Eps 8 Raja Pedang - Kho Ping Hoo
Baca online Raja Pedang - Kho Ping Hoo
Cersil Raja Pedang - Kho Ping Hoo.
Ia sayang kepada Thio Eng, kasihan kepada nona itu, maka dia senang mendengar bahwa bukanlah gadis itu yang melakukan penyerangan curang dan keji.
"Tentu ada orang ke tiga yang berbuat curang,"
Katanya.
"Saudara Bun, aku melihat kau menggeletak di hutan itu. Kubawa kau kembali ke Hoa-san dan Lian Bu Tojin sudah berusaha keras menolongmu, menggunakan ular-ular pemberian Giam Kin. Celaka sekali, ular-ular itu sama sekali bukanlah Ngo-tok-coa yang mengandung obat pemunah racun, malah sebaliknya setelah diobati dengan ular-ular itu, kau bertambah payah. Ternyata Giam Kin yang jahat itu telah menipu Hoa-san-pai."
Tercengang juga Bun Lim Kwi mendengar ini.
"Ah, memang tepat sekali wawasan suhu..... sebenarnya Hoa-san-pai adalah tempat orang-orang baik. Aku yang dianggap musuh masih mereka usahakan untuk menolong..... hemmm, kenyataan ini makin menguatkan hasrat hatiku hendak mencari Kwee Sin sampai dapat. Dialah yang bertanggung jawab menerangkan segala keruwetan ini, termasuk urusanku dengan nona Thio Eng....."
"Tapi akulah yang sudah berjanji untuk mencari Kwee Sin....."
"Tidak, saudara Beng San. Kau sudah terlalu banyak melakukan kebaikan terhadap Kun-lun-pai dan kami berterima kasih sekali. Akan tetapi untuk mencari Kwee Sin adalah tanggung jawabku karena dia adalah bekas murid Kun-lun-pai juga. Aku hanya mohon petunjuK-petunjukmu."
Beng San tertegun.
la tidak tahu bahwa Lim Kwi teringat akan pesan suhunya agar supaya mendengarkan nasihat Beng San.
Dia sendiri menganggap Beng San hanya seorang sastrawan muda yang berhati mulia dan yang sudah memberi pertolongan kepadanya dengan taruhan nyawa.
Tentu saja Beng San terheran mengapa seorang pemuda segagah Lim Kwi sampai tidak malu-malu minta petunjuknya.
"Saudara Bun, aku seorang lemah dan bodoh dapat memberi petunjuk apakah? Hanya kuharap saja kau berlaku hati-hati. Penyerangan gelap atas dirimu sudah membuktikan bahwa kau diincar oleh inusuh-musuh gelap. Kwee Sin menurut kabar telah memihak pemerintah penjajah yang sedang hendak digulingkan oleh para pejuang, maka mencari dia sama artinya dengan memasuki gua harimau dan lubang naga. Apalagi kalau diketahui bahwa kau anak murid Kun-lun-pai yang hendak menangkap Kwee Sin, tentu kau dikurung bahaya."
Bun Lim Kwi menjura dan memberi hormat.
"Nasihat-nasihatmu akan kuingat selalu. Semoga saja kelak Thian memberi kesempatan kepadaku untuk membalas semua budi kebaikanmu, saudara Beng San. Perkenankan sekarang aku melanjutkan perjalanan."
Beng San menjadi makin suka kepada pemuda Kun-lun-pai yang amat sopan dan merendah ini.
Diam-diam dia membenarkan diri sendiri yang hendak memenuhi pesan terakhir dari ayah pemuda ini.
Mereka berpisah dan Beng San tidak menahannya lebih lama lagi karena pemuda ini masih selalu gelisah kalau memikirkan perginya Bi Goat yang mengejar Toat-beng Yok-mo.
la sendiri menghadapi banyak urusan penting.
Di samping dia harus mencari Kwee Sin, juga dia berkewajiban merampas kembali Liong-cu Siang-kiam dan di sana masih ada orang yang dia duga adalah kakaknya dan yang sekarang agaknya menjadi kaki tangan Mongol pula.
Apalagi sekarang muncul Bi Goat yang melakukan pengejaran terhadap seorang berbahaya seperti Toat-beng Yok-mo, dia harus membantu dan melindungi gadis gagu itu.
Dengan cepat Beng San lari mengejar untuk menyusul Bi Goat.
Akan tetapi sampai berjam-jam dia tidak melihat bayangan gadis itu maupun bayangan Toat-beng Yok-mo.
Tentu dua orang yang berkejaran itu telah mengambil jalan lain.
Beng San kecewa.
Rindu hatinya terhadap Bi Goat masih menebal, pertemuan yang hanya sebentar itu tldak mencukupi baginya.
Aku harus ke sana pikirnya.
Harus ke Min-san.
la teringat akan Song-bun-kwi dan menjadi ragu-ragu.
Bukankah orang sakti itu selalu memusuhinya?
Malah bermaksud membunuhnya kalau tidak dapat merampas Im-sin Kiam-sut?
Akan tetapi, dia sekarang bukanlah dia dahulu.
Dia tidak takut, kalau perlu dia akan melawan Song-bun-kwi, asal dia bisa dapat bertemu dengan Bi Goat!
"Ah, tugasku masih banyak.
Kenapa aku selalu teringat dia?
Setelah semua tugas selesai dikerjakan, baru aku akan mencari Bi Goat,"
Setelah mencela diri sendiri Beng San menghentikan usahanya mencari dan mengejar Bi Goat.
Urusan merampas kembali Liong-cu Siang-Kiam bukanlah urusan yang terlalu mendesak, tidak perlu dia tergesa-gesa.
Akan tetapi urusan mencari Kwee Sin adalah yang paling mendesak, kemudian urusan tentang kakakfiya, Tan Beng Kui.
Dan dia maklum bahwa untuk mencari dua orang ini dia harus berani memasuki kota raja.
Kwee Sin kabarnya bekerja sama membantu Ngo-lian-kauw, yang menjadi kaki tangan Mongol, adapun orang yang dia duga kakaknya itu datang ke Hoa-san-pai bersama Pangeran Mongol Souw Kian Bi.
Setelah menetapkan hatinya, Beng San lalu mulai melakukan penyelidikan untuk mencari Kwee Sin.
* * * Perjuangan rakyat yang berupa pemberontakan-pemberontakan di sana-sini terhadap pemerintah penjajah makin lama makin berkembang luas.
Pemerintah Goan yang didirikan oleh bangsa Mongol mulai goyah kedudukannya.
Di seluruh daerah pedalaman selalu terjadi perang gerilya yang dilakukan oleh para petani di bawah pimpinan orang-orang gagah.
Pemberontakan-pemberontakan ini bagaikan api yang makin lama makin besar, makin lama makin menjalar dekat kota raja.
Oleh karena ini maka keluarga Kerajaan Goan berkhawatir sekali dan tak dapat enak makan nyenyak tidur.
Penjagaan di sekitar wilayah kota raja diperketat, mata-mata pun disebar di seluruh kota dan desa.
Orang-orang dengan kepandaian tinggi yang dapat ditarik di pihak pemerintah Mongol dengan pancingan harta benda dan kedudukan tinggi, dikumpulkan di kota raja sebagai pelindung keselamatan keluarga Kerajaan Goan.
Sunyi malam itu di sebuah dusun yang letaknya di pinggir kota raja sebelah selatan.
Malam belum larut benar, belum pukul sembilan.
Akan tetapi keadaan sudah amat sunyi dan ketegangan seperti biasanya menyelubungi semua tempat yang berada dekat kota raja.
Hal ini tidak mengherankan oleh karena semenjak terjadinya pemberontakan-pemberontakan, di sekitar kota raja selalu terjadi hal-hal yang hebat.
Seakan-akan terjadi pertentangan antara petugas-petugas keamanan dan para pejuang yang keduanya secara rahasia melakukan tugas masing-masing.
Semacam perang rahasia antara para mata-mata pemerintah kontra para mata-mata pejuang.
Para pejuang yang berahasia itu amat gagah berani dan entah sudah berapa banyaknya pembesar Mongol dan perwira yang tahu-tahu telah kedapatan mati di dalam kamar masing-masing.
Akan tetapi tidak sedikit pula mata-mata pejuang itu tertangkap dan diseret ke depan pengadilan yang cepat memutuskan hukuman mati bagi mereka ini.
Dua bayangan manusia berkelebat cepat sekali dalam kegelapan malam itu.
Dengan ginkang yang tinggi kedua orang ini berlompatan menuju ke sebuah rumah yang tua dan buruk, tapi cukup besar.
Kiranya rumah ini adalah sebuah rumah penginapan merangkap warung nasi yang sederhana, sebagai tempat menginap para saudagar dan pelancong yang hendak memasuki kota raja.
Dua bayangan itu memasuki rumah dengan jalan aneh, yaitu melalui belakang dengan melompati pagar tembok.
Di luar sebuah jendela mereka berhenti dan mengetuk jendela itu perlahan tiga kali.
Dari dalam ada jawaban ketukan dua kali lalu jendela terbuka.
Dua orang itu sekali melompat sudah melayang masuk.
Kamar itu cukup luas.
Di dalamnya sudah duduk tiga orang, yaitu orang berpakaian tentara berusia empat puluh tahun, seorang laki-laki pengemis yang berpakaian jembel bertubuh kurus dan pucat berusia kurang lebih lima puluh tahun dan yang seorang adalah seorang nenek tua bongkok berambut putih.
Adapun dua orang yang baru datang ini ternyata adalah dua orang kakek berpakaian seperti petani bercaping topi tani lebar.
Yang hebat adalah baang yang dibawa oleh dua orang itu.
Ternyata sekarang di bawah penerangan lampu bahwa dua orang kakek petani ini masing-masing menjambak rambut sebuah kepala manusia!
Begitu masuk, keduanya tertawa dan melemparkan dua buah kepala orang di atas meja.
Tiga orang itu segera bangkit dah memandang ke arah dua buah kepal itu penuh perhatian.
Mereka mengenal dua buah kepala itu sebagai kepala dua orang perwira pemerintah Mongol yang kuasa di kota tak jauh dan situ.
segera nenek itu bangkit dan menyambar dua buah kepala tadi, dimasukkanlam keranjang lalu dia berkata.
"Lebih dulu kusingkirkan kepala anjing ini."
Setelah berkata demikian dia menyelinap ke belakang dan menghilang. Tentara dan pengemis itu menjura kepada dua orang petani yang baru datang.
"Tentulah ji-wi (saudara berdua) ini dua saudara Phang dari Hun-lam, bukan?"
Tanya pengemis itu. Dua orang kakek petani itu menjura dan yang tertua menjawab.
"Benar, siauwte adalah Phang Khai dan ini adikku Phang Tui. Karena tergesa-gesa, kami tak dapat memilih tanda pengenal yang lebih berharga, harap maafkan."
Nenek yang tadi pergi ke belakang membawa dua buah kepala, kini sudah datang kembali ia mengomel.
"Kepala perwira atau kepala pembesar sama saja, dapat mengurangi jumlah musuh cukup baik. Sayangnya ji-wi terlampau sembrono. Ji-wi adalah tokoh-tokoh terkenal di Hun Lam, mengapa datang ke sini tidak menyamar?"
Phang Khai tersenyum memandang nenek itu, lalu berkala.
"Aku sudah lama mendengar bahwa orang kepercayaan Si-enghiong (pendekar ke empat) adalah seorang wanita muda yang gagah dan lihai. Kau menyamar sebagai nenek, bagus sekali, akan tetapi bagaimana seorang nenek dapat memiliki sepasang mata sejeli ini?"
Nenek itu kelihatan terkejut.
"Ah, Phang-lohiap benar-benar bermata tajam sekali. Apakah penyamaranku kurang sempurna?"
Suara nenek itu yang tadinya parau dan gemetar seperti suara orang tua, sekarang berubah menjadi nyaring dan seperti suara wanita muda. Phang Khai tertawa.
"Ah, tidak, sama sekali tidak, Nona. Hanya aku mau menyatakan bahwa jika menyamar malah lebih berbahaya dan mencurigakan karena tidak sewajarnya. Bentuk dan suara dapat disamar, akan tetapi bagaimana dengan warna dan sinar mata? Sudahlah, andaikata anjing-anjing Mongol mengetahui kedatangan kami, apa sih yang kami takuti? Paling-paling kalau tidak bisa membasmi mereka, kita yang akan kehilangan nyawa! Bukankah sudah lama kita menyerahkan nyawa kita yang tak berharga ini kepada tanah air dan bangsa? Ha..ha..ha!"
Tentara itu yang sejak tadi diam saja sekarang mencela.
"Ucapan Phang-twako tak dapat kuterima. Memang bagi seorang pejuang, mati hidupnya tidak berarti lagi asal demi perjuangan. Akan tetapi Phang-twako harus ingat bahwa tugas kita dalam perjuangan ini agak berbeda dengan tugas pejuang yang bertempur melawan musuh. Kalau kita sedang bertugas di bidang itu, tentu saja aku yang bodoh takkan ragu-ragu untuk mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi dalam kedudukan kita sekarang yang bertugas sebagai mata-mata, mengumpulkan keterangan dan dalam hal ini, mengabdi kepada Si-enghiong, tentu saja segala hal harus kita lakukan dengan rahasia agar jangan sampai gerakan kita ini terbongkar. Seorang saja tertangkap bisa membahayakan seluruh anggota gerakan. Bukankah celaka kalau begini? Phang Khai dan Phang Tui memandang tajam kepada "tentara Mongol"
Itu, lalu Phang Tui menjura.
"Betul sekali ucapan ini,"
Katanya kagum. Phang Khai tiba-tiba berkata.
"Saudara, maafkan aku!"
Dan tahu-tahu dia telah mengirim serangan, tiga pukulan bertubi menyerang leher, dada dan perut .
orang berpakaian tentara Mongol itu.
Orang itu kaget juga karena dia maklum betapa lihainya petani tua ini, akan tetapi secepat kilat kedua tangannya diputar dalam lingkaran untuk menangkis, malah dia segera dapat mencengkeram pergelangan tangan kanan Phang Khai sambil berseru.
"Phang-twako harap jangan main-main!"
Phang Khai menarik tangannya sambil tertawa bergelak.
"Aha, kiranya Bouw-enghiong yang menyamar sebagai tentara. Aduh, penyamaranmu benar-benar hebat, tentu dapat mengelabuhi musuh!"
Orang itu tertawa.
Memang dia ada tan Bouw Hin jago Bi-nam yang berjuluk Kang-jiu (Tangan Baja).
Kiranya tadi Phang Khai menyerangnya untuk memancing ilmunya Kang-jiauw-ciang (Tangan Cakar Baja) tadi dikeluarkan, segera Phang Khai dapat mengenal siapa sebetulnya teman seperjuangan yang menyamar sebagai tentara musuh ini.
"Bagus, Phang-twako memang cerdik", kata Bouw Hin sambil tertawa.
"Tapi Phang-twako tentu belum mengenal dia ini."
Ia menuding kepada pengemis tadi.
"Biarlah kuperkenalkan dia kepada ji-wi Phang-twako. Dia ini adalah she Lim."
"Aha, bukankah Lim Seng yang berjuluk Kim-mouw-sai (Singa Bulu Emas) dan Kwi-bun?"
Kata Phang Tui Pengemis itu berdiri dan menjura. Ji-wi Phang-enghiong benar-benar bermata tajam."
Nona yang menyamar sebagai nenek itu berkata.
"Maaf, aku sendiri tidak boleh memperkenalkan diri. Tidak tahu urusan penting apakah yang hendak ji-wi sampaikan kepada Si-enghiong?"
"Hemmm, urusan ini penting sekali. Kami harus berjump asendiri dengan Si-enghiong,"
Kata Phang Khai.
"Nenek"
Itu mengerutkan kening, lalu menggeleng kepalanya.
"Phang-lopek apakah tidak pernah mendengar dari teman-teman bahwa ada hal yang amat tidak mungkin orang menemui Si-enghiong? Si-enghiong, seperti juga Sam-enghiong (pendekar ke tiga) adalah tokoh-tokoh rahasia yang tak boleh bertemu teman seperjuangan di kota raja ini, karena hal itu amat berbahaya. Sekali saja musuh membongkar rahasia pribadi Sam-enghiong dan Si-enghiong, akan rusak binasalah semua usaha kita yang berjuang di bawah tanah di kota raja ini. Segala kepentingan harap Lopek beritahukan aku saja karena akulah satu-satunya orang yang dapat menghubungi Si-enghiong."
Phang Khai menghela napas.
"Aku sudah mendengar akan hal itu, tapi ini adalah urusan yang amat penting."
La tampak ragu-ragu. Melihat keraguan ini, Kang-jiu Bouw, Hin yang berpakaian tentara Mongol itu herkata, nada suaranya tegas.
"Siapa pun juga jangan harap dapat bertemu dengan Si-enghiong, malah aku sendiri pun tidak pernah bertemu dengannya, apalagi melihatnya atau mengenal siapa dia. Kalau ada urusan yang menyangkut kepentingan perjuangan, lekas ji-wi Twako memberi tahu kepada Nyonya Liong ini. Kalau berkeras hendak menemui Si-enghiong, lebih baik berita itu kalian bawa pergi lagi saja."
Biarpun kata-katanya keras, akan tetapi lucu juga nenek yang nyata-nyata adalah penyamaran seorang nona muda ini disebut sebagai "nyonya Liong". Phang Khai menjad! merah mukanya.
"Maaf kalau tadi aku ragu-ragu. Sesungguhnya banyak hal yang akan kusampaikan. Pertama-tama tentang pertemuan antara Hoa-sanpai dan Kun-lun-pai di puncak Hoa-san. Kami berdua menghadiri pertemuan itu dan....."
Nyonya Liong tersenyum, aneh kalau tersenyum karena seorang nenek setua itu giginya putih berjajar rapi.
"Phang"
Lopek tak perlu menceritakan hal ini. Ketahuilah bahwa Si-enghiong sendiri juga hadir dalam pertemuan itu."
Dua orang saudara Phang ini tertegun dan saling pandang.
Mereka adalah dua orang petani yang ketika dalam pertemuan itu mendapat tempat sebagai tamu kehormatan, akan tetapi tidak melihat adanya orang yang patut menjadi Si-enghiong, pemimpin ke empat dari pasukan mata-mata di kota raja.
Mungkin dia bersembunyi di antara rombongan para tamu yang tidak penting sehingga sukar dikenal, pikir mereka.
"Ah, kalau begitu hal itu tak perlu kami kemukakan lagi,"
Kata Phang Khai.
"Sekarang soal ke dua. Aku ingin memberitahukan tentang kedudukan teman-teman seperjuangan kita. Saudara-saudara kita Su Souw Hwee dan Tan Yu Liang sekarang sudah mendapat kemajuan memperluas gerakan pemberontakan di sepanjang Sungai Huang-ho. Thio Si Cen sudah menyeberang Sungai Hui dan pasukan saudara Tan Hok sudah mendekati kota raja dari pergerakannya sepanjang Sungai Yang-ce. Akan tetapi, aku mendapat berita bahwa gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja mendapat pukulan hebat dari bala tentara musuh dan membutuhkan bantuan segera."
Nyonya Liong mengangguk-angguk.
"Sebagian besar beritamu sudah kami ketahui. Gerakan Pek-lian-pai di sebelah barat kota raja memang sengaja dijadikan umpan agar musuh mengerahkan tenaga ke sebelah sana. Kalau sudah tiba saatnya, pasukan-pasukan kita dari selatan dan timur akan menyerbu."
Phang Khai kagum sekali.
"Ah, sama sekali tak pernah kusangka bahwa kalian dapat bekerja sesempurna itu. Benar-benar menggembirakan sekali. Akhirnya, harap kausampaikan kepada Si-enghiong bahwa kedatangan kami berdua ini selain menyampaikan berita dan menerima tugas baru, juga bahwa kami mengambil keputusan untuk mencari tahu tempat tinggal Kwee Sin murid Kun-lun-pai yang menyeleweng itu. Harap saudara-saudara memberi tahu di mana kami dapat menemukannya. Kami percaya bahwa Sam wi (saudara bertiga) sudah pasti akan dapat memberi petunjuk."
Nyonya tersenyum dan memandang tajam.
"Tentu saja kami tahu di mana murid Kun-lun-pai itu yang sekarang sudah menjadi pembantu pemerintah dan bekerja sama dengan orang-orang Ngo-lian-kauw. Akan tetapi, pada saat seperti sekarang ini, di mana tenaga semua rakyat dibutuhkan untuk perjuangan menghalau penjajah, bagaimana Ji-wi masih ada kesempatan untuk mencampuri sggala urusan pribadi? "Keliru...... keliru pendapat seperti itu!"
Phang Tui yang sejak tadi membiarkan kakaknya bicara mewakili mereka berdua, sekarang berkata dengan sungguh-sungguh.
"Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai bertengkar terus sampai-sampai tidak ada waktu membantu kita. Semua ini gara-gara si Kwee Sin seorang. Kami berdua berpendapat bahwa apabila kami dapat menangkap Kwee Sin, mati atau hidup dan membawanya ke Hoa-san, tentu pihak Hoa-san maupun pihak Kun-lun akan menghabisi permusuhan mereka dan apabila dua golongan itu sudah berdamai lalu suka membantu kita, bukankah pekerjaan ini juga merupakan pekerjaan yang amat berguna bagi perjuangan?"
Nyonya Liong mengangguk-angguk sedangkan dua orang temannya juga menyatakan kebenaran ucapan Phang Tui. Jadi ji-wi berkeras hendak menangkap Kwee Sin lebih dulu?"
Ketika dua orang kakek petani itu mengangguk, Nyonya Liong lalu berkata.
"Baikiah kalau begitu. Tempat tinggal Kwee Sin adalah di gedung ke lima sebelah barat perempatan jembatan Naga, rumah yang di atasnya ada hiasan ukiran naga. Harap ji-wi berhati-hati karena selalu dia bersama dengan ketua Ngo-lian-kauw yang berkepandaian tinggi. Ji-wi kerjakan dulu maksud hati ji-wi, setelah itu baru kita mengadakan pertemuan lagi, tiga hari kemudian pada waktu seperti ini dan bertempat di sini pula dan pada waktu itulah saya akan menyampaikan tugas-tugas baru bagi ji-wi. Nah, selamat berpisah."
Mereka berpisah dan keluar dari rumah secara diam-diam.
Hanya nyonya Liong dan Kang-jiu Bouw Hin yang berpakaian tentara itu keluar secara biasa saja, dari pintu depan tanpa ada yang menaruh curiga.
Ketika dua orang saudara Phang itu melompat ke dalam gelap keluar dari tembok yang mengeliingi rumah, mereka melihat bam berkelebat di dekat mereka.
Mereka kaget, akan tetapi bayangan itu berbisik.
"Selamat sampai bertemu kembali, ji-wi Phang-twako."
Ternyata bayangan itu adalah si pengemis tadi, yaitu Kim-mouw-sai Lim Seng yang cepat meloncat ke kiri dan menghilang di dalam gelap.
Dua orang saudara Phang itu kagum karena ginkang dari orang she Lim itu ternyata hebat juga.
* * * Lima orang rahasia yang berkumpul dan mengadakan pertemuan rahasia di malam hari itu sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi gerak-gerik mereka telah diintai oleh Beng San.
Pemuda ini dalam usahanya untuk mencari Kwee Sin, telah pula sampai di kota raja dan kebetulan sekali bermalam di rumah penginapan sederhana itu.
Malam tadi secara kebetulan dia yang berada di kamarnya mendengar desir angin yang hanya terdengar oleh seorang yang memiliki Iweekang setinggi dia.
la kaget dan tahu bahwa ada orang mempergunakan ilmu ginkang bergerak di luar rumah, maka cepat dia keluar dari kamarnya secara diam-diam dan melihat dua bayangan berkelebat, yaitu bayangan dua orang saudara Phang.
Demikianlah, secara diam-diam dia mengintai dan mendengar segala percakapan yang dilakukan oleh lima orang itu.
Hatinya kagum bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa lima orang itu adalah pejuang-pejuang, orang-orang gagah seperti Tan Hok yang rela mengorbankan nyawa demi perjuangan bangsa menghalau penjajah.
Akan tetapi, lebih girang lagi hatinya karena tanpa sengaja dia mendapat petunjuk di mana dia bisa mencari Kwee Sin.
Malam berikutnya Beng San sudah mengikuti lagi perjalanan dua orang sau-dara Phang yang menuju ke rumah gedung Kwee Sin seperti yang telah ditunjuk oleh nyonya Liong pada kemarin malam.
la mengenal dua orang ini sebagai tamu terhormat di Hoa-san-pai, maka diam-diam dia tidak mau mengganggu mereka.
"Betapapun juga, mengajak Kwee Sin ke Hoa-san-pai adalah tugasku,"
Pikimya.
"Aku yang sudah berjanji dan akulah yang harus memenuhi janji itu."
Dengan ginkang mereka yang sudah tinggi, dua orang saudara Phang itu dapat memasukt halaman rumah gedung itu dengan mudah.
Mereka melompati pagar tembok dan merasa girang karena ternyata rumah gedung ini tidak ada yang menjaga.
Di lain saat mereka sudah mengintai ke sebuah kamar di mana duduk seorang laki-laki yang tampan dan gagah, berusia tiga puluh tahun lebih, wajah yang tampan itu angker dan agung, sedang menulis sesuatu di atas meja.
Tak jauh dari situ duduk pula seorang perempuan cantik berpakaian mewah, memandang kepada laki-laki itu sambil tersenyum dan mengebut-ngebut tubuhnya dengan sebuah kipas.
Laki-laki itu bukan lain adalah Pek-jiu Kwee Sin, orang termuda dari Kun-lun Sam-hengte, jago muda Kun-lun-pai yang telah mengakibatkan keributan antara Hoa-san dan Kun-lun.
Adapun perempuan cantik yang pesolek dan bersikap genit itu bukan lain adalah Ngolian-kauwcu (ketua Ngo-Lian kauw) yang berjuluk Kim-thouw Thian li (Dewi Kepala Emas) dan yang oleh Kwee Sin dikenal dengan nama Coa Kim Li gadis yang telah merayu dan merobohkan hatinya "Sin-ko (kanda Sin), Kim-thouw Thian-li berkata dengan suara merdu.
"malam ini kau harus menemani aku. Di rumah amat sunyi, jangan kau sibuk dengan pekerjaanmu. Tak usah kau membanting tulang, para pembesar sampai hong-siang (kaisar) sendiri cukup maklum betapa besarnya jasamu kepada pemerintah."
"Aku banyak pekerjaan, Li-moi (adik Li). Biarlah besok siang kalau aku pulang dari kantor, aku akan mengunjungi rumahmu. Kau seorang ketua perkumpulan besar seperti Ngo-lian-kauw, bagaimana bisa kesepian?"
Kwee Sin tertawa dan menunda tulisannya.
"Biarpun ada seribu orang teman, mana bisa dibandingkan dengan kau?"
Coa Kim Li berkata genit lalu menarik bangkunya mendekat.
Pintu kamar terketok dari tuar.
Cepat-cepat Kim-thouw Thian-li menjauhkan lagi bangkunya.
Ketika pelayan masuk Kwee Sin sudah bersikap keren seperti tadi.
"Kwee-ciangkun, di luar ada Lee-siocia (nona Lee) mohon menghadap Ciangkun (Panglima),"
Pelayan itu dengan sikap hormat dan tanpa mengangkat muka memberi laporan.
"Baik, minta nona Lee masuk ke ruangan ini,"
Jawab Kwee Sin. Pelayan itu memberi hormat dan mengundurkan diri keluar dari ruangan.
"Huh, Sin-ko, awas kau kalau di belakangku kau berani main gila dengan nona muda itu!"
Tiba-tiba Kim-thouw Thian-li berkata lirih, matanya bersinar penuh cemburu. Kwee Sin tersenyum pahit.
"Kim Li-moi apa-apaan cemburu ini? Kau tahu aku bukan..... bukan mata keranjang dan kau tahu pula bahwa Lee-siocia adalah seorang yang mendapat kepercayaan semua panglima di kota raja, juga lihai ilmu silatnya. Pertemuanku dengan dia tentu hanya berhubung pekerjaan, mengapa kau menyangka yang bukan-bukan? Dia datang, kau pun di sini, boleh kausaksikan sendiri apa yang hendak dia sampaikan kepadaku!"
"Huh, biar dia lihai, siapa takut padanya? Dan siapa sudi bertemu dengannya? Melihat mukanya yang muda, jangan-jangan timbul seleraku untuk mencakar mukanya! Aku akan bersembunyi di belakang pintu, awas kau, sekali saja kau dan dia main gila, kalian akan kubunuh! Dengan gerakan cepat sekali tubuhnya berkelebat menghilang di balik pintu samping. Kwee Sin menarik napas lega, wajahnya nampak girang dan tersenyum ketika pintu depan terbuka dan seorang nona berpakaian kuning berjalan masuk.
"Nona Lee, kau membawa kabar penting apakah?"
Kwee Sin menyambut kedatangan nona ini dengan suara nyaring.
"Apakah kali ini kau diutus oleh Pangeran Souw? Ataukah Tan-ciangkun yang mengutusmu?"
Nona berpakaian kuning itu amat dikenal di kalangan atas kota raja.
Dia bernama Lee Giok, puteri seorang bangsawan di kota raja.
Usianya baru sembilan belas tahun, wajahnya yang antik itu nampak muram dan seperti diliputi kesedihan, matanya tajam dan gagang pedang menonjol di pinggangnya.
Biarpun ia masih muda, namun ia sudah terkenal sebagai seorang yang amat berjasa dalam menindas kaum pemberontak berkat ilmu silatnya yang tinggi dan otaknya yang cemerlang.
Menghadapi pertanyaan Kwee Sin, nona itu menghela napas, memandang kepada Kwee Sin dengan matanya yang tajam, lalu katanya perlahan.
"Kwee ciangkun, kalau memang Kim-thouw Thian-li sudah berada di sini, mengapa ia bersembunyi dan mengintai? Kuharap Ciangkun suka mempersilakan dia keluar karena kedatanganku ini toh bukan hendak mengadakan pertemuan yang bukan-bukan!"
Tentu saja Kim-thouw Thian-li kaget sekali. Akan tetapi dia pun seorang wanita yang cerdik. Dengan tenang ia muncul dari balik pintu dan tertawa.
"Hebat benar kecerdikan nona Lee! Tadi memang saudara Kwee dan aku sengaja hendak menguji kecerdikanmu yang sudah lama kudengar dibicarakan orang, kiranya benar-benar kau cerdik. Hanya aku yang tolol, tidak ingat bahwa kepergianku dari sini meninggalkan ganda harum. Ehm, benar lihai!"
Diam-diam nona itu, Lee Giok terkejut juga.
la dipuji cerdik, akan tetapi ketua Ngolian-kauw itu dengan sendirinya telah pula membuktikan bahwa otaknya tidak kalah cerdiknya.
Memang tepat sekali kata-katanya tadi, dia dapat mengetahui bahwa Kim-thouw Thian-li baru saja meninggalkan ruangan itu karena tercium olehnya ganda harum seperti yang biasa ia cium kalau ia bertemu dengan ketua Ngo-lian-kauw itu.
Setiap orang wanita sudah tentu memiliki kesukaan masing-masing tentang wangi-wangian yang dipakainya dan wangi-wangian yang dipakai oleh Kim-thouw Thian-li mempunyai ganda yang khas.
"Kwee-ciangkun, kedatanganku tidak lain hanya untuk menyampaikan peringatan kepadamu. Ada berita sampai kepadaku bahwa pada waktu ini di kota raja datang dua orang saudara Phang dari Hun-lam yang sengaja mencari Kwee-ciangkun dan hendak memaksa Kwee-ciangkun, mati atau hidup, ikut pergi ke Hoa-san."
Berubah wajah Kwee Sin mendengar berita ini.
"Nona, apakah kaumaksudkan Phang Khai dan Phang Tui Sepasang Naga dari Hun-lam?"
Katanya setengah berbisik. Nona itu mengangguk, wajahnya nampak makin murung lalu ia membalikkan tubuh berkata.
"Tugasku sudah selesai, Ciangkun. Aku tak dapat lama-lama di sini, khawatir kalau-kalau membuat orang lain mendongkol saja."
Tanpa melirik kepada Kim-thouw Thian-li yang disindirnya itu, nona ini segera keluar dari ruangan itu dengan langkah ringan dan cepat sekali.
"Hi..hi..hi, baru mendengar ada dua orang tua bangka dari Hun-lam datang saja, kan kelihatan gelisah?"
Kata Kim-thouw Thian-li.
Li Moi, jangan kauanggap ringan dua orang kakek itu.
Nama besar Phang-hengte (kakak beradik Phang) dari Hun-lam sudah lama kudengar.
Aku memang tidak takut, hanya sebab-sebab mengapa mereka hendak menangkapku inilah yang menggelisahkan hati."
"Sin-ko, mengapa kau begini bodoh? Mudah sekali diduga. Mereka tentulah bergabung dengan para pemberontak maka hendak memusuhimu, atau mungkin sekali mereka itu disuruh oleh perempuan she Liem yang tak tahu malu itu untuk ....".
"Li-moi, kau berjanji takkan menyebut-nyebut namanya!"
Tiba-tiba Kwee Sin berkata, jidatnya berkerut tak senang.
"Hi..hi..hi, sudahlah. Hanya dua ekor anjing tua dari Hun-lam itu untuk apa diributkan? Biarkan mereka datang, masih ada aku di sini, mereka bisa berbuat apa terhadap dirimu?"
Phang Khai dan Phang tui adalah dua orang kakek ternama di Hun-lam.
Tentu saja mendengar mereka dimaki anjing-anjing tua oleh wanita itu, mereka tak dapat menahan kemarahan mereka, lagi.
Serentak mereka meloncat dan menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
"Kwee Sin, kami dua saudara Phang dari Hun-lam datang untuk menjemput kau ke Hoa-san!"
Kata Phang Khai sambil melirik penuh kemarahan ke arah Kim-thouw Thian-li yang sudah berdiri dengan alis berkerut marah. Kwee Sin juga berdiri dan menjawab.
"Ji-wi Phang-enghiong, dengan maksud apakah ji-wi hendak mengajak siauwte pergi ke sana?"
"Murid Kun-lun-pai yang murtad. Kau menjadi biang keladi permusuhan antara Hoasan-pai dan Kun-lun-pai. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu terhadap Hoa-san-pai!"
Kata Phang Tui tak sabar lagi.
Kwee Sin menghela napas.
Ji-wi Phang-enghiong, urusan itu adalah urusan pribadiku, harap ji-wi sebagai orang luar jangan mencampurinya.
Mengingat ji-wi adalah tokoh-tokoh terkemuka dan Hun-lam, maka siauwte persilakan ji-wi pergi dengan baik-baik."
"Setan, siapa takut kepadamu? Kami sudah bersumpah untuk mmbawamu ke Hoasan, hidup atau mati. Tui-te (adik Tui), kautangkap dia, biar aku menjaga siluman ini!"
Phang Tui maju menubruk Kwee Sin dengan Ilmu Kim-na-jiu-hoat, kedua lengannya bergerak-gerak dan yang kanan mencengkeram ke arah pundak kiri sedangkan tangan kirinya menotok jalan darah di leher.
Terpaksa Kwee Sin cepat menggeser kaki ke belakang dan memutar lengan untuk menangkis.
Tentu saja jago muda Kun-lun-pai ini tidak mau membiarkan dirinya ditangkap begitu saja.
Sambil mengeluarkan suara ketawa mengejek Kim-thonw Thian-li menggerakkan kedua tangannya dan tangan kanannya sudah memegang sebuah golok tipis kecil yang amat indah bentuk dan gagangnya, sedangkan tangan kirinya sudah meloloskan sehelai saputangan merah yang panjang.
Phang Khai maklum bahwa menghadapi wanita ketua Ngo-lian-pai ini tak perlu dia berlaku sungkan lagi maka sekali dia menggereng, dia telah Melakukan penyerangan dengan pedang di tangan.
Meiihat sinar pedang yang menyambarnya dari tiga jurusan, diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget juga dan maklum bahwa ilmu pedang lawannya ini sama sekali tak boleh dipandang ringan.
Cepat dia menangkis dengan gojoknya "Traaanggg.....!"
Phang Khai melompat mundur selangkah sedangkan Kim-thouw Thian-li merasa tangannya tergetar.
Bukan main herannya Phang Khai.
Seorang wanita yang bertubuh lemah gemulai dan halus itu kenapa bisa memiliki tenaga Yang-kang demikian besarnya?
Dia sendiri adalah seorang ahli tenaga Yang, eh, siapa kira sekarang dia menghadapi seorang wanita yang lebih besar tenaganya.
la berlaku hati-hati dan mengerahkan seluruh ilmu kepandaiannya untuk mendesak.
Ilmu pedang dari dua orang saudara Phang itu adalah ilmu pedang keturunan warisan nenek moyang mereka.
Memang asalnya satu sumber dengan ilmu pe-dang Hoa-sanpai, hanya sudah banyak perubahan.
Oleh karena itulah maka dalam hal urusan Hoasan-pai, dua orang kakek ini tidak mau melupakan sumbernya dan ingin membantu Hoa-san-pai.
Seperti juga ilmu pedang Hoa-san-pai, ilmu pedang Phang Khai amat indah dan cepat, hanya bedanya kalau ilmu pedang Hoa-san-pai mengutamakan tenaga Im, adalah sebaliknya ilmu pedang keluarga Phang ini mengutamakan tenaga Yang.
Ketua Ngo-lian-pai itu, Kim-thouw Thian-yi, adalah murid dari Hek-hwa Kui-bo, tentu saja kepandaiannya hebat.
Sayangnya, pada tahun-tahun terakhir ini Kim-thouw Thian-li telah hidup dalam kesenangan, selalu menurutkan nafsu mengejar kesenangan duniawi, sehingga dia malas untuk berlatih dan memperkuat tenaga dalamnya.
Sekarang menghadapi seorang tokoh ilmu pedang seperti Phang Khai, biarpun tidak akan kalah dalam waktu singkat, juga amat sukarlah untuk mencapai kemenangan.
Pertempuran ini berlangsung makin hebat di ruangan itu.
Kwee Sin juga sudah mencabut pedangnya ketika Phang Tui yang merasa penasaran itu menyerangnya dengan pedang juga.
Tadinya Phang Tui hendak menangkap Kwee Sin hidup-hidup, maka dia bertangan kosong dan mempergunakan ilmu yang amat dia andalkan, yaitu ilmu tangkap Kim-na-jiu.
Siapa kira, Kwee Sin selalu dapat membuyarkan ilmu ini de-ngan pukulan-pukulan Pek-lek-jiu, semacam ilmu pukulan Kun-lun-pai yang amat dahsyat.
Desakan-desakan ilmu tangkap itu selalu didesak mundur oleh pukulan Pek-lek-jiu, bahkan dia sendiri yang terancam bahaya, maka dia lalu mempergunakan pedang.
Kwee Sin juga seorang ahli pedang Kun-lun-pai, maka pertempuran ini pun hebat sekali.
Tiba-tiba Kim-thouw Thian-li mengeluarkan suara bersuit panjang sekali.
"Li-moi, jangan mencelakai mereka....."
Kwee Sin menegur lalu berkata nyaring.
""Ji-wi Phang-enghiong, harap sudahi pertempuran ini dan pergilah ji-wi (kalian) dengan aman!"
Akan tetapi dua orang jago kawakan seperti dua saudara Phang itu, sekali bekerja mana mau berhenti setengah jalan?
Mereka malah mendesak makin hebat dalam usaha mengalahkan musuh dengan segera dan dapat membawa Kwee Sin dari situ, baik dalam keadaan hidup maupun sudah mati!
Tidak seperti Kwee Sin, mereka tidak tahu apa artinya suitan yang dikeluarkan oleh Kinri-thouw Thian-li tadi.
Kiranya suitan itu adalah tanda rahasia bagi ketua Ngo-lian-kauw untuk memanggil anak buahnya.
Di mana ketuanya berada di situ pasti berkeliaran banyak pembantu-pembantunya yang setia, maka pada saat itu, belasan orang tokoh Ngo-lian-kauw memang sudah berkeliaran di sekitar rumah gedung tempat tinggal KweeSin, siap untuk rmenghadap sewaktu-waktu ketua mereka memanggil.
Akan tetapi kali ini biarpun Kini-thouw Thian-li bersuit sampai tiga empat kali, tidak seorang pun anak buahnya muncul.
la menjadi marah bukan main akan tetapi juga gelisah.
Celaka, pikirnya, kiranya dua orang kakek itu datang dengan banyak teman dan agaknya anak buahnya telah dirobohkan di luar!
Cepat dia mengeluarkan sebuah saputangan yang teraneka warna, saputangan sutera yang berbau harum sekali.
Pada saat itu, pedang Phang Khai sudah menyambar cepat ke arah lehernya.
Kim-thouw Thian-li membuang tubuh ke kiri karena tidak sempat menangkis lagi sehingga pedang meluncur di atas pundaknya.
Tangan kirinya yang mencabut keluar saputangan tadi bergerak cepat, serangkum bau yang amat harum menyambar, Phang Khai mencium ganda yang luar biasa harumnya, seketika kepalanya pening, pandang matanya berkunang.
"Celaka....."
La berseru dan berusaha mengerahkan Iweekangnya untuk melawan hawa beracun itu.
Namun sia-sia, tubuhnya limbung dan kakek gagah perkasa ini roboh terguling dengan pedang masih di tangan!
Kim-thouw Thian-li tidak berhenti sampai di situ saja.
Cepat dia melompat ke dekat Phang Tui yang masih saling gempur dengan Kwee Sin sambil mengebutkan saputangannya.
Phang Tui juga tidak dapat menahan, roboh terguling dan pingsan.
Kim-thouw Thian-li sudah menggerakkan pedang untuk membacok mati dua orang itu, namun Kwee Sin cepat berseru.
"Jangan bunuh mereka!"
Kiranya Kwee Sin tidak terpengaruh oleh racun itu, kenapa?
Hal ini tidak aneh.
Sudah bertahun-tahun Kwee Sin berhubungan dengan Kim-thouw Thian-li, tentu saja dia sudah banyak pula mengenal senjata-senjata rahasia wanita ini dan tahu bagaimana cara menolaknya.
Kim-thouw Thian-li marah.
"Dua cacing tua ini datang hendak membunuhmu, masa sekarang kau melarangku membunuh mereka?"
Pedangnya masih tetap diayun hendak dibacokkan.
Pada saat itu dari luar menyambar angin keras, dan dua sinar hitam melesat cepat mengenai dua buah lampu dalam ruangan.
Seketika penerangan menjadi padam dan keadaan di dalam ruangan itu gelap gulita.
"Eh, apa ini.....?"
Kwee Sin berseru kaget.
"Aduh.....!"
Kim-thouw Thian-li mengeluh dan roboh tak dapat bergerak lagi.
Ternyata hiat-to (jalan darah) di tubuhnya sudah kena ditotok orang dalam kegelapan itu dan ia roboh tanpa bergerak lagi.
Kwee Sin merasa tangannya dipegang orang.
Cepat dia mengipaskan pegangan itu, tapi mendadak kedua tangannya lemas tak bertenaga lagi.
la pun sudah terkena totokan orang dalam gelap yang amat lihai itu, kemudian dia merasa tubuhnya melayang dan berada di atas pundak orang yang memanggulnya.
Biarpun tubuhnya tak mampu bergerak, pikiran Kwee Sin masih terang dan tahulah dia bahwa dia telah dibawa lari orang, telah diculik oleh seorang yang berkepandaian tinggi.
Berkali-kali orang yang memanggulnya itu meloncat tinggi, melalui rumah orang dan akhirnya melompati tembok kota raja, terus lari keluar dari kota raja dengan kecepatan yang mengagumkan.
Adapun Phang Khai dan Phang Tui yang tadinya roboh pingsan dengan tangan masih mencengkeram gagang pedang masing-masing, merasa hawa dingin menyambar ke muka mereka dan Phang Khai lebih dulu siuman dari pingsannya.
la terheran-heran mendapatkan dirinya telah berada di kebun belakang kelenteng tua di mana dia dan adiknya selama bertugas di kota raja bersembunyi.
Dilihatnya Phang Tui juga menggeletak di rumput.
Pedang mereka terietak di situ pula.
Cepat Phang Khai menolong adiknya dan mereka berdua tiada habis terheran-heran bagaimana mereka yang tadinya roboh oleh hawa beracun Kim-thouw Thian-li sekarang tahu-tahu sudah berada di kebun kelenteng dalain keadaan baik-baik saja.
"Ah, tentu ada orang menolong kita,"
Rata Phang Khai kagum.
"Twa-ko, jangan-jangan Kwee Sin yang menolong kita! Beberapa kali dia telah mencegah Kim-thouw Thian-li membunuh kita. Kiranya orang muda itu masih memiliki watak setia kawan terhadap orang kang-ouw, tapi kenapa dia terjerumus ke dalam lumpur kehinaan membantu pemerintah dan bersekongkol dengan iblis macam ketua Ngo-lian-kauw itu?"
Phang Khai menggeleng kepala.
"Tak mungkin kalau Kwee Sin yang menolong kita. malah hal ini terjadi sesuatu yang aneh. Kalau Kwee Sin yang menolong kita, bagaimana dia bisa tahu bahwa kita bermalam di tempat ini? Padahal tempat kita ini adalah rahasia kita sendiri. Selain itu tidakkah kaulihat betapa Kwee-Sin itu takut kepada Kim-thouw Thian-li? Mana bisa dia menolong kita?"
"Memang aneh."
Phang Tui mengangguk-angguk mengerutkan kening.
"Akan tetapi, Twako, yang membikin aku hampir mati penasaran adalah gadis yang bernama nona Lee itu. Kau tentu tahu pula apa yang kumaksud, bukan?"
"Tentu saja. Dia boleh menyamar bagaimanapun juga, mana dia bisa mengubah matanya? Nona Lee adalah si dia itulah. Hemmm, dia telah mengkhianati kita, memberi tahu kepada Kwee Sin tentang maksud kita. Orang macam itu mana bisa dijadikan kepercayaan Si-enghiong? Terang berbahaya sekali, karena dengan pengkhianatannya ini jelas membuktikan bahwa dia adalah seorang pengkhianat, seorang antek Mongol seperti Kwee Sin. Biarlah kaulihat saja sikapku besok lusa malam kalau kita bertemu dengan mereka."
Tiba-tiba Phang Tui yang tadi termenung menepuk pahanya.
"Waaah, kenapa aku sampai lupa?"
"Apa maksudmu?"
Kakaknya bertanya.
"Twako, terang bahwa tadi ada orang pandai menolong kita sehingga dalam keadaan pingsan di ruangan gedung Kwee Sin kita bisa terbebas dari kematian. Siapakah kaukira yang telah menolong kita tadi?"
"Mana aku tahu? Aku pun pingsan? Seperti kau."
"Twako, sudah lama kita mendengar bahwa dua orang pemimpin pejuang yang bertugas di kota raja, yaitu Ji-enghiong (Pendekar ke dua) dan Si-enghiong (Pendekar ke empat) memiliki ilmu yang amat tinggi. Apakah bukan mereka yang telah menolong?"
"Ah, benar juga kata-katamu ini. Yang menolong kita tentulah orang yang mengerti keadaan dan tugas kita. Siapa pula kalau bukan mereka? Tapi yang manakah di antara kedua enghiong itu? Dan siapa pula sebenarnya mereka ini yang selalu bekerja penuh rahasia?"
Dua orang kakak beradik itu berhadapan dengan sebuah rahasia dan betapapun mereka memutar otak menduga-duga, tetap mereka tidak dapat memecahkannya.
* * * Sebetulnya dugaan-dugaan mereka bahwa yang menolong mereka adalah dua orang rahasia dari pimpinan pejuang, adalah keliru.
Penolong mereka pada waktu itu bukan lain adalah Beng San sendiri.
Seperti diketahui, pemuda ini, juga ikut mengintai di ruangan itu dan melihat semua apa yang telah terjadi.
Diam-diam Beng San siap sedia untuk membantu kedua orang saudara Phang itu, akan tetapi melihat bahwa keduanya cukup tangguh untuk melawan Kwee Sln dan Kim-thouw Thian-li, dia merasa tidak enak juga untuk membantu.
Ketika Kim-thouw Thian-li bersuit memanggil anak buahnya, Beng San cepat berkelebat menghadang dan dua belas orang anak buah Ngo-lian-kauw itu semua dia robohkan dengan totokannya yang lihai sebelum orang-orang itu sempat melihatnya!
Ketika kembali mengintai, Beng San terkejut melihat dua orang saudara Phang sudah roboh pingsan.
Cepat dia mengambil dua buah kerikil dan disambitkan ke arah lampu penerangan sehingga padam.
Di dalam geiap itulah Beng San cepat melompat masuk, merobohkan Kim-thouw Thian-li dan Kwee Sin, kemudian sekaligus dia membawa keluar tubuh Kwee Sin dan dua orang saudara Phang!
Kepandaian pemuda ini sudah demikian tingginya, tenaganya luar biasa besarnya sehingga dengan mudah saja dia dapat membawa tubuh tiga orang itu sambil berlari-lari dan berlompatan.
Setelah meletakkan tubuh dua orang saudara Phang ke atas rumput di kebun kelenteng, Beng San lalu cepat membawa Kwee Sin keluar dari kota raja dengan "kecepatan luar biasa.
Setengah malam suntuk dia berlari terus dengan cepat, tidak berani berhenti karena maklum bahwa kehilangan Kwee Sin pasti akan menggegerkan kota raja dan sudah pasti Kim-thouw Thian-li akan mengerahkan anak buahnya melakukan pengejaran Setelah malam berganti pagi dia sudah berada jauh sekali dari kota raja dan barulah dia berhenti di dalam sebuah hutan.
Kwee Sin diturunkan dan segera dibebaskan dari totokan.
Tapi Kwee Sin merasa tubuhnya lemas dan belum kuat berdiri.
Dengan amat terheran-heran Kwee Sin melihat bahwa orang yang menculiknya hanyalah seorang pemuda yang berpakaian seperti seorang pelajar.
Bukan main kagum dan herannya, apalagi ketika pemuda itu menjura di depannya sambil berkata.
"Harap Kwee-enghiong suka memaafkan aku yang secara paksa telah membawa kau keluar dari kota raja."
"Siapakah kau? Dan apa maksudmu membawaku ke tempat ini?"
Beng San tersenyum.
"Agaknya Kwee-enghiong takkan mengenal aku, biarpun aku menyebutkan nama. Aku membawa Kwee-enghiong keluar dari kota raja tak lain dengan maksud membawamu ke Hoa-san-pai. Ketahuilah bahwa hampir saja Hoasan-pai dan Kun-lun-pai mengadakan pertempuran hebat di antara ketua mereka, baiknya aku masih sempat mencegah mereka dan aku berjanji akan membawamu ke Hoa-san-pai. Urusan permusuhan antara kedua partai itu semua adalah kau yang menjadi biang keladinya, maka apabila kau dapat mengaku terus terang tentang semua kejadian yang lalu, kukira permusuhan itu dapat dilenyapkan dan akan ternyatalah bahwa sebetulnya bukan kau yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang Hoa-san-pai."
Kwee Sin makin terheran.
"Bagaimana kau bisa tahu akan semua itu? Pihak Hoa-sanpai sudah yakin bahwa aku yang membunuh ayah nona Liem, aku pula yang menyebabkan kematian dua orang dari Hoa-san Sie-eng, kenapa kau bisa katakan bahwa bukan aku yang melakukan pembunuhan-pembunuhan?"
"Aku mempunyai teman-teman di Pek-lian-pai dan dari mereka inilah aku mendengar kejadian yang sebenarnya."
"Ah..... jadi kau..... kau ini juga seorang peju..... eh, seorang pemberontak?"
Tanyanya gagap. Beng San tersenyum mendengar kata-kata pejuang itu segera diganti pemberontak.
"Itulah kesalahanmu, Kwee-enghiong. Kau terpikat oleh Kim-thouw Thian-li dan jatuh di bawah pengaruhnya sehingga kau membantu Kerajaan Mongol, memusuhi para pejuang yang kauanggap pemberontak. Sayang sekali..... sayang seorang gagah seperti kau dapat terjerumus sedemikian dalam. Aku bukan seorang anggota Pek-lian-pai biarpun aku kagum akan perjuangan mereka. Aku melakukan penculikan atas dirimu ini hanya untuk mencegah agar Kun-lun-pai tidak saling serang dengan Hoasan-pai."
Kwee Sin sudah pulih tenaganya dan dengan gagah dia berdiri lalu berkata.
"Baiklah. Seorang laki-laki harus berani mempertanggung jawabkan kesalahan dan perbuatannya. Marilah, bawa aku ke Hoa-san-pai, biar aku akan menanggung semua hukuman yang akan dijatuhkan kepadaku."
Dua orang ini lalu berjalan menuju ke Hoa-san-pai.
Diam-diam Beng San masih mengagumi sikap Kwee Sin dan makin menyesallah dia kalau teringat betapa pendekar Kun-lun-pai ini roboh karena pengaruh kecantikan seorang wanita jahat seperti Ngo-lian-kauw itu.
Di lain pihak, Kwee Sin tiada habis terheran-heran kalau melihat Beng San.
Seorang pemuda yang masih hijau, kelihatannya lemah-lembut dan seperti seorang ahli sastra, bagaimana dapat memiliki kepandaian sehebat itu?
Apalagi sekarang setelah mereka melakukan perjalanan biasa, pemuda itu sama sekali tidak kelihatan memiliki kepandaian tinggi.
Benar-benarkah pemuda ini yang telah menculiknya?
Hampir dia tak dapat mempercayainya.
Pada malam ke dua, ketika keduanya bermalam di sebuah hutan, Kwee Sin menggunakan kepandaiannya meloncat ke atas pohon besar.
"Hiante, hutan ini kelihatannya penuh binatang liar, lebih baik kita bermalam di atas pohon ini Saja agar tidak terancam keselamatan kita. Kau naiklah ke sini."
La sengaja hendak mencoba kepandaian pemuda yang dia sangsikan itu.
Andaikata dugaannya keliru dan ternyata pemuda ini tidak memiliki kepandaian, untuk apa dia harus mengalah dan menerima begitu saja bawa ke Hoa-san?
Beng San tersenyum dan menggeleng kepalanya.
"Lebih enak tidur di bawah sini. Kalau Kwee-enghiong ingin tidur di atas pohon, silakan."
Setelah berkata demikian, Beng San merebahkan diri bersandar pohon dan tak lama kemudian saking lelahnya, dia sudah tidur pulas.
Kwee Sin penasaran.
Benarkah bocah seperti ini memiliki kepandaian?
Jangan-jangan hanya pandai lari cepat saja.
Setelah dia mengaso dan mengumpulkan tenaga menjelang fajar dilihatnya Beng San masih tidur enak di bawah pohon.
Kwee Sin lalu mengerahkan tenaganya, menggunakan ginkangnya yang sudah tinggi tingkatnya itu meloncat dari atas pohon, jauh ke cabang pohon lain yang berdekatan, lalu dengan cepat tanpa mengeluarkan suara dia berlari terus kembali ke kota raja!
Kurang lebih dua li dia berlari.
Tiba-tiba dia berhenti dan memandang terbelalak ke depan.
Kiranya di depannya, di tengah jalan itu, Beng San sudah berdiri sambil tersenyum dan menjura.
"Kwee-enghiong, seorang laki-laki sudah berjanji kenapa hendak ditariknya kembali? Merah muka Kwee Sin. Teranglah bahwa ilmu ginkang pemuda ini jauh melebihi tingkatnya sampai-sampai dia tidak tahu bagaimana pemuda itu bisa berada di situ, padahal tadi dia tinggalkah dalam keadaan pulas! Akan tetapi karena dia merasa penasaran dan memang maksud hati yang sesungguhnya untuk menguji apakah orang muda ini cukup berharga untuk memaksanya pergi ke Hoa-san, Kwee Sin lalu berseru keras.
"Orang muda, kau memaksaku pergi ke Hoa-san, apakah yang kauandalkan? Sebagai seorang gagah, tentu saja aku takkan menarik kembali kata-kataku bahwa aku berani mempertanggung jawabkan perbuatanku. Akan tetapi aku tidak berjanji untuk menuruti kehendakmu, kecuali kalau kau mampu mengalahkan aku!"
Setelah berkata demikian, Kwee Sin mengeluarkan pedangnya yang ternyata masih berada di sarung pedangnya, entah siapa yang menyarungkannya kembali ketika dia dibawa lari oleh pemuda itu.
Beng San agak kaget, tapi lalu maklum.
Tentu saja sebagai seorang pendekar, Kwee Sin merasa malu kalau berkunjung ke Hoa-san-pai di bawah paksaan seseorang yang tidak diketahui sampai di mana kepandaiannya.
"Ah, Kwee-enghiong mengapa berkata demikian? Aku memang seorang yang tidak mempunyai kepandaian, akan tetapi demi menjaga keutuhan Kun-lun-pai dan Hoasan-pai, aku sudah berjanji akan mencari dan membawamu ke Hoa-san-pai untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Andaikata kau hendak menggunakan kekerasan membangkang, terpaksa aku pun melupakan kebodohan sendiri!"
"Bagus! Aku memang hendak mencoba sampai di mana kepandaianmu maka kau berani hendak memaksa Pek-lek-jiu Kwee Sin sesuka hatimu."
Kwee Sin menggerakkan pedang hendak menyerang. Pada saat itu terdengar suara seorang laki-laki.
"Nona, aku tidak ingin bertempur denganmu......"
Suara itu diikuti munculnya seorang pemuda yang berlari cepat ke tempat itu. Ketika pemuda ini melihat Beng San, segera dia berhenti berlari dan berkata girang.
"Saudara Beng San.....!"
Akan tetapi alangkah kagetnya dan girangnya ketika pemuda itu menoleh kearah Kwee Sin. Sejenak dia tertegun, lalu berseru gagap.
"Kau..... kau..... Kwee-susiok (paman guru Kwee)....."
Kwee Sin menunda serangannya dan menoleh.
"Eh, bukankah kau Lim Kwi?"
Di dalam suara pendekar Kun-lun ini terkandung keharuan dan kedukaan besar.
Paman guru dan keponakan ini saling pandang penuh pertanyaan, penuh perasaan haru campur duka bingung tak tahu harus berkata apa.
Pada saat itu terdenear seruan seorang wanita.
"Jahanam Bun, hendak lari kemana kau?"
Dan muncullah Thio Eng, gadis baju hijau yang berlari cepat mengejar Bun Lim Kwi.
Begitu sampai disitu.
tanpa menoleh lagi kepada orang-orang lain, Thio Eng segera menusukkan pedangnya ke arah dada Bun Lim Kwi.
Pemuda ini masih tertegun dalam petemuannya dengan paman gurunya, juga memang dia sudah merasa sedih sekali oleh kejaran Thio Eng, maka agaknya tusukan pedang itu tidak dihiraukannya lagi dan tentu akan mengenai sasaran.
"Traaanggg."
Pedang Thio Eng terpental oleh tangkisan Kwee Sin yang tidak membiarkan murid keponakannya yang dia cinta itu ditikam begitu saja oleh seorang gadis.
Berkilat mata Thio Eng ketika dia memandang kepada Kwee Sin, kemudian dia mengerling ke arah Beng San.
Kaget dan heran wajah gadis ini ketika mengenal Beng San, akan tetapi hatinya sudah terlalu panas dan marah sehingga dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menegur Beng San.
"Siapakah kau? Mengapa kau mencampuri urusanku dengan musuhku ini?"
Kwee Sin tersenyum mengejek.
"Nona cilik, ada urusan boleh diurus, kenapa kau begini galak hendak merenggut nyawa Lim Kwi? Ketahuilah, aku adalah paman gurunya, tak mungkin aku mendiamkannya saja melihat kau hendak membunuh dia."
Sejenak gadis itu tertegun mendengar orang ini mengaku paman guru Bun Lim Kwi, lalu matanya bersinar-sinar.
"Bagus.....!"
La menoleh kepada Beng San lalu berkata.
"Tan-koko (kakak Tan), bukankah dia ini Kwee Sin? Dan mengapa kau berada di sini pula?"
"Adik Eng, aku..... aku hendak mengundang dia ke Hoa-san-pai."
Gadis itu teringat akan janji Beng San kepada ketua Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, lalu katanya gemas.
"Kurasa tidak baik kau berdekatan dengan paman dan keponakan jahat ini. Mereka bukanlah orang baik. Kwee Sin ini pun bukan manusia baik-baik. Lebih baik kubinasakan sekalian!"
Kembali pedangnya berkelebat dan sebuah serangan yang amat cepat dan ganas nienyambar ke arah Kwee Sin dan Lim Kwi secara beruntun.
Hebat sekali serangan ini sehingga Kwee Sin terpaksa mundur sambil menangkis keras.
Kembali pedang Thio Eng terpental.
"Adik Eng yang baik, jangan...... Jangan terburu nafsu, segala urusan dapat dirunding! Urusanmu dengan saudara Bu Lim Kwi tentu diketahui baik oleh Kwee-enghiong ini, lebih baik kita mendengarkan keterangannya."
"Benar,"
Kata Kwee Sin.
"Nona, katakanlah dulu mengapa kau mati-matian berusaha hendak membunuh keponakanku Lim Kwi? Apakah dosanya? Coba kau jelaskan, tentu aku akan mempertimbangkan baik-baik. Kalau memang ada yang bersalah, dia harus siap menerima hukuman."
Thio Eng tersenyum dingin mengejek, seakan-akan sinar matanya berkata.
"Seorang seperti kau mana memiliki pertimbangan yang adil?"
Akan tetapi mulutnya berkata.
"Hemmm, ingin benar aku mendengar bagaimana pertimbangan kalian yang sudah mencelakakan hidupku. Ayahku dibunuh oleh dua orang saudarai Bun murid Kun-lun-pai, yaitu ayah dan paman jahanam Bun Lim Kwi ini, apakah sudah tidak adil kalau aku sekarang hendak membalas dendam kepadanya untuk menebus dosa ayah dan pamannya itu? Kau sebagai paman gurunya, tentu akan membelanya, akan tetapi aku Thio Eng tidak takut mati dalam usaha membalas dendam ayahku! Kwee Sin mengerutkan kening.
"Kau she Thio? Siapakah nama ayahmu? Apakah Thio San?"
Di dalam kemarahannya, makin yakinlah Thio Eng bahwa musuh-musuhnya memang dua orang yang berdiri di depannya ini.
"Betul, Thio San ayahku yang terbunuh oleh dua orang saudara keparat Bun dari Kun-lun-pai dalam sebuah hutan."
Kwee Sin tiba-tiba menjadi muram wajahnya.
Teringat dia akan peristiwa itu, kurang lebih sepuluh tahun yang lalu ketika dia bertempur melawan Thio San, kemudian tiba-tiba muncul Coa Kim Li yang menurunkan tangan jahat membunuh Thio San.
"Ah, salah..... kau keliru menyangka, Nona..... kau begitu yakin bahwa ayah Lim Kwi yang membunuh ayahmu, apakah kau melihatnya sendiri pembunuhan itu?"
Dalam pandang mata Thio Eng mulai tampak sinar keraguan.
"Aku..... aku mendapatkan ayah telah menggeletak mati dalam hutan, aku menangisi dan..... dan aku melihat pula dua orang saudara Bun di hutan itu, kukira..... siapa lagi yang membunuh ayah? Orang she Kwee, aku takkan percaya begitu saja pembelaanmu terhadap para suhengmu, kecuali kalau kau mengatakan siapa pembunuh ayahku. Apakah kau tahu siapa orangnya yang membunuh ayahku?"
Kwee Sin mengangguk.
"Tentu saja aku tahu....."
La menarik napas dan wajahnya kelihatan berduka sekali.
"Semua salahku..... ah, betapa besar dosaku, semua gara-garaku....."
Wajah Thio Eng yang cantlk itu nampak beringas.
"Bagus, jadi kau yang menyebabkan kematian ayahku? Nah, terimalah pembalasanku!"
Thio Eng menyerang lagi. Kali ini Kwee Sin tidak menangkis hanya mengelak ke kanan.
"Adik Eng, jangan begitu. Biarkan dia memberi penjelasan dulu."
Beng San berlari mendekati Thio Eng dan memegang lengan gadis itu. Thio Eng hanya mendengus, akan tetapi tidak melanjutkan serangannya dan menanti Kwee Sin memberi penjelasan.
"Dengarlah baik-baik ceritaku, sembilan sepuluh tahun yang la!u.....". Kwee Sin lalu menceritakan semua pengalamannya dahulu ketika dia membantu kedua suhengnya mencari seorang bernama Thio San yang mereka anggap sebagai seorang penipu. Seperti telah kita ketahui, Thio San seorang tokoh Pek-lian-pai hendak membeli kuda dari Bun Si Teng dan minta agar supaya rombongan kuda itu diantar ke sebuah hutan. Akan tetapi setibanya di tengah hutan, dua orang saudara Bun itu diserang oieh lima orang anggota Pek-lian-pai yang dibantu oleh seorang wanita tak dikenal. Bun Si Liong terluka dan Kwee Sin yang mendengar hal ini menjadi marah lalu pergi mencari Thio San di Hek-siong san. Dianggapnya bahwa Thio San adalah seorang yang menipu kedua suhengnya, tidak saja merampas dua puluh ekor kuda, malah telah melukai Bun Si Liong. Akhirnya di dalam hutan pohon siong itu, Kwee Sin bertemu dengan Thio San dan dalam pertempuran ini tiba-tiba muncul Kim-thouw Thian-li yang merobohkan Thio San dengan saputangan merahnya.
"Aku sendiri terluka oleh Pek-lian-ting yang dilepas oleh Thio San di leherku, sehingga aku roboh pingsan lalu dibawa pergi oleh Kim-thouw Thian-li dan mungkin ketika itu Thio San telah tewas dan ditinggalkan di dalam hutan itu. Nah, demikianlah cerita yang sebenarnya. Mendiang Bun-suheng keduanya sama sekali tidak bertanggung jawab dan tidak tahu menahu tentang kematian ayahmu, Nona Thio. Ayahmu dahulu bertempur melawan oleh Kim-thouw Thian-li."
Dengan mata merah karena menahan turunnya air matanya, Thio Eng memandang kepada Bun Lim Kwi yang kelihatan lega dan kebetulan pemuda ini pun memandang kepadanya dengan sayu tapi mulutnya tersenyum.
Thio Eng menjadi merah wajahnya, merasa telah berlaku keterlaluan terhadap Bun Lim Kwi, teringat olehnya sikap Lim Kwi kepadanya dan betapa ia sudah merobohkan Lim Kwi atas bantuan Giam Kin.
"Kalau..... kalau begitu..... aku telah salah tangan....."
"Hampir saja, Nona. Hampir tamat hidupku di tanganmu, sayang bagimu, aku masih hidup berkat pertolongan saudara Beng San yang budiman ini....."
Jawab Lim Kwi. Thio Eng menoleh kepada Beng San, terheran lalu mengangguk-angguk.
"Hemm kiranya kau yang telah menolongnya, Tan-ko?"
"Aku mendapatkan dia menggeletak dengan luka berbisa, aku hanya membawanya dan minta tolong lain orang untuk menyembuhkannya. Eh, adikku yang baik, apakah kau telah menyerangnya dengan senjata beracun yang keji itu?"
Makin merah muka Thio Eng.
"Jangan menuduh sembarangan! Aku adalah murid suhu Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, mana sudi sudi menggunakan racun? Ini gara-gara si Giam Kin iblis cilik itu yang menyerang dengan mendadak. Syukur kau telah menolongnya, Tan-ko, kalau tidak..... ah aku tentu berdosa membunuh orang tak berdosa. Siapa duga kalau bukan ayahnya yang membunuh ayahku? Ketika itu aku masih kecil..... aku melihat mayat ayat menggeletak di hutan, aku menangis dan ditolong oleh suhu dan aku melihat ayahnya di hutan itu pula....."
Mendadak gadis itu menudingkan ujung pedangnya kearah Kwee Sin sambil membentak.
"Kiranya kau manusia she Kwee yang menyebabkan kematian ayahku. Kau menyerangnya dengan bantuan si iblis wanita dari Ngo-lian-kauw!"
La hendak menyerang Kwee Sin, akan tetapi Beng San memegang lengannya.
"Nanti dulu, adik Eng, jangan keburu nafsu. Kau sudah mendengar sendiri tadi. Kwee-enghiong ini mencari ayahmu untuk membela keadilan karena suhengnya dilukai dan sejumlah kuda dirampas. Aku telah mendengar bahwa sebetulnya ayahmu, Thio San itu, adalah seorang patriot sejati, seorang tokoh Pek-lian-pai mana dia mau merampas kuda? Semua ini adalah fitnah pihak Ngo-lian-kauw belaka yang berusaha atau bahkan bertugas untuk mengadu domba antara Pek-lian-pai dengan pihak Kun-lun atau pihak Kun-lun dengan pihak Hoa-san dan lain-lain."
"Orang muda, bagaimana kau bisa tahu akan hal itu?"
Tiba-tiba suara Kwee Sin terdengar keras penuh selidik, sepasang matanya memandang tajam seperti ingin menjenguk isi hati Beng San. Beng San mengangkat pundak.
"Kwee enghiong, tentu saja orang sebodoh aku mana bisa tahu akan itu semua? Tentu ada yang memberi tahu, yaitu orang-orang Pek-lian-pai sendiri."
Thio Eng kelihatan kurang puas.
"Tan-ko biarpun dia kena fitnah, tapi sudah terang bahwa orang ini tidak baik, buktinya dia membantu Ngo-lian-kauw dan membantu pihak jahat."
"Adik Eng, banyak di dunia ini terjadi kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja sebelumnya. Buktinya kau sendiri, kau mengejar-ngejar saudara Bun Lim Kwi, hendak membunuhnya bahkan sudah hampir membunuhnya karena bantuan serangan curang dari Giam Kin. Bukankah keadaan Kwee-enghiong dahulu juga hampir serupa? Karena salah paham, mengira ayahmu menipu suheng-suhengnya, dia mencari dan menantangnya, akan tetapi di dalam pertempuran, ayahmu dirobohkan secara pengecut oleh ketua Ngo lian-kauw. Nah, kalau kau sekarang menumpahkan semua kesalahan kepadanya, apakah orang lain juga tidak akan menimpakan semua kesalahan kepadamu tentang urusanmu dengan saudara Bun Lim Kwi? Ingatlah, dendam-mendendam bukanlah sifat yang baik. Urusan pembunuhan tak mungkin dapat diselesaikari dengan lain pembunuhan, karena hal itu akan berekor panjang, tali-temali dan akhirnya beberapa keturunan akan terus saling bermusuhan. Justru untuk menjaga agar jangan terjadi demikian itulah maka aku di Hoa-san-pai tempo hari berjanji akan mencari Kwee-enghiong. Sekarang Kwee-enghiong sudah berada di sini, tentu sebagai seorang jantan Kwee-enghiong akan berani mempertanggungjawabkan kesemuanya kepada Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai."
Thio Eng kalah bicara, dengan bersungut-sungut menyimpan kembali pedangnya.
Kwee Sin menjadi kagum.
Kalau tadinya dia hendak menguji kepandaian Beng San, sekarang terbuka pikirannya dan dia merasa bahwa dia akan membuat diri sendiri tidak berharga sebagai seorang jantan kalau dia tidak berani pergi ke Hoa-san.
Akan tetapi kalau dia pergi ke Hoa-san, tentu dia akan menemui kesulitan besar.
Dalam keraguannya dia menoleh kepada Bun Lim Kwi.
"Lim Kwi, bagaimana pendapatmu"
Biarlah kau mewakili .yahmu dan pamanmu dalam hal ini, berilah pendapatmu bagaimana aku harus bertindak?"
Suara Kwee Sin gemetar, tanda bahwa di dalam hatinya dia merasa menyesal bukan main.
"Kwee-susiok, segala perbuatan sudah terlanjur, menyesal pun takkan ada gunanya tanpa bukti penyesalanmu itu. Kalau, Susiok suka mendengarkan pendapat keponakanmu, marilah kita pergi menghadap suhu di Kun-lun-pai, menyerahkan semua kesalahan dan selanjutnya mentaati semua perintahnya. Biarlah saya, akan menemani Susiok andaikata Susiok harus menghadap ke Hoa-san-pai. Ingatlah, Susiok, semua ini demi kebaikan bukan hanya kebaikan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai agar jangan bermusuhan terus, akan tetapi pada hakekatnya untuk kebaikan perjuangan bangsa kita yang sedang berusaha merobohkan pemerintah penjajah."
Kata-kata Bun Lim Kwi bersemangat, kemudian pemuda ini menuturkan secara singkat tentang pertemuan di Hoa-san-pai tempo hari yang hampir saja mengakibatkan pertempuran besar-besaran kalau saja tidak dilerai oleh Beng San.
Kwee Sin mendengarkan dengan kagum.
Juga Beng San girang sekali mendengar ini.
"Bagus sekali kalau begitu, saudaraku Bun Lim Kwi! Aku percaya sepenuhnya kepadamu. Kau pergilah bersama Kwee-enghiong ke Hoa-san-pai. Terserah kalau kau hendak singgah ke Kun-lun-pai lebih dulu, pokoknya Kwee-enghiong harus dapat mengakhiri permusuhan antara dua partai besar ini. Aku sendiri masih banyak urusan yang harus diselesaikan."
Ucapan Beng San ini keluar dari hati yang jujur.
Karena memang dia merasa girang sekali akan hasil usahanya.
Mencari Kwee Sin dan membawanya ke Hoa-san-pai sudah berhasil dan dia percaya bahwa Bun Lim Kwi pasti akan menjaga nama baik Kun-lun-pai dan membawa bekas paman gurunya itu ke Hoa-san.
Soal ke dua, yaitu tentang permusuhan antara Lim Kwi dan Thio Eng, juga sudah selesai dengan adanya penjelasan dari Kwee Sin bahwa pembunuh ayah Thio Eng ternyata adalah Kim-thouw Thian-li.
Tinggal dua soal lagi yang tak kalah pentingnya, bahkah amat penting baginya, yaitu, mencari nona Cia yang nyata-nyata telah memegang Liong-cu Siang-kiam, ke dua mencari Tan Beng Kui yang dia yakin adalah kakak kandungnya.
Bun Lim Kwi menyanggupi permintaan Beng San dan bersama Kwee Sin dia lalu meninggalkan tempat itu setelah lebih dulu menjura kepada Thio Eng dan berkata.
"Nona Thio, aku bersyukur kepada Thian bahwa kau telah insyaf sekarang bahwa aku bukanlah musuh besarmu dan..... dan..... semoga kita akan dapat saling bertemu kembali dalam keadaan yang lebih..... baik....."
Kwee Sin sebelum pergi sempat berkata kepada Beng San.
"Orang muda, sebetulnya aku masih penasaran. Kau ini..... murid siapakah? Dan sampai di manakah kepandaianmu....."
Beng San buru-buru menjawab.
"Ah, Kwee-enghiong jangan main-main. Mana aku memiliki kepandaian apa segala? Sudahlah, selamat jalan, Kwee-enghiong, dan kalau ada jodoh kelak kita pasti akan bertemu kembali."
Thio Eng, hanya memandang saja ketika paman dan keponakan itu pergi, kemudian ia menoleh kepada Beng San "Tan-ko, aku sendiri heran....."
"Hemmm, heran apa lagi? Sudah terang pemuda she Bun itu amat gagah perkasa, tampan, lagi bukan musuh besarmu dan dia..... hemmm, dia suka kepadamu, apalagi yang diherankan?"
Wajah Thio Eng menjadi merah sekali, lalu berubah pucat.
"Tan-ko, jangan kau main-main. Siapa pedulikan dia? Yang aku herankan adalah kau. Kau ini seorang sastrawan muda, nampak lemah dan memang aku tahu kau tidak becus apa-apa. Kenapa kau berani mati mencampuri urusan Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, urusan tokoh-tokoh persilatan? Pula, bagaimana kau sampai dapat berhasil membawa Kwee Sin pergi dari kota raja?"
"Aku pernah bekerja sebagai kacung di Hoa-san-pai, tentu saja aku tidak senang melihat Hoa-san-pai bermusuhan dengan Kun-lun-pai. Tentang Kwee Sin, agaknya dia sudah insyaf akan kesalahannya dan dengan suka rela dia ikut aku ke Hoa-san, apa anehnya? Adik Erig, setelah kau sekarang mendengar bahwa pembunuh ayahmu bukan Bun Lim Kwi, melainkan Kim-thouw Thian-li ketua Ngo-lian-kauw, apa yang hendak kaulakukan?"
"Tentu saja aku akan mencari siluman betina itu dari membunuhnya!"
Jawab Thio Eng dengan gemas.
Beng San teringat betapa gadis ini pernah menyerangnya ketika dahulu dia menolong Tan Hok di luar tahu gadis ini, dan teringat pula dia betapa gadis ini adalah murid Thai-lek Swi Lek Hosiang yang dahulu pernah dia lihat membantu Pangeran Mongol Souw Kian Bi.
Pula ketika Thio Eng bertempur melawan Lim Kwi, bukankah gadis ini dibantu pula oleh Giam Kin?
Untuk mengetahui hatinya, Beng San sengaja memancing.
"Adik Eng, kurasa kau sembrono sekali kalau hendak mencari Kim-thouw Thian-li. Aku mendengar bahwa dia adalah ketua Ngo-lian-kauw yang berada di kota raja, kedudukannya tinggi dan berpengaruh besar. Bagaimana kau bisa masuk kota raja dengan selamat? Kurasa tidak baiklah kalau kau menurutkan hati dendam dan nafsu membalas. Kiranya akan lebih baik kalau kau menyalurkan dendam hatimu itu, dengan jalan yang lebih baik lagi."
"Hem, hemmm, kau memang tukang meniberi kuliah. Kuliah apalagi yang akan kauberikan sekarang? jalan lebih baik apa yang kaumaksudkan?"
Thio Eng memandang dengan tajam, tapi mulutnya tersenyum manis dan kembali Beng San merasa jantungnya berdetak-detak menyaksikan sikap dan senyum ini, teringat dia akan pengalamannya dahulu dengan Thio Eng di atas perahu.
"Begini, Eng-moi.ku mendengar bahwa mendiang ayahmu, Thio 5an, adalah seorang tokoh Pek-lian-pai, seorang pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi perjuangan bangsanya. Karena itu, sudah selayaknya kalau kau sebagai puterinya melanjutkan jejak langkah ayahmu, ikut membantu para pejuang yang sedang berusaha membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah. Kalau pada waktu sekarang ini musuhmu, Kim-thouw Thian-li merupakan kaki tangan pemerintah Mongol, maka jika kau membantu para pejuang, bukankah itu sama halnya dengan kau memusuhinya? Nah, kaupikirlah baik-baik, daripada mengantarkan nyawa sia-sia ke kota raja dan usahamu membalas dendam belum tentu berhasil, lebih baik kau membantu Pek-lian-pai dan para pejuang lainnya."
Berkerut kening yang halus itu.
Mudah saja kau bicara.
Suhu takkan membiarkan aku terbawa-bawa dalam peperangan.
Orang-orang yang berpihak pada pemerintah banyak yang jahat, tetapi juga para pejuang itu bukan orang baik-baik.
Demikiankata suhu.
Mendiang ayahku apakah akan tewas kalau dia tidak menjadi tokoh Pek-lian-pai?
Hemmm, Tan-ko, aku tidak mau terseret dalam urusan perang dan pemberontakan."
Beng San merasa kecewa.
Tahulah dia sekarang.
Kiranya Thio Eng tidak mau berpihak dalam urusan perjuangan ini, sesuai dengan perintah suhunya.
Agaknya Swi Lek Hosiang sudah terkena bujukan orang-orang licin seperti Souw Kian Bi sehingga tidak mau membantu para pejuang.
"Jadi kau hendak nekat pergi ke kota raja?"
Tanyanya, khawatir.
"Aku hendak mencari dan membunuh musuh besarku, kemudian kalau masih panjang umurku, aku akan mengikuti perebutan gelar Raja Pedang di Thai-san. Tan-ko, terutama sekali aku mengharapkan akan dapat bertemu kembali dengan kau."
La melangkah maju dan memegang lengan Beng San, menekannya dengan jari-jari gemetar, lalu lari cepat meninggalkan tempat itu.
Beng San menarik napas panjang.
la pun lalu berlari cepat menuju ke arah yang sama dengan padis itu.
Memang dia harus kembali ke kota raja untuk mencari orang yang dianggap kakaknya, dan sekarang dia masih harus menjaga agar Thio Eng tidak sampai tertimpa malapetaka di tempat berbahaya itu.
Ilmu lari cepat Beng San sudah tentu lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian Thio Eng, maka sebentar saja dia sudah dapat menyusul gadis itu.
Diam-diam dia mengikuti dari belakang dalam jarak yang tidak terlalu jauh, akan tetapi juga tidak terlalu dekat sehingga gadis itu takkan dapat melihatnya.
Ternyata olehnya bahwa Thio Eng mengambii jalan lain dan yang lebih dekat ke kota raja.
Jalan yang melalui hutan dan gunung yang sunyi lagi sukar.
Di kaki sebuah gunung kecil, di pinggir jalan yang sunyi sekali, dengan heran dia melihat sebuah rumah yang membuka warung arak.
Dilihatnya gadis itu berhenti, memasuki warung ini dan terdengar memesan arak dan makanan.
Beng San menelan ludah karena dia pun merasa dahaga ingin minum.
Akan tetapi oleh karena dia tidak ingin gadis itu melihatnya, terpaksa dia hanya bersembunyi di bawah sebuah pohon besar tak jauh dari situ dan mengambil keputusan akan singgah di warung ini setelah Thio Eng selesai makan dan meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi, sudah dua jam dia menunggu belum juga tampak Thio Eng keluar dari warung itu.
Masa makan sampai sedemikian lamanya?
la memang tidak berani dekat-dekat karena khawatir terlihat oleh Thio Eng, akan tetapi karena dianggapnya terlalu lama sehingga tidak sewajarnya lagi, dia lalu bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju ke warung itu.
Ternyata warung itu kosong, tidak kelihatan Thio Eng maupun penjaga warung.
la menjadi curiga dan pada saat dia hendak membuka mulut, dia mendengar suara orang dari dalam.
"Celaka sekali kau ini! Apa matamu sudah buta? Dia ini kan murid Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang?"
Suara ini suara seorang wanita. Beng San menjadi tak sabar lagi karena kegelisahannya akan keselamatan Thing. Segera dia berseru.
"Di mana tukang warung?"
Sambil berkata demikian, dia melangkah masuk dan hendak terus memasuki ruangan dalam dari mana dia mendengar suara tadi, Hampir saja dia bertumbukan dengan dua orang yang ke luar dari pintu dalam, seorang laki-laki dan seorang wanita.
Tiga pasang mata berpandangan dan ketiga orang ini berubah mukanya.
"Hemmm, kiranya kalian ini.....?"
Beng San berkata dengan senyum pahit, teringat akan pengalamannya dahulu ketika dua orang mengaku-ngaku dia sebagai anak!
Dua orang itu memang suami isteri yang dahulu pernah mengakui Beng San sebagai anak, yaitu adalah Hui-sin-liong Ouw Kiu yang tinggi besar dengan muka pucat dan kumis melintang bersama Bi-sin-kiam Bhe Kit Nio si pesolek cantik genit Suami isteri penjahat ini segera mengenal Beng San.
Keduanya kaget bukan main, akan tetapi Bhe Kit Nio masih sempat berseru sambil menubruk Beng San.
"Aduh, anakku..... ke mana saja kau pergi selama ini?"
"Ah, Beng San anakku. Akhirnya kau pulang juga.....!"
Ouw Kiu segera menyambung seruan isterinya. Akan tetapi Beng San merigelak dari tubrukan-tubrukan itu dan berkata marah.
"Aku bukan anak kalian Tak perlu bermain sandiwara lagi, karena aku sudah tahu bahwa kalian bersama Hek-hwa Kui bo sengaja dahulu hendak menipuku. Hayo katakan, di mana adanya nona baju hijau yang tadi makan di sini?"
Ouw Kiu dan Bhe Kit Nio saling pandang kemudian Ouw Kiu membentak marah.
"Anak durhaka kau"
Kepalan tangannya yang besar dan berat itu melayang ke arah kepala Beng San. Tapi dengan amat mudahnya Beng San miring kan kepala mengelak.
"Kita lenyapkan dulu bedebah ini. Tiba-tiba Bhe Kit Nio kehilangan kemesraannya dan mencabut pedang, terus menyerang Beng San dengan hebat. Lihai juga kiranya perempuan yang berjuluk Bi-sin-kiam (Pendekar Sakti Yang Cantik) ini, sekalipun pedangnya sudah melakukan serangan tiga jurus banyaknya, mengarah leher, dada, dan pusar! Pada saat yang sama, Ouw Kiu sudah mengirim serangkaian serangan lagi yang amat diandalkan, yaitu tendangan berantai yang dia beri nama Ban-liong-twi (Tendangan Selaksa Naga)! Kedua kakinya bergerak susul-menyusuli dalam tendangan yang cepat dan kuat. Entah sudah berapa banyaknya lawan roboh oleh ilmu tendangan yang amat dibanggakan dan diandalkan oleh Ouw Kiu ini. Pengeroyokan dua orang suami isteri ini yang mengeluarkan kepandaian masing-masing sudah terang dimaksudkan untuk membunuh Beng San yang dulu diaku sebagai anak kandung ini! Beng San menjadi gemas dan marah. la anggap sepasang suami isteri ini amat jahat dan palsu, apalagi kalau dia ingat bahwa mereka sudah menangkap Thio Eng, mungkin dengan maksud keji pula. Betapapun juga, sebelum mempelajari ilmu silat, Beng San adalah seorang anak yang tekun mempelajari ilmu kebatinan dan filsafat dari kitab-kitab suci, semenjak kecil menerima petuah dan pelajaran batin, dari para hwesio, maka membunuh manusia baginya merupakan pantangan besar. Ketika dia melihat datangnya Serangan-serangan dua orang itu yang amat hebat mengancam jiwanya, dia menggunakan Ilnnu Silat Khong-ji-ciang (Tangan Kosong) yang dulu dia warisi dari kakek Phoa Ti, digabung dengan Ilmu Silat Pat-hong-ciang yang dia warisi dari kakek The Bok Nam. Dalam beberapa gebrakan saja dia sudah berhasil mengetuk pergelangan tangan Bhe Kit Nio sehingga pedangnya terlepas, mencelat dan menyambar ke arah suaminya sendiri. Pada saat itu, Ouw Kiu sedang sibuk dengan ilmu tendangannya, maka pedang isterinya itu dengan keras menyambar lengan kanannya sehingga hampir putus bagian atas sikunya. Ouw Kiu berteriak kesakitan, akan tetapi melanjutkan tendangannya ke arah perut Beng San. Pemuda ini menggeser kaki ke kiri, tangannya bergerak dan sekali sampok tendangan Ouw Kiu itu menyeleweng dan..... mengenai perut isterinya sendiri. Bhe Kit Nio menjerit dan tubuhnya terlempar ke belakang, lalu terbanting dengan napas kempas-kempis! Ouw Kiu kaget bukan main, tapi juga gentar menghadapi pemuda yang lihai itu. Sekali melompat dia telah mendekati isterinya, dengan sebelah tangan membangunkannya, kemudian dua orang suami isteri yang sudah terluka itu tergesa-gesa lari pergi sambil saling bantu, terhuyung-huyung. Beng San tidak pedulikan mereka lagi, cepat dia berlari masuk. Dalam ruangan yang agak gelap itu dia melihat tubuh seorang gadis menggeletak di atas sebuah dipan dalam keadaan pingsan.
"Eng-moi...,.!"
Serunya sambil meloncat maju.
Alangkah kaget dan herannya ketika dia sudah dekat dengan gadis itu, dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu Sama sekali bukan Thio Eng si gadis baju hijau, melainkan seorang gadis cantik lain yang berbaju merah!
"Hong-moi..
tak terasa lagi Beng San berseru kaget.
Gadis ini adalah Kwa Hong yang entah sejak kapan dan bagaimana tahu-tahu bisa berada di tempat itu dalam keadaan pingsan.
Ketika mendapat kenyataan bahwa Kwa Hong pingsan karena tertotok, cepat Beng San membebaskannya.
Setelah jalan darahnya bebas dan kepalanya dibasahi air, Kwa Hong siuman kembali.
"Kau..... kau.....?"
Teriaknya, kaget, heran dan juga girang.
"Benar aku Beng San. Hong-moi, kenapa kau bisa berada di sini dan mengapa pula pingsan?"
Ditanya begini tiba-tiba Kwa Hong menangis dan segera Beng San merangkulnya karena tubuh gadis itu masih lemas sehingga tiba-tiba terguling, tentu akan jatuh ke bawah dipan kalau tidak dipeluknya.
Setelah merasa dipeluk pemuda itu makin keras tangisnya dan Kwa Hong menyembunyikan mukanya di dada Beng San.
Tentu saja Beng San menjadi bingung, hatinya berdebar-debar.
la merasa betapa canggung dan "tidak beres"
Adegan ini, akan tetapi untuk memisahkan diri dia pun tidak tega.
Semenjak kecil dahulu dia memang merasa amat suka kepada Kwa Hong, sekarang dara itu tanpa malu-malu menangis di dadanya, siapa orangnya tidak berdebar jantungnya?
Hati kasihan bercampur sayang mendorong Beng San untuk mengelus elus dan membelai rambut yang hitam halus itu.
"Sudahlah, Hong-moi, kenapa menangis? Lebih baik kauceritakan pengalamanmu, ia menghibur.
"Semua orang membenci aku,,,,ah, semua orang membenciku....."
Beng San makin heran.
"Eh, apa yang kaukatakan ini, Hong-moi? Siapa bilang semua orang membencimu? Yang terang aku tidak membencimu, aku..... aku.... suka dan sayang kepadamu."
Ucapan ini biarpun keluar dari kejujuran hatinya, akan tetapi kiranya takkan diucapkan kalau saja keadaan Kwa Hong tidak seperti itu dan memang dia hendak menghiburnya.
Akan tetapi ucapan ini mendatangkan perubahan hebat pada diri Kwa Hong.
Gadis ini merenggutkan kepalanya dari dada Beng San, matanya yang masih basah dan indah itu memandang tajam, berkedip-kedip lalu bertanya.
"Betulkah itu? Coba katakan lagi, betulkah kau suka dan sayang kepadaku?"
Mendadak wajah Beng San menjadi merah sekali.
Ah, pikirnya, mengapa ragu-ragu dan malu-malu?
Bukankah memang dia suka dan sayang kepada Kwa Hong?
"Tentu saja, Hong-moi.
Tentu saja aku suka dan sayang kepadamu."
Aneh! Tiba-tiba Kwa Hong tersenyum lebar, sehingga tampak giginya yang putih dan rapi biarpun matanya masih merah dan basah.
"Kalau begitu aku tidak sedih lagi, San-ko. Lihat aku bisa tertawa! Orang sedunia boleh benci kepadaku, asal kau suka dan cinta. Hi..hi..hi, San-ko, lucu, ya? Semenjak dulu aku.... aku suka sekali kepadamu, aku cinta seorang yang lemah, tolol tapi gagah perkasa. Eh, siapa tahu, kiranya kau..... kau pun mencintaku."
Sampai di sini Kwa Hong menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
Kagetlah Beng San.
Ketika tadi dia mengatakan suka dan sayang, sama sekali dia tidak berpikir tentang cinta, tentang cintanya pemuda-pemudi yang diakhir dengan perjodohan.
"Ini..... ini....."
Ia tergagap.
"San-ko, kau mau bilang apa?"
Kwa Hong sudah turun dari dipan, tubuhnya sudah tidak selemas tadi, tenaganya sudah hampir pulih. Dengan mesra gadis ini memegang tangan Beng San.
"Kau..... kau belum menceritakan pengalamanmu, Hong-moi."
Gadis itu cemberut ketika diingatkan kepada ini.
"Sesudah perayaan di Hoa-san, ayah hendak memaksaku supaya aku suka dengan Thio-suheng. Aku tidak mau, biarpun suhu juga mendesakku. Kemudian ketika ayah membentak-bentak dan menanyakan mengapa aku menolak, dengan marah pula akn berterus terang bahwa aku suka kepadamu, San ko!"
Celaka, pikir Beng San. Bisa runyam nih! Masa di depan semua orang gadis ini terang-terangan mengaku kepadanya? "Lalu bagaimana, Hong-moi?"
"Melihat semua orang marah dan benci kepadaku, malam harinya aku lalu minggat dari Hoa-san, dan aku hendak menyusul ke kota raja. Aku tahu bahwa untuk mencari Kwee Sin, kau tentu pergi ke kota raja."
"Kenapa kau menyusul aku?"
"Ah, tidak senang di Hoa-san kalau semua orang marah kepadaku, di samping itu, aku..... ah, aku tidak tega membiarkan kau sendiri mencari Kwee Sin di kota raja. Kau tentu akan menemui bahaya, maka aku menyusul untuk membantu."
Gadis itu memandang mesra, kemudian melanjutkan.
"Siapa duga, sesampainya di sini, suami isteri iblis tukang warung itu, ketika aku membeli makanan dan minuman, agaknya dalam minuman diberi racun yang memabukkan. Aku pingsan tak ingat apa-apa lagi, dan tahu-tahu kau telah berada di sini menolongku. Ah, Beng San-ko..... benar-benar aneh. Lagi-lagi kau yang lemah tidak berkepandaian apa-apa muncul sebagai penolong, menolong orang-orang yang memiliki kepandaian. Aneh dan ajaib....."
"Hong-moi, selain kau, masih ada lagi seorang gadis lain masuk perangkap penjahat-penjahat itu. Tadi kulihat nona Thio Eng memasuki warung ini dan tidak keluar lagi. Biarlah aku mencari dan menolongnya."
La lalu melangkah ke dalam sebuah kamar tak jauh dari ruangan itu dan benar saja, di dalam kamar ini dia melihat Thio Eng rebah di lantai tidak pingsan lagi, akan tetapi kaki tangannya diikat tali kuat-kuat dan mulutnya disumpal kain!
Cepat-cepat Beng San melepaskan tali pengikat kaki tangan gadis itu dan membuang pula kain penyumbat mulut.
Akan tetapi, siapa kira, begitu terbebas Thio Eng melompat bangun dan "plak!
plak!"
Dua kali pipi Beng San ditampar dari kanan kiri! Selagi Beng San melongo saking herannya, gadis itu sambil menudingkan telunjuknya berteriak.
"Tak usah tolong aku! Tak usah kau peduli keadaanku lagi, biarkan aku mampus dan teruskan kau berkasih-kasihan dengan siluman itu!"
Kebetulan sekali Kwa Hong juga sudah masuk ke kamar ini dan dengan kemarahan meluap-luap Thio Eng menudingkan telunjuknya ke arah Kwa Hong.
Gadis Hoa-san-pai ini menjadi merah sekali mukanya, merah karena malu dan juga karena marah.
Kiranya semua yang ia ucapkan tadi telah didengar oleh gadis baju hijau ini!
Yang repot adalah Beng San.
Wah, celaka nih, pikirnya.
"Eh, eh..... sabar dulu..... Eng-moi, kita bicara di ruangan depan....."
Kwa Hong yang masih merah mukanya itu mendahului meloncat keluar dari kamar juga Beng San yang berdebar-debar hatinya cepat-cepat keluar dari kamar itu, memutar otak bagaimana dia harus bertindak untuk menguasai keadaan yang amat gawat dan sulit ini.
Tiba-tiba dia mendengar sambaran angin, cepat dia menoleh dan kiranya Thio Eng yang sudah meloncat keluar dan gadis ini menggerakkan jari tangan menotok jalan darahnya.
Tentu saja gerakan ini terlampau jelas bagi Beng San dan sekiranya mau, pemuda ini dengan mudah akan dapat mengelak atau menangkis.
Akan tetapi dia sengaja diam saja, membiarkan hiat-to (jalan darah) di tubuhnya tertotok.
la mengeluh dan roboh lemas.
"Perempuan keji, kauapakan San-ko?"
Kwa Hong membentak marah sekali dan melangkah maju.
Akan tetapi Thio Eng sudah mencabut pedangnya yang tadi dia dapatkan di dalam kamar, dengan sikap menantang ia berdiri menghadapi Kwa Hong dan berkata dingin.
"Kau perempuan tak tahu malu! Semestinya tinggal di rumah mentaati perintah ayah sebagai seorang anak berbakti, eh, malah minggat dan mengejar-ngejar laki-laki! Perempuan macam engkau ini patut mampus di ujung pedangku!"
"Keparat!"
Kwa Hong juga mencabut pedangnya yang tadi sudah dapat la ketemukan di sudut ruangan itu.
"Peduli apa kau dengan urusan pribadiku? Kau-kira aku tidak tahu akan isi hatimu. Kau cemburu! Ya, kau cemburu dan iri hati melihat kami saling mencinta. Cih, tak tahu malu!"
"Tutup mulutmu!"
Thio Eng makin marah, mukanya sebentar merah sebentar pucat.
"Laki-laki tak berbudi macam ini, siapa menaruh hati? Mulutnya terlalu manis, satu hari mencinta gadis, lain hari mencinta lain orang gadis. Seperti engkau, dia pun harus mampus!"
Kwa Hong pucat mukanya dan mengerling ke arah Beng San.
Mungkinkah Beng San juga pernah menyatakan cinta kasih kepada gadis ini?
Akan tetapi hatinya sudah terlampau panas, sepanas hati Thio Eng dan tak dapat dicegah lagi dua orang gadis ini sudah saling terjang, bertanding pedang dengan hebatnya seperti dua ekor harimau betina memperebutkan seekor kelinci!
Trang-tring-trang-tring bunyi pedang mereka dan bunga api berkilat di daiam ruangan yang sunyi itu.
Thio Eng adalah murid tunggal Thai-lek-sin Swi Lek Hosiang, kepandaiannya tentu saja hebat.
Kwa Hong adalah cucu murid Lian Bu Tojin yang sudah menerima latihan dari ketua Hoa-sanpai ini sendiri, maka ilmu pedangnya juga tak boleh dipandang ringan.
Betapapun juga, menghadapi Thio Eng, ia menemukan lawan terlalu berat dan segera ia mendapat kenyataan bahwa biarpun ilmu pedangnya tak usah mengaku kalah dari ilmu pedang lawannya, namun dalam hal tenaga Iweekang ia toh kalah banyak.
Setiap kali dua pedang bertemu, tangannya tergetar dan makin lama ia makin terdesak oleh gadis baju hijau itu.
Beng San merasa batinnya tersiksa bukan main menyaksikan pertempuran ini.
Dengan amat terheran-heran dia tadi mendengarkan percakapan antara dua orang gadis itu dan benar-benar dia tidak mengerti.
Mengapakah dua orang gadis yang disukai dan disayanginya ini seperti bertempur karena dia?
Beng San masih terlampau hijau untuk dapat menangkap bahwa dua orang gadis ini sesungguhnya mencintannya dan kini mereka bertanding karena iri hati dan cemburu, atau secara kasarnya, untuk memperebutkan dia.
Malah dalam kekecewaannya Thio Eng mempunyai nafsu untuk membunuh Kwa Hong dan dia pula.
Dengan penuh kekhawatiran dia melihat betapa Kwa Hong makin terdesak hebat dan setiap saat ujung pedang di tangan Thio Eng mengancam keselamatan nyawanya.
"Eng-moi! Hong-moi! Sudahlah, jangan berkelahi!"
Tiba-tiba Thio Eng dan Kwa Hong tergetar mundur pada saat pedang mereka saling bertemu dan pada saat itu Beng San sudah berdiri di antara mereka.
Diam-diam Thio Eng kaget sekali, dan terheran-heran mengapa pemuda itu sudah terbebas dari pengaruh totokannya.
Apakah totokanku tadi kurang tepat sehingga pengaruhnya juga kurang lama?
Tentu saja dia dan Kwa Hong tidak tahu bahwa mereka tadi keduanya mundur tergetar bukan karena pertemuan pedang mereka, melainkan karena getaran hawa dorongan tangan Beng San yang sengaja melerai mereka.
Kiranya dalam kebingungannya tadi, terbayang oleh Beng San ketika Thio Eng di dalam perahu pernah menangis dalam pelukannya seperti yang dilakukan Kwa Hong tadi, maka perasaannya membisikkan dugaan yang membuat dia segera melompat dan mencegah perkelahian itu.
Memang sejak tadi dia tidak terpengaruh totokan karena begitu tertotok, dia telah menghentikan jalan darahnya dan hanya pura-pura roboh lemas.
"Eng-moi dan Hong-moi, jangan berkelahi....."
Katanya pula.
"Kau mau bicara apakah? Hayo bicara cepat, atau kau hendak membantu dia ini?"
Bentak Thio Eng yang sudah tidak sabar lagi "Bukan, Eng-moi, bukan begitu....."
"Hemmm, San-ko, apakah kau hendak membela siluman hijau ini?"
Kwa Hong bertanya dengan suara dingin.
"Tidak, tidak sekali-kali...... ahhh ...."
Beng San menggeleng-geleng kepalanya, mukanya merah sekali lalu berganti kehijau-hijauan karena dia merasa marah, menyesal, malu dan bingung.
"Kalian berdua janganlah salah paham, aku..... aku tidak berat sebelah..... aku sayang dan suka kepada Eng-moi, juga sayang dan suka kepada Hong-moi. Aku tidak pilih kasih, kalian berdua kuanggap seperti adikku sendiri, maka jangan..... jangan bertempur....."
Seketika pucat wajah Kwa Hong, sepucat wajah Thio Eng.
"San-ko..... jadi kau..... kau tadi.....?"
Tak dapat Kwa Hong melanjutkan kata-katanya dan air matanya jatuh berderai.
"Setan, sudah kuduga! Kau palsu! Di perahu dulu itu.....? Ah, laki-laki tak berbudi!"
Agaknya Thio Eng tak sesabar Kwa Hong karena segera ia menggerakkan pedangnya menusuk dada Beng San. Akan tetapi kali ini Beng San tidak berpura-pura lagi, cepat dia mengelak sambil berkata.
"Di perahu aku berbuat apa? Eng-moi, aku hanya kasihan dan suka kepadamu, juga Hong-moi aku suka dan sayang, tapi keduanya kuanggap seperti dua orang teman baik, atau sebagai adik-adikku yang akan kubela, bu..... bukan..... sebagai kekasih....."
"Ah, kau mempermainkan aku....."
Kwa Hong menjadi malu sekali kalau ia ingat betapa tadi ia telah menyatakan cinta kasihnya begitu terus terang, tidak hanya didengar oleh Beng San, malah juga oleh Thio Eng.
Pikiran ini membuat ia marah sekali dan otomatis pedangnya juga digerakkan menyerang Beng San.
Dua orang gadis yang dikecewakan hatinya itu kini hanya mempunyai satu kandungan hati, yaitu membunuh laki-laki yang mereka cinta dan yang kini mereka benci karena tidak membalas Cinta kasih mereka.
Dua pedang yang tadinya saling gempur itu kini saling bantu untuk berlumba dalam merenggut nyawa Beng San.
Aduh, Beng San bergidik.
Benar-benar berbahaya permainan cinta.
Cinta kasih dua orang dara ini sama berbahayanya dengan dua ujung pedang mereka.
Ia terpaksa mengeluarkan kepandaiannya, sekali tangannya bergerak dia telah dapat merampas dua pedang itu dari tangan Thio Eng dan Kwa Hong.
Dua orang gadis itu seketika melongo karena tidak tahu bagaimana caranya pedang mereka tahu-tahu sudah terampas dan kini Beng San dengan muka sedih mengembalikan pedang mereka, mengangsurkan dengan gagang pedang di depan.
Thio Eng dan Kwa Hong seperti mendapat komando lalu merenggut pedang masing-masing dari kedua tangan Beng San dan otomatis kedua pedang mereka sudah menyerang lagi!
Tapi kembali dengan gerakan aneh, tahu-tahu pedang mereka sudah berpindah tangan.
Lagi-lagi Beng San mengangsurkan pedang itu terbalik sambil berkata.
"Adik-adikku yang baik, kasihanilah aku. Aku benar-benar sayang kepada kalian."
Mendadak dua orang gadis itu bercucuran air mata.
"San-ko..... kiranya kau..... kau tidak hanya mempermainkan cinta orang...... juga telah mempermainkan orang dengan berpura-pura tolol dan bodoh,....."
Setelah berkata demikian, dengan isak tertahan Kwa Hong membalikkan tubuh dan lari pergi.
"Orang she Tan..... jadi kau..... sejak di perahu dulu..... kau telah mempermainkan aku? Ah, alangkah kejam kau....."
Sambil menangis Thio Eng juga berlari pergi dari situ dengan terhuyuhg-huyung dan lemas.
Tinggal Beng San yang berdiri melongo, memandangi dua pedang di kedua tangannya, berulang-ulang menarik napas panjang dan menjadi bingung.
Apakah artinya itu semua?
Benarkah dua orang gadis itu mencintanya?
Ah, tak mungkin rasanya.
Mencinta dia, cinta sebagai seorang kekasih yang menghadapkan dia menjadi suami mereka?
Aneh!
Dengan kedua pedang masih dipeganginya, terbayanglah wajah gadis gagu, tersenyum-senyum kepadanya dengan wajah diliputi kesayuan, kemudian terngiang di telinganya pesan mendiang Lo-tong Souw Lee bahwa dia harus mengawini perampas Liong-cu Siang-kiam kalau pencurinya itu wanita, maka terbayang pula wajah puteri Cia yang cantik jelita, gadis yang luar biasa ilmu pedangnya itu.
Hatinya terasa perih kalau teringat kepada dua orang gadis tadi.
Akan tetapi apakah yang dapat dia lakukan?
Mereka cinta kepadanya, itu bukanlah kesalahannya.
Tak mungkin dia mengimbangi cinta kasih setiap orang gadis Dan memang sesungguhnya hatinya masih bersih dari perasaaan ini.
Agaknya hanya kepada gadis gagu itulah dia dapat mencinta, atau.....
kepada puteri pencuri pedangkah?
"Setan!"
Beng San memaki diri sendiri mengusir bayangan semua gadis itu. Sepasang pedang rampasannya dia simpan, dijadikan satu dan disembunyikan di balik jubahnya.
"Tak mungkin memikirkan gadis-gadis itu, paling perlu sekarang aku pergi mencari kakakku di kota raja."
Makin diingat makin yakinlah hatinya bahwa pemuda she Tan yang datang ke Hoa-san-pai bersama Pangeran Souw Kian Bi itu tentulah Tan Beng Kui, kakaknya.
Masih ingat betul dia akan muka kakaknya itu.
Hanya satu hal yang amat meragukan.
Andaikata benar pemuda itu kakaknya, bagaimana dia bisa menjadi seorang yang begitu tinggi kedudukannya dan menjadi sahabat si Pangeran Mongol.
la harus menemui Tan Beng Kui atau pemuda itu dan bicara secara terang-terangan.
Dengan cepat Beng San lalu kembali ke kota raja, berusaha sekuat hatinya untuk melupakan peristiwa yang dia alami dengan Kwa Hong dan Thio Eng.
Setibanya di kota raja, dia mendengar berita yang amat mengejutkan hatinya.
la sengaja bermalam di rumah penginapan di mana dia mengintai lima orang gagah itu dan mendengar berita bahwa empat orang kakek gagah itu, ialah Kim-mouw-sai Lim Seng jago Kwi-bun, Kang-jiu Bouw Hin jago Bi-nam murid Siauw-lim-pai dan dua orang kakek Phang pejuang dari Hun-lam, telah tewas semua dikeroyok prajurit-prajurit kerajaan yang dipimpin oleh Tan-ciangkun (Panglima Tan)!
Jadi kakaknya sendiri yang telah memimpin barisan membuniih empat orang tokoh pejuang gagah perkasa!
Sebetulnya apakah yang terjadi di situ?
Seperti telah diketahui di bagian depan, Phang Khai dan Phang Tui dua orang kakek itu, gagal menangkap Kwee Sin malah mereka sendiri hampir celaka kalau tidak tertolong oleh penolong rahasia.
Setelah mereka sadar dan mendapatkan diri mereka berada di halaman kelenteng di mana mereka bermalam, keduanya menjadi terheran-heran dan juga marah terhadap seseorang yang mereka anggap telah mengkhianati mereka.
Pada malam, ketiga, seperti telah dijanjikan, mereka mengunjungi rumah penginapan itu dan mengadakan pertemuan dengan Kang-jiu Bouw Hin, Kim-mouw-sai Lim Seng, dan nyonya Liong yang menjadi perantara dan orang kepercayaan Ji-enghiong dan Ji-enghiong, yaitu dua orang tokoh perjuangan yang menjadi pemimpin-pemimpin dari gerakan rahasia atau jelasnya menjadi kepala jaringan mata-mata yang bergerak di dalam kota raja!
Bouw Hin dan Lim Seng sudah hadir di situ lebih dulu.
Nyonya Liong belum juga datang.
Terhadap Bouw Hin dan Lim Seng, dua orang kakek Phang tidak mau menceritakan pengalaman mereka di gedung Kwee Sin.
Akhirnya datang juga nyonya Liong yang kelihatan gelisah dan berduka.
Semua ini tak terlepas dari pandang mata kedua kakek Phang yang penuh selidik.
Mereka melihat betapa mata yang bening itu sekarang nampak sayu dan ada bekas-bekas air mata.
Begitu memasuki kamar itu nyonya Liong segera memberi pesannya dengan suara perlahan dan tergesa-gesa.
"Kalian lekas pergi dari sini, keadaan berbahaya. Saudara Bouw Hin dan Lim Seng harap segera berangkat ke tempat markas para pendekar yang dipimpin oleh saudara Su Souw Hwee dan Tan Yu Liang. Katakan bahwa Ji-enghiong sendiri yang memesan supaya mereka memutar pasukan ke arah selatan untuk bergabung dengan pasukan besar Panglima Kok Ci Seng, dan ji-wi Saudara Phang-lopek harap segera mencari pasukan saudara Tan Hok dan minta pasukannya membantu teman-teman di barat yang mengalami pukulah hebat. Harap kalian cepat-cepat pergi dan jalankan tugas dengan baik, keadaan amat gawat di sini."
Sambil berkata demikian, nyonya itu memandang kepada kedua orang saudara Phang itu dengan sinar mata menyesal. Phang Tui yang tidak sabar lalu berkata.
"Tentu saja semua tugas itu kami terima dengan baik dan akan kami jalankan seperti biasa. Akan tetapi ada satu hal yang kami minta supaya nona Lee bicara terus terang dan memberi penjelasan yang sewajarnya."
Mendengar Phang Tui menyebutnya nona Lee.
"nenek"
Itu mengeluarkan suara tertahan.
"Phang-lopek, apa..... apa maksudmu.....?"
Dalam gugupnya, nenek ini lupa akan penyamarannya, suaranya tidak parau seperti biasanya melainkan merdu dan halus, suara seorang wanita muda!
Phang Khai sekarang berdiri di samping adiknya, suaranya terdengar keren penuh tuntutan.
"Nona Lee, tak usah kau berpura-pura lagi, kami sudah tahu bahwa kau adalah seorang nona muda yang menjadi pembantu Pangeran Souw Kian Bi dan tan-ciangkun. Semua itu tidak apa dan kami takkan peduli karena kenyataannya kau bekerja untuk perjuangan kita. Akan tetapi apa artinya pengkhianatanmu kepada kami dan memberi tahu kepada Kwee Sin akan ancaman kami hendak menangkapnya? Katakanlah, apa artinya semua ini? Siapa sebenarnya engkau ini? Seorang teman pejuang ataukah seorang pengkhianat, ataukah seorang mata-mata musuh?"
Suara Phang Khai lerdengar penuh ancaman. Tubuh "nenek"
Itu gemetar.
"Phang-lopek, ahhh..... tiada kesempatan lagi. Terlalu panjang untuk diceritakan, juga rahasia..... ah, kalian percayalah kepadaku. Pergilah cepat-cepat meninggalkan kota raja, aku tak sempat bercerita..... entah lain kali, sudahlah, pergilah kalian .."
"Kau harus terangkan lebih dulu!"
Phang Tui membentak, sedangkan dua orang lain, yaitu Bouw Hin dan Lim Seng, hanya memandang dengan heran.
Mereka belum tahu apa yang telah terjadi dan melihat sikap dua orang saudara Phang itu, timbul pula kecurigaan mereka terhadap nyonya Liong yang sekarang jelas adalah seorang nona muda she Lee adanya.
"Tidak ....tidak bisa, tak sempat lagi....."
"Kalau begitu, kami akan memaksamu!"
Phang Tui dan Phang Khai bergerak dan menghadapi "nenek"
Itu dengan pedang di tangan. Pada saat itu terdengar suara gerakan orang di luar dan terdengarlah bentakan keras.
"Tangkap mata-mata pemberontak!"
Sinar senjata rahasia melayang masuk kamar dan terdengar suara keras disusul padamnya lampu penerangan.
Phang Khai, Phang Tui, Bouw Hin dan Lim Seng cepat mencabut senjata dan nienerjang keluar.
Akan tetapi mereka disambut oleh gerakan pedang yang amat cepat, dihujani pula dengan senjata-senjata rahasia.
Karena keadaan amat gelap, maka mereka repot sekali dan beberapa buah senjata rahasia telah mengenai tubuh mereka.
Tan Ciangkun, kau sudah di sini?
Ha..ha..ha, ternyata kau lebih cepat daripada aku.
Bunuh semua mata-mata ini!
Ha..ha..ha, tikus-tikus ini belum kenal kelihaian Pangeran Souw Kian Bi!"
Orang yang bicara ini mainkan pedangnya dengan hebat sekali dan empat orang pe-juang itu biarpun sudah mempertahankan diri, namun mereka tidak kuat menghadapi desakan dua pedang dan hujan senjata rahasia itu.
Beberapa jurus kemudian mereka roboh, terluka parah oleh pedang dan senjata rahasia.
Di dalam gelap, Phang Khai dan Phang Tui yang sudah roboh itu mendengar bisikan suara merdu dan halus, suara "nenek Liong".
Demi mendengar bisikan ini, Phang Tui berseru.
"Ayaaaaa, celaka...., bodoh benar aku ..."
Phang Khai berseru pula.
"Aduhhh..... kalau begitu pantas mampus!"
Penerangan dinyalakan dan ternyata empat orang pejuang itu sudah tewas semua.
Tentu saja Beng San hanya mendengar berita tentang kematian empat orang mata-mata pemberontak di tempat itu.
Ketika dia melakukan penyelidikan dengan bertanya-tanya, dia mendengar bahwa yang membuka rahasia mereka itu adalah seorang tokoh yang amat terkenal di kota raja yaitu Lee-siocia.
Beng San membayangkan wajah nona cantik yang menemui Kwee Sin di malam itu, lalu teringat pula dia akan nyonya Liong.
Diam-diam dia berpikir keras, tapi tak juga dapat mengerti apa maksudnya semua itu.
Ketika dia mendengar pula bahwa pemimpin penyerbuan yang menewaskan empat orang mata-mata pemberontak itu adalan Tan-ciangkun, diam-diam Beng San menjadi sedih sekali.
"Hemmm, ternyata kakakku telah menjadi kakl tangan Mongol, agaknya menjadi kaki tangan Pangeran Souw Kian Bi yang jahat itulah. Celaka sekali, kalau orang-orang Han seperti kakakku dan Kwee Sin menjadi kaki tangan penjajah, seperti ribuan orang lain yang dapat dipikat dengan harta dan pangkat, bagaimana rakyat bisa terhindar dari penindasan penjajah? Aku harus mengingatkannya."
Demikian Beng San mengambil keputusan di hatinya.
Malam hari itu dia berada di depan rumah gedung besar tempat tinggal Tan-ciangkun yang terjaga kuat oleh prajurit-prajurit tinggi besar.
Sengaja Beng San memilih waktu malam hari agar dapat bicara dengan bebas, dan memilih waktu tuan rumah sudah selesai tugas dan sedang beristirahat.
la menduga-duga apakah kakaknya itu sudah berkeluarga dan diam-diam dia harus mengakui bahwa gedung tempat tinggalnya itu benar-benar mewah dan megah.
Melihat Beng San longak-longok di depan pintu gerbang, seorang penjaga membentaknya.
Beng San malah melangkah maju menghampiri penjaga itu dan berkata ramah.
"Harap kau suka beritahukan kepada Tan-ciangkun bahwa adiknya Tan Beng 5an datang hendak bertemu."
Penjaga itu tertegun, memandang lebih teliti lalu memberi hormat karena dia pun melihat persamaan wajah antara pemuda ini dengan komandannya "Silakan Kongcu masuk dan menanti di ruang tamu, saya akan melaporkan kedatangan Kongcu,"
Katanya.
Tak lama kemudian Beng San dipersilakan masuk dan penjaga itu sendiri pergi keluar.
Beng San memasuki ruangan dalam dengan hati berdebar tegang.
la akan berhadapan dengan Beng Kui, orang yang selama ini selalu dirindukan, yang selalu dia bayangkan dan dia impikan.
Kakak kandungnya!
"Ada keperluan apakah kau datang ke sini?"
Suara yang angkuh dan dingin, makin seram karena suasana di ruangan itu remang-remang dan dingin, lagi sunyi.
Beng San mengangkat muka.
Dihatnya orang yang dianggap kakak kandungnya itu duduk di kursi menghadapi meja besar di ruangan yang kosong, pakaiannya dari sutera biru, matanya bersinar-sinar dan mulutnya menyeringai seperti orang mengejek dan memandang rendah.
Sejenak Beng San tak dapat berbicara, berdiri tegak di depan meja.
Kemudian setelah saling berpandangan, ia berkata.
"Kau..... bukankah kau kakakku Tan Beng Kui? Bukankah aku ini adik kandungmu? Kui-ko, di mana ayah dan ibu? Apa yang telah terjadi padaku waktu aku kecil. Suara Beng San mulai menggetar saking terharunya. Sikap dingin kakaknya tidak mengecilkan hatinya, tidak mengusir keharuannya bertemu dengan kakaknya ini.
"Aku tidak mempunyai adik seperti kau"
Jawaban ini terdengar dingin dan amat mengagetkan hati Beng San.
"Pergilah, kau jangan menggangguku."
Beng San menjadi marah, mukanya berubah merah.
"Kenapa kau hendak menyangkal? Kenapa hendak membohong dan merahasiakan? Aku yakin bahwa kau adalah kakakku Beng Kui. Kui-ko, apakah kau sudah lupa? Bukankah di punggungmu ada dua tahi lalat? Apa kau lupa bahwa jidat ayah ada goresan bekas luka dan lupa betapa lemah lembut ibu kita? Kui-ko....."
"Diam!"
Beng Kui menggebrak meja sambil bangkit berdiri. Sepasang matanya memancarkan api kemarahan.
"Andaikata dahulu aku mempunyai seorang adik, maka adikku itu sudah mati di air bah. Lebih baik mempunyai adik mati dibawa banjir daripada seorang pengacau yang goblok, seorang yang tolol akan tetapi bersikap pintar sendiri, membiarkan dirinya terseret dalam pemberontakan jahat. Sudahlah, kau pergi dari sini, aku tidak kenal kau! "Tapi..... tapi, aku....."
Beng San tergagap.
"..... aku ingin mengetahui di mana ayah ibuku,...."
Hampir dia menangis karena sikap kakaknya ini benar-benar di luar dugaannya. Teringatlah dia ketika dahulu di Hoa-san-pai kakaknya ini pun membuang ludah ketika melihat dia.
"Sudah mati semua..mati ditelan Sungai Huang-ho...;."
Bercucuran air mata di kedua pipi Beng San yang sekarang menjadi pucat.
"Di mana..... dikuburnya? Aku..... aku ingin menyambangi makam mereka..... ingin bersembahyang..... ah, ayah ibu..,.,"
Kini suara Beng Kui juga terdengar serak dan menggetar.
"Di dekat Kiu-liong-kiauw di Shan-si....."
Mendengar suara kakaknya ini, makin terharulah Beng San. la melangkah maju.
"Kui-ko..... kakak kandungku...,. tak maukah kau memelukku.....?"
Pada saat itu terdengar suara penjaga dari luar.
"Pangeran Souw datang hendak berkunjung kepada Tan-ciangkun!"
"Pergilah!"
Kata Beng Kui.
"Kau hanya mengacau dan merusak kedudukanku. Aku tidak mau kenal kau lagi. Pergi sekarang, melalui pintu belakang ini, jangan kau datang lagi, kalau nekat, akan kutangkap dan kujatuhi hukuman sebagai pemberontak!"
Seketika menjadi panas hati Beng San. Tak disangkanya kakak kandungnya sejahat ini moralnya.
"Kau..... anjing Mongol, kau sudah membunuh para orang gagah di rumah penginapan dan kau mengancam hendak membunuh adik kandung sendiri?"
"Tutup mulutmu dan pergilah! Siapa sudi bicara dengan segala macam pemberontak! Pergi!"
Dengan dada panas seperti hendak dibakar rasanya, Beng San melangkah pergi melalui pintu yang ditunjuk tadi.
Begitu keluar, dia tiba di taman belakang dan seorang penjaga sudah siap mengantarnya keluar.
Setelah tiba di tempat gelap, dengan kepandaiannya Beng San menyelinap dan meloncat masuk lagi, langsung dia melayangkan tubuhnya naik ke atas genteng dan di lain saat dia telah mengintai ke dalam ruangan di mana tadi kakaknya menyambut kedatangannya.
la melihat Pangeran Souw Kian Bi tertawa-tawa memasuki ruangan itu, disambut penuh kehormatan oleh Tan Beng Kui.
"Ha..ha..ha, Tan-ciangkun, kenapa kau main kucing-kucingan? Bukankah dia itu adik kandungmu yang betul-betul dan yang selama bertahun-tahun ini kaucari-cari?"
Pangeran itu tertawa.
"Alangkah lucunya kalau kuingat bahwa ketika kecilnya dulu pun aku pernah melihatnya. Ha..ha..ha, tolol tapi berani adikmu itu, sayang..... dia mau diperalat oleh pemberontak-pemberontak."
"Hemmm, siapa sudi mempunyai adik macam dia? Pangeran, satu kali ini saja aku mengampuni dia karena mengingat keturunan akan tetapi kalau lain kali dia berani muncul, di dalam hatiku aku sudah menganggap dia seorang anggota pemberontak, bukan adik lagi. Lain kali tanganku sendiri akan menggunakan pedang memenggal lehernya."
"Bagus! Tentu saja aku sudah ketahui semua isi hati dan kesetiaanmu terhadap pemerintah, Ciangkun. Sekarang mari kita bicarakan hal penting. Kau tentu tahu bahwa usahaku dengan pasukan melakukan pengejaran atas diri Kwee-ciang-kun yang dilarikan orang-orang Pek-lian-pai tidak berhasil. Tadinya kusangka adikmu yang tolol itu yang berubah lihai dan melarikannya, eh, kiranya dia masih berada di sini. Jadi terang kalau di belakangnya ada tokoh-tokoh Pek-lian-pai. Maka aku lalu mengerahkan lima orang perwira membawa sepasukan yang kuat, dibantu oleh dua cianpwe (orang tua gagah), pergi menyusul ke Hoa-san. Perbuatan kekerasaan menculik Kwee-ciang-kun yang sudah menjadi perwira ke Hoa-san, cukup dijadikan alasan bahwa Hoa-san-pai hendak membantu pemberontak."
Tan Beng Kui mengangguk-angguk.
"Bagus sekali tindakan Pangeran. Akan tetapi kenapa tidak memimpin sendiri atau setidaknya mewakilkan kepadaku untuk membereskan urusan besar itu."
Souw Kian Bi tertawa bergelak, menyambar cawan arak yang dibawa masuk pelayan lalu diminumnya sekali teguk.
"Ha..ha..ha, untuk urusan itu sudah cukup ditangani dua cianpwe itu. Lebih penting sekali adalah urusan di sini, yang terjadi di depan mata kita, Ciangkun."
"Urusan apakah itu?"
"Tan-ciangkun, kita benar-benar telah dipermainkan musuh. Dari surat-surat yang kudapatkan di tubuh mata-mata pemberontak itu, jelas bahwa di kota raja ini penuh dengan jaringan mata-mata yang dipimpin oleh dua orang yang disebut-sebut sebagai Ji-enghiong (Pendekar ke dua) dan Si-enghiong (Pendekar ke empat). Ternyata dua orang tokoh mata-mata yang ini sudah berada di sini bertahun-tahun lamanya."
"Aku pun sudah mengetahui tentang surat itu. Akan tetapi apakah surat-surat itu dapat dipercaya? Kenapa tidak disebutkan siapa orangnya dan di mana rumahnya? Pangeran, jangan-jangan surat itu hanyalah siasat untuk membingungkan kita saja."
Pangeran itu menggeleng-geleng kepalanya.
"Hemmm, tidak sesederhana itu wawasanku, Ciangkun. Tadinya aku sendiri pun menganggap demikian, akan tetapi setelah kurenungkan dan kuhubung-hubungkan semua kejadian yang lalu, aku malah hampir yakin bahwa aku tahu siapa adanya Ji-enghiong dan Si-enghiong pemimpin mata-mata itu."
"Bagus sekali kalau begitu. Biappun baru dugaan, lebih baik tangkap dulu orangnya, paksa supaya mengaku. Apa sukarnya?"
Tan Beng Kui berkata cepat dengan girang.
"Hemmm, kiranya kau masih belum dapat menduga siapa mereka itu? Benar-benar aku heran kalau kau yang biasanya amal cerdik ini tidak dapat menduga siapa adanya Ji-enghiong dan Si-enghiona itu?"
"Dalam hal ini aku harus mengakui kekuranganku, Pangeran. Siapakah dua orang tokoh pemberontak itu? Harap suka memberitahukan dan biarlah aku akan turun tangan sendiri menangkap mereka."
"Seorang diantaranya adalah Kwee Sin."
"Apa.....??"
Wajah Beng Kui berubah sekali dan dia benar-benar terkejut mendengar ini.
"Pangeran, harap kau jangan main-main!"
"Tidak, Ciangkun. Dugaanku tak mungkin keliru, seorang di antara mereka itu, entah Ji-enghiong entah Si-enghiong, adalah Kwee Sin. Dan yang seorang lagi, sudah tentu adalah Lee Giok....."
"Tidak mungkin!"
Beng Kui sampai melompat dari bangkunya, kemudian dia tertawa bergelak.
"Souw-taijin benar-benar main-main kali ini. Lee-siocia adalah puteri keluarga bangsawan Lee yang sudah terkenal, juga dia membantu kita. Mana bisa dia dituduh kepala mata-mata? Ah, aku mana bisa percaya akan hal ini?"
"Tuduhanku bukan hanya serampangan saja, Tan-ciangkun, tapi berdasarkan perhitungan. Selama ini segala rahasia kita bocor sehingga gerakan para pemberontak dapat cepat dan makin mengancam kedudukan kita. Akan tetapi kejadian kali ini, coba Ciangkun pikir. Kwee Sin lenyap, katakanlah diculik musuh-musuhnya akan tetapi kenapa nona Lee Giok terlihat menyamar sebagai seorang nenek dan mengadakan pertemuan dengan dua orang kakek yang mencoba untuk menculik Kwee Sin, kemudian nona Lee Giok malah diam-diam menghilang dari kota raja? Dan menurut penyelidikan, nona Lee Giok mengejar Kwee Sin ke Hoa-san."
"Begitukah? Tapi, bisa jadi kalau nona Lee Giok bermaksud menolong Kwee Sin dari tangan para pemberontak."
Souw Kian Bi tertawa.
"Betul ada kemungkinan itu, akan tetapi biarlah kita sama lihat saja. Aku sudah mengutus pasukan itu menyusul dan membawa mereka berdua kembali ke kota raja, kalau perlu menghancurkan Hoa-san-pai"
"Hoa-san-pai adalah partai yang kuat, banyak terdapat, orang pandai di sana dan Lian Bu Tojin sendiri memiliki kesaktian yang tinggi. Mana bisa dihancurkan begitu saja oleh sebuah pasukan?"
Tanya Tan Beng Kui.
"Ha..ha..ha, kau tidak tahu siapa adanya dua orang cianpwe itu? Seorang adalah Hekhwa Kui-bo dan orang ke dua adalah Siauw-ong-kwi Locianpwe. Ha..ha..ha, apakah mereka itu tidak cukup kuat untuk menghancurkan Hoa-san-pai?"
"Hebat! Benar-benar aku takluk kepadamu, Pangeran. Bagaimana kau dapat menarik dua orang locianpwe itu untuk membantu kita menumpas Hoa-san-pai?"
Souw Kian Bi tertawa girang, jarang dia bisa mendapat pujian Tan Beng Kui yang biasanya amat cerdik dan banyak membuat jasa itu.
"Baiklah aku berterus terang kepadamu, Hek-hwa Kui-bo dapat ditarik karena permintaan muridnya, Kim-thouw Thian-li....."
"Hemmm, tentu kekasih Kwee Sin itu, bukan? Bagus!"
"Selain kekasih Kwee Sin, Kim-thouw Thian-li dengan Ngo-lian-kauw yang dipimpinnya, harus diakui sudah amat banyak jasanya terhadap kita, apalagi dalam hal mengadu domba golongan-golongan pemberontak. Adapun Siauw-ong-kwi Locianpwe, biarpun dia orang pertapa yang aneh, namun dia berasal dari utara, tentu saja suka membantu kita, apalagi ditangisi muridnya yang ingin mendapatkan seorang gadis anak murid Hoa-san pai."
"Kau maksudkan si Raja Liar Giam Xin itu, Pangeran?"
"Siapa lagi kalau bukan dia?"
Souw Kian Bi tertawa.
"Siluman cilik itu telah tergila-gila kepada murid Hoa-san-pai yang bernama Thio Bwee. Ha..ha..ha!"
Tan Beng Kui juga tertawa sehingga dua orang berpangkat ini tertawa bergelak.
Suara ketawa mereka memenuhi ruangan itu.
Beng San dengan hati gemas dan kaget cepat pergi dari situ untuk menyusul ke Hoa-san.
Hoa-san-pai terancam bahaya besar, pikirnya.
Dia harus cepat pergi ke Hoa-san untuk membantu Hoa-san-pai dari kehancuran.
Juga kalau betul apa yang dia dengar dari Souw Kian Bi tadi bahwa Kwee Sin adalah seorang pemimpin pasukan mata-mata pejuang, dia harus menyelamatkannya.
Diam-diam Beng San bingung, juga terharu.
Betulkah Kwee Sin seorang pejuang?
Malah menjadi pemimpin di kota raja, di "mulut harimau"?
Dan nona muda Lee Giok itu?
Betulkah dia pemimpin pejuang pula?
Ah, rasanya tak masuk di akal, Biarpun mulutnya memaki-maki Kwee Sin yang berlutut di depannya bersama Bun Lim Kwi, akan tetapi di dalam hatinya Pek Gan Siansu menjadi terharu sekali dan juga girang bahwa bekas muridnya ini sekarang mau menyerahkan diri dan bersedia membersihkan nama baik Kun-lun-pai.
"Kau murid murtad, kembalikan pedang kami!"
Kata Pek Gan Siansu setelah mendengar penuturan Bun Lim Kwi dan mendengar permohonan ampun Kwee Sin yang menangis di depan suhunya.
Kweg Sin dengan air mata berlinang meloloskan pedangnya yang dulu dia terima dari gurunya, dengan berlutut dan dengan kedua tangan dia mengembalikan pedang itu.
Pek Gan Siansu memegang pedang dengan dua tangan, mengerahkan tenaga dalamnya dan "pletakkk!"
Pedang itu patah menjadi dua potong. Dilemparkannya potongan pedang ke atas tanah sambil berkata.
"Semenjak saat ini kau bukan anak murid Kun-lun-pai lagi. Karena kau sudah dianggap orang luar yang mencemarkan nama baik Kun-lun-pai dan mengadu Kun-lun-pai terhadap Hoa-san-pai, maka kau adalah tangkapan ketua dan hendak kami antarkan ke Hoa-san-pai. Gara-gara perbuatanmulah pinto kehilangan murid-murid terkasih yang dulu terkenal dengan nama Kun-lun Sam-heng-te! Karena kaulah perhubungan baik Kun-lun-pai dan Hoasan-pai menjadi pecah-belah. Lim Kwi, bersiaplah, kau dan aku sendiri akan mengantarkan orang tangkapan ini ke Hoa-san-pai untuk menebus dosa."
Bun Lim Kwi yang sudah beberapa lamanya melakukan perjalanan berdua dengan Kwee Sin, sudah mendengar penuturan bekas murid Kun-lun-pai ini, dengan suara terharu mintakan ampun dan mengingatkan gurunya bahwa sebenarnya Kwee Sin tidak melakukan semua perbuatan jahat itu, yang melakukan adalah orang-orang Ngolian-kauw.
"Dia sudah begitu rendah untuk jatuh oleh rayuan siluman wanita Ngo-lian-kauw, dengan sendirinya semua perbuatan Ngo-lian-kauw yang tidak ditentangnya menjadi tanggung jawabnya juga."
Hanya demikian jawaban Pek Gan Siansu sing-kat.
Lim Kwi tak berani membantah lagi dan berangkatlah tiga orang ini ke Mi san.
Lian Bu Tojin, Kwa Tin Siong, dan Liem Sian Hwa bersama tosu Hoa-san-pai menyambut kedatangan Pek Gan Siansu, Lim Kwi, dan Kwee Sin.
"Lian Bu Tojin"
Kata Pek Gan Siansu setelah mereka saling memberi hormat.
"bekas murid yang durhaka ini sekarang telah datang untuk mempertanggungjawabkan semua kesalahannya terhadap Hoa san-pai. Silakan kau mengambil keputusan dan mengadilinya, kau mau hukum dia atau apa saja, tidak ada hubungannya lagi dengan kami dari Kun-lun-pai. Maka, dengan datangnya dia ini, kuharap kau suka menghabiskan segala permusuhan dan suka menerima usulku untuk menjodohkan muridku Bun Lim Kwi dengan seorang di antara anak muridmu."
"Pek Gan Siansu, urusan perjodohan adalah urusan baik dan hal ini dapat dibicarakan lain hari. Sekarang yang penting adalah mengadili orang yang selama ini menjadi biang keladi segala keributan pinto hendak mendahulukan pengadilan ini."
Ketua Hoa-san-pai itu lalu memberi tanda dengan tepukan tangan dan memerintahkan beberapa orang tosu untuk membawa Kwee Sin ke dalam "ruang pengadilan".
Ruangan pengadilan ini berada di tengah-tengah, merupakan ruang yang lebar dan biasanya di sinilah para anak murid Hoa-san-pai Yang melakukan penyelewengan diadili dan dijatuhi hukuman.
Lian Bu Tojin sudah duduk di atas bangku, Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa berdiri di kanan kirinya, lalu berturut-turut muncul Thio Ki, Thio Bwee dan Kui Lok yang berdiri di belakang ketua Hoa-san-pai itu.
Di pinggir ruangan itu berjajar murid-murid Hoa-san-pai tingkat paling tinggi dan keadaan di situ amatlah angkernya.
Sebagai tamu, Pek Gan Siansu dan Bun Lim Kwi mendapat tempat duduk di samping.
Wajah kakek Kun-lun-pai ini nampak muram, demi-kianpun Bun Lim Kwi.
Hal ini tidak mengherankan oleh karena orang yang hendak diadili ini adalah bekas murid Kun-lun-pai.
Oleh seorang tosu penjaga, Kwee Sin dibawa masuk dan disuruh berlutut di depan ketua Hoa-san-pai.
Akan tetapi Kwee Sin tidak mau, dan hanya menjura dengan memberi hormat sambil berkata.
"Saya Kwee Sin menghaturkan hormat kepada ketua Hoa-san-pai. Terhadap Hoasan-pai saya tidak merasa mempunyai kesalahan apa-apa, oleh karena itu saya terpaksa menolak untuk berlutut sebagai seorang pesakitan, saya hanya suka menghadap sebagai seorang yang hendak ditanya tentang hal-hal yang menjadikan salah paham dan menimbulkan keributan"
Suara Kwee Sin tetap dan sama sekali tidak gugup, hanya pandang matanya yang berani menentang siapa saja di situ tetapi dia selalu menghindarkan pandang mata ke arah Liem Sian Hwa.
Kwa Tin Siong bertugas mewakili gurunya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Mendengar ucapan Kwee Sin itu, dengan muka keren dia berkata.
"Kwee Sin, kau dengan enak menyatakan tidak mempunyai kesalahan apa-apa terhadap Hoasan-pai. Kalau begitu coba kaujawab dan terangkan soal-soal yang terjadi selama ini, yang sekarang hendak kami tuduhkan kepadamu. Pertama, bukankah ayah sumoi Liem Sian Hwa tewas dalam tangahmu atau setidaknya karena perbuatanmu? Ke dua, ketika kau diantar oleh dua orang suhengmu ke sini beberapa tahun yang lalu kemudian kau ternyata bersekongkol dengan Ngo-lian-kauw dan malah menipu kami dan lari bersama Hek-hwa Kui-bo sehingga terjadi bentrok antara suheng-suhengmu dengan kami pihak Hoa-san-pai. Bukankah hal ini menjadikan permusuhan dan disebabkan oleh kecuranganmu? Ke tiga, kau lalu lari berkomplot dengan Ngo-lian-kauw, kemudian kau menyerbu ke Hoa-san-pai, berhasil membunuh dua orang suteku dan melukai kami dengan bantuan Ngo-lian-kauw dan Hek-hwa Kui-bo pula. Ke empat, kau menjadi pembesar di kota raja di samping pihak Ngo-lian-kauw, membiarkan kami dan Kun-lun-pai bermusuhan, bunuh-membunuh, sengaja kau diam dan membiarkan permusuhan berlarut-larut. Bukankah ini sesuai dengan siasat pemerintah dan memang kau sengaja bermaksud mengadu domba dan menghancurkan Hoa-san-pai? Nah, coba kau jawab empat macam tuduhan ini lalu katakan bagaimana kau berani bilang tidak bersalah terhadap Hoa-sah-pai?"
Wajah Kwee Sin menjadi pucat. Akan tetapi dia berdiri tegak dan matanya bersinar penuh semangat.
"Sekali penyesalan yang layak kutebus dengan nyawa. Demi keutuhan perhubungan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, biarlah pada saat ini aku Kwee Sin, bekas murid Kun-lun-pai....."
Sampai di sini suaranya menggetar karena terharu.
"..... aku akan berterus terang. Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong, biarlah aku menjawab dan menerangkan pertanyaan-pertanyaan yang kauajukan itu satu demi satu. Pertanyaan pertama tentang kematian Liem Lo-enghiong, seperti juga dulu pernah kunyatakan, kematiannya sama sekali bukan sebab perbuatanku. Aku tidak membunuhnya, bahkan tidak pernah bertemu dengannya. Hal ini berani kunyatakan dengan sumpah sebagai bekas murid Kun-lun....."
"Jangan sebut-sebut nama Kun-lun-pai,"
Kata Pek Gan Siansu, tenang namun berwibawa.
"Maafkan teecu....."
Kwee Sin cepat berkata, suaranya parau, kemudian dia menghadapi Kwa Tin Siong lagi.
"Aku berani bersumpah sebagai seorang laki-laki, demi kehormatan dan namaku, aku tidak membunuh Liem Lo-enghiong."
Kwa Tin Siong dan yang lain-lain pernah mendengar dari Beng San tentang hal ini, akan tetapi karena memurut anggapan mereka tetap saja Kwee Sin yang menjadi biang keladinya, Kwa Tin Siong mendesak terus.
"Kalau kau begitu yakin bahwa kau bukan pembunuhnya, sudah tentu kau tahu siapa pembunuhnya yang menggunakan pukulan Pek-lek-jiu? Liem-sumoi menuduh bahwa ayahnya kaubunuh karena ada tanda luka bekas pukulan Pek-lek-jiu, diperkuat dugaan bahwa tentu kau malu dan marah terlihat oleh ayahnya ketika kau berpesiar bersama ketua-Ngo-lian-kauw."
Wajah Kwee Sin yang tadinya pucat berubah merah sebentar, lalu pucat lagi.
"Tadinya aku tidak tahu siapa pembunuhnya, baru kemudian ini aku mengetahui semua bahwa memang orang menggunakan namaku dengan maksud mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai."
"Siapa orang itu?"
Kwee Sin tampak ragu-ragu namun kemudian berkata.
"Pembunuh ayah nona Liem adalah Kim-thouw Thian-li ketua Ngo-lian-kauw bersama anak buahnya yang menyamar sebagai anggota-anggota Pek-lian-pai!"
Sunyi seketika, terdengar isak tangis Liem Sian Hwa disusul bisikannya.
"Aku, harus membasmi Ngo-lian kauw...."
Akan tetapi kesunyian itu segera dipecahkan oleh suara Kwee Sin yang melanjutkan keterangannya dan kini semua orang mendengarkannya penuh perhatian.
"Keterangan untuk menjawab tuduhan ke dua dapat kujelaskan dengan sumpah pula bahwa ketika aku datang ke sini diantar oleh kedua suhengku, aku benar-benar bermaksud hendak memberi keterangan seperti yang kulakukan pada ini hari. Akan tetapi, Cuwi sekalian di sini telah mengetahui betapa aku yang hendak mengakhiri hidupku untuk menebus dosa, tidak berdaya ketika disambar pergi oleh Hek-Hwa Kui-bo. Terhadap kepandaian nenek itu aku yang bodoh bisa berbuat apakah? Dan memang aku mengakui bahwa sejak itu aku bekerja di kota raja sebagai perwira, adapun hal ini adalah rahasia pribadiku dan tak perlu kuterangkan kepada siapa pun juga."
Pek Gan Siansu mengeluarkan suara mendengus dengan hidungnya.
Kakek itu merasa terpukul mendengar betapa bekas muridnya tanpa malu-malu mengaku telah bekerja sebagai perwira di kota raja, berarti bekerja sebagai anjing penjajah.
Pada hal dahulu dia tahu betul betapa besar semangat Kwee Sin untuk menentang penjajah dan membantu perjuangan kaum patriot.
"Tentang pertanyaan ketiga, terang aku mengakui bahwa memang ada niat di hatiku untuk melakukan pembalasan dendam atas kematian dua orang suhengku di tempat ini. Pada waktu itu kupikir bahwa dua orang suhengku itu sama sekali tidak bersalah, mereka datang hanya untuk mengantar aku dan memaksa aku menjelaskan duduknya perkara. Siapa kira..... dua orang suhengku itu, orang-orang gagah perkasa yang berbudi, menemui kematian di sini secara menyedihkan. Karena itulah aku datang melakukan pembalasan, dibantu oleh pihak Ngo-lian-kauw. Sebagai pengganti nyawa dua orang suhengku aku berhasil merenggut nyawa dua orang murid Hoa-san-pai, bukankah itu sudah pantas?"
Sampai di sini Kwee Sin tersenyum pahit, jelas dia memperlihatkan sikap menyesal bukan main.
"Sekarang pertanyaan ke empat, memang aku menjadi pembesar di kota raja. Terhadap permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, aku tak dapat berbuat apa-apa karena kedudukanku sebagai perwira. Dan untuk hal ini pun aku memiliki rahasia pribadi yang belum dapat kujelaskan sekarang, maupun kelak karena rahasia itu akan kubawa mati. Nah, para orang gagah dari Hoa-san-pai, aku Kwee Sin sudah menjelaskan semua."
Kwa Tin Siong berbisik-bisik dengan Lian Bu Tojin, kemudian dia maju pula berkata, suaranya nyaring jelas.
"Kwee Sin, kami rasa pengakuan-pengakuapnmu itu cukup jujur, kecuali tentang rahasia pribadi yang kausembunyikan. Kami kira kau akan cukup jujur pula untuk mengakui bahwa perbuatanmulah yang menjadi biang keladi semua permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Selamanya dua partai ini menjadi sahabat-sahabat baik, malah sudah ada ikatan kekeluargaan antara kedua partai melalui sumoi dan engkau. Akan tetapi, dengan tak kenal malu kau telah melakukan perhubungan gelap yang amat hina dengan siluman betina Kim-thouw Thian-li dari Ngo-lian-kauw sehingga terlihat oleh ayah sumoi dan menyebabkan ayah sumoi dibunuh oleh Kim-thouw Thian-li. Kemudian kau bukannya insyaf malah melanjutkan perhubungan itu dengan pihak Ngo-lian-kauw, ditambah lagi menduduki jabatan perwira di kota raja. Sekarang hendak kami tanya, bagaimana pertanggungan jawabmu terhadap semua ini? Ingat, bahwa karena perbuatanmu yang rendah itu, telah banyak jatuh korban, baik di pihak Hoa-san-pai maupun pihak Kun-lun-pai. Dan tanpa ada pertanggungan jawabmu, kiranya kedua pihak akan terus turun tangan."
Dengan sikap gagah Kwee Sin mengangkat dada dan berkata nyaring.
"Semenjak kecil aku dididik oleh Kun-iun-pai untuk menjadi seorang laki-laki yang menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran."
Sampai di sini suaranya menggetar terharu dan dia mengerling ke arah Pek Gan Siansu yang duduk tak bergerak seperti patung.
"Sudah tentu saja aku mengakui semua kesalahanku, yaitu bahwa karena perhubunganku dengan Kim-thouw Thian-li maka terjadi keributan dan permusuhan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai. Para orang gagah Hoa-san-pai, aku Kwee Sin mengaku berdosa dan terserah hukuman apa yang hendak kalian jatuhkan kepadaku."
Kembali Kwa Tin Siong berbisik-bisik kepada gurunya, kemudian menerima sebatang pedang dari tangan Lian Bu Tojin, pedang pusaka Hoa-san-pai! Dengan tenang dan suara tegas Kwa Tin Siong berkata.
"Kesalahanmu terhadap Hoa-san-pai menimbulkan banyak korban nyawa anak murid Hoa-san-pai, karena itu seperti keharusan hukum kang-ouw, hutang nyawa bayar nyawa. Kwee Sin, mengingat akan hubungan antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, Suhu memberi keringanan kepadamu dan mempersilakan kau menjatuhkan hukuman bayar hutang nyawa dengan tanganmu sendiri."
Kwee Sin memandang ke arah pedang itu, lalu menerimanya dan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Gan Siansu.
"Suhu, perkenankanlah teecu mohon kemurahan hati Suhu untuk terakhir. Teecu yang banyak berdosa terhadap Suhu, mohon supaya Suhu yang menjalankan hukuman ihi sebagai penebus dosa teecu."
Wajah Pek Gan Siansu agak pucat.
Sebetulnya di lubuk hatinya, kakek ini amat sayang kepada Kwee Sin, akan tetapi karena kenyataan membuktikan bahwa Kwee Sin telah melakukan penyelewengan, dia pun tak dapat berbuat apa-apa kecuali menyesal.
"Kau bukan muridku lagi, aku tidak berhak mencampuri urusan hukuman."
Mendengar ini, Kwee Sin bangkit berdiri dengan air mata berlinang, lalu berkata perlahan.
"Kwee Sin memang sudah terlalu berdosa, patut mengakhiri hidupnya....."
Pedang berkelebat ke arah lehernya "Kwee-enghiong.....!"
Jerit melengking ini terdengar dibarengi berkelebatnya bayangan kuning yang ternyata adalah seorang gadis cantik berbaju kuning.
Namun terlambat datangnya, pedang di tangan Kwee Sin sudah membabat lehernya.
Jeritan tadi hanya mengagetkan Kwee Sin sehingga gerakan pedangnya tertahan dan batang lehernya tidak putus.
Akan tetapi luka di leher cukup hebat, membuat dia roboh terguling bermandi darah.
Gadis itu menangis dan menubruknya, memeluk dan mengangkat tubuh bagian atas yang dipangkunya.
"Kwee-enghiong..... kau..... kau..... ah, kenapa kau menuruti kemauan orang-orang yang mau enak sendiri? Kwee-enghiong..... kaudengarkan aku, kau dengarkan aku...,. aku Lee Giok, aku cinta padamu, ah jangan kautinggalkan aku....."
Nona baju kuning ini bukan lain adalah Lee Giok yang sudah kita kenal suka menyamar sebagai nyonya Liong, mendekap kepala yang berlumuran darah itu sambil menangis.
Kemudian ia kelihatan beringas dan marah, diletakkan kembali Kwee Sin ke atas tanah lalu ia meloncat berdiri menghadapi orang-orang Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai yang bengong menyaksikan itu semua.
"Kalian orang-orang kejam! Kalian orang-orang buta tak mengenal orang! Kalianlah yang memaksa Kwee-enghiong membunuh diri!"
Liem Sian Hwa makin sakit hatinya melihat betapa sekarang, di samping Kim-thouw Thian-li, ada lagi seorang gadis cantik yang mencinta Kwee Sin dan datang-datang memaki-maki, maka ia membentak.
"Siluman dari mana datang-datang hendak mencampuri urusan kami?"
La melangkah maju dan mencabut pedangnya. Lee Giok dengan mata berapi memandang Sian Hwa.
"Hemmm, kau tentulah Kiam-eng-cu Liem Sian Hwa yang dulu menjadi tunangan Kwee-enghiong, bukan? Orang yang mabuk akan dendam, yang memikirkan diri sendiri, yang sempit pandangan. Orang seperti kau ini mana patut disandingkan Kwee-enghiong yang gagah perkasa?"
"Cih, asal buka mulut saja"
Sian Hwa balas memaki.
"Dia begitu hina untuk berhubungan dengan ketua Ngo-lian-kauw, dan merendahkan diri dengan menjadi kaki tangan penjajah, menjadi pengkhianat bangsa. Dan kau masih memuji-mujinya. Kiranya kau pun takkan jauh sifatnya dengan orang-orang macam dia dan Kim-thouw Thian-li!"
"Bodoh! Goblok orang-orang macam kalian!"
Lee Giok memaki, air matanya bercucuran.
"Ahhh..... buta kalian! Dia ini, adalah Si-enghiong....."
Tiba-tiba Pek Gan Siansu yang merasa curiga, akan semua adegan itu, bertanya.
"Siapa itu Si-enghiong (Pendekar keempat)?"
"Nona Lee..... eh, Siok-moi..... aku....? Mendengar suara ini Lee Giok tidak pedulikan semua orang dan cepat berlutut, kau hati-hatilah..... mereka sudah tahu..... sudah mulai curiga..... kita sudah mereka ketahui..... awas..... lekas peringatkan dia....."
"Siapa?"
Lee Giok bertanya, suaranyaa tergetar, air matanya mengucur deras.
"Ji-enghiong...,."
"Siapa dia? Siapakah Ji-enghiong? Kau lekas katakan, aku sendiri sampai sekarang belum tahu siapa Ji-enghiong. Lekas katakan....."
"Dia..... dia..... ahhhhh...."
Kwee Sin tak dapat melanjutkan kata-katanya karena sudah kehilangan nyawanya.
Lee Giok memeluk dan menangis tersedu-sedu, tak peduli bahwa darah dari ieher Kwee Sin membasahi muka dan pakaiannya.
Semua orang terharu juga melihat ini dan tak terasa air mata Sian Hwa juga menjadi basah.
Pek Gan Siansu tidak tega hatinya.
"Lim Kwi, kaurawatlah baik-baik jenazah Kwee Sin. Biarpun dia bukan muridku lagi tapi....."
Lim Kwi yang pada dasarnya berwatak penuh welas asih dan dia memang suka kepada Kwee Sin, segera, melangkah maju hendak mengangkat jenazah Kwee Sin. Akan tetapi Lee Giok membentak.
"Jangan sentuh dia!"
La lalu bangkit berdiri, dadanya turun naik", napasnya memburu, matanya berkilat-kilat, wajahnya pucat dan menjadi mengerikan karena berlepotan darah Kwee Sin.
"Kalian tak berharga untuk menyentuhnya! Kalian ini pengecut-pengecut tak tahu malu. Bermata dua tapi buta tak melihat, tak dapat membedakan mana yang palsu mana yang tulen, tidak tahu mana yang baik mana yang buruk. Kalian tidak tahu siapa dia yang kalian paksa bunuh diri ini? Dia adalah orang ke dua di kota raja yang memimpin para pejuang melakukan gerakan di bawah tanah. Dia adalah orang kepercayaan Ciu-taihiap. Kalian tahu mengapa dia melakukan hubungan dengan Kim-thouw Thian-li? Hal itu disengaja, karena merupakan rencana dari atasan. Kalau dia tidak mendekati Kim-thouw Thian-li, mana dia bisa memasuki kotaraja, dapat kepercayaan orang-orang yang berkuasa di kota raja? Dia sengaja mengorbankan perasaannya, sengaja menghubungi Kim-thouw Thian-li sehingga para pembesar di kota raja percaya kepadanya, sehingga dengan aman dan mudah dia dapat mengorek rahasia-rahasia ketentaraan dan dapat membantu dan memberi petunjuk kepada saudara-saudara seperjuangan yang bergerak di luar kota raja! Jasa-jasanya untuk perjuangan sudah banyak sekali, dia seorang patriot sejati yang tidak segan-segan mengorbankan perasaan, mengorbankan kekasih, mengorbankan segalanya untuk tanah air dan bangsa. Dan kalian ini..... orang-orang yang hanya ingat akan kepentingan diri sendiri, tidak peduli akan perjuangan bangsa malah ribut saling gontok-gontokan antara saudara sendiri, orang-orang ma-cam kalian ini sekarang memaksa dia membunuh diri? Celaka..... celaka..... semoga Thian mengutuk kalian semua!"
Lee Giok menangis lagi dan semua orang yang berada di situ terpaku dengan muka pucat dan sinar mata bingung.
Tak terkecuali Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin yang saling pandang dengan muka pucat dan sedih.
Mereka masih ragu-ragu akan kebenaran semua keterangan nona yang tidak mereka kenal itu.
Keterangan ini terlalu aneh, terlalu asing sehingga kelihatan agak mustahil.
Kwee Sin menjadi pemimpin pejuang di kota raja?
Dan semua kelakuannya yang dipandang rendah itu adalah siasat untuk perjuangan?
Akan tetapi keterangan mereka itu lenyap seketika setelah terjadi hal berikutnya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan.
"Tangkap pemberontak! Tangkap mata-mata pemberontak!"
Dan muncullah rombongan pasukan tentara pemerintah yang bersenjata lengkap, jumlahnya seratus orang lebih!
Bukan main kaget hati Pek Gan Sjansu dan Lian Bu Tojin ketika melihat bahwa di antara pasukan itu terdapat seorang wanita yang cantik berusia empat puluh tahun lebih, membawa saputangan sutera beraneka warna dan seorang kakek berbaju kuning.
Betapa tidak akan kaget hati mereka karena wanita yang sebenarnya sudah berusia enam puluh tahun itu adalah Hek-hwa Kui-bo, sedangkan kakek itu adalah tokoh utara yang paling terkenal, yaitu Siauw-ong-kwi Si Raja Setan Cilik, guru dari Giam Kin pemuda pemelihara ular.
Pemuda itu sendiri juga tampak tersenyum-senyum, matanya liar menyambar-nyambar ke arah Kwa Hong dan Thio Bwee.
Di sampingnya terlihat seorang wanita cantik yang bersikap genit, berpakaian indah dan pesolek.
Kim-thouw Thian-li!
Begitu melihat tubuh Kwee Sin yang menggeletak mandi darah di atas tanah, Kim-thouw Thian-li melompat mendekati.
Tadinya orang mengira bahwa ia tentu akan menangis menggerung-gerung menyedihi kematian kekasihnya itu, akan tetapi siapa kira, setelah melihat bahwa Kwee Sin betul-betul sudah mati, ia lalu meludah ke arah tubuh itu sambil berkata.
"Cih, keparat keji! Bertahun-tahun kau menipuku, kusangka betul-betul setia, kiranya kau pemimpin mata-mata anjing pemberontak!"
Kakinya diangkat dan menendang muka mayat itu.
"Kim-thouw Thian-li situman betina, langan kauhina dia!"
Lee Giok marah sekali, melompat dan memukul kepada ketua Ngo-lian-kauw itu. Kim-thouw Thian-li menangkis.
"Plak!"
Dua lengan halus bertemu dan keduanya terhuyung mundur.
Diam-diam Kim-thouw Thian-li kaget, sama sekali tidak menyangka bahwa nona yang bisa menjadi pembantu Pangeran Souw Kian Bi ini ternyata memiliki kepandaian yang tinggi juga, Pantas Ia menjadi pemimpin mata-mata seperti yang disangka oleh Pangeran Souw Kian Bi, pikirnya.
"Hemmm, kau inikah yang selama ini diam-diam menjadi Ji-enghiong?"
Ejek Kim-thouw Thian-li dengan suara dingin. Lee Giok nampak terkejut sekali.
"Apa kau bilang ba..... bagaimana kiaubisa tahu tentang Ji-enghiong?"
"Hi..hi..hi, mata-mata hina! Kami sudah tahu bahwa Kwee Sin si keparat itu adalah Si-enghiong, dan kau adalah Ji-enghiong? Kalian memimpin mata-mata pemberontak di kota raja."
Tiba-tiba Lee Giok tertawa girang.
"Bagus, bagus! Jadi kau sudah tahu sekarang? Memang betul, Kim-thouw Thian-li, Kwee-enghiong ini adalah permimpin mata-mata pejuang yang memang bernama Si-enghiong. Jadi selama ini dia bekerja untuk kepentingan para pejuang. Pembesar-pembesar di kota raja dipermainkan termasuk kau. Kaukira dia betul-betul cinta kepada siluman macammu? Cih, tak tahu malu. Dan aku..... aku memang Ji-enghiong. Nah, kau mau apa?"
Bukan main marahnya hati Kim-thouw Thian-li mendengar ejekan-ejekan ini. Dengan gerak mata cerdik Kim-thouw Thian-li memandang kepada pihak Hoa-sanpai dan Kun-lun-pai.
"Cuwi sekalian dari Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai, perempuan ini adalah seorang pemimpin pemberontak, terpaksa aku dan teman-teman hendak menangkapnya hidup-hidup untuk kubawa ke kota raja."
Akan tetapi sementara itu Liem Sian Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Inilah Kim-thouw Thian-li, perempuan yang tidak saja merenggut nyawa ayahnya, akan tetapi bahkan yang merampas tunangannya.
Sekarang mendengar wanita ini hendak membujuk gurunya dan Pek Gan Siansu.
Ia menerjang dan memaki.
"Siluman keji, kau telah membunuh ayahku. Rasakan pembalasanku!"
Pedangnya berkelebat menusuk.
Kim-thouw Thian-li tertawa dan mengelak, cepat mengeluarkan golok dan membalas serangan Sian Hwa.
Sementara itu, Pek Gan Siansu dan Lian Bu Tojin terbangun semangat mereka setelah mendengar dan melihat sendiri kenyataan bahwa Kwee Sin benar-benar seorang pemimpin pejuang, ditambah oleh sikap Lee Giok yang gagah perkasa dan patriotik.
Dua orang kakek ini begitu bertukar pandang sudah nengambil keputusan yang sama, yaitu membela Lee Giok demi penghargaan mereka terhadap perjuangan Kwee Sin.
Sekarang melihat bahwa Sian Hwa telah bertempur melawan Kim-thouw Thian-li dan hal ini tak mungkin mereka hentikan atau cegah mengingat bahwa Sian Hwa tentu akan nekat membalas dendam, melihat pula bahwa bentrokan antara mereka dan pihak pemerintah tak dapat dicegah lagi, lalu keduanya melangkah maju, siap menghadapi segala kemungkinan.
Thio Ki dan Kui Lok juga meloncat maju membantu bibi guru mereka.
"Siluman Ngo-lian-kauw, kau pembunuh ayah kami!"
Teriak mereka sambil menerjang maju. Kim-thouw Thian-li masih tertawa-tawa dan menghadapi tiga orang itu dengan mainkan goloknya.
"Lian Bu Totiang, apa kau membiarkan saja anak-anak muridmu memberontak?"
Hek-hwa Kui-bo meloncat maju ke depan ketua Hoa-san-pai.
Loncatannya luar biasa sekali, seperti tidak bergerak kedua kakinya tapi tahu-tahu tubuhnya sudah berkelebat ke depan kakek Hoa-san-pai itu.
Semua orang yang melihat ini menjadi kagum dan juga keder.
Akan tetapi Lian Bu Tojin dengan sikapnya yang keren dan pedang pusaka yang tadi dipergunakan Kwee Sin membunuh diri di tangan kanannya, memandang nenek yang kelihatannya muda itu sambil berkata.
"Hek-hwa Kui-bo, enak saja kau memutarbalikkan fakta. Adalah kau yang membiarkan muridmu Kim-thouw Thian-li itu untuk melakukan perbuatan fitnah dan mengadu domba antara Kun-lun-pai dan Hoa-san-pai, membiarkan muridmu membunuh murid-murid Hoa-san-pai dan kau selalu malah membantunya. Sekarang kau datang pura-pura mencela kepada pinto. Heh, biarpun kau lihai, namun kejahatanmu pasti takkan membawa kau kepada kebahagiaan dan keselamatan."
"Hi..hi..hi, tosu bau. Kaulah yang akan? mampus, masih banyak tingkah lagi. Dengan mengeluarkan suara melengking aneh, Hek-hwa Kui-bo menggerakkan tangan. Tahutahu sebatang pedang telah berada di tangannya dan cepat ia menyerang ketua Hoasan-pai itu. Lian Bu Tojin maklum akan kelihaian wanita ini, maka dia tidak berani berayal, cepat-cepat menangkis dan balas menyerang. Seperti juga ketika ketua Hoasan-pai ini mengejar Hek-hwa Kui-bo pada waktu nenek ini menculik Kwee Sin, sekarang Lian Bun Tojin mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang dari nenek ini hebat bukan main, kelihatan tidak mengandung tenaga besar akan tetapi hawa pedangnya dingin dan cepat. Inilah Ilmu Pedang Im-sin-kiam yang dipelajari nenek ini dari kitab yang ia curi atau rampas dari Phoa Ti. Biarpun Lian Bu Tojin sudah mengeluarkan seluruh ilmu pedangnya, namun tetap saja semua kekuatan Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut seakan-akan ditelan oleh hawa dingin ilmu pedang Hekhwa Kui-bo. Betapapun juga, Lian Bu Tojin adalah seorang pendeta yang mengutamakan kehidupan suci dan bersih, maka daya tahan dalam tubuhnya amat kuat dan tidak mudah bagi Hek-hwa Kui-bo untuk merobohkannya secara cepat.
"Heh..heh..heh, nona-nona manis, mari kita main-main sebentar!"
Giam Kin ternyata sudah melompat maju dan dengan sikap ceriwis sekali mengulur kedua tangannya untuk menangkap Kwa Hong dan Thio Bwee.
Dua orang gadis ini membentak dan memaki, sambil mengelak dan mencabut pedang lalu dengan gemas mereka mengeroyok Giam Kin.
Sementara itu, Bun Lim Kwi sejak tadi memandang ke arah Giam Kin, maka ketika mendengar Kwa Hong dan Thio Bwee memaki-maki dan menyebut nama pemuda muka pucat itu, darahnya segera naik.
Jadi inikah orang yang bernama Giam Kin, yang secara pengecut pernah menyerang dan merobohkannya ketika dia bertempur melawan Thio Eng dahulu itu?
Hampir saja nyawanya melayang karena pemuda muka pucat yang jahat itu.
"Suhu, dialah orangnya yang hampir saja menewaskan teecu dengan penyerangannya yang curang. Teecu hendak membalas,"
Bisiknya kepada Pek Gan Siansu Ketua Kun-lun-pai ini mengangguk, berkata perlahan.
"Sudah sepatutnya sekarang kita membantu Hoa-san-pai menghadapi orang-orang jahat itu."
Dengan girang Bun Lim Kwi mencabut pedangnya dan menerjang Giam Kin yang sedang melayani dua orang gadis Hoa-san-pai dengan enak sambil menggoda mereka dengan omongan kasar dan kotor itu.
"Nona berdua harap mundur, biarkan aku memberi hajaran kepada manusia bermulut kotor ini!"
Bentak Bun Lim Kwi sambil memutar pedangnya.
Akan tetapi karena amat marah kepada Giam Kin, Kwa Hong dan Thio Bwee mana mau meninggalkannya?
Dengan demikian Giam Kin segera terkepung dan dikeroyok tiga.
Giam Kin sibuk sekali.
Biarpun dia amat lihai namun dikeroyok oleh tiga orang ini, apalagi ilmu silat Bun Lim Kwi memang hebat, segera dia terdesak dan sibuk menangkis ke sana kemari.
"Hemmm, curang..... curang.....! Kulihat ilmu pedang Kun-lun-pai ikut membela Hoa-san-pai?"
Suara ini keluar dari mulut Siauw-ong-kwi yang melangkah maju hendak menolong muridnya.
Akan tetapi tiba-tiba bayangan putih berkelebat dan Pek Gan Siansu sudah berdiri di depannya dengan pedang pusaka Kun-lun-pai di tangan.
"Perlahan dulu, Siauw-ong-kwi. Biarkan bocah sama bocah, tua bangka seperti kau lawannya juga tua bangka seperti aku!"
Siauw-ong-kwi membelalakkan matanya dan tertawa.
"Ha..ha..ha, sejak kapan Kun-lun-pai menjadi pembantu para pemberontak?"
"Sejak orang-orang seperti engkau membantu penjajah menindas rakyat,"
Jawab ketua Kun-lun-pai tenang.
"O..ho, Pek Gan Siansu, artinya kau menantang Siauw-ong-kwi?"
"Pinto tidak menantang siapapun suga. Akan tetapi, Siauw-ong-kwi, sejak dulu pinto mengenal nama Siauw-ong-kwi sebagai seorang aneh yang tidak suka melanggar kepantasan, seorang tokoh utama di utara yang tidak berlepotan lumpur, kejahatan. Kiranya sekarang kau terseret ke dalam perangkap penjajah, malah kau membiarkan muridmu berlaku keji dan jahat tanpa menghukumnya. Muridmu secara curang pernah berusaha membunuh muridku, sekarang kau hendak membantunya pula. Mana pinto dapat diamkan saja?"
"Bagus Pek Gan Siansu, antara kita terdapat perbedaan paham, kau sebagai antek pemberontak dan aku sebagai antek pemerintah. Mari, mari..... kita bermain-main sebentar, sudah lama tanganku gatal-gatal untuk merasai lihainya pedang Kun-lun-pai!"
Dua orang ini segera bergerak dan bertandinglah keduanya.
Pedang Pek Gan Siansu tak usah disangsikan lagi amat hebat gerakannya, kuat dan biarpun digerakkan secara lambat, namun sinar pedangnya saja cukup untuk merobohkan lawan yang kuat.
Di lain pihak, Siauw-ong-kwi adalah seorang tokoh paling lihai dari utara.
Ilmu silatnya aneh, berinti ilmu tangkap yang, menjadi dasar ilmu gulat Mongol, sekarang dia mainkan dengan kedua ujung tangan bajunya yang panjang sehingga sekelebatan tampaknya seolah-olah Siauw-ong-kwi mainkan sepasang pedang.
Jangan dipandang rendah sepasang ujung lengan baju ini.
Biarpun terbuat dari kain lemas biasa, namun mengandung tenaga Iweekang yang hebat, kuat untuk menangkis pedang, kadang-kadang lemas mengancam lawan dengan jeratan maut, kadang-kadang kaku seperti pedang baja atau seperti toya besi!
Kim-thouw Thian-li yang melihat betapa kedua pihak sudah saling gempur segera bersuit keras dan pasukan pemerintah itu serentak bergerak menyerbu keatas sambil berteriak-teriak hiruk-pikuk.
Para tosu Hoa-san-pai melihat hal ini tanpa menanti perintah lagi segera memapaki dan terjadilah perang kecil yang cukup hebat di puncak Hoa-san-pai itu.
Akan tetapi ternyata keadaan amat tidak menguntungkan pihak Hoasan-pai.
jumlah pasukan pemerintah tidak saja lebih besar, juga mereka ini memang pasukan pilihan yang sengaja dikirim oleh Pangeran Souw Kian Bi, pasukan yang terjadi dari serdadu-serdadu yang kosen dan ahli golok, lebih terkenal disebut Barisan Golok Maut.
Sebentar saja belasan orang tosu Hoa-san-pai roboh terbacok golok dan keadaannya amat terdesak.
Keadaan pertempuran yang dihadapi para jago Hoa-san-pai dan Kun-lun-pai itu juga amat buruk.
Menghadapi Sian Hwa yang dibantu dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, ketua Ngo-lian-kauw, Kim-thouw Thian-Ii ternyata jauh lebih lihai.
Permainan goloknya biarpun lihai dan aneh, masih belum mampu menindih ilmu pedang tiga orang murid Hoa-san-pai ini, akan tetapi setelah Kim-thouw Thian-li mengeluarkan selendang merahnya yang mengandung hawa beracun, pada saat yang amat tak terduga-duga ia mengebutkan selendang merah.
Bau harum semerbak menyambar.
Thio Ki dan Kui Lok yang masih kurang pengalaman, kurang cepat menghindar dan robohlah mereka bergulingan dalam keadaan pingsan.
Liem Sian Hwa yang menjadi marah sekali inempergunakan kesempatan itu, selagi Kim-thouw Thian-li tertawa-tawa kegirangan dan memerintahkan beberapa serdadu untuk menawan dua orang pemuda ini, cepat melompat tinggi setelah tadi berhasil menggulingkan tubuh menghindarkan hawa beracun, kemudian dari atas ia menggunakan, gerak tipu Hui-liong-jip-hai (Naga Terbang Memasuki Lautan), pedangnya bergerak cepat menyerang lawannya.
Tidak percuma nona ini dijuluki Kiam-eng-cu (Bayangan Pedang), gerakannya cepat sekali, sehingga bayangan tubuhnya dan sinar pedang menjadi satu.
Kim-thouw Thian-li kaget bukan main, cepat menangkis dengan golok dan miringkan tubuh berusaha menyelamatkan diri.
Akan tetapi tetap saja ujung pedang Sian Hwa secara kilat sudah menyerempet pundaknya sehingga baju di bagian pundak terbabat robek berikut kulitnya yang putih halus?
dan darah bercucuran keluar.
"Keparat, rasakan pembalasanku! Kim-thouw Thian-li berseru keras, cepat memberi bubuk obat kepada pundaknya yang terluka, kemudian dengan kemarahan yang meluap-luap ia menerjang Liem Sian Hwa dengan nafsu membunuh. Sian Hwa memutar pedang mempertahankan, diri, namun maklum bahwa ia kalah tenaga dan bingung menghadapi ilmu golok yang aneh dan ganas itu. Betapapun juga, dengan mengertakkan giginya nona pendekar ini melakukan perlawanan nekat. Hatinya gelisah sekali melihat betapa dua orang murid keponakannya, Thio Ki dan Kui Lok, sudah menjadi orang-orang tawanan, diikat kaki tangan mereka dan dibawa mundur oleh beberapa orang serdadu musuh. Kwa Tin Siong juga melihat betapa dua orang murid keponakannya ini tertawan. Akan tetapi dia pun hanya dapat bergelisah saja karena semenjak pertempuran hebat itu dimulai, Hoa-san It-kiam Kwa tin Siong ini sudah menerjang maju dan dikeroyok oleh lima orang perwira pasukan musuh secara berganti-ganti. Sudah banyak lawan roboh oleh pedangnya yang lihai, namun dikeroyok begitu banyak lawan tangguh, dia menjadi terdesak juga dan tidak berdaya menolong dua orang keponakan yang tertawan itu. Kini melihat betapa sumoinya didesak hebat oleh Kim-thouw Thian-li yang ganas, dia berkhawatir sekali. Sambil berseru keras pedangnya diputar seperti ombak menggelora, dua orang pengeroyoknya roboh dan yang lain terpaksa mundur dengan gentar. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kwa Tin Siong untuk melompat dan menerjang Kim-thouw Thian-li.
"Sumoi, jangan khawatir, mari kita bunuh siluman betina ini!"
Serunya dan pedangnya yang masih berlepotan darah itu menerjang kuat.
"Hi..hi..hi, seorang sumoi dan suhengnya yang tak bermalu!"
Sambil menangkis Kim-thouw Thian-li mentertawakan mereka.
"Di luar mengaku sumoi dan suheng, di mulut memaki-maki Kwee Sin yang serong, tapi ini bagaimana? Ha..ha..hi..hi..hi, tak bermalu, muka tebal? Siapa tidak tahu bahwa kalian sudah bertahun-tahun main gila? Di depan guru bersikap alim, katanya saudara seperguruan, tapi di belakang guru? Hi..hi..hi, hanya kamar kosong menjadi saksi percintaan kotor sumoi dan suheng!"
Kata-kata yang dikeluarkan Kim-thouw Thian-li ini keras dan nyaring sehingga terdengar oleh semua orang di situ.
Wajah Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa menjadi pucat saking marah mereka.
Liem Sian Hwa hampir pingsan saking marahnya sehingga gerakan pedangnya malah menjadi lambat dan akhirnya ia terhuyung-huyung dan roboh pingsan, Kwa Tin Siong membentak.
"Siluman betina, mampuslah!"
Pedangnya menyambar, akan tetapi dengan enak Kim-thouw Thian-li dapat menangkisnya.
"Ha..ha..ha, malu kan? Kalian saling cinta, siapa tidak tahu akan hal ini? Haiii.....! Lian Bu Tojin, kau tosu tua bangka sudah buta, tidak tahu dua orang muridmu main gila di belakangmu?"
Tapi ia terpaksa menghentikan kata-katanya karena serangan hebat yang dilakukan Kwa Tin Siong.
Ucapan Kim-thouw Thian-li yang nyaring ini hebat akibatnya.
Lian Bu Tojin yang ketika itu sedang bertanding mati-matian melawan Hek-hwa Kui-bo, seketika tergetar tubuhnya dan ketika dia menengok ke arah Kwa Tin Siong, dia kurang keras menangkis serangan kebutan saputangan sutera yang digerakkan oleh Hek-hwa Kui-bo.
"Plakkk!"
Ujung saputangan menghantam dadanya dan Lian Bu Tojin terhuyung mundur dengan muka pucat, akan tetapi sambil menahan napas kakek ini masih dapat terus melompat ke dekat Kim-thouw Thian-li yang masih mendesak Kwa Tin Siong dengan golok dan dengan mulut yang melontarkan kata-kata menghina tentang dia dan sumoinya.
Lian Bu Tojin menggerakkan tangan kirinya memukul ke depan.
Kim-thouw Thian-li berusaha mengelak, namun terlambat "Dukkk!"
Punggungnya kena digempur, tubuhnya mencelat terguling-guling dan roboh tak bergerak. Darah merah mengalir dari mulut perempuan ini. Lian Bu Tojin dengan mata mendelik menghadapi Kwa Tin Siong.
"Tin Siong, betulkah kau..... kau..... betulkah apa yang diucapkan siluman tadi? Betul kau..... kau mencinta Sian Hwa?"
Tanyanya, suaranya yang biasanya lemah lembut itu kini kaku parau dan kemarahannya memuncak. Kwa Tin Siong selama hidupnya tak pernah membohong kepada suhunya. Dengan kepala tunduk dia menjawab.
"Teecu memang cinta kepada Sumoi, Suhu. Akan tetapi cinta yang bersih..... tidak seperti yang dimaksud oleh siluman itu....."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek.
"Ha..ha..ha, cinta kasih antara laki-laki gagah dan perempuan cantik, mana bisa bersih-bersihan? Ha..ha..ha..ha..ha, pintar juga Kwa Tin Siong! Dari pada sumoinya tidak laku menjadi perawan tua..... ha..ha..ha..ha..ha duda dan perawan tua, sudah cocok!"
Bukan main hebatnya penghinaan ini yang keluar dari mulut Giam Kin.
"Blukkk!"
Dalam kemarahannya, Bun Lim Kwi mempergunakan kesempatan Giam Kin memecah perhatiannya untuk melontarkan penghinaan ini, berhasil memukul pundak Giam Kin dengan tangan kirinya.
Inilah pukulan Pek-lek-jiu dan andaikata orang lain yang terpukul pasti akan roboh bina-sa.
Akan tetapi Giam Kin adalah orang yang sudah memiliki kepandaian tinggi.
Pukulan ini benar merobohkannya, akan tetapi sambil roboh dia sempat menyambitkan segenggam jarum-jarum halus ke arah Bun Lim Kwi.
Jago muda Kun-lun-pai ini dahulu ketika bertempur melawan Thio Eng pernah roboh dan hampir tewas oleh jarum-jarum berbisa ini, maka dengan kaget dia melompat jauh untuk menghindar sambil berseru kepada Thio Bwee dan Kwa Hong.
"Jiwi Lihiap, awas!"
Baiknya jarum-jarum itu memang tidak disambitkan ke arah dua orang nona yang ikut mengeroyok Giam Kin ini maka mereka tidak terancam oleh senjata rahasia yang jahat itu.
Sementara itu Kwa Hong yang juga mendengar ucapan-ucapan keji dari Kim thouw Thian-li tadi, sekarang berdiri dengan muka pucat dan memandang ke arah ayahnya yang ditegur oleh Lian Bu Tojin dan ke arah bibi gurunya yang masih rebah pingsan, Adapun Lian Bu Tojin ketika dengar pengakuan dari Kwa Tin Siong dan kemudian mendengar ucapan Giam Kin, tubuhnya menjadi limbung.
"Huaaak? Dari mulutnya tersembur darah segar, inilah akibat pukulan selendang sutera Hek-hwa Kui-bo tadi. Kemudian orang tua ini menggerakkan pedang pusaka Hoa-san-pai lalu dibacokkan ke arah tubuh Liem Sian Hwa yang menggeletak di atas tanah.
"Suhu..,..! Ampunkan Sumoi...."
Kwa tin Siong menubruk maju, menghalangi tubuh sumoinya.
Lian Bu Tojin kaget dan menahan pedangnya, namun karena dia sudah terluka gerakannya kurang kuat dan pedang itu tetap masih membacok ke arah lehernya.
Terpaksa Kwa Tin Siong menangkis dengan tangan kirinya.
"Crakkk!"
Pedang pusaka Hoa-san-pai yang amat tajam dan ampuh itu tanpa ampun lagi membabat putus lengan kiri Kwa Tin Siong sebatas pergelangan tangan!
Kwa Tin Siong masih terus berjongkok, memondong tubuh Liem Sian Hwa dengan tangan kanannya, berdiri lalu berjalan pergi terhuyung-huyung dengan langkah limbung.
Tapi cepat sekali dia sudah lari turun gunung.
"Ayah.....!"
Kwa Hong menjerit dan hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia pun roboh terguling.
Ternyata dalam keadaan kacau itu, selagi semua orang mencurahkan perhatian ke arah peristiwa itu, Giam Kin sudah meloncat maju dan menotoknya roboh.
Kejadian ini seperti, menjadi tanda bahwa pertempuran di mulai lagi.
Bun Lim Kwi menggerakkan pedang menyerang Giam Kin, dibantu Thio Bwee dan kembali mereka bertempur.
"Berani kau melukai muridku!"
Hek-hwa Kui-bo yang tadi maju menolong Kim-thouw Thian-li yang terluka oleh pukulan Lian Bu Tojin, sekarang melayang maju menyerang ketua Hoa-san-pai itu.
Akan tetapi Lian Bu Tojin sudah menderita luka batin yang hebat, sekarang kakek ini malah duduk bersila dan meramkan matanya.
Agaknya kakek Hoa-san-pai ini sudah menderita kesedihan terlalu besar karena persoalan murid-muridnya sehingga kini dia sengaja menanti pukulan maut lawannya tanpa mau membela diri.
Pada saat itu, terdengar sorak-sorak gemuruh di sekeliling tempat pertempuran dan tiba-tiba muncullah ratusan orang gagah perkasa yang dipimpin oleh seorang tinggi besar.
Semua orang menjadi kaget sekali bahkan Hek-hwa Kui-bo sendiri sampai menahan pukulannya.
Akan tetapi setelah menengok dan melihat bahwa yang datang adalah orang-orang yang biasanya disebut pejuang atau yang oleh pemerintah dianggap pemberontak, Hek-hwa Kui-bo mengeluarkan dengus menghina dan ia melanjutkan pukulannya.
"Lian Bu Tojin, bersiaplah untuk mampus!"
Pedangnya menusuk ke arah dada sedangkan ujung selendang sutera menotok ke arah ubun-ubun kepala Lian Bu Tojin.
Dua serangan mematikan yang agaknya akan menamatkan nyawa ketua Hoa-san-pai.
Akan tetapi pada saat itu dua sinar hitam menyambar.
"Trang!"
Pedang di tangan Hek-hwa Kui-bo terpukul ke samping sedangkan sinar hitam kedua menyambar kearah siku kirinya, membuat tangan kirinya menjadi lemas dan hawa Iweekang yang tersalur ke arah selendang itu lenyap dan selendangnya berubah lemas seperti kain biasa.
Sekaligus sambaran dua benda hitam yang ternyata hanya dua buah kerikil itu telah melumpuhkan serangan maut Hek-hwa Kui-bo dan menolong nyawa Lian Bu Tojin!
Hek-hwa Kui-bo kaget dan marah sekali, cepat memutar tubuh dan ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bukan lain adalah Beng San.
Pemuda ini tersenyum kepadanya.
"Apakah selama ini kau baik-baik saja, Hek-hwa Kui-bo?"
Hek-hwa Kui-bo tertegun dan meragu.
Serasa ia mengenal muka pemuda ini, akan tetapi kalau diingat akan kepandaian pemuda ini yang luar biasa tadi ia ragu-ragu dan merasa tidak pernah mengenal seorang pemuda dengan kepandaian demikian hebatnya.
"Kau siapakah?"
"Hek-hwa Kui-bo, lupakah kau kepadaku? Ingatlah akan pelajaran Thai-hwee, Siu-hwee dan Ci-hwee....."
"Ah, kau Beng San siluman cilik....."
Dengan marah Hek-hwa Kui-bo teringat akan kitab Im-yang Sin-kiam.
"Bagus, kauserahkan Yang-sin Kiam-sut kepadaku!"
Berbareng dengan bentakan ini ia lalu menyerang dengan pedangnya.
Beng San mengelak dan melihat bahwa nenek itu menyerangnya dengan Ilmu Pedang Im-sin-kiam, tentu saja dengan mudah dia dapat menghindarkan diri.
Akah tetapi karena dia sendiri tidak bersenjata, sukar juga baginya untuk balas menyerang nenek yang hebat kepandaiannya itu sehingga dia hanya main mundur, mengelak ke kanan kiri, meloncat ke sana kemari.
Sementara itu, rombongan orang gagah yang ternyata dipimpin oleh Tan Hok itu sudah menggempur pasukan pemerintah sehingga perang tanding menjadi makin ramai.
Akan tetapi keadaannya sekarang berubah sama sekali.
Kalau tadi para tosu Hoa-san-pai melakukan perlawanan sia-sia dan banyak di antara mereka roboh binasa, sekarang keadaannya berbalik.
Tidak saja para anggota Pek-lian-pai yang datang ini rata-rata memiliki kegagahan dan kepandaian, juga jumlah mereka jauh lebih besar dan pasukan pemerintah ditekan hebat dan terdesak betul-betul.
Sebentar saja banyak serdadu Mongol roboh dan yang lainnya mulai lemah semangat.
Pertempuran yang hebat dan seru adalah pertempuran antara Pek Gan Sian-su dan Siauw-ong-kwi.
Dua orang tokoh besar ini benar-benar memiliki kepandaian hebat.
Mereka tidak mempunyai permusuhan pribadi, akan tetapi seperti sudah sering kali terjadi, apabila dua orang tokoh besar bertempur dan saling mengeluarkan kepandaian, mereka tidak mau saling mengalah.
Mereka bertempur sejak permulaan tadi sampai sekarang, tak pernah berhenti dan sudah mengeluarkan kepandaian masing-masing sampai dua ratus jurus lebih.
Betapapun juga, ilmu kepandaian Pek Gan Siansu adalah ilmu yang bersumber pada ilmu bersih dan asli keturunan Kun-lun-pai, maka dasar-ya amat kuat.
Sebaliknya, Siauw-ong-kwi mendapatkan kepandaiannya dari kumpulan bermacam ilmu silat dan baginya tidak ada pilihan apakah ilmu silat itu kotor maupun bersih sifatnya, semua dipelajari sejak muda dan dari kumpulan ilmu-ilmu silat inilah dia menciptakan ilmu silatnya sendiri yang ganas dan lihai, yaitu dengan senjata kedua ujung lengan bajunya yang panjang.
Mungkin karena kalah murni sumber ilmu kepandaiannya, maka setelah lewat dua ratus jurus, perlahan-lahan Siauw-ong-kwi mulai terdesak oleh sinar pedang Pek Gan Sian-su yang hebat itu.
Terpaksa dia diam-diam harus mengakui bahwa Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut benar lihai sekali.
"Ha..ha..ha, Pek Gan Siansu, ilmu pedang Kun-lun benar-benar bukan omong kosong saja. Kulihat barisan pemberontak sudah menyerbu, terpaksa aku tidak suka melayanimu lebih lama lagi. Nanti saja di pertemuan mendatang kita lanjutkan untuk menentukan siapa sebenarnya Raja Pedang!"
"Siauw-ong-kwi, kau terlalu memuji. Kepandaianmu juga pinto lihat banyak lebih lihai daripada dulu. Dalam pertemuan di Thai-san nanti kiranya pinto takkan kuat menghadapimu."
Ucapan kakek Kun-lun-pai ini memang dengan sejujurnya.
Tadi dia dapat menindih lawannya dengan ilmu pedangnya yang lebih murni dan lebih kuat, akan tetapi dalam hal tenaga dan keuletan, kalau pertempuran dilanjutkan, dia pasti akan kalah oleh Siauw-ong-kwi yang belasan tahun Jebih muda itu.
Siauw-ong-kwi lalu melesat ke arah muridnya.
Giam Kin yang pada saat itu sudah terdesak hebat oleh Bun Lim Kwi yang dibantu oleh Thio Bwee.
Sekali kebutkan ujung lengan bajunya, Siauw-ong-kwi telah membuat pedang Lim Kwi dan Thio Bwee terpental ke belakang, malah Thio Bwee terhuyung beberapa tindak sedangkan Lim Kwi yang lebih tinggi ilmunya hanya tergetar tangannya.
Namun sudah cukup untuk memberi kesempatan kepada Giam Kin untuk meloncat ke belakang dan menyusul gurunya lari pergi.
Hek-hwa Kui-bo masih mengejar-ngejar Beng San dengan Ilmu Pedang Im sin-kiam.
Makin penasaran hatinya karena belum juga ia dapat merobohkan pemuda?
ini.
Sebetulnya, jangankan merobohkan, ujung pedangnya malah belum pernah mencium ujung baju pemuda itu yang dengan gesit melompat ke sana ke mari dengan gerakan tidak karuan seperti orang ketakutan, namun setiap lompatannya merupakan kelitan yang amat sempurna dan tepat untuk menghindari serangan-serangan jurus Im-sin Kiam hoat.
Orang-orang yang berada di situ tadinya sedang sibuk menghadapi lawan masing-masing, maka tidak ada yang menarik perhatian akan kedatangannya Beng San.
Sekarang mereka mendapat kesempatan menonton, mereka heran dan juga khawatir menyaksikan pemuda itu dikejar-kejar Hek-hwa Kui-bo.
Pek Gan Siansu adalah seorang tokoh besar yang tajam penglihatannya.
Melihat keadaan Beng San, sama sekali dia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentu pemuda aneh ini memiliki kepandaian hebat, akan tetapi karena dia pun maklum akan keganasan Hekhwa Kui-bo, maka dia segera berkata.
"Ha..ha..ha, sungguh lucu sekali. Hek-hwa Kui-bo dengan pedangnya mengejar-ngejar seorang pemuda. Memalukan betul!"
Karena Hek-hwa Kui-bo sendiri maklum bahwa pemuda itu adalah seorang ahli waris Im-yang Sin-kiam, sekarang melihat pertempuran sudah berhenti dan para serdadu sudah lari cerai-berai, apa-lagi Siauw-ong-kwi sudah pergi juga, ia merasa tidak ada harapan kalau harus mengamuk seorang diri.
"Bocah, kalau memang kau ada kepandaian, kelak di Thai-san kita bertemu pula!"
Katanya gemas dan sekali berkelebat, nenek itu sudah pergi menyusul muridnya dan yang lain-lain, yang sudah lari lebih dahulu.
Hebat sekali akibat pertempuran itu.
Banyak sekali, lebih dari empat puluh orang tosu Hoa-san-pai, menggeletak mati atau terluka.
Juga ada beberapa belas orang Pek-lian-pai terluka dan serdadu-serdadu itu meninggalkan mayat dan teman-teman terluka sebanyak tujuh puluh orang lebih.
Di tempat itu penuh dengan mayat dan orang-orang terluka, darah mewarnai rumput dan tanah, mengerikan sekali.
Lian Bu Tojin masih duduk bersila meramkan mata, terluka hebat dan juga mendapat guncangan batin yang berat.
Kwa Tin Siong dan Liem Sian Hwa tidak kelihatan, sudah lari turun gunung.
Kwa Hong, Thio Ki, dan Kui Lok telah tertawan, dibawa lari oleh musuh.
Tinggal Thio Bwee yang sekarang berlutut di depan kakek Hoa-san-pai ini sambil menangis.
Hari itu benar-benar mengalami pukulan hebat, pukulan dari luar dan dari dalam.
Bun Lim Kwi berdiri di dekat gurunya, menundukkan muka ikut berduka.
Pek Gan Siansu mengelus-elus jenggot dan memandang kepada Beng San yang juga berdiri bingung karena tidak tahu ke mana perginya para murid Hoa-san-pai yang lain.
"Adik Beng San.....!"
Seruan ini adalah suara Tan Hok yang datang berlari-lari. Beng San juga girang dan dua orang ini saling berpelukan.
"Syukur kau dan teman-temanmu keburu datang, Tan-twako, kalau tidak....."
Tan Hok memandang ke arah tubuh-tubuh yang malang melintang di tanah itu, menarik napas panjang."Anjing-anjing Mongol itu benar-benar keji dan sayang sekali tidak dari dulu-dulu Hoa-san-pai ikut berjuang.
Lebih sayang lagi semua ini gara-gara murid Kun-lun-pai yang roboh di bawah pengaruh kecantikan wanita....."
La menuding ke arah mayat Kwee Sin.
"Jangan "kau bicara sembarangari!"
Thio Bwee tiba-tiba meioncat dan memandang Tan Hok dengan marah.
"Apa kaukira kau dan orang-orang Pek-lian-pai saja yang patriotik dan gagah? Paman Kwee Sin biarpun kelihatan bersalah, akan tetapi sebetulnya semua itu dia lakukan demi menjalankan tugasnya sebagai seorang pejuang. Dia adalah pe-mimpin di kota raja, terkenal dengan sebutan Si-enghiong....."
"Apa.....??"
Tan Hok membelalakkan matanya.
"Dia..... dia itu Si-enghiong? Si-enghiong dan Ji-enghiong adalah orang-orang yang memimpin gerakan kami di sana..... orang-orang kepercayaan Ciu-taihiap! Betulkah ini.....?"
Pek Gan Siansu berkata.
"Siancai..... siancai....."
Ia menarik napas panjang.
"Sungguh bangga hati tua ini mendengar bahwa Kwee Sin ternyata adalah seorang pejuang besar. Bangga dan sedih serta malu bahwa dia telah begitu buta sehingga tidak dapat mengenal murid sendiri! Ah, Kwee Sin..... Kwee Sin..... tidak berharga pinto menjadi gurumu....."
Tiba-tiba Thio Bwee berseru "Eh, mana dia? Mana dia Ji-enghiong.....?"
Tan Hok makin kaget.
"Apa? Ji-enghiong juga di sini? Mana dia?"
Semua orang mencari-cari dan mengingat-ingat, akan tetapi mereka tadi tidak melihat lagi adanya nona Lee Giok atau yang disebut Ji-enghiong oleh Kim-thouw Thian-li.
"Betulkah Ji-enghiong tadi di sini? Siapakah dia?"
Tanya lagi Tan Hok terheran-heran, sedangkan Beng San juga tertegun mendengar terbukanya rahasia ini, ingin benar dia mendengar keterangannya pula.
Baca Juga: Istana Pulau Es 9
Baca Juga: Suling Emas 21