Eps 1 Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo
Baca online Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo
Cersil Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo.
Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 PAGI hari itu di puncak sebelah utara pegunungan Ijen.
Matahari telah naik agak tinggi.
Sinarnya yang sejak fajar menyingsing tadi kemerahan dan lembut, kini mulai mendatangkan kehangatan, mengusir sisa-sisa halimun yang bermalas-malasan meninggalkan bumi yang subur, yang didekapnya sepanjang malam.
Embun-embun mulai gemerlapan menerima cahaya matahari, bergantungan di ujung daun-daun bagaikan mutiara.
Tamasya alam di pegunungan itu mulai tampak.
Indah mempesona, keindahan yang sukar diuraikan dengan kata-kata maupun dengan lukisan.
Betapapun pandainya seorang sasterawan menceritakan, atau betapapun pandainya seorang seniman melukiskan, yang dapat mereka tangkap hanya sebagian kecil saja dari segala keindahan yang maha besar itu.
Keindahan yang wajar, tertib, tepat dan setiap perubahan yang diadakan manusia hanya akan mengganggu keindahan itu.
Keindahan yang diciptakan oleh Sastrawan Agung, oleh seniman Agung, yaitu Gusti Allah yang Maha Pencipta, Maha Agung dan Maha Kuasa.
Bahkan awan-awan yang berarak di langit biru, membuat bentuk-bentuk yang demikian mempesona, selalu mengadakan perubahan bentuk yang tak dapat diikuti dengan jelas.
Ujung-ujung pohon bergerak tertiup angin, melambai-lambai dengan lemah gemulai, burung-burung dan kupu-kupu beterbangan, binatang-binatang ke-cil berlarian di antara semak-semak.
Semua bergerak, hidup adalah gerak, dan semua gerakan itu merupakan perpaduan yang amat mengagumkan, gerakan yang wajar dan indah, seolah merupakan tarian, tarian alam.
Suara-suara yang terdengar demikian wajar pula, keindahan kewajaran yang hanya dapat dirasakan ha-ti yang hening.
Tarian dan nyanyian alam itu seolah merupakan puja puji bagi kebesaran Gusti Allah yang Maha Mulia!
Sinar matahari pagi mulai menyentuh tanah, menerobos di antara celah-celah daun pohon.
Mulai semerbak bau yang muncul dari permukaan bumi, membubung ke angkasa.
Bau kembang-kembang, daun-daun rumput dan bau tanah dengan segala daun-daun kering membusuk yang menutupinya.
Akan tetapi tidak ada bau busuk, segala macam ganda yang semerbak itu, kalau tercium tanpa penilaian, terasa' segar dan menyenangkan, bahkan menenangkan hati.
Bebauan itu menjadi bagian dari keindahan bumi dan segala yang berada di atasnya.
Bagus dan jelek muncul dari penilaian.
Penilaian mendatangkan perbandingan, memisah-misahkan sehingga terdapatlah apa yang bagus dan apa yang jelek' menurut selera si penilai.
Akan tetapi keindahan berada di atas bagus atau jelek.
Keindahan bukan bagus bukan pula jelek.
Seperti juga kebahagiaan, demikian pula keindahan tidak dapat dinilai dan dibandingkan.
Kebahagiaan bukan kesenangan, bukan pula kesusahan.
Kebahagian, seperti juga keindahan, tidak dapat dinilai.
Berbeda dengan kesenangan, kalau tidak senang, ya susah dan demikian sebaliknya.
Juga keindahan, bukan kebagusan, karena kebagusan hanya penilaian, kalau tidak bagus ya jelek.
Penilaian mendatangkan pertentangan dan perpecahan.
Menerima apa adanya sebagai apa adanya menghilangkan penilaian.
Manusia hidup wajib berikhtiar, berusaha sekuat tenaga untuk kesejahteraan hidupnya, akan tetapi di atas semua itu, terdapat Kekuasaan yang menentukan dan yang menciptakan apa adanya.
Manusia, betapapun pandainya, betapapun kuatnya, tak dapat melawan atau menghindar dari ketentuan Kekuasaan ini, Kekuasaan Gusti Allah yang memberi keputusan terakhir atas segala perkara yang ada di dunia ini!
"Terpujilah keagungan Gusti Allah yang Maha Pengasih!"
Terdengar suara orang memuji dengan suara perlahan.
Dia seorang manusia laki-laki yang sudah tua sekali.
Usianya tentu lebih dari delapan puluh tahun walaupun wajahnya masih tampak segar kemerahan dan matanya yang bersinar lembut itu masih dapat melihat segala sesuatu dengan jelas, telinganya yang lebar masih dapat mendengar suara yang lembut dan hidungnya yang mancung masih dapat mencium bebauan yang lemah sekalipun.
Kakek tua renta ini sejak pagi sebelumnya matahari terbit tadi telah duduk bersila di atas sebuah batu sebesar gajah yang berada di puncak itu, menghadap ke timur sehingga dia dapat melihat dan mengikuti terbitnya matahari di ufuk timur.
Segala keindahan yang terbentang di atas langit sampai di bawah gunung di depannya membuat dia merasa bahwa dia sudah tidak ada lagi, melainkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari semua keindahan itu.
Dia memuji ke-agungan Tuhan dengan sendirinya, terbawa oleh segala puji yang dia rasakan sedang diserukan oleh setiap benda dan mahluk melalui gerak dan suara mereka.
Tak lama kemudian dia sadar akan dirinya kembali.
Sadar bahwa dia adalah seorang manusia, yang seperti para mahluk lainnya di dunia ini, membawa tugas dalam hidupnya.
Manusia adalah mahluk utama di dunia ini yang bertugas membantu pekerjaan Gusti Allah yang telah mencipta segala sesuatu yang tampak maupun yang tidak tampak.
Manusia dilahirkan di dunia, bertugas menjaga, mengatur agar dunia ini menjadi tempat yang indah membahagiakan, mengusahakan agar semua manusia dapat hidup sejahtera dan bersama-sama membagi kenikmatan hidup ini, sesuai dengan berkah berlimpahan yang diberikan Gusti Allah mejadi segala yang ada di permukaan bumi ini.
Matahari, hawa udara, air, tanah, tumbuh-tumbuhan, semua itu berada di dunia untuk keperluan manusia.
Tidak ada satu saja di antara mereka, manusia tidak akan dapat hidup.
Akan tetapi apakah yang dialaminya, dilihatnya selama dia hidup di dunia selama hampir satu abad ini?
Bahkan jauh sebelum dia lahir, menurut dongeng dan cerita yang dia dengar dari para nenek moyangnya, manusia di Nusa Jawa ini selalu saling bermusuhan, saling serang, saling benci dan saling bunuh!
Perang terjadi dimana-mana.
Dengan alasan bermacam-macam.
Saling memperebutkan kebenaran, tanpa menyadari bahwa kebenaran yang diperebutkan itu bukan kebenaran lagi namanya.
Pada hakekatnya yang diperebutkan adalah kedudukan, harta dan semua itu berarti hanya untuk memenuhi dorongan nafsu daya rendah, nafsu yang mengaku-aku, menjadi aku yang harus paling berkuasa dan senang.
Kedudukan diperebutkan karena kedudukan menghasilkan kekuasaan, dan harta menghasilkan kesenangan, semua untuk si-aku yang berkembang menjadi keluargaku, golonganKu, agama-Ku, bangsa-Ku dan selanjutnya, yang bersumber kepada si-aku.
Kakek itu memejamkan kedua matanya.
Dia melihat dalam benaknya semua peristiwa yang terjadi di Mataram.
Perang melawan daerah-daerah, antar saudara sendiri kemudian perang melawan bangsa Belanda yang hendak menjajah tanah air.
Perang, perang dan perang, menewaskan puluhan, ratusan ribu manusia.
Darah manusia membanjir, mayat ber-tumpukan, dan semua itu diterima oleh bumi yang membisu.
Tiba-tiba kakek itu gemetar, dia merasa datangnya sesuatu yang akan memaksanya kembali ke alam asalnya.
Dia membuka mata kembali, ter-senyum memandang matahari pagi, lalu berkata lirih.
"Gusti, segala kehendak paduka terjadilah! Hamba akan seperti matahari, tenggelam atau timbul dengan rela dan pasrah, sesuai dengan kehendak Paduka."
Kakek itu dikenal orang sebagai Ki Ageng Mahendra yang sudah puluhan tahun bertapa di pegunungan Ijen karena sedih melihat perang yang terjadi di daerah Jawa Timur, antara para kadipaten melawan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung.
Ki Ageng Mahendra adalah seorang sasterawan, akan tetapi juga seorang yang memiliki banyak ilmu kanuragan, sakti mandraguna, bahkan pernah berguru kepada Sunan Gunung Jati atau Fatahillah.
Tadinya dia juga hidup sebagai seorang ksatria yang selalu membela dan menegakkan keadilan.
Akan tetapi setelah melihat betapa yang dibela dan dimusuhi itu adalah bangsanya sendiri pula, bahkan sering berhadapan dengan saudara-saudara atau sahabat-sahabat sendiri yang berbeda faham, dia merasa sedih dan trenyuh seperti yang dialami Sang Arjuna dalam perang Bharatayuda.
Maka dia lalu mengundurkan dan mengasingkan diri di pegunungan Ijen, muak melihat kekejaman manusia membunuhi bangsa sendiri.
Pada saat itu, Ki Ageng Mahendra yang penglihatannya masih tajam itu menangkap bayangan orang mendaki lereng menuju puncak dan dia tersenyum.
Bayangan itu adalah seorang pemuda rema-ja berusia sekitar tujuh belas tahun yang memanggul seekor kijang dan berlari naik dengan cepat sekali.
Jalan pendakian itu sebetulnya amat sukar, terhadang jurang-jurang yang curam dan batu-batu yang licin.
Namun pemuda itu, dengan trengginas dan trampil seperti seekor kera, melompati jurang dan batu-batu itu dengan amat mudahnya bagaikan lari di atas jalan yang rata saja.
Ki Ageng Mahendra memandang dengan senyum, sinar matanya berseri dan dia mengelus jenggotnya yang putih panjang sambil mengangguk-angguk.
Melihat pemuda itu memanggul tubuh seekor kijang dan berlari mendaki puncak dengan tangkasnya, Ki Ageng Mahendra melamun dan terbayanglah peristiwa kurang lebih sepuluh tahun yang lalu.' Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dia sudah bertapa di puncak pegunungan Ijen itu.
Pada suatu pagi dia berjalan-jalan menuruni puncak-puncak, pergi ke sebuah hutan di lereng bawah untuk mencari daun-daun obat.
Ki Ageng Mahendra selain memberi wejangan kepada para penduduk dusun sekitar pegunungan Ijen, juga suka menolong orang-orang sakit dengan memberi jamu yang terdiri dari daun-daun, bunga, buah atau akar.
Rempa-rempa ini dijemur sampai kering dan dibagi-bagikan kepada mereka yang sedang menderita sakit.
Ketika dia sedang berjalan mencari rempa-rempa bahan obat, tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki memanggul tubuh seorang anak Jaki-laki berlari dari depan, persis seperti pemuda remaja yang memanggul tubuh kijang dan berlari mendaki puncak saat dia melamun.
Melihat keadaan yang tidak wajar itu, Ki Ageng Mahendra cepat menghadang orang itu.
Orang yang memanggul tubuh bocah laki-laki itu berusia sekitar enam puluh tahun.
Kulitnya hitam tubuhnya sedang dan pakaiannya mewah.
Matanya sipit seperti terpejam, hidungnya pesek dan bibirnya tebal.
Melihat orang ini, Ki Ageng Mahendra segera mengenalnya dan alisnya berkerut.
Orang itu adalah Wiku Menak Koncar, seorang datuk Blambangan yang terkenal sakti mandraguna dan menjadi penasihat Kadipaten Blambangan.
Melihat cara datuk itu memondong anak laki-laki berusia enam tahun itu, Ki Ageng Mahendra merasa curiga bahwa agaknya datuk itu sedang melakukan hal yang tidak baik dan anak itu menjadi korban, semacam tawanan.
"Berhenti dulu, ki sanak!"
Kata Ki Ageng Mahendra.
Wiku Menak Koncar adalah seorang datuk yang tinggi hati.
Karena dia merasa bahwa kepandaiannya paling tinggi, maka dia memandang rendah orang tua berpakaian putih sederhana yang membawa sebuah keranjang terisi rempa-rempa itu.
Dia memamerkan kepandaiannya, melompat seperti terbang lewat di atas kepala Ki Ageng Mahendra, seolah tidak memperdulikan kakek tua renta itu.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia sedang melayang itu dia merasa lengannya yang memondong anak laki-Iaki itu tiba-tiba seperti lumpuh dan tahu-tahu bocah itu sudah terenggut lepas dari pondongannya!
Cepat dia turun ke atas tanah lalu membalik.
Dia melihat anak laki-laki itu telah berada di atas tanah, telentang dan kakek tua renta itu memijat tengkuknya dan anak itu seketika siuman dari pingsannya.
Setelah memandang dengan teliti, Wiku Menak Koncar mulai mengingat-ingat dan dia segera berkata dengan suaranya yang tinggi seperti suara perempuan.
"Babo-babo, keparat. Berani benar engkau mengganggu aku! Bukankah engkau yang bernama Ki Ageng Mahendra? Diantara kita tidak pernah ada permusuhan, kenapa engkau menggangguku? Cepat kembalikan anak itu kepadaku!"
Ki Ageng Mahendra menarik anak itu bangkit duduk, dan dia memandang kepada Wiku Menak Koncar.
"Hemm, ternyata engkau masih mengenal orang, Wiku Menak Koncar. Memang diantara kita tidak ada permusuhan. Aku tidak mengganggumu, melainkan hanya ingin tahu mengapa anak ini berada denganmu. Kukembalikan atau tidak anak ini kepadamu tergantung dari keterangan yang kudapatkan darinya. He, anak yang baik, siapa namamu?"
Tanya Ki Ageng Mahendra kepada anak itu. Anak berusia kurang lebih enam tahun yang berwajah tampan dan bertubuh sehat itu menjawab berani.
"Namaku Bagus Sajiwo, eyang (kakek)."
"Bagus Sajiwo, sekarang jawab terus terang, apakah engkau ingin ikut dengan Wiku Menak Koncar itu?"
Ki Ageng Mahendra menudingkan telunjuknya ke arah sang wiku yang masih berdiri dengan sikap penasaran dan marah.
"Ah, tidak! Tidak! Aku tidak sudi ikut dengan dia! Dia jahat sekali, dia menculikku dari rumah orang tuaku. Dia tentu akan mencelakakan aku, membunuhku!"
Jawab anak kecil itu dan dia kelihatan marah sekali, bangkit berdiri dan menuding-nuding kepada Wiku Menak Koncar.
"Bocah tolol!"
Wiku Menak Koncar menjerit dengan suaranya yang meninggi.
"Kalau aku mau membunuhmu, tentu sudah lama kulakukan. Untuk apa aku bersusah payah membawa engkau sampai kesini?"
"Wiku Menak Koncar, engkau memang belum membunuhnya sampai saat ini. Akan tetapi kenapa engkau menculik dan melarikannya?"
"Bukan urusanmu, Ki Ageng Mahendra! Engkau tidak perlu mencampuri urusan orang lain!"
Wiku Menak Koncar berseru marah.
"Memang tadinya bukan urusanku, akan tetapi setelah melihat anak ini membutuhkan pertolongan dan melihat engkau hendak memperkosa kebebasannya, menjadi urusanku karena aku harus menolongnya dan harus mencegah engkau bertindak jahat."
"Ki Ageng Mahendra! Dia ini adalah anak suami isteri yang menjadi musuh bebuyutanku karena mereka telah membunuh saudara-saudara seperguruanku! Untuk membalas dendam itu aku menculik anak mereka untuk kugembleng dengan aji-aji kesaktian agar kelak anak ini mewakili aku membalas dendam dan membunuh orang tuanya sendiri!"
"Duh Gusti, semoga diampuni kesesatan Wiku ini!"
Ki Ageng Mahendra berseru.
"Wiku Menak Koncar, engkau berurusan dengan orang tuanya, mengapa mengganggu anaknya? Bereskan saja urusanmu dengan orang tuanya, dan jangan ganggu anak yang tidak tahu apa-apa ini."
"Eyang!"
Teriak anak yang bernama. Bagus Sajiwo itu.
"Mana berani dia melawan ayah ibuku? Kalau dia berani, tentu dia sudah mati, tidak kuat menandingi ayah ibuku yang sakti mandraguna."
"Ki Ageng Mahendra, tidak perlu engkau mencampuri urusan pribadiku. Serahkan anak itu atau terpaksa aku tidak menghormati orang tua dan akan menggunakan kekerasan!"
Ki Ageng Mahendra memandang dan tersenyum.
"Aku tidak akan menghalangi anak ini kalau dengan suka rela mau ikut denganmu. Akan tetapi kalau dia tidak mau dan engkau hendak memaksanya, terpaksa aku akan melindunginya dan menghalangimu melakukan kejahatan."
"Keparat tua bangka bosan hidup!"
Bentak Wiku Menak Koncar.
Dia sudah mengembangkan kedua tangan ke kanan kiri, jari-jarinya tergetar sehingga buku-buku jarinya mengeluarkan suara berkerotokan.
Kemudian dia membawa kedua tangan ke depan dada lalu mendorong ke depan.
Angin yang kuat menyambar dahsyat ke arah kakek tua renta itu.
"Aji Bayu Bajra....!"
Berbareng dengan bentakan itu, angin menyambar hebat, membawa hawa panas sekali ke arah tubuh Ki Ageng Mahendra.
Akan tetapi apa yang terjadi?
Kakek tua renta itu hanya berdiri tegak kedua tangan bersilang depan dada dan ketika angin menyambar, hanya pakaian dan rambut serta jenggotnya yang putih semua yang berkibar terbawa angin.
Tubuhnya sama sekali tidak bergeming, seolah sebuah batu karang tertiup angin.
Sampai tiga kali Wiku Menak Koncar menyerang dengan Aji Bayu Bajra, namun tanpa hasil sama sekali.
Pada hal biasanya, biar ada sepuluh orang di depannya, kalau dia menyerang dengan aji itu, sepuluh orang itu akan berpelantingan, tidak kuat menahan sapuan angin yang dahsyat itu, bahkan terluka di sebelah dalam tubuh mereka oleh daya pukulannya.
Akan tetapi, kakek tua renta ini, yang tampaknya tidak melawan sama sekali, sedikitpun tidak terpengaruh oleh aji pukulannya yang dahsyat.
Kalau saja Wiku Menak Koncar bukan seorang yang tinggi hati dan suka mengagulkan kepandaiannya sendiri, serangan pertama bertubi-tubi yang sama sekali tidak membawa hasil itu tentu telah cukup membuka matanya bahwa dia berhadapan dengan lawan yang jauh lebih tinggi ilmu kepandaiannya.
Akan tetapi, dia seorang yang biasa memandang rendah orang lain, maka kegagalannya itu tidak membuat dia jera, melainkan membuat dia merasa penasaran dan menjadi semakin marah dan nekat.
"Tua bangka keparat, sambutlah seranganku ini. Aji Nandaka Kroda (Banteng Mengamuk).... hyaaaattt....!"
Kedua tangannya kini meluncur seperti sepasang tanduk, menghantam ke arah dada kakek tua renta yang kurus itu.
Akan tetapi kakek kurus itu sama sekali tidak menangkis atau mengelak, dan pukulan kedua tangan itu tepat sekali mengenai dadanya.
"Wuuttt.... desss....!!"
Sungguh aneh sekali.
Yang dipukul sama sekali tidak roboh, bahkan tubuh tinggi kurus itu hanya bergoyang-goyang seperti batang pohon tertiup angin, akan tetapi Wiku Menak Koncar sendiri lalu terpelanting kebelakang, seperti terdorong oleh kekuatan yang tidak tampak dan dia terjengkang lalu terbanting ke atas tanah.
Dasar orang yang tak tahu diri.
Peristiwa inipun masih belum membuat dia merasa jera.
Kini dia melompat bangun kembali dan sudah mencabut senjata ruyung yang tadinya tergantung di pinggangnya.
Senjata itu tampak menyeramkan sekali, mengkilap hitam saking kerasnya.
Dengan senjata ini di tangan kanan, Wiku Menak Koncar lalu menerjang maju dan menghantamkan senjata ruyungnya ke arah kepala Ki Ageng Mahendra.
Melihat kenekatan ini, tahulah Ki Ageng Mahendra bahwa Wiku Menak Koncar adalah seorang yang nekat dan selain mengagungkan kekuatan sendiri.
Orang seperti ini kalau tidak diberi hajaran keras tidak akan mau menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang tak tertandingi.
Yang paling kuat, paling tinggi, paling berkuasa, paling hebat dan tak dapat dibandingkan dengan apapun juga hanyalah Gusti Allah.
Biarlah Wiku ini menyadari bahwa kalau ada yang tinggi, tentu ada yang lebih tinggi.
Kalau ada yang pandai, tentu ada yang lebih pandai.
Kesadaran ini akan dapat menghapus kesombongan yang kosong.
Ketika ruyung itu menyambar dengan dahsyatnya ke arah kepalanya, Ki Ageng Mahendra miringkan tubuhnya dan ketika ruyung itu meluncur lewat, dia menggunakan tangan kirinya menangkap ruyung itu dari samping, lalu menarik dan mendorong.
Wiku Menak Koncar yang sudah terdorong oleh kekuatan pukulan ruyungnya, kini ditambah dorongan yang amat kuat dari Ki Ageng Mahendra, tak dapat menghindarkan lagi tubuhnya terdorong ke depan, terbanting dan terguling-guling bersama ruyungnya sehingga tak dapat dihindarkan lagi beberapa kali tubuhnya terkena hantaman ruyungnya sendiri!
Kini barulah Wiku Menak Koncar menyadari bahwa dia sama sekali tidak mampu mengimbangi kesaktian kakek tua renta itu dan kalau dia tetap nekat melawan, akhirnya tentu dia yang akan roboh dan mungkin tewas.
Tanpa malu-malu lagi dia mengambil keputusan untuk melarikan diri.
Akan tetapi dasar wataknya yang dipenuhi nafsu daya rendah, melihat usahanya untuk membuat Bagus Sajiwo kelak memusuhi orang tuanya sendiri gagal, timbul kebenciannya dan timbul keinginannya untuk membunuh anak itu sebelum dia melarikan diri.
Ketika akhirnya Wiku Menak Koncar dapat melompat bangun, tiba-tiba datuk Blambangan itu mengirim pukulan jarak jauh ke arah Bagus Sajiwo.
Angin yang kuat dan panas menerpa ke arah Bagus Sajiwo.
Akan tetapi sebelum daya serangan itu mengenai tubuh Bagus Sajiwo, tiba-tiba ada angin bertiup dari samping dan bagaikan sehelai daun kering, tubuh anak itu terhembus dan seperti diterbangkan ke samping sehingga terhindar dari daya serangan Wiku Menak Koncar.
Datuk Blambangan ini terkejut bukan main dan maklumlah dia bahwa kalau dia nekat melanjutkan serangan, akhirnya dia sendiri yang akan celaka.
Maka dia lalu melarikan diri meninggalkan tempat itu.
Bagus Sajiwo yang berusia enam tahun itu adalah putera sepasang pendekar sakti, maka sejak kecil dia sudah pandai membawa diri.
Dia mengerti bahwa nyawanya diselamatkan kakek tua renta itu, maka setelah penculiknya melarikan diri, dia lalu menghampiri Ki Ageng Mahendra dan segera menjatuhkan diri berlutut dan menyembah dengan hormat.
"Eyang telah menolong saya, budi kebaikan eyang tidak akan saya lupakan dan kelak saya akan membalasnya."
Ucapan yang dikeluarkan dengan lagak gagah ini membuat Ki Ageng Mahendra tertawa. Dia memegang pundak anak yang bernama Bagus Sajiwo itu lalu berkata.
"Anak yang baik, engkau bangkit dan duduklah disini."
Kakek itu mengajak Bagus Sajiwo duduk di atas sebuah batu.
"Nah, sekarang ceritakan siapa dirimu dan siapa pula orang tua-mu."
"Nama saya Bagus Sajiwo, eyang. Ayah ibu saya tinggal di lereng Gunung Kawi. Mereka adalah orang-orang terkenal, eyang, keduanya adalah pendekar-pendekar yang sakti mandraguna. Ayah saya bernama Ki Tejomanik dan ibu saya bernama Nyi Retno Susilo. Mereka berdua sejak muda telah menjadi pendekar-pendekar yang setia membantu Mataram, sehingga mendapat penghargaan dari Gusti Sultan Agung. Demikianlah menurut cerita ayah ibu kepada saya."
Anak itu ketika menceritakan tentang orang tuanya, jelas tampak bangga sekali.
Kembali Ki Ageng Mahendra tersenyum.
Anak itu tampak lucu sekali dan tiba-tiba saja kakek tua renta itu menyadari bahwa selama ini dia kehilangan sesuatu yang tak pernah dapat ketahui.
Baru sekarang dia menyadari bahwa selama ini dia kehilangan kehangatan hubungan antar manusia.
Karena itu, begitu bertemu dan bicara dengan bocah itu, Ki Ageng Mahendra merasakan suatu kehangatan yang amat membahagiakan menyelubungi perasaan hatinya.
Dia tahu bahwa anak itu tidak berbohong.
Buktinya, Wiku Menak Koncar membalas dendamnya kepada orang tua anak ini dengan menculik anak mereka, berarti Wiku Menak Koncar tidak berani langsung menyerang mereka.
"Hemm, agaknya itulah yang membuat orang tuamu dimusuhi banyak orang. Karena mereka setia membantu Mataram, maka tentu mereka dimusuhi orang-orang yang menentang Mataram, termasuk Wiku Menak Koncar tadi. Aku sudah lama tidak pernah berkecimpung di dunia ramai sehingga aku tidak mengenal nama ayah ibumu itu. Akan tetapi mungkin aku mengenal mereka yang lebih tua. Tahukah engkau siapa guru-guru ayah ibumu, angger? Mungkin aku masih mengenal nama mereka."
Bagus Sajiwo mengingat-ingat, lalu berkata.
"Ayah ibu saya pernah menceritakan tentang guru-guru mereka, eyang. Guru ayah saya ada dua, yang pertama adalah mendiang eyang Bhagawan Sidik Paningal, dan yang ke dua adalah eyang guru ayah sendiri, yaitu mendiang eyang Resi Limut Manik. Adapun guru dari ibu saya bernama mendiang Nyi Dewi Rukmo. Petak yang dulu ketika muda bernama Ken Lasmi."
Mendengar disebutnya nama-nama itu, Ki Ageng Mahendra memejamkan kedua matanya.
Terbayanglah dalam ingatannya semua pengalamannya ketika masih muda.
Sampai lama dia tidak mengeluarkan kata-kata hanya memejamkan kedua matanya yang tadi bersinar lembut penuh pengertian itu, dan mulutnya membayangkan senyum.
Melihat kakek itu sampai lama tidak berkata-kata, Bagus Sajiwo bertanya.
"Eyang, apakah eyang mengenal nama-nama itu?"
Kakek itu membuka kedua matanya, memandang kepada gagus Sajiwo dan tertawa gembira.
"Mengenal mereka? Tentu saja aku mengenal mereka dengan amat baiknya, Bagus! Mendiang Resi Limut Manik itu adalah kakak seperguruanku sendiri. Jadi, mendiang Bhagawan Sidik Paningal itu adalah keponakan muridku sendiri."
"Wah....!"
Anak itu berseru kaget dan gembira.
"Kalau begitu, saya masih buyut murid eyang sendiri?"
"Begitulah, angger. Agaknya memang sudah menjadi kehendak Gusti Allah yang mempertemukan kita berdua disini."
"Eyang, apakah eyang juga mengenal eyang guru Nyi Dewi Rukmo Petak?"
Tanya Bagus Sajiwo.
Kakek itu mengangguk dan menghela napas panjang.
Diam-diam dia merasa heran bagaimana murid Bhagawan Sidik Paningal dapat berjodoh dengan murid seorang wanita sesat seperti Nyi Dewi Rukmo Petak?
Akan tetapi dia merasa yakin bahwa jodoh ditentukan oleh Gusti Allah, dan belum tentu murid seorang sesat menjadi jahat pula, seperti juga murid seorang budiman belum tentu selalu baik seperti gurunya.
"Aku pernah mendengar namanya. Nah, angger Bagus Sajiwo, engkau adalah cucu buyutku sendiri, ayahmu adalah aliran seperguruan denganku, yaitu aliran perguruan Jatikusumo walaupun aku tidak pernah terlibat urusan perguruan. Sekarang katakan, apa yang kau kehendaki? Apakah engkau ingin aku mengantarmu pulang ke lereng Gunung Kawi, kembali kepada orang tuamu?"
Setelah berkata demikian, kakek itu memandang kepada anak itu dengan alis berkerut.
Perasaannya yang amat peka itu merasakan sesuatu yang membuat dia mengerutkan alisnya.
Kepekaan ini terkadang amat menyiksa batinnya.
Dia merasakan betapa awan gelap membayangi kehidupan anak ini dan orang tuanya.
Akan tetapi dia tahu bahwa apapun yang terjadi, terjadilah sesuai dengan kehendak Tuhan dan dia sebagai seorang manusia tidak berdaya mengubahnya.
Manusia wajib berusaha, namun Tuhan jua yang menentukan hasilnya.
"Eyang, saya menyadari sepenuhnya bahwa eyang telah menyelamatkan nyawa saya. Kalau tidak ada eyang, entah bagaimana jadinya dengan diri saya. Mungkin sudah mati atau bahkan lebih mengerikan dari pada itu. Maka, sekarang saya memasrahkan diri saya kepada eyang. Terserah bagaimana eyang saja. Eyang yang menentukan apa yang selanjutnya harus saya lakukan dan saya akan menaatinya."
Perasaan lega dan bahagia memenuhi hati kakek itu. Dia menyembah dan memuja.
"Gusti Allah Maha Kasih, segala kehendak Paduka terjadilah."
Kemudian dia memandang anak itu dan berkata, suaranya terdengar penuh kesungguhan.
"Bagus Sajiwo, kalau engkau sudah pasrah kepadaku dan benar-benar hendak menurut dan memenuhi segala kata-kataku, dengarkan baik-baik. Mungkin syaratnya akan terasa terlalu berat untukmu dan kalau engkau tidak dapat memenuhi syarat itu, engkau masih kuberi kebebasan untuk mengubah keputusanmu."
"Apakah syaratnya, eyang? Orang tua saya selalu mengajarkan bahwa seorang lakl-laki harus teguh pendiriannya dan berani menghadapi segala kesukaran untuk memenuhi janji dan kewajibannya."
"Baik, dengarlah. Mulai hari ini, engkau harus ikut denganku, mungkin hidupmu akan terasing dan tidak menyenangkan badan dan batinmu. Engkau harus dengan tekun mempelajari semua ilmu yang kuajarkan kepadamu dan yang terpenting sekali, apapun yang terjadi, sebelum engkau berusia dua puluh tahun, engkau tidak boleh menemui ayah ibumu. Nah, sanggupkah engkau? Kalau tidak sanggup, katakan saja, aku tidak memaksamu dan terserah kepadamu untuk memutuskan."
Kata kakek itu dan dengan hati tertarik dan penuh perhatian sepasang matanya mengamati kekuasaan Tuhan yang bekerja melalui hati akal pikiran anak itu yang akan membawa keputusan bagi kehidupan anak itu di masa mendatang.
Bagus Sajiwo yang baru berusia enam tahun itu sudah memiliki dasar kekuatan batin dari orang tuanya.
Dia tabah dan memiliki watak gagah.
Akan tetapi menghadapi syarat yang diajukan kakek itu, anak itu menjadi bimbang juga.
Sampai berusia dua puluh tahun baru boleh menemui ayah ibunya?
Itu berarti bahwa sedikitnya selama empat belas tahun dia harus hidup bersama kakek ini, bertapa mengasingkan diri!
Melihat anak itu bimbang, Ki Ageng Mahendra melanjutkan.
"Bagus Sajiwo, ada tambahan untuk syarat itu, ialah bahwa engkau sama sekali tidak boleh bertanya mengapa aku mengadakan syarat sampai engkau berusia dua puluh tahun itu. Bertanyapun tidak akan dapat kujawab. Hanya tinggal dua pilihan bagimu. Menerima syarat itu dan ikut denganku atau kau tolak dan engkau akan kuantarkan pulang ke rumah orang tuamu."
Sungguh merasa semakin berat syarat itu bagi Bagus Sajiwo.
Syarat pertama saja sudah berat, ditambah lagi dia tidak boleh bertanya mengapa sebabnya dia tidak boleh bertemu orang tuanya sebelum berusia dua puluh tahun!
Berbagai penderitaan batin akan dia alami sebagai akibat syarat itu.
Pertama, dia tentu akan merasa rindu kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya yang memanjakannya.
Ke dua, ayah ibunya tentu akan menjadi bingung, akan mencarinya dan kalau sampai empat belas tahun lamanya tidak dapat menemukannya, mungkin mereka akan menganggap dia sudah mati!
Akan tetapi, sebaliknya kalau dia menerima syarat itu, ada dua hal yang baik dan menyenangkan.
Pertama, dia dapat membalas budi kebaikan kakek yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
Ke dua, dia akan dapat mempelajari ilmu-ilmu yang hebat dari kakek yang masih merupakan paman buyut gurunya sendiri, yang tentu memiliki tingkat kepandaian yang amat hebat, jauh lebih hebat dari tingkat kedua orang tuanya!
Dia harus memilih dan mengambil keputusan tegas.
Dia tidak tahu betapa kakek itu memandangnya dengan hati berdebar-debar karena apa yang akan diputuskan anak itu merupakan penentu nasib yang akan menimpa diri Bagus Sajiwo dan kedua orang tuanya.
Kakek ini tertatik sekali.
Betapa nasib seorang manusia terkadang ditentukan oleh sekali saja keputusan yang diambilnya atau oleh satu kali perbuatan, bahkan satu kali ucapannya saja!
Karena itulah, para orang budiman selalu berhati-hati kalau mengambil keputusan, kalau melakukan perbuatan, atau kalau mengeluarkan ucapan.
Selalu mohon petunjuk dan bimbingan Tuhan Yang Maha Kasih dan selalu berusaha agar tidak menyimpang dari kehendaknya.
"Eyang, keputusan saya sudah tetap. Saya menerima syarat itu dan akan ikut eyang, melayani eyang dan mempelajari ilmu dari eyang. Saya akan mentaati semua petunjuk dan perintah eyang!"
Suara anak itu begitu mantap dan ketika Ki Ageng Mahendra beradu pandang mata dengan Bagus Sajiwo, kakek itu merasa senang sekali.
Dia menemukan tekad yang bulat, kemauan yang keras dari seorang calon ksatria dalam sinar mata anak itu.
"Terpujilah nama Gusti Allah!"
Kata kakek itu.
"Bagus Sajiwo, aku akan selalu berdoa kepada Gusti Allah Kang Murbeng Dumadi, semoga Gusti Allah sendiri yang akan membimbingmu di sepanjang jalan hidupmu. Hanya dalam bimbinganNya sajalah engkau akan dapat menjadi manusia utama yang selalu bertindak baik dan benar sesuai dengan kehendakNya."
Kakek itu lalu menggandeng tangan Bagus Sajiwo, diajak mendaki puncak bukit itu.
Mulai saat itu, Bagus Sajiwo menjadi murid Ki Ageng Mahendra.
Pagi itu, kurang lebih sepuluh tahun kemudian, Ki Ageng Mahendra yang sudah duduk di atas batu besar melihat muridnya, Bagus Sajiwo yang kini telah menjadi seorang pemuda remaja berusia enam belas tahun berjalan cepat sambil memanggul seekor kijang.
Pemandangan itu tadi menimbulkan kenangan sepuluh tahun yang lalu dan kini kakek itu tersenyum.
Senyumnya penuh rahasia.
Yang melihatnya pada saat itu dapat melihat betapa senyum itu mengandung perasaan senang, terharu, juga sedih!
Sudah puluhan tahun Ki Ageng Mahendra tak pernah dipengaruhi perasaan hatinya karena selama ini dia sudah berserah diri dengan ikhlas dan tawakal kepada Gusti Allah.
Dia menerima segala apa saja yang terjadi kepadanya sebagai suatu kewajaran, sesuatu yang menjadi kenyataan dan tak dapat diubah oleh siapapun dengan kekuatan apapun karena kenyataan yang ada itupun sesuai dengan kehendak Tuhan yang terkadang berlawanan dengan usaha dan kehendak manusia.
Karena itu, selama ini dia tidak pernah dipengaruhi perasaan hatinya.
Hati akal pikirannya telah terkandung dalam kepasrahannya.
Perasaan susah senang, kecewa puas, marah dan sebagainya seolah telah tertidur diselimuti kepasrahan, tidak pernah bangkit.
Akan tetapi saat ini dia membiarkan perasaannya bangun, membiarkan segala perasaan itu menari-nari dalam hati dan pikirannya.
Dia merasa benar bahwa saat terakhir hidupnya telah hampir tiba.
Karena itu, dia membiarkan segala gejolak perasaannya bermunculan, yang mendatangkan rasa gembira, senang, bangga, terharu dan juga kehilangan dan kesedihan.
Dia merasakan benar gejolak nafsu perasaan yang selama ini tertidur, dan dia merasa gembira, senang dan bangga melihat Bagus Sajiwo, murid yang dikasihinya itu kini telah menjadi seorang pemuda remaja yang hebat.
Semua aji pamungkas telah dia ajarkan kepada Bagus Sajiwo sehingga pemuda itu telah menguasai berbagai aji kesaktian.
Di samping itu, pemuda itupun banyak mempelajari tentang kehidupan sehingga memiliki pandangan luas.
Juga dia telah menanamkan iman yang amat kuat dalam hati pemuda itu.
Iman terhadap Gusti Allah, penuh keyakinan, penuh penyerahan dan kepasrahan sehingga apapun yang dilakukannya, disandarkannya kepada kekuasaan Tuhan.
Malam tadi Ki Ageng Mahendra menerima firasat itu.
Hari ini merupakan hari terakhir dalam hidupnya di dunia ini.
Dia tidak merasa penasaran.
Seperti biasa selama puluhan tahun, dia menerima apa saja yang terjadi padanya sebagai kehendak Tuhan, dan karenanya diterima dengan rela, ikhlas dan dengan kebahagiaan karena dia yakin benar Bahwa Gusti Allah mengetahui apa yang terbaik baginya!
Usianya sudah sangat tua, tubuh yang dipakainya selama hampir seratus tahun itu sudah lemah dan lapuk.
Dan dia akan meninggalkan dunia ini tanpa penderitaan sakit.
Sungguh merupakan anugerah yang teramat besar.
"Eyang, saya datang!"
Terdengar suara yang lantang dan penuh semangat, penuh gairah hidup.
Bagus Sajiwo menurunkan kijang muda dari pundaknya.
Kijang muda yang sehat dan gemuk, masih hangat karena belum lama dibunuhnya.
Pemuda yang dulu berusia enam tahun ketika diselamatkan Ki Ageng Mahendra dari tangan Wiku Menak Koncar yang menculiknya, kini telah menjadi seorang pemuda berusia enam belas tahun.
Tubuhnya tinggi tegap dan tampak betapa bahu dan kedua lengan yang telanjang itu terisi tenaga hebat, dapat tampak pada gerakan otot-otot yang membayang di bawah kulit.
Bukan otot melingkar-lingkar membayangkan kekuatan tenaga otot yang kasar, melainkan tenaga dalam.
Seorang ahli akan dapat melihat bahwa tubuh pemuda itu "berisi".
Pemuda yang belum dewasa benar itu sudah mendatangkan kesan jantan, seperti Sang Gatotkaca.
Kulitnya kecoklatan mengkilap sehat karena sering mandi sinar matahari.
Rambutnya hitam panjang dan agak keriting.
Dahinya lebar dan sepasang daun telinganya berbentuk indah dan besar.
Sepasang alisnya hitam dan tebal, melindungi sepasang mata yang lebar, bersinar lembut akan tetapi terkadang dapat mencorong dan tajam seolah dapat menembus dan menjenguk isi hati orang.
Hidungnya mancung dan besar.
Tarikan bibirnya membayangkan kegagahan dan gairah hidup penuh semangat.
Belahan kecil pada tengah dagunya membuat wajah itu tampak makin jantan.
Ki Ageng Mahendra tersenyum ramah.
"Bagus Sajiwo, engkau memperoleh seekor kijang yang muda dan gemuk. Kebetulan sekali kulup, karena hari ini engkau harus menghidangkan makanan untuk banyak orang. Masaklah daging kijang ini dan masaklah nasi yang secukupnya untuk lima puluh orang."
Pemuda itu memandang wajah gurunya dengan sinar menyelidik, walaupun wajahnya tidak membayangkan keheranan hatinya.
"Baik, eyang, akan saya laksanakan."
Setelah berkata demikian, dia memanggul kijang itu dan meninggalkan gurunya, menuju ke pondok kayu sederhana yang berada di puncak bukit.
Ki Ageng Mahendra mengikuti bayangan muridnya dengan sinar mata berseri dan mulut tersenyum.
Dia terkenang lagi akan pengalamannya bersama muridnya itu.
Dia sendiri sudah puluhan tahun tidak pernah makan daging binatang dan hanya makan sayur dan buah-buahan.
Akan tetapi dia menganjurkan agar muridnya itu makan makanan yang biasa dimakan orang pada umumnya.
Tidak usah berpantang makan daging, kecuali daging yang tidak mempunyai khasiat, bahkan yang dapat mendatangkan penyakit pada tubuh.
Ketika itu, Bagus Sajiwo membantah keras.."Akan tetapi, eyang.
Bukankah saya harus selalu mengikuti apa yang eyang lakukan?
Bukankah eyang menjadi tauladan saya?
Eyang tidak dahar daging, hanya dahar nasi, sayur dan buah-buahan, mengapa saya tidak?
Mengapa saya harus makan daging?"
Sambil tersenyum Ki Ageng Mahendra berkata.
"Angger, siapa bilang aku tidak makan daging?"
"Saya melihat sendiri! Eyang tidak pernah makan makanan berjiwa!"
"Engkau keliru, Bagus. Setiap kali aku makan sepiring nasi dengan sayur, setiap kali aku makan sebutir buah, setiap kali aku minum secangkir air, entah berapa puluh, ratus atau ribu binatang bernyawa yang terbunuh dan memasuki perutku."
Bagus Sajiwo yang masih kecil itu tak dapat menahan perasaan herannya dan dengan matanya yang lebar bundar dia memandang kakek itu.
"Eh? Apa maksud eyang? Saya tidak melihat...."
"Heh-heh, tentu saja tidak kau lihat, Bagus. Ketahuilah bahwa di dunia ini terdapat binatang-binatang kecil sekali, teramat kecil sehingga tidak tampak oleh pandang mata biasa. Dalam secangkir air, dalam sebutir buah, dalam daun-daun dan sayur-sayuran, terdapat binatang-binatang kecil itu, binatang-binatang yang bernyawa seperti halnya binatang kijang, sapi, ayam dan lain-lain yang dimakan orang. Maka, kalau ada orang yang hanya makan nasi, sayur, buah dan minum air putih saja mengatakan bahwa dia tidak pernah makan makanan bernyawa, dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Sebetulnya, diapun seorang manusia pemakan mahluk berjiwa yang tak terhitung banyaknya. Memang daging binatang-binatang kecil itu tidak tampak, tidak terasa, seperti daging ayam, sapi, kambing dan sebagainya. Akan tetapi apakah bedanya nyawa seekor binatang kecil dengan seekor binatang besar? Apakah nyawa seekor domba itu berbeda dari nyawa seekor gajah?"
Bagus Sajiwo yang masih kecil itu sudah dapat mengerti, akan tetapi sebagai seorang anak yang cerdik dia belum puas kalau belum mendapatkan keterangan yang jelas.
"Kalau begitu, mengapa eyang tidak pernah makan daging ayam, kijang dan lain-lain? Mengapa hanya makan sayur dan buah? Bukankah sama saja, eyang tidak dapat menghindarkan diri dari makanan berjiwa?"
"Bagus, kau tanyakan itu, angger. Bagiku, sebabnya hanya satu, yaitu perasaanku. Aku merasa tidak tega makan daging binatang itu. Berbeda dengan binatang-binatang kecil yang tidak tampak, tidak mendatangkan perasaan tidak tega itu."
"Kenapa kalau saya diharuskan makan daging, eyang?"
"Karena engkau masih muda dan tubuhmu membutuhkan makanan daging itu. Untuk menguatkan tubuhmu, untuk membakar semangat hidupmu. Aku yang sudah tua renta ini tidak membutuhkan itu."
Demikianlah kenangan itu yang kini membuat Ki Ageng Mahendra tersenyum.
Anak itu selalu patuh padanya, akan tetapi juga selalu ingin tahu dan banyak bertanya, suatu watak yang amat baik bagi kanak-kanak dan orang muda.
Seorang muda harus kritis, harus tahu benar apa yang dia lakukan dan mengapa pula dia lakukan.
Bukan sekedar ikut-ikutan dan ngawur.
Seorang pemuda haruslah memiliki prinsip, memiliki pegangan sehingga dia memiliki kepribadian yang kuat.
Bukan sekedar mengekor seperti seekor domba yang tidak mempunyai pendirian sendiri.
Dan untuk membentuk kepribadian yang kuat dia harus banyak belajar, diantaranya dengan banyak bertanya dan kritis, tidak hanya menerima begitu saja tanpa menyelidiki lalu ikut-ikutan!
Bagus Sajiwo sibuk di dalam dapur pondok itu.
Karena sejak dia hidup disitu, dia yang selalu memasak dan melakukan semua pekerjaan rumah, melayani gurunya, maka dia dapat masak dengan trampil.
Ki Ageng Mahendra yang biasa hidup menyendiri mengenal semua bumbu masak dan dia mengajari anak itu membuat bermacam masakan.
Selain itu, dia juga sering membawa anak itu berkunjung ke dusun-dusun di sekitar pegunungan Ijen untuk mengulurkan tangan menolong mereka yang sakit.
Hasil tanaman di kebun belakang pondok, dapat menpikupi kebutuhan hidup mereka.
Sebagian ditukarkan barang-barang yang mereka butuhkan dari para penduduk dusun.
Para penduduk juga mengenal baik Ki Ageng Mahendra sebagai seorang pertapa yang baik dan mengenal Bagus Sajiwo sebagai seorang pemuda yang ramah.
Dengan kehidupan seperti itu, biarpun Bagus Sajiwo menjadi murid seorang pertapa yang tinggal di puncak yang sunyi, namun dia tidak asing dengan pergaulan dan mengenal semua orang yang menjadi penduduk pedusunan disekitar pegunungan itu yang tidak banyak jumlahnya.
Setelah lewat tengah hari, Bagus Sajiwo selesai dengan kesibukannya di dapur.
Dia menaati pesan gurunya.
Semua daging kijang gemuk itu dimasaknya, dan diapun menanak nasi yang cukup untuk sekitar lima puluh orang.
Akan tetapi setelah selesai masak, dia tidak melihat gurunya pulang.
Pada hal biasanya, setelah matahari mulai naik tinggi, gurunya tentu pulang dari kebiasaannya menyambut matahari terbit itu.
Segera dia menyusul ke tempat gurunya tadi duduk di atas sebuah batu besar.
Dia melihat gurunya masih duduk bersila di atas batu menghadap ke timur seperti tadi, duduk diam sama sekali tidak bergerak.
"Eyang....!"
Bagus Sajiwo memanggil.
Akan tetapi Ki Ageng Mahendra tidak menjawab sama sekali.
Bagus Sajiwo merasa heran dan melompat ke depan gurunya.
Dia melihat gurunya duduk bersila dengan sepasang mata terpejam, seperti orang tidur atau sedang bersamadhi.
Akan tetapi dengan pandang matanya yang tajam dia melihat betapa pernapasan gurunya itu lemah sekali.
"Eyang....!"
Dia menghampiri dan menyentuh lutut kakek itu.
Alangkah kagetnya ketika tubuh yang disentuhnya itu terkulai lemas dan tentu akan roboh kalau saja dia tidak cepat merangkulnya.
Tubuh kakek itu terasa dingin dan pernapasannya lemah, tinggal satu-satu.
Bagus Sajiwo terkejut.
Biarpun usianya baru enam belas tahun, namun dia telah mempelajari banyak ilmu dari gurunya, termasuk ilmu tentang kesehatan dan pengobatan.
Begitu dia memondong tubuh kakek itu dan dibawa turun dari atas batu, dia merebahkan tubuh itu ke atas rumput dan memeriksa denyut jantungnya yang lemah.
Tahulah dia bahwa gurunya dalam keadaan lemah sekali.
Maka dengan cepat dia menempelkan tangan kirinya ke atas dada Ki Ageng Mahendra lalu mengerahkan tenaga saktinya, memberi getaran hangat ke dalam tubuh gurunya seperti yang diajarkan gurunya.
Pernapasan Ki Ageng Mahendra mulai mengendur dan menguat, lalu dia membuka kedua matanya dan tersenyum ketika melihat Bagus Sajiwo yang duduk bersila di dekatnya.
"Cukup, Bagus. Engkau telah memulih kan kekuatanku."
Kata kakek itu yang segera bangkit duduk, dibantu oleh Bagus Sajiwo. Mereka duduk berhadapan di atas tanah berumput.
"Mari saya pondong eyang kembali ke pondok,"
Kata Bagus Sajiwo. Kakek itu menggeleng kepala, masih tersenyum.
"Tidak usah, tidak ada waktu lagi, Bagus...."
"Tidak ada waktu lagi? Apa maksud eyang?"
"Waktunya tinggal sedikit, Bagus."
Kakek itu tersenyum dan menjulurkan tangan kanannya, mengelus kepala Bagus Sajiwo.
"Dengar baik-baik, tidak lama lagi tiba saat akhir hidupku di dunia ini...."
"Eyang....!"
Bagus Sajiwo menjerit dan merangkul kakek itu.
"Hshhh...., kenapa ribut? Apanya yang aneh kalau ada seorang manusia mengakhiri hidupnya di dunia? Apa pula anehnya kalau ada yang lahir?"
"Eyang, jangan tinggalkan saya dulu, eyang. Saya masih membutuhkan bimbingan eyang...."
"Hemm, kapan engkau akan matang kalau selalu dibimbing? Kanak-kanak akan cepat dapat berjalan kalau dilepaskan dari bimbingan. Kalau dibimbing terus, dia takut dilepaskan dan hati dan kakinya tidak akan cepat menjadi kuat."
"Tapi..... tangguhkanlah, eyang. Eyang adalah seorang yang sakti mandraguna, tentu dengan ilmu kepandaian eyang, eyang akan mampu memperpanjang usia eyang..."
"Heh-heh...., buanglah khayalan yang bukan-bukan itu dan buka matamu baik-baik. Siapakah yang mampu menentukan mati hidupnya sendiri? Aku ini seorang manusia biasa, angger, tidak ada bedanya dengan engkau atau dengan siapa pun juga. Hidup dan matikU juga berada sepenuhnya di tangan Gusti Allah. Segala usaha, segala ikhtiarku, seperti ikhtiar semua manusia, amatlah terbatas dan tidak mungkin dapat mengubah kehendak Gusti Allah. Sebentar lagi aku harus pergi, Bagus, karena itu, aku hendak mempergunakan waktu yang tidak lama lagi ini untuk meninggalkan pesan-pesanku kepadamu. Akan tetapi lebih dulu engkau harus menenangkan hati dan perasaanmu, harus dapat menerima kenyataan yang ada, tanpa keraguan, kekecewaan ataupun penyesalan. Nah, sudah siapkah engkau?"
Bagus Sajiwo mengerahkan tenaga batinnya, menghentikan gejolak hati dan pikirannya dan dia menjadi tenang dan bebas dari segala macam perasaan.
Dia menyadari kebenaran ucapan gurunya, maka dia lalu menyembah dan berkata dengan suara tenang.
"Saya sudah siap mendengarkan semua pesan yang hendak eyang katakan kepada saya."
"Nah, begitu baru benar, angger. Pertama-tama hendak kuingatkan engkau akan janjimu dahulu ketika engkau akan menjadi muridku yaitu bahwa sebelum engkau berusia dua puluh tahun, engkau tidak boleh menemui orang tuamu."
"Saya masih ingat dan akan memenuhi janji saya itu, eyang."
"Yang ke dua, ketahuilah bahwa belum tiba waktunya Nusantara dapat terbebas dari kekuasaan dan pengaruh Kumpeni Belanda. Oleh karena itu, segala usaha yang dilakukan Sang Prabu Sultan Agung selalu mengalami kegagalan. Saatnya akan tiba dimana seluruh bangsa, seluruh rakyat Nusantara dapat bersatu padu, atas bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa, bangkit serentak melawan Belanda, barulah seluruh bangsa dan negara akan dapat terbebas dari kekuasaan orang kulit putih. Karena itu, tidak akan ada gunanya kalau engkau terjun ke dalam perjuangan melawan Kumpeni. Lebih bermanfaat lagi kalau engkau berjuang sebagai seorang ksatria, menegakkan kebenaran dan keadilan dalam kehidupan ini, membela mereka yang lemah tertindas dan menentang kejahatan, siapapun yang melakukan kejahatan itu."
Bagus Sajiwo dapat menangkap suara kakek itu yang semakin menurun dan melemah.
Dia mendengarkan sambil menatap tajam wajah gurunya.
Wajah itu yang biasanya segar kemerahan, kini tampak makin lama semakin pucat dan kembali pernapasan gurunya itu juga semakin melemah.
"Saya mengerti dan akan menaati semua pesan eyang."
Katanya dengan suara mantap.
"Nah, baik sekali kalau begitu. Aku ingin memperingatkan engkau, angger. Sebagai seorang manusia, engkau tidak bebas dari kelemahan. Berhati-hatilah terhadap wanita. Ahh, sudah tiba saatnya, Bagus.... pesanku.... sempurnakan jenazahku dalam kobaran api bersama pondokku.... selamat tinggal, angger.... aku.... aku pergi....!"
Kakek itu masih tetap duduk bersila dan matanya terpejam, duduknya masih tegak, hanya kepalanya yang agak condong ke kiri.
Saat itu Bagus Sajiwo seolah dapat menasakan betapa roh Ki Ageng Mahendra meninggalkan jasadnya, melayang kembali ke alam asalnya.
Bagus Sajiwo menyembah.
"Selamat jalan, eyang.... selamat jalan...."
Hatinya terasa diremas, akan tetapi dia segera menenangkan hatinya, menerima kenyataan yang ajaib dan suci berpisahnya nyawa dari kurungannya sebagai kenyataan dari kekuasaan Gusti Allah Yang Maha Suci.
Dia lalu menghampiri jenazah Ki Ageng Mahendra, merangkulnya lalu memondongnya.
Terasa ringan sekali jenazah itu, seperti anak kecil.
Dia melangkah perlahan dan hati-hati sekali, seolah khawatir kalau akan membuat goncangan terlalu kasar sehingga mengejutkan jasad yang seakan tidur itu.
Dia melangkah satu-satu ke arah pondok dan tanpa disadarinya, beberapa butir air mata menetes turun ke atas pipinya.
Pada saat dia merebahkah jenazah Ki Ageng Mahendra di atas pembaringannya di dalam pondok itu, terdengar suara beberapa orang di luar pondok.
Bagus Sajiwo cepat keluar dan ternyata di luar pintu depan berdiri tiga orang dusun yang dikenalnya.
Dengan sikap tenang Bagus Sajiwo menghampiri tiga orang laki-laki setengah tua yang sikapnya seperti orang yang kebingungan dan sedang susah itu.
"Paman, andika bertiga ada keperluan apakah?"
Dia bertanya dengan wajah sama sekali tidak memperlihatkan perasaan apa-apa dan tadi bekas air mata di pipinya telah dihapus dengan tangan.
"Maafkan kami, anakmas Bagus. Di dusun kami sedang berjangkit penyakit demam panas. Sudah ada dua orang yang meninggal dunia dan kini ada tiga orang lagi yang sakit. Kami hendak mohon bantuan Ki Ageng untuk menolong kami."
"Sayang sekali, paman. Eyang guru baru saja dipanggil pulang oleh Gusti Allah."
Kata Bagus Sajiwo dengan tenang. Tiga orang itu terbelalak. Wajah mereka berubah pucat dan mereka saling pandang, lalu si pembicara tadi memandang lagi kepada Bagus Sajiwo.
"Maksud.... maksud andika.... Ki Ageng telah.... telah... meninggal dunia?"
Bagus Sajiwo mengangguk.
"Benar, paman. Baru saja hal itu terjadi."
"Aduh, maafkan kami. Kalau begitu, biar kami pulang, hendak kami kabarkan kematian ini kepada yang lain."
Tiga orang itu tergopoh-gopoh hendak meninggalkan tempat itu.
"Nanti dulu, paman!"
Kata Bagus Sajiwo.
"Aku masih menyimpan banyak ramuan jamu untuk mengobati demam panas. Tunggu, kuambilkan sebentar!" (Lanjut ke
Jilid 02) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 Bagus Sajiwo memasuki pondok dan tak lama kemudian dia sudah keluar lagi membawa sekeranjang terisi puluhan buah bungkusan yang merupakan ramuan obat demam, antara lain kayu manis, tapak liman berikut akarnya, pegagan, daun kacapiring, babakan pule, jahe, pupus waru, pupus papaya, sambung legi, dan meniran.
Dia menyerahkan keranjang dan isinya itu.
"Ramuan jamu ini agar direbus dan yang sakit diberi minum tiga kali sehari, secangkir penuh. Yang belum terserang dapat minum secangkir sehari."
"Ah, terima kasih, anakmas Bagus, terima kasih."
Tiga orang itu menerima keranjang, membungkuk-bungkuk mengatakan terima kasih lalu cepat meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian, berbondong-bondong penduduk dari dusun-dusun yang berdekatan datang melayat.
Mereka mendapat kabar dari tiga orang tadi.
Diam-diam Bagus Sajiwo merasa kagum kepada mendiang Ki Ageng Mahendra.
Jelas bahwa mendiang kakek itu telah memiliki perasaan yang amat peka sehingga seolah dapat merasakan apa yang akan terjadi menimpa dirinya.
Agaknya kakek itu sudah mengetahui lebih dahulu bahwa hari itu dia akan wafat, maka dia menyuruh Bagus Sajiwo membuat masakan yang demikian banyak.
Kini pemuda itu, dibantu beberapa wanita dusun yang datang melayat, menghidangkan makan kepada para pelayat dan sungguh luar biasa sekali, nasi dan lauk dari daging kijang itu cukup dan pas untuk para tamu semua!
Bagus Sajiwo lalu berkata kepada para pelayat bahwa untuk memenuhi pesan terakhir gurunya, dia akan menyempurnakan jenazah kakek itu dengan memperabukannya berikut pondok itu.
"Tapi, anak mas!"
Seorang tua menegurnya.
"Kalau pondoknya ikut dibakar, lalu andika akan tinggal dimana?"
Bagus Sajiwo tersenyum.
Dia memang sudah digembleng lahir batinnya oleh mendiang Ki Ageng Mahendra.
Dia memang tidak berduka atas kematian gurunya.
Mengapa mesti berduka?
Apa yang didukakan?
Gurunya yang sudah meninggal dunia tidak perlu disusahkan, juga tidak membutuhkan rasa iba dari yang hidup.
Bahkan, setidaknya, tubuh gurunya sudah terbebas sama sekali dari rasa nyeri dan segala macam kesengsaraan badan.
Ki Ageng Mahendra sudah kembali ke asalnya.
Tubuhnya kembali ke asalnya, bersatu dengan tanah.
Roh-nya kembali ke asalnya, bagaikan setetes air yang kembali ke samudera.
Apa yang harus disusahkan?
Kalau dia berduka, jelaslah bahwa yang disusahkan adalah dirinya sendiri, merasa iba diri karena kehilangan guru, kehilangan teman, kehilangan pengganti orang tua!
"Paman, pondok ini memang harus dibakar sesuai dengan pesan mendiang eyang karena akupun segera akan meninggalkan tempat ini."
Kata Bagus Sajiwo kepada kakek yang bertanya tadi.
Demikianlah, dibantu oleh para penduduk dusun, Bagus Sajiwo mengumpulkan sedikit pakaian yang dimilikinya, membungkusnya dalam buntalan kain hitam, lalu membawa keluar buntalan itu dari pondok.
Setelah itu, dia mengumpulkan kayu ranting dan daun kering, menyusunnya di bawah dan sekitar pembaringan di mana jenazah gurunya direbahkan.
Juga ranting dan daun kering ditumpuk di sekeliling pondok.
Setelah memberi penghormatan terakhir kepada jenazah gurunya, diikuti oleh semua penduduk dusun yang merasa kehilangan seorang kakek yang selalu siap menolong mereka, Bagus Sajiwo lalu membakar pondok itu.
Api berkobar tinggi.
Para penduduk dusun segera mundur menjauh karena tidak kuat terhadap panas kobaran api itu.
Sebentar saja rumah dan segala isinya habis termakan api, runtuh menjadi puing-puing abu.
Sejak tadi, Bagus Sajiwo duduk bersila menghadapi pondok yang terbakar itu, ditinggalkan para penduduk yang menjauh saking panasnya..
Namun pemuda itu tetap duduk bersila di tempat tadi, tidak begitu jauh dari pondok yang terbakar.
Api seperti nafsu atau nafsu seperti api.
Kalau diberi makanan bahkan semakin lapar, apapun dilahapnya, semakin banyak makanan semakin lahap.
Akan tetapi kalau sudah tidak ada lagi yang dimakan, diapun mengecil dan padam.
Pondok itu sudah terbakar semua.
Api semakin mengecil dan akhirnya pun padam, meninggalkan bara dan asap, juga banyak abu.
Bagus Sajiwo bangkit dari duduknya, bermaksud untuk mendekati puing-puing dan mencari lalu mengumpulkan abu jenazah gurunya yang akan dikuburnya ditempat dimana gurunya suka duduk bersamadhi.
Akan tetapi baru saja dia maju tiga langkah, tiba-tiba angin keras bertiup, membuat pohon-pohon di sekitar puncak itu bergoyang-goyang seperti penari-penari kesetanan.
Angin itu bertiup semakin besar dan menggila, bahkan lalu menjadi angin lesus (angin punting beliung), angin yang berpusing amat cepat dan kuatnya!
Bagus Sajiwo terkejut, merasa seolah-olah akan terseret oleh angin yang berpusing.
Akan tetapi dia segera mengerahkan tenaga saktinya dengan Aji Giri Selo (Batu Gunung) sehingga tubuhnya menjadi seberat batu besar dan ke-dua kakinya seolah berakar ke dalam tanah seperti sebatang pohon raksasa.
Tubuhnya bergoyang-goyang, pakaiannya berkibar, bahkan rambutnya yang panjang terlepas dari sanggulnya dan terurai berkibar.
Namun kedua kakinya tetap kokoh berdiri.
Sementara itu, para penduduk dusun yang berdiri agak jauh, juga terlanda angin besar itu.
Biarpun angin beliung itu tidak menyerang mereka, namun mereka ketakutan dan terdengar jeritan wanita.
Mereka lalu merebahkan diri menelungkup di atas tanah sehingga terbebas dari seretan angin.
Angin lesus itu membawa daun-daun kering, membubungkannya ke atas, makin lama semakin besar putarannya, membubung ke atas menjadi semakin kecil merupakan kerucut atau seekor naga yang kepalanya di bawah ekornya di atas Angin beliung itu kini bergerak mendekati puing dan abu pondok yang habis terbakar itu dan terjadilah peristiwa yang membuat Bagus Sajiwo terbelalak dan takjub.
Angin berputar itu menyambar segala sisa kebakaran itu, membawanya membubung ke atas, kemudian angin beliung itu bergerak semakin jauh dan akhirnya menipis lalu lenyap.
Terjadilah peristiwa yang membuat Bagus Sajiwo termenung.
Ketika angin beliung tadi menerbangkan semua sisa pondok, suaranya mendesis dan mengaung, dan dia seolah mendengar suara Ki Ageng Mahendra seperti kalau kakek itu mengucapkan puji-puji kepada keagungan Tuhan!
Setelah angin berhenti mengamuk, para penduduk dusun baru berani bangkit berdiri dan semua orang berseru keheranan melihat bekas tempat pondok itu berdiri kini telah menjadi bersih.
Semua sisa kebakaran telah disapu bersih dari situ, tidak tertinggal segenggampun abu!
"Hujan abu....!"
Terdengar teriakan mereka.
Bagus Sajiwo berdongak.
Abu yang lembut sekali melayang turun dari atas.
Agaknya abu dari puing pondok dan semua isinya itu tadi diterbangkan ke atas oleh angin puting beliung dan kini melayang turun menghujani seluruh permukaan puncak bukit!
Itulah agaknya yang diinginkan Ki Ageng Mahendra.
Jenazahnya menjadi abu dan menjadi pupuk bagi tanah di seluruh permukaan puncak, menyuburkan tanah sehingga apapun yang ditanam para penduduk dusun akan dapat tumbuh dengan subur dengan hasil yang berlimpah.
Sampai dengan matinya pun, gurunya selalu masih ingin mendarma-baktikan demi kesejahteraan manusia?
Semua ke-ajaiban ini terjadi, tentu bukan karena kesaktian Ki Ageng Mahendra yang selalu mengatakan bahwa dia orang biasa, melainkan karena kehendak Tuhan dan ini membuktikan bahwa Ki Ageng Mahendra adalah seorang manusia yang dikasihi Gusti Allah!
"Terpujilah keagungan Gusti Allah yang Maha Kasih..."
Bagus Sajiwo bergumam sambil merangkapkan kedua tangan menjadi sembah, meniru kata-kata mendiang gurunya di waktu memuji nama Tuhan.
Setelah semua orang yang melayat meninggalkan puncak itu, Bagus Sajiwo juga menuruni puncak sambil menggendong buntalan pakaiannya yang hanya beberapa potong jumlahnya dan itupun merupakan pakaian yang terbuat dari kain kasar, dijahit amat sederhana.
Ketika melangkah perlahan-lahan menuruni puncak bukit itu, Bagus Sajiwo merasakan sesuatu yang hampa di lubuk hatinya.
Tentu saja dia belum mencapai tingkat mendiang gurunya yang sudah dapat terbebas dari rasa perasaan hati akal pikirannya.
Dan gurunya juga tidak mengharuskan dia demikian.
Pengaruh hati akal pikiran masih bekerja dalam dirinya, hanya saja, ada kekuasaan yang membuat dia senantiasa sadar dan tidak akan terseret oleh perasaannya.
DIA selalu berlatih untuk menyerah kepada kekuasaan sakti ini, kekuasaan Tuhan sebagai pembimbing, di atas kekuasaan hati akal pikirannya sendiri.
Inilah yang oleh mendiang gurunya dinamakan sejatining rasa (perasaan sejati), yaitu pasrah menyerah kepada Gusti Allah yang ada juga disebut Sang Dewa Ruci (Roh Suci) dapat tinggal dan menyatu dalam diri manusia sehingga selalu akan memberi bimbingan dalam perjalanan hidupnya.
Inilah yang dimaksudkan gurunya dengan ucapan "manunggaling Kawula Gusti" (bersatunya hamba dan Gusti) yaitu apabila Roh Allah bersatu dengan Roh kita.
Sungguh suatu keajaiban yang tidak mudah, bahkan tidak dapat dipelajari dengan hati akal pikiran, tidak dapat diraih dengan kemauan dan kehendak nafsu.
Keadaan yang ajaib ini tak mungkin dapat terjadi atas kehendak manusia, melainkan baru akan dapat terjadi atas kehendak Tuhan semata.
Manusia hanya dapat menyerah pasrah dengan segenap jiwa raganya, setiap saat bersyukur memuji keagungan Tuhan atas berkahNya yang berlimpahan sepanjang hidup kita, mohon pengampunan atas semua dosa kita dengan bukti pertaubatan dan mohon bimbinganNya karena hanya dengan bimbingan Roh Allah saja kita tidak akan tersesat dari jalan hidup yang benar dan yang sesuai dengan kehendakNya.
Rasa nelangsa dan hampa, rasa kesepian itu hanya sebentar menekan hati Bagus Sajiwo.
Dia segera dapat mengatasinya.
Dia tidak tahu kemana harus pergi.
Pulang ke Gunung Kawi?
Dia tidak berani melanggar janjinya kepada mendiang gurunya.
Tidak, sebelum berusia dua puluh tahun, kurang lebih empat tahun lagi, dia tidak akan menemui ayah bundanya.
Lalu ke mana?
Dia sendiri tidak tahu.
Akan tetapi dia teringat akan pesan gurunya agar dia selalu menegakkan keadilan dan kebenaran, membela yang lemah tertindas dan menentang mereka yang melakukan kejahatan terhadap sesama manusia.
Jadi, kemana saja dia boleh pergi dan seperti biasa, dalam keadaan tanpa pilihan ini, tidak ada jalan lain kecuali menyerah.
Biarlah Gusti Allah yang akan menuntun kedua kakiku melangkah, pikirnya.
Demikianlah, Bagus Sajiwo hanya melangkah saja, menghindari jalan yang licin dan sukar, menuruni bukit dan tanpa dia sengaja, kedua kakinya menuruni bukit itu ke sebelah barat.
Kegagalan serangan Mataram terhadap Kumpeni Belanda selama dua kali berturut-turut (tahun 1628 -1629) membuat Kumpeni Belanda mengubah politiknya.
Kini mereka lebih berhati-hati dan sikap mereka tidak sekeras dulu.
Mereka berusaha mendekati Sultan Agung melalui kadipaten-kadipaten, terutama kadipaten yang berada di sepanjang pesisir Laut Utara.
Mereka secara royal mengirim hadiah-hadiah dan tidak terlalu memaksakan kehendak mereka.
Untuk sementara mereka merasa puas dengan hasil keuntungan dari perdagangan.
Juga mereka tidak terlalu percaya lagi kepada para penduduk pribumi yang tadinya menjadi antek mereka, karena banyak diantara penduduk yang berkhianat kepada Kumpeni.
Pemimpin Kumpeni yang bertugas menangani para penduduk pribumi yang menjadi mata-mata bayaran pada waktu itu sepenuhnya dipegang oleh Mayor Yacques Lefebre yang oleh Mataram lebih dikenal dengan nama Jakuwes.
Mayor Jakuwes ini tinggal di dalam sebuah gedung besar di Batavia, gedung yang mewah dan terjaga ketat.
Di tempat inilah biasanya para mata-mata yang membantu Kumpeni menghadap Mayor Jakuwes.
Diantara sekian banyaknya telik sandi (mata-mata) penduduk pribumi yang membantu Mayor Yacques terdapat seorang tokoh wanita yang amat terkenal karena kesaktian dan kecantikannya.
Tokoh ini bernama Nyi Maya Dewi, seorang wanita berusia tiga puluh tahun lebih yang amat cantik jelita.
Selain terkenal cantik jelita menggairahkan, ia juga terkenal sakti mandraguna dan amat berbahaya dan kejam sehingga banyak orang menyebutnya sebagai iblis betina!
Nyi Maya Dewi berasal dari Parahyangan dan puteri dari mendiang Resi Kalayitma, seorang bertubuh raksasa, datuk yang amat terkenal dari Parahyangan.
Akan tetapi karena resi ini melakukan banyak kejahatan, maka dia menjadi orang buruan dan terusir dari Parahyangan.
Dalam pelarian itu dia membawa puteri tunggalnya, yaitu Nyi Maya Dewi, merantau dan akhirnya ayah dan anak ini diperalat Kumpeni Belanda.
Bahkan akhirnya Nyi Maya Dewi menjadi telik-sandi Belanda yang dipercaya dan sudah banyak jasanya.
Setelah Resi Kalayitma meninggal dunia, Nyi Maya Dewi masih melanjutkan kegiatannya menjadi antek Kumpeni Belanda.
Pada senja hari itu, suasana di jalan raya depan gedung tempat tinggal Mayor Jakuwes sudah sepi.
Jarang ada orang berlalu lalang dan para penjaga di gardu depan gedung itu baru saja diganti.
Tiga orang berjaga disitu, dengan bedil di tangan.
Dari arah timur di jalan raya itu tampak seorang wanita berjalan melenggang menuju ke depan gedung.
Wanita ini bukan lain adalah Nyi Maya Dewi.
alam keremangan senja itu masih tampak kecantikannya yang mempesona.
Sama sekali tidak kelihatan sebagai seorang wanita berusia tiga puluh tahun.
Sepatutnya usianya baru dua puluh tahun kurang, seperti seorang gadis yang baru dewasa, bagaikan setangkai bunga mawar yang baru mekar semerbak.
Rambutnya hitam panjang digelung indah, ujungnya masih terurai di pundaknya.
Wajah yang agak bulat itu berseri, kulit muka, leher dan lengan yang tak tertutup amat putih mulus kemerahan.
Matanya lebar dengan kedua ujung agak berjungat ke atas, bukan main manisnya.
Hidungnya kecil mancung dan mulutnya sungguh memiliki daya tarik yang seimbang dengan matanya.
Bibirnya merah basah, tipis dan bentuknya begitu menggairahkan.
Sungguh Nyi Maya Dewi merupakan seorang wanita yang ayu manis, memiliki kecantikan yang khas dari para mojang Parahyangan.
Bentuk tubuhnya juga amat menggairahkan, dengan lekuk lengkung yang sempurna dan tepat pada ukurannya yang serasi.
Lenggangnya lemah gemulai seperti seorang yang sedang menari, membuat siapapun juga yang berpapasan dengannya pasti menengok berulang kali sampai jalannya menabrak sesuatu di depannya!
Yang lebih menarik lagi adalah karena pada kerling matanya yang setajam pedang pusaka, senyum bibirnya yang semanis madu itu mengandung kegenitan yang merangsang dan menantang.
Akan tetapi, saat ia melenggang menuju ke arah gedung besar itu, wajah yang ayu itu seolah terselubung awan.
Bahkan sepasang mata yang seperti bintang kejora itu menerawang, seolah melamun.
Jelas bahwa ada sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya mengganggu pikirannya.
Nyi Maya Dewi pada saat itu merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.
Ia melihat segaia sesuatu sebagai penglihatan yang tidak menyenangkan, bahkan menyebalkan.
Segala sesuatu tampak menjemukan.
Ia seperti kehilangan sesuatu, kehilangan gairah hidup!
Ia tidak tahu bahwa semua ini merupakan tanda-tanda bahwa ia sudah merasa jenuh dengan segaia yang didapatinya dalam kehidupan.
Pergaulannya dengan pria-pria tampan sekehendak hatinya, ia tinggal pilih.
Namun semua itu kini terasa menjemukan.
Ia tidak menemukan kebahagiaan sejati dalam semua kesenangan itu.
Seperti orang kekenyangan yang akhirnya merasa muak dengan apa yang tadinya ia anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan.
Ia kehilangan sesuatu, dan sesuatu itu, tanpa ia sadari, adalah cinta kasih!
Banyak ia bertemu pria yang seolah memujanya, akan tetapi semua itu kini terasa memuakkan karena pemujaan itu hanya lahiriah belaka, hanya karena nafsu berahi.
Tidak pernah ia merasakan adanya cinta kasih yang sejati.
Dan agaknya ia haus akan perasaan itu, haus akan cinta!
Ia rindu menemukan orang yang benar-benar mencintanya, bukan sekedar menyenangkan tubuhnya yang cantik menarik.
Ia muak akan semua kesenangan yang selama ini mudah diraihnya.
Harta benda membosankan.
Pemuasan nafsu berahi akhirnya juga menjemukan, bahkan memuakkan karena di balik semua keindahan itu ia mulai melihat kekotoran nafsu berahi.
Sudah berbulan-bulan ia merasakan semua ini.
Ia ingin lari dari semua kesenangan itu.
Ia tidak membutuhkannya lagi.
Ia membutuhkan sesuatu yang lain, yang tidak pernah dikenalnya.
Ia merindukan sesuatu yang lain dan jiwanya seolah membisikkan bahwa selama ini ia telah meniti jalan yang semakin menjauhkannya dari sesuatu yang dirindukannya itu.
Perasaan itulah yang membawa Nyi Maya Dewi pada sore hari itu ke Batavia.
Ia ingin menemui Mayor Jakuwes yang selama ini menjadi atasannya.
Tiga orang serdadu Belanda yang bertugas jaga di dalam gardu depan rumah gedung Mayor Jakuwes melangkah keluar gardu dan memalangkan bedil mereka ketika melihat Nyi Maya Dewi melangkah masuk ke pekarangan.
Akan tetapi mereka bertiga terpesona ketika melihat wanita yang tersorot sinar lampu yang tergantung di depan gardu penjagaan.
Mereka terbelalak dan seolah tidak percaya kepada pandang mata mereka sendiri.
Wanita itu begitu cantiknya, melebihi semua gambaran khayal mereka.
Mereka tidak mengenal Nyi Maya Dewi dan hal ini tidaklah mengherankan karena biarpun wanita itu merupakan pembantu yang amat penting dari Mayor Jakuwes, namun sebagai seorang mata-mata tentu saja kehadirannya selalu dirahasiakan.
"Siapakah engkau, nona? Ada keperluan apakah nona masuk kesini?"
Sikap tiga orang itu dan pertanyaan ini yang tadinya akan dilakukan dengan keras, menjadi ramah bahkan ketiganya tersenyum simpul, seperti biasa dilakukan para laki-laki kasar berhadapan dengan wanita cantik.
Nyi Maya Dewi sedang kesal hatiya.
Melihat tiga orang serdadu Belanda yang kulit mukanya kemerahan dan mulut mereka mengeluarkan bau minuman keras itu mendekatkan muka mereka kepadanya sambil cengar-cengir, ia melangkah mundur.
"Tidak perlu kalian ketahui siapa aku. Laporkan saja kepada Mayor Jakuwes agar dia keluar menemui aku!"
Kata Nyi Maya Dewi dengan suara kering. Seorang di antara tiga serdadu itu, yang mukanya merah karena kebanyakan minum bir dan agaknya menjadi pemimpin mereka, melangkah maju mendekati Nyi Maya Dewi.
"Tidak bisa, nona manis. Untuk melapor ke dalam kami harus tahu lebih dulu siapa engkau dan apa keperluanmu. Mari, masuklah dulu ke dalam gardu, kami akan memeriksamu lebih dulu. Siapa tahu engkau mempunyai niat jahat!"
Si muka merah itu menjulurkan tangannya dan menangkap lengan kiri Nyi Maya Dewi.
"Keparat!"
Wanita yang sedang kesal hatinya itu menjadi marah. Sekali menggerakkan tangan, ia sudah menampar pipi serdadu itu.
"Plak!!"
Serdadu itu terpelanting dan mengaduh.
Beberapa buah giginya rontok dan pipinya menjadi bengkak!
Dua orang kawannya cepat maju untuk menangkap wanita itu.
Akan tetapi mereka disambut tamparan tangan yang bergerak dengan cepat dan kuat sekali.
"Plak-plak....!!"
Dua orang serdadu itupun terpelanting roboh.
Mereka menjadi marah dan ketiganya sudah menyambar bedil mereka, akan tetapi tiba-tiba bedil-bedil itu direnggut lepas dari tangan mereka dan tiga kali Nyi Maya Dewi menggerakkan kedua tangan, tiga batang bedil itupun patah dan dibuang ke atas tanah oleh Nyi Maya Dewi!
Melihat ini, tiga orang serdadu itu terkejut setengah mati, juga ketakutan karena peristiwa itu mengingatkan mereka akan cerita tentang setan-setan yang katanya banyak berkeliaran di waktu malam.
Mereka lari tunggang langgang memasuki gedung itu dan tak lama kemudian, Mayor Jakuwes sendiri keluar dari gedung itu, dikawal tujuh orang serdadu yang sudah siap dengan bedil di tangan.
Tujuh orang itu sudah mencari kedudukan yang aman, bersembunyi di balik tiang dan pot bunga sambil m6nodongkan bedilnya.
Akan tetapi ketika Mayor Jakuwes melihat Nyi Maya Dewi, dia segera mengenalnya dan mengangkat tangan.
"Stop! Jangan tembak, ia kawan sendiri!"
Para serdadu itu menurunkan todongan mereka dan tidak merasa tegang lagi dan Mayor Jakuwes lalu melangkah lebar menghampiri Nyi Maya Dewi sambil tersenyum lebar dan menjulurkan tangan kanannya.
"Oh, kiranya engkau, Maya Dewi!"
Katanya gembira.
Maya Dewi menerima jabatan tangan itu dan ia mengerutkan alisnya ketika merasa betapa hangatnya jabatan tangan orang Belanda itu dan betapa agaknya Mayor Jakuwes tidak mau segera melepaskan jabatannya.
Maya Dewi menarik tangannya terlepas dari jabatan.
"Aku ingin bicara, tuan mayor!"
Katanya dengan singkat.
"Oo, boieh, boleh! Mari masuk, kita bicara di dalam, Maya Dewi!"
Kata Mayor Jakuwes, laki-laki Belanda peranakan Portugis itu sambil tersenyum.
Mayor yang usianya kurang lebih empat puluh lima tahun ini memang sudah lama sekali tergila-gila kepada Maya Dewi, akan tetapi wanita itu tidak pernah mau melayaninya.
Mereka lalu memasuki gedung besar itu.
Diam-diam Mayor Jakuwes yang sudah tahu benar betapa sakti dan berbahayanya Nyi Maya Dewi, memberi isarat kepada tujuh orang serdadu pengawalnya.
Mereka lalu mengikuti dua orang itu dari belakang dan ikut memasuki ruangan luas di mana mayor itu mengajak Maya Dewi duduk dan bicara.
Maya Dewi teringat beberapa bulan, atau kurang lebih setahun yang lalu, sebelum Batavia diserbu untuk ke dua kalinya oleh Mataram, ia sering duduk mengadakan perundingan dengan mayor ini dan pembesar Kumpeni lain, dihadiri pula oleh datuk yang memusuhi Mataram dan yang rela menjadi antek Kumpeni, seperti Kyai Sidhi Kawasa, Aki Somad, Wiku Menak Koncar, dan masih banyak lagi.
Akan tetapi mereka semua telah tewas dalam perang melawan Mataram.
Ia beruntung dapat meloloskan diri.
Kini tampak olehnya betapa para datuk itu mengorbankan nyawa mereka untuk membela orang-orang asing kulit putih yang kini masih hidup serba mewah dan sama sekali tidak perduli akan nasib para datuk yang tewas dalam membantu Kumpeni.
Andaikata ia sendiri juga menjadi korban dan tewas dalam pertempuran itu, mayor ini dan semua orang Belanda pasti sudah melupakannya!
Pengorbanan sia-sia, bahkan mendapat julukan pengkhianat nusa bangsa!
Setelah dua orang itu duduk berhadapan terhalang meja besar, dan tujuh orang pengawal itu duduk di sudut ruangan, tampak santai namun sebenarnya siap siaga dengan bedil mereka, Mayor Jakuwes memandang wajah yang cantik jelita yang tampak semakin cemerlang disinari lampu gantung besar yang menerangi ruangan itu.
Dia melihat betapa wajah ayu itu keruh, alis yang kecil hitam panjang melengkung itu berkerut dan bibir manis yang biasa mengembangkan senyum menggairahkan itu kini agak cemberut.
"Zo, Maya Dewi, senang sekali hatiku dapat bertemu denganmu. Aku selalu mengenang dan memikirkan keadaanmu dan aku girang mendengar berita bahwa engkau tidak tewas dalam pertempuran seperti kawan-kawan lain. Kemana saja selama ini engkau pergi?"
Dengan alis berkerut dan sinar mata penasaran Maya Dewi memandang Belanda itu lalu berkata dengan nada sinis.
"Tuan, Kumpeni mendapat kemenangan dan kami yang membantu menjadi tumbal, mati konyol!"
"Zeg, Maya Dewi. Apa maksudmu? Kalian bekerja kepada kami sudah mendapat imbalan. Soal tewas dalam perang merupakan hal biasa dan lumrah. Akan tetapi aku tidak melupakan jasa-jasamu, Maya Dewi. Sudah lama sekali aku memikirkan, hadiah apa yang paling pantas kuberikan padamu. Harta benda, engkau tentu tidak membutuhkan. Aku lalu mengambil keputusan...."
Dia menoleh ke arah para serdadu yang duduk di sudut ruangan, tidak terlalu dekat dengannya dan melanjutkan dengan suara lirih.
".... bagaimana kalau engkau kuangkat menjadi isteriku, menemaniku hidup disini. Kau tahu, Maya Dewi, aku berada di Batavia, seorang diri dan aku.... aku suka sekali denganmu."
Maya Dewi merasa muak.
Semua pria mengatakan cinta padanya.
Entah sudah berapa kali ia terkecoh.
Cinta mereka itu hanya cinta nafsu, hanya menginginkan tubuhnya, hanya ingin mereguk kenikmatan dari tubuhnya.
Ia sudah hafal dan muak.
Sinar mata yang kebiruan itupun kini memandangnya bukan penuh kasih sayang, melainkan penuh nafsu berahi.
Betapa buruk wajah itu tampaknya, seperti wajah binatang buas, seperti wajah setan!
"Tuan mayor, jangan bicara ngawur!
Aku datang untuk mengembalikan ini, bukan untuk hal lain!"
Maya Dewi melemparkan mata uang emas bergambar singa yang selama ini menjadi tanda bahwa ia seorang mata-mata penting Kumpeni.
Mata uang itu jatuh berdencing di atas meja.
Melihat Maya Dewi bangkit berdiri, Mayor Jakuwes segera mengambil uang emas itu dan ikut berdiri pula, memandang kepada wanita itu dengan alis berkerut.
"Maya Dewi, apa maksudnya ini?"
Tanyanya, setengah membentak.
"Maksudnya sudah jelas! Aku pamit, aku keluar dan tidak lagi membantu Kumpeni!"
"Dan lamaranku?"
"Aku tidak mau menjadi isterimu, Mayor. Selamat tinggal!"
Kata Maya Dewi dan ia sudah menggerakkan kakinya untuk memutar tubuh.
"Wacht even (tunggu dulu)!"
Mayor Jakuwes membentak dan dengan langkah lebar dia memutari meja dan menghampiri Maya Dewi.
"Engkau tidak boleh pergi begitu saja, Maya Dewi! Seorang mata-mata Kumpeni tidak boleh meninggalkan kami begitu saja karena ia dapat menjadi pengkhianat! Engkau harus menerima lamaranku, hidup senang disini bersamaku, atau, terpaksa aku akan menahanmu dan memasukkan engkau dalam penjara!"
Sepasang mata indah itu sampai terbelalak saking kaget dan marahnya mendengar kata-kata itu.
Sinar mata itu mencorong seperti mata harimau dalam gelap.
Perasaan hati Maya Dewi saat ia menghadap Mayor Jakuwes sedang kesal dan marah.
Maka, mendengar ancaman itu keadaan hatinya yang kesal dan marah itu seperti api disiram minyak.
Kemarahannya memuncak dan sekali ia menggerakkan tangan kirinya, ia sudah menampar ke arah muka Jakuwes.
Mayor yang tentu saja bukan seorang laki-laki lemah itu cepat menangkis dengan tangan kanannya.
Namun, tangan kiri Maya Dewi membuat tangkisannya terpental dan tangan itu tetap meluncur ke arah rahangnya.
"Wuuuttt.... tasss....!!"
Tubuh Jakuwes terpelanting dan dua atau tiga buah giginya copot!
Jakuwes berguling di atas tanah, kesakitan dan marah sekali.
Sebelum bangkit kembali, dia sudah memberi aba-aba kepada tujuh orang serdadu pengawalnya.
"Schiet haar dood (Tembak mati ia)!!"
Tujuh orang serdadu itu menggerakkan bedil, akan tetapi pada saat itu, terdengar bunyi ledakan dan lampu gantung itu pecah berantakan.
Dalam keadaan gelap gulita karena tiba-tiba lampu padam itu, meja besar tadi melayang ke arah tujuh orang serdadu.
Mereka tertimpa meja besar, suaranya hiruk pikuk dan mereka mengaduh-aduh kacau.
Dalam keadaan itu, Maya Dewi cepat melompat keluar dari gedung dan menghilang dalam kegelapan malam.
Mayor Jakuwes mencoba untuk mengejar, akan tetapi karena para serdadu itu sudah merasa jerih, maka pengejaran itupun hanya setengah hati dan kegelapan malam melindungi Maya Dewi sehingga sebentar saja ia sudah menghilang dari pandangan mereka.
Sebentar saja gegerlah Batavia.
Banyak serdadu berkeliaran, berlari kesana-sini menyusuri seluruh bagian Batavia, untuk mencari Maya Dewi.
Semua rumah penduduk digeledah, bahkan mereka yang dicurigai sebagai orang yang mungkin mengetahui dimana wanita itu berada, ditangkap, ditahan dan diperiksa.
Namun semua usaha Kumpeni sia-sia belaka.
Maya Dewi sudah tidak berada di Batavia lagi dan begitu tadi berhasil keluar dari gedung tempat tinggal Mayor Jakuwes, wanita sakti itu langsung keluar dari pintu gerbang Batavia dan ketika para serdadu sibuk menyusuri seluruh Batavia, ia sudah melarikan diri jauh meninggalkan kota Kumpeni itu.
Pasukan Kumpeni juga disebar keluar kota, namun tidak ada yang dapat menemukan jejaknya, maka akhirnya mereka kembali ke benteng dengan tangan hampa.
Maya Dewi meninggalkan Batavia dan merantau, mencari sesuatu yang selama ini diam-diam amat dirindukannya, yang selama ini seolah tak pernah dapat diraihnya.
Ia sebetulnya sudah memiliki segala yang dapat dicapai oleh usaha manusia, segala macam bentuk kesenangan duniawi.
Ia seorang wanita yang cantik jelita, yang dapat membuatnya bangga karena hampir semua pria yang melihatnya tentu menjadi tertarik dan banyak yang tergila-gila.
Ia juga memiliki kesaktian yang hebat, yang membuat ia merasa aman dan bahkan dapat memaksakan semua kehendaknya kepada orang lain.
Ia tidak pernah kekurangan apapun karena dengan kepandaiannya yang hebat, ia bisa mendapatkan benda apa saja yang dikehendakinya biarpun itu dilakukannya dengan cara mencuri, merampas atau dengan cara apapun juga.
Bahkan dengan aji kesaktiannya itu, ia bisa mendapatkan semua laki-laki yang menarik hatinya dengan pengaruh aji pengasihannya.
Ia juga dapat mempertahankan kecantikannya, membuatnya tampak selalu seperti seorang gadis muda.
Dan selama kurang lebih sepuluh tahun ini, ia sudah memuaskan segaia nafsunya, apapun yang ia inginkan ia dapat memperolehnya.
Segala macam kesenangan telah direguknya sepuas-puasnya, menggunakan segaia cara.
Ia tidak pantang melakukan perbuatan jahat yang bagaimanapun kejinya demi mencapai apa yang diinginkannya.
Akan tetapi, makin banyak kesenangan yang dilahapnya, ia menjadi semakin lapar.
Semakin banyak kesenangan diteguknya, ia menjadi semakin haus.
Bahkan lebih dari itu, ia mulai merasakan kebosanan yang hebat.
Apa yang semula terasa manis, kini berubah menjadi pahit, apa yang semula terasa enak, kini menjadi memuakkan.
Apa yang tadinya dirasakan sebagai suatu kesenangan, kini menjadi kekesalan.
Bosan, bosan, dan bosan!
Kebosanan ini yang membuat ia merasa sengsara.
Ia merasa hidupnya hampa, tak berarti.
Ia merindukan sesuatu, tanpa ia mengerti apa sesuatu yang dirindukannya itu.
Tertindih perasaan yang membuatnya merana dan merasa sengsara, membuat ia teringat akan pantai Laut Kidul dimana ia dahulu pernah bertapa memperdalam ilmu-ilmunya.
Maka, iapun melangkahkan kakinya menuju kesana.
Di sepanjang perjalanannya, Maya Dewi melihat betapa sesuatu yang dirindukannya namun yang tidak diketahuinya apa itu dimiliki oleh banyak orang yang ditemuinya dalam perjalanan itu.
Ia melihat sekumpulan anak-anak berusia antara lima sampai sepuluh tahun bermain-main di anak sungai.
Mereka terjun ke air, Berkecimpung, tertawa-tawa, bertelanjang dan bersorak sorai.
Ada sesuatu yang lebih dari sekedar kesenangan terpancar pada wajah dan pandang mata mereka yang berbinar-binar, terdengar dalam suara teriakan dan tawa mereka.
Dia melihat suami isteri yang sedang bekerja di ladang yang laki-laki mencangkul, yang perempuan mencabuti rumput yang mengganggu tanaman kacang mereka dan sambil bekerja, si isteri bertembang.
Tembang Kinanti yang sederhana saja, model dusun, dengan suara yang sederhana dan agak sumbang.
Lalu sambil bersembunyi ia melihat suami isteri itu berhenti, mengaso dan duduk di galengan (pematang) dan makan singkong rebus, minum air kendi sambil bercakap-cakap.
Suami isteri itu berusia kurang lebih empat puluh tahun.
Sang suami merupakan seorang laki-laki dusun yang sederhana wajahnya, sederhana pula pakaiannya, tidak tampan atau menarik.
Demikian pula sang isteri, wanita dusun.
biasa, bahkan condong buruk wajahnya, gembrot bentuk tubuhnya, tidak menarik.
Adapun hidangan yang mereka makan itu teramat sederhana, hanya singkong rebus dan air kendi.
Akan tetapi, Maya Dewi bengong melihat kenyataan yang dihadapinya.
Suami isteri itu makan dengan enak dan lahapnya, minum air kendi dengan segarnya sampai ia harus menelan ludah sendiri karena timbul selera melihat mereka makan demikian lezat.
Dan ketika bercakap-cakap, suami isteri itu saling pandang, saling senyum dan kembali Maya Dewi menangkap sesuatu itu, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan!
Maya Dewi menghela napas, makin merasa betapa hampa hidupnya, nelangsa hatinya dan ketika ia meninggalkan suami isteri itu, wajahnya agak pucat dan dua butir air menggantung di pelupuk ke dua matanya.
Ia melanjutkan perjalanan, mengingat-ingat.
Sepanjang pengalamannya dalam kehidupan yang sudah tiga puluh tahun lebih ini, ia sudah merasakan segaia macam kesenangan.
Akan tetapi semua itu kini terasa hampa, tidak ada artinya dan berakhir dengan kebosanan.
Banyak orang bicara tentang kebahagiaan.
Semula ia mengira bahwa ketika memuaskan nafsu-nafsunya, ia telah mencapai kebahagiaan.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Ia hanya mengunyah kesenangan yang akhirnya hanya mendatangkan kebosanan dan kemuakan.
Kebahagiaan?
Rasanya, belum pernah ia menyentuhnya, atau belum pernah ia disentuh kebahagiaan!
Apa dan bagaimana rasanya kebahagiaan itu?
Dimana tempatnya dan bagaimana mendapatkannya?
Ia ingin mencari, ingin menemukan, ingin memilikinya!
Ketika ia tiba diluar sebuah dusun, ia berpapasan dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, menunggangi seekor kerbau gemuk sambil meniup suling bambu.
Tiupan sulingnya biasa-biasa saja, bahkan tembang yang dimainkannya dengan suara suling itu agak kacau dan sumbang.
Namun, Maya Dewi merasakan sesuatu yang luar biasa, merasakan suasana yang penuh damai dan indah pada wajah dan tubuh anak yang duduk agak bergoyang-goyang terbawa gerakan kerbau yang melangkah perlahan-lahan itu.
Tenang dan damai, suatu keadaan yang hampir ia lupakan karena selama bertahun-tahun ini tak pernah ia merasakannya!
Kebahagiaan yang mencuat dari suasana yang ditimbulkan bocah bertiup suling itu terasa olehnya dan ia merasa betapa hidupnya semakin hampa sehing-ga ia seolah kehilangan gairah hidup.
Hidup terasa demikian tidak menyenangkan hatinya.
Tubuhnya menjadi lemas dan terhuyung-huyung ia melanjutkan perjalanannya.
Ia tiba di tepi dusun dan terdengar suara orang menumbuk padi.
Ia menghampiri dan sambil bersembunyi mengintai dan melihat seorang ibu menumbuk padi sambil menggendong seorang anak berusia sekitar satu tahun.
Anak itu sedang menyusu pada ibunya.
Juga pada wajah sang ibu yang sederhana dan miskin itu tampak sinar kebahagiaan itu!
Bekerja keras, sambil menyusui anaknya lagi!
Dan wajah anak itu.
Tampak demikian nikmat menyusu ibunya.
Semua ini kembali memukul perasaan Maya Dewi dan ia tidak tahan melihat lebih lama lagi.
Ia berlari keluar dari dusun dan baru berhenti ketika tiba di tepi sebuah sungai kecil.
Seorang kakek bercaping lebar sedang duduk di bawah pohon di tepi sungai itu.
Dia sedang memegangi sebatang tangkai pancing.
Rupanya sedang memancing ikan.
Wajahnya begitu tenang, penuh kedamaian dan kesabaran memandang kepada tali pancing yang bergerak-gerak terbawa aliran air sungai.
Maya Dewi tertegun.
Ia seolah dapat melihat kebahagiaan berulang-ulang terbayang di wajah orang-orang itu.
Kebahagiaan ia lihat di wajah suami isteri petani, kebahagiaan di wajah dan dalam tawa anak-anak yang bermain di air, kebahagiaan yang tampak di wajah ibu yang bekerja keras sambil menyusui anaknya, di wajah si anak yang menyusu ibunya, dan di wajah anak yang meniup suling sambil menunggang kerbau, kini di wajah kakek tua yang memancing ikan.
Akan tetapi, benar-benarkah mereka itu berbahagia?
Ia menjadi penasaran.
Sebaiknya ia langsung bertanya kepada kakek itu!
"Selamat siang, paman."
Pengail itu menoleh dan dia terbelalak heran melihat bahwa yang menyalaminya itu adalah seorang wanita yang teramat elok.
Cantik jelita wajahnya dan elok pula pakaiannya.
Jelas bukan seorang wanita dusuo dan dia sama sekali tidak mengenalnya.
Akan tetapi karena wanita itu menegurnya dengan ramah dan ketika dia menengok, penanya itu tersenyum kepadanya, dia juga tersenyum, membuka dan meletakkan capingnya diatas rumput.
"Selamat siang, mas ayu."
Kakek itu berusia enam puluh tahun lebih, wajahnya yang dihias banyak garis-garis pengalaman hidup itu masih tampak berseri.
Akan tetapi dia menjadi heran melihat wanita cantik itu kini duduk di atas sebuah akar pohon yang menonjol di permukaan tanah, menghadapinya.
"Sudah banyakkah hasil pancinganmu, paman?"
Tanya Maya Dewi.
"Ahh, lumayan."
Kakek itu menyodorkan kepis (tempat ikan) kepada Maya Dewi.
"Ada lima ekor ikan lele, cukuplah untuk teman nasi makan siang anak mantuku, dan dua orang cucuku siang ini."
Dia tersenyum gembira dan tampak mulutnya yang ompong, tinggal beberapa buah saja gigi yang tampak.
Kembali Maya Dewi melihat sesuatu pada senyum dan pandang mata kakek yang dari pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang dusun sederhana yang miskin itu cahaya kebahagiaan seperti yang ia lihat pada wajah-wajah suami isteri, kanak-kanak, ibu dan anak yang disusuinya itu.
"Paman, bolehkah aku bertanya?"
Maya Dewi merasa heran kepada diri sendiri.
Mengapa ia tiba-tiba saja dapat bersikap seramah dan sehormat ini kepada seorang petani tua?
Padahal, biasanya, tak seorangpun di dunia ini yang dihormatinya.
Tak pernah ada perasaan dekat dengan orang lain, bahkan ia selalu mencurigai orang dan dapat membunuh orang dengan mata tak berkedip!
"Wah, tentu saja boleh, mas ayu!
Akan tetapi apa yang hendak kau tanyakan?"
"Begini, paman. Jawablah dengan sejujurnya, apakah paman merasa bahagia dalam hidup ini?"
Bertanya demikian, Maya Dewi menatap tajam mata kakek itu.
Dari pengalamannya, ia akan tahu apakah kakek itu berbohong, ataukah jujur kalau menjawab pertanyaannya.
Ia melihat kakek itu melebarkan kedua matanya, memandang ke atas, lalu mengerutkan alis dan termenung, seolah menjadi bingung oleh pertanyaannya.
Kemudian dia menjawab pertanyaan Maya Dewi itu dengan pertanyaan pula.
"Mas ayu, apa sih kebahagiaan itu? Aku kok tidak mengerti. Coba kau jelaskan, apa yang kau maksudkan dengan rasa bahagia itu, mas ayu."
Maya Dewi menjadi bingung, akan tetapi lalu menjawab sedapatnya.
"Rasa bahagia itu adalah.... rasa tenteram, rasa senang gembira, riang, tidak bosan, tidak susah, tidak takut, tidak merasa hampa, tidak kesepian, tidak kesal, tidak....."
Maya Dewi bingung sendiri. Kakek itu tertawa, merasa lucu.
"O begitukah? Jadi kau maksudkan dengan pertanyaan tadi, apakah aku tidak merasa bosan, tidak susah, tidak takut, tidak kesal, dan sebagainya lagi itu?"
Karena ia sendiri bingung, Maya Dewi mengangguk.
"Ya, begitulah kira-kira."
"Kalau itu yang kau tanyakan, mas ayu, pada saat ini aku memang tidak merasa bosan, tidak susah, tidak kesal, tidak takut, tidak kesepian dan sebagainya itu."
"Nah, kalau begitu engkau bahagia paman!"
"Bahagia?"
Kakek itu menggaruk-garuk kepalanya yang penuh uban.
"Aku? Bahagia? Entahlah! Yang jelas, aku merasa senang, sudah memperoleh lima ekor ikan lele yang dapat menggembirakan keluarga kami! Akan tetapi bahagia? Apa sih itu? Aku..... maaf, mas ayu, aku tidak butuh itu. Permisi, mas ayu, aku ditunggu anak, mantu dan cucu-cucuku."
Pengail itu lalu mengangkat pan-cingnya, mengambil kepisnya dan mema-kai capingnya, lalu pergi dari situ menuju ke dusun disana.
Maya Dewi duduk termenung.
Pengail itu berada dalam keadaan yang sama sekali berlawanan dengannya!
Kalau ia merasa kecewa, kesal, sedih, hampa, kesepian, bosan, maka orang itu sama sekali tidak mempunyai perasaan yang serba tidak enak di hati itu.
Kalau ia mencari dan membutuhkan bahagia, orang itu sama sekali tidak membutuhkannya.
Bagaimana bisa begitu?
Apakah ini yang menjadi sebab maka ia tidak merasa bahagia?
Dan orang itu, si pengail orang dusuti miskin sederhana, yang sudah merasa begitu gembira mendapatkan lima ekor ikan lele kecil, justru merupakan orang bahagia?
Maya Dewi menggeleng kepalanya, merasa nelangsa.
Ia merasa seperti menghadapi teka-teki.
Ia bangkit tanpa semangat, akan tetapi lama kelamaan ia menjadi penasaran sekali dan ia segera mengerahkan tenaga dan berlari cepat seperti terbang, menuju ke selatan.
Ia ingin menjauhkan diri dari semua keramaian, bertapa seperti dulu.
Kalau dulu ia bertapa untuk memperdalam ilmu-ilmunya, kini ia ingin bertapa untuk mencari dan merasakan apa yang dinamakan bahagia itu.
Dengan simpanan hartanya yang banyak berupa emas permata, Maya Dewi menyuruh para ahli bangunan membangun sebuah rumah mungil dan indah diatas tanah yang amat luas di sebuah bukit kecil di pegunungan Wilis, Ia membeli tanah di seluruh bukit itu dari kedemangan Pakis yang berada di kaki bukit, lalu dibangunnya sebuah rumah.
Juga ia membuat sebuah taman yang luas dan indah disekeliling rumahnya.
Bukan hanya tanaman bunga beraneka warna yang berada di taman, melainkan juga pohon-pohon buah-buahan.
Baru beberapa bulan saja Maya Dewi tinggal di bukit yang ia miliki dan ia beri nama Bukit Keluwung itu, tempat itu segera menjadi amat terkenal.
Maya Dewi dikenal sebagai seorang wanita yang bukan hanya cantik jelita, akan tetapi juga tidak suka berhubungan dengan para penduduk disekitar pegunungan Wilis.
Ia hidup menyendiri seperti seorang pertapa.
Hanya kalau ia membutuhkan bumbu-bumbu masak dan segala kebutuhan lain, maka ia turun dari Bukit Keluwung untuk berbelanja.
Penduduk disekitar daerah itu amat kagum kepadanya karena kecantikannya, akan tetapi juga takut setelah mengetahui bahwa wanita cantik jelita itu adalah seorang yang sakti mandraguna.
Beberapa kali, para lelaki yang berani kurang ajar kepadanya, dihajar setengah mati.
Apa lagi setelah Ki Sentolo seorang gegedug (jagoan) yang ditakuti orang, bahkan namanya terkenal sampai di Kadipaten Madiun, dengan congkaknya mengunjungi rumah Maya Dewi dengan maksud untuk menundukkannya.
Banyak penduduk diam-diam mengikutinya dari jarak jauh untuk melihat apa yang akan terjadi.
Akan tetapi, laki-laki berusia empat puluh tahun yang bertubuh raksasa ini ketika bertemu dengan Maya Dewi, setelah berani mengucapkan kata-kata dan memperlihatkan sikap kurang ajar, lalu dihajar sampai setengah mati oleh wanita cantik jelita itu!
Beruntung sekali Ki Sentolo bertemu dengan Maya Dewi sekarang.
Kalau saja dia kurang ajar terhadap Maya Dewi dua tahun yang lalu, tentu dia sudah mati!
Entah apa yang terjadi dalam hati Maya Dewi, kini ia bahkan bosan melakukan pembunuhan dan kekerasan perangainya tidak seperti dulu lagi.
Ia seolah kehilangan semangatnya.
Dihajarnya Ki Sentolo membuat nama Nyi Maya Dewi terkenal sekali.
Mulailah para datuk dan orang-orang yang memiliki kesaktian mendengar bahwa Nyi Maya Dewi yang tadinya mereka anggap telah menghilang dan tidak pernah muncul lagi semenjak perang di Batavia selesai itu ternyata kini tinggal di Bukit Keluwung di pegunungan Wilis.
Bahkan mereka yang tadinya belum pernah mengenalnya, kini mendengar bahwa Nyi Maya Dewi adalah seorang wanita yang cantik jelita seperti dewi kahyangan, masih gadis, belum mempunyai suami, dan kaya raya.
Hal ini amat menarik perhatian tokoh-tokoh sakti yang masih hidup membujang.
Isteri seperti itulah yang mereka inginkan.
Cantik jelita, sakti, dan kaya!
Malah bukan mereka yang masih perjaka saja yang tergila-gila, juga para pria jagoan yang sudah beristeri dan terutama para duda juga tertarik sekali.
Maka berbondong-bondonglah mereka yang merasa dirinya sakti berdatangan untuk meminang Nyi Maya Dewi.
Ada yang memamerkan dan mengandalkan harta bendanya, ada yang mengandalkan kedudukan dan kekuasaannya, ada pula yang mengandalkan kesaktiannya.
Akan tetapi semua pinangan itu ditolak oleh Maya Dewi yang kini seolah merasa muak dan sebal melihat para pria yang tergila-gila kepadanya itu.
Dahulu ia merasa bangga kalau ada pria tergila-gila kepadanya, bahkan dengan senang hati ia dapat memilih diantara mereka yang menarik hatinya, ber senang-senang sepuasnya mengumbar nafsu berahi.
Namun kini ia muak.
Ia melihat betapa di balik pernyataan cinta mereka itu bersembunyi nafsu yang berkobar.
Dari sinar mata mereka ia mengenal sinar yang penuh hawa nafsu, yang membuat ia merasa muak karena ia maklum bahwa dirinya hanya akan dijadikan hiburan kesayangan yang dapat memuaskan nafsu mereka.
Penolakan pinangan terhadap banyak orang itu mendatangkan akibat bermacam-macam.
Ada pelamar yang merasa penasaran dan penolakan itu berakhir dengan adu kesaktian.
Namun, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mampu menandingi kesaktian Maya Dewi.
Satu demi satu mereka yang mengandalkan kesaktian itu kalah dan roboh walaupun Maya Dewi tidak sampai membunuh mereka.
Ada yang hendak mempengaruhinya dengan harta benda yang melimpah, Namun Maya Dewi tidak tertarik sama sekali.
Ada pula yang mempergunakan aji guna-guna pameletan, namun wanita itupun dapat menolak semua serangan yang mempergunakan ilmu hitam dan sihir itu.
Akan tetapi, setelah puluhan orang gagal, tak pernah ada lagi yang berani mengganggu Maya Dewi.
Beberapa orang datuk yang sakti mandraguna saja dikalahkan wanita cantik itu, apa lagi mereka-mereka yang kesaktiannya di bawah tingkat para datuk yang gagal itu.
Mulailah Maya Dewi hidup tenang di Bukit Keluwung, di dalam rumahnya yang mungil.
Tentu saja ia membutuhkan tenaga orang lain untuk merawat rumah dan tamannya yang luas.
Ia mempunyai tiga orang pembantu wanita yang melakukan pekerjaan rumah, membersihkan rumah, mencuci, memasak dan sebagainya.
Ia juga mempunyai dua orang pembantu pria yang merawat taman dan kebunnya.
Akan tetapi lima orang pembantu ini hanya bekerja dari pagi sampai sore saja.
Setelah pekerjaan mereka selesai, pada setiap sore hari mereka pulang ke rumah masing-masing yang berada di dusun bawah bukit itu.
Mereka tidak banyak mengetahui tentang diri majikan mereka yang cantik jelita dan penuh rahasia itu.
Pada suatu sore di puncak Bukit Keluwung.
Maya Dewi duduk seorang diri di beranda rumahnya.
Lima orang pembantunya sudah pulang.
Matahari sudah condong ke barat.
Maya Dewi duduk melamun, teringat akan masa lalunya, di waktu ia masih remaja dan tinggal di Parahyangan.
Ia teringat akan keluarganya, Resi Kalayitma ayahnya, Minarsih ibunya, dan seorang kakaknya bernama Candra Dewi.
Ketika ibunya meninggal dunia, ia berusia tiga belas tahun dan hidup bersama ayahnya dan kakaknya, Candra Dewi yang ketika itu berusia lima belas tahun.
Ayahnya menggembleng mereka berdua dengan ilmu-ilmu tinggi, aji-aji kesaktian.
Ketika ia berusia delapan belas tahun dan Candra Dewi berusia dua puluh tahun, ayahnya ingin memperisteri Candra Dewi yang merupakan anak tirinya, bawaan dari Minarsih.
Candra Dewi menolak, bahkan melarikan diri dan minggat, bahkan para penguasa Kerajaan Parahyangan menentangnya sehingga terpaksa Resi Kalayitma mengajak ia melarikan diri meninggalkan Parahyangan dan mengembara ke daerah Mataram di timur.
Ia tidak tahu dimana adanya kakak tirinya itu.
Ia masih ingat betapa cantiknya Candra Dewi, akan tetapi kakaknya itu mempunyai watak aneh.
Candra Dewi mempunyai kecondongan untuk menjadi pertapa setelah mempelajari kitab-kitab weda dari Agama Hindu.
Ia bahkan pernah mengatakan bahwa ia ingin hidup membujang selamanya, tidak akan pernah menikah dan hidup sebagai seorang pendeta!
Tentu saja ketika ayah tirinya hendak menjadikannya isteri pengganti ibunya, ia menolak keras dan minggat.
Iapun masih ingat betapa kakaknya itu memiliki hati yang keras seperti baja.
Maya Dewi menghela napas pawjang.
Kini terasa olehnya bahwa selama hidupnya, baru satu kali ia merasakan kasih sayang yang tulus, kasih sayang yang tanpa pamrih, yaitu kasih sayang dari mendiang ibunya.
Agaknya kasih sayang seperti itulah yang menjadi satu di antara sebab ia murung dan kesal seperti sekarang ini.
Ia kehilangan kasih sayang!
Berderapnya kaki kuda membuat Maya Dewi sadar dari lamunannya.
Ia mengangkat muka dan melihat dua orang laki-laki melarikan kuda tunggangan mereka mendaki puncak dan kini telah berada di luar pintu pekarangan rumahnya.
Maya Dewi memandang penuh perhatian.
Mereka itu seorang kakek pendek gemuk dan seorang pemuda tinggi kurus berwajah tampan dan gagah.
Maya Dewi mengerutkan alisnya.
Tentu orang yang datang ini hendak meminangnya, pikirnya kesal.
Ia tetap duduk diam tidak mengacuhkan sampai kedua penunggang itu melompat turun dari atas punggung kuda mereka, menambatkan kuda pada pohon yang tumbuh di pekarangan, lalu melangkah menghampiri beranda di mana Maya Dewi duduk seorang diri.
"Selamat sore, nimas ayu...!"
Terdengar suara lantang pria berusia sekitar tiga puluh dua tahun itu.
Dia bertubuh tinggi kurus namun tegap dan kokoh, pakaiannya indah dan mewah sehingga sekali pandang saja Maya Dewi dapat menduga bahwa pemuda itu tentu seorang bangsawan.
Wajahnya tampan dan gagah, pandang matanya tajam, kulitnya coklat gelap.
Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya terukir Indah.
Di daerah Kerajaan Banten, pemuda ini bukan merupakan tokoh asing.
Bahkan dia terkenal sekali karena pemuda ini adalah seorang pangeran!
Namanya Raden Jaka Bintara, seorang pangeran beribu selir.
Selain berkedudukan tinggi sebagai seorang pangeran, terhormat dan kaya raya, dia juga seorang yang sakti karena Jaka Bintara ini adalah murid tersayang dari mendiang Kyai Sidhi Kawasa, seorang datuk dari Banten.
Nama besar Nyi Maya Dewi, yang dikabarkan secantik dewi kahyangan dan kini sedang mencari jodoh, demikian kabar angin itu tersiar, menarik perhatian Jaka Bintara.
Apa lagi ketika mendengar bahwa Nyi Maya Dewi itu adalah adik dari Nyi Candra Dewi yang namanya terkenal di Banten, dia menjadi semakin tertarik.
Sudah lama dia mendambakan seorang isteri yang selain cantik jelita, juga sakti mandraguna.
Dia menemukan idaman hatinya itu pada diri Candra Dewi yang juga cantik dan sakti, akan tetapi Candra Dewi menolaknya dan Jaka Bintara tidak berani memaksanya karena Candra Dewi adalah seorang wanita yang tinggi sekali kepandaiannya.
Mendengar salam yang ditujukan kepadanya itu, Maya Dewi mengangkat muka, memandang kedua orang itu dan menjawab salam itu dengan sebuah pertanyaan yang tidak manis.
"Siapakah kalian dan ada keperluan apa datang berkunjung ke rumahku?"
Sambutan yang sama sekali tidak ramah itu tidak membuat Jaka Bintara kecewa.
Dia malah tersenyum, sadar akan kegagahannya dan ketampanannya yang di daerahnya menarik hati banyak wanita.
Dia seorang mata keranjang yang sudah bergaul dengan banyak wanita dan merasa yakin bahwa dia mampu menundukkan wanita termasuk Nyi Maya Dewi ini.
Sejak tadi memandang wajah Maya Dewi, seketika dia sudah tergila-gila.
Ternyata kecantikan wanita ini melebihi semua kabar yang didengarnya.
Bukan main!
Pandang mata itu, tarikan bibir itu.
menggairahkan dan menggemaskan!
Juga dia agak tercengang melihat betapa wanita yang terkenal itu ternyata tampak masih muda sekali.
Pantasnya baru berusia belasan tahun!
Sejenak ia meragu.
Benarkah ini wanita yang disohorkan itu?
(Lanjut ke
Jilid 03) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03
"Sebelum menjawab pertanyaan tadi, aku ingin tahu lebih dulu. Benarkah andika yang bernama Nyi Maya Dewi?"
Maya Dewi terpaksa mengangguk.
"Kalau benar, lalu engkau mau apa?"
Jaka Bintara tersenyum.
"Wah, sungguh senang sekali hatiku dapat bertemu denganmu, nimas. Kita ini bukan orang lain, karena aku adalah murid mendiang Kyai Sidhi Kawasa! Andika tentu mengenalnya dengan baik, bukan, ketika bersama-sama menentang Mataram?"
Maya Dewi mengerutkan alisnya. Ia tidak suka mendengar tentang semua itu. Masa lalu itu baginya kini menjemukan.
"Aku tidak ingin bicara tentang siapa-pun. Hayo katakan siapa kalian dan apa perlunya datang kesini, atau lebih baik kalian cepat pergi meninggalkan tempat ini!"
Jawaban ketus ini tidak membuat Jaka Bintara mundur. Dengan wajah masih cerah tersenyum, dia berkata.
"Nimas Maya Dewi, aku adalah seorang pangeran!"
Dia berhenti, untuk melihat kesan yang didatangkan oleh pengakuan itu.
Maya Dewi memang memandang heran, akan tetapi tidak terkejut.
Bagi wanita yang sudah banyak pengalaman ini, tingginya kedudukan, banyaknya harta atau ketampanan wajah tidak lagi mempengaruhinya.
"Hemm, pangeran? Pangeran dari mana?"
Tanyanya, nadanya membayangkan tidak percaya.
"Aku adalah Pangeran Raden Jaka Bintara dari kerajaan Banten! Dan ini adalah paman guruku, Kyai Gagak Mudra, adik seperguruan mendiang Kyai Sidhi Kawasa."
"Perkenalkan, Nyi Maya Dewi."
Kata kakek yang wajahnya penuh senyum tawa riang itu.
"Aku mengenal baik Nyi Candra Dewi, bukankah ia kakakmu? Aku sudah mendengar tentang dirimu dari mendiang Kakang Sidhi Kawasa."
Akan tetapi nama-nama itu tidak mengubah sikap Maya Dewi yang kaku.
"Lalu, apa keperluan kalian datang kesini?"
Tanyanya sambil menatap tajam wajah Jaka Bintara.
Menghadapi sikap yang kaku dan suara ketus itu, diam-diam Jaka Bintara merasa penasaran dan tersinggung juga.
Dia amat dipandang rendah.
Betapa pun cantik menariknya Maya Dewi, akan tetapi kalau bersikap sedingin itu terhadap dirinya, maka keangkuhannya sebagai seorang pangeran tersinggung .
sekali.
Akan tetapi dia masih menekan perasaannya dan bersabar karena saat itu dia sudah tergila-gila akan kecantikan Maya Dewi.
"Nimas Maya Dewi. Aku mendengar berita bahwa andika masih hidup sendiri, belum mempunyai suami. Kebetulan sekali akupun belum mempunyai garwa padmi. Oleh karena itu aku sengaja jauh-jauh datang ini untuk meminangmu menjadi isteriku. Marilah, nimas. Andika kuboyong ke Kerajaan Banten dan menjadi garwaku, hidup mulia, kaya raya, terhormat dan bahagia bersamaku disana."
Maya Dewi tersenyum mengejek. Sudah lama wanita ini tidak tersenyum dan kalau sekarang ia tersenyum, adalah karena ia mendengar Jaka Bintara mengeluarkan kata "bahagia"
Itu. Ia tersenyum mengejek, bukan senyum karena hatinya senang.
"Bahagia? Hemm, aku tidak akan bahagia, bahkan semakin sengsara! Pergilah dan jangan ganggu aku. Aku tidak mau menjadi isterimu!"
"Maya Dewi!"
Jaka Bintara kini membentak.
"Lupakah engkau lamaran siapa yang sekali ini kau tolak? Aku adalah pangeran Banten!"
Maya Dewi juga menjadi marah dan ia bangkit berdiri dari tempat duduknya. Matanya mengeluarkan sinar kilat ketika ia membentak.
"Tidak perduli engkau pangeran, atau dewa, atau setan, aku tidak sudi menjadi isterimu. Nah, pergilah dari tempatku ini!"
Jari tangan kirinya menuding keluar untuk mengusir dua orang itu. Muka Jaka Bintara yang berwarna gelap itu menjadi semakin gelap. Tangan kanannya meraba gagang pedangnya dan dia membentak.
"Keparat....!"
Akan tetapi paman gurunya, Kyai Gagak Mudra segera menyentuh lengannya.
"Sabarlah, raden! Bunga mawar indah berduri runcing, kuda yang baik berwatak liar, perempuan cantik yang galak dan panas semakin menggairahkan. Sebaiknya, pondong saja ia dan boyong ke Banten, raden."
Jaka Bintara ingat bahwa dia datang bukan untuk membunuh Maya Dewi, melainkan untuk mempersuntingnya. Maka dia melepaskan lagi gagang pedangnya.
"Nimas, kalau engkau menolak pinanganku secara halus, terpaksa aku akan membawamu dengan paksa!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja Jaka Bintara bergerak ke depan, menerkam ke arah Maya Dewi seperti seekor harimau menerkam kelinci.
Maya Dewi terkejut juga.
Ia memang sudah menduga bahwa laki-laki ini tentu saja tidak boleh dipandang ringan.
Ia mengenal siapa Kyai Sidhi Kawasa yang sakti mandraguna.
Laki-laki yang menjadi muridnya ini tentu saja memiliki kesaktian yang tidak dapat disamakan dengan para pria yang pernah datang mengganggunya selama ini.
Laki-laki ini tentu merupakan lawan yang tangguh.
Apa lagi paman gurunya yang pendek gendut itu.
Akan tetapi ia tidak takut.
Ia sudah mengambil keputusan bahwa mulai saat ia keluar dari pekerjaannya sebagai mata-mata Kumpeni, mulai saat ia menyadari bahwa jalan hidupnya yang lalu sama sekali tidak pernah mendatangkan kehidupan yang tenteram dan bahagia, ia tidak mau lagi menjadi permainan laki-laki, menjadi permainan nafsu-nafsunya sendiri.
Cepat ia mengelak ke kiri ketika Jaka Bintara menubruknya dan sambil memutar tubuhnya ia membalas serangan lawan dengan tamparan ke arah leher Jaka Bintara.
"Wuuuutt.... plak!"
Jaka Bintara menangkis dengan tangan kanan.
Merasa betapa lengannya yang ditangkis itu tergetar, Maya Dewi penasaran.
Ia mengerahkan Aji Wisa Sarpa (Pukulan Racun Ular) yang amat berbahaya karena pukulan ini memiliki hawa beracun yang berbahaya.
Jaka Bintara sudah menyelidiki akan kesaktian wanita ini sebelum dia datang dan paman gurunya sudah mendengar dari mendiang Kyai Sidhi Kawasa tentang ilmu-ilmu yang dikuasai Maya Dewi.
Maka menghadapi serangan pukulan beracun itu dia cepat menandinginya dengan Aji Hastanala (Pukulan Tangan Api) yang mengandung hawa panas sehingga hawa pukulannya mampu membakar dan memunahkan hawa beracun pukulan Wisa Sarpa.
Kedua orang itu bertanding dengan seru dan Kyai Gagak Mudra hanya menjadi penonton, namun siap siaga untuk membantu apabila murid keponakannya nanti kalah.
Maya Dewi juga menggunakan Aji Naka Sarpa (kuku ular) dan sepuluh buah kuku jari tangannya semua mengandung racun.
Tergurat sampai luka sudah cukup untuk membahayakan nyawa lawan.
Namun Jaka Bintara yang mengetahui akan ampuhnya kuku dan pukulan wanita cantik itu, bergerak cepat dan hati-hati dan selalu mengancam Maya Dewi dengan serangan pukulan apinya sehingga Maya Dewi juga tidak berani mendekat.
"Syuutt.... tar-tar-tar....!"
Sinar emas berkelebat dan menyambar-nyambar, mengeluarkan bunyi meledak-ledak.
Itulah senjata sabuk Cinde Kencana, senjata yang amat diandalkan Maya Dewi.
Bagaikan kilat menyambar-nyambar mengancam kepala serangan sabuk itu membuat Jaka Bintara terpaksa melompat jauh kebelakang untuk menghindarkan cambukan.
Ketika Maya Dewi melompat mengejar, sinar hitam berkelebat dan pemuda pengeran Banten itu telah memegang sebatang pedang berwarna hitam.
Dua orang itu cepat menggerakkan senjata masing-masing dan tampaklah gulungan sinar emas dan sinar hitam saling desak, diseling suara meledak-ledak pecut di tangan Maya Dewi.
Pertandingan itu seru bukan main dan Maya Dewi harus mengakui bahwa semenjak ia meninggalkan perantauannya dan menetap di tempat sunyi itu, baru sekali ini dia bertemu tanding yang benar-benar tangguh.
Mungkin beberapa tahun yang lalu ia akan merasa senang bersahabat dan bergaul dengan pria seperti pangeran ini.
Akan tetapi sekarang ia merasa sebal karena tahu benar bahwa pangeran ini hanya membutuhkan tubuhnya yang cantik menarik.
Buktinya sekarang, begitu keinginannya tidak dituruti, laki-laki ini menyerangnya mati-matian dan berusaha keras untuk merobohkannya.
Bahkan serangannya mematikan!
Agaknya, rasa sayang yang tadi diucapkannya, kini sudah berubah menjadi kebencian karena keinginannya tidak dituruti!
Maka iapun melawan mati-matian dan merasa lebih baik roboh mati daripada menuruti kehendak Jaka Bintara untuk menjadi isterinya.
"Hyaaaattt....!"
Jaka Bintara membacokkan pedang hitamnya sambil mengerahkan seluruh tenaga.
Serangan itu cepat dan kuat sekali sehingga Maya Dewi tidak sempat mengelak dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri hanya dengan jalan menangkis.
Iapun menggerakkan sabuknya dengan pengerahan tenaga pula, menangkis sambaran pedang itu.
"Cringgg....!"
Tubuh Nyi Maya Dewi terhuyung ke belakang.
Ternyata ia masih kalah kuat.
Ketika ia terhuyung itu, Jaka Bintara mengejar dan menggerakkan pedang untuk memberi tusukan.
Akan tetapi pada saat itu, Jaka Bintara menekuk lutut kanannya yang berada di depan dan dia terpelanting, hampir roboh.
Dia cepat menjaga keseimbangan badan dan terhuyung ke kanan, Dengan sendirinya serangan kedua terhadap Maya dewi menjadi gagal sama sekali.
Hanya dia yang tahu dan merasa bahwa ada sesuatu yang mengenai lutut kanannya, sesuatu yang membuat lututnya terasa ngilu dan lumpuh sesaat!
Dia terkejut sekali dan cepat melompat ke belakang, ke dekat paman gurunya.
Kyai Gagak Mudra terkejut melihat betapa murid itu terpelanting dan dia mengira bahwa Jaka Bintara memang mengalami kekalahan.
Apalagi melihat Maya Dewi kini siap untuk menyerang.
"Serang dengan Analabanu!"
Serunya dan dia lalu bersama-sama Jaka Bintara mendorongkan tangan kirinya ke arah Maya Dewi yang berdiri dalam jarak lima meter di depan mereka.
Dari telapak tangan dua orang itu menyambar sinar api ke arah Maya Dewi.
Wanita itu maklum bahwa ia diserang dengan pukulan jarak jauh yang ampuh.
Iapun cepat mendorongkan tangan kirinya sambil membaca mantera.
Telapak tangan itu berubah menjadi merah dan mengepulkan asap.
"Tapak Rudira (Tapak Darah) ....!"
Ia berseru dan hawa yang kuat keluar dari telapak tangan kirinya itu, menyambut serangan kedua orang lawannya.
Pada saat itu, Kyai Gagak Mudra berteriak dan tubuhnya terhuyung ke samping.
Tadi, tenaga gabungan murid dan paman guru itu dengan kuatnya menggempur tangkisan Maya Dewi yang menggunakan Aji Tapak Rudira.
"Blaaarrr....!!"
Maya Dewi terkulai lemas dan roboh.
Akan tetapi pada saat itu juga, Kyai Gagak Mudra berteriak dan tubuhnya terhuyung ke samping.
Pinggangnya terasa ada yang menotok dan separuh tubuhnya lumpuh.
Pada detik berikutnya kembali Jaka Bintara mengaduh dan dia jatuh terduduk, kakinya yang kanan juga tidak dapat digerakkan.
Dua orang paman guru dan keponakan murid itu terkejut bukan main.
Mereka tak pernah mengira bahwa Maya Dewi sedemikian kuatnya dan saktinya.
Mereka hanya melihat wanita cantik itu roboh akan tetapi kini sudah bangkit lagi, kedua telapak tangan berlepotan darah dan mukanya yang elok itupun penuh darah yang keluar dari mulutnya sehingga tampak amat menyeramkan.
Mata yang mencorong itu memandang kepada mereka dengan melotot buas!
Melihat ini, Kyai Gagak Mudra membuka mulutnya dan terdengar dia berteriak parau, persis suara seekor burung gagak yang ketakutan.
"Kraaaakkk.... gaaakkk.... gaaakkk....!"
Suara ini menandakan bahwa datuk sakti ini dilanda ketakutan.
Melihat keponakan muridnya belum juga dapat bangkit duduk, dia segera menyambar lengan Jaka Bintara, mengerahkan tenaganya dan segera menarik pangeran itu dan melarikan diri dengan cepat seolah terbang karena dia menduga bahwa kalau lebih lama dia tinggal disitu bersama keponakan muridnya, bukan hal yang mustahil kalau mereka berdua akan mati konyol oleh Maya Dewi yang demikian sakti mandraguna!
Maya Dewi bangkit berdiri memandang ke arah larinya dua orang itu.
Tubuhnya bergoyang-goyang, kedua tangan, muka, juga pakaiannya berlepotan darah segar.
Setelah yakin bahwa dua orang penyerangnya sudah pergi jauh, ia terdesak, merintih, mulutnya menyeringai kesakitan, matanya terpejam dan iapun terkeilai roboh.
Pingsan.
Senja telah tiba.
Cuaca remang.
Tubuh Maya Dewi tergeletak miring.
Rambutnya yang hitam panjang terurai lepas bagaikan selimut sutera tipis melindungi tubuhnya yang mandi darah.
Suasana disekitar rumah mungil itu sunyi, seolah tidak ada seorangpun manusia yang tadi menyaksikan apa yang telah terjadi ditempat itu.
Akan tetapi, tiba-tiba sesosok bayangan muncul dari balik batang pohon sawo yang tumbuh di pekarangan rumah Maya Dewi dan bayangan ini dengan langkah kaki tenang menghampiri tubuh wanita yang menggeletak itu.
Bayangan seorang pemuda remaja.
Kurang lebih enam belas tahun usianya.
Melihat perawakannya, dia seperti sudah dewasa.
Akan tetapi cahaya matahari senja masih sempat memperlihatkan wajahnya yang masih amat muda, walaupun ada sesuatu dalam pandang matanya yang mencorong membayangkan kematangan jiwa.
Pemuda itu adalah Bagus Sajiwo.
Seperti telah diceritakan di bagian yang lalu, pemuda ini ditinggal gurunya, Ki Ageng Mahendra yang wafat.
Setelah jenazah gurunya diperabukan, dia lalu meninggalkan pegunungan Ijen, mengembara tanpa tujuan tertentu, berserah diri kepada Sang Hyang Widhi, mengikuti saja kemana suara kaki dan langkah kaki membawanya.
Pada suatu hari menjelang sore, Bagus Sajiwo tiba di kaki pegunungan Wilis.
Dari jauh dia melihat Bukit Keluwung di pegunungan itu.
Hatinya tertarik oleh keindahan yang jarang dilihatnya.
Pelangi beraneka warna melengkung di atas bukit, begitu cemerlang, begitu sempurna lengkungnya, begitu indah warnanya, sehingga teringatlah dia akan dongeng yang pernah didengarnya tentang "anda widadari" (tangga bidadari) yang menurut dongeng menjadi tangga dari mana para bidadari turun dari kahyangan menuju bumi untuk berbahagia menyebar keindahan dan kebaikan di antara manusia.
Tiba-tiba lamunannya membuyar ketika dia melihat dua orang melarikan kuda tunggangan mereka mendaki Bukit Keluwung.
Bagus Sajiwo tidak mengenal Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra yang mendaki Bukit Keluwung dengan kuda mereka itu dan kedua orang itupun tidak memperdulikan pemuda remaja sederhana seperti seorang dusun itu.
Akan tetapi pada waktu itu Bagus Sajiwo sudah menyerap ilmu yang mendalam dari mendiang Ki Ageng Mahendra sehingga jiwanya peka sekali dan dia dapat merasakan adanya hawa panas daya rendah nafsu angkara mengudara dari dua orang itu.
Hatinya merasa tidak tenang.
Dia khawatir kalau-kalau keindahan pelangi melengkung di atas bukit itu akan menjadi rusak.
Maka tanpa disengaja atau disadari, dia sudah bergerak melangkah, mendaki Bukit Keluwung membayangi dua orang penunggang kuda itu.
Setibanya di puncak dia melihat betapa dua orang laki-laki penunggang kuda tadi sedang bertanding, mengeroyok seorang wanita yang dapat menandingi mereka dengan gigih.
Bagus Sajiwo masih belum dewasa benar untuk dapat menilai secara mendalam daya tarik atau kecantikan wanita, akan tetapi apa yang dilihatnya pada diri Maya Dewi sungguh membuat dia terpesona, seolah melihat bentuk bidadari yang tadi dia bayangkan menuruni bumi melalui "tangga bidadari"
Dari kahyangan .itu.
Akan tetapi diapun merasa heran dan ngeri melihat sikap, terutama pandang mata bidadari itu.
Demikian mengerikan!
DIA tidak mengenal tiga orang yang berkelahi itu.
Dia tidak tahu sebab perkelahian, siapa yang bersalah.
Karena itu, teringat akan nasihat mendiang gurunya agar dia tidak sembarangan mencampuri urusan orang lain dan berpihak sebelum mengetahui benar duduk persoalannya, dia hanya bersembunyi di balik batang pohon sawo dan mengintai.
Mula-mula dia memang tidak perduli dan tidak berpihak.
Akan tetapi ketika melihat betapa wanita itu mulai terdesak dan terancam bahaya maut di tangan Jaka Bintara, jiwa satrianya tergerak.
Tidak mungkin dia membiarkan seorang wanita terbunuh begitu saja di depan matanya tanpa dia melakukan sesuatu untuk mencegahnya.
Maka, cepat dia mengambil sepotong kerikil dan sekali dia menyentilkan jari telunjuknya, kerikil itu meluncur dan menghantam lutut kanan Jaka Bintara sehingga pangeran itu terhuyung.
Kemudian, melihat betapa dua orang pria itu menyerang Maya Dewi dengan aji pukulan jarak jauh yang amat ampuh dan wanita itu dengan nekat menyambut dengan aji pukulan jarak jauh Tapak Darah, Bagus Sajiwo merasa ngeri.
Dia maklum benar bahwa nyawa wanita itu terancam maut.
Maka, tanpa ragu lagi dia membantu dengan sentilan dua buah kerikil.
Maya Dewi memang terluka parah, akan tetapi dua orang laki-laki itupun terpelanting dan terkejut, ketakutan lalu melarikan diri.
Kini pemuda remaja itu menghampiri tubuh berlepotan darah itu.
Sejenak dia mengamati dan hatinya merasa iba sekali.
Sebagai seorang yang sejak kecil mendalami ilmu pengobatan dari Ki Ageng Mahendra, dia mengetahui bahwa wanita itu menderita luka dalam yang amat berbahaya.
Juga dia mencium bau darah yang amat amis dan keras, tanda bahwa darah itu mengandung racun!
Tubuh itu harus dibersihkan dari semua darah.
Kalau tidak, kulit tubuh itu dapat membusuk dan rusak.
Tanpa ragu atau sungkan lagi, Bagus Sajiwo lalu membungkuk dan memondong tubuh Maya Dewi yang terkulai lemas.
Dia melangkah memasuki pendopo mungil itu dengan maksud hendak mencarikan tempat di mana dia dapat merebahkan tubuh itu dan merawatnya.
Senja belum gelap benar.
Dia harus segera dapat menemukan dan menyalakan lampu di ruangan depan itu.
Akan tetapi tiba-tiba tubuh Maya Dewi bergerak menggeliat.
Wanita itu siuman dan ketika mendapatkan dirinya dipondong seorang laki-laki, ia menjadi marah, mengira bahwa laki-laki itu Jaka Bintara yang hendak berbuat tidak senonoh.
Ia menggerakkan tangan lalu menyerang dengan tamparan tangannya ke dada Bagus Sajiwa.
"Plak-plak!!"
Dua kali tangannya menampar, akan tetapi karena tenaganya amat lemah dan dada Bagus Sajiwo amat kokoh kuat, tamparan itu sama sekali tidak terasa olehnya.
"Lepaskan aku, jahanam busuk! Lepaskan tanganmu yang kotor, lelaki keparat, pencoleng, gentho cabul dan gila!"
Maya Dewi dengan lemah meronta-ronta dan mencaci maki dengan kata-kata kotor yang membuat rona muka Bagus Sajiwo menjadi merah karena rikuh dan malu.
"Tenanglah, mbakayu. Aku hanya Ingin menolongmu, lain tidak!"
Dia membantah halus.
"Menolong? Huh, engkau mau mencabuli aku, setan alas!"
Maya Dewi meronta lagi. Bagus Sajiwo terkejut, tidak paham akan maksud kata-kata itu, akan tetapi merasa ngeri dan otomatis dia melepaskan tubuh yang dipondongnya itu.
"Bruukk....!"
Tak dapat dihindarkan lagi tubuh itu terjatuh dan terbanting ke atas tanah.
"Aduh....!"
Maya Dewi yang tubuhnya sudah lemah dan sakit semua itu menjerit karena pundaknya terbanting ke atas lantai.
"Salahmu sendiri,"
Bagus Sajiwo menegur, merasa kasihan.
"Sudah kukatakan, aku hanya ingin menolongmu, kenapa engkau tidak percaya bahkan memukul aku?"
Maya Dewi mulai menyadari bahwa ia salah menduga orang.
Pemuda ini bukan musuh dan dari suaranya bahkan terdengar bahwa dia masih muda sekali.
Diam-diam ia merasa heran.
Dari mana datangnya bocah ini?
Dan bagaimana mempunyai keberanian yang begitu besar?
Juga gerak-geriknya, sikapnya, mengandung wibawa demikian besar!
Maya Dewi bangkit duduk di atas lantai.
Ia belum mampu bangkit berdiri.
Cuaca mulai remang.
"Heh, ujang (sebutan anak laki-laki)! Hayo nyalakan lampu gantung itu. Cepat!"
Perintahnya. Bagus Sajiwo melaksanakan perintah itu. Hatinya mengomel.
"Aduh galaknya! Ia ini bidadari atau wewe (setan betina) sih?"
"Kamu ngomel apa, hah?"
Maya Dewi membentak.
"Apa? Ah, tidak apa-apa."
Bagus Sajiwo menyalakan lampu dan ruangan itu menjadi terang.
"Hayo engkau berdiri di bawah lampu itu. Angkat mukamu, aku ingin melihat mukamu!"
"Perempuan aneh, aneh dan gila."
Bagus Sajiwo mengomel dalam hatinya.
Akan tetapi dia tidak membantah dan mengangkat mukanya ke atas sehingga cahaya lampu menyinari muka dan tubuhnya.
Maya Dewi melihat sepotong wajah yang tampan gagah, akan tetapi baginya tampak tolol kekanak-kanakan.
Hanya sepasang mata yang sinarnya mencorong itu saja yang masuk hitungan.
Selebihnya "tidak ada apa-apanya"
Bagi wanita itu.
Sejenak mereka saling berpandangan.
Akan tetapi di dalam pandang mata Bagus Sajiwo sama sekali tidak terdapat penilaian tentang keindahannya karena yang menjadi pusat perhatiannya adalah keadaan kesehatan tubuh wanita yang' berlumuran darah itu.
Dia kini semakin yakin bahwa wanita itu sudah berada di ambang pintu maut!
Maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu membungkuk dan memondong tubuh itu sedemikian ringannya seperti memondong tubuh seorang anak kecil saja.
Maya Dewi terbelalak, meronta dan memaki kalang kabut.
"Hei, lepaskan aku! Kamu munyuk monyet, lutung, celeng gotheng, tobil kadal anjing kucing tikus....!"
Jari-jari tangan kanannya mencengkeram ke arah leher Bagus Sajiwo untuk menemukan dan menghancurkan otot besar.
Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika ia merasa betapa jari tangannya itu tidak menemukan otot yang dicarinya.
Tempat itu kosong, hanya ada kulit keras dan daging kenyal.
Otot besar di leher anak itu seolah telah berpindah tempat atau bersembunyi entah kemana!
Bagus Sajiwo membawa tubuh Maya Dewi keruangan dalam dan meletakkannya ke atas sebuah pembaringan.
Karena tadi mengerahkan seluruh tenaga terakhir, Maya Dewi merasa tubuhnya lemas dan lemah lunglai.
Ia rebah telentang, sama sekali tidak dapat bergerak.
Ia hanya memandang bingung kepada Bagus Sajiwo yang sudah menyalakan lagi dua buah lampu gantung dalam ruangan itu.
Melihat tubuh pemuda yang kokoh kuat itu kini datang menghampirinya membawa sebuah gentong air besar, Maya Dewi membelalakkan matanya, bertanya gemetar.
"...Mau.... mau apa.... apa kau....?"
Setelah meletakkan gentong air ke atas lantai, Bagus Sajiwo menjawab tenang.
"Pertama, akan kucuci dan kubersihkan semua darah dari tubuhmu agar kulitmu tidak keracunan. Kemudian akan kubantu engkau mengusir hawa beracun dari tubuhmu karena kalau terlambat, nyawamu tidak akan dapat ditolong lagi. Setelah itu, aku akan berusaha mengobatimu dan akan kurawat engkau sampai sembuh."
Sepasang mata yang indah namun suram cahayanya itu membelalak.
"...Kau ....kau cuci.... tubuhku....?"
Maya Dewi merasa heran luar biasa akan perasaan hati dan tubuhnya sendiri pada saat seperti itu.
Kenapa seluruh tubuhnya merasa menggelinjang, mengkirik (meremang) karena risi, sungkan dan malu membayangkan tubuhnya akan ditelanjangi dan dimandikan oleh jari-jari tangan laki-laki yang masih begitu muda belia seperti kanak-kanak?
Ia bukan seorang perawan muda.
Ia seorang wanita yang sudah iebih dari dewasa, bahkan sudah terlalu dewasa.
Ia bukan gadis yang asing dengan pria.
Bahkan ia sudah mengalami banyak pergaulan dengan pria, mempermainkan pria sesuka hatinya, tak pernah merasa rikuh atau malu terhadap pria.
Akan tetapi mengapa kini ia menjadi malu-malu seperti seorang gadis remaja yang mentah dan hijau hanya menghadapi seorang pemuda remaja yang masih hijau?
Ia hendak bangkit dan lari karena merasa tidak kuasa menggerakkan tenaga menyerang, akan tetapi ia terkulai kembali, bahkan mengerahkan tenaga paksaan ini membuatnya roboh pingsan!
Bagus Sajiwo menggaruk-garuk belakang telinganya yang tidak gatal, menggeleng kepala dan mengomel.
"Aneh... aneh... belum pernah aku melihat orang seaneh ini...!"
Akan tetapi melihat pernapasan Maya Dewi terengah-engah tinggal satu-satu, dia melupakan semua keheranannya dan dia menggerakkan kedua tangannya, mulai sibuk bekerja.
Disingkap dan disingkirkannya rambut hitam panjang sehalus sutera itu dari atas muka dan tubuh yang berlumuran darah.
Kemudian, tanpa ragu-ragu lagi dia menanggalkan dan melepaskan semua pakaian yang menutupi tubuh itu sehingga tubuh Maya Dewi menjadi bugil, telanjang bulat bagai-kan seorang bayi yang baru dilahirkan.
Namun, tidak pernah sedetikpun pandang mata Bagus Sajiwo tertarik oleh semua penglihatan yang bagi mata pria pada umumnya tentu memiliki daya tarik yang dapat menimbulkan rangsangan nafsu berahi.
Hal ini terjadi bukan sekali-kali karena Bagus Sajiwo bukan seorang pemuda remaja yang normal.
Sama sekali bukan.
Melainkan karena pertama, dia seorang pemuda yang batinnya sudah ditempa dan digembleng sejak kecil oleh seorang arif bijaksana sehingga nafsu daya rendah dalam dirinya tidak liar.
Ke dua, karena pada saat itu seluruh perhatiannya, seluruh panca-inderanya dicurahkan untuk menolong Maya Dewi dan mengobatinya sehingga kuasa kegelapan tidak sempat mempengaruhinya.
Dan ke tiga, batinnya belum pernah mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan apa yang disebut kenikmatan nafsu berahi.
Maka, ketelanjangan tubuh wanita yang mulus itu dipandangnya sebagai suatu penglihatan yang wajar saja, seperti seorang menghadapi ketelanjangan seorang anak perempuan kecil.
Segala bentuk nafsu itu didorong oleh keinginan menikmati pengalaman badani yang pernah dirasakan.
Jari-jari tangan Bagus Sajiwo yang trampil dan ahli itu dengan amat cekatan mencuci, memandikan dan membersihkan seluruh anggauta tubuh Maya Dewi, dari rambutnya yang hitam panjang sampai ke telapak kakinya, tanpa kecuali sehingga semua darah yang mengotorinya tercuci bersih.
Setelah merasa bahwa tubuh wanita itu benar-benar telah bersih dari semua darah, Bagus Sajiwo lalu menghampiri sebuah peti besar hitam yang berada di dalam sebuah kamar.
Dia kagum ketika membuka tutup peti.
Sinar lampu menimpa benda-benda emas permata yang berkilauan.
Diambilnya sehelai kain dan seperangkat pakaian wanita, lalu dihampiri pula Maya Dewi yang masih menggeletak pingsan, telentang di atas pembaringan.
Sebagian rambut hitam selembut sutera menutupi dada dan perutnya.
Seluruh tubuh itu masih basah bekas dimandikan Bagus Sajiwo, tampak putih mulus berkilau tertimpa sinar lampu yang kesemuanya, sebanyak enam buah, telah dinyalakan Bagus Sajiwo.
Muka yang elok itu kini tampak tenang, tidak lagi mengerikan seperti tadi, mengingatkan pemuda itu akan bayangan muka bidadari.
Dengan hati-hati pemuda remaja itu mempergunakan kain kering bersih untuk mengeringkan tubuh yang basah itu, lalu dengan ngawur dan sekenanya dia mencoba untuk menggulung dan menyanggul rambut panjang itu sambil menanggalkan semua perhiasan yang menempel di tubuh Maya Dewi.
Ketika jari-jari tangannya menyentuh tubuh itu, dia merasa betapa dinginnya tubuh itu.
Dia terkejut.
Tubuh itu dingin seperti mayat.
Dirabanya dada Maya Dewi, di bawah payudara kiri.
Detik jantungnya lemah sekali, tinggal satu-satu, dan di bagian itulah yang paling dingin.
Celaka, pikir Bagus Sajiwo.
Kalau tidak cepat ditolong, tentu nyawa wanita ini akan meninggalkan badannya.
Dia lalu mengerahkan tenaganya dan mulai menggosok-gosokkan kain kering itu kuat-kuat ke seluruh tubuh, terutama dibagian-bagian terpenting seperti kepala, leher, dada, pungung dan perut.
Karena Bagus Sajiwo menggosok dengan kuat, maka kulit yang tadinya putih dan agak pucat itu mulailah menjadi agak kemerahan, dan tubuh yang tadinya amat dingin itu mulai menjadi hangat.
Melihat ini, legalah hati Bagus Sajiwo.
Biarpun usahanya untuk melancarkan jalan darah itu hanya usaha sementara dan belum berarti penyembuhan, namun setidaknya dia sudah mengurangi ancaman bahaya maut.
Dia lalu cepat mengenakan pakaian wanita itu, kembali sekenanya saja karena tentu saja dalam hal memasang pakaian wanita, apa lagi wanita dewasa, dia sama sekali belum biasa.
Pokoknya asal tubuh itu tertutup dan tidak menjadi bugil seperti itu karena setelah tubuh itu dia gosok kuat-kuat dan menjadi putih kemerahan, mulailah matanya menemukan keindahan-keindahan yang dirasanya aneh, tidak dimengerti, namun yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat.
Setelah pertolongan tahap pertama dilaksanakan dengan baik, kulit tubuh wanita itu kini telah terbebas dari ancaman darah yang mengandung racun tadi dan dia berhasil agak memperlancar jalan darah yang hampir membuat darah dalam tubuh Maya Dewi membeku, Bagus Sajiwo mulai dengan pertolongan tahap kedua.
Pertolongan ke dua ini penting sekali karena dia harus dapat mengeluarkan hawa beracun yang mengeram di dalam tubuh wanita itu.
Dia tahu bahwa wanita itu tadi terkena serangan tenaga pukulan jarak jauh yang amat ampuh dan yang mengandung hawa beracun keji sekali.
Dia lalu membantu Maya Dewi yang masih lunglai itu duduk, mengatur kedua kaki wanita itu sehingga duduk dengan sikap Bunga Teratai, yaitu kedua kaki bersilang dan masing-masing kaki di atas paha.
Akan tetapi setelah kedua kaki itu bersila dalam bentuk Bunga Teratai dan dia melepaskannya, tubuh yang lemah lunglai itu terkulai dan tergelimpang miring!
Bagus Sajiwo menangkap kedua pundak Maya Dewi dan menahannya, akan tetapi setiap kali dilepas, terkulai lagi.
Terpaksa dia lalu menarik tubuh itu sehingga punggungnya bersandar pada dinding dibelakang pembaringan.
Setelah wanita itu dapat duduk bersandar, mulailah dia mengerahkan tenaga sakti, menyalurkan tenaga itu ke arah kedua telapak tangannya, kemudian dia menempelkan kedua telapak tangannya yang kiri ke pusar dan yang kanan ke ulu hati.
Lalu mulailah dia dengan usaha pengusiran hawa beracun dari tubuh wanita itu.
Hawa yang hangat menjalar keluar dari kedua tangannya, mula-mula hangat lalu mulai menjadi semakin panas sampai tampak uap putih mengepul diantara pertemuan telapak tangan dan kedua bagian tubuh Maya Dewi itu.
Hawa beracun dingin yang mengeram dalam rubuh Maya Dewi mulai terbakar dan menguap digempur hawa murni yang panas dari tenaga sakti Bagus Sajiwo.
Inilah tenaga inti Bromokendali yang amat ampuh, satu diantara aji kesaktian yang amat luar biasa yang dia dapatkan dari mendiang Ki Ageng Mahendra.
Kurang lebih setengah jam kemudian, tubuh Maya Dewi mulai bergoyang-goyang dan menggigil.
Kini dari seluruh tubuhnya membubung uap dingin yang keluar.
Lambat laun uap yang keluar itu semakin menipis dan akhirnya wanita itu menghela napas panjang, mulutnya gemetar, bibir yang mulai tampak merah itu bergerak-gerak, lalu kedua matanya terbuka.
Sejenak ia nanar.
Ketika pandang matanya mulai dapat melihat nyata, ia melihat betapa dirinya duduk bersila di atas pembaringan bersandarkan dinding, sedangkan di depannya, dekat sekali, duduk pemuda tadi, bersila dan tangan pemuda itu menempel pada pusarnya, sedangkan tangan kanannya menempel pada ulu hatinya, diantara kedua payudaranya.
Iapun menyadari bahwa kini ia telah berpakaian, walaupun letak pakaiannya itu tidak karuan, terbolak-balik sama sekali.
Alisnya mulai berkerut dan kembali wataknya yang liar timbul.
Sejak kecil Maya Dewi memang terdidik dalam dunia sesat.
Apalagi setelah dewasa ia menjadi seorang datuk sesat dan belum pernah selama hidupnya ia mempercayai orang!
Semua orang dianggapnya palsu belaka dan selalu mementingkan diri sendiri, siap mencelakai orang lain seperti juga wataknya sendiri.
Itulah sebabnya mengapa ia yang sudah mendapat bukti kebaikan Bagus Sajiwo yang menolongnya, setelah kini siuman dan sudah mulai terusir hawa beracun dari dalam tubuhnya, mulai merasa curiga kembali!
Kecurigaannya ini bertambah ketika ia melihat kenyataan betapa pemuda yang masih remaja itu telah mampu mengerahkan tenaga sakti yang demikian hebatnya!
Tenaga sakti panas yang mampu menggempur hawa beracun dingin yang tadi mengancam nyawanya.
Pemuda ini berbahaya, pikirnya.
Kalau tidak.
cepat disingkirkan, siapa tahu kelak dapat mencelakakannya!
Ia memperhatikan dan melihat betapa pemuda itu sedang mencurahkan segenap perhatiannya kepada apa yang sedang dilakukan.
Tangan kanannya menempel pada ulu hati dan tangan kirinya menempel pada pusarnya.
Kedua matanya setengah terpejam.
Saat yang amat baik untuk menyerangnya!
Setelah kini hawa beracun meninggalkan tubuhnya, Maya Dewi mulai mengumpulkan tenaga saktinya.
Ia seorang wanita yang sakti.
Sekali pukul saja ia akan mampu membunuh orang ini!
Diam-diam ia mengumpulkan tenaga pada dua jari tangan kanannya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah lalu memandang wajah Bagus Sajiwo.
Mana yang akan diserangnya?
Dua matanya?
Seketika mata itu akan buta, biji matanya akan hancur!
Atau di titik pusat antara kedua matanya?
Akibatnya, pemuda itu akan kehilangan ingatannya dan akan menjadi gila!
Atau dilehernya, di atas kalamenjingnya?
Akan putus otot pernapasannya dan akibatnya mati!
Maya Dewi menimbang-nimbang.
Bagaimanapun juga, kesehatannya belum pulih sepenuhnya.
Dan pemuda ini memiliki kepandaian dan tenaga lumayan.
Masih dapat ia pergunakan!
Kalau dibunuh, selain tidak ada gunanya lagi, juga merepotkan.
Ia harus menyingkirkan mayatnya!
Ia lalu mendapatkan akal yang dianggapnya terbaik.
Ia akan membikin pemuda ini menjadi budaknya.
Dengan paksa!
Dan hal itu akan berhasil kalau ia membuat pemuda ini menjadi manusia cacat yang tidak berbahaya.
Pertama-tama harus ia buat tidak berdaya lebih dulu dengan jalan menotok jalan darah sehingga lumpuh.
Pikiran ini dianggapnya begitu sempurna dan cerdik sehingga bibirnya tersenyum manis sekali.
Ia harus berhati-hati sekali.
Syarafnya harus tenang.
Sedikit saja menegang pemuda itu akan merasakan dan menjadi curiga.
Maya Dewi tidak tahu bahwa biarpun Bagus Sajiwo telah menguasai aji kesaktian yang luar biasa, namun dia adalah seorang pemuda yang masih remaja sekali belum ada pengalaman di dunia persilatan, apa lagi di dunia sesat.
Baginya, semua manusia itu baik dan dapat dipercaya!
Maka, saat itu dia mencurahkan seluruh perhatian pada pengobatannya, tak tahu akan bahaya mengancam di depan mata!
Tiba-tiba bagaikan dua ekor ular kobra menyambar, dua lengan Maya Dewi meluncur ke depan dan dua jari kedua tangannya sudah menotok ke arah kedua pundak Bagus Sajiwo.
"Syuuuutt.... tuk-tuk....!"
Tubuh Bagus Sajiwo yang duduk bersila di tepi pembaringan itu tiba-tiba terdorong ke belakang dan dia terguling jatuh ke atas lantai, rebah telentang tak mampu bergerak lagi, hanya memandang terbelalak ke arah Maya Dewi yang sudah meloncat turun dan berdiri sambil tertawa cekikikan karena senang dan geli.
"Hi-hi-hi-hik.... heh-heh.... bocah tolol gudel (anak kerbau) goblok!"
Ia tertawa mengejek dan memaki.
Totokan tadi sebetulnya hebat sekali.
Kalau yang ditotok kurang kuat, dapat mengakibatkan kelumpuhan seumur hidup!
Akan tetapi tubuh Bagus Sajiwo sudah terisi hawa sakti yang amat kuat sehingga dia hanya menjadi lumpuh sementara saja.
Itupun yang tak dapat dia gerakkan hanya kedua kaki tangan.
Dia masih mampu mengerjakan semua inderanya, termasuk berpikir dan berbicara.
Dia sungguh terkejut dan terheran-heran melihat apa yang dilakukan wanita itu kepadanya.
Dia bersungguh-sungguh berusaha untuk mengobati wanita itu.
Kenapa ia malah membalasnya dengan serangan sehebat itu?
Dia tahu bahwa totokan itu membuat ia lumpuh.
Dan kini wanita itu tertawa-tawa dan menghinanya!
Perempuan macam apakah ini?
Akan tetapi ia melihat wajah cantik itu tertawa-tawa seperti topeng saja.
Dia melihat bayangan duka yang amat mendalam di balik topeng tawa itu.
"Mbakayu...."
"Sejak kapan aku jadi mbakayumu? Aku tidak sudi punya adik macam kamu! Aku Maya Dewi, kalau mau sebut, panggil saja Dewi!"
"Dewi, kenapa kau memukul aku?"
"Aku ingin kau jadi pembantuku. Aku mau pukul, mau bunuh, sesuka hatiku!"
"Tidak perlu kau pukul, aku memang sejak tadi sudah berniat membantumu...."
"Cerewet amat sih kamu! Kuhajar mulutmu baru kapok!"
Maya Dewi melangkah maju, membungkuk dan menggerakkan tangan kiri hendak menampar. Bagus Sajiwo tak mampu mengelak, tak mampu bergerak, menerima saja dengan kedua mata tak berkedip.
"Plak! Plak!"
Kedua pipi pemuda itu terkena tamparan yang cukup kuat sehingga kulit pipi itu menjadi bengkak dan merah kebiruan!
Akan tetapi, ketika menampar tadi Maya Dewi telah mengerahkan terlalu banyak tenaga, padahal disebelah dalam dirinya masih terluka parah.
Maka, begitu menampar dua kali pipi Bagus Sajiwo, ia tertawa lagi terkekeh-kekeh dan tiba-tiba mulut yang tertawa itu berubah.
Mukanya pucat sekali, mulutnya menyeringai, lalu terbuka dan terbatuk-batuk.
Darah mengalir dari ujung bibirnya dan pernapasannya terengah-engah.
Bagus Sajiwo sudah melupakan rasa nyeri pada mukanya.
"Dewi! Cepat! Gunakan dua jari tangan kananmu untuk menotok jalan darah di pundak kirimu! Lalu tahan napas dan pergunakan ibu jari tangan kirimu untuk menekan ulu hatimu! Cepat sebelum terlambat!"
Dalam keadaan menderita nyeri luar biasa itu Maya Dewi tidak dapat berpikir kecuali menurut petunjuk Bagus Sajiwo yang lumpuh itu.
Petunjuk itu bukan ngawur, melainkan merupakan suatu ilmu menotok dan menekan jalan darah untuk melancarkan jalan darah yang terganggu.
Begitu Maya Dewi melaksanakan petunjuk itu pernapasan Maya Dewi menjadi normal kembali, darah berhenti keluar dari mulutnya dan rasa nyeri tadipun lenyap.
Maya Dewi menghela napas panjang lalu duduk di atas dipan.
Ia memandang Bagus Sajiwo.
Kembali pemuda itu menyelamatkannya.
Bahkan pandang mata pemuda itu kepadanya sama sekali tidak membayangkan kebencian, bahkan mengandung perasaan iba.
Padahal ia sudah memaki, menghina, dan memukulnya, bahkan dengan maksud membunuhnya!
Anak macam apakah ini?
Dewakah?
"Eh, siapa namamu?"
Akhirnya ia bertanya.
"Namaku Bagus Sajiwo."
"Hemm....? Bagus?"
Maya Dewi memandang wajah yang bengkak-bengkak itu.
"Engkau tidak bagus tapi jelek dan tolol. Aku akan panggil engkau Tolol saja."
"Terserah kepadamu, Dewi."
"Sebetulnya dari mana kau bisa mengobati?"
"Aku pernah belajar dari guruku."
"Hemm, kalau menurut engkau, bagaimana keadaan diriku sekarang ini?"
"Aku baru dapat mengatakan setelah mengadakan pemeriksaan yang teliti. Akan tetapi kaki tanganku kau lumpuhkan."
"Kalau kubebaskan engkau, bagaimana kalau engkau lalu menyerangku selagi aku terluka parah begini?"
"Itu tak mungkin sama sekali Dewi!"
"Bersumpahlah dulu!"
"Bersumpah? Apa itu dan bagaimana itu? Aku tidak bisa."
"Tirukan kata-kataku! Aku, Bagus Sajiwo!"
"Aku Bagus Sajiwo!"
Bagus Sajiwo menirukan.
"Eh, bukan! Aku, Si Tolol!"
"Namaku bukan Si Tolol!"
Bagus Sajiwo membantah.
"Cerewet! Tirukan saja!"
"Baiklah."
Pemuda itu menghela napas panjang "Aku, Si Tolol!"
"Bersumpah bahwa kalau aku sudah dibebaskan dari totokan, aku akan menurut dan tidak melawan. Kalau aku melanggar sumpahku, biar aku disambar geledek tujuh kali!"
Bagus Sajiwo merasa geli dan ingin tertawa, akan tetapi ditahannya dan dia mengulang kata-kata itu.
Setelah mengulang, dia berpikir, masa bodoh amat, selain aku tidak ingin memusuhi perempuan ini, yang disambar geledek sampai tujuh kali toh bukan dia, melainkan Si Tolol dan dia bukan Si Tolol, melainkan Bagus Sajiwo!
Setelah pemuda itu mengucapkan sumpah, Maya Dewi segera menghampiri tubuh yang masih menggeletak di atas lantai itu.
Padahal, saat itu pengaruh totokan sudah menipis, tidak kuat berlama-lama menguasai tubuh yang kuat itu.
Bagus Sajiwo maklum bahwa perempuan itu masih lemah, maka ketika jari-jari tangan Maya Dewi membuka totokan diam-diam dia mengerahkan tenaga yang bangkit dari pusarnya dan seketika kaki tangannya dapat bergerak kembali.
Ketika Bagus Sajiwo bangkit berdiri, tiba-tiba berkelebat sinar keemasan.
"Tarrr....!"
Dan tahu-tahu ujung sabuk Cinde Kencana sudah melingkari lehernya! Kiranya Maya Dewi yang sudah siap siaga telah menodongkan dengan senjata ampuh itu.
"Dewi, tidak ada gunanya engkau menggunakan senjatamu ini. Tubuhmu luka parah, kalau engkau menarik senjata ini, bukan aku yang mati, melainkan engkau akan terpukul tenagamu sendiri sehingga membahayakan nyawamu! Pula, aku tidak akan melawanmu, mengapa engkau kejam hendak membunuhku?"
Mendengar ini, Maya Dewi mencoba mengerahkan tenaga akan tetapi ia mengeluh, melepaskan sabuk Cinde Kencana lalu terkulai ke atas pembaringan, tangan kiri mendekap dada, napasnya terengah-engah.
"Tolol.... tolong.... periksa...."
Ia berkata, suaranya berubah sama sekali, penuh permohonan, penuh harapan, penuh duka yang mendalam.
Bagus Sajiwo cepat menghampiri dan meraba nadi di leher dan dada.
Dia terkejut sekali.
Tubuh itu panas seperti ada api besar bernyala dalam tubuh itu.
Maya Dewi mendesis-desis kepanasan, uap mengepul dari seluruh tubuhnya.
Bagus Sajiwo cepat mengerahkan tenaga sakti dingin untuk melawannya.
Dalam beberapa detik saja terjadi perubahan hebat.
Tubuh itu kini berubah dingin sekali, lebih dingin dari air yang keluar dari puncak Gunung Wilis.
Maya Dewi kini menggigil kedinginan, seluruh tubuhnya membiru seolah-olah semua cairan dalam tubuhnya membeku.
Bagus Sajiwo cepat mengubah sifat hawa saktinya menjadi panas.
Ketika kembali tubuh Maya Dewi berubah panas, dia lalu membagi tenaga saktinya, yang kiri dingin yang kanan panas sehingga terdapat keseimbangan dalam tubuh Maya Dewi.
Maya Dewi menjadi tenang kembali.
Ia kini memandang kepada pemuda itu.
Pandang mata yang berubah sama sekali.
Tidak liar, akan tetapi ada keheranan, kekaguman dan keharuan.
"Bagus...."
Katanya lirih.
"bagaimana....?"
Perubahan panggilan itu menyejukkan hati Bagus Sajiwo.
"Dewi, engkau terkena serangan pukulan hebat yang memporak-porandakan aji-aji yang pernah kau latih dan kau kuasai. Sayang latihanmu itu mengandung kesesatan sehingga kini berakibat seperti ini. Engkau tentu pernah melatih aji pukulan yang mengandung hawa beracun amat panas, bukan?"
Sambil rebah telentang, Maya Dewi mengangguk.
"Aku melatih aji pukulan beracun panas, yaitu Tapak Rudira."
"Hemm..... kalau engkau ingin aku mengobatimu, ceritakan cara engkau melatihnya."
"Aku.... aku mengorbankan banyak anak laki-laki untuk kuambil sari darahnya, dan kulatih dalam panas bumi untuk menyerap hawa panasnya."
"Duh Gusti, ampunilah kiranya dosa Dewi."
Bagus Sajiwo bergumam lirih dengan hati ngeri.
"Kau bilang apa tadi?"
Maya Dewi bertanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kepastian apakah dulu engkau pernah melatih diri dengan aji pukulan beracun dingin?"
"Benar. Aku berlatih aji pukulan Wisa Sarpa (Racun Ular) dengan mengambil inti racun selaksa ular berbisa dan untuk memperoleh hawa dingin aku berlatih di puncak-puncak gunung yang paling dingin di daerah Parahyangan."
Bagus Sajiwo mengangguk-angguk.
"Sudah kuduga demikian, Dewi. Dua tenaga sakti sesat yang saling bertentangan dan sudah porak peranda itu kini menyerang dirimu sendiri dan keadaan ini sungguh berbahaya sekali!"
Maya Dewi bangkit dengan lemas dan Bagus Sajiwo cepat membantunya.
"Bagus, apa.... apa.... keadaanku tidak ada harapan lagi? Apa engkau tidak dapat menyembuhkan aku?"
Bagus Sajiwo duduk ditepi pembaringan.
"Aku pernah mempelajari dua macam aji yang dapat meredakan amukan dua hawa berlawanan dalam tubuh itu, Dewi. Akan tetapi untuk menghilangkan sama sekali, akan sukar dan makan waktu lama, mungkin sampai berbulan bahkan bertahun-tahun! Akan tetapi kalau pengobatan dilakukan di tempat yang berhawa panas dan dingin seperti ketika engkau melatihnya, mungkin akan cepat berhasil."
"Ah, tempat-tempat seperti itu ada disini, Bagus! Sengaja kubuat untuk tempat latihan dan tempat sembunyi!"
"Tempat sembunyi?"
"Musuh-musuhku banyak sekali dan mereka itu orang-orang sakti mandraguna, sewaktu-waktu mungkin aku harus berlindung dari mereka di tempat sembunyi yang aman."
Sementara itu, waktu berjalan cepat.
Peristiwa tadi terjadi selama semalan dan tiba-tiba terdengar kokok ayam hutan saling sahut dengan kicau burung.
Mereka melihat keluar dan kegelapan malam telah diusir sinar matahari fajar.
Bagus Sajiwo bangkit berdiri dan memadamkan lampu-lampu gantung itu.
Tiba-tiba, ketika lampu yang belum padam tinggal sebuah, terdengar bunyi ledakan.
"Darrrr....!"
Dan lampu itu pecah dan padam. Bagus Sajiwo terkejut dan cepat melompat mendekati pembaringan untuk melindungi Maya Dewi.
"Sudah kukatakan, musuhku banyak dan ini agaknya kaki tangan Kumpeni Belanda."
Kata wanita itu (Lanjut ke
Jilid 04) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 04 dengan suara tenang walaupun ia sendiri dalam keadaan lemah tak berdaya.
"Aku akan melindungimu!"
Kata Bagus Sajiwo dengan gagah.
"Dar-dar-darr!!"
Kembali terdengar ledakan-ledakan senjata api dan beberapa buah perabot dalam rumah itu pecah-pecah.
"Nyi Maya Dewi, pengkhianat rendah! Keluar dan menyerahlah sebelum kami bakar rumahmu! Kamu jadi tawanan Kumpeni!"
Terdengar teriakan dari luar.
Maya Dewi memegang tangan Bagus Sajiwo yang memapahnya dan mereka berindap-indap sembunyi di balik jendela, mengintai keluar.
Mereka melihat dalam keremangan cahaya fajar ada lima orang serdadu membawa bedil dan tiga orang yang melihat pakaiannya seperti yang biasa dipakai para jagoan dari daerah Blambangan.
Tiga orang tinggi besar berusia sekitar empat puluh tahun dan membawa senjata klewang (golok) besar.
"Hmm... kalau tak salah mereka itu adalah orang dari Blambangan bajak2 selat yang sakti."
Kata Maya Dewi "Siapa kira mereka agaknya telah diperalat Kumpeni Belanda!"
"Jadi mereka itulah orang-orang yang begitu hina memysuhi bangsa sendiri, menjual tanah air kepada Kumpeni Belanda?"
Kata Bagus Sajiwo.
"Dewi, biar kuhajar mereka itu!"
"Sstt, nanti dulu. Lihat....!"
Maya Dewi memegang lengan Bagus Sajiwo dan pemuda itu merasa heran karena jari-jari tangan wanita itu dingin dan menggigil seperti orang ketakutan.
Dia cepat memandang dan melihat sesosok bayangan putih berkelebat.
Tahu-tahu disitu telah berdiri seorang wanita berpakaian sutera putih.
Wanita itu berusia sekitar empat puluh tahun, cantik sekali walaupun wajahnya tanpa gincu, pakaiannya seperti pakaian pendeta, tanpa perhiasan apapun.
Rambutnya digelung ke atas, kakinya memakai sandal kayu dan tangan kanannya memegang sebuah kebutan berbulu putih.
Sebatang pedang menempel dibelakang punggungnya.
Selain berwajah cantik manis, wanita itu memiliki bentuk tubuh yang indah, padat menggairahkan dengan lekuk-lengkung sempurna pada dada dan pinggang serta pinggul, seperti tubuh seorang dara belasan tahun saja!
Ia berdiri tegak bagaikan area menghadapi tiga orang jagoan Blambangan dan lima orang serdadu itu, hanya menggoyang-goyangkan kebutannya.
"Heh, nyi sanak, siapa andika? pergilah, jangan mengganggu urusan kami!"
Bentak seorang di antara Tri Sadula, sedangkan lima orang serdadu sudah menodongkan senapan mereka.
Wanita baju putih itu menggerakkan kebutannya seperti gerakan orang menari.
Wajahnya yang cantik tampak dingin, sedikitpun tidak mengandung senyuman atau kemarahan, dingin saja, dingin dan tidak acuh.
"Kalian mau apa menembaki rumah itu?"
Suaranya lembut dan merdu, akan tetapi mengandung kekuatan dan kedinginan yang menyeramkan, seolah suara yang keluar dari alam lain.
Suara itu mengandung gema seperti bisikan yang mengikuti setiap suara dalam kata-katanya.
"Kami hendak menangkap Nyi Maya Dewi. Kalau ia tidak mau keluar, terpaksa kami akan membakar rumahnya dan membunuhnya!"
Kata seorang diantara Tri Sardula yang tadi menegur wanita baju putih itu.
"Pergilah dan jangan mencampuri urusan kami!"
Dia menggertak, agak ragu karena dari sikap dan suaranya, dia dapat menduga bahwa wanita baju putih itu tentu bukan orang sembarangan.
Wanita baju putih itu mengeluarkan suara mendengung dari hidungnya seperti orang mengejek dan pandang matanya menyapu tiga orang Tri Sardula dan lima orang serdadu itu.
Sepasang mata itu tampak mencorong seperti mata harimau di tempat gelap sehingga mengejutkan tiga orang jagoan Blambangan itu.
"Tak seorangpun di dunia ini boleh membunuh Maya Dewi kecuali aku! Kalian cepat menyingkir dari sini. Kalau kesabaranku hilang, kalian tidak akan sempat menyelamatkan diri lagi. Hayo pergi!"
Wanita itu menudingkan telunjuknya ke bawah puncak bukit.
Tri Sardula adalah tiga orang gemblengan dari Blambangan.
Tentu saja mereka tidak takut menghadapi ancaman seorang wanita yang demikian cantiknya, apalagi disitu masih terdapat lima serdadu antek Belanda yang bersenjatakan lima buah senapan.
Mereka marah sekali mendengar ucapan wanita baju putih itu yang meremehkan mereka.
"Tangkap wanita itu!"
Perintah pemimpin Tri Sardula kepada seorang serdadu yang bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat.
Mendapat perintah yang menyenangkan ini, serdadu itu memberikan bedilnya kepada seorang kawan, kemudian dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan sambil menyeringai lebar dia menghampiri wanita baju putih itu.
"Hayo, manis denok montok, mari kupondong tubuhmu yang denok itu!"
Dia mengembangkan lengannya hendak menangkap dan memondong wanita baju putih yang kecantikannya membuat empat orang kawannya yang lain iri hati kepadanya.
Akan tetapi, belum juga jari tangannya menyentuh tubuh wanita baju putih itu, wanita itu menggerakkan tangan kiri.
Jari, telunjuknya seperti menusuk ke depan dan tampak sinar putih mencuat ke arah dada yang bidang itu.
"Wuuutt.... crottt....!"
Darah menyembur dan serdadu itu terjengkang roboh dan berkelojotan.
Dari dadanya muncrat darah segar dan sebentar saja dia tewas.
Tri Sardula dan empat orang serdadu Kumpeni Belanda itu terkejut dan marah sekali.
"Bunuh iblis betina itu!"
Bentak tiga orang Tri Sardula yang sudah mencabut golok besar mereka.
"Dar-dar-dar-darrr....!"
Para serdadu segera menembakkan bedil mereka, akan tetapi tiba-tiba saja tubuh wanita itu lenyap.
Yang tampak hanya berkelebatnya bayangan putih dan tahu-tahu, bagaikan seekor burung garuda putih, wanita itu telah menyambar dari atas dan dengan gerakan cepat sekali kedua tangannya menampar.
Terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya empat orang serdadu itu, dengan kepala retak dan mereka tewas seketika!
Tiga orang Tri Sardulo menjadi semakin marah.
Mereka mengeluarkan pekik dahsyat dan menyerang dengan golok besar mereka sambil berlari mengejar ke arah wanita itu.
Akan tetapi wanita baju putih itu tiba-tiba menekuk kedua lututnya, dengan tubuh agak merendah ia lalu mendorongkan kedua tangannya sambil berseru dengan suara melengking.
"Aji Bajradenta!!"
Dari kedua telapak tangan itu menyambar semacam sinar berkilat putih, menyambut tiga orang itu dan tiga orang itu benar-benar seperti disambar halilintar.
Tubuh mereka terpental kebelakang dan tewas dalam keadaan menyeramkan karena tubuh mereka berubah menghitam seperti hangus!
Pada hal, tiga orang itu adalah jagoan-jagoan tangguh dari Blambangan!
Wanita itu mencabut kembali kebutan yang tadi diselipkan di pinggang ketika ia hendak menyambut tiga orang Tri Sardula dengan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat dan ampuh itu, dan sambil menggoyang-goyang kebutannya ia melangkah, menghampiri pondok sambil mengeluarkan kata-kata yang terdengar jelas oleh Bagus Sajiwo.
"Tidak ada yang boleh membunuh Maya Dewi. Aku sendiri yang hendak menghukum dan membunuh adik yang murtad dan menjadi tersesat dan kotor itu. Hina dan rendah sekali!"
Melihat kehebatan dan keganasan wanita baju putih itu melakukan pembunuhan, Bagus Sajiwo juga terkejut, lebih lagi ketika tadi Maya Dewi berbisik.
"Itulah kakak tiriku, Mbakayu Candra Dewi...."
Kini, mendengar Candra Dewi menghampiri pondok dan mengancam hendak membunuh adik tirinya sendiri dan mengatakan bahwa Maya Dewi murtad dan tersesat, bahkan hina dan rendah, Bagus Sajiwo segera bergerak hendak keluar.
Tangan Maya Dewi memegang lengannya, akan tetapi Bagus Sajiwo yang bertekad hendak melindunginya, sudah merenggut lengannya dan dia melompat keluar, menghadapi Candra Dewi!
Candra Dewi menghadapi Bagus Sajiwo yang berdiri di depannya dengan alis berkerut.
Bocah remaja itu tampaknya begitu berani, menentang pandang matanya dengan sinar tajam, sedikitpun tidak tampak takut.
"Hemm, siapa engkau?"
Tanyanya singkat.
"Namaku Bagus Sajiwo. Mbakayu Candra Dewi...."
"Huh, bagaimana engkau bisa mengetahui namaku?"
Wanita itu memandang tajam penuh selidik dan kebutan dalam tangannya menggetar.
"Aku tahu dari Dewi. Aku sengaja bertemu denganmu untuk memberitahu bahwa Maya Dewi adalah seorang wanita berhati mulia, sama sekali tidak murtad atau sesat, bahkan kini dalam keadaan sakit berat. Karena itu engkau tidak semestinya mengancam hendak membunuhnya."
"Lancang benar engkau!"
"Mbakayu Candra Dewi, engkau salah duga. Bukankah Maya Dewi itu adikmu sendiri? Mengapa engakau hendak tega membunuhnya?"
"Tutup mulutmu!"
"Mbakayu Candra Dewi, aku melihat tadi betapa engkau menentang orang-orang jahat. Melihat tindakanmu dan melihat sikap dan pakaianmu, aku dapat menduga bahwa engkau tentulah seorang pendekar wanita yang menuntut kehidupan suci. Mengapa engkau hendak berbuat kejam membunuh adik sendiri?"
Kini Candra Dewi menjadi marah. Kulit pipinya yang putih halus itu menjadi kemerahan seperti buah tomat masak. Matanya yang jeriiih tajam itu kini seperti mengeluarkan kilat.
"Bocah setan! Kalau aku mau membunuhnya, lalu engkau mau apa!?"
"Mbakayu Candra Dewi, kalau engkau nekat hendak berbuat jahat membunuh Maya Dewi, akupun terpaksa nekat hendak berbuat baik menentang kejahatan dan melindungi Maya Dewi!"
Candra Dewi begitu heran mendengar ucapan dan melihat sikap pemuda remaja itu kepadanya.
"Kau....? Kau hendak berlagak menjadi pendekar dan hendak melawan aku?"
"Ya benar, mengapa tidak? Sudah menjadi tugasku untuk menentang perbuatan jahat!"
Jawab Bagus Sajiwo dengan tegas dan sejujurnya.
"Ha-ha-heh-heh-heh-hi-hik....!"
Candra Dewi tertawa terkekeh-kekeh karena merasa lucu, akan tetapi suara tawanya itu makin melengking dan Bagus Sajiwo merasa betapa suara tawa itu mengandung serangan hawa sakti yang amat hebat, menggetarkan jantungnya dan kalau dia tidak cepat melawannya, dia khawatir Maya Dewi yang sedang terluka itu akan tidak kuat bertahan mendengarnya.
Serangan suara tawa itu demikian dahsyatnya sehingga dapat menulikan telinga atau bahkan mengguncang jantung menyebabkan kematian!
Bagus Sajiwo lalu mengerahkan tenaga sakti dari pusar dan mengeluarkannya melalui suara jeritan melengking yang amat dahsyat.
Itulah Aji Jerit Nogo yang amat hebat.
Suara jeritan melengking itu seolah menjadi perisai yang amat kuat sehingga daya serang suara tawa Candra Dewi terbendung dan getarannya membalik!
Bukan main kagetnya hati Candra Dewi.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa pemuda remaja yang tampaknya masih hijau itu memiliki tenaga sakti yang demikian dahsyat sehingga dapat menangkal serangan suara tawanya dengan pekik yang demikian kuatnya.
Tentu saja ia menjadi penasaran sekali.
Kegagalan serangannya melalui suara tawanya tadi sungguh amat memalukan!
Ia lalu melompat ke depan dengan muka merah dan tangan kiri menampar.
Tamparan ini kelihatan biasa saja, namun karena ia menggunakan aji pukulan yang mengandung hawa beracun, sekali mengenai kepala atau dada, cukup untuk membuat lawan terkapar dan tewas seketika.
"Wuuuuttt.... dukk!"
Bagus Sajiwo menangkis dengan tangan kanannya dan ketika kedua lengan bertemu, kembali Candra Dewi dibuat terkejut bukan main.
Bukan saja lengan pemuda remaja itu mampu menangkis dan menandingi tenaga saktinya, bahkan hawa beracun pukulannya itu agaknya tidak mengganggu sedikitpun pemuda itu.
Dengan gemas ia melanjutkan serangannya dengan tamparan bertubi-tubi, akan tetapi dengan gesitnya Bagus Sajiwo memainkan ilmu silat tangan kosong Bajrakirana sehingga semua tamparan Candra Dewi itu dapat dielakkan atau ditangkisnya dengan baik.
Sampai belasan jurus, semua serangan Candra Dewi gagal, bahkan kini Bagus Sajiwo mulai dapat membalas dengan tamparan yang tidak kalah dahsyatnya.
"Bocah setan!"
Candra Dewi yang sudah memuncak rasa penasaran dan kemarahannya, kini melompat kebelakang, menekuk kedua lututnya sehingga tubuhnya merendah, lalu ia melancarkan pukulan jarak jauh yang menjadi aji, pamungkasnya.
"Aji Bajradenta...!!"
"Bagus! Awas....!"
Terdengar suara Maya Dewi menjerit dari dalam pondok dan wanita itu sudah melompat keluar dari pintu pondok.
Bagus Sajiwo terkejut mendengar teriakan Maya Dewi, akan tetapi dia masih sempat menyambut aji pukulan jarak jauh yang amat dahsyat dari lawannya itu dengan Aji Bromokendali.
"Wuuuttt.... bresss....!!"
Dua tenaga sakti yang dahsyat bertubrukan di udara dan karena Bagus Sajiwo tidak berniat buruk maka dia tadi mengerahkan tenaga hanya untuk melindungi dirinya, maka tubuhnya terpental ke belakang sehingga dia terbanting jatuh bergulingan namun sedikitpun tidak menderita luka luar maupun dalam.
Tubuh Candra Dewi juga terguncang hebat karena daya pukulannya bertemu dengan tenaga yang amat kuat.
Akan tetapi ia mendengus dan mengejek melihat lawannya terbanting dan terguling-guling.
Ia mengira bahwa pemuda remaja itu tentu terluka dalam yang parah atau sudah mati!
"Bagus....!!"
Maya Dewi berlari menghampiri Bagus Sajiwo dan berjongkok untuk memeriksa keadaan pemuda remaja itu yang disangkanya terluka parah karena ia melihat betapa tubuh pemuda itu terpental dan terbanting jatuh lalu terguling-guling.
Ia merangkul pemuda itu dengan hati amat khawatir.
Akan tetapi, Bagus Sajiwo tersenyum kepadanya dan bergerak bangkit duduk yang segera dibantu oleh Maya Dewi yang merangkulnya.
Melihat betapa mesranya Maya Dewi merangkul Bagus Sajiwo, sepasang mata Candra Dewi berkilat dan alisnya berkerut, tanda bahwa ia marah sekali.
"Dewi, jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Mbakayumu itu memiliki pukulan yang hebat bukan main."
Kata Bagus Sajiwo.
Ucapannya ini sungguh-sungguh, akan tetapi Candra Dewi menganggapnya lain.
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 4
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 29