Ceritasilat Novel Online

Rajawali Sakti Dari Langit Selatan 9

Eps 9 Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long

Baca online Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long

Cersil Rajawali Sakti Dari Langit Selatan - Sin Long.

Tentu saja hal itu membuat Yo Him jadi terkejut sekali, tubuhnya sedang membungkuk kedepan dan sekarang828 lawannya dari tengah udara melancarkan serangan yang mendadak dengan angkinnya yang meluncur bagaikan ular kepergelangan tangan Yo Him.

Phang Kui In dan Kwee Siang telah memandang jalannya pertempuran itu dengan mata yang terbuka lebar-lebar, karena mereka menguatirkan sekali keselamatan Yo Him Waktu ujung angkin menyamber dekat sekali dengan pergelangan tangan, Yo Him menarik pulang tangan, dia telah mengeluarkan suara seruan yang sangat kuat sekali .

"Rubuh!"

Dan sambil berteriak begitu dia telah melancarkan gempuran dengan kedua telapak tangannya "Suttttt !"

Angin serangan itu terdengar tajam sekali.

Thang Kim Lian tidak berani.

menangkis dengan kekerasan, maka dia telah ber jumpalitan sambil menarik pulang angkinnya.

Gerakan Thang Kim Lian memang cepat, tetapi Yo Him bergerak lebih cepat sekali, tahu-tahu telapak tangan Yo Him telah menghantam punggung kanan dari Thang Kim Lian waktu gadis itu baru saja menginjak tanah.

"Bukkk ....!"

Terdengar suara hajaran yang tepat itu, dan Thang Kim Lian telah ter huyung-huyung, kemudian tubuhnya rubuh ditanah, waktu gadis ini merangkak bangun, dia telah memuntahkan darah segar sebanyak tiga kali.

Muka Thang Kim Lian tampak pucat pias, dia telah berkata dengan suara yang tidak lancar .

"Terima kasih..atas petunjuk kalian..terima kasih......"

Dan dia telah memutar tubuhnya, dengan ginkangnya dia berlari pergi meninggalkan tempat itu.

"Hem, Ciong Lam Cie rupanya melakukan pengejaran terus menerus kepada kita.....!"

Kata Phang Kui In sambil menarik napas dalam-dalam, karena dimana saja mereka tiba, tentu akan diganggu oleh orang-orang pangcu Tiauw Pang itu.

"Mulai sekarang, kita harus lebih hati-hati.......!"

Kata Kwee Siang.829

"Karena kemungkinan besar pangcu dari Tiauw Pang itu telah menyebar orang-orangnya untuk mengikuti jejak kita !"

Phang Kui In mengangguk "

Jika dilain waktu kita bertemu dengan anggota Tiauw Pang, kita tidak perlu main kasihan-kasihan lagi.

kita binasakan, saja untuk menggertak Pangcu Tiauw Pang.

agar dia menghentikan pengejarannya kepada kita..."

Yo Him setuju, tetapi Kwee Siang tidak.

"Yang melakukan kesalahan adalah pangcunya, bukan anak buahnya. Anak buahnya hanya menuruti perintah dari pangcunya maka mereka tak bersalah! Jika memang kita memiliki kesempatan, biarlah kita cari pangcu Tiauw-pang itu untuk mengadakan perhitungan dengannya, Sekarang yang terpenting kita harus mencari Yo Taihiap... Phang Kui In membenarkan pendapat si gadis, begitu juga Yo Him "

Benar cici Siang, memang itu cara yang cukup bijaksana.!"

Kata Yo Him, Begitulah!

mereka kemudian kembali kekamar masing-masing 000odw^kzo000 KEESOKAN paginya Phang Kui In telah meninggalkan rumah penginapannya seorang diri, sedangkan Yo Him bercakap-cakap asyik sekali berdua dengan Kwee Siang.

Karena Yo Him merasakan bahwa hati Kwee Siang lembut dan memiliki kasih sayang sebagai seorang kakak, sehingga dia menyenangi si gadis itu.

Sedangkan Kwee Siang sendiri karena mengetahui Yo Him adalah putera dari pria yang dikagumi dan dipujanya, yaitu Sin Tiauw Taihiap, maka dia memperlakukan Yo Him dengan830 lemah lembut dan sabar, seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya.

Phang Kui In telah mengelilingi kota itu, bertanya-tanya kepada orang-orang, apakah mereka itu melihat Sin Tiauw Taihiap Yo Ko beberapa saat yang lalu.

Sedangkan ciri-ciri dari orang yang dicarinya itu disebutkan, yaitu buntung tangan kanannya.

Tetapi umumnya orang-orang itu menyatakan telah dua tahun lebih mereka tidak pernah melihat Sin Tiauw Taihiap singgah dikota ini.

Dulu memang mereka suka bertemu karena sering kali Sin Tiauw Taihiap berkunjung kekota Su-po Kwan ini.

Setelah bertanya-tanya lebih dari seratus orang, Phang Kui In jadi lemas dan putus asa, dia segera menyadari untuk mencari Sin Tiauw Taihiap sangat sulit sekali.

Menjelang sore hari Phang Kui ln baru kembali kerumah penginapan, dia melihat Yo Him dan Kwee Siang tengah gelisah menantikan dia kembali, untuk makan malam.

"Maafkan aku pulang terlambat...!"

Kata Phang Kui In sambil duduk dikursi yang satunya.

"Berhasilkah usahamu itu, paman Phang?"

Tanya Yo Him dengan hati yang berdebar.

"Ya, berhasilkah usahamu. Lo-enghiong ?"

Tanya Kwee Siang juga. Phang Kui In menggelengkan kepalanya dengan lesu, dia telah berkata .

"Tidak...telah dua tahun lebih penduduk kota ini tidak pernah melihat lagi datangnya Sin Tiauw Taihiap ! Mungkin juga Sin Tiauw Taihiap tengah menyelesaikan suatu urusan yang besar sehingga tidak pernah berkunjung ke Su-po-kwan selama dua tahun terakhir ini."

Yo Him dan Kwee Siang jadi murung, mereka kecewa sekali.831

"Tetapi nanti kita akan menyelidikinya terus, melalui mulut orang-orang rimba persilatan tentu kita bisa mencari keterangan yang lebih jelas....!"

Kata Phang Kui In menghibur Yo Him dan Kwee Siang.

Setelah bercakap-cakap sebentar lagi.

Phang Kui In memesan santapan untuk mereka.

Dan waktu malam belum begitu larut, mereka telah masuk kekamar masing-masing dan tidur dengan nyenyak.

Keesokan paginya mereka bertiga telah berlayar kembali meninggalkan kota Su-po kwan.

Dua hari mereka berlayar tanpa menemui daratan dan mereka mengarahkan kapalnya kearah selatan.

Waktu itu angin berhembus perlahan sekali dan ombak-ombak kecil bagaikan kemilaunya permata, beriak gelombang kecil-kecil, Indah sekali suasana laut disaat itu, karena air laut yang begitu luas dan sejauh mata memandang antara kaki langit dengan laut bertemu, hanya warna biru belaka yang bening dan menyegarkan pandangan mata.

Dalam keadaan seperti ini, Yo Him telah duduk melamun memandangi keluasan laut itu Pikiran pemuda ini melayang-melayang memikirkan ayahnya, dia juga membayang bayangkan ayahnya, menduga duga entah bagaimana rupa wajah dan keadaannya.

Disaat Yo Him tengah duduk melamun seorang diri seperti itu, Kwee Siang telah menghampiri dan duduk disebelah Yo Him mengawasi laut yang luas itu.

"Adik Him .... apa yang sedang kau pikirkan ?"

Tanya Kwee Siang. Yo Him menghela napas.

"Aku sedang memikirkan ayahku....!"

Kata Yo Him kemudian.832

"Akupun selalu ingin cepat-cepat bertemu dengan ayahmu itu tetapi keadaan rupanya tidak memungkinkan ... !"

Kata Kwee Siang dengan suara yang dalam, mengandung kesedihan juga ."

Entah Yo Koko berada dimana ....dan bagaimana keadaan encie Siauw Liong Lie....

sampai demikian lama, beberapa tahun kulewati dengan perasaan yang selalu kesepian, karena selalu pula aku gagal mencari mereka.......!"

Setelah berkata begitu!

tampak Kwee Siang telah menghela napas lagi.

Keduanya jadi berdiam diri, mereka hanya mengawasi air yang beriak gelombang perlahan karena sentuhan perahu yang meluncur dengan perlahan juga.

Phang Kui In yang memegang kemudi telah berteriak kepada Yo Him dengan suara yang nyaring .

"Him-jie, engkau tidak perlu memikirkan segala itu, dan engkau juga tidak perlu terlalu memusingkan hal-hal yang belum tentu itu, yang terpenting kita harus berusaha mencari ayah kau itu !"

Yo Him mengiyakan.

Tetapi anak ini masih juga duduk termenung.

Kwee Siang sendiri telah beberapa kali menarik napas karena merasa sedih dan jengkel, Angin laut sepoi-sepoi basah itu karena mendekati sore hari, telah membuat mereka semakin tenggelam dalam kekalutan pikiran, 000odw^kzo000 MEREKA berlajar enam hari tanpa berjumpa daratan untung saja mereka membawa bekal cukup banyak, sehingga bisa dipergunakan sampai dua bulan.

Kapal meluncur terus dengan pesat.

Phang Kui In bermaksud untuk menuju kelautan Tang Hay.

Dari tempat itu833 tentu mereka mudah mendatangi kota-kota seperti Bu-cie-kwan, Liong-cu-kwan atau kota-kota lain-lainnya yang ber dekatan dengan tempat tersebut karena Phang Kui In bermaksud untuk menyerap-nyerapi kabar mengenai keadaan Sin Tiauw Taihiap dikota-kota itu.

Lautan hari itu tenang tanpa gelombang dan badai, udara cerah sekali.

Yo Him duduk digeladak, mengawasi air laut yang diterjang kapal, tetapi belum juga berhasil menemui jejak ayahnya.

Sehingga perasaan rindu dihati Yo Him jadi semakin kuat saja.

Tetapi apa daya, Justru orang yang dirindukannya itu tidak diketahui berada dimana.

Sedang Yo Him termenung begitu, tiba-tiba dia melihat dua buah kapal tengah meluncur mendatangi, semakin lama semakin besar.

"Paman Phang.....ada dua kapal yang sedang mengejar kita ...mungkin orang-orangnya Tiauw pang"

Kata Yo Him dengan suara nyaring. Kwee Siang cepat-cepat menghampiri Yo Him dan dia memang melihat ada dua kapal yang tengah mendatangi. Phang Kui In mengerutkan alisnya, dia berkata perlahan .

"Bukan ! Bukan kapal orang-orang Tiauw pang ... mereka ... kalau tidak salah merupakan orang asing, lihatlah bentuk kapal mereka itu yang agak luar biasa, berukiran singa ... mereka kalau bukan dari India tentunya orang Persia ....!"

Mendengar keterangan Phang Kui In. Yo Him dan Kwee Siang jadi heran.

"Orang India ? Orang Persia ?"

Tanya mereka hampir berbareng.834

"Ya, tidak salah lagi, mereka tentu rombongan orang-orang Persia ... memang akhir-akhir ini banyak orang Persia yang datang kedaratan Tionggoan untuk berdagang ... !"

Diwaktu mereka tengah bercakap-cakap begitu kedua kapal asing yang bentuknya sangat aneh, dengan dikepala kapal itu terukir kepala singa yang besar, telah mendatangi lebih dekat.

Dan akhirnya kapal mereka saling berjajar, kapal Phang Kui In diapit oleh kedua kapal asing itu, ditengah-ditengah.

Dari samping geladak kapal yang sebelah kiri, telah muncul dua orang pendeta yang memakai jubah merah.

Itulah Hweeshio atau Lhama dari Tibet.

Kepala mereka gundul dan tubuh mereka tegap besar sekali, mengenakan pakaian yang berwarna merah sehingga tampaknya kontras sekali.

"Kami mohon bertanya!"

Kata seorang diantara kedua pendeta itu.

"Apakah lautan yang sedang kami layari ini adalah lautan Tang Hay"

Yo Him kagum sekali, walaupun kedua pendeta Lhama itu merupakan orang asing, tetapi mereka dapat berkata-kata dalam bahasa Han yang baik dan halus.

Itulah suatu kelebihan dari orang-orang asing ini.

Phang Kui In merangkapkan sepasang tangannya menjura sambil menyahuti "Benar tidak salah lautan disekitar ini adalah lautan Tang Hai..."

"Dan, kami mohon bertanya lagi apakah kalian mengetahui dimana pusat dari Agama Beng Kauw ?"

"Kami kurang begitu mengetahuinya, maafkanlah Taisu !"

Menyahuti Phang Kui In. Hweeshio itu tidak menjadi marah atau mendongkol, dia telah mengangguk.

"Baiklah...terima kasih atas keterangan kalian itu !"

Katanya.835

"Tunggu dulu Taisu, tampaknya Taisu datang dari Tibet bukan ?"

Tanya Phang Kui In ingin mengetahui.

"Bukan !"

Menyahut si pendeta itu.

"Bukan ? Lalu Taisu dari mana ?"

"Kami memang Budha-budha hidup dari Tibet, tetapi sudah sepuluh tahun kami bekerja untuk Persia......!"

Menyahuti pendeta itu.

"Ohh........!"

"Dan sekarang kami tengah melaksanakan tugas yang diberikan raja kami Persia, untuk menangkap seseorang.......!"

"Menangkap seseorang ?"

Phang Kui In menjadi terkejut. Pendeta itu mengangguk.

"Benar ! Kami tengah membawa tugas yang berat sekali, yaitu harus menangkap tokoh persilatan didaratan Tionggoan........yaitu. Yo ....." >>o0o^d!w^o0o<<

Jilid 24

"SUTEE.. jangan kau banyak bicara!"

Tiba-tiba lhama yang seorangnya lagi telah membentak Dan rupanya sang sutee, adik seperguruan itu, menyadari dengan cepat kecerobohannya itu.

"Maafkan kami harus berangkat lagi.....terima kasih atas keterangan kalian..!"

Kata sang sutee itu sambil ingin memutar tubuhnya.

Tetapi Phang Kui In telah terkejut sekali waktu mendengar orang yang ingin ditangkap lhama merah itu seorang tokoh836 persilatan dan memiliki she Yo, maka dia jadi tegang sendirinya.

Melihat orang itu ingin membalikkan tubuh, Phang Kui In cepat-cepat berteriak memanggilnya .

"Taisu, apakah boleh aku bertanya sedikit ?"

Lhama itu batal membalikkan tubuhnya, sambil tersenyum dia lalu berkala .

"Omitohud ! Tanyakanlah ! Jika memang aku mengetahui, tentu aku akan memberitahukannya...!" . Phang Kui In jadi ragu-ragu sejenak, tetapi kemudian dia telah berkata lagi .

"Tadi Taisu mengatakan orang yang Taisu cari itu she Yo .... apakah yang dimaksudkan oleh Taysu adalah Sin Tiauw Tiahiap Yo Ko ?"

"Tepat !"

Berseru pendeta itu .

"Sutee .... !"

Tiba-tiba sikakak seperguruannya, yaitu hweshio lhama yang seorangnya lagi, telah membentaknya dan sang Sute jadi tersadar dengan cepat, dia telah menahan kata-kata lainnya yang baru saja ingin diucapkannya .

"Maafkan aku harus meninggalkan kalian .... !"

Kata pendeta itu kemudian sambil membalikan tubuhnya.

Sedangkan sang suheng, kakak seperguruan itu, telah melirik sedikit kepada Phang Kui In, Yo Him dan Kwee Siang bergantian, lalu tanpa memperlihatkan muka manis, dia telah memutar tubuhnya dan lenyap dibalik ruangan kapal itu.

Phang Kui In masih berdiri tegak ditempatnya, tampaknya dia tegang sekali.

Yo Him telah menarik ujung bajunya.

"Paman Phang ."

Panggilnya.

"Apakah mereka sedang mancari ayah untuk menangkapnya ? Apa kesalahan ayahku itu ?"

"Aku sendiri belum mengetahui apa sebabnya...memang didalam rimba persilatan terdapat banyak sekali peristiwa-837 peristiwa yang membingungkan. Maka kita harus mengikuti mereka, yang pasti mereka itu memusuhi ayahmu, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko...!"

Yo Him jadi gelisah.

"Kita harus mengikuti mereka, Phang Susiok !! "

Katanya kemudian.

"Ya, kita ikuti saja mereka, kita lihat saja nanti apa yang hendak mereka lakukan dengan menangkap ayahmu itu ! Tetapi terus terang saja kusampaikan sekarang kepadamu, bahwa kepandaian kedua lhama tadi, mungkin di dalam kapal itu masih banyak lhama lainnya, adalah manusia-manusia yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali...karena dari Persia mereka berani datang ke daratan Tionggoan untuk mencari ayahmu berarti mereka memiliki kepandaian yang tinggi sekali...! Waktu aku mengantarkan engkau dan akhirnya kita bentrok dengan pihak Tiauw-pang yang mengakibatkan kita terdampar dipulaunya Lie Bun Hap, sesungguhnya Sin Tiauw Taihiap tengah sibuk untuk mencari musuhnya yang telah mencelakai ibumu, yaitu Siauw Liong Lie...!"

"ibuku dicelakai orang ? Siapa orang itu paman Phang ?"

Tanya Yo Him dengan kaget.

"Orang yang menjadi biang keladinya adalah Tiat To Hoat ong maka Sin Tiauw Taihiap bermaksud menangkap Tiat To Hoat Ong untuk membalas sakit hatinya itu.... !"

Tiba-tiba Yo Him jadi menangis keras sekali dia jadi berduka bukan main.

Kwee Siang jadi sibuk membujuknya.

Setelah puas menangis, Yo Hirn mengangkat kepalanya, dia telah memandang kepada Phang Kui In dengan mata yang merah basah.838

"Paman Phang, katakanlah terus terang ibuku dicelakai Tiat To Hoat-ong itu, lalu apakah dia hanya dilukai atau memang telah terbinasa.....!"

"Inilah yang sulit untuk dikata juga, karena ibumu waktu bertempur dengan Tiat To Hoat Ong, disaat itu kau baru dilahirkan berusia diantara lima puluh hari..... dan ibumu dikeroyok oleh Tiat To Hoat Ong bersama kawan-kawannya, sehingga ibumu terdesak, akhirnya ketika tiba di tepi jurang, karena sudah tidak ada jalan lain, terpaksa ibumu melompat masuk kejurang dipegunungan Kun Lun San .... karena ibumu tidak mau terjatuh ditangan musuh, yang tentu akan menyiksanya !"

Mendengar cerita Phang Kui In, kembali Yo Him jadi menangis sedih. Setelah tangisnya mereda, dia bertanya lagi .

"Lalu ayah tidak mengambil tindakan apa-apa ?"

"Waktu itu ibumu diculik terpisah dari ayah mu sehingga ayahmu sulit sekali mencari jejak penculik ibumu. Maka dari itu, sampai sekarang ini mungkin ayahmu masih sibuk men cari-cari Tiat To Hoat ong."

"Dan pendeta lhama merah itu juga musuh ayah ?"

Tanya Yo Him lagi.

"Dilihat dari cara dan sikap mereka waktu menyebut nama ayahmu, kemungkinan besar mereka itu lawan-lawan ayahmu juga ...."

"Kalau begitu kita ikuti saja mereka ....!"

Kala Yo Him.

"Memang, akupun bermaksud untuk mengikuti mereka siapa tahu lebih mengetahui dimana beradanya ayahmu !"

Menyahuti Phang Kui In.

"Akupun berpikir begitu,"

Kata Kwee Siang menyetujui juga untuk mengikuti rombongan lhama merah itu.

Kapal kedua lhama merah itu berlayar dengan cepat.839 Sedangkan Phang Kui In mengikuti dari kejauhan saja.

Setelah berlayar dua hari lagi, tampaklah dihadapan mereka daratan.

"Itulah pelabuhan kota Kong-nam, kemungkinan besar rombongan lhama merah itu akan berlabuh disitu ......!"

Menjelaskan Phang Kui in.

Dan terkaan Phang Kui In memang tidak meleset.....

kedua kapal rombongan lhama merah yang mengaku bekerja pada raja Persia itu telah berlabuh.

Phang Kui In juga telah melabuhkan kapaklnya, setelah itu mereka bertiga turun dari kapal.

Rombongan lhama merah itu ternyata ber jumlah sangat banyak sekali, karena yang turun kedarat saja meliputi jumlah sampai empat puluh orang, suara mereka berisik sekali karena semuanya mengenakan jubah warna merah, dengan sendirinya menarik banyak per hatian penduduk kota itu.

Sedangkan yang tinggal dikapal masih berjumlah sangat banyak, berdiri dipinggir kapal mereka sambil melambai-melambaikan tangan.

Jumlah mereka keseluruhannya mungkin meliputi seratus orang lebih.

Dirombongan lhama merah yang turun kedarat itu, tampak seorang lhama berpakaian jubah putih.

Dengan mengenakan jubah putih maka dia lebih menarik perhatian dari ketiga puluh sembilan lhama lainnya.

Rupanya lhama berjubah putih itu adalah seorang lhama yang menjadi pemimpin mereka.

Dan apa yang diduga oleh Phang Kui In benar adanya, ketiga puluh sembilan orang lhama merah telah berbaris dan lhama berbaju putih itu telah berkata "kita membagi diri masing-masing dua orang.

Kita menyebar keseluruh kota ini, dan jika ada salah seorang diantara kita melihat si buntung she Yo itu dia harus memberikan isyarat dengan panah api !

"840 Ketiga puluh sembilan lhama itu telah mengiyakan dan memencar membagi diri.

Mereka ber dua-dua memisahkan diri, menyabar keseluruh kota itu.

Lhama putih yang menjadi pemimpin mereka telah melakukan penyelidikan bersama seorang Lhama merah lainnya.

Phang Kui In mengajak Yo Him dan Kwee Siang untuk mengikuti Lhama berjubah putih itu, karena sebagai pemimpin dari Lhama merah itu, tentu dia akan lebih banyak mengetahui segala hal.

Dan laporan anak buahnya itu tentu akan jatuh pada dirinya, Sedangkan Lhama berjubah putih itu dan seorang Lhama merah, tidak menyadari bahwa mereka tengah dikuntit karena Phang Kui In mengikutinya dengan hati-hati dan jarak terpisah cukup jauh.

Lhama merah yang berjalan dengan Lhama putih itu.

adalah Lhama yang diatas kapal ditengah laut Waktu bertemu dengan Phang Kui in.

dipanggil sebagai suheng, Dia merupakan seorang Lhama merah yang pendiam dan selama jalan dengan pemimpinnya itu.

dia tidak banyak bicara.

Ketika mereka tiba dimuka sebuah rumah makan, kedua Lhama itu telah memasuki rumah makan itu.

Mereka memesan teh dan sayur-sayur tidak berjiwa.

Kemudian mereka bersantap dengan lahap.

Selesai makan si lhama jubah putih telah memanggil pelayan rumah makan itu, dia telah memberikan uang seberat lima tail perak.

kemudian dia bertanya.

"Apakah engkau pernah melihat seorang lelaki berusia diantara tiga puluh tahun lebih dengan lengan kanannya yang buntung ?"

Pelayan itu seperti ber pikir-pikir, sedangkan sesungguhnya hati pelayan itu tengah kegirangan karena telah memperoleh hadiah yang demikian besar, belum pernah dia mengalami menerima hadiah dari tamu sebesar itu.841

"Cepat katakan, kau pernah melihat atau tidak ?"

Tanya lhama jubah putih itu tidak sabar. Si pelayan telah tersenyum menyeringai.

"Begini Taisu, orang yang lengan kanannya buntung memang banyak sekali, hampir setiap hari kami menerima kunjungan dari orang-orang seperti itu dan aku mana mengetahui orang buntung yang mana telah dicari oleh Taisuhu ?"

Tampak pendeta jubah putih itu telah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan rupanya dia mendongkol berurusan dengan pelayan ini yang tampaknya agak licik.

"Yang kami cari itu adalah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko !"

Kata si lhama jubah merah dengan jengkel.

"Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ? Ah, baru saja kurang lebih satu jam yang lalu dia meninggalkan rumah makan kami ini, tadi dia bersantap disini !!"

Kata si pelayan rumah makan itu dengan gembira. Kedua pendeta itu melompat berdiri, mereka tampaknya tidak berselera untuk makan lagi.

"Cepat katakan, kearah mana perginya si buntung itu?"

Tanya si lhama putih.

"Tadi Sin Tiauw Taihiap Yo Ko mengambil jalan yang menuju kebarat.. !"

Menjelaskan si pelayan. Pendeta Lhama putih itu cepat-cepat memutar tubuhnya untuk berlalu. Tetapi pendeta lhama merah telah menahannya.

"Tunggu dulu...!"

Kata lhama merah itu.

"Kita belum menanyakan kepadanya mengapa dia bisa mengetahui bahwa itu adalah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. bukankah keadaan demikian sangat aneh sekali ?"

Lhama jubah putih itu rupanya baru tersadar, dia cepat-cepat menahan langkah kakinya, dia menoleh kepada pelayan842 itu, katanya dengan muka yang bengis .

"Engkau jangan berdusta, benar atau tidak engkau bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap. Mengapa engkau mengetahui orang itu Sin Tiauw Taihiap...?"

Pelayan itu jadi ketakutan melihat sikap si pendeta dia sampai mundur kebelakang, kemudian dengan suara terbata-bata dia telah berkata gugup "Aku...aku memang mengetahui dia adalah Sin Tiauw Taihiap.

yang tangan kanannya telah buntung itu...!"

Mendengar jawaban pelayan itu, tentu saja kedua lhama tersebut jadi tambah curiga. Dia telah berkata lagi dengan sikap yang lebih bengis .

"Engkau jangan berbohong kepada kami, jika memang tidak kenal engkau bilang tidak kenal, jika tidak engkau harus berlaku jujur mengatakan tidak ! Nah. cobalah bagaimana roman muka dan tubuh Sin Tiauw Taihiap.."

"Sin Tiauw Taihiap ?"

Tanya si pelayan tampaknya semakin gugup.

"Tangan kanannya buntung, tubuhnya pendek gemuk dan gesit, hidungnya besar ... matanya bersinar tajam dan ...dan...dan..."

"Plaakkk! Plookkk !" ' dua kali muka pelayan yang tampaknya sedang berpikir itu di tempeleng oleh si lhama putih.

"Ngaco belo kau !! "

Bentak si lhama putih.

"Sekali lagi jika dilain waktu engkau membohongi kami seperti sakarang, kepalamu akan kami pukul pecah !"

Pelayan itu teraduh-aduh, akhirnya dia mengatakan sambil meringis kesakitan...

"Aku .aku memang tidak tahu siapa itu Sin Tiauw Tai-hiap adanya, hanya tadi Taisuhu menyebutkannya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko maka aku bermaksud untuk membuat engkau bergembira, Taisuhu..!"

"Kurang ajar kau !"

Kata pendeta itu dengan suara mendongkol.843 Kedua pendeta itu tidak jadi meninggalkan rumah makan dan melanjutkan makan mereka.

Phang Kui In, Yo Him dan Kwee Siang yang mengintai serta menyaksikan semua kejadian itu jadi tersenyum geli sendirinya.

Setelah kenyang bersantap, kedua pendeta itu telah meninggalkan rumah makan dan menyusuri jalan demi jalan, dia menanyakan kepada orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka mengenai Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.

Tetapi semua yang ditanyakannya itu tidak seorangpun tahu siapa itu Sin Tiauw Ta-hiap.

"Aneh sekali !"

Menggumam lhama putih itu.

"Kita terakhir kali sebulan yang lalu menerima berita dari mata-mata kita bahwa Sin Tiauw Taihiap Yo Ko berada dikota ini! Tetapi sekarang tidak seorangpun yang mengetahui akan diri pendekar Rajawali Sakti itu."

"Kita cari saja perlahan-lahan. tentu akan dapat kita temui jejaknya terlebih lagi kita datang dalam jumlah yarg banyak, seratus dua puluh jago, mana bisa dia meloloskan diri dari kita lagi....?"

Nada suara dari lhama merah itu angkuh sekali. Sedangkan si Lhama pulih itu telah men dengus dingin, katanya.

"Hemm"

Kalau bisa ditemukan jejaknya kalau tidak? Kita yang celaka! Bukankah kita telah dipesan berulang kali oleh baginda raja, agar berusaha menangkapnya hidup-hidup dan membawanya ke Persia.. !"

"Benar ! Tetapi sesungguhnya di Persia tidak kurang tenaga yang memiliki kepandaian tinggi seperti dia, mengapa baginda Raja justru menghendaki dia juga yang memimpin dan membimbing Bengkauw ?"

"Aku sendiri tidak mengetahui apa sebabnya !"

Menyahuti Lhama jubah putih itu.844

"Sebetulnya kepandaian Sin Tiauw Taihiap belum tentu bisa menindih kepandaian kita"

Kata lhama merah itu. Tampaknya penasaran sekali.

"Namun kita harus melaksanakan perintah Baginda Raja sebaik mungkin .. !"

Kata lhama jubah putih itu.

"Ya, memang benar apa yang kau katakan itu, tetapi didalam persoalan ini kita harus menguji dulu kepandaian dari si tangan buntung itu !"

Rupanya lhama merah itu masih penasaran sekali. Lhama putih itu telah mengangguk saja, tanpa memberikan komentar lagi. Phang Kui In bertiga yang mendengar pembicaraan itu jadi terkejut.

"Jadi orang-orang dari Persia ini ingin menangkap Yo Ko untuk di serahi menjadi pemimpin dari golongan Bengkauw. Hal ini agak luar biasa karena lhama itu datang dalam jumlah yang sangat banyak sekali maka Yo Him bertiga berkuatir kalau-kalau nanti ayahnya itu dianiaya dan diperlakukan tidak baik oleh lhama ini. Waktu itulah tampak si lhama putih telah mengangkat kepalanya sambil berseru "

Lihat ! Itu tanda dari kawan kita, panah api bersuara....!"

Lhama merah itu juga telah menoleh dan memandang kearah yang ditunjuk oleh lhama putih itu.

Diapun telah melihat panah api yang bersuara itu.

Dalam keadaan demikian, mereka sudah tidak berpikir apa-apa lagi, karena dengan adanya tanda panah api itu tentu kawan-kawan mereka yang melepaskan tanda rahasia itu berhasil menemui jejak Yo Ko.

Cepat seperti terbang kedua pendeta itu telah berlari-lari kearah barat, dari mana panah api terlihat.

Setelah berlari845 sesaat lamanya mereka telah tiba di sebuah tanah lapang yang luas, yang hanya ditumbuhi rumput-rumput hijau.

Ditengah tanah lapang itu tampak dua orang Lhama merah sedang berdiri tegak mengawasi kearah segundukan tanah kuburan yang belum lagi kering masih merah.

Lhama putih dan kawatnya dengan cepat menghampiri.

"Mana dia si buntung itu?"

Tanya lhama pulih dengan mata yang memandang kesekelilingnya. Kedua lhama merah itu telah berkata sambil menunjuk kekuburan itu.

"Dia berada didalam kuburan itu. Tadi kami secara kebetulan melihatnya disebuah jalan dalam kota. kami mengikutinya. Dan dia menuju kemari lalu memegang batu nisan itu (bongpai) permukaan kuburan itu terbuka dan dia masuk kedalamnya....Waktu kami memburu kemari ternyata kuburan itu telah tertutup kembali. Kami tidak berani lancang untuk membukanya, maka dari itu kami melepaskan anak panah itu untuk memanggil kawan-kawan....."

Waktu dia berkata sampai disitu, lhima-lhama lainnya telah tiba disitu.

lhama putih itu menunjuk kepada kuburan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

dia telah menghampiri dan me megang-megang Bongpai kuburan itu.

Di cari-carinya alat rahasia yang bisa membuka kuburan itu.

tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan dan tidak ada tanda-tanda alat rahasia.

Saking kesal dan jengkelnya, tampak lhama ber jubah putih itu merah padam mukanya Tetapi akhirnya dia memperoleh suatu akal, dia telah berjalan menjauhi kuburan itu kemudian melambaikan tangannya memanggil lhama-lhama yang lainnya.846 Setelah mereka berkumpul, lharna putih itu berkata kita duduk bersemadhi mengurung kuburan itu untuk menunggu si buntung keluar dari dalam kuburan ..."

Semua lhama merah itu mengiyakan lalu dengan hati-hati dan langkah kaki yang perlahan agar tidak menimbulkan suara mereka duduk mengelilingi kuburan itu mengambil sikap mengurung.

Seandainya kuburan itu terbuka dan Sin Tiauw Taihiap yang tengah mereka cari-cari itu keluar dari sebelah kanan, keadaan disitu telah dikepung, begitu pula dari arah lain.

Dengan demikian tidak mungkin orang yang mereka cari itu akan dapat meloloskan diri....!

Lhama itu dengan sabar telah bersemadhi mengurung kuburan itu, sampai menjelang malam kuburan itu belum juga terbuka.

Si lhama putih telah tidak sabar, katanya kepada lhama merah yang ada disampingnya.

"Apakah kita gempur saja kuburan itu lalu menerjang masuk....?"

Katanya mengemukakan sarannya. Tetapi lhama merah itu menggeleng sambil katanya.

"Dia memiliki kepandaian yang tinggi jika kita yang menerjang kedalam, kita rugi keadaan, karena dengan ruangan yang sempit tentu dia bisa memberikan perlawanan yang gagah dan leluasa, tetapi kita ditempat yang sempit tentu saja tidak bisa mengeroyoknya dengan jumlah banyak."

"Benar juga perkataanmu itu.

"kata lhama putih sambil menggangguk.

"Biarlah kita menantikan saja dia keluar, disaat itu barulah kita melancarkan serangan kepadanya...."

Begitulah dengan sabar para lhama itu telah menantikan munculnya orang yang tengah dicari.

Tetapi Sin Tiauw Taihiap Yo Ko masih juga belum muncul-muncul.847 Malam telah larut, menjelang tengah malam, tiba-tiba batu bongpai itu bergerak perlahan.

Si lhama putih dan ketiga puluh sembilan kawannya, lhama-lhama merah jadi tegang sendirinya.

Mata mereka telah terbuka lebar-lebar mengawasi kearah kuburan itu..

Disaat itu, tampak batu nisan tersebut telah bergerak lebih keras, disusul dengan suara 'plakkk' dan kuburan itu seperti terbelah dua.

Rupanya kuburan itu merupakan kuburan rahasia yang memiliki pintu untuk keluar masuk.848 Dari dalam kuburan itu kemudian tampak me!ompat keluar sesosok tubuh dengan gerakan yang ringan sekali.

Orang itu memakai jubah putih, tangan kanannya kosong dimana jubahnya bergoyang-goyang lemas tertiup angin malam.

Dialah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, yang tengah mereka cari !

Yo Ko sendiri jadi bingung juga, karena begitu dia melompat keluar, dia melihat empat puluh pendeta itu mengambil posisi mengurung padanya.

Sedangkan dia sendiri tidak mengetahui apa maksud dari pendeta-pendeta asing itu mengurung dirinya.

Lhama jubah putih telah melompat berdiri, dan berkata dengan suara yang dingin .

"Engkaulah yang bernama Yo Ko ?"

Yo Ko diam sejenak tidak menyahut , sampai akhirnya dia telah berkata .

"Benar , .. aku she Yo dan bernama Ko".

"Dan engkau yang bergelar Sin Tiauw Taihiap ?"

Tanya lhama putih itu. Yo Ko cepat-cepat merangkapkan tangannya memberi hormat, sampai akhirnya. dia telah berkata .

"Tidak berani aku memakai gelar itu, jika orang-orang menyebut demikian tentunya hanya bergurau saja ... !"

Kata Yo Ko merendah.

"Hemm, kami datang dari luar lautan, dari Persia. Kami telah lama mendengar. nama besarmu yang terkenal itu sama dengan kepandaianmu......!!"

Setelah berkata begitu, Lhama putih itu membungkukkan tubuhnya seperti juga ingin memberi hormat, tetapi sesungguhnya dari kedua tangannya itu telah meluncur keluar tenaga yang sangat kuat sekali, yang langsung menyerang kearah Yo Ko.

Yo Ko tidak terkejut diserang begitu, dia telah tertawa sambil katanya kemudian.

"Jangan main-main Taisu !"

"Aku bukan sedang main-main dengan kau ! Kami bersungguh-sungguh. Lihatlah, kami dari tempat yang jauh849 telah datang kemari, untuk melihat berapa tinggikah kepandaian yang engkau miliki...!"

Selesai berkata, Lhama putih itu telah menjulurkan tangan kanannya, dia bermaksud untuk mencengkeram dada Yo Ko.

"Tunggu dulu, Taisu..!"

Kata Yo Ko sambil mengelakkan serangan itu.

"Tunggu apa lagi Keluarkan kepandaianmu !"

Bentak si lhama putih.

Yo Ko jadi mendongkol juga, orang telah melancarkan serangan berulang kali kepadanya, dan serangan-serangan si lhama putih itu meiupakan serangan-serangan yang mematikan, maka Yo Ko bermaksud untuk mencoba-coba beberapa jurus bertempur dengan lhama putih yang galak ini.

Begitu lhama putih itu melancarkan serangan dengan Siang Cie Tian Hoat (totokan sepasang jari), tampak telah mengeluarkan suara siulan dan mengebaskan lengan jubah tangan kanannya yang kosong, karena tangan kanannya itu buntung, tampak lengan baju itu telah melibat lengan kanan dari lawannya, sekali saja Yo Ko menarik dan menghentaknya, maka pendeta lhama putih itu jadi terkejut dan dengan tangan kirinya dia menyerang akan menotok biji mata Yo Ko.

Yo Ko melepaskan libatan lengan jubahnya sambil melompat kebelakang.

"Cukup !"

Kata Yo Ko.

"Kepandaianmu tinggi sekali, taysu, percuma engkau mempertaruhkan jiwa hanya untuk urusan kecil seperti itu, yaitu hanya soal nama saja dan tempat yang jauh taysu ramai-ramai telah melakukan perjalanan yang panjang untuk melihat dan menentukan siapa yang lebih tinggi kepandaiannya diantara kita ! Bukankah itu merupakan hal yang sangat lucu sekali ?"

Tetapi Lhama puiih itu telah berkata dengan suara yang dingin .850

"Aku datang kemari dengan membawa firman dari raja kami .... tetapi sebelumnya kami ingin membuktikan diri benarkah engkau ini seorang jago besar dijaman ini ! Nah terimalah seranganku ... !"

Dan setelah berkata begitu dengan cepat sekali tampak Lhama putih itu telah menggerakkan tangan kanannya, angin serangannya itu berdesir menerjang kearah Yo Ko.

Tetapi Yo Ko mana bisa digertak dengan serangan seperti itu, sambil berseru keras dia mengibaskan lengan tangan kanannya yang buntung itu dan juga tangan kirinya telah bergerak menampar pergelangan tangan lawannya.

"Aduhhh ! Aduhhh !"

Lhama putih itu jadi menjerit kesakitan, sambil menarik pulang tangannya dia melompat mundur kebelakang.

tangan kirinya telah memegangi dan menguruti pergelangan tangannya yang dirasakan demikian sakit.

Ketiga puluh sembilan lhama merah lainnya jadi terkejut sekali melihat pemimpin mereka kena dibuat celaka oleh Yo Ko.

Dengan cepat cepat mereka memencar diri mengurung Yo Ko, mereka masing-masing telah mencabut sebatang pedang pendek yang tadinya mereka sisipkan di pinggang.

Melihat Lhama merah yang memiliki kepandaian tentunya tidak rendah itu telah mulai mengurung dirinya, Yo Ko bingung juga karena walaupun bagaimana dengan dikepung berlapis-lapis oleh keempat puluh Lhama itu tidak mudah dia bisa meloloskan diri.

Tetapi Yo Ko memiliki kepandaian yang benar-benar telah sempurna, dia bisa mempergunakan tangan kirinya yang tunggal itu sebaik mungkin.

Melihat dirinya dikepung begitu rapat.

Yo Ko tidak menjadi jeri, dia hanya memikirkan betapa lamanya dia harus membuang tenaga dan waktunya untuk menghadapi lawan-851 lawannya yang berjumlah banyak dan tampaknya rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi.

Saat itu pendeta jubah putih itu telah berkurang rasa sakit pada pergelangan tangannya, dia telah melangkah maju sambil ber seru.

"Hari ini aku ingin mengadu jiwa dengan kau ! Jika aku belum dapat kau binasakan, aku akan terus menyerang kepadamu ! Kata-Kata itu diucapkan dengan suara yang bengis, sekali diapun telah menjejakan kaki kanannya, tubuhnya meloncat cukup tinggi, waktu tubuhnya melambung ketengah udara itu, tampak lhama putih itu telah mengulurkan tangan kirinya menerjang Yo Ko, sedangkan tangan kanannya meraba pinggangnya, kemudian dengan cepat ditangan kanannya itu telah mencekal sebatang pedang pendek yang terus ditikamkan kearah tenggorokan Yo Ko. Yo Ko juga terkejut melihat cara menyerang pendeta itu yang tampaknya nekad sekali Dia mengeluarkan suara siulan nyaring, dengan kaki tunggal, yaitu dengan gerakan "

Kim Kee Tok Pit"

Atau "Ayam Emas Berdiri Di kaki Tunggal" , dia telah memutar tubuhnya, dan waktu pedang lawan lewat disamping lehernya Yo Ko mengulurkan tangan kirinya dia telah menyentil pedang itu !

Hebat kesudahannya dari sentilan itu karena pedang lawannya tergetar seperti juga akan terlepas dari cekalan tangan lhama putih itu.

Lhama putih itu jeri sekali karena dia merasakan telapak tangannya itu pedih bukan main akibat getaran sentilan tangan lawannya.

Ketiga puluh sembilan lhama merah yang menjadi anak buah lhama putih itu telah mengeluarkan suara seruan yang disusul dengan serangan pedang mereka masing-masing.

Menghadapi lawan yang demikian banyak dan melancarkan serangan ber tubi-tubi kearah dirinya, Yo Ko kuatir juga,852 Karena tidak mungkin dengan tangan kiri tunggalnya dia menghalau sekaligus pedang-pedang yang tengah menyambar kedirinya.

Maka jalan satu-satunya Yo Ko telah menjejakan kakinya, tubuhnya meloncat sejauh lima tombak itulah kegesitannya yang jarang sekali dimiliki orang-orang rimba persilatan masa kini, Keempat puluh orang lhama itu tampak merasa kagum juga melihat ginkang Yo Ko yang telah mencapai tingkat begitu tinggi dan sempurna.

Yo Ko bukan hanya sekedar melompat ke atas saja, dia telah mengeluarkan kepandaiannya.

Tangan kirinya bergerak kesekeliling tubuhnya, untuk melakukan totokan-totokan yang gencar kediri lhama-lhama itu.

Itulah salah satu jurus dari It Yang Cie yang telah dtrobahnya sedemikian rupa, sehingga jadi lebih hebat dari yang sebenarnya.

"Aduhhh...! Aduhhh ..!"

Lima orang lhama telah mengeluarkan suara jeritan tertahan mengandung kesakitan, dan lhama-lhama yang lainnya jadi tertegun sejenak, mereka tidak berani menerjang dulu, karena mereka melihat dengan mempergunakan satu jari saja Yo Ko bisa merubuhkan kelima kawan mereka.

Tetapi Lhama putih itu menjadi penasaran sekali, dia telah, berseru dengan marah.

"Hari ini aku akan mengadu jiwa dengan engkau, buntung....!"

Dan lhama putih itu tidak hanya berkata saja. Karena dia telah menggerakkan pedangnya untuk menikam kearah Yo Ko.

"Tunggu dulu, sabar. Jelaskan dulu mengapa kalian demikian nekad mencari urusan denganku ? mengapa kalian memusuhi aku, sedangkan kita tidak pernah saling bertemu ?"

"Jangan banyak bertanya, terimalah serangan !"

Dan pedang lhama putih telah meluncur terus akan menikam bahu Yo Ko.853 Tetapi semua serangan lhama itu dihadapi dengan baik oleh Yo Ko menggerak-gerakkan tangan kirinya dengan jurus-jurus It Yang Cie, dan juga lengan baju kanannya yang kosong itu dikibas-kibaskannya pula kesegala penjuru.

Kibasan lengan jubah itu bukan kibasan sembarangan, karena mengandung kekuatan yang sangat tinggi sekali, yaitu disaluri lwekang yang tangguh, maka jika ada lawan yang terkena sabetan lengan tangan baju Yo Ko, tentu orang itu akan tergempur hebat seperti dihantam lempengan besi.

Karena melihat lhama-lhama itu merupakan rombongan manusia yang sulit diajak bicara, kali ini Yo Ko juga tidak bersikap segan-segan lagi, dia mempergunakan lwekangnya, yang telah dilatih mencapai puncaknya, untuk menghadapi semua serangan yang dilakukan lawan-lawannya itu.

Si Lhama putih yang saat itu sedang kalap, kembali dia melancarkan serangan dengan jurus "Dewi Manyajikan Arak Untuk Sang Buddha" , maka pedangnya meluncur pesat tanpa memikirkan keselamatan dirinya lagi !

Yo Ko heran melihat kenekadan pendeta itu.

Pendeta-Pendeta yang mengurung dirinya umumnya merupakan jago-jago yang melatih ilmu Yoga.

=– HALAMAN 33 HILANG SALAH PENJILIDAN .P =– Yo Ko juga cepat menjura memberi hormat.

Jangan berkata begitu taysu.

Didalam dunia ini tidak ada perkataan tinggi dan rendah.

Setiap orang yang mempelajari ilmu silat, tidak boleh sekali-kali merasakan dirinya telah mencapai puncaknya.

Karena jika dia berpikir begitu niscaya akan menyebabkan orang tersebut tidak mengalami kemajuan lagi ..!

orang yang memiliki kepandaian tinggi, tentu akan ada yang lebih tinggi lagi, dan begitupun seterusnya...!

"854 Lhama putih itu telah menjura lagi, katanya .

"Omitohud ! Pinceng benar-benar merasa kagum dan tunduk ! terima kasih atas nasehat taihiap !"

Setelah berkata begitu lhama putih itu mengibaskan tangan kirinya memberi isyarat kepada kawan-kawannya, agar menyimpan pedang mereka.

Kemudian ketiga puluh sembilan orang lhama merah itu menekuk satu kaki mereka berlutut dihadapan Yo Ko.

Begitu juga dengan lhama putih.

Telah berlutut dengan kaki satu, sehingga membuat Yo Ko tambah bingung saja.

"Taihiap baginda Raja telah berpesan agar dengan cara apapun, aku harus dapat mengundang Taihiap.."

Jika kami gagal, tentu kami akan menerima hukuman yang sangat berat dari raja kami...."

Yo Ko tersenyum sabar.

"Kembalilah kenegerimu dan ceritakanlah yang sebenarnya, tentu rajamu itu akan mau mengerti dan juga akan mengampuni kalian. Aku berjanji, begitu urusanku didaratan Tiong goan ini selesai, aku segera akan berkunjung ke Persia "

"Tetapi Taihiap"..."

"Menyesal sekali aku tengah mengejar musuh yang telah menculik isteriku, tentunya Taisu semua mau mengerti kesulitanku ini!"

"Hmm"

Tiba-tiba Lhama putih itu telah mem perlihatkan sikap ber sungguh-sungguh.

"Jika Taihiap menolak undangan kami ini, berarti kami terpaksa harus mengadu jiwa denganmu....karena jika kami pulang dengan tangan kosong, itupun percuma saja ..berarti kami akan menerima hukuman mati .. dan lebih baik kami mempertaruhkan jiwa kami disini saja .. !!!"

Yo Ko tersenyum sabar, dia telah berkata dengan suara menghibur .

"Kepandaian para taysu memang sangat tinggi,855 mungkin dalam satu dua jurus aku bisa bertahan dari serangan-serangan kalian. tetapi setelah itu dengan mudah aku tentu dapat dirubuhkan kalian. Itulah kata-kata yang merendah dari Sin Tiauw Taihiap. walaupun sekarang ini dia terhitung sebagai pendekar super sakti yang tiada lawannya tokh dia masih membawa sikap yang manis tidak takabur atau congkak. Rombongan lhama itu jadi malu sendirinya, tetapi mereka serba salah, mundur tidak bisa maju pun tidak dapat. Jika mereka mengundurkan diri dan kembali ke Persia dengan tangan kosong, selain akan menderita malu juga mereka tentunya akan menerima hukuman dari raja mereka. Tetapi jika maju untuk menempur Yo Ko, jelas pula mereka tidak memiliki kesanggupan sampai kearah itu, tentu dalam beberapa jurus saja mereka akan dapat dirubuhkan oleh pendekar super sakti itu, hampir tidak bisa diterima oleh akal sehat ! "

Taihiap.. apakah sungguh-sungguh Taihiap tidak bisa ikut bersama kami ke Persia?"

Tanya lhama putih itu kemudian.

"Orang yang menculik isteriku itu merupakan jago dari Mongolia bergelar Tiat To Hoat ong. Dan aku sungguh-sungguh menyesal harus mengecewakan kalian Taysu, memang sesungguhnya aku tidak bisa ikut disaat seperti sekarang ini. Tolong sampaikan salamku kepada raja kalian, dan percayalah dalam satu atau dua tahun mendatang, jika urusanku telah selesai, aku akan berangkat ke Persia untuk menghunjuk hormat kepada raja kalian, dan juga untuk mengunjungi kalian agar kita bisa bertukar pikiran."

Lhama putih itu ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya dia mengangguk juga.

Memaksa Sih Tiauw Taihiap ikut mereka ke Persia sama saja dergan melakukan pekerjaan yang sia-sia, walaupun bagaimana tidak mungkin mereka bisa menandingi kepandaian Sin Tiauw Taihiap.856

"Baiklah Taihiap...nanti kami menantikan kedatangan Taihiap, dan kunjungan Taihiap =– .P HALAMAN 40 HILANG SALAH PENJILIDAN =– Dengan Kwee Siang, gadis ini seperti sudah tidak sabar lagi dan hendak keluar dari tempat persembunyiannya. Namun Phang Kui In telah memberikan isyarat agar mereka menahan perasaan mereka, karena disaat itu masih terdapat keempat puluh pendeta yang menjadi utusan raja Persia itu, tentu bisa menimbulkan urusan lainnya. Kwee Siang dan Yo Him menuruti isyarat Phang Kui In. Mereka telah berdiam diri memandang kearah Yo Ko dengan mata ber kaca-kaca sedangkan tubuh Kwee Siang sering menggigil karena begitu girang terharu dan berduka, bermacam-bermacam perasaan berkecamuk didalam hati gadis itu. Sekarang setelah Yo Ko berkata begitu, Yo Him dan Kwee Siang tidak bisa menahan perasaannya juga, mereka telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya.

"Ayah... !"

Berseru Yo Him dengan suara yang nyaring, dan menjatuhkan diri berlutut dikaki Yo Ko sambil menangis ter isak-isak. Sedangkan Kwee Siang dengan terharu juga telah berseru "Engko Yo !"

Dan gadis itu sudah tidak bisa berkata-kata lebih lanjut, karena air matanya telah mengucur deras sekali.

Yo Ko jadi berdiri tertegun melihat Yo Him berlutut dihadapannya, seorang pemuda tanggung yang mungkin baru berusia lima atau enam belas tahun.

Dia tidak mengenali pemuda ini, tetapi pemuda yang tidak dikenalnya itu telah memanggil dia dengan sebutan "Ayah!" , keruan saja Yo Ko jadi berdiri termangu seperti sedang bermimpi.857 Dan yang lebih menakjubkan hatinya dicampur perasaan heran, dia melihat Kwee Siang yang muncul sambil menangis terharu juga.

Kemudian tidak lama disusul dengan munculnya Phang Kui In, yang segera dikenal oleh Yo Ko.

"Adik Siang...kau ada disini ? Dan kau saudara Phang...mengapa kalian bisa berada bersama-sama ?"

Tanya Yo Ko masih dalam keheranan yang sangat. Phang Kui In maju mendekati Yo Ko, dia telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada pendekar sakti itu.

"Yo enghiong, apakah selama ini kau sehat-sehat saja ?"

Tanya Phang Kui In.

"Terima kasih saudara Phang ...tetapi yang membuat aku jadi heran adalah kalian yang bisa berada bersama-sama !, Apa yang terjadi. Dan engko kecil ini telah memanggil aku dengan sebutan "

Ayah!"

Siapakah anak ini sebenarnya ?"

Phang Kui In tersenyum sambil berkata .

"Memang mungkin sudah tiba waktunya kalian dipertemukan oleh Thian, maka terjadilah peristiwa hari ini ! Tidakkah Yo enghiong mengetahui siapa adanya engko kecil ini ! Dia bernama tunggal Him dan she Yo !"

"Yo Him,? ah, itulah nama yang sangat bagus sayangnya aku tidak mengetahui dimana adanya istriku itu mengapa bisa terjadi demikian kebetulan ?"

"Engko Yo. seharusnya engkau berterima kasih dan bergirang kepada Phang Enghiong, karena Phang Enghiong lah yang telah berusaha untuk mempertemukan kalian ayah dan anak .. Yo Him adalah puteramu yang diperoleh dari Encie Siauw Liong Lie ... !"

"A .. apa ?"

Tanya Yo Ko kaget sekali seperti disambar petir.858

"Adik kecil ini..... anakku?,"

Yo Him yang sudah tidak bisa menahan harunya, menangis menggerung-gerung sambil memeluki kedua kaki Yo Ko.

"Ayah, anakmu mengunjukan hormat....!"

Kata Yo Him diantara isak tangisnya.

Yo Ko segera berjongkok, dia telah memperhatikan Yo Him sejenak lamanya, dan dia melihat wajah Yo Him mirip dengan wajah dia seusia Yo Him.

Disamping itu mata dan hidungnya itu mirip dengan Siauw Liong Lie.

"Anakku.."!"

Tiba-tiba Yo Ko telah mengulurkan tangan tunggalnya itu untuk merangkul Yo Him, dan pendekar sakti yang super itu telah menangis terharu.

"Mana ibumu...mana ibumu, nak?"

Sambil menangis Yo Him menceritakan segala apa yang diingatnya, dia menceritakan dirinya dirawat oleh seekor burung rajawali yang besar sekali, dan dia tidak mengetahui dimana adanya sang ibu, karena Yo Him hanya tahu bahwa dia dibesarkan rajawali itu, sampai akhirnya dia telah diterbangkan keatas lembah dan diangkat anak oleh penduduk dikampung itu.

Mendengar semua itu Yo Ko jadi menghela napas dalam-dalam, tampaknya dia berduka sekali.

"Kasihan ibumu itu nak, dalam keadaan hamil justru kami menerima cobaan-cobaan yang tidak ringan, yaitu Tiat To Hoat ong selalu mencari urusan dengan kami bahkan akhirnya ibumu telah kena diculiknya oleh pendeta jahat itu "

Setelah berkata begitu.

Yo Ko menghela napas berulang kali dan memandang jauh.

Phang Kui Siang tersenyum terharu, mereka girang melihat pertemuan ayah dan anak ini, dimana pertemuan ini merupakan yang pertama kali sejak Yo Him dilahirkan.859 Setelah melepaskan rindunya kepada anak kandungnya itu, Yo Ko menoleh kepada Kwee Siang.

"Adik Siang mengapa kalian bisa bersama-sama ?"

Tanyanya, Kwee Siang menceritakan pengalamannya, dan YoKo jadi terharu mendengar gadis ini belasan tahun telah berkelana dalam kalangan Kang ouw hanya sekedar, untuk bertemu dengan dia dan Siauw Liong Lie.

"Terima kasih atas perhatianmu kepada kami, adik Siang"

Kata Yo Ko Kemudian.

Phang Kui In juga menceritakan pengalamannya.

Dan sepasang alis Yo Ko jadi mengkerut dalam-dalam waktu mendegar ketua Tiauw Pang yang bernama Ciong Lam Cie itu menawan mereka bertiga dan hendak menganiaya Yo Him.

"Memang orang she Ciong ini terlalu sekali !"

Kata Yo Ko kemudian setelah menghela napas lagi "Dan orang seperti itu memang harus diberikan pelajaran.

Jika tidak tentu orang she Ciong itu akan melakukan hal-hal yang tidak-tidak".

Waktu itulah tampak Phang Kui In melanjutkan ceritanya pula, dimana dia telah mengatakan bahwa mereka setelah tertawan oleh orang-orang Tiauw Pang itu, mereka berhasil meloloskan diri dan hanyut terbawa oleh user-user air.

Kembali Yo Ko menghela napas lagi, dia mendengarkan terus cerita Phang Kui In.

"Setelah kami pingsan tak sadarkan diri. ternyata kami telah dibawa oleh user-user air itu ketepi pantai sebuah pulau, disana kami bertemu dengan seorang jago tua yang memiliki kepandaian tinggi, hanya sayang kedua kakinya bercacad, sehingga dia tidak bisa bergerak leluasa walaupun kepandaiannya....."

"Siapakah jago yang buntung kedua kakinya itu?"

Tanya Yo Ko tertarik sekali.860

"Dia she Lie, bernama Bun Hap. Dia juga telah mengangkat Yo Him sebagai muridnya....selama dua tahun kami berdiam dipulau itu, di mana Yo Him telah meyakinkan ilmu yang diturunkan Lie Bun Hap Lo-enghiong."

Yo Ko girang mendengar itu.

"Jadi kepandaian Him-jie telah lumayan, juga?"

Katanya.

"Baiklah....jika kelak urusan kita telah selesai, yaitu mencari jejak pembunuh atau penculik dari isteriku itu, maka kita akan pergi ke Persia untuk memenuhi undangan raja itu, sekarang kita lebih baik pergi ke Kun Lun San untuk melihat apakah terdapat tanda-tanda bahwa istriku itu berada disana .. !"

Mendengar itu Yo Him cepat-cepat merogoh sakunya, dia mengeluarkan secarik kain berkembang. Diberikannya kain putih berkembang itu kepada Yo Ko.

"Ayah .. waktu Sin Tiauw ingin menghabiskan hidupnya dengan terjun kedalam jurang, sebelumnya dia telah menunjukkan kepadaku sebuah kuburan kecil yang ketika kubuka terdapat kain-kain ini !"

Yo Ko menerima carikan kain itu dan memperhatikan sejenak dan diwaktu itulah dalam keadaan hening dan semua orang membungkam menutup mulut, terdengar isak tangis Yo Ko.

"Benar.. ini adalah pakaian ibumu, pecahan dari bajunya... kalau begitu ... kalau begitu......ah, Yong jie, engkau telah mendahului aku ! Walau bagaimana penasaranmu itu harus dibalas, aku akan mencari Tiat To Hoat ong untuk mengadakan perhitungan dengannya."

Dan setelah berkata begitu tampak Yo Ko mendekap carikan kain dari baju isterinya itu kedadanya sambil menanggis keras terisak-isak.

Yo Him bertiga tidak berani berkata-kata, mereka hanya berdiam menundukkan kepalanya saja, diliputi perasaan haru861 melihat seorang pendekar sakti Seperti Yo Ko bisa menangis dengan keras terisak-isak seperti anak kecil saja.

Setelah puas menangis, tiba-tiba Yo Ko telah mengeluarkan suara meraung yang keras dan panjang, sampai sekitar tempat itu tergetar keras.

Yo Him bertiga jadi tambah terkejut, karena merasakan tubuh masing-masing menggigil, Yo Ko tertawa dengan suara yang sambung menyambung, dan tiba-tiba dengan diiringi suara bentakannya, tampak tubuhnya telah jongkok ditanah dan tangan tunggalnya itu telah bergerak cepat sekali.

"Siuttt, bukkk !"

Telapak tangan Yo Ko telah menghantam batang pohon besar yang terdapat disitu, sehingga memperdengarkan suara benturan yang keras sekali, disusul lagi dengan suara 'krekkk !' yang nyaring, maka batang pohon itu telah patah rubuh !

Itulah ilmu pukulan Hamokang, ilmu pukulan kodok yang diterima Yo Ko dari Auwyang Hong !

Tidak mengherankan jika batang pohon itu tumbang seketika begitu terkena pukulan tangan Yo Ko, sedangkan batu gunung yang besarpun jika terkena gempuran seperti itu akan lumat hancur.

Phang Kui In dan Kwee Siang yang melihat hebatnya tenaga serangan dari Yo Ko yang sekaligus bisa menumbangkan batang pohon itu, jadi meleletkan lidah mereka.

Sedangkan Yo Him sendiri telah memandang dengan wajah berseri-seri, karena dia bangga sekali memiliki seorang ayah yang demikian tangguh ilmu pukulannya.

Waktu itulah Yo Ko telah menghentikan tangisnya, karena dia telah berhasil melampiaskan kemendongkolan, dan juga dendam dihatinya lewat pukulan keras pada batang pohon itu Cepat sekali dia menoleh kepada Yo Him tangan anaknya itu dicekal keras.

"Ayah ....!"

Berseru Yo Him dengan suara tertahan karena dia kaget sekali begitu pergelangan tangannya kena dicekal862 oleh Yo Ko ayahnya, mendatangkan perasaan sakit bukan main, pergelangan tangannya itu seperti juga kena dijepit oleh jepitan besi.

Dalam hal ini memang Yo Ko telah mempergunakan tenaga yang cukup kuat dan sekali dia membentak "Rubuhlah", maka disaat itu juga tubuh Yo Him jadi terlempar tinggi sekali.

"Engko Yo ...!"

Berseru Kwee Siang, karena dia kuatir Yo Ko dalam kedukaan yang begitu mendalam telah mempergunakan tenaga yang besar dan diluar kesadarannva mencelakai anaknya sendiri.

"Yo Taihiap !"

Phang Kui In juga berteriak dengan suara yang gugup, karena dia melihat betapa tubuh Yo Him telah terlempar begitu keras.

Tetapi Yo Ko seperti tidak memperdulikannya, dia telah melompat lagi dengan cepat, dan tubuh Yo Him yang tengah meluncur turun itu telah disamber, baju dibagian punggungnya telah dicengkeram keras oleh sang ayah ini dan tampak Yo Ko menghentak lagi, tangannya maka disaat itulah tubuh Yo Him terlontar kembali dengan kuat, terlontar dengan lemparan yang mengandung kekuatan sulit diukur.

Yo Him sendiri kaget dirinya tahu-tahu di lemparkan begitu rupa oleh ayahnya.

Tetapi sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian cukup banyak yang diperolehnya dari beberapa orang, termasuk Lie Bun Hap, cepat sekali Yo Him bisa mengendalikan kaki dan tangannya berjumpalitan beberapa kali diudara dan meluncur turun ketanah dengan kedua kakinya terlebih dahulu.

Disaat itu Yo Ko tidak menerjang maju lagi, dia berdiri tegak sambil tertawa bergelak-gelak dengan keras, sehingga kembali tubuh Phang Kui In dan Kwee Siang tergetar menggigil dipengaruhi suara tertawa yang luar biasa itu.

Yo Him sendiri merasakan jantungnya tergoncang keras sekali ketika mendengar suara tertawa ayahnya itu, dia cepat-863 cepat mempergunakan tangannya untuk menutupi kedua telinganya.

Lama juga Yo Ko tertawa seperti itu sampai akhirnya dia telah berhenti sendiri.

Diawasinya Yo Him yang saat itu masih menutupi kedua telinganya.

"Anak baik, ternyata engkau benar-benar telah memiliki ilmu yang lumayan. Dengan memiliki dasar seperti itu tentu tidak sulit lagi buatku menurunkan semua kepandaian yang kumiliki. Mari, kemarilah nak ... !"

Yo Him baru mengerti bahwa ayahnya hanya menguji kepandaian saja, hatinya jadi tenang kembali dan dia membuka tutupan kedua tengannya pada kedua telinganya.Lalu dia menghampiri ayahnya.

Yo Ko mengulurkan tangannya yang kiri itu untuk mengusap usap kepala anaknya.

"Saudara Phang !"

Kata Yo Ko kepada Phang Kui In . Cepat-cepat Phang kui In menghampirinya.

"Ada apa Taihiap ?"

Tanya orang she Phang itu. Yo Ko telah menggerakkan tangan kirinya untuk memberi hormat, kemudian katanya.

"Terima kasih atas usaha dan bantuanmu sehingga kami ayah dan anak bisa berkumpul kembali ! Kami sangat berterima kasih sekali padamu, saudara Phang, dan katakanlah jika engkau memiliki suatu permintaan, aku tentu akan memenuhinya...!"

Phang Kui In cepat-cepat merangkapkan kedua tangannya memberi hormat, dengan rendah hati dia telah berkata.

"Mana berani aku yang rendah memikirkan hal yang tidak-tidak! Asal kalian ayah dan anak telah berkumpul kembali, itupun telah membuat hatiku puas..!"

Yo Ko sekali lagi mengucapkan sukur dan terima kasihnya.864

"Mari kita mencari rumah penginapan. di sana nanti kita bisa bercakap-cakap dengan leluasa.. !"

Kata Yo Ko, Yang lainnya menyetujui dan mereka telah kembali kekota dan mencari sebuah rumah penginapan yang tidak begitu besar.

Yo Ko banyak mendengarkan cerita Yo Him, betapa terharunya Yo Ko waktu mendengar penderitaan Yo Him sebagai anak yang jauh dari kedua orang tuanya.

Tetapi betapa bangganya hati Yo Ko waktu mendengar Yo Him mengikat tali persaudaraan dengan Wie Tocu.

Betapa hebatnya anak ini dalam usia sekecil itu telah bisa mengikat tali persahabatan dengan tokoh persilatan yang ternama seperti Wie Tocu.

"Memang engkau merupakan anak yang hebat, Him jie !"

Memuji Yo Ko Phang Kui In juga banyak bercerita mengenai kegagahan Yo Him.

Phang Kui In menceritakan kepandaiannya sendiri.

Diceritakan juga oleh Phang Kui In pertempuran-pertempuran mereka yang cukup hebat menghadapi orang-orangnya Tiauw Pang .

Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam, dan ketika kentongan telah dipukul dua kali, disaat malam telah larut mereka baru masuk tidur.

Yo Ko, Yo Him dan Phang Kui In tidur dalam sebuah kamar, sedangkan Kwee Siang tidur dikamar lainnya.

Sebelum tidur, Kwee Siang juga bercakap-bercakap lama sekali dengan Yo Ko.

Dia merasakan kerinduannya kepada pendekar sakti she Yo itu agak berkurang dengan adanya pertemuan ini.

Keesokan paginya sambil dahar makanan pagi, mereka telah bercakap-cakap lagi.

Banyak dan ada-ada saja yang diceritakan, oleh mereka.

Bahkan Yo Ko telah menceritakan,865 sejak dia kehilangan isterinya yang diculik oleh Tiat To Hoat-ong, hidupnya jadi serba sepi dan sengsara.

Telah dijelajahinya seluruh daratan Tionggoan, dan selama itu pula Yo Ko tidak hentinya mengalami banyak pertempuran.

"Mungkin tahun ini pasukan Kublai Khan akan menyerbu kedaratan Tionggoan untuk memukul kerajaan Song. Dua tahun terakhir ini aku sibuk sekali menghimpun jago-jago yang cinta tanah air untuk bantu mempertahankan negeri. Tetapi Kublai Khan memiliki banyak sekaii orang-orang pilihan, maka kemungkinan kami bisa mempertahankan daratan Tionggoan dari injakan kaki orang Mongolia itu tipis sekali...."

Dan setelah berkata begitu Yo Ko menghela napas berulang kali.

Phang Kui In bersama Yo Him dan Kwee Siang jadi berdiam diri saja, mereka telah memandang kearah YoKodengan sorot mata yang seperti, meminta keterangan lebih jauh.

Waktu itu Yo Ko telah memandang jauh keluar jendela.

Kemudian sambil menghela napas sekali lagi dia berkata .

"Sesungguhnya, jika aku memusatkan seluruh perhatianku untuk mencari jejak musuh besarku itu yang telah mencuiik Yong-jie bisa saja aku menemui jejaknya tanpa bersusah payah. tetapi justru urusan pribadi itu masih kurang penting jika dibandingkan dengan keselamatan negeri, maka dari itu aku telah menghabiskan waktu belasan tahun untuk menggalang para orang gagah untuk membela negara ... tentu saja jika tentara mongolia sempat memasuki daratan Tionggoan, habislah harapan kita untuk selamanya kita akan menjadi negeri jajahan. Phang Kui in jadi terharu. Betapa besarnya jiwa pendekar sakti ini, karena urusan pribadinya bisa dikesampingkan, dan dia bersedia untuk mengorbankan urusan pribadinya demi membela tanah air. Phang Kui In jadi menghormati Yo Ko. Kwee Siang telah berkata .

"Sungguh manusia yang jahat sekali Tiat To Hoat-ong... dan mengapa encie Liong bisa866 diculik oleh Tiat To Hoat-ong bukankah kepandaian enci Liong itu berimbang dengan kepandaian engko Yo?"

Yo Ko menghela napas dalam-dalam.

"Kukira didalam urusan ini terselip sesuatu, yaitu pihak musuh melakukan perbuatan hina-dina dengan akal licik untuk merubuhkan Liong-jie" .tetapi...tetapi jika memang Liong-jie binasa"

Tentu dia tidak akan bisa melahirkan dan kenyataannya Yo Him kini telah berusia lima belas tahun, dan memiliki secarik kain baju ibunya, dengan demikian berarti Siauw Liong Lie bisa meloloskan diri dari penculiknya itu, karena dia masih sempat melahirkan Yo Him.

Dugaanku Liong-jie tentu bisa meloloskan diri dan selamat, hanya dia entah bersembunyi dimana.....

Jika menurut Yo Him dia dirawat oleh rajawali sakti, dan akhirnya setelah berusia enam tahun dia dibawa naik dari lembah dan diangkat anak oleh seorang penduduk dikampung dekat kaki Kun Lun San.

Hai Hai Liong-jie, entah apa yang telah terjadi pada dirimu !"

"Bagaimana jika sekarang kita menuju ke Kun Lun San. untuk melihat-lihat keadaan didalam lembah itu"

Tanya Kwee Siang.

"Bukankah dengan demikian kita bisa mencari jejak dari encie Liong. Sehingga kita bisa memperoleh kepastian, yaitu encie Liong itu telah meninggal atau memang masih hidup dan hanya bersembunyi disuatu tempat....."

Saran yang diberikan oleh Kwee Siang merupakan saran yang baik dan disetujui oleh Yo Ko dan Phang Kui In.

"Tetapi jarak dan tempat ini menuju ke Kun Lun San masih terpisah jauh, mungkin memakan waktu perjalanan hampir setengah tahun ....!"

Kata Yo Ko lagi kemudian.

"Hal itu tidak menjadi persoalan yang terpenting kita bisa mencari tahu apa yang telah terjadi didiri encie Liong...."

"Benar !"

Phang Kui In juga ikut bicara "

Lebih baik kita memeriksa keadaan dilembah dimana Yo Him pernah dibesarkan oleh burung rajawali itu ...ditempat itu kita bisa867 menyelidiki sesungguhnya apa yang telah terjadi didiri Siauw Liehiap.

Tiba-tiba Yo Him yang disamping ayahnya, telah teringat pada segundukan tanah kuburan yang memiliki pintu rahasia sehingga Yo Ko bisa keluar dan masuk kedalam kuburan itu.

"Ayah, sebetulnya untuk apakah kuburan rahasia itu....Maukah ayah menjelaskannya?" ' kata Yo Him. Yo Ko jadi berobah murung dan menghela napas dengan wajah yang berduka, dia telah berkata.

"Itu adalah sebuah kuburan untuk kenang-kenangan dan sengaja kubuat untuk mengenang Liong jie. ibumu....dulu waktu aku masih kecil, banyak orang yang menghina, hanya ibumu yang tidak menghina dan memperlakukan aku dengan baik, bahkan aku telah diijinkan tinggal didalam kuburan Mayat Hidup, di mana ibumu yang mengurusnya. Dan aku juga telah dididik ilmu silat tingkat tinggi, sampai akhirnya aku bisa memiliki kepandaian yang sangat tinggi seperti sekarang ini! Untuk mengenang kebaikan! ibumu itu, sengaja aku membuat kuburan ini dan jika aku tengah rindu terkenang kepada ibumu, aku bersemadhi didalam kuburan, untuk menenangkan hati yang sering tergoncang...!"

Mendengar perkataan ayahnya, hati Yo Him jadi terharu sehingga dia menitikkan air mata.

Sedangkan Kwee Siang dan Phang Kui In juga jadi terharu dan semakin menghormati.

Rupanya cinta Yo Ko kepada isterinya itu sangat suci dan murni.

Waktu itu mereka telah merencanakan esok hari untuk berangkat ke Kun Lun San.

Malam itu mereka tidur dengan nyenyak.

Waktu matahari baru terbit diufuk Timur justru mereka telah siap untuk berangkat.

Setelah membayar ongkos sewa kamar dan barang makanan yang mereka makan, Yo Ko868 bersama Yo Him, Kwee Siang dan Phang Kui In telah membeli empat ekor kuda.

Yang mereka pergunakan masing-masing itu merupakan kuda-kuda pilihan, yang bisa berlari seribu lie dalam satu hari, karena selain tinggi besar dan tegap, juga kuda mereka itu merupakan kuda dari Mongolia yang terkenal sangat kuat.

Tanpa mengenal istirahat mereka telah melakukan perjalanan, dan setengah bulan mereka melakukan perjalanan, keempat orang ini telah sampai dikota Kiang-cie-kwan, sebuah kota yang tidak begitu besar, tetapi padat penduduknya.

Yo Ko mengajak Yo Him dan Kwee Siang bersama Phang Kui In untuk bermalam dikota ini.

"Telah belasan hari melakukan perjalanan tanpa mengenal waktu. Dikota ini kita beristirahat dua hari dulu, untuk memulih tenaga kita ... !"

Kata Yo Ko.

Yang lainnya setuju.

Mereka memilih rumah makan yang tidak begitu besar.

Sebagai kota kecil, rumah makan ini juga tidak begitu ramai .

Waktu Yo Ko, dan yang lainnya melangkah masuk, ada seseorang didalarn rumah makan itu tengah berseru keras .

"Memang aku tanpa tanding! Siapa yang bilang aku takut untuk menghadapi Sin Tiauw Si buntung itu ? Hmmm, Taihiap! Taihiap apa sekali kugerakkan kedua tanganku dia akan segera dapat kumampuskan .... !"

Dan kemudian disusul dengan suara tertawa bergelak-gelak dari orang itu.

Yo Ko telah menatap kearah dalam, dia melihat orang yang mengeluarkan kata-kata sombong itu adalah seorang pemuda pelajar yang memiliki raut muka sangat kasar sekali, dengan kumis jenggot yang kasar dan kaku.

Dilihat dari bentuk tubuhnya, tentunya dia seorang akhli gwakee (tenaga luar).

Tanpa memperdulikan orang itu, walaupun mengetahui dirinya yang dimaksudkan oleh orang itu dengan perkataan Sin Tiauw si buntung869 Yo Ko telah mengajak Phang Kui In, Kwee Siang dan Yo Him duduk dikursi yang didekat jendela, terpisah cukup jauh dengan pemuda pelajar bermuka kasar itu.

Saat itu, pelajar bermuka kasar itu telah berkata kepada kawannya yang ada dihadapannya, yaitu seorang tojin berusia diantara enam puluh tahun.

"Sekarang juga engkau cari si buntung itu, aku akan melayaninya, tunggu disini.....!"

Tojin itu telah tersenyum sabar. >>o0o^d!w^o0o<<

Jilid 25

"JANGAN terlalu terkebur, Hengtai,"

Kata pendeta itu.

"Jangankan engkau yang hanya memiliki kepandaian bisa dihitung dengan jari, sedangkan Ciangbunjin-ciangbunjin dari berbagai perguruan silat ternama, seperti Siauw Lim Sie dan lainnya tidak ada yang berani membentur Sin Tiauw Taihiap Apalagi yang memiliki kepandaian sedikit, tentunya sekali saja Yo Taihiap menggerakan lengan baju kanannya yang tidak berlengan itu, engkau sudah akan meraung-raung meminta ampun."

Muka pelajar yang wajahnya kasar itu jadi berobah tidak senang, tangan kanannya telah dipergunakan untuk memukul meja, sehingga ada dua cawan yang terbentur dan jatuh kelantai menimbulkan suara berisik karena cawan-cawan yang jatuh itu telah hancur.

"Sabar Hiantee (adik), engkau tampaknya begitu bernapsu sekali ingin menguji ilmumu dengan Sin Tiauw Taihiap. Jika memang telah bertemu dengannya, engkau tentu akan cepat-cepat ambil langkah seribu."

"Jangan terlalu menghina begitu Totiang", kata pelajar muka kasar itu.

"Aku Bong Siu Kang, tidak pernah mengenal apa itu perkataan takut. Dalam hal ini memang engkau belum pernah menyaksikan aku bertempur Totiang ! Nanti jika aku bisa mencari jejak si buntung itu akan ku .. , haappppp !"

Dan orang she Bong itu telah menjerit terkejut, karena tahu-tahu ada sebatang sumpit yang telah menyamar dan menghantam giginya.

Tepat sekali hantaman itu karena sumpit tersebut telah menghantam terlepas gigi didepan pemuda itu.

sehingga gigi itu rontok menimbulkan perasaan Sakit yang bukan main.

Ternyata Phang Kui In yang melihat kekurang ajaran orang she Bong itu, karena mendongkol sekali dia telah menyambitkan sumpitnya kedalam mulut pemuda sombong itu.

Setelah tersadar dari sakit dan terkejutnya, Bong Siu Kang telah melompat berdiri dengan muka merah padam karena marah.

"Siapa yang lancang mempermainkan aku Bong Siu Kang. jago tanpa tanding ini !"

Teriak Bong Siu Kang dengan suara yang garang.

"Aku .... !"

Menyahuti Phang Kui In dengan suara yang dingin.

"Apakah engkau tidak senang ?' Muka Bong Siu Kang semakin merah, karena dia sangat gusar sekali. Kemudian dia melangkah dengan kaki lebar menghampiri Phang Kui In, sedangkan Yo Ko dan yang lainnya hanya mengawasi saja Merekapun sebal sekali melihat sikap sombong Bong Siu Kang, hanya mereka menahan tertawa sendiri, sebab melihat betapa mulut Bong Siu Kang telah berlumuran darah merah dari giginya yang copot.871

"Kamu lancang tangan berani menghina tuan besarmu, heh ?"

Sambil membentak begitu, tangan Bong Siu Kang telah bergerak melancarkan serangan.

Dia mempergunakan jurus "Mie Hong Ciu Tang atau Mie Hong gemar arak dewa" , kedua kepalan tangannya itu bergerak seperto orang yang tengah menyuguhi persembahan arak, yang diincernya adalah punggung Phang Kui In.

Tetapi Phang Kui In tetap duduk diam sama sekali tidak bergerak.

Dia membiarkan pukulan Bong Siu Kang mengenai punggungnya, diam-diam dia telah mengerahkan tenaga lwekangnya yang disalurkan kepunggungnya.

"Bukk !"

Suara benturan antara kepalan tangan Bong Siu Kang dengan punggung Phang Kui In terdengar keras dan disaat itu juga terdengar jeritan dari Bong Siu Kang, karena tubuhnya telah terlempar kelantai.

Rupanya walaupun Phang Kui In tidak mengadakan penangkisan terhadap serangan lawannya.

Tetapi dia telah mengembalikan tenaga serangan lawannya melalui tenaga lwekangnya yang memenuhi pundaknya.

Maka tidak mengherankan ketika kepalan tangan Bong Siu Kang menghantam, segera tenaga serangan itu berbalik kembali, sehingga tubuh orang she Bong itu terlempar bergulingan di lantai.

Tetapi Bong Siu Kang penasaran sekali dan tidak pernah mengenal menyerah.

Walau pun dia telah kena diserang dengan cara mengembalikan tenaga lweekang, membuktikan bahwa tenaga serangan itu sangat kuat, dan tentu pemiiiknya memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.

Dengan mempergunakan gerakan "Lee Ie Ta Teng"

Atau "Ikan Gabus Meletik", tubuh Bong Siu Kang telah melompat tinggi dan berada didekat Phang Kui In.872

"Kau ... mempergunakan ilmu siluman! Jika memang engkau seorang hohan, layanilah seranganku dengan jujur" . Phang Kui In jadi tambah sebal kepada orang she Bong tersebut, yang dianggapnya tidak tahu diri. Dengan ayal-ayalan Phang Kui In berdiri dari duduknya, sedangkan Yo Ko hanya tersenyum-tersenyum saja dan Yo Him bersama Kwee Siang tidak memperdulikan semua itu, mereka tengah bicara dengan asyik.

"Apa yang kau kehendaki lagi ?"

Tanya Phang Kui In dengan suara yang dingin, dia juga sengaja membuka matanya lebar-lebar untuk menyelidiki lawannya itu.

"Aku menghendaki kau melayani aku dengan cara hohan "

Kata Bong Sui Kang.

"Caranya?"

"Engkau harus mempergunakan kedua tanganmu, tidak seperti tadi engkau mempergunakan ilmu siluman"

"Ilmu Siluman !"

"ya engkau memiliki ilmu siluman, tidak keruan !, aku yang memukul dirimu, tetapi toh justru aku yang telah terpental. Bukankan dengan demikian membuktikan bahwa engkau mempergunakan ilmu siluman ?"

Mendengar perkataan Bong Siu Kang, nampak Phang Kui In tertawa tergelak-tergelak. Muka Bong Siu Kang jadi berobah merah padam karena dia merasa tersinggung.

"apa yang kau tertawakan ?"

Bentaknya dengan suara yang aseran, karena dia mengetahui Phang Kui In tertawa begitu tentunya dengan maksud mengejeknya.

Phang Kui In telah berhenti tertawa.873 Kemudian dengan muka yang sungguh-sungguh dia berkata .

"engkau terlalu takabur !. tadi aku bukan mempergunakan ilmu siluman, tetapi justru kepandaianmu yang masih terlalu rendah ! aku tadi telah mempergunakan lwekangku untuk mengembalikan tenaga seranganmu, sehingga engkau jadi jungkir balik begitu rupa ! Hemm, karena itu engkau harus melatih diri selama dua puluh tahun lagi barulah engkau bisa memahami ilmu itu !"

Keruan saja Bong Siu Kang jadi tambah marah.

"Bangsat kecil, kau ingin menggertakku dengan ilmu silumanmu itu ? Hemm, Hemm, aku Bong Siu Kang tidak akan takut menghadapi siapapun juga, terimalah seranganku yang kali ini...!"

Dan dia bukan hanya berkata karena dia telah mengerakkan tangan kirinya dengan jurus air terjun menimpa bumi, dan disusul dengan jurus terjangan badai mengamuk pada naga, merupakan jurus kedua yang cukup lumayan kerasnya.

Tetapi buat Phang Kui In mana dia memandang sebelah mata kepandaian orang she Bong itu.

Dengan mengeluarkan seruan kecil dia berkelit kesamping, tahu-tahu dia telah berada dibelakangnya Bong Siu Kang.

dan kemudian menepuk bahu orang she Bong itu perlahan sekali.

"Aku disini...!"

Katanya sambil tersenyum lagi.

Semangat Bong Sui Kang seperti terbang meninggalkan raganya, cepat-cepat dia memutar tubuhnya dan menggerakkan kedua tangannya berulang kali untuk mencecar diri Phang Kui In.

Tetapi Phang Kui In dengan mudah bisa mengelakkan diri dari serangan-serangan lawannya, sama sekali dia tidak membalas menyerang.

Bong Siu Kang jadi tambah penasaran, berulang kali dia mengamuk sambil mengulangi serangan-serangannya seperti juga orang kesurupan hantu saja.874 Namun Phang Kui In tetap tidak mau membalas menyerang.

Namun setelah lebih dari empat puluh jurus, disaat itulah dengan cepat sekali Phang Kui In mencengkeram tangan kanan orang she Bong itu.

"Aduhhh... !"

Menjerit Bong Siu Kang ketika tangannya dicekal dengan keras sekali.

Tetapi suara jeritan kesakitan itu belum lagi habis diucapkannya, tiba-tiba tubuhnya telah diangkat oleh Phang Kui In, lalu dilemparkannya dengan kuat sekali melambung ketengah udara, Lemparan Phang Kui In itu cukup keras, karena telah disertai oleh tenaga Iwekangnya sebanyak empat bagian.

Dalam keadaan demikian, Bong Siu Kang hanya bisa menjerit saja, dan tuhuhnya terbanting keras diatas lantai, diam tidak berkutik la gi karena dia telah rubuh pingsan.

Semua tamu-tamu lainnya jadi berdiam diri dengan tertegun karena dikota mereka ini, Bong Siu Kang boleh dibilang sebagai jagonya dan tidak ada orang yang berani berurusan dengannya, tetapi kini dengan begitu mudah telah dirubuhkan oleh Phang Kui In, sehingga mereka jadi duduk bengong saja ditempat masing-masing sambil memandang kepada Phang Kui in dengan sorot mata menunjukan kekaguman.

Waktu itu Phang Kui In telah memutar tubuhnya hendak kembali kekursinya.

Tetapi belum lagi dia duduk, telah ada yang berseru kepadanya.

"Tahan dulu, sahabat .... !"

Phang Kui In telah menoleh dan mengawasi orang yang menegurnya itu.

Dilihatnya orang yang menegurnya itu tidak lain dari pada si tojin yang tadi bercakap-cakap dengan Bong Siu Kang.

Cepat-cepat Phang Kui In telah berkata dengan suara yang ramah.

"Ada petunjuk apakah totiang." .

"875 Tojin itu tidak segera menyahuti, dia telah mengawasi Phang Kui In beberapa saat lamanya, sampai Phang Kui In tidak sabar sendirinya "

Katakanlah Totiang jika memang engkau memiliki petunjuk. Kalau engkau tidak memiliki urusan apa-apa, maafkan aku akan kembali kemejaku."

Tojin itu telah tersenyum mengejek.

"Aku bergelar Cing Siu Cinjin."

Katanya "Cing Siu Cinjin"? tanya Phang Kui-In.

"Aku serasa pernah mendengar gelaran Totiang."

Kemudian dia memperhatikan baik-baik tojin itu.

dia melihat orang memiliki muka berbentuk segi tiga, dadanya dada burung, membusung keluar dan tubuhnya tidak gemuk juga tidak kurus.

Matanya yang agak luar biasa, memandang Phang Kui In dengan sinarnya yang tajam sekali.

"Tadi pinto telah beruntung bisa menyaksikan kiesu (orang gagah), merubuhkan Bong Siu Kang, anak itu memang suka sekali berlaku sombong dan takabur. Tetapi, sebagai orang rimba persilatan jika melihat ada orang yang memiliki kepandaian tinggi membuat tangan menjadi gatal karenanya. Maka jika kiesu tidak keberatan, pinto ingin minta beberapa jurus petunjuk dari kiesu !"

Cepat-cepat Phang Kui In merangkapkan tangannya, dia telah menjura memberi hormat kepada tojin tersebut.

"Maafkan totiang, kepandaianku tidak berapa tinggi, aku hanya mengerti satu dua jurus saja,"

Katanya merendahkan diri dengan sikap yang manis sekali.

"Maka dari itu aku mana bisa menghadapi Totiang"

Tojin itu tertawa tawar.

"Biar saja Kiesu merendahkan diri! Tadi aku telah sempat menyaksikan kepandaian Kiesu ini, mungkin juga lebih tinggi876 dibandingkan dengan kepandaianku, tetapi karena aku tertarik sekali dan ingin mencoba-coba dengan kepandaian kiesu, hendaknya kiesu tidak keberatan dan tidak menolaknya ... !"

Selesai berkata, dengan gerakan yang ayal-ayal an dia telah mencabut pedangnya yang diatas punggungnya, dan kebutan hudtimnya itu dicekal ditangan kiri.

"Majulah Kiesu, mari kita coba-coba ..!"

Kata tojin itu.

Phang Kui In jadi kikuk juga.

Dia tidak mengenal siapa adanya tojin itu, tetapi orang ini telah mendesak dia terus menerus, sehingga membuat dia tidak memiliki pilihan lainnya.

Hanya disaat itu Phang Kui In menoleh dulu kepada Yo Ko, dimana Sin Tiauw Taihiap telah mengangguk perlahan, tanda setuju Phang Kui In bertempur dengan tojin itu.

"Baiklah Totiang", kata Phang Kui In kemudian.

"Karena Totiang mendesak terus, terpaksa aku memberanikan diri untuk menerima petunjuk .... !"

Kemudian tangan kanannya mencekal gagang goloknya dan "Sreenggg !", golok itu telah dicabutnya keluar dari serangkanya.

"Mulailah !"

Kata tojin itu seperti tidak sabar.

Phang Kui In tidak menunda-menunda lagi, karena dia juga telah habis sabar melihat tingkah dari tojin itu.

Dengan mengeluarkan suara teriakan "Awas serangan!", tampak golok Phang Kui In secepat kilat membacok kearah lengan si tojin.

Tetapi tojin itu memiliki kepandaian tidak rendah, begitu melihat datangnya serangan golok lawannya, dia telah mengeluarkan suara tertawa mengejek dan menangkis dengan, pedangnya.877 Tojin itu bukan hanya menangkis saja, karena dengan cepat sekali hudtim ditangan kirinya telah dikebutkan kemuka Phang Kui In.

Kebutan itu terdiri dari bulu-bulu yang halus, tetapi ditangan seorang akhli lwekang seperti tojin itu, bulu-bulu hudtim yang terbuat dari benang-benang emas campuran baja itu, jadi luar biasa kerasnya.

Hudtim itu merupakan senjata lemas sekali, tetapi jika dikerahkan tenaga lwekang pada bulu-bulu itu, maka hudtim itu bisa tegak lurus kaku, sehingga bisa dipergunakan juga untuk menotok jalan darah lawan.

Dalam keadaan demikianlah tampak Cing Siu Cinjin telah menggerakkan Hudtimnya itu mengincer jalan darah yang mematikan diperut Phang Kui In.

Yo Ko yang menyaksikan pertempuran itu jadi terkejut juga, karena tojin itu telah mempergunakan gerakan yang mematikan.

Maka dari itu, dapat diduga bahwa tojin ini bukan dari golongan baik-baik se tidak-tidaknya dia merupakan tojin dari golongan hitam.

Waktu itu Phang Kui In tidak menjadi gugup karenanya, dia telah mengeluarkan suara bentakan nyaring sambil mengelakkan diri dari totokan hudtim si tojin.

Lalu dengan tidak membuang waktu lagi tampak Phang Kui In telah memutar goloknya akan menabas leher si tojin.

Melihat datangnya serangan yang begitu hebat dan kuat, Cing Siu Cinjin tidak berani berlaku ayal.

Dia telah menarik pulang hudtimnya dan kemudian mempergunakan pedangnya menangkis serangan yang dilancarkan Phang Kui In.

Phang Kui In tidak ingin membenturkan goloknya pada pedang lawan, sebelum pedang dan golok saling bertemu.

Phang Kui In telah menarik pulang kembali goloknya itu, tojin878 tersebut juga telah menyadari bahwa dirinya kali ini telah bertemu dengan lawan berat.

Dengan mengeluarkan suara siulan nyaring tampak tojin itu telah menggerak-gerakkan kedua senjatanya, yaitu hudtim dan pedang itu bergantian.

Cara menyerangnya juga cepat, sinar pedang itu telah berkelebat-berkelebat mencari sasaran yang mematikan, terlebih lagi dengan dibantu oleh hudtimnya yang setiap kali mengancam akan menotoknya membuat Phang Kui In jadi terdesak hebat.

Telah lebih dari lima puluh jurus mereka bertempur, dan Phang Kui In tampak berada dibawah angin.

Yo Ko sedang menyaksikan pertempuran itu dan ketika melihat keadaan Phang Kui In, dia telah menoleh kepada Yo Him.

"Him jie, coba engkau yang menghadapi tojin itu, aku ingin melihat sampai dimana ke pandaianmu !"

Tentu saja perintah ayahnya itu menggembirakan hati Yo Him.

"Baik ayah . aku akan coba-coba minta pengajaran dari totiang itu.. !"

Waktu Yo Him berdiri dari duduknya, di saat itu Yo Ko telah berteriak nyaring .

"Saudara Phang, kau mundur, biarkan Himjie yang menghadapinya ... !"

Phang Kui In yang sedang terdesak begitu hebat, tidak berani membantah perintah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.

Dia telah menggerakkan goloknya yang menyambar cepat sekali kearah leher lawannya dengan gerakan yang menyimpang, menabas dari kiri kekanan.

Gerakan yang dilakukan Phang Kui In memaksa Cin Siu Cinjin melompat mundur mengelakkan diri untuk879 menyelamatkan lehernya dari sambaran golok jago she Phang tersebut, dan kesempatan seperti itu telah dipergunakan sebaik mungkin oleh Phang Kui In untuk melompat mundur menjauhi diri dari tojin itu.

Yo Him juga tidak tinggal diam, waktu melihat Phang Kui In melompat mundur, dengan cepat anak itupun telah melompat ketengah gelanggang.

Dia telah merangkapkan kedua tangannya sambil katanya.

"Totiang aku yang muda ingin meminta petunjuk dari kau !"

"Hati-hati Him-jie dia memiliki Kepandaian yang tinggi sekali...!"

Phang Kui In telah memperingatinya.

Yo Him hanya mengangguk Sedangkan Cin Siu Cinjin telah berobah mukanya menjadi merah padam, karena dengan majunya Yo Him yang masih begitu muda, juga pipi si imam telah ditanpar oleh Yo Him.

"Bocah tidak mengenal mampus, apakah engkau memang ingin mengantarkan jiwa ?"

Tegurnya dengan suara yang menggeletar keras. Lalu Cing Siu Cinjin telah menoleh memandang kepada Phang Kui In.

"Hey orang she Phang rnengapa engkau memajukan anak kecil ini. apakah engkau tidak merasa kasihan jika dia binasa ditanganku ?"

Bentakan itu keras, dan mata Cing Siu Cinjin juga merah, menunjukkan bahwa dia tengah diliputi kemarahan yang sangat. Disaat itu Yo Him telah berkata dengan suara yang dingin .

"Walaupun aku masih berusia muda, belum tentu dapat dirubuhkan oleh Totiang...!"

Mendengar perkataan Yo Him, imam itu bertambah marah, dengan mengangguk-nganggukan kepalanya dia telah berkata.

"Baik, baik, baik! Engkau sendiri yang telah mencari mampus dengan mengantarkan jiwamu secara cuma-cuma!" 880 Setelah berkata begitu, dengan sikap yang mengancam tampak pendeta itu telah menggerakan kebutan Hudtimnya dan mengibaskan pedangnya.

"Srinnng.....!"

Pedang tojin itu telah menyambar dengan cepat kearah dada Yo Him.

Gerakan itu tetah membuat Yo Him jadi kagum juga, karena dengan melihat jurus yang dipergunakan oleh Cing Siu Cinjin segera diketahui bahwa kepandaian imam itu telah tinggi.

Tetapi sebagai seorang pemuda yang telah menerima gemblengan dari tokoh-tokoh sakti Yo Him tidak gentar menghadapi serangan seperti itu.

Dengan tenang dia menantikan tibanya serangan pedang lawan, itu dengan gesit, sekali dia menyentil pedang si tojin dengan gerakan It Cie Cut Hun atau satu jari mencabut jiwa maka dengan terdengarnya suara ‘tranggg’ yang cukup nyaring pedang imam itu telah terlepas dari cekalannya.

Muka si pendeta jadi berobah pucat dan dia telah berdiri tertegun mengawasi kearah lawannya yang masih muda sekali.

Dia tidak habis mengerti waktu pedangnya tadi disentil oleh pemuda itu, dia merasakan betapa pedangnya itu tergetar dan juga telapak tangannya pedih sekali, lalu tanpa dikehendakinya pedangnya terlepas dan menancap dilantai.

Keruan saja Cing Siu Cinjin jadi terkejut dan dia berdiri bengong sesaat lamanya, Waktu itu Yo Him telah berkata lagi dengan suara yang dingin.

"Ehmm, apakah kita akan meneruskan pertempuran ini?"

Si Tojin jadi tersadar karenanya dia telah menganggukkan kepalanya.

"Ya...."

Dan tahu-tahu Hudtimnya telah menyambar akan menghantam muka Yo Him.881 Dia penasaran sekali, dan saat itu kemendongkolan dan penasaran tengah mengamuk, menjadi satu didadanya, dengan sendirinya serangan yang kali ini dilakukannya merupakan serangan yang dahsyat sekali, karena si tojin seperti juga tidak ingin memberiku kesempatan kepada Yo Him guna menangkis serangannya itu.

Yo Him juga terkejut melihat cara menyerang lawannya, jika dia terlambat mengelakkan diri tentu matanya yang akan menjadi korban dan menjadi buta.

Phang Kui In dan Kwee Siang yang menyaksikan hal itu jadi gugup dan berkuatir.

Bahkan Yo Ko telah berseru "Him-Jie, hati-hati."

"Adik Him, cepat berkelit ..!"

Teriak Kwee Siang dengan hati berdebar gelisah.

Sedangkan Phang Kui In yang tengah gugup melihat jiwa dan keselamatan, Yo Him terancam, jadi berdiri diam tak bisa mengeluarkan suara apa...

Tetapi walaupun terkejut, Yo Him tidak menjadi gugup.

Dia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring sekali dan disaat itu telah menggerakan tangan kanannya kearah ulu hati lawannya, mengincer jalan darah Ma-tiong-hiatnya si tojin.

Gerakannya itu mempergunakan jurus Ma Sai Tung Cie atau Kuda Terbang Dimusim Dingin.

Waktu itu si Tojin tengah gembira sekali melihat serangannya akan berhasil dan juga tampaknya Yo Him sudah tidak keburu untuk mengelakkan diri, maka dia telah menambah tenaga serangannya itu, dengan maksud untuk menghancurkan batok kepala Yo Him.

Tetapi alangkah terkejutnya dia waktu melihat tangan Yo Him diulurkan akan menyerang jalan darah Ma Tioog Hiatnya, yang berarti jika terserang dia akan terbinasa disaat itu juga.882 Walaupun dia bisa berhasil dengan serangannya tetapi jika diapun harus terserang pada jalan darah terpenting ditubuhnya itu, tentu saja si tojin tidak mau.

Dengan mengeluarkan suara seruan yang keras dia telah melompat mundur sambil menarik pulang hudtimnya.

Gerakan tojin itu memang sangat cepat sekali, sehingga serangan Yo Him jatuh ditempat kosong.

"Mari diteruskan !"

Tantang Yo Him sambil tertawa mengejek.

Tojin itu tidak menyahuti, dia hanya ber jongkok mengambil pedangnya, kemudian pedang itu telah dikibaskannya dengan kuat, sehingga menimbulkan suara "Siut...sringg !!"

"Hari ini biarlah aku mengadu jiwa dengan kau, karena jikalau aku sampai dikalahkan olehmu, tentu saja akan membuat aku malu ...! Terimalah seranganku "

Dan benar saja tojin ini telah malancarkan serangan lagi dengan pedangnya, mata pedangnya menuju kebahu Yo Him, sedangkan hudtimnya telah menyambar kearah tenggorokan Yo Him.

Keruan saja hal ini memaksa Yo Him harus me lompat-lompat beberapa kali, dia telah berhasil mengelakkan dari setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya.

Tetapi karena tojin itu melancarkan serangan dengan gencar dan ber tubi-tubi maka dia tidak sempat membalas menyerang dan hanya berkelit dengan tidak henti-hentinya.

Yo Him setelah berkelit berulang kali sebanyak enam jurus, disaat itu dia telah mengeluarkan suara jeritan yang nyaring sambil kedua tangannya disilangkan didepan dadanya, rupanya Yo Him baru ingin mencoba mempergunakan gerakan-gerakan ilmu silat yang diturunkan oleh Lie Bun Hap.883 Si Tojin heran melihat sikap Yo Him, dia menduga-duga entah ilmu silat jenis apa yang ingin dipergunakan oleh Yo Him.

"Sekarang telah cukup aku mengalah hanya menerima serangan tanpa balas menyerang, tetapi sekarang sudah tiba saatnya engkaupun harus menerima serangan-seranganku ..!"

Dan selesai berkata Yo Him telah mengerakkan dua tangannya sekaligus, dia telah menyerang dengan gerakan kera memanjat pohon dan kemudian disusul dengan gerakan, kera memetik buah dimana jurus itu merupakan jurus-jurus istimewa yang diciptakan oleh Lie Bun Hap.

Sedangkan Cing Siu Cinjin yang melihat datangnya serangan yang aneh seperti itu, cepat-cepat melompat mundur menjauhi Yo Him.

Tetapi Yo Him tidak mau sudah hanya sampai disitu saja dengan mengeluarkan suara tertawa mengejek dia telah meloncat mengejar dan kedua tangannya itu tetap melancarkan yang cukup kuat kepada tojin itu.

Melihat gesitan Yo Him yang menyamai gesitan dirinya, tojin itu tambah terkejut dan heran, mengapa pemuda semuda itu sudah memiliki kepandaian yang demikian tinggi.

Tetapi disebabkan Yo Him telah mendesaknya terus dan diapun telah diliputi kenekadan pula, maka tojin itu sudah tidak mengelakkan diri pula dari serangan yang dilancarkan Yo Him, melainkan dengan mengeluarkan suara bentakkan mengandung marah, dia telah melancarkan serangan balasan dengan mempergunakan hudtimnya.

Yo Him tidak mau membiarkan tangannya dilibat oleh bulu hudtim, maka dengan cepat sekali dia telah menarik pulang kedua tangannya, dan kaki kirinya telah bekerja menyepak pergelangan lawannya.

Sepakan itu merupakan tendangan yang disertai tenaga dalam, maka tidak ampun lagi tojin itu meraung mengeluarkan884 suara jerit kesakitan waktu pergelangan tangannya telah kena ditendang oleh Yo Him.

Sedangkan kebutan ditangannya juga telah terlepas dan melayang jatuh kelantai.

Untuk seketika itu, Tojin tersebut berdiri dengan muka pucat bagaikan patung, mulutnya ternganga karena merasa heran dan takjub disamping marah dan mendongkol.

Yo Him tidak mendesak lagi, dia telah merangkap tangannya memberi hormat.

"Terima kasih atas petunjuk Totiang...!"

Muka tojin itu jadi berobah merah karena malu bercampur marah.

"baiklah hari ini nasibku benar-benar sial karena telah rubuh ditangan seorang anak yang masih bau pupuk seperiti kau ini tetapi jika dilain waktu ada kesempatan tentu aku akan mencarimu untuk meminta pengajaran, dari kau.....!"

Satelah berkata begitu, tampak Cing Siu Cinjin telah mengambil pedang dan hudtimnya tanpa menoleh lagi kepada Yo Ko dan yang lainnya dia telah melangkah keluar pintu.

Tetapi waktu sampai dimuka pintu, dia telah menoleh lagi dan bertanya kepada Yo Him.

"Siapa namamu .... aku belum lagi mengetahuinya"

Yo Him menjura "Aku she Yo dan bernama Him."

"Yo Him....? Hemmm, engkau she Yo, tentunya engkau ada hubungan dengan Yo Ko bukan?"

"Itulah ayahku"

"Apa?"885

"Sin Tiauw Taihiap Yo Ko adalah ayah kandungku!"

Menyahuti Yo Him.

Dan dalam terkejutnya itu, Cing Siu Cinjin telah melirik kepada Phang Kui In bertiga.

Dia melihat Yo Ko, yang lengan baju kanannya kosong lemas tidak ada isinya, seketika itu juga dia telah dapat menduganya bahwa orang itu adalah Yo Ko, pendekar sakti yang tiada duanya.

Cepat-cepat dia menghampiri dan berlutut di hadapan Yo Ko sambil katanya .

"Ampunilah aku, Sin Tiauw Taihiap...!"

Katanya dengan suara yang berat tersendat.

"Aku...aku memang bersalah...aku terlalu usil... jika sejak tadi aku mengetahui bahwa engko kecil itu adalah puteramu, tentu aku tidak akan mengganggunya...!"

Yo Ko tersenyum manis dan sabar sekali, dia perintahkan tojin itu berdiri.

"Engkau tidak tersalah, karena hanya penasaran melihat kawanmu dirubuhkan, maka engkau ingin membelanya. Sebetulnya engkau sama sekali tidak bersalah. Asal diingat, dilain waktu engkau tidak boleh terlalu usil seperti itu. Sekarang untung hanya bertemu dengan putraku yang tidak menurunkan tangan keras karena dia rupanya menghormati kau juga.coba kalau bertemu dengan orang yang bertangan telengas, bukankah engkau bisa celaka ?"

"Terima kasih atas petunjuk yang diberikan Taihiap, tentu aku akan menyimpan baik-baik nasehat itu "

Kata Cing Siu Cinjin.

"Ya, itulah yang kuharapkan."

"Tetapi Taihiap..."

"Apa lagi?"

"Bisakah Taihiap menolongku?"886

"Jika memang beralasan dalam batas-batas kemampuanku, tentu aku bersedia untuk membantumu....."

"Tadi."

Kata tojin itu ragu-ragu.

"Taihiap telah melihat betapa aku dirubuhkan Siauw-enghiong itu...maka bisakah Taihiap memberikan petunjuk yang berharga, dimanakah letak kesalahan dan letak kekurangan sempurna dalam mempertahankan diriku...?"

Yo Ko telah tersenyum.

"Sebetulnya kepandaianmu telah cukup hanya yang kurang pengertian dan yang paling pokok sekali, engkau jangan disertai oleh hawa amarah saja bila bertempur, karena akan merugikan engkau sendiri, dengan mengikuti hawa amarah, penasaran atau mendongkol, engkau telah kehilangan separoh dari ilmumu ! Dari jalan Pang membelok kejalan Tu, dan dari jalan Tu menuju lurus kejalan Lin, dan menyusul jalan Kong, Pat dan Cie."

Mendengar keterangan Sin Tiauw Taihiap seperti itu, tampak muka tojin itu jadi pucat, dia tampaknya terkejut bercampur girang.

Cepat sekali tojin itu telah menekuk kedua kakinya, dia telah berlutut dlhadapan Yo Ko lagi.

"Terima kasih banyak atas nasehat-nasehat yang diberikan, oleh taihiap ... aku baru mengetahui dimana letak kesalahanku...terima kasih Taihiap aku minta diri."

Dan setelah berkata begitu, tampak tojin itu telah memberi hormat sekali lagi kepada Yo Ko, kemudian kepada yang lainnya barulah dia memutar tubuhnya untuk berlalu.

Yo Him heran, dia melihat ayahnya hanya menyebutkan jalan-jalan Tu, Kong,Pat, Cie dan yang lain-lainnya, tetapi tojin itu jadi girang bukan main, karena ingin mengetahuinya, maka Yo Him telah menanyakan kepada ayahnya, apakah sesungguhnya yang diberitahukan Yo Ko itu.887 Yo Ko tertawa, dia bilang .

"Sebetulnya aku hanya memberikan kunci ilmu silatnya itu, yaitu menurut jalan-jalan patkwa, dimana jika dia bisa menguasai dan mengenal jalan patkwa itu secara baik, tentu dia akan bertambah ilmunya menjadi dua kali lipat, dan jika tadi sebelumnya dia telah mengerti jalan-jalan Tu, Kong, dan Pat itu belum tentu engkau bisa menjatuhkannya !"

Yo Him meleletkan lidahnya.

"Untung saja tadi aku tidak sampai dihajar babak belur olehnya ... !"

Yang lainnya jadi tertawa juga.

Mereka telah melanjutkan makannya kembali.

Selesai bersantap, mereka lalu mencari rumah penginapan.

Dikota ini mereka, bermalam selama dua hari.

Setelah itu mereka melanjutkan pula perjalanannya dengan mempergunakan jalan darat, kuda mereka dapat berlari cepat sekali.

Hanya empat bulan saja, kemudian mereka telah tiba dikaki gunung Kun Lun San.

000odw^kzo000 Yo Ko mengangkat kepalanya mengawasi puncak gunung yang tinggi itu dia menghela napas"

"Jika memang Liongjie binasa digunung ini, betapa remuknya hatiku !"

Dia telah melahirkan seorang anak untukku, tetapi dia menghilang tidak keruan paran.

Inilah peristiwa yang harus diselidiki baik-baik.

Mudah-Mudahan saja Liongjie dalam keadaan sehat-sehat.

Melihat puncak gunung itu, Yo Him lalu mengangkat tangannya menunjuk kearah puncak gunung itu.

"Thia (ayah), dipuncak gunung itu terdapat sebuah kuil disitu banyak murid-muridnya. Tetapi waktu aku belum turun gunung dan masih kecil sekali, aku telah menyaksikan888 pembunuhan besar-besaran, seluruh penghuni kuil itu telah dibinasakan oleh beberapa orang jahat. Salah seorang diantara mereka terdapat seorang pendeta yang kepalanya memakai kuncung "

Setelah berkata begitu.

Yo Him menceritakan apa yang dialaminya waktu kecil.

Mendengar cerita dan gambaran mengenai pendeta mongol itu, tubuh Yo Ko gemetar dan tangan kanannya telah digerakkan untukmemukul batu yang ada didekatnya.

"Brukkk"

Batu itu telah hancur.

"Memang dia. Memang dia ! sudah kuduga"

Berseru Yo Ko.

Yang lainnya jadi terkejut melihat sikap Yo Ko, mereka memandang Yo Ko dengan sorot mata bertanya-bertanya.

Yo Him sendiri tidak bisa menahan perasaan ingin tahunya, dia telah bertanya .

"Thia kenapa kau ?"

"memang aku telah duga pembunuh dan penculik ibumu adalah dia"

Kata Yo Ko "Dia ? Siapa ?"

Tanya Yo Him.

"Pendeta Mongolia itu....!"

"Mengapa ayah mengetahuinya?"

"Dia adalah Tiat To Hoat-ong, justru waktu dia menculik ibumu. dia telah bersembunyi dari kejaran kami. Dan tentunya digunung Kun Lun San ini terjadi sesuatu yang tidak disangka oleh pendeta itu, yang menyebabkan ibumu lolos dan bisa melahirkan engkau tetapi mengapa hanya engkau sendiri, sedangkan ibumu tidak muncul ? Jika dia masih hidup, tentu dia akan berusaha mencariku .tapi ahhh, Liong jie bagaimanakah sesungguhnya nasibmu .... !"

Dan setelah berkata begitu Yo Ko menitikkan dua butir air mata.889

"Sudahlah ayah .... mari kita mendaki gunung ini. Mungkin sore nanti kita baru sampai !"

Kata Yo Him, berusaha untuk mengalihkan kesedihan ayahnya.

Yo Ko hanya mengangguk.

Begitulah mereka berempat mendaki gunung Kun Lun San.

Yo Ko berjalan perlahan, matanya memandang kesekelilingnya dan dia telah melihatnya betapapun juga pemandangan di Kun Lun ini sangat menarik hati.

Se tidak-tidaknya telah mengurangi kesedihan hatinya.

Menjelang sore hari mereka tiba disebuah kuil yang sudah tidak terurus lagi.

Yo Ko mengerutkan alisnya Inilah kuil kun Lun Sie pusat dari perguruan silat Kun Lun Pay.

Tetapi menurut engkau bahwa, semua penghuni ini telah dibinasakan oleh pendeta jahat itu bersama kawan-kawannya?"

"Benar ayah....."

"Aneh sekali....Kun Kun Pai sebetulnya merupakan pintu perguruan yang tua dan memiliki banyak sekali anak murid-nya yang memiliki kepandaian tinggi, menjadi tokoh-tokoh rimba persilatan. Apakah si pendeta dan kawan-kawannya itu memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali, sehingga mereka telah berhasil membasmi Kun Lun Pai?"

Waktu menggumam begitu, Yo Ko melangkah terus mendekati pintu gerbang kuil itu.

Matanya yang tajam telah melihat sesuatu didekat pintu gerbang itu.

Cepat-cepat Yo Ko telah mengambil barang itu, Yo Him dan yang lainnya jadi heran, mereka telah menghampiri untuk melihatnya benda apa yang diambil Sin Tiauw Taihiap.890 Ternyata barang yang diambil oleh Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tidak lain dari sebuah gelang emas yang berukuran cukup besar.

Mata Yo Ko jadi berair dan menitikkan air mata, karena dia telah mengenali gelang itu.

"Inilah gelang milik ibumu !"

Kata Yo Ko dengan suara terperanjat.

Yo Him dan yang lainnya jadi terkejut, mereka, sampai mengeluarkan suara seruan tertahan.

Sedangkan Yo Him yang telah menerima gelang itu dan mengamat-mengamatinya, tidak bisa mempertahankan kesedihan hatinya, dia telah menangis meng gerung-gerung sambil menciumi gelang emas itu, yang menurut Sin Tiauw Taihiap adalah milik ibunya.

Phang Kui In dan Kwee Siang hanya bisa berdiam diri dengan kepala tertunduk, karena mereka terharu dan tidak mengetahui dengan cara bagaimana harus menghiburnya.

Waktu itu, Yo Ko telah menghapus air matanya "Jika melihat ada gelang ibumu ditempat ini, tentunya Liong-jie masih hidup."!"

Kata Yo Ko dengan penuh keyakinan. Setelah berkata begitu, Yo Ko mementang mulutnya lebar-lebar dan dengan suara yang keras dia telah berteriak .

"Liong-jie... ! Liong jie... dimana kau ?!"

Teriakan yang dilakukan oleh Sin Tiauw Taihiap bukan merupakan teriakan biasa saja, karena teriakan itu telah disaluri oleh tenaga lwekangnya yang sempurna, sehingga suara teriakan itu menggema disekitar pegunungan Kun Lun San, suara itu telah bergema berulang kali, sehingga memekakkan anak telinga.

Tetapi tidak terdengar suara sahutan dari siapapun juga, selain suara Yo Ko yang berkumandang kembali menggema disekitar pegunungan itu.891 Dalam keadaan demikian, Yo Ko telah mengulangi terus teriakan-teriakannya dan dalam waktu yang singkat telah puluhan kali Yo Ko berteriak begitu, tetapi orang yang diharapkannya tidak juga terlihat, sehingga akhirnya Yo Ko berhenti berteriak dengan hati penasaran sekali.

Phang Kui In telah menghampiri .

"Yo Taihiap, sudahlah, nanti kita bisa mencarinya perlahan-lahan. Bukankah Yo Him mengatakan bahwa ada lembah disebelah barat gunung ini, dimana dia dibesarkan Sin Tiauw sampai beberapa tahun didalam lembah itu. Disana kita bisa menyelidikinya...!" 892 Yo Ko mengangguk lesu, dia telah berkata dengan suara yang ragu-ragu "Ya... tetapi lenyapnya Liong-jie telah bertahun-tahun, bahkan belasan tahun...jika memang dia terbinasa ditangan Tiat To Hoat-ong, walaupun pendeta itu melarikan diri ke ujung bumi, aku akan mengejarnya... !"

Begitulah mereka berempat memasuki kuil itu, dimana diantara debu dilantai, tampak tengkorak-tengkorak manusia.

Tengkorak-Tengkorak manusia itu tentunya tengkorak tojin-tojin yang telah menjadi korban keganasan Tiat To Hoat Ong ...

Setelah membersihkan lantai didekat meja sembahyang yang penuh debu, lalu mereka merebahkan tubuhnya dan mengaso.

Esok pagi barulah mereka akan menuju kelembah, dimana Yo Him pernah dirawat oleh rajawali sakti itu.

Tetapi Yo Ko tidak bisa tertidur nyenyak, dia hanya memejamkan mata, namun pikirannya telah melayang-layang terus memikirkan isterinya.

Ada semacan pertanyaan dihati Yo Ko, yaitu mengapa Yo Him bisa dilahirkan dan kemudian besar, tetapi Siauw Liong Lie ?

Bukankah jika Siauw Liong Lie telah binasa ditangan Tiat To Hoat-ong, maka Yo Him juga tidak bisa selamat?

Begitulah ber macam-macam pertanyaan telah mengaduk-aduk pikirannya.

Dalam waktu yang singkat sekali telah lewat belasan tahun.

Yo Ko juga teringat waktu dia mengejar Tiat To Hoat-ong, dan ketika dia melakukan pekerjaan menghimpun orang-orang gagah untuk menyelamatkan negeri dari tangan kotor, dimana banyak para menteri dan pembesar yang bekerja untuk pihak Mongolia.893 Sehingga Yo Ko selama belasan tahun repot mengurus perkembangan dari persatuan para pendekar gagah didaratan Tionggoan.

Sekarang, diwaktu dia bertemu dengan puteranya telah meningkat dewasa.

Disamping itu Yo Him juga telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Diam-diam , terhibur juga hati Yo Ko.

Akhirnya menjelang subuh, barulah Yo Ko bisa tidur.

000odw^kzo000 MATAHARI pagi baru saja muncul diufuk timur, dan menyinari bumi dengan sinarnya yang keemas-emasan, Waktu itu Yo Ko berempat telah bersiap-siap untuk berangkat kelembah yang dimaksud oleh YoHim Mereka mendaki lebih tinggi lagi puncak gunung Kun Lun San.

Dalam perjalanan itu tidak henti-hentinya Phang Kui In memberikan pujian-pujiannya atas keindahan alam, yang terdapat dipegunungan Kun Lun San ini.

Tetapi Yo Ko tetap berdiam diri dengan murung, semakin dekat dengan lembah itu.

Semakin tidak keruan hatinya karena jika dia menghadapi kenyataan isterinya telah meninggal bukankah itu merupakan suatu kenyataan pahit yang harus diterimanya?

Setelah berjalan setengah hari mereka tiba detepi jurang, dimana lembah yang dimaksudkan oleh Yo Him berada dibawah tebing itu.

"Perjalananan yang cukup sulit !"

Kata Yo Ko perlahan.

Jurang itu lurus tegak dan licin sekali tampaknya.

Untuk Yo Ko memang tidak apa-apa, Phang Kui In dan Kwee Siang juga mungkin masih bisa menuruni tebing itu Tetapi Yo Him ?894 Kepandaian Yo Him walaupun tampaknya lebih tinggi dari Phang Kui In dan Kwee Siang, namun dia masih terlalu kecil dan kurang latihan serta pengalaman.

Maka dari itu dengan menuruni tebing setinggi itu, jika gagal berarti membuang jiwa secara cuma-cuma.

Disaat mereka tengah ragu-ragu begitu, Yo Him telah berkata .

"Ayah .. kita buatkan tali yang cukup panjang, dimana aku diturunkan dengan tali diikat dipinggang, lalu menyusul Kwee Cici. Phang Susiok, dan kemudian barulah ayah ! kepandaian ayah telah mencapai tingkat yang sempurna sehingga tidak memerlukan tali itu untuk turun kebawah lembah !"

Yo Ko dan yang lainnya menganggap perkataan Yo Him ada benarnya. Mereka setuju. Segera juga mereka bekerja. Dengan kulit pohon yang mereka rajut akhirnya terbuatlah seutas tambang yang cukup panjang.

"Kukira telah cukup panjang!"

Kata Yo Ko setelah tambang itu terbuat sepanjang seratus meter lebih.

"Mari kita coba!"

Kata Phang Kui In.

Ujung yang satunya diikatkan kesebungkah batu, lalu dilemparkan masuk kedalam lembah.

Belum sampai seratus meter, tali itu telah mengendur memperlihatkan bahwa batu yang diikatkan diujung tambang itu telah sampai menyentuh dasar jurang.

"Cukup panjang !"

Kata Phang Kui In.

Yo Ko girang melihat lembah itu tidak begitu dalam, berarti tambang itu sudah cukup untuk menurunkan Yo Him dan kedua orang lainnya.

Pertama-tama yang diturunkan kedalam lembah itu Phang Kui In.

jika nanti dibawah lembah itu terdapat sesuatu yang diluar dugaan, Phang Kui In bisa menghadapinya Sedangkan895 Yo Him diturunkan setelah Phang Kui In.

Dan menyusul Kwee Siang.

Semua berjalan lancar tidak ada sesuatu rintangan.

Setelah Kwee Siang diturunkan, Yo Ko mengikat ujung tali itu dibatang pohon, dan membiarkan ujung yang satunya lagi berada didalam lembah, hal ini untuk dipergunakan kelak jika mereka ingin naik keatas pula.

Dengan mudah Yo Ko meluncur turun dengan mempergunakan ginkangnya yang telah sempurna.

Cepat sekali Yo Ko tiba didasar lembah itu.

Sebuah lembah yang besar dan menarik.

Tetapi pertama-tama yang dilihat oleh Yo Ko adalah setumpukan tulang belulang yang tidak berjauhan dari tempat mereka berada.

Seketika itu juga Yo Ko mengucurkan air matanya, sebab dia mengenali itulah tulang belulang seekor burung rajawali yang berukuran besar.

Dan siapa lagi kalau bukan rajawali peliharaannya yang setia, yang menurut Yo Him burung itu telah terjun kedasar lembah itu dan menghilang...

Dengan masih menitikkan air mata, tampak Yo Ko telah mengubur tulang belulang burung rajawali yang setia itu.

Kemudian dia mulai menyelidiki keadaan disekitar lembah itu.

Phang Kui In, Kwee Siang dan Yo Him juga telah bantu memeriksa keadaan didasar lembah itu.

Tidak ada sesuatu yang istimewa mereka jumpai, hanya rumput-rumput hijau yang tumbuh begitu segar.

Seluruh lembah itu telah diperiksa oleh mereka, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa lembah ini ditinggali orang.

Yo Ko jadi putus asa.

Yo Him juga jadi kecewa.

"Ibumu tentu telah binasa ditangan Tiat To Hoat-ong, sakit hati ini harus dibalas .... !"

Kata Yo Ko. Yo Him mengangguk.896

"Pendeta yang ayah maksudkan itu memang bukan seorang pendeta yang baik. karena seluruh anggota Kun Lun Pai juga dibinasakannya ... !!"

Kata Yo Him.

Kwee Siang telah menangis terisak-isak, dia mencintai Siauw Liong Lie dan Yo Ko seperti cinta antara sesama saudara, kini melihat kenyataan sudah tidak ada harapan untuk bertemu pula dengan Siauw Liong Lie, tentu saja Kwee Siang jadi sedih sekali, Phang Kui In juga telah menarik napas berulang kali.

Tetapi waktu mereka tengah berdiri tertegun ter mangu-mangu, tiba-tiba pendengaran Yo Ko yang sangat tajam, yang bisa mendengar suara dari jarak sejauh ratusan tombak, telah mendengar suara tertawa kecil dari seorang gadis cilik.

Disamping itu Yo Ko juga mendengar suara berkesiuran pedang menderu-deru.

"Ada orang!"

Bisik Yo Ko dengan suara perlahan.Cepat bersembunyi."

Phang Kui In bertiga dengan Kwee Siang dan Yo Him jadi heran.

Mereka tidak mendengar sesuatu, tetapi karena Yo Ko telah memberikan isyarat agar bersembunyi, maka Phang Kui in bertiga menuruti saja.

Mereka bersembunyi dibalik gunung-gunungan.

Yo Ko sendiri dengan gerakan tubuh yang ringan sekali telah melompat keatas batu yang cukup besar dan bercokol disitu sambil memasang mata.

Tidak mungkin orang dari bawah bisa melihatnya.

Setelah lewat sekian lama, barulah Phang Kui In Kwee Siang dan Yo Him mendengar suara tertawa gadis kecil dari kejauhan.897 Mereka jadi berdebar dan tergoncang hatinya.

Mereka memasang mata, dan akhirnya dari balik tikungan dilembah itu muncul sesosok tubuh yang berlari-berlari sambil menyanyi dan diselingi tertawanya.

Gadis kecil itu, mungkin baru berusia dua belas tahun, tetapi gerakannya gesit dan lincah, disamping itu mukanya yang bulat itu sangat manis sekali.

Rambutnya dikepang dua matanya jeli sekali, dan dia berlari-lari sambil menggerakkan tangan kanannya yang memegang pedang, yang dikibas-kibaskannya.

Tiba-tiba dia berhenti berlari, dan matanya yang bening itu telah mengawasi tambang yang menjuntai dari atas, Segera disimpannya pedang kecil itu ke dalam serangka dipinggangnya, kemudian dia telah mendekati tambang itu dengan ragu-ragu.

Dipegang-pegang dan di-tariknya tambang itu sampai akhirnya dia mengeluarkan seruan tertahan yang perlahan.

"Ahhh, tentu orang asing yang turun kelembah ini ! katanya perlahan.

"aku harus cepat-cepat memberitahukan suhu !"

Dan setelah menggumam begitu, tampak si gadis kecil yang mengenakan pakaian serba kuning itu telah membalikkan tubuhnya, untuk kembali dari arah mana tadi dia datang.

"Tunggu dulu nona kecil! "

Phang Kui In yang sudah tidak bisa menahan perasaannya telah meloncat keluar.

Dan Yo Ko menyesali tindakan sahabatnya itu yang terlalu ceroboh.

Bukankah jika membiarkan gadis itu pergi berarti mereka biia mengikutinya dari mana datangnya gadis kecil itu?

karena gadis tersebut ingin memberitahukan gurunya perihal tambang itu.

tentu suhunya itu mengenal benar keadaan disekitar lembah ini.

Tetapi Phang Kui In telah terlanjur keluar, sehingga tidak bisa bersembunyi lagi.898 Gadis kecil yang ditegurnya itu menjadi kaget, mukanya sampai berubah menjadi pucat.

Namun hal itu hanya sejenak saja kemudian wajahnya telah merah kembali, dengan berani dia menatap kepada Phang Kui In.

Waktu itu Phang Kui In tengah mendekati, dan gadis kecil tersebut melihat langkah kaki Phang Kui In yang dengklok.

yaitu jalannya timpang, dia menjadi heran!

"Siapa kau ?

Mengapa berada disini ?"

Bentak gadis kecil itu, berani sekali sikapnya dan suaranya juga sangat nyaring. Phang Kui In tersenyum, dia telah berkata hati-hati sekali agar tidak menimbulkan perasaan takut pada diri gadis itu.

"Nona, siapakah namamu ? Dan tadi kau mengatakan ingin memberitahukan kepada gurumu. apakah gurumu dan engkau tinggal dilembah ini ?"

Si gadis kecil tertawa lucu, berani sekali sikapnya, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut.

"Cepat kau pergi meninggalkan lembah ini, jika terlihat oleh guruku, jangan harap kau bisa melarikan diri. Tentu suhuku akan membinasakan engkau !"

Mendengar sampai disitu, Phang Kui In tersenyum lagi sambil melangkah satu tindak mendekati si gadis.

"Nona kecil.....aku tersesat tidak mengetahui jalan, sehingga telah lancang datang dilembah ini. Untuk kesalahanku ini tentu engkau mau memaafkannya, bukan? "

Si gadis kecil kembali tertawa geli, kemudian katanya lagi.

"Maafkan orang seperti engkau sebetulnya tidak mudah, karena aku belum mengetahui ini jahat atau baik. Tetapi jalan terbaik hanya satu, cepat engkau tinggalkan lembah ini, jangan sampai guruku mengetahui, tentu sekali sentil saja engkau akan binasa."

"Ohhh, begitu hebat gurumu itu?"

Tanya Phang Kui In sambil memperlihatkan perasaan kagum untuk menyenangkan hati gadis tersebut.

"Tentu saja, menurut guruku, hanya ada dua orang yang bisa. menandingi kepandaiannya, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Oey Yok Su, selain dari kedua tokoh itu tidak ada yang sanggup menghadapi ilmu guruku.... !"

Muka Phang Kui In berobah ketika mendengar disebut sebutnya nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Oey Yok Su, tetapi Phang Kui In berusaha bersiap sewajar mungkin menyembunyikan keterkejutan itu.

"Begitu hebatnya kepandaian gurumu, sehingga tidak ada yang bisa menandinginya. Bolehkah aku mengetahui siapakah gurumu yang tentunya sangat terkenal dan mulia itu?"

Gadis kecil itu termakan umpan yang disebar Phang Kui In, senang hatinya mendengar umpakan Phang Kui In yang me muji-muji gurunya.

"Guruku itu sangat liehay, ilmu pedangnya juga merupakan ilmu pedang nomor satu didaratan Tionggoan, namanya..."

Tetapi baru saja si gadis kecil itu berkata sampai disitu, dari kejauhan terdengar suara seruling yang ditiup dengan irama yang lembut.

Muka gadis kecil itu jadi berobah, dia telah meneruskan kata-katanya.

"Guruku telah memanggilku pulang....!"

Katanya.

"Tunggu dulu.... aku bolehkah ikut bersamamu untuk mengenal dan memberi hormat kepada gurumu? "

Tanya Phang Kui In.

"Mana boleh begitu"?"

Kata si gadis cilik tersebut sambil tersenyum.

"Sudah kukatakan, jika kalian terlihat oleh guruku, tentu kalian akan celaka....!" 900 Disaat itu telah terdengar lagi suara seruling yang terdengar lembut, tetapi nadanya kadang-kadang berobah menjadi meninggi. Si gadis cilik itu rupanya sudah tidak sabar, dia membalikkan tubuhnya untuk berlari meninggalkan phang Kui In. Tetapi tiba-tiba dari atas batu telah meluncur turun sesosok bayangan yang menghadang jalan si gadis.

"Katakan dulu siapa nama gurumu ?"

Tanya orang yang baru muncul itu, yang tidak lain adalah Yo Ko. Gadis kecil itu jadi terkejut, dia telah memandang Yo Ko dalam-dalam dan tajam, kemudian katanya dengan tidak senang .

"Hem, rupanya kalian datang bukan hanya seorang diri ? Kalian datang beramai-ramai"

"Katakan, siapa nama gurumu ?"

Tanya Yo Ko dengan suara dan sikap yang tegas, karena dia sudah tidak sabar, sebab hatinya tengah diliputi perasaan gelisah dan juga duka.

"Nama guruku ? Dia she Tam dan bernama Hu !"

Kata gadis kecil itu.

Lemaslah seluruh tubuh Yo Ko.

Tadinya dia masih mengharapkan gadis kecil itu menyebut nama Siauw Liong Lie.

Maka sekarang setelah mengetahui bahwa guru gadis itu ber nama Tam Hu, Yo Ko jadi putus asa, jadi Siauw Liong Lie memang telah lenyap tidak keruan parannya.

"Buka jalan untukku"

Kata gadis kecil itu dengan suara yang nyaring, dia juga mendongkol.

"Jika kalian menghinaku, tentu guruku tidak akan membiarkan kalian pulang dengan jiwa yang masih utuh"

"Aduh, galaknya !"

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata dan sesosok tubuh yang tidak begitu besar telah melompat keluar dengan ringan, berdiri disamping Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Dialah. Yo Him.901

"Mengapa harus galak-galak begitu, bukankah kami datang secara baik-baik? Jika memang kami kurang disegani, bukankah kami bisa diusir pergi saja dari tempat ini, mengapa harus diancam-ancam dengan urusan jiwa segala ?"

Gadis kecil itu melengak sejenak, tetapi kemudian pipinya jadi memerah dan tampak manis sekali.

Dia mendongkol Yo Him menegurnya begitu rupa.

Saat itu Kwee Siang juga telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya.

Melihat jumlah orang yang kini berempat gadis kecil itu mulai berkuatir.

"Cepat buka jalan untukku .. kalau tidak aku akan menjerit sekuat tenagaku dan guruku tentu akan datang dengan segera "

Tetapi ancaman gadis-kecil itu tidak diperdulikan oleh Yo Ko, yang telah tersenyum sambil katanya .

"Nah, kau teriaklah ... !"

Tetapi gadis itu bukannya berteriak, dalam keadaan mendongkol dan marah, dia telah mencabut pedangnya dan menusukkan keperut Yo Ko.

"Awas pedang .. !"

Dia masih memperingatinya.Yo Ko jadi senang melihat keberanian gadis kecil ini.

Dia main kilat saja, tetapi tetap menutupi jalan perginya gadis kecil itu.

Telah beberapa jurus serangan yang dilancarkan gadis kecil itu, tetapi belum juga dapat mengenai sasarannya dengan tepat.

Yo Him dan yang lainnya hanya menyaksikan saja, karena mereka mengetahui si gadis kecil itu tidak mungkin bisa mencelakai Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.

Tetapi si gadis kecil itu justru jadi semakin marah, karena dia tidak bisa melampiaskan kemarahannya yang semakin membakar hatinya, akhirnya gadis kecil itu telah menangis dan dia telah berteriak dengan keras .

"Suhu ada orang jahat902 !!!"

Tetapi seruan itu tidak begitu keras, maka sengaja Yo Ko telah juga, sehingga suaranya berpantulan didalam lembah.

Suara seruling terhenti, hening sekali keadaan disekitar tempat ini.

Semua orang menanti dengan perasaan tegang.

Gadis kecil itu juga berdiam diri, tetapi kemudian dia telah berkata.

"Suhu tidak lama lagi akan datang, rasakan nanti kalian akan dihajar babak belur oleh suhuku....."

Setelah berkata begitu, dengan mengeluarkan suara mengejek dan tertawa, gadis itu mengawasi Yo Ko berempat bergantian.

"Bolehkah aku mengetahui, gurumu itu seorang kakek-kakek atau nenek-nenek?"

Tanya Phang Kui In untuk menutupi keheningan itu. Muka gadis kecil itu berobah jenaka sekali, matanya mendelik lebar-lebar, bukannya galak tetapi justru sebaliknya menjadi lucu.

"Siapa yang bilang guruku nenek-nenek? Kawan wanitamu itu saja masih kalah cantiknya dengan guruku... !"

Lantang bukan main suara gadis kecil itu. Mendengar jawaban gadis kecil tersebut, Yo Ko berempat segera mengetahuinya bahwa guru si gadis kecil itu tentunya seorang wanita.

"Berapa usianya?"

Tanya Yo Him yang jadi ingin mengetahui juga.

"Sudah empat puluh tahun lebih!"

Menyahuti gadis itu.

"Tetapi wajahnya cantik sekali. dan walaupun usianya telah tinggi, paras mukanya masih muda dan cantik sekali ...!"

"Siapa namanya tadi kau bilang"

Tanya Yo Ko penasaran.

"Apakah telingamu tuli !"903

"Aku tidak mengingatnya.....! Coba kau beri tahukan lagi siapa namanya, mungkin aku kenal dengannya !"

"Kenal dengan guruku?"

Tanya gadis cilik itu dengan aseran.

"Hem. cisss, tidak tahu malu! Guruku mana mau berhubungan dan bersahabat dengan manusia seperti engkau?"

"Oh begitu! Baiklah, aku hanya ingin mendengar satu kali saja nama gurumu itu....!"

Kata Yo Ko yang tidak marah. Gadis kecil itu mencebikan bibirnya, dia telah mengawasi langit sejenak, seperti sedang berpikir keras.

"Nama guruku..... nama guruku.... dia she .. she apa ya? Tadi aku sebut nama guruku she apa ??"

Tanya si gadis kemudian setelah. Ragu-ragu Yo Ko jadi tertawa gelak. Karena gadis kecil ini ternyata telah berdusta padanya dengan menyebutkan nama yang sembarangan untuk gurunya.

"aku tahu "

Kata Yo Ko setelah puas tertawa "Gurumu itu she Siauw dan bernama Liong Lie. bukankah begitu?"

Muka gadis kecil itu jadi pucat, untuk sejenak da tidak bisa berkata apa-apa.

"Dimana gurumu, sekarang berada, mari antarkan kami menemuinya, percayalah gurumu tidak akan memarahimu!"

Kata Yo Ko.

"Mengapa engkau bisa mengetahui nama guruku selengkap itu?"

Tanya gadis kecil itu.

"Karena dia adalah suamiku..."

Tiba-tiba terdengar suara yang halus sekali. Semua mata lalu memandang kearah datangnya suara itu dan kemudian Yo Ko telah mengeluarkan suara seruan.

"Liong-jie...!! Engkau masih hidup?..kau masih hidup? Ohh, Liong-jie... !"

Dan tanpa memperdulikan ditempat904 itu terdapat banyak orang Yo Ko telah mengulurkan tangan tunggalnya merangkul Siauw Liong Lie.

Siauw Liong Lie juga telah menyenderkan kepalanya didada Yo Ko.

Dia telah menangis terisak-isak.

"Ko-jie....engkau akhirnya datang juga!!"

Kata Siauw Liong Lie.

Mereka berdua masing masing saling menangis, sehingga dalam suasana yang mengharukan itu bercampur perasaan yang menggelikan, menggelitik hati untuk tertawa.

Phang Kui In telah menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak mau melihat hal itu.

Sedangkan Kwee Siang telah melompat mendekati pasangan suami istri yang baru ketemu kembali itu.

"Enci Liong Lie.... engkau rupanya masih dilindungi Thian sehingga kita bisa bertemu kembali....!"

Dan Kwee Siang telah menjura memberi hormat! Siauw Liong Lie girang sekali, dalam girang dan terharu, dia jadi mengucurkan air mata yang banyak sekali.

"Adik Siang, apakah selama ini engkau baik-baik saja tidak kurang suatu apapun?"

Tanyanya.

"Belasan tahun aku mencari-cari kalian, encie Liong Lie, selama belasan tahun pula aku berusaha mencari di berbagai daratan Tionggoan, tetapi usahaku itu tidak berhasil, jangankan menjumpai kalian berdua, untuk bertemu dengan salah satu diantara kalian berdua saja sulit sekali! Dan hari ini aku girang sekali Thian telah mempertemukan kita !! "

Phang Kui In saat itu telah membisiki sesuatu ditelinga Yo Him.

"Dia ibumu.. cepat kau memberi hormat... !"

Kata Phang Kui In perlahan.

Yo Him jadi tertegun dan dia mengawasi saja dengan sorot mata yang memancarkan dihatinya tengah bergolak berbagai905 perasaan.

Tetapi setelah berdiri diam sejenak lamanya, Yo Him telah menyerbu dan berlutut dikaki ibunya..

"Ibu.. anakmu menghunjuk hormat !"

Katanya dengan suara tersendat oleh tangis. Siauw Liong Lie cepat-cepat membangunkan Yo Him, yang diawasi sekian lama, akhirnya dia telah memeluknya sambil menangis terharu.

"Oh Thian, Kau demikian adil, akhirnya Kau mempertemukan aku dengan suami dan anakku...!"

Seru Siauw Liong Lie.

"Yo Ko juga terharu sekali bercampur girang.

"Pertemuanku dengan Yo Him juga terjadi secara kebetulan sekali.....!"

Dan Yo Ko menceritakan segalanya Begitu juga Yo Him telah, menceritakan riwayatnya.

Siauw Liong Lie setelah mendengarkan cerita dari suami dan anaknya, dia mulai menceritakan pengalamannya.

000odw^kzo000 WAKTU Siauw Liong Lie terjun kedalam lembah itu karena dia tidak bermaksud Untuk tertawan ditangan Tiat To Hoat Ong.

Tubuhnya meluncur dengan cepat sekali dan melayang-layang, pandangan matanya gelap, dan di antara sadar dan tidak, tubuhnya dirasakan telah terbanting kedalam air.

Siauw Liong Lie segera pingsan, dia tercebur didalam kolam kecil yang terdapat disitu.

Tetapi karena lwekangnya telah sempurna maka Siauw Liong Lie tidak mengalami hal yang tidak diinginkan, walaupun tubuhnya terbanting dipermukaan air dari jarak ketinggian yang demikian tinggi, tetapi otot-ototnya secara serentak telah bekerja sendiri, sehingga dia tidak menderita didalam, Tubuhnya juga telah mengapung.

melambung dipermukaan air.906 Rupanya dengan terendam muka dan kepalanya diair seperti itu, membuat Siauw Liong Lie tersadar kembali dari pingsannya, hanya beberapa detik saja dia pingsan.

Begitu tersadar Siauw Liong Lie telah naik kedaratan, kemudian dia duduk termenung ditepi kolam kecil itu.

Hatinya pedih dan sakit, karena telah berpisah dengan suami, dan kini berpisah pula dengan anaknya.

Setelah mengatur pernapasannya, dan juga merasa tubuhnya segar, Siauw Liong Lie menyusuri jalan didalam lembah itu.

Tetapi tidak ada sesuatu yang menarik.

Akhirnya karena tenang, Siauw Liong Lie telah membuka pakaiannya, ditumpuk ditepi jurang itu, dia bermaksud ingin mandi, agar tubuhnya segar kembali !.

Sebelum mandi Siauw Liong Lie mengawasi keatas ingin melihat apakah ada jalan yang bisa dipergunakannya untuk mendaki naik.

Tetapi tebing itu licin dan tajam sekali tegak berdiri, sehingga tidak mungkin didaki Siauw Liong Lie jadi putus asa.

Tetapi sejak kecil dia telah dilatih dengan ilmu Kouw Bok Pay, ilmu kuburan hidup, yaitu rnembuang kegembiraan yang berlebihan, membuang kesedihan, membuang kemendongkolan, dan lain lainnya.

Maka dalam keadaan demikian Siauw Liong Lie bisa menguasai jiwa dan hatinya, sehingga tidak perlu dia panik.

Setelah meletakan bajunya ditepi kolam, Siauw Liong Lie terjun kedalam kolam itu, dia telah berenang kesana kemari.

Memang kesegaran tubuhnya pulih kembali.

Suatu kali Siauw Liong Lie telah menyelam kedalam kolam.

Air yang bening sejuk itu mengembirakan hatinya, sehingga disaat itu kesedihan tidak merajai hati pendekar wanita nomor satu dijaman ini.

Tetapi waktu Siauw Liong Lie tengah berenang dengan gembira didalam air kolam itu, dan bermaksud untuk907 menyelam kedasar kolam itu.

tahu-tahu dia merasakan ada semacam arus air memutar.

Tentu saja hal ini mengejutkan hati Siauw Liong Lie, cepat?

dia memutar tubuhnya untuk berenang keatas lagi, tetapi rupanya usaha Siauw Liong Lie telah terlambat, karena kedua kakinya telah kena terlibat oleh gulungan arus air itu.

Siauw Liong Lie mengerahkan tenaga dalamnya, dia telah berusaha melepaskan diri dari jerat arus air yang bergulung itu.

Tetapi usahanya itu selalu gagal.

Hal ini bukan disebabkan lwekang Siauw Liong Lie kurang kuat, tetapi berbeda sekali, jika membandingkan antara didarat dengan diair.

Didalam air tenaga lwekang Siauw Liong Lie seperti lenyap setengahnya, dimana daya tahannya berkurang banyak.

Mati-matian Siauw Liong Lie berusaha melepaskan diri dari arus air itu tetapi semakin dia meronta, gulungan air itu semakin keras dan kuat.

Bahkan suatu saat.

Siauw Liong Lie telah kehabisan napas dan tidak berdaya lagi.

Tubuh Siauw Liong Lie terhisap oleh arus air itu, dia sendiri sudah tidak tahu karena Siauw Liong Lie telah pingsan akibat terseret arus air tersebut.

Ketika Siauw Liong Lie tersadar dari pingsannya, dia mendapatkan dirinya terhampar dipermukaan goa yang cukup besar, sedangkan kakinya masih terendam diair.

Rupanya kolam itu memiliki cabang yang berhubungan dengan goa tersebut.

..ooo0dw0ooo..

Jilid 26908 Siauw Liong Lie telah bangun berdiri.

Dia merasa dingin sekali, karena dia tidak berpakaian.

sedangkan hawa disitu sangat dingin sekali.

Untuk menguatkan tubuh, Siauw Liong Lie telah memasuki goa itu.

Hawa hangat bisa melindungi tubuhnya juga, maka Siauw Liong Lie telah berdiam disitu sambil mengawasi kalau-kalau ada tempat yang bisa didaki untuk kembali kelembah dimana pakaian dan seluruh barang-barangnya ditinggalkan ditepi kolam.

Tetapi letak goa itu sangat terpencil sekali.

Sekelilingnya merupakan dinding-dinding batu gunung yang licin sekali.

Siauw Liong Lie berulang kali telah menghela nafas.

Selalu akhir-akhir ini dia mengalami banyak perobahan saja.

Perlahan-lahan.

Siauw Liong Lie memasaki terus goa itu, dia melangkah dengan langkah yang satu-satu.

karena keadaan didalam goa itu sangat gelap, tidak terlihat apapun juga.

Dengan tangannya Siauw Liong Lie telah meraba-meraba kedepan.

dan semakin lama goa itu semakin sempit, akhirnya Siauw Liong Lie harus menyusurinya dengan merangkak.

dia merasakan lututnya sakit sekali.

Tetapi ketika itu Siauw Liong Lie berhasil tiba disebuah ruangan.

Ruangan yang tidak begitu besar, tetapi memiliki hawa yang sejuk dan hangat yang bergabung menjadi satu.

mendatangkan perasaan segar.

Dan ruangan ini memiliki sinar dari matahari lewat beberapa lobang yang mungkin sengaja dibuat atau memangnya sudah ada.

Dengan adanya sinar matahari yang bisa menerobos masuk, Siauw Liong Lie bisa melihat jelas keadaan didalam goa itu.909 Dengan adanya sinar matahari yang bisa menerobos masuk, Siauw Liong Lie bisa melihat jelas keadaan didalam goa itu.

Pertama tama yang dilihatnya adalah dua buah bangku dari batu yang dibuat bundar dengan ditengah-ditengah dasarnya diratakan untuk dipergunakan duduk.

Disebelah kanannya terdapat sebuah meja batu pula.

Setelah itu Siauw Liong Lie melihat pembaringan batu juga, dan terakhir kali dia jadi terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan, waktu dia melihat diatas ranjang batu itu duduk bersemadhi tengkorak manusia yang masih memakai baju!

Keadaan seperti itu tentu saja menimbulkan perasaan ngeri.

Tetapi setelah Siauw Liong Lie mengetahui bahwa yang duduk bersemadhi itu hanyalah tengkorak manusia yang telah meninggal dunia, hati Siauw Liong Lie jadi tenang kembali.

Dia menghampirinya lalu menyentuh sedikit pakaian tengkorak itu.

Seketika pakaian itu meluruk jatuh!

Rupanya telah berlalu lama sekali orang tersebut meninggalkan dunia.

Siauw liong Lie menghela napas.

Disaat itu, antara cahaya matahari yang samar-samar masuk dari lobang-lobang dibatu dinding itu, Siauw Liong Lie melihat sesuatu didekat kaki tengkotak itu.

Ternyata didekat kaki tengkorak itu terdapat beberapa baris kata-kata yang diukir didalam batu tersebut.

Tentu saja yang membuat Siauw Liong Lie jadi kagum adalah huruf-huruf itu diukir dengan mempergunakan jari telunjuk tangan tengkorak itu.

Bunyinya sebagai berikut.

"Kepada orang yang berjodoh denganku. kupersembahkan kitab pusaka ilmu silat yang tidak ada duanya didalam dunia910 ini. Tetapi wahai orang yang berjodoh denganku, engkau kuburkan dulu tulang-tulangku."

Surat yang mirip-mirip 'surat wasiat' itu sama sekali tidak meninggalkan nama atau gelaran. Siauw Liong Lie menghela napas.

"Mungkin orang ini sebelum meninggal merupakan jago yang hebat sekali dan akhirnya menjelang kematiannya justru dia kuatir tidak ada orang yang bersedia menguburkan tulang-tulangnya, maka dia membuat surat 'wasiat' seperti itu."

Setelah menghela napas berulang kali, Siauw Liong Lie mengambil batu gunung yang agak besar.

dia telah mulai menggali tanah dalam goa itu.

Setelah bekerja seorang diri cukup lama, maka Siauw Liong Lie telah berhasil membuat sebuah lobang yang cukup besar, dia mengangkat tengkorak orang itu.

berikut bajunya yang banyak telah meluruk menjadi abu, dikuburkan semuanya didalam lobang ini, kemudian dia telah menutupi lobang itu dengan tanah yang tadi digalinya.

Siauw Liong Lie letih sekali, dia ingin beristirahat dulu, tetapi waktu mau duduk dikursi batu, dia melihat di tempat tadi tengkorak itu duduk, terdapat beberapa huruf.

Maka Siauw Liong Lie telah menghampiri pembaringan batu itu, dia telah membaca huruf-huruf yang tertulis disitu yang bunyinya sebagai berikut .

"Orang yang berjodoh denganku, Engkau ternyata sangat baik sekali telah menguburkan mayatku... untuk itu aku dari akhirat menghujuk hormat kepadamu ... arwahku tentunya bisa beristirahat dengan tenang. Dengan jiwa yang tulus dan baik, engkau memang pantas menjadi muridku. Dan kukira kitab pusaka itu pantas jatuh ditanganmu, untuk mendapat kitab itu, engkau mulai melangkah dari sudut kanan pembaringan ini, melangkah limba belas tindak dan setelah itu kau akan melihat batu gunung yang menonjol dalam bentuk segi tiga, disaat itulah engkau tendang batu segi tiga itu,911 maka engakau akan memperoleh kitab pusaka ilmu sati yang tiada duanya didalam rimba persilatan!"

Sebetulnya Siauw Liong Lie tidak tertarik dengan kitab ilmu silat yang dijanjikan itu.

Tadi dia menguburkan mayat dari orang yang tidak diketahui siapa namanya itu hanyalah didorong oleh perasaan kasihan saja.

Tetapi sekarang karena ingin mengetahui kitab ilmu silat apakah yang disebut sebagai kitab ilmu silat pusaka oleh pemiliknya, Siauw Liong Lie mengikuti petunjuk-petunjuk itu.

diamna dari sisi pembaringan batu itu dia telah melangkah lima belas tindak dan benar saja didekat kakinya terdapat batu berbentuk segi tiga.

Dia tanpa berpikir lagi telah menendangnya.

"Tukkk!"

Batu itu tertendang dan tahu-tahu tgerjadi suatu yang tidak pernah dimimpikan oleh Siauw Liong Lie, suatu peristiwa yang sangat mentakjubkan sekali.

Batu yang tertendang oleh Siauw Liong Lie jadi terpental dan dinding batu disebelah kanannya tahu-tahu menggeser terbuka seperti juga pintu rahasia.

Siauw Liong Lie berdiri tertegun mengawasi dinding ayng tengah menggeser itu.

Semakin lama dinding itu terbuka, semakin lebar sehingga terlihat dibalik dinding batu itu terdapat sebuah ruangan lainnya yang sangat gelap.

namun masih bisa terlihat samar-samar keadaan didalam ruangan itu.

Siauw Liong Lie melihatnya bahwa didalam ruangan itu terdapat sebuah kursi batu pembaringan dari batu juga dan sebuah meja dari kayu.

dari semula Siauw Liong Lie hanya melihat seluruh barang-barang yang terdapat didalam goa ini terbuat dari batu tetapi hanya meja itu saja yang terbuat dari kayu!912 Setelah berdiri ragu-ragu akhirnya Siauw Liong Lie memasuki ruangan itu.

Dia melihat disekeliling tembok terukir manusia dalam gerakan-gerakan bersilat.

Keras sekali ukiran itu, namun sebagai seorang akhli silat yang telah berpengalaman, Siauw Liong Lie bisa mengerti makna dari lukisan-lukisan itu.

Yang membuat Siauw Liong Lie jadi berdiri takjub, karena dia melihat gerakan-gerakan dari manusia ukiran didinding itu selain merupakan ukiran yang menarik justru mengemukakan gerakan dari ilmu silat kelas tinggi.

Tetapi disaat itulah Siauw Liong Lie melihat didinding sebelah kanan tampak barisan huruf-huruf yang diukir juga dibatu dinding itu.

Siauw Liong Lie memperhatikan huruf-huruf itu, dia membacanya sepatah demi sepatah, karena dengan diukir didinding itu, huruf-huruf tersebut kasar sekali coretannya.

Tetapi masih bisa dibaca, yang bunyinya sebagai berikut.

"Engkau telah menguburkan tulang-tulangku, terimakasih wahai orang yang berjodoh denganku...."

Dan disamping tulisan itu terdapat beberapa baris tulisan lagi, yang bunyinya sebagai berikut "Wahai orang yang berjodoh denganku, Engkau memang berjodoh denganku.

dan menjadi muridku, Seluruh kepandaianku telah kuukir didinding kamar ini, dan engkau bisa mempelajarinya mulai dari gambar pertama yang ada disebelah kiri, terus mempelajari gerakan-gerakan yang saling susul menuju kekanan.

Ilmu silat yang kutuliskan itu merupakan ilmu silat kelas satu, karena dimasa aku hidup, aku telah merubuhkan seluruh orang-orang persilatan tanpa pernah kalah satu kalipun juga.

hal itu membuktikan bahwa kepandaianku telah mencapai tingkat yang cukup sempurna.

Maka jika engkau mempelajari baik-baik, tentu engkau bisa memiliki kepandaian yang tinggi913 dan menjagoi rimba persilatan.

Ilmu yang keturunkan padamu itu kunamakan sebagai ilmu Pek Lui Eng atau Pukulan Tangan Geledek.

Jika engkau telah mempelajari baik-baik setiap pukulan, tanganmu sama hebat seperti petir.

Pelajaran itu di bagi menjadi tujuh bagian dan masing-masing terbagi lagi dari tujuh jurus.

Setiap jurus dibagi pula menjadi tujuh gerakan.

Maka jika engkau telah bisa mempelajarinya dengan baik.

tentu engkau bisa menjagoi rimba persilatan dengan ilmu pukulan Pek Lui Eng itu.

Sebagai muridku, tentu saja engkau harus mengetahui siapa adanya aku.

Aku bernama Tang Cia Sie, bergelar Bu Beng Kun Hoat (Jago Pukulan Tangan Kosong Tidak bernama).

Nah, muridku, kuharap saja engkau mempelari ilmu yang kuwariskan itu sebaik mungkin dan engkau harus mempergunakannya untuk keadilan, tidak boleh sekali mengandalkan ilmu itu untuk melakukan tindakan sewenang-wenang dan jahat.

Aku mendoakan semoga saja engkau tidak mengecewakan hati dan keinginanku, agar aku bisa mati dengan mata yang meram."

Setelah membaca surat itu, Siauw Liong Lie menghela napas.

"Tang Cia Sie....dialah seorang pendekar di jaman seratus tahun yang lalu.....dia telah meninggal dengan tenang ditempat ini tentunya dia merupakan jago yang hebat sekali, karena guruku pernah menceritakan, dijamannya Tang Cie Sie itu kepandaian jago-she Tang tersebut sangat tinggi sekali. Maka dari itu jika aku bisa mempelajari ilmunya itu, niscaya aku bisa memiliki kepandaian yang lebih tinggi... !"

Tetapi berpikir sampai disitu, Siauw Liong Lie telah menghela napas lagi, karena dia teringat betapa dirinya sekarang berada didalam goa yang terpisah dengan kolam yang memiliki arus yang sangat kuat, sehingga tidak mungkin dia bisa menerobos keluar !

Hai !

Hai!

Sekarang jika aku mempelajari ilmu itu, untuk apa?

Aku telah terpisah dari suami dan anakku ..." 914 Terkenang kepada anaknya, yang harus berpisah dengannya disaat anak itu masih merah, Siauw Liong Lie jadi menitikkan sir mata.

Siauw Liong Lie memang telah memiliki latihan yang kuat dari ilmu Kouw-bok-pay, dia juga telah menguasai hati sehingga dirinya tidak pernah dihinggapi perasaan gembira, sedih atau juga marah.

Tetapi waktu teringat kepada anaknya itu, justru Siauw Liong Lie sebagai wanita wajar seperti lainnya, jadi menangis menitikkan air mata dengan hati yang berduka sekali.

Sekian lama Siauw Liong Lis menangis, sampai akhirnya dia telah menghela napas dan menyusut air matanya.

Semula memang Siauw Liong Lie tidak bermaksud mempelajari ilmu warisan Tang Cia Sie, tetapi setelah dia berdiam agak lama digoa itu.

mungkin sudah lewat dua hari atau lebih, iseng-iseng ia mulai mempelajari gerakan yang terakhir didinding.

Hal itu hanya untuk mengisi waktunya yang luang.

Tetapi ketika dia mulai menjalankan gerakan yang pertama dan pecahan dari jurus-jurusnya, dia jadi tambah tertarik, karena selain tubuhnya jadi bertambah segar, juga Siauw Liong Lie mengetahui bahwa jurus-jurus yang dipelajarinya itu merupakan ilmu pukulan yang benar-benar hebat!

Apalagi memang Siauw Liong Lie sendiri telah memiliki kepandaian yang, sangat tinggi sekali, dengan sendirinya dia dapat mempelajari ilmu itu dengan, mudah.

Tenaga yang muncul dari setiap gerakan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie mendatangkan sambaran angin yang kuat sekali.

Ilmu pukulan itu benar-benar hebat sekali, dan pukulan dari ilmu Pek Lui Eng itu bisa menghancurkan batu yang bagaimana besar sekalipun juga Siauw Liong Lie yang memiliki Iwekang sangat tinggi telah merasakan Iwekangnya seperti tersalurkan keluar dan menjadi semakin kuat.915 Maka dari itu Siauw Liong Lie jadi semakin rajin belajar dan mengikuti setiap gerakan dari ukiran-ukiran ilmu pukulan Pek Lui Eng itu.

Semakin dipelajari ilmu itu semakin mendatangkan kekaguman dihati Siauw Liong Lie.

Bahkan Siauw Liong Lie telah mempelajari jurus yang keenam, dia jadi bertambah kagum sekali kepada Bu Beng Kun Hiap.

karena ilmu itu benar-benar merupakan ilmu kelas tinggi, mungkin berada diatas dari kepandaian yang dimiliki Siauw Liong Lie sendiri.

Setelah mempelajari seluruh gerakan-gerakan yang terukir didinding, terakhir Siauw Liong Lie melihat ukiran untuk melatih Iweekang.

yaitu dengan kedua kaki yang berjingkat, berdiri sambil bersedekap, menyalurkan jalan pernapasannya mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh tulisan dibatu itu.

Siauw Liong Lie semula merasakan diperutnya seperti ada sebuah bola api yang berputar-putar dan hangat sekali.

Siauw Liong Lie meneruskan latihannya.

Entah sudah lewat beberapa hari, Siauw Liong Lie tidak mengetahui karena selama itu dia tidak melihat matahari danjuga dia tidak mengenal waktu, hanya sinar matahari yang sedikit sekali masuk keruangan itu.

Dengan memperhatikan lenyap dan timbulnya sinar matahari, Siauw Liong Lie hanya bisa menduga bahwa dai telah berada diruangan tertutup itu hampir satu bulan.

Semakin dipelajari Iweekang yang terukir dibatu itu, Siauw Liong Lie merasakan tenaga dalamnya bertambah hebat.

Waktu dia mencoba memegang sebuah batu yang cukup besar, mengerahkan setengah tenaga Iweekangnya batu dalam cengkraman tangannya itu telah hancur menjadi bubuk.

Peristiwa ini mengejutkan dan membuat Siauw Liong Lie jadi girang bukan main.

Karena dengan hasil yang telah didapatnya itu membuktikan bahwa dia telah memiliki916 iweekang yang lebih kuat dibandingkan dengan beberapa waktu lalu.

Saat itu juga Siauw Liong Lie telah beristirahat sambil memikirkan cara untuk mencari jalan keluar dari kurungan goa itu.

Tetapi dia tidak juga menemui bagian bagian dinding yang tipis dan bisa diterobos keluar.

Setelah memeriksa kesana kemari, tiba-tiba Siauw Liong Lie tertarik melihat sebuah kotak besi yang cukup besar yang berada didekat batu yang menonjol keluar.

Barang itu menarik sekali.

Jika memang Siauw Liong Lie bukan sedang memperhatikan keadaan disekitar situ, memerika untuk mencari jalan keluar, tentu dia tidak akan menemui kotak peti tersebut.

Cepat-cepat Siauw Liong Lie telah mengambil kotak itu.

ternyata kotak tersebut terkunci.

Tetapi Siauw Liong Lie yang memiliki lwekang telah sempurna, tidak merasa dipersulit dengan tidak ada kunci kelotok itu.

Dia mengerahkan tenaga Iwekangnya dikedua jari tangannya, kemudian dengan jari telunjuknya dia menyentil kelotok itu.

"Tuk ...!"

Kelotok itu telah terbuka putus oleh sentilan jari Siauw Liong Lie.

Keruan saja Siauw Liong Lie tambah girang, karena dengan sekali menyentil dia bisa mematahkan kelotok besi.

berarti dia benar-benar telah memiliki tenaga lwekang yang menakjubkan sekali.

Dan Siauw Liong Lie lebih girang lagi, ketika dia melihat didalam kotak peti itu terdapat beberapa perangkat pakaian.

Cepat-cepat Siauw Liong Lie mengambilnya sepotong dan mengenakannya.

Karena selama selama sebulan lebih itu Siauw Liong Lie bertelanjang.

disebabkan pakaiannya ditinggalkan di tepi kolam.917 Walaupun pakaian yang dikenakannya itu merupakan pakaian seorang pria tetapi lebih lumayan dari pada tidak mengenakan pakaian sama sekali sebagai penutup tubuhnya.

Peti itu telah disimpan lagi oleh Siauw Liong Lie, diletakkan ditempat semula.

Tetapi swaktu Siauw Liong Lie meletakkan peti itu, matanya yang jeli dan tajam telah melihatnya ada beberapa ukiran huruf-huruf dibawah tempat dia meletakkan kotak besi itu.

Bunyi surat ukiran itu sebagai berikut.

"Muridku.... Engkau kini telah memiliki kepandaian juga pakaianku, engkau bisa menemukannya, Aku gembira bahwa engkau seorang yang baik, yaitu setelah engkau mengangkat peti itu, engkau meletakkan kembali peti tersebut ketempatnya semula, sehingga engkau jadi bisa melihat huruf-huruf yang kuukir dibawah peti ini. Coba kalau engkau telah mengambil peti itu dan engkau tidak bermaksud meletakkan kembali ditempatnya semula, engkau tentu tidak akan melihat huruf-huruf yang kuukir ini. Ketahuilah muridku, bahwa aku mengetahui cara untuk keluar dari goa ini yaitu dengan menuruti gambaran yang kulukiskan ini! Pertama-tama engkau terjun keair yang ada dimuka goa ini, dan berenang sejauh mungkin, jika user-user air mulai menyambut kau dan menariknya, engkau kerahkan lwekang yang engkau pelajari, sehingga user-user air itu tentu tidak sanggup untuk menyeret dirimu, engkau bisa berenang terus untuk mencapai tepi kolan diatas lembah itu .... Muridku yang baik. Engkau harus ketahui juga, bahwa ketiga perangkat pakaianku yang ada didalam peti itu merupakan pakaian yang memiliki khasiat sangat besar dan bukan pakaian biasa, ketiga perangkat pakaian itu merupakan pakaian mustika. Kukatakan918 pakaian mustika karena jika seseorang mengenakan pakaian itu, tentu orang tersebut tidak dapat ditikam oleh senjata tajam, dan juga tidak perlu takut oleh kobaran api. Pakaian itu kubuat dari benang-benang yang dibuat dari besi hitam yang dicampur dengan emas, sehingga ulet sekali. Ketika perangkat pakaiau itu merupakan tiga perangkat pakaian mustika yang jarang sekali dimiliki orang dan kuberi nama Kim-joan-kha (pakaian emas). Nah muridku, engkau harus mempelajari seluruh pelajaran yang ada didinding goa ini sebaik mungkin, karena aku tidak menghendaki muridku nanti memiliki kepandaian separoh-separoh saja, sehingga nanti jika bertemu dengan musuh yang kuat akan roboh dan tidak berdaya, Itulah yang tidak kukehendaki......! Dari gurumu. Tang Cia Sie, Bu Beng Kun Hiap."

Setelah membuka semua surat itu, Siauw Liong Lie cepat-cepat menekuk kedua kakinya dia berlutut memberi hormat kepada ukiran-ukiran surat itu.

"Suhu. tecu Siauw Liong Lie menghunjuk hormat kepada suhu. Tenangkanlah hati suhu didalam baka, karena murid tentu tidak akan melalaikan pesan Suhu untuk berdiri tegak di garis keadilan.....terima kasih atas warisan yang telah diberikan Suhu..... Tecu tentu akan berusaha untuk melaksanakan semua pesan Suhu, tenangkanlah hati Suhu.....!'"

Dan setelah berkata begitu Siauw long lie mengangguk-nganggukan kepalanya tiga kali.

Waktu itu Siauw Liong Lie tengah gembira bukan main, karena dia telah memperoleh petunjuk bagaimana harus keluar dari kolan itu meninggalkan goa tersebut.

Dengan mempergunakan lwekang yang baru diperolehnya tentu dia bisa meloloskan diri dari user-user air dikolam itu, seperti apa yang dijelaskan oleh gurunya.919 Tetapi karena Siauw Liong Lie masih harus mempelajari ilmu meringankan tubuh dan lwekang agar lebih sempurna lagi, dia berdiam digoa dibawah kolam itu.

Kepandaian Siauw Liong Lie mengalami kemajuan yaug pesat sekali, yang membawa dia ketaraf yang lebih sempurna dibandingkan dengan beberapa waktu yang lalu.

Setengah bulan kemudian, Siauw Liong Lie telah dapat menguasai semua ilmu-ilmu itu.

Selama terkurung digoa itu, Siauw Liong Lie selalu makan daging ikan, karena dimuka goa itu, dimana tampak air yang menggenang berasal dari kolam yang diatas itu banyak sekali terdapat ikan-ikan yang bentuknya sangat besar.

Setiap hari Siauw Liong Lie memakan ikan itu, yang dipanggangnya.

Menangkap ikan-ikan itu juga tidak sulit, karena ikan-ikan itu tampaknya jinak sekali.

Setelah lewat lagi beberapa hari, Siauw Liong Lie merasakan bahwa dia telah selesai mempelajari seluruh kepandaian yang ditinggalkan Tang Cia Sie, dia bermaksud untuk mencoba berenang keatas kolam dilembah itu.

Siauw Liong Lie menekuk kedua kakinya, dia berkata "Suhu...

tecu ingin meninggalkan tempat ini.

Sebetulnya Tecu tidak ingin meninggalkan goa ini tetapi berhubung Tecu memikirkan anak Tecu yang diculik orang juga suami yang belum diketahui bagaimana nasibnya, maka tecu terpaksa harus meninggalkan tempat ini!

Terima kasih atas petunjuk-petunjuk suhu yang sangat berharga...!"

Dan setelah berkata begitu, tanpa Siauw Liong Lie mengangguk-menganggukkan kepalanya dua belas kali, sebagai penghormatan murid kepada gurunya.

Kedua perangkat pakaian yang ada dipeti itu, juga tidak diambil oleh Siauw Liong Lie, sebab dia beranggapan bahwa satu perangkat pakaian mustika itu telah cukup.

Karena kelak jika dia telah berada dialam bebas kembali dia bisa membeli pakaian.

Dan juga bukankah pakaian dan perhiasannya ditinggalkan ditepi kolam itu?" 920 Dengan mempergunakan jari telunjuknya Siauw Liong Lie telah mengukir batu itu menuliskan beberapa patah kata..

"Tecu Siauw Liong Lie telah menyelesaikan pelajaran dari kepandaian suhu Tang Cia Sie. Dengan ini tecu menyatakan terima kasih yang sebesar-sebesarnya kepada suhu Tang Cia Sie. Semoga saja arwahnya tenang dialam baka. Tecu akan mempergunakan kepandaian yang tecu peroleh ini untuk melakukan kebaikan dan membela yang lemah..."

Hebat sekali jari telunjuk Siauw Liong Lie, karena dia bisa mengukir dan menulis didinding dengan mempergunakan jari telunjuk itu, setiap kali dia mencoret, maka luluhlah batu itu.

sehingga terlihat nyata sekali.

huruf yang ditulisinya itu jelas dan kuat sekali setiap tarikan huruf itu.

Siauw Liong Lie sendiri merasa kagum dan girang terhadap kepandaian yang diperolehnya dari Tang Cia Sie, karena jia dulu dia memiliki kepandaian yang tinggi dan sempurna, tetapi Siauw Liong Lie belum berhasil menulis didinding batu dengan mempergunakan jari telunjuknya!

Tetapi sekarang, setelah dia berhasil mempelajari Iwekang peninggalan Tang Cia Sie, ia mampu menulis surat dengan jari telunjuknya itu seperti juga menulis di atas lumpur.

Karena terlalu gembira, Siauw Liong Lie jadi menangis terisak-isak.

Dihatinya telah muncul harapan dia bisa keluar dari kolam itu, dan juga bisa mendaki dinding tebing dilembah itu.

Setelah paikui tiga kali lagi, Siauw Liong Lie kemudian keluar dari goa itu.

Pintu goa ditutupnya dengan menarik kembali batu yang menonjol di muka goa tersebut.

Dan Siauw Liong Lie kemudian menyusuri goa yang satunya lagi, sehingga dia telah tiba di depan goa itu, melihat air yang bening dan cabang kolam diatas lembah itu Siauw Liong Lie memandang air yang bening itu dengan tertegun.921 Dia membayangkan, dibawah air kolam itu terdapat user-useran air yang menggulung kuat sekali.

Jika dia menyelam kembali, mungkinkah dia kuat melawan arus user-useran air iiu?

Sedangkan dulu saja dia bukannya tidak memiliki kepandaian, didalam rimba persilatan mungkin Siauw Liong Lie merupakan jago wanita yang paling ternama.

Namun dia tidak berdaya menghadapi user-user air didalam kolam itu.

Tetapi menurut pesan yang ditinggalkan oleh 'guru'nya yaitu Tang Cia Sie, dengan mempergunakan lwekang yang diturunkan oleh Tang Cia Sie.

tentu dia bisa menghadapi arus user-useran air itu.

Maka setelah keragu-keraguannya berkurang banyak, Siauw Liong Lie telah terjun berenang diair dimuka goa itu.

Dia menyelam beberapa kali, tetapi disaat itulah dia mulai merasakan air seperti tergoncang keras.

Dengan demikian Siauw Liong Lie mengetahui bahwa arus user-user air itu telah mulai datang menyerang dirinya.

Itulah hal yang cukup mengerikan.

Ketika Siauw Liong Lie merasakan gulungan air semakin keras, dia mengerahkan Iweekang ayng diperolehnya dari catatan Tang Cia Sie.

Kedua tangannya ditekuk dengan gerakan seperti seekor kodok, tampak Siauw Liong Lie telah berenang terus.

Memang meletihkan melawan tekanan dari tenaga arus air yang bergulung-bergulung seperti tidak terkendalikan lagi.

Beberapa kali tubuh Siauw Liong Lie terpental kembali terbawa arus.

Tetapi Siauw Liong Lie tabah sekali, dia telah menggerakkan terus kedua tangannya dan kakinya melawan terjangan gulungan arus itu.

Walaupun sedikit demi sedikit dan meletihkan sekali, kenyataannya Siauw Liong Lie telah bisa maju menerobos arus air itu.922 Akhirnya Siauw Liong Lie terlepas juga dari gulungan arus air itu, sehingga dia bisa berenang terus menuju kepermukaan kolam.

Tadi waktu melawan arus air yang bergulung-gulung itu, Siauw Liong Lie merasa letih sekali dan ketika dia tiba dipermukaan kolam dan berhasil naik kedarat.

dia telah merebahkan tubuhnya ditepi kolam itu untuk beristirahat.

Sambil mengatur pernapasannya, Siauw Liong Lie juga mengawasi sekitar tempat itu.

Tidak ada seorang manusiapun di sini dan juga pakaiannya telah lenyap!

Siauw Liong Lie jadi heran, dia menyelidiki seluruh lembah itu, tetapi dia tetap tidak menemui seorang manusiapun juga !

Waktu Siauw Liong Lie tiba dipermukaaa kolam itu, hari menjelang sore, dan ketika matahari telah turun diufuk barat, Siauw Liong Lie berusaha menaiki tebing itu, dia merayap dengan ilmu cecak dan berhasil mencapai atas lembah itu.

Dengan hati-hati Siauw Liong Lie menghampiri sebuah perkampungan, Dengan gerakkannya yang ringan dan gesit sekali, tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui bahwa ada seorang pendekar wanita yang tengah berkeluyuran, memperhatikan satu persatu rumah penduduk, karena memang Siauw Liong Lie bermaksud untuk mencari rumah seorang hartawan.

Dan akhirnya Siauw Liong Lie dapat menemukan sebuah rumah yang diinginkannya.

Dia telah melihat rumah yang mewah dan besar, sebagian dari pekarangan rumah itu diterangi oleh lampu, sehingga disekitar tempat itu jadi terang benderang.

Siauw Liong Lie tampak telah melompati dinding tembok pekarangan, kemudian dia mencari sebuah kamar, dengan mudah dia menemukan apa yang dicarinya, yaitu tempat simpanan uang dari pemilik gedung tersebut.

Di ambilnya uang perak sebanyak seribu tail, lalu dia kembali ketepi lembah dan melompat kebawah lembah itu.923 Malam itu Siauw Liong Lie tidur dengan nyenyak, keesokan paginya ketika dia terbangun dari tidurnya, dia melihat sesuatu yang agak ganjil, yaitu tanah kuburan yang masih merah.

"Rupanya sebelum aku datang kemari telah ada orang lainnya !!"

Pikir siauw Liong Lie yang menduga bahwa kuburan itu adalah kuburan dari seorang manusia.

Pada hal sebenarnya, jika saja Siauw Liong Lie mau membongkar kuburan itu, tentu dia akan mengetahui bahwa kuburan itu adalah kuburan dari pakaian dan barangnya yang telah dikubur oleh Sin Tiauw.

Setelah cuci muka ditepi kolam Siauw Liong Lie mendaki keatas tebing itu untuk keluar dari lembah itu.

Dia memperhatikan keadaan sekitarnya, kemudian berlari-berlari kearah barat, dia telah tiba disebuah kampung kecil, Siauw Liong Lie membeli beberapa perangkat pakaian dan bermacam-bermacam kuwe dan daging kering.

Setelah membayar barang yang di belinya itu, Siauw Liong Lie bermaksud kembali ke-lembah.

Tetapi baru saja dia melangkah beberapa langkah, dia mendengar suara seorang gadis kecil yang menangis sedih sekali.

Usia gadis kecil itu belum lagi ada setahun, masih merah, dan tangisnya juga sangat nyaring sekali.

Bayi kecil itu tergeletak di muka warung barang-barang dimana dia tadi berbelanja.

Melihat bayi itu tanpa ada yang mengurusi dan tergeletak di situ, Siauw Liong Lie merasa heran bercampur marah.

Cepat-cepat Siauw Liong Lie menggendongnya.

Apa lagi dia teringat pada anaknya sendiri, yang sekarang ini berada entah dimana, masih hidup atau memang telah binasa.

Dan perasaan kasihan pada gadis cilik yang masih merah itu membuat dia menggendongnya untuk menghangati tubuh bayi kecil tersebut.924 Siauw Liong Lie memasuki toko kelontong itu, kemudian bertanya kepada pemilik toko itu.

"Hengtai, siapa orang tua anak ini? Mengapa ditinggalkan begitu saja dan Hengtai tidak merasa kasihan dan hanya membiarkan saja? Bukankah jika kelak matahari telah naik tinggi dan panas sekali, akan membuat bayi itu tersiksa lalu mati?"

Pemilik toko itu jadi serba salah tingkahnya, tetapi tokh akhirnya dia telah berkata.

"Bukan kami tidak merasa kasihan kepada gadis kecil itu.... tetapi kedua orang tuanya, ayah dan ibunya adalah penjahat-penjahat besar yang tidak berampun dan kejam sekali. Telah ratusan orang-orang yang menjadi korbannya. Maka waktu tadi kedua orang tuanya itu, ditangkap dan dihukum mati dengan pancung kepala. Memang kami merasa kasihan pada bayi yang sebatang kara itu. tetapi kami tidak berani mengambil dan melihatnya, seluruh penduduk kampung juga begitu, mereka takut kalau nanti setelah anak itu besar akan menimbulkan kesulitan yang tidak kecil, apa lagi anak ini keturunan dari penjahat kejam seperti ayah dan ibunya....! "

Siau Long Lie menghela napas.

"Kasihan anak ini.....seharusnya dia tidak diperlakukan begitu! Bukankah yang bersalah dan berdosa adalah kedua orang tuanya? Mengapa pula anak ini yang harus menjadi sasarannya? Hemmm, memang kadang kala manusia itu jahat dan bersembunyi dibalik kebaikan! Biarlah anak ini kuambil untuk dipelihara olehku!"

"Terserah kepada nyonya, karena memang kami sekampung telah memutuskan tidak akan mengambil anak itu, dan meletakan begitu saja. Untung ada nyonya, sehingga anak itu tidak perlu sampai mati.....!"

Siauw Liong Lie menghela napas dan dengan membawa barang-barang yang baru dibelinya itu dalam jumlah yang925 cukup banyak, juga tangan kanannya menggendong bayi perempuan itu dengan penuh kasih sayang, dia telah pergi ketepi tebing dan dengan ginkangnnya yang sempurna, dia berlari-berlari menuruni tebing itu.

Dalam waktu yang singkat sekali dia telah berada dilembah itu lagi.

Siau long lie karena teringat bahwa ditempat itu ada gundukan tanah seperti kuburan, maka dia tidak bermaksud berdiam dilembah itu lama-lama.

Dia telah mengikat kepala bayi perempuan itu dengan sehelai kulit dan kemudian barang-barang belanjaannya itu diikat pula didalam sepotong kulit.

kemudian dia menyelam melawan arus air.

dia telah berenang dengan kedua tangannya membawa si bayi dan bahan makanannya.

Usaha siau long lie berjalan lancar dan tidak menemui halangan apapun juga.

Dan mereka, siau long lie bersama bayi kecil itu tiba di goa tersembunyi itu.

Demikianlah siau long lie telah merawat bayi kecil itu.

"karena engkau kutemui dalam keadaan yang menderita dan sengsara, maka engkau kunamakan Goat Lan. Sedangkan she mu bisa mempergunakan she-ku, yaitu she Siauw! Untuk selanjutnya engkau bernama Siauw Goat Lan."

Bayi yang masih kecil seperti itu tidak mengetahui apa-apa, dia hanya sibuk dengan susu yang diberikan Siauw Liong Lie.

Karena sejak kedua orang tuanya dihukum mati, dia telah menderita kelaparan.

Siauw Liong Lie juga bertekad untuk merawat Siauw Goat Lan dan anak yatim piatu itu akan diperlakukan seperti anaknya sendiri.

Dengan adanya Siauw Goat Lan, hati Siauw Liong Lie jadi terhibur juga.

Pendekar wanita ini juga bermaksud menutup riwayat hitam dan kedua orang tua Siauw Goat Lan.

karena926 dia tidak menghendaki nanti Siauw Goat Lan setelah meningkat dewasa akan memiliki dendam.

Siauw Liong Lie menganggap urusan Siauw Goat Lan telah habis, karena dengan demikian Siauw Goat Lan terbebas dari jerat dendam yang bisa merusak gadis ini.

Dengan demikian Siauw Liong Lie bisa benar-benar menganggap bahwa Siauw Goat Lan adalah puterinya sendiri.

Begitulah dari hari kehari Siau Long lie telah merawat Siauw Goat Lan.

Ketika Siauw Goat Lan telah berusia empat tahun, gadis kecil itu mulai diberi pelajaran silat.

Ternyata Siauw Goat Lan cerdas sekali, dia bisa menerima pelajaran-pelajaran yang diturunkan padanya dalam waktu yang singkat sekali.

Siau long lie jadi girang melihat kenyataan itu.

Apa lagi kemajuan yang pesat telah diperoleh seorang Siauw Goat Lan.

Sedangkan Siauw Goat Lan sendiri selalu memanggil Siau long lie dengan sebutan suhu, karena dia telah dibiasakan oleh Siau long lie sejak kecilnya untuk memanggil dengan sebutan suhu.

Maka dalama keadaan demikian dari tahun demi tahun Siauw Goat Lan juga diberi pelajaran dasar dari Iweekang dan Ginkang.

Kepandaian yang diturunkan oleh Siau long lie merupakan kepandaian kelas tinggi, jika saja Siauw Goat Lan melatih diri dengan baik, kelak jika dia telah dewasa tentu jarang sekali ada orang yang bisa menandinginya.

Tahun demi tahun lewat dengan cepat dan akhirnya Siauw Goat Lan telah berusia sebelas tahun dengan memiliki kepandaian yang tinggi, dan yang kurang hanyalah pengalamannya saja.927 Sejak berusia sebelas tahun Siauw Goat Lan sering diajak Siauw Liong Lie keluar dari goa untuk pergi ke kampung-kampung yang terdekat guna memberikan pakaian dan makanan.

Walaupun masih kecil, tetapi Siauw Liong Lie sering kali berenang melawan arus kolam itu, sehingga dia bisa berenang pula pergi melalui kolam yang memiliki user-user air dengan mudah sekali.

Hari itu, waktu Siauw Goat Lan berusia sebelas tahun, Siauw Liong Lie mengatakan bahwa dia ingin tinggal dilembah itu, sehingga tidak perlu setiap kali keluar dari kolam itu tubuh mereka basah kuyup.

Siauw Liong Lie juga telah menguasai sepenuhnya ilmu silat Tang Cia Sie, sehingga dia tidak perlu berdiam lebih lama lagi di goa tersebut.

Dengan tinggal dilembab yang indah dan banyak pohonnya yang beraneka warna, Siauw Goat Lan jadi girang sekali.

Begitulah guru dan murid telah tiba di lembah itu dan menetap disana.

Siauw Liong Lie mendirikan sebuah rumah kecil, untuk mereka tinggal dan menghindari hujan dan angin.

Siauw Goat Lan ternyata seorang anak yang rajin, lincah dan gesit.

Setiap hari dengan tekun dia mempelajari ilmu silat yang diajarkan oleh gurunya.

Namun hari itu justru Siauw Goat-Lan telah bertemu dengan Yo Ko beramai.

Dan pertemuan itu akhirnya membuat Yo Ko dan Siauw Liong Lie berkumpul kembali.

ooo00d0w00ooo SIAUW LIONG LIE telah menyelesaikah ceritanya sambil menghela napas.928 Tetapi Yo Him heran sekali, ada sesuatu yang tidak dimengerti olehnya.

"Bu"

Katanya kepada Siauw long lie "Aku sudah pernah dirawat oleh Sin Tiauw beberapa tahun di dalam lembah itu, mengapa tidak bertemu denganmu bu?"

Siau long lie tersenyum, katanya.

"Mungkin juga waktu aku keluar dari lembah itu untuk mencuri uang yang seribu tail itu. Justru engkau tidak ada disitu dan telah diajak bermain oleh Sin Tiauw... Itulah suatu kebetulan saja. sehingga kita bertemu setelah belasan tahun, dan engkau kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan."

Yo Him jadi malu dan menundukkan kepala dengan pipi yang berobah merah.

"Ah. ibu bisa saja"

Katanya Yo Ko dan yang lainnya jadi tertawa geli karena mereka melihat Yo Him kemalu-kemaluan begitu rupa digoda oleh ibunya.

Begitulah, mereka telah bercakap-bercakap dengan gembira.

Tiba-tiba Yo Ko teringat sesuatu.

"Liong Jie... ada sesuatu yang tidak kumengerti!"

Katanya.

"Apa itu Ko jie?"

Mengenai rangka dari tengkorak Sin-Tiauw, yaitu burung rajawali kita itu...mengapa masih tetap menggeletak ditempatnya berhampar, bukankah menurutmu tadi engkau sering keluar dari air kolam dan tentunya melihat kerangka burung itu..."

"Benar, memang aku melihatnya, tetapi tentu saja Sin Tiauw tidak akan senang jika kita mengubur tulang-tulangnya. Bukankah letak dari tulang belulang itu dengan sikap kedua sayapnya yang terpentang lebar-lebar....! Hemm, jika kita929 menguburnya tentu akan membuat dia tidak senang, maka aku membiarkan saja dengan menggeletak begitu, bukankah sangat indah dilihat?"

Yo Ko dan lain-lainnya mengangguk-mengangguk tanda setuju.

"Tetapi sayang sekali aku tidak mengetahui maksudmu yang sebenarnya itu, sehingga aku telah mengubur tulang-tulangnya,"

Kata Yo Ko "Ya, jika memang telah dikubur itupun tidak apa-apa bukan?"

Kata Siauw Liong Lie tertawa.

"Akhirnya kita berkumpul juga....inilah anugerah Thian yang maha pengasih dan penyayang...."

Dan Siauw Liong Lie menghela napas panjang-panjang, karena saking girang dan juga terharu dengan adanya pertemuan ini.

Siauw Liong Lie juga menceritakan bahwa dia senang sekali dilembah ini, karena pemandangannya indah dan udaranya nyaman.

"Yang mencelakai aku adalah Tiat To Hoat ong si pendekat dari Mongol itu..!"

Kata Siau long lie sejenak kemudian "Maka kalau aku memiliki kesempatan, tentu aku akan mencarinya untuk mengadakan perhitungan dengannya..!"

Yo Ko mengangguk.

"Benar, selama belasan tahun ini aku sibuk sekali mengumpulkan sahabat-sahabat yang cinta negeri, sehingga waktu sangat sedikit sekali, dimana aku selalu gagal mencari pendeta Mongol itu."

Yo Ko menghela napas panjang, kemudian katanya lagi.

"Keadaan kerjaan Song tengah terancam oleh musuh yang ingin menyerang kedaratan tionggon, disamping itu juga banyak menteri-menteri dorna yang telah menghasut Sri Baginda. sehinggal pucuk pimpinan kerajaan sudah goyah dan930 mungkin satu atau dua tahun mendatang ini pasukan Mongolia itu akan menyerbu kedaratan Tionggoan."

Disaat itu siau long lie mendengarkan baik-baik dan waktu suaminya berkata sampai disitu, dia telah memotongnya.

"Inilah urusan yang tidak kecil. selama belasan tahun aku mengurung diri dilembah ini. tidak tahunya diluar telah terjadi pergolakan yang tidak kecil. Suamiku apakah kita lebih baik meninggalkan lembah ini untuk membantu para orang gagah menghadapi musuh dari luar?"

Yo Ko mengangguk.

"Memang aku bermaksud begitu, apa lagi sekarang kita telah berkumpul kembali"

Kata Yo Ko."Dan kita bisa menghadapai musuh yang paling tangguh sekalipun! Disamping itu kita harus mencari jejak Tiat To Hoat Ong untuk membalas sakit hati kita..!"

Baca Juga: Iblis Dan Bidadari Kho Ping Hoo

Baca Juga: Alap Alap Laut Kidul 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert