Ceritasilat Novel Online

Patung Emas Kaki Tunggal 2

Eps 2 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.

"Peng Kiok-jin! Hari ini akan kubuat kau mati tanpa tempat kubur."

Beberapa jalan darah penting di tubuh Peng-toanio tertutuk, tak mampu bergerak dan balas memaki, tapi sorot matanya menunjukkan kekerasan hatinya.

Sorot matanya membuat Khong Ling-ling seperti api disiram minyak, sekali tendang badan Peng-toanio terguling-guling seperti bola.

Thio Ceng Ceng tidak tega, lekas ia menubruk terus memeluk Peng-toanio serta berteriak ke arah Khong Ling-ling.

"Khong siocia, Peng-toanio seorang tokoh Bulim yang cukup tenar namanya, kau boleh membunuhnya tapi jangan kau menghina dia sedemikian rupa!"

Khong Ling-ling menyeringai dingin, jengeknya.

"Kau minggir! Bukan saja akan kubunuh dia sampai badannya hancur lebur, sebelum mampus akan kubikin dia merasakan penderitaan Hun-kin-joh-kut perguruanku!"

"Kong Ling ling!"

Teriak Thio Ceng Ceng.

"Minggir kau!"

Damprat Khong Ling-ling, sekali raih dan jambret ia rebut badan Peng-toanio dari pelukan Thio Ceng Ceng, sudah tentu Ceng Ceng berusaha merebutnya pula, tapi baru saja ia mendekat, tiba-tiba Khong Ling-ling membalik sebelah tangannya, dengan cara yang lihay dan menakjupkan ia tekan dan dorong pundaknya, sehingga Thio Ceng Ceng tergentak mundur sempoyongan, beruntun Ling ling tutuk beberapa Hiat-to di badan Peng-toanio.

Muka Peng-toanio menjadi pucat dan mengalirkan keringat dingin sebesar kacang, mukanya berkerut menahan sakit, demikian juga biji matanya jelalatan sangat menderita.

Tapi Khong Ling-ling terlalu keji, dengan gemas ia banting tubuh orang ke tanah, mulutnya menyungging senyum, mukanya diliputi napsu yang sadis, menikmati keadaan Pengtoanio yang menderita itu sambil tertawa-tawa dingin.

Sementara itu, Thio Ceng Ceng sudah menubruk maju pula, teriaknya.

"Kau tidak boleh berbuat begini keji seperti ini, lekas bebaskan hiat-tonya."

"Sekali kau cerewet lagi, biar kaupun merasakan juga siksaanku."

Entah darimana keberanian Thio Ceng Ceng, mendadak ia layangkan pukulannya serta membentak.

"Boleh kau bunuh aku sekali!"

Khong Ling-ling angkat tangan membelit dan menarik mencengkeram urat nadi pergelangan tangan Ceng Ceng, katanya dingin.

"Sejak tadi, kutunggu ucapanmu ini, akupun menunggu kau turun tangan lebih dulu. Karena guruku melarang aku tidak boleh turun tangan lebih dulu. Sekarang aku mendapat alasan untuk membunuh kau!"

Seiring dengau ucapannya ia angkat sebelah tangan yang lain terus menepuk ke jidat Thio Ceng Ceng.

Sekonyong.

konyong terdengar tawa aneh yang mendirikan bulu roma di belakang mereka, disusul berkelebatnya sesosok tubuh dan "blarrrr"

Pukulan Khong Ling-ling yang mematikan itu tertangkis sehingga tersurut mundur empat langkah.

Di lain saat Thio Ceng Ceng sudah pindah tangan, terasa tangan orang dingin seperti es, cepat ia angkat kepala, seketika ia menjerit kaget, suaranya mengandung rasa takut dan ngeri yang tak terperikan!

Karena teriakan ini, orang itupun lekas melepas cekalannya, tapi sepasang matanya menatap wajah Thio Ceng Ceng, sorot matanya sangat welas asih dan penuh rasa cinta kasih.

Setelah bebas baru Thio Ceng Ceng sadar bahwa jiwanya baru saja direnggut kembali dari jurang elmaut oleh orang ini, meski kejadian sangat mendadak, tapi sikap dirinya tadi terasa kurang hormat.

Maka segera ia merubah sikap dan mengangguk serta unjuk senyum manis tanda rasa terima kasihnya yang tak terhingga.

Tak sangka senyumannya membuat orang itu kesima, mulutnya komat-komit mengeluarken suara yang tidak jelas.

Thio Ceng Ceng lantas menduga orang ini gagu, tapi selintas pandang bentuk tubulnya memang sangat menakutkan.

Rambut di atas kepalanya awut-awutan, selapis mukanya tumbuh codet bekas luka-luka yang malang melintang besar kecil tidak karuan, sorot matanya bersinar tajam, rambut yang awut-awutan itu sudah banyak uban, maka dapatlah diduga bila usianya sudah tidak muda lagi, dari bentuk mukanya dapat dinilai bahwa kalau wajahnya tidak penuh codet, di waktu mudanya beliau pasti cantik rupawan.

Baju yang dipakaipun sudah buruk dan kumal, seperti pelayan atau budak di pedalaman, tapi ilmu silatnya ternyata sangat mengejutkan, Khong Ling-ling tergentak mundur oleh tenaga pukulannya.

Khong Ling-ling sudah tenang kemhali, teriaknya kepada perempuan jelek yang mendadak muncul.

"Si gila! Kenapa kau keluar kalau diketahui oleh Suhu, tentu beliau akan membetot uratmu."

Agaknya ancaman itu membuat perempuan jelek itu jadi takut, cepat ia menyurut mundur ke samping.

Thio Ceng Ceng terkejut, bukan saja jelek, perempuan ini ternyata gila, sungguh sangat kasihan, tapi Khong Ling-ling bersikap keras dan kasar terhadapnya, pelan-pelan mendekat, serunya.

"Jangan kau kira orang gila ini bakal menolongmu, diapun tidak berani menentang aku...."

Telapak tangannya sudah terangkat hendak melancarkan serangan lagi, Thio Ceng Ceng tahu bahwa dirinya bukan lawan orang, cepat ia berpaling ke arah si gila dengan pandangan mohon dikasihani.

Ternyata perempuan gila itu terpengaruh oleh sorotan matanya, dengan ahah uhuh beruntun ia berteriak dua kali seraya maju menghadang di depan Thio Ceng Ceng.

Karuan Khong Ling-ling makin murka, bentaknya.

"Si gila! Minggir kau! Jangan kau campuri urusanku!"

Dengan kukuh perempuan gila itu menggeleng kepala, menandakan bahwa dia tidak mau mundur.

"Agaknya kaupun ingin mampus!"

Hardik Khong Ling-ling seraya melancarkan serangan mendadak. Ternyata reaksi perempuan itu cukup cepat juga, kedua telapak tangannya membalik keluar "plak!"

Sekali lagi Khong Ling-ling kena dipukul mundur, keruan Khong Ling-ling melengak dibuatnya, agaknya ia tidak mengira bila perempuan gila ini sedemikian lihai, tapi sikapnya tetap dingin, ancamnya.

"Si gila! Kau berani membantu orang luar melawan aku, sebentar akan kuadukan kepada Suhu!"

Habis berkata ia putar tubuh lantas tinggal pergi.

Agaknya si gila sangat takut akan akibat tindakkannya ini, cepat ia memburu maju menarik tangan Ling-ling, mulutnyapun mengoceh tak karuan, seperti ia minta ampun terhadap Khong Ling-ling.

Tak kira mendadak Khong Ling-ling membalikkan tubuh jari kanannya menutuk jalan darah di bawah tetek sebelah kiri.

Si gila tidak mengira dan tidak bersiaga, kontan ia berteriak kesakitan sambil mendekap dada terus berjongkok menahan sakit.

Secepat kilat Khong Ling-ling melejit balik serta melancarkan serangan kepada Thio Ceng Ceng pula.

Terpaksa Thio Ceng Ceng melawan sebisa mungkin, akan tetapi Lwekang dan kepandaian silatnya terpaut jauh.

"blang"

Tiba-tiba tubuhnya mencelat terbang, belum lagi badannya terbanting di tanah, Khong Ling-ling sudah memburu datang seraya tertawa dingin, berbareng telapak tangannya membacok lehernya.

Perempuan gila yang terjongkok tadi melompat bangun, agaknya ia menahan sakit yang luar biasa untuk menolong Ceng Ceng, tangannya menangkis bacokan tangan Khong Ling-ling yang keras ini, tapi karena sudah terluka oleh tutukan Khong Ling-ling tadi, Lwekangnya sudah susut sebagian besar, kontan ia tertolak mundur dan terhuyung roboh ke tanah.

Tapi kelihatannya ia kuatir Thio Ceng Ceng terbunuh, tibatiba kedua kakinya menjejak tanah melejit bangun lagi, matimatian ia berusaha merintangi perbuatan Khong Ling-ling.

"Gila!"

Teriak Khong Ling-ling.

"Kau benar-benar menggangguku, biar kubunuh juga!"

Kedua telapak tangannya merangsek dengan ganas dan keji, walaupun perempuan gila itu dapat menangkis dan membela diri tak urung ia terdesak mundur berulang-ulang, langkah kakinyapun sudah sempoyongan hampir roboh.

Demi dirinya perempuan gila itu harus menghadapi bahaya dan terluka, Thio Ceng Ceng jadi tidak tega, cepat ia menariknya mundur serta katanya penuh haru.

"Toama! jangan kau bantu aku lagi, biar dia bunuh aku habis perkara!"

Tahu bahwa ajal sudah menjelang maka dengan rawan ia mengeluh.

"Oh, ayah! Sungguh aku menyesal tidak dengan nasehatmu .... ....aku nekad kemari dan kini kau takkan dapat bertemu muka pula dengan Ceng-ji...."

Mendadak berubah air muka perempuan gila itu, dengan suara serak iapun berteriak.

"Ceng-ji.... Ceng-ji...."

Mendengar perempuan gila ini dapat bicara agaknya Khong Ling-ling juga merasa heran, namun hatinya sudah dirangsang nafsu hendak membunuh Thio Ceng Ceng, maka tidak menghiraukan perobahan perempuan gila itu, kembali ia hendak menyerang kepada Thio Ceng Ceng Agaknya penyakit gila perempuan itu memang kumat, mulutnya sambung menyambung menggumam.

"Ceng-ji.... Ceng-jii.... Ceng....ji...."

Sekarang tidak lagi bertahan ia malah balas menyerang Khong Ling-ling dengan nekad dan beringas, rasa sakit badannya sudah terlupakan sama sekali, tenaganyapun berlimpah ruah, dengan serangan membadai ia desak mundur Khong Ling-ling.

Sudah tentu Khong Ling-ling amat marah, mendadak ia menghardik keras, permainan pukulannya juga berubah, kedua telapak tangannya seperti kupu menari-nari, gerak tipu silatnya sangat aneh dan lucu, puluhan jurus kemudian dada perempuan gila itu kena digaploknya sekali.

Pukulan ini cukup berat seketika perempuan gila itu terkapar roboh mulutnya menyemburkan darah segar dan tidak mampu merangkak bangun lagi.

Agaknya Khong Ling-ling bekerja tidak kepalang tanggung, ia memburu sambil angkat tangannya menepuk ke batok kepala orang, di kejauhan didengarnya sebuah bentakan keras.

"Tahan! Mana boleh kau melukainya sedemikian rupa!?"

Khong Ling-ling segera urungkan niatnya, lalu melesat datang sesosok bayangan secepat terbang, seorang nenek tua beruban mendatang tiba, tangannya mencekal sebuah tongkat hitam yang mengkilap, dengan keras ia ketukkan tongkatnya ke tanah serta bentaknya.

"Ling-ling? Sungguh besar nyalimu! Berani kau melukai orang di dalam lembah ini?"

Khong Ling-ling kelihatan takut, tapi masih membandel, katanya menuding Thio Ceng Ceng.

"Suhu! Peng Kiok-jin berani melanggar pantanganmu membawa perempuan ini ke dalam lembah, Tecu ingat pesanmu, di saat hendak kubunuh mereka...."

Tongkat di tangan nenek beruban diketukkan lagi, semprotnya gusar.

"Bukankah sudah kukatakan berulang kali, bukan sebenarnya aku ingin kau benar-benar melaksanakan perintahku, Soat-sin-kok kediamanku ini selamanya belum pernah berlepotan darah, tapi ternyata kau berani mengumbar adat di sini."

Khong Ling-ling jadi melengak, cepat berkata.

"Tecu tidak tahu maksud Suhu yang sebenamya, maka aku bekerja secara patuh, Untung Peng Kiok-jin tidak mati, cuma kututuk jalan darahnya, sebenarnya Tecu tidak ingin membuatnya susah....!"

"Tidak membuatnya susah, lalu kau gunakan Hun kin-Johkut menghadapinya. Di kala aku menurunkan ilmu itu kepada kau, apa yang telah kupesan kepada kau?"

Khong Ling-ling semakin gugup dan gelagapan, sahutnya.

"Soalnya ia kurang ajar dan bermulut koror, menyinggung kau...."

"Kau bohong!"

Thio Ceng Ceng berteriak.

"Dia berlaku sangat hormat kepada Lo thay-thay, soalnya kau merasa dengki terhadap dia baru kau turun tangan sedemikian keji!"

Kali ini Khong Ling-ling cuma mengerling tajam ke arah Thio Ceng Ceng tidak mengumbar adat di hadapan si nenek tua, si nenek tuapun tidak memberi reaksi, lekas ia berjongkok memeriksa luka-luka perempuan gila itu, berselang agak lama baru dia membentak lagi dengan bengis.

"Perkara lainnya sih boleh dibikin habis, tapi kenapa kau berani gunakan Jong-jiehoat untuk melukainya?"

"Waktu tecu hendak bunuh gadis itu, entah darimana si gila ini mendadak menyerang aku...."

Belum habis Khong Ling-ling bicara, nenek tua itu cepat angkat tongkatnya menghajar pantatnya, dengan keras, kontan Khong Ling-ling tersungkur jatuh ke depan.

"Keparat!"

Teriak si nenek dengan amarah yang meluapluap.

"Berani kau memanggil "si gila"

Kepadanya....?"

Saking kesakitan Khong Ling-ling berguling di tanah, tapi ia tidak berani merangkak bangun, dengan sesenggukan ia menjawab.

"Tecu tak tahu harus memanggil apa, terpaksa mengikuti Suhu...."

"Aku boleh memanggil demikian, tapi kau tidak. Kau tahu siapa dia?"

"Tecu tidak tahu, Suhu belum pernah menjelaskan...."

"Dia adalah putriku, putri tunggalku satu-satunya...."

Berubah hebat air muka Khong Ling-ling, sedemikian kaget dan herannya, seketika tangisnya pun berhenti, katanya tersekat.

"Tecu betul-betul tidak tahu."

"Sudah! Hayo pulang, menggelindinglah ke kamar obat, tanpa ijinku kularang kau ke luar!"

Dengan terserot-serot Khong Ling-ling merangkak bangun terus mengeluyur pergi tanpa berani bertingkah lagi.

Thio Ceng Ceng keheranan, ia tahu bahwa nenek tua ini pasti Soat-lo Thay-thay adanya, hanya ia tidak menduga perempuan gila itu adalah putrinya, baru saja ia hendak bicara, nenek tua itu sudah membebaskan tutukan Pengtoanio, dengan keripuhan Peng-toanio berkata gagap.

"Lo Thay-thay, aku...."

"Sudahlah! Aku tahu semuanya, aku tak salahkan kau! "

Ujar si nenek sambil mengulapkan tangan.

Peng-toanio kelihatan lega, cepat ia angkar tangan ke arah Thio Ceng Ceng, maksudnya supaya dia maju memberi hormat kepada Soat-lo Thay-thay, tak nyana si nenek sudah memutar tubuh dan berjongkok pula di samping tubuh perempuan gila itu, tangannya mengurut-ngurut dan menutuk berkali-kali, mulutnya berkata halus.

"Sin-ji, bagaimana Perasaanmu? Kenapa kau ngeloyor keluar dari kamarmu?"

Setelah diurut pelan-pelan, perempuan itu siuman, masih menggumam.

"Ceng ji.... Ceng-ji...."

Si nenek jadi haru dan kegirangan pula.

"Sin-ji! Kau sudah bisa bicara lagi! Oh! sungguh menggirangkan...."

Pandangan perempuan gila itu mendelong, air mata mulai berlinang di kelopak matanya, katanya dengan suara gemetar.

"Sin-ji Kau sudah bisa menangis! Tuhan sungguh maha pengasih, ternyata penyakitmu bisa sembuh! Nak, sungguh kasihan kau...."

Mulut perempuan gila itu gemetar, agaknya ingin bicara apa, tapi si nenek cepat berseru.

"Sin-ji! Panggil ibu, nak! Sudah dua puluh tahun kau tidak pernah memanggil aku ...."

Air matanya semakin deras meleleh keluar, mulut perempuan gila itupun semakin jelas mengeluarkan suara yang lemah.

"Bu.... aku.... Ceng-ji...."

Mendengar perempuan gila itu selalu memanggil namanya, Thio Ceng Ceng heran dan tidak mengerti, tapi cepat-cepat si nenek menutuk jalan darahnya hingga pingsan, pelan-pelan ia bangkit berdiri, katanya kepada Thio Ceng Ceng.

"Bopong ibumu dan ikut aku!"

"Dia.... adalah ibuku....?"

Mandadak si nenek mengunjuk rasa marah teriaknya gusar.

"Kalian ayah beranak menganiayanya sedemikian rupa, terutama bapakmu yang durhaka dan durjana itu, bila dia berani datang kemari, pasti kugecek hancur leburkan tubuhnya."

Thio Ceng Ceng menjublek di tempatnya, ia jadi berdiri kaku dengan mendelong sungguh perasaannya goncang oleh berita ini.

Menurut cerita ayahnya, bahwa sejak lama ibunya sudah meningga1, kenapa sekarang muncul lagi seorang yang katanya adalah ibu kandungnya?

Melihat dia terlongo, si nenek berteriak lagi dengan marahmarah.

"Hayo lekas, apa kau jijik karena mukanya jelek atau tidak setimpal menjadi ibumu....?"

Melihat muka si nenek membasmi kaku, Thio Ceng Ceng tidak berani banyak bicara, lekas ia memayang tubuh perempuan gila itu serta mengintil di belakang si nenek, Pengtoanio juga mengekor di belakangnya.

Di kala bayangan mereka sudah menghilang di kejauhan sana, Koan San-gwat masih berdiri mematung seperti orang linglung, segala kejadian yang berada di sekitar dirinya seperti tidak didengar dan dilihat.

Tidak terpikir olehnya bahwa peristiwa yang baru saja berlangsung ini justru bakal menentukan jalan hidup dan terikat erat dengan jalan hidupnya selanjutnya.

ooo000ooo Sambil membopong perempuan gila itu, berbagai pertanyaan dan kecurigaan berkecamuk dalam benak Thio Ceng Ceng, begitulah tanpa bersuara ia mengikuti langkah Soat-lo Thay-thay mendahului masuk ke rumah yang berada di tengah, tangannya menuding sebuah dipan, katanya.

"Rebahkan ibumu, duduklah di samping menunggui, akan kupersiapkan segala keperluan, sekarang juga mulai kuobati. Inilah kesempatan terakhir untuk menyembuhkan kesehatan ibumu, maka kau harus tabah dan tenang."

Habis berkata tanpa menunggu reaksi atau jawaban terus tinggal pergi ke balik kamar lain.

"Nona Thio!"

Peng-toanio maju mendekat, serta bertanya dengan penuh keheranan.

"Apakah benar orang ini ibumu? Kalau demikian jadi Soat-lo Thay-thay adalah nenekmu!"

Thio Ceng Ceng menggeleng kepala tanda tidak mengerti, katanya.

"Aku sendiri tidak tahu akan kebenarannya, sejak aku berpikir belum pernah kulihat ibuku, menurut ayah katanya ibu sudah mati sejak aku masih kecil, maka soal ini...."

"Tapi perkataan Soat-lo Thay-thay tidak akan meleset, diantara kalian tentu ada latar belakangnya yang berselukbeluk amat rumit. Sudah lama orang ini berada di atas gunung. karena tidak bisa bicara dan ingatannya rada terganggu, maka Soat-lo Thay-thay lantas mengurungnya dalam sebuah kamar, baru tadi aku tahu bahwa dia adalah putri tunggal Lo-Thay-thay."

Mata Thio Ceng Ceng jadi merah dan berkedip-kedip menahan air mata, katanya.

"Aku jadi mengharap dia benarbenar adalah ibuku, sejak kecil aku sudah kehilangan belaian kasih sayang seorang ibu, melihat anak lain aleman di haribaan ibundanya aku jadi mengiri sekali...."

Dalam pada itu Soat-lo Thay-thay sudah kembali sambil membawa banyak barang-barang dan peralatan, mendengar ucapan yang terakhir ini, biji matanya sekilas mengerling kepadanya, tanyanya dengan suara dingin.

"Apakah kau tidak jijik melihat mukanya yang buruk dan sudah menjadi gila lagi?"

Thio Ceng Ceng menahan air mata, ujarnya.

"Cinta kasih antara ibu beranak tidak mengenal akan buruk atau gila, bila dia memang benar adalah ibu kandungku, dalam pandanganku beliau akan jauh lebih cantik dari yang lain-lain, segalanya kupandang wajar...."

Uraiannya ini agaknya mengetuk sanubarinya Soat-lo Thaythay, sikap selanjutnya tidak sedingin dan sekasar tadi, sambil menghela napas ia berkata.

"Agaknya kau masih punya Liangsim (hati nurani), dibanding ayahmu yang jahat dan brutal itu jauh lebih baik. Dulu ibumupun secantik kau sekarang, justru karena kau pula sehingga dia menjadi berubah seperti sekarang."

Thio Ceng Ceng heran, tanyanya.

"Lolo.... Lolo! Apakah yang telah terjadi pada masa silam?"

Soat-lo Thay-thay mendengus, sahutnya.

"Kelak bicara lebih lanjut! Sekarang yang terpenting mengobatinya, inilah kesempatan terakhir yang sulit didapat dan bakal menentukan mati hidupnya!"

Lalu dibukanya sebuah buntalan dan dikeluarkannya segebung jarum-jarum perak halus panjang tiga inci, sikap Soat-lo Thay-thay sangat prihatin.

Setelah semua keperluan dipersiapkan, ia mulai mempergunakan jarum-jarum perak itu menusuk urat nadi, jalan darah dan sendi di atas badan perempuan gila itu dengan cara yang sangat mahir dan cekatan.

Jarum-jarum perak itu menusuk amblas sampai dua inci, setiap kali tusukan jarumnya membuat perempuan gila itu gemetar menahan sakit, jumlah seluruhnya ada hampir seratus batang lebih, semua sudah ditusukan ke badan perempuan gila, setelah selesai baru berkata kepada Thio Ceng Ceng.

"Genggamlah kedua tangannya, apapun yang terjadi jangan kau lepaskan, aku akan mulai mengerahkan hawa murn menutup Hiat-tonya!"

Thio Ceng Ceng turut segala petunjuk, dengan kencang ia pegang kedua pergelangan tangan perempuan gila, sementara Soat-lo Thay-thay dengan sikap tegang dan prihatin mulai samadi mengerahkan tenaga, tak lama kemudian kedua telapak tangannya berubah merah membara seperti besi yang terbakar.

Di kala suhu panas di telapak tangan Soat-lo Thaythay sudah mencapai taraf yang paling tinggi, pelan-pelan ia alihkan ke dekat badan perempuan gila, jari-jarinya lantas bekembang, kesepuluh jarinya masing-masing menekan dipangkal jarum dan mulailah ia salurkan suhu panas di telapak tangannya ke dalam badan perempuan gila melalui jarum-jarum yang tersebar luas di atas badannya.

Kontan Perempuan gila itu mengeluarkan pekik menggila yang menggetarkan sukma, agaknya merasa kesakitan bukan main, kedua tangannya meronta-ronta sekuat tenaga.

Teringat akan pesan Soat-lo Thay-thay, sedikitpun Thio Ceng Ceng tidak berani lengah dan mengendorkan pegangannya.

Tapi melihat penderitaan sang ibu, mau tidak mau terketuk pula sanubarinya, tanpa sadar air matanya meleleh membasahi kedua pipinya.

Kesepuluh jari Soat-lo Thay-thay dari ke sepuluh pindah kesepuluh jarum yang lain, setiap jarum yang tersentuh tekanan jari-jarinya pasti mengepulkan uap hitam yang mengandung bau amis terbakar, sangat menusuk hidung dan memualkan.

Di kala mereka sedang bekerja dengan penuh ketegangan dan keprihatinan, mendadak pintu kamar terbuka, tampak Khong Ling-ling melangkah masuk berindap-indap dengan muka yang penuh mengunjuk perasaan gusar dan penasaran.

Perhatian semua orang sedang tercurah kepada pengobatan yang menegangkan ini, sehingga tiada yang melihat akan kedatangannya.

Khong Ling-ling langsung menuju ke belakang Soat-lo Thay-thay, rona wajahnya bengis penuh hawa membunuh yang sudah menghantui sanubarinya, Telapak tangannya mengenai punggung Soat-lo Thay-thay mengeluarkan suara keras dan menusuk kuping.

Kontan badan Soat-lo Thay-thay tersuruk ke depan dan rebah tengkurap di atas perempuan gila, tapi cepat pula sudah bangun duduk pula dan pelanpelan berpaling muka, dengan tajam kedua biji matanya mendelik dengan bengis menatap Khong Ling-ling.

Setelah menyerang dengan dahsyat, ternyata Suhunya masih kuat bertahan dan seperti tidak terjadi apa-apa setelah terkena pukulan yang telak, Khong Ling-ling jadi ketakutan dan tersurut mundur, wajahnya pucat pias.

Khong Ling-ling mundur mepet ke pintu, terdengar Soat-lo Thay-thay berkata dengan suara bengis.

"Ling-ling! Saat ini aku lebih penting mengerahkan tenaga untuk pengobatan ini, sementara tidak akan bertindak kepadamu. Lebih baik lekaslekas lari, lari yang jauh jangan sampai kulihat selamanya."

Habis berkata kembali ia memutar tubuh melanjutkan pengobatan, telapak tangannya masih tetap kelihatan merah membara.

Suhu panas telapak tangannya masih tetap tinggi seperti tungku menyala besar seolah-olah pukulan Khong Ling ling yang fatal itu sedikitpun tidak mempengaruhinya.

Khong Ling-ling menjerit sekali terus lari terbirit-bitit, baru sekarang Peng-toanio tersentak kaget dari lamunannya.

Sembari menjerit keras ia bergerak hendak mengejar, tapi Soat-lo Thay-thay keburu berteriak memanggilnya.

"Kiok-jin! Kembali!"

Peng-toanio menghentikan langkahnya mundur kembali ke samping mereka, serunya gugup.

"Lo-Thay-thay...."

Ketika hendak bicara, mendadak rona wajahnya berubah hebat, mulutnya terpentang menyemburkan darah segar, badan pun tidak kuat lagi bertahan terus meloso roboh di atas ranjang, karuan Peng-toanio dan Thio Ceng Ceng menjadi gugup, teriaknya.

"Lo-Thay-thay....kau kenapakah....?"

Soat-lo Thay-thay sedang berusaha menekan kembali darah segar yang hendak berhamburan keluar, dengan suara yang lirih berkata.

"Tidak apa-apa! Kiok-jin! Lekas kau ke kamar obat, di atas rak sebelah dinding timur terdapat sebuah botol putih, lekas kau bawa kemari!"

Sambil mengiakan lekas-lekas Peng-toanio berlari pergi, Soat-lo Thay-thay lantas pejamkan mata memulihkan semangatnya, air mukanya sangat buruk.

Hati Thio Ceng Ceng jadi geliah dan kuatir, tapi ia tidak berani mengganggu.

Tak lama kemudian Peng-toanio berlari kembali dengan tangan kosong, teriaknya gegetun.

"Lo-thay-thay, kamar obat sudah diobrak-abrik tidak karuan, beberapa macam obatobatan penting semua hilang."

Berubah pucat air muka Soat-lo Thay-thay hidungnya mendengus, makinya.

"Budak keparat itu! kerjanya terlalu keji...."

Cepat Thio Ceng Ceng mengeluarkan sebuah botol tanah liat, katanya.

"Lolo! aku masih punya Peng-sip-coan-bing-san, obat ini piranti untuk mengobati luka dalam...."

Dengan tangan Soat-lo Thay-thay mendorongnya ke samping, teriaknya dengan gusar.

"Lebih baik mati daripada makan obat buatan ayahmu."

Karena suaranya terlalu keras, kontan ia menyemburkan darah segar lagi, kini benar-benar tidak kuat bertahan lagi, dengan badannya terperosok jatuh.

Meski Peng-toanio keburu maju menolongnya, tapi toh dia cuma bisa meringis tanpa mampu memberi pertolongan seperlunya.

Tatkala itu meski masih ada beberapa jalan darah belum sempat diurut dan tertekan serta ditusuk jarum, tapi keadaan perempuan gila itu sudah semakin tenang, tidak lagi merontaronta.

Thio Ceng Ceng melepaskan kedua tangannya, terus mengeluarkan botol obatnya menuang dua butir pil warna putih lalu dijejalkan ke mulut Soat-lo Thay-thay, katanya kepada Peng-toanio.

"Toanio, mohon bantuanmu, carilah sedikit arak kemari, obat itu akan lebih mujarab khasiatnya dan bekerja lebih cepat bila ada arak."

Peng-toanio mengunjuk rasa kuatir dan was-was, katanya.

"Nona Thio! Kurasa.... kurasa kurang tepat dan runyam nanti, watak Lo-Thay-thay...."

Dengan penuh prihatin Thio Ceng Ceng berkata.

"Tidak jadi soal, bier aku yang tanggung jawab, betapapun aku tidak bisa berpeluk tangan melihat jiwanya di ambang maut...."

Apa boleh buat terpaksa Peng-toanio pergi ke dapur mencari sebotol arak lalu dituang ke dalam sebuah cawan kecil serta dilelehkan ke mulut Soat-lo Thay-thay, pil obat itu akhirnya tertelan hancur ke dalam perutnya.

Thio Ceng-Ceng jongkok di sebelah samping mengurut dan melancarkan jalan darahnya, tak lama pelan-pelan Soat-lo Thay-thay siuman dari pingsannya, melihat keadaan dirinya segera ia paham apa yang telah terjadi, dengan amarah meluap-luap ia ayun telapak tangannya serta berteriak beringas.

"Budak mampus! Berani kau mencelakai aku dengan obat...."

Thio Ceng Ceng terjengkang jatuh, tapi mulutnya mengeluh dan berteriak.

"Lolo! Obat itu adalah kwalitet terbaik untuk mengobati, mana bisa mencelakai kau?"

"Kentut!"

Teriak Soat-lo Thay-thay lebih murka.

"Kepandaian pasaran bapakmu masa mampu membuat obat mujarab apa!"

Thio Ceng Ceng diam saja sambil mengusap air mata, tak tertahan segera Peng-toanio ikut menimbrung.

"Lo-Thay-thay, maksud nona Thio baik."

"Baik kentut!"

Bentak Soat-lo Thay-thay.

"Dulu dia berlaku kejam dan telengas terhadap Sin-ji, aku pernah bersumpah akan menemukan dia dan membuat perhitungan lama kepadanya. Sekarang sebaliknya aku menelan obatnya, cara bagaimana aku punya muka untuk menemuinya?"

"I.olo"

Rengek Thio Ceng Ceng sesenggukan.

"Aku tidak tahu kau punya ganjalan hati apa terhadap ayah. Tapi hari ini aku menolong kau bekerja demi Koan-toako dan ibu. Penyakit mereka perlu perawatan dan pengobatan. Kalau kau tetap ngambek dan marah-marah, bila terjadi sesuatu, tamatlah mereka...."

Sekilas Soat-lo Thay-thay berpaling ke arah perempuan gila yang terbaring di ranjang lalu menghela napas.

"Ai, memang takdir! Selama hidupku ini kenapa selalu ditimpa kemalangan belaka...."

Pelan-pelan ia menggerakkan badan lalu merambat ke arah ranjang, tangannya terulur meraba erat nadi perempuan gila, lapat-lapat terunjuk rasa girang, serunya.

"Bagus! Sin-ji akhirnya bisa tertolong! Sayang budak hina itu tangannya terlalu cepat, sehingga aku belum bekerja tuntas melancarkan seluruh urat sarafnya terpaksa dia harus menderita beberapa hari lagi...."

Lalu ia mulai bekerja pula, kini satu persatu ia cabuti jarumjarum perak yang menancap tersebar di badan perempuan gila, semua ia serahkan kepada Peng-toanio serta katanya.

"Kiok-jin! kau harus pendam jarum-jarum ini di dalam tanah, semakin dalam lebih baik. Setelah itu gunakanlah arak obat menggosok seluruh badannya. Cara kerjamu harus pelanpelan, jangan sampai membuatnya bangun. Ceng Ceng, kau ikut aku ke kamar obat, aku hendak periksa budak itu mencuri apa saja!"

Peng-toanio mengiakan dan segera bekerja dengan apa yang dipesan.

Thio Ceng-Ceng tahu bahwa Soat-lo Thay-thay nenek luarnya ini ada omongan apa-apa hendak dibicarakan dengan dirinya, maka tanpa-sangsi segera ia ikut keluar.

Baru saja tiba di luar pintu, mendadak ia teringat apa-apa, sambil berseru kaget bergegas ia berlari kencang menuju ke mulut lembah.

Soat-lo Thay-thay memburu sambil berteriak.

"Budak setan, kenapa kau lari?"

Sembari berlari Thio Ceng Ceng berseru.

"Koan-toako masih berada di dalam hutan, aku kuatir Khong Ling-ling berlaku kasar terhadapnya...."

Soat-loThay-thay menjengek.

"Bocah busuk itu, kalau memang ditakdirkan mati, sejak lama dia sudah mampus, apa adanya kau buat geger."

Thio Ceng Ceng tidak hiraukan ocehannya, dengan cepat ia sudah menerobos masuk ke dalam hutan, tampak Koan Sangwat masih segar bugar berdiri di sana, hatinya jadi lega.

Tapi di atas sebatang pohon besar di sebelah Koan Sangwat, berpeta sebuah telapak tangan, dalamnya sampai beberapa senti.

Mungkin Khong Ling-ling sudah kemari, semula memang hendak membunuh Koan San-gwat, entah karena apa, seketika ia batalkan niatnya, tapi ia lampiaskan kedongkolan hatinya di atas pohon.

Mengawasi bekas telapak tangan itu, diam-diam mencelos hati Thio Ceng Ceng, dengan menghembuslsan napas ia menggumam.

"Khong Ling-ling, karena hari ini kau sudah menaruh belas kasihan terhadap Koan-toako, kelak bila ketemu, baiklah kuampuni sekali jiwamu!"

Soat-lo Thay-thay tertawa dingin, jengeknya.

"Dengan kepandaianmu sekarang masa membunuh dia? Kau sedang mimpi agaknya?"

Dengan lekat Thio Ceng Ceng mengawasi, katanya.

"Lolo! walaupun sekarang aku masih kalah, tapi setelah mendapat petunjuk dan bimbinganmu, tentu dapat membekuk dia."

Rada berubah air muka Soat-lo Thay-thay semprotnya.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku suka memberi petunjuk dan bimbingan kepada kau?"

Dengan laku hormat dan bersikap wajar Thio Ceng Ceng berkata.

"Lolo! kecuali kau mau mengumbar murid murtadmu itu!"

"Mengumbar dia,"

Dengus Soat-lo Thay-thay gusar.

"ingin rasanya mengelupas kulitnya. Budak hina itu memang berwatak culas dan jahat, sejak lama memang sudah kuketahui, cuma aku tidak menyangka dia berani turun tangan keji terhadapku. Kelak aku akan mencarinya sendiri untuk membuat perhitungan padanya."

"Lolo!"

Kata Thio Ceng Ceng menggeleng kepala.

"Kenapa kau mempersulit dirimu sendiri? Setelah kau kena pukulannya, urat nadi tubuhmu sudah tergetar putus atau sungsang sumbel, meski kau bertahan sekuat tenaga dan berhasil menggertak dia lari, tapi tidak dapat mengelabui sepasang mataku. Kau sendiripun tidak akan mampu membekuk dan membereskan dia!"

"Maksudmu aku sudah menjadi seorang cacat?"

"Cacat sih tidak, tapi ilmu silatmu sudah banyak menurun dan tidak mungkin dipulihkan kembali. Maka untuk balas dendam dan menghukum muridmu yang murtad itu, tugas ini harus kau serahkan kepadaku!"

"Kenapa?"

"Sebab aku adalah keturunanmu, cucu perempuan yang tunggal! Unruk sementara waktu Khong Ling-ling dapat kau kelabui. Setengah atau satu tahun, melihat kau tidak mencari dia, pasti dia dapat menyelami perihal itu. Tatkala itu, mungkin dia yang akan mencari kau...."

"Memang aku harus takut terhadapnya?"

"Lolo! Jangan marah-marah lagi, kau tidak perlu takut terhadapnya, tapi bukan mustahil jiwa ibuku bakal diancam olehnya! Demi ibu, kau tidak pantas menolak diriku!"

Sikap keras Soat-to Thay-thay akhirnya lunak, katanya sambil menghela napas.

"Akhir akibatnya seperti yang dialaminya sekarang.... Baiklah? Daku akan tuangkan ilmu silat kepada kau, tapi dengan satu syarat!"

"Syarat apa?"

"Kalau kau hendak belajar silat kepadaku, selanjutnya tidak boleh kau mengakui bapakmu yang durhaka itu!"

"Lolo, aku tidak akan setuju dengan syaratmu ini, sebab sejak kecil aku diasuh beliau sampai besar."

Berubah air muka Soat-lo Thay-thay, tapi dengan kalem Thio Ceng Ceng melanjutkan.

"Cuma sebaliknya ayah tidak sudi lagi mengakui aku sebagai putrinya lagi...."

"O, kenapa begitu?"

"Ayah melarang aku datang kemari, katanya bila aku kemari maka dia hendak memutuskan hubungan ayah beranak Akan tetapi. .... demi Koan-toako aku nekad kemari, mungkin selama hidup ini beliau tidak akan memaafkan aku lagi...."

Mendadak Soat-lo Thay-thay tertawa besar, serunya.

"Bagus! Thio Hun-cu! Dulu kau merebut putriku, sekarang kau sendiripun kehilangan putrimu, satu lawan satu, inilah pembalasan yang setimpal!"

"Lolo! Kenapa kau begitu benci kepada ayah?"

Soat-lo Thay-thay menghela napas, pelan pelan ia menceriterakan kisah lama, sebuah tragedi yang menyedihkan.

Dua pulub tahun yang lalu, Soat-sin-kok tidak sepi seperti sekarang ini.

Tabib sakti Ih-bing meninggal pada saat usianya sedang menanjak, tapi seluruh kepandaian dan ajaran ilmu pengobatan ia wariskan kepada istrinya yang tercinta LimKeng-hong.

Di waktu kecil Lim Keng-hong pernah diangkat murid oleh seorang tokoh aneh dan diajari ilmu silat yang lihay dan aneh pula, setelah menikah dan menjadi warga keluarga Soat, mereka menetap di dalam Soat-sin kok di Kun-lun-san menikmati kehidupan suci seperti dewa.

Ilmu pengobatan Soat Ih-bing memang bukan olah-olah hebatnya, tapi dia tidak mampu menolong jiwa sendiri.

Karena keluarga Soat mempunyai semacam penyakit turunan yang jahat.

Berbagai cara pengobatan tidak membawa hasil, Soat Ih-bing sendiri setelah berjerih payah sekian tahun memperoleh sedikit endusan dalam mengatasi penyakit yang berbahaya itu, apa lacur manusia punya usaha, Tuhan punya kuasa, terpaksa dia meninggalkan tugas penyelidikannya ini kepada istrinya yang janda, semoga dia dapat lebih giat dan rajin memperdalam ilmunya.

Karena adanya penyakit turunan ini maka warga keluarga Soat Ih-bing hanya mempunyai seorang putri tunggal yang diberi nama Soat Ci-sin.

Di waktu dia mangkat, usia Soat Cisin ini sedang menanjak dewasa, otaknya cerdik dan pintar, wajahnya rupawan dan bentuk tubuhnya pun elok menggiurkan, sayang terlalu diumbar sehingga bermain kurang tekun dalam pelajaran, sangat besar harapan Lim Keng-hong kepada putri tunggalnya ini, ia berusaha menurunkan seluruh ilmu pengobatannya kepada putrinya ini.

Sayang terhadap kedua ajaran ilmu yang membuang-buang waktu dan melelahkan badan itu, sedikitpun putrinya tidak tertarik, karena sejak kecil sudah biasa diumbar dan disayang.

Lim Keng-hong tidak tega terlalu memaksa, terserah berapa banyak dia mampu menguasai ajaran-ajarannya itu, lambat laun tentu akan berkembang sendiri.

Waktu Ci-sin berusia sembilan belas tahun, terjadi suatu perubahan di Soat-sin-kok.

Datanglah seorang pemuda ke dalam lembah itu.

Pemuda itu She Thio, bernama Hun-cu, sikapnya sopan santun, terpelajar dan berkepandaian silat cukup lumayan, yang lebih menyenangkan bahwa diapun pandai ilmu pengobatan.

Hari itu karena mendaki Kun-lun-san hendak mencari Soat-lin, dia kesasar masuk ke Soat-sin-kok.

Karena hidup terasing dan tidak pernah bergaul sesama manusia, begitu bertemu dengan pemuda asing ini, Soat Ci-sin lantas hatinya tertambat pada Thio-Hun-cu ini.

Lim Keng-hong pun sangat setuju, beberapa kali kesempatan ia langsung menguji ilmu pengobatan yang pernah diajarkan kepadanya, meski kalah jauh bila dibanding dirinya, tapi di dalam alas pegunungan yang sepi ini memperoleh mantu yang cukup setimpal ini, Ia harus bersyukur dan berdoa akan kemurahan hati Tuhan.

Oleh karena ini bukan saja dia tidak melarang hubungan intim kedua muda-mudi ini, malah secara sengaja ia merestui dan seperti menganjurkan hubungan yang lebih erat, sering ia beri kesempatan mereka mengadakan pertemuan empat mata, untuk menyuburkan dan mempercepat pertumbuhan hubungan mesra mereka.

Tibalah pada suatu hari, sambil tertawa riang, Thio Hun-cu menggandeng tangan Ci-sin datang meenghadap kepadanya.

Lim Keng-hong tahu bahwa waktunya sudah tiba, dengan wajah berseri ia menunggu mereka membuka kata.

Dengan muka jengah, Thio Hun-cu unjuk hormat kepadanya serta katanya.

"Pekbo! Siautit ada sebuah permintaan kepada kau orang tua, sengaja ku kemari mohon persetujuanmu."

"Soal mengenai Ci-sin bukan?"

Thio Hun-cu merasa malu, dia tunduk kepala. Lim Keng-hong menjadi geli, ujarnya.

"Sejak lama aku sudah tahu, memang aku sudah tahu, memang aku sudah menunggu kau buka suara kepadaku."

"Kalau begitu Pek-bo merestui perjodohan kami ini!?"

Saking girang Lim Keng-hong tertawa besar, ujarnya.

"Jikalau aku tidak setuju, masa kuijinkan anak Sin berhubungan begitu intim dengan kau. Semula memang aku hendak mengajukan persoalan ini dengan kau, cuma kuharap kalian bisa jauh lebih intim, masing-masing bisa lebih paham dan pengertian."

Tersipu-sipu Thio Hun-cu berlutut unjuk hormat besar, serunya girang.

"Terima kasih Pekbo, aku bersumpah kepada kau, selama hidupku ini pasti kuperlakukan Gi-sin baik-baik, betapapun aku tidak akan meninggalkan dia...."

Dengan tersenyum Lim Keng-hong memapahnya bangun, katanya.

"Kau punya tekad yang luhur dan bajik pula, aku sudah cukup puas. Selama ini secara diam-diam segalanya sudah kupersiapkan, besok juga kalian bisa segera melangsungkan upacara, selanjutnya Soat sin-kok ini bakal menjadi dunia kalian."

Thio Hun-cu rada tercengang, katanya.

"Maksud Pekbo, setelah kami menikah, kita harus menetap di sini?"

Lim Keng-hong tertegun, katanya.

"Kalau tidak tinggal di sini, lalu menetap dimana?"

Segera Thio Hun-cu berkata.

"Di puncak antara utara Thian-san, Siautit punya sedikit peninggalan, disana hawanya sejuk, selamanya hangat dan kehidupan subur...."

Lim Keng-hong merasa di luar dugaan. Mendengar ucapannya ini, cepat ia bertanya.

"Sebelum kau mengajukan lamaranmu, apakah kau sudah mendapat persetujuan dari Sin-ji?"

"Sudah,"

Sahut Thio Hun-cu manggut.

"berkat kemurahan hati Gi-sin, dia rela menikah dengan aku."

"Nikah apa?"

Teriak Lim Keng-hong melonjak bangun.

"Siapa yang berkata demikian?"

Kata Thio Hun-cu heran.

"Pekbo sudah merestui pernikahan kami, kenapa tidak mengijinkan dia ikut kepadaku?"

Dengan muka serius Lim keng-hong berkata.

"Memang! Tapi dalam hal ini ada seluk beluknya yang perlu dijelaskan dulu. Sin-ji, apakah kau tidak memberitahukan pesan terakhir ayahmu kepadanya?"

Dengan takut-takut Soat Gi-sin menyahut.

"Sudah pernah kujelaskan! Hun-cu, dia tidak merasa jijik meski aku punya penyakit, malah pun percaya bahwa aku mempunyai penyakit turunan yang jahat, dan yang terpenting bahwa dia punya keyakinan dapat mengobati penyakitku...."

Lim Keng-hong tertawa dingin, jengeknya.

"Ayahmu sendiri seorang tabib sakti yang tiada bandingnya, sedikitpun dia tak mampu mengatasi penyakit jahat itu, dengan kemampuannya yang tak seberapa itu, berani dia membuka mulut besar? Jangan kau meninggalkan tempat ini, kau tidak akan hidup lebih lama dari tiga tahun."

Baru sekarang Thio Hun-cu paham duduk perkara sebenarnya, cepat ia menyela;

"Pekbo ternyata kau menguatirkan kesehatan Gi-sin. Untuk hal ini legakan saja hatimu. Sekarang ini Siautit ada menyelami beberapa peninggalan dari paman Soat, sedikit banyak aku memperoleh sedikit gambaran terhadap penyakit jahat yang biasa kumat dalam jangka waktu tertentu. Kalau Gi-sin bisa pindah ke tempat yang lebih hangat dan dalam suasana yang riang gembira, mungkin bisa membawa manfaat bagi dirinya...."

Lim Keng-hong tertawa dingin.

"Kalau begitu ilmu pengobatanmu jauh lebih tinggi dan lihay dari ayahnya....?"

"Soal pengobatan Siautit tidak berani mengagulkan diri. Ilmu pengobatan paman Soat memang teramat dalam dan luas sekali, betapapun Siautit tak mampu menandingi beliau. Cuma mengenai penyakit turunan yang jahat itu, agaknya paman Soat belum pernah mengadakan eksperimen lainnya yang berguna, maka berdasarkan kemungkinan yang tertera di atas ajaran teorinya...."

Tiba-tiba Lim Keng-hong menggebrak meja dan berseru gusar.

"Jangan kau bicarakan teori dengan aku, di dalam hal ini aku jauh lebih jelas dan paham dari kau, selama beberapa keturunan keluarga Soat sengaja menetap di tempat tinggi di atas alam pegunungan memangnya kau anggap tiada sebabnya, anggap saja teorimu itu memang masuk di akal, bagaimana pun juga Gi-sin tidak boleh ikut kau keluar dari tempat ini, apakah kau tahu bahwa keluarga Soat masih punya perundang-undangan lainnya?"

Cepat Soat Gi-sin menyela.

"Bu, aku pernah jelaskan kepadanya, menurut pandangannya sedikitpun aku tidak akan melanggar larangan kakek moyang kita."

"O, cara bagaimana kau beri penjelasan, coba kau katakan!"

Thio Hun-cu segera menjawab.

"Menurut undang-undang leluhur, keluarga Soat tidak melarang keturunannya meninggalkan lembah ini, tapi Gi-sin justru tidak terkekang oleh larangan ini...."

"Anggapanmu dia bukan keturunan keluarga Soat?"

Seru Lim Keng-hong marah. Thio Hun-cu tertawa ewa, sahutnya.

"Tentu sekarang, benar, tapi setelah dia menikah dan ikut aku, dia bukan she Soat lagi...."

Semakin beringas wajah Lim Keng-hong, tanyanya kepada Soat Gi-sin.

"Apakah kaupun berpikir demikian?"

Dengan menekan suara Soat Gi-sin menyahut pelan-pelan.

"Peraturan leluhur tidak melarang anak putrinya dengan orang luar, bukankah dulu sudah ada contohnya?"

"Lain dulu lain sekarang, kini keluarga Soat hanya punya kau seorang keturunan, setelah kau menikah dengan orang luar, apakah untuk selanjutnya keluarga she Soat harus putus turunan? Di waktu kau menyetujui lamarannya, apakah kau pernah pikirkan hal ini?"

Soat Gi-sin menunduk dan tidak bersuara lagi. Tak tahan Thio Hun-cu berkata.

"Kalau begitu, selamanya Gi-sin tidak bisa menikah dengan orang! Selamanya akan hidup menyendiri dan menyepi di dalam lembah yang dingin dan sebatangkara...."

"Benar! Selamanya tidak boleh menikah dengan orang luar,"

Bentak Lim Keng-hong.

"Tapi dia tidak akan sebatangkara untuk selamanya, kalau tidak masa aku mau merestui pernikahan kalian, apakah kalian tahu makna dari pernikahan itu?"

Thio Hun-cu berpikir sebentar lalu menjawab.

"Siau-tit paham, maksud Pekbo adalah ingin Siau-tit menjadi menantu keluarga Soat dan menetap di sini!"

Lim Keng-hong manggut-manggut, ujarnya.

"Benar! Itulah cara satu-satunya untuk menyambung keturunan keluarga Soat. Kalau kau benar-benar mencintai Gi-sin, maka sudah sepatutnya berani berkorban bagi dia...."

Thio Hun-cu termenung sebentar lalu menyahut dengan tegas.

"Untuk hal ini mungkin Siau-tit tidak bisa menurut. Siau-tit hidup sebatangkara tanpa sanak kadang, kalau aku harus memenuhi peraturan dan menyambung keturunan keluarga Soat, apakah aku tidak boleh menyambung keturunan keluarga Thio kita? Bagaimana aku harus bertanggung jawab kepada leluhurku?"

"Hun-cu!"

Saking gugup Gi-sin menangis sesenggukan.

"Apa kau tidak sudi berkorban demi kepentinganku?"

Thio Hun-cu tertawa getir, katanya.

"Gi-sin, kenapa kaupun bisa berpikir demikian?"

Soat-lo Thay-thay terlongong sebentar, mendadak ia menangis sesambatan sambil menutupi mukanya.

Thio Hun-cu membanting kaki dan menghela napas panjang.

Lim Keng-hong tidak tega melihat putrinya menangis sedemikian sedihnya, akhirnya ia berkata kepada Thio Hun-cu.

"Kenapa kau begitu kukuh! Aku bukan orang yang egois untuk memaksa kau meninggalkan marga leluhurmu, tapi Gi-sin punya kesukaran yang lebih berat dari kau, dia terkekang oleh larangan leluhur. Asal kalian dapat melahirkan dua anak, satu orang satu keluarga bukankah kedua belah pihak sama-sama memperoleh keuntungan?"

Tapi dengan keras kepala Thio Hun-cu menggeleng, katanya.

"Tidak mungkin! Kalau Gi-sin tetap tinggal di tempat ini, penyakitnya selamanya tidak akan bisa sembuh, keturunan keluarga Soat kalian akan selalu tunggal, seolah-olah sudah menjadi tradisi, dia tidak akan mungkin memperoleh anak lebih banyak, kecuali dia meninggalkan tempat ini."

"Kalau dia meninggalkan lembah ini berarti melanggar pantangan leluhur, maka selamanya tidak terhitung keturunan keluarga Soat kita, meski kalian dapat beranak selusin juga tidak diperbolehkan masuk menjadi keluarga Soat...."

Karena adanya alasan-alasan kuat dari kedua belah pihak yang sama dikukuhi, sebuah perkawinan yang semestinya membawa kebahagiaan nampaknya bakal gagal total.

Dengan penasaran dan hampa, Thio Hun-cu meninggalkan Kun Lunsan, tapi dua hari kemudian Soat-sin-kok menjadi geger karena Soat Gi-sin ternyata minggat.

-oo0dw0oo-

Jilid 5 GADIS PINGITAN yang sejak kecil biasa hidup di alam pegunungan bersalju, tak kuasa menahan gejolak asmara lalu mengejar kekasih yang didambakannya setiap hari, lupa akan ajaran leluhur, tanpa menghiraukan kesedihan ibunya, jauh ribuan li ia menyusul ke Thian-san utara, mereka melangsungkan pernikahan dan selanjutnya hidup sebagai suami istri dan sering berkelana di padang rumput.

Semula Lim Keng-hong sangat murka, secara diam-diam iapun menyusul ke padang rumput, menurut rencana semula ia hendak bunuh kedua muda mudi yang dianggapnya terlalu kurang ajar ini.

Tapi begitu ia melihat wajah Soat Gi-sin yang bercahaya dan penuh diliputi rasa bahagia yang berlimpahlimpah, niatnya jadi luluh.

Maklum adanya ikatan cinta kasih seorang ibunda terhadap putrinya, terpaksa ia memaafkan mereka, secara diam-diam pula ia kembali ke Kun-lun-san.

Sang waktu berjalan cepat bagai aliran air takkan kembali lagi, tanpa terasa dua tahun sudah berselang, hawa padang rumput yang panas memang banyak memberikan perubahan terhadap penyakit Gi-sin, selama itu ia tetap hidup dengan sehat walafiat, malah sudah mengandung.

Lahirnya kelihatan Lim Keng-hong itu telah melupakan mereka, namun secara diam-diam sering datang menjenguk mereka, terutama di saat Gi-sin hendak melahirkan oroknya hampir tiba, setiap hari beberapa kali dengan sembunyisembunyi ia tengok keadaan putrinya.

Karena ilmu silatnya lihay, pergi datang tidak meninggalkan bekas, sepasang suami istri yang dilingkupi rasa bahagia itu sedikit pun tidak tahu menahu.

Gi-sin melahirkan seorang putri, kehidupan sehari-hari bertambah bahagia semanis gula, penuh diliputi kasih mesra.

Semua kehidupan manusia dalam dunia ini memang tiada yang abadi, tiada sesuatu yang tidak pernah berubah, di kala putrinya itu Ceng Ceng menanjak satu tahun, bibit penyakit dalam tubuh Soat Gi-sin mulai kambuh, memang itulah penyakit khusus dari turunan keluarga Soat, suhu badannya berubah sedemikian tinggi, setiap hari mulutnya mengigau, seolah-olah jiwa raganya sedang digembleng dalam keadaan kepanasan yang luar biasa.

Thio Hun-cu menggunakan kepandaian ilmu pengobatannya berusaha menyembuhkan istri tercinta, segala obat mujarab sudah dia gunakan, betapapun sulit usahanya ia tetap tidak putus asa, akhirnya jerih payahnya ternyata berhasil dengan menggembirakan.

Jiwa Soat Gi-sin dapat direnggut kembali dari elmaut.

tapi suhu badannya terlalu tinggi hingga ingatannya menjadi kabur, dan celakanya selebar mukanya yang semula cantik molek itu timbul bisul-bisul yang membusuk dan berubah sangat menakutkan.

Suatu ketika ingatannya agak jernih, teringat kepada putrinya, Ceng Ceng yang sudah berusia setahun, bocah cilik itu ternyata punya perasaan tajam, melihat wajah ibunya yang semenakutkan itu ia menjerit keras terus jatuh pingsan, jeritan keras ini memukul batin Gi-sin, kesadarannya menjadi semakin kabur, Gi-sin akhirnya sinting ia mendadak maju hendak mencekik putrinya yang pingsan, untung Thio Hun-cu keburu mencegah perbuatan gilanya tapi Gi-sin sudah gila betul-betul suami sendiri pun tidak kenal lagi.

Mereka berkelahi kekuatannya luar biasa sampai Thio Hun-cu terdesak tidak kuat lagi melawan, suatu ketika pinggangnya dipeluk kencangkencang hingga susah bernapas, dalam seribu kerepotannya cepat ia tutuk jalan darah penting di bawah tenggorokan Soat Gi-sin, syukur peristiwa yang menegangkan urat syaraf ini dapat dihentikan.

Thio Hun cu tahu bahwa penyakit gila tidak dapat disembuhkan, demi keselamatan putrinya, terpaksa dia harus dibunuh, supaya bebas dari penderitaan hidup yang tidak wajar ini.

Di saat ia hendak turun tangan itulah, Lim Keng-hong yang sembunyi itu menerobos ke luar merintangi tindakannya.

Timbul perdebatan dan adu mulut yang seru, akhirnya ia semaput oleh pukulan Lim Keng-hong, selanjutnya Gi-sin dibawa pulang ke puncak Kun-lun-san.

Tutukan Thio Hun-cu sangat berat, meskipun Soat Gi-gin tidak mati tapi sekarat, kecuali berteriak-teriak sekejappun tidak mampu bicara lagi.

Karena perobahan hebat ini, perangai Lim Keng-hong menjali nyentrik, timbul perasaan dendam yang tidak terlampias selama hidupnya terhadap Thio Hun-cu.

Kehidupan di atas pegunungan memang sunyi sepi, akhirnya dia menerima seorang murid perempuan kecil, dia bukan lain adalah Khong Ling-ling.

Di bawah perawatannya yang tekun dan hati-hati, penyakit gila Gi-sin kadang-kadang kumat kadang-kadang baik, dengan segala daya upaya Lim Keng-hong tetap tidak berhasil menyembuhkan penyakit gila itu, tidak mampu pula membuatnya bicara.

Waktu berjalan cepat, tahu-tahu dua puluh tahun sudah berlalu.

Lim Keng-hong berubah jadi nenek tua, ilmu pengobatan dan kepandaian silatnya jauh lebih maju, tabiatnya juga semakin jelek, kecuali Hwi-thian-ya-ce, siapapun dilarang memasuki Soat-sin-kok.

Di saat Thio Ceng Ceng membawa Koan San-gwat datang, pemuda yang terkena racun aneh itu menarik perhatian, ia mau mengobatinya tapi setelah melihat wajah Thio Ceng Ceng yang mirip ayahnya itu, membuat dia ingat akan dendam lama, maka dia melarang Ceng Ceng ikut masuk ke dalam lembah kediamannya.

Siapa tahu Thio Ceog Ceng diselundupkan ke dalam Soatsin-kok oleh Peng-toanio, maka jadilah bentrokan dengan Khong Ling-ling, dalam saat-saat berbahaya itu, mungkin karena ada hubungan batin serta cinta ibu ter hadap anak, keributan itu menarik perhatian Gi-sin yang disekap dalam sebuah kamar tersendiri.

Saking kejut dan kegirangan karena Gi-sin yang terluka dan dapat bicara, Soat-lo Thay-thay lupa diri, dia hajar Khong Ling-ling yang sebelumnya ini tidak pernah terjadi.

Maka terjadilah peristiwa yang telah dituturkan di atas.

ooooo00000000oooooo Thio Ceng Ceng mendengar cerita ini dengan terlongong dan kesima, tanpa merasa air mata meleleh di kedua pipinya, katanya sambil sesenggukan.

"Lolo! Kalau begini apakah tindakanmu tidak terlalu kejam terhadap ayah....?"

Bertaut alis Soat-lo Thay-thay, agaknya hampir marah lagi, tapi ia urung mengumbar adat. Katanya sambil menghela napas.

"Untuk urusan lain aku boleh memaafkan dia, cuma tidak pantas ia berlaku kejam terhadap Gi-sin, semalam menjadi suami istri seratus tahun akan selalu terkenang, ikatan batin suami istri laksana lautan dalamnya, mana boleh berlaku culas terhadap isteri sendiri."

Thio Ceng Ceng terbungkam seribu bahasa, selang agak lama baru dia berkata pula.

"Kejadian sudah berselang demikian lama, kau orang sudah tua, tiba saatnya memaafkan kesalahannya, mungkin karena terpaksa sehingga ayah bertindak begitu, kalau ular beracun mengigit pergelangan tangan, seluruh lengan harus cepat dipotong, kau sebagai orang yang memperdalam ilmu pengobatan, seharusnya lebih paham akan rasa penderitaan dan harus bertindak tegas meski terpaksa."

"Sudah tentu aku paham, kalau aku tidak mengerti hal ini, hari itu sudah kupukul mampus dia, masa dia bisa hidup sampai sekarang. Ai, sudahlah tiba saatnya kutanya kepada bocah itu ada sangkut paut apa dengan kau! Apa yang telah kalian alami?"

Thio Ceng Ceng menunduk jengah.

Melihat kelakuan Thio Ceng Ceng yang malu-malu ini terbayang oleh Soat-lo Thaythay pada waktu Thio Hun-cu menggandeng tangan Gi-sin menghadapnya dulu, waktu itu pun bersikap demikian.

Kenangan lama kembali terbayang dalam kelopak matanya, hanya generasi mendatang yang akan mengulang kejadian pahit yang sudah berselang itu.

ooooo0000ooooo Kembang mekar untuk rontok pula, setahun sudah berselang.

Satu-satunya jalan pegunungan untuk keluar dari Soat-sinkok sudah tertutup salju, Soat-lo Thay-thay Lim Keng-hong menyatakan akan menemani putrinya yang sudah sembuh yaitu Soat Gi-sin menetap selamanya di dalam Soat-sin kok, selama hidup ini mereka tidak akan berkecimpung di dunia ramai.

Ilmu silat dan ilmu pengobatan yang dia miliki dengan tekun dan teliti ia ajarkan kepada Thio Ceng Ceng, tapi dengan satu syarat, yaitu harus membawa pulang batok kepala Khong Ling-ling.

Kepandaian Khong Ling-ling adalah buah didiknya, perbuatan Khong Ling-ling yang berani membokong guru sendiri secara durhaka ini, sudah gamblang, bahwa gadis itu berhawa culas dan kejam.

Kalau manusia jahat seperti dia tetap hidup di dunia ini tentu akan membawa bencana bagi kehidupan manusia.

Tiada alasan bagi Hwi-thian-ya-ce Peng Kiok-jin untuk tetap tinggal di atas gunung, terpaksa ia ikut turun gunung berkecimpung pula di kalangan Kangouw.

Sungguh haru dan rawan pula hatinya, dalam sanubarinya masih menyimpan rahasia, rahasia hubungan dirinya dengan Bing-tho-ling-cu Tokko Bing, sudah berulang kali ia menyirap asal usul kematian Tokko Bing kepada Koan San-gwat, tapi jawaban Koan San-gwat sukar dipercaya.

Agaknya mengemban perasaan berat juga.

Dua kali ia muncul kedua-duanya menggetarkan dunia persilatan, padahal ia hanya muncul seperti bintang di langit yang kelap kelip.

Di kala menatap mata Thio Ceng-Ceng yang cemerlang dan lembut itulah baru rona wajahnya mengunjuk tawa yang lebar, itulah tawa persahabatan, tawa yang mengandung rasa terima kasih, haru dan mesra.

Sudah dua kali ia hampir menemui ajal tapi dua kali ditolong oleh Thio Ceng-Ceng, adalah jamak kalau dia sangat berterima kasih dan merasa berhutang budi pula.

Hidupnya memang sebatangkara, tiada kakak tiada adik, hanya Thio Ceng Ceng saja sahabat terdekat, maka timbullah dua perasaan bertentangan di dalam sanubarinya.

Pemuda ini bersikap dingin, tiada perasaan mesra terhadap hubungan muda-mudi, kalau hanya hubungan kental antar persaudaraan, dapatkah memuaskan nurani Thio Ceng Ceng?

Persoalan ini sulit dijawab.

Sikap Thio Ceng Ceng terhadap Koan San-gwat tetap mesra, lincah, jenaka, penuh gairah dan cinta kasih pula, senang sama diresapi, duka sama dirasakan.

Cuma dalam batin ia mencurahkan perasaan hatinya, belum pernah secara lahiriah memohon sesuatu kepadanya!

Mungkin dia bersikap menunggu, menunggu rona wajah yang kaku dan dingin itu suatu ketika akan cerah dan penuh semangat.

Begitulah, dari barat mereka menuju ke timur langsung memasuki Tionggoan, selama perjalanan itu sedikitpun tidak menarik perhatian kaum persilatan.

Maklum Hwi-thian-ya-ce sudah lama menyembunyikan diri, kaum persilatan sudah lama melupakan dia.

Thio Ceng Ceng hanya seorang gadis yang kelihatan hijau, hanya Koan Sangwat pernah menggemparkan Bulim setahun yang lalu, apakah kaum persilatan sudah lama melupakan dia juga?

Kiranya tidak mungkin atau mungkin kaum persilatan mengira dia sudah mati.

Dalam rumah makan pada sebuah perkampungan, agar mendengar percakapan kaum perdagangan atau para Busu dari perusahaan Piawkiok, sungguh tidak nyana bahwa setahun ini kehidupan di kalangan Kangouw ternyata tenteram sentosa.

Sejak Khong Bun thong mati, Khong Bun-ki pun mati menghilangkan, mengundurkan diri percaturan dunia persilatan, agaknya Khong Ling Ling pun belum pernah pulang ke kampung halamannya, kalau tidak masa sedikitpun tidak terdengar kabar beritanya.

Hari ini mereka tiba di luar kota Ciu-coan.

Sebagai kota penting yang menjadi pusat perdagangan antar kota utara dan selatan, kota ini lebih ramai, tempat singgah bagi para pedagang dan kelana Kangouw.

Koan San-gwat bertiga duduk di barak ujung utara, mereka makan gulai dan sate kambing, gegares hidangan mereka pasang kuping dan diam-diam memperhatikan gerak-gerik para tamu yang hilir mudik di sekitarnya, jelas tentang situasi kalangan Kangouw selama setahun belakangan ini.

Tapi mereka agak kecewa, karena orang-orang yang singgah di sini dari kaum persilatan tingkat rendah melul.

Kata-katanya kasar, suka jual lagak lagi.

Syukur sejak kecil Thio Ceng Ceng sudah biasa bercampur baur dengan para gembala di padang pasir, sehingga ia tidak merasa rikuh akan kelakuan kasar dan perkataan kotor itu.

Demikian juga usia Peng-toanio sudah cukup lanjut, tidak jadi soal mendengar ucapan yang menusuk perasaan orang lain.

Koan San-gwat risi dan kikuk merasa dongkol pula, tapi orang bebas bersenda gurau atau mengumpat caci orang lain tanpa menyinggung dirinya.

Di saat ia merasa sebal dan tidak sabar lagi, dari arah timur didengarnya derap langkah kuda ramai, puluhan laki-laki yang datang itu berlumuran darah, ternyata kuping kiri mereka terpotong hilang diiris orang.

Kedatangan puluhan laki-laki yang ini membuat orangorang barak itu kesima, hening sesaat lamanya.

Mereka mengawasi para laki-laki yang kehilangan sebelah kupingnya itu.

Seorang laki-laki yang kelihatannya pemimpin mereka berteriak.

"Tiam-keh! lekas bawa air panas kemari, suruh pelayanmu memanggil tabib kemari!"

Tersipu-sipu pemilik warung makan membawakan beberapa baskom air panas serta berkata tersendat-sendat.

"Tuan-tuan apakah yang terjadi, di daerah sini tiada tabib yang pintar, terpaksa harus panggil dari kota!"

Laki-laki itu uring-uringan, bentaknya.

"Sewa kereta dan panggil dia kemari, kalau kita bisa masuk kota memangnya kita sudi berhenti di sini, keadaan kita seperti ini masuk kota hanya menjatuhkan pamor Siang-ing Piaukiok saja."

Keadaan menjadi ramai oleh suara heran dan bisik-bisik, agaknya nama Siang-ing Piaukiok cukup tenar, bahwa kuping mereka teriris semua adalah jamak kalau membuat orang lain heran.

Namun siapa yang berani bertanya kepada mereka?

Tergerak hati Koan San-gwat, segera ulurkan tangannya ke arah Peng-toanio, maksudnya minta buntalan obat luka-luka yang mereka bawa dari Kun-lun-san, jumlahnya tidak banyak, sebetulnya mereka membekal obat untuk keperluan sendiri, maka Peng-toanio ragu-ragu untuk memberinya.

Tapi tanpa pikir segera Thii Ceng Ceng membuka buntalan itu dan mengangsurkan obat yang diminta, terpaksa Pengtoanio diam saja.

Begitu menerima obat itu, bergegas Koan San-gwat berdiri terus mendekati laki-laki itu serta bersoja, katanya.

"Saudara ini, aku yang rendah kebetulan membawa obat luka mujarab dari peninggalan leluhurku, kalau saudara sudi mari silahkan pakai saja obat ini...."

Melihat orang berpakaian pelajar, sudah tentu laki-laki itu tidak mengenal bahwa yang dihadapi adalah Bing-tho-ling-cu yang kenamaan itu, maka sikapnya rada dingin dan menyangsikan kasiar obatnya itu, namun orang membantu dengan tulus tidak enak menampik kebaikan orang, maka ia berkata.

"Terima kasih, Siangkong!"

Segera Koan San-gwat membuka buntalan obatnya lalu mengobati luka-luka di kupingnya, kasiat obatnya ternyata luar biasa, kontan laki-laki itu merasa luka-lukanya tidak sakit dan terasa nyaman, malah darahpun berhenti mengalir, tanpa terasa mulutnya menyeringai lebar mengalir dan memuji.

"Obat Siangkong sunggub mujarab, masih ada beberapa saudaraku yang terluka, harap Siangkong suka memberi pertolongan juga pada mereka, nanti akan kami beri imbalan yang cukup berarti."

Koan San-gwat tersenyum lebar, katanya, empat penjuru lautan adalah saudara, kenapa saudara berlaku sungkan!!"

Satu persatu ia bubuhi obat pada luka-luka mereka. Melihat tindak tanduk Koan San-gwat yang gagah dan berwajah cakap lagi keruan pemimpin itu segera mengunjuk hormat serta berkata.

"Harap tanya nama besar Singkong yang mulia, Supaya kelak kita bisa membalas kebaikan ini. Aku She Sun bernama Cit, gelaranku Hek-ing (elang hitam), sebagai pimpinan Siang-ing piaukiok. Jalan-jalan raya antara Kam-siok menuju ke Siamsay bila Siangkong punya keperluan silahkan sebut namaku, tentu para kawan Bulim banyak yang suka memberi bantuan."

Koan San-gwat tersenyum, sahutnya.

"Saudara Sun Cit kenamaan di daerah Siam-say dan Kam-siok, sungguh beruntung aku yang rendah bisa berkenalan ...."

Sun Cit tertawa getir, katanya.

"Ah, Siang kong menggoda saja, karena kehilangan kuping kiri ini, kebesaran Hek-ing boleh dikata sudah runtuh sama sekali ...."

"Apakah yang telah terjadi?"

"Kalau dibicarakan memang memalukan, sudah dua puluh tahun Siang-ing piaukiok mondar mandir di jalan raya ini, belum pernah gagal, namun hari ini kita terjungkal secara total. Kereta barang dirampas, dua orang piau-thau tertabas kutung kepalanya, empat orang kami dibuntungi sebelah kupingnya, kalau diceritakan sulit dipercaya, pihak lawan hanya seorang saja, dia menunggang unta, tapi dengan mudah ia gondol kereta yang memuat dua laksa tail perak."

Berubah air muka Koan San-gwat, serunya.

"Apa? Perampok itu menunggang unta? Unta macam apa?"

Sun Cit mendengus, sahutnya.

"Binatang seperti itu memang jarang terlihat, seluruh tubuhnya berbulu mulus tanpa terlibat rambutnya yang berwarna lain, tapi berat uang perak sebanyak dua laksa tail itu, namun ia dapat membawanya lari bagai terbang."

"Jadi unta sakti itu...."

Teriak Koan San-gwat tak tertahan. Sun Cit melirik sekali, tanyanya.

"Unta sakti yang mana maksud Siangkong?"

"Aku pernah dengar unta yang ditunggangi Bing-tho-ling-cu adalah seekor unta sakti dan pintar sekali...."

"Salah!"

Tukas Sun Cit.

"Unta Bing-tho-ling-cu berbulu putih, tapi tunggangan Hwi-lo-tho (Unta terbang) itu adalah seekor unta hitam, tapi kekuatan larinya agaknya masih kalah dibanding dengan Bing-tho!"

"O, sungguh tidak nyana di atas dunia ini, masih ada unta lain yang dapat menandingi unta sakti berbulu putih itu."

Sun Cit mengunjuk rasa curiga, ia merasa ucapan Koan San-gwat seperti kelepasan omong, tapi Koan San-gwat segera memperbaiki sikapnya, ujarnya.

"Aku pernah dengar, katanya unta sakti milik Bing-tho-ling-cu itu adalah seekor binatang cerdik pandai berbulu putih mulus, sungguh tidak kita masih ada unta hitam yang setanding dengan dia.... Sunheng tadi mengatakan orang itu bergelar Hwi-lo-tho?"

"Begitulah! Kecuali ketiga huruf itu, keparat itu tidak pernah mengeluarkan sepatah kata juga."

"Orang macam apakah dia.?"

Tidak tahu.

Seluruh badan orang itu di kerudung pakaian hitam, gerak geriknya laksana angin, ilmu silatnya tinggi, sekali turun tangan ia bunuh dua pembantuku, tahu-tahu kita merasa angin berkesiur ternyata kuping kirinya sudah putus dari tempatnya dengan mendelong terpaksa kami awasi saja dia menggondol pergi barang kawalan kita ke atas untanya terus menghilang, dia laki atau perempuan kitapun tidak tahu!"

"Bagaimana perawakannya? Tinggi, rendah, gemuk atau kurus tentunya bisa diketahui bukan?"

"Tidak tinggi juga tidak rendah, sedang, saja, tidak gemuk dau tidak kurus tiada sesuatu yang menarik perhatian kita!"

Berubah air muka Koan San-gwat katanya.

"Dua laksa tail perak bukan jumlah kecil, bagaimana saudara memberi pertanggungan jawab?"

Sun Cit menghela napas, katanya.

"Kehilangan harta masih mampu diganti, jiwa beberapa kawan itu yang mati penasaran, bukan saja nama baik perusahaan kami jatuh, nama besar Ciong-lam-pay pun ikut tersapu bersih!"

"Ada hubungan apa antara Siang-ing Piaukiok dengan Ciong-lam-pay?"

"Majikan kami Doh-he-siang-ing adalah murid Ciong-lampay."

Koan San-gwat manggut-manggut, katanya.

"Orang yang menamakan dirinya unta terbang itu mungkin bukan sembarangan begal atau rampok picisan di kalangan Kangouw. Atau mungkin memang sengaja hendak mencari perkara terhadap Ciangbunjin."

"Akupun berpikir demikian. Eh, Siangkong seperti orang sekolah, tapi agaknya cukup tahu seluk beluk dunia persilatan!"

Koan San-gwat hanya tertawa tanpa menjawab pertanyaan ini tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Kejadian ini kedengarannya sangat ganjil dan sulit dipercaya, setelah Saudara Sun bertemu dengan majikan, mungkin kaupun sulit memberi penjelasan kepadanya!"

Sun Cit cemberut, ujarnya.

"Ya, unta terbang itu memang meninggalkan tanda mata tapi dengan bukti-bukti yang ringan ini, sulit memberi uraian, tetapi betapa pun dua jiwa dan empat belas kuping menjadi kenyataan, tidak percayapun majikan harus menerima kenyataan ini."

Koan San-gwat yang tertarik, tanyanya.

"Jadi orang itu masih meninggalkan bukti lain, apakah saudara Sun bisa memperlihatkan kepadaku?"

Sun Cit rada sangsi sebentar, tapi karena rikuh akhirnya ia mengeluarkan sekeping tembaga sebesar telapak tangan.

Di atas tembaga tipis itu terukir seekor unta hitam yang bersayap, di bawah ada tertulis "Hwi-tho-ling" (lencana unta terbang).

Dan di baliknya ada tertulis pula hurup yang berbunyi.

"Unta terbang tiba orangnya datang, Lencana terbang jiwapun melayang."

Tanpa merasa ragu wajah Koan San-gwat menunjukkan amarah hatinya, jari-jarinya lantas meremas, sontak tembaga itu diremas hancur menjadi bubuk dan berhamburan dari selasela jarinya.

Mencelos hati Sun Cit, sesaat ia kesima dan mematung tidak tahu apa yang harus dia perbuat.

Pertama ia tidak menduga pemuda pelajar yang lemah lembut ini memiliki tenaga besar, kedua tembaga itu diremas hancur lalu bagaimana ia harus memberi pertanggungan jawab bila kembali nanti.

Dengan suara berat berkatalah Koan San-gwat.

"Dalam tiga hari, kutanggung barang-barangmu yang hilang akan kuminta kembali!"

"Siangkong. kau...."

Sun Cit tergagap tak kuasa mencetuskan kata-katanya.

"Sehari aku masih hidup, tidak kubiarkan orang lain berani menggunakan unta sebagai lambang kebesarannya!"

Sun Cit adalah kawakan Kangouw, melihat tindak tanduk orang, dalam hati ia sudah meraba-raba cuma ia tidak berani mengutarakan. Terangkat alis Koan San-gwat, katanya dengan bengis.

"Jadi kau tidak percaya aku dapat merampas kembali barangbarangmu itu?"

"Cayhe tidak punya pikiran begini, cuma dapatkah kami tahu nama Siangkong yang mulia....supaya Cayhe dapat memberi pertanggungan jawab!"

Dengan sikap tawar Koan San-gwat merogoh keluar sekeping tembaga diserahkan, katanya.

"Cukup kau serahkan milikku ini kepadanya!"

Begitu Sun Cit menerima tembaga dan melihat gambarnya, seketika tangannya gemetar.

Karena dia kenal bahwa lencana tembaga itu adalah Bing-Tho-ling-cu yang sangat tenar di seluruh kolong langit, tanpa ditanya ia sudah tahu bahwa pemuda di hadapannya ini adalah Bing-Tho-ling-cu.

Melihat orang takut dan keheranan, Koan San-gwat tertawa geli, katanya.

"Boleh kau beritahu majikanmu, bahwa Koan San-gwat masih belum mati."

Kini Sun cit sangat hormat dan merendah sahutnya sambil berdiri tegak meluruskan ke dua tangan.

"Baiklah, Ling-cu!"

Suasana dalam dan luar warung makan itu menjadi hening, semua orang memandang heran kagum kepada pemuda yang lemah lembut ini.

Memang mereka belum pernah melihat atau berjumpa dengan tokoh yang hebat ini, tapi nama kebesaran Bing tho ling-cu laksana geledek berkumandang di kuping mereka.

Mereka sudah sering mendengar berbagai kisah kepahlawanan pemuda ini.

Siapa akan nyana tokoh yang diagungkan seperti dalam dongeng itu kini berdiri di hadapan mereka.

Sikap Koan San-gwat tetap lemah lembut katanya.

"Di tempat mana terjadinya peristiwa itu?"

"Dua puluh li di depan sana daerah tandus yang dinamakan Eng-ciu-kang!"

"Gelarmu Hek-ing, setiba di Eng-ciu-kang (bukit elang murung), seolah-olah memang sudah ditakdirkan kau bakal terjungkal di sana!"

"Ling-cu menggoda saja, harap tanya malam ini Ling-cu menetap dimana? Sebentar Siau-jin akan mengutus orang untuk memberi laporan, sementara Siau-jin akan memberi penjelasan kepada Ling-cu."

"Tidak usahlah! Aku belum mendapat tempat tetap!"

"Silahkan Ling-cu singgah di penginapan Kip-ing di dalam kota, pemilik penginapan yang bernama Lau sam-thay juga seorang persilatan, berhubungan sangat akrab dengan majikan kami, tentu beliaupun sangat senang kedatangan Ling-cu."

"Begitupun baik,"

Ujar Koan San-gwat sesudah berpikir sebentar.

"Sebetulnya tiada keinginanku untuk mendapat pelayanan, justru diapun seorang persilatan, seandainya di dalam penginapannya nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tidak nanti menimbulkan keributan yang berarti. Menurut dugaanku unta terbang itu pasti akan mencari perkara kepadaku nanti."

Mendapat persetujuan Koan San-gwat, kelihatannya Sun Cit sangat gembira, tersipu-sipu ia mengutus bawahannya memberitahukan kepada Lau Sam-thay lalu menyiapkan tiga ekor kuda untuk Koan San-gwat.

Di waktu naik ke atas kuda sambil tersenyum lebar Peng-toanio berkata kepada Koan San-gwat.

"Sepak terjangmu jauh berlainan dengan gurumu. Gurumu selalu secara mendadak dan tidak terduga-duga laksana ular naga yang kelihatan buntutnya tidak kelihatan kepalanya, jarang bergaul dengan khalayak ramai. Orang-orang rendah macam kita ini jangan harap berkenalan dengan beliau!"

"Pandangan guruku memang teramat tinggi sepak terjangnya, juga misterius, sehingga menimbulkan salah paham para sahabat Kang-ouw. Beliaupun merasa sangat menyesal akan kejadian ini, berulang-ulang beliau berpesan kepadaku untuk merubah tindak tanduknya dulu, lebih banyak bergaul dengan para sahabat Kangouw."

Peng-toanio tertawa, katanya.

"Mencari sahabat harus cari orang-orang yang bernilai. Orang macam apa elang hitam Sun Cit, Cit-sing-to Lau Sam-thay itu? Bila kau keluarkan maklumat, para Ciangbunjin berbagai aliran pasti datang ingin berkenalan dengan kau...."

Koan San-gwat geleng kepala.

"Aku lebih suka bergaul dengan orang-orang rendah macam mereka ini, hanya orangorang seper-ti seperti mereka mau bersahabat secara tulus dan bakti, mereka tidak akan berani main tipu daya atau mengatur jebakan mencelakai diriku, paling dalam saat-saat yang diperlukan, mereka tentu dapat dikerahkan untuk melaksanakan tugas-tugas tanpa pamrih, sekarang yang belum kumiliki adalah para sahabat seperti mereka ini!"

Peng-toanio melongo dan tertegun, agak lama kemudian baru ia berkata.

"Belum pernah aku berpikir begitu, agaknya kau lebih bajik dari gurumu."

Tergerak hati Koan San-gwat, tanyanya.

"Toanio, hubungan dengan guruku apakah anda sangat intim?"

"Intim sih tidak, cuma pernah bertemu beberapa kali!"

Melihat air muka orang waktu bicara seperti tertekan perasaannya, diam-diam tergerak sanubarinya Koan San-gwat, tapi segera ia menyangkal pula akan rabaan hatinya, karena gurunya adalah seorang sebatangkara, hidupnya selalu dalam suasana hening dan sepi, tidak mungkin ia terikat dalam persoalan asmara.

Waktu mereka tiba di ambang pintu kota, Lau Sam-thay sudah menunggu jauh-jauh sudah menjura, serunya.

"Cayhe tidak tahu kedatangan Ling-cu, harap dimaafkan sambutan yang terlambat ini. Hari ini, betapa besar hati kami mendapat kunjungan Ling-cu ke penginapan kami, sehingga menambah ramai dan semarak...."

"Lau-heng!"

Ujar Koan San-gwat tertawa sambil membalas hormat.

"meski kita baru pertama kali ini bertemu tapi Lau. heng berderma bakti kepada sesamanya sudah lama aku dengar, sebagai orang persilatan, tidak perlu banyak adat istiadat, apalagi kedatangan kami ini bakal membikin repot kau saja."

Melihat sikap Koan San-gwat terbuka dan supel lagi, Lau Sam-thay menjadi getol, ingin rasanya ia mengorek jantung sendiri untuk membalas kebaikan orang, dengan seri tawa cepat-cepat ia berkata.

"Ling-cu terlalu menjunjung kami! Jangan kata nama besar Ling-cu sudah menggetarkan empat lautan, aku yang rendah masa ada harganya berkenalan, pula persoalan sahabatku ini, seumpama harus mengorbankan harta benda juga tidak jadi soal. Ling-cu mari silahkan!". Begitulah Lau Sam-thay menjadi petunjuk jalan, tak lama kemudian mereka sudah tiba di depan penginapan Kip-ing, Karena Cit-sing-to Lau Sam-thay merupakan tokoh yang mempunyai nama dan kedudukan di daerah Liang-cu, maka banyak orang-orang yang datang berkerumun di sepanjang jalan menyambut kedatangan mereka. Koan San-gwat bertiga turun dari atas kuda terus dipersilahkan masuk, dilihatnya banyak tamu sedang berbenah barang-barangnya siap meninggalkan penginapan itu. Koan San-gwat melengak, tanyanya.

"Lau-Leng! Kenapakah mereka itu?"

"Ling-cu adalah tamu agung yang sulit datang kemari, asal Ling-cu sudi menginap semalam saja di penginapan kami ini, maka penginapan kami tidak akan memberi pelayanan kepada tamu-tamu yang lain! Sebagai tanda hormat kami kepada Ling-cu!"

Koan San-gwat rikuh, katanya.

"Kedatanganku ini sudah cukup merepotkan, mana boleh mengganggu orang lain dan merugikan usaha Lau-heng?"

"Hidup kami tidak tergantung oleh penginapan ini saja, tempat ini hanya untuk mencari persahahatan dengan kaum persilatan, banyak di antara mereka tidak kutarik ongkos. Bukankah Ling-cu malam ini hendak menghadapi unta terbang itu disini, dari pada konyol lebih baik mereka disingkirkan saja. Soalnya si unta terbang ini baru pertama kali terjun ke dunia persilatan, tapi sepak terjangnya terhadap Siang-ing piaukiok dapatlah dibuktikan bahwa adalah seorang yang culas dan kejam, kalau mereka tinggal disini bukankah menambah kesulitan saja!?"

Karena alasan yang cukup, Koan San-gwat tidak enak banyak bicara lagi.

Di samping menyiapkan hidangan, Lau Sam-thay menyediakan tiga kamar mewah untuk mereka istirahat.

Untuk perjamuan Lau Sam-thay menyiapkan tiga meja.

Lau Samthay sendiri yang melayani dan menyiapkan semua perjamuan itu.

Tidak ketingggalan Peng-toanio dan Thio Ceng Ceng hadir makan minum itu.

Selama itu Lau Sam-thay belum tahu asal usul dan kedudukan Peng-toanio dan Thio Ceng Ceng, belum lagi ia sempat bertanya, tiba-tiba Koan San-gwat menjengek dingin, dengan muka masam, serunya lantang ke arah jendela.

"Kawan di luar itu, silahkan masuk untuk bicara, kenapa berdiri di luar mencuri dengar pembicaraan orang?"

Terdengar tawa dingin di luar jendela, ke depan daun jendela tiba-tiba menjeplak, sesosok bayangan orang hitam berkerudung melompat masuk, kontan Sun Cit menjerit keras.

"Unta terbang...."

Mendengar pendatang ini adalah unta terbang, sikap Koan San-gwat berubah tenang dan dingin, katanya tawar.

"Sudah kuduga kau pasti datang, cuma tidak kusangka datangmu sedemikian cepat."

Suara orang berkedok sangat menghina, katanya.

"Koan San-gwat! Sebetulnya beberapa hari lagi baru aku akan mencari kau tapi dari kau berani menghancurkan Unta terbang...."

Koan San-gwat menukasnya dengan suara bengis.

"Selama Bing Tho Ling Cu masih hidup, siapapun kularang menggunakan lambang unta sebagai lambang kebesarannya."

Orang berkedok tertawa dingin, katanya.

"Kentut! Justru aku tidak senang melihat Bing tho-ling cu yang sok menang di Kang-ouw maka sengaja kupilih unta sebagai lembang kebesaranku, apakah kau masih ingat peringatan yang kuukir di atas lencanaku? Unta tiba orangnya datang, lencana terbang jiwapun melayang."

Koan San-gwat berteriak menambah gusarnya.

"Baik! ingin aku melihat buktinya, berani kau bicara besar dan pongah!"

"Nanti dulu! Aku ingin berunding dengan kau, tapi lambang kebesaran Bing-tho-ling-cu, yaitu Tok-kak-cinjin (patung emas kaki-tunggal) serta unta putihmu sekarang tidak kau bawa, kalau aku dapat mengalahkan kau rasanya kurang dapat dibanggakan!"

Koan San-gwat berpikir sejenak lalu berkata.

"Patung emas dan unta putih ditinggalkan di suatu tempat, untuk membawanya kemari pulang pergi memerlukan dua tiga hari lamanya...."

"Tidak perlu!"

Tukas si orang berkedok sambil menggoyangkan tangan.

"Aku tahu, kedua pusakamu berada di puncak Thian-san utara, maka sudah kuutus orangku untuk membawanya kemari. Satu bulan kemudian, kami bertemu di Thay-san-koan, unta lawan unta, manusia lawan manusia! Marilah kita berduel untuk memegang kebesaran nama masing-masing."

Disamping melengak berkobar semangat Koan San-gwat, serunya.

"Baiklah. Tapi persoalan dengan Siang-ing Piaukiok, aku berjanji dalam waktu tiga hari merampas balik barang. barang mereka sekarang kau memberi pertanggungan jawabmu."

Orang berkedok bergelak tawa, ujarnya.

"Sebetulnya aku punya sedikit perselisihan dengan anak murid Ciong-lam-pay, baiklah kupandang mukamu, sementara aku kesampingkan urusan ini, uang perak ini tetap dalam bentuk semula belum tersentuh, kini kutinggalkan di luar pekarangan. Anggaplah aku memberi muka dan kemurahan atas nama Bing-tho-ling."

Setelah bicara badannya barkelebat menghilang, waktu Koan San-gwat memburu ke depan jendela, bayangannya sudah tidak kelihatan.

Tampak di pekarangan sana menggeletak dua susun peti besar, di sebelahnya berdiri seorang pelayan membawa nampan sayur mayur yang masih mengepulkan asap, ternyata Hiat-tonya tertutuk hingga berdiri kaku.

Segera Koan San-gwat melompat keluar, sekali tepuk ia hendak bebaskan tutukan pelayan itu, kontan pelayan itu menjerit keras, bukan saja tidak bebas tutukannya malah orangnya roboh terkapar.

Peng-toanio ikut memburu keluar, melihat keadaan ini berubah air mukanya saat mana Koan San-gwat sudah berjongkok dan hendak meneruskan pertolongannya.

Maka cepat ia mencegah.

"Jangan! Itulah Cit-tok-jiu-hoat!"

Koan San-gwat melengak, tanyanya tidak mengerti.

"Apakah Cit-tok-jiu-hoat ini?"

Peng-toanio tidak sempat memberi penjelasan, cepat ia menoleh ke arah Thio Ceng Ceng, katanya.

"Nona! Peng-sipcoan-san buatan ayahmu masih ada?"

Dari dalam bajunya Thio Ceng Ceng mengeluarkan sebuah botol kecil menuang sebutir pil diserahkan kepadanya.

Begitu menerima pil langsung Peng-toanio jejalkan ke mulut si pelayan, lalu ia ulur tangan mengurut dan menepuk ke arah yang berlawanan, tidak lama kemudian pelayan itu sudah mulai bergerak.

Baru sekarang Peng-toanio sempat menarik napas lega.

Katanya kepada Lau Sam-thay.

"Dia harus istirahat setengah bulan baru bisa sehat seperti sedia kala, dalam setengah bulan jangan ia diberi makan udang atau ikan laut dan makanan yang amis...."

Lau Sam-thay mengiakan sambil mengucapkan terima kasih, segera ia menyuruh pembantunya menggotong masuk pelayan itu.

Lalu ia persilahkan Koan San-gwat bertiga meneruskan makan minum.

Sementara Sun Cit sedang repot menghitung dan memeriksa barang-barangnya.

Setelah duduk Koan San-gwat bertanya.

"Cit-tok-jiu-hoat itu sungguh amat lihay!"

"Kejadian ini merobah terkaanku semula,"

Ujar Peng-toanio tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan.

"Terkaan apa maksudmu?"

Tanya Koan San-gwat.

"Terkaan mengenai Unta terbang itu, semula kukira Unta terbang ini adalah ...."

"Khong Ling-ling maksudmu?"

Tanya Koan San-gwat.

"Jadi kaupun memikir kesitu?"

"Tokoh-tokoh kosen dalam Bulim sekarang tidak terlalu banyak jumlahnya apalagi keji dan telengas, kecuali perempuan laknat itu kiranya tidak ada orang lain, tapi setelah melihat Unta terbang tadi dugaanku kuhapus sendiri. Unta terbang tentu orang lain, jelas-jelas ilmu silat orang ini teramat tinggi, mungkin jauh di atas kepandaian Khong Lingling sendiri."

Peng-toanio manggut-manggut, katanya.

"Benar! Orang ini bisa menggunakan Cit-tok-jiu-hoat, kalau dia benar anak murid orang itu, mungkin dia bakal menjadi musuhmu yang paling tangguh!"

"Toanio!"

Ujar Koan San-gwat dengan penuh curiga.

"sebetulnya apakah yang kau maksud?"

Berubah air muka Peng-toanio, tanyanya dengan suara berubah.

"Sekarang jawab pertanyaanku secara terus terang, sebetulnya Tokko Bing benar sudah meninggal?"

"Guru memang sudah ajal, kenapa Toanio ajukan pertanyaan ini?"

"Koancu! Terhadapmu boleh dikata aku membantu sekuat tenaga dengan seluruh jiwa ragaku, usiaku sudah lanjut, harus berkecimpung dengan kau di Bulim, kenapa kau tidak suka bicara terus terang kepadaku?"

"Toanio,"

Ujar Koan San-gwat dengan gelisah dan hampa.

"Ucapanmu tidak berani aku menerimanya."

Peng-toanio kelihatan gusar.

"kalau Tokko Bing benar benar sudah ajal, Cit-tok-jiu hoat itu tidak mungkin muncul di kalangan Kangouw!"

Koan San-gwat rada sangsi sebentar lalu berkata perlahanlahan.

"Guruku memang belum meninggal, tapi keadaannya hampir sama dengan orang mati!"

"Apakah jadi ilmu silatnya sudah punah semua?"

Bergegas Peng-toanio bertanya.

"Bukan begitu! Tapi guruku tidak akan terjun kembali di dunia ramai. Di waktu beliau menyerahkan Bing-tho-ling-cu kepada aku, beliau ada berpesan, katanya beliau hendak menghadiri sebuah pertemuan, selanjutnya hendak mengasingkan diri, maka beliau baru memaklumkan berita kematiannya, malah beliau juga memperingatkan kepadaku supaya tidak membocorkan rahasia ini, jikalau tidak terdesak oleh ucapan Toanio tadi, aku...."

"Kemana dia hendak menghadiri pertemuan itu?"

Tanya Peng-toanio lebih lanjut.

"Hal itu aku sendiri tidak tahu,"

Sahut Koan San-gwat sambil angkat pundak.

"Segala apapun biasanya guru tidak pernah mengelabui aku, cuma soal pertemuan itulah sedikitpun aku tidak pernah mendengar kabar sebelumnya, pernah berulang kali aku mengajukan pertanyaan sedikitpun beliau tidak mau memberi keterangan kepadaku."

Terunjuk mimik aneh yang selama ini belum pernah terlihat pada wajah Peng-toanio, tanyanya.

"Kalau begitu tentu benar adanya! Anehnya Tokko Bing akan mendapatkan tempatnya menetap, aku harus memuji dan mengumpaknya, akhirnya dia dapat mengambil keputusan setelah mengalami gelombang badai dan tekanan batin selama sekian tahun lamanya...."

"Toanio,"

Ujar Koan San-gwat ketarik, tanyanya.

"Apakah kau tahu kemana tujuan guruku itu?"

"Ya!"

Sahut Peng-toanio manggut-manggut.

"Dalam dunia ini mungkin cuma aku seorang yang tahu di mana tempat tinggalnya."

"Dimana?"

Kini giliran Koan San-gwat yang terharu dan gelisah. Perasaan hampa terbayang pada sorot mata Peng-toanio, katanya.

"Tidak bisa kukatakan, aku cuma tahu dia menghadiri pertemuan dengan siapa, dan salah sebuah tempat yang disebut Siau-se-thian. Tapi sudah sekian tahun aku kelana di Kang-ouw selamanya belum pernah kudengar dan tidak tahu dimana letak Siau-se-thian itu...."

Koan San-gwat rada kecewa, tapi dengan sabar ia bertanya.

"Lalu dengan siapakah guruku mengadakan pertemuan? Dalam kejadian ini tentu ada latar belakang yang tersembunyi!"

"Kalau Tokko Bing sendiri tak mau memberitahukan kepada kau, maka akupun tidak bisa menjelaskan kepadamu."

Melihat air muka Koan San-gwat mengunjuk rasa kurang senang, sementara Thio Ceng Ceng juga hendak bicara, terpaksa ia menyambung sambil menghela napas.

"Bukan aku sengaja jual mahal, soalnya dulu kita pernah melakukan sumpah yang sangat berat, seandainya aku mengorbankan jiwaku untuk menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya, tapi tidak berani aku pertanggungjawabkan akan akibatnya. Padahal Tokko Bing tidak kenal takut pada langit dan dumi, kenapa sampai sekian lamanya baru berani menghadiri pertemuan itu."

Mendengar uraian ini Koan San-gwat semakin bingung, ucapan Peng-toanio tidak mengenai juntrungan yang diharapkan, malah satu sama lain kata-katanya rada kontras.

"Kongcu!"

Peng-toanio menambahkan.

"Baiklah kuberi bisikan kepada kau tentang jejak Tokko Bing ada hubungan erat dengan Unta terbang itu. Kalau dalam pertemuan yang akan datang kau dapat mengalahkan dia, urusan selanjutnya akan beres, tapi bila kau ingin menjumpai gurumu, lebih baik kau jangan sampai mengalahkan dia...."

"Kenapa bisa begitu?"

"Aku hanya bisa bicara demikian saja, kau boleh main terka sendiri."

Koan San-gwat tahu bahwa Peng Kiok-jin tidak akan banyak bicara lagi, maka dari unta terbang itu.

"Tapi aku harus mengalahkan dia atau harus kalah olehnya?"

Sementara sorot mata Peng-toanio masih menatap dirinya, akhirnya berketetapan, katanya tegas.

"Kalau benar ilmu silatku tidak becus, apa pula yang harus kukatakan, kalau tidak betapapun aku harus berdaya upaya dengan segala kemampuan dan kekuatanku demi menjaga kebesaran tradisi Bing-tho-ling-cu yang sangat disegani. Bing-tho-ling-cu memang pernah kalah oleh tipu daya yang licik tapi tidak boleh terkalahkan dalam pertandingan silat."

Peng-toanio menarik napas katanya.

"Begini keputusan Kongcu, apakah kau hendak menemui gurumu pula?"

"Tidak salah! Guru pandang Bing-tho-ling-cu lebih berharga dari jiwanya sendiri, beliau orang tua mengajarkan ilmu silat kepadaku, bukan karena aku harus menjadi muridnya adalah ingin supaya aku dapat meneruskan kebesaran Bing-tho-Lingcu yang diagungkan. Maka aku harus meletakkan dasar persoalan ini di tempat yang utama, baru bolehlah aku mempertimbangkan persoalan yang lain!"

"Begitupun baik,"

Ujar Peng-toanio manggut-manggut.

"Keputusanmu ini memang benar!"

Keputusan sudah diambil mereka jadi kehabisan bahan untuk meneruskan percakapan ini, maka Thio Ceng Ceng membuka suara sesaat kemudian.

"Koan-toako, berapa jauh letak Tay-san-koan itu dari sini?"

"Tidak jauh, menunggang kuda cepat, kira-kira sepuluh hari bisa sampai."

"Unta terbang menjanjikan satu bulan yang akan datang, jangka waktu masih panjang,apa yang harus kita lakukan?"

Berkerut alis Koan San-gwat, sahutnya.

"Ya, benar-benar serba runyam, sebetulnya aku hendak menyelidiki keadaan Loh-hun-kok, tapi waktu tidak keburu...."

"Ling-cu tidak usah kesana,"

Segera Lau Sam-thay bicara.

"Loh-hun-kok sudah kosong melompong tanpa dihuni seorangpun juga. Sejak Khong Bun-thong mampus, Khong Bun-ki pun menghilang, berita itu kudengar dari para sahabat Kangouw yang memberi tahu kepadaku, kuduga hal ini tidak usah disangsikan!"

Koan San-gwat manggut-manggut. Thio Ceng Ceng bertanya lagi.

"Lau-toako, apa kau pernah dengar berita tentang ayahku, dia bernama Thio Hun-cu...."

Lau Sam-thay segera mengunjuk rasa kejut dan gugup, katanya.

"Kiranya ayah nona adalah Thio tayhiap, sungguh aku berlaku kurang hormat.... sejak muncul sekali di Loh-hunkok, sampai sekarang belum pernah muncul lagi, banyak orang sedang mencari beliau."

"Siapa saja yang mencari beliau? Untuk apa mereka mencari ayahku?"

Lau Sam-thay garuk-garuk kepala, sahutnya.

"Mereka adalah murid-murid dari berbagai aliran dan golongan besar, sedemikian besar tenaga yang mereka kerahkan untuk menemukan naga-naganya ada sesuatu urusan penting untuk segera diselesaikan, cuma duduk perkaranya aku tidak jelas, apakah nona sendiri tidak berada bersama ayahmu?"

Thio Ceng Ceng geleng-geleng kepala, katanya sambil mengerut kening.

"Rasanya mereka belum pernah ada hubungan dengan ayahku, kecuali mereka terkena racun berbisa, mau minta tolong hasilican ayahku."

Lau Sam-thay manggut-manggut, ujarnya.

"Ya, mungkin demikian, apakah nona dapat memperkirakan dimana sekarang ayahmu berada?"

"Tidak tahu! Rumah tinggal kita di puncak utara Thian-san, beliau mungkin menetap disana, kalau tidak senjata Koantoako berada disana kalau tidak mana bisa suruhan Unta terbang mengambilnya...."

Mendadak Koan San-gwat menimbrung.

"Lau-heng, apakah kau tahu beberapa kelompok orang yang sedang mencari paman Thio apakah rombongan yang berada paling dekat dengan tempat ini?"

Lau Sam-thay berpikir sejenak lalu menjawab.

"Yang terakhir adalah Bu-khek-kiam-pay dari Im-san, putri Ciangbunjin Im Siok kun yang bernama Im Tiang-hoa bulan yang lewat di tempat ini dan menetap di penginapan ini, dia pernah mencari tahu jejak Thio-tayhiap, lima hari yang lalu dia datang pula, mungkin tidak membawa hasil apa-apa."

Koan San-gwat tertawa senang, katanya.

"Kalau begitu kita tidak usah nganggur, kebetulan kita bisa menyelidiki persoalan ini!"

Thio Ceng Ceng pun ingin tahu untuk keperluan apa beberapa rombongan orang itu hendak mencari ayahnya, segera ia mendukung niatnya, apa boleh buat terpaksa Pengtoanio menurut saja.

Lau Sam-thay bersemangat dan kegirangan, perjamuan segera dilanjutkan lebih meriah sampai tengah malam baru mereka masuk kamar untuk istirahat.

Hari kedua pagi-pagi benar Lau Sam-thay sudah menyiapkan empat ekor kuda, segera ia persilahkan mereka berangkat, melihat kuda yang dipersiapkan itu segera Koan San-gwat berkata sambil tertawa lebar.

"Agaknya Lau-heng ingin ikut mencari keributan juga?"

Lau Sam-thay rikuh sahutnya menyengir.

"Hobbyku memang suka menyelidiki urusan Bulim, aku buka penginapan dengan mengorbankan ongkos makan minum dan memberi gratis, tujuannya adalah mengorek keterangan orang-orang Kangouw itu, kapan dapat kesempatan sebaik ini, untuk meluaskan pengalaman harap Ling-cu sudi mengijinkan aku ikut serta."

"Lau-heng sangat apal segala kejadian di Kangouw, tidak enak aku menolak maksud baikmu ini, kelak bila aku ingin mendirikan partai atau perguruan, orang-orang macam Lauheng justru tenaga yang kubutuhkan!"

"Kalau Ling-cu punya cita-cita seluhur ini, meski badan hancurpun aku akan mengabdi dengan suka rela."

Begitulah sambil bercakap-cakap mereka berangkat, sebagai orang setempat yang apal jalanan Lau Sam-thay menjadi penunjuk jalan.

Dari Lian-cu ke Im-san dengan kecepatan lari kuda membutuhkan tempo dua hari, mereka sudah menempuh perjalanan satu hari, Lau Sam-thay mencari penginapan untuk bermalam, nama Cit-sing-to memang cukup tenar di bilangan situ maka mereka memdapat pelayanan yang luar biasa.

Belum lama mereka istirahat, tampak Lau Sam-thay menggandeng Sun-cit masuk, mukanya pucat badan lemah lunglai, begitu melihat Koan San-gwat, Sun Cit lantas berlutut menangis gerung-gerung, katanya.

"Ling-cu, harap kau suka membalas dendam kedua majikanku."

Kata-kata yang tiada juntrungan ini benar-benar membuat Koan San -gwat melengak heran, tanyanya.

"Sun Cit apa yang telah terjadi? Bagaimana dengan majikan kalian?"

Sambil menangis Sun cit mengangsurkan sebuah bungkusan, waktu Koan San-gwat membukanya, isinya ternyata dua keping lencana tembaga Unta terbang, lencana unta terbang itu berlepotan darah.

Dengan heran, ia bertanya.

"Apakah Loh-he-siang ing mengalami bencana?"

"Benar, kedua majikan dibunuh oleh Unta Terbang di Buwi-kun, mereka dibunuh dengan kedua lencana tembaga ini...."

"Di Bu-wi-kun!"

Ujar Koan San-gwat mengerut alis.

"mana mungkin, mereka kan berada di Lokyang. orang yang kau urus memberi kabar meski tumbuh sayap belum tentu dapat terbang sejauh itu, cara bagaimana mereka bisa berada di Buwi-kun?"

Sambil sesenggukan Sun Cit menjelaskan.

"Dua hari kemudian setelah rombongan kami berangkat. majikan lantas mendapat kiriman surat yang dilepas dengan golok terbang, surat itu memberitahukan bahwa mereka hendak merampas barang kawalan kami karena kuatir kedua majikan cepat-cepat menyusul datang, tak duga sampai di Bu-wi-kun mereka terbunuh orang, utusanku kebetulan dapat mengurusi jenasah beliau. Ling-cu harap kau bantu membalas dendam majikan!"

"Urusan balas dendam semestinya aku tidak bisa menolak, tapi mereka adalah murid Ciong-lam-pay, menurut aturan Bulim, jamak kalau Ciangbunjin kalian Lu Bu-wi yang membereskan kejadian ini."

Sun Cit meratap katanya.

"Sebelum mati majikan ada berkata.... ilmu silat pembunuh itu sangat tinggi, belum tentu Lu-ciangbun kuat melawannya, hanya Ling-cu saja yang ada harapan....apalagi secara tidak langsung majikan menjadi korban karena kau juga...."

"Apa maksudmu?"

Tanya Koan San-gwat mengerut alis.

"Pembunuh itu.... waktu Unta terbang membunuh majikan, dia pernah berkata, bahwa lencana Unta terbang tidak boleh pulang dengan tangan hampa, kau menuntut kembali barang rampasan itu, karena dia sudah memberi muka kepada kau, maka dia harus menebusnya pula dengan jiwa majikan kami."

"Jahanam, orang keparat macam apa sebenarnya Unta terbang itu, tidak berani mencari perkara dengan aku, tapi melakukan kejahatan yang hina dan memalukan...."

Peng-toanio tersenyum, katanya.

"Bukan lagi di Tay-sankoan nanti, aku bersumpah untuk menghancur-leburkan orang laknat ini."

"Kukira tidak semudah seperti ucapanmu,"

Olok Peng-toanio tertawa. Koan San-gwat meliriknya cepat Peng-toanio menambahkan.

"Ucapanku mendorong kau untuk berlaku lebih waspada kalau Unta Terbang sudah berani menantang kau secara terang-terangan, tentu dia punya persiapan yang dapat diandalkan, tidak berani aku mengatakan Kongcu bakal kalah, tapi untuk menang, kukira bukan soal yang sepele!"

Koan San-gwat termenung sejenak lalu berkata kepada Sun Cit.

"Kau boleh istirahat! Sebulan lagi aku akan bekerja sekuat kemampuanku, supaya Loh-he-siang-ing meram di alam baka!"

Berulang-ulang Sun Cit menyembah mengucapkan terima kasih, lalu mengundurkan diri dengan hati lega. Adalah Lau Sam-thay jadi kebingungan, katanya.

"Ling-cu, apakah kita melanjutkan ke Im-san?"

Koan San-gwat melotot sahutnya.

"Sudah tentu ke sana. ini kan dua persoalan yang berlainan."

Maka dengan tergagap Lau Sam-thay memberi tahu.

"Tidak aku mendapat sebuah berita, katanya Im Siok-kun sudah mengumpulkan seluruh jago-jago kelas tinggi, seperti menghadapi musuh besar berbondong-bondong mereka turun gunung, malah kelihatannya menyongsong kedatangan kita...."

"Apa tujuan mereka?"

Jengek Koan San-gwat.

"Duduk perkara yang jelas aku tidak tahu, yang terang mereka meluruk kemari karena adanya nona Thio di sini!"

Segera Thio Ceng Ceng menimbrung.

"Yang mereka cari adalah ayahku, ada sangkut paut apa dengan diriku?"

"Tidak tahu! Tapi mereka mengerahkan seluruh kekuatannya, jelas tujuannya tentu tidak mengandung maksud baik...."

"Hm!"

Dengus Koan san-gwat.

"banyak benar kejadiankejadian aneh, sekarang mereka sudah sampai dimana?"

Lau Sam-thay menghitung-hitung lalu menjawab.

"Mereka terdiri dari kaum perempuan, menunggang joli jalannya rada lambat, mungkin besok malam baru bisa sampai di sini."

"Apa? Anggota Im-san-pay terdiri dari kaum perempuan?"

Seru Koan San-gwat heran.

"belum pernah kudengar adanya golongan mereka ini, dulu guru mengembara ke seluruh jagat bertanding (bertandang) pada semua aliran besar kecil kok tidak pernah menyinggung adanya mereka....

" .

"Im San-pay kira-kira sepuluh tahun yang lalu baru dihimpun dan didirikan, waktu itu Tokko-cianpwe keburu mengasingkan diri, sebetulnya golongan mereka tidak termasuk se Pay atau pang. seluruh anak murid Im San-pay, tapi belum pernah mengadakan kontak dengan kaum persilatan umumnya, maka jarang orang tahu seluk beluk mereka. Soalnya pos yang kubangun di kota itu merupakan pemberhentian para kelana yang sering membawa pergi berita, maka sering kudengar hal-hal yang jarang dikatakan orang lain. Im Siok-kun ada kalanya datang minta beberapa petunjuk kepadaku...."

"Sudahlah, kitapun tidak perlu tidur, lebih baik malam ini melanjutkan perjalanan, mari kita papak mereka di tengah jalan, ingin aku tahu apa urusan mereka meluruk kemari."

Lau Sam-thay kelihatannya rada rikuh dan serba salah, katanya.

"Apakah Ling-cu boleh tidak bentrok dengan mereka, umpama ada salah, mengingat perkenalanku dengan Im-Tiang-hau mungkin aku bisa melerainya, kalau terjadi keributan, sulit aku melawan mereka...."

"Lau-heng tidak usah kuatir,aku bukan orang yang suka mencari perkara, asal mereka tidak mencari urusan dengan aku. tidak akan membuat keributan, apalagi apa sih artinya melawan kaum hawa...."

Belum habis kata-katanya, tiba-tiba daun pintunya ditendang terbuka, seorang gadis berdiri di ambang pintu tangannya menyekal gagang pedang, dengan muka bersungut ia membentak.

"Laki-laki busuk! berani memandang rendah kaum wanita. Keluar, biar nonamu yang menghajar mulut kurang ajarmu itu!"

Lau Sam-thay tersipu-sipu maju seraya berkata.

"Nona ini sungguh tepat kedatanganmu, kita baru saja...."

"Lau Sam-thay!"

Perempuan itu mengayunkan pedangnya.

"Jangan bersilat lidah dengan aku, tempo hari pernah kutanya orang she Thio itu, katamu kau tidak tahu tapi sekarang membawa puteri orang she Thio hendak mencari perkara ke Im-san. Ketahuilah, memang sengaja aku menyuruh orang memberi kabar bohong, sebetulnya sejak tadi kami sudah tiba...." -oo0dw0oo-

Jilid 6 LAU SAM THAY kebingungan terlongong kebingungan, entah apa yang harus dilakukan. Thio Ceng Ceng tampil ke depan.

"Kalian mencari ayahku untuk keperluan apa?"

"Jangan pura-pura pikun, perkara Thio Hun Cu si bangkotan tua ini, masa kau tidak tahu?"

Jengek perempuan itu.

Sekali buka mulut orang memaki ayahnya, sudah tentu Thio Ceng Ceng gusar, sebat sekali tiba-tiba ia merangsak ke depan, jari telunjuknya menutuk ke pundak kiri orang, tapi tidak kalah sebatnya perempuan itu memutar pedangnya balas menusuk ke ulu hatinya.

Selama setahun mendapat gemblengan Soat-lo Thay-thay, ilmu silat Thio Ceng Ceng bukan main lihaynya, cepat ia membalikkan pergelangan tangannya, dari tutukan jarinya ditekuk untuk menyenggol batang pedang lawan, Tang, pedang lawan disampok ke samping, sebat sekali tangannya sudah menyelonong maju pula mengarah jalan darah di tubuh musuh.

Agaknya kepandaian perempuan itupun cukup tinggi, dalam keadaan terdesak sigap sekali ia menurunkan pundak, lalu dengan suara gusar ia menyemprot .

"Perempuan laknat kalau kau punya kepandaian, mari ikut aku!"

Berbareng kedua kakinya menutul tanah, badannya melejit terbang lewat jendela.

Tidak kalah gesitnya Thio Ceng Ceng mengejar keluar.

Koan Sang-gwat, Peng-toanio cepat memburu keluar.

Lau Sam-thay tidak mau ketinggalan, gerak geriknya jauh lebih lambat.

Waktu tiba di sebuah lapangan, tampak Thio Ceng Ceng bertiga sudah dikelilingi beberapa perempuan yang mengenakan seragam hitam, menyoren pedang, empat perempuan di antaranya yang berusia agak lanjut berdiri paling depan berhadapan langsung dengan mereka.

Melihat urusan menjadi besar, cepat Lau Sam-thay memburu datang sambil menggoyang-goyangkan kedua tangannya, teriaknya.

"Jangan! Kalian salah paham, ada perkara apa lebih baik dibicarakan dulu ........"

Pihak Koan San-gwat diam-diam, salah satu dari perempuan seragam hitam yang berusia agak lanjut berseru .

"Tiang-hoa! Siapakah orang ini ?"

Perempuan yang sudah bergebrak dengan Thio Ceng Ceng tadi adalah gadis yang dipanggil Tiang-hoa oleh Lau Sam-thay tadi, segera ia melirik dengan perasaan hina ke arah Lau Samthay, sahutnya tertawa .

"Dia bernama Cit-singto Lau Samthay, ular tanah yang berkuasa di dalam kota Liang-ciu!"

Merah muka Lau Sam-thay, dengan gusar ia berkata .

"Nona Im........ Meski aku orang she Lau bukan tokoh yang kenamaan, tapi aku bukan macam orang yang kau sebutkan tadi......"

Im Tiang-hoa memalingkan kepala tidak pedulikan dia lagi, adalah perempuan pertengahan umur itu segera menjengek dengan hina.

"Minggir! Keparat kau, di sini tidak ada hak kau bicara."

Bukan saja menghina nada ucapannyapun sangat takabur, betapa pun Lau Sam-thay berlaku sabar akhirnya naik pitam.

"sreng!"

Segera ia melolos Cit Sing-to dari punggungnya, sambil membolang-balingkan senjata, ia berteriak .

"Apa kedudukanmu di dalam Bu-khek-kiam-pau kalian?"

Perempuan pertengahan umur itu angkat kepala tidak perduli lagi padanya, Im Tiang-hoa segera menanggapi.

"Lau Sam-thay, sungguh memalukan, kau mengagulkan diri sebagai pentolan tikus di jalan raya besar, masa kau tidak kenal ibuku!"

Mimpipun tidak Lau Sam-thay menduga bahwa perempuan tua ini adalah Ciangbunjin Bu-khek-pay Im Siok-kun, meski pengalaman sangat luas, soalnya ia sendiri belum pernah melihat Im Siok-kun, maka sekian saat ia menjublek di tempatnya, sedapat mungkin ia menahan perasaan gusarnya dengan tertawa dibuat-buat segera ia bersoja dan berkata .

"Ternyata Im-ciangbunjin adanya, meski Cayhe seorang Siaucit yang tidak ternama, tapi aku tidak punya kesalahan apa-apa dengan kalian, putrimu nona Tiang-hoa dua kali pernah mampir ke rumahku, dengan hormat kulayani dia. Apakah pantas Ciangbunjin sekarang bersikap kasar kepadaku?"

"Cara bagaimana aku harus bersikap terhadap kau?"

Jengek Im Siok-kun menegak alis. Suaranya nyaring tajam, tanpa terasa Lau Sam-thay bergidik tanpa kedinginan. Katanya tergagap.

"Paling tidak Ciangbunjin harus bersikap rendah ......"

"Aku belum pernah kelana di Bulim, segala aturan Kangouw aku tidak tahu. Jika aku berlaku salah terhadap Lau-toaenghiong, entah bagaimana aku mohon maafku.."

Nadanya lebih congkak dan pongah, umpama Lau Samthay dibuat dari lempung juga tidak tahan dihina begitu rupa, maka sambil mengajukan Cit-sing-to ia berteriak.

"Bu-khekkiam-pay kalian bukan aliran yang ternama, aku orang she Lau memanggilmu Ciangbunjin sudah termasuk menghormatimu, kau tidak tahu kebaikan, terpaksa aku orang she-Lau minta pengajaran!"

"Lau-heng". tiba-tiba Koan San-gwat menyela sambil tertawa enteng.

"Tadi kau membujuk aku supaya jangan mengumbar adat kenapa sekarang kau marah-marah?"

Agaknya marah Lau Sam-thay sudah memuncak, dengan bengis ia berteriak.

"Meski ilmu silatku tidak becus, jelek jelek aku seorang laki-laki, masa harus dihina kaum kaum lemah?"

Im Siok-kun menarik muka, katanya dengan suara tertekan.

"Jimoy? keparat ini berani mengagulkan diri sebagai laki-laki sejati, coba kau iris sedikit badannya!"

Seorang perempuan yang berdiri di sampingnya segera mengiakan dan tampil ke depan, gerak-geriknya secerat angin, begitu melejlt pedang lantas terayun memapas kaki Lau Sam-thay.

Cit-sing-to di tangan Lau-Sam-thay agaknya memang kepandaian tulen, golok tunggal itu menyampok ke bawah "Trang!"

Berhasil menangkis tebasan pedang lawan, tapi tidak urung tergentak mundur dua tindak.

Karena serangan pertamanya gagal, ia mendengus hidung, badannya mendesak maju mendekat.

Tapi Lau Sam-thay tidak tinggal diam, Cit-sing-to di tangannya berputar laksana kitiran menghalau seriap serangan lawan.

Beruntun perempuan itu menyerang empat lima jurus dengan pedangnya, semua tertangkis atau kesampok miring oleh golok Lau Sam-thay, maka terdengar Im Siok-kun berseru lantang.

"Jimoy, kalau keparat ini bisa bertahan sepuluh jurus selanjutnya, jangan kau jadi orang she Im."

Mendengar peringatan tersebut, perempuan itu pergencar serangannya, ia berlaku nekat, dengan kekerasan ia berusaha menjebol pertahanan sinar golok yang rapat, sekali tempo pedangnya menahan rangsakan golok lawan, sementara kedua jari tangannya laksana pisau menusuk ke lutut Lau Sam-thay.

Kontan Lau Sam-thay rasakan lututnya lemas, tanpa kuasa ia jatuh bertekuk lutut, perempuan itu menjengek dingin lalu melejit mundur kembali ke samping Im Siok-kun.

Terdengar gelak tawa Im Siok-kun yang bangga.

"Lau-lo-enghiong, kau adalah laki-laki sejati, kenapa kau bertekuk lutut?"

Malu dan gusar gejolak darah di dada Lau Sam-thay, cepat ia ayunkan golok sendiri hendak menggorok leher, namun baru goloknya terangkat, tiba-tiba tangannya kesemutan disambar gelombang tenaga, tahu-tahu goloknya sudah terampas orang, disusul baju punggungnya ditarik orang didengarnya dua kali suara tepukan keras, kontan ia dapat bergerak lagi seperti semula.

Waktu ia berpaling, orang yang menolong dirinya adalah perempuan tua yang selalu mengiringi perjalanan Koan San-gwat.

Dia hanya tahu orang dipanggil Peng-toanio, tapi tidak tahu bahwa orangpun pandai silat.

Setelah mengembalikan Citsing-to kepadanya, dengan muka sungguh-sungguh berkatalah Peng-toanio.

"Kalau kepandaian sendiri memang tidak becus kenapa harus mati, orang yang gampang menggorok leher karena malu apakah boleh disebut laki-laki sejati?!"

Lau Sam-thay menjadi malu sekali, setelah terima goloknya ia menunduk kepala tanpa bersuara. Sementara Peng-toanio membalik tubuh dan menjengek ke arah perempuan pertengahan umur ini.

"Kaum persilatan boleh dibunuh tidak boleh dihina, kalau kau membuntungi kedua kakinya, nenek tua seperti aku ini tidak akan banyak cingcong, tapi kau menghina dan mempermainkan dia, aku nenek tua ikut merasa terhina! Siau we! sebutkan namamu!!"

Melihat Peng-toanio dapat membebaskan ilmu tutukan tunggal perguruannya dengan itu dan perempuan itu merasa kaget, ia berdiri menenggang penuh kecurigaan, hingga lupa menjawab, lekas Im Siok-kun menjengek dengan suara berat.

"Jimoy! orang sedang bertanya kepada kau! Apa kau tidak dengar?"

Perempuan itu tersentak sadar sahutnya lantang.

"Musid Bu-khek-bun Im Tiat-kun!"

Peng Kiok-jin terloroh-loroh, ujarnya .

"Sudah sekian tahun nenek tua ini tidak berkecimpung di Kangouw, badut dan panca longok berani malang melintang, maka kaupun harus berlutut seperti dia!"

Mendengar ancaman yang lantang ini seketika Im Tiat-kun melongo, tapi Peng Kiok-jin tidak memberi kesempatan ia berpikir, se enteng asap tiba-tiba tubuhnya meluruk ke depan, jari tangannya tertekuk terus menjentik meluncurkan sejalur angin keras.

Belum lagi Im Tiat-kun sempat bersiap dan melawan, tiba-tiba terasa lututnya lantas tak bertenaga, badannya sudah bergoyang hampir berlutut, berobah air muka Im Siok-kun, lekas sebelah tangannya mendorong ke samping.

Pukulan telapak tangannya bukan menyerang Pek Kiok-jin yang menyergap tiba, tapi mendorong Im Tiat-kun sambil berteriak.

"Murid Bu-khek-pay adalah perempuan perkasa yang rela mati menjadi mayat daripada dihina!"

Melihat Im Tiat-kun mampus dengan tujuh lobang inderanya mengalirkan darah, Peng kiok-jin menjadi gusar.

"Terhadap saudara Sepupu sedemikian kejam ...."

"Memang ini sudah menjadi perundang-undangan keluarga kita!"

Kata Im Siok-kun ketus.

"Tak perlu kau bersedih bagi kita, meski dia mampus di tanganku, tapi kami harus mencari perhitungan kepada kau....."

"Kau sendiri yang bunuh kerabatmu, tapi orang lain yang harus bertanggung jawab hidup semua ini, baru sekarang aku nenek tahu ada peraturannya si kentut busuk ini, tapi cara bagaimana kau hendak mencari perhitungan denganku?"

"Gampang saja! Hutang darah bayar darah, hutang jiwa harus bayar jiwa!"

Im Siok-kun mengulapkan tangan, dua perempuan lain yang berada di samping Im Siok-kun segera melolos pedang hendak turun tangan, cepat Thio Ceng Ceng tampil ke depan, serunya.

"Tunggu sebentar, mari kita bicara dulu."

"Mengobrol apa lagi?"

Teriak Peng Kiok-jin gusar.

"Kalau mereka mampu, silahkan bawa nenek tua ini untuk menebus jiwanya. Ka lau tidak aku akan bikin mereka berlutut minta ampun kepadaku, ingin kulihat apakah Bu khek-pay kalian ada orang yang suka berlutut dan mandah dihina."

"Toanio"

Bujuk Thio Ceng Ceng.

"kuharap kau bersabar sebentar, mereka mengatakan ayahku berbuat apa, aku harus tanya duduk persoalannya."

Terpaksa Peng Kiok-jin mengalah mundur ke samping. Baru sekarang Thio Ceng Ceng berkesempatan bicara kepada dua perempuan itu.

"Kuharap kalian suka menunggu sebentar, setelah aku bicara dengan Ciang-bunjin kalian, belum terlambat kita teruskan pertarungan ini."

Kedua perempuan itu berpaling ke arah Im Siok-kun, agaknya menanti perintah lanjut, maka Im siok-kun berseru gusar.

"Tiada yang perlu dijelaskan lagi! Kalau kau adalah putri Thio hun-cu, maka kaulah orang kita cari, perbuatan bapakmu yang bangkotan itu terpaksa kau yang menerima hukumannya!"

Gusar dan gugup Thio Ceng Ceng dibuatnya, teriaknya.

"Sebetulnya apa yang dilakukan ayahku?"

"Kau kan putrinya masa tidak tahu?"

"Setahun yang lalu aku sudah berpisah dengan ayahku, sampai sekarang belum pernah berjumpa kembali. ...."

"Apa benar ucapanmu? tanya Im Siok-kun tidak percaya.

"Buat apa aku membual? Waktu Koan-toako terkena racun, akulah yang membawanya mencari obat, selama ini belum pernah berpisah sedikit pun, kau tidak percaya, silahkan kau tanya dia!"

Im Siok-kun berpaling ke arah Koan San-gwat, katanya.

"Kau adalah Bing-to Ling-cu, ucapanmu boleh dipercaya, kau berani tanggung bahwa ucapannya benar?"

"Aku yang rendah berani mempertaruhkan batok kepalaku ini, bahwa ucapan tetua Thio memang benar, selama setahun ini dia selalu ikut aku, belum pernah jumpa dengan paman Thio."

"Aneh!"

Seru Im Siok-kun tertegun.

"dua hari yang lalu ada orang melihat Thio-Hun-cu berada di Ciu-cwan bersama seorang gadis, maka kami menyusul kemari."

Koan San-gwat melengak, katanya.

"Dua hari yang lalu kami masih ada di Ciu-cwan, kami juga mencari paman Thio, kenapa kami tidak melihatnya? Apakah orangmu itu tidak salah lihat?"

"Tidak mungkin salah, Thio Hun-cu sekarang menjadi incaran orang banyak, orang tidak dapat dikelabui olehnya."

"Ya, memang kemungkinan, tapi gadis itu sudah pasti bukan nona Thio!"

Im Siok-kun merenung sebentar lalu berkata pula dengan gusar.

"Seumpama benar mereka sudah lama tidak hidup bersama, tapi hari ini kami sudah menemukan putrinya, kita harus menuntut pertanggungan jawab ayahnya kepada anaknya, kau adalah putri Thio Hun-cu maka kau harus berani menanggung akibat ini."

"Sebenarnya apakah yang telah dilakukan ayahku? Begitu benci kalian terhadap beliau!"

Kata Im Siok-kun gemas.

"Kalau diceritakan, kau sebagai putrinya mungkin bangga akan perbuatan ayahmu, sejak Thio Hun-cu lolos dari Loh hun-kok setahun yang lalu, karena dia paham cara memunahkan racun Ui-ho-ciu-oe-sa itu semua hadirin menaruh hormat dan segan kepadanya.... ......? "Sebagai tabib yang memperdalam ilmu pengobatan, adalah tanggung jawab beliau menolong sesama manusia!"

Ujar Thio Ceng Ceng tertawa. Im Siok-kun menyeringai dingin, sambungnya.

"Kau dengarkan saja nanti kan tahu betapa bagus perbuatannya. Sejak peristiwa di Loh-hun-kok itu mendadak dia menghilang. Kira-kira sebulan yang lalu, mendadak muncul. Dia bertandang ke markas berbagai golongan dan aliran besar kecil. Karena perbuatan suhunya dulu sudah tentu semua pihak suka bersahabat dengan dia. Siapa tahu manusia berhati binatang itu, ternyata melakukan perbuatan hina dina yang memalukan."

"Kau bohong!"

Maki Thio Ceng Ceng.

"Ayahku bukan macam itu!"

"Apa yang dilakukan ayahmu, kini seluruh manusia di kolong langit pasti ingin merajangnya untuk melampiaskan kedongkolan hatinya. Di Siau-Lim-sie ia mencuri buku rahasia Ih-kin-keng karya Tatmo Cousu, dengan keji meracun Ciangbunjin Siau-lim-pay Thong Sian Taysu hingga bisu dan tuli, badannya lumpuh lagi. Di Bu-tong ia melarikan buku pelajaran pedang dan meracuni Bu-tong Ciangbun Thian-ki Totiang hingga mati. Soalnya partai dan golongan lain, aku sendiri belum mendapat kabar yang pasti, entah perbuatan laknat apa lagi yang sudah dilakukan, tapi mereka mengejar Thio Hun-cu begitu ketat, tentu terjadi perkara besar....."

Thio Ceng Ceng terpukul hatinya, sambil menutupi mukanya ia berteriak.

"Kau bohong! Mana mungkin ayah melakukan perbuatan semacam itu....."

"Kenapa kau tak mau meluruk ke Siau-lim-si untuk mencari bukti?"

"Sudah tentu aku akan ke sana!"

"Nanti dulu!"

Koan San-gwat menimbrung pembicaraan dengan sungguh-sungguh.

"Aku bergaul cukup lama dengan paman Thio. Aku tahu watak dan perangainya, ia tidak mungkin melakukan perbuatan yang hina dan memalukan itu, apalagi persoalan ini banyak lobang kelemahannya. Seperti apa yang kau katakan, kukira golongan atau aliran yang mengalami nasib jelek tidak mungkin sebanyak itu, cukup dua golongan saja pasti akan menyiarkan berita jelek itu, golongan yang lain cepat akan berlaku waspada, mana mungkin bisa satu persatu kena ditipunya mentah-mentah?"

"Justru di sinilah kelihaiannya Thio Hun-cu,"

Im Siok-kun menyeringai.

"Dia bekerja dari timur ke barat, secara beruntun dan teratur, berita yang tersebar di luar kalah cepat dengan gerak-geriknya. Di kala golongan di sebelah barat memperoleh berita, dia sudah datang dan bekerja beberapa lamanya ....."

Koan San-gwat geleng -geleng kepala.

"Kenapa sepanjang jalan kita kemari, sedikit pun tak tahu menahu persoalan ini?"

"Perbuatan jahat yang dilakukan Thio Hun-cu kebanyakan menyangkut rahasia berbagai golongan besar kecil atau beberapa tokoh atau orang-orang penting itu, tiada yang berani membeber borok yang memalukan ini, sudah tentu kalian tidak bisa mendengar berita penting ini."

Dengan tenang dan dingin bertanyalah Koan san-gwat.

"Lalu pihak Bu khek-kiam-pay kalian mengalami musibah apa?"

Sesaat Im Siok-kun bimbang, akhirnya Ia berkata sambil kertak giginya.

"Apa yang menimpa golongan kita jauh lebih memalukan dari golongan lain!"

"Apakah buku pelajaran Bu khek-kiam-pay kalian dicurinya?"

Koan San-gwat menegas.

"Bu khek-kiam-hoat terbagi dua jilid,

Jilid kedua adalah pelajaran umum bagi seluruh anggota Bu-khek-kiam-pay kami,

Jilid pertama berisi delapan gerak pelajaran ilmu pedang, khusus diajarkan untuk Ciangbunjin, siapapun tidak mungkin bisa mempelajarinya, sudah tentu

Jilid pertama ini dia tidak berhasil membawanya lari."

"Lalu apa kerugian kalian?"

Wajah Im Siok-kun beringas, serunya berapia-api.

"Tujuannya yang terakhir adalah Im-san kami, aku belum pernah ketemu dengan dia, cuma kudengar namanya cukup tenar sebagai pendekar kelana, maka dengan tangan terbuka kusambut kedatangannya. Siapa tahu...."

Bicara sampai di sini ia tidak kuasa meneruskan saking gusarnya.

"Bagaimana ayahku?"

Thio Ceng Ceng bertanya. Im Siok-kun kertak gigi serunya bengis.

"Dia.... memperkosa putriku yang terkecil Im Le-hoa dan meracunnya hingga pikun."

Koan San-gwat tersentak kaget, sesaat ia melongo, lalu katanya.

"Ini.... agaknya tidak mungkin! Mana mungkin paman Thio melakukan......"

"Anggota Bu khek-kiam-pay kita terdiri dari kaum hawa. Kalau bukan dia siapa yang berbuat... ....?"

Semula Aku tidak Percaya, tapi setelah aku bertemu murid Siau-lim-pay dan Butong-pay maka dapatlah dipastikan tentu perbuatannya."

Thio Ceng Ceng seperti kehilangan akal pikirannya yang jernih, tiba-tiba ia berteriak sambil menangis .

"Kau bohong.... katu bohong......."

Di bawah sinar bulan tampak air muka Im Siok-kun pucat, dengan suara berat ia berkata "Tiang-hoa! Bawa adikmu kemari!"

Dengan muka sedih itu Tiang-hoa menuntun keluar seorang gadis berpakaian hitam, wajahnya cantik molek, usianya tujuh belasan, kedua matanya mendelong terus tidak bergerak, gerak-geriknya serba linglung.

Im Siok-kun mendelik kepada Thio Ceng Ceng, serunya gusar.

"Tentu kau pun mahir ilmu pengobatannya, silahkan kau periksa buah karya bapakmu."

Thio Ceng Ceng mengusap air mata maju ke depan si gadis, dia membalik kelopak matanya serta memeriksa dengan cermat, meraba urat nadinya pula, terakhir ia berikan kepada Peng Kiok-jin.

"Toanio! Harap beri sebutir Peng-sip-coat-pengsan!"

Dengan serius Peng kiok-jin membuka buntalan menuang sebutir pil dan diberikan kepada Thio Ceng Ceng, Ceng Ceng jejalkan pil itu ke mulut si gadis. Cepat Im Siok-kun membentak.

"Obat apa yang kau berikan kepadanya?"

Peng Kiok-jin segera menjawab.

"Kau tidak usah kuatir, kami tidak akan memberinya racun!"

Dengan perasaan tegang dan was-was Thio Ceng Ceng memeriksa denyut nadi si gadis lalu mengurut-urut, setelah itu ia mundur dua tindak menanti reaksinya, kulit mukanya berkerut-kerut gemetar.

Koan San-gwat maju mendekat serta bertanya.

"Nona Thio! Kenapa kau?"

Sahut Thio Ceng Ceng prihatin .

"Kalau obatku itu dapat menolongnya sadar.......... ?"

Tidak berani dia meneruskan ucapannya, beberapa saat Koan San-gwat seolah-olah ikut tenggelam, ia berdiri diam tak bergerak di sampingnya.

Entah berapa lama kemudian, biji mata itu mulai bergerakgerak, bibirnya bergerak menggumam beberapa patah kata.

Thio Ceng Ceng menjerit terus menangis keras menutup muka dengan kedua telapak tangannya, teriaknya.

"Koantoako tiada muka aku hidup..... Jantung Koan San-gwat berdebar keras, hampir ia tidak percaya dengan kenyataan di depan matanya. Urusan menjadi jelas dan terbukti akan perbuatan Thio Hun-cu, apakah mungkin? Setelah menangis sekian saat, tiba-tiba Thio Ceng Ceng angkat kepala, katanya.

"Tidak! Betapapun aku tidak percaya akan perbuatan ayahku!"

Koan San-gwat juga tidak putus asa, bujuknya.

"Benar! Akupun tidak percaya ...... oh ya, kalau gadis ini sudah pulih kesadarannya, marilah kita tanya kepadanya!"

Segera Thio Ceng Ceng memburu ke depan gadis itu.

"Adik cilik! Seseorang telah mengganggu kau, siapakah dia?"

Im Lee-hoa membuka lebar kedua biji matanya, dia tetap mendelong, sesaat baru menggumam.

"Tidak! Dia bukan orang jahat, dia suka kepadaku, akupun suka kepadanya, dia hendak menikah dengan aku, akupun menjadi istrinya...."

Im siok-kun merasa di luar dugaan, ia pun memburu maju, teriaknya.

"Lee-hoa kau sudah gila........."

Thio Ceng-Ceng makin panik, serunya.

"Adik cilik, siapakah dia ?"

"Aku tidak tahu, dia tidak memberi tahu kepadaku?"

Sahut Im Lee-hoa hampa. Segera Koan San-gwat berkata pada Im Siok-kun.

"kalau paman Thio mendapat pelayanan istimewa kalian, kenapa putrimu tidak kenal dia?"

"Selamanya dia tidak pernah kenal dengan orang luar, sudah terus tidak tahu!"

Kemba Thio Ceng Ceng menarik tangan Im Lee-hoa, tanyanya lagi.

"Bagaimana bentuk wajah orang itu?"

Im Lee-hoa diam sekian lamanya akhirnya menjawab dengan rasa sedih.

"Entahlah, aku sudah lupa! Mungkin kalau ketemu sama dia aku bisa mengenalnya, waktu dia datang menemukanku, keadaan sangat gelap aku hanya mengenal suaranya."

Mungkin bukan ayahnya, Thio Ceng Ceng agak lega. Mendadak kedua mata Im Lee hoe bercahaya terang, suaranya lembut mesra.

"Aku masih ingat jenggotnya, jenggotnya itu sangat bagus, lemas lembut seperti rambutku, waktu mengusap wajahku rasanya begitu hangat dan mengasikkan......"

Tiba-tiba Thio Ceng Ceng menjerit sekeras-kerasnya melepas tangan Im Lee-hoa terus putar tubuh dan lari. cepat Im Siok-kun melintangkan pedang mencegatnya, bentaknya.

"Duduk perkaranya sudah jelas, mau kemana kau?"

Hati Thio Ceng Ceng seperti disayar-sayat sembilu, teriaknya sambil menangis gerung-gerung;

"Jangan rintangi aku, aku hendak mencari ayah......"

Cepat Koan San-gwat menarik tangannya, bujuknya.

"Nona Thio, kalau ayahmu benar seorang yang hina dina, kau tidak perlu mencari lagi!"

"Tidak!"

Sahut Thio Ceng Ceng keras.

"aku harus menemukan dia. Aku akan bunuh dia lalu akupun bunuh diri. Aku tidak mau membiarkan dia hidup, akupun tidak mau hidup lagi ......"

"Apa-apaan ucapanmu? Paman Thio, meski Thio Hun-cu layak dibunuh, bukan kewajibanmu untuk membunuhnya......"

"Tidak, aku sendiri yang harus bunuh dia! Dia bukan lagi ayahku, aku bukan putrinya......"

"Sudah, kalian main sandiwara di hadapanku, kau kira aku bisa melepas kau pergi?"

Tukas Im Siok-kun menyeringai sadis. Mandadak Thio Ceng Ceng beringas, hardiknya murka.

"Minggir! Sekarang siapa pun aku tidak perduli lagi, jangan kau merintangi jalanku."

Im Siok-kun semakin berang, teriaknya.

"Kalau kita tidak menemukan Thio Hun-cu, maka kau dulu yang harus menebus dosanya."

Thio Ceng Ceng menjerit panjang, dengan gusar ia melolos pedang panjang dari punggungnya, hardiknya .

"Berani kau merintangi aku, kubunuh kau, sekarang hasratku cuma membunuh orang...,"

Sebelum orang habis bicara, pedang Im Siok-kun sudah menukik laksana ular menyambar dari samping, lekas Thio Ceng Ceng angkat pedang menangkis dan balas menyerang, maka terjadilah pertempuran seru.

Karena bertangan kosong, Koan San-gwat kerepotan untuk melerainya, terpaksa ia minta bantuan Peng Kiok-jin.

"Toanio! Lekas kau cari akal untuk menghentikan amukannya !"

"Kepadamu dia tidak tunduk aku punya akal apa?"

Sahut Peng Kiok-jin menyengir.

"Aku maklum peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi bathinnya hingga pikirannya kacau balau....."

Koan San-gwat semakin gopoh dan gelisah, sementara Thio Ceng Ceng sudah melabrak Im Siok-kun puluhan jurus.

Permainan Be-khek-kiam-hoat Im Siok-kun aneh menakjubkan, jurus-jurusnya serba berlawanan dari permainan pedang umumnya, setiap tipu serangannyapun sangat ganas dan keji.

Dalam keadaan marah, inti sari ilmu pedangnya sukar dikembangkan.

Setelah mendapat petunjuk dan gemblengan Soat-lo Thay thay, kepandaian Thio Ceng Ceng sudah berlipat ganda, permainan pedangnya sangat hebat dan gerak perubahannya laksana setan kelelap malaikat muncul, setiap jurus serangannya menempatkan dirinya dalam posisi yang lebih menguntungkam sehingga Im Siok-kun terdesak mencakmencak, saking gugupnya ia berkaok-kaok.

"Hayo! maju semua, cacah hancur tubuh perempuan laknat ini!"

Anak murid Bu-khek-kiam-pay serempak melolos pedang terus menyerbu dari berbagai penjuru, hawa pedang berkilauan memberondong ke arah Tnio Ceng Ceng dengan rapi.

Koan San-gwat hendak maju membantu, lekas Peng kiok-jin menariknya, katanya.

"Tidak perlu kau harus turun tangan! Nona Ceng sudah cukup berkelebihan!"

Memang tindak tanduk Thio Ceng Ceng lebih kejam dan nekat, meski ia hanya menggunakan sebilah pedang, tapi permainannya sedemikian cepat, umpama hujan badai juga tidak akan menembus pertahanannya yang rapat, para pengepungnya saling terdesak mundur dan terpental pontangpanting oleh perbawa ilmu pedangnya.

Keruan Im Siok-kun semakin murka bentaknya beringas .

"Hayo maju semua, adu jiwa dengan dia. Meski seluruh warga Im habis tertumpas, jangan kita lepaskan perempuan laknat ini!"

Thio Ceng Ceng juga semakin murka, teriaknya;

"Terpaksa aku harus membunuh, kalian yang memaksa aku berbuat demikian..........."

"Bunuhlah! Kau sama dengan bapakmu. keparat yang patut dihancur leburkan."

Caci maki urang lebih menggelorakan darah Thio Ceng Ceng, dimana pedangnya berkelebat bagai kilat menyambar beruntun terdengarlah suara jerit dan pekik kesakitan, kecuali Im Siok-kun dan beberapa orang yang berkepandaian tinggi, banyak diantara mereka roboh terluka.

Banyak senjata putus, lengan tergores atau pergelangan tangan kutung dan ada pula yang tubuhnya cacat.

Mata Im Siok-kun merah padam dan membara, teriaknya beringas.

"Keparat, biar aku adu jiwa dengan kau!"

Cepat sekali ujung pedang menusuk ulu hati, serangan ini cukup ganas dan lihai, pedang Thio Ceng Ceng, yang menyambar kuping kirinya pun tidak dihiraukan, ia agaknya bertekad gugur bersama.

Sebat sekali Thio Ceng Ceng miringkan tubuh meluputkan diri, sementara gaya serangan pedangnya masih meluncur tanpa berubah.

Sekarang Koan San-gwat tidak bisa berpeluk tangan, sigap sekali ia jemput sebilah pedang di tanah terus melejit .

"Trang"

Pada waktunya ia berhasil menangkis pedang Ceng Ceng, menolong jiwa Im Siok-kun. Sejenak Thio Ceng Ceng tertegun, serunya keren.

"Koan San-gwat, kau pun hendak membunuhku?"

"Tidak"

Sahut Koan San-gwat dengan keren.

"Aku tidak membunuh kau, tapi kau pun jangan membunuh orang!"

Deras air mata Thio Ceng Ceng, tanpa banyak kata, Ia menerjang keluar kepungan.

Im Siok-kun terus lari sekencang-kencangnya.

Koan Sangwat bergerak hendak mengejar, cepat Peng Kiok-jin menahan dari belakang, katanya.

"Biarkan dia pergi. Sekarang perlu memberi ketenangan padanya. Untuk sementara waktu kau jangan temui dia, aku akan mengawasi dirinya."

Koan San-gwat hendak menolak, cepat Peng Kiok-jin menggoyangkan tangan, katanya.

"Urusan ayahnya, akupun belum percaya. Lebih baik carilah Thio Hun-cu, gunakan waktu luangmu untuk membuat penyelidikan dalam persoalan ini."

Selesai berkata lantas memburu ke arah Thio Ceng Ceng menghilang. Sesaat Koan San-gwat menjublek di tempatnya dengan muka merah padam, Im Siok-kun meluruk kehadapannya, jengeknya.

"Orang she Koan, sejak hari ini Bu khek-kiam-pay kami tidak akan berjajar dengan kau......"

Koan San-gwat melengak, ujarnya.

"Aku tidak bermusuhan dengan kalian, barusan jiwamu sudah kutolong, kenapa air susu kau balas dengan air tuba?"

"Memang! Tapi kaupun menolong jiwanya pula, aku masih ada jurus pedang lihai yang belum kulancarKan, aku berani pastikan, ilmu pedangku itu akan menembus tenggorokannya. Kau menolong jiwanya, sekarang aku tidak bisa membalas dendam kepada kau, biarlah pertarungan ini kita bereskan lain kesempatan."

Dengan bingung Koan San-gwat membujuk .

"Seumpama kau tadi gugur, Yang berbuat kejahatan adalah ayahnya, ada sangkut paut apa dengan dia? Untuk membalas dendam kau harus mencari sasaran yang tepat!"

"Orang she Thio itu sudah merusak putriku, maka akupun harus merusak putrinya, itu baru setimpal. Bicara terus terang, aku lebih suka membebaskan Thio Hun-cu, tapi putrinya itu harus menerima ganjaran yang setimpal."

"Kecuali kau sudah gila,"

Seru Koan San-gwat naik pitam.

"Orang gila baru punya angan-angan yang gila pula!"

Im Siok-kun tidak menghiraukan dia lagi, ia pimpin seluruh anak buahnya tinggal pergi tanpa banyak omong lagi.

Koan San-gwat termenung-menung sekian lamanya, setelah Lau Sam-thav menarik bajunyas baru ia sadar.

Dengan lesu ia meninggalkan tempat itu.

Tatkala itu cuaca sudah terang berderang.

Ufuk timur sudah dihiasi cahaya kuning emas.

Hawa pagi nan sejuk dan nyaman, semangat Koan San-gwat pulih kembali, ia menarik napas panjang.

Malam ini masa amat panjang.

--ooo000ooo--Seorang diri Koan san-gwat menelusuri pinggir sungai kuning, sementara Lau Sam-thay mencari perahu untuk menyeberang.

Seorang diri ia menengadah mengamati bintang kerlap kerlip yang masih bercokol di cakrawala, pelanpelan kudanya naik ke atas tanggul.

Keadaan yang sunyi dan pemandangan gelap sebelum fajar ini membuat perasaannya hambar dan haru, sejak ia mengembara empat tahun yang lalu, lebih banyak waktu dihabiskan dengan merawat luka-luka yang dideritanya.

Tapi begitu ia terjun ke dunia persilatan, tentu menimbulkan kegemparan yang teramat besar .......sehingga ia lebih dapat meresapi betapa besar arti kehidupan ini.

Lambat laun bangkit jiwa kesatrianya, menghadapi bulan sabit, desah air sungai, serta hembusan angin pagi nan sepoisepoi ini ingin rasanya melampiaskan kekesalan hati dengan menggembor sekeras-kerasnya.

Begitu mengerahkan hawa murni ke pusarnya, sekali mulut terpentang, suara keras menjulang tinggi menembus angkasa laksana jeritan naga, berkumandang di alam semesta di pagi hari dan cerah itu.

Tanggul di bawah kakinya terasa bergetar oleh kedahsyatan gemborannya.

Demikian juga kuda tunggangannya berjingkrak berdiri, hampir saja ia terlempar dari punggung kudanya, syukur ia cukup cekatan, tali kekang ditarik, sehingga badannya terkendali.

Tepat pada saat itu juga, kupingnya yang tajam mendengar jerit kesakitan Lau Sam-thay di kejauhan sana, disusul derap langkah kuda yang mendatangi dengan kencang.

Koan San-gwat kaget, ia mengira Lau Sam-thay mengalami sesuatu.

Sejak dibikin malu pihak Bu-khek-kiam-pay malam itu, dia mengintil dirinya, alasannya cukup tepat, takut para kerabat Im-san mencari perkara padanya, ia tahu dirinya bukan tandingan mereka, apalagi perkara terjadi gara-gara dirinya dengan Thio Ceng Ceng, Koan San-gwat langsung menolak permintaan orang.

Apalagi sepanjang jalan ia selalu memberi pelayanan yang baik pada dirinya, sehingga ia terhindar dari banyak kesulitan, lambat laun Koan San-gwat merasa tidak bisa kehilangan pembantu yang sangat diperlukan ini, maka begitu mendengar jeritannya, segera ia keprak kudanya menyusul ke sana.

Belum berapa jauh, dilihatnya seekor kuda tanpa penunggang sedang mencongklang pesat ke arah sini, kuda itu adalah tunggangan Lau Sam-thay, melihat binatang itu tidak ditunggangi majikannya, Koan San-gwat semakin kuatir, lekas ia cegat dan tarik kuda itu lalu dibawa lari pula ke depan.

Beberapa kejap kemudian, jauh di depan sana dilihatnya Lau Sam-thay sedang memukul dan menubruk serabutan melawan seorang gadis yang bercokol di atas kuda.

Gadis itu menggunakan pakaian serba merah, tangannya memegang pecut panjang, berulang-ulang ia melecutkan pecutannya ke arah Lau Sam-thay.

Berkali-kali Lau Sam-thay urut tangannya mencengkeram ujung pecut lawan, tapi selalu gagal, malah kepala dan mukanya dipecut beberapa kali, badan babak belur, bajunya sudah sobek-sobek berdarah.

Sudah tentu Koan San-gwat tidak berpeluk tangan, cepat ia keprak kudanya memburu kesana, bentaknya.

"Berhenti!"

Bentakannya keras menggeledek menggelegar, gadis itu segera menghentikan aksinya! Lau Sam-thay lantas berteriak.

"Liang-cu! Jangan kau turut campur, biar aku adu jiwa dengan budak busuk ini......."

Belum habis bicara tahu-tahu mukanya kepecut lagi, terdengar gadis itu membentak.

"Coba kau maki sekali lagi, kubikin hancur mulutmu."

Agaknya pecutan terakhir ini jauh lebih berat, muka Lau Sam-thay bertambah jalur berdarah, sudah tentu marahnya bukan kepalang, hardiknya kalap.

"Tuan besarmu justru ingin maki kau, kalau berani coba kau bunuh aku saja, perempuan busuk ..........! Berubah air muka gadis itu, teriaknya melengking .

"Kau memang harus dihajar !"

Pecut sudah terayun dan hendak menghajar lagi, sementara Koan San-gwat sudah tiba mencegat di antara mereka, begitu melihat kedatangan Koan San-gwat, gadis itu batalkan serangannya, teriaknya.

"Kau minggir, akan kuhajar dia supaya tidak memaki orang lagi!"

Kata Koan San-gwat dengan kalem .

"Memaki orang memang salah, tapi kau sudah menghajarnya begitu rupa, apa tidak terlalu?"

Gadis itu mendelik serunya .

"Kusuruh kau minggir dengar tidak? Kalau kau tidak mau minggir, kau pun akan kuhajar sekalian."

Lau Sam-thay berjngkrak gusar, teriaknya sambil bertolak pinggang .

"Perempuan busuk, kalau kau mampu memecut Ling-cu, baru aku tunduk kepadamu!"

Gadis itu menjengek hidung, tiba-tiba pecutnya terayun melingkar-lingkar terus menukik hendak membelit leher Koan San-gwat.

Koan San-gwat bersikap tenang sambil mengulum senyum, tanpa berkelit ia mengulur tangannya mencengkeram ujung pecut si gadis ini, yang dia gunakan adalah hun-kong poh-in, membagi silat menerkam bayangan.

Ia menyangka dengan gerak tangan yang amat lihay itu, pecut lawan dapat dipegang.

Tak kira baru saja jarinya menggenggam ujung pecut orang, gadis itu menggentak pergelangan tangannya, ujung pecutnya itu seperti ular sakti yang licin memberesot lolos dari telapak tangannya.

Hanya satu gebrak, kedua pihak menjadi tercengang, rasa heran dan kaget gadis itu jauh lebih besar dari Koan Sangwat, terdengar hidungnya mendengus lirih, lalu katanya.

"Hai, siapa namamu ?"

Belum sempat Koan San-gwat membuka mulut, Lau Samthay sudah menjawab.

"Perempuan busuk, Bing-to-ling-cu yang namanya menggetarkan seluruh kolong langit masa tidak pernah dengar? buat apa kau kenali kangouw."

"Siapa bilang aku orang Kangouw?"

Sentak gadis itu sambil melotot. Agaknya luka-luka Lau Sam-thay masih sakit, dengan marah ia memaki pula.

"Perempuan busuk, dandananmu menunjukkan kau adalan anggota rombongan akrobatik, berani kau tidak mengaku!?"

Lau Sam-thay hendak memaki dan menghinanya, tak kira gadis itu melotot heran, tanyanya.

"Apa yang dinamakan akrobatik!?"

Lau Sam-thay menelan air liur, sungguh hatinya gemas, entah pura-pura atau tidak tahu atau memang bodoh, sesaat baru ia menjawab.

"Kalau kau sudah tahu istilah Kangouw, masa tidak tahu artinya?"

"Aku memang tidak tahu,"

Sahut gadis itu tertawa.

"Orang Kangouw, nama ini kudengar dari ibuku, menurut kata ibu orang kangouw tiada yang baik. Apakah kalian pun orang Kangouw?"

Lau Sam-thay uring-uringan, makinya.

"Justru ibumu yang bukan orang baik, berdasarkan apa dia berani mengatakan orang Kangouw tiada yang baik!"

Gadis itu menarik muka, pecut terayun lalu menghajar pula ke arah Lau Sam-thay, teriaknya gusar.

"Berani kau memaki ibuku? Sudah bosan hidup ya!?"

Sambil menghardik Koan San-gwat mengayun telapak tangannya memotong pecut lawan di samping menolong Lau Sam-thay, tujuannya merampas pecut orang.

Akan tetapi permainan pecut gadis itu sangat lincah dan licin sekali, badannya meliuk dan bergoyang di punggung kuda.

Di samping menghindari pukulan Koan San-gwat, geraKan tangannya tetap tidak berubah, pecutnya masih melingkar ke atas Lau Sam-thay.

"Plak"

Tanpa diberi kesempatan, pinggang Lau Sam-thay kena sabet, serangan ini melecut sambil menutuk jalan darah, kontan ia tergulung serta terseret ke tanah tidak bergerak lagi, jalan darah di bawah ketiaknya tertutuk.

Koan San-gwat marah dibuatnya, segera ia melompat turun.

"Kau turun, akan kuberi hajaran kepadamu."

Sambil mendelik gadis itu berkata lantang.

"Bukan aku takut kepadamu tapi aku ingat pesan ibu, tanpa sebab dilarang bentrok dengan orang lain. Kalau kau berani memakiku segera akan kulabrak kau."

Koan San-gwat melengak, ia rasa gadis ini aneh, katanya tertawa .

"Jadi kawanku ini memakimu terlebih dulu baru kau hajar?"

"Sudah tentu! Aku tidak pernah turun tangan lebih dulu tanpa sebab."

Sambil tersenyum Koan San-gwat menghampiri Lau Samthay lalu menjinjing bangun, beruntun ia gunakan lima enam cara ilmu tutuk tidak berhasil membebaskan Hiat-to Lau Samthay.

"Aku menggunakan tutukan tunggal ciptaan ibuku, kau tidak mampu membebaskan tutukanku, kalau dia tidak memaki aku akan kubebaskan tutukan jalan darahnya. Kalau tidak bisa lumpuh selamanya."

Saking kewalahan Koan San-gwat manggut-manggut, ujarnya .

"Baiklah, kutanggung dia tidak akan memaki kau lagi!" -oo0dw0oo-

Jilid 7 Tukang perahu cengar-cengir, ujarnya .

"Wah, malam ini agaknya aku ketiban rejeki nomplok, tulang-tulangku ini agaknya menjadi berharga, ada gadis ayu ingin mengelus-elus dan membayar kepadaku......"

"Sudah jangan cerewet,"

Sentak Lok Siau-hong marah.

"berapa yang kau minta?"

Tukang perahu bergelak tertawa, serunya.

"Jari-jarimu yang manis halus itu, andainya harus mampus juga tidak menyesal. maka aku tidak menuntut bayaran, silahkan saja, kau boleh gratis!"

Rasa gusar Lok Siau-hong mendadak sirna, cepat ia tersenyum manis, katanya .

"Kalau begitu banyak terima kasih!"

Nadanya lemah lembut, tapi ia turun tangan tidak kasihan.

"wut!"

Cambuk panjang bergulung-gulung ke tengah udara membawa kisaran angin yang menderu, melesat ke pergelangan tangan orang dengan kecepatan yang susah diukur.

Berubah air muka tukang perahu, tersipu-sipu ia menarik tangannya, tapi sudah terlambat, ujung cambuk laksana ular hidup sudah membelit pergelangan tangannya, lekas tangannya digen rak dan tan k kesam ping mak sudnya hendak membebaskan tangannya dari lilitan cambuk itu.

Agaknya Lok Siau-hong sudah memperhitungkan reaksi lawan, memperingatkan dan tarikan orang, sekali lagi cambuknya disendal untuk memunahkan tenaga gentakan orang yang besar, sehingga ujung cambuknya tetap membelit pergelangan tangan orang.

Terdengar tukang perahu menjerit sekeras-kerasnya, tibatiba ia dorong telapak tangannya ke depan.

Selama ini Koan San-gwat mengawasi kejadian ini dengan waspada, cepat-cepat iapun dorong telapak tangannya menyambut hantaman lawan.

Koan San-gwat kira lwekang tukang perahu ini luar biasa, umpama Ia kerahkan seluruh tenaga juga belum tentu kuat menahan pukulan orang, maka begitu melancarkan pukulan tukang perahu rendah dan biasa saja, keruan badannya kepukul terbang ke udara meluncur ke tengah sungai yang airnya sedang bergolak itu.

Cambuk Lok Siau-hong yang membelit, tangan orang belum terlepas keruan terseret beberapa langkah hampir tersuruk masuk ke air.

Cepat Koan San-gwat memburu maju dan menarik pinggangnya serta lompat mundur.

Sementara itu, tukang perahu sudah lenyap, ditelan ombak yang bergolak.

Untunglah Koan San-gwat bertindak sehingga Lok Siau-hong tidak terseret jatuh ke dalam sungai.

Karena tanpa kendali perahu oleng dan berputar di tengah sungai, kuda yang tidak terikat berjingkrak kaget jatuh ke dalam sungai, kuda milikc Koan San-gwat dan Lau Sam-thay sementara kuda merah Lok Siau-hong masih tenang-tenang berdiri di sana.

Koan San-gwat tertawa tawar.

"Usiaku toh lebih tua."

Setelah perahu tenang, Koan San-gwat melepas pelukannya, Lok Siau-hong jadi malu jengah, katanya tersekat .

"Terima kasih Koan....."

Koan San-gwat tertawa tawar, katanya .

"Usiaku lebih tua, kau boleh panggil aku Koan-toako saja."

Lok Siau-hong kikuk, suaranya lirih.

"Terima kasih Koantoako!"

Koan San-gwat manggut-manggut, belum ia buka suara, mendadak dilihatnya air bergolak lalu muncullah kepala tukang perahu. Ia naik salah seekor kuda, teriaknya.

"Hai! Nona cilik, pernah apa kau dengan Lok Heng kun ?"

"Beliau ibuku, untuk apa kau tanya dia?"

"Bagus!"

Teriak tukang perahu bengis.

"akhirnya aku berhasil menemukan dia. Kalian tinggal dimana?"

Tanpa pikir Lok Siau-hong berseru lantang.

"Kami tinggal di Si-yang-ceng, lima li di depan seberang sana."

Tukang perahu itu berteriak beringas .

"Lekas pulang beritahu kepadanya, besok siang setelah lohor aku akan datang mencarinya!"

"Ouw-hay-ik-siu!"

Lok Siau-hong berteriak lantang.

"lebih baik lusa kau datang, bukan saja ibu, bibiku juga menunggu kedatanganmu, datanglah pada waktunya, kedua belah pihak bisa menyelesaikan persoalan lama sekaligus."

Tukang perahu tertegun sejenak, lalu sahutnya.

"Baiklah lusa tengah hari aku pasti datang, suruh mereka siap! "

Habis berkata ia biarkan kuda itu hanyut terbawa air. Koan San-gwat bingung, tanyanya.

"Nona! Kau kenal orang ini?"

"Tidak!"

Tapi setelah dia menyebut nama ibuku lantas aku tahu siapa dia. Menurut ibu, orang itu sangat jahat, musuh besar keluargaku, ibu, bibi, dan paman menanti kedatangannya!"

Koan San-gwat ketarik tanyanya.

"Ada permusuhan apa dengan keluarga kalian?"

"Aku tidak tahu, ibu mengajar ilmu cambuk yang khusus mengalahkan dia."

"Jurus yang nona lancarkan tadi?"

Lok Siau-hong manggut-manggut dengan bangga.

"Ilmu silat orang tua itu sangat aneh dan agak sesat, urat nadinya sudah kugencet dengan seluruh tenagaku, tapi sedikitpun tidak terluka tapi kena pukulannya bisa saja......"

Lok Siau-hong tertawa.

"Kalau sebelumnya dia tidak kena cambukku, tentu kau tidak akan merasa pukulannya biasa saja."

Koan San-gwat melengak heran, tanyanya.

"Apakah maksud ucapan nona?"

Lok Siau-hong acungkan cambuk di tangannya, sedikit ia mengerahkan tenaga, ujung cambuk mendadak tegang berdiri seperti kepala ular muncullah dua jarum kecil warna hitam.

Sekali muncul, lantas masuk kembali, kalau tidak diperhalikan kau tidak akan menyadari kalau kau tertusuk jarum.

Beruntun Lok Siau-hong mendemontrasikan beberapa kali, setelah Koan san-gwat dan Lau Sam-thay melihat jelas baru dia tertawa dengan bangga, ujarnya.

"Menurut ibu, tua bangka itu punya ilmu sian-than-gun goan-hun-sip kang, tubuhnya dapat dirobah menjadi empuk dan lemas seperti benang kapuk, tenaga besar juga tidak akan bisa melukai dia. Kuatir suatu ketika aku kepergok dia dan kecundang, maka ibu menciptakan ilmu cambuk ini kepadaku. Dua puluh tahun yang lalu dia pernah kecundang oleh tusukan jarum ini, hari ini sekali lagi roboh di tanganku, sejauh ini dia belum tau duduk perkara yang sebenarnya."

"Apakah jarum di dalam cambuk nona mengandung racun?"

"Liag coa-pian-hoatku tidak mengandung racun. Kalau beracun menjadi Tok-coa-pian-hoat dong."

"Kalau mengandung racun, kenapa orang tidak mampu mengerahkan tenaga setelah kena tusukan jarummu?"

"Jarum dalam cambuk ini panjangnya sato inci, begitu menusuk urat nadi menembus ke khi-hiat, sudah tentu seluruh pertahanannya bobol dan tenaga tak mampu dikerahkan lagi."

"Khi-hiat masa berada di urat nadi pergelangan tangan ?"

"Justru disitulah tempat keanebannya, kalau orang lain...."

"Terhadap orang lain tusukan itu tak berguna,"

Demikian Lau Sam-thay menyela. Lok Siau-hong melirik sekejap, katanya.

"kalau orang lain jiwanya sudah melayang, dan jalan darah penting siapa yang kuat ditusuk jarum, dalam keadaan yang tidak siap siaga lagi. Maka ibu berpesan supaya menggunakan terhadap dia saja!"

"Menilai pesan ibumu itu, jelas bahwa ibumu yang baik hati dan bijaksana,"

Ujar Koan San-gwat tersenyum.

"Ya, aku sendiri tidak tahu kenapa ibu menggunakan julukan Hiat-lo-sat (kuntilanak berdarah), demikian pula bibiku julukannya Pek-kut sin-mo."

Koan San-gwat melengak, seorang aneh pula, dengan pikirannya nama-nama Hiat-lo-sat, Pek-kut-sin-mo dan Ouwhay-ih-siu belum pernah dengar selama ini, bagaimana sepak terjang dan asal usul mereka?

Ilmu silat mereka tinggi, kenapa menyembunyikan diri melarang putrinya terjun ke percaturan Kangouw...

"Aku harus menyelidiki seluk beluk mereka hingga terang, siapa tahu di belakang ini ada tersembunyi suatu rahasia besar yang biasa menggemparkan Kangouw,"

Hati berpikir tapi akhirnya ia bersikap tawar, tanyanya.

"Kalau ibumu tidak pernah Kelana di Kangouw, untuk apa pula dia memiliki gelar?"

"Entahlah! ibu, bibi, dan paman memanggil julukan masingmasing tidak pernah memanggil nama aslinya .. oh, ya, pamanku bergelar Coh-san-sin (malaikat gunung yang buruk) sebetulnya ia tidak kelihatan buruk malah cakap dan ganteng!"

Koan San-gwat berpikir dalam hati, setelah termenung sekian saat mendadak teringat olehnya sebuah persoalan, tanyanya.

"Aku masih belum tahu nama kebesaran ayah nona, tentu beliau seorang tokoh kosen yang menyembunyikan diri!"

Seketika berubah air muka Lok Siau-hong, sahutnya.

"Aku tidak punya ayah!"

"Setiap orang tentu punya ayah dan ibu .."

"Justru aku tidak punya, begitulah kata ibu, aku pun harus percaya saja, setiap kali kutanya hal ini, selalu aku dihajar dan dimakinya, maka kalau ketemu ibuku jangan kau singgung soal ini."

Dalam pada itu perahu mereka sudah laju ke depan dan terhanyut semakin jauh, untung Lau Sam-thay bisa mengendalikan perahu.

Setelah sekian lama bekerja keras perahu akhirnya bisa mendarat.

Waktu itu hari sudah terang tanah.

Setelah berada di atas darat, kelihatan Lau Sam-thay lebih gelisah dari Koan San-gwat tanyanya.

"Nona Lok, dimanakah rumahmu ?"

Lok Siau-hong celingukan mencari arah lalu berkata .

"Tempat ini sudah jauh dari rumahku, kuda kalian hilang lagi, bagaimana melanjutkan perjalanan?"

"Tidak jadi soal, kau naik kuda saja, kami berlari menguntit di belakangmu."

Lok Siau-hong menepuk kudanya, katanya .

"Kukira kau salah perhitungan bila hendak lomba lari dengan tungganganku ini, bila dia sudah lari, anginpun dapat dikejar olehnya. Kata ibu kuda ini kelahiran Tay-hoan yang pilihan dalam dunia cuma ada beberapa ekor saja...."

Sebagai orang yang dibesarkan di padang pasir sudah tentu Koan San-gwat kenal kwalitet kuda.

Kalau bukan kuda jempolan masa berlaku tenang dan tidak bergeming di kala perahu oleng dan hampir terbalik.

Lau Sam-thay angkat pundak, katanya "Bagaimana baiknya, apa tiga orang menunggang satu kuda ?"

"Ya, terpaksa, begitulah, asal bisa duduk sepuluh orang pun dia kuat ..."

Karena tiada pilihan lain terpaksa Koan San-gwat setuju, Koan San-gwat pegang kendali, Lau Sam-thay duduk di tengah sementara Lok Siau-hong duduk di pantat kuda, kuda merah besar itu bisa berlari bagaikan angin, tidak lama kemudian mereka sudah jauh meninggalkan orang-orang yang berdiri keheranan di pinggir jalan, setelah membelok ke sebuah jalan datar berdebu kuning, hutan menghijau rimbun di depan sana sudah kelihatan, di depan pohon itulah tampak beberapa petak bangunan.

Sambil menuding ke depan Lok Siau-hong berteriak girang .

"Lihatlah ! Itulah rumah Si-yang-ceng !"

Begitu sampai di luar perkampungan, si merah segera menghentikan larinya.

Seorang perempuan pertengahan umur tampak berdiri di ambang pintu dengan muka dingin dan masam.

Begitu turun Lok Siau-hong lari ke hadapan perempuan tua itu seraya berseru.

"Bu! Aku membawa seorang teman, dia bernama Koan San-gwat!"

Bergegas Koan San-gwat melompat turun, sapanya sambil bersoja.

"Apakah aku berhadapan dengan Hiat-lo-sat Lok Heng-kun Locianpwe ?"

Perempuan tua itu mengipat tangan Lok Siau-hong serta berkata dengan bengis.

"Siau-hong masuk, kenapa kau membawa pulang mereka, orang-orang Kangouw lagi....."

Lok Siau-hong tertegun melihat sikap ibunya, segera ia merengek .

"Ma, Koan-toako bukan orang biasa, kepandaiannya hebat, dia... dia mampu menandingi Ling-coapianku."

Berubah air muka perempuan itu, mulutnya bersuara lirih, dengan pandangan tajam mengawasi Koan San-gwat sesaat baru berkata dengan dingin.

"Bagus sekali! Kau mampu melawan Ling-coa-pian Siau-hong, mungkin kau ingin menjajal kepandaianku juga, bukan!"

Cepat Koan San-gwat berkata.

"Aku yang rendah tidak punya maksud demikian, cuma dari cerita puterimu, kudapat tahu adanya seorang Bulim Cianpwe yang semayam di tempat ini, maka sengaja kami kemari, sebagai Wanpwe kami mohon petunjuk belaka!"

"Mana kami berani terima, kami menetap disini dengan tenang dan aman, selamanya tidak pernah berhubungan dengan orang Kang-ouw, kalau saudara tidak punya urusan lain, harap maaf, aku tidak bisa melayani lebih lanjut!"

Sikap dingin dan keras ini membuat Koan San-gwat serba runyam dan kikuk, habis berkata perempuan tua itu putar tubuh masuk kampung, segera Lok Siau-hong berteriak.

"Ma! Mana boleh kau bersikap begitu pada mereka, akulah yang mengundang mereka!"

"Siau-hong!"

Damprat perempuan tua itu.

"Kau memang semberono, sudah wanti-wanti aku berpesan padamu, jangan bergaul dengan orang Kang-ouw, kau justru mengundang mereka kemari, agaknya kau harus diberi sedikit hajaran!"

"Ma! Koan-toako bukan orang Kang-ouw sembarangan, namanya besar kepandaiannya tinggi, dia adalah Bing-tho Ling-cu!"

Bahwasanya Lok Siau-hung tidak tahu sampai dimana pengaruh dan kebesaran nama Bing-tho-ling-cu, karena gugup ia berteriak mencari-cari alasan, tak kira ibunya tertegun oleh keempat nama yang disebut itu, tiba-tiba ia membalik serta bertanya.

"Bukankah Bing-tho-ling-cu adalah Tokko Bing? Bagaimana bisa ganti bocah muda seperti dia...?"

Tergerak hati Koan San-gwat, diam-diam ia membatin.

"Suhu tidak pernah menyebut nama orang ini, tapi dia kenal nama guru,"

Sejenak berpikir ia lantas menjawab.

"Insu (guru berbudi) sudah wafat, wanpwe mendapat pesan untuk meneruskan jabatan Bing-tho-ling."

"Tokko Bing sudah mati?"tukas perempuan itu sambil tertawa dingin.

"Anak muda, jangan membual terhadapku."

Mencelos hati Koan San-gwat, pikirnya.

"Perihal kematian guru, Peng Kiok-jin juga menyatakan tidak percaya, Hiat-lo-sat juga berpendapat demikian, besar kemungkinan mereka dulu kenal dengan Unsu..... Sesaat bimbang lalu jawabnye dengan sungguh-sungguh.

"Darimana Cianpwe tahu bila Unsu belum wafat?"

Perempuan ini tertawa dingin, ujarnya.

"Tahu yang tahu, kenapa harus kujelaskan? Kalau dia benar-benar sudah ajal, pasti aku sudah memperoleh berita dukanya itu, kalau tokh dia sudah menyerahkan Bing-tho-ling-cu pada kau, tentu dia sudah berangkat ke tempat itu!"

Mendengar keterangannya sama dan persis dengan apa yang dikatakan Peng Kiok-jin seolah-olah sangat jelas segala seluk-beluk Tokko Bing, cepat Koan San-gwat bertanya.

"Ke tempat mana?"

"Dia tidak beritahu kepada kau?"

"Sebenarnya wanpwe tidak tahu menahu...."

Perempuan tua itu manggut-manggut, ujarnya.

"Ya... kau tidak tahu, Tokko bing tidak akan berani memberitahukan kepada kau.... Apa boleh buat, kalau kau memang ahli waris Tokko Bing, aku harus melanggar kebiasaan menerima kedatanganmu, silahkan masuk!"

Lok Siau-hong tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi melihat ibunya sudah mau menerima Koan San-gwat, ia jadi senang, katanya tertawa.

"Ma! Kali ini sungguh menyenangkan, bukan saja bertemu dengan Koan-toako, tadi akupun bentrok dengan orang yang paling kau kuatirkan itu. Di atas sungai kuning tadi dia kupersen sekali pecutan, Koantoako menambahkan sebuah pukulan pula, kontan ia terjungkaL ke dalam air!"

Berubah hebat air muka perempuan tua itu, tanyanya.

"Apa, semalam kau ketemu Ouw hay -ih-siu, bagaimana dia....."

"Ibu dan bibi biasanya mengagulkan dia tapi menurut pandanganku tidak lebih dia itu sebuah gentong nasi belaka,"

Demikian ujar Lok Siau-hong tertawa geli.

"Jangan membual, cepat ceritakan pengalamanmu, tak mungkin ia mati kelelep karena serangan kalian itu."

"Ya, dia muncul di permukaan air, ketika dia menyebut namamu, baru aku tahu siapa dia. Maka sesuai dengan pesanmu kutantang dia. Semula dia berkata hari ini sebelum lohor...."

Perempuan itu makin gugup, katanya .

"Wah celaka. Pekkut kebetulan tiada, aku seorang diri mana kuat menandingi dia....."

"Aku tahu, maka kutantang dia besok lohor, waktu masih keburu untuk mengundang bibi an paman kemari. Sebetulnya ini pun sudah berkelebihan, ada aku dan Koan-toako kukira sudah lebih cukup...."

"Kau tahu apa?"

Semprot perempuan itu.

"Lekas berangkat naik si merah, undang Pek-kut dan Coh-san-sin kemari!"

"Baru saja aku pulang sudah disuruh pergi, bukankah banyak tenaga dalam rumah, kenapa tidak suruh orang lain saja?"

Demikian omel Siau-hong.

Belum perempuan itu menjawab, tiba-tiba didengarnya di tengah angkasa suara kelintingan burung dara, puluhan burung dara sedang terbang berputar di atas angkasa.

Kontan Lok Siau-hong berjingkrak girang, serunya sambil bertepuk tangan.

"Tidak usah pergi, paman dan bibi sudah datang sendiri....."

Setelah berputar-putar sekian lamanya di tengah udara, salah satu di antara burung dara itu menukik turun dengan cepat. Lok Siau-hong ulur cambuknya yang panjang, seraya berteriak.

"Pek-ih! Mari kemari!"

Agaknya burung dara itu pandai mendengar ucapan manusia, dengan patuh ia meluncur dan hinggap di atas gagang cambuk Lok Siau-hong, dari kakinya Lok Siau-hong mengambil sebuah bumbung kecil dan mengeluarkan secarik kertas, lalu dibacanya keras.

"Jejak musuh sudah muncul, adik berdua segera tiba..."

Setelah membaca ia ulurkan secarik kertas itu kepada ibunya, katanya .

"Bibi berdua ternyata sudah tahu."

Lok Heng-kun menerima kertas itu serta memeriksanya sekian lamanya, lalu berkata kepada Koan San-gwat.

"Hubungan kami dengan gurumu dulu sangat intim, seharusnya kami menjamu sekedarnya, tapi musuh tangguh kebetulan meluruk tiba, terpaksa berlaku kurang hormat kepada kau......"

Koan San-gwat tahu watak dan perangai tokoh Bulim memang aneh dan berbeda, biasanya mereka tidak mengijinkan orang lain turutcampur tangan dalam pertikaian mereka sendiri.

Jejak gurunya sangat mencurigakan.

kebetulan sumber yang dapat memberi penjelasan nyata, kesempatan tak disia-siakan, maka ia berkata tegas.

"Kiranya Cianpwe adalah sababat lama Unsu, kalau Cianpwe kena perkara, adalah menjadi kewajiban Wanpwe untuk ikut menyumbangkan tenaga kami!"

"Agaknya sikapmu sama dengan Tokko Bing di waktu mudanya, suka turut campur tangan urusan orang lain, tapi untuk urusan ini kau tidak akan dapat membantu!"

"Bukankah Cianpwe hendak menghadapi Ouw-hay-ih-siu si kakek tua itu?"

"Tidak salah!"

Kata Lok Heng-kun memberi keterangan.

"Maka Kukatakan kau tidak akan bisa membantu, Kakek bangkotan itu sulit dilayani, kepandaian silatnya aneh sekali, jauh berlainan dengan ilmu silat umumnya...?"

Agaknya Lok Siau-hong merasa berat bila ditinggal Koan San-gwat, cepat ia bicara .

"Mama, kepandaian Koan Sangwat hebat sekali, tua bangka itu tadi dipukul terjungkal ke dalam sungai."

Lok Heng-kun tersenyum .

"Hal itu terjadi setelah dia tertusuk jarum di ujung cambukmu itu bukan?"

Merah muka Koan San-gwat, dia gunakan cara menangkap dan menggenjot urat nadi hendak membekuk kakek tua itu, tapi sedikit pun tidak membawa hasil, akhirnya meski berhasil memukulnya masuk air sebabnya memang lawan sudah tertusuk jarum di ujung cambuk Lok Siau-hong itu, maka ia berkata dengan sebetulnya.

"Ilmu silat Wanpwe masih terlalu cetek. Memang tidak akan banyak membantu mengatasi kesulitan Cianpwe, tapi kesempatan untuk melihat pertarungan tingkat tinggi seperti Cianpwe sulit didapat. Harap Cianpwe suka memberi ijin supaya Wanpwe ikut menambah pengalaman!"

"Begitupun baiklah,"

Ujar Lok Heng-kun sekian lamanya setelah mempertimbangkan masak -masak.

"Kupandang muka gurumu, tiada alasan aku melarang kehadiranmu disini, tapi perlu kuperingatkan jangan kau membuat kesulitan bagi dirimu sendiri!"

Koan San-gwat manggut-manggut dengan girang, sahutnya.

"Wanpwe hanya menonton saja dari luar gelanggang!"

Sebaliknya Lok Heng-kun menambahkan dengan sikap serius; .

"Jangan kau bicara seenakmu, soal ini harus kau patuhi benar-benar, kau harus dapat menahan sabar yang luar biasa. Soalnya tua bangka itu orang gila, melihat orang lantas menggigit, maka kau harus bisa mengendalikan diri supaya tidak memperdulikan dia yang hendak mencari kesulitan kepada kami! "

Koan San-gwat tertegun .

"Jangan-jangan dia selalu mencari perkara kepada orang lain?"

Tanyanya heran.

"Kalau dia tahu kau ahli wails Tokko Bing, kutanggung dia akan mencari gara-gara kepada kau, pertikaiaanya dengan gurumu justru lebih dalam dan besar dibanding persoalan kami!"

"Kenapa guru tidak pernah menyinggung soal itu............."

"Sudah tentu Tokko Bing tidak bilang, kalau tidak.............."

Bicara sampai disini seolah-olah Lok Heng-kun menyadari sesuatu,segera ia tutup mulut dan mengalihkan ke pembicaran lain.

"Apapun yang terjadi, jangan kau hiraukan tingkah polanya. Tua bangka itu punya suatu penyakit, asal kau tidak mencari gara-gara kepadanya maka tiada alasan dia turun tangan terhadapmu!"

Koan San-gwat jadi uring-uringan, jengeknya takabur.

"Kalau Wanpwe tidak kuasa menerima ejekan dan tantangannya bagaimana?"

"Maka dia akan menjadi bayanganmu, setiap hari setiap saat melihat dirimu, begitu hebat gangguan yang dia lakukan sehingga kau merasa tiada satu hari kau dapat hidup tentram, kecuali kau dapat membunuh dia....... tapi itu tidak mungkin terjadi!"

"Kenapa?"

Tanya Koan San-gwat tidak habis mengerti.

"apakah dia manusia yang tidak bisa dibunuh?"

"Benar! ilmu yang dia pelajari jauh berlainan dengan kepandaian yang kita pelajari, dengan kepandaian silat yang kita pelajari tidak akan mampu membunuhnya !"

"Benar! Wanpwe pernah menggunakan tenaga dalam untuk menggetar putus urat nadinya, tapi kelihatannya tidak ada pengaruhnya sedikit pun.

"Kau tidak perlu kuatir, karena kepandaian yang dipelajari itupun tidak bisa untuk membunuh kau, ilmunya ini hanya bisa dirimu sampai kau kewalahan dan menyerah kepadanya. Maka waktu mencantumkan nama di atas Hong-sin-pang dulu, kita cokolkan dia di urutan paling atas sebagai tokoh aneh yang sering memusingkan kepala....."

"Apakah Hong-sin-pang itu? Koan San-gwat bertanya. Rada berobah rona wajah Lok-Heng-kun cepat ia menambahkan.

"Jangan tanya hal ini, aku tidak bisa menerangkan, kini aku sudah bicara terlalu banyak, sejujurnya siapa pun jangan menyinggung soal Hong sin-pang lagi? Timbul berbagai pertanyaan dalam benak Koan San-gwat, terutama mengenai Hong-sin pang, yang menyangkut sebuah rahasia besar kaum persilatan terhadap gurunya, Peng-Kiokjin dan Hiat-lo-sat atau perempuan yang dihadapinya ini, demikian juga Pek-kut-sin-mo dan Coh san-sin yang belum muncul ini serta Ouw-hay-ih-siu pun sangkut paut yang teramat erat sekali. Mendadak hatinya seperti memperoleh sesuatu ilham, tanpa merasa mulutnya bersenandung ."Bangau kuning terbang di atas sungai, di pinggir telaga para dewa (San-sin) berkumpul."

Berubah air muka Lok Heng-kun, serunya.

"Apa? Jadi Tokko Bing sudah bicara padamu bahwa dia adalah Ui-ho sansian?"

Dengan haru penuh semangat, Koan San-gwat menegaskan.

"Jadi Ui-ho-san-sian adalah Insu?"

Lok Heng-kun melengak, baru sekarang dia sadar telah kelepasan omong, padahal Koan San-gwat tidak tahu soal ini, maka ia berdiri menjublek, tanyanya kemudian.

"Beberapa kata tadi kau dengar dari mana?"

"Itulah sepasang syair yang digantung dalam kamar tidur guru, selama ini wanpwe tidak tahu makna sebenarnya, setelah Cianpwe menyinggung soal Hong sin-pang baru wanpwe paham sedikit..."

Kontan Lok Heng-kun menukas dengan gusar.

"Sudah kukatakan jangan menyinggung Hong sin-pang lagi !"

"Oh, ya, selanjutnya wanpwe tidak akan menyinngung lagi,"

Sahut Koan San-gwat menunduk.

Sambil menghela napas Lok Heng-kun menambahkan, ketiga huruf itu punya sangkut paut yang teramat besar, karena kelalaianku tadi sehingga aku menyinggung rahasia ini, kalau sampai diketahui orang lain, kita akan ketimpa bencana besar, maka wanti-wanti aku berpesan sama kau....."

Koan San-gwat memang keheranan tapi melihat orang serius ia mempertangguhkan janjinya.

"Selanjutnya Wanpwe anggap saja tidak dengar ketiga huruf tadi."

Lambat laun perasaan Lok Heng-kun tenang kembali, katanya.

"Dari ketiga hurup itu bagaimana lantas terpikir olehmu tentang julukan gurumu?"

"Dari julukan aneh tersimpul sesuatu pikiran dalam benakku, padahal kalian adalah sahabat kental Suhu sejak lama, namun guruku tidak pernah menyinggung hal ini."

"Kurasa hal itu tidak punya sangkut pautnya dengan aku."

"Akan tetapi dari julukan kalian sangkut pautnya amat besar. Cianpwe bernama Hiat lo-sat, dan Cianpwe yang bernama Pek-kut-sin-mo dan Coh-san-sin, Wanpwe juga kenal seorang Cianpwe yang bernama Hwi-thin-ya-ce, Peng Kiokjin."

"O, Peng Kiok-jin belum mati ?"

"Belum, semula Peng-cianpwe bersama Wanpwe, karena sesuatu keperluan beberapa hari yang lalu dia berpisah."

"Jangan urus dia, lanjutkan saja penjelasanmu."

"Bahwa para Cianpwe tidak percaya bahwa guru sudah mati, maka aku ragu dalam persoalan ini pasti ada hubungan yang amat rahasia satu sama lain. Dinilai dari julukan kalian ada Dewa, malaikat, iblis dan setan, ditambah yang dinamakan Hong sin-pang, agaknya...... Maaf Cianpwe, Wanpwe kelupaan? tapi terpaksa harus menyebut ketiga hurup itu."

"Tidak menjadi soal, selanjutnya harus kau ingat betulbetul saja. Sejauhmana kau tahu tentang ketiga huruf itu...."

"Menurut pikiran Wanpwe, mungkin itu merupakan sebuah pertemuan besar, atau suatu organisasi rahasia, mungkin pula suatu perserikatan, Suhu dan kalian tercantum dalamdaftar anggota."

Berubah air muka Lok Heng-kun, sekuatnya ia menahan gelora hatinya, katanya ."Darimana kau bisa berpikir bila gurumu juga ada ikatan dalam ketiga huruf itu?"

"Wanpwe teringat sepasang syair di dalam kamar beliau, Ui-ho-san-sian empat huruf itu yang serasi, maka besar dugaan Wanpwe bila gurupun ada tercantum di dalam daftar itu!"

"Engkau memang cermat dan teliti, maka yang kau ketahui cukup banyak. Dengan setulus hati kuperingatkan kepada kau, persoalan ini cukup sampai di sini saja, jangan kau main selidik lebih lanjut."

"Kenapa? Apakah....."

Tanya Koan San-gwat, heran dan tidak mengerti. Tapi Lok Heng-kun segera menjawab dengan bengis .

"Sekali lagi kau menyinggung hal itu, aku tidak akan memberi ampun padamu."

Terpaksa Koan San-gwat tidak banyak bicara lagi. Sayupsayup di kejauhan terdengar derap kaki kuda dan menggelindingnya roda sedang mendatangi, Lok Heng-kun menahan sabar, karanya ;

"Adikku dan adik iparku sudah tiba, ingat jangan kau menyinggung persoalan itu lagi."

Koan San-gwat mengiakan.

Tak lama kemudian dari kejauhan debu mengepul tinggi, dua ekor kuda kekar menarik sebuah kereta bercat indah berlari bagai terbang, yang pegang kendali adalah seorang Laki-Laki berwajah cakap, parasnya halus pakaiannya perlente.

Begitu kereta berhenti, kerai tersingkap dan muncullah wajah perempuan pertengahan umur seraya berteriak .

"Cici! Kau sudah terima surat ?"

"Sudah! Malah aku sudah tahu. Sebelumnya Siau-hong sudah bentrok dengan tua bangka itu di atas sungai kuning."

Terkejut perempuan pertengahan umur itu, sekilas matanya melirik ke arah Koan San-gwat dan Lau Sam-thay. Lok Heng-kun lantas men jelaskan sambil tertawa;

"Dia adalah ahli waris Tokko Bing, seorang yang lain adalah kenalannya!"

"Ui ho ...."

Seru perempuan pertengahan umur itu dengan tertegun.

"Ui-ho sudah berangkat ke Liong-han, tinggal Bing-tho ada di alam fana,"

Demikian Lok Heng-kun melanjutkan.

Perempuan pertengahan umur kelihatan ragu-ragu, Koan San-gwat juga kikuk ingin menyapa tidak tahu bagaimana ia harus mengundang orang.

Adalah Lok Siau-hong yang melihat keadaan runyam ini dapat memperkenalkan.

"Inilah pamanku Liu ju-yang, itu bibi bernama Lok Siang-kun."

Lekas Koan San-gwat merangkap tangan seraya menjura, katanya.

"Wanpwe Koan San-gwat harap ji-wi cianpwe terima hormatku!"

Tersipu-sipu Lau Sam-thay ikut menjura hormat tanpa berani memperkenalkan namanya. Lok Siang-kun manggut-manggut, Liu Ju-yang memuji.

Baca Juga: Raja Pedang 4

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert