Eps 11 Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Baca online Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Cersil Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo.
"Kakangmas Jatmika, andika ditunggu Sulastri di kebun."
Mendengar ini, Jatmika mengangguk dan pemuda ini lalu bergegas pergi ke kebun.
Lindu Aji tidak ingin tinggal lebih lama di situ yang membuat hatinya semakin lama semakin resah.
Maka dia menggunakan kesempatan selagi Sulastri belum kembali, dia berpamit kepada Ki Subali dan Nyi Subali, Ki Salmun, dan Neneng Salmah.
Sementara itu, Jatmika berpapasan dengan Sulastri yang melangkah perlahan menuju ke rumah.
Ia mencinta Aji, akan tetapi ia mau mengalah kepada Neneng Salmah, rela memberi kesempatan kepada Neneng Salmah agar menjadi isteri Aji.
Akan tetapi kenyataannya, Neneng Salmah kini menjadi adik angkat Aji.
Dan Aji agaknya tidak membalas cintanya, malah mengingatkan ia bahwa Jatmika amat mencintanya dan Aji mengharapkan agar ia menjadi isteri Jatmika!
Padahal ia dapat merasakan dalam hatinya ketika mata yang sayu dari Aji itu memandangnya, ketika Aji berkata-kata dengan suara menggetar penuh kedukaan, bahwa Aji menderita batin.
Ia pun dapat merasakan bahwa Neneng diaku sebagai adik angkat Aji, namun di lubuk hatinya Neneng juga merasa kecewa karena gadis itu mencinta Aji sebagai seorang wanita mencinta seorang pria.
Ketika berpapasan dengan Sulastri yang wajahnya tampak pucat, Jatmika cepat memanggil.
"Nimas Sulastri.....!"
Sulastri berhenti dan memandang pemuda itu.
"Kakang Jatmika, engkau hendak ke manakah?"
"Aku sengaja menemuimu, Lastri. Sebetulnya, aku hendak mempergunakan kesempatan ini untuk..... meminangmu kepada ayah ibumu. Akan tetapi aku ingin mendengar dulu pendapat dan persetujuanmu."
Sulastri mengerutkan alisnya dan ia menghela napas panjang beberapa kali, menatap wajah pemuda itu, lalu menundukkan mukanya dan menggeleng kepala perlahan.
Jatmika khawatir sekali melihat sikap gadis itu.
"Akan tetapi, nimas, aku cinta padamu. Engkau tahu benar bahwa aku amat mencintamu."
Sulastri mengangkat muka dan memandang pemuda itu dengan sinar mata layu.
"Aku tahu, kakang. Aku amat suka dan kagum kepadamu. Akan tetapi tentang cinta..... lama sebelum aku berkenalan denganmu, aku telah jatuh cinta kepada seorang pria dan aku tidak dapat memindahkan cintaku."
Wajah Jatmika menjadi pucat.
"..... ahh..... dia..... Dimas Aji?"
"Tidak perlu kita bicara tentang itu, kakang. Pendeknya, aku suka kepadamu akan tetapi aku tidak mencintamu seperti cintamu kepadaku."
Sulastri ingat akan keadaan Neneng Salmah dan disambungnya cepat.
"Kita tidak mungkin berjodoh sebagai suami isteri, kakang, akan tetapi aku, akan merasa bersukur sekali kalau kita yang sebetulnya sudah menjadi saudara seperguruan ini lebih memperkuat tali pesaudaraan antara kita. Aku ingin kau anggap sebagai adikmu sendiri, kakang. Maukah engkau menjadi kakakku, kakak angkat seperti seorang kakak kandungku?"
Jatmika merasa tubuhnya lemas seolah semua otot bayunya dilolos dari tubuhnya. Dengan suara gemetar dan muka pucat dia berkata.
"Duh Gusti..... ah. maafkan kelemahanku, Lastri. Tak pernah kusangka begini nyeri rasanya orang putus cinta.....! Baiklah, Lastri, adikku, aku rela..... semoga engkau akan hidup bahagia dengan pilihan hatimu. Selamat tinggal, Lastri.....!"
Jatmika lalu melompat pergi dari situ tanpa pamit kepada yang lain.
Setelah menghadapi kenyataan bahwa Sulastri tidak membalas cintanya, dia merasa pening dan khawatir kalau dia berpamit dari yang lain, dia akan tidak dapat menahan kedukaan hatinya.
Sulastri berdiri diam sejenak memandang ke arah perginya Jatmika, lalu menghela napas panjang.
"Aduh kasihan sekali, Kakang Jatmika....."
Ia terisak sebentar lalu menyusut air matanya dan kembali ke dalam rumah.
Tidak ada yang kekal di dunia ini.
Kesenangan yang bagaimanapun, atau kesusahan yang bagaimanapun, hanya semu dan sementara saja!
Susah senang merupakan keseimbangan yang tak terpisahkan, silih berganti mengisi kehidupan manusia di dunia.
Kalau si aku masih bercokol, si nafsu masuk berulah, maka selama itu pula kita akan teromang ambing diantara suka dan duka.
Kebahagiaan abadi hanya ada apabila manusia kembali kepada sumbernya, kepada penciptanya, kepada Gusti Allah Yang Maha Kasih, Yang Maha Sempurna.
Menyerahkan diri sebulatnya, secara total kepada kekuasaanNya, di samping mengerjakan seluruh anggauta tubuh sesuai dengan kehendakNya dalam bentuk ikhtiar mencukupi kebutuhan hidup secara halal dan sehat.
Kalau sudah begitu, kita akan mampu menerima segala apapun yang terjadi kepada diri kita, baik dipandang mata jasmani sebagai kesenangan ataupun kesusahan, manis atau pahit, dengan hati penuh rasa syukur kepada Gusti Allah, waspada bahwa semua itu sudah sesuai dengan rencana dan kehendakNya dan apapun yang terjadi merupakan berkahNya sehingga kita patut bersyukur.
Dalam sakit atau sehat, rugi atau untung, susah atau senang, kita akan waspada dan dapat melihat bahwa semua itu membuktikan adanya Kekuasaan dan Keadilan Gusti Allah.
Sampai sekian saja kisah ini, semoga ada manfaatnya bagi para pembaca.
Kalau pembaca ingin mengetahui bagaimana nasib selanjutnya dari Lindu Aji, Sulastri, Jatmika, Neneng Salmah, Parmadi, Muryani, Sutejo, Retno Susilo dan tokoh lawan mereka yang berhasil lolos seperti Nyi Maya Dewi dan yang lain-lain, silahkan baca kisah "Bagus Sajiwo"
Yang merupakan lanjutan kisah Alap-alap Laut Kidul ini.
Sampai jumpa di lain cerita.
T A M A T Solo, akhir Agustus 1990.
Penerbit .
CV.
Gema 2004, Solo Kiriman Budi Santoso Bandung (trims) Final Edit & Ebook oleh .
Dewi KZ
Tiraikasih Website .
http.//kangzusi.com
Baca Juga: Suling Naga 8
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 5