Ceritasilat Novel Online

Pendekar Buta 1

Eps 1 Pendekar Buta - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Buta - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Buta - Kho Ping Hoo.

Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Puncak Lao-San menjulang tinggi di antara pegunungan di Propinsi Santung yang kecil-kecil, biarpun sebenarnya Lao-San hanya 1100 meter.

tingginya.

Pemandangan alam dari puncak ini amat indahnya.

Memandang ke sebelah Timur tampak Laut Kuning yang luas, ke sebelah Utara Selat Pohai, ke sebelah Barat Pegunungan Santung dengan puncak Thai-San tampak gagah menjulang tinggi, kemudian ke sebelah Selatan tampak sawah ladang dan perkampungan yang subur.

Hari masih pagi benar, namun sepagi itu sudah ada seorang manusia duduk di atas batu gunung di puncak Lao-San.

Angin dari Laut Kuning menambah hawa gunung menjadi makin dingin sejuk, memecahkan kulit muka dan menusuk-nusuk tulang.

Namun orang yang duduk di atas batu itu seakan-akan tidak merasakan ini semua.

Tentu orang akan mengira dia telah membeku atau membatu, kalau saja mulutnya tidak terdengar bersajak dengan suara nyaring, jelas dan bersemangat.

"Wahai kasih, aku di sini! Di puncak Lao-San menjulang tinggi menjadi raja sunyi di angkasa raya, Naga-naga awan muncul dari laut di bawah kaki Terbang melayang menuju kemari Bersujud di sekelilingku meniupkan angin sejuk, Kasih, aku menanti kehadiranmu memberi cahaya dan kehangatan pada jiwa ragaku Wahai kasih, aku di sini!"

Agaknya orang ini merasa gembira dengan sajak yang dikarangnya sambil duduk itu.

Diulangnya sajak ini, malah kemudian dinyanyikannya dengan suara nyaring.

Tangan kanannya memukul-mukulkan tongkat ke batu yang menimbulkan bunyi "Tok-tak-tok-tak"

Berirama, mengiringi suara nyanyiannya. Suaranya yang nyaring bergema di puncak, terbawa angin dan kadang-kadang terdengar bergetar penuh perasaan, terutama di bagian "Kasih, aku di sini..."

Kadang-kadang tangan kirinya meraba-raba ke atas tanah di mana terdapat dua macam bungkusan, agaknya dia khawatir kalau-kalau angin yang keras akan menerbangkan dua bungkusan pakaian dan obat-obatan itu.

Melihat cara ia meraba-raba, mudah diduga bahwa orang ini adalah seorang buta.

Memang sebenarnyalah.

Dia seorang buta, Masih muda benar, baru dua puluh tahun lebih, takkan lewat dari dua puluh lima tahun umurnya.

Sesungguhnya amat tampan wajahnya, kulit mukanya putih bersih dengan dahi lebar, daun telinga panjang, hidung mancung dan mulut yang manis bentuknya.

Alisnya yang hitam berbentuk golok melindungi sepasang mata yang selalu dimeramkan, mata yang sudah tidak ada bijinya sehingga kelihatan pelupuknya mencekung, mendatangkan keharuan bagi yang melihatnya.

Rambutnya yang hitam digelung ke atas dan dibungkus kain kepala hijau.

Pakaiannya sederhana, baju berlengan panjang dan lebar berwarna kuning kemerahan, celana berwarna kuning dan biarpun pakaian ini terbuat dari bahan yang kasar, namun amat bersih.

"Wahai kasih, aku di sini...!"

Si buta ini bangkit berdiri dan mengembangkan kedua lengannya, seakan-akan hendak menyambut atau memeluk kedatangan kekasihnya.

Namun tidak ada kekasihnya itu, yang ada hanya sinar matahari pagi yang mulai menyembul ke luar dari permukaan Laut Kuning.

"Kasihku... matahariku... dengan kehadiranmu di sampingku... aku sanggup bertahan serIbu tahun lagi..."

Si buta ini tersenyum-senyum dan wajah itu menjadi makin tampan, akan tetapi juga makin mengharukan. Ia benar-benar kelihatan gembira sekali. Setelah "Menyambut kekasihnya"

Yang agaknya sinar matahari itulah, si buta lalu duduk kembali, membuka bungkusan pakaiannya, mengeluarkan sepotong roti kering dan mulailah dia sarapan dengan enaknya.

Agaknya dia tidak tahu bahwa sudah semenjak tadi, kurang lebih seratus meter di sebelah belakangnya, berdiri seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam.

Laki-laki ini usianya empat puluhan, berkumis panjang tanpa jenggot, pakaiannya serba hitam dan gerak-geriknya kasar, di pinggangnya tergantung sebatang golok telanjang dan di punggungnya sebuah bungkusan kain kuning.

Setelah memperhatikan beberapa lama kepada si buta dan melihat si buta mulai sarapan pagi, laki-laki tinggi besar ini mengomel.

"Sialan! Sekali mendapat mangsa, seorang buta gila!"

Ia terbatuk-batuk beberapa kali.

Angin sejuk itu agaknya amat mengganggu pernapasannya.

Namun dia tidak menghentikan langkahnya mendekati si buta yang sedang makan.

Setelah tiba di belakang si buta dalam jarak satu meter, dia berhenti dan membentak.

"He, buta gila! Apa isi kedua bungkusanmu itu?"

Orang muda buta itu memutar diri, masih duduk dan cepat-cepat menjawab dengan suara ramah.

"Wah, ada teman! Bagus, mari silakan duduk, sahabat. Rotiku masih banyak, mari kita sarapan bersama."

Tangannya meraba-raba, mengeluarkan sepotong besar roti kering dari bungkusannya dan dengan wajah tersenyum serta pelupuk mata cekung itu bergerak pula, dia mengangsurkan roti itu kepada si muka hitam.

Si muka hitam dengan geram menggerakkan kaki dan roti di tangan si buta itu terlempar jauh, menggelinding dan lenyap ke dalam jurang.

"Siapa sudi roti busukmu?"

Orang muda buta itu menyeringai, tapi menghela napas panjang dan suaranya tetap halus ketika dia berkata.

"Sahabat, kiranya kau tidak lapar. Heran sekali ada orang menolak makan di saat Cahaya kehidupan mulai menerangi bumi. Semua mahluk sIbuk mencari makan, jangan-jangan kau sakit..."

"Cerewet! Berikan bungkusan pakaianmu kepadaku!"

Bentak si muka hitam.

"Oooh, jadi pakaiankah yang kau butuhkan?"

Si buta mengangguk-angguk dan tangannya diulur ke depan, meraba ujung baju si muka hitam.

"Hemm, pakaianmu masih baik tapi amat kotor. Boleh, boleh, biarlah kuberi satu stel kepadamu, aku masih mempunyai tiga stel dalam bungkusan ini..."

"Buta gila, serahkan semua pakaianmu kepadaku!"

Dengus si muka hitam yang disusul oleh suara batuk-batuk.

"Semua milikmu harus kau serahkan kepadaku kalau kau ingin hidup."

Si buta menggeleng-geleng kepala, menarik napas panjang.

"Aihh, kiranya kau benar-benar sakit! Dua macam penyakit mencengkerammu, sahabat. Yang satu adalah penyakit akibat luka dalam di tubuhmu, di dalam tubuhmu sudah kemasukan hawa beracun yang menimbulkan rasa gatal pada kerongkonganmu dan sewaktu-waktu, apalagi kalau kau marah-marah seperti sekarang ini, timbul rasa sesak di dalam dada sebelah kanan. Penyakit pertama ini tidak hebat, paling-paling merenggut nyawa dari tubuh, akan tetapi penyakitmu yang ke dua lebih payah lagi karena merupakan penyakit jiwa yang membuat kau tidak menaruh kasihan kepada orang lain, membuat kau kejam dan suka mempergunakan kekerasan untuk mengganggu orang lain."

"Tutup mulutmu dan serahkan bungkusan-bungkusan itu!"

Si muka hitam bergerak maju dan menyambar bungkusan pakaian. Akan tetapi dia tidak berhasil merampas bungkusan obat yang dipeluk erat-erat oleh si buta.

"Ambillah...! Ambillah bungkusan pakaianku. Aku tidak gila pakaian seperti engkau. Tapi bungkusan obat ini tak boleh kau ambil, aku sendiri tidak membutuhkan, akan tetapi orang-orang lain yang sakit akan membutuhkannya."

Ia sudah berdiri sekarang, bungkusan obat itu dia sampirkan di pundak, tongkat dipegang di tangan kiri.

Si muka hitam ragu-ragu, tidak jadi merampas bungkusan obat, tapi juga tidak segera pergi dari situ.

Dia memandang tajam lalu, bertanya dengan suara kasar.

"Heh, buta, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku menderita luka dalam?"

Orang muda buta itu tersenyum lebar. Deretan giginya yang sehat kuat mengkilap terkena cahaya matahari pagi, putih seperti deretan mutiara.

"Aku si buta ini tukang obat, kau tahu? Tentu saja aku dapat mengetahui keadaanmu karena kau terbatuk-batuk tadi. Sahabat, maukah kau kuobati?"

Si muka hitam melengak, memandang penuh selidik. Mana dia bisa percaya? Baru saja dia merampas pakaian orang ini, mungkinkah dia mau mengobatinya? "Tidak sudi Kau kira aku begitu bodoh?"

Jawabnya sambil tertawa mengejek.

"Kau berpura-pura hendak mengobati, padahal kau tentu akan memberi racun untuk membunuhku, membalas dendam karena pakaianmu kurampas. Ha-ha-ha, jangan kau kira aku tolol. Aku adalah Hek-Twa-To (Si Hitam Bergolok Besar), mana bisa kau akali begitu saja? Bukan aku yang akan mati karena kau racuni, melainkan kau yang akan mampus di tanganku. Kau tahu aku terluka, tentu kau anak buah si tua bangka Bhe jahanam!"

Setelah berkata demikian si muka hitam melangkah maju dan tangan kanannya menghantam ke arah orang muda buta itu.

Hebat pukulannya, keras sekali sampai mendatangkan sambaran angin!

Agaknya dengan sekali pukulan ini si muka hitam yang berjuluk Hek-Twa-To itu bermaksud untuk membikin remuk kepala si buta.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba lengan kanannya terbentur dengan sesuatu yang keras dan membuat tangannya lumpuh, kemudian dia merasa dadanya diraba orang, membuat napasnya sesak dan dia terhuyung-huyung mundur.

Dia terheran-heran melihat si buta itu masih berdiri tersenyum-senyum seperti tadi.

Sama sekali dia tidak melihat si buta ini tadi bergerak.

Akan tetapi siapakah tadi yang menangkis pukulannya dan siapa pula yang meraba-raba ke arah dadanya?

Ia merasa jerih, mengira bahwa tentu ada orang sakti membantu si buta ini, atau jangan-jangan si tua bangka Bhe sendiri yang berada di sini?

Punggungnya terasa dingin dan seram.

Cepat dicabutnya golok besarnya.

Betapapun juga kalau benar-benar orang she Bhe itu muncul, dia hendak melawan mati-matian.

Dengan garang goloknya dia gerak-gerakkan ke kanan kiri sampai terlihat cahaya kilat menyambar-nyambar ketika golok itu tertimpa sinar matahari.

Mendadak si buta tertawa dan berkata.

"Sahabat tinggi besar, untung kau bahwa luka dalam di tubuhmu sudah lenyap sekarang..."

Dan orang buta itu membalikkan tubuh, duduk di atas batu tadi dan tidak memperdulikan pemegang golok yang masih menggerak-gerakkan goloknya.

Hek-Twa-To makin curiga.

Jelas bahwa tidak ada orang lain di situ.

Selihai-lihainya si tua Bhe, kalau dia berada di situ tentu akan nampak olehnya.

Habis siapa yang melawannya tadi?

Si buta inikah?

Tak mungkin!

Perlahan-lahan dia menghampiri.

Sekali bacok akan mampuslah si buta.

Sudah banyak dia membunuh orang, baik bersebab maupun tidak.

Saat itu dia sedang mengkal hati, dikalahkan orang dan terluka hebat.

Si buta ini tahu dia terluka, memalukan saja, maka harus dibunuh.

Goloknya bergerak cepat ke leher orang.

Dia melihat kilat dari angkasa menyambar-nyambar dua kali, merasa betapa tangan kanannya tergetar, ada tenaga aneh mendorongnya ke belakang sampai lima tindak, wajahnya pucat sekali.

Golok itu tinggal gagangnya saja dan di bawah kakinya kelihatan dua buah potongan golok!

Adapun si buta tadi masih saja duduk diatas batu memegangi tongkat yang kini dipukul-pukulkan ke atas batu sambil bernyanyi.

"Wahai kasih, aku di sini..."

Hek-Twa-To menggigil, lalu membuang gagang goloknya dan larilah dia menuruni puncak, tak lupa membawa serta bungkusan pakaian yang dirampasnya tadi.

Dia melarikan diri seperti dikejar iblis gunung!

Dari jauh dia masih mendengar suara si buta bernyanyi-nyanyi dan suara nyanyian ini baginya amat menyeramkan, seakan-akan mengejar, membuat dia memperhebat tenaganya untuk lari.

Hari telah siang ketika serombongan orang tergesa-gesa mendaki puncak Lao-San.

Lima belas orang ini adalah laki-laki semua, rata-rata bertubuh tegap kuat dengan gerak-gerik yang kasar.

Melihat cara mereka mendaki puncak yang amat sukar dilalui itu secara cepat dan cekatan, dapat diduga.

bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah biasa melakukan perjalanan di gunung-gunung serta memiliki tubuh yang kuat.

Apalagi melihat betapa setiap orang membawa senjata tajam, tergantung di punggung atau di pinggang, Yang berjalan paling depan adalah si muka hitam tinggi besar yang pagi hari tadi bertemu dengan orang muda buta di puncak itu, ialah Hek-Twa-To, Si Golok Besar Muka Hitam.

Setelah tiba di puncak, di mana si buta tadi duduk bernyanyi, hiruk-pikuklah suara mereka.

"Mana dia si buta, Twa-Ko?"

Bertubi-tubi pertanyaan ini menyerang Hek-Twa-To yang menjadi sIbuk juga.

Bisa celaka dia kalau tidak dapat menemukan orang muda buta tadi.

Seperti telah kita ketahui, Hek-Twa-To ini tadi lari tunggang-langgang ketakutan setelah dua kali menyerang si buta dia roboh secara aneh.

Dengan napas terengah-engah, dia memasuki hutan di pegunungan sebelah Barat di mana kawan-kawannya berada, kemudian dengan hati masih merasa seram dia menceritakan semua pengalamannya.

Hek-Twa-To ini adalah seorang di antara anak buah atau anggauta perkumpulan Hui-Houw-Pang (Perkumpulan Harimau Terbang), sebuah perkumpulan golongan hitam (penjahat) yang terdiri khusus para perampok-perampok di Santung.

Hui-Houw-Pang berpusat di Pegunungan Santung dan dikepalai oleh seorang bernama Lauw Teng yang berusia lima puluh tahun bertubuh gemuk pendek dan bermuka kuning.

Pada waktu itu, Hui-Houw-Pang sedang berada dalam kedukaan karena baru saja mereka kalah berperang melawan musuh lama mereka, yaitu orang-orang Kiang-Liong-Pang (Perkumpulan Naga Sungai).

Banyak di antara mereka yang terluka, malah Hui-Hou Pangcu Lauw Teng sendiri juga terluka hebat.

Dalam usahanya untuk membalas dendam, Lauw Teng mendatangkan beberapa orang sahabatnya yang pada waktu itu sudah berkumpul di situ.

Ketika mendengar penuturan Hek-Twa-To, Lauw Teng amat tertarik, apalagi melihat gerak-gerik Hek-Twa-To yang berbeda dengan tadi sebelum bertemu dengan orang buta aneh itu.

"Buka bajumu!"

Lauw Teng memerintah.

Hek-Twa-To tidak mengerti apa maksud perintah ini, namun dia tidak berani membantah dan dibukanya bajunya.

Lauw Teng mendekati, meraba dada anak buahnya ini dan mengeluarkan seruan tertahan.

"Kau benar manusia tolol!"

Tiba-tiba dia berseru.

"Lukamu telah disembuhkan orang dan kau menganggap dia anak buah musuh. Dia itu seorang ahli pengobatan yang pandai. Kerbau goblok kau! Hayo lekas bawa beberapa orang kawan, cari dia dan suruh ke sini. Siapa tahu dia dapat mengobati kita semua!"

Hek-Twa-To kaget dan juga girang ketika dia mendapat kenyataan bahwa memang betul lukanya di dalam tubuh akibat pukulan beracun dari fihak lawan telah sembuh.

Bintik merah di dadanya telah lenyap dan tidak ada rasa nyeri sedikit pun juga.

Biarpun dia amat terheran-heran bagaimana dan kapan orang mengobatinya namun dia tidak berani banyak bicara lagi, maklum akan watak Ketuanya yang amat keras.

Dia pun khawatir takkan dapat mencari orang buta itu.

Karena inilah, maka dia menjadi sIbuk dan bingung ketika dia dan kawan-kawannya tiba di puncak Lao-San dia tak melihat orang muda buta yang tadi.

"Tak mungkin dia bisa pergi jauh,"

Katanya, hatinya berdebar penuh kekhawatiran karena dia tahu bahwa kalau dia tidak dapat membawa si buta itu ke depan Ketuanya, dia tentu akan menerima hukuman yang hebat.

"Seorang buta mana bisa turun dari puncak dengan cepat? Tanpa dibantu tongkatnya dia takkan mampu melangkahkan kaki."

Ucapan ini dikeluarkan dengan suara tenang karena dia percaya bahwa orang buta itu pasti belum pergi jauh.

"Hek-Twa-Ko, jangan pandang rendah orang aneh itu. Kalau dia bisa naik ke puncak ini tentu juga mampu turun,"

Kata seorang kawannya. Hek-Twa-To menjadi pucat mendengar ini.

"Celaka, hayo kita cepat mencarinya. Kita berpencar ke empat penjuru. Aku akan naik ke pohon besar itu untuk melihat dari atas."

Dengan cepat dia lalu lari menghampiri pohon dan sekali mengenjot kedua kakinya, tubuhnya melayang naik ke atas pohon.

Hebat juga kepandaian si muka hitam ini.

Pantas saja pagi tadi dia lari ketakutan ketika dua kali menyerang si buta, dia sendiri yang kalah tanpa dapat tahu siapa yang telah mengalahkannya.

Siapa yang tidak akan merasa seram?

Kepandaiannya cukup tinggi.

Apalagi menghadapi seorang pemuda buta, belum tentu dia akan kalah dalam pertempuran.

Akan tetapi pagi tadi dia merasa seakan-akan melawan iblis yang melindungi si buta!

"Heeeii, itu dia di sana.

Ha-ha-ha, apa kataku?

Dia takkan bisa pergi jauh!"

Tiba-tiba Hek-Twa-To berseru kegirangan sambil meloncat turun dari cabang pohon.

Kawan-kawannya yang sudah mulai berpencar mencari ke empat penjuru, mendengar teriakan ini ikut menjadi girang.

Mereka juga mengharapkan si Tabib buta itu akan dapat menyembuhkan Ketua mereka dan dua puluh lebih teman-teman lain yang juga terluka hebat.

Setelah Hek-Twa-To turun, lima belas orang ini berlari-lari cepat menuruni puncak, dipimpin oleh Hek-Twa-To.

Betul saja, tak lama kemudian mereka melihat orang muda buta itu.

Dengan tongkatnya meraba-raba dan memukul-mukul ke tanah di depan kakinya, orang buta ini berjalan perlahan-lahan.

Buntalan obat tergantung di punggungnya dan dari jauh sudah terdengar suaranya bernyanyi-nyanyi!

Siapakah sebetulnya orang muda tampan yang buta ini?

Dia bukanlah seorang sembarangan.

Namanya Kwa Kun Hong, putera tunggal dari Ketua Hoa-San-Pai yang bernama Kwa Tin Siong dan berjuluk Hoa-San It-Kiam (Si Pedang Tunggal dari Hoa-San), seorang pendekar gagah perkasa.

Ibunya juga seorang tokoh Hoa-San-Pai yang kosen berjuluk Kiam-Eng-Cu (Si Bayangan Pedang).

Akan tetapi orang muda buta yang sakti ini sama sekali bukan murid Ayah bundanya sendiri.

Secara kebetulan dia mewarisi Ilmu Silat Rajawali Emas (Kim-Tiauw-Kun), malah akhir-akhir ini dia menerima pula Ilmu Silat Im-Yang Sin-Hoat dari Si Raja Pedang Tan Beng San Ketua dari Thai-San-Pai.

Karena inilah, maka biarpun usianya baru dua puluh lima tahun, dia telah mewarisi ilmu kesaktian yang luar biasa.

Kwa Kun Hong bukan buta semenjak lahir.

Baru saja tiga tahun dia menjadi buta.

Dia buta karena secara nekat dia telah mencokel ke luar kedua biji matanya sendiri, akibat penyesalan hatinya karena kekasihnya, puteri Ketua Thai-San-Pai, telah membunuh diri.

Gadis itu telah ditunangkan dengan putera Ketua Kun-Lun-Pai dan telah membunuh diri di depannya karena putus asa dalam cinta kasihnya dengan Kwa Kun Hong.

Semua peristiwa hebat ini dituturkan secara jelas dalam cerita terdahulu yang indah, yaitu Cerita Rajawali Emas.

Demikianlah sedikit riwayat orang muda buta ini untuk memperkenalkannya bagi para pembaca yang belum membaca cerita Rajawali Emas.

Semenjak hatinya patah dalam cinta kasih dan kedua biji matanya dia korbankan, pemuda ini lalu merantau, ke mana saja kedua kakinya membawanya.

Dia dahulu telah mewarisi ilmu pengobatan dari kitab-kitab kepunyaan Toat-Beng Yok-Mo (Setan Obat Pencabut Nyawa), maka sekarang dalam perantauannya dia menjadi seorang Tabib buta yang selalu siap menolong orang-orang sakit.

Tentu saja karena kebutaannya, biarpun dia berkepandaian tinggi, dia tidak dapat melakukan perjalanan cepat.

Hanya dapat maju karena bantuan tongkatnya dan kakinya membawanya dari dusun ke dusun, dari kota ke kota dan dari gunung ke gunung.

Dia sengaja tidak pernah mau bertanya kepada orang lain tentang tempat yang akan dia datangi karena memang dia tidak mempunyai tujuan tertentu.

Baru sesudah tiba di suatu tempat, dia bertanya dan adalah hal yang mendatangkan kegirangan juga mengetahui sebuah tempat yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya.

Pada sore hari kemarin dia mendaki puncak Lao-San yang pernah dia dengar tentang keindahannya.

Semalam suntuk dia berdiam di puncak ini dan biarpun dia sudah tidak dapat mempergunakan kedua matanya lagi untuk menikmati tamasya alam indah, namun dengan perasaannya dia dapat menikmati hawa sejuk dan kehangatan matahari terbit, dengan hidungnya dia dapat menikmati keharuman bunga-bunga dan tetumbuhan yang sedap, dengan telinganya dia dapat menikmati suara merdu dari kicau Burung di antara desir angin berdendang dan bergurau dengan daun-daun pohon.

Ketika dia duduk bersanjak di puncak Lao-San, khayalnya menciptakan tamasya alam yang agaknya jauh lebih indah daripada kenyataan yang tak dapat dilihatnya lagi itu.

Kwa Kun Hong memang seorang pemuda luar biasa.

Ilmu silatnya tinggi sekali, ilmu pengobatannya juga tinggi dan selain dua ilmu ini, dia pun amat pandai dalam hal kesuSasteraan, pandai bersajak, bernyanyi, dan tulisan tangannya amat indah.

Kalau saja sepasang matanya tidak buta lagi, dia pun merupakan seorang ahli dalam hal ilmu sihir yang pernah dia pelajari dari Paman gurunya, yaitu Sin-Eng-Cu (Garuda Sakti) Lui Bok!

Tentu saja biarpun ilmu sihir yang berdasarkan hawa murni dan kekuatan batin ini masih terdapat di tubuhnya, namun dia tidak dapat lagi mempergunakannya karena penggunaan ilmu ini harus melalui pandangan mata!

Peristiwa aneh yang dialami Hek-Twa-To, sama sekali bukanlah perbuatan iblis atau orang sakti yang melindungi Kun Hong.

Pemuda buta ini sendirilah yang mempergunakan kesaktian ilmu silatnya untuk mengalahkan Hek-Twa-To dan sekaligus untuk menyembuhkan daripada luka dalam yang mengancam keselamatan nyawanya.

Dari peristiwa ini saja dapat dibayangkan betapa hebat pemuda ini.

Tidak saja hebat ilmu kepandaiannya, yang lebih hebat lagi adalah prIbudinya.

Hek-Twa-To telah memakinya, menghinanya, bahkan telah menyerangnya dengan niat membunuh.

Akan tetapi Kun Hong masih berhati lapang, tidak hanya memaafkan ini semua, malah telah mengobatinya dengan beberapa totokan pada jalan darah di dada sehingga orang kasar itu menjadi sembuh!

Pada saat rombongan lima belas orang anggauta Hui-Houw-Pang itu lari mengejarnya, Kun Hong tengah berjalan perlahan-lahan menuruni puncak sambil berdendang dengan sajak ciptaannya sendiri yang memuji-muji tentang keindahan alam, tentang Burung-Burung, bunga, kupu-kupu dan anak sungai.

Tiba-tiba dia miringkan kepala tanpa menghentikan nyanyiannya.

Telinganya yang kini menggantikan pekerjaan kedua matanya dalam banyak hal, telah dapat menangkap derap kaki orang-orang yang mengejarnya dari belakang.

Karena penggunaan telinga sebagai pengganti mata inilah yang menyebabkan dia mempunyai kebiasaan agak memiringkan kepalanya kalau telinganya memperhatikan sesuatu.

Dia terus berjalan, terus menyanyi tanpa menghiraukan orang-orang yang makin mendekat dari belakang itu.

"Hee, tuan muda yang buta, berhenti dulu!"

Hek-Twa-To berteriak, kini dia menggunakan sebutan tuan muda, tidak berani lagi memaki-maki karena dia amat berterima kasih kepada pemuda buta ini.

Kun Hong menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuh perlahan, mulutnya tersenyum lebar namun kedua telinga tetap waspada mendengarkan dan mengikuti segala gerak-gerik di sekitarnya.

Tentu saja dia mengenal suara perampok kasar yang dia jumpai pagi tadi, akan tetapi dia pura-pura tidak mengenalnya dan bertanya.

"Saudara siapa dan apa maksud saudara mengejar aku si buta ini?"

Dia tahu bahwa orang kasar itu kini menjura kepadanya, membungkuk-bungkuk beberapa kali tanda penghormatan.

Gerakan tubuh ini saja tak dapat terlepas daripada pendengarannya yang amat tajam melebihi orang biasa yang tidak buta.

Hal ini amat menggirangkan dan melegakan hatinya karena dia dapat menduga bahwa kedatangan belasan orang ini kiranya tidak mengandung niat jahat.

"Tuan muda, saya Hek-Twa-To datang untuk minta maaf atas kelancangan saya pagi tadi dan untuk mengembalikan bungkusan pakaianmu,"

Wajah itu makin berseri, senyuman makin melebar ketika dia mengulurkan tangan untuk menyambut bungkusan.

"Ah, terima kasih, Twa-Ko. Sebetulnya aku tidak begitu membutuhkan pakaian ini, akan tetapi kalau kau tidak memerlukan, baik kuterima untuk pengganti kalau yang kupakai sudah kotor. Berada padaku atau padamu sama saja, pakaian gunanya untuk dipakai, siapapun yang memakainya tidak menjadi soal. Terima kasih."

Dia menggantungkan buntalan pakaian itu di pundaknya. Hek-Twa-To menjura lagi.

"Juga saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan Sinshe (sebutan untuk Tabib) yang telah menyembuhkan luka di dalam dadaku."

Kun Hong tertawa.

"Tidak perlu berterima kasih. Yang menyembuhkan adalah kau sendiri, Twa-Ko. Ketika kau menggunakan tenaga menghantam ke depan tadi, hawa pukulan tertahan oleh jalan darah yang buntu merupakan kekuatan yang hebat. Aku hanya membantu membuka jalan darah itu sehingga hawa itu menerobos dan sekaligus menghalau hawa beracun yang mengeram di tubuhmu. Sama sekali tidak perlu berterima kasih."

Hek-Twa-To terkejut.

Kiranya si buta ini yang menyentuh dadanya.

Kenapa dia tidak melihatnya sama sekali?

Setelah saling pandang penuh keheranan dengan kawan-kawannya, dia lalu menjura lagi dan berkata.

"Sekarang kami minta dengan hormat agar Sinshe suka ikut dengan kami ke tempat tinggal kami di sebelah Barat bukit ini..."

"Sayang, tidak bisa..."

Kun Hong memotong.

"Aku adalah seorang manusia bebas, tidak mau terikat oleh segala budi. Terima kasih, Twa-Ko, biarlah aku melanjutkan perjalananku seenaknya dan harap kau dan teman-temanmu kembali."

Seorang kawan Hek-Twa-To yang paling kasar wataknya di antara para perampok itu menjadi marah dan berteriak.

"Kita gusur saja Tabib buta yang sombong ini!"

Kun Hong tersenyum sabar, maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang kasar yang berwatak keji.

"Aku adalah seorang buta lagi miskin tidak memiliki apa-apa, juga aku akan mengalah kalau kalian menghendaki barang-barangku kecuali bungkusan obat dan tongkat ini. Akan tetapi jangan harap aku akan suka menuruti paksaan orang, sungguhpun paksaan untuk menjamuku dengan hidangan-hidangan mahal."

"Tong-Te, kau tutup mulutmu!"

Bentak Hek-Twa-To kepada kawannya yang kasar itu, kemudian dia menghadapi Kun Hong lagi.

"Siauw-Sinshe, harap kau maafkan temanku yang lancang mulut ini. Sesungguhnya kami mengharap kau suka ikut dengan kami karena kami perlu pertolonganmu untuk mengobati Ketua kami dan dua puluh orang lebih teman-teman kami yang menderita luka-luka berat. Harap kau suka menolong kami seperti kau telah lakukan kepadaku tadi. Jangan khawatir, untuk biaya pengobatan ini, berapapun juga kau minta, Ketua kami sudah pasti akan memenuhinya."

Berkerut kening di muka yang tampan itu.

Kun Hong maklum bahwa orang-orang ini bukan orang-orang baik, tentu Ketuanya juga bukan orang baik.

Agaknya golongan hitam pengacau rakyat.

Sebetulnya mengingat keadaan mereka, tidak patut ditolong.

Akan tetapi dia dapat membayangkan betapa sengsaranya mereka yang menderita sakit itu dan hatinya yang penuh welas asih tidak kuasa menahan hasratnya hendak menolong.

"Hemm, begitukah? Kalau kalian mengundangku untuk menolong orang-orang sakit, lain lagi halnya. Tak usah bicara tentang upah, kalau aku berhasil dapat mengurangi rasa nyeri yang mereka derita, sudah cukup bagus untukku. Mari kita berangkat."

Berangkatlah rombongan itu turun bukit.

Akan tetapi biarpun tongkatnya dituntun Hek-Twa-To, seorang buta sebagai Kun Hong tentu saja tidak dapat berjalan cepat.

Rombongan itu tidak sabar dan ketika Hek-Twa-To mengusulkan untuk menggendong Tabib buta itu, Kun Hong tidak menolak.

Maka digendonglah pemuda itu oleh Hek-Twa-To yang kuat dan rombongan ini berlari-lari turun bukit dengan cepat.

Makin curiga hati Kun Hong.

Di atas gendongan, dia dapat mengira-ngira tingkat kepandaian mereka.

Ilmu lari cepat mereka lumayan tanda bahwa mereka ini, terutama Hek-Twa-To, memiliki kepandaian silat.

Ketua mereka tentu seorang kosen.

Kalau sampai Ketua mereka terluka, juga dua puluh orang lebih anak buahnya, alangkah tangguhnya musuh mereka.

Dan mengingat sikap mereka yang jahat, agaknya yang menyebabkan mereka luka-luka itu tentulah seorang pendekar.

Berkali-kali dia menarik napas panjang di atas gendongan Hek-Twa-To.

Pendekar itu merobohkan dan melukai orang-orang karena tugasnya sebagai pendekar yang membasmi kejahatan.

Akan tetapi dia pergi akan menyembuhkan mereka, juga hal ini karena tugasnya sebagai seorang ahli pengobatan yang tidak boleh memilih penderita, baik dia kaya atau miskin, jahat atau tidak.

Ketika Ketua Hui-Houw-Pang dan para tamunya yang terdiri dari jagoan-jagoan di dunia kang-ouw dan Bu-Lim itu melihat bahwa Tabib buta itu ternyata hanya seorang laki-laki yang masih amat muda, mereka terbelalak keheranan, saling pandang dan ragu-ragu.

Para tamu yang hadir di situ adalah undangan-undangan Lauw Teng, terkenal sebagai tokoh-tokoh kang-ouw.

Malah di antaranya terdapat seorang Tosu muka bopeng (burik) yang mempunyai sinar mata tajam berkilat dan di punggungnya tergantung sepasang pedang tipis.

Mereka ini banyak mengenal orang pandai, malah pernah mendengar tentang setan obat Toat-Beng Yok-Mo, sudah banyak melihat Tabib-Tabib pandai.

Akan tetapi belum pernah mereka melihat seorang ahli pengobatan masih begini muda.

Tidak mengherankan apabila mereka memperdengarkan suara mencemooh dan memandang rendah.

Ketua Hui-Houw-Pang kecewa sekali.

Diam-diam dia marah kepada Hek-Twa-To yang dianggapnya membohong dan menipu.

Untuk menutupi kekecewaannya, dia bertanya dengan nada suara keras memandang rendah.

"Heh, orang muda buta. Apakah kau yang telah menyembuhkan Hek-Twa-To seorang anggautaku?"

Kun Hong tidak tahu siapa yang bicara dengannya, akan tetapi terang bahwa dia ini adalah Ketua yang dimaksudkan oleh Hek-Twa-To tadi, entah Ketua apa. Dia tersenyum dan menjawab.

"Dia yang menyembuhkan dirinya sendiri, aku hanya membantu."

Kata-katanya halus, akan tetapi sama sekali tidak merendahkan diri atau menghormat.

Ketua Hui-Houw-Pang yang biasanya disembah-sembah oleh anak buahnya yang pandai menjilat, ditakuti semua orang, mendongkol juga melihat dan mendengar sikap orang buta ini.

"Orang buta, jangan kau main-main di sini. Apakah benar kau pandai mengobati orang sakit dan terluka?"

"Tidak ada orang pandai didunia ini, sahabat. Yang pandai hanya Tuhan, Aku hanya diberi pengertian tentang pengobatan, pengertian kecil tak berarti. Kalau Tuhan menghendaki, tentu akan menyembuhkan orang sakit."

"Dengar, orang muda. Kami dua puluh orang lebih menderita luka-luka. Kalau kau bisa menyembuhkan kami, berapa saja upah yang kau minta, akan kubayar. Akan tetapi kalau ternyata kau tidak mampu menyembuhkan kami, hemm, jangan tanya akan dosamu, kau tentu akan kubunuh mampus karena kau telah mengetahui keadaan kami. Sanggupkah kau?"

Diam-diam Kun Hong mendongkol sekali.

Tidak salah dugaannya tadi bahwa Ketua ini tentulah orang yang berwatak keji pula.

Namun sesuai dengan wataknya yang sabar dan bijaksana, wajahnya tetap tersenyum.

"Aku selalu siap mengobati orang sakit. Sembuh atau tidaknya terserah ke dalam tangan Tuhan. Kalau dapat sembuh, aku tidak menentukan upahnya, terserah kepada penderita sakit. Kalau tidak dapat sembuh, itu sudah nasibnya, mengapa kau hendak membunuhku? Bukan kau yang memberi kehidupan pada tubuhku, bagaimana kau bisa bicara tentang mengambilnya, sahabat?"

Tiba-tiba terdengar suara ketawa melengking tinggi disusul suara halus.

"Lauw-Sicu, omongan bocah ini ada isinya, kau berhati-hatilah!"

Kun Hong tercengang, kiranya di tempat itu terdapat orang pandai, pikirnya.

Pembicara ini adalah seorang kakek berusia lima puluhan, memiliki Lweekang yang kuat dan pandang mata yang tajam.

Semua ini dapat dia mengerti dari pendengarannya, tentu saja dia tidak tahu bahwa kakek yang bicara itu adalah seorang Tosu yang bermuka burik, seorang di antara para tamu undangan.

Kun Hong agak miringkan kepalanya dan dia dapat mendengar betapa tuan rumah bersama kakek yang bicara tadi kini menggerak-gerakkan tangan dan jari, agaknya saling memberi isyarat agar apa yang mereka kehendaki tidak terdengar olehnya.

"Sinshe muda,"

Kata Lauw Teng suaranya agak berubah, tidak segalak tadi.

"Biarlah kuanggap saja kau memang pandai mengobati. Nah, kau mulailah mengobati seorang anak buahku yang menderita luka di dalam tubuhnya,"

Setelah berkata demikian, Lauw Teng berteriak.

"He, A Sam, kau yang paling berat lukamu, kau merangkaklah ke sini biar diobati oleh Siauw-Sinshe ini!"

Kun Hong terheran.

Sejak tadi setelah bercakap-cakap dengan Ketua ini, dia tahu atau dapat menduga, bahwa Ketua ini menderita luka yang amat parah di dalam tubuhnya yang perlu segera diobati.

Kenapa Ketua ini sekarang menyuruh dia mengobati seorang anak buahnya lebih dulu?

Apakah Ketua ini sengaja mengalah terhadap anak buahnya?

Tak mungkin, orang yang berhati keji selalu mementingkan diri sendiri.

Ataukah masih belum percaya kepadanya maka menyuruh anak buahnya maju untuk mencoba-coba?

Tapi Kun Hong tidak pedulikan ini semua.

Dia lalu duduk di atas bangku yang disediakan untuknya dan menurunkan buntalan obat.

Dia tahu bahwa dari depan berjalan seseorang dengan langkah perlahan, kemudian orang ini berjongkok di depannya sambil mengeluarkan suara rintihan dan berkata lemah.

"Siauw-Sinshe, tolonglah saya... tak kuat lagi saya... sampai merangkakpun hampir tidak kuat. Aku terkena pukulan beracun kakek Bhe jahanam..."

Semenjak kecilnya, Kun Hong sudah memiliki kecerdikan yang luar biasa.

Begitu mendengar kata-kata ini, segeralah terbuka semua rahasia yang tak dapat dilihatnya.

Kiranya Ketua she Lauw tadi bersama kakek itu bersekongkol untuk mempermainkan dan menguji dia.

Orang ini pura-pura menderita luka pukulan, disuruh datang minta tolong sehingga mereka itu akan segera tahu tentang kepandaiannya mengobati.

Hemm, mereka tidak percaya dan hendak mempermainkan aku, pikir Kun Hong.

Baiklah, aku akan melayani sandiwara kalian.

Sambil membungkuk Kun Hong meraba nadi tangan dan dada dekat leher A Sam itu, mengerutkan keningnya lalu berkata.

"Aihh, kau benar-benar menderita penyakit berbahaya sekali! Biang batuk sudah berkumpul di pintu paru-paru. Sekarang belum terasa olehmu, akan tetapi begitu kau tertawa, akan meledaklah batukmu dan sukar ditolong lagi. Kau sama sekali tidak terluka oleh pukulan orang she Bhe atau orang she Ma, melainkan karena terlalu banyak keluar malam sehingga masuk angin jahat!"

Tentu saja sambil berkata demikian, jari-jari tangan Kun Hong yang dapat bergerak secara luar biasa dan secepat kilat itu telah menekan beberapa jalan darah tertentu di dada dan leher.

Mendengar keterangan ini, meledaklah suara ketawa para perampok itu, termasuk Ketuanya, Lauw Teng dan para tamu undangan.

Hanya Tosu burik itu saja yang tidak tertawa, melainkan memandang dengan mata tajam.

Lauw Teng tidak marah karena biarpun keterangan Kun Hong itu amat lucu, namun orang ini dapat mengetahui bahwa A Sam tidak terluka oleh pukulan beracun.

Lucunya, A Sam adalah seorang yang sehat dan tidak pernah batuk, biarpun memang suka keluar malam akan tetapi lucu kiranya kalau seorang gemblengan seperti A Sam itu mudah saja masuk angin!

A Sam juga tertawa terpingkal-pingkal, akan tetapi tiba-tiba semua orang yang tadi tertawa geli itu menghentikan suara ketawa mereka.

Kini hanya terdengar sebuah suara saja, suara orang berbatuk-batuk amat hebatnya.

Dan tidak aneh kalau semua orang kini memandang terheran-heran karena yang batuk secara hebat itu bukan lain adalah A Sam!

Tadinya A Sam sendiri mengira bahwa batuknya ini adalah secara kebetulan saja, akan tetapi dia mulai menjadi khawatir dan gugup setelah batuknya itu tidak juga mau berhenti, malah makin hebat sampai dia tak dapat menahannya lagi.

Di dalam leher dan dadanya serasa dikitik-kitik, mendatangkan rasa gatal-gatal dan geli.

Tak tertahankan lagi A Sam terbatuk-batuk sambil memegangi perut dan dada, membungkuk-bungkuk dan akhirnya dia sampai jatuh bergulingan.

Bukan main hebat penderitaannya.

Tadinya orang-orang mengira bahwa A Sam yang suka berkelakar itu sengaja mempermainkan si Tabib buta, akan tetapi karena tidak juga A Sam berhenti batuk, mereka mulai khawatir, mendekat dan dengan mata terbelalak melihat A Sam sampai mendelik-delik matanya karena terbatuk-batuk terus.

"Aduh... uh uh uh... aduh... tolonglah... uh-uh-uh, Siauw-Sinshe... uk-uh-uh..."

Sukar sekali A Sam mengeluarkan kata-kata ini karena batuk membuat napasnya sesak dan suaranya hampir hilang.

"Hemmm, sudah kukatakan tadi, kau tidak boleh tertawa. Siapa kira kau masih tertawa terbahak-bahak sehingga ledakan batukmu tak tertahankan lagi. Kalau didiamkan saja, kau akan terus terbatuk-batuk sampai jantungmu pecah dan aku akan mendiamkan saja, A Sam kecuali kalau kau suka berterus terang mengapa kau tadi pura-pura terluka parah."

"Ampun... uh-uh, ampun Sinshe... uh-uh-uh, saya disuruh mencoba, uh-uh, main-main... ampun..."

Lauw Teng melangkah maju.

"Siauw-Sinshe, harap kau suka mengobatinya. Terus terang saja, tadi kami meragukan kepandaianmu maka sengaja hendak mengujimu. Maafkanlah."

Kun Hong memang bukan seorang pendendam.

Tentu saja dia memaafkan mereka yang tadi hendak main-main kepadanya.

Malah perbuatannya terhadap A Sam ini pun hanya untuk main-main belaka.

Dia segera maju mendekat, beberapa kali dia membetot urat-urat di leher dan di bawah pangkal lengan.

Sebentar saja berhentilah A Sam berbatuk-batuk, peluhnya keluar semua dan dia segera terduduk saking lelahhya.

"Siauw-Sinshe, sekarang kuharap kau suka mengobati semua orangku, juga mengobati lukaku sendiri. Ketahuilah bahwa aku adalah Hui-Houw-Pangcu (Ketua Hui-Houw-Pang) Lauw Teng. Tentu kau sudah mendengar tentang Hui-Houw-Pang, bukan?"

Ketua ini mengira bahwa tentu Sinshe buta yang masih muda ini akan terkejut sekali mengetahui bahwa dia berada di dalam markas Hui-Houw-Pang yang sudah amat terkenal di seluruh Propinsi Santung.

Akan tetapi dia terheran dan juga kecewa ketika orang muda buta itu menggeleng kepalanya dan berkata tak acuh.

"Aku baru saja datang di pegunungan ini, Lauw-Pangcu, maka tidak mengenal perkumpulanmu. Akan kucoba mengobati kalian. Suruh orang-orangmu yang menderita luka sama dengan Hek-Twa-To, yang ada bintik merahnya pada tubuh mereka, maju dan berjajar di depanku."

Ada delapan orang yang menderita Hek-Twa-To Lima belas orang lain menderita luka senjata yang parah dan luka-luka itu membengkak dan keracunan.

Ketika mengetahui bahwa belasan orang ini terluka oleh macam-macam senjata, Kun Hong dapat menduga tentu telah terjadi pertempuran hebat antara orang-orang Hui-Houw-Pang ini melawan rombongan lain yang agaknya dikepalai oleh seorang she Bhe yang telah melukai delapan orang itu dan tentu seorang yang berkepandaian tinggi juga.

Cepat dia menuliskan resep obat untuk orang-orang yang terluka.

Tulisannya cepat dan tidak memperdulikan seruan-seruan heran dari semua orang yang melihat betapa seorang buta dapat menulis secepat dan seindah itu.

Untuk luka-luka yang dapat dia obati dengan obat-obatan yang tersedia dalam buntalannya, segera dia obati.

Akan tetapi ketika Kun Hong memeriksa tubuh Lauw Teng, diam-diam dia terkejut sekali.

Dengan rabaan tangannya dia mendapat kenyataan bahwa Ketua ini memiliki tubuh yang kuat dan Lweekang yang tinggi.

Namun ternyata dia terkena pukulan beracun yang amat keji.

Pukulan yang mengenai pundak itu busuk menghitam sedangkan tulang pundaknya remuk-remuk.

Hebat sekali penderitaan Ketua ini, namun dia tadi masih dapat menahannya, membuktikan bahwa Lauw Teng adalah seorang yang amat kuat.

Diam-diam Kun Hong mengeluh.

Agaknya dugaannya bahwa yang merobohkan orang-orang ini tentu seorang pendekar kiranya tidak betul.

Seorang pendekar gagah tidak mungkin memiliki ilmu pukulan yang begini keji, atau andaikata memiliki juga, tidak akan sudi mempergunakan.

Kalau begini, agaknya fihak yang menjadi lawan Hui-Houw-Pang ini pun bukan golongan baik-baik!

Kun Hong menarik napas panjang, menyesalkan dirinya yang tanpa disengaja telah memasuki dunia golongan hitam.

Akan tetapi dia berusaha juga menolong Lauw Teng, menggunakan sebatang jarum perak untuk mengoperasi luka itu, mengurut beberapa jalan darah dan menempelkan obat luka buatannya sendiri yang amat manjur.

Kemudian dia menulis sebuah resep obat untuk Ketua Hui-Houw-Pang ini.

Begitu dia selesai mengobati Lauw Teng dan Ketua ini mengucapkan terima kasihnya, tiba-tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu ada hawa menyambar ke arah Kun Hong.

Pemuda buta ini maklum bahwa ada orang menyerangnya, maka dia cepat menjatuhkan jarumnya ke bawah dan membungkuk untuk memungut jarum itu.

Hal ini dia lakukan untuk mengelak dengan gerakan seperti tidak disengaja.

Akan tetapi kiranya serangan itu bukan untuk memukulnya, melainkan untuk menangkap pergelangan tangannya.

Kun Hong tersenyum dan membiarkan pergelangan tangan kanannya dicengkeram orang.

Dia pura-pura kaget dan berseru.

"Eh, siapa memegang lenganku? Kau mau apa?"

"Orang muda, katakan, apa hubunganmu dengan Toat-Beng Yok-Mo?"

Penanya ini adalah kakek bersuara halus melengking tadi.

"Orang tua, beginikah caranya orang bertanya? Apakah harus mencengkeram lengan orang yang ditanya? Pakaianmu seperti Pendeta, kenapa sikapmu kasar seperti penjahat?"

Tosu itu cepat melepaskan cengkeraman tangannya, mukanya yang bopeng menjadi merah sekali dan dia melangkah mundur tiga langkah.

Heran sekali dia bagaimana orang buta ini dapat mengenal pakaiannya?

Tentu saja dia tidak tahu bahwa pendengaran Kun Hong yang luar biasa dapat menggambarkan bentuk pakaian!

"Siauw-Sinshe, tamuku yang terhormat ini adalah Ban Kwan Tojin yang berdiam di Kuil Pek-Kiok-Si (Kuil Seruni Putih).

Beliau seorang tokoh pantai Timur yang terkenal, harap kau suka menjawab pertanyaannya."

Kun Hong menjura ke arah Ban Kwan Tojin.

"Maaf, kiranya seorang Tosu. Ban Kwan Tojin tadi bertanya tentang Toat-Beng Yok-Mo? Dia terhitung guruku karena aku mendapatkan ilmu pengobatan ini dari kitab-kitabnya."

Tidak hanya Ban Kwan Tojin yang berseru kaget, bahkan Lauw Teng dan anak buahnya menjadi kaget sekali, juga girang.

Siapa tidak mengenal nama mendiang Toat-Beng Yok-Mo yang bukan saja terkenal sebagai setan obat, akan tetapi juga sebagai seorang sakti yang luar biasa?

Di samping kekagetan, keheranan dan kegirangan ini, kembali timbul keraguan dan tidak percaya.

Apalagi Ban Kwan Tojin yang tahu betul bahwa belum pernah Toat-Beng Yok-Mo mempunyai seorang murid buta.

"Siauw-Sinshe, bolehkah Pinto mengetahui namamu yang terhormat?"

Dia bertanya, suaranya menghormat karena betapapun juga, pemuda buta ini sudah membuktikan kepandaiannya tentang ilmu pengobatan.

"Namaku Kwa Kun Hong, Totiang."

"Hemm, serasa belum pernah mendengar nama ini..."

"Tentu saja belum, apa sih artinya nama seorang Tabib buta?"

Kun Hong tersenyum polos.

"Kwa-Sinshe, kalau kau betul murid Toat-Beng Yok-Mo, tahukah kau di mana sekarang gurumu itu berada?"

Pertanyaan dari Tosu ini terdengar oleh Kun Hong sebagai pancingan, kata-kata penuh nafsu menyelidiki.

"Dia sudah meninggal dunia, tiga tahun yang lalu,"

Jawabnya bersahaja.

"Ah, jadi kau tahu bahwa tiga tahun yang lalu dia tewas dalam pertempuran di puncak Thai-San, ketikaThai-San-Pai didirikan? Dan kau diam saja tidak berusaha membalas dendam? Tahukah kau siapa yang membunuhnya, Sinshe?"

Pertanyaan yang bertubi-tubi dari Tosu itu hanya diterima dengan senyum saja.

Sudah tentu saja dia tahu bagaimana tewasnya Toat-Beng Yok-Mo karena kakek iblis itu tewas ketika bertanding melawan dia sendiri.

Kakek berhati iblis yang amat jahat itu tewas karena bertindak curang kepadanya dalam pertempuran itu dan boleh dibilang tewasnya adalah karena perbuatannya sendiri.

"Tentu saja aku tahu siapa yang membunuhya. Yang membunuhnya adalah dia sendiri, ya... dia membunuh diri sendiri."

Hati Kun Hong mulai tidak enak.

Jangan-jangan Tosu ini tiga tahun yang lalu hadir pula di Thai-San dan melihat betapa Toat-Beng Yok-Mo tewas ketika berhadapan dengan dia sebelum dia buta dan sekarang Tosu ini sengaja memancing-mancing.

"Totiang, kalau tiga tahun yang lalu kau sendiri hadir di sana, mengapa mesti bertanya-tanya?"

Jawabnya pendek. Tosu itu tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau Pinto hadir tidak nanti bertanya lagi. Sayangnya Pinto tidak hadir ketika itu, hanya mendengar berita dari kawan-kawan bahwa gurumu itu telah tewas dalam pertempuran. Kau yang menjadi muridnya tentu tahu lebih jelas bukan?"

"Sudah kujelaskan bahwa dia mati karena perbuatannya sendiri."

"Jadi kau tidak ada niat untuk mencari musuh-musuh gurumu itu dan membalas dendam? Hemm, murid yang baik kau itu, Kwa-Sinshe."

Ban Kwan Tojin mengejek.

"Toat-Beng Yok-Mo terkenal jahat. Biarpun dia guruku, hanya guru dalam ilmu pengobatan saja. Dia boleh bermusuhan dengan orang lain, akan tetapi aku tidak berniat bermusuhan. Kepandaianku menyembuhkan orang sakit supaya sehat, bukan menjadikan orang sehat supaya sakit. Sudahlah, Lauw-Pangcu, setelah selesai tugasku di sini, aku mohon diri hendak melanjutkan perjalananku."

Dia menjura ke depan ke kanan kiri, lalu membereskan buntalan obatnya dan bersiap-siap untuk pergi.

Ketika mengerjakan semua ini, juga ketika tadi melakukan pengobatan, Kun Hong tidak lupa menyelipkan tongkatnya di punggung.

Bagi seorang buta seperti dia, tongkat merupakan pengganti mata dalam melakukan perjalanan, apalagi kalau tongkat itu seperti tongkatnya, tongkat yang berisi pedang Pusaka Ang-Hong-Kiam, tongkat yang sengaja dibuat oleh kakek sakti Song-Bun-Kwi (Setan Berkabung) untuknya (baca cerita Rajawali Emas).

Pada saat itu terdengar suara seorang wanita.

"Ayah...!"

Lauw Teng menengok dan keningnya berkerut ketika dia melihat anaknya, seorang gadis berusia dua puluh tahun, gadis yang berdandan secara mewah, muncul dari pintu samping.

Gadis ini perawakanya tinggi besar, cukup manis dan gerak-geriknya kasar dan genit, pakaiannya serba indah dan di punggungnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terhias ronce-ronce merah, berkibar di dekat rambutnya yang disanggul tinggi dan dihias kupu-kupu emas bertabur mutiara.

"Swat-ji, ada keperluan apa kau datang ke sini?"

Tegur Lauw Teng marah.

Seharusnya anaknya itu berdiam bersama Ibunya dan keluarga Hui-Houw-Pang di perkampungan, biarpun dia menjadi kepala para perampok namun dia tidak senang melihat anak perempuannya bergaul dengan para perampok yang kasar dan biasa mengeluarkan ucapan-ucapan kotor dan tak sopan.

Memang beginilah watak orang seperti Lauw Teng, biarpun dia sendiri sudah biasa tidak menghormati kaum wanita, namun dia tidak suka melihat wanita-wanita keluarganya tidak dihormati orang!

Dengan lagak genit, tersenyum-senyum, dan melirik-lirik gadis itu menjawab.

"Ayah, kau dan semua orang sIbuk berobat, kabarnya ada Tabib pandai di sini, mengapa tidak menyuruh Tabib itu datang ke kampung? Ibu menderita batuk, Bibi masuk angin dan aku sendiri sering merasa dingin kalau malam. Suruh dia ke kampung Ayah."

Mendengar ucapan terakhir ini di sana-sini sudah terdengar suara orang terkekeh-kekeh, akan tetapi segera berhenti ketika Lauw Teng dengan mata tajam menengok ke arah suara orang-orang tertawa itu.

"Huh, dasar perempuan, baru sakit batuk dan masuk angin saja sudah rIbut-rIbut. Pulanglah, biar nanti kumintakan obat kepada siauw-Sinshe."

Akan tetapi ketika dia menengok, dia melihat anaknya itu berdiri di dekat Kun Hong, memandang bengong kepada pemuda buta yang sedang membereskan buntalannya.

"Swat-ji, lekas pulang!"

Tegur Ayahnya. Swat-ji, gadis itu, seperti baru sadar, menengok kepada Ayahnya dan berkata.

"Ayah, dia inikah Tabibnya? Masih muda benar dan... dan agaknya dia... dia buta, Ayah."

Mendengar gadis itu bicara dekat di depannya Kun Hong merasa tidak enak sekali. Akan tetapi dia segera bangkit berdiri, menjura dan berkata sambil tersenyum ramah.

"Bukan agaknya lagi Nona, memang aku seorang buta."

Sejenak Swat-ji berdiri bengong memandang wajah Kun Hong.

Belum pernah ia melihat seorang pemuda setampan ini, apalagi ketika tersenyum, benar-benar membuat Swat-ji seperti kena pesona.

Mata yang buta itu bahkan menambah rasa kasihan yang mendalam.

"Swat-ji, pulang kataku!"

Lauw Teng membentak marah.

"Ayah, kulihat kau dan para Paman sudah sembuh. Tentu Sinshe buta ini yang menolong kalian. Setelah ditolong, kenapa tidak berterima kasih? Sepatutnya kita membawanya ke kampung, menjamunya dengan pesta tanda terima kasih. Ayah, kalau sekarang kau membiarkan penolong pergi begitu saja, bukankah Hui-Houw-Pang akan ditertawai orang dan dianggap tak kenal budi?"

"Ha-ha-ha, tepat sekali ucapan Nona! Lauw-Sicu, benar-benar Pinto tidak pernah mengira bahwa kau mempunyai seorang anak perempuan yang begini cantik lahir batinnya. Benar-benar Pinto kagum dan terpaksa Pinto berfihak kepada puterimu, Lauw-Sicu."

Mendapat bantuan omongan Tosu itu, Swat-ji tersenyum dan melirik.

Kun Hong diam-diam merasa muak mendengar ucapan si Tosu, apalagi dia dapat menangkap getaran dalam suara itu dan dapat menduga bahwa Tosu ini biarpun tua tentulah seorang mata keranjang.

Nona bernama Swat-ji itu tentu seorang gadis yang cantik dan dia dapat tahu pula bahwa gadis itu berwatak genit.

Cepat-cepat Kun Hong menjura.

"Tidak usah... tidak usah, aku tidak dapat tinggal lama, Nona. Malah tadi aku sudah berpamit kepada Ayahmu, aku harus segera pergi melanjutkan perjalananku."

"Ah, mana bisa begitu? Sinshe, kau harus menerima pernyataan terima kasih kami, terutama dari aku sendiri yang amat berterima kasih karena kau telah menyembuhkan Ayah. Mari, mari kuantar kau, Sinshe. Biar kutuntun tongkatmu."

Pada saat Kun Hong berdiri bingung menghadapi desakan gadis yang "nekat"

Ini, tiba-tiba semua orang terkejut melihat datangnya seorang di antara mereka yang berlari-lari dalam keadaan luka parah.

"Musuh... musuh... telah menyerbu...!"

Katanya dan dia roboh terguling.

Keadaan menjadi panik di situ, semua orang berlari-lari untuk melakukan persiapan menyambut serbuan musuh.

Lauw Teng tidak perdulikan anaknya lagi, dia sIbuk memberi perintah dan mengatur anak buahnya dan enam puluh orang lebih banyaknya itu untuk melakukan penjagaan di sana-sini.

Hanya Tosu itu yang kelihatan tenang-tenang saja.

"Lauw-Sicu, jangan gugup. Biarlah kita menanti kedatangan mereka di sini, hendak Pinto lihat apakah orang she Bhe itu mempunyai tiga kepala dan enam lengan?"

Sementara itu, tiba-tiba Kun Hong merasa betapa telapak tangan yang halus telah memegang tangannya dan terdengar bisikan gadis itu.

"Sinshe, mari kita bersembunyi ke sudut sana sambil menonton. Biar kuceritakan kepadamu nanti jalannya pertandingan, sebentar lagi akan terjadi pertempuran hebat."

Sedianya Kun Hong akan menolak dan pergi.

Akan tetapi karena dia amat tertarik ingin mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi dan siapakah pula musuh Hui-Houw-Pang ini, pula dia ingin seberapa bisa mencegah terjadinya pertempuran dan bunuh-membunuh, maka dia diam saja dan menurut ketika gadis itu menuntunnya pergi dari situ.

Malah dia mengharapkan untuk mendapatkan keterangan dari gadis ini tentang sebab-sebab permusuhan.

Karena semua orang sedang sIbuk mengatur penjagaan, Swat-ji mengajak Kun Hong duduk di atas bangku panjang yang tersembunyi di sudut ruangan muka.

Gadis itu tetap menggandeng tangan Kun Hong dan baru setelah mereka duduk di atas bangku, Kun Hong menarik tangannya dan bertanya.

"Nona, ada apakah rIbut-rIbut ini? Siapa yang menyerbu dan mengapa terjadi permusuhan?"

Gadis itu tertawa merdu dan genit.

"Ah, biasa saja berebutan mangsa! Akan tetapi kali ini yang diperebutkan adalah barang yang amat berharga sehingga Ayah membelanya mati-matian. Mereka yang datang menyerbu adalah orang-orang Kiang-Liong-Pang (Perkumpulan Naga Sungai)."

"Kiang-Liong-Pang? Perkumpulan apakah itu dan perkumpulan Ayahmu yang bernama Hui-Houw-Pang ini pun perkumpulan apakah sebetulnya?"

"Iihh, kiranya kau tidak tahu apa-apa! Hui-Houw-Pang amat terkenal di Propinsi Santung, setidaknya tidak kalah terkenal dengan Kiang-Liong-Pang. Semua perampok di wilayah ini tunduk kepada Hui-Houw-Pang, dan Ayah merupakan penarik pajak jalan yang paling adil di dunia ini."

"Apa itu pekerjaan penarik pajak jalan? Kau maksudkan perampok?"

"Sebaliknya dari perampok! Anggauta-anggauta kami menjaga jalan-jalan sunyi di gunung dan hutan, dan sama sekali tidak merampok rombongan pedagang atau pelancong yang lewat, karena itu mereka harus memberi pajak jalan kepada kami. Bukankah itu adil? Kalau mereka memberi pajak jalan, mereka takkan diganggu."

Kun Hong mengangguk-angguk, dalam hati dia mencela.

Apa bedanya pemerasan dengan perampokan?

"Adapun Kiang-Liong-Pang adalah perkumpulan para bajak air atau bajak sungai yang menguasai semua bajak di Yang-Ce dan Huang-Ho sampai ke muara.

Memang seringkali terjadi perebutan kekuasaan antara darat dan sungai ini dan memang orang-orang Kiang-Liong-Pang amat kurang ajar.

Belum lama ini kami terpaksa menyita rombongan bekas pembesar yang mengundurkan diri karena pembesar sombong itu tidak mau membayar pajak jalan.

Pertempuran terjadi dan kami berhasil melukai pembesar itu dan membunuh orang-orangnya.

Akan tetapi, tiba-tiba muncul orang-orang Kiang-Liong-Pang yang segera turun tangan pula, menyatakan bahwa pembesar itu sedang menawar perahu dan karenanya menjadi mangsa mereka.

Terjadi perang lebih hebat lagi memperebutkan harta Pusaka yang ternyata amat banyak.

Banyak orang kami luka-luka termasuk Ayah yang kau obati tadi.

Akan tetapi barang-barang Pusaka yang paling berharga dapat kami bawa pulang, di antaranya sebuah Mahkota emas penuh permata yang tak ternilai harganya, Mahkota yang dibawa oleh bekas pembesar itu dari Istana.

Kabarnya itu adalah bekas Mahkota yang dipakai oleh Permaisuri Kaisar di jaman Kerajaan Tang dahulu."

Muak rasa hati Kun Hong mendengar penuturan ini.

Tidak salah dugaannya yang mengecewakan hatinya tadi bahwa baik perkumpulan Hui-Houw-Pang maupun lawannya, yaitu Kiang-Liong-Pang, adalah perkumpulan golongan hitam.

Kiranya mereka adalah perampok-perampok yang sekarang sedang bertengkar dengan para bajak!

"Sebenarnya, biarpun saling bersaingan, kalau hanya untuk urusan harta benda biasa saja tak mungkin kedua fihak sampai bertempur."

Gadis itu melanjutkan penuturannya.

"Akan tetapi untuk Mahkota ini kami tidak mau mengalah begitu saja."

"Apakah karena terlalu berharga?"

Kun Hong tertarik.

"Bukan, tapi karena Mahkota itu dapat menjadi jalan agar kami dapat mendekati Kaisar baru, mengambil hatinya dan memperoleh kedudukan tinggi dalam Kerajaan. Kabarnya Kaisar muda yang baru ini amat mudah diambil hatinya."

"Kaisar baru? Kaisar muda? Apa maksudmu?!"

Kun Hong menahan gelora hatinya mendengar kata-kata ini.

"Iihhh, kau benar-benar buta!"

Gadis itu tertawa.

"Memang aku buta, siapa pernah membantah?"

Kun Hong terpaksa melayani kelakar ini agar si gadis suka melanjutkan ceritanya yang mulai menarik hatinya. Dengan lagak genit Swat-ji mencubit lengan Kun Hong.

"Kau memang buta, tapi kau tampan dan pandai... eh, aku suka padamu, kau lucu..."

Tentu saja Kun Hong tidak mau melayani kegenitan gadis itu, tapi dia pun tidak mencelanya, hanya berkata halus.

"Nona, aku ingin sekali mendengar penjelasanmu tentang Kaisar baru tadi."

"Kau benar-benar belum mendengarnya? Kaisar tua sudah meninggal tiga bulan yang lalu, dan sekarang di Kota Raja terjadi kerIbutan dalam menentukan siapa yang akan menggantinya. Akan tetapi sudah tentu calon Kaisar adalah Pangeran Kian Bun Ti, cucu Kaisar yang tercinta, sebagai anak dari pangeran sulung yang telah tiada. Nah, kau tahu sekarang dan tentang Mahkota itu, sebetulnya telah dilarikan oleh bekas pembesar dari Kota Raja yang agaknya mempergunakan saat Kota Raja rIbut-rIbut, lalu lari membawa Mahkota kuno yang tak ternilai harganya itu. Sekarang Mahkota itu berada di tangan kami, dan tentu akan membawa Ayah ke depan Kaisar untuk menerima anugerah dan kedudukan."

Diam-diam Kun Hong kaget juga.

Selama tiga tahun ini dia merantau tidak pernah memperhatikan persoalan dunia.

Kiranya Kaisar Thai-cu, yaitu pendiri Kerajaan Beng, seorang pahlawan yang sejak (lanjut ke

Jilid 02) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 dahulu sering dipuji-puji Ayahnya, kini telah meninggal dunia dan singgasana Kerajaan agaknya dijadikan bahan perebutan oleh para pangeran.

Mengingat bahwa Pangeran Kian Bun Ti dicalonkan menjadi Kaisar diam-diam Kun Hong menarik napas panjang.

Dia sudah pernah bertemu dengan pangeran ini (baca cerita Rajawali Emas), dan dia sudah mengenal watak yang kurang baik dari pangeran itu yang dahulu tidak segan-segan untuk mencoba memaksa dua orang keponakannya, yaitu Thio Hui Cu dan Kui Li Eng, untuk menjadi selir-selirnya!

Tiba-tiba dia sadar dari lamunannya ketika kembali lengannya dicubit dan suara gadis itu terkekeh.

"Hi-hik, kenapa kau termenung setelah mendengar tentang Kaisar? Apakah kau ingin menjadi Kaisar? Hi-hi-hi, alangkah lucu dan bagusnya, Kaisar buta! Sinshe yang baik, kau tidak usah melamun menjadi Kaisar, biarlah kau menjadi Tabib kami saja di sini, malam nanti kau boleh memijati tubuhku yang lelah. Kau pandai memijatkan?"

Gadis itu menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya yang hangat itu kepada Kun Hong.

Kun Hong tidak memperdulikan hal ini karena pikirannya sedang bekerja keras.

Telinganya sudah dapat menangkap derap kaki orang banyak menuju ke tempat itu.

Berdebar dia kalau teringat betapa sebentar lagi akan terjadi pertempuran, bunuh-membunuh di depan matanya yang buta.

"Nona, sebentar lagi musuh-musuhmu menyerbu, melihat betapa Ayahmu dan anak buahnya terluka, tentu musuh itu amat kuat. Apakah kau tidak takut?"

"Ihh, mengapa takut? Dengan pedangku aku mampu menjaga diri. Malah aku ingin mencoba kelihaian jahanam tua she Bhe itu dengan pedangku!"

"Tapi... tapi mereka datang untuk Mahkota itu. Bagaimana kalau mereka menyerbu ke rumah Ayahmu dan merampas Mahkota? Kupikir, Mahkota itu harus disembunyikan dulu..."

"Ah, kau pintar juga!"

Tangan yang halus itu mengusap dagu Kun Hong, membuat pemuda buta ini merasa dingin di belakang punggungnya.

"Tapi Ayah dan aku lebih pintar. Mahkota itu tak pernah terpisah dari tubuhku."

Kata-kata ini dibisikkan di dekat telinga Kun Hong sehingga pemuda buta ini dapat merasa betapa napas Swat-ji panas-panas meniup pipinya.

Cepat laksana kilat Kun Hong menggerakkan tangannya dan tahulah dia pada detik lain bahwa Mahkota yang dimaksudkan itu berada dalam buntalan yang digendong oleh gadis ini.

Pada saat itu terdengar bentakan-bentakan nyaring dan Kun Hong mendengar suara kaki beberapa orang yang menggunakan ilmu meringankan tubuh memasuki ruangan depan tempat Swat-ji berbisik.

"Mereka sudah datang, Bhe Ham Ko sendiri yang memimpin..."

Gadis inipun tidak berani main-main lagi sekarang, ia mengalihkan perhatiannya dari Tabib buta yang menarik hatinya itu kepada para musuh yang telah berada di situ.

Yang kelihatan berada di luar halaman saja sedikitnya ada dua puluh orang Kiang-Liong-Pang.

Adapun yang sudah meloncat memasuki pekarangan adalah seorang tua tinggi kurus yang memegang sebatang dayung kuningan.

Swat-ji menduga bahwa tentu inilah orangnya yang bernama Bhe Ham Ko, Ketua dari Kiang-Liong-Pang yang telah melukai Ayahnya.

Di samping kakek ini berdiri lima orang laki-laki tinggi besar yang menilik pakaiannya tentulah tokoh-tokoh dalam perkumpulan bajak itu.

Di belakang mereka, berdiri acuh tak acuh, tampak seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, berusia empat puluh tahun lebih.

Berbeda dengan Bhe Ham Ko dan lima orang pembantunya yang berdiri dengan senjata di tangan, laki-laki ini membiarkan Ruyung bajanya tergantung di pinggang dan tidak memperlihatkan muka yang serius, malah menengok ke sana ke mari seperti seorang pelancong melihat-lihat pemandangan indah.

"Hui-Houw-Pangcu Lauw Teng, kami dewan pengurus Kiang-Liong-Pang sudah datang mengunjungimu. Keluarlah agar kita dapat merundingkan perkara sampai beres!"

Kakek she Bhe itu mengeluarkan suaranya.

"Kamipun membawa obat dan ahli untuk menyembuhkan luka-luka para sahabat dari Hui-Houw-Pang!"

Jelas terdengar dalam suara ini bahwa Ketua Kiang-Liong-Pang ini mengandung ancaman dan bujukan.

Membujuk untuk berbaik di samping mengingatkan bahwa pertempuran hanya akan mendatangkan kerusakan dan kerugian pada fihak Hui-Houw-Pang!

"Kiang-Liong-Pangcu Bhe Ham Ko, luka-luka yang kecil tiada artinya itu tidak perlu dibicarakan.

Kami sudah siap menanti kedatanganmu!"

Muncullah Lauw Teng diiringi tujuh orang pembantunya dengan langkah gagah dan senjata siap ditangan kanan!

Berubah wajah Bhe Ham Ko melihat bekas lawannya itu kelihatan sehat benar, malah para pembantunya yang tadinya terkena pukulannya yang mengandung hawa beracun kini sudah muncul dalam keadaan sehat!

Akan tetapi keheranannya lenyap ketika dia melirik dan melihat seorang Tosu berjalan keluar dari samping.

Dia tertawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang tipis.

"Ha-ha-ha, kiranya Lauw-Pangcu mendapat bantuan orang pandai. Pantas saja tidak membutuhkan obat-obatan dari kami lagi. Ataukah engkau hendak mempelajari kitab To-Tik-Keng bersama anak buahmu, memang pantas kalau gedung ini diubah menjadi Kuil."

Inilah ucapan menghina dan menyindir karena fihak Hui-Houw-Pang terdapat seorang Tosu tua.

Merah wajah Lauw Teng, juga dia menjadi heran sekali.

Biasanya, seperti yang dia ketahui, Ketua Kiang-Liong-Pang ini adalah seorang yang amat hati-hati dan bukan seorang kasar yang sembrono.

Kenapa hari ini menjadi begini sombong, berani sekali menghinanya dan malah berani mengejek Ban Kwan Tojin?

Tentu ada sebabnya, pikirnya dan ketika dia melihat sikap acuh tak acuh dari orang tinggi besar muka hitam di belakang rombongan Ketua Kiang-Liong-Pang itu, dapatlah dia menduga bahwa tentu orang itu yang dijadikan andalan.

"Bhe-Pangcu, tak perlu banyak bicara lagi kiranya. Kita sudah lama tahu apa maksudmu datang mengunjungiku pada saat ini, lengkap dengan anak buah dan senjata. Nah, keluarkan isi hatimu. Bagi kami, tetap kami tidak akan suka mengalah, oleh karena kami merasa bahwa pembesar she Tan itu adalah mangsa kami di daratan. Barang-barang bekalnya yang terampas oleh kami menjadi hak kami dan tak seekor setanpun boleh mengambilnya begitu saja dari tangan kami!"

Bhe Ham Ko tertawa menyeringai dan menggerak-gerakkan dayungnya.

"Aku tahu akan kekerasan hati Lauw-Pangcu, tahu pula bahwa benda Pusaka itu kau kukuhi bukan karena harganya, melainkan karena pentingnya guna membuka pintu Kota Raja. Bukankah begitu?"

Kembali wajah Lauw Teng menjadi merah.

"Apapun yang akan kulakukan dengan benda hakku itu, bukan menjadi urusanmu, Bhe-Pangcu. Dan kiranya... setiap orang berhak untuk mencari kemajuan dalam hidupnya..."

Dia merasa segan dan sungkan untuk bicara terus terang dengan hasratnya mencari kedudukan di Kota Raja.

"Jadi kau berkukuh hendak memiliki Mahkota Pusaka Kerajaan itu?"

Bhe Ham Ko membentak.

"Memang! Dan kami akan mempertahankannya dengan senjata kami!"

Jawab Lauw Teng berani.

Ketua Hui-Houw-Pang ini tentu saja menjadi besar hatinya karena dia mengandalkan bantuan Ban Kwan Tojin dan tiga orang gagah lain yang menjadi tamu undangannya, yang sekarangpun telah memasuki pekarangan dan berdiri dengan sikap gagah di dekat Ban Kwan Tojin.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Tua bangka she Bhe jangan menjual lagak di sini!"

Bayangan merah berkelebat dan ternyata Swat-ji sudah melompat ke depan rombongan lawan dengan pedang di tangan, sikapnya gagah.

"Swat-ji...!"

Lauw Teng menegur kaget, bukan melihat puterinya hendak menentang lawan, melainkan kaget karena tidak melihat buntalan di punggung Swat-ji, buntalan Mahkota yang sengaja dia suruh bawa anak gadisnya yang dia tahu memiliki ilmu pedang yang cukup tinggi.

Dalam hal ilmu silat, puteri ini tidak kalah lihai daripadanya sendiri.

"Ayah, biarkan aku mengusir anjjng tua ini agar jangan banyak menjual lagak di sini."

Gadis yang galak ini segera menggerakkan pedangnya menyerang Bhe Ham Ko. Ketua Kiang-Liong-Pang tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, bapaknya harimau liar anaknyapun sama juga. Biarlah aku orang tua menjinakkan macan betina liar ini!"

Dengan tenang orang she Bhe ini menggerakkan dayungnya menangkis, akan tetapi diam-diam dia mengerahkan tenaga Lweekangnya untuk membuat pedang gadis itu terlempar dengan sekali tangkis.

Swat-ji tidak bodoh.

Tentu saja ia sudah mendengar tentang tenaga Lweekang yang tangguh dari kakek ini, maka dengan gerakan pergelangan tangannya ia menyelewengkan pedangnya menghindarkan benturan senjata lawan lalu dengan cepat dari samping pedangnya mengirim tusukan miring ke arah lambung.

"Aiiih, tidak jelek...!"

Bhe Ham Ko berseru dan cepat melompat mundur sambil mengelebatkan dayungnya yang menyambar dari atas ke arah kepala Swat-ji.

Namun gadis itu dengan gerakan yang lincah dapat pula mengelak sambil meneruskan dengan serangan berantai.

Gerakannya memang cepat dan agaknya dengan kecepatan ini ia hendak mencapai kemenangan.

Pedangnya menyambar-nyambar dan sama sekali ia tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk membentur senjatanya.

"Bagus! Lauw-Pangcu, kepandaian anakmu bagus juga!"

Bhe Ham Ko berseru dan terpaksa kakek ini memutar dayungnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya daripada hujan tusukan dan bacokan.

Dengan menggunakan ketajaman pendengarannya Kun Hong dapat menduga bahwa biarpun Swat-ji memiliki gerakan yang amat cepat, namun ia takkan menang menghadapi lawannya yang memiliki gerakan antep, bertenaga, dan tenang itu.

Dia mengerutkan keningnya.

Pertandingan besar-besaran dan mati-matian tentu takkan dapat dicegah lagi.

Sebetulnya dia boleh tak usah ambil perduli karena kedua fihak yang akan bertanding bunuh-membunuh adalah golongan hitam atau Orang-orang yang mempunyai pekerjaan merampok dan membunuh.

Mereka adalah orang-orang jahat.

Akan tetapi, pemuda buta ini merasa tidak tega untuk membiarkan sesama manusia saling bunuh, hanya untuk memperebutkan sebuah benda mati yang oleh Swat-ji dititipkan kepadanya dan kini berada di buntalan pakaiannya itu.

Alangkah bodohnya manusia.

Untuk mencari harta atau kedudukan, rela mengorbankan nyawa, malah tega untuk membunuh sesama manusia.

Kun Hong berpikir keras, mencari akal untuk mencegah permusuhan antara kedua golongan itu.

Akan tetapi, baru saja dia bangkit berdiri untuk mencegah menghebatnya perkelahian, mendadak di sana-sini terdengar seruan heran dan marah.

Sesosok bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu dayung di tangan Bhe Ham Ko terpental ke belakang, sedangkan Swat-ji terhuyung-huyung.

Ketika mereka memandang, di situ telah berdiri seorang gadis cantik jelita masih muda sekali, berpakaian serba hitam yang ringkas dan sikapnya gagah, sepasang matanya yang jeli memandang ke kanan-kiri.

Alisnya yang hitam panjang itu berkerut, mulut yang kecil dengan Bibir merah segar membayangkan kekerasan hati dan keangkuhan.

Dengan sekali gerakan saja dapat mengundurkan Bhe Ham Ko dan Swat-ji, dapat dibayangkan bahwa gadis jelita ini memiliki kepandaian yang hebat.

Swat-ji yang terhuyung-huyung itu amat marah, akan tetapi sebelum ia sempat mengembalikan keseimbangan tubuhnya, bagaikan seekor Burung Walet, gadis baju hitam itu bergerak, tubuhnya menyambar dan tahu-tahu Swat-ji merasa dirinya diangkat ke atas.

Kiranya tengkuknya telah dicengkeram oleh gadis itu dan betapapun ia berusaha melepaskan diri, ia tidak mampu bergerak, bahkan pedang yang masih dipegangnya itu tak dapat pula ia gerakkan seakan-akan seluruh tubuhnya menjadi lumpuh!

"Kaum kotor dari Hui-Houw-Pang dan Kiang-Liong-Pang dengarlah!

Hari ini nonamu datang untuk mengambil Mahkota Pusaka, kalian tidak boleh rIbut-rIbut lagi dan harus mengalah kepada nonamu!"

Sikap yang amat sombong ini menimbulkan kemarahan, juga kegelian. Apalagi Lauw Teng yang melihat anaknya ditangkap seperti itu, kemarahannya memuncak dan dia membentak.

"Gadis liar dari mana datang mengacau? Kau siapa berani membuka mulut besar di sini?"

Gadis muda itu tersenyum mengejek.

Manis sekali ia kalau tersenyum sehingga banyak di antara para anak buah kedua fihak itu terpesona melihat cahaya gigi gemerlapan di balik Bibir yang merah dan berbentuk indah itu.

"Kau Ketua dari Hui-Houw-Pang, tak perlu banyak cakap. Aku tahu bahwa Mahkota berada di tanganmu, lekas serahkan kepada nonamu, kalau tidak, akan kubanting hancur anak perempuanmu yang tak tahu malu ini!"

Hemmm, kiranya bocah ini hendak memaksaku dengan menangkap anakku, pikir Lauw Teng yang segera menjawab dengan tersenyum mengejek.

"Boleh kau banting anak tiada guna itu, mana bisa aku memberikan Mahkota Pusaka kepadamu? Gadis liar, lebih baik lekas mengaku kau siapa dan siapa menyuruhmu datang mencampuri urusan kami?"

Gadis pakaian hitam itu nampak kecewa, lalu melemparkan tubuh Swat-ji sambil mengomel.

"Gadis sialan, sampai Ayah sendiri tidak sayang kepadamu!"

Swat-ji terlempar dan jatuh bergulingan, tapi ia cepat melompat lagi dengan mata berapi-api dan muka merah sekali.

Kalau saja ia tidak ingat bahwa tingkat kepandaian gadis baju hitam itu jauh lebih tinggi darinya, tentu akan diserangnya mati-matian, bukan main marahnya pada saat itu.

"Pangcu dari Hui-Houw-Pang, juga kalian orang-orang Kiang-Liong-Pang. Kalian mau tahu siapa nonamu ini? Dunia kang-ouw menyebutku Bi Yan Cu (Si Walet Jelita). Nama aseliku tak perlu kuberitahu, kalian kurang berharga untuk mengenalnya. Ayahku adalah Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui."

Ketika nona muda itu memperkenalkan julukannya, para penjahat itu saling pandang sambil tersenyum-senyum karena memang nama itu tidak terkenal.

Akan tetapi ketika gadis itu menyebut nama Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui sebagai Ayahnya, berubah wajah mereka.

Bahkan kedua Pangcu itu dan para tamu undangan nampak kaget sekali.

Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui memang jarang muncul di dunia Kang-ouw, namun namanya dikenal sebagal seorang tokoh besar yang berilmu tinggi, yang sekarang hidup sebagai seorang "Raja kecil"

Di pantai Laut Pohai, di lembah muara Sungai Kuning.

Karena kepandaiannya yang tinggi tak seorang pun bajak laut atau perampok berani mengganggu perkampungan raja kecil ini.

Sekarang tahu-tahu seorang gadis jelita yang datang ini mengaku sebagai puterinya dan bermaksud merampas Mahkota Pusaka yang sedang diperebutkan oleh golongan itu.

Swat-ji yang masih merasa penasaran, ketika mendengar ini segera tahu bahwa gadis yang dibencinya itu tentu akan dimusuhi oleh kedua fihak, maka keberaniannya timbul kembali.

Baginya yang belum banyak merantau, ia tidak mengenal siapa itu Sin-Kiam-Eng (Pendekar Pedang Sakti) Tan Beng Kui.

"Budak liar jangan menjual lagak di sini!"

Swat-ji memaki dan cepat menyerbu dengan pedangnya, dari belakang langsung menyerang gadis yang berjuluk Bi Yan Cu itu.

Si Walet Jelita, gadis yang cantik itu, mengeluarkan suara mengejek dan ketika tubuhnya bergerak dengan amat indahnya ternyata ia telah dapat mengelak tanpa mengubah kedudukan kakinya dan selagi pedang lawannya menyambar lewat, tangan kirinya mendorong.

Tak dapat tertahankah lagi tubuh Swat-ji terdorong ke depan, apalagi dari belakang ditambah sebuah tendangan ke tubuh belakang yang mengeluarkan bunyi "Plok!"

Membuat tubuh Swat-ji terperosok ke depan, pedangnya mencelat dan hidungnya yang mencium tanah dengan keras itu mengeluarkan darah.

"Tangkap gadis liar ini!"

Terdengar Hui-Houw-Pangcu Lauw Teng memberi aba-aba.

"Bunuh saja dia!"

Terdengar Ketua Kiang-Liong-Pang berseru.

Dua fihak yang tadinya bermusuhan, untuk sementara melupakan permusuhan mereka dan tanpa berunding sudah bersekutu untuk mengalahkan gadis berbahaya itu.

Dengan pendengarannya yang tajam Kun Hong dapat mengikuti semua peristiwa itu.

Hatinya berdebar ketika dia mendengar pengakuan gadis yang baru datang itu.

Nama Tan Beng Kui tentu saja dikenalnya baik sungguhpun belum pernah dia bertemu muka dengan orangnya.

Dia sudah banyak mendengar dari Ayah bundanya tentang Tan Beng Kui karena orang ini dahulu juga seorang pejuang gagah, murid pertama dari Raja Pedang Cia Hui Gan.

Bukan itu saja, malah Tan Beng Kui ini adalah kakak kandung dari Tan Beng San yang sekarang menjadi Ketua Thai-San-Pai.

Kun Hong amat kagum dan takluk kepada Tan Beng San, orang yang amat dia hormati karena kegagahannya, apalagi kalau dia ingat bahwa Tan Beng San adalah Ayah dari mendiang kekasihnya, Tan Cui Bi, Malah boleh dibilang dia adalah murid langsung dari Tan Beng San Si Raja Pedang itu, yang ketika dia menjadi buta, telah membisikkan rahasia dari Ilmu Sakti Im-Yang-Sin Kun-Hoat (Baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas).

Sekarang gadis yang mengaku berjuluk Bi Yan Cu Si Walet Jelita ini, yang bukan lain adalah keponakan dari Tan Beng San, berada di sini dan terancam bahaya pengeroyokan dua fihak yang tadinya bertentangan.

Angin gerakan gadis itu tadi membuktikan bahwa ia berkepandaian tinggi, tentu telah mewarisi Ilmu Silat Sian-Li Kun-Hoat dari Ayahnya.

Akan tetapi menghadapi pengeroyokan demikian banyaknya orang, tentu berbahaya juga.

Seorang gadis yang menurut suaranya takkan lebih dari delapan belas tahun usianya itu mana boleh mati dikeroyok, juga amat tidak baik kalau mengamuk dan menjadi pembunuh puluhan orang manusia.

Dia harus segera turun tangan, demikian Kun Hong mengambil keputusan.

Sudah terdengar olehnya suara senjata beradu disusul pekik kesakitan banyak orang.

Ah, jelas bahwa gadis lihai itu tentu sudah mengamuk, pikirnya.

Cepat Kun Hong melompat berdiri, tongkatnya siap di tangan kanan dan tangan kirinya mengeluarkan Mahkota itu, diangkatnya tinggi-tinggi lalu dia berseru nyaring.

"Heeii, kalian semua berhentilah bertempur dan lihat apa yang berada di tanganku ini!!"

Karena ketika berseru ini Kun Hong mengerahkan sedikit tenaga khikang dari dalam perutnya, tentu saja suaranya nyaring sekali mengatasi semua kegaduhan dan mendadak semua pertempuran berhenti ketika mereka melihat benda emas mengkilap terhias permata berkilauan berada di tangan kiri pemuda buta itu.

"Mahkota Pusaka...!"

Terdengar teriakan di sana-sini.

"Kalian bertempur untuk memperebutkan benda ini, bukan? Benar-benar kalian tak tahu malu. Benda ini bukanlah milik kalian, terang bahwa benda ini dirampok dari tangan seorang pembesar. Sungguh tak baik kalian. Rakyat sudah cukup penderitaannya, kalian orang-orang kuat dan memiliki kepandaian, mengapa justeru mempergunakan kekuatan itu untuk menambah kekacauan dan memperberat penderitaan rakyat? Sekarang benda ini sudah berada di tanganku, hendak kukembalikan kepada yang berhak. Siapa saja tidak boleh merampas benda ini dan kalian tidak perlu saling bermusuhan lagi!"

Semua orang itu berdiri melongo.

Siapa yang takkan terheran-heran menyaksikan aksi orang buta itu?

Dan akhirnya meledaklah suara ketawa saking geli di samping marah dan mendongkol.

Yang paling marah dan mendongkol adalah Lauw Teng.

Dia marah sekali kepada puterinya.

Benda itu dia suruh simpan atau bawa puterinya agar tidak diketahui orang, siapa duga oleh puterinya dititipkan kepada Sinshe buta ini.

"Kwa-Sinshe, apakah... apakah kau sudah gila?"

Bentaknya marah.

Yang lebih dulu bergerak adalah Swat-ji.

Gadis ini kaget dan takut sekali akan kemarahan Ayahnya ketika melihat orang buta itu begitu saja memperlihatkan Mahkota kepada semua orang.

Ia cepat meloncat ke depan dengan hidung masih berdarah, menyambar dengan tangannya untuk merampas Mahkota itu dari tangan Kun Hong.

"Sinshe, kau kembalikan titipanku!"

Katanya. Akan tetapi aneh sekali, sambarannya tidak mengenai sasaran sehingga ia terhuyung-huyung ke depan. Ia membalik dan dengan suara merayu ia membujuk.

"Sinshe yang baik, kau kembalikan benda itu kepadaku."

"Nona Lauw Mahkota ini bukan milikmu, menyesal sekali tak dapat kuberikan kepada siapapun juga."

Swat-ji marah dan menyerbu untuk merampas Mahkota, namun tiba-tiba ia terjungkal dan untuk kedua kalinya ia mencium tanah. Kini hidung yang tadinya berdarah, berubah menjadi bengkak.

"Aduh..."

Ia mengeluh.

"Kau... keterlaluan... kau kejam. Tadi kau begitu baik... Sinshe, bukankah malam nanti kau mau memijati badanku? Kenapa sekarang merampas Mahkota?"

Kembali beberapa orang tertawa mendengar ini dan muka Kun Hong yang berkulit putih itu menjadi kemerahan.

"Nona, jangan keluarkan omongan bukan-bukan!, Seharusnya sebagai seorang gadis kau tidak bertingkah seperti ini..."

Tapi pada saat itu Lauw Teng sudah menerjang maju, tangan kanan menghantam dada Kun Hong sedangkan tangan kiri berusaha merampas Mahkota sambil berseru.

"Sinshe buta, kiranya kau hendak mengacau!"

Seperti halnya Swat-ji, pukulan ini tidak mengenai sasaran, juga Mahkota tidak terampas, Sebaliknya entah mengapa dan cara bagaimana, tahu-tahu tubuh Ketua Hui-Houw-Pang itu terjungkal ke bawah!

Inilah hebat!

Ketua Hui-Houw-Pang ini terkenal seorang yang cukup kosen, berkepandaian tinggi.

Bagaimana ketika menyerang Sinshe muda buta itu seperti tersandung batu kakinya dan terjungkal begitu mudah?

Orang-orang tidak ada yang dapat mengikuti gerakan Kun Hong dan bagi mereka seakan-akan pemuda buta itu tidak bergerak apa-apa kecuali mengangkat Mahkota itu tinggi-tinggi seperti takut dirampas!

Hanya beberapa orang saja yang menjadi tertegun dan berubah air mukanya.

Mereka ini adalah Lauw Teng sendiri, Ketua Kiang-Liong-Pang, Bhe Ham Ko, Tosu dan Kwan Tojin, laki-laki tinggi besar muka hitam, beberapa orang tamu undangan Lauw Teng, dan juga, nona baju hitam yang baru datang.

Mereka itu melihat betapa Ketua Hui-Houw-Pang tadi roboh oleh gerakan tangan yang perlahan dan hampir tidak kelihatan dari Sinshe buta itu!

Keadaan menjadi gempar dan kini segala kemarahan dan perhatian ditumpahkan semua kepada si buta!

Lupalah semua orang akan urusan yang tadi, lupa akan pertengkaran antara Hui-Houw-Pang dan Kiang-Liong-Pang, lupa pula akan si nona baju hitam yang tadinya hendak mereka keroyok.

Sekarang Mahkota berada di tangan Sinshe buta, tentu saja dia inilah yang menjadi sasaran.

Dan hal ini tepat seperti yang dikehendaki oleh Kun Hong.

Setelah menyaksikan betapa dengan aneh Lauw Teng roboh sendiri ketika hendak merampas Mahkota, orang-orang tidak berani bertindak sembrono.

Mereka memandang orang buta itu dengan heran dan ragu-ragu apa yang harus mereka lakukan.

Kun Hong juga berdiri tak bergerak, siap untuk membela diri dari setiap serangan.

Seorang anggauta Kiang-Liong-Pang maju perlahan.

Tangan kanannya memegang sebuah Ruyung besi yang berat, Sejak tadi dia mengincar Kun Hong dan dia tidak percaya kalau tidak mampu menjatuhkan si buta ini.

Apa sih sukarnya mengalahkan orang buta?

Sekali pukul beres.

Agaknya si buta ini pandai silat, pikirnya, maka harus digunakan akal.

Dengan amat hati-hati dia melangkah terus maju sampai dekat sekali dengan Kun Hong, dalam jarak satu meter.

Pemuda itu tetap tidak, bergerak seakan-akan tidak tahu bahwa dia didekati lawan dari depan yang kini sudah menggeletar seluruh urat di tubuhnya untuk menghantamnya.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, orang itu kini mengangkat Ruyungnya tinggi-tinggi, menghimpun tenaga lalu.

"Wherrrr!"

Ruyungnya menimpa ke arah kepala Kun Hong yang agaknya akan pecah berantakan tertimpa Ruyung besi yang berat itu.

Seperti tadi, tanpa menggeser kakinya Kun Hong miringkan kepala dan sekali jari tangannya bergerak, lawan itu jatuh tersungkur, mengaduh-aduh kesakitan karena Ruyungnya mencium kepalanya sendiri sampai benjol sebesar telur angsa.

Seorang anak buah Hui-Houw-Pang dari belakang Kun Hong berindap-indap menghampiri dengan Tombak runcing di tangan.

Setelah dekat tiba-tiba dia menusuk.

Tombak menusuk angin, terdengar suara keras, Tombak patah menjadi tiga dan orang itu terlempar ke belakang.

Sekarang barulah semua orang tahu atau menduga bahwa si buta itu kiranya bukanlah seorang sembarangan, melainkan seorang yang memiliki kepandaian luar biasa!

Akan tetapi karena dialah yang kini memegang Mahkota yang amat diinginkan itu, semua orang kini mulai mendekat dengan sikap mengancam.

Dengan kepala dimiringkan Kun Hong dapat mendengar betapa orang-orang itu mendekat dan mengepungnya, malah yang mengurungnya kini bukanlah orang-orang biasa seperti tadi telah menyerangnya.

Agakhya tokoh-tokoh penting dari kedua fihak mulai hendak turun tangan secara mengeroyoknya, juga dari sebelah kirinya dia tahu bahwa gadis yang berjuluk Bi Yan Cu itupun hendak menyerbu dan merampas Mahkota.

Kun Hong memegang tongkatnya erat-erat di tangan kanannya.

Dia tidak menanti lama.

Segera didengarnya angin menyambar, angin senjata yang menyerang dari kanan-kiri, depan dan belakang.

Cepat dia menggerakkan tongkatnya dan terdengar suara "Cring-cring-cring"

Berulang-ulang disusul dengan suara gaduh dan jerit kesakitan.

Orang-orang yang belum ikut menyerbu memandang dengan mata terbelalak keheranan.

Mereka tadi melihat orang-orang pilihan dari kedua fihak menyerbu dan hanya tampak kilat berkelebatan, tapi...

tahu-tahu banyak pedang, golok dan Tombak beterbangan dalam keadaan patah menjadi dua sedangkan lima orang sekaligus roboh bergulingan, menjerit-jerit karena tangan atau lengan mereka berdarah, luka tergores benda tajam!

Hebatnya, ketika mereka melihat lagi ke arah sasaran, si buta itu masih berdiri seperti biasa, dengan tangan kiri memegang Mahkota tinggi dan tangan kanan membawa tongkat!

"Minggir...!"

Bentakan ini keluar dari mulut Ketua Kiang-Liong-Pang dan kakek ini dengan dayungnya menerjang hebat.

Lauw Teng yang tidak ingin melihat Ketua fihak saingan ini dapat merampas Mahkota, cepat mencabut golok besarnya dan hampir berbarengan menyerbu pula ke depan.

Gerakannya ini diikuti oleh Ban Kwan Tojin yang sudah mencabut sepasang pedangnya karena Tosu ini yang berpemandangan tajam sudah mengetahui bahwa pemuda buta ini bukan orang sembarangan dan memiliki kepandaian yang hebat.

Apalagi kalau diingat keterangan pemuda ini yang mengaku sebagai murid Toat-Beng Yok-Mo, tentu saja patut miliki ilmu silat yang luar biasa.

Sementara itu, gadis baju hitam berjuluk Bi Yan Cu, semenjak tadi menahan senjatanya.

Ia seorang gadis yang mewarisi ilmu kepandaian tinggi, pandang matanya awas dan tajam.

Melihat gerak-gerik si buta ini, jantungnya berdebar.

Segera ia dapat mengenal dasar-dasar gerakan yang aneh dan luar biasa, dasar ilmu silat yang sakti.

Oleh karena itu, biarpun ia ikut mendekat, namun ia tidak berani sembrono melakukan penyerangan.

Ia masih belum tahu apa kehendak orang buta yang aneh itu, tidak tahu apakah dia itu kawan atau lawan dan apa pula yang hendak dilakukan dengan perampasan Mahkota itu.

Akan tetapi melihat si buta menentang dua perkumpulan penjahat sekaligus, di dalam hati gadis itu sudah menganggap Kun Hong sebagai kawan.

Maka ia bersikap waspada, pedang di tangan untuk siap membantu si buta kalau-kalau terancam bahaya pengeroyokan puluhan orang banyaknya itu.

Dalam waktu hampir bersamaan pelbagai senjata yang digerakkan oleh tangan-tangan terlatih itu menyambar ke arah tubuh Kun Hong.

Yang terdahulu sekali adalah dayung di tangan Bhe Ham Ko yang menyambar ke arah kepalanya, mengeluarkan suara mengiung saking kerasnya.

Dayung ini menyambar dari kanan ke kiri.

Lalu disusul berkelebatnya golok besar di tangan Lauw Teng.

Sambaran golok ini mengarah leher, juga cepat dan bertenaga sehingga mengeluarkan suara mendesing.

Kemudian sepasang pedang di tangan Ban Kwan Tojin pembantu Lauw Teng itu pun meluncur datang, yang kiri menusuk lambung yang kanan menyerampang kaki.

Gerakan ini dilakukan oleh Tosu itu dengan menekuk lutut, cepat dan berbahaya sekali datangnya pedang, hampir tak dapat diikuti pandangan mata.

Diam-diam gadis jelita baju hitam mengeluarkan keringat dingin.

Ia harus mengaku bahwa tiga orang ini bukanlah merupakan lawan yang lunak dan andaikata ia sendiri yang diserang secara berbareng seperti itu, hanya dengan meloncat jauh mengandalkan Ginkang (ilmu meringankan tubuh) saja agaknya akan dapat menyelamatkan dirinya.

Akan tetapi orang buta itu tidak kelihatan bergerak sama sekali, masih berdiri tegak dengan tangan kiri yang memegang Mahkota diangkat tinggi sedangkan tangan kanan memegangi tongkat melintang di depan dada.

Akan tetapi tiba-tiba kelihatan sinar merah berkilat menyambar-nyambar, merupakan gulungan sinar merah yang menyilaukan mata, disusul suara nyaring berdencingnya senjata tajam saling bertemu dan...

tiga orang pengeroyok ini berseru kaget dan masing-masing melompat mundur sampai tiga meter lebih.

Ketika semua orang yang tadi menjadi silau matanya oleh sinar merah yang bergulung-gulung itu kini dapat memandang penuh perhatian, mereka melihat bahwa Bhe Ham Ko bengong memandang dayungnya yang sudah patah menjadi dua potongan kecil di kedua tangannya, Lauw Teng melongo menatap tangan kanannya yang hanya memegangi gagang golok sedangkan Ban Kwan Tojin merah mukanya karena pedangnya yang kanan terbang entah ke mana sedangkan yang kiri sudah semplok (patah) ujungnya!

Apabila semua orang memandang kepada pemuda buta itu, ternyata si buta ini masih saja berdiri seperti tadi dengan tangan kiri tinggi-tinggi di atas kepala memegang Mahkota emas sedangkan tangan kanan masih memegang tongkat melintang!

Apakah pemuda buta ini main sihir?

Demikian para anak buah kedua perkumpulan penjahat itu bertanya-tanya dan merasa bingung, juga kaget, heran dan gentar.

Akan tetapi tentu saja dugaan ini tidak betul dan para pengeroyok tadi, juga si gadis baju hitam tahu belaka betapa secara hebat pemuda buta itu tadi menggerakkan tongkatnya yang butut dan tampaklah sinar merah bergulung-gulung yang menangkis dan merusak semua senjata itu.

Yang membikin heran mereka adalah kehebatan tongkat itu yang demikian ampuhnya sehingga dapat mematahkan senjata-senjata tajam dan berat.

Bukankah tongkat itu hanya tongkat kayu belaka?

Tentu saja tidak demikian keadaan yang sesungguhnya.

Biarpun hanya tongkat kayu, akan tetapi di sebelah dalamnya adalah pedang Ang-Hong-Kiam, pedang Pusaka yang ampuh sekali.

Apalagi digerakkan oleh tangan yang memiliki tenaga dan kepandaian sakti seperti Kun Hong, sudah tentu para kepala penjahat itu bukanlah tandingannya!

Kun Hong tersenyum dan berkata.

"Mahkota sudah berada di tanganku, akan kukembalikan kepada yang berhak. Kalian tidak usah saling bermusuhan dan bunuh-membunuh. Lebih tidak baik lagi kalau kalian meneruskan pekerjaan kalian yang hina dan kotor ini, pasti kelak tidak akan membawa kalian kepada keselamatan hidup. Sudahlah, aku akan pergi..."

Setelah berkata demikian dengan langkah perlahan pemuda buta itu berjalan maju mendahului kedua kakinya dengan tongkat yang dipakai meraba-raba ke depan.

Karena dia buta, tentu saja dia tidak tahu bahwa dia telah salah mengambil jurusan sehingga dia bukan hendak meninggalkan tempat itu, melainkan dia menuju ke arah kelompok pohon-pohon besar yang memenuhi hutan kecil di lereng bukit.

Kun Hong agak bingung ketika tongkatnya bertemu dengan batang-batang pohon, dia meraba-raba dan berjalan di antara pohon-pohon.

Ketika dia melangkah maju, dia tidak melihat bahwa di atasnya ada sebuah cabang pohon yang tergantung rendah.

Tahu-tahu kepalanya tertumbuk kepada batang pohon ini.

Kagetnya bukan main karena kalau yang memukul kepala itu adalah serangan lawan, tentu dia dapat mendengar angin pukulannya.

Cepat dia miringkan kepala, akan tetapi tak dapat dia mencegah keluarnya "Telur kecil"

Menyendul di dahinya yang mencium batang pohon tadi!

Semua orang yang berada di situ saling pandang dan tak terasa lagi muka tiga orang tokoh yang keheranan tadi berubah menjadi merah sekali.

Orang buta macam begitu saja tak mampu mereka robohkan!

Malah dalam satu kali gebrakan saja mereka telah kehilangan senjata!

Padahal si buta itu mencari jalanpun tidak becus!

"Serang dia!"

Hampir berbareng Lauw Teng dan Bhe Ham Ko berseru.

RIbutlah para anak buah bajak dan rampok berlari maju, menghujani tubuh Kun Hong dengan serbuan senjata mereka.

Akan tetapi kini Kun Hong tidak mau memberi hati lagi.

Dia tadi turun tangan dengan maksud untuk mencegah mereka saling bunuh dan sengaja dia menimpakan rasa permusuhan mereka kepada dirinya karena dia yakin bahwa dia mampu menjaga diri sendiri.

Melihat dirinya dikepung dan diserbu, dia menggerakkan tongkatnya ke arah suara senjata yang menyerangnyai Sinar merah bergulung-gulung dan segera terdengar suara senjata beradu bertubi-tubi, disusul pekik kesakitan dan tampaklah senjata-senjata para pengeroyok itu beterbangan seperti daun-daun kering rontok tertiup angin.

Kali ini Kun Hong sengaja menujukan tongkatnya kepada tangan-tangan yang memegang senjata sehingga dalam sekejap mata saja belasan pengeroyok sudah terluka tangan mereka, luka berdarah yang biarpun tidak membahayakan keselamatan mereka, namun cukup parah sehingga membuat mereka tak berdaya dan tak dapat mengeroyok pula.

Serbuan gelombang ke dua juga mengakibatkan belasan orang pengeroyok lain mundur dan memegangi tangan yang terluka, malah kali ini tidak ketinggalan tangan Lauw Teng, Bhe Ham Ko dan Tosu Ban Kwan Tojin juga terluka!

Melihat kehebatan pemuda buta ini, para pengeroyok menjadi gentar juga, apalagi ketika Kun Hong yang kini berdiri tegak menghadapi mereka itu berkata, suaranya nyaring dan penuh pengaruh.

"Jangan kira bahwa aku tidak mampu mengubah luka pada tangan dengan tebasan pada leher atau tusukan pada ulu hati. Hemmm, orang-orang sesat, apakah kalian masih ingin merampas Mahkota ini yang bukan menjadi hak milik kalian? Sadarlah bahwa perbuatan busuk takkan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan!"

Semua orang kini memandang betapa si buta itu melanjutkan perjalanannya, hati-hati sekali berjalan didahului rabaan tongkatnya, malah kini agak membungkuk-bungkuk karena takut kalau-kalau kepalanya bertumbukan dengan dahan pohon yang rendah lagi.

"Sinshe buta, berhenti kau!"

Tiba-tiba orang tinggi besar muka hitam yang tadi datang bersama Bhe Ham Ko melompat ke depan dan menghadang di depan Kun Hong.

Mendengar angin lompatan ini, Kun Hong maklum bahwa orang yang baru datang menyusulnya ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada tiga orang pengeroyoknya tadi.

"Sahabat siapakah dan ada keperluan apa menahanku?"

"Kau tinggalkan Mahkota itu dan aku masih akan mengampuni perbuatanmu mengacau di sini dan menghina kakak iparku, Kiang-Liong-Pangcu!"

"Hemm, kau siapakah berani bicara sesombong ini?"

Kun Hong bertanya.

"Buka telingamu baik-baik. Tuan besarmu ini adalah Tiat-Jiu (Si Tangan Besi) Souw Ki, seorang di antara tujuh pengawal Kaisar. Mahkota itu adalah benda Pusaka di dalam Istana yang dicuri dan dibawa lari oleh bekas pembesar Tan Hok yang berhenti dan mengundurkan diri. Siapa yang merampas Mahkota ini berarti dialah pencurinya dan patut dihukum sebagai pengkhianat atau pemberontak. Nah, kau serahkan benda itu kepadaku!"

Fihak Hui-Houw-Pang terkejut sekali mendengar pengakuan orang tinggi besar ini dan mereka, terutama Lauw Teng, memandang penuh perhatian.

Kun Hong sendiri juga terkejut.

Tak disangkanya dia akan bertemu kembali dengan seorang di antara tujuh pengawal Pangeran Mahkota Kian Bun Ti yang sekarang sudah menjadi calon Kaisar karena kematian Kaisar tua, Dan dengan sendirinya tujuh orang pengawalnya itu akan naik pangkat menjadi pengawal Kaisar pula.

Setelah mendengar namanya, baru dia mengenal kembali suara orang ini.

Agaknya Tiat-Jiu Souw Ki sendiri lupa kepadanya dan tidak mengenalnya.

Hal ini tidak aneh pula karena dia sudah menjadi buta dan di puncak Thai-San tiga tahun yang lalu, ketika Tiat-Jiu Souw Ki dan enam orang temannya datang pula mengacau, Kun Hong belum buta (baca Rajawali Emas).

Lebih besar lagi keheranan dan kekagetannya ketika dia mendengar dari mulut pengawal itu bahwa pembesar yang telah dirampok, yang katanya mengambil dan melarikan Mahkota ini dari Istana, bukan lain adalah Tan-Taijin yang merupakan kakak angkat dari Tan Beng San!

"Tidak boleh orang merampas dari tanganku,"

Kata Kun Hong tenang dan suaranya keras.

"Kalau kalian tadinya merampas benda ini dari pembesar she Tan itu, aku harus mengembalikan kepadanya juga."

"Keparat, berani kau melawan pengawal Kaisar?"

Tiat-Jiu Souw Ki membentak dan tanpa menanti jawaban Kun Hong dia sudah mengirim pukulan dengan tangan kanannya yang disertai hawa pukulan dan tenaga dalam yang membuat kepalannya itu sekeras besi.

Memang Souw Ki ini waktu mudanya melatih tangannya dengan bubuk besi sehingga kini dia memiliki Ilmu Tiat-See-Ciang (Pukulan Pasir Besi) yang membuat kepalannya seperti besi kerasnya dan karena ini pula dia mendapat julukan Tiat-Jiu (Si Tangan Besi).

Sambaran pukulan tangan ini sudah cukup untuk diketahui Kun Hong tentang keahlian lawan.

Namun dia tidak gentar, malah mengempit tongkatnya dan menggunakan tangan dan memapaki pukulan itu dengan dorongan telapak tangannya.

"Dukkk!"

Kepalan yang besar dan keras itu bertemu dengan telapak tangan Kun Hong yang putih dan halus seperti tangan wanita.

Akibatnya luar biasa sekali.

Souw Ki marasa betapa kepalannya seperti bertemu dengan kapas, seakan-akan tenaganya tenggelam ke dalam air dan sebelum dia sempat menarik tangannya, dari telapak tangan itu timbul hawa panas yang membakar tangannya.

Tubuhnya menggigil, dia jatuh berlutut dan lengan tangannya serasa lumpuh.

Kagetnya bukan main dan cepat dia menarik tangannya sambil mengerahkan tenaga.

Kun Hong melepaskan dan betapa kaget hati Souw Ki melihat kepalan tangannya membengkak dan mulailah terasa nyeri menusuk-nusuk.

Dia melompat mundur dan menyeringai kesakitan.

"Tanganmu tidak apa-apa, besok akan lenyap rasa nyerinya."

Kata Kun Hong.

"Salahmu sendiri menggunakan tenaga beracun dan kini hawa pukulan menyerang tanganmu sendiri."

Setelah berkata demikian, Kun Hong melanjutkan langkahnya.

Tak seorang pun akan mencoba untuk menyerang lagi sekarang, setelah melihat betapa semua serangan dapat dipatahkan sekali gebrak saja oleh pemuda buta.

Melihat si buta itu berjalan dengan tongkat di depan, kelihatannya begitu lemah, begitu tak berdaya, akan tetapi hampir seratus orang banyaknya itu tidak dapat menghalanginya membawa pergi Mahkota itu, benar-benar amat mengherankan!

Orang-orang itu hanya mengikutinya dari jauh tak seorangpun mengeluarkan suara.

Diam-diam gadis jelita baju hitam itupun mengikuti dari jauh.

Ia makin kagum kepada Kun Hong, dan ia dapat melihat sikap para penjahat itu yang agaknya tidak akan mengalah begitu saja.

Siapakah pemuda buta ini?

Lihai bukan main, dari mana datangnya.

dan apa maksud sebenarnya membawa pergi Mahkota kuno?

Demikian bermacam pikiran mengaduk di hati Bi Yan Cu.

Sengaja ia menyelinap di antara pepohonan dan menghilang dari pandangan mata orang banyak, lalu diam-diam ia mengikuti semua kejadian atas diri Kun Hong.

Setelah Kun Hong menembus hutan kecil penuh pepohonan itu, barulah si gadis jelita kaget sekali dan maklum apa yang diharapkan oleh para penjahat itu.

Kiranya, tanpa diketahuinya, orang buta itu salah jalan, menuju ke sebuah tebing yang buntu karena berujung jurang yang amat curam dan luas, tak mungkin dilalui manusia!

Tanpa diketahuinya, si buta itu berjalan perlahan-lahan, tongkatnya meraba-raba menuju ke pinggir jurang, sedangkan di belakangnya, hampir seratus orang dari kedua perkumpulan penjahat itu mengikutinya, siap dengan senjata di tangan malah ada yang sudah mementang busur!

Melihat betapa orang buta itu menghadapi bahaya maut yang hebat, Bi Yan Cu ingin berteriak memberi peringatan.

Akan tetapi ia menahan hatinya.

Mengapa ia harus berbuat demikian?

Ia tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan si buta, kecuali bahwa Mahkota itu berada pada si buta dan harus ia rampas.

Si buta itu boleh mampus di tangan penjahat-penjahat ini, apa sangkut pautnya dengannya?

Pula, orang buta itu masih muda dan tampan sekali, kalau ia seorang gadis tanpa alasan membelanya, bukankah orang akan menyangka yang bukan-bukan terhadap dirinya?

Apalagi kalau diingat betapa si buta tadi demikian dekat dan baik dengan gadis pesolek genit anak Lauw Teng, dapat diduga bahwa orang buta itu pun bukan orang baik-baik biarpun kepandaiannya benar-benar amat lihai.

Biarlah mereka saling gempur, dan ia mencari kesempatan baik merampas Mahkota itu.

Inilah siasat membiarkan anjing-anjing merebutkan daging sambil menanti kesempatan untuk menyambar daging itu!

Ketika akhirnya tongkatnya meraba tempat kosong, Kun Hong juga merasa kaget sekali.

Diraba-rabanya sekali lagi ke depan, kanan kiri sama saja.

Jelas bahwa tongkatnya memang meraba tempat kosong.

Dia berjongkok, mencoba untuk mengukur dalamnya "lobang"

Di depannya itu, siapa tahu hanya sungai kecil.

Tapi, biarpun dia sudah mengulur lengan dan tongkatnya, masih juga belum menyentuh dasarnya.

Dan dia tidak mendengar suara air sungai.

Kemudian dia mundur dan melangkah dua tindak ke belakang, keningnya berkerut.

Telinganya mendengar suara Burung jauh di bawah ketika dia berjongkok tadi.

Tahulah dia sekarang bahwa di depannya adalah jurang yang sangat curam, bahwa di "Bawah"

Sana itu adalah kaki gunung, dusun-dusun dan pohon-pohon di mana Burung-Burung beterbangan! "Kwan-Sinshe, kau masih tidak mau menyerahkan Mahkota itu?"

Tiba-tiba dia mendengar suara bentakan di belakangnya, suara Lauw Teng, juga dia mendengar kaki puluhan orang banyaknya, bergerak berindap-indap ke arahnya dari belakang, kanan dan kiri.

Dia maklum bahwa dirinya sudah terkurung dari kanan kiri belakang oleh para lawannya, dari depan dihalangi jurang yang tak mungkin dilalui.

Dia membalik, tersenyum dan menjawab.

"Pangcu, kalau Mahkota ini terjatuh ke dalam tanganmu, tentu orang-orang Kiang-Liong-Pang takkan diam begitu saja dan akan merampasnya dari tanganmu, sebaliknya kalau kuberikan kepada Ketua Kiang-Liong-Pang, tentu kau dan anak buahmu juga tidak akan mau menerima begitu saja. Karena itu, biarlah tetap di tanganku dan kalian tidak usah saling bermusuhan."

Kun Hong melangkah maju, ingin segera menjauhi pinggir jurang karena hal ini amat berbahaya baginya.

Akan tetapi atas dorongan Ketua kedua perkumpulan, para bajak dan perampok segera menyerbu, didahului melayangnya puluhan batang anak Panah ke arah Kun Hong!

Pemuda buta itu cepat memutar tongkatnya dan anak-anak Panah itu runtuh semua, ada yang melejit dan meluncur kembali menyerang tuannya sendiri.

Biarpun Kun Hong dihujani anak Panah, namun tak sebuah pun dapat menyentuhnya.

Tongkat yang dia gerakkan merupakan perisai yang amat tangguh, juga gerakannya mengandung hawa sakti yang amat kuat sehingga anginnya saja cukup untuk mengusir pergi anak Panah yang mendekatinya.

Akan tetapi puluhan orang itu mendesak maju, kini menggunakan Toya, Tombak dan senjata-senjata panjang lain.

Kun Hong menangkis, mematahkan banyak Tombak dan Toya, merobohkan banyak pengeroyok dengan melukai mereka tanpa membahayakan keselamatan nyawa.

Karena menghadapi pengeroyokan berat, dia terpaksa harus bergerak ke sana ke mari, mulai menendang untuk membantu tongkatnya.

Dia tidak gentar menghadapi pengeroyokan orang-orang yang baginya bukan merupakan lawan yang tangguh itu...

akan tetapi karena para penjahat itu mengeroyoknya sambil berteriak, hal ini amat, membingungkan Kun Hong.

Harus diketahui bahwa pemuda buta ini dalam setiap pertempuran mengandalkan telinganya.

Kini orang-orang itu mengeluarkan teriakan-teriakan gaduh, tentu saja pendengarannya menjadi kacau-balau dan dia tak dapat menangkap desir angin sambaran senjata lagi.

Dalam keadaan begini terpaksa Kun Hong hanya mainkan tongkat melindungi dirinya saja, dan terpaksa dia menggunakan kakinya untuk menendang dan merobohkan lawan, karena untuk merobohkan lawan dengan tongkatnya, dia khawatir kalau-kalau akan menewaskannya.

Mendadak di antara para pengeroyok itu ada yang mengeluarkan tambang panjang, dipegang melintang dan dipasang di depan Kun Hong yang masih sIbuk menghadapi pengeroyokan.

Secara tiba-tiba tambang ditarik dan dipergunakan untuk membetot kaki orang buta itu.

Kun Hong kaget dan cepat melompat ke sana ke mari.

Akan tetapi celakalah dia kalau sampai jatuh karena libatan tambang, Orang-orang yang mengeroyoknya bersorak dan pengeroyokan menjadi makin ketat.

"Manusia-manusia curang!"

Bi Yan Cu tak dapat menahan kemarahannya lagi dan sesosok bayangan hitam berkelebat didahului sinar pedang yang menyilaukan mata.

Pekik kesakitan susul-menyusul, dan beberapa orang penjahat roboh oleh pedang si gadis yang ampuh.

"Heee... jangan...!"

Kun Hong berteriak mendengar jeritan-jeritan itu, akan tetapi pada saat itu dia lupa dan melompat agak jauh.

Celaka baginya, dia justeru melompat ke arah jurang, tepat di pinggirnya, kakinya terpeleset dan tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya terguling ke dalam jurang.

Para bajak dan perampok bersorak-sorai dan mereka kini membalik untuk mengeroyok gadis jelita baju hitam yang mengamuk seperti seekor naga betina.

Sebetulnya, Ketua dari dua perkumpulan penjahat itu tidak ada nafsu untuk mengeroyok Bi Yan Cu, karena selain mereka tidak suka bermusuhan dengan puteri Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui si raja kecil dari pantai Po-Hai, juga Mahkota kuno yang diperebutkan berada di tangan si buta yang kini sudah terjungkal ke dalam jurang.

Perlu apa rIbut-rIbut dengan gadis liar itu?

Akan tetapi, keadaannya lain sekarang.

Bukan mereka yang sengaja mengeroyok, adalah Bi Yan Cu yang sengaja mengamuk!

Entah bagaimana, melihat betapa pemuda buta itu dikeroyok sampai terjungkal ke dalam jurang, gadis ini menjadi marah sekali dan mengamuk seperti ayam betina diganggu anaknya.

Karena amukan gadis ini merobohkan banyak anak buah bajak dan perampok, dua orang Ketua itu bersama para pembantunya menjadi marah dan mereka lalu menyerbu dan dikeroyoklah Bi Yan Cu oleh banyak orang kosen.

Ilmu pedang gadis itu benar-benar hebat, tepat seperti yang diduga oleh Kun Hong tadi.

Gerakannya lincah dan lemas, seperti sedang menari-nari dengan indahnya, namun setiap gerakan pedang pasti mematahkan senjata lawan atau melukainya.

Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan Lauw Teng, Ban Kwan Tojin, Bhe Ham Ko, lima orang tamu undangan termasuk Tiat-Jiu Souw Ki yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi juga, gadis ini mulai terdesak.

Ilmu pedangnya yang sakti, yaitu Ilmu Pedang Sian-Li Kiam-Sut (Ilmu Pedang Bidadari) memang dapat menyelamatkan dirinya.

Gerakannya masih tetap lincah dan indah, akan tetapi lewat seratus jurus, ia mulai lelah.

"Ha-ha-ha, gadis liar, apakah engkau masih hendak mengamuk lagi? Hemmmm, melihat muka Ayahmu, asal kau melepaskan pedang dan berlutut minta maaf, biarlah kulepaskan kau!"

Kata Lauw Teng yang bagaimanapun juga masih merasa khawatir kalau-kalau dia menimbulkan Bibit permusuhan dengan raja kecil pantai Po-Hai yang amat terkenal itu.

"Lebih baik mampus daripada minta maaf kepada penjahat-penjahat keji macam kalian!"

Sambil memutar pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu berubah menjadi gundukan sinar kemilauan, gadis itu memaki.

"Manusia-manusia curang, kalau memang gagah jangan main keroyokan!"

Sekali gulungan sinar pedang itu menyambar ke kiri, seorang pengeroyok menjerit dan pundaknya terbabat pedang.

Baiknya ia masih sempat melempar diri ke belakang sehingga hanya kulit dan bagian daging pundaknya saja yang sapat oleh pedang.

Namun cukup mendatangkan rasa perih dan nyeri bukan main sehingga ia melompat mundur sambil merintih-rintih.

Lagi terdengar jeritan keras ketika pedang Bi Yan Cu yang dikelebatkan ke belakangnya berhasil merobek kulit dan daging paha seorang pengeroyok lain, malah dalam detik berikutnya pedang itu sudah menusuk ke arah leher Bhe Ham Ko dengan kecepatan kilat.

Orang she Bhe ini berseru kaget dan tak kuasa untuk menangkis atau mengelak lagi, sudah meramkan mata menanti datangnya maut.

"Tranggg!"

Ruyung di tangan Tiat-Jiu Souw Ki menangkis pedang yang akan merenggut nyawa kakak isterinya itu.

Ujung Ruyungnya terbabat putus akan tetapi gadis itu sendiri terhuyung mundur, tangannya terasa sakit.

Ia maklum bahwa tenaga Lweekang dari Si Tangan Besi itu benar-benar kuat sekali.

Sebelum ia dapat mengambil kedudukannya, ia telah diserang gencar oleh senjata-senjata lawan secara bertubi-tubi.

Sekali putar pedangnya dapat menangkis semua senjata, dan Ruyung yang sudah menghantam pinggangnya telah ia tangkis dengan sebuah tendangan keras menggunakan tumit kakinya.

Pada saat itu, golok dan pedang lawan yang lain sudah menggempurnya, Bi Yan Cu menggoyang pedangnya, tapi agaknya para pengeroyoknya yang terdiri dari orang-orang pandai ini sudah bersepakat untuk mengalahkannya.

Dari kanan kiri datang golok dan pedang yang menjepit pedangnya.

Bi Yan Cu kaget, mengerahkan tenaga untuk menarik pulang pedangnya.

Namun pada saat itu, sebatang pedang lain menyerampang kakinya.

Cepat ia meloncat ke atas dan tak dapat dicegah lagi ia harus menerima hantaman dayung yang datang dari kanan, menggunakan pangkal lengan kanannya.

"Bukkk!"

Hantaman itu membuat tubuhnya tergetar tangan kanannya lumpuh kaku dan terpaksa ia melepaskan pedangnya untuk dapat meloncat ke atas, lalu membalik ke belakang dan keluar dari kepungan.

"Hayo berlutut minta ampun kalau tidak mau mampus!"

Sekali lagi Hui-Houw-Pangcu Lauw Teng membentaknya.

Gadis itu berdiri dengan tegak, matanya berapi-api, kepalanya dikedikkan dan mulutnya tersenyum mengejek.

Ia adalah puteri seorang gagah perkasa dan semenjak kecil ia sudah digembleng tentang kegagahan.

Mati bukan apa-apa bagi Bi Yan Cu.

Sambil mengeluarkan pekik nyaring gadis ini malah menerjang maju dengan tangan kosong, menggunakan kepalan tangan dan tendangan kaki!

Para pengeroyoknya yang sudah menjadi marah itu menyambutnya dengan hujan bacokan.

"Cring-cring-cring...!"

Sinar merah berkelebat dan senjata-senjata para pengeroyok itu berpelantingan.

Semua orang mundur penuh keheranan dan...

kiranya si buta sudah berada di situ.

Si buta inilah yang tadi menangkis semua senjata itu, menolong nyawa Bi Yan Cu.

Dan tangan kiri yang diangkat tinggi-tinggi itu masih memegang Mahkota yang diperebutkan!

Ketika Kun Hong menginjak pinggir jurang yang mengakibatkan dia terperosok dan terguling ke dalam jurang, pemuda ini tidak kehilangan akal.

Dengan menahan napas dia mengerahkan seluruh kekuatan Ginkangnya, memutar tongkatnya menusuk-nusuk ke kanan kiri.

Akhirnya usahanya berhasil.

Sebelum terlalu dalam dia terjatuh, ujung tongkat yang ditusukkan telah menancap dinding jurang yang merupakan tanah keras.

Dia bergantung di situ.

Mahkota itu dia selipkan dalam buntalan di punggungnya, lalu tangan kirinya meraba-raba.

Begitu mendapat pegangan, yaitu batu yang menonjol pada dinding itu, dia mencabut pedang, menggunakan tangan kiri menarik tubuh ke atas dan menancapkan pedangnya di sebelah atas.

Demikianlah, biarpun lambat akhirnya dia berhasil merambat ke atas kembali dan meloncat ke luar dari jurang yang merupakan mulut maut yang akan menelannya.

Dan tepat sekali dia masih keburu menyelamatkan Bi Yan Cu dari bahaya maut di tangan para penjahat.

Lauw Teng dan kawan-kawannya melihat munculnya si buta ini menjadi kaget dan khawatir sekali.

Akan tetapi Tiat-Jiu Souw Ki yang berpikiran cepat dan cerdik segera berkata.

"Tawan dulu gadis liar ini!"

Dia mendahului menubruk ke arah Bi Yan Cu, disusul kawan-kawannya.

Gadis itu tadinya merasa heran, kaget dan juga girang melihat Kun Hong, sekarang dengan cepat ia berusaha untuk melawan.

Akan tetapi karena lengan kanannya terasa kaku dan lumpuh, sia-sia saja ia melawan dan dapatlah ia diringkus dan diikat kaki tangannya.

"Sinshe buta, jangan bergerak atau... gadis ini akan kami bunuh lebih dulu!"

Teriak Tiat-Jiu Souw Ki dengan suara nyaring sambil menempelkan Ruyungnya pada kepala Bi Yan Cu.

Lemas seluruh tubuh Kun Hong mendengar ini.

Karena matanya sudah buta, ilmu silatnya hanya dapat dia pergunakan untuk menjaga diri, yaitu dia dapat menghadapi tiap serangan dan sekalian merobohkan lawannya.

Akan tetapi untuk menyerang orang, sungguh sukar baginya, apalagi untuk menolong gadis yang dikeroyok itu.

Tadi dia masih dapat menggerakkan tongkat untuk menghalau semua senjata mengandalkan pendengarannya terhadap angin pukulan senjata itu, sekarang tak mungkin dia secara mengawur dapat mengamuk.

Pula, bukan maksudnya untuk menyerang orang kalau dia sendiri tidak diganggu.

Maka sejenak dia menjadi bingung, tak tahu dengan cara bagaimana dia dapat menolong puteri dari Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui.

"Sudahlah,"

Akhirnya dia berkata dengan suara rendah.

"Kalian menghendaki Mahkota butut ini? Nah, kalian boleh menerimanya asal gadis itu dibebaskan."

Lauw Teng, Ban Kwan Tojin, Souw Ki, dan Bhe Ham Ko saling pandang. Lalu Tiat-Jiu Souw Ki mewakili mereka semua bersuara.

"Sinshe buta, kami baru mau membebaskan gadis ini kalau kau suka menyerah menjadi tawanan kami dan menyerahkan Mahkota itu."

Kun Hong mengerutkan kening.

Tentu saja berbahaya baginya kalau dia sampai menyerah dan menjadi tawanan orang-orang kejam ini.

Besar kemungkinan dia akan dibunuh mati.

Sebaliknya, kalau tidak menyerah dan mengamuk, sungguhpun dia mampu mengalahkan mereka, namun gadis puteri Tan Beng Kui itupun terancam keselamatan nyawanya.

Gadis yang menurut suaranya baru belasan tahun usianya itu benar-benar amat sayang kalau harus mati, apalagi ia puteri Tan Beng Kui, atau lebih tepat lagi, ia apalagi kemenakan Tan Beng San Taihiap!

Berbeda dengan dia, seorang buta yang tidak berharga, baik jiwa maupun raganya.

Mati baginya hanya berarti mempercepat persatuan kembali dengan mendiang Tan Cui Bi, kekasihnya, matahari hidupnya!

"Baiklah, aku menyerah.

Kalian bebaskan gadis itu!"

Katanya sambil menarik napas panjang.

"Ha-ha, pengemis buta! Jangan kira kami begitu bodoh. Kau harus menyerah untuk dibelenggu kedua tanganmu!"

Bhe Ham Ko tertawa mengejek. Kun Hong tersenyum masam, menahan kemarahannya, lalu mengulurkan kedua lengan disejajarkan ke depan.

"Boleh, kalian belenggulah."

Seorang anak buah Kiang-Liong-Pang yang diberi isyarat oleh Ketuanya lalu melangkah maju, membawa tambang kulit kerbau yang kuat sekali.

"Jangan mau menyerah! Kau akan dibunuh oleh penjahat-penjahat jahanam ini!"

Tiba-tiba Bi Yan Cu berseru nyaring. Kun Hong menggelengkan kepala.

"Lebih baik aku yang dibunuh, apa sih artinya orang seperti aku? Hayo, kalian belenggulah aku, tapi lepaskan dulu gadis itu!"

"Kau harus dibelanggu lebih dulu!"

Kata Bhe Ham Ko. Tentu saja dia tidak menghendaki si buta ini kemudian tidak memegang janjinya setelah si gadis dibebaskan.

"Hah, kalian tidak percaya kepadaku. Hemmm, sebaliknya bagaimana aku dapat percaya kepada kalian?"

"Jangan mau diperdayai!"

Kembali gadis itu mencela nyaring.

"Kalau mereka berani menggangguku, Ayah akan datang menghancurkan jiwa anjing mereka, tidak seekor pun akan diampuni!"

Kun Hong tidak membantah ketika anak buah bajak itu membelenggu kedua pergelangan tangannya dengan tali kulit yang amat kuat itu, Juga Mahkota itu diambil dari buntalannya dan diserahkan orang kepada Souw Ki yang lalu tertawa bergelak.

"Lepaskan gadis liar itu,"

Kata Souw Ki.

"Jangan sampai dunia kang-ouw mengatakan kita tidak memegang janji. Nona, katakan kepada Ayahmu bahwa bukan sekali-kali kami hendak memusuhinya, akan tetapi karena kau sendiri yang memusuhi kami, terpaksa kami bertindak. Kau harus tahu bahwa aku adalah pengawal Kaisar dan karena benda ini adalah milik Istana, sudah menjadi kewajibanku untuk mengambilnya kembali."

Nona itu dibebaskan.

Ia meloncat berdiri akan tetapi terhuyung-huyung.

Kakinya terasa kaku dan tangan kanannya tak dapat digerakkan, agaknya ada tulang yang patah.

Ia pergi menjemput pedangnya yang menggeletak di atas tanah, memegangnya dengan tangan kiri, dipegangnya erat-erat sambil menggigit Bibir.

Ingin ia mengamuk dan membunuh semua penjahat ini untuk merampas Mahkota dan menolong si buta, akan tetapi ia tidak begitu bodoh dan tahu-pula bahwa usahanya ini akan sia-sia dan hanya akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia belaka.

Andaikata belum terluka lengan kanannya tentu ia takkan menyerah mentah-mentah.

Ia berdiri seperti patung melihat betapa ujung belenggu yang masih panjang ditarik orang dan si buta itu diseret seperti orang menuntun kerbau saja.

Beberapa kali Kun Hong tersandung batu dan terhuyung-huyung akan jatuh, ditertawai oleh anak buah bajak dan rampok.

Tanpa menggunakan tongkatnya untuk meraba jalan di depan kakinya, tentu saja dia tak dapat berjalan dengan baik, tidak melihat adanya batu-batu yang menghalang kedua kakinya, apalagi diseret seperti itu.

Tongkat itu masih dipegangnya, akan tetapi tidak dapat digunakan karena kedua tangannya harus diangkat agak tinggi ketika diseret.

"Kenapa... kenapa kau lakukan ini...?"

Gadis itu berteriak, menahan isak.

Kun Hong mendengar ini, biarpun teriakan itu sebetulnya hanya nyaring di dalam hati gadis itu, yang keluar dari Bibirnya keluhan perlahan.

Dia menengok dan tersenyum, berkata.

"Nona, mengingat pamanmu, Tan Beng San Taihiap, aku rela melakukan ini..."

Sementara itu, kesIbukan nampak pada para pimpinan kedua perkumpulan yang tadinya saling bermusuhan tapi sekarang telah berbaik kembali.

"Souw-Ciangkun, dalam merampas kembali Mahkota dari tangan bekas pembesar Tan, kami pun mempunyai jasa, jangan lupakan ini!"

Terdengar Lauw Teng berkata. Tiat-Jiu Souw Ki tertawa.

"Jangan khawatir, Lauw-Pangcu. Aku akan membawa kembali Mahkota ini ke Kota Raja dan di depan sri baginda Kaisar pasti akan kulaporkan tentang jasa Hui-Houw-Pang dan Kiang-Liong-Pang. Tunggu saja, tak lama kalian semua akan memperoleh anugerah dari Kaisar."

Para anak buah bajak dan rampok bersorak gembira.

Souw Ki lalu memilih sepuluh orang dari Hui-Houw-Pang dan sepuluh orang lagi dari Kiang-Liong-Pang untuk mengawalnya ke Kota Raja.

Malah Ban Kwan (lanjut ke

Jilid 03) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 Tojin yang hendak berpesiar ke Kota Raja pun menyertai rombongan ini.

Hui-Houw-Pang yang merasa berterima kasih bahwa adik ipar dari bekas musuhnya ini ternyata tidak memusuhinya cepat menyediakan dua puluh dua ekor kuda yang kuat-kuat untuk rombongan itu.

Berangkatlah dua puluh dua orang itu naik kuda.

Anak buah yang berkuda paling belakang memegang ujung tali belenggu tangan Kun Hong.

Begitu kuda bergerak, tubuh Kun Hong tersentak ke depan dan terpaksa pemuda buta ini lari pontang-panting, meloncat-loncat agar jangan tersandung batu, dengan kedua tangan diacungkan ke depan.

Dia terhuyung-huyung ke depan dan agaknya penglihatan ini amat lucu bagi kedua golongan hitam buktinya mereka tertawa bergelak-gelak dengan geli.

Bi Yan Cu menyelinap pergi di antara pepohonan, tangan kiri yang menggenggam gagang pedang diusapkan ke depan muka untuk menghapus air mata yang berderai jatuh ke atas kedua pipinya.

Tiat-Jiu Souw Ki memang seorang yang amat cerdik.

Ketika mendengar bahwa pemuda buta ini pandai ilmu pengobatan, timbul niat hatinya untuk memaksa pemuda itu ikut ke Kota Raja agar dapat dipergunakan kepandaiannya itu.

Tentang kepandaiannya ilmu silat yang demikian hebatnya, ah, tak usah dikhawatirkan karena betapapun pandainya seorang buta tentu mudah ditipu.

Biarpun kuda-kuda itu berlari tidak terlalu cepat, namun keadaan Kun Hong yang diseret-seret cukup sengsara.

Berkali-kali dia terperosok ke dalam lubang di tanah, atau tersandung batu sehingga dia terjungkal ke depan dan terseret oleh kuda.

Baiknya pemuda ini memang memiliki Ginkang yang tinggi dan tubuhnya sudah memiliki hawa murni yang membuat kulitnya kebal sehingga biarpun tampaknya dia tersiksa sedemikian hebatnya, namun sesungguhnya dia tidak sampai menderita nyeri dan tidak terluka sama sekali.

Tadi memang dia menyerahkan diri untuk menggantikan gadis itu, dan dia sengaja menurut saja diseret-seret sampai beberapa jam lamanya untuk memberi kesempatan kepada gadis itu pergi menjauhkan diri.

Selain itu, juga lebih mudah baginya untuk turun gunung dengan cara "Membonceng"

Seperti ini daripada harus mencari jalan sendiri di tempat yang asing baginya.

Memang cocok sekali harapannya, dia diseret turun gunung dan hari telah menjelang senja ketika rombongan itu memasuki sebuah dusun di kaki gunung.

Bukan hal aneh pada masa itu bahwa rakyat amat takut terhadap setiap rombongan orang yang bersenjata, baik rombongan ini merupakan pasukan tentara pemerintah atau bukan.

Ini terjadi akibat tekanan-tekanan dan gangguan yang selalu dilakukan oleh rombongan-rombongan macam itu untuk menyenangkan diri sendiri tiap kali mereka melewati sebuah dusun.

Merampas makanan tanpa bayar, memaksa penduduk membawakan beban, merampas kaum wanita dan sebagainya.

Maka ketika pada sore hari itu rombongan Tiat-Jiu Souw Ki memasuki dusun di kaki gunung ini, penduduknya sudah pada lari menyembunyikan diri, rumah-rumah sebagian besar ditutup pintunya.

Rombongan itu berhenti di tengah-tengah dusun, di depan sederetan rumah-rumah gubuk kecil terbuat daripada bambu, rumah orang-orang miskin.

Juga rumah-rumah ini biarpun tidak ditutup pintunya, kelihatan sunyi tiada penghuninya.

Memang perlu apa rumah-rumah ini ditutup pintunya kalau di dalamnya tiada sesuatu yang cukup berharga untuk dicuri orang?

Tiat-Jiu Souw Ki yang merasa lapar dan haus, yang lelah setelah tadi mengalami pertempuran, ingin beristirahat dan bermalam di kampung ini.

Melihat kesunyian tempat itu, dia mengerutkan kening dan mengomel.

"Sungguh tidak sopan penduduk dusun ini!"

Ban Kwan Tojin menjawab.

"Memang sebagian besar dusun-dusun seperti ini selalu dikosongkan kalau ada rombongan orang-orang asing lewat, Ciangkun. Karena itu, kalau pemerintah yang baru sekarang ini benar-benar sudah lengkap, harus segera mengusahakan adanya penjabat-penjabat kecil di setiap dusun sehingga segala sesuatu mengenai penghuni dusun-dusun dapat diatur sebaiknya."

Tiat-Jiu melirik ke arah Tosu itu dan diam-diam dia dapat menjeguk isi hati Tosu ini yang seperti juga orang-orang lain ternyata mempunyai ambisi untuk menjadi orang berpangkat.

Dia sedang hendak memerintahkan orang-orangnya untuk mencari tempat penginapan yang baik baginya, tentu saja bukan rumah penginapan umum karena di dusun sekecil itu mana ada losmen?

Yang dia maksudkan adalah rumah terbaik, tak perduli tempat tinggal siapapun, untuk dia mengaso malam itu.

Akan tetapi tiba-tiba dari sebuah di antara rumah-rumah gubuk itu keluarlah seorang anak laki-laki kecil.

Usianya paling banyak lima tahun, tubuhnya kurus kering dan setengah telanjang.

Anak ini keluar setengah berlari, akan tetapi tiba-tiba terhenyak di depan pintunya ketika dia melihat begitu banyak kuda-kuda besar ditunggangi orang berkumpul di depan rumahnya.

Sepasang matanya yang bening itu berseri gembira dan mulutnya segera berseru.

"Kuda bagus... kuda bagus...!"

"A Wan... A Wan..."

Tiba-tiba terdengar suara wanita memanggil dari dalam gubuk itu, suaranya yang terdengar gemetar ketakutan.

Akan tetapi anak kecil itu berjalan tertatih-tatih menonton kuda sampai dia tiba di bagian paling belakang rombongan itu.

Sejenak dia tertegun memandang kepada Kun Hong.

Pemuda buta ini berdiri dalam keadaan terbelenggu kedua tangannya, ujung tambang belenggu dipegang si penunggang kuda.

Pakaian si buta itu di bagian punggung robek-robek semua, di bagian lain sudah kotor oleh debu, juga mukanya berkeringat penuh debu, membuat muka itu kotor dan hitam.

Akan tetapi orang buta ini mulutnya tersenyum karena sesungguhnya Kun Hong girang juga ketika mendapat kenyataan bahwa dia telah dapat "Membonceng"

Rombongan itu sampai ke sebuah dusun. Kalau dia sendiri yang turun dari puncak tanpa penunjuk jalan, kiranya dia akan tersesat dan entah sampai kapan dapat bertemu dengan dusun atau orang.

"Kasihan Paman buta... lepaskan... lepas...!"

Anak itu berteriak-teriak sambil mendekati Kun Hong.

"Anak baik...!"

Kun Hong berkata halus, suara anak itu menggetarkan jantungnya.

"Anak haram, minggat!"

Seorang di antara para pengiring Souw Ki membentak dan "Tar! tar!"

Cambuknya menyambar ke tubuh anak itu.

Anak itu menjerit dan lari mundur sambil menangis.

Dari dalam gubuk berlari ke luar seorang wanita yang serta merta menubruk anaknya, lalu bersama anak itu ia berlutut.

"Ampun, Taiya... ampunkan kami..."

Wanita itu memohon sambil mengangguk-anggukkan kepalanya sampai menyentuh tanah, wajahnya pucat dan ketika ia melirik ke arah Kun Hong, melihat orang buta ini dibelenggu dan pakaiannya rompang-ramping mukanya kotor penuh debu, ia menjadi makin ngeri dan ketakutan sampai tubuhnya menggigil!

Kun Hong tidak tahu mengapa si kejam itu menahan cambuknya, lalu terdengar orang-orang itu tertawa kecil, malah si pemegang cambuk berkata perlahan.

"Aiihh, cantik..."

Lalu terdengar suara Tiat-Jiu Souw Ki.

"Suruh dia melayaniku nanti!"

Si pemegang cambuk mengajukan kudanya mendekati wanita yang berlutut bersama anaknya yang masih terisak-isak itu dan berkata dengan suaranya yang parau.

"He, manis, kau dengar sendiri ucapan Souw-Ciangkun tadi. Sebentar malam kau diajak minum arak manis, ha-ha-ha! Hayo kau ikut sekarang juga."

"Tidak..."

Perempuan itu menangis.

"Apa katamu? Setan! Berani kau menolak?"

"Ampun, Taiyin... hamba... hamba tidak bisa..."

"Tar! Tar!"

Cambuk berbunyi mengerikan di udara, di atas kepala wanita itu.

"Anakmu berbuat kurang ajar, Ciangkun masih mengampuni malah hendak mengajak kau minum arak, tapi kau benar-benar kurang terima. Agaknya kau hendak melihat anakmu dibanting mampus baru menurut!"

Cambuk itu menyambar ke arah bocah tadi dan tahu-tahu telah melibat tubuhnya terus dihentakkan ke atas.

Berbareng dengan jerit mengerikan dari Ibu muda itu, terdengar suara menggereng hebat, sesosok bayangan menyambar ke arah si pemegang cambuk dan pada detik lain si pemegang cambuk itu telah terbanting jatuh dari kudanya dan anak kecil itu telah berada dalam pondongan Kun Hong!

Kiranya pendekar buta yang sakti ini tidak dapat menahan lagi hatinya mendengar semua peristiwa yang tak dapat dilihatnya itu.

Karena maklum bahwa Ibu dan anak itu terancam bahaya hebat, sekali renggut saja belenggu yang mengikat pergelangan tangannya putus semua dan sekali mengenjot tubuh dia telah menerjang si pemegang cambuk yang kejam, mendorongnya jatuh sambil merampas bocah tadi.

Kini dengan tangan kiri memondong A Wan dan tangan kanan memegang tongkat erat-erat Kun Hong menggeser kakinya mendekati si wanita yang masih berlutut dan menangis.

"Tiat-Jiu Souw Ki, kau sejak dahulu tak pernah mengubah watakmu yang jahat!"

Kun Hong memaki, berdiri dengan tegak dan gagah.

"Kau dan enam orang kawanmu benar-benar merupakan tujuh pengawai yang jahat. Dahulu Pangeran Kian Bun Ti yang hendak menggangu keponakan-keponakanku, sekarang kau dan anak buahmu ternyata juga bukan manusia baik-baik. Hemm, kalau tidak lekas-lekas membawa orang-orangmu ini pergi meninggalkan dusun ini jangan bilang aku keterlaluan kalau aku membikin kalian semua tidak dapat lagi meninggalkan tempat ini!"

Sambil berkata demikian Kun Hong membuat gerakan melintangkan tongkatnya di depan dada, gerakan yang sudah dikenal baik oleh Souw Ki dan teman-temannya ketika Kun Hong mengamuk dikeroyok tadi.

Souw Ki kaget dan pucat wajahnya.

Dia memandang penuh perhatian, serasa pernah melihat orang muda yang bersikap begini tabah dan berani, malah yang sekarang berani sekali menyebut-nyebut nama Kaisar baru begitu saja.

"Kau... kau siapakah? Siapa namamu...?"

"Namaku Kun Hong. Kau hendak laporkan kepada Kian Bun Ti yang sekarang telah menjadi Kaisar? Boleh, dia sudah mengenal baik nama ini, malah dia pernah makan minum semeja dengan aku!"

Bukan main kaget dan herannya Tiat-Jiu Souw Ki.

Teringatlah ia sekarang.

Tapi pemuda ini dahulu adalah seorang pemuda pelajar yang lemah, sungguhpun tak dapat disangkal memiliki keberanian yang sukar dicari bandingnya.

Di dalam cerita Rajawali Emas memang telah dituturkan betapa Kun Hong dan dua orang keponakan perempuan, yaitu Kui Eng dan Thio Hui Cu, diundang dan dijamu oleh Pangeran Mahkota Kian Bun Ti.

Pada waktu itu, pengeran muda mata keranjang ini jatuh hati kepada dua orang nona Hoa-San-Pai ini dan hendak mengganggunya, malah mereka telah ditawan.

Kemudian dua orang nona itu dirampas oleh Song-Bun-Kwi, sedangkan Kun Hong dapat menyelamatkan diri mempergunakan ilmu sihirnya (baca cerita Rajawali Emas).

"Kau... kau anak Hoa-San-Pai... putera Ketua Hoa-San-Pai...?"

Dia bertanya gagap. Kun Hong tersenyum, menarik napas panjang.

"Cukup kau ketahui namaku, siapa menyebut-nyebut Hoa-San-Pai segala? Hayo pergi!"

Tiat-Jiu Souw Ki sudah maklum akan kehebatan kepandaian Kun Hong.

Tadi ketika dikeroyok puluhan orang saja pemuda ini dapat membuat semua orang tak berdaya, apalagi sekarang dia hanya berkawan sebanyak dua puluh orang lebih.

Selain itu, sekarang Mahkota sudah berada di tangannya dan kalau membawa tawanan macam pemuda buta ini, tentu hanya akan menimbulkan kesulitan saja di tengah jalan.

Adapun tentang wanita itu, ah, dia hanya iseng-iseng saja, tidak ada harganya untuk diperebutkan.

"Pergi...!"

Dia memberi aba-aba kepada para pengikutnya, lalu mengeprak kudanya.

Penunggang kuda yang tadi menyeret-nyeret Kun Hong dengan wajah pucat juga segera membalapkan kuda pergi dari situ.

Akan tetapi seorang perampok yang mendongkol hatinya dan masih memandang rendah kepada seorang buta seperti Kun Hong, mengejek.

"Ho-ho, kiranya si buta juga mata keranjang! Kau hendak memiliki sendiri si manis ini, heh? Hati-hati, manis, kau tuntun si buta ini baik-baik, ha-ha-ha!"

Kun Hong menggerakkan tangannya dan sebagian tambang yang tadi membelenggu tangannya dan masih menempel di pergelangan tangan menyambar ke arah muka penjahat itu.

Terdengar suara keras dan si mulut kotor itu berteriak-teriak kesakitan.

"Aduhh... aduh... mulutku... gigiku rontok semua... aduh...!"

Dan dia membalapkan kudanya mengejar kawan-kawannya sambil mengaduh-aduh.

Kun Hong masih berdiri tak bergerak, kedua kakinya terpentang, tangan kanan masih memegang tongkat melintang di depan dada, sama sekali tak bergerak seperti patung sampai suara derap kaki kuda tak terdengar lagi oleh telinganya.

Pemuda buta ini merasa betapa dada dan mukanya panas sekali, bukan main marahnya mendengar ucapan kotor penjahat tadi.

Dia menahan napas dan menekan perasaannya sampai perlahan-lahan hawa panas dalam dadanya menurun dan akhirnya kembali dan timbul pulalah senyum yang jarang meninggalkan Bibirnya itu.

Matanya yang berlubang itu tadi agak terbuka pelupuknya ketika dia marah, kini tertutup lagi pelupuknya dan agak berkerut kulit di antara kedua matanya.

"In-Kong (tuan penolong)... terima kasih atas budi In-Kong yang telah menyelamatkan nyawa kami Ibu dan anak..."

Dengan suara tergetar penuh keharuan wanita itu berlutut di depannya dan menyentuh kakinya yang tertutup sepatu rusak-rusak dan penuh debu.

Kun Hong kaget mendengar suara ini dan cepat-cepat dia menarik kakinya lalu melangkah mundur dua tindak.

Dia mendengar suara seorang wanita yang masih amat muda, suara wanita berusia dua puluh tahun lebih.

Akan tetapi wanita ini adalah seorang Ibu, seorang Ibu muda.

"Jangan berlutut... jangan berlebihan, yang menyelamatkan nyawa manusia hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Bangkitlah, Twa-So (kakak), aku tidak berani menerima penghormatan seperti ini."

Wanita itu bangkit sambil menahan isaknya yang masih menyesakkan kerongkongannya.

"Ibu, orang-orang nakal itu sudah pergi?"

Anak kecil itu bertanya, timbul pula keberaniannya setelah orang-orang berkuda itu pergi tidak tampak lagi.

"Sudah, A Wan, mereka sudah pergi. Lain kali kau jangan nakal, jangan keluar sendiri. Kau anak bandel, Ibu sudah melarang tadi kau nekat saja. Untung ada Paman ini yang menolong kita..."

"Ibu, Paman buta ini jagoan, ya? Orang-orang nakal itu takut!"

Anak itu lalu tertawa-tawa senang dan menghampiri Kun Hong sambil meraba tangannya.

"Paman buta, kenapa kau tadi diikat?"

Kun Hong tersenyum, membungkuk dan memondong anak itu dengan penuh kasih sayang.

"Anak baik, kau sudah dapat membedakan orang jahat dan tidak, bagus. Kelak kau tidak boleh menjadi orang seperti mereka itu, ya!"

"Tidak!"

Jawab anak itu keras sambil merangkul leher Kun Hong.

"Aku kelak ingin menjadi seperti Paman yang jagoan. Tapi... Paman buta..."

"Hush, A Wan, jangan lancang mulutmu!"

Bentak Ibunya.

"In-Kong, mari silakan singgah di dalam gubukku, biar kita bicara di dalam."

"Tak usahlah, Twa-So, terima kasih. Aku harus melanjutkan perjalananku."

Kun Hong mencegah, dia dapat menduga bahwa Ibu dan anak ini tentu keluarga miskin, terbukti dari pakaian anak itu yang kasar dan ada tambalannya, tidak bersepatu pula.

Dia tidak mau mengganggu orang yang memang keadaannya sudah amat kekurangan itu.

"Jangan, In-Kong. Kau harus singgah dulu. Pakaianmu robek-robek semua, lagi kotor. Aku mempunyai sestel pakaian, boleh kau pakai dan pakaianmu itu akan kucuci, kujahit. Dan... dan... kau harus makan dulu..."

Suara itu tergetar penuh keharuan dan belas kasihan. Melihat orang buta itu menggerak-gerakkan tangan seperti hendak menolak, wanita itu cepat-cepat melanjutkan, suaranya penuh permohonan.

"In-Kong, tak boleh kau menolak. Kau telah menyelamatkan nyawa kami, kau telah menanam budi sebesar gunung sedalam lautan, aku... aku tak mampu membalasnya. Biarlah aku menjahitkan dan mencuci pakaianmu dan memberi hidangan sekedarnya... untuk menyatakan terima kasihku. Kalau kau menolak dan pergi begitu saja... ah, In-Kong, selama hidupku aku akan merasa menyesal kepada diri sendiri. A Wan, kau ajak pamanmu masuk ke dalam!"

Anak itu dengan suara merdu berkata.

"Paman buta, mari kita masuk. Ibu tadi masak bubur dan ubi merah..."

"A Wan..."

Dengan suara perih Ibu itu mencegah anaknya membuka rahasia kemiskinan mereka. Kun Hong merasa hatinya tertusuk. Dipeluknya anak itu dan dia berkata sambil tertawa.

"Anak baik, biarlah kubikin lega hatimu dan hati Ibumu. Kalian manusia-manusia baik..."

"Paman buta, mari kutuntun kau masuk."

Anak itu melorot turun dan menggandeng tangan Kun Hong.

Ibunya memandang dengan senyum lega menghias wajahnya karena tadinya ia sudah merasa bingung apakah ia yang harus menuntun tamunya itu memasuki rumah.

Tentu saja ia tidak tahu bahwa dengan mudah tamunya ini akan dapat memasuki rumah tanpa dituntun, asalkan ia berjalan lebih dulu karena tamunya itu dapat mengikutinya dari pendengarannya yang tajam, yang dapat mendengar tindakan kakinya.

Sambil tersenyum Kun Hong membiarkan dirinya dituntun oleh anak itu memasuki rumah yang berlantai tanah.

Baru saja melangkahi ambang pintu, anak itu sudah berhenti.

Hal itu berarti bahwa rumah itu benar-benar amat kecilnya.

"Mari silakan duduk, In-Kong. Maaf, tidak ada apa-apa, hanya ada tikar rombeng..."

Kembali Kun Hong menangkap getaran suara yang menusuk hatinya.

"Sini, Paman, sini duduklah..."

Anak itu pun mempersilakannya.

Kun Hong maju dua langkah dan ternyata di situ terbentang sehelai tikar di alas tanah!

Dia lalu duduk bersila di atas tikar dan ketika tangannya meraba ternyata tikar itu rombeng dan di bawah tikar ditilami rumput kering.

Kerut di antara kedua mata yang buta itu makin mendalam.

Alangkah miskinnya keluarga ini.

"Silakan duduk dulu, In-Kong. Aku hendak mengambil pakaian untukmu."

Kun Hong cepat menggoyang-goyang tangannya ke atas.

"Tidak usah, Twa-So, tidak usah. Kalau ada pakaian, biarlah dipakai oleh A Wan ini... aku... aku tidak perlu berganti pakaian."

Ibu muda itu mengeluarkan suara seperti orang tertawa kecil.

"Pakaian yang kusimpan itu adalah pakaian orang tua, mana bisa dipakai A Wan? Tunggulah sebentar."

"Itu pakaian Ayah, Paman. Kau boleh pakai!"

Anak itu berkata.

Hati Kun Hong tidak karuan rasanya.

Terang bahwa keluarga ini miskin, mungkin pakaian itu hanya satu-satunya yang menjadi simpanan Ayah anak ini, bagaimana dia boleh pakai?

Ah, dia mendapat akal.

Perempuan ini mempunyai perasaan yang halus, terdorong oleh budinya yang baik.

Tak boleh dia mengecewakan hatinya.

Biarlah dia berganti pakaian dan membiarkan dia mencuci dan menambal pakaiannya sendiri yang robek-robek.

Setelah itu dia boleh memakai pakaiannya sendiri lagi dan mengembalikan pakaian yang dipakai untuk sementara itu.

Dengan demikian, tanpa merugikan keluarga ini banyak-banyak, ia dapat memuaskan hati nyonya rumah.

Gemersik pakaian menandakan bahwa wanita itu sudah datang lagi.

"Marilah kau berganti dengan pakaian ini, In-Kong, dan biarkan pakaianmu yang kotor dan robek-robek itu di sini, sebentar kucuci dan kujahit. Aku permisi hendak menyiapkan makanan. A Wan, kau temani pamanmu. Baik-baik jangan nakal, ya!"

"Tapi... tapi..."

Kun Hong berusaha membantah.

"Harap In-Kong jangan menolak, biarpun pakaian tua dan hidangan sederhana, kuharap In-Kong sudi menerima tanda terima kasihku yang mendalam..."

Suara itu mengandung permohonan yang mutlak tak dapat dia bantah lagi.

"Tapi badanku kotor semua... aku harus membersihkan badan dulu... begini kotor mana boleh memakai pakaian bersih dan makan?"

Mendengar ini, Ibu muda itu tertawa.

Kun Hong tertarik sekali mendengar suara ketawa ini.

Merdu dan sopan.

Hanya orang dengan hati putih bersih dan jiwa murni yang dapat tertawa seperti itu.

Anak itupun tertawa karena menganggap ucapan Kun Hong ini sebagai kelakar yang lucu.

Memang sikap dan gerak-gerik seorang buta kadang-kadang nampak lucu, lucu dan mengharukan hati.

Mendengar Ibu dan anak itu tertawa-tawa geli, mau tidak mau Kun Hong tertawa pula sehingga di dalam rumah gubuk sepi miskin itu sekali ini penuh tawa menggembirakan seperti cahaya matahari menyinari tempat gelap.

"A Wan, kau antarkan pamanmu ini ke anak sungai di belakang dusun!"

Kata wanita itu sambil pergi ke belakang dengan suara ketawanya masih terdengar.

"Hayo, Paman buta!"

Bocah itu menggandeng tangan Kun Hong dan pergilah keduanya ke luar dari pondok, menuju ke anak sungai.

Ketika ke luar dari pondok dan berjalan ke anak sungai, Kun Hong mendengar bahwa di depan pondok berkumpul banyak orang, malah di tengah perjalanan dia mendengar pula orang-orang berjalan.

"Siapa mereka, A Wan?"

Tanyanya.

"Paman-paman dan Bibi-bibi tetangga, penduduk dusun ini, Paman,"

Jawab anak itu dengan singkat.

Agaknya anak ini mempunyai rasa tidak senang kepada penduduk dusun dan anehnya, tak seorang pun di antara mereka menegur anak ini!

Setelah mandi di sungai kecil yang airnya jernih dan segar itu, Kun Hong segera berganti pakaian bersih dan dia malah mencuci pakaiannya sendiri, dibantu oleh A Wan.

Ternyata pakaian bersih yang terbuat daripada kain kasar itu, pas betul dengan tubuhnya.

Agaknya Ayah anak ini sama perawakannya dengan dia.

Dalam perjalanan pulang, mereka juga bertemu dengan orang-orang dusun.

Amat aneh bagi pendengaran Kun Hong, orang-orang yang tengah bercakap-cakap tiba-tiba menghentikan percakapan mereka di kala Kun Hong dan A Wan lewat.

Ketika mereka sampai di dekat pondok, tiba-tiba Kun Hong berkata kepada A Wan.

"Kau diam saja, A Wan, dan jangan mengeluarkan suara."

Dia lalu bersama anak itu mendekati rumah dan terdengarlah suara Ibu anak itu, suaranya marah bercampur isak tertahan.

"Perduli apa kau dengan urusan pribadiku? Kuberikan kepada siapa pun juga baju suamiku, ada sangkut pautnya apakah denganmu? Kau... kau selalu mengganggu... saudara misan yang durhaka!"

"Huh, dasar perempuan tak tahu malu! Semua orang memandangmu dengan hina, hanya aku yang masih mau memperdulikan. Semua ini karena aku ingat bahwa di antara kita masih ada hubungan keluarga, tahukah kau? Kalau tidak ada aku, apakah kau dan anakmu tidak sudah kelaparan dan menjadi jembel pengemis? Awas kau, kulaporkan kepada Song-Wangwe (Hartawan Song)!"

Terdengar suara laki-laki memaki.

"Pergi...! Pergi...! Aku tidak sudi mendengar ocehanmu lagi...!"

Wanita itu berseru marah.

"Ibu...! Apakah Paman Tiu mengganggumu lagi?"

A Wan tak dapat menahan suaranya dan merenggut tangannya lalu lari membuka pintu belakang.

"A Wan, kau sudah pulang?"

Ibunya menegur dan Kun Hong mendengar betapa kaki seorang laki-laki dengan cepat meninggalkan tempat itu lalu dia mendengar tindakan kaki Ibu A Wan dan anak itu sendiri menyambutnya.

Langkah kaki Ibu anak itu secara tiba-tiba terhenti dan tidak terdengar suaranya bergerak sedikitpun juga, sedangkan A Wan berlari menghampirinya dan memegang lagi tangannya.

Memang Ibu A Wan kaget dan memandang ke wajah Kun Hong dengan mata terbuka lebar.

Setelah wajah pemuda buta itu tercuci bersih.

alangkah jauh bedanya dengan tadi.

Kalau tidak datang bersama anaknya dan tidak mengenakan pakaian yang amat dikenalnya, tentu ia pangling.

Wajah si buta itu berkulit putih halus, wajah yang amat tampan, wajah seorang Kongcu (Tuan muda)!

Kemudian ia melihat pakaian yang sudah dicuci, maka serunya penuh penyesalan.

"Aiihh, In-Kong, kenapa dicuci sendiri pakaiannya? Ah, mana bisa bersih? Berikan kepadaku, biar sebentar kucuci lagi biar bersih. Syukur, kulihat pakaian itu pas benar dengan badan In-Kong."

"Terima kasih... terima kasih... aku menyusahkan saja,"

Kata Kun Hong dan tidak membantah ketika cucian itu diambil orang dari tangannya.

Kun Hong memuji bahwa Ibu muda ini benar-benar seorang yang baik.

Mengenal budi, peramah, dan pandai menyimpan penderitaan hati.

Dia berpura-pura tidak tahu akan persoalan yang baru saja dia dengar tadi, dan mengambil keputusan bahwa dia akan segera pergi meninggalkan tempat itu.

setelah pakaiannya sendiri kering.

Tak lama kemudian nyonya rumah itu datang mengantar sebuah mangkok terisi bubur hampir penuh.

Dengan ujung-ujung jarinya Kun Hong dapat mengetahui bahwa mangkok itu terbuat daripada tanah lempung dan sepasang supit dari bambu, alat-alat makan yang paling sederhana dan murah yang dapat dipergunakan manusia.

"Waduh, enak, Paman buta. Buburnya pakai ubi merah! Hi-hik, kau tahu? Ubi merah ini kucuri dari kebun Paman Lui."

"A Wan!!"

Ibunya menegurnya.

"Paman, Ibu selalu bilang bahwa mencuri adalah perbuatan jahat. Aku tidak pernah mencuri. Tapi Paman Lui ubinya begitu banyak dan aku... aku dan Ibu sudah lama tak makan ubi merah."

Hampir Kun Hong tersedak karena keharuan membuat hawa dari dalam dada naik ke kerongkongannya.

"Ibu betul, A Wan, mencuri adalah perbuatan yang jahat. Lebih baik kau minta saja kepada pemilik ubi..."

"Minta? Uhh, pernah aku minta, bukan mendapat ubi melainkan mendapat cambukan pada pantatku. Tak sudi lagi aku minta. Tapi aku pun tidak akan mencuri lagi, Ibu marah-marah,"

Kata anak itu dengan suara manja.

Bubur yang mereka makan itu sangat encer, terlalu banyak airnya dan ini pun membuktikan betapa miskinnya keluarga itu.

Setelah selesai makan, selesai sebelum kenyang, nyonya rumah menyingkirkan mangkok-mangkok itu dan menyapu tikar dengan kebutan.

Senja telah lewat dan Ibu anak itu menyalakan sebuah pelita kecil, dipasang di sudut pondok.

A Wan duduk di pangkuan Kun Hong dan agaknya anak ini masih menderita oleh peristiwa sore tadi.

Punggungnya yang kena sambaran cambuk diurut-urut oleh Kun Hong dan sebentar saja anak itu tidur di pangkuannya.

"Dia sudah tidur, Twa-So. Di mana tempat tidurnya?"

Tanya Kun Hong perlahan. Sampai lama baru terjawab lirih.

"Di sini juga..."

Kun Hong menarik napas panjang, tangannya mengelus-elus muka anak itu, meraba dahinya, alisnya, mata, hidung, mulut dan dagu. Muka yang tampan, hidungnya mancung mulutnya kecil.

"In-Kong, memang kami tidak mempunyai apa-apa. Dalam rumah ini kosong, hanya ada tikar inilah... tempat kami duduk, makan dan tidur..."

"Maaf, Twa-So, sejak tadi aku belum mendengar Twa-Ko (kakak) pulang. Ke manakah dia?"

Kembali sampai lama tiada jawaban, kemudian jawaban itu bercampur isak tertahan.

"Dia sudah... sudah tidak ada..."

"Tidak ada? Ke mana??"

Kun Hong tidak menduga buruk.

"Sudah meninggal dunia...tiga bulan yang lalu..."

"Ahhh...!"

Kerut di antara kedua mata yang buta itu mendalam.

Ah, sekarang tahulah Kun Hong akan sikap para penghuni dusun itu.

Kiranya Ibu muda ini seorang janda muda.

Dia tahu apa artinya menjadi janda di masa itu.

Janda muda lagi.

Betapa sukarnya hidup bagi seorang janda yang miskin.

Penghinaan akan menimpa dari segenap penjuru, penghinaan lahir batin.

Semua mata akan mengincarnya, penuh cemburu, setiap gerak dapat menimbulkan fitnah.

Sedang mata pria memandangnya lain lagi, pandangan yang penuh nafsu mempermainkan.

Seorang janda bagaikan sebuah biduk kehilangan layar dan kemudi, terombang-ambing di tengah samudera hidup menjadi permainan gelombang.

Janda tua tentu saja lain lagi, yang pertama mengandalkan hartanya, yang belakangan mengandalkan anak-anaknya.

Kembali jari-jari tangan Kun Hong meraba-raba muka A Wan.

"Twa-So, apakah wajah A Wan ini sama dengan wajahmu?"

Lama tak menjawab. Kun Hong tidak dapat melihat betapa wajah tanpa bedak yang amat manis itu menunduk dan kedua pipi yang sehat itu memerah.

"Orang-orang bilang dia mirip dengan aku."

Hemmm, tak salah dugaanku, pikir Kun Hong. Janda muda lagi cantik. Makin berbahaya kalau begini.

"Dan kau tentu belum ada dua puluh lima tahun usiamu,"

Katanya pula.

"Baru dua puluh tiga umurku."

Kun Hong merebahkan tubuh A Wan di atas tikar, lalu dia sendiri bangkit berlutut dan berkata.

"Twa-So, maaf. Tolong ambilkan pakaianku tadi, aku akan berganti pakaian dan aku harus pergi sekarang juga."

"Kenapa...? In-Kong, kenapa kau hendak pergi sekarang? Bajumu masih belum kering benar, dan sedang kutambal punggungnya..."

Kun Hong menggeleng kepala, mengulurkan kedua tangan untuk minta pakaian dan bangkit berdiri.

"Aku harus pergi. Twa-So, kau janda masih baru, kau berwajah cantik dan umurmu baru dua puluh tiga tahun..."

Wanita itu mengeluarkan jerit lirih dan sambil menangis ia menubruk kedua kaki Kun Hong! Tentu saja Kun Hong menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"In-Kong... engkau juga begitu...?? Ah, kalau begitu... kau pukulkan tongkatmu itu kepadaku... kau bunuh saja aku, In-Kong... apa artinya hidup kalau semua orang... juga kau yang kumuliakan... memandang serendah itu kepadaku...? Kau bunuhlah aku... kau bunuhlah."

Karena tangis ini, A Wan menjadi terbangun dan begitu melihat Ibunya menangis sambil merangkul kedua kaki Kun Hong yang berdiri seperti patung serta merta anak itu ikut menangis sambil merangkul Ibunya.

"Ibu... Ibu."

"In-Kong... kau bunuhlah kami... biar terbebas kami daripada penderitaan ini..."

Hancur perasaan hati Kun Hong mendengar Ibu dan anak itu menangis dan memeluki kedua kakinya.

"Kau salah sangka... kau salah mengerti..."

Katanya sambil duduk kembali.

"Aku sama sekali tidak memandang rendah atau menyangka yang bukan-bukan terhadapmu, Twa-So..."

"In-Kong..."

Wanita itu tersedu-sedu dan sejenak menangis dengan muka di atas dada Kun Hong.

Pemuda buta itu membiarkannya saja, maklum betapa hancur hati wanita itu, malah dia menepuk-nepuk bahunya dengan menghIbur dan mengusap-usap rambut A Wan yang menangis di atas pangkuannya.

"Tenanglah, duduklah Twa-So, dan mari kita bicara baik-baik."

Agaknya baru wanita itu sadar akan keadaan dirinya yang menangis sambil bersandar di dada tamunya.

"Ohhh... maafkan aku, In-Kong..."

Ia cepat-cepat mundur dan duduk menekuk lutut, membendung air mata yang bercucuran dengan ujung lengan bajunya. A Wan diraihnya dan anak ini menidurkan kepala di atas pangkuan Ibunya sekarang.

"Twa-So, agaknya kau tadi salah duga. Aku hendak pergi sekali-kali bukan karena memandang rendah kepadamu, sama sekali tidak. Malah sebaliknya. Aku sangat kagum kepadamu dan menghormatimu, karena itu aku hendak pergi agar jangan sampai nama baikmu dirusak orang dengan kehadiranku di sini semalam ini. Lebih baik aku tidur di pinggir jalan daripada tidur menginap di sini dengan akibat merusak namamu, Twa-So!"

"Tidak ada bedanya, In-Kong, sebelum kau datang, namaku sudah dirusak orang setiap hari. Apa perduli dengan omongan orang asalkan kita benar-benar bersih? Dalam beberapa bulan saja aku sudah kebal terhadap fitnah-fitnah dan omongan-omongan kotor mereka, In-Kong. Kalau mereka hendak melakukan fitnah dengan kehadiranmu malam ini di sini, biarlah mereka lakukan. Aku tidak perduli karena aku yakin bahwa kau yang kuhormati dan kumuliakan mengetahui akan kebersihanku."

Kun Hong menarik napas panjang, makin kagum. Wanita ini biarpun miskin dan janda yang tak berdaya, ternyata seorang yang berpendirian.

"Twa-So, maafkan kata-kataku, akan tetapi kupikir... akan lebih baik kiranya bagimu dan bagi anakmu kalau kau... menikah lagi."

"In-Kong, siapakah di dunia ini mau secara jujur menikah dengan seorang janda miskin yang mempunyai seorang anak? Kecuali laki-laki mata keranjang yang hanya bermaksud mempermainkan saja. Semua laki-laki di sekitar tempat ini memandangku seperti itu, tentu banyak yang mau memeliharaku, akan tetapi... mereka hanya ingin mempermainkan, In-Kong. Aku tidak sudi... apalagi Song-Wangwe, aku tidak sudi, biar dia boleh suruh tukang-tukang pukulnya memaksaku."

Kun Hong harus mengakui kebenaran kata-kata ini.

Memang banyak laki-laki di dunia ini yang seperti itu wataknya.

Menganggap wanita hanya sebagai barang mainan, menarik karena cantiknya, suka menikah dengan janda muda yang cantik hanya untuk dipermainkan belaka.

Sudah tentu saja tidak semua laki-laki demikian karena segala sesuatu di dunia ini tentu ada pengecualiannya, akan tetapi sebagian besar laki-laki seperti itulah sifat dan wataknya.

"Susah kalau begitu. Twa-So, apakah kau tidak mempunyai keluarga?"

"Ada seorang pamanku yang tinggal jauh di kota Cin-An, akan tetapi aku tidak tahu betul di mana rumahnya. Satu-satunya orang yang tahu adalah saudara misanku yang jahat, si Tiu yang keparat membantu cepatnya maut merenggut nyawa suamiku dan yang membujuk-bujukku untuk menuruti kehendak Hartawan Song!"

Suara wanita itu memperdengarkan kemarahan ketika menyebut-nyebut nama Tiu dan Song.

"Orang yang datang tadi? Hemm, sebetulnya, mengapa suamimu mati di waktu masih muda? Dan apa maksud Tiu dan Song, Twa-So?"

Dengan suara menyedihkan janda muda itu lalu bercerita.

Tadinya ia hidup bahagia dengan suaminya, seorang petani muda she Yo.

Biarpun keadaannya tidak dapat dikata berlebihan, namun dengan milik mereka sebidang sawah, dapatlah mereka menutupi kebutuhan hidup sederhana, bertiga dengan putera mereka, si kecil Yo Wan.

Mereka sebenarnya adalah suami isteri pendatang baru dari lain dusun di daerah banjir, mereka adalah korban-korban yang lari mengungsi dan akhirnya menetap di dusun itu setelah menukar seluruh barang-barang mereka dengan sebidang tanah.

Namun, malapetaka mulai mengintai mereka ketika di dusun itu datang pula Lao Tiu, saudara misan Yo Kui, petani muda itu.

Lao Tiu ini orangnya licik, curang dan kerjanya hanya berjudi dan selalu terkenal sebagai seorang buaya petualang.

Akhirnya si Lao Tiu ini menjadi kaki tangan tuan tanah kaya raya yang menguasai sebagian besar tanah di sekitar tempat itu dan yang pengaruh dan kekuasaannya dikenal di dusun-dusun sekitarnya.

Tuan tanah Hartawan ini adalah Song-Wangwe (Hartawan she Song).

Seorang laki-laki setengah tua yang mata keranjang dan terkenal tak dapat tidur nyenyak sebelum mendapatkan wanita yang dirindukan, baik wanita itu isteri orang lain atau bukan.

Karena kelicikan dan tipu muslihat Lao Tiu ini, akhirnya Yo Kui masuk perangkap si tuan tanah.

Mula-mula dia diberi hutang untuk membeli Bibit padi dan kerbau, dan karena Yo Kui seorang buta huruf, Maka dia tidak tahu bahwa tuan tanah dan Lao Tiu yang "Berbudi"

Itu membuat surat perjanjian jual beli lalu menyuruh dia menanda-tangani dengan cap jempol.

Dengan ditandainya surat perjanjian yang tak diketahui isinya itu, Yo Kui berarti telah menjual tanahnya, atau lebih tepat, menukar tanahnya hanya dengan kerbau seekor dan Bibit padi sekarung!

Semenjak itu, mulailah Lao Tiu mengerjakan lidahnya yang berbisa.

Malah dengan berani mati dia membujuk Yo Kui supaya "Menyerahkan"

Isteri yang cantik manis itu menjadi "PenghIbur"

Tuan tanah Song, dan merelakan setiap kali Hartawan itu membutuhkannya.

Tentu saja Yo Kui menjadi marah sekali dan serta merta menghajar Lao Tiu saudara misannya itu sampai jatuh bangun.

Akan tetapi pada beberapa hari berikutnya, lima orang tukang pukul tuan tanah itu datang kepada Yo Kui dan menagih pembayaran sewa tanah.

Yo Kui memaki-maki, bilang bahwa dia mengerjakan sawahnya sendiri, mengapa harus bayar sewa?

Kalau si Hartawan menghendaki kembalinya kerbau dan Bibit, boleh diambil kembali kerbaunya dan Bibitnya akan dikembalikan kelak kalau sudah panen.

Terjadi kerIbutan dan Yo Kui disiksa oleh lima orang tukang pukul itu.

Pemuda tani ini jatuh sakit, muntah-muntah darah.

Namun dia masih belum mau menyerah.

Setelah penyakitnya agak sembuh, dia pergi ke kota melapor kepada pembesar setempat tentang perbuatan Hartawan Song dengan kaki tangannya.

Apakah yang terjadi?

Mudah diduga.

Di dalam negara yang masih kacau seperti Tiongkok di masa itu, jarang ada pembesar yang betul-betul memperhatikan kepentingan rakyat, apalagi kepentingan rakyat kecil.

Hukum diinjak-injak, peri kemanusiaan lenyap dari lubuk hati manusia, agaknya orang malah lupa kepada Tuhan, mengumbar nafsu sejadi-jadinya, mengandalkan setan yang pada waktu itu merubah diri di dalam tumpukan harta dan tingginya kedudukan dan pangkat.

Yang berharta dan berpangkat, merekalah yang berkuasa, dialah yang menang, akhirnya siapa yang menang, dialah yang benar!

Oleh karena inilah maka tidak mengherankan apabila pembesar yang dilaporinya itu segera turun tangan melakukan tindakan, periksa sana periksa sini, lalu keluarlah keputusan "Pengadilan", bahwa tanah itu telah menjadi milik Song-Wangwe dengan sah, bahwa Yo Kui harus membayar lunas uang sewa tanah dan mengembalikan tanah itu, dan bahwa Yo Kui harus membayar biaya pengaduannya kepada pembesar itu!

Melihat dan mendengar keputusan pengadilan macam ini, kontan saja Yo Kui jatuh sakit!

Memang dia telah mendapat luka di dalam tubuhnya karena pengeroyokan para tukang pukul, ditambah lagi tekanan batin hebat membuat dia tak dapat turun dari pembaringan, isterinya menjadi gelisah sekali.

Kerbau dan alat pertanian terpaksa dijual, sebagian untuk membayar apa yang sudah diputuskan oleh pembesar itu, sebagian untuk pembeli obat dan makan.

Akan tetapi penyakit yang diderita Yo Kui makin payah.

Dia sakit sampai berbulan-bulan dan setelah semua barang yang ada di dalam rumah dijual oleh isterinya untuk obat dan makan, akhirnya dia...

mati meninggalkan isterinya yang masih muda dan anaknya yang masih kecil!

"Demikianlah, In-Kong..."

Janda muda itu mengakhiri ceritanya sambil menghapus air matanya yang bercucuran.

"Penderitaanku tidak hanya sampai di situ saja... setelah suamiku meninggal, bermunculan setan-setan berupa orang-orang lelaki mata keranjang yang seakan-akan bersaingan dan berebutan untuk membujukku menjadi... isteri muda atau piaraan. Terutama sekali si jahat Lao Tiu itu, dia setiap hari membujuk-bujukku untuk menyerah kepada Hartawan Song..."

Kun Hong menahan kemarahan yang seakan-akan hendak meledakkan dadanya mendengar penuturan janda muda ini.

"Tapi aku bukanlah wanita rendah seperti yang mereka inginkan..."

Janda itu melanjutkan, masih terisak.

"Bagiku, lebih baik aku mati daripada menuruti kehendak mesum mereka, In-Kong... kalau saja aku tidak melihat A Wan... ah... agaknya sudah lama aku menyusul suamiku..."

Ia menangis lagi, kini lebih menyedihkan, sambil mendekap kepala puteranya di pangkuan.

"Besarkan hatimu, Twa-So, dan percayalah bahwa Thian Maha Adil Selalu akan menolong manusia yang sengsaja. Kau tidurlah sekarang dan besok masih ada waktu untuk kita mencari jalan sebaiknya. Hanya satu hal ingin kuketahui. Pamanmu yang tinggal di Cin-An itu, andaikata kau dan anakmu datang padanya, apakah kiranya dia mau menerima kalian?"

"Dia orang baik, In-Kong, dia adik mendiang Ibuku, agaknya dia tentu mau menerima kami, biar aku bekerja sebagai bujang tidak mengapa..."

Percakapan terhenti dan janda muda itu biarpun berkali-kali diminta oleh Kun Hong agar supaya mengaso, tetap saja duduk di dekat lampu untuk menyelesaikan pekerjaannya menambal dan menjahit pakaian Kun Hong.

Beberapa kali ia menengok dan memandang ke arah tuan penolongnya, ternyata si buta itu duduk bersila tak bergerak seperti patung.

"In-Kong... kau tidurlah..."

"Biarlah, Twa-So, aku biasa tidur sambil duduk. Kau mengasolah, kurasa sudah hampir tengah malam sekarang."

"Aku hendak menyelesaikan ini dulu..."

Jawab janda muda itu.

Akan tetapi setelah selesai menambal pakaian itu, ia duduk termenung sambil menatap wajah yang tak dapat balas memandangnya itu.

Hatinya penuh ketrenyuhan, iba hatinya melihat wajah tampan yang berkerut di antara kedua matanya itu.

Aduh kasihan, muda belia yang malang, pikir janda muda ini.

Apa bedanya bagi dia siang dan malam?

Ah, mengapa aku tadi menyuruh dia tidur?

Bukankah selamanya dia seperti orang tidur kedua matanya?

Jantungnya serasa diiris-iris kalau ia menatap kedua pelupuk mata yang tertutup rata itu, mulut yang mengarah senyum namun membayangkan bekas penderitaan batin yang hebat.

Muda belia buta yang malang...!

Memang aneh, janda muda yang sebetulnya juga amat menderita batin dalam hidupnya itu, kini duduk termenung memandang ke arah pemuda buta dengan hati penuh belas kasihan.

Hawa malam mulai dingin.

Janda itu menyelimutkan sehelai karung tipis di atas tubuh puteranya, lalu menengok ke arah Kun Hong yang masih saja duduk seperti patung.

Ia memperhatikan pernapasan Kun Hong yang rata dan panjang.

Benarkah si buta ini bisa tidur sambil duduk?

Orang aneh.

Muda belia yang malang dan aneh.

"In-Kong...?"

Ia berbisik untuk meyakinkan apakah dia benar-benar tidur.

Ingin ia menawarkan selimut, selimutnya sendiri, juga sehelai karung tipis.

Akan tetapi Kun Hong tidak bergerak, tidak menjawab.

Ah, dia sudah tidur, tak boleh diganggu.

Janda muda itu meniup padam api penerangan dan merebahkan diri di dekat anaknya, mendekap anaknya, meringkuk seperti udang di atas tikar rombeng yang dingin.

Kun Hong tidak tidur.

Dia tengah bersamadhi.

Dia mendengar suara janda itu tadi, akan tetapi sengaja tidak menjawab.

Baru lega hatinya ketika janda itu memadamkan api penerangan yang baginya tiada bedanya itu, karena hal itu berarti si janda akan tidur dan dia dapat bersamadhi dengan bebas.

Ayam telah berkokok menyambut datangnya fajar ketika Kun Hong sadar dari tidurnya.

Dia segera menggosok-gosokkan jari tangan kepada jalan darah di sekeliling kepalanya untuk menyegarkan perasaan.

Pernapasan Ibu dan anak yang tidur di depannya itu membuktikan bahwa mereka masih pulas.

Kun Hong tersenyum merasai perbedaan keadaan mereka berdua itu antara hari kemarin dan sekarang ini.

Duka maupun suka sebetulnya hanya bersifat sementara saja, seperti halnya hidup ini sendiri.

Kedukaan yang betapapun besarnya akan lenyap di kala tidur, seperti halnya Ibu dan anak di saat itu, tentu sama sekali lupa akan segala penderitaan hidup, lupa akan segala ancaman-ancaman bahaya, Lupa bahwa mereka hidup serba kekurangan, malah kalau dikaji (dipikirkan masak-masak) benar, dalam keadan sepulas mereka itu, apa sih bedanya hidup kaya atau miskin, apa bedanya tidur diranjang berkasur atau di atas tikar rombeng?

Kun Hong merasa segar badannya.

Kokok ayam jantan saling sahut menyegarkan perasaan dan membangkitkan semangatnya.

Malam tadi sudah diambilnya keputusan.

Dia harus menolong Ibu dan anak ini dan dia harus memberi hajaran kepada orang-orang jahat yang menindas penghidupan orang-orang miskin di dusun itu.

Mendadak Kun Hong miringkan kepalanya.

Dia mendengar derap banyak kaki orang menuju ke rumah gubuk ini!

Mencurigakan juga kalau sepagi itu ada serombongan orang laki-laki mendatangi tempat itu, malah dari suara langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa itu dapat diduga bahwa orang-orangnya sedang marah!

"Perempuan tak tahu malu!

Kau benar-benar membikin kotor dusun kami!"

Terdengar bentakan suara laki-laki yang segera dikenal oleh Kun Hong sebagai suara Lao Tiu yang kemarin sore diusir oleh janda muda itu.

"Dung! Dung-dung!"

Pintu gubuk itu digedor-gedor dari luar.

Janda muda itu dan anaknya terkejut dan bangun.

A Wan segera menangis ketakutan.

Janda muda itupun ketakutan, akan tetapi amatlah terharu hati Kun Hong ketika janda itu berbisik.

"Celaka, In-Kong..., mereka tentu akan mencelakakan kau dengan fitnah..."

Benar-benar seorang berprIbudi, pikir Kun Hong.

Jelas orang-orang itu beralamat tidak baik bagi sijanda itu sendiri, namun yang dikhawatirkan oleh janda itu adalah diri tamunya, bukan dirinya sendiri!

"Tenanglah, Twa-So...

tenang dan jangan takut.

Orang yang benar akan dilindungi Thian.

Nanti kalau aku berdiri dan keluar, kau gendonglah A Wan dan kau harus ikut di belakangku, jangan terlalu jauh.

Kau percayalah kepadaku, tak seorang pun akan berani mengganggu kau atau A Wan."

"Dung-dung-brakk!"

Pintu itu hampir roboh oleh pukulan-pukulan dari luar.

"Sundal! Perempuan hina! Keluarlah bersama pacarmu, laki-laki hina si jembel buta itu... kalau tidak rumah ini akan kurobohkan!"

Teriakan Lao Tiu terdengar pula.

"Dipelihara Song-Wangwe tidak mau malah memasukkan jembel buta, benar-benar seperti anjing menolak roti mencari tai!"

"Kreeeeettttt...!"

Pintu dibuka oleh Kun Hong dari dalam.

Semua mata mereka yang merubung depan pintu pondok itu memandang.

Si buta itu berdiri tegak di ambang pintu, tongkatnya melintang di depan dada, wajahnya tenang mulutnya tersenyum tapi kerut merut di antara kedua matanya makin dalam.

Di belakangnya tampak janda itu berdiri sambil memondong anaknya, jelas bahwa janda itu amat ketakutan, rambutnya awut-awutan mukanya pucat.

"Wah, tak tahu malu... tak tahu malu... berjina dengan jembel buta... kawan-kawan, hayo hajar mampus si buta, seret perempuan hina ini ke depan kaki Song-Wangwe!"

Sementara itu tanpa memperdulikan Lao Tiu mencak-mencak, Kun Hong berbisik kepada janda tadi menanyakan siapa mereka itu. Janda itu berbisik menjawab.

"Lao Tiu dan lima orang tukang pukul Song-Wangwe..."

Panas rasa seluruh tubuh Kun Hong.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 6

Baca Juga: Suling Naga 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert