Eps 5 Raja Pedang - Kho Ping Hoo
Baca online Raja Pedang - Kho Ping Hoo
Cersil Raja Pedang - Kho Ping Hoo.
Hwesio tinggi besar ini acuh tak acuh, malah ketika Kian Bi memasuki ruangan dia segera menyumpit sepotong daging besar dan dimasukkannya ke dalam mulut, terus dikunyah sambil mengeluarkan suara seperti babi makan.
Di dekat bangkunya bersandar sebuah dayung perahu yang amat besar, terbuat dari logam hitam kebiruan.
Usia hwesio ini tentu tidak kurang dari lima puluh tahun, mungkin sudah enam puluh, akan tetapi tubuhnya masih tetap tegap kuat, kepalanya yang licin belum nampak putih, sepasang matanya lebar bundar seperti mata kerbau.
Adapun empat orang yang lain adalah panglima-panglima Mongol yang bertugas mengadakan "pembersihan"
Di daerah ini terhadap para pemberontak, terutama orang-orang Pek-lian-pai.
"Souw-kongcu baru datang?"
Kata seorang diantara para panglima.
"Silakan duduk. Kebetulan sekali, sambil makan-makan kami sedang berunding dengan Lo-suhu untuk mengambil sikap terhadap Hoa-san-pai."
Hwesio tinggi besar itu melink ke arah Souw Kian Bi, lalu mengeluarkan suara melalui hidung seperti orang mengejek, kemudian disusul suaranya yang kasar, parau dan keras.
"Souw-kongcu selalu pergi mencari kesenangan dengan perempuan. Kalau berlarut-larut, tugas bisa kacau kesehatan rusak dan menurun. Kau tersesat, Kongcu."
Souw Kian Bi tertawa bergelak sambil menghempaskan tubuhnya di atas sebuah kursi yang berhadapan dengan hwesio itu.
Dengan lagak gembira dia menerima sebuah cawan arak yang dihidangkan oleh seorang nona pelayan manis sambil mencolek pipi pelayan itu, kemudian dia berkata.
"Losuhu, dalam bersenang saya tak pernah melupakan tugas. Kali ini saya berhasil membawa dua orang cucu murid Hoa-san-pai, perlu untuk memancing datangnya orang-orang Hoa-san-pai dan melihat bagaimana sikap mereka terhadap kita dan Pek-lian-pai."
La lalu menjelaskan maksudnya yang merupakan siasat untuk menjauhkan Hoa-san-pai dari para pemberontak itu.
"Bagus sekali, Kongcu!"
Seorang komandan berseru girang memuji akal putera pangeran ini.
Juga hwesio itu mengangguk-angguk akan tetapi karena otaknya tidak biasa berpikir tentang hal yang ruwet-ruwet, dia lalu minum araknya dengan lahap.
Siapakah hwesio tua ini?
Dia bukan lain adalah Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang, seorang tokoh besar dari timur yang berilmu tinggi.
Seperti juga para tokoh kang-ouw yang besar, misalnya Hek-hwa Kui-bo, Song-bun-kwi dan Siauw-ong-kwi, juga seperti yang lain dia ingin mendapatkan Liong-cu Siang-kiam.
Begitu turun dari pertapaannya, dia bertemu dengan anak perempuan yang menangisi mayat Thio Sian tokoh Pek-lian-pai kemudian hwesio ini yang tertarik oleh bakat baik dalam diri anak perempuan itu, lalu membawa pergi anak itu bersama mayat Thio Sian.
Anak itu bernama Thio Eng, puteri tunggal Thio Sian yang semenjak saat itu ia jadikan muridnya.
Hal ini sudah dituturkan di bagian depan, yaitu ketika kakek hwesio yang membawa lari Thio Eng ini dilihat oleh Kun-lun Sam-hengte.
Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang adalah seorang sakti, akan tetapi dia amat jujur dan mudah sekali dihasut atau dibujuk orang.
Akhirnya dia bertemu dengan putera pangeran yang bernama Souw Kian Bi ini.
Souw Kian Bi yang amat licin dan cerdik segera dapat membujuk Swi Lek Hosiang untuk membantunya.
Memang sebelumnya dia sudah mengenal Swi Lek Hosiang yang dahulu adalah seorang sahabat dari pamannya, yaitu Lo-tong Souw Lee.
Tentu pembaca masih ingat kepada Lo-tong Souw Lee, pencuri pedang Liong-cu Siang-kiam itu.
Memang, Souw Lee bukanlah orang biasa, melainkan dia juga seorang bangsawan Mongol yang sakti dan yang tidak suka melihat kelakuan bangsanya menindas orang-orang Han.
Oleh karena itu Souw Lee mencuri sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam dan melarikan diri.
Dalam percakapan ketika keduanya bertemu, Souw Kian Bi dengan cerdik menjanjikan bantuan kepada Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang untuk mencari Souw Lee yang masih terhitung saudara kakeknya, malah memberi janji bahwa kelak akan memberi kedudukan tinggi kepada Swi Lek Hosiang di depan kaisar.
Hwesio yang jujur tetapi kurang cerdik ini masuk dalam perangkap, apalagi ketika diceritakan tentang adanya pemberontakan-pem-berontakan yang jahat dan yang mengacau rakyat, hwesio ini serta merta menjanjikan bantuannya.
Demikianlah sebab-sebabnya mengapa orang sakti ini sekarang berada di dekat Souw Kian Bi untuk membantu pemerintah Mongol menindas para pemberontak.
Untuk keperluan ini, Swi Lek Hosiang ikut pergi ke Hoa-san di mana banyak tentara Mongol telah menjadi korban gempuran orang-orang Pek-lian-pai.
Thio Eng yang sudah menjadi muridnya dia titipkan pada sebuah kelenteng di kota Tiong Kwan.
"Yang berbahaya adalah Lian Bu Tojin,"
Kata Souw Kian Bi sambil mengerling ke arah hwesio yang ma$ih lahap makan daging dan arak itu.
"Hoa-san Sie-eng sih mudah untuk menghadapinya, Ketua Hoa-san-pai itulah yang nnembikin khawatir, dia lihai sekali....."
"Hemmm, berapa sih kuatnya Lian Bu Tojin? Tosu bau itu kalau betul memihak pemberontak dan mengacau, biar pinceng (aku) lawannya!"
Suara Tai-lek-si Swi Lek Hosiang mengguntur.
"Saya bukan kurang percaya akan kepandaian Losuhu, akan tetapi tosu tua itu tak boleh dipandang sebelah mata. Pedang pusakaku sekali bertemu dengan tongkat bambunya patah menjadi dua. Wah, bukan main lihainya dia!"
Souw Kian Bi berkata memperlihatkan sikap kekhawatiran besar. Dia cerdik sekali, kata-kata dan sikapnya ini sengaja membakar hati kakek yang jujur dan polos itu.
"Suruh dia datang! Suruh ketua Hoasan-pai datang! Pinceng hendak melihat sampai di mana kelihaiannya!"
Suara hwesio itu makin keras. Tiba-tiba terdengar suara dari luar kemah.
"Tai-lek-sin, tak perlu kau berteriak-teriak, pinto (aku) sudah datang!"
Suara ini lirih dan halus, akan tetapi terdengar dari dalam seolah-olah yang bicara berada di dalam ruangan itu.
"Nah, itu dia Hoa-san-pai ciangbujin (ketua),"
Bisik Souw Kian Bi, kini benar-benar dia ketakutan karena orang sudah bisa berada di luar kemah tanpa diketahui para penjaga, itu saja sudah membuktikan betapa lihainya orang yang datang ini.
Tak-lek-sin Swi Lek Hosiang menggerakkan tangan kirinya ke depan, ke arah pintu tenda.
Angin pukulan menyambar dan pintu itu terbuka dengan sendirinya.
la berkata sambil tertawa.
"Ketua Hoa-san-paikah yang datang? Harap masuk, pintu terbuka lebar-lebar!"
Semua orang memandang ke pintu yang terbuka.
Cuaca di luar remang-remang karena malam hanya diterangi bintang-bintang.
Dengan tenang berjalanlah kakek ketua Hoa-san-pai, Lian Bu Tojin, masuk sambil bersandar pada tongkatnya.
Di belakangnya bukan hanya Liem Sian Hwa yang mengikutinya, melainkan lengkap dengan Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng.
Ternyata?
Hoa-san Sie-eng sudah lengkap datang ke situ di belakang guru mereka!
Bagaimana tiga orang murid Hoa-san-pai itu dapat muncul di saat itu?
Hal ini adalah suatu kebetulan belaka.
Ketika Liem Sian Hwa dan kemudian Lian Bu Tojin melakukan pengejaran terhadap penculik Kwa Hong dan Thio Bwee, berlari turun dari puncak, di tengah jalan Sian Hwa dapat disusul gurunya dan pada saat itulah munculnya Kwa Tin Siong, Thio Wan It, dan Kui Keng yang sedang menuju ke puncak.
Tiga orang ini memang bersama datang untuk memenuhi janji dengan pihak Kun-lun-pai yang akan datang di Hoa-san.
Dengan singkat mereka mendengar dari Sian Hwa bahwa Kwa Hong dan Thio Bwee diculik orang, maka cepat-cepat mereka lalu beramai melakukan pengejaran.
Demikianlah, sekarang Hoa-san Sie-eng lengkap empat orang mengiringkan guru mereka memasuki perkemahan barisan Mongol yang bermarkas di tempat itu.
Melihat Sian Hwa, putera pangeran itu memandang penuh kasih sayang dan tersenyum sambil berkata.
"Nona Sian Hwa, alangkah gembira hatiku bahwa kau sudah sudi datang menjenguk tempat kediamanku....."
Sian Hwa sudah gatal-gatal mulut hendak memaki, akan tetapi oleh karena gurunya berada di situ, ia tidak berani membuka mulut mendahului suhunya, melainkan memandang dengan mata melotot penuh kemarahan.
Adapun Lian Bu Tojin ketika menyaksikan bahwa Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang berada di situ, segera berkata.
"Siancai (seruan pendeta), kiranya Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang yang menjadi agul-agul di sini. Tidak heran jika manusia she Souw ini berani bersikap kurang ajar dan tidak memandang mata kepada Hoa-san-pai....."
Setelah berkata demikian dia mendekat ke arah hwesio tinggi besar itu dan melanjutkan kata-katanya dengan suara berubah keren.
"Tai-lek-sin, kalau kau dan teman-tennan-mu hendak memusuhi Hoasan-pai, akulah orangnya yang bertanggung jawab. Kenapa manusia she Souw itu kaubiarkan mengganggu dua orang cucu muridku?"
Tai-lek-sin tertawa bergelak.
"Ha..ha..ha, Lian Bu Tojin tosu tua bangka. Pernahkah kau mendengar Tai-lek-sin manusia tiada guna seperti aku ini mengotorkan tangan mencampuri dunia? Hanya karena penjahat-penjahat merajalela, pemberontak-pemberontak macam Pek-lian-pai mengotori suasana dan mengganggu rakyat dan pemerintah, terpaksa pinceng turun tangan. Hoa-san-pai selamanya memiliki nama bersih, sayang sekali sekarang bersekongkol dengan Pek-lian-pai, terpaksa pinceng tidak dapat menyalahkan Souw-kongcu mengganggu cucu murid Hoa-san-pai!"
Lian Bu Tojin merasa dadanya panas sekali, akan tetapi kakek ini masih dapat menyabarkan hati, suaranya tetap lemah lembut ketika dia berkata.
"Bagus sekali sikapmu, hwesio! Sudah terang-terangan bahwa kau menjadi begundal pemerintah, hal itu bukanlah urusan pinto. Terserah siapa saja yang akan menjadi penjilat. Akan tetapi tuduhanmu bahwa Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai, sungguh tak berdasar samat sekali. Selamanya Hoa-san-pai tak pernah sudi bersekongkol dengan siapa saja, apalagi dengan Pek-lian-pai....."
"Fitnah bohong!"
Tiba-tiba Sian Hwa tak dapat menahan kemarahannya.
"Pek-lian-pai bahkan memusuhiku, membunuh ayahku....."
"Sian Hwa, diamlah kau."
Lian Bu Tojin mencela muridnya yang segera diam dengan muka merah.
"Pinceng tidak tahu urusannya, akan tetapi kalau hendak jelas biarlah Souw-kongcu yang menerangkan."
Hwesio itu kembali menghadapi hidangan di atas meja, makan minum tanpa pedulikan lagi orang-orang lain yang berada di situ.
Para tamu itu kini menghadapi Souw Kian Bi yang berdiri sambil tersenyum tenang.
"Totiang, aku hanya membawa dua orang anak cucu muridmu main-main di tempat kami yang indah ini dan kalian pihak Hoa-san-pai sudah menyerbu datang dan mengatakan aku jahat. Sebaliknya, Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai para pemberontak itu, membunuh puluhan bahkan ratusan orang tentara pemerintah yang bertugas menjaga keamanan. Manakah yang lebih jahat dan keji?"
"Orang she Souw, tutup mulutmu yang busuk sebelum aku paksa kau menutupnya!"
Tiba-tiba Thio Wan It yang terkenal berangasan membentak.
"Kami dari Hoa-san-pai tak pernah bersekongkol dengan Pek-lian-pai!"
Souw Kian Bi memandang sambil tersenyum mengejek "Hemmm, kiranya tidak akan semudah kau membuka mulut untuk dapat menutup mulutku, Sobat.
Sekarang dengarlah dulu.
Banyak pasukan tentara pemerintah terjebak dan tewas di kaki Gunung Hoa-sah, di sekitar daerah yang dikuasai Hoa-san-pai.
Kalau bukan kalian orang-orang Hoa-san-pai bersekongkol dengan Pek-lian-pai, mana dapat terjadi hal itu?"
"Kau boleh mengoceh dan berkata apa saja, pokoknya kami tak pernah berhu-bungan dengan Pek-lian-pai. Pendeknya lekas kaubebaskan puteriku, kalau ti-dak....."
Kata Thio Wan It yang merasa khawatir sekali atas nasib anaknya, Thio Bwee.
"Betul, bebaskan anak-anak kami jangan bersikap pengecut. Urusan boleh diurus, kalau perlu di ujung pedang, tapi jangan mengganggu anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa!"
Baru kali ini Kwa Tin Siong berkata, suaranya tenang mantap dan matanya penuh ancaman.
Akan tetapi Lian Bu Tojin berpikir lain.
Sekarang kakek ini mengerti bahwa orang she Souw itu ternyata adalah seorang yang penting dalam pemerintah Mongol, maka amatlah tidak baik kalau Hoa-san-pai tersangkut dalam urusan pemberontakan Pek-lian-pai.
Andaikata Pek-lian-pai benar-benar merupakan perkumpulan patriotik yang bersih, tentu saja.
Hoa-san-pai akan senang sekali menggabungkan diri.
Akan tetapi pada waktu itu dia sendiri masih sangsi terhadap Pek-lian-pai yang seolah-olah sedang memusuhi Hoa-san-pai, maka kurang baik kalau Hoa-san-pai dianggap bersekongkol dengan Perkumpulan Teratai Putih itu.
la lalu melangkah maju, menghalangi kedua pihak yang sudah panas.
Kalau terjadi pertempuran, agaknya pihaknya akan mengalami kerugian, pikir ketua Hoa-san-pai ini.
Dia sendiri mendapat lawan berat, yaitu Tai-lek-sin yang dia tahu tentu memiliki ilmu yang tak boleh dipandang ringan.
Empat orang muridnya sungguhpun boleh diandalkan, akan tetapi bagaimana kalau mereka itu dikurung dan dikeroyok oleh ratusan orang tentara Mongol?
Apalagi selain Souw Kian Bi, empat orang komandan dan yang duduk di situ pun agaknya bukan orang-orang lemah.
"Tai-lek-sin, mengapa kau diam saja? Apakah sengaja kami dipancing datang hendak diajak bertanding? Ataukah berdamai? Apa maksud kalian memancing kami datang?"
"Aku tidak tahu apa-apa. Bicaralah dengan Souw-kongcu,"
Jawab hwesio itu sambil tertawa-tawa. Biarpun sungkan bicara dengan orang muda pesolek itu terpaksa ketua Hoa-san-pai menghadapinya.
"Saudara Souw, katakanlah terang-terangan apa yang tersembunyi di balik segala perbuatanmu ini. Sudah jelas bahwa. kau menculik dua orang cucu muridku dengan maksud memancing kami datang. Nah, setelah kami datang, apa yang kaukehendaki?"
Souw Kian Bi tetap tersenyum-senyum.
"Senang sekali bercakap-cakap dengan Totiang yang lebih sabar dan luas pandangan,"
Katanya melirik ke arah Hoa-san Sieeng yang marah-marah.
"Ucapan seorang ketua Hoa-san-pai tentu saja kami dapat percaya penuh. Sesungguhnya bagaimanakah, Totiang, apakah tidak ada persekongkolan jahat antara Hoa-san-pai dan Pek-lian-pai?"
"Tidak ada sama sekali,"
Jawab kakek itu mendongkol.
"Bagus, kalau begitu dugaan kami keliru dan kedua orang anak itu tentu saja harus dibebaskan sekarang juga. Akan tetapi, kami tetap akan ragu-ragu kalau Totiang tidak menyatakan janji lebih dulu. Totiang berjanji dan kami melepaskan dua orang anak kecil itu dan ..... beres?"
Lian Bu Tojin mengerutkan alisnya. Bukan main licinnya orang muda ini, pikirnya. Licin berbahaya penuh tipu muslihat.
"Janji apa yang kaukehendaki dari pinto?"
"Janji bahwa Hoa-san-pai tidak akan bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memusuhi pemerintah."
LianBu Tojin tersenyum.
"Baik. Pinto berjanji bahwa Hoa-san-pai takkan bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memusuhi pemerintah."
Souw Kian Bi mengerutkan kening. Mengapa begini mudah ketua ini berjanji? la memutar otak dan tiba-tiba dia berkata lagi.
"Dan berjanji bahwa Hoa-san-pai takkan memusuhi pemerintah."
"Orang she Souw, kenapa kau begini cerewet? Hoa-san-pai sudah berjanji menuruti permintaanmu, berjanji takkan bersekongkol dengan Pek-lian-pai untuk memusuhi pemerintah. Hanya sekian dan habis. Kalau kau terlalu mendesak, pinto tak sudi berjanji lagi."
"He, Souw-kongcu. Tosu tua ini sudah berjanji takkan bersekongkol dengan Pek lian-pai, bukankah itu sudah cukup? Hayo lekas keluarkan dua orang bocah perempuan itu,"
Kata Tai-lek-sin dengan suara keras.
Memang sesungguhnya inilah yang dikehendaki oleh para pimpinan Mongol.
Mereka amat khawatir kalau-kalau para partai persilatan besar mengadakan kerja sama dengan Pek-lian-pai.
Mereka berusaha sekuatnya untuk memisahkah partai-partai ini dari Pek-lian-pai agar kedudukan Pek-lian-pai kurang kuat, malah kalau mungkin memecah-mecah para partai itu agar saling serang sendiri.
Kalau sekarang ketua Hoa-san-pai berjanji takkan bersekongkol dengan Pek-lian-pai, hal ini sudah merupakan sebuah kemenangan bagi pemerintah.
Souw Kian Bi bukan seorang bodoh, Bukan maksud pemerintah untuk memusuhi setiap partai persilatan, apalagi partai sebesar Hoa-san-pai yang kuat.
Seorang musuh saja, Pek-lian-pai sudah cukup memusingkan, jangan sampai ditambah musuh ke dua.
la harus mengo-bankan perasaannya sendiri, biarpun dia ingin sekali kalau bisa menukar kedua orang tawanannya itu dengan nona Sian Hwa yang menggetarkan hatinya, atau Setidaknya dia pun akan suka mendapatkan dua orang nona cilik itu untuk menghibur hatinya, namun kepentingan tugasnya harus dia dahulukan.
Apalagi, kiranya bodoh sekali kalau main-main dengan Hoa-san-pai!
Sambil tertawa dia memberi perintah kepada seorang di antara para komandan pasukan.
"Bawalah dua orang nona cilik itu ke sini."
Komandan itu pergi dengan cepat, masuk ke perkemahan belakang. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan muka pucat dan suaranya gugup.
"Celaka, Kongcu. Dua ekor burung itu sudah terbang!"
Souw Kian Bi membanting-banting kaki.
"Apa kau bilang?"
Cepat tubuhnya berkelebat dan lari memburu ke tempat ditahannya dua orang anak itu.
Yang lain, termasuk orang-orang Hoa-san-pai, ikut pula mengejar ke belakang.
Ke manakah perginya Kwa Hong dan Thio Bwee?
Betulkah dua orang anak perempuan yang sudah ditotok tak berdaya dan dikurung dalam kamar tahanan itu dapat melarikan diri?
Memang kenyataannya betul demikian.
Akan tetapi tentu saja ada orang menolongnya.
Penolong ini bukan lain adalah Beng San yang diam-diam terus mengikuti larinya Souw Kian Bi sampai memasuki perkemahan pasukan Mongol.
Menggunakan, kecepatan dan keringanan tubuhnya, dilindungi pula oleh gelapnya malam, Beng San berhasil membobol pagar yang mengelilingi perkemahan tanpa dilihat oleh para penjaga.
la berhasil pula mendengarkan pesan Souw Kian Bi kepada para penjaga.
Mendengar bahwa bagian belakang perkemahan itu tidak terjaga kuat, dia mendapat pikiran untuk menolong dua orang nona kecil itu melarikan diri melalui belakang perkemahan.
Dapat dibayangkan betapa herannya hati Kwa Hong dan Thio Bwee ketika mereka berada di dalam kamar tanpa dapat bergerak itu, tiba-tiba mereka melihat munculnya Beng San!
Anak ini memberi tanda agar supaya Kwa Hong dan Thio Bwee jangan mengeluarkan suara.
Alangkah lucunya.
Tak usah dilarang sekalipun memang dua orang nona cilik itu tak dapat bersuara lagi.
Lalu Beng San memberi isyarat supaya mereka ikut, akan tetapi bagaimana mereka bisa ikut kalau mereka tidak mampu bergerak?
Melihat keadaan mereka, Beng San curiga.
la sudah mempelajari secara teliti tentang perjalanan darah ini, dahulu diajar oleh Lo-tong Souw Lee.
Karena keadaan mendesak, tanpa ragu-ragu, dia mendekati Kwa Hong dan meraba lehernya.
Benar saja dugaannya, Kwa Hong telah terkena totokan yang luar biasa.
Beng San mengeluh.
Biarpun dia sudah mempelajari tentang jalan darah, namun dia sendiri belum bisa menotok, apalagi membebaskan.
Di luar kemah terdengar suara serdadu-serdadu tertawa.
Beng San gugup dan tanpa berpikir panjang lagi dia lalu menangkap dua orang nona cilik itu dan memanggul tubuh mereka di afas pundaknya, satu di kanan dan satu di kiri!
Dengan beban ini dia menyelinap keluar melalui jalan belakang.
Tanpa ia sadari sendiri, Beng San telah memiliki tenaga yang luar biasa sehingga memanggul dua orang anak perempuan itu seperti tidak terasa sama sekali olehnya, begitu ringan!
Benar sekali seperti yang diperintahkan oleh Souw Kian Bi tadi, jalan belakang ini sama sekali tidak terjaga.
Mula-mula Beng San merasa girang sekali dan juga heran mengapa serdadu-serdadu itu begitu bodoh.
Akan tetapi baru saja dia lari sejauh satu li, dia kaget sekali karena di depannya terbentang rawa yang amat luas la mencari jalan agar jangan melalui rawa, akan tetapi setelah berlari ke sana ke nnari, dia tidak dapat menemukan jalan yang lebih baik.
Selain melalui rawa, dia terhadang oleh jurang yang tak mungkin dapat dilewati saking lebarnya, juga menghadapi dinding karang yang menjulang tinggi.
Tanpa membawa beban belum tentu dia akan dapat mendaki dinding karang ini dengan selamat, apalagi memanggul dua orang anak itu.
Sungguh berbahaya.
"Celaka....."
Pikir Beng San.
la menjadi serba salah.
Kembali tak mungkin.
terus juga bagaimana?
Akhirnya dia menjadi nekat.
Hati-hati dia memasuki rawa yang gelap dan mengerikan itu, dengan airnya yang diam bercampur tanah dan rumput.
Hanya suara katak yang memenuhi rawa itu terdengar amat menyeramkan.
Ia menjadi lega ketika kakinya menginjak tempat dangkal, hanya selutut dalamnya.
Ia melangkah maju, hati-hati sekali karena dasar rawa itu penuh batu licin.
Sampai sepuluh Jangkah lebih dia selamat karena tempat itu dangkal.
Tiba-tiba dia tergelincir batu yang jicin.
Beng San mengerahkan tenaga dan mengatur keseimbangan tubuh.
Ia selamat tidak sampai roboh, akan tetapi dua orang anak perempuan yang dia panggul menjadi basah dan kotor oleh lumpur.
la berjalan terus, maju bermaksud menyeberangi rawa.
Akan tetapi segera dia mendapat kenyataan mengapa para serdadu sengaja tidak menjaga tempat itu.
Memang bukan main sukar dan berbahayanya jalan ini.
Segera dia tiba di bagian air yang berlumpur dan tempat pun tidak sedangkal tadi, sudah mencapai pinggangnya.
Sukar sekali .untuk maju melalui lumpur yang ditumbuhi rumput ini, apalagi di bawah amat licinnya.
Yang paling mengerikan adalah kalau memikirkan apa isi rawa-rawa itu, binatang mengerikan apa yang berada di bawah rumput dan di dalam lumpur itu.
Akan tetapi Beng San tidak ingat akan ini semua, melainkan melangkah terus maju dengan tabah.
"Lepaskan aku! Aku bisa beralan sendiri!"
Tiba-tiba Kwa Hong yang dipanggul di pundak kanannya bergerak dan berseru. Juga Thio Bwee di atas pundak kirinya mulai bergerak-gerak.
"Syukur kalian sudah bisa bergerak lagi,"
Kata Beng San sambil menurunkan Kwa Hong dari pundaknya.
Akan tetapi karena tak dapat bergerak, tubuh Kwa Hong masih lemas dan ketika ia diturunkan berdiri di dalam air berjumpur, hampir saja ia terguling roboh kalau tidak cepat-cepat disambar pinggangnya oleh Beng San.
Thio Bwee juga minta turun dan diturunkan dengan hati-hati.
"Beng San, kau hendak membawa kami ke mana?"
Kwa Hong bertanya, suaranya agak marah karena tadi ia dengan jengkel dan mendongkol sekali melihat tanpa berdaya betapa tubuhnya dirangkul dan dipanggul oleh bocah ini.
Tentu saja ia sudah marah dan memaki-makinya kalau saja tidak sedang berada dalam keadaan seperti ini.
Malah diam-diam ia merasa bersyukur bahwa Beng San datang untuk menolongnya.
Mengapa bukan bibi gurunya atau kakek gurunya, atau setidaknya mengapa bukan Kui Lok dan Thio Ki?
"Ke mana?
Tentu saja pulang ke puncak Hoa-san.
Kalau saja kita bisa melewati rawa-rawa yang berbahaya ini.
Heee......
hati-hati, Nona Bwee.,...!".
Thio Bwee tergelincir dan lenyap dari permukaan air.
Ternyata ia telah menginjak bagian yang amat dalam sehingga tak dapat dicegah lagi ia tenggelam ke dalam air berlumpur itu!
"Celaka!"
Beng San cepat menubruk maju dan dia pun kena injak tempat yang dalam itu sehingga dia pun lenyap dari permukaan air.
Kwa Hong menggigil ketakutan dan ingin dia menjerit-jerit kalau saja tidak teringat bahwa dia sedang melarikan diri dari musuh.
la tidak berani sembarangan bergerak, takut mengalami nasib seperti Beng San dan Thio Bwee, akan tetapi hatinya takut bukan main, gelisah melihat hilangnya dua orang teman itu tanpa dapat menolongnya sama sekali.
Keadaan amat gelap dan Kwa Hong sudah mulai me nangis.
Tiba-tiba air di depannya bergerak dan muncullah kepala Beng San.
Anak ini berenang ke tempat dangkal di dekat Kwa Hong sambil menyeret Thio Bwee yang sudah pingsan.
Cepat-cepa Kwa Hong menyusuti muka Thio Bwee yw-g penuh lumpur itu.
Setelah dipijat-pijat pundaknya dan digoyang-goyang akhirnya Thio Bwee siuman kembal Anak ini menangis dan berkata ketakutan.
Bawa aku ke darat..,,.
bawa aku pulang....."
La menangis ketakutan.
Selama hidupnya, baru kali ini ia mengalami kejadian yang begini menakutkan.
Siapa orangnya yang tidak takut kalau melihat sekeliiingnya hanya air lumpur ditumbuhi rumput, gelap pekat dan di sekeliling situ, tak diketahui dengan pasti di mana terdapat lubang-lubang jebakan yang amat dalam?
"Lebih baik kalian kupanggul seperti tadi.
Biarlah aku yang mencari jalan keluar dari rawa ini....."
Kata Beng San setelah berhasil membersihkan lumpur dan mulut, hidung dan matanya. Saking takutnya dan mengharapkan pertolongan, Thio Bwee tanpa ragu-ragu lagi laju merangkul Beng San sambil berkata.
"Tolonglah, Beng San..... tolong keluarkan aku dari tempat neraka ini...", la menurut saja ketika dipanggul oleh Beng San, tidak seperti tadi, sekarang disuruh duduk di atas pundak kirinya. Thio Bwee agak besar hatinya setelah duduk di pundak itu, duduk sambil merangkul kepala Beng San, masih menggigil ketakutan.
"Jangan khawatir, Nona Bwee. Memang aku datang untuk menolong kalian,"
Katanya, suaranya dibikin setenang mungkin, akan tetapi sebetulnya dia sendiri masih sangsi apakah dia akan berhasil menyeberangi rawa-rawa yang amat berbahaya ini.
"Nona Hong, kau pun sebaiknya duduklah di pundakku yang sebelah ini."
La pikir, lebih baik dua nona muda itu duduk di pundaknya agar jangan sampai tergelincir dan masuk ke dalam lubang dalam seperti yang dialami Thio Bwee tadi.
Kalau terjadi demikian, amat berbahaya.
Tadi secara kebetulan saja di dalam air keruh itu dia dapat menangkap tubuh Thio Bwee, kalau tidak, bukankah nyawa nona Thio itu akan terancam bahaya maut?
"Apa...??"
Tidak sudi aku!"
Bentak Kwa Hong yang sudah kumat lagi kegalakannya. Akan tetapi agaknya ia segera teringat bahwa Beng San berusaha menolongnya, maka segera disambungnya dengan suara yang tidak galak lagi.
"Aku bisa jalan sendiri dan pula ... memanggul Enci Bwee saja sudah berat, aku tidak mau memberatkan engkau lagi ...". Di dalam gelap Beng San tersenyum. la tidak marah karena memang dia sudah mulai mengenal watak Kwa Hong, malah watak semua yang berada di puncak Hoa-san. Biarpun Kwa Hong tidak mau dipanggul, malah tidak mau digandeng tangannya, namun dia selalu siap menjaga dan melindungi gadis galak ini. Baiklah sesukamu, Nona Hong. Mari kita maju lagi. Hati-hatilah....."
Katanya sambil melangkah perlahan, meraba-raba dengan ujung kakinya sebelum menginjak agar tidak terjeblos ke dalam lubang dalam.
Thio Bwee masih menangis kecil di atas pundaknya sambil memeluk lehernya, amat ketakutan dan kedingilnan karena ia tadi basah kuyup dari kaki sampai kepala.
Langit bersih dari awan."Bintang-bintang penuh bertaburan di langit biru, mendatangkan cahaya yang lumayan sehingga keadaan tidak segelap tadi.
Tiga orang anak itu dapat melihat ke depan, sungguhpun tidak amat jauh, namun cu-kuplah untuk mengurangi keseraman.
Tiba-tiba Kwa Hong mengeluh.
"Aduh kakiku..... apa ini gatal-gatal?"
La mengangkat kaki kirinya ke atas sampai melewati permukaan air dan.....
dalam cuaca yang remang-remang itu terlihatan seekor lintah menempel pada betis kakinya, mengisap darahnya melalui kain celana yang tipis.
Lintah itu gemuk bulat, agaknya sudah banyak juga darah Kwa Hong diisapnya.
"Hiiui..... apa itu.....? Hiiiii!"
Kwa Hong menggigil saking jijiknya dan ia menubruk Beng San, merangkul lehernya dengan ketakutan. Beng San tahu apa adanya binatang itu.
"Tenanglah, Nona Hong. Itu adalah lintah, binatang penghisap darah. Dia sudah penuh darah, kalau sudah kenyang akan terlepas sendiri....."
Hampir pingsan Kwa Hong oleh kengerian dan kejijikan.
"Buanglah..... lepaskan dari betisku..... huiii....."
"Kalau diambil secara paksa, kulit betismu akan terluka, Nona. Biarkan sebentar."
Tanpa ragu-ragu Beng San memegang kaki Kwa Hong yang diangkat itu, melihat lintah dari dekat.
Betul saja dugaannya, lintah itu segera melepaskan kaki Kwa Hong karena sudah kekenyangan, jatuh ke dalam air dan lenyap.
Kwa Hong meremang bulu tengkuknya, ia ketakutan sekali dan tanpa diminta lagi ia segera meloncat ke pundak Beng San, duduk di atas pundak kanan, tangannya memegangi leher.
"Binatang celaka, binatang menjijikkan, terkutuk....."
Ia memaki-maki, tapi ia masih menggigil ketakutan.
Beng San merangkul kaki dua orang nona itu agar tidak jatuh dari atas pundaknya, kemudian dia melangkah maju lagi.
Setelah dua orang nona itu duduk di atas pundaknya, dia lebih lancar bergerak maju, tidak usah menjaga orang lain di sisinya seperti tadi.
Air sekarang sudah mencapai dadanya.
Celaka, pikir Beng San.
Kalau air itu makin dalam, bagaimana?
Tentu saja dia dapat berenang, akan tetapi bagaimana dengan dua orang nona ini?
Dengan berenang sukar kiranya membawa mereka itu.
la memutar-mutar otak mencari akal untuk menghadapi kemungkinan ini.
Begini saja, pikirnya, untuk sementara kutinggalkan dulu mereka di tempat yang tidak dalam, kemudian aku berenang melalui tempat dalam mencari tempat berpijak lain yang dangkal.
Kemudian kubawa mereka seorang demi seorang menyeberangi ke tempat itu.
Lalu pergi mencari lagi.
Kukira dengan demikian akhirnya kita akan sampai juga ke seberang.
la berbesar hati dan melanjutkan langkahnya, hati-hati agar jangan sampai tergelincir ke dalam lubang dalam.
"Hong-jiiiii.....!"
"Bwe-jiiiii.....!"
Suara panggilan ini terdengar keras, bergema sampai ke tengah rawa.
"Ayah memanggilku!"
Seru Kwa Hong gembira.
"Itu suara ayahku!"
Thio Bwee juga berseru.
"Hong-ji! Bwee-ji! Kembalilah ke sini, ayah kalian menanti di sini!"
Terdengar suara Sian Hwa yang tinggi nyaring.
"Ah, semua orang sudah menyusul di sana Beng San, hayo kita kembali saja. Ayah dan bibi sudah di sana, kita sudah aman sekarang,"
Kwa Hong mendesak.
"Betul, hayo antar aku ke sana, Beng San. Ayah menanti di sana,"
Kata pula Thio Bwee dengan gembira. Hilangiah kekhawatiran dan ketakutan dua orang anak perempuan itu setelah mereka mendengar suara ayah mereka. Beng San ragu-ragu.
"Tapi..... apakah tldak lebih baik terus saja mendahului dan menanti di rumah ? Jalan kembali lebih jauh....."
"Eh, kau berani membantah? Kalau tidak mau antar, biar aku jalan sendiri!"
Kwa Hong merosot turun dari atas pundak Beng San, juga Thio Bwee.
Dua orang anak ini mendadak timbul keberaniannya.
Beng San menarik napas panjang.
Sebetulnya dia keberatan untuk kembali karena takut kalau-kalau dia akan mendapat marah.
Akan tetapi, tidak tega pula kalau harus membiarkan dua orang nona ini kembali berdua saja.
Bagaimana nanti kaiau Thio Bwee tergelincir seperti tadi?
Bagaimana kalau kaki Kwa Hong digigit lintah seperti tadi?
Kalau sampai sebrang diantara dua orang nona ini terkena celaka, bukankah tanggung jawabnya akan lebih besar pula dan lebih berat?
"Baiklah,"
Akhirnya dia berkata.
"Mari kita kembali."
La lalu menggandeng tangan dua orang nona cilik itu yang tidak menolak. Sambil bergandengan tangan Beng San ditengah-tengah, tiga orang anak itu menyeberang dan kembali ke tempat tadi.
"Ayah.....! Tunggulah, kami kembali ke sana.....!"
Kwa Hong berteriak keras-keras ke arah tepi rawa.
Mendadak mereka melihat lampu penerangan dipasang di tepi rawa itu sehingga makin mudahlah bagi mereka karena sekarang tempat yang dituju kelihatan nyata.
Setelah dekat tepi rawa, dengan he-ran mereka melihat Hoa-san Sie-eng lengkap bersama Lian Bu Tojin dan tokoh-tokoh Hoa-san ini bersama Souw Kian Bi si penculik, seorang hwesio tinggi besar dan beberapa orang panglima Mongol?
Bagaimana mereka bisa rukun seperti itu setelah Souw Kian Bi menculik mereka?
Kwa Hong dan Thio Bwee terheran, akan tetapi juga girang sekali.
Setelah tiba di tempat dangkal, mereka berlari meninggalkan Beng San, untuk menjumpai ayah masing-masing.
Pakaian mereka, bahkan muka mereka kotor berlumpur.
Apalagi Beng San!
Ketika anak ini tiba di tempat dangkal, baru dia melihat bahwa lebih dari tujuh ekor lintah menempel di tubuhnya, di kaki kanan kiri dan di paha dan perut!
la marah sekali dan andaikata mukanya tidak berlumpur, tentu muka itu akan kelihatan merah.
la mengerahkan hawa di tubuhnya dan seketika itu lintah-lintah itu bergelimpangan, terlepas dari tubuhnya dalam keadaan mati!
Tak seorang puh memperhatikan hal ini karenai lintah-lintah yang penuh lumpur itu pun tidak kentara.
"Keparat, berani kau mengganggu nona-nona tawananku?"
Tiba-tiba Souw Kian Bi meloncat dan sebelum lain orang dapat mericegahnya, putera pangeran ini sudah menyambak rambut Beng San dan diseretnya ke tepi rawa sambil dipukulinya sekehendak hatinya.
Beng San marah sekali, akan tetapi ketika merasa betapa pukulan orang itu mengandung hawa panas, dia cepat mengerahkan tenaga dalamnya dan menggunakan tenaga Im untuk melawannya.
Pada saat itu, Kwa Hong dan Thio Bwee sudah meloncat dan menerjang Souw Kian Bi sambil berteriak-teriak.
"Jangan pukul Beng San!"
Bentak Kwa Hong.
"Kau yang jahat menculik kami, dia penolong kami!"
Bentak Thio Bwee.
Menghadapi serbuan dua orang nona cilik yang hendak membalas dendam ini, Souw Kian Bi tentu saja tidak takut.
Akan tetapi dia merasa tidak enak sendiri untuk melayani anak-anak kecil, nnaka sekali lagi dia memukulkan tangannya ke arah dada Beng San kemudian meloncat mundur.
"Bleeek!"
Pukulan itu keras sekali, Beng San sampai terpental ke belakang, akan tetapi dia tidak terluka.
"Dia adalah kacung Hoa-san-pai, tak boleh diganggu orang luar!"
Tiba-tiba Lian Bu Tojin berkata dengan suaranya yang berpengaruh.
Tadinya kakek ini marah sekali kepada Beng San yang dianggapnya lancang sekali.
Pertama, lancang karena berani meninggalkan puncak Hoa-san, ke dua, lancang karena berani mencoba-coba menolong dua orang cucu muridnya sehingga hal ini mendatangkan malu kepadanya.
Masa cucu muridnya harus ditolong oleh seorang kacungnya?
Padahal di situ ada Hoa-san Sie-eng lengkap dan ada dia pula.
Maka ketika tadi melihat Beng San dipukuli, kakek ini diam saja dengan keputusan hati akan diobati kelak kalau terluka.
Akan tetapi ketika melihat betapa dua orang cucu muridnya menyerbu, kakek ini baru ingat bahwa betapapun juga, Beng San sudah berjasa dan memperlihatkan pribudi yang baik dalam usahanya menolong tanpa memperhitungkan bahaya untuk diri sendiri yang tiada kepandaian.
Maka dia lalu mengeluarkan kata-kata itu untuk mencegah pihak Mongol menyerang Beng San.
Kemudian dia memberi tanda kepada murid-muridnya untuk meninggalkan tempat itu.
juga Beng San berjalan di sebelah belakang sambil menundukkan mukanya.
Apalagi Hoa-san Sie-eng atau dua orang gadis cilik itu, bahkan Lian Bu Tojin sendiri tidak tahu betapa sepergi mereka, Souw Kian Bi terguling roboh dan muntah-muntah darah, mukanya berubah kehijauan seperti orang keracunan.
Tentu saja di situ menjadi geger.
Swi Lek Hosiang cepat memeriksa dan hwesio tua ini kaget setengah mati.
Ternyata bahwa putera pangeran itu telah menderita luka dalam yang hebat juga.
Cepat dia memberi pengobatan dan tak habis heran bagaimana Souw Kian Bi bisa menderita luka seperti ini.
Setelah putera pangeran itu sembuh tiga hari kemudian, Swi Lek Hosiang minta penjelasan.
"Siapakah yang melukaimu?"
Souw Kian Bi sendiri juga tidak mengerti.
"Aku tidak bertempur dengan siapa juga. Hanya kupukul dada anak kotor itu..... ah, benar dia! Aku sudah merasa aneh sekali mengapa ketika aku memukul dadanya, aku merasa seakan-akan memukul benda yang lunak sekali dan terasa sakit pada dadaku!"
Tai-lek-sin Swi Lek Hosiang menggeleng-gelengkan kepala.
"Tak mungkin. Anak itu kelihatan tidak tahu apa-apa, lagi pula hanya kacung di Hoa-san-pai, masa memiliki kepandaian yang tinggi seperti itu? Aneh sekali!"
"Betul, Losuhu. Aku ingat sekarang. Anak itu tentu mempunyai sesuatu yang luar biasa. Siapa tahu kalau-kalau dia itu menerima warisan kepandaian dari Lian Bu Tojin. Dia kacungnya, bukan? Siapa tahu diam-diam kakek tosu bau itu menurunkan ilmunya....."
"Mungkin, akan tetapi tetap saja aneh."
Hwesio itu merenung karena dia teringat akan murid angkatnya yang ditinggalkan di kelenteng.
Muridnya itu biarpun hanya seorang anak perempuan, namun juga memiliki bakat yang luar biasa dalam ilmu siiat.
Apakah anak laki-laki kotor itu sedemikian baik bakatnya sehingga sekecil itu sudah menyimpan tenaga dalam yang dapat menangkis pukulan Souw Kian Bi bahkan melukainya?
Agaknya tak mungkin!
* * * Lima bulan telah lewat semenjak Kun-lun Sam-hengte berjanji hendak mengunjungi Hoa-san Sie-eng di puncak Hoa-san.
Hoa-san Sie-eng sudah berkumpul di puncak Gunung Hoa-san, setiap hari menanti kedatangan tiga orang murid Kun-lun-pai, terutama Kwee Sin, dengan hati tak sabar lagi.
Kwa Tin Siong setelah melihat Beng San segera mengenalnya sebagai bocah aneh yang pernah dia jumpai dahulu di tengah hutan.
la segera memberitahukan hal ini kepada adik-adik seperguruannya, juga kepada suhunya dan menyatakan kecurigaannya.
"Sekarang ini jamannya sedang kacau-balau, banyak terjadi fitnah dan musuh rahasia mengelilingi kita. Siapa tahu kalau-kalau anak ini seorang mata-mata yang sengaja dilepas lawan untuk menyelidiki keadaan kita."
Demikian kata-katanya dan adik-adik seperguruannya membenarkan wawasan ini.
Hanya Lian Bu Tojin yang tidak setuju di dalam hatinya karena dengan adanya surat pengenal dari Lo-tong Souw Lee.
Tiba-tiba berpikir sampai di sini, ketika teringat kepada Lo-tong Souw Lee, sekaligus kakek ini teringat pula kepada Souw Kian Bi.
Dua orang she Souw itu.
apakah tidak ada hubungan apa-apa?
Souw Kian Bi dihormati panglima-panglima Mongol, sedangkan dia tahu benar bahwa Lo-tong Souw Lee berasal dari keluarga bangsawan Mongol pula Ah jangan-jangan benar kecurigaan muridnya yang tertua, siapa tahu kalau-kalau antara Beng San dan Souw Kian Bi memang ada permainan sandiwara!
Kakek ini mengerutkan keningnya.
Besar sekali kemungkinannya.
Beng San tidak mengerti ilmu silat, mengapa ketika dipukul oleh Souw Kian Bi tidak terluka?
Bukankah itu menandakan bahwa Souw Kian Bi hanya pura-pura memukul saja?
Ataukah Beng San yang tahu akar ilmu silat akan tetapi sengaja berpura-pura tidak tahu?
"Ucapanmu berdasar juga, Tin Siong.
Akan tetapi tanpa bukti tak mungkin kita menuduh Beng San yang bukan-bukan.
Dia hanya seorang anak kecil, kita lihat-lihat sajalah.
Kaiau betul dia kaki tangan orang jahat, dia bisa berbuat apa terhadap kita,"
Demikian kakek ketua Hoa-san-pai ini berkata.
Selanjutnya kakek ini lalu memanggil Beng San dan memesan kepada anak itu agar supaya jangan mencampuri lagi urusan luar dan selalu berada di dalam kelenteng dan melakukan tugas pekerjaannya baik-baik.
Hari yang dinanti-nantikan dengan hati berdebar tiba juga.
Pada suatu hari matahari belum naik tinggi benar, seorang tosu berlari-lari melaporkan bahwa Kun-lun Sam-hengte telah datang mendaki puncak Hoa-san!
Karena urusan yang dihadapi adalah urusan besar dan karena tidak ingin meiihat murid-muridnya berlaku lancang, Lian Bu Tojin sendiri berkenan menerima kedatangan tiga orang jago dari Kun-lun-pai itu.
Liang Bu Tojin dengan diikuti empat orang muridnya melakukan penyambutan di luar tempat kediamannya, di halaman yang bersih dan luas, halaman yang dikelilingi pohon-pohon besar, amat sejuk dan enak untuk dijadikan tempat, perundingan soal yang amat pelik dan penting itu.
Kun-lun Sam-hengte datang berjalan dengan langkah tegap.
Kwee Sin tampan dan mukanya putih sekali seperti pucat tampaknya, pedangnya tergantung di pinggang kiri.
la berjalan di tengah-tengah diapit oleh Bun Si Teng dan Bun Si Liong.
Bun Si Teng yang tinggi besar dan gagah itu benar-benar menarik perhatian, pedangnya di pinggang dan busurnya terselip di sebelah kanan.
Bun Si Liong yang bermuka hitam itu berjalan dengan langkap tegap, mukanya berseri dan matanya yang bersinar-sinar seperti orang sedang gembira, mukanya lebih menunjukkan kegembiraan seorang yang sedang pelesir daripada kesungguhan seorang menghadapi urusan besar.
Sepasang senjatanya, golok dan pedang, tergantung di kanan kiri.
Dari jauh tiga orang gagah itu sudah mengangkat tangan memberi hormat.
Mereka agak tercengang, akan tetapi juga bangga melihat bahwa ketua Hoa-san-pai sendiri menyambut kedatangan mereka.
Kwee Sin ketika bertemu pandang dengan tunangannya dan melihat sepasang mata tunangannya itu berapi-api tapi berlinangan air mata, merasa hatinya seperti tertusuk.
la sudah mendengar dari para suhengnya bahwa ayah tunangannya itu terbunuh orang dan si nona menyangka bahwa dialah yang membunuhnya.
Kepanasan hatinya ketika menyaksikan tunangannya menangis di dada Kwa Tin Siong dahulu itu menjadi dingin karena sekarang dia dapat menduga bahwa nona itu sedang berduka hatinya dan dihibur oleh Kwa Tin Siong.
la merasa menyesal sekali telah terburu nafsu.
juga dia diam-diam merasa malu sekali kalau teringat akan hubungannya dengan Coa Kim Li si cantik jelita.
"Kami bertiga saudara jauh-jauh sengaja datang memenuhi janji kami terhadap Hoasan Sie-eng. Tidak nyana bahwa Hoa-san-ciangbunjin (ketua) juga ikut menyambut. Sungguh membikin lelah kepada orang tua yang terhormat,"
Kata Bun Si Teng mewakili rombongannya.
"Kun-lun Sam-hengte datang, itulah bagus. Memang murid Pek Gan Siansu terkenal gagah dan takkan mungkir janji, juga adil dan jujur. Pinto orang tua hanya menjadi saksi saja dalam urusan ini, harap kalian bertiga berurusan dengan murid-murid pinto secara langsung."
Kakek ini lalu melangkah ke pinggir, membiarkan tiga orang jago Kun-lun itu menghadapi empat orang muridnya. Kwa Tin Siong mewakili rombongannya melangkah maju dan mengangkat tangan memberi hormat.
"Kami merasa lega sekali bahwa ternyata Kun-lun Sam-hengte memenuhi janji dan penjahat Kwee Sin sudah diajak pula datang ke sini untuk menebus dosa. Bun Si Teng tersenyum sedangkan Kwee Sin menjadi makin pucat mukanya.
"Harap Hoa-san It-kiam suka bersabar dan jangan datang-datang suteku dijatuhi fitnah yang bukan-bukan. Sebelumnya aku sendiri sudah memeriksa Sute dan ternyata bahwa semua yang dituduhkan kepada Kwee-sute hanyalah fitnah kosong belaka. Kwee-sute tak pernah melakukan pembunuhan terhadap ayah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa seperti telah kalian katakan,"
Kata Bun Si Teng, senyumnya mengeras. Kwee Sin mengangguk-angguk membenarkan ucapan suhengnya.
"Lidah memang tak bertulang!"
Tiba-tiba Sian Hwa membentak, tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Tidak ada pencuri yang mengaku, menyangkal adalah pekerjaan yang paling mudah. Akan tetapi, aku tidak sudi menjatuhkan fitnah kepada siapapun juga. Bukti-buktinya jelas bahwa ayahku telah dibunuh secara pengecut oleh pukulan Pek-lek-jiu dan paku Pek-lian-ting, di samping ini masih ada saksi utama, yaitu almarhum ayahku sendiri!"
Kwee Sin makin pucat mendengar kata-kata dan melihat sikap tunangannya itu.
"Biarlah aku bersumpah disaksikan langit dan bumi, apabila aku membunuh ayahmu, Thian semoga menghukumku dengan kematian yang mengerikan!"
Seru Kwee Sin dengan muka pucat dan suara lemah. Kwa Tin Siong tertawa mengejek.
"Urusan pembunuhan keji sebesar ini mana bisa diselesaikan dengan segala macam sumpah? Sumoi, agar persoalannya dapat dibicarakan dari awalnya, harap kauulangi lagi ceritamu tentang kematian ayahmu."
Dengan lantang Sian Hwa mengisahkan kembali semua yang dialami ayahnya dan dia sendiri, matanya tajam menantang Kwee Sin yang tunduk dan muka pemuda ini sebentar merah sebentar pucat.
Akan tetapi ketika ia menceritakan bagian ayahnya yang terluka dan meninggalkan kesaksian terakhir bahwa yang membunuhnya adalah Kwee Sin dan perempuan Pek-lian-pai, Sian Hwa tak dapat menahan air matanya mengucur deras.
Setelah selesai menuturkan semua ini, ia menggerakkan tangannya dan "sraaattt!"
Pedangnya yang sepasang itu sudah tercabut di kedua tangan.
"Ayah terbunuh secara keji. Kalau penasaran ini tidak dibalas, aku Liem Sian Hwa tidak mau hidup lagi di muka bumi!"
Kwee Sin hanya mengangkat muka dan memandang sedih, tapi sama sekali dia tidak mengeluarkan pedangnya. Bun Si Teng melangkah maju dan berkata, suaranya mengandung ejekan.
"Bagus! Apa Hoa-san-pai hendak menghukum orang tanpa memberi kesempatan membela diri dan tanpa bukti-bukti yang sah dan saksi-saksi yang masih hidup?"
"Sudah terang jahanam Kwee Sin ini pembunuh ayahku, aku harus membalas dendam!"
Bentak Sian Hwa.
"Enak saja orang bicara! Andaikata Kwee-sute segan melawan, apakah kami akan mendiamkan saja orang membunuh sute kami tanpa dosa?"
Bun Si Teng meraba gagang pedangnya, siap melawan.
Juga Bun Si Liong meraba gagang golok dan pedangnya.
Pendeknya, kakak beradik ishe Bun ini tjdak nanti akan membiarkan sute mereka dibunuh orang begitu saja.
Mereka datang untuk membuktikan kebersihan diri Kwee Sin, bukan untuk mengantar sute mereka dihukum bunuh!
"Manusia Kun-lun sombong!
Sudah terang jahanam she Kwee main gila dengan perempuan jalang dan bersekongkol "
Membunuh ayah Sumoi, masih hendak dibela? Kalau begitu, kewajiban orang-orang gagah untuk membasmi gerombolan orang jahat!"
Thio Wan It sudah mengeluarkan pedangnya dan meloncat maju.
"Keparat, siapa takut kepada Bu-eng-kiam?"
Bentak Bun Si Liong.
Dengan kemarahan meluap-luap, Sian Hwa sudah berhadapan dengan Bun Si Teng, sedangkan Thio Wan It sudah saling melotot dengan Bun Si Liong.
Pertempuran agaknya takkan dapat dicegah lagi.
"Twa-suheng, Ji-suheng..... jangan..... ah, siauwte yang menjadi gara-gara semua ini...., Ji-wi Suheng, simpanlah pedangmu....."
Kwee Sin bicara dengan suara mengandung isak tertahan. Kwa Tin Siong juga maju nnenahan dua orang adik seperguruannya yang hendak turun tangan itu.
"Ji-sute, Sumoi, tahan senjata kalian! Tidak semestinya kalau urusan ini diakhiri dengan pertempuran tanpa sebab-sebab yang jelas. Kita berpegang kepada keadilan dan kebenaran! maka seharusnya kita memberi kesempatan kepada Kwee Sin untuk membela diri dan memberi keterangan-keterangan."
Biarpun sedang marah sekali, Thio Wan It dan Liem Sian Hwa terpaksa mundur juga ketika ditahan oleh twa-suheng mereka ini."
"Kwee Sin!"
Kata Kwa Tin Siong"
Dengan suara keras dan tegas.
"Sudah kau dengar baik semua keterangan sumoiku yang menuduhmu sebagai pembunuh ayahnya dan mengadakan persekongkolan dengan perempuan jahat dari Pek-lian-pai. Bagaimana jawabmu? Kalau memang kau melakukan hal itu, bagaimana tanggung jawabmu dan apabila kau tidak melakukan, bagaimana keterangan pembelaanmu? Ingat, sudah jelas bahwa sebelum meninggal dunia, ayah Sumoi terang-terangan menyatakan bahwa kau dan seorang perempuan yang menyerang dan melukainya. Muka Kwee pucat sekali, kedua matanya agak basah dan merah menahan mengucurkan air mata. la maklum bahwa dirinya kena fitnah. Tentu saja dia percaya bahwa Hoa-san Sie-eng takkan mau memfitnahnya kalau tidak ada dasarnya. Ia tahu bahwa dia telah difitnah oleh orang-orang yang memusuhinya, entah siapa orang-orang itu. Bagaimana dia harus menjawab? "Hoa-san Sie-eng,"
Katanya, tidak berani langsung kepada Sian Hwa.
"apa yang harus kukatakan lagi? Aku sudah bersumpah bahwa aku sama sekali tidak merasa melakukan pembunuhan terhadap ayah Nona Liem Sian Hwa. Sebagai orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, aku selamanya tidak pernah membohong. Aku tidak melakukan pembunuhan itu dan kalian percaya atau tidak, terserah. Aku hanya mengharapkan kebijaksanaan dan keadilan Hoa-san-ciangbunjin."
La menjura ke arah Lian Bu Tojin yang semenjak tadi berdiri di pinggiran sambil menundukkan mukanya. Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong tertawa lirih.
"Ha..ha..ha, lagi-lagi Kwee Sin yang dijuluki orang Pek-lek-jiu, orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte terkenal gagah perkasa, lari sembunyi di balik sumpah-sumpahnya. Orang she Kwee, tak perlu bersumpah keras-keras. Sebaliknya kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku agar jelas."
Kwee Sin sebetulnya mendongkol sekali menyaksikan sikap Hoa-san Sie-eng yang amat menghinanya. Akan tetapi dia tidak ingin melihat persoalan ini menjadi makin panas, maka dia menjawab tenang.
"Tanyalah, Hoa-san It-kiam, aku akan menjawab."
"Mula-mula terjadi urusan ini, ayah Sumoi, Liem-lopek, melihat kau bersama seorang perempuan muda cantik berpelesir di Telaga Pok-yang, sehingga menimbulkan marahnya. Betulkah pada waktu itu kau berpelesir bersama seorang perempuan cantik dari Pek-lian-pai di Telaga Pok-yang?"
Wajah Kwee Sin menjadi merah sekali, lalu pucat dan merah lagi.
la menundukkan muka menggigit-gigit bibir dan sampai lama tak dapat menjawab!
Semua mata memandang kepadanya, bahkan Lian Bu Tojin yang semenjak tadi tunduk saja, sekarang juga mengerling ke arahnya.
Apalagi Sian Hwa, gadis ini memandang dengan sepasang mata berapi-api.
Kwee Sin benar-benar merasa bingung.
Bagaimana dia harus menjawab?
Tak dapat disangkal lagi bahwa dahulu dia telah berpelesir di Telaga Pok-yang bersama Coa Kim Li!
Dan tentu pada saat itu, celaka sekali baginya, ayah Liem Sian Hwa melihat dia bersama Coa Kim Li dan pulang sambil marah-marah.Bagaimana dia harus menjawab?
Untuk berterus terang mengaku bahwa dia berpelesir bersama seorang wanita muda cantik, tentu saja dia amat malu.
Akan tetapi juga bukan wataknya untuk membohong.
Oleh karena berada dalam keadaan yang terjepit inilah Kwee Sin tak dapat menjawab, hanya menunduk dengan bingung dan malu.
"Kwee Sin, bagaimana jawabmu? Kenapa kau diam saja?"
Kwa Tin Siong bertanya dengan nada mengejek.
"Kwee-sute jawablah, jangan diam saja!"
Bun Si Teng juga menegur sutenya mendongkol melihat sikap Kwa Tin Siong. Setelah berulang kali menarik napas panjang, baru Kwee Sin bisa menjawab tanpa mengangkat mukanya.
"Memang betul aku berada di Telaga Pok-yang pada beberapa bulan yang lalu....."
"Berpelesir bersama seorang perempuan muda cantik anggota Pek-lian-pai desak Kwa Tin Siong.
"Bersama seorang teman perempuan...,."
"Siapa dia? Hayo katakan terus terang, bukankah dia yang kauajak membunuh ayah Sumoi?"
Kwa Tin Siong mendesak lagi, penuh amarah. Kwee Sin diam saja.
"Kwee-sute, kehapa kau diam saja. Siapakah perempuan itu?"
Bun Si Teng bertanya, suaranya mengandung kekecewaan.
"Aku tidak bisa bilang dia itu siapa, sudah kukatakan temanku, cukuplah. Akan tetapi, dia dan aku tidak bersekongkol membunuh siapa pun juga."
"Hah!"
Kwa Tin Siong sekarang marah sekali, merasa yakin bahwa pemuda ini tentulah pembunuh ayah Sian Hwa.
"Kau berpelesir dengan seorang perempuan rendah dari Pek-lian-pai, terlihat oleh calon mertua yang menjadi marah-marah meiihat kelakuan calon mantunya yang hina. Kau merasa khawatir kalau-kalau namamu akan dinodai oleh perbuatan itu, khawatir kalau-kalau ayah Sumoi mengabarkan kelakukanmu yang tak patut lalu menyusul bersama perempuan rendah itu dan..... dan membunuhnya....."
"Tidak!"
Kwee Sin berteriak keras.
"Tidak sama sekali"
"Kalau tidak, katakan siapa perempuan jalang itu!!"
Sian Hwa juga berteriak marah, pedangnya sudah dicabut lagi.
Kwee Sin melangkah mundur tiga langkah, wajahnya pucat sekali.
Bun Si Teng dan Bun Si Liong saling pandang, lalu mereka menghampiri adik seperguruannya.
"Sute, urusan ini bukan urusan remeh. Betapapun juga kau harus berani mendatangkan wanita itu untuk menjadi saksi bahwa kau tidak melakukan pembunuhan dan ...".
"Apakah Suheng tidak percaya kepadaku?"
"Akulah yang akan melawan orang yang mendakwa kau berbuat jahat, Kwee sute. Aku percaya penuh kepadamu, akan tetapi kalau tidak diberi saksi hidup, tentu Hoasan Sie-eng masih penasaran....."
"Ha..ha..ha, Kun-lun Sam-hengte benar-benar bagus!"
Thio Wan It menyindir.
"Seorang keedanan perempuan dan melakukan pembunuhan keji, kakak-kakaknya hendak membela. Wah, kaya gagah sendiri saja. Kalau perlu, Hoa-san Sie-eng sanggup membasmi sampai ke akar-akarnya!".
"Bagus sekali Kami Kun-lun Sam-hengte, biarpun hanya bertiga, takkan mundur setapak biarpun dikeroyok di sini!"
Bun Si Liong juga mengeluarkan kata-kata mengejek. Kedua pihak lagi lagi sudah panas dan apabila mendapat dorongan sedikit saja pasti akan saling gempur.
"Bagaimana, Kwee Sin? Kalau kau hendak menyangkal, kau harus bisa sebutkan nama perempuan yang menjadi kekasihmu itu, yang terlihat oleh ayah Sumoi. Kalau kau menyembunyikan namanya, berarti dia itu betul seorang Pek-lian-pai dan kau bersama dia membunuh ayah Sumoi."
Kwa Tin Siong mendesak.
Muka Kwee Sin pucat sekali.
Tak mau dia menodai nama Coa Kim Li, seorang gadis yang cantik lagi gagah, apalagi yang telah menjatuhkan hatinya.
Di lain, sudut, hatinya juga amat kasihan kepada bekas tunangannya yang kematian ayah, terbunuh orang-orang yang agaknya sengaja hendak memfitnahnya.
Dan semua ini kesalahannya sendiri.
Andaikata dia tidak tergila-gila kepada Coa Kim Li, kiranya takkan terjadi hal ini.
Sekarang dia tidak saja membikin hancur penghidupan Liem Sian Hwa, juga dia merupakan ancaman bagi nama balk Coa Kim Li.
Lebih daripada ini malah, sekarang dia menjadi biang keladi pertumpahan darah, biang keladi permusuhan antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai.
Hal terakhir inilah yang lebih hebat dan menghancurkan hatinya.
"Hoa-san Sie-eng!"
Akhirnya dia berkata dengan suara keras.
"Sekali lagi kutekankah bahwa aku tidak membunuh ayah Nona Liem! Tapi kalian tidak percaya dan mendesakku membawa-bawa nama orang yang tidak berdosa. Suheng sekalian! Kun-lun-pai jangan sampai bermusuhan dengan Hoa-san-pai, dan semua bahaya permusuhan ini adalah gara-gara siauwte yang bodoh. Oleh karena itu, biarlah siauwte menebus dosa. Heee, Hoa-san Sie-eng, kalau kalian tidak percaya kepadaku dan ingin melihat Kwee Sin mampus, biarlah kalian puas saat ini dan jangan merembet-rembetkan Kun-lun-pai dalam urusan ini!"
Secepat kilat Kwee Sin menggerakkan pedangnya, dibabatkan ke lehernya sendiri! "Trang!!"
Pedang itu terlempar, tubuh Kwee Sin lenyap dan sebagai gantinya di situ menggelundung sebuah kepala orang.
"Siluman betina, jangan lari!"
Tiba-tiba Lian Bu Tojin berseru dan tubuhnya berkelebat lenyap pula.
Kwa Tin Siong dan tiga orang adik seperguruannya kaget memandang kearah kepala yang menggelundung tadi, dan alangkah marahnya hati mereka ketika melihat bahwa kepala itu adalah kepala seorang tosu Hoa-san-pai yang entah bagaimana telah dipenggal dan dilemparkan ke tempat itu.
"Keparat jahanam orang-orang Kun-lun!"
Bentak Kwa Tin Siong.
"Orang she Bun berdua, sekarang kalian mau bilang apa? Kwee Sin si keparat ternyata bersekongkol dengan orang jahat, buktinya dia ditolong dan malah murid Hoa-san-pai dibunuh. Kalian tentu bukan manusia baik-baik dan ikut sekongkol pula!"
Dengan kemarahan meluap-luap Kwa Tin Siong lalu menerjang dua orang saudara Bun itu, dibantu oleh Thio Wan It, Kui Keng, dan Liem Sian Hwa.
Empat orang saudara Hoa-san Sie-eng ini mengamuk dan mengeroyok Bun Si Teng dan Bun Si Liong.
Kasihan sekali dua orang saudara Bun ini.
Mereka sesungguhnya tidak tahu apa-apa dan tadi pun ketika Kwee Sin hendak membunuh diri, mereka sudah tak berdaya.
Tahu-tahu Kwee Sin lenyap.
Cara lenyapnya demikian ajaib sampai tidak terlihat oleh mereka.
Sudah jelas bahwa Kwee Sin ditolong orang pandai.
Akan tetapi siapa penolongnya dan mengapa melemparkan kepala seorang tosu Hoa-san-pai?
Mereka tak dapat membersihkan diri pula.
Tentu saja orang Hoa-san-pai akan menganggap mereka ikut bersekongkol.
Terpaksa Bun Si Teng dan Bun Si Liong mencabut senjata dan membela diri.
Akan tetapi oleh karena dikeroyok empat orang dan pihak tawan lebih kuat, di samping itu karena memang mereka tidak dapat berkelahi dengan penuh semangat karena merasa pihak sutenya bersalah, maka akhirnya Bun Si Teng dan Bun Si Liong terdesak, dan menderita luka-luka.
Namun orang gagah dari Kun-lun-pai ini dengan ilmu silat mereka yang tinggi masih terus melakukan perlawanan, atau lebih tepat disebut melakukan pembelaan diri yang gigih dan kuat.
Pada saat itu, Kwa Hong berlari-lan ke tempat Beng San bekerja.
Dengan napas terengah-engah Kwa Hong menarik tangan Beng San yang sedang menyapu lantai.
"Beng San, mari lihat. Ayah dan semua sedang bertengkar dengan orang-orang Kun-lun-pai. Tentu akan bertempur!"
Kaget sekali hati Beng San.
Anak ini sudah mendengar dari Tan Hok tentang usaha jahat Ngo-lian-kauwcu yang berjuluk Kim-thouw Thian-li untuk memecah belah antara Pek-lian-pai, Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai.
"Kenapa mereka bertengkar. Apa sebabnya bertempur?"
Tanyanya, masih kurang mengacuhkan karena dipikirnya bahwa hal itu bukanlah urusannya, apalagi kalau diingat bahwa apa yang dia dapat lakukan terhadap urusan itu?
"Kabarnya seorang Kun-lun-pai, tunangan bibi Sian, membunuh ayah bibi Sian Hwa.
Sekarang dia datang bersama dua orang lagi dan cekcok dengan ayah dan semua paman guru.
Juga sukong berada di sana.
Hayo kita lihat!"
"Nona Hong, kaulihatlah sendiri. Aku dilarang oleh sukongmu keluar dari sini, kalau aku berani keluar tentu mendapat marah pula."
Beng San melanjutkan, kerjaannya, tidak peduli lagi.
"Beng San, mereka sedang ribut-ribut mana memperhatikan kau? Marilah, kau temani aku keluar menonton."
Beng San menggeleng kepala dan memandang kepada Kwa Hong, mengagumi sinar mata yang demikian tajam namun halus dan indah.
"Nona Hong, kenapa kau selalu datang mengajak aku bercakap-cakap dan bermain-main? Sudah berapa kali kau dimarahi ayahmu? Lebih baik. kau seperti anak-anak yang lain, menjauhi aku karena aku hanyalah kacung dan kau dilarang mendekati aku."
"Apa salahnya? Kalau aku suka bermain-main dan bicara denganmu, siapa melarang? Biar ayah marah, biar sukong mengamuk, aku tidak takut!"
Gadis cilik ini membusung dada dan kepalanya tegak, matanya bersinar-sinar. Beng San memegang tangan. Kwa Hong, terharu sekali.
"Nona Hong, mengapa demikian? Tak baik kalau kau dimarahi ayahmu dan sukongmu...... mengapa kau begini baik terhadapku seorang kacung, seorang jembel busuk, mengapa sikapmu tidak seperti yang lain yang selalu menghinaku?"
Untuk beberapa saat sepasang mata dara cilik itu menatap wajah Beng San, lalu berkata lirih.
"Entahlah..... aku merasa amat berkasihan kepadamu, Beng San....."
Keduanya hanya berpegang tangan dan saling pandang tanpa mengerti apa yang mereka rasakan. Kemudian timbul kenakalan Kwa Hong yang memecahkan hikmat kesunyian itu sambil tertawa.
"Agaknya karena kau seperti bunglon itulah yang membuat aku suka bermain denganmu, hi..hi..hi....."
"Kuntilanak!"
Beng San balas memaki. la mendongkol kalau dimaki bunglon. Kwa Hong tertawa sambil melepaskan tangannya. Pada saat itu tampak Kui lok, Thio Ki, dan Thio Bwee berlari-lari. Muka mereka agak pucat.
"Mereka sudah bertempur!"
Kata Thio Ki terengah-engah.
"Bekas tunangan bibi Sian Hwa itu lenyap secara aneh, seorang supek yang menjadi tosu dibunuh orang, kepalanya dilempar ke depan su kong. Sukong mengejar orang jahat. Hebat ..."
Tanpa menanti sampai cerita ini berakhir, Kwa Hong sudah berlari-lari keluar hendak menonton, diikuti oleh tiga orang anak itu, para tosu Hoa-san-pai juga kelihatan berlari-lari sambil membawa senjata tajam.
Keadaan Hoa-san-pai kacau-balau.
Setelah ditinggal seorang diri Beng San termenung.
la mendengar suara beradunya senjata tajam, dan telinganya yang sudah meniiliki pendengaran luar biasa itu mendengar angin sambaran senjata yang amat mengerikan itu.
la tahu persoalannya.
Mereka sedang berhantam, saling bunuh tanpa mereka sadari bahwa mereka itu diadu domba oleh pemerintah Mongol yang menggunakan Ngo-lian-kauw sebagai kaki tangannya.
Ah, perlukah orang saling membunuh hanya menurutkan nafsu amarah belaka?
Saling bunuh karena fitnah, padahal mereka itu adalah saudara-saudara sebangsa sendiri?
Tak mungkin aku mendiamkan saja, menonton orang sebangsa saling bunuh, padahal kedua pihak adalah orang-orang gagah yang sudah memiliki nama besar sebagai pendekar-pendekar!
Beng San melempar sapunya dan berlari cepat ke tempat pertempuran.
la melihat betapa dua orang laki-laki yang melakukan perlawanan dengan gagah berani telah mandi darah dan terdesak hebat oleh pengeroyokan Kwa Tin Siong, Thio Wan It, Kui Keng, dan Liem Sian Hwa.
Di atas tanah terletak kepala seorang tosu Hoa-san-pai.
Keadaan benar-benar amat mengerikan.
Mudah Beng San menduga siapa adanya dua orang gagah itu tentulah orang-orang Kun-lun-pai seperti yang tadi diceritakan oleh Kwa Hong.
la melihat Kwa Hong berdiri agak jauh dengan Thio Bwee, agak pucat dan hanya menonton saja.
Akan tetapi Kui Lok dan Thio Ki bertepuk-tepuk dan bersorak kalau dua orang itu terkena sambaran senjata seorang di antara Hoa-san Sie-eng.
Di dalam hati Beng San timbul rasa penasaran.
Kenapa main keroyok?
la dapat menilai tingkat enam orang yangbertempur itu.
Apabila pertempuran dilakukan satu lawan satu, barulah akan seimbang dan ramai.
la melihat pedang di tangan Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa amat berbahaya, dan sudah di beberapa tempat ditubuh kedua orang Kun-lun-pai itu luka-luka.
"Hoa-san Sie-eng...... jangan lanjutkan pertempuran. Orang-orang Kun-lun tidak bersalah!"
Tiba-tiba Beng San tak dapat menahan dirinya lagi, berteriak-teriak dan melompat ke dekat pertempuran.
Semua orang kaget sekali melihat ini, akan tetapi yang bertempur terus saja bertempur.
Kui Lok dan Thio Ki marah sekali melihat sikap Beng San.
Mereka berdua ini memang sudah merasa amat iri hati kepada Beng San ketika mendengar pujian Kwa Hong dan Thio Bwee betapa Beng San dengan "gagah berani"
Telah menyusul dan menolong dua orang dara cilik itu ketika diculik orang.
Sekarang mereka melihat Beng San berteriak-teriak, mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan kemarahan mereka.
Dua orang jago cilik ini lalu menerjang maju ke arah Beng San.
"Kacung busuk! Mau apa kau berteriak-teriak? Hayo kembali ke tempat kerjamu"
Dua orang jago cilik ini lalu memukuli Beng San, diturut oleh beberapa orang tosu yang juga tidak suka kepada Beng San.
Terjadi keanehan ketika dua orang anak dan beberapa orang tosu ini memukul Beng San.
Kui Lok dan Thio Ki menjerit kesakitan dan tangan kanan mereka patah tulangnya ketika memukul tubuh Beng San.
Para tosu yang memukulnya kurang keras, juga berjingkrak kesakitan karena tangan mereka telah menjadi merah seperti terbakar, dan bengkak-bengkak!
Tanpa mempedulikan niereka ini, Beng San langsung berjalan menuju ke gelanggang pertempuran.
Dua orang saudara Bun itu sudah roboh mandi darah dan Beng San menubruk mereka sambil berseru.
"Mereka tidak bersalah..... ah, pertumpahan darah terjadi hanya karena fitnah! Alangkah bodohnya, bermata seperti buta"
Dengan sedih Beng San mengusapi darah yang mengucur keluar dari dada Bun Si Teng dan Bun Si Liong.
"Dua orang pendekar gagah harus melepaskan nyawa hanya karena menurutkan nafsu belaka, hanya karena fitnah....."
Bun Si Teng dan Bun Si Liong belum tewas, akan tetapi mereka sudah terluka parah dan hanya jiwa mereka yang gagah perkasa saja yang membuat mereka roboh tanpa mengeluarkan keluhan sakit sedikit pun juga!
Melihat sikap dan kata-kata Beng San, Kwa Tin Siong kaget dan heran sekali.
Apalagi ketika melihat betapa cucu-cucu murid Hoa-san, yaitu Kui Lok dan Thio Ki menderita patah tulang tangan sedangkan beberapa orang tosu lagi bengkak-bengkak tangannya.
la makin curiga akan dugaannya bahwa Beng San bukanlah anak sembarangan dan mungkin sekali dari pihak musuh.
Sekarang terbukti betapa Beng San menyedih jatuhnya dua orang Kun-lun-pai dan kata-katanya yang tidak karuan.
"Beng San, apa maksud kata-katamu ini?"
Kwa Tin Siong membentak sambil menghampiri dengan pedang di tangan.
Beng San yang melihat bahwa dua orang Kun-lun-pai itu tak mungkin dapat tertolong lagi, segera bangkit berdiri dengan tegak.
Matanya bersinar tajam menakutkan dan mukanya menjadi merah kehitaman.
la membanting kaki ke atas tanah dan berkata.
"Hoa-san Sie-eng, apakah kalian tidak melihat bahwa kalian telah membunuh orang-orang tidak berdosa? Kalian telah kena fitnah. Kwee Sin bukan orang yang berdosa, dia tidak membunuh ayah Nona Liem Sian Hwa. Semua ini memang diatur oleh pemerintah Mongol dengan bantuan Ngo-lian-kauw! Kwee Sin hanya mempunyai kesalahan kecil yaitu dia roboh oleh kecantikan ketua Ngo-lian-kauw. Yang membunuh ayah Nona Liem adalah kaki tangan Ngo-lian-kauwcu yang menyamar sebagai Kwee Sin dan sebagai orang-orang Pek-lian-pai. Ah, sayang orang-orang gagah sampai mudah tertipu!"
"Bohong! Kau anak kecil tahu apa? Kau berpihak kepada Pek-lian-pai dan Kun-lun!"
Kwa Tin Siong membentak marah.
Tiba-tiba Bun Si Teng dah Bun Si Liong bergerak, Bun Si Liong tertawa terbahak-bahak lalu.....
berhenti bernapas, mukanya masih tersenyum.
Bun Si Teng dengan terengah-engah mengulurkan tangan, merangkul Beng San.
"Aku puas..... kau benar anak..... kau benar. Siapa namamu...? "Aku Beng San,"
Kata Beng San yang sudah berlutut di dekat Bun Si Teng.
"Kau telah membersihkan nama Kwee-sute dan Kun-lun-pai. Terima kasih. Alangkah bodohku..... ha..ha..ha, bukan hanya Kun-lun Sam-hengte yang bodoh..... malah Hoasan Sie-eng goblok, hanya menurutkan nafsu belaka..... Beng San, anak baik, kau anak luar biasa..... kau berjanjilah bahwa kelak kau akan mengamat-amati putera tunggalku..... Bun Lim..... Kwi....."
Orang gagah itu menjadi lemas dan rohnya menyusul roh adiknya.
Hoa-san Sie-eng berdirl terlongong.
Mereka masih terpukul oleh keterangan Beng San, merasa ragu-ragu.
Pada saat itu tampak bayangan orang berkelebat dan Lian Bu Tojin sudah berdiri di situ.
"Ah, dia hebat..... tak terkejar olehku....."
Tiba-tiba kakek ini mengeluarkan seruan kaget melihat tubuh Bun Si Teng dan Bun Si Liong rebah mandi darah dalam keadaan tak bernyawa pula.
"Apa..... apa yang telah terjadi.....?"
Tanyanya, memandang kepada empat orang muridnya.
Hoa-san Sie-eng tak dapat menjawab, masih bingung dan amat khawatir, kalau-kalau keterangan Beng San itu benar.
Berarti mereka membunuh orang-orang yang tidak berdosa!
"Beng San, kau lagi di sini?
Apa yang kaulakukan di sini?"
Lian Bu Tojin membentak lagi ketika melihat Beng San berlutut di depan mayat kedua orang saudara Bun itu.
"Locianpwe, dua orang gagah dari Kun-lun-pai yang tidak berdosa ini telah dikeroyok dan dibunuh oleh murid-muridmu yang gagah!"
Kata Beng San dengan suara keras.
Kemudian dia mengulangi lagi penuturannya yang tadi di depan ketua Hoa-san-pai.
Kakek ini berubah air mukanya mendengar keterangan itu, akan tetapi dengan bengis dia lalu bertanya.
"Bocah, dari mana kau tahu semua itu?"
"Saya bertemu dengan orang-orang Pek-lian-pai dan merekalah yang menceritakan semua itu kepadaku."
"Bohong kalau begitu. Orang-orang Pek-lian-pai itu jahat dan bohong!"
Seru Kwa Tin Siong penuh harap.
Tentu saja dia tidak mengharapkan kebenaran keterangan Beng San, karena kalau benar terjadi hal demikian, berarti pihak Hoa-san-pai telah melakukan perbuatan yang kurang patut terhadap Kun-lun-pai.
Lian Bu Tojin meraba-raba jenggotnya yang panjang.
"Urusan ini amat berbelit-belit dan amat penuh rahasia. Keterangan bocah ini mungkin sekali benar, akan tetapi juga bukan mustahil dia dipergunakan oleh Pek-lian-pai untuk mengacau kita. Betapapun juga, kalian sudah terburu nafsu membunuh dua orang Kun-lun-pai ini. Keadaan sudah terlanjur begini, sungguh tidak menyenangkan sekali. Pinto sendiri masih ragu-ragu siapakah yang benar siapa yang salah. Kwee Sin ditolong dan dibawa pergi oleh seorang iblis wanita jahat, Hek-hwa Kui-bo. Terang bahwa ada pihak yang bersekongkol dengan Kwee Sin, tapi....."
Tiba-tiba kakek itu berseru.
"He, bocah, kau hendak lari ke mana?"
Tubuhnya berkelebat ke depan dan di lain saat kakek ini sudah memegang lengan tangan Beng San yang hendak lari.
"Aku mau pergi saja. Selain Hoa-san-pai tidak baik membunuh orang tak berdosa, Hek-hwa Kui-bo sudah datang, aku bisa celaka....."
Bantah Beng San.
"Kau dicari Hek-hwa Kui-bo?"
Lian Bu Tojin bertanya heran.
"Semua orang jahat mencariku"
"Kenapa?"
Ketua Hoa-san-pai ini sudah menduga bahwa pasti ada rahasia aneh pada diri anak yang mencurigakan ini, maka dia takkan melepaskannya sebelum dapat mengetahui rahasianya.
Tentu saja Beng San tidak mau menceritakan tentang dirinya, apalagi tentang Im-yang Sin-kiam-sut.
Tapi dia anak yang cerdik, dapat menghubung-hubungkan persoalan, maka dengan suara berbisik dia berkata.
"Tosu tua, apa kau lupa akan Lo tong Souw Lee? Siapa yang takkan mencari tempat persembunyiannya? Hek-hwa Kui-bo tentu akan senang mendengar bahwa aku dan Totiang mengetahui tempat tinggal kakek tua she Souw itu!"
Lian Bu Tojin cepat melepaskan tangan yang dicekatnya.
"Hush, gila kau Siapa tahu tempat sembunyi orang itu?"
Orang tua ini celingukan ke kanan kiri, nampaknya berkhawatir sekali.
Siapa tidak khawatir kalau dikatakan mengetahui tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee?
Semua orang jahat di dunia mencari-cari tempat sembunyi pencuri pedang Liong-cu Siang-kiam itu, dan kalau dia disangka mengetahui tempat sembunyinya, bukan mustahil kalau dimusuhi semua tokoh kangouw!
Beng San tersenyum.
"Totiang, aku hanya membawakan suratnya kepada Totiang, kiranya tidak aneh kalau orang yang sudah bersurat-suratan saling mengetahui tempat tinggalnya, bukan?"
"Hush, jangan main gila kau! Pinto tidak tahu tempat sembunyinya!"
"Kalau begitu biarkanlah aku pergi mencarinya, Totiang. Aku sudah tidak suka tinggal di Hoa-san."
"Pergilah, pergilah cepat!"
Kakek itu kini malah mendesak agar supaya anak itu pergi, karena kalau dibiarkan saja di situ bicara tentang Lo-tong Souw Lee, jangan-jangan dia bisa terbawa-bawa dalam urusan perebutan Liong-cu Siang-kiam.
Beng San menoleh ke arah anak-anak yang melihat semua itu dari jauh, kemudian dia melambaikan tangan dan berkata.
"Nona Hong, Nona Bwee, selamat tinggal!"
La lalu membalikkan tubuh dan lari menuruni puncak Hoa-san-pai. Semua orang memandang bayangan anak aneh ini sampai lenyap di balik batu-batu besar. Lian Bu Tojin menghela napas panjang.
"Ah, sungguh celaka terjadi hal seperti ini. Lekas kalian kubur baik-baik jenazah dua orang murid Kun-lun-pai ini. Pinto harus berani mempertanggungjawabkannya terhadap pertanyaan Pek Gan Siansu....."
La menarik napas panjang berkali-kali sambil menggeleng kepala, penasaran sekali bahwa dalam usia setua itu harus menghadapi urusan pertumpahan darah yang terjadi antara murid-muridnya dan murid-murid Kun-lun-pai.
Kemudian dia meninggalkan murid-muridnya, memasuki pondoknya untuk bersamadhi.
Begitu memasuki pondok, dia mendapatkan kekecewaan lain dengan tidak adanya Beng San.
Bocah itu begitu rajin dan amat cerdik dalam mempelajari filsafat-filsafat To.
Bocah yang aneh, dan sepak terjang bocah tadi diam-diam membangkitkan keheranan dan kekagumannya.
Seorang anak kecil yang bekerja sebagai kacung, dahulu sudah berani mempertaruhkan nyawa untuk menolong Kwa Hong dan Thio Bwee.
Tadi sudah berani mencela Hoa-an-pai dan mengeluarkan kata-kata yang gagah.
Kalau kelak anak itu menjadi seorang yang pandai, dia takkan merasa heran.
* * * Beng San berjalan cepat siang malam.
Hanya kalau sudah hampir tak kuat lagi saking lelahnya maka dia mengaso.
la bermaksud pergi ke Shan-si, untuk bersembunyi di Kelenteng Hok-thian-tong di mana dahulu dia pernah bekerja sebagai kacung.
la harus dapat menyembunyikan dirinya untuk beberapa tahun lamanya, demikian kata pesan Lo-tong Souw Lee.
Setelah tubuhnya kuat betul dan ilmu-ilmu silat itu sudah dia latih sebaiknya, baru dia boleh memperliharkan dirinya.
Dan ucapan pesanan kakek buta itu benar-benar tepat.
Buktinya setiap kali dia memperlihatkan diri, pasti timbul hal-hal yang hebat.
Lebih baik dia kembali ke daerah Sungai Huang-ho dan bersembunyi di kelenteng Hok-thian-tong.
Terbayang olehnya para hwesio kelenteng itu yang rata-rata amat sabar dan baik.
Kurang lebih sebulan kemudian sampailah dia di tepi Sungai Huang-ho.
Dari tepi sungai itu ke utara, kurang lebih tiga puluh li lagi adalah Shan-si di mana terdapat kelenteng yang ditujunya.
la sudah lelah sekali dan hari sudah menjelang senja.
Beng San mencari tempat yang enak di tepi sungai, di bawah sebatang pohon.
la mengumpulkan daun-daun dan ranting-ranting kering untuk membuat api unggun malam nanti apabila hawa udara dingin dan apabila banyak nyamuk akan mengganggunya.
Sebagian dari daun-daun kering dia jadikan tilam tempat dia tidur.
Perutnya lapar tidak dipedulikannya.
Beng San sudah terlentang di bawah pohon, mengenangkan pengalaman-pengalamannya selama dalam perjalanan ini.
Ada hal yang amat berkesan di hatinya, yaitu ke mana saja dia berjalan, dia selalu melihat para petani bersikap penuh semangat menentang pemerintah Mongol yang sudah banyak membikin sengsara rakyat.
la mulai mendengar nama besar pemimpin-pemimpin rakyat disebut-sebut orang.
Yang paling terkenal dan sering kali dia dengar adalah nama besar Ciu Goan Ciang yang menurut para petani itu mempunyai kepandaian seperti dewa, malah memiliki ilmu kesaktian yang ajaib-ajaib.
Diam-diam Beng San mengenang semua itu dan mengingat-ingat kembali apa yang dia dengar dari Tan Hok, menghubung-hubungkan semua peristiwa antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai berhubung dengan suasana pemberontakan terhadap pemerintah Mongol ini.
Beng San adalah seorang anak kecil yang semenjak dahulu hanya mempelajari ilmu filsafat dan kebatinan, malah akhir-akhir ini mempelajari ilmu silat.
Akan tetapi tentang politik dia sama sekali tidak mengerti.
"Aku takkan pusing-pusing dengan segala urusan itu kalau aku sudah berada di dalam bangunan Kelenteng Hok-thian-tong yang luas,"
Pikirnya dan dia mengenang kembali masa dia kecil bekerja sebagai kacung di kelenteng itu.
Suasana di dalam kelenteng hanya tenteram, aman dan damai.
Apabila melihat orang luar, tentu hanya orang-orang yang datang hendak bersembahyang, yaitu orang-orang yang datang dengan maksud baik, dengan hati bersih dan maksud-maksud memohon belas kasihan Yang Maha Kuasa melalui para dewa yang dipuja masing-masing pendatang.
Alangkah senangnya, pikirnya hidupnya.
akan tenteram dan dia dapat meneruskan latihan-latihannya dengan aman Saking lelah dan laparriya, be|iitu matahari terbenam Beng San sudah tertidur.
Enak sekali dia tidur, tidak tahu bahwa dia telah tidur setengah malam, bahwa bulan hampir purnama sudah naik tinggi dan bahwa dia lupa membuat api unggun.
Tidak tahu dia betapa bahayanya dia tertidur tanpa api unggun di tempat terbuka seperti itu, di dekat Sungai Huang-ho lagi yang daerahnya masih liar dekat dengan hutan-hutan besar.
la bangun sambil menepuk pahanya.
Di bagian celana yang robek, nyamuk menggigit pahanya dan mengisap darah sepuasnya.
"Nyamuk keparat!"
Beng San bangun duduk ketika mendengar suara nyamuk berngiung-ngiung di sekeliling kepalanya.
Teringat dia bahwa dia belum membuat api unggun.
la menoleh ke arah tumpukan kayu dan daun yang kelihatan jelas di bawah sinar bulan purnama yang menerobos di antara celah-celah daun pohon.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika selain tumpukan kayu ini dia melihat barang lain lagi yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.
Sepasang barang berkilauan seperti lampu.
Sepasang mata.....
dan segera terlihat olehnya bahwa mata yang mencorong itu adalah mata seekor binatang yang sebesar lembu muda, berkulit loreng-loreng!
Harimau yang besar sekali!
Beng San menggigil.
Biarpun anak ini sudah memiliki kepandaian yang tinggi dalam tubuhnya, namun dia masih belum menyadari betul akan hal ini.
Tentu saja dengan kepandaiannya, dia takkan sukar melawan harimau ini atau setidaknya, akan mudah dia menyelamatkan diri dengan meloncat ke atas pohon.
Kepandaiannya memungkinkan dia melakukan hal-hal ini.
Akan tetapi dia sudah lumpuh, ketenangannya lenyap.
Tak boleh terlalu disalahkan dia, siapa orangnya takkan menggigil kebingungan dan ketakutan kalau begitu bangun dari tidur sudah menghadapi seekor harimau sebesar ini yang berdiri hanya dalam jarak tiga meter di depannya!
Harimau itu memang sejak tadi sudah mengintainya.
Kini melihat bocah itu bergerak, dia segera mengaum dan meloncat, menerkam ke arah Beng San.
Beng San terkesima dan tak dapat bergerak, terpukau seperti kena sihir.
Hanya matanya yang lebar itu terbuka melotot memandang, merasa ngeri karena seakan-akan sudah tampak olehnya gigi bertaring yang runcing serta kuku yang melengkung mengerikan.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh harimau itu terhenti di tengah udara, malah terjengkang ke belakang, berkelojota!
dan mandi darah.
Tepat di dadanya tertancap sebatang kayu hampir tembus ke punggungnya.
Siapakah yang "menyate"
Harimau ini?
Beng San menengok ke kanan kiri, ke belakang dan alangkah herannya ketika dia melihat munculnya bayangan merah.
Dara cilik berpakaian merah, si gagu bernama Bi Goat itu telah berada di depannya.
Beng San sampai bengong terlongong, akan tetapi dia segera tersenyum ramah.
Tak mungkin dia tidak akan gembira kalau bertemu dengan bocah ini, dara cilik cantik manis yang gagu, yang menimbulkan rasa sayang, rasa kasihan dan terharu, yang membuat dia timbul rasa hendak melindungi, hendak membelanya.
"Kau.....?"
Tegurnya sambij berdiri.
Akan tetapi kalau dulu Bi Goat tersenyum-senyum gembira dan mengajak dia bermain-main, kini sikapnya jauh berbeda.
Gadis cilik ini nampak penuh ketakutan dan kekhawatiran, wajahnya yang biasanya hampir selalu kemerahan itu kini agak pucat.
la menudingkan telunjuk kiri ke arah bangkai harimau, telunjuk kanan ke arah belakangnya agak ke atas, kemudian dia menuding ke dada Beng San.
Lalu dia meloncat dan menendangi bangkai harimau yang sudah tewas itu.
Beng San memandang bingung, juga kagum betapa setiap kaki kecil itu menendang harimau, bangkai harimau yang besar itu pasti tersepak ke depan.
Sungguh dahsyat tenaga kaki kecil ini-pikirnya.
"Adik Bi Goat, kau hendak bilang; apakah? Aku berterima kasih sekali atas pertolonganmu. Kau telah membunuh harimau itu, hebat sekali kepandaianmu!"
Akan tetapi Bi Goat nampak tidak sabar karena Beng San tidak mengerti maksud gerak tangannya tadi. la membanting-banting kakinya, memegang dengan tangan Beng San dan ditarik, diajak pergi.
"Eh, eh, malam-malam kau hendak mengajakku ke manakah?"
Beng San terheran dan menolak.
Kembali Bi Goat menuding-nuding ke belakangnya dan pada saat itu terdengar suara melengking tinggi seperti orang menangis dari jauh.
Seketika pucat muka Beng San.
Celaka, kiranya Song-bun-kwi berada dekat situ.
Kiranya Bi Goat ini tadi memberi isyarat bahwa Song-bun-kwi berada dekat dan menyuruh dia pergi bersembunyi.
Tentu gadis cilik ini tadi hendak menyatakan bahwa karena auman harimau tadi, Song-bun-kwi akan menyusul ke situ dan Beng San akan celaka.
Sebelum Beng San meyakinkan dugaannya, Bi Goat sudah menarik tangannya diajak lari cepat sekali ke arah utara.
"Betul, ke utara. Tiga puluh li dari sini ada kelenteng besar, kita bisa sembunyi di sana,"
Katanya sambil ikut berlari cepat.
Akan tetapi tiba-tiba Bi Goat menyeretnya meloncat ke dalam.....
sungai.
Gadis cilik itu tentu saja sudah hafal akan gerak-gerik ayahnya yang luar biasa, ia gagu tapi cerdik sekali.
Setelah kedua orang anak itu terjun ke dalam Sungai Huang-ho, baru Beng San tahu akan maksud hati Bi Goat.
Gadis ini mengajaknya bersembunyi di bawah alang-alang yang tumbuh di pinggir sungai itu.
Untung sekali Bi Goat tidak terlambat dalam tindakannya ini karena baru saja mereka bersembunyi di balik alang-alang dan merendam diri ke dalam air sungai, di situ sudah berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Song-bun-kwi sudah berdiri seperti patung memandangi bangkai harimau dan bekas tempat tidur Beng San.
Kakek sakti ini terdengar menggerutu seorang diri.
"Hemmm, membunuh harimau dengan? timpukan sia-san (panah gunung). Bagus Bi Goat. Tapi kenapa lari pergi? Hemmm, ada orang lain di sini, siapa.....?"
Dengar langkah lebar kakek itu lalu berjalan mengejar ke utara, langkahnya lebar jalannya kelihatan perlahan saja akan tetapi sebentar saja lenyap dari situ.
Beng San hendak keluar dari belakang rumput alang-alang, akan tetapi tiba-tiba leher bajunya ada yang mencengkeram dan dia ditarik kembali ke balik alang-alang.
Ternyata yang mencengkeramnya adalah Bi Goat yang sebelum dia memprotes, telapak tangan yang kecil dari tangan kanan gadis itu sudah membungkam mulutnya.
Beng San terheran-heran, juga merasa geli.
la merasa seperti anak kecil dihadapan gadis ini.
Akan tetapi, segera dia mendapat kenyataan betapa cerdik gadis ini dan betapa gegabah dan bodohnya dia sendiri.
Seperti seorang iblis, tahu-tahu Song-bun-kwi telah datang lagi di tempat tadi, berdiri seperti patung memandangi harimau.
la bergidik dan merasa bulu tengkuknya meremang!
Seandainya dia mengeluarkan suara dan mulutnya tidak dibungkam oleh tangan gadis gagu itu, ah, tentu Si Iblis Berkabung itu sudah akan mendapatkannya.
la menoleh untuk memandang Bi Goat dengan terima kasih, akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika dia sudah kehilangan gadis cilik itu.
Entah ke mana perginya Bi Goat yang tadi berada di sebelahnya!
Selagi dia kebingungan, mendadak sekali pundaknya ditarik orang ke bawah sampai kepalanya terbenam ke dalam air.
la gelagapan, akan tetapi kembali ada tangan kecil yang menyusupkan setangkai alang-alang yang berlubang ke mulutnya.
Baiknya Beng San juga tergolong anak cerdik, maka seketika dia dapat menangkap mak-sud perbuatan aneh dari Bi Goat ini.
Tentu dia disuruh bersembunyi dengan seluruh tubuhnya di dalam air dan tang-kai alang-alang itu dapat dipergunakan untuk bernapas.
Maka dia pun mengisap hawa dari tangkai itu yang menyembul ke atas bersembunyi di antara rumpun alang-alang.
Dengan girang dan berterima kasih dia memegang tangan kiri Bi Goat.
Dua orang anak itu sambil berendam ke dalam air saling berpegang tangan, hati mereka berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran.
Di dalam air Beng San tidak tahu apa yang terjadi di atas, andaikata tahu dia pasti akan bergidik kengerian karena beberapa detik setelah kepalanya terbenam air, Si Iblis Berkabung itu menggunakan tangannya mencengkeram remuk sebuah batu, kemudian menyambitkan pecahan batu ini ke se-kelilingnya, juga ke permukaan air dan ke dalam alang-alang!
Andaikata kepala dua orang anak tadi masih bersembunyi di dalam alang-alang, tentu akan terkena sambitan pecahan batu yang cukup ampuh untuk menembus kulit kepala!
Setelah berendam kurang lebih satu jam, barulah Bi Goat berani muncul kembali ke permukaan air.
la lalu memberl isyarat kepada Beng San untuk meloncat keluar dari air.
Segera mereka berdiri di tepi sungai, basah kuyup dan saling berpandangan.
Tiba-tiba gadis cilik itu tersenyum lega.
Bukan main manisnya setelah tersenyum.
Hati Beng San serasa diremas-remas.
Ingin dia memeluk Bi Goat, ingin dia memondongnya, menggendongnya seperti anak kecil.
Gadis cilik gagu yang sudah menolong nyawanya, yang biarpun gagu tapi luar biasa cerdiknya dan sekarang tersenyum-senyum begitu manisnya.
Tiba-tiba dia melihat Bi Goat menggigil kedinginan.
"Kasihan kau, Bi Goat. Kau dingin? Biar kubuatkan api unggun."
Bi Goat segera memegang lengannya dan mengguncang-guncangnya.
Alisnya berkerut dan kepalanya digeleng-gelengkan.
Beng San teringat dan dia merasa malu sendiri.
Ah, bagaimana dia sampai kalah oleh anak perempuan yang jauh lebih muda ini dan gagu pula lagi?
Kenapa dia begini kurang hati-hati?
Kalau dia membuat api unggun, sama saja seperti memberitahukan tempatnya kepada Song-bun-kwi.
Biarpun kakek itu sudah jauh, ada tanda sedikit saja pasti cukup untuk memanggil kembali kakek yang lihai sekali itu.
"Bagaimana baiknya? Kau kedinginan, Bi Goat."
Gadis cilik itu hanya menggeleng kepala, lalumemberi isyarat kepada Beng San untuk melanjutkan perjalanan ke utara.
"Kau tentu ikut denganku, bukan? Bi Goat, kau ikut bersamaku, ya?"
Bi Goat mengangguk, meloncat ke dekat sungai yang ada pasirnya, ialu ujung sepatunya bergerak-gerak seperti menari.
Beng San memandang dan alangkah herannya ketika dia melihat huruf-huruf besar yang indah dibuat oleh gerakan ujung sepatu itu.
Huruf-huruf itu berbunyi.
Harus sampai di kelenteng sebelum matahari terbit.
Beng San memegang kedua pundak Bi Goat, dipandangnya wajah itu penuh kekaguman.
"Kau hebat! Biar gagu, kau pandai menulis dengan kaki malah! He-bat, Bi Goat, kau hebat.....!"
Gadis cilik itu hanya tersenyum, lalu menggandeng tangan Beng San diajak lari cepat.
Di waktu dua orang anak ini berlari, Beng San merasa betapa dinginnya telapak tangan Bi Goat dan anak itu nampak kedinginan betul.
Tidak heran karena pakaian basah kuyup ditambah berlari-larian di dalam udara yang begitu dinginnya lewat tengah malam itu.
Beng San mendapat akal.
Dia sendiri tidak bisa menderita dingin karena dengan hawa ditubuhnya dia bisa menyalurkan hawa panas membuat tubuhnya hangat.
Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya, melalui telapak tangan Bi Goat dia menyalurkan hawa panas ke tubuh Bi Goat untuk mengusir hawa dingin.
Mendadak Bi Goat mengeluarkan suara "Uhhh!"
Dan melepaskan pegangannya, malah meloncat mundur dengan muka kaget.
Melihat gerak kaki tangannya, gadis cilik ini sudah siap menghadapi pertempuran, matanya yang bening menatap wajah Beng San penuh kecurigaan.
Beng San maklum bahwa gadis cilik ini salah sangka.
Diam-diam dia kagum sekali.
Ternyata penyaluran hawa panas tadi terasa pula oleh Bi Goat.
Ternyata bocah ini sudah mahir tentang hawa di dalam tubuh, dapat merasai serangan tenaga dalam!
"Bi Goat, aku tidak apa-apa, hanya ingin membantumu menghangatkan tubuh,"
Beng San berkata.
Bi Goat memandang terus, mengangguk-angguk dan nampaknya kagum sekali.
Agaknya baru sekarang gadis cilik ini mendapat kenyataan bahwa Beng San memiliki ilmu kepandaian.
la lalu menggandeng tangan Beng San lagi dan sama sekali tidak melawan ketika pemuda itu sambil berjalan menyalurkan hawa panas yang diterimanya dengan gembira karena tak lama kemudian gadis cilik itu merasa hangat tubuhnya, tidak menderita kedinginan lagi.
Hari telah menjadi terang ketika dua orang anak ini sambil bergandengan ta-ngan tiba di perbatasan Shan-si.
Kelen-teng Hok-thian-tong berdiri di luar sebuah dusun, hanya dua li jauhnya dari Sungai Huang-ho.
Dengan gembira dan penuh harapan Beng San mengajak Bi Goat lari menuju ke tempat itu.
Betapa kagetnya ketika akhirnya sampai di tempat yang dituju, ia melihat bahwa apa yang dulunya merupakan bangunan-bangunan kelenteng yang besar, tua dan kuat, sekarang hanya tinggal tumpukan puing-puing belaka.
Bangunan-bangunan itu ternyata telah menjadi abu, telah habis dimakan api!
Sekelilingnya sunyi, tak kelihatan seorang pun manusia.
Melihat keadaan tempat itu, agaknya baru beberapa pekan saja Kelenteng Hok-thian-tong kebakaran.
Beng San berdiri bengong.
Bi Goat yang semenjak tadi sudah nampak gelisah karena belum juga mereka mendapatkan tempat berlindung, kini memandang kepada Beng San yang kelihatan sedih.
la segera menarik-narik tangan Beng San dan menunjuk ke arah puing, seolah-olah bertanya.
"Celaka sekali, Bi Goat,"
Kata Beng San perlahan.
"Agaknya terjadi sesuatu yang hebat dengan Kelenteng Hok-thian-tong. Ah, bagaimana nasibnya para hwesio dan ke mana perginya mereka itu?"
Dasar Beng San memang seorang yang memiliki hati penuh pribudi, sebentar saja dia sudah lupa akan keadaan diri sendiri, lupa akan ancaman yang mengelilingi dirinya dan menaruh kasihan serta memperhatikan nasib lain orang.
Dengan suara ah-ah-uh-uh-uh, Bi Goat menudingkan telunjuknya ke arah dada Beng San dan dada sendiri, lalu menuding ke arah belakang.
Jelas ia kelihatan memperingatkan Beng San akan bahaya yang mengancam mereka.
Barulah dia sadar akan ancaman bahaya hebat berupa Song-bun-kwi yang setelah malam terganti pagi tentu akan lebih memudahkan kakek itu mencari mereka.
la ingat bahwa tak jauh dari kelenteng itu terdapat sebuah dusun dan dia sudah kenal dengan beberapa orang tua di dusun itu yaitu ketika dia dahulu menjadi kacung Kelenteng Hok-thian-tong.
Tentu mereka itu akan suka memberi tempat kepadanya untuk bersembunyi.
Setelah berpikir demikian Beng San lalu menarik tangati Bl Goat, diajak berlari menuju ke dusun itu.
Hari masih pagi dan dusun itu sunyi sekali.
Hal ini mengherankan hati Beng San karena dahulu para petani di dusun itu sudah pada bangun, malah sudah berangkat ke sawah sebelum matahari terbit.
Sekarang kenapa sebuah rumah pun belum memuika pintunya?
Sambil menggandeng tangan Bi Goat, Beng San berlari-lari di sepanjang jalan kampung yang sunyi itu.
Jangankan mianusia, seekor anjing pun tak tampak di situ.
Keadaan sunyi menyeramkan.
Beng San seperti mendapat firasat bahwa tentu terjadi hal-hal yang mengerikan di dusun ini, seperti yang telah menimpa Kelenteng Hok-thian-tong.
la segera menuju ke rumah kakek Sam, pemilik warung kecil di sudut kampung yang sudah dikenalnya.
Kakek Sam seorang duda tua, amat peramah dan baik kepadanya.
la dapat mempercayai penuh kakek itu dan kiranya tidak ada tempat persembunyian yang lebih baik dan aman kecuali rumah kakek Sam itu.
Diketuknya pintu rumah yang masih tertutup itu.
Biasanya pagi-pagi sekali kakek Sam sudah membuka warungnya, sekarang pintu rumahnya pun masih tertutup.
Beng San tak sabar lagi, ingin dia segera bertemu dengan kakek Sam untuk minta keterangan tentang keadaan kampung yang sunyi ini, dan tentang kebakaran Kelenteng Hok-thian-tong.
"Tok-tok-tok!"
Untuk ke empat kalinya dia mengetuk, kini agak keras Belum juga ada jawaban dari dalam dan tiba-tiba terdengar lengking tinggi dari jauh, Beng San menjadi pucat mukanya, Bi Goat memegang tangannya dan cepat dia mendorong pergi Beng San sehingga anak ini terhuyung.
Bi Goat dengan muka gelisah menuding-nudingkan telunjuknya seperti mengusir pergi Beng San dan pada saat itu pintu rumah terbuka dan.....
Beng San meloncat mundur dengan mata terbelalak.
Ratusan ekor ular menyerbu keluar dari pintu rumah yang baru terbuka itu!
"Celaka!
Bi Goat, mundur....."
Teriaknya sambil meloncat lagi menjauhkan diri.
Pengalaman dengan ular-ular ini pernah dia alami bersama Tan Hok dahulu ini dan dia masih bergidik kalau mengenangkannya.
Sekarang kembali dia berhadapan dengan ratusan ekor ular yang menjijikkan.
Bi Goat membalikkan tubuh, sama sekali tidak kelihatan takut kepada barisan ular itu.
la mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh-ah dan menudingkan telunjuknya kepada Beng San, lalu ke arah belakangnya dari mana masih terdengar lengking tangis sayup sampai.
Celaka betul, pikir Beng San.
Dari belakang mengejar Song-bun-kwi, dan depan menghadang barisan ular ini.
Bagaimana dia bisa lari lagi pergi meninggalkan Bi Goat?
Mungkin Bi Goat takkan diganggu Song-bun-kwi, akan tetapi ular-ular ini?
Sekali lagi Bi Goat memberi isyarat supaya dia bersembunyi dan gadis ini mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
Dengan benda yang diambilnya itu di tangan, Bi Goat melangkah maju dan.....
dengan enaknya ia berjalan diantara barisan ular itu yang begitu gadis ini mendekat lalu diam tak bergerak, malah yang di depan cepat-cepat menyingkir, agaknya merasa takut sekali.
Beng San terheran-heran dan dia hanya melihat sebuah benda mengkilap di ta-ngan Bi Goat.
Agaknya benda itulah yang membikin takut barisan ular itu.
Suara lengking tinggi makin jelas terdengar dan kini Beng San tak perlu mengkhawatirkan diri Bi Goat lagi.
Selain gadis cilik itu memiliki benda yang melindunginya dari ular-ular itu, juga Bi Goat memiliki kepandaian yang cukup tinggi sehingga tak usah khawatir akan dicelakai orang.
Apalagi Song-bun-kwi sudah datang dekat, siapa berani mengganggunya?
Berpikir demikian, Beng San lalu berkata.
"Bi Goat, selamat tinggal!"
Dan dia talu lari terus ke utara menjauhkan diri dari tempat itu.
Setelah keluar dari dusun itu, dia melihat beberapa orang serdadu Mongol di belakang rumah yang paling pinggir.
Anehnya, serdadu itu segera; menyelinap dan menyembunyikan diri ketika melihat Beng San lari lewat.
Beng San tidak peduli dan lari terus Sampai ke pinggir Sungai Huang-ho, kemudian lari di sepanjang tepi sungai menuju ke barat.
Setelah dia berlari belasan li jauhnya dan mulai mengendorkan larinya karena mengira bahwa dia sudah selamat terhindar dari ancaman Song-bun-kwi, tiba-tiba dia mendengar lengking itu sudah dekat di belakangnya!
Beng San menjadi kaget setengah mati dan dia mempercepat lagi larinya.
Napasnya sampai hampir putus dan dia terengah-engah ketika di sebuah tikungan dia melihat iringan-iringan gerobak.
Ada tujuh buah gerobak banyaknya.
gerobak mengangkut karung-karung gandum.
Iring-inngan gerobak gandum ini adalah gandum-gandum yang merupakan "pajak"
Dari para petani, dipungut oleh pembesar setempat untuk dikirimkan ke kota, disetorkan kepada pembesar atasan.
Para petani bisanya menangis apabila melihat pawai gerobak ini karena di situlah adanya hasil jerih payah mereka selama setengah tahun, hasil cucuran keringat mereka setiap hari.
Boleh dibilang mereka tidak ke bagian apa-apa lagi kecuali sedikit yang mereka makan untuk menyambung hidup.
Beng San melihat belasan orang tentara Mongol mengawal tujuh gerobak gandum ini dan disetiap gerobak terdapat seorang kusirnya.
Karena lengking tangis d!
belakangnya sudah makin keras tanda bahwa Song bun-kwi makin dekat Beng San tidak berpikir panjang lagi.
Diam diam dia menyelinap di antara gerobak-gerobak itu dan tanpa diketahui para pengawal, dia meloncat ke dalam gerobak bersembunyi di antara karung-karung gandum yang hampir sebesar dia, penuh dengan gandum yang baik dan basih.
Ia mengintai dari dalam gerobak dan melihat bahwa gerobak itu dikusiri seorang bocah seumur dengannya, yang memakai caping (topi tani) lebar menutupi mukanya.
Bocah ini nampak melenggut saking ngantuknya.
Memang mudah untuk mengusiri gerobaknya karena gerobak yang dikusirinya ini adalah gerobak ke tiga sehingga kuda yang menarik gerobak itu tak usah dikendalikan lagi, hanya tinggal mengikuti yang depan.
Tiba-tiba setelah iring-iringan ini berjalan dua tiga li jauhnya, terdengar bentakan-bentakan di luar dan gerobak-gerobak itu berhenti.
Terdengar suara Song-bun-kwi yang galak berpengaruh.
"Aku mencari seorang anak laki-laki -bermuka hitam, kadang-kadang putih, kadang-kadang hijau, Apakah dia turut dengan kalian?"
Terdengar suara makian kotor sebagai jawaban dan seorang diantara para pengawal membentak.
"Tua bangka gila, hayo pergi jangan ganggu kami"
Akan tetapi ucapan ini disusul pekik mengerikan, disusul pekik ke dua dan ke tiga.
Kemudian terdengar orang-orang minta ampun disusul suara ketawa kakek Song-bun-kwi, ketawa yang seperti orang menangis.
"Anjing-anjing Mongol berani kurang ajar terhadapku? Mau tahu siapa aku? Song-bun-kwi inilah aku!"
Kembali terdengar seruan-seruan ketakutan dan minta ampun.
"Ampun, Locianpwe, ampunkan kami ..... di sini tidak ada anak laki-laki yang Locianpwe maksudkan tadi....."
"Hah, siapa percaya mulut anjlng Mongol? Biar kuperiksa sendiri!"
Song-bun-kwi menyingkap tenda gerobak satu demi satu, tapi tidak melihat adanya Beng San.
Tujuh buah gerobak itu hanya berisi gandum belaka berkarung-karung banyaknya, bertumpuk-tumpuk memenuhi gerobak-gerobak itu.
Dengan marah dan kecewa Song-bun-kwi pergi dari situ sambil mengeluarkan bunyi lengkingnya yang meninggi seperti orang menangis.
Buru-buru para pengawal gerobak-gerobak gandum ini menolong tiga orang teman mereka yang mati oleh pukulan Song-bun-kwi, dimasukkan ke dalam gerobak dan iring-iringan itu segera melanjutkan perjalanannya.
Kemanakah perginya Beng San?
Bagaimana Song-bun-kwi tidak bisa menemukannya?
Kalau saja Song-bun-kwi tidak begitu tergesa-gesa, kiranya di gerobak ke tiga dia akan melihat sebuah karung gandum yang agak lain daripada yang lain karena di dalam karung ini bukan berisi gandum, melainkan berisi seorang manusia, Beng San!
Anak yang amat cerdik ini telah lebih dulu bersembunyi.
Ia mendapatkan karung kosong di situ, maka segera dimasukinya dan ditutup dari dalam.
Di antara puluhan karung gandum itu sepintas lalu memang takkan dapat terlihat perbedaannya.
la bernapas lega ketika Song-bun-kwi sudah pergi dan gerobak-gerobak itu sudah berjalan kembali.
Akan tetapi dia tidak berani segera meninggalkan rombongan ini, maklum bahwa, watak Song-bun-kwi takkan putus asa begitu saja.
la segera mencari akal dan keluar dari karung gandum.
Benar saja dugaan Beng San.
Belum tiga li gerobak-gerobak itu berjalan, mendadak terdengar lagi lengking tangis, dan tak lama kemudian rombongan ini berhenti.
"Apakah yang dapat kami lakukan untuk Locianpwe? Ada keperluan apa gerangan Locianpwe kembali?"
Terdengar kepala penjaga bertanya dengan suara gemetar.
"Buka semua tenda gerobak, hendak kuperiksa lagi!"
Para pengawal sibuk membukai tenda gerobak.
Song-bun-kwi meneliti dengan penuh perhatian.
Di gerobak ke tiga dia berhenti dan tiba-tiba dia menyambar sebuah karung gandum.
Begitu dia mengangkat karung gandum ini, jelas kelihatan bahwa di dalam karung bukanlah gandum, melainkan seorang manusia yang bergerak-gerak!
"Ha..ha..ha..hi..hi!
Beng San bocah setan, kau hendak lari ke mana?"
Sambil tertawa-tawa gembira Song-bun-kwi menggendong karung berisi manusia itu dan berlari cepat sekali seperti terbang meninggalkan rombongan itu.
Para pengawal saling pandang dengan heran.
Bagaimana di antara gandum berkarung-karung itu terdapat manusianya?
Tergesa-gesa mereka melanjutkan perjalanan dan sebentar-sebentar para pengawal menengok ke belakang dengan perasaan ngeri dan takut.
Nama besar Song-bun-kwi memang membikin takut semua orang dari golongan manapun juga.
Tiba-tiba gerobak ke tiga menyeleweng dari iring-iringan.
Kudanya membelok ke kiri dan melintang di tengah jalan.
"Keparat, kusirnya tertidur agaknya!"
Bentak kepala pengawal sambil berlari menghampiri dan menahan kuda yang hendak binal ini.
Ketika dia memandang, dia kaget sekali melihat bahwa gerobak ke tiga ini memang tidak ada kusirnya!
Ke mana perginya kusir yang masih muda itu?
Tadi masih nampak melenggut, melindungi mukanya dari sinar matahari.
Semua pengawal menjadi bingung dan bertanya-tanya, kemudian mereka menjadi pucat ketika kepala pengawal berseru.
"Celaka, jangan-jangan yang dibawa pergi Song-bun-kwi adalah dia!"
Kekhawatiran mereka terbukti.
Pada saat itu terdengar lengking panjang.
Sebelum mereka sempat berunding apa yang harus mereka lakukan, Song-bun-kwi sudah datang membawa karung, yang tadi, dilemparkannya karung yang sekarang berisi mayat manusia itu ke arah para pengawal, kemudian tubuh Song-bun-kwi berkelebatan ke sana ke mari.
Beberapa belas menit kemudian ketika kakek ini pergi, di situ sudah tidak ada lagi manusia hidup.
Semua pengawal dan kusir, bahkan semua kuda yang menarik gerobak, rebah tak bernyawa lagi.
Beginilah kejamnya hati Song-bun-kwi si Iblis Berkabung!
Apakah yang terjadi?
Ke mana perginya Beng San?
Kalau saja Beng San tahu apalagi melihat apa yang menjadi akibat dari perbuatannya, kiranya dia takkan suka melakukan akalnya itu.
Tadi setelah selamat tidak dapat ditemukan Song-bun-kwi ketika dia bersembunyi di dalam karung gandum, dia merasa pasti bahwa kakek iblis itu akan kembali.
Maka cepat dia mengambil keputusan menggunakan siasat.
Dari dalam gerobak dia merayap ke depan dan sekali terkam dia dapat menangkap kusir gerobak yang masih muda itu, menyumpal mulutnya dan mengikat kaki tangannya.
Kemudian dia memasukkan kusir ini ke dalam karung dan dia sendiri duduk di tempat kusir, memakai topi caping lebar menutupi mukanya.
Dengan hati berdebar tidak karuan Beng San menyaksikan sendiri dari balik topinya ketika Song-bun-kwi datang lagi dan membawa pergi karung gandum berisi kusir tadi.
la merasa beruntung sekali bahwa kakek iblis itu tidak membuka karung di tempat itu.
Setelah kakek itu pergi, cepat Beng San mencari kesempatan dan diam-diam menyelinap turun dari gerobak, lalu lari memasuki sebuah hutan yang lebat dan liar di tepi Sungai Huang-ho.
Karena takut kalau-kalau dapat dikejar dan ditangkap Song-bun-kwi, Beng San berlari terus menyusup-nyusup hutan liar itu.
Setelah hari menjadi sore, barulah dia berhenti.
la telah sekali, lelah dan lapar.
Agaknya malapetaka masih banyak mengelilingi dirinya.
Baru saja dia terlelap hendak tidur, dia mendengar suara berisik dan ketika dia membuka matanya, dia telah dikurung oleh belasan orang laki-laki tinggi besar yang kelihatan bengis dan jahat.
Semua orang itu memegang golok yang besar dan tajam berkilau!
"Eh, eh.....
ada apa.....
mau apa.....?"!
Beng San berseru gagap dan merayap hendak bangun.
"Heh..heh..heh!"
Seorang di antara mereka, yang bermulut lebar dan berkumis lebat, tertawa bergelak, dari mulutnya menitik keluar air liur, menjijikkan sekali.
"Kawan-kawan, daging bocah kurus ini kiranya lumayan juga untuk teman gandum dan arak. Heh..heh..heh!"
"Apa.....??"
Beng San meloncat ke belakang, mukanya pucat.
"Kalian ii manusia hendak makan daging manusia? Apakah kalian ini iblis?"
"Sekarang ini jamannya orang makan orang, heh..heh..heh, apa anehnya kalau kami hendak makan engkau, bocah? setiap hari di kota, di dusun, kau melihat, orang makan orang, ha..ha..ha, orang digerogoti habis dagingnya oleh orang lain. Heh..heh..heh!"
Para pengurung itu yang wajahnya liar dan bengis-bengis merapat maju.
Beng San menengok ke kanan kiri dan mendapatkan dirinya sudah terkurung betul-betul, tidak ada jalan keluar atau lari lagi.
la menjadi bingung dan akhirnya timbul amarahnya.
Masa dia harus menyerah meptah-mentah saja untuk dijadikan mangsa orang-orang liar ini?
Tidak, dia harus melawan!
Latihannya ilmu silat telah banyak maju, setiap saat terluang tak pernah dia lupa melatih diri.
Kiranya sekarang inilah ujian baginya apakah dia selama ini melatih diri cukup keras atau tidak.
Mendadak terdengar bentakan-bentakan keras.
Sinar putih berkelebatan dari kanan kiri.
Di antara orang-orang liar itu ada beberapa orang terjungkal dan beberapa batang senjata rahasia menancap pada batang pohon.
"Ah, Pek-lian-pai yang datang.....! Kawan-kawan, lari.....!"
Seru kepala gerombolan liar itu, Mereka lari cerai-berai sambil menyeret mereka yang tadi terjungkal roboh.
Sebentar saja di situ tidak kelihatan lagi seorang pun orang jahat, hanya di sana-sini kelihatan paku-paku yang kepalanya berbentuk bunga teratai putih.
Itulah Pek-lian-ting (Paku Teratai Putih), senjata rahasia dan tanda anggota perkumpulan Pek-lian-pai.
Beng San girang sekali.
Tentu Tan Hok dan teman-temannya yang datang menolongnya.
la celingukan ke kanan kiri, lalu memanggil.
"Tan-twako...., aku Beng San di sini .....!"
Dari dalam hutan yang sudah mulai gelap itu bermunculan belasan orang.
Ada laki-laki, ada pula wanita dan pakaian mereka serba ringkas.
Yang laki-laki kelihatan gagah, ada juga yang menakutkan.
Tiga orang wanita di antara mereka cantik dan gagah, sudah setengoh tua akan tetapi masih cantik dan gesit gerak-geriknya.
Mereka ini segera mendekati Beng San, seorang di antaranya bertanya ramah.
"Kau tadi memanggil Tan-twako, siapakah yang kaumaksudkan?"
Beng San melihat bahwa penanyanya seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, gagah dan keren.
"Kumaksudkan pemimpin rombongan Pek-lian-pai yang bernama Tan Hok, dia adalah sahabat baikku."
Terdengar seruan-seruan heran dan kaget di antara belasan orang Pek-lian-pai itu. Si pemimpin sendiri segera mengeluarkan seruan girang.
"Aha, kiranya kau yang bernama Beng San? Tentu saja kami mengenal baik Tan Hok yang memimpin rombongan Pek-lian-pai dari selatan itu. Sudah kuduga bahwa kau tentu Beng San seperti pernah diceritakan oleh saudara Tan Hok, maka tadi kami tidak ragu-ragu untuk mengusir perampok-perampok pemakan manusia itu". Beng San segera memberi hormat dan berkata.
"Banyak terima kasih kuucapkan kepada kakak-kakak yang gagah perkasa. Makin yakinlah hatiku sekarang bahwa Pek-lian-pai memang perkumpulan orang-orang gagah. Akan tetapi, Twako, kenapa kalian yang belum mengenalku telah menolongku dan begini baik kepadaku?"
Beng San merasa sungkan sekali karena beberapa orang Pek-lian-pai itu sudah mengeluarkan roti dan air minum untuknya.
"Kaumakanlah dulu, nanti akan kami ceritakan sejelasnya. Bukan hanya karena kau kenalan saudara Tan Hok saja mengapa kami menolongmu, akan tetapi ada hal yang lebih penting lagi. Makanlah dulu, Adik Beng San."
Karena perutnya memang lapar sekali, Beng San tanpa malu-malu lagi lalu makan hidangan itu dengan lahapnya.
Setelah berada di tengah-tengah mereka ini, orang-orang gagah Pek-lian-pai, dia merasa aman dan tidak takut akan ancaman Song-bun-kwi.
Akan tetapi setelah mengambil paku-paku Pek-lian-pai dari tempat itu, para anggota Pek-lian-pai itu seorang demi seorang pergi dari tempat itu seperti setan-setan saja.
Gerakan mereka cepat dan tidak mengeluarkan suara sehingga rombongan seperti ini dalam pertempuran dapat melayani musuh yang jauh lebih banyak jumlahnya.
Kini hanya tinggal pemimpin pasukan yang tadi bicara dengan Beng San, yang masih duduk menghadapi anak itu.
"Ke mana perginya teman-teman tadi?"
Beng San bertanya sehabis makan, karena kesunyian tempat itu betul-betul menyeramkan, apalagi setelah keadaan menjadi makin gelap.
"Ah, sudah menjadi kebiasaan klta tidak berkelompok, selalu siap untuk menggempur musuh, pasukan-pasukan Mongol yang lewat dekat daerah mi,"
Pemimpin Pek-Lian-pai itu berkata. Beng San mengangguk-angguk dan mengangsurkan kembali tempat air dan tempat roti yang sudah kosong.
"Sekali lagi terima kasih, Twako..... eh, siapakah nama Twako?"
"Namaku Ciu Tek,"
Jawab orang itu, singkat.
"She Ciu.....? kalau begitu Twako ini masih terhitung keluarga dengan pemimpin yang terkenal Ciu Goan Ciang?"
Orang itu nampak gugup, tapi karena keadaan gelap, sukar bagi Beng San untuk memperhatikan mukanya.
"Aaahhh..... orang seperti aku ini, mana bisa disejajarkan dengan Ciu Goan Ciang? Eh, Adik Beng San, kau sudah tahu akan Ciu Goan Ciang, apakah kau pernah bertemu de-=ngannya dan di mana dia sekarang?"
"Semua orang, dari pedagang sampai petani, memuji-muji nama besar Ciu Goan Ciang. Tentu saja aku pernah mendengar nama itu disebut-sebut orang. Akan tetapi belum pernah aku bertemu muka dengannya dan tentu saja aku tidak tahu di mana tempatnya. Ciu-twako, kau tadi bilang bahwa ada hal yang amat penting yang menjadi alasan kau dan teman-teman tadi menolongku. Hal apakah yang amat penting itu?"
"Amat penting bagimu, Adik Beng San. Akan tetapi sebelum aku memberi penjelasan, aku ingin mendapat kepastian lebih dulu agar jangan mengecewakan dua orang sakti itu. Adikku yang baik, coba kaubuka baju atasmu, ingin aku membantu Beng San melepas bajunya yang sudah rombeng itu, yang dilakukannya karena dia ingin segera mendengar apa yang akan diceritakan oleh pemimpin Pek-lian-pai itu. Dengan sebatang obor yang dinyalakannya Ciu Tek menerangi dada dan pundak Beng San. Tiba-tiba dia nampak gembira, tertawa-tawa dan menudingkan telunjuknya ke arah pundak Beng San.
"Bagus, kaulah anak mereka! Ha..ha..ha, tak salah lagi sekarang. Tanda tahi lalat di pundakmu itu! Betul, kaulah Beng San anak suami isteri yang sakti itu!"
Beng San menjadi bengong, lalu memakai kembali bajunya.
"Ciu-twako, apa kaubilang? Aku anak siapa? Harap kaujelaskan, jangan main-main."
Suara Beng San terdengar serak, hampir tak dapat dia mengeluarkan suara karena rasa keharuan yang besar.
Jantungnya berdetak tidak karuan mendengar bahwa dia adalah anak mereka!
Mereka siapa?
"Adik Beng San, jawab dulu.
Bukankah kau seorang anak yang menjadi korban banjir Sungai Huang-ho dan tidak tahu lagi siapa ayah bundamu?"
Beng San mengangguk, membasahi, bibirnya dengan lidah.
"Aku..... aku sudah lupa segala..... aku terdampar ombak air bah, lalu berkeliaran dan bekerja di kelenteng..... aku tidak ingat lagi siapa ayah bundaku. Ciu-twako yang baik, lekas kauberi penjelasan, apa artinya semua ini?"
Ciu Tek memegang kedua pundak Beng San dan berkata gembira.
"Adik Beng San, kionghi (selamat)! Kau akan bertemu dengan ayah bundamu kembali. Mereka sudah lama mencari-carimu ke mana-mana. Tak nyana aku yang menemukan kau di sini. Ah, girang sekali hatiku!"
Beng San hampir pingsan saking kagetnya, heran, dan gembiranya.
Terlalu hebat, terlalu baik berita ini, sampai sukar untuk dapat dipercaya.
Benarkah dia akan bertemu dengan ayah bundanya kembali?
Bagaimanakah wajah ayah bundanya itu?
la sudah lupa sama sekali.
Ingatannya disapu bersih oleh air bah yang mengamuk.
Bahkan she-nya sendiri saja dia sampai lupa.
"Ciu-twako...... di mana..... di mana..... mereka itu.....?"
Dengan sukar sekali Beng San mengajukan pertaryaan ini, dengan suara terputus-putus dan mata berlinangan air mata.
"Sabarlah, Adik Beng San, mereka tidak jauh dari sini. Tunggu aku memberi kabar kepada mereka dan besok pagi kau sudah akan bertemu dengan ayah bundamu itu."
Ciu Tek memberi isyarat dengan siutan. Muncullah seorang temannya, seorang anggota Pek-lian-pai wanita yang sigap dan bermata sipit, di punggungnya membawa pedang.
"Kui-moi, kauantarkan suratku kepada Ouw-taihiap suami isteri, malam ini juga,"
Kata Cin Tek yang segera mencorat-coret sehelai kertas dan memberikannya kepada wanita itu. Wanita itu hanya mengangguk menerima surat dan tak lama kemudian dari jauh terdengar derap lari seekor kuda.
"Ciu-twako, jadi aku she..... she Ouw? Ciu-twako, ceritakanlah tentang ayah bundaku, aku sudah lupa sama sekali. Dan bagaimana aku sampai hanyut di Huang-ho? Ah, Twako yang baik, ceritakanlah, aku tak sabar menanti."
Seperti anak kecil Beng San mengguncang-guncang lengan Ciu Tek yang tersenyum dan memandang terharu.
"Adikku yang baik, kau adalah putera tunggal sepasang suami isteri yang berkepandaian tinggi sekali. Orang tuamu adalah sepasang pendekar yang sukar dicari bandingnya untuk jaman ini. Ayahmu bernama Ouw Kiu, terkenal dengan julukannya Hui-sin-liong (Naga Sakti Terbang). Ibumu bernama Bhe Kit Nio berjuluk Bi-sin-kiam (Pedang Sakti Cantik)."
Beng San mendengarkan dengan hati berdebar bangga.
Ah, kiranya orang tuanya adalah pendekar-pendekar gagah, terkenal di kaiangan Pek-lian-pai pula.
Alangkah akan kaget dan herannya kalan kelak Tan-twako mendengar akan hal ini, pikirnya.
Hemmm, orang tuanya tidak kalah terkenalnya oleh orang tua anak-anak Hoa-san-pai itu.
Diam-diam Beng San mengangkat dada terhadap Thio Ki, Kui Lok, dan dua orang gadis cilik, Thio Bwee dan Kwa Hong.
la tak merasa kalah oleh mereka itu!
"Ciu-twako,"
Katanya dengan Suara gemetar.
"kalau ayah bundaku begitu terkenal dan lihai, kenapa aku sampai bisa hanyut terbawa air bah?"
"Ketika itu banjir besar sedang mengamuk di sepanjang Sungai Huang-ho, ayah bundamu sibuk menolong para korban. Karena kesibukannya inilah mereka menjadi lalai dan kau yang masih kecil bermain-main di dekat songai lalu terseret banjir dan lenyap. Mereka tak dapat berbuat apa-apa karena tahu-tahu kau telah lenyap....."
Beng San termenung.
Air matanya menitik turun.
la sendiri tidak ingat sama sekali akan hal semua itu.
Seingatnya, dia telah menjadi kacung di Hok-thian-tong.
Baginya, hidup ini dimulai dari lantai Hok-thian-tong yang dia pel (cuci) setiap hari.
Ingatannya hanya bisa dia putar kembali sampai saat itu, saat ia menjadi kacung di kelenteng, diperlakukan dengan amat baik oleh para hwesio di kelenteng itu.
Ia tidak dapat mengingat lagi waktu sebelum itu.
Dan sekarang kelenteng itu sudah habis di makan api, tak seorang pun hwesio dapat dia temukan sehingga awal hidupnya yang dapat dia ingat juga habis tersapu dari kenyataan, kini bukan tersapu air, melainkan tersapu habis oleh api!
Tak disangka sama sekali bahwa di tempat ini dia akan bertemu dengan ayah bundanya!
Tak tertahankan lagi Beng San menutupi mukanya dan menangis tersedu-sedu.
"Tidurlah, Adik Beng San. Tidurlah nyenyak dan besok kau akan bertemu dengan ayah bundamu."
Akan tetapi mana Beng San mau tidur?
la tidak mau tidur karena takut kalau-kalau dia akan bangun dari tidur dan mendapatkan dirinya bahwa semua ini hanya mimpi belaka.
Malah sekarang pun berkali-kali dia mencubit kulit lengan sendiri untuk menyatakan bahwa dia tidak sedang tidur.
Kadang-kadang dia hampir tak dapat percaya.
la akan bertemu dengan ayah bundanya?
Ah, terlalu baik, terlampau luar biasa baik nasibnya, sampai-sampai sukar untuk mempercayanya.
Tak sabar lagi dia menanti datangnya pagi dan baru kali ini selama hidupnya Beng San tahu apa artinya menunggu.
Malam itu terasa amat panjang olehnya.
Akhirnya fajar menyingsing.
Suara-suara dalam hutan sudah berubah, bukan lagi suara burung malam, jengkerik diseling meraungnya binatang-binatang buas, suara yang seram menambah kegelisahan hati Beng San yang tak sabar, melainkan sudah berubah menjadi suara burung-burung pagi berkicau ramai indah, menambah kegembiraan hati Beng San yang melihat bahwa apa yang dinanti-nantikan akhirnya menjelang tiba.
Ciu Tek mengeluarkan sisa daging rusa yang masih disimpannya, lalu dipanggang dan memberi sebagian kepada Beng San.
Akan tetapi dengan halus Beng San menolaknya, menyatakan bahwa dia tidak lapar.
Memang, dia hanya lapar bertemu orang tuanya, yang lain-lain tidak peduli lagi.
Akhirnya, setelah matahari mulai menerobos cahayanya di antara daun-daun pohon, dari jauh terdengar derap kaki kuda dan tak lama kemudian muncullah dua orang.
Seorang laki-laki tinggi tegap berusia empat puluh tahun yang bermuka pucat, bermata sipit dan dengan kumis melintang meloncat turun dari kudanya, diturut oleh seorang wanita cantik berpakaian indah, berusia kurang lebih tiga puluh tahun.
Dua orang ini sambil tersenyum-senyum menghampiri Beng San dan Ciu Tek.
Beng San segera bangkit berdiri, memandang kepada dua orang itu, ganti-berganti.
Lehernya terkancing, seakan-akan ada hawa menyesak dari dada memenuhi kerongkongannya.
"Adik Beng San, itulah mereka, ayah dan ibumu. Sambutlah,"
Kata Ciu Tek sambil tersenyum.
"Baik-baiklah kau dengan ayah ibumu, aku harus pergi."
Ciu Tek segera meninggalkan tempat itu tanpa mendapat jawaban Beng San yang seakan-akan tidak mendengarnya, karena anak ini seperti terpukau berdiri memandang dua orang yang baru datang itu.
"Beng San, ahhh..... kau sudah begini besar..... ah, sampai pangling aku..... hampir delapan tahun kau lenyap..... ah, biarkan aku melihat tanda di pundakmu, Beng San. Betulkah kau Beng San anakku? Betulkah ada tahi lalat di pundakmu?"
Wanita itu berkata dengan suara terputus-putus dan saputangannya digosok-gosokkan matanya yang bercucuran air mata. Laki-laki itu pun melangkah maju, suaranya besar parau.
"Tak salah lagi, inilah anak kita. Biar kita buktikan tandanya. Beng San, coba kaulepas bajumu....."
Gemetar seluruh tubuh Beng San.
Entah apa yang dirasanya di saat itu, dia sendiri tidak tahu.
Seperti dalam mimpi tangannya membuka kancing bajunya sehingga baju itu terbuka dan tampak dada dan pundaknya.
Sebuah andeng-andeng (tahi lalat) kecil menghias pundak kirinya.
Melihat ini wanita itu lalu menubruk dan merangkulnya.
"Ah, kau betul Beng San anakku...."
Diciuminya pipi dan leher Beng San.
Anak ini merasa jengah dan malu.
Seharusnya dia tidak usah merasa malu bisik hati nuraninya, kan dia ibuku?
Tapi entah, tanpa dia sengaja dia menjauhkan mukanya dan dia memandang muka cantik yang berbedak tebal dan berbau harum minyak wangi itu, memandang sepasang mata yang bergerak liar dan genit, mulut yang dilapisi cat merah, indah bentuknya dan selalu tersenyum akan tetapi agak terlampau lebar itu, giginya yang kecil-kecil meruncing tampak ketika tersenyum.
"Beng San, anakku..mari sini, Nak... biarkan ibumu memelukmu....."
Beng San bergidik, akan tetapi dia memaksa diri melangkah maju dan membiarkan ibunya merangkul dan mendekapnya.
Ketika dia merasa betapa air mata yang hangat menjatuhi pipinya, hatinya menjadi terharu dan tak terasa pula dia pun menangis terisak-isak.
"Ayah..... Ibu.....??! Kenapa..... kenapa.."
Bibirnya berbisik, hatinya penuh keharuan ketika dia dipeluk ibunya dan kepalanya dibelai kedua tangan ayahnya yang sudah mendekat pula.
"Kenapa? Apa yang hendak kau tanyakan, Beng San.....?"
Ibunya bertanya.
Sebetulnya hati Beng San berteriak-teriak kecewa, kenapa ayahnya tidak segagah ayah Kwa Hong dan kenapa ibunya begini.....
pesolek, sama sekali tidak kelihatan agung seperti yang dia gambar-gambarkan semalam.
Akan tetapi mulutnya tentu saja tidak berani meneriakkan suara hatinya ini dan dia hanya berbisik.
"Kenapa Ayah dan Ibu membiarkan anak terlunta-lunta sampai sembilan tahun?"
"Membiarkan terlunta-lunta? Ah, kau tidak tahu, Beng San. Kami telah mencari-carimu setengah mati, malah mengerahkan semua kawan Pek-lian-pai untuk mencarimu,"
Kata ibunya yang bernama Bhe Kit Nio.
"Ah, pakaianmu begini kotor, sudah rombeng pula. Aku tadi membawa pakaian untukmu, anakku. Mari kugantikan kau dengan pakaian baru."
La berlari ke arah kudanya dan mengambil satu stel pakaian dari sutera indah berwarna biru muda untuk Beng San. Tanpa disengaja Beng San tersipu-sipu malu.
"Biarlah, Ibu, biar kupakai sendiri."
La menerima pakaian itu dan lari sembunyi ke belakang sebatang pohon besar, cepat-cepat dia memakai pakaian itu, akan tetapi tidak membuang pakaian lamanya.
la hanya merangkapkan pakaian baru di luar pakaiannya yang lama.
Setelah dia muncul kembali, ibunya berkata.
"Ah, coba lihat. Alangkah tampannya anak kita....."
Sambil tertawa ibu muda ini berlari dan memeluk lagi leher Beng San.
Beng San mendapat kenyataan betapa ayahnya semenjak tadi hanya diam saja.
Agaknya ayahnya memang pendiam dan tidak bisa banyak bicara.
la merasa tidak enak kalau didiamkannya saja.
Sejak tadi hanya ibunya yang bicara terus.
Temyata ibunya memang pandai bicara.
la teringat akan Kwa Hong.
Memang, kalau dibandingkan, Kwa Hong jauh lebih pandai bicara daripada Kui Lok atau Thio Ki.
Bahkan Thio Bwee yang pendiam juga lebih pandai bicara.
Apakah memang wanita sudah semestinya lebih pandai bicara daripada laki-laki?
"Ayah, aku pernah bertemu dengan Tan-twako, pemimpin Pek-lian-pai.
Kenapa dia tidak tahu bahwa aku anak Ayah Ibu?"
Ayahnya nampak bingung.
"Tan-twa-ko.....? Siapa itu..... ah, ingat aku. Kau maksudkan Tan Hok?"
"Ketahuilah, Beng San,"
Ibunya menyambung cepat.
"Tan Hok itu adalah pemimpin Pek-lian-pai cabang selatan, jadi berpisahan dengan kami. Ayahmu dan aku mempunyai hubungan dengan Pek-lian-pai cabang utara. Memang belum lama ini kami bertemu dengan Tan Hok dan dari dialah kami mengetahui tentang kau dan timbul dugaan bahwa kau adalah putera kami. Dan ternyata betul, terima kasih kepada para sianli (dewi) di kahyangan"
Hemmm, isinya menyatakan terima kasih kepada dewi.
Agaknya ibunya ini penyembah Kwan Im Pouwsat, pikir Beng San.
la masih belum biasa dengan keadaan ini, keadaan berayah ibu, maka dia merasa canggung dan masih saja dia terasa dirinya asing.
"Sekarang ceritakanlah semua pengalamanmu semenjak kau terbawa hanyut. oleh Sungai Huang-ho, anakku,"
Ibunya berkata sambil duduk di sebelahnya, memegangi tangannya dengan sikap yang penuh kasih sayang.
Terharu juga Beng San melihat sikap Ayahnya diam saja, hanya membuat api unggun dan memanggang daging yang agaknya tadi sengaja dibawa.
Hal yang amat kecil ini saja tidak terluput dari perhatian Beng San.
Kenapa ayahnya yang memanggang daging?
Bukankah seharusnya ibunya yang melakukannya?
Kenapa ibunya agaknya tidak mengacuhkan dan kenapa ayahnya kelihatan takut-takut kepada ibunya?
"Beng San, kenapa melamun?
Aku minta kauceritakan pengalamanmu."
Ketika hendak mulai bercerita, Beng San tiba-tiba teringat bahwa keadaan dirinya amat berbahaya.
la teringat akan pesan Lo-tong Souw Lee.
Karena dia mengerti tentang Im-yang Sin-kiam-sut dan tahu di mana adanya Lo-tong Souw Lee, dirinya menjadi terancam, dicari oleh orang-orang sakti di dunia kang-ouw.
Kalau sekarang dia menceritakan semua itu kepada ayah bundanya, bukankah itu sama saja dengan menimpakan semua bahaya ini ke pundak orang tuanya juga?
"Aku tidak tahu bagaimana asal mulanya, tak ingat lagi,"
Ia mulai menuturkan pengalamannya.
"tahu-tahu aku sudah berada di Kelenteng Hok-thian-tong menjadi kacung melayani para hwesio di sana."
La menarik napas panjang karena teringat lagi kepada kelenteng yang terbakar itu.
"Aku tidak ingat apa-apa lagi, yang kuingat hanya bahwa aku hanyut oleh air bah Sungai Huang-ho dan bahwa namaku Beng San."
"Kasihan kau, anakku....."
Bhe Kit Nio memeluknya dan kembali air matanya bercucuran. Beng San merasa heran betapa mudahnya air mata mengucur dari sepasang mata ibunya.
"Lalu bagaimana lanjutannya, Nak?"
Sementara itu, Ouw Kiu sudah pula duduk di situ, mendengarkan cerita Beng San sambil memegang ujung ranting yang dipergunakan untuk menusuk dan memanggang daging.
Matanya yang bersinar suram itu lebih banyak menatap daging di dalam api, jarang sekali menatap wajah Beng San, bahkan agaknya menghindari pandang mata Beng San yang tajam luar biasa itu.
Beng San lalu menuturkan dengan suara perlahan semua pengalamannya, bahkan menuturkan dengan bangga bahwa dia telah diangkat sebagai murid dan ahli waris oleh mendiang Phoa Ti dan The Bok Nam yang tewas di dalam jurang.
Ketika dia bercerita sampai di sini, ayahnya nampak tenang saja, akan tetapi ibunya berseru kaget.
"Apa??"
Kau diambil murid Thian-te Siang-hiap? Kalau begitu kau menjadi ahli warisnya dan mewarisi Im-yang Sin-kiam-sut?"
Sepasang mata ibunya terbelalak memandangnya, alisnya diangkat dan mulutnya terbuka.
Kembali Beng San merasa bahwa ibunya ini dalam segala gerak-geriknya terlalu dibuat-buat.
Ia lebih bangga akan sikap ayahnya yang pendiam dan seakan-akan tidak peduli, patut menjadi sikap seorang gagah perkasa, sungguhpun corak ayahnya lebih menakutkan daripada gagah.
Betapapun juga, dia merasa bangga bahwa ibunya juga mengenal nama Thian-te Siang-hiap dan tahu akan Im-yang Sin-kiam-sut.
"Ah, aku hanya baru mempelajari teorinya, Ibu, prakteknya sih masih jauh dari pada sempurna. Aku masih sedang melatihnya, baru pada tingkat permulaan."
"Bagus, anakku. Ah, kau anakku yang beruntung, anakku yang bernasib baik!"
Ibunya memeluknya dan mencium keningnya. Kembali Beng San merasa pipinya merah dan panas, hatinya malu dan jengah.
"Teruskanlah, Nak, teruskan penuturanmu."
"Ah, Ibu, kau bilang aku beruntung dan bernasib baik. Sebaliknya daripada itu, setelah menerima warisan ilmu itu, hidupku seperti terkutuk. Aku dipakai rebutan antara orang-orang jahat, malah hampir saja beberapa kali aku dibunuh karena warisan ini, Beng San berkata menyesal.
"Ehhh.....?? Siapa berani mengganggumu, siapa sih berani mau membunuhmu? Keparat, kuhancurkan kepalanya nanti!"
Nyonya muda itu mengepal tinjunya yang kiri sedangkan tangan kanannya meraba gagang pedangnya.
Sikapnya mengancam dan gagah sekali.
Untuk sejenak hati Beng San terhibur.
Bangga dia melihat sikap orang yang menjadi ibunya ini, yang demikian ganas hendak membelanya.
"Ah, Ibu..... itulah celakanya..... selama ini yang mengejar-ngejarku dan, mengancam keselamatanku adalah orang-orang yang layak disebut iblis, tokoh besar yang amat sakti dan tinggi kepandaiannya, sukar sekali dilawan....."
"Hemmm, siapa mereka? Katakan!"
Tiba-tiba Ouw Kiu yang sejak tadi diam saja mengeluarkan suaranya yang parau.
Kembali Beng San merasa bangga karena ayahnya ini pun agaknya marah mendengar bahwa dia hendak diganggu orang.
Baru sekarang dia merasa betapa enak dan senangnya berayah ibu, ada orang melindungi dan membelanya!
"Pertama adalah Song-bun-kwi, ke dua Hek-hwa Kiri-bo, dan masih banyak lagi, mungkin semua orang di dunia kang-ouw hendak menangkapku karena mereka hendak merebutkan Im-yang Sin-kiam-sut."
Beng San memandang tajam ayah bundanya, dia takkan heran kalau melihat mereka kaget dan khawatir.
Akan tetapi alangkah herannya ketika dia melihat ayahnya mengangguk-angguk dan ibunya malah tertawa nyaring!
"Ha..ha..ha, Beng San.
Cuma orang-orang macam Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo saja kauanggap hebat?
Ah, kukira tadi ibJis neraka yang mengganggumu.
Kalau hanya mereka itu, andaikata ibumu ini tidak kuat melawannya, pasti mereka diganyang mentah-mentah oleh ayahmu!
Jangan khawatir, anakku.
Kau belum tahu bahwa ayah ibumu juga bukan orang lemah, apalagi ayahmu.
Hemmm, kiranya pasangan kami tak kalah terkenalnya.
Kebetulan sekali kau segera dapat kami temukan, kalau tidak, ahhh.....
amat berbahaya.
Kau harus lekas beritahukan Im-yang Sin-kiam-sut kepada kami.
Di bawah pimpinan ayahmu, kau akan dapat kemajuan pesat dan akan kuat membantu kami menghadapi musuh-musuhmu itu."
Tapi Beng San masih ragu-ragu.
Betulkah ayah bundanya akan mampu menghadapi Hek-hwa Kui-bo atau Song-bun-kwi?
la tidak mau menyeret ayahnya atau ibunya sehingga jiwa mereka terancam pula.
la menggeleng kepala dan berkata.
"Biarlah, Ibu. Biar aku sendiri saja yang mengerti ilmu sial itu, agar Ayah jangan ikut terancam keselamatannya". Hemmmm, agaknya kau belum percaya akan kepandaian ayahmu. Biarlah lain waktu kau akan melihat sendiri buktinya. Sekarang, kaulanjutkan ceritamu."
Beng San lalu menceritakan pengalamannya ketika dia ditolong Lo-tong Souw Lee dan kemudian menerima latihan-latihan dari kakek buta itu dan mendapat penjelasan-penjelasan bagaimana dia selanjutnya harus melatih diri untuk mempelajari Im-yang Sln-kiam-sut yang sudah dihafalnya di luar kepala itu.
"Ahhh..... kau malah bertemu dengan dia? Apakah Liong-cu Siang-kiam masih ada padanya?"
Tanya ibunya, nampak kaget dan terheran-heran.
"Masih ada. Bagaimana Ibu bisa tahu tentang Liong-cu Siang-kiam dan apakah Ibu mengenal Lo-tong Souw Lee?"
"Hi..hi..hi, bocah bodoh. Siapa tidak tahu tentang Liong-cu Siang-kiam yang dicuri kakek itu dan menghebohkan orang seturuh negara? Dan tentang Lo-tong Souw Lee sendiri..... ah, dia itu adalah sahabat baik ayahmu!"
"Sahabat baik Ayah?"
Beng San menengok kepada ayahnya yang sudah memandang panggang dagingnya dengan muka muram lagi.
"Akan tetapi dia su-dah amat tua, dan malah sudah buta, sedangkan Ayah..... Ayah masih muda....."
"Dalam persahabatan orang tidak melihat perbedaan usia,"
Bantah ibunya.
"ayahmu sahabat baik Lo-tong Souw Lee. Kalau bukan sahabat baik, apakah ayahmu tidak sudah pergi mencarinya untuk merampas kembali Liong-cu Siang-kiam seperti tokoh-tokoh lain? Karena sahabat baik, ayahmu segan melakukan itu. Sekarang kebetulan sekali, Beng San. Kalau Lo-tong Souw Lee sudah berlaku amat baik kepadamu, kepada anak kami, sudah selayaknya kalau kami membelanya dari ancaman orang-orang kang-ouw. Kuusulkan supaya kita bertiga pergi mengun-junginya, di sana kau boleh memperdalam Ilmu Im-yang Sin-kiam-sut di bawah asuhan ayahmu sementara kita bersama menjaga keselamatan orang tua yang sudah buta itu."
Ibunya laki meraba pundak ayahnya dan bertanya.
"Eh, bagaimana pendapatmu?"
Ouw Kiu menoleh dan tersenyum masam kepada isterinya.
"Boleh,.... boleh....."
"Beng San, kaukatakan di mana tempat sembunyinya kakek tua buta itu? Kita segera pergi mengunjunginya sekarang juga."
Beng San ragu-ragu.
Benarkah kedua orang tuanya akan dapat melindungi Lo-tong Souw Lee?
Kalau tidak betul, berarti mengunjunginya sama dengan memancing datangnya bahaya untuk kakek yang sudah buta itu.
la harus melihat gelagat, jangan sampai membahayakan keselamatan Lo-tong Souw Lee juga keselamatan ayah bundanya.
Tiba-tiba Beng San terkejut sekali.
Telinganya mendengar sesuatu, perasaannya tersentuh dan tahulah dia bahwa ada orang pandai di dekat situ.
Sebelun.
dia dapat bicara, tiba-tiba terdengar bentakan .
"Sin-siang-hiap (Sepasang Pendekar Sakti) Serahkan anakmu kepadaku!"
Dan tiba-tiba di situ sudah muncul!
Hek-hwa Kui-bo dengan sikap mengancam sekali.
Beng San memandang dengan mata terbelalak kaget dan penuh kekhawatiran.
Ibunya segera melompat mendekatinya dan memeluknya.
"Jangan takut, lihat saja ayahmu menggempurnya,"
Bisiknya. Ouw Kiu, ayah Beng San, berdiri dengan malas-malasan, memandang kepada Hekhwa Kui-bo dan berkata.
"Hek-hwa-toanio, harap kau jangan mengganggu anakku."
Sambil berkata demikian Ouw Kiu merangkapkan kedua tangan memberi hormat.
Hek-hwa Kui-bo mengeiuarkan suara menyindir dan tiba-tiba tubuhnya melayang dan kedua tangannya sudah melakukan pukulan, mendorong ke arah dada Ouw Kiu.
Ouw Kiu dengan tenang membuka kedua lengannya dan sepasang telapak tangannya menyambut serangan nenek itu.
Terdengar suara keras dan.....
tubuh nenek itu mencelat ke belakang lalu terhuyung-huyung, mukanya berubah pucat.
Sedangkan Ouw Kiu masih berdiri tegak sambil tersenyum tenang, seperti tak pernah terjadi sesuatu.
Sambil mengeluarkan pekik mengerikan, tubuh Hek-hwa Kui-bo berkelebat dan lenyap dari situ.
Keadaan kembali sunyi dan Beng San memandang kepada ayahnya penuh kekaguman, matanya melotot dan mulutnya melongo.
Demikian mudah ayahnya mengalahkan Hek-hwa Kui-bo.
Padahal nenek itu ditakuti oleh seluruh dunia kangouw.
Dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian ayahnya.
Saking girang, kagum dan bangganya, dia lari menghampiri ayahnya, memeluk pinggang ayahnya sambil terisak-isak.
Baru kali ini dia berpelukan dengan ayahnya yang hanya mengelus-elus rambut kepalanya.
Kini Beng San tidak ragu-ragu lagi untuk mengajak kedua orang tuanya mengunjungi Lo-tong Souw Lee.
Bertiga melakukan perjalanan cepat melalui sepanjang Sungai Huang-ho sambil melihat-lihat keindahan pemandangan.
Memang, lembah Sungai Huang-ho menjadi tamasya alam yang amat indahnya di waktu airnya tidak mengamuk.
Akan tetapi kalau musim hujan tiba dan sungai itu mengamuk, semua pemandangan indah akan lenyap dan berubah menjadi keadaan yang mengerikan.
Dengan gembira ayah ibu dan anak ini melakukan perjalanan.
Hati Beng San tenang dan tentram.
Ayahnya demikian lihai, tentu ibunya juga.
la takut apa?
Bahkan ketika mereka bertiga pada suatu hari, beberapa pekan kemudian, tiba-tiba berhadapan muka dengan Song-bun-kwi, Beng San masih enak-enak dan malah tersenyum mengejek.
"Eh, Song-bun-kwi, kalau sekarang kau masih berani menggangguku, barulah kau boleh membanggakan diri sebagai seorang jagoan. Hayo, kaulawan ini Ayah dan Ibuku. Sin-siang-hiap!"
Ayah dan ibunya dijuluki Sin-siang-hiap atau Sepasang Pendekar Sakti, karena bukankah keduanya memakai julukan yang ada huruf saktinya?
Ayahnya berjuluk Naga Sakti Terbang, ibunya berjuluk Pedang Sakti Cantik, jadi keduanya mendapat julukan Sepasang Pendekar Sakti!
Song-bun-kwi berdiri bengong, seperti terheran-heran melihat anak yang selama ini dicari-carinya tak tersangka-sangka dapat bertemu dengannya di tepi Sungai Huang-ho dan begini enak-enak dan tenang saja, tidak lari seperti dulu.
Sementara itu, Beng San menoleh kepada orang tuanya dan bukan main herannya ketika dia melihat orang tuanya itu nampak pucat sekali berhadapan dengan Song-bun-kwi.
Lebih-lebih lagi herannya ketika dia melihat tubuh ayahnya menjadi gemetar, kedua kakinya menggigil.
Ibunya juga pucat dan hanya meraba gagang pedang tanpa mencabutnya.
"Sin-siang-hiap? Ha..ha..ha, Sin-siang-hiap?"
Song-bun-kwi mengeluarkan suara mengejek dan tubuhnya berkelebat ke depan.
Sekaligus dia telah mengirim dua serangan ke arah Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio.
Dua orang suami isteri ini cepat mengelak, akan tetapi tetap saja mereka keserempet angin pukulan Song-bun-kwi sampai terlempar beberapa meter dan bergulingan jauh.
Kiranya mereka memang sengaja menggunakan Ilmu Trenggiling Turun Gunung itu, untuk menggelindingkan tubuhnya sampai jauh, kemudian sama-sama meloncat bangun dan.....
melarikan diri!
Beng San heran Can marah.
Akan tetapi kemarahannya lebih besar lagi.
Ia menerjang maju sambil memaki.
"Iblis tua, berani kau memukul ayah bundaku!"
Song-bun-kwi mengelak dan hendak menangkap tangan Beng San, akan tetapi alangkah kagetnya ketika tangan itu menyelinap ke bawah dan tahu-tahu pahanya kena dipukul oleh Beng San!
Ia merasa seakan-akan tulang pahanya hendak patah dan terasa dingin seperti kemasukan es.
la kaget sekali, maklum bahwa dia kena pukulan Im-sin-kiam dari bocah !
itu.
Bukan main keder hatinya.
Andaikata anak itu sudah lebih matang latihannya, sangat boleh jadi pahanya akan patah!
Hebat sekali, anak ini tak boleh dibuat main-main, pikirnya.
la lalu mengamuk dengan pukulan-pukulan aneh kalang-kabut.
Kasihan sekali Beng San.
Betul bahwa dia telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi sekali, akan tetapi justru karena terlalu tinggi ilmu itu, sebelum dia melatihnya dengan sempurna, kepandaian silatnya amat terbatas.
Menghadapi seorang tokoh besar seperti Song-bun-kwi, mana dia bisa menandinginya?
Dalam beberapa belas jurus saja dia sudah roboh tertotok jalan darahnya, tak mampu bergerak lagi karena lumpuh kaki tangannya!
Sambil tertawa-tawa Song-bun-kwi mengempit tubuh Beng San dan membawanya lari pergi dari tempat itu, terus berlari di sepanjang tepi Sungai Huang-ho sampai dia tiba di daerah tepi sungai yang bertebing tinggi dan curam.
Beng San masih tak dapat bergerak sedikit pun juga, akan tetapi diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan berusaha membebaskan diri dari totokan.
"Heh, bocah setan!"
Song-bun-kwi berkata sambil tertawa-tawa.
"Akhirnya kau terjatuh juga di tanganku. Hayo sekarang kauberikan Im-yang Sin-kiam-sut kepadaku dan beri tahu di mana tempat sembunyinya si maling Lo-tong Souw Le itu."
Beng San lumpuh hanya kaki tangannya, tapi dia mempergunakan panca inderanya, dapat pula bicara.
Akan tetapi terhadap Song-bun-kwi dia tidak sudi membuka mulut, maka dia hanya memandang lalu menggeleng kepala.
"Bocah bandel, apakah kau lebih sayang Im-yang Sin-kiam-sut dan lebih sayang kakek buta mau mampus itu daripada nyawamu? Lihat ke bawah itu, air Sungai Huang-ho amat dalam dan deras di bawah itu. Kalau kau tetap membandel aku akan melempar engkau ke sana!"
La memegang tubuh Beng San sedemikian rupa di atas tebing sehingga muka anak itu menghadap ke bawah, melihat air yang mengalir deras dan berombak-ombak mengerikan.
Dari atas, air itu kelihatan seperti air yang mendidih.
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya perasaan ini, Beng San merasa ketakutan hebat melihat air itu.
Baru kali ini selama hidupnya dia merasa ketakutan yang amat sangat menyesakkan dadanya.
Semua bulu di tubuhnya meremang dan mukanya menjadi pucat kehijauan.
la melihat air yang bergolak itu seperti ribuan muka iblis yang amat menakutkan, yang akan menerkamnya, akan menghanyutkannya.
Saking takutnya dia sampai tidak mendengar ancaman-ancaman dan bujukan-bujukan Song-bun-kwi sehingga dia sama sekali tidak menjawab, hanya terbelalak memandang ke arah air di bawah itu.
"Iblis cilik, kalau begitu kau harus mampus. Agar rohmu tidak menjadi setan penasaran yang menggangguku, dengar apa sebabnya aku membunuhmu. Hal Pertama karena kau tidak mau membuka rahasia Im-yang Sin-kiam-sut dan tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee, kedua karena kau mengetahui rahasia Yang-sin-kiam yang kumiliki. Nah, jadilah setan Sungai Huang-ho!"
Song-bun-kwi lalu melempar tubuh Beng San ke bawah!
Beng San mengeluarkan pekik mengerikan saking takutnya.
Dan pada saat itu terdengar pekik lain, pekik yang melengking tinggi dari bayangan merah yang berkelebat cepat ke tempat itu.
Di lain saat, bayangan merah yang ternyata adalah Bi Goat si bocah gagu itu telah melemparkan segulung tambang ke bawah.
Dengan gerakan istimewa, tambang yang meluncur seperti ular ini berhasil menggulung tubuh Beng San pada ujungnya sehingga tubuh Beng San tergantung di udara, tidak terbanting ke air dan batu-batu karang.
Bukan hal kebetulan saja Bi Goat membawa tambang, karena memang Song-bun-kwi mengajaknya berkeliaran di tepi sungai, di tebing-tebing tinggi itu untuk mencari sarang burung dan mereka memerlukan tambang yang panjang untuk mencari sarang ini di tempat-tempat yang sukar.
"Bi Goat, kurang ajar kau!"
Song-bun-kwi berteriak dan sekali renggut dia telah merampas ujung tambang itu dan sekali dorong tubuh Bi Goat sudah terjengkang.
Song-bun-kwi lalu mengulur tambang itu sehingga tubuh Beng San sekarang terapung di air yang mengamuk.
Beng San masih menjerit-jerit ketakutan, apalagi sekarang setelah dia dipermainkan air yang berombak-ombak itu.
la meronta-ronta, tanpa dia sadari dia telah bebas dari totokan dan sekarang dia mencoba untuk berenang sambil menjerit-jerit.
Akan tetapi tentu saja usahanya ini sia-sia karena tambang itu masih mengikat pinggangnya dengan erat.
Ketika dia melihat ke atas sambil terengah-engah, dia melihat Bi Goat berlutut sambil bergerak-gerak seperti menangis di depan Song-bun-kwi, telunjuknya menuding-nuding ke arah bawah, ke air di mana Beng San dipermainkan maut.
"Bi Goat...... tolong.....""
Beng San menjerit sekerasnya dan suaranya nyaring sekali.
Bi Goat kini melompat berdiri, menjambak-jambak rambut dan membanting-banting kaki di depan Song-bun-kwi yang hanya tertawa dan menggeleng kepala.
Kemudian Song-bun-kwi menjenguk ke bawah dan berteriak, suaranya dikerahkan dengan kekuatan khikang mengatasi suara air dan dapat terdengar oleh Beng San.
"He, Beng San iblis cilik! Bagaimana apakah kau menyerah? Kalau kau mau memenuhi permintaanku tadi, kau akan kunaikkan dan tidak jadi mampus ditelan air!"
Beng San memang takut, takut bukan main, malah takut yang tidak sewajarnya, mungkin karena dulu di waktu kecil dia pernah mengalami pula ketakutan sehebat ini ketika dia hanyut oleh air bah Sungai Huang-ho.
Akan tetapi jiwa satria masih bersemayam di tubuhnya.
la tidak suka melanggar janjinya, janji terhadap Phoa Ti dan The Bok Nam yang sudah mati, bahwa dia akan memegang teguh rahasia Im-yang Sin-kiam-sut, juga janjinya terhadap Lo-tong Souw Lee takkan menceritakan tempat sembunyi kakek itu.
Lebih baik mati daripada melanggar janji sendiri.
Demikianlah pendirian seorang satria, seorang pendekar.
Beng San tidak takut mati, akan tetapi sekarang dia benar-benar takut.
Setiap pucuk ombak air merupakan cakar iblis yang hendak mencekik dan mencengkeramnya.
"Song-bun-kwi, kau boleh minta apa saja, tapi yang dua itu tidak mungkin!"
Jawabnya di antara suara air.
Song-bun-kwi marah, mengangkat tambang dan melepaskannya kembali sampai tubuh Beng San tenggelam ke dalam air, mengangkat lagi, melepaskan lagi.
Berkali-kali tubuh Beng San timbul tenggelam di antara deru suara air yang mengalir deras.
la takut setengah niati, takut dan juga gelagapan sukar bernapas.
Entah bagaimana, sekarang baginya tidak ada Song-bun-kwi lagi, tidak ada siapa-siapa, yang teringat olehnya hanyalah air, air, air!
la merasa dihanyutkan air yang luar biasa kerasnya, merasa takut dan tiba-tiba dia teringat akan ayahnya, akan ibunya, akan kakaknya!
"Ayahhh.....!"
La berteriak-teriak mengbayangkan wajah ayahnya.
"Ibuuu.....!"
Kembali dia berteriak-teriak ketika mendapat kesempatan, yaitu ketika Song-bun-kwi menarik tambang ke atas.
"Kakak....,Kakak Kui...."
Ia menjerit lagi.
Pada saat itu, Bi Goat juga berteriak-tenak menangis, berusaha mencegah Song-bun-kwi menyiksa Beng San.
Akan tetapi Song-bun-kwi malah memaki dan menendangnya.
Bi Goat berkali-kali menengok ke bawah dan ketika dia melihat betapa Beng San menjerit-jerit dengan muka ketakutan setiap kali tubuhnya timbul di permukaan air, dia mengeluarkan teriakan melengking tinggi lalu.....
Bi Goat melompat ke bawah.
Air sungai muncrat tinggi ketika tubuh Bi Goat menimpanya dan tertelan air yang mendidih itu.
Biarpun tadinya memaki-maki dan menendang Bi Goat, namun begitu melihat anak itu dengan nekat terjun ke bawah, Song-bun-kwi menjadi bingung dan kaget sekali.
Keselamatan anaknya berbahaya sekali, terancam maut yang mengerikan.
Cepat dia menggerakkan tambang yang dipegangnya dan ujung yang melibat tubuh Beng San segera terlepas.
Kemudian dengan gerakan yang aneh tambang itu meluncur ke arah jatuhnya Bi Goat.
Tepat setelah tubuh anak baju merah ini timbul di permukaan air, melibat pinggangnya dan sekali sendal saja tubuh Bi Goat melayang kembali ke darat!
Akah tetapi ketika Song-bun-kwi menjenguk ke bawah, tubuh Beng San sudah lenyap.
Tentu anak itu setelah tidak terikat oleh tambang lagi, sudah terbawa hanyut oleh air yang amat derasnya.
Bi Goat menangis, menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan, pakaiannya basah kuyup.
"Sudah, diamlah. Dia anak jahat, kalau tidak dilenyapkan dari muka bumi kelak hanya akan menimbulkan geger saja. Sakitkah badanmu? Apakah tidak terluka?"
Song-bun-kwi yang tiba-tiba merasa kasihan kepada anaknya, mendekati Bi Goat lalu memondongnya, merangkulnya.
Bi Goat hanya menangis di pundak ayahnya yang aneh itu.
Perlahan-lahan Song-bun-kwi yang memondong anaknya pergi dari situ, seperti orang melamun.
Ia merasa lega karena mengira bahwa Beng San, anak yang menjadi orang ke dua setelah dia yang mengerti akan Ilmu Silat Yang-sin Kiam-sut, sekarang tentu telah mati tenggelam di dasar Sungai Huang-ho.
Betulkah Beng San sudah mati seperti yang diharapkan dan diduga oleh Song-bun-kwi?
Agaknya kakek yang sakti ini lupa bahwa mati hidup seseorang tergantung sepenuhnya kepada kehendak Yang Maha Kuasa.
Apabila Tuhan belum menghendaki matinya seseorang, jangankan baru dia terancam bahaya maut seperti Beng San, biarpun orang itu diancam bahaya maut dengan hujan api sekalipun, dia akan selamat dan terluput dari bahaya maut yang mengancamnya itu.
Sebaliknya, apabila Tuhan sudah menghendaki kematian seseorang, biarpun dia akan berlari ke ujung dunia atau berlindung ke dalam gedung baja, maut tetap akan mencabut nyawanya tanpa dapat ditawar-tawar atau diperpanjang sedikit pun lagi.
Kelihatannya memang Beng San sudah tak berdaya, dan memang anak ini sudah kehabisan akal.
Bagaikan seorang yang sudah berubah ingatannya, Beng San terbawa hanyut oleh air dan setiap kali kepalanya tersembul di permukaan air, jauh dari tempat dia hanyut tadi, dia memekik-mekik memanggil ayahnya, ibunya, dan seorang yang dia panggil Kui-ko (kakak Kui).
Akhirnya saking lelah dan banyak minum air sungai, Beng San tak ingat diri lagi dan tahu-tahu ketika dia siuman kembali, dia mendapatkan dirinya sudah menggeletak di dalam sebuah perahu kecil.
Tubuhnya sudah terbaring di situ, telanjang bulat dan terbungkus selimut hangat.
Ketika dia melirik, dia mendapatkan pakaian bututnya sedang dijemur di pinggir perahu dan di kepala perahu kecil itu duduk berjongkok seorang laki-laki tua bertopi lebar, mukanya kurus penuh gurat-gurat hidup tanda banyak menderita.
Laki-laki itu duduk tak bergerak, matanya sayu melamun ke permukaan air, melihat tali pancingnya yang bergerak-gerak perlahan, terbawa aliran air yang tenang di bagian itu.
Di dekatnya kelihatan tiga ekor ikan sebesar betis yang sudah mati, tapi masih segar.
Beng San diam saja, mengingat-ingat.
Mula-mula dia teringat akan air besar yang menghanyutkan, yang mengerikan dan sekaligus dia membayangkan kembali wajah seorang laki-laki tua yang berpakaian sebagai petani, yang bermata tajam dan bermulut selalu tersenyum, wajah yang amat disayangnya, wajah ayahnya.
Lalu menyusul wajah yang menimbulkan rasa mesra di hatinya, wajah seorang wanita yang agung, berkulit hitam manis, berambut hitam panjang digelung di belakang leher, wajah yang bermata sayu dan lembut, yang selalu bicara halus penuh kasih sayang kepadanya, wajah ibunya!
Dan terbayang olehnya wajah seorang anak laki-laki yang nakal, yang sering kali menggodanya akan tetapi yang menjadi temannya bermain semenjak kecil, wajah kakaknya yang bernama Tan Beng Kui.
Dan dia sendiri bernama Tan Beng San!
Kini dia teringat semua, malah dusunnya dia ingat pula bentuk dan macamnya, ada telaga kecil di dekat sungai, telaga yang banyak ikannya, sering kali dia dan kakaknya diajak mancing ikan di telaga itu oleh ayahnya.
Hanya nama ayah ibunya dan nama dusun itu dia tidak tahu.
Berdebar hati Beng San teringat akan ini semua.
la tidak tahu bahwa dia kehilangan ingatan oleh air Sungai Huang-ho dan sekarang dia mendapatkan kembali ingatannya, oleh air Sungai Huang-ho pula.
Yang membuat Beng San berdebar-debur adalah karena sekarang dia teringat akan Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio yang mengaku menjadi ayah bundanya!
Bagaimana bisa terjadi demikian?
Betulkah mereka itu kedua orang tuanya?
Ataukah bayangan laki-laki petani dan wanita berwajah agung itu orang tuanya yang sesungguhnya?
Dan Tan Beng Kui?
Beng San masih bingung, lalu kepalanya membayangkari Bi Goat.
Gadis cilik yang gagu itu, yang menangis dan berusaha menolongnya, malah yang kemudian secara nekat nieloncat ke air untuk menolongnya, tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri.
Teringat akan ini, membayangkan wajah Bi Goat menangis untuk dirinya, berganti-ganti dengan wajah ayahnya, wajah ibunya, dan wajah kakaknya, tak terasa lagi Beng San mengeluh dan dua titik air mata yang panas mengalir keluar membasahi pipinya.
"He, kau sudah bangun?"
Tukang pan-cing itu mendengar keluhannya, berdiri lalu menghampiri.
Perahu kecil itu goyang-goyang ketika si tukang pancing berjalan.
Ternyata dia seorang kakek yang berusia lima puluh tahunan, bertubuh kurus, wajahnya kering terbakar matahari dan penuh guratan, matanya sayu tapi kadang-kadang lincah berseri, mulutnya yang ompong membayangkan ketenangan batin seorang yang sudah banyak makan asam garam dunia.
Beng San segera bangkit dari tidurnya, mengusap air matanya dan menjatuhkan diri berlutut.
"Kakek yang baik, agaknya kau yang telah menolongku dari dalam air."
Kakek itu memegang pundak Beng San.
"Kukira tadi, kau ikan besar, tersangkut di pancingku. Aku sudah girang sekali, mengira mendapat ikan yang besar sekali, ketika kutarik....."
"Kau kecewa karena hanya aku..."
Sambung Beng San tak dapat menahan kata-katanya ini karena melihat sikap tukang pancing itu lucu dan jenaka.
"Ha..ha..ha, tidak demikian. Aku malah lebih gembira, pertama karena tanpa kusengaja aku dapat menolong seseorang dari kematian, ke dua, aku bakal mendapatkan kawan baik untuk bekerja sama mencari ikan. Eh, anak nakal, siapa namamu dan kenapa kau hendak menyaingi ikan-ikan di air, berkeliaran di dalam air Sungai Huang-ho?"
Melihat sikap kakek itu dan mendengar kata-katanya yang jenaka, sebuah plkiran baik menyelinap ke dalam otak Beng San.
Mengapa tidak?
Akan aman dia kalau berada di dekat kakek ini, menyamar sebagai tukang ikan, setiap hari di perahu mencari ikan.
la bisa menyembunyikan diri dari Song-bun-kwi dan yang lain-lain.
Tentu mereka itu tidak ada yang mengira bahwa Beng San, anak yang mewarisi Im-yang Sin-kiam dan yang mengetahui tempat sembunyi Lo-tong Souw Lee telah menjadi nelayan "Kakek yang baik hati, namaku Sihuw-kui (Setan Kecil), sebatangkara di dunia ini.
Kalau kau mau mengambil aku sebagai pembantumu, ah, kakek yang baik, setiap malam aku akan bersembahyang kepada dewa-dewa sungai agar kau diberi umur panjang dan banyak rejeki."
Kakek itu tertawa bergelak, terlihat mulutnya yang tak bergigi.
"Ha..ha..ha, siapa butuh umur panjang? Tentang rejeki, asal kau mau benar-benar membantuku, tentu banyak ikan dapat diangkat ke perahu."
Kakek itu adalah seorang nelayah tua bernama Gan Kai, seorang duda tua yang juga hidup sebatangkara, malah tidak mempunyai rumah tinggal, rumahnya ya perahu kecil itulah!
Maka sungguh tepat sekali bagi Beng San untuk tinggal bersama kakek Gan ini, karena selain terjamin hidupnya, dia pun dapat bersem-bunyi dan setiap saat dapat berlatih ilmu silat dengan amat tekunnya, la mengambil keputusan untuk melatih dengan giat, setelah sempurna kepandaiannya, dia akan mengunjungi Lo-tong Souw Lee, kemudian dia akan mencari ayah bundanya, dan juga kakaknya.
la tidak tahu lagi nama orang tuanya, juga dia tidak tahu lagi nama dusunnya, akan tetapi asal dia menjelajahi di dusun-dusun tepi sungai di sekitar Kelenteng Hok-thian-tong, masa tidak akan dapat dia temukan?
* * * Setiap orang yang mengingat-ingat masa lampau, mengenang kembali masa lampau beberapa tahun yang lalu, akan mendapat kesan betapa cepatnya jalannya sang waktu.
Penulis sendiri setiap kali mengenangkan masa kahak-kanaknya yang sudah puluhan tahun yang lalu, selalu merasa seakan-akan masa itu baru terjadi kemarin-kemarin ini, serasa masih membayang di pelupuk mata ketika dia bermain-main dengan anak-anak lain, mencari ikan-ikan kecil di sungai, atau bertiduran di punggung kerbau, atau bermain-main di bawah air hujan!
Memang waktu berlalu amat cepatnya, sampai-sampai tidak terasa oleh manusia di dunia.
Demikian pula dengan jalannya cerita ini.
Baru saja kita mengikuti pengalaman-pengalaman Beng San.
sebentar kita tinggalkan, eh, tahu-tahu delapan tahun sudah lewat dengan amat pesatnya!
Selama itu, Tiongkok mengalami kekacauan terus-menerus.
Bahkan kekacauan ini mempengaruhi keadaan penghidupan di dalam istana.
Pangeran-pangeran yang berkuasa saling memperebutkan kekuasaan, saling berkomplot dengan pembesar-pembesar bu (militer), saling jatuh-menjatuhkan sehingga dalam jangka waktu kurang lebih dua puluh lima tahun (1307-1332) saja pemerintah Goan (Mongol) ini sudah berganti raja sebanyak delapan kali!
Ketika cerita ini terjadi, raja terakhir yang menduduki tahta adalah Kaisar Sun Ti.
Di bawah tekanan Kaisar Sun Ti inilah penghidupan rakyat pribumi (Han) amat tertindas dan tak tertahankan lagi.
Dan mulailah timbul pemberontakan di sana-sini.
Yang terbesar dan terkenal adalah Partai Teratai Putih (Pek-lian-pai) yang pada mulanya hanyalah merupakan pemberontakan dari para petani di utara yang sudah tidak kuat lagi menderita penindasan para hartawan dan bangsawan setempat.
Lama kelamaan partai ini menjadi makin kuat bahkan diikuti atau dimasuki oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw sehingga merupakan kesatuan yang amat ditakuti oleh bangsawan-bangsawan Mongol.
Pemberontakan-pemberontakan kecil di sana sini pecah, satu dihancurkan timbul dua, dan semenjak Kaisar Sun Ti naik tahta, kaisar ini tak pernah mengenal apa yang disebut aman dan damai di Tiongkok.
Banyak pendekar-pendekar dan pahlawah-pahlawan tercatat namanya dengan tinta emas di lembaran sejarah, misalnya Liu Hok Tung, Kok Ci Seng, Thio Se Cheng, Tan Yu Liang, dan masih banyak lagi orang-orang gagah yang memimpin rakyat untuk menghalau penjajah Mongol dari tanah air mereka.
Tiga puluh tahun lebih pemberontakan-pemberontakan ini berjalan, makin hari makin hebat sehingga akhirnya, seperti tercatat dalam sejarah pemberontakan pemberontakan inilah yang akhirnya menumbangkan kekuasaan Mongol yang menjarah daratan Tiongkok hampir seratus tahun lamanya.
Seperti telah disebut di atas, waktu delapan tahun berjalan dengan amat cepatnya dan waktu itu keadaan masih penuh kekacauan yang diakibatkan oleh pemberontakan-pemberontakan terhadap pemerintah Goan-tiauw.
Pada suatu pagi yarig cerah, di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Cin-lin-san, di depan sebuah gua yane dinamai Gua Ular, nampak seoran pemuda tengah berlutut di depan seorang kakek yang sudah tua sekali.
Kalau baru melihat saja orang tentu mengira bahwa kakek ini bermata lebar, akan tetapi setelah lama memandang dan melihat bahwa mata kakek itu melotot tak pernah berkedip, akan tahulah orang bahwa dia adalah seorang kakek yang buta matanya.
Rambutnya yang putih panjang riap-riapan di kedua pundaknya, muka dan tubuhnya hanya tinggal kulit membungkus tulang belaka.
Adapun pemuda yang berlutut itu nampaknya terharu sekali.
"Mohon Locianpwe sudi memberi maaf sebesarnya bahwa teecu telah meninggalkan Locianpwe bertahun-tahun. Ternyata Locianpwe masih berada di sini dan dalam keadaan menderita,"
Terdengar pemuda itu berkata sambil memandang tubuh yang kurus kering itu dengan perasaan kasihan.
Kakek itu bergoyang-goyang tubuhnya, seperti jerami kering tertiup angin.
Mulutnya bergerak-gerak beberapa lama, baru terdengar dia berkata perlahan.
"Ah, anak baik, alangkah bahagia rasa hatiku akhirnya dapat mendengar suaramu. Akhirnya kau datang juga, hampir aku tak kuat lagi menahan....."
Kakek itu lalu duduk bersila dan meraba-raba pundak pemuda tadi. Beberapa kali meraba-raba kemudian kakek itu berkata penuh kekaguman.
"Hebat...,., aku pun dahulu tidak sekuat engkau sekarangkan makin, ah, kalau saja aku mendapat kesempatan melihat..... eh, maksudku mendengar kau main Liong-cu Siang-kiam dalam Ilmu Pedang Im-yang Sin-kiam-sut, mati pun aku akan puas. Mainkanlah, mainkanlah sekali ini saja, untuk mengantar perjalananku yang amat jauh..... Kakek itu lalu mengeluarkan sepasang pedang yang berkilau cahayanya, memberikan sepasang pedang itu kepada pemuda tadi. Sepasang mata pemuda itu berkilat-kilat tajam ketika dia melihat sepasang pedang ini. la menerima sepasang pedang itu, memeriksanya dengan teliti lalu bertanya.
"Locianpwe, benarkah sepasang pedang ini yang bernama Liong-cu Siang-kiam, sepasang pedang yang selama puluhan tahun diperebutkan orang-orang gagah di dunia kang-ouw?"
Kakek buta itu tersenyum.
"Beng San, apakah kau sudah lupa lagi? Bukankah dahulu kau pernah melihatnya, bahkan pernah menggunakannya ketika kau berhadapan dengan Song-bun-kwi dan Hek-hwa Kui-bo? Inilah Liong-cu Siang-kiam, pedang peninggalkan sepasang pendekar yang sakti, yaitu pendekar sakti Sie Cin Hai pada ratusan tahun yang lalu. Pedang ini asalnya milik seorang pendekar terkenal sebagai seorang raja pedang. Oleh karena itu, pada jaman sekarang ini hanya kaulah, Beng San, orang yang berhak mempergunakannya, karena hanya kau yang menjadi ahli waris Im-yang Sin-kiam-sut. Hayo, berdirilah, dan kaumainkan Im-yang Sin-kiam-sut untukku..!"
Kakek itu terengah-engah, nampaknya tegang dan gembira sekali, perasaan yang memberi pukulan hebat pada tubuhnya yang memang sudah amat lemah..
Orang muda itu setelah menimang-nimang kedua pedang tadi, yang panjang di tangan kanan sedangkan yang pendek di tangan kiri, lalu bangkit berdiri, meloncat agak jauh ke tempat yang luas di depan gua itu, kemudian dia bersilat dengan amat cepat dan sigapnya.
Sepasang pedang itu berkelebat menyambar-nyambar ke kanan kiri, depan belakang, dan atas bawah seperti dua ekor naga yang sedang bermain-main di angkasa!, Tiba-tiba muka Lo-tong Souw Lee?
yang amat kurus itu menjadi pucat pasi.
Kedua lengannya dikembangkan, kedua., tangan seperti hendak mencengkeram depan dan dia berteriak, penuh kepahitan.
"Heeeiii, itu bukan Im-yang Sin-kiam..... itu..... itu..... ah, kau bukan Beng San..... aduhai celaka, kau bukan Beng San.....!"
Terdengar suara ketawa, angin sambaran pedang terhenti dan Lo-tong Souw Lee tidak mendengar apa-apa lagi, tanda bahwa orang muda itu sudah pergi jauh.
"Beng San..... sia-sia aku menanti sampai tahunan...... aduh, mataku yang buta...... celaka....."
Kakek ini terhuyung-huyung, wajahnya makin pucat, dia mendekap dadanya lalu roboh tertelungkup di depan gua itu.
Dari puncak Cin-lin-san itu, bayangan pemuda tadi dengan amat cepatnya dan ringannya seperti melayang-layang turun dari jurusan utara.
Sepasang pedang tadi tidak kelihatan dia bawa lagi karena sudah dia sembunyikan di balik jubah luarnya yang panjang.
Kurang lebih tiga jam.
Berikutnya seorang pemuda lain, yang berpakaian sederhana, rambutnya yang panjang diikat ke atas, mukanya putih sehingga alisnya yang hitam gompyok berbentuk golok itu nampak lebih hitam lagi, sepasang matanya tajam sinarnya melebihi sinar pedang dan mempunyai wibawa yang aneh, tubuhnya tegap dadanya bidang, sepatunya sudah bolong-bolong saking tuanya, kelihatan mendaki puncak dengan tenang.
Dari gerak kakinya yang tetap dan tidak tergesa-gesa dapat diketahui bahwa pemuda yang baru datang mendaki puncak Cin-ling-san ini adalah seorang yang memiliki ketenangan lahir batin.
Dilihat sepintas lalu, dia seorang pemuda biasa saja, tidak kelihatan membawa senjata tajam, jadi tidak seperti seorang pemuda kang-ouw, juga tidak membawa kipas atau tanda lahir yang menunjukkan bahwa dia seorang pemuda ahli sastra.
Lebih patut dia disangka seorang pemuda tani.
Akhirnya, dengan langkah yang tak pernah mengendur akan tetapi tidak pula tergesa-gesa, pemuda ini tiba di depan Gua Ular.
Ketika pandang matanya bertemu dengan tubuh kakek yang menggeletak tertelungkup di depan gua, kedua kakinya bergerak dan tubuhnya berkelebat.
Tahu-tahu dia telah berlutut di dekat tubuh kakek itu dan mengangkatnya, menyangga leher dan punggungnya di atas lengan kiri sedangkan tangan kanannya membersihkan debu dan tanah dari muka yang pucat dan kurus itu.
"Kakek Souw...... Kakek Souw..... kau kenapakah?"
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 15
Baca Juga: Bu Kek Siansu 3