akal licik sehinga melampaui batasnya..."

"Kan dia yang membuat undang undang busuk itu, ada sangkut paut apa dengan aku,"

Demikian jengek Lok Siau hong.

"Kau menuduh aku menggunakan akal licik, cara dia meringkus aku tadi apakah tidak menggunakan akal licik."

Mulut Ban li bu in seperti disumbat, terdengar It hun bing gwat menghela napas, ujar nya.

"Sudahlah Kurus! terlanjur banyak bicara tak berguna, aku sendiri yang harus disalahkan kenapa guyon, akhirnya jiwa sendirilah yang harus kupertaruhkan!"

"Bing gwat!"

Ujar Ban li bu in dengan haru dan sedih! "Kematianmu sia sia aku ikut penasaran ..."

"Takdir sudah menentukan begini, apa gunanya penasaran, bila Sian pang dihidupkan pula masa jayanya, tergantung kepada mu saja ... ai. Sungguh tidak punya nyana setelah kita rancang bersama sekian lama, dikala tujuan hampir tercapai, aku harus menerima nasibku yang malang ini....."

Mendengar orang menyinggung, Siau pang, Koan San gwat menyeletuk.

"Tadi kutanya apakah kalian tokoh tokoh yang terdaftar dalam Siang pang kalian pura pura tidak tahu, kenapa sekarang mengelu malah apa sebetulnya yang terjadi?"

It lun bing gwat melirik kepadanya, ujar nya.

"Bocah! kau sudah tahu tidak perlu kau banyak tanya!"

"Aku tidak tahu, aku cuma pernah dengar kedua nama itu, maka aku ingin bertanya supaya paham seluk beluknya,"

Demikian sahut Koan San gwat.

"Tapi kami bisa menjelaskan kepada kau memang mulanya kami orang orang yang bercokol disana, karena suatu peristiwa nama kami sudah tercoret dalam daftar itu, sebelum nama kami direhabiliir ( dipulihkan ) tiada hak kamu mempersoalkan hal ini."

Koan San gwat tercengang tanyanya sesaat kemudian.

"Apakah kau betul betul membunuh diri?"

"Apakah urusanku ini boleh dianggap kelakar belaka?"

Semprot It hun bing gwat. Setelah berpikir Koan San gwat bertanya "Apakah tiada jalan untuk menambal kesalahan ini ?"

"Meski ada, apa kau kira lohu sudi memerimanya."

"Kalau begitu coba kau jelaskan."

"Kalau lohu tidak ingin mati maka selama hidup ini lohu harus patuh terhadap setiap petunjuk dan perintah nona culik ini, coba kau piker apakah aku harus menjadi kacungnya ?"

"Aku tidak perlu kau patuh dan tunduk padaku, urusan batal saja!"

"Tidak bisa Lohu harus tunduk pada sumpah, hal ini tiada sangkut pautnya dengan kau "Kalau begitu jadi tiada jalan keluar untuk menolong jiwamu..."

It lun bing gwat dan Ban ii bu in saling pandang dengan mendelu dan murung, sekian lama mereka bungkam seribu basa. Maka berkata Lok Siau hong.

"Kalau kau harus mampus kenapa menjublek saja?"

Sahut It lun bing gwat dengan suara lirih.

"Lohu sedang menunggu saat untuk melaksanakan suatu urusan demi kepentingan, inipun salah satu dari aturan yang menjadi sumpahku! Bila orang mampu bertahan dua puluh jurus, Lohu tidak bisa mematuhi perintahnya selama hidup, maka aku harus mewak ili dia melakukan suatu pekerjaannya, baru aku bunuh diri !"

"Kau memang aneh, untuk mati saja toh menggunakan cara yang berbelit belit"

It hun bin gwat marah serunya.

"Kau kira urusan ini gampang dilaksanakan? Padahal dalam jagat ini jarang ada orang yang mampu bertahan dua puluh jurus melawan kepandaian silatku, kalau kau tidak becus Lohu mana bisa tipu?"

"Jadi ilmu silatmu sudah mencapai taraf yang tiada tandingan di seluruh dunia ya!"

"Tidak, tapi kalau gebrak benar benar dengan mengerahkan seluruh kekuatan yak in dalam dua puluh jurus Lohu dapat menang, kalau menang tak perlu diributkan kalau tentu jiwaku tak akan selamat. Maka sengaja aku main main dengan sumpahku itu sungguh tidak nyana hari ini perahu terjungkal didalam selokan..."

Tiba tiba tergerak hati Koan San gwat, cepat ia berbisik dipinggir telinga Lok Siau hong, Lok Siau hong tersenyum girang lalu manggut manggut, katanya kepada It lun bing gwat.

"Katamu kau hendak melakukan sesuatu untukku, apakah urusan itu ada batasnya?"

"Tidak ada batasnya, apapun akan ku laksanakan sekuat tenagaku, bila benar benar tidak mampu akan kutebus dengan kematian..."

"Kurasa tidak perlu, urusan yang kuajukan ini sangat gampang, maka kau harus dengar baik baik."

It lun bing gwat menunggu dengan sikap sungguh sungguh dan perihatin, Ban li bu in pun mendengar dengan tegang, maka sepatah demi sepatah Lok Siau hong berseru .

"Aku minta kau menghargai jiwa ragamu sendiri, kalau tidak terpaksa kularang kau sembarangan mencari kematian..."

It lun bing gwat, melongo sekian lama, lalu memburu maju dan berseru gugup.

"Tidak boleh begitu, hal ini bertentangan dengan kehendak hatiku sendiri, aku tidak bisa menerima permintaanmu ini."

"Jangan kau lupa, kau sendiri yang membuat aturan itu, tugasmu hanya menerima perintah dan tiada hak menolak atau membangkang, untuk selanjutnya, kau harus makan minum dan hidup seperti biasa sampai hari tua."

It lun bing gwat terlongong, akhir nya berkata lesu .

"Budak kecil kau memang lihay, terpaksa aku harus menghamba kepadamu selama hidup dan mendengar perintahmu..."

"Apakah kusuruh kau melakukan apapun kau tidak boleh membangkang?"

"Benar,"

Sahut It lun bing gwat manggut manggut.

"Ini berarti aku mengikat diriku dengan ludahku sendiri, selama hdup aku tidak akan bebas dari belenggu ini."

"Baik! Kalau begitu aku ingin kau menjelaskan seluk beluk Liong hwa hwe dan Hong sing pang itu."

Berubah air muka It lun bing gwat, mulutnya ternganga tak bisa bicara.

"Perintah pertama sudah akan kau bangkang ya!"

Dengus Lo Siau hong kereng. It lun menghela napas panjang, baru ia hendak membuka mulut, Ban li bu in segera berteriak.

"Gendut! Bila kau buka mulut, maka aku akan melabrakan, karena itulah kewajiban, aku tidak hiraukan persahabatan kita selama puluhan tahun lagi."

It lun bing gwat rertawa getir, katanya.

"Ban li heng, lebih baik kau bunuh aku saja, supaya aku tidak menderita dalam melanjutkan hidup ini!"

Ban li bu in angkat telapak tangan nya yang berwarna kuning emas, It lun bing gwat pejamkan mata dengan tenang ia menunggu kematian. Lok Siou hong cepat berseru.

"Hai kenapa kau tidak melawan!"

"Kalau Kim hud ciang si kurus dilancarkan aku tidak akan bisa hidup lagi, perlu apa aku melawan?"

Lok Siou hong tidak percaya, tanyanya "Apakah dia lebih lihay dari kau?"

"Tidak!"

Ban li malah yang menjawab.

"Thay im ciang sigendut dapat juga membunuh ku dalam satu gebrak hingga mampus bersama, tapi aku yak in ia tidak akan berbuat demikian, karena aku berkewajiban membunuh dia, sebaliknya dia tiada hak buat membunuh aku."

Lok Siou hong jadi serba salah, cepat Koan San gwat memberi tanda kepadanya, cepat iapun berkata.

"Anggap batal, aku tarik kembali perintahku tadi, kini kuminta kau ikut kami meninggalkan tempat ini."

It lun angkat pundak dan menurut saja tanpa bersuara lagi. Sebaliknya Ban li naenjengek dingin.

"Jangan kau kira dengan membawa sigendut ke lain tempat lantas bisa mengompres keterangannya. Aku tidak akan melepas dia, kemana dia pergi kesitu aku datang, setiap waktu ku awasi gerak geriknya!"

"Kalau aku perintahkan mengusir kalian pergi bagaimana?"

Ejek Lok Siau hong.

"Kalau benar benar harus berkelahi kekuatan kedua belah pihak berimbang, akhirnya gugur bersama!"

Lok Siau hong kewalahan, terpaksa ia minta bantuan Koan San gwat untuk menentukan langkah selanjutnya. Agaknya Koan San gwat juga kehabisan akal, setelah termenung sesaat baru ia berkata.

"Baiklah, sementara waktu biar ikut kita, kelak kita bicarakan lebih lanjut."

Karena ribut ribut ini mereka sudah menghabiskan banyak waktu, terpaksa mereka putar balik turun gunung, meski kedua orang tua gendut gering (kurus) ini berjalan kaki, namun langkah mereka ternyata, tidak kalah cepat dengan lari kuda dan unta.

Waktu mereka sampai dipenginapan Lu Bu wi sudah gelisah menunggu mereka cepat ia memburu datang terus menyeret Koan San gwat kesamping tanyanya.

"Orang macam apakah kedua orang itu?"

"Harap jangan tanya, apakah bantuan kalian sudah tiba."

"Sudah tiba empat orang, Losiu sudah perintankan mereka bekerja sesuai dengan pesan Ling cu!"

Koan San gwat merenung sejenak, lalu berkata.

"Bagus! Hari ini kita lanjutkan wilayah Su cwan, kupercaya kalian tentu sudah tidak sabar menunggu bukan!"

Selama perjalanan Lok Siau hong, Lau Sam thay dan Lu Bu wi bungkam, dengan penuh perhatian mereka mencongklang kuda mengintil dibelakang Koan San gwat yang menunggang unta, sementara It lun dan Ban li berlari dipaling belakang.

Rombongan mereka hari itu tiba dibawah Kiam bun san, unta sakti yang menuntun jalan tiba tiba mengebaskan ekornya membelok kesebuah jalan kecil yang menembus ke atas gunung.

Ban li kelihatan gelisah, cepat ia memburu kedepan menghadang jalan seraya berseru .

"Kau tahu tempat apa yang hendak kau tuju?"

"Aku tidak tahu tempat apa di sana, tapi aku tahu di sana ada orang yang sedang kucari!"

Demikian jawab Koan San gwat tersenyum. Ban li tercengang, serunya serak .

"Kau hendak mencari siapa?"

"Seorang yang menggelari dirinya Thian ki mo kun!"

Pucat air muka Ban li bu in, suaranya tersendat "Kau punya hubungan kental dengan dia ?"

"Mesti pernah bertemu sekali, hubungan kental sih tidak. Aku kemari hendak menyelesaikan perhitungan kita yang belum selesai, dan lagi akupun ingin memecahkan beberapa persoalan yang sangat mencurigakan..."

"Tidak! Bocah bagus! Beberapa nama yang kau sebut tempo hari tidak akan dapat kau temukan di sana!"

Sejenak Koan San gwat tertegun, dilain saat ia berkata sambil tersenyum .

"Aku tahu tapi hanya Thian ki mo kun seoranglah yang mampu memberikan penjelasan dan jawaban kepadaku."

Ban li manggut manggut, katanya .

"Memang benar, tapi kau masuk pintu besar sarang iblis itu, jangan harap kau bisa keluar pula!"

"Untuk ini tidak perlu kau pusing bagi diriku, aku tidak minta kau ikut dalam perjalanan ini, boleh silahkan tinggal pergi."

Ban li bersungut duka, sesaat ia menyingkir lalu berpandangan dengan It lun.

Urusan sudah ketelanjur terpaksa harus menurut saja.

Di bawah petunjuk sang unta Koan San gwat memanjat kepuncak gunung, perjalanan nanjak ini rada sempit tapi banyak juga banyak cabang, begitu rumit simpang siur seperti sarang laba laba saja, tapi unta sakti itu seperti sudah kenal jalan, dengan enak saja ia berlenggang maju, setelah belak belok akhirnya mereka tiba didepan sebuah hutan gelap.

Entah kapan tahu tahu seorang paderi gundul bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang berkulit hitam dengan kedua biji mata berkilat kilat menghadang didepan jalan masuk sambil merangkap kedua tangan.

Dari atas tunggangannya Koan San gwat menjura serta menyapa "Toa suhu, harap memberi jalan!"

"Omitohud!"

Sabda sipadri tua sambil pejamkan mata.

"derita tiada ujung pangkal, kembalilah mencapai tepian, Siau sekalian harap sampai disini saja."

Koan San gwat tidak hiraukan ucapannya, katanya tertawa .

"Apakah Toa suhu sekomplotan dengan pemilik hutan ini?"

"Pinceng orang beribadah, mana boleh sekomplotan dengan mereka,"

Sahut padri tua itu sambil menghela napas.

"Lalu untuk apa Toa suhu mencegat jalan kami?"

Padri tua menuding It lun dan Ban li katanya .

"Karena kedua sahabat lama inilah maka Pinceng membujuk kalian supaya kembali saja...."

"Kepala gundul!"

Sela Ban li sambil tertawa dingin.

"Jangan kau pura pura saleh peristiwa dulu karena gara garamu, walau kejadian sudah berselang sepuluh tahun, tapi kami masih ingat akan kebaikanmu itu, kini kau masih pura pura berhati baik seperti kucing menangisi tikus belaka!"

Berubah sikap paderi tua katanya pelan .

"Terhadap kejadian pencoretan nama dulu agaknya kalian masih dendam sampai sekarang?"

It lun yang selama ini pendiam tak tahan lagi, dengan marah marah ia menyemprot .

"Sudah tentu! Beberapa tahun ini kau berusaha tekun maksudnya untuk memainkan nama baik kami diatas daftar Hong sio pang baru setelah itu kami akan membuat perhitungan dengan kau kepala gundul."

"Merindukan hidup kembali, nama terkekang terlibat keuntungan adalah belenggu kehidupan dengan susah payah Lolap mengeluarkan kalian dari lautan derita, kehidupan yang bebas betapa menyenangkan, kenapa kalian tidak insaf dan sesat pikiran malah."

"Cis! Enak benar bicaramu,"

Damprat Ban li bu in.

"Kenapa kau sendiri tidak mengundurkan diri?"

Perasaan si padri kembali tenang, sahutnya .

"Lolap berjanji dan pernah bercita cita hendak memberi keinsafan kepada seratus delapan anggota, bila sehari tugas ini belum selesai seharipun Lolap tidak akan merasa tentram..."

"Sudahlah !"

Ujar Ban li uring uringan.

"Sebal bicara deagan kau, lekas menyingkir saja !"

Paderi tua tertegun serunya .

"Andikata kalian tidak sudi mendengar nasehat Lolap, juga tidak perlu ikut masuk kesana, bila sampai terjeblos lagi di dalam maka selamanya kau akan tenggelam dan tidak akan mampu menitis kembali."

"Kepala gandul!"

Damprat Ban li berjingkrak gusar.

"Urusan kami tidak usah kau turut campur kau mau menyingkir tidak?"

"Ai, nasehat baikku sudah habis kuucapkan kalau kalian tetap tidak mau dengar Lolappun tidak bisa apa apa demi menanam kebaikan dengan sahabat lama baiklah Lolap mengantar perjalanan kalian selintas,"

Habis berkata ia membalik tubuh terus melangkah lebar kedalam hutan, jubah kasar nya yang longgar dan kedodoran melambai tertiup angin, bersamaan dengan itu seluruh seketika memancarkan cahaya kuning mas, sehingga hutan lebar yang gelap pekat itu menjadi terang benderang seperti di siang hari bolong, tampak sepajang jalan masuk kini tulang belulang manusia berserakan dimana mana.

Ban li memandang kepada It lun dengan berubah mukanya, serunya kejut.

"Tidak nyana kepala gundul ini sempurna melatih Kong bing hoat su."

Koan San gwat kaget dan heran, tanya nya.

"Siapakah Hweaio tua ini, begitu hebat lwekangnya..."

"Dia bernama Co hay ci hang (mengarungi lautan derita) soal yang lain tidak usah kau banyak tanya lagi."

Koan San gwat memang tidak banyak tanya lagi, unta dikeprak lekas lekas mengejar kearah sipadri tua yang lain lainpun membuntut dibelakangnya.

Hutan lebat ini ternyata tidak dalam, tak lama kemudan mereka sudah menembus keluar, cuma dikala berada dihutan tadi, mereka merasa hawa dingin menjalar keseluruh tubuh, bila mereka telah tiba di ujung hutan padri tua tadipun sudah tidak kelihatan bayangannya.

Dengan keheranan Ban li berkata.

"Untung kepala gundul itu menunjuk jalan, kalau tidak mana kita bisa selamat lewat Hek sa mo lim ini, sungguh tidak nyana Thian ki si iblis tua itu makin lama semakin lihai!"

"Iblis tua? Maksudmu Thian ki mo kun seorang iblis tua?"

Tanya Koan San gwat heran.

"Bukankah kau pernah ketemu dia?"

Balik tanya Ban li heran.

"Tidak salah, tetapi Thian ki mo kun yang kutemui adalah seorang pemuda, nama nya Ki Houw !"

Berubah air muka It lun dan Ban li lama mereka terbungkam, Koan San gwat tidak tahu kenapa mereka membisu diri, tapi didepan sudah dilihatnya sebarisan bangunan rumah yang tegak menjulang ditaburi kabut tebal, ia segan banyak tanya, unta dikeprak lalu membedal menuju kearah itu.

Waktu mereka tiba didepan deretan rumah itu mereka dihadang sebuah pigura besar tiggi, diatas pigura terukir empat huruf "Thian ki piat hu"

Yang berwarna kuning emas menyala.

Dikedua pinggirannya terdapat dua deret syair panjang, Koan San gwat mendengus mengejek membaca kedua bait syair yang takabur dan ugal ugalan maknanya.

Tepat pada saat itu pintu gapura terbuka dari dalam pintu beruntun keluar sebarisan anak anak kecil seragam hijau, usianya diantara dua tiga belasan, laki dan perempuan terbagi rata, seorang bocah yang memimpin segera bertanya dengan sikap pongah "Kalian setan gentayangan dari mana berani masuk kemari?"

Walau usia bocah ini masih kecil, tapi cara bicara terlalu kurangajar, kalau Koan San gwat tidak ambil peduli, Lok Siau hong naik pitam, kontan ia ayun cambuknya dan melecut keras mengenai pipi bocah laki laki itu.

Dihajar pecut seketika berubah air muka sibocah, bentaknya bengis.

"Perempuan busuk, berani kau pukul aku!"

Sebat sekali tiba tiba tubuhnya berkelebat seperti bayangan setan menerjang tiba, sudah tentu Lok Siau hong tidak nenduga, sehingga orang berhasil melesat tiba didepan badannya, pecut tidak sempat ditarik kembali pula, terpaksa ia gunakan kepalan tangan yang lain menggenjot kepala sebocah.

Maka terdengarlah bocah itu membentak keras.

"Menggelindinglah turun!"

Tiba tiba tubuhnya mengkeret kebawah menghindar jotosan Lok Siau hong berbareng ia julurkan sebuah kakinya menendang kaki kudanya.

"Krak krak"

Beruntun dua kali suara patah kaki belakang kuda tunggangan Lok Siau hong disapu patah, karena kesakitan kuda itu berbenger panjang, Lok Siau hong terjengkang jatuh.

Tatkala itu Li lun sudah mendesak maju, sekali ulur telapak tangannya telak sekali menggaplok kepunggung sibocah, mulut pun membentak.

"Iblis kecil kurang ajar berani kau mengumbar adat dihadapanku."

Pukulan telapak tangannya ini teramat lihay dan ganas sekali, kontan bocah laki laki itu membuka mulut menyemburkan darah segar badannyapun mencelat terbang setombak lebih.

"bluk"

Terbanting keras den jiwanya pun melayang.

Barisan bocah bocah kecil itu seketika gempar semua berlari mulur rada jauh.

Saat mana kebetulan Lok Siau hong baru melompat bangun, melihat bocah laki laki itu dipukul mampus oleh Ban li bu in, ia jadi gusar, sentaknya.

"Kau tua bangka ini, kenapa kau melukai orang..."

"Nona cilik,"

Ujar It lun menghela napas.

"Karena selanjutnya Lohu terkekang olehmu, terpaksa harus selalu melindungi keselamatan, kalau tadi Lohu tidak cepat turun tangan, mungkin jiwamu sudah melayang karena keganasan iblis kecil itu..."

Belum lagi Lok Siau hong sempat bicara, dari dalam pintu muncul pula sebaris orang yang keluar adalah laki dan perempuan yang cukup dewasa, mereka mengunjuk rasa gusar.

Jumlah barisan itu hanya sembilan orang laki perempuan bercampur aduk, mereka punya pertanda khusus yaitu selebar muka mereka diselubungi hawa kebengisan, jelas bahwa mereka bukan orang baik.

Terutama laki laki yang menjadi pemimpin mereka paling jelek dan culas, jidatnya gundul tumbuh uci uci sebesar kepel tangan, dengan gerungan gusar ia membentak it lun dan Ban li.

"Kiranya kalian dua mestika yang di keluarkan dari daftar nama, sungguh besar nyali, berani membuat keributan di Phiat hu, agaknya sudah bosan hidup ya!"

It lun angkat kepala menegadah kelangit, sedikitpun ia tidak hiraukan ocehan orang.

Ban li pun hanya mendengus hidung tanpa bersuara, mukanya mengunjuk senyum ejek menghina.

Laki laki itu berteriak pula.

"Kenapa kalian tidak bicara?"

It lun lantas berdaling kepada Koan San gwat, serunya.

"Bocah, kaulah yang ingin meluruk kemari, kini saatnya kau bicara..."

Belum lagi Koan San gwat memberi reaksinya, laki laki itu sudah berteriak lagi.

"Aku sedang bertanya kepada kau berdua!"

Tiba tiba It lun mengunjuk rasa gusar, jengeknya "Meski nama kami sudah tercoret dari daftar, kami tidak sudi bicara dengan hamba iblis yang rendah!"

"Keparat"

Maki laki laki itu berjingkrak.

"Kau pongah apa? Apakak kita tidak termasuk tokoh tokoh dalam daftar nama itu?"

It lun tersenyum ujarnya .

"Enak benar kedengarannya sayang kalian sepuluh orang baru memperoleh satu kedudukan, bilamana hendak angkat bicara dengan kami, maka pentolan kalian yang harus bicara dengan kami."

Semakin berkobar amarah laki laki itu, teriaknya .

"Lotoa sedang ada urusan didalam!"

"Kalau begitu kami tidak sudi melayani kau !"

Jengek It lun sambil menjebirkan bibir. Baru saja laki laki itu buka mulut hendak berkaok kaok lagi, Ban li segera menyela sambil menarik muka, katanya "

Diantara Sip toa cu hun (sepuluh sukma gentayangan), aku hanya kenal rasul baju ungu, jangan kau kira karena kami sudah tercoret namanya lantas berani main tingkah terhadap kami, kalau sampai terjadi keributan, kalian sendiri yang menanggung akibatnya !"

Ancaman ini membawa reaksi diluar dugaan, meski laki laki itu memperhatikan rasa gusar yang meluap luap tapi tidak berani bersahut lagi, demikian juga lainnya, cuma mata mereka melotot semakin besar dan berapi api.

Ban li malah tertawa dan berkata kepada Koan san gwat .

"Bocah! Nama asli keparat itu adalah Tok kak se (badak tanduk tunggal), kau tahu sebabnya?"

Koan San gwat tidak bersuara, malah Lok Siau hong balas bertanya .

"Kenapa?"

"Karena jidatnya tumbuh sebutir uci uci besar, keras dan runcing lagi, persis dengan tanduk badak itu, maka ia memperoleh julukan yang membanggakan itu."

"Tapi kenapa sekarang tinggal tembong nya saja?"

Tanya Lok Siou hong, sambil melirik kemuka orang. Sambil tersenyum geli agaknya Ban li memang sedang menunggu pertanyaan ini lintas menjawab .

"Itulah kisah yang sangat lucu, dalam perjamuan besar besaran, diantara hadirin ada sepuluh orang mengadakan lomba membunuh kerbau, akibatnya tanduk tunggal diatas jidatnya itu dicabut sampai copot dari tempatnya. Tahukah kau siapakah pemberani yang mencopot tanduK itu..."

"Tentu kau adanya!"

Lok Siau hong sambil membelalakan mata. Ban li terbahak bahak, serunya.

"Nona cilik, kau pintar benar, sekali tebak kena dengan jitu..."

Saking gusar laki laki itu pucat pias, bekas tembong diatas mukanya itu malah berwarna merah membara, sekian lama ia menahan sabar kini tidak tahan lagi, dengan bengis ia berteriak "Ling Sam kui!

kau terlalu menghina orang!"

Ban li juga balas berteriak dengan beringas.

"Berani kau menyebut nama asli Lohu, kau tahu, apa dosamu?"

Bermula laki laki itu tertegun, akhirnya ia nekad, serunya.

"Kau orang yang sudah di usir, memang nama aslimu kiranya tidak menjadi soal..."

Ban li terkekeh kekeh dingin jengeknya "Bagus!

Sekian lama Lohu maninggalkan Perserikatan ini, kiranya aturan boleh dirubah sesuka hati, untunglah Thian ki Piat hu justru tempat perundang undang, nanti Lohu akan cari orang untuk menanyakan hal ini secara jelas!"

Berubah hebat air muka laki laki itu, dengan kalap ia melejit sambil ayun kepalan menonjok muka Ban li bu in, Ban li bu in diam saja ditempatnya, tidak berkelit dan tidak balas menyerang, mandah dirinya dihantam.

Begitu kepalan lawan mengenai dadanya terdengarlah suara keras, kontan laki laki itu tergentar mundur beberapa tindak malah, terdian temannya yang lainnya pun segera siap siaga.

"Wah, kalian handak berontak ya!"

It lun segera membentak maju. Bentaknya ini laksana geledak mengguntur semua orang melengak dan kuncup nyalinya, semua menghentikan langkah. Laki laki pertengahan umur itu berteriak .

"Para kerabat, kedua tua bangka ini berani terobos masuk kesini membawa orang luar pula, dia sudah melanggar pantangan kita, mari kita menghajarnya, pasti tidak melanggar aturan."

Mendengar anjuran ini teman temannya bergerak lagi Sekonyong konyong dari dalam pintu berkelebat keluar sesosok bayangan, yang muncul ini berpakaian sastrawan berusia pertengahan umur juga, jubahnya ungu, berhidung betet bermata bundar, wajah nya mengunjuk kekerasan hatinya.

Karena munculnya sastrawan ini, orang yang mulai bergerak itu menghentikan aksi nya, laki laki pertengahan umur, cepat maju memapak seraya berkata .

"Toako, kebetulan kau tiba, dua tua bangka ini datang membikin onar dia membunuh salah seorang Tong cu penjaga pintu,..."

Muka Ban li mendengus, serunya .

"Rasul ungu, kau masih kenal kami?"

Sastrawan itu unjuk senyum lebar, katanya .

"Kalian adalah pahlawan dalam serikat kita, meski karena sedikit pertikaian sampai rercoret namanya, tapi para kerabat masih segan terhadap kalian, kedudukan kalian masih kosong dan menunggu untuk dijabat kembali, kita semua percaya adakalanya kalian akan memulihkan kedudakan dan jabatan ini..."

Ban li mengunjuk tawa lebar, katanya .

"Kalau begitu, agaknya kami dua dua tua bangka belum menemui jalan buntu sehingga tiada tempat untuk menempatkan diri kami!"

Rasul ungu tersenyum, katanya.

"Anggapan yang tidak benar, siapapun bila sudah tercantum dalam daftar Hong sio pang selama hidup menjadi tokoh diagungkan didalam Liong hwa hwe, kalian sudah memendam diri dan memperdalam ilmu sekian tahun, kuduga tentu sudah punya persiapan untuk kembali bukan?"

"Ah, kau terlalu mengumpat saja"

Ujar Ban li.

"Walau kami ada sedikit kemajuan, kami belum kuat menyambut Lui Sam ki itu!"

"Kalian sangat merendah diri, untunglah pertemuan besar sudah menjelang percaya kalian akan memberi pertunjukan yang mengejutkan."

Demikian umpat si rasul ungu. Mendadak it tun menyela, jengeknya.

"Tapi Tok kak se berani menyebut nama asliku kalau begitu sip toa yu bun kalian lebih sukses dari Sian pang kami, sejajar dengan para Hwe cu. Kurasa kalian agak tergess gesa, bagaimanapun kalian baru boleh mengumumkan berita girang ini pada pertemuan yang akan datang!"

Rasul ungu kelihatan terkejut, tanyanya "Lohu, apa benar demikian?"

Laki laki pertengahan umur gelagapan, sahutnya "Mereka menghina orang diluar batas sengaja mengorek boroku buat olok olok ..."

Rasul ungu menarik muka, desisnya.

"Lo kau memang ceroboh! Dulu Hu lo maksudnya Ban li membunuh sapi mencopot tanduk tidak lah permainan yang diijinkan oleh Hwe cu, meski hatimu tidak senang, mana boleh kau salahkan Hun lo, karena itulah permohonan langsung..."

Pucat pias wajah laki laki pertengahan. Sambil unjuk seri tawa segera rasul ungu menjura kepada Ban li, katanya.

"Sudilah kiranya Hun lo memberi ampun kali ini?"

Ban li tertawa dingin ujarnya.

"Waktu nama kita dicoret, siapa yang memberi maaf kepada kami? Apalagi disini adalah Thian ki hiat hu, konon Mo kun sudah ajal."

"Benar! Mo kun sudah berangkat ke alam baka, kini putranya yang melanjutkan jabatan beliau."

Demikian rasul menjelaskan Ban li menghela napas, ujarnya.

"Bila Liong hwa hwe dibuka lagi, mungkin banyak diganggu oleh muka muka baru !"

"Cuma tujuh belas orang sudah ajal, mereka sudah mencalonkan penggantinya kebanyakan adalah anak murid perguruan mereka, yang jelas kepandaian dan kemampuan mereka lebih asor, maka dapatlah diduga pertemuan mendatang akan jauh lebih ramai."

Tanya Bangli .

"Bagaimana calon Mo kun yang baru ini bila dibandingkan Ki loji? bisakah dia melompat keurutan Sian pang dan ikut merebut jabatan Hwe cu?"

Rasul ungu menjelaskan dengan bangga.

"Mo kun yang baru ini lebih gagah dalam segala bidang kiranya tidak lebih asor dari Mo kun yang sudah ajal, untuk jabatan Su tay hwe cu pasti beliau bisa memperolehnya."

"Maka nya kalian berani mengagulkan diri saat mana kedudukan jadi sederajar, tak heran To kak se bersikap pongah memanggil nama asli Lohu, kiranya kalian memang sudah mempersiapkan diri!"

Berubah air muka Rasul ungu, katanya .

"Apakah Hun lo benar benar tidak sudi memberi ampun?"

"Lohu tidak kuasa untuk memberi keputusan, silahkan tanyakan langsung kepada Mo kun kalian" -oo0dw0oo-

Jilid 10 Rasul ungu menghela napas, apa boleh buat ia berpaling sambil angkat pundak, katanya "Losu ! silahkan kau mengambil keputusan sendiri!"

Pucat muka laki laki pertengahan umur ratapnya."Toako, hanya karena urusan sekecil ini, tega kau memaksa adikmu mati?"

Rasul ungu menghela napas, katanya.

"Kakakmu yang bodoh ini sudah tiada tenaga membelamu lagi, kau yang mencari penyakit sendiri....."

"Kenapa kau tidak tanya Mo kun,"

Teriak laki bertenghan umur.

"Mungkin dia..."

"Tiada guna,"

Tukas Rasul ungu.

"Belum lama Mo kun menjabat kedudukan ini, saat nya dia menegakan kewibawaan, mana boleh karena kesalahanmu ia melanggar undang undang dan merubah haluan, kalau kejadian diketahui olehnya, dosamu lebih berat, lebih baik kau mencari putusan yang lebih ringan saja !"

Laki laki pertengahan umur membanting kaki, teriaknya "Tidak jadi soal aku mati, tapi putusan hak ini mengutamakan keadilan.

Kedua tua bangka ini meluruk kemari sambil membawa orang luar, bukankah dia melanggar hukum yang lebih besar, aku akan menunggu setelah melihat mereka dihukum baru aku mati dengan meram."

Rasul ungu berpaling kearah It lun dan Ban li, pandangannya mengunjuk tanda tanya. Kata Ban li tersenyum "Rasul sedang menunggu apa?"

"Menunggu penjelasan kalian!"

"Rasul! kau pernah menghadiri dua kali pertemuan besar, kenapa soal aturan kau semakin bingung, meski ada persoalan perlu kami lapor kepadamu?"

Berubah air muka Rasul ungu, katanya berpaling "Losu!

Kau sudah dengar nama dan kedudukan, kakakmu tidak membelamu lagi....

cuma kau tidak usah kuatir, mengingat hubungan kita selama beberapa tahun ini, aku pasti memperjuangkan keadilan ini."

Laki laki pertengahan umur bungkam tak bersuara, setelah Rasul ungu mendesaknya, tiba tiba ia jejak kedua kakinya badan nya melejit jauh kedepan sana berusaha melarikan diri.

Sekali lompat tiga empat tombak tubuhnya melesat lewat atas kepala Koan San gwat dan lari bagai burung yang ketakutan daya terbangnya amat pesat sekali, tapi begitu kedua kakinya hinggap ditanah mendadak langkahnya terhuyung huyung kedepan terus roboh terkapar dan tidak bernyawa lagi.

Waktu Rasul ungu memburu kesana dilihatnya tujuh lobang indranya sama mengeluarkan darah segar, punggungnya tertancap tiga duri hitam, seketika berubah air mukanya sesaat ia berdiri terlongong.

Sebuah suara berseru dingin dari dalam pintu .

"Siau It ping! Bagus benar didikan mu terhadap para saudaramu!"

Koan San gwat kenal suara Ki Houw, baru saja ia hendak bersuara, dilihatnya Ban li memberi pelirikan mencegah ia bersuara.

Siau It pang adalah nama dari Rasul ungu itu, dengan tergopoh gopoh ia balik dan berdiri tegak di pinggir pintu, sedunya lirih.

"Hamba menunggu putusan Mo kun!"

Terdengar tawa dingin dari dalam pintu, katanya .

"Sekarang aku tidak ada waktu buat cerewet dengan kalian, selanjutnya kau harus memberi gemblengan dan ujian berat terhadap sisa temanmu itu, kalau masih ada keparat yang takut mati, kaulah yang harus bertanggungjawab seluruhnya! Bawa para tamu!"

Rasul ungu mengiakan, teman temannya yang lain mengunjuk rasa takut yang berlebihan.

Hati Koan San gwat teegerak lagi, dari percakapan yang singkat ini, selapis ia lebih paham tentang berbagai persoalan Liong hwa hwe tapi timbul pula pertanyaan pertanyaan lain yang lebih penting lagi.

Terutama pemuda yang bernama Ki houw itu, agaknya memegang satu kekuasaan besar sehingga bawahannya yang terkenal kejam dan bengis bengis itu tunduk dan takut kepadanya.

Demikian juga Lok heng kun, Lok siang kun dan Liu ju yang patuh pula akan perintahnya, sebetulnya apakah yang terjadi?

Kalau Liong hwa hwe merupakan organisasi jahat yang memupuk banyak dosa.

Maka gurunya yang berbudi , serta Hwe thian ya ce Peng kiok jin dan kedua kakek tua ini It lun dan Ban li mereka bukan orang jahat, tapi kenyataan pun terdaftar sebagai anggota.

Kalau merupakan perserikatan dari kaum cendikia dan pendekar, sepak terjang Ki houw yang serba menyeleweng ini jelas adalah seorang durjana yang harus ditumpas, mana bisa dia menempati kedudukan yang begitu penting.....

Dalam pada itu Rasul ungu sudah membalik serta berkata sambil menjura .

"Mo kun mempersilah kan para tamu masuk kedalam!"

Baru saja Ban li angkat langkah, tiba tiba Koan San gwat membentak .

"Nanti dulu! suruh Ki Houw keluar menyambut."

Berubah air muka Rasul ungu, serunya mendelik.

"Siapa kau? Berani kau kurang ajar..."

"Kau tanya kepada Ki Houw, dia tahu siapa aku."

Kata Koan San gwat sambil merogoh Bing tho ling, sekali ayun.

"Tang"

Sekeping lencana kebesarannya itu melesak kedalam daun pintu besar di dalam sana, lalu dengan suara yang lebih lantang ia berseru ke arah dalam.

"Ki Houw aku tidak perduli apa kedudukanmu disini, hari ini aku kemari sebagai Bing tho ling cu untuk menyelesaikan perjanjianmu di Tay san koan tempo hari kau ingkar janji sudah sepantasnya kau keluar mohon maaf kepadaku!"

Suasana dalam pintu sunyi senyap Koan San gwat makin gusar, teriaknya .

"Unta terbang! Kau hendak pamer apa sebagai Bang tho ling cu yang besar dan agung memangnya aku harus menghadap kedalam ."

Rasul Ungu menunjuk rasa gusar, baru saja ia mengulur tangan hendak mengeluarkan Bing tho ling dari dalam pintu mendadak terdengar perintah Ki Houw.

"Jangan disentuh!"

Perintahkan mengatur barisan kebesaran, Pun coh hendak keluar.

Seketika Rasul ungu mengunuk rasa heran dan tidak mengerti, sekilas ia pandang Koan San gwat, agaknya ia kurang paham akan asal usul pemuda yang garang ini tapi ia tidak berani ayal, lekas ia mengeluarkan dua papan baru jadi "plak, plak, plak!"

Beruntun ia membunyikan enam kali tiada ketukan.

Koan San gwat dan Lok Siau hong sudah pernah dengar apa apa yang dinamakan Hun Pan liuk con yaitu pertanda kedatangan Thian ki mo kun.

Sementara sip tau su hun semua berdiri dengan meluraskan kedua tangan.

Hanya Koan San gwat yang masih tertawa, dengusnya "Pertunjukan tengik dan bermuka muka belaka!"

Rasul ungu melirik kearahnya, tapi tidak berani bersuara.

Dari dalam pintu kembali muncull barisan bocah bocah kecil tadi, karena kurang satu, pembagian laki perempuan ganjil dan kurang rajin kelihatannya.

Tapi keadaan dalam pintu masih hening lelap, Ki Hau tidak kunjung keluar.

Setelah menunggu sebentar Koan San gwat menjadi hilang sabar, teriaknya.

"Unta terbang! Kau masih hendak pamer kekuatan apa lagi?"

"Koan San gwat!"

Terdengar Ki Hou menyahut dingin "Bersabarlah, tempat ini jangan kau banding Sip yang san ceng, segala gerak gerik disini harus mementingkan jabatan dan aturan!"

"Adanya barisan tetek bengek ini menunjuk jabatanmu sudah cukup besar, masih main ulur waktu apa lagi?"

Ki Houw tidak hiraukan dia lagi, tiba tiba ia berteriak lebih keras.

"Siau It ping, kihitung dari satu sampai sepuluh, bila kau belum bisa menyelesaikan tugasmu, terpaksa kepalamu lah yang harus menebus dosamu!"

Rasul ungu mengunjuk rasa bingung dan gelisah kepalanya celingukan kian kemari, tidak tahu dimana letak kesalahan, sementara hitungan dari dalam sudah dimulai, setiap hitungan laksana pentung besi mengetuk ulu hatinya.

Dikala hitungan sampai angka enam keringat dingin sudah membasah kuyup seluruh badannya, para Yu hun yang lainnyapun ikut menjadi tegang dan menanti perkembangan selanjutnya.

Dari dalam pintu terdengarlah hitungan angka "Sembilan"

Tiba tiba tergerak hati Rasul ungu, sebat sekali ia melesat terbang kesaping seorang bocah perempuan, telapak tangannya mengeprak kebatok kepalanya.

Disaat jazat perempuan itu terkapar roboh, kebetulan terdengar hitungan angka "Sepuluh"

Dari dalam pintu.

Koan San gwat dan Lok Siau hong beramai melongo, dari dalam pintu kelihatan bayangan Ki Houw sedang melangkah keluar, ia mengenakan pakaian kebesaran sutra bersulam indah, sikapnya jauh berlainan dengan tingkah laku waktu berada di Si yang san ceng tempo hari.

Tiba di tengah barisan itu tersenyum sembari kerkata.

"Untung kau bertindak cekatan kalau tidak mayat ditanah ini mungkin kau sendiri adanya!"

Sambil bicara tangannya menuding mayat perempuan cilik yang hancur batok kepalanya, sikapnya wajar seperti tidak terjadi apa apa. Koan San gwat tidak kuasa mengendalikan amarah lagi, teriaknya keras .

"Ki Houw! Kau ... bukan manusia...."

"Saudara terlalu mengumbar napsu, kejadian ini tidak bisa salahkan aku, aku sudah merendahkan permintaanku...."

Saking marah Koan San gwat tidak kunjung mengeluarkan suara, telunjuknya masih menuding orang, sementara bibirnya bergerak gerak. Ki Houw acuh tak acuh, ujarnya.

"Sesuai jabatanku sekarang, seharusnya perlu delapan pasang barisan anak kecil, tapi satu sudah terbunuh sehingga Propesi seharusnya lengkap menjadi ganjil aku menurunkan perintah membunuh satu diantaranya supaya klob, hal ini sudah merendahkan derajat, jadi kalau diusut kalian yang harus berranggung jawab."

It lun bin gwat garuk garuk lalu bersuara.

"Soalnya terpaksa Lohu membunuh salah seorang barisan Mo kun, karena dia melancarkan Thian mo ci (jari iblis langit) terhadap Nona Lok...."

"Memang setimpal kematiannya itu, tapi apa Bing gwat tidak terlalu mencampuri tetek bengek ini."

Sindir Ki Houw. It Iun batuk batuk lagi, lalu katanya."

Mati hidup nona Lok secara langsung menyangkut kepentingan Lohu, tindakan Lohu tadipun demi urusan besar dibelakang hari sebab sampai sekarang Lohu belum memperoleh ahli waris, jikalau sampai ajal, mungkin jabatan di Sian Pang menjadi kosong."

"Cara bagaimana Bing gwat yang bisa mengikat hubungan mati hidup dengan nona cilik ini?"

"Kau jangan ngaco belo!"

Semprot Lok Siau hong gusar.

"Dalam suatu pertandingan dia kukalahkan maka harus patuh dan mendengar perintahku!"

Ki Houw bersuara heran.

"Ada kejadian begitu? Mungkin usia Bing gwat yang sudah terlalu lanjut, lwekangnya sudah susut, tidak seperti dulu...."

Kata Bing gwat sambil menahan gelora harunya "Kekalahan Lohu tiada hubungan dengan lwekang semua ini sudah ditakdirkan oleh Thian!

Mo kun tidak usah membakar amarahku, dalam Liong hwa hwe kelak, Lohu akan beri kesempatan mohon petunjuk pada Mo kun, tapi sekarang Lohu tidak akan terjebak dalam tipu daya Mo kun!"

"Memang Bing gwt yang tidak malu sebagaai lombok tua yang pedas, maksud baik ku menjadi sia sia belaka, dalam Liong hwa hwe yang akan datang semestinya Pui cun akan mencalonkan dua sahabat baikku!"

It tun melengos tidak meladeninya lagi. Terpaksa Ki Houw berpaling kepada Koan San gwat serta berkata .

"Sungguh aku harus minta maaf karena tidak hadir dalam perjanjian di Tay San Koan, tapi istriku sudah mewakili aku, sedikit banyak sudah menberi pertanggungan jawabku, ilmu sakti saudara memang tiada bandingan, sungguh harus dipuji hari ini saudara meluruk kemari, entah ada petunjuk apa?"

"AKU TUNTUT pertanggungan jawabmu tentang lencana Unta terbangmu."

"Bukankah aku suduh patuh akan permintaan mu, sebelun kami menentukan menang dan kalah aku tidak akan menggunakan Lencana Unta terbangku."

"Bagaimana pula perhitungan Puluhan jiwa murid Cong lam pay?"

"Itu adalah urusan istriku dengan pihak Ciong lam pay tiada sangkut pautnya dengan aku dan kau !"

"Siapa bilang tiada sangkut pautnya. Aku sudah menerima permintaan pihak Ciong lam pay untuk menuntut balas bagi anak murid mereka."

"Saudara memang suka campur urusan orang lain. Kalau begitu kau harus membuat perhitungan dengan istriku, sekarang istriku sedang menunaikan tugasnya tidak bisa melayani kau, apakah saudara sudi menunggu beberapa hari?"

Koan san gwat melengak, sikap Ki Houw tenang dan dingin "Tidak lama, dalam waktu yang pendek tentu kami akan memberi keputusan kepada saudara, dan lagi persoalan lencana kami beduapun perlu dibereskan sekalian."

Koan San gwat menerawang bagaimana ia lantas menghadapi keadaan selanjutnya. Terdengar Ki Houw sudah mengajukan pertanyaannya lebih dulu .

"Dari jauh saudara meluruk kemari, bukankah kau hendak mencari jawabanku ?"

"Benar,"

Sahut Koan San gwat manggut.

"Apa itu Siau se thian, Liong hwa hwe dan Hing sin peng segala, bisakah kau member penjelasan selengkapnya kepadaku ?"

"Sudah tentu boleh! Tapikau harus member tugas umumku lebih dulu !"

"Tugas apa?"

Kata Ki Houw sambil menuding tangannya.

"Orang orang yang tiada sangkut pautnya dengan urusan ini harus disapu bersih. Saudara sendiri yang membereskan atau aku yang mewakili kau!"

Orang yang di tunjuk adalah Lu Bu wi dan Lau Sam thay, biji matanya memacarkan napsu membunuh.

Karuan kaget Koan San gwat bukan main, cepat mundur beberapa langkah menghadang didepan mereka.

Rasul ungu pimpin delapan saudaranya meluruk maju mengurung mereka.

"Sret!"

Siau It ping mengeluarkan sebatang kipas sempit dari lengan bajunya, sambil merangkap tangan ia member hormat kepada Koan San gwat katanya .

"Harap tuan menyingkir saja !"

Koan San gwat mendengus, dari punggung unta ia turunkan patung mas nya, sambil melintangkan di depan dada ia berkata .

"Mereka adalah sahabatku, kalau saudara hendak menghadapi mereka, terlebih dahulu harus menghadapi aku..."

Dari samping Ki Houw tidak memperlihatkan reaksi apa apa, beberapa kali Rasul ungu berpaling kearahnya, namun ia tetap diam saja terpaksa ia ambil keputusan sendiri "

"Kalau tuan berkata begitu, terpaksa aku yang rendah mohon maaf terlebih dulu !"

Koan San gwat acungkan paturg masnya sambil tertawa, katanya "Silahkan orang she Koan berani meluruk kemari memang sudah bertekad untuk mati, cuma aku tidak nyana apa yang dinamakan Hwi tho ling cu kira nya seorang pengecut yang suka menyembunyikan diri dan penakut ..."

Berubah air muka Ki Houw, tapi ia tidak bersuara.

Rasul ungu tiba tiba menggerakkan kipas merangsak maju, kipasnya mengetuk dada Koan San gwat, lekas Koan San gwat dorong patung emasnya kedepan "Trang"

Kipas tersampok balik. Tersentak Rasul ungu dibuatnya, teriaknya.

"Sungguh hebat kekuatan saudara."

Belum lenyap suranya kipasnya bekembang dan mendadak tertutup pula, sekonyol konyong menutuk, tiba tiba memapas, tahu tahu memotong mendadak menusuk pula, kipasnya mempertunjukan tipu permainan empat macam senjata tajam yang berlainan, yaitu pedang golok, potlot dan gantolan, banyak perubahan dan sulit diraba seluk beluknya.

Dengan patung naasnya yang berat Koan San gwat menghadapi serbuan lawan dengar tenang dan mantap, patung emas berkaki satu yang berat dapat diputar dan di mainkan seperti sebatang dahan pohon ringan, tiga puluh jurus sudah berselang, keadaaa masih seru dan belum ada salah satu pihak yang menunjuk kelemahan.

Agaknya Rasul ungu menjadi tidak sabar tiba tiba ia berpaling dan memberi aba aba "Kalian jangan nganggur saja"

Dari barisan temannya segera melompat keluar dua perempuan pertengahan umur, seorang bersenjata tongkat gaman, seorang yang lain adalah sebilah pedang.

Kedua dua nya melompat ketengah gelanggang siap mengeroyok.

"Goblok"

Tiba tiba Rasul ungu berteriak gusar.

"Siapa suruh kalian bantu aku!"

Semula kedua perempuan itu melongo, tapi sekilas berpikir mereka lantas paham, orang yang menggunakan tongkat lantas menerjang ke sana mengemplang batok kepala Lau Sam thay dengan tongkatnya, daya serangannya sungguh hebat, sementara seorang yang lain menusuk kearah Lu Bu wi.

Sejak tadi Lau Sam thay sudah siap tempur, merasakan situasi amar serius, maka begitu tongkat lawan mengemplang tiba kontan ia membarengi dengan bacokan goloknya.

Terdengar suara gamerentang dari gelang tembaga diatas goloknya itu.

"Trang!"

Sejalur kekuatan yang maha dahsyat menerjang dirinya, meski goloknya tembaga tidak kutung, tapi tidak kuasa memeganginya lagi, gaman nya terbang dari cekatannya.

Dipihak lain, keadaan Lu Bu wi justri lebih mending, meski ia bertangan kosong jelek jelek seorang Ciangbunjin suatu aliran pedang pengalaman tempurnya cukup luas, dari gaya permainan pedang lawan, ia dapat mengukur bahwa ilmu pedang Perempuan pertengahan umur ini belum mencapai taraf yang sempurna.

Maka dia tidak menghindar dari daya serangan lawan, lekas ia doyongkan atas tubuhnya kebelakang menghindari pedang lawan, berbareng tangannya berputar balik, dengan kedua jari tangannya menutuk sendiri tulang penyerangnya itu.

Perempuan itu tidak kira bila permainan lawan begitu lincah, cepat ia merubah tusukkan menjadi tabasan maksudnya hendak memapas jari musuh, akan tetapi gerakan Lu Bu wi lebih cepat setindak, Kedua jarinya menyelonong lebih cepat, telah menjuwil urat nadinya.

Perempuan itu merasa seluruh badan kesemutan, pedang yang dipegangnya mencelat dan berpindah ketangan Lu Bu wi.

Dua yu hun ( sukma gentayangan ) yang menyergap satu menang dan yang lain roboh sudah ada hubungan erat dengan kedua lawan mereka, tapi bagaimana juga situasi banyak mempengaruhi keadaan.

Kalau perempuan, bertongkat mau melukai musuh, tapi niatnya tidak terlaksana Lu Bu wi mampu melukai lawan tapi tidak dilaksanakan.

Berubah air mula Ki Houw, bentaknya beringas.

"Gentong nasi semua!"

Beberpa patah kata itu menbuat anak buahnya mengkerut, Rasul ungu lantas terus menempur Koan San gwat segera berhenti mundur kebelakang tak bergerak lagi Ki Houw tertawa dingin, jengeknya.

"Siau it ping! Dengan kepandaian cakar ayam kalian, entah bagaimana Sip tay yu hun bisa terpilih dalam kedudukan sekarang."

Membuka muka rasul ungu, sahutnya tersekat.

"Lapor Mo kun! kami bersepuluh tamat dari satu perguruan, masing masing mempelajari ilmu tunggal, Tok kak se rada kuat... delapan yang lain ...."

"Kau masih mending, yang boleh dikata gentong nasi melulu!"

Dengus Ki Houw. Rasul ungu bersikap takut takut sahut nya.

"Suhu almarhum meninggal terlalu pagi sembilan sute dan sumoay terpaksa aku yang menghajar mereka, hamba sendiri yang tidak becus mendidik mereka."

"Aku tidak peduli urusanmu, maka aku jadi curiga bagaimana dulu kalian bisa terpilih dan bercokol dalam kedudukan sekarang!"

"Kami Suheng sumoay meyakinkan barisan yang harus dilancarkan bersama pada waktu itu kami lulus ujian yang dilakukan oleh para Hwe cu, karena itulah secara beruntung.."

"O, jadi begita duduk perkaranya. Coba sekarang kalian pertontonkan kepadaku."

Rasul ungu serba sulit, sahutnya .

"Tok kak se dihukum mati oleh Mo kun, sepuluh kurang satu, barisan ini jadi goncang dan tidak bisa dikembangkan dengan sempurna!"

Ki Houw diam sebentar lalu berkata Sambil manggut manggut.

"Ya batalkan sudah, biar kucari orang menempel kekuranganmu itu."

Baru sekarang perasaan Sip tay yu hun tadi longgar dan lega pula. Sekarang Ki Houw bicara dengan Koan San gwat.

"agaknya kau menyaksikan bahwa aku tidak berani menempar kau.."

"Berani atau tidak, hatimu sendiri dapat menjawab!"

Wajah Ki Houw berselubung hawa kelabu desinya sinis .

"Hari ini aku tidak akan menantang berkelahi! Tapi bukan karena takut pada kau, sebab apa aku tidak bisa menjelaskan, tapi boleh silahkan kau tanya mereka berdua."

Dengan telunjuk ia tuding Ban li dan It lun. It lun segera memberi kesaksian.

"Benar Mo kun punya kesulitan sehingga ia tidak leluasa.bertading ini."

"Mungkin kalian tahu trik kelemahan ku ini, maka berani menerobos kemari membawa orang luar menbuat keributan lagi."

Cepat It lun menjelaskan.

"Mo kun jangan sembarangn menuduh, bukan Lohu berdua yang membawa orang luar kemari, sebaliknya kami diseret orang kemari!"

"Membual belaka! keculi kalian siapa dapat menemukan tempat ini!"

Damprat Ki Houw.

"Aku!"

Sahut Koan San gwat lantang.

"Akulah yang menemukan tempat ini, dan aku yang membawa mereka kesini!"

Ki Houw tidak percaya, terpaksa Koan San gwat menjelaskan, katanya menunjuk untanya .

"Mau percaya tdak terserah! Aku dibawa kemari olehnya, dia dibawa Khong Ling ling. Ketahuilah untaku ini mempunyai kemampuan yang luar biasa, yaitu pandai menguntit jejak orang, meski kau berada jauh ribuan li, bila pernah mencium bau badan orang itu. Pasti dapat ditemukan jejak orang itu...."

Ki Houw tersenyum ejek."

Memangnya dia dapat membedakan alat alat rahasia dan seluk beluknya, sehingga mampu melewati hutan gelap dan tiba disini dengan selamat?"

Untuk pertanyaan ini Koan San gwat tertegun dan sedang berpikir apakah perlu menjelaskan, Ban li sudah mewakili dia, serunya "Bukan begitu kejadian sesuguhnya Go hay ci heng menggunakan Kong ting hoa sin, menuntun kami melewati hutan pekat itu."

"Hwesio keparat itu, begitu besar nyali nya!"

Maki Ki houw mengeretak gigi.

"Kalau Mo kun penasaran silahkan mencari perhitungan padanya!"

Demikian sindir Ban li.

"Cepat atau lambat pasti akan datang hari yang kunanti ini "

Desis Ki houw.

Karena Hwesio tua itu pernah membantu dirinya secara diam diam, dalam hati ia berterima kasih, masa ia segan menjelaskan kepada Ki Houw kini setelah mendengar Ban li menjelaskan dengan nada mengadu domba Koan San gwat jadi merasa jijik dan memandang rendah martabat siorang tua ini, rasa simpatiknya semua tersapu bersih, maka dengan amarah meluap ia berteriak.

"Ki Houw! Urusan Liong hwa hwe, sebenarnya kau mau menjalankan tidak?"

"Sudah tentu ingin kujelaskan! Soalnya apakah kau suka mendengarkan?"

"Dari tempat ribuan li aku meluruk kemari, tujuanku hendak membongkar teka teki ini kenapa tidak suka dengar?"

Sambil menuding Lu Bu wi dan Lau Sam thay, Ki Houw berseru.

"Kalau begitu kau harus melenyapkan mereka lebih dulu!"

"Tidak mungkin!"

"Kalau begitu aku tidak bisa menjelaskan!"

Ujar Ki Houw angkat pundak.

"Menurut aturan orang luar yang mengetahui seluk beluk ini harus dibunuh!"

"Pembual! Aku bukan orang Liong hwa hwe, kenapa kau sudi memberitahukan aku?"

"Kau lain! kau ahli waris Tokko Bing, cepat atau lambat kau pasti tercantum didalam Pang..."

"Kau salah!"

Tukas Koan San gwat.

"Aku tidak akan menjadi anggota namakupun tidak akan tecantum disana. Kalau aku perihatin akan seluk beluk hal ini adalah karena guruku. Meski aku tidak tahu menahu tentang Liong hwa hwe, tapi sepak terjang yang misterius dan aturan aturan yang kejam dapat di pastikan, bahwa Liong hwa hwe adalah kumpulan setan...."

Ki Houw tertawa tebar, ujarnya .

"Lebih baik jangan kau berpandangan cupat, masuk atau tidak kedalam daftar bukan kau yang putuskan. Banyak anggota Liong hwa hwe yang tidak ingin tercantum namanya namun mereka tidak berani menolak, malah yang namanya tercoretpun akan berusaha memulihkan nama baiknya, umpamanya mereka berdua..."

Koan San gwat bertanya.

"Benarkah begitu?"

"Benar."

It lun menyahut lirih .

"Lohu memang tidak rela, namun terpaksa harus jadi anggota. Setelah nama kami tercoret kami masih giat berlatih dan memperdalam ilmu, tujuan untuk kembali memperoleh kedudukkan diatas Pang,"

"Kenapa begitu?"

Tanya Koan San gwat heran. Mulut It lun sudah terbuka sekian saat akhirnya ia menyahut perlahan .

"Lohu ingin menjawab pertanyaan ini tapi Lohu tidak tahu kenapa?"

Kata Koan San gwat kurang percaya .

"Mana ada aturan demikian didunia ini....."

"Kalau kau terjun didalam, kau akan paham sendiri !"

Koan San gwat hendak mengajukan pertanyaan lagi, Ki Houw sudah menyela dengan tidak sabar.

"Sebetulnya bagaimana keputusanmu?"

Maka Koan San gwat ambil putusan tegas, sahut .

"Aku ingin mendengar seluk beluknya, kedua arang ini akulah yang bertanggung jawab! Mereka pasti tidak akan membocorkan rahasia...."

"Warga Liong Hwa hwe hanya boleh bertanggung jawab kepada dirinya sendiri."

Tapi dengan congkak Koan San gwat berkata "Segala urusan pasti ada asal mula nya menurut angapanku aturan aturan tengik itu perlu diganti saja."

"Bagus"

Puji Ki Houw.

"Tekadmu patut dipuji, agaknya aku harus memberi kelonggaran kepada kau, mari silakan, kita bicara didalam saja."

Rasul ungu tiba tiba berkata.

"Mo kun kedudukan dan batas batas aturan tidak memberi peluang untuk kau memutuskan hal ini."

Mendelik mata Ki Houw dampratnya.

"Sian it ping! Apakah kau sedang bicara dengan aku ?"

Rasul ungu gemetar dan tergagap tak mampu menjawab cepat Ki Houw angkat tangan menyilahkan tamunya, sinar matanya memancarkan hawa membunuh. Koan San gwat hanya tersenyum saja katanya.

"Jangan main licik, anggapmu aku tidak tahu maksud hatimu?"

"Syukur bila kau paham! silahkan"

Lalu ia mendahului melangkah masuk kedalam pintu, kedua baris bocah bocah kecil itu menguntit dibelakangnya, terakhir tinggal si Rasul ungu itu yang masih menunggu diambang pintu. Lu bi wi berkata.

"Ling cu! Losiu kuatir didalam diatur tipu daya untuk menjebak kita!"

"Memang! tapi maju lebih selamat dan pada mundur!"

Sahut Koan San gwat.

"Apa maksud ucapan Ling cu?"

Bertanya Lu Bu wi tidak mengerti. Kata Koan San gwat.

"Aku menyesal membawa kalian berdua masuk kedalam pertikaian ini, tapi urusan sudah terlanjur, meski sekarang masih ada kesempatan mundur, tapi mereka pasti tidak tinggal diam, mereka di pihak gelap kita menjadi empuk belaka, ada istilah lebih baik nekad menerjang masuk, mari kita lihat apa sih yang terdapat didalam sana?"

"Kalau begitu terserah perintah Ling cu,"

Kata Lu bu wi. Lau Sam thay menimbrung.

"Jiwaku ditolong oleh Ling cu, selanjutnya apa yang Ling cu ingin lakukan bolehlah...."

Dengan langkah lebar Koan San gwat mendahului masuk kedalam pintu, unta sakti juga mau ikut, segera Koan San gwat menepuk lehernya seraya berkata .

"Sahabat tua, kau tunggu saja disini, jikalau aku tidak bisa ke luar, kau tahu bagaimana kau harus berbuat bukan?"

Unta sakti manggut manggut.

Maka rombongan mereka lantas lenyap dibalik pintu.

Di dalam ruang pendopo yang amat luas, banyak orang sedang duduk berkeliling, mereka duduk berhadapan satu sama lain .

Lok Saiu hong duduk disamping Koan San gwat, sebelahnya Lu Bu wi dan Lau Sam thay, dibelakang mereka duduk pula Ban li bu in dan It lun bing gwat, mereka duduk setengah bundar.

Dihadapan mereka Ki Houw, hanya Rasul ungu yang berdiri tegak di dampingnya, setelah hening sejenak, Ki Houw mulai buka suara, katanya .

"Apa saja yang ingin kau ketahui?"

Koan San gwat berpikir sebentar lalu bertanya "Dimanakah Siau se thian berada?"

Di puncak Sin li hong di gunung Bu san dalam kabut mega nan putih!"

"Apakah guruku juga ada di sana?"

"Sudah tentu! Dia sudah satu Hwe cu periode yang lalu."

"Untuk apa dia berada disana?"

"Menikmati hidup bahagia."

"Apa gerangan yang terjadi dengan Liong hwa hwe?"

"Sebuah serikat atau organisasi yang sangat rahasia dan menakjupkan, anggotanya segala golongan dari tokoh tokoh silat aneh berbagai tempat, hanya beberapa gelintir orang punyu nama, di Kangouw, umpamanya gurumu adalah salah satu diataranya..."

"Masih ada siapa lagi ?"

"Hal itu tidak bisa kujelaskan!"

"Apa pula yang terjadi dengan Hong sin pang ?"

"Liong hwa hwe ada seratus delapan anggota, terbagi Sian ( dewa ), Mo ( iblis ) dan Kui (setan ) san pang (tiga tingkat). Sian pang ada tiga puluh enam, Mo pang ada tujuh puluh dua, kedua pang jni dinamakan Hong sin pang. Masih ada lagi wakil pang. Ia yang disebut Kui pang, para petugas macam Sip cay yu hun dan lain lain itu termasuk anggota Kui pang....."

Apa yang didengarnya persis dan hampir sama dengan dugaan Koan San gwat semula, maka ia bertanya lebih mendalam.

"Bagaimana membedakan Mo pang dan Kui pang ?"

"Menurut kepandaian silat mereka, yang berkepandaian tinggi masuk daftar Siang pan, kalau sedang masuk Mo pang, kalau lebih jelek lagi Kui pang, tapi dalam hal ini ada batas yang cukup keras. Liong hwa hwe membuka rapat anggota setiap dua puluh tahun sekali, pada waktunya tentu terjadi banyak perubahan, misalnya ada anggota Sian pang yang melorot, ada pula anggota Mo pang yang naik pangkat..."

"Kau sendiri ditingkat mana?"

"Aku disebut Thian ki mo kun, sudah tentu berkedudukan di Mo pang, malah aku menjadi pemimpin dari kawanan iblis ini, bagi seluruh warga Mo pang, aku punya hak kuasa yang tak dapat dilawan mereka."

"Ibuku, bibi dan pamanku adakah juga termasuk tingkat Mo pang?"

Tiba tiba Lok Siau hong menyeletuk.

"Benar, maka mereka pun harus perintahku."

"Kalau Ouw hay it siu bagaimana?"

"Dia termasuk tokoh dalam Sian pang!"

Lok Siau hong mendengus, jengeknya menjebi bibir .

"Manusia keparat yang tidak becus itu juga bercokol di Sian pang?"

Ki Houw tertawa besar, ujarnya .

"Benar, maka tadi kukatakan Mo belum tentu lebih rendah dari Sian. Kehidupan kaum iblis semestinya jauh lebih menyenangkan dari alam kedewaan, kalian sudah melihat dua bait syair diatas pintu gerbang itu bukan, itu lebih membuktikan bahwa ucapanku bukan bualan belaka."

Koan San gwat merenung lalu tanyanya pula .

"Kecuali punya hak kuasa di Mo pang, dapatkah kau mengurus orang lain?"

"Dalam hal ini perlu kujelaskan, kecuali kedudukan mereka dalam Mo pang akupun menjadi Si hoat ciang sing ( pelaksana hukum) dalam Hong sin pang, maka semua tokoh tokoh dalam Sian dan Mo aku dapat bertindak terhadap mereka, cuma terhadap tokoh tokoh dalam Sian pang sedikit banyak aku berlaku rada sungkan ..."

"Apakah guruku iuga dapat kau kekang dengan jabatanmu itu?"

Sedikit berubah air muka Ki houw, sahutnya tersekat "Tidak! Kedudukannya sebagai Hwe cu, tingkat ini sejajar dengan aku, siapapun tiada hak mengurusi orang lain!"

Mendadak it lun bing gwat menyeletuk bicara.

"Tapi Hwe cu punya hak membatasi segala gerak gerikmu bila perlu kaupun harus mendengar perintah Hwe cu."

Ki Houw kelihatan marah serunya.

"Liong hwa hwe yang akan datang, aku punya banyak kesempatan untuk merebut kedudukan Hwe cu itu, tatkala itu aku tidak akan dicemooh dan dirintang oleh mereka."

Tiba tiba Koan San gwat meninggikan suaranya bertanya .

"Siapakan pendiri Liong hwa hwe ini?"

Berubah air muka Ki Houw, It lun dan lain lain, malah Ban li lebih emosi teriaknya bengis .

"Bocah keparat! Kau dilarang tanya hal itu!"

Koan San gwat jadi heran, katanya .

"Apakah benar tidak boleh tanya hal itu?"

"Benar."

Ki Houw dengan muka kelam.

"Ini larangan yang paling keras, sekarang kau sudah belum masuk anggota, maka kau tidak terhukum, kau sudah melanggar larangan paling besar!"

"Kulau begita ganti pertanyaan lain, Kuasa yang paling tinggi dalam Hong sin pang?"

Sejenak ragu ragu akhirnya Ki Houw menjawab .

"Su tay hwe cu. Mereka tidak punya kuasa kupersilakan renungkan arti dari pada kedua hurup "Thian ki"

Itu."

Koan San gwat mengejek dengan seringai dingin, katanya .

"Jadi hak kuasamulah yang tertinggi di Siau se thian !"

Benat! "sahut Ki Houw takabur.

"Kecuali Thian gwat Thian (langit diluar langit) ..."

Koan San gwat melanjutkan .

"Apa yang dinamakan Thian gwat thian?"

Berubah pula air muka Ki Houw, seolah olah sudah melanggar suatu kesalahan paling besar, kedua matanya jelalatan celingukan kian kemari, demikian juga It lun dan Ban li sama berubah pucat dan gemetar, mereka pasang kuping mendengar apa apa dengan cermat.

Sesaat kemudian ditengah angkasa sayup sayup berkumandang irama musik yang mengalun tinggi merusak pendengaran.

Tersipu sipu Ki Houw melorot turun berlutut demikian juga Rasul ungu seluruh tubuhnya ikut mendekam dilantai, kepalapun tidak berani bergerak.

Irama musik itu semakin jelas dan dekat, hidung semua orang sudah mengendus wangi semerbak.

Koan San gwat dan lain lain hanya tercengang, ditempatnya.

It lun bing gwat dan Ban Ii bu berdiri tegak meluruskan tangan, badannya gemetar keras seperti kedinginan.

Selang sejenak pula, tampak bayangan berkelebat diambang pintu, masuklah sepasang dayang kecil yang menggelung rambutnya dikedua pinggir kepalanya wajah mereka ayu rupawan, setiap orang menentang lampion berkaca yang memancarkan cahaya terang benderang.

Dibelakang dua dayang kecil yang seraya pula, masing masing menyanggul sebuah anglo berbentuk binatang, dari hidung ini mengepul keluar asap wangi warna hijau.

Dan yang terakhir masuk pula seorang dara cantik rupawan mengenakan pakaian yang molek dan cemerlang, langkahnya enteng dan lembut tak bersuara, gayanya lemah gemulai mempesonakan.

Pakaian yang dikenakan dara ini terbuat dari bila burung merak yang halus dan warna warni sangat menyolok dan indah.

Sehingga tindak tanduknya bak umpama dewi kahyangan sedang berlenggang turun memperlihatkan keagungannya.

Begitu berada ditengah pendopo melihat Koan San gwat duduk tegak, dara itu mengerut alis, dengan suara yang menyedot sukma ia bertanya .

"Siapakah dia ini?"

Sambil berlutut Ki Houw menjawab .

"Dia ahli waris Tokko Bing!"

"Ahli waris Tokko Bing?"

Tanya gadis itu menegas.

"Siapakah TokkoBing?"

Kejadian diluar dugaan dan menegangkan urat syiraf, ia tahu akan kedudukan gadis itu tentu sangat tinggi, maka segera ia mendahului menjawab.

"O, kiranya Ui ho...."

Ujar si gadis.

"Hebat benar dia memilih akhli waris."

Ucapan yang terakhir ditujukan kepada Koan San gwat, sementara kedua matanya pelirak pelirik dari atas kebawah mengawasi Koan San gwat, saking risi Koan San gwat balas bertanya.

"Siapa kau?"

Gadis itu tertawa nyaring, katanya.

"Pertanyaan ini kurang hormat!"

"Usiaku tidak terpaut banyak dengan kau selamanya belum kenal lagi, tidak perlu aku sungkan dan rikuh terhadap kau."

Gadis itu tersenyum lebar, ujarnya.

"Bukankah kau hendak bertanya Thian gwat thian, Aku inilah..."

Jawabannya ini sudah diduga oleh Koan San gwat, munculnya gadis ini di luar dugaannya Liong Hwa hwe, Hong sin pang, Siau se Thian dan nama nama lain sudah cukup membuat kepalanya pusing, untunglah hari ini ia memperoleh jawaban seluruhnya, namun diluar dugaan muncul lagi seorang Thian gwat thian, inilah sikap dan kelakuan Ki Houw dan lain lain menunjuk bahwa kedudukan gadis ini sangat tinggi atau istimewa.

Sementara itu gadis itu sudah berpaling kearah Ki Houw katanya sambil tertawa manis "Mo kun mengundang kami, entah ada petunjuk apa?"

Ki Houw berlutut kaku dilantai, suaranya gemetar. Hamba ceroboh, usil lagi sehingga membuat kaget tuan putri..."

Gadis itu bersuara dalam tengorokan lalu katanya.

"Jadi hanya karena usil maka Mo kun mengundang kemari?"

Pucat pasi muka Ki Houw, ratapnya dengan ketakutan.

"Berat ucapan Sian cu bukan begitu maksud hamba."

Tiba tiba sigadis muka, katanya bersungut .

Baca Juga: Suling Emas 5

Baca Juga: Suling Emas 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert