Ceritasilat Novel Online

Walet Besi 4

Eps 4 Walet Besi - Cu Yi

Baca online Walet Besi - Cu Yi

Cersil Walet Besi - Cu Yi.

Balas Tu Liong masih terdengar dingin "Adik Tu, jangan emosi dulu"

Semua kata kata Boh Tanping terdengar lemah lembut.

"aku berterus terang padamu, musibah besar sekarang sudah ada didepan mata. hanya kau yang bisa menyelesaikannya"

"Kau terlalu berlebihan menilaiku"

"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi keputusannya ada ditangan Leng Taiya. Orang yang berada di sisi Leng Taiya adalah Wie Kie-hong. Orang yang berada di sisi Wie Kiehong adalah dirimu."

Diam-diam hati Tu Liong tergerak. Namun dia tidak menunjukkannya. Dia hanya menggeleng gelengkan kepala dan berkata.

"Aku tidak mengerti apa maksudmu"

"Kalau kau tidak mengerti, aku akan mengata-kan lebih detail lagi. Dulu ketika Tiat Liong-san datang ke kota, dia membawa sebuah kopor kulit berwarna kuning. Didalam kopor itu tersimpan sebuah barang yang sangat penting. Ketika Tiat Liong-san ditangkap oleh orang suruhan pemerintah, kopor kulit itu disimpan di gudang penyimpanan barang peninggalan terdakwa. Namun tidak lama kemudian Leng Taiya menyuruh orang untuk mengambilnya. Kami sudah menyelidikinya"

"Buktinya?"

"Kalau kami memiliki bukti, apa mungkin Leng Taiya tidak mengakuinya?"

"Aku tidak percaya"

"Aku juga tidak percaya. Sebelum datang ke Pakhia, aku dan Thiat-yan selalu menyangka kopor ini jatuh ke dalam tangan Cu Taiya. Karena itu kami sudah salah sangka....adik Tu, barang itu sangat berharga. Berdasarkan perkiraan kita, pada waktu itu Leng Taiya sudah pernah membawanya ke Hui Taiya untuk menanyakan perkiraan harganya. Hui Ci-hong mengetahui tentang hal ini, karena itu dia dibunuh."

"Kalau menurut kata-katamu, orang yang sudah membunuh Hui Taiya adalah Leng Taiya"

"Sepertinya tidak mungkin salah"

"Tidak ada alasan"

"Dibunuh untuk menutup mulut....apakah alasan ini tidak cukup?"

"Leng Taiya sudah menderita luka yang berat. Dia kehilangan tangannya. Mana mungkin dia bisa pergi membunuh orang lain?"

"Dia tidak perlu turun tangan sendiri"

"Kalau begitu siapa yang sudah membantu membunuh Hui Taiya?"

"Bukankah Leng Taiya memiliki seorang pengikut yang sangat setia padanya?"

"Wie Kie-hong?"

"Bukan Wie Kie-hong, tapi Wie Ceng ayahnya"

Tu Liong terkejut, dia terdiam sangat lama. Boh Tan-ping melanjutkan kata-katanya.

"Mungkin juga Leng Taiya sejak lama sudah memperhitungkan keadaan hari ini, karena itu dia mengatur sebuah siasat. Sebenarnya Wie Ceng tidak pernah pergi mengemban tugas, dia juga belum mati. Diam-diam dia membunuh untuk Leng Taiya."

Kata kata Boh Tan-ping sangat berkebalikan dengan kesimpulan yang dibuat oleh Thiat-yan.

Ini membuktikan bahwa walaupun mereka berdua saling berhubungan, namun pendirian mereka jauh berbeda.

Karena itu Tu Liong kembali menaikkan penilaian dirinya terhadap Hiong-ki.

"Apakah kau percaya?"

"Setengah percaya setengah tidak percaya"

"Aku sudah sangat puas. Orang yang satunya lagi sangat tidak percaya kata-kataku"

"Siapa?"

"Thiat-yan"

"Oh,"? dia tidak percaya kata-katamu?"

"Dia menyangka kopor itu berada didalam tangan Cu Siauthian. Dia memang seorang yang tidak sabaran. Dia langsung merencanakan menggunakan kekerasan, bukankah ini berbahaya?"

"Kau kedengarannya membela Cu Taiya"

"Tidak. Sebenarnya aku sedang memikirkan kebaikan Thiatyan. Aku tidak ingin dia salah mem-bunuh orang dan menanggung akibat yang berat."

Tu Liong hanya diam. setelah beberapa lama, dia baru berkata.

"Aku pasti akan menyelidiki hal ini. bagaimana kalau nanti kita bertemu lagi?"

"Boleh saja. Malam ini di lapangan besar bagian belakang sebelum fajar menyingsing." --BAB Penyelesaian Didalam sebuah rumah makan di sebelah barat kota, Tu Liong menjumpai nona Thiat-yan. Berdasarkan kata-kata Hiong-ki, pertemuan ini tidak diketahui oleh Boh Tan-ping. Tu Liong datang kesana bersama Hiong-ki, Namun Hiong-ki tidak ikut makan. Dia duduk diluar ruang makan untuk berjaga-jaga dan melihat-lihat keadaan, sekaligus menikmati pemandangan alam. Pada saat itu langit cerah berwarna biru muda, hanya sedikit awan putih yang terlihat di langit.

"Seharusnya sejak awal kita bertemu dan berbicara santai seperti ini"

Ini adalah kalimat pembuka yang diucapkan nona Thiatyan.

"Betul"

Sebelum datang kesini, Tu Liong sudah membuat draft catatan yang ingin dibicarakan, karena itu dia membalas kata-katanya dengan sangat tenang.

"Namun sebelumnya kita berdua harus mempersiapkan diri untuk berkata dengan jujur"

"dari awal aku memang bermaksud jujur, bagaimana dengan dirimu?"

Thiat-yan masih terlihat santai.

"Tentu saja aku akan jujur padamu"

Jawab Tu Liong berusaha untuk ikut santai. Setelah itu Tu Liong langsung mengajukan pertanyaan "Kau datang kemari dan langsung melukai banyak orang. Apa tujuanmu melakukan hal itu?"

"Semua orang yang kulukai adalah mereka yang sudah menjadi kaki tangan dalang kejahatan membantu mencelakai ayahku, aku hanya melukai bagian kecil tubuh mereka, itu sebenarnya sudah sangat baik sekali."

"Nona Thiat-yan, aku tertarik dengan kata yang tadi kau gunakan 'kaki tangan'........kalau begitu menurutmu siapakah pelaku kejahatan sesungguh-nya?"

Thiat-yan menjawabnya patah demi patah kata dengan jelas.

"Cu Siau-thian"

Tu Liong terus mendesaknya.

"Apakah kau punya bukti?"

"Sebenarnya punya, namun saat ini sulit ditunjukkan"

"Kalau begitu mengapa kau tidak langsung menghukum pelaku kejahatan?"

"Waktunya belum tepat"

"Memangnya apa yang sedang kau tunggu?"

"Menunggu sampai kopor kulit peninggalan ayahku sudah ditemukan."

"Aku dengar kabar yang beredar. Menurut gosip katanya ketika ayahmu mendapat celaka, kopor kulit itu sudah di sita di gudang barang sitaan. Setelah itu Leng Souw-hiang menyuruh orang datang meng-ambilnya"

"Ini memang kenyataan, hanya saja belakangan aku ketahui kalau kopor ini jatuh ke tangan Cu Siau-thian. Leng Souw-hiang selalu menghormati Cu Siau-thian, karena itu dia tidak berani membocorkan rahasia ini keluar"

"Mengapa kau tidak pergi mencari Cu Siau-thian?"

"Karena kau selalu berada di sisinya"

"Kau terlalu tinggi menilai diriku. Apakah kau takut pada orang yang tidak memiliki nama sepertiku?"

"Tentu saja aku tidak takut padamu. Namun aku tidak ingin melukai orang yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini. aku sudah pernah memperingati Wie Kie-hong hal yang serupa, sekarang ini aku juga ingin memberimu peringatan yang sama. Jangan menghalangi ku, kalau tidak..."

Aku datang kemari bukan untuk men-dengarkan peringatanmu.

Aku datang kemari karena aku ingin mengerti masalah yang sebenarnya terjadi.

Kau tadi mengatakan bahwa kopor ini sedang berada di dalam tangan Cu Siau-thian.

Aku ingin melihat bukti apa yang mendukung kata-katamu ini"

"Cepat atau lambat aku pasti akan menunjukkannya padamu."

Tu Liong lalu mengajukan topik yang baru.

"Apakah Boh Tan-ping tahu kau datang kemari?"

"Dia tidak tahu. Bukankah tadi Hiong-ki sudah mengatakannya padamu?"

"Sebenarnya sebelum aku datang kemari, aku sudah bertemu dengan Boh Tan-ping"

"Oh...?"

Nona Thiat-yan merasa terkejut.

"apakah kau yang sudah mengundangnya untukbertemu?"

"Tidak. Dia tiba-tiba datang mencariku"

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Membicarakan tentang masalah ayah Wie Kie-hong. Menurut kata-katamu pada Wie Kie-hong, ayahnya masih hidup. Hanya saja sekarang ini dia sedang berada dibawah penindasan Cu Siau-thian. Tapi berdasarkan apa yang sudah dikatakan oleh Boh Tan-ping, cerita kalian berdua bertolak belakang"

"Bagaimana ceritanya?"

"Dia mengatakan bahwa Wie Ceng belum mati, mengenai cerita bahwa dia meninggalkan kediaman keluarga Leng Souw-hiang untuk menunaikan tugas, itu hanyalah isapan jempol saja. Sebenarnya Leng Souw-hiang sengaja mengaburkan kejadian yang sebenarnya agar gerak-gerik Wie Ceng selanjutnya tidak akan diperhatikan orang lain"

"Apakah benar Boh Tan-ping berkata seperti itu?"

"Kau seharusnya dapat melihatnya. Aku bukanlah orang yang suka berbohong"

"Kau juga harus mempercayai kata-kataku. Kalau Boh Tanping tidak sengaja mengatakannya untuk menggoyang fakta, dia pasti sudah menjadi korban penipuan Cu Siau-thian. Wie Ceng sebenarnya sedang dibawah tekanan Cu Siau-thian. Suatu saat nanti kau pun pasti akan mengerti"

Tu Liong merasa sulit membuat kepastian.

Sebenarnya kata-kata siapakah yang dapat dipercayainya?

Tapi dia sangat menghargai jawaban Thiat-yan, karena pemecahan masalah ini sangat menentukan banyak hal.

Sementara waktu dia mengesampingkan masalah ini.

dia lalu mengajukan pertanyaan yang lain.

"Thiat-yan, kapan kau berencana untuk turun tangan memaksa Cu Siau-thian menceritakan tentang kopor kulit berwarna kuning itu?"

"Malam ini"

"Apakah kau yakin bisa mendapat jawaban-nya?"

"Kalau kau tidak ikut campur, setidaknya aku tidak merasa khawatir"

Thiat-yan menjawab pertanyaan dengan sangat pandai. Tentu saja ada kemungkinan kata kata ini keluar dari lubuk hatinya yang terdalam. Pendek kata, kata-kata Thiat-yan ini tersirat niat persahabatan.

"Baiklah, aku akan menggunakan waktu yang tersisa untuk membuktikan yang mana yang benar yang mana yang tidak benar. Malam ini aku tidak akan berada dirumah. Nona, aku harus memberitahu satu hal. Kau mungkin tidak memiliki kesempatan seperti yang kau bayangkan"

Thiat-yan tertawa tapi tidak berkata apa-apa.

Setelah itu kedua orang ini bersama-sama makan makanan yang sudah terhidang didepan mereka dengan santai.

Selain itu mereka masih mengangkat cawan arak dan saling tos.

"Nona, ada satu hal yang sangat mengganjal di dalam hatiku"

"Oo...?"

"Mengapa kau bisa menerima Boh Tan-ping yang bermuka dua?"

Thiat-yan berkata dengan penuh perasaan.

"Orang itu sudah kupanggil paman dari kecil. Setelah aku tahu dia masih mempertahankan hubungan dengan Cu Siau-thian, aku tetap tidak bisa berpaling muka darinya. Lagipula ini bukan waktu yang tepat untuk berpaling."

"Betul ! kata-katamu yang terakhir adalah kata-kata yang paling masuk akal"

Thiat-yan tertawa manja. Dia memiliki sifat lemah-lembut yang biasa dijumpai dikalangan nona muda, namun dia juga memiliki ketegasan yang dimiliki kaum pria.

"Aku datang ke Pakhia, lalu mengenal kau dan Wie Kiehong, aku merasa senang. Sayang sekali diantara kita terdapat hubungan balas budi dan balas dendam yang rumit. Masing-masing punya pendirian sendiri, kalau tidak...."

"Nona, aku adalah orang yang sangat menyunjung tinggi kebenaran, dan menentang orang-orang yang berbuat jahat. Nona tenang saja. Didalam situasi apapun, kita bertiga selalu bisa menjadi kawan baik"

"Benarkah?"

"Aku tidak pernah berbohong"

"Kalau begitu aku pantas memanggilmu dengan sebutan Tu toako"

Tu Liong hanya tertawa, Thiat-yan juga ikut tertawa. Sepertinya semua masalah persahabatan diantara mereka sudah terselesaikan "Adik Yan!"

Sekarang Tu Liong sudah menyebutnya dengan panggilan yang lebih akrab.

"Ada satu hal yang ingin kujelaskan. Aku hanya memberimu satu kesempatan untuk datang menghadap Cu Siau-thian menanyakan tentang barang peninggalan ayahmu itu"

"Hanya memberiku satu kesempatan? Apa maksud katakatamu itu?"

"Hanya malam ini"

"Sebenarnya aku juga hanya bisa melakukan malam ini saja..."

"Oo..?"

Tu Liong menyadari bahwa raut wajah Thiat-yan segera berubah menjadi serius, segera dia bertanya.

"apa maksud kata-katamu itu?"

"Toako! apakah kau masih belum mengerti? Cu Siau-thian tidak hanya memiliki ilmu silat yang hebat, selain itu dia juga pandai membuat siasat. Aku hanyalah seorang gadis kecil, mana mungkin aku bisa menang melawan dia? Yang aku miliki hanya sebuah hati yang berbakti, dan darah yang panas. Tapi pasti ada orang yang membantuku membalas dendam."

Walaupun Tu Liong sangat terenyuh, tapi dia tidak menjawab.

Dia sangat mengerti bahwa janji yang diucapkan seperti bekas tato yang ditempel besi panas, selamanya dia tidak bisa ingkar.

Acara makan siang bersama ini harus berakhir juga.

Karena Thiat-yan sudah minum beberapa cawan arak, kedua pipinya merona merah.

Dia tampak semakin manis.

Diam-diam Tu Liong terpesona.

Namun dia berusaha untuk menahan perasaannya.

Setelah selesai, kedua orang ini berdiri.

Tempat mereka berdua makan adalah sebuah ruang makan tertutup, pintu masuknya ditutup rapat.

Tu Liong menarik pintu masuk bermaksud keluar bersiap-siap membayar rekening.

Tanpa diduga ternyata Hiong-ki sedang berdiri tegak didepan pintu masuk.

"Mengapa Hiong heng tidak masuk kedalam dan duduk bersama kami?"

Mendadak Hiong-ki jatuh bergedebuk kedepan, sebuah pisau menancap di punggung.

Thiat-yan segera menggeliatkan tubuh bermaksud melesat menerjang keluar.

Namun dengan cepat Tu Liong menjulurkan tangannya dan menahan gerakannya.

Segera dia bertanya.

"Kau mau kemana?"

"Mengejar pelakunya"

"Adik Yan!"

Mungkin karena tegang, secara reflek dia kembali memanggil panggilan akrabnya.

"Kepandaian Hiong-ki sangat tinggi, kau sudah tahu tentang hal ini. kalau ada orang bisa begitu mudah menancapkan pisau di punggungnya, walaupun menemukan pelakunya, apa yang bisa kau lakukan terhadapnya?"

Thiat-yan hanya mendengus keras. Dia lalu melihat mayat yang tergeletak di tanah. Dia tidak berkata sepatah katapun.

"Adik Yan! ayo kita pergi dari sini"

"Apakah kita akan membiarkan Hiong-ki terbaring disini dan tidak memperdulikannya?"

"Bukan tidak memperdulikan, tapi sekarang ini bukan waktu yang tepat. Petugas polisi di Pakhia sangat merepotkan. Bagaimana kau akan menghadapi mereka?"

"Kalau begitu....kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Percaya padaku. Seluruh masalah ini akan kuselesaikan sendiri, kau harus segera pergi dari sini.... ayo kemari!"

Tu Liong segera menarik tangannya "Cepat ikut aku"

Kebetulan sekali seorang pelayan datang membawa sepiring makanan ringan. Tu Liong segera mencegatnya.

"Ayo antarkan, kami ingin membayar rekening"

"Tidak perlu terburu-buru! "pelayan itu berkata dengan ramah.

"coba anda cicipi makanan ringan ini, ini adalah makanan spesial yang khusus dibawakan dari tempat jauh...."

"Kami akan memakannya lain kali. Kami masih ada urusan mendesak!"

Tu Liong khawatir pelayan ini menemukan mayat yang tergeletak di lantai.

Kalau dia berteriak teriak, mereka berdua pasti akan sulit melarikan diri.

karena itu dia terus mendesak pelayan tadi mengantar mereka kebawah.

Sampailah mereka di kasir tempat membayar makanan yang terletak didepan.

Segera Tu Liong membayar semua rekening makanan.

Setelah itu dia segera menarik Thiat-yan pergi.

Di luar rumah makan ada kereta kuda yang menunggu tamu yang ingin menumpang.

Kedua orang ini segera naik kereta.

Tu Liong segera menyuruh kusir kuda untuk berangkat.

"Ke pintu sebelah barat kota"

Dia lalu menurunkan tirai penutup jendela. Kereta kuda langsung bergerak. Tangan Thiat-yan masih berada di dalam genggaman tangan Tu Liong. Kedua orang ini tampaknya tidak menyadarinya.

"Sekarang keadaan sudah berubah menjadi buruk. Ada banyak hal yang harus aku mengerti, apa hubungan Hiong-ki dengan dirimu?"

"Ceritanya panjang"

"Kalau begitu tolong buatlah ceritanya menjadi singkat dan jelaskan padaku"

"Dia seorang pengembara yang terkenal yang disebut "Dia yang berjalan sendirian"...."

"Pengembara? Bagaimana kau bisa berhu-bungan dengan seorang pengembara?"

"Kau mungkin sudah salah paham. Orang -orang menyebutnya sebagai seorang pengembara karena dia tidak memiliki rumah ataupun keluarga. Tidak punya ayah ataupun ibu. Mereka tidak menyebutnya sebagai 'bandit pengembara'. Kalau dia masih lebih muda sepuluh tahun, dia pasti akan dipanggil 'seorang pendekar dari negri timur'. Kami berdua bertemu secara tidak sengaja. Pada waktu itu aku baru berumur lima belas tahun. Sejak saat itu, dia selalu memperhatikanku, dan merawatku....

"Kalau begitu kalian berdua pasti memiliki hubungan yang dekat"

"Betul. Hubungan kami seperti seorang ayah pada anak perempuannya. Seperti kakak pada adik perempuannya. Didalam hatiku, dia seperti seorang dewa pelindung"

Kalian adalah orang yang sangat lurus.

Sekali melihatnya, aku langsung merasa kagum padanya....

betul juga!

dia mempunyai sepucuk surat, ini adalah surat rahasia yang ditulis oleh Cu Siau-thian untuk Boh Tan-ping.

Apakah kau pernah melihat surat ini sebelum-nya?"

"Belum. Dia tidak pernah mengatakan tentang masalah ini padaku"

"Aneh? seharusnya dia sudah memberitahu"

"Dia tidak senang mengatakan kejelekan orang lain. Aku pernah bertanya padanya, bagaimana pandangannya terhadap Boh Tan-ping. dia hanya tertawa dan tidak berkata apa-apa"

"Aneh. Dihadapanku dia sudah beberapa kali mengatakan kejelekan Boh Tan-ping....adik Yan! dia begitu memperhatikan dirimu. Kalau kau harus menghadapi seorang penjahat, dia pasti akan mengingatkanmu."

"Sejauh pengetahuanku, dia adalah orang yang cuek (tidak banyak perduli). Tapi didepanku dia selalu tertawa dengan sangat hati-hati. berkata satu kalimat, melakukan suatu hal, selalu dilakukan dengan penuh perhatian."

"Baiklah. ... sekarang kita bahas pertanyaan kedua! Kirakira siapa yang membunuh Hiong-ki?"

"Menurutmu?"

"Aku yakin orang itu adalah Boh Tan-ping"

"Mengapa kau tidak menyangka orang lain? Mengapa kau langsung menunjuk padanya? jangan menilai dengan subjektif"

"Aku mengatakan hal ini karena aku memiliki sebuah bukti"

"Apa buktinya?"

"Aenjata yang digunakan oleh Boh Tan-ping adalah pedang bergigi gergaji"

"Betul"

"Kemarin ini dia pernah menghadang jalanku, lalu bermaksud membunuhku. Untung saja sebelum dia berhasil, Hiong-ki datang menolongku"

"Apakah benar terjadi seperti ini?"

Thiat-yan terlihat sungguh terkejut "Bahu kananku terluka parah. Sekarang bahu ini sudah kuobati. Kalau tidak percaya, silahkan lihat"

"Aku percaya....hanya saja pendapatmu yang mengatakan bahwa Boh Tan-ping sudah membunuh Hiong-ki, aku tidak setuju"

"Kenapa?"

"Selain senjata pedang bergigi gergaji yang digunakan Boh Tan-ping, dia tidak memiliki senjata yang lain. Terlebih lagi pengalamannya berkelana di dunia persilatan, Boh Tan-ping tidak mungkin menye-rang seseorang dari belakang."

"Aku percaya kesimpulan yang kau buat. Apakah mungkin ada orang lain yang ikut ambil peran? Siapakah orang ini?"

"Aku curiga Cu Siau-thian"

Tebakan yang dibuat oleh kedua orang ini terasa saling menuding...

"Mengapa kau curiga dirinya?"

Walaupun hati Tu Liong mulai panas, namun dia tetap terlihat tenang.

"Hiong-ki selalu mengorek-ngorek dan menye-barkan rahasia pribadi Cu Siau-thian. Tentu saja Cu Siau-thian harus membunuhnya...."

"Sekarang aku akan mengantarmu pulang. Malam ini sebelum kau bertemu dengan Cu Siau-thian, aku ingin bertemu dulu denganmu."

Berkata sampai sini, Tu Liong segera memp-rintahkan sais kereta kuda agar berputar kembali ke gang San-poa untuk mengantar Thiat-yan.

Setelah Thiat-yan turun, kereta kuda berputar kembali menuju timur ke arah perumahan mewah.

Tidak lama kereta kuda sampai di depan kediaman Leng Taiya.

Wie Kie-hong sedang murung dan mengurung diri didalam kamarnya.

Setelah Tu Liong datang, barulah Wie Kie-hong mau membuka pintu.

"Kau kenapa? sedang murung?"

"Tu toako! melihat gelagatmu sepertinya ada urusan yang penting"

"Aku ingin memberitahumu sebuah kabar buruk"

"Oh...?"

"Hiong-ki sudah mati"

"Oh!"

Wie Kie-hong langsung loncat dari tempat duduknya. Didalam benaknya Hiong-ki sudah sangat dekat baginya.

"Mati? Bagaimana matinya?"

"Sebuah pisau menancap di punggungnya"

"Bagaimana mungkin? Kungfunya...."

"Kie-hong! orang yang memiliki ilmu silat yang lebih hebatpun belum tentu bisa terus hidup kalau pisau menancap di punggungnya. Kejadian ini sangat mengerikan."

"Sepertinya ada hal lain yang ingin kau katakan"

"Aku tidak bermaksud mengatakan hal yang lain. Aku hanya berharap kau bisa meningkatkan kewaspadaan. Diamdiam ada musuh lain yang sedang memperhatikan kita"

"Siapa?"

"Aku juga tidak tahu siapa orangnya. Tapi bagaimanapun tetap saja ada seorang musuh yang seperti ini, mungkin lebih dari satu orang. Bagaimana pun sebaiknya kita waspada"

"A pakah kau datang kemari untuk menyampaikan ini?"

"Ya"

"Kau tidak perlu berkata pun aku sudah tahu. Melihat dari gelagat ketika kau datang, aku tahu pasti sudah terjadi suatu hal genting."

"Wie Kie-hong!"

Bagaimanapun kalau Wie Kie-hong dibandingkan dengan dirinya, tampak Tu Liong lebih dewasa, ini karena dia lebih bisa mengontrol emosinya.

"Setidaknya ada satu hal yang membuat mu senang, yaitu kabar kalau ayahmu masih hidup. Bagaimanapun juga ini lebih baik daripadaku. Aku sendiri bahkan tidak tahu bagaimana rupa ayah kandungku sendiri"

"Tu toako! aku...."

"Kau dengar dulu apa yang ingin ku katakan.."

Tu Liong menghirup nafas dalam-dalam. Suaranya yang nyaring dan bertenaga itu perlahan lahan berkata.

"Selama orang masih hidup di dunia, selain kasih sayang antar sesama keluarga, masih ada banyak hal yang lebih berharga. Hal ini adalah hal penting yang harus diperhatikan. Selain tata krama, masih banyak aturan yang harus dipatuhi. Wie Kie-hong, selain memikirkan ayah kandungmu, selain berharap agar dirinya selamat dari bahaya, berharap hidup tenang sampai tua, apakah kau tidak memikirkan hal lainnya?"

Kata-kata ini lumayan panjang, lumayan menusuk.

Namun tetap saja Tu Liong mengatakan semuanya sekaligus.

Dia bahkan tidak memasang banyak jeda ditengah kata-katanya.

Wie Kie-hong mendengar semua nasihat ini, sepertinya dia terkejut mendengar setiap patah kata nasihatnya.

Setelah Tu Liong selesai mengatakan semuanya, segera dia berkata.

"Tu toako! aku bukanlah orang seperti itu. aku selalu mementingkan tata krama, tapi juga menjunjung tinggi kepercayaan pada teman...."

"Tiga kata terakhir yang kau ucapkan tadi, tentang "kepercayaan pada teman"

Apakah kau sedang menunjuk pada diriku?"

"Tentu saja"

"Tadi di dalam kediaman Cu Taiya, aku sudah bertindak keras padamu. Apakah kau menyalahkan-ku?"

"Tentu saja aku tidak menyalahkanmu. Cu Taiya sudah memperlakukanmu dengan sangat baik, kau pun tidak bisa tidak menolongnya ketika dia sedang mendapat masalah. Karena itu tadi aku segera pergi meninggalkannya. Aku tidak ingin berselisih dengan dirimu"

"Kie-hong!"

Tu Liong mengangkat tangannya, lalu menepuk bahu Wie Kie-hong. Dia berkata dengan sangat senang.

"Kau sungguh seorang adik yang sangat baik. baiklah kalau begitu, sekarang kita akan membahas masalah yang penting"

"Aku tahu kau ada urusan yang penting"

"Berkata kesana kemari tetap saja ingin membicarakan tentang ayahmu...."

"Aku sangat berterima kasih atas perhatianmu. Apakah kau sudah mendengar kabar baru?"

"Ayahmu masih hidup, ini sangat jelas, hanya saja banyak orang yang bercerita, dan masing-masing versinya berbeda, katanya ayahmu sedang berada di bawah tekanan Cu Siauthian, tidak ada kebebasan untuk berbuat apa-apa...."

"Betul. Aku sudah mendengar gosip yang berkata seperti itu."

Wie Kie-hong menambahkan.

"Ini adalah kata yang sudah dikatakan oleh Hiong-ki dan Thiat-yan. Tapi aku mendengar berita lain yang nadanya bertolak belakang dengan yang pertama. Wie Kie-hong, apakah kau pernah mendengarnya?"

"Belum"

"Menurut gosip itu, ayahmu sama sekali tidak keluar menunaikan tugas. Leng Souw-hiang sudah menyuruhnya memalsukan berita membuat alibi palsu, sehingga dia bisa menjadi prajurit khusus bagi dirinya. Dia bisa menyuruhnya setiap saat untuk melakukan kejahatan apapun tanpa diketahui umum.

"Apakah....apakah ini adalah kenyataan?"

"Jujur saja aku katakan. Pertama kali aku tidak percaya gosip semacam ini. sekarang ini aku sedikit goyah. Mungkin juga berita ini benar"

"Tidak !"

Wie Kie-hong menggeleng-geleng kepalanya dengan sangat sedih.

"Ayah angkatku adalah generasi tua yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab, dia bukan orang semacam itu"

"Kau salah! siasat para pejabat pemerintahan sangat dalam bagaikan lautan. Mereka jauh lebih berbahaya daripada para pendekar yang sudah berkecimpung di dunia persilatan. Leng Taiya sudah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia pemerintahan. Dia pasti sudah punya karakter semacam itu. kau yang sudah melihatnya sendiri"

"Aku ........aku sungguh tidak tahu harus bagaimana menghadapi masalah ini. bisakah kau beri aku sedikit petunjuk"

"Kita sudah mendengar dua macam gosip yang beredar. Kedua gosip ini tidak boleh kita percaya begitu saja. Kita harus menyelidiki kebenarannya dengan kepala dingin. Untuk menghindari masalah hubungan dengan majikan, sebaiknya kita berbagi tugas. Kau pergi menyelidiki Cu Siau-thian, aku akan pergi menanyai Leng Taiya."

"Diantara mereka terdapat perbedaan yang sangat besar"

"Apa perbedaannya?"

"Cu Taiya masih sehat. Leng Taiya sedang sakit berat dan hanya bisa berbaring di ranjang. Kita tidak bisa menggunakan cara yang sama untuk menghadapi mereka"

"Kie-hong! bagaimana rencanamu untuk menghadapi Leng Taiya?"

"Pertama-tama aku akan memohon dengan segenap hati. kalau sampai terakhir aku tidak berhasil, aku terpaksa menggunakan kekerasan..."

"Kau tenang saja, aku tidak akan menggunakan kekerasan untuk menghadapi Leng Taiya. Pertama, dia juga tidak menguasai ilmu silat, kedua umurnya pun sudah sangat tua. Ketiga, dia sedang merawat luka. Kalau aku menghadapinya dengan tidak baik, bukankah ini namanya tidak sopan?"

"Tu toako, tiba-tiba aku menyadari bahwa kata-katamu bertentangan"

Tu Liong terkejut. Dia lalu bertanya.

"Kata-kataku bertentangan? coba kau katakan apa yang bertentangan itu"

"Tadi kau mengatakan bahwa selain hubungan kekeluargaan, masih ada banyak hal yang harus lebih di junjung tinggi. Namun sekarang kau membuat pengaturan seperti ini, semuanya demi mencari tahu keberadaan ayahku. Sepertinya semua urusan selain hal ini sudah kau anggap tidak terlalu penting. Bukankah ini adalah hal yang bertentangan?"

"Kita membuat pengaturan seperti ini bukan untuk menolong ayahmu, juga bukan untuk mempertemukan kau dengan ayahmu. Kita melakukan ini untuk mencari tahu kebenaran. Apakah kau mengerti? Kita sekarang sedang mencari kebenaran, mungkin pada waktu pencarian kita harus melukai perasaan beberapa orang, namun kita terpaksa melakukannya."

"Baiklah! kalau begitu ayo kita lakukan"

Mereka berdua memutuskan sebuah rencana lalu mengatur apa yang akan dikerjakan.

Setelah selesai, Wie Kie-hong segera pergi ke kediaman Cu Taiya meninggalkan Tu Liong di dalam kamarnya seorang diri.

--Kediaman Cu Taiya tampak lebih ramai.

Wie Kie-hong datang kesana mengetuk pintu, seperti sebelumnya dia memohon untuk bertemu.

Diluar dugaan, Cu Taiya mau menemuinya.

Malah dia menyambutnya dengan ramah.

"Kie-hong! apakah kesalahpahaman mu kemarin sudah jelas?"

"Diantara kita berdua tidak pernah ada salah paham"

"Kau masih berkata tidak ada salah paham? Itu bukan suatu urusan kecil, kau harus melihat kemarin ini betapa besar emosimu. Masih untung aku masih bisa mengalah dan menenangkan diri. kalau tidak...."

"Sekarang aku datang kemari bukan untuk meminta maaf. Aku juga datang kemari bukan untuk mendengar penjelasanmu. Aku datang kemari karena aku masih ingin mencari tahu jawaban dari pertanyaanku kemarin. Aku punya beberapa bukti yang bisa membuktikan bahwa ayahku sekarang sedang berada dibawah tekanan mu."

"Aku tidak mengakuinya"

"Tadi aku pergi karena Tu Liong ada disini. Anda harus mengerti hubunganku dengan Tu Liong."

"Kalau aku tidak sedang menghargai perasaan diantara kalian, apakah kau pikir aku akan mengijinkanmu pergi dengan begitu mudah?"

"Bagaimana dengan sekarang?"

"Sekarang? Ada apa dengan sekarang?"

"Sekarang Tu toako sudah memutuskan hubungan denganmu. Kau tidak perlu lagi mempertimbangkan dirinya, betul tidak?"

"Kie-hong! kau adalah seorang generasi muda, pandanganku tidak seperti pandanganmu. Kau datang kemari dengan harapan setelah memecahkan misteri, kau bisa mendapat jawaban yang sebenarnya"

"Kau tidak perlu berkompromi denganku. Kau juga tidak perlu mengatakan kata-kata yang enak didengar. Aku punya kepercayaan diri, aku tidak perduli betapa kata-kataku sangat melukai hatimu, kau tidak mungkin melukaiku"

"Mengapa?"

"Karena ayahku tidak mungkin dengan begitu mudahnya membiarkanmu melukai anaknya sendiri, cobalah, pada waktunya ayahku pasti akan keluar"

Wajah Cu Taiya menjadi hijau.

Nafasnya mulai memburu.

Sepertinya amarah yang ada di dalam hatinya sudah membuat tenggorokannya tercekat.

Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tiada kata yang keluar.

Dibelakang dirinya sudah berdiri empat orang pengawal.

Semua berbadan besar dan tinggi tegap.

Sepertinya mereka semua bisu, dan juga tuli.

Namun mereka semua menatap majikannya, sepertinya sedang menunggu perintah.

"Wie Kie-hong !"

Cu Siau-thian berdiri. Dia berkata dengan dingin.

"kau terlalu muda, kau sangat mudah diperdaya oleh orang lain. Cepat katakan padaku, siapa yang sudah memberitahumu semua itu. cepat katakan"

"Tidak perlu dikatakan. Orangnya sudah mati"

"Sudah mati?"

"Untuk apa membesar-besarkan masalah ? orang ini sudah dibunuh olehmu. Mana mungkin kau tidak mengetahuinya?"

"Kie-hong ! aku sudah sangat berbaik hati padamu. Kalau kau terus berlaku tidak sopan pada generasi tua, aku harus mendidikmu"

"Tidak perlu berkata seperti ini. aku datang seperti ini, dan lalu berkata dengan sikap yang seperti ini padamu, sudah tidak ada lagi hubungannya dan rasa hormat pada generasi leluhur ataupun generasi muda. Cu Taiya! tolong beri tahu padaku. Dimana ayahku berada"

"Aku tidak tahu"

"Kata-katamu tidak akan bisa mengusirku dengan mudah."

"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin mencari ayahku"

"Ayahmu sedang berada di Pakhia. Ayahmu masih hidup. Ini aku tahu, tapi aku sama sekali tidak tahu dia ada dimana, dia tidak pernah meng-hubungiku"

"Mengenai masalah ayahku, apakah kau tidak pernah mendengar kabarnya sama sekali?"

"Aku sudah mendengar sangat banyak"

"Boleh aku tahu"

"Aku belum bisa memberitahu"

Cu Taiya menggelenggelengkan kepala.

"karena kau sudah menilai diriku dengan sebuah pandangan buruk. Kalau kau mempunyai pandangan buruk, walaupun aku sudah mengatakan yang sebenarnya, kau belum tentu percaya padaku."

"Cu Taiya, aku bisa membedakan mana yang benar mana yang salah. Mana omongan yang jujur mana yang bohong. Aku pasti akan mendengarkan semuanya"

"Ayahmu adalah seorang pembunuh yang sangat terkenal di Pakhia"

"Pembunuh?"

Wie Kie-hong sangat terkejut.

"Kalau tidak percaya kau boleh bertanya-tanya. Lagipula semua orang di Pakhia sudah mengetahui masalah ini"

"Jangan-jangan ayahku sudah mengandalkan hidupnya dengan membunuh orang lain."

"Dia tidak menggantungkan hidupnya dengan membunuh orang lain, tapi membunuh demi membalas budi. Dia tidak membunuh demi uang, tapi membunuh demi Leng Souwhiang"

Semua cerita yang disampaikan oleh Cu Siau-thian memang sejalan dengan apa yang sudah didengar nya selama ini.

hanya saja ada kemungkinan berita yang didengarnya selama ini juga disebarkan oleh Cu Siau-thian.

Sekarang dia mengatakan hal ini, tentu saja membuat dia bertambah ragu.

"Aku tahu kamu tidak mungkin percaya"

"Cu Taiya, kamu mengatakan semua ini, apakah semuanya hanya omong kosong saja? Ataukah kamu punya bukti?"

"Tentu saja aku punya bukti"

"Kalau begitu coba ceritakan"

"Hui Ci-hong adalah salah satu korban yang sudah dibunuh ayahmu"

"Bohong!"

"Aku sama sekali tidak bohong. Baru saja dia membunuh satu orang lagi"

"Siapa"

"Hiong-ki"

Wie Kie-hong pertama-tama termenung. Setelah ihi dia tertawa keras.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Aku sedang menertawakan dirimu. Kau sungguh sangat licik. Jelas sekali Hiong-ki sudah dibunuh olehmu, lalu kau mengatakan kalau ayahku yang membunuhnya. Apakah kau pikir aku akan langsung mempercayainya?"

"Suatu hari nanti kau pasti akan percaya"

"Kau mengatakan kalau aku melihatnya sendiri, aku pasti akan percaya, betul?"

"Bukan....kau akan percaya setelah aku mati"

Wie Kie-hong tertegun sangat lama.

Dia dapat melihat gelagat yang ditunjukkan Cu Siau-thian.

Dia tampak sangat serius dan sangat murung.

Dia tidak tampak seperti sedang bercanda, juga tidak sedang berbohong.

"Orang selanjutnya yang akan dibunuh ayahmu adalah diriku"

Cu Siau-thian berkata patah demi patah kata dengan keras "waktunya adalah nanti malam"

Mengatakan perihal kematian adalah urusan yang menakutkan yang lazim ditutup tutupi.

Setiap kali seseorang mengatakan tentang hal ini orang itu selalu merasa hatinya seperti diselubungi bayangan gelap.

Karena itu Wie Kie-hong merasa bahwa Cu Siau-thian sedang merasa sangat berat hati.

Kalau Cu Siau-thian adalah target ayahnya selanjutnya, semua keadaan sekarang berbalik.

Hanya dalam seketika ini saja, Wie Kie-hong merasa terenyuh.

"Kie-hong! kau seharusnya mengerti, orang yang paling aku percayai adalah Tu Liong. Tapi Tu Liong sudah memutuskan hubungan denganku. Apakah kau tahu mengapa ini terjadi?"

Cu Siau-thian berhenti berbicara untuk beristirahat sejenak. Setelah itu dia melanjutkan kata-katanya.

"Ini karena aku sengaja membiarkan dirinya memutuskan hubungan denganku."

"Mengapa kau melakukan hal itu?"

"Ayahmu mau membunuhku. Tu Liong pasti akan sekuat tenaga berusaha melindungiku. Pada dasarnya Tu Liong bukan tandingan yang seimbang kalau harus melawan ayahmu. Kalau begitu caranya, bukankah aku sama seperti menyuruhnya mati? Karena itu aku membiarkan dia memutuskan hubung-an agar dia tidak terlibat masalah ini, untuk meng-hindari dirinya dari masalah."

Saat ini, perasaan dan pikiran Wie Kie-hong menjadi sangat rumit.

Rumitnya sampai mencapai batas.

Orang yang selama ini dikiranya sebagai seorang pembunuh yang kejam, ternyata adalah seorang pahlawan dunia persilatan.

Setelah semakin jauh mencari tahu, ternyata malah ayahnya sendiri pembunuh yang sedang dicarinya.

Kenyataan yang sungguh mengerikan Tapi apakah kata-kata Cu Siau-thian dapat diandalkan?

Kalau begitu saja mempercayainya sepertinya tidak mungkin.

Tapi kalau harus sama sekali tidak mempercayainya, Wie Kie-hong pun tidak mampu melakukannya.

Dia tidak pernah tahu bagaimana tabiat dan karakter ayah aslinya, apa saja yang sudah dikerjakannya.

Terhadap kejadian yang sebenarnya pun dia sama sekali tidak tahu.

Karena itu dia tidak mampu membuat sebuah dugaan yang setidaknya mendekati apa yang sedang terjadi.

"Cu Taiya, kalau semua yang sudah kau ucapkan tadi adalah kenyataan, aku akan menghargai informasimu. Tapi kalau ternyata kata katamu tadi tidak benar, pada akhirnya aku pasti akan mengetahuinya. Pada waktu itu aku pasti akan datang kemari mencarimu. Aku tidak mungkin memaafkan orang yang sudah menjelek-jelekkan nama ayahku."

Setelah Wie Kie-hong mengucapkan semua yang ingin dikatakannya, dia lalu bertanya lagi.

"Cu Taiya, apakah kau bisa membuktikan semua kata-katamu tadi?"

"Kau hanya perlu menunggu. Nanti kau akan melihat sendiri buktinya"

"Menunggu dan melihat sendiri?"

"Betul. Setelah kau melihat mayatku, kau akan tahu kalau semua yang sudah kukatakan tadi adalah kenyataan. Tidak akan ada orang yang mau menggunakan nyawa sendiri sebagai pembuktian ucapannya sendiri"

Wie Kie-hong berkata dengan emosi.

"Kalau ayahku memang seperti apa yang sudah kau ceritakan, aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menghentikannya. Cepat katakan padaku, dimana aku bisa menemuinya"

"Di kota Pakhia ini hanya ada satu orang yang tahu persis dimana dia berada"

"Siapa?"

"Leng Souw-hiang"

Wajah Cu Siau-thian tampak serius namun murung.

Katakatanya pun diucapkan dengan penekanan yang kuat.

Kalau semua yang sudah diucapkannya tidak benar, maka dia pastilah seorang pembohong yang sangat berbakat "Aku ingin menanyakan satu hal lagi padamu.

Pada waktu itu kalian mencelakai Tiat Liong-san, apa sebenarnya motivasi kalian?"

"Apakah kau ingin mendengar jawaban yang sebenarnya ataukah jawaban yang enak didengar?"

"Tentu saja jawaban yang sebenarnya"

"Semua orang sudah tahu kalau aku punya dendam dengan Tiat Liong-san. Karena itu aku berurusan dengan pejabat pemerintahan, dan lalu bekerja sama mencelakai dia. Sebenarnya akulah yang dirugikan.... Wie Kie-hong tidak melanjutkan pertanyaan. Dia hanya diam menunggu lanjutan kalimatnya.

"Sebenarnya orang yang ingin mencelakai Tiat Liong-san adalah Leng Souw-hiang. Dia ingin mendapatkan barang berharga miliknya. Pada saat itu Leng Souw-hiang adalah tangan kanan raja Su-cen. Siapa yang tidak menghormatinya? Aku dulu juga bukan siapa-siapa."

Kalimat ini bisa dipercaya.

Walaupun di kalangan dunia persilatan, Cu Siau-thian adalah seorang pendekar yang sangat terkenal, namun di dalam kota, ditengah tengah kalangan pejabat pemerintahan, dia tidak lebih dari seorang pengembara.

"Pada akhirnya, apakah Leng Taiya men-dapatkan barang yang diinginkannya?"

"Yang pasti pada saat itu Tiat Liong-san terlihat membawa sebuah kopor kulit"

"Apa isi kopor kulitnya?"

"Aku tidak tahu"

"Lalu apa maksudmu mengirim tiga pucuk surat rahasia pada mereka semua?"

"Semua itu adalah akal yang dibuat oleh Leng Souw-hiang. Aku hanyalah kambing hitam"

"Cu Taiya ! sekarang pemerintahan baru sudah berdiri. Leng Taiya dan dirimu sudah memiliki status sosial yang sama. Mengapa kau harus takut padanya?"

"Karena dia menguasai seorang pembunuh hebat yang bernama Wie Ceng."

"Walaupun kau takut, belum tentu kau bisa menghindar dari kematian. Mengapa kau tidak bangkit dan melawannya?"

"Ai... !"

Cu Siau-thian menghembuskan nafas panjang.

Dia terdengar sangat berat hati "karena terlalu lama memelihara rasa takut didalam hati, aku sudah terbiasa hidup begitu, tidak mungkin bisa merubahnya hanya dalam waktu semalam saja.

Terlebih lagi semua orang ingin tetap hidup.

Siapa yang ingin mati?

Kalau membuat marah Leng Souw-hiang, selain mati tidak ada jalan lainnya."

"Kau tadi mengatakan bahwa ayahku sudah membunuh Hui Taiya, dan lalu membunuh Hiong-ki. Orang yang ketiga adalah dirimu. Apakah ini hanyalah tebakan liar saja ataukah kau punya bukti yang kuat?"

"Tentu saja aku punya bukti"

"Kalau begitu tolong ceritakan padaku"

"Tadi Wie Ceng sudah datang kemari mem-beriku peringatan"

"Tadi?"

"Betul. Tadi dia berkata kalau aku tidak bisa mengekang Tu Liong, kalau Tu Liong masih terus ikut campur dalam urusan ini, sebelum matahari tenggelam dia pasti akan datang membunuhku"

"Kalau kau sungguh ingin mengekang Tu Liong, kau hanya perlu memintanya, dia pasti akan segera menuruti perintahmu"

"Tapi aku tidak rela mengekangnya"

"Mengapa?"

"Generasi muda mempunyai pemikiran mereka sendiri, mengapa aku harus mengekang dia?"

"Baiklah!"

Wie Kie-hong sepertinya sudah membuat keputusan mendadak.

"mulai sekarang aku tidak akan pergi terlalu jauh dari dirimu. Aku tidak akan membiarkan sembarangan orang datang kemari melukaimu."

"Kau?"

Cu Siau-thian bertanya dengan nada terkejut.

"kau mau menjaga diriku? Kau bahkan tidak perduli kalau kau akan melawan ayahmu sendiri?"

"Semua orang harus melakukan kebaikan bagi orang lain. Kebaikan untuk umum dengan keinginan pribadi selamanya pun selalu bertolak belakang. Aku ingin bertanya pada ayahku secara langsung, mengapa dia mau melakukan semua ini"

Setelah berkata sampai sini, tiba-tiba ada seorang pelayan rumah yang masuk kedalam.

Dia lalu berbisik-bisik di samping telinga Cu Siau-thian.

Cu Siau-thian lalu mengibaskan tangannya, pelayan itu segera pergi keluar.

"Ada tamu"

"Oh...?"

Secara reflek Wie Kie-hong tertegun "Jangan kaget, ini bukan ayahmu. Tamu ini adalah Thiat-yan"

"Kalau begitu sebaiknya aku sembunyi"

"Bersembunyilah dibelakang lemari"

Wie Kie-hong segera bersembunyi kebelakang lemari. Tepat ketika dia selesai menyembunyikan dirinya, didalam ruangan terdengar suara seorang perempuan.

"Cu Taiya?"

Thiat-yan bertanya dengan dingin "Tidak berani, aku bukanlah tuan besar."

"Aku biasa dipanggil dengan sebutan Thiat-yan, anak perempuan Tiat Liong-san....hari ini aku datang kemari memohon penjelasan darimu."

"Nona Tiat, silahkan duduk"

"Berdiri pun tidak apa-apa....aku hanya ingin menanyakan sebuah barang"

"Aku tahu"

"Kau tahu? Tolong katakan"

"Sebuah kopor kulit berwarna kuning"

"Tidak salah"

"Kalau nona ingin mencari kopor kulit itu, anda sudah mencari orang yang salah! kopor kulit itu tidak ada padaku. Aku bahkan tidak pernah melihatnya"

"Kalau begitu ada pada siapa?"

"Ada pada Leng Souw-hiang"

Thiat-yan berkata dengan nada dingin.

"Cu Taiya, untuk apa kau melakukan hal ini? jangan menganggap aku Thiat-yan adalah anak kecil. Anda adalah dalang dibalik pembunuhan ayahku. Yang lain hanyalah kaki tangan yang membantu anda."

"Tolong nona pertimbangkan sebentar. Aku hanyalah seorang pengembara yang tidak memiliki nama, sedangkan Leng Souw-hiang adalah tangan kanan raja Su-cen. Kalau kami berdua dibandingkan, status kedudukan kami sangat jauh berbeda. Apakah menurutmu dia akan mendengarkan kata-kataku? Atau sebaliknya aku yang harus mendengarkan dia?"

Kata-kata ini bukan tidak masuk akal.

Kekuasaan menekan orang, pada waktu itu di dalam kota Pakhia, Leng Souw-hiang memang memiliki kedudukan yang kuat didalam pemerintahan.

Mana mungkin dia bisa dikontrol oleh seorang pengembara?

"Jadi menurut anda kopor kulit kuning itu sekarang sedang berada pada Leng Souw-hiang?"

"Tidak salah"

"Apakah anda bisa menanyakannya langsung padanya?"

"Tentu saja bisa"

"Baiklah! kalau begitu kita pergi"

"Pergi kemana?"

"Pergi mencari Leng Souw-hiang dan menanyakan tentang barang itu"

"Nona! apakah tujuanmu selama ini adalah untuk mendapatkan kembali kopor itu? ataukah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi?"

"Apakah ada perbedaan diantara kedua kata itu?"

Cu Siau-thian kembali berkata.

"Sebenarnya diantara kedua kata tersebut terdapat dua perbedaan yang sangat jelas, kalau kau hanya ingin mencari tahu kejadian yang sebenarnya, aku pasti akan segera ikut denganmu menuju kediaman Leng Taiya, dan segera membuktikan kata-kataku. Kalau kau ingin mencari kopor kulit itu, kau harus menggunakan siasat"

"Oh...?"

Selama ini nona Thiat-yan selalu memberikan pandangan subjektif terhadap Cu Siau-thian, ini karena dia adalah pelaku utama yang sudah mencelakai ayah kandungnya sendiri.

Sekarang sepertinya pandangan dia menjadi goyah.

Kalau mendengarkan argumentasi-nya, sepertinya ini sulit dihindari.

"Kalau begitu aku ingin meminta petunjuk"

"Aku tidak berani memberikan petunjuk. Nona seharusnya menceritakan dulu motivasi anda"

"Tentu saja aku ingin mendapatkan kembali kopor kulit tersebut..."

"Apakah anda sungguh ingin mendapatkan kopor kulit itu? ataukah barang yang tersimpan didalamnya?"

"Kopor kulit itu adalah barang peninggalan ayah kandungku. Harganya tidak ternilai. Tentu saja barang yang terdapat didalamnya pun sama berharganya."

"Sebaiknya aku pergi dulu pada Leng Taiya agar dia tidak segera emosi. Nanti aku akan menanyakan padanya tentang kopor tersebut. Aku juga akan menanyakan apakah barangbarang yang tersimpan didalamnya masih ada disana. kalau ternyata tidak ada, apakah kau masih tetap harus mencarinya? Apapun hasilnya nanti aku pasti akan kembali memberitahumu. Bagaimana?"

"Apakah ini adalah salah satu siasat untuk membohongiku?"

"HUH...! ini bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Aku tidak mungkin melaku-kan hal yang seperti itu. nona Tiat harap tenang"

"Baiklah ! berapa lama aku bisa mendengar jawabanmu?"

"Malam ini sebelum lampu dinyalakan"

"Sampai saat itu aku pasti akan kembali."

Nona Thiat-yan mohon pamit dan segera pergi. Wie Kie-hong segera keluar dari tempatnya bersembunyi.

"Kie-hong! kau pasti sudah mendengar semuanya."

"Hmm..."

"Dari pembicaraanku tadi, seharusnya kau bisa mengerti sedikit lebih banyak tentang kejadian yang sebenarnya terjadi. Aku hanyalah sebuah bidak catur. Leng Taiya adalah orang yang sedang memainkan bidak caturnya....Wie Kie-hong, apakah kau tahu barang apakah yang sudah tersimpan didalam kopor kulit Tiat Liong-san?"

"Tidak tahu"

"Didalam kopor itu sudah tersimpan seratus butir mutiara dari timur"

"Oh...? Mutiara dari timur? Bukankah mutiara itu harganya sangat mahal?"

"Kalau dihitung dengan kondisi pasar seperti sekarang, satu butir mutiara timur harganya bisa sampai ratusan ribu uang orang luar negeri. Tiat Liong-san kehilangan nyawanya karena mempertahankan barang mahal ini"

"Selanjutnya bagaimanakah kalian membagi seratus butir mutiara berharga ini?"

"Aku tidak mengerti arti kata-katamu"

"Kalian sudah membantu Leng Taiya men-celakai Tiat Liong-san untuk mendapatkan mutiara ini. apakah kalian tidak membagi hasil? Bukankah seharusnya seratus butir mutiara mahal itu dibagikan secara adil ?"

"Pada waktu itu kami semua bergantung pada Leng Souwhiang untuk bisa tetap hidup didalam kota Pakhia ini. siapa yagn berani meminta bagian padanya?"

"Tadi kau sudah berjanji pada nona Tiat bahwa hari ini sebelum matahari tenggelam kau akan memberikan jawaban padanya. Kalau begitu kapan kau berencana akan menemui Leng Taiya?"

"Sekarangjuga"

"Kalau begitu aku akan pergi bersamamu. Sekaligus aku juga ingin me'min ta tolong pada anda untuk menanyakan padanya tentang ayah kandungku."

Wie Kie-hong berkata dengan nada sangat sedih.

"selama ini aku selalu hidup didalam kebohongan, didalam kasih sayang yang palsu. Lebih baik sekaligus saja semuanya dibongkar"

Cu Siau-thian tampak menimbang-nimbang sesaat. Dia lalu berkata.

"Wie Kie-hong, sepertinya tidak baik kalau kau ikut pergi denganku. Semua orang memiliki harga diri, seperti pohon memiliki kulit. Kalau kamu ikut, kamu pasti akan sangat melukai harga diri Leng Taiya. Dia mungkin akan emosi"

Wie Kie-hong ikut terdiam.

Dia menimbang-nimbang katakata Cu Siau-thian lalu membuat keputusan "Baiklah!

kalau begitu aku tidak ikut pergi.

Kalau begitu aku akan mendengar kabar darimu bersama Thiat-yan sebelum matahari terbenam nanti."

Setelah itu Wie Kie-hong pun mohon pamit dan ikut pergi.

Sekarang dia bermaksud pergi menemui Tu Liong.

Seharusnya dia sudah berhasil mengorek sedikit informasi dari ayah angkatnya Leng Souw-hiang.

--Kedua orang ini sudah mengatur dimana dan kapan mereka akan bertemu.

Wie Kie-hong pergi ke jalan besar bermaksud untuk mencegat kereta untuk pergi ke tempat pertemuan.

Namun baru saja kereta kuda berhenti, tiba-tiba Tu Liong sudah datang menemuinya.

"Tu toako, bagaimana hasilnya?"

Sekali melihat Tu Liong, Wie Kie-hong langsung bertanya.

"Disini banyak orang, rasanya tidak enak membahasnya. Sebaiknya kita pergi ke tempat yang lebih tenang dan baru kita bicara dengan lebih teliti"

Akhirnya mereka berdua menaiki kereta kuda.

Mereka pergi ke sebuah kedai teh.

Ketika sampai, hari sudah sangat siang.

Tepat sekali waktu ketika orang-orang datang ke kedai teh untuk beristirahat.

Suasananya malah semakin tidak enak untuk berdiskusi.

Karena itu sekali lagi mereka pindah tempat.

Setelah sampai di jalan besar, sekali lagi mereka mencoba mencari kereta kuda.

Setelah menaiki kereta, Tu Liong menyuruh kusir kereta untuk pergi sesuka hatinya.

Melihat gelagat Tu Liong yang tampak sangat berat hati, hati Wie Kiehong ikut menjadi mendung.

Sangat jelas terlihat bahwa Tu Liong sudah mendapatkan kabar yang kurang enak didengar.

"Tu toako, sebenarnya apa yang terjadi pada-mu?"

"Aku sudah berbicara sangat lama dengan Leng Taiya, sepanjang kata-kataku itu dia hanya mengatakan tiga kalimat"

"Tiga kalimat itu adalah...."

"Kalimat pertama adalah seharusnya aku merasa bersalah padamu....setelah itu adalah seharusnya aku merasa bersalah pada nona Thiat-yan. Terakhir aku harusnya merasa bersalah pada diriku sendiri"

"Apa artinya?"

"Mana aku tahu? Setelah dia berkata seperti ini, apapun pertanyaan yang kuajukan, bagaimanapun aku memaksanya, dia hanya menutup mata dan tidak berkata apa-apa"

"Tu toako, aku sudah bicara banyak dengan Cu Taiya...."

Setelah itu Wie Kie-hong menceritakan kembali semua yang sudah dialaminya. Ternyata menanggapi cerita ini, Tu Liong hanya berkata dengan dingin "Wie Kie-hong, apakah kau percaya?"

"Kalau kau, apakah kau tidak mempercayai kata-kata Cu Taiya?"

"Aku tidak percaya"

"Mengapa?"

"Ilmu silat ayahmu tidak lemah, namun dibandingkan dengan ilmu silat Cu Siau-thian, perbedaannya masih sangat jauh. Cu Taiya tidak mungkin takut pada ayahmu"

"Padahal kau belum tahu seperti apa ilmu silat yang dimiliki ayahku"

"Sekarang ini memang aku tidak tahu. Tapi Cu Taiya pernah berbicara dengan ku sebelumnya, bahwa sebenarnya dia tidak takut pada siapapun"

"Kalau memang dia tidak takut pada siapapun, dia tidak perlu menutup-nutupi kebenaran seperti ini. ketika tadi Thiatyan datang padanya untuk bertanya, melihat gelagatnya sepertinya dia tampak sangat gugup"

"Itu mungkin ekspresi yang sudah dibuat-buat. Lagipula isi kopor kulit itu tidak mungkin hanya mutiara berharga saja. Rahasia ini tidak mungkin sesederhana itu"

"Tu toako, kau berkata seperti ini, apakah kau mempunyai bukti?"

"Menilai dari kedudukan Leng Taiya, jabatan dan harta kekayaannya sangat berlimpah limpah. Apalagi pada waktu itu dia masih berjaya. Dia tidak mungkin menganggap mutiara yang hanya bernilai sepuluh ribu mata uang orang luar negeri itu sebagai sesuatu yang sungguh berharga. Kalau dibandingkan dengan resiko bekerja sama dengan seorang pengem-bara dari dunia persilatan seperti Cu Siau-thian, apakah tindakannya sepadan?"

"Benar juga! ini masuk akal !"

Wie Kie-hong menyetujui argumentasinya.

"Masalah ini sebaiknya kita lihat dari sudut pandang yang lain"

"Katakanlah"

"Seharusnya kita menanyakan semua hal ini dari sisi Boh Tan-ping"

"Maksudmu adalah..."

"Kita harus mencari cara untuk memaksanya mengatakan hal yang sebenarnya"

Wie Kie-hong tentu mengerti arti yang terkandung didalam kata 'memaksa' ini. Dia terdiam sangat lama, setelah itu dia bertanya.

"Apakah kita memiliki kemampuan untuk melakukannya?"

"Kalau satu lawan satu, kita berdua pasti tidak mungkin bisa menang. Tapi kalau satu lawan dua, kita berdua masih mungkin lebih unggul melawannya"

"Kalau begitu apa kita ada kesempatan?"

"Seharusnya ada. Ayo kita pergi....kita coba buktikan sendiri"

"Tu toako !"

Wie Kie-hong berkata dengan sangat serius.

"sebelumnya kau harus mempertim-bangkan, apakah Boh Tan-ping tahu kejadian yang sesungguhnya?"

"Seharusnya dia tahu"

"Ayo kita pergi. Setidaknya kita sudah mencoba"

Tu Liong segera menyuruh kusir kereta agar mengarahkan laju kereta ke gang San-poa.

Ditengah perjalanan, kedua orang ini kembali merundingkan dengan lebih teliti tentang apa yang akan mereka lakukan nanti.

Kereta kuda berhenti tepat didepan gang San-poa.

Kedua orang ini turun dari kereta, dan segera berjalan masuk kedalam gang.

Sepertinya karena mereka terlalu memikirkan tentang Boh Tan-ping, mereka segera melupakan tentang Bu Tiat-cui.

Seharusnya dia juga orang yang memegang peranan penting.

Tapi dibalik pintu rumahnya yang tertutup rapat, Bu Tiatcui diam-diam memperhatikan gerak-gerik kedua orang ini.

Tu Liong berjalan didepan, Wie Kie-hong membuntutinya dari belakang.mereka berjalan sampai didepan kediaman Thiat-yan.

Tu Liong mengetuk-ngetuk pintu.

"Siapa?"

Orang yang menjawab ketukan pintu adalah seorang pelayan yang sudah tua.

"Kami datang kemari untuk menjumpai Thiat-yan"

Jawab Tu Liong.

"Nona Thiat-yan tidak ditempat"

"kalau begitu apakah kami berdua bisa menemui Boh Taiya??"

Memanggil Boh Tan-ping sebagai Boh Taiya, sebenarnya rasanya sangat kelewatan.

Hanya saja Tu Liong tidak tahu bagaimana cara memanggilnya dengan hormat "Kalian ingin menemui Boh Taiya?

Kalau begitu tolong tunggu disini"

Setelah beberapa lama, Boh Tan-ping keluar. Dengan dingin dia berkata.

"Untuk apa kalian datang menemuiku? Apakah kalian ingin mencari gara-gara?"

Tu Liong menunjukkan sikap bermusuhan.

Setelah Boh Tan-ping keluar pintu, Tu Liong langsung mengulurkan tangannya untuk menyerang.

Sekali menyerang dia sudah melancarkan jurus mematikan, kalau jurus ini mengena, kalau tidak mati pasti cacat Boh Tan-ping sama sekali tidak menduga sekali bertemu dia harus langsung melawan mereka berdua.

Ketika dia menyadari gelagat ini, selain menghindari serangan, sepertinya tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri.

Dia menghindari serangan dengan sangat anggun, bagaikan kupu-kupu yang meloncat dari bunga ke bunga.

Namun sekali lagi dia tidak menyangka kalau Wie Kie-hong sudah bersiap-siap untuk mencegatnya.

Sebentar saja sebuah pisau kecil yang tajam sudah menempel di punggungnya.

Raut wajah Boh Tan-ping langsung berubah.

"Boh Tan-ping !"

Wie Kie-hong berkata dengan dingin.

"Harap kau jawab dengan jujur"

"Aku sudah cukup jujur dengan kalian!"

"Kalau kau memang orang jujur, kau seharusnya berkata jujur."

Tu Liong berdiri dihadapan Boh Tan-ping. Mukanya tampak sangat garang.

"Apa yang kalian ingin aku katakan?"

"Pada waktu itu Tiat Liong-san mendapat celaka, dia membawa sebuah kopor kulit berwarna kuning. Barang apa yang ada didalam kopor itu?"

"Aku tidak tahu"

Boh Tan-ping berkata dengan cepat.

"Apakah kau sungguh tidak tahu?"

Tu Liong tertawa dingin. Luka sayat pedang gigi gergaji belum sembuh benar, namun api balas dendam sudah berkobar dengan hebat didalam hatinya.

"Ataukah kau tahu tapi tidak mau mengatakannya?"

"Aku tidak tahu"

Boh Tan-ping tetap mengatakan hal yang sama.

"Seharusnya kau tahu. Kau adalah adik dari Tiat Liong-san. Dia sudah mati, kau pun merawat putrinya sendirian. Semua hal yang berhubungan dengan Tiat Liong-san, kau pasti mengetahui semuanya dengan jelas"

"Walaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahukannya?"

"Ternyata seperti ini...."

Tu Liong mendadak berteriak dengan suara keras.

"Wie Kie-hong! dengarlah dengan jelas! aku sekarang ingin bertanya tiga buah pertanyaan pada Boh Taiya. Aku berharap dia bisa menjawab denganbaik. kalau dia tidak menjawab pertanyaan yang kuajukan, kau tusukkan pisau kecilmu itu sepuluh sentimeter kedalam. Kalau pisau itu menancap sampai tiga puluh sentimeter, seharusnya pisau itu sudah bisa mencapai jantungnya."

"Tu toako! Akut pasti akan melakukan sesuai dengan apa yang kau suruh"

Kedua orang ini sudah berimprovisasi dengan baik.

sepertinya kompromi yang sudah dibahas di dalam kereta berjalan dengan mulus.

Sekarang raut muka Boh Tan-ping berubah lagi.

kekerasan hatinya pun berubah.

"Kalian berdua tidak perlu berlaku seperti ini. kalau ada masalah apakah tidak bisa dibicarakan secara baik-baik?"

"Dari awal aku sudah berharap membicarakan tentang hal ini secara baik-baik denganmu. Selama ini kaulah yang tidak pernah bekerja sama! sekarang aku akan mulai mengajukan pertanyaan pertama....ada seseorang yang bernama Wie Ceng. Sejauh pengetahuanmu, dimana dia berada sekarang?"

"Dia berada didalam kota"

Boh Tan-ping menjawab dengan sangat cepat.

"Aku ingin mendengar jawaban yang lebih mendetail mengenai tempatnya"

"Kalau tentang itu aku juga tidak tahu secara pasti"

"Baiklah, pertanyaan pertama sudah kau jawab dengan baik....sekarang pertanyaan nomor dua.... ketika kita bertemu di gang sempit, kau sudah mengeluarkan pedang dan bertarung denganku. Siapa yang sudah menyuruhmu?"

Boh Tan-ping tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab pertanyaan. Tu Liong berteriak keras.

"Tusuk dia!"

"Tunggu Y' Boh Tan-ping juga segera berteriak keras "Kenapa? Apakah kau masih berpikir membelokan jawabanmu?"

"Apakah kalian akan mempercayai kata kataku?"

"Benar tidaknya aku akan mempertimbangkannya"

"Baiklah"

Sepertinya Boh Tan-ping sudah mengum-pulkan semua keberaniannya.

"Kau dengarlah dengan baik. orang yang sudah menyuruhku untuk menyerangmu adalah Cu Siau-thian"

Tu Liong merasa seperti seseorang sudah memukul kepalanya dengan benda yang sangat keras.

Dia mundur beberapa langkah kebelakang.

Dia terus memandang Boh Tan-ping.

Wie Kie-hong juga merasa sangat terkejut.

Saat ini, dia pun tidak berani bernafas terlalu keras.

Boh Tan-ping melihat raut muka Tu Liong seperti ini, dia segera bertanya.

"Tu Liong, kau tidak percaya padaku kan?"

"Tuan Boh, sebenarnya aku masih memiliki pertanyaan berkenaan dengan kopor kulit yang kita bahas tadi"

Raut wajah Tu Liong sangat tidak enak dilihat. Namun katakatanya masih terdengar sangat tenang.

"Sekarang aku ingin tahu tentang sebuah hal yang lain. Karena itu aku terpaksa mengesampingkan pertanyaan yang berkaitan dengan kopor kulit....Cu Taiya sudah menyuruhmu untuk turun tangan menyerangku, apakah dia menyuruhmu untuk langsung membunuhku, ataukah dia hanya ingin memberiku sebuah pelajaran yang tidak terlupakan?"

"Dia berharap untuk membuatmu berbaring diranjang dan merawat luka setidaknya selama satu dua bulan, dan tidak bisa turun ranjang pergi kemana-mana."

"Baiklah, tuan Boh, ketiga pertanyaan ini sudah kau jawab dengan baik. hanya saja masalah yang berkaitan dengan Cu Taiya, kau harus mengatakan semuanya sekali lagi dihadapannya. Ayo kita pergi ........kita selidiki kebenarannya"

"Tu toako, apakah kita akan pergi seperti ini?"

Pertanyaan ini membuat Tu Liong menge-rutkan keningnya sampai kedua alisnya menempel.

Boh Tan-ping adalah seorang manusia yang masih hidup.

Walaupun sudah diikat dan ditarik pergi, ini hanya bisa dilakukan kalau dia bersedia untuk ikut pergi.

Selain itu dia pasti akan mencari cara untuk memberontak dan melarikan diri.

Orang seperti ini tidak bisa dianggap remeh.

"Tuan Boh"

Tu Liong bertanya dengan dingin "Apakah kau bersedia untuk membuktikan kata-katamu?"

"Bagaimana kalau kita pergi kesana?"

Ternyata Boh Tanping pun menanyakan hal yang sama "Apakah kau ingin pergi?"

"Turunkan pisaumu, aku akan bersedia pergi dengan kalian"

"Kau sendiri yang mengatakannya."

"Iya"

"Baiklah. Wie Kie-hong, turunkan pisaumu"

"Tu toako"

Kata-kata Tu Liong tadi tidak hanya sebuah perintah, tapi adalah sebuah perintah yang harus dilaksanakan.

Wie Kiehong segera menyimpan pisaunya.

Boh Tan-ping menghirup nafas dalam dalam.

Sekarang dia pasti sedang memikirkan sebuah masalah....Tu Liong jelas sekali tahu kalau dia adalah orang yang sangat berbahaya, mengapa dia mengambil resiko?

Tu Liong membalikkan tubuh dan mulai berjalan pergi.

Pada waktu yang sama dia berkata.

"Harap tuan Boh ikut dengan kami"

Boh Tan-ping tampak menimbang-nimbang sesaat, setelah itu dia ikut pergi.

Tu Liong berjalan paling depan, Boh Tan-ping berada ditengah.

Wie Kie-hong mengekor dipaling belakang.

Kalau Boh Tan-ping bermaksud macam-macam, ini adalah kesempatan yang paling bagus.

Sekarang masalahnya adalah apakah dia berani melakukannya.

Pada saat ini dia tampak menaruh hormat pada Tu Liong.

Mereka berjalan sampai ke mulut gang, lalu menghentikan sebuah kereta kuda, ketiga orang ini segera masuk kedalamnya dan segera duduk.

Setelah ketiga orang duduk dengan baik, kereta kuda mulai bergerak.

Boh Tan-ping yang paling pertama membuka pembicaraan.

Dia bertanya.

"Tu Liong, setelah kau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana perasaanmu?"

"Sangat pedih"

"Apakah sungguh sangat pedih?"

"Benar"

"Kalau memang merasa sangat pedih, untuk apa kau membuang-buang tenaga pergi mencari, mengoreknya sampai tampil keluar dan menyakit-kanmu?"

"Pada dasarnya manusia selalu mencari masalah, mereka selalu senang disakiti....tuan Boh, kau dulu pernah menjadi adik angkat Cu Siau-thian. Sekarang ini kau sudah membocorkan rahasianya. Bagaimana perasaanmu?"

"Aku terpaksa, kalau orang sudah dipaksa, banyak urusan yang bisa dilakukannya tanpa memikirkan tanggung jawab."

Ketiga orang ini duduk dalam satu baris.

Boh Tan-ping duduk di tengah-tengah.

Kedua tangannya ditaruh diatas pangkuannya.

Dia tampak sangat tenang.

Namun apa yang dikatakannya sepertinya mengandung arti yang tersirat.

Tu Liong berpikir sejenak, setelah itu dia bertanya.

"Tuan Boh, apakah kau ingin mengatakan sesuatu?"

"Tidak ada. Aku hanya ingin memberitahukan. Aku memang dari dahulu seperti ini. aku tidak senang mengkhianati orang lain."

"Aku juga tahu ........kau melakukan karena terpaksa. Seperti sekarang ini kau duduk dengan baik disampingku, bahkan kau tidak berniat melarikan diri."

Boh Tan-ping tertawa pahit.

"Tu Liong, aku yakin dari awal kau sudah membuat pengaturan yang sangat baik, sebaiknya aku jujur padamu"

"Tuan Boh, mendadak aku mengerti siasat apa yang sedang kau buat"

Boh Tan-ping mendengus dengan keras.

"Kalian lebih muda dariku, sekarang kalian berdua melawanku seorang diri. Bagaimanapun kalian pasti akan lebih unggul. Mana mungkin aku berani bersiasat?"

"Kalau satu lawan satu?"

"Kalau satu lawan satu, aku pasti akan lebih unggul. Tu Liong....kita berdua sudah pernah beradu kepandaian, untuk apa kau bertanya seperti ini?"

"Kalau sudah berada didepan Cu Taiya, nanti kita akan bertarung satu lawan satu. Pantas saja sekarang kau bersedia mengikuti kami secara baik-baik. ternyata kau berpikir ingin menggunakan tenaga Cu Taiya untuk menolongmu keluar dari kesulitan ini. terlebih lagi kau nanti akan berusaha membunuh kami. Benarkah ini?"

Raut wajah Boh Tan-ping sedikit berubah.

"Sekarang aku pikir untuk membuktikan kata-katamu, kita tidak perlu lagi datang pada Cu Siau-thian."

"Oh...? Apakah kau sering ganti pendirian dengan cepat seperti ini?"

"Dengarkan dulu alasanku, kau tadi mengatakan ingin pergi menemui Cu Taiya untuk membuktikan kata-katamu, maka kita berdua akan masuk kedalam situasi yang tidak menguntungkan, kalau kata-katamu tadi adalah kebohongan, aku pasti akan melukai perasaan Cu Taiya. Karena itu aku memutuskan sementara waktu tidak pergi menemui-nya"

"Kalau begitu bagaimana kalian akan melepaskanku?"

"Tuan Boh"

Tu Liong dari awalpun berkata dengan sangat teratur.

"ada satu masalah yang ingin aku jelaskan, aku sudah mengatakan hanya ada tiga buah pertanyaan, karena itu setelah menjawab ketiga pertanyaan itu aku tidak bertanya lebih jauh lagi. sebenarnya hari ini tujuan utamaku datang mencarimu sudah dikesampingkan. Sekarang aku menyerahkan dirimu pada Wie Kie-hong. Dia ingin bertanya padamu tentang keberadaan ayah kandungnya.

"Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, aku tidak tahu...."

"Sampai pada kondisi tertentu, kau pasti akan mengatakan kalau kau tahu...."

Tu Liong segera memerintahkan kusir kereta kuda untuk memutar kereta kuda keluar dari pintu barat. Tu Liong bermaksud pergi ke Sie-san.

"Tu Liong !"

Boh Tan-ping berkata dengan suara rendah.

"Karena Thiat-yan menganggap kalian sebagai pendekar berumur muda, dia sudah menyuruhku untuk tidak melukai kalian. Selama ini aku berulang kali harus bersabar dengan kelakuan kalian, jangan pikir aku takut pada kalian"

"Aku tahu kau tidak takut pada kami. Kami juga sama sepertimu, tidak takut siapapun"

"Wie Kie-hong !"

Boh Tan-ping memutar kepalanya memandang ke arah yang berlawanan.

"Aku tidak tahu apa yang akhirnya terjadi pada ayahmu, kalau kau berbuat macam-macam terhadapku, nanti kita pun belum tentu bisa berjumpa lagi"

Wie Kie-hong hanya berkata dengan dingin.

"Aku hanya mendengar kata-kata Tu toako, dia menyuruhku melakukan apapun aku pasti akan melakukannya"

"Apakah kau tidak memiliki pendirian dan pandangan sendiri?"

"Tentu saja aku punya pemikiran sendiri, pendirianku adalah untuk mendengarkan semua perintah Tutoako"

"Tu Liong !"

Boh Tan-ping mulai terdengar emosi.

"kau tidak boleh memaksa orang terlalu..."

"Tuan Boh....kata-katamu terlalu berlebihan, kalau aku tidak memaksa, kau rupanya tidak akan bicara"

"Tu Liong, apakah kau akan memaksaku sampai mempertaruhkan nyawa?"

"Sayangnya nyawamu hanya ada satu"

"Aku tidak percaya kau bisa tega membunuh orang"

"Kalau kau berani, mengapa aku tidak berani?"

Wie Kie-hong tidak pernah ikut campur mulut.

Pisau kecil yang dipegangnya pun selalu menempel dengan ketat pada Boh Tan-ping.

walaupun Boh Tan-ping emosi, dia tahu kalau dia tidak bisa berbuat banyak, mempertaruhkan diri berarti membuang nyawa.

Dia tidak mungkin melepasnya dengan mudah.

"Wie Kie-hong"

Boh Tan-ping mulai balas menyerang.

"aku berjanji akan membantumu mencari tahu tentang keberadaan ayahmu sekarang, berilah aku satu atau dua hari untuk mencarinya, boleh tidak?"

Wie Kie-hong tidak menjawab. Seolah olah dia tidak mendengar kata katanya.

"Tu Liong! anak kecil ini hanya mendengarkan kata-katamu saja, kau katakan sesuatu"

Tu Liong hanya berkata dengan dingin.

"Apa gunanya aku berkata padanya? Kalau berkata denganmu itu barulah ada gunanya.... aku tahu, pada akhirnya kau pasti bicara"

"Kalau kau membunuh aku, aku masih tetap akan mengatakan tiga kata tadi....aku tidak tahu"

Tidak lama kereta kuda berhenti. Mereka sudah sampai di Sie-san. Tu Liong tampak muram.

"Tuan Boh, sebaiknya kau menurut, kalau kau berniat untuk kabur, kami pasti akan membunuhmu."

Pada hari raya seperti ini, tamu yang datang dan pergi tidak banyak.

Tu Liong dan Wie Kie-hong memaksa Boh Tanping mengikuti mereka.

Pisau yang dipegang oleh Wie Kiehong menempel dengan erat di pinggangnya.

Kalau misalnya secara tidak sengaja mereka berpapasan dengan orang yang kebetulan lewat, pisau itu tidak akan terlihat dengan mudah.

Setiap musim gugur, daun-daunan diatas pohon berwarna merah seperti api.

Sekarang ini daun-daunan tampak hijau segar.

Wie Kie-hong dan Tu Liong sepakat membawa Boh Tan-ping ketengah hutan agar tidak diganggu orang yang lewat.

Tu Liong sudah membuat perhitungan, dari kereta kuda, dia sudah membawa seutas tali.

Dia lalu mengikat Boh Tanping pada batang sebuah pohon.

Boh Tan-ping sama sekali tidak melawan, mungkin juga dia sudah tidak memiliki keberanian untuk melawan.

"Kie-hong, sekarang kau sudah bisa menanyakan keberadaan ayah kandungmu"

Boh Tan-ping kembali berteriak.

"Tidak tahu!"

"Tu toako, kau sudah mendengarnya sendiri, bertanya lagi pun jawabannya selalu tiga kata itu"

"Betul"

Boh Tan-ping menggeram dan mengatupkan rahangnya kuat kuat "Kalau aku bilang tidak tahu, berarti aku benar-benar tidak tahu"

"Apakah pisau yang kau pegang itu hanya sebuah hiasan? Kalau dia berkata tidak tahu, kau potong sedikit dagingnya. Walaupun tubuhnya gagah perkasa, kalau kehilangan beberapa potong daging, nanti kita lihat apakah dia masih berkata tidak tahu. Kalau dia masih berkata begitu, berarti dia memang tidak tahu"

Wie Kie-hong memandang pisau yang sedang dipegangnya. Entah apa yang harus diperbuatnya. Sangat jelas terlihat dia tidak mungkin berlaku seperti itu.

"Wie Kie-hong, apakah kau ingin aku membantu menanyakan padanya?"

"Tu Liong !"

Boh Tan-ping tertawa dingin dan berkata.

"ekor musangmu akhirnya kelihatan. Aku sudah menggunakan pedang gergajiku untuk melukai-mu, kau pasti merasa sakit hati. karena itu kau memperalat Wie Kie-hong untuk membalaskan dendam dan menggunakan alasan bertanya tentang Wie Ceng, sedangkan niatmu sebenarnya adalah untuk melukaiku. Benar?"

"Kie-hong, apakah kau percaya omongannya?"

Tu Liong bertanya dengan ringan "Tentu saja aku tidak percaya"

"Boh Tan-ping, taktik mu sekali lagi tidak berhasil. Kau berniat mengadu domba aku dan Wie Kie-hong, tapi sayang kau tidak tahu betapa akrabnya hubungan kami berdua....Boh Tan-ping, sekarang kau sangat sial."

Tu Liong menyobekkan baju atas Boh Tan-ping dengan kuat.

berbarengan dengan itu dia mengambil pisau yang dipegang oleh Wie Kie-hong.

Tepat pada saat ini tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk kedalam hutan.

Perlahan tapi pasti, orang ini berjalan menuju ke arah mereka bertiga.

Orang ini adalah Cu Siau-thian.

Cu Siau-thian melangkah sangat perlahan.

Kalau dilihat sekilas, dia seperti orang yang kebetulan lewat, karena dia menemukan ada tiga orang ditengah hutan, jadi sekalian dia berjalan mendekat melihat apa yang sedang terjadi.

"Kie-hong ........apakah kau melihatnya?"

Tu Liong bertanya setengah berbisik "Mmm...!"

Wie Kie-hong tidak melepaskan tatapan matanya pada Cu Siau-thian.

"Dua lawan satu, kita tidak mungkin kalah melawannya"

"Mmmm..."

"Yang harus ditakuti adalah kalau hati kita masih merasa ragu-ragu. Harap ingat, jangan sampai ragu"

"Aku tahu"

Pada saat ini Cu Siau-thian sudah berada dihadapan mereka. Melihat Cu Siau-thian, Boh Tan-ping diam tidak berkata apa apa... Wie Kie-hong dan Tu Liong juga sama-sama hanya melihatnya tanpa bicara.

"Mengapa terjadi seperti ini?"

Kata kata Cu Siau-thian diucapkan seperti terhadap orang yang belum pernah dikenalnya.

"Kami sedang menyelesaikan urusan balas budi"

Tu Liong menjawab dingin "Ini bukan cara yang benar untuk menyelesaikan sebuah masalah. Di tengah siang bolong seperti ini, mana boleh kau menyiksa seseorang sampai mengaku?"

Tampaknya pendirian Cu Siau-thian sudah mulai kelihatan.

"Jangan mendekat"

Tu Liong juga tidak berbasa-basi. Bukan dia tidak menghargai balas budi, hanya saja dia sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, baik dan buruk secara jelas.

"Apakah aku tidak berhak menjadi orang penengah kalian?"

"Tidak boleh"

Tu Liong langsung menjawab.

"Kalau tidak boleh, berarti aku sudah sia-sia berlari sampai ke Sie-san ini"

Dari kata-kata Cu Siau-thian sudah jelas terlihat kalau dia datang kemari bukan hanya kebetulan saja. Dia pasti sudah mendapat kabar bahwa Boh Tan-ping digiring kemari.

"Cu Taiya!"

Wie Kie-hong tidak ingin Tu Liong merasa serba salah, karena itu dia maju untuk menyelesaikan masalah.

"urusan ini tidak ada jalan keluarnya"

"Di dunia ini tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar. Asalkan kau bisa membedakan yang mana yang benar dan yang mana yang salah, yang mana yang baik dan yang mana yang buruk, ini sudah cukup"

"Sayang sekali selain urusan baik dan buruk, benar dan salah, masih ada lagi urusan untung dan rugi. Kalau memiliki pendirian untung dan rugi, keputusan yang dibuat seringkah tidak dapat diandalkan, tidak dapat dipercaya"

Tu Liong tampak kaget mendengar pernyataan Wie Kiehong.

Dia tidak menyangka anak muda ini bisa mengatakan sesuatu yang sangat tegas seperti ini.

Raut wajah Cu Siau-thian sedikit berubah.

Dia berkata dengan nada rendah.

"Apakah kau pikir aku memiliki hubungan untung dan rugi dengannya?"

"Mungkin ada"

"Kau menggunakan kata 'mungkin' menunjukkan kalau kau pun tidak yakin"

"Aku menggunakan kata 'mungkin' agar Cu Taiya tinggal ditempat.. Harap Cu Taiya jangan mendekat!"

"Baiklah! aku tidak lagi menjadi orang penengah masalah."

Pada akhirnya Cu Siau-thian tampak mengalah.

"kalau begitu aku jadi pihak ketiga yang menonton saja, boleh kan?"

Wie Kie-hong memandang ke arah Tu Liong sepertinya dia ingin meminta persetujuan Tu Liong terhadap usulan ini, namun tampaknya Tu Liong tidak menunjukkan apa-apa.

Sepertinya dia menganggap Wie Kie-hong sudah bisa membuat keputusan menghadapi masalah apapun, terlebih lagi tadi dia sudah menyerahkan Boh Tan-ping ke dalam tangan Wie Kie-hong.

Cu Siau-thian berkata lagi.

"Ini adalah tempat umum yang dapat dikunjungi siapapun, disisi kalian bisa melakukan apapun yang kalian inginkan, tidak ada larangan bagi siapapun untuk melakukan apa yang mereka inginkan, apakah aku juga tidak bisa melakukan keinginanku untuk menonton kalian?"

Pada awalnya Wie Kie-hong kekurangan rasa keberanian, sekarang sebaliknya dia di selimuti semangat.

Dia tidak menghiraukan Cu Siau-thian, dia membalikkan tubuh menghadap Boh Tan-ping, dan berkata dengan dingin padanya.

"Kau tadi sudah mendengar apa yang Tu toako katakan, karena itu aku tidak perlu mengulanginya lagi... ....jawablah, dimanakah ayahku?"

Boh Tan-ping tidak menjawab.

Tapi tatapan matanya beralih pada Cu Siau-thian.

Sangat jelas terlihat kalau tatapan mata ini adalah tatapan minta tolong.

Cu Siau-thian ternyata memang merespon terhadap tatapan itu dan berkata.

"Wie Kie-hong! kau sudah bertanya pada orang yang salah. Kalau kau ingin bertanya tentang keberadaan ayahmu saat ini, kau seharusnya pergi bertanya pada ayah angkatmu Leng Souw-hiang barulah tepat."

"Cu Taiya!"

Wie Kie-hong berkata dengan dingin.

"aku tadi sudah mengatakan padamu, kata katamu ini tidak akan mendapat kepercayaan dariku."

"Bagaimana kalau aku sendiri yang pergi membawamu bertanya pada Leng Souw-hiang?"

"Tidak perlu"

"Kalau kau memang ingin membuang-buang waktu, silahkan terus bertanya"

Ternyata sikap Cu Siau-thian terlihat sedikit melunak Secara tidak disadari, Cu Siau-thian sudah diam-diam memberikan petunjuk pada Boh Tan-ping.

"Kie-hong! kau sia-sia bertanya padaku. Kalau kau membunuhku, kau pun membunuh tanpa mendapat hasil yang sepadan"

Boh Tan-ping mengatakan hal yang sejalan dengan apa yang sudah Cu Siau-thian ucapkan.

"Aku sama sekali tidak tahu tentang keberadaan ayahmu sekarang. Kalau kau ingin bertanya, sebaiknya kau bertanya pada Leng Taiya saja."

Wie Kie-hong tidak banyak membuat pertim bangan lagi, dia segera mengangkat tangan untuk menghujamkan pisau ke arah dada Boh Tan-ping.

Gerakannya lumayan cepat, tapi gerakan Cu Siau-thian lebih cepat dari padanya.

Terdengar suara "PLAAAKKK"

Pergelangan tangan Wie Kie-hong sudah dipegangnya dengan erat "Hari ini masih terang, bagaimana mungkin kau berniat melakukan sesuatu yang biadab?"

Cu Siau-thian memarahinya dengan suara yang keras Wie Kie-hong mencoba menarik tangannya dari cengkraman Cu Siau-thian, tapi setelah beberapa saat dia menyadari kalau dia tidak bisa melakukannya.

Tu Liong segera mendekat, dia berkata dengan sangat hormat.

"Cu Taiya! aku sudah berhutang budi sangat banyak pada anda karena anda sudah memelihara sampai aku bisa mendapatkan hari ini."

Setelah berkata seperti ini, dia mendadak berlutut dihadapan Cu Siau-thian, setelah itu dia menempelkan kepalanya ditanah sebanyak tiga kali.

Cu Siau-thian tertegun melihat kelakuannya.

Sepertinya dia tidak mengerti apa yang dilakukan Tu Liong.

Setelah selesai berterimakasih, Tu Liong berdiri.

Sepertinya hampir pada waktu yang bersamaan, kaki kanannya ditendangkan ke arah Cu Siau-thian.

Ternyata pertama-tama Tu Liong berterima kasih atas semua budi yang sudah Cu Siau-thian berikan untuknya, setelah itu dia bertindak.

Pertama-tama karena hal ini terjadi diluar dugaan, kedua karena tangan kanannya sedang memegang erat tangan Wie Kie-hong, gerak-gerik Cu Siau-thian jadi sangat terbatas.

Tendangan Tu Liong kali ini mengenai bahu kanannya dengan telak Dengan otomatis genggaman tangan kanan Cu Siau-thian menjadi longgar.

Wie Kie-hong segera mengambil kesempatan untuk melepaskan diri.

Cu Siau-thian tertawa dingin dan berkata.

"Orang tidak mungkin melukai hati seekor macan, namun seekor macan selalu bermaksud melukai orang, aku sungguh tidak menyangka"

Ternyata Tu Liong tetap menjawab Cu Siau-thian dengan penuh rasa hormat "Cu Taiya! aku tidak berani melawan dirimu. Tapi kalau situasi sudah tidak mengijinkan, aku terpaksa melakukannya"

"Apakah kalian pikir kalian berdua melawan aku sendiri kalian akan menang?"

Wie Kie-hong berkata dengan tegas.

"Kenyataan selalu lebih menang melawan peringatan yang keras. Kebaikan selalu menang melawan kejahatan. Ini adalah sebuah aturan yang selamanya pun tidak akan pernah berubah."

Mendadak Cu Siau-thian tertawa keras.

Ditengah tengah tawanya, dia mendadak mencabut sebuah pedang, dan segera menyabetkannya ke arah tali yang mengikat tangan Boh Tanping.

Pedang yang digunakannya adalah pedang pendek yang sangat tajam.

Namun tebasan pedang ini sangat akurat.

Cu Siau-thian bahkan tidak memotong sehelai bulu pun dari tangan Boh Tan-ping.

kemahiran menggunakan pedang seperti ini sungguh membuat kagum siapapun yang melihat.

Sekarang situasi kembali berubah.

Sekarang mereka jadi satu lawan satu.

Kalau menimbang dari kemahiran ilmu silat yang dimiliki Cu Siau-thian dan Boh Tan-ping, jelas tampak kalau Tu Liong dan Wie Kie-hong pasti akan kalah.

Tapi setelah melepaskan Boh Tan-ping, Cu Siau-thian tampaknya menunjukkan sifat aslinya.

Kalau Tu Liong dan Wie Kie-hong tidak bisa pergi keluar dari hutan ini hidup-hidup, apa gunanya Cu Siau-thian berlaku seperti ini bagi mereka?

"Tan-ping!"

Dari panggilan Cu Siau-thian pada Boh Tan-ping sudah jelas hubungan diantara mereka berdua.

"Ya!"

Boh Tan-ping menjawab dengan sangat hormat "Aku ingat saat itu di kalangan dunia persilatan, kemampuanmu menggunakan pedang pendek sangat mahir sampai tidak ada orang yang dapat menandingimu."

Kata-kata Cu Siau-thian diucapkan dengan ringan. Dia terdengar seperti sedang mengobrol santai dengannya.

"Memang benar"

"Hari ini kita memiliki kesempatan untuk melihat kemampuanmu yang sebenarnya. Perlihat-kanlah padaku"

Cu Siau-thian lalu melemparkan pedang yang ada di tangannya pada Boh Tan-ping.

Cu Siau-thian lalu berjalan kepinggir.

Dia seperti merasa Boh Tan-ping sendiri saja sudah cukup untuk merobohkan kedua anak muda itu.

dia sendiri tidak perlu ikut campur turun tangan untuk bertarung.

Dia memiliki rasa percaya diri, dari cara Boh Tan-ping menerima pedang yang dilemparkan dapat dilihat dia juga memiliki rasa percaya diri yang sama.

Tu Liong dan Wie Kie-hong juga percaya kalau Cu Siauthian tidak melebih-lebihkan.

Karena ini, Wie Kie-hong menggunakan kesempatan ini untuk bertindak terlebih dahulu, sebelum Boh Tan-ping mulai melancarkan serangannya.

Wie Kie-hong melesat seperti panah yang terlepas dari busurnya.

Dia segera mengarahkan pisau kecil yang dipegangnya ke arah leher Cu Siau-thian.

Cu Siau-thian tidak menyangka, bahkan Tu Liong sendiri pun tidak menyangka.

Cu Siau-thian tidak memegang senjata.

Dia pun tidak sempat menggunakan pukulan tangan kosong-nya untuk membalas serangan.

Dia hanya bisa melangkah kepinggir untuk menghindar.

Gerakan Wie Kie-hong yang gesit dengan pisau yang tajam terus memburu Cu Siau-thian Boh Tan-ping terpaksa menolong Cu Siau-thian untuk melepaskan diri dari bahaya.

Namun baru saja dia hendak bergerak, Tu Liong sudah menghalangi jalannya.

Pada akhirnya tetap saja semua orang yang terlibat pertarungan satu lawan satu.

Yang berbeda adalah pada mulanya Tu Liong dan Wie Kiehong berada di bawah angin.

Namun karena Wie Kie-hong pertama turun tangan menyerang, sekarang keadaan berbalik.

Kedua pemuda ini sekarang mendapat kesempatan besar untuk menang.

Dalam situasi ini, taktik menyerang yang lebih kuat terbukti sangat efektif.

Pada kondisi normal, Cu Siau-thian mampu menghindar serangan dengan gesit.

Gerakannya secepat kilat yang menyambar.

Hanya saja karena sekarang dia sedang berada ditengah hutan yang lebat, ketika sedang mundur menghindar serangan, dia kesulitan melihat apakah ada batang pohon yang menghalangi jalannya.

Setiap saat pisau yang tajam bisa saja menembus lehernya.

Wie Kie-hong terus memburu Cu Siau-thian.

Tu Liong dan Boh Tan-ping kembali berdiri berhadaphadapan.

Kejadian pertarungan besar yang dialaminya didalam gang sempit kembali diputar ulang dalam benaknya.

"Kita bertarung lagi"

Kata Tu Liong perlahan-lahan.

"MMmm...."

Boh Tan-ping terus menatap tajam ke arah Tu Liong.

Kedua orang ini berdiri saling berhadapan.

Senjata mereka berdua sudah terhunus keluar di sisi tubuh masing-masing.

Angin hutan semilir berhembus menerbangkan daundaunan.

Tu Liong mengangkat tangan kanannya bermaksud untuk menantang Boh Tan-ping untuk menyerangnya terlebih dahulu.

Boh Tan-ping tampak sedikit emosi.

"HIAAAATT!!"

Teriakan Boh Tan-ping telah membuka pertarungan kali ini.

Dia segera berlari mendekat Tu Liong.

Kedua tangannya memegang pedang dengan erat Setelah cukup dekat, Boh Tan-ping segera menebaskan pedangnya ke arah kepala Tu Liong.

Tu Liong segera membungkuk menghindari serangan.

Berbarengan dengan itu dia meluncur kedepan ke arah Boh Tan-ping dan menyabetkan pedangnya secara vertikal dari bawah ke atas.

Boh Tan-ping segera memutar tubuhnya, nyaris tidak berhasil berkelit dari sabetan pedang Tu Liong.

Tu Liong yang berada sangat dekat dengan Boh Tan-ping.

dia bahkan bisa merasakan hangat nafas yang menghembus pipinya.

Namun yang dia rasakan tidak hanya nafasnya.

Boh Tan-ping sudah mengulurkan tangannya dan segera menggenggam erat baju yang dikenakannya.

Tu Liong kembali mengunjukan kemampu-annya menggunakan pukulannya.

Dia segera menghentakkan kaki kanannya dengan keras, dan telapak tangan kanannya segera menghantam dada Boh Tan-ping sama kerasnya.

Boh Tan-ping terhuyung huyung kebelakang.

Tu Liong segera mengejarnya kembali.

Dia segera menyabetkan pedangnya ke arah kepala Boh Tan-ping.

Boh Tan-ping segera menunduk menghindari serangan Tu Liong hanya berhasil menyabet batang pohon, bukan batang leher Boh Tan-ping.

Setelah menunduk, Boh Tan-ping segera bergerak ke sisi kanan Tu Liong, dan dengan lebih cepat lagi mengayunkan senjata andalannya, melintang persis seperti mengikuti jejak tebasan pedang Tu Liong.

Tu Liong sedang membelakangi pedang Boh Tan-ping.

Namun dia merasakan hembusan pedang Boh Tan-ping mengarah ke lehernya.

Dia ikut menunduk dengan cepat.

Pedang menancap dengan erat ke batang pohon.

Serpihan kayu kecil berterbangan kemana-mana.

Tu Liong segera melemparkan dirinya ke sebelah kiri untuk menjauhi Boh Tan-ping.

Boh Tan-ping hanya tersenyum sinis.

Dia menarik pedangnya dengan kuat meninggalkan bekas goresan pedang yang mendalam di batang pohon.

Mereka berdua kembali berdiri saling bertukar pandang.

Tu Liong mengeluarkan pisau kecil dari balik bajunya.

Rupanya Boh Tan-ping pun tidak mau kalah, dengan tangan kirinya, dia kembali mencabut pisau kecil yang menyatu dengan pedangnya.

Kedua orang itu berdiri berhadap-hadapan.

Pisau di tangan kiri, pedang di tangan kanan.

Tiba tiba Cu Siau-thian lewat di antara mereka.

Wie Kiehong masih berusaha keras melukainya.

Setelah mereka lewat, Tu Liong langsung melancarkan serangan.

Sekejap saja, Tu Liong sudah melancarkan kombinasi serangan pisau dan pedang berulang ulang ke arah Boh Tanping.

Sambil menangkis serangan, Boh Tan-ping terus melangkah mundur.

Boh Tan-ping tidak mundur terlalu jauh.

Ada sebuah batu besar merintangi jejak jalan mundurnya.

Walaupun sedang menghindari serangan Tu Liong, Boh Tan-ping tetap menyadari adanya batu.

Setelah hampir menabraknya, Boh Tan-ping segera meloncat tinggi.

Tu Liong tidak mau melepaskan Boh Tan-ping begitu saja.

Dia pun ikut meloncat tinggi dan terus menyabetkan pedangnya padanya.

Boh Tan-ping bersalto di udara.

Dia menginjak dahan sebuah pohon dan menggunakannya sebagai pijakan untuk meloncat lebih tinggi dan menghindari tebasan pedang Tu Liong.

Boh Tan-ping mendarat dengan anggun di atas salah sahi dahan pohon.

Tu Liong berdiri diatas dahan pohon yang berseberangan dengan Boh Tan-ping.

Pertarungan babak kedua berhenti lagi.

Keringat mulai bercucuran.

Nafas mulai memburu.

Tidak lama Wie Kie-hong dan Cu Siau-thian kembali lewat diantara mereka.

Mereka berdua pun sedang meloncat-loncat dari pohon ke pohon terus kejar-kejaran seperti anjing mengejar kucing.

Setelah mereka lewat, pertarungan babak ke tiga dimulai.

Tu Liong meloncat menuju dahan yang diinjak Boh Tanping, sementara pada waktu yang bersamaan, Boh Tan-ping juga meloncat menuju dahan yang diinjak Tu Liong.

Mereka bertemu ditengah udara kosong diantara rimbunnya daun-daunan.

Pedang bertemu pedang, pisau bertemu pisau.

Sabetan sabetan kuat dan cepat hanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Kekuatan tebasan mereka menggugurkan daun daun disekitarnya.

Membuat daun-daunan turun ke bumi bagaikan hujan.

Boh Tan-ping mendarat dengan mantap di atas dahan pohon.

Namun ketika dia berbalik, dia terkejut karena Tu Liong sudah kembali meluncur ke arahnya.

Rupanya Tu Liong hanya menggunakan dahan tempatnya mendarat sebagai tolakan agar dia kembali meluncur ke arah Boh Tan-ping.

Tu Liong segera menebaskan pedangnya kuat-kuat.

Boh Tan-ping masih agak kaget.

Namun dia segera meloncat menjauh.

Tebasan Tu Liong tidak mengenai sasaran.

Boh Tan-ping bersalto ketika dia melayang turun kebawah.

Tu Liong kembali menendang dahan pohon tempatnya berpijak agar menjadi tolakan yang kuat untuk mengejar Boh Tan-ping.

Dari posisinya bersalto, mendadak pisau kecil yang dipegang Boh Tan-ping melesat cepat bagaikan panah yang terlepas dari busurnya menuju Tu Liong.

Tu Liong terkejut.

Segera dia memiringkan kepala menghindari pisau.

Tapi pisau itu hanya berhasil menggores kulit pipinya.

Boh Tan-ping sudah mendarat.

Sekarang dia mengayunkan pedang untuk menyambut serangan Tu Liong dari atas.

Kedua pedang kembali beradu.

"TRAAANGGGG"

Namun kali ini Boh Tan-ping mengalah dan langsung meloncat mundur agak jauh.

Tu Liong tidak melewatkan kesempatan ini untuk melempar pisau kecil yang masih dipegangnya.

Pisau kecil kembali melesat bagaikan panah menuju dada Boh Tan-ping.

Sekarang giliran Boh Tan-ping yang mengi-baskan pedangnya untuk menepis pisau yang melun-cur ke arahnya.

"TRANGG"

Pisau itu terus melesat ke arah yang berbeda, tidak terhindarkan pisau menancap pada batang salah satu pohon.

Kedua orang ini kembali berdiri berhadapan.

Sebatang pohon melintang di antara mereka berdua.

Kali ini Cu Siau-thian dan Wie Kie-hong tidak lagi berkejarkejaran.

Cu Siau-thian terus melangkah mundur menghindari tusukan pisau Wie Kie-hong.

Malang baginya, dia tidak memperhatikan batang pohon yang melintang.

Cu Siau-thian terperanjat ketika dia menabrak batang pohon.

Wie Kie-hong langsung menghujamkan pisau-nya ke leher Cu Siau-thian.

"HENTIKAN!"

Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi ditengah hutan Pada saat yang bersamaan, sesosok bayangan seseorang terbang mendekat.

Ternyata orang itu adalah Thiat-yan Kalau orang yang memberi perintah berhenti adalah Tu Liong, mungkin Wie Kie-hong akan mendengarkan perintah dan menghentikan serangan.

Namun sekarang Wie Kie-hong menurun kan pisaunya.

Sepertinya perintah Thiat-yan sudah memberikan dampak yang besar baginya.

Saat ini Cu Siau-thian sedang berdiri membelakangi batang sebuah pohon besar, kalau Thiat-yan tidak keluar menghentikan pertarungan, mungkin dia tidak bisa menghindari serangan Wie Kie-hong, pisau itu pasti sudah menancap di lehernya.

Apakah teriakan Thiat-yan memang bertujuan untuk menolong Cu Siau-thian?

Kalau memang untuk menolong Cu Siau-thian, untuk apa dia melakukannya?

Jangankan orang lain, bahkan Cu Siau-thian sendiri merasa bingung.

Tentu saja Thiat-yan bisa melihat tanda tanya besar yang tergambarkan didalam tatapan mata Wie Kie-hong.

Tapi dia tidak segera memberikan penjelas-an.

Dia hanya membalikkan tubuh pada Boh Tan-ping dan bertanya.

"Paman Boh! mengapa kau ada disini?"

"Mereka berdua menculikku kesini"

Boh Tan-ping menunjuk pada Wie Kie-hong dan Tu Liong.

"Mengapa?"

"Mereka terus berpendapat kalau aku tahu tentang keberadaan Wie Ceng"

"Apakah kau tahu?"

"Tentu saja aku tidak tahu"

"Baiklah! kalau begitu silahkan paman pulanglah dulu"

Boh Tan-ping hanya berdiri disana tidak bergerak.

"Paman Boh, apa lagi yang sedang kau tunggu?"

"Aku menunggu kau pulang bersamaku"

"Tidak perlu. Aku sudah besar, aku bukan anak kecil lagi."

Kata-kata Thiat-yan bermakna ganda.

"Aku bisa mengurus diriku sendiri...."

"Baiklah! kalau begitu aku pergi dulu"

Cu Siau-thian tidak mencoba menghentikan Boh Tan-ping.

walaupun dia memiliki hubungan dengan Boh Tan-ping, tapi tetap saja dia tidak merasa enak mencegahnya pergi.

Wie Kie-hong dan Tu Liong pun tidak menghalang halangi.

Sepertinya mereka semua mengerti apa maksud nona Thiatyan berkata seperti itu.

Boh Tan-ping berjalan pergi, langkahnya sangat perlahan.

Namun tidak masalah betapa pelannya dia berjalan, pada akhirnya dia berjalan keluar dari hutan.

Thiat-yan memandang Boh Tan-ping sampai sosok tubuhnya tidak terlihat lagi.

setelah itu dia membalikkan tubuh dan berkata dengan lembut pada Wie Kie-hong.

"Wie Siauya, apakah kau tahu mengapa aku mencoba menghentikan serangan mu? Aku meng-hentikanmu karena Cu Siau-thian tidak boleh mati"

"Oh...?"

"Kali ini aku datang ke Pakhia untuk mencari barang peninggalan milik ayahku. Kalau Cu Siau-thian mati, kemana aku akan mencarinya lagi? kemana aku akan bertanya?"

Cu Siau-thian hanya berdiri disana tidak bergerak sama sekali. Sekarang situasi sudah menjadi satu lawan tiga. Namun dia tampak tenang-tenang saja.

"Cu Taiya !"

Thiat-yan berjalan mendekat ke arah Cu Siauthian "sekarang sebaiknya kau mulai menjelaskan padaku...."

"Nona Tiat!"

Cu Siau-thian berkata dengan dingin padanya.

"aku katakan bahwa kopor kulit itu mungkin sekarang sedang berada ditangan Leng Souw-hiang. Kalau kau tidak percaya, aku berjanji akan membantumu mencari tahu. Tapi aku tidak mendapat hasil apapun kalau begini"

"Sepertinya kata-kata yang kau ucapkan tadi tidak pantas diucapkan oleh seorang tuan besar, orang harus berani berbuat dan berani bertanggung jawab, aku adalah generasi muda, kalau tidak mencari tahu kejadian yang sebenarnya, apakah aku masih berani mencarimu sampai kesini?"

"Nona Tiat, kau terlalu sungkan, begitu kau datang ke Pakhia, kau langsung melukai banyak orang, apa yang tidak berani kau lakukan?"

"Apakah kau sedang berusaha membuatku bimbang?"

"Tidak perlu seperti ini"

Thiat-yan berpaling pada Tu Liong dan Wie Kie-hong.

"Bisakah kalian meninggalkan kami berdua?"

Dari awal Tu Liong hanya terdiam. Sekarang dia ikut ambil bicara.

"Adik Yan! kau berlaku seperti ini, sepertinya sedikit berlebihan. Adik Kie-hong sedang menanyakan tentang keberadaan ayah kandungnya. Sekarang kau tiba-tiba muncul dan berusaha menghentikan dia. setelah itu kau masih menyuruh kami berdua pergi. Apakah kau pikir kami akan setuju begitu saja?"

Kata-kata ini diucapkan dengan tegas. Thiat-yan juga pasti berpikir, tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaannya. Namun tanpa disangka-sangka, Thiat-yan malah tertawa keras.

"Mengenai keberadaan ayah kandung Wie Kie-hong, serahkan urusan ini padaku. Wie Siauya! apakah kau percaya padaku?"

"Nona Tiat! aku memang pernah mempercayai dirimu sebelumnya, mohon nona beri aku batasan waktu agar aku bisa bertanya padamu"

"Baiklah! hari ini sebelum lampu dinyalakan"

"Baik! Toako ayo kita pergi"

Melihat raut mukanya, Wie Kie-hong tahu Tu Liong tidak setuju pergi begitu saja.

Tapi dia sudah mengatakan kalau Wie Kie-hong yang memegang kuasa atas masalah ini.

mana mungkin dia bisa mem-bantah permintaannya?

karena itu dia hanya memberi-tahu Wie Kie-hong tentang sebuah masalah.

"Tidak seharusnya Thiat-yan menentukan tempat kalian bertemu?"

"Temui aku di kediamanku"

"Baiklah! pada waktunya aku pasti akan menemani Wie Kiehong datang kerumahmu"

Kata-kata ini jelas memiliki arti yang tersirat.

Walaupun ini urusan Wie Kie-hong, tapi dia tetap merasa harus ikut campur memberikan usulan.

Kedua orang itu lalu berjalan keluar dari hutan.

--Setelah beberapa jauh keluar dari hutan, Mendadak Wie Kie-hong menghentikan langkahnya.

Dia bertanya dengan sungguh sungguh.

"Tu toako! coba kau tebak. Mengapa dia menyuruh kita pergi?"

"Mungkin dia memiliki rahasia yang tidak dapat diceritakannya pada kita"

"Sepertinya tidak demikian"

"Oh...? Kau pikir....?"

"Kalau kita tinggal disana, mungkin dia ingin melakukan hal yang agak kasar pada Cu Siau-thian, kita mungkin tidak bisa banyak membantunya. Tiga lawan satu, kalau berita ini tersebar keluar, sepertinya tidak akan enak di dengar, kalau membantunya, kita akan kesulitan menjelaskan pada orang lain. Mungkin dia ingin menghindari situasi yang canggung dengan kita. Karena itu dia berpikir untuk sekalian menyuruh kita berdua pergi."

"Kie-hong, sepertinya kau sangat menyukai Thiat-yan"

"Apakah kau tidak memiliki perasaan yang baik terhadapnya?"

"Sangat sulit dikatakan"

Tu Liong lalu mengesampingkan masalah ini dengan membuat sebuah pertanyaan baru.

"Mengenai masalah ayah kandungmu, kau percaya pada siapa?"

"Kata-kata siapapun bisa aku percaya, hanya kata-kata Cu Siau-thian yang tidak dapat dipercaya"

"Mengapa"

"Sangat sederhana, dia mengatakan kalau ayahku adalah prajurit Leng Souw-hiang. Kalau kata-kata ini dapat diandalkan, ayahku pasti diam diam memperhatikan gerakgerik Cu Siau-thian. Tadi ketika dia muncul, aku sudah membuat perkiraan, seharusnya ayah kandungku juga menunjukkan diri. di dunia ini tidak ada ayah yang tidak memperdulikan anaknya."

"Ugh.."

"Karena itu aku membuat kesimpulan kalau gosip yang mengatakan bahwa ayahku sedang berada dibawah tekanan Cu Siau-thian adalah yang paling bisa dipercaya"

"Kalau tebakanmu tepat, kira-kira bagaimana Thiat-yan akan menjawabmu nanti sore?"

"Kita tidak perlu menghabiskan tenaga untuk memikirkan hal ini"

"Kie-hong! Tiba-tiba saja aku mempunyai sebuah pemikiran"

"Pemikiran apa?"

"Bagaimana menurutmu kalau kita kembali masuk ke dalam hutan dan melihat-lihat?"

"Apakah kau mempunyai maksud khusus untuk melakukan hal ini?"

"Aku hanya merasa sekarang setelah kejadi-annya seperti ini, kita tidak seharusnya sembarang an mempercayai orang lain dengan mudah"

"Kau mencurigai Thiat-yan?"

"Aku mencurigai semua orang"

"Kita harus menjadi lelaki jantan"

"Seorang jantan memang mendapatkan kekaguman orang lain, tapi juga sering dipermainkan orang lain."

"Kalau kau ingin memaksa kembali melihat, aku akan menemanimu"

"Aku berani bertaruh. Sekarang ini Nona Thiat-yan dengan Cu Siau-thian pasti sudah tidak ada didalam hutan itu lagi."

"Benarkah?"

"Benar atau tidak kita akan segera tahu"

Kedua orang ini memutar tubuh dan kembali berjalan ke dalam hutan.

Tu Liong sungguh sangat pandai menebak situasi.

Ternyata memang benar ditengah hutan sudah tidak terlihat siapapun juga, hanya terdengar desir daun ditiup angin semilir.

Pada saat ini, tiba-tiba pada wajah Tu Liong terukir sebuah senyuman.

"Tu toako"

Wie Kie-hong bertanya "mengapa kau tersenyum?"

"Aku tersenyum karena ekor musang itu sementara waktu belum hilang, malah belum menampakkan diri, namun pada akhirnya pun pasti ketahuan"

"Apa arti kata-katamu?"

Wie Kie-hong memang lebih polos dibanding dengan Tu Liong. Dia tidak mengerti arti tersirat dari kata-kata yang sudah diucapkan Tu Liong.

"Kie-hong!"

Tu Liong tetap tidak mengatakan dasar dari misteri ini.

"sekarang kau pulang, Temui Leng Taiya, tanyakanlah padanya apakah dia bersedia mengikuti jejak Hui Taiya? tanyakan apakah dia sudah siap untuk menemui ajalnya ataukah dia lebih bersedia untuk menceritakan rahasia besar yang disimpannya selama bertahun tahun ini"

"Mengapa begitu? Pertanyaannya sangat tidak masuk akal, apakah kau tidak bisa menceritakannya dengan lebih jelas lagi? "Tidak bisa"

Tu Liong menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mengapa? Apakah kau tidak mempercayai ku?"

"Kie-hong, kita berdua memiliki perasaan yang sama, kita pun sangat kompak. Mengapa kau berpikir seperti ini? sebaliknya, aku ingin kau bisa percaya. Sekarang ini jangan bertanya alasannya, turutilah kata-kataku dan lakukanlah"

"Baiklah! kalau begitu dimana kita akan bertemu lagi?"

Tu Liong berpikir-pikir, setelah itu dia berkata.

"Kita bertemu di kedai teh 'Kie Cui' di Ong Oey Pho. Kita bertemu sebelum matahari tenggelam. Seperti biasa, jangan pergi sebelum bertemu"

"Baiklah, aku pasti akan datang secepatnya"

Wie Kie-hong melangkah cepat keluar dari hutan.

Cukup sulit mencari kereta kuda untuk kembali ke kota.

Setelah bersusah payah, dia memerintahkan kusir kereta segera pergi ke sepuluh gang kecil Setelah kembali ke tempat Leng, Wie Kie-hong segera datang ke kamar tidur ayah angkatnya.

Dia segera membuka pintu masuk kamar.

Leng Souw-hiang terlihat sedang berbaring di atas ranjangnya membelakangi Wie Kie-hong.

Sepertinya dia sedang tertidur lelap.

Wie Kie-hong tidak ingin membangunkannya.

Dia berdiri didepan ranjangnya sangat lama,, berharap ayah angkatnya sadar akan kehadirannya.

Setelah tidak sabar, dia berkata.

"Gihu, bangunlah"

"Tidak ada jawaban. Wie Kie-hong terus memanggilnya sampai tiga kali. setiap kali memanggil, dia menaikkan suaranya. Mendadak dia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar. Dia segera mengulurkan tubuhnya untuk menggoyang tubuh ayahnya. Ketika dia melihat wajah Leng Souw-hiang yang sudah menjadi hijau, tanpa disadari dia menghela nafas dalam dalam. Ternyata Leng Souw-hiang sudah mati. Kedua matanya membelalak terbuka lebar. Dari sisi mulutnya mengalir darah. Wajahnya sudah berubah warna menjadi hijau. Tanpa diragukan lagi dia mati karena diracun. Di atas meja ada sebuah poci air panas. Di dalam gelas masih terisi air setengah penuh. Penutup pocinya sedikit miring. Sepertinya Leng Souw-hiang sendiri yang menuangkan air untuk diminum.... Apakah ada racun didalam airnya? Ini tidak benar. Tangan Leng Souw-hiang sudah tidak ada. Mana mungkin dia bisa menuang kan air minum?"

"Pelayan!"

Wie Kie-hong memanggil dengan suara yang ditekan rendah. Para penjaga pintu segera mendorong pintu kamar tidur dan masuk ke dalam "Setelah aku pergi, siapa yang datang ke dalam kamar ini?"

"Selain orang yang bertugas merawat Leng Taiya, tidak ada orang lain yang sudah masuk kemari"

"Dengarlah. Mulai sekarang jangan ijinkan siapapun masuk ke dalam kamar ini. suruh beberapa orang untuk menahan pelayan yang mengurus Leng Taiya. Jangan biarkan mereka pergi. Apakah kau mengarti?"

"Siauya, apa yang terjadi dengan tuan besar?"

"Tidak ada apa-apa !"

Wie Kie-hong berusaha menutupi mayat Leng Souw-hiang dengan tubuhnya.

"Cepat kerjakan perintahku....ingatlah, selain orang orang kepercayaan yang sudah kupilih, siapapun tidakboleh tahu tentang hal ini..."

"Baiklah!"

"Aku ingin pergi sebentar, semua urusan harus menunggu keputusanku ketika kembali nanti."

"Baik"

Para penjaga pergi keluar.

Kepala Wie Kie-hong terasa sangat berat.

Siapa yang membunuh Leng Souw-hiang?

Bagaimana mungkin tindak tanduknya secepat ini?

Serentetan tanda tanya besar muncul didalam hati Wie Kiehong.

Dia sangat tidak sabar ingin segera bertemu Tu Liong dan menanyakan sampai jelas, tapi...

Perlahan lahan dia membuka pintu dan berjalan keluar.

--Kedai teh 'Kie-cui' yang berada di dalam distrik Ong-huangpo adalah sebuah kedai teh kecil yang terletak di jalan yang berkelok-kelok.

Kedai teh ini adalah tempat orang-orang berkumpul.

Kalau ada tiga, lima orang sahabat yang sudah berjanji pergi bersama menjumpai gadis, mereka selalu berkumpul disini.

Setelah bertemu mereka pergi bersamasama.

Karena itu orang yang datang kemari hanya duduk duduk sebentar lalu pergi.

Walaupun Wie Kie-hong bukan orang yang senang membuang waktu mengunjungi kedai teh ini, tapi dia sudah lama tinggal di dalam kota.

Tentu saja dia mengerti tentang tempat ini sebelum datang mengunjunginya.

Hanya ada satu hal yang tidak dia mengerti.

Mengapa Tu Liong meminta untuk bertemu dengannya ditempat seperti ini?

apakah dia sudah menganggap kalau tempat biasa mereka bertemu sudah tidak aman?

Dia tidak memiliki harapan lain.

Dia hanya berharap sebelum lampu dinyalakan, dia bisa segera bertemu Tu Liong.

Ketika dia masuk kedalam kedai, pelayan yang bertugas menyuguhkan teh langsung mendekatinya dan menyapa dengan suara rendah.

"Apakah anda Wie Taiya?"

"Betul"

"Silahkan kemari"

Pelayan kedai teh membawanya masuk kedalam sebuah ruang minum, tidak disangka ternyata Tu Liong sudah sampai duluan dan sedang menung-gunya didalam.

"Tu toako....kau...."

Tu Liong mengibaskan tangannya, si pelayan kedai teh segera pergi keluar. Selain itu dia juga menurunkan tirai bambu. Sepertinya dia sudah kenal akrab dengan Tu Liong.

"Apakah kau sudah menemui ayahmu?"

"Sudah"

"Apa yang dia katakan?"

"Dia tidak mengatakan apa apa"

"Oh...!"

"Dia sudah mati diracun seseorang"

Tu Liong merasa seolah-olah ada jarum tajam menusuk kepalanya. Dia merasa kaget, tapi dia tetap tampak tenang.

"Mnghadapi masalah apapun kau tidak boleh terlalu berpandangan subyektif. Kematian Leng Taiya adalah kenyataan. Tapi belum tentu dia mati diracun orang, mungkin dia mati menyimpan dendam"

"Apakah maksudmu dia bunuh diri?"

"Mungkin juga. Dahulu pada jaman dynasti Ceng masih berjaya, kalau majikan menyuruh anak buahnya mati, anak buahnya tidak berani tidak mati. Karena itu kemanapun mereka pergi, mereka selalu membawa racun bersama mereka untuk digunakan pada waktu yang diperlukan. Leng Taiya adalah pengurus kerajaan. Tidak mungkin dia tidak menge-tahui hal ini."

"Tapi dia tidak memiliki alasan untuk bunuh diri"

"Mungkin juga dia ingin menghindari sesuatu"

"Tu toako, aku ingin bertanya tentang satu hal padamu, darimana kau tahu kalau Leng Taiya mati menyimpan dendam?"

"Cu Siau-thian sudah melemparkan semua kesalahan pada Leng Souw-hiang. Tentu saja dia harus membunuh Leng Souw-hiang agar hatinya tenang."

"Kalau menurut kesimpulanmu, berarti Leng Taiya tidak bunuh diri"

"Coba kau pikir. Orang lain bisa mem-bunuhnya dengan menancapkan pisau di leher, tapi tidak mungkin ada orang yang memaksanya untuk meminum racun. Kalau ada orang yang menumpahkan racun kedalam air minumnya diam-diam, asumsi ini pun tidak dapat diandalkan., lagipula keadaannya sangat mendesak. Kalau memang ada orang yang ingin membunuh Leng Souw-hiang, tidak mungkin meng-gunakan cara perlahan seperti ini."

"Kau mengatakan bahwa Cu Siau-thian yang ingin membunuh Leng Souw-hiang adalah satu hal, sedangkan kematian Leng Souw-hiang adalah hal yang lain. Apakah menurutmu kedua hal ini tidak saling berhubungan ?"

"Betul"

"Tu toako, aku selalu percaya padamu. Sekarang ini apa yang harus kita lakukan?"

"Pergi menemui Thiat-yan"

"Apakah aku pergi menemuinya seorang diri?"

"Ya. Tapi kau harus mengingat satu hal"

"Katakanlah"

"Kau jangan terlalu mempercayainya"

Wie Kie-hong membelalakkan kedua matanya. Secara tidak sadar dia menghembuskan nafas panjang. Dunia ini sungguh sangat menakutkan, sepertinya tidak ada satu orangpun yang bisa dipercaya.

"Kau kenapa?"

"Kata-katamu itu sungguh membuatku kaget"

"Mengapa?"

"Thiat-yan? dia...."

"Kau jangan bertanya apapun"

Mendadak Tu Liong berubah sikap menjadi sangat misterius "Semua orang selalu mendahulukan kepen-tingan pribadinya.

Setelah dia berhasil mendapatkan keuntungan, barulah dia memikirkan kepentingan orang lain.

Itu pun tidak akan sebanyak memper-dulikan kepentingannya sendiri, orang yang hanya memperdulikan kebaikan orang lain, bisa dikatakan tidak ada....Wie Kie-hong, dengarlah nasihat temanmu ini.

setiap saat, kapanpun dan dimanapun kamu jangan terlalu mempercayai orang, bahkan kamu pun tidak boleh mempercayaiku"

"Tu toako! kalau memang seperti ini, bukan kah dunia ini menjadi gila? dari kecil aku selalu meng-hormatimu, mengagumimu. Aku sudah menganggap-mu sebagai kakakku sendiri, sekarang bahkan kau pun tidak boleh aku percaya...."

"Ini hanya sebuah perumpamaan....baiklah ! kau cepatlah pergi. Sekarang ini aku bisa memberitahumu sebuah hal. Kemunculan nona Thiat-yan di hutan tadi adalah untuk menolong Cu Taiya"

"Oh...!"

"Dengan adanya kesimpulan ini, kau bisa mengambil sikap ketika bertanya padanya....hanya saja ada satu hal yang bisa membuatmu tenang. Dia tidak mungkin semudah itu menyuruh Boh Tan-ping melukaimu"

Wie Kie-hong tidak berkata apa-apa.

dia bergegas pergi.

Dia melangkahkan kakinya segera.

Langkahnya menggambarkan pikirannya yang tidak tenang.

--Matahari mulai terbenam.

Ketika Wie Kie-hong sampai di gang San-poa, sudah ada beberapa rumah yang mulai menyalakan lampu.

Ini adalah waktu lampu mulai dinyalakan.

Nona Thiat-yan sudah berjanji akan memberi-tahu Wie Kiehong ketika lampu mulai dinyalakan.

Kalau begitu ini adalah waktu yang sangat tepat.

Pintu kediaman Boh Tan-ping terbuka.

Ada orang yang keluar menyambutnya, sekali melihat Wie Kie-hong, mereka langsung berkata.

"Wie Siauya, nona Thiat-yan sedang menunggumu"

Wie Kie-hong mengikuti para pelayan ini kedalam rumah. Dia digiring kedalam sebuah ruangan Thiat-yan sedang duduk didepan sebuah meja, bahkan dupa pengharum ruangan pun sudah dipersiapkannya.

"Nona Tiat!"

Wie Kie-hong berkata dengan dingin.

"melihat keadaan ini, sepertinya kau sudah mendapatkan informasi yang ingin aku dengar"

"Duduklah!"

Thiat-yan hanya mengatakan satu patah kata saja...

Wie Kie-hong duduk berhadap-hadapan dengan Thiat-yan.

Dia memandangnya dengan tatapan curiga.

Namun tatapan mata nona Thiat-yan sangat jernih.

Nona yang baik seperti ini pun bisa mem-bohonginya.

Bukankah dunia ini sudah gila?

"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan"

Thiat-yan berkata dengan lembut "Aku hanya sedang memikirkan satu hal"

"Kau sedang menebak kebohongan apa yang akan aku katakan untuk mengelabuimu"

"Tidak! kau bukan orang semacam itu"

"Apakah kau sungguh mempercayai setiap kata yang aku ucapkan?"

"Iya"

Sekarang Wie Kie-hong yang berbohong. Yang diucapkannya tidak sama dengan kata hatinya, dunia memang bisa merubah sifat dan karakter seseorang.

"Aku sangat senang....kalau begitu aku bisa langsung mengatakan yang sejujurnya padamu.... kira-kira ketika aku berumur sepuluh tahun, aku berkenalan dengan ayahmu....karena dia masih lebih kecil beberapa tahun dibandingkan ayahku, karena itu aku memanggilnya paman Wie. Dalam sepuluh tahun ini, kami terus saling berkomunikasi, bahkan dalam beberapa hari terakhir ini, kami selalu bertemu..."

"Benarkah?"

Mendengar kata-kata Thiat-yan, nafas Wie Kiehongmenjadi berat...

"Lihat dirimu. Kau sudah tidak memper-cayaiku"

"Aku percaya., aku percaya., aku percaya..."

"Tadi sebelum kau datang kemari, aku bahkan sudah menemui paman Wie"

Wie Kie-hong menahan nafas. Dia tidak berani mengeluarkan suara. Thiat-yan melanjutkan kata katanya.

"Paman Wie sudah menyuruhku memberitahukan, sekarang dia belum bisa menjumpaimu"

"Sampai kapan aku harus menunggu?"

"Sebentar lagi"

"Tidak bisa, aku harus segera menemui ayahku. Secepatnya! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. walaupun waktunya hanya sebentar"

"Kau dengarkan dulu semua kata-kataku. Walau pun kau tidak bisa menunggu, kau pun tetap harus menunggu. Paman Wie masih menyuruhku menyampaikan dua masalah lagi padamu"

"Oh...? Masalah apa?"

"Pertama, di dalam kediaman Leng Taiya ada sebuah gudang barang-barang. Didalam gudang itu ada sebuah payung kertas. Payung ini tersimpan dalam sebuah kotak yang panjang. Payung ini adalah payung terkenal buatan daerah Ho Lam. Pada pegangan payung terdapat sebuah ukiran tulisan "Yap-yang-tiang-tai-san-ceng" (payung merk Yap-yang buatan Tiang-tai) yang dicap oleh sebuah besi panas. Kau bawalah payung ini padaku, nanti paman Wie pasti akan datang kemari untuk mengambilnya...."

Mendadak nona Thiat-yan berhenti berbicara Wie Kie-hong terdiam menunggu lanjutan kata-katanya.

"Kedua, sementara waktu dia ingin kau menjauhi Tu Liong...."

"Mengapa?"

Wie Kie-hong terlonjak kaget, kelihatannya seolah-olah dia meloncat dari tempat duduknya.

"Kau tidak usah bertanya. Ayahmu sudah memerintahkan begini. Apakah kau harus bertanya alasannya?"

"Bagaimana aku tahu kalau ayahku yang sudah mengatakan hal ini padamu?"

"Pertama kau pergilah mencari payung itu. kalau sudah ketemu, itu akan membuktikan kalau aku tidak sedang berbohong"

Kata katanya masuk akal Sekarang emosi Wie Kie-hong kembali mereda, dia berkata dengan lembut padanya.

"Nona Tiat, bukannya aku tidak percaya. Hanya saja kau sudah melakukan banyak hal yang menimbulkan kecurigaan orang lain. Sebagai contoh, tadi didalam hutan...."

"Terlalu kebetulan., benar tidak?"

"Kau diam-diam menolong Cu Siau-thian"

"Aku menyangkal"

"Kau tidak perlu menyangkal. Ini adalah kenyataan"

"Aku menyangkal kalau aku diam-diam menolong Cu Siauthian. Aku hanya mengaku tadi di hutan aku memang menyelamatkan nyawanya"

"Memang apa bedanya?"

"Menyelamatkan jiwa Cu Siau-thian bukan berarti aku sedang menolong dirinya, tapi karena saat ini dia belum boleh mati. Kalau aku tidak menampak-kan diriku, mungkin kau sudah berhasil membunuh-nya tadi."

"Tapi kau tidak seharusnya melepaskan dia"

"Sebenarnya memang aku ingin menangkap nya, tapi aku menggunakan taktik dan pura-pura melepasnya. apa kau tidak mengerti?"

"Aku tidak mengerti"

"Sekarang ini tidak perlu mendebatkan hal ini, pergilah mencari payung kertas yang tadi kuceritakan. Hanya payung itulah yang bisa membuktikan apakah kata-kataku selama ini bisa dipercaya atau tidak..."

"Baiklah! Apa kau akan menungguku disini?"

"Tentu saja, kalau kau bisa membawa payung itu padaku, kau bisa membuktikan kalau aku tidak berbohong padamu. Setelah itu masih banyak hal yang perlu kita bicarakan."

Wie Kie-hong segera pergi, dia bertekat untuk cepat pulang, agar cepat kembali.

Dia ingin segera menyelesaikan semua masalah dalam hati.

--Ternyata kediaman Leng masih dijaga dengan ketat.

Berita kematian Leng Taiya karena diracun tidak diketahui oleh sembarang orang, para pelayan yang mengurus Leng Taiya, dalam pengawasan orang-orang Wie Kie-hong tidak menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan.

Wie Kie-hong segera pergi ke gudang penyimpanan barang-barang.

Gudang ini sangat besar, dia segera membongkar barang-barang disana, berusaha menemukan kotak payung.

Sepertinya pencarian ini akan sangat sulit, namun setelah sekian lama mencari kesana-kemari, akhirnya Wie Kie-hong berhasil menemukannya.

Dia membuka kotak pembungkus kertas.

Didalamnya bau minyak menusuk hidung, setelah bertahun tahun ini, payung kertas ini masih tampak baru.

Dia lalu memeriksa pegangan payungnya, disana memang terukir kata-kata seperti yang diucap-kan Thiat-yan.

Kata-kata ini terukir oleh besi panas.

Nona Thiat-yan tidak sedang berbohong.

Dia tidak mungkin tahu ada barang seperti ini didalam gudang barang-barang Leng Souw-hiang.

Dia sendiri pun tidak tahu.

Dia segera kembali ke gang San-poa.

perasaan Wie Kiehong kembali berubah.

Sekarang ini dia sama sekali tidak menaruh curiga pada Thiat-yan.

tapi....

Mendadak Wie Kie-hong tertegun Kalau kata-kata Thiat-yan bisa dipercaya, berarti Tu Liong sudah berbohong padanya.

Apakah dia sudah salah membuat tebakan?

Ataukah dia sedang berusaha membelokkan kenyataan?

Terlebih lagi menurut Thiat-yan, ayahnya juga sudah menyuruhnya sementara waktu ini tidak menjumpai Tu Liong.

Mengapa dia harus menyuruhnya seperti ini?

Di sebelah kiri sebuah pertanyaan, di sebelah kanan sebuah tanda tanya yang lain.

Keduanya menjepit dirinya dengan kuat.

Dia hampir tidak bisa melanjutkan langkahnya.

Mendadak dibelakangnya terdengar suara seseorang menyapanya...

'Apakah anda tuan muda dari kediaman keluarga Leng?"

"Siapa?"

Segera Wie Kie-hong membalikkan tubuh dan melihat kebelakang. Gerakan orang ini pun tidak kalah cepat. Seolah-olah dia selalu berada dibelakang Wie Kie-hong, kemanapun dia menghadap.

"Wie Siauya tolong jangan membalikkan tubuhmu."

"Kau siapa?"

"Jangan perdulikan siapa diriku. Aku hanya punya tiga pertanyaan untukmu. Pertanyaan pertama, apakah ayah angkatmu Leng Souw-hiang sudah mati?"

"Tidak salah"

"Dimana Cu Taiya?"

"Tidak tahu"

"Apakah kau sekarang mau bertemu Thiat-yan?"

"Betul"

"Untuk menunjukkan rasa terimakasih ku, aku ingin memberimu sebuah peringatan. Jangan pergi ke gang Sanpoa"

"Kenapa?"

Tidak ada jawaban "Tolong beritahu kenapa aku sebaiknya tidak pergi ke gang San-poa"

Tetap tidak ada jawaban.

Dia hanya bisa mengira-ngira orang yang sudah menyapanya dari kesan suaranya.

Orang tadi berumur sekitar empat sampai lima puluh tahun.

Suaranya terdengar tua dan serak.

Itu adalah suara yang unik.

Sepertinya dia sudah pernah mendengar suara ini sebelumnya.

Kalau ada kesempatan bertemu dengannya lagi, dan berbicara, dia pasti akan mengenali suaranya.

Sekali lagi pendirian Wie Kie-hong menjadi goyah.

Sebenarnya apakah dia harus pergi ke gang San-poa menemui nona Thiat-yan?

Dia membuat keputusan.

Dia tidak memiliki alasan apapun untuk mempercayai seseorang yang tidak dikenalnya.

Lagipula ayahnya menginginkan payung ini.

bagaimanapun dia harus mengantarnya pada nona Thiat-yan Thiat-yan sedang menunggunya.

Setelah melihatnya dia membawa kotak kertas berisi payung, dia langsung menyambutnya dengan girang.

"Kau sudah menemukannya"

Wie Kie-hong menyerahkan kotak payung ini pada Thiatyan.

Thiat-yan menerima kotak kertas ini, dan mengeluarkan payung dari dalamnya.

Setelah itu dia membuka payung, lalu dia meneliti pegangan payung dengan seksama.

Seolah-olah pada gagang payung itu sudah terukir lukisan cantik Terakhir dia mulai mempreteli pegangan payung.

Sebentar saja pegangan payung sudah terbelah menjadi dua bagian.

Pegangan payung terbuat dari bambu.

Didalam pegangan itu kosong.

Thiat-yan menggunakan kelingkingnya mengorek ngorek kedalam lubang.

Ternyata dia berhasil mengeluarkan sebuah gulungan kertas.

Dia berteriak kegirangan seperti orang gila.

Dia segera membuka gulungan kertas.

Setelah itu dia segera menggulungnya kembali, seolah-olah dia takut Wie Kie-hong melihat rahasia yang tertulis didalamnya.

Wie Kie-hong terus memperhatikan gerak gerik nya.

Dia ingin tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi, tapi dia tidak mampu melihat rahasia apa yang tertulis didalam gulungan kertas yang sudah dibaca Thiat-yan.

"tidak salah... memang payung yang ini.... memang payung yang ini...."

"Nona Tiat! bagaimana kau bisa tahu kalau payung ini adalah payung yang diinginkan oleh ayahku?"

"Paman Wie sudah memberitahuku rahasia payung ini"

"Tapi kau tidak memberitahuku"

Dari mata Thiat-yan yang terbelalak besar, perlahan-lahan tatapan matanya berubah menjadi lembut. Kata-katanya pun berubah menjadi lembut.

"Wie Kie-hong, kau adalah seorang pemuda yang sangat menjunjung harga diri, karena itu aku tidak menceritakan semua yang sudah diberitahukan oleh paman Wie padaku. Dia tidak berani memastikan bahwa kau akan bisa memutuskan hubunganmu dengan Tu Liong. Karena itu untuk sementara waktu banyak hal yang tidak bisa diceritakan padamu."

"Aku akan bertanya sekali lagi padamu. Apakah semua ini memang dikatakan oleh ayahku padamu?"

"Tidak salah. Aku tidak mungkin membo-hongimu"

"Baiklah. Asal semua itu memang sungguh dikatakan oleh ayahku, aku pasti akan menghormatinya. Sekarang aku berusaha menghindari Tu Liong, hanya saja ada satu hal yang ingin kujelaskan. Kalati suatu saat nanti aku menemukan bahwa kau sedang menggunakan nama ayahku untuk memper-alatku, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah.

"Kie-hong, aku tidak menyalahkanmu mengata kan hal ini. kalau keadaannya dibalik aku yang mengalaminya, aku juga pasti akan merasa hal yang sama dengan dirimu. Baiklah. Sekarang pulanglah dan kerjakan hal yang seharusnya kau kerjakan"

"Mengerjakan apa?"

"Mengabarkan berita duka"

"Mengabarkan berita duka?"

"Betul"

"Apakah ini juga perintah ayahku?"

"Betul"

Wie Kie-hong mendengarkan semua kata kata ini dan melakukannya sesuai petunjuk.

Dia segera pulang ke kediaman Leng Taiya, dan segera menyuruh orang mempersiapkan upacara duka cita.

--Menurut cerita yang beredar, setelah Tu Liong meninggalkan Wie Kie-hong, dia merasa kehilangan pegangan.

Dia tidak tahu harus berbuat apa.

karena itu dia pergi ke daerah Tian Jiao dan menginap di sebuah losmen kecil.

Dia hanya sempat beristirahat sebentar.

Tidak lama sudah tiba jam makan malam.

Dia lalu membeli makanan yang dijumpainya untuk mengganjal perutnya.

Setelah itu dia segera pergi kembali ke sepuluh gang kecil empat komplek rumah mewah tempat kediaman Leng Taiya.

Dia selalu mengkhawatirkan keadaan Wie Kie-hong.

Dia selalu memikirkan bagaimana hasil Wie Kie-hong menemui Thiat-yan untuk berbincang bincang.

Dari kejauhan dia melihat sebuah spanduk besar bertuliskan "turut berduka cita"

Tu Liong langsung merasa kaget.

Hal ini diluar dugaannya.

Wie Kie-hong memutuskan sementara waktu tidak akan mengabarkan kematian Leng Souw-hiang pada khalayak umum, mengapa sekarang tiba-tiba dia berubah pikiran?

Dia harus segera bertanya padanya.

Tu Liong mempercepat langkahnya.

Orang-orang yang menyambut tamu didepan pintu langsung mengenalinya.

Segera ada orang yang menyambutnya.

"Tu Siauya"

"Apakah Wie Siauya ada dirumah?"

"Ada"

Tu Liong adalah tamu yang sudah sering datang berkunjung, otomatis dia segera berjalan masuk kedalam. Namun ternyata para pelayan menghalangi jalannya.

"Harap Tu Siauya berhenti"

"Ada apa?"

"Leng Taiya sudah meninggal. Wie Siauya merasa sangat bersedih. Dia sudah memberi perintah pada kami kalau sementara waktu ini dia tidak menerima tamu"

"Oh...? Apakah aku bisa dikecualikan?"

"Wie Siauya sudah berpesan dia tidak ingin bertemu siapa pun"

"Begini saja. Kau pergi kedalam beritahukan kedatanganku padanya. Nanti kita lihat apa yang akan dikatakan oleh Wie Siauya padamu"

Orang yang menunggu didepan pintu tampak menimbangnimbang.

Pada akhirnya dia mengutus seseorang untuk memberitahukan kedatangan Tu Liong.

Orang itu segera pergi, namun sebentar saja dia sudah kembali lagi.

dia berkata dengan sopan "Mohon maaf Tu Siauya, Wie Siauya sudah tidur, aku tidak berani membangunkannya"

"Kalau begitu biarkan dia tidur, besok pagi aku akan kembali menemuinya"

Tu Liong segera membalikkan tubuh dan berjalan keluar dari gang.

Kepalanya mulai berputar, pastilah ada alasan yang membuat Wie Kie-hong tidak mau menemuinya.

Setelah berpikir lama, Tu Liong menemukan bahwa masalah semakin lama semakin tajam, keadaan semakin lama semakin rumit.

Langit sudah semakin gelap.

Di mulut gang samar-samar terlihat dua tiga orang yang sedang berdiri santai.

Tu Liong tidak terlalu memperhatikan mereka.

Tapi ketika Tu Liong melewati mereka, mendadak ketiga orang ini menghalangi jalan Tu Liong.

Wajah mereka hanya terlihat samar samar.

Tu Liong tidak hanya tidak merasa was was, malah sebaliknya dia merasa senang.

Dia sudah menyimpan kekesalan didalam hatinya sangat lama.

Ini adalah kesempatan untuk melampiaskannya.

Tangan-nya segera menggengam erat menjadi kepalan.

Dia menunggu seseorang menyerangnya.

"Apakah tuan orang she Tu yang selalu berada disamping Cu Taiya?"

Salah seorang diantara mereka menyapanya.

"Tidak salah"

"Ada seseorang yang ingin menjumpai tuan. Sudilah sekarang tuan pergi bersama kami menemui-nya"

Kata kata orang itu terdengar sopan.

Tu Liong sudah bersiap siap menghadapi pertempuran, malah dia mengharapkan terjadinya perkelahian.

Dia tidak menyangka ternyata akhirnya seperti ini.

dia terpaksa mengendurkan genggaman tangannya, dengan malas dia bertanya.

"Siapa dia?"

"Tuan Wie"

"Tuan Wie yang mana?"

Genggaman tangan Tu Liong kembali mengeras.

"Tuan Wie yang bernama Wie Ceng, ayah sahabat baik Tu Siauya"

"Dimana dia?"

"Silahkan anda ikut dengan kami dan anda akan segera mengetahuinya"

Mengutus empat orang yang berperawakan tinggi besar mencari dirinya.

Sepertinya ini bukan sebuah gelagat yang bagus.

Tu Liong tidak bertanya lebih jauh.

Dia juga tidak ingin berpikir banyak.

Wie Ceng akan menampakkan diri.

ini adalah sebuah kabar yang sangat baik yang membuatnya senang.

Tidak jauh didepan gang, sebuah kereta kuda sudah menunggunya.

Mereka berlima masuk kedalam kereta.

Ketika menaiki kereta kuda, Tu Liong menjadi waswas.

Dari posisi semua orang, dia jelas melihat kalau keempat orang didepannya sudah bermaksud untuk mencegahnya melarikan diri.

Walaupun Tu Liong sudah merasa seperti ini, dia tidak mengatakan apa yang dipikirkannya.

Kereta kuda mulai berangkat menuju kota di sebelah barat.

Tidak lama kereta ini berhenti didepan sebuah gang.

Setelah turun dari kereta, keempat orang yang besar-besar ini berbaris, dua orang didepan, dua orang dibelakangnya.

Dia terus digiring memasuki sebuah rumah yang terdiri dari empat gedung.

Dua orang pengawal yang ada di belakang tidak ikut masuk kedalam rumah.

Mereka menunggu di depan pintu masuk.

Dua orang yang di depan mempersilahkannya masuk kedalam.

Semuanya dilaku kan dengan sangat sopan.

Tu Liong duduk bersila didepan sebuah meja rendah.

Kedua pengawal berbadan besar menunggu diluar pintu.

Saat ini seorang pria yang sudah tua berumur sekitar lima puluh tahun membawakan secangkir teh panas.

Setelah menuangkan teh dengan baik, dia kembali pergi keluar.

Dia tidak berkata apa-apa.

dia juga tidak menunjukkan perasaan apa-apa.

Tu Liong menunggu dengan sangat sabar, kedua orang pengawal pun menemaninya dengan sabar.

Waktu merangkak sangat perlahan.

Tu Liong sudah beberapa kali berganti posisi duduk karena kesemutan.

Dia terus menunggu sampai teh panas yang dituangkan sudah cukup dingin untuk diminum.

Pada akhirnya kesabarannya sudah habis, dia segera berdiri dan berjalan keluar untuk bertanya "Tolong tanya, dimana tuan Wie?"

"Segera datang"

Pengawal yang berdiri diluar menjawab sangat singkat. Tu Liong merasa sedikit dongkol.

"Segera datang? Apa artinya itu? apakah dia tidak tinggal disini?"

"Tuan Wie tidak memiliki rumah di kota Pakhia. Beliau pun merasa tidak nyaman kalau harus menemui tuan di kamar penginapan, karena itu dia meminjam tempat ini untuk bertemu dengan tuan"

"Tuan Wie sudah mengundangku datang kemari. Dia sudah bisa terhitung sebagai setengah tuan rumah. Tuan rumah belum datang, tamunya sudah sampai duluan. Ini....?"

"Usia Tu Siauya masih sangat kecil. Anda adalah generasi muda. Apakah hal ini pun harus dipermasalahkan?"

Mulut pengawal ini lumayan tajam "Tentu saja aku memang generasi muda, karena itu harus datang lebih pagi. Tapi aku masih punya urusan lain yang harus ku kerjakan...."

Berkata sampai sini, Tu Liong bermaksud segera pergi.

"Aku akan pergi sebentar. Nanti aku akan kembali lagi"

"Tu Siauya jauh-jauh datang kemari, mengapa tidak sabar menunggu sebentar lagi?"

"Tidak perlu menunggu lagi. menunggu sampai besok pun tuan Wie tidak mungkin datang"

"Apa arti kata-kata tuan?"

"Tuan Wie tidak mungkin datang"

Tu Liong berkata tegas.

Dia sungguh merasa dongkol, tanpa memperdulikan mereka berdua, dia terus melangkah keluar.

Kedua pengawal itu tidak tampak mengha-langi jalannya.

Namun setelah sampai keluar, ternyata sudah ada banyak orang yang menunggu.

Sekilas melihat, mereka tampak seperti dinding penghalang.

Tu Liong tidak tahu ada berapa banyak orang yang berbaris rapi dihadapannya.

Tu Liong memiliki tinju sekeras baja.

Dia dapat mengalahkan orang kuat manapun yang datang menantangnya, asalkan orang itu menantangnya satu lawan satu.

Kalau dia harus melawan tembok pengawal seperti ini, dia tidak yakin bisa menang.

Dia tertawa.

Sebuah tawa dingin "Saudara-saudara sekalian, sebenarnya apa yang terjadi?

Sudikah kalian memberitahu aku"

"Tu Siauya, kami tidak ada maksud lain. Tuan Wie hanya berharap anda bisa tinggal disini selama beberapa hari"

"Beberapa hari? Mengapa kau tidak sekalian mengatakan ingin menahanku disini?"

"Ini hanya apa yang dirasakan oleh Tu Siauya, tapi bukan yang dimaksud oleh tuan Wie"

"Baiklah. Aku mungkin bersedia menjadi tamu dan menginap disini selama beberapa hari, tapi aku harus menjumpai dulu tuan Wie sebagai tuan rumah bukan? Tolong kalian panggil tuan Wie untuk bertemu denganku"

"Tuan muda tidak perlu terburu-buru. tuan muda akan menemui tuan Wei besok pagi."

"Aku juga bisa menemui dewa kematian besok pagi"

Langsung muka Tu Liong menjadi muram "Tuan muda, kata-katamu ini sangat tidak enak didengar"

Tu Liong tidak berkata apa-apa lagi.

dia kembali membuat sebuah dugaan........semua orang didalam rumah ini sudah meminjam nama besar tuan Wie untuk menjebaknya.

Sebenarnya mereka semua tidak ada hubungannya dengan Wie Ceng.

Sedangkan menghadapi para pengawal bertubuh besar ini, apakah dia memiliki kepercayaan untuk melawan mereka semua sekaligus?

Tu Liong segera membuat kesimpulan kalau dia tidak mungkin bisa menang.

Karena itu dia terpaksa kembali masuk dalam ruang tunggu dan duduk bersila didepan meja.

sementara waktu dia hanya bisa cemberut menunggu.

Dinding pengawal bubar.

Dia kembali ditemani dua orang pengawal yang setia menemaninya, sekarang mereka berdua menunggu didalam pintu.

Dalam hatinya Tu Liong berpikir, kalau dia bisa menjatuhkan kedua orang pengawal ini diam diam tanpa mengeluarkan suara, mungkin juga dia bisa meloloskan diri.

Tapi sepertinya peluang melakukan hal ini juga sangat kecil.

Karena kedua orang pengawal ini berdiri saling bersebelahan.

Satu disebelah kiri satu di sebelah kanan.

Mereka tidak berdiri bersama-sama.

Kalau Tu Liong menyerang mendadak, pengawal yang satunya pasti akan segera menolong.

Lagipula saat ini mereka berdua memandangi Tu Liong dengan tajam.

Bagaimana mungkin dia bisa melancarkan serangan dadakan??

"Kapan tuan Wie datang?"

Tu Liong mulai mencoba membuat percakapan "Tidak lama"

Yang menjawab lagi-lagi pengawal yang sebelumnya sudah berkata padanya.

Sebenarnya jawaban yang diberikan sama sekali tidak menjawab.

Tu Liong merasa tidak bisa berbuat banyak, karena itu dia berusaha santai bercakap cakap.

"Dulu pernah beredar gosip kalau tuan Wie sudah meninggal diluar sana"

"Itu hanya gosip tidak beralasan"

"Oh...? Tapi ada satu hal yang membuat orang curiga. Kalau tuan Wie memang masih hidup, mengapa dia tidak menunjukkan batang hidungnya untuk menemuiku?"

Pengawal berbadan besar itu tidak menjawab. Mungkin juga dia tidak menemukan jawaban yang cocok "Aku dan Wie Kie-hong bersahabat baik"

"Karena hal itu, tuan Wie memperhatikan Tu Siauya dari jauh."

"Oh...? Tuan Wei sudah memperhatikanku dari jauh?"

"Mengundang tuan untuk tinggal disini beberapa hari adalah caranya memberikan perhatian pada anda"

"Aku tidak mengerti"

"Tu Siauya pasti akan mengerti suatu saat nanti"

"Mendengar kata-katamu tadi, sepertinya aku akan menginap selama beberapa hari disini. Apakah kalian sudah menyiapkan kamar tidur untukku?"

"Sudah kami persiapkan. Apakah Tu Siauya sudah merasa letih ?"

Tu Liong kembali menggerakkan tubuhnya. Kakinya sudah kesemutan lagi.

"Berbaring jauh lebih nyaman dibandingkan duduk disini"

Pengawal berbadan besar itu berusaha mena-han senyum. Dia lalu berjalan mendekat "Tu Siauya, silahkan"

Tu Liong sudah menyadari kalau didalam ruang tunggu, dia tidak bisa berbuat banyak untuk melarikan diri.

mungkin dengan berganti tempat, dia bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik.

dia lalu pergi mengikuti pengawal berjalan keluar menuju ruang tidur Ketika berjalan diluar, dia menyadari kalaupun dia berhasil kabur dari ruang tunggu, dia tidak mungkin mempunyai kesempatan lari keluar tempat ini.

disekeliling taman di empat penjuru dipenuhi pengawal yang sedang berjaga.

Didepan pintu masuk utama juga ada pengawal yang berjaga.

Tu Liong masuk kedalam ruang tidur.

Ternyata jendela satu-satunya yang ada disana pun sudah dipalang sebuah kayu besar, jendela itu tidak dapat dibuka.

Satu-satunya jalan untuk keluar masuk adalah pintu kamar tidur.

Tu Liong tertawa dingin "Ini bukan kamar tidur tamu"

"Siauya sekarang sedang bertamu. Kamar ini dipersiapkan untuk menjamu Siauya. Mungkin kurang pantas bagi tuan. Mohon maaf"

"Ini bukan kamar tidur, ini sebuah penjara!"

"Harap Siauya jangan menyimpan pemikiran seperti ini. kalau tuan menyimpan pemikiran seperti ini, tuan akan menyakiti perasaan tuan rumah"

"Siapa tuan rumahnya?"

"Tuan Wie"

"Rasanya bukan Tuan Wie"

"Kalau begitu siapa tuan rumah yang tuan muda pikirkan?"

"Tidak masalah siapapun orangnya, dia tetap harus memperlihatkan diri. kalau tidak aku tidak akan tinggal disini dengan tenang"

Pengawal itu berkata dengan dingin.

"Sebaiknya Tu Siauya mencobanya"

Setelah berkata seperti itu, para pengawal meninggalkannya sendirian.

Tu Liong menyadari kalau dia sudah bertindak gegabah.

Pemikiran apapun untuk sementara waktu bisa disimpannya didalam hati.

mengapa dia harus mengatakannya?

Dia berbaring diatas ranjang.

Dia berusaha menenangkan hatinya, hati yang tidak tenang tidak akan bisa membuat keimpulan yang baik dalam situasi apapun.

Pastilah akan membuat kesalahan.

Sekarang ini, Tu Liong tidak bisa mengambil resiko membuat kesalahan.

Pertama-tama dia bisa memastikan kalau orang yang ingin menemuinya bukanlah Wie Ceng.

Mengapa dia berani memastikan hal ini?

ada dua alasan.

kalau Wie Ceng adalah pembunuh yang dikekang oleh Leng Souw-hiang, sekarang ini dia bisa berkeliaran dengan bebas diluar.

Dia adalah ayah sahabatnya, tidak mungkin mencelakainya atau membuatnya susah seperti ini.

Kalau Wie Ceng sedang dibawah tekanan Cu Taiya, dia semakin tidak punya kekuasan apapun.

Walaupun memang Wie Ceng yang sudah mengundangnya kemari, itu juga pasti dibawah perintah Cu Taiya.

Ini pun tidak mungkin.

Karena itu dia berpikir kesana-kemari.

Orang yang paling mungkin menahannya di tempat seperti ini adalah Cu Siauthian.

Kalau memang begitu apa tujuan utama Cu Siau-thian menahannya ditempat seperti ini?

Apakah dia sudah mempersulit gerak gerik Cu Siau-thian?

Selama ini dia hanya melakukan satu hal.

Membantu Wie Kie-hong mencari Wie Ceng.

Hanya itu saja.

Kalau begitu apakah tujuan Cu Siau-thian menyekapnya disini karena takut dia berhasil membongkar identitas Wie Ceng?

Semakin berpikir, Tu Liong merasa semakin yakin.

Menggunakan nama Wie Ceng untuk menjebaknya disini adalah taktik kuno yang disebut "disini tidak ada uang tiga ratus tail emas"' 1 Disini tidak ada uang tiga ratus tail emas.

alkisah ada seseorang yang ingin menyembunyikan uang emas sebanyak tiga ratus tael miliknya.

Dia menggali sebuah lubang di tempat rahasia dan mengubur semua emasnya disana.

Setelah selesai ditimbun kembali, dia khawatir lupa tempat menguburnya, sehingga dia memasang tanda.

Karena takut dicurigai orang, pada tanda dia menulis kata kata .

"Disini tidak ada uang sebanyak tiga ratus tael"

Sekarang Tu Liong bisa memutuskan kalau sebenarnya kejadian yang sedang terjadi adalah seperti itu.

apakah dia masih perlu membuktikannya lebih lanjut lagi?

Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 2

Baca Juga: Pendekar Bodoh 12

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert