Ceritasilat Novel Online

Keris Pusaka Nogopasung 6

Eps 6 Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo

Baca online Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo

Cersil Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo.

Ia tidak dapat melanjutkan, melainkan mengusap air matanya yang jatuh berderai. Dewi Pusporini merangkulnya.

"Sudahlah, Wulan, jangan menangis. Aku sudah mengambil keputusan, kita berdua menjadi isteri Kakangmas Joko Handoko, atau....... aku pun tidak akan mau menikah sama sekali!"

Kiranya inilah yang menjadi kaputusan Dewi Pusporini sejak ia mendengar kisah yang amat menyedihkan dari Wulandari.

Gadis itu talah ternoda, dan sebagai seorang gadis yang merasa dirinya ternoda, pada jaman itu memang amatlah sukar untuk memperoleh jodoh yang yang benar dan terhormat.

Gadis itu akan seolah-olah terkutuk untuk selamanya.

Dan malapetaka itu terjadi atas diri Wulandari karena malam itu melarikan diri dari rumah keluarga senopati.

Dewi Pusporini merasa bahwa seolah-olah ialah yang menjadi biang keladinya.

Ialah yang seperti mendorong Wulandari mengalami peristiwa yang keji itu.

Dan ia pun yakin akan besarnya cinta kasih Wulandari terhadap Joko Handoko, tahu pula bahwa calon suaminya itu suka sekali kepada Wulandari, merasa kasihan pula.

Tidak ada jalan lain baginya kecuali menarik Wulandari menjadi madunya, kalau tidak demikian, ia merasa seolah-olah menari-nari di atas kemalangan orang lain, berbahagia di atas kemalangan orang lain, berbahagia di atas kedukaan Wulandari.

Ia akan menyesali hal ini selamanya.

Dan ia pun merasa suka dan cocok sekali dengan gadis Sabuk Tembogo itu, maka diambilnya keputusan bulat yang mengejutkan hati semua orang itu.

Orang tuanya sudah setuju karena orang tuanya juga merasa terharu dan kasihan setelah mendengar penuturan Dewi Pusporini tentang musibah yang menimpa diri Wulandari.

Akhirnya, orang tua kedua belah pihak telah setuju.

Pinangan terhadap Dewi Pusporini dan Wulandari dilakukan dan diterima oleh Senopati Pamungkas dan isterinya.

Dan hari pernikahan pun ditentukan.

Dengan hati penuh rasa bahagia dan gembira, Joko Handoko bersama ibu kandungnya dan ayah tirinya pulang untuk mempersiapkan hari pernikahannya dengan kedua orang mempelainya.

Kurang lebih lima pekan kemudian, dilangsungkanlah pernikahan antara Joko Handoko dan Dewi Pusporini yang ditemani oleh Wulandari.

Biarpun tidak mungkin dapat dinikahkan secara resmi, Wulandari juga mengenakan pakaian sekembaran dengan Dewi Pusporini, dan di lingkungan keluarga kedua belah pihak, ia diterima sebagai isteri ke dua Joko Handoko.

Pesta pernikahan berlangsung dengan meriah, bahkan Sang Prabu Sri Rajasa sendiri berkenan menghadiri perayaan pesta pernikahan kakak tirinya.

Setelah pesta pernikahan diraykan, Joko Handoko lalu memboyong kedua orang isterinya itu ke lereng Anjasmoro di mana dia diberi hadiah tanah yang cukup luas oleh Ken Arok atau Sang Prabu Sri Rajasa dan hidup bersama dua orang isterinya itu sebagai petani yang penuh kebahagiaan.

Sampai di sini, pengarang mengakhiri kisah Keris Pusaka Nogopasung ini.

Akan tetapi keris pusaka itu sendiri, yang kini tidak dikenal lagi namanya karena sudah berubah bentuk, masih panjang ceritanya.

Keris itu memang haus darah dan menerima kutukan-kutukan, terutama kutukan Empu Gandring.

Seperti tercatat dalm sejarah, Ken Arok sebagai Sang Prabu Sri Rajasa kelak akan tewas di ujung keris pusaka itu di tangan Anusapati, yaitu anak keturunan Tunggal Ametung yang terlahir dari Ken Dedes.

Kemudian, Anusapati sendiri pun akan tewas di ujung keris yang sama oleh Pangeran Tohjaya, putera Ken Arok yang terlahir dari isteri mudanya bernama Ken Umang.

Keris itu memang haus darah!

Biarpun tidak menjadi pembesar atau bangsawan, Joko Handoko bersama dua isterinya hidup penuh kebahagiaan sampai hari tua.

Nampaknya saja bahwa nasib adik tirinya, Ken Arok, jauh lebih baik.

Akan tetapi kenyataannya sama sekali tidak demikian.

Kehidupan yang bergelimang dengan kemuliaan dan kekayaan dari Ken Arok itu penuh dengan perang, pertikaian dan dendam, perebutan kekuasaan dan permusuhan.

Mudah-mudahan dalam kisah ini terkandung manfaat bagi pembaca di samping hiburan di kala senggang, demikian harapan pengarang.

TAMAT Lereng Lawu, medio juni 1980 published by buyankaba

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 8

Baca Juga: Asmara Berdarah 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert