Ceritasilat Novel Online

Raja Pedang 4

Eps 4 Raja Pedang - Kho Ping Hoo

Baca online Raja Pedang - Kho Ping Hoo

Cersil Raja Pedang - Kho Ping Hoo.

sudah menjadi puing bekas terbakar.

Ia menduga bahwa ini tentu perbuatan Tan Hok yang merasa marah sekali kepada hartawan pelit itu.

Dugaannya hanya sebagian saja betul.

Memang ketika Beng San dahulu mengejar Giam Kin, Tan Hok terus mengamuk.

Betapapun juga gagahnya, dia tentu celaka dikeroyok oleh tukang-tukang pukul yang amat banyak itu, kalau saja tidak keburu datang serombongan orang Pek-lian-pai yang kebetulan lewat di situ.

Tentu saja para anggota Pek-lian-pai ini mengenal Tan Hok yang menjadi murid Tan Sam, seorang tokoh Pek-lian-pai.

Segera mereka ini menyerbu dan membantu Tan Hok sehingga tuan tanah dan hartawan itu bersama kaki tangannya yang selalu mempraktekkan penindasan dan kekejaman dapat dibasmi, harta bendanya dirampas dan rumahnya dibakar.

Tan Hok lalu pergi ikut rombongan ini meninggalkan dusun itu.

Memandangi rumah gedung hartawan Kwi yang sudah menjadi tumpukan puing itu, Beng San terkenang kepada Tan Hok.

la amat suka kepada pemuda raksasa muda itu yang jujur dan gagah, apalagi yang senasib dengannya, tiada orang tua dan tiada tempat tinggal.

Akhirnya dia menghela napas dan meninggalkan tempat itu Tiba-tiba berkelebat bayangan merah di depannya, Beng San membelalakkan matanya ketika melihat seorang anak perempuan berpakaian merah berdiri disitu, tersenyum-senyum ramah dari matanya bersinar-sinar seperti bintang pagi.

Beng San terbelalak bukan saking kagum melihat gadis cilik yang mungil ini sekarang, melainkan saking gelisah dan takutnya.

la maklum bahwa bocah ini ada hubungannya dengan Song-bun-kwi, entah muridnya entah anaknya atau pelayannya.

Akan tetapi yang jelas, tiga bulan yang lalu bocah ini muncul, lalu muncul pula Song-bun-kwi.

"Kau siapakah? Siapa namamu dan kau datang ke sini mau apa?"

Beng San bertanya, suaranya halus karena tak mungkin orang dapat bersikap galak terhadap seorang anak manis yang tersenyum-senyum ramah dengan matanya bersinar gemilang itu.

Anak berbaju merah itu tersenyum lebar dan seketika Beng San teringat akan wajah Kwa Hong.

Biarpun ada perbedaan besar antara Kwa Hong dan anak ini, yaitu Kwa Hong galak sekali tapi anak ini ramah-tamah penuh senyum akan tetapi kalau tersenyum mereka ini itu sama.

Sama manisnya, bahkan bentuk wajahnya hampir sama.

Apalagi pakaian mereka.

Agaknya dua orang anak itu memiliki kesukaan yang sama terhadap warna merah.

Ditanya oleh Beng San, anak itu hanya tertawa-tawa, kemudian ia menggandeng tangan Beng San, ditarik-tarik ke sebuah pohon.

Memang di sekitar rumah gedung hartawan Kwi terdapat banyak pohon bunga yang beraneka warna.

Sebagian besar dari pohon-pohon ini ikut terbakar, akan tetapi pohon besar di sebelah kanan gedung itu masih berdiri tegak dan pada saat itu di puncak pohon terdapat banyak kembangnya yang berwarna kuning.

Setelah tiba di bawah pohon itu, anak perempuan tadi melepaskan tangan Beng San, lalu sambil tersenyum ia menunjuk ke atas, ke arah kembang.

Dengan jari-jari tangannya yang mungil dan terpelihara bersih itu ia memberi tanda supaya Beng San mengambilkan bunga untuknya!

Ada rasa perih menusuk hati Beng San oleh gerakan-gerakan jari tangan ini.

la menjadi terharu.

Memang ketika pada pertama kali melihat anak perempuan ini Song-bun-kwi memberi tanda dengan tangan, dia sudah menduga bahwa anak ini gagu.

Sekarang melihat anak ini mengajak dia "bicara"

Dengan gerakan-gerakan tangan, dia menjadi terharu sekali.

Akan tetapi di samping keharuan ini, dia pun terheran-heran karena dia sudah menyaksikan sendiri betapa gadis ini amat lihai, gerakannya cepat laksana burung dan untuk mengambil bunga di pohon sedemikian saja tentu akan dapat dilakukannya sendiri, mengapa sekarang minta dia yang memetikkannya?

Betapapun juga, melihat sepasang mata itu memandang penuh permintaan, dengan sinar yang lembut dan luar biasa itu, tak dapat dia menolaknya.

la mengangguk sambil tersenyum, lalu seperti seekor kera, Beng San memanjat pohon itu naik ke atas.

Gerakannya ringan dan dia merasa amat mudah memanjat pohon Itu.

Sebentar saja dia sudah sampai di puncak lalu memetik setangkai bunga yang dianggapnya paling segar dan baik.

Sepasang mata anak itu bersinar-sinar ketika ia menerima kembang dari tangan Beng San.

Dengan cekatan dipakainya kembang itu di atas rambutnya yang hitam, kemudian ia memasang gaya di depan Beng San, membalik ke sana ke mari seakan-akan hendak memamerkan, kecantikannya dengan hiasan bunga di kepalanya itu.

Kemudian setelah berputaran di depan Beng San, ia berdiri menghadapi Beng San,dan sepasang matanya bertanya bagaimana pendapat Beng San setelah ia memakai kembang.

Mau tak mau Beng San tersenyum.

Alangkah akan bahagianya kalau dia mempunyai adik atau seorang teman semanis ini, semanja ini, yang begitu mengharukan sikap dan gerak-geriknya.

la lalu tersenyum dan mengangkat ibu jari tangan kanannya tinggi-tinggi tanda bahwa gadis cilik itu benar-benar jempol.

Gadis cilik itu mengerti gerakan ini, sarnbil mengeluarkan suara yang mirip tawa ia memegang kedua tangan Beng San, lalu mengajak Beng San berputar-putar menari di bawah pohon.

Bukan main gembiranya gadis cilik itu, ia menari-nari dengan gerakan lincah sehingga mau tidak mau Beng San ikut pula menari-nari dan tertawa-tawa.

Selama hidupnya belum pernah dia merasai kegembiraan seperti kali ini dan tak terasa pula dua butir air mata menitik turun ke atas pipinya.

Kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa mendatangkan keharusan yang tak dapat ditahannya pula.

Tiba-tiba gadis itu berhenti, memandang kepada Beng San dengan matanya yang bening, penuh keheranan dan pertanyaan.

Kemudian jari-jari tangannya diangkat ke atas, dengan halus diusapnya dua butir air mata itu dari pipi Beng San, lalu dia menggeleng-geleng kepala perlahan seakan-akan hendak berkata bahwa Beng San tidak boleh menangis.

Dalam keadaan yang aneh ini, di mana tidak ada sepatah pun kata-kata keluar dari mulut kedua orang anak itu, Beng San seakan-akan dapat mengerti semua, seakan-akan dapat menjenguk isi hati dan pikiran gadis cilik itu, bahwa gadis itu dapat pula merasai kesengsaraannya, kesunyiannya, bahkan mereka itu senasib sependeritaan dan ada kecocokan yang membuat keduanya menaruh kasihan satu kepada yang lain.

Dari jauh terdengar suara melengking tinggi, suara tangisan.

Gadis cilik berbaju merah itu menjadi pucat, tangannya dingin menggigil dan cepat sekali ia menarik tangan Beng San, diajaknya berlari-lari ke arah bekas rumah gedung yang sudah menjadi tumpukan puing.

Dengan gerakan tiba-tiba gadis itu mendorong tubuh Beng Sang menerobos ke bawah tumpukan kayu-kayu hangus sambil menunjuk-nunjuk supaya anak itu bersembunyi.

Tadinya Beng San bingung tidak mengerti, akan tetapi setelah suara melengking itu makin dekat, dia mengerti apa artinya itu.

Song-bun-kwi datang!

Cepat dia lalu menyelundup ke bawah kayu dan arang, bersembunyi di bawah puihg.

Akan tetapi dasar dia seorang anak yang tabah dan nakal, dalam bersembunyi dia mengintai ke luar.

Suara melengking seperti orang menangis itu makin lama makin keras dan berhenti, tahu-tahu di depan gadis itu sudah berdiri seorang laki-laki.

Song-bun-kwi dengan muka kelihatan tak senang!

Mukanya merah dan matanya melotot, kedua tangannya menggerak-gerakkan jari-jari tangan sambil menatap wajah gadis cilik itu.

Anak perempuan itu kelihatannya takut-takut, berkali-kali menggeleng kepalanya.

Kembang di atas rambutnya ikut bergoyang-goyang dan ini agaknya yang menarik perhatian Song-bun-kwi.

Sekali renggut dia telah menjambak rambut anak itu dan ditariknya kembartg tadi.

Anak itu terpelanting dan tentu akan terbanting keras kalau saja tidak lekas poksai (bersalto) sehingga ia hanya terhuyung-huyung dan kaget saja.

Matanya memperlihatkan sinar duka ketika kembang tadi hancur di tangan Song-bun-kwi.

Agaknya Song-bun-kwi tertarik sesuatu.

la memandang ke atas tanah tanpa mempedulikan lagi anak perempuan itu.

Tiba-tiba dia membanting kaki.

Demikian kerasnya bantingan kaki ini sampai Beng San yang berada di tempat yang jauhnya ada sepuluh meter dari situ merasa betapa tanah di bawahnya tergetar dan reruntuk kayu di atasnya ron-tok ke bawah.

Kakek itu nampak makin marah.

Sambil menuding-nuding ke bawah kembali dia bicara dengan gerakan jari tangannya, agaknya memarahi anak perempuan itu atau menanyakan sesuatu.

Anak itu kembali menggeleng-geleng kepalanya sambil menggerakkan jari tangannya.

Tiba-tiba Song-bun-kwi menyambak rambutnya, mengguncang-guncangnya sampai rambut anak itu terurai, setelah itu kepala itu ditempeleng keras.

Anak itu terpelanting roboh, akan tetapi cepat meloncat bangun.

Kedua mata anak itu mencucurkan air mata, mulutnya mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh.....

Hampir tak tertahankan lagi oleh Beng San.

Kemarahannya memuncak dan andaikata dia tidak ingat akan ajaran-ajaran Lo-tong Souw Lee, pasti dia sudah meloncat keluar dan membela anak pe-rempuan itu.

Biar dia dipukul mampus asal dia sudah bisa memaki-maki Song-bun-kwi atas kekejamannya terhadap anak itu, puaslah dia.

Giginya dikertakkan, bibirnya digigit sampai terasa sakit.

Saking marahnya, Song-bun-kwi sampai lupa bahwa anak perempuan itu gagu, dan dia membentak.

"Beng San, di mana dia??"

Kembali dia mengancam dengan tangan hendak menggampar anak itu.

Tiba-tiba, anak itu mengedikkan kepala dan seakan-akan telah lenyap sama sekali rasa takutnya.

Matanya mengeluarkan sinar berapi, mulutnya setengah terbuka, napasnya terengah-engah, kedua tangannya dikepal dan dengan beraninya ia maju menantang, kakek itu.

Mulutnya mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh, akan tetapi nadanya beda dengan tadi, kini penuh tantangan!

Beng San tadinya kagum bukan main, sekarang dia melongo karena melihat betapa kakek itu mendadak menjadi lemas, menjatuhkan diri berlutut dan memeluk anak itu sambil menangis tersedu-sedu!

Dan anak perempuan itu pun hilang kemarahannya, memeluk kepala kakek itu sambil menangis tanpa bersuara.

Pemandangan yang amat mengharukan melihat kakek itu berlutut memeluk si gagu sambil menangis mengeluarkan suara yang tidak karuan, akan tetapi sayup-sayup terdengar juga oleh Beng San.

"..... kau seperti ibumu..... seperti ibumu....."

Dan anak perempuan yang tadi dijambaki dan ditempiling kakek itu, yang tadinya amat marah seperti hendak melawan, sekarang menangis dan memeluk kepala kakek itu penuh kasih sayang.

Bi Goat, beritahu di mana adanya anak setan itu,"

Song-bun-kwi berkata sambil mengelus-elus kepala anak perempuan yang gagu itu.

Anak itu menggelengkan kepalanya.

Kakek itu lalu menudingkan telunjuknya ke atas tanah seperti hendak mendesak dengan pertanyaan bahwa ada bekas kaki Beng San di situ.

Semua ini terlihat oleh Beng San dan dengan hati berdebar dia mengintai terus.

Anak perempuan yang bernama Bi Goat itu lalu menggerak-gerakkan tangannya, kemudian menuding ke arah selatan.

Kakek itu berdiri, menatap wajah itu tajam penuh selidik, agaknya tidak percaya tetapi anak itu menentang pandang matanya dengan tabah dan berani akhirnya kakek itu menggandeng tangan Bi Goat dan diajak berjalan pergi dan situ ke arah selatan.

Diam-diam Beng San memperhatikan terus.

Ia melihat kakek itu dengan sudut matanya memperhatikan Bi Goat.

Anak itu menoleh dan memandang kearah bunga-bunga di atas pohon, agaknya teringat ketika Beng San memetikkan bunga untuknya tadi.

Akan tetapi lirikan ini cukup untuk membuat Song-bun-kwi curiga.

Tubuhnya berkelebat dan sulingnya diputar.

Bunga dan daun terbang berhamburan dan ketika tubuh kakek itu sudah kembali ke sebelah Bi Goat, pohon tadi telah gundul dan andaikata di dalamnya bersembunyi Beng San, tentu akan kelihatan jelas.

Kakek itu mengangguk-angguk kepada Bi Goat dan melanjutkan perjalanan sambil menggandeng tangan anak gagu itu.

Beng San bergidik.

Bukan main lihainya kakek itu.

Kalau saja tadi Bi Goat melirik ketempat dia bersembunyi, sekali saja, tentu kakek ifu akan dapat menemukannya.

la tahu bahwa dia dicari.

Bukan hanya Song-bun-kwi yang mencari dan membutuhkannya, juga bukan Hek-hwa Kui-bo.

Menurut dugaan Lo-tong Souw Lee, setiap orang kang-ouw apabila mendengar bahwa Beng San mewarisi Im-yang Sin-kiam-sut dan tahu di mana adanya Lo-tong Souw Lee, pasti akan menangkap anak ini.

Tidak hanya hendak memaksanya membuka rahasia Im-yang Sin-kiam-sut, akan tetapi juga hendak memaksanya membuka rahasia tempat persembunyian kakek buta itu.

Untung anak gagu itu ternyata amat baik, dan sengaja melindunginya.

Diam-diam Beng San berterima kasih sekali kepada Bi Goat.

Juga dia amat kasihan kepada anak gagu itu yang agaknya diperlakukan dengan kejam dan keras oleh Song-bun-kwi, malah menurut dugaannya, anak itu dilarang bermain dengan siapa pun juga.

Buktinya, dahulu ketika anak itu diajak bermain-main oleh beberapa anak penggembala, Song-bun-kwi marah-marah dan penggembala-penggembala itu bersama kerbau-kerbaunya dibunuh semua!

Beng San menarik napas panjang dan diam-diam dia berjanji kepada diri sendiri bahwa kalau dia mempunyai kepandaian melawan Song-bun-kwi, dia akan menolong anak gagu itu.

Tentu saja Beng San sama sekali tidak tahu bahwa renungannya ini sebetulnya menggelikan?

Mengapa?

Karena anak itu, yang bernama Kwee Bi Goat, bukan lain adalah anak Song-bun-kwi.

Bukan murid, bukan pula anak angkat, melainkan anak kandung isterinya sendiri yang telah meninggal dunia, selagi Bi Goat berusia kurang dari tiga tahun.

Song-bun-kwi sebetulnya adalah seorang she Kwee bernama Lun.

Kwee Lun atau yang berjuluk Song-bun-kwi (Setan Berkabung) ini mendapat julukannya semenjak kematian isterinya, yaitu ibu Bi Goat yang amat dicintainya.

Seperti pernah disinggung oleh Hek-hwa Kui-bo kepada Beng San, Kwee Lun ini pernah merampas seorang pengantin wanita dan dalam perbuatannya yang amat jahat ini dia malah membunuh pengantin pria dan semua tamu yang berada di situ!

Pengantin wanita inilah yang kemudian melahirkan Bi Goat.

Akan tetapi karena wanita ini selalu berduka dan putus asa semenjak dirampas oleh Song-bun-kwi, setelah melahirkan anak kesehatannya menjadi amat buruk.

Akhirnya, ketika Bi Goat berusia kurang dari tiga tahun, ibu muda ini meninggalkan anaknya, bebas dari penderitaan dunia.

Kwee Lun amat cinta kepada isteri rampasannya itu, juga dia amat cinta kepada Bi Goat.

Akan tetapi, begitu isterinya yang tercinta meninggal, timbul kembali sifat-sifatnya yang kejam dan jahat.

Malah kadang-kadang kalau teringat kepada isterinya, dia menjadi benci kepada Bi Goat.

Begitu isterinya meninggal, dia menyalahkan hal ini kepada Bi Goat dan hampir saja dia membunuh anaknya sendiri.

Anak yang baru berusia tiga tahun itu dia pukuli, dia banting dan dia cekik hampir mati.

Akan tetapi dia segera teringat kepada pesan isterinya supaya menjaga Bi Goat baik-baik, maka segera dia menghentikan kekejamannya ini dan malah mengobati Bi Goat.

Kalau saja bukan dia yang mengobati, anak yang sudah dipukul dan dibanting itu tentu akan mati.

Bi Goat tidak sampai mati, akan tetapi mungkin saking kaget, atau juga karena sakit, anak ini lalu menjadi gagu!

Dan demikianlah, Song-bun-kwi Kwee Lun yang sakti dan menjadi tokoh terbesar dari barat, setiap kali bersikap kejam dan menyiksa Kwee Bi Goat, akan tetapi kadang-kadang dia teringat kepada isterinya dan kasih sayangnya tumpah kembali kepada anaknya itu.

Beng San yang sama sekali tidak tahu akan riwayat ini hanya menganggap bahwa Bi Goat anak gagu itu hidupnya tersiksa oleh Song-bun-kwi yang kejam dan jahat Setelah Song-bun-kwi pergi jauh, ban Beng San berani keluar dari tempat persembunyiannya dan melanjutkan perjalanan.

la berjalan terus ke barat dan mengalami penderitaan yang hebat.

Ada kala nya bocah belasan tahun ini dalam dua tiga hari tidak makan dan baru bisa mengisi perutnya kalau ada orang menaruh kasihan kepadanya atau kalau dia bisa mendapatkan buah-buahan di dalam hutan liar.

Baiknya dia memiliki tubuh yang kuat dan gerakannya cepat sehingga kadang-kadang dia bisa menangkap binatang-binatang hutan kecil untuk menjadi pengisi perutnya.

Sementara itu, tak pernah dia lupa untuk melatih diri dengan ilmu yang dia pelajari dari Lo-tong Souw Lee.

Pandai sekati Beng San menjaga rahasianya sehingga tak pernah ada orang mengetahui bahwa anak ini memiliki ilmu yang luar biasa.

Semua orang yang bertemu dengannya hanya mengira bahwa dia adalah seorang anak jembel yang terlantar dan patut dikasihani.

Banyak pula hinaan-hinaan dan ejekan-ejekan yang diderita oleh Beng San, namun anak ini menerima semua itu dengan sabar, maklum seperti yang pernah dia dengar dari Lo-tong Souw Lee bahwa semua penderitaan hidup merupakan gemblengan yang paling baik untuk seseorang, merupakan latihan rohani yang amat berharga.

Sementara itu, hawa Im dan Yang di dalam dirinya makin hari makin menjadi kuat dan teratur dan betul saja seperti yang diajarkan oleh Souw Lee, makin tekun dia belajar, makin terasa olehnya betapa tubuhnya menjadi makin kuat dan sama sekali tidak pernah menderita lagi dari perasaan panas atau dingin akibat dua macam hawa yang tadinya meracuni darahnya tapi yang sekarang setelah dapat dia kuasai merupakan tenaga yang maha kuat.

* * * Sungguh patut disayangkah bahiwa kesalah pahaman antara Hoa-san Sie-eng dan Kun-lun Sam-hengte makin membesar dengan adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi antara mereka.

Seperti telah diketahui, setelah melaporkan semua peristiwa yang menimpa dirinya di depan gurunya yaitu ketua Hoa-san-pai Lian Bu Tojin, Sian Hwa dan tiga orang suhengnya pergi turun dari Gunung Hoa-san untuk mencari tiga orang saudara murid Kun-lun-pai untuk memprotes perbuatan Kwee Sin.

Sesuai dengan petunjuk guru mereka, empat orang murid Hoa-san-pai langsung pergi mengunjungi orang tertua dari Kun-lun Sam-hengte, yaitu Bun Si Teng di Sin-yang.

Kedatangan mereka berempat disambut oleh Bun Si Teng dan adiknya Bun Si Liong yang sudah sembuh dari luka-lukanya.

Dua orang saudara Bun ini sudah pernah bertemu dengan Sian Hwa, dan biarpun di antara tiga orang jago Hoa-san yang lain baru Kwa Tin Siong mereka pernah melihatnya, namun dua orang lagi, Thio Wan It dan Kui Keng, pernah mereka mendengar namanya.

Karena yang datang adalah jago-jago ternama dari Hoa-san, dua orang saudara Bun ini menyambut dengan penuh penghormatan, akan tetapi melihat wajah para tamu yang nampaknya mengandung sesuatu yang tidak puas dan marah, mereka menjadi heran dan berlaku hati-hati.

Bun Si Teng dan Bun Si Liong segera menyambut kedatangan mereka dan memberi hormat.

Bun Si Teng sambil menjura berkata.

"Ah, kiranya Hoa-san Sie-enghiong (Empat Orang Gagah dari Hoa-san) yang datang mengunjungi gubuk kami yang buruk. Selamat datang! Adik Sian Hwa, silakan duduk"

Kepada tunangan sutenya ini, Bun Si Teng bersikap manis.

"Liong-te, lekas beri tahu soso-mu (kakak ipar-mu) untuk menemani Adik Sian Hwa."

"Tak usah repot-repot, Ji-wi tak perlu repot-repot. Kami datang untuk minta keadilan dan minta dibereskannya sebuah urusan besar, bukan untuk datang minum arak atau bercakap-cakap kosong!"

Ucapan ini dikeluarkan oleh Thio Wan It, orang ke dua dari Hoa-san Sie-eng yang terkenal berangasan.

Dua orang saudara Bun mengerutkan kening.

Benar-benar tak sopan tamu ini, pikir Bun Si Liong sambil memandang orang pendek gemuk berbaju hitam itu dengan mata menaksir-naksir.

Akan tetapi Bun Si Teng yang lebih tua dan berpengalaman, segera dapat menduga bahwa tentu terjadi hal yang amat gawat sehingga orang-orang gagah ini bersikap seperti itu.

"Saudara-saudara berempat jauh-jauh datang membawa urusan penting apakah? Tentu kami selalu siap untuk membantu kalian. Harap Sie-enghiong segera ceritakan kepada kami berdua,"

Kata Bun Si Jeng, masih ramah-tamah. Bu-eng-kiam Thio Wan It yang sudah amat tak sabar karena marahnya menghadapi urusan sumoinya, segera melangkah maju dan berkata kasar.

"Sekarang ini, Hoa-san Sie-eng berhadapan dengan Kun-lun Sam-heng te sebagai orang-orang gagah yang hendak membereskan urusan penasaran! Kedatangan kami ini adalah karena perbuatan yang amat tak patut dan keji dari orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte. Kwee Sin harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya dan Ji-wi berdua ini harus pula bertanggung jawab dan dapat segera menyeret Kwee Sin kepada kami!"

Kata-kata ini seperti halilintar menyambar bagi dua orang saudara Bun itu.

Bun Si Teng yang lebih sabar menekan dada dan mukanya agak pucat, adapun Bun Si Liong sudah meraba gagang pedang dan goloknya sambil mengeluarkan suara gerengan seperti harimau terluka, matanya tajam menyapu keempat orang tamu itu.

Baiknya Bun Si Teng memberi isyarat kepada adiknya supaya bersabar dan dia sendiri lalu berkata.

"Segala urusan dapat diurus, segala penasaran dapat diadili, akan tetapi harus diberi penjelasan lebih dulu apa sebabnya Sie-wi (Tuan Berempat) seperti marah-marah. Sute kami, Kwee Sin, bukan kami hendak menyombong, akan tetapi Kwee-sute sudah terkenal di empat penjuru langit sebagai seorang gagah yang tak pernah meninggalkan sifat-sifat satria. Siapakah yang tak pernah mendengar nama Pek-lek-jiu Kwee Sin murid termuda dari Kun-lun-pai yang selalu menjunjung tinggi keadilan dan membela kebenaran? Sekarang Sie-wi datang-datang menyatakan sute kami itu melakukan perbuatan yang amat tidak patut dan keji. Hemmm, tentu saja sukar bagi kami untuk dapat mempercayai. Tidak ada perbuatan Kwee-sute yang tidak patut!"

Liem Sian Hwa tak dapat menahan kemarahannya.

"Seorang yang bergaul dengan siluman betina dari Pek-lian-pai, setelah terlihat oleh ayahku lalu bersama siluman itu datang membunuh ayahku yang tua dan tidak berdaya, apakah hal ini kauanggap patut dan tidak keji?"

Bun Si Teng melengak, lalu saling pandang dengan adiknya.

Bun Si Liong marah sekali, mulutnya sudah bergerak-gerak hendak membantah dan memaki.

Akan tetapi orang gagah ini mempunyai sifat yang amat lucu, yaitu dia amat takut kalau berhadapan dengan wanita.

Andaikata yang mengeluarkan tuduhan itu bukan Sian Hwa melainkan orang di antara suheng-suheng nona itu, tentu Si Liong sudah memaki dan marah.

Sekarang dia hanya berdiri dengan kedua tangan terkepal, kedua mata melotot, akan tetapi tidak melotot kepada Sian Hwa, melainkan kepada Kwa Tin Siong bertiga!

Bun Si Teng sudah dapat menguasai hatinya pula.

la kini menghadapi Kwa Tin Siong yang sejak tadi diam saja hanya memandang dengan mata tajam penuh selidik.

"Hoa-san It-kiam, namamu di dunia kang-ouw sudah tersohor sebagai seorang pendekar gagah dan adil. Kuharap saja sekarang kau pun akan bersikap seperti seorang yang adil. Adikku Kwee Sin tertimpa tuduhan yang amat berat. Setiap tuduhan harus disertai bukti-bukti dan dasar. Tanpa dasar dan bukti maka tuduhan itu adalah fitnah yang amat jahat. Apakah bukti dan dasarnya tuduhan terhadap Kwee-sute itu?"

Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Saudara Bun, aku pun merasa amat menyesal dengan terjadinya hal yang menimpa sumoiku. Kalau kalian merasa penasaran karena sute kalian tertimpa tuduhan berat, bagaimana dengan kami? Sumoi kami tertimpa malapetaka yang lebih berat dan hebat lagi. Oleh karena itu, kita harus berani mempertanggung-jawabkan secara adil. Harus berani membela yang benar dan menghukum yang salah. Sikap begini sudah menjadi tugas kita sebagai orang gagah, bukan? Siapa saja yang salah harus dihukum, baik dia itu orang lain maupun adik sendiri. Sebaliknya, siapa saja orangnya asal dia itu Berada di pihak kebenaran, haruslah kita bela. Bukankah begitu juga pelajaran yang kalian terima dari suhu kalian?"

Bun Si Teng mengangguk-angguk.

"Kau betul. Hoa-san It-kiam, Kami pun takkan membela sute kami sendiri kalau dia betul-betul bersalah. Hanya kami amat sangsikan apakah sute kami bersalah, karena kami percaya, bahkan yakin bahwa Kwee-sute bukanlah seorang yang demikian jahat dan keji. Dia pun sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw. Oleh karena itu, tuduhan berat tadi harap kaujelaskan dan kauberi dasar-dasar atau bukti-bukti."

Kwa Tin Siong tersenyum pahit.

"Seorang yang sudah memiliki kepandaian setingkat dengan kita, kalau sudah melakukan sesuatu, bagaimana bisa dicari buktinya? Kadang-kadang kejadian tanpa bukti pun sudah jelas, cukup jelas untuk ditarik kesimpulan dan diambil keputusan siapa yang bersalah. Nah, kaudengarlah baik-baik. Pada suatu hari, beberapa pekan yang lalu, ayah dari Liem-sumoi yaitu Liem Ta lopek, pulang ke rumah sambil marah-marah dan menyatakan kepada Liem-sumoi bahwa dia melihat Kwee Sin berpelesir bersama seorang perempuan cabul dari Pek-lian-pai, dan Liem-lopek menyatakan hendak memutuskan tali perjodohan antara Liem-sumoi dan Kwee Sin. Liem-sumoi merasa penasaran dan diam-diam ia pergi ke Telaga Pok-yang di mana Kwee Sin terlihat oleh ayahnya. Sayang ia tidak dapat melihat dengan mata kepala sendiri, akan tetapi dari keterangari tukang-tukang perahu di sana ia mendapat keterangan bahwa memang betul Kwee Sin dan seorang perempuan berada di situ beberapa hari lamanya. Dengan hati berat Liem-sumoi pulang ke rumahnya dan didapatinya ayahnya telah luka-luka hebat. Sebelum meninggal dunia, Liem-lopek masih sempat menyatakan bahwa yang menyerangnya adalah Kwee Sin dibantu seorang perempuan cantik.

"Penasaran...... penasaran.....!"

Bun Si Liong berteriak-teriak.

"Tak mungkin dia itu Kwee-sute. Tak mungkin! Mana buktinya bahwa yang melakukan pembunuhan itu adalah Kwee-sute?"

"Twa-suheng!"

Kui Keng meloncat maju.

"Kenapa Suheng masih simpan-simpan keterangan? Jelaskan saja sekalian. Eh, Kun-lun Sam-hengte, jangan coba-coba menutupi. Kesalahannya sudah jelas karena menurut kesalahan sute kalian, keterangan Liem-sumoi, di tubuh Liem-lopek itu terdapat paku-paku Pek-lian-ting dan bekas pukulan Pek-lek-jiu! Nah, mau bilang apa lagi? Paku-paku Pek-lian-ting tentulah paku-paku yang dilepas oleh perempuan siluman dari Pek-lian-pai itu dan pukulan Pek-lek-jiu..... hemmm, bukankah julukan Kwee Sin adalah Pek-lek-jiu?"

"Bohong! Bukan bukti itu"

Bun Sin Liong membanting-banting kakinya.

"Siapa saja yang pernah mempelajari Pek-lek-jiu tentu dapat mempergunakannya. Apakah hanya sute? Tentang paku-paku Pek-lian-ting, aku mau percaya kalau Pek-lian-pai memusuhi kalian, karena Pek-lian-pai juga memusuhi kami. Akan tetapi tentang Kwee-sute, tetap aku tidak mau menerima kalau dia dituduh!"

"Ha..ha..ha, rupanya Kun-lun Sam-heng-te mau menang sendiri saja! Agaknya hanya mengandalkan kegagahan sendiri dan tak memandang kepada orang lain. Suheng, Sute, dan Sumoi, agaknya urusan ini hanya bisa dibereskan di ujung pedang!"

Kata Thio Wan It mengejek sambil meraba gagang pedangnya.

"Boleh sekali!"

Bun Si Liong bertenak sambil nnencabut sepasang senjatanya, yaitu sebatang pedang dan sebatang golok.

Apakah Hoa-san Sie-eng berempat datang hendak mengeroyok kami berdua?

Jangan kira kami takut!

Kun-lun Sam-hengte tak pernah mundur setapak pun menghadapi pengeroyokan siapa saja!"

"0..ho sombongnya! Kami Hoa-san Sie-eng bukanlah tukang keroyok! Untuk menghadapi kalian berdua saja cukup dengan pedangku. Orang she Bun, kalau kau ada kepandaian, keluarlah!"

Thio Wan It berkata mengejek dan begitu kakinya bergerak, tubuhnya melesat keluar.

"Baik, hendak kukenal kelihaian Bu-eng-kiam!"

Seru Bun Si Liong yang meloncat keluar pula.

Semua orang mengejar keluar dan ternyata bahwa dua orang jago itu sudah bertanding dengan hebat.

Suara beradunya senjata tajam berdenting-denting nyaring disusul bunga api berpijar-pijar, gerakan dua orang jago ini gesit dan tangkas dan amat kuat.

Di antara debu yang berhamburan berkelebat ujung pedang dan golok mencari nyawa.

Thio Wan It, sesuai dengan julukannya, Bu-eng-kiam (Pedang Tanpa Bayangan) amat cepat gerak-geriknya.

Pedangnya diputar sedemikian cepatnya sehingga lenyap dari pandangan mata dan bagi lawan yang tinggi ilmunya, pedang ini hanya bisa diduga dari mana datangnya dengan mendengar suara anginnya saja.

Gerakan-gerakan Thio Wan It yang mainkan Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat, boleh diumpamakan seekor burung walet yang menyambar-nyambar ke sana kemari amat sukar diduga perubahan-perubahan gerakannya.

Di lain pihak, Bun Si Liong murid ke dua dari Kun-lun-pai.

Tentu saja kepandaiannya sudah mencapai ting-kat yang tinggi pula.

Seperti juga dengan Hoasan-pai, Kun-lun-pai juga amat terkenal dengan ilmu pedangnya.

Maka yang berhadapan dan bertanding sekarang ini adalah dua orang jago pedang dari dua partai yang mewakili Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai.

Thio Wan It hanya mempergunakan sebuah pedang saja, pedang panjang tipis yang dapat melengkung ketika digerakkan secara cepat dan kuat.

Adapun Bun Si Liong bersenjata pasangan, yaitu sebatang pedang dan sebatang golok.

Inilah keistimewaan Bun Si Liong.

Dua buah senjata yang berlainan itu akan membuat lawan menjadi bingung, seakan-akan dikeroyok oleh dua orang yang tidak sama senjatanya.

Thio Wan It itu cepat dan lincah, pedangnya menyambar-nyambar.

Bun Si Liong tenang dan kokoh kuat kedudukannya seperti seekor banteng sakti yang ...

siap menanti serangan lawan untuk ditangkis dan dibalas dengan serangan-serangan yang tak kalah ampuhnya.

Pedang di tangan Thio Wan It mengancam semua bagian tubuh.

Namun sepasang senjata Bun Si Liong yang jarang bergerak itu selalu dapat menangkis, kemudian kalau ada saat baik membalas dengan tusukan atau bacokan.

Dilihat sekelebatan, Thio Wan It seperti menari-nari mengelilingi Bun Si Liong yang berdiri teguh dan menggeser-geser kakinya untuk mengikuti pergerakan lawan yang amat lincahnya itu.

Pertempuran yang sengit dan seru itu ditonton oleh semua orang dengan hati berdebar.

Pertempuran seimbang seperti ini tak mungkin berakhir tanpa membawa korban di satu pihak, hanya dapat diputuskan dengan menggeletaknya salah seorang.

Padahal dalam urusan ini, baik Thio Wan It maupun Bun Si Liong tidak ada sangkutan apa-apa, tidak ada kesalahan apa-apa.

Orang yang langsung, tersangkut, Kwee Sin, belum diajak bicara, tapi keduanya sudah main hantam sendiri.

Hal ini tidak betul.

Demikianlah jalan pikiran Kwa Tin Siong dan juga Bun Si Teng.

"Urusan gelap belum dibikin terang, tidak perlu ditambah keruh dengan lain pertumpahan darah,"

Kata Kwa Tin Siong sambil memandang kepada Bun Si Teng. Orang tertua Kun-lun Sam-heng-te ini mengangguk.

"Betul. Urusan ini harus diselidiki, takkan beres kalau menurutkan nafsu dan sakit hati."

Dua orang itu seperti telah bermufakat, meloncat maju dan menahan adik masing-masing.

Dua orang jago yang sedang bertanding itu terpaksa mundur dengan dada turun naik, mata melotot lebar dan sikap menantang.

"Aku masih belum kalah!"

Thio Wan It berkata penasaran.

"Aku juga belum kalah,"

Kata Bun Si Liong.

"Kalau begitu hayo teruskan sampai salah seorang di antara kita mampus!". kata pula Thio Wan It.

"Hayo, majulah!"

Tantang Bun Si Liongi Kwa Tin Siong dan Bun Si Teng sibuk mencegah dua orang jago yang sudah panas perutnya itu bertanding lagi.

"Yang menjadi pokok persoalan ini adalah Kwee Sin, sebelum dia ditemukan dan ditanya, amatlah jelek kalau kita menyerang orang-orang lain,"

Kata Kwa Tin Siong kepada sutenya sambil menyabarkan dan memaksa sutenya menyimpan kembali pedangnya.

"Liong-te, sabarlah,"

Kata Bun St Teng kepada adiknya.

"Simpan kembali senjatanya. Urusan ini tidak bisa dibereskan hanya dengan mengangkat senjata Diri Kwee-sute ternyata telah terkena fitnah yang hebat dan hal ini harus kita bersihkan."

La lalu membalik dan menghadapi Kwa Tin Siong.

"Hoa-san It-kiam, terus terang saja, aku tidak akan meragukan semua cerita-mu tadi. Hanya yang kuragukan bahkan tak dapat kuterima adalah bahwa suteku melakukan semua perbuatan itu. Hal itu tidak mungkin sekali."

"Hemmm, saudara Bun. Urusan sumoiku yang ayahnya dibunuh mati orang ini kiranya takkan puas kalau hanya kau beri keyakinan bahwa sutemu tidak mungkin melakukannya. Habis, karena hal ini menyangkut nama baik sutemu, apa yang hendak kaulakukan selanjutnya? Kami masih memandang muka Kun-lun Sam-hengte, memandang muka Kun-lun-pai ciangbunjin (ketua Kun-lun-pai) maka kami tidak tergesa-gesa dan secara sembrono mencari dan mengadili sendiri kepada Kwee Sin."

Bun Si Teng mengangguk-angguk.

"Baiklah. Kami akan mencari Kwee-sute dan dalam waktu lima bulan karm bertiga Kun-lun Sam-hengte akan menghadap ke Hoasan. Kami harus membersihkan nama baik Kwee-sute di depan ketua Hoa-san-pai sendiri."

"Bagus. Lima bulan sesudah hari ini, Hoa-san Sie-eng akan menanti kedatangan Kun-lun Sam-hengte di puncak Hoa-san,"

Kata Kwa Tin Siong yang segera mengajak pergi tiga orang adik seperguruannya, meninggalkan tempat itu. Bun Si Teng dan Bun Si Liong setelah ditinggal pergi para tamunya, duduk dengan hati berat.

"Heran sekali mengapa ada peristiwa seperti ini,"

Kata Bun Si Teng.

"Kita harus menyusul Kwee-sute ke Kun-lun.

"Memang urusan ini harus dibikin terang, karena menyangkut nama dan kehormatan Kwee Sin,"

Kata Bun Si Liong, mukanya yang hitam makin hitam karena kemarahannya.

"Kau tinggallah di rumah mengurus pekerjaan kita, Liong-te. Biar aku yang pergi ke Kun-lun. Lim Kwi akan kuajak agar anak itu berdiam dan belajar di sana, dipimpin langsung oleh suhu. Aku akan segera kembali bersama Kwee-sute."

Demikianlah, pada keesokan harinya, Bun Si Teng dan puteranya, Bun Lim Kwi, berangkat ke Kun-lun-san untuk mencari Kwee Sin dan menitipkan Lim Kwi di Kun-lun-san supaya menerima gemblengan ilmu silat dari ketua Kun-lun-pai sendiri, yaitu Pek Gan Siansu.

* * * Minggir, jembel-jembel busuk, minggir!"

Suara kaki banyak kuda berdetakan, didahului bentakan-bentakan dan teriakan-tenakan kasar dari para penunggangnya.

Orang-orang dusun yang sedang beralan menuju ke sawah ladang, cepat-cepat berlari minggir agar jangan sampai di seruduk kuda yang berlari cepat di jalan dusun yang kecil itu.

Ternyata barisan kuda ini adalah sepasukan berkuda tentara negeri yang berpakaian keren dan bersenjata lengkap.

Tinggi besar kuda-kuda itu, gagah dan tinggi besar pula para penunggangnya.

Sambil tertawa-tawa para serdadu Mongol ini mempergunakan cambuk untuk secara main-main mencambuk kanan kiri kepada orang-orang desa yang sudah menjauhkan diri sampai ada yang kesakitan dan ketakutan sehingga terjatuh ke dalam selokan sawah!

Seorang kakek kena didorong kaki seorang penunggang kuda dan kakek itu terjengkang roboh ke dalam tanah berlumpur.

Ketika dia merangkak bangun, tubuhnya yang kurus terbungkus lumpur, menakutkan.

Semua kejadian ini disambut gelak terbahak dari pada serdadu itu.

Seorang wanita muda menjerit-jerit ketika ia disambar oleh tangan yang kuat dan tahu-tahu ia telah berada di atas kuda, dipeluk oleh seorang serdadu yang kurang ajar.

Wanita itu meronta-ronta, menjerit-jerit sedangkan serdadu yang menangkapnya itu tertawa-tawa menggoda, sikapnya kurang ajar dan tidak ada kesopanan sama sekali.

Di depan dan belakang, para serdadu lainnya tertawa-tawa gembira.

Saking takut dan jijiknya, wanita muda itu akhirnya pingsan di atas pangkuan serdadu.

itu.

Setelah wanita itu pingsan, agaknya tidak ada kegembiraan lagi bagi serdadu itu maka tubuh wanita itu lalu didorong turun dari atas kuda, jatuh berdebuk di atas tanah berdebu.

"Setan! Iblis kejam!"

Seorang anak laki-laki berlari menolong wanita itu.

"Jembel cilik, minggir kau!"

Seorang serdadu mengayun cambuknya.

"Tar! Tar!"

Cambuk menghantam muka anak itu yang berdiri dengan berani dan matanya melotot.

Cambukan dua kali itu seperti tak dirasainya dan dia memandang serdadu-serdadu yang melarikan kuda sambil mengepal-ngepalkan tinjunya yang kecil.

Wanita itu masih menangis terisak-isak di depannya.

Akhirnya debu tebal saja yang ditinggalkan serdadu-serdadu itu yang jumlahnya tiga puluh orang lebih.

"Keparat.....!"

Anak berpakaian jembel itu, Beng San memaki dan membangunkan wanita tadi.

"Sudahlah, Cici, jangan menangis dan pulanglah. Masih baik kau tidak mereka culik tadi."

Para penduduk yang melihat sikap Beng San, merasa heran dan juga kagum.

"Anak, kau berani sekali,"

Seorang kakek berkata sambil mengangguk-angguk.

"Kalau saja pemuda-pemuda kita seperti kau ini, takkan sukar membebaskan tanah air dari penjajah-penjajah keji seperti mereka....."

Sambil terbungkuk-bungkuk kakek itu berjalan melanjutkan tujuannya ke sawah ladang.

Beng San masih terengah-engah saking marahnya.

Baru sekali ini dia menyaksikan keganasan serdadu-serdadu Mongol kalau beraksi di dusun-dusun.

Seorang petani lain berjalan di sisinya dan bercerita betapa serdadu-serdadu itu lebih kejam lagi kalau bermalam di suatu dusun.

Mereka merampoki bahan makan, merampas segala benda berharga, menculik gadis-gadis dusun dan isteri orang, membunuh pemuda-pemuda yang berani melawan.

Pendeknya, rakyat kecil mengalami neraka dunia kalau kedatangan serdadu-serdadu ini.

Apalagi mereka itu biasanya lalu disambut oleh pembesar setempat dan tuan-tuan tanah setempat yang mempergunakan kekuasaan mereka untuk rnemeras para petani yang sudah amat miskin.

"Keparat,"

Pikir Beng San.

"Kalau aku sudah kuat, kuhajar mereka itu."

Setelah meninggalkan perkampungan ini, Beng San berlari cepat, mengejar ke arah perginya barisan berkuda tadi.

Ia sudah berada dekat kaki Gunung Hoa-san dan kebetulan sekali barisan berkuda itu sejurusan dengan dia.

Menjelang tengah hari dia memasuki sebuah hutan besar di kaki Gunung Hoa-san.

Ia mendengar suara berisik dari dalam hutan.

Ketika dia mendekat, jelas terdengar pekik kesakitan bercampur teriak kemarahan diselingi suara senjata tajam beradu.

Jelas bahwa terjadi pertempuran besar-besaran di tengah hutan itu.

Beng San cepat menyelinap di antara pohon-pohon yang besar, mendekati tempat pertempuran sambil mengintai.

Ringkik banyak kuda mengingatkan dia akan barisan serdadu-serdadu Mongol.

Celaka, pikirnya, tentu setan-setan Mongol itu kembali mengganggu penduduk dekat hutan sini.

Akan tetapi, mengapa penduduk berada di dalam hutan besar?

Ah, mungkin pemburu-pemburu.

la cepat berindap ke tengah hutan dan akhirnya terlihatlah olehnya pertempuran hebat terjadi di tempat terbuka.

Benar saja dugaannya.

Para serdadu Mongol itu tengah bertempur melawan sekumpulan orang-orang yang bersikap gagah dan rata-rata pandai, ilmu silat.

jumlah orang-orang gagah itu hanya belasan orang sehingga setiap orang dikeroyok oleh dua atau tiga orang serdadu Mongol.

Perang tanding itu hebat sekali.

Banyak serdadu Mongol sudah roboh mandi darah.

Akan tetapi mereka adalah serdadu-serdadu yang terlatih dan rata-rata amat kuat sehingga belasan orang gagah itu terdesak juga, malah di antaranya ada yang terluka.

Tiba-tiba terdengar aba-aba keras dan para serdadu Mongol itu mengeluarkan panah tangan dan serentak menyerang dengan anak-anak panah mereka yang terkenai berbahaya.

Serangan mendadak ini membikin para orang gagah menjadi kacau-balau dan tiga orang terjungkal roboh.

"Anjing-anjing Mongol rasakan pembalasan kami!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pemuda tinggi besar bersama enam orang lain dari jurusan selatan.

Mereka datang dan terus menyerbu.

Hebat sekali serbuan pemuda tinggi besar dan teman-temannya ini.

Sisa orang-orang gagah yang dikeroyok tadi timbul kembali semangat mereka melihat datangnya bala bantuan.

Perang tanding makin berkobar dan sekarang para serdadu Mongol yang kocar-kacir dihantam dari kanan kiri.

Mereka sudah mulai ketakutan dan mencoba-coba untuk melarikan diri.

Akan tetapi, tiap seorang serdadu Mongol berhasil meloncat ke punggung kuda dan melarikan kuda itu, tentu dia disambar oleh beberapa buah senjata rahasia paku dan robohlah dia dari atas punggung kuda.

Beng San yang mengintai dan menonton semua pertandingan ini, menjadi girang dan berdebar hatinya ketika melihat pemuda tinggi besar itu.

"Dia adalah Tan Hok,"

Pikirnya gembira.

"Benar-benar dia gagah perkasa."

Memang hebat sepak terjang Tan Hok.

Dia paling besar diantara teman-temannya dan golok ditangannya mengamuk seperti seekor naga.

Mayat serdadu-serdadu Mongol roboh bergelimpangan dan sebentar saja, setelah datang Tan Hok dan teman-temannya ini, serdadu-serdadu itu dapat dirobohkan semua.

Beberapa orang serdadu dapat melarikan diri dengan kuda mereka yang kuat dan tepat, biarpun mereka tidak terluput dari luka-luka, namun mereka tidak mengalami nasib seperti kawan-kawan mereka yang bergelimpangan tak bernyawa lagi di hutan itu.

"Pasukan besar musuh tentu akan menyusul ke sini, kita harus cepat-cepat pergi. Kumpulkan teman-teman yang tewas. Cepat, saudara-saudara!"

Tan Hok memberi aba-aba dan dari tempat sembunyinya, Beng San rnemandang dengan kagum.

Sekarang pemuda raksasa ttu tidak kelihatan bodoh lagi, melainkan tangkas dan dihormati teman-temannya.

Semua orang gagah itu bekerja.

Ada yang mengubur mayat teman-temannya, ada yang merawat teman-teman yang terluka, ada yang mengumpulkan senjata-senjata rampasan, ada yang mengumpulkan kuda-kuda tinggi besar tunggangan para serdadu tadi.

Adapun Tan Hok sendiri memasang sebuah bendera kecil di batang pohon, bendera tanda perkumpulan Pek-lian-pai, bendera kecil bergambar teratai putih!

"Tan-twako.....!"

Beng San meloncat keluar dan memanggil. Semua orang terkejut. Seorang anggota Pek-lian-pai cepat melompat mendekati Beng San dan membentak.

"Mata-mata Mongol, tangkap!"

Akan tetapi Tan Hok segera berseru.

"Ah, bukankah kau Adik Beng San?"

La berlari menghampiri dan mencegah teman-temannya menangkap Beng San, malah segera memperkenalkan.

"Inilah anak ajaib Beng San, adikku yang amat gagah berani. Eh, Adik Beng San, kau dari mana tiba-tiba muncul di tempat ini?"

"Tan-twako, aku tadi melihat semua kejadian ini. Aku tidak tahu kenapa kau dan teman-temanmu mencegat dan membunuh serdadu-serdadu ini biarpun aku ketahui betapa kejam dan jahatnya mereka. Akan tetapi..... kalau kau dan teman-temanmu, hanya mengubur mayat kawan sendiri ini di sini, kau telah melakukan dua macam kesalahan. Semua anggota Pek-lian-pai melengak mendengar ini. Masa seorang anak kecil hendak menasehati orang-orang Pek-lian-pai? Akan tetapi Tan Hok yang sudah banyak melihat keanehan pada diri anak ini, dengan sabar berkata.

"Kau-jelaskanlah, Adik Beng San. Kesalahan-kesalahan apakah itu?"

"Pertama, kau melanggar perikemanusiaan kalau kau tidak mau mengubur mayat para serdadu ini. Bukankah dahulu kau mengubur semua mayat orang-orang kelaparan yang menggeletak di pinggir jalan?"

Tan Hok menarik napas panjang.

"Lain lagi. Mereka itu adalah mayat-mayat bangsaku yang sengsara, yang kelaparan karena pemerasan kaum penjajah seperti anjing-anjing Mongol ini. Sebaliknya, mereka ini adalah musuh-musuh besar rakyat, untuk apa aku harus mengubur mereka?"

"Tan-twako, kau keliru. Yang kau-benci adalah perbuatan mereka. Sekarang mereka sudah mati, tidak bisa berbuat apa-apa lagi, apakah mayat-mayat itu pun masih dibenci?"

"Kau memang aneh. Di dalam perang, kalau orang harus mengubur mayat musuh, bisa kehabisan waktu untuk mengubur saja! Dalam perang memang begitu, adikku, jangankan mayat musuh, mayat teman-teman sendiri kadang-kadang? tidak ada waktu untuk mengurusnya. Dan apakah kesalahanku yang ke dua?"

"Kalau kau tidak mengubur mayat-mayat ini dan rnembiarkan mereka berserakan di sini, kau akan membikin celaka Hoa-san-pai. Bukankah mayat-mayat serdadu ini berada di kaki Gunung Hoa-san? Kalau sampai terlihat oleh pasukan negeri, sudah tentu mereka akan mengira bahwa Hoa-san-pai yang melakukannya....."

"Kan sudah kuberi tanda bendera kecil di sini,"

Bantah Tan Hok.

"Betapapun juga, kejadiannya di kaki Gunung Hoa-san, tentu Hoa-san-pai akan terlibat. Kalau mereka ini dikubur, tidak akan ada bekasnya lagi dan Hoa-san-pai akan terbebas dari sangkaan."

Sambil berkata demikian Beng San lalu mulai menggali lubang untuk mengubur mayat dua puluh orang lebih banyaknya itu.

Adapun Tan Hok dan kawan-kawannya, dengan kagum sekali mendengar ucapan Beng San tadi.

Akhirnya mereka harus pula membenarkan ucapan itu.

Bukankah ada golongan yang memang sengaja hendak memburukkan nama Pek-lian-pai dan mengadu Pek-lian-pai dengan lain-lain perkumpulan?

Memang tidak baik sekali kalau kelak pemerintah penjajah memusuhi Hoa-san-pai karena urusan perang di kaki Gunung Hoa-san kali ini, membuat Hoa-san-pai mengalami bencana karena perbuatan Pek-lian-pai.

"Saudara-saudara, hayo bantu Adik Beng San mengubur bangkai-bangkai anjing penjajah ini!"

Kata Tan Hok dengan suaranya yang keras. Mereka segera turun tangan dan sebentar saja mayat-mayat itu sudah dikubur semua. Tiba-tiba seorang diantara mereka berlari datang dan berkata.

"Sepasukan anjing Mongol sudah datang!"

Mereka semua mendengarkan dan betul saja, dari jauh terdengar derap kaki kuda yang banyak sekali. Tan Hok segera berunding dengan teman-temannya.

"Kita pancing mereka memasuki Lembah Pek-tiok-kok (Lembah Gunung Bam-bu Putih). Cepat kumpulkan kuda!"

Akhinya keputusan ini diambil dan beramai-ramai mereka meninggalkan tempat itu.

"Adik Beng San, kau harus ikut kami kali ini!"

Kata Tan Hok sambil menggandeng tangan anak itu.

Karena Beng San amat tertarik dan kagum kepada rombongan orang-orang gagah ini dan ingin melihat apa yang hendak mereka lakukan terhadap para pengejar, pasukan musuh itu, maka dia menurut saja dan ikut berlari-lari dengan yang lain.

Hati Beng San lega melihat orang-orang gagah ini larinya meninggalkan Gunung Hoa-san dan mendaki gunung kecil yang gundul dan banyak batu-batu karangnya tinggi meruncing.

Derap kaki kuda dari belakang makin lama makin 1 terdengar dekat dan ketika mereka sudah mulai mendaki bukit, dari atas terlihatlah oleh mereka pasukan berkuda terdiri dari sedikitnya enam puluh orang mengejar mereka dari belakang!

Melihat ini, diam-diam Beng San berkhawatir.

Sisa teman-teman Tan-Hok termasuk pemuda raksasa itu sendiri hanya ada dua belas orang.

Bagaimana akan dapat melawan enam pujuh orang serdadu musuh?

Jalan yang dilalui rombongan Tan Hok amat sukar, banyak lubang-lubang dan tak mungkin dilalui kuda.

Tan Hok memimpin teman-temannya berloncatan melalui jalan ini dan setelah sampai di tempat yang agak tinggi, baru Beng San tahu bahwa kuda-kuda rampasan tadi tidak ikut dibawa ke tempat itu, entah disembunyikan di mana oleh teman-teman Tan Hok.

Dan anak ini sekarang mengerti, atau demikian dia mengira, bahwa Tan Hok dan teman-temannya memilih jalan ini agar lawan yang berkuda tidak dapat mengejar mereka.

Akan tetapi, setelah mereka tiba di tempat yang lebih tinggi, Beng San kaget melihat betapa pasukan besar di belakang itu pun kini sudah turun dari kuda dan mengejar mereka sambil berloncat-loncatan dan berlarian.

Dilihat dari atas, enam puluh orang itu seperti semut yang merayap-rayap naik!

"Tan-twako, mereka mulai mengejar tanpa kuda!

kata Beng San khawatir sekali.

Tan Hok hanya tersenyum.

"Jangan khawatir, Adik Beng San. Kita kaum Pek-lian-pai sudah biasa menghadapi musuh banyak. Musuh yang mengejar itu tidak ada seratus dan kita..... bersama kau dan kita ada tiga belas orang. Takut apa? Diam-diam Beng San menghitung. Tiga belas orang melawan enam puluh orang lebih. Berarti seorang melawan lima orang musuh! Bagaimana raksasa ini masih bicara begitu enak? Beng San merasa heran, dan juga kagum.

"Aku jangan dihitung, Tuako. Melawan satu orang saja belum tentu aku menang, bagaimana harus melawan lima orang?"

Tan Hok hanya tertawa.

"Kaulihat saja nanti. Lihat dan pelajarilah cara-cara kaum Pek-lian-pai mengganyang musuh-musuhnya."

"Srrrt! Srrrt!"

Beberapa buah anak panah meluncur dari belakang.

Sebuah anak panah hampir saja mengenai tubuh Tan Hok, baiknya raksasa muda ini cepat menangkisnya dengan golok.

la nampak kaget ketika merasa telapak tangannya tergetar.

"Teman-teman, cepat! Dan awas, pelepas panah lihai sekali. Lari sambil mencari perlindungan. Cepat!"

La menarik tangan Beng San dan mendahului rombongannya.

Mereka sudah hampir tiba di puncak bukit.

Tadinya anak panah dari belakang masih gencar menyerang, akan tetapi karena perjalanan itu berliku-liku, musuh dari belakang tak dapat melepas anak panah secara ngawur lagi.

Mereka tiba di daerah batu-batu besar yang banyak guanya.

Tan Hok membawa teman-temannya memasuk gua besar yang ternyata merupakan terowongan batu dan alangkah herannya hati Beng San ketika ternyata olehnya bahwa rombongan itu jalannya menuju.....

kembali turun!

Di tengah-tengah terowongan terdapat lubang-lubang di antara batu dan dari lubang-lubang ini mereka dapat mengintai musuh yang berada di luar.

"Ah, benar pasukan itu berhenti, tidak mengejar terus,"

Kata Tan Hok setelah mengintai.

"Tentu dipimpin oleh orang pandai yang berpengalaman. Kita harus memancing mereka sampai di Pek-tiok-kok. Mari, teman-teman, cepat. Kita menggunakan kecerdikan musuh untuk menipu mereka."

Sambil berlari Tan Hok menggandeng tangan Beng San memasuki terowongan yang gelap itu, diikuti teman-temannya.

Tak lama kemudian mereka tiba di tempat terbuka, keluar dari terowongan yang merupakan gua besar.

"Serbu mereka sambil berteriak-teriak, kalau mereka melawan pura-pura kalah biar mereka mengejar kita,"

Bisik Tan Hok kepada teman-temannya.

"Mungkin di pihak kita jatuh korban, akan tetapi ingat, apa artinya pengorbanan kita kalau akhirnya kita dapat menghancurkan mereka. Semua orang mengangguk menyatakan setuju dan rombongan ini kembali merayap naik karena mereka sekeluarnya dari terowongan itu ternyata telah berada di sebelah bawah kedudukan musuh. Mereka melihat barisan musuh memasang kedudukan di lereng, tidak mengejar terus. Inilah kecerdikan pimpinan barisan itu, karena kalau tadi mereka terus mengejar, tentu mereka itu akan menjadi korban hujan Pek-lian-ting (Paku-paku Teratai Putih) yang tentu akan dilakukan oleh rombongan Tan Hok. Enak saja menyikat mereka itu dari terowongan, menyerang tanpa dapat diserang kembali dan karena jalanan sempit pasti musuh akan kacau-balau dan banyak jatuh korban. Pimpinan tentara Mongol itu agaknya menaruh hati curiga, maka menyuruh pasukannya berhenti dan dia hanya menyuruh beberapa orang pengintai untuk merayap mendekati daerah berbatu-batu itu untuk melakukan penyelidikan. Ketika mendengar bahwa tidak ada jejak orang-orang yang mereka kejar, pimpinar barisan itu berkata.

"Kita tunggu saja, pasti mereka itu menggunakan siasat. Kita lihat saja apa siasat mereka. Dengan menanti di tempat terbuka ini sambil siap siaga, tak mungkin mereka dapat menipu."

Tiba-tiba mereka mendengar suara sorak-sorai dan paku-paku Pek-lian-ting terbang menyambar dari belakang!

Kaget sekali barisan itu.

Pemimpinnya sendiri juga kaget, karena apa pun yang akan dilakukan oleh rombongan pemberontak Pek-lian-pai yang dikejar tadi sama sekali dia tak pernah menduga bahwa yang dikejar itu tahu-tahu sudah muncul di belakangnya!

Tak sempat lagi menggunakan panah, maka pemimpin ini berteriak-teriak memberi komando supaya melawan.

Apalagi ketika dilihatnya bahwa yang muncul hanya belasan orang lawan saja.

"Serbu! Bunuh habis para pemberontak!"

Teriaknya keras.

Tan Hok dan teman-temannya mengamuk.

Pemuda raksasa ini sedikitnya sudah merobohkan lima orang dan pertempuran yang berat sebelah ini hanya berjalan seperempat jam.

Beng San oleh Tan Hok disuruh bersembunyi agak jauh agar jangan tertimpa bencana.

Tiba-tiba Tan Hok memberi aba-aba.

"Mundur! Lari...... musuh terlampau kuat!"

Teman-teman Tan lari cerai-berai, nampaknya kacau-balau ketakutan. Pemimpin bansan Mongol tertawa bergelak-gelak.

"Ha..ha..ha..ha..ha, tikus-tikus Pek Lian pai, mampus kalian semua. Hayo kejar". Biarpun kelihatannya kacau-balau, sebetulnya rombongan teman-teman Tan Hok ini melarikan diri secara teratur. Mereka cerai-berai sehingga musuh menjadi kacau pula pengejaran mereka. Dan apabila ada seorang dua orang musuh terpencil, tiba-tiba yang dikejar muncul dari tempat sembunyinya dan merobohkan satu dua orang musuh dengan Pek-lian-ting. Dan akhirnya, karena memang sudah diatur lebih dulu, semua orang yang lari kacau-balau dan sebetulnya siasat untuk mengacau musuh, telah berkumpul lagi dan melarikan diri ke selatan. Pimpinan barisan marah bukan main melihat betapa anak buahnya dipermainkan. Seorang anggota Pek-lian-pai yang dapat dirobohkan, dia cincang dengan golok besarnya, kemudian dia memberi aba-aba kepada semua barisannya supaya mengejar terus dan membasmi habis rombongan Pek-lian-pai yang hanya terdiri dari belasan orang itu. Beng San menyaksikan semua ini dengan kagum. la ikut lari pula di samping Tan Hok ketika rombongan ini lari ke selatan, dikejar dan dihujani anak panah. Tiga orang temannya roboh pula terkena anak panah. Mereka tidak mati, hanya terluka parah. Beng San ingin menolong mereka, akan tetapi Tan Hok mencegahnya, malah menghampiri tiga orang itu dan berkata.

"Saudara-saudara, teruskan siasat kita!"

Tiga orang itu tersenyum lebar, dengan muka pucat mereka mengangguk dan dengan tubuh mandi darah mereka diam-diam mempersiapkan Pek-lian-ting dan golok di tangan.

Sambil berlari-lari Beng San tak dapat menahan keinginannya untuk menengok ke belakang melihat ke arah tiga orang teman yang sudah terluka itu.

Dua orang terluka dadanya tertancap anak panah, yang seorang terluka parah pahanya karena anak panah menancap dan menembus pahanya.

"Adik Beng San, tak usah menengok. Mereka akan tewas sebagai satria sejati, mereka akan gugur sebagai bunga bangsa, sebagai patriot pahlawan tanah air."

"Apa? Mereka akan mati? Dan kaudiamkan saja.....?"

Beng San tak dapat menahan teriakannya dan dia sekarang mogok betul-betul tidak mau lari lagi. Tan Hok tersenyum dan memberi isyarat kepada teman-temannya supaya lari terus. la sendiri berkata.

"Kau mau menyaksikan kegagahan mereka? Baik, mari kita intai dari sini."

La membawa Beng San ke beiakang sebuah batu besar dan berlutut di situ, mengintai ke arah tiga orang yang menggeletak tadi.

"Lihat, Adik Beng San. Lihat dan ingatlah selalu akan kegagahan kaum Pek-lian-pai, patriot-patriot sejati bisik Tan Hok. Barisan itu sudah tiba di tempat di mana tiga orang anggota Pek-lian pai itu menggeletak. Tiba-tiba tiga orang itu meloncat bangun dan menyambit dengan, Pek-lian-ting. Terdengar pekik kesakitan dan beberapa orang pengejar terjengang roboh. Komandan barisan itu marah sekali. Anak panahnya menyambar dan seorang di antara tiga orang Pek-lian-pai roboh dengan leher tertembus anak panah. Yang dua mengamuk, dikeroyok dan biarpun mereka berhasil melukai dua orang lawan, namun mereka sendiri roboh dengan tubuh hancur dihujani senjata para pengeroyoknya. Beng San menutupi mukanya, ngeri.

"Twako, mengapa mereka tadi tidak dibawa lari saja? Kenapa kau begitu tega membiarkan teman-teman sendiri mati seperti itu?"

Tan Hok menarik tangan Beng San, diajak berlari pergi menyusul kawan-kawan yang sudah lari terlebih dulu. Di belakang mereka, serdadu-serdadu itu bersorak dan pengejaran dilanjutkan.

"Kaudengar itu, Beng San? Kematian tiga orang teman kita tadi selain tidak rugi karena mereka dapat merobohkan beberapa orang musuh, juga merupakan kelanjutan siasat pancingan kita. Karena kita meninggalkan teman-teman yang terluka, tentu para serdadu mengira bahwa kita ketakutan betul-betul dan melarikan diri kacau-balau, bukan sedang menjalankan siasat. Dalam siasat perang, pengorbanan tiga orang teman bukan apa-apa, bahkan kalau perlu, pengorbanan tiga ribu orang pahlawan masih belum terhitung mahal demi tanah air dan bangsa. Kau dengar? Mereka mengejar terus. Hayo cepat, sudah dekat Pek-tiok-kok."

Yang disebut Pek-tiok-kok atau Lembah Gunung Bambu Putih itu adalah lembah gunung yang penuh jurang-jurang berbahaya dan di sana-sini terdapat rumpun bambu yang berwarna keputihan.

Jalan di daerah ini berbahaya sekali, kadang-kadang amat sempit, hanya dapat dilalui seorang saja dengan jurang-jurang dalam di kanan kiri yang juga penuh dengan rumpun bambu-bambu putih.

Memang amat indah, akan tetapi juga amat berbahaya.

Menyambung jalan sempit diapit-apit jurang itu adalah jalan sempit diapit-apit batu karang yang tinggi di kanan kiri.

Tan Hok membawa Beng San lari cepat melalui jalan sempit dan tiap kali terdengar suara-suara suitan di kanan kiri jalan, suara dari dalam jurang.

Itulah suara teman-teman mereka yang sudah lebih dulu sampai di tempat itu dan memasang barisan pendam!

Tan Hok dan Beng San lalu mendaki batu karang, mempergunakan sehelai tambang besar yang memang sudah dipasang oleh teman-teman mereka.

Di atas batu-batu itu, di kanan kiri, sudah menjaga pula beberapa orang teman.

Karena para anggota Pek-lian-pai itu pun sambil berlari membuang senjata golok mereka di sepanjang jalan, maka barisan pengejar makin bernafsu.

Mereka merasa yakin bahwa orang-orang Pek-lian-pai yang mereka kejar sudah ketakutan setengah mati bahkan sudah lelah, buktinya senjata-senjata golok mereka berserakan di jalan.

Dengan bersemangat mereka memasuki Lembah Gunung Bambu Putih, didahului oleh komandan mereka yang memegang golok besar.

Barisan itu merupakan iring-iringan panjang sekali ketika memasuki lereng ini, karena jalan sempit.

Setelah semua serdadu memasuki lembah gunung, tepat seperti yang diperhitungkan oleh para pejuang yang berpengalaman itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan dari atas batu-batu karang yang mengapit-aph jalan sempit, menggeludung turun batu-batu besar yang setibanya di jalan itu menge-luarkan suara hiruk-pikuk.

Debu mengebul dan jalan itu tertutup!

"Celaka, kita terjebak!

Mundur!"

Komandan itu berseru dengan wajah pucat.

Barisan itu menjadi kacau.

Takut kalau-kalau mendapat serangan gelap di jalan yang sempit itu, mereka saling tabrakan lari jatuh bangun untuk kembali melalui jalan sempit.

Akan tetapi tiba-tiba di depan tampak asap bergulung-gulung ke atas dan.....

rumpun-rumpun bambu di kanan kiri jurang ternyata telah dibakar orang!

Api menjilat-jilat tinggi sampai di jalan sempit sehingga tak mungkin lagi orang dapat melaluinya.

Barisan itu sudah terkurung, di depan dihalangi batu-batu besar, di belakang dihalang-halangi api.

Selagi mereka kebingungan, tiba-tiba menyambar paku-paku Pek-lian-ting, juga batu-batu besar menggelundung dari atas karang.

Teriakan-teriakan kesakitan terdengar, serdadu-serdadu itu mulai roboh dan keadaan menjadi makin panik.

Komandan mencoba untuk memberi perintah supaya semua bersikap tenang dan menghujani anak panah ke arah lawan.

Akan tetapi karena lawan tidak kelihatan sedangkan mereka berada di tempat terbuka tanpa perlindungan sama sekali, serdadu-serdadu itu menjadi bingung.

Lebih lagi ketika hujan api menyerang mereka, yaitu kayu-kayu terbakar yang dilemparkan ke arah mereka.

Serumpun bambu yang terbakar dilemparkan dari atas, tepat mengenai tubuh komandan pasukan itu.

la berteriak-teriak dan meloncat-loncat ke sana kemari, bajunya terbakar, demikian pula rambut dan jenggotnya.

Akhirnya dia menggelundung ke dalam jurang disambut api yang berkobar!

Beng San yang mengintai dari atas batu karang merasa kagum bukan main.

Benar-benar hebat.

Hanya sembilan orang saja mampu membasmi puluhan musuh.

Akan tetapi di samping kekagumannya, juga dia merasa ngeri dan bergidik.

Bagaimana sesama manusia dapat melakukan pembunuhan besar-besaran seperti ini?

Beng San cukup tahu bahwa serdadu-serdadu Mongol itu mempunyai kebiasaan yang jahat terhadap rakyat, seperti yang pernah dilihatnya baru-baru ini.

Akan tetapi menghadapi perang bunuh-bunuhan seperti itu, melihat manusia terpanggang anak panah, orang terbakar hidup-hidup, dan melihat orang ketakutan setengah mati, dia tak kuasa melihat lebih lama lagi dan Beng San membuang muka.

Hanya sebentar saja perang ini.

Siasat gerilya yang dilakukan oleh para anggota Pek-lian-pai benar hebat dan tak seorang pun di antara serdadu Mongol dapat meloloskan diri dari maut.

Di pihak Pek-lian-pai, hanya tujuh orang termasuk Tan Hok dan Beng San yang masih hidup.

Yang lain tewas terkena anak panah, bahkan ada yang ikut terbakar ketika dia sibuk membakari bambu untuk menjebak musuh.

Tan Hok dan teman-temannya lalu berpencaran meninggalkan tempat itu.

"Kau hendak ke mana, Beng San?"

Tanya Tan Hok ketika melihat anak ini agak pucat dan nampak berduka.

"Aku hendak pergi ke Hoa-san,"

Jawab Beng San singkat.

"Mari kau ikut saja denganku. Kau akan kumasukkan sebagai anggota Pek-lian-pai....."

"Tidak.....! Tidak Aku tidak sudi menjadi pembunuh!"

Tan Hok memandang heran, akan tetapi hanya sebentar saja. la maklum bahwa anak ini tadi merasa ngeri menyaksikan pembunuhan terhadap musuh-musuh itu. la menggandeng tangan Beng San.

"Baiklah, kalau kau belum kuat perasaanmu untuk maju berperang. Mari kuantar kau ke Hoa-san. Setelah apa yang terjadi di sini, amat berbahaya melakukan perjalanan seorang diri di daerah ini. Kalau kau berjumpa dengan serdadu, kau akan ditangkap, dipukuL dan dipaksa mengaku di mana adanya orang-orang Pek-lian-pai. Mari kau ikut aku, mengambil jalan rahasia untuk menuju ke Hoa-san."

Beng San menurut saja dan wajahnya yang cemberut dan muram dapat dimengerti oleh Tan Hok.

Maka pemuda raksasa itu di sepanjang jalan lalu menceritakan keadaan dirinya, menceritakan keadaan Pek-lian-pai.

"Semenjak kecil oleh guruku, aku telah ikut berkecimpung dalam perjuangan melawan pemerintah penjajah Mongol. Guruku yang sudah tidak ada lagi bernama Tan Sam adalah seorang tokoh terkenal di Pek-lian-pai. Kau tahu, Beng San, Pek-lian-pai merupakan perkumpulan kaum patriot yang anggotanya tersebar di seluruh negeri."

Dengan panjang lebar Tan Hok lalu menceritakan sepak terjang Pek-lian-pai dan kegagahan para anggotanya yang pantang mundur dan rela berkorban nyawa untuk membela bangsa.

Beng San yang sudah banyak membaca kitab kuno, banyak pula mendengar tentang riwayat para pahlawan, maka dia merasa kagum juga dan simpatinya terhadap Pek-lian-pai menjadi besar.

"Betapapun juga, perang bunuh-membunuh itu menyakitkan hatiku,"

Katanya sebagai komentar.

"Membunuh seorang dua orang penjahat masih dapat kuterima. Akan tetapi puluhan orang itu, biarpun mereka semua orang-orang Mongol atau kaki tangan pemerintah Mongol, apakah mungkin orang sebegitu banyaknya itu jahat-jahat semua?"

Tan Hok tertawa lebar.

"Di dalam perang, tidak ada istilah jahat ataukah tidak jahat. Tidak ada permusuhan pribadi. Tentu saja aku sendiri tidak membenci seorang pun serdadu Mongol atas dasar perasaan pribadi karena mengapa aku membenci seorang yang sama sekali tidak kukenal? Tentu saja andaikata mereka tadi itu bukan serdadu-serdadu Mongol, aku takkan sudi mengganggu mereka. Akan tetapi di dalam perang, mereka itu adalah musuh-musuh kita. Musuh rakyat yang harus dibasmi habis. Kalau tidak kita membunuh mereka, tentulah mereka yang akan membunuh kita."

Seorang anak sekecil Beng San yang belum pernah mendengar tentang politik kenegaraan, dah kebangsaan, mana bisa mengerti akan hal ini?

Apa yang pernah dia pelajari hanyalah tentang prikemanusiaan dan tentang filsafat hidup yang pada umumnya mencela kekerasan dan tidak membenarkan tentang bunuh-membunuh.

Betapapun juga, semangat Tan Hok dalam ceritanya membangkitkan rasa suka yang besar dalam hati Beng San, apalagi setelah raksasa muda itu menjelaskan tentang penjajahan dan kesengsaraan rakyat karena diperas oleh kaum penjajah yaitu bangsa Mongol.

"Sungguh menggemaskan kalau diingat,"

Demikian antara lain Tan Hok menceritakan, bangsa kita adalah bangsa yang besar, yang mempunyai rakyat banyak sekali.

Sebaliknya bangsa Mongol adalah bangsa perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal yang tertentu, juga rakyatnya hanya sedikit.

Akan tetapi bagaimana bangsa, kita malah dijajah dan diperbudak oleh bangsa Mongol?

Padahal kalau rakyat kita semua bangkit melakukan perlawanan, setiap orang Mongol sedikitnya akan berhadapan dengan tiga puluh orang kita!"

"Kenapa tidak semua rakyat mau bangkit melakukan perlawanan"

Tanya Beng San, mulai terbuka matanya dan dia pun merasa heran akan kenyataan ini. Tan Hok menarik napas panjang.

"Sayang diantara kita banyak yang mudah dipermainkan, masih banyak yang mabuk akan kesenangan diri sendiri tanpa mempedulikan keadaan rakyat jelata yang sengsara. Orang-orang kita yang pandai malah banyak yang menjadi kaki tangan Mongol, malah banyak pengkhianat-pekhianat seperti ini sengaja memusuhi Pek-Lian-pai untuk membantu pemerintah penjajah. Perbuatan keji dan tak tahu malu ini dilakukan hanya karena mengejar kesenangan duniawi untuk diri pribadi belaka. Tidak malu menjual bangsa sendiri kepada penjajah. Benar-benar memuakkan". Tan Hok latu menceritakan kepada Beng San tentang orang-orang dan golongan-golongan yang sengaja dipergunakan oieh pemenntah Mongol untuk menentang kaum pemberontak.

"Di antara mereka ini, yang paling menjemukan adalah kaum Ngo-lian-kauw. Ketuanya adalah Kim-thouw Thian-li. Dia itulah yang sudah membunuh guruku dan aku bersumpah demi tanah air dan keadilan, pada suatu hari aku pasti akan dapat membunuh siluman betina yang cabul itu!"

Teringat akan perbuatan Kim-thouw Thian-li dahulu yaitu setelah membunuh gurunya, lalu hendak membunuhnya pula, dia menjadi merah mukanya dan kebenciannya mendalam.

"Aku sudah mengumpulkan keterangan tentang Ngo-lian-kauw juga tentang semua perbuatan Kim-thouw Thian-li yang tak tahu malu. Perempuan cabul itu sengaja dipergunakan oleh pemerintah Mongol untuk melawan Pek-lian-pai. Dia benar-benar lihai dan jahat sekali, licin bagai belut dan banyak siasatnya."

"Mendengar namanya, Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas), tentulah dia seorang wanita yang baik. Sebutannya Thian-li (Bidadari), bagaimana bisa jahat? Pula, seorang wanita saja, apa dayanya terhadap Pek-lian-pai yang begitu banyak mempunyai anggota terdiri dari orang-orang gagah perkasa?"

Tan Hok tersenyum pahit.

"Sebetulnya itu hanyalah nama yang dipilihnya sendiri, bagiku dia lebih patut disebut iblis betina daripada bidadari. Tidak bisa dibantah bahwa dia memang cantik jelita. Kim-thouw Thian-li adalah murid tunggal dari Hekhwa Kui-bo yang terkenal jahat dan kejam....."

"Ahhh.....!"

"Kau sudah mendengar namanya?"

"Sudah..... sudah....."

Jawab Beng San yang tentu saja sudah mengenal baik nenek itu.

"Jangan kaukira bahwa Kim-thouw Thian-li biarpun wanita tak berdaya terhadap Pek-lian-pai. Dia licik dan selain banyak pula anggota Ngo-lian-kauw, juga di setiap tempat dia dibantu oleh para pembesar karena ia memiliki tanda kekuasaan dari kaisar sendiri. Sepak terjangnya amat licin dan curang. Baru-baru ini dia berusaha keras untuk merusak nama baik Pek-lian-pai dengan perbuatan-perbuatan jahat yang sengaja ia lakukan sambil meninggalkan tanda-tanda Pek-lian-pai. Tentu saja maksud perbuatannya ini adalah untuk merusak nama Pek-lian-pai, untuk menjauhkan Pek-lian-pai dari rakyat dan malah ia sengaja hendak mengadu domba Pek-lian-pai dengan partai-partai besar lain. Pendeknya, segala usaha tak tahu malu ia jalankan untuk melemahkan perjuangan menentang pemerintah Mongol. Malah aku sudah mendapat keterangan dari para penyelidik Pek-lian-pai bahwa dia sudah berhasil dalam usahanya mengacau perhubungan baik antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai."

Beng San kaget. la sudah mendengar "tentang partai-partai besar di dunia persilatan dari Lo-tong Souw Lee, malah sekarang pun dia membawa surat Lo-tong Souw Lee untuk ketua Hoa-san-pai.

"Kenapa pula dia mengganggu Hoa-san-pai. dan Kun-lun-pai?"

"Sekarang ini di seluruh negeri, para orang gagah bangkit semangatnya untuk melawan penjajah dan banyak yang menggabungkan diri dengan Pek-lian-pai. Un-tuk mencegah inilah maka Kim-thouw Thian-li merusak hubungan antara partai-partai besar agar bertengkar sendiri, terutama sekali agar mereka memusuhi Pek-lian-pai. Sayang sekali, seorang pendekar muda dari Kun-lun-pai telah kena dipikat olehnya, dijatuhkan oleh kecantikannya."

Tan Hok yang sudah mendengar dari para penyelidik Pek-lian-pai, bahkan sudah melihat dengan mata kepala sen-diri betapa penolongnya, yaitu Kwee Sin, terpikat oleh kecantikan Kim-thouw Thian-li, lalu menceritakan apa yang dia ketahui.

Betapa Kim-thouw Thian-li dengan bantuan orang-orangnya menyamar sebagai orang-orang Pek-lian-pai dan melakukan pelbagai kejahatan, di antara nya membunuh Liem Ta ayah Liem Sian Hwa tunangan Kwee Sin.

"Tentu saja maksudnya untuk mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai,"

Ia menutup ceritanya.

"malah bukan itu saja maksudnya. Ia hendak mengadu dombakan kedua partai besar itu dengan Pek-lian-pai, dan pernah dia melakukan penyerangan kepada dua saudara, Bun, murid-murid Kun-lun-pai dengan menyamar sebagai orang-orang Pek-lian-pai."

Beng San tertarik sekali.

"Alangkah kejam dan jahatnya wanita itu."

"Karena itulah aku dan teman-teman selalu memasang mata mencarinya. Awas dia kalau terjatuh ke dalam tangan Pek-lian-pai!"

Karena berjalan sambil bercakap-cakap, tak terasa lagi mereka sudah sampai di lereng Hoa-san. Tan Hok lalu menyuruh anak itu melanjutkan perjalanannya.

"Kau terus mengikuti jalan kecil ini dan di dekat puncak sana itulah bangunan dari Hoa-san-pai. Mulai dari sini tidak akan ada yang berani mengganggumu lagi. Aku harus kembali kepada teman-temanku. Adik Beng San, selamat berpisah dan mudah-mudahan kelak kita akan bertemu kembali."

Beng San memberi hormat.

"Tan-twa-ko, siapa tahu kelak aku pun akan dapat membantumu."

Mereka berpisah dan dengan cerita-cerita Tan Hok masih terbayang dalam benaknya, Beng San mendaki puncak Hoa-san.

Akan tetapi segera bayangan ini lenyap ketika dia melihat pemandangan alam yang amat indah dari puncak Hoasan itu.

Hawa udara pun amat segarnya.

la menghirup hawa sebanyaknya dan merasa bahwa dia akan betah tinggal di daerah ini.

* * * Sudah amat lama kita meninggalkan Kwa Hong, gadis cilik putera tunggal Kwa Tin Siong, bocah mungil yang lincah gembira itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kwa Hong diantar oleh Koai Atong menuju ke Hoa-san-pai menyusul ayahnya.

Koai Atong biarpun usianya sudah sebaya dengan Kwa Tin Siong, kurang lebih empat puluh tahun, namun orang ini memang tidak norrnal jiwanya dan wataknya kadang-kadang atau sering kali seperti seorang kanak-kanak sebaya Kwa Hong.

Oleh karena wataknya inilah maka Kwa Hong merasa senang sekali melakukan perjalanan bersama seorang teman yang cocok dan baik lagi lucu.

Di samping ini, juga kelihaian Koai Atong merupakan jaminan bagi keselamatannya.

Seperti juga di partai-partai persilatan besar seperti Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Siauw-lim-pai dan lain-lain, juga di puncak Hoa-san ini Hoa-san-pai merupakan pusat yang ditempati oleh banyak anak murid Hoa-san-pai.

Mereka ini adalah tosu-tosu yang selain mempelajari ilmu silat sekedarnya, terutama sekali mempelajari ilmu kebatinan yang diturunkan oleh Nabi Locu.

Di bawah bimbingan Lian Bu Tojin ketua Hoa-sanpai, para tosu ini rata-rata memiliki kesabaran besar dan dapat menjaga nama baik Hoa-san-pai sebagai orang-orang beribadat.

Kedatangan Kwa Hong menggirangkan para tosu yang menjaga di luar.

Mereka ini tentu saja mengenal baik puteri tunggal Kwa Tin Siong yang seringkali mengajak anaknya mengunjungi Hoa-san.

Akan tetapi para tosu ini pun terheran-heran melihat orang yang datang bersama Kwa Hong, seorang laki-laki tinggi besar berusia empat puluh tahun akan tetapi cengar-cengir dan ikut berlari-larian di samping Kwa Hong seorang anak kecil!

"Supek (Uwa Guru) sekalian!

Aku datang menyusul ayah.

Di mana ayah dan bibi guru?"

Datang-datang Kwa Hong berteriak-teriak kepada para tosu itu. Tiga orang tua menghampiri Kwa Hong sambil tersenyum.

"Ayahmu dan bibi gurumu tidak berada di sini, belum kembali. Kau baik segera pergi menghadap kakek gurumu, Hong Hong."

Para tosu itu biasa memanggil Kwa Hong dengan sebutan Hong Hong dan mereka-amat menyayang bocah yang mungil dan selalu gembira ini.

Memang, di antara para cucu murid Lian Bu Tojin, hanya Kwa Hong yang paling sering berdiam di puncak itu karena ia amat dimanja ayahnya dan sering kali ikut pergi mengembara dengan ayahnya.

Sambil berlari dan tertawa-tawa Kwa Hong hendak memasuki bangunan besar yang berbentuk kelenteng untuk menghadap sukongnya (kakek gurunya).

"Enci Hong, jangan tinggalkan aku! Aku ikut!"

Koai Atong juga lari mengejar.

"Hong Hong, kenapa kaubawa-bawa orang tolol ini? Eh, orang gila, jangan kurang ajar kau. Tidak boleh masuk!"

Tiga orang tosu itu tentu saja hendak melarang Koai Atong yang seenaknya saja hendak memasuki kelenteng itu. Mereka melangkah maju menghadang dan membentangkan kedua lengan menghalanginya.

"Aku mau ikut Enci Hong..... melihat-lihat kelenteng!"

Koai Atong membantah dan lari terus.

Tiga orang tosu itu menggerakkan tangan untuk memegangnya.

Koai Atong bergerak aneh dan.....

tahu-tahu dia telah dapat menyelinap masuk, lolos dari tangkapan tiga orang tosu itu.

Tentu saja tiga orang tosu ini saling pandang dengan mulut melongo.

Mereka tidak dapat mengikuti gerakan Koai Atong, tidak tahu bagaimana orang itu dapat meluputkan diri dari cengkeraman tiga orang dan tahu-tahu sudah menyelonong masuk.

Dari heran mereka menjadi malu dan marah.

"Otak miring, perlahan jalan. Kau tidak boleh masuk!"

Bentak mereka sambil lari mengejar.

Sekarang mereka mengambil keputusan untuk tidak bersikap lemah lagi, kalau perlu orang gila itu harus dipukul.

Akan tetapi ketika mereka maju untuk mencengkeram dan memukul, tanpa menoleh Koai Atong menggerakan kedua lengannya ke belakang.

Sekaligus dia menangkis tangan tiga orang tosu itu dan.....

tiga orang tosu itu terjengkang dan roboh!

Hal ini terlihat oleh beberapa orang tosu lain.

Mereka menjadi marah dan bersama tiga orang tosu pertama yang sudah bangun lagi, sekarang ada tujuh orang tosu mengejar Koai Atong dengan marah-marah.

Tosu-tosu ini serentak berhenti mengejar ketika mendengar suara halus dari dalam kelenteng.

"Jangan ganggu dia. Biarkan Koai Atong masuk ke dalam!"

Itulah suara Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai.

Tentu saja para tosu itu tak berani membantah, apalagi setelah mendengar bahwa orang tua yang seperti berotak miring itu adalah Koai Atong seorang kang-ouw yang sudah pernah mereka dengar namanya sebagai seorang yang berilmu tinggi akan tetapi yang berwatak seperti bocah!

Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas ketika Koai Atong yang mendengar suara Lian Bu Tojin itu kini menoleh kepada mereka, menyeringai dan meleletkan lidah seperti seorang anak nakal mengejek anak-anak lain!

Satu-satunya orang yang agak ditakuti oleh Kwa Hong adalah Lian Bu Tojin.

Kakek gurunya ini orangnya sabar sekali, bicaranya halus dan tidak pernah bersikap galak.

Akan tetapi bagi Kwa Hong, pandang mata kakek gurunya itu amat tajam dan langsung menjenguk isi hati orang, kadang-kadang berkilat dan membuat hatinya mengkeret.

Maka sekarang ia berlutut dengan hormat di depan kakek gurunya yang duduk bersila di atas lantai bertilam kasur tipis.

Koai Atong yang memasuki ruangan itu sambil celingukan dan pringas-pringis, setelah melihat kakek yang berjenggot panjang itu, segera pula menjatuhkan diri berlutut di sebelah Kwa Hong.

Lian Bu Tojin mengelus-elus jenggotnya yang panjang, tubuhnya yang tinggi kurus itu duduk bersila tegak, tongkat bambunya yang membuat namanya amat terkenal itu terletak di sebelah kirinya.

Bibirnya tersenyum dan dia mengangguk-angguk senang.

"Bagus, Hong Hong, kau Sudah datang. Eh, Koai Atong, terima kasih atas jerih payahmu mengantar dia ke sini. Bagaimana dengan gurumu?"

Koai Atong mengangkat muka memandang.

"Suhu..... entah di mana sekarang. Teecu mohon Totiang suka mintakan maaf kepada suhu kalau kelak suhu marah dan menghajar teecu. Tidak mestinya teecu sampai ke Hoa-san."

Dengan sabar Lian Bu Tojih mengangguk-angguk.

"Tentu saja, jangan kau khawatir. Gurumu Giam Kong Hwesio takkan marah apabila dia tahu bahwa kau mengantar cucu muridku ke sini, Kalau kau kembali dan bertemu padanya, sampaikan salamku kepadanya."

Koai Atong hanya mengangguk-angguk.

Kwa Hong ingin sekali bertanya tentang ayahnya kepada kakek gurunya itu, akan tetapi di depan kakek itu, entah mengapa, mulutnya sukar dibuka.

Kakek yang sudah kenyang makan asam garam penghidupan itu, sekali pandang saja dapat menduga apa yang dipikirkan Kwa Hong.

"Hong Hong, ayahmu bersama kedua susiok dan sukouwmu pergi turun gunung. Kurasa tak lama lagi, dalam beberapa hari ini akan datang. Di belakang sana ada seorang saudara-saudaramu, anak-anak dari kedua susiokmu. Kau ke sanalah bermain dengan mereka."

Wajah Kwa Hong tiba-tiba berseri gembira.

"Enci Bwee di situ?"

Ketika kakek itu mengangguk, Kwa Hong lalu bangkit dan lari ke belakang nnelalui pintu samping. Koai Atong yang masih berlutut, memandang ke arah larinya Kwa Hong, kemudian ia berkata.

"Totiang, perkenankan teecu bermain-main di sini selama beberapa hari dengan Enci Hong."

Lian Bu Tojin tersenyum akan tetapi suaranya tegas ketika berkata."Atong, kau boleh bermain-main dengan anak-anak itu di sini selama tiga hari.

Tak boleh lebih dari tiga hari.

Suhumu tentu akan menanti-nanti kembalimu."

Sambil mengangguk-angguk Koai Atong lalu berlari gembira mengejar Kwa Hong yang pergi menuju ke taman bunga di belakang kelenteng.

Setibanya di taman, bunga yang luas dan indah itu, Koai Atong melihat Kwa Hong sedang bercakap-cakap gembira dengan tiga orang anak lain, yaitu dua orang anak laki-laki yang tampan dan seorang anak pe-rempuan yang cantik seperti Kwa Hong.

Biarpun Kwa Hong tampak yang paling muda di antara mereka, namun jelas bahwa tiga orang anak-anak lain itu mengagumi dan menghormatnya, terlihat dari cara mereka itu mendengarkan kata-kata Kwa Hong yang sedang menyombongkan semua pengalamannya yang hebat-hebat, tentu saja dengan tambahan di sana-sini, agar lebih serem dan menarik.

Seperti kita telah ketahui, tiga ordng anak itu bukan lain adalah Thio Ki dan Thio Bwee, putera-puteri Thio Wan It, dan yang seorang lagi adalah Kui Lok putera tunggal Kui Teng.

Tiga orang anak itu masih berada di Hoa-san menanti orang tua mereka sambil memperdalam ilmu silat di bawah asuhan Lian Bu Tojin sendiri.

Oleh karena Kwa Hong adalah puteri dari orang pertama dari Hoa-san Sie-eng, apalagi karena memang Kwa Hong lebih sering dan lebih banyak merantau daripada mereka, ditambah lagi sifat yang lincah gembira, membuat tiga orang anak itu amat mengagumi Kwa Hong.

Tiba-tiba Kui Lok menudingkan telunjuknya ke arah seorang yang berlari-lari memasuki taman.

"Eh, dari mana datangnya orang gila?"

Semua anak menoleh dan melihat seorang laki-laki tinggi besar berlari datang sambil tertawa-tawa.

Pakaian dan sepatu laki-laki tinggi besar ini berkembang-kembang seperti yang biasa dipakai wanita.

Tentu saja dia ini adalah Koai Atong yang amat gembira melihat taman bunga begitu indah dan di situ terdapat banyak teman bermain pula.

Kwa Hong tertawa.

"Dia bukan orang gila. Dia itulah Koai Atong yang baru saja kuceritakan tadi. Dia lihai bukan main, orangnya lucu dan pandai bermain-main. He, Koai Atong, ke sinilah. Banyak teman di sini!"

Sambil berloncat-loncatan Koai Atong mempercepat larinya, congklang seperti seekor kuda besar.

"Wah, Enci Hong. Aku senang di sini, banyak bunga indah. Tosu tua itu sudah memberi ijin kepadaku tinggal di sini selama tiga hari. Hore, kita bisa bermain-main sepuasnya!"

Thio Ki dan Kui Lok memandang dengan kening berkerut, sedangkan Thio Bwee memandang dengan perasaan agak ngeri dan jijik.

Bagaimana mereka bisa bermain-main dengan seorang gila seperti ini?

Tanpa mempedulikan sikap tiga orang anak yang lain itu, Kwa Hong berkata gembira kepada Koai Atong.

"Eh, Atong, kau berkenalan dulu dengan teman-teman ini yang semua adalah orang-orang sendiri."

Dia menyebut nama tiga orang anak itu seorang demi seorang.

Dengan sepasang matanya yang berputaran, Koai Atong memandang tiga orang anak itu seorang demi seorang.

Thio Bwee sampai melangkah mundur setindak saking ngerinya.

"Masa orang tua bermain-main dengan anak-anak?"

Thio Ki mencela sambil memandang tajam kepada Koai Atong. la tidak percaya kepada orang tinggi besar ini yang menurut pandangannya tentu bukan orang baik-baik.

"Benar, Ki-ko (Kakak Ki). Aku pun tidak sudi bermain-main dengan dia. Iiihhh, kakek-kakek mau bermain dengan anak kecil!"

Thio Bwee memperkuat pendapat kakaknya. Akan tetapi Kui Lok tiba-tiba berkata Sambil memandang Kwa Hong.

"Kalau Adik Hong sudah menjadi temannya, mengapa kita tidak? Koai Atong, aku suka bermain-main denganmu."

Thio Bwee menoleh kepada Kui Lok.

Sepasang matanya berapi.

Biasanya anak ini pendiam, akan tetapi entah mengapa, ia agaknya marah sekali kepada Kui Lok."Kau memang selalu lain daripada orang lain.

Tidak hanya tangan, juga pikiranmu!"

Wajah Kui Lok menjadi merah mendengar sindiran ini. la maklum bahwa Thio Bwee menyindir tangannya yang kidal. Kwa Hong tertawa, sama sekali tidak marah karena temannya dicela.

"Dulu pun aku tidak suka, akan tetapi setelah melihat betapa lihainya Koai Atong, dan betapa dia baik hati dan penurut, aku menjadi suka padanya. Hemmm, kalian ini bertiga menghadapi tangan kirinya saja takkan mampu mengalahkannya. Dia lihai sekali, mungkin tidak kalah oleh ayah kalian."

"Bohong..,..!"

Seru Thio Bwee marah;

"Aku tidak percaya.....!"

Kata Thio Ki penasaran. Kui Lok juga terpukul oleh ucapan Kwa Hong itu. la ragu-ragu, mengerutkan kening dan menggeleng-geleng kepala.

"Ah, agaknya tak mungkin....."

Akhirnya dia berkata.

"Kalian tidak percaya? Kurasa, dua orang ayah kalian maju bersama masih tidak mampu melawan Koai Atong. Kalian tahu? Dia pernah menolong ayah dan bibi guru. Hebat sekali. Penjahat-penjahat lihai dia kalahkan hanya dengan memutar-mutar tangan kiri seperti ini....."

Dengan lincah dan lucu Kwa Hong lalu memutar-mutar tangan kiri beberapa lama sambil menggigit bibir, kemudian sambil berseru.

"mati.....!"

Tangan kirinya itu mendorong ke depan ke arah batang pohon besar yang tumbuh di situ. Beberapa helai daun pohon gugur dari tangkainya.

"Ah, Enci Hong, kurang tenaga..... kurang tenaga.....! Gerakanmu sudah cukup indah, tapi pukulan itu belum mengandung tenaga. Lihat begini Iho!"

Koai Atong lalu memutar-mutar tangan kirinya seperti yang dilakukan Kwa Hong tadi, menggerakkan tangan itu perlahan kedepan, ke arah pohon yang tadi.

Hebat sekali akibatnya.

Pohon yang jaraknya antara dua meter dari tempat dia berdiri, tidak kelihatan goyang akan tetapi tiba-tiba semua daunnya rontok dari atas seperti hujan.

Ketika semua anak memandang, ternyata bahwa pohon itu tiba-tiba menjadi gundul tak berdaun lagi!

Kwa Hong tersenyum girang dan bangga ketika melihat betapa Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok memandang dengan muka pucat.

Bahkan Kui Lok meleletkan lidahnya saking heran dan kagumnya!

"Nah, bukankah dia hebat dan lucu?, Kalau kalian berbaik kepadanya, kalian juga bisa mempelajari ilmunya, seperti aku.

Kelak kita akan menjadi orang-orang yang lebih lihai daripada ayah.

Bukankah hebat?"

Kata pula Kwa Hong.

"Heee, siapa bikin rontok semua daun pohon itu? Celaka, pohon itu akan mati!"

Seruan ini dibarengi munculnya tiga orang tosu dari pintu taman.

Ketika tiga orang tosu itu melihat Koai Atong, mereka makin marah.

Mereka ini bukan lain adalah tosu-tosu yang tadi telah dirobohkan Koai Atong.

Seorang diantara mereka, yang matanya juling, melangkah maju dan menudingkan jari telunjuknya ke arah Koai Atong sambil membentak.

"Orang gila ini berada di sini? Hong Hong, jangan biarkan dia di sini. Tentu dia yang merusak pohon itu. Ah, celaka, Hoa-san-pai kedatangan iblis gila!"

Kwa Hong melihat Koai Atong cengar-cengir dan mengejek ke arah tiga orang tosu itu dengan mulut dan mata dimain-mainkan, matanya melotot plerak-plerok dan mulutnya kadang-kadang dipencas-penceskan atau lidahnya dikeluarkan dan diulur ke arah tiga orang tosu itu.

Sambil menahan ketawanya melihat "kenakalan"

Koai Atong, Kwa Hong cepat berkata.

"Sam-wi Supek (Uwa Guru Bertiga) harap jangan marah. Koai Atong sudah mendapat perkenan sukong (kakek guru) untuk bermain-main di sini selama tiga hari."

Tiga orang tosu itu cemberut dan . bersungut-sungut.

"Orang gila diperbolehkan mengacau taman, merusak bunga dan merusak watak anak-anak. Celaka.....! Biarlah, pinto (aku) akan berdoa selama tiga hari kepada para dewa agar supaya dia dikutuk.....!"

Kata tosu bermata ju-ling sambil mengajak teman-temannya . pergi. Setelah menyaksikan ketihaian Koai Atong, di dalam hati tiga orang anak itu timbul keinginan hendak mempelajari ilmu pukulan tadi.

"Koai Atong, kau memang lihai. Ajarkan ilmu pukulan tadi kepadaku!"

Kata Kui Lok mendekati.

"Kami pun ingin mempelajarinya,"

Kata Thio Ki dengan sikapnya yang masih angkuh.

Thio Bwee diam saja akan tetapi diam-diam ia mengambil keputusan bahwa kalau semua orang mempelajari, iapun takkan ketinggalan.

Melihat betapa anak-anak itu semua sekarang suka kepadanya, Koai Atong menjadi gembira sekali.

Memang dia sudah tua, namun jiwanya memang tidak normal, sifatnya seperti kanak-kahak yang tentu saja merasa bangga dan suka apabila anak-anak lain kagum kepadanya, Ia tertawa-tawa dan berkata.

"Mau belajar? Boleh, boleh, akan tetapi tidak mudah. Biarlah kita pergunakan pohon-pohon di taman ini sebagai lawan dalam latihan. Lihatlah baik-;baik bagaimana gerakan tangan kiri, di mana letaknya tangan kanan dan bagaimana kedudukannya kedua kaki. Begini."

Koai Atong lalu memberi petunjuk yang diturut oleh tiga orang anak itu.

Mula-mula Thio Bwee masih malu-malu, akan tetapi kemudian melihat betapa Kwa Hong juga memberi petunjuk-petunjuk, ia menjadi tertarik dan ikut-ikut juga.

"Sudah bagus, sudah baik. Kalian cucu-cucu murid Hoa-san-pai memang berbakat,"

Kata Koai Atong senang.

"Sekarang mari coba memukul pohon-pohon itu. Kalian lihat baik-baik."

Koai Atong menghampiri sebatang pohon besar dan dengan sepenuh tenaga dia mendorong dengan gerakan pukulan Jing-tok-ciang.

Akan tetapi pada saat itu, dari belakang pohon berkelebat bayangan orang dan di situ telah berdiri Lian Bu Tojin, tangan kiri memegang tongkat bambunya sedangkan tangan kanannya diluruskan untuk menyambut dorongan tangan kiri Koai Atong.

"Atong, jangan merusak pohon..."

Kata tosu tua itu.

Koai Atong yang berwatak kanak-kanak itu pada dasarnya bukanlah dari kalangan baik-baik, maka setiap kali dia dilawan, dia tentu akan mempergunakan kepandaiannya urituk mencapai kemenangan.

Maka begitu dia merasa betapa pukulannya Jing-tok-ciang disambut oleh tangan kakek itu, dia mengerahkan tenaga dan melanjutkan pukulan itu dengan dorongan maut yang penuh hawa Jing-tok-ciang (Racun Hijau).

Kedua tangan itu bertemu dan lengket.

Tangan kiri Koai Atong berubah kehijauan.

Akan tetapi Lian Bu Tojin hanya berdiri tersenyum sambil memandang tajam.

la maklum akan watak seorang seperti Koai Atong yang tentu tidak jauh dengan watak guru anak tua ini, teman baiknya, Ban-tok-sim Giam Kong.

Dari julukannya saja, Ban-tok-sim berarti Hati Selaksa Racun.

Dapat dibayangkan bagaimana watak guru Koai Atong.

Kwa Hong dan teman-temannya adalah anak-anak dari para ahli silat Hoa-san-pai.

Sebagai anak-anak yang semenjak kecil kenal akan seluk-beluk persilatan tingkat tinggi, tentu saja mereka tahu apa yang sedang terjadi antara Koai Atong dan sukong (kakek guru) mereka, yakni adu kepandaian atau lebih tepat adu tenaga dalam.

Mereka memandang dengan muka berubah dan mata bersinar-sinar.

Ada dua menit Koai Atong dan ketua Hoa-san-pai itu berdiri tegak sambil meluruskan tangan.

Akhirnya Lian Bu Tojin berkata perlahan.

"Koai Atong, kau sudah maju banyak."

Begitu ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba tubuh Koai Atong terdorong ke belakang sampai lima langkah tanpa dapat dicegahnya Jagi.

Mukanya menjadi merah sekali dan tiba-tiba Koai Atong mengeluarkan anak panahnya yang berwarna hijau.

Inilah senjatanya yang ampuh dan hebat.

Lian Bu Tojin melihat ini lalu tertawa.

Tentu saja dia tidak bisa menganggap murid temannya ini sebagai musuh atau lawan yang seimbang.

"Aha, Atong, kau hendak memperlihatkan ilmu Silat anak panah? Silakan, silakan, biar kau nanti dapat melapor kepada gurumu bahwa ketua Hoa-san-pai biarpun sudah tua belum lemah benar....."

Ucapan ini merupakan perkenan bagi Koai Atong yang tadinya masih ragu-ragu untuk menyerang kakek itu.

Tiba-tiba dia berseru keras dan tubuhnya berkelebat ke depan.

Sekaligus anak panah di tangannya sudah melakukan serangan susul-menyusul sampai delapan kali banyaknya.

Anak panah itu berubah menjadi segulung sinar hijau menyambar-nyambar ke arah diri kakek itu.

Kwa Hong dan teman-temannya memandang penuh kekhawatiran.

Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan tenang menggerakkan tongkat bambunya.

Terdengar bunyi keras delaparnkali ketika anak panah itu selalu terbentur tongkat bambu ke manapun juga digerakkan.

Memang ilmu pedang Hoa-san-pai amat hebat.

Jelas kelihatan oleh Kwa Hong dan teman-temannya bahwa kakek gurunya itu hanya mainkan jurus Tian-mo-po-in (Payung Kilat Sapu Awan) dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-hoat.

Akan tetapi cara pergerakannya sedemikian sempurnanya sehingga delapan macam serangan dari Koai Atong dapat digagalkan!

Kemudian terdengar seruan perlahan dari kakek itu "Koai Atong, jagalah Jurus dari Hoa-san ini."

Tongkat bambu bergerak perlahan dan.....

anak panah terlepas dari tangan Koai Atong, terlempar keatas.

Namun Koai Atong memperlihatkan "kelihaiannya.

la dapat menggulingkan tubuh melepaskan diri dari lingkaran tongkat bambu, kemudian tubuhnya melesat ke atas dan tahu-tahu anak panah sudah dipegangnya lagi.

la mengeluarkan i.suara seperti orang menangis kemudian...,,.

dia lari tunggang-langgang meninggalkan taman seperti seorang anak kecil nakal melarikan diri karena takut mendapat hukuman.

Lian Bu Tojin tertawa dan mengerahkan khikang berkata ke arah larinya Koai Atong.

"Atong, sampaikan salamku kepada gurumu Giam Kong!"

Setelah Koai Atong pergi, kakek ini berubah mukanya. Kini keren dan sungguh-sungguh. la menghadapi Kwa Hong dan teman-temannya, lalu terdengar kakek ini berkata, suaranya menahan kemarahan.

"Kwa Hong, bagaimana bunyi larangan ke tiga dari Hoa-san-pai?"

Berubah wajah Kwa Hong, agak pucat.

Kalau kakek gurunya sudah memanggil namanya dengan penuh, tidak Hong Hong seperti biasanya, itu dapat diartikan bahwa kakek gurunya benar-benar marah.

Setelah menjura ia berkata sambil menundukkan muka.

"Larangan ke tiga berbunyi . Setiap orang murid Hoa-san-pai tidak boleh mempelajari ilmu silat dari luar Hoa-sanpai tanpa seijin gurunya.

"Hemmm, baik kau masih ingat. Tapi, kenapa kau tadi mempelajari Jing-tok-ciang yang amat keji itu dari Koai Atong?"

Suara tosu tua itu makin marah kedengarannya membuat Kwa Hong kaget dan takut sekali.

la memang paling takut kepada kakek gurunya ini.

Akan tetapi ia pun merasa heran mengapa orang tua ini marah-marah, padahal biasanya amat sabar.

"Saya..... saya mengaku salah, Sukong. Siap menerima hukuman!"

Anak perempuan ini menjatuhkan diri berlutut di depan kakek gurunya.

Tiga orang anak yang lain melihat ini menjadi ketakutan dan mereka pun serta-merta menjatuhkan diri berlutut dan berkata hampir berbareng.

"Teecu juga mengaku salah dan siap menerima hukuman". Melihat cucu-cucu muridnya berlutut menerima hukuman dan sikap anak-ketaatan akan peraturan Hoa-san-pai, sikap yang memang sudah terkenal dari murid-murid Hoa-san-pai.

"Kalian tahu,"

Katanya, suaranya masih keren.

"apa hukuman bagi murid yang melanggar larangan ke tiga itu?"

Empat orang anak itu mengangguk.

"Si pelanggar harus membuang ilmu yang dipelajarinya di luar Hoa-san-pai, kalau perlu badannya dirusak agar ilmu itu tak dapat dipergunakan. Baiknya kalian belum pandai mempergunakan Jing-tok-ciang, kalau sudah pandai, pinto (aku) takkan segan-segan mematahkan tangan kiri kalian!"

Jelas tampak betapa empat orang anak itu pucat dan gemetar mendengar ini.

"Hong Hong, kelancanganmu belajar dari Koai Atong masih belum berbahaya kalau dibandingkan dengan perbuatanmu membujuk saudara-saudara seperguruan untuk mempelajarinya pula. Perbuatan itu buruk sekali."

Biarpun ia dimarahi, namun Kwa Hong yang cerdik menjadi lega mendengar cara kakek itu menyebut namanya. Itu berarti bahwa kakek gurunya tidak marah lagi kepadanya.

"Teecu tidak membujuk, Sukong. Mereka memang suka mempelajari setelah melihat Koai Atong memukul pohon."

"Betul, Sukong. Teecu yang bersalah, ingin belajar, sama sekali tidak dibujuk oleh Adik Hong,"

Kata Kui Lok cepat-cepat.

"Teecu juga tidak dibujuk,"

Sambung Thio Ki. Thio Bwee diam saja, hanya melirik ke arah Kui Lok.

"Sudahlah,"

Kata kakek itu.

"Kalian anak-anak harus ingat baik-baik. Sebetulnya bagi aku sendiri yang menjadi ketua Hoa-san-pai, mempelajari ilmu silat dari lain golongan bukanlah hal yang amat buruk. Akan tetapi mengapa diadakan peraturan dan larangan di Hoa-san-pai? Bukan lain untuk menjaga dan mencegah anak-anak murid Hoa-san-pai menyeleweng mempelajari ilmu yang sesat. Kalau sampai terjadi demikian, kalau sampai ada anak murid Hoa-san-pai mempelajari ilmu yang sesat kemudian menyeleweng dan melakukan perbuatan jahat, bukankah hal itu akan merusak nama baik Hoa-san-pai?"

"Sukong,"

Kata Kwa Hong yang sekarang sudah timbul keberaniannya.

"Apakah ilmu silat dari Koai Atong termasuk ilmu sesat?"

Kakek itu menarik napas panjang dan mengelus jenggotnya.

"Sesungguhnya, kalau mau berkata secara jujur, di dunia ini tidak ada ilmu yang sesat. Semua ilmu itu baik tergantung kepada si pemakai ilmu. Ilmu dapat menjadi baik kalau dipergunakan untuk kebajikan. Sebaliknya, biarpun ilmu yang amat bersih, apabila dipergunakan untuk kejahatan, dapat menjadi ilmu yang kotor dan buruk."

Empat orang anak itu saling pandang tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh sukong mereka. Kakek inipun maklum agaknya, maka sambil tersenyum dia berkata lagi.

"Biarlah kujelaskan. Misalnya ilmu bun (kesusastraan), siapa bilang bahwa ilmu membaca dan menulis ini bersifat buruk? Akan tetapi tetap saja baik buruknya tergantung pada pemakai ilmu. Ilmu ini baik apabila pergunakan untuk membuat sajak-sajak indah, menuliskan ilmu-iimu yang tinggi dan sebagainya. Akan tetapi bukankah menjadi ilmu yang amat buruk dan jahat apabila dipergunakan orang untuk membuat surat-surat fitnah, membuat laporan-laporan palsu, dan lain-lain seperti yang sekarang ini sering kali dilakukan orang?"

Barulah Kwa Hong dan teman-temannya mengerti.

Memang pada waktu itu, sebagian besar rakyat tidak pandai membaca menulis.

Sepucuk surat fitnah saja cukup untuk mencabut nyawa seorang yang buta huruf.

Apalagi di kota-kota besar dan terutama di kota raja, kepandaian menulis menjadi senjata yang lebih ampuh daripada selaksa pedang dan lebih jahat dan keji daripada ular-ular berbisa.

"Nah, jelaskah sekarang? Baru ilmu menulis saja sudah begitu jahat, apalagi ilmu silat. Aku tidak mau bilang bahwa ilmu yang diajarkan oleh Koai Atong itu jahat, akan tetapi sifat dari Jing-tok-ciang amatlah berbahaya. Ilmu pukulan itu tidak ada ampunnya, sekali dipergunakan, kalau yang menerima kurang kuat, bisa merenggut nyawa. Kalau tadi aku tidak kuat menahan pukulannya, apakah sekarang aku tidak sudah menggeletak mampus? Ha..ha..ha!"

Kwa Hong dan teman-temannya bergidik dan baru terbuka mata mereka akan perbedaan ilmu silat Hoa-san-pai dan Ilmu Jing-tok-ciang.

Dari kata-kata kakek gurunya itu mereka tahu bahwa sebetulnya ilmu silat Hoa-san-pai tidak usah kalah oleh Jing-tok-ciang, sungguhpun Jing-tok-ciang kelihatan luar biasa dan mujijat.

"Kalian yang tekun belajar ilmu silat kita sendiri, yang rajin berlatih. Kalau ilmu silat kalian sudah mencapai tingkat setaraf dengan tingkat Koai Atong, kalian takkan kalah olehnya."

Kakek ini menarik napas panjang dan berkata lagi, perlahan seperti pada diri sendiri.

"Sayangnya..... sampai sekarang tidak ada tulang cukup baik untuk menjadi ahli waris Hoa-san-pai..... yang sebaik Koai Atong saja tidak ada....."

Setelah berkata demikian, dengan muka sedih kakek ini meninggalkan taman.

Terbangkit semangat Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok mendengar wejangan-wejangan Lian Bu Tojin tadi.

Mereka lalu berlatih dengan giat, setiap saat mereka berempat dapat terlihat berlatih silat di dalam taman atau di lian-bu-thia (ruang berlatih silat) di bawah petunjuk Lian Bu Tojin sendiri.

Tentu saja di dalam beberapa bulan mereka mendapatkan kemajuan yang luar biasa.

Dengan adanya teman-teman berlatih, mereka seakan-akan berlomba untuk melebihi temannya dan hal ini pula yang mempercepat kemajuan mereka.

Akan tetapi, terjadi keganjilan yang menyolok.

Hal ini hanya dapat diketahui oleh Kwa Hong dan Thio Bwee.

Anak-anak perempuan tentu saja lebih halus perasaannya dan tahu membedakan sikap anak laki-laki.

Baik Kwa Hong maupun Thio Bwee dapat melihat bahwa selain berlumba dalam latihan, agaknya antara Thio Ki dan Kui Lok juga ada lain perlombaan lagi, yaitu berlomba menyenangkan atau merebut perhatian Kwa Hong, si gadis cilik yang lincah gembira, bermata bintang dan agak galak itu!

Kwa Hong menghadapi kenyataan ini dengan bangga dan sikapnya menjadi makin manja, tinggi hati, dan agaknya mempermainkan dua orang anak laki-laki itu.

Sebaliknya, Thio Bwee yang pendiam, hanya sering nampak murung kalan melihat Kui Lok bermain-main dengan sikap bermuka-muka di depan Kwa Hong, mencarikan bunga, mernbuat mainan dari rumput dan lain-lain.

Waktu berlalu cepat.

Anak-anakitu ditinggal orang tua mereka di puncak Hoa-san-pai sudah ada empat bulan lebih.

Ketika Hoa-san Sie-eng datang ke puncak Hoa-san, anak-anak itu merasa gembira, akan tetapi ternyata bahwa orang tua mereka itu masih belum mau meninggalkan Hoa-san.

Kwa Tin Siong dan tiga orang adik seperguruannya menceritakan kepada Lian Bu Tojin tentang pertemukan mereka dengan dua orang saudara Bun, malah memberitahukan pula bahwa Kun-lun Sam-hengte akan datang ke Hoa-san dalam waktu lima bulan lagi.

Lian Bu Tojin rnengelus jenggot dan menggeleng kepala.

"Tidak disangka sama sekali akan terjadi hal yang begini tak menyenangkan,"

Katanya.

"Selama puluhan tahun, hubunganku dengan Pek Gan Sian-su ketua Kun-lun-pai adalah hubungan saudara. Malah kami ingin mempererat hubungan dengan menjodohkan murid-murid kami. Siapa tahu malah malape-taka timbul karena ini."

Dengan air mata berlinang Sian Hwa berkata.

"Ampunkan teecu Suhu. Teecu telah menimbulkan kedukaan di hati Suhu, akan tetapi..... apakah daya teecu? Ayah teecu dibunuh oleh..... oleh..... keparat itu....."

Lian Bu Tojin mengangkat tangannya.

"Kau tidak salah Sian Hwa, kau tidak salah. Malah pinto yang sebetulnya merasa berdosa. Pinto yang menjodohkan kau dengan murid Kun-lun-pai, siapa tahu....."

Kakek itu berulang kali menarik napas panjang.

"Persoalan ini tentu akan segera dibikin terang setelah Kun-lun Sam-hengte tiba di sini lima bulan lagi, Suhu. Kwa Tin Siong menghibur.

"Biarlah lima bulan lagi teecu bersama datang lagi dan berkumpul di sini untuk menghadapi murid-murid Kun-lun-pai."

"Kalian pulanglah, akan tetapi anak-anak itu biarkan di sini saja. Bukankah lima bulan lagi kalian datang? Aku ingin melihat sendiri kemajuan mereka, terutama membimbing watak mereka. Tin Siong dan kau, Wan It dan Kui Keng, tentu rela meninggalkan anak-anak kalian di sini untuk lima bulan lagi, bukan?"

"Tentu saja, Suhu. Malah teecu menghanturkan banyak terima kasih bahwa Suhu sendiri berkenan membimbing mereka,"

Jawab tiga orang murid itu serempak.

"Suheng sekalian, jangan khawatir, aku berada di sini menemani mereka,"

Kata Sian Hwa.

Makin gembira hati mereka, juga Lian Bu Tojin girang sekali mendengar bahwa Sian Hwa yang sudah tidak ada keluarga lagi itu hendak ikut menanti di Hoa-san selama lima bulan.

Demikianlah, Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng turun dari Hoa-san untuk pulang ke rumah masing-masing sedangkan Sian Hwa tinggal di Hoa-san bersama murid-murid keponakannya.

Gadis yang sedang menderita tekanan batin ini menghibur hatinya dengan melatih silat kepada keponakan-keponakannya.

Agak terhiburlah hatinya melihat anak-anak yang gembira dan lincah itu.

Apa-lagi terhadap Kwa Hong, Sian Hwa amat menyayangnya.

* * * Pada waktu terjadi perang kecil antara serombongan orang Pek-lian-pai yang dipimpin oleh Tan Hok melawan pasukan Mongol yang mengakibatkan musnahnya pasukan Mongol di kaki Gunung Hoa-san, beberapa orang tosu Hoa-san-pai melaporkan hal itu kepada Sian Hwa.

Memang gadis ini dianggap orang yang paling pandai di antara para tosu.

Lian Bu Tojin sendiri sedang bersamadhi dan sama sekali tidak boleh diganggu, maka kepada Sian Hwa mereka itu menuturkan tentang perang di kaki gunung.

Mendengar ini, dengan dikawani lima orang tosu kepala yang sudah tinggi kepandaiannya, Sian Hwa lalu berlari turun dari puncak.

Kepada anak-anak keponakannya ia berpesan agar supaya jangan meninggalkan taman dan bermain-main di dalam taman saja.

Kedatangan Sian Hwa dan lima orang tosu di tempat pertempuran sudah terlambat.

Tan Hok dan teman-temannya, termasuk Beng San, sudah lama meninggalkan tempat itu dikejar pasukan Mo-ngol lain yang lebih besar jumlahnya dan yang seperti kita telah ketahui, dipancing untuk mengalami kehancuran di Pek-tiok-kok.

Liem Sian Hwa hanya mendapatkan tanah yang baru digali, yaitu tempat di mana mayat-mayat serdadu Mongol dikubur oleh Beng San dan yang kemudian dibantu oleh Tan Hok dan teman-temannya.

Melihat adanya sebuah bendera Pek-lian-pai di pohon, timbul kemarahan di hati Sian Hwa.

Betapapun juga, Pek-lian-pai sekarang sudah menjadi musuh besarnya.

Bukankah, ayahnya terbunuh oleh orang Pek-lian-pai dah Kwee Sin?

Saking marahnya, ia merenggutkan bendera itu dari pohon dan merobek-robeknya, Seorang tosu mendekati dan berkata.

"Sumoi, kenapa kau merobek-robek bendera Pek-lian-pai itu? Bukankah itu bendera orang-orang yang melawan pasukan Mongol?"

"Pek-lian-pai perkumpulan orang-orang jahat! Kalau aku melihat mereka tadi di sini, akan kulawan dan kubasmi semua!"

Seru Sian Hwa dengan suara marah.

"Suheng sekalian apakah tidak ingat bahwa ayahku terbunuh oleh paku Pek-lian-ting. milik Pek-lian-pai? Bagaimana aku tidak akan memusuhinya?"

"Bagus, bagus! Memang Pek-lian-pai jahat sekali, patut dibasmi! tiba-tiba terdengar suara orang dan ketika Sian Hwa menengok, ternyata yang bicara adalah seorang laki-laki muda yang tampan, selalu tersenyum dan pakaiannya indah sekali. Muka gadis itu seketika menjadi merah karena sinar mata pemuda ini amat tajam, bersinar-sinar tidak menyembunyikan kekagumannya ketika menatap kepadanya. Orang muda itu lalu memberi hormat, menjura sambil mengangkat kedua tangan dengan sikap yang halus sekali sehingga tiada kesempatan bagi Sian Hwa untuk marah.

"Maafkan saya, Nona. Saya Souw Kian Bi dan saya merasa sangat cocok dengan pendapat Nona tadi. Memang Pek-lian-pai adalah perkumpulan orang-orang jahat". Liem Sian Hwa tak mungkin dapat marah terhadap orang yang bersikap manis dan hormat sungguhpun hatinya tidak senang melihat kelancangan orang ini. Terpaksa oleh sopan santun ia balas menjura dan berkata singkat.

"Saya tidak ada urusan dengan Tua, ini juga tidak mengenal Tuan. Maafkan bahwa saya tidak sempat bercakap-cakap lebih lama lagi."

Nona ini membalikkan tubuh hendak pergi. Souw Kian Bi melangkah maju.

"Perlahan dulu, Nona. Apa salahnya kalau kita sekarang berkenalan? Apakah Nona anak murid Hoa-san-pai?"

Lima orang tosu yang mengawani Sian Hwa merasa tidak senang melihat ada seorang muda berani menegur sumoi mereka. Dianggapnya pemuda itu kurang ajar. Seorang di antara para tosu itu mencela.

"Sumoi tidak ada urusan denganmu, orang muda. Harap jangan mengganggu lebih jauh."

Sambil berkata demikian, tosu itu menggerakkan tangan bajunya untuk mendorong orang muda itu minggir karena orang itu menghalangi jalan.

Tentu saja dia mengerahkan tenaga untuk memperlihatkan kepandaian dan untuk menakut-nakuti orang muda itu.

Orang muda itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, akan tetapi ketika lengan baju itu mengenai dadanya, bukan pemuda itu yang terdorong, melainkan tosu tadilah yang terpelanting.

Tosu itu berseru kaget dan menjadi marah.

"Eh, kau mau main-main?"

Bentaknya sambil mencengkeram ke arah pundak.

"Suheng, jangan.....!"

Sian Hwa memperingatkan tosu itu karena gadis ini melihat bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, terbukti dari gerakan kakinya ketika terdorong tadi.

Namun terlambat, tangan tosu itu terpelanting.

Hanya kali ini terpelanting keras sampai terbentur batu dan mengeluarkan darah.

Empat orang tosu yang lain menjadi marah sekali.

"Keparat, berani kau merobohkan saudara kami?"

Serentak empat orang tosu ini menerjang pemuda tadi dengan pukulan-pukulan tangan.

Souw Kian Bi, pemuda aneh itu, hanya tersenyum saja tanpa menangkis, hanya menundukkan kepala untuk menghindarkan pukulan yang mengancam mukanya.

Terjadi hal yang aneh sekali.

Kepalan tangan empat orang tosu itu dengan jelas kelihatan mengenai tubuh pemuda itu sampai terdengar suara bak-bik-buk, akan tetapi tosu-tosu itu berteriak kesakitan sambil memegangi tangan mereka yang sudah menjadi bengkak-bengkak.

Mereka merasa seperti memukul baja, bukan badan orang!

Sian Hwa tak dapat menahan kesabarannya lagi, karena di samping merasa heran sekali.

Biarpun kepandaian empat orang suhengnya belum tinggi benar, namun menerima pukulan dengan badan dari empat orang sekaligus seperti pemuda itu dan membuat si pemukul sendiri bengkak-bengkak tangannya, benar membuktikan bahwa pemuda itu berilmu tinggi.

Tanpa ragu-ragu ia.

lalu mencabut pedangnya, meloncat dekat dan membentak.

"Manusia sombong, berani kau bermain gila di depanku?"

La melintangkan pedang di dada lalu menantang.

"Hayo keluarkan senjatamu, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!"

Orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi itu tersenyum dan pandang matanya makin membayangkan kekaguman?

"Kau hebat, Nona, hebat sekali.

Patut menjadi sahabat baikku.

Cantik dan gagah perkasa, hemmm....."

Tentu saja muka Sian Hwa menjadi makin merah.

Tidak ada wanita di dunia ini yang tidak senang dipuji seorang laki-laki, terutama sekali dipuji akan kecan-tikannya.

Demikian pula Sian Hwa.

Akan tetapi di samping rasa senangnya ini, terdapat pula perasaan marah karena dianggapnya laki-laki itu kurang ajar.

"Siapa sudi menjadi sahabatmu? Hayo keluarkan senjatamu, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau habis kesabaranku ....". Souw Kian Bi tertawa, tampak barisan giginya yang putih dan rapi.

"Kau hendak main-main dengan pedang? Oho, bagus sekali. Memang kurang mesra perkenalan kita kalau tidak melalui ujung senjata. Nah, aku sudah siap, kau perlihatkanlah ilmu pedangmu, Nona Manis."

Pemuda itu sekarang sudah memegang sebuah pedang yang amat indah karena gagang pedang itu dihias dengan batu-batu kumala.

Selain indah bentuknya pedang itu pun nampak amat tajam sampai berkilauan tertimpa cahaya matahari.

Melihat lawannya sudah bersenjata, tanpa mengeluarkan kata-kata lagi Sian Hwa segera menerjang maju dengan gerakannya yang amat lincah dan cepat.

Sepasang pedang di kedua tangannya mengeluarkan suara mengaung ketika ia menghujani Souw Kian Bi dengah serangan-serangan maut.

Sepasang pedang itu lenyap berubah menjadi dua gulung sinar yang membungkus tubuhnya, amat luar biasa dipandang.

Souw Kian Bi mengeluarkan seruan terkejut menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis itu.

Cepat-cepat dia memutar senjatanya melindungi diri sehingga berkali-kali terdengar suara pedang bertemu pedang.

Lima menit sudah Souw Kian Bi hanya menangkis dan melindungi diri saja, kemudian tiba-tiba dia meloncat ke belakang sambil berseru.

"Jadi Nona ini Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa, orang termuda dari Hoa-san Sie-eng? Pantas begini lihai dan cantik!"

La tersenyum-senyum lagi, senyum memikat dengan sinar mata kagum.

Kembali wajah Sian Hwa menjadi merah "Tak usah banyak cakap, kau sudah merobohkan lima orang suhengku.

Kau boleh coba merobohkan aku, baru patut menyombongkan diri!"

Kembali gadis ini menubruk maju sambil mainkan sepasang pedangnya. Souw Kian Bu cepat menangkis lagi sambil tertawa.

"Alangkah akan senangnya andaikata aku dapar merobohkanmu, Nona, merobohkan hatimu terutama sekali. Alangkah senangnya....."

"Keparat kurang ajar!"

Sian Hwa memperhebat serangannya dan kali ini Souw Kian Bi terpaksa mengeluarkan kepandaiannya untuk melindungi dirinya dari ancaman maut.

Gadis itu merasa heran sekali ketika mendapat kenyataan bahwa orang muda yang mengaku bernama Souw Kian Bi ini ternyata memiliki ilmu pedang yang amat aneh gerakannya, akan tetapi juga amat lihai.

Semua serangannya dapat ditangkis dengan mudah, malah setiap kali pedangnya beradu dengan pedang lawannya, ia merasa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga dalam pemuda itu juga tidak kalah olehnya.

Diam-diam ia mengeluh dan mencurahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

la akan merasa malu sekali kalau sampai kalah oleh pemuda ceriwis ini.

Di lain pihak, Souw Kian Bi juga amat kagum menyaksikan ilmu pedang gadis lawannya.

Tidak percuma gadis ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang) dan menjadi orang termuda dari Hoa-san Sie-eng yang ternama.

Kesayangannya terhadap gadis ini yang tadinya timbul karena kecantikan Sian Hwa, menjadi bertambah-tambah.

Kesayangan inilah yang membuat Souw Kian Bi tidak mau mempergunakan kepandaiannya untuk merobohkan Sian Hwa.

Dia sengaja hendak membuat gadis ini roboh sendiri karena lelah dan di samping ini dia pun hendak memamerkan kepandaiannya agar betul-betul dapat merebut hati gadis cantik dan gagah ini.

Sementara itu, para tosu yang telah roboh oleh Souw Kian Bi, menjadi makin khawatir menyaksikan betapa sumoi mereka yang terkenal gagah itu pun belum berhasil merobohkan lawan itu dengan sepasang pedangnya.

Diam-diam mereka lalu berunding, kemudian seorang di antara lima tosu itu lari naik ke puncak untuk melaporkan hal itu kepada Lian Bu Tojin.

Dapat dibayangkan betapa marah dan kagetnya ketua Hoa-san-pai itu, belum pernah ada anak murid Hoa-san-pai yang berani mengganggunya di waktu dia sedang bersamadhi.

Kali ini tosu itu memaksa dia sadar dari samadhinya dan menceritakan tentang serbuan seorang laki-laki muda yang kurang ajar dan lihai ilmu silatnya.

Biarpun sedang marah, tosu tua itu mengelus jenggotnya dan menahan napas untuk menekan kemarah-n sehingga dia tenang dan sabar kembali.

"Kau bilang dia bernama Souw Kian Bi?"

Kakek ini mengingat-ingat akan tetapi tidak merasa mempunyai musuh ber she Souw.

Jangan-jangan sebangsa jai-hwa-cat (penjahat cabul), pikirnya.

Ini berbahaya, kalau sampai Sian Hwa benar-benar kalah oleh penjahat itu akan celakalah muridnya.

la segera bangkit, menyeret tongkatnya dan berkata.

"Antarkan pinto ke sana."

Ketika Lian Bu Tojin tiba di tempat pertempuran, dia menahan seruan kagetnya.

Sian Hwa sudah terdesak hebat.

Pedangnya yang kiri sudah terlepas dan kini gadis itu dengan napas tersengal-sengal mempertahankan diri dari serangan pemuda tampan itu yang tersenyum-senyum dan mengeluarkan kata-kata menggoda.

Jelas sekali terlihat bahwa kepandaian pemuda itu lebih tinggi, malah dengan amat mudahnya akan dapat merobohkan Sian Hwa kalau dia mau.

Ketika diam-diam Lian Bu Tojin memperhatikan ilmu pedang yang dimainkan pemuda itu, dia mengangguk-angguk.

Itulah ilmu pedang utara yang sudah tinggi tingkatnya.

Juga gerakan-gerakan pemuda itu menyatakan bahwa tenaga dalamnya sudah kuat sekali.

Pantas saja Sian Hwa terdesak.

Andaikata yang melawan pemuda ini bukan Sian Hwa, melainkan Kwa Tin Siong, mungkin akan seimbang dan lebih ramai.

"Sian Hwa, mundurlah. Orang muda ada urusan boleh dirunding dengan pinto!"

Seruan Lian Bu Tojin ini biarpun perlahan, namun mengandung tenaga yang amat berpengaruh.

Tentu saja sukar bagi Sian Hwa untuk mundur karena ia sudah dikurung sinar pedang lawannya.

Kalau bukan lawannya yang menghentikan pertandingan ini, ia sendiri sudah tidak berdaya melepaskan diri.

Sambil mengeluarkan suara ketawa bergelak, Souw Kian Bi menggetarkan pedangnya dan "tringgg.....!"

Pedang kanan Sian Hwa terlepas pula, terlempar ke udara.

Lian Bu Tojin menggerakkan tongkatnya dan tahu-tahu pedang yang terbang itu sudah tertempel oleh tongkat bambunya.

Sedangkan Souw Kian Bi melangkah maju mendekati Sian Hwa sambil cengar-cengir dan berkata.

"Nona manis, apakah sekarang kau masih belum? mau mengaku kalah padaku? Apakah dengan kepandaianku kau masih menganggap tak pantas kalau aku menjadi sahabat baikmu?"

Sian Hwa merasa malu sekali.

Dengan kemarahan yang membuat dadanya seolah-olah akan meledak, ia menerjang maju, menghantam kepalan tangan kanannya ke dada pemuda itu.

Souw Kian Bi cepat mengelak sambil tertawa dan berkata.

"Sayang tanganmu yang halus kalau sampai mengenai dadaku, Manis."

Sekali lagi dia mengelak ketika pukulan ke dua datang dan kini sambil mengelak dia mempergunakan tangan kirinya untuk mencekal pergelangan tangan kanan Sian Hwa.

Gerakan ini amat cepatnya dan sekali melihat saja Lian Bu Tojin tahu?

bahwa pemuda itu pun mahir sekali akan ilmu tangkap dan ilmu cengkeram semacam Eng-jiauw-kang.

Sian Hwa kaget sekali karena percuma saja ia berusaha melepaskan tangannya.

"Orang muda, jangan kurang ajar. Lepaskan!"

Tiba-tiba Lian Bu Tojin melangkah maju untuk mencegah kekurang-ajaran pemuda itu terhadap muridnya.

Akan tetapi Souw Kian Bi hanya ter tawa.

Mana dia mau memandang mata,kepada kakek tua ini?

Sambil tangan kiri masih memegangi tangan Sian Hwa, pedang di tangan kanannya bergerak ke arah dada Lian Bu Tojin dan dia membentak.

"Tosu bau jangan ikut campur. Menggelindinglah kau!"

Tetapi kali ini dia salah hitung. Pedangnya yang meluncur ke arah dada tosu tua itu tiba-tiba bertemu dengan tongkat bambu, pedangnya menggetar-getar dan.....

"krakkk!"

Pedang itu patah menjadi dua, tubuhnya sendiri menggigil, pegangannya pada tangan Sian Hwa terlepas dan dia masih terhuyung-huyung ke belakang lima enam tindak. Mukanya menjadi pucat sekali.

"Kau..... kau siapakah.....? ia memandang kepada kakek tua itu dengan mata terbelalak. Lian Bu Tojin tidak menjawab, hanya berdiri tegak sambil memandang dengan tajam. Souw Kian Bi menggerak-gerakkan biji matanya, memandangi kakek itu dari atas ke bawah. Agaknya jenggot panjang dan tongkat bambu itu yang menarik perhatiannya dan membuat dia dapat menduga siapa yang berhadapan dengannya.

"Ah, kiranya Totiang adalah Lian Tojin sendiri? Pantas saja aku tak dapat melawannya. Kiranya ketua yang terhormat dari Hoa-san-pai sendiri yang turun tangan!"

Ucapan ini merupakan sindiran hebat.

Memang sebetulnya amat memalukan bagi Lian Bu Tojin, seorang ciangbunjin (ketua) dari partai besar harus turun tangan sendiri menghadapi seorang muda seperti Souw Kian Bi!

Mau tak mau kedua pipi kakek itu menjadi merah.

Pemuda ini ternyata bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi juga amat tajam kata-katanya.

"Orang she Souw,"

Katanya sabar "murid-muridku sedang turun gunung maka tidak ada yang menyambutmu sehingga terpaksa pinto sendiri menjenguk ke sini. Tak tahu apakah yang menjadi sebabnya maka engkau mengacau di sini?"

Souw Kian Bi tertawa mengejek.

"Siapa mengacau? Aku lewat di sini, bertemu Nona ini, tertarik dan ingin bersahabat, apa salahnya? Sudahlah, lain kali dia tetap akan menjadi sahabat baikku....."

Setelah berkata demikian pemuda itu membalikkan tubuhnya dan pergi.

"Sian Hwa yang masih marah sekali cepat menyambar pedangnya yang tadi terpukul jatuh, hendak mengejar. Akan tetapi gurunya mencegahnya.

"Jangan kejar, Sian Hwa. Kulihat orang itu bukan orang sembarangan. Sudah jelas bahwa dia itu dari utara. Akan tetapi mengapa sengaja datang mengacau Hoa-san-pai? Hemmm, kita harus berhati-hati, makin banyak saja musuh-musuh rahasia yang hendak memusuhi kita."

Kakek ini lalu mengajak semua muridnya naik ke puncak Hoa-san lagii sambil memesan kepada para muridnya yang menjadi tosu agar supaya mulai saat itu melakukan penjagaan yang kuat siang malam, akan tetapi tidak boleh lancang turun tangan menyerang orang luar.

Kalau di kaki Gunung Hoa-san terjadii hal yang aneh ini, di puncak Hoa-san terjadi pula hal yang ganjil.

Pada waktu Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok sedang berlatih silat di dalam taman bunga.

Antara Thio Ki dan Kui Lok jelas sekali terjadi perlombaan, bukan hanya untuk kemajuan ilmu silat, akan tetapi terang sekali keduanya berlomba untuk bersikap manis kepada Kwa Hong.

Keduanya memiliki watak yang hampir sama, yaitu gagah dan tabah, akan tetapi keduanya juga angkuh sekali.

Mungkin hal ini timbul karena mereka merasa menjadi putera-putera pendekar Hoa-san-pai.

Bahkan Thio Bwee yang pendiam juga tampak sifat angkuh ini dan merasa seakan-akan mereka adalah anak-anak orang gagah yang berbeda dengan anak-anak lain.

Hanya Kwa Hong seorang yang wataknya tetap lincah jenaka, galak akan tetapi tidak angkuh.

Pada saat itu, tiba giliran Kui Lok untuk bersilat pedang disaksikan oleh tiga orang temannya.

Kui Lok benar-benar memiliki bakat yang amat baik.

Selama beberapa bulan ini kepandaiannya sudah meningkat banyak, ketika dia bersilat tidak saja gerakan pedangnya mantap dan kuat, akan tetapi juga cepat sekali.

Tentu saja dia bersilat pedang dengan tangan kiri, karena memang dia lebih pandai mempergunakan tangan kirinya daripada tangan kanannya.

Setelah dia selesai bersilat, Kwa Hong bersorak.

"Bagus sekali Lok-ko (kakak Lok), kepandaianmu benar-benar sudah maju pesat!"

Ia memuji dengan sejujurnya. Juga Thio Bwee mengangguk-angguk membenarkan pujian Kwa Hong. Akan tetapi, pujian itu tidak menyenangkan hati Thio Ki.

"Sayangnya pedang itu dimainkan tangan kiri, jadi tentu saja kurang kuat dan kurang tepat seperti kalau dimainkan tangan kanan,"

Thio Ko berkata dengan lagak seakan-akan seorang yang lebih pandai menilai permainan orang yang lebih rendah tingkatnya.

Ucapan ini diterima oleh Kui Lok dengan muka merah.

la merasa disindir dan ditegur karena sifat tangannya yang kidal.

"Biarpun dengan tangan kiri kurasa tidak kalah oleh permainan pedang tangan kanan,"

Jawabnya sambil menatap wajah Thio Ki penuh tantangan.

"Phuah.....!"

Thio Ki mengejek, membuang muka.

"Phuah.....!"

Kui Lok juga mengeluarkan suara mengejek. Thio Ki naik darah, dirabanya gagang pedang di punggungnya.

"Kalau begitu, mari kita buktikan, siapa lebih pandai, si tangan kanan atau si tangan kidal!"

"Begitu? Baiklah, tapi kau yang menantang, saudara Ki, bukan aku!"

Kui Lok menjawab, pedangnya siap ditangan kiri. Kwa Hong memperhatikan kejadian ini dengan mata berseri.

"Baik sekali begitu!"

Ia bersorak.

"Gembira sekali kalau diadakan pibu persaudaraan."

Yang dimaksudkan dengan pibu (adu kepandaian silat) adalah pertandingan untuk menentukan siapa kalah siapa menang.

"Dari pada setiap hari kalian bercekcok saja tentang tingkat kepandaian, lebih baik diputuskan dengan bukti."

Dua orang anak laki-laki itu sekarang sudah berhadapan dengan pedang di tangan. Thio Bwee membelalakkan matanya yang lebar, penuh kekhawatiran.

"Jangan!"

Teriaknya memohon.

"Bagaimana kalau ada yang terluka? Sukong akan marah sekali."

Kwa Hong tertawa dan melangkah di antara dua orang jago muda itu.

"Kalian ini sudah bernafsu untuk saling serang,"

Godanya.

"jangan begitu, ah! Kita ini kan saudara-saudara seperguruan. Masa mau main tusuk dengan pedang."

"Habis bagaimana untuk menentukan Siapa lebih unggul?"

Tanya Kui Lok.

"Biarkan saja, Hong-moi (adik Hong). lok-te (adik Lok) ini sombong sekali, tidak mau mengalah terhadap aku yang lebih tua,"

Kata Thio Ki.

"Mana bisa saudara seperguruan saling hantam? Kalau diketahui sukong, apa kaukira aku tidak ikut dipersalahkan? Aku tidak mau! Kalau kalian berkelahi, pergilah jauh-jauh dari sini agar aku tidak terbawa-bawa,"

Kata Kwa Hong.

Dua orang anak laki-laki itu saling pandang.

Mereka ingin memperlihatkan di depan Kwa Hong bahwa mereka gagah dan tidak kalah oleh yang lain.

Sekarang Kwa Hong tidak mau melihat mereka mengadu kepandaian, untuk apa mereka lanjutkan?

Akan tetapi kalau tidak pergi mencari tempat lain, juga dapat dianggap takut atau pengecut.

Kwa Hong yang melihat keraguan mereka lalu tertawa.

"Sudahlah, simpan pedang kalian. Kalau mau menentukan siapa yang lebih unggul, mudah saja. Kalian pergunakan ranting yang tidak berbahaya, aku akan menyediakan tinta. Ujung ranting diberi tinta dan ranting itu dimainkan seperti ujung pedang. Siapa yang lebih dulu terkena tinta bajunya dialah yang kalah."

Usul ini didukung oleh Thio Bwee yang tentu saja juga tidak menghendaki pertempuran sungguh-sungguh antara kakaknya dan Kui Lok.

Dua orang anak itu pun setuju dan masing-masing mencari sebatang ranting yang lembek.

Segera mereka membasahi ujung ranting masing-masing dengan tinta dan mulailah mereka bertanding, disaksikan oleh Kwa Hong dan Thio Bwee.

Kwa Hong bertindak sebagai wasitnya.

Tak-tok-tak-tok bunyi dua batang ranting itu beradu dan kedua orang jago muda itu bergerak cepat untuk mendahului lawan mengirim tusukan untuk menodai baju lawan de-ngan tinta di ujung ranting.

"He, Ki-ko! Tidak boleh menyerang mata!"

Kwa Hong berseru. Sebagai wasit, ia harus berlaku adil. Menurut perjanjian tadi, masing-masing hanya boleh menyerang baju untuk memberi tanda dengan tinta.

"Lok-ko, tidak boleh menendang!"

Ia berseru.

Mula-mula hanya jarang ia berseru melarang, akan tetapi kedua orang jago muda itu makin lama menjadi makin penasaran dan panas karena belum juga mampu mengalahkan lawan.

Makin sering mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran dan makin sering pula Kwa Hong berteriak-teriak melarang.

Malah sekarang Thio Bwee juga ikut berteriak-teriak karena khawatir melihat dua orang jago muda itu mulai menggunakan serangan sungguh-sungguh yang membahayakan lawan.

Pertandingan untuk mengadu kepandaian itu menjadi perkelahian yang sungguh-sungguh.

Kwa Hong marah dan membanting-banting kakinya.

"Kalian curang! Kalian tidak memegang janji. Sudah, jangan berkelahi lagi"

Akan tetapi mana dua orang jago muda yang sudah panas perutnya itu mau berhenti?

Mereka malah menyerang lebih hebat.

Kwa Hong berteriak-teriak marah.

Tiba-tiba terlihat bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dua orang jago muda itu roboh terguling.

Mereka tidak terluka karena tadi hanya terdorong saja ke samping, dengan heran mereka merayap bangun.

Juga Kwa Hong dan Thio Bwee terheran-heran memandang, ternyata Koai Atong sudah berdiri di situ, cengar-cengir dan berkata.

"Kalian tidak boleh bikin marah Enci Hong!"

Lalu dia berpaling kepada Kwa Hong dan berkata.

"Enci Hong, aku datang kembali untuk mengajak kau bermain-main seperti dulu. Hayo ikut aku ke hutan sebelah sana itu, tadi aku melihat seekor kijang muda yang amat indah. Akan kutangkap binatang itu untukmu."

La melangkah maju hendak menggandeng tangan Kwa Hong.

"Tidak, Koai Atong. Aku tidak mau pergi. Sukong akan marah nanti."

Kwa Hong mengelak.

"Tidak marah, biar kalau marah aku yang tanggung jawab."

Koai Atong hendak memaksa, sekali tangannya menyambar dia sudah dapat memegang pergelangan tangan Kwa Hong.

"Tidak, tidak, aku tidak mau...... Mereka berkutetan. Agaknya Koai Atong tidak mau mempergunakan kekerasan terhadap Kwa Hong yang disayanginya sebagai sahabat baik itu, maka mereka berkutetan saling tarik. Kalau Koai Atong mau mempergunakan kekerasan, tentu saja dengan mudah dia akan dapat membawa lari Kwa Hong. Pada saat itu, dari luar taman berjalan masuk seorang anak laki-laki. Jauh dibelakang nampak beberapa orang tosu berlari-lari sambil berteriak-teriak.

"Anak setan, tak boleh masuk ke sana!"

Agaknya anak yang masuk itu tadi dapat meninggalkan para tosu yang sekarang mengejarnya.

Anak ini bukan lain adalah Beng San!

Seperti sudah diceritakan di bagian depan, Beng San sampai di kaki gunung Hoa-san dan bertemu dengan Tan Hok dan teman-temannya, para anggota Pek-lian-pai.

Setelah berpisah dari Tan Hok, dia segera mendaki gunung itu menuju ke puncak.

Beberapa orang tosu melarangnya naik, akan tetapi Beng San berkeras hendak bertemu dengan ketua Hoa-san pai.

Anak ini ketika dihalangi lalu berlari menyelinap cepat sampai.

para tosu itu tertinggal jauh dan mengejar terus.

Akhirnya dia memasuki taman bunga itu.

Melihat betapa seorang gadis cilik ditarik-tarik seorang laki-laki tinggi besar, hati Beng San menjadi penasaran dan marah sekali.

Ia tidak mengenal Kwa Hong, juga tidak mengenal Koai Atong sungguhpun pernah dia bertemu dengan kedua orang ini.

Dengan langkah lebar dia menghampiri Koai Atong yang masih berkutetan dengan Kwa Hong, memegang lengan Koai Atong sambil berkata keras.

"Seorang laki-laki dewasa menyeret-nyeret seorang anak perempuan kecil, sungguh tak patut. Memalukan sekali!"

Suara Beng San amat nyaring sampai terngiang di telinga.

Tidak hanya Koai Atong yang kaget, juga Kwa Hong, Thio Ki, Thio Bwee, dan Kui Lok terkejut, menoleh dan memandang.

Tiba-tiba Koai Atong melepaskan pegangannya pada lengan Kwa Hong, tubuhnya menggigil, wajahnya yang merah berubah pucat sekali, matanya melotot lebar, mulutnya ternganga dan dia berdiri seperti orang terserang demam.

Tangan kanannya dengan telunjuk menggigil menuding ke arah Beng San, mulutnya mengeluarkan suara tidak karuan, akan tetapi masih dapat ditangkap oleh anak-anak itu.

"Ssseeeee..... sssssetannn..... setan.....!"

Tiba-tiba dia meloncat jauh dari situ, lalu lari sekerasnya sambil memekik-mekik.

"Setan! Dia roh jahat..... hidup lagi..... aduh setan..... ampunkan aku.....!"

Sebentar saja Koai Atong sudah tidak tampak lagi bayang-bayangnya.

Tentu saja Beng San terlongong keheranan.

la tidak tahu bahwa dahulu dalam keadaan tidak sadar karena menelan pil buatan Siok Tin Cii, dia dipukul dan dilukai oleh Koai Atong yang menggunakan Jing-tok-ciang dan anak tua itu menyangka bahwa dia sudah tewas.

Tentu saja sekarang tiba-tiba Beng San dengan mukanya merah kehitaman berdiri di depan kakek yang berwatak anak-anak im membuat Koai Atong ketakutan setengah mati dan membuat dia lari tunggang-langgang, tak berani lagi kembali ke Hoa-san!

Kwa Hong dan teman-temannya juga terkejut ketika melihat seorang anak laki-laki berdiri di situ, pakaiannya com-pang-camping, kakinya tidak bersepatu, rambutnya kusut dan mukanya merah kehitaman.

Muka Beng San menjadi merah karena dia tadi marah melihat Koai Atong menarik-narik tangan Kwa Hong.

Mukanya merah hitam, matanya tajam seperti mata harimau, benar-benar merupakan seorang anak yang aneh dan patut kalau dianggap setan.

Akan tetapi Kwa Hong segera mengenal Beng San.

la melangkah maju dan memperhatikan muka Beng San sementara itu telah mulai berubah, lenyap warna merah hitam menjadi putih bersih kembali akan tetapi perlahan-lahan berubah pula menjadi kehijauan.

Hal ini adalah karena sepasang mata Kwa Hong sudah mengenalnya, dan ia merasa agak malu berhadapan dengan empat orang anak-anak yang berpakaian indah-indah dan bersikap gagah ini.

"Eh, kaukah ini? Kau..... bunglon?"

Kwa Hong menegur sambil tertawa geli.

Setelah mendengar suara Kwa Hong, baru Beng San teringat bahwa gadis cilik baju merah inilah yang dulu pernah bercekcok dengannya di dalam hutan.

la pun tersenyum dan berkata.

"Kiranya kau di sini..... kuntilanak!"

Kui Lok dan Thio Ki menjadi merah mukanya.

Mereka memandang kepada Beng San dengan mata melotot, marah sekali mereka mendengar betapa anak jembel ini memaki Kwa Hong kuntilanak.

Benar-benar kurang ajar sekali!

Pada saat itu para tosu yang mengejar Beng San, empat orang jumlahnya, sudah tiba di situ dan mereka berteriak-teriak.

"Penjahat cilik itu jangan sampai terlepas! Di larang masuk ke sini!"

"Aku mau berjumpa dengan Lian Bu Tojin,"

Bantah Beng San. Akan tetapi Kui Lok dan Thio yang sudah marah sekali, melihat para tosu marah-marah kepada anak jembel itu, menjadi makin berani. Keduanya lalu melangkah maju dan memaki.

"Jembel busuk hayo pergi dari sini!"

Beng San tenang-tenang saja, memandang kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri angkuh di depannya.

"Aku tidak mau pergi kalau belum bertemu dengan Lian Bu Tojin."

"Keparat! Kau minta dipukul?"

Bentak Thio Ki marah. Beng San tertawa dan menggeleng kepalanya.

"Siapa yang minta dipukul? Aku tidak! Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin."

"Macammu ini mau bertemu dengan sukong? Sukong terlalu mulia untuk bertemu dengan segala jembel busuk. Kalau kau tidak lekas minggat dari sini, akan kupukul!"

Kata Kui Lok galak, . Beng San melengak heran.

"Kalian ini cucu murid Lian Bu Tojin? Ah, kalau begitu aku salah alamat. Orang bilang Lian Bu Tojin ketua Hoa-san-pai seorang, mulia hatinya, dan bahwa orang-orang Hoa-san-pai adalah orang-orang gagah. Kiranya murid kecilnya begini galak."

Kui Lok dan Thio Ki adalah keturunan orang-orang gagah, maka ucapan merupakan tamparan bagi mereka.

"Kau yang kurang ajar!"

Bantah Thio Ki membela diri.

"Kau berani memaki kuntilanak kepada Hong-moi. Kurang ajar kau!"

Beng San menoleh kepada Kwa Hong sambil tertawa kecil.

"Dia memang kuntilanak. Tanyakan saja kepadanya, kami berkenalan sebagai bunglon dan kuntilanak. Betul tidak begitu, kuntilanak?"

Kwa Hong membanting kakinya yang kecil.

"Bunglon! Kadal monyet kau! Aku bukan kuntilanak!.

"Aku juga bukan bunglon, kadal atau monyet!"

Bantah Beng San marah.

"Tapi mukamu berubah-ubah seperti bunglon, kau masuk selongsong ular seperti kadal, rupamu buruk cengar-cengir seperti monyet!"

Maki Kwa Hong dengan muka merah saking marahnya.

"Kau pun galak dan mukamu buruk seperti kuntilanak....."

"Plakkk!"

Tangan Kwa Hong melayang dan pipi kiri Beng San telah ditamparnya.

Beng San terhuyung mundur.

Pada saat itu, Kui Lok dan Thio Ki sudah menubruk maju dan menghujani tubuh Beng San dengan pukulan-pukulan keras.

Beng San terhuyung-huyung dan roboh.

Anak ini memang selama meninggalkan tempat persembunyian Lo-tong Souw Lee, mentaati perintah kakek itu dan tidak pernah mau mempergunakan kepandaiannya.

Maka ketika ditampar kemudian dipukuli dia diam saja.

"menyimpan"

Tenaga dalam tubuhnya dan membiarkan dirinya dipukuli. la merasa kulit dada dan mukanya sakit-sakit.

"Aku mau bertemu dengan Lian Bu Tojin, jangan pukul aku....."

Ia berkata.

Akan tetapi dua orang jago muda itu tidak mau memberi ampun lagi kepadanya.

Thio Ki memukul lagi ketika Beng San mencoba untuk berdiri, pukulan keras mengenai leher Beng San membuat anak itu terpelanting roboh.

Kui Lok lalu menubruknya, menduduki dadanya dan memukuli muka Beng San dengan kedua tangan.

Kedua pipi Beng San sampai bengkak-bengkak terkena pukulan ini.

"Hayo, kau minta ampun dan berjanji mau pergi dari sini!"

Kata Kui Lok terengah-engah, menghentikan pukulannya. Beng San hanya menggeleng kepalanya.

"Aku mau bertemu dengan Lian Bu....."

Tak dapat dia melanjutkan kata-katanya karena hidungnya dipukul Kui Lok sampai keluar darahnya.

"Lok-te, biar kugantikan engkau!"

Thio Ki menarik Kui Lok pergi dan menjambak rambut Beng Sang, menarik anak ini berdiri lalu memukul ke arah dada.

"Blukkk!"

Tubuh Beng San terlempar sampai dua meter lebih.

Thio Ki mengejar, menjambak rambut lagi mendirikan Beng San lalu dipukul lagi lebih keras.

Pakaian Beng San yang sudah cobak-cabik itu makin rusak, koyak-koyak di sana-sini.

"Sudah, Ki-ko, Lok-ko, jangan pukul lagi!"

Kwa Hong maju mencegah.

Tak tega ia melihat Beng San dipukuli seperti itu.

Juga Thio Bwee maju mencegah kakaknya.

Akan tetapi para tosu dengan tertawa lebar memuji-muji kepandaian dua orang kongcu muda itu dan berkata menganjurkan.

"Pukul terus! Pukul sampai dia mau minta ampun."

"Hayo lekas berlutut mihta ampun teriak Kui Lok dan Thio Ki berganti-ganti sambil memukul terus. Sesabar-sabarnya orang, apalagi seorang anak kecil seperti Beng San, kalau didesak terus seperti itu dan disiksa, akhirnya tak kuat juga menahan. Sakit pada tubuhnya bukan apa-apa baginya karena dia sudah sering kali menderita sakit. Akan tetapi sakit pada hatinya yang lebih berat ditanggung. Mukanya yang tadinya kehijauan sekarang sudah mulai menjadi merah kehitaman, tanda bahwa dia tak dapat lagi menahan kemarahannya. Pada waktu itu, Kui Lok memegang tangan kirinya, sedangkan Thio Ki memegang tangan kanannya, keduanya memukul dari kanan kiri sambil membentak-bentak memaksa dia berlutut minta ampun. Karena tak dapa, menahan lagi kemarahannya, tenaga mujijat dalam tubuh Beng San bekerja, hawa Yang di tubuhnya membuat mukanya kehitaman itu menolak pukulan-pukulan dari kanan kiri. Tiba-tiba terdengar pekik kesakitan, Kui Lok sehabis memukul terguling roboh, disusul Thio Ki yang juga roboh setelah memukul leher Beng San. Kedua orang anak itu roboh dan pingsan dengan mata mendelik dan mulut berbusa! Bukan main kagetnya Kwa Hong dan Thio Bwee. Mereka melihat jelas betapa dua orang jago muda itu yang memukul, kenapa tahu-tahu roboh pingsan dengan mata mendelik? Para tosu juga melihat ini dan mereka yang percaya akan tahyul menjadi ketakutan.

"Dia benar setan...... dia iblis jahat..... celaka.....!"

Para tosu itu cepat mengeluarkan senjata, masing-masing dan siap hendak mengeroyok Beng San.

"Supek sekalian, jangan turun tangan!"

Kwa Hong meloncat mencegah.

"Biar sukong nanti yang memutuskan urusan ini."

Para tosu masih bersikap mengancam.

Beng San diam-diam mencatat pembelaan Kwa Hong atas dirinya ini di dalam hatinya.

Betapapun juga, kuntilanak cilik ini tidak jahat, pikirnya.

la diam saja, hanya menyusuti darah yang tadi mengalir dari lubang hidungnya dan membereskan pakaiannya yang koyak-koyak.

Kebetulan sekali pada aaat itu, Lian Bu Tojin dan Sian Hwa datang memasuki taman.

Mereka kaget melihat ribut-ribut di taman.

Sian Hwa mengeluarkan seruan kaget dan cepat memeriksa dua orang anak keponakannya yang pingsan dengan mata mendelik.

Lian Bu Tojin juga memandang heran.

Setelah memeriksa sebentar, kakek ini bertanya dengan suara terheran-heran.

"Mereka pingsan karena terluka hawa pukulan sendiri yang membalik,"

Lalu menoleh kepada Kwa Hong dan Thio Bwee.

"Apa yang telah terjadi di sini? Beramai-ramai para tosu yang tadi menghalangi Beng San masuk dan Kwa Hong menceritakan asal mula kejadian itu. Bahwa Beng San memaksa naik ke puncak sampai memasuki taman dan betapa Koai Atong yang hendak membawa pergi Kwa Hong kaget dan lari ketakutan ketika melihat kedatahgan Beng San. Kemudian Kwa Hong menceritakan betapa Thio Ki dan Kui Lok marah karena Beng San tidak mau pergi memukulinya.

"Bunglon..... eh, anak ini tidak lawan, Sukong. Teecu sudah mencegah kedua suheng memukulinya, akan tetapi mereka terus saja memukul. Akhirnya, entah bagaimana, keduanya malah roboh sendiri seperti itu."

Setelah berkata demikian, Kwa Hong menoleh kepada Beng San yang kini berdiri menundukkan mukanya yang sudah berubah putih kembali, pulih bersih dengan alisnya yang hitam lebat dan matanya yang seperti mata harimau.

Lian Bu Tojin menghampiri dua orang muridnya.

Dengan beberapa kali mengurut punggung mereka, dua orang anak itu waras kembali, bangun dengan muka kemerahan.

Lian Bu Tojin memandang mereka dengan muka keren, membuat dua orang anak itu tunduk ketakutan.

Kemudian Lian Bu Tojin menghampiri Beng San, untuk beberapa menit lamanya dia menatap wajah anak itu dan amat terheran-heran menyaksikan sinar mata yang luar biasa dari anak jembel yang berdiri di depannya.

"Kau siapakah, anak muda?"

Pertanyaan kakek ini halus akan tetapi berpengaruh sedangkan pandang matanya tajam menembus jantung.

Hal ini dirasakan oleh Beng San ketika dia mengangkat muka.

Cepat-cepat dia menundukkan pandang matanya agar jangan sampai kakek itu dapat membaca rahasia hatinya.

"Nama teecu Beng San,"

Jawabnya sederhana.

"Apa nama keturunanmu?"

"..... nama keturunan? Hemmm, she (nama keturunan) teecu (aku) adalah..... Huang-ho (Sungai Kuning)."

"Apa?"

Lian Bu Tojin mengerutkan keningnya.

"Di dunia ini, mana ada orang bernama keturunan Huang-ho?"

"Teecu hanya tahu bahwa teecu terbawa hanyut Sungai Huang-ho, karena itu teecu tidak tahu lagi siapa orang tua dan siapa pula she, teecu mengambil keputusan untuk memakai nama keturunan Huang-ho saja. Jadi nama teecu Huang-ho Beng San."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk, mengelus-elus jenggot dan diam-diam dia memuji sikap anak ini yang dari kata-katanya menunjukkan bahwa dia seorang anak yang tahu akan sopan santun.

"Kenapa Koai Atong lari, tunggang-langgang melihatmu?"

"Siapa,itu Koai Atong, Totiang? Teecu tidak mengenalnya-"

"Orang tinggi besar yang tadi lari ketakutan melihatmu. Apakah kau tidak pernah bertemu dengannya?"

Beng San menggelengkan kepala.

"Teecu tidak merasa pernah bertemu dengan orang tadi."

Kembali Lian Bu Tojin mengelus jenggot, sedangkan Sian Hwa, Kwa Hong dan tiga orang temannya, juga para tosu yang berada di situ, mendengarkan dengan heran. Bocah ini benar-benar aneh.

"Ketika kau dipukuli dua orang anak nakal ini, dengan cara bagaimana kau bisa mengembalikan tenaga dan hawa pukulan mereka? Pernahkah kau belajar silat?"

Kembali Beng San menggelengkan kepala.

"Teecu tidak tahu, tidak bisa silat"

Lian Bu Tojin menoleh kepada Kui Lok dan Thio Ki yang berdiri sambil tunduk. Kening kakek ini berkerut.

"Kalian ini anak-anak nakal sungguh tak tahu malu. Mengeroyok dan memukuli seorang anak yang tidak pandai silat? Apakah hal itu termasuk perbuatan gagah? Sungguh memalukan kalian ini. Dan katakanlah, apa sebabnya kalian tadi roboh pingsan?"

Kui Lok tidak berani menjawab, Thio Ki juga hanya melirik kepadanya. Setelah Lian Bu Tojin membentak dan mendesak, baru Thio Ki menjawab lirih.

"Tidak tahu, Sukong. Tahu-tahu teecu sudah sadar tadi. Entah apa sebabnya teecu bisa pingsan. Sian Hwa merasa kasihan melihat murid-murid keponakannya, maka ia berkata.

"Suhu, apakah tidak bisa jadi karena terlampau marah, mereka tidak mengatur tenaga dan hawa kemarahan menyesak ke dada sehingga ketika mereka memukul, tenaga pukulan terpental oleh hawa yang menyesak di dada sendiri itu?"

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk.

"Mungkin begitu. Tapi hal ini termasuk hal yang luar biasa sekali."

Ia menoleh kepada Beng San.

"Apakah badanmu sakit-sakit dipukul tadi? Coba kuperiksa, barangkali kau terluka parah, kalau begitu akan kuobati sampai sembuh."

Tanpa menanti jawaban Lian Bu Tojin menyodorkan tangannya dan meraba pundak Beng San.

Anak ini merasa betapa dari telapak tangan yang halus lunak itu keluar semacam tenaga dahsyat yang menyerang pundaknya.

la kaget sekali dan hampir saja dia mengerahkan tenaga.

Baiknya dia seorang yang cerdik.

Biarpun dia belum perpengalaman, namun pengertiannya dalam ilmu silat tinggi yang dia pelajari dari Lo-tong Souw Lee sudah cukup.

la mengerti bahwa dirinya diuji, maka segera dia mengumpulkan semangatnya, memaksa diri diam agar hawa di tubuhnya jangan bergerak.

Lian Bu Tojin mendapat kenyataan dari rabaan tangannya pada pundak anak itu bahwa memang anak itu kosong tubuhnya, tidak memiliki tenaga dalam maka lenyaplah kecurigaannya bahwa cucu-cucu muridnya roboh oleh penggunaan tenaga dalam yang luar biasa.

la tertawa sambil melepaskan tangannya.

"Ha, kau tidak apa-apa, tidak terluka. Beng San, sekarang ceritakan, apa kehendakmu datang ke Hoa-san mencari pinto."

"Teecu datang membawa sepucuk surat dari sahabat lama Totiang. Inilah suratnya."

Beng San menyerahkan surat tulisan Lo-tong Souw Lee dengan mengucapkan kata-kata seperti yang dipesan oleh kakek itu.

Memang kakek tua itu memesan kepadanya agar jangan mengucapkan namanya di depan Lian Bu Tojin.

Lian Bu Tojin tersenyum dan menerima surat itu.

Jantung kakek ketua Hoa-san-pai ini berdetak keras ketika dia melirik ke arah nama pengirim surat itu akan tetapi kekuatan batinnya yang sudah tinggi itu membuat wajahnya tetap tersenyum, sama sekali tidak memperlihatkan keadaan hatinya.

Siapa orangnya tidak akan berdetak keras jantungnya ketika membaca nama Lo-tong Souw Lee?

Nama besar Souw Lee dikenal oleh semua orang kang-ouw setelah perbuatannya yang menggemparkan, yaitu setelah dia mencuri sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam yang diperebutkan oleh seluruh orang gagah di dunia persilatan.

Dia sendiri, sebagai ketua Hoa-san-pai, tentu saja merasa malu untuk ikut memperebutkan senjata pusaka lain orang, apalagi dengan Souw Lee dia dahulu waktu mudanya pernah menjadi sahabat yang amat baik.

Dengan tenang Lian Bu Tojin membaca surat itu.

Di dalam suratnya itu, Lo-tong Souw Lee minta pertolongan ketua Hoa-san-pai agar suka melindungi Beng San dari ancaman marabahaya.

"Anak ini yatim piatu,"

Tulis Lo-tong Souw Lee.

"aku amat kasihan dan suka kepadanya. Mungkin karena kenal denganku, jiwanya terancam oleh orang-orang jahat. Harap kaulindungi dia sampai saat aku mati dan dia terbebas dari ancaman orang yang hendak memaksanya membawa mereka kepadaku."

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk.

la mengerti akan maksud Lo-tong Souw Lee.

Agaknya anak ini dikasihi kakek itu dan karena anak ini berkenalan dengan Souw Kian Lee, sangat boleh jadi orang-orang kang-ouw akan menculiknya dan memaksanya menunjukkan di mana tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee.

"Beng San, sudah lamakah kau kenal dengan penulis surat ini?"

Tanyanya sambil menyimpan surat itu ke dalam saku jubahnya.

"Belum lama, Totiang, baru beberapa bulan,"

Jawab Beng San sejujurnya.

"Jadi kau tidak tahu tempatnya, ya? Bagus, kau tidak tahu tempatnya,"

Kata ketua Hoa-san-pai ini, membuat Beng San terheran-heran.

Akan tetapi anak yang cerdik ini segera maklum akan maksud Lian Bu Tojin.

Tentu kakek ini memperingatkan kepadanya agar supaya dia tidak mengaku tahu tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee kepada siapapun juga.

Maka dia mengangguk dan menundukkan mukanya.

"Apa kau suka belajar silat? Kulihat kau berbakat untuk belajar ilmu silat. Kau boleh belajar dari para tosu murid-murid pinto."

Beng San berpikir.

Apa artinya mempelajari ilmu silat lain?

Ilmu-ilmu yang sudah dia hafalkan pun belum matang dia latih.

Pula, kalau dia belajar ilmu silat Hoa-sanpai, berarti dia menjadi murid Hoa-san-pai dan ada bahayanya akan diketahui orang rahasianya apabila dia bergerak dalam bermain silat.

"Teecu lebih senang mempelajari ujar-ujar kuno dan filsafat-filsafat, dalam hal ini mohon petunjuk Totiang."

Lian Bu Tojin menggerak-gerakkan alisnya saking herannya. Di mana di dunia ini ada seorang anak belasan tahun umurnya ingin mempelajari filsafat kebatinan? "Pernahkah "

Kau mempelajari kebatinan?"

Tanyanya.

"Teecu pernah bekerja sebagai kacung di dalam kelenteng besar dan para losuhu yang baik dari kelenteng itu kadang-kadang mengajar teecu membaca kitab-kltab kuno."

"Bagus kaiau begitu. Beng San, mulai sekarang kau kuserahi tugas menjaga kebersihan pondok pinto dan di waktu senggang kau boleh mempelajari filsafat tentang Agama To."

Beng San menjatuhkan diri berlutut dan menghaturkan terima kasih.

Lian Bu Tojin mengangguk-angguk dan mengajak anak itu memasuki pondoknya untuk memberi petunjuk tentang tugas pekerjaannya.

Ketika Beng San bangkit berdiri, dia menoleh ke arah Kwa Hong dan tersenyum ramah.

Tidak terlupa olehnya betapa tadi Kwa Hong membelanya ketika dia dipukuli dua orang jago cilik murid Hoa-san-pai itu.

Juga dia mengerling manis ke arah Thio Bwee yang tadi pun berusaha mencegah Thio Ki.

Akan tetapi dia melihat betapa dua pasang mata jago cilik itu memandang kepadanya penuh kebencian.

* * * Satu bulan sesudah Beng San bekerja di Hoa-san.

la bekerja rajin, tidak saja menjaga bersih pondok tempat kediaman ketua Hoa-san-pai, juga taman bunga menjadi bersih dan terjaga baik setelah Beng San berada di situ.

Satu-satunya hal yang membuat dia sering kali merasa tersiksa adalah sikap Thio Ki dan Kui Lok.

Dua orang anak ini masih saja benci kepadanya, dan setiap kali terdapat kesempatan, pasti, kedua orang anak ini mengejeknya, memaki dan menyebutnya jembel busuk, setan cilik, dan lain-lain.

Thio Bwee yang pendiam tak pernah berterang menghinanya, akan tetapi pandang mata anak perempuan ini pun selalu dingin dan selalu menghindarinya, seakan-akan memandang rendah.

Hanya Kwa Hong yang tidak berubah sikapnya.

Anak perempuan ini tetap galak, lincah dan suka menggoda seperti dulu, akan tetapi sama sekali tidak pernah menghinanya.

Hanya kadang-kadang kalau bertemu Kwa Hong suka menggoda.

"He, bunglon. Coba perlihatkan muka hijau!"

Sambil tertawa-tawa, atau kadang-kadang berkata.

"Bunglon, sudah lama tak pernah melihat muka hitammu!"

Beng San hanya tertawa saja kalau digoda oleh Kwa Hong, akan tetapi sekarang dia tidak berani lagi memaki "kuntilanak"

Setelah tahu bahwa anak ini adalah cucu murid terkasih dari Lian Bu Tojin.

Terhadap Kui Lok dan Thio Ki pun Beng San bersikap sabar sekali.

Sudah beberapa kali dua orang anak ini sengaja mencari-cari dan menantangnya, namun Beng San tidak mau melayaninya.

Pada suatu hari menjelang senja, karena pekerjaannya sudah habis, Beng San memasuki taman dengan maksud untuk beristirahat.

la melihat empat orang anak itu sedang giat berlatih silat.

Biasanya kalau mereka berlatih silat, dia hanya melihat dari Jauh saja, sama sekali tidak tertarik karena dia tahu bahwa kepandaian mereka itu sama sekali tidak ada artinya.

Selama beberapa bulan ini setelah latihan-latihan yang dia lakukan makin matang, dia merasa betapa mudah dia menguasai hawa dan tenaga dalam tubuh dan amat mudahnya dia mainkan ilmu-ilmu silat yang sudah dia pelajari.

Terutama sekali Im-yang Sin-kiam-sut dapat dia mainkan dengan mudah dan tepat.

Penggunaan tenaga dalam dapat dia atur sekehendak hatinya.

Semua ini adalah hasil dari latihan-latihan napas dan samadhi seperti yang diajarkan oleh Lo-tong Souw Lee.

Dengan pandang matanya yang sudah tajam berkat tenaga dalamnya, Beng San dapat melihat betapa gerakan empat orang anak itu amat lemah dasarnya dan sungguhpun ilmu silat mereka indah dipandang, terutama ilmu pedangnya, namun dia anggap tidak ada gunanya dalam pertandingan.

Karena dia sudah memasuki taman, Beng San tidak mau keluar lagi dan malah duduk di atas sebuah batu hitam dekat kolam ikan, menonton mereka yang bersilat.

Pada saat itu, Kwa Hong sedang bermain pedang.

Sekali lirik saja gadis cilik ini melihat kedatangan Beng San dan aneh sekali, mendadak timbul di dalam pikirannya untuk bersilat lebih hebat.

la mempercepat gerakannya sehingga tubuhnya yang berpakaian merah itu melayang ke sana ke mari merupakan bayangan merah, diselingi berkelebatnya pedangnya yang bergerak menyambar-nyambar.

Setelah ia berhenti bersilat, tiga orang kawannya bertepuk tangan memuji.

Beng San tak terasa lagi juga ikut bertepuk tangan karena harus dia akui bahwa permainan Kwa Hong itu betul-betul indah dipandang.

Kwa Hong menoleh ke arah Beng San dan matanya berseri gembira, akan tetapi Kui Lok dan Thio Ki melirik ke arah kacung itu sambil berjebi mengejek.

"Dia tahu apa tentang ilmu silat?"

Kata Kui Lok.

"Seperti monyet saja. Orang lain bertepuk dia ikut bertepuk,"

Sambung Thio Ki. Dia memuji aku, apa salahnya?"

Kwa Hong berkata, agak marah.

Dua orang anak laki-laki itu segera diam dan tidak mau mencela Beng San lagi.

Sementara itu Thio Bwee sudah meloncat maju dan bersilat pedang pula.

Agaknya seperti juga Kwa Hong atau semua anak perempuan, Thio Bwee tidak terluput dari sifat ingin dipuji.

Pujian yang ia terima dari tiga orang kawannya sudah membosankan hatinya, sekarang terdapat Beng San di situ yang sudah memuji Kwa Hong, tentu saja ia pun ingin memancing pujian.

Diam-diam Beng San memperhatikan.

Dalam gerakan-gerakan ilmu pedang Hoa-sanpai itu, ternyata Kwa Hong jauh lebih mahir, lebih cepat dan lebih ringan gerakannya.

Akan tetapi dalam gerakan menyerang, harus dia akui bahwa Thio Bwee ini lebih kuat, lebih ganas dan lebih berbahaya.

Setelah Thio Bwee selesai bermain pedang, kembali Beng San tanpa ragu-ragu ikut memuji, malah berkata.

"Bagus...... bagus.....!"

Mendadak terdengar suara pujian lain.

"Bagus, bagus Nona-nona kecil yang manis."

Ketika anak-anak itu menengok mereka melihat seorang laki-laki yang berpakaian indah berjalan menghampiri tempat itu sambil tersenyum-senyum.

Kemudian, sebelum anak-anak itu dapat menduga apa yang akan terjadi, laki-laki ini sudah meloncat ke depan dan sekali sambar saja dia sudah menangkap Kwa Hong dan Thio Bwee dengan kedua tangannya dan mengempit pinggang dua orang anak perempuan itu.

Kwa Hong dan Thio Bwee tentu saja tidak tinggal diam.

Mereka berusaha untuk meronta dan memberontak, namun percuma, dalam kempitan yang amat kuat dari laki-laki itu mereka tidak mampu melepaskan diri.

Kui Lok dan Thio Ki sudah dapat mengatasi kekagetan hati mereka.

Dengan marah mereka mencabut pedang dan menerjang maju.

"Penjahat busuk, lepaskan mereka bentak dua orang anak ini sambil menyerang dengan pedang. Laki-laki itu tertawa bergelak, kedua kakinya bergerak cepat melakukan tendangan berantai dan tubuh Kui Lok dan Thio Ki terlempar, pedang mereka terlepas dan pegangan. Sambil tertawa-tawa orang itu lalu keluar dari taman dengan langkah yang amat cepat. Dua orang gadis cilik itu tetap meronta-ronta di dalam kempitannya. Sebentar saja laki-laki itu lenyap dari situ, meninggalkan Kui Lok dan Thio Ki yang meringis dan mengeluh kesakitan ketika mereka merayap bangun. Beng San sudah tidak kelihatan lagi bayangannya, entah kemana perginya anak itu. Namun tentu saja Kui Lok dan Thio Ki tidak menaruh perhatian terhadap Beng San, sebaliknya mereka lalu dengan wajah pucat berlari-lari memasuki pondok Lian Bu Tojin untuk melaporkan tentang penculikan itu. Dapat dibayangkan betapa kaget hati Lian Bu Tojin, dan terutama sekali Sian Hwa.

"Bagaimana macamnya orang itu"

Tanya Lian Bu Tojin, sementara itu Sian Hwa sudah berkelebat keluar untuk melakukan pengejaran. Dia laki-laki pakaiannya indah.....,"

Kata Thio Ki yang masih gugup dan pucat.

"Masih muda wajahnya, tampan pesolek dan tersenyum-senyum?"

Ketika Kui Lok dan Thio Ki membenarkan, tahulah Lian Bu Tojin bahwa penculik dua orang muda cucu muridnya itu bukan lain adalah orang muda yang pernah mengganggu Sian Hwa dan yang mengaku bernama Souw Kian Bi.

Ah, berbahaya kalau dibiarkan Sian Hwa mengejar sendiri, pikirnya.

Kakek ini sudah maklum akan kelihaian orang she Souw itu, maka terpaksa dia lalu bangkit dari tempat duduknya dan segera melakukan pengejaran sendiri, bukan saja untuk merampas kembali dua orang cucu muridnya, juga untuk menjaga keselamatan Sian Hwa.

Ketika kakek ini turun dari puncak, dia melihat beberapa orang muridnya, yaitu para tosu yang berjaga, sudah menggeletak karena tertotok orang jalan darahnya.

Ini membuktikan bahwa orang she Souw itu memasuki Hoa-san-pai dengan menggunakan kekerasan.

Dugaan Lian Bu Tojin memang tidak keliru.

Laki-laki yang menculik Kwa Hong dan Thio Bwee itu memang bukan lain orang adalah orang yang pernah mengganggu Sian Hwa dan mengaku bernama Souw Kian Bi.

Siapakah dia ini?

Souw Kian Bi bukanlah orang sembarangan.

Dia ini sebetulnya seorang putera pangeran bangsa Mongol yang selain tinggi ilmu silatnya, juga amat nakal.

Dengan mempergunakan kekuasaannya sebagai putera pangeran, ditambah dengan kepandaiannya yang tinggi, anak bangsawan yang menggunakan nama Han, yaitu Souw Kian Bi ini mengumbar nafsunya.

Dia seorang pemuda hidung belang, terkenal suka mengganggu anak isteri orang lain.

Entah berapa banyaknya keonaran dia sebabkan, dan entah berapa banyak anak-anak dan isteri orang lain dia ganggu.

Akan tetapi siapa berani menentangnya?

Andaikata ada yang tidak takut menghadapi kedudukannya, setidaknya orang akan segan bermusuhan dengan putera pangeran yang tinggi ilmu silatnya ini.

Ayahnya seorang bangsawan Mongol, tentu saja mendengar tentang sepak terjang puteranya yang amat tercela itu.

Maka dia lalu memanggil Souw Kian Bi, memaki-makinya habis-habisan, kemudian untuk menjaga kebersihan nama keluarganya, dia memerintahkan Souw Kian Bi untuk ikut bekerja guna pemerintah.

Karena Souw Kian Bi pandai silat, maka dia lalu diberi tugas untuk membantu pemerintah dalam membasmi pemberontak-pemberontak, terutama sekali dalam usahanya membasmi Pek-lian-pai.

Inilah sebabnya mengapa Souw Kian Bi sampai tiba di daerah Hoa-san, daerah yang dianggap menjadi tempat persembunyian sebagian dari para pemberontak Pek-lian-pai.

Akan tetapi dasar pemuda bermoral rendah, di samping menjalankan tugasnya memimpin pasukan besar untuk menumpas pemberontak, Souw Kian Bi tak pernah melupakan kesenangannya.

Di mana-mana, terutama di desa-desa, dia menggunakan kekuasaannya untuk menculik wanita-wanita cantik.

Akhirnya, seperti telah dituturkan di bagian depan, dia bertemu dengan Liem Sian Hwa.

Kecantikan jago muda Hoa-san-pai ini membangkitkan semangatnya dan biarpun dia telah diusir oleh Lian Bu Tojin, namun hatinya masih penasaran kalau dia belum bisa berkenalan dengan Sian Hwa.

Selain ini, juga rombongannya menaruh curiga terhadap Hoa-sanpai dengan adanya kenyataan bahwa beberapa pasukan Mongol telah dihancurkan dan tewas di daerah ini.

Maka sambil melakukan penyelidikan akan keadaan Hoa-san-pai, Souw Kian Bi sekalian mencari kesempatan untuk mendapatkan diri Liem Sian Hwa!

Ketika memasuki taman Hoa-san-pai dan melihat Kwa Hong dan Thio Bwee, timbul pikiran Souw Kian Bi untuk memancing keluar Sian Hwa.

Kalau bukan untuk akal ini, kiranya dia takkan mau menculik dua orang bocah perempuan itu.

Souw Kian Bi memang tinggi kepandaiannya, maka biarpun dua orang bocah itu sudah mempelajari ilmu silat, di dalam kempitan kedua tangannya mereka tidak berdaya.

Di samping ini, Souw Kian Bi masih mampu berjalan dengan cepat sekali, turun dari puncak melalui sebelah utara.

Cepat dia meloncati jurang-jurang, mendaki batu-batu, nampak tubuhnya ringan dan enak saja melalui jalan yang sukar itu.

Ketika sudah jauh dia berlari dan menengok ke belakang, dari jauh dia melihat bayangan seorang anak kecil melakukan pengejaran.

"Hemmm, sudah kutendang masih berani mengejar?"

Souw Kian Bi berpikir penasaran.

la melepaskan Thio Bwee dan cepat menotok jalan darah anak ini sehingga menggeletak tak dapat bergerak lagi.

Tangan kanannya yang kini bebas merogoh saku, mengeluarkan sebuah pelor besi.

la menanti sampai bayangan anak yang mengejar itu agak dekat, lalu menyambit.

Jelas sekali sambitannya ini, tepat mengenai sasaran karena anak itu roboh terguling.

Sambil tertawa-tawa Souw Kian Bi mengempit lagi tubuh Thio Bwee dengan tangan kanannya, lalu melanjutkan larinya.

Siapakah bocah yang dia sambit tadi?

Bukan lain adalah Beng San!

Beng San yang pada saat Souw Kian Bi menculik Kwa Hong dan Thio Bwee berada pula di taman, diam-diam melakukan pengejaran.

Biarpun jalan itu sukar sekali, namun bagi Beng San yang sekarang bukan Beng San dahulu lagi, sudah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bukanlah merupakan jalan yang sukar.

Akan tetapi dia sengaja tidak mau menyusul Kian Bi, hanya mengikuti dari jauh untuk melihat ke mana dibawanya dua orang anak perempuan itu.

la memang bermaksud menolong Kwa Hong dan Thio Bwee, akan tetapi secara diam-diam agar jangan diketahui orang bahwa dia seorang yang memiliki kepandaian.

Ketika Souw Kian Bi menyerang dengan pelor baja yang disambitkan, tentu saja Beng San dapat melihat jelas datangnya pelor.

Dengan mudah tangannya menyambar, menangkap pelor itu, akan tetapi dia pura-pura menggulingkan tubuh?

agar jangan dicurigai lawan.

Benar saja, Kian Bi terpedaya dan mengira dia roboh binasa, tidak memeriksa lebih lanjut.

Setelah Kian Bi melanjutkan larinya, Beng San mengejar lagi, kini berhati-hati sekali agar jangan kelihatan oleh orang yang dikejarnya.

Kurang lebih dua puluh li Jauhnya Kian Bi membawa lari dua orang anak perempuan itu.

Akhirnya dia tiba di sebuah hutan yang berada di kaki Gunung Hoa-san sebelah utara.

Dalam hutan ini terdapat perkemahan yang besar, dan terjaga kuat oleh tentara Mongol.

Di tengah-tengah berkibar bendera Mongol yang ditandai gambar naga hitam.

Para penjaga tertawa ketika melihat putera pangeran ini datang menggondol dua orang bocah perempuan yang mungil-mungil.

"Aduh, Souw-kongcu, kau mendapatkan dua tangkai bunga yang belum mekar? Sayang bunga-bunga masih kuncup dipetik,"

Demikian komentar seorang kepala jaga.

"Hush, diam kau? Kau tahu apa?"

Souw Kian Bi membentak, akan tetapi mulutnya tersenyum sambil menurunkan Kwa Hong dan menotoknya pula.

"Nih, kaubawa dua orang bocah mungil ini ke kamar di kemahku, jaga baik-baik jangan sampai lari atau ada yang menolongnya. Aku menggunakan mereka untuk memancing datangnya seseorang yang kunanti-nanti. Awas, penjagaan harus diperkuat di sebelah depan. Sebelah belakang boleh kalian kosongkan, karena takkan mungkin bocah-bocah itu lari melalui jalan belakang yang penuh dengan rawa."

Setelah menyerahkan dua orang anak itu kepada penjaga yang segera membawa mereka ke tempat yang dimaksud, Souw Kian Bi memasuki perkemahan terbesar di mana berkumpul beberapa orang panglima dan tokoh-tokoh penting dalam usaha pembasmian Pek-lian-pai.

Sementara itu, hari telah menjadi gelap karena senja lewat terganti malam.

Di dalam kemah terbesar itu dipasangi penerangan yang besar pula, terjaga kuat-kuat oleh belasan orang serdadu di sekelilingnya.

Souw Kian Bi memasuki kemah itu dari depan, langsung menuju ke dalam, di mana terdapat ruangan yang lebar dan di sini berkumpul lima orang mengelilingi sebuah meja.

Hidangan arak dan makanan nampak mengebul di atas meja, dilayani oleh wanita-wanita cantik.

Ketika Kian Bi masuk, orang-orang itu segera berdiri dari tempat duduk masing-masing, kecuali seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam berkepala gundul dan berpakaian seperti seorang hwesio.

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 9

Baca Juga: Bu Kek Siansu 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert