Ceritasilat Novel Online

Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan 4

Eps 4 Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek

Baca online Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek

Cersil Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek.

Petang hari itu selagi sep dan gundalnya berembuk, cara bagaimana akan melakukan penyelidikan dimana tempat sembunyinya si 275 pembunuh yang mereka telah ketahui ada puterinya Bu Ciang Tong, mendadak ada seorang pengawal yang melaporkan, bahwa di luar ada seorang puteranya pemilik rumah penginapan yang membawa menghadap seorang tetamu yang dicurigai sebagai komplotannya si pembunuh yang telah menyatroni gedung residen pada beberapa hari yang telah lalu itu.

Tetapi karena kuatir bahwa semua itu adalah akal bulus dari musuh-musuh mereka, maka Hun Ie tidak lantas panggil orang-orang itu akan datang menghadap, hanyalah ia menanyakan dahulu pikirannya Houw Cun, apakah orang-orang itu boleh disuruh menghadap atau dibiarkan saja pengaduannya diurus oleh orang-orang sebawahannya?

,,Ini semua adalah akalan belaka,"

Kata si kepala kampak sambil bersenyum getir.

"Jikalau kita biarkan mereka berada di luar, mereka tentu mudah melarikan diri. Maka buat membikin mereka tidak berdaya, baiklah Tay-jin perintah supaya mereka datang menghadap. Aku di sini ada suatu akal untuk menjebak mereka itu."

Kemudian, sambil menoleh pada si pengawal, Houw Cun lalu bertanya.

"Belum tahu mereka itu semua ada berapa orang?" ,,Hanya berduaan saja, anak pemilik rumah penginapan dan orang tawanannya itu,"

Sahut si pengawal.

Mendengar jawaban demikian, Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun jadi mengkerutkan dagunya sesaat lamanya.

Mula-mula ia kelihatan mengangguk-angguk, kemudian perintah pengawal itu buat memanggil kepala opas si Ah Kauw.

276 "Kepada anak pemilik rumah penginapan itu, kau boleh minta supaya dia suka menunggu dahulu,"

Kata Ngay Houw Cun.

"karena Tay-jin di sini justeru sedang sibuk mengurus suatu perkara penting."

Si pengawal itu mengatakan.

"Mengerti."

Kemudian ia berjalan keluar buat minta anak pemilik rumah penginapan itu menunggu dahulu. Poan Thian menjawab.

"Baik,"

Meskipun hatinya sendiri mendadak jadi bercekat, melihat gerak-gerik si pengawal itu.

"Aku harap supaya tuan suka menunggu panggilan di sini,"

Kata si pengawal itu.

"karena aku ada urusan lain yang perlu diurus."

"Ya,"

Sahut Poan Thian dengan sembarangan. Tatkala si pengawal telah berlalu jauh, pemuda kita lalu melirik pada Kong Houw yang menjadi orang tawanan tetiron sambil berbisik.

"Celaka! Mungkin juga mereka telah mengendus, bahwa kita di sini hendak mengakali mereka."

"Tidak usah kau banyak bacot! Kau telah menipu aku!"

Kong Houw mendadak memaki kalang kabut bagaikan lakunya seorang edan.

"Setelah kau terima uang pembayaran kamarku, kau lantas katakan aku bersekongkol dengan pembunuh yang disiarkan dalam maklumat itu!"

"Tutup bacotmu!"

Akhirnya Poan Thian pun ikut "main sandiwara".

"Kau memaksa buat minta menginap di rumah penginapan kami, hingga seolah-olah kau hendak fitnah kami serumah tangga. Kau membikin ribut dan merusakkan segala perabotan di rumah penginapan kami, apakah itu bukan berarti bahwa kau ini seorang pengacau yang mengganggu kesejahteraan dan tatatertib di dalam daerah kota Hang-ciu ini?" 277 "Hei, kamu jangan bikin ribut di sini!"

Membentak pengawal tadi, yang telah kembali dengan mengajak kepala opas Ah Kauw.

"Jikalau kamu ada urusan wanong yang perlu meminta keadilan, katakanlah itu nanti di hadapan Tay-jin, tetapi bukan mestinya kamu tarik urat di sini. Kamu mengerti?"

Poan Thian dan Kong Houw apa boleh buat tutup mulut sebagai tanda mengindahkan atas perintah si pengawal itu.

Dan ketika balik kembali habis mengantarkan Ah Kauw menghadap pada residen jahanam itu, barulah si pengawal memberi tanda supaya Poan Thian dan Kong Houw boleh masuk menghadap.

Poan Thian menurut sambil mengiringi orang tangkapannya.

Tetapi tidak kira ketika baru saja ia berjalan beberapa tindak, mendadak Ah Kauw maju menerjang buat menyergap Lie Poan Thian sambil berseru.

"Bangsat! Apakah kamu kira kita semua anak-anak yang masih menyusu, sehingga begitu gampang diselomoti oleh segala muslihatmu yang busuk itu? Jangan lari! Aku Bu Ah Kauw belum mau sudah, apabila belum dapat membekuk dan membuka rahasia kamu berdua!"

Sementara Poan Thian yang sekarang telah mengetahui, bahwa mereka tak dapat pula melanjutkan permainan "sandiwara"

Mereka itu, dengan lantas miringkan badannya buat kasih lewat tangannya Ah Kauw yang hendak menyekal kepadanya, sedang sebelah kakinya lalu digerakkan buat menyapu kaki si kepala opas itu.

Ah Kauw lekas berkelit, tetapi karena berlaku kurang cepat, tidak urung kena juga ia "diserampang"

Kakinya sehingga jatuh terjungkel bagaikan sebuah kundur yang gugur dari tangkainya, maka selain maksudnya yang akan menyergap telah gagal, malah dirinya sendiri berbalik mendapat hadiah tendangan dari pemuda kita.

278 Para pengawal residen yang lainnya ketika mendengar suara ribut-ribut, sudah tentu saja segera memburu ke gedung residen, buat membantu menangkap orang-orang yang dengan sekonyongkonyong telah membikin ribut dengan tidak mengetahui apa sebabnya.

Tetapi Ngay Houw Cun yang lebih siang telah singkirkan An Hun Ie ke tempat lain yang lebih aman, dengan membekal golok segera keluar dan maju menerjang pada Lie Poan Thian sambil membentak.

"Bangsat! Jangan lari! Aku Thio Sin hendak menjajal golokku yang sudah lama haus darah dan hampir karatan ini!"

Poan Thian tertawa menyindir sambil berkata.

"Apa? Thio Sin? Aku rasanya belum pernah dengar nama itu! Apakah itu bukan Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun?"

Mendengar omongan itu, si kepala kampak jadi berjengit bagaikan orang dipagut ular, sehingga buat beberapa saat lamanya ia merandek dan memandang pada pemuda kita dengan mata yang tidak berkesip.

Tetapi sudah barang tentu bukan perkara mudah, akan memikirkan cara bagaimana Poan Thian telah dapat mengenali kepadanya.

Sementara Cin Kong Houw yang sekarang merasa tak berguna lagi akan "bermain komidi" , buru-buru melepaskan tali-tali ikatan hidup dari badannya, hunus goloknya dari atas bebokongnya dan terus meladeni Ngay Houw Cun sambil berkata.

"Hei, kepala kampak! Janganlah kau bertingkah di hadapan kakek moyangmu! Aku inilah orang she Cin yang hendak meminjam kepalamu untuk dijadikan sam-seng!" 279 Ngay Houw Cun jadi amat gusar dan lalu mainkan goloknya dengan cepat buat mengindarkan diri daripada serangan musuh itu. Sebaliknya Poan Thian yang melihat Houw Cun telah berbalik diserang oleh Kong Houw, dengan tidak membuang tempo lagi segera tendang si Ah Kauw sehingga terpental dan jatuh pingsan, kemudian sambil berlari ke sana-sini buat mencari tempat persembunyian An Hun Ie, pemuda itu telah menggunakan kaki dan tangannya buat memukul dan menendang para pengawal yang dalam tempo sekejapan saja telah berkerumun bagaikan kawanan semut yang datang mengerumuni gula-gula kegemaran mereka. Demikianlah selagi pertempuran-pertempuran itu berlangsung dengan amat hebatnya, sekonyongkonyong terdengar beberapa orang yang berseru.

"Ada api! Ada api! Ayolah, sebagian dari kamu yang ada di sini, lekas pergi bantu memadamkan api yang berkobarkobar di halaman belakang kamar An Tay-jin!"

Kemudian disusul pula oleh para pengawal kelompok lain yang berseru.

"Saudara-saudara, di sana pun ternyata ada kawanan pengacau yang menerjang masuk! Lekaslah kepung padanya agar dapat lekas dibekuk!"

Dengan mendengar seruan-seruan yang diucapkan oleh kedua kelompok para pengawal tadi, maka Poan Thian dan Kong Houw pun lantas mengerti, bahwa pada saat itu Liu Sian di bahagian sana sedang beraksi buat membikin keadaan jadi semakin kacau.

Tetapi karena kuatir si nona tak dapat bergerak dengan leluasa, maka Poan Thian lalu keluar dari kalangan pertempuran dengan menggunakan siasat yan-cu-cwan-liam, untuk pergi membantu si nona yang sedang dikepung para pengawal dalam gedung keresidenan di situ.

Karena 280 selama pertempuran-pertempuran itu berlangsung, ia telah perhatikan dengan cukup jelas, bahwa disamping meladeni bertempur Ngay Houw Cun, Kong Houw pun masih sanggup menangkis serangan-serangan yang datang dari kiri-kanan.

Maka karena percaya bahwa sahabat ini akan tahan meladeni musuh-musuhnya sampai beberapa waktu lamanya, ia segera menerjang masuk ke bagian dalam ruangan kantor residen, yang ternyata bersambung dengan sebuah ruangan besar yang dijaga oleh beberapa orang penjaga pilihan muridmuridnya si kepala kampak she Ngay itu.

Dengan bersenjatakan golok, Poan Thian telah tempur mereka itu dan berhasil bisa melanjutkan penyerbuannya ke tempat kediaman residen, setelah terlebih dahulu dapat melukai beberapa orang penjaga-penjaga yang bertugas di situ.

Dan tatkala An Hun Ie mendengar suara ribut-ribut dan diberitahukan bahwa kawanan pengacau telah menyerbu dari segala jurusan, sudah tentu saja sangat ketakutan dan kebingungan.

Lebih-lebih ketika ia mendengar Bu Liu Sian berseru.

"Aku hanya hendak minta kepalanya An Hun Ie!"

Residen itu seolah-olah merasakan dirinya dihinggapi penyakit demam dengan secara tiba-tiba.

Ia lari kian-kemari bagaikan seorang edan.

Justeru itu Liu Sian yang telah sampai di pintu depan dari kamar di mana Hun Ie bersembunyi, sekonyong-konyong telah berpapasan dengan sekawanan penjaga yang sebagian besar telah dilukai oleh Poan Thian tadi.

Sedang maksud penjaga-penjaga ini datang ke situ, adalah buat memberitahukan, agar supaya si residen bangpak itu segera mencari tempat berlindung lain yang lebih aman.

Karena jikalau ia tak lekas berlalu dari situ, dikuatirkan pihak pengacau yang ternyata tidak bisa dikata lemah, 281 akhirnya akan sampai juga ke situ dan ketemukan si induk semang di tempat persembunyiannya.

Tetapi sungguh tidak dinyana, ketika baru saja sampai di halaman lorong yang menembus ke ruangan tersebut, mendadak mereka telah berpapasan dengan si nona, hingga dengan satu teriakan nyaring Liu Sian segera terjang mereka dan terbit pertempuran hebat, yang telah membikin Hun Ie yang berada di dalam kamar dan mendengar dengan tegas peristiwa itu, dengan tidak terasa lagi jadi jatuh duduk dan mengeluh.

"Celaka! Celaka! Sekarang si pembunuh itu berada di luar kamar! Kemanakah aku mesti lari? Kemanakah aku mesti bersembunyi untuk menyelamatkan diriku?"

"Lari! Lari!"

Kemudian terdengar suara teriakan yang riuh sekali dari beberapa orang penjaga yang merasa tidak sanggup bertahan lebih jauh buat meladeni pada si nona itu.

"Saudara-saudara! Lekaslah beritahukan supaya Tay-jin segera berlalu dari sini!"

Sementara suara jeritan penjaga-penjaga yang kena terbacok oleh si nona, telah membikin hati residen jahanam itu jadi semakin ketakutan, hingga ia berlari-lari di dalam kamar dengan tidak ketentuan kemana maksud tujuannya.

Ia mengeluh, ia sesambat, dan akhirnya.....

Ia tertawa terbahak-bahak!

Ia telah jadi gila karena sangat ketakutan!

Paling belakang ia berlari ke atas loteng dan menghampiri pada jendela yang terpisah kira-kira duapuluh kaki lebih tingginya dari tanah yang berada di bawahnya.

Di situ, setelah menghela napas beberapa kali, ia lantas berteriak.

"Bu Ciang Tong! Tengoklah, sekarang aku telah tumbuh sayap dan hendak terbang ke langit. Marilah kau boleh susul aku buat menagih jiwamu di sana!" 282 3.18. Nikouw Tua Pendekar Sakti Dan berbareng dengan habisnya ucapan itu, An Hun Ie lalu terjun ke bawah loteng, sehingga badannya hancur remuk dan binasa di seketika itu juga! Maka setelah Kong Houw kemudian muncul dengan menjinjing kepalanya Ngay Houw Cun yang telah dibunuhnya dalam pertempuran tadi, si nona pun telah kutungi kepada residen jahanam itu. Sedang Poan Thian yang memang bukan memusuhi para pengawal yang mengepung mereka bertiga, lalu hentikan penyerangannya sambil menerangkan di hadapan orang banyak, bahwa kedatangan mereka ke situ bukanlah bermaksud hendak mengacau, tetapi semata-mata untuk menuntut balas atas kekejian si residen jahanam dan gundalnya, yang telah memfitnah dan membuat berantakan keluarga Bu serumah tangga pada masa yang lampau itu. Lebih jauh Poan Thian menerangkan di hadapan mereka, bahwa Tam-tong yang mereka kenal bernama Thio Sin ini, sebetulnya bukan lain daripada Cap-ek-sinkauw Ngay Houw Cun yang sudah sekian lama dicari pihak yang berwajib untuk dijatuhi hukuman berhubung ia telah melakukan banyak perampokan di sana-sini dan tak dapat ditangkap karena pihak lawannya yang terkuat yaitu Bu Ciang Tong telah difitnah olehnya dengan jalan bersekongkol dengan residen jahanam yang telah mati menjatuhkan diri dari atas loteng itu.

"Maka pada sesudah maksud kami untuk menuntut balas telah tercapai,"

Kata pemuda kita pula.

"tugas kamipun telah berakhir sampai di sini. Dengan begitu, selanjutnya kami mengharap agar supaya tuan-tuan sekalian mendapat induk semang yang jauh lebih bijaksana daripada komplotan manusia busuk ini, yang sebenarnya sama sekali tak berharga untuk dicokolkan di 283 sini sebagai pemimpin anak negeri seluruh kota Hangciu."

Setelah selesai berpidato di hadapan para pengawal dan penjaga dari kantor residen tersebut, Poan Thian lalu mengajak si nona dan Kong Houw berlalu dengan membawa dua buah kepala musuh si nona, yang kemudian hendak dipergunakan untuk menyembahyangi rohnya Bu Ciang Tong di kelenteng Leng-coan-sie.

Tetapi karena kuatir akan dikepung oleh pihak yang berwajib sebagai pengacau-pengacau yang telah berani melakukan penyerbuan ke kantor pemerintah, maka ketiga orang itu tidak berani berdiam terlalu lama di kelenteng tersebut.

Oleh sebab itu, mereka segera melarikan diri ke tempat lain dengan menunggang dua ekor kuda miliknya Poan Thian dan Kong Houw, dengan yang seekor dinaikkan oleh Bu Liu Sian, sedang kan yang seekor pula dinaikkan oleh Poan Thian dan Kong Houw berduaan, yang ternyata telah menderita luka yang agak berat dalam pertempuran dengan Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun, yang akhirnya toh telah berhasil dapat membunuhnya dengan susah payah.

Tatkala mereka telah berjalan beberapa lamanya, mendadak Kong Houw jatuh pingsan dan buru-buru dipondong oleh Poan Thian akan diturunkan dari kuda.

Liu Sian jadi sibuk memberikan pertolongan dan lalu tanggalkan baju luarnya yang lantas dibentangkan di atas rumput.

"Marilah baringkan padanya di situ buat beberapa saat lamanya,"

Kata si nona. Lie Poan Thian turuti permintaannya dengan hanya mengucapkan satu perkataan.

"Ya,"

Kemudian ia membuka pauw-hoknya yang dibebankan di atas kudanya, buat mengambil obat untuk mengobati lukaluka kawannya itu.

284 Dalam kegelapan, si pemuda yang memegang bahu Kong Houw dan merasakan bahu tersebut agak basah dan lekat, dari itu, Poan Thian lantas ketahui, bahwa darah telah keluar dari luka-luka yang terdapat pada bagian itu.

"Cobalah kau pergi mencari air buat membersihkan darah-darah yang masih mengucur dari luka-luka yang diderita Cin Lauw-hia ini,"

Si pemuda meminta bantuan Liu Sian.

Si nona menurut.

Setelah membuka pauw-hoknya dan mengambil sebuah gelas, lalu ia menyenduk air dari sebuah solokan kecil yang airnya mengalir turun dari mata air yang terdapat di atas bukit.

Kemudian ia balik kembali dan kasihkan itu pada Lie Poan Thian, yang segera pergunakan itu untuk mencuci luka-lukanya Cin Kong Houw.

Dan tatkala luka-luka itu telah dibersihkan, barulah Poan Thian pakaikan obat luka yang dapat memunahkan bisa, meringankan rasa sakit dan menahan mengucurnya darah.

Untuk membalut luka-lukanya itu, tidak bisa dicari kekainan yang cukup lebar.

Tetapi Liu Sian yang terlebih siang telah mengetahui ini, lalu cabut goloknya dan potong sehelai bajunya sendiri untuk maksud itu.

Maka setelah Kong Houw tersadar dari pingsannya, ia rasakan luka-lukanya telah menjadi kurangan sakitnya dan telah dibalut dengan rapih.

Tetapi karena ia masih kelihatan agak lemah dan perlu dirawat, maka Poan Thian lalu coba memandang ke sekeliling tempat itu, untuk mencari penduduk yang kiranya boleh dimintakan pertolongannya akan memberikan mereka kamar buat mengaso.

285 "Itu di sana tampak api yang berkelak-kelik,"

Bu Liu Sian menunjuk ke suatu jurusan.

"apakah itu bukannya sebuah rumah penduduk, dimana kita boleh coba kunjungi buat menumpang mengaso untuk beberapa saat lamanya?"

"Ya, benar,"

Sahut Poan Thian.

"akupun baru saja melihat sinar api itu dan berpikiran begitu."

Kemudian sesudah menyimpan kembali segala keperluan tadi yang dipakai untuk merawat luka-lukanya Kong Houw, Poan Thian lalu pondong sahabatnya itu dinaikkan ke atas punggung kudanya, sedangkan si nona lalu menyelimuti Kong Houw dengan bajunya yang dipakai hamparan tadi.

Setelah itu Poan Thian sendiripun lalu naik juga ke atas punggung kuda itu, sambil memegangi Kong Houw yang kelihatannya masih lemah sekali karena mengeluarkan terlalu banyak darah dari luka-lukanya.

Hal mana, pun diturut juga oleh Liu Sian yang menunggangi kuda lain dan segera dilarikan menuju ke arah sinar api yang dilihatnya tadi.

Sesampainya ke tempat yang dituju, barulah mereka ketahui, bahwa itulah bukan sebuah rumah penduduk, tetapi sebuah kelenteng yang didiami oleh paderi, perempuan.

Karena dengan melihat nama "Giok-hun-am"

Yang tercantum di muka pintu kelenteng tersebut, orang segera ketahui jelas, paderi-paderi dari jenis kelamin mana yang mendiami rumah suci itu.

Lalu Poan Thian minta Liu Sian turun dari kuda buat coba mengetok pintu.

Ketika si nona mengetok pintu kelenteng itu beberapa kali, benar saja lantas terdengar suara orang yang berjalan keluar membukakan pintu sambil bertanya.

"Siapakah itu yang mengetok pintu pada waktu malam begini?" 286 "Kami,"

Sahut Liu Sian.

"orang-orang yang telah kegelapan dalam perjalanan dan mohon menumpang berhenti untuk melepaskan rasa letih kami."

Begitulah tatkala pintu kelenteng itu dibuka, dari dalam lalu tampak dua orang nikouw yang masih muda dan buat beberapa saat lamanya mereka tinggal terbengong mengawaskan pada si nona dan kedua orang kawannya dengan tidak mengucapkan barang sepatah katapun.

Hal mana, telah membuat Poan Thian kuatir, kalaukalau Liu Sian nanti kesalahan dalam hal menerangkan siapa diri mereka bertiga.

Oleh sebab itu, buru-buru ia minta supaya si nona suka pegangi dahulu Kong Houw yang masih duduk di atas punggung kudanya, sedangkan ia sendiri lalu maju memberi hormat pada kedua orang nikouw itu sambil berpurapuramenerangkan, bahwa mereka bertiga adalah pelindung-pelindung kereta piauw yang telah tidak beruntung kena dirampok oleh kawanan penjahat yang telah melukai juga salah seorang kawannya ini.

Oleh karena kawan ini mendapat luka-luka yang agak hebat dalam pertempuran tadi, maka ia mohon supaya mereka diperbolehkan untuk menumpang berhenti guna melepaskan lelah dan merawat lukanya sang sahabat itu.

Apabila luka-luka itu telah tidak berbahaya pula, maka di hari esok juga mereka berjanji akan segera berlalu dari situ.

Tetapi karena nikouw-nikouw itu tak berani mengambil keputusan sendiri untuk menerima serta memberikan orang menumpang tinggal, maka salah seorang antaranya lantas berkata.

"Sicu, aku harap engkau jangan menjadi kecil hati. Tentang permintaanmu untuk menumpang bermalam di sini, itulah tidak kuasa buat mengabulkan atau melarang. Coba saja nanti aku 287 beritahukan hal ini pada guru kami. Apabila ia suka mengizinkan, sudah tentu saja kami pun tidak berkeberatan untuk menerima kunjunganmu ini."

Poan Thian mengucap terima kasih dan menunggu di luar untuk menantikan jawaban dari paderi kepala.

Tidak antara lama salah seorang nikouw muda tadi telah balik kembali dan memberitahukan, bahwa guru mereka tidak berkeberatan buat memberikan mereka menumpang di situ untuk sementara waktu.

Mendengar penyahutan demikian, sudah tentu saja Poan Thian dan kawan-kawannya jadi sangat girang dan lalu menanyakan pada kedua orang nikouw itu, dimana kuda mereka mesti dititipkannya.

"Di belakang kelenteng ini terdapat sebuah emper tua yang sudah lama tidak terpakai,"

Kata salah seorang nikouw itu.

"tempatkanlah kuda-kudamu itu di sana, karena selain tempat itu dapat dipergunakan untuk berlindung dari hujan atau panas di waktu siang hari, juga di sekitarnya terdapat banyak rumput-rumput yang gemuk buat makan binatang-binatang itu."

Poan Thian mengucap terima kasih dan lalu turunkan Kong Houw dan pauwhok-pauwhok mereka dari atas binatang-binatang itu.

Setelah kuda-kuda itu ditambatkan di tempat yang telah diunjuk oleh si nikouw tadi, barulah Poan Thian bertiga masuk ke kelenteng itu untuk menjumpai paderi kepala yang kemudian ia ketahui bernama Beng Sim Suthay.

Nikouw tua ini berasal dari distrik Tay-lie dalam propinsi Hun-lam.

Usianya sudah tua sekali, (menurut keterangan muridnya, sembilanpuluh tahun), tetapi gerakan-gerakannya masih gesit dan tangkas laksana 288 orang-orang yang baru berusia antara tigapuluh atau empatpuluh tahun.

Nikouw tua ini ketika melihat Poan Thian memondong Kong Houw masuk dengan diiringi oleh Liu Sian, dengan lantas ia ketahui bahwa luka-lukanya Kong Houw itu sesungguhnya tak dapat dikatakan ringan.

Maka setelah diunjuk sebuah kamar yang agak besar, Beng Sim lalu menganjurkan supaya pemuda kita segera baringkan Kong Houw di atas ranjang, diberikan minum air teh hangat dan dirawat luka-lukanya sebagaimana mestinya.

Sedangkan Liu Sian yang merasa bahwa kecelakaan itu seolah-olah telah diterbitkan oleh karena gara-gara tindakannya sendiri, maka ia tinggal terus di dalam kamar buat melayani Kong Houw yang dilarang banyak bergerak oleh nikouw tua tersebut.

Sementara Poan Thian yang diminta datang ke ruangan pertengahan kelenteng oleh Beng Sim Suthay, lalu buru-buru pergi ke sana, setelah terlebih dahulu ia membuka baju luarnya, yang ia baru ketahui berlepotan darah, ketika berada di dalam kelenteng itu.

Maka sesudahnya mempersilahkan pemuda kita akan duduk dan disuguhkan air teh hangat, Beng Sim lalu mulai menanyakan sebab-sebabnya, mengapa Poan Thian dan kawan-kawannya bisa sampai ke situ dan peristiwa apa yang telah dialami mereka, setelah menilik keadaan Kong Houw yang mendapat luka-luka agak berat itu.

Buat menyembunyikan peristiwa sebetulnya yang telah dialami mereka tadi, Poan Thian lalu karang sebuah cerita tentang bagaimana mereka dirampok di pegunungan Pek-ma-san, dimana sahabatnya ini telah 289 menderita luka-luka dalam pertempuran dengan perampok-perampok itu.

Kemudian barulah mereka berhasil dapat meloloskan diri dan sampai ke kelenteng Giok-hun-am di situ.

Tetapi Beng Sim yang mendengar penuturan itu, bukan saja agak tak percaya dengan keteranganketerangan itu, malah sebaliknya ia tersenyum sambil berkata.

"Cong-su, rasanya ada lebih baik engkau bicara terus-terang dan jangan menjustakan kepadaku. Karena walaupun aku ini bukan dewa atau malaikat, tetapi aku percaya, bahwa namaku cukup diindahkan oleh segala penjahat-penjahat besar dan kecil yang hidup keliaran di kalangan Kang-ouw. Lagi pula letaknya pegunungan Pek-ma-san itu hanya tigapuluh atau empatpuluh lie saja jauhnya dari sini. Maka apa bila orang-orang yang berada laksaan lie jauhnya bisa ketahui Beng Sim Lo-nie itu siapa, apakah nama itu sebaliknya tidak dapat didengar oleh orangorang yang berdiam hanya beberapa puluh lie saja jauhnya dari kelenteng ini?"

Pemuda kita jadi kemekmek waktu mendengar omongan paderi perempuan itu.

Karena dengan memperhatikan gaya bicara dan maksud-maksudnya omongan tadi, ia baru mendusin bahwa Beng Sim Suthay ini bukanlah seorang nikouw sembarangan.

Jikalau ia bukan seorang ahli silat yang ilmu kepandaiannya sangat tinggi, cara bagaimanakah orangorang dari kalangan Kang-ouw yang hidup laksaan lie jauhnya dari situ bisa kenal dan mengindahkan kepadanya?

Poan Thian jadi merasa menyesal yang ia telah menjustakan kepadanya tadi.

Maka buat menebus sedikit 290 kedosaan itu, buru-buru ia berbangkit dari tempat duduknya, menyoja sambil mengucapkan maaf dan berkata.

"Suthay, aku percaya engkau tentu akan memaafkan kami sekalian, apabila sebentar aku menuturkan peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya dialami oleh kami bertiga."

"Ya, ya, sebagai seorang penganut agama Buddha yang berpegang kepada pokok dasar kebaikan hati dan mencintai pada sesama makhluk yang hidup di dalam dunia ini,"

Kata nikouw tua itu.

"sudah barang tentu aku harus berlaku jujur dan tidak berat sebelah dalam hal timbang menimbang terhadap pada segala persoalan ini atau itu yang dialami oleh seseorang. Oleh karena itu, aku anjurkan supaya engkau bicara dengan sejujurjujurnya. Peristiwa apakah yang sebenarnya telah dialami oleh kamu bertiga?"

Sekarang Poan Thian yang baru mengerti, bahwa nikouw tua itu bukan seorang jahat, maka dengan secara terus terang ia lantas menuturkan apa yang telah terjadi atas diri mereka, dari awal sehingga diakhirnya, dengan sama sekali tiada dikurangi atau dilebih-lebihkan.

Sementara Beng Sim Suthay yang mendengar penuturan itu, sambil menghela napas ia lantas berkata.

"Oh, kalau begitu, patutlah tampaknya kamu begitu tergesa-gesa. Tetapi, tentang ini, tidak perlu kamu merasa takut atau curiga apa-apa, apabila kamu sekalian masih ada di sini."

Poan Thian lalu berbangkit dari tempat duduknya dan menyoja serta mengucapkan terima kasih atas kebaikannya nikouw tua itu.

"Aku lihat luka-lukanya kawanmu itu agak berat juga,"

Kata Beng Sim pula.

"Sekarang marilah kita coba periksa, 291 agar supaya selanjutnya kita ketahui apa yang kita harus perbuat untuk meringankan sedikit penderitaannya."

"Ya, baiklah."

Pemuda kita mengangguk sebagai tanda setuju.

Kemudian ia mengikut Beng Sim menuju ke kamar dimana Kong Houw dirawat oleh Bu Liu Sian.

Tetapi Kong Houw di sana ternyata telah tidur dengan nyenyak oleh karena khasiat obat luka Poan Thian yang telah dipakaikan kepadanya oleh si nona tadi.

Maka Beng Sim yang melihat kemajuan obat yang dipakainya itu, lalu memberi isyarat supaya Poan Thian dan si nona membiarkan saja Kong Houw tidur dan jangan diganggu.

"Apabila nanti ia tersadar,"

Memesan nikouw tua itu.

"engkau boleh berikan padanya sedikit bubur dan obat minum yang nanti aku suruh anak-anak buat sediakan."

Poan Thian dan si nona kembali mengucapkan terima kasih, hingga Beng Sim jadi tersenyum dan minta supaya mereka tidak usah berlaku sungkan sampai begitu.

Tetapi karena kuatir mereka nanti dikenali oleh matamata pemerintah, maka nikouw tua itu menasehatkan, agar supaya Poan Thian jangan keluar kemana-mana dahulu, buat mana Poan Thian berjanji akan perhatikan nasehat itu dengan sebaik-baiknya.

Begitulah beberapa hari telah lalu dengan tidak terasa pula.

◄Y► 292 Pada suatu sore sesudah membantu Liu Sian merawat dan mengobati Kong Houw, Poan Thian lalu iseng-iseng pergi ke belakang kelenteng untuk melihat kuda-kuda mereka yang ditambatkan dalam sebuah emper kosong.

Di situ, selagi menambahkan rumput dan air dalam sebuah periuk bekas, mendadak Poan Thian telah dibikin kaget oleh suara orang-orang yang membentak dan dibarengi dengan suara beradunya barang tajam.

Buru-buru ia berlompat bangun dan coba pasang telinga akan mendengari, dari mana datangnya suarasuara yang mencurigai hatinya itu.

Tatkala mendengar dengan pasti, bahwa suara-suara itu telah keluar dari belakang pagar tembok yang terpisah tidak berapa jauh dari emper kosong itu, Poan Thian lalu melayang ke atas genteng dan terus merangkak menuju ke arah pagar tembok tadi, dari mana, ketika memandang ke arah pelataran sebelah dalam kelenteng itu, ternyata di sana ada beberapa orang nikouw yang masih muda, tengah berlatih ilmu silat di bawah pimpinan Beng Sim Suthay, yang duduk melihati dari halaman belakang kelenteng yang hampir menghadapi pagar tembok tersebut.

Tetapi karena halaman itu teraling dengan ujung wuwungan yang menyenderung ke bawah, maka Poan Thian yang berjongkok di situ tidak terlihat oleh nikouw-nikouw yang sedang berlatih itu.

Tetapi sungguh tidak dinyana, selagi nikouw-nikouw itu asyik bertempur dengan menggunakan golok masingmasing, sekonyong-konyong Beng Sim terdengar berseru.

"Berhenti!"

Hingga sepasang nikouw yang sedang berlatih itu segera menghentikan latihan mereka dengan rupa heran.

Karena sebegitu jauh yang mereka tahu, selama itu mereka tak pernah melakukan gerakan293 gerakan yang menyimpang daripada apa yang mereka telah dapat ajaran dari sang guru itu.

Sementara Beng Sim yang tampaknya paham juga akan perasaan mereka di saat itu, lalu menunjuk ke atas genteng sambil berkata.

"Perhatikanlah olehmu sekalian! Di atas wuwungan itu ada seorang yang mengintip gerakan-gerakan kita."

Kemudian ia menoleh pada seorang muridnya yang berdiri tidak berjauhan dengan nikouw-nikouw yang sedang berlatih tadi.

"Biauw Ko!"

Katanya.

"cobalah kau pergi lihat siapa adanya orang itu!"

Tetapi pada sebelum Biauw Ko melompat ke atas genteng, Poan Thian sudah mendahului turun ke bawah dan segera membungkukkan badannya memberi hormat pada Beng Sim sambil berkata.

"Suthay, murid mohon beribu ampun atas kelancanganku yang telah berani datang ke sini dan dengan secara tidak disengaja telah mengganggu pada Suthay yang sedang melatih para murid sekalian."

Tetapi Beng Sim bukan saja tidak kelihatan jadi gusar, malah sebaliknya lantas panggil pemuda kita sambil ditanyakan.

"Selama beberapa hari ini, aku telah lupa menanyakan tentang asal usulmu. Kau ini asal orang mana? Oleh karena kau juga mengerti ilmu silat, apakah aku boleh dapat tahu siapa nama gurumu?"

"Murid ini berasal dari Cee-lam dalam propinsi Shoatang,"

Sahut Lie Poan Tian.

"dahulu pernah berguru pada Kak Seng Siangjin Lo-siansu yang menjadi ketua dari kelenteng Liong-tam-sie." 294 "Kalau begitu,"

Kata nikouw tua itu pula.

"kau ini tentunya ada seorang murid yang berasal dari satu perguruan dengan Hoa In Liong, bukan?"

"Benar, benar,"

Sahut Poan Thian.

"Hoa In Liong itu adalah Suheng hamba."

Mendengar penyahutan itu, Beng Sim jadi tertawa dan berkata.

"Oleh karena kau ada seorang she Lie, apakah kau ini bukan Lie Poan Thian yang orang-orang di kalangan Kang-ouw memberikan gelaran Sin-tui itu?"

Poan Thian tersenyum sambil menghela napas.

"Suthay,"

Katanya.

"itulah hanya gelaran kosong yang orang telah berikan kepadaku sebagai suatu "umpakan"

Karena menurut apa yang aku ketahui, ilmu kepadaianku itu adalah sangat terbatas.

Maka kalau Suthay telah mendengar juga tentang adanya seorang yang mempunyai gelaran demikian di kalangan Kang-ouw, aku harap supaya Suthay anggap itu sebagai suatu "kabar burung"

Belaka. Karena dengan sesungguhnya juga gelaran itu telah diberikan orang tidak seimbang dengan kenyataan atau apa yang mereka tahu tentang "isi"

Yang sebenar-benarnya."

"Kau ini kelihatannya terlalu merendahkan diri sendiri,"

Kata Beng Sim Suthay sambil tersenyum.

"Mungkin juga karena aku belum menerangkan siapa sebenarnya aku ini, maka engkau telah berlaku sungkan dan pura-pura mengatakan begitu. Aku inilah bukan lain daripada adik seperguruan gurumu Kak Seng Siang-jin dari Liong-tam-sie. Jadi dengan adanya hubungan dengan gurumu itu, kau dan aku masih kepernah Su-tit dan Su-kouw. Oleh sebab itu, dimanalah ada seorang Su-kouw yang tidak merasa bangga, akan mendengar salah seorang Su-titnya memperoleh nama besar di 295 kalangan Kang-ouw, hingga dengan begitu, nama ilmu silat dari cabang Siauw-lim jadi semakin mengharum di d alam dunia ini?"

Lie Poan Thian jadi kaget tercampur girang tatkala mendengar omongan itu.

Ia sama sekali tidak menduga, akan bisa berjumpa dengan salah seorang adik seperguruan gurunya sendiri di tempat sunyi itu.

Maka setelah sekarang mengetahui dengan siapa ia berhadapan, Poan Thian lekas jatuhkan diri berlutut dan menjura di hadapan Beng Sim sambil berkata.

"Su-kouw, nyatalah aku ini ada seorang yang punya mata tetapi tak mengenali Su-kouw sendiri! Maka jikalau selama itu aku telah melakukan perbuatan sesuatu yang kurang patut dan tidak sopan, sudilah apa kiranya Su-kouw memaafkan kepadaku."

Sementara Beng Sim yang melihat Poan Thian menjura di adapannya, buru-buru ia banguni dan berkata.

"Kita sekarang adalah terhitung sanak saudara dari satu golongan juga, perlu apakah Su-tit mesti berlaku sungkan sampai begitu?"

Poan Thian lalu bangun dan berdiri di hadapan nikouw tua itu, yang sekarang ia kenali sebagai Sukouwnya, Su-moay atau adik seperguruan dari gurunya sendiri.

"Kita sekarang justeru tengah berlatih ilmu silat,"

Kata Beng Sim Suthay.

"oleh sebab itu, sudikah kiranya kau juga turut berlatih, untuk membuka pemandangan para Su-cie dan Su-moymu yang sekarang justeru berkumpul di sini?"

Poan Thian merasa tidak baik buat menolak, apalagi kalau mengingat bahwa mereka semua adalah berasal dari satu cabang perguruan Siauw-lim juga.

296 Dari itu, sesudah memberi hormat pada Beng Sim, yang lalu perkenalkannya pada sekalian nikouw-nikouw yang berkumpul di situ, Poan Thian lalu menyatakan kesediaannya akan turut berlatih.

Tetapi berhubung ilmu kepandaiannya masih sangat terbatas, si pemuda merendahkan diri, maka ia harap jangan dibuat celaan, jikalau ilmu silat yang dipertunjukkannya itu kurang baik.

"Kak Seng Suheng adalah seorang yang terlalu cerewet dalam hal memilih murid,"

Kata Beng Sim Suthay sambil tersenyum.

"oleh sebab itu aku tidak percaya ia akan mempunyai murid yang mengecewakan pengharapannya. Salah seorang antaranya, aku boleh sebutkan namanya Hoa In Liong, seorang yang sekarang dianggapnya sebagai salah seorang murid keluaran Liong-tam-sie yang paling berjasa dan telah membikin orang-orang di kalangan Kang-ouw semakin mengindahkan terhadap orang tua yang menjadi gurunya. Sedangkan orang kedua yang telah membikin Kak Seng mendapat muka terang di mana-mana, adalah kau sendiri — Sin-tui Lie Poan Thian. Karena aku tahu, bahwa setiap orang yang tidak mempunyai bakat baik akan dididik menjadi seorang ahli silat, Kak Seng selalu menolak dengan getas akan orang itu belajar ilmu silat di Liong-tam-sie. Tidak perduli berapa banyak orang itu hendak membayar biaya melatih kepadanya. Sedangkan murid-muridnya yang sekarang ada di Liong-tam-sie, itulah ada murid-murid pilihan, yang baru keluar apabila ilmu kepandaiannya sudah dianggap sempunra betul. Oleh sebab itu, perlu apakah kau mesti berlaku sungkan terus-menerus?"

Poan Thian jadi merasa tidak enak karena perbuatannya yang terlalu see-jie itu.

Maka setelah 297 memberi hormat pada Beng Sim dan para nikouw sekalian, lalu ia menindak ke tengah lataran, dimana ia lalu bersilat dengan menggunakan ilmu pukulan Kie-tokun yang dimulai dengan merangkapkan kedua tangannya, kemudian ia bergerak dengan mengunjukkan gerakan-gerakan lain yang semakin lama tampak semakin cepat dan menarik di pemandangan mata.

Setelah seantero gerakan dari ilmu pukulan itu selesai dipertunjukkan, barulah Poan Thian dengan berturut-turut menyambungkan ilmu pukulan tadi dengan ilmu-ilmu tendangan Lian-hwan-jie-sie-tui, Tiap-pouwwan-yo-tui, Soan-hong-tui, dan lain-lain., hingga Beng Sim Suthay yang merasa kagum menyaksikan ilmu kepandaian pemuda itu, saban-saban terdengar bersorak-sorak.

"Sungguh bagus sekali! Sungguh bagus sekali!"

"Jikalau ditilik dari jalannya ilmu kepandaian Kok Ciang ini,"

Pikir nikouw tua itu.

"nyatalah dia tak kecewa akan dimintakan bantuan tenaganya untuk melakukan kebaikan bagi dunia."

Begitulah, tatkala Poan Thian selesai menjalankan ilmu pukulannya yang terakhir, ia segera membungkukkan badannya sambil berkata.

"Su-kouw, sekianlah ilmu kepandaianku yang jelek itu."

Beng Sim jadi kelihatan girang dan berkata.

"Jikalau dilihat dari segala sudut ilmu kepandaianmu itu, yang sesungguhnya tidak mengecewakan bagi nama baiknya kita orang-orang dari golongan Siauw-lim, kukira orang macam kau inilah yang sangat dibutuhkan oleh In Cong Sian-su dari kelenteng Po-to-sie. Hanya belum tahu apakah kau bersedia akan membantu usaha orang tua itu?" 298 "Su-tit belum kenal siapa adanya In Cong Sian-su itu,"

Poan Thian memotong pembicaraan nikouw tua itu.

"Juga dalam soal apakah, yang ia membutuhkan seorang sebagaiku ini?"

Beng Sim Suthay lalu menerangkan kepadanya sebagai berikut.

"In Cong Sian-su ini adalah ketua dari kelenteng Po-to-sie, yang terletak di pegunungan Po-tosan dalam propinsi Ciat-kang. Oleh karena mempunyai penglihatan yang amat tajam dan dapat melihat segala sesuatu di waktu malam yang gelap gelita, maka orangorang di kalangan Kang-ouw telah memberikan ia nama julukan Kim-gan-sin-eng, atau garuda sakti yang bermata emas. Ilmu kepandaiannya In Cong Sian-su ini walaupun benar setingkat denganku, tetapi ia bukan belajar dengan secara langsung dari kelenteng Siauw-lim-sie di pegunungan Siong-san, tetapi dengan melalui kelenteng Ceng-liang-sie di pegunungan Ngo-tay-san dalam propinsi San-see, maka dari itu, ia sangat paham dalam ilmu Lo-han-kun yang menjadi pokok pelajaran ilmu silat di kelenteng tersebut.

"Sedangkan aku sendiri dan Kak Seng Suheng, adalah berasalkan dari kelenteng Siauw-lim-sie dan keluar dari paseban Lo-han-tong untuk bantu menyiarkan ilmu silat cabang Siauw-lim disamping mengembangkan agama Buddha. Lebih jauh karena Kak Seng Suheng menjadi salah seorang antara empat murid dari kelenteng Siauw-limsie yang ilmu kepandaiannya telah mencapai puncak yang tertinggi, maka ia telah diunjuk sebagai salah seorang guru besar dengan membuka sendiri perguruan ilmu silat di kelenteng Liong-tam-sie, dimana kau 299 sendiripun pernah belajar di bawah sehingga beberapa tahun lamanya. pimpinannya "

Tetapi caranya Kak Seng dan In Cong menerima murid-murid masing-masing sangat berlainan sekali.

Karena jikalau yang pertama mengutamakan kwalitet pelajaran dan bakat seseorang, adalah In Cong suka dengan banyak murid dan kepingin kelihatan maju di mata umum.

Oleh sebab itu, ia menjadi kurang menaruh perhatian terhadap pada kwalitet murid-murid yang turut belajar di kelenteng Po-to-sie tersebut.

Tugas Perguruan Dari Bibi Guru "

Salah seorang muridnya In Cong yang bernama Wie Hui, akhirnya telah melarikan diri dari Po-to-sie, setelah dapat memahamkan ilmu Pek-houw-kang dengan sebaik-baiknya."

In Cong Sian-su sendiri mula-mula tidak mengerti apa sebabnya sang murid itu telah melarikan diri, apalagi kalau mengingat bahwa ia itu adalah seorang yang tidak suka mencari setori dan bisa hidup rukun di antara sesama kawan seperguruannya.

Begitulah beberapa orang muridnya telah diperintah akan pergi mencari kepadanya di daerah-daerah sekitar pegunungan itu dan di tepi daratan yang berdekatan, tetapi murid-murid itu telah kembaIi dengan memberikan laporan, bahwa orang yang cari itu tidak dapat diketemukan.

Paling belakang karena orang melihat pakaiannya pemuda itu telah diketemukan di tepi jurang yang di bawahnya terletak lautan yang sangat luas dan dalam, maka orang segera menarik kesimpulan, kalau-kalau Wie 300 Hui itu telah membunuh diri dengan jalan menyebur ke dalam laut, walaupun tidak terdapat tanda-tanda yang mengunjukkan dengan tegas, bahwa tindakan itu telah diambil oleh Wie Hui karena dialaminya sesuatu peristiwa dalam penghidupannya selama berdiam di kelenteng Poto-sie tersebut.

Oleh sebab itu.

selanjutnya orang telah tidak mencoba pula akan mencarinya.

Tahu-tahu ketika pada suatu hari ada salah seorang sahabatnya In Tiong yang berkunjung ke Po-to-sie, barulah diketahui, bahwa Wie Hui itu sekarang telah menjadi seorang penjahat yang namanya mulai dikenal oleh pihak yang berwajib, tetapi sampai sebegitu jauh belum ada seorang pun yang mampu membekuk murid yang sesat itu.

In Cong yang mendengar kabar itu sudah tentu saja tak berbeda dengan seorang yang mendadak mendengar suara guntur di hari terang, dan ia marah bukan main pada Wie Hui, yang dianggapnya telah berkhianat kepadanya dan merusak nama baik perguruan ilmu silat cabang Siauw-lim yang terbesar di seluruh Tiongkok.

"Barang siapa yang mengkhianat atau menodakan nama baik rumah perguruannya,"

Kata paderi tua itu.

"ia harus dihukum dengan jalan membunuh diri atau dibunuh dengan secara kekerasan!"

"Demikianlah menurut kata salah seorang muridku, tatkala aku perintah ia membawa surat ke sana untuk memperingati pada In Cong, agar supaya murid yang begitu jahat bisa lekas dibasmi pada sebelum keburu ia melakukan lebih banyak kejahatan yang membikin namanya cabang Siauw-lim jadi semakin "

Jatuh"

Di matanya khalayak ramai. "

Akhir-akhirnya karena In Cong sendiri tak mempunyai murid lain yang ilmu kepandaiannya lebih tinggi daripada Wie Hui, maka ia telah minta supaya aku di sini pun turut mengikhtiarkan akan mencari salah seorang atau beberapa orang saja yang bisa dimintakan bantuannya untuk membasmi muridnya yang telah berkhianat itu, asalkan permintaan itu diajukan kepada orang-orang dari golongan kita juga.

"Maka waktu aku menyaksikan ilmu kepandaianmu yang begitu bagus dan aku percaya tak ada di bawah daripada Wie Hui, aku jadi ingat pada pesanan In Cong pada beberapa bulan yang lampau itu. Hanya belum tahu apakah kau bersedia akan bantu melaksanakan usaha orang tua itu, yang mengalami peristiwa tidak enak dan mungkin juga karena ini akan kejadian hilang muka dan "

Turun merek"

Dalam pandangan saudara-saudara dan saudari-saudari kaum lain di kalangan Kang-ouw?"

Poan Thian yang memang berhati tabah dan tidak suka mendengar segala perbuatan yang melanggar tatatertib dan kesusilaan umum, dengan lantas menyatakan kesediaannya untuk membantu, sehingga Wie Hui dapat dibasmi dan nama baiknya In Cong Sian-su terbebas pada tuduhan orang banyak sebagai seorang guru yang tak mampu mengajar murid.

"Aku sendiri sebetulnya hendak pergi ke Tiong-ciu untuk memberitahukan kepada kakakku di sana tentang pernikahanku yang akan dilakukan sekembalinya aku dari sana,"

Kata pemuda kita.

"Tetapi karena mengingat bahwa itu hanya bersangkutan dengan suatu perkara perseorangan saja yang masih boleh ditunda, maka aku pikir urusan ini akan kudahulukan penyelesaiannya, selagi perbuatannya Wie Hui belum seberapa menghebat. Karena jikalau ia telah 302 memperoleh banyak kawan yang turut serta dalam "Perjoangannya" , mungkin juga aku seorang tidak cukup untuk membasmi kejahatannya manusia busuk itu sehingga tercabut sampai ke akar-akarnya. Hanya belum tahu sekarang Su-kouw hendak atur bagaimana tentang penyelesaiannya urusan ini?"

"Buat itu,"

Kata Beng Sim Suthay dengan paras muka yang berseri-seri.

"sudah tentu saja kau harus berangkat ke Po-to-sie untuk merembukkan hal ini dengan In Cong Lo-siansu di sana."

Poan Thian mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian dengan suara perlahan ia berkata.

"Su-kouw, aku ada suatu hal yang hendak minta bantuanmu di seketika ini juga."

"Ya, itu sudah tentu saja boleh sekali,"

Kata nikouw tua itu.

"Cobalah kau terangkan, bantuan apa yang hendak kau minta dari aku."

Poan Thian lalu tuturkan riwayatnya Kong Houw dan Bu Liu Sian, yang kedua-duanya pernah ia tolong untuk melaksanakan pekerjaan masing-masing dalam hal menuntut balas terhadap musuh-musuh mereka.

Maka setelah maksud masing-masing telah tercapai, apakah tidak baik kalau diusulkan supaya mereka menikah saja, agar supaya dengan begitu, perhubungan mereka jadi lebih erat dan bisa hidup terus sehingga selama-lamanya?"

"Ya, ya, benar,"

Beng Sim Suthay menyetujui.

"Itu aku sangat mufakat. Apakah hanya dalam hal ini saja yang hendak kau minta bantuanku?"

Poan Thian membenarkan omongan itu. 303 "Urusan itu tidak sukar,"

Kata nikouw tua itu sambil tersenyum.

"Nanti besok aku sampaikan urusan ini kepada mereka berdua. Aku percaya mereka tentu suka menurut. Karena dengan hidup saling berkumpul setelah mengalami kesukaran bersama-sama, sudah tentu saja ada lebih baik daripada tercerai-berai di luaran dengan masing-masing tak mempunyai tujuan yang tertentu, bukan?"

Poan Thian tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya Beng Sim yang baik budi itu.

◄Y► Sekembalinya dari perkunjungan dan turut berlatih ilmu silat di hadapan Su-kouwnya, Poan Thian segera kembali ke kamarnya untuk masuk tidur.

Akan tetapi tidak langsungnya ia masuk ke kamar itu, berhubung dari sebelah luar ia mendengar Liu Sian dan Kong Houw yang luka-lukanya sudah hampir sembuh tengah pasang omong dengan suara perlahan-lahan.

"Itulah sebabnya mengapa aku telah bersembunyi di kelenteng Leng-coan-sie,"

Si nona terdengar berbicara, sambil dibarengi dengan suara elahan napas.

"tetapi sungguh tidak kunyana, karena adanya aku di situ, lalu timbullah lelakon "Hantu Putih"

Yang telah menggemparkan khalayak ramai, sehingga akhirnya aku telah beruntung bisa bertemu dengan kau dan Lie Congsu.

Jikalau aku tidak bertemu dengan Lie Cong-su dan kau berdua, belum tahu sampai kapan musuh-musuhku itu bisa terbalas.

Oleh karena itu, apakah salahnya jikalau aku menjunjung begitu tinggi atas pertolongan dan bantuan-bantuan kamu berdua itu?"

Kong Houw kedengaran tertawa. 304 "Hanya belum tahu setelah kita saling berpisahan nanti,"

Katanya.

"sampai kapankah kita akan bisa berjumpa pula?"

Kata-kata yang kedengaran agak romantis itu, bikin Poan Thian yang berada di luar jadi semakin asyik mendengarinya.

Ia saban-saban kelihatan tersenyum sendiri.

Ia sangat kepingin tahu, jawaban apa yang hendak diberikan si nona itu.

"Setelah kemudian kita saling berpisahan,"

Sahut Liu Sian dengan suara yang kurang nyata.

"ada kemungkinan kita tak akan berjumpa pula."

Pemuda kita jadi terharu mendengar omongan si nona itu.

"Itu tidak bisa jadi,"

Kata Kong Houw.

"Biarpun kita berada dimana juga, kalau kita masih ada umur, tentulah kita akan bisa saling bertemu. Hanya belum tahu nona Bu berumah di bagian mana dari kota Ham-yang?"

Liu Sian bungkam. Tetapi elahan napasnya bisa terdengar dengan tegas dalam keadaan yang sesunyi itu.

"Aku..... tidak punya rumah tangga lagi,"

Tiba-tiba ia menjawab.

"Karena apa yang ada..... semua telah disita oleh jahanam she An yang kita telah bunuh itu. Dari itu, aku sekarang hidup sebatang kara....."

Setelah berkata sampai di situ, Liu Sian tak tertahan pula terdengar menangis dengan suara perlahan.

Poan Thian jadi menghela napas dan turut berduka atas nasib si nona yang malang itu.

Kong Houw yang rupanya jadi "kesima"

Dengan kelakuan si nona, mula-mula tidak terdengar berbicara apa-apa, tetapi kemudian lantas menghibur sambil berkata.

"Nona Bu, segala sesuatu yang telah terjadi, 305 sudah tentu kita sesalkan pun tak ada gunanya pula. Maka apa yang sekarang paling perlu kita pikirkan, adalah berikhtiar untuk penghidupan kita yang bakal datang. Aku telah lama memikirkan dan berniat akan membuka sebuah piauw-kiok. Kau dan aku adalah orang-orang yang boleh dikatakan hampir senasib, hanya persoalannya saja yang agak berbedaan. Juga, seperti apa yang telah dialami olehmu sendiri, akupun beruntung telah mendapat bantuan dan pertolongannya Lie Lauw-hia, kalau tidak, belum tahu bagaimana jadinya dengan diriku sekarang. Bisa jadi juga aku sudah mati dibuang ke tempat yang jauh. Aku pikir, jikalau maksudku buat membuka piauw-kiok itu kesampaian, apakah tidak baik jikalau..... jikalau kau juga turut dalam usahaku itu?"

"............................... ."

Akhir-akhirnya Poan Thian yang tidak sabar lagi mendengari pembicaraan mereka di luar kamar, lalu berjalan masuk dan turut menimbrung.

"Mufakat, mufakat! Cara kerja sama itu memanglah ada suatu jalan yang paling baik untuk mempererat perhubungan kita,"

Katanya sambil tersenyum.

"Aku bantu doakan, agar supaya cita-cita itu bisa lekas kesampaian."

Kong Houw tertawa, yang juga diturut oleh Liu Sian sambil menyusut airmatanya.

"Dan jikalau piauw-kiok itu bisa kejadian dibuka,"

Poan Thian menambahkan.

"aku pujikan supaya diberi bernama ,,Siang-hap Piauwkiok"

Atau "Piauw-kiok Dua Sejoli"! Tetapi belum tahu apakah kamu setuju dengan nama pemberianku itu?"

Kedua orang itu jadi bungkem sejurus. Karena dalam kata penolong mereka itu seakan-akan menyelip 306 "maksud"

Sesuatu yang agak samar tetapi mudah dimengerti.

Selanjutnya karena urusan Kong Houw hendak membuka piauw-kiok telah tidak dilanjutkan pula, maka ketiga orang itupun lalu pergi masuk tidur.

Di hari esoknya pagi-pagi sehabis dahar nasi, ketika Poan Thian pergi memeriksa kuda mereka di belakang kelenteng, Beng Sim Suthay telah datang menyambangi Kong Houw yang luka-lukanya sudah hampir sembuh.

Di situ, setelah duduk mengobrol beberapa saat lamanya, ni-kouw itu lalu mulai mengulangi penuturannya Lie Poan Thian tentang dirinya (Kong Houw) dan Si nona itu, yang dikatakan betapa baiknya apabila mereka bisa terangkap menjadi suami-isteri.

Karena disamping keperluan Kong Houw sehari-hari bisa ada orang yang bantu urus, juga si nona yang sekarang hidup sebatang kara bisa mempunyai pelindung yang boleh dipercaya dan telah saling mengenal dengan baik tabeat masing-masing pada beberapa waktu itu.

Sementara Kong Houw dan Liu Sian yang mendengar omongan ni-kouw tua itu, mereka pun jadi teringat akan omongan Poan Thian yang telah diucapkan kemarin di hadapan mereka dengan secara memain.

Maka setelah sekarang mereka mendapat juga anjuran dari Beng Sim Suthay, yang baik hati itu, sudah tentu saja mereka pun suka menurut dan berjanji akan melaksanakan pengharapan Poan Thian dan nikouw tua itu, lebih-lebih karena mereka memang "ada hati"

Satu sama lain selama mereka menumpang tinggal di kelenteng Giok-hun-am itu.

307 Tetapi karena mereka berdua tak mempunyai sanak saudara, maka Beng Sim kembali menganjurkan kepada mereka, supaya upacara pernikahan itupun diadakan saja di kelenteng tersebut, dengan semua keperluankeperluannya diatur serba sederhana oleh ia sendiri dan Poan Thian berdua.

Kong Houw dan Liu Sian yang mendengar omongan itu, dengan girang lekas menjura di hadapan Beng Sim Suthay, sambil menyampaikan rasa terima kasih mereka.

Demikian juga ketika melihat Poan Thian kembali memeriksa kuda, merekapun lalu menyambut dan mengucap terima kasih, atas perantaraan si pemuda yang telah bantu mengikat perjodohan mereka, dengan melalui usaha yang telah disampaikan oleh Beng Sim Suthay tadi.

Sedang Poan Thian yang melihat maksudnya yang hendak merangkapkan perjodohan Kong Houw dan Liu Sian telah berhasil sebagaimana apa yang diharapnya, sudah tentu saja iapun menyatakan turut bergirang, maka selanjutnya dengan suara separuh memain ia bantu berdoa, supaya dengan perangkapan jodoh ini.

"Siang-hap Piauwkiok"

Yang dicita-citakannya pun bisa lekas dibuka.

Karena dengan begitu, sewaktu-waktu ia bisa "numpang berhenti", apabila ia kebetulan sempat atau melewat ke tempat kediaman mereka berdua.

Sebaliknya Kong Houw dan Liu Sian yang telah menerima budi bukan kecil dari pemuda kita, mengharap juga akan lekas ikut minum arak kemantin yang akan diadakan di rumah keluarga Na, dimana pun akan dirayakan pernikahan antara Poan Thian sendiri dan nona Giok Tin.

Maka setelah Kong Houw dan Liu Sian menikah dan menuju ke selatan untuk melaksanakan cita-cita mereka 308 akan membuka sebuah piauw-kiok, Poan Thian pun dengan membawa surat dari Beng Sim Suthay lalu menuju ke propinsi Ciat-kang, dari mana ia telah diperintah akan berangkat ke kelenteng Po-to-sie, untuk membantu usaha In Cong Sian-su yang telah dikhianati oleh seorang muridnya yang bernama Wie Hui itu.

Oleh karena kuda-kuda yang ada telah diberikan pada Kong Houw suami-isteri, maka ia sendiri terpaksa melanjutkan perjalanannya ke Po-to-sie dengan berjalan kaki.

◄Y► Pada suatu hari sesampainya di desa Sam-li-tun, yang terletak beberapa puluh lie jauhnya di sebelah utara dari kota Hang-ciu, Poan Thian telah dibikin tertarik oleh orang banyak yang berkumpul di muka sebuah kelenteng Touw-tee-bio, sambil sebentar-sebentar bertampik sorak riuh dan berseru.

"Ho bugee! Ho bugee! Itulah sesungguhnya permainan silat yang bagus sekali!"

Mula-mula ia menyangka di situ ada seorang penjual silat keliling yang sedang mempertunjukkan ilmu kepandaiannya.

Tetapi ketika mendapat keterangan tentang adanya pertandingan antara dua orang ahli silat yang penduduk situ belum pernah kenal, Poan Thian jadi semakin tertarik dan lalu turut menonton dengan jalan naik ke atas gunung-gunungan tanah yang terdapat di muka bio tersebut.

Dari situ ketika Poan Thian memandang sekian lamanya, mendadak ia kenali, bahwa salah seorang ahli silat yang sedang bertempur itu, ia rasanya pernah kenal tetapi lupa dimana dahulu ia pernah bertemu dengannya.

309 Pertempuran itu rupanya telah berlangsung agak lama juga, karena ahli silat yang ia rasa kenal itupun sudah agak kalut ilmu pukulannya dan mulai terdesak oleh lawannya, yang usianya jauh lebih muda daripada dirinya sendiri.

Dalam pada itu, Poan Thian perhatikan dengan teliti ilmu-ilmu pukulan yang telah diajukan oleh si ahli silat muda itu, yang telah meluncurkan pukulan-pukulan dahsyat untuk merobohkan pada lawannya yang lebih tua itu.

"Itulah ada bagian-bagian dari ilmu silat Lo-han-kun yang telah dipergunakan oleh si pemuda itu,"

Kata Poan Thian pada diri sendiri.

"Oleh sebab itu, tidak salah lagi, bahwa ia inilah salah seorang ahli silat Siauw-lim dari cabang Ngo-tay-san. Tetapi belum tahu apa sebab musabab mereka bertempur di tempat yang agak ramai ini, sedangkan tempat-tempat lain buat bertempur pun bukan sedikit di sekitar pedusunan ini?"

Belum habis Poan Thian berpikir tentang caranya mereka mengadu ilmu silat di tempat yang sedemikian itu, ketika dengan sekonyong-konyong dari sebelah belakang ia merasai bersiurnya angin yang menandakan tentang kedatangannya seorang yang hendak menghampiri kepadanya dengan secara diam-diam.

Dan tatkala ia coba menoleh ke belakang, ia jadi terperanjat melihat seorang yang bertubuh tinggi besar berdiri di belakangnya dengan sorot mata yang menyala-nyala.

Kemudian orang itu mengunjukkan senyuman iblis sambil bertanya.

"Apakah kau masih kenali siapa aku ini?"

"Itu aku tidak sangsi lagi,"

Sahut Lie Poan Thian.

"Kau ini adalah Liu Tay Hong, salah seorang kauw-su Tan 310 Chung-cu Tan Tong Goan yang dahulu pernah kupecundangi. Sekarang, sebab kuyakin, bahwa pertemuan ini tidak mengandung maksud baik, kukira tidak perlu lagi aku menanyakan kepadamu.

"Apakah selama ini kau ada baik?"

Tetapi lebih tepat jikalau aku menanyakan.

"Apakah sekarang kau telah cukup melatih diri untuk merobohkan kepadaku?"

Jikalau kau ternyata telah bersedia, bolehlah kita melanjutkan pertempuran kita yang telah tertunda beberapa tahun lamanya itu, jikalau kau merasa masih belum berlatih cukup matang, aku nasehatkan supaya kau boleh lekas berlalu dari hadapanku.

Tunggu kalau nanti kau sesungguhnya telah berlatih sampai cukup matang, barulah kau mencari pula padaku, untuk menetapkan siapa salah seorang antara kita berdua yang ilmu kepandaiannya lebih unggul!"

Orang itu, yang ternyata bukan lain daripada Liu Tay Hong yang para pembaca tentu masih ing at, sudah tentu saja jadi amat gusar dan lalu menerjang pada Lie Poan Thian dengan tidak banyak bicara lagi.

Poan Thian buru-buru berkelit dan berlompat turun dari atas gunung-gunungan tanah itu, untuk menunda pauw-hok yang digendong di atas bebokongnya.

Begitulah dengan terjadinya pertempuran antara Lie Poan Thian dan Liu Tay Hong di bawah gununggunungan tanah tersebut, maka di halaman kelenteng Touw-tee-bio itu telah tertampak jadi semakin ramai, dengan adanya dua rombongan orang-orang yang bertempur dengan para penonton sama sekali tidak mengetahui sebab-musabab daripada perkelahian itu.

Tapi kebanyakan orang pada umumnya tidak mengambil pusing mereka siapa atau sebab apa mereka 311 bertempur, oleh karena itu, orang banyak yang berkerumun di depan kelenteng itu segera terpecah menjadi dua rombongan.

dengan yang sekelompok saban-saban bertampik sorak lebih ramai daripada rombongan yang lainnya.

Dan semakin ramai orangorang yang bertampik sorak, semakin tegas pula kehebatannya pertempuran-pertempuran yang sedang berlangsung di saat itu.

Dalam pada itu, Sin-tui Lie Poan Thian yang telah sekian lamanya tidak bertemu muka dengan Liu Tay Hong, dengan lantas mengetahui lebih tegas tentang kemajuan ilmu silat sang lawan itu, hingga jikalau dahulu ia boleh berlaku sedikit ayal-ayalan dalam perlawanannya, adalah sekarang tak sempat pula ia berbuat begitu tanpa menanggung resiko yang bukan kecil bagi keselamatan dirinya sendiri.

Karena jikalau dahulu Tay Hong hanya merupakan sebagai seorang kauw-su yang semata-mata mengajar ilmu silat untuk mencari nafkah, adalah sekarang ia telah menjadi seorang yang betul-betul ahli dalam hal mempertunjukkan ilmu Hek-houw-kun yang terkenal lihay dan disegani orang itu.

Maka Poan Thian yang telah matang dalam pengalaman di kalangan ilmu silat, sudah tentu saja lantas atur penjagaan dengan sebaik-baiknya, sehingga Tay Hong sama sekali tidak mendapat ketika akan melakukan penyerangan kilat terhadap pada bagianbagian Poan Thian yang ia anggap lemah.

Begitupun Poan Thian yang mengerti bahwa Liu Tay Hong tak dapat dirobohkan dengan menggunakan ilmu pukulan, buru-buru ia maju menerjang lawan itu dengan ilmu tendangan lihay yang ia memang amat paham.

312 Sementara Liu Tay Hong yang telah kenal bahwa keunggulan Lie Poan Thian adalah di bagian ini, sudah tentu saja iapun terpaksa mesti pasang mata dengan betul, dan ia sudah merasa sangat beruntung jikalau ia tidak sampai dirobohkan pula seperti apa yang telah dialaminya pada waktu yang lampau itu.

Maka karena sikap yang sangat hati, daripada kedua belah pihak lawan itu, tidaklah heran jikalau pertempuran itu telah berlangsung sampai beberapa lamanya dengan tidak tertampak pihak mana yang lebih unggul atau lebih rendah ilmu kepandaiannya.

Meskipun Tay Hong telah beberapa kali mengajukan ilmu-ilmu pukulan yang sangat berbahaya, tidak urung pukulan-pukulan itu telah dapat dielakkan dan dibikin tidak berbahaya oleh kegesitan dan kepandaian Lie Poan Thian, hingga orang banyak jadi sangat memuji atas kepandaian pemuda kita yang dikatakan sangat lihay itu.

Pada satu saat karena suatu kesalahan dalam penyerangan yang telah dilakukan oleh Liu Tay Hong, maka Poan Thian mendapat kesempatan buat segera menggunakan ilmu tendangan yang gerakkannya amat cepat untuk membikin terkesiap hati lawannya itu.

Dan sebegitu lekas Tay Hong hendak berkelit buat meluputkan diri daripada tendangan tersebut, Poan Thian lalu barengi mempergunakan ilmu Sauw-tong Lianhwan-tui yang ternyata belum pernah diketahui bagaimana kelihayannya oleh Liu Tay Hong, hingga biarpun tendangan yang satu telah berhasil dapat dielakkannya, tetapi tendangan yang lain tak berdaya ia dapat singkirkannya.

Maka pada sebelum ia keburu berpikir dengan jalan apa ia harus menyelamatkan dirinya, kaki kiri Lie Poan Thian telah menyamber ke ulu hatinya bagaikan kilat cepatnya.

Tay Hong lekas 313 miringkan sedikit badannya, tetapi tidak urung ia telah kena juga ditendang sehingga terpental dan jatuh di suatu tempat yang terpisah kira-kira beberapa belas kaki jauhnya.

Beruntung juga kenanya tendangan itu tidak seberapa telak, hingga Tay Hong keburu bangun dan berteriak.

"Lekas lari!"

Kemudian ia panjangkan langkahnya dan melarikan diri ke sebelah barat kelenteng, dengan tidak menoleh lagi ke belakang buat melihat, apakah Poan Thian masih mengejar atau tidak.

Sementara pemuda yang sedang bertempur dengan orang setengah tua di muka kelenteng Touw-tee-bio tersebut, segera berlompat keluar dari kalangan pertempuran, tatkala mendengar seruan Liu Tay Hong itu.

Ia ini, yang rupanya menjadi juga kawan Liu Tay Hong, lalu melarikan diri dengan mengambil jurusan yang dituju oleh sang kawan itu.

Selanjutnya karena melihat musuh itu telah kabur, maka Poan Thian pun merasa tidak perlu akan melakukan pengejaran, tetapi segera maju menghampiri orang setengah tua itu sambil tersenyum dan memberi hormat.

"Suhu,"

Katanya,"

Semenjak kita saling berpisahan, apakah kau ada baik dan sehat wal'afiat?"

Orang itu kelihatan jadi terperanjat dan buat sejurus lamanya tak dapat berkata-kata barang sepatahpun.

"Apakah kau ini bukan Lie Kok Ciang dari Cee-lam?"

Ia menegaskan bagaikan orang yang takut keliru mengenali orang.

"Benar,"

Sahut Poan Thian.

"apakah Suhu telah lupa kepadaku?" 314 Orang itu mendadak tertawa bergelak-gelak, kemudian ia lantas memegang bahu pemuda kita sambil berkata.

"Aku tidak nyana bahwa sehingga sekarang kau masih tetap mengaku aku sebagai gurumu. Kok Ciang, nyatalah engkau ini ada seorang yang berbudi."

Setelah orang banyak yang berkerumun di muka kelenteng telah pada bubaran, Poan Thian lalu gendong pula pauw-hoknya dan ajak orang itu yang ternyata bukan lain daripada An Chun San, yang dahulu pernah menjadi guru dan pernah dirobohkannya akan mampir ke sebuah kedai untuk mengaso dan menanyakan.

apa sebab ia bertempur di situ, dan siapakah orang muda yang menjadi musuhnya itu?

Maka setelah kedai yang dicari itu telah dapat diketemukan, Poan Thian lalu ajak bekas guru itu akan mampir dan persilahkan Chun San pilih sendiri, makanan atau minuman apa yang digemarinya.

Begitulah sambil duduk makan minum bersama-sama Chun San telah menuturkan riwayat perjalanannya, semenjak ia mabur dari rumah Poan Thian di Cee-lam sehingga mereka bertemu di kelenteng Touw-tee-bio yang telah dipilih oleh kedua pihak sebagai tempat untuk menentukan, siapa salah seorang antara Chun San dan musuhnya yang lebih unggul ilmu kepandaiannya.

"Musuh ini sebenarnya aku tidak kenal siapa namanya yang benar,"

Memulai bekas guru itu.

"Dalam desa Sam-li-tun ini aku telah berdiam beberapa tahun lamanya, yaitu semenjak aku berlalu dengan diam-diam dari rumahmu di Cee-lam. Di dalam desa ini aku kebetulan ada mempunyai seorang sahabat yang membuka sebuah toko obat. Oleh karena ia mengetahui bahwa aku paham juga obat-obatan dan ilmu pengobatan, maka ia telah ajak aku bersero dengan 315 hanya keluar tenaga, sedangkan segala ongkos-ongkos dan keperluan semua ditanggung oleh sahabatku itu. Dalam perseroan ini kita telah peroleh keuntungan yang lumayan buat melewati hari."

Semakin lama perusahaan kita ini semakin maju, sehingga akhirnya rumah obat kita menjadi tersohor dan dikenal oleh hampir seluruh penduduk tua dan muda dalam desa Sam-li-tun ini.

Paling belakang karena banyak terjangkit penyakit mejen di antara rakyat-rakyat yang miskin dan tidak mampu, maka kita lantas adakan kampanye untuk memberikan obat dan pemeriksaan dengan cuma-cuma, sehingga penyakit itu dapat dibasmi di seluruhnya dari desa tersebut.

Maka berkat kampanye ini, bukan saja kita mendapat pujian dari pihak anak negeri, bahkan pihak yang berwajibpun menyatakan terima kasihnya atas bantuan kita yang berharga itu terhadap masyarakat di Sam-li-tun khususnya, sehingga karena itu, nama rumah obat kita jadi semakin termasyhur di mana-mana.

Hanya amat disayangkan, antara adanya kemasyhuran itu, kita jadi menghadapi soal lain yang berupa gangguan dari sahabat-sahabat yang menuntut penghidupan tidak baik di kalangan Kang-ouw hitam.

Mereka berpendapat, karena kita memperoleh banyak keuntungan dalam perusahaan kita, maka mereka pun ingin minta juga beberapa bagian dari keuntungan itu guna dibagibagikan di antara golongan mereka.

Hal mana, sudah barang tentu, aku sebagai kuasa dan pengurus rumah obat Tiang-seng-tong itu, tidak suka mengabulkan atas permintaan yang sangat bo-ceng-li itu.

"Oleh sebab itu juga, pada suatu hari anak muda yang bertempur dengan aku itu dan mengaku bernama 316 Hok Cie Tee, telah datang berkunjung ke rumah obat kita buat coba membujuk padaku. Katanya, kalau aku tidak suka keluarkan "

Uang jago"

Sejumlah yang telah diminta duluan, dikasih separuhnyapun mereka mau terima juga.

Tetapi aku tetap tidak mau memberinya juga, sehingga akhirnya terbit percekcokan yang telah menyebabkan ia menantang berkelahi padaku di muka kelenteng Touw-tee-bio itu.

"Ilmu kepandaian anak muda itu ternyata tidak bisa dicela, dan jikalau aku memangnya tidak meyakinkan ilmu silat pula pada seorang paderi dari kelenteng Siauwlim-sie sebegitu lekas aku berlalu dari Cee-lam, niscaya siang-siang aku telah dirobohkan oleh pemuda bajingan itu."

"Ketika barusan aku lalu di kelenteng Touw-tee-bio,"

Poan Thian memotong pembicaraan bekas gurunya itu.

"akupun telah bertemu dengan seorang kauw-su yang aku pernah pecundangi dan dia bersumpah akan menuntut balas kepadaku di kemudian hari. Dia ini rupanya menjadi juga komplotan si anak muda yang aku percaya telah datang bersama-sama, tetapi berpura-pura tidak kenal satu sama lain. Hanya belum tahu apakah Suhu ketahui juga hal ini di muka terjadinya pertempuran itu!"

"Tentang ini aku tidak tahu pasti,"

Sahut An Chun San.

"tetapi aku percaya, bahwa si pemuda bajingan itu tidak datang ke situ dengan hanya seorang diri saja. Apalagi ketika aku melihat kau dan orang itu bertempur dari kejauhan, hatiku bercekat dan semakin percaya, bahwa kedatangan kawannya itu dengan secara diamdiam, adalah telah diatur lebih dahulu buat mengerubuti atau mencelakai pada diriku dengan secara menggelap. Hanya aku tidak mengerti, apa sebabnya sehingga kau 317 jadi bertemu dengan orang itu. Barusan, karena aku sedang sibuk menjaga diriku dari serangan-serangan musuh itu, maka tidak sempat aku berpikir akan mencari tahu, sebab-sebab atau alasan-alasannya yang masuk diakal berhubung dengan terjadinya pertempuran yang amat sekonyong-konyong itu."

Maka buat menjelaskan tentang duduknya urusan yang benar, Poan Thian lalu tuturkan pertemuannya dengan Liu Tay Hong di rumah Tan Tong Goan, dari awal sehingga akhirnya ia merobohkan bekas kauw-su itu.

Tetapi tak tahu ia bagaimana Tay Hong bisa jadi berkawan dengan pemuda bajingan itu.

"Ketika barusan aku melihat Suhu bertempur dengan penjahat itu,"

Poan Thian melanjutkan omongannya.

"sebenarnya aku tidak nyana bakal bertemu dengan Suhu di tempat ini." .. Bantuan Murid Bagi Mantan Guru Tatkala Chun San menanyakan, Poan Thian sebenarnya hendak pergi kemana, pemuda kita lalu tuturkan perutusannya, yang ia telah terima dari Beng Sim Suthay dari kelenteng Giok-hun-am.

"Aku diperintah akan membantu In Cong Sian-su buat menaklukkan atau menangkap muridnya yang berkhianat dan bernama Wie Hui itu,"

Ia akhiri bicaranya.

"Nama itu sudah lama aku dapat dengar,"

Kata Chun San.

"tetapi sayang bukan di dalam golongan orangorang yang terhormat. Menurut ceritera beberapa orang kawanku di kalangan Kang-ouw putih, Wie Hui itu adalah seorang ahli ilmu Pek-houw-kang yang paling muda di masa ini, jikalau tidak mau dikatakan paling baik dan paling pandai dari antara yang lain-lainnya." "Ya, itupun aku telah ketahui sedikit dari mulut orangorang yang aku ketemukan dalam perjuanganku,"

Sahut Lie Poan Thian.

Sehabisnya bermakan minum dan Poan Thian membayar semua rekening meski Chun San mencegah dan hendak membayar sendiri, Chun San lalu ajak Poan Thian mampir ke tempat kediamannya dan menganjurkan, agar supaya pemuda itu suka berdiam beberapa hari lamanya sebagai tanda memperbaharui serta mempererat perhubungan mereka yang dahulu telah terputus itu.

Poan Thian menurut untuk memenuhi pengharapan bekas gurunya itu.

Dua malam telah lewat dengan tiada terjadi hal apaapa yang penting untuk dituturkan di sini.

Tetapi pada malam ketiga selagi Chun San menjamu Poan Thian duduk makan minum di halaman belakang tempat kediamannya, mendadak mereka telah dibikin kaget oleh sepasang bayangan manusia yang berkelebatan masuk ke halaman itu.

Oleh karena An Chun San dan Poan Thian baru saja beberapa hari mengalami pertempuran, karuan saja mereka lantas menyangka, kalau-kalau kedatangan kedua orang itu tentu lah tidak bermaksud baik.

Tidak kira ketika melihat tuan rumah dan tetamunya pada berbangkit dari tempat duduk masing-masing kedua orang tadi lalu maju menghampiri sambil berkata.

,,Selamat malam, tuan-tuan!

Kedatangan kami ini bukanlah bermaksud jahat, sebagaimana kamu berdua tentu mengira.

Kami berdua adalah kakak dan adik yang bernama Lauw Thay dan Lauw An, berdua saudara yang bekerja di bawah perintah Liu Tay Hong dan Hok Cit, 319 yang tempo hari telah mengaku bernama Hok Cie Tee di hadapan tuan An.

Oleh karena mengingat atas budi kebaikan tuan An yang telah berlaku dermawan memberikan bantuan yang berupa obat-obatan, pemeriksaan dengan cuma-cuma dan uang untuk menghidupkan seluruh rumah tangga kami, maka kami berdua walaupun bekerja di bawah perintah mereka, tetapi masih mempunyai liang-sim dan tidak bersedia akan mentaati tugas busuk yang kami sekarang telah diperintah untuk melakukannya."

Tatkala Chun San menanyakan, tugas apakah itu yang mereka telah diperintah buat lakukan pada malam itu, Lauw Thay lalu bentangkan telapak tangannya dan unjukkan itu pada si tuan rumah dan Lie Poan Thian di bawah penerangan api lampu.

"Api!"

Kata mereka dengan suara yang hampir berbareng.

"Kalau dugaanku tidak keliru,"

Kata An Chun San kemudian.

"kamu berdua telah diperintah akan membakar rumah tanggaku ini. Apakah bukan begitu, maksud yang benar dari perkataan "

Api"

Yang dituliskan dimana telapak tanganmu itu?"

"Ya, benar,"

Sahut Lauw Thay.

"Tetapi disamping itu, masih ada pula lain macam perintah yang bagi orang lain berarti amat hebat, tetapi bagi tuan An boleh dianggap sepi saja. Yaitu..... ini."

Sambil berkata begitu, Lauw Thay lalu membentangkan telapak tangan yang lainnya SOE (mati).

Demikianlah tulisan yang tampak pada telapak tangan itu!

"Tetapi ini boleh dikatakan tidak ada artinya bagi tuan An yang berilmu kepandaian jauh lebih tinggi daripada kami berdua,"

Kata Lauw Thay pula.

"karena 320 buat membunuh tuan An, aku percaya Hok Cit sendiripun belum tentu mampu, apalagi kami berdua yang bodoh dan tidak pernah berguru pada orang-orang pandai. Dimanalah kami bisa lakukan pekerjaan yang seberat itu?"

An Chun San dan Lie Poan Thian berdua jadi "kesima"

Waktu mendengar omongan itu.

"Setelah sekarang kamu menyampaikan kabar yang tidak baik itu kepadaku,"

Kata Chun San akhir-akhirnya.

"ada hal apakah lagi yang kamu hendak katakan selanjutnya?"

"Kami berdua sebetulnya tidak akan kembali pula kepada mereka,"

Kata kedua orang itu.

"Tetapi oleh karena kami kuatir akan hidup berkeliaran di luaran apabila komplotan Liu Tay Hong dan Hok Cit belum dapat dibasmi, maka kami bermohon, atas kebijaksanaan dan kedermawanan tuan An di sini, untuk memberikan kami berdua tempat bersembunyi untuk beberapa waktu lamanya. Apabila komplotan manusia-manusia busuk itu telah dibasmi oleh pihak yang berwajib, sudah tentu saja kami lantas berlalu dengan tidak menyusahkan apa-apa lagi bagi tuan An. Hanya belum tahu apakah tuan An sudi meluluskan atas permintaan kami ini?" . An Chun San mula-mula kelihatan ragu-ragu, karena biarpun mereka telah mengatakan bahwa mereka pernah menerima budi kebaikannya, tetapi ia sama sekali tidak pernah kenal, mereka asal dari mana dan dimana rumah tangga mereka yang dikatakannya itu. Air yang dalam bisa diukur, tetapi hati manusia cara bagaimanakah bisa diukurnya? "Kalau begitu aku punya suatu jalan yang paling baik bagi kamu berdua dan bagi aku juga yang berada di sini,"

Kata An Chun San setelah berpikir sejurus lamanya. 321 Ketika mereka mendahului menanyakan, cara bagaimana yang Chun San akan atur buat menolong diri mereka, si tuan rumah lantas menjawab.

"Begini. Sekarang aku berikan kamu ongkos duaratus tail perak untuk menyingkir sementara waktu lamanya ke tempat lain yang kamu kira cukup selamat untuk kamu berlindung. Dan di sana, apabila kamu mendengar kabar bahwa komplotan manusia-manusia busuk itu telah dibasmi oleh pihak yang berwajib, barulah kamu kembali lagi ke sini, agar supaya dengan begitu, akupun bisa atur cara lain guna menjamin penghidupanmu berdua. Tetapi belum tahu apakah kamu setuju dengan caraku ini?"

Lauw Thay kelihatan mendengar omongan itu. menghela napas ketika "Cara itu rasanya boleh juga diturut,"

Kata Lauw An.

"Karena disamping kita bisa menyelamati diri kita, tuan An di sinipun tidak usah kuatir jadi kerembet dengan urusan kita. Maka setelah kita tidak melupakan atas budi kebaikan tuan An terhadap seluruh keluarga kita, kitapun sebaliknya harus bantu berdaya guna keselamatan tuan An serumah tangga yang berdiam di desa Sam-li-tun ini."

"Ya, ya, itulah ada suatu jalan paling baik yang kukira bisa disetujui oleh kedua pihak,"

Kata Lie Poan Thian yang turut campur berbicara.

Maka setelah mereka menyatakan mufakat, An Chun San lalu pergi mengambil sejumlah uang yang lalu diberikan pada mereka berdua sambil memesan seperti berikut.

"Uang ini kamu boleh gunakan dengan sehemathematnya. Apabila nanti ternyata tidak cukup, kamu boleh suruhan orang datang membawa surat ke sini buat minta ditambahkan. Aku di sini selalu terbuka buat menolong sesuatu orang yang patut ditolong, apalagi 322 terhadap pada orang-orang yang memangnya kupernah berhutang budi. Kalau nanti kamu sudah berada di tempat lain, jangan lupa akan memberitahukan alamatmu, agar jikalau nanti keadaan sudah tidak berbahaya lagi bagi mu berdua, akupun boleh segera panggil kamu kembali ke Sam-li-tun, buat membantu pekerjaanku atau mengatur cara lain yang bisa mendatangkan kebaikan bagi kita kedua pihak."

"Benar, benar,"

Menyetujui Lauw An.

"Cara lain yang bisa digunakan dalam keadaan kesusu seperti sekarang, mungkin juga tidak ada lagi yang sebaik itu."

Sementara Lie Poan Thian yang lebih banyak mendengari pembicaraan orang daripada turut campur berbicara, akhir-akhirnya mendapat suatu pikiran yang segera diajukannya pada An Chun San seperti berikut.

"Menurut pendapatku yang cupat, kiranya ada baiknya juga jikalau kedua saudara ini diperbantukan dalam sebuah piauw-kiok. Karena selain pekerjaan itu menyocokkan betul bagi bakat mereka, merekapun bisa juga dipergunakan sebagai petunjuk-petunjuk dalam soal pengangkutan-pengangkutan yang biasa dilakukan orang ke tempat-tempat lain."

An Chun San mufakat.

Demikian juga Lauw Thay berdua saudara, mereka menyatakan setuju dengan usul itu, asalkan mereka diperbantukan dalam piauwkiokpiauwkiok yang letaknya jauh dari daerah kekuasaan komplotan Liu Tay Hong dan Hok Cit, hingga dengan begitu, ketika buat kejadian berbentrok dengan kedua penjahat itu jadi bisa diringankan, biarpun itu bukan berarti akan dapat disingkirkan sama sekali.

"Aku juga makanya menganjurkan begitu,"

Kata Lie Poan Thian.

"adalah karena aku mempunyai seorang sahabat yang selama ini berniat akan membuka piauw323 kiok di selatan. Orang ini asal Ho-lam, she Cin bernama Kong Houw. Kini ia dan isterinya ada dalam perjalanan pulang ke desa kelahirannya. Jikalau kamu berdua berlaku cepat, ada kemungkinan kamu ketinggalan pun tidak berapa jauh."

Semua orang mufakat benar dengan anjuran pemuda kita itu.

Maka sesudah merekapun dijamu makan minum, diberikan uang dan sepucuk surat oleh Poan Thian yang dialamatkan kepada Cin Kong Houw serta petunjukpetunjuk lain yang memudahkan untuk mereka mencari pada orang yang dimaksudkan itu, barulah Lauw Thay dan Lauw An memohon diri pada Chun San dan Poan Thian, kemudian pada malam itu juga mereka kembali ke rumah mereka sendiri, untuk berkemas-kemas dan berangkat ke selatan di hari esoknya pagi-pagi.

Tatkala mereka telah berlalu lama juga, barulah Poan Thian ingat suatu hal yang ia sebenarnya kepingin menanyakan pada kedua saudara itu, tetapi, apa mau, ia telah lupa utarakan selagi mereka berada di hadapannya.

"Barusan aku telah lupa menanyakan,"

Katanya.

"Apakah mereka kenal atau tidak dengan Wie Hui, murid In Cong Lo-siansu yang berkhianat itu. Karena kedua saudara itu yang hidup di kalangan Kang-ouw hitam dalam daerah ini, tidak mustahil mereka tak kenal nama itu."

Chun San membenarkan omongan itu, tetapi sudah tentu saja ia tidak bisa berbuat lain daripada menganjurkan Poan Thian akan pergi menyelidiki sendiri, berhubung orang-orang yang bisa dimintakan keterangannya telah berlalu dari hadapan mereka.

324 Di rumah An Chun San, Poan Thian telah berdiam sehingga tiga hari lamanya, barulah ia dikabulkan permintaannya buat melanjutkan perjalanannya ke Po-tosan, sambil tak lupa dipesan oleh Chun San akan mampir lagi ke situ, apabila tugas sang bekas murid itu telah dapat ditunaikan.

Poan Thian berjanji akan berbuat begitu, biarpun ia belum bisa tentukan kapan ia akan kembali lagi ke situ.

Kemudian ia berpamitan pada Chun San dan terus menuju ke pantai untuk menumpang perahu yang akan berangkat ke tempat yang dituju.

Begitulah dengan menumpang sebuah perahu seorang nelayan yang kebetulan hendak pergi ke Po-tosan, Poan Thian akhirnya telah sampai ke pegunungan tersebut, dan sesudah membayar uang sewaan perahu, lalu ia menuju ke kelenteng Po-to-sie dengan mengikuti jalan gunung yang semakin lama semakin tinggi, sedang di kiri kanannya tampak pemandangan alam yang indah dan seolah-olah tidak dipunyai oleh tempat-tempat dan pegunungan-pegunungan lain yang terletak di alam Tiongkok.

Di situ Poan Thian menyaksikan cadas yang curam dan batu-batu gunung yang sebesar-besar rumah, di antara mana terdapat jalan-jalan yang menjurus ke sanasini.

Sedangkan jalan yang terbesar sendiri, ialah sebuah jalan yang menuju ke kelenteng Po-to-sie, yang ramai oleh orang-orang dari tempat-tempat lain yang sengaja berkunjung ke situ untuk bersembahyang, membayar kaul atau menyaksikan pemandangan alam yang tertampak di situ dan daerah sekitarnya.

Poan Thian yang baru pada kali itu pernah menginjakkan kakinya di pegunungan yang merupakan pulau itu, sudah tentu saja masih kelihatan agak kikuk 325 dan tidak tahu jurusan mana yang mesti diambilnya untuk ia dapat menyampaikan tempat yang ditujunya.

Syukur juga karena banyaknya orang yang mondarmandir ke kelenteng itu dengan tidak putus-putusnya, maka gampang ia menanyakan keterangan-keterangan yang diperlukan, terutama mengenai jalan yang lebih pendek supaya orang bisa lekas sampai ke kelenteng tersebut.

Tetapi karena ia memang masih asing bagi tempattempat di situ, tidak urung ia tersesat juga di jalan, dan tahu-tahu ia telah sampai di bagian lain daripada kelenteng yang masyhur itu, dimana karena mendengar ada beberapa orang yang sedang berlatih ilmu silat di balik pagar tembok yang terdekat, maka Poan Thian jadi timbul keinginan buat coba menyaksikan ke sebelah dalam, dengan jalan melompati pagar tembok yang tak dapat dikatakan rendah itu.

Tetapi sungguh tidak dinyana, selagi baru saja ia menindak akan mendekati pagar tembok tersebut, tibatiba ia telah dibikin kaget oleh suara seseorang yang membentak dari balik tembok itu.

"Kau siapa?"

Tanyanya.

"dan perlu apakah kau datang mengintip kemari?"

Poan Thian bukan main herannya dan terutama sangat tidak mengerti, cara bagaimanakah orang yang berada dibalik tembok sana bisa mengetahui bahwa ia berada di luarnya?

Ia pikir orang itu niscaya tidak bisa berbuat begitu, apabila bukan seorang yang ilmu pendengarannya telah sampai pada puncak yang tertinggi.

326 Tetapi ia belum sempat berpikir lebih jauh, ketika suara itu mengatakan pula.

"Apabila kedatanganmu tidak bermaksud jahat, apakah sebabnya kau tidak berani datang menghadap kepadaku?"

Poan Thian yang ditanya begitu, keruan saja lantas insyaf dari kekeliruannya dan segera menjawab "Murid mendatangi, dan maafkanlah atas perbuatanku yang kurang sopan ini."

Kemudian dengan menggunakan siasat Hui-yanchut-lim ia melayang masuk ke halaman sebelah dalam dari pagar tembok itu.

Di sana, sambil duduk di atas kursi di hadapan para pelatih yang sedang meyakinkan ilmu silat, Poan Thian nampak seorang paderi tua yang misai dan janggutnya sudah berwarna putih seluruhnya, tetapi semangatnya masih tetap gagah dan terutama sinar matanya yang amat tajam bikin orang merasa terkesiap disaban waktu beradu sorot mat a dengannya.

Maka setelah menyaksikan Poan Thian masuk dengan menggunakan siasat silat tadi, sang paderi lantas ketahui, bahwa pemuda itu tentulah bukan orang sembarangan.

"Kau ini orang dari mana?"

Tanyanya, ketika melihat Poan Thian maju memberi hormat kepadanya.

"nama apa, dan dengan maksud apa kau datang ke sini?"

"Murid yang rendah bernama Lie Kok Ciang,"

Sahut Poan Thian.

"orang dari Cee-lam propinsi Shoa-tang. Hari ini murid membawa sepucuk surat Beng Sim Suthay dari kelenteng Giok-hun-am untuk disampaikan kepada In Cong Lo-siansu. Hanya belum tahu Lo-siansu sekarang ada dimana? Murid seorang yang seumur hidup baru pernah kali ini datang kemari, telah tersesat 327 jalan dan akhirnya sampai ke sini. Banyak harap supaya guru sudi memberikan maaf atas kesemberonoanku ini."

"Apakah Beng Sim Suthay tidak mengatakan apa-apa tentang isinya surat itu?"

Bertanya paderi itu pula sambil memandang dengan teliti kepada pemuda kita.

Lie Poan Thian lalu tuturkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud kedatangannya itu, tetapi tidak menceritakan apa-apa tentang hal ia bertempur dalam perjalanannya ke tempat itu.

"Ya, kalau begitu,"

Kata sang paderi.

"marilah kau serahkan surat itu kepadaku."

"Apakah barangkali guru ini bukan In Cong Lo-siansu yang hendak murid jumpai itu?"

Tanya Lie Poan Thian yang mendadak telah mendusin, bahwa apa yang telah dikatakannya tadi, adalah kurang sopan dan sesungguhnya terlalu semberono.

Tetapi apa yang telah diperbuat, sudah tentu saja tak dapat ditarik pulang, hingga selanjutnya ia melainkan bisa berjanji pada diri sendiri, akan berlaku lebih hati-hati dalam segala perkara untuk mencegah kekeliruankekeliruan yang akan datang itu.

Sementara paderi tua itu yang dengan sekonyongkonyong melihat tingkah laku Poan Thian jadi agak gugup, dengan tersenyum-senyum lalu berkata.

"Anak muda, aku inilah memang benar In Cong Sian-su yang hendak kau jumpai itu."

Poan Thian yang mendengar omongan itu, lalu buruburu-buru menjatuhkan diri menjura di hadapan paderi itu sambil berkata.

"Lo-siansu, mohon diberi keampunan dan beribu maaf atas perbuatan murid yang amat tidak sopan itu!" 328 Tetapi In Cong Sian-su lalu banguni padanya sambil berkata.

"Kita adalah orang-orang dari satu golongan juga, perlu apakah mesti berlaku begitu sungkan?"

Poan Thian mengucap terima kasih dan lalu serahkan suratnya Beng Sim Suthay yang lalu dibuka sampulnya dan dibaca bunyinya oleh paderi tua tersebut.

Sehabis membaca surat itu, In Cong lalu menoleh pada Lie Poan Thian dengan paras muka yang berseriseri.

"Gurumu dan aku adalah saudara yang berasal dari satu golongan Siauw-lim juga,"

Katanya.

"demikian juga dengan Beng Sim yang menyiarkan ilmu silat dari golongan kita di kelenteng Giok-hun-am. Kepada ia ini aku pernah meminta bantuannya, untuk mencari beberapa orang murid-murid dari cabang Siauw-lim yang ilmu kepandaiannya sudah boleh dianggap sempurna untuk membantu usahaku akan menaklukkan atau membasmi muridku Wie Hui yang telah berkhianat itu."

"Ya, hal itu muridpun telah dapat dengar dari penuturan Beng Sim Su-kouw,"

Kata pemuda kita.

"Hanya belum tahu, selama ini ia bersembunyi di mana? Juga di mana ia kerap kelihatan mengunjukkan rupanya?"

"Belum berapa lama ia telah mengacau di kota Lengpo,"

Sahut In Cong Sian-su.

"Di sana ia telah coba menculik seorang gadis she Ong, tetapi perbuatannya itu telah gagal, berhubung si gadis yang hendak diculik itu telah nyebur ke dalam sumur sehingga menemui kematiannya. Oleh barisan polisi di sana ia telah dikepung dengan secara hebat sekali, tetapi Wie Hui, si bajingan ini tidak berhasil dapat dibekuk. Bahkan semakin ia dicari oleh pihak yang berwajib, semakin 329 kurang ajar pula perbuatan-perbuatannya di luaran, hingga kawanan polisi di sana yang hampir kewalahan akan membekuk padanya tanpa mengalami kerusakan atau kehilangan jiwa, akhirnya mendapat tahu juga bahwa aku inilah guru si Wie Hui dan lalu hendak menangkap kepadaku."

"Beruntung juga pembesar di Leng-po kerap berkunjung ke sini dan kenal baik kepadaku, oleh karena itu, penangkapan itupun telah diurungkan atas jaminan pembesar tersebut. Maka aku sendiri yang merasa telah dipertanggungkan keselamatanku oleh pembesar itu, tentu saja aku lantas berjanji, buat selekas mungkin membekuk Wie Hui sebagai penebusan atas kedosaanku itu."

Aku sendiri bukannya tidak mampu membekuk anak itu, tetapi aku sebagai gurunya tentu tidak baik akan turun tangan sendiri, berhubung murid-muridku sendiri bukan sedikit jumlahnya.

Tetapi karena aku mengetahui, bahwa di antara murid-muridku yang terbanyak itu bukan tandingannya Wie Hui, maka aku merasa perlu meminta bantuan saudara-saudara dan saudari-saudariku yang berasal dari satu golongan, untuk mencari murid-murid mereka yang kiranya sudah dididik cukup sempurna akan bantu melaksanakan usahaku yang tidak bisa dikata ringan itu.

"Maka dengan diterimanya surat Beng Sim ini, yang telah mengajukan kau akan membantu kepadaku, sudah barang tentu bukan main besarnya terima kasihku kepadamu, dan aku percaya betul bahwa dengan bantuanmu ini, Wie Hui pasti akan dapat dikalahkan, sehingga kejahatan-kejahatannya dapat dicabut bersih sampai ke akar-akarnya." 330 Tetapi Poan Thian yang telah banyak merasakan pahit-getirnya penghidupan di kalangan Kang-ouw, lalu berjanji akan berdaya dengan sekuat-kuat tenaganya untuk bantu melaksanakan usaha orang tua itu.

"Hanya berhubung murid tidak kenal pada Wie Hui,"

Katanya.

"maka sudilah apa kiranya Lo-siansu memberikan aku seorang kawan yang kenal baik kepadanya, sehingga dengan begitu, murid jadi mudah mengenalinya dan tidak sampai kena dibokong olehnya, yang tentu akan berlaku lebih waspada daripada murid yang bermaksud hendak membekuk kepadanya."

In Cong Sian-su memang telah berpikir juga sampai di situ.

Maka setelah Poan Thian mendahului mengajukan permintaannya, barulah ia panggil seorang muridnya yang bernama Hwat Yan, buat disuruh pergi mengikut Poan Thian akan membikin penyelidikan dimana adanya Wie Hui di hari esoknya.

Begitulah setelah menginap di kelenteng Po-to-sie pada malam itu, di hari esoknya pagi-pagi ia sudah bangun menghadap pada In Cong Sian-su, yang ternyata telah bangun lebih dahulu dan berikan Poan Thian sebilah pedang yang amat tajam dan dapat memutuskan logam dengan sama mudahnya seperti juga orang membacok tanah liat.

Kemudian ia panggil Hwat Yan dan perintah supaya murid itu ajak Poan Thian sarapan dahulu, setelah itu, barulah mereka berpamitan pada In Cong dan terus menyewa perahu yang akan membawa mereka ke daratan Tin-hay, dari mana mereka menuju ke kota Lengpo yang terletak di arah barat daya dari kota pelabuhan tadi.

331 Di kota Leng-po ini ketika Poan Thian dan calon paderi Hwat Yan menyelidiki tempat sembunyinya Wie Hui, akhirnya, mereka mendapat keterangan, bahwa penjahat muda itu sering berkeliaran di rumah-rumah pelacuran.

Salah seorang bunga raya yang menjadi kecintaannya Wie Hui dan terkenal dengan nama Ban Tho Hoa atau selaksa sungai Tho, lalu sengaja pura-pura "ditempel"

Oleh Poan Thian buat coba mencari keterangan, pada waktu bagaimana Wie Hui biasa datang berkunjung ke situ.

Setelah keterangan-keterangan yang diperlukan telah dapat diperoleh, barulah Poan Thian berembuk dengan Hwat Yan cara bagaimana mereka harus membikin penggerebekan selagi Wie Hui belum keburu membikin persediaan.

Tetapi tidak kira pada sebelum rencana ini dapat dijalankan, mendadak pada suatu hari ada seorang kacung yang datang berkunjung ke tempat penginapan Poan Thian dan Hwat Yan dengan membawa sepucuk surat.

Surat tersebut diterimakan pada kedua orang itu sambil berkata.

"Apabila Ji-wie hendak bertemu dengan tuan Wie, diharap supaya berhubungan dengan nona Ban Tho Toa, karena di sana ia sudah titipkan alamatnya dimana Jie-wie mesti bertemu dengannya."

Poan Thian dan Hwat Yan jadi tidak habis mengerti, mengapa mereka dianjurkan akan menanyakan pula keterangan dari bunga raya itu, sedangkan Wie Hui bisa tuliskan alamatnya di dalam surat yang dikirimkannya ini.

Maka tempo hal ini ia coba tanyakan pada si kacung pembawa surat tersebut, orang yang ditanya itu lalu menggelengkan kepalanya sambil berkata.

"Dari hal itu, aku sesungguhnya tidak tahu-menahu." 332 "Apakah kau dipesan oleh tuan Wie, supaya surat ini dijawab olehku?"

Poan Thian bertanya sambil membuka sampul surat itu.

"Hal itu tinggal terserah atas kehendakmu sendiri. Apabila di situ diminta jawaban tuan dan tuan hendak menjawabnya aku tunggu, kalau tidak, akupun boleh lantas pergi."

"Anak ini sungguh pandai sekali berbicara,"

Pikir Poan Thian di dalam hatinya.

"Apakah tidak bisa jadi, bahwa ia ini ada seorang mata-matanya Wie Hui, yang telah sengaja dikirim ke sini untuk menyelidiki kami berdua?"

Kemudian ia menoleh pada kacung itu sambil berkata.

"Kalau begitu, boleh tunggu dahulu sehingga aku selesai membaca bunyinya surat ini."

Tetapi alangkah herannya hati pemuda kita, tatkala ia bentangkan surat itu akan dibaca bunyinya, ternyatalah bahwa surat itu hanya sehelai kertas kosong yang tidak ada artinya sama sekali, hingga Poan Thian yang menerima surat kosong itu, sudah tentu saja tidak mengerti apa maksudnya Wie Hui mengirimkan kertas kosong tersebut kepadanya!

Tetapi buat tidak membikin kentara rasa herannya di hadapan si kacung itu, maka Poan Thian lalu berpura-pura menanyakan.

"Apakah selain menyampaikan amanat akan kita menanyakan alamatnya pada nona Ban Tho Hoa, tuan Wie tidak mengatakan apa-apa pula kepadamu?"

"Tidak,"

Sahut kacung itu dengan pendek.

"Kalau begitu kau boleh kasih tahu pada tuan Wie, bahwa kita akan bertemu di tempat yang diunjuk menurut alamat yang dititipkannya pada nona Ban Tho Hoa,"

Kata pemuda kita. 333 Si kacung menjawab.

"baik, baik,"

Dan terus berlalu dengan tidak banyak bicara pula.

"Apakah tidak bisa jadi bahwa Wie Hui sekarang tengah mengatur suatu rencana akan menjebak kita berdua?"

Tanya Hwat Yan setelah mendusin, bahwa kedatangan mereka ke kota Leng-po itu telah diketahui oleh saudaranya seperguruan yang telah berkhianat itu.

"Ya, hal inipun memang bukan mustahil akan terjadi atas diri kita,"

Sahut Poan Thian.

"maka selanjutnya kita harus berlaku sangat hati-hati akan menghindarkan diri kita daripada akal muslihat musuh yang keji itu."

Hwat Yan menyatakan mufakat dengan pikiran pemuda kita itu. ◄Y► Tatkala mereka menanyakan hal ini pada Ban Tho Hoa, si nona lalu menunjuk ke atas tiong-cit sambil berkata.

"Alamat yang kamu minta itu, tidak diterimakan ke dalam tanganku sendiri, hanyalah ditaruh di sana, digantungkan di atas tiong-cit itu."

Ketika Poan Thian dan Hwat Yan menengadah ke arah tiong-cit tersebut, betul saja di sana tertampak sebuah sampul merah yang digantungkan dengan sepotong tali.

Dan jikalau perbuatan itu bukannya dilakukan oleh seorang yang ilmu kepandaian silatnya amat tinggi, niscaya tidak akan mampu melakukan pekerjaan yang sesukar itu.

Setelah menyaksikan perbuatan Wie Hui itu, Poan Thian lalu tersenyum sambil menoleh pada Hwat Yan dan berkata.

"Sekarang aku mengerti, apa sebabnya Wie Hui minta kita datang ke sini buat meminta alamatnya....." 334 "Itulah melulu buat mempamerkan ilmu kepandaiannya di hadapan kita berdua,"

Kata Hwat Yan yang memotong pembicaraan si pemuda. .. Pengejaran Terhadap Murid Khianat "Itu benar,"

Poan Thian menyetujui.

"Tetapi apakah artinya perbuatan itu bagi kita, yang juga mengerti ilmu silat dan tidak ada di bawah daripadanya?"

Hwat Yan membenarkan omongan kawan itu. Tetapi ketika Poan Thian hendak mengambil piauw akan menyambit sampul merah itu, si calon paderi lalu mencegah sambil berkata.

"Tidak usah Suheng mencapaikan hati, biarkan saja perkara kecil ini diurus olehku sendiri."

"Ya, kalau begitu, aku persilahkan kau mengambil sampul itu menurut caramu sendiri,"

Kata Lie Poan Thian yang lantas urungkan niatnya buat menyambit sampul yang tergantung di atas tiong-cit itu.

Sementara Hwat Yan yang merasa telah dikasih ketika akan mengunjukkan kepandaiannya, lalu merogo sakunya dan keluarkan sebuah pelanting dengan sebutir peluru besi dengan mana ia telah tembak jatuh sampul itu, karena talinya putus terlanggar peluru tersebut.

Poan Thian jadi sangat kagum dan memuji atas kepandaian Hwat Yan dalam mempergunakan alat yang tergolong pada senjata-senjata rahasia itu.

Dan tatkala sampul itu dibuka, ternyata di dalamnya terisi beberapa baris tulisan yang berbunyi.

Kamu berdua boleh susul aku ke Giok-hong-kok di pegunungan Jiesian-san pada hari esok di waktu lohor.

Aku tunggu 335 kedatangan kamu berdua dengan segala senang hati.

Jangan salah.

Surat itu tidak dibutuhi tandatangan, tetapi sudah terang bahwa itulah telah ditulis oleh Wie Hui sendiri.

"Tetapi dimanakah letaknya pegunungan Jie-sian-san itu?"

Bertanya Lie Poan Thian yang baru saja pada kali itu mendengar ada sebuah gunung yang bernama begitu.

Sedangkan Hwat Yan sendiri yang tidak tahu dimana letaknya pegunungan itu, tentu saja tak dapat berbuat lain dari pada menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Kemudian ia berjanji akan menanyakan ini kepada penduduk-penduduk yang berdiam di luar kota Leng-po.

"Apabila gunung itu betul ada,"

Katanya.

"niscaya tidak sukar akan kita dapat ketemukan, tidak perduli berapa jauh letaknya dari kota ini."

Poan Thian mufakat dengan omongan itu.

Begitulah setelah berpamitan pada nona Ban Tho Hoa, kedua orang itu lalu menuju keluar kota Leng-po dan mampir di sebuah kedai makanan dan minuman yang banyak dikunjungi oleh orang-orang yang mondarmandir keluar masuk kota.

Di sini, sambil berpura-pura membicarakan soal ini dan itu dengan orang-orang yang pada berkumpul di kedai itu, akhirnya Poan Thian mendapat kesempatan buat menanyakan, dimana letaknya pegunungan Jiesian-san itu.

"Tuan ini orang dari mana?"

Bertanya orang itu sambil mengawaskan pada pemuda kita sesaat lamanya.

"Kami berasal dari utara,"

Sahut Lie Poan Thian.

"yang sekarang berada dalam perjalanan ke Jie-sian-san akan mencari seorang sahabatku." 336 "Tuan,"

Kata orang itu, setelah bercelingukan ke kirikanan.

"menurut pikiranku, lebih baik kau jangan pergi ke sana. Pegunungan itu bukan tempat kediaman orang baik-baik. Itulah sarang kawanan perampok yang di kepalai oleh seorang kepala kampak muda yang bernama Wie Hui."

"Ya, ya, benar, dia itulah yang kami hendak cari,"

Kata Lie Poan Thian yang merasa tidak perlu lagi akan berlaku dengan secara sembunyi.

Karena ia telah yakin dari bukti-bukti yang telah dialaminya selama itu, biarpun mereka telah mencoba akan menyelidiki dengan secara diam-diam, tidak urung perbuatan itu telah ketahuan juga oleh pihak bakal lawannya itu.

Maka dari itu, apakah perlunya ia selanjutnya berlaku sembunyi-sembunyi pula?

Orang yang ditanyakan keterangan tadi jadi semakin heran, ketika menyaksikan tingkah-laku dan pembicaraan Poan Thian yang begitu terbuka dan tidak mengunjuk sikap yang khawatir barang sedikitpun.

Ia jadi kelihatan ragu-ragu akan bicara lebih jauh.

"Aku percaya bahwa tuan ini tentulah seorang yang jujur dan berhati tulus,"

Kata Poan Thian pula pada orang itu.

"Oleh sebab itu, kukira tidak jahatnya akan aku menerangkan dengan sejujur-jujurnya, tentang maksud kunjungan kami ke pegunungan Jie-sian-san tersebut. Kami berdua ini adalah kakak dari satu golongan perguruan ilmu silat dengan Wie Hui itu. Tetapi oleh karena perbuatan-perbuatan adik itu sangat mencemarkan nama baik perguruan silat kami, maka hari ini kami perlu memperingati supaya ia suka menghentikan perbuatan-perbuatannya yang tidak baik itu. Syukur jikalau ia mau mendengar nasehat kami, 337 apabila ia ternyata sudah menjadi sukar akan diperbaikinya, terpaksa kami harus menggunakan kekerasan dan membasmi padanya sebagai seorang perampok biasa. Demikianlah maksud yang benar dari perkunjungan kami ini. Oleh sebab itu, sudilah apa kiranya tuan memberikan petunjuk pada kami, berapa jauh dan dimana letaknya pegunungan Jie-sian-san itu?"

"Pegunungan itu letaknya lebih-kurang tigapuluh lie jauhnya dari tempat ini,"

Sahut orang yang ditanya itu.

"Dari sini kamu boleh menuju ke arah tenggara dengan mengikuti jalan ini."

Sambil berkata ia menunjuk pada sebuah jalan kecil yang terpecah dari jalan desa yang lebih besar dan lebar.

"Tetapi jalan itu semakin jauh semakin sempit dan buruk, dan sudah sekian lama tidak diurus oleh pihak yang berwajib. Karena kekurangan pengurusan ini, maka kawanan perampok yang bersarang di daerah itu jadi semakin enak melakukan pekerjaan mereka. Bahkan menurut kabar di luaran, Wie Hui sendiri pernah mengakui, bahwa pegunungan Jie-sian-san itu adalah punyanya sendiri."

Poan Thian dan Hwat Yan jadi heran mendengar keterangan begitu.

"Apakah barangkali Wie Hui hendak memberontak dengan mempergunakan gunung itu sebagai pangkal operasinya?"

Tanya pemuda kita. Tetapi, sudah tentu, saja, pertanyaan-pertanyaan demikian ada di luar kemampuan orang itu akan menjawabnya.

"Di atas gunung itu kudengar ada sebuah gedung atau bangunan yang bernama Giok-hong-kok,"

Kata Poan Thian pula.

"apakah gedung atau bangunan itu 338 berupa rumah berhala atau hanya suatu nama saja yang sengaja dikarang untuk menyesatkan orang?"

"Tentang ini aku memang tahu dan bukan suatu isapan jempol belaka,"

Sahut orang itu.

"Adapun nama Giok-hong-kok itu, asalnya sebuah rumah berhala dari kaum Taoist. Umurnya rumah berhala ini memang sudah amat tua, karena menurut ceritera orang tua-tua, rumah berhala tersebut telah didirikan di jaman Tong Tiauw, di masa kaisar Tong Thay Cong (Lie Sie Bin) duduk bertakhta. Ketambahan di situ pernah bersemayam seorang pertapaan she Lie yang bergelar Thay Liong Cin-jin, maka kaisar jadi lebih-lebih mengindahkan dan lalu perbaiki rumah berhala itu dengan serba-serbinya dari lantai sehingga ke atas wuwungan dibuat daripada bahan-bahan tembaga, berhubung kaisar menaruh kepercayaan, bahwa agama Too Kauw itu telah diturunkan oleh leluhurnya Lie Jie yang kemudian dikenal orang sebagai Lo Cu, bapak dari agama Too Kauw tadi. Tetapi setelah Thay Liong Cin-jin naik menjadi dewa, mendadak di dalam rumah berhala itu tampak lukisan Cin-jin di ruangan sembahyang. Oleh karena itu, maka anak negeri yang menganggap Cin-jin sebagai keramat, tidak putusnya datang bersembahyang buat meminta ini atau itu, sehingga kepercayaan itu berlangsung turuntemurun sampai di jaman ini. Pada suatu hari lebih kurang 1,5 tahun yang lampau, tiba-tiba di dalam rumah itu telah muncul seekor ular amat besar yang telah makan semua orang yang berdiam di situ, bahkan orang-orang yang datang untuk bersembahyang, pun tidak sedikit yang jiwanya telah melayang di makan oleh binatang yang tidak diketahui dari mana datangnya itu. 339 Karena terjadinya peristiwa-peristiwa yang sangat menggemparkan itu, sudah tentu saja selanjutnya orang tak berani berkunjung pula ke rumah berhala itu. Maka selama berselang beberapa bulan saja, jalan ini yang menyambung, ke jalan-jalan lain dengan mana orang bisa sampai ke Giok-hong-kok telah menjadi sunyi dan kembali pula pada asal mulanya, yalah jalan pegunungan yang ditumbuhi oleh alang-alang yang semakin hari kelihatan bertumbuh semakin tinggi karena kurang dirawat. Pihak yang berwajib telah mengambil tindakantindakan yang perlu untuk membasmi binatang itu, tetapi segala percobaan telah berhasil nihil, berhubung pemburu-pemburu yang diperintah pergi membinasakan binatang itu, hanya beberapa orang saja yang bisa lari pulang dan mati di rumah. Sedangkan yang lain-lain semua telah hilang dan tidak ada kabar ceritanya sehingga sekarang ini."

"Kalau betul di Giok-hong-kok itu ada bersarang seekor ular besar sebagaimana katamu tadi,"

Poan Thian memotong pembicaraan orang itu.

"Cara bagaimanakah Wie Hui bisa bersarang juga di situ dengan tidak mengalami gangguan-gangguan dari binatang liar yang telah mengorbankan sekian jiwa manusia itu?"

"Itulah karena Wie Hui sendiri yang memang telah membasminya, yang telah membakarnya dengan mempergunakan bahan-bahan bakar yang terdiri dari getah cemara yang mudah menyala,"

Sahut orang itu.

"Maka setelah binatang itu dapat dibinasakan, barulah kemudian tersiar kabar di luaran, bahwa Wie Hui dengan mengajak beberapa orang kawannya di kalangan Kang-ouw hitam telah mendiami Giok-hong-kok yang 340 telah dipergunakannya sebagai markas besar kawanan perampok dan melakukan pekerjaannya dengan dimulai dari kecil dahulu."

Dan tatkala kabar tentang dibinasakan ular yang berbahaya itu telah tersiar ke mana-mana, barulah orang mulai berani lagi akan berjalan-jalan ke pegunungan Jiesian-san, yang mula, tidak pernah diganggu oleh Wie Hui dan kawan-kawannya yang bersarang di situ.

Tetapi ketika lalu-lintas di situ menjadi semakin ramai dan umum juga dilalui oleh pengantar-pengantar kereta piauw untuk memperpendek perjalanan mereka, barulah Wie Hui dan kawan-kawannya mulai beraksi dengan mengadakan peraturan-peraturan cukai jalan yang sangat menggelisahkan bagi khalayak ramai yang kerap kali melewat di tempat itu.

Lebih-lebih terhadap para pengantar piauw yang dimestikan membayar 10% dari jumlah angkutan mereka, hingga banyak antara piauwsu-piauwsu yang merasa kurang puas dengan peraturan itu dan telah menentang dengan sekeras-kerasnya, telah terbit perselisihan dan pertempuran yang telah mengakibatkan tidak sedikit antara piauwsu-piauwsu itu yang mendapat luka atau binasa di tangan Wie Hui dan kawan-kawannya itu.

"Oleh sebab adanya peristiwa-peristiwa tersebut, tidaklah heran apabila selanjutnya orang jadi segan akan melewat di situ, hingga jalan pegunungan yang telah mulai jadi ramai itu, pun pelahan dengan pelahan telah kembali pada keadaan seasalnya dahulu, yalah menjadi sunyi dan tidak tampak pula manusia yang berjalan mondar-mandir seperti pada beberapa waktu yang lalu itu." 341 Demikianlah menurut penuturan orang yang telah ditanyakan oleh Poan Thian dan Hwat Yan tadi.

"Apabila Wie Hui telah bertindak sekian jauhnya,"

Kata Lie Poan Thian.

"nyatalah kita tak boleh membiarkan saja ia berbuat menurut sesuka hatinya. Kita harus membasmi padanya selekas mungkin, untuk bantu meringankan penderitaan orang-orang yang tertindas oleh manusia keji dan kawan-kawannya itu."

Hwat Yan membenarkan atas omongan saudara segolongannya itu.

"Kalau begitu,"

Katanya.

"sekarang hari masih siang. Apakah tidak baik jika kita berangkat ke sana sekarang juga?"

"Ya, benar,"

Poan Thian menyetujui kawannya itu.

Begitulah sesudah membayar harga makanan dan minuman yang mereka telah pesan tadi, Poan Thian dan Hwat Yan mengucap banyak terima kasih atas petunjukpetunjuk orang itu, kemudian mereka menuju ke Jie-siansan dengan menuruti jalanan yang telah ditunjukkan orang itu tadi.

Sesampainya di kaki pegunungan yang dituju, Poan Thian dan Hwat Yan telah berjumpa dengan seorang pemotong kayu yang lalu menghampiri kepada mereka sambil bertanya.

"Tuan-tuan, apakah kamu berdua bukan orang-orang yang sedang mencari tuan Wie?"

"Ya, benar,"

Sahut Poan Thian yang sekarang telah tidak merasa heran lagi, karena ia telah yakin bahwa mata-matanya saudara segolongan yang berkhianat itu telah tersebar dengan luas di segala pelosok.

"Apakah barangkali Tuan Wie ada meninggalkan pesan apa-apa bagi kami berdua?" 342 "Ya,"

Kata orang itu sambil mengangguk.

"Dalam daerah dan jalan pegunungan-pegunungan di sini banyak terdapat perangkap-perangkap yang sehingga tentara negeri tak berani datang melakukan penggerebekan untuk kedua kalinya. Oleh sebab kuatir kamu akan terjerumus ke dalam perangkap-perangkap itu, maka tuan Wie telah perintah aku buat menjemput padamu berdua akan naik ke atas gunung. Tuan Wie mengatakan, bahwa ia tunggu kedatangan tuan-tuan di sana dengan segala senang hati."

Poan Thian dan Hwat Yan mengucap terima kasih dengan suara yang hampir berbareng.

Kemudian mereka mengikut si pemotong kayu itu akan bersama-sama naik gunung.

Tatkala berjalan beberapa lamanya, akhirnya mereka menampak di muka perjalanan mereka ada sebuah gedung mirip kelenteng yang atapnya seolah-olah mengeluarkan sinar karena menjadi sasaran matahari yang hampir selam ke barat.

Gedung itu tidak berapa besar bentuknya, tetapi buatannya amat teguh dan bercokol di atas gunung bagaikan sebuah menara.

"Gedung itu adalah apa yang dinamakan orang Giokhong-kok,"

Kata pemotong kayu itu pada Lie Poan Thian dan kawannya.

"Perjalanan dari sini sudah tidak berapa jauh lagi, maka dari itu, aku percaya tuan-tuan tentu akan dapat menyampaikan gedung itu tanpa diantar pula olehku. Akan tetapi, buat mencegah kejadian-kejadian yang tidak diingini, janganlah sekali-kali kamu masuk ke Giok-hong-kok dengan melalui pintu besar atau menginjak halaman lantai yang terbentang di sekitar tempat itu." 343 "Kalau begitu,"

Kata mereka.

"dari manakah kami akan dapat masuk ke situ, apabila di sekitar tempat itu tidak dapat dilalui orang?"

"Jalan satu-satunya adalah kamu harus mengambil jalan dari atas wuwungan gedung tersebut,"

Kata pemotong kayu itu pula.

"kemudian kamu mengikuti tembok wuwungan menuju ke barat. Dari situ jangan kamu berjalan terus, tetapi kamu harus melalui wuwungan emper yang terletak di sebelah kiri dan terus menuju ke halaman cim-che. Itulah ada jalan yang paling selamat akan kamu dapat masuk ke Giok-hong-kok."

Lie Poan Thian yang mendengar begitu dan kelihatan agak sukar untuk dapat mengikuti petunjuk-petunjuk itu dengan sebaik-baiknya, sudah tentu saja jadi tertawa dan berbalik mengejek pada diri Wie Hui sambil berkata.

"Hm, apakah itu ada perbuatan seorang ho-han, yang berani "mengundang"

Orang tetapi seolah-olah tidak berani bertemu muka dengan sengaja mengambil jalan yang mempersukar orang begitu rupa?

Kita sendiri bukan beranggapan ia takut pada kita.

Tetapi apakah orang lain tidak nanti menganggap demikian, apabila mereka tahu tentang adanya cara-cara yang sangat tidak masuk diakal ini?"

Kemudian ia berpura-pura menoleh pada Hwat Yan sambil menambah.

"Saudara, kukira sekarang paling betul kita kembali saja ke tempat penginapan kita, sebab Wie Hui yang mau dijumpai itu ternyata tidak berani bertemu dengan kita. Marilah. Buat apakah kita mesti dijemur orang di sini sampai berjam-jam dengan tak ada gunanya sama sekali?"

Lalu kedua orang itu membalikkan badan masingmasing, seolah-olah benar-benar mereka hendak membatalkan perjalanan mereka dan berlalu dari situ.

344 Tetapi ketika mereka baru saja berjalan beberapa tindak jauhnya, mendadak Poan Thian merasakan ada angin yang berkesiur agak hebat menyamber ke jurusannya.

Pemuda kita mengerti, bahwa ia hendak "dijajal"

Orang, maka ia sengaja berdiri jejak buat mengunjukkan sedikit kelihayan dalam hal menjaga diri dengan jalan Thia-hong atau mendengar berkesiurnya suara angin.

"Itulah ada tiga buah hui-piauw yang orang sambitkan kepadaku,"

Kata Poan Thian di dalam hatinya.

Dan sebegitu lekas ia mendengar suara-suara itu telah mendatangi cukup dekat, dengan sebat ia lantas putarkan badannya sambil menggerakkan kaki tangannya untuk menghindarkan diri daripada penyerangan gelap yang orang telah sengaja jujukan pada dirinya.

"Jangan main kayu!"

Katanya sambil menyambuti sebuah piauw dengan tangan kirinya.

Dengan tangan kanannya ia menyambuti sebuah piauw yang lainnya, sedangkan yang sebuah lagi lalu disambut olehnya dengan tendangan, sehingga senjata rahasia itu telah terpental entah kemana perginya!

Semua itu telah dilakukan olehnya dengan kesebatan yang begitu mengagumkan, sehingga orang hampir tidak melihat dengan jalan apa ia telah dapat menghindarkan diri daripada sambitan-sambitan itu.

Hal mana, bukan saja telah menerbitkan rasa kagumnya Hwat Yan, tetapi si pemotong kayu tadipun yang telah melakukan perbuatan itu, jadi melongo dan kemudian buru-buru membungkukkan dirinya memberi hormat sambil berkata.

"Tuan, nyatalah bahwa kau ini 345 ada seorang ahli silat paling pandai yang aku pernah jumpai seumur hidupku!"

Poan Thian tersenyum sambil menyindir.

"Benar. Aku pun baru pernah pada kali ini saja menjumpai seorang ahli silat paling curang seumur hidupku!"

Orang itu jadi kebogehan, sehingga tak dapat pula ia berkata-kata barang sepatahpun.

"Beruntung juga sambitan itu kau telah lakukan atas diriku,"

Kata Poan Thian pula.

"apabila itu dilakukan atas diri orang lain, apakah itu tidak nanti membahayakan jiwa orang itu?"

Orang itu jadi semakin bungkem.

"Pergilah kau sampaikan omonganku pada Wie Hui,"

Kata Hwat Yan yang campur bicara.

"Jikalau sesungguhnya ia minta bertemu dengan kita berdua, bolehlah ia lekas keluar bicara dengan kami di sini, jikalau ia tidak mau bertemu dengan kita, kitapun boleh segera berlalu dari sini. Perlu apakah mesti membicarakan segala urusan tetek-bengek yang tidak ada gunanya sama sekali?"

Orang itu yang kemudian ternyata ada seorang kakitangannya Wie Hui yang menyamar sebagai seorang pemotong kayu, dengan rupa malu segera memberi hormat dan berjanji akan sampaikan pesan itu kepada pemimpinnya.

Tetapi pada sebelum ia berlalu dari situ, tiba-tiba dari kejauhan tampak mendatangi seorang muda yang perawakan badannya tegap, halisnya hitam jengat, berpakaian baju pendek dengan menyoren sebilah golok tan-to di pinggangnya.

346 Hwat Yan jadi mengawasi dengan mata mendelong dan bertanya pada diri sendiri.

"Siapakah adanya orang muda ini?" ◄Y► Tetapi Poan Thian kelihatan tidak asing lagi terhadap pada orang muda yang sedang mendatangi itu.

"Ia itulah bukan lain dari seorang penjahat yang pernah mengacau di Sam-li-tun,"

Katanya.

"Ia pernah mengaku bernama Hok Cie Tee, tetapi menurut keterangan yang pernah kuperoleh, ia ini sebenarnya bernama Hok Cit. Hanya belum tahu cara bagaimana ia bisa berada di sini?"

"Suheng rupanya kenal juga pada orang ini?"

Tanya Hwat Yan.

"Ya,"

Sahut Poan Thian dengan pendek. Penjahat muda itu jadi agak terperanjat ketika melihat Poan Thian datang bersama-sama seorang lain yang ia tidak kenal.

"Wie-toako mengundang Ji-wie akan datang ke Giokhong-kok,"

Katanya dengan suara ragu.

"Kau jangan omong kosong!"

Kata Hwat Yan dengan suara ketus.

"Kedatangan kita kemari adalah karena menerima undangan Wie Hui. Oleh sebab itu, pergilah kau kasih tahu pada Wie Hui, supaya ia datang menyambut sendiri pada kita, tetapi bukanlah kita yang harus pergi "

Menghadap"

Kepadanya!"

Orang muda itu kelihatan kurang senang mendengar omongan Hwat Yan yang seketus itu.

347 Lalu ia menuding pada calon paderi itu dengan mata mendelik dan membentak "Hei, sahabat!

Di sini bukan di rumah tanggamu sendiri, sehingga dalam segala sesuatu kau boleh menuruti apa kata hatimu.

Inilah ada tanah daerah kekuasaan kami, dimanakah kau sebagai seorang tetamu harus tunduk kepada segala peraturan yang umumnya berlaku di tempat ini!"

"Tak usah kau banyak bicara!"

Akhir-akhirnya Poan Thian teturutan membentak.

"Pergilah kau panggil kawanmu Liu Tay Hong buat sekalian bertemu juga dengan Wie Hui di sini!"

Hok Cit jadi sengit dan lalu dengan tidak banyak bicara lagi ia menerjang pada Lie Poan Thian dengan menghunus golok di tangannya.

Begitulah selanjutnya di lereng gunung Jie-sian-san itu telah terjadi pertempuran yang dahsyat antara Lie Poan Thian dan Hok Cit, sedangkan Hwat Yan mendapat lawan si pemotong kayu tetiron tadi, yang kemudian baru diketahui bernama Sin-to-thay-swee Khu Siu Cun.

Kedua pasang lawan ini mula-mula kelihatan berimbang dalam hal tenaga kepandaiannya.

terutama mengenai kepandaian Hwat Yan yang bertempur dengan menggunakan joan-pian dengan Khu Siu Cun yang bersenjatakan sebilah golok.

Tetapi Lie Poan Thian yang bersenjata pedang pemberian In Cong Sian-su yang amat tajam dan bergerak dengan amat lincahnya, pelahan dengan pelahan telah dapat mendesak pada Hok Cit yang segera merasa, bahwa ia lebih selamat akan mundur ke atas gunung daripada mendesak pada musuhnya yang ia belum tentu mampu kalahkan.

Maka setelah dua kali ujung goloknya terkupas oleh pedangnya Lie Poan Thian, Hok Cit lekas melarikan diri 348 dengan diikuti oleh Siu Cun yang dikejar oleh Hwat Yan dari sebelah belakang.

"Hei, beburonan hutan! Kemanakah kamu hendak menyembunyikan diri!"

Teriak calon paderi itu yang hendak melanjutkan pengejarannya. Tetapi Poan Thian lekas mencegah sambil berkata.

"Sutee! Sabar dulu! Paling baik kita tunggu Wie Hui di sini, daripada mesti membuang tenaga dengan sia-sia dalam pertempuran dengan kawanan tikus hutan itu!"

Hwat Yan pikir omongan itu memang ada benarnya juga.

"Pergilah kamu panggil Wie Hui buat bicara dengan kami di sini!"

Menyeruhkan calon paderi itu pada dua orang musuhnya yang lari naik ke atas gunung itu.

Tidak antara lama, betul saja dari atas gunung telah muncul seorang muda yang Hwat Yan lantas kenali sebagai saudara seperguruannya yang sedang dicari dan telah mengundang mereka akan datang ke Jie-siansan.

"Inilah dia yang bernama Wie Hui, dan kita sedang cari untuk membikin perhitungan guna kebaikannya nama rumah perguruan kami di Po-to-sie,"

Berbisik Hwat Yan pada pemuda kita.

Poan Thian mengangguk.

Hukuman Bagi Murid Murtad Sementara Wie Hui yang dari kejauhan telah mengenali pada Hwat Yan, dengan wajah yang tenang dan berseri-seri lalu berjalan menghampiri dan memberi hormat kepada mereka berdua sambil berkata.

"Selamat 349 datang, saudara-saudaraku, aku sebenarnya tidak menyangka yang kamu akan datang dengan cara yang begitu terkonyong-konyong, sehingga aku telah terlambat datang menyambut dan bikin kamu berdua kesal menunggu-nunggu."

"Engkau tidak perlu berlaku pura-pura untuk menyembunyikan segala cacad-cacadmu,"

Kata Hwat Yan dengan suara kaku.

"Engkau telah mencemarkan nama baik guru dan rumah perguruan sendiri, kau ketahui ini, tetapi engkau tidak mau merubah kekeliruankekeliruanmu itu. Bahkan disamping itu, engkau telah menimbun dari satu kepada kedosaan yang lainnya dengan sama sekali tidak berikhtiar untuk menghentikan. Maka oleh sebab itu, apakah bukan berarti bahwa kau memang sengaja hendak mencari setori dengan orangorang dari golongan sendiri?"

"Suheng!"

Kata Wie Hui dengan suara menyindir.

"di waktu aku masih berdiam di Po-to-sie, memang tidak lebih dari pantas jika aku mesti menuruti segala perintah guru di sana. Tetapi setelah sekarang aku berada di luaran dan tidak ada pula sangkut pautnya dengan guru dan kelenteng Po-to-sie, cara bagaimanakah engkau masih juga tetap menganggap aku sebagai seorang kacung yang harus mentaati perintah induk semangnya dimana saja ia berada?"

"Kalau begitu,"

Kata Hwat Yan dengan hati mendongkol.

"engkau ini tidak berbeda dengan seekor babi atau binatang-binatang lain yang tak mengenal budi kebaikan orang! "

Ingatlah olehmu, bagaimana engkau dari seorang anak jembel yang sebatang kara telah ditolong oleh guru dan dididik sehingga menjadi seorang yang agak pantas dilihat orang.

Tetapi bukannya engkau berterima kasih atas susah payah guru yang telah 350 mendidik padamu, sebaliknya kau telah melemparkan najis ke muka orang yang telah menolongmu.

"Apakah itu suatu perbuatan seorang yang menamakan dirinya "

Manusia-manusia?

Seekor anjing masih ingat kebaikan majikannya, tetapi seekor babi tidak pernah memikirkan kebaikan majikannya barang sedikitpun!

Demikian juga dengan halnya dirimu, hingga itu patut kukatakan perbuatannya seekor babi!"

Mendengar dirinya dicaci-maki sedemikian hebatnya, sudah barang tentu ia menjadi sangat gusar, tetapi dilahir ia tetap kelihatan tenang dan berkata.

"Suheng, kukira tidak perlu kau memberikan aku nasehat-nasehat sampai begitu, apalagi karena aku sendiripun memangnya tidak bersedia akan menerimanya. Sekarang hanya terbuka satu jalan untuk mengakhiri urusanku dan kamu dari Po-to-sie. Apakah kau sanggup kalahkan aku, bolehlah aku menyerah kepadamu untuk dibawa kembali kepada guru di sana, jikalau tidak, jangan harap akan kamu bisa memaksa kepadaku!"

"Kurang ajar!"

Teriak Lie Poan Thian yang tidak tahan mendengar omongan Wie Hui yang sangat brutal itu.

"Aku Lie Poan Thian memang telah sengaja dikirim ke sini untuk menjajal sampai dimana kekerasan kepalamu! Apabila dengan tanganku sendiri aku tak mampu menaklukan kepadamu, aku bersumpah tak akan hidup lebih lama pula di dalam dunia ini!"

Sambil berkata begitu, Poan Thian lalu minta supaya Hwat Yan menyingkir ke suatu pinggiran, kemudian ia bertindak maju sambil menanyakan pada sang lawan itu, apakah ia hendak bertempur dengan tangan kosong atau bersenjata?

351 Wie Hui lalu mengeluarkan suara jengekan dari lobang hidung sambil dengan cepat mencabut golok yang disoren di pinggangnya.

Itulah jawabannya atas tantangan Poan Thian tadi.

Maka dengan tidak banyak bicara lagi Poan Thian pun lalu maju menerjang dengan pedang terhunus dan berseru.

"Aku mendatangi!"

"Persilahkan!"

Sahut Wie Hui yang juga segera mainkan goloknya untuk menangkis bacokan pemuda kita yang dijujukan pada dirinya.

Begitulah dengan terjadinya pertempuran itu, maka terjadilah pula pertempuran antara Hwat Yan dan beberapa orangnya Wie Hui, yang kemudian telah turun ke bawah gunung dengan beramai-ramai dan segera mengepung calon paderi itu.

Tetapi biarpun jumlah lawan di kedua pihak tidak sama banyaknya, ternyata pertempuran itu telah berlangsung dengan sama imbangan dalam kekuatannya.

Dalam pertempuran itu, sebenarnya Wie Hui tidak mengetahui bahwa pedangnya Poan Thian ada begitu tajam.

Jikalau ia ketahui ini lebih siang, ia tentu lebih suka berkelahi dengan tangan kosong saja.

Tahu-tahu ketika goloknya terbacok putus oleh pedangnya Lie Poan Thian, barulah ia jadi terperanjat dan lekas-lekas berlompat ke samping sambil melemparkan senjatanya yang telah tinggal separuh itu.

Sementara Poan Thian sendiri yang menyaksikan lawannya telah tidak bersenjata lagi, buru-buru ia masukkan pedang itu ke dalam serangkanya.

Demikianlah, pertempuran selanjutnya telah dilakukan olehnya dengan sama-sama bertangan 352 kosong, yang mana sebenarnya lebih digemari oleh Poan Thian daripada bertempur dengan memakai senjata.

Kedua lawan ini yang masih asing dengan kepandaian musuh masing-masing, kelihatannya agak ragu-ragu tatkala pertempuran baru saja berjalan beberapa jurus lamanya.

Tetapi setelah kedua pihak telah menyaksikan dan mengetahui gerakan-gerakan masing-masing, barulah pertempuran itu menjadi semakin sengit, semakin hebat, sehingga orang cuma menampak saja bayangan orang-orang yang sedang bertempur, tetapi tidak dapat melihat tegas yang mana Lie Poan Thian atau yang mana Wie Hui!

Selagi pertempuran itu berlangsung dalam saat-saat yang amat tegang dan seolah-olah tak dapat disudahi apabila belum ada salah seorang yang mati atau mau menyerah kalah, tiba-tiba Poan Thian telah dibikin kaget oleh seorang yang muncul dengan sekonyong-konyong dan membentak.

"Hei, budak she Lie! Setelah beberapa kali kita bertemu untuk menjajal ilmu kepandaian masingmasing, sekarang inilah ada hari yang terakhir bagimu akan melihat dunia ini! Jangan lari! Aku Liu Tay Hong belum merasa puas apabila belum dapat meminum darah atau memakan dagingmu!"

Dalam pada itu, Poan Thian yang memang selalu berlaku waspada memperhatikan serangan-serangan Wie Hui yang semakin lama menjadi semakin gencar itu, dengan lantas mengerti, bahwa dia hendak dijebak oleh pihak musuhnya, terutama Liu Tay Hong ini yang memang menjadi musuh besarnya dan permusuhan itu tidak akan bisa berakhir, jikalau salah seorang belum ada yang mati.

353 Maka pada sebelum Wie Hui keburu memberi tanda supaya sang kawan itu jangan turut campur dalam pertempuran yang sedang berlangsung itu, mendadak Tay Hong telah berlompat maju sambil menghunus sebilah golok dan menerjang pada Lie Poan Thian dengan secara mati-matian.

Oleh sebab itu, pemuda kita yang sedang bertempur dengan Wie Hui dan belum ketahuan bagaimana kesudahannya, sudah tentu saja jadi agak sibuk untuk menjaga diri dari serangan-serangan Tay Hong yang bersenjata dan nekat itu.

Maka sambil meladeni Wie Hui di satu pihak, pemuda kitapun telah tidak mensia-siakan kesempatan untuk melindungi diri dengan ilmu pukulan Khong-siu-jip-pek-jim, yang memang khusus diciptakan oleh para ahli silat angkatan tua dalam perlawanan tangan kosong terhadap pihak musuh yang bersenjatakan golok atau barang tajam yang lainnya.

Dalam pertempuran satu melawan dua yang agak ganjil itu, banyak macam ilmu pukulan telah diajukan buat merobohkan salah satu pihak, tetapi berkat ketangkasan dan kepandaian masing-masing, belumlah tampak pihak mana yang lebih unggul atau asor, walaupun pertempuran itu telah berlangsung beberapa puluh jurus lamanya.

Pada satu saat ketika Poan Thian maju menerjang pada Wie Hui dengan menggunakan ilmu tendangan Soan-hong-tui yang sudah cukup terkenal tentang kelihayannya, Liu Tay Hong di lain pihak telah mengayunkan goloknya dari bagian atas ke arah bawah, hendak membelah kepalanya pemuda kita dengan menggunakan tipu Tok-pek-hoa-san.

Tetapi Poan Thian yang bermata celi dan tidak mudah diselomoti oleh pihak musuhnya, buru-buru miringkan kepalanya sedikit untuk 354 meluputkan diri dari bacokan itu.

Dengan cara-cara ini Poan Thian memang telah berhasil dapat meluputkan dirinya daripada bacokan tersebut, tetapi berbareng dengan itu, ia telah luput pula akan merobohkan pada Wie Hui dengan tendangannya.

Hal itu, sudah barang tentu, telah membikin pemuda kita jadi amat jengkel dan sengit.

Karena dengan bertambahnya Tay Hong dalam pertempuran segi tiga itu, bukan saja telah memperlambat pekerjaannya untuk mengakhiri pertempurannya dengan Wie Hui, tetapi juga tak dapat ia "mengukur"

Dengan betul, sampai dimana kepandaiannya Wie Hui yang benar dalam pertempuran satu lawan satu.

Maka untuk dapat melaksanakan dan menjajakkan ini semua, ia pikir paling betul robohkan dahulu Tay Hong yang menjadi cumi-cumi dalam pertempuran itu, kemudian baru melangsungkan jalannya pertempuran untuk menguji sampai dimana kepandaian Wie Hui yang namanya sangat disohorkan orang sebagai salah seorang ahli Pek-houw-kang yang termuda di masa itu.

Tetapi, sebagaimana telah kita katakan di muka ini, ilmu kepandaian Tay Hong sekarang telah beroleh banyak kemajuan dan berbeda jauh semenjak ia pertama kali bertempur dengan Lie Poan Thian di rumahnya Tan Tong Goan, hingga untuk dapat lekas mengakhiri separuh dari pertempuran segi tiga ini, Poan Thian tak dapat berbuat lain daripada menggunakan pedangnya dalam menghadapi Tay Hong yang bersenjata dan gerakan-gerakannya amat gesit itu.

Maka setelah ia berpikir beberapa saat lamanya, buru-buru ia berlompat untuk mengasih lewat kakinya Wie Hui yang ditendangkan ke arah ulu hatinya, sedang tangan kanannya lekas menghunus pedang yang lalu 355 dipergunakan untuk menahan serangan-serangan Liu Tay Hong, yang ketika itu telah menerjang maju sambil menusuk ke arah iganya dengan kecepatan bagaikan kilat yang menyamber ke muka bumi.

Lie Poan Thian yang sekarang tidak boleh pandang terlalu ringan pula lawannya itu, dengan cepat telah putarkan pedangnya dan membacok ujung golok Tay Hong yang dijujukan ke arah tubuhnya itu.

Dan berbareng dengan terdengarnya suara barang tajam yang beradu dan muncratnya beberapa banyak lelatu api, separuh dari golok yang tergenggam oleh Tay Hong itu telah terkupas dan terpental entah kemana perginya!

Bacokan yang berhasil itu karena dibarengi juga dengan satu tendangan, telah membikin Tay Hong yang terperanjat karena goloknya terkupas, jadi semakin terkesiap hatinya, tatkala melihat menyambernya tendangan Poan Thian yang secepat kilat itu.

Dan sebelum ia keburu mengegos untuk menghindarkan diri daripada tendangan itu, kakinya Poan Thian telah sampai dan bikin ia mengeluarkan satu suara jeritan ngeri sambil membuang diri ke samping jalan gunung yang penuh ditumbuhi dengan rumput-rumput.

Dan ketika Tay Hong jatuh ke atas rumput-rumput itu, mendadak Poan Thian mendengar ia itu berseru.

"Matilah aku sekali ini!"

Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin Poan Thian jadi heran dan tidak mengerti.

Karena, pikirnya, cara bagaimana Tay Hong boleh berteriak begitu, sedangkan ia sama sekali tidak kena tertendang dan telah keburu membuang dirinya?

"O Mi To Hud!"

Begitulah Poan Thian telah mengucapkan, tatkala menyaksikan di antara tepi jalan yang ditumbuhi rumput-rumput itu mendadak tampak merekah sebuah lubang jebakan yang besar dan dalam, kemana Tay Hong telah jatuh terjerumus dan tak pernah 356 kembali ke dunia fana!

Itulah sebabnya mengapa Tay Hong telah memperdengarkan teriakannya yang mengandung rasa ketakutan tadi, hingga Poan Thian jadi bergidik apabila mengetahui jelas duduknya perkara yang sangat menyeramkan ini!

Maka dengan hilangnya seorang lawan ini, Poan Thian jadi dapat melanjutkan pertempurannya dengan Wie Hui dengan secara lebih leluasa dan mencurahkan sepenuhnya perhatiannya ke suatu jurusan saja.

Begitulah tatkala pertempuran itu telah berlangsung pula setelah Poan Thian menyimpan kembali bsp; pedangnya, pemuda kita lalu "ngepiah"

Dengan ilmu-ilmu tendangannya yang sangat lihay untuk merobohkan pada Wie Hui, yang ternyata amat licin dan mengerti, bahwa jikalau ia berlaku lambat sedikit saja dalam sesuatu gerakannya, siang-siang ia bisa dapat celaka atau terbinasa dalam tangan lawannya yang ternyata amat lihay itu.

Dari itu, ia insyaf, bahwa ia kalah jauh dalam bagian yang musuhnya amat paham, hingga selanjutnya Wie Hui tidak memberi kesempatan untuk Poan Thian menyerang padanya terlalu dekat.

Dan jikalau dia tak dapat menghalaukan serangan-serangan itu, buru-buru ia berlompat ke sana-sini, ke atas, ke bawah atau ke jalan-jalan gunung yang lebih tinggi dan sempit halamannya.

Maka Poan Thian yang kuatir akan kena terjebak oleh pihak musuhnya, sudah tentu saja berlaku sangat hati, buat tidak sembarangan menginjak bagian-bagian jalan gunung atau tepi jalan yang tidak terinjak oleh Wie Hui.

Pada satu saat dalam pertempuran di antara karangkarang yang licin dan curam di lereng pegunungan Jie357 sian-san itu, Poan Thian merasa agak kewalahan juga, karena kalah biasa dengan Wie Hui yang memang telah lama menjadi penghuni daerah pegunungan yang berada di bawah kekuasaannya itu.

Dan itulah ada di bagian ini, yang Poan Thian telah menyaksikan kepandaiannya Wie Hui, yang gerakangerakannya lincah sekali dalam hal berlari naik-turun di lamping-lamping gunung yang licin bagaikan lakunya seekor cicak.

Dengan punggung menempel pada batubatu karang atau dinding-dinding batu yang tinggi, Poan Thian melihat Wie Hui meloloskan diri dari tendangantendangannya dengan secara gesit dan tanpa dapat dituruti olehnya sendiri.

Maka biarpun benar bahwa Wie Hui itu seorang musuhnya, tetapi tidak urung ia harus memuji juga, atas ilmu kepandaiannya yang amat bagus dan telah mencapai pada puncaknya yang tertinggi itu.

Demikianlah ilmu Pek-houw-kang yang ia pernah dengar namanya, tetapi baru saja pada waktu itu dapat menyaksikan dilakukan orang, hingga selanjutnya belum pernah ia menjumpai seorang ahli Pek-houw-kang lain yang dapat mempergunakan ilmu tersebut dengan sama baik dan lincahnya daripada apa yang pernah diunjukkan oleh pihak lawan pada kali itu.

Lebih jauh karena Wie Hui selalu menjauhkan diri dan tidak lagi mau bertempur seperti barusan, maka apa boleh buat Poan Thian lalu melakukan pengejaran padanya ke sana sini.

Setelah bertempur dan meloloskan diri dari tendangan-tendangan yang dilakukan Lie Poan Thian tadi, kembali Wie Hui melompat kian-kemari selaku orang yang mengejek atau memang jeri melanjutkan pertempuran itu.

Oleh sebab itu, Poan Thian yang akhirnya menjadi sangat jengkel, lalu sengaja membikin panas hati sang 358 lawan sambil mengatakan, bahwa dia bukan seorang hohan, (seorang laki-laki sejati), karena berkelahinya selalu dengan berlari-lari saja.

Dan jikalau ia benar-benar sudah putus asa untuk mengalahkan padanya, paling baik ia menyerah saja, agar supaya ia masih mempunyai kesempatan untuk hidup di dunia, dengan jalan mengoreksi perbuatan-perbuatannya yang sesat itu.

Tetapi sebaliknya, jikalau ia benar berani dan tidak sudi dicap sebagai seorang pengecut, perlu apakah ia mesti mempermainkan orang sampai begitu, sedangkan kedatangannya ke situ pun adalah karena menerima "undangannya"

Yang katanya bersifat "ramah tamah"

Itu? Wie Hui yang usianya masih muda dan berdarah panas, ternyata berhasil juga dibikin panas hatinya dan lalu berbalik menerjang pemuda kita sambil berseru.

"Orang she Lie, janganlah engkau membuka mulut besar! Aku Wie Hui bersumpah tak akan mau hidup bersamasama kau, apabila belum dapat membinasakan kepadamu!"

"Ayoh! Marilah kau boleh buktikan omonganmu itu!"

Membalas Poan Thian sambil menggerakkan kaki tangannya bagaikan angin taufan yang hendak menggoncangkan gelombang di lautan.

Dari itu Wie Hui yang merasa dirinya dihinakan, kali ini telah bertempur bagaikan seekor harimau yang haus darah.

Ia tidak kenal takut atau memikirkan bahaya apaapa yang bakal menimpah atas dirinya sendiri.

Sementara Lie Poan Thian yang telah menyaksikan pihak lawannya yang mendadak jadi nekat, dengan sikap yang tenang dan cepat lalu maju menghujani pukulanpukulan dan tendangan-tendangan dalam gerakangerakan paling cepat yang ia pernah unjuk dalam pertempuran seumur hidupnya.

Maka jikalau yang satu 359 tidak ingin mengalah mentah-mentah, adalah yang lain pun tidak mandah saja akan dicap lawannya sebagai seorang pengecut.

Mereka bertempur dengan sepenuhnya tenaga dan ilmu kepandaian yang pernah diyakinkan seumur hidup mereka.

Beberapa banyak pukulan telah tiba di badannya Lie Poan Thian, seperti juga tendangan-tendangannya sendiri yang telah membikin Wie Hui jatuh bangun dan saban-saban menjerit karena kesakitan.

Dalam pertempuran itu Wie Hui yang kepingin lekas menghabiskan jiwa lawannya, bukan saja tak pernah memikirkan tentang keadaan tempat-tempat yang begitu curam dan berbahaya di kiri kanannya, bahkan akibat tendangan-tendangan Poan Thian tadipun ia sama sekali tidak bayangkan bagaimana akan jadinya nanti.

Tetapi lain sekali dengan pandangan Lie Poan Thian yang ternyata telah matang betul-betul dalam hal menggunakan siasat-siasat di waktu sangat perlu untuk dapat menjatuhkan seorang lawan, ia telah melakukan penyerangan-penyerangannya dengan cara yang tidak tergesa-gesa.

Maka setelah dengan berturut-turut ia mundur beberapa kali untuk menghindarkan diri dari seranganserangan Wie Hui yang senekat itu, dengan tiba-tiba Poan Thian telah merangsek sambil menghujani pula pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan yang telah memaksa akan membikin Wie Hui berlompat, berkelit dan mengegos untuk menghindarkan diri.

Dan tatkala ia berbalik menjadi pihak yang diserang, Wei Hui lalu sengaja mundur sehingga punggungnya menempel pada batu-batu karang yang licin dan tinggi itu.

360 Tetapi Poan Thian yang telah mengerti, bahwa dalam cara itu Wie Hui bisa menggunakan ilmu Pek-houw-kang buat meloloskan diri, buru-buru ia menggunakan siasat Thian-ong-tok-tha buat menyolok kedua biji mata Wie Hui sambil membentak "Murid pengkhianat, ternyatalah bahwa ilmu kepandaianmu belum cukup untuk dibanggabanggakan di hadapan orang banyak!

Jangan lari!"

"Kurang ajar!"

Teriak Wie Hui yang karena perhatiannya dicurahkan pada pihak musuh yang sedang menghujani serangan-serangan kepadanya, maka ia tidak sadar, bahwa ia telah sengaja dibikin lebih panas hatinya untuk tidak kabur pada saat-saat yang terbaik akan Poan Thian segera dapat mengakhiri pertempuran itu.

Maka sebegitu lekas Wie Hui memiringkan sedikit kepalanya untuk menyingkir daripada dua jari tangan Poan Thian yang dijujukan ke arah biji matanya, ia segera melompat ke samping jurang dengan kesebatan melombai seekor kera.

"Lekaslah menyerah!"

Sambil maju mendesak.

membentak pemuda kita Dalam pada itu Lie Poan Thian yang telah menendang dengan sangat bernapsu, mendadak kakinya telah kena tersandung batu karang sehingga ia jatuh ngusruk dengan tak dapat dicegah pula.

"Aih!"

Ia berseru dengan rupa sangat kaget. Melihat ketika yang terbaik itu untuk turun tangan, dengan sebat Wie Hui lantas mengayunkan kakinya akan menendang.

"Celaka!"

Poan Thian yang terkenal bisa berlaku tenang dalam waktu-waktu yang kesusu, pada waktu itu 361 kelihatan terkesiap dan lekas menyampok kaki Wie Hui yang ditendangkan ke jurusan tubuhnya yang separuh terbaring di antara batu-batu karang.

Tetapi pada sebelum Wie Hui sempat memikirkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya, Poan Thian telah keburu melompat bangun dan lalu balas menendang dengan ilmu Lian-hwan Sauw-tong-tui yang telah membikin Wie Hui jadi kelabakan dan amat sibuk akan menghindarkannya.

Satu tendangan yang dijujukan ke ulu hatinya telah dapat disingkirkan olehnya dengan bagus sekali, tetapi tendangan lain yang menyambar dari bawah dan kelihatan agak mustahil akan dapat disingkirkan tanpa berlompat ke atas, telah membikin Wie Hui lupa, bahwa di belakangnya terletak jurang yang curam dengan di bawahnya terbentang batu-batu karang yang tajam dan tiada seorang pun yang jatuh ke situ akan bisa utuh baik pun badan maupun jiwanya.

Maka di waktu berlompat ke atas dengan menggunakan tipu Hui-yan-cwan-thian, Poan Thian segera mengirim pula satu tendangan sambil menyapu kaki musuhnya yang tiba di tanah, hingga Wie Hui yang berlompat terlalu jauh dan kemudian diserang pula dengan tendangan yang serupa itu, sudah barang tentu jadi amat gugup dan dengan tidak terasa lagi telah "menyelonong"

Ke tempat kosong dan terjerumus ke dalam jurang, sehingga badannya remuk di antara batubatu gunung yang tajam dan sangat mengerikan hati itu!

Demikianlah akhirnya pertempuran itu, yang di setiap waktu ia beromong-omong dengan handai taulannya, Poan Thian kerap mengakui sebagai salah satu pertempurannya yang paling dahsyat yang pernah ia alami seumur hidupnya.

Karena selain merasakan sangat 362 lelah sesudah mengalami pertempuran itu, iapun baru pertama kali ini mengalami dapat luka dari pukulanpukulan musuhnya, sehingga buat itu ia mesti berobat sehingga hampir sebulan lamanya dengan berturut-turut, barulah luka-luka itu sembuh kembali dan ia bisa bergerak pula dengan leluasa seperti sediakala.

Dan tatkala Poan Thian mengetahui bahwa Wie Hui tidak akan bisa hidup kembali, barulah ia ingat pada Hwat Yan yang sedang bertempur dengan Hok Cit tadi.

Buru-buru .ia menengok dan memandang ke sana-sini, tetapi sang Sutee itu tidak kelihatan bayangbayangannya.

Lebih jauh karena teringat pula pada nasib Tay Hong yang telah terjerumus ke dalam perangkap yang dalam dan seolah-olah telah disediakan sebagai kuburannya, Poan Thian jadi sangat berkuatir dan buruburu mencari Hwat Yan dengan melalui jalan-jalan yang kiranya selamat dan tidak terdapat jebakan menurut petunjuk-petunjuk Sin-to-thay-swee Khu Siu Cun tadi.

Karena jikalau mula-mula ia menganggap bahwa itulah hanya merupakan omongan-omongan untuk menakutnakuti saja kepadanya, adalah sekarang ia harus mengakui, bahwa itulah sesungguhnya bukan mustahil dan tidak bisa dipandang ringan dengan begitu saja.

Tetapi betapa girangnya hati pemuda kita, tatkala ia membiluk ke suatu jalan gunung yang sedikit teraling oleh semak-semak yang agak tinggi, ia melihat Hwat Yan berjalan mendatangi dalam keadaan sehat wal'afiat, walaupun pakaiannya compang-camping karena terlanggar oleh senjata yang dipergunakan dalam pertempuran oleh musuh-musuhnya tadi.

Kemudian Poan Thian lekas menghampiri dan menjabat tangan sang Sutee itu sambil menanyakan.

363 "Kemanakah perginya kawanan berandal yang telah mengepung padamu tadi?"

"Mereka itu telah pada kabur ketika mengetahui Liu Tay Hong mati dan kau sendiri sedang menguber pada Wie Hui,"

Sahut calon paderi itu.

"Tetapi bagaimana dengan halnya Wie Hui si terkutuk itu?"

Poan Thian lalu menjawab.

"Dia sekarang sudah tidak berbahaya. Dia mati terjerumus ke dalam jurang, tatkala ia bertempur denganku tadi."

"Syukur,"

Kata Hwat Yan dengan perasaan puas.

"karena dengan begitu, hilanglah suatu noda besar yang sangat mencemarkan nama baik kaum kita golongan Siauw-lim....."

Begitulah dengan tidak menghiraukan pula apa yang selanjutnya akan terjadi di pegunungan Jie-sian-san itu, Poan Thian dan Hwat Yan lalu kembali ke tempat penignapannya di Leng-po, dari mana mereka segera kembali ke kelenteng Po-to-sie dan melaporkan usaha mereka yang telah berhasil itu, hingga In Cong Sian-su yang mendengar laporan tersebut, girang bukan main dan berterima kasih atas bantuan pemuda kita yang sangat berharga itu.

Maka setelah sebulan lamanya Poan Thian berobat di kelenteng itu dari luka-luka yang telah dialaminya dalam pertempuran dengan Wie Hui, barulah ia bisa melanjutkan perjalanannya ke Tiong-ciu, untuk mencari kakaknya yang berniaga garam di sana, pada siapa ia bermaksud akan mengabarkan tentang pernikahannya dengan gadis keluarga Na itu.

Tetapi karena kakak itu tidak dapat diketemukannya, maka apa boleh buat ia kembali kedesa Sam-li-tun rumah obat Tiang-seng-tong, dimana ia telah disambut 364 oleh An Chun San yang telah tahan ia berdiam di situ sehingga beberapa bulan lamanya.

◄Y► Dari desa itu Poan Thian kemudian menuju ke propinsi Ho-lam, dengan maksud akan menyambangi Cin Kong dan Bu Liu Sian yang membuka sebuah piauw-kiok di sana.

Pada hari itu Poan Thian justeru telah sampai ke Tian-tien, sebuah kota kecil yang terpisah delapanpuluh lie jauhnya di sebelah barat kota Hang-ciu.

Kota kecil ini walaupun hanya mempunyai lima atau enamribu penduduk saja banyaknya, tetapi keadaannya boleh dikatakan ramai juga.

Karena selain di situ terdapat banyak bangunaan-bangunan yang besar, gedunggedung, toko-toko, rumah-rumah penginapan dan kedaikedai makanan, kota itupun terhitung "hidup"

Oleh karena mempunyai jalan-jalan penting yang dapat menghubungkan beberapa propinsi yang tersebar di empat penjuru dengan sekaligus.

Sedangkan pedagang-pedagang keliling, orangorang perjalanan dan pelindung-pelindung kereta piauw yang kerap mondar-mandir dari satu propinsi pada yang lainnya, biasa berkumpul di situ jika kebetulan kemalaman atau menantikan kawan-kawan mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota-kota lain yang letaknya terpisah agak jauh dari kota kecil yang tersebut.

Demikianlah keadaan kota Tian-tien tersebut.

Pada hari itu sebenarnya Poan Thian tidak bermaksud akan bermalam di Tian-tien, tetapi karena 365 kehujanan dalam perjalanan, maka terpaksa ia mencari juga rumah penginapan, agar supaya bisa melanjutkan perjalanannya ke Ho-lam pada keesokan harinya.

Tatkala itu kota Tian-tien yang telah sekian lamanya mengalami "kekeringan" , mendadak telah ditimpah hujan yang bukan main lebatnya, sehingga selain jalan-jalan raja tergenang air, orangpun sukar sekali berjalan dengan leluasa, sedangkan rumah-rumah yang penuh sesak dengan para tamu, membuat Poan Thian mengalami kesukaran mencari kamar.

Maka setelah keluar-masuk di beberapa banyak rumah-rumah penginapan dengan selalu mendapat jawaban.

"Sangat menyesal, tuan, kami di sini tidak ada kamar kosong,"

Akhirnya Poan Thian telah sampai ke rumah penginapan Cee Hok, yang ternyata ada rumah penginapan satu-satunya dimana orang masih bisa dapat kamar kosong, yang jumlahnyapun hanya tinggal satusatunya pula.

"Kamar ini sebenarnya telah dipesan oleh serombongan pelindung kereta piauw yang mestinya datang ke sini pada hari ini,"

Menerangkan pemilik rumah penginapan itu.

"tetapi berhubung mereka tidak datang, maka boleh juga tuan pakai kamar itu, walaupun itu sebenarnya terlalu besar untuk ditinggali oleh hanya seorang saja."

"Soal besar kecilnya kamar,"

Kata pemuda kita.

"itulah sama sekali aku tidak pikiri. Pendeknya, asal ada saja sudah merasa puas. Begitupun tentang uang sewaannya, engkau boleh perhitungkan menurut apa yang dirasa pantas."

"Ya, ya, baiklah,"

Baca Juga: Bangau Sakti 12

Baca Juga: Ratna Wulan 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert