Ceritasilat Novel Online

Patung Emas Kaki Tunggal 1

Eps 1 Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Baca online Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH

Cersil Patung Emas Kaki Tunggal - Gan KH.

Patung Emas Kaki Tunggal (Tok Kak Cin Jin) ~ Unta Sakti ~ Diceritakan oleh Gan KH.

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com/.

Jilid 1 SELAYANG PANDANG pasir menguning terbentang luas tidak berujung pangkal, jejak sejarah telah terbenam di bawah tebaran pasir yang bergulung tertiup angin tak pernah berhenti.

Sang sunya memancarkan cahayanya yang merah menguning menyinari padang pasir yang semakin dingin ditaburi kabut malam.

Tatkala itu, di padang pasir nan luas tak berujung pangkal itu, berkumpul banyak sekali orang-orang gagah dan Para Enghiong dan empat penjuru, mereka terdiri dari berbagai aliran dan golongan yang satu sama lain berlainan haluan dan cita-cita.

Tapi jelas bahwa mereka sama mempunyai pengalaman juang dalam mengarungi kehidupan kaum persilatan yang penuh diliputi mara bahaya dan elmaut.

Pengalaman gagah dan perbuatan yang perwira mereka sama dilandasi dan dengan segala pengorbanan yang besar, entah darah, keringat, pengalaman dan keyakinan yang teguh, dan yang terutama mereka mempertaruhkan jiwa dan raga.

Apakah tujuan mereka mengadakan pencarian besar di tengah padang pasir yang serba kekurangan ini?

Tabir malam sudah menyelimuti seluruh alam semesta.

Para gembala yang jauh berada di padang pasir sana mulai mengumpulkan kotoran untuk membikin api unggun, menyambut kedatangan kabut malam yang sudah menyelimuti seluruh penghuni dunia ini.

Bintang mulai bermunculan berkelap-kelip di tengah cakrawala, putri malampun mulai menongolkan mukanya yang cantik molek laksana raut wajah seorang putri remaja yang sedang memadu cinta.

Para gembala sedang bergembira ria, menyanyi dan menari, ada yang memetik harpa ada pula yang menggesek biola dan menyebul tanduk, mereka sama melagukan nyanyian kisah perjuangan kaum gembala yang gagah perwira, suasana semakin riang dan gegap gempita.

Kelompok orang-orang gagah yang sedang meringkuk tersebar membentuk sebuah bundaran diam tak bersuara, suasana sunyi dan kelam, kadang-kadang terdengar suara gerutu dan umpat caci penasaran tapi itu hanya terjadi selintas lalu saja.

Apakah yang mereka sedang nantikan?

Dari gundukan pasir tinggi sebelah sana mendadak terdengar dengusan rendah lirih, disusul sebuah bayangan yang ditimpa cahaya rembulan muncul dari kejauhan, bayangan tinggi dan besar, itulah seorang sebatangkara yang bercokol di punuk unta.

Orang-orang yang meringkuk ada yang duduk ada yang berbaring itu jadi gempar dan ribut, dalam batin mereka sama berkata.

"Datang. Akhirnya datang?"

Hadirin menjadi tegang serasa hampir susah bernapas tapi tiada seorangpun yang berani mengeluarkan suara keras, begitulah sementara bayangan unta itu sudah semakin mendekat masuk ke tengah bundaran di antara mereka.

Di bawah cahaya rembulan yang terang benderang semua orang dapat melihat tegas, orang yang bercokol di atas punggang unta itu ternyata seorang pemuda, meskipun ia sudah menanjak usia lima enam belasan, tapi usianya yang masih muda ini, sungguh membuat semua hadirin menjadi heran dan hampir tak percaya akan pandangan mata sendiri.

Menghadapi sekian banyak orang-orang gagah yang kenamaan dalam Bulim, ketenangan si pemuda hampir sulit dipercaya.

Pelan-pelan ia menghentikan tunggangannya, sepasang bijimatanya memancarkan sinar terang setajam ujung pisau menyapu pandang ke sekitarnya, lalu dengan suara yang kalem ia berkata.

"Maafkanlah keterlambatanku sehingga tuan-tuan lama menunggu. Apakah kalian sudah lengkap semua....?"

Suasana sekelilingnya tetap sunyi, tidak terdengar jawaban seorangpun, pemuda itu menunggu sebentar lalu berseru pula dengan lantang.

"Bagaimana kalian ini, sebelumnya Cayhe sudah memberi pengumuman, bahwa Kiu-sun-sam-pay, Citkok Cap-si-po, asal ada salah seorang dari mereka yang tidak hadir, maka pertemuan ini kuanggap batal!"

Sesaat lamanya keadaan masih sunyi senyap, mendadak terdengar sebuah suara serak dan ketua-tuaan berteriak.

"Matamu kan tidak picak, apakah semua sudah hadir atau belum masa kau tidak bisa lihat sendiri?"

Pemuda itu tersenyum, tanyanya.

"Siapa yang bicara? berdiri!"

Di sebelah samping kiri berdiri seorang laki-laki tua tinggi besar, serunya dengan suara serak.

"Lohu Kok Liang dari Kimsapo!"

Seperti kilat biji mata si pemuda menyapu pandang ke arahnya, ditatap sinar mata yang tajam itu Kok Liang jadi merinding dan berdiri bulu kuduknya, ia tak habis mengerti pengalaman puluhan tahun di kalangan Kangouw entah kenapa hatinya jeri dan kuncup nyalinya menghadapi pemuda gagah di atas unta itu, Tampak si pemuda tersenyum ramah, katanya.

"Oo, kiranya Kok-pocu, pengalamanmu sangat luas, minta tolong untuk memeriksanya sebentar, apakah orang-orang dari semua aliran dan golongan yang kusebut tadi sudah hadir semua. Soalnya Cayhe baru pertama kali ini bersua dengan kalian, terpaksa aku bertanya lebih dulu."

Seru Kok Liang dengan nada dongkol.

"Tak perlu diperiksa lagi, Lohu berani tanggung seorangpun tidak akan kurang. Selama dua puluh tahun, seluruh sahabat Bulim menantikan pertemuan malam ini, tak mungkin mereka yang berkepentingan tidak hadir pada saat ini."

"Kalau begitu bagus!"

Seru si pemuda sambil tertawa keras.

"Marilah kita mulai menyelesaikan urusan kita! Siapa yang maju lebih dulu?"

Sesaat lamanya suasana sunyi mencekam mata, baru saja Kok Liang hendak membuka suara, tiba-tiba seorang di sampingnya keburu berseru.

"Kok-pocu harap berhenti sebentar! Pinceng punya persoalan yang perlu dibikin jelas lebih dulu."

Kok Liang berpaling dengan laku hormat berkata.

"Silakan Ciangbunjin!"

Orang itu maju beberapa langkah, jubahnya yang besar gerombyongan dari kain kasar merupakan seragam keagamaannya, itulah dia Siau-lim Ciangbun yang menjagoi dunia Kangouw masa ini, Thong-sian Taysu, beliau sudah berusia delapan puluhan, suaranya keras berisi, serunya sambil merangkap tangan di depan dada.

"Omitohud! terhadap asal-usul Sicu tetap masih rada curiga."

"Jadi Taysu menyangsikan Cayhe bukan Bing-tho-ling-cu yang tulen?"

Tanya si pemuda tertawa lebar. Thong sian Taysu manggut-manggut, sahutnya.

"Dua puluh tahun yang lalu, Lohu beruntung pernah melihat wajah asli Bing-tho-ling-cu, sebaliknya siau Sicu...."

Pemuda itu bergelak tertawa, ujarnya.

"Dua puluh tahun yang lalu aku berusia lima puluh tahun, yang Taysu jumpai sudah tentu bukan aku, sang waktu berlalu dengan cepat, kini guruku sudah mangkat, maka janji beliau kepada tuan-tuan sekalian terpaksa menjadi tanggung jawabku."

Hadirin menjadi ribut bisik-bisik dan bersuara heran.

Agaknya mereka tidak mau percaya bahwa tokoh kosen gagah perwira yang pernah malang melintang menjagoi dunia persiltan dua puluh tahun yang lalu kini sudah berpulang ke tempat asal....

Ujar Thong-sian Taysu dengan kejut-kejut heran.

"Tokkosiansing masih berusia sedang dan bertubuh sehat walafiat, mana bisa meninggalkan dunia fana di tengah jalan ...."

Dengan rasa rawan si pemuda menjawab.

"Ya, guruku memang seorang genius yang tiada taranya, bakatnya tak ada yang dapat menandingi, sayang ...."

"Sungguh Lolap merasa sayang dan ikut berbela sungkawa akan nasib Tokko-sianseng yang malang itu. Tapi dapatkah Sicu membuktikan bahwa kau betul-betul murid Bing-tho-lingcu yang asli?"

Si pemuda tersenyum dengan angkuh, dari buntalan yang tergantung di punggung tunggangannya ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning, ia buka kain pembalut di sebelah luar, seketika mereka semua hadirin terbelalak kiranya buntalan itu berisi sebuah patung kaki tunggal berbentuk manusia yang terbuat dari emas, di bawah pancaran sinar rembulan, menyorot sinar kemilau yang menyilaukan mata.

Sambil angkat patung emas ke atas, pemuda itu berseru lantang tapi khidmat.

"Orangnya sudah mati tapi untanya belum mati. Kalau tulang bisa menjadi keropos maka senjata ini akan tetap abadi, unta yang kutunggangi ini adalah peninggalan dari guruku almarhum. Tok-ga-kim-sin yang kupegang ini kukira Taysu tidak melupakannya bukan!?"

"Benar!"

Sahut Thong-sian Taysu dengan sungguhsungguh.

"Memang senjata itu milik Tokko-sianseng dulu, apakah lolap boleh pinjam lihat sebentar?"

Si pemuda bergelak tertawa, serunya;

"Taysu tidak perlu curiga lagi, di atas jidat Kimsin ini ada melekuk tiga lobang, ini kan hasil kanya tangan Taysu dulu, waktu guru almarhum masih hidup beliau sangat mengindahkan Taysu. Dalam kolong langit ini tokoh yang dapat meninggalkan bekas di atas senjatanya ini cuma Taysu seorang."

Dengan sikap hormat Thong-sian Taysu merangkap tangan pula, cepat ia menjura ke arah Kim-sin di tangan si pemuda.

serunya "Lolap tak curiga lagi.

Dua puluh tahun yang lalu gurumu Tokko sianseng menerjang ke Siau-lim-si, dimana dia berhasil memecahkan Lo han-tin, syukurlah mengandal segala kemampuan Lolap selama puluhan tahun, aku hanya terkalahkan oleh gurumu, dengan suka rela kami menyerahkan Ling-hu dari partai kami.

Meski peristiwa ini merupakan kejadian yang memalukan bagi kejayaan Siau-limpay kami selama ratusan tahun, tapi Lolap pribadi sangat segan dan menghargai gurumu, tak nyana takdir Tuhan menentukan dia harus mangkat lebih dulu, sungguh Lolap merasa sangat menyesal dan ikut berduka cita."

Si pemuda tertawa tawar, ujarnya.

"Taysu terlalu sungkan, dalam masa dua puluh tahun ini tentu Taysu telah melatih dan menciptakan ilmu yang tiada taranya."

"Mencipta ilmu apa segala sungguh Lolap tidak berani menerima pujian ini. Cuma untuk merebut kembali Ling-hu perguruan kami, terpaksa nanti Lolap akan minta sedikit pelajaran dari Sicu...."

"Taysu tidak usah sungkan, bukan saja perguruan Taysu, Kiu-hun-lam-pai, Jit-ko-cap-si-po, seluruhnya berjumlah tiga puluh tiga Ling-hu atautanda kepercayaan, seluruhnya sudah diserahkan kepadaku oleh guru almarhum. Setengah tahun yang lalu tujuanku menyebar Bing-tho-ling (perintah unta sakti), adalah untuk mengembalikan semua barang-barang itu. Tapi.... kalian harus dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh guruku almarhum."

Dengan tajam Thong-sian Taysu menatapnya, katanya dengan suara heran.

"Kapan Sicu ingin membereskan semua urusan itu?"

"Kukira semua orang sudah menunggu dengan gelisah, sudah tentu lebih cepat lebih lebih baik. Maka kupikir harus segera dimulai."

Thong-sian Taysu agaknya masih kurang percaya, tanyanya.

"Dulu gurumu mengandal bakatnya yang tiada taranya ia tokh harus makan waktu setengah tahun baru berhasil menundukkan sekian banyak golongan dan aliran. Tapi Sicu seorang diri malam ini hendak menghadapi tiga puluh tokoh kosen secara bergantian?"

Si pemuda menengadah sambil tertawa, serunya.

"Dulu kalian berpencar terlalu jauh, guruku harus satu persatu meluruk ke tempat kalian, maka akhirnya menghabiskan waktu begitu lama, tapi sekarang aku lebih beradat keras dan ingin lekas selesai, maka sekaligus kuundang kalian semua untuk menyelesaikan urusan ini bersama."

Perasaan Thong-sian Taysu rada tergetar oleh rasa sombong dan congkak pemuda di hadapannya ini, setelah terlongong sekian lamanya ia berkata pula dengan menggeleng kepala.

"Mengandal kekuatan jasmani sicu sekarang yang perkasa, kau hendak angkat diri dan menciptakan rekor yang luar biasa, meski lohu percaya bila Sicu punya kemampuan itu, pihak kami tidak akan sudi meminta kembali Ling-hu kami dalam keadaan yang demikian, maka terpaksa Lolap mohon mengundurkan diri saja dari pertemuan malam ini."

Mengawasi jenggot memutih di depan dada si padri tua ini, timbul rasa hormat si pemuda, segara ia menjura serta katanya hormat.

"Taysu punya perasaan yang luhur dan mengenal kebijaksanaan, sungguh Cayhe sangat kagum. kalau Taysu tidak sudi mengambil keuntungan ini, Cayhe tidak berani main paksa. silahkan Taysu menonton dari samping, nanti setelah Cayhe selesai mengurus persoalan di sini, kalau Taysu masih anggap Cayhe punya tenaga biarlah nanti kita lanjutkan babak terakhir saja."

Thong-sian Thaysu geleng-geleng kepala, tanpa bicara lagi cepat ia menyingkir ke samping.

Dengan seenaknya si pemuda melompat turun dari atas punggung unta, lalu menepuk paha belakangnya, katanya lembut "Sahabat tua, carilah tempat untuk istirahat, tidak akan lama aku pasti sudah menyelesaikan semua urusan di sini."

Agaknya unta cerdik yang Sakti itu seperti bisa mendengar ucapan majikannya, dengan mengeluh rendah perlahan-lahan ia jalan pergi meninggalkan gelanggang sambil mengobatabitkan ekornya.

Dulu Bing-tho-ling-cu Tokko Bing dengan kepandaian silatnya yang maha tinggi berhasil menundukkan banyak golongan dan aliran silat serta berhasil merebut tanda kebesaran dan kepercayaan berbagai golongan dan waktu itu ia berjanji dua puluh tahun yang akan datang, mengundang berbagai golongan dan aliran itu untuk mengambil pulang Ling-hu atau tanda kebesaran mereka dengan kepandaian masing-masing.

Sudah tentu kejadian itu merupakan suatu penghinaan besar terhadap berbagai kaum persilatan itu, maka mereka rela berlatih dan rajin belajar memperdalam ilmu masing-masing untuk menagih malu dan penghinaan dua puluh tahun yang lalu.

Siapa nyana dua puluh tahun kemudian, hari ini mereka mendengar bahwa Tokko Bing sudah ajal, pemuda congkak dan takabur yang mengaku sebagai murid tunggalnya akan menyelesaikan pertikaian lama itu.

Sikap dan tingkah laku si pemuda yang sombong dan pongah sungguh menimbulkan kemarahan massa, mereka tak kuasa menahan hawa amarah.

Kim-sa-pocu Kok Liang yang berangasan lebih tidak kuasa menahan gajolak hatinya, dengan berjingkrak gusar ia berseru.

"Keparat, kau terlalutakabur dan pandang rendah kami semua."

Si pemuda tertawa angkuh, sahutnya.

"Aku toh ahli waris dari Bing-tho-ling-cu, sudah tentu cukup setimpal untuk bersikap angkuh."

"Lohu ingin tampil lebih dulu!"

Teriak Kok Liang murka.

"Sudah tentu boleh."

Jawab si pemuda acuh tak acuh.

"Coba kau serahkan dulu Bing tho-ling yang kukirim kepada kau itu."

Dengan muka merah padam, Kok Liang merogoh keluar sekeping tembaga dari kantong bajunya terus dilempar di depan kaki si pemuda.

Tembaga itu sebesar tiga centi persegi berbentuk bundar sebelah atasnya, di balik yang mengkilap diukir seekor unta, itulah lambang tunggangan si pemuda.

Perlahan-lahan si pemuda mengeluarkan sebuah lempitan kertas terus dibeber.

Ia membaca di bawah sinar rembulan.

"Kim-sa-po. Satu lembar Panji kuning sutera, harap maaf Pocu tua, mainanmu itu terlalu besar tak bisa kugembol jadi terpaksa kulempit dan kusimpan di bawah tempat duduk tungganganku itu. Kalau kau dapat mengalahkan aku, segera kuserahkan barang milikmu itu."

Saking murka muka Kok Liang sampai pucat dan membiru, teriaknya.

"Jikalau Lohu yang menang, maka jiwa bocah keparat ini pasti melayang."

"Bagus sekali. Orang lain kurasa tidak perlu menggunakan banyak tenaga lagi, di atas kertas ini ada daftar gambar milik kalian, semua boleh silahkan ambil sendiri milik masingmasing, seluruhnya kusimpan di atas tungganganku itu, harap nanti kau kembalikan menurut daftar yang tertulis disini."

Kok Liang menjengek gusar, semprotnya.

"Keparat tidak perlu banyak mulut, boleh kau mulai saja!"

Dengan acuh tak acuh si pemuda berkata.

"Nanti dulu, kau belum lagi mencari tahu namaku! terlanjur kau menghadapi Giam-lo-ong di akherat, cara bagaimana kau hendak mengadukan kepadanya, apakah kau tidak penasaran nanti? Lo-pocu dengarlah supaya jelas, aku she Koan bernama Sangwat! Bing tho-ling-cu ke II."

"Sreng."

Kok Liang melolos golok bergigi di atas punggungnya.

Di sebelah atasnya ada sembilan gelang tembaga yang mengeluarkan suara gemerincing nyaring, sekali digerakkan terdengarlah suara ribut yang memekakkan kuping, teriaknya.

"Bocah keparat, serahkanlah jiwamu!"

Dengan tenang Koan San-gwat mengangkat Kim-sin di tangannya ujarnya.

"Kok-pocu jangan mengumbar adat, kalau bertempur paling pantang marah, demi nama dan gengsimu, kalau hari ini kau terjungkal di tanganku, kau harus tunggu lagi dua puluh tahun, usiamu kan sudah lanjut, apakah kau mampu menunggu sekian lamanya ....?"

Ia mengoceh seenaknya, nada ucapannya pun sangat sombong, tapi setiap arti kata-katanya justru cukup beralasan dan punya aturan karenanya Kok Liang jadi melengak dan tertegun, cepat ia kendalikan perasaan hatinya, setelah longgar ia menjengek dingin.

"Kalau hari ini Lohu kalah, panji kebesaran Kim-sapo kau hancurkan saja. Lohu pun tidak akan menunggu dua puluh tahun lagi."

"Kurasa tidak perlu begitu, Kim-sapo kalian toh sudah angkat nama dan cukup tenar di daerah Ko-liok, panji kebesaran Kim-sa-po kalian juga sudah kenamaan puluhan tahun di Bulim, untuk memperoleh kebesaran ini kukira bukan persoalan yang sepele, maka bolehkah kuberi kesempatan kepada keturunanmu kelak!"

Kok Liang jadi melongo, sesaat barulah bersuara.

"Terima kasih akan kemurahan hatimu."

Tanpa banyak bacot golok bajanya terangkat terus membacok dari depan, sekian lama Kok Liang angkat nama di Kangouw mengandal tenaga yang besar, golok bajanya ini terbuat dari baja murni yang beratnya ada enam puluh kati ditambah kekuatan latihan tenaga pergelangan tangannya selama puluhan tahun, jurus serangan goloknya ini benar-benar laksana gunung Thaysan menindih batok kepala.

Seluruh hadirin tumplek perhatiannya menyaksikan pertempuran mereka.

Bahwa pemuda yang bernama Koan San-gwat ini mewakili Bing-tho-ling-cu Tokko Bing yang digjaya itu, bahwa perbawa dan sikap si pemuda sejak permulaan memang sudah menggerakkan sanubari banyak hadirin, maka sekarang tibalah saat mereka membuktikan kepandaian silatnya yang sejati.

Koan San-gwat mandah tersenyum manis.

Patung malaikat kaki tunggal di tangannya diangkat dan sedikit digentak, maka terdengarlah suara "trang"

Yang tidak begitu keras, bacokan golok Kok Liang yang membawa tenaga laksaan kati itu dengan mudah dipecahkan, tiada seorang pun yang melihat tegas dengan Jurus apa ia mematikan sarangan golok yang hebat itu.

Walaupun Kok Lang sendiri merasa takjup tapi rasa kuatirnya malah jadi berkurang, serunya sambil tertawa keras.

"Tak heran kau berani mengagulkan diri, kiranya kau mahir kepandaian dari aliran sesat, kalau berani mari kau sambut jurus serangan Lohu secara kekerasan."

Hadirin serempak memberi dukungan atas tantangan Kok Liang, mereka sama senang tapi juga rada kecewa, jelas mereka anggap bahwa Lwekang Koan San-gwat betapapun masih terbatas, paling Tokko Bing cuma mengajar beberapa jurus pelajaran kembangan belaka dalam hal penggunaan tenaga betapapun masih terlalu rendah.

Mereka senang karena hari ini bakal menebus rasa malu dan penghinaan dulu, mereka kecewa pula karena Koan Sangwat cuma kuat di dalam tapi keropos di dalam.

Cuma Thong-sian Taysu seoranglah yang menghela napas gegetun, tapi hanya beberapa orang di sekitarnya saja yang mendengar.

Sementara itu, Koan San-gwat sedang tertawa ringan, sambil mengulapkan tangan, katanya.

"Anggapanmu aku tidak mampu menyambut sejurus seranganmu?!"

Kok Liang mengangguk, katanya.

"Coba waktu aku bertanding dengan Tokko Bing. Cuma sejurus saja golokku terpental lepas dari cekalan, meski kalah Lohu tunduk lahir batin...."

Koan San-gwat menarik muka, katanya dengan nada berat.

"Dulu guruku memberi muka kepadamu, kau kira tenagamu sendiri betul-betul hebat? Tapi aku tidak akan menggunakan cara guruku dulu. kalau kau tidak percaya, silahkan kau bermain beberapa jurus dengan senjataku ini!!"

Tiba-tiba ia ulur tangan mengangsurkan ke hadapan hidung Kok Liang, jarak mereka cuma beberapa tindak, ujung kepala Kim-sin tepat menyodok ke hidung Kok Liang, karuan berubah rona wajah Kok Liang, cepat ia menyampok dengan goloknya, tak nyana gerakan Koan San-gwat jauh lebih cepat, dimana tahu-tahu golok Kok Liang sudah terampas sementara Kim-sin di tangan kanan masih diulurkan kepada Kok Liang.

Kok Liang sendiri tidak tahu cara bagaimana goloknya dirampas orang, cepat kedua tangannya menyanggah ke atas dan mencengkram kepala Kim-sin yang dijulurkan kepadanya itu, tapi seketika berubah air mukanya, badannya terhuyung mundur beberapa tindak ke belakang.

Ternyata tak kuasa tangannya memegang Kim-sin hingga jatuh di atas pasir dan "Blesss"

Amblas ke dalam pasir separo lebih. Dengan ayunan tangan seenaknya Koan San-gwat membuang golok Kok Liang sejauh-jauhnya, terus membungkuk menjemput Kim-sinnya, katanya.

"Sekarang kau pasti tidak berani mengagulkan tenagamu sendiri. Guruku menaruh belas kasihan kepadamu, cuma menggetar terbang senjatamu saja, kalau beliau balas menyerang, yakin tulang belulangmu sudah remuk redam."

Pucat dan berkeringat selebar muka Kok Liang, katanya menghela napas panjang.

"Ai, tamat sudah seluruhnya! Untuk selanjutnya biarlah nama Kim-sa-po dihapus dari percaturan Bulim."

Golok bergiginya tidak sempat dijemput lagi, sekali menggelundung jauh dan beberapa kali loncatan, bayangannya lenyap ditelan tabir malam.

Kedua orang ini cuma berhantam sejurus belaka, tapi di luar cara yang ditentukan semula ternyata sudah berhasil menentukan kalah dan menang, seluruh hadirin kembali dicekam rasa tegang, rasa girang seketika tersapu bersih, rasa kecewa sebaliknya semakin bertambah tebal!

Tapi rasa kecewa yang terakhir ini berlainan, karena terselip juga rasa kejut dan heran yang mulai menghantui perasaan mereka.

Terdengar Lu Bu-wi Ciang bunjin Ciong-lam-pay yang berdiri di samping Thong-sian Taysu menghela napas, katanya.

"Dula waktu Losiu bertanding dengan Tokko Bing, ia menggunakan Kim-sin itu, bertanding enam puluh jurus lamanya, akhirnya ia menang karena permainan tipu jurusnya yang banyak ragamnya, sunggah di luar tahuku bahwa benda itu ternyata begitu berat!"

Thong-sian Taysu menggeleng kepala, katanya.

"Entah terbuat dari Logam apa Kim-sin itu. Malam itu Tokko Bing meluruk ke Siau-lim, ia bertanding dengan Suteku Tay-lik sin Ngo-seng. Sute kuatir senjatanya terlalu enteng maka ia memberi peringatan kepadanya, tidak nyana sambil tertawatawa ia ajak tukar mempergunakan Senjata dengan Suteku untuk membedakan milik siapa yang lebih berat, ternyata Kimsin ini satu kali lipat lebih berat dari senjata tongkat besi besar milik Suteku itu...."

Berubah air muka Lu Bu-wi, katanya terkejut.

"Tay-lik sinceng terkenal pembawaan tenaganya yang besar, kabarnya besar tongkat besi dinginnya itu ada lima ratusan kati, jadi Kim-sin sepanjang tiga kaki itu ada ribuan kati lebih beratnya. .... Thong-sian Taysu manggut-manggut, katanya.

"Kalau penilaian Lolap tak salah, Kim-sin ini paling sedikit ada dua ribu kati, bocah ini dapat menarikannya seenteng seperti main gala yang terbuat dari gabus tanpa menggunakan tenaga sedikitpun, kelihatannya ia sudah mendapat warisan tunggal Tokko Bing, pertemuan malam ini, akan banyak pihak yang menghadapi rasa kekecewaan pula."

Lu Bu-wi menunduk diam, pikirannya kacau-balau, sikapnya terharu. Didengarnya Koan San-gwat yang bertolak pinggang di tengah gelanggang sedang berseru.

"Selanjutnya siapa lagi yang ingin memberi petunjuk?"

Suasana hening sebentar, tampak seorang perempuan pertengahan umur yang mengenakan pakaian serba hijau melayang maju ke tengah gelanggang, tangannya menghunus pedang baju warna hijau, gerak langkahnya enteng dan lincah, begitu melihat orang melayang tiba, segera Koan Sangwat menyapa dengan tertawa.

"Saudara ini tentu Ya-li-kiam Han Lihiap dari Thian-bok-san bukan?"

Perempuran pertengahan umur itu cuma sedikit menganggukkan kepala, sahutnya.

"Benar, dua puluh tahun yang lalu beruntung mendapat petunjuk sejurus dari gurumu, hingga selama ini aliran Thian Bok kami menyembunyikan diri dari Bulim. Malam ini, aku Han Ji-ing ingin mohon petunjuk dari ahli waris Bing-tho yang tunggal."

Koan San-gwat tertawa, katanya.

"Guru almarhum sangat kagum dan memuji pada ilmu pedang Han lihiap, karena Hanlihiap sudi mengalah, maka Ci kim Hong-ce tanda kebesaran Han-lihiap itu kusimpan di dalam kantong bajuku. semoga Han-lihiap nanti berhasil merebutnya kembali."

Merah jengah muka Han Ji-ing, serunya dengan uring uringan.

"Bocah keparat banyak cerewet, dua puluh tahun yang lalu pelajaran ilmu pedangku memang belum sempurna sehingga terkalahkan oleh Tokko Bing. Dalam jangka dua puluh tahun ini, setiap saat setiap detik aku bersumpah untuk berlatih lebih giat mempertinggi pelajaran pedang untuk melampiaskan rasa dongkol dan penghinaan itu, tak kira Tokko Bing sudah mampus, maka perhitungan ini terpaksa kutagih kepadamu!"

Koan San-gwat tetap bersikap tawar, katanya.

"Agaknya Han-lihiap suka mengumbar napsu, meskipun guruku almarhum berhasil mengambil Ci-kim-hong-ce mu itu, tetapi tidak anggap sebagai benda rampasan dari hasil kemenangannya, tapi beliau anggap sebagai tanda kenangkenangan. Sebelum beliau ajal, setiap hari ia suka mengeluarkan benda itu. Sikap kasar Lihiap apakah tidak membuat kecewa perasaan guruku....?"

Meskipun usia Han Ji-ing sudah menanjak pertengahan, tapi dia masih perawan suci belum pernah menikah, karuan ia malu serta gusar mendengar ocehan Koan San-gwat, teriaknya bengis.

"Keparat bergajul yang tidak tahu malu, kalau hari ini aku tidak memecah luluh tubuhmu aku bersumpah tidak akan jadi manusia....!!!"

Seiring dengan bentakannya pedang panjang di tangannya sudah membabat pergi datang bolak-balik, bayangan pedangnya menggugus tinggi laksana gunung, setiap jurus pasti mengarah tempat-tempat penting mematikan di seluruh tubuh Koan San-gwat.

Meski bentuk tubuh Koan San-gwat terkurung rapat di dalam sinar pedangnya, tetapi sikapnya masih tenang, seenaknya saja ia angkat Kim-sin di tangannya, entah menyambut atau menyampok dan menindih, dengan mudah ia dapat memunahkan setiap rangsakan pedang lawan yang hebat dan deras laksana hujan lebat.

Kini hadirin tahu bahwa Kim-sin berkaki situ di tangan Koan San-gwat itu ribuan kati beratnya, sekarang mereka menyaksikan benda berat itu dimainkan begitu enteng dan lincah sekali, sudah tentu hati mereka mendelu dan berkuatir pula.

Ada beberapa Pay, Pang, Bun dan Keh yang hadir merekareka dalam hati bahwa kekuatan mereka tidak lebih unggul dibanding Kok Liang, diam-diam sudah putus asa dan mengaku asor saja, bahwasanya selama dua puluh tahun ini berarti mereka menanti dengan sia-sia saja.

Apalagi menurut tafsiran mereka bahwa tenaga si bocah yang harus mereka hadapi ini agaknya tidak lebih rendah dari gurunya dulu, lebih ciut nyali mereka.

Dalam pada itu, pertempuran di tengah gelanggang sudah mencapai puncak yang tidak terkendalikan lagi, semakin bertempur Han Ji-ing semakin bernapsu dan gagah berani, pedang panjangnya beruntun merangsak dan menggempur dengan berbagai tipu pedang yang ganas dan licik, setiap jurusnya mengandung perubahan yang lihay dan sulit diselami, semua menjurus ke tempat mematikan di tubuh lawannya.

Tapi Koan San-gwat sedikitpun tak menjadi gugup karenanya, ia seperti tidak ambil perhatian terhadap seluruh gempuran pedang lawan, seenaknya saja ia mainkan senjata malaikat emasnya yang berat itu, jarang sekali ia gunakan ajaran gurunya untuk balas menyerang tapi cukup serangan satu jurusnya saja, pasti berhasil menyusup ke dalam lobang kelemahan pihak musuh, karuan Han Ji-ing dibuat mencakmencak dan harus mengurungkan setiap kali serangan nekadnya untuk menyelamatkan dirinya lebih dulu.

Enam puluh jurus dilampaui.

Samar-samar sudah kelihatan Han Ji-ing mulai payah, sebaliknya Koan San-gwat masih segar bugar dan seperti tidak terjadi apa-apa, tak kelihatan sedikitpun merasa lelah, napasnya pun tidak memburu.

Para penonton di luar gelanggang banyak yang menjadi kabur pandangannya, ada pula yang melotot saking asyik dan ada pula yang menghela napas gegetun memikirkan nasibnya sendiri.

Ciong-lam-pay Ciangbunjin Lu Bu-wi berbisik kepada Thong-sian Taysu.

"Di antara sungai dan gunung, seluas dunia persilatan ini tidak sedikit jumlah orang-orang yang suka mengagulkan kepandaian dan bernama kosong belaka, tapi tidak sedikit pula yang berkepandaian sejati. Thian-bok-pay terletak di daerah yang bersembunyi, jarang berkecimpung di kalangan Kangouw, tetapi latihan ilmu pedang Han-lihiap benar-benar sudah mencapai tingkat sempurna, dibanding para pentolan yang lain seperti Kim-sa-pocu. Kok Liang tadi, entah berapa tingkat lebih unggul."

Dengan prihatin Thong-sian Taysu mengangguk, ujarnya.

"Yali-kiam-hoat diciptakan pada jaman Chun-ciu, turun temurun secara tunggal diturunkan ke generasi muda dalam lingkungan kekeluargaan sendiri sampai sekarang sudah ratusan tahun, sudah tentu tidak boleh dipandang ringan atau dianggap ilmu pedang pasaran belaka. Tapi yang Lolap khawatirkan justru pemuda itu, naga-naganya dia jauh lebih hebat dibanding Tokko Bing dulu."

"Meski murid Bing-tho tidak jelek, tapi bergebrak sebanyak enam puluh jurus ini, menurut pandangan Losiu tiada tandatanda dimana letak kelihaiannya,"

Demikian Lu Bu-wi memberi tanggapan."

"Lu-heng cuma melihat lahiriah atau kulitnya saja, harus diketahui senjata yang digunakan Han-lihiap adalah pedang, paling berat cuma dua puluh kati, tapi senjata Tok-ga-kim-sin bocah itu beratnya mungkin ada ratusan kali lipat, untuk pertandingan berat antara kedua senjata ini saja adalah cukup mengejutkan."

Merah muka Lu Bu-wi, rasa kagumnya terhadap Thong-sian Taysu bertambah tebal, orang tidak malu sebagai seorang pemuka dari sebuah aliran murni yang kenamaan, pandangannya memang jauh lebih tajam dan berpengalaman dari dirinya.

Setelah menonton sekian lamanya, akhirnya Thong-sian menghela napas panjang, katanya.

"Selama ratusan tahun belakangan ini kaum Bu-lim mengidamkan hidup aman sentosa dan sejahtera, menutup pintu memperdalam kepandaian silat masing-masing, semua senang dihinggapi angan-angan kosong yang muluk-muluk, untung Tokko Bing muncul sehingga mereka sadar. Kalau tidak, mungkin mereka bakal tenggelam oleh angan-angan bahwa kepandaian sendiri sebetulnya sampai di tingkat mana. Lolap rasa pertemuan malam inilah saatnya yang paling baik."

Baru saja Lu Bu-wi hendak membuka mulut, tiba-tiba dalam gelanggang terdengar suara bentrokan lirih, terlihat pedang panjang Han Ji-ing sudah terpental terbang dan jatuh ke tanah, seketika ia menjublek di tempatnya.

Ternyata pada gebrakan kesembilan puluh sembilan, permainan Koan San-gwat mendadak berubah, Tok-ga-kim-sin mendadak menyodok ke ulu hati Han Ji-Ing, yang di arah adalah lobang kelemahan lawan, sudah tentu Han Ji-ing jadi kelabakan dan tak sempat menangkis atau menghindar lagi.

Di saat senjata kepala musuh sudah menyentuh kain bajunya ia sudah pejamkan mata dan menunggu ajal saja, tanpa merasa ia mengendorkan cekalan senjatanya.

Tak nyana cara Koan San-gwat melancarkan serangannya memang hebat, tapi caranya membatalkan serangan serta menariknya balik justru lebih menakjupkan lagi, jarak tinggal beberapa mili saja, mendadak ia tarik mentah-mentah tenaga sodokannya, terus mundur dua langkah, serunya tertawa.

"Kuucapkan selamat kepada Han-lihiap, Yali-kiam-hoat ternyata berlipat ganda lebih maju setelah kau latih selama dua puluh tahun, kini ilmu pedang Li-hiap sudah cukup untuk menjagoi dunia persilatan...."

Sekian lama rona wajah Han Ji-ing masam gelap, dengan susah payah baru ia kuasa membuka suara.

"Bocah keparat, terhitung kau yang menang! Tapi jangan mulutmu sembarangan bicara....!"

Cepat Koan San-gwat menggoyangkan Tangan, tukasnya.

"Lihiap salah paham, sebenarnya Cayhe tidak punya maksud menghina, pedang sebagai raja dari segala senjata, tombak sebagai pimpinan dari semua senjata panjang. Yang pendek tidak akan menang dari yang panjang. Ini sudah merupakan suatu hal yang jamak. Terpaksa Cayhe harus melancarkan jurus Tiang-liong-ni-coan dari ajaran ilmu tombak Liok-sim-ciohoat yang paling lihai ...."

"Bohong!"

Semprot Han ji-ing dengan berjingkrak gusar.

"Senjatamu tiga kaki, mana dapat kau gunakan sebagai tombak?"

Dengan sabar dan kalem, Koan San-gwat coba menerangkan.

"Tergantung dari pemakainya, Kim-sin ini kuperoleh dari guruku, aku percaya dia tidak asor dibanding tombak yang panjang, sebaliknya kalau ganti orang lain, seumpama dia benar-benar memegang sebatang tombak aslipun belum tentu kuat menghadapi pedang panjang Lihiap itu."

Han ji-ing jadi melongo, akhirnya dia membungkuk menjemput pedangnya, katanya dengan suara keretekan.

"Bocah, semoga umurmu panjang dapat hidup melewati malam ini. Cukup tiga tahun pasti akan kudidik seorang murid, tetap dengan Yali-kiam-hoat ini untuk mwngalahkan kau."

"Aku percaya akan datang hari yang diharapkan itu."

Demikian ujar Koan San-gwat dengan lapang dada.

"Kuharap Han-lihiap tidak putus asa, lebih giat dan rajin...."

Han Ji-ing mendengus gemas terus tinggal pergi dan menghilang di dalam kelompok orang orang banyak.

Sambil menenteng senjata beratnya, Koan San-gwat menyapu pandang ke sekelilingnya.

Beruntung dia sudah barhasil mengalahkan dua tokoh Bulim, perbawanya sudah cukup menggetarkan nyali semua hadirin, tetapi sikapnya yang semula angkuh dan congkak kini berganti menjadi dingin dan tenang, membuka suara pun rasanya ogah.

Keadaan menjadi sepi, yang terdengar cuma pernapasan orang saja, Ciong-lam-pay Ciangbunjin Lu Bu-wi tidak tahan lagi, katanya keras.

"Losiu ingin maju, meski aku tidak punya harapan menang, betapa pun waktu yang kutunggu-tunggu selama dua puluh tahun jangan sampai tersia-sia ...."

"Nanti dulu Lu-heng."

Kata Thong-sian Taysu menarik tangannya. Dengan tidak mengerti, Lu Bu-wi pandang muka orang. Dengan merendahkan suaranya Thong-sian Taysu berkata lirih.

"Lolap bisa main hitung nasib orang, kulihat nasib dan watak bocah ini lain dari yang lain, gebrak selanjutnya aku kuatir bahayanya jauh lebih besar."

Tengah Lu Bu-wi keheranan, dari depan sana dilihatnya berjalan keluar seseorang dengan langkah goyang gontai, orang itu mengenakan pakaian sastrawan, sikapnya lemah lembut, seluruh hadirin seketika melongo.

Sebab orang ini teramat asing, agaknya tak pernah menongolkan kepalanya di dunia persilatan.

Dengan pandangan dingin Koan San-gwat menyambut kedatangan laki-Laki sastrawan ini, katanya.

"Saudara ini dari golongan mana?"

Perlahan-lahan laki-laki sastrawan itu membuka kipasnya, serunya bersenandung.

"Rumah tinggal di Liok-cau, she aku turunan Ni-san."

Tergerak hati Koan San-gwat, katanya.

"Oo, kiranya Khongkokcu dari Liok-cau-san dalam lembah Loh-hun-kok."

Laki-laki sastrawan itu terkekeh tertawa, ujarnya.

"Beliau adalah engkohku Khong Bun-thong, aku yang rendah Khong Bun-ki tidak berani menerima penghormatan itu."

Berdiri alis Koan San-gwat, tanyanya.

"Kenapa engkohmu sendiri tidak datang?"

Khong Bun-ki mengebas-ngebaskan kipasnya, katanya.

"Tuan menyebar Bing-tho-ling, engkohku sudah menduga apa maksud saudara. Seumpama Tokko bing tidak akan unjukkan diri, maka hari ini akulah yang mewakili beliau."

Hadirin ribut dan berbisik-bisik, keluarga Khong di Loh-hunkok di puncak gunung Liok Cau-san merupakan keluarga misterius bagi kaum persilatan.

Sepak terjang mereka aneh dan main sembunyi sulit diraba juntrungannya, ilmu silat mereka pun tersendiri berbeda dari aliran mana pun juga.

Tiada orang luar yang pernah memasuki Loh-hun-kok (lembah sukma gentayangan), kadang kala cuma Khong bunthong pernah muncul di kalangan Kangouw, melenyapkan beberapa pentolan penjahat-penjahat besar yang sering mengganggu keselamatan umum, nama kebesaran mereka mulai ternama karena beberapa peristiwa besar yang menggemparkan itu.

Kata-kata Khong Bun-ki sangat mengejutkan semua hadirin, sebab sejak tadi baru dia yang berani bersikap kasar dan main sindir dengan tajam terhadap Koan San-gwat.

Karuan hadirin senang seolah-olah mendapat imbalan yang cukup melegakan sanubari, tapi melihat tindak-tanduknya yang lemah lembut itu, mau tidak mau mereka kuatir juga atas keselamatan dirinya.

Tapi Koan San-gwat tidak menghiraukan perkataan orang.

Dengan nada tawar ia bertanya.

"Bagus sekali, saudara ingin menggunakan cara apa untuk merebut kembali Pi-seng-cu milik kalian?"

Khong Bun-ki membalikkan mata, lalu balas bertanya.

"Dulu cara bagaimana Tokko Bing merampas dari tangan kami?"

Melotot mata Koan San-gwat, katanya.

"Dalam hal pelajaran silat dan sastra sudah tentu aku tidak bisa dibanding guruku, tapi kalau saudara ingin menggunakan cara lama, aku yang rendah dengan senang hati akan melayani segala seleramu."

"Baik! Baik!"

Seru Khong Bun-ki tertawa besar.

"Tokko Bing seorang terpelajar yang tinggi ilmunya, mana mungkin murid didikannya seorang berotak tumpul."

Tiba-tiba Koan San-gwat bersuit nyaring, unta saktinya itu segera bergegas berdiri dan berlari datang dengan cepat ke sampingnya.

Dari lehernya, Koan San-gwat mengambil sebuah kantong kulit, lalu menepuk paha untanya itu, tanpa diperintah unta itu menyingkir ke tempat tadi.

Dari sebelah belakang Khong Bun-ki dengan cermat mengawasi unta itu, serunya memuji.

"Bagus, hebat, memang seekor unta yang sakti!"

"Tuan tak usah main sindir. Kalau kena aku kau kalahkan, pertaruhan guruku dulu masih tetap berlaku, bukan saja tungganganku itu boleh kau bawa pulang, senjata Kim-sinku ini pun akan kuserahkan sekalian."

"Saudara tidak perlu berpura-pura royal, kalau malam ini kau tidak bisa mengenyahkan aku, jangan harap kau dapat mengangkangi barang-barang itu lagi."

Mendengarkan percakapan yang membingungkan ini perhatian hadirin tertuju ke arah kantong kulit yang dipegang Koan San-gwat.

Entah apa isi kantong kulit itu?

Demikian semua orang bertanya-tanya.

Perlahan-lahan Koan San-gwat membuka tali pengikat mulut kontong itu, bau harum semerbak seketika tersebar luas menyampok hidung.

Bau dari arak wangi yang sudah disimpan puluhan tahun lamanya.

Koan San-gwat mengangsurkan kantong kulitnya kepada Khong Bun-ki, katanya.

"Di padang pasir yang terpencil begini sulit mencari arak yang paling bagus, sudah tentu arak bekalku ini tidak bisa dibanding arak buatan Loh-hun-kok kalian, coba saudara periksa apakah arakku ini bisa dipergunakan sebagai alat untuk permainan kita nanti?"

Khong Bun-ki menerima kantong itu terus diendus ke depan hidung, serunya dengan tertawa besar.

"Boleh, boleh. Saudara masih berusia muda belia, kepandaian memilih arak ternyata tidak lebih asor dari Tokko Bing. Bau arak ini cukup baik, kalau dugaanku tidak salah sari airnya terbuat dari sumber air dingin di puncak Thian-san bukan?"

Koan San-gwat tertawa ringan, katanya.

"Tokoh-tokoh dari Loh-hun-kok ternyata memang hebat, cangkir sinar malam saudara apakah dibawa serta?"

Khong Bun-ki tersenyum lebar, dari dalam lengan bajunya ia mengeluarkan sebuah cangkir jade, lalu menuang penuh secangkir arak, katanya tertawa.

"Memang sebelumnya sudah kupersiapkan, saudara silahkan...."

Koan San-gwat meletakkan Kim-sin di atas pasir, dia sendiri lantas duduk bersimpuh di atas pasir, matanya menatap tajam Khong Bun-ki, serunya sambil tertawa lantang.

"Bulan sabit kembali akan menjadi saksi dari dua pertandingan seperti kejadian masa yang sudah silam. Masih segar dalam ingatanku, sewaktu pertandingan dulu, saudara tuamu yang mulai lebih dulu. Maka sekarang kuharap saudara mulai lebih dulu pula."

Khong Bun-ki tersenyum perlahan-lahan ia dorong telapak tangannya kedepan, make cangkir diatas telapak tangannya itu tahu-tahu terbang lurus ke depan, seolah-olah disanggah dari bawah pelan-pelan maju ke depan Koan San-gwat.

Cangkir itu terbuat dari jade putih bersemu hijau yang tembus sinar, di bawah pancaran sinar bulan sabit yang cukup terang kelihatan memancarkan cahaya kemilau yang berwarna kelabu.

Sementara cangkir itu tiba di atas Koan San-gwat kira-kira terpaut satu setengah kaki mendadak berhenti sendiri terus berputar-putar seperti gangsingan di tengah udara.

Dari jauh sekonyong-konyong Khong Bun-ki sedikit mengulap dan mengayunkan kedua tangannya, karuan cangkir yang berputar berhenti di tengah udara itu sedikit bergetar, maka terlihatlih selarik arak kemilau keluar dari dalam cangkir terus melesat ke arah Koan San-gwat.

Koan San-gwat duduk tenang tak bergerak, tiba-tiba ia ayun sebelah tangan memapak ke depan, kontan arak itu kena ditampar berpercik menjadi titik-titik kecil berterbangan balik menungkup ke arah Khong Bun-ki.

Jangan dikira cuma percikan arak yang menjadi titik-titik kecil tapi daya terbangnya ternyata mengeluarkan desir angin yang keras berpencar lebar maka dapatlah diperkirakan berapa besar tenaga yang dikerahkan.

Tapi Khong Bun-ki mandah bergelak tawa, sikapnya yang lemah lembut tadi berubah menjadi beringas dan garang, sepasang biji matanya memancarkan cahaya buas yang dilandasi kemarahan, mendadak ia pentang mulutnya menyedot keras-keras.

Titik-titik arak yang beterbangan memenuhi angkasa itu kena disedot masuk ke dalam mulutnya tanpa ada setetes pun yang ketinggalan, lalu ia sodorkan pula telapak tangannya menarik balik cangkirnya.

Sekali lagi ia menuang penuh secangkir arak terus diangkat tinggi di depan kepalanya, serunya.

"Murid tunggalnya Bing-tho-ling-cu ternyata memang hebat, untuk jurus pertama ini aku mengaku kalah. Tapi pertemuan malam ini bukan pertemuan asal ketemu saja, apakah saudara masih sudi memberi pelajaran lebih lanjut....?"

"Khong-ji sianseng kenapa sungkan, sejak tadi aku yang rendah sudah siap menanti petunjuk selanjutnya."

Khong Bun-ki berhenti bergerak, pelan-pelan ia pejamkan mata.

seolah-olah sedang berpikir mencari daya cara bagaimana ia harus mulai dengan jurus permainannya.

Tak tahan lagi Ciong-lam-pay Ciangbunjin Lu Bu-wi bertanya kepada Thong-sian Taysu.

"Tadi kedua pihak sama mengeluarkan tenaga dalam yang sembabat kelihatannya sama kuat dan sebanding, kenapa Khongji sianseng mengaku kalah?"

"Mungkin Lu-heng tidak perhatikan,"

Demikian sahut Thong-sian Taysu.

"Orang she Khong itu mengumpulkan arak menjadi selarik benang meluncur ke depan, kekuatannya terpusatkan pada satu titik permulaan belaka, sebaliknya Koan San-gwat masih mampu memukul balik tenaganya itu, malah titik-titik arak yang tersebar luas di tengah udara ini memencarkan daya tenaga pukulannya. Tetapi orang she Khong cuma mampu menyambuti dan tidak mampu balas menyerang, sudah tentu dia terhitung kalah seurat."

Berubah air muka Lu Bu-wi, katanya.

"Bocah ini masih berusia muda, lwekangnya ternyata sudah sedemikian hebat. Naga-naganya jerih payah kami selama dua puluh tahun tak akan berguna lagi. Bagaimana nanti kami mampu menyelesaikan uruusan lama ini."

Thong-sian menggeleng kepala, katanya serius.

"Lu-heng tidak usah putus asa, urusan toh belum sampan ctitik penentuan. Menurut penglihatan Lolap, orang she Khong agaknya belum lagi menggunakan seluruh kemampuannya, siapa duga bakal terjadi sesuatu peristiwa yang menggemparkan."

Lu Bu-wi curiga dan setengah percaya, dengan cermat ia perhatikan pertandingan di tengah gelanggang, demikian pula seluruh hadirin yang lain, mereka insyaf akan kemampuan sendiri, maka mereka tumplek seluruh harapan kepada Khong Bun-ki yang akan menentukan nasib mereka selanjutnya.

Suasana tenang sesaat lamanya, mendadak Khong Bun-ki membuka mata, katanya pelan-pelan.

"Sekarang mulai babak kedua, harap saudara perhatikan."

Lalu dengan suara lantang ia bersenandung memetik syair-syair gubahan pujanggapujangga kuno.

Lenyap suaranya tiba-tiba kedua tangan yang menyanggah cangkir dilepas, Ya-kong-pek (cangkir sinar malam) yang penuh berisi arak itu kembali terbang lurus ke depan ke arah Koan San-gwat, daya luncurannya tidak pesat tapi juga tidak lambat.

Koan San-gwat agaknya tertegun, ia tak dapat menyelami makna senandung orang, tapi sang waktu tidak mengijinkan ia memeras otak, terpaksa dia siap waspada menanti perkembangan lebih lanjut.

Bila cangkir itu dua kaki di hadapannya ia masih belum merasakan adanya tekanan apa-apa.

Pelan-pelan ia ulur tangannnya meraih dengan mudah sekali ia pegang cangkir arak itu, tak tertahan ia berseru heran.

"Apakah maksud tindakan Khong-ji sianseng?"

Tanpa menunjukkan perasaannya Khong Bun-ki menyahut.

"Asal saudara berani minum arak itu tentu kau akan paham apa maksud dan tindakanku."

Di bawah sinar rembulan, Koan San-gwat mengawasi dan memeriksa cangkir arak di tangannya, sedikitpun tiada sesuatu yang ganjil.

Arak adalah bekalnya sendiri, sudah tentu akan terjadi sesuatu, cuma cangkir adalah milik Khong Bun-ki, tadi juga sudah digunakan minum araknya itu, tak mungkin dia bisa berbuat licik atau mengatur tipu daya.

Setelah berpikir sejenak, ia angkat cangkir itu terus hendak diteguk habis, tapi baru saja tiba di dekat bibir, tiba-tiba terjadilah sesuatu kejadian yang aneh.

Kiranya mendadak terasa telapak tangannya tersalur suhu hangat dari cangkir arak kemudian arak di dalam cangkirnya itu bergolak mendidih seperti dimasak, sebentar saja secangkir arak menguap jadi asap dan menghilang ke tengah udara.

Koan San-gwat tersenyum takjup, ujarnya.

"Agaknya Khong-ji sianseng sudah sempurna melatih Le-hwe-sin-kang dari kerajaan Lam-bing yang terkenal itu. Secangkir arak ini jadi sulit kuhirup lagi!"

Khong Bun-ki cuma tersenyum tanpa bersuara.

Koan Sangwat pun tertawa-tawa tanpa berkata apa-apa pula, ia biarkan secangkir arak itu semakin susut dan akhirnya kering menjadi asap, sebentar saja cangkir di tangannya sudah menjadi kosong.

Koan San-gwat menjungkir balikkan mulut cangkir itu ke bawah, ternyata setetes pun tidak ketinggalan lagi.

Seketika terdengarlah sorak-sorai yang gegap gempita.

Hadirin kagum dan memuji akan kepandaian Khong Bun-ki yang sempurna.

Jarak ke dua pihak ada beberapa tombak, tetapi jarak sejauh itu ia mampu mengerahkan tenaga dalam sehingga cangkir arak itu mendidih dan menguap kering, pertunjukan yang aneh dan ajaib laksana permainan sulap ini sungguh sulit dipercaya.

Siapapun tidak menyangka keluarga Khong dari Loh-hun-kok yang jarang berkecimpung di dunia persilatan ternyata adalah tokoh kosen yang luar biasa.

Di samping kagum merekapun senang karena dalam gebrak kedua ini Koan San-gwat jelas sudah kalah.

Cangkir berada di tangannya tapi orang dari jarak sedemikian jauh tapi arak itu dapat mendidih kering, Bahwa pemuda yang bersikap sombong dan takabur ini terjungkal, siapa takkan merasa senang dan terharu.

Dalam pada itu, tanpa menunjukkan sesuatu perasaan Koan San-gwat membalik cangkir di tangannya, mulut menghadap langit, lalu dengan tersenyum ia berkata.

"Permainan sakti Khong-jie siansing sungguh membuat aku takluk, cuma aku kurang paham makna senandung saudara tadi."

"Bukankah tadi sudah kujelaskan, setelah saudara menenggak habis secangkir arak itu, kau akan paham sendiri. Sekarang...."

Mendadak Koan San-gwat mendongak ke langit, serta menukas kata-katanya.

"Heeey, bulan bercokol di langit, udara cerah tanpa mega mendung kenapa bisa hujan!?"

Para hadirin tertegun mendengar ucapan yang tanpa juntrungan ini.

Ada sementara orang yang mengulur tangan, tapi udara tetap kering, sesuai dengan keadaan padang pasir yang panas, mana ada setitikpun air hujan!

Tapi ada beberapa orang yang pandangannya tajam seketika berubah hebat air mukanya, beramai-ramai mereka berseru heran dan terkejut, semuanya kesima mengawasi Koan San-gwat, boleh dikata mereka hampir tidak percaya akan penglihatan mata sendiri.

Kelima jari Koan San-gwat menyanggah pantat cangkir sambil duduk tenang tak bergerak, di atas kepalanya bergulung gulung uap merah tebal, uap merah ini semakin tebal dan akhirnya meneteskan cairan warna merah pula semua menetes masuk ke dalam cangkir, suaranya berbunyi tak tik pelan-pelan sangat menusuk pendengaran.

Bagi yang berpengalaman luas sekali pandang lantas paham bahwa kabut merah di atas kepala Koan San-gwat itu adalah uap arak dari cangkir yang dipegangnya tadi, tapi kini kena dikendalikan oleh tenaga dalam Koan San-gwat yang hebat menjadi kabut yang bergulung-gulung di atas kepalanya, akhirnya didinginkan menjadi cairan kembali dan menetes ke tempat semula.

Bahwa arak yang sudah menguap dicairkan kembali menjadi arak adalah suatu kejadian yang luar biasa.

apalagi dapat dikendalikan oleh tenaga dalam sehingga tidak kering tersirap udara.

Kejadian ini sungguh seperti dongeng dalam cerita khayal belaka, adalah tidak heran bila semua hadirin melongo dan takjup.

Tidak Lama kemudian cangkir ini telah penuh terisi arak lagi.

Kabut di atas kepala Koan San-gwat pun sudah sirna, di lain saat sekali menenggak ia habiskan arak di dalam cangkir itu, serunya dengan tertawa besar.

"Untung guruku almarhum di alam baka melindungi diriku, sehingga aku tidak konyol karenanya. Terima kasih akan persembahan arakmu ini. Cuma aku tidak selihai Khong-ji sianseng. Harap kaupun dengar senandung syairku ini."

Begitulah ia pun bersenandung menanggapi keadaan pihaknya yang menang total. Berubah rona wajah Khong Bun-ki, sambil menyeringai ia berkata.

"Bagus sekali, kiranya kau membekal kepandaian silat yang luar biasa, aku harus mengaku asor saja, cuma kaupun jangan dapat bersimaharaja selamanya."

Koan San-gwat mengangguk, tapi tiba-tiba air mukanya berubah hebat, cangkir di tangannya kontan dibantingnya hancur, teriaknya dengan mata mendelik.

"Kau taruh apa dalam arak merahku itu?"

Khoag Bun-ki tertawa sadis, jengeknya.

"Tidak apa-apa, cuma sedikit kupolesi sesuatu."

Jawaban Khong Bun-ki seketika membuat hadirin gempar, sungguh mereka tidak menduga akan perubahan yang lihai ini. Koan San-gwat sendiripun gugup tanyanya tak sabar.

"Sesuatu apa?"

"Kukira murid tunggal Bing-tho-ling-cu cukup cerdik dan serba bisa, ternyata ada pula sesuatu yang tidak diketahuinya. Kalau begitu baiklah kujelaskan. Dalam cangkir itu ada kupoles getah Ui-ho-ciu-ce-sa, bukankah nama obat ini kusebut dalam senandungku?"

Seketika berubah pucat dan berkeringat selebar muka Koan San-gwat, tiba-tiba bibirnya mencibir bersuit panjang mengundang unta saktinya itu, bergegas unta itu berlari masuk gelanggang.

Dari bawah tempat duduk unta itu Koan San-gwat menurunkan berbagai barang besar kecil lalu merogoh kantong dalam baju membuang seluruh isinya, terus melompat naik ke punggung tunggangannya, dengan bersoja keempat penjuru ia berkata dengan tertawa getir.

"Semua barang saudara sudah kutinggalkan, aku percaya kalian bisa menemukan sendiri dan tidak akan salah ambil milik orang lain...."

Semua hadirin terkesima dan menjublek di tempat masingmasing oleh hasil pertandingan yang menakjubkan itu, sehingga lupa bergerak dan tak bersuara, mereka membiarkan saja unta itu mencongklang pergi dengan cepat dan sebentar saja lenyap dari pandangan mata.

Setelah bayangan Koan San-gwat dengan tunggangannya lenyap barulah Khong Bun-ki memperdengarkan gelak tawa panjang seperti serigala yang kelaparan, cepat-cepat ia mendahului maju mengotak-atik barang-barang yang ditinggalkan di atas pasir, mengambil sebutir mutiara sebesar telur burung, dengan hati-hati ia simpan di dalam bajunya, terus mengangkat tangan soja ke sekitarnya, serunya.

"Berkat doa dan harapan saudara-saudara sekalian, aku berhasil dalam pertandingan ini, sekaligus telah merebut balik separuh barang milik saudara-saudara sekalian silahkan saudarasaudara ambil milik kalian masing-masing."

Sesaat semua orang berdiam diri lalu beramai-ramai maju ke tengah gelanggang. Tak tertahan lagi Lu Bu-wi menghela napas, serunya.

"Sungguh tidak dikira pertandingan ini bisa berakhir dalam keadaan yang mengenaskan ini."

Thong-sian Taysu geleng-geleng kepala tak bersuara, cuma dengan isyarat mata ia perintahkan salah seorang muridnya mengambil tanda kebesaran Siau-lim-pay yaitu Giok-ji-i.

Sementara itu, Kim-sa-pocu Kok Liang pun sudah mengambil panji kuning sutranya, tanyanya ingin tahu.

"Khong-ji sianseng dapat melampiaskan rasa penasaran kami selama beberapa tahun ini, sungguh Lohu sangat berterima kasih. Tapi kenapa harimau ganas itu dibiarkan pulang ke gunung, apakah kelak tidak mendatangkan bibit bencana....?"

"Kok-heng tak usah kuatir,"

Ujar Khong Bun-ki tertawa.

"Dalam jangka enam jam, padang pasir ini bakal ketambah sesosok mayat yang sudah membusuk, raja akhirat bakal kedatangan seorang penghuni baru yang penasaran."

Kok Liang terkejut, tanyanya.

"Sebetulnya barang macam apakah itu? Masa begitu lihai?" -oo0dw0oo-

Jilid 2

"HA HA HA.... itulah semacam obat yang jarang terdapat, tumbuhnya di Sing-siok-hay di pesisir pasir kuning di sebelah sumber air, dimana ada tumbuh semacam tanaman yang bernama Ciu-Ceng, akar dari pohon ini ada tumbuh semacam bisul, akar bisul ini dapat diperas getahnya lalu diramu dengan berbagai obat-obatan rumput lain. maka jadilah semacam obat yang tidak berwarna, tidak berbau dan tiada rasanya, obat ini dapat menyembuhkan penyakit rheumatik dan penyakit tulang lainnya yang sangat mujarab ...."

"Kalau obat mujarab kenapa bisa menggebah bocah itu dan kenapa pain dia bakal mampus?"

Tanya Kok Using tidak mengerti.

"Kalau cuma setetes memang merupakan obat mujarab, tapi kalau sampai sepuluh tetes dapat menghancurkan usus dan isi perut lainnya. Dalam dinding cangkir itu sebelumnya sudah kupolesi obat itu, takarannya dapat sekaligus memburuh puluhan orang, begitu obat ini masuk ke dalam perut segera menjalar ke kaki tangan serta tulang-tulang seluruh badan, tiada obat untuk menyembuhkannya."

Kok Liang berpikir sebentar lalu bertanya.

"Bukankah Khong-ji sianseng sendiri juga ada minum arak dari cangkir itu, kenapa kau tidak keracunan. ....?"

Khong Bun-ki terbahak-bahak, ujarnya.

"Dalam suhu udara biasa Ui-ho ciu-ce-sa itu tidak mudah terbaur dalam cairan arak atau air, cuma setelah dipanaskan mendidih dengan sendirinya arak itu jadi beracun, arak yang kuminum arak dingin, maka aku sendiri tidak kurang suatu apapun."

Kok Liang menepuk paha sambil memuji, ujarnya.

"Jadi Khong-ji sianseng menggunakan tenaga dalam membuat arak itu mendidih kiranya punya maksud tertentu."

"Benar, meski keparat itu berusia muda tapi latihan Lwekangnya rasanya tidak kalah oleh Tokko Bing dulu, kalau tidak menggunakan akalku itu, mana bisa mengalahkan dia. Aku tahu kalau cuma mengandal Le-hwe-sin-kang tidak akan berhasil menundukkan dia, maka terpaksa kugunakan sedikit akal muslihat. Ternyata keparat itu kena diketahui, mimpi juga ia tidak akan menyangka bahwa arak itu mengandung racun jahat."

"Khong-ji sianseng mempunyai rencana matang dengan perhitungan yang lihay. sungguh besar pahalamu untuk menentramkan seluruh jagat ini."

Para ketua atau pimpinan dari berbagai golongan dan aliran memuji dan bersorak mengacungkan jempol. Cuaca sudah hampir terang tanah, segera Khong Bun-ki bersoja ke sekelilingnya, ujarnya.

"Urusan sudah selesai, kita boleh bubar saja, maaf terpaksa siau-te harus mendahului pulang."

"Silahkan Khong sianseng!"

Kok Liang membungkukkan diri dengan hormat.

Karena dirangsang rasa terima kasih, banyak kaum persilatan itu yang mengantarkan Khong Bun-ki dengan laku hormat berkelebihan.

Tapi Khong Bun-ki cukup menganggukkan kepala dan membusungkan dada tinggal pergi sambil menggoyang-goyangkan kipasnya.

Tak lama kemudian barisan orang-orang gagah yang berkumpul di padang pasir itu sudah bubar dan menghilang, tinggal Thong-sian Taysu dan para muridnya belum bergeser dari tempatnya semula, lekas-lekas Lu Bu wi maju bertanya.

"Ciangbunjin, adakah sesuatu yang kurang beres menurut nalar Taysu?"

Thong-sian menunduk khidmat, katanya.

"Apakah dunia kini sudah aman dan damai, Lolap kuatir kaum persilatan selanjutnya bakal dihadapi berbagai keonaran dan keributan yang tiada habisnya."

"Kemana juntrungan kata-kata Ciangbunjin?"

Tanya Lu Buwi tidak mengerti.

"Firasat telah menyentuh, tapi Lolap tidak bisa menunjukkan bukti-bukti secara kenyataan, semoga Tuhan Yang Maha Esa suka memberi jalan kehidupan yang sempurna kepada umatnya, kalau tidak .... aih!"

Lu Bu-wi ikut tenggelam dalam keprihatinan, agaknya iapun dapat menyimpulkan apa-apa, katanya.

"Ucapan Ciangbunjin, juga terasakan oleh Losiu. Dari pertemuan malam ini sudah kentara bahwa Loh-hun-kok punya angan-angan untuk menjagoi dan bersimaharaja di Bulim. meskipun orang she Khong mewakili merebut kembali tanda kebesaran kita, tapi entah bagaimana dalam perasaan Losiu, sedikitpun tidak merasa simpati terhadapnya."

Thong-sian taysu menghela napas lalu mohon diri, bersama para muridnya pelan-pelan mereka beranjak pergi tanpa bersuara, pertemuan yang, gegap gempita tadi, kini sudah berubah sunyi dan sepi.

Memang dalam lubuk hati sementara orang amat haru dan senang bahwa kedatangan mereka malam ini tanpa mengeluarkan tenaga tapi adapula sementara orang yang merasa kasihan dan sayang akan nasib Koan San-gwat, mereka sayang karena pemuda gagah seperti Koan San-gwat harus menemui ajal tanpa ada tempat untuk menguburnya.

Angin berlalu pasir pun berterbangan merubah bentuk gundukan pasir yang melebar luas tak berujung pangkal.

Di tengah suara angin ribut dengan selingan pasir berterbangan secara lapat-lapat terdengar suara kelintingan yang nyaring, itulah suara kelintingan di bawah leher unta yang sedang berlari kencang di tengah padang pasir.

Koan San-gwat memeluk punuk untanya tanpa mampu mengeluarkan tenaga.

Dia sudah bertahan selama dua hari, selama dua hari dua malam dia disiksa dalam kesengsaraan dari penderitaan yang luar biasa.

Dia sendiri heran dan tidak habis mengerti bahwa dirinya kuat bertahan sekian lamanya.

Sebab setiap orang yang terkena racun Ui-ho-ciu-ce-sa, tiada yang mampu hidup lewat enam jam.

Sebaliknya dia, kondisi badan yang luar biasa dengan kekuatan batinnya yang menyala-nyala ternyata kuat bertahan dua hari meski disiksa penderitaan yang kelewat batas.

Meski demikian, ia paham bahwa tidak akan luput dari renggutan elmaut yang akan mencabut nyawanya.

Dan saat itu pula dia sedang menuju ke jalan kematian, malah semakin lama semakin dekat pada puncak kematian.

"Oh, guru berbudi! Agaknya aku harus menyia-nyiakan harapanmu, kalah di bawah akal licik sungguh mati pun aku merasa penasaran dan tidak rela. Terpaksa aku menghancurleburkan harapan dan kebesaran namamu, bagaimana aku bisa menentramkan arwahmu di alam baka...."

Dia ingin menyumpah dan sesambatan kepada Tuhan, atau menggembor sekeras-kerasnya untuk melampiaskan rasa penasaran hatinya, tapi tenggorokannya sudah kering merekah karena racun, terpaksa hanya mengumpat caci dan mengeluh di dalam hati.

Tiba-tiba di dalam deru angin kencang didengarnya suara lain yang memburu datang, menurut pengalamannya yang sudah lama bertempat tinggal di daerah gurun pasir, ia tahu itulah suara derap kaki kuda yang dibedal pesat, ada penunggang kuda mengejar datang di belakangnya.

"Siapakah mereka? Apakah orang-orang gagah Bulim yang hendak mengejar dan membunuh aku?"

Demikian pikirnya.

"Lebih baik aku mati tanpa terkubur dengan menjadi mangsa burung elang daripada terjatuh ke tangan mereka. Aku! Generasi kedua dari Bing-tho-ling-cu! Mana boleh menghembuskan napas yang penghabisan di hadapan musuh ...."

Ingin dia mengeprak tunggangannya supaya berlari lebih pesat, tapi tenaga mengangkat jari saja tidak mampu, terpaksa di dalam hati ia mengeluh.

"Ahhh.... sahabat tuaku, ayo lekas lari. Bing-tho-ling-cu II betapapun pantang mati di tangan musuh. Meski aku bakal menjadi generasi terakhir dari Bing-tho Ling-cu...."

Agaknya unta tunggangannya itu dapat mendengar gemboran hatinya ternyata ia kerahkan tenaga larinya lebih pesat dari angin. Timbullah setitik harapan dalam benak Koan San-gwat, diam-diam ia bersyukur.

"Sahabat tuaku, ternyata kau memang pintar, unta sakti tidak mengena usia tua, tenaga baru semangat tetap menyala. Cuma sayang aku tak akan kuasa menemani kau sepanjang masa...."

Setelah lari sekian lamanya akhirnya ia jadi keheranan pula, sebab derap di belakangnya bukan saja ketinggalan semakin jauh malah terdengar semakin dekat, karuan hatinya menjadi gundah dan gugup.

"Ayah sahabat tua, kenapa kau tidak becus lagi, di atas pasir masa kau tidak mampu menandingi kecepatan lari kuda?"

Kecepatan lari unta tetap seperti sedia kala, tapi derap kaki kuda di belakang semakin kencang.

Tanpa terasa ia menghela napas panjang dan gegetun, karena ia mendapati bahwa tunggangannya tidak berlari sepenuh tenaga, maka lamakelamaan terkejar oleh kuda di belakangnya.

Padahal tenaga untuk angkat jari saja tak mampu dikerahkan, bila untanya berlari pesat, goncangan tubuhnya tidak akan terkendalikan lagi, bukan mustahil ia bakal terjungkal jatuh.

"Sahabat tua! Jangan hiraukan aku, betapapun kita pantang jatuh ke tangan musuh .... ...."

Dengan watak kekerasan seekor binatang, si unta mendengus rendah, tetapi kakinya tetap berlari dengan kecepatan sama.

Kuda di belakang itu sudah mengejar dekat, dari punggung kuda tampak melesat sesosok bayangan orang meraih tali kekang yang terikat di besi dan tergigit di mulut unta, leher panjang si unta bergerak berusaha menghindar.

Koan San-gwat yang berada di punggungnya tidak kuasa mengendalikan badannya lalu terjungkal jatuh.

Orang yang berusaha menghentikan lari si unta cepat melompat ke belakang meraih tubuhnya.

Samar-samar di antara sadar tak sadar Koan San-gwat hanya melihat seraut wajah yang putih halus dan seikal rambut panjang yang terkuncir di belakang kepala.

Selanjutnya apa yang terjadi tak diketahui olehnya.

Di kala ia siuman, baru dia tahu bahwa dirinya telah terbaring di tengah padang rumput yang menghijau, di sampingnya terdapat sebuah kolam air, itulah oase, sumber air di padang rumput yang tumbuh subur di tengah padang pasir.

Begitu siuman Koan San-gwat lalu ingin membuktikan apakah dirinya masih hidup atau sudah mati.

Orang yang hidup di gurun pasir semuamengharap dapat menemui ajal di oase, maka begitu ia melihat dirinya ada di padang rumput, ia jadi menganggap bahwa dirinya sudah ajal.

Dengan susah payah ia berusaha menggerakkan badan, tapi seluruh badannya terass sakit dan menderita luar biasa, cuma semangatnya saja yang rada pulih kembali.

Serta merta ia menghela napas, keluhnya.

"Kata orang, bila orang yang sudah mati hilanglah segala penderitaannya, tapi kenapa badanku masih begini sakit....?"

Tiba-tiba di belakangnya seseorang berkata tertawa.

"Orang yang takut melihat setan seumpama mati juga tidak akan mendapatkan tempat yang sentosa."

Dengan kejut Koan San-gwat menoleh, dilihatnya seorang gadis remaja berusia tujuh belasan, mengenakan pakaian gembala, wajahnya bundar putih, biji matanya yang besar hitam dan bening, kuncir rambutnya panjang dan besar, itulah raut wajah yang dilihatnya sekilas sebelum ia jatuh dari atas tunggangannya di padang pasir itu, tanpa disadari ia jadi terlongong sekian lamnnya, katanya tersendat.

"Nona.... sebetulnya aku sekarang masih hidup atau sudah mati?"

Gadis itu membelalakkan matanya yang bundar, semprotnya sambil cemberut.

"Kau sudah mati! Sekarang kau sedang berhadapan dengan setan dan aku inilah setannya!"

Koan San-gwat tertegun dibuatnya, dari sikap dan nada perkataan gadis di hadapannya ini ia tahu orang sedang berkelakar dan menggoda dirinya, maka dengan sendirinya ia sadar bahwa dirinya belum mati, lalu dengan menghela napas ia berkata.

"Hm, nona jangan marah, karena aku terluka parah dan aku anggap diriku tidak tertolong lagi, maka begitulah jalan pikiranku ...."

"Kalau kau telah tahu terluka berat,"

Sempot gadis itu pula dengan uring-uringan.

"Kenapa mendengar kami menyusul kau lari, kami kan bukan rampok, kalau tahu begitu lebih baik kami tidak menolong kau saja."

Terpaksa Koan San-gwat menyengir kecut. Sebetulnya gadis itu marah ingin mengomelinya, tapi mendadak dari samping didengarnya sebuah suara menyela.

"Ah-ceng! Tuan ini terkena racun dalam tubuhnya belum punah seluruhnya. Jangan kau bikin ribut, cuma membuang energi dan tenaganya saja."

Koan San-gwat cuma melihat sebuah bayangam yang samar-samar, mendadak dirasakannya Ling-tay-hiat kena tertutuk dan selanjutnya apapun tidak terlihat lagi, cuma kupingnya lapat-lapat masih mendengar gadis itu bertanya.

"Yah, sebetulnya ia terkena racun jahat apa? masa Siau-toksan mu yang mujarab itu tidak mampu menyembuhkannya?"

Lalu didengarnya pula jawaban seorang laki-laki pertengahan umur.

"Jangan kau banyak tanya lagi, racun macam itu merupakan tantangan bagi dunia pengobatanku, terpaksa kita harus menggotongnya pulang ke gunung, dengan segala daya upayaku, ingin kulihat apakah aku mampu mengendalikan racun semacam itu."

Selanjutnya di antara sadar tak sadar Koan San-gwat seperti merasa badannya terangkat, ingatannya semakin kabur, dan akhirnya tak ingat apa-apa lagi.

0000)0(ooco KHONG BUN-THONG majikan dari Loh-hun-kok di Liok-causan waktu itu mengundang orang-orang gagah kenamaan di seluruh dunia persilatan, di antaranya pada Ciangbunjin dari sembilan Pay dan Para Pangcu dari berbagai Pang yang tersohor untuk menghadiri perayaan hari ulang tahunnya yang ke enam puluh.

Pertemuan besar di gurun pasir pada malam itu kini sudah berselang tiga tahun....

Berkat kelicikan Khong Bun-ki yang berhasil meracuni Koan San-gwat murid tunggal Bing-tho-ling-cu akhirnya seluruh golongan dan aliran yang hadir dapat mengambil balik tanda kebesaran mereka masing-masing, untuk ini mau tidak mau nama Liok-cau-san makin menonjol dan menempatkan darinya pada kedudukan tertinggi sebagai datuk persilatan.

Liok-cau-san semula tidak pernah diperhatikan khalayak ramai, dalam jangka tiga tahun itu menjadi ramai, orangorang gagah dari berbagai aliran berkunjung.

Terutama Kimsa-pocu Kok Liang dan beberapa golongan yang berdiri tunggal serta para guru silat punya huhungan yang sangat akrab dengan mereka.

Soalnya tenaga serta wibawa mereka di kalangan Kangouw sudah pudar, tak mungkin membuka lembaran sejarah yang gilang gemilang.

Dengan rasa kepercayaan yang menjadi landasan hidup berdampingan begi kaum persilatan, apalagi murid mereka sering membuat onar dan bikin ribut di luaran, mereka tidak angkat senjata dan mandah dihina dan terima nasib melulu, karena kondisi yang buruk ini mau tidak mau mereka menjilat ke pihak Liok-cau-san, paling juga ingin gagah-gagahan dan unjuk garang saja.

Sementara Ciangbunjin dan berbagai Pay dan Pang besar, mengingat budi Khong Bun-ki dahulu karena sungkan lalu mengalah terhadap Liok-cau-san, setiap kali timbul pertikaian, asal salah seorang dari keluarga Khong unjuk diri untuk menyelesaikan urusan itu, kedua belah pihak pasti memberi muka dan anggap perkara itu tidak pernah terjadi.

Selama tiga tahun mendatang ini, pihak Liok-cau-san sangat aktif di kalangan Kangouw.

Kaki tangan mereka semakin tersebar luas di mana-mana.

Secara terbuka merekapun anggap sebagai pimpinan tertinggi saja.

Nama, gengsi dan perbawa mereka jadi semakin menonjol dan besar.

Hari ulang tahun keenam puluh majikan Loh-hun-kok Khong Bun-thong merupakan salah satu peristiwa besar dalam kalangan Kangouw tahun ini, setengah tahun sebelumnya mereka sudah menyebar luas undangan.

Sudah tentu para Ciangbunjin atau Pangcu dari berbagai golongan dan aliran itu sama tahu bahwa dalam perayaan hari ulang tahun itu, pihak Liok-cau-san pasti mempertunjukkan sesuatu permainan yang bakal mengggemparkan.

Tapi karena soal muka serta gengsi, seumpama mereka sendiri tidak sudi datang, terpaksa harus mengurus anak muridnya sebagai wakil menyampaikan selamat hari ulang tahun.

Perayaan ulang tahun terjadi pada tanggal tujuh belas bulan sembilan, pada tanggal enam belas, para tamu yang diundang sudah datang, Liok-hun -kok di Liok-cau-san yang biasanya sepi kini jadi ramai, dimana-mana didirikan barakbarak darurat yang penuh sesak dihuni para tamu-tamu yang berdatangan, mereka makan minum sepuasnya tak mengenal waktu, agaknya banyak di antara mereka yang siap untuk berpesta pora semalam suntuk.

Mereka makan minum jor-joran.

Banyak tamu jadi sinting dan mabok.

Begitulah keadaan Kim-sa-pocu Kok Liang, mukanya merah padam, biji matanya mendadak menyala, dengan sempoyongan ia berdiri dan mengeluarkan suara bagai bunyi genta, teriaknya.

"Para Losu dan sahabat sekalian, tiga tahun yang silam Khong-ji sianseng dengan secangkir arak beracun berhasil menundukkan Bing-tho-ling-cu sehingga kita berhasil memperoleh kembali tanda kebesaran masingmasing, budi yang luhur ini, seluruh sahabat Kangouw tidak ada seorangpun yang tidak merasa berterima kasih ...."

Ucapannya ini terlalu menusuk perasaan. Kontan hadirin merasa kurang senang, agaknya Kok Liang menyadari omongannya tidak berkenan di hati mereka, cepat ia melanjutkan.

"Pertemuan hari itu, meski Tokko Bing sudah mampus, tetapi murid tunggalnya Koan San-gwat ternyata membekal kepandaian yang tiada taranya, jikalau kalian mengandal tenaga dan kepandaian sendiri, siapa pula yang bakal bisa mengalahkan dia!"

Ucapannya ini memang kenyataan, orang-orang yang kurang senang ini mau tidak mau harus menelan rasa penasaran mereka.

Setelah menanti sebentar melihat tiada orang yang menyanggah pertanyaannya, Kok Liang lantas mengunjuk sikap gagah-gagahan, serunya.

"Besok adalah hari ulang tahun Khong Kokcu, kami sudah menyiapkan kado untuk mewakili seluruh sahabat Kangouw untuk menyatakan hormat dan kagum kepada beliau."

Habis berkata ia memberi tanda keluar, segera dua orang laki-laki menjunjung sebuah pigura besar yang bercat kuning emas, di atas pigura ini ada diukir lima huruf besar dengan cat emas yang berbunyi "Thian-he-te-it-keh."

"Thian-he-te-it-keh"

Berarti keluarga nomor satu di seluruh kolong langit. Tanpa menanti reaksi orang banyak, cepat-cepat Kok Liang menambahkan.

"Thian-he-te-it-keh, kukira cuma keluarca Khong dari Loh-hun-kok ini yang pantas mendapatkannya, sekarang aku harap tuan rumah suka menerima kado ini."

Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi yang duduk di sebelah Sim-sian Taysu yang mewakili Siau-lim-si tak tahan lagi segera ia berjingkrak bangun, serunya.

"Sungguh tak masuk akal dan tidak punya aturan! Kalau kita diamkan saja keparat ini menganugerahkan pigura itu berarti kami semua sama mengakui bahwa dia memang Thian-he-te-it-keh. Apakah kelima nama ini dapat begitu gampang diperoleh?"

Sim-sian adalah Suheng Thong-sian Taysu, usianya pun lebih tua dari Thong-sian, cuma kepandaiannya sedikit asor, tapi dia merupakan jago nomor dua dari dari Siau-lim-pay, cuma dia rada rikuh untuk menyatakan pendapatnya terpaksa dia tarik baju Lu Bu-wi serta katanya.

"Lu-ciangbunjin harap sabar, perbuatan Kok Liang ini meski harus dicela, tapi kukira ucapannya itu pasti punya alasannya sendiri, tiga tahun yang lalu jikalau Khong Bun-ki kalah bertanding, maka Ling-hu atau tanda kebesaran dari berbagai golongan dan aliran tidak akan begitu mudah diperoleh kembali."

Tapi Lu Bu-wi tidak ambil perduli, katanya.

"Dalam keadaan yang memalukan itu meski mendapatkan kembali Ling-hu kami, sebenarnya aku lebih rela milikku itu masih tetap berada di tangan Bing-tho-ling-cu."

Sim-sian Taysu menggeleng kepala, ujarnya.

"Meski kemenangan Khong Bun-ki kurang layak dan tidak bisa dibanggakan, tapi dari jarak yang jauh dapat mendidihkan arak sehingga menguap kering, memanaskan arak mencampur racun, dalam hal latihan dan kesempurnaan pelajaran silat secara kenyataan memang sudah teramat hebat dan sangat mengejutkan sekali."

Lu Bu-wi menjadi keheranan, tanyanya.

"Siau-lim-pay sebagai aliran yang paling diagungkan dan dijunjung tinggi oleh kaum persilatan, apakah Taysu juga mengakui bahwa keluarga Khong merupakan keluarga nomor wahid di seluruh jagat?"

"Orang beribadat seperti kami sudah lepas dari kehidupan duniawi, tidak mengejar nama dan gengsi, menurut pendapat kami siapa pun yang mendapat gelar Thian-he-te-it-keh tiada menjadi soal, cuma kurasa keluarga Khong tidak akan puas melulu mendapat gelar dan simbol yang kosong."

"Mereka mau apa lagi? masakan kita harus bertekuk lutut terhadap mereka?"

Alis Sim-sim Taysu berkerut semakin dalam, katanya menghela napas.

"Kalau hanya bertekuk lutut dan patuh karena perintah sih lumayan, dunia bakal aman dan tenteram, untuk itu Pinceng tidak merasa...."

Lu Bu-wi jadi patah semangat mendengar uraian Si Hwesio tua ini, ia rasakan orang terlalu lemah dan gampang terpengaruh.

Tetapi tatkala itu Khong Bun-thong tuan rumah yang merayakan hari ulang tahun itu sedang cengar-cengir melangkah ke tengah siap menerima pigura besar itu, dari barak-barak sekitarnya sudah terdengar tepuk tangan.

Khong Bun-thong tidak perduli sambutan tepuk tangan itu hanya sebagian kecil kaki tangannya belaka, serunya sambil tersenyum lebar, katanya.

"Budi kebaikan Kok-heng bagaimana juga sungguh aku tidak berani terima. Tiga tahun yang lalu adikku cuma sedikit menyumbaang tenaganya, masa mengandal kepandaian yang tak berarti itu kami berani menempatkan diri sebagai keluarga agung nomor satu di seluruh jagat, maka harap pigura sumbangan Kok-heng ini dianugerahkan kepada tokoh kosen yang sesuai saja."

Kok Liang mengulur leher mengeraskan suara, serunya.

"Pada jaman sekarang ini, tokoh kosen mana yang bisa dibanding dan lebih kosen dari Khong-kokcu?"

"Bukan begitu persoalannya,"

Ujar Khong Bun-thong.

"Aku sendiri tidak berani mengakui sebagai seorang kosen, kukira orang lain pun tidak akan berani sembarangan mengakui dirinya orang kosen, kalau tidak percaya coba Kok-heng lihat air muka para sahabat yang hadir."

Kok Liang berpaling dan menjelajahkan pandangannya ke segenap penjuru, memang dilihatnya rona wajah banyak orang menunjukkan rasa kurang senang dan penasaran, kecuali pihak Siau-lim-pay, para Ciangbunjin atau wakil lain sembilan partai besar lainnya sama mengunjuk tawa dingin dan mengejek.

Kok Liang jadi serba runyam, tapi segera berteriak lantang.

"Bila siapa yang tidak menyetujui pandanganku ini, maka dia hanya manusia kerdil yang tidak mengenal budi kebaikan."

Ucapannya ini terlalu berat.

Baru saja lenyap suaranya, hampir berbareng ada lima orang menekan meja bergegas berdiri, terutama Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi tidak tahan lagi, bentaknya dengan suara berat.

"Oranng she Kok, Kau ini manusia apa berani bertingkah dan main gembar-gembor dihadapan sekian banyak orang-orang gagah!"

Baru saja Kok Liang hendak balas memaki keburu Khong Bun-thong turun tangan mencegah, ujarnya.

"Para saudara demi ikut menghadiri hari ulang tahunku sam berkunjung ke Liok-cau-san, untuk ini aku sudah merasa bersyukur dan berterimakasih, jarang sekali karena urusan kecil sampai timbul pertikaian merusak persahabatan, mari ku persembahkan secangkir arak untuk menyatakan rasa terima kasih kami."

Lalu ia bertepuk tangan berbareng berteriak dengan suara lantang.

"Bawa arak kemari."

Dari luar barak sana segera mendatangi empat laki-laki besar, dengan pikulan mereka sama menggotong sebuah guci arak yang besar sekali, tinggi guci itu kira-kira ada tiga kaki, panjang perutnya yang gendut itu ada sembilan kaki, dengan dipikul empat orang kelihatan masih terasa berat, maka dapatlah dibayangkan betapa berat seluruh arak di dalam guci itu.

Guci itu baru diletakkan setelah tiba di sampingnya, dua orang diantaranya bekerja sama membuka tutupnya, benar juga di dalamnya terisi arak yang bagus, sambil tersenyum lebar, Khong Bun-thong memegangi kedua pinggir guci besar itu, katanya.

"Karena hadirin terlalu banyak, terpaksa kugunakan cara yang paling praktis saja untuk menyuguhkan arak ini."

Bertepatan dengan lenyapnya suaranya, arak dalam guci itu mendadak menyemprot keluar seperti sebuah tonggak besar melambung tinggi dua tombak, lalu di tengah udara seperti meledak berpencar ke empat penjuru menjadi titik-titik bintang bertaburan.

Maka di lain saat terdengarlah suara tak tik, itulah hujan tetesan arak yang masuk ke dalam cangkir.

Seluruh hadirin sama mengeluarkan seruan heran dan kagum, ada pula yang menghela napas, sebab sekejap saja cangkir setiap hadirin sama sudah terisi penuh arak, persis rata dengan mulut cangkir, tidak sampai luber.

Permainan Khong Bun-thong menunjukkan bahwa Lwekangnya sudah mencapai tingkat paling sempurna.

Sekaligus ia sudah menunjukkan tiga macam permainan yang sulit dilakukan.

Pertama arak yang dia tebarkan menggunakan Lwekangnya cuma persis mengisi secangkir semua hadirin.

Apalagi duduk para tamunya itu terpencar lebar, meja yang mereka tempati selain berisi bermacam-macam makanan masih banyak tempat luang, tapi setetespun tidak ada yang tercecer di luar.

Kedua, bahwa cangkir sementara orang masih ada sedikit sisa arak, tapi dia dapat mengisi cukup sampai cangkir itu menjadi penuh saja, isi dari setiap cangkir itu sama rata dengan mulut cangkir.

Ketiga, dengan cara menebarkan arak ke tengah udara untuk mengisi arak ini, sekaligus ia kerjakan terhadap ribuan tamu yang hadir dalam berbagai barak yang terpencar luas, tapi tiada satupun yang ketinggalan.

Kim-sa-pocu yang memang bersifat penjilat itu mendahului bertepuk tangan sekeras-kerasnya, mau tidak mau hadirin yang lain juga ikut bertepuk tangan bahkan kagum, maka tepuk tangan kali menjadi amat ramai dan lama sekali.

Terbayang senyum puas dan rasa bangga pada wajah Khong Bun-thong, cepat ia lepas pegangannya terus angkat tangan bersoja ke empat penjuru, berulang kali mulutnya mengucapkan kata-kata merendah, lekas-lekas Kok Liang menjinjing lagi pigura besar itu terus diangsurkan ke hadapannya, katanya.

"Kepandaian silat dan sastra Khong Kokcu tak ada bandingannya di dunia ini, maka pigura ini sudah selayaknya kami persembahkan...."

Kali ini tak ada seorangpun yang berani menentang, Lu Buwi jadi lesu dan patah semangat, tapi dalam hati ia masih uring-uringan tapi pertunjukan kepandaian Khong Bun-thong benar-benar sudah menciutkan nyali, sehingga ia tidak berani banyak bercuit lagi.

Khong Bun-thong sengaja pura-pura sangsi dan menolak, tapi setelah melihat tak ada orang yang menantang lagi, dengan cengar-cengir ia mengulur tangan menerima, katanya.

"Banyak terima kasih akan anugrah yang sangat besar artinya ini."

Dengan diterimanya pigura itu berarti semua hadirin diamdiam sudah mengakui bahwa keluarga Khong merupakan Thian-he-te-it-keh, dengan mendapat anugerah yang memang sudah lama dicita-citakan, sudah tentu Khong bun-thong teramat senang, katanya.

"Inilah anugrah dari para orang gagah yang hadir hari ini, kalian harus hati-hati, serahkan kepada Jikong-cu untuk disimpan."

Orang-orang itu mengiyakan, baru saja mereka hendak bergerak, dari samping sana muncullah Khong Bun-ki yang tetap mengenakan pakaian sastrawan, katanya sambil berseri tawa.

"Toako! Sekarang sudah lewat tengah malam, sudah tibalah saat upacara hari ulang tahunmu. Menurut pendapatku, lebih baik gantung saja pigura itu di samping pendopo ini, kurasa lebih serasi dan cocok dengan keadaan."

"Jangan!"

Sahut Khong Bun-thong menggeleng.

"Cara ini kurasa terlalu takabur!"

"Tidak, tidak!"

Tersipu-sipu Kok Liang lantas bicara.

"Cuma pendopo upacara Kokcu yang cocok untuk menempatkan pigura ini, kuharap cepatlah Ji-kokcu menggantungkannya di sana, kami ingin segera menyampaikan selamat panjang umur."

Khong Bun-ki tertawa ringan, sebelah tangannya menyanggah bagian bawah pigura terus disendal ke atas, kontan pigura itu terbang ke atas melampaui kepala para hadirin dan tepat jatuh di atas belandar besar di atas pojok pendopo.

Di atas belandar mungkin sudah disediakan tempatnya, sehingga pigura itu tepat sekali menempel di dinding, di lain saat cepat sekali ke empat laki-laki ini sama mengayun sebelah tangan menimpukkan sebatang paku panjang yang gemerlapan, masing-masing melesat ke empat pojok pigura itu dan tepat sekali memanteknya di atas sana.

Hadirin sekali lagi bertepuk tangan lebih keras dan gegap gempita.

Cuma Lu Bu-wi dengan rasa penasaran menggerutu.

"Terang sekali semua ini sudah dipersiapkan sebelumnya...."

Sim-sian Taysu menarik bajunya, ia beri tanda supaya orang tidak terlalu banyak kata. Terdengarlah Kok Liang mendahului berteriak.

"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Ayo, harap tuan rumah menempati tempat duduknya."

Segera Khong Bun-ki mendorong Khong Bun-thong berdiri di bawah pigura, seorang protokol segera mengumrumkan upacara dimulai.

Maka beramai-ramai para hadirin banngun berdiri, ada yang suka rela dan senang hati, tapi ada pula yang terpaksa, tapi mereka sama membungkuk diri menjura kepada Khong Bun-thong.

Khong Bun-thong tersenyum lebar, mulutnya terbuka lebar, katanya.

"Terima kasih, mana aku berani terima penghormatan besar ini."

Sambil balas menghormat dengan membungkuk-bungkuk badan, tapi waktu dia angkat kepala, tiba-tiba dilihatnya para hadirin berdiri melongo dan terbelalak mengawasi pigura di atas kepalanya, cepat ia pun mendongak melihat ke atas, kontan ia berjingkrak kaget dan hampir saja ia berteriak terkejut.

Ternyata di tengah antara kelima huruf besar di atas pigura yang berbunyi "Thian-he-te-it-keh itu kini bertambah dua huruf kecil berwarna putih yang menyolok sekali, bunyinya.

"Thian-he-te-it-bing-tho-keh." (Keluarga unta sakti nomor satu di seluruh jagat). Sekian lama Khong bun-thong keheranan dan tidak habis mengerti, akhirnya air mukanya menjadi gelap dan merah padam. Serunya lantang dengan amarah yang meluap-luap.

"Sahabat manakah yang mencari gara-gara?"

Beruntun ia berkaok-kaok sampai empat kalitanpa ada reaksi apa-apa. Dengan suara lebih lantang menandakan amarah yang semakin memuncak ia berteriak lagi.

"Hari ini adalah ulang tahunku, dengan hati tulus dan sejujurnya kami undang para sahabat Kangouw untuk ikut menikmati secangkir arak, tidak lebih hanya ingin berkenalan dengan orang-orang gagah seluruh dunia yang berkumpul hari ini, kalau mau menyampaikan selamat sebetulnyalah aku tidak berani terima, bahwa kalian sudah hadir dalam perjamuan ini berarti memberi muka kepadaku, tapi entah siapa dengan cara yang memalukan mempermainkan aku, sungguh memalukan dan menghina keluar batas."

Setelah berkata mukanya semakin membesi hijau, tapi keadaan masih tetap tenang dan sunyi.

Selang sejenak, mendadak dari tempat yang agak jauh terdengarlah gelak tawa berkumandang, nada gelak tawa ini mengandung nada menghina dan mencemooh.

Serempak pandangan semua hadirin ditujukan ke arah datangnya gelak tawa, tampak di barak sebelah timur seorang laki-laki pertengahan umur berpakaian seperti gembala di luar perbatasan dengan perawakan tubuhnya yang kekar sedang berdiri bertolak pinggang di atas meja, mukanya rada asing dan belum dikenal, apalagi tempat duduk sebelah timur sana disediakan bagi golongan kelas dua, maka hadirin heran dan kaget bahwa orang ini berani bertingkah begitu kasar dan menghina kepada Khong Bun-thong.

Sambil memicingkan mata, Khong Bun thong mendesis berkata.

"Kawan ini siapa dan siapa namamu?"

Orang itu lalu tertawa tawar, sahutnya.

"Aku yang rendah Thio Hun-cu, bertempat tinggal di Thian-san utara tidak lebih cuma seorang keroco kelas rendah saja."

Sekian saat Khong Bun-thong mengamatinya, tapi ia tidak berhasil menemukan asal-usul orang ini, akhirnya dengan menarik muka ia menjengek.

"Apa maksud gelak tawa sahabat Thio tadi?"

Thio Hun-cu menengadah terkekeh dua kali, ujarnya.

"Untuk ini harus tanya kepada dirimu sendiri. Tadi sudah mengudal mulut membuat sebuah cerita bohong yang mengelabui orang banyak, kedengarannya memang cukup mengasyikan den mengetuk hati semua orang, tapi apa pula maksud tindakan rahasia saudara?"

Berubah hebat air mukanye Khong Bun-thong, matanya menyorot sinar bengis dan buas, teriaknya beringas.

"Kawan Thio! Hari ini adalah hari baikku, bahwasanya aku tidak akan membuat salah kepada pare sahabat, tapi sepak terjang saudara tadi agaknya memang sengaja memaksa aku orang she Khong untuk bertindak tidak mengenal kasihan lagi."

"Khong-kokcu!"

Seru Thio Hun-cu terloroh-loroh.

"Tepat sekali ucapanmu! Hari ini memang hari baikmu, sebab bukan saja hari ini hari ulang tahunmu, tapi juga merupakan hari besar dimana kau dapat mengekang dan menindas kaum persilatan serta menjagoi seluruh jagat ....

"Pembual!"

Hardik Khong Bun-thong dengan amarah yang meluap-luap.

"Meski pigura itu pemberian dari para sahabat Kang-ouw tapi aku sendiri masih ragu-ragu apakah aku orang she Khong sembabat mendapatkan simbol itu."

"Tapi di bawah ancaman dan tekanan jiwa, siapa yang berani membangkang dan tidak mendengar perintahmu?"

Jengek Thio Hura-cu iambi"

Tersenyum.

Rona wajah Kong Bun-thong berubah lebih jelek, sinar matanya mengandung hawa membunuh yang tebal, terutama KhOng Bun-ki yang berada di belakangnya sudah tidak bisa menahan gejolak hatinya, sambil menghardik tubuhnya berkelebat maju sambil angkat tangannya menyerang, mulutnya pun memaki keras.

"Bedebah berani mengacau perayaan hari ulang tahun Toakoku, sudah bosan hidup ya....?"

Tangan kiri mengacungkan dua jari menotok dada Thio Hun-cu, tipu yang digunakan cukup ganas dan keji, tapi Thio Hun-cu yang tidak ternama cukup menurunkan pundak dan menekuk lutut dengan mudah meluputkan diri.

Karuan tercekat hati Khong Bun-ki, cepat kedua telapak tangannya bergerak bersama dari kiri kanan mengatuk ke tengah berbareng ia menepuk pula satu kali, jurus serangan ke dua ini jauh lebih berbahaya dan telengas, seolah-olah saking gemasnya ia ingin sekali pukul membikin mampus lawannya.

Kelihatannya Thio Hun-cu sulit terhindar dari mara bahaya, sebab serangan tangan Khong Bun-ki itu di sebelah atas menepuk Thay-yang-hiat sedang bagian tengah mencengkeram lambungnya, betapapun ia dapat mengkerutkan tubuhnya menjadi anak kecil juga tak akan luput dari rangsakan hebat ini.

Akan tetapi di saat semua orang menjerit kaget den kuatir itu, tampak badan Thio Hun-cu mendadak berputar seperti gangsingan cepatnya, sekonyong-konyong badan yang berputar kencang itu menerjang ke arah Khong Bun-ki, maka terdengarlah benturan keras, entah dengan cara apa tahutahu badan Khong Bun-ki yang meluncur ke depan ini ditolak mundur sempoyongan lima enam tindak, lengan kanannya lemas semampai tidak bergerak lagi, agaknya terluka oleh serangan musuh.

Maka terdengarlah dengus rendah Khong Bun-thong.

Tibatiba telapak tangannya terayun menepuk ke punggung Thio Hun-cu, luncuran telapak tangannya keras tapi tidak memperdengarkan suara.

Seolah-olah Thio Hun-cu tidak bersiaga, setelah telapak tangan memukul tiba baru ia berjingkrak kaget, tapi sudah terlambat.

Kontan ia tersuruk maju beberapa langkah oleh tenaga pukulan yang hebat itu.

Tapi kepandaian orang ini agaknya tidak lemah, di luar dugaan semua hadirin, setelah kena dibokong oleh pukulan telak Khong Bun-thong, ternyata sedikitpun dia tidak terluka, begitu menggeliatkan pinggang di lain saat ia sudah dapat berdiri tegak pula, pelan-pelan ia membalik badan serta tersenyum, katanya kepada Khong Bun-thong.

"Orang she Khong, ingat akan pukulanmu ini, nanti pasti akan kubalas sekali pukul kepada kau, tapi dalam melancarkan pukulanku, kulakukan secara terang gamblang, tidak akan kulancarkan secara membokong seperti perbuatanmu yang rendah dan hina ini."

Muka Khong Bun-thong jadi merah padam karena sindiran ini, di samping itu hatinya pun kaget bukan kepalang, baru sekarang ia insyaf bahwa lawannya bukan sembarang tokoh, karena dapat menerima pukulan tangannya, padahal jarang ada musuh yang mampu menerima genjotan lima bagian tenaganya, sungguh ia tidak mau percaya bahwa di dunia ini ada manusia sekebal ini.

Bahwasanya nama Loh-hun-kok baru tiga tahun ini menonjol di kalangan Kangouw tapi sebenarnya jauh pada dua puluh tahun yang lalu, mereka punya angan-angan untuk merajai dunia persilatan, setiap tokoh kosen persilatan sudah mereka selidiki dengan sempurna, hasilnya mereka menganggap bahwa itu tidak lebih cuma kelas kambing belaka, meski diantaranya membekal kepandaian asli yang murni dari perguruan masing-masing, tapi masih jauh bila dibandingkan Kungfunya, maka ia merasa puas akan bekal sendiri dan bersiap melakukan suatu tindakan yang menggemparkan.

Tak nyana mendadak muncullah Bing tholing-cu Tokko Bing dalam suatu partandingan yang tidak menyenangkan, sehingga ia kena dikalahkan habis-habisan terpaksa ia harus pendam dulu angan-angan besarnya, menyemhunyikan diri giat memperdalam ilmu.

Tunggu punya tunggu ternyata sampai dua puluh tahun.

Pertemuan dipariang pasir itu dulu sebetulnya iapun ikut hadir, tapi karena takut terjungkal lagi dan malu di hadapan sekian banyak orang, terpaksa ia menyamar dan menyuruh adiknya yang menjadi wakilnya.

Sebuah berita yang membuat semangatnya terbangkit adalah bahwa Tokko Bing sudah meninggal, tapi murid tunggalnya Koan San-gwat ternyata juga bukan main hebatnya dalam segala hal agaknya tidak kalah dibandingkan dengan Tokko Bing dua puluh tahun yang lalu.

Tapi betapapun pemuda ini masih berusia muda cetek pengalaman dan pengetahuan.

maka akhirnya ia terjungkal dalam tipu daya dengan menenggak habis arak yang dicampuri racun jahat, sejak saat itu kemenangan yang tidak tersangka-sangka itu sekaligus telah menjunjung tinggi gengsi dan membuat nama Loh-hun-kok menjulang tiada bandingannya.

Dengan segala daya upaya Khong Bun-thong juga selama tiga tahun ini menghimpun diri memupuk kekuatan, kebetulan meminjam hari ulang tahunnya yang keenam puluh, kesempatan ini hendak ia gunakan untuk mengangkat diri dan mengumumkan kepada dunia, demi mencapai cita-cita dan ambisinya yang luar biasa.

Sungguh di luar tahunya pula bahwa di tengah jalan usahanya ini kena dijegal pula dengan munculnya Thio Hun-cu yang kurang dikenal namanya.

Beberapa patah kata Thio Hun-cu hakikatnya telah menggerakkan akal dan perbuatan liciknya.

Sekaligus telah merusak nama baiknya pula, banyak diantara hadirin yang merasa kurang senang dengan segala sepak terjangnya tadi, kalau hari ini tidak melenyapkan keparat ini, selanjutnya tidak ada muka baginya bercokol lagi....

....

Sesaat lamanya termenung, lalu akhirnya Khong Bun-thong berkata sinis.

"Kepandaian saudara sungguh membuat hatiku takluk. Dengan kepandaianmu tidak sulit angkat nama di Bulim, tapi kenapa kau sengaja mengacau dalam perayaan hari ulang tahunku ini....?"

Thio Hun-cu tertawa dingin jengeknya.

"Meski pun aku punya kepandaian silat tapi cuma untuk menyehatkan badan saja, tiada pikiran untuk angkat nama atau junjung gengsi segala. Hari ini karena terpaksa baru aku mencari perkara kepada kau. Sebetulnya aku tak ingin terjadi bahwa hari ulang tahunmu menjadi hawa kematian sekian banyak tokoh-tokoh Bulim yang hadir dalam pertemuanmu ini."

Berubah air muka Khong Bun-thong hardiknya dengan bengis.

"Kau membual apa lagi?"

"Hatimu sendiri kan paham,"

Jengek Thio Hun-cu.

"Permainan menyuguh arak yang sudah kau campuri Ui-heciu-ce-sa masakah dapat menundukkan sekian banyak orang supaya mendengar perintahmu, seumpama racunmu dapat membikin dua tiga orang mampus, semangat juang dan jiwa kesatria golongan persilatan tidak akan begitu mudah kau ancam dan kau kuasai."

Seketika seluruh hadirin menjadi ribut mendengar kata-kata Thio Hun-cu ini, mimpi juga mereka tak menduga bahwa Khong Bun-thong telah mencampuri racun di dalam araknya.

Ciong-lam Ciangbunjin Lu Bu-wi yang sejak semula sudah sirik terhadapnya, sekarang tak kuasa menahan amarahnya lagi, segera ia melompat menuding Khong Bun-thong, teriaknya.

"Khong Bun-thong! Bangsat kurcaci macammu ini berani melakukan perbuatan keji yang memalukan...."

Melihat Thio Hun-cu sudah membongkar rencana kejinya, lebih kaget Khong Bun-thong dibuatnya, cuma ia berlaku tenang, terpaksa ia bertindak nekad, jengeknya.

"Lu-heng jangan mengumbar nafsu, racun itu tidak bakal mencabut nyawamu dalam waktu dekat dekat, nanti tentu dapat kuberi obat pemunahnya. Tapi bila kau marah-marah dan mengumbar adatmu, bila kadar racunnya bekerja, itu menjadi resikomu sendiri."

Secara tidak langsung ucapannya terus mengakui bahwa araknya memang dicampur racun, karuan hadirin berjingkrak gusar, yang beradat kadar malah membalikkan meja dan memukul hancur semua perabotnya, berbondong-bondong mereka merubung maju mengurung Khong Bun-thong, ingin rasanya mereka membuat perhitungan dan adu jiwa.

Tapi Khong Bun-thong tidak terpengaruh akan keadaan, sikapnya tetap tenang, sementara Khong Bun-ki sambil menahan sakit berdiri di belakangnya siap dan waspada, di samping itu banyak pula orang-orang Kangouw yang punya haluan suka menjilat.

Meski dirinya terkena racun tapi masih rela berdiri di pihak Loh-hun-kok.

Mereka jadi sama berhadapan saling pelotot dan ancam seperti ayam aduan.

Thio Hun-cu yang menjadi gara-gara semua keributan ini malah terhimpit ke samping tapi dengan sikap acuh tak acuh dia berkata kepada Lu Bu-wi.

"Lu Ciangbunjin! Memang lebih baik kau jangan mengumbar adat, kalau tidak kau akan terima akibatmu sendiri...."

Bahna gusarnya Lu Bu-wi jadi tidak pandang bulu lagi, semprotnya dengan gusar.

"Kaupun bukan manusia baik-baik, kalau kau sudah tahu dalam arak dicampuri racun, kenapa tidak sejak tadi kau bongkar kelicikannya, kau mandah saja melihat kita ditipu mentah-mentah!"

Thio Hun-cu cengar-cengir, lalu katanya.

"Kurasa tidak perlu, karena kalian tidak terancam jiwanya.Sebetulnya Khong Bun-thong tidak punya maksud mencelakai jiwa kalian, cuma bertidak mengekang dan mengancam supaya kalian suka dengar perintah dan rela jadi kaki tangannya. Dia sendiri sudah menyiapkan obat pemunahnya, tapi obat itu cuma dapat menekan kadar racun supaya tidak kumat dalam tubuh kalian, setiap setengah tahun harus minum obat pemunahnya sekali. Jikalau kalian masih ingin hidup, harus tunduk dan patuh akan semua kehendaknya...."

"Kentut!!!!"

Maki Lu Bu-wi.

"Meski harus mengadu jiwa sampai mati, masa kami mandah kena digencet dan bertekuk lutut padanya!"

"Ciangbunjin terlalu mengecil artikan nyawamu sendiri,"

Ujar Thio Hun-cu tersenyum sinis.

"Kalian adalah kesatria gagah dan tunas harapan Bulim pada masa kini, masa begitu gampang harus mengorbankan jiwa, celaka kalau situasi dunia selanjutnya bakal terjatuh ke dalam kekuasaan keluarga Khong yang lalim ini...."

"Kau sendiri sebenarnya termasuk aliran yang mana?"

Semprot Lu Bu-wi lebih gusar.

"Kenapa bicara plintat-plintut tak punya pendirian, apa kau ingin kami tunduk dan bertekuk lutut padanya?!"

"Bicara mengenai hati nurani aku berdiri di pihak kalian, sebab aku mengutamakan hati yang lapang dan jujur bijaksana, tapi dalam sepak terjang.... aku berdiri di pihaknya, kaum persilatan malang melintang di Kangouw kecuali ilmu silat harus pula menggunakan otak dan pikiran, mana boleh seperti kalian begini tidak becus, begitu mudah dikerjai orang."

"Bohong! apakah kau sendiri tidak minum arak tadi?"

Teriak Lu Bu-wi pula lebih murka.

"Lain aku lain kalian,"

Sahut Thio Hun-cu kalem.

"Aku sudah tahu ada racun tapi sengaja aku minum juga arak itu."

Lu Bu-wi jadi melengak heran, tanyanya.

"Kau sengaja minum arak yang dicampuri racun!?"

"Tidak salah! Aku memang sengaja meminumnya, ingin kulihat kecuali mati atau bertekuk lutut apakah masih ada jalan ketiga untuk kupilih."

Berputar biji mata Khong Bun-thong, selanya dingin.

"Terhadap kau! Cuma satu jalan saja, yaitu kematian! Orang macammu ini kalau hidup terlalu lama tentu sangat berbahaya, umpama kau mau tundukpun aku tidak akan mengampuni kau!"

Mendadak Thio Hun-cu bergelak tawa, ujarnya.

"Jangan kau mimpi! Tiga tahun yang lalu aku pernah menelan Ui-hociu-ce-sa, kenyataannya aku tidak mati keracunan, kalau hari ini kau hendak membunuhku, gunakan dengan cara yang gemilang, selesaikan dengan kepandaian silatmu."

"Tiga tahun yang lalu...."

Seru Khong Bun-thong terkejut.

"Lalu kau ini adalah...."

Di tengah gelak tawa Thio Hun-cu yang berkumandang nyaring, tiba-tiba ia copot topi kepalanya, telapak tangannya mengusap raut mukanya beberapa kali, mencabut jenggot palsu di tengah dagunya sekejap saja kini ia sudah berubah jadi seorang pemuda yang bersikap gagah dengan semangat menyala-nyala.

Seketika terdengar seruan kaget dari berbagai penjuru, tanpa berjanji mereka sama berteriak.

"Koan San-gwat!"

Masih segar da1am ingatan mereka, pemuda di hadapan ini bukan lain adalah pemuda yang menunggang unta sakti di padang pasir dulu dan mengaku sebagai murid tunggal Bingtho-ling-cu tiga tahun yang lalu itu.

Waktu itu dia terkena racun lalu melarikan diri ditelan tabir malam di tengah gurun, semua orang anggap jiwanya pasti sudah melayang, ada sementara orang merasa kasihan dan sayang akan kematiannya itu.

Sungguh tidak dinyana, kini pemuda muncul pula di hadapan mereka secara aneh dan mengejutkan.

Koan San-gwat tertawa lantang, jarinya menuding ke arah pigura yang telah ia ganti huruf-hurufnya, serunya.

"Thian-hete-it-bing-tho-keh! Harap kalian sama ingat, asal suatu hari mampus, keempat huruf Thian-he-te-it-keh itu, jangan harap bakal terjatuh di atas kepala orang lain!"

Laksana naga sakti saja Koan San-gwat mendadak muncul dalam keadaan yang sangat kritis ini, mengeluarkan pernyataan yang takabur dan gagah lagi, kontan semua hadirin sama terpengaruh oleh perbawanya, seluruh hadirin jadi bungkam dan sunyi merayap, tidak seorangpun berani mengeluarkan suara.

Memang dia setimpal menerima anugerah ini, jangan kata Tokko Bing pernah menundukkan dunia.

kepandaian silat yang diunjukkan di pertemuan di padang pasir itupun tiada tandingannya.

Malam itu jikalau Khong Bun-ki tidak menggunakan akal liciknya sehingga keracunan, siapapun tidak berani membayangkau betapa akibatnya.

Tapi kenyataan bocah ini memang panjang umur, setelah terkena racun sedemikian jahatnya, ternyata masih hidup sehat walafiat malah kini muncul kembali.

Setelah terlongong sekian lamanya, akhirnya Khong Bunthong tersentak sadar dari lamunannya, tanyanya dengan suara yang hampir tidak mau percaya.

"Koan San-gwat! Cara bagaimana kau bisa tetap hidup setelah terkena racun Ui-ho ciu-ce-sa?"

"Seluruh benda yang ada di mayapada ini tiada satupun mutlak, ada racun pasti ada obat pemunahnya, kalau tokh aku bisa selamat dan bisa hidup kembali setelah terkena racun jahatmu itu sudah tentu aku sudah mendapatkan obat pemunahnya."

"Memang harus diakui bahwasanya Tokko Bing berbakat dan berkepandaian, luas pengetahuan lagi, cuma d aalam ilmu pengobatan sedikitpun ia tidak paham, maka betapapun aku tidak percaya bahwa kau bisa memunahkan racunku itu!"

Koan San-gwat manggut-manggut, ujarnya.

"Memang tidak salah ucapanmu, guruku tidak mahir ilmu pengobatan, sehingga aku kau kelabui mentah-mentah, tapi di saat jiwaku cuma tergantung pada seutas benang, aku ketemu orang kosen yang mengasingkan diri, bukan saja beliau telah menolong jiwaku, beliaupun berhasil menyelidiki cara memunahkan racun jahatmu itu!"

"Siapa orang itu?!"

Desak Khong Bun-thong. Koan San-gwat menuding seseorang di sampingnya, katanya.

"Orang kosen ini sangat terkesan dan kagum kepada kau yang bisa meramu obat beracun macam Ui-ho-ciu-ce-sa itu, kali ini ia ikut kemari untuk berkenalan dan cari pengalaman, tadi aku menggunakan nama beliau. Sekarang marilah kuperkenalkan, beliau adalah seorang tabib sakti yang sejak lama menyembunyikan diri di puncak Thian-san, Thio Hun-cu Cianpwee adanya."

Pandangan semua orang beralih ke arah yang ditunjuk, tampak seorang laki-laki pertengahan umur mengenakan pakaian gembala bermuka kuning seperti penyakitan, di sebelahnya berdiri pula seorang nona remaja, pakaiannya seperti gembala di padang rumput, hidungnya mancung matanya bening.

Parasnya yang cantik itu membayangkan wataknya yang keras dan sikapnya yang gagah, raut wajahnya hampir mirip dengan laki-laki pertengahan umur itu, sekali pandang dapat diketahui bahwa mereka ialah ayah beranak.

Sebetulnya Thio Hun-cu berdiri agak jauh, begitu Koan San-gwat menuding ke arah dirinya, cepat ia maju menghampiri sambil tersenyum lebar, orang-orang di sekelilingnya menyingkir ke samping memberi jalan kepadanya, akhirnya dia berdiri berendeng dengan Koan Sangwat.

Gadis remaja itu berada di belakangnya, ujung mulutnya menyungging senyum manis, agaknya ia jadi tertarik akan keadaan yang bergolak ini.

Khong Bun-thong menatap ke arah Thio Hun-cu sampai orang berada di hadapannya, baru dia batuk-batuk, kulit mukanya kelihatan rada gemetar jelas bahwa hatinya sudah mulai tegang, dengan tertawa dibuat-buat ia berkata setenang mungkin.

"Tak nyana di puncak Thian-san masih ada tokoh yang sembunyi di sana, kami menyambut kurang hormat, sungguh keterlaluan!"

Thio Hun-cu tertawa ewa, katanya.

"Ah, kenapa Kokcu begitu sungkan, orang liar dari perbatasan seperti kami bisa mendapat tempat duduk dalam meja perjamuan Kokcu sudah merupakan suatu kehormatan bagi kami. Maklum dari tempat yang jauh kami tak bisa menyediakan kado yang berarti, kami hanya bawa beberapa butir buah Tho yang kutanam sendiri sebagai kado, tapi karena Kokcu sangat repot, tiada kesempatan kupersembahkan sekarang. Mohon Kokcu suka terima dengan senang hati!"

Lalu ia berpaling kepada gadis remaja itu.

"Ah-ceng! Persembahkan buah Tho kepada Kokcu yang berulang tahun."

Dengan lemah gemulai gadis itu menurunkan buntalan yang diikat di punggungnya, setelah dibuka ternyata berisi lima enam buah Tho sebesar mangkok.

Warnanya merah bersemu kuning, dengan kedua tangannya si gadis mengangsurkan sebuah di antaranya ke hadapan Khong Bunthong.

Katanya tertawa manis.

"Harap tuan rumah suka terima dan mencicipinya!"

Di hadapan sekian banyak tamunya terpaksa Khong Bunthong mengulurkan tangannya mengambil buah itu, dengan terpaksa ia menyengir tawa, sahutnya.

"Terima kasih!"

Thio Hun-cu juga tertawa, ujarnya.

"Buah Tho ini hasil dari puncak Thian-san, meski tidak berharga bila dinilai dengan uang, tapi rasanya manis dan sedap. Kalau Kokcu sudi, silahkan cicipi bagaimana rasanya."

Khong Bun-thong mengamat-amati buah Tho itu sekian lamanya, tidak terlihat adanya sesuatu yang mencurigakan.

tapi ia tahu bahwa buah Tho ini pasti bukan buah Tho seperti buah-buahan umumnya, maka sesaat lamanya ia jadi ragu dan tak berani segera memakannya.

"Apakah Kokcu merasa sumbanganku ini terlalu tidak berharga?"

Khong Bun-thong jadi serba runyam, sahutnya dengan kikuk.

"Mana, mana! Sebetulnya aku orang she Khong sangat senng daen terpesona akan buah Tho sebesar ini, entah bagaimana aku harus membalas pemberian ini. Aku yakin buah macam ini tentu sulit didapat. Biarlah kusimpan saja pelan-pelan kunikmati lain kesempatan saja."

"Terserah pada kehendak Kokcu, cuma sudah lama aku mendengar ketenaran nama Kokcu, katanya mampu meramu Ui-ho-ciu-ce-sa pula, maka sengaja kupetikkan buah Tho itu sebagai permainan. Mohon petunjuk kepada Kokcu, kalau Kokcu tidak sudi memberi muka, anggap saja sia-sialah segala jerih payahku."

Kedengarannya ia mengobrol seenaknya saja, tapi bagi pendengaran Khong Bun-thong sangat menusuk perasaannya dan menjatuhkan gengsi, sebetulnya ia memang kuatir bila buah Tho itu ada rahasia apa-apa, tapi setelah ditantang dengan sindiran tajam Thio Hun-cu, ia jadi lwbih tak enak kalau tak makan buah itu, tapi dengan pura-pura sungkan ia berkata.

"Kalau begitu terpaksa aku terima pemberian ini."

"Orang she Khong,"

Jengek Koan San-gwat.

"Jangan terlalu cepat kau melulusi permintaannya, buah Tho itu tumbuh di puncak Thian-san, dinamakan Thinn-toh (buah langit). Sesuai dengan namanya, bila kau berani makan, jiwamu segera bakal melayang ke sorga, apakah kau benarbenar berani memakannya?"

Berubah air muka Khong Bun-thong, teriaknya gusar.

"Meski obat yang bisa menghancurkan isi perut, orang she Khong juga tidak gentar!"

Segera ia angkat buah itu ke mulutnya. Dengan gugup Khong Bun-ki merintangi.

"Toako! buat apa kau menuruti perasaan hati!"

Tak terasa tangan Khong Bun-thong jadi merandek. Cepat Thio Hun-cu tertawa ujarnya.

"Kokcu kan seorang ahli dalam menggunakan racun, tentu kau paham bahwa buah itu sedikitpun tidak beracun, kalau Khong-jie Sianseng tidak percaya, coba silahkan kau cicipi lebih dulu."

Khong Bun-thong terloroh-loroh, serunya.

"Umpama mengandung racun aku orang she Khong juga tidak takut!"

Lalu dengan dua jarinya ia pijat sampai buah di tangannya pecah dan mengalirkan sari buahnya yang bening, cepat ia menyedot dengan mulutnya, setelah ia kunyah habis daging buahnya, ia lemparkan kulitnya, lalu bergelak tertawa, serunya.

"Wah, enak sekali, ternyata memang wangi dan segar buah ini...." -oo0dw0oo.

Jilid 3 SELAMA itu Khong Bun-ki terus mengawasinya dengan perasaan tegang dan was-was, melihat engkohnya menyedot sari buahnya tidak kurang suatu apa, ia jadi berlega hati.

Sementara Khong Bun-thong sudah berkata pula.

"Menerima tidak balas memberi rasanya kurang hormat, Jiete! Silahkan ambil dulu cangkir Loh-hun-lok buatanku itu untuk menyambut kedatangan Thio-heng dan nona Thio ini."

Khong Bun-ki mengiyakan, bergegas dia lari ke belakang.

Tak lama kemudian berlari keluar sambil menenteng sebuah botol dengan dua buah cangkir terus diletakkan di atas papan warna merah, Khong Bun-thong menuangkan sampai penuh ke dalam cangkir itu, lalu katanya sambil memegangi kedua cangkir arak.

"Sebenarnya Loh-hun-lok tidak ternama karena racunnya, tapi Loh-hun-lok ini hasil ramuanku, sahabat Thio ini merupakan seorang kosen dalam kalangan kedokteran, tentu kau paham berbagai ramuan yang ada dalam arak ini."

"Ha ha ha, istilah menerima harus balas memberi memang tepat, kenapa Khong Kokcu begini sungkan, ramuan apayang terdapat dalam arak ini tidak perlu kuselidiki lagi, hakikatnya setetes dapat menghancurkan usus, satu cangkir bisa menghilangkan sukma, seumpama harus menyeralikan jiwa pun aku suka menerima penghargaan Kokcu."

Habis berkata ia sambuti secangkir diantaranya terus ditenggak sampai habis. Khong Bun-thong lalu angsurkan cangkir yang lain kepada si gadis, katanya.

"Apakah nona Thio suka memberi muka padaku?"

Si gadis melengak dan ragu-ragu, sesaat ia bimbang dan tak berani menyambuti cangkir arak itu, Thio Hun-cu ikut keripuhan, selanya.

"Apakah tidak cukup aku saja yang mengiringi kehendak Kokcu?"

"Di bawah pimpinan seorang jendral ternama tentu tiada tentara yang lemah, nona Thio ini kan anak gadismu, secangkir arak beracun ini pasti tidak ambil dalam hati bukan?"

Thio Hun-cu menggeleng kepada si gadis katanya rawan.

"Ah-ceng! Kau minum saja. Mungkin memang ayahmu terlalu banyak urusan, sudah sekian tahun aku menyembunyikan diri, ternyata hanya karena ingin menang sendiri, akhirnya mendapat kesukaran begini."

Si gadis menerima cangkir arak itu, tangannya gemetar keras. Tak tertahan Koan San-gwat berkata.

"Thio-lopek! Bagaimana perasaanmu setelah kau minum arak itu?"

"Loh-hun-lok ternyata memang lihai. Setiap hari aku berkecimpung dalam ratusan jenis racun, lidahku inipun sudah saling mencicipi ribuan rasa, tetapi ramuan obat dalam arak beracun ini masih belum dapat kuselami kadar racun sudah mulai bekerja, aku sedang mengadakan percobaan dengan hawa murniku paling tidak harus makan waktu satu jam leibh, aku kuatir pada saat mana meski aku berhasil menyelami sifat racun ini, temponya sudah tidak keburu lagi...."

Khong Bun-thong bergelak tawa kesenangan, ujarnya.

"Tidak malu sandara Thio sebagai ahli pengobatan, buatanku ini memang kucampur beberapa jenis racuo yang paling jahat dan sulit didapat dalam dunia ini. Pengalaman dan pengetahuan Thio-heng agaknya cukup luas, mungkin dalam setengah jam cukup mengetahui secara pasti, tapi aku berani tanggung setelah lewat setengah jam, tenaga untuk bicara lagipun Thio-heng tidak akan mampu lagi...."

Mendadak tergerak hati Koan San-gwat serunya.

"Waktu setengah jam jauh berkelebihan bagi kami menyelesaikan urusan dinas."

"Apa maksud ucapanmu?"

Tanya Khong Bun-thong.

Koan San-gwat tidak hiraukan pertanyaan orang, sekali raih ia rebut cangkir di tangan si gadis terus ditenggak kering, langsung ia banting bancur cangkir itu ke lantai, lalu katanya sambil membusungkan dada kepada Khong Bun-thong.

"Arak bagian nona sudah kuwakili, apakah urusan sudah beres?"

"Isi arak dalam botol memang cuma dua cangkir, cangkir kedua ini memang sebenarnya kusediakan untuk kau, tapi pura-pura kupersembahkan kepada nona Thio, kalau tidak masa kau sudi minum arak ini sedemikian gampang. Bocah keparat! Gunakanlah waktu setengah jam ini untuk menyambung nyawamu...."

Dengan tenang tanpa berubah sedikitpun air mukanya Koan San-gwat bertanya.

"Bagaimana kau bisa tahu bila aku akan mewakili nona Thio minum arakmu itu?"

"Di saat aku tahu bahwa kau masih hidup dalam dunia ini, diam-diam aku lantas memikirkan daya upaya untuk menghadapi kau, pikir punya pikir cuma Loh-hun lok ini yang cocok. Kebetulan saudara Thio itu ingin mencoba aku, secara demonstrasi ia paksa aku memakan Kiu coan-tho itu, racun yang terkandung di dalam buah itu dapat membikin kaki tangan orang membeku, tapi toh belum tentu dapat menundukkan aku, maka seagaja aku pura-pura sungkan dan akhirnya menghabiskan buah itu. Tapi kugunakan pula alasan ini untuk mendesak mereka minum Loh-hun-lok buatanku ini, sejak tadi sudah aku perhitungkan bahwa kau pasti akan unjuk gigi mewakili Ilona ini, karena mereka datang demi kepentinganmu, kalau kau tidak berbuat demikian apakah ada harganya kau mengagulkan diri sebagai akhli waris Bing-tholing-cu...."

"Bagus. Perhitungan sangat tepat! Tapi kau melupakan satu hal, tadi sudah aku katakan, kau pernah memukul aku satu kali, kuberitahukan bahwa secara terang-terangan akan kubalas pukulanmu itu meskipun kini waktunya tinggal setengah jam lagi, namun sebelum ajal aku masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan urusan ini."

"Bedebah!"

Maki Khong Bun-thong terloroh.

"Sungguh muluk jalan pikiranmu, seumpama Tokko Bing belum mati, diapun tidak akan mampu dalam jangka setengah jam mengalahkan aku, apalegi kau paling lama cuma kuat bertahan setengah jam, sebentar saja kadar racun dalam tubuhmu akan kumat, terpaksa kau harus rebah di tanah menanti aja1 saja. Tatkala itu mungkin kau bakal mengerang dan bertobat minta kematianmu supaya dipercepat agar tidak menderita lebih lanjut."

Sikap Koan San-gwat sangat tenang, perlahan-lahan ia angkat tangan serta katanya.

"Urusan tidak akan terjadi begitu gampang seperti jalan pikiranmu, kau bersabarlah! Aku hendak turun tangan!"

Dengan sikap acuh tak acuh Khong Bun-thong berdiri di tempatnya seperti tidak terjadi sesuatu apa-apa, di kala telapak tangan Koan San-gwat sudah terdorong di depan dan hampir mengenai kulitnya baru dia angkat telapak tangannya memotong pergelangan tangan lawan.

Tapi sedikitpun Koan San-gwat tak gentar dan menjadi gugup karenanya, dorongan telapak tangannya diteruskan, dan kontan telapak tangan Khong Bun-thong dengan telak mengenai tangannya.

tetapi ia merasa seperti membentur tongkat besi, sehingga telapak tangan sendiri terpental ke samping, maka dadanya kena pukulan telapak tangan musuh dengan telak sekali.

Pukulan yang mengandung tenaga penuh ini seketika mengeluarkan suara keras seperti tambur pecah, seiring dengan itu terlihat badan Khong Bun-thong seperti sepotong batu dilemparkan terbang melesat ke belakang sampai beberapa tombak dan jatuh di atas singgasana upacara, karuan meja sembahyang di sana ditumbuk hancur dan ambruk.

Dengan terkesiap banyak orang memburu ke sana untuk membangunkan Khong Bun-thong, tampak dadanya melekuk dalam bertapak tangan berwarna merah semu biru, dalamnya sampai satu setengah centi, jantung dan paru-parunya hancur lebur.

Pelan-pelan Koan San-gwat menurunkan telapak tangannya yang berlepotan darah, katanya kepada Khong Bun-thong yang bernapas empas-empis.

"Kau tidak menyangka begini akhirnya bukan?"

Darah tersembur deras dari mulut Khong Bun-thong.

kedua biji matanya mendelik keluar seperti jengko1, tapi tenaga untuk bicara sudah tidak mampu lagi, napasnya memburu tersengal-sengal.

Dari samping Thio Hun-cu ikut memberi komentar.

"Khong Bun-thong. Sungguh hebat kau, ternyata kau kenal asal-usul Kiu coan-tho itu, tapi kau tak akan menduga bahwa di dalam sari buahnya sebelumnya sudah kumasuki getah An-si-lan, getah An-si-lan merupakan obat untuk menguatkan badan sedikitpun tidak mengandung racun, rasanya mirip dengan sari buah Tho, maka kau tidak akan dapat membedakannya, tapi An-si-lan itu sendiri dapat menyebabkan ilmu silatmu sementara punah, sehingga kau tidak akan mampu menangkis serangan Koan-hiantit. Dalam permainan Loh-hun-lok, memang kau lebih unggul, tapi dalam perang kecerdikan kau asor, di tengab jalan menuju ke akhirat, masih ada kesempatan kita nanti melanjutkan pertandingan ini!"

Khong Bun-thong menggembor keras, darah menyembur makin keras dari mulutnya, setelah berkelejetan beberapa kali, kakinya jadi tersendal-sendal, napas terus berhenti.

Melayanglah jiwanya.

Mata Khong Bun-ki memancarkan bunga api, pelan-pelan ia letakkan jenazah engkohnya.

hendak adu jiwa dengan Koan San-gwat, tapi segera Koan San-gwat mengacungkan kepalannya serta mengancam.

"Berani kau bergerak, akan kubuat kau seperti kakakmu. Kadar racun Loh-hun-lok sebentar lagi baru akan kumat, dalam tempo yang pendek aku mampu mengambil jiwamu seperti membalikkan telapak tangan mudahnya!"

Terbayang pada gebrak pertama tadi, sejurus saja lengan kanannya sudah terluka, hatinya jadi jeri dan tidak berani banyak bergerak lagi. Cepat Thio Hun-cu berkata kepada Koan San-gwat.

"Koanhiantit, lekas kau selesaikan urusanmu, temponya sudah tidak keburu lagi."

Koan San-gwat manggut-manggut, cepat ia membalik menghadapi Lu Bu-wi lalu katanya.

"Lu-cianpwee! Sebetulnya ada sedikit omongan hendak kusampaikan kepada para sahabat yang hadir disini, tapi mungkin sekarang tidak keburu lagi, untunglah sebelumnya sudah kusiapkan apa yang hendak kuucapkan sudah kutulis dalam sampul surat ini, di samping itu ada pula kucantumkan cara memunahkan kadar racun Uiho ciu-ce-sa. Terima kasih akan bantuan yang kusampaikan di dalam buntalan ini!"

Setelah Lu Bu-wi menerima sampul surat itu, cepat Koan San-gwat bersama Thio Hun-cu dan putrinya menerobos lewat dari kerumunan orang banyak terus tinggal pergi dengan langkah lebar.

Loh-hun-kok (Lembah jatuh sukma) menjadi sesuai dangan nama dan keadaannya, hari ulang tahun Khong Bun-thong yang keenam puluh jadi pula hari kematiannya, hari lahir sama dengan hari kematian, kejadian ini mimpipun ia tidak akan menduga sebelumnya.

Dalam pada itu Lu Bu-wi sudah membuka sampul surat yang ditinggalkan Koan San-gwat, di hadapan sekian banyak orang ia membaca dengan lantang.

"Disampaikan oleh Bingtho-ling-cu II Koan San-gwat kepada seluruh tokoh Bulim di kolong langit. Tempo guruku almarhum meluruk ke tempat kalian, merebut Ling-hu atau tanda kebesaran setelah mengasingkan diri di tengah gurun pasir, beliau amat menyesal akan sepak terjangnya itu, maka seterusnya memperdalam ilmu membina diri dalam jalan ke Tuhan-an sesuai dengan ajaran agama. Beliau melihat semangat kalian terbangkit untuk memperdalam ilmu dan mempertinggi mutu pelajaran silat masing-masing, menutup diri giat belajar, sebetulnyalah memang demikian tujuan guruku semula, untuk kesalahan itu harap para sahabat suka memaafkan beliau di alam baka."

"Pertemuan tiga tahun yang lalu, sesuai pesan peninggalan guru almarhum. San-gwat ditugaskan menguji sampai di mana tingkat kepandaian para sahabat setelah memperdalam ilmu selama tahun lamanya, menang atau kalah sama saja akan kami kembalikan barang-barang kalian."

"Namun apa daya urusan berkembang tidak sesuai dengan rencana semula, San-gwat hampir melayang jiwanya karena ditipu dan dijebak oleh perbuatan rendah, sehingga tidak sempat menyampaikan pesan guruku almarhum kepada kalian sungguh harus disesalkan."

"Semula San-gwat sudah pasrah nasib dan yakin pasti mampus, untunglah di tengah jalan bertemu dengan Thio Hun-cu Cianpwee yang pandai pengobatan, akhirnya jiwaku dapat diselamatkan beliau, sebetulnya sudah lama kami hendak datang untuk menjelaskan maksud semula. Tapi akhirnya kuketahui bahwa keluarga Khong di Loh-hun-kok adalah tokoh yang pandai mempergunakan racun, punya citacita merajai jagat, terpaksa kami bertindak secara diam-diam sambil menunggu perubahan yang bakal terjadi."

"Ui-ho-ciu-ce-sa adalah racun yang paling jahat di dunia ini, demi keselamatan jiwa sekian banyak tokoh-tokoh Bulim, maka kami mohon Thio Cianpwe menyertakan resep obat pemunahnya, supaya obat racun itu tidak meninggalkan bencana lebih besar. San-gwat tahu selain ahli racun keluarga Khong pun lihay dalam berbagai kepandaian silat tinggi, maka dengan tulisan ini kami ingin memperlihatkan semua siap waspada dan berjaga-jaga. Perlu juga diketahui bahwasanya Khong Bun-thong mempunyai seorang putri yang kini sedang belajar ilmu di bawah bimbingan seorang aneh yang lihay sekali, kepandaian silat orang aneh ini mungkin jauh lebih tinggi dari kemampuan guruku almarhum, tapi karena terhalang oleh sumpahnya sendiri ia tak akan mengunjukkan diri dalam percaturan dunia persilatan. Hal ini kami tahu jelas. Tapi gadis itu kalau pelajaran ilmunya sudah tamat kelak, pasti akan mengobarkan kelaliman Loh-hun-kok, dunia persilatan kelak bakal tak aman dan tidak tentram lagi, melalui sepucuk surat ini kami harap para saudara sekalian unjuk beritahu supaya siap waspada dan hati-hati...."

Setelah Lu Bu-wi selesai membaca surat itu, keadaan seluruh barak itu sunyi senyap.

Dalam pada itu Khong Bun-ki sudah mengusung jenazah Khong Bun-thong ke belakang, demikian juga kaki tangan dan kambrat-kambratnya juga ikut ke sana.

Maka persoalan yang ditulis dalam surat Koan San-gwat ini jadi sulit untuk membuktikannya, tapi semua hadirin percaya bahwa surat itu tentu tidak akan salah.

Maka beramai-ramai mereka bubar meninggalkan Loh-hunkok (lembah jatuh sukma) sanubari masing-masing dibekali rasa was-was dan ketakutan yang akan selalu menghantui benaknya sepanjang masa ....

Di tengah kegelapan itu tampak tiga bayangan orang sedang melangkah cepat tergesa-gesa, sebetulnya cuma boleh dihitung dua bayangan saja, karena saat mana Koan San-gwat telah jatuh pingsan dan tengkurap di atas punggung Thio Hun-cu.

Sambil berjalan Thio Ceng Ceng menggerutu..

"Ayah! Kau memang suka cari gara-gara, sekarang Koan-toako yang menerima aklbatnya. Kalau dia sampai meninggal, kau suruh aku bagaimana bersikap terhadapnya...."

"Mana aku tahu dia bakal bertindak begitu nekad! Salahnya sendiri terburu nafsu, kalau aku tidak bekerja secara sempurna, masa begitu bodoh mau menghabisi arak beracun itu, siapa tahu dia ...."

Kata Thio Ceng Ceng dengan suara hampir menangis.

"Maksud Koan-toako kan baik dia takut aku kena celaka. Ayah, apakah racun dalam arak ini tiada obat pemunahnya....?"

Thio Hun-cu menggeleng kepala, sahutnya.

"Aku sendiri belum jelas. Nanti setelah sampai di rumah, harus kuselidiki dulu baru bisa kuobati."

Thio Ceng Ceng membanting kaki, omelnya.

"Apakah dia kuat bertahan sampai sekian lamanya?"

"Aduh bingung,"

Keluh Thio Hun-Cu tertawa getir.

"Agaknya kau semakin tidak percaya akan kemampuanku, bagaimana khasiat obat Pin-sip-coan-bing-san ku itu kan kau tahu, jangan kata baru sekeras pohon, seumpama hampir mati asal dia masih empas-empis, kutanggung dia masih akan kuat bertahan selama empat puluh hari!"

Tidak tertahan lagi air mata Thio Ceng Ceng mengucur deras, katanya sesenggukan.

"Lalu selanjutnya? Bila kau tidak berhasil menyembuhkannya, sama saja dia bakal mati."

"Kalau demikian kejadiannya apa boleh buat, toh jiwanya semula kita yang menolong, jikalau dia tidak ketemu kita, tiga tahun yang lalu dia sudah mati tanpa kubur di gurun pasir!"

"Persoalan tidak bisa disama-ratakan!"

Sela Thio Ceng Ceng uring-uringan.

"Mati hidupnya waktu itu tiada sangkut paut dengan kita, tapi sekarang dia mati karena kita.... Kaulah yang harus disalahkan, kalau tidak main umpak-umpakan mau adu kepandaian segala, mana bisa terjadi peristiwa ini, kalau sebelumnya kaupun berikan segala persiapanmu kepadanya bukankah tidak terjadi seperti ini."

"Bicaramu sendiri melantur dan tak pakai aturan, ketahuilah aku seorag tabib yang suka memperdalam ilmu pengobatan. Begitu mendengar ada seorang semacam Khong Bun-thong itu kalau tidak coba-coba jajal rasanya gatal dan sayang sekali, apalagi sebelumnya sudah kuperhitungkan bahwa dia pasti akan bertanding cara menggunakan racun, maka sebelumnya sudah kutelan beberapa macam obat-obatan sehingga perutku kebal terhadap racun, siapa tahu bocah goblok ini bisa maju menalangi juga."

"Aku tak peduli,"

Omel Thio Ceng Ceng sambil sesenggukkan.

"Meski aku harus mengorbankan jiwa sendiri, betapapun harus menolong jiwa Koan-toako ...."

Thio Hun-cu jadi melengak, kakinya pun berhenti melangkah, pelan ia turunkan Koan San-gwat lalu direbahkannya katanya.

"Ceng-ji. Kau tidak punya pikiran hendak mencari dan minta tolong kepada orang itu bukan ....?"

Terpaksa Thio Ceng Ceng ikut berhenti, katanya.

"Kalau kau sendiri sudah tidak mampu menolongnya, terpaksa aku harus mencari dia. ...."

Berubah air muka Thio Hun-cu, katanyanya tegas.

"Ceng-ji! Kau dengar, aku akan berdaya upaya sekuat tenagaku untuk menolong jiwanya, tapi kalau kau sendiri tak punya keyakinan terhadap pengobatanku, ingin mencari orang ini, lebih baik aku rela kau membenciku seumur hidup, bocah ini akan kubikin mampus saja!"

"Ayah! kenapa kau begitu benci dan dendam terhadap orang itu? Bukankah kau sendiri mengaku bahwa di kolong langit ini, hanya dia seorang paling lihay tiada tandingannya ilmu pengobatannya?"

"Benar! Aku boleh mengakui bahwa ilmu pengobatanku masih kalah dibanding dengan dia, tapi aku bersumpah seumur hidup ini aku tak mau takluk padanya. Ceng-ji, kita harus bicara lebih dulu. Sekali-kali jangan kau punya pikiran seperti maksudmu ini!"

Thio Ceng Ceng merandek, katanya sambil berlinang air mata.

"Baiklah ayah. Kudengar nasehatmu, tapi kau harus tolong jiwa Koan-toako."

Thio Hun-cu manggut-manggut, pelan-pelan ia meraba dahi Koan San-gwat, mendadak ia berseru.

"Celaka! Suhu badannya semakin panas, dalam arak itu memang dicampur nyali kelabang merah dan jambul merah burung bangau dua macam obat-obatan yang berlawanan."

Thio Ceng Ceng semakin gugup, serunya.

"Ayah tak usah banyak omong lagi, lekaslah sediakan obat pemunahnya!"

"Obat pemunahnya sih aku tahu, cuma sulit mendapatkannya, karena dia memerlukan darah panas ular hijau!"

"Malam hari kebetulan adalah saatnya binatang ular keluar sarang, lekaslah kau pergi mencarinya!"

Thio Hun-cu berpikir sebentar, latu dari dalam kantongnya mengeluarkan botol kecil lalu menuang dua butir terus menjejalkan ke mulut Koan San-gwat, pesannya kepada Thio Ceng Ceng.

"Sudah kucekoki Ping-sip-coan-bing-san untuk mengekang menjalarnya kadar racun, sementara racun tidak akan bekerja, kau tunggu dia disini, aku pergi mencari ular hijau, segera aku akan kembali!"

Thio Ceng Ceng manggut-manggut, bergegas Thio Hun-cu berlari pergi.

Dalam hutan belantara sedemikian luasnya memang banyak terdapat ular, tapi macam dan jenis ular terlalu banyak, di dalam waktu yang begitu kritis untuk menangkap ular hijau hidup-hidup bukanlah pekerjaan yang mudah!

Mengandal sinar bintang-bintang di langit ia berjalan munduk-munduk, membongkar baru membetot akar pohon, bekerja berat setengah malaman dengan susah payah akhirnya berhasil ditangkapnya seekor, tersipu -sipu ia jalan kembali ke tempat semula, tapi bayangan Thio Ceng Ceng berdua sudah tiada lagi.

Di samping dimana tadi Koan San-gwat berbaring dilihatnya ada secarik kain sutera.

Itulah kain sobekan dari baju dalam Thio Ceng Ceng, di atas sobekan kain sutera ini ada beberapa baris tulisan yang masih basah, itulah hurufhuruf yang ditulis dengan tinta darah!

"Ayah!

setelah kau pergi, karena keadaannya semakin memburuk, terpaksa aku mengeluarkan banyak darah untuk mengurangi kadar racun dalam tubuhnya, tapi keadaannya yang payah tak dapat lagi aku menunggu kau, jiwa Koantoako jauh lebih penting dari aku, bukan karena dia menalangi aku minum arak beracun ini!

Di dalam hidup berdampingan selama tiga tahun berselang sudah menyerahkan perasaan dan hati nuraniku kepadanya."

"Bukan aku tidak punya keyakinan terhadap ilmu pengobatanmu, tapi aku tahu betapapan kau tak akan mampu mengobatinya! Demi jiwanya terpaksa aku harus mencari seseorang yang dapat menolong jiwanya, meski orang itu sejak semula sudah kau larang dan kau tentang keinginanku untuk mencarinya, tapi dalam keadaan yang terpaksa ini aku tidak punya pilihan lain."

"Aku gunakan darah Koan-toako untuk meninggalkan suratku ini, darahnya mengalir begini banyak, hatiku sungguh sangat menderita seperti diiris-iris maka kumohon kepada kau dalam sisa-sisa kesadaran angkara murkamu, cobalah kau berpikir lebih lanjut secara tenang dengan kepala dingin, jikalau bukan karena sikapmu yang mau menang sendiri, darah Koan-toako rasanya tidak perlu dikorbankan!"

"Aku tahu orang itu berada di Kun-lun-san, jarak Kun Lun ribuan Li jauhnya semoga Tuhan melindungi hambanya, sampai aku dapat menemukan orang itu, semoga pula Koantoako kuat bertahan sampai waktu itu!"

"Kalau kau masih sudi mengingat hubungan ayah beranak, kuharap kau jangan mengejer jejakku. Kalau tidak kau hanya menemukan putrimu yang sudah ajal. Jiwa Koan-toako telah bersatu padu dengan jiwa ragaku!"

"Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada kau, cuma mengharapkan pengampunanmu, bila Koan-toako tidak mati, setelah aku memberitahukan perasaan hatiku, segera aku akan kembali ke haribaanmu, untuk selanjutnya aku ingin menjadi seorang putri yang berbakti terhadap orang tuanya, atau sebaliknyalah aku mendahului kau menunggu di alam baka. Sebab sampai detik ini aku belum ada kesempatan untuk menyuarakan isi hatiku, ingin kusampaikan bahwa aku cinta kepadanya...."

Dengan kesima Thio Hun-cu membaca habis surat itu, sekonyong-konyong ia buang jauh-jauh ular di tangannya dengan menghela napas ia menjublek sekian lamanya tanpa suara.

oooo)0(oooo PUNGGUNG Thio Ceng Ceng memanggul badan Koan Sangwat yang jauh lebih tinggi dan besar, perbandingan badan mereka menjadikan tubuhnya kecil mungil, tetapi badan yang kecil mungil itu tersembunyi sesuatu kekuatan dan keteguhan hati yang luar biasa dan mengejutkan.

Kekuatan dan keyakinan inilah yang menyanggah badannya sehingga sampai di puncak Kun lun-san dengan memanggul Koan San-gwat.

Puncak Kun lun san yang dilapisi salju dan sunyi serta berhawa dingin tidak menjadikan semangatnya luluh, meski cuma setitik harapan namun harapan itulah yang membuat ia kuasa bertahan sekian lama dan jauh, akhirnya ia berhasil menanjak ke puncak yang tertinggi seolah-olah menembus langit, setibanya di-Ciat-tian-hong, baru dia mulai patah semangat.

Sebab dia tahu Peng-sip-coan-bing-san buatan ayahnya itu paling lama cuma kuar bertahan selama lima puluh hari, sepanjang jalansudah menggunakan waktu empat puluh hari, keadaan badan Koan San-gwat sudah semakin buruk, meskipun begitu, di atas pegunungan yang diliputi salju yang berhawa dingin tapi suhu badannya masih memuncak tinggi seperti dibakar, badannya yang kekar dan kuat itu kini tinggal kulit pembungkus tulang dan lemas tidak bertenaga sedikitpun, jangankan berdiri, berpeganganpun sudah tidak kuasa lagi, untung Thio Ceng Ceng mengikat erat di belakang punggungnya sehingga tidak terjatuh!

Akan tetapi orang yang ingin dicarinya itu tak karuan arah dan tidak diketahui di mana jejaknya.

Di puncak gunung yang berhawa dingin itu, dirangsang perut lapar dan letih lagi, yang paling sukar dan ia tanggulangi adalah rasa ke putus-asaan sanubarinya.

Waktu ia meraba dahi Koan San-gwat yang digendong di belakangnya terasa masih panas dan tinggi suhu badannya tanpa terasa ia jadi menangis dengan rawan, keluhnya.

"Koan-toako! Meski kau kena racun karena aku, tapi kugendong kau sampai di tempat ini, berarti aku sudah berdaya upaya sekuat tenagaku, seandainya aka tidak berhasil menemukan orang itu, biarlah kutemani kau terkubur di puncak gunung yang sepi dan dingin ini. Hanya sayang kepandaian silatmu yang begitu tinggi dan lihay harus ikut lenyap ditelan masa, sungguh aku merasa penasaran bagi kau ...."

Terdengar suara "Tak"

Tiba-tiba di bawah kakinya, itulah air matanya yang menetes membeku jadi butiran es, terjatuh mengeluarkan suara membentur tanah bersalju yang keras.

"Koan-toako,"

Ujar Thio Ceng Ceng seorang diri dengan perasaan pilu.

"Agaknya kau tidak punya harapan lagi, mumpung masih ada waktu beberapa hari lagi, akan kugunakan beberapa waktu mendatang ini, kutangisi kau sepuas hatiku, biarlah kukubur jenazahmudengan air mataku yang membeku. Tapi beberapa kejap kemudian baru dia menyadari bahwa air matanya sudah kering, butiran air matanya yang membeku berwarna merah, tanda bahwa air mata yang dia kucurkan adalah air darah. Akhirnya ia mengeluh sendiri.

"Oh, ternyata air mataku sudah kering diganti darah mengucur keluar, untuk mengubur jenazah Koan-toako yang sedemikian besar. Aku memelihara badan dengan mengisi perut supaya badan kuat dan air matapun bisa kuperas keluar. Tapi di atas pegunungan yang gundul pelontos ini kemana harus kucari makanan, kecuali binatang.... aih binatang...."

Teringat akan binatang mendadak hidungnya mengendus semacam bau amis yang biasanya tersebar dari badan binatang buas, karuan ia berjingkrak girang, cepat ia menunduk mencium dahi Koan San-gwat terus menanggalkan baju luarnya merebahkan badan Koan San-gwat di atas baju luarnya yang dibeber di tanah bersalju.

Waktu dia berdiri dan memutar badan, ia merasa bau amis binatang itu keluar dari sebelah belakang, seketika ia berdiri kesima tak bergerak.

Seekor binatang sebesar kerbau sedang bercokol di atas batu di belakangnya sana, kepalanya bundar, kupingnya kecil, matanya besar bentuknya persis seperti kucing.

Sekilas saja otaknya sudah dapat menyimpulkan.

"Itulah seekor macan kumbang, macan salju berbulu putih, binatang buas macam ini cuma terdapat di atas pegunungan yang tinggi."

Mau tak mau ia jadi was-was dan mulai takut, macan sallu merupakan salah satu binatang buas yang paling ganas, tenaganya besar cakarnya tajam dan runcing, demikian juga gigi dan taringnya teramat berbahaya, macan salju merupakan binatang, yang merajai pegunungan bersalju.

Tapi rasa cintanya yang murni dan agung dan tekadnya yang teguh menambah nyalinya menjadi besar, hilanglah rasa takutnya.

"Demi Koan-toako, aku harus bunuh dia, makan daging dan minum darahnya, supaya aku punya air mata untuk mengubur Koan-toako! Mengubur nyawaku, cintaku...."

Dia tidak membekal senjata tajam, cuma selendang sutera sutera buat menggendong Koan San-gwat, itulah satu-satunya barang yang dia bawa.

Untung waktu hidup di gurun pasir ia sudah belajar menggunakan tali laso dari para gembala, seutas tali dapat meringkus seekor kuda binal.

Cepat-cepat ia bikin bundelan selendangnya, lalu meraup segenggam salju dan diremas -remas jadi bola bundar.

Soalnya selendang suteranya masih terasa nada pendek maka terlebih dulu ia harus goda binatang buas itu menjadi gusar supaya menubruk maju, kalau tidak ia tak kuasa mengembangkan kepandaian permainan tali lassonya dengan selendang suteranya itu.

Macan salju itu diam saja mendekam di atas salju, kedua kaki depannya mencakar-cakar salju di depannya, perut dan ekornya menempel tanah, inilah gaya hendak menerkam mangsanya.

Sewaktu masih berada di gurun pasir dia pernah berburu serigala dan harimau, terhadap kebiasaan dan sifat bermacam binatang dia sudah rada paham, maka sebelum lawan bergerak bola salju di tangannya sudah terbang melesat mengarah batok kepala macan salju.

Dengan membawa larinya sinar putih bola salju itu melesat laksana anak panah, tapi reaksi macan salju itu sungguhsungguh di luar dugaan!

Bukan saja tidak menghindar diapun tidak menerkam maju, sebelah kaki depannya diangkat menyampok jatuh bola salju itu menjadi berkeping-keping, mendadak ia mengaum keras sekali, berbareng di atas keempat kakinya, badannya meliuk meninggi bagian perutnya.

Thio Ceng Ceng jadi gentar, tapi juga aseran, bentaknya.

"Binatang masih berani bertingkah!"

Segera ia membungkuk tubuh meraup segenggam salju pula, begitu tangan terangkat ia sambitkan lagi salju itu dengan cara melempar senjata rahasia.

Bola salju itu terbang melengkung terus menukik ke bawah menyerang ke hidung macan salju.

Tak nyana macan itu angkat kepala sambil pentang mulut menggigit bola salju, tapi kali ini ia terjebak oleh tipu Thio Ceng Ceng.

Ternyata cara sambitan senjata rahasianya mempunyai variasi yang luar biasa, jelas sekali bola salju itu sudah hampir kena tergigit, tetapi mendadak secara reflek menikung ke samping dan melesat lewat tepat sekali mengenai mata kirinya.

Bentuk bola salju itu cukup besar jadi tidak bisa membikin buta matanya, tapi tenaga sambitannya cukup keras, sudah tentu rasanya sakit bukan main.

karuan si macan salju menggerung marah, bagai anak panah lepas dari busurnya, tubuh yang melengkung itu tiba-tiba melesat lempeng menerkam dengan ganasnya.

Memang begitulah tujuan Thio Ceng Ceng, cepat pergelangan tangannya di ujung menggentak, selendang suteranya kontan terbang menyabet ke depan, bundelan di ujung selendang itu tepat sekali berhasil mengalung ke leher si macan salju, gayanya indah tenaganya besar daya luncurannya cepat sekali.

Itulah salah satu kepandaian suku bangsa di padang pasir waktu menangkap kuda liar, begitu tali lasso berhasil menjirat leher, betapapun kau berontak, asal kau menarik kencang dan tidak sampai terlepas jiratan tali itu semakin ditarik semakin kencang, sampai sang kuda kelelahan dan takluk.

Sejak Thio Ceng Ceng dibesarkan di ladang gembala, ditambah dasar kepandaian silatnya cukup tinggi, maka serangan selanjutnya itu seratus persen pasti tidak akan gagal, tetapi menghadapi macan salju ini ternyata kepandaiannya itu tidak berguna sama sekali.

Harimau dengan badan yang besar dan gesit gerakgeriknya itu mendadak jumpalitan di tengah udara, dengan cukup lincah berhasil meluputkan diri dari libatan selendang sutera itu, dan langsung menubruk ke arah Koan San-gwat.

Karuan Thio Ceng Ceng kaget dan gusar, apalagi ia paling menguatirkan keselamatan Koan San-gwat, ia rela dirinya yang mati dari pada harimau salju itu melukai seujung rambut Koan San-gwat, maka sambil menghardik keras, selendangnya terayun dan melecut menggeletar, ia gunakan selendangnya sebagai pecut.

Biasanya orang bila gusar tenaganya berlipat ganda, demikianlah pecutannya yang keras itu tepat mengenai pantat macan salju itu, malah ujung selendangnyapun berhasil membelit salah sebuah kaki belakangnya, lalu dengan mengerahkan seluruh kekuatannya ia gentakkan ke atas.

Secara mentah-mentah macan salju yang menubruk ke depan itu kena tarik balik serta terpental bergelinding di atas tanah, tapi begitu bangkit dia menubruk pula ke arah Koan San-gwat.

Agaknya macan itu cukup cerdik, ia tahu Koan San-gwat yang tidak sadar itu jauh lebih sukar dilayani, maka ia selalu merangsak ke sasaran yang lemah ini.

Sudah tentu tindakan ini membuat Thio Ceng Ceng menjadi keripuhan dan gelisah, mati-matian ia memburu maju terus angkat kaki menendang ke pinggang si harimau.

Saat mana kaki depan macan salju itu sudah menginjak dada Koan San-gwat.

Tapi karena tendangan yang keras itu seketika ia mengaung kesakitan, kontan badannya tergulingguling beberapa kaki, di kala ia berdiri lagi sepasang matanya memancarkan sorotan buas, lidahnya yang merah darah menjulur keluar sambil memperlihatkan taring-taringnya yang besar dan tajam, kini sasaran yang pertama ia alihkan kepada Thio Ceng Ceng.

Dua pihak sama berhadapan tanpa bergerak, tiba-tiba ekor macan salju itu membelit bundar berbareng kaki depannya terangkat ke atas berdiri dengan kaki belakang terus melejit maju menubruk dengan kekuatan yang dahsyat, kesempatan datang pula, cepat Thio Ceng Ceng menyabetkan selendang suteranya pula.

Agaknya macan salju ini sudah rada lengah, telak sekali ujung selendangnya berhasil membelit lehernya, ia menyendal dan menarik dengan kekuatan yang besar sekali, tapi macan ini cukup cerdik, tarnyata kaki belakangnya tidak tinggal diam, menutul keras juga luncuran tubuhnya bertambah kencang, karena jaraknya terlalu dekat berat badan macan inipun ada ratusan kati, tarikan Thio Ceng Ceng jadi meleset dengan perhitungan, si macan yang menubruk tiba repot sekali kedua kakinya menginjak kedua pundaknya, dalam keadaan yang panik, mengendur hawa pernapasannya yang amis memualkan.

Lagi, saking gugupnya kontan ia dorongkan kepalan tangannya masuk ke dalam mulut si macan salju.

Betapa berbahaya tangannya yang putih halus itu diangsurkan masuk ke dalam mulut binatang itu, tapi karena sudah tiada jalan lain ia jejalkan kepalannya semakin keras.

Sudah tentu si macan sendiri jadi gelagapan juga, kepalanya digoyang-goyangkan berusaha melepaskan barang yang menyumpal mulut menyesakkan napasnya, di samping itu cakar kaki belakangnya dengan sendirinya melorot turun dan tepat sekali berhasil mencakar tubuh Thio Ceng Ceng dari batas dada ke perutnya sehingga kain bajunya dedel dowe1, dengan sendirinya kulit dagingnya pun tergores luka panjang yang mengeluarkan darah segar.

Darahnyapun berceceran di tanah salju, tapi sedikitpun ia tidak merasa sakit, demikian juga lengannya sudah terluka oleh gigitan taring si macan salju itu, tapi dengan mati-matian ia merintangi di depan Koan San-gwat.

Sungguh aneh macan salju itu sebetulnya dapat menggigit putus pergelangan tangannya tapi tidak berbuat demikian, kini malah mundur rada jauh sambil mendengus-denguskan rendah.

Thio Ceng Ceng berdiri mematung, matanya mendelong mengawasi macan salju itu, berbagai pikiran bergejolak di dalam benaknya.

Sementara itu darah yang mengalir dari luka-luka di dadanya sudah membeku, tapi rasa pening mulai merangsang kepalanya.

Betapa pun dia seorang perempuan, setelah perjalanan demikian jauh dengan kondisi badan yang semakin buruk lagi, kini harus kehilangan darah bukan mustahil akhirnya dia bakal roboh kehabisan tenaga.

Dalam pada itu, macan itu sudah mendekam pula, pelanpelan tubuhnya menggeremet maju munduk-munduk siap untuk melancarkan serangannya lagi, sasarannya kepada Koan San-gwat pula.

Thio Ceng Ceng siap waspada sambil menahan napas, dengan gelisah ia menunggu perkembangan selanjutnya, diam-diam ia menerawang jarak dan cara mengatasi nanti.

"Dalam jarak lima enam-kaki aku bisa mulai menggasaknya. Bagaimana pun juga kali ini aku pantang dikalahkan!"

Demikian ia bertekad dalam hati.

Dalam pada itu macan salju sudah menggeram maju pula tiga empat kaki, tiba-tiba laksana angin badai badannya menerkam sambil menggerung laksana geledek mengguntur melampaui atas kepalanya dan tepat sekali cakar kaki depannya jatuh di dada Koan San-gwat.

Gerak-gerik si macan ini sungguh teramat cepat dan mendadak lagi, hingga Thio Ceng Ceng tidak sempat merintangi dengan berbagai akalpun, begitu ia membalik tubuh macan salju itu sudah menggigit kain baju di depan Koan San-gwat terus diseret dengan cepat berlari ke dalam hutan.

Karuan gugup Thio Ceng Ceng bukan kepalang.

Di dalam gugupnya entah dari mana datang tenaganya yang luar biasa, mendadak ia menjejakkan kakinya maju mengejar, sekali tepat ia berhasil menangkap ekor si macan terus dibetot ke belakang sekuat tenaganya.

Macan salju itu mengeluarkan suara auman yang menggetarkan alam pegunungan, mulutnya melepas Koan San-gwat terus membalik badan hendak menggigit Thio Ceng Ceng.

Tapi mati-matian Thio Ceng Ceng memegangi ekornya dan tak mau dilepas sehingga cakar kakinya itu tidak bisa sampai melukainya, begitulah binatang lawan manusia ini jadi saling berputar-putar di tanah bersalju.

Memang badan sudah lemas kini harus diajak berputar, karuan kepala Ceng Ceng terasa pening, luka-luka di dadanya jadi pecah dan mengeluarkan darah pula, sakitnya sampai menusuk tulang, namun sedikitpun ia tidak mau mengendorkan pegangannya, karena ia insyaf sekali kalau ia lepas tangan maka Koan-toakonya pasti akan celaka.

Setelah berputar sekian kali dilihat di dirinya tidak mampu membebaskan diri atau menyerang lawan, macan salju itu jadi buas dan marah, tiba-tiba ia mengerang panjang seraya melejit tinggi menerjang ke depan, karuan Thio Ceng Ceng jadi terseret setombak tingginya dan di lain saat meluncur turun dan "Blang!"

Ia terbanting kesakitan di atas tanah bersalju, sementara macan itu sudah siap melompat pula untuk kedua kalinya.

Thio Ceng Ceng insyaf dirinya tak akan kuat bertahan dari sekali bantingan lagi, untuk mengadu jiwa sekaranglah kesempatan yang terakhir.

Setelah bertekad tapi belum lagi ia sempat melaksanakan niatnya, tiba-tiba didengarnya dari kejauhan sana ada bentakan suara manusia lalu disusul meluncurlah sebatang tombak bercabang langsung mengarah punggung si macan salju secepat anak panah.

Agaknya macan salju ini tahu akan kelihaian tombak bercabang ini, sebat sekali ia menggelundungkan badannya ke samping, maka terlihatlah sesosok tubuh orang berkelebat mengejar datang serta mengeluarkan hardikan keras.

"Binatang! Kau berani mengganas sekali lagi!"

Setelah mendengar suara manusia pertahanan Thio Ceng Ceng menjadi kendor seolah-olah ia sudah mendapat bantuan yang diandalkan, maka luluhlah semua pertahanan dan keberaniannya, serta merta kedua tangannya terlepas, macan salju itu laksana sebatang panah terus berlari seperti kucing.

Thio Ceng Ceng hanya melihat orang yang menolongnya itu adalah seorang perempuan pertengahan umur, lalu ia tak tahu apa-apa lagi selanjutnya.

Di kala ia siuman kembali, dirasakan rasa sakit dan letih tubuhnya sudah lenyap sama sekali, demikian juga semangatnya sudah banyak pulih, bergegas ia bangkit duduk.

Sambil mengamati sekelilingnya, didapati ia terbaring di dalam sebuah gua, dinding sekelilingnya adalah batu cadas pegunungan yang keras, di atas dinding banyak tergantung binatang yang sudah dikeringkan.

Tapi ia tidak perduli akan keadaan sekelilingnya, yang paling diperhatikan adalah Koan San-gwat.

"Dimanakah Koantoako? Bagaimanakah keadaannya sekarang?"

Luas gua ini cuma beberapa tombak, kecuali perabotan yang sederhana tak kelihatan bayangan seorang manusia pun, segera ia melorot turun dari balai-balai batu, pikirnya hendak mencari keluar gua.

Tapi begitu telapak kakinya menyentuh lantai, seketika rasa dingin menembus ke ulu hati, di samping itu hawa pegunungan yang menghembus masuk seketika membuat seluruh badannya bergidik kedinginan.

Waktu menunduk baru ia sadar bahwa seluruh tubuhnya ternyata telanjang bulat tanpa mengenakan secuil pakaian pun, meski dalam ruang goa ini tiada orang lain, tak urung ia jadi malu dan merah jengah selebar mukanya, cepat ia menarik selimut dari atas dipan terus membungkus tubuh sendiri seenaknya.

"Tempat apakah ini? Siapakah yang melucuti pakaianku?"

Inilah pertanyaan berlarut yang berkecamuk dalam benaknya.

Tetapi semua pikiran itu tidak lebih besar dari rasa perhatiannya kepada Koan San-gwat, maka cepat-cepat ia berlari ke arah luar.

Bagian luar ini juga merupakan sebuah ruangan baru, cuma jauh lebih luas, disini ada bertumpuk bermacam barang danbenda, di pojok sana terlihatlah pakaiannya yang sudah dedel dowel tak karuan, baru sekarang teringat akan kejadian yang lalu, lapat-lapat ia masih ingat seorang perempuan pertengahan umur keburu tiba menolong jiwanya, jadi kamar batu ini pasti tempat tinggal orang.

Cuma dimanakah Koantoako?

Demikian ia bertanya-tanya.

Di saat ia berdiri menjublek itulah di luar terlihat sebuah bayangan berkelebat masuk, ternyata perempuan pertengahan umur itu sudah kembali sambil memanggul seekor kijang.

Begitu melihat Ceng-Ceng sudah bisa turun dan berjalan serta berdiri, raut wajahnya lantas mengunjukkan seri tawa yang penuh perasaan welas asih, katanya.

"Nona cilik! Kau sudah bisa bangun! Sungguh hebat kau, selama sepuluh hari ini aku selalu berkuatir bagi keselamatanmu, tenagamu habis terkuras, darahpun mengalir terlalu banyak, sungguh aku tidak habis mengerti cara b\agaimana kau kuat bertahan.!"

Sudah tentu Thio Ceng Ceng berjingkrak kaget, teriaknya.

"Apa? jadi aku jatuh pingsan setelah sepuluh hari?"

Perempuan itu mengunjuk senyum, sahutnya.

"Masa aku menggoda kau! Selama sepuluh hari ini tidurmu seperti orang yang sudah mati, menurut perhitunganku, paling tidak kau harus beristirahat dua tiga bulan baru bisa pulih seperti sedia kala. Tak nyana kondisi badanmu jauh lebih kuat dan sebat dari orang lain...."

Dengan gelisah Thio Ceng Ceng bertanya.

"Lalu dimanakah Koan-toako?"

"Maksudmu bocah laki-laki itu? Keadaannya memang rada aneh, seluruh tubuhnya tidak kelihatan kena luka tapi dia tidak dapat bergerak, aku sendiri tidak tahu terserang penyakit apa, terpaksa kuantar ke tempat Soat-lo Thay-thay!"

Thio Ceng Ceng tercengang, tanyanya.

"Siapakah Soat-lo Thay-thay. Kenapa Koan-toako harus diantar ke tempatnya?"

"Ilmu pengobatan Soat-lo Thay-thay sangat tinggi, bocah itu amat aneh lagi, kini cuma beliau yang mampu mengobati, luka-luka di tubuhmu juga kuobati dari rumah obat pemberiannya! Lihatlah betapa manjur obatnya itu, sedikitpun tidak meninggalkan bekas-bekas di kulit badanmu ...."

Kejut dan heran pula rasa Thio Ceng-Ceng, dari penuturan orang ia dapat menyimpulkan bahwa Soat-lo Thay-thay yang dimaksud itu tentu adalah orang yang ditentang ayahnya itu, orang ini pula yang hendak dicarinya.

Cuma tidak habis terpikir olehnya kenapa ayah merasa sirik dan benci terhadap seorang perempuan tua, maka setelah merenung ia berkata kepada perempuan pertengahan umur itu.

"Dimana tempat tinggal Soat-lo Thay-thay, aku ingin menengok keadaanKoantoako ...."

Cepat perempuan itu menggoyangkan tangan, katanya.

"Jangan kau kesana! Soat-lo Thay-thay pernah kemari melihat keadaanmu, ia ada pesan wanti-wanti. Bagaimana juga melarang kau pergi kesana. Kalau tidak, masa aku menahan kau di sini merawat lukamu. Tempatku ini memang kecil cuma tinggal seorang lagi, jadi kekurangan tenaga untuk merawat keadaanmu, tapi Soat-lo Thay-thay sendiri sudah berpesan sebelumnya, aku pun tidak dapat berbuat apa-apa."

Thio Ceng Ceng jadi melengak, timbul berbagai pertanyaan dalam benaknya, tanyanya.

"Kenapa Soat-lo Thay-thay tidak mengijinkan aku ke sana?"

"Akupun tidak tahu, macan salju itu adalah binatang peliharaan Soat-lo Thay-thay. Sebenarnya dia tidak bisa melukai orang, entah kenapa bisa bertengkar dengan kau. Aku lebih tidak mengerti kenapa Soat-lo Thay-thay bisa merasa sirik terhadap kau. Saat aku tidak meminta-minta kepada beliau, luka-lukamu ini beliau pun tidak mau mengobati! Nona apakah kau punya permusuhan dengan Soat-lo Thay-thay?"

"Tidak! selamanya aku belum pernah melihat dia!"

"Memang. Soat-lo Thay-thay sudah menetap dua puluh tahun disini, selamanya beliau belum pernah keluar, usiamu paling banyak baru dua puluh tahun, bagaimana pun tidak mungkin mengikat permusuhan dengan maka aku heran kenapa beliau tidak suka kepada kau."

Namun dalam benak Thio Ceng Ceng sudah menyimpulkan sesuatu, wajahnya mirip dengan bentuk wajah ayahnya tentu.

Cuma ia tidak habis mengerti antara ayahnya dengan Soat-lo Thay-thay ini ada ganjalan sakit hati apa....?"

Melihat orang termangu-mangu, perempuan pertengahan umur itu bertanya.

"Nona cilik! Untuk apa kau bawa bocah itu jauh-jauh ke Kun-Lun-san sini....? Oh, ya! Tentu kau kenal Soat-lo Thay-thay, maka kau bawa bocah itu kemari minta pengobatannya?"

"Selama hidupku belum pernah aku melihat Soat-lo Thaythay, soalnya Koan-toako terkena racun jahat, kudengar di puncak Kun-lun-san ada seorang kosen yang mengasingkan diri, pandai ilmu pengobatan, maka kubawa dia kemari mohon diobati. Apakah Soat-lo Thay-thay orang kosen yang hendak kucari itu aku sendiri tidak tahu."

"Ya, tidak salah lagi, orang yang menetap di puncak Kunlun-san sini cuma beberapa orang saja, apalagi yang pandai ilmu pengobatan cuma Soat-lo Thay-thay seorang, jauh-jauh kau datang justru membawa seorang pasien, tidak heran beliau tidak senang terhadap kau!"

"Kenapa?"

Tanya Thio Ceng Ceng heran.

"Watak Soat-lo Thay-thay sangat aneh, dia pernah beritahu kepadaku, kecuali musuh dalam dunia ini dia sudah tidak punya sanak kadang lagi. Sudah tentu kau bukan musuh yang dimaksud itu, tapi kenalan beliaupun tak banyak, orang yang memberi petunjuk supaya kau kemari itu tentu punya permusuhan dengan beliau maka ia jadi salah paham pula kepada kau!"

Thio Ceng Ceng jadi rada tenang akan duduk perkaranya, cuma dia tidak menjelaskan persoalan antara ayahnya dengan Soat-lo Thay-thay sebab seluk-beluk peristiwa itu ia sendiri tidak jelas, setelah berpikir sejenak, sengaja ia alihkan pokok pembicaraan, tanyanya.

"Toanio! Kau she apa, bagaimana bisa hidup sebatangkara di atas pegunungan yang sunyi ini?"

"Menyinggung namaku, dahulu memang pernah tenar dan .... aih, kenapa aku ngelantur. Aku she Peng, kau boleh panggil aku Peng Toanio saja! Dua puluh lima tahun yang lalu, aku pernah terluka parah dan dikejar-kejar musuh sampai ke puncak Kun-lun-san ini, untung Soat-lo Thay-thay keburu datang dan menggebah lari musuhku itu, aku terus tinggal disini, berkat pertolongan beliau luka-lukaku sembuh seluruhnya. Maka sejak saat itu, aku terus tinggal disini, meskipun hawanya dingin, tapi keadaan yang sepi ini cukup nyaman dan tentram, maka aku tidak berniat berkecimpung lagi di dunia Kangouw."

Thio Ceng Crag termenung sebentar lalu berkata dengan tekad yang besar.

"Meskipun Soat-to Thay-thay tidak suka akan kedatanganku, akupun akan meluruk ke tempatnya, apa pun yang terjadi nanti aku harus tahu keadaan Koan-toako. Racun yang mengeram di dalam badannya sukar disembuhkan, apakah Soat-lo Thay-thay mampu menyembuhkannya?"

"Untuk itu akupun kurang jelas, setelah kuantar bocah itu masuk ke dalam Sincoat-kok, Soat-lo Thay-thay cuma datang menjenguk kau sekali saja, selanjutnya bila aku kesana selalu dirintangi oleh Khong Ling-ling."

"Siapa pula itu?"

"Ling-ling adalah murid Soat-lo thay-thay,"

Peng-toanio menjelaskan sambil menjengek.

"Budak kecil itu jauh lebih galak dari Soat-lo Thay-thay, kalau bicara dengan aku selalu bersikap acuh tak acuh dan menyebalkan. Bapaknya saja tidak berani bersikap demikian terhadapku. Di kala Kui-thian-ya-se (kuntilanak terbang ke langit) malang melintang di Kang-ouw, Loh-hun kok sama sekali belum apa-apa pada masa itu."

"Apa?"

Teriak Thio Ceng Ceng.

"Jadi putri Khong Bun-thong berada disini?"

Peng-toanio melirik, jengeknya.

"Apa kau juga kenal Khong Bun-thong si keparat itu?"

Nada perkataannya penuh rasa gusar dan tidak senang, seolah-olah merasa disepelekan, dan nama Khong Bun-thong malah banyak mempengaruhi hatinya. Thio Ceng Ceng makin gelisah, cepat ia berseru.

"Toanio! Bagaimana juga aku harus segera menemui Koan-toako, kalau tidak pasti celaka!"

"Kenapa?"

Tanya Peng-toanio tercengang.

"Kenapa kau begini gugup?"

"Sudah, jangan terlalu banyak tanya, pendek kata bila Kong Ling-ling tahu asal-usul Koan-toako pasti urusan lebih payah...."

"Kenapa bisa begitu? Masa kau tahu Khong Ling-ling si budak busuk itu bakal melalap kekasihmu itu. Meski budak liar itu telah mendapat didikan Soat-lo Thay-thay tapi aku tidak gentar terhadapnya, soalnya kupandang muka beliau. Kalau tidak, sejak dulu aku sudah labrak dia habis-habisan. Kau tak usah takut, jelaskan dulu perkaranya, mungkin aku dapat memberikan bantuan, kalau tidak seorang diri kau menerjang kesana, seumur hidupmu ini jangan harap dapat keluar dari Sin-Soat-kok!"

Thio Ceng Ceng tahu orang tidak menggertak atau hendak menakut-nakuti dirinya, untung orang benci terhadap Khong Ling-ling maka tidak berhalangan dia menjelaskan kejadian yang sebenarnya, maka tuturnya.

"Nama Koan-toako adalah Koan San-gwat. dia adalah murid tunggal atau pewaris dari Bing-tho-ling-cu Tokko Bing...."

"Apa? Bocah itu adalah pewaris Tokko Bing? Bagaimana keadaan Tokko Bing, selamanya ia tidak pernah menerima murid...."

"Toanio jangan ribut, Tokko-cianpwe sudah meninggal, seluruh kepandaian silatnya sudah diturunkan kepada Koantoako...."

Berubah pucat air muka Peng-toanio, ujarnya lirih.

"Sudah meninggal? Orang seperti dia bisa mati begitu cepat? Cara bagaimana dia mati?"

"Aku tidak tahu, kelak silahkan kau tanya Koan-toako sendiri. Dia...."

"Ya! Aku harus tanya kepadanya, bagaimana dengan dia!"

"Koan-toako terkena racun jahat Loh-hun-lok Khong Bunthong, tapi diapun berhasil mengganyang Khong Bun-thong itu. Kalau peristiwa ini sampai diketahui Khong Ling-ling, kejadian bakal...."

Peng-toanio ikut terkejut, serunya.

"Sungguh sangat kebetulan, tapi tidak usah gelisah, sejak kecil Khong Linglingbelajar silat kepada Soat-lo Thay-thay, ayah kandungnyapun tidak tahu dia berada disini, maka berita itu tidak akan dapat didengarnya!"

"Tapi kalau Koan-toako sendiri yang mengatakan, bagaimana?"

"Aku justru tidak berpikir ke arah situ, agaknya kita memang harus menyusulnya ke sana, kau tunggu sebentar, kucarikan pakaian untuk kau, segera kita ke sana...."

Thio Ceng Ceng mengenakan pakaian dari kulit menjangan, ia mengintil di belakang Peng-toanio, berjalan cepat.

Hawa sangat dingin tapi perasaan hatinya justru panas membara.

Dia tidak tahu bagaimana keadaan Koan San-gwat sekarang.

Apakah racunnya sudah punah?

sudah sembuh?

Atau sudah mati?

Kalau sudah sembuh, apakah dia bercerita tentang asalusul sendiri?

Pikiran dan kekuatiran ini berkecamuk dalam benaknya, sehingga kedua alisnya bertaut ke dalam.

Sepanjang jalan Peng-toanio mengoceh sendiri.

"Sudah mati.... bagaimana kau bisa mati....?"

Thio Ceng Ceng tahu orang terkenang kepada Tokko Bing, entah ada hubungan apa antara orang tua ini dengan Tokko Bing, soalnya hatinya sendiri sedang kalut, segan ia bertanya.

Begitulah sekian lama mereka berputar-putar di puncak gunung bersalju akhirnya tiba di sebuah lembah yang sangat tersembunyi.

Salju sudah mengeras dan merintangi jalan, cuma sebuah jalan sempit yang menembus ke dalam sana, macan salju itu tampak mendekam di tengah jalan, agaknya berjaga di mulut lembah, begitu melihat Thio Ceng Ceng, mulutnya lantas mengeluarkan suara gerungan marah.

Peng-toanio lantas menghardiknya.

"Binatang! Hayo minggir, berani kau menghalangi aku masuk!?"

Macan salju itu melirik sekilas ke arahnya, sinar matanya menatap ke arah Thio Ceng Ceng maksudnya tidak diijinkan masuk ke dalam. Kontan Peng-toanio menggablok pantatnya serta membentak gusar.

"Kurang ajar. Akulah yang membawanya kemari dan akulah yang bertanggung jawab!"

Setelah dipukul, apa boleh buat!

Macan salju itu menyingkir ke pinggir.

Lekas Peng-toanio menarik Thio Ceng Ceng masuk ke dalam lembah.

Setelah menyusuri sebuah jalan sempit yang diapit batu pegunungan, keadaan mata tiba-tiba terbuka luas, hawa disini pun terasa segar, pohon hidup ditaburi bunga salju, dimana-mana tampak kembang mekar, pohon Siong menghijau, bunga Bwe berkembang pohon bambu pun tumbuh subur di mana-mana.

Meski hati Thio Ceng Ceng dirundung kerisauan, setelah melihat keadaan yang luar biasa ini, serta merta ia menghela napas, ujarnya.

"Tak nyana di tempat ini ada dunia luar yang mempesonakan."

Peng-toanio tersenyum, ujarnya.

"Maju lebih lanjut kau akan melihat banyak pandangan yang tidak atau belum pernah kau lihat. Bukan saja ilmu silat Soat-lo Thay-thay teramat hebat, ilmu pengetahuan lainnya pun sama tinggi dan luas sekali...."

Perhatian Thio Ceng Ceng tertarik pada sebuah penglihatan yang ada di bawah sebuah pohon Siong tua dan besar, jadi ia tak perhatikan ucapan Peng-toanio.

Rada jauh di depan sana dilihatnya seorang gadis remaja mengenakan pakaian serba merah sedang menuntun seorang berjubah hijau berjalan lambat-lambat, laki-laki itu bukan lain adalah Koan San-gwat yang selalu dirindukan itu.

-oo0dw0oo.

Jilid 4

"KOAN-TOAKO!"

TAK tahan lagi Thio Ceng Ceng berteriak terus memburu kesana.

Tapi begitu tiba di tempat itu, seketika ia berdiri terlongong.

Sebab kedua biji mata Koan San-gwat memandang lurus ke depan seakan-akan tidak kenal dirinya, seperti tidak mendengar teriakannya pula.

Thio Ceng Ceng menjadi pilu, memburu dua langkah ia tarik dan genggam erat-erat tangan Koan San-gwat, teriaknya sambil menangis.

"Koan-toako! Apakah kau sudah sembuh! Kenapa kau diam saja...."

Koan San-gwat menarik tangannya, tidak menjawab juga tidak hiraukan dirinya, Thio Ceng Ceng melengak dan menjublek, jauh-jauh dari tempat puluhan ribu Li dia bawa Koan San-gwat kemari mau minta pengobatan, setelah lolos dari lobang maut, kini di luar dugaan bersikap begitu dingin terhadap dirinya.

Peng-toanio yang berpikiran jernih segera memperingatkan.

"Nona cilik, jangan kau sentuh dia, apa kau tidak perhatikan biji matanya, hakikatnya dia tidak melihat apa-apa."

Baru sekarang Thio Ceng Ceng menyadari hal ini, rona muka dan sikap Koan San-gwat seperti orang linglung, pendengarannya pun sudah tuli, maka sikapnya kaku.

"Peng Kiok-jin!"

Terdengarlah gadis baju merah itu menjengek dingin kepada Peng-toanio.

"Besar ya nyalimu, bukankah Suhu sudah memberitahu kepadamu kau dilarang bawa gadis ini ke dalam lembah, berani kau semena-mena."

Peng-toanio mendengus.

"Apa yang kuperbuat aku yang bertanggung jawab, tak perlu kau banyak bacot!"

Ceng Ceng tahu gadis baju merah ini tentu Khong Ling-ling adanya, cepat ia menimbrung.

"Khong-cici bagaimanakah keadaan Koan-toako?"

"Bukankah matamu bisa lihat sendiri, kenapa harus tanya kepadaku?"

Sindir Khong Ling-ling. Mendapat jawaban kasar, Thio Ceng Ceng menahan emoai, katanya pula.

"Maksudku apakah dia bisa sembuh seperti sedia kala....?"

"Kau ini apanya? Begitu besar perhatianmu kepadanya!"

Ejek Khong Ling-ling. Ceng Ceng melengak, tak tahu bagaimana harus menjawab. Untung Peng-toanio sagera menimbrung.

"Dia adalah calon istrinya, sudah sepatutnya ia memperhatikannya!"

Berubah air muka Khong Ling-ling, tanyanya dangan bengis.

"Apa betul?"

Merah jengah muka Ceng Ceng, serba salah dan runyam untuk menjawab, maklum belum pernah ia mencurahkan isi hatinya kepada Koan San-gwat.

Ingin berterus terang tapi malu, kalau menyangkal, jelas bikin malu Peng-toanio.

Terdengar Peng toanio tertawa dingin, jengeknya.

"Urusan ini tiada sangkut pautnya dengan kau, tak usah kau mencampuri urusannya."

Khong Ling-ling naik pitam, amarahnya tertuju kepada Peng-toanio, teriaknya beringas.

"Peng Kiokjin! Berani kau bicara padaku dengan nada kurang ajar begitu!?"

"Kentut!"

Peng-toanio juga berang.

"Kau ini barang apa, karena memandang muka Soat-lo Thay-thay, selalu aku mengalah terhadap kau, bicara tentang tingkatan di kalangan Kangouw, bapakmu pun harus membungkuk hormat kepadaku, berani kau gembar-gembor memanggil namaku secara langsung?"

Saking marah muka Khong Ling-ling menjadi kelabu, teriaknya pula sambil menuding.

"Hwi-thian-ya-ce, jangan kau mengudal aturan Kangouw, kau tidak lebih cuma budak guruku, segalanya harus dengar perintahku. Ssekarang kuperintahkan keluar dari sini."

Peng-toanio menarik muka, katanya berat.

"Kecuali Soat-lo Thay-thay, siapapun tiada hak main perintah kepada aku!"

"Suhu sedang menutup pintu dan semadi, aku mewakili beliau, kau mau pergi tidak.?"

"Soat-lo Thay-thay sendiri juga sungkan mengusir aku dengan kata-kata kasar, kau budak busuk ini rasanya perlu dihajar!"

Khong Ling-ling mendengus, tiba-tiba badannya berkelebat, tangannya menampar ke muka Peng-toanio, gerak geriknya bagaikan setan. Peng-toanio tidak siaga.

"Plak"

Pipinya kena digampar keras Sambil bertolak pinggang, Khong Ling-ling tertawa dingin.

"Hwi-thian-ya-ce! Kalau kau tidak tahu diri, awas aku tidak berlaku sungkan lagi terhadap kau!"

Lima jari yang berwarna merah yang menyolok membekas di pipi Peng-toanio.

Biji-matanya mendelik gusar, sambil menggerakkan kedua telapak tangannya sudah merangsang ke dada Khong Ling-ling.

Khong Ling-ling berhasil mematahkan serangannya, malah dia berhasil mencengkeram urat nadinya, desisnya dengan bengis.

"Peng Kiok-jin, kalau tidak memandang muka Suhu, segera kucabut nyawamu, menggelindinglah!"

Begitu tenaqa dikerahkan, sekali sendal badan Peng-toanio mencelat tinggi jatuh terduduk di atas tanah tak bergerak, kedua matanya menjublek tanpa berkesip.

Sekian lama ia terduduk diam, akhirnya seperti sadar dari mimpi buruk, sekonyong-konyong ia menggembor keras, mulutnya menyemburkan darah segar, badannya pun berguling rubuh ke belakang.

Meski berkumpul cuma beberapa hari, tapi kesan Thio Ceng Ceng terhadap perempuan ini sangat baik, cepat ia memburu maju serta memaapahnya, teriaknya.

"Toanio, toanio. Kenapa kau?"

Sembari berteriak tangannya mengurut dada orang, sejak kecil ia hidup berdampingan dengan Thio Hun-cu sedikit banyak paham soal pengobatan, ia tahu Peng-toanio jatuh pingsan karena sesak napas, maklum terlalu mengandung malu dan gusar, kalau darah yang menyumbat dada tidak dikeluarkan dan sampai membeku, kelak bisa menjadi bibit penyakit.

Khong Ling Ling menghampiri seraya menjengek dingin.

"Dia sedang pura-pura mati! Lekas kau bawa dia keluar!"

Thio Ceng Ceng memohon.

"Khong-siocia. Tolong usahakan supaya aku bertemu dengan Soat-lo Thay-thay, aku ingin tanya keadaan penyakit Koan-toako!"

Khong Ling-ling membeku, sahutnya menggeleng.

"Tidak bisa, Suhu melarang kau kemari, beliau sudah pesan bila kau berani melangkah setapak ke dalam lembah ini, kau harus dibunuh tanpa perkara, kini kuberi kesempatan keluar dari sini, itu berarti sudah melanggar pesan Suhu."

"Kenapa Soat-lo Thay-thay sedemikian benci kepadaku?"

"Tidak tahu!"

Teriak Khong Ling-ling aseran.

"Hayo mengelinding pergi, jangan memancing amarahku. Aku tidak segan turun tangan!"

Thio Ceng Ceng insyaf bila berkelahi dirinya jelas bukan tandingan orang, terpaksa dengan duka dan rawan ia jinjing tubuh Peng-toanio. katanya sambil sesenggukan.

"Khong siocia, Koan-toako...."

Khong Ling-ling sudah tidak sabar, dengusnya.

"Legakan saja hatimu, di bawah pengobatan guruku, tanggung dia tidak akan mampus!"

Thio Ceng Ceng masih ingin bicara, tapi mendadak Pengtoanio yang berada dalam pelukannya meronta dan melompat seperti banteng ketaton melabrak ke arah Khong Ling ling, karena gerakannya terlalu cepat dan mendadak lagi, Thio Ceng Ceng tidak menduga, sehingga ia terpental jatuh terduduk di tanah.

Agaknya Khong Ling-ling juga tidak waspada, tersipu-sipu ia angkat lengannya menangkis, berbareng tangan yang lain menyengkelit dengan keras, kemudian badan Peng-toanio terangkat , terus dilempar jumpalitan, tapi pipi Khong Ling-ling masih kena tampar dengan cukup keras dan berbunyi nyaring.

Peng-toanio gentayangan beberapa langkah baru ia dapat berdiri tegak, sambil mendongak ia terloroh-loroh, serunya.

"Budak, akhirnya aku berhasil membalas tempilinganmu tadi!"

Pipi kanan Khong Ling-ling merah dan bertapak lima jari, pipi kiri menjadi pucat saking marahnya, secepat anak panah badannya terbang melesat, beruntun jari tangannya menusuk dan memuntir, gerak-geriknya lihay, sekaligus beberapa jalan darah Peng-toanio tertutuk dan roboh terkapar di tanah.

Sebelah kaki Khong Ling-ling menginjak dadanya, katanya dengan beringas.

Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 5

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert