Eps 10 Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Baca online Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo
Cersil Alap Alap Laut Kidul - Kho Ping Hoo.
Ibunya sudah pasti keberatan dan tidak akan mengijinkan kalau berpamit untuk pergi membantu Mataram.
Baru saja pulih ingatannya.
Baru saja ibunya seolah menemukan ia kembali dan baru beberapa hari saja ia sudah berpamit hendak pergi.
Pasti ibunya akan melarangnya dan ia merasa tidak tega kalau membantah ibunya.
Sulastri menjadi bimbang.
Akan tetapi tiba-tiba ia memandang kepada Neneng Salmah yang masih tidur pulas dan senyum mengembang di bibirnya, matanya bersinar kembali dan wajahnya menjadi cerah.
Ah, di sini ada Neneng, pikirnya dan ia tahu, Neneng adalah seorang gadis yang amat baik dan menyayang ibunya, juga disayang ibunya.
Kalau ia pergi, setidaknya di situ ada Neneng yang menemani ibunya!
Sulastri mulai berkemas dengan gerakan perlahan agar jangan sampai menggugah Neneng Salmah.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, pada saat terdengar keruyuk jago (ayam jantan) menyambut munculnya sinar fajar, seperti biasa Neneng Salmah terbangun dari tidurnya.
Ia bangkit duduk, menggeliat, menguap dan mengusir sisa kantuknya, lalu ia bangkit berdiri.
Ia menoleh dan melihat pembaringan Sulastri kosong.
Ah, rajin benar, sepagi ini sudah keluar kamar, pikirnya sambil tersenyum.
Kasihan sibuk sendiri, mungkin sedang memasak air di dapur, harus kubantu!
Neneng bergegas menuju dapur.
Akan tetapi tidak ada Sulastri di situ, bahkan belum ada nyala api untuk memasak air.
Menyapu di pekarangan?
Ia cepat keluar.
akan tetapi di pekarangan juga tidak ada Sulastri, masih sunyi, hanya terdengar suara sapu lidi membersihkan pekarangan di rumah tetangga.
Apakah mandi sepagi ini?
Tak mungkin sepagi ini pergi ke sungai.
Mungkin mencuci muka saja dibelakang, di mana memang disediakan sebuah gentung air besar.
Ia segera berlari ke belakang lagi.
Akan tetapi kamar mandi kecil itupun kosong, Sulastri tidak berada di situ.
Suasana masih sepi.
Yang terdengar hanya keruyuk ayam jago dan suara sapi menguak dan kambing mengembik.
Sulastri tidak ada dimana-mana.
Tiba-tiba Neneng Salmah terkejut karena ia teringat betapa pintu samping yang menghubungkan rumah dengan pelataran samping tadi, ketika ia melewatinya dan keluar, tidak terkunci, hanya ditutupkan begitu saja!
Hal ini berarti bahwa dari dalam rumah sudah ada yang keluar sebelum dia.
Ke manakah perginya Sulastri sepagi ini?
Pakaian kotor dalam keranjang masih terletak di ruang belakang, berarti Sulastri belum pergi mencuci pakaian dan mandi di sungai.
Dengan jantung mulai berdebar tegang, Neneng Salmah kembali ke kamarnya.
Masih gelap di kamar, hanya remang-remang.
Lampu di atas meja telah dipadamkan dan sinar matahari fajar masih terlampau lemah.
Ia segera menyalakan lampu dan memandang ke sekeliling kamar.
Pembaringan Sulastri tampak rapi, tidak kusut, berarti memang sudah dirapikan.
Akan tetapi tidak tampak ada pakaian di gantungan pakaian, juga.....
di sini jantungnya semakin berdebar, Pedang pusaka Naga Wilis yang biasa tergantung di dinding, di atas pembaringan Sulastri, tidak tampak lagi!
Dengan cepat Neneng berlari menghampiri peti pakaian.
Dibukanya dan ia terbelalak.
Pakaian Sulastri tidak berada di situ!
Ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa Sulastri telah pergi.
Neneng Salmah mencari-cari dengan pandang matanya dan ia melihat sebuah corat-coret di atas meja.
Tadi ketika ia menyalakan lampu, ia tidak melihat ini.
Ia menghampiri meja dan di situ jelas terdapat coretan-coretan pendek.
"Aku pergi berjuang. Mintakan maaf kepada ibu!"
Neneng Salmah terbelalak.
Tak dapat diragukan lagi.
Sulastri tentu telah pergi mengejar Parmadi dan Muryani, yaitu untuk mencari pembunuh gurunya dan juga untuk membantu Mataram menghadapi Kumpeni!
Ia berlari ke kamar Ki Subali dan mengetuk daun pintu kamar itu.
"Tok-tok-tok! Paman.....! Bibi.....! Bangunlah.....!"
Ia mengetuk lagi dan Nyi Subali yang membukakan daun pintu.
"Siapa itu? Ah, Neneng, ada apakah?"
Ki Subali juga menhampiri pintu.
"Paman, bibi, maafkan kalau saya mengganggu. Saya..... saya....."
"Neneng, ada apakah? Kenapa engkau begini gugup? Apa yang terjadi?"
Tanya Nyi Subali sambil memegang lengan gadis itu.
"Bibi, sulastri..... ia..... ia pergi malam tadi ketika aku tidur....."
"Pergi? Ke mana?"
Tanya Ki Subali.
"Mana ia? Mana anakku Sulastri?"
Nyi subali mengguncang tangan Neneng.
"Tenanglah, paman dan bibi. Mari ikut saya ke kamar."
Neneng mengajak mereka.
"Tenanglah, bune, bagaimanapun juga, Lastri bukan anak kecil dan kini engatannya telah sembuh."
Ki Subali menghibur isterinya yang mulai menangis.
mereka mengikuti Neneng pergi ke kamar yang menjadi kamar dua orang gadis itu.
Sebuah daun pintu terbuka dan Ki Salmun muncul.
Dia sudah terbangun dan keluar ketika mendengar suara ribut-ribut itu.
"Ada apakah?"
"Sstt, bapa, mari ikut dan bapa akan mengerti."
Kata Neneng perlahan. Ki Salmun juga mengikutinya. Empat orang itu memasuki kamar yang lampu mejanya masih menyala.
"Ketika bangun pagi-pagi tadi, saya tidak melihat Lastri. Sudah saya cari kemana-mana tidak ada dan pakaiannya juga tidak ada. pedang Naga Wilis juga tidak ada dan saya menemukan tulisan ini di atas meja."
Neneng menunjuk ke arah cotretan-coretan huruf yang agaknya dibuat dengan goresan pedang di atas meja itu.
Ki Subali mendekat dan membaca agak keras agar isterinya yang tidak pandai membaca dapat mendengarkan.
"Aku pergi berjuang. Mintakan maaf kepada ibu!"
Dia membaca dan ketika dia berhenti membaca, terdengar tangis Nyi Subali.
"Aduh, nakku Sulastri..... ke mana lagi engkau pergi....."
Ibu ini mengeluh, Neneng Salmah merangkulnya dan menuntunnya duduk di atas pembaringan Sulastri.
"Bibi, harap bibi jangan khawatir. Sulastri tentu pergi menyusul Kakangmas Permadi dan Mbakayu muryani, juga ia tentu akan bertemu dengan Kakangmas lindu aji dan Kakangmas Jatmika dan bersama mereka berjuang membantu Mataram menghadapi Kumpeni. Sulastri adalah seorang yang sakti mandraguna, bibi, harap bibi tenangkan hati."
Neneng Salmah menghibur.
"Apa yang dikatakan Neneng itu benar, bune. Sudahlah, jangan menangis. Anak kita melakukan tugas yang suci, membela Negara dan bangsa, Kita patut merasa bangga dan mari kita doakan saja agar Gusti Allah selalu melindunginya."
Kata Ki Subali.
Setelah dihibur oleh suaminya dan terutama oleh Neneng Salmah yang sudah dianggap seperti anak sendiri, Nyi Subali lambat laun dapat merelakan kepergian Sulastri.
Beberapa hari kemudian ia telah tenang dan pulih kembali.
Sultan Agung di mataram memang merasa penasaran sekali setelah setahun yang lalu serangan pertamanya ke Batavia gagal dan dia kehilangan banyak perajurit dan senopati.
Karena itu, setahun lebih kemudian setelah kekalahan itu, dia menyusun lagi kekuatan yang lebih besar untuk mengirim bala tentara ke Batavia dan menyerang pertahanan Kumpeni Belanda.
Sesungguhnya, Belanda inilah yang menjadi sasaran utamanya untuk dimusuhi karena dia mengerti bahwa Kumpeni merupakan ancaman besar bagi negara dan bangsanya.
Belanda memiliki kapal-kapal perang yang besar, lengkap dengan meriam-meriam besarnya, dan walaupun pasukannya tidak berapa besar namun pasukan itu diperkuat dengan meriam-meriam, granat dan bahan peledak lain termasuk bedil-bedil yang dapat membunuh orang dari jarak jauh.
Untuk keperluan penyerbuan kepada Kumpeni inilah Sultan Agung mempersatukan seluruh daerah sebelah barat sampai ke timur Nusa Jawa, kalau perlu dengan kekerasan sehingga semua daerah tunduk dan dapat dipersatukan guna menghimpun pasukan besar.
Pada suatu hari Sultan Agung mengumpulkan seluruh senopati dan adipati dan mengangkat para adipati dan senopati untuk memimpin bala tentara menyerang Batavia.
Karena itu merupakan penyerangan kedua, Sultan Agung tidak ingin serangannya gagal dan dia mengangkat orang-orang yang sungguh-sungguh dapat dipercaya akan dapat memberi semangat kepada semua perajurit.
Dia mengangkat tiga orang bangsawan untuk menjadi pimpinan.
Pertama-tama dia mengangkat Kyai Adipati Jumina untuk memimpin barisan yang datang menyerang dari arah barat.
Orang kedua adalah Kyai Adipati Puger yang memimpin pasukan yang menyerang dari arah selatan.
Kedua bangsawan ini adalah pamannya sendiri, saudara dari mendiang Panembahan Seda Krapyak.
Adapun orang ketiga adalah adiknya sendiri, yaitu Adipati Purbaya.
Tentu saja tiga orang bangsawan ini hanya untuk memberi semanat saja kepada para perajurit dan yang betul-betul memimpin pasukan adalah para pembantu mereka.
Adipati Jumina diabntu oleh Tumenggung Singoranu dan Raden Arya Wira Natapada yang mengepalai beberapa orang Senopati muda Mataram.
Sedangkan Adipati Puger dibantu oleh Adipati Singenep (Sumenep) dan Tumenggung Madiun.
Adipati Pubaya memimpin pasukan khusus datang menyerang dari arah timur, dibantu beberapa orang Senopati.
Diantara para panglima yang membantunya terdapat Dipati Ukur, adipati yang diangkat oleh Sultan Agung untuk menjadi wakilnya di Jawa Barat.
Pasukan-pasukan dari daerah banyak yang memperkuat barisan Mataram, diantaranya dari Surabaya, Pasuruan, Kediri, Wonosobo, Ponorogo, Madiun, Sampang dan bahkan juga Dipati Ukur sudah siap membantu dengan pasukannya dari Sumedang yang sudah menanti di daerah itu untuk bergabung kalau Mataram lewat.
Mataram mengerahkan tenaganya.
meriam-meriam yang dulu didapatkan melalui perdagangan hasil bumi dari orang-orang Portugis dan juga dari Belanda sendiri, diangkut untuk memperkuat pasukan Mataram.
Banyak pula perajurit yang membawa bedil, walaupun senjata-senjata api itu model kuna dan jauh ketinggalan jaman kalau dibandingkan dengan persenjataan Kumpeni Belanda.
Semangat para perajurit menggebu-gebu, terutama sekali karena kali ini yang memimpin mereka adalah tiga orang keluarga dekat Sultan Agung sendiri!
Akan tetapi di jaman apapun, dalam suatu perjuangan selain bermunculan para pendekar, pahlawan patriot bangsa, sebagai bandingannya muncul pula pengkhianat bangsa yang rela menjadi antek musuh.
Belanda amat pandai membujuk orang-orang pandai yang jiwanya lemah untuk menjadi telik sandi mereka, Bahkan banyak yang rela membantu mereka melawan Mataram.
Juga Belanda pandai menggunakan taktik mengadu domba, memecah belah, dengan omongan manis dan menjatuhkan hati mereka dengan pengaruh harta, wanita, atau tahta (kedudukan).
Demikianlah jauh hari sebelum balatentara Mataram bergerak ke barat untuk menyerang Batavia.
Kumpeni telah mendengar dari para telik sandi (mata-mata) mereka.
Tentu saja mereka telah membuat persiapan sebaiknya, memperkuat diri dan bukan itu saja, mereka juga mengetahui akan kelemahan-kelemahan Mataram.
Kelemahan ini selain dalam persenjataan, juga terutama sekali tentang penyediaan ransum.
Daerah-daerah sekeliling Jayakarta sudah dipengaruhi oleh Kumpeni Belanda yang seolah menyebar kemakmuran sehingga rakyatnya bersifat tak acuh terhadap perjuangan Mataram mengusir Belanda.
Mereka menganggap Belanda sebagai sahabat dalam perdagangan yang menguntungkan rakyat.
Karena itu, balatentara Mataram jelas tidak memperoleh dukungan penyediaan ransum dari rakyat sekitar daerah Jayakarta.
Demikian pula kerajaan Banten tidak mendukung Mataram dan seolah tidak ingin mencampuri permusuhan antara Mataram melawan Kumpeni.
Langkah penting yang dilakukan Jenderal Jan Pieters Zoon Coen dalam melemahkan balatentara yang mengancam itu adalah menghancurkan gudang-gudang ransum (beras dan padi) yang diadakan Mataram sebagai persediaan bagi balatentaranya.
Suatu malam di Tegal.
Sejak sebulan yang lalu, orang-orang membawa beras dan padi ke sebuah gudang besar yang dibangun di kadipaten itu, Mataram mendirikan gudang ransum yang besar di kadipaten tegal.
Seorang laki-laki tinggi besar mondar mandir di depan gudang itu.
Beberapa kali dia mendekat ke pintu gudang yang lebar dan memandang ke dalam gudang di mana ratusan karung beras dan beberapa gunungan padi bertumpuk-tumpuk.
Setelah gudang itu penuh dengan ransum yang ditumpuk selama kurang lebih sebulan itu semua pekerja keluar dan daun pintu ditutup.
Ada lima orang tetap menjaga di pintu gudang.
Laki-laki tinggi besar itu menemui seorang diantara pekerja dan bertanya perlahan.
"Sudah penuhkah?"
"Sudah."
Jawab pekerja yang bertubuh pendek gendut itu.
"Penjaganya hanya lima orang itu?"
"Ya."
Tanya jawab singkat ini dilakukan sambil berjalan berdampingan dengan suara berbisik.
"Tengah malam nanti."
Kata laki-laki tinggi besar itu ketika mereka hendak berpisah.
Dua orang itu sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi gerak gerik si tinggi besar, dari mulai dia mondar mandir di depan gudang, sampai dia bertemu dan bicara dengan pekerja gemuk pendek itu, selalu dibayangi, diawasi dan didengarkan oleh seorang pemuda.
Pemuda itu adalah Jatmika.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Jatmika mengantar Eulis atau Sulastri ke rumah orang tuanya di S Dermayu, lalu dia pergi meninggalkan Dermayu untuk mencari para pembunuh ayah dan kakeknya.
Disamping itu dia juga ingin membantu Mataram yang dia dengar hendak mengulang usahanya setahun yang lalu menyerang Kumpeni di Jayakarta.
Ketika keluar dari Dermayu dia bingung karena tidak tahu ke mana harus mencari para pembunuh ayah dan kakeknya, terutama sekali Hasanudin dan Banuseta seperti yang dicritakan Aji kepadanya.
Akan tetapi dia teringat akan cerita Aji bahwa Raden Banuseta yang memimpin pasukan Kumpeni menyerang ke padepokan eyangnya itu pernah menawan Aji dan Sulastri dan membawa mereka ke Tegal!
Siapa tahu dia akan dapat menemukan Banuseta dan Hasanudin di sana.
Pikiran inilah yang membawa dia ke Tegal dan di kadipaten ini dia menyaksikan kesibukan orang-orang yang mengumpulkan ransum ke dalam sebuah gudang besar.
Kerika mendengar bahwa penumpukan ransum ini untuk keperluan balatentara Mataram, Jatmika merasa bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk ikut mengawasi dan mengamat-amati kalau-kalau akan terjadi gangguan pihak musuh terutama sekali kalau-kalau akan muncul Banuseta dan Hasanudin.
Dia melakukan penjagaan secara diam-diam dan pada malam itu dia melakukan pengamatan sampai gudang itu penuh dan ditinggalkan para pekerja.
Dalam kegiatan inilah dia melihat laki-laki tinggi besar itu dan merasa curiga lalu mengintainya dan mendengarkan percakapan antara laki-laki tinggi besar itu dengan seorang diantara pekerja.
Tentu saja di merasa curiga dan diam-diam membayangi laki-laki tinggi besar itu.
Laki-laki itu memasuki sebuah rumah.
Jatmika dengan hati-hati memasuki pekarangan rumah itu dengan cara melompati pagar samping.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa di Tegal berkeliaran banyak mata-mata Kumpeni dan ketika dia membayangi tadi, dia ketahuan oleh seorang mata-mata lain yang diam-diam memberi isyarat ketika berpapasan dengan laki-laki tinggi besar sehingga mata-mata ini sudah mengetahui bahwa dia dibayangi orang!
Di dalam rumah, laki-laki itu disambut oleh Ki Harya Baka Wulung, Nyi Maya Dewi dan seorang raksasa kulit putih yang bukan lain adalah Hendrik De Haan, jagoan anak buah Kapten De Vos!
Mereka lalu berbisik-bisik mengatur siasat ketika laki-laki tinggi besar itu menceritakan tentang gudang ransum yang sudah penuh dan tentang orang yang membayanginya.
"Hemm, biar aku yang membereskan orang itu. Tentu dia telik sandi Mataram. Engkau, Nyi Maya Dewi, dan tuan Hendrik De Haan, lanjutkan rencana kita. Malam ini juga gudang itu harus dibakar habis. Wira, kau pancing telik sandi Mataram itu keluar kota sebelah selatan. Aku yang akan membunuhnya!"
Mereka mengatur siasat.
Maya Dewi dan Hendrik bersiap-siap.
Mata-mata tinggi besar yang bernama Wira itu lalu keluar dari rumah dan berjalan menuju ke selatan.
Jatmika yang mengintai tak melihat petemuan tadi karena mereka melakukannya di ruangan tertutup.
Ketika Jatmika melihat orang yang dibayangi itu keluar rumah itu, diapun segera membayangi.
Orang itu ternyata keluar kota menuju ke selatan.
Malam itu bulan yang hampir bulat terang sekali sehingga dengan mudah Jatmika dapat membayangi Wira.
Akan tetapi setelah tiba di jalan yang sunyi, Wira berhenti, memutar tubuh dan berseru galak.
"Hei, pengecut! Mau apa engkau mengikutiku? Kalau berani ke sinilah!"
Jatmika terkejut. Kiranya orang itu sudah tahu bahwa dia membayangi. Dia lalu Melompat keluar dari balik pohon dan menghampiri orang itu.
"Kisanak, andika memata-matai penyimpanan ransum di gudang itu! Siapa andika dan apa maumu?"
Bentak Jatmika. Akan tetapi Wira malah mencabut goloknya dan membentak.
"Engkau telik sandi Mataram, mampuslah!"
Goloknya berkelebat menyambar.
"Wusss.....!"
Dengan mudah saja Jatmika mengelak ke samping lalu secepat kilat menyambar tangan kirinya bergerak ke arah lengan lawan yang memegang golok.
"Krekk.....!"
Wira menjerit, goloknya terlepas dari pegangan dan lengan kanannya terkulai, tulangnya patah! Jatmika melanjutkan gerakannya, kaki kanannya menyambar.
"Wuuuttt..... krakk!"
Wira mengaduh lagi dan terpelanting roboh, kaki kirinya terkena tendangan dan tulang betisnya juga patah!
Dia mengaduh-aduh, meggunakan tangan kiri untuk memijit-mijit lengan kanan dan kaki kiri bergantian yang dirasa amat nyeri.
Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan menyeramkan, seperti suara binatang buas atau setan.
"Aurrgghh !!"
Angin pukulan dahsyat menyambar dari belakang.
Jatmika terkejut, mengenal aji pukulan ampuh sekali.
Dia cepat memutar tubuhnya dan tangan kanannya membuat gerakan berputar untuk menangkis pukulan dahsyat itu.
"Wuuuttt..... blarrr !"
Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dan tanah sekitar tempat itu seperti tergetar!
Ki Harya Baka Wulung terkejut bukan main.
Tak disangkanya sama sekali kalau orang yang dicurigai sebagai telik sandi Mataram ini demikian kuatnya sehingga mampu menangkis pukulan mautnya!
Di lain pihak, Jatmika juga terkejut.
Ternyata penyerangnya, seorang kakek seperti raksasa brewok dan kuat bukan main sehingga ketika tangan mereka saling bertemu, tubuhnya tergetar hebat.
Dua orang itu kini berdiri saling berhadapan dengan sikap hati-hati.
"Siapa engkau?"
Tanya Harya Baka Wulung.
"Namaku jatmika. dan andika siapa? Mengapa menyerangku?"
"Engkau tentu telik sandi mataram!"
"Dan andika tentu mata-mata Kumpeni Belanda! Tak tahu malu menjadi antek musuh Negara dan bangsa!"
"Babo-babo, keparat Jatmika! Aku sejak dulu adalah musuh besar Mataram!"
Setelah berkata demikian tiba-tiba kakek itu membuat gerakan berjongkok lalu mendorongkan kedua tangannya ke arah Jatmika, dari perutnya yang gendut, melalui mulut, mengeluarkan suara berkokok seperti bunyi katak budug yang besar.
"Kok-kok-kok..... wuuuttt.....!!"
Itulah Aji Cantuka Sakti yang amat dahsyat.
Jatmika cepat membuat gerakan mengelak dan menangkis dari samping.
Biarpun dia tidak menerima pukulan telak, tetap saja tenaga getaran Aji Cantuka Sakti itu membuat dia terhuyung!
"Mampus kau!"
Harya Baka Wulung mengulangi serangannya.
"Kok-kok-kok..... wus!"
Karena kini dia tahu betapa kuat dan berbahayanya aji pukulan lawan itu, Jatmika tidak mau sembarangan menangkis melainkan cepat menghindar dengan elakan cepat.
Harya Baka Wulung menjadi penasaran sekali karena pukulannya selalu dielakkan dan lawannya yang masih muda itu ternyata gesit bukan main.
Dia lalu mencabut kerisnya yang besar panjang berluk sembilan dan menerjang maju sambil berteriak panjang.
"Haaaiiik.....!"
Keris itu meluncur dan menusuk ke arah dada Jatmika.
"Cringgg..... tranggg.....!!"
Ternyata Jatmika dapat bergerak.
Dia tadi sudah mencabut pula senjatanya Kyai Cubruk, yaitu kerisnya yang bergagang kayu cendana dan berpamor emas itu, lalu menangkis.
Dua kali dua batang keris itu bertemu dan bunga api berpijar menyilaukan mata.
Harya Baka Wulung menggereng dan tangan kirinya bergerak mendorong.
Tampak asap hitam meluncur dari telapak tangannya.
Itulah Aji Kukus Langking (Asap Hitam).
Jatmika terkejut dan melompat ke samping menghindar.
Akan tetapi kakek itu mengejar dengan serangan kerisnya.
Demikianlah, Jatmika terdesak oleh serangan keris dan pukulan berasap hitam yang datangnya bertubi secara bergantian itu.
Masih untung baginya bahwa Ki Harya Baka Wulung kini sudah tua, usianya sudah kurang lebih tujuh puluh tahun, gerakannya kurang gesit sehingga Jatmika yang lebih gesit dapat menghindarkan diri dari desakan kakek itu.
namun tetap saja dia terdesak terus karena dia masih kalah kuat dalam hal tenaga sakti.
"Haaaiiitt !!"
Kembali keris kakek itu menyambar disusul pukulan berasap hitam. Jatmika yang sudah terdesak terpaksa menyambut pukulan itu dengan Aji margopati.
"Wuuuttt..... dess !!"
Tubuh Jatmika terjengkang ke belakang akan tetapi pemuda itu dapat bergulingan sehingga tidak sampai terbanting. Tiba-tiba ada tangan menangkap lengannya.
"Kakangmas Jatmika, engkau tidak terluka?"
Tanya seorang wanita. Jatmika melompat berdiri.
"Eulis.....!"
"Namaku Sulastri, kakang!"
Kata Sulastri lalu menuding ke arah kakek yang memandang kepada mereka dengan marah.
"Dia itu adalah Ki Harya Baka Wulung yang dulu pernah kulawan bersama Mas Aji. Hayo kita basmi antek Belanda ini! Kita persatukan Aji Margopati!"
Sementara, melihat Sulastri, Ki Harya Baka Wulung teringat dan dia menjadi marah akan tetapi juga terkejut sekali karena dia ingat betapa gadis itu dahulu mempunyai kawan, yaitu Lindu Aji yang amat sakti mandraguna sehingga dia sendiri kewalahan melawannya, jangan-jangan Lindu Aji juga ikut datang!
Maka, dalam usahanya menyelamatkan diri, dia mendahului dan sambil berteriak keras dia menerjang ke arah dua orang muda itu dengan keris dan pukulan mautnya!
Kerisnya menghunjam ke arah Jatmika dan pukulan tangan kirinya menyambar ke arah kepala Sulastri.
Dua orang muda itu cepat melompat ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan oleh harya Baka Wulung untuk verusaha melarikan diri.
Akan tetapi Sulastri dudah nebduga akan hal ini.
Gadis ini sudah mencabut pedang Naga Wilis dan ia melompat dengan amat cepatnya, menghadang di depan Harya Baka Wulung dan pedang pusakanya menyambar, berubah menjadi sinar hijau.
"Tua Bangka jahat, hendak lari kemana engkau?"
Gerakan serangan Sulastri amat cepatnya sehingga kakek itu tak sempat mengelak dan terpaksa menggunakan kerisnya untuk menangkis.
"Tranggg.....!!"
Bunga api berpijar dan Sulastri terhuyung ke belakang.
Akan tetapi Harya Baka Wulung tak sempat melarikan diri karena pada saat itu Jatmika sudah menyerangnya dengan keris Kyai Cubruk.
Ketika Harya Baka Wulung mengelak, Sulastri sudah menyerang lagi dan kakek itu dikeroyok dua.
Tiba-tiba kakek itu, membanting sebuah benda ke atas tanah dan terdengar suara ledakan lalu asap hitam mengepul tebal.
Jatmika dan Sulastri berloncatan menghindar.
Akan tetapi kakek itu sudah lenyap.
"Wah, dia sudah pergi, si keparat!"
Seru Sulastri.
"Celaka, di sana ada kebakaran!"
Jatmika menuding ke utara, ke arah kadipaten Tegal.
Sulastri menengok dan benar saja, tampak api dan asap membubung tinggi, tanda bahwa di sana terjadi kebakaran besar.
Tiada waktu lagi untuk bercakap-cakap.
Jatmika berkata dan menarik tangan Sulastri.
"Mari cepat. Agaknya gudang ransum Mataram dibakar!"
Mereka mengguakan ilmu berlari cepat seperti terbang menuju ke kota.
Setelah mereka tiba di depan gedung ransum itu, benar saja dugaan Jatmika.
Yang terbakar adalah gudang ransum itu.
Api bernyala di dalam gudang, besar sekali sampai tinggi.
Melihat keadaannya Jatmika maklum bahwa tak mungkin gudang dan isinya itu diselamatkan lagi.
"Kakangmas Jatmika, hayo kita cari mereka!"
"Eh, siapa? Di mana?"
"Iblis-iblis mata-mata Kumpeni itu. Aku tahu di mana sarang mereka! Hayo!"
Sulastri berlari diikuti oleh Jatmika dan gadis itu menuju ke rumah Ki Warga di mana ia dan Lindu Aji dahulu pernah menjadi tawanan para mata-mata Belanda dan bermalam di situ.
Sulastri memberi isyarat dan mereka berindap indap mengintai ke dalam rumah itu.
Ada suara orang terdengar di ruangan belakang dari mana tampak sinar penerangan sedangkan ruangan lain gelap saja.
Mereka berhasil mengintai dari luar jendela ke dalam ruangan yang luas.
Dua buah lampu gantung besar menerangi ruangan itu.
Di dalam ruangan itu duduk tiga orang menghadapi sebuah meja yang penuh makanan dan botol-botol minuman.
Di meja lain yang lebih besar duduk pula belasan terdiri dari tiga orang kulit putih dan empat orang pribumi.
Tampaknya mereka itu seperti perajurit dan tukang-tukang pukul.
Sulastri segera mengenal tiga orang itu.
Mereka adalah Ki Warga, Nyi Maya Dewi dan Hendrik De Haan!
Melihat mereka, panas rasa hati Sulastri.
Akan tetapi ia masih menahan kemarahannya dan mendengarkan percakapan mereka.
Agaknya karena mereka ercakap-cakap sambil makan minum, maka mereka tidak tahu bahwa ada dua orang yang mengintai dari luar jendela.
Bahkan Maya Dewi yang sakti itupun tidak tahu.
Agaknya ia lengah karena mereka tampak sedang bergembira sekali.
Mereka makan minum sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa.
"Ki Warga, sekali ini pekerjaanku berhasil baik sekali!"
Kata Maya dewi sambil tersenyum cerah dan manis.
"Andika harus melaporkan jasaku ke Batavia!"
"Ha-ha, ingat aku juga ikut berjasa, Dewi!"
Kata siraksasa Hendrik De Haan dengan bahasa daerah yang campur-campur bahasa melayu dan belanda.
"Aku yang membakar gudang itu setelah menyirami dengan minyak!"
"Hemm, akan tetapi aku yang lebih dulu membunuh lima orang penjaga itu!"
Kata Maya Dewi. Dari meja lain, seorang pribumi berkata.
"Kami juga bekerja. Kita semua berjasa!"
Ki Warga mengangguk-angguk.
"Tentu saja, aku akan membuat laporan kepada atasan. Kalian semua pasti akan memperoleh hadiah besar. Mari kita rayakan keberhasilan ini! Mari kita minum sepuasnya!"
Sulastri tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Ia memberi isyarat kepada Jatmika dengan senruhan pada tanan pemuda itu, lalu ia membentak sambil melompat dan mendorong daun jendela.
"Antek Kumpeni keparat!! Braakkk!"
Tubuhnya meloncat ke dalam ruangan itu melalui jendela yang sudah terbuka, diikuti oleh Jatmika.
Tentu saja semua orang dalam ruangan itu terkejut sekali dan tujuh orang perajurit dan tukang pukul yang berada terdekat dengan Sulastri dan Jatmika segera bangkit berdiri.
Seorang serdadu Belanda mengambil bedilnya yang dia sandarkan di dekatnya.
Akan tetapi sinar hijau dari pedang Naga Wilis menyambar dan serdadu itu berteriak dan roboh mandi darah.
Dua orang serdadu lainnya mencabut pistol mereka dan membidik ke arah Sulastri dan Jatmika.
Akan tetapi secepat kilat dua orang pendekar itu telah menangkap dua orang tukang pukul.
"Dar-dar.....!!"
Dua orang yang ditangkap Sulastri dan Jatmika yang dijadikan perisai nenerima peluru-peluru itu dan mereka tersentak dan tewas seketika.
Sulastri dan Jatmika melemparkan mayat-mayat itu ke arah dua orang serdadu tang menembak.
Dua orang serdadu tertumbuk dan terjengkang dan sebelum mereka dapat bangkit kembali, pedang Naga wilis dan keris Kyai Cubruk sudah meluncur dan dua orang serdadu Belanda tewas seketika.
Dua orang tukang pukul menjadi ketakutan melihat betapa dalam waktu cepatnya tiga orang serdadu Belanda yang bersenjata api telah terbunuh, demikian pula dua orang rekan mereka!
Sementara itu, Maya Dewi dan Hendrik De Haan juga sudah mengenal Sulastri, maka mereka terkejut tapi marah sekali melihat betapa dua orang muda itu telah menewaskan lima orang anak buah mereka.
juga Ki Warga terkejut bukan main.
Maya Dewi dan Hendrik De Haan cepat melompat dari kursi mereka sedangkan Ki Warga diam-diam berlari keluar dari ruangan, Maya Dewi melolos sabuk Cinde Kencono sedangkan Hendrik De Haan sudah mencabut pistolnya.
Raksasa bule ini cepat menembakkan pistolnya ke arah Jatmika.
"Dar-dar.....!"
Akan tetapi Jatmika melempar tubuh ke samping lalu bergulingan dan sambil bergulingan dia melontarkan keris pusakanya ke arah tangan Hendrik yang memegang pistol itu.
"Dor..... trang..... ahh!"
Tembakan ketiga kali inipun luput dan tiba-tiba keris itu menyambar dan mengenai tangan Hendrik yang mengaduh dan pistolnya terlempar bersama keris.
Dia menjadi marah dan sudah menerkam kepada Jatmika dengan pukulan tangannya yang besar dan kuat.
Akan tetapi Jatmika menangkis dan membalas.
Dua orang itu segera saling serang dengan seru.
Nyi Maya Dewi juga sudah menyerang Sulastri dengan sabuk Cinde Kencana.
Sabuk yang berwarna kuning emas itu berubah menjadi sinar bergumung-gulung yang menyambar ke arah Sulastri dengan suara meledak-ledak.
Namun Sulastri yang maklum akan kesaktian wanita ini, juga memutar pedangnya yang membentuk sinar kehijauan seperti payung atau perisai yang melindungi dirinya.
Juga ia berusaha membalas dengan gigih.
Dua orang sisa anak buah yang tadinya ketakutan kini menjadi nekat ketika melihat dua orang pimpinan mereka sudah saling serang dengan dua orang muda itu.
Seorang mencoba untuk membantu Nyi Maya Dewi dan seorang lagi membantu Hendrik De Haan dengan golok mereka.
Akan tetapi dalam waktu beberapa detik saja kedua orang anak buah itu sudah roboh oleh pukulan Margopati tangan Jatmika dan sambaran sinar pedang hijau di tangan Sulastri.
Betapapun besar tenaga kasar Hendrik dan betapa kuatpun tubuhnya, dia kewalahan menghadapi Jatmika yang bergerak denngan gerakan Aji Sonya Hasta dan kalau memukul menggunakan tenaga Aji Margopati.
Beberapa kali dia terkena pukulan Margopati dan biarpun dia masih dapat bertahan, namun sesungguhnya dia sudah terluka dalam, tenaganya mulai berkurang.
Ketika Hendrik menyerang dengan kedua tangan, hendak menangkap lawan, Jatmika mengelak.
Dia tahu bahwa kalau sampai dia tertangkap dua buah tangan yang panjang besar dan amat kuat itu, dia terancam bahaya maut.
Akan tetapi ternyata serangan dahsyat tadi hanya berupa gertakan saja karena tiba-tiba Hendrik sudah berlari ke sudut ruangan dimana menggeletak pistolnya yang tadi terlempar ke sana.
Akan tetapi cepat sekali tubuh Jatmika sudah melesat bagaikan kilat mengejarnya dan pemuda perkasa ini sudah lebih dulu mengambil pistol itu.
Selama hidupnya Jatmika belum pernah memegang pistol, apa lagi menembak.
Akan tetapi dia pernah mendengar tentang senjata api itu dan dapat mengira-ngira bagaimana menarik pelatuknya untuk menembak.
Dia membidik ke arah Hendrik yang masih bergerak untuk merampas pistol dan menarik pelatuknya dengan jari telunjuk.
"Darr.....!!"
Pistol itu menendang sehingga jatmika terkejut dan melemparkannya ke arah Hendrik.
Akan tetapi dia melihat Hendrik terjengkang sambil mendekap dadanya dan roboh tak bergerak lagi.
Jatmika lalu mengambil kerisnya Kyai Cubruk menggeletak tak jauh dari situ.
Kemudian dia melompat dan membantu Sulastri yang terdesak oleh sabuk Cinde Kencono Nyi Maya Dewi yang meledak-ledak itu.
"Hyaahh !!"
Jatmika menyerang dengan pukulan margopati yang dilakukan dengan tangan kirinya.
"Haaiitt !!"
Sulastri yang tadinya terdesak, bahkan pundaknya sudah terkena lecutan ujung sabuk lawan dan terluka, kini berbesar hati dan ia juga menyerang dengan Aji Margopati.
Diserang dari depan dan dari kiri itu, Maya Dewi terkejut bukan main.
Apalagi ia dapat merasakan bahwa tenaga pukulan pemuda itu bahkan lebih kuat dibandingkan pukulan Sulastri.
Ia cepat mengelak dengan lompatan ke belakang.
Ketika dua orang pengeroyoknya mendesak dengan senjata pedang dan keris, Maya Dewi memutar sabuknya untuk melindungi dirinya dan tiba-tiba tubuhnya melompat tinggi!
Sebelum Sulastri dan Jatmika menyadari apa yang dilakukan Maya Dewi, terdengar suara berkerontangan dan ruangan itu menjadi gelap gulita!
Kiranya wanita yang cerdik itu telah menghancurkan dua buah lampu gantung yang menerangi ruangan itu!
Karena khawatir diserang dalam kegelapan itu, Sulastri dan Jatmika memutar senjata untuk menjaga diri.
Akan tetapi tidak ada serangan, tidak ada suara, bahkan tidak ada gerakan.
Maya Dewi telah lenyap dari ruangan itu!
Tiba-tiba terdengar suara banyak orang di luar rumah itu.
Jatmika dan Sulastri maklum akan bahaya yang mengancam mereka kalau banyak mata-mata Kumpeni dan serdadu-sedadu mereka datang.
Maka keduanya segera melarikan diri, keluar dari rumah itu melalui pintu belakang.
Mereka mengintai dari tempat gelap dan Sulastri melihat Ki Warga bersama belasan orang Belanda yang memegang pistol.
Ia memberi isyarat kepada Jatmika dan mereka cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka melarikan diri dan berada di luar kota, Jatmika mengajak Sulastri beristirahat di dalam sebuah gubug yang berdiri di ladang.
Bulan sudah condong ke barat namun masih memberi penerangan sehingga cuaca menjadi remang-remang.
"Sayang kita tidak berhasil membunuh wanita iblis itu!"
Sulastri berkata kecewa.
"Ya, lebih menyesal lagi kita tak berhasil mencegah mereka membakar gudang ransum itu!"
Kata Jatmika.
"Akan tetapi, bagaimana engkau tiba-tiba muncul membantuku dan benarkah engkau telah sembuh dan dapat mengingat kembali masa lalumu, Eulis?"
"Panjang ceritanya, Kakangmas Jatmika. Dan karena aku sekarang sudah ingat kembali bahwa namaku adalah Sulastri, maka nama Listyani atau Eulis itu kita lupakan saja dan harap engkau memanggil aku Sulastri."
"Baiklah, Sulastri, walaupun di dalam hatiku engkau tetap Eulis yang geulis (cantik). Nah, ceritakanlah pengalamanmu semenjak kita berpisah."
Sulastri lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Parmadi dan Muryani di sungai ketika ia bersama Neneng Salmah hendak mencuci pakaian dan mandi.
"Nanti dulu, siapa itu Neneng Salmah?"
Jatmika bertanya.
"Oh, ya! Engkau belum mengenalnya!"
Ia lalu bercerita tentang gadi waranggana dari kSumedang itu datang bersama Ki Salmun, ayahnya, datang mengungsi dari sumedang ke dermayu atas nasehat Lindu Aji.
Setelah mendengar keterangan panjang lebar tentang neneng Salmah, Jatmika bertanya lagi.
"Dan siapa itu Parmadi dan Muryani?"
"engkau tidak dapat menduga siapa Kakangmas Paemadi. Dia masih kakak seperguruan kita!"
"Eh? Bagaimana mungkin? Kenapa aku tidak mengenalnya?"
"Tentu saja tidak. Dia adalah murid dari Eyang Resi Tejo Wening, kakak guru mendiang Eyang Guru Ki Tejo Langit."
"Ah, begitukah? Ceritamu semakin menarik, lanjutkanlah, Lastri."
"Setelah saling mengenal aji-aji kami yang sama, dan tahu bahwa aku kehilangan ingatan masa lakuku, Kakangmas Parmadi dan isterinya Mbakayu Muryani berkunjung ke rumah dan mengobatiku dengan tiupan sulingnya. Aku sembuh dan dapat pulih kembali ingatanku."
"Terima kasih kepada gusti Allah! Wah, sukurlah, aku ikut merasa bahagia sekali, Lastri!"
Saking gembiranya, Jatmika merangkul gadis itu.
Akan tetapi dengan gerakan lembut Sulastri menhindar.
Jatmika merasa heran sekali, akan tetapi tidak memaksa, hanya berkata penuh perasaan sehingga suaranya menggetar.
"Aku rindu sekali kepadamu, Lastri."
Sulastri menghela napas panjang.
Setelah teringat kembali akan masa lalunya, ia kini selalu teringat akan hubungan batinnya dengan Lindu Aji dan sulit baginya untuk membiarkan dirinya dipeluk pria lain walaupun pria itu adalah Jatmika yang dikagumi dan disukainya.
"Kakang, bukan waktunya kita bicara tentang hal itu. Akan kulanjutkan ceritaku."
"Baiklah, Lastri. nah, lanjutkan ceritamu."
Kaya Jatmika, agak tersipu akan tetapi heran melihat sikap Lastri yang dingin terasa sekali dalam suaranya.
Sulastri bercerita dengan singkat tentang munculnya pangeran dari Banten yang dulu mengganggu Neneng Salmah untuk memaksa gadis itu ikut.
Pangeran ini ditemani dua orang datuk, yaitu Kyai Sidhi Kawasa dan Aki Somad.
Parmadi, Muryani dan ia sendiri yang sudah sembuh berhasil mengusir mereka.
"Setelah Kakangmas Parmadi dan Mbakyu Muryani pergi untuk mencari pembunuh Eyang Guru Tejo Langit, aku yang sudah pulih ingatanku, menjadi gelisah, Mas Aji mencari pembunuh itu dan berjuang membela Mataram, engkau dan Kakng Parmadi juga begitu. aku merasa tidak enak untuk duduk diam di rumah saja, maka aku lalu nekat meninggalkan rumah."
"Dan bagaimana engkau dapat berada di sini?"
Tanya Jatmika.
"Aku teringat kepada Raden Banuseta yang dulu ikut melawan aku dan Mas Aji, maka aku lalu pergi ke Tegal hendak mencarinya. Malam tadi aku tiba di mana engkau sedang bertanding melawan Harya Baka Wulung."
"Ah, agaknya memang Gusti Allah yang menuntunmu sehingga engkau dapat membantuku dan aku dapat menyekamatkan diri dari kakek yang sakti mandraguna itu."
"Akan tetapi, Kakangmas Jatmika, kenapa Mataram menumpuk demikian banyak ransum di Tegal? Dan kenapa pula antek-antek Kumpeni itu membakar gudang?"
"Lastri, engkau tentu sudah mendengar bahwa bala tentara Mataram akan melakukan penyerbuan ke Jayakarta dan untuk keperluan pasukan itulah maka ransum itu ditumpuk untuk persediaan. Dan para (Lanjut ke
Jilid 31) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31 mata-mata Kumpeni keparat itu tentu melaksanakan perintah atasan mereka. Siasat yang amat keji dan curang!"
"Kakang Jatmika, kalau begitu mari kita cepat pergi ke Jayakarta untuk membantu pasukan Mataram. Kukira jahanam Banuseta dan Kakang Hasanudin yang berkhianat itu tentu berada pula di sana."
"Benar, Lastri. Aku juga menduga bahwa Harya Baka Wulung dan Maya dewi mungkin melarikan diri ke sana pula."
Dua orang itu menanti sampai fajar menyingsing, lalu mereka berdua melakukan perjalanan ke barat, ke arah Cirebon.
Kumpeni Belanda memang menggunakan taktik yang mereka anggap cerdik, akan tetapi yang bagi Mataram merupakan akal yang amat licik dan curang.
Bukan hanya gudang ransum di Tegal yang mereka bakar, akan tetapi juga ratusan perahu yang membawa ransum untuk pasukan Mataram, dihadang kapal Belanda dan meriam-meriam mereka menghancurkan dan menenggelamkan perahu-perahu itu berikut ransumnya.
Juga ratusan rumah penduduk disekitar pantai yang dianggap rumah para petani yang mengumpulkan padi dan beras untuk balatentara Mataram, diserang dan banyak rumah dibakar.
Beberapa buah dusun menjadi geger oleh serangan Belanda ini yang melakukan semua itu dengan maksud untuk mencegah penduduk membantu pasukan Mataram, membuat mereka ketakutan.
Pada suatu pagi, seorang pemuda yang berwajah tampan dan manis bertubuh habgkung tegap, matanya lembut kan tetapi terkadang mengeluarkan sunar mencorong, pakaiannya sderhana namun rapi, melngkah dengan lenggang santai namun kokoh bagaikan langkah harimau, berjalan menju ke gudang kadipaten di Cirebon.
Di pintu gerbang gedung Kadipaten pemuda itu dihadang lima orang perajurit penjaga.
"Berhenti!!"
Bentak empat orang dari mereka. Akan tetapi yang seorang lagi sudah setengah tua dan agaknya dia yang menjadi kepala jaga, berseru dengan girang dan hormat.
"Denmas Lindu Aji Alap-alap Laut Kidul!"
"Bagus kalau andika mengenalku, paman. Aku mohon menghadap Paman Adipati Pangeran Ratu. Maukah andika melaporkan kunjunganku ini?"
"Tentu, denmas, tentu! Mari silakan!"
Lindu aji mengikuti perajurit itu. Empat orang kawannya saling pandang dengan heran, lalu seorang di antara mereka berkata.
"Ah, dia itu Alap-alap Laut Kidul? Aku pernah mendengar bahwa dialah yang menghancurkan gerombolan Munding Hideung di Gunung Careme!"
"Wah, itukah orangnya? Kelihatannya masih begitu muda dan sederhana!"
"Hemm, kau tahu apa? Dia itu seorang utusan Kanjeng Gusti Sultan Agung di Mataram yang berpangkat senopati muda!"
Lindu Aji mendengar percakapan ini akan tetapi dia tidak perduli dan mengikuti penjaga itu ke beranda.
Di situ perajurit itu disambut seorang perajurit pengawal istana dan dia mengoper Aji kepada perajurit pengawal itu sambil berkata.
"Lapor, Tamu ini adalah Alap-alap Laut Kidul bernama Lindu Aji yang mohon menghadap Gusti Adipati."
Perajurit pengawal itupun mengenal nama ini dan setelah mempersilakan Aji duduk di ruang tunggu, dia segera melapor ke dalam.
Tak lama kemudian pengawal itu sudah kembali ke ruang tunggu mengatakan bagwa Sang Adipati sudah siap menerima Lindu Aji.
Pemuda itu lalu mengikuti pengawal memasuki ruangan.
Begitu Lindu Aji memasuki ruangan, dia melihat sang adipati sudah duduk menanti di atas kursi kebesarannya.
Pria yang gagah berusia enam puluh lima tahun itu tersenyum menyambut kedatangan Lindu Aji.
"Anakmas Lindu Aji, andika yang datang? Silakan duduk, anakmas!"
Kata adipati dengan ramah, bahkan lalu bangkit dan mempersilakan Lindu Aji yang menyembah itu untuk duduk di atas kursi yang sudah tersedia di depannya.
Karena hari itu bukan hari persidangan, maka tidak ada perwira yang hadir, bahkan tidak tampak seorangpun perajurit pengawal dalam ruangan itu.
Hal ini menunjukkan bahwa sang adipati percaya penuh kepada tamunya.
"Terima kasih, Gusti Adipati."
Kata Lindu Aji hormat.
"Aeh, Anakmas Lindu Aji, mengapa andika berbasa basi seperi itu? Sebut saja paman, jangan gusti. Bukankah andika ini juga seorang senopati muda Mataram yang menjadi kepercayaan Gusti Sultan Agung? Nah, katakan anakmas. Kabar baik apakah yang andika bawa kali ini?"
"Paman Adipati, paduka tentu telah mengetahui bahwa balatentara Mataram kini sedang bergerak menuju Batavia untuk melakukan penyerangan besar-besaran. Dan saya mendengar bahwa Kumpeni Belanda melakukan usaha perlawanan yang curang dengan menembaki perahu-perahu pembawa ransum, bahkan membakar gudang-gudang ransum di Tegal dan tempat-tempat lain."
"Hemm, ya, kami mendengar akan hal itu, anakmas. Akan tetapi, apa yang dapat kita perbuat? Kami memang berpihak kepada Mataram, akan tetapi kalau melakukannya dengan berterang, Kumpeni tentu akan memusuhi dan menyerang kami. Pada hal, penyerangan Belanda melalui kapal-kapal perang berbahaya sekali."
Lindu Aji mengerutkan alisnya, akan tetapi dalam hatinya dia harus mengakui kebenaran sang adipati ini.
Bagaimanapun juga, Kadipaten Cirebon tentu saja harus menjaga keselamatannya sendiri.
Yang terpenting asal Kadipaten Cirebon tidak membantu Belanda, hal itu sudah cukup baik.
Bahkan dia juga mendengar bahwa biasanya, sang adipati ini menjadi perantara yang dapat dipercaya apabila Mataram hendak mengadakan hubungan atau perundingan dengan pihak Banten dan para kadipaten lain di Jawa Barat, juga dapat menjadi perantara kalau hendak mengadakan hubungan dan perundingan dengan pihak Kumpeni Belanda sekalipun.
"Akan tetapi, Paman Adipati, apakah di Kadipaten Cirebon juga diadakan gudang ransum untuk pasukan Mataram?"
"Memang ada, dua gudang besar, yang pertama berisi beras dan yang kedua berisi gunungan padi. Kami sudah mengutus seregu perajurut menjaga kedua gudang itu."
"Hanya seregu, Paman Adipati? Apakah cukup?"
Tanya lindu Aji.
"Kami kira sudah cukup. Kumpeni Belanda tidak akan berani mengganggu gudang ransum yang berada di wilayah kami, tentu merasa sungkan kepada kami."
"Mudah-mudahan saja begitu, paman adipati."
Tiba-tiba seorang perajurit pengawal bergegas masuk, menjatuhkan diri berlutut dan sebelum Adipati Cirebon yang menjadi marah dan mengerutkan alis itu sempat bertanya, dia sudah lebih dulu menyembah dan berkata dengan takut-takut.
"Mohon beribu ampun kalau hamba berani mengganggu dan menghadap paduka tanpa dipanggil, gusti. Hamba hendak melapor bahwa..... gudang-gudang ransum diserbu orang dan dibakar."
"Apa..... ??!!"
Adipati Pangeran Ratu bangkit berdiri dan membentak perajurit pengawal itu.
"Cepat panggil perwira pasukan pengawal!"
"Siap, gusti!"
Peajurit itu cepat menyembah dan mundur, keluar dari ruangan itu. Aji sudah bangkit dan kini dia memberi hormat.
"Paman Adipati, saya mohon pamit. Saya akan menghadapi pengacau-pengacau itu!"
Tanpa menanti jawaban, Aji sudah melompat keluar dan dia berlari ke alun-alun kadipaten.
Banyak orang berlarian dengan panik di jalan raya dan tanpa bertanyapun dia tahu di mana terjadinya kekacauan itu karena tampak sinar api dan asap di sebelah utara dan dari arah itu orang-orang berlarian.
Setelah berlari cepat dia mendengar pula suara ledakan-ledakan, bukan hanya ledakan kebakaran melainkan ledakan seperti bunyi meriam atau senjata api lainnya.
Setelah tiba di tempat kebakaran, Aji melihat betapa dua buah gudang besar sedang terbakar.
Penduduk berlarian ketakutan dan dia melihat pula beberapa orang perajurit kadipaten, tinggal belasan orang agaknya berusaha untuk memadamkan api, akan tetapi mereka diserang oleh gerombolan orang yang bersenjata golok, di antara mereka banyak pula yang bersenjata pistol.
Dan di belakang gudang yang terbakar, dia melihat seorang pemuda dan seorang gadis sedang berkelahi melawan seorang kakek brewok yang bertubuh tinggi besar dan dua orang lain yang bersenjata golok.
Ketika memandang dengan teliti, Aji terkejut, marah dan juga girang mengenal bahwa gadis itu bukan lain adalah Sulastri, pemuda itu Jatmika.
Adapun kakek yang mejadi lawan mereka adalah Ki Harya Baka Wulung yang dibantu dua orang bersenjata golok.
Menghadapi Ki Harya Baka Wulung saja, Jatmika dan Sulastri sudah bertemu dengan lawan berat.
Apalagi kakek yang selalu memusuhi Mataram itu dibantu dua orang yang lumayan tangguh, maka sepasang orang muda itu tampak terdesak hebat.
Aji dapat menduga bahwa tentu Ki Harya Baka Wulung itu yang berada di balik layar terjadinya kebakaran-kebakaran terhadap gudang ransum Mataram.
"Hemm, jahanam busuk!"
Bentaknya dan tubuh Aji sudah menerjang ke depan dengan cepat sekali.
Dengan kecepatan gerakan Aji Bayu Sakti, dia seperti terbang dan sudah menyerang Ki Harya Baka Wulung dengan tamparan tangannya ke arah kepala raksasa itu dengan pengerahan tenaga dari Aji Surya Chandra.
"Wuuuutttt..... plakkkk !!"
Ki Harya Baka Wulung terkejut sekali ketika merasakan datangnya serangan yang amat dahsyat dari tubuh pemuda yang terbang meluncur itu.
Dia cepat menangkis dan ketika kedua lengan bertemu, Ki Harya Baka Wulung terhuyung ke belakang.
Sementara itu, Jatmika dan terutama Sulastri girang bukan main melihat datangnya Lindu Aji yang membantu mereka.
Sulastri hampir menangis saking harunya.
Sekarang ia ingat benar kepada Aji dan merasa betapa jantungnya berdebar penuh rindu dan bahagia.
Akan tetapi iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan selagi Ki Harya Baka Wulung diserang oleh Lindu Aji.
Seperti dikomando saja, Sulastri dan Jatmika menerjang kedua orang pembantu Ki Harya Baka Wulung yang bersenjata golok.
Kalau tadi dua orang itu masih dapat mengeroyok mereka adalah karena ada datuk Madura yang sakti itu.
Kini setelah datuk itu bertanding melawan Aji, tentu saja dua orang itu sama sekali bukan tandingan Sulastri dan Jatmika.
Beberapa jurus saja dua orang itu sudah roboh dan tewas.
Ki Harya Baka Wulung terkejut bukan main.
Dia merasa menyesal mengapa dia berpencar dari kawan-kawannya.
Seperti diketahui, Ki Harya Baka Wulung melaksanakan tugas sebagai antek Kumpeni Belanda bersama Nyi Maya Dewi dan pasukan Kumpeni.
Dia berhasil melakukan pembakaran dan memusnahkan gudang ransum di Tegal.
Akan tetapi dia bertemu dengan Jatmika dan Sulastri yang mengeroyoknya dan melihat ketangguhan sepasang orang muda itu, dia melarikan diri ke Cirebon.
Di sini ada dua orang rekannya yang bertugas sama dengannya, yaitu memusnahkan gudang-gudang sansum pasukan Mataram.
Setelah bertemu dengan dua orang rekannya, yaitu Kyai Sidhi Kawasa dan Aki Somad, mereka bertiga lalu mengatur siasat untuk membakar dua buah gudang berisi ransum untuk tentara Mataram.
Di Cirebon, mereka lebih berhati-hati, tidak mempergunakan serdadu-serdadu Belanda, melainkan gerombolan yang sudah dipengaruhi dan diperbudak oleh Belanda, menjadi antek-antek bayaran.
Di bawah pimpinan tiga orang datuk yang sakti mandraguna ini, tidak sukar bagi gerombolan itu untuk menyerang pasukan yang menjaga gudang, lalu membakarnya.
Setelah dua buah gudang itu mulai terbakar, Ki Harya Baka Wulung lalu berpencar dari Kyai Sidhi Kawasa dan Aki Somad seperti yang sudah mereka rencanakan.
Akan tetapi baru saja dia hendak melarikan diri ke belakang gudang, tiba-tiba muncul Sulastri dan Jatmika yang segera mengenalnya dan sepasang orang muda ini tentu saja segera mengetahui bahwa tentu datuk besar dari Madura ini yang mendalangi kebakaran gudang ransum, maka mereka lalu menyerangnya.
Akan tetapi Ki Harya Baka Wulung melawan, bahkan dengan bantuan dua orang anggota gerombolan dia mendesak Jatmika dan Sulastri dan nyaris merobohkan menewaskan sepasang orang muda itu.
Akan tetapi alangkah kaget dan kecewanya ketika tiba-tiba muncul Lindu Aji!
Apa lagi melihat dua orang anak buahnya itu roboh.
Dia menjadi jerih dan cepat membanting dua bahan peledak yang mengeluarkan suara keras dan asap tebal.
Lindu Aji, Sulastri dan Jatmika cepat melompat ke belakang.
Melihat kakek raksasa itu melarikan diri ke barat, Aji berkata kepada mereka.
"Kakang Jatmika dan Nimas Eulis, kalian bantu memadamkan api, aku akan mengejar kakek iblis itu!"
Aji melompat ke depan.
"Mas Aji.....!"
Sulastri berseru. Aji menahan larinya dan menengok. Sebutan itu! Sebutan lama yang dahulu diucapkan Sulastri kepadanya! "Lastri..... ??"
Dia bertanya, ragu-ragu.
"Kau.....?"
Dengan air mata menetes-netes di atas pipinya, akan tetapi dengan mulut tersenyum, Sulastri mengangguk.
"Benar, Mas Aji. Aku Lastri..... ingatanku telah pulih......!"
Akan tetapi Aji melirik ke arah Jatmika dan diapun berkata.
"sukurlah, Lastri. Aku akan mengejar orang itu lebih dulu!"
Dia melompat jauh.
"Mas Aji, hati-hatilah.....!"
Sulastri berseru.
Jatmika melihat semua ini dan diam-diam menghela napas dalam.
Hatinya menjadi risau dan ragu.
Apakah Sulastri mencinta dia?
Ataukah cintanya sudah lebih dulu dimiliki Lindu Aji, hanya saja tempo hari pertalian cinta itu ikut terhapus dari ingatannya?
Dia tidak tahu dan dalam keadaan seperti itu dia tidak berani bertanya.
"Mari kita membantu mereka memadamkan api"
Ajak Jatmika yang menyadarkan Sulastri yang masih berdiri memandang ke arah perginya Lindu Aji seperti orang melamun.
Akan tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak.
Api telah berkobar besar, melahap dua buah gudang itu dan seluruh isinya.
Mereka berdua hanya dapat mengamuk, mempergunakan kesaktian mereka untuk menghajar sisa gerombolan antek Belanda yang belum sempat melarikan diri.
Bahkan mereka lalu melakukan pengejaran sampai ke tepi laut di mana beberapa orang anak buah gerombolan berhasil melarikan diri menggunakan perahu.
Melihat lima orang anak buah gerombolan naik perahu yang didayung ke arah laut, Sulastri membanting-banting kaki kanannya dan berseru.
"keparat jahanam kalian antek-antek Kumpeni!"
Tiba-tiba seorang laki-laki gagah berusia kurang lebih empat puluh tahun bersama seorang wanita cantik berusia tiga puluh enam tahun berdiri tidak jauh darisitu segera mendekat ke laut sampai air laut merendam kaki mereka sampai ke betis.
Laki-laki iru ketika tadi mendengar Sulastri memaki para anak buah gerombolan sebagai antek-antek kumpeni, segera melontarkan batu besar ke arah perhau yang sedang diusahakan melawan ombak itu.
"Syuuutttt..... brakkk..... byuurrrr !"
Perahu itu tertimpa batu dan pecah, lima orang anak buah gerombolan itu terjatuh ke dalam laut.
Mereka terpaksa berenang ke tepi.
Jatmika dan Sulastri sudah siap menyambut mereka.
Sulastri amat benci mereka mengingat akan kebakaran dua buah gudang ransum itu, menyambut dengan pedang Naga Wilis di tangan.
Lima orang anak buah gerombolan yang menjadi antek Kumpeni Belanda itu mati-matian untuk mencoba melawan.
Dua orang di antara mereka mncabut pistol, akan tetapi sebelum mereka sempat mempergunakan pistol itu, dua buah batu karang sebesar kepalan tangan menyambar pelipis mereka dan dua orang itupun roboh tak mampu bangkit kembali.
Suami isteri perkasa yang menyambitkan batu karang itu lalu menghampiri dan menendang dua buah pistol itu jatuh ke dalam air laut.
Sementara itu, dengan kilatan pedangnya Sulastri telah merobohkan dua orang lawan dan Jatmika juga merobohkan seorang dengan tamparan tangannya yang ampuh.
Setelah merobohkan anak buah gerombolan itu, Sulastri, dengan pedang Naga Wilis masih di tangan, bersinar kehijauan tertimpa cahaya matahari, dan Jatmika kini menghadapi pria dan wanita yang telah membantu mereka tadi.
Akan tetapi, tiba-tiba wanita cantik itu mencabut sebatang pedang yang tergantung di punggungnya.
Tampak sinar hijau berkelebat dn ia sudah menggunakan pedang itu untuk membacok ke arah kepala Sulastri, tanpa berkata sepatah katapun!
Tentu saja Sulastri merasa terkejut dan heran karena hal itu sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya.
Bukankah pria dan wanita ini tadi membantunya merobohkan para antek Belanda?
Dan ternyata serangan pedang itu dahsyat sekali sehingga mau tidak mau ia harus menangkis dengan pedang Naga Wilis yang masih di tangannya.
"Singggg..... trang..... krek......!"
Pedang di tangan wanita itu bertemu dengan pedang Naga Wilis yang dipergunakan Sulastri untuk menangkis dan pedang wanita itu patah menjadi dua potong!
Wanita itu tidak tampak terkejut, bahkan ada sinar kegembiraan terpancar pada wajahnya ketika ia membuang pedang yang tinggal sepotong itu ke atas tanah, menggeletak dekat pedang bagian atas.
Ia menoleh kepada pria gagah di sampingnya dan berkata dengan suara bernada gembira.
"Kakangmas, lihat! Naga Wilis yang aseli!"
"Engkau benar, diajeng. Akhirnya kita temukan juga!"
Kata pria itu sambil mengangguk.
"Hei! Kalian ini siapa? Dan kenapa tiada huan tiada angin tiba-tiba menyerangku?"
Bentak Sulastri dngan pandang mata melotot dan mulut yang manis itu cemberut. Wanita cantik itu menjawab.
"Aku menyerang untuk melihat apakah pedang di tanganmu itu Pusaka Naga Wilis aseli?"
Sulastri mengerutkan alisnya yang hitam dan memandang ke arah pedang di tangannya.
"Tentu saja pedangku ini Naga Wilis aseli, dan pedangmu itu palsu!"
Ia memandang ke arah pedang yang telah patah menjadi dua potong itu, pedang yang sama benar rupanya dengan pedang di tangannya.
"Nah, itulah sebabnya kami tertarik sekali ketika melihat pedangmu, anak manis."
Kata wanita cantik itu.
Biarpun tadi sudah terbukti bahwa pria dan wanita itu membantu mereka menghadapi para antek Kumpeni Belanda, namun melihat wanita cantik itu, Jatmika dan Sulastri teringat akan Nyi Maya Dewi yang juga cantik jelita dan jahat, maka mereka berdua menjadi curiga.
Pria yang tampan dan gagah itu melangkah maju.
"Anak yang baik, coba aku pinjam sebentar pedangmu, hendak kami teliti."
Sulastri tentu saja tidak mau memberikan pedangnya, bahkan ia melangkah mundur dan menyarungkan pedang Naga Wilis. Jatmika melangkah maju dan berkata penuh teguran kepada pria itu.
"Jangan ganggu dia!"
Sambil berkata demikian, Jatmika mendorongkan tangan kanannya ke arah pria itu untuk memaksa pria itu mundur.
Karena tadi dia melihat bahwa pria itu seorang yang digdaya, maka dia mengerahkan tenaga saktinya untuk sekedar memperingatkan pria dan wanita yang hendak mengganggu Sulastri itu.
Melihat Jatmika membuat gerakan mendorong dan ada angin yang dahsyat menyambar ke arahnya, pria itu tersenyum dan mengangkat tangan kirinya, menyambut dengan dorongan.
"Wuuuttt..... plakkk.....!"
Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya, keduanya terdorong ke belakang.
Dua orang pria itu sama-sama terkejut dan heran sekali.
Sama sekali tidak mereka sangka bahwa lawan memiliki tenaga sakti yang demikian kuatnya.
Melihat pria itu terdorong oleh Jatmika, wanita cantik itu agaknya menjadi marah dan iapun melangkah maju.
Akan tetapi Sulastri menghadapinya, bahkan gadis itu menyambutnya dengan tamparan tangan yang mengandung Aji Margopati!
Wanita itu terkejut, cepat sekali mengelak dan siap untuk membalas.
Akan tetapi pria itu cepat mencegahnya.
"Cukup, diajeng, jangan berkelahi!"
Suaranya mengandung wibawa yang amat kuat sehingga dua orang wanita itu sama-sama melompat mundur.
Kini pria itu dengan tersenyum berkata kepada Jatmika dan Sulastri yang masih siap siaga menghadapi serangan.
"Ah, kalian adalah oang-orang muda yang sakti mandraguna! Ketahuilah, kami sama sekali tidak mempunyai niat jahat terhadap kalian. Hanya karena melihat Pedang naga Wilis itulah maka isteriku ini memperlihatkan sikap yang aneh dan itu ada sebabnya. Perkenalkanlah lebih dulu. Aku bernama Tejomanik atau lebih dikenal dengan nama Sutejo, bertempat tinggal di lereng Gunung kawi. Dan ini isteriku bernama Retno Susilo."
Jatmika terkejut mendengar nama itu dan dia kini memandang ke arah sebuah pecut yang gagangnya terselip di ikat pinggang Sutejo dan pecutnya sendiri melilit pinggang.
"Apakah andika yang disebut orang Pecut Bajrakirana?"
Dia pernah mendengar nama ini dari mendiang ayahnya dan dia mendengar bahwa Sutejo yang diberi julukan Si Pecut Bajrakirana ini adalah seorang pendekar sakti mandraguna yang setia kepada Mataram.
Sutejo tersenyum dan mengangguk.
sejak tadipun dia sudah melihat betapa pemuda dan gadis itu bukan orang-orang sembarangan, maka dia mencegah isterinya betanding dengan gadis itu.
Jatmika menoleh kepada Sulastri.
"Nimas Sulastri, paman dan bibi ini adalah pendekar-pendekar ternama yang setia kepada Mataram. Maafkan kami, Paman Sutejo dan bibi. Saya bernama Jatmika dan ini adalah Sulastri."
"Akan tetapi kalau paman dan bibi tidak mempunyai niat buruk, kenapa bibi Retno Susilo tadi menyerangku?"
Tanya Sulastri, masih penasaran. Kini Retno Susilo yang menghampiri Sulastri.
"Anak manis, maafkan aku. Seperti kukatakan tadi, aku menyerangmu untuk menguji apakah pedangmu itu benar Pedang Naga Wilis yang aseli. Sebelum kuterangkan kesemuanya ini, aku ingin bertanya dulu kepadamu. Akan tetapi, tidak enak bicara sambil berdiri di sini. Marilah kita mencari tempat di mana kita dapat bicara dengan enak."
"Mari kita ke sana."
Kata Sutejo,menunjuk ke arah beberapa batang pohon yang tumbuh agak ke darat.
mereka berempat lalu meinggalkan lima orang anggauta gerombolan yang menggeletak di atas pasir.
Dua orang di antara mereka hanya terluka, tidak tewas dan kini mereka berdua itu sudah bangkit duduk sambil mengerang kesakitan.
"Biarlah yang dua itu mengurus mayat teman-teman mereka."
Demikian kata Sutejo sebelum mereka meninggalkan tempat itu, menuju ke segerombolan pohon itu. Kini mereka berempat duduk di atas batu-batu di bawah pohon dan Retno Susilo berkata kepada Sulastri.
"Sulastri, tolong ceritakan kepada kami, dari manakah engkau memperoleh Pedang Naga Wilis itu?"
Retno Susilo menuding ke arah pedang yang tergantung di punggung Sulastri.
Sulastri adalah seorang gadis yang mempunyai dasar watak keras.
Ia mengerutkan alisnya.
Ia kini memang sudah percaya kepada suami isteri gagah di depannya itu.
Akan tetapi bagaimanapun juga ia masih merasa penasaran mengapa ia harus menceritakan tentang pusakanya, pemberian mendiang Ki Ageng Pasisiran, gurunya yang kini telah tewas terbunuh orang.
"Maafkan aku, bibi. Akan tetapi aku merasa heran sekali mengapa bibi begitu tertarik kepada pedangku Naga Wilis yang kudapatkan sebagai pemberian guruku?. Ceritakan dulu apa hubungan pedang pusaka ini denganmu, Bibi Retno Susilo!"
Terdengar Sutejo terkekeh.
"Heh-heh, diajeng Retno Susilo. Sekarang engkau bertemu batunya! Gadis ini mengingatkan aku kepada sikapmu di waktu muda. Sama-sama berkepala baja, heh-heh!"
Retno Susilo juga tersenyum.
Memang di waktu mudanya ia adalah seorang gadis yang lincah, galak, keras hati dan berani.
Akan tetapi setelah menjadi isteri Sutejo, ia kini berubah banyak sekali (baca kisah Pecut Sakti Bajrakirana).
"Baiklah, Sulastri. Nah, dengarlah baik-baik."
Wanita itu menoleh kepada suaminya dan ia menghela napas panjang, tiba-tiba tampak sedih sekali. Setelah menghela napas beberapa kali, ia melanjutkan.
"Peristiwa menyedihkan itu terjadi kurang lebih delapan tahun yang lalu. Ketika itu, pedang Pusaka Naga Wilis yang sekarang menjadi milikmu itu adalah pusakaku. Aku menerimanya dari mendiang guruku yang berjuluk Nyi Rukmo Petak. Selain Pedang Naga Wilis itu, pada saat itu anak tunggal kami yang benama Bagus Sajiwo berusia enam tahun dan pada suatu hari....."
Suara Retno Susilo melemah dan terdengar kedukaan menggetarkan suaranya.
"...... pada suatu hari..... anak kami Bagus Sajiwo itu..... dan pedang pusaka Naga Wilis..... hilang dari dalam kamar ketika kami berdua sedang berada di ladang. Pedang pusaka dan puteraku itu hilang diculik orang dan bertahun-tahun kami mencari, berkelana ke mana saja, sambil membantu Mataram dalam menghadapi lawan-lawannya..... akan tetapi sama sekali tidak ada hasilnya. Sudah delapan tahun lebih kami mencari tanpa hasil, dan hari ini..... aku melihat Naga Wilis berada di tanganmu. Dapat kalian bayangkan betapa kaget dan juga girang rasa hatiku melihat pedang itu. Mungkin..... mungkin ditemukannya pedang itu akan dapat membuat kami menemukan putera kami pula!"
"Sulastri, apakah engkau melihat putera kami Bagus Sajiwo? Usianya kini tentu sudah empat belas tahun!"
Kata pula Sutejo dengan suara mengandung penuh harapan.
Sulastri dan Jatmika merasa terharu mendengar cerita itu.
Kini mereka mengerti tadi Retno Susilo bersikap seperti itu ketika melihat Pedang Naga Wilis.
Sulastri menggeleng kepala dan berkata dengan suara terharu.
Ia keras hati, namun juga mudah sekali menaruh iba kepada orang lain.
"Aku tidak pernah mendengar nama puteramu itu, bibi. Akan tetapi mengapa bibi tadi menggunakan pedang palsu yang mirip Naga Wilis?"
Retno Susilo menghela napas panjang, wajahnya berubah agak pucat mendengar Sulastri tidak pernah mendengar puteranya.
Pada hal tadinya ia mengharapkan dengan ditemukannya pedang itu maka ia akan mendapat keterangan tentang puteranya.
Ia mengusap beberapa tetes air mata dari pelupuk matanya dan Sutejo lalu menepuk-nepuk pundak isterinya dengan lembut untuk menenangkannya.
"Aku sengaja membuat yang palsu agar menarik perhatian orang yang memiliki Naga Wilis aseli. Nah, Sulastri, anak yang baik. Cepat ceritakan tentang pedang Naga Wilis yang kini menjadi milikmu itu. Engkau memperolehnya dari gurumu? Siapa gurumu dan bagaimana dia bisa mendapatkan pedangku yang hilang bersama puteraku itu?"
"Kasihan andika, paman dan bibi. Hemm, kalau aku bertemu dengan orang yang menculik putera kalian, tentu akan kuhajar orang itu! Sejak kecil aku menjadi murid guruku, yaitu Eyang Ki Ageng Pasisiran atau juga dahulu bernama Ki Tejo Langit yang tinggal di pantai laut daerah Dermayu. Aku menerima pedang ini dari guruku itu kurang lebih lima tahun yang lalu ketika aku mulai dilatih bersilat dengan pedang. Setelah aku meninggalkan perguruan, guruku memberikan pedang ini kepadaku."
"Sulastri, apakah gurumu itu masih tinggal di sana? Kami ingin berjumpa dengannya dan minta keterangan tentang asal mula dia mendapatkan pedang ini."
Kata Sutejo. Sulastri menggeleng kepala.
"Guruku sudah meninggal dunia, tewas dibunuh antek Kumpeni Balanda. Kami sedang hendak mencari pembunuh itu!"
"Ahh.....!"
Retno Susilo mendesah kecewa sekali.
"Apakah dia tidak pernah bercerita tenang asal usul pedang ini?"
"Ya dia pernah menceritakan sedikit padaku dan agaknya cerita ini akan dapat menjadi petunjuk untuk menemukan putera kalian, bibi."
"Bagaimana ceritanya?"
Sutejo dan Retno Susilo bertanya dengan suara hampir berbareng. Mata Retno susilo yang masih basah memandang Sulastri penuh selidik.
"Ketika eyang guru memberikan pedang ini kepadaku, aku bertanya tentang asal usul pedang ini. Eyang guru berkata bahwa dia sendiri juga tidak tahu akan asal usul pedang ini, hanya menceritakan bahwa dia merampas pedang Naga Wilis ini dari tangan seorang datuk dari Banten yang bernama Kyai Sidhi Kawasa. Eyang guru memang dimusuhi oleh datuk itu. Kata eyang guru, mereka bertanding sampai setengah hari dan akhirnya eyang guru dapat merampas pedang ini, sedangkan Kyai Sidhi Kawasa melarikan diri dengan menderita luka. Nah, hanya itu yang kudengar dari mendiang eyang guruku."
"Kyai Sidhi Kawasa..... ??"
Suami isteri itu saling pandang dan merasa heran.
Mereka merasa tidak pernah bermusuhan dengan datuk dari Banten itu.
Kenapa datuk itu mencuri Pedang Naga Wilis dan menculik putera mereka?
"Siapa dia dan di mana kami dapat menemuinya?"
Tanya Sutejo.
"Ah, sekarang aku ingat! Ya benar, dia itu adalah datuk yang datang bersama Aki Somad dan Jaka Bintara yang hendak menangkap Neneng Salmah!"
"Aki Somad?"
Sutejo bertanya.
"Aku pernah mendengar nama itu! Dia seorang pertapa dari Nusakambangan yang amat sakti. Coba ceritakan tentang orang yang menjadi datuk Banten bernama Kyai Sidhi Kawasa itu!"
"Orangnya sudah tua, hampir tujuh puluh tahun usianya. Kepalanya botak kecil, rambut di bagian bawah kepalanya yang botak itu berwarna abu-abu. Mukanya tanpa kumis atau jenggot. Hidungnya pesek dan mulutnya kecil. Suaranya lembut. Lengannya memakai akar bahar hitam dan dia memegang tongkat ular kobra. Hanya itulah seingatku, paman."
Suami isteri itu termenung.
mereka merasa tidak pernah bermusuhan dengan datuk Banten itu, bahkan mendengarnyapun baru sekarang.
Akhirnya Sutejo memandang isterinya yang tampak bersedih.
Retno susilo merasa kecewa sekali.
Ternyata ditemukannya Pedang Naga Wilis tetap tidak dapat membuka rahasia tentang di mana puteranya.
"Diajeng, agaknya kita harus pergi ke Banten mencari Kyai Sidhi Kawasa."
Kata Sutejo. Isterinya mengangguk.
"Benar, kakangmas. Agaknya hanya dialah yang mengetahui di mana adanya Bagus sekarang. Kita akan membantu pasukan Mataram menyerang Kumpeni Belanda ke Jayakarta. Setelah itu baru kita akan mencari orang itu di Banten."
Jatmika merasa iba kepada pendekar sakti yang namanya amat terkenal itu.
"Paman dan bibi, saya berjanji akan membantu andika berdua. Kalau bertemu dengan Sidhi Kawasa, tentu saya akan memaksa dia mengaku di mana adanya adik Bagus Sajiwo."
"Aku juga akan membantu andika. Akan kupaksa kakek dari Banten itu menunjukkan di mana kini Bagus Sajiwo berada!"
Kata pula Sulastri penuh semangat.
"Terima kasih. Kalian baik sekali dan kami sungguh beruntung dapat bertemu dengan kalian sehingga kini bernyala kembali api pengharapan di hati kami."
Kata Sutejo. Tiba-tiba Sulastri melepaskan tali sarung pedang yang diikat di punggungnya dan menyerahkan Pedang Naga Wilis dengan sarungnya kepada Retno susilo.
"Ini pedangmu, Bibi Retno Susilo. Engkau pemilik pedang ini yang berhak memilikinya, maka kukembalikan kepadamu."
Retno Susilo terkejut.
Tak disangkanya gadis berkepala baja seperti yang dikatakan suaminya itu dapat begitu lembut hati, rela mengalah dan menyerahkan pedang pusaka yang amat langka itu!
"Tidak Sulastri.
Terima kasih banyak.
Pedang itu telah dicuri orang dan mendiang gurumu yang merampas kembali dan menemukan pedang itu.
Engkau memilikinya dengan sah.
Aku rela pedang naga wilis ini menjadi milikmu.
Keteranganmu tentang Kyai Sidhi Kawasa itu sudah cukup berharga.
keselamatan anak tunggalku itu jauh lebih berharga dan penting bagiku daripada pedang ini.
Nah, mulai detik ini aku menyatakan bahwa Pedang Naga Wilis adalah milik sah dari Sulastri!"
"Terima kasih, Bibi Retno susilo."
"Sekarang kalian ceritakan, apa yang terjadi di sini dan bagaimana kalian tadi mengejar-ngejar orang-orang yang kalian katakan sebagai antek-antek Kumpeni Belanda itu."
Kata Sutejo.
Jatmika dan Sulastri lalu menceritakan pengalaman mereka ketika mereka melihat orang-orang Kumpeni membakar gudang ransum di tegal.
Betapa mereka melihat Ki Harya Baka Wulung yang agaknya menjadi dalang pembakaran gudang ransum itu.
Juga mereka menceritakan betapa mereka berdua bentrok dengan Nyi Maya Dewi yang menjadi sekutu Ki Harya Baka Wulung membantu Kumpeni Belanda dan mereka berhasil membunuh raksasa Belanda, jagoan Kumpeni.
"Dari Tegal kami pergi ke Cirebon dan di sini kami juga melihat ada pembakaran terhadap dua buah gudang ransum pasukan Mataram. Kami bertemu pula dengan Ki Harya Baka Wulung dan kami yakin bahwa dia memang seorang diantara para pimpinan mata-mata Belanda. Kami melawan Ki harya Baka Wulung dan dikeroyok. Untung muncul Mas Aji yang menolong kami dan Ki Harya Baka Wulung melarikan diri, dikejar Mas Aji."
Kata Sulastri.
"Mas Aji? Siapa dia?"
Tanya Sutejo.
"Namanya Lindu Aji. Dia masih terhitung kakak seperguruan kami berdua!"
Kata Sulastri dan Jatmika merasa betapa dalam suara sulastri terkandung kebanggaan.
"Lalu bagaimana? Ceritamu menarik sekali."
Kata Retno Susilo.
"Mas Aji mengejar Ki Harya Baka Wulung dan kami berdua dia minta untuk membantu usaha pemadaman kebakaran dua buah gudang ransum itu. Akan tetapi terlambat. Dua buah gudang itu telah menjadi lautan api. Kami lalu menghajar gerombolan yang menjadi antek Belanda. Yang melarikan diri kami kejar dan lima orang tadi adalah sebagian dari mereka. Demikianlah apa yang kami alami, paman dan bibi."
Sutejo menghela napas panjang.
"Sayang sekali bahwa bangsa kita banyak yang terpikat oleh kekayaan bangsa Belanda sehingga suka menjadi pengkhianat bangsa, mudah diadu domba oleh belanda. Kalau begini keadaannya, maka akan sukarlah mengusir Kumpeni Belanda dari tanah air."
"Bagaimanapun juga, masih ada para pendekar yang setia kepada Mataram dan suka membela bangsa dan Negara dengan taruhan nyawa, paman."
Kata Jatmika. Sutejo mengangguk-angguk.
"Benar, mungkin diantara mereka itu adalah orang-orang seperti kita ini. Akan tetapi betapa banyaknya orang-orang pandai yang sakti, seperti para datuk itu, yang sudi menjadi antek Belanda pula! Sungguh sayang."
Sutejo menghela napas, lalu melanjutkan."Kami mendengar bahwa balatentara Mataram sudah mulai bergerak.
Karena itu, sebaiknya kita berpencar, membantu Mataram membersihkan jalan dari para antek Belanda dan kelak kita bertemu di Batavia."
"Baik, paman."
Kata Jatmika.
"Dengan berpencar kita dapat lebih mudah mencari datuk jahat Kyai Sidhi Kawasa itu, bibi."
Kata pula Sulastri kepada Retno Susilo. Gadis ini mulai merasa suka dan kagum kepada Retno Susilo yang rela menyerahkan pedang Naga Wilis kepadanya.
"Engkau benar, Sulastri. Kita membantu Mataram sambil mencari orang-orang yang kita butuhkan. Kami mencari Kyai Sidhi Kawasa dan kalian juga mencari orang yang telah menewaskan gurumu."
Dua pasang pendekar itu lalu berpisah mengambil jalan masing-masing walaupun keduanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu ke Batavia, benteng Kumpeni Belanda.
Lindu Aji mempergunakan Aji Bayu Sakti.
Tubuhnya ringan sekali dan larinya secepat angin.
Bagaikan seekor alap-alap (burung rajawali) melayang saja tubuhnya meluncur dengan cepatnya ketika dia melakukan pengejaran terhadap bayangan Ki Harya Baka Wulung.
Kakek ini merasa jerih melihat Aji, maka dengan mempergunakan bahan peledak dia melarikan diri ke arah barat sambil mengerahkan semua tenaga untuk berlari secepatnya.
Akan tetapi sekali ini Lindu Aji tidak mau melepaskannya.
Kakek itu terlalu jahat dan terlalu berbahaya.
Sepak terjangnya amat merugikan Mataram dan kalau dibiarkan lolos, tentu akan menjadi penghalang besar bagi Mataram yang hendak menyerang Kumpeni Belanda di Batavia.
Akan tetapi, Ki Harya Baka Wulung kini telah tua renta.
Usianya sudah hampir tujuh puluh tahun dan cara hidupnya membuat dia tidak dapat menjaga kesehatannya.
Dia suka perta pora, makan minum sampai mabok, dan bersenang senang.
karena itu, kesehatannya mundur dan setelah berlari cepat selama beberapa jam, dia sudah terengah engah dan keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.
Larinya menjadi semakin lambat dan ketika dia tiba di jalan pendakian bukit, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Lindu Aji telah melewatinya dan membalik, berdiri sambil bertolak pinggang menghadapinya.
Terpaksa Ki Harya Baka Wulung berhenti melangkah dan dia berdiri terengah engah mengatur pernapasan.
Biarpun hatinya merasa gentar menghadapi pemuda yang sakti mandraguna ini, namun Ki Harya Baka Wulung yang merasa dirinya sebagai datuk terbesar di Madura dan sudah terlanjur menganggap diri sendiri yang paling hebat, memperlihatkan sikapnya yang angkuh.
Dengan tangan kanan bertolak pinggang yang menyembunyikan tanda kekalahan pernapasan yang memburu, kakek itu menudingkan telunjuknya kepada Lindu Aji.
Suaranya terdengar parau ketika dia berkata dengan penuh wibawa.
"Heh, Lindu Aji! Engkau ini bocah cilik (anak kecil) mau apa menghadang perjalanan seorang kakek seperti aku?"
Aji tersenyum walau matanya mencorong karena marah mengingat akan semua perbuatan kakek yang kini berdiri di depannya itu.
"Ki Harya Baka Wulung, andika masih berpura-pura tanya lagi mengapa aku menghadangmu?"
"Hemm, Lindu Aji, engkau ini seorang bocah yang kaduk wani kurang dugo (terlalu berani kurang perhitungan)! Engkau ini seperti seorang cucu berhadapan dengan eyangnya! Mengapa bersikap begini kurang ajar? Begitukah tata-susila yang kamu pelajari?"
"Ki Harya Baka Wulung, memang aku masih muda dan andika sudah tua sekali seperti seorang cucu dengan akeknya. Akan tetapi andika ini tidak menabung amal kebajikan untuk bekal di akhirat nati melainkan menumpuk dosa yang menyeretmu ke neraka jahanam! Andika seorang Madura dan kini Madura sudah menjadi keluarga Mataram sehingga andika menjadi kawula Mataram pula. Akan tetapi, dengan tak tahu malu andika mengkhianati bangsa dan Negara, mau menjadi anjing penjilat sepatu Belanda. andika memimpin antek-antek Belanda yang lain untuk membakari gudang-gudang ransum Mataram! Dosamu bertumpuk-tumpuk dan manusia macam andika ini kalau dibiarkan hidup hanya akan menyengsarakan bangsa sendiri!"
"Babo-babo, bocah kemarin sore berani memberi wejangan kepada eyangnya! Ketahuilah, bocah, aku menentang Mataram bukan untuk membantu Belanda. Hanya kebetulan saja karena Belanda memusuhi Mataram maka kami bekerja sama. Aku memang membenci Mataram! Mula-mula Mataram banyak membunuh para sahabatku ketika pasukan Mataram menyerbu ke daerah daerah di Jawa Timur. Kemudian Mataram juga menundukkan seluruh Madura. Setelah itu menundukkan pula Surabaya dan Giri. Aku selalu menentang Mataram . Lebih celaka lagi, putera tunggalku si Dibyasakti juga tewas ketika Mataram menyerbu Madura. Dendamku tumpuk undung (bertumpuk-tumpuk), maka pemusuhan antara Belanda dan Mataram ini membuka kesempatan kepadaku untuk mwmbalas dendam! Itu sudah adil!"
"Ki Harya Baka Wulung! Andika terlalu mementingkan urusan pribadi. Apa artinya persoalan pribadi. Apa artinya persoalan pribadi kalau dibandingkan dengan persoalan mengenai bangsa dan Negara? Ketahuilah, Kanjeng Gusti Sultan Agung menundukkan semua daerah itu justeru untuk menggalang persatuan, untuk mempersatukan semua kekuatan di Nusantara untuk bangkit melawan Kumpeni Belanda yang merupakan ancaman besar bagi nusa dan bangsa. Dalam keadaan tanah air terancam, sepatutnya andika mengesampingkan dulu semua dendam pribadi, lalu bersatu untuk melawan Belanda. Sebaliknya, andika malah membantu belanda hendak menyengsarakan rakyat!"
"Keparat jahanam! Mampuslah kau!"
Bentak Ki Harya Baka Wulung yang sudah marah sekali dan sejak tadi diam-diam telah menghimpun tenaga saktinya, siap untuk menyerang sambil melepaskan lelah.
Tiba-tiba dia sudah mengeluarkan satu pukulan jarak jauh Cantuka Sakti.
Kedua kakinya ditekuk hampir berjongkok dan kedua tangannya mendorong ke depan, mulutnya mengeluarkan bunyi yang keluar dari perutnya, seperti seekor katak raksasa.
"Kok-kok-kok.....!!"
Dari kedua telapak tangan yang didorongkan itu menyambar hawa pukulan yang dahsyat sekali ke arah Aji.
Namun Lindu aji sudah mengenal pukulan yang dahsyat ini.
Dengan gerakan rinagan dari aji bayu sakti, tubuh pemuda itu sedah berkelebat, mengelak dengan loncatan kilat ke kiri, sejauh empat meter.
"Wuuuussss..... kraakkkk..... brukkkk !"
Hawa pukulan dahsyat yang luput mengenai tubuh Aji itu menghantam sebatang pohon jati yang berada di belakang di mana Aji tadi berdiri dan pohon sebesar tubuh orang itupun patah dan tumbang!
Ki Harya Baka Wulung menjadi semakin marah dan penasaran.
Dalam kemarahannya itu, dia menjadi nekat dan lupa bahwa dia menghadapi seorang pemuda yang benar-benar merupakan lawan tangguh.
Apa lagi pada saat itu, persediaan bahan peledak yang dia dapatkan dari Belanda telah habis sehingga dia tidak dapat menggunakan bahan peledak itu untuk melarikan diri.
Tiga kali dia menyerang dengan Aji Cantuka Sakti, akan tetapi pemuda itu selalu dapat mengelak dengan cepat sekali sehingga semua pukulannya hanya menumbangkan pohon.
pada hal, penggunaan Aji Cantuka Sakti itu membutuhkan tenaga sakti yang besar.
Ki Harya Baka Wulung yang sudah tua itu mulai lelah dan dia khawatir kalau kehabisan tenaga apabila dia terus menerus menyerang dengan aji itu.
Kakek itu kini beriri tegak, mulutnya berkemak kemik membaca mantra, kedua telapak tangannya digosok-gosok perlahan dengan gerakan memutar dan perlahan-lahan dari pergeseran dua buah telapak tangan itu mengepul asap hitam!
Aji melihat ini dan diapun sudah siap siaga menghadapi aji pamungkas yang amat berbahaya itu.
Diapun mengerahkan tenaga sakti, bukan tenaga sakti yang mengandung daya serang dari aji Surya Chandra, melainkan tenaga sakti yang disebut Aji Tirta Bantala, yang mengandung kekuatan gaib menyerap dan menghisap seperti yang terkandung dalam air dan tanah.
Aji ini pada dasarnya merupakan penyerahan total terhadap Kekuasaan Gusti Allah yang terdapat pada air dan tanah, yang dapat menerima apa saja tanpa terluka, memberi daya hidup kepada segala sesuatu, juga dapat menyerap segala macam kekerasan dan kekuatan tanpa menyerang, selalu menang tanpa menggunakan kekerasan.
"Aji Kukus Langking..... aaaggghhhh.....!"
Ki Harya Baka Wulung Mendorongkan kedua telapak tangannya dan asap hitam tebal menyambar ke arah Lindu Aji.
Aji berdiri tegak, kedua lengannya bersedakap, kedua matanya terpejam.
Dia seolah menyerah dan menerima saja serangan asap hitam bergulung-gulung itu.
Asap hitam menyelimuti dirinya, akan tetapi hanya menggerakkan rambut dan pakaiannya saja dan lewat seakan tidak berpengaruh sedikitpun!
Padahal biasanya aji itu dapat menghanguskan tubuh lawan!
Melihat serangan Aji kukus Langking itu lewat saja dan sama sekali tidak mempengaruhi lawannya, Ki Harya Baka Wulung terkejut dan menjadi semakin penasaran.
Dia menghunus senjatanya, sebatang keris besar panjang ber-luk sembilan.
"Haaaagghhhh.....!"
Dia menggereng lalu melompat ke depan, meyerang dengan kerisnya, ditusukkan ke arah perut Aji yang masih berdiri bersedakap.
Akan tetapi ketika ujung keris sudah mendekati tubuh Aji , pemuda itu mencelat dengan amat gesitnya, mengelak dan bersilat dengan ilmu silat Wanara Sakti yang sudah bercampur dengan gerakan-gerakan yang ditirunya dari perkelahian antara alap-alap dan ular.
Dengan gesit bagaikan seekor kera sakti dia dapat menghindarkan semua serangan keris, kemudian dengan sambaran seperti seekor burung alap-alap, dia membalas serangan itu dengan keris Kyai Nagawelang di tangannya.
Perkelahian antara dua orang dengan menggunakan keris ini berlangsung seru bukan main.
Bayangan mereka berkelebatan sehingga sukar dapat diikuti mata biasa.
Keduanya sama-sama ahli bermain senjata itu, sama-sama tangkas, sama-sama kebal sehingga kulit tubuh mereka berani menerima ujung keris lawan kalau serangan itu tidak terlalu berbahaya dan tidak sempat dielakkan atau ditangkis lagi.
Akan tetapi kembali hukum alam menentukan.
Usia tua membuat Ki Harya Baka Wulung berkurang daya tahannya, juga napasnya tidak sekuat dulu.
tenaganya melemah, napasnya memburu dan tubuhnya sudah basah oleh keringatnya sendiri.
"Tranggg-cringgg..... trang.....!"
Berkali-kali kedua batang keris itu bertemu di udara dan satu benturan yang amat kuat terjadi.
Bunga api berpijar menyilaukan mata dan keris luk Sembilan di tangan datuk Madura itu terpental jauh!
Ki Harya baka Wulung melompat ke belakang dan terhuyung.
Dia lalu mengerahkan seluruh sisa tenaganya, menyerang dengan Aji Cantuka Sakti, mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan.
Aji sudah menyarungkan kerisnya dan tadinya dia mengira bahwa kakek itu akan mengaku kalah dan menyerah untuk dia tangkap dan bawa sebagai tawanan ke Kadipaten Cirebon.
Akan tetapi tak disangkanya kakek itu menyerangnya lagi dengan aji pukulan yang ganas dan dahsyat itu.
Dia tidak lagi menghindar, melainkan mengerahkan tenaga Surya Chandra lalu menyambut dengan dorongan kedua kakinya ke atas tanah.
Itulah Aji Guruh Bumi dan seketika tanah rasanya tergetar dan ada kekuatan amat dahsyat keluar dari kedua telapak tangannya menyambut pukulan jarak jauh yang dilontarkan Ki Harya Baka Wulung.
"Syuuuutttt..... blarrrr.....!!"
Tubuh Lindu Aji terdorong mundur sampai lima langkah dan agak terhuyung.
Akan tetapi tubuh Ki Harya Baka Wulung terlempar ke belakang seperti daun kering tertup angin dan dia terbanting jatuh ke atas tanah.
Akan tetapi dengan cepat dia dapat bangkit duduk bersila, mukanya pucat seperti kapur dan kedua lengannya bersedakap, kedua matanya terpejam.
Lindu Aji juga duduk bersila, mengatur pernapasannya dan memulihkan keadaan dirinya yang terguncang hebat.
Setelah tubuhnya segar kembali, Aji membuka mata dan melihat Ki Harya Baka Wulung masih duduk bersila dalam jarak kurang lebih sepuluh meter darinya, dia lalu bangkit berdiri dan menghadapi serangan tiba-tiba dari kakek yang digdaya dan licik itu.
Setelah berdiri dalam jarak tiga meter, dia melihat kakek itu tetap tak bergerak.
Mukanya pucat seperti kapur dan matanya terpejam.
Sedetikpun tidak tampak gerakan, bahkan Aji melihat tidak adanya gerakan dada dan perut yang sedang bernapas.
Aji lalu menghampirinya dan dengan hati-hati dan perlahan dia menyentuh dan mendorong pundak kakek itu.
Tubuh kakek itu roboh terjengkang dalam keadaan kaki masih bersila dan tangan masih bersedakap!
Aji cepat berjongkok dan menempelkan tangannya pada leher dan dada kakek itu.
Tidak ada lagi denyut jantung!
Kakek Ki Harya Baka Wulung telah tewas!
"Innalillahi wa inailaihi roji"un!
Semoga gusti Allah mengampuni dosa-dosamu, Ki harya Baka Wulung."
Aji berbisik dan dia lalu meluruskan kaki tangan yang masih bersila dan bersedakap itu.
Dia bersila dekat jenazah itu dan melamun.
Alangkah bodohnya manusia, pikirnya dalam lamunan.
Gusti Allah telah menciptakan manusia hidup di dunia ini dengan segala berkah yang berlimpahan.
Isi dunia ini seolah diciptakan Gusti Allah untuk membahagiakan manusia hidup di dunia, agar manusia dapat selalu ingat akan berjah dan kehadiranNya, hidup penuh damai sejahtera dan berbahagia bersama-sama, saling mengasihi, saling bantu, saling melindungi agar bersama-sama dapat slalu memuji dan memuja asma Allah yang Maha Kasih.
Manusia diberi kehidupan, diberi jasmani agar dapat mengatur dan membangun dunia demi kesejahteraan hidup.
Akan tetapi apa yang terjadi?
Manusia malah melupakan Gusti allah, mendewa-dewakan iblis berupa nafsu demi menyenangkan dan mendatangkan nikmat kepada jasmaninya.
Lupa bahwa sewaktu-waktu, jasmani ini akan mati dan tidak ada gunanya lagi seperti Ki Harya Baka Wulung yang menggeletak tanpa nyawa di depannya.
Setelah duduk tepekur beberapa lamanya, Lindu Aji lalu bekerja menggali lubang dan dia mengubur jenazah Ki Harya Baka Wulung sebagaimana mestinya.
Baginya, Ki Harya Baka Wulung dengan segala perbuatannya yang menyengsarakan orang lain itu telah tiada.
Yang diurusnya, dikubur sebagaimana mestinya adalah jasad mati seorang manusia, sesama hidupnya di dunia ini.
Setelah mengubur jenazah itu baik-baik, dia lalu mengangkat sebuah batu besar dan ditaruh di depan makam sebagai pengganti nisan atau tanda bahwa di tempat itu terletak kuburan jenazah Ki Harya Baka Wulung.
Setelah selesai, barulah dia teringat kepada Sulastri.
Jantungnya berdegup.
Perasaan haru, girang bercampur dengan keraguan dan kebimbangan.
Sulastri telah mendapatkan kembali ingatannya yang hilang!
Gadis itu telah ingat lagi, tentu ingat pula akan hubungan batin yang terdapat di antara mereka ketika dahulu mereka bertemu dan berkenalan.
Ataukah dia yang salah duga?
Apakah dia sendiri yang jatuh cinta kepada Sulastri dan sebetulnya gadis itu tidak mencintainya?
Sulastri telah akrab dengan Jatmika!
Baik ketika ingatannya hilang maupun sekarang setelah ia mendapatkan kembali ingatannya.
Lindu Aji menghela napas panjang dan dia teringat akan Neneng Salmah yang terang-terangan jatuh cinta kepadanya.
Ah, betapa cinta asmara mempermainkan mereka semua!
Dia mencinta Sulastri, akan tetapi Sulastri agaknya mencinta Jatmika.
Di lain pihak Neneng Salmah mencintanya, namun ruang hatinya telah ditempati bayangan Sulastri!
Akhirnya dia dapat mengusir keruwetan pikiran itu dan teringat akan kebakaran yang terjadi di Cirebon.
Dia harus cepat pergi mencari Jatmika dan Sulastri.
Mungkin mereka itu membutuhkan bantuannya.
Dengan cepat dia lalu meninggalkan tempat itu dan berlari menuju ke Kadipaten Cirebon.
Akan tetapi dia tidak menemukan Jatmika dan Sulastri.
Dua buah gudang itu ternyata terbakar habis dan kini tinggal reruntuhan, puing yang masih mengepulkan asap.
Suasana telah sunyi.
Ketika dia bertanya-tanya, dia mendengar bahwa ketika tejadi pertempuran antara gerombolan yang sebagian bersenjata api dengan pasukan kecil dari kadipaten, muncul dua orang muda, seorang pemuda dan seorang gadis, mengamuk dan gerombolan itu banyak yang roboh tewas dan sebagian lagi melarikan (Lanjut ke
Jilid 32) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32 diri.
Aji dapat menduga bahwa sepasang orang muda yang diceritakan itu tentulah Jatmika dan Sulastri.
Akan tetapi tidak ada seorangpun mengetahui ke mana sekarang perginya dua orang muda itu.
Aji menghela napas panjang, jelaslah bahwa kini Sulastri telah memperoleh pasangan yang cocok sekali.
Jatmika adalah seorang pemuda yang tampan dan sakti mandraguna, juga baik budi dan bijaksana.
Menjadi isteri pemuda itu, Sulastri tentu akan hidup bahagia.
dan tidakkah sepatutnya dia merasa berbahagia pula melihat gadis itu hidup bahagia?
Dia tidak boleh mementingkan perasaan hatinya sendiri, memikirkan diri sendiri.
Itu bukanlah cinta kasih namanya.
Mendiang gurunya dulu pernah berkata bahwa cinta kasih adalah memberi dan melayani, membahagiakan orang yang dikasihi, kalau perlu dengan berkorban, mengesampingkan keinginan dan kesenangan diri sendiri.
"Lastri semoga engkau berbahagia....."
Ia berbisik lalu meninggalkan Cirebon, menuju ke barat, ke Batavia lagi untuk membantu pasukan Mataram.
Balatentara Mataram yang melakukan pejalanan jauh menuju Batavia dipecah menjadi dua rombongan.
yang pertama melalui darat dan yang kedua melalui laut.
Pada waktu itu, perjalanan itu amat sukar, melalui gunung-gunung, hutan lebat dan rawa.
Untuk menggerakkan balatentara yang besar jumlahnya itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Menurut catatan sejarah, baru setelah melakukan perjalanan selama hampir tiga bulan lamanya, barulah pasukan mataram tiba di Jayakarta,.
pengepungan dimulai sambil menanti datangnya pasukan yang bergerak dengan perahu-perahu mellui laut.
Pasukan pelopor yang pertama tiba segera mempersiapkan perkemahan untuk mengepung benteng kumpeni Belanda.
Setelah balatentara tiba di situ, mereka membuat perkemahan di barat, selatan dan timur perbentengan Belanda.
Yang berkemah di barat adalah pasukan yang dipimpin Kyai Adipati Jumina, yang di selatan dipimpin kyai Adipati Puger dan dari timur datang pasukan yang dipimpin Adipati Purbaya.
Akan tetapi para senopati Mataram itu sudah mendengar betapa persediaan ransum bagi pasukan mereka banyak yang dihancurkan dan dibakar oleh Belanda, juga banyak ransum yang diangkut dengan perahu diserang kapal Belanda dan dihancurkan.
Tentu saja hal ini merupakan pukulan hebat bagi Mataram.
Namun, para senopati itu melanjutkan gerakan mereka dengan gigih dan penuh semangat.
Pasukan Mataram sengaja membuat perkemahan yang cukup jauh, di luar jangkauan peluru meriam sehingga Belanda tidak dapat menyerang perkemahan mereka dengan meriam.
Di antara para pendekar yang membantu pasukan Mataram sebagai pasukan sukarela tedapat pula Lindu Aji yang bergabung dengan pasukan yang berada di timur pimpinan Adipati Purbaya.
Biarpun dia dianugerahi kedudukan senopati muda dan diberi keris pusaka Nagawelang oleh Sultan Agung, namun Aji tidak menduduki jabatan senopati.
Dia memilih bebas sehingga membantu sebagai sukarelawan.
Juga Sutejo dan Retno Susilo sudah bergabung dengan pasukan yang yang mengepung di sebelah barat pimpinan Kyai Adipati Jumina, sedangkan Parmadi dan Muryani bergabung dengan pasukan yang berada di selatan pimpinan Kyai Adipati Puger.
Seluruh pasukan sudah membuat persiapan.
Dari benteng Belanda, para perwira pasukan sedadu Belanda dapat melihat dengan teopong mereka kesibukan balatentara Mataram.
Tampak para perajurit hilir mudik membawa paji-panji dan bendera-bendera berjalan kaki, menunggang kuda kuda bahkan ada tampak beberapa ekor gajah.
tentu saja Belanda juga membuat persiapan untuk memperkuat pertahanan benteng mereka.
Pasukan Mataram yang datang melalui lautan dengan perahu-perahu sempat dihadang tiga buah kapal Belanda dan terjadilah pertempuran hebat.
Banyak perajurit Mataram tewas, akan tetapi merekapun berhasil menyerbu ke atas sebuah kapal lalu membakar dan menenggelamkan kapal itu.
Melihat ini, dua buah kapal lainnya mundur sehingga perahu-perahu itu dapat mendaratkan pasukan yang segera bergabung dengan pasukan yang lewat darat.
Pada hari-hari pertama hanya terjadi pertempuran-pertempuran kecil yang terjadi ketika beberapa orang anak buah Kumpeni berusaha untuk keluar dari kepungan pasukan Mataram, atau kalau ada anak buah yang melakukan penyelidikan dan berada terlalu dekat dengan perbentengan Belanda.
Pasukan Mataram sedang membuat parit-parit pelindungan sebagai persiapan mereka untuk menyerbu benteng Kumpeni yang diperkuat dengan meriam-meriam besar dan serdadu-serdadu yang siap siaga melakukan penjagaan siang malam secara bergantian dengan meriam dan senapan-senapan aiap menahan setiap penyerbuan.
Pada hari kedua, suatu senja, terdengar bunyi tembakan-tembakan dari atas benteng.
Peristiwa ini terjadi di bagian timur benteng Kumpeni.
Adipati Purbaya dan para pembantunya, juga para pendekar termasuk Lindu Aji, berdiri di luar perkemahan dan memandang ke arah benteng dari mana samar-samar terdengar bunyi tembakan-tembakan itu.
Tak lama kemudian tampak dua sosok bayangan berlari cepat menjauhi benteng dan ketika sudah dekat dengan perkemahan pasukan Mataram, Aji segera mengenal mereka yang bukan lain adalah Jatmika dan Sulastri!
Aji merasa gembira sekali melihat Sulastri dan diapun cepat menyongsongnya.
"Ah, kiranya kalian yang ditembak dari benteng itu? Apa saja yang lakukan di sana?"
Sulastri tersenyum dan mendekati Lindu Aji.
"mas Aji, kami sengaja mendekati benteng untuk menyelidiki pertahanan mereka, akan tetapi kami ketahuan dan ditembaki. Untung luput!"
Gadis ini masih bersikap lincah gembira seperti biasa.
"Dimas Lindu Aji, girang sekali hati kami dapat bertemu dengan andika di sini. Bagaimana hasil pengejaranmu terhadap Ki Harya Baka Wulung?"
"Nanti saja kita bicara, Kakangmas Jatmika dan Nimas Sulastri. Mari kuperkenalkan dulu dengan Paman Adipati Purbaya dan para senopati lainnya."
Kata Aji. Jatmika dan Sulastri lalu menghadap Sang Adipati Purbaya dan para pembantunya. Setelah mendengar tentang sepak terjang kedua orang muda itu, Adipati Purbaya tertawa senang.
"Ha-ha-ha! Andika berdua adalah orang-orang muda yang sungguh pemberani dan gagah perkasa. Kami senang sekali dapat menerima bantuan para pendekar seperti kalian!"
Setelah berkenalan dan mendapat kesempatan untuk mengaso, Aji lalu mengajak mereka berdua untuk bicara di tempat terpisah.
"Nah, sekarang ceritakan tentang pengejaranmu lebih dulu tehadap Ki Haryo Baka Wulung itu, Dimas Lindu Aji. Kami sudah ingin sekali mendengarnya."
Kata Jatmika. Aji lalu menceritakan bahwa dia berhasil menyusul Ki Harya Baka Wulung dan bertanding mati-matian melawan datuk besar dari Madura itu.
"Akhirnya aku berhasil mengalahkannya. Dia roboh dan tewas lalu aku menguburkan jenazahnya."
Aji menghela napas panjang lalu memandang kepada Sulastri dan melihat betapa sejak tadi gadis itu memandangnya dengan sinar mata aneh, seperi mengandung kekaguman, kegembiraan akan tetapi juga penyesalan!
Dia cepat berkata.
"Nimas Sulastri, aku girang sekali melihat bahwa engkau sudah sembuh, ingatanmu sudah pulih kembali. Aku ingin mendengar keadaanmu selama ini setelah pertemuan kita yang terakhir dan ketika engkau masih sebagai seorang gadis bernama Listyani atau Eulis."
Sulastri tersenyum. Sikapnya ramah dan lincah seperti Sulastri yang dulu sebelum terjatuh ke bawah tebing.
"Pengalamanku sejak aku terjatuh ke bawah tebing itu sudah kau dengar dari Kakangmas Jatmika. Setelah kita bertiga bertemu denganmu dahulu itu, ketika aku masih tidak ingat akan masa laluku, Kakangmas Jamika membawaku pulang ke Dermayu, akan tetapi aku juga masih belum ingat kepada ayah ibuku sendiri. Aku percaya bahwa mereka adalah ayah dan ibu kandungku, namun tetap saja aku belum dapat ingat itu. Kemudian datang Neneng Salmah dan ayahnya, membawa surat darimu, Mas Aji. Aku juga sudah lupa sama sekali padamu. Akan tetapi kehadiran Neneng Salmah amat membahagiakan aku dan kami menjadi seperti saudara sendiri. Aku mengajarkan gerakan silat kepadanya dan ia mengajar menembang dan menari kepadaku."
Aji mengangguk-angguk senang.
"Bagus sekali kalau engkau dapat hidup bahagia dengan Neneng Salmah, nimas. Aku tahu bahwa ia dan ayahnya adalah orang-orang yang baik hati."
Sulastri merasa hatinya tak enak, akan tetapi ditahannya. Ia mengangguk.
"Ya, Neneng Salmah memang seorang gadis yang amat baik hati dan amat..... cantik jelita, Kas Aji. Ia selalu memuji-mujimu, mengagumi, dan selalu mengharapkan kedatanganmu....."
Ia menambahkan sambil memandang kepada Aji dengan sinar mata penuh selidik.
Mendengar nada suara yang agaknya mengandung sindiran ini, hati Aji menjadi tidak enak sekali.
timbul dugaan dalam hatinya bahwa agaknya pergaulan antara Neneng dan Sulastri sudah demikian akrabnya sehingga Neneng boleh jadi mengaku akan cintanya kepadanya.
Hal ini sungguh tidak mengenakkan hatinya.
maka cepat dia mengalihkan percakapan.
"Lalu, bagaimana engaku dapat sembuh kembali dan dapat mengingat kembali semua masa lalumu, nimas?"
"Pada suatu hari muncul Kakangmas Parmadi dan istrinya, Mbakayu Muryani di tepi sungai di mana aku dan Neneng sedang mencuci pakaian. Kakangmas Parmadi melihat aku melatih Aji Sonya Hasta kepada Neneng dan dia tertarik sekali karena tentu saja sebagai murid keponakan guruku, Eyang tejo Langit atau Ki Ageng Pasisiran dia mengenal Aji Sonya Hasta. Setelah Kakangmas Parmadi mendengar dari Neneng Salmah bahwa aku adalah murid Eyang Tejo Langit dan kehilangan ingatan masa lalu, dia lalu mengobati aku dengan tiupan seruling gadingnya dan aku segera sembuh dan dapat mengingat semua masa laluku. Kakangmas Parmadi adalah murid Eyang Ki Tejo Wening."
Aji mengangguk angguk kagum. Tidak mengherankan kalau Parmadi demikian sakti karena dia adalah murid Resi Tejo Wening, saudara seperguruan tertua dari gurunya sendiri.
"Aku merasa berbahagia sekali bahwa andika telah sembuh, Lastri. Puji syukur kepada Gusti Allah yang telah menyembuhkanmu melalui Kakangmas Parmadi dengan seruling gadingnya."
"Mas Aji, Neneng Salmah selalu menantimu dengan penuh kerinduan. Ia menanti dengan hati penuh kasih dan setia. Kasihan ia. Sudah sepatutnya kalau engkau segera datang mengunjungi di Dermayu."
Kata Sulastri sambil menatap tajam wajah Lindu Aji. Aji menhela napas panjang dan menundukkan mukanya.
"Nimas Sulastri, sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu. Kita masih mempunyai tugas penting, yaitu membantu pasukan Mataram untuk menyerbu benteng pertahanan Kumpeni Belanda. Melihat perlengkapan benteng itu, aku berpendapat bahwa penyerbuan itu bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Meriam-meriam mereka besar dan berjajar di bawah dan di atas benteng. Juga aku yakin bahwa semua serdadu mereka pasti dilengkapi dengan senjata-senjata api yang berbahaya."
"Kita tidak perlu gentar menghadapi persenjataan mereka."
Kata Sulastri.
"Hal itu benar, adimas Aji, kita harus ikut menyerbu karena aku harus menemukan pembunuh bapa dan eyangku. Aku harus membalas dendam kepada Hasanudin yang berkhianat dan kepada Raden Banuseta."
Kata Jatmika sambil mengepal tinjunya.
"Hal itu tidak dapat andika lakukan, kakangmas Jatmika."
Kata Aji tenang.
"Eh, Kenapa?"
Tanya Jatmika penasaran.
"Ya, kenapa, Mas Aji? Aku harus membalas kematian Eyang Guru!"
Tanya Sulastri penasaran.
"Karena kedua orang yang kalian maksudkan itu sudah tewas."
"Wah! Siapa yang membunuh mereka?"
Tanya Jatmika.
"Apakah engkau yang membunuh mereka, Mas Aji?"
Tanya Sulastri.
Lindu Aji menggeleng kepalanya."Begini kejadiannya.
Sebenarnya, Hasanudin itu adalah kakak tiriku, seayah berlainan ibu.
Aku berhasil menyadarkannya bahwa dia diperalat oleh Raden Banuseta yang sesungguhnya merupakan musuh kami berdua, pembunuh ayah kami.
Setelah aku dapat menyadarkan Akang Udin dari kekeliruannya, dia menjadi marah lalu mencari Banuseta dan dibunuhnya.
Dia sendiri tertembak oleh Kapten De Vos akan tetapi dapat membunuh kapten Belanda itu sebelum dia sendiri tewas.
Jadi, sebelum mati Akang Udin telah sadar bahwa dia diperalat oleh Banuseta sehingga mau menjadi antek Kumpeni Belanda.
Dia telah sadar dan dia tewas bukan sebagai pengkhianat, maka harap kalian berdua suka memaafkannya."
Sulastri dan Jatmika mengangguk.
Bagaimanapun juga, Hasanudin adalah saudara seperguruan mereka dan kini orang itu telah menebus kesesatannya dengan nyawa.
Setelah bercakap-cakap, tiga orang itu lalu mengaso dalam tenda masing-masing untuk melepaskan lelah dan menghimpun tenaga untuk menghadapi pertempuran yang tentu akan segera dilakukan, tinggal menanti komando dari pimpinan pasukan.
Malam itu, tiga orang muda perkasa itu gelisah di tempat tidur masing-masing.
Sulastri tidak dapat tidur dan merasa nelangsa sekali.
Ia kini yakin bahwa ia sejak dulu sampai sekarang tetap mencintai Lindu Aji!
Akan tetapi ketika ingatannya tentang masa lalu hilang, ia juga lupa kepada Aji dan dalam keadaan lupa ingatan itu, ia tertarik kepada Jatmika walaupun ia belum yakin apakah ia mencinta pemuda itu.
Namun, setelah kini ingatannya pulih dan ia ingat lagi kepada Aji, dan bertemu, ia yakin bahwa ia masih mencinta Lindu Aji!
Dan yang amat menggelisahkan hatinya, di sana ada Neneng Salmah yang ia tahu memuja dan amat mencinta Aji!
Ia menjadi cemburu akan tetapi juga marah kepada diri sendiri karena amat menyayang Neneng Salmah yang dianggap saudaranya sendiri.
Tidak, ia tidak akan menghancurkan hati Neneng!
Ia akan mengalah dan biarlah Lindu Aji menjadi suami Neneng Salmah yang ia tahu merupakan seorang gadis yang pantas menjadi isteri Aji!
Ia akan mengalah, bisik hatinya, akan tetapi kedua matanya menjadi basah oleh tangis yang ditahannya sehingga tidak mengeluarkan suara!
Sementara itu, di tenda lain, Jatmika juga gelisah.
Dari sikap gerak-gerik, tatapan mata dan suara mereka dia merasakan benar bahwa Sulastri mencinta Lindu Aji dan demikian pula sebaliknya, pemuda itu mencinta Sulastri.
Agaknya di antara mereka sejak dahulu sudah ada hubungan batin ini!
Pantas saja setelah Sulastri pulih ingatannya, sikapnya kepadanya menjadi agak dingin.
Tentu Sulastri sudah ingat kembali kepada Aji yang dicintanya!
Diam-diam hatinya digerogoti perasaan cemburu itu yang amat menyiksa karena hati nuraninya membisikkan bahwa perasaan cemburu itu sama sekali tidak benar.
Kalau memang sejak dulu diantara Sulastri dan Aji ada hubungan kasih, mau apa dia?
Kalau pernah Sulastri sebagai Eulis tampak mencintanya, hal itu dilakukan di luar kesadarannya karena ketika itu Sulastri kehilangan ingatan, dan tidak ingat lagi kepada Aji yang dicintanya.
Sekarang setelah ingatannya kembali, tentu saja perasaan cinta itu datang kembali.
Hanya ada sedikit titik terang yang menimbulkan harapan.
Bukankah Sulastri menyatakan terus terang bahwa Neneng Salmah amat mencinta dan selalu mengharapkan datangnya Lindu Aji?
Kalau Aji sampai menjadi suami Neneng Salmah, berarti Sulastri menjadi bebas dan ada harapan baginya!
Akan tetapi, tetap saja hatinya digoda cemburu yang membuat dia gelisah dan tidak dapat tidur.
Keadaan Lindu Aji tidak lebih baik dari Sulastri dan Jatmika.
Pemuda ini duduk bersila di atas pembaringannya dan termenung.
Dia menghadapi keadaan yang serba sulit.
Dia harus mengakui bahwa hanya Sulastri yang benar-benar dicintanya dan diharapkannya menjadi teman hidup selamanya.
Gadis yang telah merampas hatinya sejak pertemuan pertama kali dahulu.
Dia mencinta Sulastri, hal ini tidak dapat dipungkiri lagi.
Akan tetapi, dalam keadaan lupa ingatan dan menganggap dirinya adalah Listyani, Sulastri akrab dengan Jatmika.
Dia dapat melihat dari sikap dan pandang mata Jatmika bahwa pemuda itu mencinta Sulastri.
Dan di sana ada pula Neneng Salmah yang dia pecaya amat mencintanya!
Dia tidak tahu harus mengambil keputusan bagaimana.
Kalau dia tetap berjodoh dengan Sulastri, yang sudah pasti hal itu akan menghancurkan hati dua orang, yaitu Jatmika dan Neneng Salmah, dua orang yang dia tahu benar amat baik budi.
Dia akan selalu merasa berdosa, seolah berbahagia menari-nari di atas kedukaan dua orang lain yang dia hormati.
Menerima cinta Neneng Salmah dan berjodoh dengannya?
Hal ini berarti berlawanan dengan perasaan hatinya dan dia meragu apakah perjodohan yang dipaksakan seperti itu kelak akan mendatangkan bahagia.
Biarlah dia akan mengalah.
Biar Sulastri berjodoh dengan Jatmika.
Mereka berdua sudah tampak akrab dan memang mereka berdua itu cocok dan pantas untuk menjadi pasangan!
Mengapa cinta seringkali melahirkan cemburu, kecewa dan duka?
Sesungguhnya, cinta sejati tidak akan pernah menelurkan cemburu, kecewa maupun duka?
Yang mengakibatkan penderitaan hanyalah cinta yang didorong nafsu.
Cinta nafsu ini, seperti sudah menjadi sifat dan ulah nafsu, ingin memiliki, ingin disenangkan dan ingin mengikat.
Karena itu tentu saja kalau orang yang ingin dimiliki dan diikat, orang yang mendatangkan kesenangan itu akan diambil orang lain, berarti kesenangannya hilang.
Maka muncullah cemburu dan kebencian, lalu duka.
Cinta nafsu ini pada hakekatnya hanya mencinta dirinya sendiri, mementingkan kesenangan diri pribadi.
Cianta nafsu ini dapat menyelinap dalam cintanya seorang laki-laki atau perempuan terhadap kekasihnya sehingga sering terjadi sepasang kekasih yang tadinya bersumpah saling mencinta, setelah menjadi suami isteri, timbul perpecahan dan kebencian sehingga mengakibatkan perceraian!
Ini bukti cinta nafsu.
selama masih dapat menikmati kesenangan dari orang yang katanya dicinta, maka sikapnya mesra.
Akan tetapi setelah orang yang katanya dicinta itu tidak lagi memberi kesenangan kepadanya, bahkan mendatangkan kesusahan, sikapnya berubah, dari cinta menjadi benci!
Lebih sering pula cinta nafsu seperti ini menyelinap ke dalam rasa cinta seseorang terhadap sahabatnya.
Seribu kali sahabat itu mendatangkan kesenangan, maka dicintanya.
Akan tetapi sekali saja mendatangkan kesusahan, cintanya berubah menjadi benci dan seribu kali kebaikannya itu sudah terlupakan, yang diingat hanya satu kali keburukannya itu saja!
Biarpun kata orang cinta antara oang tua dan anak itu murni, namun tidak jarang pula dikotori oleh cinta nafsu ini.
Selama anak penurut.
maka dicinta orang tuanya.
Kalau pembangkang, apa lagi durhaka, akan dibenci oang tuanya karena tidak mendatangkan kesenangan dan hanya mendatangkan kerugian lahir batin atau kesusahan.
demikian pula sebaliknya, kalau orang tua dianggap baik dan menguntungkan, maka si anak akan tetap mencinta dan berbakti.
Akan tetapi tidak jarang terjadi, kalau orang tua menentang kehendak si anak dan dianggap merugikan dan menyusahkan, maka cinta dan kebaktian si anakpun berubah menjadi kemarahan, bahkan mungkin kebencian.
Cinta kasih sejati tidak akan ada apabila orang mementingkan diri sendiri.
Cinta sejati berarti memberi, berarti berani berkorban, berarti tidak adanya si aku atau nafsu yang hendak menguasai.
Cinta sejati bagaikan lilin yang memberi penerangan dengan rela mengorbankan dan menghabiskan diri sendiri.
Cinta kasih sejati, tehadap siapapun juga, merupakan ibadah terhadap Gusti Allah, selalu hidup dalam hati, tanpa pamrih untuk menguntungkan si aku melainkan sebagai kewajiban manusia yang menyalurkan kasih Gusti Allah kepada manusia lain.
Kalau kita memperhatikan semua benda dalam dunia ini, sinar matahari, hawa udara, air, tanah, tumbuh-tumbuhan, hewan, kesemuanya itu merupakan bukti KASIH yang mulia dan sempurna dari Gusti Allah kepada manusia, kesemuanya itu diadakan untuk menyenangkan dan menghidupkan manusia di dalam dunia, tanpa ada pamrih sedikitpun untuk dirinya sendiri.
Mengingat akan semua itu, Lindu Aji agaknya menyadari dan dia tidak ingin dikuasai cinta kasih yang ditunggangi nafsu sehingga cinta kasih itu mempunyai dasar tujuan saja, yaitu ingin mendapatkan untuk dirinya sendiri tanpa menghiraukan akibat yang akan membuat manusia-manusia lain menderita.
Karena itulah dia mengambil keputusan untuk mengalah.
Perang mulai pecah berkobar pada keesokan harinya.
Pada waktu fajar menyingsing, pasukan Mataram yang mengepung Batavia dari jurusan timur, selatan, dan barat menyerbu, berlindungkan kegelapan cuaca.
Pihak Kumpeni Belanda menghujankan tembakan, baik dengan senapan maupun dengan meriam.
Akan tetapi pasukan Mataram berjuang dengan gigih dan penih semangat.
Beberapa buah meriam yang diperoleh Mataram dengan membeli dari pedagang asing, dipergunakan untuk penyerangan itu.
Juga ribuan anak panah dipergunakan dan beberapa ratus buah senapan.
Pasukan Mataram berperang secara gerilya.
Karena dikepung dari tiga jurusan, pihak Kumpeni menjadi kalang kabut.
Mereka mengeluarkan pasukan dari benteng sehingga terjadi pertempuran di luar benteng.
Pertempuran mati-matian.
Karena pihak Kumpeni memiliki lebih banyak senjata api yang lebih baik, maka banyak perajurit Mataram yang gugur walaupun juga tidak sedikit sedadu Kumpeni yang tewas.
Pertempuran hebat terjadi dan beberapa benteng Belanda yang diberi nama Benteng Holandia, Benteng Bommel dan lain-lain diserbu.
Belanda mempertahankan mati-matian.
Bahkan Benteng Bommel hampir bobol.
Beberapa orang perajurit Mataram sudah berhasil memanjat tembok, akan tetapi karena persenjataan api mereka kalah, maka penyerangan itu dapat dipukul mundur.
Baru setelah malam tiba, pertempuran dihentikan dan masing-masing menyusun pasukan, merawat yang luka.
Biarpun tejatuh banyak korban, namun pasukan Mataram terus berusaha menyerbu dengan gigih dan penuh semangat.
Berhari-hari terjadi pertempuan terus menerus.
Pihak Belanda menjadi panik, balabantuan didatangkan dari kapal-kapal laut mereka.
Pada suatu hari, pasukan Belanda mengadakan penyerbuan keluar benteng secara besar-besaran dan diantara mereka terdapat seorang kakek yang mengamuk.
Tembakan bedil dari pasukan Mataram tidak melukainya dan dia bahkan mengeluarkan ilmu sihir, membuat dirinya dan pasukan Belanda yang mengiringkannya diselubungi kabut hitam.
Kakek ini bukan lain adalah Ki Somad.
Melihat ini, Adipati Puger hendak maju sendiri menandingi kakek sakti mandraguna itu.
Akan tetapi segera Parmadi dan Muryani yang menggabung dengan pasukan dari selatan ini lalu meghadap Adipati Puger dan Parmadi berkata.
"Gusti Adipati, untuk menandingi Aki Somad yang menjadi musuh lama hamba, perkenankan hamba berdua dengan isteri hamba yang meju menghadapinya."
Pangeran Puger yang berpangkat adipati itu mengangguk dan tentu saja memberi persetujuannya karena diapun sudah maklum akan kemampuan Seruling Gading yang sudah berjasa kepada Mataram.
Maka, suami isteri itupun lalu ikut dengan pasukan Mataram menyambut sergapan pasukan serdadu Kumpeni yang diperkuat Aki Somad itu.
Pertempuran berlangsung seru dan akhirnya Parmadi dan Muryani dapat bertemu dengan Aki Somad yang sedang mengamuk dan telah merobohkan bebrapa orang perajurit Mataram dengan tongkat ular keringnya.
Para perwira yang cukup digdaya tidak berdaya menghadapi kakek ini karena mengeluarkan Aji Geneng Soka Weda yang ampuh, yang mendatangkan kabut hitam tebal menyembunyikan dirinya dan dari kegelapan itu keluar bayangan iblis dan setan brekasakan yang mengerikan.
Tiba-tiba suara suling yang melengking nyaring membuyarkan kabut hitam tebal itu dan Aki Somad melihat betapa sepasang suami isteri itu telah berdiri di depannya!
Dia menjadi terkejut bukan main karena kakek itu pernah berhadapan dengan Parmadi yang sakti mandraguna.
Akan tetapi sekali ini dia tidak menjadi gentar karena dia sudah membekali dirinya dengan sebuah pistol yang memiliki peluru emas, yang dapat menembus semua kekebalan dan aji kesaktian lawan.
Maka, diapun cepat mencabut pistolnya.
Selama ini dia sudah berlatih mempergunakan pistol pemberian Belanda itu dan kini dia membidikkan pistolnya ke arah Parmadi dan menarik pelatuknya sampai tiga kali.
"Dar-dar-darr.....!!"
Asap putih mengepul, akan tetapi dia tidak melihat Parmadi yang ternyata sudah cepat membuang diri ke atas tanah lalu bergulingan dengan cepat sekali.
Pada saat itu, Muryani sudah mempergunakan Aji Kluwung Sakti, tubuhnya mencelat bagaikan tatit (kilat) dan tahu-tahu ia sudah menyerang ke arah kakek itu dengan cengkeraman tangannya yang mengandung racun ular amat berbahaya, Itulah Aji Wiso Sarpo yang dahsyat.
Aki Somad mengenal pukulan ampuh.
Dia cepat melompat ke belakang dan sekali lagi dia menggerakkan tangan, kini pistolnya diarahkan kepada Muryani dan pelatuk ditariknya.
"Dar-darrr.....!"
Bidikannya meleset karena pada saat itu, lengan kanannya terpukul seruling gading.
Pistol itu terlepas dari pegangannya dan ditendang oleh Parmadi ke arah belakangnya sehingga dipungut oleh perwira Mataram.
Aki Somad marah sekali.
Kedua telapak tangannya lalu ditiupnya sehingga bernyala.
Itulah Aji Tapak Geni dan dia lalu memukul ke arah Parmadi dengan mendorongkan kedua telapak tangan yang bernyala itu.
Nyala api yang panas menyambar ke depan, ke arah Parmadi.
Pendekar inipun mengerahkan kesaktiannya, menyambut dengan kedua telapak tangannya dengan Aji Sonya Hasta.
"Wuuutttt..... blarrrr.....!!"
Tubuh Parmadi terdorong ke belakang dan terhuyung, akan tetapi tubuh Aki Somad terjengkang dan terbanting jatuh.
Kepalanya menjadi pening dan napasnya sesak.
Dia mencoba untuk bangkit kembali akan tetapi pada saat itu bayangan Muryani yang menggunakan Aji Kluwung Sakti berkelebat dan wanita itu menampar ke arah tengkuk Aki Somad dengan Aji Gelap Sewu.
"Dessss......!!"
Aki Somad yang masih pening tidak dapat menghindarkan diri lagi.
Tengkuk Terkena tamparan Aji Gelap Sewu dan diapun roboh terbanting lagi dan tidak bergerak lagi.
pukulan dahsyat yang menimpa dirinya selagi dia tidak mampu mengerahkan tenaga sakti itu membuat dia tewas seketika!
Pasukan serdadu Belanda menjadi kacau dan panik melihat kakek yang mereka andalkan itu tewas, sebaliknya pasukan perajurit Mataram menjadi semakin bersemangat.
Akhirnya sisa pasukan serdadu Belanda melarikan diri memasuki benteng mereka kembali.
Benteng segera ditutup setelah mereka masuk dan meriam-meriam ditembakkan sehingga terpaksa pasukan perajurit Mataram mundur dan berlindung.
Di bagian selatan juga terjadi pertempuran yang tidak kalah serunya.
Pasukan perajurit Mataram yang berada di barat bahkan dipimpin oleh Kyai Adipati Jumina sendiri yang dibantu oleh Patih Tumenggung Singaranu, Raden Arya Wira Natapada, dan yang lain-lain.
Juga di antara para pejuang suka rela, para pendekar terdapat pula Sutejo si Pecut Sakti Bajrakirana dan isterinya, Retno Susilo.
Setelah suami isteri ini berpisah dari Jatmika dan Sulastri, mereka pergi ke Batavia dan menggabungkan diri dengan pasukan Mataram yang mengurung dari barat, di bawah pimpinan Kyai Adipati Jumina.
Mereka sengaja menggabungkan diri dengan pasukan yang mengepung benteng di barat ini setelah mendengar dari para penyelidik Mataram bahwa Kyai Sidhi Kawasa, datuk Banten itu membantu Kumpeni Belanda di bagian barat.
Ketika pasukan serdadu Kumpeni menyerbu keluar benteng, terjadilah perang campuh.
tembakan-tembakan terdengar gencar diseling gemerincingnya pedang bertemu keris.
Tiba-tiba para perajurit Mataram menjadi gempar ketika muncul seorang kakek yang sepak terjangnya amat menggiriskan.
Kakek itu bukan lain adalah Kyai Sidhi Kawasa yang mengamuk dengan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang tongkat ular kobra kering yang amat berbisa.
Banyak perajurit mataram tewas, bahkan dua orang perwira yang cukup digdaya tidak dapat bertahan lama menandingi Kyai Sidhi Kawasa.
Sutejo yang berada di bagian lain, ketika mendengar akan amukan Kyai Sidhi Kawasa, bersama Retno Susilo cepat berlari ke tempat itu.
"Tar-tar-tar..... trakk !"
Tongkat ular kobra itu ditahan oleh sebatang pecut di tangan Sutejo dan datuk Banten itu terkejut bukan main ketika merasa betapa tangannya yang memegang tongkat ular kobra tergetar hebat sampai terasa ke pundaknya.
Sementara itu, para perajurit Mataram yang sudah merasa gentar menghadapi amukan kakek itu, sudah mengundurkan diri menjauhi kakek itu setelah melihat Sutejo yang menandinginya dan mereka sibuk menahan serbuan para serdadu Kumpeni.
Kyai Sidhi Kawasa memandang dengan matanya yang sipit.
Dia memandang ke arah pecut di tangan sutejo dan mengerutkan alisnya, menduga-duga.
"Siapakah andika yang berani menandingi Kyai Sidhi kawasa, orang muda yang lancang?"
Bentaknya. Dengan sikap tenang namun sepasang matanya mencorong, dia menjawab.
"Kyai Sidhi Kawasa, aku bernama Sutejo dari Gunung Kawi."
Kyai Sidhi Kawasa terkejut bukan main mendengar ini dan kembali dia memandang ke arah pecut di tangan pendekar itu.
"Hemm, Si Pecut Bajrakirana?"
Dia berhenti sebentar dan menyambung.
"dan andika sudah mengenal aku?"
Tiba-tiba Retno susilo yang menyusul suaminya berada pula di situ.
"Siapa tidak mengenal Kyai sidhi Kawasa, datuk Banten yang ternyata hanya seorang pengecut besar yang tidak malu bertindak curang dan tidak tahu malu?"
Kakek itu marah sekali, matanya melotot dan kepalanya yang kecil bergoyang-goyang.
"Bojleng-bojleng.....! Wanita lancang siapakah andika berani menghina dan memaki Kyai Sidhi kawasa datuk besar dari Banten!"
"Kyai Sidhi Kawasa, ini adalah isteriku, namanya Reyno Susilo. Ia bukan menghina dan tidak memaki sembarangan, melainkan karena andika memang telah melakukan perbuatan yang pengecut dan tak tahu bermalu. Ingatkah andika apa yang telah andika lakukan delapan tahun yang lalu di gunung Kawi. Andika menyerbu rumah kami dan selagi kami tidak berada di rumah, dengan cara yang curang andika telah menculik putera kami Bagus Sajiwo dan mencuri Pedang Naga Wilis isteriku. Perbuatan seperti itu apakah bukan perbuatan yang pengecut dan tidak tahu malu?"
"Heh-heh-heh, aku memang melakukan itu walaupun hanya sebagai pembantu. Habis, andika mau apa sekarang?"
Kakek itu terkekeh dan menantang.
"Jahanam keparat.....!"
Retno Susilo memaki dan hendak menyerang, akan tetapi ditahan suaminya. sutejo lalu berkata kepada kakek itu dengan sabar.
"Kyai Sidhi Kawasa, kalau putera kami dalam keadaan selamat dan andika mau mengatakan di mana dia kini berada, kami akan memaafkan andika asal andika dapat membawa kami sehingga kami dapat menemukan kembali anak kami dalam keadaan selamat.
"Akan tetapi kalau sampai terjadi apa-apa dengan anakku, aku akan menghancurkan kepalamu, mencabut keluar hatimu dan mencabik-cabik seluruh tubuhmu!"
Retno susilo berteriak seperti gila saking marah dan juga gelisah membayangkan puteranya mengalami malapetaka.
Hati kakek itu menjadi kecut juga mendengar ancaman yang amat mengerikan itu, akan tetapi dia menenangkan hatinya dan berkata dengan nada suara rendah.
"Hemm, kalian tidak dapat memaksa aku untuk berbuat sekehendak kalian sendiri."
"Kyai Sidhi Kawasa! Kami harap andika dapat bersikap sebagai seorang datuk besar yang patut dihormati, yaitu berani berbuat juga berani bertanggung jawab. Setelah andika menculik anak kami dan mencuri pedang, apakah andika sekarang tidak berani mengakuinya? Benarkah andika sepengecut itu?"
Kata Sutejo memanaskan hati kakek itu.
"Babo-babo, Sutejo! Siapa takut? Aku tidak takut mengaku, hanya tidak begitu mudah kalian paksa dan perintah. Sekarang begini saja. Kita bertanding satu lawan satu dan kalu aku menang, kalian tidak perlu banyak cakap lagi. Kalau andika yang menang, baru aku akan menceritakan semua tentang hilangnya puteramu dan pedangmu."
Karena khawatir kalau-kalau kakek itu tidak mau membuka rahasia tentang di mana adanya Bagus Sajiwo, Sutejo memberi isyarat kepada isterinya yang sudah menjadi amat marah itu untuk bersabar dan dia berkata kepada kakek itu."Baik, aku terima tantanganmu, akan tetapi kalau andika mengingkari janji, seluruh dunia akan mendengar bahwa Kyai Sidhi kawasa tidak lain hanya seorang pengecut yang takut, tidak berani bertanggung jawab dan menjilat ludahnya sendiri!"
"Manusia sombong! Majulah! Haaaaiiiitttt.....!"
Kyai Sidhi Kawasa sudah menyerang dengan tongkatnya.
Gerakannya amat dahsyat karena serangan itu mengandung tenaga sakti yang amat kuat.
Tongkat ular kobra itu seperti hidup dan moncongnya menyambar ke arah leher Sutejo, mematuk atau menotok jalan darah maut di sisi leher!
Sutejo maklum akan kesaktian lawan dan tahu bahwa serangan itu merupakan serangan maut yang amat berbahaya.
Maka dia sudah mengenakan Aji Harina Legawa, tubuhnya melesat cepat ke belakang dan tangan kanannya menggerakkan cambuknya.
"Tar-tar-tarrrr.....!"
Pecut Bajrakirana meledak ledak dan bagaikan seekor garuda menyambar-nyambar ke arah kepala lawan.
Kyai Sidhi Kawasa terkejut sekali.
Serangannya luput dan sebaliknya dia terancam ujung cambuk yang menyambar-nyambar dengan ledakan nyaring.
Akan tetapi datuk dari Banten ini sudah memutar tongkatnya dan dapat menangkis sambaran cambuk, walaupun tangannya tergetar ketika tongkat ular kobra itu bertemu pecut pusaka itu.
Terjadilah perkelahian yang amat seru.
Retno Susilo hanya menonton dan ia merasa yakin bahwa suaminya akan mampu mengatasi lawan.
Hanya ia merasa cemas kalau-kalau kakek itu tewas sebelum memberitahukan bagaimana keadaan dan di mana adanya Bagus Sajiwo.
Kalau ada perajurit yang mendekat, ia memberi isyarat agar perajurit itu tidak mencampuri perkelahian antara suaminya dan kakek itu.
Iapun waspada melindungi suaminya dari serangan gelap para serdadu yang sibuk bertempur melawan pasukan perajurit Mataram.
Sepak terjang Sutejo yang memainkan pecutnya dengan ilmu silat pecut yang khas, yaitu Aji Pecut Bajrakirana, amat dahsyatnya, Pecut itu meledak-ledak, membentuk gulungan sinar yang lebar dan dari gulungan sinar itu, ujung pecut mematuk-matuk.
Kyai Sidhi kawasa menjadi kewalahan juga dan kini dia hanya mampu menangkis, hampir tidak ada kesempatan baginya untuk balas menyerang.
"Hyaaat.....!"
Sutejo membentak nyaring dan cambuknya menyambar dari atas ke arah kepala lawan. Kyai Sidhi Kawasa cepat menggerakkan tongkat ular kobranya menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Darrrr..... krekkkk.....!"
Kyai Sidhi Kawasa terhuyung ke belakang dan matanya terbelalak memandang ke arah tongkatnya yang tinggal sepotong pendek.
Tongkat itu ternyata patah ketika bertemu dengan hebatnya melawan sambaran Pecut Sakti Bajrakirana tadi.
Dengan marah dia membuang sisa tongkatnya dan kini menerjang lagi dengan pukulan tangannya yang mengeluarkan sinar berapi.
Itulah Aji Analabanu yang ampuh.
Sutejo juga menyimpan pecutnya, dilibatkan di pinggang dan dia menghindar dengan loncatan ke kiri ketika pukulan berapi itu menyambar ke arah kepalanya.
Kakek yang sudah marah dan penasaran itu mengejar maju dan kembali kedua tangannya yang mengeluarkan sinar berapi itu didorongkan ke arah Sutejo dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.
Sutejo juga sudah siap siaga.
Dia mengerahkan tenaga saktinya dan menggunakan aji pamungkas untuk melawan pukulan lawan yang dahsyat itu.
"Aji Bromokendali!"
Bentaknya dan diapun menyambut dengan dorongan kedua tangannya.
"Wuuutttt..... blaaarrrr.....!"
Tubuh Kyai Sidhi Kawasa terhuyung ke belakang dan dia terkulai roboh, lalu dengan gerakan lemah dia bangkit duduk bersila dan muntahkan darah segar.
Dia lalu mengatur pernapasan dan menjadi tenang kembali.
Sutejo dan Retno Susilo sudah melompat ke depannya.
"Kyai Sidhi Kawasa. Andika telah kalah, harap andika tidak melanggar janji dan suka menceritakan tentang anak kami."
Kata Sutejo dengan ragu dan khawatir, takut kalau-kalau kakek itu mengingkari janjinya.
Juga Retno Susilo menjadi tegang dan tidak sabar menanti kakek itu bercerita.
Kyai Sidhi Kawasa menghela napas panjang.
"Sutejo, andika memang tangguh sekali. aku mengalah kalah. Sekarang dengarlah. Dahulu ketika terjadi penculikan puteramu dan pencurian pedangmu, aku hanya menjadi pembantu dan pengikut saja. Yang hendak membalas dendam kepadamu adalah Wiku Menak Koncar karena dia hendak membalas kematian dua orang saudara seperguruannya yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo. Dia mengajak aku mendatangi rumahmu di Gunung Kawi. Akan tetapi engkau dan isterimu tidak ada, maka kami menculik puteramu dan mengambil Pedang Nogo Wilis."
"Di mana anakku sekarang? di mana Bagus Sajiwo?"
Teriak Retno Susilo tak sabar.
"Wiku Menak Koncar yang menculik dan membawanya pergi. Aku hanya membawa Pedang Nogo Wilis, akan tetapi di tengah jalan pedang itu dirampas oleh musuh besarku, Ki Tejo Langit. Aku sama sekali tidak tahu ke mana Wiku Menak Koncar membawa anak itu."
"Wiku Menak Koncar sudah tewas oleh Gusti Puteri Wandansari! Engkau pasti tahu di mana anak kami! Hayo katakan atau..... aku akan menyiksamu!"
Teriak Retno Susilo marah dan khawatir sekali.
"Heh-heh, sudah kubilang aku tidak tahu dan engkau tidak mungkin dapat menyiksaku."
Kata Kyai Sidhi Kawasa sambil menggerakkan tangan kanannya ke arah ubun-ubun kepalanya.
Sutejo hendak mencegahnya namun terlambat karena tadinya dia tidak mengira Kyai Sidhi kawasa akan senekat itu.
Tubuh itu terkulai roboh dan tewas seketika karena ubun-ubun kepalanya dia pukul sendiri!
"Jahanam keparat!
Hayo katakan di mana anakku!
Hayo katakan!"
Retno Susilo berteriak-teriak sambil menendangi tubuh kakek itu. Sutejo menangkap dan menariknya.
"Cukup, diajeng. Dia sudah mati."
"Tapi..... tapi anak kita....."
"Aku kira dia tidak berbohong. Anak kita itu dibawa pergi oleh Wiku Menak Koncar."
"Akan tetapi datuk Blambangan itu kini sudah mati terbunuh oleh Gusti Puteri Wandansari."
"Benar, akan tetapi kita dapat melakukan penyelidikan di tempat Wiku Menak Koncar tinggal. Dia adalah datuk Blambangan. Kukira tentu Bagus Sajiwo dia bawa ke Blambangan dan kita akan mencarinya di sana."
"Tetapi...... bagaimana kalau...... kalau...... anak kita itu...... dibunuhnya..... ?"
Mata yang jeli itu tiba-tiba saja menjadi basah.
"Kurasa tidak, diajeng. Kalau memang Wiku Menak Koncar ingin membunuh anak kita, untuk apa dia susah-susah menculiknya dan membawanya pergi? Tidak, Wiku Menak Koncar pasti tidak membunuhnya, hanya membawanya pergi untuk menyiksa hati kita. Kalau perang ini sudah selesai, kita akan mencari anak kita ke Blambangan."
Suami isteri itu lalu melampiaskan kemarahan hati mereka dengan mengamuk sehingga para serdadu Belanda menjadi kocar-kacir.
Akhirnya sisa para serdadu Belanda itu melarikan diri dan memasuki benteng mereka kembali.
Seperti juga keadaan di pasukan yang mengepung di barat dan timur, pasukan dari selatan juga mengadakan serangan gerilya dan terjadi pertempuran hebat.
Parmadi dan Muryani ikut bertempur dan mereka berdua ini yang menandingi para antek Kumpeni yang memiliki kesaktian sehingga semangat pasukan Mataram menjadi semakin tinggi.
Pada suatu malam yang gelap, Lindu Aji bercakap-cakap dengan Jatmika dan Sulastri di luar perkemahan.
"Mas Aji, jangan lanjutkan niatmu ini!"
Kata Sulastri dengan suara mengandung penuh permohonan dan ia memegang lengan Aji.
"Jangan halangi aku, Lastri. Mungkin usahaku ini akan dapat membantu pasukan Mataram mengalahkan Kumpeni."
Jawab Aji tenang dan dengan lembut dia melepaskan lengannya dari pegangan gadis itu karena dia merasa tidak enak kepada Jatmika.
"Dimas Lindu Aji, ucapan Nimas Sulastri itu benar. Batalkan niatmu menyelinap ke dalam benteng itu. Amat berbahaya, dimas. Kalau ketahuan, mana mungkin andika melawan banyak serdadu yang bersenjata lengakap dengan bedil dan pistol itu?"
"Aku akan berhati-hati, Kakangmas Jatmika. Kalau aku berhasil membunuhi para perwira Kumpeni, hal itu tentu akan mengacaukan dan melemahkan pasukan mereka. Andaikata aku tertangkap, yah, mati hidup berada di tangan Gusti Allah dan aku akan merasa bangga dapat menyumbangkan nyawaku demi Negara dan bangsa."
"Sudah bulatkah tekadmu itu, Mas Aji?"
Tanya Sulastri. Aji mengangguk.
"Sudah, Lastri, doakan saja aku berhasil."
"Kalau begitu, aku ikut! Aku ingin membantumu seperti dulu ketika kita ditawan para antek Kumpeni di kapal!"
Kata Lastri penuh semangat. Aji sambil lalu melirik ke arah Jatmika dan melihat betapa wajah itu berubah agak pucat, penuh keraguan dan ada kedukaan menyelubunginya.
"Tidak, Lastri. Aku harus bergerak sendiri. kalian berdua berjaga saja di sini karena setiap saat Kumpeni dapat menyerang. kalian berdua harus membantu pasukan Mataram dalam pertempuran. Nah, aku pergi sekarang!"
Tanpa menanti jawaban lagi Aji lalu melompat dan menghilang dalam kegelapan malam.
Sebelumnya Aji memang sudah merencanakan penyusupan ke dalam benteng itu.
Di sudah membuat perhitungan dan tahu bahwa pasukan Kumpeni melakukan penjagaan ketat di bagian timur, selatan dan barat di mana pasukan mataram mengepung benteng mereka.
Bagian yang paling aman dan tidak terdapat penjagan ketat hanya di utara karena kapal-kapal perang belanda tang berjaga di laut utara sehingga tidak mungkin menyerang benteng dari pantai utara.
Aji menggunakan kesempatan ini.
Kalau hanya seorang yang menyusup dari utara, tentu tidak akan dapat terlihat, apalagi malam itu gelap sekali.
Sebentar saja Aji sudah di dekat tembok benteng.
Dia melihat ada tiga orang serdadu Belanda hilir mudik di atas benteng, menyandang bedil.
Pintu belakang benteng yang terbuat dari besi itu tertutup rapat.
Aji mengukur dengan matanya.
Dengan Aji Bayu Sakti, dia yakin akan dapat melompat ke atas tembok benteng itu.
Akan tetapi kalau melakukan hal itu, besar bahayanya dia akan ketahuan penjaga di atas dan tentu mereka itu akan membunyikan tanda bahaya sehingga usahanya akan gagal setengah jalan.
Dia menglur tali panjang yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Ujung tali itu dia buatkan simpul dan setelah melihat serdadu yang hilir mudik itu tidak pernah mendekati bagian sudut tembok itu dan hanya jarang sekali berjalan sampai ke sudut, dia lalu melontarkan tali bersimpul itu ke arah besi pagar yang tampak remang-remang dari bawah tersorot sinar lampu yang tergantung di bagian tengah.
Bidikannya tepat san tenaga yang dia kerahkan untuk melontarkan tali itu amat kuat.
Tali meluncur ke atas dan tepat mengait pada ujung besi pagar tanpa mengeluarkan suara.
Aji menanti sebentar, merasa lega bahwa lemparan talinya itu tidak menimbulkan reaksi di atas, pertanda bahwa hal itu tidak dilihat orang lain.
Dia menanti sampai para penjaga itu berjalan ke arah sudut yang berlawanan, lalu dia merayap naik melalui tali itu.
Cepat sekali dia sudah tiba di atas, melompati pagar dan melepaskan tali sehingga jatuh ke bawah.
Untuk turun dari tembok benteng, dia tidak akan membutuhkan tali.
Ketika seorang serdadu berjalan ke arah sudut di mana dia berada.
Aji cepat mendekam di balik belokan dinding.
Dia tidak ingin merobohkan para serdadu yang berjaga di atas benteng ini karena kalau hal itu dilakukan dan kemudian diketahui penjaga lain yang baru datang, maka kehadirannya tentu akan diketahui dan ini berarti usahanya gagal.
Dia menyelinap dan setelah serdadu itu membalikkan tubuh, dia lalu bergerak cepat melewati pintu tembusan yang membawanya ke bawah tembok benteng bagian dalam.
Semua pemusatan pergantian para pasukan serdadu tertuju untuk menjaga tembok benteng bagian timur, selatan dan barat.
Masih terdengar sesekali dentuman meriam yang ditembakkan ke arah kubu pertahanan pasukan Mataram.
Akan tetapi tidak ada tembakan senapan terdengar karena jaraknya terlampau jauh.
Para serdadu itu hanya menanti komando, yaitu bertahan kalau diserang atau melakukan penyergapan keluar benteng.
Akan tetapi, agaknya malam itu tidak ada komando untuk menyerbu keluar karena malam itu memang gelap gulita sehingga akan sukar melawan pasukan Mataram yang mempergunakan taktik perang gerilya.
Aji pernah memasuki benteng ini ketika dia menolong Karen Van De Vos dari tangan penculik dan mengantar gadis peranakan Belanda itu memasuki benteng sehingga dia dapat melakukan pembakaran gudang ransum Kumpeni.
Dari gadis itu diapun telah mengetahui di mana adanya bangunan yang menjadi tempat tinggal Jenderal Jan Pieters Zoon Coen, orang nomor satu dalam Kumpeni Belanda.
Ke bangunan itulah dia menuju dengan menyelinap dari pohon dan dari bangunan.
Dengan menggunakan Aji Bayu Sakti, tubuhnya berkelebat amat cepatnya sehingga tidak diketahui orang, apalagi hanya beberapa orang serdadu saja yang berlalu lalang dalam perbentengan tengah itu karena sebagian pasukan berjaga-jaga di pintu gerbang, sebagian lagi tidur mengaso karena mereka harus bergilir melakukan penjagaan.
Dengan penuh keberanian, Aji menghampiri bangunan itu.
Hatinya sudah bertekad bulat untuk membunuh para pimpinan tertinggi Kumpeni.
Dia memang sudah nekat dan hal ini timbul dari keresahan hatinya memikirkan persoalan cintanya yang menjadi cinta segi empat antara dia, Sulastri, Neneng Salmah, dan Jatmika.
Kalau dia berhasil dalam tugasnya ini, berarti dia telah dapat membantu Mataram untuk memenangkan perang terhadap Belanda.
Kalau dia gagal dan terbunuh, maka matinya bahkan akan menghilangkan kegelapan dalam urusan cinta kasih yang ruwet itu.
Sulastri akan dapat menikah dengan Jatmika dan Neneng Salmah tidak dapat mengharapkan dia untuk menerima cintanya sehingga gadis waranggana yang baik itu dapat berjodoh dengan laki-laki lain.
Dengan demikian baik berhasil maupun tidak, usahanya itu ada manfaatnya bagi orang lain.
Kalau untuk itu dia harus berkorban nyawa, maka hal itu sudah menjadi kehendak Gusti Allah dan tiada kekuasaan apapun di dunia ini yang dapat mengubahnya!
Untung bagi Aji, bangunan yang cukup besar itu yidak terjaga oleh serdadu.
Mungkin karena bangunan itu dirasakan aman karena berada ditengah benteng, maka tidak terjaga.
Dengan mudah Aji dapat menyelinap ke tengan di naba terdapat penerangan yang cukup.
Dia mengintai dan jantungnya berdebar tegang.
betapa tidak.
apa yang dicari-carinya berkumpul disitu semua!
Kiranya para perwira tinggi Kumpeni sedang mengadakan rapay di sebuah ruangan yang diterangi empat buah lampu gantung yang besar.
Dai pakaian mereka, Aji dapat menduga bahwa laki-laki Belanda setengah tua yang berjenggot meuncing dan duduk di kepala meja itu tentulah yang harus dijadikan sasaran utama untuk dibunuhnya.
aji sama sekali tidak mengira bahwa dugaannya itu memang tepat sekali karena laki-laki Belanda itu bukan lain adalah Jan Pieters Zoon Coen sendiri yang memimpin rapat, merundingkan tentang pertempuran melawan pasukan Mataram yang telah berlangsung beberapa hari lamanya.
Aji membuat perhitungan dengan teliti.
Kalau dia menyerang, tentu hanya dapat merobohkan dua tiga orang saja dan para perwira yang lain tentu serentak akan menyerangnya dengan pistol mereka.
Terdapat bahaya bahwa di antara mereka ada yang mempergunakan peluru emas dan sukar baginya untuk mengelak karena ruangan itu demikian terang dan perwira itu cukup banyak jumlahnya, ada belasan orang.
Dia harus melakukan serangan mendadak sebelum ada yang menduga, mengejutkan mereka dan sekaligus memadamkan empat buah lampu gantung besar agar ruangan menjadi gelap gulita.
Akan tetapi tentu akan terjadi kegaduhan yang memancing datangnya para serdadu.
Mungkin dia dapat melarikan diri karena ruangan itu menjadi gelap gulita.
Memang resikonya besar sekali, akan tetapi apa boleh buat, tidak ada jalan lain.
Setelah memperhitungkan dengan cermat, Lindu Aji berdiam diri memanjatkan doa kepada Gusti Allah sebagai pengakuan bahwa apa yang dilakukan itu adalah tugas perjuangan membela Mataram, bukan karena dendam kebencian kepada orang-orang Belanda dalam ruangan itu yang sama sekali tidak dikenalnya.
Dia mengintai lagi.
Para opsir Belanda yang sedang mengadakan rapat itu agaknya serius sekali, bicara keras-keras dalam bahasa mereka.
Aji memperhatikannya dengan teliti dan cermat.
Dia harus membunuh laki-laki Belanda yang pakaiannya paling mentereng diantara mereka semua itu dan kebetulan sekali laki-laki berjenggot runcing itu duduk menghadap ke arah jendela di mana dia mengintai.
Dia harus melompat dan menerjang ke atas meja besar itu, membunuh panglima itu, kemudian dari meja dia akan berlompatan ke arah empat buah lampu gantung dan memukul hancur untuk memadamkan penerangan itu.
Dalam kegelapan itu dia akan mampu merobohkan banyak perwira kemudian melarikan diri.
Mereka tentu tidak berani menembakkan pistol mereka dalam kegelapan itu, takut mengenai teman sendiri.
Kemudian dia memperhitungkan arah larinya.
Untuk dapat mencapai tembok benteng terdekat, dia harus lari ke arah beberapa bangunan terdekat dan melalui bangunan-bangunan itu dia menyelinap lari sambil bersembunyi sampai tiba di tembok benteng, naik dan melompat ke luar.
Kini dia mengerahkan seluruh tenaganya, mencabut keris pusaka Nagawelang, kemudian bangkit berdiri dan setelah memperhatikan dengan seksama, diapun melompat ke dalam melalui jendela yang terbuka.
Begitu dia tiba di dalam tanpa mengeluarkan suara, dia lalu mempergunakan Aji Bayu Sakti, tubuhnya melayang ke atas meja di depan panglima Kumpeni itu dan kerisnya menghunjam ke arah panglima itu.
Akan tetapi, di antara para opsir yang berteriak kaget itu, seorang pengawal pribadi panglima itu yang tadinya duduk di belakang sang panglima, sudah melompat pula ke atas meja menghadang serangan Aji.
"Wuuuutttt..... capppp.....!!"
Tak dapat dihindarkan lagi, keris pusaka Kyai Nagawelang itu menancap ke dalam dada pengawal pribadi itu.
Opsir Belanda yang masih muda itu terjengkang dari atas meja dan menimpa si panglima sehingga Aji tidak melihat kesempatan lagi untuk menyerang panglima itu.
Selagi para opsir masih tercengang, dia sudah melompat ke atas, keris dan tangan kirinya bergerak dua kali.
Terdengar ledakan dua kali dan dua buah lampu gantung itu pecah dan padam.
Dia melompat lagi dan kembali terdengar ledakan dua kali ketika dua buah lampu yang lain pecah dan padam.
Ruangan itu menjadi gelap gulita seperti yang telah diperhitungkan!
Aji lalu bergerak ke arah pintu.
Tiap kali bertabrakan dengan orang, dia lalu menampar atau kerisnya menusuk.
Ketika akhirnya dia tiba di pintu, dia telah merobohkan lima orang lagi dan dia lalu melompat keluar.
Para opsir yang kini menyadari bahwa ada musuh memasuki benteng, berteriak-teiak dan menghambur keluar tanpa berani melepaskan tembakan dari pistol yang sudah berada dalam tangan mereka karena khawatir salah sasaran.
Akan tetapi ketika tiba di luar bangunan itu mereka tidak melihat bayangan orang yang tadi mengamuk dalam ruangan.
(Lanjut ke
Jilid 33 -Tamat) Alap Alap laut Kidul (Seri ke 03 Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33 (Tamat) Aji sudah berlari menuju ke tiga buah bangunan yang berada di samping.
Dia dapat melewati bangunan pertama dan kedua dengan selamat, akan tetapi ketika tiba dibangunan ke tiga yang paling dekat dengan tembok benteng, tiba-tiba muncul tiga orang serdadu.
Tiga orang serdadu itu membentuk dan mengejarnya.
Karena khawatir kalau suara tiga orang itu akan memancing datangnya banyak serdadu, Aji cepat menerjang dan mendahului mereka, menyerang dengan tamparan tangan kiri dan tusukan keris pusaka di tangan kanannya.
Dua orang roboh seketika dan orang ke tiga sempat menembakkan senapannya.
"Darrrr.....!!"
Peluru itu merobek baju Aji, akan tetapi ketika mengenai kulit dadanya, peluru itu meleset seolah mengenai kulit dari baja yang amat keras.
Sebelum di sempat menembak lagi, Aji sudah menyerangnya dengan tamparan tangan kirinya.
serdadu itu roboh dan tak dapat bangkit lagi.
Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan dua kali.
"Dar-dar......!!"
Aji cepat memutar tubuhnya dan melihat dua orang serdadu yang berada di belakangnya dalam jarak empat meter, roboh disambar peluru pistol yang tadi ditembakkan. Dan penembaknya muncul.
"Kau..... ?"
Katanya dengan kagum karena ternyata di sana berdiri Karen Van De Vos dengan sebuah pistol yang masih berasap di tangannya.
"Cepat..... lucuti pakaiannya dan pakai!"
Perintah Karen Van De Vos.
Aji mengerti maksudnya.
Dia menghampiri serdadu yang dia robohkan dengan tamparan di kepala, melucuti celana dan bajunya lalu memakaianya.
Pakaian itu tentu saja terlalu besar baginya, akan tetapi karena menutupi pakaiannya sendiri, maka dia kini berubah menjadi seorang serdadu Kumpeni, walaupun rambut kepalanya hitam dan kakinya tidak bersepatu.
Namun dalam keremangan cuaca, takkan ada yang melihat pebedaan ini.
"Sekarang larilah, lewat sini.....!"
Karen berkata lagi. Aji merasa terharu dan cepat dia merangkul dan mencium bibir gadis Belanda Indo yang batinnya ternyata berpihak kepada bangsa ibunya itu.
"Terima kasih, Karen....."
Bisiknya sambil melepaskan rangkulannya.
"Aku cinta padamu, Lindu Aji....."
Kata pula Karen.
Aji melompat dan lari ke arah tembok benteng yang tidak jauh lagi dari situ.
Terdengar tembakan gencar, Itu adalah tembakan para opsir yang sudah mengejar sampai ke situ.
Dengan nekat Karen lalu melepaskan tembakan gencar dengan pistolnya.
Melihat ada tembakan menyambut mereka, para opsir terkejut dan mengira bahwa musuh yang berhasil menyusup ke dalam benteng itu memiliki senjata api.
Mereka berlindung dan karenanya pengejaran terhadap Aji terhalang.
Mereka membalas dengan tembakan mereka ke arah dari mana datangnya tembakan pistol itu dan melihat sesosok bayangan roboh dan tembakan yang menyambut mereka itu berhenti.
Beberapa orang maju dengan hati-hati dan alangkah terkejut hati mereka ketika menmukan jenazah Karen Van De Vos yang menggeletak dengan sebatang pistol masih tergenggam erat di tangan kanannya!
Karen tewas oleh peluru pistol para perwira yang melakukan pengejaran kepada Aji.
Sementara itu, dengan berpakaian seragam serdadu, Aji dapat lari ke tempat benteng tanpa dicurigai.
Dalam kegelapan yang hanya disinari lampu yang temaram itu para serdadu lain yang berjalan ke arah tembok lalu naik ke atas benteng.
Setelah Aji melompat dari atas tembok benteng ke luar, barulah mereka tahu bahwa orang yang disangkanya seorang rekan itu adalah seorang musuh.
Apalagi ketika para perwira berlari-lari sambil berteriak-teriak.
Mereka lalu menghujankan tembakan ke luar benteng.
Akan tetapi karena cuaca di luar benteng amat gelapnya dan bayangan musuh itu tidak tampak sama sekali, tembakan mereka ngawur saja.
Aji sudah berlari menjauhi tembok benteng dan menanggalkan pakaian serdadu yang dipakainya.
Dia lalu kembali ke kubu pasukan Mataram.
Jatmika dan terutama Sulastri merasa girang bukan main menyambut kembalinya Aji.
Kyai Adipati Purbaya juga merasa kagum mendengar Aji menceritakan pengalamannya yang telah berhasil membunuh beberapa perwira pasukan serdadu Kumpeni Belanda.
Serangan Lindu Aji yang tampaknya hanya menghasilkan tewasnya beberapa orang perwira Kumpeni itu sesungguhnya lebih dari itu.
Buktinya, beberapa hari kemudian Jan Pieters Zoon Coen meninggal dunia.
Sangat boleh jadi jenderal besar pemimpin pasukan Kumpeni ini meninggal disebabkan kekagetan hebat ketika dia nyaris menjadi korban serangan aji.
Pada saat itu memang kesehatannya agak terganggu.
serangan mendadak Alap-alap Laut Kidul yang mengakibatkan pengawalnya tewas dan roboh menimpanya itu amat mengejutkan dan mengerikan hatinya.
Mungkin saja dia meninggal karena kaget dan mempengaruhi jantungnya dan lemah.
Akan tetapi pihak Kumpeni Belanda mengabarkan bahwa Jan Pieters Zoon Coen meninggal dunia karena penyakit kolera!
Pertempuran itu berlangsung dengan seru.
Hampir setiap hari pasukan Mataram mencoba untuk membobolkan benteng-benteng pertahanan Kumpeni Belanda.
Beberapa kali pasukan yang bersemangat dan berani itu menyerbu dan berusaha untuk memasuki benteng.
Akan tetapi persenjataan Belanda jauh lebih baik dan lebih lengkap.
Dalam penyerbuan ini banyak pendekar yang gugur secara menyedihkan.
Beberapa orang pahlawan yang gagah perkasa berhasil memasuki benteng, mengamuk dan membunuh banyak serdadu akan tetapi dia sendiri terjebak dan tidak dapat keluar.
Setelah peluru mengenai tubuhnya, di antaranya peluru emas atau perak, baru dia roboh dan tewas.
Sampai sebulan lamanya pasukan Mataram mengepung benteng Kumpeni Belanda.
Akan tetapi akhirnya musuh lain yang lebih kuat daripada pasukan Kumpeni menyerang mereka.
Musuh-musuh baru ini adalah penyakit kolera dan malaria, dan juga kelaparan karena kurangnya ransum.
Penyerangan dan pemusnahan yang dilakukan Belanda sebelumnya, yang membakar banyak persediaan ransum, kini memperlihatkan hasilnya.
Pasukan Mataram kekurangan makanan.
Hal ini ditambah dengan amukan penyakit menular itu.
Mulailah pasukan Mataram menjadi lemah.
Sebetulnya pasukan serdadu Belanda sendiri sudah merasa panik dan ketakutan melihat pengepungan dan penyerangan yang gigih dan penuh semangat itu.
Akan tetapi para penyelidik mereka akhirnya mengetahui keadaan pasukan Mataram yang kekurangan makanan dan yang terserang penyakit kolera dan malaria.
Melihat keadaan ini, Kumpeni Belanda mengadakan penyerangan besar-besaran, mengerahkan segala kekuatan.
Bahkan ada beberapa buah meriam yang menembakkan tinja dan kotoran lain ke arah kubu Mataram!
Penyerangan itu merupakan pukulan hebat bagi Mataram.
Terpaksa mereka mundur dan setelah berunding dengan Adipati Puger dan Adipati Purbaya, Kyai Adipati Jumina lalu terpaksa menarik mundur pasukannya.
Mereka menghentikan pengepungan dan penyerangan, lalu melakukan perjalanan ke timur, kembali ke Mataram.
Penyerangan terhadap Kumpeni Belanda yang kedua kalinya inipun gagal.
Para panglima dan senopati tentu saja merasa takut kepada Sultan Agung atas kegagalan penyerangan yang kedua ini.
Mereka khawatir kalau-kalau mereka akan dihukum berat seperti yang terjadi ketika penyerangan pertama gagal.
Mereka semua minta pertimbangan dan nasihat Tumenggung Singoranu yang bukan saja menjadi kepercayaan yang dekat dengan Sultan Agung, melainkan lebih dari itu, Tumenggung Singaranu juga merupakan ayah mertua Sultan Agung karena puterinya menjadi selir raja itu.
setelah mengadakan perundingan Tumenggung Singaranu membawa sisa pasukannya yang terdiri dari orang-orang yang tinggal di tanah perdikan miliknya sendiri, berangkat pulang lebih dulu.
Tumenggung Singaranu tidak langsung pergi menghadap Sultan Agung, melainkan membawa pasukannya ke tanah perdikannya.
Setibanya di rumah, dia lalu mengumpulkan isteri, selir-selir dan ank-anaknya untuk pergi menghadap Sultan Agung dan mintakan ampun atas kegagalannya dalam penyerbuan ke Batavia.
Selain mengirim semua anggauta keluarga untuk menghadap dan memohon pengampunan kepada Sultan Agung, diapun mengirim semua senjata pusakanya ke istana sebagai tanda bahwa dia menakluk dan tidak berniat melawan atau menentang sang raja.
Selain ini, juga puterinya yang menjadi selir Sultan Agung mintakan ampun untuk ayahnya.
Sultan Agung memang merasa kecewa dan marah sekali mendengar akan kegagalan pasukan Mataram dalam penyerangan yang kedua kalinya terhadap Kumpeni Belanda itu.
Akan tetapi ketika selirnya mintakan ampun untuk Tumenggung Sinaranu, ditambah keluarga tumenggung yang sudah diangkat menjadi patih itu datang menghadap dan minta ampun dengan ratap tangis, melihat betapa semua pusaka sang tumenggung diserahkan kepadanya, menjadi terharu dan kemarahannya mencair.
Dia mengampuni Tumenggung Singaranu, bahkan juga mengampuni para senopati lainnya.
Berbeda dengan akibat kekalahan pada penyerangan pertama, penyerangan kedua ini tidak mengakibatkan hukuman berat bagi para senopati yang gagal.
Para penasihat dan senopati membujuk Sultan agung agar menghentikan usahanya menyerang Batavia karena selain hal itu mendatangkan kerugian besar kepada Mataram, juga mereka mengatakan bahwa Belanda hanya ingin berdagang di Nusantara.
Hati Sultan Agung menjadi agak lunak terhadap Belanda dan selalu waspada menghadapi ulah dan sepak terjang Kumpeni.
Hal ini terdengar oleh Kumpeni Belanda dan para pemimpin mereka menjadi girang dan gembira.
Mereka bersikap bersahabat, bahkan mengirimkan banyak hadiah ke Mataram untuk menundukkan hati Sang Prabu.
Pemerintah Belanda memang pandai sekali.
Kekeuatan angkatan perang mereka memang tidak berapa hebat, akan tetapi politik mereka amat licin bagaikan belut.
Mereka pandai mengambil hati, pandai membawa diri sehingga banyak kadipaten yang dengan mudah jatuh ke dalam pengaruh bujukan mereka.
Dengan cara halus dan tidak kentara mereka melebarkan sayap dan cengkeraman ke atas tanah Nusantara dengan dalih berdagang dan mensejahterakan rakyat yang masih terbelakang.
Dengan sikap yang manis Belanda mempengaruhi rakyat sehingga rakyat menganggap mereka sebagai "tuan penolong"
Yang murah hati, yang membeli hasil bumi dan rempah-rempah dengan harga "tinggi".
Para pemimpin bangsa Belanda mempergunakan segala cara untuk mencapai keinginan mereka, yaitu menguasai kepulauan Nusantara yang gemah ripah loh jinawi, dengan tanahnya yang kaya raya, bagaikan sorga dengan neraka kalau dibandingkan dengan tanah negara mereka sendiri.
Gusti Allah demikian mengasihi manusia sehingga berkahnya berlimpah-limpah.
Demikian besar kasihNya sehingga manusia diciptakan hidup didunia dengan perlengkapan badan yang sempurna dan disertai pula hati akal pikiran sebagai alat yang paling canggih.
Bukan hanya itu semua, namun disertai pula nafsu sebagai bahan bakarnya agar manusia dapat mempergunakan semua alat tubuhnya untuk dapat menikmati kehidupan di dunia ini.
Tanpa adanya nafsu, Maka kehidupan akan menjadi hampa dan semua perlengkapan tubuh tidak dapat bekerja dengan sempurna.
Namun, iblis yang selalu mengintai dan sudah sejak semula bersumpah untuk menggoda manusia dan menyeret manusia ke dalam perbuatan dosa, justeru memanfaatkan kenikmatan hidup di dunia dengan membonceng pada nafsu manusia sendiri.
Dengan demikian, maka keadaannya menjadi terbalik.
Kalau semula manusia dengan jiwanya yang bersih menguasai nafsunya sendiri, menjadi nafsu yang menguasai manusia dan akibatnya, manusia selalu mengejar-ngejar kenikmatan dan kesenangan dunia, menjadi budak dari nafsunya sendiri.
Inginnya hanya enak-enak dan yang menyenangkan untuk diri sendiri sehingga untuk mendapatkan yang diinginkan dan dikejarnya itu, manusia menjadi lupa diri dan mempergunakan segala cara.
Segala perbuatan jahat di dunia ini bersumber kepada nafsu ingin menyenangkan diri sendiri itulah.
Kebanyakan manusia menyadari akan kuatnya nafsu menguasai dirinya.
Ada yang berusaha untuk menundukkan dan mengalahkan nafsunya sendiri.
Namun kebanyakan usaha manusia itu tidak berhasil.
Mengapa demikian?
Karena yang berusaha mengalahkan nafsu adalah hati akal pikiran padahal di dalam hati akal pikiran itulah sang nafsu bersarang.
Di situlah iblis berkuasa.
Semua usaha dari pikiran untuk mengalahkan nafsu itu berarti mengalahkan diri sendiri dan usaha itupun bersumber dari nafsu itu sendiri!
Lalu bagaimana?
Siapa yang dapat menundukkan nafsu sehingga nafsu kembali ke tempatnya semula, yaitu menjadi peserta, menjadi alat dan menjadi pembantu yang setia, tidak lagi menjadi majikan yang menyeret manusia ke dalam dosa?
Jawabannya hanya satu.
Yang dapat mengalahkan dan menundukkan nafsu hanyalah Gusti Allah, Sang Maha Pencipta sendiri.
Karena itu, manusia hanya dapat berserah diri sepenuhnya kepada Gusti Allah, membuka diri sendiri secara total, sabar ikhlas tawakal sehingga kekuasaanNya yang akan bekerja, membersihkan segala kotoran yang menodai jiwa.
Kekuasaan Gusti Allah Yang Maha Suci yang akan mampu mengatur sehingga jiwa menjadi bersih kembali, menguasai nafsu yang kembali menjadi peserta atau pembantu yang baik.
Yang tidak mungkin bagi manusia, amatlah mungkin bagi Gusti Allah dan kekuasaanNya yang mutlak.
Setelah perang selesai dan pasukan Mataram dengan membawa kegagalan, Parmadi dan isterinya Muryani kembali ke Pasuruhan.
Sutejo dan isterinya Retno Susilo tidak kembali ke Gunung Kawi, melainkan langsung saja pergi merantau ke Blambangan untuk mencari putera mereka, Bagus Sajiwo, yang menurut keterangan Kyai Sidhi Kawasa diculik oleh Wiku Menak Koncar datuk Blambangan.
Limdu Aji, Jatmika dan Sulastri pergi ke Dermayu.
Dua orang pemuda itu memenuhi permintaan Sulastri untuk ikut dengannya pergi ke Dermayu karena memang keduanya mempunyai kepentingan masing-masing.
Sulastri mengajak Aji ke Dermayu untuk mempertemukan pemuda itu dengan Neneng Salmah.
Jatmika pergi ke Dermayu hendak melihat perkembangan dan kenyataan apakah ada kesempatan baginya untuk meminang Sulastri.
SedangkanLindu Aji ikut dengan hati bimbang karena dia masih menjadi bingung melihat kenyataan bahwa di antara mereka terdapat cinta segi empat yang membingungkan.
Dia ingin membereskan keadaan yang kacau ini dengan jalan mengundurkan diri dan mengalah seperti yang telah dia putuskan dalam lamunannya malam itu.
Juga dia hendak memberi ketegasan kepada Neneng Salmah agar gadis waranggana yang baik hati itu tidak lagi mengharapkan dia dan menjadi tersia-sia hidupnya kelak.
Ki Subali dan isterinya mnyambut pulangnya Sulastri dengan gembira sekali.
Demikian pula Neneng Salmah, bahkan gadis ini semakin berbahagia melihat Lindu Aji juga datang bersama Sulastri dan Jatmika.
Setelah mereka semua beramah tamah bersama Ki Subali dan Ki Salmun ayah Neneng Salmah, Lindu Aji mempergunakan kesempatan itu untuk berpamit.
"Sekarang semua tugas telah selesai dilakukan dan saya mohon pamit dari andika semua, untuk meninggalkan Dermayu."
"Mas Aji.....!"
Seru Sulastri sambil memandang ke arah Neneng Salmah.
"Engkau hendak pergi? Ke mana?"
"Kembali ke dusunku, ke rumah ibuku di dusun Gampingan dekat pantai Laut Kidul."
Terdengar isak tangis dan semua orang menengok. Neneng Salmah berlari keluar dari pintu samping yang menuju ke kebun. Melihat ini, Sulastri mengerutkan alisnya dan berkata kepada Aji.
"Mas Aji..... tidak kasihankah engkau kepadanya.....!"
Dengan pandang matanya Sulastri seolah menyuruh Aji untuk pergi mencari Neneng Salmah.
Aji maklum bahwa bagaimanapun juga dia harus memberi penjelasan kepada Neneng Salmah agar gadis itu dapat memaklumi perasaannya bahwa mereka tidak dapat berjodoh.
Memang dia sudah dapat menduga sejak dulu bahwa kenyataan yang hendak disampaikan kepada Neneng Salmah ini tentu akan menghancurkan hati gadis itu.
Akan tetapi apa boleh buat, hal itu demi kebaikan mereka semua.
Maka diapun bangkit berdiri, minta maaf kepada Ki Subali lalu melangkah keluar dari pintu samping untuk mengejar Neneng salmah.
Aji mendapatkan Neneng Salmah sedang duduk di atas sebuah bangku di bawah pohon sawo dan menangis seorang diri.
Dia lalu menghampiri dan setelah tiba di depan gadis yang menangis sambil menutupi muka dengan kedua tangannya itu, dia berkata lirih.
"Neneng....."
Gadis itu menurunkan kedua tangannya dan memandang kepda Aji dengan muka basah air mata.
"Neneng, aku akan pergi dan janganlah engkau menangis."
Seperti juga dulu, gadis itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu.
"..... bawalah saya..... bawalah saya, saya ikut andika, biarlah sya menjadi budak, menjadi hamba..... menjadi pelayan....."
"Hussss..... Neneng, jangan begitu. Bangkit dan duduklah, mari kita bicara baik-baik."
Aji memegang kedua pundak gadis itu, membantunya bangkit dan disuruhnya gadis itu duduk kembali ke atas bangku.
"Hentikan tangismu dan marilah kita bicara sejujurnya dan melihat kenyataan, betapapun pahitnya kenyataan itu, Neneng."
Neneng Salmah menyadari keadaannya yang hanyut oleh perasaan sedih, maka ia cepat menghapus ait matanya dan memandang pemuda itu dengan mata kemerahan.
"Neneng, engkau tentu menyadari bahwa perjodohan itu hanya akan sempurna kalau dilakukan oleh dua orang yang saling mencinta, bukan?"
Kata Aji dengan suara yang tenang namun tegas dan berwibawa. Neneng salmah mengangguk sambil memandang wajah Aji, sinar matanya penuh harapan.
"nah, marilah kita melihat kenyataan. Aku percaya sepenuhnya bahwa engkau mencintaku dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi engkau juga harus tahu bahwa aku amat suka dan kagum padamu, akan tetapi tidak mencintamu, neneng. Sebelum berjumpa denganmu, aku telah mencinta seorang wanita lain. Apakah engkau yang sebijaksana ini menghendaki agar aku mengkhianati cintaku kepada wanita itu?"
Biarpun tanpa suara, air mata menetes-netes turun dari kedua mata Neneng salmah ke atas pipinya.
Ia memang seorang gadis yang bijaksana dan ia mengerti bahwa cintanya bertepuk tangan sebelah.
Ia tidak dapat menyalahkan Lindu Aji.
Ia menguatkan hatinya dan berkata lirih dan parau.
"Apakah..... apakah..... gadis itu..... Sulastri..... ?"
Aji mengerutkan alisnya. Tidak perlu dia memperpanjang pembicaraan mengenai itu.
"Sudahlah, tidak perlu kita membicarakan orang lain. Yang jelas aku hendak menanamkan keyakinan dalam hatimu bahwa kita tidak dapat berjodoh, Neneng. Kalau engkau suka, biarlah aku kau anggap sebagai seorang kakakmu yang selalu siap untuk melindungimu. Engkau adalah seorang adik bagiku, Neneng, dan aku sayang kamu sebagai seorang kakak menyayang adiknya."
Neneng Salmah menjerit kecil dan bangkit menubruk Aji.
Pemuda itu merangkulnya dan neneng menangis di dada Aji, terisak-isak.
Air matanya membasahi baju pemuda itu yang menembus ke kulit dadanya.
Aji membiarkannya menangis karena itulah yang terbaik untuk pelampiasan perasaannya.
Setelah tangisnya mereda, Neneng Salmah melepaskan diri dan melangkah mundur, memandang kepada pemuda itu dengan matanya yang menjadi sembab oleh tangis, lalu terdengar ucapannya bernada haru.
"Terima kasih, Akang Lindu Aji. Biarlah aku menyebutmu akang. Aku sungguh merasa terhormat dan berbahagia sekali bahwa engkau suka menganggap aku sebagai adik angkat."
Aji tersenyum. Bijaksana gadis ini, membuktikan bahwa cinta kasih dalam hati gadis ini terhadap dirinya amat murni, bukan sekedar cinta kasih berahi.
"Akupun merasa terhormat dan bahagia mempunyai seorang adik seperti engkau, neneng. Semoga hidupmu kelak berbahagia, adikku!"
Aji mengusap rambut kepala neneng.
"Sekarang biarlah aku berpamit dari yang lain."
Pada saat itu muncul Sulastri dari dalam rumah. Neneng Salmah cepat menyongsongnya dan melihat Neneng tersenyum gembira walaupun kedua matanya sembab, Sulastri cepat berbisik.
"Bagaimana, Neng?"
Neneng Salmah sudah tahu apa yang dimaksudkan Sulastri.
"Sudah beres, Lastri. Akang Lindu Aji sekarang menjadi kakak angkatku dan aku berbahagia sekali!"
Setelah berkata demikain, Neneng setengah berlari meninggalkan gadis itu yang berdiri tertegun. Ia melihat Aji melangkah datang. Agaknya pemuda itu hendak kembali ke dalam rumah.
"Mas Aji.....!"
Lastri memanggil. Aji berhenti melangkah dan memutar tubuh menghadapi Sulastri. Sepasang alisnya berkerut dan dengan semua kekuatan batinnya dia menahan gejolak hatinya.
"Mas Aji benarkah engkau hendak pergi? Bagaimana dengan Neneng?"
"Bagaimana dengan dia? Mengapa? Ia kini menjadi adik angkatku, Lastri, dan kami berbahagia sekali. Aku memang hendak pulang ke tempat tinggal ibuku dan aku berpamit padamu."
"Akan tetapi, Mas Aji..... engkau benar hendak pergi meninggalkan aku.....? "Ya, Lastri. aku akan pulang ke dusunku."
"Akan tetapi..... bagaimana dengan aku..... aku akan merasa kesepian dan kehilangan."
"Lastri, di sana ada Kakangmas Jatmika menunggumu. Dia adalah seorang ksatria yang hebat, seorang laki-laki jantan berjiwa pahlawan yang patut dihormati dan dia mencintaimu. Semoga engkau hidup berbahagia bersamanya, Lastri."
Setelah berkata demikian, bergegas Lindu Aji meninggalkannya menuju kembali ke rumah.
"Mas Aji.....!"
Sulastri berseru lirih, akan tetapi pemuda itu sudah memasuki rumah untuk berpamit kepada Ki Subali dan yang lain-lain.
Setelah tiba di ruangan di mana semua orang berkumpul dan di situ sudah duduk pula neneng salmah yang kedua matanya masih sembab namun wajahnya tampak cerah, Aji memandang kepada Jatmika.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 10
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 18