Eps 3 Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek
Baca online Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek
Cersil Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek.
Tetapi aku hadapi nasib buruk itu dengan tenang dan tanpa mengeluh, karena aku telah yakin, bahwa bintangnya kawanan dorna-dorna itu sedang terangnya, sedang semua orang pun seolah-olah membenarkan 183 atas sepak terjang mereka yang amat tidak patut itu.
Demikianlah duduknya perkara yang benar, sehingga akhirnya Thian menurunkan kau sebagai bintang penolongku.
Maka setelah kau ketahui sebab musabab mengapa aku telah ditawan, sekarang adalah giliranku akan menanyakan she dan namamu, agar supaya nama itu bisa terukir buat selama-lamanya di dalam hati sanubariku!"
Sementara Lie Poan Thian yang mendengar penuturan yang sangat menjengkelkan itu, dengan roman yang gusar lalu berseru.
"Ah, sungguh terkutuk benar si jahanam Poo Tin Peng itu! Jikalau manusia yang seperti ini dibiarkan hidup di dunia, niscaya dunia yang sudah rusak ini akan jadi semakin bejat, semakin kotor! Marilah kita basmi padanya bersama-sama!"
Cin Kong Houw yang mendengar anjuran dan kesanggupan pemuda kita, dengan tidak terasa lagi segera jatuhkan dirinya berlutut di tanah sambil berkata.
"Saudara, setelah kau menghidupkan jiwaku, sekarang kembali kau hendak mengorbankan jiwamu buat aku, hingga aku Cin Kong Houw biarpun mati dan kemudian hidup kembali, niscaya tak akan mampu membalas budi kebaikanmu yang teramat besar itu!"
Tetapi Poan Thian lekas banguni padanya sambil menghibur dan berkata.
"Cin Lauw-hia, janganlah kau berlaku sungkan dan menyebut-nyebut perihal pembalasan budi. Aku Lie Poan Thian bukan seorang yang kepingin dipuji-puji sebagai seorang gagah yang budiman, juga bukan kepingin termasyhur oleh karenanya. Aku menolong sekadar apa yang aku bisa. Oleh sebab itu, aku mohon supaya selanjutnya kau 184 jangan menyebut-nyebut pula urusan itu, yang cumacuma akan membikin aku jadi jengah saja."
Begitulah dengan Cin Kong Houw berlaku sebagai petunjuk jalannya, Lie Poan Thian lalu menuju ke Khayhong buat membantu kawan baru itu akan melaksanakan balas dendamnya terhadap Poo Tin Peng yang keji itu.
Kira-kira pada waktu hampir senja, mereka berhenti di sebuah kedai kecil untuk menghilangkan dahaga dan mengisi perut.
Selama mereka bermakan minum, Poan Thian menanyakan banyak sekali keterangan-keterangan mengenai tempat tinggalnya Poo Tin Peng, bagaimana bentuk rumah yang didiaminya, dia di Khay-hong tinggal di jalan apa namanya, dan yang paling terutama bagaimanakah romannya si jahanam itu, yang satu per satu lalu dijawab oleh Cin Kong Houw dengan secara teliti.
Sehabis dahar kenyang dan membayar harganya minuman dan makan yang mereka telah pesan tadi, kedua orang itu lalu melanjutkan pula perjalanan mereka, dengan mengambil jalanan yang lebih sunyi dan lebih jauh, berhubung dikuatirkan Kong Houw nanti berpapasan dengan orang-orang yang dikenal baik, sehingga ini menerbitkan hal-hal yang tidak diinginkan dan dapat menggagalkan rencana mereka untuk membikin pembalasan.
Dalam perjalanan itu, mereka telah menginap di sebuah rumah makan kecil, yang juga menyewakan kamar untuk orang-orang perjalanan yang melewat di situ dan justru kemalaman dalam perjalanan.
Dengan beristirahat semalaman dalam rumah makan kecil itu, maka Poan Thian dan Kong Houw dapat pulih 185 kesegaran badan masing-masing di hari esoknya.
Maka sehabis sarapan pagi dan membayar semua ongkos-ongkos mereka makan dan menginap, kedua orang itupun lalu melanjutkan pula perjalanan mereka ke Khay-hong dengan menurut cara seperti apa yang telah mereka lakukan di hari kemarin, yaitu jalanan yang sunyi tetapi lebih aman daripada kalau berjalan di jalan raya yang ramai.
Oleh sebab itu juga, mereka baru sampai di luar kota Khay-hong tatkala matahari menyelam ke barat, tetapi mereka tidak lantas masuk kota, karena di situ Kong Houw mempunyai banyak kenalan, yang sewaktu-waktu bisa berpapasan dengan kaki tangan Poo Tin Peng yang sedang "dimauinya"
Itu.
Maka atas anjuran Kong Houw, Poan Thian lalu menumpang menginap di sebuah rumah makan merek Hok Goan, yang juga menyewakan kamar buat para tetamu yang tidak suka menginap di dalam kota, terutama bagi mereka yang tidak suka dengan tempat yang terlalu ramai dan berisik.
Di situ Kong Houw dan Poan Thian lalu berembuk, cara bagaimana mereka akan beraksi pada malam hari itu.
"Menurut pendapatanku!"
Kong Houw menganjurkan.
"paling betul sore-sore kita masuk tidur. Nanti hampir tengah malam, kalau keadaan sudah agak sunyi, barulah kita keluar dengan diam-diam dan menuju dengan langsung ke rumahnya jahanam Poo Tin Peng itu. Tetapi belum tahu pikiran saudara bagaimana?"
"Ya, ya, itu benar. Aku mufakat,"
Sahut Lie Poan Thian.
"Apakah kau mempunyai golok atau barang-barang tajam lain?"
Bertanya Cin Kong Houw. 186 "Ada,"
Sahut pemuda kita.
"malah kalau kau merasa perlu, aku di sini ada sedia pelbagai macam senjata rahasia, yang kau boleh pilih sendiri yang mana kau rasa perlu pakai."
Cin Kong Houw jadi sangat girang dan lalu minta sepuluh buah piauw, jikalau Poan Thian mempunyai senjata itu. Poan Thian mengabulkan. Lalu ia berikan senjata yang diminta itu.
"Golok yang aku rampas dari tangan orang militer itu,"
Kata Kong Houw pula.
"ada kemungkinan telah disediakan buat membunuh diriku. Tetapi sekarang golok itu hendakku pergunakan untuk menyembelih jahanam she Poo itu "
"Semoga niatanmu itu terkabul menurut cita-citamu,"
Kata Lie Poan Thian, bagaikan seorang yang memberkahkan kawan itu.
Kong Houw tersenyum, walaupun dalam senyuman itu lebih banyak mengandung kegetiran, daripada kegirangan yang maksud pekerjaannya ditunjang oleh tenaga seorang kawan yang boleh diandalkan.
Begitulah sehabis dahar sore dan beres mengatur rencana yang akan dilakukan pada malam itu, Poan Thian dan Kong Houw lalu pergi masuk tidur.
Kira-kira hampir tengah malam, Poan Thian tersadar dari tidurnya.
Keadaan di sana-sini gelap-gelita, karena di dalam kamar itu memang tidak dipasangi lampu.
Lalu ia banguni Kong Houw dengan suara bisik-bisik, tetapi sang kawan itu rupa-rupanya keenakan tidur hingga ia tidak mendengar suara bisikannya.
Orang sedalam rumah penginapan itu sudah pada 187 tidur dengan nyenyak, hingga dalam kesunyian hanya terdengar saja suara kutu-kutu kecil yang berbunyi saling sahutan di sana-sini.
Dalam pada itu Poan Thian yang kuatir tempo "beraksi"
Mereka akan jadi terlambat oleh karena kelalaian ini, maka sambil menguap dan mengucek-ucek mata ia lantas berbisik dengan suara yang terlebih keras, katanya.
"Cin Lauw-hia! Cin Lauw-hia!"
Tetapi meski bisikan itu diulangkan sampai beberapa kali juga, Kong Houw tetap tidak menjawab, hingga Poan Thian yang mulai jadi tidak sabar dengan sikapnya sang kawan itu, buru-buru turun dari ranjang dan menghampiri pada Cin Kong Kong yang tidur di ranjang lain yang dipasang berhadapan dengan ranjangnya sendiri.
Lalu ia singkap kelambu ranjang itu sambil berbisik.
"Cin Lauw-hia, lekas bangun! Malam ini kita harus bekerja dengan cepat!"
Tetapi, alangkah terperanjatnya pemuda kita, tatkala ia melongok ke atas ranjang itu dan mendapatkan Kong Houw telah berlalu entah sedari kapan! "Celaka!"
Pikirnya dengan perasaan kuatir.
"Jikalau ia berlaku kurang hati-hati sedikit saja, niscaya ia akan dikepung dan ditawan kembali oleh pihak musuhmusuhnya! Aku mesti menyusul padanya selekas mungkin!"
Begitulah dengan tidak membuang tempo lagi, Poan Thian segera berpakaian untuk berjalan di waktu malam, membekal golok dan senjata-senjata lain yang dibutuhkannya, kemudian ia tolak daun jendela yang ternyata tidak terkunci, berhubung Kong Houw telah keluar dari situ selagi ia masih tidur tadi.
188 Dari itu ia melompat keluar dan rapatkan pula daun jendela itu dari sebelah luar.
Syukur juga Poan Thian telah menanyakan cukup jelas dari di muka, cara bagaimana Kong Houw hendak melakukan "penyerangan"
Itu dan kemana mereka harus menuju, hingga Poan Thian yang memang sering mengunjungi kota Khay-hong dan kenal baik selukbeluknya keadaan dalam kota itu, dengan mudah saja telah bisa masuk kota dengan jalan melompati bagian pagar tembok yang tidak diawasi terlalu keras oleh serdadu-serdadu penjaga kota di situ.
Dari sana, dengan jalan bersembunyi apabila kebetulan berpapasan dengan serdadu-serdadu atau orang-orang yang masih berkeliaran kota yang sudah mulai sunyi itu, Poan Thian menuju ke rumahnya Poo Tin Peng dengan menuruti petunjuk-petunjuk yang ia telah dapatkan dari Cin Kong Houw di hari kemarin.
Tetapi tidak kira pada sebelum sampai ke tempat yang dituju, di tengah jalan ia menampak seorang yang berpakaian untuk berjalan di waktu malam berkelebat melompati pagar tembok di sebelah atasan kepalanya, hingga Poan Thian yang justru berjalan di bawahnya dengan tindakan yang hampir tak bersuara, jadi terperanjat dan lekas bersembunyi di suatu peloksok yang agak gelap, berhubung ia telah mengenali, bahwa orang itu bukanlah kawannya sendiri!
Menurut penuturan Cin Kong Houw, di rumah Poo Tin Peng terdapat beberapa orang kauw-su yang dipekerjakan oleh si jahanam itu sebagai pengawalpengawal.
"Apakah ia ini bukan salah seorang antara kauw-su, yang dikatakan Kong Houw itu?"
Poan Thian berpikir di 189 dalam hatinya.
Selagi berpikir demikian mendadak orang yang melompati pagar tembok itu telah turun ke bawah, sehingga sekarang ia jadi berhadapan dengan Poan Thian yang berada kira-kira seratus tindak jauhnya dari tempat mana ia berdiri!
Poan Thian lekas cabut golok dari pinggangnya.
,,Kau jangan maju terus!"
Kata orang itu. Pemuda kita jadi kemekmek, kemudian ia mengeluarkan suara teriakan girang.
"Hoa-suheng, cara bagaimanakah kau bisa berada di sini?"
"St, jangan bikin ribut!"
Kata orang itu, yang ternyata bukan lain daripada Hoa In Liong adanya! Poan Thian lekas memburu dan merangkul padanya dengan mengucurkan air mata kegirangan.
"Suheng,"
Katanya.
"cara bagaimanakah kau bisa berada di sini?"
"Marilah kau ikut aku ke tempat lain yang aman,"
Kata Hoa In Liong, yang lalu pimpin tangan Poan Thian buat diajak bersembunyi ke tempat lain yang lebih sentosa.
"Di sana ada seorang kawanku yang sedang "menyerbu"
Ke rumah Poo Tin Peng,"
Berbisik pemuda kita. Hoa In Liong menganggukkan kepalanya.
"Ya, itu aku tahu,"
Sahutnya "tetapi sekarang ia berhasil dapat membinasakan manusia keji itu serta meloloskan diri dari dalam pengepungan pihak musuhmusuhnya."
Lie Poan Thian jadi girang tercampur heran 190 mendengar keterangan begitu.
Yang pertama-tama ia jadi girang karena maksudnya Cin Kong Houw telah berhasil, sedangkan yang keduanya, adalah ia heran cara bagaimana In Liong bisa ketahui adanya peristiwa ini?
In Liong tertawa dan lalu menerangkan duduknya hal yang benar pada adik sepeguruannya itu.
Demikianlah singkatnya penuturan Hoa In Liong itu.
Sebagaimana di bagian muka pernah disebutkan, Hoa In Liong ini adalah murid Kak Seng Siang-jin dari kelenteng Liong-tam-sie, yang bertugas keliaran di kalangan Kang-ouw untuk bantu memperbaiki keadaan masyarakat yang diperbudak oleh bangsa Boan-ciu yang menguasai seluruh Tiongkok di bawah telapak kaki besinya pada masa itu.
Pada waktu yang pertama-tama ia berjumpa dengan Poan Thian semenjak pemuda itu lulus dari perguruan silat di Liong-tam-sie, adalah ketika Poan Thian hendak mengadu ilmu kepandaian silat dengan Sin-kun Bu-tek Louw Cu Leng di kelenteng Tay-seng-tian.
Tetapi karena kepingin menyaksikan sampai dimana keberanian dan kepandaian pemuda itu, maka In Liong telah sengaja tak mau mengunjukkan diri pada saudara seperguruannya itu.
Kebetulan pada waktu itu Louw Cu Leng diiringi oleh Houw-jiauw Co, maka hatinya In Liong jadi bercekat dan kuatir, kalau-kalau Poan Thian nanti dikerubuti oleh kedua orang itu.
Oleh sebab itu, dengan secara diamdiam In Liong telah mencurahkan perhatiannya pada ahli silat she Co tersebut.
Ketambahan karena mendapat keterangan bahwa jago silat itu pandai mempergunakan pelbagai senjata rahasia, sudah tentu saja ia menjadi 191 semakin teliti dalam hal memperhatikan gerak-gerik orang.
Karena jikalau nanti Louw Cu Leng kena dikalahkan oleh adik sepeguruannya itu, ia pikir bukan mustahil akan ahli silat she Co itu turun tangan juga untuk membela nama baik kawannya.
Itulah sebabnya mengapa In Liong merasa lebih perlu tinggal sembunyi dan berlaku waspada, daripada mengunjukkan diri yang bisa membikin keadaan jadi semakin tegang.
Lebih-lebih jikalau di pihak lawan mereka sampai kejadian terbit sangkaan yang tidak baik dan paham atas kedatangannya yang terjadi di luar dugaan itu.
Tetapi ternyata pertempuran itu telah berlangsung dengan beres dan jujur, hingga In Liong jadi girang dan lalu menyeruhkan supaya Poan Thian suka mempertahankan nama baiknya guru dan rumah perguruan silat mereka di Liong-tam-sie.
Kemudian ia lekas menyingkir dari muka kelenteng Tay-seng-tian ketika melihat gelagat Poan Thian dan Cu Leng hendak mencarinya di antara orang banyak yang berkerumunan di situ.
Itulah sebabnya mengapa tak dapat ia diketemukan oleh Lie Poan Thian.
Pada kedua kalinya ia bertemu dengan suteenya itu, ialah pada malam itu, dimana Kong Houw masuk kota Khay-hong dengan meninggalkan Poan Thian sendirian di rumah makan Hok Goan.
Tatkala itu In Liong yang memang telah beberapa hari yang lalu mendapat kabar tentang perbuatannya Poo Tin Peng yang amat keji itu, iapun telah jadi sangat gusar dan berniat malam itu juga akan membinasakan jiwanya manusia busuk itu.
192 Di tengah jalan ia berpapasan dengan Cin Kong Houw.
Mula-mula ia berniat akan bersembunyi, tetapi Kong Houw keburu melihat dia dan lantas mengejar.
Kong Houw menyangka kalau-kalau In Liong itu adalah kaki tangan jahanam she Poo itu, seperti juga In Liong yang telah menyangka demikian kepada orang yang pertama disebutkan itu.
Mereka lalu saling tanya-menanya dengan cepat, dan tatkala mengetahui bahwa tujuan mereka itu bersamaaan, yaitu akan membinasakan jiwanya Poo Tin Peng, In Liong lalu mengalah dan memberikan jaminan akan melindungi padanya dengan secara diam-diam.
Kong Houw jadi sangat berterima kasih dan mengharap akan dapat membalas budi kebaikan sang sahabat yang tidak dikenal itu, tetapi Kong Houw tidak pernah menyebutkan tentang adanya lain kawan pula yang bersedia akan memberikan pertolongan kepadanya dimana perlu, dan orang itu bukan lain daripada Lie Poan Thian adanya.
Maka setelah Poan Thian saling berjanji akan bertemu dan mengobrol terlebih panjang di hari esok di rumah makan Hok Goan, mendadak mereka telah dibikin kaget dengan suara orang yang berteriak.
"Tangkap, tangkap si pembunuh! Dia tentu belum lari terlalu jauh!"
"Celaka!"
Kata Hoa In Liong.
"Rupanya kawanmu itu telah dikepung orang! Ayoh, pergilah kau lekas menolong kepadanya. Aku di sini nanti menghambat orang-orang yang akan mengeroyok ke sana."
Poan Thian menurut.
Kemudian dengan mempergunakan siasat Yan-cu-cwan-liam ia berlompat 193 melalui sebuah pagar tembok yang tinggi, dari mana ia dapat menyaksikan bagaimana Kong Houw sedang dikepung oleh beberapa orang kauw-su nya Poo Tin Peng yang diiringi oleh beberapa orang murid-muridnya yang membawa obor.
Poan Thian yang merasa kuatir Kong Houw akan dilukai oleh seorang kauw-su yang bersenjata sepasang golok dan dan gerak-gerakannya jauh lebih gesit dari pada kawan-kawan yang lainnya, lalu menggunakan pelanting buat melepaskan peluru-peluru Lian-cu-tan yang segera dijujukan pada musuh itu.
Ser!
Ser!
Ser!
Sebutir dua butir peluru telah dapat dihindarkan oleh si kauw-su, tetapi sebutir peluru yang telah dilepaskan paling belakang telah membikin ia berjengit, berteriak karena kesakitan dan terus jatuh terlentang di tanah dengan kepala boboran darah.
Sementara Kong Houw yang melihat sudah tak terdapat rintangan pula untuk melarikan diri, buru-buru ia berlompat keluar dari kalangan pertempuran dan terus melayang ke atas pagar tembok.
Tetapi tidak kira ketika kakinya baru saja menginjak bagian atasnya pagar tembok tersebut, mendadak dari sebelah belakangnya terasa ada sesuatu yang menyamber ke jurusannya.
Lekas-lekas ia berkelit, tetapi ternyata tidak keburu.
Sebatang anak panah yang panjangnya kira-kira satu kaki, telah menancap di atas bahu kirinya!
Ia pusing dan hampir saja jatuh ke bawah pagar tembok, kalau saja Poan Thian tidak keburu jambret padanya buat diajak lari keluar dari tempat berbahaya itu.
194 Dalam perjalanan kembali ke rumah penginapan, Kong Houw hendak mencabut anak panah yang menancap dibahunya itu, tetapi Poan Thian lalu menyegah sambil berkata.
"Jangan! Biarkan saja aku nanti obati setelah sampai di kamar kita!"
Kong Houw menurut.
Begitulah ketika mereka kembali dengan tiada diketahui oleh barang satu manusia pun, Poan Thian lalu cabut anak panah itu dari bahunya Kong Houw, cuci lukanya, pakaikan obat untuk menghentikan darah dan menghilangkan rasa sakit, kemudian ia minta sang kawan berbaring di atas ranjang untuk beristirahat.
Tidak antara lama sang fajar telah mulai menyingsing, hingga Poan Thian tak mendapat kesempatan pula untuk tidur.
Tetapi Cin Kong Houw yang merasa sangat lelah karena pertempuran semalam, bukan saja telah tidur dengan nyenyak sekali, malah tak pernah ia mengimpikan, bahwa suatu bahaya besar tengah mengancam pada dirinya sendiri.
Maka Poan Thian yang tak mau membikin kaget kawannya yang sedang tidur itu, lalu mengasih tahu pada jongos, agar supaya dia jangan membanguni kepadanya, berhubung kawan itu sedang sakit, katanya.
Kemudian ia minta disediakan makanan untuk satu orang.
Sesudah selesai dahar, ia lantas pergi membeli obat.
Karena selain lukanya Kong Houw perlu diobati dengan memakai obat tidur, iapun perlu juga diberikan lain macam obat minum.
Tetapi, tidak kira, sekembalinya dari pasar, ia telah 195 berpapasan dengan seorang yang bertubuh tinggi besar dan beroman keren, yang entah sedari kapan tampak duduk di halaman pertengahan dengan sikap yang menandakan kurang senang.
Orang itu kurang-lebih berusia tigapuluh tahun, ia mengenakan baju pendek warna hitam dan bersepatu zool tipis serta menyoren sebilah golok dipinggangnya.
Oleh karena melihat sikap orang yang agak aneh itu, maka hatinya Poan Thian jadi bercekat dan menduga, kalau-kalau ada hal sesuatu yang tidak diingini terjadi di rumah makan itu.
Tetapi dilahir ia berpura-pura mengunjuk sikap yang tenang dan terus saja berjalan menuju ke kamarnya Cin Kong Houw.
"Hei sahabat, tahan dulu!"
Teriak satu suara yang nyaring dari sebelah belakang pemuda kita.
"Belum tahu tuan ada urusan apa memanggil aku?"
Tanya Lie Poan Thian. Orang tinggi-besar itu lalu menghampiri padanya dengan sikap yang sombong dan menantang.
"Kemanakah kau mau pergi?"
Tanyanya dengan suara ketus. Poan Thian jadi mendongkol dan lalu menjawab dengan secara ketus pula! "Kemana aku hendak pergi, itulah ada urusanku sendiri! Ada apa sih untungnya kau menanyakan begitu?"
"Kurang ajar!"
Membentak orang itu, sambil berniat akan menempiling pada si pemuda. Tetapi Poan Thian segera miringkan kepalanya, hingga tempilingan itu telah luput. sedikit 196 "Apakah kau hendak melawan aku?"
Teriak orang itu dengan hati sangat penasaran. Kemudian dengan tidak mengatakan "ba"
Atau ,bu"
Ia lantas menjotos muka Lie Poan Thian, siapa, setelah berkelit dan kasih liwat tinju itu di atas bahunya, lalu putarkan tubuhnya sambil menggunakan siasat Yu-cengpwe-pauw.
Kedua tangannya dipergunakan untuk mencekal tinju orang itu yang melalui di atas bahunya, hingga dengan begitu, punggungnya pun jadi mendekati pada dada orang tersebut, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat, ia tarik tangan itu sambil membentak.
"Pergi!"
Dan berbareng dengan terputusnya bentakan itu, Poan Thian telah melemparkan orang tinggi besar itu bagaikan orang yang melemparkan bola ke tanah lapang, hingga orang itu yang telah jatuh ke atas jubin dengan kepala mendahului kaki, sudah tentu saja lantas jatuh pingsan dan ditinggalkan oleh Poan Thian yang menuju ke kamarnya Kong Houw dengan tindakan yang tergopoh-gopoh.
Tatkala sampai ke depan pintu kamar, Poan Thian mendengar suara berkerincingnya rantai yang dibarengi dengan suaranya orang yang menyomel sambil mengancam.
"Kau dan aku sebenarnya sahabat-sahabat baik yang telah sekian lamanya bekerja di bawah satu majikan. Tetapi kalau sekarang aku telah memperlakukan kau begini rupa, itulah sama sekali bukan karena aku melupakan pada persahabatan kita, hanyalah karena kau telah melakukan pembunuhan terhadap pada Poo Tin Peng dan sekalian keluarganya, dari itu, aku terpaksa mengambil tindakan buat menangkap kau sebagai seorang pembunuh! Sebagai seorang sahabat, aku boleh 197 memaafkan itu, tetapi sebagai seorang hamba negeri, aku harus berlaku keras dan tidak memandang bulu! Itulah sebabnya mengapa setelah sekian lamanya kita bersahabat, barulah pada kali ini aku merasa perlu mengambil tindakan tegas dan keras terhadap pada dirimu. Maka kalau kau berani berbantahan atau membikin perlawanan, golokku yang tidak bermata ini akan memenggal kepalamu di seketika ini juga!"
Setelah itu, lalu terdengar suaranya Cin Kong Houw yang tidak kalah sengitnya dan membentak.
"Tutup bacotmu! Di sini tidak ada soal sahabat atau bukan sahabat! Jikalau kau mau menangkap, segeralah kau boleh tangkap, perlu apakah mesti mendongeng panjang lebar buat mencari kemenangan sendiri?"
"Kurang marahnya. ajar!"
Teriak orang itu dengan amat Sementara Lie Poan Thian yang kuatir Kong Houw yang terluka dianiaya oleh pihak musuh-musuhnya, buruburu berlompat masuk ke dalam kamar dan bikin seorang militer yang berdiri di belakang pintu jadi terpental dan jatuh mengusruk ke depan ranjang, karena terbentur pintu yang didorongnya dari sebelah luar oleh pemuda kita.
"Kau ini siapa?"
Membentak seorang militer lain yang beroman keren dan bermisai, yang ketika itu justeru sedang memborgol Cin Kong Houw.
Tetapi Poan Thian tinggal membelalakkan matanya dengan tak bicara barang sepatah katapun.
Kemudian dengan pelembungi dada orang militer itu lalu membentak.
"Hei, anak kecil! Tahukah kau siapa aku ini? Di tanah Ho-lam tak ada dua atau tiga orang yang bergelar Sin-kun selain aku Tang Ngo ini, kau tahu?" 198 Mendengar omongan orang militer yang sombong itu, Poan Thian lalu mengeluarkan suara jengekan dari lobang hidung dan berkata. ,Perduli amat dengan segala gelaran kosong! Aku di sini tidak gentar dengan segala "tinju malaikat"
Atau "tinju iblis-iblis. Jikalau kau berani, segeralah kau serang aku, jikalau kau takut, kau boleh segera pergi persetan dari sini!"
Tang Ngo yang bersifat pemarah, sudah tentu saja jadi amat gusar.
Dengan satu teriakan keras ia lantas menyerang pada Lie Poan Thian dengan sepasang tinjunya.
Poan Thian yang melihat halaman kamar di situ agak sempit, segera menyingkir dari pada pukulan itu sambil berlompat keluar kamar, perbuatan mana, pun diikuti juga oleh Tang Ngo yang membentak.
"Kau jangan lari!"
Tatkala berada di halaman pertengahan, barulah kedua orang itu mulai berhantam dan menguji kepandaian masing-masing dengan tidak banyak bicara pula.
Dalam pada itu Poan Thian mendapat kenyataan, bahwa ilmu kepandaian Tang Ngo ini sesungguhnya tidak boleh dipandang ringan.
Karena selain gerakgeriknya amat sebat dan sesuatu pukulannya sukar diduga, iapun mempunyai beberapa macam ilmu pukulan yang Poan Thian belum pernah lihat dipergunakan orang lain daripada Sin-kun Bu-tek Louw Cu Leng di kota tumpah darahnya.
Maka sambil bertempur dengan orang militer itu, pemuda kita jadi berpikir di dalam hatinya.
199 2.13.
Makhluk Gaib di Leng-coan-sie "Apakah orang ini ada salah seorang muridnya Louw Cu Leng Lo-suhu di Cee-lam, yang juga pernah mempunyai murid orang militer Teng Yong Kwie itu?"
Tetapi Poan Thian tak sempat berpikir atau menduga-duga lebih jauh pula, karena Tang Ngo yang melihat pemuda kita berlaku sedikit lambat dalam penyerangan atau penangkisannya, bukan saja telah menyangka bahwa Poan Thian tidak tahan lama dalam pertempuran itu, malah hatinyapun diam-diam jadi girang dan lalu menyerang dengan cara yang terlebih gencar, sambil mengajukan ilmu-ilmu pukulan yang ia percaya Poan Thian tak akan mampu jaga.
Tetapi, tidak kira, ketika sedang enaknya ia merangsek.
mendadak Poan Thian telah merubah siasat perlawanannya dan terus menerjang pada Tang Ngo dengan menggunakan ilmu tendangan yang bernama Siang-hui-lian-hwan-tui.
Tendangan ini sifatnya bersamaan dengan ilmu tendangan yang bernama Tan-hui-tui, tetapi dipergunakannya agak berlainan sedikit.
Kalau dengan mempergunakan ilmu yang tersebut belakangan orang hanya mempergunakan sebelah kaki saja, adalah dengan ilmu tendangan yang tersebut belakangan itu orang menendang dengan berturut-turut, baik dengan kaki kanan maupun dengan kaki kiri, hingga jikalau orang berlaku lengah sedikit saja, sudah pasti dirinya bakal menjadi celaka oleh tendangan yang sedemikian hebatnya itu.
Sin-kun Tang Ngo terkejut bukan main ketika melihat serangan lawan yang sangat berbahaya dan lagi pula sangat gencar itu, maka buru-buru ia melompat ke 200 samping buat menghindari serangan-serangan itu, kemudian ia menjotos pilingan orang she Lie itu dengan siasat "Menuang arak ke dalam cawan"
Yang tergolong sebagai salah satu macam ilmu pukulan yang berbahaya dari golongan siasat silat Ngo-houw-kun.
Pilingan itu adalah sebagian yang berbahaya dari bagian kepala, maka orang yang kena dijotos pada bagian anggotanya itu, pasti bisa menjadi mati, atau sedikit-dikitnya bakal menderita luka berat.
Tetapi Lie Poan Thian tidak menjadi gugup barang sedikitpun menghadapi serangan musuh itu.
Pukulan itu segera disampoknya ke samping, sambil berbareng mengirim satu tendangan yang hebat sekali ke jurusan dada musuh yang telah menjadi terbuka dan tiada terlindung itu.
Oleh sebab ini, sudah barang tentu Tang Ngo jadi kaget sekali, maka buru-buru ia berlompat mundur beberapa tindak jauhnya, setelah itu, barulah selanjutnya ia melayaninya berkelahi dengan hati-hati sekali, agar supaya tidak sampai kejadian ia dijatuhkan lawannya itu.
Demikianlah pertempuran itu telah berlangsung dengan amat serunya, tetapi belum diketahui pihak mana yang lebih tinggi atau rendah ilmu kepandaiannya.
Oleh karena Tang Ngo adalah seorang militer, maka Lie Poan Thian agak khawatir, kalau-kalau lawannya itu akan memperoleh lebih banyak bantuan dari kawankawannya, sedangkan ia hanya bersendirian saja, maka tak mau ia membiarkan pertempuran itu berjalan terus dengan begitu saja.
Dari itu ia segera mengubah caranya bersilat, sambil mengeluarkan bentakan keras untuk mengejutkan hati 201 lawannya, tangan kirinya diayunkan kehadapan mata lawannya, tetapi tangan kanannya lalu mencakar muka lawannya dengan siasat "Naga emas mempersembahkan semangka".
Dengan siasat ini, benar saja Tang Ngo terkesiap hatinya.
Menampak serangan di depan mukanya itu, dan tatkala ia menangkis serangan tersebut dengan membentangkan kedua tangannya ke kiri-kanan buat menyampok.
Lie Poan Thian dengan secepat kilat telah menendang dada lawannya dengan siasat ,Siauw-pouwlian-hwan-tui, yang menjadi salah satu macam ilmu tendangan yang sangat lihay dari perguruan ilmu silat cabang Liong-tam-sie.
Oleh karena Tang Ngo sedang sibuk menjaga serangan dari atas, maka tak keburu ia mengelakkan serangan Poan Thian dari sebelah bawah.
Hampir dalam saat itu, segera terdengar suara-suara dan jeritan yang mengerikan.
Duk!
— Aduh!
— Gedebuk!
Ternyata dada Tang Ngo telah kena ditendang dengan telak sekali oleh Lie Poan Thian, hingga tidak ampun lagi, orang she Tang itu jadi terpental ke belakang dan jatuh terlentang di tanah bagaikan seekor ajam yang kelabakan karena disembelih dan hampir putus nyawanya.
Oleh karena dada itu adalah tempat berkumpulnya paru-paru dan hati, yang merupakan bagian yang sangat penting dalam tubuh manusia, maka orang yang anggota badannya kena dilukakan di bagian itu, banyakan menjadi celaka daripada selamat.
202 Maka setelah berkali-kali memuntahkan darah segar, Tang Ngo terus jatuh roboh dengan tidak sadar lagi akan dirinya.
Sementara kawan-kawannya yang turut datang bersama-sama ke tempat itu, ketika melihat gelagat tidak baik, sudah lantas memanjangkan langkahnya buat melarikan diri, dengan meninggalkan kawan-kawan mereka yang menderita luka-luka berat itu.
Lie Poan Thian mengetahui, bahwa tempat itu tidak baik buat didiami terlebih lama pula.
Syukur juga luka-lukanya Cin Kong Houw pun telah mulai menjadi baikan, maka tidak berayal pula ia segera pergi ke istal buat menuntun keluar dua ekor kuda.
Sesudah membereskan barang-barang mereka serta membayar rekening hotel, kedua orang itu terus cemplak kuda masing-masing yang lalu dilarikan dengan pesat meninggalkan tempat itu.
Sesudah mereka melarikan diri sekira tigapuluh lie lebih jauhnya, barulah mereka berani berjalan lebih perlahan.
Selanjutnya, untuk menghindarkan diri daripada kerewelan-kerewelan yang mungkin bakal terjadi, jikalau nanti Bu Goan Kwie mengirimkan pasukan berkuda buat mengejar mereka, maka Poan Thian dan Kong Houw terus mengambil jalan kecil yang sunyi dan di kedua tepinya banyak ditumbuhi semak-semak dan pohonpohon yang lebat.
Sesudah berjalan beberapa lie jauhnya, mereka sudah hampir tak menemui pula perkampungan, sedangkan orang yang lalu-lintas di jalan itupun tidak dijumpai mereka barang seorang pun.
203 Kemudian karena keadaan jalanan itu semakin lama semakin menanjak dan berkelok-kelok, maka Poan Thian jadi takut menyasar dan segera menanyakan kepada Cin Kong Houw, apakah mereka tidak mengambil jalan yang keliru?
"Jangan kuatir,"
Kata orang she Cin itu.
"jalan-jalan kecil di sekitar daerah ini, aku ketahui semua dengan baik sekali. Di sini kita sedang mendaki bukit Jie-liongnia, sesudah melewati bukit ini, kita akan ketemukan pula sebuah bukit lain yang dinamakan Hek-gu-nia, dan selanjutnya adalah bukit Tay-hun-nia. Sesudah kita berjalan pula kira-kira delapanpuluh lima lie jauhnya, kita akan tiba di residensi Heng-ciu, kemudian mulai masuk ke daerah Kang-souw utara."
Mendengar keterangan begitu, sudah tentu saja Poan Thian jadi merasa agak kecewa, karena tempat tujuannya yang sebenarnya adalah Tiong-ciu, hingga sekarang ia jadi berbalik menjauhkan diri dari tempat yang ditujunya itu.
Lalu ia memberitahukan maksud hatinya kepada orang she Cin itu.
"Letak Tiong-ciu dan Khay-hong tidak berjauhan,"
Menerangkan Kong Houw.
"dan kedua-duanya daerah itu berada dalam kekuasaan Bu Goan Kwie. Apabila Lauwhia belum pernah campur tangan dalam urusanku, sudah tentu saja engkau boleh pergi ke tempat-tempat itu dengan sekehendak hatimu. Tetapi sekarang karena Lauw-hia sudah pernah menerbitkan keonaran di daerah kekuasaannya, maka aku percaya, apabila orang she Bu itu mengetahui kedatangan Lauw-hia ke sana, tentulah dia akan berdaya-upaya buat mencelakakan kepada dirimu. Apabila dia berani mengganggu Lauw-hia dengan secara berterang, Lauw-hia tentu masih bisa 204 menghindarkan diri, tetapi apabila dia mempergunakan tipu-muslihat busuk dengan secara menggelap, sudah tentu sukar sekali buat Lauw-hia bisa menjaganya. Maka daripada mengantarkan diri ke tempat yang berbahaya itu, kukira lebih baik Lauw-hia turut aku bersama-sama pergi ke Kang-lam, untuk pesiar dan menghilangkan sedikit rasa jengkel kita dengan jalan memandang keindahan alam di sana yang terkenal permai."
Pemuda kita jadi merasa tertarik juga dengan omongan Cin Kong Houw itu, yang kemudian menceritakan berbagai macam keindahan alam di daerah Kang-lam, sehingga dengan begitu ia menurut juga buat bersama-sama pergi ke sana.
Begitulah setelah berjalan beberapa akhirnya tibalah mereka di kota Kim-leng.
lamanya, Sesudah puas pesiar di ibu-kota kuno itu, mereka terus berangkat lagi keselatan dan menuju ke kota Hangciu, yang termasyhur sebagai salah sebuah "Sorga dalam Dunia"
Disamping kota Souw-ciu yang menjadi timpalannya.
Kota Hang-ciu ini adalah ibu propinsi Ciat-kang, yang mempunyai pemandangan alam sangat indah dan termasyhur di dalam dunia, terutama telaga See-ouw nya, yang tak asing lagi dan sering disebut-sebut dalam sajak-sajak para penyair kenamaan di jaman dahulu dan sekarang.
Cin Kong Houw ini ternyata sudah paham sekali dengan keadaan tempat-tempat di situ, maka dengan tiada menanyakan pula kepada orang lain, ia sudah bisa mengajak Lie Poan Thian mengunjungi ke perbagai tempat yang indah-indah pemandangan alamnya, serta tempat-tempat termasyhur peninggalan dari jaman kuno 205 yang sering dikunjungi dan dipuji orang sedunia.
Setelah puas berputar kayun di sekeliling tempattempat itu, akhirnya mereka merasa haus dan lapar, hingga mereka lalu mampir ke sebuah kedai arak yang terletak di pantai telaga See-ouw, dari mana sambil duduk-duduk dan berminum arak orang dapat menikmati pemandangan alam yang terbentang di sekitar tempat itu.
Begitulah sesudah memilih tempat duduk yang terletak di dekat mulut jendela, mereka lalu panggil seorang pelayan dan memesan arak dan makanan yang menjadi kegemaran masing-masing.
Dalam pada itu, di lain meja di dekat mereka, terdapat pula dua orang tamu lain yang sedang duduk bercakap-cakap sambil makan minum dengan asyik sekali.
Salah seorang di antaranya mengenakan baju biru, sedangkan yang lainnya berbaju panjang yang berwarna kuning.
Rupanya mereka inipun ada orang-orang pelancong yang telah sengaja pesiar ke telaga yang termasyhur permai itu.
Dalam omong-omong yang dilakukan oleh kedua orang itu, Poan Thian dan Kong Houw mendengar orang yang berjubah panjang itu berkata demikian.
"Di antara pemandangan-pemandangan alam yang termasyhur di sekitar tempat ini, kelenteng kuno Leng-coan-sie di pegunungan Houw-kiu-san pun kiranya baik juga buat dikunjungi. Karena selain pemandangannya tak bisa dicela, juga ketua kelenteng itu yang bernama Siang Goan Taysu bukan lain daripada salah seorang kenalanku yang baik sekali." 206 Tetapi orang yang berbaju biru lalu memotong pembicaraan orang itu sambil berkata.
"Kukira paling betul kita jangan pergi ke sana. Karena selain terkabar Taysu sudah lama meninggal dunia, di sanapun kini terbit suatu peristiwa aneh yang telah membikin orang-orang yang pesiar ke tempat itu segan mengunjungi kelenteng tersebut. Dari itu, disamping mengalami seranganserangan dengan sambitan batu atau genteng dari dalam kelenteng itu, mungkin juga rumah berhala itu sekarang telah menjadi sarang tikus atau ular."
Kemudian ia menunda sebentar pembicaraannya, karena mengirup arak yang disajikan di hadapannya.
"Tempo hari,"
Ia melanjutkan.
"ada beberapa orang yang iseng-iseng mengunjungi kelenteng itu. Tetapi sungguh tidak dinyana, selagi mereka asyik memandang keindahan alam di sekitar situ, tiba-tiba mereka telah diserang entah oleh siapa yang telah menggunakan batu-batu dan pecahan-pecahan genteng yang dibuat menyambiti orang, hingga dua orang di antara mereka telah menderita luka-luka yang agak berat juga. Oleh karena itu, semenjak hari itu dan selanjutnya, tidak pernah lagi ada orang yang berani datang mengunjungi pula kelenteng tersebut. Itulah sebabnya mengapa aku tidak suka pujikan kau akan mengunjungi kelenteng Leng-coan-sie itu."
Hal mana, sudah tentu saja, telah membikin si baju kuning jadi heran dan lantas bertanya.
"Sebenarnya ada perkara aneh apa sih yang terjadi di dalam kelenteng itu?"
"Menurut cerita orang-orang yang mengetahui,"
Demikianlah si baju biru memulai bercerita pula.
"kabarnya di dalam kelenteng itu orang sering menjumpai setan yang selalu muncul di waktu tiap-tiap tengah 207 malam. Setan itu sekujur badannya berwarna putih, bisa berlompat-lompat dengan cepat sekali dan sering dijumpai orang menangis tersedu-sedu sambil menghadapi rembulan, hingga kejadian ini sangat menyeramkan orang dan membuat orang takut akan mengunjungi kelenteng Leng-coan-sie tersebut. Pada suatu hari, pernah ada seorang yang bernama Siauw Cu Ceng, seorang terpelajar yang gemar pesiar dan tidak percaya segala urusan takhayul yang bersangkut-paut dengan setan-setan atau malaikatmalaikat, yang di waktu terang bulan telah berjalan-jalan ke pegunungan Houw-kiu-san buat memandang rembulan dari atas bukit. Petang hari itu sinar rembulan yang sangat terang dan menyoroti muka dunia kita ini, boleh dikatakan hampir mirip dengan keadaan di waktu siang hari. Keadaan di sekitarnya sunyi-senyap, sehingga siliran angin yang paling halus sekalipun dapat didengar suaranya dengan tegas melalui daun-daun pohon yang bersuara keresekkan. Tatkala orang she Siauw itu sedang enak berjalanjalan, ia hampir tidak merasa lagi telah sampai di muka kelenteng Leng-coan-sie yang terkenal angker itu. Tetapi ini semua tidak membikin ia jadi keder atau takut. Selanjutnya karena merasa keisengan, maka ia lantas mendekati kelenteng itu sambil melihat-lihat ke bagian dalamnya dari pintu depan yang ternyata tidak terkunci. Selagi berbuat demikian, betul saja ia telah menyaksikan di dekat ruangan besar kelenteng itu tampak berdiri satu makhluk gaib sebesar manusia, berpakaian serba putih dan justru sedang menengadah ke langit sambil memandang bulan purnama yang gilanggemilang. Kemudian ia menghela napas dengan 208 berulang-ulang, seolah-olah ada sesuatu yang menjadi "
Ganjelan"
Di dalam hatinya.
Sementara Siauw Cu Ceng yang tinggal mengawasi dari kejauhan, mendapat kenyataan bahwa makhluk itu berambut panjang yang terurai di atas kedua bahunya, mukanya putih dan sepasang matanya mengeluarkan sinar yang menakuti orang.
Begitulah ketika Cu Ceng sedang terliput oleh rasa heran yang sekarang tercampur aduk dengan rasa takut, tiba-tiba makhluk gaib itu telah mendusin, jikalau segala perbuatannya telah diketahui orang, oleh sebab itu, dengan kaget ia jadi menoleh kepada Cu Ceng, yang dengan mendadak merasakan bulu romanya jadi pada berdiri!
Tetapi syukur juga makhluk itu tidak mengunjukkan aksi apa-apa yang bisa membahayakan bagi diri Cu Ceng.
Hanya setelah menendangkan kakinya ke tanah dengan sama sekali tak mengeluarkan suara apa-apa, makhluk itu lalu melayang ke atas wuwungan kelenteng dan terus menghilang entah kemana perginya.
Cu Ceng jadi kemekmek sehingga buat beberapa saat lamanya ia berdiri tegak bagaikan sebuah patung.
Tetapi sebegitu lekas perasaan kagetnya telah menjadi kurangan, akhirnya timbullah rasa kepingin tahu di dalam hatinya kemana selanjutnya makhluk gaib itu telah berlalu.
Jikalau Cu Ceng segera berlalu dari tempat itu, ada kemungkinan dia tak akan mengalami kecelakaan atau kejadian-kejadian tidak enak bagi dirinya sendiri.
Tetapi justru karena ini, maka selanjutnya banyak orang yang jerih akan mengunjungi pula kelenteng kuno itu.
Diceritakan tatkala Cu Ceng melihat makhluk itu melayang ke atas wuwungan kelenteng, buru-buru iapun 209 masuk ke dalam buat coba memperhatikan kemana dia itu pergi.
Tidak kira selagi bercelingukan kian kemari, mendadak ia telah dihujani sambitan batu dan pecahan genteng yang telah memaksa ia melarikan diri dari dalam kelenteng tersebut dengan mendapat luka-luka di badan dan dengan kepala separuh bonyok!
Cu Ceng lari terbirit-birit dengan tidak memperdulikan lagi pada pakaiannya, yang dalam tempo sekejapan saja telah menjadi compang-camping karena tersangkut pohon-pohon berduri yang banyak terdapat di antara jalanan gunung yang sunyi senyap itu.
Setibanya di rumahnya sendiri, ia telah jatuh pingsan karena, letih berlari-lari tidak henti-hentinya.
Demikianlah, pada hari esoknya, mulailah Cu Ceng menuturkan pengalamannya yang seram itu kepada teman-teman dan handai-taulannya.
Maka setelah kabar itu bersambung-sambung dari satu ke lain mulut, orang lantas berpendapat bahwa kelenteng yang telah lama tidak diurus itu, tidak baik akan dikunjungi orang.
Bukan saja di waktu malam hari, bahkan di waktu siang hari juga, selanjutnya tak ada pula orang yang sudi datang ke situ.
Sekarang ditambah pula dengan munculnya makhluk gaib yang bersarang di situ, maka ada siapakah pula yang begitu edan buat berurusan dengan segala setan pejajaran itu?"
Si baju kuning yang mendengar penuturan itu tampak mengangguk-anggukkan kepalanya sambil sebentarsebentar minum arak yang dituangkan oleh kawannya itu.
"Ceritaku ini belum habis sampai di situ saja,"
Kata si baju biru setelah membasahkan pula tenggorokkannya dengan arak. 210 Sambil bermakan minum dengan perlahan, Poan Thian dan Kong Houw memperhatikan ceritanya si baju biru itu.
"Cerita tentang adanya setan atau makhluk gaib di kelenteng Leng-coan-sie ini memang telah tersiar ke sana-sini dan diketahui oleh setiap penduduk kota Hangciu,"
Si baju biru memulai pula ceritanya.
"Tatkala itu di Hang-ciu kebetulan ada serombongan piauw-su yang baru saja datang habis menghantarkan uang kiriman dari Gie Hin Piauw-kiok di Kwi-say. Salah seorang di antaranya yang menjadi pemimpin dan bernama Chio Hoat Coan, adalah seorang ahli silat jempolan yang sangat terkenal tentang keberaniannya. Ketika Chio Piauw-su mendengar kabar yang agak menggemparkan ini, ia jadi penasaran dan menyatakan tidak percaya dengan kabar yang bukan-bukan itu. Apalagi ketika mengunjungi kelenteng itu dan tidak dapat ketemukan apa-apa, ia jadi mendongkol dan lalu pergi menegur pada Siauw Cu Ceng, yang dikatakannya telah menyiarkan kabar justa untuk membikin para penduduk kota Hang-ciu jadi gelisah. Tetapi sudah tentu saja Cu Ceng pun tidak mau terima begitu saja tuduhan itu, hingga selain ia telah menetapkan itu dengan suara persumpahan, iapun menyatakan kesediaannya buat menghantarkan si piauw-su itu buat pergi mengunjungi kelenteng itu di waktu malam hari. Hoat Coan terima baik tawaran itu. Begitulah dengan hanya berduaan saja dan secara diam-diam, Cu Ceng dan si piauw-su itu lalu mengunjungi kelenteng tersebut.
"Dimanakah biasanya setan itu terlihat?"
Bertanya 211 Hoat Coan dengan perasaan tidak percaya.
"Di sana, di ruangan besar,"
Sahut Cu Ceng sambil menunjuk ke dalam kelenteng itu.
"Kalau begitu,"
Kata si piauw-su itu pula.
"biarlah aku nanti pergi sendiri buat coba buktikan omonganmu itu."
Cu Ceng menjawab.
"Baik,"
Kemudian ia menantikan di luar untuk menyaksikan hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
Diceritakan ketika Hoat Coan masuk ke dalam kelenteng yang gelap itu, ternyata buat beberapa saat lamanya ia tidak melihat ada apa-apa yang menandakan bahwa di situ benar-benar pernah ada setan yang bersarang.
Tetapi buat memastikan betul atau tidaknya kata orang di luaran, ia tidak lekas berlalu pada sebelum mendapat lihat apa-apa yang dirasanya baik untuk dijadikan bahan laporan dari penyelidikannya nanti.
Tidak kira selagi ia menoleh ke sana-sini di dalam kegelapan yang membungkus keadaan di sekitarnya kelenteng itu, mendadak ia berpapasan dengan benda putih yang ia tidak lihat dari mana datangnya!
Hoat Coan biarpun hatinya terkenal tabah, tidak urung pada waktu itu telah jadi gentar juga dan lalu berlompat mundur tanpa ia merasa lagi.
Itulah ternyata suatu makhluk gaib yang telah dikatakan oleh Cu Ceng tadi!
Maka setelah menetapkan hatinya, Hoat bertindak maju buat mencekal makhluk gaib makhluk tersebut lalu tendangkan kakinya ke dan terus menghilang di antara wuwungan yang bersusun bagaikan mercu.
Coan lalu itu, tetapi atas jubin kelenteng Hoat Coan jadi semakin penasaran dan lalu susul 212 makhluk itu dengan jalan mengikuti melayang ke atas wuwungan tersebut.
Tetapi, tidak kira, pada sebelum bisa menginjak wuwungan itu, mendadak ia telah dihujani batu dan pecahan genteng yang telah membikin ia terpaksa lompat turun pula ke ruangan besar, dengan badan mendapat luka-luka dan kepala setengah bonjok seperti apa yang pernah dialami oleh Cu Ceng pada beberapa waktu yang lampau itu.
Tetapi Hoat Coan ini ternyata berkepala lebih keras dan berlaku lebih nekat buat melakukan penyelidikan lebih jauh.
"Jikalau aku belum ketahui apakah kau sesungguhnya setan atau manusia yang menyamar jadi setan,"
Kata si piauw-su itu.
"belumlah puas aku melakukan penyelidikan ini!"
Begitulah buat kedua kalinya ia telah mencoba buat naik ke atas wuwungan kelenteng itu, tetapi "sambutan"
Pada kali inipun ternyata tidak kalah "hangatnya"
Daripada apa yang telah dialaminya tadi.
Karena selain batu-batu yang dipergunakannya untuk menyambit jauh lebih besar daripada tadi, bahkan genteng-genteng yang melayangpun bukan lagi dalam rupa pecahan yang kecilkecil saja, hanyalah genteng-genteng utuh, yang sebuah antaranya telah mengenai dengan tepat sekali pada belakang kepala Chio Hoat Coan, hingga ini telah membikin mata Hoat Coan berkunang-kunang, kemudian tak ampun lagi jatuh roboh dalam keadaan pingsan.
Tatkala akhirnya ia tersadar, ia dapatkan dirinya telah berada di luar kelenteng di atas dukungannya Siauw Cu Ceng Oleh sebab itu, ia sekarang baru mau percaya, bahwa apa yang telah dikatakan orang she Siauw itu, 213 sesungguhnyalah berbukti dan bukan omong kosong belaka!
Maka dengan terjadinya peristiwa yang tersebut paling akhir itu, boleh dikatakan sudah tidak ada barang satu manusia lagi yang sudi mengunjungi kelenteng kuno itu."
Demikianlah si baju biru penuturannya yang luar biasa itu.
telah mengakhiri Lebih jauh oleh karena si baju kuning pun mengetahui, bahwa Siauw Cu Ceng dan Chio Hoat Coan itu adalah orang-orang yang namanya cukup terkenal di kota Hang-ciu, maka ia kelihatan mau percaya juga penuturan sahabatnya itu.
Dari itu, ia terpaksa membatalkan maksudnya buat mengunjungi kelenteng tua Leng-coan-sie yang terletak di pegunungan Houwkiu-san itu.
Kemudian sesudah mereka puas bermakan minum dan membayar harganya makanan dan minuman, kedua orang itu lalu meninggalkan kedai arak itu, untuk melanjutkan perjalanan mereka akan pesiar di sekitar telaga yang terkenal itu.
Sementara Poan Thian yang memasang telinga mendengari penuturan si baju biru tadi, lalu menoleh pada Cin Kong Houw dengan roman yang menandakan tidak percaya dengan segala obrolan yang dianggapnya kosong itu.
"Apakah engkau percaya apa kata orang itu tadi?"
Ia bertanya pada Kong Houw.
"Ya, itu memang mungkin juga bisa dipercaya", sahut Cin Kong Houw.
"Karena dalam dunia yang seluas jni tentunya segala macam keanehan pun memang bisa 214 kejadian di luar dugaan kita. Coba saja kau pikir tentang lelakon setan yang sering mengganggu manusia itu. Jikalau perkara itu memangnya tidak ada, cara bagaimanakah orang bisa menceritakan tentang segala keanehan-keanehan yang bersangkut-paut dengan urusan setan-setan itu?"
Poan Thian tersenyum dengan hati yang tetap tidak percaya dengan penuturan si baju biru tadi.
"Aku kira iblis di Leng-coan-sie itu bukanlah iblis sungguhan,"
Katanya.
"tetapi bukan lain daripada manusia yang menyamar sebagai iblis, buat membikin orang takut akan mengunjungi tempat itu."
"Ya, ya, pendapatmu itupun memang bisa jadi juga masuk akal,"
Sahut Kong Houw yang kelihatan lebih mementingkan untuk mengisi perut daripada campur tahu dalam urusan yang agak takhayul itu.
Begitulah ketika matahari telah menyelam ke barat, barulah mereka kembali ke rumah penginapan.
Malam hari itu karena turun hujan gerimis dan hawa udara agak dingin, maka sore-sore Kong Houw sudah tidur menggeros bagaikan seekor kerbau yang disembelih.
Kecuali Poan Thian sendiri yang karena tak sudahsudahnya memikirkan lelakon setan itu, maka sudah barang tentu tinggal gulak-gulik di atas pembaringan tak dapat lekas tidur pules.
Dalam pada itu pemuda kita kembali membayangkan lelakon kera tetiron yang lampau itu, kemudian ia coba bandingkan lelakon itu dengan setan di kelenteng Lengcoan-sie yang sekarang sedang dihadapinya itu.
"Tentang maksud tujuan si kera tetiron itu, memang 215 sudah terang ditujukan untuk maksud jahat,"
Pikirnya.
"Tetapi apakah maksudnya iblis dari kelenteng kuno itu, yang sampai sebegitu jauh belum pernah mencelakai jiwa manusia dan tampaknya agak kuatir akan "
Sarangnya"
Di sana dikunjungi manusia?
Apakah barangkali di kelenteng itu ada tersembunyi sesuatu rahasia yang diorganisir oleh sekelompok manusiamanusia yang tidak bertanggung jawab terhadap pada kesusilaan atau ketertiban umum?"
Poan Thian yang semakin memikirkan hal itu, jadi semakin penasaran dan kepingin tahu rahasia apa yang terletak dibalik tabir lelakon iblis di kelenteng kuno itu.
Oleh karena ini, maka akhir-akhirnya ia telah mengambil keputusan, buat di malam hari itu juga mengunjungi kelenteng tersebut, agar supaya dengan begitu, ia bisa membuktikan dengan mata kepalanya sendiri, sampai dimana kebenaran omongan orang di luaran itu.
Begitulah setelah selesai menukar pakaian untuk berjalan di waktu malam dan membawa genggaman yang dirasa perlu, Poan Thian lalu menolak daun jendela dan berlompat kelataran rumah penginapan bagaikan lakunya seekor kucing.
Kemudian dengan jalan melalui tembok pekarangan rumah penginapan itu ia keluar ke jalan raya.
Puteri Kepala Polisi Sejati Dari situ, syukur juga karena keadaan masih sore dan banyak orang yang masih berkeliaran di jalan raya, maka Poan Thian dapat menanyakan dengan cukup jelas, dimana letaknya kelenteng Leng-coan-sie yang hendak ditujunya itu.
Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin orang 216 banyak jadi heran dan coba menasehatkan, agar supaya pemuda kita jangan pergi mengunjungi tempat yang berbahaya itu.
Tetapi Poan Thian yang mendengar begitu, tinggal mengganda mesem dan berbicara dengan secara memain, bahwa ia akan pergi menangkap iblis yang telah sekian lamanya menerbitkan ribut-ribut di antara kalangan khalayak ramai di kota itu.
Kemudian ia menuju ke gunung Houw-kiu-san itu dengan tindakan cepat.
Dan tatkala berjalan kira-kira satu jam lamanya, maka tibalah ia di muka kelenteng yang dituju itu, yang selain keadaannya sangat busuk karena sudah lama tidak dirawat, juga di sana-sini amat gelap dan seram sekali kelihatannya dalam pandangan mata.
Maka buat menghindarkan sesuatu kemungkinan yang tidak diinginkan, Poan Thian lalu mendekati kelenteng itu dengan golok terhunus di tangannya.
Mula-mula ia menuju ke ruangan besar dari pintu depan, tetapi ternyata makhluk berpakaian putih yang dikatakan Cu Ceng dan Chio Piauw-su itu tidak tampak bayang-bayangannya, hingga ini telah mulai membikin ia percaya, bahwa kabar-kabar yang menggemparkan itu adalah isapan jempol belaka.
Lalu ia berjalan mondar-mandir di ruangan pertengahan kelenteng yang kosong melompong itu.
Tidak ada kursi meja atau perabotan apapun juga.
Tengah ia memandang ke sana-sini hendak melanjutkan penyelidikannya, mendadak dari sebelah belakang terasa bersiurnya angin aneh yang telah membikin Poan Thian buru-buru tundukkan kepalanya.
217 Dan berbareng dengan itu, ia mendengar suara barang pecah di sebelah atasan kepalanya, suatu tanda bahwa sebuah genteng yang disambitkan orang ke jurusannya telah luput dari sasarannya dan membentur dinding tembok di hadapannya.
"Kurang ajar!"
Pikirnya, sambil hendak berjalan terus.
Tetapi sebuah genteng lain telah menyamber pula ke jurusannya.
Buru-buru Poan Thian berkelit dengan jalan bersembunyi di belakang sebuah tiang batu yang terdekat, hingga sambitan itupun kembali telah mengenai tempat kosong.
Selanjutnya, oleh sebab sambitan-sambitan itu masih saja dilakukannya dengan gencar sekali, maka pemuda kita terpaksa melanjutkan penyelidikannya dengan jalan merayap di bawah kaki tembok.
Karena jikalau sedikit saja ia berlaku lalai, ia bisa mengalami kejadian-kejadian tidak enak seperti apa yang pernah dialami oleh Siauw Cu Ceng dan Chio Hoat Coan pada beberapa waktu yang lampau itu.
Lama-lama dengan mengandal pada sinar rembulan yang agak guram dan mulai mengintip ke dalam rumah berhala itu dengan melalui cim-che, Poan Thian melihat ada suatu benda putih yang berkelebat dan bersembunyi di belakang sebuah tiang batu lain yang terpisah kira seratus beberapa puluh tindak lebih jauhnya dari tempat mana ia berdiri.
Maka Lie Poan Thian yang sekarang telah ketemui iblis yang sedang dicari itu, tentu saja lantas mengejar dengan golok terhunus di tangannya.
"Soal ini tentulah tidak banyak bedanya dengan lelakon kera putih tetiron yang pernah kualami duluan itu,"
Pikir pemuda kita di dalam hatinya.
218 Tetapi ketika baru saja ia berjalan beberapa puluh tindak jauhnya, mendadak di sebelah depan tertampak sebuah sinar berkilau-kilauan yang menyambar ke jurusannya.
Poan Thian jadi terperanjat.
Oleh karena merasa bahwa dia tak mendapat jalan untuk menghindarkan diri, apa boleh buat ia lantas angkat goloknya dan menyampok benda yang berkilaukilauan itu, yang telah terlempar ke arah cim-che dengan mengeluarkan suara berkontrangan.
Karena sinar itupun ketika kemudian diperhatikannya, bukan lain daripada sebatang tombak pendek yang berujung sangat runcing dan tajam, hingga ini dapat mengeluarkan sinar yang berkilau-kilauan apabila dilontarkan di tempat gelap yang disinari oleh penerangan bintang-bintang atau rembulan yang tergantung di angkasa!
"Kurang ajar!"
Mengejar terus. membentak pemuda itu sambil Sekarang Poan Thian telah ketahui cukup jelas, bahwa apa yang dinamakan "iblis dari Leng-coan-sie"
Itu, ternyata bukan lain daripada samaran manusia belaka.
Karena sebegitu jauh yang pernah ia dengar dari ceritacerita yang pernah dituturkan oleh orang-orang tua, adalah bahwa iblis-iblis atau setan-setan itu tidak pernah, bahkan tidak mampu, mempergunakan barang-barang tajam atau tombak untuk mencelakai manusia.
Karena itu, Poan Thian jadi berani menetapkan dugaannya, bahwa "
Iblis-iblis itu adalah samaran manusia belaka, hingga dengan tidak ragu-ragu pula ia lantas membentak.
"Hei, sahabat! Janganlah engkau salah sangka atas kedatanganku ini! Aku tidak bermaksud jahat, juga tidak mau banyak "
Usil"
Dalam 219 urusan orang lain.
Dan jikalau sekarang aku datang juga ke sini, itulah karena aku hendak mencari tempat perlindungan untuk sementara melewati malam dan hawa dingin serta hujan gerimis yang baru saja berhenti itu.
Nanti pada hari esoknya pagi-pagi sekali aku sudah mesti berlalu lagi dari sini.
Harap supaya engkau jangan mencurigai apa-apa terhadap pada diriku!"
Tetapi belum lagi bentakan itu selesai diucapkan, ketika dengan secara mendadak benda putih itu telah keluar dari tempat sembunyinya dan terus menerjang kepada Lie Poan Thian dengan golok yang terhunus di tangannya.
Melihat dirinya diserang dengan secara tiba-tiba dan tidak diketahui sebab musababnya, sudah barang tentu Poan Thian tidak membiarkan dirinya hendak dilukai orang dengan begitu saja.
Sambil mengayunkan goloknya untuk dipakai menangkis bacokan yang menyamber ke arah dirinya itu, Poan Thian coba mengamat-amati macamnya iblis itu, yang akhirnya ia baru ketahui dengan jelas dan cocok dengan dugaannya, ialah seorang manusia yang menyamar sebagai iblis.
Tetapi apa yang tak pernah diimpikannya sama sekali, adalah bahwa orang itu bukan orang laki-laki seperti kera tetiron itu, hanyalah seorang perempuan muda yang berpakaian serba putih!
Dan karena warna pakaiannya yang dikenakannya itu, maka dari kejauhan ia terlihat sebagai bayangan putih, yang dalam waktu yang amat singkat telah menggemparkan seluruh kota Hang-ciu dengan beritaberita tentang adanya "Makhluk Putih"
Di rumah berhala Leng-coan-sie yang kuno itu. Maka setelah sekarang ia bisa menyaksikan dengan 220 mata kepala sendiri apa adanya dan bagaimana macam "makhluk gaib"
Yang sangat menggemparkan itu, barulah Poan Thian mengerti dan berbareng merasa heran, karena pakaian putih itu adalah tidak umum dipakai oleh penjahat-penjahat yang biasa keliaran di kalangan Kangouw.
Dan jikalau ada juga penjahat-penjahat yang berani berpakaian begitu, maka dengan lantas mereka dicap "dogol"
Oleh rekan-rekan mereka. Karena selain pakaian begitu mudah ternoda, juga sangat menyolok mata apabila dipakai dalam "melakukan pekerjaan"
Di waktu malam.
Oleh sebab itu, Poan Thian jadi merasa curiga akan asal usul perempuan muda yang sikapnya agak mengherankan itu.
Pemuda kita sebenarnya tidak bermaksud akan meladeni ia bertempur, tetapi karena ia diserang dengan berturut-turut, maka apa boleh buat ia telah meladeninya juga sampai beberapa jurus lamanya biarpun di dalam hati ia mendapat firasat, kalau-kalau ilmu kepandaian orang perempuan itu masih terlalu jauh akan dibandingkan dengan ilmu kepandaiannya sendiri.
Sebaliknya orang perempuan itupun yang perlahan dengan perlahan telah mulai keteter, segera mengerti bahwa dia bukan lawan Lie Poan Thian yang setimpal.
Maka sebegitu lekas ia melihat ada kesempatan untuk meloloskan diri, buru-buru ia tendangkan kakinya ke atas jubin dan terus melayang ke atas wuwungan kelenteng dengan menggunakan siasat Hui-yan-ciong-thian, atau burung kepinis menerobos ke angkasa.
Poan Thian yang melihat begitu, pun tidak mau ketinggalan akan mengejar terus pada si nona itu.
"Hei, jangan lari!"
Teriaknya dengan suara bengis.
221 Tetapi orang perempuan itu setelah berlompat beberapa kali melalui wuwungan kelenteng, segera turun ke bawah dan terus melarikan, diri ke dalam rimba.
Poan Thian membuntuti dengan tidak mengalami terlalu banyak kesukaran.
Karena biarpun keadaan dalam rimba itu sangat gelap, tetapi ia mudah dapat melihatnya kemana saja si nona yang berpakaian putih itu menuju, karena warna putih itu justeru terlalu menyolok sekali akan dilihat orang, meski umpama di tempat gelap sekalipun.
Begitulah hutan yang lebat dan gelap itu mereka telah lalui, kemudian mereka tiba di sebuah tegalan yang luas dan datar.
Ketika orang yang dikejar itu hampir kecandak, mendadak Poan Thian melihat orang perempuan itu merandek, memutarkan badannya dan membentak dengan suara keras.
,,Hei, bangsat!
Apakah maksudmu engkau mengejar aku terus menerus?"
Sambil membentak begitu, si nona lalu mengayunkan goloknya yang terus dibacokkan ke jurusan batok kepala Lie Poan Thian dengan menggunakan siasat Tok-pekhoa-san.
Serangan itu memang cukup hebat, tetapi Lie Poan Thian tidak gentar dengan ilmu pukulan yang telah diunjuk oleh pihak lawannya itu.
Buru-buru ia melompat ke samping buat menghindarkan diri dari serangan itu, hingga bacokan itu telah mengenai tempat kosong.
Sementara si nona yang melihat serangannya telah luput, sudah tentu saja jadi semakin mendongkol dan lalu menabas pula pinggangnya Lie Poan Thian dengan 222 sekuat-kuat tenaganya.
Tetapi Poan Thian yang telah ulung dalam pertempuran, untuk keberapa kalinya telah berkelit dengan secara sebat dan bagus sekali.
Hal mana, tidaklah heran, jikalau ini telah membikin si nona jadi sangat jengkel dan menyerang sang lawan terus menerus dengan secara nekat sekali.
Lama-lama Poan Thian tak dapat berkelit begitu rupa terus menerus, maka akhir-akhirnya ia terpaksa mesti mempergunakan juga genggamannya buat menangkis setiap serangan yang ditujukan kepada dirinya itu.
Pertempuran ini belum lagi berlangsung terlalu lama, ketika dengan sekonyong-konyong si pemuda terdengar mengeluarkan satu suara teriakan, dan berbareng dengan itu, iapun kelihatan jatuh roboh ke atas tanah.
Sementara nona itu yang menampak lawannya mendadak jatuh roboh, sudah tentu saja tak mau menyianyiakan ketika yang baik itu.
Lalu ia maju memburu, mengayunkan goloknya dan terus dibacokkan pada Poan Thian yang seolah-olah telah dirobohkan sehingga tak dapat ia berdaya pula.
Tetapi, cepat bagaikan kilat, Poan Thian telah menggulingkan dirinya ke sebelah belakang si nona.
Di satu pihak ia berkelit dari serangan sang lawan itu, sedangkan di lain pihak ia mengangkat sebelah kakinya dengan menggunakan siasat Oey-kauw-sia-niauw.
Pada sangka perempuan yang berpakaian putih itu, lawannya tadi benar-benar telah jatuh karena menderita Iuka yang disebabkan oleh serangannya, tidak tahunya itulah ada dia sendiri yang justeru sedang diakali oleh pemuda kita.
223 Oleh karena siasat Lie Poan Thian itu sukar diduga, karuan saja si nona tak keburu berkelit buat menghindarkan sabetan kaki pemuda kita, hingga ketika bagian belakang tekukan lututnya kena tersabet, tidak ampun lagi ia jatuh mengusruk.
Sementara Poan Thian yang dengan secara sebat telah dapat berlompat bangun dari atas tanah, bukan saja tidak menunjukkan sikap yang hendak melanjutkan pertempuran itu, malah sebaliknya ia mengucapkan maaf atas perbuatan kasar yang telah diunjuknya itu.
Tetapi orang perempuan itu yang juga telah berlompat bangun, dengan sorot mata menyala-nyala tinggal mengawasi pada lawannya dengan napas memburu karena kegusaran yang bukan alang kepalang besarnya.
Dan ketika ia hendak menerjang pula, Poan Thian lalu melemparkan goloknya sendiri ke tanah sambil menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata.
"Nona, haraplah kau suka bersabar dengarkanlah sebabmusabab mengapa aku datang ke sini."
Oleh karena melihat sikap pemuda kita yang suka damai itu, maka si nona itupun tampaknya jadi lebih sabar dan tenang, biarpun suara bicaranya masih tetap kaku ketika ia berkata.
"Baik! Bicaralah!"
Poan Thian lalu mulai penuturannya, dengan mengatakan bahwa di antara si nona dan dirinya bukan saja tidak pernah terbit permusuhan apa-apa, malah bertemu muka pun baru saja pada kali itu.
Ia tidak bermaksud jahat, hal mana ia bisa unjuk, bahwa jikalau ia memang mengandung maksud tidak baik, buat mengambil jiwanya si nona itu bolehlah dikatakan sama mudahnya dengan orang yang mengambil barang dari 224 dalam kantong.
Karena di waktu si nona jatuh tadi, apakah itu bukan ketika yang terbaik untuk ia turunkan tangan kalau saja ia mau?
Tetapi tak mau ia mengambil kesempatan itu, karena ia sendiri pun memang bukan bermaksud untuk mencari setori dengan segala orang.
"Aku bukan berasal dari tempat ini,"
Poan Thian melanjutkan penuturannya.
"Tetapi karena tertarik oleh cerita orang tentang adanya iblis yang sering mencelakai orang di kelenteng Leng-coan-sie ini, maka malammalam aku telah datang berkunjung ke sini, untuk membuktikan benar atau tidaknya perkabaran itu. Jikalau iblis itu benar-benar bisa mencelakai orang, akupun merasa turut berkewajiban untuk bantu membasmi dia dengan sekuat-kuat tenagaku. Tetapi syukur juga bahwa iblis itu bukan iblis sesungguhnya,"
Begitulah pemuda kita tertawa ketika berbicara sampai di sini, hingga ini tidak perlu lagi untuk dibicarakan lebih jauh.
Oleh karena mendengar omongan itu, maka si nona itupun jadi menghela napas sambil mengunjukkan roman yang menandakan lesu.
Ia kelihatan hendak berbicara apa-apa, tetapi lantas membatalkan niatannya ketika mendengar Poan Thian berkata pula.
"Maka setelah sekarang kau ketahui maksud yang benar dari kunjunganku ini, sudikah kiranya kau memberitahukan kepadaku kau siapa, orang dari mana, dan karena apa kau berada di sini dengan menyamar sebagai iblis dalam kelenteng Leng-coan-sie ini?"
Orang perempuan itu mula-mula kelihatan ragu-ragu akan memberikan segala keterangan yang bersangkutpaut dengan dirinya sendiri, tetapi ketika ia menyaksikan sikap Lie Poan Thian yang lemah-lembut dan sopansantun, barulah ia jadi menghela napas dan berkata.
225 "Tuan, nyatalah bahwa aku telah keliru menyangka engkau sebagai seorang jahat!"
Kemudian ia menerangkan, bahwa ia berasal dari kabupaten Ham-yang dalam propinsi Siam-say, she Bu bernama Liu Sian.
Ayahnya yang bernama Ciang Tong adalah seorang murid jempolan dari perguruan ilmu silat cabang Cengleng-sie di pegunungan Ngo-tay-san.
Bu Ciang Tong ini semasa mudanya memangku jabatan kepala polisi dalam kabupaten Ham-yang yang menjadi tanah tumpah darahnya.
Oleh karena ilmu silatnya yang tinggi dan ditambah dengan kecakapannya dalam tugas yang di jalankannya, maka tidak sedikit penjahat-penjahat dari Rimba Hijau yang telah dibekuk dan dihadapkan olehnya kepada pembesar yang berwajib, hingga untuk jasa-jasa besar yang telah diperolehnya itu, bukan saja ia mendapat hadiah dan pujian dari pihak seatasannya, tetapi berbareng juga ia jadi semakin dibenci oleh musuh-musuhnya yang selalu berdaya-upaya buat menyingkirkan jiwanya yang merupakan sebagai duri besar di mata kawanan penjahat pihak lawannya tersebut.
Tetapi sampai sebegitu jauh Ciang Tong tinggal tetap tak dapat dicelakai ataupun dibikin terguling dari kedudukannya, berhubung di kalangan cabang-cabang atas dalam komplotan Rimba Hijau belum ada orang yang sanggup merobohkan atau melebihi ilmu kepandaiannya.
Demikianlah kejadian pada suatu hari sekawanan perampok yang di kepalai oleh Cap-ek-sin-kauw atau kera malaikat yang bersayap Ngay Houw Cun telah masuk ke sebuah dusun dalam kabupaten Ham-yang itu untuk melakukan "pekerjaannya".
Tetapi, apa celaka, pada sebelum pekerjaan itu dimulai, mendadak telah 226 diketahui oleh Bu Ciang Tong, yang tidak membuang tempo lagi segera membawa sepasukan orang-orang polisi dan menyergap kawanan perampok yang sial itu.
Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun sendiri biarpun bukan tandingan Bu Ciang Tong, tetapi masih boleh dikatakan mujur juga telah dapat meloloskan diri dari dalam pengepungan hamba-hamba negeri itu.
Sedangkan kawan-kawannya yang terbanyak, jikalau tidak terbunuh atau tertangkap, tentulah dapat juga melarikan diri dengan susah payah dan menderita lukaluka yang dapat dibuat peringatan daripada pekerjaan mereka yang telah gagal itu.
Oleh sebab pekerjaannya telah digagalkan, sudah tentu saja Ngay Houw Cun jadi amat sakit hati dan selanjutnya telah berdaya upaya sedapat mungkin buat membalas dendam kepada kepala polisi she Bu itu.
Begitulah setelah ia "mencari kawan"
Sekian lamanya di kalangan Kang-ouw, akhirnya Houw Cun telah ketemukan seorang gagah yang sanggup untuk merobohkan Bu Ciang Tong dengan suatu perjanjian, bahwa jikalau ia mati dalam pertempuran dengan kepala polisi itu, Houw Cun harus tanggung seumur hidup ongkos penghidupan anak-isterinya.
Dan jikalau ia memperoleh kemenangan, Houw Cun harus berikan separuh dari harta-bendanya yang berjumlah ratusan ribu tail banyaknya itu.
Perjanjian mana, sebenarnya kurang disetujui oleh kepala kampak itu.
Tetapi karena mengingat yang ia boleh mungkir buat mengongkosi rumah-tangga si hohan itu jikalau dia mati dalam pertempuran, maka Houw Cun lalu menyangggupi sambil menambahkan.
"bahwa semua itu adalah perkara remeh saja,"
Hingga si ho-han boleh tak usah merasa ragu-ragu lagi. 227 Maka sesudah perjanjian itu "ditutup"
Dengan diadakan suatu perjamuan makan minum sebagai tanda pemberian selamat jalan dan "berharap akan berhasil"
Dalam pekerjaannya itu.
Si ho-han lalu berangkat ke Ham-yang buat menjajal sampai dimana kepandaian Bu Ciang Tong yang disohorkan sebagai seorang murid cabang Ceng-leng-sie yang jempolan itu.
Pada suatu hari sesudah menanyakan kepada orangorang yang kebetulan dijumpainya berjalan mundarmandir di jalan raya, si ho-han itu telah berhasil dapat ketemukan rumah kepala polisi she Bu itu, yang ketika itu kebetulan berada di rumahnya.
Tetapi karena Ciang Tong selalu bercuriga kepada orang-orang asing yang minta bertemu dengannya, maka ia telah memesan pada bujang-bujangnya, agar supaya kalau ada orang yang datang menanyakan kepadanya, katakan saja bahwa ia tak ada di rumah.
Dan jikalau orang itu juga menanyakan kemana ia pergi, bujangbujang itu boleh menjawab.
"Tidak tahu."
Terkecuali kalau orang itu mengatakan mau bicara pada siapa saja yang ada di rumah itu, bolehlah bujangbujang itu menjawab.
"Di rumah hanya ada Ji-ya saja," (dimaksukkan. adiknya Ciang Tong yang sebenarnya sudah lama telah meninggal dunia) atau apa saja sekenanya, menurut suka mereka. Tetapi tidak kira ketika si ho-han sampai di rumahnya, Ciang Tong dari sebelah dalam justeru mau berjalan keluar, sehingga kedua orang itu jadi berpapasan dan saling mengawasi satu sama lain dengan tidak dapat dicegah lagi.
"Tuan ini tentunya kepala rumah tangga ini bukan?"
Kata si ho-han itu sambil memberi hormat. 228 Bu Ciang Tong yang selalu bisa berlaku hati-hati dalam waktu yang kesusu, sambil membalas memberi hormat ia bersenyum dan berkata.
"Ah, sangat menyesal perkunjungan tuan ini sedikit terlambat. Toa-ya baru saja keluar pada setengah jam yang lalu itu. Sudikah tuan duduk-duduk dahulu untuk minum satu-dua cawan air teh?"
Si ho-han itu tidak lantas menjawab tawaran itu, hanyalah tinggal mengamat-amati pada Bu Ciang Tong sesaat lamanya, kemudian ia menghela napas dan berkata.
"Sayang, sayang. Tetapi belum tahu kapan tuanmu kembali?"
"Itu aku kurang tahu. Menyesal,"
Kata kepala polisi she Bu itu dengan hati semakin bercuriga.
Dalam pada itu, si ho-han yang ingin menunjukkan berapa tinggi ilmu kepandaiannya, lalu sengaja membanting-bantingkan kakinya ke atas jubin, maka jubin-jubin itu jadi berlubang sebesar bekas sepatu si hohan itu!
Maka Ciang Tong yang sekarang telah ketahui maksud yang benar dari tetamu yang tidak diundang itu, sudah tentu saja lantas bersedia untuk menghadapi segala kemungkinan, dan sebegitu lekas ia melihat si hohan itu selesai menunjukkan "kelihayannya" , buru-buru iapun membungkukkan badannya selaku orang memberi hormat dan merasa kagum atas kepandaian itu.
"Tuan,"
Katanya.
"nyatalah kau ini ada seorang ahli silat yang mempunyai ilmu kepandaian jauh lebih tinggi daripada ilmu kepandaian yang dipunyai majikanku sendiri! Aku merasa sangat kagum melihat kepandaianmu itu. Oleh karena itu, terimalah ini pemberian hormatku!" 229 Sambil berkata begitu, Ciang Tong pun lalu membungkukkan pula badannya sambil menyoja ke arah si ho-han itu. Di mata seorang yang sama sekali tak mengerti ilmu silat yang tergolong pada bagian ilmu lweekang, perbuatan itu boleh dianggap lumrah dan tidak ada apaapanya yang kelihatan aneh. Tetapi bagi si ho-han yang telah melihat tegas gerak gerik Ciang Tong yang semulanya dianggap orang pelayan belaka, sudah tentu saja jadi amat kaget dan buru-buru balas memberi hormat sambil mengumpulkan khi-kangnya ke bagian dada. Karena sebegitu lekas ia melihat Ciang Tong menggerakkan tangannya, dengan sekonyong-konyong ia merasakan dadanya seperti didesak oleh suatu tenaga amat berat yang telah memaksa ia mundur ke belakang dengan napasnya dirasakan sesak! Maka biarpun sampai beberapa kali ia mencoba akan menolak tenaga yang tidak kelihatan itu, tetapi ternyata maksudnya siasia saja, dan tatkala paling belakang ia mengerti yang ia bukan lawan Ciang Tong yang setimpal. Buru-buru ia berlompat ke samping sambil berkata.
"Tuan, ilmu kepandaianmu itu sesungguhnya amat tinggi dan aku harus akui, bahwa aku ini lebih tepat akan menjadi "
Kacungmu,"
Daripada lawanmu yang telah sengaja berkunjung ke sini untuk merobohkan kepadamu!"
"Ya, tetapi aku ini adalah bujangnya Bu Too-ya,"
Kata Ciang Tong yang masih saja hendak berpura-pura. Tetapi si ho-han lalu menggelengkan kepalanya sambil berkata.
"Tidak perlu kau menjustai aku. Aku tahu, bahwa kau inilah memang Bu Ciang Tong sendiri yang aku niat cari. Selamat tinggal, dan lagi beberapa hari akan kuberkunjung pula ke sini!" 230 Begitulah si ho-han telah akhiri bicaranya sambil berlalu dari situ dengan tindakan amat cepat. Sementara Bu Ciang Tong yang mengerti bahwa urusan tidak habis sampai di situ saja, sudah barang tentu jadi semakin hati-hati dalam hal menjaga keselamatan dirinya. Karena ia sendiripun yakin, bahwa kalau musuh-musuhnya tak berani membikin pembalasan dengan secara berterang, tentulah mereka akan mencelakai padanya dengan jalan lain yang lebih halus. Maka semenjak terjadinya peristiwa yang telah dialaminya itu, Ciang Tong selalu mengenakan kaca tembaga di bagian ulu-hati dan punggungnya, dengan ditutupi oleh pakaian yang dikenakannya di bagian luar, agar supaya dengan berbuat demikian ia dapat meringankan kecelakaan bagi dirinya, kalau nanti pihak musuh membokong kepadanya dengan secara sekonyong-konyong. Diceriterakan ketika berselang hampir satu minggu lamanya, betul saja si ho-han itu telah kembali pula ke rumah kepala polisi she Bu itu dengan mengajak dua orang kawannya yang masing-masing bertubuh tinggibesar dan beroman agak "menyeramkan"
Di pemandangan mata.
Kedatangan ketiga orang itu telah disambut oleh bujang-bujangnya Bu Ciang Tong, yang memang telah dipesan mesti berbuat bagaimana apabila si ho-han itu benar-benar balik kembali ke tempat kediamannya di situ.
"Hari ini tuanku justeru belum kembali dari kantor,"
Kata salah seorang bujang itu, sambil persilahkan mereka masuk dan duduk di kamar tetamu.
"Tetapi rupanya ia 231 telah ketahui, bahwa tuan-tuan akan datang hari ini, karena sedari pagi ia telah memberitahukan pada kami sekalian, agar supaya kami jangan pergi ke mana-mana. Dan jikalau nanti tuan-tuan datang ke sini. katanya, kami boleh menyampaikan kabar pada tuan-tuan sekalian, bahwa ia akan kembali ke sini selekas mungkin."
Si ho-han dan kedua kawannya itu jadi saling lihatlihatan satu sama lain dengan rupa yang menyatakan heran.
"Cara bagaimanakah dia bisa tahu bahwa kita akan datang ke sini pada hari ini?"
Ketiga orang itu seolah-olah hendak saling menanyakan pendapat masing-masing.
Tetapi sampai beberapa kali, tidak juga mereka dapat pikir bagaimana Ciang Tong telah dapat ketahui, bahwa mereka akan datang ke situ pada hari itu.
Padahal mereka tak pernah pikir sama sekali, bahwa siasat itu memang telah diaturnya dari di muka untuk membingungkan pikiran mereka bertiga.
"Kalau begitu, tidaklah mengherankan, apabila segala gerak-gerik saudara-saudara kita di kalangan Liok-lim bisa diketahui oleh kepala polisi bajingan ini,"
Berbisik si ho-han pada dua orang kawannya, sebegitu lekas melihat para pelayan tadi berlalu dari hadapan mereka.
"Dia itu rupanya pandai meramal!"
Kata si ho-han.
"Ya, ya, itu boleh jadi,"
Menyetujui kedua orang kawannya. Selagi mereka "kasak-kusuk"
Membicarakan halnya kepala polisi she Bu itu, adalah salah seorang bujang Ciang Tong yang boleh dipercaya telah pergi menyampaikan kabar tentang kedatangan ketiga orang yang rupanya tidak mengandung maksud baik itu kepada 232 induk semangnya.
Ciang Tong sekarang mengerti, bahwa saat yang tegang dan sedang ditunggu-tunggu itu akhirnya telah tiba.
Maka sebegitu lekas ia diberitahukan tentang kedatangan si ho-han dan kedua orang kawannya itu, buru-buru ia kembali ke rumahnya dengan membekal lima buah Tiok-yap-piauw yang disembunyikn di sisi sepatunya, pada bagian yang bersambung di bawah lipatan kaki celananya.
Tetapi alangkah mengejutkannya hati si kepala polisi itu, tatkala sampai di muka pintu pekarangan rumahnya, ia menampak dua buah singa-singaan batu yang tadinya ditaruh di kiri-kanan rumah, mendadak berpindah ke tengah pintu pekarangan tersebut.
Maka dengan mengandangnya kedua singa-singaan ini di tengah jalan masuk, sudah barang tentu tak dapat ia masuk ke dalam rumahnya, jikalau singa-singaan tersebut tidak terlebih dahulu disingkirkan ke tempat lain!
Jebakan Untuk Kepala Polisi Jujur Perbuatan ini memang merupakan suatu rintangan atau kesukaran bagi orang-orang yang bertenaga kecil, tetapi bagi Ciang Tong yang memang bertenaga amat kuat, semua ini bukanlah suatu hal yang perlu diributi sama sekali.
Dari itu, segera juga ia singsingkan lengan bajunya, pasang bee-sie (kuda-kuda) dan lalu angkat singasingaan batu itu, yang olehnya lalu dikembalikan pada tempat asalnya masing-masing dengan tidak banyak bicara pula!
Sesudah menunjukkan sedikit kelihayan itu, dengan laku yang tenang si kepala polisi lalu menghampiri pada mereka bertiga, memberi hormat dan 233 menunjukkan roman yang berseri-seri sambil berkata.
"Tuan-tuan, haraplah kamu sekalian sudi memaafkan atas kelambatanku ini." (Seolah-olah apa yang telah terjadi tadi tidak pernah dialaminya sama sekali).
"Setelah sekarang kita saling berhadapan,"
Ia melanjutkan omongannya.
"belum tahu ada pengajaran apa pula yang tuan-tuan sekalian hendak sampaikan kepadaku?"
Kedua orang yang baru datang itu tinggal bungkam dan hanya mengamat-amati pada kepala polisi itu dengan mata tidak berkesip, hingga si ho-han yang melihat "kebungkeman"
Itu, lalu tampil ke muka dengan sikap yang sombong dan mata yang menyala-nyala.
"Sebagaimana telah kukatakan pada beberapa hari yang lampau itu,"
Demikianlah memulai si ho-han itu.
"aku telah berjanji akan datang pula ke sini. Maka setelah sekarang kami berada di sini, mengapakah engkau berbalik berpura-pura meminta pengajaran dari kami?"
Bu Ciang Tong yang mendengar begitu jadi tersenyum dan berkata.
"Oh, kalau begitu, cobalah engkau beritahukan syarat-syarat apa yang harus dikemukakan dalam pertempuran ini, agar supaya sesuatu orang yang kalah bisa merasa rela dan selanjutnya urusan ini jangan sampai "
Menjadi kepanjangan"."
"Ya, ya, itu aku mufakat,"
Kata si ho-han.
"Tentang syarat-syarat yang engkau katakan tadi, itulah boleh dikatakan perlu, juga boleh dikata tidak perlu. Tetapi pokoknya harus dititik-beratkan kepada kejujuran dan kepercayaan. Apabila orang berkelahi dengan jujur dan akhirnya masih juga kena dikalahkan, maka yang menderita 234 kekalahan pun akan rela mengaku kalah, tetapi jikalau ia merasa yang ia telah dikalahkan dengn secara curang, cara bagaimanakah orang bisa terima itu dan urusan itu lalu disudahi sampai di situ saja?"
"Itu benar, itu benar,"
Sahut Bu Ciang Tong.
"Di belakang rumahku ini ada sebidang pekarangan yang agak luas dan baik sekali untuk "
Berlatih ". Marilah tuantuan boleh ikut padaku, supaya pertandingan persahabatan ini bisa kita lakukan di sana."
Ketiga orang itu lalu menjawab.
"Baik,"
Tetapi dalam prakteknya ternyata berlainan daripada apa yang telah mereka katakan itu.
Karena sebegitu lekas Ciang Tong membalikkan badannya akan mengajak mereka pergi ke pekarangan tempat berlatih di belakang rumahnya, mendadak ho-han itu melirik pada kedua orang kawannya sambil memberi isyarat-syarat dengan kedipan mata.
Kedua orang itu yang lantas mengerti apa maunya isyarat itu, dengan sebat lalu mencabut badi masing-masing yang disembunyikan di bawah lipatan kaki celana mereka, dengan mana mereka lalu menyerang pada kepala polisi itu dengan tidak banyak bicara pula.
Tetapi Ciang Tong yang memang sudah mendapat firasat akan "kejadian" , begitu, segera menjatuhkan diri ke depan sambil berguling di atas jubin sampai beberapa kali, hingga setelah terluput dari penyerangan yang curang itu, sambil tertawa menyindir dan melirik pada si ho-han itu ia lantas berkata.
"Oh, oh, apakah ini ada cara bertempur dengan jujur seperti katamu tadi?"
Si ho-han yang ternyata ada seorang kasar yang tidak tahu malu, bukan saja tidak mau terima kebaikan jengekan itu, malah sebaliknya menjadi amat gusar dan 235 membentak.
"Bu Ciang Tong! Jangan engkau mengira bahwa orang gagah di kalangan Kang-ouw hanyalah engkau seorang saja! Engkau telah tidak memandang mata pada kawan-kawan kami dan menganggap bahwa jiwa mereka itu adalah jiwa-jiwa semut! Engkau tangkapi dan bunuhi mereka itu dengan secara kejam, walaupun tahu bahwa di antara engkau dan mereka tak pernah terbit permusuhan apa-apa!"
"Engkau jangan melantur!"
Membentak Ciang Tong dengan hati mendongkol.
"Kamu juga tentu telah ketahui, bahwa tugasku sebagai seorang polisi adalah untuk menjaga keamanan dan membasmi kejahatan yang bersifat mengacau kepada ketertiban umum dan kesejahteraan di dalam negeri. Kamu sekalian tidak mengindahkan ini semua dan mengacau kian-kemari dengan jalan melakukan perampokan-perampokan atau pembunuhan-pembunuhan yang ganas terhadap pada anak-anak negeri yang telah mencoba untuk mempertahankan harta-benda mereka yang kamu hendak kangkangi, dengan kamu sekalian sama sekali tidak pernah memikirkan betapa sukar dan payahnya mereka telah mengumpulkan itu sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya menjadi suatu jumlah yang besar dan cukup untuk membiayai penghidupan mereka di hari tua.
"Tetapi kamu sekalian orang-orang malas dan tidak berbudi, hanya memikirkan keuntungan diri sendiri saja, sehingga dengan begitu, kamu tidak memikirkan sama sekali tentang akibat-akibat dan kerugian-kerugian yang bakal dialami oleh orang lain. Oleh sebab itu, ada apakah salahnya apabila aku sebagai alat negara mengambil tindakan-tindakan yang tegas untuk menunaikan kewajiban yang negara telah percayakan kepadaku?" 236 Si ho-han yang mendengar omongan itu, bukan main marahnya dan lalu menerjang pada Ciang Tong dengan dibantu oleh kedua orang kawannya yang masingmasing bersenjatakan badi-badi tadi. Sementara Ciang Tong yang memang bukan seorang yang biasa mundur dalam hal bertempur dengan musuh, dengan gagah lalu menyambut serangan itu dengan menggunakan siasat Khong-siu-jip-pek-jim, serupa ilmu pukulan tangan kosong, yang biasa dipergunakan untuk bertempur dengan musuh-musuh yang bersenjatakan golok atau barang-barang tajam lain. Ilmu pukulan tersebut oleh karena gerakangerakannya amat cepat, sudah barang tentu telah membikin ketiga penjahat itu jadi bingung sendiri, hingga semakin lama mereka jadi semakin kewalahan, dan akhirnya salah seorang di antaranya telah kena ditendang dan jatuh terpental ke suatu tempat yang terpisah kira-kira beberapa belas kaki jauhnya. Orang yang kedua telah dibikin tidak berdaya karena badi-badi yang dicekalnya telah ditendang begitu rupa, sehingga menancap pada papan loteng yang tingginya tidak kurang dari duapuluh kaki! Maka kedua orang itu yang mengerti, bahwa mereka bukanlah orang-orang yang setimpal akan menjadi lawan kepala polisi itu, buruburu keluarkan "ilmu langkah seribu"
Dan terus melarikan diri dari dalam ruangan rumah itu, dengan meninggalkan si ho-han sendirian bertempur dengan Bu Ciang Tong, yang sudah terang bukan lawannya yang seimbang dalam pertempuran yang maha dahsyat itu.
Dan ketika pertempuran itu baru saja berlangsung beberapa jurus lamanya, ho-han itu ternyata cuma bisa menangkis, tetapi tak mampu membalas untuk menyerang kepada musuhnya.
237 Ia mengeluh di dalam hati dan sesambat untuk meminta bantuan yang tidak kelihatan dari para sedereknya yang telah tewas jiwanya di tangan kepala polisi yang ilmu kepandaiannya sangat lihay itu, tetapi kenyataan telah membuktikan.
bahwa semua itu adalah sia-sia belaka.
Ia tak dapat mempertinggi ilmu kepandaiannya yang memangnya sangat terbatas dan kalah jauh dengan pihak lawannya!
Akhir-akhirnya karena telah merasa tak sanggup akan meladeni bertempur pada Bu Ciang Tong terlebih lama pula, maka ho-han itu lalu mencari "lowongan"
Untuk meloloskan diri dengan jalan mempergunakan segala ilmu pukulan yang ia ketahui dan cukup berbahaya, tetapi ternyata bagi Ciang Tong semua itu hanya merupakan sebagai pukulan-pukulan yang hampir tak ada artinya sama sekali.
Hal mana, keruan saja, telah membikin si ho-han jadi semakin bingung, semakin kalut pikirannya untuk mencari jalan akan meloloskan diri dengan jalan yang tercepat tetapi selamat, walaupun ia telah mencoba segala cara dengan sedapat mungkin dan dengan sekuat-kuat tenaganya.
Sementara Ciang Tong yang melihat tegas kesibukan pihak musuhnya, bukan saja tidak membiarkan dia dengan begitu saja, malah sebaliknya ia merangsak terus-terusan dengan mempergunakan ilmu-ilmu pukulan yang gerakan-gerakannya amat cepat dan sukar diduga.
Maka selagi si ho-han itu telah hampir tidak berdaya pula, kepala polisi itu lekas maju menendang sambil membentak.
"Pergilah engkau dari hadapanku!"
Si ho-han buru-buru mencoba akan berkelit, tetapi usaha ita bukan saja telah gagal, malah sebaliknya ia sendiri telah terpental dan kena menubruk dinding 238 tembok yang segera jadi gugur dan berlubang, dan berbareng dengan terdengarnya satu suara jeritan ngeri, si ho-han itupun telah jatuh ke jalan raya dengan melalui lobang tembok yang telah ditomploknya sehingga berlubang itu!
Ketika Ciang Tong memburu dan menoleh keluar lubang tembok itu, ternyata si musuh telah menghilang entah kemana perginya!
Sekarang kita ajak para pembaca menilik pada Capek-sin-kauw Ngay Houw Cun, yang usahanya selalu gagal untuk mencelakai jiwa kepala polisi she Bu itu.
Setelah beberapa kalipun tak berhasil ia melakukan penyerangan gelap untuk membinasakan jiwa musuh besarnya itu, akhirnya ia insyaf, bahwa untuk berurusan pada Ciang Tong dengan memakai kekerasan, biar bagaimana juga ia tentu tak akan berhasil.
Dari itu, ia lantas "putar kemudi"
Untuk mencelakai Ciang Tong dengan jalan halus, terutama mempergunakan tenaga orang-orang dalam yang bekerja di kantor kebupaten Ham-yang sendiri.
Pada suatu waktu bupati lama dari Ham-yang telah dinaikkan pangkat dan dipindahkan untuk diperbantukan dalam pekerjaan di ibukota.
Bupati ini karena mempunyai perhubungan yang erat dengan Ciang Tong, maka ia telah coba menganjurkan agar supaya kepala polisi itu mengikuti dan membantunya dalam pekerjaannya yang baru itu, tetapi Ciang Tong yang merasa berat untuk meninggalkan tanah tumpah darahnya, sudah lantas menyatakan menyesal tak dapat mengabulkan permintaan sepnya itu, buat mana sang bupati pun merasa amat menyesal dan terpaksa berangkat ke ibukota sambil tidak lupa berpesan kepada si kepala polisi, agar supaya sewaktu239 waktu kalau kebetulan dalam perlop pergi berkunjung ke tempat kediamannya di ibukota.
Ciang Tong berjanji akan berbuat begitu.
Maka dengan saling mengucurkan air mata, sep dan pegawai yang telah bekerja sama hampir duapuluh tahun lamanya itu telah saling berpisahan dari satu dengan yang lainnya, setelah di gedung kabupaten diadakan perjamuan makan minum sebagai tanda perpisahan antara si bupati dan sekalian pegawai-pegawainya dalam kabupaten Ham-yang itu.
Sekarang kita berkenalan dengan bupati baru yang bernama An Hun Ie.
Bupati ini adalah seorang hartawan yang telah mendapatkan pangkatnya dengan jalan menyogok pada pembesar-besar tinggi yang berpengaruh besar di Kotaraja.
Ia ini bukan orang terpelajar, juga bukan seorang yang pandai timbang-menimbang segala perkara dengan secara bijaksana.
Jikalau sewaktu-waktu dapat juga ia mengurus pekerjaannya dengan baik, itulah bukan karena baiknya rencana yang keluar dari otaknya sendiri, hanyalah berkat kecerdikan pegawainya yang ia sengaja telah sewa tenaganya buat mengurus segala pekerjaan di kantor kabupaten.
Maka biarpun ia sendiri disebut seorang bupati, tetapi sebenarnya ia tak bekerja sama sekali, juga tak mengerti bagaimana seluk-beluknya pekerjaan serta tugas seorang bupati, dari itu, lebih tepat dia dinamakan "bupati tetiron" , daripada bupati yang memang karena kepandaiannya telah diangkat dengan secara resmi oleh pemerintah negeri.
240 Maka pada waktu kabar tentang penggantian bupati itu sampai ke telinga Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun, buru-buru ia kirim beberapa orang mata-matanya buat mencari tahu bagaimana sikap dan sepak-terjang bupati baru itu.
Tidak berapa lama kawanan mata-mata itu telah kembali dan melaporkan pada Houw Cun, bahwa "bupati An itu adalah seorang yang temaha pada harta benda dan mudah "
Ditempel dengan menggunakan pengaruh uang hingga si kepala kampak yang mendengar laporan begitu, dengan hati amat girang ia lantas menggebrak meja sambil berkata.
"Nah, inilah ada ketika yang terbaik untuk memfitnah pada jahanam she Bu itu!"
Lalu ia menyamar sebagai seorang hartawan besar, dan dengan membawa bingkisan berharga ia berkunjung ke gedung bupati, dengan alasan untuk berkenalan serta memberi selamat atas keangkatan Hun Ie sebagai bupati baru di kota Ham-yang itu.
An Hun Ie yang lebih perhatikan bingkisan orang daripada mencari tahu siapa dan dengan maksud apa orang telah memberikan bingkisan itu kepadanya, tentu saja lantas menyambut kepala kampak itu dengan berpura-pura, mengatakan.
"sudah lama mendengar nama Houw Cun yang dermawan di daerah Ham-yang,"
Biarpun sebenarnya ia tidak pernah dengar ataupun kenal nama samaran "Thio Sin"
Yang telah dipergunakan Houw Cun itu!
Maka dengan menggunakan pengaruh uang dan hadiah-hadiah yang mahal harganya kepada bupati bangpak dan orang sebawahannya yang ternyata juga ada dari satu kaliber, dengan cepat Houw Cun telah bikin dirinya populer di kantor kabupaten itu, hingga 241 selanjutnya ia bisa keluar masuk di kantor tersebut bagaikan di rumahnya sendiri.
Pada suatu hari seorang siu-cay she Gouw dari kecamatan Nouw-tam-lie telah datang ke kantor kabupaten buat mengadu, bahwa pada malam kemarin sebuah mustikanya yang bernama Ya-beng-cu telah dicuri orang.
Mustika itu walaupun hanya sebesar telur burung merpati saja, tetapi khasiatnya amat besar dan dapat menerangi segala sesuatu yang ditaruh dalam sebuah kamar yang gelap gelita, oleh karena itu, tidak heran jikalau ia amat sayang dan bingung sekali tatkala mengetahui bahwa mustika kesayangan hatinya itu telah hilang.
"Berapa besar harganya mustika itu,"
Begitulah ia mengadu di hadapan bupati An Hui Ie.
"itulah sesungguhnya belum ada seorang pun yang mampu menaksirnya. Karena menurut cerita orang, mustika hamba itu adalah sebuah mustika masyhur yang pernah dipergunakan oleh kaisar Korya (Korea) sebagai pembayaran upeti, ketika kaisar Tong Thay Cong Lie Sie Bin menyerbu ke semenanjung Korea."
Maka An Hun Ie yang mengingat bahwa peristiwa itu telah terjadi di daerah lingkungannya juga, tentu saja ia lantas panggil Bu Ciang Tong buat diajak berembuk, cara bagaimana baiknya untuk mengurus perkara pencurian ihi.
Tetapi karena pencurian itu telah dilakukan dengan amat sempurna, maka Ciang Tong jadi bingung dan lalu minta permisi buat pergi tengok sendiri ke rumah Gouw Siu-cay.
Karena selain ia bisa lihat di bagian mana letaknya rumah itu, iapun bisa sekalian menyelidiki juga 242 bekas-bekasnya, cara bagaimana si pencuri telah melakukan pekerjaannya.
Bupati mengabulkan dengan suatu perjanjian, bahwa biar bagaimana juga, Ciang Tong harus bisa bekuk pencurinya.
Karena, sebagai seorang pembesar baru yang datang menjabat pangkatnya di kabupaten itu, ia merasa akan kecewa, apabila perkara yang begitu kecil tidak dapat dibikin terang.
Bu Ciang Tong berjanji akan bekerja dengan sekuatkuatnya tenaga, guna membikin terang muka orang yang menjadi seatasannya.
Kemudian ia kerahkan seluruh tenaga kepolisian yang berada di bawah penilikannya, agar supaya perkara pencurian itu bisa lekas dibikin terang, dengan pencurinya sendiri dibekuk buat diberikan hukuman yang set impal dengan perbuatannya.
Tetapi karena belakangan baru ternyata bahwa si pencuri tidak meninggalkan bekas, sebagaimana kebiasaan peristiwa-peristiwa yang bersangkut-paut dengan pencurian, maka diam-diam Ciang Tong jadi bercuriga, kalau-kalau pengaduan Gouw Siu-cay itu suatu pengaduan yang palsu belaka.
Tetapi ia tak menyangka sama sekali, bahwa Gouw Siu-cay itu adalah seorang samaran dari salah seorang gundal Cap-ek-sinkauw Ngay Houw Cun, yang memang telah sengaja berbuat begitu untuk mempersukar dan kemudian membuka jalan ke arah kecelakaan bagi diri kepala polisi she Bu itu!
Maka setelah penyelidikan itu telah dilakukan dengan susah-payah sehingga setengah bulan lamanya dengan tidak mengasih hasil yang diinginkan, Bu Ciang Tong jadi amat jengkel dan tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya selanjutnya.
Sementara Cap-ek-sin-kauw yang telah diberi kabar oleh kaki tangannya tentang kejadian ini, segera dengan 243 secara diam-diam ia pergi menjumpai bupati she An itu, kepada siapa ia memberikan kisikan bahwa pencuri mustika Ya-beng-cu itu makanya sukar ditangkap adalah karena pencurinya bukan lain daripada Bu Ciang Tong sendiri!
Maka An Hun Ie yang lebih percaya omongan Ngay Houw Cun daripada keterangan-keterangan yang didapat dari Bu Ciang Tong sendiri, sudah tentu saja lantas mau percaya kebenarannya omongan si kepala kampak itu.
Apalagi jikalau menilik laporan-laporan yang sudah-sudah tentang pekerjaan kepala polisi ini yang begitu aktif dan belum pernah gagal, orang segera bisa kemukakan kesimpulan-kesimpulan, walaupun kenyataan mengunjuk dengan tegas, bahwa Ciang Tong bukan seorang yang boleh direndengkan namanya dengan segala kawanan pencuri atau penjahat yang hina-dina.
Tetapi Hun Ie yang telah dibutakan matanya dengan harta dan emas, bukanlah seorang dengan siapa kita boleh bicara tentang liang-sim ataupun ceng-lie, karena segala keputusan-keputusan yang menurut kata hati orang benar dan bijaksana, itu semua seolah-olah telah dihapuskan seluruhnya dari dalam kamus yang tersimpan di batinnya manusia busuk ini.
Oleh karena berpendapat bahwa dia mempunyai pengaruh besar di seluruh kabupaten Ham-yang itu, maka tak segan-segan ia memutar balikkan perkara, dari yang hitam sehingga berubah menjadi putih dan begitupun sebaliknya.
Demikian juga dalam hal memberikan pertimbangan terakhir atas Bu Ciang Tong yang telah bekerja sampai puluhan tahun lamanya sebagai kepala polisi, hingga dengan tidak memikirkan pada jasa-jasa besar yang telah diperolehnya selama itu, Hun Ie segera perintah 244 orang buat tangkap padanya sebagai seorang pencuri, biarpun ia ketahui, bahwa tidak semua omongannya Houw Cun itu boleh dipercaya.
Berita tentang ditangkapnya Ciang Tong yang disangka sebagai pencuri, sudah tentu telah menerbitkan kegemparan besar di seluruh kabupaten Ham-yang.
Bagi pihak musuh-musuhnya kepala polisi itu, berita ini telah disambut dengan bertampik sorak saking kegirangan, tetapi bagi pihak kawan-kawan dan orangorang yang bersimpati kepadanya, berita itu telah disambut dengan kemarahan yang sukar dilukiskan dengan perkataan.
Bukan saja mereka menyomel dan mengutuk pada bupati jahanam itu, tetapi juga mereka segera menuju ke kantor kabupaten untuk memprotes dan minta supaya Ciang Tong yang tidak berdosa itu segera dibebaskan dari dalam tahanan, hingga Hun Ie yang memang berhati penakut dan kuatir akan rombongan orang-orang yang datang memprotes itu menerbitkan keributan, sudah tentu saja segera kirim beberapa orang yang pandai bicara buat membujuk pada mereka dan coba menerangkan duduknya perkara.
Ciang Tong yang telah ditahan, kata utusan-utusan dari kabupaten itu, bukanlah dianggap atau diperlakukan sebagai seorang tahanan biasa.
Karena sebagai seorang kepala polisi yang sudah kawakan dan memperoleh banyak jasa dalam pekerjaannya, nyatanya hanya namanya saja ia ditahan, padahal di kabupaten ia tetap dihormati dan dirawat sebagai seorang tetamu agung.
Malah bupati sendiri tidak percaya, melanjutkan mereka, bahwa Ciang Tong ada turut campur dalam pencurian mustika Ya-beng-cu miliknya Gouw Siu-cay 245 itu.
Maka jikalau karena tuduhan itu Ciang Tong telah ditahan juga, itulah ada maksud lain yang dikandung oleh bupati, guna melancarkan jalannya penyelidikan dan guna kebaikannya kepada polisi itu sendiri.
"Sayang kami tak dapat menerangkan semua maksud bupati dengan secara terang-terangan,"
Kata mereka pula.
"hingga hanya sekian saja yang kami dapat sampaikan kepada tuan-tuan sekalian. Sedangkan apa yang terjadi selanjutnya kami persilahkan supaya tuantuan suka menunggu dengan sabar, dengan mana kami percaya tuan-tuan pasti akan merasa puas dengan cara pemeriksaan yang akan dilakukan oleh bupati kita dengan sebijaksana-bijaksananya."
Oleh karena mendengar keterangan begitu, maka orang banyakpun kelihatan mau percaya dan segera pada bubaran dengan tidak menerbitkan keributan ataupun mengunjuk sikap yang penasaran sebagaimana pada waktu tadi mereka datang ke situ.
Sekarang kita ajak para pembaca untuk membalik tabir yang menyelimuti peristiwa yang bersangkut-paut dengan penangkapan dan penahanan diri Bu Ciang Tong yang bernasib malang itu.
Sebagaimana di bagian atas telah kita tuturkan dengan panjang lebar, kepala polisi she Bu itu adalah seorang murid jempolan dari cabang Ceng-leng-sie di Ngo-tay-san, yang ilmu kepandaiannya sudah lama dikenal di kalangan jago silat di daerah barat-laut Tiongkok.
Oleh sebab itu, para pembaca tentu hendak bertanya, cara bagaimanakah seorang yang ilmu silatnya begitu tinggi bisa ditangkap dan ditahan tanpa melawan serta dalam cara yang begitu gampang sekali?
246 Hal ini memang perlu diterangkan sedikit untuk tidak membingungkan kepada para pembaca.
Semenjak An Hun Ie mendapat anjuran akan menangkap pada Bu Ciang Tong yang dituduh mencuri mustika Ya-beng-cu milik Gouw Siu-cay oleh Cap-ek-sinkauw Ngay Houw Cun, bupati jahanam ini selalu putar otak cara bagaimana buat melakukan pekerjaan itu dengan suatu risiko yang sekecil-kecilnya, tetapi akan dapat menarik keuntungan yang sebesar-besarnya dengan tak usah mengalamkan kerusuhan apa-apa.
Tetapi setelah berapa orang kepercayaannya ditanyakan pikirannya dan tidak juga dapat memecahkan persoalan ini, lalu ia undang Houw Cun buat coba mengunjukkan ia suatu jalan yang didasarkan atas anjuran yang telah keluar dari otak si kepala kampak itu.
Houw Cun yang merasa telah diberikan ketika seluas-luasnya untuk membikin pembalasan kepada musuhnya itu, tentu saja jadi sangat girang dan lalu mengatur suatu muslihat keji.
Mula-mula ia mengatakan, bahwa Bu Ciang Tong itu bukan hanya pada kali itu saja melakukan kejahatan, tetapi sudah banyak kali, tetapi karena orang takut kepadanya, maka rahasia itu orang tak berani sembarangan siarkan di luaran, berhubung kuatir dengan pembalasan-pembalasan hebat yang juga mungkin akan dilakukan oleh kepala polisi itu dan komplotannya yang berjumlah bukan sedikit.
Sebagai salah satu bukti yang paling nyata, Houw Cun telah mengalihkan pandangannya kepada kekayaan Bu Ciang Tong yang tidak sedikit jumlahnya, yang sebenarnya telah diperolehnya sebagai warisan dari ayahnya almarhum, tetapi oleh si kepala kampak itu 247 dikatakan telah dapat dikumpulkan dari perampokan, pencurian, dan sumber-sumber lain yang tidak halal.
Lebih jauh Houw Cun menambahkan, bahwa karena bupati itu ada seorang baru, maka tidak heran jikalau ia belum ketahui tentang adanya peristiwa-peristiwa tidak baik yang pernah dilakukan oleh kepala polisi itu pada masa yang lampau.
Tetapi lain halnya bagi dirinya sendiri, yang memang sudah sedari lama menjadi salah seorang penduduk kabupaten Ham-yang, juga telah ketahui jelas rahasia-rahasia ini dari sumber-sumber yang sangat boleh dipercaya.
Maka jikalau Ciang Tong ditangkap dan dijatuhi hukuman berat, bukan saja si bupati bisa dianggap berjasa terhadap negeri dan kesejahteraan kabupaten Ham-yang, tetapi berbareng ia bisa sita harta benda Bu Ciang Tong yang jumlahnya bukan sedikit itu.
"Semua orang suka uang dan harta-benda,"
Houw Cun berbisik di telinga bupati jahanam itu.
"Maka setelah Tay-jin sita harta bendanya Bu Ciang Tong, ada apakah salahnya kalau harta benda itu Tay-jin ambil semua atau sebagian untuk keperluan sendiri? Dalam pensitaan Tay-jin boleh menggunakan "
Atas nama negeri", tetapi dalam "praktek"
Toh orang akan ambil pusing atau hendak mencari tahu lebih jauh "kemana perginya"
Harta sitaan itu, bukan?"
An Hun Ie yang kemaruk harta benda jadi sangat girang ketika mendengar anjuran sahabatnya itu.
"Engkau ini sesungguhnya ada seorang yang pandai dan cerdik sekali!"
Katanya.
"Aku sama sekali tak pernah pikir, bahwa hal ini bisa dengan secara langsung menguntungkan kepada diriku sendiri. Maka apabila pekerjaan ini sesungguhnya telah berhasil menurut 248 ikhtiarmu tadi, aku tentu tak akan melupakan atas jasajasamu yang bukan kecil itu."
Tetapi Houw Cun selalu merendahkan diri dan mengatakan, bahwa semua itu bukanlah menjadi tujuannya akan ia "mengikut untung"
Dalam pensitaan hartanya Bu Ciang Tong itu. Karena ia sendiripun, katanya.
"tidak membutuhkan harta, berhubung kekayaannya sendiri tidak akan habis dimakan, walaupun, diibaratkan, ia bisa hidup sehingga seratus tahun lamanya."
"Tetapi belum tahu cara bagaimana kita harus menangkap Bu Ciang Tong itu?"
Bertanya si bupati jahanam kepada kepala kampak itu.
"Bu Ciang Tong ini adalah seorang yang keras kepala dan tidak gampang ditaklukkan,"
Kata Ngay Houw Cun.
"Maka cara yang terbaik untuk menangkap kepadanya, adalah Tay-jin di sini pura-pura mengadakan suatu perjamuan makan minum, dimana Tay-jin boleh undang padanya serta berikan ia minuman arak yang berisikan Bong-han-yo, agar supaya dengan begitu, ia bisa dibikin tidak berdaya dan terus diringkus serta dijebloskan ke kamar tahanan. Itulah ada tindakan pertama yang Tay-jin perlu ambil. 3.16. Penjahat Merangkap Kepala Polisi Rahasia "
Apabila kemudian ia sudah dapat ditangkap, Tay-jin boleh perintahkan orang lobangi bagian tulang yang menghubungkan antara bagian bahu dan badan.
Pada bagian lobang itu boleh dipasangi rantai yang membelenggu sekujur badannya, sehingga dengan begitu, walaupun ia punya sayap buat terbang, niscaya ia tak akan mampu lagi buat meloloskan dirinya.
Ia boleh 249 bicara besar sebelum ia mengalami kejadian itu, tetapi Tay-jin boleh saksikan bagaimana lagaknya kalau ia nanti sudah mengalami "pengajaran"
Itu."
Begitulah Houw Cun akhiri pembicaraannya sambil tertawa bergelak-gelak.
Hal manapun diturut juga oleh si bupati jahanam itu.
Begitulah dengan menuruti muslihat busuk yang ia telah dapat dari ajaran kepala kampak itu, An Hun Ie lalu mengadakan perjamuan makan minum di antara kaum seterunya, dengan Bu Ciang Tong yang terhitung sebagai "orang luar"
Adalah orang satu-satunya yang diundang dalam perjamuan tersebut.
Mula-mula Ciang Tong tidak tahu bakal dijebak oleh sepnya sendiri.
Tahu-tahu ketika ia minum tiga cangkir arak dan mendadak merasakan langit dan bumi seolah-olah berputar, barulah ia separuh curiga bahwa diadakannya perjamuan itu tentulah ada mengandung maksud apaapa yang tersembunyi.
Tetapi ia sama sekali tidak menyangka, kalau-kalau hal itu ada sangkut-pautnya dengan hal-hal lain yang akan membawa dirinya ke arah kecelakaan dan kemusnaan diri dan rumah tangganya.
Hal mana, baru ia ketahui jelas ketika ia mendusin dari mabuknya dan merasakan sakit yang amat hebat ketika tulang kipasnya dilubangi dan dipasangi rantai-rantai yang kuat!
Maka dari itu, jangankan mau berontak untuk meloloskan dirinya, sedangkan untuk bergerak saja ia sudah tidak bebas daripada perasaan sakit.
Sementara An Hun Ie yang sekarang telah menyaksikan Ciang Tong telah diborgol dan tidak berdaya lagi untuk membikin perlawanan, tidak tempo lagi segera membuka persidangan buat memeriksa 250 perkara Bu Ciang Tong yang dikatakan telah mencuri mustika Ya-beng-cu milik Gouw Siu-cay dari kecamatan Nouw-tam-lie.
Tetapi karena merasa tak pernah melakukan kejahatan itu, sudah tentu saja Ciang Tong menyangkal keras atas semua tuduhan itu.
Maka si bupati jahanam yang tidak berhasil buat membikin Ciang Tong mengakui "kedosaannya" , dengan gusar lalu mempergunakan segala macam alat pengompres yang paling hebat untuk memaksa memperoleh berbagai keterangan yang diinginkannya.
Dan setelah kewalahan buat memaksa kepala polisi itu akan mengaku sebagai pencuri, Hun Ie perintah opas kabupaten buat menjebloskan Ciang Tong ke dalam tahanan.
Dan ketika berselang beberapa hari lamanya, kembali pemeriksaan dilanjutkan.
Tetapi karena mengingat bahwa tuduhan busuk itu ada sangkutpautnya dengan nama baiknya, sudah barang tentu Ciang Tong tidak sudi mengaku dengan begitu saja, walaupun ia merasakan dirinya sudah hampir tidak tahan karena saban-saban mesti mengalami pengompresanpengompresan yang amat hebat.
Lama-lama, karena tidak mendapat perawatan baik selama berada dalam tahanan, maka Ciang Tong telah jatuh sakit dan akhirnya menutup mata dengan meninggalkan seorang isteri dan seorang gadis remaja yang bernama Liu Sian.
Dan tatkala harta bendanya disita "atas nama negeri"
Dan dikatakan telah dapat dikumpul dengan jalan yang tidak halal, kemudian telah dikangkangi oleh si bupati jahanam, hingga isteri dan puteri Ciang Tong yang bernasib malang dan terusir 251 keluar dari rumah tangganya, terpaksa hidup terluntalunta di luaran dengan hanya mendapat tunjangan yang tidak seberapa dari kawan-kawan dan handai taulan yang mempunyai perhubungan baik semasa hidupnya kepala polisi itu.
Maka sesudah ibunyapun telah meninggal juga karena mereras, Liu Sian jadi hidup sebatang kara dan terpaksa menyingkir ke tempat sunyi untuk berikhtiar akan menuntut balas pada si bupati jahanam yang telah menjadi gara-gara dari kematian ayah-bunda dan keruntuhan rumah tangganya itu Liu Sian ini sejak masih anak-anak memang pernah meyakinkan ilmu silat di bawah pimpinan ayahnya sendiri, tetapi karena mengingat bahwa Liu Sian hanya ada seorang perempuan saja, maka Ciang Tong tidak terlalu mengutamakan untuk mendidik sang puteri buat menjadi seorang ahli silat besar sebagai dirinya sendiri.
Di tempat sunyi yang dikunjunginya itu, Liu Sian beruntung bisa menumpang tinggal di dalam sebuah rumah berhala kecil yang ditinggali oleh beberapa orang paderi perempuan.
Oleh karena kepada mereka Liu Sian telah menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud tujuannya yang hendak melakukan pembalasan sakit hati kepada musuh-musuhnya, maka para nikouw yang merasa simpathi kepadanya telah menganjurkan supaya si nona suka berlatih ilmu silat dengan rajin untuk dapat melaksanakan maksud yang dikandung di dalam hatinya itu.
Di situ Liu Sian menumpang tinggal baru saja kirakira sebulan lamanya, ketika ia mendengar An Hun Ie telah dinaikan pangkat menjadi residen dan diunjuk kota Hang-ciu sebagai tempat kedudukannya.
252 Si nona yang mendengar kabar begitu, tentu saja jadi heran tercampur menyesal di dalam hatinya.
Yang pertama-tama ia tidak mengerti cara bagaimana bupati jahanam itu bisa begitu lekas naik pangkat, berhubung ia sebagai seorang perempuan yang tidak tahu tentang kebusukan-kebusukan di kalangan pemerintah di jaman penjajahan itu, tidak mengetahui sama sekali bahwa pangkat itu bisa dibeli, sedangkan rasa menyesalnya adalah karena kedudukan sang musuh telah menjadi semakin jauh dan di sebuah kota yang lebih besar daripada Ham-yang, maka sudah barang tentu maksudnya akan membikin pembalasan akan menjadi semakin sukar.
Tetapi para nikouw yang kemudian mengetahui tentang rahasia hati si nona pada menghibur dengan mengatakan, bahwa Thian Yang Maha Kuasa pasti akan melindungi dan bantu melaksanakan pekerjaan seorang anak berbakti yang hendak menuntut balas untuk orang tuanya yang difitnah orang dengan secara keji dan tanpa melakukan sesuatu kedosaan.
Hal mana, ternyata dapat juga menolong untuk meringankan rasa penyesalan Liu Sian yang bernasib malang itu.
Tatkala ia menumpang tinggal di rumah berhala itu kira-kira beberapa bulan lamanya, pada suatu hari si nona telah menyatakan pikirannya pada nikouw tua yang menjadi pengurus rumah berhala itu, bahwa di hari esok ia akan berangkat ke kota Hang-ciu guna membikin pembalasan pada An Hun Ie yang menjadi musuh besarnya.
Tetapi maksud itu lantas dicegah oleh si nikouw dengan mengatakan.
"Nona, aku bukan hendak 253 merintangi niatanmu, juga bukan karena tidak percaya dengan kepandaianmu yang kita pernah saksikan di waktu engkau berlatih sehari-hari aku hanya kuatir karena engkau ada seorang perempuan dan hanya seorang diri saja, tentunya engkau tak mempunyai kekuatan cukup akan melakukan pekerjaan yang sesungguhnya bukan gampang itu. Lain halnya jikalau maksudmu itu mendapat tunjangan dari beberapa orang pandai yang bersatu hati, memanglah banyak kemungkinan engkau akan berhasil. Kalau tidak, rasanya paling betul supaya kau bersabar dahulu sehingga beberapa bulan lagi, agar dengan begitu, aku bisa membantu engkau berikhtiar lebih jauh cara bagaimana pekerjaan ini harus diaturnya."
Tetapi Liu Sian yang sudah merasa tidak sabar lagi buat menunggu-nunggu, lalu mengatakan yang ia sangat menyesal tidak bisa turuti omongan nikouw yang baik hati itu.
Karena selain ia telah mengambil keputusan, untuk melakukan pekerjaan yang sangat berbahaya itu, iapun telah bersumpah akan tidak mau hidup bersamasama dengan orang yang menjadi musuh besarnya itu.
Jika umpama percobaannya itu gagal, ia tidak melihat ada jalan lain baginya daripada kematian, walaupun ia belum bisa meramalkan dengan pasti, apa ia akan mati di tangan orang lain atau mati karena membunuh dirinya sendiri.
Maka nikouw tua tadi yang mendengar omongan si nona, dengan mata mengembeng air karena terharu lalu berkata.
"Nona, engkau ini sesungguhnyalah ada seorang gadis yang berhati keras bagaikan baja! Aku di sini hanya bisa bantu berdoa agar supaya Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi dirimu dalam tugasmu yang suci itu." 254 Hal mana, dengan tak dapat. ditahan lagi, Liu Sian jadi menangis tersedu-sedu. ◄Y► Ketika cuaca baru saja terang tanah, si nona telah bangun dan berdandan sebagai seorang gadis desa yang hendak masuk kota untuk mencari nafkah atau berburuh. Maka setelah meminta diri pada nikouw tua dan berlalu dari rumah berhala itu dengan menggendong pauw-hok yang di dalamnya disembunyikannja sebilah golok, Liu Sian lalu menuju ke kota Hang-ciu dengan mengambil jalan di tempat sunyi yang jarang dilalui manusia. Karena jikalau sampai dikenali oleh orangorang yang menjadi kaki tangan pihak musuhnya, bukan saja maksudnya akan jadi gagal, malah dirinya sendiripun tidak mustahil akan ditangkap dan mengalami nasib yang bersamaan dengan ayahnya yang telah marhum itu. Begitulah pada suatu hari Liu Sian telah sampai dengan selamat di luar kota Hang-ciu. Disini karena ia mendapat pikiran bahwa berpakaian cara lelaki adalah lebih leluasa daripada dengan secara terang-terangan berpakaian sebagaimana apa yang dikenakannya sekarang ini, maka ia lantas membeli seperangkap pakaian pria yang kiranya cocok untuk dikenakan olehnya. Setelah pakaian ini dikenakannya di suatu tempat yang sunyi, barulah ia menuju ke dalam kota dan mencari rumah penginapan untuk dijadikan "pokok operasinya" , dari mana dengan secara diam-diam ia hendak menuju ke gedung residen untuk melakukan pembalasan terhadap pada pembesar jahanam itu, yang 255 telah menerbitkan kemusnahan dan keruntuhan bagi rumah tangganya, yang dahulu dirasakannya amat beruntung dan tenteram di dalam dunia ini. Maka persoalan itu semakin dipikirkan di dalam hatinya, Liu Sian jadi semakin jengkel dan sedih, sehingga ketika ia berdiam beberapa hari lamanya di kota Hang-ciu dan mengetahui dimana letaknya kantor residen yang hendak disatroninya itu, pada suatu malam ia telah keluar dari rumah penginapan dengan diam-diam dan terus menuju ke kantor tersebut dengan berpakaian ringkas dan membekal golok yang ia selalu bawa dalam perjalanannya. Tetapi karena ia bukan seorang yang biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang meminta ketabahan hati sampai begitu jauh, sudah tentu saja ia jadi keder juga akan segera mulai bertindak menurut rencana yang telah dipikirkannya sekian lama itu, terutama ketika melihat penjagaan yang diatur begitu rapih dan sempurna di sekitar gedung residen tersebut yang akan dijadikan sasarannya itu. Maka jikalau mula-mula ia telah membayangkan akan membalas kepada musuhnya dengan cara ini atau itu yang agak muluk-muluk buat melampiaskan sakit hatinya, adalah sekarang ia jadi mundur maju dan buat beberapa saat lamanya tampak ragu-ragu, karena tak tahu bagaimana yang harus diperbuatnya selanjutnya. Begitulah selagi memutar otak dengan perasaan sedih dan penasaran di suatu pelosok yang gelap di luar pagar tembok gedung keresidenan, mendadak si nona mendengar dua orang penjaga malam beromong-omong sambil duduk mengisap hun-cwee di sebelah pagar tembok dimana ia bersembunyi. 256 Salah seorang antara penjaga malam itu dengan suara pelahan-lahan berkata kepada kawannya sebagai berikut.
"Menurut kabar yang aku dapat dengar dari beberapa teman-teman di kalangan Kang-ouw, Tam-tong atau kepala polisi rahasia yang baru ini sebenarnya bukan bernama Thio Sin, tetapi Ngay Houw Cun yang terkenal dengan gelaran Cap-ek-sin-kauw, hanya belum tahu sebab apa dia bisa bergaul begitu rapat dengan residen."
"Nama dan gelaran yang kau katakan tadi,"
Kata penjaga malam yang lainnya.
"aku rasanya sudah lama dapat dengar di kalangan Kang-ouw. Apakah dia itu bukan seorang kepala kampak yang menjadi musuh besar dari bekas kepala polisi Bu Ciang Tong di Hamyang, yang kabarnya telah mati di dalam penjara karena difitnah oleh residen yang sekarang dan menjadi sahabat karib dari si kepala kampak itu?"
"Hal itu aku kurang tahu,"
Kata si penjaga malam yang pertama.
"Tetapi dari kabar angin yang orang telah sampaikan kepadaku, aku telah dikasih tahu, bahwa pangkat yang dipangkunya itupun bukanlah berdasarkan dari keangkatan resmi karena berhubung dengan jasajasa yang telah diperolehnya, hanyalah....."
Kedua-duanya penjaga malam itu jadi pada tertawa cekikikan.
"Aku tahu, aku tahu. Itulah tentu ada suatu "perkara e-hem"
Di dalamnya, bukan?"
"Ya, ya, itulah memang bukan urusan langka bagi orang-orang hartawan yang kepingin mencari untung dengan mengandalkan kepada pengaruh kepangkatannya. Semakin mereka kaya, semakin mudah pula akan mereka "
Membeli"
Pangkat yang tinggi", dan 257 berbareng semakin rakus mereka "menerima"
Sogokansogokan dan tak segan melakukan pemerasan ke kirikanan.
Dengan begitu, semakin bertimbun pula harta benda mereka yang tidak halal.
Tinggal kita kaum kecil yang separuh mati separuh hidup, perut kelaparan, badan kedinginan....."
"Hus, jangan kau melantur!"
Kata si penjaga malam yang kedua.
"Kalau hal ini dapat didengar oleh si Ah Kauw, dia pasti akan mengadu pada sepnya yang baru, hingga selain kita bisa dihukum rangket, kitapun tidak mustahil akan dipecat dari pekerjaan kita."
"Apakah si Ah Kauw akan dipekerjakan di bawah perintah Tam-tong baru itu?"
"Ya, itu sudah pasti,"
Sahut sang kawan yang ditanya itu.
"Syukurlah,"
Kata penjaga malam itu dengan suara menyindir.
"Tukang cun-go bekerja di bawah perintah kepala kampak, hingga dalam sedikit waktu saja aku percaya dia bisa ketularan juga menjadi "
Kepala kampak kecil!"
Dengan mendengari pembicaraan kedua orang penjaga malam itu, Bu Liu Sian jadi mengetahui semakin jelas tentang jalannya permusuhan antara An Hun Ie dan ayahnya almarhum, dengan Cap-ek-sin-kauw yang campur tangan di antaranya, adalah merupakan sebagai biang keladi yang menjadi gara-gara dari semua kecelakaan yang dialami mereka serumah tangga itu.
Maka dengan bertambahnya seorang musuh yang tak pernah ia impikan sama sekali, sudah tentu saja Liu Sian jadi menghadapi percobaan yang semakin berat dan sulit.
Karena selain bertambahnya seorang musuh yang ia belum kenal bagaimana romannya, juga ia telah 258 yakin dengan melihat pada gelarannya yang disebut Cap-ek-sin-kauw itu bahwa ilmu silat musuhnya itupun tentunya tidak bisa dikata lemah.
Dari itu, semakin memikirkan urusan dan kesulitankesulitan yang bakal datang itu, Liu Sian jadi semakin putus asa dan merasa bosan untuk hidup terlebih lama pula dalam dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kekejian ini.
Maka dengan timbulnya kenekatan yang sekonyongkonyong itu, lalu timbullah juga keberanian yang luar biasa dari si nona, untuk menerjang masuk ke sarang harimau dan membikin pembalasan pada An Hun Ie yang menjadi musuh besarnya itu.
Syukur juga Liu Sian pernah meyakinkan ilmu tiamhwe-kin, serupa ilmu kepandaian untuk membikin orang tidak berdaya dengan jalan ditotok jalan darahnya, dalam ilmu mana biarpun belum dapat dikatakan ia sangat pandai, tetapi kepandaian itu pernah juga dicobanya dengan hasil yang lumayan.
Begitulah setelah berhasil dapat melompati pagar tembok yang tidak berapa tinggi itu, si nona lalu menghampiri kepada dua penjaga malam tadi bagaikan lakunya seekor kucing yang hendak menerkam tikus yang menjadi mangsanya.
Mula-mula ia mendekati mereka dengan jalan bersembunyi di belakang pohon-pohon yang banyak terdapat di halaman kantor residen tersebut.
Dan tatkala ia berada cukup dekat di belakang kedua orang itu, Liu Sian dengan sekonyong-konyong lalu membentak.
"Jangan bergerak atau berteriak, apabila kamu sayang jiwamu sendiri!" 259 Sambil membentak begitu, si nona segera kelebatkan goloknya di hadapan muka kedua orang itu. Hal mana, sudah barang tentu telah membikin mereka jadi kemekmek saking kagetnya. Dalam pada itu, Liu Sian yang telah mendapat suatu akal akan masuk ke gedung residen, lalu menyatakan pada kedua orang penjaga malam itu supaya mereka bawa ia menghadap pada residen di saat itu juga.
"Ho-han ini siapa? Asal dari mana, dan ada keperluan apa malam-malam berkunjung ke sini akan berjumpa pada paduka residen?"
Tanya salah seorang antaranya dengan badan gemetaran dan menyangka bahwa si nona itu adalah seorang laki-laki.
"Hal itu tidak perlu kamu tahu!"
Membentak si nona pula.
"Kamu hanya perlu bawa aku menghadap pada residen, lain daripada itu, tidak perlu kamu menanyakan apa-apa pula kepadaku! Ayoh, lekas kamu berjalan!"
Kedua orang itu menurut.
"Tetapi apabila ada kawan-kawanmu yang menanyakan aku ini siapa,"
Memesan Bu Liu Sian.
"katakanlah bahwa aku ini seorang mata-mata yang baru kembali dari luar kota! Jangan salah, apabila kamu sayang jiwamu sendiri!"
"Ya, ya, baiklah,"
Kata mereka dengan hati kebatkebit. Tatkala mereka berjalan melalui muka gedung keresidenan, di situ mereka telah diberhentikan oleh dua orang penjaga malam yang bertugas menjaga di tempat tersebut.
"Kamu siapa?"
Tanya mereka. 260 "Thio Pin dan Lie Kie,"
Sahut kedua orang yang mengiringkan si nona yang menyamar itu.
"Itu siapa yang seorang lagi?"
"Mata-mata dari gedung keresidenan yang baru kembali dari luar kota."
"Ya, kamu boleh lewat!"
Kata antaranya dengan suara memerintah.
salah seorang Lie Kie dan Thio Pin melanjutkan perjalanannya dengan diikuti oleh Bu Liu Sian, yang sekarang telah masukkan goloknya ke dalam serangkanya yang digendong di punggungnya.
Beberapa pengawal telah dijumpai dan diberikan jawaban yang bersamaan ketika mereka menanyakan siapa adanya si nona itu.
Tidak antara lama mereka telah sampai di gedung residen, dimana An Hun Ie dan Houw Cun kebetulan sedang duduk makan minum dengan dilayani oleh beberapa orang perempuan tukang menari.
Sebagaimana di muka ini telah diterangkan dengan melalui penuturan yang dilakukan oleh kedua orang penjaga malam Thio Pin dan Lie Kie tadi, Cap-ek-sinkauw Ngay Houw Cun ini sekarang telah menyabat pangkat Tam-tong yang diperbantukan di kantor residen sambil berbareng juga merangkap jabatan penasehat dari pembesar durjana itu.
Ia ini dengan mengandal pada pengaruh An Hun Ie yang telah "kasih persen"
Ia pangkat dengan perdeo, mulai dari beberapa minggu yang lalu telah datang ke gedung residen untuk "menjalankan tugas yang Hun Ie telah percayakan"
Kepadanya.
261 Kedua manusia busuk ini karena memperoleh harta rampasan dari Bu Ciang Tong yang dalam teori dikatakan "disita atas nama negeri" , tetapi dalam prakteknya masuk kantong mereka, bukan saja merasa sangat girang oleh karena mendapat harta "terkejut"
Itu, tetapi juga merasa bersyukur di dalam hati, berhubung yang dimaksudkan bahaya yang sangat ditakuti itu atau kepala polisi yang bernasib malang itu — sekarang telah dapat "diatasi"
Dengan memberikan kesudahankesudahan yang sangat memuaskan.
Oleh sebab itu, tidaklah heran jikalau hampir setiap hari mereka berpesta pora dan saling memberi selamat atas keberuntungan yang mereka telah peroleh bersama-sama itu.
Tetapi tidak kira selagi mereka bermakan minum dengan gembira, tiba-tiba ada seorang pengawal yang masuk untuk melaporkan, bahwa di luar ada seorang mata-mata yang baru kembali dari luar kota dan ada urusan penting yang perlu disampaikan kepada paduka residen seketika itu juga.
Sementara An Hun Ie yang memang biasa melepas mata-mata di luaran buat mencari tahu tentang gerakgerik dan sikap penduduk negeri yang berada di bawah perintahnya, dengan lantas ia mengasih perintah supaya "si mata-mata"
Itu segera datang menghadap.
Diceritakan ketika pengawal tadi masuk melaporkan tentang kedatangannya kepada residen jahanam itu, Bu Liu Sian dengan sebat lalu menotol jalan darah Thio Pin dan Lie Kie, yang segera menjadi kaku dan tak dapat berbicara, hingga biarpun mereka bisa melihat, tetapi sama sekali tak dapat bergerak dan tinggal berdiri tegak di luar gedung residen bagaikan dua buah patung.
Demikian juga waktu si pengawal itu keluar, ia inipun lantas di tiam oleh si nona dan menjadi bisu seperti juga 262 kedua orang penjaga malam yang telah "dikerjakannya"
Tadi itu!
Kemudian, sebegitu lekas ia berhadapan dengan An Hun Ie dan Ngay Houw Cun yang sedang berduduk makan minum, bukan saja ia tidak memberi hormat atau mengunjuk sikap yang manis, tetapi sebaliknya dengan berseru.
"Jahanam! Oleh karena perbuatan kamu berdua, maka ayah-bundaku berikut rumah tanggaku telah binasa dan termusnah dalam keadaan yang sangat menyedihkan!"
Mendengar bentakan yang sangat mendadak itu, sudah tentu saja Hun Ie jadi terperanjat bukan main, kemudian ia jadi gemetaran karena ketakutan, sebab disamping sikap si nona yang begitu gagah dan berani, iapun merasa cemas melihat Bu Liu Sian menghunus golok yang sinarnya berkilau-kilauan di bawah api lilin yang terang benderang.
Kecuali Ngay Houw Cun, yang selain berhati tabah, juga paham ilmu silat, hingga dengan lantas ia dapat menetapkan kembali hatinya dan setelah mengalami sedikit kekagetan, memandang pada si nona dengan mata tidak berkesip.
"Setelah sekarang aku berhasil bisa mencari tempat kediamanmu dan bertemu denganmu berdua di sini,"
Melanjutkan si nona.
"aku tak minta lain daripada jiwamu berdua sebagai penggantian jiwa ayahku yang telah kamu fitnah sehingga binasa itu! Ni! Kamu boleh rasakan golokku yang tidak bermata!"
Sambil berkata begitu, Liu Sian segera membacok pada An Hun Ie, hingga si residen jahanam ini yang memang tidak mengerti ilmu silat, bukan saja tak dapat berkelit untuk menghindarkan diri daripada bacokan itu, tetapi sebaliknya lantas mengeluarkan suara teriakan ngeri.
"Ho-han! Ampun!" 263 Kemudian terdengar suara bergedubrakan pembesar jahanam itu telah jatuh ke atas jubin. dan Liu Sian jadi kaget dan lekas tarik pulang goloknya yang telah dipakai membacok dengan terlalu terburu napsu itu. Karena apabila ia tidak lekas tarik pulang golok itu, Houw Cun yang ia tahu paham ilmu silat dapat merampasnya selagi tenaganya dicurahkan ke ujung senjata tersebut. Apakah sebabnya Liu Sian yang membacok, tetapi jadi berbalik kaget oleh karena perbuatannya itu? Hal ini kiranya perlu juga untuk diterangkan sedikit. Tatkala si nona membacok pada An Hun Ie, sebenarnya ia tidak kira yang bacokan itu bisa kejadian gagal. Karena waktu si nona membacok dengan hati yang sangat bernapsu, ia sama sekali tidak menduga, kalau Houw Cun yang duduk berhadapan dengan residen bangpak itu, telah tendang kursi Hun Ie sehingga terbalik. Maka berbareng dengan terbaliknya kursi itu, lalu terjungkellah orang yang duduk di atasnya. Dan itulah ada saat yang sangat berbahaya, ketika goloknya Liu Sian menyamber ke arah musuhnya, hingga dengan begitu, Hun Ie telah diselamatkan jiwanya oleh Houw Cun yang selalu berlaku waspada di setiap waktu berhadapan dengan musuh. Sementara si nona yang melihat maksudnya telah digagalkan oleh si kepala kampak, dengan gusar lantas menerjang pada Ngay Houw Cun sambil berseru.
"Manusia terkutuk! Aku bersumpah tak akan mau hidup bersama-sama engkau di kolong langit ini!"
Sementara Houw Cun yang di tangannya tidak bersenjata sama sekali, buru-buru sembat sebuah kursi 264 di dekatnya, dengan mana ia telah menangkis golok si nona yang dibacokkan secepat kilat ke arah dirinya.
Dan dalam pada itu Hun Ie yang telah keburu bangun dan lari terbirit-birit dari dalam ruangan itu, lalu teriakan pengawal-pengawal yang bersenjata buat datang membantui mengepung si nona yang sedang bertempur dengan Houw Cun yang bersenjatakan diri dengan sebuah kursi itu.
Maka dengan teriakan pembesar itu yang disorakkan dengan sekeras-kerasnya, dalam tempo sekejapan saja ruangan itu telah penuh dengan pengawal-pengawal bersenjata yang maju mengepung pada Bu Liu Sian sambil bersorak-sorak untuk bantu menambahkan keangkeran.
Tetapi sebaliknya si nona yang melihat semakin lama orang yang datang mengepung padanya jadi semakin banyak jumlahnya, sudah tentu saja jadi kuatir dan buru-buru berlompat keluar ruangan akan mencari jalan buat meloloskan diri.
"Tangkap, tangkap! Jangan kasih lolos pembunuh itu!"
Teriak Hun Ie dari kejauhan.
"Barang siapa yang berhasil dapat menangkapnya, hidup atau mati, akan diberi hadiah seribu tail perak!"
"Tangkap, tangkap! Jangan kasih lolos pembunuh itu!"
Supaya semua orang tambah semangat dalam pengepungan terhadap pada si nona yang merupakan sebagai suatu bahaya yang bukan kecil bagi dirinya.
Tetapi Liu Sian biarpun pernah belajar silat di bawah pimpinan seorang ahli sebagai ayahnya sendiri, ilmu kepandaian itu bukanlah khusus untuk mendidik ia akan menjadi seorang ahli di dalam kalangan ilmu silat, maka sesudah bertempur dengan Houw Cun beberapa belas jurus saja lamanya, ia sudah lantas ketahui, bahwa ia 265 bukan tandingan yang setimpal dari kepala kampak itu, hingga biarpun hatinya masih sangat penasaran, apa boleh buat ia mesti tahan sabar dahulu akan mengalah pada kali ini dan kembali pula dilain waktu dengan mengambil cara yang lebih taktis dan tidak terburu napsu seperti sekarang ini.
Begitulah setelah melihat ada sedikit lowongan untuk meloloskan diri, Bu Liu Sian lekas ayunkan tangannya sambil berseru.
"Jahanam! Kau rasakan ini pop-wee ku!"
Houw Cun buru-buru berlompat sambil berjongkok dan menundukkan kepalanya, karena kuatir dilukai oleh senjata rahasia musuh itu.
Padahal semua itu adalah suatu gertakan belaka, iang semata-mata dilakukan si nona untuk membikin terkesiap hati si kepala kampak itu!
Maka dengan mengambil ketika selagi Houw Cun berkelit dan berlaku sedikit ajal dalam perlawanannya, Liu Sian segera meloloskan diri dengan jalan melompati pagar tembok dan terus menghilang di antara lorong-lorong yang gelap dan memang telah diperhatikan beberapa hari lamanya untuk dipergunakan sebagai jalan untuk merat.
Dari itu, biarpun Houw Cun telah mengerahkan semua tenaga yang ada di bawah perintahnya untuk melakukan pengejaran, tidak urung Liu Sian telah dapat juga meloloskan diri, tak dapat dicekal ataupun diketahui ke arah mana larinya.
Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin Houw Cun jadi sangat jengkel dan terpaksa menghentikan usaha pengejarannya itu.
Penyerangan Terhadap Residen Jahat Sekembalinya ke gedung residen, si kepala kampak ini buru-buru pergi menjumpakan An Hun Ie, yang 266 ternyata tidak mendapat luka apa-apa selain mengalami sedikit kekagetan.
Dan sesudah menyatakan kegirangannya melihat sep bebodor itu tidak kurang suatu apapun, Houw Cun lalu menganjurkan agar supaya Hun Ie segera mengeluarkan maklumat untuk menangkap pembunuh yang telah gagal itu.
Hun Ie membenarkan dan menurut usul gundalnya itu.
Kemudian dengan tidak menunggu lagi sampai di hari esoknya, pada malam itu juga residen keji ini telah perintah pengawal-pengawalnya buat menulis maklumat itu, yang antara lain berbunyi sebagai berikut.
"Barang siapa yang dapat menangkap si pembunuh itu, mati atau hidup, akan diberi hadiah seribu tail perak, tetapi barang siapa yang berani melanggar perintah serta berani menyembunyikan si pembunuh, bukan saja harta bendanya akan disita oleh negeri, malah orangnya pun akan dijatuhi hukuman yang sama beratnya dengan si pembunuh itu sendiri!"
Maka semenjak dikeluarkannya maklumat-maklumat itu, para penduduk dan pemilikpemilik rumah penginapan jadi keder buat menerima sembarang orang yang agak mencurigakan akan menumpang tinggal.
Dan jikalau ada juga beberapa orang diterima untuk menumpang menginap, mereka tak suka mengizinkan si tetamu itu berdiam lebih lama daripada tiga hari.
Oleh sebab itu juga, tidaklah heran kalau Bu Liu Sian yang perlu berdiam agak lama buat mencapai maksudnya untuk membikin pembalasan pada An Hun Ie dan Ngay Houw Cun, jadi ketakutan karena diadakannya larangan tersebut.
Untuk dapat menghindarkan diri daripada intaian mata-mata dan orang-orangnya Ngay Houw Cun yang selalu berkeliaran ke sana-sini dan sewaktu-waktu mengadakan penggeledahan dengan sekonyong267 konyong, Liu Sian terpaksa bersembunyi di kelenteng Leng-coan-sie, dengan ia sendiri sama sekali tak pernah menyangka, bahwa berdiamnya ia di situ telah menerbitkan "lelakon burung"
Tentang adanya "hantu putih"
Yang bersarang di kelenteng kuno tersebut.
Lebih jauh karena Liu Sian yang sudah putus asa kerap uring-uringan dan merasa jemu dengan pengunjung-pengunjung yang datang ke situ, maka tidak jarang ia menyambut mereka itu dengan sambitansambitan batu bata atau genteng, agar supaya mereka kapok akan selanjutnya berkunjung pula ke situ.
Tidak tahunya perbuatan itu telah menarik juga perhatiannya Lie Poan Thian, sehingga karena usahanya ini, akhirnya dapatlah dibongkar suatu perkara penasaran seperti apa yang telah dituturkan oleh si nona tadi.
Pemuda kita mendengari semua penuturan itu dengan penuh perhatian.
Disamping menyatakan simpathi dan menghibur supaya si nona jangan terlalu bersusah hati, iapun menyatakan kesediaannya untuk bantu berikhtiar akan membasmi residen jahanam berikut gundalnya yang amat keji itu.
Begitulah setelah minta supaya Liu Sian suka bersabar dahulu sedikit waktu lamanya, Poan Thian lalu berpamitan akan kembali ke tempat penginapannya.
"Sebentar malam dengan mengajak seorang kawanku,"
Ia menambahkan.
"aku akan kembali pula ke sini buat bantu merembukkan lebih jauh urusanmu ini. Karena setelah selesai penggerebekan kedua yang akan dilakukan terhadap sarang kawanan manusia busuk itu, tidak perduli apakah maksud itu bisa berhasil atau tidak, kita sekalian perlu angkat kaki selekas-lekasnya dari sini, kalau tidak, kita akan dicekal oleh alat-alat negara 268 sebagai kawanan pengacau yang kesejahteraan dan tata-tertib di dalam negeri."
Merusak Oleh karena itu, maka si nona pun berjanji akan turuti sesuatu pengajarannya pemuda kita.
Kemudian Poan Thian kembali ke tempat penginapannya, dimana ia dapatkan Kong Houw sedang duduk termenung di atas pembaringannya.
Dan tatkala melihat Poan Thian kembali dengan mengambil jalan dari jendela kamar, ia jadi berbangkit dan hendak buka mulut buat menanyakan apa-apa, tetapi Poan Thian lekas memberi isyarat supaya ia jangan bikin ribut.
Setelah itu ia mendekati pada Kong Houw dan bicara dengan perlahan-lahan, katanya.
"Kali ini aku telah ketemukan suatu perkara Wan-ong, suatu persoalan yang membuat kita turut merasa penasaran, hingga tak boleh tidak akan kita turut campur tangan dalam urusan ini."
"Cobalah kau tuturkan persoalan itu kepadaku,"
Kata Kong Houw yang sudah barang tentu belum mengerti jelas bagaimana duduknya perkara yang benar.
Poan Thian lalu tuturkan pengalamannya tadi.
Dengan ini, benar saja Cin Kong Houw jadi kelihatan mendongkol ketika mendengar penuturan itu.
"Kurang ajar benar perbuatannya manusia-manusia terkutuk itu!"
Katanya dengan suara agak keras.
Beruntung juga Poan Thian lekas tekap mulut sang kawan yang bertabeat pemarah itu, hingga suara itu tidak sampai menarik perhatian pelancong -pelancong lain yang turut bermalam di rumah penginapan itu.
"Habis bagaimana rencanamu, yang akan menolong nona itu untuk melaksanakan maksudnya akan menuntut 269 balas kepada musuh-musuhnya?"
Cin Kong Houw meminta keterangan sekali lagi kepada sahabatnya itu.
"Kukira tidak ada jalan lain daripada kita membantui dia akan melakukan penyerbuan pula untuk kedua kalinya,"
Sahut Poan Thian.
"Berhasil atau tidak, itulah tinggal tergantung pada nasib masing-masing. Oleh karena itu, sekarang aku hendak minta bantuanmu sekali ini untuk menunaikan janjiku pada nona Bu Liu Sian, dengan suatu perjanjian yang kau tidak akan menyesal di dalam hati, jikalau dalam usaha yang berbahaya ini kau sampai mengalami kejadian apa-apa yang tidak diinginkan. Karena dalam pekerjaan kita pada kali ini, kita semua membantu pada nona Bu bukan dengan arti suka rela saja, bahkan ada kemungkinan mempertaruhkan juga jiwa kita sendiri, kau mengerti?"
"Jiwaku yang sekarang ini, adalah jiwa punyamu juga,"
Sahut Kong Houw.
"karena jikalau bukan kau yang menolong aku dari tangan komplotan Poo Tin Peng, bukan saja tak mampu aku membikin pembalasan kepada musuh-musuhku itu, malah jiwaku sendiripun bisa melayang di dalam tangan manusia busuk itu. Maka sebagaimana apa kataku dahulu di hadapanmu, bukanlah semata-mata bermaksud untuk "
Mengumpak"
Saja. Benar aku ini ada seorang kasar, tetapi sebegitu jauh yang aku pernah ingat, tidak pernah aku menjilat pula ludah yang sudah dibuangkan di tanah! Percayalah padaku, Lie Lauw-hia."
Poan Thian tersenyum dan kelihatan mau percaya omongan Kong Houw yang bertabiat keras tapi jujur itu.
Maka setelah membayar ongkos makan dan penginapan, pada hari esoknya Poan Thian kembali dengan diam-diam ke kelenteng Leng-coan-sie dengan mengajak sahabat karibnya itu.
Begitulah dengan 270 menunggang kuda-kuda yang dapat berlari cepat, kedua orang itu lalu menuju ke pegunungan Houw-kiu-san dengan membekal sedikit makanan kering, untuk mereka dan si nona yang bersembunyi di sana, yang tentunya membutuhkannya selama berada dalam persembunyiannya itu.
Kira-kira pada waktu magrib, barulah Poan Thian dan Kong Houw berani datang ke kelenteng kuno itu, dimana mereka telah disambut oleh Liu Sian yang telah ajak mereka masuk ke dalam kelenteng.
"Inilah ada sahabatku Cin Kong Houw,"
Poan Thian memperkenalkan sahabatnya pada si nona. Liu Sian lekas memberi hormat, yang lalu disambuti oleh Kong Houw sebagaimana mestinya.
"Nona Bu ini adalah puteri almarhum Bu Ciang Tong Lo-cianpwee yang namanya sangat terkenal di kalangan Kang-ouw,"
Kata Lie Poan Thian.
"Bu Lo-enghiong telah difitnah orang sehingga nona Bu mengalami kesengsaraan besar dan terlunta-lunta di luar kota tumpah darahnya. Kita semua belum berhasil dapat menjumpai Bu Lo-enghiong di waktu masih hidupnya, hingga ini sesungguhnya amat tidak beruntung bagi kita ahli silat angkatan muda. Tetapi karena mengingat bahwa akan menjumpai nona Bu adalah sama saja seperti kita menjumpai Bu Lo-enghiong sendiri, maka tidak lebih dari pantas akan kita membantu pada nona Bu yang menjadi puterinya. Karena dengan jalan berbuat begitu, bukan saja berarti kita bantu meringankan kesukaran nona Bu sendiri, tetapi berbareng juga bantu Bu Lo-enghiong membalas sakit hati kepada musuhmusuhnya yang sangat busuk dan keji itu.
"Bahkan disamping itu, kita jadi berbareng juga bantu meringankan kesengsaraan anak negeri yang diperas 271 dan dipermainkan dengan secara sewenang-wenang oleh An Hun Ie dan Ngay Houw Cun yang menjadi biang keladi dari semua kebencanaan ini. Tetapi belum tahu pikiran Cin Lauw-hia bagaimana?"
"Aku ini biarpun seorang kasar yang tidak mengerti aturan,"
Kata Cin Kong Houw.
"tetapi bisa juga aku membedakan antara mana yang benar dan tidak benar. Terhadap pada perkara yang benar, sudah tentu tidak perlu aku pusingi hati apa-apa, tetapi terhadap urusan nona Bu ini yang merupakan suatu perkara wan-ong yang bukan kecil dan justeru memang sangat perlu buat dibantu, aku bersedia buat mengorbankan jiwaku, jikalau itu ternyata perlu!"
"Tetapi itulah bukan bagianmu yang mesti berbuat begitu,"
Memotong si nona sambil menghapus airmata yang mengucur di pipinya.
"Itulah ada kewajibanku sendiri yang menjadi puterinya, tidak perduli apa juga yang akan terjadi atas diriku."
"Hal ini tidak perlu lagi kita saling merendahkan diri,"
Lie Poan Thian menyelak di antara pembicaraan mereka berdua.
"Paling betul kita sekarang dahar dahulu seadanya, karena sebentar kita mesti melakukan penyerbuan yang terakhir dan memastikan berhasil atau gagal, itulah akan kita lihat apa yang akan terjadi pada petang ini. Pauwhok-pauwhok kita boleh tunda dahulu di sini. Juga kuda-kuda kita boleh tunda dan jangan dilepaskan selanya, agar supaya binatang-binatang itu bisa segera dipergunakan dimana dirasa perlu.
"Barang siapa yang sudah berhasil bisa menerobos masuk ke gedung residen, janganlah sembarangan membunuh orang-orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kita. Tugas kita yang utama, adalah akan membunuh An Hun Ie dan Ngay Houw Cun berdua. 272 Setelah itu, kita boleh kembali ke sini, agar supaya kita bisa selekas mungkin melarikan diri ke tempat lain yang lebih aman dan sentosa."
Kong Houw dan Liu Sian menyatakan mufakat dengan omongan itu.
Begitulah setelah selesai dahar dan minum air dari pancuran di belakang kelenteng itu, Poan Thian lalu minta mereka segera bersiap-siap, berpakaian buat berjalan di waktu malam, membekal golok dan senjata-senjata lain yang perlu dipakai dalam pertempuran dengan musuh.
Kemudian mereka menuju ke gedung residen untuk membikin penyerbuan mati atau hidup buat membalas sakit hati Bu Ciang Tong yang telah difitnah oleh residen jahanam dan gundalnya yang amat keji itu.
Dalam perjalanan, si pemarah Kong Houw yang kasar mendadak telah mendapatkan suatu akal yang baik sekali.
"Kukira ada juga baiknya,"
Katanya kepada Lie Poan Thian.
"apabila kita yang berjumlah sedikit masuk ke gedung residen dengan menggunakan suatu akal halus."
"Ya, itu sudah tentu saja baik sekali,"
Sahut pemuda kita.
"Tetapi akal apakah yang dapat kau pikir akan segera dapat di jalankan di saat ini?"
"Begini,"
Kata Kong Houw pula.
"Sebagaimana telah disebutkan dalam maklumat yang dikeluarkan dari keresidenan, para penduduk dan pemilik-pemilik rumah penginapan diperingatkan supaya jangan menerima tetamu-tetamu yang agak mencurigakan. Maka barang siapa yang berani melanggar perintah itu, sehingga kemudian menerbitkan keributan, bukan saja harta benda yang tersangkut bisa disita, malah dirinya orang itupun akan 273 dihukum dengan sama beratnya seperti orang yang dianggap berdosa itu."
"Ya, ya,"
Kata Lie Poan Thian.
"Setelah itu, kau hendak berbuat bagaimana untuk menipu residen jahanam berikut gundal-gundalnya itu?"
"Untuk itu aku boleh, menyamar sebagai seorang tawanan,"
Sahut Kong Houw.
"sedangkan lauw-hia boleh berlaku sebagai orang yang mengajukan aku kepada si residen. Badanku dan tanganku kau boleh ikat begitu rupa, sehingga dengan begitu aku tampak sebagai seorang tawanan sungguhan, tetapi tali itu harus dibikin mudah terbuka, supaya aku mudah pula akan bergerak dan segera melakukan penyerbuan dimana tiba saatnya akan kita berbuat begitu. Aku sendiri tidak tahu pengaduan apa yang selanjutnya harus disampaikan pada residen bebodor itu, hingga tentang ini aku serahkan supaya lauw-hia sendiri mencari alasan-alasan yang masuk di akal, karena aku sendiri yang memang kurang pandai menyusun kalimatkalimat yang agak boleh dipercaya orang, tak tahu bagaimana harus melaksanakannya."
"Tentang itu baik diatur begini saja,"
Kata Lie Poan Thian.
"Aku menyamar sebagai anak seorang pemilik rumah penginapan yang justeru sedang berlatih ilmu silat, ketika kau — sebagai seorang tetamu — datang membikin ribut dalam rumah penginapanku, berhubung kau ditolak oleh ayahku untuk menumpang menginap di rumah penginapanku, karena ayahku bercuriga melihat roman dan dandananmu. Oleh sebab itu, kau jadi marah dan akhirnya jadi bertempur serta kena ditawan olehku. Nanti di hadapan si residen aku memberitahukan, bahwa kau ini mungkin juga ada komplotannya si pembunuh yang tersebut dalam maklumat itu, maka dari itu, aku 274 bawa kau menghadap pada residen buat dilakukan pemeriksaan dan pengompesan lebih jauh. Sementara buat membikin orang-orang yang menyaksikan kita tidak menaruh curiga apa-apa, aku minta supaya kau memakimaki dan seolah-olah hendak melawan kepadaku, waktu aku giring kau menghadap ke kantor residen. Dalam pada itu nona Bu yang memang sudah dikenali oleh si residen jahanam dan gundal-gundalnya di sana, baiklah jangan turut "
Menyelenggarakan"
Permainan komidi ini."
"Kalau begitu,"
Kata Liu Sian.
"belum tahu Lie Congsu akan memberikan aku tugas bagaimana?"
Cong-su artinya orang gagah. Suatu bahasa sebagai tanda penghormatan.
"Bagi kau,"
Kata pemuda kita.
"paling betul bersembunyi dahulu di tempat gelap buat menunggu ketika yang baik akan turun tangan. Apabila kau mendengar di kantor residen ada kejadian ribut-ribut, bolehlah kau segera keluar juga membikin ribut di bagian lain dari gedung ini. Maka biarpun kita datang hanya bertigaan saja, tetapi ramai dan orang tak mungkin percaya, bahwa pihak kita yang menyerbu ke sana hanya terdiri dari tiga orang saja jumlahnya."
"Ya, ya, siasat itu memang baik sekali,"
Menyetujui Kong Houw dan si nona.
Kemudian Poan Thian lalu atur tipu daya itu selekas mungkin, agar supaya nanti dapat segera "di jalankan", jikalau sampai ke kantor residen.
Sekarang kita menilik pada An Hun Ie dan Cap-ek-sin-kauw Ngay Houw Cun, yang telah mengatur penjagaan semakin keras di kantor residen, semenjak Liu Sian melakukan percobaan membunuh atas residen keji itu.
Baca Juga: Suling Pusaka Kumala 8
Baca Juga: Sejengkal Tanah Sepercik Darah 3