Eps 8 Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo.
Kam Si Ek adalah ayah angkatnya.
Kalau wanita ini isteri Kam Si Ek, berarti juga ibu angkatnya.
Akan tetapi ia tidak berani menyebut ibu, maka lalu menyebut saja bibi.
"Kau anak Kam Si Ek? Ibumu Bwe Hwa?"
"Bukan, Bibi. Kam Si Ek adalah ayah angkatku, bersama dua orang saudara angkat, aku pergi mencari Kakak Kam Bu Song. Bukankah Bibi ini ibu Kakak Kam Bu Song..?"
Akan tetapi wanita itu tidak menjawab, kelihatan termenung. Tiba-tiba ia bertanya.
"Bukankah cintanya amat besar kepadaku? Biarpun sudah menjadi mayat hidup, ia masih mencintaku. Cinta yang murni.."
Ia menarik napas lagi.
"CINTA BERNODA DARAH"
Lin Lin berkata suaranya berubah dingin.
"Apa kau bilang..?"
Wanita itu agaknya heran. (Lanjut ke
Jilid 18) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 18
"Cintanya bernoda darah. Ia telah membunuh ayah dan ibu angkatku"
"Hemmm, bocah, kau tahu apa? Itu karena cemburu yang ditahan-tahan di samping cinta kasihnya yang mendalam. Mana ada cinta tanpa cemburu? Ia tidak mengganggu selembar rambut Kam Si Ek selama masih menjadi suamiku, selama masih mencintaku. Akan tetapi setelah mendengar Kam Si Ek berpisah dariku, malah mengawini seorang wanita lain, nah, timbullah dendamnya dan dibunuhnya mereka."
"Betapapun juga, dia musuh besarku, harus kubalas dendam ini"
Wanita itu mengeluarkan suara ketawa halus.
"Kau..? Membalas padanya? Hik-hik, lucu sekali. Sesukamulah"
Tiba-tiba saja wanita rambut panjang itu berkelebat dan lenyap dari depan Lin Lin, meninggalkan bau harum yang menyengat hidung.
Lin Lin tidak mempedulikan hal itu lagi, ia cepat menghampiri dinding dan mencari alat rahasianya.
Baiknya ia tadi melihat tangan Cui-beng-kui menekan ujung kiri bawah dinding, maka sekarang ia dapat melihat sebuah benda bundar sebesar ibu jari kaki terpasang di sudut itu.
Cepat benda ini didorongnya sambil mengerahkan tenaga dan..
terdengarlah suara berkerit seperti tadi dan dinding itu berlubang.
Lin Lin menerobos masuk dengan pedang di depan dada, siap menghadapi segala ancaman dari depan.
Kiranya lubang itu merupakan lorong sempit.
Ia merangkak terus dan setelah lewat dua puluh meter, ia melompat keluar dari terowongan ini ke dalam sebuah ruangan di mana terdapat sebuah pintu besar yang menembus ke ruangan sembahyang.
Demikianlah, pada saat Cui-beng-kui sedang berbantah dengan It-gan Kai-ong, secara tiba-tiba Lin Lin muncul dan serta merta gadis ini menghadapi Cui-beng-kui dan memaki-makinya sebagai pembunuh ayah ibu angkatnya.
Cui-beng-kui adalah seorang iblis yang berkepandaian tinggi, selain terkenal sebagai seorang di antara Enam Iblis juga ia bekas panglima tertinggi Kerajaan Nan-cao.
Tentu saja ia menjadi marah sekali ketika seorang gadis remaja berani memaki-makinya di depan orang banyak, apalagi ketika ia mendapat kenyataan bahwa gadis ini adalah gadis yang membuat ia tadi kesalahan terhadap kekasihnya, Liu Lu Sian.
"Betul aku yang membunuh jahanam Kam Si Ek dan isterinya. Kau mau apa? Bocah lancang, kau punya kepandaian apa berani berlagak di depanku?"
"Cui-beng-kui. Biar akan melayang nyawaku, aku pertaruhkan untuk membalas kematian ayah ibu angkatku"
Bentak Lin Lin dan pedangnya menyambar.
"Cringgg"
Lin Lin terhuyung ke belakang dan matanya memandang terbelalak.
Kalau ia tidak mengalami sendiri, mana ia dapat percaya?
Pedangnya yang menyambar leher tadi telah ditangkis oleh kuku-kuku jari tangan mayat hidup itu.
Betapa mungkin kuku jari dapat membuat pedangnya terpental dan ia terhuyung?
"Lin-moi, jangan lepaskan dia"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan seorang gadis lain berkelebat ke dalam kalangan pertempuran dengan pedang di tangan.
"Enci Eng, hati-hati, dia lihai sekali"
Lin Lin girang melihat Sian Eng muncul dan membantunya, akan tetapi juga khawatir akan keselamatan Sian Eng karena ia maklum bahwa kepandaian encinya itu masih jauh terlalu rendah untuk ikut menghadapi iblis yang sakti ini.
"Eng-moi!, Lin-moi! Jangan takut, aku datang"
Bu Sin melompat dengan pedang di tangan pula.
Pemuda ini sejak munculnya Lin Lin tadi, sudah ingin sekali membantu adiknya, akan tetapi Liu Hwee memegang lengannya dan mencegahnya sambil mengatakan bahwa Cui-beng-kui bukanlah lawannya.
Akan tetapi melihat kedua orang adiknya sudah berada di sana menghadapi pembunuh orang tuanya, tentu saja Bu Sin tak dapat tinggal diam lagi.
Ia memaksa diri dan meloncat ke kalangan pertempuran menemani kedua orang adiknya.
"Heh, bagus sekali"
Kalian ini anak-anak Kam Si Ek si keparat? Mari kuantar kalian menyusul orang tuamu"
Setelah berkata demikian, Cui-beng-kui mengeluarkan suara melengking nyaring tinggi seperti suara suling, disusul tubuhnya yang bergerak ke depan dengan kedua lengan menampar ke arah Bu Sin bertiga.
Pukulan ini mengandung hawa pukulan jarak jauh yang dahsyat sampai terdengar angin bersiutan menyambar-nyambar, Bu Sin cepat mengerahkan sin-kangnya namun ia tetap terhuyung-huyung sampai tiga langkah ke belakang.
Lin Lin cepat mengerahkan Khong-in-ban-kin dan berhasil mengelak.
Akan tetapi Sian Eng biarpun sudah mengerahkan sin-kang, tetap saja ia terguling roboh.
"Keparat, rasakan pedangku"
Lin Lin yang berhasil mengelak tadi kini cepat menggerak-gerakkan pedang menerjang sambil mainkan ilmunya Khong-in-liu-san.
Pedangnya menjadi segulung sinar bundar yang cemerlang, bagaikan bola api melayang ke arah Cui-beng-kui.
"Kiam-hoat (ilmu pedang) bagus"
Cui-beng-kui memuji dan pujian ini sudah membuktikan bahwa ilmu yang ia warisi dari Kim-lun Seng-jin itu memang bukan ilmu rendah.
Sayang bagi Lin Lin bahwa ia kurang matang dalam latihan dan tentu saja, dibandingkan dengan Cui-beng-kui, ia kalah beberapa tingkat.
Ketika pedangnya menyambar leher, kembali kuku jari tangan iblis itu menangkis pedang dan sekaligus tangan kanan yang berkuku runcing itu mencengkeram ke arah perutnya.
Lin Lin terkejut bukan main.
Pedangnya yang tertahan kuku itu seakan-akan menempel.
Ia tidak dapat menangkis, juga tidak dapat mengelak, sedangkan jari-jari tangan kanan yang berkuku runcing mengerikan itu mengancam perutnya yang tak terlindungi lagi.
Pada saat itu, dalam keadaan terancam bahaya maut, Lin Lin menoleh ke arah Suling Emas, mengharapkan bantuan pendekar sakti ini.
Ia melihat Suling Emas menggerakkan tangan kanan dan..
Cui-beng-kui meloncat mundur dua langkah, terpaksa melepaskan Lin Lin yang juga cepat membanting diri ke belakang dan bergulingan.
"Keparat, siapa main gila..?"
Cui-beng-kui mendengus marah, memandang ke arah kiri dari mana datangnya batu kecil yang demikian kuat melayang dan mengancam urat nadi pergelangan tangannya tadi.
Akan tetapi pada saat itu telah berloncatan masuk enam orang Khitan yang langsung menyerbunya dengan senjata di tangan.
Seorang di antara mereka berseru.
"Keparat, berani kau menyerang tuan puteri kami yang mulia?"
Cui-beng-kui tercengang, akan tetapi juga timbul kemarahannya.
Golok dan pedang yang menerjangnya bagaikan hujan itu ia sambut dengan kedua tangannya.
Terdengar bunyi trang-tring-trang-tring ketika senjata-senjata tajam itu beterbangan, kemudian disusul teriakan mengerikan ketika Cui-beng-kui berhasil mencengkeram tubuh dua orang Khitan.
Terdengar suara mengerikan dari daging robek dan dua orang ini roboh mandi darah, dada dan perut mereka robek, isinya berantakan keluar semua.
Biarpun senjata mereka sudah terpental, empat orang Khitan yang lain menyaksikan dua orang kawannya tewas, dengan nekat mereka menyerbu.
Orang-orang Khitan terkenal gagah berani dan setia kawan, hal yang membuat suku bangsa ini menjadi kuat.
Enam orang yang menyerbu Cui-beng-kui ini adalah enam orang di antara dua puluh empat orang pengikut Pak-sin-tung yang terbagi menjadi empat kelompok dari enam orang.
Sekelompok sudah tewas semua ketika membela Pak-sin-tung, kini kelompok ke dua membela Lin Lin.
Akan tetapi mereka pun sama sekali bukan tandingan Cui-beng-kui.
Berturut-turut terdengar suara mengerikan dan empat orang Khitan yang mengeroyok iblis itu roboh pula dengan isi perut berantakan.
Mendadak dua belas orang Khitan yang lain datang menyerbu, akan tetapi bukan untuk menyerang Cui-beng-kui.
Mereka mengeluarkan suara teriakan-teriakan aneh, berlari ke sana ke mari seperti orang melakukan tarian yang membingungkan.
Teriakan-teriakan mereka seperti orang-orang menangis, melolong panjang dan tubuh mereka berloncat-loncatan mengitari sekeliling tempat itu.
Biar Cui-beng-kui sendiri dan para tamu, merasa terheran-heran karena belum pernah mereka menyaksikan "upacara"
Macam ini.
Tiba-tiba dua belas orang Khitan yang tadinya bersimpang-siur tanpa pernah saling bertabrakan itu, berubah menjadi barisan memanjang dan lari keluar dari tempat itu sambil berteriak-teriak pula.
Selelah mereka pergi, barulah semua orang terheran-heran, karena kepergian mereka ternyata tanpa disangka-sangka, telah membawa pergi pula mayat enam orang Khitan tadi, termasuk Lin Lin.
Mula-mula tidak ada yang menyangka bahwa gadis itu pun ikut pergi, karena dalam keadaan kacau-balau itu tidak terlihat Lin Lin ikut pergi.
Akan tetapi ketika Bu Sin dan Sian Eng mencari adik mereka ini, ternyata Lin Lin tidak berada di situ dan barulah mereka menduga bahwa tentu Lin Lin ikut pergi dengan rombongan orang Khitan itu sebagai tuan puteri mereka"
Selagi mereka kebingungan dan hendak nekat menerjang Cui-beng-kui pembunuh orang tua mereka, tiba-tiba Suling Emas sudah berada di belakang mereka dan berkata perlahan.
"Bu Sin, Sian Eng, mundurlah. Dia bukan lawanmu."
"Twako, dia.. dia pembunuh ayah ibu.."
Bu Sin membantah.
Sian Eng terharu mendengar kakaknya menyebut Suling Emas "twako".
Kini semua keraguannya lenyap.
Jelas bahwa Suling Emas adalah kakaknya, Kam Bu Song yang selama ini mereka cari-cari, dan Bu Sin sudah mengetahuinya pula.
Dengan terharu dan air mata berlinang ia memegang lengan Suling Emas, berkata perlahan.
"Kau.. kau Kakak Bu Song?"
Suling Emas tunduk memandang wajah cantik itu, lalu merangkul pundaknya dan mengelus rambut kepalanya.
"Sian Eng, adikku, apakah baru sekarang kau tahu? Kalian berdua jangan melawannya, dia amat lihai, bukan lawan kalian."
"Song-koko, kau majulah, balaskan kematian ayah kita.."
Sian Eng berkata. Suling Emas tersenyum duka, lalu menggerakkan mukanya ke arah depan.
"Tenanglah dan lihat, dia bertemu tanding."
Ketika mereka memandang, kiranya sambil tertawa-tawa It-gan Kai-ong sudah maju lagi berhadapan dengan Cui-beng-kui.
Di belakangnya sekarang berdiri Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong.
"Hemmm, gembel busuk. Apakah kau hendak mengeroyok? Aku tidak takut, biar dua orang liar ini maju membantumu"
Kata Cui-beng-kui, nadanya mengejek.
"Ho-ho-heh-heh, aku tidak marah lagi padamu, Cui-beng-kui. Cara kau membereskan lawan-lawanmu benar-benar menyenangkan, cocok sekali kau menjadi seorang di antara Enam Iblis. Tak boleh kita saling basmi. Enam iblis harus tetap utuh. Tentang penentuan siapa paling unggul, nanti bulan lima malam ke lima belas kita main-main di puncak Thai-san, Thian-te Liok-koai (Enam Iblis Dunia) akan bertemu dan saling menguji kepandaian di sana."
"Hemmm, kau masih berani memaki Liu Lu Sian?"
"Ho-ho-ho, aku tidak memakinya lagi. Musuhmu bukan aku, melainkan keluarga she Kam. Kita Thian-te Liok-koai semua memusuhi Kerajaan Sung yang sombong. Sayang hanya Nan-cao yang tidak mau tahu, terlalu tenggelam dalam keangkuhan sendiri. Tanpa persatuan kerajaan-kerajaan kecil, mana dapat melawan? Mereka yang keenakan tenggelam, tentu kelak akan tahu rasa kalau Kerajaan Sung sudah menyerbu dan merampas kerajaan-kerajaannya. Cui-beng-kui orang Nan-cao, Siang-mou Sin-ni orang Hou-han, Hek-giam-lo orang Khitan, aku sendiri dari Wu-yueh, sedangkan Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong dari pulau kosong di Lam-hai. Kenapa kita saling bertentangan? Lebih baik Thian-te Liok-koai bersatu untuk menumbangkan pemerintah Sung. Hal ini selain akan mengangkat tinggi-tinggi nama Thian-te Liok-koai, juga akan membebaskan kerajaan-kerajaan kecil daripada ancaman Sung Utara"
Ucapan It-gan Kai-ong ini bergema di tengah-tengah kesunyian para tamu yang mendengarnya.
Kata-kata itu agaknya termakan betul di hati mereka.
Hanya utusan Kerajaan Sung yang menjadi pucat lalu merah mukanya, tanda bahwa mereka terkejut dan marah.
Selama ini, mereka menganggap It-gan Kai-ong sebagai tokoh sakti yang tidak memusuhi Sung, karena semua tahu belaka bahwa kakek ini adalah guru dari Suma Boan, seorang putera Pangeran Sung.
Siapa kira, di tempat ini, disaksikan oleh para utusan dari semua pelosok, kakek pengemis ini mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu disambung berkelebatnya bayangan yang gesit sekali.
Sukar diikuti pandang mata gerakan ini dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita berambut panjang, cantik jelita, rambutnya riap-riapan.
Siapa lagi kalau bukan Siang-mou Sin-ni"
Dari rambutnya yang panjang terurai ini tersebar bau harum semerbak.
"Aku setuju dengan ucapan It-gan Kai-ong. Hi-hik, baru kali ini selamanya aku cocok dengan pendapat kakek gembel busuk ini. Kerajaan Hou-han selalu menyambut setiap uluran menghadapi Sung"
Makin tegang keadaan di situ, terutama di antara para utusan Sung.
Mereka ini diam-diam memperhatikan wajah para tamu, dan tentu saja mereka mengharapkan agar tidak banyak yang menyetujui ucapan permusuhan yang dicetuskan oleh It-gan Kai-ong terhadap Sung itu.
"Ho-ho-heh-heh, bagus sekali, dewi cantik Siang-mou Sin-ni juga telah setuju. Nah, Cui-beng-kui, mau tunggu apa lagi kau? Di antara Thian-te Liok-koai, sudah ada empat tokoh yang setuju. Aku yakin yang ke lima, yaitu Hek-giam-lo, tentu akan setuju pula. Orang-orang Khitan selamanya tidak menaruh hati suka terhadap Sung Utara"
Hati Ouwyang Swan Panglima Sung yang menjadi utusan kerajaannya, makin gelisah.
Bukan gelisah karena nasib dia dan rombongannya, melainkan sebagai seorang panglima dan patriot sejati, ia gelisah akan nasib negaranya.
Kalau cetusan permusuhan terhadap Sung ini berhasil, negaranya akan dikeroyok dari segenap penjuru.
Ia tahu bahwa kalau Enam Iblis itu membantu fihak lawan, akan berbahaya sekali.
Otomatis pandang matanya mencari-cari Suling Emas.
Ia tahu bahwa pendekar sakti ini amat baik hubungannya dengan para casan Kerajaan Sung.
"It-gan Kai-ong, jangan membuka mulut kotor di sini"
Tiba-tiba Suling Emas berkata dengan suara nyaring.
"Nan-cao dengan Beng-kauw mengadakan peringatan dan mengundang semua tamu tanpa memandang perbedaan, tidak nanti para pimpinan Beng-kauw yang bijaksana mendengar ocehanmu yang berbisa"
Kemudian pendekar ini menghadapi Cui-beng-kui dan dengan suara hormat ia berkata.
"Locianpwe, harap jangan mendengarkan obrolan mulut berbisa It-gan Kai-ong. Semua itu adalah rencana gembel busuk itu dengan muridnya, Suma Boan, yang mempunyai rencana memukul Kerajaan Sung dari dalam dan merampas kekuasaan. Hanya orang-orang bodoh saja yang dapat diperalat oleh It-gan Kai-ong dengan rencana busuknya. Locianpwe sebagai bekas panglima ketua dapat memaklumi rencana busuk seperti itu."
Hening sejenak mengikuti ucapan Suling Emas yang lantang ini. Kemudian terdengar It-gan Kai-ong terkekeh.
"Ho-ho-heh-beh, Cui-beng-kui tokoh besar Thian-te Liok-koai, mana bisa dibujuk seorang bocah dengan lidah tak bertulang? Cui-beng-kui, kau tentu tahu siapa dia? Dialah yang disebut Suling Emas, bocah sombong yang mengandalkan kepandaian yang diwarisinya dari Kim-mo Tai-su menurunkan beberapa ilmu. Tapi, kau tentu tidak menduga bahwa dia ini sebetulnya bernama Kam Bu Song, keturunan satu-satunya dari bekas kekasihmu Liu Lu Sian dan Kam Si Ek. Heh-heh, dia ini anak musuh besarmu, dialah buah daripada percintaan antara kekasihmu dan jenderal itu."
Mendadak Cui-beng-kui mengeluarkan suara melengking tinggi dan serta-merta ia menubruk Suling Emas dengan serangan maut dari kuku-kuku jari tangannya.
Suling Emas sendiri kaget setengah mati mendengar betapa It-gan Kai-ong membuka rahasianya.
Ia tidak tahu bahwa kakek itu mendengar rahasia ini dari Suma Boan yang bersama Sian Eng telah dapat mengetahui rahasia Suling Emas.
Kini hal itu dijadikan senjata oleh It-gan Kai-ong untuk membakar hati Cui-beng-kui dan berhasillah usahanya karena Cui-beng-kui yang merasa amat sakit hati terhadap mendiang Kam Si Ek yang merampas kekasihnya, kini marah sekali mendengar bahwa Suling Emas adalah anak jenderal itu bersama kekasihnya, Liu Lu Sian.
Namun Suling Emas bukanlah seorang lemah.
Jauh daripada itu, ia malah seorang sakti yang memiliki ilmu tinggi, menghadapi serangan mendadak yang amat dahsyat itu ia berlaku tenang, cepat kakinya menendang bumi dan tubuhnya melayang ke belakang menghindari terjangan hebat.
"Locianpwe, sabarlah. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu. Pertama karena.."
Terpaksa ia menghentikan kata-katanya karena pada saat itu Cui-beng-kui sudah menubruk dengan tangan kanan memukul ke arah dada sedangkan tangan kiri dengan jari-jari terbuka mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala.
Hebatnya bukan kepalang serangan ini, apa lagi dibarengi bentakan yang demikian nyaringnya sehingga banyak tamu yang kurang kuat roboh lemas.
Suling Emas terkejut.
Ia sendiri merasa betapa jantungnya tergetar oleh bentakan ini dan maklumlah ia bahwa mungkin selama puluhan tahun bersembunyi di dalam peti mati telah mendatangkan semacam tenaga gaib yang amat mujijat dalam bentakan mayat hidup itu.
Ia maklum bahwa kalau ia mengadu tenaga menangkis, tenaga sin-kangnya akan berkurang oleh suara bentakan yang melengking tinggi mengerikan itu.
Kembali ia meloncat ke samping menghindarkan diri sambil mencabut sulingnya.
Begitu ia menggerakkan sulingnya, terdengarlah suara melengking ke dua yang jauh bedanya.
Kalau suara melengking yang keluar dari kerongkongan Cui-beng-kui terdengar kasar seakan-akan hendak mencopot jantung memecahkan anak telinga, adalah lengking yang keluar dari suling Suling Emas terdengar lemah gemulai, halus lembut dan merdu, namun juga mengandung tenaga mujijat yang seakan-akan mencopoti semua urat syaraf dalam tubuh.
Kembali banyak tamu terguling roboh, merintih-rintih, merasa seluruh tubuh seperti ditusuk-tusuk jarum.
".. karena kau adalah tokoh Nan-cao,"
Suara Suling Emas terdengar jelas mengatasi dua suara melengking.
"Ke dua, karena kesetiaanmu terhadap ibuku sehingga kau rela hidup menderita.."
Kembali ia menghentikan kata-katanya karena serangan Cui-beng-kui makin dahsyat.
Gerakan kedua lengan tangan Ciu-beng-kui merupakan lingkaran-lingkaran yang mematikan semua jalan keluar, tak mungkin kali ini Suling Emas mengelak lagi.
Terpaksa pendekar sakti ini mengerahkan tenaga, menangkis dengan sulingnya sedangkan tangan kirinya dengan jari terbuka didorongkan ke depan menyambut pukulan tangan kanan lawan.
Lengking suara Cui-beng-kui berubah menjadi pekik kemarahan dan kesakitan ketika tangan kirinya terpukul suling dari samping.
Agaknya ia merasa sakit, maka dengan kemarahan besar ia memusatkan tenaganya pada tangan kanan yang disambut tangan kiri Suling Emas.
"Desssss.."
Telapak tangan Suling Emas bertemu dengan tangan Cui-beng-kui.
Pertemuan dua tenaga raksasa yang tidak kelihatan ini akibatnya luar biasa.
Sejenak keduanya seakan-akan tertahan dan tangan mereka saling tempel melekat, akan tetapi beberapa detik kemudian, keduanya terhuyung ke belakang.
Suling Emas tak dapat menahan dirinya, terjungkal dengan muka pucat, sedangkan Cui-beng-kui terhuyung-huyung dan berdiri dengan napas terengah-engah, tubuhnya menggigil.
Bu Sin dan Sian Eng cepat menghampiri kakak mereka itu, membantunya bangun.
Suling Emas meramkan mata sebentar, kemudian tersenyum, membuka mata dan menggoyang-goyangkan kepalanya.
"Mundurlah kalian.. aku tidak apa-apa.."
Katanya, siap untuk menghadapi Cui-beng-kui yang ganas.
Dengan wajah penuh kekhawatiran, Bu Sin dan Sian Eng mundur.
Suling Emas sudah berdiri dan kini dia merasa penasaran.
Mayat hidup itu tidak tahu diri, pikirnya.
Tidak tahu bahwa ia sebagai orang muda sudah mengalah banyak.
Ia berlaku sungkan karena mengingat akan ibunya, ingat bahwa orang ini adalah seorang yang sengsara hidupnya karena cinta kasihnya terhadap ibunya.
Inilah sebabnya mengapa ia masih berlaku sabar sungguhpun ia tahu bahwa orang ini adalah pembunuh ayahnya.
Ia sudah banyak mengalah.
Siapa kira, Cui-beng-kui malah menggunakan kesempatan selagi ia mengalah itu untuk mencelakainya, dengan melontarkan pukulan tadi.
Ia dapat menduga, itulah pukulan maut yang kata orang disebut Cui-beng-ciang (Pukulan Pengejar Roh), yang selalu menjadi buah percakapan para tokoh tingkat tinggi dengan hati kagum karena selama ini, belum pernah ada yang sanggup mengatasi pukulan maut itu.
Dengan pukulan ini pula Cui-beng-kui mengangkat namanya menjadi seorang di antara Enam Iblis.
Dan sekarang iblis itu telah menggunakan pukulan ini terhadapnya.
"Iblis tua, kau tidak tahu dihormat orang muda"
Katanya perlahan dan timbul niat untuk memberi hajaran kepada Cui-beng-kui.
Akan tetapi tiba-tiba ia berhenti dan memandang tajam.
Tidak hanya Suling Emas yang tertegun heran, juga para tokoh besar yang hadir di situ tertegun karena telinga mereka yang terlatih mendengar suara yang terlampau tinggi untuk dapat ditangkap telinga biasa.
Suara ini makin lama makin kuat dan sudah tampak banyak orang di kalangan tamu yang roboh pingsan.
Tidak hanya yang berkepandaian rendah, bahkan yang cukup pandai pun tidak kuat menahan getaran yang tiba-tiba menguasai seluruh tubuh mereka itu.
Sebentar saja, puluhan orang tamu menggeletak pingsan.
Hal ini mengejutkan semua orang sakti yang berada di situ.
Ketua Beng-kauw sendiri tampak duduk tak bergerak mengerutkan keningnya, kelihatan mengerahkan tenaga batin untuk menolak pengaruh seperti pembawaan iblis ini.
Namun diam-diam ia bertukar pandang dengan sutenya, Kauw Bian Cinjin, karena timbul dugaan di dalam hatinya.
Kiranya Kauw Bian Cinjin juga merasai hal yang sama dan mempunyai dugaan sama pula, ternyata dari pandang matanya.
Mereka itu sebagai tokoh-tokoh tertinggi Beng-kauw, hanya pernah mendengar mendiang Pat-jiu Sin-ong, suheng mereka, mendongeng tentang guru besar Beng-kauw yang memiliki kesaktian sebagai dewa-dewa di langit.
Di antara kesaktian-kesaktian itu, kata Pat-jiu Sin-ong, yang pernah dilihat oleh ketua Beng-kauw pertama itu adalah ilmu yang disebut Coan-im-i-hun-to, yaitu ilmu mengirim suara gaib merampas semangat.
Ilmu ini merupakan cabang daripada ilmu Sin-gan-i-hun-to, semacam ilmu merampas semangat melalui pandang mata (Hypnotism?), hanya bedanya, yang pertama menggunakan khi-kang yang disalurkan melalui getaran suara dalam untuk mempengaruhi orang lain, sedangkan yang ke dua lebih menggantungkan kepada kekuatan yang disalurkan melalui pandang mata.
Menurut dongeng yang diceritakan mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, guru besar Beng-kauw dapat mempergunakan Coan-im-i-hun-to sedemikian hebatnya sehingga dengan suara itu dapat meruntuhkan burung-burung yang sedang terbang dan dapat menundukkan dan memanggil datang semua binatang buas di dalam hutan.
Kini mereka mendengar suara bernada begitu tinggi dengan getaran aneh yang amat kuat, tentu saja timbul dugaan apakah ini gerangan yang disebut Coan-im-i-hun-to.
Kalau benar demikian, siapakah orangnya yang sanggup menggunakannya?
Mendiang Pat-jiu Sin-ong sendiri menurut pengakuannya hanya dapat menggunakan sepersepuluh bagian saja, suara yang dikeluarkannya masih didengar telinga biasa dan daya serangannya pun tidak begitu kuat.
Akan tetapi yang sekarang menggunakan ilmu itu, sekaligus dapat membikin puluhan orang tamu yang semua ahli silat belaka, roboh pingsan.
Kalau dua orang tokoh Beng-kauw itu menduga-duga, maka tokoh-tokoh lain, termasuk orang-orang sakti seperti It-gan Kai-ong, Toat-beng Koai-jin, Tok-sim Lo-tong, Siang-mou Sin-ni, Suling Emas dan lain-lain, menjadi terkejut dan terheran-heran.
Akan tetapi tentu saja dengan sin-kang yang amat kuat, mereka tidak terpengaruh terlalu hebat oleh getaran suara itu.
Tiba-tiba terdengar suara merdu halus, mengambang di atas getaran tadi.
"Ma-susiok, berani kau mengganggu anakku?"
Suling Emas sedang sibuk mengurut dan menotok jalan darah di belakang pundak dan tengkuk Sian Eng yang juga roboh pingsan oleh suara tadi, sedangkan Bu Sin di dekat Sian Eng duduk bersila meramkan mata mengerahkan tenaga dalam seperti yang ia pelajari dari kakek sakti sehingga ia terbebas daripada pengaruh Coan-im-i-hun-to.
Ketika mendengar suara ini, Suling Emas menjadi pucat mukanya, cepat ia melompat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak dan..
kedua kaki pendekar ini menggigil.
Kini semua mata tertuju ke arah pintu dalam ruangan sembahyang karena dari dalam pintu itu keluarlah seorang wanita, langkahnya perlahan dan ringan seakan-akan tidak menginjak lantai.
Munculnya wanita ini mengakhiri suara dan getaran tadi.
Langkahnya ringan, sikapnya agung dan pribadinya mendatangkan kesan yang bermacam-macam.
Ia sudah tua, sedikitnya lima puluh tahun usianya, namun masih cantik jelita mengagumkan.
Bentuk mukanya yang manis berkulit putih, memerah dadu di kedua pipinya, hidungnya kecil mancung, mulutnya kecil dengan bibir merah dan indah bentuknya, seperti gendewa terpentang.
Sepasang matanya menyaingi mata burung hong yang sedang berahi, dihias bulu mata panjang hitam melentik, dilindungi sepasang alis kecil panjang menjungat ke atas di bagian ujungnya, dagunya meruncing dan sedikit pun tidak tampak tanda-tanda keriput.
Hanya ada rambutnya terdapat tanda usia tua.
Rambutnya tebal dan panjang terurai sampai ke lutut, menutupi seluruh tubuh bagian belakang, akan tetapi rambut itu sudah tampak berwarna dua karena banyaknya rambut putih terselip di sana-sini.
Hanya tiga orang saja di seluruh ruangan itu yang mengetahui dengan pasti siapa wanita ini.
Pertama adalah Beng-kauwcu Liu Mo, karena kakek ini memang tahu bahwa keponakannya yang selama puluhan tahun lenyap dari dunia ramai, beberapa tahun yang lalu ini telah kembali dan bersembunyi di lorong-lorong rahasia yang merupakan terowongan di bawah tanah.
Juga Liu Hwee, puteri ketua Beng-kauw, tahu akan hal ini dan seperti pernah diceritakan di bagian depan ketika melarikan diri bersama Bu Sin, Liu Hwee mengajak Bu Sin melalui bagian di mana bersembunyi wanita itu.
Orang ke tiga yang tahu akan wanita ini adalah Cui-beng-kui, karena wanita ini adalah kekasihnya dan merupakan satu-satunya orang yang paling ia cinta, ia segani dan ia takuti di seluruh dunia ini.
Masih ada seorang lagi yang hanya menduga-duga, dengan ragu-ragu dan dengan jantung berdebar keras serta kedua kaki menggigil, yaitu Suling Emas sendiri.
Inikah ibu kandungnya?
Ia memeras ingatannya.
Ketika ia berusia kurang lebih sembilan tahun, ibunya pergi meninggalkan ia dan ayahnya.
Pergi tanpa pamit dan tidak ada yang tahu ke mana perginya, malah semenjak itu sampai saat ini belum pernah ia bertemu muka.
Ia ingat bahwa dahulu ibunya seorang wanita cantik jelita.
Ketika pada saat itu tercium olehnya bau harum semerbak yang juga tercium oleh semua orang pada saat wanita itu muncul, teringatiah Suling Emas.
Tak salah lagi, inilah ibu kandungnya.
Bau wangi seperti ini pula yang tak pernah ia lupakan, bau ibunya dulu (baca cerita SULING EMAS).
Akan tetapi ia menahan perasaannya sehingga lidahnya yang sudah bergerak, bibirnya yang sudah gemetar hendak meneriakkan panggilan itu ia tahan.
Matanya memandang sayu, penuh keharuan, penuh kedukaan, dan penuh kehausan kasih sayang ibu.
Wanita itu memang bukan lain adalah Tok-siauw-kui Liu Lu Sian, yang pada tiga puluhan tahun yang lalu menggemparkan dunia kang-ouw dengan sepak terjangnya yang ganas, dengan ilmu silatnya yang tinggi, dan dengan kecantikannya yang luar biasa.
Selama berpisah atau bercerai dari Kam Si Ek, dunia kang-ouw tidak mendengar lagi namanya, namun bagi mereka yang berurusan dengannya, tentu saja tidak akan dapat melupakan wanita hebat ini.
Kini semua orang memandangnya, yang sudah mengenalnya terkejut, yang belum mengenalnya menduga-duga siapa gerangan wanita yang dapat menggunakan ilmunya sedemikian hebat sehingga dengan suaranya saja dapat membikin pingsan puluhan orang.
Liu Lu Sian melangkah maju terus, langkahnya lambat akan tetapi ada sesuatu yang amat mengerikan tersembunyi di balik kecantikannya, di balik langkah yang lemah gemulai, di balik sikap yang agung.
Sepasang matanya menyapu para tamu dengan tak acuh, dan kedua kakinya terus melangkah menghampiri Cui-beng-kui.
Iblis yang biasanya menyeramkan hati setiap orang itu kini berdiri dengan kedua kaki menggigil, sinar matanya mengandung takut yang amat hebat, punggungnya membungkuk-bungkuk dan dari bibir mayatnya itu keluar ucapan lemah tersendat-sendat.
"Tidak.. tidak.. Lu Sian.. jangan kau benci padaku.. ah, ampunkanlah aku.. jangan benci.."
"Berani kau menggunakan Cui-beng-ciang mencoba membunuhnya?"
Kembali Liu Lu Sian berkata lirih, terus melangkah mendekati.
"Ti.. tidak.. Lu Sian.. aku benci karena dia.. dia putera Si Ek. Jangan.. jangan pandang aku seperti itu.. Lu Sian.. kau ampunkan aku.. kau bunuh aku.. tapi jangan benci.."
Semua orang melongo.
Benar-benar sebuah adegan yang aneh, lucu, juga mengharukan.
Kiranya iblis itu bukan takut akan keselamatannya, melainkan takut kalau-kalau wanita yang dicintanya itu membencinya.
Dari adegan itu sudah dapat dibayangkan betapa besar dan mendalam cinta kasih iblis itu terhadap Liu Lu Sian.
Cui-beng-kui mundur-mundur, terus diikuti Liu Lu Sian dan akhirnya mereka berdiri berhadapan, saling menentang pandang.
Wanita itu tersenyum dan semua orang tersirap darahnya.
Senyum itu masih manis luar biasa karena semua giginya masih utuh, akan tetapi entah bagaimana, di balik senyum ini terbayang sesuatu yang tidak semestinya, yang membikin orang bergidik, yang meremangkan bulu roma, seperti senyum seorang siluman.
"Tidak, Ma Thai Kun, betapa aku dapat membencimu? Dahulu aku memang benci padamu karena kau mendesak-desakku dengan cinta kasihmu yang membikin aku gemas dan benci karena rupamu buruk. Aku lebih baik memilih Kam Si Ek yang tampan dan gagah, dan memilih pria-pria lain yang tampan. Akan tetapi cinta kasih mereka itu semua palsu belaka, hanya cinta kasihmu yang murni, Ma Thai Kun. Kalau dahulu aku memilihmu, tidak akan terjadi seperti sekarang ini, hidupku penuh pahit getir dan kekecewaan. Ma Thai Kun, biarlah orang-orang tiada guna ini semua menyaksikan bahwa sekarang aku menerima cintamu, aku menerima cinta kasihmu yang suci murni"
Semua orang melongo.
Benar-benar adegan yang luar biasa di mana seorang wanita tua menyatakan cinta kasih kepada kakek yang seperti iblis.
Adegan roman yang tidak romantis, bahkan lucu dan menyeramkan.
Ingin mereka itu tertawa, namun tidak ada yang berani membuka mulut.
Mereka tetap melongo dan mulut mereka terbuka makin lebar ketika melihat betapa Cui-beng-kui menangis.
Iblis itu menangis, melangkah maju dan merangkul Liu Lu Sian, di antara tangisnya terdengar ia berkata.
"Terima kasih.. terima kasih Lu Sian, aku cinta padamu.."
Wanita cantik jelita itu kemudian menyambut muka mayat hidup itu dengan sebuah ciuman mesra, terdengar kata-katanya.
"Aku menciummu sebagai tanda penerimaan cinta kasihmu, akan tetapi aku harus membunuhmu karena kau telah mengganggu anakku.."
Ucapan ini disusul ciuman, akan tetapi ciuman ini merupakan ciuman maut bagi Cui-beng-kui karena tiba-tiba tubuhnya berkelojotan kaku dan ketika wanita itu melepaskan rangkulannya, ia roboh terguling miring dengan mata melotot.
Darah keluar dari semua lubang di tubuhnya, yang tampak mengerikan keluar dari lubang hidung, mulut, dan kedua telinganya.
Di punggungnya, di mana tadi kedua tangan Liu Lu Sian memeluknya, tampak tanda tapak tangan dengan sepuluh jari, jelas sekali bekas jari-jari itu terbenam di punggung, meninggalkan cap tangan seperti baru saja punggung itu dicap dengan gambar tangan besi dibakar merah.
"Wah, Thian-te Liok-koai kurang seorang"
Terdengar It-gan Kai-ong mengeluh dan membanting ujung tongkatnya di atas tanah.
"Tok-siauw-kui, kau boleh menggantikan kedudukannya. Heh-heh, dengan tingkat kepandaianmu, kau cukup berharga menjadi Iblis Dunia dan kehadiranmu menggantikan Cui-beng-kui membuat Thian-te Liok-koai lengkap kembali. Ho-ho-he"
Memang seorang tokoh sakti seperti It-gan Kai-ong ini memiliki watak yang aneh juga cerdik.
Ia maklum bahwa baru saja Tok-siauw-kui Liu Lu Sian memamerkan kepandaiannya sehingga semua orang menjadi kagum.
Hal ini akan merendahkan nama besar Thian-te Liok-koai, apalagi setelah seorang di antara Liok-koai terbunuh oleh wanita itu.
Oleh karena inilah maka ia sengaja mengeluarkan ucapan itu sehingga timbul kesan bahwa bagi It-gan Kai-ong dan anggauta Liok-koai lainnya, kepandaian Tok-siau-kui itu hanya setingkat dengan kepandaian mereka.
"Tikus busuk, jangan menjual lagak di sini. Pergi"
Liu Lu Sian berkata sambil menggerakkan kaki melayang ke depan dan tangan kanannya bergerak mendorong.
Gerakannya kelihatan lambat saja, akan tetapi entah bagaimana, tak dapat diikuti oleh pandangan mereka, tahu-tahu ia telah berada di sebelah atas pundak kanan It-gan Kai-ong dan kedua tangannya dengan jari tangan terbuka menghantam kepala dan punggung.
Hebat bukan main serangan ini.
It-gan Kai-ong merasa seakan-akan diserang gelombang ombak dari belakang dan depan.
Namun sebagai seorang tokoh besar dunia persilatan, tentu saja ia tidak mau menyerah mentah-mentah.
Tongkatnya sudah berkelebat ke atas menangkis kedua tangan lawan.
Ia berhasil menangkis tangan yang menghantam kepala, akan tetapi tangan yang menampar pundak, biarpun dapat ia elakkan sehingga tidak tepat mengenai tempat berbahaya, namun masih saja menyerempetnya.
"Plakkk.. brettt"
Keduanya melompat mundur.
Dalam segebrakan saja sudah tampak kesudahannya yang mengerikan.
Untung keduanya memiliki ilmu tinggi, kalau tidak tentu keduanya sudah roboh dan tewas.
Lengan kiri Liu Lu Sian tampak berjalur merah akibat tangkisan tongkat, akan tetapi kakek pengemis itu lebih hebat penderitaannya.
Baju pada pundaknya bolong besar seperti terbakar dan kulit pundaknya melepuh.
Untung sin-kangnya amat kuat sehingga ia berhasil menolak hawa pukulan maut tadi sehingga hanya terluka pada kulitnya saja.
Kalau kurang kuat, tentu di pundaknya sudah terdapat "cap"
Lima jari merah terbakar dan nyawanya melayang.
Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong sudah melangkah maju, sikap mereka jelas hendak membantu It-gan Kai-ong.
Akan tetapi kakek pengemis itu menggunakan kedua lengannya mencegah mereka, lalu menghadapi Liu Lu Sian sambil berkata.
"Bagus, kau memang patut menjadi seorang di antara Thian-te Liok-koai. Akan tetapi adu kepandaian di antara Liok-koai, bukan di sini tempatnya. Untuk menentukan siapa lebih unggul, kau diharapkan ikut datang pada bulan lima malam ke lima belas di puncak Thai-san. Yang tidak datang dianggap kalah dan diberi tingkat paling rendah. Ho-ho-heh-heh"
"Kai-ong, apakah tidak diberi hajaran sedikit dia agar jangan sombong terhadap kita?"
Tok-sim Lo-tong berkata sambil "sentrap-sentrup"
Menyedot isi hidungnya yang mau keluar saja.
"Jangan, Lo-tong. Dia masih terhitung orang dalam dari Beng-kauw, tidak enak kita sebagai tamu membikin ribut. Nah, Beng-kauwcu, selamat tinggal. Tok-siauw-kwi, kalau nanti go-gwe-cap-go (bulan lima tanggal lima belas) kau tidak datang, berarti kau menjadi Liok-koai yang paling bawah tingkatnya"
Setelah berkata demikian, It-gan Kai-ong menggapai muridnya, Suma Boan, diajak pergi dari tempat itu, diikuti oleh Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong.
Berturut-turut para wakil dari Kerajaan Wu-yueh juga berpamitan, karena setelah kakek pengemis yang mereka andalkan itu pergi, otomatis mereka merasa kedudukan mereka amat lemah dan tidak ada perlunya berada di situ lebih lama lagi.
Bu Sin merasa heran dan kaget, juga gemas ketika melihat Suma Boan mendekati tempat mereka dan berkata kepada Sian Eng.
"Eng-moi-moi, kau tunggulah, aku pasti akan pergi mengunjungi Kui Lan Nikouw di Cin-ling-san."
Betapa herannya hati Bu Sin melihat adiknya itu mengangguk dengan muka merah.
Setelah Suma Boan pergi, Bu Sin memegang tangan adiknya dan bertanya lirih, setengah berbisik, akan tetapi suaranya mengandung tuntutan keterangan.
"Eng-moi, apa artinya ini? Apa hubunganmu dengan keparat itu dan mau apa ia mengunjungi Sukouw?"
Merah sekali muka Sian Eng. Lama ia tidak mampu menjawab, hanya menundukkan muka. Akhirnya ia berkata juga.
"Dia.. dia hendak melamarku.."
Bu Sin meloncat kaget seperti disengat lebah.
"Apa..?"
Wajahnya jelas membayangkan tidak percaya.
"Mengapa kau kaget, Koko? Bukankah itu hal yang biasa saja?"
"Kau bilang biasa? Ah, Moi-moi, mana akalmu yang sehat? Apakah.. agaknya kau telah menyetujuinya..?"
"Sudahlah, Koko. Ini bukan urusan kita, terserah keputusan Sukouw saja.."
"Tidak"
Kau tidak boleh berjodoh dengan keparat itu. Dia jahat, dia.. dia.. ah, Eng-moi, bagaimana kau.."
"Sssttttt, Koko. Kita menjadi perhatian orang. Lihat itu, ada keributan lagi.."
Sian Eng mencegah, merasa bahwa bukan pada tempatnya kalau ia membicarakan soal hubungannya dengan Suma Boan di tempat itu.
Bu Sin menengok dan benar saja.
Semua tamu yang tadinya agak kacau oleh keberangkatan beberapa rombongan, kini tenang kembali dan memandang ke arah rombongan tuan rumah karena di situ terjadi hal yang menarik sekali.
"Kita akan bicara tentang ini nanti.."
Katanya perlahan dan Bu Sin dengan muka keruh terpaksa mengalihkan perhatiannya.
Apakah yang terjadi?
Kiranya Liu Lu Sian tadi menoleh ke arah Siang-mou Sin-ni dan berkata ketus.
"Kau masih di sini dan tidak lekas angkat kaki?"
Siang-mou Sin-ni melesat dari tempat duduknya dan kini ia berhadapan dengan Liu Lu Sian.
Amat menarik melihat dua orang wanita ini berdiri saling berhadapan.
Keduanya sama cantiknya, biarpun Siang-mou Sin-ni tentu saja lebih muda daripada Liu Lu Sian.
Keduanya memiliki rambut yang sama panjangnya dan keduanya mengurai rambut di belakang tubuh.
Heranlah semua orang ketika dengan sikap amat menghormat, Siang-mou Sin-ni menjura di depan Liu Lu Sian dan berkata.
"Beruntung sekali dapat berjumpa dengan Suthai di sini setelah bertahun-tahun saling berpisah. Semoga Suthai dalam keadaan baik saja."
Tentu saja semua orang terheran.
Sebutan suthai (ibu guru) biasanya hanya ditujukan kepada seorang pendeta wanita atau kepada seorang guru.
Bagaimanakah iblis wanita Siang-mou Sin-ni menyebut suthai kepada Liu Lu Sian?
(baca cerita SULiNG EMAS).
"Kim Bwee, sejak kapan aku menjadi gurumu? Apakah karena satu dua ilmu yang kuberikan kepadamu itu kau lalu boleh menganggap aku sebagai guru? Tidak"
Jangan kira kau akan dapat membujukku, mengangkat menjadi gurumu lalu kau ingin aku membantu cita-citamu menguasai Hou-han?
Huh, perempuan tak tahu malu.
Pergi kau"
Muka Siang-mou Sin-ni menjadi merah sekali, dan rambutnya yang halus itu tiba-tiba menjadi kaku.
Tiba-tiba sikapnya yang menghormat itu lenyap, terganti sikap menantang.
Ia mengangkat kedua tangan ke pinggangnya, dengan tangan kanan menolak pinggang dan tangan kiri menudingkan telunjuk, ia berkata.
"Karena menerima ilmu darimu, aku selamanya mengurai rambut dan berterima kasih, menghormatmu sebagai guru. Akan tetapi kau memandang rendah kepadaku. Hemmm, benar-benar kau orang tua yang tidak ingin dihormat"
Liu Lu Sian tersenyum, lalu melangkah maju sampai dekat sekali dengan Siang-mou Sin-ni.
"Bocah. Sekali menggerakkan tangan, aku mampu melempar nyawamu ke neraka. Akan tetapi mengingat beberapa orang di Hou-han, aku masih mengampunimu. Nah, kau mau apa? Mau menyerangku dengan rambutmu? Boleh, lakukanlah"
Tantangan yang menghina sekali.
"Wanita tak kenal budi. Di Hou-han kami memperlakukan kau sebagai orang mulia, menyuguhkan pria-pria yang paling tampan, jejaka-jejaka paling gagah untukmu. Tapi kau membalas dengan penghinaan"
Jangan kira Siang-mou Sin-ni masih seperti sepuluh tahun yang lalu. Terimalah ini"
Tiba-tiba Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya dan rambutnya yang gemuk hitam dan panjang itu menyambar, merupakan puluhan pecut yang luar biasa kuat dan lihainya.
Setiap pecut yang terbuat dari puluhan sampai ratusan helai rambut itu mengarah jalan darah mematikan di tubuh Liu Lu Sian.
Perlu diketahui bahwa meskipun Siang-mou Sin-ni memang sejak kecil melatih diri dengan ilmu silat tinggi, namun ilmu menggunakan rambut ini ia dapat dari Liu Lu Sian.
Tentu saja ilmu ini biarpun amat berbahaya bagi orang lain, namun bagi Liu Lu Sian bukan apa-apa lagi.
Wanita ini tiba-tiba merendahkan tubuhnya, dari mulutnya keluar lengking tinggi mengerikan, kedua tangannya bergerak-gerak ke depan dan..
pecut-pecut rambut itu berkibar-kibar membalik dan menghantam Siang-mou Sin-ni sendiri.
"Ayaaaaa"
Siang-mou Sin-ni kaget dan cepat ia melompat ke atas dan berjungkir balik beberapa kali untuk melenyapkan daya serangan membalik tadi.
Ketika ia turun di atas tanah, ternyata sebagian rambutnya yang panjang telah bodol dan berhamburan di atas tanah.
Wajahnya berubah pucat, giginya berkerut, matanya mendelik.
"Liu Lu Sian, Kau besar hati karena berada di tempat sendiri. Andaikata aku dapat mengalahkanmu, tentu aku akan menghadapi perlawanan anakmu si Suling Emas dan orang-orang Beng-kauw. Aku tunggu nanti Go-gwe Cap-go di puncak Thai-san"
Setelah berkata demikian, Siang-mou Sin-ni berkelebat cepat menghilang dari situ.
Tentu saja para utusan Hou-han menjadi sibuk, cepat meninggalkan tempat itu pula tanpa sempat berpamit lagi.
"Bu Song, Ke sini kau.."
Liu Lu Sian kini menoleh kepada Suling Emas dan memanggil dengan suara halus lembut.
Suling Emas berdiri terkesima.
Sejak tadi pelbagai perasaan mengaduk hatinya dan teringatlah ia akan masa dahulu di waktu ia masih kecil.
Sering kali ayah ibunya saling cekcok.
Ketika ibunya pergi, diam-diam ia merasa sedih sekali, karena betapapun juga, ia lebih cinta ibunya daripada ayahnya.
Oleh karena itulah, ketika ayahnya menikah lagi, timbul rasa bencinya kepada ayahnya dan rasa sayangnya terhadap ibunya makin menghebat.
Di dalam hatinya timbul perasaan bahwa antara ibu dan ayahnya, ayahnyalah yang salah (baca cerita SULING EMAS).
Oleh karena itu ia minggat meninggalkan ayahnya yang telah menikah lagi.
Pada waktu ibunya pergi meninggalkan ayahnya, ia masih terlalu kecil untuk dapat mengerti sebab-sebabnya.
Sekarang, setelah iblis wanita yang mengerikan dan mengaku ibunya itu muncul, ia menjadi kecewa dan duka bukan main.
Beginikah wanita yang menjadi ibu kandungnya?
Kejam, aneh, mengerikan, dan tidak malu?
Apalagi kalau ia teringat akan ucapan Siang-mou Sin-ni tadi di depan ibunya.
Ibunya di Hou-han diperlakukan sebagai orang mulia, disuguhi pria-pria paling tampan, jejaka-jejaka paling gagah?
Memuakkan.
Dan ucapan itu oleh Siang-mou Sin-ni diucapkan dengan lantang di depan demikian banyak orang tokoh kang-ouw.
Dan ibunya tidak membantahnya"
"Bu Song, anakku, ke sinilah. Aku Ibumu, aku rindu kepadamu"
Ucapan ini mengagetkan hatinya, menyeret ia turun daripada lamunannya.
Hatinya seperti diawut-awut, kecewa, sedih, terharu.
Bagaikan seorang terkena pesona, kedua kakinya melangkah maju di luar kehendak hatinya, maju menghampiri wanita tua cantik jelita yang bertahun-tahun ini menjadi lamunannya, menjadi bayangan yang dirindukannya.
Liu Lu Sian memeluk pundaknya yang lebar.
"Bu Song anakku.. ah, kau sudah begini gagah perkasa"
Hi-hi, kau pria paling gagah di seluruh Nan-cao, di seluruh dunia.
Kaulah yang patut memimpin Beng-kauw.
Dengan kau sebagai kaisar di Nan-cao, dan aku yang akan memimpin Beng-kauw.
Dengan kau sebagai kaisar dan aku sebagai Beng-kauwcu, Nan-cao akan menjadi negara terkuat di dunia."
"Ahhhhh.."
Suling Emas terkejut sekali dan tanpa disengaja ia merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan ibunya, memandang terbelalak.
Liu Lu Sian menyambar lengan Suling Emas, ditariknya mendekat lalu ia menciumi pipi pemuda itu dengan hidung dan mulutnya sampai mengeluarkan suara berkecupan.
Suling Emas menjadi bingung dan sedih, karena perbuatan ibunya itu disaksikan oleh sekian banyak orang dan tampak tidak patut sekali, akan tetapi keharuan hatinya yang amat besar membuat ia tak mampu bergerak dan di hati kecilnya ada perasaan bahagia melihat kasih sayang ibunya yang demikian besar terhadap dirinya.
"Hi-hik, anakku yang gagah perkasa, yang tampan, kepandaianmu hebat juga. Kau patut menjadi Kaisar Nan-cao."
Tiba-tiba ia melepaskan puteranya dan melangkah lebar menghadap Beng-kauwcu dan Kaisar Nan-cao yang duduk dengan muka berubah dan kedua tangan memegangi lengan kursi masing-masing dengan hati tegang.
"Paman Liu Mo, kursi yang kau duduki itu adalah kursiku. Kau orang tua benar-benar keterlaluan dan tak tahu malu sekali. Kapankah ayah mewariskan kedudukan Beng-kauwcu kepadamu? Akulah yang berhak mewarisi kedudukan ketua Beng-kauw, bukan kau. Kau telah merampas hal lain orang"
Muka Beng-kauwcu Liu Mo sebentar merah sebentar pucat, kedua tangannya yang terletak di atas lengan kursi tampak menggetar.
Akan tetapi setelah menarik napas panjang tiga kali, ia berhasil menekan perasaannya dan dengan suara tenang penuh kesabaran ia berkata.
"Lu Sian, tidak ada yang merampas kedudukan Beng-kauwcu. Kedudukan itu tidak pernah dijadikan perebutan di antara kita. Dahulu kau pergi meninggalkan kami, betapapun kami mencarimu, tidak juga berhasil. Ayahmu meninggal dunia dan kau tidak berada di sini. Hanya aku yang berada di sini dan aku dipilih menggantikan kedudukan Kauwcu, sama sekah bukan merampas. Kalau sekarang kau menghendakinya, aku pun tidak akan kukuh mempertahankan kursi kedudukan itu, Lu Sian."
"Hi-hi-hik, tentu saja harus kau berikan kepadaku, suka maupun tidak. Andaikata tidak kau berikan, apa sih sukarnya merampas kembali dari tangan kau orang tua? Aku harus menjadi Kauwcu dan dengan kekuasaanku, aku mengangkat puteraku Bu Song menjadi kaisar di Nan-cao"
"Enci Lu Sian, kau terlalu menghina Ayah"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Liu Hwee sudah melompat ke depan Liu Lu Sian sambil menyerangnya dengan senjatanya yang luar biasa, yaitu sepasang cambuk lemas yang ujungnya diberi bola kecil.
"Hi-hik, bocah ingusan mau kurang ajar? Satu kali aku beri ampun di terowongan ketika kau bermain gila dengan laki-laki, sekarang aku tidak mau memberi ampun"
Teriak Liu Lu Sian, tubuhnya berkelebatan dan di lain saat ia telah berhasil menjambret sebuah di antara sepasang cambuk itu dan sekali renggut cambuk itu pindah tangan.
Dengan sikap mengejek ia melempar cambuk ke samping, kemudian melihat cambuk ke dua menyambarnya, ia menangkap ujungnya lagi dan menarik.
Liu Hwee mempertahankan, akan tetapi ia tidak kuat dan tubuhnya terhuyung-huyung.
Sambil tertawa-tawa Liu Lu Sian menarik-narik cambuk itu ke sana ke mari dan ke manapun juga ia menarik, tubuh Liu Hwee terbawa, terhuyung-huyung.
Terlambat gadis ini ketika hendak melepaskan cambuknya karena entah bagaimana, cambuk itu sudah melibat pergelangan tangannya dan ia terpaksa terseret ke sana ke mari ketika cambuknya ditarik-tarik.
"Lepaskan dia, wanita jahat"
Terdengar bentakan dan Bu Sin sudah menerjang dengan pukulan kedua tangannya yang diarahkan punggung Liu Lu Sian.
Pemuda ini tidak dapat menahan kemarahannya ketika melihat betapa Liu Hwee, gadis yang telah merampas hatinya itu, dibuat permainan oleh Liu Lu Sian, malah agaknya keselamatannya terancam bahaya.
"Hi-hik, laki-laki ini sudah tergila-gila kepadamu, Liu Hwee"
Wanita berambut panjang itu terkekeh dan tangannya bergerak hendak menangkap lengan Bu Sin.
"Ihhhh.."
Liu Lu Sian berseru kaget ketika tangannya tergetar dan terpental tak berhasil menangkap lengan Bu Sin.
Ini adalah karena pemuda itu mempergunakan tenaga sakti yang ia pelajari dari kakek di air terjun.
Namun hanya segebrakan saja tenaga saktinya dapat mengagetkan Liu Lu Sian karena di lain saat, segumpal rambut menyambar dan memukul pinggangnya.
Bu Sin merasa seakan-akan terpukul sebatang toya yang terbuat daripada baja.
Pinggangnya sakit dan ia terpelanting roboh.
"Kau kejam"
Liu Hwee berseru, menyerang lagi dengan cambuknya yang tadi dilepaskan Liu Lu Siang namun kembali rambut kepala wanita tua itu bergerak dan robohlah Liu Hwee terjungkal dekat Bu Sin.
"Hi-hi-hik, bocah-bocah cilik sudah main cinta-cintaan, biarlah kalian mati bersama agar menjadi dewa-dewi di kahyangan"
Akan tetapi pada saat itu tampak bayangan hitam berkelebat dan rambut kepala yang sudah menyambar ke arah tubuh Bu Sin dan Liu Hwee itu buyar seperti tertiup angin keras.
Liu Lu Sian kaget, akan tetapi ketika melihat bahwa yang berdiri di depannya adalah Suling Emas, wajahnya berseri-seri dan tertawa kagum.
"Bagus. Kau hebat sekali, anakku"
"Ibu,"
Kata Suling Emas dengan suara berat. Memang dalam keadaan seperti itu, mulutnya serasa berat menyebut ibu kepada wanita ini.
"Harap jangan turun tangan membunuhi orang."
"Ha-ha-hi-hi-hik"
Paman Liu Mo, kau dengar ucapan anakku itu?
Begitu gagah perkasa dia, begitu tampan, dan begitu bijaksana.
Dia patut menjadi kaisar di Nan-cao, dan aku ketua Beng-kauw.
Kau akan kuangkat menjadi penasihat, dan kaisar boneka ini biarlah menjadi perdana menteri anakku"
Hebat ucapan ini dan semua orang menjadi tegang.
Para tamu diam-diam merasa tegang gembira karena mengharapkan menyaksikan peristiwa yang hebat.
Akan tetapi para anggauta Beng-kauw memandang bingung.
Mereka merasa serba susah.
Betapapun juga, wanita itu adalah puteri tunggal mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, pendiri dan tokoh utama Beng-kauw.
"Ibu, tidak boleh kau bilang begitu.."
Suling Emas berseru dengan suara penuh kesedihan.
"Eh, apa kau bilang?"
Liu Lu Sian membentak sambil memandang dengan matanya yang bening tajam.
Ketika bertemu pandang dengan ibunya, diam-diam Suling Emas terkejut dan berduka.
Sinar mata ibunya itu, sinar mata yang keluar dari sepasang mata yang amat bening dan indah, bukanlah sinar mata manusia yang sehat jiwanya.
"Ibu, harap kau jangan mengganggu kedudukan Kakek Liu Mo. Dan aku.. aku tidak mau menjadi kaisar. Sri Baginda yang sekarang menjadi kaisar sudah cukup bijaksana dan tepat.."
"Apa? Jangan kau ikut-ikut, Kau anak kecil tahu apa? Hayo minggir"
Wanita itu membuat gerakan mengancam, seakan-akan seorang ibu mengancam dan menakut-nakuti anaknya yang masih kecil.
Suling Emas menarik napas panjang dan melangkah minggir dengan muka merah.
Ia merasa malu dan sedih.
Terasa ada orang menyentuh tangannya dan ketika ia menengok, ia melihat Bu Sin memandangnya dengan pandang mata penuh iba.
Ia menarik kembali tangannya dan membuang muka, lalu meramkan kedua matanya.
Bu Sin tidak berani lagi mengganggu.
Pemuda ini tadi telah terlepas dari bahaya maut bersama Liu Hwee dan cepat mereka sudah mengundurkan diri.
Luka pukulan segumpal rambut pada punggungnya tidak berat dan ia bersyukur bahwa Suling Emas tadi keburu datang menolong, kalau tidak, dia dan Liu Hwee tentu akan tewas di tangan wanita iblis itu.
Kini semua mata memandang ke tengah lapangan.
Kauw Bian Cinjin sudah melangkah maju dengan pecut di tangannya.
Langkahnya lebar dan lambat, sikapnya tenang berwibawa, namun tarikan dagu mengeras dan sinar mata tajam berkilat membayangkan kemarahannya.
Setelah berhadapan dengan Liu Lu Sian, kakek ini berkata, suaranya lantang berpengaruh.
"Liu Lu Sian, ingatlah siapa kau dan siapa kami. Urusan di antara orang sendiri apa perlunya dipertontonkan orang lain? Tunggu sampai semua tamu pulang, baru kita bereskan urusan pribadi kita"
Liu Lu Sian memandang dengan mata terbelalak, kemudian ia tersenyum, masih manis seperti dahulu senyumnya sehingga diam-diam Kauw Bian Cinjin terharu juga.
Teringat ia betapa dahulu di waktu Liu Lu Sian masih kecil dan ia sendiri masih muda, gadis cilik itu sering kali ia ajak bermain-main dan kalau menangis ia gendong"
"Hi-hik, kau Susiok Kauw Bian Cinjin. Kau orang baik dan Ayah amat sayang kepadamu, memang kau pintar dan tenagamu amat berguna. Kau akan tetap menjadi pengurus utama di Beng-kauw kalau aku sudah menjadi Kauwcu. Hanya pakaianmu ini harus diganti yang baik, jangan seperti pakaian penggembala begitu. Eh, Susiok, kalau aku sudah menjadi kauwcu dan puteraku menjadi kaisar, dengan kau sebagai pembantu utama, hi-hik, apa sih sukarnya menundukkan kerajaan-kerajaan gurem seperti Wu-yue, Hou-han, dan lain-lain? Malah kita akan menyerbu dan menundukkan Kerajaan Sung Utara, dan terus merampas Khitan"
"Lu Sian"
Kauw Bian Cinjin membentak, disusul cambuknya meledak di udara "tar-tar-tar".
Sesaat ia tak mampu mengeluarkan kata-kata saking marahnya, kemudian ia berkata.
"Lepaskan semua niatmu yang tidak sehat itu. Lekas kau berlutut dan minta ampun kepada Suheng, kepada Beng-kauwcu kita, kalau tidak, aku sebagai paman gurumu terpaksa akan memberi hajaran kepadamu."
Sejenak Liu Lu Sian melebarkan matanya seperti orang terheran-heran. Kemudian wajahnya menjadi muram dan ia berkata.
"Susiok, biar kau sendiri, kalau hendak menghalangi niatku, terpaksa akan kubunuh."
"Aaahhhhh.."
Kaow Bian Cinjin lalu lari ke depan peti mati Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, berlutut dan sampai lama ia berdiam diri, bibirnya berkemak-kemik.
Kemudian ia menambah kayu wangi pada pedupaan sehingga asap wangi mengebul tebal dan tinggi, bergulung-gulung di sekitar peti mati.
"Twa-suheng, mohon ampun, hari ini siauwte terpaksa melawan puterimu"
Setelah berkata demikian, sekali lagi ia menjura, kemudian dengan langkah lebar dan tenang ia kembali menghampiri Liu Lu Sian yang melihat semua perbuatannya tadi sambil tersenyum-senyum.
Suasana menjadi tegang kembali ketika dua orang itu saling berhadapan.
Yang paling tegang dan bingung adalah Suling Emas sendiri.
Ingin ia mencegah pertempuran ini, akan tetapi apa dayanya?
Tak sampai hati ia kalau harus menjadi musuh ibu kandungnya yang puluhan tahun dirindukannya.
Sebaliknya, tak mungkin ia membantu ibunya yang dalam hal ini terang telah melakukan perbuatan yang sesat.
Saking bingungnya, ia hanya berdiri dengan muka pucat.
"Liu Lu Sian, biarpun kau merupakan puteri tunggal mendiang Twa-suheng Liu Gan yang kuhormati, akan tetapi saat ini kau merupakan orang yang akan merusak kerajaan dan perkumpulan agama yang kami cintai. Oleh karena itu, aku berdiri di hadapanmu sebagai penentang dan siap melawanmu. Arwah mendiang Twa-suheng pasti akan membenarkan sikapku ini."
"Orang tua keras kepala. Kau kira akan dapat memenangkan aku? Hi-hik, aku bukanlah Tok-siauw-kwi tiga puluh tahun yang lalu"
"Kalah menang bukan soal, yang penting aku harus membela Nan-cao dan Beng-kauw dengan taruhan nyawa"
Jawab Kauw Bian Cinjin gagah sambil melintangkan cambuknya di depan dada.
Liu Lu Sian tiba-tiba mengeluarkan suara melengking tinggi.
Suara ini luar biasa sekali pengaruhnya dan kalau saja Kam Bian Cinjin yang "diserang"
Suara ini bukan tokoh besar Beng-kauw, kiranya ia akan roboh tanpa disentuh lagi.
Cepat Kauw Bian Cinjin berseru keras dan memutar cambuknya sehingga berbunyi angin bersuitan yang melawan pengaruh suara lengking itu.
"Serahkan nyawamu"
Bentak Liu Lu Sian dan tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan yang cepat sekali, didahului gulungan sinar hitam dari rambutnya yang mengurung tubuh Kauw Bian Cinjin.
Kakek ini kembali berseru keras dan memutar cambuk, maka terjadilah pertempuran yang amat hebat.
Lebih hebat daripada pertempuran-pertempuran tadi, karena sekarang yang bertempur adalah dua orang tokoh Beng-kauw.
Betapapun juga, masing-masing sudah mengenal gerakan lawan sehingga dapat menandinginya.
Ilmu cambuk di tangan Kauw Bian Cinjin amat lihai sehingga di waktu mudanya ia mendapat julukan Cambuk Halilintar.
Memang, melihat kakek ini memainkan cambuk, membuat orang yang kurang tingi kepandaiannya menjadi ngeri dan jerih.
Cambuk itu berubah menjadi gulungan sinar yang melingkar-lingkar, bersiutan anginnya dan meledak-ledak di udara disusul sinar memanjang menyambar-nyambar.
Hebatnya, tiap lecutan ujung cambuk ini sudah cukup kuat untuk merenggut nyawa lawan.
Betapapun juga ilmu cambuk Kauw Bian Cinjin ini tentu saja satu sumber dengan ilmu kepandaian mendiang Pat-jiu Sin-ong dan tentu saja Liu Lu Sian mengenal sari ilmu cambuk ini.
Apalagi sekarang wanita itu telah memperdalam ilmunya secara hebat, yaitu semenjak ia minggat dari ayahnya sambil membawa pergi kitab-kitab pusaka.
Selama puluhan tahun ini secara sembunyi Liu Lu Sian telah memperdalam ilmunya, malah ia telah berhasil menguasai ilmu gaib Coan-im-i-hun-to dan penggunaan rambut kepalanya merupakan permainan "ilmu cambuk"
Yang mujijat karena rambut itu dapat dipakai menjadi puluhan batang cambuk yang bergerak secara berbareng dari jurusan-jurusan yang berlawanan.
Kauw Bian Cinjin dapat menduga akan hal ini.
Ketika tadi ia melihat sepak terjang Liu Lu Sian dalam menghadapi It-gan Kai-ong dan Siang-mou Sin-ni, lalu melihat tapak tangan merah yang membunuh Cui-beng-kui, ia sudah menduga bahwa puteri suhengnya ini telah memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Ia pun maklum tidak akan mampu menandinginya, akan tetapi, untuk membela Beng-kauw yang terang-terangan hendak dikacau Liu Lu Sian, ia menjadi nekat.
Apalagi kalau diingat bahwa suhengnya, Liu Mo bersikap mengalah terhadap Liu Lu Sian.
Hanya dia seorang yang dapat mencegah Lu Sian merampas kedudukan Beng-kauwcu, karena kalau ia biarkan dan suhengnya memberikan kedudukan itu kepada Liu Lu Sian, tentu Beng-kauw akan dibawa masuk jurang kehancuran.
Keponakannya ini seperti orang yang tidak waras otaknya, yang sakit jiwanya.
Setelah saling serang dengan hebat sampai puluhan jurus lamanya, tiba-tiba terdengar lengking tinggi dari mulut Liu Lu Sian, disusul gerengan marah Kauw Bian Cinjin.
Mereka secara tiba-tiba tidak bergerak lagi dan ketika semua mata yang tadi menjadi kabur dan silau oleh gerakan-gerakan cepat memandang, ternyata cambuk di tangan Kauw Bian Cinjin sudah saling libat sampai menjadi seperti benang ruwet dengan rambut Liu Lu Sian.
Hebatnya, tidak hanya cambuk itu yang terlibat, melainkan juga lengan kanan, pundak dan leher kakek Bengkauw itu.
(Lanjut ke
Jilid 19) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 19
"Kauw Bian Cinjin, mengingat hubungan perguruan, aku ampunkan kau asal kau mau menyerah dan menjadi pembantuku"
Terdengar suara Liu Lu Sian, ramah dan halus.
"Liu Lu Sian, kau sadarlah dan jangan lanjutkan niatmu mengacau Beng-kauw, dan kau menjadi murid keponakanku yang baik dan akan menerima berkah dan doaku.."
Jawab Kauw Bian Cinjin, suaranya tetap lantang berwibawa.
"Tua bangka keras kepala. Dibunuh sayang, tidak dibunuh menjengkelkan. Kau perlu dihajar.."
Tiba-tiba tubuh Kauw Bian Cinjin terangkat naik dan di lain saat tubuhnya telah terbanting ke atas tanah setelah Liu Lu Sian menggerakkan tangan kanannya.
Kakek itu terbanting dan pingsan, pipi kanannya terdapat tanda tapak tangan merah.
"Liu Lu Sian, tak perlu kau berlaku kejam terhadap keluarga Beng-kauw sendiri"
Tiba-tiba terdengar Liu Mo berkata sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Hemmm, Paman Liu Mo, apakah kau juga hendak menghalangi aku? Ingat, karena kau yang merampas kedudukan Kauwcu, aku tidak akan berlaku lunak seperti terhadap Kauw Bian Cinjin kepadamu"
Wajah Liu Mo tetap terang dan bibirnya tersenyum.
"Keponakanku, aku sama sekali tidak hendak menghalangimu dan aku sama sekali tidak merampas kedudukan Kauwcu, karena sesungguhnya ayahmu sendiri yang memberikan kepadaku. Oleh karena ayahmu yang menyerahkan kedudukan Kauwcu, kalau kau hendak memintanya, kau harus minta ijin ayahmu lebih dulu"
Berkata demikian, Liu Mo menoleh ke arah peti mati Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
"Kalau aku sudah minta ijin kepada ayah, kau suka menyerahkan kedudukan Kauwcu kepadaku?"
"Tentu saja, kalau Suheng mengijinkan"
Ucapan ini tentu saja membikin semua orang yang hadir menjadi tercengang.
Mana bisa orang mati memberi ijin?
Akan tetapi Liu Lu Sian segera menghampiri peti mati ayahnya, lalu membungkuk sebagai penghormatan.
Hal ini saja sudah membuat para tokoh yang hadir di situ mengerutkan kening.
Penghormatan terhadap orang tua merupakan hal yang amat penting, karena hal ini menjadi tanda akan kebaktian seseorang dan karenanya menjadi dasar untuk mengetahui watak seseorang.
Liu Lu Sian tidak berlutut, hanya menjura, hal ini tentu saja tidak sepatutnya dan dapat dinilai betapa kasar dan berandalan watak wanita itu.
"Ayah, aku minta ijin padamu untuk menggantikan kedudukan kauwcu dari agama kita Beng-kauw, dan puteraku menjadi kaisar di Nan-cao"
Suara ini lantang dan terdengar semua orang yang hadir.
Suasana menjadi sunyi sekali setelah Liu Lu Sian mengucapkan permintaannya ini.
Tak seorang pun berani mengeluarkan suara, bahkan banyak yang menahan napas untuk menyaksikan apa selanjutnya yang akan terjadi.
Apakah Beng-kauw yang sudah demikian tersohor itu akan berganti kauwcu (kepala agama) secara demikian sederhana dan juga kasar?
Apakah Kaisar Nan-cao akan "dicopot"
Dan diganti begitu saja di depan banyak tamu dari seluruh pelosok dunia?
Apakah Nan-cao dan Beng-kauw akan diserahkan kepada seorang wanita berwatak iblis seperti Tok-siauw-kui yang kini lebih patut disebut Tok-kui-bo (Biang Iblis Beracun) itu?
Kalau hal ini terjadi, akan gegerlah dunia, karena tadi wanita itu sudah berjanji akan memerangi dan menundukkan semua kerajaan.
Dan dengan ilmu kepandaiannya yang demikian hebatnya, hal itu benar-benar merupakan bahaya besar.
Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara ledakan keras dan semua orang menjadi pucat, mulut ternganga dan mata terbelalak memandang ke arah peti mati yang mendadak meledak keras itu.
Tutup peti mati pecah berantakan dan..
sesosok tubuh yang tinggi besar bangkit dari dalam peti mati, langsung berdiri tegak.
Tubuh tinggi besar berpakaian serba putih, bermuka pucat tapi tetap dapat dikenal sebagai muka Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
Mata yang terbelalak lebar hampir keluar dari pelupuknya itu seperti bukan mata manusia, dan suaranya terdengar berkumandang seperti suara dari dunia lain ketika mulutnya yang tertarik keras itu bergerak.
"Tiga tahun aku menanti datangnya saat ini.. Lu Sian.. aku dapat menduga akan hal ini setelah kau mencuri Sam-po-cin-keng (Kitab Tiga Pusaka) dan minggat.. hanya aku yang dapat menahanmu. Mari kau ikut aku meninggalkan dunia yang banyak penderitaan ini.."
Sejenak Liu Lu Sian terhenyak kaget, mundur dua langkah dan mukanya berubah pucat.
Akan tetapi beberapa detik kemudian ia agaknya dapat menahan gelora hatinya yang terkejut, karena ia melangkah maju lagi tiga langkah dengan gerakan tenang.
Kemudian suaranya terdengar lantang, juga mengandung kumandang seperti terdengar dari dunia lain karena ia juga mempergunakan ilmu mujijat Coam-im-i-hun-to seperti yang dipergunakan ayahnya tadi.
"Tidak, Ayah. Aku masih ingin hidup, ingin menguasai dunia, ingin memperkembangkan Beng-kauw sehingga seluruh manusia di permukaan bumi ini menjadi penganut Beng-kauw semua"
"Bodoh"
Agama yang dipaksakan dengan kekerasan akan hancur sendiri karena para penganutnya akan menjadi penganut palsu. Mari, ikut dengan aku"
"Ayah, kenapa kau tidak mati sendiri? Aku tidak mau ikut"
Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang disangka telah mati selama tiga tahun lebih itu tertawa, suara ketawanya bergelombang dan kumandangnya datang susul menyusul.
Lebih separoh jumlah tamu jatuh bergulingan, tidak kuat menahan getaran suara ketawa bergelombang ini yang seakan-akan membetot semangat mereka sehingga mereka roboh pingsan.
Hanya tokoh-tokoh besar saja yang sanggup menahan sehingga tidak roboh terguling, akan tetapi mereka tetap saja harus mengerahkan sin-kang dan tergoyang-goyang di atas tempat duduk masing-masing.
"Kau hendak memaksa, Ayah? Aku melawan"
Bentak Liu Lu Sian dan tubuhnya bergerak ke depan, melancarkan pukulan dengan kedua tangannya, dibantu rambut kepalanya.
Karena maklum bahwa di dunia ini agaknya hanya ayahnya yang merupakan lawan terberat, maka sekaligus Liu Lu Sian mengeluarkan seluruh tenaganya untuk merobohkan ayahnya yang disangkanya telah mati itu.
Pat-jiu Sin-ong Liu Gan masih tertawa keras ketika ia mengulur kedua tangannya ke depan.
Dua pasang tangan bertemu di udara, sepasang mata Liu Gan makin melotot keluar dan ia tampak kaget sekali, mulutnya mengeluarkan suara "Uhhhhh"
Dan darah segar tersembur keluar dari mulutnya.
Akan tetapi dari mulut Liu Lu Sian keluar jerit mengerikan, lalu terdengar suara gaduh ketika tubuh dua orang itu roboh menabrak dan menggulingkan peti mati berikut meja sembahyang.
Keduanya roboh miring dengan sepasang tangan masih saling menempel, akan tetapi ketika Beng-kauw Liu Mo dan yang lain-lain mendekati, mereka mendapat kenyataan bahwa kedua orang ayah dan anak ini telah putus napasnya.
Pat-jiu Sin-ong Liu Gan telah memenuhi kehendaknya, yaitu mengajak puterinya bersama-sama meninggalkan dunia.
Sebetulnya hanya Liu Mo seorang yang tahu bahwa suhengnya itu tiga tahun yang lalu belum mati, melainkan minta supaya dimasukkan peti dan dianggap mati karena sesungguhnya suhengnya itu bermaksud menyembunyikan diri dan bertapa, menanti munculnya Liu Lu Sian karena kakek ini sudah dapat membayangkan bahwa puterinya yang binal itu setelah berhasil mencuri Sam-po-cin-keng, di kemudian hari pasti akan menggegerkan dunia Suling Emas sudah berlutut di dekat jenazah ibunya, wajahnya muram dan sedih, akan tetapi hatinya lega karena ia pikir lebih baik begini daripada melihat ibunya hidup membuat kekacauan di dunia.
Liu Hwee juga berlutut di situ dan menangis.
Tubuh Kauw Bian Cinjin yang terluka hebat, akan tetapi tidak membahayakan nyawanya, telah diangkut ke dalam untuk dirawat.
Para anggauta Beng-kauw nampak berkabung dan berduka, juga masih tegang oleh peristiwa hebat tadi.
Tak seorang pun di antara mereka berani bersuara.
Beng-kauwcu Liu Mo lalu berdiri dan menghadapi para tamunya yang masih tegang, apalagi mereka yang tadi pingsan dan sudah siuman kembali.
"Cu-wi sekalian yang terhormat. Harap Cu-wi maafkan akan segala peristiwa yang tidak kami sengaja ini. Cu-wi maklum bahwa peristiwa ini adalah urusan pribadi Beng-kauw, maka kami harap Cu-wi sekalian sudi memaklumi dan tidak salah faham. Agar ucapan keponakan kami tadi tidak dianggap sebagai sikap Beng-kauw, kami sebagai ketua Beng-kauw di sini menyatakan dengan tegas bahwa Beng-kauw tidak bermaksud memaksa orang menjadi pemeluknya, dan bahwa Nan-cao sama sekali tidak bermaksud untuk mengganggu negara tetangga, akan tetapi kami pun pantang diganggu. Kemudian, mengingat akan keadaan yang menimpa kami, maka kami persilakan Cu-wi sekalian kembali ke tempat masing-masing, diikuti ucapan selamat jalan dan terima kasih serta maaf bahwa kami tidak sempat mengantar."
Maka bubarlah para tamu.
Setelah mereka memberi hormat, berduyun-duyun mereka keluar dari Kota Raja Nan-cao.
Di sepanjang jalan mereka itu ramai membicarakan peristiwa mengerikan yang terjadi di Nan-cao dan mereka merasa puas bahwa mereka mendapat kesempatan menyaksikan hal-hal luar biasa, ketegangan yang mengerikan dan pertempuran-pertempuran tingkat tinggi yang tak mungkin mereka saksikan lagi.
Suling Emas ikut membantu pemakaman ibu dan kakeknya, juga penguburan Cui-beng-kui.
Kemudian ia berlutut di depan Beng-kauwcu Liu Mo dan berkata dengan suara sedih.
"Saya mintakan maaf atas sepak terjang mendiang Ibu yang telah mengacau Beng-kauw."
Liu Mo menarik napas panjang dan mengulur tangan mengelus kepala Suling Emas.
"Tidak apa, anak baik. Memang Ibumu sejak dahulu begitu, keras hati dan aneh wataknya. Untung bahwa kau agaknya mewarisi watak Ayahmu. Mendiang Ayahmu, Jenderal Kam Si Ek adalah seorang laki-laki sejati, seorang pendekar perkasa yang mengagumkan. Karena itu pula, melihat gelagat adikmu Bu Sin dan anakku Hwee-ji, aku akan merasa bahagia sekali kalau mereka dapat terangkap jodoh. Aku serahkan urusan ini kepadamu."
"Baiklah. Dan sebagai penebus dosa Ibu, saya akan menyusul Hek-giam-lo ke Khitan untuk minta kembali tongkat Beng-kauw yang dirampasnya."
Setelah berpamit, Suling Emas mengajak kedua orang adiknya, Bu Sin den Sian Eng, pergi dari Nan-cao untuk mencari dan menolong Lin Lin, sekalian untuk merampas kembali tongkat Beng-kauw dan untuk mewakili Ibunya menghadapi lima orang Thian-te Liok-koai di puncak Thai-san.
Perpisahan yang sederhana, akan tetapi mendatangkan kedukaan den kesepian di hati Bu Sin dan Liu Hwee.
Hanya pandang mata mereka saja saling menyatakan perasaan hati yang mewakili seribu bahasa.
Terpisahnya dua hati yang saling mencinta.
Mari kita ikuti pengalaman Lin Lin yang sudah lama kita tinggalkan.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, sekeluarnya dari terowongan rahasia dan melihat Cui-beng-kui, Lin Lin lupa akan segalanya saking marahnya melihat pembunuh ayah bunda angkatnya.
Maka ia lalu menerjang dan menyerang Cui-beng-kui, malah dibentu oleh Bu Sin dan Sian Eng.
Akan tetapi tentu saja mereka bukan lawan Cui-beng-kui yang sakti, dan sebagaimana telah kita ketahui, Lin Lin kemudian ditolong oleh orang-orang Khitan yang secara aneh sekali berhasil membawa pergi Lin Lin berikut pedangnya dan mayat orang-orang Khitan yang tewas di situ.
Kiranya orang-orang Khitan itu melakukan gerakan ilmu barisan yang mereka sebut "mengancau atau mengail ikan", berhasil membikin bingung orang-orang yang berada di situ dan dalam kehebohan itu dapat membawa pergi Lin Lin.
Memang, orang-orang Khitan ini yang semenjak dahulu merupakan bangsa perantau, pandai sekali berperang gerilya sehingga hanya dua belas orang saja telah berhasil "mencuri"
Lin Lin dari depan banyak orang.
Lin Lin sendiri yang ketika itu hampir celaka di tangan Cui-beng-kui kalau saja secara sembunyi tidak ditolong oleh Suling Emas, hanya melihat orang-orang Khitan itu berlari-lari di sekelilingnya, membuatnya pening dan entah begaimana, akhirnya ia ikut berlari-lari dan tahu-tahu ia sudah berlari jauh meninggalkan Nan-cao, tapi selalu berada di dalam kurungan orang-orang Khitan.
Setelah menjelang senja dan rombongan orang Khitan itu yang tiada henti-hentinya berlari tiba jauh di daerah perbatasan kota raja mereka berhenti.
Lin Lin terengah-engah dan barulah gadis ini sadar sepenuhnya bahwa ia tadi ikut berlari-lari bersama rombongan itu keluar dari kota raja.
"He, kalian ini membawaku ke mana? Antarkan aku kembali ke Kota Raja Nan-cao. Aku harus bunuh Cui-beng-kui iblis jahat itu"
Seorang di antara dua belas perajurit Khitan itu, yang paling tua, menjura dengan hormat di depan Lin Lin lalu berkata.
"Tuan puteri, susah payah hamba berhasil menyelamatkan Paduka daripada bahaya maut. Hamba hanya melakukan perintah. Kalau Paduka kembali ke sana, berarti hanya akan mengorbankan nyawa secara sia-sia."
"Huh, tidak gampang Cui-beng-kui dapat membunuhku. Suling Emas takkan membiarkan dia membunuhku. Tadi pun Suling Emas membantuku. Hayo antar aku kembali ke sana"
"Tuan puteri, hamba sekalian tidak berani. Hamba yang membantu mendiang Pak-sin-tung-lociangkun, selain kehilangan beliau, juga kehilangan dua belas orang saudara. Hamba semua hanya melaksanakan perintah Hek-lo-ciangkun, sebaiknya Paduka bicara dengan beliau.."
"Siapa Hek-lo-ciangkun (Panglima Tua Hitam)?"
Tanya Lin Lin.
"Paduka sendiri yang memerintahkan beliau merampas tongkat.."
"Ohhh, kau maksudkan Hek-giam-lo? Mana dia sekarang? Dia harus membantuku membunuh Cui-beng-kui"
Mana dia? Suruh dia ke sini"
Dengan sikap yang agung seakan-akan memang semenjak kecil dia memerintah orang-orang Khitan, Lin Lin membentak-bentak mereka.
"Hek-lo-ciangkun sudah lama menanti Paduka, Tuan Puteri. Marilah, tidak jauh lagi. Setelah bertemu dengan Hek-lo-ciangkun, Paduka dapat berunding dengannya."
Lin Lin menganggap omongan ini tepat.
"Baik, hayo kita berangkat menemui Hek-giam-lo"
Maka berangkatiah mereka, sekarang tidak berlarian seperti tadi lagi, melainkan berjalan kaki.
Lin Lin di depan bersama pemimpin rombongan, diiringkan oleh yang lain dari belakang.
Rombongan itu berjalan dengan langkah tegap, wajah mereka berseri, sama sekali tidak kelihatan berduka walaupun baru saja kehilangan seorang panglima dan dua belas orang kawan.
Semangat mereka tinggi dan dalam melangkahkan kaki secara berirama mereka lalu bernyanyi dengan suara lantang dan gagah.
Mula-mula Lin Lin merasa betapa lucu kelakuan mereka ini, akan tetapi lambat laun ia merasa tertarik sekali dan kagum.
Agaknya panggilan darahnya membuat ia merasa dekat dengan orang-orang ini, malah sebentar kemudian ia ikut pula mengatur langkah membarengi mereka dan karena lagu itu pendek dan diulang-ulang, beberapa menit kemudian Lin Lin ikut pula bernyanyi bersama mereka.
Kata-katanya asing baginya, namun, dasar ia cerdas, sebentar saja ia hafal tanpa dapat mengerti maksud kata-katarnya.
Ikut sertanya Lin Lin dalam barisan ini sambil bernyanyi menambah semangat orang-orang Khitan itu dan suara nyanyian mereka makin keras dan makin bersemangat.
Tak lama kemudian sampailah mereka di tepi sebuah sungai.
Inilah Sungai Kan-kiang, sungai yang mengalir menuju ke utara dan menjadi anak sungai atau cabang dari sungai besar Yang-ce-kiang.
Pemimpin rombongan mengeluarkan sebuah tanduk, agaknya tanduk rusa yang besar.
Ketika ia meniup tanduk itu terdengar bunyi suara yang aneh, seperti suara binatang tidak keras akan tetapi suara itu membawa getaran yang kuat.
Sepuluh menit kemudian, terdengarlah lengking seperti suling dan tampaklah sebuah perahu besar meluncur datang.
Di kepala perahu berdiri sesosok tubuh yang berselubung pakaian hitam dengan muka tertutup kedok tengkorak.
Hek-giam-lo"
Sebentar kemudian perahu itu minggir dan Lin Lin meloncat ke atas perahu, diikuti oleh dua belas orang pengikutnya.
Perahu itu diikatkan pada sebatang pohon.
Setelah berada di atas perahu, dua belas orang itu sibuk bekerja, dan agaknya mereka sudah biasa dengan pekerjaan di perahu.
Kini anak buah perahu yang tadinya hanya tiga orang, menjadi lima belas orang.
Lin Lin cepat menghampiri Hek-giam-lo.
"Bagaimana Hek-giam-lo? Apakah perintahku sudah kau lakukan? Mana tongkat Beng-kauw itu?"
Berkata Lin Lin dengan sikap memerintah. Hek-giam-lo membungkuk sedikit, lalu terdengar suaranya dari balik kedok tengkorak.
"Berkat bintang Paduka yang terang, tongkat Beng-kauw sudah berhasil hamba rampas, sekarang berada di dalam bilik perahu. Harap Paduka sudi masuk bilik dan beristirahat, sebentar lagi kita berangkat."
"Berangkat?"
Lin Lin terkejut.
"Ke mana?"
"Ke mana lagi kalau bukan ke Khitan? Kita pulang, Tuan Puteri."
"Tidak. Aku perintahkan, tidak pulang ke Khitan sekarang. Hek-giam-lo, kau harus membantuku, kembali ke Nan-cao untuk menghadapi Cui-beng-kui"
Sejenak tengkorak hitam itu diam saja, bergerak pun tidak, seakan-akan ia termenung.
Sukar untuk mengatakan bagaimana perasaannya di saat itu karena wajahnya yang aseli tidak nampak.
Akan tetapi setelah ia bicara, ternyata bahwa ia menahan kemarahannya.
"Tuan Puteri Yalina, sudah banyak kita kehilangan orang, bahkan sute Pak-sin-tung sampai tewas, semua gara-gara permintaan Paduka yang bukan-bukan. Sekarang hamba tidak dapat memenuhi permintaan Paduka lagi, kita harus berangkat kembali ke Khitan di mana Sri Baginda sudah menanti-nanti kedatangan Paduka."
"Tidak. Kau harus monurut perintahku, Hek-giam-lo"
Si Tengkorak Hitam menggeleng-geleng kepalanya dan mendengus tak acuh.
"Kau lihat apa ini? Kau harus tunduk kepadaku"
Lin Lin mencabut keluar Pedang Besi Kuning dan menodongkannya ke arah Hek-giam-lo.
Melihat ini, para anak buah perahu serta-merta menjatuhkan diri berlutut.
Akan tetapi Hek-giam-lo mendengus aneh dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah menyergap maju dan tiba-tiba Lin Lin merasa tubuhnya menjadi kaku dan pedang itu telah terampas oleh Hek-giam-lo.
Tengkorak Hitam itu mengeluarkan suara perintah dalam bahasa Khitan dan lima orang yang berlutut di belakang Lin Lin, tiba-tiba melompat dan menerkam gadis itu, menelikung kedua lengannya ke belakang dan mengikatnya dengan sehelai sabuk sutera yang kuat.
Di lain saat, ketika mereka melepaskan Lin Lin, gadis itu sudah terbelenggu kedua tangannya di belakang tubuh.
Lin Lin terkejut, sama sekali tidak mengira bahwa orang-orang itu, termasuk Hek-giam-lo akan berani melawannya.
Akan tetapi ia tidak takut, malah ia lalu memaki-maki.
"Keparat kau, Hek-giam-lo. Awas kau, sesampainya di Khitan, akan kuberi tahu kepada Sri Baginda tentang perlakukanmu yang kurang ajar agar kau mendapat hukuman penggal leher"
Hek-giam-lo mendengus, kemudian memberi perintah dalam bahasa Khitan.
Agaknya ia menyuruh pergi para anak buahnya karena mereka itu seorang demi seorang lalu menghilang ke dalam dan ke balik bilik perahu.
Kemudian Hek-giam-lo menghadapi Lin Lin yang berdiri dengan tegak walaupun kedua tangannya terbelenggu.
"Yalina, ucapanmu ini mengingatkan aku akan Ibumu. Dahulu Ibumu juga hendak memenggal leherku, malah ia telah menyiram mukaku dengan racun. Kau tahu aku siapa? Nah, tengoklah baik-baik"
Cepat sekali Hek-giam-lo merenggut kedoknya dan..
Lin Lin menjadi pucat, memandang terbelalak pada wajah seorang laki-laki yang bentuknya tampan gagah, akan tetapi wajah itu mengerikan karena..
tidak berkulit lagi.
Daging muka itu, atau lebih tepat tulang-tulangnya terbungkus kulit tipis licin, hidung dan bibirnya yang masih bagus bentuknya itu pun menjadi mengerikan dengan kulit tipis berkerut dan putih seakan-akan tidak berdarah.
Matanya tidak berbulu lagi, alisnya pun hilang, kepalanya tidak berambut.
Benar-benar wajah yang mengerikan, jauh lebih mengerikan daripada wajah Cui-beng-kui.
"Kau.. kau siapa..?"
Dengan suara lirih dan penuh kengerian Lin Lin bertanya.
Secepat tadi ketika merenggutkan kedoknya, Hek-giam-lo sudah memasangnya kembali.
Kedok tengkorak itu agaknya tidak mengerikan lagi, dibandingkan dengan muka yang bersembunyi di balik kedok.
"Hemmm, kau telah melihat wajahku? Wajah yang dahulunya tampan gagah, karena aku berdosa mencinta Ibumu, aku mendapat perlakuan begini kejam. Ibumu menolak aku, kakaknya sendiri seayah lain ibu, dan dia memilih seorang perajurit biasa menjadi suaminya, yaitu Ayahmu"
Hek-giam-lo diam sejenak, agaknya menahan kemarahannya.
Lin Lin teringat akan cerita Kim-lun Seng-jin tentang Puteri Mahkota Khitan yang bernama Tayami, yang menurut Kim-lun Seng-jin adalah ibunya.
Teringat ia betapa kakek itu bercerita bahwa Puteri Tayami bersama suaminya, seorang perajurit gagah perkasa dan pilihan, gugur dalam perang melawan musuh karena ada saudara-saudara ibunya yang berkhianat.
Mengingat ini, serta-merta naik darah panas ke kepalanya dan mulutnya menyerang dengan ejekan.
"Jadi kaukah orangnya yang berkhianat, bersekutu dengan Kerajaan Sung sehingga bengsaku dipukul hancur di Shan-si, dan ibu serta ayahku gugur?"
Enak saja mulut Lin Lin menyebut "bangsaku"
Dan "ayah ibuku", karena memang ia sudah tidak ragu-ragu lagi.
Inilah musuh besarnya yang sesungguhnya, orang yang menjadi biang keladi kematian ayah bundanya yang gugur sebagai pejuang bangsa yang gagah perkasa.
"Heh-heh, kau pandai menduga, ya? Memang betul begitulah. Akan tetapi pembalasanku ini tidak berlebihan, kau sudah melihat mukaku yang disiram air beracun oleh Ibumu."
"Aku tidak percaya. Aku tidak percaya Ibu seganas itu. Kecuali kalau kau melakukan hal yang jahat, untuk membela diri mungkin Ibu terpaksa harus menggunakan racun."
"Hemmm, kau memang pandai menduga, agaknya arwah Ibumu yang berbisik di dalam hatimu. Aku tidak bersalah, dosaku tidak berarti. Ibumu cantik jelita, seperti engkau begini, dan aku dahulu seorang pria yang tampan dan muda, penuh semangat dan nafsu. Aku hanya memasuki kamar Ibumu, hendak mencumbu rayu, sudah sewajarnya antara pria dan wanita. Tapi dia.. dia.. ah, semenjak itu aku benci kepadanya"
Lin Lin dapat membayangkan semua itu, biarpun ia tidak mendapat cerita yang jelas, namun ia dapat menduga apa yang telah terjadi pada masa sebelum ia terlahir di dunia itu (baca ceritaSuling Emas).
"Hek-giam-lo, kalau begitu sikapmu tunduk kepadaku hanya pura-pura. Kau menawanku mau apa?"
Secara tidak terduga, Hek-giam-lo kembali menjura dengan penuh penghormatan.
"Ih, tak perlu membadut dan berpura-pura lagi"
Bentak Lin Lin.
"Tuan Puteri Yalina, hamba tidak berpura-pura. Hamba Hek-giam-lo hanya mentaati perintah Sri Baginda atau kakak hamba sendiri. Paduka harus hamba bawa ke Khitan dan di sana Paduka akan dikaruniai anugerah sebagai permaisuri menjadi ratu di sisi Sri Baginda kakak hamba."
"Apa..?"
Lin Lin menjerit.
"Kalau dia itu kakakmu, dan kau kakak seayah ibuku, berarti kau dan dia itu masih pamanku. Dia paman tua, dia uwakku, masa dia hendak memperisteriku? Gila kau"
"Heh-heh, tidak ada yang gila, Tuan Puteri. Jamak laki-laki beristerikan wanita, muda lagi cantik. Ibu Paduka memang seayah dengan hamba dan Sri Baginda, akan tetapi berlainan ibu, jadi di antara kita sudah bukan apa-apa. Paduka akan menjadi ratu di Khitan, menjadi junjungan di samping Sri Baginda, karena itulah hamba juga menjadi hamba Paduka. Hanya karena Paduka tidak mau suka rela pergi ke Khitan, terpaksa hamba membelenggu Paduka."
"Gila.., Kau dan semua orang Khitan yang gila ataukah aku yang berubah gila? Raja Khitan, kakakmu itu selamanya belum pernah melihat aku, kenapa dia bersikeras hendak menawanku dan mengambilku sebagai permaisuri? Di dunia ini, mana ada peristiwa yang lebih gila daripada ini?"
"Paduka akan menyesal mengeluarkan caci maki seperti itu, Tuan Puteri. Kakak hamba Sri Baginda mengambil keputusan ini berdasarkan kebijaksanaan yang luar biasa. Mengingat bahwa Paduka masih keturunan langsung dari kaisar tua, dan banyak panglima tua yang mengharapkan Paduka duduk menjadi yang dipertuan di Khitan, kebijaksanaan yang paling tepat adalah mengangkat Paduka menjadi permaisuri. Sudahlah, harap Paduka sudi mengaso."
"Tidak. Aku tidak sudi, tidak mau.., Aku tidak sudi pergi ke Khitan"
Pada saat itu, sesosok bayangan hitam berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu Lie Bok Liong sudah ada di belakang Lin Lin.
Tangan kirinya berusaha merenggut putus sabuk sutera yang mengikat tangan gadis itu, sedangkan tangan kanannya menodongkan pedangnya ke dada Hek-giam-lo"
"Jangan takut, Lin-moi, aku membelamu,"
Bisik pemuda itu sambil mengerahkan tenaga tangan kirinya untuk melepaskan ikatan kedua tangan Lin Lin.
Gadis itu terkejut sekali.
Andaikata Suling Emas yang menolongnya pada saat itu, tentu ia akan merasa bahagia dan girang sekali.
Akan tetapi Lie Bok Liong?
Ia cukup mengenal sahabat ini dan tahu sampai di mana tingkat kepandaiannya.
Tidak jauh selisihnya dengan kepandaiannya sendiri.
Mana bisa menang menghadapi Hek-giam-lo yang berdiri dengan tegak dan tak bergerak itu?
Tidak saja akan sia-sia usaha pertolongan Bok Liong, malah sebaliknya selain ia sendiri tidak akan tertolong, pemuda ini malah akan menghadapi bahaya pula.
Para anak buah perahu bermunculan, akan tetapi mereka hanya berdiri tertegun, tidak berani turun tangan sebelum menerima perintah Hek-giam-lo yang tampak tenang-tenang itu.
Agaknya iblis tengkorak ini sengaja membiarkan Bok Liong melepaskan belenggu Lin Lin, buktinya ia diam saja, hanya berdiri bertolak pinggang, seakan-akan ia gentar karena ditodong pedang oleh Lie Bok Liong.
Akhirnya terlepas juga ikatan tangan Lin Lin dan pemuda itu segera menarik tubuh Lin Lin supaya berada di belakangnya, sedangkan ia sendiri memasang kuda-kuda, siap menghadapi lawan.
Sikapnya gagah sekali dan pemuda yang tegap ini sudah siap sedia mengorbankan nyawanya untuk membela gadis yang telah merampas hatinya.
Tiba-tiba Lin Lin teringat akan sesuatu dan wajahnya berseri, timbul harapan di hatinya.
Tentu, pikirnya, tentu guru pemuda ini ikut datang, kalau tidak, masa Bok Liong akan seberani ini menghadapi Hek-giam-lo?
"Liong-koko, mana gurumu?"
Bisik Lin Lin penuh harap.
Bok Liong tidak menjawab, matanya bergerak-gerak memandang Hek-giam-lo dan para anak buah Khitan yang bermunculan dan mengurungnya di atas perahu yang lebar itu.
Perahu mulai bergoyang sedikit karena pergerakan mereka.
Ia tidak dapat menjawab karena memang ia datang tidak bersama suhunya.
Pemuda ini ketika melihat Lin Lin lenyap secara aneh bersama orang-orang Khitan, merasa khawatir sekali.
Hatinya sudah terampas oleh senyum dan sinar mata Lin Lin.
Lie Bok Liong pemuda perkasa murid Gan-lopek itu telah jatuh cinta kepada Lin Lin.
Karena itu, tanpa mempedulikan lagi peristiwa yang amat aneh dan menyeramkan yang terjadi di ruangan sembahyang Beng-kauw, ia menyelinap pergi dan secepat kilat ia lari menyusul rombongan orang Khitan.
Ia terus membayangi mereka sampai mereka tiba di pinggir sungai dan melihat kekasih hatinya itu dihadapkan Hek-giam-lo dan dirampas pedangnya lalu diikat tangannya, Lie Bok Liong lupa segala, menjadi nekat dan cepat ia bertindak untuk menolong Lin Lin.
Tentu saja ia cukup maklum betapa lihainya Hek-giam-lo, akan tetapi untuk membela Lin Lin yang dipuja di dalam hatinya, jangankan hanya menghadapi seorang Hek-giam-lo, biar di situ ada sepuluh orang Hek-giam-lo sekalipun, ia tidak akan mundur selangkah dan siap mengorbankan nyawanya untuk membela Lin Lin.
Melihat cara Bok Liong menodongkan pedang dengan tubuh agak bergoyang-goyang, Hek-giam-lo mengeluarkan suara mendengus.
"Huh, orang muda, mana gurumu Gan-lopek si badut gila itu? Suruh dia yang keluar menghadapi aku"
Diam-diam Bok Liong terkejut.
Dengan melihat cara ia memasang kuda-kuda saja iblis ini sudah mengenal ilmu silatnya, terang bahwa sekarang ia bertemu lawan yang seimbang gurunya.
Akan tetapi ia tidak gentar dan tidak menjawab ucapan Hek-giam-lo, melainkan menjawab pertanyaan Lin Lin tadi.
"Lin-moi, jangan takut. Untuk menolongmu dari para iblis ini, tidak usah Suhu yang maju, cukup dengan aku saja."
Kemudian ia menghadap Hek-giam-lo dan berkata lantang.
"Hek-giam-lo, kau seorang Locianpwe yang berilmu tinggi. Tidak seharusnya kau memaksa Nona ini yang tidak mau ikut ke Khitan. Harap kau orang tua suka memandang muka Suhuku dan membebaskannya, biarkan dia pergi bersamaku ke mana ia suka. Kelak kalau aku atau Suhu lewat Khitan, tentu tidak lupa singgah untuk menyampaikan terima kasih dan hormat."
Ucapan Bok Liong ini adalah ucapan gagah seorang tokoh kang-ouw terhadap tokoh kang-ouw lain, dan biasanya orang-orang kang-ouw tunduk akan "sopan sentun"
Kang-ouw seperti ini.
"Bocah gila, melihat muka tolol gurumu, aku mau ampunkan kau. Hayo lekas kau minggat dari sini dan jangan mengganggu urusan kami. Tuan Puteri Yalina akan ikut bersama kami, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Pergi"
Berbareng dengan ucapan ini, Hek-giam-lo menggerakkan lengan bajunya yang berubah menjadi sinar hitam menyambar ke arah dada Lie Bok Liong.
Tenaga sakti yang dahsyat merupakan angin yang kuat sekaii menyambar ke depan.
Bok Liong sudah siap sedia, cepat ia lompat menghindar ke samping tubuhnya bergoyang-goyang, pinggulnya megal-megol akan tetapi tahu-tahu pedangnya sudah menyelinap di antara sambaran angin, mengirim tusukan balasan ke arah jambung si iblis tengkorak.
Diam-diam Hek-giam-lo kaget dan kagum.
Seorang muda yang dapat menghindarkan serangannya dan seketika dapat balas menyerang, jarang sekali terdapat di dunia kang-ouw.
Maklumlah ia bahwa pemuda murid Gan-lopek ini sudah lumayan kepandaiannya.
Tentu saja dengan mudah ia dapat menangkis tusukan pedang itu dengan kibasan lengan bajunya.
Ketika pedangnya terkena kibasan ujung lengan baju, hampir saja pedang itu terlepas dari tangannya.
Bok Liong kaget bukan main, namun ia tetap melanjutkan serangannya, kini pedangnya membuat tiga lingkaran lebar yang makin lama makin sempit lalu menjurus ke arah dada lawan.
Hebat serangan ini, dan kuat sekali.
Namun dengan mudah pula Hek-giam-lo menghindar, lalu dari samping pukulan jarak jauh dengan ujung lengan baju membuat Bok Liong terhuyung-huyung, hampir menabrak seorang anak buah Khitan.
Anehnya, orang Khitan ini sama sekali tidak bergerak atau menyerang, dan ini merupakan bukti betapa teguh mereka memegang disiplin.
Tanpa perintah kepala mereka, orang-orang Khitan ini tidak berani sembarangan bergerak.
Dan mereka memang betul, karena andaikata ada yang bergerak, hal itu berarti membantu Hek-giam-lo tanpa diperintah dan ini berarti pula menghina tokoh besar itu yang mungkin hukumannya adalah maut.
Lin Lin yang melihat perlawanan gigih dari Bok Liong terhadap Hek-giam-lo, menjadi kagum.
Tiba-tiba ia lari menerobos memasuki bilik perahu.
Juga orang-orang Khitan mendiamkannya saja, apalagi gadis itu adalah "tuan puteri"
Bagi mereka, tanpa ada perintah Hek-giam-lo mereka tidak akan berani mengganggunya sedikit pun juga.
Tak lama kemudian Lin Lin sudah berlari keluar lagi, di tangannya memegang tongkat Beng-kauw yang kepalanya dihias permata ya-beng-cu.
Kiranya gadis ini memasuki bilik untuk mencari senjata karena pedangnya sudah terampas oleh Hek-giam-lo.
Setelah tiba di luar, ia melihat Bok Liong terkurung sinar hitam yang dibuat oleh lengan baju Hek-giam-lo, maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu menggerakkan tongkat Beng-kauw mengemplang dari belakang ke arah kepala Hek-giam-lo.
"Werrrrr"
Tongkat itu lewat dekat kepala ketika Hek-giam-lo menghindar, kemudian sekali lompat iblis tengkorak ini sudah tiba dekat Bok Liong.
Lengan baju kiri digerakkan melibat pedang Bok Liong, tangan kanan mengirim pukulan dari atas ke bawah yang kalau mengenai kepala Bok Liong tentu akan pecah seketika.
"Hayaaaaa.."
Bok Liong menjatuhkan diri ke belakang dan bergulingan, pukulan itu menyambar lewat dan "brakkk"
Papan perahu terkena pukulan tangan Hek-giam-lo menjadi amblong berlubang besar.
Biarpun Bok Liong sudah terhindar daripada bahaya maut, namun pedangnya, pedang pusaka Goat-kong-kiam, kini sudah terampas dan berada di tangan si iblis tengkorak.
Hek-giam-lo mengeluarkan suara seperti orang tertawa, tangan kanannya bergerak dan pedang rampasan meluncur ke belakang menangkis tongkat Beng-kauw yang sudah menyambarnya lagi.
"Traaanggggg"
Biarpun pedang itu disambitkan untuk menangkis, namun tenaga sambitannya membuat Lin Lin mengaduh karena telapak tangannya terasa panas dan perih, baiknya tongkatnya tidak terlepas.
Pedang itu terbentur dan meluncur seperti anak panah ke arah kaki Bok Liong.
Pemuda ini cepat melompat menghindar agar jangan sampai kakinya terbabat pedangnya sendiri.
"Cappp"
Pedang Goat-kong-kiam menancap sampai setengah lebih di atas papan perahu.
"Bocah gila, lekas minggat. Sekali lagi aku tidak memberi ampun"
Kata Hek-giam-lo sambil menggerakkan tangan kiri menyambut tongkat yang kembali telah dipukulkan oleh Lin Lin ke arah kepalanya.
Kali ini Hek-giam-lo menerima tongkat itu, menarik lalu mendorong kuat sekali.
Lin Lin menjerit dan tubuhnya terlempar..
keluar perahu.
"Byurrrrr.."
Tubuhnya menimpa air yang muncrat tinggi.
"Tolong.. auppp.."
Lin Lin kaget sekali karena tubuhnya kaku, kaki tangannya lumpuh tak dapat digerakkan untuk berenang, maka dengan panik ia minta tolong.
Sesosok bayangan melompat ke air.
Dia adalah Bok Liong yang cepat menyelam dan menyambar tubuh Lin Lin yang sudah tenggelam itu, kemudian memeluknya dan membawanya berenang ke pinggir perahu.
Tongkat Beng-kauw masih berada di tangan gadis itu yang tidak mau melepaskannya.
Dengan agak sukar Bok Liong menyambar pinggiran perahu, lalu menaikkan tubuh Lin Lin, yang masih kaku karena tadi terkena totokan lihai Hek-giam-lo.
Ia sendiri meloncat ke atas perahu dan kembali mencabut pedangnya.
"Hek-giam-lo, kau bukan lawanku. Sekali lagi, memandang muka Suhu, harap kau suka membebaskan Lin-moi dan aku. Kalau kau mau berkelahi, lawanlah Suhu, baru sebanding. Akan tetapi kalau kau tidak mau membebaskan Lin-moi, terpaksa aku mengadu nyawa denganmu"
"Heh, bocah edan. Nona ini adalah Tuan Puteri kami, dia adalah calon Permaisuri Khitan. Kau ini bocah gila berani jatuh hati kepadanya?"
Marahlah Bok Liong.
Ia melompat maju dengan serangan pedangnya.
Kali ini Hek-giam-lo melibat ujung pedang lawan dengan lengan bajunya, menggerakkan ke bawah dan..
tubuh Bok Liong terbanting ke atas papan perahu.
Setika tubuh Bok Liong amblas sampai sepinggang karena kebetulan sekali ia terbanting pada papan yang telah bolong terkena pukulan Hek-giam-lo tadi.
Kasihan pemuda itu, ia berusaha melepaskan diri namun sia-sia karena pinggangnya terjepit sehingga ia seperti seekor tikus masuk perangkap.
Namun ia masih memaki-maki.
"Hek-giam-lo, kaubunuhlah aku, tapi bebaskan Lin-moi"
"Tidak dibunuh buat apa?"
Berkata demikian, Hek-giam-lo menghampiri tubuh Bok Liong yang masih terjepit papan perahu.
Pemuda ini biarpun sudah tidak berdaya, namun pedangnya masih berada di tangan dan ia dengan sikap menantang siap untuk melakukan serangan terakhir dengan senjatanya sebelum tewas, sedikitpun tidak terbayang rasa takut di wajahnya.
"Hek-giam-lo, jangan bunuh dia"
Tiba-tiba Lin Lin berseru keras.
Hek-giam-lo menengok ke arah gadis itu yang kini sudah berdiri dengan muka pucat.
Iblis itu mendengus, lalu menggumam.
"Tidak dibunuh buat apa? Dia kurang ajar, berani mencintai Tuan Puteri, harus dibunuh mati untuk menebus dosanya.."
Setelah berkata demikian, Hek-giam-lo melangkah lagi menghampiri Bok Liong.
"Hek-giam-lo, kalau kau membunuhnya, aku tidak sudi ikut ke Khitan"
Kembali Lin Lin berseru.
"Hamba dapat memaksa Paduka"
Karena Hek-giam-lo membacokkan pedangnya dengan sekuat tenaga.
Tubuhnya yang terjepit membuat ia tidak dapat menyerang secara baik, hanya asal membacok saja.
Hek-giam-lo mendengus dan tahu-tahu pedang itu sudah terlibat oleh ujung lengan baju sebelah kiri, sedangkan tangan kanan iblis itu sudah bergerek mencengkeram ke arah kepala Bok Liong.
Pemuda ini hanya dapat memandang dengan mata mendelik dan dengan sikap gagah menanti detangnya maut dengan mata terpentang lebar.
"Hek-giam-lo, kalau kaubunuh dia, aku akan bunuh diri"
Teriak Lin Lin yang sudah kebingungan sekali melihat Bok Liong terancam bahaya maut.
Pemuda itu datang untuk menolongnya, tak mungkin sekarang ia diam saja menyaksikan penolongnya terancam kematian yang mengerikan.
Cengkeramen ke arah kepala itu mendadak berubah dan kini yang dicengkeram adalah baju pada punggung Bok Liong.
Sekali sentak tubuh pemuda itu sudah keluar dari jepitan papan dan sekali mengayun tangan Hek-giam-lo melemparkan tubuh Bok Liong keluar dari perahu dan "byuuurrrrr.."
Untuk kedua kalinya air muncrat tinggi ketika tertimpa tubuh pemuda itu.
Hanya sebentar Bok Liong tenggelam.
Segera ia muncul lagi, terengah-engah dan menyemburkan air dari dalam mulutnya.
Pedang Goat-kong-kiam masih di tangan kanannya dan dengan mata mendelik marah ia berenang ke arah perahu sambil memaki.
"Hek-giam-lo iblis penakut anak-anak. Kalau kau tidak membebaskan Lin-moi, akan mengadu jiwa denganmu"
Melihat kenekatan pemuda yang keras kepala ini, Lin Lin bingung dan kaget sekali. Cepat ia berlari ke pinggir perahu dan berseru.
"Liong-twako, jangan ke sini lagi. Kau pergilah, sia-sia melawan dia"
"Lin-moi, tidak bisa aku meninggalkan kau tertawan iblis itu. Kalau perlu aku akan mengadu jiwa, apa artinya kematian? Hidup pun tidak akan berguna bagiku kalau kau mengalami bencana"
Penuh semangat pemuda ini menjawab.
Jawaban yang sekaligus menyatakan cinta kasihnya terhadap gadis itu.
Merah seketika wajah Lin Lin dan sejenak ia terharu.
Pemuda ini benar-benar hebat, gagah perkasa dari cinta kasihnya terhadap dirinya sudah cukup teruji.
Berkali-kali pemuda ini menolongnya dari bencana tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri.
"Jangan, Twako,"
Katanya, suaranya agak gemetar.
"Kau pergilah, aku tidak apa-apa, percayalah. Kelak kita dapat bertemu kembali. Aku minta dengan sangat, jangan kau kembali ke perahu"
Bok Liong meragu, akan tetapi mendengar suara yang gemetar itu dan melihat wajah Lin Lin yang ketakutan mengkhawatirkan keadaan dan keselamatan dirinya, diam-diam ia merasa bahagia sekali.
"Baiklah, Lin-moi, asal kau selamat, aku menurut segala kehendakmu. Tapi, aku akan selalu membayangimu. Awas mereka yang berani mengganggu, aku pasti akan menjungkir balikkan bumi langit untuk mengadu jiwa"
Setelah berkata demikian, pemuda itu berenang ke pinggir.
Setelah mendarat, barulah ia merasa betapa tubuhnya sakit-sakit semua dan ia menggigil kedinginan.
Akan tetapi melihat perahu itu meluncur maju menurutkan aliran sungai, ia pun cepat-cepat mengikuti dari tepi sungai.
Pemuda ini sudah mengambil keputusan untuk terus mengikuti jejak Lin Lin yang menjadi tawanan orang-orang Khitan.
Ia bersikeras untuk membayangi terus, biarpun ia harus berjalan sampai ke Khitan, atau kalau perlu, ia akan terus membayangi sampai ke neraka.
Dapat dibayangkan betapa sengsaranya perjalanan ini.
Yang dibayangi naik perahu, karena perahu itu menurutkan aliran air, maka tidak pernah berhenti.
Bok Liong harus mengikuti terus siang malam, dan ia harus menyaksikan dengan tubuh letih betapa para penumpang perahu enak-enakan duduk melengggut, atau harus menyaksikan dengan perut lapar betapa para penumpang perahu makan minum di atas dek.
Adapun Lin Lin selalu berada di dalam bilik perahu.
Hanya kadang-kadang saja gadis itu keluar dan dengan hati pedih melihat bayangan Bok Liong bergerak di tepi sungai.
Hatinya makin terharu dan kasihan melihat pemuda itu, bukan hanya karena kesetiaan dan cinta kasih pemuda itu, melainkan terutama sekali kasihan karena hatinya sendiri tidak akan dapat membalas cinta kasih Bok Liong.
Hatinya sendiri, sudah tersangkut oleh..
sebuah suling yang terbuat daripada emas.
Kita tinggalkan dulu Lie Bok Liong yang dengan sengsara membayangi jejak orang-orang Khitan yang menawan Lin Lin sebagai seorang tawanan terhormat karena gadis ini, biarpun hakekatnya amat dibenci oleh Hek-giam-lo, namun sesungguhnya adalah calon ratu yang akan diperisteri oleh Kaisar Khitan.
Mari kita mengikuti perjalanan Suling Emas bersama dua orang adiknya, Sian Eng dan Bu Sin.
"Twako, kenapa kau tadi tidak mencegah Lin-moi dibawa pergi orang-orang Khitan? Bagaimana kalau sampai dia mengalami celaka?"
Di tengah perjalanan Sian Eng menegur Suling Emas.
Suling Emas diam saja, hanya menarik napas panjang.
Mereka bertiga berjalan seenaknya, Suling Emas sebagai petunjuk jalan di depan, di belakangnya berjalan Sian Eng dan Bu Sin berjalan di belakang.
"Eng-moi, bagaimana kau bisa menegur Twako seperti itu? Kau tahu sendiri betapa peristiwa hebat susul-menyusul yang menyedihkan hati Twako,"
Kata Bu Sin.
Terang bahwa Suling Emas menghadapi hal-hal hebat, pertemuan dengan ibunya yang ternyata seorang iblis betina, kemudian kejadian-kejadian berikutnya yang hebat.
Tentu saja Suling Emas kurang memperhatikan keadaan Lin Lin.
"Kalian tidak usah khawatir. Lin Lin berada di tangan suku bangsanya sendiri, takkan diganggu. Melihat gelagatnya, apalagi mengingat akan pengalaman Adik Sian Eng ketika diculik orang-orang Khitan, agaknya Lin Lin adalah Puteri Khitan yang dahulu dipungut ayah kita. Betapapun juga, kita akan pergi ke Khitan, merampas kembali tongkat Beng-kauw, sekalian mencari Lin Lin. Menurut pendapatku, sebaiknya kalian pulang dulu ke Cin-ling-san, biar aku mencari Lin Lin, kalau sudah jumpa, akan kuajak dia menyusul ke Cin-ling-san, tentu saja kalau dia mau."
"Kalau ia mau? Apa maksudmu, Twako?"
Tanya Sian Eng heran.
"Bukankah dia itu Puteri Khitan? Kalau dia sudah kembali kepada bangsanya dan merasa berhak berada di sana dan tidak mau kembali ke Cin-ling-san, tentu saja kita tidak dapat memaksanya bukan?"
"Aku ikut, Twako. Aku akan membujuknya. Tidak boleh dia tinggal bersama suku bangsa liar itu"
Seru Sian Eng yang sudah pernah dibawa kepada suku bangsa Khitan itu.
"Betul, Twako. Aku dan Eng-moi akan ikut, sekalian untuk meluaskan pengalaman."
Kembali Suling Emas menarik napas panjang.
Baru saja kedua orang adiknya ini mengetahui rahasia bahwa dia sebenarnya adalah Kam Bu Song, dan baru saja mereka berkumpul.
Tidak tegalah hatinya untuk mengusir mereka.
"Baiklah, akan tetapi perjalanan amat sukar dan jauh. Pula aku menghadapi banyak rintangan. Setelah keadaanku diketahui semua tokoh kang-ouw, bahwa mendiang Tok-siauw-kui adalah ibuku, agaknya perjalananku tidak akan aman lagi."
"Mengapa, Twako?"
Suling Emas menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara mengeluh.
"Mendiang ibuku.. ah tak perlu dibicarakan lagi."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya dan ketika Sian Eng hendak bertanya dari belakang Bu Sin menyentuh lengannya dan memberi tanda supaya adiknya ini tidak banyak bertanya.
"Orang-orang Khitan itu tentu berangkat ke utara melalui jalan sungai. Satu-satunya jalan tercepat ke utara hanya melalui Sungai Kan-kiang. Mereka sudah menang dulu tiga hari. Aku tahu jalan tercepat menuju ke Kan-kiang, melalui anak Bukit Pek-kee-san (Bukit Ayam Putih). Akan tetapi perjalanannya amat sukar dan jalan turunnya sebelah sana hanya dapat ditempuh melalui sebuah jurang. Jurang ini tidak lebar, hanya sepuluh tombak lebih (dua puluh meter kurang lebih), akan tetapi amat dalam. Dahulu aku memasang sehelai tambang untuk penyeberangan di atas jurang itu. Mari kita melalui jalan itu agar dapat melakukan perjalanan cepat."
Dua orang adiknya menurut dan mulailah mereka mendaki Bukit Pek-kee-san.
Memang betul seperti yang dikatakan Suling Emas, perjalanan ini amat sukar.
Bukit itu tidak terlalu tinggi, akan tetapi jalan pendakiannya melalui daerah yang sukar sekali.
Mereka harus melompati banyak jurang-jurang kecil, melalui daerah batu karang yang tandus dan panas, dengan jalan penuh batu-batu kecil yang bergerak-gerak kalau diinjak, melalui jalan yang licin dan berbahaya.
Akan tetapi, karena mereka bertiga adalah orang-orang muda yang berilmu tinggi, maka mereka dapat melakukan perjalanan cepat.
Hanya Sian Eng yang kadang-kadang harus berpegang pada lengan Suling Emas, karena di antara mereka, hanya Sian Eng yang paling rendah tingkat kepandaiannya.
Bu Sin telah mendapatkan kemajuan hebat sekali semenjak ia digembleng oleh kakek sakti di air terjun.
Matahari telah condong ke barat ketika mereka bertiga tiba di tepi jurang yang dimaksudkan, jurang satu-satunya yang akan membawa mereka ke tepi Sungai Kan-kiang setelah mereka berhasil menyeberanginya dan tiba di bukit kecil di seberang.
Ngeri keadaan di situ, karena tepi jurang itu membuka lubang menganga seakan-akan tak berdasar di bawah kaki mereka.
Akan tetapi bukan hal inilah yang membuat Sian Eng memandang dengan muka pucat dan membuat Bu Sin tertegun.
Bahkan Suling Emas sendiri mengerutkan keningnya dan mengeluarkan suara seperti kutukan di dalam tenggorokannya.
Memang tambang besar dan kuat itu masih melintang di atas jurang, menjadi sehelai jembatan yang luar biasa.
Akan tetapi "jembatan"
Ini tidak kosong.
Di tengahnya, antara lima tombak dari tepi, tampak seorang kakek tinggi kurus gundul dan buruk menyeramkan berdiri di atas kepalanya di atas tambang.
Posisi yang amat sukar dan luar biasa.
Bukanlah mudah untuk "berdiri"
Jungkir-balik dengan kepala di atas tambang, kedua lengan bersedakap dan kedua kaki menjulang ke atas, dan lagi kalau tambang itu melintang di atas jurang yang dalamnya ratusan meter.
Tapi kakek itu tampak enak-enak saja melenggut, meram melek dan dari mulutnya yang terbuka dan kelihatan gigi kecil-kecil ompong itu keluar dengkur yang keras.
"Hemmm, tak kusangka gangguan dimulai sepagi ini"
Gumam Suling Emas dan dengan kaki kirinya ia menginjak tambang di tepi jurang, lalu bentaknya keras.
"Lo-tong (Anak Tua)"
Apakah kehendakmu menghadang aku di sini dan menjual kepandaian secara tengik begini?
Hayo pergi, kalau tidak, jangan salahkan aku kalau aku menendang tubuhmu yang reyot itu ke dasar jurang"
Bu Sin dan Sian Eng berdiri di belakang Suling Emas dan memandang penuh kengerian.
Kalau terjadi pertandingan di atas tambang antara Suling Emas dan kakek yang bukan lain adaleh Tok-sim Lo-tong, seorang di antara Enam Iblis itu, alangkah mengerikan.
Mereka maklum dan percaya penuh akan kesaktian kakak mereka, akan tetapi pertandingan dilakukan di atas tambang yang melintang di atas jurang seperti itu, benar-benar amatlah berbahaya, baik bagi yang kalah maupun bagi yang menang.
Sekali saja keseimbangan badan kacau, atau sekali saja kaki terpeleset dan jatuh, jangan harap akan dapat menyelamatkan nyawa, kecuali kalau orang itu mempunyai sayap seperti burung.
"Heh-heh, Kim-siauw-eng, kiranya kau anak dari si wanita cabul Tok-siauw-kui, heh-heh-heh"
Merah wajah Suling Emas. Begitu cepatnya cerita itu tersiar, pikirnya.
"Tok-sim Lo-tong tak perlu kau bersusah payah membakar hatiku. Kalau kau berniat menantangku, mari kulayani kau. Untuk apa bertingkah seperti anak-anak padahal kau sudah tua bangka begini?"
"Heh-heh, berani kau melawanku? Di atas tambang ini?"
"Takut apa?"
Suling Emas meloncat ke atas tambang dengan gerakan seringan burung walet, lalu menoleh dan berkata kepada kedua orang adiknya.
"Jangan kalian menyeberang sebelum aku beri isyarat dari sana."
Sehabis memberi peringatan kepada adik-adiknya Suling Emas melangkah maju sambil mengeluarkan senjatanya, yaitu sulingnya.
Ia maklum bahwa biarpun kelihatan seperti orang tolol, kekanak-kanakan, namun Tok-sim Lo-tong adalah seorang sakti dan jahat sehingga ia dianggap cukup berharga untuk menjadi seorang di antara Thian-te Liok-koai.
Maka ia tidak berani memandang rendah dan sengaja ia mengeluarkan sulingnya.
"Heh-heh-heh"
Tok-sim Lo-tong terkekeh dan tubuhnya bergerak seperti baling-baling berputaran beberapa kali di udara lalu tahu-tahu ia telah berdiri di atas tambang.
Hebat sekali demonstrasinya ini, seakan-akan tambang itu merupakan tanah keras biasa baginya.
Begitu kedua kakinya yang telanjang itu menginjak tambang, ia lalu lari ke tengah dan tiba-tiba tubuhnya bergoyang-goyang ke kanan kiri.
Jari-jari kakinya mencengkeram tambang dan guncangan-guncangan yang dibuat pada tambang itu membuat tubuh Suling Emas bergoyang-goyang pula, makin lama makin hebat sampai tubuh pendekar ini menjadi miring ke kanan kiri.
Bu Sin dan Sian Eng memandang pucat.
Kakek sinting itu berbahaya sekali dan karena kedua kakinya telanjang, tentu saja ia lebih leluasa "main-main"
Di atas tambang daripada Suling Emas yang memakai sepatu kulit dengan sol dipasangi baja, Suling Emas dengan sepatunya itu lebih mudah terpeleset, tidak seperti lawannya yang dapat mencengkeram tambang dengan jari-jari kakinya.
"Heh-heh-heh, terjunlah.. terjunlah.. heh-heh"
Tok-sim Lo-tong terkekeh-kekeh dan guncangannya pada tambang itu makin menghebat sehingga agaknya tak lama lagi Suling Emas takkan dapat menahan dirinya.
Namun Suling Emas bukanlah pendekar sembarangan saja.
Biarpun usianya belum tua, namun ia seorang yang selain memiliki kesaktian tinggi juga ia cerdik sekali di samping wataknya yang tenang dan waspada.
Menghadapi akal lawan ini, ia berlaku tenang dan tidak gentar sedikit pun juga.
Dengan ilmu lwee-kangnya ia dapat membuat kedua kakinya seakan-akan lengket pada tambang dan biarpun tubuhnya tergucang-guncang dan miring ke kanan kiri sampai hampir roboh, namun ia sama sekali tidak dapat terjatuh dari atas tambang.
"Tua bangka curang, cukup permainanmu ini"
Tiba-tiba Suling Emas berseru dan tubuhnya melayang ke atas, kedua kakinya terlepas dari tambang.
Hampir Sian Eng berteriak karena hal ini benar-benar berbahaya.
Betapapun saktinya, Suling Emas tidak dapat terbang, bagaimana begitu sembrono berani melepaskan tambang?
Tubuhnya tentu akan turun lagi dan bagaimana kalau ia tidak dapat menginjak tambang lagi?
"Heh-heh-heh, kau cari mampus"
Teriak Tok-sim Lo-tong dengan girang karena ia melihat kesempatan baik.
Guncangan pada tambangnya makin hebat, dan ia rasa tentu kali ini Suling Emas tidak akan mampu turun lagi di atas tambang.
Akan tetapi mendadak ia berseru keras dan melompat ke belakang, berjungkir balik dan seperti baling-baling ia berloncatan terus ke belakang karena sinar yang terang menyambar-nyambar bagaikan patuk burung garuda, mengarah jalan darah paling penting di tubuhnya.
Sekali saja ia terkena totokan ujung suling, tentu ia akan menjadi lumpuh dan akibatnya dialah yang akan jatuh ke bawah.
Karena Tok-sim Lo-tong sibuk mengelak inilah maka tambang tidak terguncang-guncang lagi dan tentu saja hal ini sudah diperhitungkan oleh Suling Emas yang dengan mudahnya dapat turun lagi di atas tambang.
Kini dialah yang menyerang, terus mendesak lawan dengan sulingnya sehingga kakek gundul itu berseru-seru marah, akan tetapi terpaksa mundur terus sambil berjungkir balik makin lama mendekati tepi seberang jurang.
Mendadak Tok-sim Lo-tong memekik dan tubuhnya melayang tinggi dan cepat, tahu-tahu ia sudah berada di seberang dan kedua tangannya yang kurus itu telah mengangkat sebuah batu karang sebesar kerbau, lalu dilontarkannya batu karang itu ke arah Suling Emas yang masih berada di atas tambang.
Serangan hebat dan berbahaya sekali dan sekaligus menyatakan bahwa kakek kurus kering itu benar-benar luar biasa karena dengan mudahnya dapat mengangkat dan melontarkan batu karang yang demikian besarnya.
Namun Suling Emas tidak menjadi gentar atau gugup.
Ia merendahkan tubuhnya sampai hampir berjongkok, sulingnya berkelebat dan berhasil menotol dan mendorong batu itu dari bawah.
Luncuran batu itu menyeleweng lewat di atas kepalanya, lalu meluncur ke bawah.
Sampai lama barulah terdengar suara hiruk-pikuk di sebelah bawah, akan tetapi Suling Emas sama sekali tidak mempedulikannya, tidak melihat sedikit pun ke bawah, melainkan waspada memandang ke arah lawan sambil melangkah maju.
Di seberang lain, Sian Eng meramkan mata saking ngerinya, juga Bu Sin merasa ngeri sekali.
Mereka melihat betapa batu karang sebesar kerbau itu menimpa batu-batu di bawah dan hancur berkeping-keping.
Dapat dibayangkan betapa tubuh manusia akan hancur lebur kalau terjatuh dari tempat setinggi ini.
Tok-sim Lo-tong agaknya menjadi marah dan penasaran sekali.
Sambil meringkik aneh ia menubruk ke arah tambang, agaknya bermaksud memutus tambang itu.
Suling Emas dapat menduga niat jahat ini, maka sekali melompat ia telah berada di tepi dan sulingnya berkelebat merupakan sinar terang menusuk ubun-ubun kepala Tok-sim Lo-tong.
Terpaksa iblis ini tidak melanjutkan niat jahatnya, sebaliknya ia menggulingkan tubuhnya ke belakang.
Sambil bergulingan ini, kedua tangannya tiada hentinya bergerak dan batu-batu besar kecil berhamburan menyambar ke arah Suling Emas bagaikan hujan derasnya.
Hebat memang iblis itu.
Sukar dikatakan apakah gerakannya bergulingan itu gerakan mengelak ataukah menyerang, sifatnya mengandung kedua-duanya.
Ia bergulingan untuk mengelak dari suling lawan, namun ia pun bergulingan sambil menyerang.
Serangan yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan karena semua batu itu besar kecil menyambar ke arah jalan-jalan darah di tubuh, bukan sambaran sembarang sambar"
Suling Emas sibuk memutar sulingnya menangkis, malah mengeluarkan kipasnya dan senjata ke dua ini banyak berjasa mengebut runtuh batu-batu kecil.
Biarpun serangan itu hebat, namun Suling Emas masih sempat berseru ke sebelah belakangnya.
"Kalian menyeberanglah"
Bu Sin dan Sian Eng mendengar seruan yang nyaring luar biasa ini. Mereka lalu mendekati jembatan tambang.
"Kau menyeberang dulu, Eng-moi, biar aku di belakangmu,"
Kata Bu Sin.
Menyeberang tambang seperti itu bukanlah hal yang terlalu sukar bagi Sian Eng.
Hanya tempat dan keadaannyalah yang terlalu mengerikan sehingga jantungnya berdebar tegang, wajahnya agak pucat dan rasa takut menyelubungi hatinya.
Melihat betapa kedua kaki adiknya agak menggigil, Bu Sin menyentuh pundaknya dan berkata.
"Jangan takut, adikku. Tidak apa-apa, tambangnya begini besar dan kuat, jaraknya tidak jauh, apa sukarnya? Asal kau jangan memandang ke bawah."
Sian Eng mengangguk, lalu melangkah maju ke atas tambang, diikuti kakaknya.
Dua orang muda ini melangkah hati-hati sekali, mengembangkan kedua lengan ke kanan kiri untuk mengatur keseimbangan tubuh.
Ketika mereka tiba di tengah-tengah "jembatan", mendadak terdengar suara orang tertawa di sebelah belakang mereka.
Bu Sin dan Sian Eng kaget, cepat menengok dan alangkah kaget hati mereka melihat dua orang laki-laki memegang golok, datang tertawa-tawa sambil menggerakkan golok hendak membabat tambang yang mereka injak.
"Twako.. tolong.."
Hampir berbareng Bu Sin dan Sian Eng berteriak, akan tetapi hampir putus asa karena pada saat itu Suling Emas masih bertempur seru menghadapi Tok-sim Lo-tong.
Dua batang golok yang tajam menyambar ke arah tambang dan agaknya dalam detik-detik berikutnya tubuh Bu Sin dan Sian Eng akan terbanting hancur lebur di dasar jurang kalau saja pada saat itu tidak terjadi hal yang hebat.
Suling Emas mendengar teriakan adik-adiknya, cepat menengok dan berseru keras, tangan kirinya yang memegang kipas menyambar ke bawah dan di lain detik, Dua buah batu kecil telah dilontarkan oleh kipas itu, bagaikan dua butir peluru saja.
Menyambarnya dua buah batu kecil itu sama sekali tidak kelihatan saking cepatnya.
Tahu-tahu dua orang pemegang golok itu memekik ngeri, mereka terguling roboh dan karena mereka berdiri di tepi jurang, tubuh mereka tak dapat dicegah lagi menggelinding turun dan melayang ke bawah.
Hanya terdengar raung mengerikan ketika dua tubuh itu melayang-layang, kemudian sunyi, bahkan terbantingnya tubuh itu ke atas batu-batu runcing di sebelah bawah tidak terdengar sampai ke atas, saking tingginya tempat itu.
Sejenak Sian Eng meramkan mata dan tubuhnya bergoyang-goyang.
Ia merasa ngeri dan tegang, kedua kakinya menggigil dan hampir pingsan.
Untung baginya, Bu Sin lebih tabah hatinya.
Pemuda ini cepat melangkah maju dan menangkap lengan adiknya ketika melihat gadis itu bergoyang-goyang dan tidak dapat bergerak maju.
"Eng-moi, bahaya telah lewat, hayo cepat menyeberang"
Katanya sambil mengguncangkan dan mendorong.
Sian Eng sadar kembali, mengeluh lirih lalu melangkah kecil menyeberangi tambang yang tinggal beberapa meter jauhnya itu.
Setelah berhasil mencapai tepi penyeberangan luar biasa ini, Bu Sin dan Sian Eng mendapat kenyataan bahwa bukit di seberang sini jauh bedanya dengan bukit di seberang sana.
Bukit ini subur, indah dan menyenangkan sekali.
Dari atas tampak di lereng gunung itu air sungai bening berkilauan.
Itulah Sungai Kan-kiang.
Tentu saja mereka hanya dapat memandang tamasya alam ini sepintas lalu saja karena perhatian mereka segera tertuju ke arah Suling Emas yang masih bertempur melawan Tok-sim Lo-tong.
Mereka berdua maklum bahwa dengan tingkat kepandaian mereka, membantu Suling Emas berarti malah mengacaukan gerakan-gerakannya, maka mereka hanya memandang dengan kagum dan juga cemas.
Kakek tinggi kurus itu ternyata lihai bukan main.
Ia menghadapi Suling Emas hanya bertangan kosong saja, akan tetapi ternyata segala sesuatu yang berada di dekatnya merupakan senjatanya.
Batu-batu besar kecil, ranting-ranting dan dahan, kadang-kadang malah pohon-pohon yang cukup besar dicabutnya dan dimainkan sebagai senjata.
Memang demikianlah keadaan kedua saudara Tok-sim Lo-tong dan suhengnya, Toat-beng Koai-jin.
Mereka berdua ini adalah murid-murid orang sakti, akan tetapi karena sejak kecil hidup di dalam hutan liar, mereka menjadi ganas seperti orang hutan dan cara mereka berkelahi pun kasar dan sederhana.
Namun karena gerakan-gerakan mereka (Lanjut ke
Jilid 20) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 20 berdasarkan ilmu silat tinggi yang luar biasa, maka tentu saja kepandaian mereka hebat.
Suling Emas sudah berhasil mendesaknya, namun belum juga dapat merobohkannya.
Ada empat kali sulingnya mengenai sasaran, namun kekebalan kakek kurus itu dapat menahan hantaman suling yang kenanya memang tidak tepat benar.
"Bu Sin, Eng-moi, lekas kalian pergi ke sungai itu dan cari perahu. Aku menyusul segera. Kalau aku belum datang dan kalian sudah mendapat perahu, berangkat saja dulu menurutkan aliran sungai. Lekas"
Bu Sin dan adiknya heran melihat sikap Suling Emas yang tergesa-gesa dan seperti gugup itu.
Terang bahwa Suling Emas tidak akan kalah oleh si kakek kurus, mengapa mengusir mereka pergi cepat-cepat?
Akan tetapi kelika melihat pandang mata Suling Emas mengerling tajam ke arah belakang mereka, Bu Sin cepat menengok dan bukan main kagetnya ketika ia melihat beberapa orang berlari cepat menuju ke penyeberangan.
Bahkan yang terdepan, seorang kakek bertelanjang badan hanya pakai cawat seperti Tok-sim Lo-tong, tubuhnya gemuk berpunuk, telah meloncat ke atas tambang dengan kecepatan dan keringanan tubuh yang mengagumkan sekali.
Toat-beng Koai-jin.
Tahulah Bu Sin sekarang akan maksud Suling Emas.
Tentu saja dengan adanya mereka berdua, Suling Emas menjadi kurang leluasa untuk melawan sekian banyak orang pandai, karena disamping harus menandingi mereka, juga harus melindungi kedua adiknya.
"Tapi.. kau sendiri.. Twako?"
Sian Eng mengkhawatirkan kakaknya dan agaknya tidak tega untuk meninggalkan Suling Emas seorang diri menghadapi sekian banyaknya lawan tangguh.
"Pergilah.."
Suling Emas berseru kesal dan Bu Sin lalu menarik tangan Sian Eng, diajak berlari cepat pergi meninggalkan tempat berbahaya itu.
Jalan menuruni bukit hijau ini amat mudah, jauh bedanya dengan bukit di seberang dan karena sungai itu sudah tempak dari lereng tadi, kini dengan mudah Bu Sin dan Sian Eng mengerahkan larinya.
Hanya satu jam mereka berlari menuruni bukit dan tibalah mereka di tepi Sungai Kan-kiang.
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa baru malam tadi perahu yang membawa orang-orang Khitan dan Lin Lin lewat di tempat itu.
Memeng jalan melalui bukit dan menyeberangi tambang itu merupakan jalan yang amat dekat, jalan memotong yang lurus, tidak seperti jalan sungai yang berbelok-belok.
"Kita menanti di sini, Sin-ko. Ah, Twako menghadapi banyak musuh lihai, bagaimana kalau.. kalau dia.."
"Dia tidak akan kalah, Eng-moi. Jangan kau khawatir. Kita harus mentaati pesannya, mari kita mencari perahu."
"Tapi di sini amat sunyi, mana ada perahu? Pula, kurasa lebih baik kita jangan pergi sebelum Song-twako datang."
"Twako tadi berpesan supaya kita berangkat dulu, kalau tidak ada perahu, kita bisa mencari ke sebelah hilir sampai dapat. Mari, Eng-moi, Song-twako memesan demikian tentu ada alasannya."
Tanpa memberi kesempatan lagi kepada Sian Eng untuk membantah, Bu Sin memegang tangannya dan diajak melanjutkan perjalanan, menyusuri tepi sunsai itu ke hilir dengan langkah cepat.
Tentu saja mereka juga tidak tahu bahwa kira-kira tiga puluh li di sebelah depan sana, Lie Bok Liong juga menyusuri tepi sungai untuk mengikuti perahu besar yang menawan Lin Lin.
Sebetulnya kalau Bu Sin dan Sian Eng melakukan perjalanan cepat dan sengaja mengejar rombongan yang membawa Lin Lin, agaknya dalam waktu setengah hari akan dapat menyusul mereka.
Akan tetapi kakak beradik ini tidak tergesa-gesa, bahkan kadang-kadang melambat dengan harapan akan segera dapat tersusul Suling Emas karena betapapun juga, berpisah dari kakak yang sakti ini mereka merasa tidak enak.
Mereka melakukan perjalanan menyusuri sungai sambil setengah menanti munculnya Suling Emas.
Dan inilah sebabnya maka jarak antara mereka dan rombongan orang Khitan tetap jauhnya, bahkan makin menjauh karena kadang-kadang perahu besar itu sengaja dipercepat untuk membikin Lie Bok Liong yang mengikutinya dari pantai menjadi makin payah.
Suling Emas setelah melihat kedua orang adiknya pergi cepat, menjadi lega hatinya.
Ia tadi melihat munculnya Toat-beng Koai-jin dan beberapa orang di belakang kakek berpunuk itu yang gerakan-gerakannya cukup membayangkan kepandaian tinggi.
Oleh karena inilah maka ia bersikeras menyuruh kedua adiknya pergi lebih dulu, karena ia maklum bahwa menghadapi lawan-lawan setangguh itu, kehadiran Bu Sin dan Sian Eng merupakan bahaya.
Sekarang hatinya lega dan sambil tersenyum mengejek ia berkata.
"Tok-sim Lo-tong, karena aku tidak bermusuhan dengan Thian-te Liok-koai, juga denganmu pribadi tidak ada dendam mendendam. Mengapa kau bersikeras dan tidak mau membuka mata bahwa sejak tadi aku berlaku murah dan mengalah? Sekarang suhengmu datang dan teman-temanmu, aku tidak bisa bersikap mengalah lagi"
Tiba-tiba Suling Emas menggerakkan sulingnya secara aneh, yaitu ia telah mainkan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat.
Ilmu Hong-in-bun-hoat (Ilmu Sastra Angin dan Awan) ini adalah ilmu kesaktian yang ia terima dari kakek sakti Bu Kek Siansu dan selama ini merupakan ilmu simpanannya karena ilmu gaib ini tidak akan sembarangan ia keluarkan kalau tidak perlu.
Dengan ilmu silatnya yang sudah amat tinggi, tanpa mengeluarkan ilmu simpanan ini pun Suling Emas jarang menemukan tandingan.
Akan tetapi karena sekarang ia melihat keadaan mendesak dengan munculnya Toat-beng Koai-jin yang lihai, sedangkan ia harus menyusul kedua orang adiknya, harus segera mencari Lin Lin dan merampas kembali tongkat kebesaran Beng-kauw, maka terpaksa ia mengeluarkan ilmu simpanannya ini untuk menghadapi Tok-sim Lo-tong yang benar-benar lihai dan tangguh itu.
Tok-sim Lo-tong terkesiap, mengeluarkan pekik aneh ketika tiba-tiba matanya menjadi silau.
Di depan matanya hanya berkelebatan sinar keemasan dari suling lawan yang bergerak membentuk coret-moret tidak karuan, namun selain indah gayanya, juga mengandung tenaga mujijat yang sukar ia lawan.
Selama hidupnya kakek ini belum pernah gentar menghadapi ilmu silat dari manapun juga, akan tetapi menghadapi gerakan aneh yang mengandung getaran mujijat ini, ia benar-benar kaget sekali.
Cepat ia mengerahkan tenaga sin-kangnya, dan mengingat bahwa suling bukanlah senjata tajam, Tok-sim Lo-tong lalu mencengkeram dengan tangan kirinya untuk merampas suling sedangkan tangan kanannya mencengkeram pundak lawan.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika cengkeramannya pada pundak meleset seperti mencengkeram batu licin saja, sedangkan tangan kiri yang bertemu dengan suling, seketika menjadi lumpuh.
Cepat ia melempar diri ke belakang, membuat gerakan jungkir balik tiga kali lalu ia menggelinding sampai sepuluh meter lebih jauhnya.
Untung ia membuat gerakan ini untuk menolong dirinya, kalau tidak tentu ia akan celaka, sedikitnya akan terluka parah.
Kehebatan jurus yang dikeluarkan Suling Emas ini tidaklah mengherankan.
Ia tadi mengeluarkan jurus ilmu silat sakti Hong-in-bun-hoat dengan dasar coretan huruf TO.
Huruf ini merupakan huruf sakti, atau huruf ajaib bagi para ahli filsafat.
Memang bagi orang biasa, huruf ini berarti JALAN, akan tetapi bagi ahli kebatinan memiliki arti yang lebih mendalam dan luasnya bukan main.
Bahkan Nabi Locu dengan kitab To-tik-keng (Tao-te-cing) yang terkenal di seluruh dunia itu mendasarkan filsafat-filsatatnya bersumber pada huruf TO inilah"
Demikian dalam dan penuh rahasia serta gaibnya huruf TO ini sehingga di dalam kitab itu disindirkan bahwa TO tidak dapat diterangkan, tidak dapat disebut, tiada bernama, saking kecilnya tidak tampak, saking besarnya memenuhi alam semesta, lebih gaib daripada yang gaib, sumber segala yang ada dan tidak ada, semua rahasia.
Demikianlah untuk menggambarkan huruf TO ini, dan sebagian kaum cerdik pandai membuatkan arti kata itu sebagai KEKUASAAN TERTINGGI.
Nah, dengan mendasarkan jurusnya pada huruf gaib ini mana bisa Tok-sim Lo-tong menghadapinya?
Sekali gebrakan saja, kalau ia tidak cepat-cepat membuang diri ke belakang dan bergulingan sampai sepuluh meter jauhnya, tentu ia akan mengalami celaka besar.
Pada saat Tok-sim Lo-tong bergulingan, Toat-beng Koai-jin sudah tiba di tempat itu, bersama tiga orang temannya yang sebetulnya adalah anak buah It-gan Kai-ong.
Seperti kita ketahui, kakak beradik liar ini dapat dibujuk oleh It-gan Kai-ong dan menjadi pembantu-pembantunya.
Kini mereka berdua, dibantu tiga orang anak buah pengemis itu, memang ditempatkan di situ untuk menghadang perjalanan Suling Emas.
Sebagai orang-orang lihai, kedua kakek aneh ini amat sembrono maka tadi yang berada di jembatan tambang hanya Tok-sim Lo-tong, sedangkan Toat-beng Koai-jin yang menganggur menjadi tidak betah, dan mengajak tiga orang pembantu itu memasuki hutan mencari daging binatang.
Toat-beng Koai-jin melihat sutenya bergulingan, cepat menghampiri dan dengan suara khawatir bertanya.
"Bagaimana, Sute?
Kau tidak apa-apa, kan, Sute?, Ia merangkul si kurus itu dan mengelus-ngelus kepalanya yang gundul, sikapnya seperti scorang kakak menghibur adiknya.
Dan anehnya, Tok-sim Lo-tong menangis dalam rangkulan suhengnya.
Tangis manja seorang anak kecil.
Adapun tiga orang pembantu It-gan Kai-ong itu ketika melihat Suling Emas segera menyerbu dengan golok di tangan.
Mereka semua maklum akan kelihaian Suling Emas, akan tetapi karena di situ ada Toat-beng Koai-jin, Tok-sim Lo-tong, tentu saja mereka berbesar hati dan berani menyerbu, pada saat itu tangan Suling Emas masih bergerak melanjutkan coretan-coretan terakhir dari huruf To, hanya dua kali gerakan coretan lagi, namun ini sudah cukup karena terdengar tiga orang itu memekik keras, tubuh mereka terpental didahului golok yang patah-patah, roboh terbanting di atas tanah dan tidak dapat bangun kembali.
Karena Suling Emas memang tidak mempunyai niat untuk menunda perjalanannya dengan pertempuran-pertempuran yang tidak beralasan, tanpa menoleh lagi ia lalu melompat dan pergi meninggaikan tempat itu.
"He, Kim-siauw-eng, tunggu. Kau sudah berani mengganggu Suteku, beraninya hanya pada anak-anak, hayo kau lawan aku"
Bentak Toat-beng Koai-jin sambil melompat berdiri dan melontarkan sebuah batu karang yang besar.
Suling Emas tertawa dan mengelak sehingga batu besar itu dengan suara hiruk-pikuk menimpa pohon yang tumbang seketika.
"Kau bilang Tok-sim Lo-tong anak-anak? Ha-ha, anak-anak tua bangka, seperti juga kau. Aku tidak ada waktu banyak, selamat tinggal"
Suling Emas tidak berhenti berlari, tidak pedulikan lagi pada Toat-beng Koai-jin yang memaki-makinya dan mengejarnya bersama Tok-sim Lo-tong.
Karena gin-kang dari Suling Emas sudah mencapai tingkat tinggi sekali, sebentar saja ia dapat meninggalkan dua orang pengejarnya dan lari menuruni bukit menuju ke arah Sungai Kan-kiang.
Adapun tiga orang yang dirobohkannya tadi masih belum dapat bangun, biarpun tidak tewas namun masih "ngorok"
Seperti babi disembelih.
Kalau tadi Sian Eng dan Bu Sin menghabiskan waktu satu jam untuk menuruni bukit itu, bagi Suling Emas hanya membutuhkan belasan menit saja.
Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat banyak sekali orang menghadangnya di tepi Sungai Kan-kiang.
Ia kaget melihat It-gan Kai-ong sudah berada di situ, dan ia heran menyaksikan puluhan orang yang ia kenal sebagai tamu-tamu yang tadinya berkumpul di Nan-cao dan yang sudah meninggalkan Nan-cao dua tiga hari yang lalu.
Ada tokoh-tokoh besar wakil dari partai-partai persilatan besar, ada pula hwesio-hwesio Siauw-lim, ada pendeta-pendeta tosu dari Go-bi-pai dan Kong-thong-pai.
Dan mereka ini semua rata-rata bersikap keren dan bermusuh.
"Para sahabatku, itulah dia putera tunggal Tok-siauw-kwi"
Kalau bukan dia yang harus membayar hutang mendiang ibu kandungnya, siapa lagi?"
Terdengar It-gan Kai-ong berseru sembil tertawa mengejek.
Kini Suling Emas sudah berhadapan dengan mereka.
Melihat semua orang itu siap mengeroyoknya, Suling Emas cepat mengangkat tangan ke atas sambil berkata.
"Saudara-saudara sekalian ini bukankah tadinya menjadi tamu-tamu terhormat di Nan-cao? Mengapa tidak lekas kembali ke tempat masing-masing dan menghadangku di sini? Ada urusan apakah?"
Orang banyak itu melangkah maju, dan seperti seribu burung berkicau mereka menjawab dengan ucapan masing-masing.
Akan tetapi rata-rata mereka itu marah dan Suling Emas masih sempat mendengar betapa mereka itu menaruh dendam atas perbuatan-perbuatan mendiang ibunya.
Ia menjadi bingung, kemudian melihat seorang hwesio tua dari Siauw-lim-pai yang dikenalnya baik ia cepat menegur hwesio itu.
"Cheng San Hwesio, kau mengenal baik padaku dan kiranya cukup maklum bahwa aku selamanya tidak memusuhi Siauw-lim-pai dan lain-lain golongan. Mengapa sekarang terjadi pencegatan ini mengapa pula kau ikut-ikutan hendak memusuhiku? Apakah salahku terhadap Siauw-lim-pai?"
"Hemmm, Suling Emas, memang kau tak pernah memusuhi kami, bahkan kau selalu berbaik dengan Siauw-lim-pai. Akan tetapi kebaikanmu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kejahatan ibu kandungmu. Tiga orang suhengku tewas dua puluh tahun yang lalu dan seorang suteku diculik ibumu, kemudian tewas pula tidak tentu kuburnya setelah dijadikan barang permainan ibu kandungmu. Dosa itu tak berampun, dan karena ibumu sudah tewas, kaulah yang harus membayar hutangnya. Harap saja kau suka menyerahkan agar pinceng (aku) bawa kau menghadap ketua kami di Siauw-lim"
"Mana bisa, Cheng San Hwesio"
Bantah seorang tosu yang dikenal pula oleh Suling Emas sebagai seorang tokoh Hoa-san bernama Kok Seng Cu.
"Pinto (aku) juga mempunyai urusan dengan Suling Emas karena ibunya, Tok-siauw-kui pada puluhan tahun yang lalu mengobrak-obrik Hoa-san, membunuh lima orang suhengku, mencuri pedang pusaka dan menghina ketua. Kami berusaha mencarinya selama ini, akan tetapi ia bersembunyi dan sekarang begitu keluar lalu binasa. Perhitungan lama belum dilunaskan, tahun yang lalu di Thai-san, seorang sute pinto bernama Kok Ceng Cu tewas oleh Siang-mou Sin-ni yang ternyata juga murid Tok-siauw-kui. Hemmm, siapa lagi kalau bukan Suling Emas yang harus mempertanggungjawabkan? Suling Emas, hayo kau ikut dengan pinto ke Hoa-san"
"Tidak bisa"
Kata seorang hwesio lain yang bermuka hitam bernama Hek Bin Hosiang tokoh Go-bi-pai.
"Tok-siau-kui mencuri kitab pusaka Go-bi-pai, tentu diberikan kepada puteranya. Suling Emas, kau kembalikan kitab itu, baru pinceng mau pergi"
Sambil berkata demikian, hwesio muka hitam ini seperti yang lain-lain lalu melangkah maju sambil melintangkan toya baja di tangannya.
Masih banyak yang bicara dan rata-rata mereka itu mengemukakan perbuatan-perbuatan Tok-siauw-kui dan menuntut balas pada Suling Emas.
Pendekar ini menjadi kaget, menyesal, sedih dan juga bingung.
Tak disangkanya bahwa ibunya yang selama ini menjadi kenangan yang dibela sehingga ia rela meninggalkan ayahnya, hidup terlunta-lunta, ternyata adalah seorang tokoh yang begini banyak musuhnya dan yang telah melakukan banyak perbuatan jahat.
Rasa sesal di hatinya membuat ia ingin menebus dosa itu dengan nyawanya, ingin membiarkan dirinya dikeroyok dan dibunuh, ingin menebus dosa ibunya dengan cucuran darah dan melayangnya nyawa.
Akan tetapi, ia masih mempunyai banyak tugas di dunia ini.
Apalagi ia telah berdosa kepada ayah kandungnya, mengira ayahnya yang jahat terhadap ibunya.
Kini ibunya yang banyak dosa telah tewas, ayahnya yang agaknya menjadi korban ibunya, yang ditinggal pergi ibunya telah tewas pula.
Akan tetapi anak-anak ayahnya masih ada.
Bu Sin dan Sian Eng dan juga Lin Lin, ia harus melindungi mereka untuk menebus dosanya sendiri terhadap ayahnya.
Pula semua tuduhan terhadap ibunya itu harus ia selidiki dulu.
Dengan sudut matanya Suling Emas melihat orang-orang yang menghadapinya.
Ada dua puluh empat orang, belum terhitung It-gan Kai-ong.
Mereka itu rata-rata berilmu tinggi dan selain di situ ada It-gan Kai-ong yang tangguh, di sebelah belakang masih datang pula Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong.
Kalau mereka semua maju, biarpun ia tumbuh sepasang sayap, kiranya ia takkan mungkin dapat menandingi mereka.
"Kalian terburu nafsu. Andaikata mendiang ibuku melakukan semua itu, apa hubungannya dengan aku? Aku tidak ada waktu untuk melayani kalian yang sedang mabuk dendam"
Setelah berkata demikian, Suling Emas memutar sulingnya dan melompat jauh, lalu melarikan diri.
Tentu saja ia tidak mau lari ke hilir karena hal itu tentu akan membawa ia ke tempat adik-adiknya dan kalau hal ini terjadi akan berbahayalah bagi adik-adiknya.
Maka ia sengaja mengambil jalan yang sebaliknya.
Yaitu ke hulu sungai, berlawanan dengan aliran air.
Dengan suara gemuruh orang-orang itu melakukan pengejaran sambil mengacung-acungkan senjata masing-masing.
Suling Emas menjadi makin gelisah.
Tentu saja ia bisa melawan mereka, dan dengan ilmu silatnya yang tinggi, agaknya tidak akan mudah bagi mereka untuk menangkapnya.
Akan tetapi, menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang berilmu tinggi tentu saja ia akan terpaksa untuk mengeluarkan ilmu kepandaiannya dan hal ini tentu akan mengakibatkan banyak korban jatuh.
Hanya dengan jalan merobohkan dan membunuh ia akan dapat membuka jalan darah dan membebaskan diri, dan hal ini justeru sama sekali tidak dikehendakinya.
Kalau ia melakukan pembunuhan, berarti ia menambah dosa-dosa ibunya.
Berpikir demikian, Suling Emas mempercepat larinya.
Akan tetapi, para pengejarnya adalah tokoh-tokoh pilihan dari pelbagai partai persilatan besar yang tentu saja pandai mempergunakan ilmu lari cepat sehingga mereka ini dapat terus melakukan pengejaran den tidak tertinggal terlalu jauh oleh Suling Emas.
Malah tiba-tiba pendekar itu mendengar bentakan tepat di belakangnya, bentakan yang amat nyaring dari seorang wanita.
"Kau harus menebus nyawa ayah yang terbunuh oleh ibumu. Lihat pedang"
Suling Emas kaget sekali, cepat ia menghindar dengan langkah nyerong.
Sinar pedang yang putih seperti perak meluncur lewat di atas pundaknya dan alangkah kagetnya ketika ia melihat seorang wanita cantik berpakaian serba hijau yang menyerangnya itu.
Wanita ini cantik dan berwajah keren, pakaiannya sederhana dari sutera warna hijau, usianya sekitar tiga puluh tahun.
Melihat cara pedang bersinat putih perak itu tadi menusuk, Suling Emas menduga bahwa wanita ini tentulah seorang anak murid pilihan dari seorang ahli pedang dan ahli Sin-kang yang sakti.
Gerakan wanita itu ringan bukan main, seakan-akan pandai terbang, dan gerakan pedangnya pun cepat dan seperti kilat menyambar.
Hati Suling Emas terkesiap, cepat ia mencabut kipasnya dan menggunakan kebutan kipas untuk mengebut pedang itu tiap kali sinarnya menyambar.
"Kau siapa, Nona?"
"Aku Bu-eng-sin-kiam (Pedang Sakti Tanpa Bayangan) Tan Lien dari pantai timur. Mendiang ayahku, Tan Hui, tewas di tangan ibu kandungmu yang jahat setelah ia mengelabuhi ayah sehingga berhasil mewarisi gin-kang dari ayah. Ibumu jahat dan palsu, kau harus menebus dosanya"
Bentak wanita itu sambil menyerang lagi. Suling Emas kaget. Ia ingat akan nama basar Tan Hui, jago pedang di pantai timur.
"Ayahmu yang berjuluk Hui-kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang)?"
"Betul dan sekarang menanti di akhirat untuk menunggu nyawamu"
Diam-diam Suling Emas mengeluh.
Apalagi setelah melihat para pengejar yang lain sudah datang dekat.
Ia tidak tega merobohkan wanita ini.
Nama besar Hui-kiam-eng terkenal sebagai pendekar yang berbudi, kalau pendekar itu tewas di tangan ibu kandungnya dan sekarang anaknya berusaha membalas, bagaimana ia dapat tega merobohkan Tan Lian ini?
"Ibuku yang berbuat, aku tidak tahu apa-apa,"
Katanya sambil mengebut pergi pedang yang kembali telah menusuknya dengan cepat.
"Agaknya kau haus darah, biarlah kuberi sedikit darahku"
Sambil berkata demikian, ketika pedang lawan membacok, Suling Emas sengaja membiarkan ujung bahunya yang kiri terserempet pedang sehingga baju serta kulit dan sedikit daging bahunya robek.