Eps 3 Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Sejengkal Tanah Sepercik Darah - Kho Ping Hoo.
"Paman, maafkan. Bukan aku hendak menghalangi niat paman membalas dendam, akan tetapi aku harap paman suka mempergunakan pikiran dan akal sehat. Sudah jelas bahwa paman bukanlah lawannya, dan usaha paman itu bukan lain hanya merupakan bunuh diri yang sia sia belaka, Kalau sudah mati, apa artinya? Paman akan tewas dan dendam sakit hati putera paman tidak akan dapat terbalas. Bagaimana kalau paman menceritakan kepadaku apa yang telah terjadi? Kalau memang wanita itu sejahat seperti yang paman katakan, percayalah, aku tidak akan tinggal diam dan akan kutantang wanita itu"
Mendengar ucapan ini, kakek itu agaknya sadar akan kebenaran kata-kata Nurseta.
Dia berhenti meronta dan mengamati wajah pemuda itu.
Baru sekaranglah dia melihat wajah pemuda itu dengan jelas.
Timbul kepercayaannya karena pemuda ini jelas bukan seorang yang jahat.
Diapun menjadi lemas dan dia menjatuhkan diri di atas tanah sambil menarik napas panjing berulang-ulang.
Agaknya sukar baginya untuk mulai bercerita, karena hal itu mengingatkan dia akan puteranya yang sudah tiada.
Berulang kali dia hendak membuka mulut, akan tetapi yang keluar hanyalah keluhan panjang dan helaan napas.
Nurseta mengerti akan kesukaran kakek itu, maka diapun menuntunnya dengan pertanyaan.
"Siapakah wanita di dalam goa itu, paman?"
Kakek itu menggeleng kepala.
"Tidak ada seorangpun yang tahu. Entah siapa namanya dan dari mana ia datang, entah berapa lamanya ia berada di dalam goa itu. Pertama kali kami sedusun dan para penduduk dusun lain di sekitar kaki Gunung Kelud ini mengetahui keadaannya adalah ketika korban pertama jatuh"
"Korban bagaimana yang paman maksudkan? Dan mengapa pula ia suka membunuh pemuda-pemuda?"
"Setelah banyak pemuda tewas, kami mendengar bahwa wanita itu seperti siluman, seperti iblis yang suka menggoda laki-laki muda. Ia cantik menarik dan tak pernah berpakaian, karena itu, para pemuda mudah sekali jatuh ke tangannya. Para pemuda yang jatuh oleh kecantikannya dan tinggal bersamanya di dalam goa itu, sewaktu pulang, mereka dalam keadaan pusing dan sakit hebat yang akhirnya tewas. Mereka tidak pernah dapat menjelaskan mengapa"
Kakek itu berhenti lagi dan termenung dengan sedih.
"Dan putera paman juga menjadi korban?"
Kakek itu mengangguk dan air matanya kembali menetes di atas kedua pipinya yang berkeriput.
"Dirun sudah aku peringatkan agar jangan mendckati goa itu, jangan menurutkan hati ingin tahu melihat iblis betina itu. Dirun adalah milikku satu-satunya di dunia ini sejak ibunya meninggal dunia. Anakku hanya satu itu dan kini aku tidak punya apa-apa lagi......."
Kakek itu menangis.
Nurseta mengangguk-angguk, dia maklum bahwa kakek ini, seperti para penduduk Iain, tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi ketika para pemuda itu terpikat oleh kecantikan wanita dalam goa.
Tahu-tahu, para pemuda itu pulang dalam keadaan sakit parah lalu tewas.
"Paman, sekarang paman pulanglah. Mati atau hidup berada di tangan Hyang Widhi, dan kalau sampai puteramu itu meninggal dunia, maka hal itu berarti sudah dikehendaki Hyang Widhi. Paman tidak boleh putus asa, karena sekarang juga aku sendiri yang akan ke sana, menemui wanita itu dan menuntut keterangan dan tanggung jawabnya mengenai kematian para pemuda itu"
"Kau.......?"
Kakek itu kini terbelalak memandang wajah Nurseta.
"Kau masih muda dan tampan lagi, bukan pemuda dusun pula, kau hanya akan pulang dalam keadaan sakit dan tewas, seperti para pemuda yang lain. Janganlah orang muda, lebih baik aku mengerahkan seluruh penduduk untuk beramai-ramai menyerbu ke gua itu dan membunuh siluman itu. Ya, itulah caranya. Mengerahkan semua orang dan mengeroyoknya"
"Jangan paman. Akan jatuh korban terlalu banyak sebelum kalian berhasil membasminya. Biarkan aku yang menemuinya. Nah, sekarang aku akan pergi, paman"
Tiba-tiba pemuda itu berkelebat dan lenyap dari depan kakek itu.
Kakek itu terkejut dan terbelalak, mencari-cari dengan pandang matanya, lalu menggosok-gosok matanya, akan tetapi pemuda itu sudah lenyap.
Dia menjadi ketakutan dan mengira bahwa pemuda itupun sebangsa wanita dalam goa itu, bukan manusia biasa melainkan sebangsa jin atau siluman.
Maka diapun lari keluar dari dalam hutan itu untuk pulang dan mengumpulkan kawan-kawan dari dusunnya dan dusun tetangga, untuk beramai-ramai mengeroyok dan membasmi siluman wanita yang sudah mengambil korban banyak pemuda itu.
Sementara itu, dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya, sebentar saia Nurseta telah tiba di depan goa tadi.
Matahari sudah naik tinggi sehingga keadaan di dalam goa tidaklah segelap tadi dan dia dapat melihat lebih jelas lagi.
Wanita itu masih duduk bersila, tubuhnya ditutupi oleh rambutnya sendiri yang hitam panjang.
Agaknya wanita itu menyadari kedatangan Nursela yang sudah berada di depan goa.
Terdengar suaranya yang halus merdu, berbeda dengan suara ketawanya ketka ia menyerang kakek tua tadi.
"Siapakah andika, ki sanak? Dan ada keperluan apakah mengganggu aku yang sedang bertapa?"
Nurseta merasa lega. Pertanyaan itu menunjukkan bahwa wanita telanjang itu tidak mengenalnva sebagai orang yang menyelamatkan ayah Dirun tadi. Diapun maju mendekat sampai di depan goa.
"Aku bernama Nurseta dan hanya kebetulan saja lewat di sini. Aku tertarik melihat andika, seorang wanita muda yang cantik, bertapa di tempat ini, tanpa busana pula serta mengurai rambut. Siapakah andika dan mengapa pula andika bertapa seperti ini?"
Sejenak sepasang mata yang tajam dan indah bentuknya itu mengamati Nurseta dengan penuh perhatian.
Mata yang tajam itu agaknya mengenal bahwa pemuda sederhana yang datang ini bukanlah sembarangan pemuda, jauh berbeda dengan para pemuda dusun yang bodoh itu.
Tiba-tiba saja iapun menjawab pertanyaan Nurseta dengan tangis.
Pemuda itu hanya memandang saja, memperhatikan dan melihat apakah tangis itu tangis buatan ataukah ia benar-benar menangis.
Ternyata, wanita itu memang benar-benar menangis sedih, bukan tangis buatan.
Maka, Nursetapun menjadi semakin tertarik dan menanti sampai wanita itu berhenti menangis.
Akhirnya wanita itu menghapus air matanya dengan gumpalan rambutnya sehingga tersingkaplah bagian dadanya, memperlihatkan bukit dada yang montok.
Nurseta menundukkan pandang matanya agar tidak melihat dada itu terlalu lama.
Nurseta tidak mengetahui, bahwa wanita itupun memperhatikannya dengan sepasang mata yang bersinar gembira melihat betapa pemuda itu menundukkan pandang mata dan tidak melotot memandang dadanya seperti yang dilakukan oleh para pemuda lain.
Memang pemuda ini lain dan pada yang lain.
Sehingga wanita itu tertarik sekali kepada Nurseta.
"Ki sanak, aku bertapa di sini karena dendam dan sakit hati setinggi langit dan sedalam laut Kidul. Dan aku bersumpah, takkan memperkenalkan nama, takkan berpakaian dan takkan menyanggul rambut sebelum dendam ini terbalas"
Nurseta memandang heran. Wanita ini mengatakan bertapa seperti itu karena dendam, akan tetapi mengapa banyak pemuda yang tewas di tangannya? "Apakah yang telah terjadi?"
Tanyanya memancing.
"Aku seorang janda yang malang"
Wanita itu mulai dengan ceritanya, suaranya gemetar penuh kedukaan "Tadinya aku hidup bersama suamiku tercinta.
Kami belum mempunyai anak.
Tetapi pada suatu hari, suamiku itu tewas.
Dibunuh seorang laki-laki yang menginginkan diriku, akan tetapi aku menolaknya.
Aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi setelah suamiku tewas, maka aku kemudian bersumpah untuk bertapa di dalam goa ini sampai dendam suamiku terbalas"
Nurseta menjadi semakin tertarik "Akan tetapi, kanapa andika hanya duduk bertapa seperti ini, bagaimana dendam itu dapat terbalas?"
"Aku menanti datangnya dewa penolong. Aku menanti datangnya seorang pria yang cukup jantan untuk membantu seorang wanita yang sengsara seperti aku ini, untuk menantang laki-laki biadab itu dan membunuhnya. Dan kepada pria yang berhasil melaksanakan dendamku itu, aku akan menyerahkan segala-galanya, diriku, cintaku, kesetiaanku dan selama hidupku akan abdikan kepadanya"
Ia berhenti sebentarl, lalu "Ki sanak, aku melihat bahwa kau bukan seorang pemuda sembarangan.
Aku memohon kepadamu, ki sanak.
Sudilah kiranya kau membebaskan aku dari kesengsaraan ini.
Bunuhlah laki-laki jahanam itu, dan aku akan menghambakan diri kepadamu dengan seluruh penyerahan jiwa ragaku"
Wanita itu mengangkat kedua lengannya ke depan, seperti orang memohon, gayanya orang mengajak atau memikat, siap menerima pemuda itu dalam pelukannya.
Nurseta mengerutkan alisnya, lalu bertanya "Lalu mengapa banyak pemuda dari dusun-dusun di sekitar kaki Gunung Kelud ini mati dalam keadaan terluka parah, kabar yang tersebar, mereka menjadi korbanmu?"
Ucapan ini dikeluarkan dengan nada menuduh, sedangkan sepasang mata pemuda itu memandang penuh seiidik.
"Aahhh....... mereka itu hanyalah pemuda-pemuda dusun yang bodoh, yang hanya menginginkan diriku, akan tetapi tidak memiliki kepandaian sedikitpun juga sehingga ketika mereka mencoba untuk membunuh jahanam itu, mereka sendiri yang menderita luka parah dan akhirnya tewas. Bukan salahku, melainkan kesalahan mereka sendiri yang bodoh dan lemah"
Nurseta tertegun, kiranya para pemuda itu tewas karena dilukai musuh wanita ini. Benarkah itu? ia harus menyelidikinya. Kemudian ia berkata "Siapakah laki-laki itu dan di mana tempat tinggalnya?"
Sepasang mata yang indah itu kini berkilat dan wajah yang ayu manis itu berseri.
"Apakah kau sudi menolongku?"
"Kita lihat saja nanti, akan tetapi aku ingin menjumpainya"
"Ah, Raden Nurseta. Terima kasih sebelumnya. Aku merasa yakin bahwa kalau kau yang maju, akhirnya dendam sakit hati ini pasti akan terbalas, dan aku akan bebas dari tempat ini. Aku akan merasa berbahagia sekali kalau dapat menghambakan diri kepadamu, Raden"
"Hemm, aku melakukan sesuatu tanpa pamrih atau menyenangkan diriku sendiri, dan aku belum yakin akan mampu mengalahkan laki-laki yang agaknya sakti itu. Katakanlah, siapa dia dan di mana tempat tinggalnya?"
"Namanya Lembu Petak, dan ia tinggal di lereng Gunung Kelud sebelah selatan, tidak jauh dari sini. Kalau kau terus mendaki gunung ini, berjalankah lurus saja, setelah melewati dusun Lahar, kau akan tiba di padepokan yang berada di luar dusun itu. Nah, di sanalah dia berada, Raden Nurseta"
"Baik, aku akan pergi mencarinya"
"Nanti dulu, Raden. Masuklah dulu ke sini, aku perlu menjamumu untuk membesarkan semangat dan sebagai tanda terima kasihku"
Wanita itu kembali mengembangkan kedua lengannya dan tersenyum manis sekali, dengan pandang mata penuh daya pikat. Nurseta menggeleng kepalanya.
"Sudah aku katakan bahwa aku melakukan sesuatu tanpa pamrih. Sekarang aku pergi"
Sambil berkata demikian, Nurseta meloncat dan sekali berkelebat iapun lenyap dari depan goa.
Wanita itu terbelalak kagum, lalu tersenyum lebar, matanya berkilat, lalu ia memukul telapak tangan kiri dengan kepalan tangan kanannya.
"Ah, ia benar seorang sakti. Sekali ini engkau akan mampus, Lembu Petak!"
Sementara itu, Nurseta melakukan pendakian dengan cepat sambil mengerahkan kepandaiannya dan sebentar saja diapun sudah tiba di dusun Lahar.
Di situ Nurseta mendaki terus.
Dan benar saja, di luar dusun itu, Nurseta melihat sebuah pondok yang sedang besarnya, Pondok itu berdiri terpencil di luar dusun, kelihatan sunyi dan tenteram.
Di luar rumah terdapat dua sangkar burung perkutut yang digantung di ujung batang bambu yang tinggi.
Dari jauh sudah terdengar nyanyian perkutut itu yang saling bersahutan.
Suara perkutut menambah suasana yang tenteram dan tenang.
Namun Hati Nurseta tidak bisa menikmati nyayian merdu suara perkutut itu, karena kedatangannya untuk menganggu dan mengacaukan suasana yang tenang dan damai itu.
Baru saja Nurseta tiba di luar pondok, dari dalam muncul seorang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluh tahun, seorang pria yang gagah perkasa, bertubuh tinggi besar, wajahnya gagah seperti Arya Sena, kulitnya bersih dan kumis serta jenggotnya terpelihara rapi.
Pakaiannya sederhana saja, dengan haju hitam yang terbuka bagian dadanya, memperlihatkan dada yang bidang dan kokoh kuat.
Akan tetapi, wajah yang gagah itu kini nampak muram, kemerahan dan matanya bersinar tajam, tanda bahwa dia sedang marah.
"Hemm, orang muda, apakah kau seorang diantara para pemuda tolol yang tergila-gila oleh kecantikan iblis betina itu, dan mau saja diperintah untuk membunuhku?"
Disambut dengan pertanyaan seperti itu, Nurseta tetap tenang, bahkan dia tersenyum.
"Maaf Ki Sanak, apakah benar Ki Sanak ini yang bernama Ki Lembu Petak?"
Laki-laki gagah itu memang Lembu Petak dan ia agak heran melihat sikap Nurseta yang tenang dan sopan, tidak seperti para pemuda-pemuda sebelumnya yang datang-datang bersikap keras hendak membunuhnya, padahal tak seorangpun diantara mereka itu yang memiliki kepandaian yang berarti.
"Benar, akulah Ki Lembu Petak. Dan siapakah kau orang muda? Apa maksudmu datang berkunjung? Benarkah dugaanku bahwa kau datang karena diutus wanita yang bertapa telanjang di dalam goa itu untuk membunuhku?"
Dihujani pertanyaan itu, Nurseta kembali tersenyum.
"Harap Ki Sanak tenang dan biarkan aku bercerita. Namaku Nurseta, seorang pengembara dan ketika aku lewat di kaki Gunung Kelud, aku mendengar akan kematian banyak pemuda dusun yang katanya menjad korban seorang wanita yang bertapa di dalam goa. Karena tertarik, aku lalu datang mengunjungi wanita itu. Ia menceritakan bahwa ia mendendam kepada seorang musuhnya bernama Lembu Petak yang katanya telah membunuh suaminya yang tercinta. Kemudian, berturut-turut para pemuda dusun datang untuk membantunya membalas dendam, akan tetapi para pemuda itu semua kalah olehmu dan menderita luka parah sampai kemudian tewas. Nah, kedatanganku ini sama sekali bukan karena diutus oleh wanita yang tidak mau menyebutkan namanya itu, melainkan untuk menyelidiki kebenaran ceritanya"
"Hemm, kalau benar bagaimana?"
Nurseta memandang tajam dan Lembu Petak yang diam-diam terkejut, karena pemuda ini yang sikapnya lembut dan sopan, tiba-tiba saja sepasang matanya dapat mencorong penuh wibawa dan menakutkan.
"Kalau cerita itu benar, terpaksa aku harus turun tangan. Sudah menjadi tugas setiap orang yang menjujung kebenaran dan keadilan untuk turun tangan menentang kejahatan dan membela kebenaran, yang melingungi yang lemah dan tertindas. Tetapi sekali lagi, apakah benar semua cerita yang dikatakan wanita itu?"
"Dan bagaimana jika cerita itu tidak benar?"
"Kalau tidak benar, aku akan melakukan penyelidikan sampai mendapatkan kenyataan yang sebenarnya. Siapa pembunuh para pemuda-pemuda itu dan mengapa? Barulah aku akan turun tangan menentang mereka yang bersalah"
Ki Lembu Petak tertawa.
"Ha-ha-ha, orang muda. Sikapmu memang mengesankan sekali, ha-ha-ha"
Ia berhenti sebentar, lalu "Kau terlihat sopan dan lembut, juga pemberani.
Akan tetapi kau bicara seolah-olah kau sudah pasti dapat membereskan persoalan ini, dan mampu menandingi siapa saja yang menjadi lawanmu.
Sikapmu membangkitkan keinginanku untuk menguji sampai di mana kepandaianmu.
Kau yang masih begini muda sudah mempunyai keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi"
Ia berhenti sebentar, lalu "Nah, sambutlah seranganku, orang muda"
Pria tinggi besar yang bertubuh kokoh kuat itu sudah menerjang maju dengan pukulan lurus ke arah dada Nurseta, sedangkan tangan kirinya mengirim serangan lain.
Melihat datangnya pukulan yang kuat itu, Nurseta mengelak dengan mudahnya.
Tangan kiri Lembu Petak menyusulkan tamparan ke arah pundak, akan tetapi kembali Nurseta mengelak dengan muda saja, hanya dengan memiringkan tubuhnya.
Sedangkan kalau saja Nurseta mau, tentu saja dia dapat membalas secara kontan, akan tetapi Nurseta tidak mau menurunkan tangan keras, karena ia maklum bahwa orang gagah ini hanya mengujinya saja, tidak bermaksud ingin mencelakainya.
Setelah kedua serangannya dapat dielakkan lawan secara mudah, Ki Lembu Petak mulai maklum bahwa pemuda ini memang bukan orang sembarangan.
Gerakannya demikian ringan dan sikapnya demikian tenang.
Sehingga ia merasa penasaran.
Kini, sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Pria tinggi besar itupun menghujamkan pukulan dan tendangan yang cukup dahsyat kearah Nurseta.
Namun semua pukulan dan tendangan yang ia lancarkan itu tetap saja tidak menggunakan tenaga penuh.
Agaknya akan segera ia tarik kembali kalau pukulannya mengenai sasaran.
Nurseta maklum akan hal itu, maka iapun terus berloncatan dan mengelak.
Hal ini membuat Lembu Petak menjadi penasaran bukan main.
Bagaimanapun juga, nama Ki Lembu Petak dari Gunung Kelud, adalah nama yang sangat terkenal sebagai seorang jagoan yang sukar dicari (Lanjut ke
Jilid 08) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 bandingnya.
Kalau ia sampai dikalahkan orang, hal itu dapat diterimanya, karena ia maklum bahwa di permukaan bumi ini terdapat banyak sekali orang yang sakti mandraguna.
Akan tetapi, selamanya ia belum pernah menemukan lawan seorang yang masih amat muda, akan tetapi yang dapat menghindarkan diri dari semua serangannya dengan mudahnya.
Ia merasa seperti menyerang seekor burung srikatan atau burung walet saja, atau bahkan menyerang bayangan.
Maka, iapun kini menyerang sambil mengerahkan tambahan tenaganya dan mempercepat gerakannya.
Melihat perubahan gerakan ini, Nurseta juga maklum bahwa lawannya menjadi penasaran, maka iapun tidak ingin mempermainkannya lebih lama lagi, Begitu melihat lawannya menyerangnya dengan dorongan kedua tangannya, mengarah dada dan wajahnya, maka, iapun menyambut dengan kedua tangannya.
Akibat dari pertemuan dua pasang telapak tangan itu membuat Ki Lembu Petak terjengkang ke belakang dan terguling-guling seperti baru saja dilanda angin lesus.
Akhirnya, dapat juga ia bangkit dengan tubuh babak bundas dan ia berdiri memandang Nurseta dengan wajah pucat dan mata terbelalak.
Nurseta cepat melangkah maju menghampiri dan berkata dengan sikap hormat "Paman Lembu Petak, harap suka maafkan aku, karena sungguh bukan maksudku untuk mengalahkan atau membunuh orang.
Aku hanya ingm menyelidiki sebab kematian para pemuda dusun itu"
Kekaguman membayang dalam pandang mata Ki Lembu Petak.
Jelaslah baginya bahwa pemuda ini memiliki kesaktian yang luar biasa dan ia bukanlah lawannya, akan tetapi, setelah mengalahkannya, pemuda ini tidak bersikap sombong, bahkan meminta maaf, maka iapun mengangguk-angguk.
"Bagus, kini aku tidak ragu-ragu lagi bahwa kau akan mampu mempertahankan diri dari gangguannya, tidak seperti para pemuda lainnya yang mati konyol itu"
"Gangguan siapa, paman?"
"Marilah, kita masuk ke dalam pondok dan bicara di dalam, Raden Nurseta"
"Aku bukan Raden, paman"
Kini pria yang gagah itu tersenyum.
"Aku tahu bahwa kau bukan pemuda dusun biasa, Raden Nurseta. Mari, silakan masuk"
Nurseta tidak mau berbantah lagi dan diapun ikut masuk.
Ruangan dalam pondok itu cukup luas dan sinar matahari masuk melalui celah jendela yang terbuka lebar.
Sebuah pondok yang sehat dan bersih.
Di sudut ruangan terdapat sebatang tombak dan beberapa macam senjata lain.
Jelaslah bahwa jagoan ini suka berlatih silat dengan menggunakan senjata.
Tidak nampak orang lain di situ, dan kesunyian semakin terasa.
Ki Lembu Petak mengambil satu sisir pisang raja dan meletakkannya di atas meja, sedangkan Nurseta dan Ki Lembu Petak duduk di atas tikar.
"Maaf, hanya inilah yang dapat aku suguhkan, Raden"
Katanya sambil mempersilahkan tamunya makan pisang.
Nurseta tidak sungkan lagi dan bersama tuan rumah, iapun memakan pisang raja yang sudah matang pohon dan rasanya manis dan sedap itu.
Ki Lembu Petak mulai bercerita.
"Wanita yang kau lihat bertapa telanjang bulat di dalam goa itu bernama Jumirah. Dua ahun yang lalu ia itu masih menjadi isteriku"
"Isterimu, paman? Tapi ia bilang, bahwa suaminya dibunuh oleh Paman"
Lembu Petak tersenyum getir dan menarik nafas panjang, dan berkata "Ia telah berubah, seolah-olah ada iblis yang memasuki tubuhnya semenjak ia bertemu dengan mendiang Gagak ljo"
"Siapakah Gagak Ijo itu, paman?"
"Begini Raden. Kami sudah menjadi suami isteri dan hidup rukun selama hampir sepuluh tahun, walaupun kami masih belum mempunyai seorang keturunan. Pada suatu hari, kami kedatangan seorang tamu yang bernama Gagak Ijo. Sesungguhnya, dia hanya kenalan biasa saja, walaupun ia bukan seorang penjahat, namun cara hidupnya yang liar, dan wataknya yang mata keranjang dan suka mempermainkan wanita mengandalkan kepandaian dan ketampanannya, tidak cocok dengan watakku. Akan tetapi sebagai seorang tamu, dia harus kami terima dengan ramah. Dan apa yang tak terelakkanpun terjadilah. Entah mengapa, tiba-tiba saja watak isteriku, berubah dan agaknya ia tergila-gila kepada Gagak Ijo, atau membalas cumbu rayuan keparat itu. Mungkin juga terkena pengaruh aji japamantra dan guna guna. Sehingga terjadilah hubungan yang tidak sewajarnya diantara mereka...."
Ia berhenti dan menarik nafas panjang.
Nurseta mendengarkan dan diam saja, akan tetapi mendengar suara dan melihat sikap orang ini, dia condong untuk lebih percaya kepada Ki Lembu Petak dari pada Jumirah, wanita yang bertapa telanjang itu.
"Aku masih memaafkan mereka dan dengan tulus aku menasehati kepada Gagak Ijo agar dia menghentikan perbuatannya itu dan pergi dengan damai. Juga kuperingatkan isteriku dengan tulus. Aku sayang dan cinta padanya, bahkan sampai sekarangpun aku tidak membencinya. dan siap untuk menerimanya kembali dengan senang hati. Kumaafkan semua kesalahannya terhadap diriku. Akan tetapi........"
Lembu Petak kembali menarik nafas panjang dan terlihat menyesal sekali.
"Gagak Ijo bukannya mundur, bahkan agaknya ia ingin menguasai isteriku sepenuhnya, dan mereka agaknya sudah sepakat untuk menyingkirkan aku, membunuhku. Mungkin karena mereka merasa lalu sendiri melihat aku memaafkan mereka, atau mungkin juga karena mereka tidak percaya kepadaku dan ingin melihat aku mati agar mereka tidak akan terganggu lagi. Malam itu, mereka menyerang aku dalam kamarku. Tentu saja aku membela diri dan dalam perkelahian itu, aku berhasil merobohkan Gagak Ijo. Dia tewas dan biarpun aku bersedia memaafkan isteriku, akan tetapi agaknya isteriku demikian sakit hati karena kematian kekasihnya dan iapun pergi bertapa telanjang dan bersumpah hendak membalas kematian Gagak Ijo"
Nurseta mengangguk-angguk. Diam-diam ia merasa iba kepada Lembu Petak, dan dan bergidik mengingat akan kecurangan dan kepalsuan Jumirah yang pernah menjadi isteri orang ini.
"Akan tetapi, para pemuda dusun itu......?"
"Itulah yang menyusahkan hatiku, Raden. Percayakah kau, bahwa aku telah membunuh para pemuda itu karena cemburu, padahal ketika pertama kali isteriku bermain gila dengan Gagak Ijo saja aku dapat mengalahkan perasaan cemburu? Para pemuda itu terpikat oleh kecantikan dan rayuan Jumirah. Ia menjanjikan akan menyerahkan dirinya kepada para pemuda itu kalau mereka mampu membunuh aku. Mereka memang datang ke sini ada yang menantangku, dan ada pula yang mencoba membohongi Jumirah. Yang menantangku, aku layani, dan aku kalahkan tanpa melukai mereka. Aku akan merasa malu sendiri harus melukai pemuda-pemuda yang hijau dan tidak memiliki kepandaian apapun. Setelah mereka kembali kepada Jumirah, ada yang diterimanya di dalam goanya selama satu dua malam, ada yang langsung dibunuhnya dengan melukai mereka. Jumirah memiliki ilmu pukulan yang amat berbahaya, tidak terasa berat bagi yang dipukulnya, akan tetapi dapat mematikan, karena pukulan itu beracun"
Nurseta percaya akan semua cerita Lembu Petak.
"Akan tetapi, paman Lembu Petak. Kenapa paman mendiamkan saja isteri paman melakukan perbuatan jahat itu, dan paman tidak turun tangan mencegahnya?"
"Apa yang dapat kulakukan? Sudah berkali-kali aku mencoba untuk membujuknya, akan tetapi ia malah menghinaku dan bahkan selalu merimaku dengan serangan-serangan yang mematian, sehingga terpaksa aku menghindar"
Ia berhenti sebentar, lalu "Raden, kau seorang yang bijaksana dan sakti mandraguna, biarpun kau masih muda, oleh karena itu, kiranya hanya kau yang dapat menolongku untuk menundukkan dan membujuk ia agar ia kembali ke jalan yang benar"
"Baiklah kalau begitu, sungguh ia merupakan seorang sangat berbahaya dan perlu dibimbing, paman. Marilah kita ke sana dan aku akan berusaha untuk membujuknya ataupun menundukkannya, kemudian terserah kepada paman setelah ia dapat kukalahkan. Mudah-mudahan aku mampu mengatasinya"
"Kau pasti bisa, Raden, karena tingkat kepandaiannya hanya sama dengan tingkatku, Bahkan aku masih lebih kuat darinya. Marilah Raden, mari kita berusaha agar ia sembuh dan tidak mendatangkan korban pemuda yang tidak berrdosa lagi"
Mereka berdua lalu menuruni lereng itu menuju ke hutan di mana Jumirah, bekas isteri Ki Lembu Petak bertapa dalam goa yang menyeramkan.
Sementara itu matahari sudah condong ke barat, cuaca tidak begitu panas, bahkan ketika mereka memasuki hutan itu, suasana di dalam hutan sudah mulai agak gelap.
Tiba-tiba Nurseta mendengar suara ribut-ribut seperti banyak orang berteriak-teriak dan datangnya dari arah goa itu.
Nurseta terkejut dan cepat ia meloncat dan lari dengan cepat.
Betapapun Ki Lembu Petak mengejarnya, tetap saja Lembu Petak tertinggal jauh.
Ketika Nurseta tiba di tempat itu, ia makin terkejut melihat sedikitnya ada tiga puluh orang laki-laki tua dan muda yang membawa segala macam senjata.
Ada yang membawa tombak, golok, linggis bahkan ada pula yang membawa pacul.
Sambil berteriak-teriak mereka menyerbu ke dalam goa.
Diantara suara teriakan penduduk itu, terdengar suara ketawa melengking yang menyeramkan.
Nurseta melihat korban dari para penduduk sudah jatuh empat orang.
Sedangkan wanita yang telanjang bulat itu masih berada di dalam goa, ia hanya menggunakan kedua tangannya saja menyambit-nyambitkan batu untuk membendung serbuan para petani itu, bahkan bahkan merobohkan empat orang.
Melihat hal ini, Nurseta cepat berseru kepada para petani itu.
"Saudara sekalian harap mundur dan jangan menyerbu ke dalam goa"
Akan tetapi, para petani tidak mau mendengar perkataannya.
Mereka sebagian adalah saudara atau keluarga dari pemuda pemuda yang telah menjadi korban iblis wanita yang telanjang itu dan kini mereka yang sedang dipenuhi dendam.
Mereka adalah orang-orang yang diminta oleh ayah Dirun, dan sekarang mereka beramai-ramai datang menyerbu.
Setakut-takutnya manusia, kalau sudah maju bersama kawan-kawan, maka keberaniannya menjadi berlipat ganda.
"Ha, ini pemuda itu. Lihatlah, iapun tidak berhasil, mungkin ia malah terpikat oleh siluman itu. Hanya kita yang mampu membasminya"
Berkata ayah Dirun ketika ia melihat Nurseta.
Kawan-kawannya menjadi semakin marah dan semakin nekat, mereka menyerbu ke mulut goa.
Akan tetapi, batu-batu kecil menyambar dari dalam goa dan dua orang lagi roboh.
Iblis wanita itu kini sudah bangkit berdiri di mulut goa, rambutnya riap-riapan panjang sampai ke paha, menutupi sebagian payudara dan perut ke bawah.
Kulitnya nampak kuning langsat dan mulus di balik rambut yang hitam itu.
Wajahnya yang ayu dan manis kini nampak menyeramkan, karena ia sudah mulai marah.
Kemudian ia melihat Nurseta hadir disitu, iapun terkekeh genit.
"Ah, kau telah kembali, Raden, bagaimana?, apakah kau sudah berhasil membunuh Ki Lembu Petak?. Mari, bantulah aku mengusir petani-petani busuk ini Raden. Setelah itu, baru akan aku serahkan segala yang aku miliki ini kepadamu, hi-hi-hik"
Akan tetapi, Nurseta yang khawatir sekali kalau diantara para petani ada yang terkena pukulan beracun, cepat ia melompat mendorong para petani yang paling depan.
Maka petani yang berada paling depan terjengkang dan terhuyung-huyung ke belakang.
Akibat perbuatan Nurseta tersebut, maka, marahlah para petani itu terhadap Nurseta.
mereka mengira bahwa pemuda itu benar-benar membantu siluman betina yang sedang mereka serbu.
Kini senjata-senjata para petani diarahkan kepada Nurseta.
Nurseta hanya mengelak dan menangkis, ia juga maklum bahwa para petani sudah salah paham terhadapnya.
Sementara itu, Ki Lembu Petak telah tiba di tempat kejadian, dan melihat bahwa para petani berusaha mengeroyok Nurseta yang mencoba menghalangi mereka menyerbu ke dalam goa.
Tiba-tiba terdengar suara Nurseta menggelegar "Saudara-saudara sekalian, harap mundur dulu dan biarkan aku bicara dengan wanita itu"
Namun para petani yang sudah terlanjur salah paham, mereka mengira bahwa Nurseta adalah teman wanita iblis itu dan membantunya, mereka tidak mau mendengarkan seruannya.
Sementara itu, Jumirah yang tadinya terkekeh girang melihat Nurseta dikeroyok oleh penduduk dusun itu, dianggapnya pemuda itu benar-benar membelanya, tiba-tiba menjadi merah mukanya dan matanya mengeluarkan sinar kemerahan ketika ia melihat munculnya Ki Lembu Petak.
Akan tetapi, pada saat itu tiba-tiba nampak bayangan hijau berkelebat dan tahu-tahu seorang wanita muda yang berwajah cantik dan bermuka dingin telah berdiri di depan Jumirah.
Gadis berpakaian serba hijau itu mendengus, suaranya lirih namun dingin dan menyeramkan.
"Siluman betina tak tahu malu, kau tak layak hidup"
Cepat sekali gadis berpakaian hijau menerjang Jumirah dengan sebatang keris kecil melengkung yang mengeluarkan sinar kuning.
Jumirah terkejut, akan tetapi bebagai seorang wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, ia tidak menjadi gentar.
Karena ia mengenal pusaka ampuh, ia tidak berani menangkis dan cepat melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan di atas tanah, kedua tangannya bergerak dan sinar-sinar hitam berkelebatan ketika beberapa butir kerikil menyambar ke arah tubuh gadis berpakaian hijau itu.
Gadis itu ternyata memiliki kesaktian juga, ia berloncatan dengan gesit mengelak, dan kerisnya menangkis runtuh beberapa butir kerikil.
Ketika Jumirah meloncat bangun, gadis itu tiba-tiba mengeluarkan suara mendesis seperti seekor ular berbisa dan akibatnya sungguh hebat, Jumirah merasa tubuhnya kaku dan tidak mampu bergerak.
Pada saat itu, gadis berpakaian hijau telah menubruk ke depan, keris kuning yang kecil itu menusuk dada, lalu robohlah Jumirah.
Ketika wanita yang telanjang bulat itu roboh, gadis berpakaian hijau itu lalu melompat dan lenyap diantara pohon-pohon.
Nurseta merasa tertegun melihat munculnya gadis berpakaian hijau yang sudah pernah dilihatnya.
Gadis itu adalah gadis yang muncul ketika ia dan petani ketela dibajak dan perahunya digulingkan.
Waktu itu, gadis itu membunuh lima orang bajak sungai, lalu melarikan diri dengan menyelam.
Dan kini gadis itu muncul dan membunuh Jumirah, tanpa ada kesempatan untuk dapat mencegahnya.
Karena selain ia sendiri dikeroyok oleh puluhan orang petani.
Juga kecepatan bergerak dari gadis berpakaian hijau itu sangat cepat, sama seperti ketika gadis itu membunuh para bajak.
Setelah dua kali pertemuan, Nurseta kini dapat memastikan, bahwa gadis itu bukan lain adalah Wulansari.
Akan tetapi, kalau benar ia Wulansari, mengapa ia diam saja ketika Nurseta memanggilnya.
Dan mengapa pula sikapnya demikian dingin dan menyeramkan.
Padahal, Wulansari yang pernah dikenalnya di tempat padepokan Panembahan Sidik Danasura, adalah seorang gadis yang manis dan sederhana, juga lemah lembut.
Apakah gadis berpakaian serba hijau ini hanya mirip saja dengan Wulansari?.
Sementara itu, melihat setan betina yang bernama Jumirah itu roboh, perkelahian itupun berhenti dengan sendirinya.
Para Petani hanya memandang ke arah tubuh wanita telanjang yang menggeletak di depan goa, kemudian terdengar seseorang diantara mereka bersorak.
Sorakan ini segera disusul oleh yang lain.
Terdengarlah saura yang riuh rendah para penduduk dusun itu karena bersorak sorai gembira.
"Iblis wanita itu sudah mati"
"Siluman perempuan itu sudah mati. Para pemuda kita selamat"
Sementara para penduduk berteriak kegirangan, Ki Lembu Petakpun menghampiri tubuh bekas isterinya itu, wajahnya pucat, matanya terbelalak dan iapun berseru dengan suara yang panjang penuh getaran.
"Jumirah........"
Ki Lembu Petakpun tak kuasa menahan kesedihannya, lalu ia menubruk tubuh wanita yang bermandikan darah itu.
Disangkanya Jumirah sudah meninggal, ternyata tiba-tiba wanita iblis itu membuka kedua matanya, memandang kepada Lembu Petak yang merangkul dan memangkunya, kemudian terdengar suara Jumirah yang lemah bercampur isak tertahan.
"Kakang......., kau....... kau..... harap kau maafkan aku kakang"
Kini leher itu terkulai dan nyawa itu meninggalkan tubuh yang telanjang dan mandi darah.
"Jumirah......!"
Ki Lembu Petak mendekap tubuh itu sambil menangis.
Melihat kejadian ini, para penduduk dusun saling pandang dan agaknya mereka merasa tidak enak sendiri, karena tadi mereka bersorak-sorak gembira atas kematian wanita yang sedang ditangisi pria gagah itu.
Seperti komando saja, mereka lalu perlahan-lahan meninggalkan tempat itu.
"Jumirah, oh isteriku, betapa buruk nasibmu"
Ki Lembu Petak menangis.
"Paman, kenapa paman tidak mengejar pembunuhnya tadi berkata Nurseta untuk mengalihkan pikiran Ki Lembu Petak dari kedukaannya. Ternyata usabanya berhasil. Ki Lembu Petak mengangkat wajahnya memandang kepadanya, lalu ia menarik nafas panjang, sadar betapa ia telah menurutkan hati yang berduka dan iapun menjawab "Raden Nurseta, kenapa aku harus mengejarnya? Untuk apa? Isteriku Jumirah telah melakukan banyak perbuatan sesat, telah melakukan banyak penyelewengan sehingga membunuh banyak orang, maka, kalau kini ia dibunuh orang, aku sama sekali tidak merasa penasaran. Lagipula, pembunuhnya itu tentu orang yang berilmu tinggi, sehingga ia mampu membunuh Jumirah dalam waktu yang sedemikian cepatnya. Aku bukanlah lawannya dan akupun tidak merasa harus menuntus balas atas kematian Jumirah"
Nurseta memandang heran dan berkata "Akan tetapai, kalau andika tidak merasa dendam, mengapa kini paman menangisi kematiannya?"
Ki Lembu Petak menatap wajah pemuda dan kini suaranya terdengar tegas dan tenang, agaknya dia sudah mampu menguasai perasaannya.
"Aku sama sekali tidak menangisi kematiannya, aku hanya menangis karena ia di dalam keadaan sesat dan jahat, Raden"
Setelah berkata demikian, Ki Lembu Petak lalu menggali sebuah lubang di depan goa itu dengan mempergunakan sebuah cangkul yang ditinggalkan oleh para petani ketika mereka tadi jatuh bangun dihajar olehnya dan Nurseta dalam usaha mencegah mereka mengeroyok Jumirah.
Dengan sederhana namun penuh khidmat Ki Lembu Petak mengubur jenazah bekas isterinya itu dan meletakkan sebuah batu besar sebagai nisan di atas kuburan Jumirah.
Sementara itu, hari telah berganti malam, Nurseta dan Ki Lembu Petak duduk di dalam goa bekas tempat pertapaan Jumirah, mereka membuat api unggun dan duduk bercakap-cakap.
Goa itu bersih dan terawat.
"Paman, aku masih merasa heran dan kurang mengerti akan sikapmu tadi. Paman tadi mengatakan, bahwa paman tidak menangisi kematian isteri paman, melainkan menangisi kematianya yang dalam keadaan sesat dan jahat. Apa yang paman maksudkan dengan itu?"
Ki Lembu Petak menarik nafas panjang panjang, orang yang bertubuh tinggi besar dan gagah itu nampak seperti orang yang menyesal dan sedih.
"Ahh, aku dan isteriku adalah orang-orang yang penuh dosa, pernah malang melintang mengandalkan kepandaian kami, kadang-kadang kami memaksakan keinginan kami kepada orang lain dengan mengandalkan kekuatan. Ya, kami telah bergelimang dengan dosa. Akhirnya aku menyadari kekeliruan jalan hidup ini dan aku mengajak isteriku untuk mengasingkan dan membersihkan diri dari perbuatan jahat, hidup sebagai petani di pondok kecil. Kemudian terjadilah malapetaka bersama munculnya Gigak Ijo itu"
Ki Lembu Petik menghela nafas panjang.
Sedangkan Nurseta hanya mendengarkan saja penuh dengan penuh perhatian, karena ia emang tertarik untuk mengenal orang ini yang baru saja kehilangan isterinya dan berubah menjadi seorang iblis betina yang amat jahat.
"Semenjak mengajak isteriku pindah, aku bersama isteriku selalu berusaha untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Akan tetapi sayangnya, perbuatan jahat di masa lalu tidak dapat ditebus dengan perbuatan-perbuatan baik. Setiap perbuatan jahat pasti akan ada hukumannya, seperti yang kami berdua rasakan"
Kembali Ki Lembu Petak menghela nafas panjang.
"Raden, kalau boleh aku mengetahui, sebetulnya siapakah Raden ini, dari mana dan hendak ke mana? Sehingga Raden dapat bertemu dengan isteriku, sehingga kau bertemu denganku?"
"Aku hanya seorang pemuda pengelana yang sedang mencari ayahku, paman"
Nurseta berhenti sebentar, lalu "Ah, benar juga. Siapa tahu paman mengenal ayahku yang sedang aku cari-cari"
"Siapakah nama ayahmu, Raden Nurseta?"
"Ayahku bernama Ki Baka dan......"
"Lha-dalah........!"
Ki Lembu Petak berseru kaget dan iapun memandang wajah pemuda itu.
"Kiranya kau ini putera Ki Baka? Pantas........, pantas kalau begitu, kiranya kau putera seorang tokoh sakti mandraguna. Kebetulan sekali, Raden. Beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengan Ki Baka"
Tentu saja berita itu sangat menggirangkan ahti Nurseta, agaknya Hyang Maha wihdi sendirilah yang telah menuntunnya sehingga ia bertemu dengan Jumirah dan suaminya ini, sehingga akhirnya ia dapat juga mendengar berita tentang ayah kandungnya.
"Di mana ia sekarang, paman?"
"Ketika itu, aku sedang menuju ke puncak gunung Kelud ini, dan tanpa aku sengaja, aku lewat di depan sebuah gubuk terpencil. Karena sebelumnya aku tidak pernah melihat gubuk itu, hatiku tertarik dan akupun singgah untuk melihat, siapakah penghuni gubuk itu. Aku melihat ke dalam gubuk itu dan aku melihat Ki Baka duduk bersila. Aku segera mengenalnya karena beberapa belas tahun yang lalu aku pernah bertemu dengan satria yang gagah perkasa itu. Aku masuk dan menyalaminya, ternyata iapun masih mengenalku, akan tetapi ia minta agar aku tidak bercerita dengan siapapun juga tentang pertemuan dengannya, dan merahasiakan tempat tinggalnya itu"
Ki Lembu Petak berhenti sebentar, kemudian ia menarik nafas panjang, lalu "Raden, Ki Baka dalam keadaan Sakit"
"Sakit? Paman, di mana tempat itu?"
"Di dekat puncak, kalau dari sini Raden terus mendaki kearah puncak, Nanti Raden akan menemukan gubuk itu".."
"Terima kasih, paman"
Nurseta memotong keterangan Lembu Petak dan sekali berkelebat, Nurseta sudah lenyap dari hadapan orang yang tinggi besar itu.
Ki Lembu Petak hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala penuh kagum dan diapun pergi meninggalkan goa dan makam isterinya, setelah melihat sekali lagi kearah makam itu untuk terakhir kalinya.
Dengan langkah tegap dan lapang dada dan dengan harapan baru serta dengan pandang mata baru, seolah-olah cahaya matahari lebih terang dari pada biasanya, Ki Lembu Petak meninggalkan Gunung Kelud, untuk memulai hidup baru.
Sementara itu di puncak Gunung Kelud terdapat sebuah gubuk kecil sederhana dan di dalam gubuk inilah Ki Baka tinggal.
Semenjak ia dilukai oleh Wiku Bayunirada, seorang kakek sakti seperti iblis itu yang telah menipunya dan berhasil merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala, Kini Ki Baka menjadi seorang yang lemah kesehatan jasmaninya.
Usahanya untuk mengobati dirinya selalu gagal karena pengobatan itu memerlukan hawa murni yang sakti untuk melawan pukulan beracun itu, namun setiap kali ia mencoba untuk mengerahkan tenaga sakti itu, ia merasa dadanya sesak dan roboh pingsan.
Akhirnya Ki Baka menghentikan usahanya, lalu mencoba untuk mencari puteranya, Nurseta yang sepengetahuannya bertapa di Goa Kantong Bolong.
Dalam keadaan tubuh lemah, amat sukarlah baginya untuk memasuki goa di tebing yang curam itu.
Akan tetapi ia tidak berputus asa, dengan susah payah akhirnya Ki Baka berhasil tiba di Goa Kantong Bolong.
Tetapi apa daya, ia hanya mendapatkan kekecewaan dan kegelisahan yang sangat, karena ia tidak menemukan puteranya di tempat itu.
Nurseta telah lenyap tanpa jejak.
Hilangnya Nurseta ini merupakan pukulan berat bagi Ki Baka, jauh lebih berat dari pada kehilangan tombak pusaka Ki Tejanirmala, lebih berat dari pada keadaan dirinya yang menderita luka pukulan beracun.
Dalam keadaan yang lemah itu ia mencoba untuk mencari, namun sekian lama ia mencari, semua usahanya itu sia-sia belaka.
Bertahun-tahun Ki Baka hidup merana, dalam keadaan lemah dan makin lama menjadi semakin parah, kedukaannya semakin mendalam karena memikirkan tentang Nurseta.
Akhirnya ia seperti orang berputus asa.
Ia telah kehilangan Nurseta dan kehilangan tombak pusaka dan ia tidak berdaya untuk medapatkan keduanya.
Dalam keputus-asannya, Ki Baka mendaki Gunung Kelud, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk bertapa tempat itu sampai maut merenggut nyawanya, mungkin melalui letusan gunung yang selalu mengeluarkan asap panas itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika pada suatu hari, di gubuknya muncul seorang laki-laki gagah perkasa yang mengenalnya.
Dan iapun mengenal laki-laki itu, yang bukan lain adalah Ki Lembu Petak.
Ia sudah merasa jemu untuk berlari dan bersembunyi lagi.
Biarlah, ia tidak akan sembunyi lagi akan tetapi dia memesan kepada Lembu Petak agar merahasiakan tempat tinggalnya, karena selain ia sedang menderita sakit, juga Ki Baka tidak ingin terganggu oleh urusan di luar dirinya.
Agaknya Hyang Maha Agung belum ingin mencabut nyawanya, karena dalam keadaan mengasingkan diri itu, ia bertemu dengan seorang gadis serta ayahnya yang sudah menduda.
Mereka tinggal di dusun dekat puncak, di dusun terpencil, dan pada suatu waktu, Ki Baka berjalan-jalan lewat dusun itu, ia mendengar gadis itu menangis dengan amat sedihnya, Ki Baka menghampiri rumah mereka dan mendapat kenyataan bahwa ayah gadis itu sedang menderita sakit panas yang parah.
Dengan pengetahuannya yang cukup mengenai jamu-jamuan, Ki Baka yang selalu mengulurkan tangan untuk menolong, segera ia menyuruh gadis itu untuk mencari daun-daun jamu di dalam hutan dan memberitahu cara mengobati ayahnya dengan jamu itu, Akhirya, petani itupun sembuh.
Setelah sembuh ayah dan anak itu lalu mencari Ki Baka.
Ketika melihat bahwa penolong mereka itu tinggal seorang diri di dalam gubuk dekat puncak tidak jauh dari tempapt tinggalnya, maka hampir setiap hari gadis itu atau ayahnya datang mengantar makanan dan minumin sekedarnya.
Biarpun Ki Baka sudah melarang agar mereka itu jangan menyusahkan diri, namun mereka tetap saja sering datang berkunjung dan membawa sayur-sayuran, buah-buahan dan bersikap baik sekali atasnya.
Pada suatu pagi, ketika Ki Baka baru saja kembali dari sumber air di mana setiap pagi dan sore ia membersihkan diri.
Ketika ia hendak duduk bersila untuk memulai dengan semedinya di pagi hari itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang di luar gubuknya.
"Kulonuwun...........!"
Suara orang laki-laki muda, pikirnya.
Bukan suara Ki Lembu Petak.
Beberapa detik jantung Ki Baka berdetak keras karena tegang, akan tetapi ia lalu bersikap tenang kembali.
Mengapa harus takut, pikirnya.
Setelah keadaannya seperti sekarang ini, ancaman maut yang datang dari manapm tidak membuatnya menjadi takut.
Bahkan kematian agaknya akan membebeskan dia dari pada kedukaannya.
"Siapakah Ki Sanak yang berada di luar?"
Tanyanya dengan suara tenang.
"Ayah.....! Ini aku, Nurseta anakmu ...."
Pintu gubuk didorong terbuka dari luar, seorang pemuda berjalan masuk, langsung menubruk Ki Baka yang duduk bersila di atas dipan bambu.
Pemuda itu merangkul Ki Baka dan memeluknya.
Ki Baka terbelalak, wajahnya pucat sekal.
Kemunculan Nurseta demikian mengejutkannya, tak disangka-sangka sehingga hampir saja ia jatuh pingsan kalau tidak cepat-cepat dia merangkul pundak pemuda itu dan menangis.
"Nurseta...... ! Aku bersukur kepada Hyang Widhi. Benarkah kau Nurseta? Apakah kau ini kulup Nurseta? Duh Gusti........terima kasih........terima kasih...."
Mereka berangkulan dan keduanya tak dapat menahan rasa haru hati mereka, merekapun bertangis-tangisan. Nursetalah yang dapat menguasai hatinya terlebih dahulu.
"Ayah, sungguh bahagianya rasa hatiku ketika mendengar dari paman Lembu Petak. bahwa Ayah berada di tempat ini"
"Ah, angger, kiranya Ki Lembu Petak ya menunjukkan tempat ini kepadamu. Aku sangat berterima kasih kepadanya"
Diusapnya rambut pemuda itu, ditatapnya wajah Nurseta. Ki Baka merasa kagum, juga bangga sekali. Puteranya telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa dan terihat dewasa dan matang.
"Anakku, kulup Nurseta, cepat ceritakan apa yang telah terjadi denganmu. Oh, betapa selama bertahun tahun ini hatiku menderita penuh dengan kerinduan, penuh kegelisah karena memikirkan dirimu, anakku. Betapa dengan susah payah aku menuruni Goa Kantong Bolong untuk mencarimu, namun engkau tidak berada di sana. Oh, betapa aku sudah hampir putus harapan untuk dapat berjumpa kembali denganmu. Namun siapa sangka, hari ini engkau muncul secara tiba-tiba di sini"
Tentu saja Nurseta juga ingin sekali segera mendengar apa yang telah terjadi dengan ayahnya ini setelah ayahnya diserbu oleh gerombolan tokoh jahat yang sakti, kemudian rumah mereka diobrak-abrik dan kabarnya ayahnya diculik gerombolan jahat itu.
Akan tetapi, ia menahan keingin-tahunya itu, ia maklum, betapa ayahnya juga ingin sekali mendengar ceritanya tentang apa yang terjadi pada dirinya selama ini.
Dengan singkat namun jelas, Nurseta lalu Menceritakan pengalamannya.
Dimulai ketika ia sedang bertapa di Goa Kantong Bolong, tiba-tiba saja muncul Gagak Wulung dan Dedeh Sawitri yang mengatakan bahwa ayahnya terluka dan mereka diutus oleh ayahnya untuk meminta tombak pusaka Tejanirmala.
Ketika ia di atas, ia dipaksa oleh kedua iblis itu untuk mengaku di mana adanya tombak pusaka itu.
"Aku mengatakan tidak tahu dan mereka mulai menyerangku. Aku terpaksa melawan dengan sekuat tenagku, akan tetapi, mereka terlalu sakti bagiku. Lalu kemudian muncullah seorang kakek yang menolongku, dengan ilmu kesaktiannya yang hehat sehingga kedua orang jahat itu melarikan diri. Kakek itu adalah Eyang Panembahan Sidik Danasura yang kemudian menjadi guruku"
Ki Baka terkejut, akan tetapi juga girang sekali. Tentu saja dia pernah mendengar nama pertapa sakti mandraguna itu.
"Sebelum aku ikut dengan Eyang Panembahan kami terlebih dahulu menengok dusun kita, dan aku terkejut mendengar betapa dusun Kelinting diserbu orang-orang jahat. Aku sangat gelisah sekali melihat rumah kita hancur dan porak poranda dan beberapa orang penduduk dusun juga tewas secara menyedihkan. Kemudian, aku ikut Eyang Panembahan ke Teluk Prigi Segoro Wedi dan mempelajari ilmu selama ini"
Ayahnya mengangguk-angguk gembira.
"Jadi, selama empat tahun kau menjadi murid pendeta yang bijaksana dan sakti mandraguna itu? Duh Gusti, terima kasih atas anugerah yang Paduka limpahkan kepada Nurseta"
Katanya sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Kemudian ia merangkul pemuda itu da berkata.
"Lalu bagaimana kau dapat tiba di Gunung Kelud ini dan bertemu dengan Ki Lembu Petak sehingga dari dia kau memperoleh keterangan tentang aku, angger?"
Nurseta menceritakan tentang perjalanannya meninggalkan padepokan Panembahan Sidik Danasura untuk melakukan kelana brata, memenuhi tugasnya sebagai seorang satria, berdarma bakti kepada nusa bangsa berdasarkan kebenaran dan keadilan.
Diceritakannya pula pertemuannya dengan Padasgunung dan Pragalbo yang memberi tahu kepadanya tentang gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh Mahesa Rangkah, didukung pula oleh Ki Buyut Pranamaya yang tersohor kesaktiannya.
Kemudian Nurseta bercerita tentang pertemuannya dengan Jumirah sehingga ia berkenalan dengan Ki Lembu Petak dan akhirnya ia mendengar tentang ayahnya dari orang gagah itu.
Ki Baka mendengarkan cerita puteranya dengan penuh perhatian, nampaknya ia gembira sekali melihat puteranya telah menjadi seorang pemuda dewasa yang memiliki kepandaian tinggi.
"Syukurlah, anakku, bahwa engkau berada dalam keadaan selamat, sehat, bahkan menemukan seorang guru yang bijaksana dan sakti. Terobatilah rasanya semua penderitaan yang kurasakan selama ini setelah kini dapat bertemu kembali denganmu, angger.'' "Ayah, apakah yang telah terjadi dengan ayah? Apa yang terjadi di dusun Kelinting kita dan siapa yang telah merusak rumah kita dan mengapa pula mereka itu menyerbu dan memusuhi ayah?"
Ki Baka menarik nafas panjang.
"Banyak diantara mereka itu adalah orang-orang jahat yang memusuhi aku dengan dua alasan. Pertama, karena aku tidak membantu pemberontakan kakakku, mendiang Ki Baya, dan ke dua karena tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala"
"Tombak pusaka? Mengapa?"
"Tentu saja karena mereka ingin merampas pusaka itu"
"Ayah, harap suka ceritakan semua yang terjadi di sana ketika itu"
Nurseta ingin sekali mendengar apa yang terjadi dengan ayahnya ketika itu.
Ki Baka lalu menceritakan dengan sejelasnya tentang kemunculan orang-orang itu "Aku sudah menduga akan hal itu, anakku.
Oleh karena itu, maka aku sengaja menyuruh kau menyingkir dan bertapa di Goa Kantong Bolong.
Siapa duga, Gagak Wulung di Ni Dedeh Sawitri memaksa para penduduk dusun untuk menunjukkan dimana kau berada"
Ki Baka lalu bercerita betapa orang-orang itu mengeroyoknya dan dalam keadaan terluka parah, ia ditolong oleh seorang kakek yang mengaku bernama Wiku Bayunirada.
Semua orang dapat dikalahkan oleh kakek itu dan membawanya pergi, kemudian dengan dalih.
menyelamatkan tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala, kakek itu meminta keterangan di mana ia menyimpan pusaka itu.
Dalam keadaan terluka parah dan percaya karena ia ditolong oleh kakek sakti itu, maka ia memberitahukan tempat pusaka agar dapat diselamatkan.
"Wiku Bayunirada berhasil mengambil pusaka itu sehingga tidak sampai terjatuh ke tangan para penyerbu itu. Akan tetapi, ternyata kakek yang sakti itu bukanlah orang baik-baik. Ia ternyata seorang penipu yang jahat dan kejam sekali"
"Aah!"
Nuseta berseru kaget, ia sama sekali tidak menyangka bahwa kakek yang sakti dan telah menyelamatkan ayahnya dari tangan maut penyerbu itu ternyata seorang penjahat yang kejam.
"Apa yang telah ia lakukan terhadap ayah?"
"Pertama ia mengobati luka-luka beracun yang berada di tubuhku dengan hawa saktinya. Memang racun ditubuhku berhasil dilenyapkan, akan tetapi sebagai gantinya, ternyata hawa sakti yang dimasukkan ke tubuhku mengandung racun pula. Racun itu mengakibatkan aku kehilangan semua kekuatan hawa sakti yang ada di tubuhku, Kalau aku mencoba mengerahkan tenaga sakti, maka tenaga itu memukul diriku sendiri dari arah dalam"
"Aaah......"
Nurseta berseru kaget dan penasaran.
"Kakek sakti itu lalu membawa pergi tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala. Ternyata, ia menolongku hanya untuk dapat merampas pusaka itu. Aku tertipu dan selama bertahun-tahun ini aku hidup dalam keadaan sakit akibat racun itu"
"Ayah, biarkan aku memeriksa keadaanmu, mudah-mudahan aku dapat mengobati ayah sampai sembuh"
Nurseta cepat mendekati ayahnya dan memeriksa sakitnya.
"Di punggung terasa amat nyeri kalau aku mengerahkan tenaga dalam, dan rasa nyeri itu melemahkan seluruh persendian tubuhku"
Nurseta cepat memeriksa dan dia menahan seruan marah, ketika ia melihat betapa pungggung ayahnya itu nampak kehitaman.
Tubuhnya yang tadinya besar dan kokoh kuat, kini nampak kurus dan ringkih, kulitnya berkerut dan kering, otot-ototnya layu.
Dengan telapak tangannya yang disalurkan dengan tenaga saktinya, ia mencoba untuk mendorong keluar hawa beracun yang menguasai tubuh ayahnya.
Tetapi ayahnya tidak kuat menahan rasa sakit dan terkulai pingsan.
Nurseta segera menghentikan usahanya, dengan sabar ia mencoba menyadarkan ayahnya yang sedang pingsan.
Ia maklum bahwa ia tidak mampu mengobati penyakit ayahnya.
Satu-satunya orang yang dapat diharapkan akan mampu menyembuhkan ayahnya hanyalah Panembahan Sidik Danasura.
Beberapa saat kemudian Ki Baka siuman, terdengar suaranya mengeluh tertahan dan ia mencoba bangkit untuk duduk.
"Maaf, ayah, aku telah membuat ayah kesakitan dan pingsan"
"Tidak mengapa, aku sudah seringkali aku merasakan kesakitan dan pingsan setiap kali aku mencoba untuk mengerahkan tenaga dalam. Anakku, bagaimana menurutku penyakitku ini?"
"Sayang sekali ayah, bahwa aku hanya mempelajari ilmu kedigdayaan, Akan tetapi aku yakin bahwa Eyang Panembahan Sidik Danasura akan dapat menyembuhkanmu. Marilah ayah aku antar menghadap Eyang Panembahan"
"Tidak, anakku. Aku sudah tahu di mana padepokan Sang Panembahan, seperti yang aku ceritakan tadi. Aku dapat pergi sendiri menghadap beliau dan mohon pertolongannya. Kau tidak perlu mengantarku, karena kau sendiri mempunyai banyak tugas yang penting. Pertama, demi keamanan negeri, kau harus berusaha mencari dan merampas kembali tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala. Kedua, sudah menjadi kewajibanmu untuk menentang pemberontakan yang dipimpin Mahesa Rangkah itu, membela Singosari. Sekarang, dengarkan aku dulu, anakku. Telah lama aku menyimpan rahasia ini dan sekarang, setelah kau menjadi seorang pemuda dewasa, apalagi sekarang kau telah memiliki kepandaian yang tinggi, sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui rahasia tentang dirimu. Bersiaplah kau mendengarkan dengan tekun dan tenang"
Ki Baka menarik nafas panjang, lalu ia berkata lagi kepada Nurseta "Anakku, aku akan membuka rahasia besar tentang dirimu"
Ki Baka berhenti lagi dan kembali menarik nafas panjang, panjang sekali.
Nurseta menatap wajah ayahnya dengan sinar mata tajam penuh selidik, dan biarpun pada lahirnya ia nampak tenang, namun jantungnya berdebar-debar tegang karena melihat sikap ayahnya yang demikian sungguh-sungguh.
Rahasia apa gerangan yang hendak diceritaka ayahnya kepadanya?
Akan tetapi dengan sikap tenang iapun bertanya "Ayah, rahasia apakah itu?
Dan apa sangkut pautnya dengan diriku?"
"Nurseta anakku, coba kau mengingat-ingat lagi, masihkah kau ingat kepada ibamu?"
Nurseta terbelalak dan menggelengkan kepalanya.
Ia tidak pernah dapat membayangkan bagaimana wajah ibunya, walaupun samar-samar seperti dalam dongeng saja yang pernah didengarnya, ia seperti dapat melihat seorang wanita berpakaian indah sekali, entah bagaimana rupa wajahnya, wanita itu sedang menggendongnya.
"Ayah, bukankah sejak dahulu aku seringkali mengatakan bahwa aku tidak dapat mengingat wajah ibu? Bukankah menurut cerita ayah, ibu telah meninggal dunia sejak aku masih kecil? Ayah, siapakah nama ibu dan bagaimana rupa ibu? Dan kapankah ia meninggal dunia?"
Ki Baka menggeleng kepala dan tersenyum pahit.
"Aku belum pernah menikah, anakku. Dengarlah dan janganlah terkejut, Kau bukanlah anak kandungku, kulup Nurseta"
Biarpun Nurseta nampak tenang, namun wajahnya agak pucat dan terjadi guncangan yang cukup hebat dalam dadanya.
"Ayah, harap suka jelaskan"
Katanya. Ki Baka kembali memandang kagum pemuda yang memang hebat, ia dapat mengendalikan perasaan dan menguasai batinnya.
"Aku hanya menerimamu sebagai titipan dari mendiang kakakku, yaitu Ki Baya atau yang kemudian ia menamakan dirinya Bayaraja. Ketika itu, kau berusia delapan tahun. Engkau tentu masih ingat kepada Ki Baya"
Nurseta mengangguk.
"Aku masih ingat, ayah. Sejak kecil aku bersama Ayah Baya, kemudian aku diserahkan kepadamu. Ayah sendiri dan ayah Baya mengatakan bahwa sebenarnya aku adalah anak kandung ayah. Mengapa baru sekarang ayah mengatakan bahwa aku bukanlah anak kandung ayah. Dan apakah dengan begitu Ayah Baya itu adalah ayah kandungku?"
Ki Baka menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya "Juga bukan anakku.
Baiklah akan aku ceritakan dari awal semua kejadian tentang dirimu.
Kerajaan Daha, Kediri, terdapat seorang pangeran yang bernama Pangeran Panji Hardoko.
Nah, pangeran itulah yang pada suatu hari datang kepada Ki Baya, memondong seorang bayi yang baru berusia tiga bulan.
Pangeran Panji Hardoko memberikan bayi itu kepada Ki Baya bersama harta yang banyak sebagai hadiah.
Ia mengatakan bahwa anak itu adalah anaknya, namanya Nurseta dan ia memberikan anak bersama harta yang cukup banyak itu kepada Ki Baya dengan permintaan agar Ki Baya mengaku sebagai ayah kandung anak itu.
Demikianlah keadaan yang sesungguhnya, anakku"
Tentu saja keterangan tentang dirinya itu amat mengguncang perasaan Nurseta, sesaat ia termenung.
Ternyata ia bukan anak kandung Ki Baka, bukan pula anak kandung Ki Baya, melainkan anak seorang pangerab dari Daha.
Dia seorang putera pangeran, orang berdarah bangsawan.
Teringatlah Nurseta, betapa beberapa orang menyebutnya Raden agaknya hatinya tidak menolak, walaupun tadinya merasa geli dan canggung menerima sebutan itu.
Dan ternyata ia benar-benar seorang Raden.
Akan tetapi, benarkah semua cerita itu.
Sunggug sukar baginya untuk menerima kenyataan, karena selama ini, ia menganggap Ki Baka sebagai ayah kandungnya, dan ia merasa gembira ketika Ki Baya menyerahkan dia ke Ki Baka dan mereka berdua itu menyatakan bahwa ia sesungguhnya anak kandung Ki Baka.
Bagaimanapun juga, ia masih ingat akan watak Ki Baya yang keras dan kasar, jauh berbeda dengan watak Ki Baka, maka ia amat senang dan bangga menjadi anak angkat Ki Baka.
"Tetapi, ayah. Mengapa Ki Baya menyerahkan aku kepadamu?"
"Ki Baya memiliki cita-cita yang tinggi dan ia pemimpin gerakan pemberontakan terhadap kerajaan Singosari. Tentu saja aku tidak sudi membantunya. Aku bukan pemberontak. Ia lalu menyerahkan kau kepadaku karena ia merasa tidak sempat lagi menyediakan waktu bagimu di dalam kesibukannya menjadi seorang pemimpin pemberontak. Sewaktu aku melihatmu, aku langsung suka kepadamu, aku mau menerimamu dengan syarat, bahwa ia tidak boleh memintamu kembali, dan untuk itu kami membohongimu, dengan mengatakan bahwa akulah ayah kandungmu, bukan Ki Baya. Tentu saja hal ini merupakan rahasia yang akan aku simpan sampai kau menjadi dewasa. Dan sekarang aku lihat kau sudah dewasa dan cukup matang, maka aku buka semua rahasia ini. Maafkanlah bahwa selama bertahun-tahun ini aku telah membohongimu, Raden Nurseta"
Terkejutlah hati Nurseta mendengar sebutan itu. Orang yang selama ini amat dihormatinya, amat dicintainya, yang dianggapnya sebagai ayah kandungnya, kini menyebutnya Raden.
"Ayah. Janganlah menyebut seperti itu kepadaku. Aku tetap anakmu Nurseta"
Kemudian Nurseta memeluk ayahnya.
Akan tetapi Ki Baka yang juga balas merangkul, menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Aku adalah seorang yang tahu akan aturan Raden Nurseta.
Selama ini, karena kita hidup pedusunan sebagai petani, maka terpaksa aku perlakukan kau sebagai anak petani.
Kau menyebut ayah kepadaku dan aku menyebut kulup atau angger, jarang menyebut namamu, karena namamu bukanlah nama rakyat biasa.
Nah, marilah kita menghadapi kenyataan dengan tabah, Raden.
Hatiku terasa lapang, karena sudah membuka rahasia ini padamu"
Nurseta menenangkan hatinya dan ia berhasil mencegah turunnya air mata dari kedua matanya.
Ia merasa terharu sekali, akan tetapa sama sekali tidak merasa girang atau bangga akan kenyataan bahwa dia putera seorang pangeran.
Bahkan ia merasa penasaran bukan main mendengar, bahwa oleh ayah kandungnya yang bernama Pangeran Panji Hardoko itu, telah menyerahkan ia kepada orang lain, yaitu kepada Ki Baya, seorang pemberontak.
"Akan tetapi ayah, aku sungguh merasa penasaran sekali. Kalau aku ini adalah anak seorang pangeran, kenapa pangeran itu menyerahkan aku kepada Ayah Baya? Dan siapa ibu kandungku dan dimana ia berada? Juga dimana adanya pangeran itu sekarang?"
Berkata demikian, Nurseta teringat pernah melihat dalam bayangan samar-samar seorang wanita berpakaian indah, seorang wanita bangsawan.
Sayang ia tidak pernah dapat membayangkan wajah ibunya itu.
Ki Baka menggelengkan kepalanya.
"Hal itupun aku tidak tahu, Raden. Mendiang kakang Baya tidak pernah menceritakan mengapa pangeran itu menyerahkan kau kepadanya. Ki Bayapun tidak tahu siapa ibu kandungmu. Kini ia telah tiadam sehingga kita tidak dapat bertanva kepadanya. Aku kira, seandainya ia masih hidup sekalipun, ia tidak akan dapat menjawabnya"
"Akan tetapi masih ada Pangeran Panji Hardoko itu! Aku akan mencarinya di Daha, dan akan kutanya kepadanya mengapa dia menyerahkan aku kepada Ayah Baya, kalau memang aku ini putera kandungnya. Dan akan mencari di mana ibu kandungku berada"
Nurseta berkata dengan penuh semangat karena ia merasa penasaran kepada pangeran yang menjadi ayah kandungnya itu, yang telah menyerahkan da kepada orang lain.
Akan tetapi kembali Ki Baka menggelengkan kepalanya dan memandang dengan sedih kepada pemuda yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri itu.
"Satu lagi yang kau harus ketahui Raden, menurut Kakang Baya bahwa, Pangeran Panji Hardoko itu sudah meninggal dunia, tidak lama setelah menyerahkan kau kepadanya"
Nurseta merasa terpukul. Baru saja ia menemukan ayah kandungnya yang sebenarnya, ternyata ayah kandungnya telah meninggal dunia.
"Sudahlah, Raden Nurseta. Selain ayahmu sudah meninggal, juga kenyataan bahwa sejak bayi kau telah diserahkan kepada orang lain, hal itu menunjukkan bahwa mereka sebagai orang tuamu itu, tidak menghendaki dirimu. Untuk itu, kau tidak perlu bersusah payah hendak mencari mereka, karena merekalah yang tidak menghendaki dirimu. Sekarang, yang penting bagimu adalah mencari tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala. Aku sebagai seorang yang menganggapmu sebagai anak sendiri, meminta bahkan aku memohon kepadamu agar kau suka mewakili aku mencari pusaka itu. Anggaplah saja hal itu sebagai balasan kepadaku yang sudah memeliharamu sejak kau kecil"
"Ah, ayah, tidak perlu begitu. Sudah menjadi kewajibanku untuk mencari tombak pusaka itu, akan tetapi, ke manakah aku harus mencarinya? Aku tidak mengenal siapa kakek yang bernama Wiku Bayunirada itu, dan tidak tahu mana dia berada"
Aku rasa namanya itupun nama palsu, Raden.
Aku sudah mengenal banyak tokoh besar dunia ini, akan tetapi aku belum pernah mendengar nama Wiku Bayunirada.
Akan tetapi, biarlah kau ketahui bahwa, dia seorang kakek yang usianya sekarang mendekati delapan puluh tahun, pada waktu empat tahun yang lalu, rambut, jenggot dan kumisnya sudah hampir putih semua.
Pakaian dan ikat kepalanya serba putih, dan mukanya pucat seperti muka mayat dan keriput.
Bicaranya halus.
Akan tetapi, kalau ia bicara dan ketawa, bibirnya tidak ikut bergerak.
Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja dan ada suatu ciri yang tak dapat ia sembunyikan, yaitu kedua kakinya hanya berjari empat.
Tidak terdapat ibu jari di masing-masing kaki itu"
Nurseta mencatat semua itu dalam ingatannya.
"Aku memperhatikan semua yang ayah katakan itu, dan akan aku cari dia, kalau bertemu, akan aku minta kembali tombak pusaka itu"
"Aku girang sekali, Raden Nurseta. Berhati-hatilah terhadap kakek itu yang berwatak palsu dan memiliki kesaktian yang luar biasa. Tombak pusaka itu harus dapat kau rampas kembali, karena amat berbahaya kalau terjatuh ke tangan orang yang bermaksud jahat"
"Baik, ayah. Akan aku usahakan sampai aku berhasil merampas kembali tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala"
"Ada satu hal lagi, Raden. Aku minta kau suka memperhatikan benar-benar. Kini kau sudah tahu bahwa, kau berdarah bangsawan. Ayah kandungmu bahkan seorang pangeran di Kerajaan Daha. Akan tetapi kau harus selalu ingat bahwa, kesetiaan seseorang terhadap negara, bukan ditentukan oleh darah keturunannya, melainkan oleh tempat di mana ia tinggal dan hidup. Sejak kecil kau tinggal di daerah Singosari, menghirup udara Singosari, meminum air Singosari dan makan dari hasil tanah Singosari. Lebih dari, hendaknya kau selalu ingat, Raden, bahwa aku sebagai pengganti orang tua dan juga pengasuhmu, Aku adalah seorang laki-laki sejati yang akan membela tanah air Singosari, siap mempertahankan setiap jengkal tanah dengan sepercik darah. Selain aku, juga aku sudah mendengar bahwa Sang Panembahan Sidik Danasura juga seorang yang sakti mandraguna dan seorang yang setia pula kepada Keraja Singosari"
Nurseta mengangguk-angguk.
"Tidak keliru, ayah. Aku pernah mendengarkan persiapan antara Eyang Panembahan dan Paman Jembros, dan mereka berdua itu adalah orang-orang yang setia kepada Kerajaan Singosari"
"Ki Jembros. Ah, aku mengenalnya, karena itulah, Raden. Maka sudah sepatutnya kalau kau juga berjiwa patriot terhadap Kerajaan Singosari. Sudah menjadi tugas kewajibanmu sebagai seorang ksatria untuk bersama para ksatria lainnya, menentang gerakan pemberontak seperti yang sedang dipimpin oleh Mahesa Rangkah. Kalau kau bertemu dengan para ksatria itu, maka, akan lebih mudah bagimu untuk meneliti dan menyelidiki di mana adanya Wiku Bayunirada yang melarikan tombak (Lanjut ke
Jilid 09) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 pusaka Ki Ageng Tejanirmala"
"Baik, ayah. Harap jangan khawatir. Aku kan melaksanakan semua perintahmu, yaitu mencari sampai dapat tombak pusaka itu, dan membantu Kerajaan Singosari menentang pemberontakan Mahesa Rangkah. Akan tetapi sebelumnya, biar ayah aku antar menghadap Eyang Panembahan agar penyakit ayah dapat disembuhkan"
"Tidak, Raden. Jangan membuang banyak waktu, aku dapat pergi sendiri menghadap kesana. Akupun ingin sekali cepat sembuh agar aku dapat membantu penumpasan gerombolan pemberontak itu"
Tiba-tiba terdengar langkah lembut di luar gubuk. Nurseta segera mendengarnya sebelum Ki Baka mendengar langkah itu.
"Ada orang di luar"
Bisik Nurseta. Akan tetapi, Ki Baka tersenyum.
"Kebetulan sekali ia datang. Ah, aku ingin memperkenalkan kau kepada seorang dewi yang menjelma dalam tubuh seorang dara yang sederhana, Raden"
Terdengar daun pintu gubuk itu diketuk dari luar dan terdengar pula suara yang lembut "Paman Baka, ini aku Pertiwi yang datang. Bolehkah aku masuk?"
Suara itu lembut dan merdu, juga mengandung kesopanan.
"Pertiwi. Masuklah masuklah, lihatlah siapa yang berada di sini bersamaku"
Kata Ki Baka dengan suara gembira sekali.
"Ooh. Ada tamu......."
Gadis itu berbisik lirih. Sejenak suasana menjadi sunyi, agaknya gadis itu merasa ragu untuk membuka daun pintu, setelah mendengar bahwa Ki Baya kedatangan tamu.
"Jangan takut. Masuklah, di sini ada orang yang sudah lama kau kenal"
Kata pula Ki Baka.
Daun pintu gubuk bambu itu berderit ketika dibuka dari luar dan seorang dara yang bertubuh ramping melangkah masuk dengan ragu-ragu.
Nurseta memandang kearah gadis itu.
Ia membenarkan perkataan Ki Baka.
Gadis dusun yang berpakaian sangat sederhana, juga gelung rambutnya.
Akan tetapi gadis ini memiliki aura yang mengesankan.
Ada aura keagungan pada wajah yang tidak dirias itu, terutama sekali sepasang matanya terang dan lembut.
Kembennya yang sudah tidak baru lagi, memperlihatkan lekuk lengkung tubuhnya yang ramping dan padat.
Langkahnya satu-satu, ketika ia memasuki pondok itu, matanya yang lebar memandang ke arah Nurseta.
Akan tetapi, ketika ia merasa tidak mengenal wajah tampan pemuda itu, tiba-tiba kedua pipinya menjadi kemerahan, iapun menundukkan wajahnya.
"Ternyata Paman Baka sedang bergurau"
Pikirnya.
"Ia tidak pernah mengenal pemuda itu. Tentulah ia pemuda priyayi, mudah dikenal dari sikap dan wajahnya, walaupun pakaian pemuda itu juga sederhana seperti pakaian pemuda petani biasa. Ki Baka tertawa melihat keragu-raguan atas gadis itu untuk mendekat.
"Ha-ha, Pertiwi, majulah mendekat dan jangan malu-malu. Ia sudah lama kau kenal, karena ia adalah Raden Nurseta"
Terkejutlah hati Nurseta mendengar orang yang selama ini dianggap ayahnya itu memperkenalkan dirinya sebagai Raden Nurseta.
Ketika Pertiwi mendengar nama itu disebutkan oleh Ki Baya, gadis itu mengangkat wajahnya, ia memandang kepada Nurseta dengan penuh perhatian.
"Ah, Paman Baka, kiranya ia ini adalah putera angkat paman itu. Raden Nurseta. Sudah lama aku mendengar Paman Baka menceritakan tentang dirimu, Raden"
Berkata Pertiwi dengan malu-malu. Sikap Pertiwi sungguh membuat hati Nurseta terkagum-kagum, karena gadis itu sangat ramah dan sama sekali tidak pemalu Seperti kebanyakan perawan gunung.
"Raden, ini adalah Pertiwi. Ia dan ayahnya merupakan keluarga yang amat baik dan mereka adalah sahabat sahabatku. Mereka yang selama ini bersikap ramah dan selalu memberikan pertolongan kepadaku dan aku berhutang budi yang besar sekali kepada nini Pertiwi dan orang tuanya"
"Ah, harap jangan mempercayai pujian Paman Baka yang berlebihan itu, Raden Nurseta"
Pertiwi, gadis yang usianya baru enam belas tahun itu tersenyum. Nampak deretan giginya yang putih bersih, sepasang bibir itu merekah merah.
"Kami hanya bersikap ramah, karena kami merasa iba melihat Paman Baka hidup menyendiri dan kadang-kadang kelihatan lemah. Akan tetapi, kalau bicara tentang pertolongan, kamilah yang berhutang budi kepadanya, karena Paman Baka pernah menyelamatkan dusun kami dari serbuan kaum penjahat"
Nurseta memandang kepada ayahnya dengan heran.
Orang tua itu jelas dalam keadaan tak berdaya, lemah dan tidak mampu mengerahkan tenaga saktinya.
Bagaimana mungkin mampu menyelamatkan dusun dari serbuan kawanan penjahat.
Agaknya Ki Baka dapat mengerti keheranan pemuda itu, maka iapun tertawa.
Katanya "Tidak aneh, Raden.
Pemimpin perampok itu mengenalku, oleh karena itu, ketika ia melihat aku berada di dusun ini, ia lalu mengajak anak buahnya melarikan diri ketakutan, tanpa aku menggerakkan sebuah jari tanganpun"
Gadis itu kini mendekati Ki Baka.
Ketika ia datang, tangan kanannya membawa sebuah ikul dan tangan kirinya membawa sebuah kendi hitam.
Dengan hati-hati, diletakkannya bakul dan kendi itu di atas tikar di depan Ki Baka.
"Hari ini aku hanya membuat lauk botok manding dan tempe bakar. Maaf paman, karena kami tidak tahu, bahwa putera angkat paman berada di sini, maka nasi dan lauknya kurang. Biarlah untuk sore nanti akan kembali lagi dan membawa yang lebih banyak"
"Tidak usah, Pertiwi. Ini saja sudah cukup. Lihat, Raden. Beginilah setiap hari, ia selalu mengirim makanan untukku. Sudah aku larang agar mereka menghentikan kerepotan ini, akan tetapi Pertiwi tidak mau mendengar laranganku. Setiap hari ia selalu datang kembali"
Ia berhenti sebentar lalu "Bagaimana menurutmu Raden?, bukankah ia baik dan manis sekali?"
Kembali gadis itu menundukkan wajahnya yang berubah kemerahan, yang membuat ia semakin manis. Mulutnya tersenyum malu-malu, kedua pipinya kemerahan dan matanya bersinar-sinar.
"Ah, Paman Baka, jangan memuji-muji terus. Akukan jadi malu"
"Tidak, nini, aku tidak memuji kosong. Bahkan, aku akan merasa berbahagia sekali kalau Raden Nurseta, anak angkatku ini, suka mengambilmu sebagai isterinya. Di bawah kolong langit ini sukar ditemukan keduanya perawan seperti engkau, nini Pertiwi"
Ki Baja berhenti sejenak,lalu "Bagaimana, nini? maukah kau menjadi isteri Raden Nurseta ini?"
Nurseta sendiri terkejut mendengar ucapan Ki Baka itu.
Dia mengenal Ki Baka sebagai ayahnya, sebagai seorang laki-laki yang gagah perkasa, jantan dan pantang mundur, terbuka dan jujur.
Sungguhpun tidak mengherankan melihat sikapnya demikian bebas terbuka membicarakan tentang perjodohan di depan gadis itu begitu saja, namun keputusan ayah angkatnya itu sungguh mengejutkan hatinya, karena sama sekali tidak disangka-sangkanya.
Memang Ki Baka, biarpun pernah menjadi seorang senopati, menjadi seorang pendekar di sepanjang Lembah Brantas, namun ia tetap sederhana dan terbuka, sehingga anak angkatnya sendiripun disuruhnya memanggil ayah kepadanya, seperti keluarga petani dusun biasa.
Sementara itu, wajah Pertiwi yang kemerahan kini menjadi merah sekali, sepasang mata dara itu terbelalak memandang kepada Ki Baka, seperti seekor kelinci ketakutan dan juga malu-malu, ia lalu berlari keluar dari gubuk itu sambil berteriak kecil.
"Aih, paman membikin aku menjadi malu sekali.......!"
Tanpa pamit lagi, Pertiwi lari diiringi dengan suara ketawa Ki Baka. Setelah gadis dusun itu pergi jauh, Ki Baka bertanya kepada Nurseta.
"Bagaimana pendapatmu tentang nini Pertiwi itu? Bukankah ia seorang dara yang ayu dan manis merak-ati. Ia juga seorang yang lemah lembut dan berhati emas?"
Nurseta harus mengakui bahwa Pertiwi walaupun ia seorang perawan gunung, namun ia memang cantik sekali, ia memiliki daya tarik yang luar biasa, maka iapun mengangguk membenarkan dengan jujur.
"Ya, Pertiwi adalah seorang gadis yang sangat cantik, ayah"
"Sejujurnya, aku seringkali membayangkan ketika mengingatmu, setiap kali nini Pertiwi datang, aku membayangkan, betapa akan bahagia rasa hatiku kalau melihat ia bersanding denganmu, sebagai isterimu. Kalau kau tidak berkeberatan dan ingin menyenangkan hatiku, maka, aku akan segera menemui orang tuanya untuk mengajukan pinangan. Percayalah, biarpun aku belum pernah menikah, namun mataku cukup awas untuk dapat mengenal seorang gadis yang baik, seorang calon isteri pilihan dan sukar dicari keduanya"
Nurseta termenung.
Mendengar ucapan itu, tanpa disengaja, segera terbayanglah di depan matanya wajah seorang gadis lain.
Seorang gadis yang berkulit kuning berwajah manis, dengan sepasang, mata seperti bintang, hidung kecil mancung dan bibir merah basah, ada lesung pipit di sebelah kiri pipinya dan tahi lalat kecil di pipi kanannya, dengan senyum menghias wajahnya.
Sepasang matanya bagaikan bintang, kadang-kadang redup, dan dapat pula menyala dengan aneh.
Seorang gadis sederhana yang kini muncul sebagai seorang wanita sakti yang aneh berpakaian serba hijau.
Wulansari.
"Bagaimana? Apakah kau sudah memikirkannya?"
"Maaf, ayah. Aku belum memikirkannya, karena menganggap bahwa aku belum memikirkan tentang jodoh. Bukankah di depan masih terdapat tugas-tugas penting menanti? Tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala harus aku dapatkan, dan keamanan negara terancam oleh pemberontakan Mahesa Rangkah. Nanti sajalah, ayah, kalau semua tugas telah selesai dengan baik, baru kita bicara lagi tentang perjodohan"
"Ya, ya, kau benar, kulup. Beginilah kalau seorang tua ingin sekali menimang cucu. Kau benar Nurseta, memang tugas itu lebih penting dari pada urusan pribadi. Kedua tugas itu memang teramat penting dan berbahaya"
Ia berhenti sejenak, lalu "
Nurseta.
Kakek yang mengaku bernama Wiku Bayunirada itu, mempunyai kesaktiannya seperti iblis.
Terhadapnya, kau harus berhati-hati.
Adapun si pemberontak Mahesa Rangkah itupun bukan orang sembarangan.
Ia adalah putera pemberontak yang bernama Linggapati.
Ayahnya seorang pemberontak besar yang sakti, tentu puteranya juga tidak boleh dipandang ringan.
Ketika ayahnya memberontak, aku masih membantu Sang Prabu Wisnuwardhana sebagai seorang diantara para senopati dan aku ikut membasmi gerombolannya di Mahibit.
Sekarang, anaknya juga memberontak dan betapa gembira hatiku kalau kau sebagai anak angkatku, maju membantu pemerintah dan ikut membasmi gerombolan Mahesa Rangkah"
Ia berhenti lagi, lalu "Kau benar, setelah semua tugas selesai, barulah seorang laki-laki boleh beristirahat dan memikirkan kesenangan pribadinya"
Nurseta bermalam di gubuk ayah angkatnya malam itu dan pada keesokan harinya, mereka saling berpisah lagi setelah semalam suntuk mereka hampir tidak tidur, karena waktu dihabiskan untuk melepas kerinduan dan bercakap-cakap panjang lebar menceritakan semua pengalaman masing-masing selama lebih dari empat tahun mereka saling berpisah.
Pada keesokan harinya, seperti telah mereka rundingkan semalam, Ki Baka pergi menuju ke padepokan Panembahan Sidik Danasura di Teluk Prigi Segoro Wedi di pantai Laut Kidui.
Sedangkan Nurseta memulai dengan perjalanannya untuk menyelidiki tentang gerakan gerombolan pemberontak pimpinan Mahesa Rangkah, sekalian menyelidiki kakek bernama Wiku Bayunirada yang merampas dan melarikan tombak pusaka Tejanirmala.
Sementara itu, Mahesa Rangkah sudah siap untuk melakukan penyerbuan ke Singosari.
Ia sudah menghimpun pasukan yang dianggapnya cukup kuat karena memperoleh dukungan secara diam-diam oleh Kerajaan Kediri.
Tentu saja Sang Prabu Jayakatwang tidak berani secara terang-terangan mendukung pemberontakan Mahesa Rangkah, karena pada lahirnya dia merupakan raja taklukan, juga menjadi besan dari Sang Prabu Kertanagara.
Hanya di dalam batinnya sajalah Sang Prabu Jayakatwang membenci dan mendendam kepada Sang Prabu Kertanagara karena dia merasa dirinya lebih patut menjadi raja di raja, menguasai Singosari dan Kediri.
Untuk memulai pemberontakannya, Mahesa Rangkah menyebar para pembantunya, dengan membawa pasukan kecil, untuk menyerbu dan menduduki dusun-dusun besar atau kecil yang berada di sekitar daerah pinggiran Singosari.
Gerakan ini dimaksudkan untuk memperkuat kedudukan, juga mengacaukan keamanan Singosari, dan terutama untuk menarik perhatian pasukan Singosari agar meninggalkan kota raja dan berpencaran untuk menanggulangi pengacauan yang dilakukan serentak di daerah pinggiran.
Malam bulan bersinar terang, hampir bulat penuh.
Dusun Tarutug yang terletak di perbatasan antara daerah Kediri dan Singosari, nampak tenang.
Para penduduk dusun itu banyak yang tinggal di luar rumah, menikmati sinar bulan yang sejuk.
Akan tetapi, semakin malam, hawa menjadi semakin dingin sehingga mereka merasa lebih enak untuk tinggal di dalam rumah.
Belum juga tiba tengah malam, suasana sudah sunyi sekali di dusun Tarutug yang bermandi sinar bulan dan diselimuti hawa yang dingin itu.
Suasana malam terang bulan yang dingin dan sunyi itu menjadi semakin indah dan hening ketika sayup-sayup sampai terdengar suara suling melengking naik turun dengan halus dan merdu sekali.
Suling merupakan alat musik, yang seperti alat musik tiup lainnya, amat peka terhadap getaran perasaan peniupnya.
mencurahkan isi batin melalui tiupan suling akan amat terasa, melengking dan menggetar menurut keadaan batin peniupnya.
Suara suling yang mengalun dan menyusup-nyusup di malam terang bulan itu datang dari sebuah bukit dekat dusun Tarutug itu.
Bukit gundul yang sunyi.
Bukit yang hanya ditumbuhi rumput dan alang-alang, tempat yang amat menyenangkan bagi para anak penggembala lembu dan domba, karena tempat itu selain dipenuhi rumput yang subur, juga di sebelah barat lereng bukit itu mengeluarkan air jernih dari sebuah sumber yang tak pernah kering sepanjang musim, baik musim kemarau apa lagi di musim hujan.
Para penggembala di waktu pagi dan sore, membiarkan ternak mereka makan rumput dengan santai, dan minum dari genangan air dari sumber itu.
Akan tetapi di waktu malam, keadaan di situ sunyi bukan main, tak nampak seorangpun manusia.
Dan dari puncak bukit sunyi itulah datangnya suara suling malam itu.
Penyuling itu seorang pria muda yang duduk di atas sebuah batu di puncak bukit itu, menghadap ke barat.
Usianya sekitar dua puluh lima tahun, wajahnya cukup tampan berbentuk bulat telur, tubuhnya sedang namun kokoh kuat.
Suling yang ditiupnya itu sebatang suling yang berwarna hitam, tidak jelas terbuat dari apa, kayu ataukah bambu.
Tiba-tiba, dari kaki bukit itu sebelah barat, terdengar suara suitan melengking tiga kali.
Mendengar ini, peniup suling itu menurunkan nada suara sulingnya, makin merendah sampai akhirnya berhenti dan diapun bangkit berdiri, memandang ke arah sesosok bayangan yang berlari naik ke atas bukit dengan cepat dari arah barat.
Kini orang yang berlari naik itu tiba di depan si pemegang suling yang segera menyambutnya dengan pertanyaan.
"Adi Pragalbo, bagaimana? Berhasilkah kau bertemu dengan para senopati Singosari?"
"Aku sudah berjumpa dengan para senopati, kakang Padasgunung, bahkan Kanjeng Senopati Ronggolawe sendiri yang menerima laporanku. Mereka sudah mempersiapkan pasukan. Dan bagaimana dengan persiapan kita, kakang? Apakah para pemuda dusun sudah siap pula untuk sewaktu-waktu Kita gerakkan menggempur para pemberontak?"
Padasgunung si penyuling tadi, mengangguk.
"Mereka sudah siap dan suara sulingku yang akan menjadi tanda bagi mereka untuk berkumpul di sini. Dari tiga buah dusun di sekitar bukit ini telah berhasil aku kumpulkan dua ratus prang. Dan mereka sudah siap bertempur membela tanah air dengan senjata seadanya namun dengan tekad membaja. Mereka tahu apa artinya perjuangan membasmi para pemberontak. Pengalaman yang lalu ketika Bayaraja memberontak membuat mereka tidak sudi mendiamkan saja para pemberontak itu menyerbu dusun mereka. Mereka maklum bahwa mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali melawan. Kalau para pemberontak itu menduduki dusun, tentu semua milik mereka lenyap, bahkan nyawa merekapun tidak terjamin, sedangkan para wanitanya tentu akan dirusak"
"Bagus sekali kalau begitu, kakang Padasgunung"
Kata Pragalbo, satria muda gagah perkasa yang berkulit hitam namun berwajah persegi, dengan watak jenaka itu.
"Karena sekarang juga mereka itu kita perlukan"
"Eh, apa maksudmu, Adi Pragalbo?"
"Begini, kakang. Ketika aku pulang menuju ke bukit ini, aku melihat betapa banyak sudah dusun-dusun yang dilanda bencana dengan penyerbuan pasukan pemberontak. Mereka itu agaknya bergerak serentak di dusun-dusun sekitar perbatasan, dengan kelompok-kelompok kecil, Tentu saja para penduduk dusun itu tidak berdaya menghadapi para pemberontak yang menjadi perampok itu, Banyak yang lari mengungsi. Dan yang terpenting, siang tadi aku melihat gerombolan pemberontak yang jumlahnya lebih dari seratus orang menuju ke timur dan aku rasa, selambatnya besuk pagi, gerombolan itu sudah sampai di sini. Karena itu, aku cepat-cepat lari mendahului untuk memberiiahukan kepadamu, kakang"
Padasgunung mengepal tinju kiri dan mengacungkan suling di tangan kanannya sambil memandang marah ke arah barat.
"Biarkan mereka datang adi Pragalbo. Dan malam ini juga kita harus mengumpulkan mereka itu dan mengatur siasat untuk menyambut musuh. Kalau sampai terjadi pertempuran, kau pimpin pasukan menurut siasat barisan yang aku atur dengan suara sulingku. Para penduduk sudah aku latih selama beberapa hari ini dan mereka tahu cara merubah barisan berdasarkan petunjuk suara sulingku, Aku akan menonton dari tempat tinggi di sini agar lebih mudah mengamati keadaan dan merubah barisan sesuai dengan perkembangan pertempuran"
Pragalbo sudah maklum akan keunggulan kakak seperguruan itu dalam hal ilmu perang, maka iapun mengangguk.
Tak lama kemudian, terdengar pula lengking suling itu ditiup Padasgunung.
Akan tetapi kini suara suling itu terdengar lain, penuh semangat dan suara melengking tinggi itu menembus keheningan malam menyusup ke dalam tiga buah dusun yang berada di kaki bukit.
Segera terdengar suara kentungan bertalu-talu menyambut suara suling ini dan mulai nampaklah bayangan banyak orang berlarian naik ke atas bukit.
Itulah para lelaki muda dari tiga buah dusun yang segera mendaki bukit setelah mendengar isarat berkumpul melalui lengking suling yang ditiup Padasgunung tadi.
Melihat ini, Pragalbo merasa kagum kepada kakak seperguruannya.
Dalam waktu kurang dari setengah jam, di puncak bukit itu telah berkumpul kurang lebih duaratus orang.
Mereka semua memegang bermacam senjata yang biasa dipergunakan para petani.
Linggis, arit, cangkul, ada pula yang membawa tombak, golok atau semacam parang, dan keris.
Setelah semua orang berkumpul, membentuk lingkaran mengelilingi batu besar di mana Padasgunung dan Pragalbo berdiri, Padasgunung lalu berkata, suaranya nyaring dan penuh wibawa.
"Saudara-saudara, baru saja kami mendengar bahwa gerombolan pemberontak sudah mulai melakukan serbuan kedusun-dusun di barat. Ada segerombolan penjahat yang sedang menuju ke sini dan agaknya pada hari esok pagi-pagi mereka sudah tiba di kaki bukit ini. Dusun-dusun kita di sekitar ini terancam. Oleh karena itu, saudara-saudara kami kumpulkan, Kita harus segera membentuk pasukan pendam untuk menanti mereka dan sebelum mereka sempat menyerbu dusun, kita serbu mereka lebih dahulu dari semua jurusan. Ingat, kalau terjadi pertempuran, kalian akan dipimpin langsung oleh Adi Pragalbo, dan bentuklah pasukan-pasukan dengan perubahan menurut suara sulingku seperti yang pernah andika sekalian pelajari"
Para anggota pasukan rakyat itu mengangguk dan mereka tidak merasa gentar karena sebelumnya, Padasgunung telah menanam pengertian dalam hati mereka bahwa mereka semua berjuang demi keselamatan keluarga mereka, dan mereka hendak mempertahankan setiap jengkal tanah dengan percikan darah mereka.
Bahkan kalau perlu mereka siap mengorbankan nyawa demi membela tanah air dan keluarga.
Selama beberapa jam, mereka sibuk melaksanakan siasat yang diatur oleh Padasgunung dan Pragalbo, mempersiapkan barisan pendam, bersembunyi di lubang-lubang yang mereka gali, di belakang alang-alang dan pohon-pohon dikaki bukit.
Ada pula yang bersembunyi di dalam pohon, diantara daun-daun pohon yang lebat.
Sementara itu, di dusun-dusun mereka terjadi pula kesibukan.
Sesuai dengan siasat yang sudah mereka pelajari sebelumnya, mereka itu, para wanita, juga siap menanak nasi dan lauk pauk sekedarnya, semacam "dapur umum"
Untuk memberi ransum kepada anak atau suami mereka yang sedang bertugas jaga untuk mempertahankan dusun mereka dari serbuan para pemberontak jahat.
Malam itu tidak terjadi sesuatu.
Laskar rakyat yang dipimpin oleh Padasgunung dan Pragalbo itu tidur dalam tempat persembunyian mereka, dan penjagaan diadakan secara bergilir.
Ini perintah Padasgunung yang tidak menghendaki pasukannya menjadi mengantuk dan lemah pada hari esok.
Suasana di bukit itu sunyi dan yang terdengar hanya suara suling Padasgunung yang dimainkan perlahan-lahan, sayup sampai dengan lagu-lagu yang terdengar sedih.
Semenjak kegagalannya menikah dengan Sriyati, memang pemuda ini lebih sering memainkan lagu sedih dalam tiupan sulingnya sehingga Pragalbo kadang-kadang merasa kasihan kepnda kakak seperguruannya itu.
Pada keesokan harinya, ketika mendengar bunyi kokok ayam jantan, tanda bahwa fajar mulai menyingsing, Padasgunung meniup sulingnya.
dengan lagu isyarat agar semua pasukannya bangun dan bersiap siaga karena lima orang yang semalam diutusnya untuk, menjadii penyelidik dan melihat gerak gerik musuh di barat, telah datang kembali dan melaporkam bahwa pihak musuh sudah mulai bergerak ke timur pada lewat tengah malam tadi.
Agaknya pihak musuh memperhitungkan bahwa mereka akan tiba di dusun-dusun yang berada dii kaki bukit itu pada keesokan harinya setelah matahari naik tinggi.
Tak lama kemudian, setelah matahari pagi mulai menyinarkan cahayanya di permukaam bumi, terdengarlah bunyi derap kaki dan ke bisingan suara pasukan musuh yang sudah mendekati bukit.
Di dalam dada setiap anggota pasukan rakyat itu terjadi ketegangan dan jantung mereka berdetak keras.
Biarpum mereka sudah bertekad mempertahankan kampung halaman mereka dengan taruhan nyawa, namun mereka adalah para petani yang sama sekali tidak pernah mengalami menjadi perajurit.
Hanya mengingat akan keselamatan keluarga mereka dan kampung halaman mereka sajalah yang membuat mereka mengambil keputusan nekat untuk bertempur mati-matian dalam usaha mereka mempertahankan semua yang mereka cinta itu.
Padasgunung sudah berdiri di lereng bukit, sedangkan Pragalbo dengan gagahnya, dengan keris di tangan, sudah siap memimpin pasukannya untuk menyergap pasukan musuh dengan tiba-tiba begitu ada aba-aba dari suara suling kakak seperguruannya.
Kini nampak debu tipis mengepul di bagian barat dan tepat seperti yang diperhitungkan oleh Padasgunung dan Pragalbo, pasukan pemberontak itu melewati jalan di kaki bukit menuju ke dusun terdekat.
Mereka nampak gembira, kasar dan kuat, memegang tombaki yang sama bentuknya, dan sebatang golok atau parang tergantung di pinggang.
Seperti biasa, mereka yang terdiri dari orang-orang kasar dan anak buah tokoh-tokoh sesat ini, merasa gembira apa bila pasukan sudah dekat dengan dusun karena memasuki dusun bagi mereka berarti pesta pora, membunuh dan merampok sesuka hati tanpa mendapat perlawanan berarti, dan terutama sekali mereka dapat mempermainkan dan memperkosa wanita dusun yang mana saja, dari yang masih remaja dan kanak-kanak sampai yang paling tua.
Ada pula yang bergembira membayangkan bahwa dia akan menemukan harta yang dirampas dan menjadi miliknya, dan ada pula yang membayangkan akan segera dapat menyembelih ayam atau domba rampasan dan makan sepuasnya.
Setelah pasukan pemberontak itu tiba tepat di kaki bukit, tiba-tiba terdengar suara suling memecah kesunyian pagi hari yang cerah itu, Kiranya Padasgunung yang mengintai dari lereng bukit, diam-diam membenarkan perhitungan Pragalbo.
JumJah musuh kurang lebih seratus orang, dipimpin oleh beberapa orang yang menunggang kuda dan tidak dapat dikenal karena wajah mereka tidak jelas dilihat dari atas itu.
Jumlah anak buahnya kurang lebih dua kali lebih banyak dari lawan, maka tenanglah rasa hati Padasgunung.
Dia maklum bahwa anak buah pemberontak itu tentu merupakan orang-orang yang sudah terlatih dalam pertempuran, merupakan lawan berat dibandingkan dengan anak buahnya yang terdiri dari para petani yang tidak terlatih, walaupun para petani itu tentu saja memiliki tenaga kuat karena setiap hari biasa bekerja berat.
Namun pihaknya mempunyai dua hal yang boleh diandalkan.
Pertama sekali adalah semangat.
Laskar rakyat tidak mempunyai pamrih untuk mencari kesenangan pribadi, tidak berpamrih mencari kemenangan agar memperoleh pahala, tidak mempunyai pamrih lain kecuali ingin melindungi keluarga mereka, membela tanah air mereka dan menyelamatkan kampung halaman mereka.
Dan kedua adalah karena jumlah para petani itu lebih besar, hampir dua kali jumlah perusuh.
Padasgunung menanti sampai pasukan musuh itu tiba di kaki bukit, tepat dalam keadaan terkepung oleh anak buahnya yang sudah bersembunyi mengepung jalan itu.
Setelah itu iapun segera mengeluarkan sulingnya dan meniupkan isarat penyerangan.
Suara suling ini dapat ditangkap dengan jelas oleh semua laskar petani yang memang sejak iadi menunggu dan memperhatikan, akan tetapi agaknya sama seknli tidak menarik perhatian pasukan pomberontak.
Mereka ini membayangkan hasil perampokan mereka, maka ketika ada suara suling, mereka menganggap bahwa itu tentu permainan seorang bocah penggembala saja.
Oleh karena itu, betapa kaget hati mereka ketika tiba-tiba terdengar sorak sorai dan bermunculanlah para petani muda dari semua jurusan dan mereka itu langsung menyerang pasukan pemberontak dengan senjata-senjata mereka yang sederhana.
Biarpun dapat dilihat dengan mudah bahwa mereka itu hanyalah petani-petani muda, dapat dikenal dari pakaian mereka dan keadaan senjata mereka yang sebagian besar terdiri dari cangkul, linggis, kapak dan arit, namun mereka menyerbu sambil berteriak-teriak dan sikap mereka penuh keberanian dan kemarahan.
Apa lagi diantara para petani itu terdapat seorang pemuda yang bersenjata keris yang agaknya memimpin laskar petani itu.
Sepak terjang pemuda ini hebat bukan main.
Setiap kali kakinya menendang atau tangan kirinya menampar atau kerisnya menyambar, sudah pasti ada seorang anak buah pemberontak yang roboh dan tak mampu bangkit kembali.
Hal ini membuat para pemberontak itu panik.
Akan tetapi terdengar bentakan-bentakan nyaring dari dua orang berkuda yang menjadi pemimpin pemberontak.
Teriakan dan bentakan mereka ini membangkitkan semangat para anak buahnya.
Terjadilah pertempuran mati-matian yang seru karena biarpun jumlah para pemberontak itu hanya setengahnya.
namun mereka adalah orang-orang kasar dan kuat yang biasa berkelahi, sehingga mereka dapat mengimbangi para petani yang jumlahnya dua kali lebih banyak mereka.
Sementara itu, dua orang pimpinan pemberontak yang menunggang kuda, begitu melihat sepak terjang Pragalbo yang dahsyat, mereka cepat berloncatan turun dari atas kuda mereka dan menghadang Pragalbo yang tadinya mengamuk dengan keris di tangan.
'"Babo-babo, kiranya si PragaIbo yang memimpin pasukan petani ini"
Bentak seorang diantara mereka yang kepalanya botak dan pungungnya berpunuk.
Pragalbo segera memandang dua orang itu dan mengenal mereka.
Yang menegurnya itu bukan lain adalah seorang jagoan dari Blitar, termasuk seorang yang condong berkelompok dengan golongan hitam dan tidak mengherankan kalau orang ini menjadi seorang diantara para pemberontak.
"Hemm, aku tidak heran melihat kau menjadi pemimpin serombolan pemberontak dan perampok ini, Ki Kalakatung. Memang orang-orang macam akau ini sudah biasa menjadi pengkhianat dan penjahat yang tidak segan melakukan segala macam kejahatan untuk menyenangkan diri sendiri"
"Heh-heh, keparat Pragalbo. Besar sekali suaramu, tidak sesuai dengan sikapmu yang sederhana dan seperti orang gagah. Kau sudah gila barangkali, mengerahkan para petani hanya untuk menjadi korban pembantaian pasukan kami. Apakah perbuatan itu tidak lebih jahat, menjerumuskan para petani dusun? Ha-ha-ha"
Melihat orang tinggi kurus berwajah tampan ini, yang usianya kurang lebih empat puluh lima tahun, sepuluh tahun lebih muda dari pada Ki Kalakatung, Pragalbo tersenyum mengejek, hatinya merasa muak karena diapun sudah mengenal orang ini.
Si tinggi kurus berwajah tampan ini adalah seorang yang dikenal sebagai Iblis Gunung Gajahmungkur, masih berdarah bangsawan dan namanya Raden Galinggangjati.
Sakti mandraguna, akan tetapi juga terkenal mempunyai kesukaan bermain cinta dengan pemuda-pemuda tampan.
Tokoh sesat ini tidak suka mendekati wanita, akan tetapi suka sekali menculik orang-orang muda yang tampan untuk dipaksa menjadi kekasihnya.
"Heh, Raden Galinggangjati, kejahatanmu sudah sampai ke ubun-ubunmu, sudah berapa banyak pemuda yang menjadi korbanmu, aku dengar mereka banyak yang sudah menjadi gila, selebihnya mati di tanganmu. Tanganmu sudah berlumur darah orang-orang tidak berdosa dan kini kau ingin melengkapi dosa-dosamu dengan bersekutu dalam pemberontakan. Kalian berdua orang-orang jahat, hari ini takkan terlepas diri tanganku"
"Babo-babo, sumbarmu seperti dapat melompati puncak Gunung Semeru, Pragalbo. Akan aku hancurkan kepalamu dengan senjataku Rujakpolo ini"
Bentak Ki Kalakatung yang sudah menyerang dengan senjatanya yang menggiriskan.
Senjata di tangan Ki Kalakatung ini berupa sebuah penggada yang panjangnya sedepa, besar dan berat, berwarna hitam dan terbuat dari galih-asem yang sudah tua dan keras bukan main.
Agaknya dia menamakan penggada ini Rujakpolo, meniru nama penggada yang biasa dipergunakan oleh Sang Bima, tokoh pewayangan, orang ke dua dari Pandawa Lima.
"Wuuuuuttt........!"
Penggada itu menyambar mengeluarkan angin keras saking berat dan cepatnya sambaran itu.
Tenaga yang terkandung dalam serangan itu amat kuat, dan memang senjata Ki Kalakatung ini menggiriskan, sekali pukul saja dia mampu menghancurkan batu gunung yang besar.
Apa lagi kalau mengenai kepala lawan, sungguh amat mengenaskan, kalau dibayangkan penggada itu memukul kepala, kepala itu pasti akan lumat.
Pragalbo maklum akan kedahsyatan penggada Rujakpolo ini, maka iapun tidak mau mencoba-coba membiarkan kepalanya dihajar, cepat dia mengelak dengan merendahkan tubuhnya dan menggeser kaki ke kiri, menyuruk di bawah sambaran penggada yang lewat di atas kepalanya.
Sementara itu, Pragalbopun tidak tinggal diam, sambil mengelak ke kiri, keris di tangannya meluncur dan menghunjam ke arah dada lawan.
"Heh!"
Ki Kalakatung meloncat ke belakang dengan cekatan, dan tusukan keris itupun dapat dihindarkan.
Di lain detik, penggada galih asem hitam itu sudah menyambar lagi dari kiri ke kanan.
Melihat betapa senjata berat itu, setelah tadi menghantam dari kanan ke kiri dengan dahsyatnya, kini dapat membalik cepat.
Menunjukkan betapa si botak berpunuk ini memang memiliki tenaga kuda yang kuat.
Namun Pragalbo tidak kalah gesit.
Ia dapat mengelak dan membalas dengan serangan kerisnya, secara bertubi.
Terjadilah perkelahian yang seru.
Akan tetapi Pragalbo yang memegang sebatang keris sebagai senjata, tentu saja dapat bergerak lebih gesit karena senjatanya jauh lebih ringan.
Kecepatan inilah yang membuat Ki Kalakatung kewalahan sehingga ia terdesak.
Sebetulnya, tingkat kepandaian kedua orang ini seimbang, hanya karena senjata Kalakatung jauh lebih berat, maka gerakannya kalah gesit, kalah cepat walaupun serangan-serangannya dengan penggada itu jauh lebih berbahaya.
Sementara itu, Raden Galinggangjati dengan mudah merobohkan dua orang petani yang terdekat, kemudian melihat betapa kawannya terdesak oleh keris Pragalbo yang menyambar-nyambar ganas, dia lain meloncat ke dalam medan perkelahian itu, menggerakkan senjata di tangannya, yaitu sebatang pedang melengkung yang gagangnya terbuat dari emas.
Sinar kehijauan menyambar bergulung-gulung ketika dia menggerakkan pedangnya menyerang Pragalbo.
Orang gagah ini terkejut sekali karena sambaran pedang itu amat dahsyat dan berbahaya, selain cepat sekali luncurannya, juga mengeluarkan suara berdengung dan amat kuat.
"Tringgg........!"
Kerisnya menangkis dan kedua orang itu merasa betapa tangan mereka yang memegang senjata masing-masmg tergetar hebat, tanda bahwa tenaga mereka seimbang.
Akan tetapi pada saat itu, penggada di tangan Ki Kalakatung sudah menyambar lagi dari samping, mengancam kepala Pragalbo.
Ketika Pragalbo mengelak dan merendahkan tubuhnya, sebuah tendangan kaki Raden Galinggangjati menyambar ke arah perutnya dari samping.
Pragalbo miringkan tubuh untuk mengelak, akan tetapi tetap saja paha kirinya terkena serempetan tumit kaki lawannya itu.
"Dukkk....... !!"
Tidak terlalu keras kenanya karena Pragalbo sudah miringkan tubuh, hanya terserempet saja, namun karena tendangan itu mengandung tenaga kuat, tidak urung tubuh.
Pragalbo terhuyung juga.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Raden Galinggangjati yang dapat bergerak lebih cepat dari kawannya, karena senjata pedangnya jauh lebih ringan, untuk mengejar, dan pedangnya terayun ke arah tubuh yang sedang terhuyung itu.
"Cringgg......"
Bunga api berpijar ketika pedang itu bertemu dengan sebuah suling hitam yang menangkisnya.
Raden Galinggangjati mengangkat muka memandang.
Wajah yang tampan itu menyeringai dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi.
"Babo babo, kiranya Padasgununglah yang memimpin para petani itu? Engkau pula yang tadi meniup sulingmu? Pantas, para petani tolol itu berani karena ada orang-orang macam kau dan Pragalbo. Mampuslah"
Pedangnya menyambar ganas ke arah leher Padasgunung yang cepat menangkis dengan sulingnya lalu membalas.
Segera terjadi perkelahian seru antara Raden Galinggangjati dan Padasgunung.
Melihat munculnya kakak seperguruannya, besarlah hati Pragalbo dan iapun cepat menerjang Ki Kalakatung dengan kerisnya.
Si botak berpunuk ini cepat mengelak dan mengayun penggadanya untuk membaias.
Di sekitar pertempuran mereka, terjadi pula pertempuran antara laskar rakyat petani melawan para pemberontak.
Karena memang tingkat kepandaian Padasgunung dan Pragalbo setingkat dibandingkan dua orang lawannya, maka perkelahian itu bukan main serunya dan sukar diduga siapa diantara mereka yang akan keluar sebagai pemenang.
Pedang di tangan Raden Galinggangjati dapat mengimbangi gerakan suling di tangan Padasgunung, sehingga yang nampak diantara mereka hanya dua gulungan sinar hitam dan kehijauan yang saling belit dan saling sambar seperti dua ekor naga bermain di angkasa.
Tidak ada diantara laskar petani dan anggota pasukan pemberontak yang berani mendekati empat orang yang seding berkelahi ini, setelah ada beberapi orang diantara mereka terjungkal dan tidak mampu bangkit kembali ketika mencoba untuk membantu pemimpin-pemimpin mereka.
Empat orang ini terlalu kuat bagi anggota pasukan biasa.
Karena itu, para anggota laskar petani dan para anggota pemberoutak menjauhkan diri dari mereka dan bertempur kacau balau tanpa komando lagi.
Pada saat empat orang pimpinan kedua pihak itu saling serang dengan serunya, tiba-tiba terdengar bunyi cambuk meledak-ledak di atas kepala Padasgunung dan Pragalbo.
Kedua orang gagah ini terkejut bukan main.
Mereka sedang saling serang dengan dua orang pimpinan pemberontak, maka tidak sempat menangkis dan hanya meloncat ke belakang, namun ujung cambuk itu sempat menggigit pundak kiri Padasgunung dan merontokkan ujung gumpalan rambut Pragalbo.
Ketika mereka melihat, ternyata yang muncul menyerang mereka itu adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun.
Wajahnya tampan dengan kumis dan jenggot rapi, tampak gagah, sepasang matanya tajam dan liar, pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang yang suka mengolah kebatinan, ahli tapa dan jubahnya jubah pendeta.
Tangan kanannya memegang gagang sebatang pecut panjang, pecut sapi yang tadi dilecutkan ke arah kepala Padasgunung dan Pragalbo, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah kipas bambu yang bentuknya bundar.
Ia tersenyum-senyum mengejek melihat betapa Padasgunung dan Pragalbo tadi terkejut karena serangannya yang hebat.
Akan tetapi sebaliknya, Kalakatung dan Raden Galinggangjati merasa gembira sekali dengan munculnya orang ini.
Apalagi melihat betapa lecutan tadi membuat Padasgunung dan Pragalbo terkejut.
Mereka segera maju lagi menyerang dan ketika dua orang pemimpin laskar rakyat petani itu menangkis, laki-laki berjubah pendeta itupun menggerakkan cambuknya yang panjang untuk membantu.
Padasgunung dan Pragalbo melawan mati-matian, namun mereka kewalahan dan repot menghadapi desakan tiga orang itu.
Terutama sekali si pemegang pecut itu sungguh tangguh sekali, dan memiliki tingkat kepandaian yang masih lebih tinggi dari mereka.
Maka, terdesaklah Padasgunung dan Pragalbo, dan mereka hanya mampu melindungi dirinya tanpa mampu membalas serangan tiga orang lawan mereka.
"Hemm, para pemberontak keparat"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh lima tahun, tinggi kurus, akan tetapi tulang-tulangnya besar dan kokoh kuat, perutnya gendut.
Pakaiannya sederhana serba hitam seperti pakaian petani, bajunya terbuka sehingga nampak dadanya yang berbulu, mukanya brewok, matanya lebar mencorong dan wajahnya membayangkan kekasaran namun juga keramahan dan kegembiraan.
"Heh, keparat Ki Jembros. Jangan mencampuri urusan kami"
Laki-laki berpakaiam pendeta tadi berseru ketika melihat munculnya Ki Jembros.
"Ha-ha-ha, kiranya Resi Harimurti yang membantu para pemberontak. Aku membela kerajaan, itu sudah sewajarnya, akan tetapi kalau seorang resi, seorang pendeta dan pertapa macam kau ini membantu pemberontak, sungguh sukar dimengerti."
Jawab Ki Jembros.
Ia mengenal Resi Harimurti itu adalah seorang pertapa atau pendeta yang suka berkelana, namun di samping terkenal karena kesaktiannya, ia juga terkenal sekali karena kelemahannya terhadap wanita cantik, ia seorang pendeta cabul, dan hal ini mudah diketahui dari sinar matanya yang tajam itu.
"Keparat, tak perlu banyak cakap"
Bentak Ki Kalakatung yang sudah mengangkat galih asemnya dan menimpakannya dengan kuat ke arah kepala Ki Jembros. Melihat ini, Ki Jembros mengangkat lengan kirinya menangkis.
"Dukkk !"
Lengan itu menangkis galih asem yang besar dan berat, akan tetapi akibatnya, Ki Kalakatung sendiri yang menyeringai kesakitan dan hampir saja penggada itu terlepas dari tangannya.
Raden Gilinggangjati meloncat dengan keris di tangan, menusukkan kerisnya ke arah dada Ki Jembros yang sama sekali tidak menangkis atau mengelak sehingga keris itu tepat menghunjam dadanya.
"Tukk !"
Keris itu seperti menusuk baja dan Ki Jembros tertawa bergelak, sementara itu Raden Galinggangjati meloncat mundur dengan muka pucat.
Kerisnya tidak mampu melukai dada Ki Jembros.
Hal ini tidaklah aneh, karena Ki Jembros telah mengerahkan sebuah diantara ilmunya yang hebat, yaitu aji kesaktian Trenggiling Wesi, suatu aji kekebalan.
Tentu saja aji kekebalan ini hanya mampu menahan serangan orang yang lebih rendah ilmunya, yang kekuatannya jauh di bawah tingkat Ki Jembros sendiri.
Buktinya, ketika Resi Harimurti menggerakkan pecutnya, menghantam ke arah kepala Ki Jembros, orang kokoh kuat ini tidak berani menerimanya seperti ketika dia diserang oleh keris tadi.
Ia miringkan tubuhnya dan ketika pecut itu lewat di pinggir telinganya.
Ki Jembros membalikkan tubuhnya dan menghantam dengan tangan terbuka, dengan jari-jari tangan yang menjadi tegang dan keras bagaikan baja, ke arah dada lawannya.
"Plak.........!"
Tangan terbuka itu tertangkis oleh seoatang kipas bambu yang terlipat, sebatang kipas yang bukan hanya menangkis, akan tetapi juga dipergunakan ujung gagangnya yang runcing untuk menusuk ke arah urat nadi tangan itu.
Resi Harimurti memang seorang tokoh yang terkenal dengan sepasang senjatanya, yaitu sebatang pecut dan sebuh kipas bambu.
Ki Jembros cukup mengenal ketangguhan lawan ini, maka ketika tangannya tertangkis, diapun memutar pergelangan lengannya sehingga terbebas dari tusukan ujung gagang kipas lawan.
Kaki kirinya mencuat dan menendang ke arah selangkang Resi Harimurti yang juga dapat cepat mengelak dengan loncatan ke belakang.
Terjadilah perkelahian yang amat seru antara kedua orang yang sama-sama memiliki aji kesaktian yang hebat itu.
Pecut di tangan kanan Resi Harimurti meledak-ledak sedangkan kipasnya meniupkan angin yang menyambar-nyambar, akan tetapi terjangan Resi Harimurti yang dahsyat itu dapat diimbangi oleh Ki Jembros yang mengerahkan aji kesaktian Hastobairowo yang lebih dahsyat lagi.
Dengan aji pukulan Hastobairowo, ditambah aji kekebalan Trenggiling Wesi, maka Resi Harimurti mulai terdesak terus.
Sementara itu, Kalakatung sudah bertanding lagi melawan Pragalbo, sedangkan Raden Galinggangjati melawan Padasgunung.
Pertandingan antara mereka ini tidak kalah serunya, akan tetapi seperti juga dengan keadaan Resi Harimurti, dua orang tokoh pembantu Mahesa Rangkah inipun mulai terdesak oleh dua orang satria itu.
Melihat betapa tiga orang pemimpin mereka terdesak, pasukan pemberontak menjadi panik dan kacau.
Tadinya, biarpun jumlah mereka hanya setengah jumlah laskar rakyat, namun para pemberontak itu tidak merasa gentar karena mereka adalah orang orang dari dunia sesat yang sudah biasa mempergunakan kekerasan, sudah biasa berkelahi, sebaliknya lawan mereka adalah para petani yang.
belum mempunyai pengalaman pertempuran.
Akan tetapi, setelah melihat betapa tiga orang pemimpin mereka terdesak, khawatirlah hati mereka dan karenanya, laskar rakyat petani yang lebih banyak jumlahnya dan yang bersemangat besar melihat sepak terjang pimpinan mereka yang gagah perkasa, dapat mendesak para pemberontak dengan pekik semangat menuju kemenangan.
Gentarlah hati Resi Harimurti.
Dia adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi akan tetapi juga watak yang licik dan tidak bertanggung jawab.
Begitu melihat bahwa keadaan tidak menguntungkan dan kalau dia lanjutkan perkelahian itu, keselamatannya terancam bahaya maut, maka diapun segera memutar-mutar cambuknya dengan cepat sehingga Ki Jembros sendiri terpaksa harus mundur untuk menghindarkan bahaya cambukan.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Resi Harimurti untuk meloncat jauh ke belakang dan diapun menghilang diantara pasukan pemberontak dan terus melarikan diri meninggalkan medan pertempuran.
Ki Jembros mengejar, namun kehilangan jejak.
Dengan hati gemas iapun mengamuk diantara para pemberontak.
Sepak terjangnya menggiriskan dan banyak anak buah pemberontak bergelimpangan terkena terjangan kaki tangannya.
Ketika melihat betapa Pragalbo dan Padasgunung masih juga belum mampu merobohkan kedua orang lawannya, Ki Jembros lalu terjun ke dalam perkelahian antara mereka.
Tendangan kakinya yang dahsyat menyambar ke arah Ki Kalakatung.
Jagoan Blitar yang berkepala botak ini sedang repot mengadap Pragalbo, maka ketika Ki Jembros terjun dan mengayun kakinya, ia menjadi gugup.
Apa lagi ia melihat betapa Resi Harimurti, orang yang diandalkannya, tadi telah meiarikan diri, tidak kuat melawan Ki Jembros.
Dengan gugupnya, dia menggerakkan ruyung yang terbuat dari galih asem hitam dan diberi nama Gada Rujakpolo itu menyambut, dengan maksud menghantam remuk tulang kaki Ki Jembros.
"Brakkkk.......!"
Memang ada yang patah, akan tetapi bukan tulang kaki Ki Jembros melainkan ruyung galih asem itu.
Dan pada saat itu, Pragalbo sudah menghunjamkan kerisnya.
Ki Kalakatung sedang kaget sekali karena selain ruyungnya patah, juga telapak tangannya yang tadi memegang ruyung terasa nyeri seolah-olah kulitnya terbeset.
Ia melepaskan ruyungnya dan pada saat itulah, keris di tangan Pragalbo menusuk, dan ia tidak sempat lagi mengelak.
"Ceppp.....", Jagoan berpunuk itu menjerit mendekap dadanya dan tubuhnya terjengkang ketika Pragalbo mencabut kerisnya dan menendang ke arah lututnya. Melihat ini, Raden Galinggangjati menjadi panik. Seperti juga Ki Kalakatung, tadi ia sudah merasa bingung melihat larinya Resi Harimurti dan kacaunya pasukan pemberontak. Kini, melihat robohnya Ki Kalakatung, tentu saja ia menjadi ketakutan. Iblis Gunung Gajahmungkur ini cepat mendesak Padasgunung dengan pedangnya yang bentuknya melengkung, bergagang emas dan mengeluarkan sinar kehijauan. Padasgunung cepat meloncat ke belakang sambil memutar suling hitamnya, akan tetapi ia menjadi marah ketika melihat betapa tiba-tiba lawannya memutar tubuh dan menyelinap diantara para anak buah yang sedang bertempur.
"Pengecut, hendak lari ke mana kau?"
Bentaknya dan iapun meloncat ke depan, cepat sekali dan sulingnya terayun ke arah tengkuk Raden Galinggangjati.
Orang ini mendengar bunyi mengaung dan cepat ia menundukkan kepala sambil miringkan tubuh.
"Takkk!"
Suling itu luput mengenai kepala bagian belakang, akan tetapi meleset menghantam pundak kanan Iblis Gunung Gajahmungkur itu.
Raden Galinggangjati mengeluh, akan tetapi ia segera menghilang diantara banyak orang yang bertempur.
Padasgunung menjadi marah dan kecewa.
Ia telah berhasil melukai lawan, akan tetapi hatinya belum puas kalau belum dapat merobohkannya, maka cepat ia mengejar.
Namun, tidak mudah mengejar lawan yang meJarikan diri di antara ratusan orang yang sedang bertempur itu.
Ia mengamuk dan merobohkan banyak anak buah pemberontak yang menjadi semakin kocar kacir karena pada saat itu, Ki Jembros dan Pragalbo juga sedang menaamuk.
Setelah terjadi pertempuran yang tidak seimbang, akhirnya sebagian dari pasukan pemberontak itu lari cerai berai meninggalkan banyak kawan yang tewas atau terluka berat.
Laskar rakyat yang dipimpin oleh Padasgunung dan Pragalbo melakukan pengejaran.
Akan tetapi karena sisa pasukan pemberontak itu lari cerai berai ke segaia jurusan, maka sukarlah melakukan pengejaran terarah.
Ketika melakukan pengejaran ini, dibantu pula oleh Ki Jembros, pasukan rakyat ini bertemu dengan pasukan besar yang tadinya membuat Padasgunung dan Pragalbo terkejut.
Pasukan itu rapi, jumlahlah tidak kurang dari seribu orang, dipimpin oleh orang-orang gagah berkuda dan nampak pasukan itu kuat bukan main.
Akan tetapi ketika melihat umbul-umbul, bendera dan tanda-tanda pasukan lainnya, Ki Jembros tertawa.
"Itu adalah pasukan Singosari!"
Katanya dan diapun melangkah paling depan menyambut pasukan besar itu.
Pasukan itu dipimpin beberapa orang senopati, dikepalai oleh Senopati Ronggolawe yang muda dan gagah.perkasa.
Tadinya para senopati itu terkejut melihat laskar rakyat itu.
Mereka mengira bahwa itu adalah pasukan gerombolan pemberontak, maka para senopati telah memberi aba-aba kepada pasukan mereka agar siap siaga, apa lagi melihat betapa laskar itu seperti berlari-lari, dikejar atau mengejar sesuatu.
Akan tetapi setelah mereka melihat seorang kakek tinggi besar gagah perkasa dan berpakaian serba hitam melangkah lebar di depan, Senopati Ronggolawe dan para senopati lainnya segera mengenalnya.
"Paman Jembros.......!"
Ronggolawe berseru sambil meloncat turun dari atas kudanya dan menghampiri kakek itu. Ki Jembros tertawa.
"Ha-ha-ha, sungguh membesarkan hati melihat para senopati yang gagah perkasa memimpin pasukan Singosari. Tentu andika sekalian sedang menuju ke perbatasan untuk menumpas pemberontak pimpinan Mahesa Rangkah, bukan?"
"Benar sekali dugaan paman, akan tetapi, laskar manakah ini? Dan dari manakah mereka paman?"
Tanya Senopati Ronggolawe. Ki Jembros tersenyum lebar dan mengacungkan ibu jari tangan kanannya.
"Ini laskar bebat, anakmas senopati. Laskar rakyat yang dikumpulkan dan dilatih oleh Padasgunung dan Pragalbo yang gagah perkasa, dalam usaha mereka menentang pemberontak dan membantu pemerintah Singosari. Baru saja tadi laskar ini memukul hancur pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Resi Harimurti, Ki Kalakatung dan Raden Galinggangjati. Sisanya lari cerai berai dan kami tadi berusaha melakukan pengejaran. Sayang bahwa Resi Harimurti dan Raden Galinggangjati berhasil melarikan diri"
Para senopati memuji dan berkenan menerima Padasgunung dan Pragalbo.
"Kalian adalah satria-satria yang patut dibuat contoh"
Kata Senopati Ronggolawe.
"Sekarang, gabungkanlah sisa laskar rakyat yang gagah perkasa ini, mengikuti pasukan kami dan membantu kami menyerbu ke induk pasukan pemberontak"
"Anakmas Senopati Ronggolawe, apakah kau sudah mengetahui di mana adanya induk pasukan pemberontak Mahesa Rangkah itu?"
Tanya Ki Jembros. Senopati Ronggolawe mengangguk.
"Paman Jembros, kami sudah mendengar banyak tentang Mahesa Rangkah dari para penyelidik kami. Tentu saja sarang merekalah yang sekarang ini merupakan sarang sementara saja semenjak mereka keluar dari daerah Kediri, karena mereka bermaksud untuk menyeberang dan maju ke arah kota raja Singosari. Pasukan mereka terpencar-pencar, oleh karena itu, kamipun sudah mengirim pasukan yang terpencar untuk menghadang mereka di segala penjuru"
Laskar rakyat itu dengan gembira, di bawah pimpinan Padasgunung dan Pragalbo, kini bergabung dengan pasukan pemerintah Singosari, berbaris dengan gagah dan penuh semangat di belakang pasukan Singosari itu.
Ki Jembros dan kedua orang satria itupun diterima oieh para senopati sebagai rekan mereka dan kepada mereka bertiga diberi tiga ekor kuda yang pilihan.
Pasukan itupun melanjutkan perjalanan menuju ke sarang Mahesa Rangkah yang sudah diketahui, yaitu di Bukir Lejar.
Siasat yang diambil oleh para senopati di Singosari memang hebat.
Para senopati itu maklum bahwa biarpun pemberontakan Mahesa Rangkah mendapat dukungan moril dara Kediri, namun pihak Kerajaan Kediri ataui Daha itu tidak berani secara langsung membantu.
Ini membatasi kekuatan Mahesa Rangkah yang tidak berapa.
Oleh karena itu, untuk menghemat tenaga, karena.
sebagian dari pasukan dibutuhkan untuk menjaga keselamatan Kota Raja, Senopati Ronggolawe lalu memimpin tiga ribu orang pasukan saja.
Yang duaribu orang dipecah-pecah menjadi beberapa kelompok, dipimpin masing-masing seorang senopati dan kelompok pasukan kecil yang hanya terdiri dari seratus sampai duaratus orang ini ditugaskan untuk melakukan penghadangan terhadap pasukan pemberontak yang juga dipecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil untuk mengacaukan suasana dan menyerang dari dusun-dusun terpencil.
Adapun pasukan induk, yang terdiri dari seribu orang, dipimpin sendiri oleh Ronggolawe, menuju ke sarang pemberontak di Bukit Lejar.
Dia tidak tergesa-gesa, bahkan berlambat untuk memberi kesempatan kelompok kesatuan kecil yang disebar itu untuk menghalau gerombolan pemberontak agar mereka berkumpul kembali di Bukit Lejar, barulah pasukan induk Singosari akan menyerbu.
Dengan adanya siasat ini, di mana-mana terjadi pertempuran kecil dari pasukan kedua pihak yang jumlahnya antara seratus sampai dua ratus orang itu.
Keuntungan para senopati yang memimpin pasukan-pasukan kecil itu adalah karena di sepanjang perjalanan, mereka mendapat dukungan rakyat yang rata-rata membenci para pemberontak.
Setiap kali terjadi pemberontakan dan perang, tentu rakyat di dusun-dusun yang menjadi korban.
Para pemberontak itu biasanya amat ganas dan jahat, bakan hanya merampok penduduk dusun, juga membunuh, memperkosa dan melakukam segala macam perbuatan yang sewenang-wenang.
Oleh karena itu, ketika mengetahui bahwa, pemerintah Singosari mengirim pasukan untuk menumpas pemberontak, para penghuni dusun-dusun menjadi gembira dan mereka dengan suka rela membantu apa saja yang dapat mereka lakukan.
Bahkan, seperti yang telah diusahakan oleh Padasgunung dan Pragalbo, ketika, para satria yang menentang pemberontak menghimpun para penghuni dusun, banyak pemuda dusun yang dengan suka rela masuk menjadi anggota laskar rakyat sehinsga dengan demikian, kekuatan pihak Kerajaan Singosari semakin besar.
Tidaklah mengherankan kalau pasukan Singosari yang memperoleh dukungan rakyat, di mana-mana selalu memperoleh kemenangan dan kelompok pasukan kecil-kecil para pemberontak itu, dapat dipukul mundur dan mereka itu segera kembali ke Bukit Lejar untuk melapor kepada induk pasukan.
Mahesa Rangkah sendiri, yang merupakan pucuk pimpinan, setelah membagi pasukannya menjadi kelompok-kelompok kecil, segera memimpin sisa pasukannya yang terdiri dari tiga ratus orang tentara pilihan, untuk melakukan penyeberangan ke timur menuju ke kota raja Singosari.
Menurut (Lanjut ke
Jilid 10) Sejengkal Tanah Sepercik Darah (Serial Sejengkal Tanah Sepercik Darah) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 siasat yang telah direncanakannya dan diperintahkan kepada semua pembantunya yang menjadi pimpinan setiap kelompok pasukan kecil, kalau pasukan-pasukan mereka berhasil, mereka harus berkumpul di hutan jati yang berada di sebelah barat kota raja Singosari, di mana mereka akan menyusun kekuatan dan melakukan penyerbuan ke kota raja Singosari.
Sebaliknya, andaikata pasukan-pasukan itu menemui kegagalan, maka kalau mereka mundur, mereka semua akan kembali ke Bukit Lejar untuk menyusun kembali kekuatan mereka.
Terjadi perubahan besar pada diri Nurseta sejak dia naik ke puncak Gunung Kelud.
Ketika ia naik ke puncak itu, ia masih berwajah gembira dan sepasang matanya bersinar-sinar, apa lagi ketika ia memperoleh keterangan bahwa di dekat puncak, ia akan dapat menemukan ayahnya, Ki Baka yang telah bertahun-tahun tidak dijumpainya.
Dan ternyata iapun benar-benar telah berhasil bertemu dengan ayahnya itu.
Akan tetapi, sungguh di luar dugaanya, bahwa pertemuan itu akan menimbulkan guncangan yang amat bebat pada batinnya.
Sungguh, berita yang didengarnya dari Ki Baka, merupakan berita yang mengguncang batin dan membuat ia bingung dan kecewa, juga berduka.
Betapapun kuat, batinnya, mendengar bahwa Ki Baka bukanlah ayah kandungnya, kemudian mendengar bahwa ayah kandungnya, seorang pangeran di Kediri yang kini telah meneninggal dunia pula, lalu ditambah lagi dengan keinginan Ki Baka untuk menjodohkan dia dengan Pertiwi, gadis dusun yang baik hati itu, sungguh mengguncang batinnya.
Kini.
ketika ia berpisah dengan Ki Baka dan menuruni Gunung Kelud, tubuhnya terasa lemas, semangatnya mengendur, sepasang matanya sayu dan mukanya agak pucat.
Namun, Nurseta bukanlah seorang pemuda yang mudah putus asa.
Biarpun dia mengalami himpitan batin yang amat hebat, namun dia dapat menenangkan batinnya dan tanpa mengeluh, ia hanya menyerahkan segala keadaan dirinya kepada Hyang Widhi.
Sesungguhnyalah, tidak ada kekuatan di dunia ini yang lebih besar dan berkuasa dari pada kekuatan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Nurseta tidak kehilangan kewaspadaan dan kesadarannya.
Sebagai seorang manusia biasa, tentu saja ia terpukul batinnya dan perasaannya nyeri, penuh kecewa dan duka karena menemukan dirinya sendiri sebagai seorang yatim piatu, tiada ayah dan ibu, bahkan tidak dapat mengetahui riwayatnya karena sudah tidak ada lagi orang yang dapat ditanyainya.
Pangeran Panji Hardoko yang katanya adalah ayah kandungnya itu, telah meninggal dunia, dan orang yang diserahi dirinya, yaitu Ki Baya, juga telah tiada.
Dia adalah seorang yatim piatu yang tidak mengenal riwayat diri sendiri, tidak tahu mengapa ia oleh ayah kandungnya diserahkan kepada Ki Baya, dan siapa pula ibu kandungnya.
Bahkan diapun tidak atau belum yakin bahwa yang bernama Pangeran Panji Hardoko itu benar-benar ayah kandungnya.
Akan tetapi, dalam.
keadaan seperti itu, dia mengembalikan dan menyerahkan kesemuanya kepada Tuhan dan hatinyapun menjadi tenang.
Kehendak Hyang Widhipun terjadilah.
Dengan pikiran ini,.
Nurseta menuruni Gunung Kelud untuk memulai dengan tugasnya, yaitu membantu Kerajaan Singosari untuk menentang pemberontakan yang dipimpin oleh Mahesa Rangkah.
Dia tahu ke mana harus pergi.
Ke perbatasan antara Kediri dan Singosari, tentu saja.
Bukankah di sana Mahesa Rangkah akan memulai pemberontakannya seperti yang pernah ia dengar?
Dan di sepanjang perjalanan menuju ke perbatasan itu, iapun mulai mendengar akan adanya pertempuran-pertempuran kecil yang terjadi antara pasukan pemberontak dan pasukan Kerajaan Singosari.
Iapun mempercepat perjalanannya dan hatinya lega mendengar dari para penghuni dusun betapa pasukan-pasukan pemberontak dapat dipukul mundur oleh pasukan Kerajaan Singosari yang didukung oleh para penduduk dusun yang mem-bentuk laskar-laskar rakyat.
Pada suatu pagi, tibalah dia di luar sebuah pedusunan, tak jauh dari Bukit Lejar.
Dari jauh saja dia sudah mendengar suara sorak sorai dan hiruk pikuk, suara pertempuran?.
Mendengar ini, Nurseta mempercepat langkahnya, bahkan kini dia berlari menuju ke arah suara itu yang datang dari luar dusun, karena dia dapat menduga bahwa itu tentulah suara pasukan pemberontak yang sedang mengganas, atau sedang bertempur melawan pasukan pemerintah Singosari.
Ia harus berhati-hati dan yakin lebih dahulu siapa yang sedang bertempur itu.
Maka iapun naik ke sebuah bukit kecil dan dari puncak bukit ini dia melihat ke arah padang rumput di luar dusun.
Dari tempat tinggi ini, ia dapat melihat dengaa jelas.
Tak salah dugaannya.
Terjadi pertempuran yang amat hebat.
Debu mengepul dari suara berdentingnya senjata berbaur dengam teriakan-teriakan kemenangan jerit-jerit kesakitan.
Dari tempat dia mengintai, Nurseta dapat membedakan dengan mudah antara dui kekuatan yang saling bertempur.
Orang-orang yang mengenakan pakaian seragam itu tentulah pasukan Singosari, dan lawan mereka, orang-orang yang pakaiannya campur aduk, yang cara berkelahinya kasar dan ganas, agaknya tentulah para pemberontak, Dari atas, sukair mengenal wajah mereka, akan tetapi dengan perhitungan kasar, Nurseta dapat melihat betapa jumlah kedua pihak sebanding, hanya dari tempat tinggi itu diapun dapat melihat bahwa pihak tentara kerajaan agaknya terdesak hebat.
Melihat ini, Nurseta lalu berlari turun dan mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke medan pertempuran.
Setelah dia tiba di sempat itu, makin jelas nampak olehnya betapa pasukan kerajaan memang terdesak hebat.
Jumlah mereka memang seimbang, akan tetapi sepak terjang para anggota pemberontak itu memang dahsyat dan ganas sekali.
Jelas bahwa para pemberontak ini merupakan pasukan pilihan dan agaknya para perajurit kerajaan kewalaban menghadapi amukan para pemberontak yang ganas itu.
Apa lagi karena para pemberontak itu dipimpm oleh seorang yang bertubuh tinggi besar, berkulit hitam dan dadanya yang telanjang memperlihatkan lingkaran otot-otot yang amat kuat.
Dengan sepasang mata lebar melotot, orang ini mengamuk dan siapapun yang dekat dengannya pasti roboh oleh tendangan kedua kakinya, tamparan tangan dan bacokan golok besar di kanannya.
Kakek ini sungguh gagah perkasa dan selalu serangannya mengandung tenaga besar sekali.
Setiap orang perajurit Kerajaan Singosari yang kena ditendang atau ditampar, terlempar jauh dan terbanting untuk tidak dapat bangun kembali karena tewas seketika.
Dua orang senopati Kerajaan Singosari yang memimpin pasukan itu adalah dua orang senopati yang sudah terkenal, yaitu Senopati Pamandana dan Senopati Banyak Kapuk.
Mereka berdua memimpin hampir empat ratus orang karena keduanya yang memimpin masing-masing dua ratus orang itu bertemu di jalan dan mereka lalu bergabung untuk menghadang pasukan yang dipimpin oleh Mahesa Rangkah sendiri yang jumlahnya tiga ratus orang lebih.
Dan terjadilah pertempuran yang amat seru itu.
Akan tetapi, dua orang senopati itu sungguh kewalahan menghadapi kehebatan sepak terjang Mahesa Rangkah.
Mereka merasa amat sukar mendekati kepala pemberontak yang sakti dan bertenaga besar itu.
Golok besar di tangan Mahesa Rangkah itupun berat dan bergerak dengan amat cepatnya, menandakan bahwa raksasa pemberontak itu memang memiliki tenaga gajah.
Banyak perajurit berusaha mengeroyok untuk membantu dan menyelamatkan dua orang pimpinan mereka, akan tetapi para perajurit itu bagaikan sekawanan nyamuk menerjang apa lilin saja.
Tamparan dan tendangan Mahesa Rangkah membuat mereka berpelantingan, mayat para perajurit sudah berserakan di sekeliling pemimpin pemberontak itu.
"Babo babo, majulah semua, akan kutumpas habis orang-orang Singosari"
Teriak Mahesa Rangkah yang makin lama semakin buas seperti harimau mencium darah.
"Plak ! Plak"
Dua kali tamparan tangan kiri dan kaki kanannya ditangkis orang dan ketika dengan terkejut karena merasa betapa kaki dan tangannya tergetar hebat oleh tangkisan itu.
Mahesa mengangkat muka memandang, ia melihat bahwa penangkisnya hanyalah seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tahun lebih sedikit, berwajah tampan halus, berpakaian sederhana dan sama sekali tidak berwibawa.
Bahkan kumis tipisnya membuat pemuda itu kelihatan sebagai seorang pemuda tanggung yang lemah dan pantasnya dijadikan pemuda penghibur.
"Bojleng-bojleng iblis laknat! Siapakah kau ini? Apakah seorang Senopati Singosari yang baru? Sayang bagusmu, orang muda, jangan kau lanjutkan. Lebih baik kau mengabdi kepadaku, pemuda tampan"
Wajah Nurseta berubah merah.
Sialan, pikirnya.
Ia dianggap sebagai pemuda yang suka dijadikan kekasih oleh para datuk sesat.
Pernah ia mendengar bahwa para datuk sesat banyak yang suka memelihara pemuda-pemuda tampan sebagai gadis-gadis cantik yang mungkin sudah membosankan bagi para datuk itu.
Tadi, sebelum ia menerjang maju, ia bertanya kepada seorang perajurit Singosari yang terluka, siapakah pemimpin pasukan pemberontak itu dan siapa pula dua orang Senopati Singosari.
Setelah mendapat keterangan, barulah ia menerjang maju dan berhasil menyelamatkan dua orang perajurit dari tamparan dan tendangan Mahesa Rangkah.
Mengetahui bahwa raksasa itu bukan lain adalah Mahesa Rangkah sang pemimpin pemberontak, giranglah hati Nurseta.
Ia memperoleh kesempatan untuk berbakti kepada Singosari, sesuai yang dipesankan Ki Baka, dan juga gurunya.
"Hemm, Mahesa Rangkah. Sumbarmu seolah-olah kau akan dapat menaklukkan kahyanga. Dengarlah baik-baik. Namaku adalah Nurseta dan biarpun aku bukan seorang senopati maupun perajurit Singosari, akan tetapi aku adalah seorang laki-laki sejati yang semenjak kecil hidup di daerah Singosari, minum air dan makan tumbuh-tumbuhan dari bumi Singosari. Oleh karena itu, mendengar bahwa tanah air Singosari hendak diperkosa seorang pemberontak keji bersama anak buahnya, aku tidak mungkin dapat berpeluk tangan saja"
Ia berhenti sebentar lalu "Mahesa Rangkah.
Sebaiknya kau lekas berlutut dan menyerah, agar dapat kami tawan dan menghadap Sribaginda Raia di Singosari.
Dengan demikian, dosamu akan menjadi lebih ringan"
"Babo-babo, keparat!"
Mahesa Rangkah membelalakkan kedua matanya yang menjadi bundar sebesar jengkol tua, mukanya yang hitam itu menjadi semakin hitam karena agaknya muka itu dialiri lebih banyak darah dari pada biasanya, mulutnya menyeringai seperti mengeluarkan busa.
"Kau ini bocah masih ingusan berani sekali menantang Mahesa Rangkah? Apakah kau bosan hidup?"
Tiba-tiba saja, tanpa peringatan lebih dahulu, Mahesa Rangkah menubruk ke depan, goloknya terayun cepat sekali.
Golok itu beratnya paling sedikit ada tiga puluh kati, tebal dan berat dan tajam, akan tetapi dalam tangan Mahesa Rangkah, golok tebal itu seperti sebatang rumput saja ringannya dan gerakannya mengayun golok menyambar leher Nurseta, sungguh mengerikan.
Agaknya bagi penglihatan perajurit-perajurit Singosari yang berada di sekitar lingkaran pertempuran Nurseta, mengira bahwa leher pemuda itu tidak mungkin dapat diselamatkan lagi dan mereka sudah membayangkan dengan hati yang ngeri, betapa kepala pemuda yang tampan itu akan terlempar lepas dari tubuhnya, dan leher itu akan terbabat dan darah akan memancar dari leher Nurseta..''Syuuuuttt.......!"
Golok itu terbang lewat di atas kepala Nurseta.
Dengan mudah saja tadi Nurseta menekuk kedua lututnya sehingga kepalanya merendah dan golok itu lewat di atas kepala, angin gerakan golok itu memotong gumpalan rambut di kepala Nurseta yang berkibar.
Sambil merendahkan diri dengan menekuk kedua lututnya, Nurseta tidak membiarkan kedua tangannya menganggur begitu saja.
Dengan jari tangan terbuka, dia menusuk ke arah perut gendut raksasa itu, dan tangan kirinya, juga dengan jari terbuka, mendorong ke atas sehingga telapak tangan bagian bawah yang mencuat itu menendaag ke atas, ke arah dagu lawan.
"Ehhh.....Ohhh......."
Teriak Mahesa Rangkah dan cepat ia meloncat ke belakang, nyaris dagunya tercium telapak tangan dan ia terkejut sekali.
Salahnya sendiri karena tadi ia terlampau memandang rendah pemuda itu.
Menurut perhitungannya sekali tabas tentu akan putus lehernya.
Untung Mahesa Rangkah memang memiliki tingkat kepandaian tinggi sehingga serangan balasan Nurseta yang demikian cepat dan tak terduga itu masih dapat dielakkannya dengan meloncat surut ke bekakang.
Dengan penasaran kini Mahesa Rangkah menyerang lagi tidak berani main-main, karena maklum bahwa pemuda ini ternyata tidak boleh disamakan dengan dua orang Senopati yang memimpin pasukan Singosari itu.
Ia memutar goloknya sehingga lenyaplah bentuk golok itu, berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata.
Juga tubuhnya menyelinap ke sana-kemari, kadang-kadang nampak kadang-kadang lenyap dalam gulungan sinar golok.
Dari dari dalam gulungan sinar golok ini seringkali mencuat sinar tajam yang meluncur ke arah Nurseta.
Menghadapi serangan yang hebat ini, Nurseta juga bersikap hati-hati sekali.
Dia menggerakkan tubuh dengan mantap, mengerahkan Aji Sari Patala dalam tubuhnya dan menghadapi ilmu golok lawan dengan aji kesaktian Bajradenta, sedangkan tangan kirinya mengeluarkan sebatang suling.
Benda ini penting baginya dalam menghadapi gulungan sinar golok yang berbahaya itu, karena alat musik tiup ini dapat dia pergunakan untuk menangkis kalau perlu.
Dan ternyata dengan Aji Bajradenta, dia tidak hanya dapat menghindarkan serangan lawan, bahkan mampu membalas dengan tak kalah dahsyatnya.
Melihat munculnya seorang pemuda yang mengaku bernama Nurseta dan ternyata amat sakti sehingga mampu menandingi Mahesa Rangkah, dua orang senopati Singosari itu menjadi lega dan girang sekali.
Mereka lalu memimpin pasukannya untuk menghadapi pasukan pemberontak yang rata-rata memiliki kepandaian berkelahi yang kuat itu.
Dengan perlawanan dua orang senopati ini, sedangkan Mahesa Rangkah tidak mampu membantu anak buahnya, karena menghadapi Nurseta saja ia sibuk setengah mati.
Maka perlahan-lahan pihak pemberontak terdesak mundur dan banyak diantara anak buah mereka yang roboh oleh amukan Senopati Pamandana dan Senopati Banyak Kapuk.
Melihat keadaan anak buahnya, pasukan inti yang diandalkan itu mengalami tekanan dan mendekati kekalahan, Mahesa Rangkah meniadi semakin panik dan dia menjadi nekat.
Sambil mengeluarkan pekik menggetarkan, ia menubruk ke depan, goloknya membabat leher Nurseta, tangan kirinya mencengkeram ke arah dada, disusul tendangan kakinya yang mengarah selangkangan.
Dihujani serangan berbahaya yang masing-masing merupakan serangan maut itu, Nurseta bersikap tenang sekali.
Dia maklum akan kehebatan lawan yang amat berbahaya itu, maka diam-diam dia Ialu mengerahkan Aji Jagad Pralaya, yaitu aji pukuian yang dipelajarinya dari Panembahan Sidik Danasura.
Nurseta meloncat ke belakang, cukup jauh dari jangkauan golok lawan, dan pada saat lawan mengejarnya dengan tendangan yang amat kuat, iapun menyambut tendangan kaki kanan itu dengan tangkisan lengan kiri, kemudian, pada saat yang sama, tangan kanannya membuat gerakan mendorong dengan jari tangan terbuka ke arah dada lawan, disertai suara melengking tinggi.
Itulah Aji Jagad Pralaya yang ampuhnya tiada kepalang.
"Hyaaattt.......!"
Mahesa Rangkah terkejut ketika tendangannya bertemu dengan lengan yang keras bagaikan sebatang linggis besi, dan ia lebih terkejut lagi menghadapi hantaman tangan kanan pemuda itu yang dibarengi pekik melengking yang mendatangkan angin dahsyat.
Terpaksa iapun melepaskan goloknya dan kedua tangannya terbuka, mendorong ke depan untuk menyambut, karena untuk menghindar sudah tiada kesempatan lagi.
"Desss..........!!"
Bagaikan sehelai layang-layang putus talinya, tubuh yang tinggi besar itu terdorong dan terhuyung ke belakang.
Untung bagi Mahesa Rangkah, bahwa ia memihki banyak pengawal pribadi yang sejak tadi siap membantunya.
Melihat Mahesa Rangkah terhuyung, belasan orang Ialu melindunginya dan raksasa inipun lenyap diantara ratusan orang yang sedang bertempur.
Para perajurit Singosari bersorak gembira melihat Mahesa Rangkah mundur, dan kemenangan Nurseta ini menambah semangat mereka.
Juga kedua orang senopati Singosari kagum dan girang bukan main.
Mereka berdua menghampiri Nurseta, dan Senopati Pamandana berkata dengan penuh kagum.
"Raden, kau sungguh hebat, mampu mengalahkan Mahesa Rangkah. Terima kasih atas bantuanmu, Raden Nurseta"
Diam-diam Nurseta merasakan sesuatu yang aneh, akan tetapi tidak janggal mendengar dirinya disebut Raden oleh seorang Senopati Kerajaan Singosari.
Padahal ia hanyalah seorang pemuda miskin yang besar dalam kehidupan yang sederhana.
di dusun-dusun dan pertapaan.
Namun kenyataannya, ia adalah seorang putere pangeran, maka sebutan itupun diterimanya sebagai suatu hal yang sudah sewajarnya.
"Sudahlah, paman. Yang penting sekarang adalah mengejar dan menangkap Mahesa Rangkah sampai dapat, hidup ataupun mati karena ialah pemimpin pemberontakan ini, dan sekali ia dapat tertangkap, maka pemberontakan ini tentu akan berakhir"
Dua orang senopati itu membenarkan dan merekapun kemudian mengamuk, merobohkan setiap orang pemberontak yang melawan, namun mereka tidak berhasil menemukan Mahesa Rangkah.
Adapun para anggota pemberontak, ketika melihat bahwa pemimpin mereka kalah, menjadi panik.
Sementara itu, Mahesa Rangkah bersembunyi diantara anak buahnya, diam diam ia mengumpulkan tenaga saktinya untuk memulihkan keadaannya.
Ia teiah menderita luka dalam karena guncangan hebat akibat benturan tenaga sakti tadi.
Ia muntah darah, akan tetapi berkat ilmunya yang tinggi, nyawanya masih dapat diselamatkan, hanya saja ia merasa bahwa untuk maju lagi melawan pemuda yang bernama Nurseta itu, ia tidak akan mampu menang, bahkan akan membahayakan nyawanya.
Nurseta maklum bahwa Mahesa Rangkah tentu belum pergi dari dalam medan pertempuran, maka iapun menyelinap pergi, Ialu melakukan pencarian secara diam-diam.
Dan tak lama kemudian, usahanya berhasil ketika ia melihat bekas lawannya itu.
Akan tetapi, kini keadaan Mahesa Rangkah telah pulih kembali.
Raksasa ini sedang duduk bersila dan seorang kakek berdiri di belakangnya, menekan beberapa kali ke arah kedua pundak dan tengkuk.
Nurseta mengintai dari jauh dan mendekati perlahan-lahan sambil menyusup diantara orang-orang yang sedang bertempur.
Untuk yang terakhir kalinya, kakek itu menampar ke arah punggung Mahesa Rangkah, lalu berkata "Sembuhlah kau, Mahesa Rangkah.
Dan lawanlah lagi musuhmu itu, jangan khawatir, aku akan membantumu dari belakang"
Mahesa Rangkah bangkit dengan wajah gembira, lalu berkata.
"Terima kasih, Guru. Setelah. Guru datang, saya yakin dapat mengalahkan pemuda bernama Nurseta itu"
Nurseta mengamati kakek itu.
Seorang kakek yang tubuhnya sedang dan biarpun kelihatan usianya sudah tua sekali, mungkin sekitar lebih dari tujuh puluh tahun, namun tubuh itu masih nampak tegak dan sehat.
Wajahnya terhias kumis dan jenggot yang kelabu, pakaiannya serba hitam, pakaian petani.
Wajah itu penuh semangat, sepasang matanya mencorong seperti mata harimau di dalam gelap, atau mata iblis.
Mendengar Mahesa Rangkah menyebut guru kepada kakek itu.
Nurseta maklum, bahwa kakek itu tentu seorang yang memiliki kesaktian tinggi dan akan merupakan lawan yang amat tangguh.
Namun, ia tidak merasa gentar.
Ia sedang berjuang mempertahankan tanah air dan bangsa, pikirnya.
Teringat akan petuah petuah gurunya dan juga bapaknya, Ki Baka.
Bagi seorang satria utama, seorang pendekar dan pahlawan pembela nusa bangsa, setiap jengkal tanah akan dipertahankan dengan taruhan sepercik darah.
Sejengkal tanah sepercik darah, itulah semboyan seorang laki-laki sejati.
Dan untuk perjuangan ini, tidak dikenal perasaan jerih atau takut, terhadap lawan yang bagaimana tangguh sekalipun.
Ingatan ini mengobarkan semangatnya dan Nurseta meloncat keluar menghampiri mereka.
"Mahesa Rangkah, hendak lari ke manakak kau? Sudah aku katakan, menyerahlah saja, karena semua pemberontakanmu yang keji ini akan sia-sia belaka"
Bentaknva.
Melihat lawannya, Mahesa Rangkah yang telah diobati dan disembuhkan oleh gurunya yang muncul secara tiba-tiba, menjadi marah.
Kini besarlah hatinya.
Ki Buyut Pranamaya gurunya telah berada di situ dan ia percaya bahwa dengan bantuan gurunya, ia akan mampu mengalahkan pemuda itu.
Tidak ada manusia di dunia ini yang akan mampu mengalahkan kesaktian gurunya.
Demikian kepercayaan Mahesa Rangkah dan karena ada gurunya ini pula maka ia berani melakukan pemberontakan untuk membalas dendam kepada Singosari atas kematian mendiang ayahnya, Linggapati yang juga pemberontak.
Mahesa Rangkah meloncat ke depan Nurseta sambil tertawa bergelak.
"Ha-ha ha-ha bocah ingusan. Aku tadi hanya beristirahat sebentar saja untuk menghapus keringatku. Sekarang kau ingin menyerahkan nyawa. Nah, bersiaplah untuk mampus!"
Raksasa itu membentak dan tubuhnya sudah menubruk maju.
Kali ini tangan kanannya memegang sebatang keris karena dalam perkelahiannya melawan Nurseta tadi, ia telah kehilangan golok besarnya.
Golok besar dan berat saja dapat dimainkan dengan amat cepatnya oleh tangan MahesK Rangkah, apalagi sebatang keris yang ringan.
Keris itu bagaikan terbang saja menghunjam ke arah dada Nurseta.
Pemuda ini miringkan tubuhnya, tangan kirinya mengikuti gerakan lengan lawan menolak ke arah siku kanan lawan yang memegang keris, sedangkan tangan kanannya sendiri yang memegang suling, telah bergerak untuk menotok ke arah lambung.
Biarpun hanya sebatang suling, namun karena digerakkan oleh tangan pemuda itu yang mengandung tenaga dalam yang tinggi, maka suling itu keras bagaikan baja.
Mahesa Rangkah juga maklum akan hal ini, maka dia meloncat ke belakang sambil mengelebatkan kerisnya menangkis sinar hitam suling yang meluncur ke arah lambungnya, dengan gerakan dari atas ke bawah.
"Cringg........"
Kembali Mahesa Rangkah merasa lengan kanannya kesemutan dan tergetar hebat.
Pada saat itu, Nurseta telah mendesak.
Tangan kirinya menampar ke arah kepala lawan.
Akan tetapi, tiba-tiba saja ada hawa aneh menyambarnya dari samping, dan hawa ini menahan tamparannya.
Nurseta terkejut dan meloncat ke samping, sambil menoleh, ia melihat kakek itu membuat gerakan dengan tangannya dan iapun maklum bahwa kakek itu telah membantu muridnya dengan ilmu yang aneh, mungkin ilmu hitam yang dapat menyerangnya dari jarak jauh.
Dugaannya ternyata benar.
Sekarang kakek itu kembali membuat gerakan aneh dengan tangannya, tiba-tiba ia melihat kakek itu telah berubah bentuk menjadi seperti seekor ular naga bertanduk satu.
Nurseta tidak pernah mempelajari ilmu hitam atau ilmu sihir, walaupun dia sudah banyak mendengar akan ilmu-ilmu hitam dari gurunya, beruntunglah ia, bahwa gurunya juga mengajarkan cara menghadapi dan menangggulangi kekuasaan ilmu hitam.
Maka iapun bersikap tenang saja.
Pada detik itu, Mahesa Rangkah sudah menerjang lagi dari arah samping.
Kerisnya menusuk ke arah lehernya.
Nurseta mengelak dengan bergulingan, dan dalam kesempatan itu, kedua tangannya menepuk tanah dan menggunakan telapak tangan kiri yang terkena tanah itu untuk mengusap mukanya.
Ketika Nurseta meloncat bangun dan memandang ke arah kakek itu, kakek itu kelihatan biasa saja, sama sekali tidak tampak seperti ular naga seperti tadi.
Hal ini berarti bahwa kekuasaan ilmu hitam tadi telah dapat ia pecahkan, dan ia tidak lagi terpengaruh ilmu sihir itu.
"Bocah, lihat baik-baik siapa aku"
Tiba-tiba terdengar suara kakek itu parau menggetar dan mengandung penuh kekuatan sihir.
Namun, kakek itu tidak tahu bahwa Nurseta telah dapat memecahkan kekuasaan ilmu sihirnya, dan pemuda itu tersenyum "Kau adalah seorang kakek tua yang suka main-main dengan ilmu hitam, dan kau adalah guru Mahesa Rangkah sang pemberontak.
Sebagai seorang guru, sepatutnya kau melarang muridmu melakukan hal-hal yang buruk dan sesat"
Sadarlah Ki Buyut Pranamaya bahwa pemuda itu tidak terpengaruh oleh kekuatan sihirnya.
Diam-diam ia merasa terkejut dan heran, juga penasaran sekali.
Mungkinkah seorang pemuda yang masih hijau begini mampu menolak kekuasaan ilmu hitamnya?
"Mahesa Rangkah, minggirlah.
Biar aku yang akan membasmi anak setan ini.
Engkau lebih baik memimpin pasukanmu untuk menumpas pasukan Singosari"
Katanya, nada uaranya tidak tenang atau sabar lagi karena hatinya mulai terasa panas.
Mahesa Rangkah cepat menyingkir karena iapun meiihat betapa anak buahnya mulai kacau.
Ketika ia menerjang ke dalam medan pertempuran dan anak buahnya meiihat betapa pemimpin mereka kini menjadi segar bugar dan gagah kembali, mereka bersorak dan dengan penuh semangat mereka kembali melakukan perlawanan sehingga pertempuran berkobar lagi dengan lebih sengit.
Sementara itu, kini Ki Buyut Pranamaya berhadapan langsung dengan Nurseta.
Sejenak keduanya saling pandang seperti dua ekor jago aduan dilepas di medan laga.
Mereka saling pandang untuk menilai dan menimbang kekuatan lawan.
Meiihat betapa sinar mata pemuda itu tajam namun lembut, diam-diam kakek itu terkejut juga.
Seorang bocah yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan, pikirnya.
Menghadapi seorang lawan sakti saja, ia tidak akan merasa gentar.
Akan tetapi untuk menghadapi seorang lawan yang sinar matanya begitu lembut, penuh damai dan suci, pertanda bahwa batin lawannya itu masih murni, diam-diam ia merasa khawatir.
Pantas tidak dapat dikuasainya dengan sihir, pikirnya.
Seorang yang mempunyai batin bersih seperti pemuda ini, tentu memiliki dasar tenaga sakti yang luar biasa kuatnya.
"Hohhh......."
Tiba-tiba orang tua itu membentak.
Kedua lengannya dibentang lebar.
Karena tubuhnya mengenakan jubah lebar di luar pakaian petani yang serba hitam, maka ia tampak seperti seekor burung gagak yang hendak terbang.
Tiba-tiba saja, kedua tangannya bergerak dan tangan kirinya sudah mengirim pukulan jarak jauh dengan dorongan ke depan, mengarah dada Nurseta.
"Wuuut........!"
Angin pukulan keras sekali menyambar.
Nurseta mengenal pukulan ampuh, maka iapun menggeser kaki ke samping dan membuat gerakan seperti menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
Dua kekuatan sakti bertemu di udara.
Kembali kakek itu terkagum-kagum.
Ternyata pemuda itu mampu mengimbangi kekuatan tenaga saktinya dalam pukulan jarak jauh.
Tadi dia hanya menguji saja dan melihat bahwa dengan ilmu sihir dan pukulan mengandalkan tenaga sakti jarak jauh ia tidak akan mampu menundukkan pemuda ini, kakek itu lalu mengeluarkan teriakan nyaring dan kini menyerang dengan gerakan aneh.
Serangannya kali ini langsung.
Lengan kanannya yang panjang meluncur ke arah kepala Nurseta untuk mencengkeram ke arah ubun-ubun, sedangkan tangan kirinya menyelonong ke bawah untuk mencengkeram ke arah selakangan.
Sungguh merupakan serangan yang keji dan juga amat berbahaya karena kedua tangan itu seperti cakar maut.
Menghadapi serangan ini, Nurseta juga bertindak dengan cepat.
Lengan kirinya diangkat untuk menangkis cengkeraman ke arah ubun-ubun itu, sedangkan suling hitam di tangan kanannya meluncur, menyambut tangan kiri lawan yang mencengkeram ke arah bawah pusarnya, dengan tusukan ke arah pergelangan tangan.
Kalau dilanjutkan cengkeraman itu,.
sebelum mengenai sasaran, tentu lebih dulu pergelangan tangan itu akan tertusuk suling.
Andaikata kakek itu kebal dan tidak dapat terluka sekalipun, tetapi otot itu akan tertusuk keras yang akan membuat tangan itu seketika menjadi lumpuh.
Ki Buyut Pranamaya tidak mau membiarkan pergelangan tangan kirinya tertusuk, maka ia cepat menarik kembali tangannya, dengan mengerahkan tenaga pada lengan kanan yang ditangkis lawan.
Ia tidak dapat mencegah lagi, lengan kanan kakek itu bertemu dengan lengan kiri Kurseta yang menangkisnya.
"Dukkk!!"
Pertemuan dua tenaga sakti yang kuat melalui lengan itu membuat keduanya tergetar hebat, bahkan Nurseta sampai terpental ke belakang, namun tidak sampai roboh karena ia telah mampu menguasai dirinya.
Sebaliknya, kakek itupun terdorong dan terhuyung Wajahnya menjadi agak kemerahan, tanda bahwa ia merasa terkejut dan penasaran.
Ia adalah seorang datuk yang selama ini merasa paling sakti, tak pernah menemui lawan.
Tetapi melawan seorang pemuda ingusan saja, ia sampai terhuyung.
Untung bahwa mereka bertanding di antara orang-orang yang sedang bertempur sehingga tidak ada yang menonton dengan penuh perhatian.
Kalau sampai pertandingan itu disaksikan banyak orang dan mengetahui ia terhuyung dalam adu tenaga pertama, tentu ia akan merasa malu bukan main.
Rasa penasaran mengundang kemarahannya, bagaikan api disiram minyak, berkobarlah kemarahannya dan hal ini dapat dilihat melalui sinar matanya yang seolah-olah berkilat ketika dia memandang Nurseta.
Tanpa mengeluarkan suara, kakek itu sudah menerjang lagi ke depan dan kali ini, ia sama sekali tidak mau coba-coba lagi, dan begitu menyerang, ia sudah mengerahkan semua tenaganya dan serangan itu merupakan pukulan dan cengkeraman yang bertubi-tubi ke arah bagian tubuh paling lemah dari Nurseta.
Namun, pemuda ini telah siap siaga.
Maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh, iapun segera mengerahkan tenaga sakti Sari Patala (Inti Bumi) sehingga tubuhnya menjadi kokok kuat dan, kebal.
Kedua lengannya berisi penuh Aji Bajradenta.
Dengan kecepatan gerakan tubuhnya, ia mengelak dan menangkis, bahkan membalas dengan tamparan-tamparan Bajradenta, dan sekali-kali diseling dengan tendangan.
Terjadilah perkelahian yang amat seru dengan angin yang kuat menyambar-nyambar di sekeliling mereka, membuat debu dan daun kering beterbangan seperti diterjang angin badai.
Orang-orang yang bertempurpun menjauh, karena baru tersambar angin pukulan saja, mereka ada yang terhuyung dan bahkan terguling Tidak percuma Nurseta menjadi murid Panembahan Sidik Danasura.
Biarpun ilmu silat yang dimainkannya itu dipelajarinya dari Ki Baka, namun oleh gemblengan Panembahan Sidik Danasura, ilmu-ilmu itu menjadi matang dan jauh lebih ampuh dibandingkan dengan permainan Ki Baka sendiri.
Semua gerakan pemuda itu berisi tenaga sakti, gerakan-gerakannya mantap dan penuh ketenangan yang timbul dari kepercayaan kepada diri sendiri.
Sebagai seorang ahli silat yang pandai, Ki Buyut Pranamaya tentu saja terkejut bukan main.
Pemuda ini bukan saja mampu menghindarkan semua serangannya, bahkan mampu membalas dengan hebat, mampu menandinginya dalam suatu perkelahian yang seimbang.
Dan dia mengenal gerakan pukulan pemuda ini.
"Takkk ! Dessss.......I"
Kembali keduanya terdorong mundur oleh adu tenaga yang tak dapat dihindarkan lagi.
Wajah kakek itu berkeringat dan matanya mencorong.
Sedangkan wajah Nurseta masih tenang saja ketika mereka maju lagi dan saling memandang dengan tajam.
"Hemm, gerakan-gerakanmu seperti gerakan Ki Baka"
Kata kakek itu.
"Apamukah Ki Baka itu?"
Nurseta mengerutkan alisnya dan memandang tajam penuh selidik "Ki Baka adalah ayahku, juga guruku"
Jawaban ini membuat kakek itu tertegun dan matanya terbelalak.
Hanya murid Ki Baka?
Sungguh sukar untuk dapat dipercaya.
Ki Baka sendiri sama sekali bukan tandingannya, Akan tetapi mengapa puteranya dan juga muridnya begini saktinya?
Dia menjadi semakin penasaran dan sebagai tanggapan atas keterangan pemuda itu, dia kini menyerang dengan ilmunya yang dahsyat, yaitu ilmu tendangan Bukan tendangan biasa, karena kedua kakinya itu seperti kitiran angin berputar saja layaknya, kanan kiri menendang silih berganti dan susul menyusul, merupakan serangkaian tendangan yang dahsyat dan kuat.
Sambil mengirim serangkaian tendangan yang dahsyat itu, mulut kakek iiu mengeiuarkan suara yang amat berwibawa.
"Robohlah. Kau tak akan kuat menghadapi ilmu tendanganku Aji Cakrabairawa. Robohlah kau, Nurseta!"
Nurseta merasa betapa ada kekuatan dahsyat dalam suara itu, seolah-olah memaksanya untuk jatuh.
Ia terkejut dan cepat mengerahkan tenaga dalamnya karena maklum bahwa ilmu sihir yang terkandung dalam suara itu bahkan lebih berbahaya dari pada tendangan itu sendiri.
Ia hanya dapat mengelak ke sana-sini menghadapi tendangan itu, dan sekali-kali menangkis.
Akan tetapi, kekuatan kaki memang lebih besar dari pada kekuatan lengan, maka setiap kali menangkis, ia merasa betapa tubuhnya terguncang keras.
Kini Nurseta Terdesak dan ia harus waspadas mengikuti gerakan kaki yang seperti kitaran angin itu.
Dan tiba-tiba dia meiihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar keras, dan matanya terbelalak, ketika ia memperhatikan bahwa kedua kaki telanjang itu masing-masing hanya mempunyai empat buah jari, tidak mempunyai ibu jari.
"Bayunirada......!"
Nurseta membentak, teringat akan cerita Ki Baka tentang Wiku Bayunirada yang telah merampas Ki Ageng Tejanirmala, juga telah melukai Ki Baka dengan pukulan yang disebut Aji Margaparastra.
Kakek itu terkejut bukan main mendengar disebutnya nama Bayunirada itu, sehingga rangkaian tendangan kakinya menjadi agak kacau.
Nurseta memandang penuh perhatian walaupum dia masih terus mengelak dan menghindarkan diri dari tendangan yang tak kunjung henti itu.
"Kau Wiku Bayunirada yang telah merampas Ki Ageng Tejanirmala, dan telah melukai ayahku"
Kembali Nurseta membentak dan karena kini dia berhadapan dengan orang yang memang dicarinya, ia melanjutkan.
"Kakek jahat, kembalikan tombak pusaka itu"
Kakek itu menghentikan tenndangan-tendangannya dan tertawa bergelak.
Sehingga Nurseta merasa heran.
Menurut keterangan Ki Baka, Wiku Bayunirada mengenakan pakaian dan ikat kepala serba putih, mukanya pucat keriputan seperti muka mayat dan kalau bicara atau ketawa bibirnya tidak bergerak.
Akan tetapi mengapa kakek ini, yang memakai nama Ki Buyut Pranamaya memiliki wajah yang sama sekali berbeda?
Akan tetapi, dia menduga bahwa tentu kakek yang sakti dan pandai ilmu sihir ini pandai pula melakukan penyamaran.
"Ha-ha-ha, tombak pusaka itu kini milikku dan tak seorangpun boleh merampasnya dariku, kecuali kalau tubuh ini sudah menjadi mayat"
Berkata demikian, kakek itu mengeluarkan sebuah tombak bergagang pendek dari balik jubahnya.
Nampak sinar putih seperti perak berkilat dan tentu saja 'Nurseta mengenal tombak pusaka itu.
Akan tetapi, kini kakek itu mempergunakan tombak pusaka yang mempunyai kekuatan menolak bala itu, dipergunakan untuk menyerang dengan dahsyatnya.
Tombak pusaka suci yang merupakan pelindung manusia itu kini disalahgunakan, dipergunakan untuk menyerang dan berusaha membunuh manusia.
"Kakek iblis laknat !"
Nurseta berseru dan cepat ia melempar tubuhnya ke samping, kemudian dari bawah ia melontarkan pukulan Bajradenta dengan penuh kekuatan.
"Heiiiitt.......!"
Kakek itu berteriak sambil mengelak, kemudian dia berseru "Terimalah Aji Margaparastra ini!"
Dan kakek itupun mengirim pukulan dengan jari tangan terbuka ke arah dada Nurseta.
Hebat bukan main pukulan ini, dan Nurseta membayangkan keadaan Ki Baka yang menjadi manusia cacat dan tidak berdaya selama bertahun-tahun karena pukulan keji ini.
Ia menjadi nekat, mengerahkan Aji Jagad Pralaya yang dipelajarinya dari Panembahan Sidik Danasura, dari bawah dia memukul ke atas, menyambut pukulan lawan.
"Dessss...........!!"
Dua aji pukulan yang ampuh dan sakti bertemu dan akibatnya, tubuh kakek itu terjengkang.
Ternyata aji pukulannya yang amat sakti itu masih kalah terhadap aji Jagad Pralaya.
Akan tetapi karena ia memang sakti, apa lagi karena di tangannya terdapat tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala yang memiliki khasiat penolak bala, kakek itu bangkit kembali.
dan tidak mengalami luka Bahkan kini ia sudah menerjang lagi.
tangan kirinya diisi aji pukulan Margaparastra, sedangkan tangan kanannya mengayun tombak pusaka itu, menyerang Nurseta dengan penuh kemarahan.
Nurseta terpaksa mempergunakan lagi kelincahan tubuhnya untuk mengelak ke sana-sini.
Kalau dibuat ukuran, maka tentu saja kakek itu menang pengalaman, dan juga lebih kaya akan ilmu-ilmu yang aneh dan ampuh sehingga dapat dikatakan bahwa dia masih setingkat lebih tinggi dari pada Nurseta yang masih muda.
Akan tetapi, ilmu yang dipelajari oleh Nurseta lebin bersih dan karenanya memiliki dasar lebih kuat.
Apa lagi, tubuhnya yang masih murni itu lebih kuat dan memiliki daya tahan lebih besar ketimbang lawan, sehingga biarpun tingkatnya masih kalah, namun Nurseta masih dapat menandingi lawannya dan sampai sebegitu lamany belum juga roboh atau terluka.
Akan tetapi, setelah kini kakek itu mengamuk dengan tombak pusaka Tejanirmala di tangan, diam-diam Nurseta menjadi gentar juga.
Hawa dari tombak pusaka itu memang ampuh sekali, terasa dingin menyusup tulang dan seperti hendak memadamkan semua nafsu berkelahinya.
"Wuuuuuttt....... singgg.......!"
Ujung tormbak pusaka itu nyaris mengenai pundak Nurseta yang cepat melempar tubuhnya ke belakang dan bergulingan di atas tanah.
Kakek itu tertawa bergelak dan terus mengejar, bertubi-tubi mengirim serangan dengan tusukan tombak pusaka diseling tamparan tangan kiri dengan Aji Margaparastra.
Nurseta bergulingan, mengelak untuk menyelamatkan nyawanya.
Ketika dia meiihat kesempatan baik, tiba tiba dia meloncat bangun, menangkis tangan kin kakek itu dan mengelak dari sambaran tombak, lalu kakinya menendang.
"Plakkk!"
Tendangannya menyerempet paha Ki Buyut Pranamaya yang pernah mempergunakan nama Wiku Bayunirada itu.
Kakek itu terkejut dan mengeluarkan sumpah serapah saking marahnya.
Akan tetapi, tendangan itu membuat tubuhnya terhuyung dan pada saat itu, nampak bayangan hijau berkelebat.
Sebuah pukulan kilat mengenai siku kanan kakek itu yang seketika merasa lengan kanannya lumpuh.
Sebelum dia sempat mencegahnya, tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala telah berpindah tangan.
"Keparat.......!"
Ki Buyut Pranamaya terkejut dan marah sekali, bagaikan seekor singa yang terluka dia membalik ke kanan dan melihat bahwa yang merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala tadi hanyalah seorang gadis berpakaian serba hijau, usianya paling banyak duapuluh tahun, berkulit kuning langsat, wajahnya manis, dengan sepasang mata seperti bintang yang tajam, akan tetapi juga mengandung sinar dingin yang mengerikan, hidungnya kecil mancung, bibirnya merah membasah dan begitu bibir itu bergerak, nampak lesung pipit di pipi kiri, sedangkan pipi kanannya terhias tahi lalat kecil.
Seorang gadis telah merampas tombak pusakanya.
Hampir tak dapat dipercaya.
"Perempuan iblis, kembalikan tombakku"
Bentaknya dan tanpa memperdulikan bahwa yang merampas pusaka itu adalah seorang wanita muda, kakek ini langsung saja mengirim pukulan Aji Margaparastra yang amat ampuh itu.
"Wulan, awas......!"
Nurseta berseru keras. melihat kakek itu menubruk ke depan dengan pukulan ampuh itu. Nursetapun cepat menyambar dari samping untuk menangkis.
"Desss........!"
Biarpun Nurseta sudah berhasil menangkis, tetap saja hawa pukulan itu menyambar ke arah gadis berpakaian serba hijau itu.
Namun, gadis itu mengeluarkan suara mendesis seperti ular dan tubuhnya meliuk ke kiri sehingga hawa pukulan ampuh itu luput, Kemudian, sekali berkelebat, gadis itu lenyap di antara orang-orang yang sedang bertempur sambil membawa tombak pusaka yang disembunyikan di balik bajunya dan diselipkan di ikat pinggangnya.
"Perempuan setan, jangan lari. Kembalikan pusakaku"
Bentak Ki Buyut Pranamaya yang cepat loncat mengejar.
Nurseta hendak mengejar pula, akan tetapi ia teringat akan keadaan pasukan kerajaan.
Kalau ia pergi, tentu kedua orang senopati Singosari itu tidak akan mampu menandingi Mahesa Rangkah dan mungkin mereka akan celaka, dan pasukan pemerintah akan kalah.
Oleh karena itu, ia teringat akan tugas utamanya lebih dahulu.
Tombak pusaka itu telah dirampas oleh gadis berpakaian hijau yang dia yakin adalah Wulansari, yang kini telah menjadi seorang gadis yang demikian sakti sehingga mampu merampas pusaka itu dari tangan seorang kakek iblis seperti Ki Buyut Pranamaya.
Yang penting ia harus membantu pasukan pemerintah agar pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Mahesa Rangkah dapat dikalahkan.
Benar saja, ketika itu, dua orang senopati Singosari telah payah menghadapi amukan Mahesa Rangkah, Melihat situasi yang demikian ini, gerombolan pemberontak berbesar hati dan merekapun mendesak pasukan Singosari yang kini berbalik semakin mundur.
Nurseta menerjang ke dalam pertempuran, dan dengan pukulan Bajradenta, dia menyerang Mahesa Rangkah.
Raksasa ini terkejut bukan main meiihat munculnya pemuda ini.
Tadi dia sudah merasa yakin bahwa gurunya tentu akan menewaskan pemuda ini.
Akan tetapi mengapa kini pemuda ini tiba-tiba muncul?
Apakah gurunya.......?
Ah, tidak mungkin !
Ia mengelak dengan loncatan ke belakang, sambil menoleh ke arah dimana tadi gurunya bertanding melawan Nurseta.
Dan ia tidak meiihat adanya Ki Buyut Pranamaya di sana.
"Guru.........!"
Teriaknya dan iapun meloncat, lenyap di antara anak buahnya.
Nurseta bersama dua orang senopati Singosari mengejar, namun banyak anggota pemberontak menghadang sehingga mereka bertiga mengamuk dan merobohkan banyak musuh.
Meiihat betapa pemimpin mereka kembali melarikan diri, dan tiga orang jagoan dari pasukan Singosari itu mengamuk, para anak buah pemberontak menjadi jeri.
Tanpa adanya pimpinan, apa lagi melihat betapa Mahesa Rangkah dan bahkan Ki Buyut Pranamaya sudah meninggalkan gelanggang, merekapun menjadi panik dan akhirnya mereka juga melarikan diri, dikejar oleh pasukan yang dipimpin oleh Senopati Pamandama dan Senopati Banyak Kapuk, dibantu oleh Nurseta.
Setelah meiihat Mahesa Rangkah dan pasukannya mundur dan melarikan diri, dikejar pasukan Singosari, Nurseta lalu meloncat dan berlari cepat melakukan pengejaran ke arah larinya Wulansari yang dikejar oleh Ki Buyut Pranamaya tadi.
Dia mengkhawatirkan gadis itu, juga khawatir kalau-kalau tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala akan terampas lagi oleh kakek sakti itu.
Dengan pengerahan ilmunya berlari cepat, tubuh Nurseta berkelebatan seperti terbang saja, menuju ke selatan.
Kita telah dibuat penasaran o!eh munculnya gadis berpakaian hijau yang telah tiga kali muncul secara tiba-tiba dan penuh rahasia.
Pertama kali ia muncul dalam sungai yaitu ketika Nurseta berperahu dihadang para bajak sungai di Kali Campur.
Ia membunuhi para bajak yang telah menggulingkan perahu Nurseta dan yang membunuh petani yang berperahu dengan Nurseta di Kali Campur.
Kemudian, gadis berpakaian hijau itu pergi tanpa pamit, tidak memberi kesempatan kepada Nurseta untuk bicara dengannya.
Pada hal Nurseta merasa yakin bahwa gadis berpakaian hijau adalah Wulansari.
Kemunculannya yang ke dua adalah ketika Nurseta dikeroyok penghuni dusun karena dia mencegah mereka itu membunuh Jumirah, isteri Ki Lembu Petak.
Dalam keributan itu, gadis itu muncul dan membunuh Jumirah, kemudian pergi pula tanpa pamit.
Dan kemunculannya sekarang ini adalah yang ke tiga, kemunculan yang membuat Nurseta menjadi semakin bingung karena gadis baju hijau yang diyakininya adalah Wulansari itu telah membantunya menghadapi Ki Buyut Pranamaya yang amat sakti, bahkan gadis itu berhasil merampas tombak pusaka Ki Ageng Tejanirmala dan melarikan pusaka itu.
Gadis berpakaian hijau itu memang Wulansari adanya.
Kini ia telah menjadi seorang gadis yang berkepandaian tinggi, juga wataknya berubah sama sekali.
Dahulu, ketika masih menjadi murid Panembahan Sidik Danasura di teluk Prigi Segoro Wedi, ia merupakan seorang dara remaja berusia limabelas tahun yang manis sederhana, ramah dan lemah lembut tutur sapanya, juga sinar matanya yang jeli itu bersorot lembut.
Akan tetapi, ketika tiga kali Nurseta melihatnya sebagai seorang gadis berpakaian hijau yang penuh rahasia, gadis itu memiliki sinar mata yang aneh, kadang-kadang redup dan ada kalanya mencorong, dan kalau Nurseta merobayangkan betapa gadis itu memiliki ilmu yang aneh, mengeluarkan suara mendesis yang mempunyai daya serang amat kuat, diam-diam dia bergidik.
Ada firasat dalam batinnya bahwa gadis itu selama ini telah mempelajari ilmu kesaktian yang tinggi, namun yang termasuk ilmunya orang dari golongan sesat.
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 5
Baca Juga: Si Bangau Merah 11