Eps 2 Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek
Baca online Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek
Cersil Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek.
91 Salah seorang di antara sahabat-sahabatnya yang datang berkunjung ke rumah Louw Cu Leng, adalah seorang she Co bernama Thian Ko, yang di kalangan Kang-ouw termasyhur dengan nama julukan Houw-jiauw Co, berhubung ia sangat mahir dalam ilmu Hok-houwkang, yang dapat membikin orang patah tulang atau hancur daging apabila terkena cengkeramannya.
Kepada sahabat ini Louw Cu Leng telah menuturkan hal ihwalnya, bagaimana ia mengobati Ma-cu Lie sehingga akhirnya bertemu dengan pemuda yang tidak dikenalnya itu.
"Gerakan-gerakan si pemuda ini yang bercorak ilmu silat dari cabang Siauw-lim, boleh dikatakan semua tidak ada kecewanya,"
Kata Louw Cu Leng.
"terutama ilmu tendangannya yang begitu keras dan sukar diduga, hingga biarpun aku telah hidup puluhan tahun lamanya di kalangan Kang-ouw, belumlah kulihat ada orang yang pandai menendang sebaik itu. Maka di waktu aku bertempur padanya siang tadi, boleh dikatakan hampir enampuluh bahagian dari perhatianku ditujukan pada tendangan-tendangannya ini, lebih-lebih karena ia lebih banyak menggunakan tendangan daripada pukulan dengan tinju."
"Kalau begitu,"
Kata Houw-jiauw Co dengan hati penasaran.
"aku ingin turut menyaksikan pertempuran itu. Dan jikalau ternyata ada kesempatan untuk aku campur tangan, aku sendiri pun ingin menjajal sampai dimana kelihayannya lawanmu itu."
Begitulah buat mempelajari lebih jauh taktik silat Lie Poan Thian dari keterangannya Louw Cu Leng, maka pada malam itu Thian Ko telah menginap di rumah sahabatnya itu.
92 Sementara Lie Poan Thian pulang ke rumahnya, ia telah berpapasan dengan pamannya dari pihak ibu yang bernama Han Siauw San, oleh siapa ia telah dicomeli, mengapa ia pulang menagih hutang begitu sore, sedangkan rumahnya Ma-cu Lie tidak terpisah terlalu jauh dari pusat kota.
Kemudian Poan Thian lalu tuturkan pada sang paman, peristiwa apa yang telah terjadi atas dirinya, sehingga ia terlambat dalam melakukan pekerjaannya.
"Malah selain dari itu,"
Ia melanjutkan.
"besok lohor aku mesti bertempur dengan seorang tua yang menjadi pembelanya si bopeng itu. Ilmu silatnya si empeh ini boleh dikatakan tidak tercela, tetapi aku tidak bisa mengerti cara bagaimana dia rela "
Diperkuda"
Oleh seorang busuk seperti si bopeng itu!"
Dan tatkala Poan Thian memberitahukan nama bakal lawannya itu, Han Siauw San kelihatan terperanjat dan membentak.
"Kau edan! Apakah kau tidak tahu siapa sebetulnya dia itu?"
"Aku tidak perduli dia itu siapa,"
Kata Lie Poan Thian sambil tersenyum.
"jikalau aku sudah keluarkan ucapan yang menantang, niscaya tak akan aku mundur barang setindak pun, pada sebelum dapat membuktikan siapa di antara kita berdua yang lebih unggul ilmu kepandaiannya!"
"Dia itu bukan lain daripada Sin-kun Bu-tek Louw Cu Leng!"
Kata sang paman.
"Kau anak kecil mana bisa tahu sampai dimana kegagahannya orang tua itu!"
Tetapi Poan Thian hanya mengganda tertawa atas omongan itu, maka pembicaraan itupun berakhirlah sampai di situ.
93 Pada hari esok menjelang lohor, Poan Thian telah mendahului datang di kelenteng Tay-seng-tian dimana ia menantikan kedatangannya Louw Cu Leng.
Tetapi karena ia belum dikenal orang cukup baik semenjak kembali dari Liong-tam-sie, maka para penonton yang berduyun-duyun berkunjung ke kelenteng itu buat menyaksikan orang mengadu ilmu silat, tidak mengetahui, jikalau di antara mereka terdapat juga salah seorang yang hendak bertempur, yakni Lie Poan Thian, yang dengan secara tenang lalu berdiri di muka kelenteng sambil matanya tidak berhentinya ditujukan kian kemari.
Tatkala menantikan di situ beberapa lamanya, barulah dari kejauhan ia menampak sebuah joli yang dipikul mendatangi dengan diiringi oleh seorang berkuda yang romannya angker dan berpakaian ringkas, yang umum dipakai di waktu melatih ilmu silat.
Orang banyak yang melihat si penunggang kuda itu, diam-diam jadi terkejut dan saling berbisik.
"Ah, apakah boleh jadi Louw Suhu kuatir dirobohkan oleh lawannya yang masih muda itu, sehingga ia merasa perlu juga mengundang Houw-jiauw Co sebagai pembantunya?"
Poan Thian pasang telinga untuk mendengari pembicaraan orang banyak itu, kemudian ia berpura-pura menanyakan.
"Siapakah yang kau katakan Houw-jiauw Co itu?"
Salah seorang di antara para penonton itu lalu menerangkan, betapa hebatnya ilmu kepandaian orang yang namanya dikatakan mereka itu.
"Batu karang yang bagaimana keras juga,"
Katanya apabila kena dicengkeram oleh jari-jari tangannya, segera jadi hancur lebur seperti tepung!
Sedangkan 94 kerbau yang kena dicekal batang lehernya, dengan sekali sentak saja tulang-tulang lehernya menjadi patah!
Apakah itu dapat diperbuat oleh sembarangan orang?"
"Ya, ya, aku mau percaya keteranganmu itu,"
Kata Poan Thian sambil tersenyum.
"tetapi sebentar lagi akan ada orang lain, yang akan mampu berbuat lebih aneh daripada itu."
Maka setelah Houw-jiauw Co dan joli yang membawa Louw Cu Leng berhenti di muka kelenteng, Lie Poan Thian lalu maju memberi hormat pada kedua orang itu sambil berkata.
"Aku yang rendah telah lama juga menantikan kedatangan Louw-enghiong di sini. Tetapi belum tahu apakah aku boleh mempunyai kehormatan buat mengetahui juga she dan nama tuan yang turut datang bersama-sama kau ini?"
Sambil balas memberi hormat, Louw Cu Leng perkenalkan si pemuda itu pada Houw-jiauw Co tersebut.
Kemudian setelah Thian Ko minta supaya orang banyak suka membuka halaman yang agak luas di muka kelenteng itu, barulah ia mengucapkan sebuah pidato pendek tentang maksudnya pertempuran itu, yang semata-mata dititik-beratkan untuk mengadu ilmu silat sejati buat menetapkan keunggulan salah satu pihak, tetapi sama sekali bukanlah hendak saling bunuh membunuh yang biasa menerbitkan permusuhan yang tidak habis-habisnya.
"Barang siapa yang kalah,"
Ia melanjutkan.
"tidak boleh mendendam sakit hati atau melakukan pembalasan dengan bergelap. Dan jikalau ia masih merasa penasaran akan kekalahannya, disembarang waktu ia boleh minta diadu pula dengan pihak si pemenang, agar supaya dengan begitu dapat ditentukan 95 pihak mana yang sesungguhnya lebih unggul, sehingga akhirnya ia rela mengaku kalah. Dengan begitu, pertempuran itupun berakhirlah dengan selamat sampai di situ."
"Sekarang aku minta supaya tuan-tuan sekalian suka menyaksikan pertempuran ini dari tempat yang terpisah sedikit jauh,"
Thian Ko menambahkan.
"karena selainnya halaman pertempuran jadi lebih lega, bahaya-bahaya yang tidak terduga pun bisa dihindarkan sewaktu kedua orang sedang bertempur dengan asyiknya."
Maka sebegitu lekas orang banyak mundur untuk membuka halaman, Cu Leng dan Poan Thian lalu menindak masuk ke dalam kalangan pertempuran dengan tindakan yang tenang.
Mula-mula mereka memberi hormat pada orang banyak dan Co Thian Ko, kemudian Cu Leng persilahkan Poan Thian membuka serangan lebih dahulu.
Tetapi Poan Thian tampak agak ragu-ragu, berhubung melihat usianya Cu Leng yang terpaut begitu jauh dengan dirinya.
"Tidak usah kau berlaku see-jie,"
Menganjurkan Co Thian Ko.
"kau yang menantang, maka patutlah kau juga yang mulai membuka serangan. Ayolah, sekarang kamu boleh mulai bertempur!"
Oleh karena mendapat anjuran dari pihak lawan dan wasitnya, maka apa boleh buat Poan Thian lalu mulai membuka serangan, yang lalu ditangkis oleh Louw Cu Leng dengan secara gesit sekali.
Dalam pertempuran itu, kedua pihak telah mengunjukkan ketangkasan masing-masing dengan jalan mempergunakan ilmu-ilmu silat amat lihay yang hanya 96 diketahui oleh ahli-ahli silat yang ilmu silatnya telah mencapai tingkat yang amat tinggi, sedangkan para penonton cuma mengerti bertepuk sorak jikalau melihat ada salah satu pihak yang terdesak, walaupun desakan itu belum berarti kemenangan bagi pihak yang mendesak.
Selama pertempuran itu berlangsung dengan amat hebatnya, Houw-jiauw Co telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, tentang ilmu tendangan kilat Lie Poan Thian yang begitu disohorkan oleh Louw Cu Leng.
Oleh karena itu, ia sendiripun jadi kagum dan diam-diam harus mengakui, bahwa itulah sesungguhnya ilmu tendangan yang jarang dapat dipahami oleh sembarang orang.
Dan ketika Cu Leng berlaku sedikit kendor dan tendangannya Lie Poan Thian menyamber dalam jurus Lian-hwan Coan-sim-tui, ia jadi terkejut dan berteriak.
"Celaka!"
Syukur juga Cu Leng yang memang telah ulung dalam rimba persilatan dan paham menghindarkan diri dari segala serangan berbahaya dari pihak lawannya, terlebih siang telah melihat itu dan lekas mengegos untuk meluputkan diri daripada serentetan tendangantendangan lain yang ia ketahui akan segera menyusul belakangan.
Benar tak mampu ia menjaga atau memecahkan ilmu tendangan yang menjadi keistimewaan kepandaian pemuda itu, tetapi Cu Leng cukup berpengalaman, akan sampai kena diselomoti dengan tendangan-tendangan yang amat berbahaya itu.
Sementara Lie Poan Thian yang melihat tendangantendangannya yang begitu diandalkan telah gagal semua 97 dan dapat dihindarkan oleh Louw Cu Leng, lalu sedikit demi sedikit merubah siasat silatnya dengan jalan mengunjukkan ilmu Sauw-tong-tui, sebagian besar telah diciptakannya sendiri di bawah penilikan Kak Seng Siang-jin dari kelenteng Liong-tam-sie.
Maka Louw Cu Leng yang seumur hidupnya baru pernah menyaksikan ilmu tendangan semacam itu, sudah tentu saja jadi amat terkejut, buru-buru ia menjauhkan diri buat menghindarkan tendangantendangan itu, sambil menduga-duga apa namanya serta memperhatikan cara bagaimana ilmu tendangan itu harus dipecahkannya.
Tetapi, lebih cepat daripada kilat yang menyamber dari angkasa, ia hampir tidak melihat lagi cara bagaimana Poan Thian telah merangsek kepadanya.
Dalam pada itu Poan Thian yang sudah berada dekat sekali dari tempat mana Cu Leng berdiri, lalu mengirim sebuah tendangan dengan kaki kanannya, yang kemudian lalu disusul dengan kaki kiri dengan gerakan yang hampir tak kelihatan.
"Aya!"
Semua penonton jadi berteriak dengan suara tertahan di dalam tenggorokan.
"Celaka!"
Houw-jiauw Co teturutan berteriak dengan tidak terasa pula.
Tendangan yang pertama dapat disingkirkan oleh Cu Leng, tetapi tendangan yang kedua tak sanggup ia jaga atau singkirkan, karena datangnya yang begitu cepat.
"Celaka!"
Ia berteriak di dalam hati.
Tatkala tendangan itu menyamber ke dadanya, Louw Cu Leng terpaksa membuang diri, hingga tendangannya Lie Poan Thian telah nyelonong terus dan mengenai 98 sebuah pohon liu di muka kelenteng, sehingga pohon itu tercabut akarnya dan roboh di seketika itu juga!
Hal mana, sudah tentu saja, telah membikin orang banyak jadi bertepuk sorak dan memuji.
"Itulah sesungguhnya sebuah tendangan malaikat!"
"Ya, ya,"
Menyetujui Houw-jiauw Co.
"itulah memang tepat sekali akan diberikan sebagai nama julukan Lie Lauw-tee ini! Sin-tui Lie! Biarlah nama julukan itu dikenal oleh para eng-hiong dan ho-han di kalangan Kang-ouw."
"Hiduplah seorang murid Kak Seng Siang-jin yang telah berhasil dapat memulihkan nama guru dan kelenteng perguruannya!"
Teriak satu suara di antara orang banyak.
Lie Poan Thian dan Cu Leng yang mendengar suara teriakan itu, mereka jadi kaget dan lalu melihat ke arah suara teriakan yang telah diucapkan orang tadi, tetapi ternyata tidak bisa dikenali siapa orangnya yang telah mengucapkan suara teriakan tersebut.
"Itulah suaranya Hoa In Liong Suheng,"
Pikir Poan Thian di dalam hatinya. Sementara Cu Leng setelah dibanguni oleh Poan Thian dan mengucap terima kasih atas kebaikan itu, lalu menjabat tangan si pemuda sambil berkata.
"Lauw-tee! Nyatalah ilmu kepandaianmu sangat tinggi dan aku rela mengaku kalah di hadapan orang banyak di sini. Lebih jauh, dari suara teriakan tadi yang entah telah diucapkan oleh siapa, aku seolah-olahmendengar orang mengatakan, bahwa kau ini adalah salah seorang murid Kak Seng Siang-jin Lo-siansu dari kelenteng Liong-tamsie. Hanya belum tahu apakah omongan itu benar atau tidak?" 99 Lie Poan Thian membenarkan atas omongan itu. Bahkan siapa yang telah berteriak tadi di antara orang banyak, itupun ia kenali sebagai saudara seperguruannya di kelenteng Liong-tam-sie, yaitu suhengnya yang bernama Hoa In Liong. Tetapi ia tak tahu mengapa ia tak mau keluar buat bertemu muka. Selain dari itu, iapun tidak tahu, buat maksud apa ia datang ke Cee-lam.
"Sekarang urusan ini sudah menjadi beres,"
Kata Louw Cu Leng, setelah bersama-sama Poan Thian dengan sia-sia mencari Hoa In Liong yang berteriak tadi di antara orang banyak.
"Aku sama sekali tak pernah menyangka bahwa hari ini aku akan dapat menyaksikan seorang ahli silat yang begitu pandai dan lihay ilmu tendangannya!"
Kata Houwjiauw Co, yang baru pada saat itu mau percaya segala keterangannya Louw Cu Leng tentang kelihayannya Lie Poan Thian.
"Aku sebenarnya masih banyak urusan yang hendak dibicarakan dengan Lie Lauw-tee,"
Kata Louw Cu Leng.
"Maka jikalau Lie Lauw-tee sudi dan tidak berkeberatan, aku mohon supaya pada hari ini juga kau suka berkunjung ke rumahku. Tetapi, belum tahu, apakah Lauw-tee sudi mengabulkan permintaanku ini?"
Poan Thian menyatakan tidak berkeberatan akan mengabulkan permintaan itu, maka dengan naik joli bersama-sama Cu Leng, ia ikut menuju ke Hu-tong-toakee dengan diiringi oleh Houw-jiauw Co yang menunggang seekor kuda besar dan berjalan mengikuti disamping joli tersebut.
Orang banyak yang kurang mengerti, apa sebab pertempuran itu dihentikan dengan cara yang begitu 100 mendadak, terpaksa pada berjalan pulang sambil beromong-omong dan menduga, tentang peristiwa apa yang terjadi dibalik pertempuran itu.
◄Y► Sekarang kita ajak para pembaca mengikuti pada Louw Cu Leng dan Lie Poan Thian yang menuju ke Hutong-toa-kee tadi.
Sebegitu lekas sampai ke rumahnya, jago tua itu lalu pimpin tangan Poan Thian, yang lalu diajak masuk ke ruangan pertengahan, dengan Houw-jiauw Co mengiringi mereka di sebelah belakang.
Di sini Cu Leng lalu panggil beberapa orang bujangnya.
Yang sebagian ia perintah pergi mengambil air teh wangi dan beberapa macam makanan, sedangkan yang lainnya ia perintah menyajikan sebuah meja perjamuan untuk menjamu pada Lie Poan Thian.
Hal mana, sudah barang tentu, telah membuat pemuda kita merasa malu hati dan saban-saban menyatakan terima kasihnya atas kebaikannya jago tua itu.
Tetapi Louw Cu Leng sebaliknya telah minta agar supaya Poan Thian jangan berlaku sungkan, dan anggaplah bahwa urusan begini sebagai suatu perkara lumrah.
"Apalagi kita baru saja saling berkenalan satu sama lain,"
Katanya.
"dari itu, maka kuanggap cara ini tidak lebih dari pantas, akan dilakukan sebagai tanda persahabatan dan persaudaraan di antara kita sesama golongan orang, dalam rimba persilatan."
Sementara Thian Ko yang melihat Poan Thian berlaku see-jie, lalu mencampuri berbicara, sambil turut membenarkan apa kata sahabatnya itu.
101 Oleh karena merasa tidak baik buat terus-menerus menampik tawaran orang yang begitu manis dan sungguh-sungguh, maka apa boleh buat Poan Thian telah mengabulkan juga, sambil tak lupa mengucap diperbanyak terima kasih atas kebaikannya jago tua itu.
Begitulah setelah mereka selesai minum teh, beberapa orang bujang lalu memberitahukan, bahwa hidangan telah disediakan dan dikuatirkan akan keburu dingin, jikalau tidak lekas didahar.
"Ya, ya, itu benar,"
Kata Louw Cu Leng sambil berbangkit dari kursinya, kemudian menoleh pada Poan Thian dan Thian Ko di kiri-kanannya.
"Ayoh, marilah kita orang dahar. Hidangan kali ini, mungkin juga kurang memuaskan, berhubung semua ini telah dikerjakan dengan cara yang kesusu. Nanti lain hari akan kuundang kamu berdua akan makan besar dengan hidanganhidangan yang istimewa. Marilah!"
Poan Thian mengucapkan terima kasih, kemudian ia mengikuti Cu Leng dengan diiringi oleh Thian Ko.
Selama mereka duduk makan minum, Cu Leng telah menuturkan pada Lie Poan Thian, cara bagaimana dahulu ia pernah membuka sebuah piauw-kiok, menjadi piauw-su dan dapat berkenalan dengan Kak Seng Siangjin, yang ringkasnya kita bisa tuturkan sebagai berikut.
Pada jaman duapuluh tahun yang lampau, di kota Cee-lam terdapat sebuah kantor angkutan yang memakai merek Cin-wie Piauw-kiok dan di kepalai oleh Sin-kun Louw, yakni Cu Leng, yang ketika itu hampir tidak seorangpun di daerah Shoa-tang yang tidak kenal namanya.
Bahkan banyak hohan-hohan atau orangorang gagah di kalangan Rimba Hijau merasa segan untuk melanggar kepadanya, hingga selama ia membuka 102 piauw-kiok dan melindungi barang-barang orang, belum pernah ada kejadian barang-barang angkutannya yang dirampok orang.
Maka dari itu, Cin-wie Piauw-kiok mendapat kepercayaan besar sekali dari para saudagar, yang kerap mengirim barang-barang berharga dalam melakukan perhubungan dengan daerah-daerah lain di seluruh Tiongkok.
Pada suatu waktu adalah seorang saudagar kaya raya yang bernama Souw Bun Hoan dan hendak menuju ke kota Siang-kiu dalam propinsi Ho-lam.
Oleh karena kereta-kereta piauw Cin-wie Piauw-kiok pun hendak menuju ke kota tersebut, maka si saudagar ini telah menitipkan barang-barangnya atas perlindungan Louw Cu Leng, sedang ia sendiripun turut juga menumpang dalam salah sebuah kereta piauw tersebut.
Begitulah setelah iringan kereta-kereta piauw tersebut telah berjalan beberapa hari lamanya, akhirnya sampailah mereka di lembah pegunungan Cay-heng-san, yang perjalanannya sukar dilewati orang dan banyak didiami kawanan berandal yang kerap keluar mencegat orang-orang atau kereta-kereta piauw yang kebetulan melewat di situ.
Salah seorang di antara kepala-kepala berandal yang menjagoi di daerah itu, adalah seorang yang bernama Han Houw, yang di kalangan Kang-ouw dikenal orang dengan nama julukan Say-pa-ong atau Couw Pa Ong kedua.
Han Houw ini orangnya tinggi besar, bertenaga kuat dan mahir menggunakan sepasang gegaman yang berbentuk aneh dan dinamakan Jit-gwat-lun, atau roda rembulan dan matahari.
Kepada ia ini Louw Cu Leng hanya mendengar nama tetapi tidak pernah bertemu muka, hingga sampai sebegitu jauh, ia belum tahu sampai dimana ilmu 103 kepandaiannya kepala berandal itu.
Maka waktu Cu Leng melewat di situ dan diberi ingat oleh beberapa orang juru kabar tentang bahaya perampokan yang mengancam di depan mata, lalu ia mengatur orang-orangnya buat menjaga di muka dan kirikanannya iringan kereta-kereta piauw itu, sedangkan ia sendiri mengiringi belakangan untuk menjaga penyerangan-penyerangan gelap yang umum dilakukan oleh para ho-han di kalangan Rimba Hijau.
Tetapi dugaan Cu Leng kali ini telah meleset.
Karena bukannya kawanan perampok itu mengejar dari sebelah belakang, ternyata mereka telah mencegat dari depan, sesudah melepaskan dua batang anak panah yang berbunji nyaring dan melayang di sebelah atas iringan kereta-kereta piauw tadi.
Louw Cu Leng yang kuatir dibokong dari belakang, apabila ia segera maju ke muka iringan kereta-keretanya, lalu tinggal menunggu sampai ada salah seorang sebawahannya datang memberitahukan kepadanya, tentang gerak-geriknya pihak kawanan berandal yang mencegat di muka perjalanan mereka itu.
Begitulah ketika dari salah seorang piauw-khek yang berjalan duluan ia diberitahukan tentang munculnya seorang kepala berandal yang bermuka hitam dan berjembros pendek dengan mencekal gegaman luar biasa di tangannya, Cu Leng segera menduga, bahwa si kepala berandal itu tentulah bukan lain daripada Say-paong Han Houw yang pernah didengar namanya itu.
Maka setelah memerintahkan beberapa orang akan menggantikan tempat jagaannya di belakang iringan kereta-kereta itu, ia lantas tampil ke muka sambil memberi hormat dan berkata.
"Selamat berjumpa, Tayong! Apakah kamu ini bukan Say-pa-ong Han Houw, 104 yang namanya bergema di kalangan Kang-ouw bagaikan suara guntur di waktu langit terang?"
Kepala berandal itu yang ternyata benar ada Say-paong Han Houw, dengan laku yang congkak lalu menjawab.
"Betul. Dan setelah kau mengetahui namaku yang besar, mengapakah kau tidak lekas turun dari kuda buat mempersembahkan segala barang angkutanmu buat dibawa olehku ke atas gunung?"
Louw Cu Leng jadi sangat mendongkol mendengar omongan Han Houw yang begitu sombong dan bersifat lebih mengutamakan harta daripada persahabatan, maka dengan mengeluarkan suara jengekan dari lubang hidung ia lantas menjawab.
"Oh, oh, itulah sudah tentu saja boleh sekali. apabila kau mampu lawan aku bertempur buat duapuluh jurus lamanya!"
Say-pa-ong Han Houw yang sama sekali tak menyangka, bahwa ia bakal mendapat jengekan yang begitu pedas sudah tentu saja jadi amat gusar, hingga sambil menuding pada si jagoan she Louw ia lantas membentak.
"Jahanam! Aku bersumpah akan tak menjadi manusia pula, apabila tak mampu aku mengalahkan seorang macam kau ini!"
Sambil berkata begitu ia segera menyerang pada Louw Cu Leng dengan sepasang senjata Jit-gwat-lun di tangannya.
Cu Leng lalu cabut goloknya, dengan mana ia lantas tangkis serangan lawan itu dengan tak banyak bicara pula.
Begitulah pertempuran itu telah berlangsung sehingga beberapa belas jurus lamanya dalam keadaan seri.
Tetapi Cu Leng yang tidak mau mengasih hati terlebih lama pula kepada sang musuh itu, lalu mulai 105 menghujani serentetan serangan-serangan yang telah membikin Han Houw terpaksa mundur dan akhirnya mesti mengakui, bahwa ia sendiri bukanlah lawan yang setimpal dari sang piauw-su itu.
Tetapi ia bukan seorang bodoh yang rela menyerah dengan begitu saja.
Maka setelah berpikir dengan cepat beberapa saat lamanya, Han Houw lalu mulai memberi isyarat kepada orangorang sebawahannya, agar supaya mereka maju menerjang dari segala jurusan buat membikin kalut hatinya Louw Cu Leng.
Jikalau siasat itu berhasil, sebagian dari orang-orang sebawahan itu boleh pasang tali-tali jiretan untuk menjiret kaki kudanya Louw Cu Leng, karena jikalau binatang itu dapat dirobohkan, sang piauw-su sendiripun tentu akan jatuh juga, hingga ia mudah ditawan tanpa melakukan perlawanan apa-apa.
Karena semua isyarat itu ternyata tidak diketahui oleh Cu Leng, maka ini justeru merupakan titik lemah yang telah banyak merugikan bagi dirinya sang piauw-su ini.
Sementara Han Houw yang melihat taktiknya berhasil, lalu memberi tanda supaya pengepungan itu dilakukan dengan lebih hebat dan rapat, sehingga Cu Leng yang akhirnya telah mengerti juga muslihatnya sang musuh itu setelah waktunya telah kasip, barulah mencoba dengan sekuat-kuatnya tenaga akan menoblos pengepungan itu dengan jalan bekerja sama dengan orang-orang sebawahannya.
Cuma celakanya jumlah kawanan perampok itu ada jauh lebih banyak daripada mereka, hingga Cu Leng dan kawan-kawannya tak berdaya memberikan pertolongan pada satu sama lain, tanpa merugikan kepada penumpang-penumpang beserta sekalian barang-barang angkutannya dan diri mereka sendiri.
Tetapi Cu Leng yang berhati keras dan lebih suka 106 mati daripada hilang muka, lalu mengeluarkan suara bentakan keras dan segera menerjang pada Han Houw yang saban-saban hampir jatuh terpelanting dari atas kudanya, disaban waktu Cu Leng menabas dengan golok yang dicekal di tangannya.
Lama-kelamaan, Han Houw mengerti, yang ia tak akan mampu mengalahkan sang piauw-su itu.
Maka setelah memberikan pula beberapa macam isyarat kepada orang-orang sebawahannya, buru-buru ia balikkan kudanya, sambil melambai-lambaikan tangannya dan berkata.
"Hei, piauw-su goblok! Jikalau kau sesungguhnya ada seorang yang gagah berani dan pandai, cobalah kau kejar dan taklukkan aku! Jikalau tak berani kau berbuat begitu, segeralah katakan demikian di hadapanku, agar supaya aku boleh memberikan keampunan dengan hanya merampas semua barangbarang angkutanmu, tetapi sama sekali tak akan mengganggu kepadamu dan semua orang yang ikut dalam iringan kereta-kereta piauw ini."
Mendengar dirinya dihinakan begitu rupa, sudah tentu saja Cu Leng jadi amat gusar dan lalu balas menantang.
"Berandal gunung yang hina dina!"
Bentaknya.
"beberapa belas tahun lamanya aku hidup di kalangan Kang-ouw tak pernah terkalahkan orang, dimanalah hari ini mau menyerah mentah-mentah kepada segala kawanan tikus hutan semacam kamu ini! Ayoh, jikalau kau benar seorang ho-han yang jujur, marilah kita boleh bertempur dengan memakai syaratsyarat, siapa di antara kita berdua yang ilmu kepandaiannya terlebih unggul!"
Tetapi Han Houw yang memang mengetahui, bahwa ia bukan lawan Louw Cu Leng yang setimpal, dengan menebalkan muka lalu pecut kudanya yang segera 107 berlari naik ke atas gunung sambil berseru.
"Ayo! mari kita bertempur di atas gunung ini!"
Louw Cu Leng jadi semakin sengit dan lalu pecut juga kudanya buat mengejar.
Tetapi ketika baru saja mengejar beberapa tindak jauhnya, mendadak kudanya telah terjiret kakinya dan jatuh terjerumus ke dalam sebuah lubang, hingga Cu Leng yang tidak menyangka bakal terjadi begitu, sudah tentu saja jadi turut terjerumus juga dan segera ditawan oleh kawanan berandal yang memang telah bersembunyi di antara semak-semak untuk melaksanakan maksud busuk itu.
Demikianlah Louw Cu Leng yang namanya telah mengharum sekian lamanya di kalangan Kang-ouw, hampir saja jadi ternoda oleh karena terjadinya peristiwa ini.
Syukur juga setelah ia tertawan dan hendak digantung sehingga mati oleh Say-pa-ong Han Houw, mendadak telah muncul seorang paderi tua yang telah datang menolong dan membikin Han Houw insyaf dari segala kekeliruannya.
Paderi itu, yang kemudian ternyata bukan lain dari Kak Seng Siang-jin dari kelenteng Liong-tam-sie, memang telah sengaja datang ke pegunungan Thayheng-san oleh karena telah lama mendengar perbuatannya Han Houw yang agak menyimpang daripada peraturan-peraturan yang umum ditaati orang di kalangan Kang-ouw.
Oleh karena itu ia telah datang sendiri untuk memperingati kepada kepala berandal itu, agar supaya selanjutnya dia bisa merubah segala perbuatannya yang tak patut itu.
Sementara Han Houw yang kenal baik pada Kak Seng Siang-jin sebagai sahabat gurunya, sudah tentu saja lantas berjanji akan menjadi seorang baik dan selanjutnya tidak pula campur dalam segala urusan yang 108 dapat menodai nama baiknya di kalangan Kang-ouw hitam.
Maka atas nama gurunya Han Houw — Ciauw-bian Bie-lek Tay Thong Hweeshio — Kak Seng Siang-jin telah menerima kebaikan janjinya Han Houw, yang kemudian telah menyampaikan juga pernyataan maafnya kepada Sin-kun Louw Cu Leng.
Demikianlah sebab-musabab Cu Leng dapat berkenalan dengan Kak Seng Siang-jin, yang ternyata bukan lain daripada guru Lie Poan Thian yang semula menjadi lawannya itu!
Oleh karena mendengar penuturan itu, buru-buru Poan Thian berbangkit dari tempat duduknya dan menyoja kepada jago tua itu, sambil tak lupa mengucapkan maafnya atas segala perbuatannya yang olehnya dirasa kurang patut itu.
Tetapi Cu Leng lantas tertawa dan berkata.
"Jikalau kita tak berkelahi, tentulah tidak menjadi sahabat, dan berbareng dengan itu, kau tentunya tidak mengetahui cara bagaimana aku bisa berkenalan dengan Kak Seng Siang-jin Lo-siansu yang menjadi gurumu itu."
"Itu benar, itu benar,"
Menambahkan Houw-jiauw Co sambil bantu menuangi arak ke masing-masing cawan yang diletakkan di hadapan mereka bertiga.
Tengah mereka bermakan minum Louw Cu Leng tidak lupa menanyakan tentang halnya Ma-cu Lie kepada Lie Poan Thian, siapa, dengan secara singkat telah menuturkan, mengapa ia membikin ribut di rumahnya si bopeng itu.
Sementara Cu Leng yang baru tahu jelas duduknya perkara, keruan saja jadi membanting-banting kaki 109 sambil menyatakan kemenyesalannya, yang ia telah kasih dirinya "diperkuda"
Oleh manusia busuk itu.
"Jikalau terlebih siang aku tahu duduknya perkara yang benar,"
Katanya.
"niscaya tak sudi aku menginjak lantai rumah manusia terkutuk itu! Maka setelah sekarang aku ketahui tipu muslihatnya manusia busuk itu, niscaya aku belum mau sudah, jikalau tidak kembali lagi ke rumahnya untuk mendamprat dan minta ia segera ganti segala kerugian yang telah diderita oleh ayahmu itu!"
Tetapi Poan Thian lantas menyatakan, bahwa urusan kecil itu ia sendiripun sudah cukup untuk menyelesaikannya. Tetapi Cu Leng lantas berkata.
"Bukan begitu. Aku percaya Lauw-tee memang dapat menyelesaikan sendiri urusan itu, tetapi aku perlu peringatkan dan minta kepastian dari padanya, supaya selanjutnya perbuatanperbuatan yang serupa itu tak sampai terulang pula. Jikalau masih saja ia berani berbuat begitu, aku nanti turun tangan sendiri buat bikin ia kapok betul-betul seumur hidupnya."
Poan Thian mengucap terima kasih atas kesudian Cu Leng yang telah menyatakan kesediaannya akan campur tangan dalam urusannya ini, maka dari itu, Ma-cu Lie yang kemudian jadi ketakutan karena akal muslihatnya telah diketahui oleh jago silat tua itu, buru-buru ia meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya, sambil lantas mengganti semua kerugian berikut bunganya kepada Tek Hoat, tanpa Cu Leng menegurnya pula sampai dua kali.
Begitulah karena adanya lelakon Ma-cu Lie yang hendak menyikut dan merobohkan perusahaannya Lie 110 Tek Hoat ini, maka selanjutnya Louw Cu Leng dan Co Thian Ko jadi bersahabat sangat baik dengan Lie Poan Thian, hingga perhubungan ini baru berakhir setelah masing-masing menutup mata, dengan meninggalkan nama harum di kalangan Kang-ouw sehingga di jaman sekarang ini.
◄Y► Pada suatu hari ketika Poan Thian datang bertamu ke rumah Louw Cu Leng, justeru ahli silat itu telah keluar bepergian dan belum kembali, tetapi karena ia mendapat kabar bahwa Cu Leng akan kembali pada hari itu juga, maka Poan Thian pun lalu menantikan kedatangannya sahabat itu sambil membaca buku-buku yang banyak terdapat dalam perpustakaan milik ahli silat tua itu.
Di situ Poan Thian belum membaca cukup lama, tatkala di sebelah luar terdengar sebuah kereta yang berhenti, dengan dibarengi oleh seorang yang menanyakan pada salah seorang keluarga Louw, katanya.
"Sahabat, apakah Louw Suhu ada di rumah?"
"Hari ini ia belum kembali,"
Sahut bujang yang ditanya itu. Sementara dua orang yang menggotong seorang yang rupanya mendapat sakit berat telah turun dari kereta sambil mengulangi pertanyaan tadi.
"Apakah Louw Suhu tiada di rumah?"
"Louw Suhu belum kembali,"
Sahut bujang Louw Cu Leng tadi.
"Tetapi ada kemungkinan ia akan kembali pada hari ini juga."
"Ah, kalau Suhu sampai datang terlambat,"
Meratap orang yang digotong itu.
"niscaya jiwaku akan sukar 111 tertolong lagi, hingga dengan begitu, berarti sukarlah juga akan dapat aku membalas dendam kepada musuh besarku itu!"
Tatkala itu Poan Thian yang menyangka telah terjadi peristiwa apa-apa yang hebat atas diri orang itu, buruburu ia keluar memberi nasehat, agar supaya mereka menggotong saja si sakit itu akan dibawa masuk ke dalam.
Ketika orang itu dibawa masuk, dengan lantas Poan Thian dapat mengenali, bahwa si sakit itu bukan lain daripada Teng Yong Kwie, komandan dari tangsi Tokpiauw-eng, yang ia pernah dorong jatuh dari kudanya di lorong Cay-hong-kee belum berapa hari berselang!
Tetapi tak tahu ia, Yong Kwie telah bertempur dengan siapa, sehingga ia menderita luka sedemikian hebatnya.
Maka setelah komandan itu dibaringkan di sebuah balai papan, Poan Thian lalu menghampiri kepadanya sambil berkata.
"Tuan, aku rasanya sudah pernah bertemu muka dengan dikau."
Teng Yong Kwie yang bermula tidak begitu memperhatikan kepada Lie Poan Thian, lalu mengamatamati si pemuda itu sehingga beberapa saat lamanya, kemudian seperti juga seorang yang baru mendusin dari tidurnya lalu berkata.
"Ya, ya. Kau ini sesungguhnyalah ada seorang pemuda gagah perkasa yang harus dibuat bangga oleh setiap orang yang menjadi sahabatnya. Aku telah coba buat mencari tempat kediamanmu, ketika dihari itu kau telah melemparkan aku berikut kudaku dengan sekaligus, tetapi ternyata tak berhasil, berhubung aku belum kenal siapa she dan namamu yang mulia."
"Namaku Lie Kok Ciang,"
Menerangkan Poan Thian sambil tersenyum.
112 Kemudian Yong Kwie pun lalu perkenalkan juga dirinya sendiri.
Selanjutnya karena Poan Thian menanyakan juga peristiwa apa yang telah terjadi atas dirinya, maka Teng Yong Kwie lalu menuturkan pengalamannya dengan secara singkat seperti berikut.
Seperti di bagian atas telah dikatakan, Yong Kwie ini adalah seorang komandan dari tangsi Tok-piauw-eng yang diberi tugas sebagai guru silat di kalangan tentara negeri, juga kerap diperintah oleh seatasannya untuk melakukan tugas sebagai kepala polisi, yang biasa bertindak akan membasmi segala kejahatan yang diorganisir oleh orang-orang berpengaruh dan hartawanhartawan jahat yang semata-mata bekerja untuk mencari keuntungan guna saku sendiri.
Oleh karena perbuatan dan sepak terjang mereka ini kerap menggelisahkan kaum kecil, maka pembesar yang berkuasa di Cee-lam merasa perlu akan mengambil tindakan-tindakan tegas terhadap pada sekelompok orang-orang yang sangat mengganggu kesejahteraan masyarakat dan tak bertanggung jawab itu.
Salah seorang di antara manusia-manusia busuk ini, adalah seorang hartawan yang terkenal dengan nama sebutan Lauw Sam-ya, siapa telah sekian lamanya mencari jalan untuk mencelakai Teng Yong Kwie yang merupakan sebagai duri di matanya.
Karena sebegitu lama Yong Kwie masih hidup dalam masyarakat di Ceelam, ia selalu merasa tidak tenteram akan melakukan segala perbuatan yang melanggar undang-undang negeri, seperti menadah barang gelap, memperdagangkan barang-barang pemerintah yang dicuri oleh komplotannya, dan perbuatan-perbuatan lain yang disembarang waktu bisa bikin ia berbentrok dengan 113 kekuasaan polisi di kota tersebut, jikalau hal-hal ini sampai dapat diendus oleh pihak hamba-hamba negeri yang bengis seperti Teng Yong Kwie ini.
Maka buat bisa menyingkirkan jiwanya Yong Kwie dengan tak usah bertanggung jawab atas perbuatannya itu, telah sekian lamanya Lauw Sam-ya melepaskan beberapa orang mata-matanya akan mencari tahu, dengan jalan apa agar supaya Yong Kwie bisa dipancing dan dijebak, buat kemudian dibinasakan jiwanya di luar tahunya orang-orang sebawahannya.
Pada suatu hari salah seorang mata-mata itu telah kembali dan melaporkan pada Lauw Sam-ya, bahwa Teng Yong Kwie ini orangnya amat gemar memacu kuda dan memiliki kuda yang baik.
Maka Lauw Sam-ya yang mendapat kabar begitu, lalu atur suatu tipu muslihat dan kirim seorang kepercayaannya pada Teng Yong Kwie buat pura-pura menanyakan, kalau-kalau ia itu suka membeli seekor kuda yang dikatakan sangat istimewa dan akan dijual lekas oleh karena pemiliknya kebetulan perlu pakai uang.
Mendengar kabar ini, Yong Kwie yang memang amat gemar dengan kuda-kuda yang baik, sudah tentu saja jadi sangat bernapsu.
"Jikalau apa kata saudara itu benar,"
Katanya, ,niscaya tak lupa akan kuberikan kau sedikit hadiah sebagai jasa kecapaianmu itu, jikalau kuda itu kupenujui dan dapat dibeli dengan harga yang pantas."
Si pesuruh yang mendengar omongan itu, keruan saja menunjukkan paras muka girang, biarpun kegirangan itu lebih banyak berarti kedengkian dan kecurangan daripada kejujuran, karena sifat kegirangan itupun bukan lain daripada untuk main tedeng aling114 alingan belaka!
Begitulah dua macam kegirangan telah dirasakan dalam hati kedua orang itu.
Karena jikalau kegirangan Yong Kwie telah keluar dari hati yang tulus, adalah kegirangan pesuruh Lauw Sam-ya itu telah keluar dari dua jalan yang menguntungkan kepada dirinya sendiri, yakni kegirangan-kegirangan yang semata-mata tidak menghiraukan kepada akibat kerugian orang lain yang hendak dijerumuskan!
Dua jalan keuntungan yang telah kita katakan tadi, ialah kesatu karena ia berhasil dapat menipu pada Teng Yong Kwie, yang hendak dipancingnya masuk ke lubang harimau itu, dan keduanya ia merasa pasti bahwa majikannya akan merasa senang dengan pekerjaannya ini, hingga buat itu ia boleh mengharap akan mendapat hadiah dari sang majikan.
Maka setelah pesuruh itu memberikan alamatnya pemilik kuda yang katanya hendak dijual itu, lalu buruburu ia kembali ke rumah Lauw Sam-ya dan melaporkan kepada sang majikan tentang "pekerjaannya"
Itu.
Lauw Sam-ya jadi sangat girang dan memuji tinggi atas kecerdikannya pesuruh itu, kemudian ia kerahkan orang-orang sebawahannya buat bersiap-siap dan menjaga jikalau Teng Yong Kwie nanti datang buat melihat kuda yang dikatakan akan dijual itu.
Pada hari esoknya ketika Yong Kwie mengunjungi rumah Lauw Sam-ya buat memeriksa kuda dengan mengajak tiga orang kawannya, komandan itu lalu disambut oleh pesuruh yang telah datang padanya di hari kemarin, tetapi di situ ia tidak bertemu dengan Lauw Sam-ya sendiri, yang memang telah sengaja tidak mau 115 bertemu muka.
Oleh sebab itu, maka soal tawar-menawar kuda yang akan dijualnya itupun oleh Lauw Sam-ya diserahkan ke dalam tangan pesuruh tersebut.
"Jikalau tuan sudah melihat macam kuda itu,"
Katanya.
"niscaya tuan akan merasa penuju dan tidak banyak tawar menawar pula. Di tiap gegernya binatang itu terdapat sembilan buah titik putih yang dapat dilihat jelas dan besar-besar bagaikan bentuk uang logam senan, maka dari itu, dia patut dinamakan Kiu-tiam Pekbwee-hoa, seekor kuda yang bisa berlari seribu lie seharinya."
Keterangan-keterangan itu membuat Teng Yong Kwie jadi semakin tertarik dan menanyakan.
"Dimanakah adanya kuda itu sekarang?"
"Marilah tuan ikut aku,"
Kata pesuruh Lauw Sam-ya itu.
Yong Kwie dan ketiga orang kawannya lalu mengikut si pesuruh itu menuju ke sebuah istal, yang terletak di belakang sebuah gedung besar miliknya Lauw Sam-ya.
Tatkala mereka melalui sekian gang-gang yang sempit dan berliku-liku sehingga beberapa puteran, akhirnya sampailah mereka ke sebuah istal, dimana benar saja ada terdapat seekor kuda besar yang berbulu gambir, tetapi sama sekali tidak cocok keadaannya, dengan keterangan-keterangan yang ia telah diberitahukan tadi.
Oleh sebab itu juga, maka Teng Yong Kwie lalu menanyakan pada si pesuruh itu, mengapa keterangan itu bisa menyimpang daripada apa yang dia telah katakan tadi?
Dengan ini, si pesuruh kelihatan terperanjat dan lalu 116 berkata.
"Oh, kalau begitu, nyatalah bahwa kuda ini telah ditukar oleh kawanku! Aku sungguh tak bisa terima akan dipermainkan orang begini rupa! Harap tuan-tuan suka menunggu dahulu di sini, sampai aku membereskan perhitungan dengan kawanku yang curang itu!"
Yong Kwie dan ketiga orang sebawahannya menyatakan tidak berkeberatan akan menunggu di situ.
Kemudian orang itu segera berlalu dengan tindakan yang terburu-buru.
Ketika mereka menunggu sampai beberapa saat lamanya dan ternyata orang itu tidak kelihatan muncul kembali, hatinya Yong Kwie mendadak timbul rasa curiga.
Lalu ia perintah salah seorang sebawahannya buat pergi menyusul dengan melalui gang-gang dari mana mereka masuk tadi.
Tidak antara lama orang sebawahan itu telah balik kembali sambil berlari-lari dengan paras muka pucat bagaikan kertas, peluhnya bercucuran, sedangkan napasnya pun "senin kemis".
"Celaka, celaka! Kita telah terjebak oleh kawanan buaya darat yang menjadi musuh-musuh kita!"
Katanya.
"Semua gang-gang tadi telah tertutup, begitupun pintupintunya diselot rapat!"
"Celaka!"
Dengan suara hampir berbareng, kedua orang sebawahan yang lainnya pun mengucapkan katakata yang sangat mencemaskan hati itu.
Tetapi Yong Kwie sama sekali tidak mengunjukkan sikap yang jerih atau takut.
Ia percaya, sebagai salah seorang muridnya Sin-kun Louw Cu Leng yang terpandai, tak mungkin ia bisa dikalahkan mentahmentah oleh segala bu-beng-siauw-cut yang hina-dina 117 itu, bahkan tidak sedikit tukang-tukang pukul yang terkenal tangguh telah dirobohkan dan dibikin kucar-kacir olehnya dengan hanya bertempur beberapa gebrakan saja lamanya.
Maka tempo menyaksikan ketiga orang sebawahannya tampak ketakutan, Yong Kwie jadi tersenyum dan berkata.
"Jangan takut! Selama kita masih bisa bernapas, kita pasti akan mendapat jalan untuk meloloskan diri dari sini. Ayoh, mari kita dobrak pintu-pintu yang merintangi jalan kita buat keluar dari tempat ini!"
Kemudian mereka berempat lalu menuju ke ganggang yang mereka lalui tadi.
Dengan mengandalkan pada tenaganya yang kuat bagaikan kerbau, Yong Kwie telah berhasil bisa merobohkan sesuatu penghalang yang orang telah pasangkan di antara gang-gang itu, dan pekerjaan ini hampir saja dapat diselesaikan seluruhnya, ketika dengan sekonyong-konyong muncul sekelompok orangorang yang bersenjatakan barang tajam dan terus mengepung mereka bagaikan pemburu-buru yang mengepung babi rusa.
"Kamu sekalian boleh menjaga serangan musuhmusuh kita yang datang dari belakang,"
Kata si komandan.
"sedangkan aku sendiri akan membuka jalan untuk kita keluar dari sini!"
Ketiga orang sebawahan itu lalu mendiawab.
"Baik."
Kemudian mereka lalu mencabut golok masing-masing untuk bersiap-siap akan menghadapi segala kemungkinan yang akan menimpa atas diri mereka.
Sementara Teng Yong Kwie yang berjalan di muka dengan golok terhunus, lalu menerjang setiap musuh118 musuhnya yang berani mendekati kepadanya, hingga musuh-musuh itu yang baru mengetahui akan keberanian komandan itu, pelahan-lahan segera pada mundur dengan meninggalkan beberapa orang kawannya yang telah dilukai oleh Yong Kwie dan menggeletak di tanah dalam keadaan separuh mandi darah.
Lebih jauh karena anak buah Lauw Sam-ya menyaksikan bahwa Yong Kwie tidak mungkin dapat dikalahkan dengan jalan berkelahi secara jujur, maka pemimpin dari rombongan orang-orang itu lalu menteriakkan kawan-kawannya sambil berkata.
"Mundur, mundur! Pergilah kamu mengundang Sek-hui Ya-ya datang ke sini!"
Yong Kwie yang menyangka bahwa mereka akan memanggil seorang ahli silat lain untuk bantu mengepung ia dan orang-orang sebawahannya sudah tentu saja tak mau melewatkan ketika yang terbaik ini untuk melabrak musuh-musuhnya dengan sehebathebatnya.
Karena apabila "ahli silat"
Yang akan menjadi lawannya itu telah keburu campur tangan, ia kuatir keadaan akan menjadi semakin berbahaya bagi pihaknya yang hanya terdiri dari empat orang saja jumlahnya.
Maka sambil memikirkan bahaya yang akan mendatangi itu, Yong Kwie telah mengamuk dan menerjang ke sana-sini untuk meloloskan diri dari dalam kepungan para buaya darat itu secepat mungkin.
Tidak disangka selagi keadaan mencapai puncaknya ketegangan, mendadak dari kiri-kanan gang-gang itu dan dari atas genteng telah turun hujan kapur yang dilepaskan oleh kawanan manusia busuk itu, untuk mencelakai Teng Yong Kwie dan orang-orang 119 sebawahannya, hingga Yong Kwie yang sama sekali tak menduga bakal mengalami kejadian serupa itu, sudah barang tentu jadi kalang kabut dan coba menerjang dengan mati-matian, tetapi percobaan itu segera jadi terhambat dan mandek setengah jalan, ketika dari pihak para buaya darat telah dilepaskan juga anak-anak panah, yang mana telah mematikan dua orang sebawahan Yong Kwie yang menerjang paling depan.
Dan tatkala ia sendiripun telah kena dilukai oleh anak panah dan senjata serta kapur yang telah membuatnya hampir buta, Yong Kwie terpaksa melakukan perlawanan dengan mata hampir dipejamkan, hingga karena ini, tidak sedikit pukulan-pukulan musuh yang tak mampu ia jaga, yang mana telah bikin ia hampir jatuh pingsan dan saban-saban berteriak karena amat kesakitan.
Syukur juga karena kawanan buaya darat itu tak sanggup mendekati pada Yong Kwie, yang ternyata masih mampu bertempur meski matanya sudah separuh buta, dengan tubuh menderita luka-luka mereka segera melarikan diri.
Oleh sebab itu, seorang sebawahan Yong Kwie yang hanya mengalami luka-luka ringan, buru-buru menggendong Yong Kwie keluar dari gang-gang itu, dari mana ia telah melarikan komandannya dengan berkuda, yang ternyata tidak dibawa pergi oleh kawanan penjahat yang telah lari kalangkabutan itu.
Sesampainya mereka ke tangsi Tok-piauw-eng, orang sebawahan itu lalu laporkan peristiwa ini kepada pihak yang berwajib, yang kemudian segera mengirim sepasukan tentara buat menangkap kawanan pengacau itu serta menolong dua orang sebawahan Yong Kwie yang telah menjadi mayat.
Tetapi dalam penggerebekan ini tidak dapat ditangkap barang seorang pun yang telah menyebabkan 120 terjadinya keributan itu, sedangkan Lauw Sam-ya yang disangka menjadi biangkeladinya, ternyata telah beberapa hari lamanya bepergian, hingga dalam kerusuhan ini ia tidak tahu-menahu, walaupun keributan itu telah terjadi di salah satu bagian dari rumahnya sendiri.
Tatkala kemudian Yong Kwie tersadar dari pingsannya, lalu ia minta supaya orang sebawahannya itu lekas membawa padanya ke rumah Louw Cu Leng.
Karena selain luka-lukanya yang baru itu dapat lekas disembuhkan, juga musuh-musuhnya itupun masih belum lari jauh dan tidak terlalu sukar untuk dibekuknya.
Tetapi apa celaka, sesampainya di Hu-tong-toa-kee, Yong Kwie dapatkan gurunya belum kembali dari luar kota, hingga ia hampir putus asa, apabila Poan Thian tidak membujuk agar supaya ia suka bersabar, sehingga urusan ini dapat diurus sebagaimana mestinya.
Lebih jauh dengan mengandal pada pengetahuan ilmu obatobatan yang ia pernah pelajarkan dari Kak Seng Siangjin di Liong-tam-sie, Poan Thian lalu coba rawat lukalukanya Yong Kwie, berikan dia obat makan dan obat luar untuk menahan sampai Cu Leng kembali dari luar kota.
Oleh karena ini, Yong Kwie jadi sangat berterimakasih atas kebaikannya si pemuda itu.
Malah buat menghibur hati Yong Kwie dan bantu memberantas keburukan yang menjalar dalam masyarakat di Cee-lam, Lie Poan Thian menyatakan kesediaannya akan membantu Yong Kwie dalam usaha ini.
Sedangkan berbareng dengan itu, iapun menganjurkan juga agar supaya Yong Kwie jangan tarik panjang dulu perkara ini.
Karena pihak musuh-musuhnya Yong Kwie yang melihat tidak tampak reaksi apa-apa dari 121 perbuatan mereka yang tidak baik itu, tentulah merekapun tinggal diam dan urusan ini akan jadi lebih mudah untuk diurusnya di kemudian hari.
"Karena dengan adanya "keademan"
Di pihak kita,"
Menganjurkan Lie Poan Thian lebih jauh.
"maka pihak musuh-musuhmu akan berlaku kurang giat buat menyelidiki tentang keadaanmu setelah terjadinya kerusuhan itu. Malahan terlebih baik pula jikalau kau tidak berkeberatan supaya boleh perintah orang-orang sebawahanmu akan sengaja menyiarkan kabar burung di luaran, bahwa setelah terjadinya keributan itu, kau telah mati oleh karena luka-lukamu. Karena disamping aku bisa selidiki dengan diam-diam siapa yang telah berlaku paling aktif dalam hal pekerjaan busuk ini, akupun dapat juga segera ketahui, siapa sebenarnya biangkeladinya dari kerusuhan ini. Hanya belum tahu, apakah kau merasa mufakat apabila urusan ini diatur demikian?"
Mendengar anjuran itu, bukan saja Yong Kwie merasa sangat mufakat, malah sangat berterima kasih kepada Lie Poan Thian, yang telah begitu sudi akan campur tangan dalam urusan ini.
Tetapi Poan Thian yang memang bersikap tak suka tinggal peluk tangan saja akan melihat segala perbuatan tidak patut dilakukan orang tanpa pembalasan yang setimpal, lalu mengatakan, bahwa ia senang sekali akan berbuat sesuatu guna kebaikannya masyarakat, lebihlebih karena peristiwa-peristiwa serupa itu telah terjadi di tempat kelahirannya sendiri.
Maka selain merasa turut bertanggung jawab untuk bantu memelihara kesejahteraan di dalam wilayah tanah tumpah darahnya, iapun dapat sekalian bantu membikin terang mukanya Yong Kwie yang menjadi muridnya Cu Leng yang menjadi juga sahabatnya sendiri.
122 Sementara buat mengetahui terlebih jelas tentang gerak geriknya Lauw Sam-ya yang ia sangat curigai turut campur tangan dalam perkara penganiayaan Yong Kwie dan orang-orang sebawahannya, maka Poan Thian telah sengaja mengirim seorang mata-mata yang bernama Lauw Su, dari siapa kemudian ia telah menerima laporan, bahwa selain Lauw Sam-ya menjadi biangkeladi dalam perkara busuk itu, si hartawan bajingan itupun menjadi juga pemimpin sebuah perkumpulan gelap yang dikenal dengan nama Sam-liong-hwee, sebuah perkumpulan yang dianggap umum sebagai suatu perkumpulan kematian, tetapi sebenarnya ada suatu perkumpulan penjahat, yang karena organisasinya yang diatur sedemikian licinnya, maka pihak yang berwajib tak dapat mengambil tindakan untuk menutupnya tanpa alasan yang kuat.
Selanjutnya, ketika ditanyakan tentang gerak-gerik kawanan buaya darat itu, tempo mendapat kabar tentang kematiannya Teng Yong Kwie, Lauw Su lalu jadi tersenyum dan dengan rupa yang sungkan lalu menjawab.
"Ah, itulah sesungguhnya ada suatu hal yang sangat menjemukan untuk diceritakan di sini."
Tetapi, karena Poan Thian dan Yong Kwie telah minta ia bicara terus, maka apa boleh buat ia telah menuturkan juga, bagaimana Lauw Sam-ya beserta sekalian konco-konconya kelihatan begitu girang, tatkala mendengar tentang kematiannya sang komandan itu, hingga lantaran itu, selanjutnya mereka lalu mengadakan suatu perjamuan besar yang dikunjungi oleh hampir seluruh anggota Sam-liong-hwee yang terkemuka, dimana telah dinyatakan "turut berduka-cita"
Atas kematiannya orang yang mereka anggap sebagai duri di mata mereka itu.
123 Sementara Teng Yong Kwie yang mendengar kabar begitu, sudah tentu saja jadi sangat mendongkol dan bersumpah akan menuntut balas kepada mereka, jikalau nanti ia sudah sembuh dari penyakitnya.
Tetapi Poan Thian lalu membujuk dan minta supaya ia suka bersabar dahulu.
"Kita mesti telan dahulu semua hinaan ini,"
Katanya.
"kita harus berlaku tenang, sementara menunggu ketika akan melakukan hajaran-hajaran yang kiranya cukup untuk membikin namanya Lauw Sam-ya dan perkumpulannya mengalami keambrukan di matanya orang banyak. Karena manusia busuk serupa mereka itu, perlu sekali dibasmi sehingga ke akar-akarnya."
"Jikalau kau mengunjuk sedikit saja aksi yang menyatakan bahwa kau masih hidup,"
Poan Thian melanjutkan.
"Dikuatirkan pekerjaanku ini akan gagal. Dan jikalau pekerjaanku pada kali ini gagal, niscaya selanjutnya tak dapat pula aku menolong kepadamu. Karena selain mereka sukar akan dicari, malah bahaya yang mengancam pada kita akan menjadi semakin besar.
"Itulah sebabnya mengapa aku minta kau "berlagak"
Mati, tetapi bukanlah sekali-kali hendak menganjurkan kau menjadi seorang pengecut. Apakah sekarang saudara telah mengerti, maksud-maksud apa yang sebenarnya terkandung di dalam hatiku?"
Yong Kwie yang mendengar keterangan begitu, seakan-akan orang yang baru mendusin dari tidur yang nyenyak, hingga dengan berulang-ulang ia mengucap banyak terima kasih dan memuji tinggi atas ikhtiarnya Poan Thian yang begitu teliti dan rapi.
Dan jikalau ia sendiri bisa berpikir panjang sampai begitu, demikianlah 124 katanya, niscaya tak sampai ia begitu mudah diselomoti oleh pihak musuh-musuhnya.
Tetapi beras sudah menjadi bubur, hingga ia menyesalpun sudah kasip, ia tidak bisa berbuat lain daripada terima nasib apa yang ada.
"Tetapi saudara Teng tak usah pikirkan pula segala hal yang telah lampau itu,"
Poan Thian menambahkan.
"sementara di hari esok, adalah giliranku yang akan pergi menyatroni Lauw Sam-ya di Sam-liong-hwee, dimana akan kulakukan "
Penagihan", atas apa yang ia telah berhutang kepadamu."
Demikianlah pembicaraan itu telah berakhir sampai di situ, karena Poan Thian telah minta dengan sangat agar supaya Yong Kwie suka lekas beristirahat dan jangan banyak bergerak, selama minum dan memakai obat yang ia telah bawa dari Liong-tam-sie itu.
Tetapi hingga hari sudah terganti dengan malam, ternyata Louw Cu Leng belum juga kelihatan muncul, hingga Poan Thian terpaksa menginap buat merawat dan menilik luka-lukanya si komandan muridnya jago tua itu.
Pada hari esoknya sesudah memberikan obat dan mengganti obat-obat lukanya dengan yang baru, Poan Thian lalu terangkan maksudnya pada Yong Kwie, bahwa pada hari itu ia hendak coba pergi menyelidiki pada Lauw Sam-ya, yang menurut katanya Lauw Su, kerap berada di gedung perkumpulan Sam-liong-hwee.
Maka setelah menanyakan dimana letaknya gedung perkumpulan Lauw Sam-ya itu, Poan Thian lalu menuju ke sana dengan hanya membekal sebatang joan-pian yang dilibatkan di pinggangnya.
Senjata ini tak dapat dilihat orang, berhubung di sebelah luarnya dialingi oleh baju si pemuda.
Oleh sebab ini, dengan enak saja Poan 125 Thian berjalan di luaran tanpa dicurigai orang.
Sesampainya di gedung perkumpulan Sam-lionghwee, Poan Thian lalu menghampiri salah seorang yang kebetulan berada di situ dan coba bertanya.
"Sahabat, apakah hari ini Tong-cu (ketua perkumpulan) ada di gedung perkumpulan?"
Orang itu tidak lantas menjawab pertanyaan orang, hanyalah tinggal mengamat-amati sehingga beberapa saat lamanya. Ketika Poan Thian mengulangi pertanyaannya, barulah ia mendapat jawaban.
"Kau ini siapa? Dan ada urusan apakah menanyakan Tong-cu kami?"
Poan Thian jadi mual mendengar omongan orang itu yang begitu ketus dan kasar tingkah lakunya.
"Aku ada urusan penting yang hendak disampaikan kepada Tong-cu,"
Katanya, dengan sikap yang ketus pula.
"Tidak ada! Tidak ada!"
Kata orang itu.
"Hari ini Tongcu tidak datang! Jikalau kau hendak bertemu kepadanya, bolehlah kau datang pula ke sini di hari esok saja!"
"Aku ada suatu urusan yang teramat penting!"
Poan Thian memaksa.
"urusan ini perlu sekali dilaporkan kepadanya hari ini juga!"
"Tidak bisa!"
Bentak orang itu.
"Tong-cu tidak ada! Kau boleh datang lagi pada hari esok!"
Sambil berkata begitu, orang itu lalu berjalan masuk dengan tindakan cepat, tetapi Lie Poan Thian lalu jambret lengan bajunya sambil berkata.
"Nanti dulu! Aku masih ada omongan yang mau ditanyakan!"
Orang itu jadi kelihatan mendongkol dan lalu tarik lengan bajunya yang dicekal Poan Thian dengan 126 sekuatnya tenaga, hingga dengan mengeluarkan suara "bret!"
Lengan baju itu telah menjadi sobek. Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin orang itu jadi sangat gusar dan lalu menjotos dada pemuda kita sambil memaki.
"Bangsat!"
Tetapi pada sebelum ia bisa sampaikan maksudnya, Poan Thian telah keburu berkelit dan lalu maju setindak sambil melintangi kakinya, hingga ketika kakinya orang itu kena terbentur oleh kaki pemuda kita, dengan lantas ia jatuh mengusruk dan berteriak.
"Rampok! Rampok!"
Teriakan itu telah membikin orang-orang yang berada di dalam gedung perkumpulan itu jadi ribut dan terus keluar dengan serentak, dengan membawa senjata di tangan masing-masing.
"Ayo! jangan kasih lari perampok itu!"
Teriak seorang muda yang rupanya menjadi pemimpin dari kelompokan orang-orang itu.
Tetapi Poan Thian yang sebenarnya bermaksud hendak mengacau untuk menarik perhatiannya Lauw Sam-ya, ia merasa tak perlu akan meladeni berkelahi pada orang ini.
Maka setelah melihat ada sebuah pagar tembok yang tingginya beberapa tumbak di hadapannya, buru-buru ia gerakkan kakinya meloncat ke atas, dan terus melayang bagaikan burung kepinis ke atas pagar tembok tersebut.
Sekelompok orang-orang itu yang telah tak berhasil melakukan pengepungan itu, lalu pada berteriak.
"Ambillah busur dan anak panah buat menembaknya! Saudara-saudara, ayohlah lekas bersiap-siap untuk meringkusnya dari atas pagar tembok itu!"
Mendengar ancaman itu, bukan saja Poan Thian tak menjadi jerih atau takut, malah sebaliknya lantas tertawa 127 dan berkata.
.,Sahabat-sahabat, jangan pula kamu hendak memanah kepadaku, sedangkan jala alam semesta sekalipun, tak nanti akan kutakuti!
Kamu sekalian tidak pernah bermusuhan denganku, seperti juga aku sendiri tak pernah bermusuhan dengan kamu sekalian.
Kedatanganku ini adalah untuk bertemu dengan Tong-cu, tetapi bukan hendak mencari setori dengan kamu sekalian.
Aku bukan takut berkelahi, juga bukan takut karena aku tak bersenjata, aku hendak berkelahi dengan memakai aturan, tetapi bukan berkelahi seperti kamu ini, yang cuma-cuma akan membikin diri celaka saja.
Maka buat mencegah kerewelan-kerewelan yang tidak diinginkan, pergilah kamu beritahukan kepada Tong-cu, bahwa aku di sini ingin bertemu kepadanya!"
Tidak antara lama, lalu muncullah dari antara orang banyak, seorang yang berusia kira-kira empatpuluh tahun lebih, wajahnya bengis, hidungnya bengkok macam paruh betet, bermisai dan berjembros pendek.
Oleh karena orang itu berpakaian ringkas dan mengenakan sepasang sepatu ringan yang umum dipakai oleh orangorang yang gemar bersilat, maka Poan Thian lantas mengerti, bahwa sedikit-sedikitnya orang itu tentu mengerti juga ilmu silat.
Oleh sebab itu, ia lantas menyoja dari atas pagar tembok sambil berkata.
"Lauwhia, mohon tanya, apakah kau ini bukannya Tong-cu dari Sam-liong-hwee yang bernama Lauw Sam-ya?"
Orang itu tidak lantas menjawab, tetapi segera mengamat-amati orang sehingga beberapa saat lamanya.
"Apakah kau tahu Sam-liong-hwee ini tempat apa?"
Tanyanya dengan sikap yang amat sombong. Lie Poan Thian yang melihat sikap orang itu, keruan saja jadi mendongkol dan lalu menjawab.
"Tak tahu aku, 128 apakah Sam-liong-hwee ini sebuah tempat hitam atau putih, tetapi aku tahu betul, bahwa inilah bukan tempat yang terlalu berbahaya untuk ditakuti orang!"
Orang itu kelihatan bersungut-sungut, kemudian mengeluarkan suara jengekan dari lobang hidung.
"Hm!"
Katanya.
"Barusan telah kau katakan, bahwa kau minta bertemu dengan Lauw Sam-ya. Aku inilah ada orang yang kau cari itu! Belum tahu kau mencari aku ada urusan apa yang perlu kau bicarakan? Ayo, marilah kau turun ke sini!"
Poan Thian menurut. Dengan sekali lompat saja, pemuda kita telah berada di hadapannya Lauw Sam-ya.
"Cobalah ceritakan maksud kedatanganmu ini,"
Kata ketua perkumpulan Sam-liong-hwee itu. Poan Thian lekas menyoja dan berkata.
"Aku ini adalah seorang dari tempat lain yang kebetulan melewat di sini, tetapi karena justeru keputusan ongkos dan mendengar namamu yang dermawan dan suka menolong pada orang-orang yang miskin dan tertindas, maka aku telah sengaja datang berkunjung kepadamu untuk meminta pertolonganmu. Belum tahu, apakah kau sudi mengabulkan atau tidak permintaanku ini?"
Lauw Sam-ya berdiam sejurus, sambil berpikir di dalam hatinya.
"Jikalau ditilik dari gerakan-gerakannya orang ini,"
Pikirnya.
"nyatalah ia bukan seorang yang boleh diperlakukan dengan sembarangan. Maka buat mencegah peristiwa-peristiwa yang tidak diingini, baiklah aku berlaku sedikit mengalah dan memberikan dia sedikit uang, agar supaya dengan begitu dia boleh pergi dari sini 129 dengan tak usah menerbitkan kerewelan apa-apa."
Begitulah setelah berpikir sesaat lamanya, Lauw Sam-ya lalu panggil kasir perkumpulan buat mengambil limapuluh uang tembaga untuk diberikan kepada pemuda itu.
Tetapi Poan Thian yang melihat jumlah uang sekecil itu, lalu jadi tertawa dan berkata.
"Ah, Lauw-hia, apakah artinya uang limapuluh tembaga itu, sedangkan buat membayar ongkos satu kali makan saja belum keruan bisa cukup? Aku sungguh menyesal sekali, telah mau percaya saja kata orang, mereka telah mengatakan, bahwa Lauw Sam-ya itu orangnya amat dermawan, tidak sayang uang untuk dapat bersahabat dengan orangorang yang bersatu haluan. Tidak tahunya semua omongan itu bohong belaka! Dan jikalau itu benar, aku hanya berani mengatakan, bahwa Lauw Sam-ya itu orangnya terlalu pelit, sehingga buat memberikan uang limapuluh tembaga saja mesti dipikir dahulu bolak-balik sampai beberapa jam lamanya. Ha, ha! Aku sungguh jadi tertawa geli akan mengalami kejadian lucu semacam ini!"
Lauw Sam-ya yang disindir begitu, dengan mata mendelik dan hati mendongkol lalu berkata.
"Ah, kau ini sesungguhnya ada seorang yang amat cerewet! Jikalau kau tidak mau terima dermaanku yang berjumlah limapuluh uang tembaga itu, berapa banyakkah yang kiranya patut kuberikan kepadamu?"
"Jikalau kau mau membicarakan tentang banyak sedikitnya jumlah yang kau harus keluarkan,"
Kata Lie Poan Thian sambil tertawa.
"jumlah sepuluhribu tail perak bagimu belumlah terlalu banyak, sedangkan jumlah seribu tail belum boleh dikatakan terlalu besar. Hanya karena kau memangnya seorang yang pelit, perlu apakah kau menanyakan berapa banyak kau harus keluarkan 130 buat aku, sedangkan kau sendiri memangnya mau keluar uang?"
Lauw Sam-ya jadi semakin mendongkol dan lalu perintah kasir akan memberikan Poan Thian seratus uang tembaga, tetapi pemuda kita kembali tertawakan padanya sambil berkata.
"Itu masih terlalu jauh dari cukup! Itu masih terlalu jauh dari cukup!"
Lauw Sam-ya akhirnya jadi naik darah dan membentak.
"Hei, pengemis! Sungguh tidak kunyana akan bertemu dengan seorang pengemis yang kelakuannya lebih mirip dengan seorang perampok! Belum tahu sampai dimana adanya ilmu kepandaianmu, sehingga kau berani berlaku begitu kurang ajar akan memeras orang?"
"Ha, ha, ha!"
Poan Thian tertawa.
"Jikalau mau diceritakan tentang ilmu kepandaianku, ada kemungkinan kau akan terperanjat atau kesima karena heran. Tetapi semua ini kiranya perlu juga akan kuberitahukan kepadamu, walaupun ini bisa membikin kau gegetun seumur hidupmu!"
Kemudian, sambil menunjukkan tinjunya, ia melanjutkan omongannya dengan mengatakan.
"Dengan tinju ini aku mampu membinasakan harimau dari Bukit Selatan, sedangkan dengan kedua kakiku ini, aku bisa tendang mati ular naga dari Lautan Timur. Oleh sebab itu, siapakah di antara kamu sekalian yang berani mengadu ilmu kepandaian denganku?"
Lauw Sam-ya jadi tersenyum segan ketika mendengar omongan Poan Thian yang sesombong itu.
"Akan membunuh harimau atau mematikan ular naga,"
Katanya.
"itulah bukan perkara gampang, hingga ini terlalu sukar untuk dapat disaksikan oleh setiap orang. 131 Sekarang aku di sini mempunyai delapanbelas patok Lohan-chung yang biasa dipergunakan untuk berlatih ilmu silat. Jikalau patok-patok ini dapat kau tumbangkan seluruhnya dengan jalan apa saja, barulah aku suka menyerah dan bersedia akan keluar uang menurut jumlah permintaanmu dengan tidak tawar-menawar pula!"
"Kalau begitu,"
Sahut Lie Poan Thian.
"aku suka terima kebaikan tawaranmu itu. Tetapi dimanakah adanya patok-patok itu?"
Lauw Sam-ya lalu menunjuk pada sebuah lapangan di sebelah timur sambil berkata.
"Itu, di sana. Apakah kau sanggup menumbangkan semua patok-patok itu?"
Lie Poan Thian lalu mengamat-amati pada ketiga perangkat patok-patok yang terpendam dalam tanah, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata.
"Ya, ya, itu semua aku sanggup tumbangkan atau patahkan dengan kaki dan tanganku. Marilah kita coba pergi ke sana, supaya kau dapat menyaksikan "
Pekerjaanku"
Dari dekat."
Lauw Sam-ya menurut.
Begitulah dengan mengajak semua orang sebawahannya, ketua perkumpulan Sam-liong-hwee itu lalu dipersilahkan Poan Thian buat coba jajal ilmu kepandaiannya menurut kesanggupan yang telah ia utarakan tadi.
Maka setelah menyingsingkan lengan baju dan mengikat erat tali pinggangnya, Poan Thian lalu memukul patok yang pertama dengan menggunakan sisi telapak tangannya.
"Plak!"
Begitulah terdengar suara barang yang patah, 132 dan berbareng dengan itu, maka patok itupun putuslah bagaikan terbacok oleh sebilah golok yang amat tajam!
Plak, plak, plak!
Di setiap waktu terdengar suara itu, di setiap waktu juga tampak patok-patok itu satu per satu terkutung karena tersabet putus oleh sisi telapak tangannya pemuda itu!
Lauw Sam-ya dan orang-orang sebawahannya yang menyaksikan keanehan itu, semua jadi pada memuji di dalam hati, tentang kepandaiannya pemuda kita yang amat lihay itu.
Sedangkan dengan kedua kakinya yang ditendangkan dengan cepat dan berulang-ulang, Poan Thian telah "sapu"
Patok-patok itu sehingga tumbang dan berantakan di sana-sini!
Lauw Sam-ya dan orang-orang sebawahannya yang sekarang telah dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa hebatnya ilmu kepandaian pemuda itu, sudah tentu saja hati mereka jadi jerih dan tidak tahu selanjutnya mesti berbuat bagaimana.
Maka setelah Poan Thian dapat menyelesaikan semua "pekerjaannya", lalu ia menghampiri Lauw Samya dan bersenyum berkata.
"Lauw-hia, sekarang pekerjaanku untuk menumbangkan dan mematahkan patok-patok itu telah selesai. Apakah kau sudah bersedia akan mengeluarkan sejumlah uang yang aku bakal minta itu?"
"Oh, ya, ya, sudah tentu,"
Kata ketua Sam-liong-hwee itu dengan suara gugup.
"Tetapi belum tahu apakah kau juga mampu mementang gendewa Gu-kak-kiong yang tergantung di atas dinding tembok itu?" 133 Lauw Sam-ya berkata sambil menunjuk pada sebuah busur besar yang digantungkan di dinding tembok timur, yang terpisah tak berapa jauh dari tempat mereka berdiri. Poan Thian lalu menoleh ke arah yang diunjukkan Lauw Sam-ya tadi. Tetapi sungguh tidak dinyana, selagi mengamatamati pada busur itu, mendadak Poan Thian merasakan ada Angin tidak baik-baik yang berkesiur di belakang kepalanya, berbareng dengan mana sebuah sinar menyamber ke arah batang lehernya. Poan Thian lekas berjongkok buat mengasih lewat badi-badi Lauw Sam-ya yang telah dijujukan pada dirinya, kemudian ia putar badannya dan menyapu kakinya Lauw Sam-ya dengan kaki kanannya. Ketua perkumpulan Sam-liong-hwee itu buru-buru berlompat ke suatu pinggiran, hingga dengan begitu, ia telah dapat meluputkan diri daripada tendangan Poan Thian itu. Sementara pemuda kita yang melihat Lauw Sam-ya hendak berlaku curang, lalu tertawa dan berkata dengan maksud menyindir, katanya.
"Sudah lama aku mendapat kabar, bahwa Lauw Sam-ya itu ada seorang yang tidak suka berlaku curang untuk menjatuhkan orang yang dianggap sebagai seterunya. Tetapi omongan itu sekarang kembali telah terbukti kejustaannya. Karena selain ternyata bahwa kau ada seorang yang pengecut, kaupun tidak segan akan melakukan perbuatan-perbuatan busuk seperti apa yang telah kau unjuk sekarang ini. Sedangkan menurut aturan yang patut dan sebagai seorang laki-laki sejati, kau harus mengajukan tantanganmu dengan secara berterang kepadaku, agar supaya dengan begitu, kita boleh 134 berkelahi satu lawan satu untuk menetapkan pihak mana yang sesungguhnya lebih unggul dan pandai dalam pertempuran ini!"
Lauw Sam-ya yang telah didamprat di hadapan orang-orang sebawahannya, tentu saja jadi amat malu dan apa-boleh buat berlagak tertawa sambil berkata.
"Saudara, sebetulnya aku bukan bermaksud hendak membokong kepadamu. Dan jikalau aku telah berlaku begitu, itulah semata-mata buat mencoba ilmu kepandaianmu saja. Maka setelah sekarang aku ketahui betul sampai berapa tinggi adanya ilmu kepandaianmu, akupun selalu bersedia buat menetapkan siapa di antara kita berdua yang sebenarnya lebih unggul atau lebih "
Rendah."
Maka sesudah memerintahkan orang-orang sebawahannya berkumpul di suatu tempat yang terpisah sedikit jauh dari kalangan pertempuran, Lauw Sam-ya lalu memasang bee-sie (kuda-kuda) sambil berkata.
"Saudara! Marilah kita boleh lantas mulai!"
Lie Poan Thian mengangguk sambil kemudian maju menyerang, hingga dalam tempo beberapa saat saja kedua orang itu telah bertempur dengan amat hebatnya.
Selama pertempuran itu berlangsung, Poan Thian telah mengetahui, bahwa Lauw Sam-ya ini sesungguhnya ada juga "isinya", walaupun ia belum tergolong pada seorang ahli silat dari tingkat kelas satu.
Maka buat menjaga supaya dirinya jangan sampai kena diselomoti atau "dicepol"
Orang, ia pikir lebih baik berlaku see-jie dahulu pada sebelum menerjang pada lawan itu dengan sekuat-kuat tenaganya.
Maka biarpun Lauw Sam-ya lebih banyak menyerang daripada semula, tetapi Poan Thian tinggal tetap berlaku 135 tenang dan tidak tergesa-gesa dalam hal menghindarkan diri daripada penyerangan-penyerangan musuh, yang semakin lama telah berlangsung semakin cepat dan berbahaya itu.
Akan tetapi, sebegitu lekas dapat "meloloskan diri"
Dari ilmu pukulan Cong-pouw-teng-cu-siu yang Lauw Sam-ya telah jujukan kepada dirinya, Lie Poan Thian lekas-lekas menggunakan ilmu Tan-kam-ciang, guna menyabet pinggang Lauw Sam-ya dengan mempergunakan sisi telapak tangannya yang kuat dan "tajam bagaikan golok"
Itu.
Hal ini, sudah tentu saja telah membikin Lauw Samya jadi terperanjat.
Karena selain mengetahui bagaimana lihaynya telapak tangan itu, iapun tahu juga, bahwa dalam ilmu silat pukulan dengan sisi telapak tangan itu bisa dianggap lebih berbahaya daripada pukulan dengan tinju.
Karena jikalau bekerjanya tenaga pukulan dengan tinju itu hanya terbatas pada bagian kulit dan daging saja, adalah sabetan dengan sisi telapak tangan itu mampu memukul dengan tandas sehingga mengenai celah-celah tulang, apa pula kalau pukulan itu dijujukan pada bagian iga atau pinggang seperti apa yang dilakukan oleh Lie Poan Thian ketika itu.
Pada waktu Lauw Sam-ya melihat Lie Poan Thian telah memukul seperti apa yang telah kita tuturkan tadi, buru-buru ia mengegos sambil menendang dengan sekuat-kuatnya tenaga, hingga ketika Poan Thian berkelit untuk meluputkan diri daripada tendangan itu, Lauw Sam-ya segera melakukan desakan kilat, untuk membikin kalut pikirannya pemuda kita.
Tetapi sungguh tak dinyana, pada sebelum ia berhasil dapat melanjutkan rencana penyerangannya, tiba-tiba Poan Thian telah melompat keluar dari kalangan 136 pertempuran sambil berkata.
"Hei! Orang she Lauw! Setelah kau menyerang padaku dengan sepuaspuasnya, sekarang giliranku buat balas menyerang kepadamu, dengan suatu cara yang menjadi keistimewaan dalam ilmu kepandaianku. Sekarang akan kutitik beratkan segala serangan-seranganku dengan hanya mempergunakan ilmu tendangan saja. Hal ini, perlu sekali aku beritahukan kepadamu dari di muka, agar supaya kau tidak menjadi menyesal, apabila nanti kau kena dirobohkan olehku. Dari itu, jagalah dirimu dengan sebaik-baiknya. Sekarang akan kumulai dengan siasat tendangan Tan-tui, atau menendang dengan sebelah kaki, kemudian akan kususul dengan ilmu tendangan lain yang kiranya tak perlu kusebutkan namanya satu per satu. Hati-hatilah!"
Sambil berkata begitu, Poan Thian lalu mulai mengajukan serentetan tendangan-tendangan yang mula-mula dapat dihindarkan dengan baik oleh pihak lawannya.
Tetapi ketika jalannya pertempuran semakin lama jadi semakin cepat, Lauw Sam-ya jadi terperanjat dan berpikir di dalam hatinya.
"Sungguh tidak kunyana,"
Pikirnya.
"bahwa omongan si budak ini ternyata bukan gertakan belaka!"
Maka kalau tadi ia berpendapat, bahwa ia tak akan bisa dikalahkan mentah-mentah oleh pemuda itu, adalah sekarang ia jadi keder dan timbul rasa kuatir, kalau-kalau ia nanti dirobohkan oleh Lie Poan Thian di hadapan orang-orang sebawahannya sendiri.
Dan jikalau kekuatiran itu sampai benar-benar terbukti, cara bagaimanakah ia bisa ada muka akan bertemu dengan handai taulan dan orang banyak, sedangkan di hadapan mereka ia pernah bicara tekebur mengenai pembelaan nama-nama baiknya perkumpulan 137 Sam-liong-hwee, yang pernah dikatakannya tak akan "turun merek"
Sebegitu lama diketuai olehnya?
Disamping itu ia telah lupa, bahwa orang gagah di dunia ini bukanlah hanya dia saja seorang.
Betul telah banyak ahli-ahli silat yang telah berkunjung dan menjajal ilmu kepandaiannya Lauw Samya, tetapi mereka itu hampir rata-rata bukan ahli-ahli silat jempol yang telah sengaja datang buat "minta pelajaran"
Kepada ketua Sam-liong-hwee itu, tetapi semata-mata hendak "menjilat"
Dan meminta tunjangannya yang berupa uang atau makanan.
Maka selama dilakukan pertempuran itu, mereka lebih banyak mengalah daripada melawan dengan sungguh-sungguh hati.
Maka Lauw Sam-ya yang menyangka hahwa ilmu kepandaian silatnya sudah begitu tinggi sehingga tak dapat pula dikalahkan orang, tentu saja jadi amat bangga dan selanjutnya telah berani bicara terkebur seperti apa yang telah kita sebutkan di atas.
Sementara Lie Poan Thian yang juga ingin menunjukkan kepandaiannya kepada Lauw Sam-ya dan gundal-gundalnya, bukan saja tak mau memberikan kelonggaran lebih jauh kepada sang lawan itu, tetapi juga segera menerjang dengan ilmu-ilmu tendangan lihay yang telah membikin Lauw Sam-ya kelabakan, dan tak tahu bagaimana selanjutnya ia harus menolong dirinya sendiri.
"Sekarang telah tibalah saatnya akan aku merobohkan kepadamu!"
Kata Lie Poan Thian, sambil mempergunakan ilmu tendangan Lian-hwan Sauw-tongtui yang sangat diandalkannya itu.
Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin Lauw Sam-ya semakin gugup dan tak sanggup pula buat 138 meladeni sang lawan yang masih muda dan jauh lebih pandai daripada dirinya itu.
"Hei, anak muda! Tahan dulu!"
Ucapan itu baru saja diucapkan oleh Lauw Sam-ya, ketika satu kakinya Lie Poan Thian telah menyamber bagaikan kilat cepatnya ke arah dada sang lawan itu, hingga biarpun ia berhasil dapat menghindarkan diri daripada tendangan itu tetapi tidak urung ia mesti menyerah juga dengan tendangan Poan Thian yang kedua kalinya, yang ternyata tidak kalah cepatnya dengan tendangan yang telah dilakukannya semula itu.
Maka dengan mengeluarkan suara teriakan ngeri, Lauw Sam-ya segera kelihatan terpental dengan tulang iga melesak dan jatuh pingsan di suatu tempat yang terpisah kira-kira beberapa belas kaki jauhnya, dimana ia mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulutnya.
Orang-orang sebawahan ketua Sam-liong-hwee yang telah menyaksikan peristiwa itu dan menganggap ini sebagai suatu hinaan besar bagi mereka dan perkumpulan mereka, sudah tentu saja jadi amat gusar dan lalu berniat akan mengeroyok pemuda kita dengan pentungan dan barang tajam yang dicekal dalam tangan mereka.
Tetapi Lie Poan Thian yang memang tidak bermaksud akan melukai setiap orang dengan membabibuta, buru-buru menuding kepada mereka sambil berkata.
"Sahabat-sahabat sabar dulu! Janganlah kamu terburu napsu dan menerbitkan persetorian-persetorian yang tidak bermanfaat bagi diri kamu sekalian. Aku Lie Kok Ciang,"
Pemuda kita melanjutkan sambil memperkenalkan dirinya sendiri.
"bukanlah semata-mata hendak menerbitkan persetorian-persetorian dengan 139 tidak ketentuan apa maksud atau alasannya. Dan jikalau hari ini aku telah datang juga ke sini, itulah melulu akan coba "
Berkenalan"
Dengan induk semangmu, yang amat masyhur namanya sebagai seorang hartawan jahat, pemeras, penyelundup dan "algojo"
Dari rakyat yang lemah dan tidak berpengaruh.
"Bahkan belum berapa hari yang lalu, ia telah mengatur suatu muslihat busuk untuk membinasakan jiwanya komandan Teng Yong Kwie dari tangsi Tokpiauw-eng, yang telah dijebaknya dengan jalan menawarkan seekor kuda yang katanya dapat berlari seribu lie seharinya. Apakah kamu tahu akan adanya muslihat yang keji ini?"
Semua orang tinggal bungkem dan tidak berani bergerak barang setindak pun.
"Aku tidak memaksa akan kamu menerangkan, apakah kamu tahu atau tidak tentang adanya urusan yang sekeji ini?"
Poan Thian melanjutkan.
"Tetapi kamu yang terlahir di Cee-lam, tentunya harus merasa malu dengan adanya peristiwa busuk serupa itu di tempat kelahiran kamu sendiri."
Tetapi nasehat-nasehat itu bukan saja tak dapat diterima oleh sekelompok manusia-manusia kasar yang tak mengerti aturan itu, malah sebaliknya mereka jadi lebih gusar dan lalu bersiap-siap akan mengeroyok dengan tidak banyak bicara pula.
Sementara Lie Poan Thian yang melihat gelagat tidak baik, segera hampiri Lauw Sam-ya yang belum sadar dari pingsannya, yang lalu diangkatnya ke atas sambil membentak pada orang-orang yang hendak menyerang kepadanya itu.
140 "Hei, kamu orang-orang dogol!"
Katanya dengan perasaan jengkel.
"Kamu sekalian janganlah mengira, bahwa karena kamu berjumlah banyak, maka kamu hendak menggertak aku yang hanya bersendirian saja. Aku bukan omong besar. Jikalau aku mau, aku bisa bikin kamu sekalian binasa dengan hanya beberapa tendangan saja. Atau, jikalau kamu tak mau percaya juga omonganku, kamu boleh coba maju dengan serentak di seketika ini juga, agar supaya aku bisa gunakan induk semangmu sebagai senjata buat membinasakan kamu sekalian! Siapakah di antara kamu sekalian yang ingin terlatih dahulu merasai dikemplang dengan induk semangmu yang sekarang menjadi senjataku ini?"
Sekelompok manusia-manusia kasar itu jadi terkejut dan tinggal terbengong bagaikan mendadak kesima oleh perbuatannya pemuda kita itu.
Dan selagi Poan Thian hendak berlalu dari situ sambil menyeret Lauw Sam-ya yang pingsan itu, mendadak seorang wakilnya Teng Yong Kwie telah sampai dengan membawa sepasukan orang-orang polisi, hingga sesudah Poan Thian memberitahukan peristiwa apa yang telah terjadi tadi, maka wakil komandan itu lalu memerintahkan orang-orang polisi sebawahannya buat menangkap semua orang-orangnya Lauw Sam-ya yang berada di situ, yang lalu digiring ke kantor polisi buat diperiksa perkaranya terlebih jauh.
Sementara Poan Thian sendiri setelah menyerahkan Lauw Sam-ya di bawah perlindungannya wakil komandan itu, buru-buru kembali ke Hu-tong-toa-kee buat menyampaikan kabar girang ini pada Teng Yong Kwie, yang menantikan padanya di rumah Sin-kun Bu-tek Louw Cu Leng dengan hati yang tidak sabaran.
Tatkala Yong Kwie mendengar kabar tentang hasil pekerjaannya 141 pemuda kita, sudah tentu saja ia jadi sangat berterima kasih, dan semenjak itu perkumpulan Sam-liong-hwee pun telah dibubarkan oleh para anggautanya, berhubung pemimpin-pemimpinnya satu per satu telah ditangkap dan dijatuhkan hukuman atau dibuang ke tempat-tempat lain.
Demikianlah salah sebuah lelakon menarik yang telah terjadi dalam riwayat hidupnya Sin-tui Lie Poan Thian, yang sehingga di jaman ini masih diingat dan dijadikan orang bahan untuk beromong-omongan di waktu senggang.
◄Y► Beberapa tahun telah lewat dengan tidak terasa pula.
Tatkala Tek Hoat suami-isteri dengan berturut-turut telah kembali ke alam baka, maka perusahaan pabrik Eng-tiang-chun Mo-hong pun lalu dilanjutkan oleh Lie Poan Thian yang menjadi ahliwaris satu-satunya.
Tetapi berhubung pada tahun itu telah terbit bahaya banjir dahsyat yang telah menggenang sebagian besar daerah Shoa-tang dan menerbitkan kerugian yang bukan kecil bagi penduduk negeri, maka Poan Thian yang pabriknya telah termusnah seluruhnya oleh air dan tak dapat bekerja, apa boleh buat segera pindah ke Tiongciu (sekarang Tiong-cia, dalam propinsi Ho-lam) untuk menumpang tinggal pada suami kakak perempuannya di sana, yang membuka kedai garam dan memperoleh untung besar dalam perusahaannya itu.
Begitulah dengan membawa dua buah pauw-hok dan "harta bendanya"
Yang berupa barang-barang pemberian dari Kak Seng Siang-jin dari kelenteng Liong-tam-sie, 142 Poan Thian telah menuju ke propinsi Ho-lam dengan menyewa sebuah kereta.
Tetapi karena rodanya kereta itu telah patah di tengah jalan, maka apa boleh buat Poan Thian telah membayar sewa kereta tersebut sampai di situ saja, sedangkan perjalanan selanjutnya terpaksa telah dilanjutkannya dengan berjalan kaki.
Ketika itu justeru musim hujan, hingga ini membikin Poan Thian mengalami kesukaran yang tidak sedikit dalam perjalanannya.
Beberapa buah kereta yang kebetulan diketemukannya melawat dalam perjalanannya, ia telah berhentikan buat coba menumpang, tetapi semua kereta itu tak ada yang kosong, hingga percobaannya itu sia-sia belaka.
Oleh sebab itu, mau tak mau ia mesti melanjutkan perjalanan itu dengan berjalan kaki.
Satu lie, dua lie, dan begitu selanjutnya.
Dan ketika matahari telah menyelam ke barat, ia telah sampai di sebuah desa di perbatasan propinsi Shoa-tang Ho-lam, dimana ia mendapat keterangan dari salah seorang penduduk di situ, bahwa di sebelah depan perjalanannya ada dua buah rumah penginapan yang baru saja dibuka orang dalam daerah itu, oleh karena itu, buru-buru Poan Thian pergi mencari rumah penginapan tersebut untuk menumpang bermalam.
Tetapi, apa celaka, rumah penginapan itu telah penuh dan tak dapat pula menerima tetamu, walaupun hanya untuk seorang saja.
Kebingungan hati Lie Poan Thian jadi semakin memuncak, ketika berkunjung dari satu ke lain tempat rumah untuk menumpang bermalam, tetapi di sana-sini ia telah ditolak dan belum juga bisa mengaso meski hari telah terganti dengan malam.
Kira-kira hampir tengah malam, hujan lebat telah 143 turun ke muka bumi, hingga Poan Thian yang melihat ada sebuah gardu di muka sebuah lapangan yang biasa dipergunakan orang menjemur padi atau palawija, buruburu ia berlindung di tempat itu sementara menantikan berhentinya hujan.
Di situ Poan Thian menantikan sampai lewat tengah malam, tetapi sang hujan yang jail belum juga mau berhenti, hingga pemuda kita yang memang telah merasa sangat lelah dan mengantuk, pelahan-lahan telah tertidur sambil bersandar pada dua pauw-hok dan sebuah bungkusan yang dibawanya itu.
Ketika mendusin di waktu fajar, Poan Thian rasakan badannya demam dan kepalanya berat bagaikan tertindas oleh sebuah besi.
Lebih jauh karena penglihatannya berkunang-kunang, maka apa boleh buat ia telah pejamkan kembali matanya, agar supaya dapat tidur pula untuk meringankan sedikit rasa sakitnya.
Tetapi tidak kira selagi enak menggeros di situ, mendadak ia telah dibikin kaget oleh suara seorang yang membentak.
"Kurang ajar, sedangkan kita telah pada bangun tidur untuk bekerja, adalah kau di sini yang masih saja enakenakan tidur menggeros! Apakah tidak malu kau ditonton orang-orang yang berjalan mondar-mandir di sini? Ayoh, lekas bangun, kalau kau tak mau lekas bangun, akan kuseret kau ke jalan raya!"
Poan Thian bukannya tidak mendengar atas bentakan itu, hanya karena badannya dirasakan amat tidak enak, maka terpaksa tinggal memejamkan saja matanya dengan tak mengucapkan barang sepatah katapun.
Maka orang itu yang melihat Poan Thian tidak menghiraukan kepadanya, dengan suara yang sengit lantas membentak.
"Hei, orang pekak! Apakah kau tidak 144 mendengar apa kataku tadi?"
Poan Thian lalu mencoba buat memaksakan diri akan memhuka matanya, tetapi buru-buru ia memejamkan pula matanya, karena silau melihat sinar matahari yang telah mulai naik tinggi.
"Tuan,"
Katanya.
"oleh karena aku sedang menderita sakit, maka izinkanlah aku berdiam di sini buat beberapa saat pula lamanya. Jikalau rasa sakitku telah menjadi kurangan, sudah tentu akan kulekas berlalu dari sini."
"Kau seorang pemalas sungguh banyak saja akalmu yang tidak-tidak!"
Kata suara orang itu sambil berlalu dengan cepat.
"Lihatlah bagaimana akan kubikin kau merasa kapok akan menjadi seorang pemalas pula!"
Tetapi Lie Poan Thian yang sama sekali tak pernah menyangka bakal mengalami suatu peristiwa yang tidak enak, tinggal tetap memejamkan matanya sambil menahan rasa sakitnya, yang sekarang seakan-akan berkumpul menjadi satu di bagian kepalanya.
Tidak antara lama, ia mendengar suara tindakan kaki yang agak tergesa-gesa.
Lalu ia berniat akan membuka matanya buat melihat.
Tetapi, ketika baru saja hendak membuka matanya, mendadak Poan Thian merasakan dirinya diguyuri air dingin dengan sekonyong-konyong, yang kemudian dibarengi dengan suara jengekan dan tertawa tergelakgelak.
"Nah, mampus kau!"
Kata orang yang tadi pula.
"Apakah kau sekarang belum mau bangun juga?"
Lie Poan Thian jadi gelagapan.
Para pembaca tentu bisa bayangkan sendiri, alangkah tidak enaknya jikalau kita sedang demam dan 145 sakit kepala mendadak diguyuri air begitu rupa.
Maka biarpun Poan Thian dalam keadaan sakit, tidak urung ia menjadi gusar juga dan lalu mendelikkan matanya sambil mendamprat.
"Hei, jahaman! Sungguh amat keterlaluan perbuatanmu ini! Apakah kau tidak mendengar apa kataku tadi, bahwa karena sakit, aku menumpang tinggal di sini berapa saat lagi lamanya?"
"Jangan banyak bacot!"
Sambil berkata begitu, kembali orang itu telah mengguyuri air pada diri pemuda kita yang sedang sakit itu.
Oleh karena melihat bahwa omongan yang baik dan mengalah tidak membikin orang itu mau mengerti tentang penderitaan seseorang yang sedang sakit, sudah tentu saja Poan Thian jadi habis kesabaran dan segera melompat bangun dengan badan gemetaran bahna gusar dan deman.
Seperti juga seekor singa yang sedang tidur dan mendadak dibanguni secara kasar, ia lantas cekal orang itu sambil membentak.
"Bangsat!"
Karena kuatnya cekalan Poan Thian itu, maka orang itupun tak dapat bergerak dan meringis-ringis karena kesakitan.
"Engkau ini ternyata ada seorang yang tidak mempunyai liang-sim!"
Kata Poan Thian dengan suara gemetar.
"Maka jikalau kata-kata yang baik tidak bikin seorang yang baik bisa dimengerti kebaikannya, kukira tidak ada jalan lain yang lebih tegas daripada memberikan kau sedikit pelajaran yang singkat tapi nyata!"
Sambil berkata begitu, Poan Thian lalu perkuat 146 cekalannya, sehingga selain orang itu teraduh-aduh karena kesakitan, celananyapun bagian muka dan belakangnya segera tampak basah dengan warna kekuning-kuningan yang amat tidak sedap baunya!
"Amp.....!"
Kata-kata "Ampun"
Belum lagi dapat diucapkan sebagaimana mestinya, ketika sebelah tangannya pemuda kita telah menyambar dan memberikan dia dua kali tempilingan yang nyaring dan membikin dia jatuh pingsan di seketika itu juga.
Sedangkan Poan Thian sendiri yang dengan sekonyong-konyong telah merasakan sekujur badannya amat dingin dan lelah, di lain saat iapun telah jatuh pingsan juga dengan tak dapat dicegah pula.
Tahu-tahu ketika coba membuka matanya, barulah ia mendusin, bahwa ia telah berbaring di sebuah ranjang di dalam sebuah kamar yang ia tak tahu berada di mana.
Tidak berapa jauh dari muka ranjang itu, tampak seorang muda yang ia tidak kenal dan rupanya sedang menunggui padanya sambil duduk di atas sebuah kursi.
Dan ketika melihat Poan Thian tersadar dari pingsannya, ia lantas berbangkit dan maju mendekati sambil tersenyum dan berkata.
"Tuan, terlebih dahulu aku mengucapkan beribu maaf atas kekurangajaran mandorku yang telah mengganggu selagi kau tidur nyenyak tadi."
Poan Thian jadi terbengong sejurus, karena ia sesungguhnya tak mengetahui bagaimana duduknya perkara yang benar. Dari itu sudah tentu saja ia lantas menanyakan.
"Tuan, mohon tanya, aku ini ada dimana? Kau siapa, dan mengapa aku berada di sini?"
"Aku yang rendah adalah Chung-cu dari desa ini,"
Sahut si pemuda.
"Namaku Tan Tong Goan. Barusan aku mendengar ribut-ribut di muka gardu, maka aku telah keluar melihat dan ternyata kau telah jatuh pingsan disamping mandorku, yang juga jatuh pingsan dengan mulutnya mengeluarkan banyak darah. Dari keterangan yang telah kuperoleh dari beberapa sebawahanku, aku telah diberitahukan, cara bagaimana kau telah menempiling mandorku itu, yang ternyata telah berlaku amat kurang ajar kepadamu, yang justeru ini berada dalam keadaan sakit.
"Aku di sini amat gemar bergaul dengan orang-orang gagah atau ahli-ahli silat dari tempat-tempat lain. Oleh karena mendapat keterangan dari orang-orang sebawahanku tadi, maka aku lantas ketahui, bahwa kau ini tentu mengerti ilmu silat. Dari itu, aku telah perintah orang-orangku buat bawa kau ke sini, untuk dirawat penyakitmu dengan sebaik-baiknya. Namun belum tahu tuan ini berasal dari mana? She dan nama apa?"
Dengan suara gemetaran Poan Thian menjawab.
"Aku she Lie bernama Kok Ciang, asal orang dari kota Cee-lam dalam propinsi Shoa-tang."
Chung-cu atau tuan-tanah itu jadi kelihatan terkejut, waktu mendengar nama yang disebutkan oleh pemuda kita itu.
"Apakah tuan ini bukan Lie Kok Ciang yang terkenal dengan sebutan Sin-tui Lie? Yang dahulu pernah menjadi murid Kak Seng Siang-jin Lo-siansu dari kelenteng Liong-tam-sie, pernah mengalahkan Sin-kunBu-tek Louw Cu Leng dan mengobrak-abrik sarangnya Siauw-pa-ong Lauw Sam-ya dari perkumpulan Samliong-hwee?" 148 "Ya, itulah benar aku,"
Sahut Lie Poan Thian.
Dengan diperolehnya keterangan-keterangan itu, Tan Tong Goan baru tahu, dengan siapa ia sekarang sedang berhadapan, oleh karena itu, buru-buru ia membungkukkan badan sambil memberi hormat dan berkata.
"Lie Lauw-hia, nyatalah kau ini ada orang yang sudah sekian lamanya aku harapkan buat bisa berkenalan, yang sehingga hari ini dengan secara yang amat tidak terduga, telah dapat bertemu di sini di tempatku sendiri. Penyakit Lauw-hia ini kelihatan agak berat juga, maka aku pikir baik kau beristirahat dahulu di sini untuk beberapa hari lamanya."
Poan Thian mengucap banyak terima kasih atas kebaikannya sang Chung-cu itu.
"Lebih jauh,"
Kata Tan Tong Goan pula.
"aku akan merasa girang sekali apabila Lauw-hia sudi menerangkan sebab musabab sehingga kau bisa berada di sini. Jikalau ternyata ada apa-apa yang aku bisa menolong, aku tentu akan berdaya sedapat mungkin guna menolong kepadamu."
Mendengar omongan itu, Poan Thian lalu tuturkan segala sesuatu yang telah terjadi di kota kelahirannya, tetapi sama sekali tidak diterangkan olehnya, bahwa ia hendak minta menumpang tinggal kepada suami kakak perempuannya di Ho-lam.
Oleh karena mendengar keterangan begitu, maka Tong Goan lalu memajukan suatu usul, supaya Poan Thian suka berdiam saja di rumahnya, untuk mengajar ilmu silat kepadanya dan orang-orang sebawahannya.
"Aku di sini betul mempunyai dua orang kauw-su dan beberapa orang ahli silat lain yang kerap menemani kami berlatih,"
Kata Chung-cu.
"tetapi kedua orang itu kukira 149 masih belum cukup untuk dapat melatih dengan sebaikbaiknya pada orang-orangku, yang sama sekali berjumlah puluhan orang banyaknya. Maka jikalau Lauwhia sudi mengabulkan permintaanku, bukan saja aku dan orang-orangku akan merasa sangat berterima kasih, bahkan desa inipun akan merasa bangga dapat memberikan kau tempat, sedangkan para penduduknya boleh belajar ilmu silat di bawah pimpinan seorang ahli silat kenamaan seperti kau ini. Hanya belum tahu, apakah kau sudi mengabulkan atas permintaanku ini?"
Poan Thian yang melihat Tong Goan orangnya begitu baik dan sopan-santun, sudah tentu saja tidak berani menolak permintaan itu.
Begitulah setelah menumpang tinggal beberapa hari lamanya di rumah tuan-tanah yang baik hati itu, barulah Poan Thian merasakan penyakitnya sedikit lebih baik, walaupun kewarasannya belum pulih sama sekali.
Pada suatu hari ketika Tong Goan mengajak ia mengobrol tentang ilmu silat di ruangan pertengahan, mendadak seorang yang bertubuh tinggi besar kelihatan berjalan masuk dengan tindakan kaki yang berat dan bersuara.
"Inilah ada salah seorang kauw-su kami yang bernama Liu Tay Hong,"
Tong Goan perkenalkan Poan Thian pada orang yang baru datang itu. Pemuda kita lekas berbangkit, memberi hormat dan persilahkan duduk guru silat itu.
"Saudara ini orang dari mana? She dan nama apa?"
T.anya Liu Tay Hong sambil mengambil tempat duduk di sebuah kursi di dampingnya si tuan-tanah.
"Saudara ini bukan lain daripada orang yang menjadi 150 buah bibir kita sekalian,"
Tong Goan memotong pembicaraan orang sambil tersenyum dan mengacungkan ibu-jarinya.
"Ia inilah Lie Kok Ciang dari Cee-lam, Sin-tui Lie, yang namanya tak asing pula dalam kalangan Rimba Persilatan!"
Tay Hong tampak kurang senang mendengar Tong Goan begitu memuji tetamu yang baru ia kenal itu.
"Aku dengar banyak orang kerap mengatakan,"
Katanya.
"bahwa kelenteng Liong-sam-sie itu ada sebuah perguruan ilmu silat yang selalu mengeluarkan muridmurid yang jempolan. Aku di luaran telah berkeliaran mencari murid-murid dari kelenteng tersebut, untuk coba meminta pengunjukan, tetapi sampai sebegitu jauh, belum juga dapat diketemukan barang seorang pun. Sekarang oleh sebab mengetahui bahwa Lie Lauw-hia ini adalah salah seorang murid dari Liong-tam-sie, maka aku akan merasa berterima kasih, apabila kau sudi memberi pengunjukan kepadaku. Tetapi belum tahu, apakah Lauw-hia sudi mengabulkan permintaanku ini?"
Ucapan ini bukan saja telah membikin Poan Thian jadi tidak enak, malah Tong Goan sendiripun jadi turut kurang senang dan mual mendengar omongan yang agak menantang itu.
Akan tetapi, buat membikin keadaan tidak sampai menjadi tegang, Tong Goan lalu pura-pura tersenyum dan berkata.
"Oleh karena kewarasan Lie Lauw-hia masih belum pulih betul, maka baiklah hal ini dibicarakan pula nanti saja di lain waktu."
Tetapi Liu Tay Hong yang memangnya bersikap sombong, bukan saja tidak mau mengerti dengan alasan itu, malah sebaliknya lantas bersenyum sindir dan berkata.
"Mula, kukira Sin-tui Lie itu ada seorang yang berkepala tiga dengan berlengan enam, tidak tahunya hanya seorang biasa saja yang bertubuh begini kecil dan 151 hampir tidak ada "
Potongan"
Untuk dinamakan seorang gagah.
Maka dengan menilik pada keadaan badan yang begini lemah dan kecil, kukira tidak perlu sampai aku turun tangan sendiri, karena salah seorang muridku pun akan mampu merobohkannya dengan hanya beberapa gebrakan!"
Kemudian dengan melancangi Tong Goan yang menjadi induk semangnya Tay Hong lalu panggil seorang muridnya yang bernama See Tek Hun.
"Orang ini bukan lain daripada apa yang khalayak ramai kenal sebagai Sin-tui-Lie,"
Kata si kauw-su kepada muridnya.
"Apakah kiranya kau berani, apabila aku suruh kau bertempur dengannya?"
Tong Goan jadi kemekmek.
Poan Thian mendongkol, tetapi tidak mengatakan apa-apa selainnya bersenyum sedikit.
Sedangkan See Tek Hun yang dianjurkan buat diadu bertempur dengan Lie Poan Thian, tampaknya ragu-ragu dan berpaling pada Tay Hong seperti juga orang yang hendak bertanya.
"Sungguh aneh benar perintahmu ini! Dialah seorang yang kewarasan badannya belum pulih betul cara bagaimanakah aku bisa melawan seorang yang keadaannya masih separuh sakit?"
"Cobalah katakan olehmu!"
Kata Tay Hong sambil mendelikan matanya.
"Apakah kamu berani melawan bertempur orang itu?" (Sambil menunjuk pada Lie Poan Thian).
"Suhu....."
Tetapi Tek Hun tidak berani melanjutkan bicaranya.
"Aku inilah gurumu,"
Kata Tay Hong sambil menepuknepuk dadanya.
"cara bagaimanakah kau berani membantah kehendakku?" 152 "Aku bukan membantah,"
Kata See Tek Hun.
"tetapi aku malu akan bertempur dengan seorang yang aku tahu keadaannya masih separuh sakit!"
"Kau jangan omong kosong!"
Kata Liu Tay Hong pula.
"Sekarang ia sudah separuh sembuh dari penyakitnya, ini berarti ia sudah mampu akan bertempur sebagaimana mestinya, sedangkan di waktu sakit ia masih mampu tempiling si Ah Jie sehingga jatuh pingsan. Oleh sebab itu, kau ada omongan apa lagi untuk mengeloni dia ini?"
"Aku harap Liu Su-poo supaya suka bersabar sedikit,"
Kata Tan Tong Goan yang sekarang baru mendusin, apa sebab Tay Hong jadi begitu gusar pada Lie Poan Thian.
Itulah karena Tay Hong merasa sangat kurang senang dan terhina, karena Ah Jie, mandor Tong Goan dan salah seorang muridnya, telah dihajar oleh Lie Poan Thian pada beberapa hari yang lampau!
"Dari hal Ah Jie telah diberikan pengajaran oleh Lie Lauw-hia,"
Kata Tong Goan pula.
"itulah bukan karena semata-mata dilakukan dengan secara membuta-tuli. Ini aku tahu betul dan menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Ah Jie telah berlaku keterlaluan, hingga kalau aku tidak pandang ia sudah bekerja sedari jaman ayahnya masih hidup, aku tentu sudah lepas dia dari pekerjaannya!"
Kata suatu peribahasa.
semut yang kecil kalau sengaja dipijak, akhirnya tentulah akan menggigit juga, apalagi manusia yang mempunyai kecerdasan dan pandai timbang-menimbang perkara.
Demikian juga dengan halnya Lie Poan Thian, yang telah dihinakan begitu rupa oleh Tay Hong yang sombong itu.
153 Biarpun dilahir ia kelihatan tenang dan menerima saja jengekan-jengekan itu, tetapi hatinya semakin lama jadi semakin panas.
Maka setelah tak tertahan pula rasa panas hatinya, Poan Thian lalu berbangkit dari tempat duduknya dengan paras muka yang menandakan gusar.
Mula-mula ia meminta maaf pada Tan Tong Goan yang menjadi tuan rumahnya, kepada siapa ia menyatakan penyesalannya akan membikin ribut di hadapannya, seolah-olah tak ada tempat lain untuk ia berbuat begitu.
Kemudian ia lambai-lambaikan tangannya pada Liu Tay Hong sambil berkata.
"Liu Supoo! Perbuatanmu ini sebenarnya aku boleh lewatkan dengan begitu saja. Tetapi karena mengingat bahwa cara mengalah sebagai aku ini bisa berbalik dihinakan orang sampai begitu rupa, maka sekarang kukira sudah bukan waktunya pula akan selalu tinggal mengalah. Dari itu sekarang aku persilahkan salah seorang di antara muridmu akan coba meladeni aku yang separuh sakit ini dalam pertempuran satu lawan satu. Tetapi jikalau kau masih ragu-ragu atau takut, boleh juga kamu keduaduanya maju dengan berbareng, agar supaya kamu berdua mengetahui, bahwa gelaran SIN-TUI LIE itu bukanlah sebuah gelaran kosong belaka! Ayoh, kamu boleh maju!"
Sementara Liu Tay Hong yang sekarang baru melihat sikapnya Lie Poan Thian yang begitu garang, buru-buru dorongkan punggung See Tek Hun sambil berbisik.
"Ayoh segeralah serang padanya dengan tak usah banyak bicara pula! Jikalau kau kalah, aku nanti labrak padanya sehingga ia mampus!"
See Tek Hun yang mendapat anjuran begitu, dengan tidak banyak bicara pula segera menerjang dengan ilmu pukulan Hek-houw-touw-sim (harimau hitam 154 menyengkeram hati) pada Lie Poan Thian, siapa sebegitu lekas menghindarkan diri daripada jotosan yang menyambar ke ulu hatinya, lalu ia pergunakan kakinya menendang sambil membentak.
"Pergi!"
Dan berbareng dengan habisnya seruan itu, See Tek Hun telah mencelat tanpa ia mengerti karena tak dapat ia melihat dengan jalan apa Poan Thian telah "melemparkan"
Padanya dan jatuh tepat di hadapannya Liu Tay Hong dengan kepala bonjok! "Suhu, tolong!"
Teriaknya. Dengan hati sangat mendongkol Tay Hong lalu banguni muridnya.
"Sekarang adalah giliran gurunya yang akan kuajar kenal dengan tendangan-tendanganku!"
Kata Lie Poan Thian.
"Tetapi karena mengingat bahwa Liu Su-poo ini bukan seorang yang sudah termasuk pada golongan ahli-ahli silat jempolan seperti aku sendiri, maka aku suka memberikan kelonggaran untuk bertempur dengan memakai beberapa syarat, yakni, yang pertama, dalam pertempuran ini aku tak akan menggunakan tinju, dan jikalau aku sampai menggunakan itu, karena terpaksa atau tidak, bolehlah terhitung aku kalah berkelahi dengan Liu Su-poo; yang kedua, dengan segala rela hati aku suka terima kalah daripadanya, apabila dia bisa meluputkan diri dari tiga kali tendanganku. Jikalau ia mampu kalahkan aku pada sebelum aku menendang sehingga tiga kali, aku rela akan membuang gelaranku "
Sin-tui"
Dan selanjutnya akan menjadi hweeshio dan tak campur pula segala urusan di kalangan Kang-ouw. Itulah syarat-syaratku, yang aku minta supaya Tan Chung-cu suka berlaku sebagai saksi dalam urusan ini!"
Tetapi pada sebelum Tong Goan membuka mulut 155 buat menyanggupi, Liu Tay Hong telah menuding pada Lie Poan Thian sambil membentak.
"Orang she Lie, janganlah kau kira bahwa orang gagah di kolong langit ini hanya kau seorang saja! Sekarang jagalah dirimu sebaikbaiknya!"
Dan berbareng dengan ucapan "Aku mendatangi!"
Kauw-su itu lalu menerjang pada Lie Poan Thian dengan menggunakan siasat Twe-san-jip-hay (mendorong gunung masuk ke lautan), hingga Poan Thian yang memang telah menaruh perjanjian tak akan menggunakan tinju, dengan sebat mengegos sambil menendang dan berseruh.
"Satu!"
Suatu tanda bahwa itulah ada tendangan pertama yang ia telah lakukan.
Liu Tay Hong yang mengerti bahwa tendangan itu tidak boleh dibuat gegabah, buru-buru ia berjongkok buat meluputkan dirinya.
Dan tatkala terluput dari tendangan tersebut, Tay Hong segera maju merangsek sambil menyerang dengan ilmu Lian-hwan Twan-sim-kian, yang dijujukan pada ulu-hati Lie Poan Thian, hingga pemuda kita yang kenal baik bahaya pukulan-pukulan yang akan datang dengan berturut-turut itu, dengan secara gesit ia telah meluputkan dirinya dengan jalan mengegos ke kiri atau ke kanan, kemudian sambil tersenyum ia berkata.
"Oh, oh, nyatalah kau mengerti juga ilmu pukulan Lianhwan Coan-sim-tui! Sekarang cobalah kau boleh jaga tendanganku!"
"Dua!"
Ia membentak, sambil menendang dengan gerakan secepat kilat.
Dengan ini, Tay Hong yang merasa lebih selamat akan membuang diri untuk menghindarkan tendangan itu, buru-buru ia mundur dengan maksud hendak mempertahankan diri dengan tipu Yauw-cu-hwan-sin, atau alap-alap membalikkan badan.
Tetapi, apa celaka, 156 pada sebelum ia keburu berbuat begitu, Poan Thian telah terdengar berseruh.
"Tiga!"
Dan berbareng dengan terputusnya seruan itu, mendadak Tay Hong merasakan dunia ini bergoncang dengan amat hebatnya, hingga dengan badan terputar di udara ia telah terpental dan jatuh menimpah sebuah pot bunga yang besar, yang mana telah membuat pot tersebut hancur berarakan di seketika itu juga!
Sementara See Tek Hun yang melihat gurunya pun telah kena dipecundangi oleh Lie Poan Thian, segera berlari-lari buat coba membanguni, tetapi dengan hati mendongkol Tay Hong telah menolaknya sambil berkata.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa!"
Kemudian, dengan sorot mata yang menyala-nyala, ia menuding pada pemuda kita sambil berkata.
"Lie Kok Ciang! Hari ini aku mengaku kalah kepadamu, tetapi berselang beberapa tahun lagi akan kucari kau buat menetapkan siapa antara kita yang sesungguhnya lebih unggul! Selamat tinggal!"
Ia menambahkan.
Begitulah dengan tidak memohon diri lagi pada Tong Goan dan kawan-kawan yang lainnya, Tay Hong dan See Tek Hun telah angkat kaki dari gedung tuan-tanah itu, untuk mencari guru dan meyakinkan pula ilmu silat guna membalas dendam kepada Lie Poan Thian di masa yang akan datang.
Dan tatkala berselang beberapa hari lamanya semenjak terjadinya perselisihan antara Liu Tay Hong dan Lie Poan Thian itu, mendadak salah seorang muridnya Liu Tay Hong yang bernama Lian Cong kelihatan muncul dan menghadap pada Tan Tong Goan.
Maka beberapa orang yang tidak suka pada Liu Tay Hong dan bercuriga akan kauw-su pecundang itu menjalankan muslihat busuk dengan menggunakan 157 tenaga salah seorang muridnya, dengan diam-diam lalu memberitahukan kepada Lie Poan Thian agar supaya ia mengintai gerak-geriknya Lian Cong ini.
Dan jikalau dia benar membawa titah-titah rahasia dari orang yang menjadi gurunya, mereka menyatakan kesediaannya untuk menangkap pada Lian Cong dan menyerahkannya pada pembesar yang berwajib.
Tetapi Poan Thian yang menganggap itu sebagai suatu urusan remeh, lalu pura-pura mengucap terima kasih dan berjanji, yang ia akan berikhtiar untuk menghindarkan segala bahaya yang akan datang itu.
Tidak tahunya duduknya urusan yang benar justeru bertentangan jauh daripada apa yang semula disangka orang.
Demikianlah singkatnya maksud kedatangan Lian Cong pada tuan-tanah itu.
Ternyata, ketika Tay Hong berselisih dengan Poan Thian, Lian Cong justeru berada di desa kelahirannya, tengah mengurus penguburan jenazah ibunya.
Oleh karena tingkah lakunya Lian Cong tidak mengecewakan, maka Tong Goan menaruh simpati dan memberikan ia banyak uang untuk merawat ibunya, dari sakit sehingga meninggalnya serta dikubur menurut kebiasaan yang lazim dilakukan orang.
Kepada kauw-su Liu Tay Hong, Lian Cong telah belajar ilmu silat tidak kurang dari dua-tiga tahun lamanya, maka dalam pergaulan sekian lamanya itu, Lian Cong telah ketahui, bahwa maksudnya Tay Hong mengajar ilmu silat di rumah tuan-tanah itu, bukanlah didasarkan atas mencari keuntungan, tetapi ada pula maksud lain yang tersembunyi dan dikandung di dalam hatinya.
158 Karena selain ingin mendapatkan adik perempuan Tong Goan yang bernama Giok Hwa, iapun inginkan juga harta bendanya Tong Goan yang berjumlah bukan sedikit.
Tetapi karena seorang diri tak cukup untuk dapat melaksanakan pekerjaan besar itu, maka ia telah berkomplot dengan seorang kepala kampak bernama Khong Thian Liong di pegunungan Kee-jiauw-san.
Liu Tay Hong telah beberapa kali berusaha untuk bergerak dengan menggunakan Ah Jie sebagai pembantu yang bekerja di dalam, tetapi pekerjaan itu selalu kandas saja, karena dirintangi oleh satu dan lain sebab, hingga waktu Poan Thian keburu datang ke desa itu.
Tay Hong jadi cemburu dan sedapat mungkin berdaya upaya, agar supaya pemuda kita bisa disingkirkan atau, kalau perlu, dibinasakan jiwanya.
Tetapi syukur juga pada sebelum terjadi hal-hal lain yang lebih hebat, Tay Hong tetah keburu dipecundangi dan terpaksa angkat kaki dari desa itu, walaupun rasa penasarannya hanya Allah saja yang tahu disamping dirinya sendiri.
"Maka setelah aku mengajukan laporan ini,"
Lian Cong akhirkan penuturannya.
"aku banyak harap supaya Chungcu-ya jangan membicarakan lagi urusan ini pada orang lain. Karena jikalau Liu Suhu yang sekarang sudah berada di luaran mendapat tahu tentang kebocoran rahasianya ini, di sembarang waktu ia bisa mencari dan membunuh aku untuk melampiaskan rasa penasarannya."
Tong Goan berjanji akan tutup mulut guna kebaikannya orang sebawahan itu.
Maka sejak hari itu dan selanjutnya, ia lantas perintah Lian Cong akan berguru pada Lie Poan Thian, yang terpaksa mesti mewakili pekerjaan mengajar silat yang telah ditinggalkan 159 oleh guru silat Liu Tay Hong itu.
◄Y► Pada suatu hari untuk melewati tempo yang terluang, Lie Poan Thian berjalan-jalan ke pekan dengan hanya seorang diri saja.
Dalam pada itu Poan Thian yang sedang enak memandang kian-kemari, tiba-tiba matanya jadi tertarik oleh sekelompokan orang yang sedang mengobrol dengan amat asyiknya.
"Badannya binatang itu,"
Kata salah seorang sambil memperumpamakan binatang itu dengan seorang kawannya.
"kira-kira hampir bersamaan tingginya dengan badanmu ini, hanya dia itu lebih besar dan kuat. Bulunya putih bagaikan kapas, hingga lantaran itu dapat dilihat orang biarpun ia bergerak di tempat gelap. Banyak orang yang merasa tertarik dengan hadiah besar yang diberikan Na Thian Lun, telah coba tempur binatang itu untuk menghindarkan puterinya hartawan itu akan menjadi korban, tetapi semua telah gagal dan kena dilukai atau dibinasakan jiwanya oleh binatang aneh itu, yang ternyata pandai memainkan pedang, seperti juga kita manusia yang biasa memainkan senjata itu."
Sementara salah seorang antaranya yang mendengar omongan itu, sambil tertawa lalu berkata.
"Ah, apakah kau ini sudah mabuk, hingga mau main percaya saja ada kera putih yang dapat bertempur dengan menggunakan pedang? Di jaman dahulu memang benar ada dongeng-dongeng yang mengatakan begitu, tetapi di jaman kita ini yang termasuk jaman baru, dimanalah ada perkara-perkara mustahil serupa itu?" 160 "Hal ini kau jangan tidak percaya,"
Menyambungi seorang yang lainnya pula.
"karena dia ini memang pernah juga satu kali ikut mengepung binatang itu serta melihat gerak-geriknya binatang gaib itu dengan mata kepalanya sendiri. Selain dari itu, kau harus jangan lupa, bahwa di kolong langit ini banyak sekali keanehankeanehan yang sukar dapat dialami oleh setiap orang."
Tetapi orang yang menimbrung itu tinggal tetap tak mau percaya dengan omongan itu, hingga di antara sekelompokan orang itu lalu timbul dua macam pendapat yang menyatakan pro dan kontra dengan adanya lelakon kera putih yang bisa bermain pedang bagaikan manusia itu.
Oleh karena tertarik dengan pembicaraan mereka, maka Poan Thian pun lalu ikut menimbrung, dan coba menanyakan, hal apakah yang menjadi pokok dari perdebatan mereka itu.
Dari salah seorang yang berkumpul di situ, pemuda kita mendapat keterangan seperti berikut.
Seorang hartawan bernama Na Thian Lun yang menjadi salah seorang penduduk tanah milik Tan Tong Goan itu, telah sekian lamanya menjadi sasaran dari gangguan seekor kera putih yang besar dan ternyata hendak merampas puterinya hartawan tersebut yang bernama Giok Tin.
Tetapi berkat dari penjagaan kuat yang diadakan di sekitar tempat kera itu belum berhasil bisa menculik si nona itu keluar dari rumah orang tuanya.
Tetapi walaupun pekerjaannya selalu digagalkan orang, binatang itu kelihatan tidak menjadi kapok akan mencoba dan mencoba pula buat melakukan maksudnya yang keji itu.
Pada suatu hari atas anjuran salah seorang 161 keluarganya yang bernama Oey Kie Lee, Thian Lun telah mengundang seorang gagah yang bernama The Goan, seorang ahli silat dari cabang Siauw-lim.
Ahli silat itu dari satu ke lain malam telah menunggu kedatangan kera itu di rumahnya keluarga Na, tetapi ternyata binatang itu tidak juga muncul walaupun ia menjaga di situ sampai kira-kira hampir satu minggu lamanya.
Pada suatu malam, kera itu telah datang dalam cara yang lain dari biasa, yakni selain tidak menyatroni kamarnya nona Giok Tin pada kali ini, iapun menyoren juga pedang dan menuju langsung ke tempat jagaannya The Goan, seolah-olah ia ketahui, bahwa ia harus robohkan dahulu jago silat ini, pada sebelumnya bisa menyampaikan maksudnya yang tidak baik itu.
Ketika itu The Goan yang memang selalu berjagajaga sudah tentu saja tidak berayal lagi buat menempur pada kera putih itu, sehingga tidak berapa lama kemudian, terjadilah suatu pertempuran yang amat dahsyat antara manusia dan binatang itu.
Selama The Goan melawan bertempur dengan mempergunakan toya, kera itu hanya menggunakan tangan kosong saja.
Dan tatkala toya itu telah kena dirampas oleh binatang tersebut, The Goan lalu mencabut golok, dengan mana ia telah menyerang pada kera putih yang menjadi lawannya itu.
Sedang kera itu, yang melihat The Goan menyerang dengan menggunakan barang tajam, iapun lalu cabut pedangnya dan terus melawan bertempur dengan memainkan pedang itu seperti juga lakunya seorang yang memang sudah menjadi ahli dalam hal menggunakan senjata tersebut!
162 Maka The Goan yang melihat begitu, sudah tentu saja jadi heran dan diam, berpikir di dalam hatinya.
"Jikalau ditilik dari cara berkelahinya binatang ini, apakah tidak bisa jadi bahwa dia ini hanya binatang tetiron yang diperankan oleh manusia busuk jago tinggi ilmu silatnya? Segala serangannya cukup rapih dan berbahaya, hingga cara ini dapat dikatakan terlalu mustahil, akan dapat ditiru dan dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh seekor kera, biarpun kera itu terkenal berotak cerdas dan lekas mengerti jikalau diajarkan apa-apa."
Begitulah sambil berpikir, The Goan telah bertempur dengan kera putih itu, yang ternyata telah mampu menjaga sesuatu serangannya dengan ilmu-ilmu silat yang justeru menjadi timpalan yang cocok dari sesuatu siasat silat yang diajukannya itu!
"Adakah seekor kera dapat berbuat sebaik itu, dan mengerti cara bagaimana akan menghindarkan diri dengan pelbagai siasat silat yang tidak mudah dapat dipelajari oleh setiap orang?"
The Goan bertanya pula kepada diri sendiri.
Dalam pada itu The Goan yang bertempur sambil berpikir di dalam hatinya, sudah tentu saja tak dapat mencurahkan perhatiannya ke satu jurusan saja, hingga ketika kera itu membacok dan ia menangkis dengan goloknya, dengan tak terasa pula ia telah bikin golok itu beradu dengan pedang yang dipergunakan oleh kera putih itu.
Trang!
Berbareng dengan terdengarnya suara itu, di antara malam yang gelap gulita itu tampak lelatu api yang keluar dari pedang dan golok yang beradu dengan amat hebatnya itu.
163 Tatkala The Goan menarik pulang goloknya, mendadak dirasakannya golok itu menjadi lebih ringan daripada semula, hingga waktu golok itu diperiksa dalam kegelapan, ternyata bahagian ujungnya telah kutung kena terbacok oleh pedang sang kera yang sesungguhnya amat tajam itu!
Maka dengan adanya pengalaman ini, selanjutnya The Goan jadi semakin hati-hati buat tidak membikin goloknya beradu dengan pedang sang kera itu.
Dan ketika hari hampir terganti dengan fajar, barulah binatang itu melarikan diri, dalam keadaan belum diketahui pihak mana yang lebih tinggi atau lebih rendah ilmu kepandaiannya dalam pertempuran itu.
Sementara para penjaga yang bersembunyi di sekitar tempat itu, lalu pada keluar mengejar sambil bersoraksorak, tetapi binatang itu telah dapat meloloskan dirinya setelah membabat pedang-pedang, golok, dan pentungan-pentungan para penjaga seperti juga orang yang menabas tanah liat.
Demikianlah menurut penuturannya salah seorang yang sedang mengobrol itu kepada pemuda kita.
Maka Poan Thian yang mendengar penuturan itu, ia sendiri pun lantas berpendapat, kalau-kalau kera itu bukanlah kera sewajarnya, hanyalah seorang ahli silat keji yang sengaja mengacau desa itu dengan menyamar sebagai seekor kera putih.
"Tetapi belum tahu apakah orang she The itu sampai sekarang masih menjaga di sana atau tidak?"
Bertanya Lie Poan Thian dengan hati penasaran.
"Sekarang The Goan sudah tak menjaga lagi di sana,"
Sahut orang yang ditanya.
"karena selain kuatir dengan pedang sang kera yang amat tajam itu, iapun 164 telah kena dilukai dan hampir saja jiwanya tewas dalam tangan binatang itu."
Poan Thian jadi mengelah napas panjang.
"Jikalau saudara-saudara sudi mengajak aku ke rumah Na Thian Lun itu,"
Kata pemuda kita.
"aku bersedia buat menggantikan The Goan akan menjaga di sana."
Mendengar omongan ini, sudah tentu saja orang banyak jadi pada mencurahkan perhatiannya kepada Lie Poan Thian yang perawakan tubuhnya tidak berapa besar, hingga mereka agak ragu-ragu, apakah hati pemuda itu cukup tabah akan berhadapan dengan seekor kera besar yang kuat dan telah membikin kewalahan sekian ahli-ahli silat itu?
Pertarungan Kera Putih Jejadian "Dengan memperhatikan sikap saudara-saudara sekalian,"
Kata Poan Thian pula.
"memanglah ada kemungkinan serta ada juga ceng-linya, jikalau kamu merasa ragu-ragu atas kemampuanku buat bertempur dengan kera putih itu. Aku bukan omong kosong. Meskipun badanku tidak besar, tetapi aku tak akan menyerah mentah-mentah dengan segala binatang yang hina dina itu."
Dan tatkala salah seorang antaranya menanyakan siapa dia dan Poan Thian memberitahukan she dan namanya sendiri, orang itu lalu memberi hormat sambil berkata.
"Saudara, apakah kau ini bukan kauw-su dari keluarga Tan. Yang pada heberapa waktu yang lalu pernah merobohkan Liu Tay Hong?"
"Ya, benar, itulah aku sendiri,"
Sahut Poan Thian. 165 "Kalau begitu,"
Kata orang itu pula.
"nyatalah mataku tidak bisa mengenali seorang gagah."
Kemudian sambil menoleh pada kawan-kawannya yang terbanyak ia memperkenalkan pemuda kita pada mereka sambil berkata.
"Saudara-saudara, saudara ini ternyata bukan lain dari Sin-tui Lie, yang sekian lamanya kita dengar namanya yang termasyhur, tetapi belum kenal orangnya dan tidak tahu romannya bagaimana."
Lebih jauh karena orang itu telah menuturkan juga bagaimana Poan Thian telah mampu merobohkan jago silat tua Sin-kun Bu-tek Louw Cu Leng, Siauw-pa-ong Lauw Sam-ya dan kauw-su dari keluarga Tan yang bernama Liu Tay Hong, maka orang banyak kelihatan mau percaya juga, bahwa pemuda kita akan mampu mengalahkan kera putih yang sering datang membikin ribut di rumahnya Na Thian Lun itu.
Oleh sebab itu, mereka dengan beramai-ramai lalu mengantarkan Poan Thian akan berjumpa dengan Hartawan she Na itu.
Tetapi seperti juga pendapat orang banyak ketika mula-mula bertemu dengan Lie Poan Thian, Na Wangwee sendiripun tampak agak ragu-ragu dan tidak percaya, kalau pemuda kita akan dapat bertempur dengan kera yang berbadan besar dan buas itu.
Oleh karena itu ia lantas berkata.
"Tuan Lie ini rupanya bukan orang desa ini?"
"Ya, memang bukan,"
Sahut Lie Poan Thian.
"aku berasal dari kota Cee-lam dalam propinsi Shoa-tang, dan jikalau sekarang aku berada di sini, itulah karena aku kebetulan menumpang pada Tan Chung-cu Tan Tong Goan, dimana untuk sementara lamanya aku mewakili salah seorang kawan buat mengajar ilmu silat pada orang-orang sebawahannya Tan Chung-cu tersebut." 166 Na Thian Lun kelihatan mengangguk-anggukkan kepalanya, ia tak berkata-kata. Romannya bagaikan seorang yang sedang berpikir keras.
"Tetapi, maafkanlah jikalau aku mohon bertanya, belum tahu dalam pekerjaan ini tuan Lie minta upah berapa?"
Kata si hartawan setelah berdiam sejurus lamanya. Poan Thian tersenyum dan menyahut.
"Tuan, aku ini adalah seorang suka rela, bukan hendak minta upah berapa. Asal saja kera itu telah dapat diusir dan selanjutnya tidak berani balik kembali ke sini, itulah sudah cukup dan aku tidak bermaksud akan mengajukan permintaan apa-apa pula."
Thian Lun dan orang banyak yang mendengar omongan si pemuda, semua jadi memuji dan kagum atas kebijaksanaannya.
Kemudian setelah menanyakan pada waktu bagaimana kera itu biasa datang menyatroni, Na Wangwee lalu menjawab.
"Itu tidak tentu. Juga tidak jarang dia tak datang sama sekali. Dan jikalau seandainya dia mau datang juga, waktunya hampir terjadi sedikit di muka tengah malam atau selewatnya itu. Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang pernah membantu di sini jadi bingung dan tidak tahan menunggu-nunggu."
"Kalau begitu,"
Kata Lie Poan Thian.
"baiklah aku permisi pulang dahulu ke rumah Tan Chung-cu, karena selain mesti membawa senjata, juga akupun tak menyangka bakal menemui kejadian serupa ini. Oleh sebab itu, ijinkanlah aku pulang dahulu meminta perkenan Chungcu-ya buat bantu menjaga di sini pada sebentar malam."
Sementara Na Wan-gwee yang ternyata bersahabat 167 baik dengan Tan Tong Goan, lalu menyatakan, bahwa ia boleh kirim orang buat menyampaikan kabar itu pada Tan Chung-cu, tetapi Poan Thian menampik dan mengucap terima kasih.
Maka sebagai pernyataan terima kasihnya, Thian Lun lalu mengadakan sedikit perjamuan buat mengundang Poan Thian dan orang banyak akan duduk bermakan minum, pada sebelum pemuda kita kembali dahulu ke rumahnya Tan Chung-cu.
◄Y► Malam itu udara agak mendung.
Dibalik awan-awan yang bergulung-gulung di angkasa, bintang-bintang mengintip ke muka bumi yang penuh dengan kekacauan ini.
Sedangkan siliran angin yang dingin dan seakanakan hendak menembusi tulang setiap orang, membikin para penjaga jadi mengantuk dan menganggap bahwa binatang itu tak akan datang.
Apapula karena mereka telah dipesan oleh pemuda kita akan jangan membikin ribut atau mengunjukkan gerakan apa-apa sebelum mereka diberi isyarat, maka tidak sedikit antara mereka yang telah meringkuk dan tidur pules dengan amat nyenyaknya, meskipun tahu bahwa perbuatan itu akan sangat menyukarkan Poan Thian, jikalau si pemuda sampai kejadian keteter dalam pertempuran dengan kera putih itu.
Kira-kira hampir tengah malam, betul saja ia melihat ada sebuah benda putih yang bergerak-gerak di suatu tempat yang terpisah agak jauh.
168 Gerak-gerakannya benda putih itu, yang ternyata bukan lain daripada kera itu sendiri, bukan saja amat cepat dan gesit, tetapi juga ia seolah-olah telah ketahui, bahwa pada malam itu Poan Thian telah sengaja diundang buat bertempur dengan dirinya.
Dan seperti juga pada waktu The Goan diundang menjaga di situ, pada malam itu pun kera tersebut tidak menyatroni kamarnya Giok Tin, tetapi dengan langsung menuju ke tempat jagaan Lie Poan Thian, dimana sekarang si pemuda itu sedang menunggukan kedatangannya dengan sudah bersiap-siap "Kurang ajar!"
Menggerendeng pemuda she Lie itu.
"Inilah sudah terang bukan kera asli, tetapi adalah manusia yang menyamar buat mengabui mata orang! Karena jikalau dia itu betul binatang, bagaimanakah dia bisa melompati pagar tembok dengan menggunakan siasat Yan-cu-cwan-liam? Eh, eh, ini benar-benar luar biasa!"
Poan Thian membuka matanya lebar-lebar, karena dengan sekonyong-konyong ia melihat "binatang"
Itu menyoren pedang dan menyelendang sebuah kantong kulit digegernya.
"Apakah ada seekor binatang yang dapat mempersiapkan diri untuk bertempur begini rupa?"
Semakin lama benda putih itu semakin mendekati ke tempat jagaannya Lie Poan Thian. Dan tatkala telah terpisah kira-kira seratus tindak jauhnya, dengan sebat "kera putih"
Itu telah menyambit si pemuda she Lie yang sedang berjongkok sambil bersembunyi di belakang langkan.
Pletak!
pletak!
Pemuda kita tiba-tiba melihat ada dua sinar berkilauan yang, dijujukan ke jurusannya, dan ketika ia 169 berkelit dan barang itu menancap di atas tiang di dekat tempat ia berlindung, ternyata benda itu adalah dua buah piauw yang pada masing-masing ekornya diikat benang sutera yang berwarna merah!
"Kurang ajar!"
Membentak Lie Poan Thian sambil berdiri. Tetapi sebegitu lekas ia mengunjukkan dirinya, mendadak "kera"
Yang telah menyabut pedang itu telah membacok kepadanya dengan sekuat-kuat tenaganya!
Brak!
Syukur juga bacokan itu luput, karena Poan Thian yang bermata sangat celi, telah keburu melompati langkan itu sambil mencabut joan-pian dari pinggangnya, tetapi palanglangkan itu telah terbacok putus oleh pedang si "kera"
Yang ternyata amat tajam itu! Sekarang Poan Thian mengerti, bahwa pedang si "kera"
Itu tak boleh dibuat gebabah.
Maka buat menghindarkan joan-piannya ditabas pedang tersebut, ia merasa perlu sekali akan berkelahi dengan sangat hatihati dan tidak memberikan kelonggaran akan sang lawan itu merangsak terlalu dekat.
Sebaliknya sang "kera"
Yang seolah-olah telah mengetahui, bahwa kelihayan Poan Thian terletak dalam tendangan-tendangannya, tampaknya berlaku "see-jie"
Dan Poan Thian merangsak sambil menghujani tendangan-tendangan yang terkenal kelihayannya di separuh jagat Tiongkok.
Begitulah pertempuran itu telah berlangsung sehingga duapuluh jurus lamanya.
Karena selain kepandaian si "kera"
Itu sudah boleh digolongkan pada tingkat ahli silat kelas satu, Poan Thian-pun agak "see170 jie"
Dengan pedang yang dipergunakan lawannya itu.
Tetapi biarpun ia telah berlaku bagaimana hati-hati juga, tidak urung seperempat bagian dari joan-piannya telah kena juga dibabat putus oleh pedang itu!
Tetapi kejadian itu tidak membikin Poan Thian jadi jerih atau takut, juga tak mencoba ia memberikan isyarat akan para penjaga yang bersembunyi di sana-sini akan keluar membantui kepadanya.
Ia ingin bertempur satu lawan satu, sehingga dalam hal ini ia bisa menyaksikan kesudahannya, apakah ada salah satu yang mati atau menyerah kalah.
Dalam pertempuran itu, tidak kurang dari beberapa puluh macam ilmu tendangan telah dipergunakan Poan Thian untuk merobohkan pada si "kera" , tetapi semua tendangan-tendangan itu telah dapat disingkirkan oleh pihak lawannya, hingga ini telah membikin ia jadi heran dan teringat pada waktu ia bertempur dengan Sin-kun Bu-tek Louw Cu Leng, ahli silat satu-satunya yang pernah ia ketemukan mampu berbuat begitu.
Tetapi pada saat itu bukanlah waktunya akan orang melamunkan segala sesuatu yang bersifat khayal.
Ia harus berkelahi dengan gagah, buat membikin dirinya sampai kena "dicepol"
Orang. tidak Begitulah pertempuran itu telah berlangsung dengan tiada kurang hebatnya dari pada semula. Di suatu saat ketika sang "kera"
Telah berhasil dapat meluputkan diri dari tendangannya Lie Poan Thian, buruburu ia berlompat keluar dari kalangan pertempuran, berlompat melalui pagar tembok dan terus berlari menuju ke dalam rimba.
Tetapi Lie Poan Thian yang tak mau membiarkan 171 "binatang"
Itu meloloskan diri dengan cara begitu saja, iapun segera mengejar sambil menghujani piauw yang satu-persatu telah mengenai dengan tepat pada sasarannya.
Dan disaban waktu ada piauw yang menancap di punggung, bahu dan gegernya "binatang"
Itu, dengan tentu-tentu "binatang"
Itu berteriak.
"Aduh! Aduh!"
"Kurang ajar!"
Pikir pemuda kita di dalam hatinya.
"Nyatalah dia ini benar manusia! Tetapi siapakah sebenarnya dia itu, yang ternyata ada seorang ahli silat yang ilmu kepandaiannya tidak bisa dicela?"
Sambil mengejar "binatang"
Itu keluar-masuk semaksemak, Poan Thian berpikir dan akhirnya menyaksikan, cara bagaimana "binatang"
Itu telah terjerumus ke dalam sebuah lobang, dari dalam mana ia mendengar suara jeritan manusia.
"Tolong! Tolong! Matilah aku sekali ini!"
Poan Thian jadi merandek dengan heran, tetapi ia tak berani sembarangan mendekati tepi lubang itu, walaupun bulan sabit dapat juga menyinari sedikit keadaan di dalam rimba itu.
"Tolong.....! To..... long.....!"
Semakin lama suara itu jadi semakin lemah, semakin lemah, dan akhirnya tidak terdengar sama sekali.
Maka Poan Thian yang kuatir juga akan kecelakaan lain bagi dirinya yang kurang mengerti tentang selukbeluknya keadaan dalam rimba itu, lalu buru-buru kembali ke rumahnya Na Thian Lun, buat melaporkan apa yang telah terjadi dan berjanji akan kembali lagi ke situ di hari esoknya, buat coba memeriksa pula ke dalam lubang itu, kalau-kalau kera tetiron itu masih bisa ditolong dan ditanyakan keterangan-keterangannya mengapa ia telah menerbitkan heboh dengan menyamar sebagai 172 binatang.
Hal mana, sudah tentu saja sangat disetujui oleh Na Thian Lun dan para penjaga yang juga ingin mengetahui bagaimana kesudahannya tentang lelakon kera putih tetiron itu.
Begitulah setelah di hari esoknya Poan Thian dan para penjaga telah selesai dahar nasi, mereka dengan beramai-ramai lalu menuju ke dalam rimba, dengan Poan Thian berjalan duluan sebagai petunjuk jalan mereka.
Di sana, tatkala mencari kian-kemari sekian lamanya, barulah Poan Thian dapat ketemukan lubang yang semalam telah "menelan"
Kera tetiron itu.
Tetapi berhubung lubang itu amat dalam dan gelap, sehingga ini telah membikin tidak seorang pun di antara mereka yang berani turun ke bawah, maka penyelidikan itupun terpaksa disudahi sampai di situ saja, dengan rahasia kera tetiron itu tak dapat dipecahkan sehingga di jaman ini.
Betul belakangan ada juga orang yang mengatakan, bahwa itulah ada kepala berandal Khong Tay Liong dari Kee-jiauw-san, yang telah menyamar menjadi kera putih untuk mengacau dan melarikan anak perempuan Thian Lun, tetapi kabar itu ternyata kurang benar, berhubung ia telah dibikin kocar-kacir oleh seorang gagah tidak terkenal, ketika peristiwa kera putih itu terjadi di tanahnya Tan Tong Goan.
Maka selain waktu terjadinya tidak cocok dengan kenyataan, juga tak ada alasan yang kuat buat membikin orang percaya dengan kabaran itu.
Demikianlah akhirnya lelakon kera putih yang diliputi oleh rahasia yang tak dapat dipecahkan orang sehingga di jaman sekarang.
173 ◄Y► Oleh karena terjadinya peristiwa di atas, maka dengan meminta perantaraan Tong Goan yang menjadi sahabat karibnya, akhirnya Thian Lun telah dapat perjodohkan puterinya Giok Tin kepada pemuda kita.
Tetapi karena mengingat bahwa ia masih mempunyai kakak perempuan yang berdiam di Tiong-ciu, maka Poan Thian minta supaya pernikahannya ditunda dahulu, berhubung ia akan pergi menjumpai sang kakak itu dan berembuk lebih jauh mengenai urusan ini.
Ketika Poan Thian hendak berangkat di hari esoknya.
Tong Goan dan bakal mertuanya telah memberikan ia banyak uang, tetapi sebagian besar dari ini telah ditampik, hingga apa yang diambilnya dari jumlah itu, hanyalah sekedar untuk ongkos dalam perjalanan saja.
Karena, ia mengatakan lebih jauh, bahwa ia tak akan berdiam terlalu lama di Tiong-ciu, hingga Tong Goan dan Thian Lun menyatakan kegirangannya dan mengharap akan selekasnya dapat minum arak kemantin, apabila nanti Poan Thian kembali dari tempat kakak perempuannya di Tiong-ciu.
Poan Thian mengucapkan banyak terima kasih dan berjanji akan kembali selekas mungkin, jikalau di sana ia tak mengalami halangan apa-apa yang memperlambat perjalanan pulangnya ke tanah Tong Goan di situ.
Kemudian ia pergi membeli seekor kuda yang kuat dan dapat melakukan perjalanan jauh, dengan mana ia bisa berangkat ke Tiong-ciu dengan membawa pakaian yang perlu dan dibungkus menjadi sebuah pauw-hok besar, dengan di dalamnya berisikan pelbagai senjata rahasia dan golok yang telah diperoleh sebagai hadiah dari 174 gurunya sendiri.
Begitulah Thian Lun mengadakan sedikit perjamuan makan minum yang dikunjungi juga oleh Tan Tong Goan yang berlaku sebagai wakil dari Lie Poan Thian, barulah pemuda kita melanjutkan perjalanannya dengan menunggang kuda yang baru dibelinya.
Selama melalui perjalanan yang beberapa puluh lie jauhnya itu, boleh dikatakan tidak terjadi peristiwa apaapa yang penting untuk dituturkan di sini.
Pada suatu tengah hari Poan Thian telah sampai di sebuah desa yang bernama Oey-touw-pa, suatu desa yang keadaannya ramai dan besar juga, karena selain terdapat banyak toko-toko dan kedai-kedai kecil dan besar, juga penduduknya tampak agak padat juga.
Gedung-gedung dan rumah-rumah penduduk kira-kira ada seratus beberapa puluh buah banyaknya.
Pemuda kita yang tatkala itu telah merasa lelah dan haus, dari kejauhan menampak sebuah kedai yang memakai panji putih dengan tiga huruf merah yang berbunyi.
Heng-hoa-lauw.
Poan Thian lalu pecut kudanya, supaya berlari lebih cepat akan mampir ke kedai tersebut.
Sesampainya di sana, ia lantas tambatkan kudanya di bawah sebuah pohon, sedang ia sendiri lalu menindak masuk dan panggil jongos buat minta disediakan arak dan beberapa macam hidangan yang menjadi kegemarannya.
Tatkala arak dan hidangan telah disediakan, Poan Thian lalu tuang secawan arak, yang lalu diminumnya dengan pelahan, kemudian barulah disusul dengan 175 hidangannya yang didahar olehnya dengan bernapsu sekali.
Tengah bermakan minum dengan hanya seorang diri saja, mendadak Poan Thian melihat beberapa belas orang militer telah berhenti juga di kedai itu, menambatkan kuda mereka di luar dan terus berjalan masuk sambil beromong-omong pada satu dengan yang lainnya.
Dua orang di antara mereka, Poan Thian lihat tinggal menunggu terus di luar kedai, karena mereka ini ternyata membawa seorang tawanan yang rantainya diikat pada sebuah pohon Lek-yang di muka kedai tersebut.
Orang tawanan itu menurut pandangan Poan Thian, tidaklah mirip dengan orang persakitan biasa.
Perawakannya tidak terlalu jangkung, tetapi tegap dan kuat.
Ia berusia antara tigapuluh atau tigapuluh lima tahun.
Wajahnya lebar, hidung mancung, mata celi dan halisnya yang tebal dan panjang hampir sampai ke bagian pilingannya.
Sambil bermakan minum, Poan Thian memperhatikan dan bertanya pada diri sendiri.
"Apakah kedosaan orang ini, sehingga ia mesti mengalami perlakuan yang tidak enak serupa ini?"
Poan Thian tak sempat melamun terlalu lama, ketika tak antara lama seorang tinggi besar dengan berkuda telah sampai juga di kedai itu.
Dua orang militer penjaga persakitan tadi yang melihat kedatangannya, buru-buru menghampiri dan sambuti les kuda yang disodorkan kepada mereka oleh orang yang baru datang itu.
Gerak-gerakkannya orang itu selain gesit dan 176 tangkas, wajahnyapun keren, bermisai dan berusia hampir bersamaan dengan persakitan yang dirantai di bawah pohon Lek-yang itu.
Orang itu dengan tak banyak bicara pula lalu bertindak masuk ke kedai, hingga orang-orang militer yang berada di dalam dan melihat kedatangannya, buruburu pada bangun memberi hormat dan mempersilahkannya akan duduk di kursi yang diatur di kepala meja.
Mula-mula Poan Thian menduga bahwa orang itu adalah seorang piauw-su, tetapi ketika diperhatikannya lebih jauh, ia mendapat kenyataan bahwa dugaannya itu telah meleset.
"Dia ini rupanya ada seorang keturunan militer yang berpangkat tinggi,"
Pikirnya.
Dengan di kepalai oleh orang militer yang datang terbelakang itu, maka sebuah perjamuan makan minum lalu diadakan, dengan orang-orang militer yang berkumpul di situ turut juga bermakan minum, hingga selanjutnya tak sempat pula mereka bercakap-cakap dengan leluasa seperti semula tadi.
Sementara dua orang militer lain yang menjaga orang tawanan di luar kedai, pun diberikan makanan dan minuman yang sama oleh orang militer yang menjadi pemimpin mereka itu.
Sambil bermakan minum dan tertawa-tawa ke arah orang tawanan yang dirantai di bawah pohon Lek-yang itu, dua orang penjaga yang gatal tangan itu telah mulai mempermainkannya dengan jalan menyambiti muka orang itu dengan kulit kwaci dan kacang goreng, hingga perbuatan ini sudah tentu saja, telah membikin orang tawanan itu kelihatan mendongkol, tetapi tak dapat ia 177 berbuat lain daripada mandah dirinya diperlakukan demikian, berhubung borgolan yang tergantung di leher dan tangannya agak berat untuk memungkinkan ia bergerak dengan leluasa.
Tetapi belum puas mempermainkan orang dengan begitu saja, kemudian kedua orang penjaga itu telah mulai menyambitinya dengan bacang, hingga dalam waktu sekejapan saja muka orang itu telah berlepotan dengan nasi bacang yang agak lengket.
"Ah, sungguh bodoh benar kau ini!"
Kata salah seorang penjaga itu kepada orang tawanan tersebut.
"Aku tahu kau tentu merasa lapar juga, mengapakah kau tidak caplok saja bacang-bacang yang kita lemparkan kepadamu itu?"
Tetapi orang tawanan itu tinggal membisu, mendelikan matanya yang bundar dan merah karena mengandung kegusaran.
"Anjing yang terhitung binatang, bisa mencaplok makanan jikalau dilemparkan oleh majikan,"
Kata seorang penjaga yang lainnya.
"Apakah kau sebagai seorang manusia, tak mampu mencontoh teladan itu?"
Kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Kurang ajar!"
Teriak orang tawanan itu, yang akhirnya tak mampu menindas amarahnya terlebih lama pula.
"Sayang diriku diborgol! Jikalau aku sekarang tidak memakai borgolan ini, niscaya akan kuberikan kamu ajaran yang tak akan dapat dilupakan seumur hidupmu!"
"Eh, eh, bukannya kau minta dikasihani, sekarang kau berbalik mendamprat kami berdua!"
Kata kedua orang penjaga itu sambil berbangkit dari tempat duduk masing-masing. 178 Salah seorang antaranya lalu mengambil air yang lalu disiramkan ke muka orang tawanan itu.
"Nah, tu! Dinginlah sedikit amarahmu!"
Katanya sambil tertawa. Orang itu jadi gelagapan, hingga sesaat lamanya ia terpaksa mempejamkan matanya.
"Kurang ajar!"
Lie Poan Thian yang menyaksikan perbuatan yang amat sewenang-wenang itu, keruan saja jadi sangat gusar dan menyomel di dalam hatinya seperti di atas.
Tetapi ia sampai cukup taktis buat tidak membikin keadaan jadi menyimpang dari pada rencana yang hendak dilakukannya di saat itu.
Segala peristiwa yang menjengkelkan di luar kedai itu, ia seolah-olah anggap sepi.
Lalu ia panggil jongos, bayar harga arak dan makanan yang dimakannya tadi, kemudian dengan tindakan yang tenang ia keluar dari ruangan kedai itu.
Mula-mula ia berlagak berjalan melewat ke samping penjaga yang telah menyiram muka orang tawanan itu dengan air.
Kudanya Poan Thian ditambatkan tidak berapa jauh dari pohon Lek-yang yang dipergunakan untuk mengikat rantai si orang tawanan.
Di situ ia berpura-pura berjalan di antara kedua orang penjaga yang sedang mempermainkan terus pada orang tawanan yang tak berdaya itu.
Kemudian, dengan gerak-gerakan secepat kilat, Poan Thian telah tempiling penjaga yang berdiri di sebelah kirinya, sedang penjaga yang berdiri di sebelah kanan ia telah tendang sehingga terpental masuk ke dalam kedai dan jatuh tepat di tengah meja perjamuan yang diadakan 179 oleh pemimpin orang-orang militer tadi!
"Pemberontakan!
orang militer itu.
Pemberontakan!"
Teriak orang-Keadaan di kedai itu segera menjadi ribut.
Orangorang yang sedang bermakan minum jadi berlarian kian kemari Sedang orang-orang militer berlomba keluar dari ruangan itu, untuk mengejar pada Lie Poan Thian, yang dengan secara mendadak telah menerbitkan keonaran yang mereka tak pernah impikan sama sekali.
Sementara Poan Thian yang telah merobohkan kedua orang penjaga itu, buru-buru menghampiri si orang tawanan sambil berkata.
"Saudara, marilah lekas kau ikut aku!"
Dengan mengandalkan pada ilmu kepandaian dan tangannya yang kuat, pemuda kita lalu patahkan borgolan tangan dan putuskan rantai yang membikin orang tawanan itu tak dapat bergerak dengan leluasa, hingga dengan begitu ia dapat terbebas dan dengan sebat merampas golok penjaga yang menggeletak pingsan karena ditempiling Poan Thian tadi.
"Pergilah ambil salah seekor kuda mereka!"
Kata Lie Poan Thian dengan cepat.
"Kita perlu berlalu dari sini selekas mungkin!"
"Saudara-saudara!"
Teriak pemimpin militer itu.
"Ayoh, lekas kejar dan bekuk kedua orang itu!"
Lebih jauh untuk memperlambat gerakkannya orangorang militer itu, agar supaya ia dapat memberikan waktu cukup untuk si orang tawanan merampas kuda dan bersiap-siap akan melarikan diri, Poan Thian telah angkat orang militer yang pingsan tadi, akan dipakai memukul dua orang militer yang baru keluar dari kedai itu, hingga 180 mereka berdua jatuh melosoh, karena tertimpah oleh kawannya yang dilemparkan ke jurusan mereka.
Dan ketika mereka keluar dari kedai itu, Poan Thian dan orang tawanan tersebut telah dapat meloloskan diri dengan menunggang kuda yang dilarikan bagaikan terbang cepatnya!
Setelah melalui perjalanan gunung yang panjangnya beberapa puluh lie jauhnya, barulah Poan Thian mendapat kenyataan, bahwa orang-orang militer itu telah tidak kelihatan pula bayangan-bayangannya.
Tetapi orang tawanan yang kuatir dikejar terus oleh pihak orangorang militer yang menjadi musuh-musuhnya tetap menganjurkan supaya Poan Thian kaburkan kudanya sehingga melalui daerah perbatasan Shoa-tang-Ho-lam.
Poan Thian kabulkan permintaan orang tawanan itu.
Kira-kira sedikit waktu di muka waktu magrib, kedua sahabat baru yang tak saling mengenal ini telah sampai di sebuah desa pegunungan yang sunyi dan mereka percaya, bahwa orang-orang militer itu pasti tak dapat pula menyusul mereka di situ.
Buat menghilangkan rasa lelah mereka dan kudakuda yang mereka tunggangi, kedua orang itu lalu beristirahat di tepi jalan, dimana orang tawanan itu lalu membungkukkan badannya memberi hormat kepada Lie Poan Thian sambil berkata.
"Saudara, aku sungguh harus mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas pertolonganmu yang sangat besar dan tak akan kulupakan itu seumur hidupku. Karena jikalau semua itu bukan mengandal atas pertolonganmu, niscaya tidak mungkin aku terlolos dari tangan mereka dengan cara yang begini mudah. Atau, bisa jadi juga, aku sudah mati di saat ini, karena mereka telah merencanakan akan membunuh aku di tengah jalan, sehingga dengan begitu, 181 urusanku dapat disudahi sampai di situ saja. Tanpa diketahui orang, juga tanpa diadili pula sebagaimana mestinya!"
Si pemuda tampak tertarik mendengar penuturan orang tawanan yang agak samar dan aneh itu.
Dan ketika Poan Thian coba menanyakan tentang duduknya perkara, yang telah membikin orang itu ditawan dan akan dibunuh, maka orang tawanan itu lalu menuturkan riwayatnya sebagai berikut.
Pelarian Tawanan Meliter "Aku ini adalah seorang she Cin bernama Kong Houw,"
Katanya.
"Asal orang dari Ho-lam. Sedari muda aku gemar sekali ilmu silat, maka hampir tak sempat menaruh perhatian pada ilmu surat. Tatkala usiaku telah dewasa dan menikah, aku telah menerima undangan jenderal Bu Goan Kwie yang berkedudukan di Ho-lam juga, untuk menjadi guru silat dalam tangsi tentara."
Pada lain tahunnya isteriku telah meninggal dunia, hingga semenjak itu tak berniat pula aku akan beristeri pula.
Tetapi sang nasib yang jail telah bikin aku tertarik dengan seorang bunga raya yang bernama Ya Beng Cu, yang lalu aku pelihara sebagai gundik.
Kita hidup dengan rukun sehingga beberapa bulan lamanya.
"Pada suatu hari ia bertemu dengan Poo Tin Peng, putera Poo Co Ciong yang memangku jabatan Toa-tosie-wie (pengawal kaisar) di kota raja. Manusia busuk ini yang mengandal pada pengaruh bapaknya yang ternyata menjadi pengawal kesayangan raja, bukan saja suka berlaku sewenang-wenang dan tidak segan melakukan segala perbuatan yang melanggar perikemanusian, tetapi juga ia tak malu akan mengganggu anak-isteri 182 orang baik-baik dengan tidak memandang bulu. Hal mana pun tidak terkecuali bagi diriku, walaupun aku juga ada seorang militer yang memangku jabatan Tong-leng (komandan) dari tangsi Tok-piauw-eng. Manusia busuk Poo Tin Peng itu ternyata telah tergiur hatinya oleh perempuan lacur gundikku itu! Kali ini si jahanam agak "
See-jie"
Akan mengunjuk aksinya dengan secara terang-terangan, karena ia tahu bahwa aku ini bukan seorang yang boleh diperlakukan sesukanya dengan tidak melakukan perlawanan apaapa.
Oleh sebab itu, ia terpaksa pura-pura mengundang aku ke suatu perjamuan makan, dimana aku telah diloloh sehingga mabuk.
Tahu-tahu ketika aku tersadar dari mabukku, aku telah diborgol dan berada di sebuah kamar tahanan!
Aku lalu memperotes atas penangkapan itu, karena aku sendiri tidak mengetahui apa kesalahanku, sehingga mesti diborgol sebagai seorang persakitan.
Tetapi protesku itu tidak dihiraukannya.
Kemudian aku lalu digiring oleh sekawanan orangorang militer, yang katanya akan bawa aku ke kota-raja buat memeriksa perkaraku terlebih jauh.
Sesampainya di luar halaman kamar tahanan, barulah ada seorang sahabatku yang telah memberitahukan kepadaku, bahwa aku akan dibinasakan oleh Poo Tin Peng dengan meminjam tangan orang-orang militer tersebut!
Baca Juga: Harta Karun Kerajaan Sung Kho Ping Hoo
Baca Juga: Keris Pusaka Nogopasung 6