Ceritasilat Novel Online

Walet Besi 5

Eps 5 Walet Besi - Cu Yi

Baca online Walet Besi - Cu Yi

Cersil Walet Besi - Cu Yi.

Tu Liong segera terpikirkan bermacam-macam cara untuk membuk tikan perkiraannya.

Hanya saja dia juga sedikit ragu ragu.

Kalau dugaan dia tepat, rasa kesal Cu Siau-thian pasti akan berubah menjadi kemarahan.

Bukankah ini namanya mendapatkan masalah besar?

Berpikir sampai disini, dia membuat sebuah keputusan.

Dia harus secepatnya pergi dari tempat ini.

Ini hanyalah sebuah pemikiran.

Pelaksana-annya pastilah sangat sulit.

Dia berbaring diatas ranjang.

Sambil berbaring dia dapat melihat atap kamar dengan jelas, sepertinya itu adalah jalan keluar satu-satunya.

Tapi kalau dia bisa berpikir seperti itu, orang lain pun pasti sudah berpikir kesana.

Penjagaan diatas genting pasti sama ketatnya dengan penjagaan dibawah.

Sepertinya Tu Liong sudah kehabisan akal.

Tiba-tiba dia merasa haus.

Sepertinya tadi dia sudah banyak bicara, dan selama ini hanya disuguhkan secangkir teh yang bahkan tidak diminumnya.

Dia segera turun ranjang dan berjalan keluar.

Setelah membuka pintu, dua orang pengawal segera menghampirinya.

Dia bertanya dengan sangat sopan "adda yang bisa kamibantu?"

"Teh!"

Tu Liong masih merasa dongkol. Dia menjawab pertanyaannya dengan kasar. Pengawal itu masih sopan padanya "Teh nya segera datang"

Sepoci teh panas kembali disuguhkan dengan sangat cepat. Orang yang membawa teh ini adalah pria tua berumur lima puluh tahun lebih yang tadi sudah menuangkan teh padanya.

"Teh apa ini?"

Sebenarnya Tu Liong tidak ada tema khusus untuk dibicarakan, tapi dia mencoba membuka percakapan.

"TehKoan-in"

"Aku hanya minum teh Liong-kim"

"Kalau begitu aku akan segera mempersiapkan sepoci teh yang baru"

Mendadak Tu Liong menurunkan nada suara-nya. Setengah berbisik dia berkata.

"Apakah kau ingin mendapatkan seratus uang orang asing?"

Pria tua ini memandangnya dengan tatapan curiga.

"Kau tidak usah terburu-buru untuk menjawab. Kau boleh berpikir dengan baik. kau masih sempat menjawab ketika kau mengantarkan teh nanti"

Pria tua ini lalu membawa poci tehnya pergi.

Tu Liong menaruh harapan besar padanya.

Para pengawal diluar sepertinya tidak mengetahui kalau dia sudah bekerja sama dengan pria penuang teh.

Mereka terus berjaga tanpa curiga.

Setelah beberapa lama, pria tua itu kembali mengantarkan teh yang diminta.

"Tu Siauya, ini adalah teh Liong-kim lokal yang sangat terkenal"

"Mmm.. sungguh harum...."

Jawab Tu Liong dengan suara keras. Mendadak dia membungkukkan badan dan kembali berbisik pada pria tua itu.

"Apakah kau sudah berpikir baik-baik?"

Pria tua itu ikut-ikutan mencondongkan kepalanya ke dekat Tu Liong dan berkata.

"Tadi kau mengatakan akan memberiku seratus uang luar negeri. Apa yang harus kukerjakan?"

Ternyata pria tua ini sudah memakan umpannya.

"Kau hanya perlu pergi mengantarkan pesan. Setelah itu kau bisa mengambil seratus uang orang asing"

"Apakah semudah itu?"

"Kau sudah sangat tua. Aku tidak mungkin mempermainkan dirimu."

"Baiklah, kalau begitu aku akan menyam-paikan pesanmu."

"Apakah kau bisa keluar masuk tempat ini dengan mudah?"

"Tentu saja bisa. Aku adalah pesuruh yang bertugas mengatur persediaan barang barang didalam rumah ini. mereka tidak mungkin membatasi kebebasanku pulang pergi"

"baiklah. Dengarkan baik-baik, aku she Tu. Kau pergilah ke sebelah timur, empat blok rumah bertingkat, komplek perumahan mewah didekat sepuluh gang kecil. Di kediaman keluarga besar Leng, carilah Wie Siauya dan ceritakan tentang keadaanku disini. Ini sudah cukup."

Pria tua itu berpikir sejenak. Dia lalu bertanya.

"Siapa yang akan memberikan uangnya padaku?"

Tu Liong juga ikut diam sejenak. Ternyata pria tua ini lihai juga...

"Kau ambillah uangnya dari Wie Siauya. Kalau dia tidak memberikannya, kau jangan katakan apapun padanya. Kalau kau pergi, aku berani menjamin kau tidak akan dirugikan."

Pria tua ini memandang Tu Liong dengan tatapan percaya tidak percaya.

Setelah itu dia segera berjalan keluar.

Percakapan bisik bisik antara Tu Liong dengan orang tua tadi lumayan lama.

Tu Liong hanya berharap para pengawal yang berjaga diluar tidak curiga.

Tu Liong sudah memeriksa semuanya dengan seksama.

Para penjaga semuanya adalah pria kasar.

Mereka semua memiliki otak yang sangat sederhana dan hanya patuh mendengarkan perintah.

Selain masalah itu mungkin mereka tidak memperdulikan apa-apa lagi.

kalau mereka memang merasa curiga, dari awalpun mereka pasti akan masuk kedalam dan mengusir pria tua.

Sekarang Tu Liong terpaksa menunggu sambil merasa khawatir, Tidak ada lagi yang bisa dilakukan-nya selain menunggu...

menunggu...

dan menunggu...

tak terasa dia menunggu sangat lama., dia bahkan sampai tertidur.

Pada saat dia terbangun, di sekelilingnya terasa sangat sunyi.

Dia tidak dapat memastikan berapa lama dia sudah tertidur disana.

tapi dia berani memastikan kalau Wie Kie-hong tidak mungkin datang.

Alasannya ada dua.

Pertama.

orang tua itu tidak menyampaikan berita sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Kedua.

walaupun Wie Kie-hong sudah mendapatkan berita, dia tidak berani datang.

Tu Liong sungguh berharap bahwa kemungkinan pertama lah yang terjadi.

Ketika seseorang menaruh harapan besar pada diri orang lain, dan orang itu membuat dirinya kecewa, ini adalah sebuah hal yang sangat menyakitkan hati.

Lampu lilin dalam kamar nyaris kehabisan minyak.

Karena itu nyala apinya sangat redup.

Suasana dalam kamar terlihat remang-remang.

Tu Liong duduk dari posisi berbaring.

Dia mendadak terlonjak kaget.

Ternyata ada seseorang yang sedang duduk di bangku didepan meja.

Orang ini sedang tertidur.

Walaupun orang ini sedang tertidur dan menundukkan kepala, Tu Liong masih mengenali kalau orang ini adalah Wie Kie-hong.

Ternyata Wie Kie-hong belum mengecewakan dirinya, hanya saja dia tidak bisa membantunya kabur dari sini.

Jangankan kabur...

dia sendiri juga akhirnya sama sama terperangkap dalam kamar ini.

Mengapa Wie Ceng mau mempersulit anaknya sendiri?

Tu Liong berjalan mendekat.

Perlahan lahan dia menggerak gerakan bahu Wie Kie-hong untuk membangunkannya.

Wie Kie-hong segera sadar.

"Tu toako, kau..."

"Kie-hong, mengapa bisa terjadi seperti ini?"

"Bukankah kau sudah mengutus seorang tua untuk memberi kabar padaku?"

"Betul. Kau juga pasti sudah memberinya mata uang orang luar negeri kan? "Iya! bukankah kau yang sudah menyuruh-nya mengambil uang itu dariku?"

"Belakangan dia membawamu kemari"

Mendadak Tu Liong merasa kecewa.

"Hmm...!"

Wie Kie-hong mengangguk dengan semangat.

"Lalu mengapa kau menunggu disini?"

"Itu perintah ayahku. Dia menyuruhku untuk menemanimu"

"Ayahmu! apakah kau melihat ayahmu?"

Tu Liong buruburu bertanya dengan semangat "Tidak. Ada orang yang datang memberitahukannya padaku"

"KIE-HONG!! Apakah kau percaya?"

"Mengapa aku harus tidak percaya? Ayahku berkata kalau besok pagi dia pasti akan menjumpaiku"

Tu Liong hanya menunduk diam dan menggelenggelengkan kepala. Mendadak dia mengangkat kepalanya dan berseru pada Wie Kie-hong.

"Kie-hong! Ada orang yang meminjam nama ayahmu untuk menipu kita. Kita berdua sudah masuk perangkap. Semua hal ini tidak ada hubungannya dengan ayahmu....Kie-hong, pada waktu kau datang kemari, apakah kau memperhatikan keadaan diluar?"

"Aku sudah memeriksanya. Diluar dijaga sangat ketat"

"Ugh...! kalau begitu kita tidak mungkin melarikan diri. Kiehong ! aku sungguh merasa sangat menyesal. Aku sudah terjebak disini, ya sudahlah. Mengapa aku harus mengundangmu masuk dalam perangkap yang sama."

"Tu toako! tiba-tiba aku mengerti tentang sebuah masalah. Sepertinya ada orang yang mengingin-kan kita menghilang dari peredaran. Sepertinya kalau kita sedang bersama-sama, ada orang yang merasa dirugikan."

"Karena itu kau datang kemari?"

"Betul sekali! kau sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari tahu tentang keberadaan ayah kandungku. Aku hanya bisa bersembunyi di rumah bersenang senang. Ini........aku tidak bisa berkata apa apa. Aku seharusnya malu"

"Wie Kie-hong, mempunyai seorang sahabat seperti dirimu, mati pun aku rela, dan tidak menyesal"

"Tu toako jangan berkata seperti ini"

Mereka berdua lalu sama sama diam Mendadak Wie Kie-hong menurunkan nada bicaranya. Setengah berbisik dia memanggil Tu Liong.

"Ketika aku datang kemari, aku memperhati kan semua penjaga dengan sangat teliti. Tidak ada satu mukapun yang aku kenali. Sepertinya mereka semua datang dari luar kota"

"Wie Kie-hong. Apakah ada manfaatnya kamu membuat kesimpulan itu?"

"aku menebak, keadaan disini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Leng Souw-hiang. Dengan Cu Taiya pun tidak ada hubungannya."

"Oh...! Mengapa kau membuat dugaan seperti ini?"

"Kalau kejadian disini masih memiliki hubungan dengan salah seorang diantara mereka, mereka pasti akan menaruh seseorang yang dapat dipercaya disini. Mereka tidak mungkin menggunakan pengawal yang semuanya belum mereka kenal. Betul tidak?"

"Wie Kie-hong ! sebenarnya aku sendiri merasa tidak percaya kalau hal ini ada hubungannya dengan ayah mu."

"Tu toako! apakah kau bisa memastikannya?"

"Tentu saja bisa"

"Kalau memang tidak ada hubungannya dengan ayahku, untuk apa menunggu sampai langit terang? Lagipula kita berdua tidak bisa kabur dari sini"

"Wie Kie-hong, apakah kau mau mencoba-nya?"

"Sebaiknya sekarang kita langsung mencoba-nya"

"Aku masih sedikit ragu"

"Ragu apa?"

"Aku khawatir ternyata dugaanku salah. Kalau ternyata hal ini ada hubungannya dengan ayahmu, ayahmu pasti akan merasa kecewa. Ketika kau menemui ayahmu nanti, bagaimana kau akan menerangkan padanya?"

Wie Kie-hong hanya menunduk tidak berkata kata. Pada waktu ini, pria tua pembawa teh kembali masuk kedalam kamar.

"Tu Siauya! Aku datang membawakan teh untukmu"

Sambil menuangkan teh, dia melirik ke arah Tu Liong. Tu Liong langsung mencondongkan tubuhnya mendekat, dengan suara yang nyaris tidak terdengar dia bertanya.

"Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan?"

"Terimakasih untuk seratus uang orang asingnya. Apakah Tu Siauya masih ingin aku menjalankan tugas yang lain?"

Ternyata orang tua ini masih berharap bisa mendapatkan uang seratus mata uang orang luar negeri kedua.

"Aku ingin bertanya tiga pertanyaan padamu. Nanti aku akan memberikan seratus lagi. tapi sekarang aku tidak membawa uang. Tapi nanti aku pasti akan memberitahumu dimana kau bisa mengambilnya"

"Baiklah! silahkan bertanya"

"Siapa pemilik bangunan ini?"

"Siapa pemiliknya, aku juga tidak jelas, yang pasti Bu Tiatcui yang tinggal di gang San-poa datang kemari mengobrol dengan majikanku. Katanya dia mendapat perintah dari majikannya"

Tu Liong dan Wie Kie-hong saling bertukar pandang. Mereka tidak menunjukkan maksud apa apa. Tu Liong juga tidak bertanya lebih jauh tentang masalah ini.

"Para pengawal yang tinggal disini ada berapa orang? apakah mereka mempunyai senjata?"

"Disini semuanya ada empat belas orang penjaga. Sepertinya ada tiga orang yang membawa senjata. Dua orang membawa aneh....Tu Siauya! Ketiga pertanyaan ini sudah semuanya aku jawab! tapi pertanyaanmu sangat mudah, rasanya aku tidak sampai hati menerima uangmu begitu saja."

Tu Liong melanjutkan pertanyaannya.

"Apakah kau pernah mendengar orang yang bernama tuan Wie ?"

Orang tua ini mengangguk-angguk. Tu Liong dan Wie Kiehong segera menyimaknya. Orang tua itu lalu menunjuk ke arah Wie Kie-hong. Semangat yang berkobar langsung sirna.

"Sepertinya dia tidak pernah mendengar tentang ayahmu"

Tu Liong lalu berpaling pada orang tua itu dan melanjutkan pertanyaannya.

"Ketika kau berbicara dengan Bu Tiat-cui, apakah kau mendengar nama Leng Souw-hiang ataupun Cu Siau-thian?"

Orang tua ini tampak berusaha keras meng-ingat-ingat. Setelah beberapa lama dia berkata.

"Aku tidak pernah mendengarnya. Aku hanya mendengar nama Bu Tiat-cui. Tapi majikanku memanggilnya dengan sebutan Bu Taiya. Dia selalu berkata-kata dengan sangat sopan. Aku tidak pernah mendengarnya seperti itu."

Orang yang menahan Tu Liong dan Wie Kie-hong ternyata adalah Bu Tiat-cui. Ini sungguh diluar dugaan. Demi mencari kebenaran, Tu Liong bertanya lagi.

"Pak tua! Apakah yang kau omongkan adalah yang sebenarnya?"

"Tu Siauya, aku juga pernah mendengar kalau anda berdua adalah orang yang sangat terkenal di kota Pakhia ini. mana berani aku menipu kalian? Apalagi kalian berjanji akan memberiku uang orang asing. Mana berani aku mengarang cerita?"

"Baiklah! Aku pasti memberimu seratus mata uang orang luar negeri."

"Tu Siauya! Kau harus ingat kalau kau berhutang padaku seratus mata uang asing."

"Tidak salah. Aku tidak akan lupa janjiku."

"Aku percaya padamu....baiklah ! kalau begitu sebaiknya kita memulai transaksi jual beli yang lain"

Ternyata pak tua ini matanya hijau kalau berdiskusi tentang mendapatkan uang.

"Eeee... !"

Tentu saja Tu Liong merasa sangat terkejut mendengar kata kata pak tua.

"transaksi jual beli apa lagi?"

"Kedua tuan muda pastilah berpikir ingin melarikan diri dari tempat ini tanpa membuat masalah"

Tu Liong dan Wie Kie-hong saling berpan-dangan.

"Pak tua ada ide??"

"Tentu saja ada"

Pak tua menyeringai lebar. Matanya berbinar-binar.

"Tidak perlu menggunakan senjata, tidak perlu bertarung menggunakan tinju ataupun tendangan maut. Aku bisa membawa kedua tuan muda ini keluar dari sini"

"Coba katakan apa yang sedang pak tua pikirkan. Akal cemerlang semacam apa yang pak tua pikirkan?"

"Tu Siauya! tidak perlu kau tanyakan! aku sudah mempersiapkan semuanya. Tapi pertama-tama aku ingin bertanya... anda berani membayarku berapa banyak?"

Dari kejauhan Wie Kie-hong tampak meng-garuk-garuk kepalanya. Tu Liong sebaliknya tampak bersemangat.

"Baiklah! bersama dengan seratus uang asing yang tadi sudah kujanjikan, total aku akan memberi-kanmu lima ratus."

"Lima ratus?"

Pak tua itu kegirangan. Pertama-tama dia pikir dia sudah salah dengar.

"Lima ratus!"

Tu Liong berkata sekuat tenaga. Pak tua menyeringai lebar memperlihatkan giginya yang mulai menghitam "Kapan kau akan memberikannya padaku?"

"Kalau kita berdua bisa pergi sekarang juga, kami akan segera memberikan uangmu besok pagi"

"Baiklah! kalau begitu kita bertiga bertemu di kedai makan besok tengah hari. Sekarang ini...."

Pak tua segera berdiri dan membuka pintu "Silahkan...."

Tu Liong dan Wie Kie-hong melotot bersama sama.

"Sekarang...?"

Wie Kie-hong yang selama ini diam, secara reflek bertanya.

"Pergi begitu saja?"

"Betul"

Tu Liong juga keheranan. Dia ikut bertanya "Pak tua! bukankah kau mengatakan kalau disini ada empat belas orang pengawal yang berjaga jaga?"

"Tidak salah. Tapi sekarang tidak seorang pun yang bisa menghalangi kalian untuk melarikan diri."

"Kenapa?"

"Tu Siauya! tadi kau pasti sudah tertidur lelap. Benar tidak?"

"Mmm...."

"Ini karena aku sudah mencampurkan sedikit serbuk obat tidur kedalam tehmu"

"Obat tidur?"

"Iya, obat tidur!"

Pak tua itu kembali menyeringai misterius.

"itu adalah siasat bulus yang biasa digunakan para pendekar dunia persilatan. Aku sebenarnya tidak mengerti tentang obat ini....aku ada sebuah penyakit menahun, aku sulit tidur dimalam hari. Seorang tabib sudah memberiku serbuk tanaman ini....sepertinya tanaman obat itu disebut "rumput dewi tidur"

Atau apalah. Menaruh dua tiga batang dan direbus bersama dengan teh, sungguh berkhasiat....hehehe ! sekarang semua orang itu sudah tertidur dengan pulas. Siapa yang bisa menghalangi jalan kalian?"

Wie Kie-hong dan Tu Liong kembali saling bertukar pandang. Akhirnya mereka berdua berjalan keluar. Tu Liong berjalan didepan, Wie Kie-hong dibelakang.

"Tu Siauya!"

Pak tua itu mengingatkan untuk ketiga kalinya.

"jangan lupa! besok tengah hari di rumah makan "Cilai-sun". Lima ratus mata uang asing"

Setelah kedua orang tuan muda itu berjalan keluar dari kamar, mereka melihat kalau semua penjaga sedang bergelimpangan disana-sini tertidur pulas, dalam hati mereka berdua berkata bersamaan.

"Ternyata pak tua memang tidak berbohong."

Mereka terus berjalan keluar taman.

Mereka membuka pintu besar dan melangkah keluar.

Pak tua menutup pintu dibelakang mereka setelah mengucap-kan salam perpisahan.

Ditengah jalan yang sepi, Tu Liong dan Wie Kie-hong masih tampak sedikit bingung.

Seolah olah semua kejadian tadi hanya terjadi dalam mimpi.

"Tu toako! keadaan sudah berubah sampai seperti ini. perubahannya sangat tiba-tiba"

"Mmm... memang sangat mendadak. Aku curiga pak tua itu bukan sembarangan orang tua."

"Aku juga merasa seperti itu. tapi aku ada cara untuk membuktikannya"

"Apa akalmu untuk membuktikannya?"

"Kita sekarang pergi ke gang San-poa"

"Mencari Bu Tiat-cui?"

"Mmm!"

Tu Liong terdiam sesaat, dia kembali berkata.

"Kurasa terlalu gamblang kalau kita berdua pergi kesana sekarang. Mirip seperti polisi yang sedang mengejar penjahat, sambil berlari sambil teriak 'maling'. Sebaiknya kita memikirkan cara lain yang lebih diam-diam"

"Apakah maksudmu kita menerobos masuk rumahnya diam-diam?"

"Betul. Karena itu kita tidak perlu segera pergi"

"Diam-diam masuk kerumahnya, aku tidak keberatan. Hanya saja kita berdua malam ini harus pergi melihat Bu Tiatcui"

"Apakah ada alasannya?"

"Bu Tiat-cui adalah seorang peramal. Siang hari dia menjalankan usaha meramal. Malam hari dia mengerjakan hal yang lain"

"Masuk akal. Ayo kita pergi" --Kedua orang itu segera berjalan menuju gang San-poa ke depan rumah Bu Tiat-cui. Mereka tidak mengetuk daun pintu. Mereka hanya meneliti dinding pembatas rumahnya. Tidak terlalu tinggi... dengan kemampuan ilmu silat mereka, mereka berdua bisa melompatinya dengan mudah. Kedua pemuda ini mendarat dengan indah kedalam taman. Dari dalam kamar samping segera terdengar suara orang bercakap-cakap.

"Bu Tiat-cui! kau sungguh orang yang sangat lihai! HUH! Seorang peramal namun memiliki kekuasaan sangat besar seperti ini. katakanlah ! mengapa bisa begini?"

Orang yang sedang berkata itu adalah Cu Siau-thian. Mereka berdua lalu mengendap-endap mendekat. Jendela kamar tertutup rapat.

"Cu Taiya !"

Terdengar jawaban Bu Tiat-cui yang berkata pada Cu Siau-thian dengan sopan.

"kamu sudah menanyakan padaku setengah harian ini. aku betul-betul tidak memiliki kekuasaan apa apa...."

"Bu Tiat-cui, kalau kau tetap berbelit-belit seperti ini, aku tidak akan sungkan lagi padamu. Apakah kau pikir aku datang tengah malam seperti ini hanya untuk mendengarkan bualanmu ?"

"Cu Taiya! Tolong dengar penjelasanku."

"Aku hanya ingin mendengar apa yang ingin ku ketahui. Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu"

"Baiklah... baiklah ...baiklah..."

"Aku bertanya satu kalimat, kau menjawab satu kalimat. Kau sudah mengetahui banyak hal, kau juga pasti tahu kalau aku Cu Siau-thian ini tidak gampang ditipu. Jangan sampai berbohong didepanku."

"Baiklah ...baiklah ...baiklah..."

"Pertanyaan pertama.

"Dimana kau menyekap Tu Liong dan Wie Kie-hong? Bu Tiat-cui... kalau kau tidak menjawab satu pertanyaan ini dengan jujur, kau tidak perlu menjawab pertanyaan yang lain, karena kau tidak akan punya kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang lain..."

Setelah ini suasana kembali sunyi sangat lama.

Tampaknya Bu Tiat-cui sedang menimbang-nimbang keadaan Cu Siau-thian sepertinya tidak memaksanya untuk segera menjawab.

Setelah sangat lama terdengar kata-kata Bu Tiat-cui.

"Cu Taiya... aku tidak berani menutupmu. Mereka berdua sekarang sedang disekap dalam sebuah rumah di gang Sakura."

"Siapa yang sudah menyuruhmu menyekap mereka?"

"Leng Souw-hiang"

"Bohong!"

"Cu Taiya! Aku tidak berbohong padamu"

"Leng Taiya sudah mati"

"Apa? tadi pagi dia masih mengutus orang datang kemari..."

"Mengutus siapa?"

"Aku tidak mengenalinya"

"Kalau tidak kenal, bagaimana kau bisa tahu dia sudah diutus Leng Taiya untuk mengabarkanmu?"

"Aku tidak ingin menutupimu. Antara aku dengan Leng Taiya ada sebuah rahasia"

"HUH! kau tidak usah berpura-pura. Kau sudah tahu kalau Leng Taiya sudah mati, karena itu kau berusaha melempar kesalahan padanya."

"Cu Taiya, yang aku katakan adalah yang sebenarnya"

"Aku akan bertanya lagi. kau sudah berapa lama kenal dengan Leng Taiya?"

Tidak ada jawaban lagi.

tampaknya Bu Tiat-cui sedang berusaha menghitung dengan cermat Wie Kie-hong menarik Tu Liong, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu padanya, tapi dia takut gerak-geriknya diketahui oleh kedua orang didalam.

Tu Liong menempelkan telunjuknya ke bibir-nya yang monyong.

Dia mengisyaratkan agar Wie Kie-hong tidak berbicara dulu.

"Aku sudah kenal Leng Taiya selama sepuluh tahun"

"Mengingat kedudukan Leng Taiya yang tinggi, mengapa dia bisa menjalin hubungan denganmu?"

"Sebenarnya aku juga salah seorang pendekar kalangan dunia persilatan. Aku sudah lama membantunya mengurus banyak hal. Aku sudah menjadi anak buah kepercayaannya. Aku membuka usaha meramal disini sebenarnya adalah kedok saja. Diam-diam aku membantunya mencari informasi"

"Mencari informasi apa?"

"Ketika dynasti hampir runtuh, pemerintahan bergejolak tidak menentu. Leng Taiya sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dia menggunakan aku untuk mencari informasi dari rakyat tentang apa tanggapan mereka pada pemerintahan. Dia menyensor berita ini agar tidak terdengar oleh raja Su-cen."

"Apakah kau mengetahui bagaimana kejadian sesungguhnya ketika TiatLiong-san dicelakai?"

"Cu Taiya! sebenarnya aku tidak ingin menceritakan tentang rahasia ini pada siapapun. Tapi sekarang Leng Taiya sudah meninggal, sepertinya aku tidak perlu menutupinya lagi! sebenarnya kabar tentang gerak-gerik Tiat Liong-san pada waktu itu aku yang siidah mencari tahu"

"HUH! Lalu apa maksud Leng Taiya men-celakai TiatLiongsan?"

"Demi harta"

"Bohong! Leng Taiya sangat kaya. Memangnya Tiat Liongsan punya berapa banyak harta sampai harus dicelakainya? Apa untungnya bagi Leng Taiya mencelakainya?"

"Aku berkata yang sebenarnya"

"Kalau begitu jelaskan padaku"

"Baiklah....Tiat Liong-san memiliki sebuah berlian berwarna merah darah yang sangat besar, menurut kabar yang beredar, dia mendapatkan berlian tersebut dari seorang ratu yang sedang berkelana, dia membawa berlian itu kedalam kota. Orang yang pertama dicarinya adalah Hui Taiya. Hui Taiya memiliki sebuah bank. Bawahannya yang bekerja di bank adalah para ahli menebak harga sebuah barang. Setelah diteliti, akhirnya diputuskan kalau harga berlian itu diatas seratus ribu uang asing. Tentu saja Hui Taiya tidak rela membayar uang sebanyak itu untuk mendapatkan berlian merah darah. Karena itu dia memotong harga jual sampai lima puluh ribu uang asing. Tiat Liong-san juga bukan orang yang tidak mengerti harga sebuah barang. Ketika mengetahui kalau perjanjian jual belinya sudah dicurangi, dia segera pergi dengan marah"

"Mmm.. teruskan ceritamu"

"Belakangan berita ini sampai ke telinga Leng Taiya. Dia memarahi Hui Taiya mengapa dia tidak segera memberitahukan tentang masalah itu padanya. Pada waktu yang bersamaan, Leng Taiya sudah memberi perintah padaku untuk memperhatikan semua gerak-gerik Tiat Liong-san. Setelah berapa lama, Tiat Liong-san kembali datang ke kota Pakhia..."

"Apakah dia masih berminat menjual berlian itu?"

"Betul. Tapi kali ini dia tidak membawanya ke Hui Taiya. Hui Taiya adalah saudagar yang mahir jual beli. Dia pasti akan membeli dengan harga sangat murah dan menjual dengan harga yang sangat mahal. Sistem jual beli seperti ini sudah tertulis dalam kitab suci para pedagang"

"Memangnya ada orang lain yang memiliki uang banyak yang ingin membelinya?"

"Ada ! sepertinya orang itu adalah seorang kolektor kaya. Dia bermaksud memberikan berlian itu untuk istri simpanannya. Setelah Tiat Liong-san sampai ke kota Pakhia, aku segera memberitahukan Leng Taiya. Gerak-gerik Leng Taiya juga sangat cepat. Sebelum Tiat Liong-san sempat bertemu dengan kolektor kaya ini, dia sudah ditangkap oleh Oey Souw. Pada hari kedua, Tiat Liong-san sudah kehilangan kepalanya."

"Lalu berlian merah darah itu?"

"Ditaruh didalam kopor kulit kuning yang selalu dibawanya"

"Lalu kopor itu?"

"Disimpan didalam gudang penyimpanan barang sitaan pemerintah. Ketika Tiat Liong-san ditangkap oleh Oey Souw, kopor ini disita. Leng Taiya segera menyuruh seseorang untuk mengambil kopor dari gudang"

"Aku dengar kopor itu sudah dititipkan oleh Leng Souwhiang untuk dijaga olehmu"

"Tidak! kopor yang diberikan Leng Souw-hiang padaku adalah sebuah kopor kosong"

"Aku tidak kaget mendengar kata-katamu. Leng Souwhiang tidak mungkin menyerahkan berlian besar merah darah semudah itu padamu........apakah kau mengenali Wie Ceng?"

"Tentu saja mengenalnya. Dia tiap hari selalu datang kemari. Dia mengatakan kalau dia ingin menanyakan peruntungannya, sebenarnya dia sedang mendengar kabar"

"Apakah kau tahu tentang dia pergi keluar kota?"

"Tahu"

"Untuk apa dia pergi keluar kota?"

"Pergi menyelidiki barang berharga milik Tiat Liong-san"

"Untuk apa menyelidikinya?"

"Cu Taiya! kau tidak perlu bertanya tentang hal ini! Leng Taiya takut kehilangan berlian itu"

"Hasilnya?"

"Apa yang terjadi pada Wie Ceng dan Leng Souw-hiang aku tidak tahu. Tapi aku tahu satu rahasia lagi."

"Oh?"

"Wie Ceng diam-diam sedang membantu Thiat-yan. Nona Thiat-yan adalah anak tunggal Tiat Liong-san"

"Oh? Apakah berita ini benar?"

"Kalau tidak benar, kau boleh memotong kepalaku"

"Apakah sekarang Wie Ceng ada didalam kota?"

"Tidak tahu"

"Menurut kabar yang beredar, Wie Ceng adalah pembunuh kepercayaan Leng Taiya. Apakah ini benar?"

"Tidak salah. Hui Taiya sudah dibunuh olehnya. Leng Taiya sudah berulangkah menyuruh nya membunuh Thiat-yan, tapi dia tidak pernah melaku-kannya"

"Kalau begitu siapa yang sudah membunuh Leng Taiya?"

"Kalau itu aku tidak tahu. Aku bahkan baru saja mendengar berita kematiannya dari mulutmu."

"Lalu sekarang dimanakah berlian merah darah itu?"

"Tidak tahu. Dugaanku berlian itu mungkin sudah dijual oleh Hui Taiya"

"Bertahun-tahun ini, aku selalu diperalat oleh Leng Taiya. Bahkan ada orang yang sudah menuduhku sebagai dalang yang mencelakai Tiat Liong-san. Aku sudah menjadi kambing hitam selama bertahun-tahun, apakah kau tahu?"

"Aku hanya pernah mendengarnya"

"Terhadap masalah ini, apakah kau punya pandangan yang lain?"

"Aku....aku tidak tahu harus berkata apa."

"Baiklah! kau cepat lah bebaskan Tu Liong dan Wie Kiehong. Kau jangan katakan apapun tentang diriku. Aku sudah menjadi kambing hitam selama ini, sebaiknya aku menanggung menjadi kambing hitam sampai aku mati"

"Baiklah., baiklah... aku segera pergi"

"Bu Tiat-cui! Kalau aku menemukan bahwa kau berbohong sedikit saja, atau kau melukai Tu Liong atau Wie Kie-hong, aku pasti tidak akan mengampunimu"

"Mana aku berani"

"Cepat pergi!"

Tiba-tiba didalam kamar terdengar suara keras. Setelah itu suara jeritan kesakitan. Terakhir hanya terdengar suara Cu Siau-thian yang berkata dengan keras.

"Bu Tiat-cui! orang tidak mungkin melukai hati seekor macan, namun seekor macan selalu bermaksud melukai orang, aku sungguh tidak menyangka"

Tu Liong segera menarik tangan Wie Kie-hong.

Dua orang ini segera menghancurkan jendela yang tertutup dan segera menerobos masuk kedalam ruangan.

Mereka melihat Bu Tiat-cui sedang menggenggam sebilah pedang, sedangkan pisau kecil di tangan Cu Siau-thian sudah menembus jantung Bu Tiat-cui.

Kelihatannya situasinya sangat sederhana.

Bu Tiat-cui berpikir menyerang Cu Siau-thian secara mendadak.

Tapi Cu Siau-thian membunuhnya untuk membela diri.

"Cu Taiya!"

Dua orang itu berteriak bersamaan karena merasa kaget.

"Eh..?"

Cu Siau-thian tampak terkejut melihat mereka berdua disana.

"Wie Kie-hong, Tu Liong....apakah kalian tidak apa-apa?"

"Cu Taiya, kita berdua sudah datang dari tadi."

"Cu Siau-thian melepaskan genggaman pisaunya. Pisau itu masih menancap di dada Bu Tiat-cui. Tubuh Bu Tiat-cui jatuh kebelakang dengan suara berdebam lalu tidak bergerak lagi. tusukan Cu Siau-thian sungguh sangat akurat.

"Kie-hong!"

Cu Siau-thian berkata penuh penyesalan.

"aku sebenarnya tidak ingin mem-bunuhnya, aku belum bertanya dengan jelas tentang keberadaan ayah kandungmu. Aku belum mendapat....Aih ! aku tidak menyangka dia akan berbuat seperti ini"

"Cu Taiya"

Tu Liong juga terdengar sangat menyesal.

"aku tidak tahu harus bagaimana menunjukkan apa yang sedang kurasakan. Aku hanya merasa bahwa hubungan antara manusia dengan manusia yang lain sangat mudah terjadi kesalah-pahaman. Sebenarnya mendengarkan kenyataan yang sebenarnya bukanlah suatu hal yang sulit diterima. Contohnya sekarang...."

"Sekarang!"

Tiba-tiba terdengar suara seseorang memotong pembicaraannya dari luar.

"sekarang aku sudah berhasil menangkap orang yang memiliki ekor rubah, aku akan memperlihatkan pada semua orang"

Berbarengan dengan selesainya kata-kata itu, orang yang mengatakan segera masuk ke dalam ruangan.

Orang itu adalah Thiat-yan.

Ketiga orang didalam ruangan itu semuanya melihat pada dirinya.

Mungkin mereka bertiga memiliki pemikiran masingmasing yang pasti tidak sama.

Semua orang pasti sedang menebak apa arti kata-kata yang baru diucapkannya.

"Thiat-yan!"

Akhirnya Tu Liong membuka mulutnya.

"apa artinya kata katamu itu?"

"Wie Siauya!"

Thiat-yan berkata dengan dingin.

"mengapa kau tidak meminta penjelasan dari Cu Siau-thian?"

Wie Kie-hong segera mengalihkan pandangan matanya pada Cu Siau-thian.

Dia melihat kalau sekarang Cu Siau-thian terpaku disana seperti mem-beku.

Sepertinya Wie Kie-hong belum pernah melihat Cu Siau-thian seperti ini.

dia sangat tidak enak dilihat.

"Adik Yan!"

Tu Liong berkata dengan tenang padanya.

"tampaknya semua misteri sudah ter-pecahkan. Untuk apa kau ikut campur lagi?"

"Cu Taiya! Aku harus mengakui kalau kau adalah orang yang sungguh cerdik. Tu Liong, Aku hanya perlu berkata satu kata ini saja kau seharusnya sudah mengerti. Aku sudah lebih dulu datang kemari sebelum kalian. Karena itu aku tahu lebih banyak hal dari pada apa yang sudah kalian dengar. Apakah kalian mengerti?"

"Teruskan"

Sekarang raut muka Tu Liong pun ikut berubah.

"Kalian berdua pasti mengetahui rahasia "tipuan pengembara jembatan langit"

Yang disukai banyak orang.

Tipuan bergandanya sudah membuat orang bingung.

Namun kalau mengetahui rahasia yang digunakannya, semua orang pasti tertawa.

Hanya saja tipuan ganda berganda yang sudah diperagakan Cu Siau-thian tadi dipentaskan dengan jauh lebih baik."

Tipuan ganda berganda?

Apakah mungkin tadi Cu Siauthian sedang berbicara sendiri?

tidak mungkin!

Tidak mungkin seseorang bisa meniru suara orang lain sebaik itu.

tapi kalau memang Bu Tiat-cui dipaksa membuat pengakuan, rasanya hal ini juga tidak mungkin dilakukan.

Cu Siau-thian sama sekali tidak berkata apa apa.

Thiat-yan meneruskan kata katanya.

"Sungguh tidak disangka di dunia ini ada orang yang secerdik Cu Siau-thian, dan ada orang yang sebodoh Bu Tiat-cui. Kedua orang ini bisa bekerja sama adalah hal yang jarang ditemui"

"Thiat-yan!"

Akhirnya Cu Siau-thian membuka mulutnya. Kata-katanya diucapkan perlahan-lahan.

"Siasat apapun yang sedang kau rencanakan untukku, aku sudah tidak perduli. Hanya saja kau tidak dapat membengkokkan kenyataan. Setidaknya kau jangan membuat dua orang muda ini melihat dunia sebagai tempat yang sangat jahat...."

"Cu Taiya, dunia ini sebenarnya tidak jahat. Yang jahat adalah karakter manusia yang tinggal didalamnya..... aku sangat mengagumi dirimu. Kau sudah menggunakan taktik dengan sangat baik. dari awal sampai akhir, semua yang sudah kau rencanakan tidak meleset sama sekali. Pertamatama kau menyekap mereka berdua, setelah itu kau sengaja melepaskan mereka dari sekapan. Dengan sangat cerdik kau sudah melibatkan Bu Tiat-cui. Karena itu mereka berdua datang kemari mencari tahu. Setelah mereka sampai, kau mulai mementaskan 'sandiwara kecil'. Sehingga mereka berdua akan menjadi pendengar yang setia.

"Kau mengatakan bahwa kata-kata Bu Tiat-cui tadi semua sudah kukarang dan aku memaksanya untuk mengatakannya?"

"Tidak salah"

"Mengapa dia mau mendengarkan perintah-ku?"

"Pertama. dia ingin hidup. Kedua. kau sudah menjanjikan uang yang besar padanya. Setelah itu kau akan membuatnya menghilang dari peredaran untuk menghilangkan jejak. Kalau dia tahu pada akhirnya dia tetap akan sulit menghindari kematian, situasi pasti akan segera berubah."

"Kau jangan membuang-buang waktu omong kosong padaku"

"Apakah kau ingin bukti?"

"Tidak salah"

"Baiklah!"

Selanjutnya Thiat-yan mengatakan patah demi patah kata.

"Aku akan menunjukkan bukti kata-kata ku agar kalian semua bisa melihatnya sendiri! Tu Siauya, silahkan anda melihat pergelangan tangan Bu Tiat-cui."

Tu Liong melakukan perintahnya dengan sangat patuh. Dia menemukan tangan Bu Tiat-cui ada bekas ikatan tali.

"Cu Taiya! Apakah kedua pergelangan tangan Bu Tiat-cui pernah kau ikat?"

"Betul"

"Tolong balikkan mayat Bu Tiat-cui"

Saat ini mayat Bu Tiat-cui sedang berbaring terlentang.

Pisau Cu Siau-thian masih menancap erat di jantungnya.

Dengan susah payah Tu Liong mencabut pisau dari jantung Bu Tiat-cui.

Segera darah segar muncrat keluar.

Setelah itu dia membalikkan mayat sehingga sekarang mukanya menghadap ke lantai.

"Tu Siauya! Coba kau perhatikan dengan teliti. Apakah pada mayat itu tertancap sebuah jarum besi?"

"Mendengar kata 'jarum perak' mendadak Tu Liong tersentak. Beberapa tahun terakhir ini Cu Siau-thian .... ternyata memang benar di punggung mayat ini tersembul sebatang jarum besi. Jarum ini sudah bengkok karena tertimpa berat tubuhnya ketika jatuh terlentang tadi.

"Tu Siauya! Sekarang seharusnya kau sudah mengerti! Pertama-tama Cu Taiya sudah mengancam membunuh dengan cara menusukkan jarum besi pada titik darah penting Bu Tiat-cui. Mana mungkin dia tidak menuruti apa yang diperintahkan olehnya?"

Sekarang semuanya menjadi jelas, semua percakapan panjang yang didengarnya diluar adalah dialog palsu yang dilakukan hanya untuk merubah cara pandang Tu Liong dan Wie Kie-hong terhadap dirinya.

Cu Siau-thian tidak berbicara apa-apa.

Tu Liong dan Wie Kie-hong pun hanya menatap Cu Siau-thian tanpa kata-kata.

"Kie-hong, Tu Liong, apakah kalian percaya kata-katanya?"

Cu Siau-thian bertanya masih terdengar sangat tenang.

"Kami sedang menunggu penjelasanmu"

"Aku mengakui aku sudah mengancam Bu Tiat-cui dengan jarum besi, tapi semua kata-kata itu sudah diucapkan sendiri oleh Bu Tiat-cui. Aku tidak mengarangnya, aku tidak memaksa untuk mengatakan semua itu. jawabannya mengalir lancar bagaikan air. Kalau memang aku yang sudah menyuruhnya bicara seperti itu, mana mungkin dia bisa selancar itu mengatakan semuanya?"

"Cu Taiya!"

Tu Liong berusaha mendamaikan semua pihak.

"mungkin juga perbuatanmu sudah membuat kecurigaan Thiat-yan. Mengapa kau tidak mencoba menjelaskan semua hal dengan lebih teliti lagi?"

"Pada waktu itu, Leng Souw-hiang memiliki kekuasaan yang sangat besar di kota Pakhia ini. siapapun pasti akan mendengarkan kata-katanya. Tapi dia takut skandal yang tersebar luas akan membuat kesalahpahaman di dalam kalangan pemerintahan, karena itu dia menyuruhku keluar mewakilinya. Tadi aku memang menjebak kalian dalam sebuah rumah. Orang tua yang melepaskan kalian pun sebenarnya adalah orang suruhanku.

"rumput dewi tidur"

Pun aku yang sudah memberikannya.

Aku mengakui aku sudah membuat siasat ini, ini karena aku ingin kalian mendengarkan sendiri penjelasan yang sebenarnya dari mulut Bu Tiat-cui.

Karena kalau kalian mendengar penjelasan ini dari mulutku, kalian pasti tidak akan percaya."

"Teruskan kata-katamu,"

Thiat-yan menyuruh.

"Pada waktu itu setelah Leng Souw-hiang berjanji jika berhasil mencelakai Tiat Liong-san, dia akan memberikan masing-masing orang sejumlah uang yang lumayan besar. Tapi setelah itu dia malah mengatakan kalau permata merah darah itu sudah diberikan pada raja. Dan dia tidak jadi membayarkan uang jumlah besar itu. karena itu dalam hati kita semua ada sebuah dendam."

"Ketika dynasti Ceng jatuh, pemerintahan baru berdiri. Leng Souw-hiang pun kehilangan semua pengaruhnya. Tapi kalian semua masih menjalin hubungan baik dengannya. Mengapa kalian melakukan hal ini?"

Thiat-yan terus mendesak "Karena dynasti Ceng dikatakan akan bangkit kembali.

Kalau memang dynasti sungguh kembali berjaya, Leng Souwhiang akan memiliki kekuasaan yang sangat besar, siapa yang berani melawannya?

"Kalau begini berarti kau sama sekali tidak ikut ambil bagian dalam masalah ini?"

"Tidak! Aku juga harus ikut bertanggung jawab"

"Tanggung jawab apa?"

Thiat-yan masih terus mendesaknya.

"Aku seharusnya menjelaskan semua kejadian itu pada kedua anak muda ini. aku seharusnya membantu mereka membuat sebuah kesimpulan yang baik. sehingga mereka bisa berjalan di jalan yang benar. Tapi aku tidak berani mengatakan semua kejadian yang sebenarnya. Karena pada waktu itu Leng Taiya belum mati, aku takut padanya"

"Mungkin juga karena Leng Taiya sudah mati, maka kau melemparkan semua kesalahan pada dirinya"

"Tidak! Bukan seperti ini"

"Cu Taiya! Kau sudah membuat sebuah kesalahan besar"

"Kesalahan besar?"

"Bu Tiat-cui adalah tokoh yang memegang kunci pemecahan misteri ini. seharusnya kau membiar-kannya hidup, seharusnya kau tidak membunuhnya"

"Situasi SUCI c* h sangat mendesak. Aku tidak bisa menimbang-nimbang terlalu banyak"

"Apa maksudmu situasi sudah mendesak?"

"Apakah kau tidak melihat pedang yang dipegang oleh Bu Tiat-cui?"

"Aku melihatnya"

"Dia tiba-tiba membalikkan badan dan berusaha membunuhku. Apa yang harus aku lakukan?"

"Cu Taiya! Apakah Bu Tiat-cui yang menyerangmu pertama kali?"

"Betul"

"Dia pertama ingin membunuhmu, setelah itu kau berusaha membela diri dan membunuhnya. Ini membuktikan kalau ilmu silat dan ilmu pisaumu lebih hebat dibanding dirinya. Kalau anda tidak bermaksud membunuhnya, anda tidak perlu menancapkan pisau itu di tubuhnya. Lagipula jalan darah pentingnya sudah menempel sebatang jarum besi. Cu Taiya! Bukankah ini adalah sebuah kesalahan besar?"

"Aih...! ini hanyalah sebuah kebetulan... Thiat-yan....ini sungguh sebuah kesalah pahaman..."

"Cu Taiya, aku tidak ingin mendengarkan kata-kata bohongmu lagi. aku sekarang ingin menanyakan tentang sebuah barang. Tentang berlian merah darah itu..."

"Ini....mana mungkin aku tahu dimana berlian itu berada?"

Thiat-yan berkata dengan dingin.

"Cu Taiya, kesabaran ku ada batasnya. Aku harap kau bisa berpikir dengan baik baik..."

Wie Kie-hong menarik tangan Tu Liong agar mereka berdua pergi ke ruang tengah. Wie Kie-hong terlihat sangat emosi ketika mengatakan kata-kata ini.

"Tu toako! Lihatlah... sebenarnya mengapa bisa terjadi seperti ini?"

Tu Liong tampak larut dalam pemikiran. Dia berkata.

"Kie-hong, argumentasi Thiat-yan bukan tidak masuk akal. Cu Taiya sudah menggunakan jarum besi menusuk jalan darahnya lalu memaksa dia mengatakan semua hal tersebut. Setelah itu dia membunuh Bu Tiat-cui untuk menutup mulut. Ini adalah sebuah kemungkinan yang masuk akal."

"Tu toako! Tadi Cu Taiya sudah menanyakan begitu banyak pertanyaan, namun ada satu pertanyaan yang tidak ditanyakannya..."

"Pertanyaan apa?"

"Beberapa hari sebelumnya, didalam kamar Bu Tiat-cui ini juga terdapat mayat seorang pria. Dia juga mati karena jarum besi yang sama. Apakah Cu Taiya tahu tentang hal ini? mengapa dia tidak menanyakan tentang hal itu?"

"Kie-hong, dari hal ini kau membuat kesimpulan kalau Cu Taiya sedang berbohong?"

"MMmm.."

"Wie Kie-hong! kalau seperti ini kau belum cukup mengerti Cu Taiya"

"Apa maksud kata-katamu?"

"Cu Taiya adalah seorang pendekar tua yang terkenal di kalangan dunia persilatan. Terlebih lagi dia pintar membuat siasat. Kalau dia memang ingin membuat sebuah alibi, dia tidak mungkin membuat kesalahan.... aku merasa kalau dia sengaja meninggalkan banyak kesalahan seperti ini"

"Oh...?"

"Ide untuk melukai Tiat Liong-san juga dia yang memikirkannya. Ini aku sudah yakin. Tapi dia masih belum mendapatkan hasil yang dia inginkan"

"Oh...?"

Sekali lagi Wie Kie-hong merasa kaget "Juga bisa dikatakan, demi mendapatkan berlian merah darah itu dia sudah membunuh Tiat Liong-san.

Tapi sampai sekarang dia belum mendapat-kan berlian merah darahnya"

"Tu toako! Apakah kau hanya menebak hal ini?"

"Dengarkan dulu semua kata kataku....Tiat Liong-san juga seorang pendekar kalangan dunia persilatan. Kali pertama datang ke kota untuk menilai berlian tidak berhasil dilakukannya. Kali kedua datang ke kota, dia seharusnya waspada terhadap mata-mata yang mengintainya, berlian merah darah itu tidak mungkin disimpan didalam kopor kulit. Apalagi disimpan dalam gudang sitaan. Itu adalah tempat umum, semua orang bisa mengambilnya setiap saat."

"Mm.."

"Wie Kie-hong, apakah kau memperhatikan keadaan disekeliling kita?"

Mendadak Wie Kie-hong tampak terkejut, tapi dia tidak melihat apa-apa. karena itu dia bertanya.

"Memangnya ada apa dengan tempat ini?"

"Gang San-poa sudah menjadi kuburan massal"

"Oh?"

Wie Kie-hong merinding.

"Aku menduga, Cu Taiya sudah memper-siapkan sebuah jebakan untuk kita disini. Membunuh Bu Tiat-cui hanyalah sebuah permulaan"

"Menurut Tu Toako siapa yang sekarang memegang berlian merah darah itu?"

"Sepertinya ini adalah masalah terakhir dari misteri yang sedang kita pecahkan"

"Tu toako... ini bukanlah tebak-tebakan biasa. Ini adalah perkara hidup dan mati. Menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?"

"Mencari kesempatan bertindak"

"Tu toako! Kalimat ini sangat tidak jelas"

"Kau harus melatih kemampuanmu membuat tebakan. Tiap orang pasti memiliki kesempatan untuk berhasil, dan bisa juga kalah ........baiklah sebaiknya sekarang kita berdua kembali masuk kedalam"

Maka kedua orang ini kembali masuk ke dalam kamar samping.

Ternyata Cu Siau-thian dan Thiat-yan masih saling mempertahankan pembelaan masing masing.

Jelas terlihat kalau mereka berdua sedang menyaksikan semua yang dikerjakan oleh Tu Liong dan Wie Kie-hong.

"Nona"

Tampaknya Cu Siau-thian harus menunggu Tu Liong dan Wie Kie-hong ada dihadapannya barulah dia mau melanjutkan kata katanya.

"Dugaan yang sudah kau buat tidak masuk akal. Kalau ayahmu membawa berlian merah darah itu kemanapun dia pergi, saat ini kalau berlian itu tidak berada dalam tangan Oey Souw, pastilah ada di dalam tangan Leng Souw-hiang. Bagaimanapun tidak mungkin berlian itu ada didalam tanganku. Berkata seperti apapun aku tidak mungkin terlibat dalamnya. Kalau ayahmu sudah menyembunyikan berlian merah darah itu disuatu tempat rahasia, maka dengan begitu aku lebih tidak ada hubungannya lagi. kau sudah salah besar mencariku untuk mendapatkan berlian itu"

"Adik Yan...."

Sekarang Tu Liong ikut campur mulut.

"apakah kau berpikir kalau berlian merah darah milik ayahmu ada ditangan Cu Siau-thian?"

"Betul"

"Alasannya?"

"Dari lima orang yang membantu mencelakai ayahku, empat orang sudah meninggal. Yang tersisa tinggal dia seorang. Karena itu kecurigaan pada dirinya adalah yang palingbesar"

"Apa tujuan utamamu datang ke kota Pakhia ini?"

"Tentu saja mencari berlian merah darah itu"

"Jika demikian, bagimu berlian ini adalah kunci utama alasan kedatanganmu kemari"

"Sebenarnya memang begitu"

"Kalau begitu coba kau pikirkan dengan seksama. Menurut pandanganku berlian merah darah itu tidak mungkin ada didalam tangan Cu Siau-thian"

"Mengapa demikian?"

"Kalau pada waktu itu dia sudah berhasil mendapatkan berlian merah darahnya, dia tidak perlu membunuh Hui Taiya dan Leng Taiya. Hui Taiya tidak dapat melihat, Leng Taiya kehilangan tangannya, menghadapi Cu Taiya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. untuk apa Cu Taiya membunuh mereka?"

Thiat-yan terdiam tidak berkata apa-apa. sepertinya dia mengerti apa yang ingin dikatakan Tu Liong. Cu Taiya"

Tu Liong berkata perlahan lahan.

"pertama tama aku ingin mengaku salah. Siasat permainan yang sudah kau mainkan sudah terlalu banyak. Tidak aneh Thiat-yan merasa curiga.... bagaimana situasi kejadian yang sebenarnya hanya dirimulah yang paling mengerti. Kalau kau tidak menjelaskan hal yang sebenarnya pada kami semua, mungkin kesalah pahaman ini akan semakin berlarut larut."

"Tu Liong, penjelasan apa yang ingin kamu dengar dariku?"

"Aku ingin menanyakan dua hal padamu"

"Silahkan"

"Siapa yang membunuh Hiong-ki?"

"Tidak tahu"

"Dimana ayah Kie-hong saat ini?"

"Tidak tahu"

Mendadak tampang Tu Liong menjadi sangat dingin., dia lalu berkata.

"Cu Taiya, sebenarnya kedua pertanyaan ini bisa kau jawab, mengapa kau pura-pura tidak tahu?"

Tiba-tiba saja Cu Siau-thian tertawa dingin. Dia lalu berkata pada Tu Liong dengan sikap dingin.

"Tu Liong! Aku sudah membawamu dari luar kota dan memeliharamu sampai menjadi orang. Sekarang kau berani berkata seperti ini padaku. Tidakkah kau merasa kalau kau sudah kelewatan?"

"Cu Taiya ! aku pasti mengingat budi mu yang memelihara diriku sampai mati. Tapi...."

"Tapi apa? masalah ini tidak ada urusannya sama sekali dengan dirimu. Tidak ada budi baik, tidak ada dendam. Ketika orang lain sudah menodongkan senjata padaku, tidak menolongku tidak apa-apalah. Mengapa kau malah berbalik membantu orang lain melawan diriku? Apakah perbuatanmu dapat dimaafkan?"

"Cu Taiya! Seharusnya kau sudah tahu bagaimana akrabnya aku dengan Wie Kie-hong. Urusan ini sangat besar kaitannya dengan dirinya"

"Memang apa kaitannya dengan dirinya?"

"Kaitannya adalah mengenai keberadaan ayahnya saat ini. apakah dia masih hidup atau sudah mati.... Cu Taiya ! aku masih ingin menanyakan dua pertanyaan lagi"

"Tanyakanlah"

"Aku sungguh berharap kali ini kau bisa memberikan jawaban yang memuaskan"

"Aku akan berusaha"

"Dimana ayah Kie-hong sekarang?"

"Tidak tahu"

"Kalau begitu dimana adik angkatmu Boh Tan-ping sekarang?"

"Tidak tahu"

Tu Liong sudah menanyakan empat perta-nyaan. Semuanya dijawab tidak tahu. Thiat-yan berkata dingin.

"Tu Siauya, kau sudah membuang-buang tenaga. Walaupun kau menanyakan seratus pertanyaan lagi, semuanya akan sia-sia saja. Cu Taiya si tua bangka ini, mulutnya sangat keras. Sedikitpun tidak akan membocorkan rahasia apa-apa"

"Tu Liong"

Cu Siau-thian berkata sedikit tergesa-gesa.

"aku ada sedikit salah paham dengan Thiat-yan. Aku percaya aku bisa meluruskan kesalah-pahaman ini dengan cepat. Bisakah kalian berdua meninggalkan kami berdua sebentar saja?"

Selama ini Wie Kie-hong tidak berkata apa apa. hanya karena dia sangat menghargai Tu Liong, dan juga mempercayainya, mendadak dia berkata.

"Tu toako, sebaiknya kita pergi sekarang"

Tu Liong sangat mengerti Wie Kie-hong.

Kalau dia sudah berkata pergi, pastilah ada alasan yang istimewa.

Karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.

dia mengikuti Wie Kie-hong pergi keluar ruangan.

Setelah melangkah keluar pintu masuk, dia baru bertanya pada Wie Kie-hong.

"Ada apa?"

"Bukankah tadi kau mengatakan kalau gang San-poa ini sudah menjadi perangkap? Mengapa kita tidak membuktikannya sendiri?"

"Perangkap ini bukan untuk menjebak kita"

"Kalau begitu perangkap ini untuk siapa?"

"Menjebak Thiat-yan"

"Tu toako! aku rasa kau tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Kalau dia tidak mempunyai rasa percaya diri yang penuh, dia mana mungkin berani masuk perangkap dengan gamblang seperti ini?"

"Oh?"

"Tu toako! kalau tidak percaya kita berdua berpencar untuk memeriksa keadaan disekitar rumah ini. mungkin Cu Taiya menyembunyikan sesuatu. Mungkin juga Thiat-yan tidak datang kemari sendirian."

"Baiklah, aku akan pergi memeriksa kesana ... kau pergi kesana...."

Tu Liong menunjuk nunjuk.

"Nanti kita akan bertemu lagi didepan pintu kamar samping"

"Baik"

Gerakan Tu Liong sangat cepat.

Sebentar saja dia sudah masuk ke dalam bayang-bayang rumah.

Wie Kie-hong juga segera membalikkan tuLuh.

Didepannya sudah terbentang lorong yang gelap.

Dia baru akan memulai penjelajahan rumah ini ketika tiba-tiba saja dia menyadari kalau seseorang sudah berdiri dihadapannya.

dia berdiri ditengah keremangan ruangan.

Raut mukanya sama sekali tidak terlihat.

"Siapa kau?"

Wie Kie-hong bertanya kaget, pada waktu yang bersamaan, dia sudah memasang pose siap untuk bertarung.

"Apakah kau Wie Kie-hong?"

Lawan bicaranya tidak menjawab pertanyaan. Suaranya terdengar serak.

"Tidak salah. Kau siapa? Apakah kau orang yang pada waktu itu memberitahuku untuk tidak menyerahkan payung pada nona Thiat-yan ?"

"Jangan tanyakan siapa diriku....aku hanya ingin kau mendengarkan kata-kataku. Cepatlah pergi dari sini. Semakin jauh kau pergi semakin baik. semakin cepat kau pergi juga semakin baik."

"Kemana aku harus pergi?"

"Terserah dirimu"

"Apakah kau adalah kaki tangan Cu Siau-thian?"

"Bukan"

"Kalau begitu berapa banyak orang yang sudah disembunyikan Cu Siau-thian disini?"

"Tidak sedikit"

"Apakah kau takut aku disini mendapatkan bahaya?"

"Betul"

"Masih ada temanku disini. Aku harus memberitahu dia dan pergi bersama-sama...."

"Apakah temanmu itu bernama Tu Liong?"

"Betul"

"Tenanglah. Cu Siau-thian sangat menyukai dirinya. Dia tidak mungkin mendapat celaka"

"Aku tidak dapat meninggalkan dirinya begitu saja disini"

Orang itu segera berjalan mendekat.

Sekarang Wie Kiehong bisa melihat mukanya dengan lebih jelas.

Wie Kie-hong sempat tersentak kaget.

Orang ini tampak aneh.

Alisnya berwarna putih dan matanya berwarna merah.

Dengan suara rendah dia berkata.

"Cepat pergi!! kalau lebih lama lagi kau pasti tidak akan bisa melarikan diri"

"Maaf!"

Wie Kie-hong berkata dingin.

"Kau tidak menjelaskan asal-usulmu. Bagai mana aku tahu apakah kau bermaksud baik atau jahat?"

"Wie Siauya! kalau kau mau mendengarkan kata-kataku, kau bisa pergi dengan cepat dari tempat yang berbahaya ini. aku bersedia menceritakan apa yang ingin kau ketahui."

"Tentang apa?"

"Contohnya siapa yang sekarang sedang memegang berlian berwarna merah darah itu. siapa yang memiliki ide untuk mencelakai Tiat Liong-san pada waktu itu. bagaimana Hui Taiya dan Leng Taiya mati. Masih ada lagi....masih ada lagi tentang keberadaan ayahmu dan lain sebagainya"

Tawaran ini terdengar sangat menjanjikan. Wie Kie-hong merasa sedikit ragu-ragu.

"Apakah kau bisa menepati kata-katamu?"

"Wie Siauya, seharusnya kau sudah bisa menebaknya dari kata-kataku. Aku adalah orang yang jujur"

"Baiklah..."

"Kie-hong!"

Mendadak dari tengah kegelapan ruangan, Tu Liong berteriak padanya "jangan dengar kata-katanya. Dia sedang berbohong!"

Wie Kie-hong tertegun.

Tampaknya orang yang beralis putih pun sama-sama tertegun "Kie-hong!

tadi kau sudah bertanya padanya apakah disini ada kaki tangan Cu Siau-thian.

Dia menjawab 'tidak sedikit'.

Aku sudah menggeledah seisi rumah.

Jangankan anak buah Cu Siau-thian.

Aku bahkan tidak menemui bayangan hantu apapun disini.

Asalkan dia sudah berkata satu kebohongan saja, semua yang dikatakannya tidak bisa diandalkan."

Orang itu berkata perlahan-lahan.

"Tuan pastilah Tu Siauya..."

"Betul sekali"

Tu Liong mulai berjalan mendekat. Orang itu mundur dua langkah. Seperitnya dia tidak ingin berada terlalu dekat dengannya. Dia tampak seperti tidak ingin dilihat oleh Tu Liong.

"Biarkan aku melihat siapa dirimu"

Tu Liong terus berjalan mendekat.

"Tu Siauya harap jangan berjalan lebih dekat. Jangan memaksa seperti ini."

"Kenapa? Apakah kau takut aku mengenali-mu?"

"Tu Siauya, dengarkan peringatanku. Anak muda seperti kau dan Wie Kie-hong tidak akan mampu melihat betapa liciknya Cu Taiya. Dia memang menyembunyikan kaki tangannya didekat sini, hanya kau tidak mampu melihatnya. Jangan bertarung dengan mereka, kalian yang akan rugi"

"Siapa namamu?"

"Jangan tanyakan siapa namaku. Suatu saat nanti kalian pasti akan mengetahuinya"

"Mengapa tidak memberitahu kami sekarang?"

"Aku memiliki masalah sendiri"

"Kau melakukan hal ini, apakah kau tidak takut Cu Taiya membalas perbuatanmu?"

"Aku tidak takut. Nyawaku ini dari awal sudah tidak berharga lagi"

"Tu toako, mendengar kata-katanya, sepertinya dia orang yang jujur"

Tu Liong hanya terdiam, dia tidak segera membuat keputusan."

"Tu Siauya, apa yang sedang kau pikirkan?"

Orang itu terus bertanya.

"Aku ingin bertanya satu hal padamu"

"Baiklah. Cepat tanyakan"

"Dimana Thiat-yan sekarang?"

"Jujur saja sekarang dia sedang berada dalam situasi yang tidak menguntungkan, tapi anak itu sangat pintar, dan dia mampu berimprovisasi mengikuti keadaan. Karena itu dia tidak mungkin berada dalam bahaya yang tidak dapat ditanganinya."

"Kie-hong!"

Sekarang Tu Liong segera mem-buat keputusan.

"Kita pergi"

Wie Kie-hong masih merasa keheranan.

Dia kembali berpaling pada orang itu hanya untuk melihatnya melangkah mundur masuk lebih jauh dalam kegelapan rumah.

Setelah orang itu tidak terlihat, mereka berdua bergegas pergi.

"Mengapa kau tiba-tiba mempercayai kata-katanya?"

Tanya Wie Kie-hong sambil berusaha mengejar Tu Liong sambil terus berlari keluar rumah.

"Karena orang itu sudah memanggil Thiat-yan dengan panggilan 'anak itu', orang jahat tidak mungkin menggunakan panggilan semacam itu ketika berbicara"

"Tu toako, kemana kita pergi sekarang?"

"Sekarang kita pergi ke rumah paman Tan Po-hai melihat keadaan"

"Oh?"

Wie Kie-hong merasa kaget.

"apakah kau pikir paman Tan Po-hai sudah mendapat masalah?"

"Kalau Cu Taiya memang adalah orang jahat seperti yang sudah kita pikir selama ini, dia tidak mungkin meninggalkan paman Tan Po-hai begitu saja. Dia adalah saksi hidup satusatunya yang tersisa" --Walaupun hari menjelang subuh, mereka tidak berhenti, mereka terus berlari segera menuju ke kediaman Tan Po-hai. Ternyata dia sedang memainkan alat musiknya seperti biasa, seolah olah tidak terjadi masalah apapun. Tan Po-hai melihat kedua pemuda ini datang tergesa-gesa, dia merasa heran. Dia bertanya.

"Tuan muda sekalian! apakah ada masalah darurat?"

"PamanTan!"

Tu Liong merasa aneh, tapi dia tidak ingin membuat Paman Tan menjadi terkejut.

"kami datang kemari ingin menanyakan sesuatu padamu"

"Oh?"

Tan Po-hai berhenti bermain dan lalu menurunkan alat musiknya. Tu Liong tidak membuang waktu. Dia segera menanyakan pertanyaan yang sudah mengganjal dihatinya selama ini.

"Saat itu siapa yang menjadi dalang dan memikirkan semua siasat mencelakai Tiat Liong-san?"

"Leng Taiya"

"Jadi dari awal sampai akhir kau bekerja membantunya T' "Kalau tidak aku harus berbuat apa? semuanya sudah diatur oleh Cu Taiya. Dengan status sosialku waktu itu, aku tidak punya hak untuk melakukan apapun tanpa persetujuan Leng Taiya."

"Kalau begitu Cu Taiya sudah diperalat ?"

Raut wajah Tan Po-hai berubah. Dengan dingin dia bertanya.

"Tu Siauya! mengapa kau berpikir seperti ini?"

"Yang paman maksudkan adalah Cu Taiya sudah memelihara dan merawatku sampai aku menjadi dewasa, aku tidak seharusnya tidak berpikir tidak hormat seperti ini, bukan?"

"Betul"

"Manusia harus mempunyai pemikiran yang tidak egois, tidak benar mendahulukan kepentingan pribadi diatas kepentingan bersama. Betul?"

"Sebenarnya kalian kemari untuk apa?"

"Kami ingin mendapatkan jawaban yang benar."

Kata-kata Tu Liong masih terdengar terus mendesak.

"Tu Siauya! saat itu Cu Taiya sangat kaya, dan agar bisa tinggal didalam kota, dia terpaksa menjadi egois dan menggunakan nama besar Leng Taiya. Mengenai bagaimana situasi sebenarnya ketika Tiat Liong-san dicelakai, tentang hal itu aku tidak begitu jelas."

"Paman Tan, aku menebak kalau Hui Taiya dan Leng Taiya sudah dibunuh oleh Cu Taiya. Oleh karena itu kau pun harus berhati-hati"

Ternyata paman Tan Po-hai tidak menunjukan reaksi apaapa. dia tidak tampak terkejut. Dengan sangat tenang dia berkata.

"Apakah kau pikir Cu Taiya akan membunuhku?"

"Mungkin juga"

"Aku rasa tidak mungkin"

"Jangan terlalu yakin"

"Aku tidak menghalangi jalannya sama sekali. Apakah dia ada alasan untuk melukaiku?"

Wie Kie-hong ikut campur mulut.

"Paman Tan, banyak banyaklah menjaga diri. kami masih ada urusan lain, tidak dapat tinggal disini berlama-lama"

Wie Kie-hong tampak terburu-buru pergi, ini membuat Tu Liong merasa curiga.

Tanpa disadari dia melirik ke arah Wie Kie-hong.

Sebaliknya Wie Kie-hong mendelik pada Tu Liong berusaha memberikan isyarat padanya.

Karena itu Tu Liong tidak berkata apa-apa lagi.

dia hanya mengikuti Wie Kie-hong berjalan keluar.

Setelah keluar dari kediaman paman Tan Po-hai, Wie Kiehong berputar menuju taman belakang rumah itu.

Tu Liong sungguh merasa heran.

Dia bertanya.

"Ada apa?"

Wie Kie-hong tidak berkata apa-apa.

Gerak-geriknya sudah mencerminkan jawabannya.

Dia hanya menarik Tu Liong, dari taman belakang mereka mengendap-endap masuk kedalam rumah Tan Po-hai.

Sepertinya Tu Liong mengerti apa tujuan Wie Kie-hong melakukan hal ini.

tapi dia tetap bertanya juga pada Wie Kiehong.

"Kau pikir kalau Paman Tan pasti akan dibunuh malam ini?"

"MMmm..."

Wie Kie-hong menggangguk-anggukkan kepala.

Dia terus mengendap-endap masuk.

Tu Liong terus menempel dibelakangnya bagaikan ekor Dari dalam kamar tempat mereka tadi berbicara tidak terdengar suara permainan alat musik Paman Tan, namun dari jendela kertas terlihat bayang-bayang manusia.

Tidak hanya satu, tapi ada dua orang.

Suara percakapan mereka sayup-sayup ter-dengar "Tuan Boh, semua kata-kataku tadi tidak ada yang salah ucapkan?"

"MMmm.."

"Tuan Boh! seumur hidupku ini aku tidak menginginkan ketenaran ataupun harta kekayaan. Aku hanya ingin hidup tenang. Dari awal aku tidak ingin terlibat dalam masalah ini. sekarang aku bisa membuktikan diri dan menolong Cu Taiya. Tolong anda katakan hal yang bagus didepan Cu Taiya, kalau dia mengijinkan, aku akan segera pergi"

"Mm...."

Orang yang bermarga Boh itu tampaknya tidak banyak bicara. Dia tampak ingin segera mengakhiri percakapan.

"Apakah kau masih ada perintah lainnya?"

"Ada satu urusan lagi. aku harap kau bisa maklum"

"Oh...?"

"Aku juga hanya menjalankan perintah"

"Aku mengerti. Aku sungguh mengerti"

"Kalau begitu harap anda jangan marah padaku"

"Ini....apa maksudnya ini?"

"Cu Taiya sudah berpesan padaku kalau dia sudah kehilangan semua teman baiknya. Yang tersisa tinggal anda sendiri, anda pasti merasa kesepian"

"Cu Taiya ingin aku mati?"

"Cu Taiya mengutusku kemari untuk mengantarmu ke surga"

"Tuan Boh........selama bertahun-tahun, dihadapannya aku sudah berlaku seperti pesuruh mengerjakan semua yang diperintahkan dan mencari dengar berita. Apakah dia masih tidak puas denganku?"

"Kalau kau bersedia menyusul Hui Ci-hong, Leng Souwhiang dan beberapa teman-teman lamamu pergi ke neraka, Cu Taiya pasti akan lebih senang lagi"

Tan Po-hai mulai gemetaran....

"Kalau aku hidup, dia tidak akan dirugikan"

"Aku tahu, Cu Taiya juga tahu. Tapi kalau kau tidak mati, terhadap Hui Ci-hong dan Leng Souw-hiang sepertinya tidak adil kan?"

"Cu Taiya kejam sekali....tuan Boh, anda bisa dibilang seorang pria jantan, kau membantunya seperti ini, mengetahui rahasia miliknya sebanyak itu, apakah kau pikir dia bisa tenang sebelum membunuhmu?"

"Kau memang teman yang baik. bahkan sekarang setelah kau nyaris mati, kau masih memikirkan diriku."

"Nanti kau pasti tidak akan bisa terus hidup dengan baik"

"Tenanglah, aku punya hubungan khusus dengan Cu Siauthian"

"Tidak ada gunanya. Kau bukan anak yang dilahirkan sendiri olehnya. Dia pasti akan membunuhmu juga. Hanya saja waktunya belum sampai"

"Kau memang orang yang baik. aku tidak tega membunuhmu secara kejam. Sekarang berbaringlah di lantai, pejamkan matamu. Aku pasti akan membunuhmu dengan cepat dan tanpa rasa sakit...."

Tiba-tiba Wie Kie-hong menyerbu masuk ke dalam ruangan, dia segera mencabut pedangnya dan menerobos masuk dari jendela kamar.

Jendela kamar hancur berkepingkeping, pecahannya terbang ke empat penjuru.

Suasana tengah malam yang sepi menjadi riuh karena bunyi keras jendela yang hancur dan teriakan Wie Kie-hong.

Pedang gigi gergaji Boh Tan-ping sudah keluar dari sarungnya.

Ketika jendela didobrak, dia sedang bersiap-siap memancung kepala Tan Po-hai.

Tiba-tiba dia menyadari kalau situasi mendadak sudah berubah.

Dia segera merubah arah serangan dan menebas ke arah jendela.

Wie Kie-hong masih berada ditengah udara ketika sabetan pedang gigi gergajinya datang.

Dia tidak bisa menghindari serangan senjata mematikan ini.

terpaksa dia menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan Boh Tan-ping.

Tu Liong pernah merasakan kehebatan pedang gigi gergaji Boh Tan-ping.

dia segera berteriak memberi peringatan.

"Kie-hong! hati hati!"

Teriakannya ini hanya menggambarkan apa yang ada didalam hatinya, tapi jeritan itu sama sekali tidak menolong.

Sepertinya Wie Kie-hong pasti akan terluka.

Pedang bertemu pedang, sekarang terdengar dentingan keras besi yang saling beradu.

"TANGLANG!"

Setelah Wie Kie-hong menjejakkan kedua kakinya di lantai, dia segera memburu kedepan menyabetkan pedangnya ke arah Boh Tan-ping.

kali ini Boh Tan-ping yang terpaksa menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan beruntun ini.

"TANGLANG!"

Tu Liong pun tidak ketinggalan, dia ikut menyerbu masuk kedalam.

Karena tidak membawa senjata, Tu Liong tidak dapat berbuat banyak.

Dia hanya bisa melihat Wie Kie-hong yang terus menyerang Boh Tan-ping.

Pedang Wie Kie-hong terus menyambar nyambar dengan hebat.

Boh Tan-ping pun tampaknya bisa menangkis semua serangannya dengan mudah.

Setelah melangkah mundur cukup jauh, Boh Tan-ping mulai terdesak, tidak jauh dibelakangnya sudah ada tembok.

Kalau dia hanya menangkis serangan seperti ini, dia pasti akan terjepit.

Ketika sedang berpikir seperti ini, Wie Kie-hong sudah menyabetkan pedangnya sekuat tenaga ke arah leher Boh Tan-ping.

Boh Tan-ping tersentak kaget.

Segera dia menunduk.

Pedang Wie Kie-hong menebas udara kosong dengan suara tebasan yang sangat keras.

Boh Tan-ping memanfaatkan kesempatan ini.

dia segera berguling-guling di lantai menjauh dari Wie Kie-hong.

Malang baginya, ketika berguling menjauh dia berguling menuju sebuah meja kayu bundar.

Wie Kie-hong sudah kembali menyerang ke arahnya.

Masih berguling di lantai, Boh Tan-ping segera menggebrakkan tangan kirinya ke lantai.

Dia segera meluncur ke atas dan mendarat dengan lembut di atas meja.

Namun setelah ini dia kembali meloncat menjauh.

Dia meloncat pada waktu yang tepat, karena beberapa detik kemudian pedang Wie Kie-hong sudah membelah meja kayu menjadi dua bagian.

Boh Tan-ping mendarat dengan lembut dekat paman Tan Po-hai...

Tidak terduga, Paman Tan yang lemah lembut berhasil mengumpulkan keberanian untuk membantu Wie Kie-hong melawan Boh Tan-ping.

Sebenarnya Paman Tan juga tidak tahu dari mana datangnya keberanian ini.

dia mengangkat sebuah kursi dan segera menghempaskannya ke kepala Boh Tan-ping.

Untunglah Boh Tan-ping masih siaga.

Walau-pun konsentrasinya terhadap Wie Kie-hong buyar, tapi dia masih sempat menebaskan pedangnya untuk menghancurkan kursi yang melayang ke arah kepalanya.

Sekali lagi terdengar suara keras "BRAAAKKK"

Pertarungan segera terhenti.

Pada awalnya Wie Kie-hong masih berniat untuk terus menyerangnya, namun setelah mendarat, Tu Liong memegang bahunya dengan tegas.

Dia mengerti apa maksud Tu Liong.

Pedang gigi gergaji Boh Tan-ping terkulai lemas di sisi badannya.

Dia tidak menggerak gerakkan pedangnya lagi.

Tu Liong sudah berpengalaman melawannya.

Dia tahu kalau Boh Tan-ping sedang menunggu kesempatan baik untuk kembali menyerangnya lagi.

"Boh Tan-ping! kita bertemu lagi"

Seru Tu Liong dengan suara dingin. Boh Tan-ping tidak menjawab.

"Apakah Cu Taiya sudah mengutusmu kemari membunuh Paman Tan untuk menutup mulut?"

Boh Tan-ping tetap tidak bersuara. Dia terus mendelik dingin ke arah kedua pemuda ini.

"Tu toako, dari gelagatnya jawaban pertanya anmu sudah sangat jelas, untuk apa kau bertanya lagi?"

"Karena aku ingin memberinya saru kesempat-an lagi"

"Kau ingin memberiku kesempatan apa?"

Akhirnya Boh Tan-ping membuka mulut, namun sifatnya masih bermusuhan seperti sebelumnya.

"Aku ingin memberimu kesempatan untuk membuka lembaran hidup yang baru"

"Hidup baru? MMMmmm??"

Boh Tan-ping tetap terdengar angkuh. Didalam pikirannya, dia belum kalah.

"Boh Tan-ping, semua kartu Cu Taiya sudah terbuka. Untuk apa kau masih mematuhi semua perintahnya? Jatuhkanlah pedangmu, kita rundingkan baik-baik. Satu kalimat saja bisa menyelamatkan jiwamu"

"Tu Liong, apakah kau pikir kata-katamu mempunyai kuasa yang lebih besar dari pada kata kata Cu Taiya? Anak kecil! tidak tahu diri! cepat pergi! kemarin ini aku masih mengampuni jiwamu, jangan menyia-nyiakannya"

Tu Liong tidak menghiraukan kata katanya. Dia langsung bertanya..

"Boh Tan-ping, pedang gigi gergajimu itu sudah membunuh berapa banyak orang?"

"Tidak sedikit"

"Apakah ini termasuk Hiong-ki?"

"Hiong-ki? Apakah dia orang yang sudah menolongmu tempo hari?"

"Tidak salah"

"Dia adalah satu-satunya orang yang berhasil lolos dari pedangku hidup-hidup"

"Kalau begitu berarti Hiong-ki bukan dibunuh olehmu?"

"Bukan"

"Kalau begitu siapa yang sudah mem-bunuhnya?"

"Apakah kau hanya ingin tahu tentang masalah ini?"

"Ya"

"Kalau aku mengatakannya, kau belum tentu percaya"

"Boh Tan-ping, tidak perlu membuang waktu, yang kita miliki sekarang ini hanyalah waktu. Kau juga tidak perlu memusingkan apakah aku akan mempercayai kata-katamu atau tidak. Kalau kau bisa menjawab pertanyaan ini, tolong segera jawab"

"Apa manfaatnya bagiku kalau aku menjawab?"

"Kami mungkin akan melepaskanmu"

"HUH! Berani sekali kau berkata begitu"

"Kami berdua bisa membunuhmu sekarang juga. Ini bukan sedang menggertak"

Boh Tan-ping menunduk, sepertinya dia mengerti keadaan tidak menguntungkan baginya. Dia menyapu tatapan ke muka kedua pemuda ini lalu dengan baik_baik berkata.

"Aku yakin kalian berdua memiliki kemam-puan untuk membunuhku, tapi setelah membunuhku, bagaimana kalian akan menghadapi Cu Taiya?"

Tu Liong tertawa dingin.

"Boh Tan-ping! kau sungguh tidak mengerti situasi. Kau pikir aku masih berada dibawah sayap Cu Siau-thian? Asalkan kejahatannya sudah terbukti, dia tidak bisa melarikan diri"

"Tu Liong, jangan terlalu percaya diri"

"Kalau Cu Siau-thian memang sudah mencerita kan aku dihadapanmu, seharusnya kau tahu kalau aku bukanlah orang yang percaya diri secara buta....Boh Tanping ! kau tidak usah membuang waktu lagi. siapa yang sudah membunuh Hiong-ki?"

"Wie Ceng"

"Kau bohong!"

Wie Kie-hong yang dari tadi diam sekarang berteriak keras.

"Aku tadi sudah bilang, kalau aku jawab kalian pasti tidak percaya. Tapi kalian berkeras bertanya juga"

"Aku tidak percaya ayahku tega membunuh orang"

"Wie Kie-hong, kau sudah melihat sendiri pedang ayahmu mendongkel jendela kamar tidur ayah tirimu Leng Souw-hiang. Pada malam itu dia bermaksud membunuh Leng Souw-hiang tapi diketahui olehmu, sehingga niatnya tidak ter-capai."

Wie Kie-hong kemudian berteriak teriak seperti orang gila.

"Kau bohong! Kau bohong!"

"Kie-hong! tenanglah!"

"Tu toako! Apa kau percaya kata-katanya?"

"Kamu tenanglah sedikit! biarkan aku bertanya padanya...."

Tu Liong berusaha menenangkan Wie Kie-hong, setelah itu dia kembali bertanya pada Boh Tan-ping.

"Mengapa Wie Ceng ingin membunuh Hiong-ki?"

"Karena Hiong-ki sudah jadi rintangan"

"Rintangan bagi siapa?"

"Tentu saja rintangan bagi Wie Ceng"

"Memangnya apa yang diinginkannya?"

"Tentu saja berlian merah darah yang selama ini jadi gunjingan semua orang"

"BOHONG!!!"

Sekali lagi Wie Kie-hong berteriak.

"Kie-hong, biarkan dia terus menjelaskan..."

Sekali lagi Tu Liong berpaling pada Boh Tan-ping.

"Sekarang dimana berlian merah darah itu?"

"Tentu saja ada pada Leng Souw-hiang"

"Boh Tan-ping, ada satu hal yang harus kau mengerti. Wie Ceng adalah abdi setia Leng Souw-hiang"

"Kata setia suatu saat mungkin bisa berubah"

"Berubah karena apa?"

"Berubah karena hubungan untung rugi"

"Untung rugi? Sepertinya Wie Ceng tidak tahu-menahu mengenai urusan berlian ini"

"Pada awalnya dia memang tidak tahu. Belakangan dia mengenal Thiat-yan. Dan Thiat-yan menjanjikan akan membeli berlian merah darah itu dengan harga tinggi. Karena itu Wie Ceng berubah"

"Boh Tan-ping! kau bohong! Hiong-ki diam-diam selalu membantu Thiat-yan. Bisa dikatakan Dia dan Wie Ceng berdiri pada jalan yang sama. Mana mungkin dia merintangi usaha Wie Ceng?"

"Sebenarnya anggapanmu kalau Hiong-ki sedang membantu Thiat-yan juga salah. Sebenarnya dia juga sedang mengincar berlian merah darah itu"

"Dimana Wie Ceng sekarang?"

"Dia sedang menunggu sebuah kesempatan"

"Kesempatan apa?"

"Kesempatan membunuh Cu Siau-thian"

"Apa motivasinya membunuh Cu Siau-thian?"

"Mungkin Cu Siau-thian adalah saingan terakhirnya dalam mendapatkan berlian itu."

"Mengapa kau memakai kata mungkin? Boh Tan-ping berkata perlahan lahan.

"Karena ini adalah pemikiran Wie Ceng. Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Tapi satu hal yang pasti. Cu Taiya sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah ini."

Wie Ceng sudah menjadi orang yang sangat misterius.

Semua urusan sudah dilemparkan pada dirinya.

Hanya kalau Wie Ceng sendiri muncul menerangkan pada semua orang, semua urusan pasti akan menjadi jelas, masalahnya dimana Wie Ceng sekarang?

Mengapa dia tidak mau menampakkan dirinya?

Boh Tan-ping selalu membela Cu Taiya.

Sepertinya dia sudah membuat kesepakatan dengan Cu Siau-thian.

Ini sudah jelas.

Tu Liong kembali memikirkan semuanya dari awal sampai akhir.

Setelah itu dia berkata perlahan lahan.

"Boh Tan-ping, selama ini kau selalu membela Cu Siauthian...."

"Kata-kataku itu semuanya kenyataan"

"Apakah yang kita lihat selama ini tidak terhitung kenyataan? Cu Siau-thian sudah meng-utusmu kemari untuk membunuh Paman Tan, hanya karena dia adalah saksi satusatunya yang masih hidup. Tadi kita berdua sudah mendengar semuanya dengan jelas dari luar jendela"

"Tu Liong"

Boh Tan-ping tertawa dingin dan berkata.

"kepintaranmu sudah menjadi bumerang bagimu"

"Apa artinya kata-katamu itu?"

"Dari awal sampai akhir, Cu Taiya sudah menjadi kambing hitam dan menanggung semua fitnah. Sekarang ini dia hanya berusaha membela diri"

"Hahaha...."

Tu Liong tidak kuasa menahan tawa.

"Bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Cu Taiya? Mengapa kau membelanya mati-matian seperti ini?"

"Tidak ada hubungan apa-apa"

"Tidak ada hubungan apa-apa? apakah kau bahkan tidak mengenalnya?"

"Kau bisa mengatakan kalau aku adalah pendekar yang tidak senang melihat ketidak adilan."

"Seorang pendekar baik yang tidak menyukai ketidak adilan yang bernama Boh Tan-ping. kalau kau mengira hanya karena umur kami yang masih sangat muda, sehingga kami tidak mengerti kejadian waktu itu? kau sudah mebuat kesalahan besar, kau adalah adik angkat Cu Siau-thian, benar?"

Boh Tan-ping tertegun Tu Liong meneruskan kata-katanya.

"Setelah itu kau berselisih paham dengan Cu Siau-thian dan lalu pindah membela Tiat Liong-san, ini pun adalah sebuah siasat agar kau bisa menjadi mata-matanya?"

Boh Tan-ping tampak ingin membela diri, tapi dia tidak mengatakan apa apa.

Kata-kata Tu Liong menyembur bagaikan bendungan yang jebol.

Sekali meluncur tidak dapat dihentikan.

Dia meneruskan kata-katanya.

"Dari dulu kebanyakan pendekar muncul dari kalangan persilatan. Orang yang sungguh jahat ataupun pemimpin besar pun banyak yang datang dari dunia persilatan. Menurut dugaanku, masalah berlian merah darah ini adalah sebuah siasat agar orang lain tidak ikut campur. Mungkin di baliknya masih ada alasan lain"

"Alasan lain apa?"

Boh Tan-ping akhirnya membuka mulut "Aku sebenarnya berharap kau bisa mem-beritahu padaku"

"Maaf, aku tidak tahu apa-apa"

"Boh Tan-ping, ada satu hal yang tidak bisa kau sangkal"

"Tentang apa?"

"Kau selalu berada di sisi Thiat-yan, tapi kau selalu mengabdi pada Cu Siau-thian."

"Tu Liong! aku ingin mengatakan sesuatu yang belum kau ketahui"

"Tentang apa?"

"Thiat-yan tidak bermusuhan dengan Cu Siau-thian"

"Oh...?"

Tu Liong diam-diam terkejut "Setelah datang ke kota Pakhia, Thiat-yan sudah melukai beberapa orang, tapi dia tidak melukai Cu Siau-thian sama sekali.

Kemarin ini di tengah hutan di Sie-san, kalian pasti sudah berhasil melukai Cu Siau-thian, tapi kalian dihentikan oleh Thiat-yan.

Sebenar-nya apa cerita dibaliknya, seharusnya kalian sudah bisa memikirkannya"

Tu Liong baru saja mengerti tentang satu hal, namun sekarang dia kembali terperangkap dalam sebuah misteri yang lain.

Kata-kata Boh Tan-ping ada benarnya juga.

Apa cerita dibalik masalah ini?

"Tu Liong"

Boh Tan-ping menggunakan kesempatan ini untuk melanjutkan kata-katanya.

"kau masih muda, emosimu sangat meledak-ledak. Kau belum tentu dapat membuat sebuah kesimpulan yang tepat. Kau jangan terburu-buru, sebaiknya dengar-kanlah kata-kata Cu Siau-thian"

"Dia sudah menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Paman Tan Po-hai adalah orang yang baik. semua orang di Pakhia juga menge-tahuinya. Mengapa dia ingin membunuhnya?"

Boh Tan-ping menjawab dengan dingin.

"aku yakin pasti ada alasan yang tepat bagi Cu Siau-thian membunuh Tan Po-hai. Kalau tidak...."

"Kata-kata mu sangat sulit diterima"

"Tu Liong, saat ini Cu Siau-thian sedang bersama-sama Thiat-yan di kediaman Bu Tiat-cui. Mengapa kau tidak segera pergi bertanya pada mereka berdua. Mungkin juga...."

"Tidak perlu. Aku hanya ingin bertanya beberapa hal lagi padamu"

"Tu Liong, mungkin aku tidak dapat menjawabnya."

Boh Tan-ping tampak sedang berusaha menghindari masalah.

"bagaimana kalau sekarang kita bersama-sama pergi kesana untuk berbicara?"

Setelah berkata demikian, Boh Tan-ping membalikkan tubuh dan segera berjalan keluar rumah. Tidak kalah cepat, Wie Kie-hong merintangi jalan.

"Berhenti!"

"Ada apa?"

Dengan dingin Boh Tan-ping bertanya "Dimana ayahku sekarang?"

"Aku tidak tahu...."

Sepertinya Wie Kie-hong sudah kehabisan kesabaran.

Selama ini dia selalu mendapat jawaban "tidak tahu".

Setelah Boh Tan-ping berkata seperti itu, Wie Kie-hong segera mencabut kembali pedangnya.

Dia segera menyerang Boh Tan-ping.

gerakannya sangat cepat.

Tidak di sangka ternyata Boh Tan-ping juga sudah bersiap sedia.

Dia segera menghindari serangan.

Pertarung an kedua kembali terjadi.

Wie Kie-hong segera menghujamkan pisaunya ke arah Boh Tan-ping.

Boh Tan-ping menghindari tusukan pisau dengan gesit.

Namun dia menyadari kalau sekarang dia sudah terpojok.

Dia berdiri di sudut ruangan.

"Apa-apaan ini?"

"Tu toako, sebaiknya kau bawa Paman Tan pergi dari sini"

Wie Kie-hong berkata pada Tu Liong. Tu Liong hanya mengangguk, dan menarik tangan Paman Tan dan bergegas pergi dari rumahnya. Wie Kie-hong membalikkan kepala kembali menatap Boh Tan-ping.

"Aku tanya sekali lagi. dimana ayahku?"

"Aku tidak tahu"

Mendadak Wie Kie-hong memburu kedepan.

Boh Tan-ping terpojok.

Dia sudah tidak dapat lari kemana-mana lagi.

Pisau Wie Kie-hong segera meluncur mengarah muka Boh Tan-ping.

Boh Tan-ping mengelak serangan dengan mencondongkan kepalanya ke kanan.

Wie Kie-hong menyabetkan pisaunya ke arah kanan, bermaksud terus memburu Boh Tan-ping.

Boh Tan-ping menunduk dan segera berguling-guling menjauh.

Sekali lagi Boh Tan-ping terpojok.

Dia berdiri membelakangi dinding.

Dia bergumam tidak jelas, tampaknya dia dongkol dan mengumpat mengapa ruangan tempat tinggal Paman Tan sangat sempit.

Wie Kie-hong menendang tembok dan melun-cur menuju Boh Tan-ping.

Boh Tan-ping segera mengayunkan pedang gigi gergajinya ke arah Wie Kie-hong.

Untung Wie Kie-hong masih dapat menahan Lajunya.

Pedang gigi gergaji menancap lemari.

Wie Kie-hong segera menyabetkan pisaunya ke pegangan pedang.

Dia bermaksud menebas tangan Boh Tan-ping.

Segera Boh Tan-ping melepaskan pedangnya.

Wie Kie-hong memanfaatkan kesempatan ini untuk menekan Boh Tan-ping.

Sekali lagi Boh Tan-ping terdesak di pojok ruangan.

Kali ini Wie Kie-hong sungguh sudah membuatnya tidak berdaya.

"Katakan! dimana ayahku berada?"

"Aku tidak tahu"

Wie Kie-hong menatap matanya dalam-dalam.

Boh Tan-ping tahu kalau tidak bicara, Wie Kie-hong sungguh akan melukainya.

Wie Kie-hong menarik nafas dalam-dalam Dia segera mengayunkan pisaunya ke arah leher Boh Tanping.

"Tunggu!!"

Pisau Wie Kie-hong berhenti tepat ketika ujung pisau yang tajam menyentuh lehernya.

Wie Kie-hong menunggu Boh Tan-ping meneruskan katakatanya.

Boh Tan-ping menelan ludah.

Setelah beberapa saat, dia melanjutkan kata-katanya.

"Wie Kie-hong, apakah kau ingin menjumpai ayahmu?"

"Tentu saja"

"Pergilah ke gang San-poa"

"Apakah saat ini dia ada di gang San-poa?"

"Ya. Dia ada di dalam rumah kediaman Bu Tiat-cui"

"Untuk apa ayahku ada disana? bukankah tadi kau bilang Thiat-yan dan Cu Siau-thian juga ada disana?"

"Tidak salah. Ketika aku meninggalkan rumah Bu Tiat-cui sebelum kemari, ayahmu sedang berbaring. Dia terluka parah, dia terus menerus mengeluarkan darah segar. Kalau kau cepat kesana, mungkin kau masih sempat mengantar kepergiannya"

"Siapa yang sudah membunuhnya?"

"Thiat-yan"

Mendadak emosi Wie Kie-hong meledak.

Dia mengamuk seperti orang gila.

Tanpa memperdulikan apa-apa lagi, Wie Kie-hong segera melepaskan Boh Tan-ping.

dia lalu berlari keluar.

Boh Tan-ping tidak berkata apa-apa.

Dia hanya melihat kepergian Wie Kie-hong dalam diam.

--Tu Liong terus berlari menyusuri gelapnya malam.

Tan Pohai mencoba mengimbangi kecepatan larinya tanpa banyak hasil.

Nafasnya sudah memburu hebat bagaikan seekor kerbau Tan Po-hai berusaha memanggilnya "Saudara Tu Liong, tolong jangan terlalu cepat"

Akhirnya Tu Liong mengurangi kecepatan larinya, tidak jauh berlari akhirnya mereka berhenti.

Tan Po-hai hanya bisa berdiri membungkuk mengejar nafasnya.

Setelah nafasnya mulai teratur, Tan Po-hai bertanya.

"Saudara Tu Liong, kau hendak pergi kemana?"

"Aku bermaksud pergi menemui Cu Siau-thian di kediaman Bu Tiat-cui"

"Aku tidak yakin aku kuat mengikutimu lari kesana"

Tu Liong menimbang-nimbang keadaan ini. setelah beberapa lama, Tu Liong berkata padanya.

"Paman Tan, sebaiknya kau pergi mencari kereta kuda untuk mengantarkanmu ke kediaman Leng Taiya dan menunggu Wie Kie-hong. Setidaknya paman aman berada disana. nanti kita akan bertemu lagi. aku hanya khawatir Cu Siau-thian diamdiam sudah mengutus seseorang mengikuti anda. Kalau demikian, rasanya anda malah lebih celaka"

Tan Po-hai memang orang yang sungguh besar hati.

dia hanya berkata singkat "Hidup mati sudah ada jodohnya.

Kaya miskin juga sudah diatur langit.

Kalau memang aku sudah ditakdirkan mati, bgaimanapun juga aku tidak dapat melarikan diri, aku khawatir masalah di dalam rumah Bu Tiat-cui bisa menjadi runyam.

Kalau aku berada disisimu, aku khawatir aku hanya akan menyusahkan kalian."

"Paman Tan, kau harus berhati-hati. setelah nanti sampai ke kediaman Leng Taiya, jangan pergi kemana-mana lagi."

Akhirnya mereka berdua menghentikan sebuah kereta kuda yang lewat, Tu Liong mengantar Tan Po-hai naik kereta, dan memandang kereta pergi menjauh.

Setelah kereta hilang dari pandangan, Tu Liong melanjutkan larinya ke gang San-poa.

Angin malam berdesir lembut, cahaya rembulan yang tertutup awan perlahan-lahan kembali menyinari jalan yang sedang ditempuhnya.

Mendadak dari kejauhan dia melihat bayangan berwarna putih.

Pertama dia pikir dia sudah salah melihat.

Apakah dia sedang melihat hantu?

Tu Liong menegadah melihat langit.

Memang bulan sedang purnama.

Dia pernah mendengar, katanya ketika sedang bulan purnama atau bulan sedang gelap, banyak kejadian kejadian mistis yang sering terjadi.

Tapi dia yakin dia tidak sedang salah lihat, dia terus berlari mendekati bayangan putih itu.

Dalam hatinya dia merasa sedikit seram juga, namun setelah sangat dekat, hatinya kembali merasa tenang.

Ternyata memang bukan sosok hantu.

Itu adalah seorang calon nikoh berkepala gundul.

Memang Hai Ceng yang biasa dikenakan para calon nikoh selalu berwarna putih atau hitam.

Tu Liong bersyukur nikoh ini tidak mengena-kan yang berwarna hitam.

Melihat Tu Liong berlari mendekat, dia menempelkan kedua telapak tangan dan membungkuk menyapa dengan ramah.

"Omitohud..."

Tu Liong merasa kikuk juga. Namun dia tahu tata krama untuk menyapa para nikoh seperti ini. Dia mengikuti apa yang dikerjakan nikoh itu.

"Omitohud... nikoh datang jauh-jauh ketempat seperti ini ditengah malam begini ada urusan apa?"

"Apakah Tuan muda tahu dimana aku bisa menjumpai Cu Siau-thian?" --Dalam gelap malam, Wie Kie-hong terus berlari bagaikan orang kesurupan. Didalam kepalanya berseliweran berbagai macam pikiran, dugaan dan pertanyaan. Air mata terus berderai turun. Dia sudah jenuh merasa bingung dengan semua pertanyaan dan tipuan. Tampaknya tidak ada satupun urusan yang sungguh masuk logikanya. Mendadak dia mendapat satu ingatan. Orang yang ditemui di dalam kediaman Bu Tiat-cui, yang bersuara serak dan beralis putih... apakah orang itu adalah ayahnya? Rasanya dia sudah beberapa kali mendengar suara seraknya. Rasanya dia adalah orang yang berbisik pada dirinya didalam kamarnya ketika jendela kamar tidur mendiang ayah tirinya didongkel orang. Suara yang sama yang sudah menyapanya didalam perjalanannya menyerahkan payung kertas pada nona Thiatyan. Mengapa dia tidak memikirkan hal ini ketika dia sedang berhadapan dengannya? "Mana mungkin aku bisa terpikirkan kalau ayahnya mendadak muncul dihadapannya?"

Katanya pada diri sendiri.

UGH!

Kalau memang demikian, dia sudah melewatkan sebuah kesempatan besar.

Kesempatan besar yang menjadi sebuah tragedi besar.

Memikirkan bahwa ayahnya sekarang mungkin sudah tiada karena kebodohannya, Wie Kie-hong semakin menggila.

Dia mempercepat larinya sampai pinggangnya terasa linu.

Dia tidak memperdulikan nafasnya yang memburu.

Tujuan larinya tidak lain adalah kediaman Bu Tiat-cui.

Malam semakin larut, suasana pun sangat sunyi.

Suasana dalam gang San-poa juga sama heningnya dengan tempattempat lainnya.

Tidak terasa hawa pembunuhan sama sekali.

Pintu masuk depan taman Bu Tiat-cui setengah terbuka.

Tapi didalamnya tidak terdengar suara apa-apa.

Wie Kie-hong menunggu sampai nafasnya kembali normal.

Barulah dia berani melangkahkan kaki masuk kedalam.

Lampu-lampu didalam rumah sudah dinya-lakan, namun dia tidak menjumpai seorang pun.

Tirai yang menutup pintu masuk ruang samping separuh tersibak membuka.

Mayat Bu Tiat-cui masih terbujur kaku di tempat dia meninggalkannya tadi.

Ternyata selain mayat itu masih ada orang lain yang sedang duduk di bangku yang biasa diduduki oleh Bu Tiat-cui.

Dia duduk bersandar, kepalanya tertegadah kebelakang.

Tangan kanannya memegang dada.

Darah segar belepotan membasahi tangannya.

Wie Kie-hong berusaha melihatnya dengan lebih teliti.

Ternyata orang ini masih bernafas walau sangat perlahanlahan.

Wie Kie-hong ingin segera masuk.

Namun dia tiba-tiba teringat Tu toako.

Dia selalu berhati hati.

kalau misalnya dia sedang ada bersamanya, dia pasti akan menarik bahunya.

Dia akan memperingatkannya agar lebih waspada.

Karena itu Wie Kie-hong meneliti ke empat penjuru ruangan sampai jelas, setelah itu dia segera berjalan mendekati orang yang terluka ini.

Kepala Wie Kie-hong sudah terasa sangat panas.

Dia bagaikan semut didalam kuali.

Dia mempelajari raut muka orang yang terluka ini.

Alisnya berwarna putih, namun matanya tertutup rapat, ternyata dia adalah orang yang tadi sudah menyuruhnya untuk segera pergi.

Tiba-tiba suara Boh Tan-ping teriang nyaring didalam telinganya.

"Kalau kau cepat pergi kesana, kau mungkin masih sempat mengantar kepergiannya"

Dia pasti Wie Ceng ayah kandungnya.

Segera Wie Kie-hong menjulurkan tangan untuk memeriksa luka yang dideritanya.

Mendadak orang ini meloncat berdiri dan menyanderanya seperti ketika dia menyandera Bu Tiat-cui.

Orang itu ternyata sama sekali tidak terluka, berpura-pura sekarat dan menggunakan kesempatan untuk menangkapnya adalah tindakan yang sangat picik.

Ini jelas adalah tipuan Cu Siau-thian yang lain.

Wie Kie-hong kembali merasa bimbang.

Apakah orang ini sungguh adalah ayahnya?

Kalau memang benar, untuk apa dia berbohong pura-pura sekarat?

Bagaimana kalau seandainya dugaannya salah?

Gerakannya sangat cepat, kekuatannya pun luar biasa.

Namun orang itu tidak tampak meng-gunakan tenaga apaapa.

hanya saja setelah bahunya dicengkram, betapapun Wie Kie-hong berusaha melepaskan diri, dia tidak bisa.

"Mengapa kau kembali kesini?"

Orang itu bertanya.

"Aku mendengar kalau anda terluka, karena itu aku segera berlari kemari"

"Kalau kau berbaik hati pada orang lain, kau sudah menjahati dirimu sendiri"

Ternyata orang ini masih sempat memberikan petuah padanya.

"Kau yang sudah datang sendiri kemari mengantar nyawa. Jangan menyalahkanku"

Entah bagaimana caranya, namun hati Wie Kie-hong mendadak menjadi dingin. Dia berbicara dengan tenang.

"Aku punya satu pertanyaan untukmu"

"Katakanlah"

"Siapa namamu?"

"Memang ada urusan apa denganmu?"

"Ada urusan yang sangat besar, aku segera datang kemari karena seorang keluarga sedang terluka disini"

"Seorang keluarga? Keluarga siapa?"

"Aku"

Wie Kie-hong menjawab dengan suara keras "Apa hubunganmu dengannya?"

"Dia adalah ayahku"

"Coba kamu lihat sendiri, apakah aku mirip ayahmu?"

Hati Wie Kie-hong sungguh terasa dingin. Katakanlah ayahnya tidak ingin mengakuinya, dia tidak mungkin memperlakukannya seperti ini, dan berkata seperti ini padanya.

"Tadi Boh Tan-ping sudah memberitahuku kalau ayahku sedang terluka disini. Karena itu aku segera pergi kemari. Kalau tidak demikian, untuk apa aku datang kembali masuk kedalam bahaya setelah kau menyuruh aku pergi menjauh?"

"Ternyata kau sudah ditipu"

"Ini adalah balas budi seorang anak"

"Siapa nama ayahmu?"

"Wie Ceng"

"Wie Ceng? Siapa yang memberitahumu kalau ayahmu masih hidup?"

"Sudah banyak orang yang memberitahuku. Bahkan Thiatyan pun mengatakan padaku"

"Aku beritahu. Ayahmu sudah meninggal dari dulu"

"Betulkah? Dimana dia meninggal?"

"Seperti kabar yang beredar. Dia meninggal ketika pergi keluar kota menunaikan tugas"

"Bagaimana dia meninggal?"

"Tentu saja dibunuh orang"

"Siapa yang sudah membunuh ayahku?"

"Sebenarnya ini adalah sebuah rahasia besar, namun sekarang sepertinya sudah tidak penting lagi.... orang yang membunuh ayahmu adalah Cu Siau-thian"

"Mengapa? Mengapa dia membunuh ayah-ku?"

"Menurut dugaanku, Leng Taiya sudah mengutusnya pergi keluar kota untuk menyelidiki satu hal. Kalau hal ini memang diketahuinya, pasti akan merugikan Cu Siau-thian."

"Kalau begitu siapa dirimu?"

"Aku adalah orang kepercayaan Cu Siau-thian. Aku juga pembunuh bayarannya"

"Tapi tadi kau sudah melepaskan aku dan kakak...

"Itu karena aku masih memiliki hati nurani. Aku pasti menolong pemuda yang berjiwa luhur..."

"Ada pepatah yang mengatakan, kalau membantu seseorang, bantulah sampai selesai. Kalau mengantarkan seorang Buddha, antarlah sampai ke barat."

"Sayang aku memiliki prinsip. Kalau mencoba membunuh orang, aku tidak akan mencoba membunuhnya untuk kedua kali. kalau menolong orang, aku pun tidak akan menolong kedua kalinya. Lagipula tadi Cu Taiya tidak tahu kalau aku ada kesempatan untuk membunuhmu. Sekarang jebakan ini sudah dipersiapkan olehnya. Kalau aku tidak membunuhmu, dia pasti tidak akan mengampuni diriku"

"Aku masih ingin bertanya padamu, jawab dengan jujur sebagai permintaan terakhirku"

"Silahkan"

"Akhir-akhir ini kau sudah membunuh berapa banyak orang?"

"Tidak sedikit"

"Siapa saja?"

"Kebanyakan yang mati sudah dibunuh olehku"

"Hui Taiya, Leng Taiya, masih ada Hiong-ki?"

"Tidak salah"

"Mengapa harus membunuh mereka?"

"Aku hanya membunuh berdasarkan perintah, kalau kau mau tahu alasannya, sebaiknya kau bertanya pada Cu Siauthian."

"Apakah sekarang kau mendapat perintah untuk membunuh aku dan Tu toako?"

"Betul. Sebentar lagi Tu Liong pasti akan menyusul kemari"

"Kemana perginya Thiat-yan?"

"Thiat-yan?"

Orang beralis putih ini tertawa dingin "HUH! Seharusnya dia sekarang sedang ada di sebuah kuil dan menjadi seorang nikoh"

Wie Kie-hong mengernyitkan kening.

"Apa maksud kata-katamu? Tadi dia masih ada disini berdebat dengan Cu Siau-thian"

"Perempuan itu bukan Thiat-yan yang sesungguhnya"

"Kalaubegitu siapa dia?"

"Dia adalah anak kandung Cu Siau-thian. Hanya saja rahasia itu tidak pernah diberitahukan pada siapapun"

Sekarang semuanya tiba-tiba menjadi jelas bagi Wie Kiehong. ternyata dia dan Tu Liong sudah ditipu dari awal. Hanya saja mereka tidak menyadarinya.

"Aku tidak mengerti. Semua orang sudah membuat masalah ini menjadi pelik dan berputar-putar. Untuk apa melakukannya??"

"Baiklah. Aku tidak ingin kau terlahir lagi sebagai hantu penasaran. Sebaiknya aku sekaligus menjelaskannya padamu. Pada waktu itu orang orang mencelakai Tiat Liong-san memang demi merebut harta yang dimilikinya. Sebuah berlian raksasa berwarna merah darah, hanya saja setelah kejadian itu, tidak seorangpun menemukan berlian tersebut. Cu Siauthian selalu menduga kalau berlian itu sudah jatuh di tangan Leng Souw-hiang. Hanya karena waktu itu kedudukan Leng Souw-hiang sangat tinggi, Cu Siau-thian hanya bisa menelan ludah dan memendam dendam. Dia tidak berani berbuat apaapa. tidak lama pemerintahan berdiri. Semua kuasa yang dimiliki oleh Leng Souw-hiang jadi hilang. Barulah Cu Siauthian kembali mengusut masalah ini. Tiba-tiba dia menyadari kalau Tiat Liong-san tidak pernah memiliki berlian merah darah raksasa sama sekali...."

Wie Kie-hong mendengarkan penjelasan ini dengan penuh konsentrasi. Sepertinya dia mendadak lupa kalau nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Orang itu melanjutkan kata-katanya.

"setelah Cu Siau-thian mengerti tentang hal ini, dia berpura-pura berkata kalau berlian merah darah itu ada didalam tangannya, berdasarkan janji yang sudah dibuat sebelumnya, seharusnya hasil penjualan berlian itu dibagi berlima. Seorang seharusnya mendapat sekitar lima puluh ribu uang orang luar negeri. Namun dia tidak bersedia membayarkan uang sebanyak itu. dia lalu mencoba melemparkan kesalahan pada Leng Souw-hiang"

"Dan Leng Souw-hiang setuju pada keinginannya begitu saja?"

"Leng Souw-hiang sangat menyukai berlian dan permata. Tentu saja dia menyetujuinya.??? Dia lalu membuat siasat. Dia menyuruh anak perempuannya berpura-pura menjadi nona Thiat-yan dan keluar membereskan masalah. Dia ingin membuat Leng Souwhiang yang penasaran tidak lagi mengejar-ngejar masalah berlian ini. pada awalnya, Cu Siau-thian hanya ingin membereskan orang-orang ini. dia tidak menyangka kalian berdua terus mengejar masalah ini dan tidak sedikitpun melepaskannya. Akhirnya Cu Siau-thian terpaksa membunuh kalian juga"

Wie Kie-hong merasa ingin menangis keras-keras, namun kesempatan untuk menangis pun sudah meninggalkannya. Orang itu tidak berhenti menjelaskan.

"Hiong-ki juga terus mencoba menyelidiki tentang kematian Tiat Liong-san. Tidak disangka pendekar tua itu juga sudah berhasil ditipu Cu Siau-thian. Dia salah menyangka nona walet yang palsu sebagai Thiat-yan anak kandung Tiat Liong-san yang asli. Terakhir dia harus mati terbunuh..."

Hening beberapa saat. Sepertinya semua penjelasan sudah dikatakan oleh orang ini.

"Sekarang sudah tiba waktunya...."

Tiba tiba dia berkata sambil mencabut sebuah pisau dari sarung yang terikat di pinggangnya.

Pisau yang dipegang tangan kanannya bersinar kebiruan dibawah sinar lampu kamar.

Pisau ini memiliki ornamen yang unik.

Mendadak mata Wie Kie-hong bersinar sinar.

Dia segera bertanya.

"Darimana kau mendapat pisau itu?"

"Ini adalah barang jarahan kemenangan pertarungan"

"Barang jarahan?"

"Kejadiannya sudah sangat lama. bertahun tahun yang lalu, Cu Siau-thian sudah menyuruhku membunuh seseorang. Aku menemukan pisau unik ini padanya. Karena itu aku mengambilnya dan menggunakannya sampai sekarang."

"HUH!! Ternyata kau yang sudah membunuh ayahku!"

Mendadak emosi Wie Kie-hong meledak. Dia tidak menghiraukan kalau dia bisa mati setiap saat.

"sekarang aku akan membuat perhitungan denganmu"

"Wie Kie-hong, sebenarnya karena aku sudah membunuh ayahmu, aku tidak ingin membunuhmu lagi. Karena itu tadi aku sudah menolongmu sekali. Namun tidak diduga jalan langit yang aman tidak kau pilih, kau malah menyusuri jalan neraka yang menuju kematian. Ini tidak bisa menyalahkanku"

Orang yang beralis putih menempelkan pisau Wie Ceng ke leher Wie Kie-hong.

Air mata Wie Kie-hong meleleh, tidak disangka dia akan menyusul ayahnya, bahkan mati dibunuh oleh pisau milik ayahnya sendiri, dia memendam dendam yang mendalam.

Dia tidak rela semua ini berakhir begitu saja, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Wie Kie-hong hanya bisa menutup mata dan menarik nafas dalam dalam.

"TAHAN!!"

Mendadak terdengar teriakan keras dari luar kamar. Suara itu adalah suara Tu Liong.

"Pembunuh beralis putih! lepaskan dia!"

Wie Kie-hong terbengong-bengong melihat Tu toako yang dipujanya selama ini.

"Untuk apa aku mematuhimu?"

"Ingatkah kau pernah berkata kalau kau masih mengabdi padaku sampai batas waktu kontrak?"

"Tapi kau yang mengatakan kalau kau tidak butuh bantuanku lagi"

Ketika mereka berdua sedang berdebat, konsentrasi pembunuh beralis putih sudah teralihkan.

Wie Kie-hong tibatiba teringat pada Bu Tiat-cui.

Dia memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan diri.

seperti Bu Tiat-cui waktu itu, segera dia mengayunkan tangannya ke arah selangkangan pembunuh beralis putih.

"BUUUKK!!!"

Pembunuh beralis putih sama sekali tidak menyangka Wie Kie-hong akan berlaku seperti itu.

dia langsung merasa kesakitan yang teramat sangat sampai dia nyaris tidak bisa bernafas.

Cengkraman tangannya pada bahu Wie Kie-hong segera melonggar, dan dia menunduk kesakitan.

Wie Kie-hong segera bergeser ke sisi Tu toakonya.

Mendadak dua buah bayangan melesat masuk ke dalam ruangan, sebentar saja Cu Siau-thian dan Thiat-yan sudah berdiri dihadapan mereka.

Tidak...

bukan nona Thiat-yan.

Dia seharusnya bermarga Cu..

jadi namanya adalah Cu Yan Cu Siau-thian tertawa dingin dan berkata.

"Tu Liong, Wie Kie-hong, kalian berdua sungguh dua anak kecil yang tidak tahu diuntung. Aku sudah berulang kali mencoba melarang kalian ikut campur dalam urusan ini, namun kalian tidak pernah mau mendengarkan, sekarang mengapa kalian tidak memejamkan mata kalian dan mati baikbaik? ini kesempatan terakhir mema tuhi permintaanku"

Tu Liong memohon Cu Siau-thian dengan suara memelas.

"Cu Taiya, saat itu kau sudah membunuh ayah kandung Wie Kie-hong, apakah kau masih tega membunuhnya lagi? Lepaskanlah Kie-hong, aku rela mati untuknya. Kalau aku mati semua akan baik-baik saja. Anggaplah ini sebagai cara untuk membalas semua hutang budiku"

"HUH! Kalau membasmi rumput liar tidak sampai keakarnya, musim semi nanti pasti akan tumbuh tunas baru"

Ketika semua orang sedang lengah seperti ini, tiba-tiba Wie Kie-hong mengeluarkan sebuah pisau kecil yang disembunyikannya.

Dia segera melempar-kan pisau ini ke arah Cu Siau-thian.

Pisau ini melesat bagaikan panah yang terlepas dari busurnya.

Tidak ada seorang pun kecuali Wie Kie-hong yang menduga pisau ini datang meluncur.

Namun pisau ini tidak berhasil mencapai sasaran.

"TRAAANGG"

Tiba-tiba terdengar suara besi beradu dengan besi.

Pedang gigi gergaji Boh Tan-ping sudah menepis pisau sesaat sebelum mengenai Cu Siau-thian.

Entah kapan atau dari mana dia masuk, namun kenyataannya dia ada didalam bersama mereka.

Situasi sangat tidak menguntungkan, kalau mereka harus bertarung sekarang posisinya empat orang melawan dua.

"Kie-hong, ayo cepat lari"

Tu Liong tiba-tiba menjerit.

"Tidak...."

Wie Kie-hong menjawab dengan suara menyayat hati.

"Tu toako, kita mati bersama-sama. Biarkan orang-orang jahat ini melihat kematian kita dan menyesali perbuatannya"

"Hahahahahaha..."

Cu Siau-thian tertawa keras-keras bagaikan orang gila. Ditengah tawanya yang menggelegar, tiba-tiba terdengar suara nyaring seorang perempuan yang terdengar lembut "Omitohud"

"Siapa disana?"

Segera Cu Siau-thian bertanya Seorang perempuan berpakaian serba putih dan berkepala botak memasuki ruangan, perempuan ini masih berusia sangat muda, namun kedua matanya bersinar terang bagaikan api yang berkobar.

Tampaknya kecuali Tu Liong dan pembunuh beralis putih, semua orang memandang ke arah nikoh perempuan itu dengan tatapan kebingungan.

Tu Liong memperkenalkan dirinya dengan singkat.

"Beliau adalah anak perempuan asli Tiat Liong-san yang bernama Thiat-yan. dia bercerita semenjak kecil, sudah tertarik dengan ajaran agama Buddha. dan sangat mencintai ayahnya Tiat Liong-san. Ketika ayahnya dicelakai, dia mendapat pukulan batin yang sangat keras. Namun dia juga sadar kalau peristiwa itu dapat dipandang dari sudut pandang yang lain. Itu adalah kesempatan baginya untuk mencapai apa yang diinginkannya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kuil dan menjadi Nikoh sesisa hidupnya."

Rupanya semua orang sudah mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh.

Nikoh ini hanya membungkuk dalam-dalam sebagai tanda salam.

Sekarang semuanya sudah berakhir.

Semua kartu sudah terbuka, dan semua orang sudah terkumpul di dalam kamar tempat semua orang dibunuh.

Ke empat orang, Cu Siau-thian, Thiat-yan gadungan, Boh Tan-ping dan pembunuh beralis putih, berdiri bersebelahan dan menatap Tu Liong, Wie Kie-hong dan Nikoh yang berdiri sebelah menyebelah disebrang mereka.

Yang tersisa hanyalah pertarungan terakhir.

Wie Kie-hong menatap pembunuh beralis putih dengan tatapan tajam.

Dia menyimpan dendam yang besar padanya.

Dia sudah menipunya selama ini dan dia pula yang sudah membunuh ayah kandungnya Wie Ceng.

Sekarang dia harus membalaskan dendam dan merebut kembali pedang pusakanya.

Tu Liong juga menatap Boh Tan-ping dengan tatapan tajam.

Boh Tan-ping tampak menghindari tatapannya.

Bahu kanannya masih terasa nyeri.

Daging yang sudah lepas tidak bisa dipasang kembali dengan mudah.

Namun tetap suatu saat bisa pulih.

Hanya saja rasa kesal yang ada didalam hati tidak akan hilang kalau tidak terlampiaskan.

Tu Liong tidak sungguh ingin membunuhnya.

Dia berharap Boh Tan-ping bisa merubah jalan hidupnya dan berbuat baik di kemudian hari.

Nikoh tidak berambut, berpakaian serba putih hanya menatap lantai.

Dia tidak melihat mata siapa-siapa.

Sebaliknya nona Thiat-yan gadungan yang menatap dirinya dengan tajam.

Dia tidak suka Nikoh ini muncul ditengah acara dan membongkar jati diri aslinya.

Dia tahu kalau menyerang seorang nikoh adalah dosa, namun dia tidak mengindahkannya.

Dia tahu nikoh juga manusia, dan manusia yang satu ini adalah manusia yang sedang dipalsukan dirinya.

Mereka semua sudah memilih lawannya masing-masing bahkan sebelum mereka memasuki ruangan tempat pertarungan terakhir ini.

Sepertinya semuanya sudah diatur oleh takdir.

Cu Siau-thian melihat kiri dan kanan, menyadari kalau ketiga anak buahnya akan melawan ketiga orang pemuda yang pernah dekat dengan dirinya.

Dia hanya tertawa dingin.

Tawanya sangat panjang dan tanpa berhenti.

Untuk saat ini dia tidak memiliki siapapun untuk dilawan.

Ketika tawa Cu Siau-thian masih membahana, semua orang bersiap-siap untuk menghadapi lawannya masing-masing.

Suasana menjadi tegang.

Tawa Cu Siau-thian menjadi aba-aba dimulainya pertarungan terakhir.

Setelah tawa Cu Siau-thian terhenti, pertarungan terakhir pun dimulai.

--Nikoh tidak berambut masih menatap lantai ketika tawa Cu Siau-thian berhenti.

Sementara itu Thiat-yan gadungan sudah meluncur ke arahnya dengan teriakan lengking tinggi khas perempuan, pisau kecil yang tajam sudah terhunus ke depan.

Mendadak nikoh menutup matanya dan mengangkat kepala.

Dia kembali mengucap "Omitohud"

Dan mendadak membuka matanya.

Matanya berkilau terang.

Mata ini menatap mata Thiat-yan palsu dengan tajam.

Nikoh sudah disumpah untuk meninggalkan hidup keduniawian dan berlatih diri.

Tampaknya nikoh ini sudah melatih diri dengan baik.

dia memiliki kekuatan batin untuk mengelabui lawan yang memandang matanya.

Setelah Thiat-yan palsu memandang matanya, dia tampak seperti orang yang kebingungan.

Dia berhenti dan memandang ke sekeliling, nikoh ini tidak membuang waktu.

Setelah Thiat-yan palsu terkena hipnotisnya, dia kembali menunduk memandang lantai dan berjalan menuju Cu Siauthian.

Pertama-tama Cu Siau-thian tampak kebingung an melihat tingkah anak perempuannya, dan sekarang dia tampak mulai gemetar ketakutan.

Setelah nikoh itu sampai ke hadapannya, dia kembali menutup mata dan menegadahkan mukanya pada Cu Siauthian.

Kembali dia berkata "Omitohud"

Dan mem-buka mata, matanya kembali berkilau.

Cu Siau-thian tampak terhuyung-huyung.

Nikoh ini hanya menutup mata dan berjalan kembali ke tempatnya semula.

Dari sampingnya terdengar suara jeritan kesakitan Tu Liong.

Setelah itu jeritan panjang pembunuh beralis putih yang memilukan.

Tidak lama kemudian, suara jeritan lengking Thiat-yan palsu.

Nikoh ini menghembuskan nafas yang panjang dan berkata.

"Omitohud... jaring takdir memang tidak rapat, namun tidak seorang pun yang bisa menembusnya." --Apa yang telah terjadi? Saat itu Thiat-yan palsu memegang pegangan pisau dibalik bajunya ketika Cu Siau-thian ayah kandungnya tertawa panjang. Dia mendelik garang ke arah Nikoh tidak berambut.

"Dasar botak sialan"

Umpatnya dalam hati, 'Aku akan membuat bajumu menjadi merah hari ini.' Dia sudah memasang kuda-kuda bersiap untuk menerjang cepat ke arahnya.

Ketika tawa Cu Siau-thian terhenti, dia tidak memperhatikan apa-apa lagi.

Yang ada dalam matanya hanyalah bayangan tubuh nikoh.

Dia segera meneriakkan jerit peperangan, dan menghentakkan kaki belakangnya dengan kuat dan segera meluncur kedepan.

Dia berharap dia bisa melihat rasa takut yang mendalam pada mata nikoh itu Oleh karena itu dia tidak lepas-lepasnya memandang kepala nikoh itu, berharap dia menegadahkan kepala dan melihat matanya.

Harapannya terkabul Tidak berapa lama, nikoh itu mengucapkan "Omitohud"

Dan menegadahkan kepala.

Namun ternyata dia masih memejamkan matanya.

Thiat-yan palsu sempat bingung, 'Apa apaan ini?' umpatnya dalam hati.

Namun tiba-tiba saja dia membuka matanya.

Thiat-yan palsu sempat merasa kaget.

Mata nikoh itu tampak bersinar terang bagaikan cahaya matahari.

Mendadak nikoh ini menghilang dari pandangannya.

Thiat-yan palsu terpaksa menghentikan langkahnya.

Dia memandang berkeliling kebingungan berusaha mencari kemana nikoh ini pergi.

Dia sempat melihat ayah kandungnya untuk membantunya menunjuk dimana nikoh ini.

Tapi ternyata ayahnya pun sama-sama tampak kebingungan.

Belum lagi Thiat-yan palsu memaklumkan rasa bingungnya, dia bertambah gugup.

Entah mengapa ayahnya tiba-tiba gemetar ketakutan dan lalu tampak terhuyung-huyung tanpa sebab.

Dia bermaksud berjalan mendekati ayahnya untuk memeriksa apa yang salah dengan dirinya.

Mendadak nikoh itu muncul dihadapannya.

Thiat-yan palsu sedikit merinding.

Dia tidak menyangka nikoh memiliki kekuatan batin untuk menghilang dan muncul begitu saja.

Tapi dia merasa nikoh itu tetap saja manusia biasa yang tidak bisa ilmu silat.

Karena itu dia kembali melaju menyerang nikoh dengan menghunuskan pisau tajam yang masih dipegangnya.

Namun belum sempat pisau ini menembus dada musuhnya, tiba-tiba saja dia merasa ngilu yang dahsyat di bagian tubuhnya.

Sebuah jeritan yang memilukan terlepas dari mulutnya.

Ternyata Cu Siau-thian ayahnya sendiri sudah berada didekatnya dan menancapkan sebatang jarum besi yang panjang ke dalam jalan darah mematikan di tubuhnya.

Tangan dan kakinya segera terkulai lemas, tidak memiliki tenaga untuk terus berdiri.

Dia segera ambruk ke tanah bagaikan seonggok daging tanpa tulang.

Mendadak Cu Siau-thian tampak sadar dari perbuatannya.

Dia lalu jatuh tersungkur dihadapannya dan menangis keras.

Tidak lama terdengar suara jeritan Tu Liong d isusul dengan suara jeritan pembunuh beralis putih.

Setelah itu terdengar nikoh berkata-kata.

--Sedang kejadian yang dialami Cu Siau-thian adalah, dia sendiri merasa sekarang dia tidak mungkin kalah.

Semua orang sudah mempunyai lawannya masing-masing.

Dia hanya perlu menyak sikan pertarungan terakhir ini dan membantu bila dibutuh-kan.

Dia tertawa panjang.

Setelah tawanya berakhir, dia melihat ke tiga anak buahnya menyerang.

Dia melihat pertarungan seru antara Tu Liong dengan Boh Tan-ping, dan anaknya yang dijuluki Thiat-yan yang melawan nikoh.

Boh Tan-ping tampak kewalahan, sebelumnya dia memang sudah terkuras tenaganya ketika melawan Wie Kie-hong di tempatTan Po-hai.

Namun Cu Siau-thian kaget ketika melihat anak kandungnya tiba-tiba kelimpungan ditengah lajunya menyerang nikoh.

Boh Tan-ping sempat menoleh padanya meminta pertolongan.

Namun dia tidak menghiraukannya.

Dia ingin menolong anak kandungnya dulu menyerang nikoh.

Dia melihat nikoh berjalan mendekat.

Rasa takut yang mencekam mulai menggerogoti rasa percaya dirinya.

Rasa takutnya membuatnya terpaku dan tidak bisa bergerak kemana-mana.

Walaupun nikoh ini sampai dihadapannya, dia tetap tidak bisa bergerak.

Dia hanya terus memandang padanya.

"Omitohud"

Nikoh menegadahkan kepalanya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata nikoh. Tiba-tiba saja mata nikoh bersinar terang. Dia langsung merasa pusing, mendadak semuanya menjadi gelap.

"GAWAT!"

Pikirnya dalam hati.

Ketika kesadarannya kembali pulih, dia melihat Thiat-yan sedang dalam bahaya.

Nikoh sudah melesat menyerangnya dengan sebuah pisau tajam.

Segera dia melesat mencoba menyelamatkan putri kandungnya.

Dia mengeluarkan jarum besi yang selalu disembunyikannya, dan segera menusukkan ke jalan darah penting nikoh.

Dia sengaja memilih jalan darah yang tidak mematikan, tapi hanya membuat cacat dan melumpuhkan.

Dia tidak ingin menanggung dosa membunuh seorang nikoh.

Nikoh itu langsung terjatuh dengan jeritan yang tajam, namun tiba-tiba dia berubah menjadi Thiat-yan.

Cu Siau-thian tertegun.

Pada awalnya dia tidak mengerti apa yang sudah terjadi.

Dia sangat menyayangi anak perempuan satu satunya ini.

Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Mendadak dia sadar Nikoh itu sudah menghipnotisnya agar dia menyangka bahwa Thiat-yan yang diserangnya adalah nikoh.

Dapat dikatakan dia sudah membuat cacat anaknya dengan tangannya sendiri.

Kepala Cu Siau-thian serasa pecah.

Dia membelalakkan matanya sangat lebar dan jatuh lemas terduduk dilantai.

Hal terakhir yang didengarnya dengan sadar adalah kata kata nikoh.

Walaupun belum mulai bertarung, namun Boh Tan-ping tampak sudah kehabisan tenaga.

Mukanya tampak sedikit pucat, dan sepertinya dia tidak terlalu berkonsentrasi menghadapi pertarung-an Dia sedang mempertimbangkan sesuatu berulang-ulang.

Pikirannya itu tampak memberatkan hatinya.

Ini sangat jelas tergambarkan pada mukanya.

Tu Liong segera melaju menyerang Boh Tan-ping.

Pisau kecil yang tajam segera melesat menuju dadanya.

Boh Tan-ping sepertinya sedikit melamun.

Teriakan Tu Liong yang mendadak mem-buatnya kembali sadar.

Dia berusaha menebaskan pedang gigi gergaji untuk menghindari serangan "TRAAANG"

Seorang pendekar tangguh tetap bisa ber-tarung dengan baik walaupun sedang banyak pikiran.

Setelah pisau Tu Liong terhempas ke sisi, dia segera menebaskan pedang gigi gergajinya ke arah Tu Liong.

Namun dia sudah sangat letih.

Gerakannya tidak lagi lincah.

Tu Liong bisa menghindari serangannya dengan sangat mudah.

Selagi Boh Tan-ping berusaha mengangkat pedang gigi gergajinya yang berat, Tu Liong sudah melangkah mendekat dan menekankan telapak tangannya ke dada lawannya.

Rasa linu yang dahsyat segera menghantam dadanya.

Boh Tan-ping mundur beberapa langkah.

Dia tahu dia tidak bisa terus bertarung seperti ini.

Dia segera memalingkan muka melihat Cu Siau-thian memohon bantuan.

Tapi tampaknya Cu Siau-thian tidak menghirau kan dirinya.

Dia sedang memalingkan muka dan melihat putri kandungnya, padahal dia sama sekali tidak diserang oleh nikoh.

Boh Tan-ping merasa kecewa.

Saking kecewanya, dia tidak memperhatikan Tu Liong kembali menghajarnya dengan telapaknya.

Dia terlempar ke belakang sampai menabrak dinding.

Tu Liong tidak melepaskannya begitu saja, sebentar saja dia sudah menempel lagi padanya dan berkata dengan jelas ke dalam telinganya.

"Untuk apa kau terus membela Cu Siau-thian? Dia tidak memperdulikanmu lagi, kau tidak dilahirkan olehnya."

Setelah itu Tu Liong sudah mengayunkan pisau yang dipegangnya ke arah leher Boh Tan-ping.

Pisau itu menancap di tembok hanya meleset satu centimeter dari kulit lehernya.

Tindakan ini disengaja olehTu Liong.

Dia hanya memandang mata Boh Tan-ping dalam-dalam.

Boh Tan-ping terkulai lemas.

Tu Liong segera memalingkan muka, membalikkan tubuh dan berjalan menuju pembunuh beralis putih.

Pikiran mulai berkecamuk didalam kepala Boh Tan-ping.

Dia hanya setengah sadar ketika melihat tangan Tu Liong yang terputus.

Dia bingung ketika Cu Siau-thian malah menusuk anaknya sendiri, tidak percaya kepala pembunuh beralis putih sudah tertancap sebuah pedang panjang.

Sayang dia melihat semua hal ini dengan mata kepalanya.

Dia tidak mungkin percaya.

Mendadak dia merasa jenuh dengan semua hal ini.

Setelah semua jeritan yang memilukan hati, dia mendengar sang nikoh berkata-kata.

Tawa Cu Siau-thian menggelegar keras, namun Tu Liong tidak banyak memperhatikannya.

Rasa ngilu pada luka sayat di bahu kanannya masih terasa, namun dia sudah tidak menyimpan banyak dendam pada Boh Tan-ping.

Dia tahu sebenarnya Boh Tan-ping adalah orang yang baik.

dia sudah membuktikan kesetia-annya.

Selama itu dia selalu setia pada Cu Siau-thian mantan majikannya.

"Sayang dia tidak bisa merubah pandangannya seperti ku"

Katanya dalam hati.

Walau demikian Tu Liong masih berniat untuk mengalahkan Boh Tan-ping dan membuatnya sadar.

Akhirnya tawa Cu Siau-thian berhenti.

Semua orang melesat menyerang.

Tu Liong juga tidak tinggal diam.

Dia pun segera melesat menuju Boh Tan-ping.

Namun alangkah terkejutnya dia, Boh Tan-ping hanya berdiri diam ditempat.

Sepertinya dia sedang melamun memikirkan sesuatu.

Bahkan sampai pisau Tu Liong nyaris menusuk dadanya, dia tampak masih termenung.

Tu Liong segera berteriak keras untuk menyadarkannya.

Setelah kembali sadar, Boh Tan-ping tampak sangat kaget melihat Tu Liong sudah sangat dekat.

Dia segera mengayunkan pedang gigi gergaji dan menepis pisau yang melesat menuju dadanya.

"TRAAANG"

Tu Liong bersyukur dia segera sadar sebelum terlambat.

Pedang gigi gergaji kembali berputar dan mengayun ke arahnya.

Dari pertarungan sengitnya dengan Boh Tan-ping, Tu Liong tahu sebenarnya ilmu silat Boh Tan-ping sangat hebat.

Namun kali ini ayunan tebasan pedang gigi gergaji tampak serampangan.

Tu Liong dapat menghindarinya dengan mudah.

Dia berkelit ke sebelah kiri dan menghen-takkan kakinya serta melayangkan telapak tangan ke arah dadanya.

Boh Tan-ping jelas sekali tidak siap meng-hadapi pertarungan kali ini.

Dia terpukul mundur beberapa langkah.

Dia menoleh pada Cu Siau-thian meminta pertolongan.

Ternyata Cu Siau-thian tidak menghiraukan nya.

Tu Liong tahu ini adalah kesempatan emas baginya untuk menyadarkan Boh Tan-ping.

Dia kembali melaju cepat ke arahnya.

Sekali lagi telapaknya menghantam keras dadanya.

Boh Tan-ping terpelanting keras dan menghantam tembok.

Kalau Tu Liong sungguh ingin membunuhnya, sekarang dia sudah pasti mati.

"Ini saatnya"

Kata Tu Liong dalam hati. Dia segera melesat menuju Boh Tan-ping, mendesaknya ke dinding sampai tidak bisa bergerak. Tu Liong berkata dengan jelas ke dalam telinganya.

"Untuk apa kau terus membela Cu Siau-thian? Dia tidak memperdulikanmu lagi, kau tidak dilahirkan olehnya."

Setelah itu Tu Liong mengayunkan pisau yang dipegangnya ke arah leher Boh Tan-ping.

Pisau itu menancap di tembok hanya meleset satu centimeter dari kulit lehernya.

Tu Liong memandang mata Boh Tan-ping dalam dalam.

Boh Tan-ping terkulai lemas.

Tu Liong berpikir bahwa dia sudah cukup melakukan apa yang dia bisa lakukan.

Apakah dia akan membuka lembaran hidup baru atau tetap mengabdi pada tuan yang salah, semuanya terserah pada Boh Tan-ping.

Dia segera memalingkan muka, membalikkan badan dan berjalan menuju Pembunuh beralis putih.

Wie Kie-hong masih sangat muda.

Tu Liong tidak yakin dia bisa menghadapi pembunuh beralis putih dengan baik.

Tu Liong tidak bisa tinggal diam.

Dia harus menolongnya.

Pembunuh beralis putih sedang membelakanginya.

Dia tampak sedang bertarung sengit dengan Wie Kie-hong.

Wie Kie-hong tampaknya kewalahan menghadapinya.

Hingga suatu saat, Wie Kie-hong membuat kesalahan fatal.

Dia tidak berhasil memulihkan pertahanannya setelah gagal menyerang Pembunuh beralis putih.

Tu Liong melihat Pembunuh beralis putih mengayunkan pedang menyerang pertahanan yang lemah.

Tu Liong tahu, kalau dia tidak segera menolong, Wie Kiehong pasti kehilangan nyawanya.

Tu Liong tidak berpikir panjang.

Dia segera melesat menuju Pembunuh beralis putih, segera menjulurkan tangan kiri dan mencengkeram bahu nya.

Dia berseru keras.

"Kie-hong!! hati hati!!!"

Pembunuh beralis putih tampak kaget.

Dia tidak menyangka ada orang dibelakang-nya.

Konsentrasi pembunuh beralis putih menjadi buyar sesaat.

Berkat bantuan Tu Liong, Wie Kie-hong berhasil menghindar serangan.

Namun mendadak Pembunuh beralis putih memutarkan tubuhnya dan langsung menebas bahu kiri Tu Liong sampai putus.

Rasa sakit yang sangat tajam menyengat bahu Tu Liong.

Dia berteriak keras dan berjalan terhuyung-huyung kebelakang.

Darah segar bermuncratan kemana-mana.

Dia mendengar Wie Kie-hong berteriak pada nya..

"Tu Toako...!!!"

Setelah itu Pembunuh beralis putih pun ikut berteriak dengan suara sangat memilukan. Sebelum tidak sadarkan diri, dia masih sempat mendengar sang nikoh berkata.

"Amitaba... jaring takdir memang tidak rapat, namun tidak seorang pun yang bisa menembusnya."

Tubuh Wie Kie-hong masih terasa pegal Staminanya belum pulih setelah bertarung dengan Boh Tan-ping di kediaman Paman Tan.

Namun saat ini hal itu tidak diperhatikannya.

Hatinya yang panas dan emosinya yang meledak-ledak membuatnya ingin membalaskan dendam pada pembunuh beralis putih secepatnya.

Cu Siau-thian tertawa panjang.

Wie Kie-hong sudah memasang ancang ancang menyerang Pembunuh beralis putih.

Dia tidak memperdulikan apa-apa lagi.

Matanya terus tertuju pada pedang milik ayahnya yang sekarang bersinar biru terang.

Ketika tawanya berhenti, Wie Kie-hong segera menjerit keras dan melesat cepat berusaha menebas Pembunuh beralis putih sampai terbelah menjadi dua.

"HIAAAAAHHH!!!!"

Tampaknya Pembunuh beralis putih juga sama bersemangatnya dengan dirinya.

Kedua pedang bentrok.

Sabetan sabetan pedang berulang kali terjadi.

TRANG!!!

TRANG!!!

TRANG!!!

TRANG!!!

Pertama-tama, Pembunuh beralis putih tampak terdesak mundur.

Wie Kie-hong merasa bahwa ilmu silat Pembunuh beralis putih tidak sehebat yang dikatakan orang orang.

Dia tidak mengerti mengapa ayahnya bisa terbunuh dibawah tangan orang yang seperti ini.

Dia lalu teringat semua orang yang sudah dibunuhnya.

Hiong-ki yang dia kagumi, Hui Taiya dan ayah angkatnya Leng Souw-hiang.

Semua membuat emosinya semakin berkobar, namun pikirannya semakin kalut.

Serangannya makin membabi buta.

Lama kelamaan, tangan Wie Kie-hong mulai terasa pegal.

Wie Kie-hong sadar kalau dia belum siap menghadapi Pembunuh beralis putih.

Dia harus beristirahat dulu beberapa saat untuk memulihkan tenaga.

Tapi dia tidak bisa mundur.

Mundur hanya berarti kematian baginya.

Setelah beberapa jurus, Pembunuh beralis putih tampak menyeringai kejam.

Rupanya dia sedang memancing Wie Kie-hong untuk mengeluarkan sisa tenaga yang dimilikinya.

Sekarang Wie Kie-hong sudah kehabisan tenaga, Saat itulah dia mulai menyerang maju.

TRANG!!!

TRANG!!!

TRANG!!!

TRANG!!!

Semakin lama Wie Kie-hong semakin terdesak mundur.

Tidak sedikit serangan Pembunuh beralis putih yang melukai berbagai tempat pada tubuhnya.

Wie Kie-hong mulai merasa kewalahan.Dia tahu dia harus membalikkan situasi.

Dia berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada untuk balas menyerang.

Matanya seolah olah dibutakan oleh sinar biru pedang milik ayahnya.

Ketika berpikir seperti ini, sekilas sinar biru melesat ke arahnya.

Wie Kie-hong segera melemparkan tubuhnya kepinggir menghindari serangan, setelah itu dia mengayunkan pedang sekuatnya ke arah Pembunuh beralis putih.

Tidak disangka, pembunuh beralis putih menghindari serangannya dengan mudah.

Sekarang Wie Kie-hong berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Dia tidak sempat mengangkat pedang menutupi pertahanannya yang terbuka.

Pembunuh beralis putih segera mengambil kesempatan dan menebaskan pedang biru sekuatnya ke arahnya.

Wie Kie-hong tahu ini adalah akhir baginya.

Namun hal yang tidak disangka-sangka terjadi.

Saat itu Tu Liong berteriak padanya.

Akibat teriakan Tu Long konsentrasi Pembunuh beralis putih buyar.

Wie Kie-hong mendapat kesempatan untuk menghindari serangan maut.

Dia sempat melihat Pembunuh beralis putih memutarkan tubuh dan menebas tangan Tu Liong sampai putus.

Hatinya mendadak seperti ditusuk pedang yang tidak terlihat.

Hingga dia segera berteriak Emosi yang tadi sudah nyaris padam karena letih, mendadak meledak dengan kuat.

Ketika Pembunuh beralis putih yang sedang membelakanginya.

Tanpa berpikir, dia segera menusuk kan pedangnya pada kepala Pembunuh beralis putih, pedang itu langsung masuk dari belakang kepala dan tembus sampai ke depan.

Pembunuh beralis putih menjerit keras dengan suara yang sangat memilukan.

Sekarang semuanya sudah berakhir.

Dendam semua orang sudah terbalaskan, dia pun sudah tidak ada tenaga terus berdiri.

Dia langsung jatuh berlutut dan terbaring di lantai seiring dengan suara sang nikoh yang berkata-kata.

--Langit pagi berwarna biru cerah.

Tidak sedikitpun awan yang terlihat, angin pagi berhembus sepoi sepoi membawa bau rumpu t yang menyegarkan.

Tidak terasa satu bulan sudah berlalu sejak kejadian yang mem ilukan di rumah Bu Tiat-cui.

Saat ini Wie Kie-hong sedang berlutut didepan pedang ayahnya yang tertancap di tanah.

Di belakangnya berdiri batu pusara yang bertuliskan "Kuburan Wie Ceng", di depannya menancap tiga batang dupa yang terbakar dan menyebarkan bau harum.

Disekelilingnya banyak buah-buahan yang sudah tertata rapi.

Suara kicau burung terdengar samar-samar disela-sela pembacaan mantra oleh dua orang ber-pakaian putih yang juga berlutut disebelah kiri dan kanannya.

Kedua orang ini adalah Boh Tan-ping dan nikoh anak kandung Tiat Liong-san.

Sekarang Boh Tan-ping tampak agak lucu karena dia telah kehilangan semua rambutnya.

Setelah terjadi pertarungan di kediaman Bu Tiat-cui, Boh Tan-ping menyadari kalau dia sudah mengabdi pada orang yang salah.

Itu yang sudah membuatnya risau pada pertarungan terakhir.

Untunglah Tu Liong tidak membunuhnya sewaktu mendapat kesempatan.

Dia menyesali semua perbuatan nya.

Setelah terkulai lemas, dia sempat ingin menggunakan pedang gigi gergajinya untuk mencabut nyawanya sendiri, untunglah nikoh itu datang dan berlutut disisinya, membujuknya dengan lembut untuk ikut dengannya pergi meninggalkan kehidupan duniawi.

Setelah beberapa lama, semua mantra pemberkatan kematian selesai dibacakan.

Wie Kie-hong segera berdiri.

Seseorang menepuk bahunya dari belakang.

Dia memalingkan kepala dan melihat Tu Liong.

Dia mengenakan baju sutra tangan panjang, lengan baju kirinya dibiarkan menggantung kosong.

Paman Tan Po-hai, pengurus Eng, dan banyak kerabat kenalan Wie Kie-hong ikut menghadiri upacara pemakanam ini.

mereka semua berdiri dengan rapi dibelakang.

Wie Kiehong melihat mereka semua dan tersenyum.

Setelah upacara selesai dilakukan, Tu Liong dan Wie Kiehong tampak berjalan berdua menyusuri tepian padang pemakaman.

"Tu toako, bagaimana luka bahumu?"

"Sepertinya memang sudah takdirku kehi-langan bahu kananku. Walau Boh Tan-ping tidak berhasil memutuskannya, ternyata Pembunuh beralis putih yang melakukannya. Tapi tenang saja. Walaupun masih belum terbiasa, namun luka ini sudah tidak begitu sakit."

Mereka berdua terdiam beberapa lama sambil meneruskan perjalanan menuruni bukit.

"Bagaimana kabar Cu Taiya?"

"Sepertinya dia sudah tidak bisa dipanggil Tuan besar lagi. entah apa yang sudah dilakukan nikoh Thiat-yan, Cu Siauthian tampak kehilangan akal sehatnya. Setelah dia mengetahui anak kandungnya menjadi cacat karena perbuatannya sendiri, dia menjadi gila. Sampai sekarang nasibnya belum jelas, aku pernah menawarkan untuk merawatnya, namun dia berkeras pergi seorang diri. katanya seseorang pernah melihat-nya tinggal dalam sebuah rumah penampungan di luar kota."

Diam lagi.

Tidak lama Tu Liong melanjutkan ceritanya "Kau pingsan sangat lama.

Tidak aneh kau tidak mengetahui apa-apa.

setelah kejadian itu, rumah Bu Tiat-cui sempat disegel polisi.

Untunglah Boh Tan-ping menjelaskan pada mereka tentang duduk perkara yang sebenarnya.

Kalau tidak mungkin sekarang kita berdua sedang berada di sel tahanan."

"Padahal aku belum sempat melaksanakan permintaan ayah angkatku untuk pergi kesana mencari informasi"

"Tampaknya sekarang sudah tidak penting lagi."

Mereka berdua terus berjalan menuruni bukit.

Semua tamu yang menghadiri upacara pemakaman sudah pulang kerumah masing masing.

Tu Long dan Wie Kie-hong menghabiskan sisa perjalanan mereka turun bukit dengan diam.

Di kaki bukit, kedua orang calon pendeta terlihat sedang berdiri menunggu mereka, pakaian mereka yang berwarna putih tampak berkibar menangkap angin sepoi yang bertiup.

Mereka tampak begitu suci ditengah keruhnya hidup di kalangan dunia persilatan.

Wajah mereka berdua tampak berseri dan bercahaya.

Sepertinya hidup biarawati sudah memberi-kan dampak yang positif bagi Boh Tan-ping.

Sebelumnya Tu Liong dan Wie Kie-hong tidak pernah melihatnya begitu tenang dan damai.

Setelah dekat, Boh Tan-ping segera membuka pembicaraan.

"Tu Siauya, Wie Siauya, aku mohon pamit sekali lagi. mohon maaf atas semua masalah yang sudah pernah aku lakukan pada kalian."

"Paman Boh, anda tidak usah sungkan. Yang sudah lewat biarkanlah berlalu"

Kata Tu Liong dengan ramah.

"Yang penting adalah apa yang akan kita lakukan sekarang demi masa depan yang lebih baik"

Kata Wie Kie-hong sambil tersenyum.

Mereka meneruskan pembicaraan singkat.

Setelah beberapa lama, akhirnya ke empat orang ini berpisah.

Tu Liong dan Wie Kie-hong mengantar kepergian mereka sambil melambaikan tangan.

Setelah bayangan tubuh mereka berdua hilang ditelan bukit, Tu Liong dan Wie Kie-hong kembali berjalan pulang.

"Kie-hong, apa rencanamu sekarang?"

"Sepertinya beberapa bulan kedepan aku akan sibuk mengurus persiapan pernikahanku."

"Aku tidak akan mengucapkan selamat dulu, jangan lupa nanti memberikan undangan pernikah-anmu padaku"

"Tentu saja Tu toako, aku tidak akan lupa"

Tu Liong tersenyum "Ngomong-ngomong, bagaimana kabar pak tua yang menyuguhkan teh bagi kita? Rasanya kau masih berhutang banyak uang padanya"

Tu Liong menepuk dahinya dengan tangan kanannya yang masih sehat.

Mereka berdua langsung tertawa.

Bersama-sama mereka berjalan menyusuri jalan setapak menjauh dari bukit pemakaman.

Langit berwarna biru cerah, matahari bersinar terang, ini adalah pemandangan yang bagus untuk memulai hidup yangbaru.

-TAMATBandung, 17 Nopember 2007 Salam Hormat (See Yan Tjin Djin)

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 5

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert