Eps 5 Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo
Baca online Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo
Cersil Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo.
"Hal itu harus diau sebaik mungkin, anakku. Ingat, Sang Akuwu Tunggal Ametung adalah seorang yang sakti. Sudah banyak aku mendengar akan kesaktiannya, kabarnya dia juga kebal sekali, tidak tedas tapak paluning pande. Oleh karena itu, engkau harus memiliki sebuah senjata ang benar-benar ampuh, yang melebihi keampuhan aji kekebalan Sang Akuwu. Dan aku tahu siapa yang akan mampu membuat sebuah keris yang dapat menembus kekebalan Tunggal Ametung."
"Siapakah orang itu, Bopo Bangosamparan?"
"Dia bukan lain adalah Empu Gandring."
"Empu Gandring?"
Ken Arok termangu.
Setelah menjadi seorang panglima muda, dia telah banyak menyelidiki tentang mendiang ayahnya, Raden Ginantoko, dan dia mendapat keterangan bahwa mendiang Ginantoko adalah murid dari keponakan Empu Gandring, juga keponakan senopati Prawiroyudo yang sudah tua.
Dan kini ayah angkatnya menasehatkan agar dia mencari keris buatan Empu Gandring!
"Ya, Empu Gandring yang kini telah berpindah tinggal di Lululambang.
Mintalah kepada sang empu untuk membuatkan sebuah keris pusaka untukmu, anakku."
Dengan hati lega dan girang, Ken Arok mengucapkan terima kasih, meninggalkan banyak uang dan barang berharga untuk ayah angkatnya, kemudian berangkatlah dia ke Lululambang mencari tempat kediaman Empu Gandring.
Dengan mudah dia menemukan tempat kediaman sang empu yang tua itu dan dikunjunginya Empu Gandring yang berada di dalam tempat pembuatan keris.Empu Gandring menyambut pemuda itu dengan alis berkerut.
Penglihatannya yang tajam membuat sang empu merasa bahwa kehadiran pemuda ini membawa hawa yang tidak baik baginya.
Namun, sang empu yang sudah menyandarkan segalanya kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi Wasesa, tidak menolak kunjungan itu dan menerimanya dengan ramah.
Untuk menenangkan hati dan kepercayaan sang empu, begitu bertemu dan mendapat keterangan bahwa kakek itu benar Empu Gandring, Ken Arok lalu bersimpuh dan menyembah dengan hormatnya.
"Cucu Ken Arok menghaturkan sembah bakti kepada Eyang Empu Gandring yang mulia,"
Demikian katanya. Tentu saja sikap sopan ini menyenangkan hati sang empu.
"Terima kasih atas penghormatanmu, bocah bagus. Siapakah andika dan ada keperluan apakah datang berkunjung?"
"Nama saya Ken Arok, eyang dan mengingat bahwa mendiang ayah saya adalah murid juga keponakan eyang maka saya adalah cucu eyang sendiri?"
"Siapakah mendiang ayahmu?"
"Ayah bernama Raden Ginantoko."
"Jagat Dewa Bathara............! Ha-ha-ha, Ginantoko memang seperti Sang Harjuno saja, di mana-mana mempunyai anak. Siapakah gerangan ibu kandungmu, Ken Arok?"
"Ibu saya bernama Ken Endok dari dusun Pangkur, eyang?"
Kakek itu mengangguk-angguk. Tidak aneh mendengar bahwa mendiang muridnya mempunyai anak di mana-mana karena memang muridnya itu paling lemah terhadap wanita.
"Dan apakah engkau mempunyai keperluan penting maka datang berkunjung padaku?"
"Selain ingin menghaturkan sembah dan mohon doa restu, juga saya ingin mohon pertolongan eyang untuk membuatkan sebatang keris yang ampuh untuk saya, eyang."
Kembali Empu Gandring mengerutkan alisnya teringat dia akan muridnya terdahulu Ginantoko yang disayanginya, akan tetapi muridnya itu mati muda karena menuruti hawa nafsu birahinya yang besar, yang membuatnya memiliki watak mata keranjang dan suka sekali menggoda wanita-wanita cantik.
Muridnya itu tewas di ujung keris buatannya sendiri, karena menggoda isteri orang.
Dan dia merasakan atau meraba dengan perasaan halusnya bahwa pemuda ini memiliki nafsu yang besar sekali, walaupun melihat sinar matanya bukan nafsu birahi yang menonjol, akan tetapi pamrih yang tersembunyi di balik matanya itu amat kuat.
"Akan tetapi saya mohon agar keris pusaka itu dapat diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya, eyang. Kalau mungkin tiga atau empat lima bulan saja."
"Aha, tidak begitu mudah membuat keris yang baik dan ampuh, Ken Arok. Sedikitnya membutuhkan waktu satu tahun agar matang benar. Akan tetapi, untuk apakah engkau membutuhkan sebuah keris pusaka, cucuku?"
"Untuk keperluan penting sekali, mengejar cita-cita, eyang. Dan saya mohon tidak lebih lama dari lima bulan."
Empu Gandring tidak mendesak lebih jauh karena cita-cita pemuda itu tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya dan dia pun tidak berhak untuk mendesak.Dia hanya menghelanapas panjang.
"Lima bulan terlalu singkat waktunya, cucuku, kurang matang tempaannya."
"Terserah bagaimana tempaannya saya percaya akan kesaktian dan kebijaksanaan eyang saja, akan tetapi dalam waktu lima bulan saya akan mengambil keris pusaka itu."Empu Gandring menyambut pemuda itu dengan alis berkerut. Penglihatannya yang tajam membuat sang empu merasa bahwa kehadiran pemuda ini membawa hawa yang tidak baik baginya. Namun, sang empu yang sudah menyandarkan segalanya kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi Wasesa, tidak menolak kunjungan itu dan menerimanya dengan ramah. Untuk menenangkan hati dan kepercayaan sang empu, begitu bertemu dan mendapat keterangan bahwa kakek itu benar Empu Gandring, Ken Arok lalu bersimpuh dan menyembah dengan hormatnya.
"Cucu Ken Arok menghaturkan sembah bakti kepada Eyang Empu Gandring yang mulia,"
Demikian katanya. Tentu saja sikap sopan ini menyenangkan hati sang empu.
"Terima kasih atas penghormatanmu, bocah bagus. Siapakah andika dan ada keperluan apakah datang berkunjung?"
"Nama saya Ken Arok, eyang dan mengingat bahwa mendiang ayah saya adalah murid juga keponakan eyang maka saya adalah cucu eyang sendiri?"
"Siapakah mendiang ayahmu?"
"Ayah bernama Raden Ginantoko."
"Jagat Dewa Bathara............! Ha-ha-ha, Ginantoko memang seperti Sang Harjuno saja, di mana-mana mempunyai anak. Siapakah gerangan ibu kandungmu, Ken Arok?"
"Ibu saya bernama Ken Endok dari dusun Pangkur, eyang?"
Kakek itu mengangguk-angguk. Tidak aneh mendengar bahwa mendiang muridnya mempunyai anak di mana-mana karena memang muridnya itu paling lemah terhadap wanita.
"Dan apakah engkau mempunyai keperluan penting maka datang berkunjung padaku?"
"Selain ingin menghaturkan sembah dan mohon doa restu, juga saya ingin mohon pertolongan eyang untuk membuatkan sebatang keris yang ampuh untuk saya, eyang."
Kembali Empu Gandring mengerutkan alisnya teringat dia akan muridnya terdahulu Ginantoko yang disayanginya, akan tetapi muridnya itu mati muda karena menuruti hawa nafsu birahinya yang besar, yang membuatnya memiliki watak mata keranjang dan suka sekali menggoda wanita-wanita cantik.
Muridnya itu tewas di ujung keris buatannya sendiri, karena menggoda isteri orang.
Dan dia merasakan atau meraba dengan perasaan halusnya bahwa pemuda ini memiliki nafsu yang besar sekali, walaupun melihat sinar matanya bukan nafsu birahi yang menonjol, akan tetapi pamrih yang tersembunyi di balik matanya itu amat kuat.
"Akan tetapi saya mohon agar keris pusaka itu dapat diselesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya, eyang. Kalau mungkin tiga atau empat lima bulan saja."
"Aha, tidak begitu mudah membuat keris yang baik dan ampuh, Ken Arok. Sedikitnya membutuhkan waktu satu tahun agar matang benar. Akan tetapi, untuk apakah engkau membutuhkan sebuah keris pusaka, cucuku?"
"Untuk keperluan penting sekali, mengejar cita-cita, eyang. Dan saya mohon tidak lebih lama dari lima bulan."
Empu Gandring tidak mendesak lebih jauh karena cita-cita pemuda itu tentu saja tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya dan dia pun tidak berhak untuk mendesak.Dia hanya menghelanapas panjang.
"Lima bulan terlalu singkat waktunya, cucuku, kurang matang tempaannya."
"Terserah bagaimana tempaannya saya percaya akan kesaktian dan kebijaksanaan eyang saja, akan tetapi dalam waktu lima bulan saya akan mengambil keris pusaka itu."Akuwu Tunggal Ametung kembali menghela napas.
"Sudah kuduga bahwa kalian, orang-orang gagah yang biasa bebas, akan menolak. Akan tetapi tidak mengapalah, karena kalian sudah berjanji akan membela Tumapel."
Setelah bubaran, Senopati Pamungkas mengajak Joko Handoko dan Wulandari untuk pulang ke rumahnya di mana dua orang muda itu bermalam.
Dewi Pusporini menyambut mereka dengan wajah berseri dan senyum gembira sekali.
Gadis bengsawan ini segera merangkul Wulandari dan mencium pipinya.
Wulandari juga merangkul gadis itu.
"Adikku Wulandari, engkau nampak semakin manis dan semakin gagah perkasa saja!"
Seru Dewi Pusporini sambil menggandeng tangan gadis itu.
"Ah, paduka terlalu memuji......."
"Huhhh, Wulan. Apa itu pakai sebutan paduka-paduka segala macam? Bukankah kita seperti kakak beradik saja? Sebut saja mbak ayu atau aku tidak akan mau berbicara denganmu."
Puteri itu pura-pura cemberut dan diam-diam Joko Handoko menelan ludah.
Demikian cantik jelitanya puteri itu, sehingga cemberut nampak semakin menarik.
Walaupun tersenyum agak sungkan, akan tetapi ketika dia melirik ke arah senopati itu dan melihat betapa pembesar itu juga tersenyum mengangguk, hatinyapun tenang.
"Baiklah, mbak ayu Dewi. Akan tetapi memang engkau telah memujiku, karena engkaulah sesungguhnya yang nampak semakin cantik jelita saja, seperti bidadari khayangan. Bukankah begitu, kakang Joko Handoko?"
Tentu saja pemuda itu terkejut dan tersipu dengan muka berubah merah.
Pada saat itu memang ia sedang terpesona oleh kecantikan Dewi Pusporini, dan secara tiba-tiba saja Wulandari yang memuji kecantikan puteri senopati itu, bertanya kepadanya!
Maka diapun hanya dapat mengangguk-angguk saja dengan canggung.
Malamnya, Senopati Pamungkas menjamu dua orang tamunya itu, ditemani oleh isteri dan puterinya.
Mereka duduk menghadapi meja makan dan dilayani oleh para pelayan wanita.
Setelah selesai makan, keluarga itu bersama dua orang tamunya bercakap-cakap di ruangan tengah.
"Anakmas Joko Handoko, aku melihat bahwa andika dan anakmas Ken Arok terdapat hubungan yang baik seperti kalian berdua telah mengenal dengan akrab. Hal itu sungguh tidak kusangka. Dia merupakan seorang panglima muda yang cepat menanjak, karena memang dia gagah perkasa, pandai dan menjadi putera angkat dan murid paman Danyang Lohgawe yang amat bijaksana dan cerdik. Anakmas Ken Arok amat dipercaya dan disukai oleh Tunggal Ametung, dan hal itu tidak aneh karena memang dia merupakan seorang panglima muda pilihan yang amat baik."
Joko Handoko tersenyum.
"Sesungguhnya, kanjeng..........."
"Sudahlah, aku ingin engkau dan Wulandari bersikap biasa terhadap keluarga kami sebut saja aku paman dan isteriku bibi. Bagaimanapun juga, aku pernah mengenal baik Raden Ginantoko, ayah kandungmu itu."
"Baiklah kanjeng paman senopati sesungguhnya antara Ken Arok dan saya masih terdapat hubungan saudara. Kami satu ayah berlainan ibu."
"Jagat Dewa Bathara..............!! Kalau begitu dia juga putera kandung mendiang Raden Ginantoko? Ah, siapa sangka? Murid paman Empu Gandring itu ternyata memiliki putera-putera yang hebat! Anakmas Joko, apakah engkau sudah bertemu dengan keluarga mendiang ayahmu?"
Joko Handoko menatap wajah senopati itu dan mengerutkan alisnya, lalu menggeleng kepala.
"Saya hanya mendengar dari Empu Panembahan bahwa kedua orang tua ayah saya telah tiada."
"Benar, akan tetapi masih ada keluarga dekat ayahmu yang barada di Tumapel. Dia adalah seorang senopati tua yang bernama Senopati Prawiroyudo. Paman Prawiroyudo itu adalah paman dari mendiang ayahmu, dan dia merupakan senopati tua yang menjadi penasihat Sang Akuwu di bagian pertahanan dan bala tentara. Apakah engkau tidak ingin berkunjung kepada paman Senopati Prawiroyudo? Aku dapat mengantarmu ke sana kalau kau ingin pergi. Anakmas Joko."
"Terima kasih, kanjeng paman. Saya tidak ingin pergi mengunjunginya sekarang. Entah lain waktu."
Joko Handoko sedikitpun tidak tertarik.
Yang berdarah bangsawan adalah mendiang ayahnya.
Kini ayahnya telah tiada dan ibunya hanyalah puteri seorang pendeta.
Buktinya, ibunya juga tidak diperdulikan oleh keluarga bangsawan itu.
Untuk apa dia sekarang datang menghadap?
Jangan-jangan disangka ingin minta sumbangan atau bantuan.
"Aku merasa heran sekali bagaimana dua orang pemuda dari satu ayah demikian berbeda wataknya. Aku melihat Ken Arok seorang pemuda yang memiliki semangat dan cita-cita besar sekali sehingga dalam waktu singkat telah memperoleh kedudukan tinggi yang memang sesuai dengan kecakapannya. Akan tetapi engkau anakmas Joko, yang memiliki ilmu kepandaian tidak kalah tingginya, engkau malah menolak pemberian atau penawaran kedudukan oleh sang akuwu. Kenapa selagi memperoleh kesempatan yang amat baik, engkau tidak mau mencari kedudukan tinggi untuk masa depanmu?"
Joko Handoko tersenyum.
"Maaf, kanjeng paman. Semenjak kecil saya hidup bersama mendiang eyang di gunung, menyukai hidup tenteram, tenang dan penuh damai di pegunungan. Dan saya melihat betapa di keramaian kota, hanya terdapat kekacauan, perebutan kekuasaan, permusuhan dan kebencian semata. Saya merasa ngeri untuk menceburkan diri di dalam kancah permusuhan dan kebencian itu, kanjeng paman."
Senopati itu mengangguk-angguk.
Dia dapat mengerti.
Pemuda ini sejak kecil hidup bersama seorang pendeta yang terkenal sakti dan bijaksana, yaitu Panembahan Pronosidhi, maka tidaklah mengherankan kalau jalan pikirannya pun bijaksana.
"Kalau begitu, apa yang menjadi cita-citamu, orang muda?"
Tanyanya, diam-diam merasa penasaran dan menyayangkan bahwa tenaga yang begini baik akan tersia-sia saja di pegunungan.
"Besok saya mohon diri untuk kembali ke Anjasmoro, kanjeng paman. Saya kan menjenguk ibu, kemudian mungkin saya akan hidup sebagai petani di Anjasmoro. Saya kira, hidup sebagai seorang petani tidak kalah besar manfaatnya bagi negara dan bangsa."
"Tentu saja!"
Tiba-tiba Dewi Pusporini berseru.
"Tanpa adanya petani, kita orang-orang kota ini akan kelaparan, kecuali kalau kita mau menggarap sawah ladang sendiri yang tentu tidak akan baik hasilnya karena kita canggung dan lemah. Paman tani merupakan golongan yang paling besar jasanya untuk negara dan bangsa. Bukankah demikian, kanjeng romo?"
Senopati itu tertawa.
Tentu saja, dia tidak mungkin dapat membantah kebenaran itu.
Akan tetapi Putera mendiang Raden Ginantoko, yang menjadi petani?
Pada jaman itu, pandangan orang, terutama para bangsawan terhadap orang-orang dusun atau pegunungan yang pekerjaannya sebagai petani memang amat merendahkan.
Kaum petani dianggap sebagai golongan yang miskin, kotor dan berderajat rendah.
"Jagat Dewa Bathara..............!! Kalau begitu dia juga putera kandung mendiang Raden Ginantoko? Ah, siapa sangka? Murid paman Empu Gandring itu ternyata memiliki putera-putera yang hebat! Anakmas Joko, apakah engkau sudah bertemu dengan keluarga mendiang ayahmu?"
Joko Handoko menatap wajah senopati itu dan mengerutkan alisnya, lalu menggeleng kepala.
"Saya hanya mendengar dari Empu Panembahan bahwa kedua orang tua ayah saya telah tiada."
"Benar, akan tetapi masih ada keluarga dekat ayahmu yang barada di Tumapel. Dia adalah seorang senopati tua yang bernama Senopati Prawiroyudo. Paman Prawiroyudo itu adalah paman dari mendiang ayahmu, dan dia merupakan senopati tua yang menjadi penasihat Sang Akuwu di bagian pertahanan dan bala tentara. Apakah engkau tidak ingin berkunjung kepada paman Senopati Prawiroyudo? Aku dapat mengantarmu ke sana kalau kau ingin pergi. Anakmas Joko."
"Terima kasih, kanjeng paman. Saya tidak ingin pergi mengunjunginya sekarang. Entah lain waktu."
Joko Handoko sedikitpun tidak tertarik.
Yang berdarah bangsawan adalah mendiang ayahnya.
Kini ayahnya telah tiada dan ibunya hanyalah puteri seorang pendeta.
Buktinya, ibunya juga tidak diperdulikan oleh keluarga bangsawan itu.
Untuk apa dia sekarang datang menghadap?
Jangan-jangan disangka ingin minta sumbangan atau bantuan.
"Aku merasa heran sekali bagaimana dua orang pemuda dari satu ayah demikian berbeda wataknya. Aku melihat Ken Arok seorang pemuda yang memiliki semangat dan cita-cita besar sekali sehingga dalam waktu singkat telah memperoleh kedudukan tinggi yang memang sesuai dengan kecakapannya. Akan tetapi engkau anakmas Joko, yang memiliki ilmu kepandaian tidak kalah tingginya, engkau malah menolak pemberian atau penawaran kedudukan oleh sang akuwu. Kenapa selagi memperoleh kesempatan yang amat baik, engkau tidak mau mencari kedudukan tinggi untuk masa depanmu?"
Joko Handoko tersenyum.
"Maaf, kanjeng paman. Semenjak kecil saya hidup bersama mendiang eyang di gunung, menyukai hidup tenteram, tenang dan penuh damai di pegunungan. Dan saya melihat betapa di keramaian kota, hanya terdapat kekacauan, perebutan kekuasaan, permusuhan dan kebencian semata. Saya merasa ngeri untuk menceburkan diri di dalam kancah permusuhan dan kebencian itu, kanjeng paman."
Senopati itu mengangguk-angguk.
Dia dapat mengerti.
Pemuda ini sejak kecil hidup bersama seorang pendeta yang terkenal sakti dan bijaksana, yaitu Panembahan Pronosidhi, maka tidaklah mengherankan kalau jalan pikirannya pun bijaksana.
"Kalau begitu, apa yang menjadi cita-citamu, orang muda?"
Tanyanya, diam-diam merasa penasaran dan menyayangkan bahwa tenaga yang begini baik akan tersia-sia saja di pegunungan.
"Besok saya mohon diri untuk kembali ke Anjasmoro, kanjeng paman. Saya kan menjenguk ibu, kemudian mungkin saya akan hidup sebagai petani di Anjasmoro. Saya kira, hidup sebagai seorang petani tidak kalah besar manfaatnya bagi negara dan bangsa."
"Tentu saja!"
Tiba-tiba Dewi Pusporini berseru.
"Tanpa adanya petani, kita orang-orang kota ini akan kelaparan, kecuali kalau kita mau menggarap sawah ladang sendiri yang tentu tidak akan baik hasilnya karena kita canggung dan lemah. Paman tani merupakan golongan yang paling besar jasanya untuk negara dan bangsa. Bukankah demikian, kanjeng romo?"
Senopati itu tertawa.
Tentu saja, dia tidak mungkin dapat membantah kebenaran itu.
Akan tetapi Putera mendiang Raden Ginantoko, yang menjadi petani?
Pada jaman itu, pandangan orang, terutama para bangsawan terhadap orang-orang dusun atau pegunungan yang pekerjaannya sebagai petani memang amat merendahkan.
Kaum petani dianggap sebagai golongan yang miskin, kotor dan berderajat rendah.
Sementara itu, mendengar ucapan Dewi Pusporini girang sekali rasa hati Joko Handoko.
Hatinya girang kerena ternyata gadis bangsawan ini amat bijaksana dan menghargai jasa kaum petani yang sederhana.
Hal ini menunjukkan bahwa gadis itu sama sekali tidak memiliki watak tinggi hati.
Setelah bercakap-cakap, pihak tuan rumah mempersilahkan kedua orang muda yang menjadi tamu itu beristirahat.
Joko Handoko mendapatkan sebuah kamar sendiri di begian belakang dekat taman, sedangkan Wulandari diajak tidur sekamar oleh Dewi Pusporini yang masih merasa rindu dan ingin bercakap-cakap dengan gadis dari kaki pegunungan Arjuno itu.
Malam itu, bulan purnama menerangi permukaan bumi.
Sinarnya lembut namun cemerlang dan membuat malam yang biasanya gelap menyeramkan kini menjadi terang menggembirakan.
Joko Handoko gelisah dalam kamarnya, tidak dapat memejamkan mata.
Makin dipejamkan makin jelas bayangan wajah Dewi Pusporini tersenyum manis, matanya yang jeli bersinar-sinar dan suaranya yang merdu terngiang di telinganya.
Kamar yang cukup bersih dan indah kelihatan seprti sebuah sangkar yang mengurungnya, membuat dia merasa sesak untuk bernapas.
Akhirnya, dengan hati-hati dan perlahan agar jangan menimbulkan suara berisik, dia keluar dari dalam kamar itu dan memasuki taman yang luas dan yang dipelihara dengan baik.
Setelah memasuki taman bunga yang indah dan kini nampak semakin indah karena tengelam dalam sinar bulan purnama, dadanya terasa lega dan dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali.
Kemudian dia berjalan-jalan di taman itu, merasa seolh-olah bukan berada di dunia melainkan di taman khayangan.
Akan tetapi hanya sebentar saja keindahan taman itu mengalihkan perhatiannya karena tak lama kemudian diapun sudah duduk melamun di atas bangku di dekat kolam ikan, termenung memandang ke arah ikan-ikan emas yang berenang di bawah sinar bulan purnama, saling kejar dan menggoyang daun-daun dan bunga teratai merah.
Akan tetapi, bahkan di dalam kolam itu nampak bayangan wajah sang puteri.
Berulang kali Joko Handoko menarik napas panjang dan mencela diri sendiri.
Engkau tak tahu diri, demikian celanya.
Siapakah dia yang berani menaruh hati pada seorang puteri bangsawan seperti Dewi Pusporini?
Dia telah jatuh cinta.
Hal ini dirasakannya benar.
Tadinya dia mengira bahwa dia jatuh cinta kepada Wulandari akan tetapi setelah dia berjumpa dengan Dewi Pusporini hatinya tertarik sepenuhnya kepada gadis itu.
Dia masih suka kepada Wulandari, suka sekali, akan tetapi harus diakuinya bahwa hatinya lebih condong kepada Dewi Pusporini yang lebih lembut dan cantik jelita, juga bijaksana itu, kenapa dia harus bertemu dan jatuh cinta kepada Dewi Pusporini, padahal tak mungkin dia akan dapat bersanding dengan gadis itu sebagai suami isteri?
Kalau dengan Wulandari harapannya besar.
Dia melihat bahwa gadis itu agaknya suka dan cinta kepadanya, dan karena ini Wulandari sudah menentukan jalan hidupnya sendiri, akan mudahlah baginya kalau akan memperisteri gadis perkasa itu.
Agaknya tinggal mengulurkan tangannya tentu Wulandari akan menerimanya.
Akan tetapi, dia bertemu dengan Dewi Pusporini dan tergila-gila kepadanya.Bayangan di dalam air itu tersenum kepadanya.
Betapa cantiknya!
Belum pernah dia merasakan hal seperti ini.
Kemesraan yang menusuk hatinya sehingga baru membayangkan wajah gadis itu saja sudah mendatangkan suatu kebahagian yang aneh, yang membangkitkan seluruh hasrat hatinya untuk bertemu dengan gadis itu, untuk memandang wajahnya, menikmati keindahan matanya, dan mendengar suaranya.
"Aduh, diajeng Dewi Pusporini....................."
Bisiknya berkali-kali kepada bayangan wajah cantik jelita yang nampak olehnya di permukaan air kolam.
Demikian jelas wajah tu, cemerlang dengan senyumnya, akan tetapi tiba-tiba dia tersentak kaget karena ternyata wajah itu adalah bayangan bulan yang tenggelam di dalam dasar kolam!
Dan diapun mencaci dirinya sendiri.
"Joko Handoko, kenapa engkau begini lemah?"
Akan tetapi cacian itu pun segera lenyap karena kembali sudah melamun.
Cinta asmara, memang sesuatu yang aneh, teramat indah teramat luas untuk dipelajari dan diselidiki sehingga semenjak laksaan tahun yang lalu selalu menjadi bahan penulisan para cerdik pandai, para sastrawan dan seniman.
Agaknya tak mungkin manusia hidup tanpa cinta.
Hidup tanpa cinta bagaikan pohon tanpa bunga dan pohon itupun takkan berbuah, tanpa keindahan tanpa keharuman.
Cinta asmara merupakan suatu kewajaran alamiah, agaknya diperuntukkan sarana perkembangbiakan agar manusia pria dan wanita saling tertarik, saling mendekati, melakukan hubungan badaniah yang merupakan puncak dari cinta asmara sehingga mereka akan beranak dan manusia tidak akan sama melainkan bersambung terus oleh keturunan demi keturunan, generasi demi generasi.
Cinta asmara mengandung kemesraan yang paling mendalam,keharuan yang paling halus, mengandung pula pengenyahan kepentingan diri sendiri sehingga berani berkorban nyawa kalau perlu akan tetapi juga di suatu merupakan penonjolan ke-aku-an yang paling besar karena di situ terdapat pula keinginan menguasai, memiliki, memonopoli.
Ingin memiliki dan dimiliki, menyenangkan dan disenangkan.
Sayang bahwa sebagian besar dari kita menitik beratkan kepada kesenangan dan kenikmatannya, sehingga berani mengambil peran terbesar dan terpenting.
Kalau begini, maka kekecewaan dalam hal ini akan membuat cinta asmara menjadi suatu penderitaan, kekecewaan, cemburu, bahkan tidak aneh lagi kalau cinta asmara berbalik menjadi kebencian.
Betapa indah dan anehnya cinta kasih, suatu masalah yang patut kita renungkan, kita amati dan kita pelajari setiap saat, dengan mengamati diri sendiri dan setiap orang manusia, tak peduli pangkatnya.
Raja diraja sampai kepada pengemis yang paling miskin, berekuk lutut terhadap satu ini, ialah cinta kasih.
Kalau cinta asmara sudah menguasai batin, baik raja diraja maupun pengemis, akan bertekuk lutut menjadi boneka.
Dipermainkan perasaan ini dapat membuatnya menangis air mata darah, dapat pula membuatnya tertawa kegirangan sampai lewat batas.
Cinta asmara dapat membuat seorang pria kasar menjadi lemah lembut seperti sutera, sebaliknya dapat membuat seorang pria yang sopan santun dan lembut berubah menjadi kasar dan keras seperti baja.
Banyak pula terjadi betapa pria gagah perkasa yang takkan gentar menghadapi pengeroyokan puluhan orang musuh, akan gemetar bertekuk lutut di depan kaki wanita yang dicintainya, tak tahan menghadapi kerling matanya, atau senyumannya, atau bahkan tangisnya!
Joko Handoko duduk termenung entah berapa lamanya, dia tidak ingat lagi.
Waktu tidak ada lagi baginya, yang ada hanya tenggelam ke dalam lamunan, membayangkan wajah gadis yang membuatnya tergila-gila.
Dia yang biasanya berpendengaran tajam karena kedua telinganya dan syaraf-syarafnya terlatih baik, kini bahkan tidak tahu bahwa ada sesosok bayangan menghampirinya dengan langkah satu-satu perlahan-lahan.
Setelah bayangan itu tiba hanya tiga meter di belakangnya dan menginjak daun kering sehingga menimbulkan suara berkeresekan, barulah Joko Handoko mendengarnya dan pemuda ini pun sadar dari lamunannya, lalu menoleh.
Sepasang matanya terbelalak, pandang matanya terpesona karena di depannya telah berdiri orang yang sejak tadi menjadi kembang lamunannya.
"Diajeng Dewi Pusporini.........."
Bisiknya, hampir tidak terdengar sehingga gadis yang berdiri di depannya itu hanya melihat betapa bibir pemuda itu bergerak-gerak menyebutkan namanya.
Dan gadis itu pun tersenyum, sepasang bibirnya merekah dan nampak sedikit kilatan giginya.
Joko Handoko semakin terpesona.
Betapa cantiknya!
Sinar bulan purnama yang lembut menimpa rambut dan wajah itu, dengan sinar agak kehijauan, lembut dan membuat wajah gadis itu nampak agung dan seperti bukan wajah manusia lagi, melainkan wajah bidadari kahyangan dalam dongeng.
Joko Handoko bangkit berdiri dan mereka berdiri saling berhadapan dengan jarak tiga meter, saling pandang.
Karena sampai lama pemuda itu hanya berdiri memandang tanpa pernah berkedip, seperti telah berubah menjadi patung.
Dewi Pusporini merasa kikuk juga dan ia pun tersenyum dan menunduk sebentar, lalu mengangkat lagi mukanya memandang.
"Kakang Joko Handoko, herankah engkau melihat aku datang?"
Tanyanya sambil tersenyum dan sepasang mata itu memandang lembut.
"Tidak.... tidak.... Diajeng...... Dewi"
Kata Joko Handoko dengan agak gagap, seperti orang yang baru saja dibangunkan dari tidur secara mendadak.
"Kalau begitu, terkejutkah engkau?"
"Tidak..........? Mengapa harus terkejut? Taman ini adalah tamanmu, diajeng.........? "Hemm, tidak gembirakah engkau dengan kedatanganku?"
"Tidak...........? Ah, tentu saja aku gembira sekali. Malam............ini indah sekali di taman, diajeng Dewi Pusporini."
"Aku...... aku tak dapat tidur maka keluar dari kamar memasuki taman ini."
"Akupun tidak dapat tidur dan biasanya, kalau malam aku memang suka berada di taman ini, apa lagi kalau bulan sedang purnama. Dan ikan-ikan emas dalam kolam ini menjadi kesayanganku."
Ia melangkah maju dan berdiri di tepi kolam, melihat ikan-ikan emas berenang ke sana-sini dengan gerakan halus seperti terbang di udara saja layaknya.
"Memang indah sekali................."
Kata Joko Handoko, makin terpesona dan tidak tahu harus bicara apa, akan tetapi kedua kakinya melangkah menghampiri dan dia berdiri di dekat dara itu, memandang ke dalam kolam.
Bulan purnama bersinar dengan sepenuhnya, tanpa dihalangi awan dan karena tempat mereka berdiri itu bebas dari halangan pohon, maka mereka nampaklah bayangan mereka di permukaan air kolam.
"Lihat, kakangmas Joko, bayangan kita nampak di dalam air seperti dalam cermin saja?"
Tiba-tiba Dewi Pusporini menuding ke depan kakinya, dia mana bayangan mereka kelihatan di dalam air dengan amat jelasnya.
"Sudah sejak tadi aku melihat bayanganmu di dalam air ini, diajeng."
"Ehhh......? Mana mungkin? Aku baru saja datang, Kakangmas Joko!"
Tanya dara itu sambil memandang heran.
Memang ia baru saja datang.
Setelah bercakap-cakap dengan Wulandari, ia melihat gadis yang lincah dan riang itu mengantuk, maka setelah membiarkan Wulandari tertidur pulas, ia turun dari pembaringan dan dia pergi ke belakang, ke dalam taman karena ia ingin menikmati cahaya bulan di taman itu, seperti biasa kalau bulan sedang purnama.
Tak disangkanya bahwa di situ ia akan bertemu dengan Joko Handoko.
Andaikata ia tahu lebih dahulu bahwa pemuda itu berada di taman, tentu ia tidak akan berani memasuki taman, malu.
Joko Handoko merasa terkejut sendiri dengan ucapannya tadi.
Dia masih seperti dalam keadan terpesona sehingga kata-kata itu terloncat begitu saja dari mulutnya.
Kini, melihat gadis itu memandang kepadanya dengan heran dan tajam menyelidik, jantungnya berdebar penuh ketegangan, akan tetapi dia menarik napas panjang.
"Aku tidak membohong, diajeng Dewi. Sejak tadi aku melihat bayanganmu di dalam kolam itu, bahkan di dalam kamar, bayanganmu selalu nampak olehku sehingga aku menjadi gelisah dan keluar ke dalam taman ini."
"Ahhhh.............!"
Dewi Pusporini mengeluarkan seruan tertahan dan menggunakan tangan untuk menutup mulutnya agar ia tidak berseru terlalu keras, tubuhnya seperti menjadi lemas dan karena kedua kakinya terasa gemetar, dara itu lalu menghampiri bangku di tepi kolam dan duduk di ujung bangku.
Dengan jantung berdebar ia bertanya lirih.
"Kakangmas Joko Handoko, apa....... apa maksud kata-katamu itu.....?"
Suaranya juga terdengar gemetar maka ia tidak bicara banyak.
Joko Handoko juga duduk di ujung yang lain dari bangku panjang itu.
Biarpun dia seorang gemblengan yang biasanya bersikap tenang tidak mudah merasa gentar, akan tetapi sekarang dia merasa jantungnya berdebar dan seluruh tubuhnya gemetar!
"Diajeng Dewi Pusporini, harap maafkan aku yang sungguh tidak tahu diri......
aku sudah lupa siapa diriku dan siapa pula dirimu, aku telah lancang sekali, berani jatuh cinta kepadamu.
Diajeng, maafkan aku, akan tetapi sejak pertemuan kita pertama kali itu, bahkan setelah pertemuan kedua ini, aku....
aku seperti menjadi gila.
Ke mana pun aku berada, bayangamu selalu nampak di depan mata......."
Hening sejenak.
Keduanya menundukkan mukanya.
Joko Handoko dengan hati gelisah karena dia menduga bahwa sang puteri itu tentu akan merasa terhina dan marah kepadanya, sikapnya pasrah karena dia memang sudah siap menerima kemarahan Pusporini, bahkan siap menerima hukuman apapun juga.
Sedangkan Dewi Pusporini menundukkan mukanya karena terharu, dan kedua matanya mulai membasah.
Akhirnya ia tidak dapat menahan keharuan hatinya dan air matanya pun runtuh, ia terisak lirih dan mengusap air mata dengan sapu tangan.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Joko Handoko mendengar suara isak tertahan itu.
Dia cepat mengangkat mukanya dan memandang dengan wajah pucat.
Celaka, pikirnya, tentu dara itu merasa terhina sekali sampai menangis!
"Aduh, diajeng...............harap jangan menangis.
Maafkan kelancanganku, ampunkanlah kalau aku menyakiti hatimu dengan kelancanganku, aku........
tidak bermaksud menghinamu, diajeng............"
Mendengar suara lembut penuh penyesalan yang dikeluarkan dengan suara gemetar itu Pusporini merasa seperti ditusuk-tusuk hatinya dan ia pun menangis semakin terisak!
Tentu saja Joko Handoko menjadi semakin khawatir dan menyesal.
Dia bangkit berdiri dan berkata halus.
"Diajeng Dewi Pusporini, aku mengaku bersalah kepadamu. Aku lancang mulut, aku tidak tahu diri, berani menyatakan cinta kepada seorang puteri seperti engkau. Andaikata engkau sudi memaafkan aku sekalipun, aku takkan pernah dapat memaafkan diriku sendiri, diajeng, aku akan menyesal kelancanganku selama hidupku. Mohon pamit, diajeng, dan berhentilah menangis, hatiku hancur melihat engkau menangis karena ulahku........."
Joko Handoko melangkah pergi dengan terhuyung dan seluruh tubuhnya lemas sekali.
Ingin dia menangis, akan tetapi ditahannya perasaan dukanya yang melanda hatinya.
Cinta asmara memang merupakan sarang dari suka-duka, susah-senang, sedih-gembira yang datang silih berganti mempermainkan korban-korbannya.
"Kakang mas Joko ............!"
Seruan lirih bercampur isak ini membuat Joko Handoko tersentak kaget dan seketika gerakan kakinya terhenti.
Dia memutar tubuhnya dan melihat betapa dara itu menangis sambil menuupi muka dengan kedua tangannya.
"Jangan........jangan pergi........"
Joko Handoko membelalakkan kedua matanya, hampir tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
Benarkah itu suara Pusporini yang melarangnya pergi?
Dia pun melangkah satu-satu menghampiri bangku itu dan berdiri di dekat Dewi Pusporini yang masih menundukkan muka yang ditutupinya dengan kedua tangan, pundaknya bergoyang perlahan dalam tangisnya.
"Diajeng, engkau............ menangis...............?"
Tanyanya ragu. Dewi Pusporini menahan isaknya, sapu tangannya sudah basah semua dan ia pun tanpa mengangkat mukanya berkata lirih.
"Aku menangis........ bukan karena terhina............. melainkan kerena ............ karena bangga dan haru, kakang mas Joko........."
Hampir Joko Handoko tidak percaya akan pendengarannya sndiri.
"Diajeng Dewi........ apakah ini berarti bahwa engkau juga..........."
Kini Pusporini mengangkat mukanya yang kemerahan dan masih basah air mata.
"Kakangmas Joko, semenjak engkau menolongku aku pun tidak pernah dapat melupakanmu, dan aku...... aku selalu mengharapkan..............."
Joko Handoko hampir berteriak saking gembiranya dan dia memegang kedua tangan dara itu yang masih duduk di atas bangku.
"Diajeng, tidak mimpikah aku? Jadi engkau bersedia untuk menjadi isteriku?"
Dua pasang tangan itu saling berpegangan dan jari tangan saling cengkeram.
"Aku akan merasa bahagia sekali, Kakangmas. Akan tetapi, aku hanya seorang wanita yang hanya mentaati kehendak ayah ibuku, karena itu, kau pinanglah aku kepada orangtuaku."
"Baik, akan kulakukan diajeng!"
Kata Joko Handoko dengan gembira sekali.
"Aku akan mohon kepad ibuku, kepada ayah tiriku, agar mereka suka mengajukan pinangan, akan tetapi......... apakah ayahmu akan suka bermantukan seorang......... petani dusun seperti aku, diajeng?"
"Huusshhhh, kakangmas, kenapa berkata demikian? Kanjeng Romo bukan seorang yang haus akan kedudukan atau harta benda, dan dia selalu memuji di depanku. Kurasa dia akan senang hati........"
"Ssttt...............!"
Tiba-tiba Joko Handoko melepaskan pegangan tangannya dan melangkah mundur menoleh ke kiri dan memandang ke arah bagian yang gelap karena bayangan pohon. Akan tetapi tidak nampak seorang pun di sana.
"Ada apa, kakangmas?"
"Aku melihat berkelebat bayangan orang tadi, akan tetapi dia sudah pergi. Sebaiknya engkau kembali ke dalam rumah, diajeng. Tidak baik untukmu, kalau sampai kelihatan orang lain pertemuan kita ini."
Dewi Pusporini mengangguk, bangkit bediri sambil berkata "Aahh, alangkah senangnya kalau aku menjadi gadis dusun biasa sehingga dapat bercengkerama denganmu setiap waktu tanpa takut melanggar kesopanan, kakangmas, harap engkau cepat-cepat mengajukan pinangan, aku menanti dengan sabar dan setia."
"Baiklah, diajeng dan percayalah kepadaku, aku cinta padamu!"
Dara itu mengerling dan mukanya menjadi merah, tetapi blasan langkah kemudian ia berhenti, menoleh dan melihat pemuda itu masih bediri, mematung dan mengikutinya dengan pandang mata, ia pun berkata.
"Aku pun cinta padamu, kakangmas."
Dan ia pun berlari-lari kecil kembali memasuki pintu belakang.
Setelah mengikuti bayangan kekasihnya itu sampai lenyap di pintu belakang.
Joko Handoko meloncat ke bawah pohon di mana dia tadi melihat bayangan orang.
Akan tetapi tak nampak seorang pun juga manusia.
Mungkin dia salah pandang, pikirnya.
Mungkin bayangan pohon tertiup angin.
Hatinya terlampau gembira, untuk memusingkan bayangan yang tadi dilihatnya bekelebat itu, dan dia pun cepat kembali ke kamarnya dan sekali ini, kembali ia tidak dapat tidur, dan kembali wajah Dewi Pusporini terbayang, akan tetapi betapa bedanya keadaan hatinya.
Kalau tadi gelisah, kini dia tidak dapat tidur saking gembiranya!
Di kamar lain, yaitu kamar Dewi Pusporini, dara ini pun merasa gelisah.
Akan tetapi bukan hanya karena kegembiraan hatinya setelah bertemu dengan Joko Handoko, melainkan karena ketika ia tidak melihat Wulandari yang tadi tidur pulas ketika ia meninggalkannya.
Ke mana gerangan perginya gadis itu?
Dewi Pusporini mencari-cari, akan tetapi tidak berhasil, dan para dayang juga tidak ada, yang melihat gadis itu keluar.
Ingin sekali Dewi Pusporini melaporkan hilangnya Wulandari ini kepada ayahnya, akan tetapi karena ayahnya sudah tidur dan hari telah larut malam, ia tidak berani membikin ribut.
Ingin pula ia menceritakannya kepada Joko Handoko akan tetapi bagaimana ia dapat menghubungi, pemuda itu?
Ada sesuatu yang menggelisahkan hatinya.
Bukankah tadi Joko Handoko mengatakan bahwa dia melihat berkelibatnya bayangan orang?
Jangan-jangan Wulandari yang tadi berkunjung, ke taman.
Wajahnya berubah merah membayangkan hal ini.
Tentu Wulandari melihat keadaan mereka!
Walaupun hanya saling berpegang tangan, namun jelaslah tentu baik orang lain bahwa di antara ia dan Joko Handoko ada hubungan yang mesra.
Dan ia pun teingat akan akrabnya hubungan antara Wulandari dan Joko Handoko!
Ah jangan-jangan Wulandari juga mencintai pemuda itu, dan menjadi patah hati dan melarikan diri.
Pucat wajah Dewi Pusporini mendengar akan hal ini.
Ia sangat suka kpada Wulandari dan sama sekali tidak ingin melukai hatinya.
Ia benar-benar merasa sangat khawatir seingga semalaman itu ia tidak dapat tidur pulas.
Pada keesokan harinya, dengan muka agak pucat dan rambut kusut, pagi-pagi sekali Dewi Pusporini mengetuk pintu kamar ayah ibunya.
Ketika daun pintu dibuka, ia pun menyerbu ke dalam dan berkata kepada ayahnya.
"Kanjeng romo, diajeng Wulandari lenyap semalam dari kamar kami!"
Tentu saja senopati, itu terkejut dan heran.
"Apa kau bilang? Lenyap? Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Saya tidak tahu, kanjeng romo. Saya...... eh, tidur nyenyak dan ketika pada malam hari terbangun, ia sudah tidak ada. Agaknya ia pergi tanpa pamit, romo."
"Aneh! Apakah terjadi percekcokan antara kalian?"
"Ah, tidak, kanjeng romo. Kami bercakap-cakap dengan baik sampai tertidur."
"Harus beri tahu kepada anakmas Joko Handoko..... eh, jangan-jangan......... dia pun pergi tanpa pamit."
Terkejut sekali hati Dewi Pusporini mendengar ini.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa pamit!"
"Eh, bagaimana kau bisa tahu? Wulandari juga pergi tanpa pamit,"
Kata ayahnya sambil memandang wajah puterinya. Pusporini menunduk dengan muka agak kemerahan.
"Kakang Joko Handoko adalah seorang yang halus budi, kanjeng romo. Saya kira, dia tidak akan, pergi begitu saja tanpa, pamit."
Senopati Pamungkas lalu mengutus seorang pelayan untuk pergi memanggil pemuda itu, dan tak lama kemudian Joko Handoko pun datang menghadap.
Dia hatinya bertukar pandang dengan Dewi Pusporini, dengan pandang mata yang mesra, akan tetapi tidak berani mengeluarkan kata-kata terhadap puteri itu.
"Anakmas Joko Handoko menurut pelaporan Dewi, Wulandari semalam telah pergi tanpa pamit. Apakah anakmas tahu akan kepergiannya?"
Tentu saja Joko Handoko mengetahuinya, bahkan dia pagi tadi panik ketika mendapat kenyataan bahwa.
Keris pusakanya yang dia tinggal di dalam kamar ketika dia pergi ke taman, telah lenyap.
Sebagai gantinya, dia mendapatan sehelai kertas dengan tulisan Wulandari yang meninggalkan pesan.
Singkat kepadanya.
Kakang Joko Handoko, Aku pergi dulu, keris pusakamu ku pinjam untuk kupakai Ken Arok yang menyebabkan kematian ayahku.
Wulandari yang malang.
Tentu saja Joko Handoko terkejut bukan main dan merasa heran.
Selama ini, walaupun tak pernah memperdulikan Ken Arok, gadis itu nampaknya tidak pernah mendendam kepada Ken Arok.
Pula, kematian KI Bragolo ialah karena menderita sakit, walaupun mungkin sakitnya semakin parah karena harus bertanding dengan melawan Ken Arok yang hendak membunuhnya.
Dan keris Nogopasung dibawanya untuk menghadapi Ken Arok.
Hal ini dapat dimengertinya karena gadis itupun tahu, bahwa ia tidak dapat menandingi ketangguhan Ken Arok, dan tentu saja gadis itu mengharapkan dapat menang kalau mempergunakan keris pusaka Nogopasung yang ampuh itu.
Tidak.
Gadis itu harus dikejarnya dana dicegahnya mencari dan menantang Ken Arok!
Akan tetapi diam-diam, dia merasa heran sekali mengapa terjadi perubahan demikia tiba-tiba pada diri Wulandari.
Rasanya tidak masuk di akal kalau Wulandari melakukan hal itu, pergi diam-diam dan membawa kerisnya.
Tentu ada sesuatu yang menyebabkan ia dan Joko Handoko teringat akan bayangan semalam di taman.
Mengingat ini, tiba-tiba wajahnya menjadi pucat.
Itukah sebabnya?
Wulandarikah banyangan itu?
Wulandari telah melihat pertemuannya yang mesra dengan Dewi Pusporini, dan hal ini menyebabkan gadis itu menjadi nekat, mencuri keris pusaka dan pergi meninggalkannya!
Dan ini hanya berarti bahwa gadis itu merasa berduka dan cemburu!
Dan itu menandakan bahwa, Wulandari mencintainya!
Ketika pagi itu dia dipanggil, dia mengerti bahwa tentu urusan perginya Wulandari yang menyebabkannya.
Maka, mengahadapi pertanyaan Senopati Pamungkas, diapun tidak terkejut dan menjawab sejujurnya.
"Kanjeng paman senopati, saya sudah mengetahuinya. Karena diajeng Wulandari meninggalkan sepucuk surat, walaupun saya. Merasa heran dan tidak mengerti akan sikapnya itu. Inilah surat yang ditinggalkannya di dalam kamar saya,"
Joko Handoko mengeluarkan surat itu dan melihat surat ini, Dewi Pusporini yang sejak semalam merasa tidak enak hati, segera emngambil dari tangannya.
"Aku ingin sekali membaca suratnya!"
Katanya dan dia pun membaca dan memandang kepada Joko Handoko yang segera menundukkan mukanya karena dari sinar gadis itu diapun maklum bahwa Pusporini sudah mengerti akan persoalannya.
"Ohhh............... Wulandari.......!"
Pusporini mengeluh.
Melihat sikap puterinya, Senopati Pamungkas mengambil surat itu dari tangan anaknya.
Apa sih isinya?
Dan diapun membacanya.
Akan tetapi dia menjadi terheran-haran dan tidak mengerti mengapa Wulandari melakukan hal itu.
"Anakmas Joko, apa arti semua ini?"
"Sudah jelas, kanjeng paman. Dimas Ken Arok pernah menyerang mendiang Ki Bragolo ayah diajeng Wuladari untuk membalas kematian ayah kami, yaitu Raden Ginantoko yang dahulu terbunuh oleh Ki Bragolo. Walaupun dimas Ken Arok tidak jadi membunuhnya, namun Ki Bragolo tewas karena serangan jantung pada saat itu dia baru saja mengalami serangan itu. Dan agaknya diajeng Wulandari mendendam dan kini pergi untuk mencari dimas Ken Arok, untuk membalas dendam."
"Ahhh............! Kenapa ia begitu nekat? Kenapa mencuri pinjam keris pusaka dan tidak memberitahukan kepadamu akan niatnya yang nekat itu? Bagaimana mungkin ia dapat menang menghadapi Ken Arok yang sakti itu?"
"Saya harus cepat mengejar dan mencarinya, kanjeng paman, dan mencegah niatnya itu. Mudah-mudahan saja saya tidak akan telambat. Saya mohon diri, kanjeng paman,"
Kata Joko Handoko tanpa menjawab semua pertanyaan itu. Dia memang sudah siap untuk pergi, ketika dipanggil tadi.
"Pergilah, kakangmas Joko, pergilah dengan cepat dan cegahlah ia melakukan perbuatan nekat dan berbahaya lagi,"
Pusporini berkata dengan suara memohon dan ayahnya terkejut melihat suara anaknya mengandung isak tangis. Akan tetapi dia pun setuju agar pemuda itu cepat melakukan pengejaran.
"Memang engkau harus cepat melakukan pengejaran dan mencegahnya, anakmas."
Suaminya segera menjawab.
"Wulandari semalam pergi tanpa pamit, meninggalkan surat kepada Joko Handoko bahwa ia meminjam keris pusakanya untuk membunuh Ken Arok. Agaknya Dewi yang mengetahui sebabnya mengapa Wulandari mengambil keputusan demikian nekatnya. Nah, Dewi, Sekarang ibumu juga hadir untuk mendengarkan keteranganmu."
Dengan masih di pangkuan ibunya karena ia merasa malu untuk memandang orang tuanya, Dewi Pusporini lalu bercerita.
"Malam tadi, setelah Wulandari tidur, saya keluar dari kamar dan pergi ke taman. Kanjeng Romo dan kanjeng ibu tentu sudah mengetahui akan kebiasaan dan kesukaan saya yang senang bergadang di dalam taman di bawa sinar bulan purnama.
"Ia berhenti sebentar untuk melihat bagaimana sikap kedua orang tuanya.
"Hemm, lalu bagaimana?"
Tanya ayahnya dan ibunya juga memandang dengan penuh perhatian. Dewi Pusporini memperoleh ketabahandan iapun kini duduk bersimpuh di atas lantai, menundukkan muka da melanjutkan.
"Saya sama sekali tidak menduga bahwa di dalam taman itu telah ada lain orang, dia adalah Kakangmas Joko Handoko. Pertemuan yang tidak kami sengaja itu membawa kami kepada percakapan dan dalam kesempatan ini, kami.........saling membuka rahasia kami."
"Maksudmu bagaimana?"
Tanya ibunya karena dara itu kembali berhenti bicara.
"Kami......... kami saling jatuh cinta, ibu............."
Akhirnya gadis itu dapat mengeluarkan kata-kata yang membuka rahasia hatinya.
Ayah ibunya saling pandang, tersenyum dan tidak menjadi terkejut.
Sudah berkali-kali Dewi Pusporini dilamar orang, akan tetapi, gadis itu selalu menyatakan keberatan dan belum mau sehingga hal ini mengesalkan hati mereka.
Merekapun tidak mau sembrono mengambil mantu sembarang orang saja untuk menjadi suami puteri mereka.
Dan mereka berdua harus mengaku bahwa Joko Handoko adalah seorang pemuda yang amat baik.
Hanya sedikit hal yang mengecewakan hati sang senopati, yaitu bahwa Joko Handoko tidak mau menerima anugerah jabatan yang ditawarkan oleh sang akuwu.
"Kanjeng romo dan kenjeng ibu tidak.......... marah bukan?"
Ibunya menyetuh pundaknya dengan lembut.
"Kenapa mesti, marah, anakku? Joko Handoko adalah, seorang pemuda yang baik."
"Lanjutkan ceritamu!"
Kata senopati, tidak seramah isterinya.
"Apa yang kalian lakukan dan kemudian bagaimana?"
Mendengar nada suara ayahnya, Pusporini terkejut.
"Kanjeng Romo, biarpun kami saling mencintai, namun kami tidak melakukan sesuatu yang rendah. Kami hanya berpegang tangan saja ketika saat itu Kakangmas Joko mengatakan bahwa dia melihat bayangan yang berkelebat. Akan tetapi ketika dicari, bayangan itu sudah lenyap. Tak lama kemudian kami berpisah dan saya masuk kembali ke dalam kamar. Akan tetapi, ketika saya masuk, Wulandari telah tiada dalam kamar."
"Kenapa kau tidak memberitahu kepadaku?"
"Kanjeng Romo dan Kanjeng Ibu sudah tidur, saya tidak berani membikin ribut. Pula, saya belum yakin bahwa Wulandari pergi tanpa pamit, hal itu baru saya ketahui ketika membaca suratnya yang ditinggalkan untuk kakangmas Joko." (Lanjut ke
Jilid 13) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 13 Hening sejenak. Sang senopati diam dan mengerutkan alisnya, kemudian mengangguk-angguk.
"Hemmm, jadi menurut dugaanmu, bayangan itu adalah Wulandari dan ketika ia melihat engkau dan anakmas Joko Handoko, ia menjadi cemburu, marah dan melakukan perbuatan nekat itu? Kalau begitu halnya, engkau sama sekali tidak bersalah, anakku dan tidak perlu engkau menyesali peristiwa itu karena itu adalah kesalahan Wulandari sendiri."
"Saya........... saya hanya kasihan dan khawatir sekali,kanjeng romo."
Keluarga itu memang merasa gelisah dan mereka menanti kembalinya Joko Handoko untuk mendengar berita tentang Wulandari yang telah menjadi nekat itu.
Ke manakah perginya Wulandari?
Malam itu memang belum tidur pulas ketika Dewi Pusporini meninggalkan pembaringan lalu keluar dari dalam kamar.
Wulandari yang sudah mengantuk melihat temannya itu pergi, akan tetapi ia diam saja, mengira bahwa Pusporini pergi untuk suatu keperluan dan akan segera kembali.
Akan tetapi, setelah agak lama teman itu tidak kembali ke kamar, ia pun menjadi heran dan hal ini mengusir kantuknya.
Tidak enak rasanya rebah sendirian saja di kamar orang, ditinggal pergi pemilik kamar.
Ia bangkit dan turun dari pembaringan, membereskan sanggul rambutnya yang terlepas, lalu menghampiri daun jendela.
Ia tahu bahwa di luar jendela itu adalah sebuah taman yang luas dan indah.
Dibukanya daun jendela.
Cahaya bulan redup dan sejuk menyerbu kamar, membawa pula bau, semerbak harum.
"Oohhh......."
Wulandari menarik napas panjang dan terpesona melihat keindahan malam itu.
Taman itu bermandikan sinar bulan, dan bau semerbak harum datang dari pohon Arum Dalu yang sedang berkembang, penuh dengan bunga kecil-kecil berwarna putih yang amat harum di waktu malam walaupun di siang hari tidak berbau sedap sama sekali.
Keindahan taman itu sejenak mempesona Wulandari, kemudian manarik hatinya untuk keluar, dari kamar melalui pintu belakang dan masuk ke dalam taman.
Ia ingin memetik seranting penuh bunga Arum Dalu.
Akan tetapi pada saat itu dia mendengar suara orang bercakap-cakap lirih.
Ia menjadi terejut dan curiga, lalu berindap-indap ia masuk lebih dalam ke taman itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika melihat Joko Handoko dan Dewi Pusporini berada di tengah-tengah taman itu, dalam pertemuan yang nampak olehnya demikian asyik-masyuk, demikian mesra!
Joko Handoko berdiri di depan Pusporini yang duduk di bangku, dua pasang tangan mereka, saling genggam dan terdengar olehnya suara Joko Handoko.
"Diajeng, tidak mimpikah aku? Jadi engkau besedia untuk menjadi isteriku?"
Kemudian terdengar jawaban Pusporini lirih.
"Aku akan merasa bahagia sekali, kakangmas..........."
Selanjutnya Wulandari tidak mendengar apa-apa lagi karena ia merasa pandang matanya berkunang, kepalanya pening dan tubuhnya pening dan tubuhnya menggigil.
Joko Handoko, yang menjadi tumpuan harapanya, yang menjadi pegangan hidupnya, satu-satunya pria yang dicintanya, satu-satunya orang yang dikasihaninya, kini, sedang memadu cinta dengan Dewi Pusporini!
Ah, ia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukannya terhadap wanita yang berani merebut Joko Handoko darinya kalau bukan Dewi Pusporini.
Mungkin akan dibunuhnya!
Akan tetapi, justru yang dicinta oleh Joko Handoko adalah Dewi Pusporini, wanita yang disayangnya, yang dianggapnya saudara sendiri!
"Oohhhh................!"
Wulandari terhuyung-huyung, hampir terjatuh, akan tetapi ia cepat menguasai dirinya dan dalam keadaan dibakar cemburu ini, timbullah duka yang amat mendalam dan teringatlah ia akan keadaan dirinya, betapa ia hidup sebatangkara, betapa ayahnya telah meninggal dunia dan teringat akan kematian ayahnya, ia pun ingat kepada Ken Arok yang dianggapnya penyebab kematian ayahnya.
Ia kini tidak mempunyai apa-apa lagi, tidak memiliki harapan lagi.
Ken Arok harus dibunuhnya untuk membalas dendam kematian ayahnya!
Dan ia pun tahu betapa saktinya Ken Arok, maka ia lalu cepat memasuki kamar Joko Handoko untuk mengambil keris pusaka Nogopasung yang oleh pemiliknya ditinggalkannya di atas meja.
Dengan keris pusaka yang ampuh itu ia akan menghadapi Ken Arok.
Diambilnya keris pusaka itu, ditulisnya cepat-cepat sebuah surat singkat untuk Joko Handoko dan ai pun cepat melarikan diri meninggalkan gedung Senopati Pamungkas tanpa pamit.
Dengan keris pusaka Nogopasung terselip di pinggang, Wulandari lari dengan cepat memasuki lorong, yang sunyi.
Ia berlari sambil menangis.
Bayangan Joko Handoko dan Dewi Pusporini dalam taman tadi selalu membayanginya dan bayangan itu seperti ujung keris berkarat menusuki perasan hatinya.
Hatinya penuh dengan duka, penuh dengan cemburu dan iri hati kepada Dewi Pusporini.
Hatinya terasa perih sekali.
Cemburu adalah suatu penyakit yang amat berbahaya.
Ada yang mengatakan cemburu adalah kembangnya cinta.
Benarkah itu?
Kiranya pertanyaan semacam itu perlu direnungkan secara mendalam, penuh kewaspadaan agar kita tidak mendapatkan pengertian yang palsu dan keliru tentang cemburu dan cinta.
Cinta adalah sumber kebahagian, sedangkan cemburu adalah sumber kebencian dan duka.
Cinta meniadakan aku, sedangkan cemburu merupakan penonjolan dan pementingan diri sendiri yang berupa iba diri.
Cemburu terjadi karena keinginan hati untuk menguasai dan memiliki seseorang secara mutlak dan memonopoli, gagal.
Cemburu timbul karena kita melihat behwa sumber kesenangan yang kita nikmati dari seseorang terancam bahaya, karena melihat betapa orang yang ingin kita miliki sepenuhnya, akan terlepas dari tangan dan menjadi milik orang lain.
Cemburu jelas tidak ada hubungannya dengan cinta kasih, sebaliknya cemburu malah erat hubungannya dengan nafsu pementingan diri sendiri.
Cemburu adalah kembangnya nafsu, sama sekali bukan kembangnya cinta kasih.
Cemburu bahkan dapat mengubah cinta menjadi benci, dan cinta yang dapat berubah menjadi benci bukanlah cinta namanya, melainkan nafsu memiliki dan menikmati sesuatu yang dianggap mendatangkan kesenangan.
Pengejaran kesenangan yang didorong oleh nafsu keinginan memang hanya mendatangkan kecewa dan duka, kalau terdapat mendatangkan kebosanan.
Kita adalah makhluk yang lemah, lahir batin kita mudah terikat dan terbelanggu oleh segala macam hati yang dibutuhkan oleh badan dan batin kita.
Cemburu dan segala macam nafsu lainnya tak terpisah dari diri kita sendiri, semua itu merupakan permainan dari pikiran atau batin sendiri.
Karena itu, tidak ada gunanya menentang cemburu, karena hal ini ia dapat diusir, esok lusa ia akan muncul kembali.
Cemburu merupakan satu di antara cara hidup kita, di dalam masyarakat dan dunia kita yang penuh iri hati ini.
Yang penting bukan melenyapkan cemburu, akan tetapi pengamatan terhadap diri sendiri setiap saat kerena pengamatan ini yang akan mengadakan perubahan.
Pengamatan menimbulkan kesadaran dan hal ini akan menghentikan cemburu itu sendiri, tanpa sengaja dipaksa untuk dihentikan.
Dan kalau tidak ada cemburu, kalau tidak ada pengejaran kesenangan oleh dorongan nafsu, maka sinar cinta kasihpun akan bercahaya terang.
Wulandari sudah tahu di mana letak gedung tempat tinggal perwira tinggi Ken Arok.
Maka iapun pergi menuju ke tempat itu.
Ia tahu bahwa Ken Arok sakti dan sebagai seorang panglima, tentu saja rumahnya dijaga banyak pengawal.
Ia tidak boleh sembrono, harus berhati-hati jangan sampai ia mengalami kegagalan.
Kalau sampai ia gagal membunuh Ken Arok, ia akan merasa malu sekali kepada Joko Handoko.
Ia akan membunuh diri saja dengan keris pusaka Nogopasung kalau sampai gagal.
Dugaannya memang tepat.
Nampak para prajurit pengawal berjaga di sekitar gedung itu.
Malam telah larut dan kalau ia sengaja minta bertemu dengan Ken Arok, tentu akan gagal pula.
Kalau memaksa masuk, sebelum berjumpa dengan Ken Arok ia tentu menghadapi para pengawal dan dikeroyok, melihat ini, ia menjadi semakin sedih dan menangislah Wulandari dan di bawah pohon asam di tepi jalan, tidak jauh dari gedung besar itu.
Tiba-tiba muncul bayangan seorang laki-laki yang datang menghampiri Wulandari.
"Siapakah engkau dan mengapa menangis di sini?"
Tanya suara laki-laki itu, suaranya halus dan bayangan laki-laki itu kelihatan gagah.
Melihat ada orang menegurnya, Wulandari cepat meloncat berdiri siap untuk mendamprat laki-laki yang berani menegurnya.
Akan tetapi begitu ia berdiri dan berhadapan dengan orang itu, cahaya bulan menerangi wajah mereka dan keduanya terkejut.
Keduanya saling mengenal karena laki-laki itu bukan lain adalah Pramudento, putera Ki Kebosoro, ketua Hastorudiro.
"Ah........... kiranya ..........andika.......... diajeng Wulandari!"
Kata Pramudento agak gagap karna heran dan juga girang, sejak pertama kali jumpa dengan Wulandari, dia memang tertarik sekali kepada dara hitam manis yang lincah jenaka dan gagah perkasa ini.
"Apakah yang telah terjadi,........... diajeng Wulandari? Kenapa andika menangis di tengah malam seperti ini dan di tempat ini?"
Duka timbul kerena iba diri.
Pikiran yang mengingat-ingat hal-hal yang tidak menyenangkan hati, seolah-olah berubah menjadi tangan yang meremas-remas hati sehingga timbullah perasan nelangsa dan duka, mendorong air mata yang keluar bercucuran.
Dalam keadaan duka, iba ciri membutuhkan hiburan akan tetapi kalau datang hiburan dari orang lain, dengan kata-kata yang mengandung iba, maka iba diri menjadi semakin membesar dan mendatangkan keharuan yang mendorong lebih banyak lagi keluarnya air mata.
Mendengar pemuda perkasa itu menyebutnya diajeng, dengan ucapan yang bernada halus dan penuh perhatian dan iba, Wulandari merasa semakin nelangsa saja, dan ia pun menagis lagi.
Padahal, ketika melihat ada orang muncul tadi, ia telah menghentikan tangisnya dan dalam kadaan siap siaga menghadapi lawan.
Kini ia menangis lagi, tersedu-sedan dan menutupi mukanya tanpa menjawab pertanyaan Pramudento.
Pemuda itu cukup bijaksana untuk membiarkan Wulandari menyalurkan perasaan dukanya lewat tangisnya.
Setelah tangis itu agak mereda, diapun mendekat dan diam-diam mengagumi keindahan rambut yang hitam lebat itu, leher yang berkulit kehitaman namun halus lembut dan indah bentuknya itu, lalu berkata halus.
"Diajeng Wulandari, di dunia ini tidak ada kesulitan yang tidak dapat diatasi, asalkan hati kita sabar. Kesabaran akan membuat kita tanang dan dapat mengambil tindakan yang bijaksana. Karena itu, bersabarlah dan tahan air matamu, diajeng."
Mendengar ucapan yang bijaksana itu Wulandari menghentikan tangisnya, mengusap air matanya dan ia pun mengangkat muka memandang.
Wajah Pramudento memang ganteng,tampan dan gagah maka di bawah sinar bulan purnama, wajah itu nampak anggun dan menarik sekali.
Ia pun mengangguk.
Bagaimana pun juga Pramudento ini adalah putera ketua Hastorudiro, jadi derajatnya tak jauh berbeda dengan ia sendiri yang menjadi puteri ketua Sabuk Tembogo.
Kedua perkumpulan itu memiliki sifat yang tak jauh berbeda, keduanya adalah perkumpulan orang-orang gagah yang mengandalkan kepandaian dan kekerasan, kadang-kadang untuk memaksakan kehendak seperti biasa watak jagoan-jagoan.
"Maafkan kelemahanku dan..... terima kasih."
Akhirnya Wulandari dapat juga berkata setelah hatinya tenang kembali.
Pramudento tersenyum, maklum bahwa senyumnya yang membuka, bibir memperhatikan deretan giginya yang putih rapi tentu akan mampu memikat hati setiap orang wanita, dan diapun duduk di tepi jalan, di atas sebongkahbatu.
"Nah, begitu lebih baik, diajeng. Kalau andika percaya kepadaku, ceritakanlah apa yang telah menjadi ganjalan hatimu, dan aku berjanji akan membantumu, diajeng, membantu untuk mendatangkan penerangan dalam kegelapan dan menyingkirkan ganjalan dalam hatimu."
Peamudento memang terkenal pandai merayu dan sudah berpengalaman menghadapi wanita, maka Wulandari yang masih belum berpengalaman itu segera tertarikdan diam-diam dia harus mengakui bahwa pemuda ini memang menyenangkan sekali, sikapnya manis budi dan tentu melindungi.
Dan iapun teringat bahwa Pramudento memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, jauh lebih tinggi darinya, maka kalau pemuda ini mau membantunya, tentu akan labih mudah baginya untuk membunuh musuh besarnya, yaitu Ken Arok.
"Tentu saja aku percaya kepadamu, kakang Pramudento."
Karena pemuda itu menyebutnya diajeng, ia pun merasa tidak enak kalau harus menyebut namanya begitu saja padahal jelas bahwa pemuda ini lebih tua darinya.
"Aku menangis karena putus harapan melihat betapa penjagan di rumah perwira Ken Arok demikian kuatnya sehingga sukar bagiku untuk menembusnya."
Pramudento memandang tajam, matanya agak terbelalak karena dia merasa, heran mendengar.
"Ehh? Apa maksudmu maka andika ingin menembus penjagaan para pengawal Ken Arok?"
Wulandari memandang dengan ragu, kemudian menarik napas panjang.
"Biarlah aku mengaku saja, karena bukankah kita berdua sama-sama anak seorang ketua perkumpulan yang beraliran sama? Teru terang saja, malam ini aku ingin membunuh Ken Arok."
"Ahhh....!"
Pramudento benar-benar tekejut, akan tetapi hatinya semakin tertarik.
"Kenapa kalau aku boleh tahu sebabnya?"
"Mendiang ayahku tewas karena ulah Ken Arok. Ayah sedang menderita sakit ketka Ken Arok datang dan menantangnya berkelahi. Ken Arok datang untuk membunuh ayah, untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, karena ayahnya memang dibunuh oleh ayahku, karena ayahya bejina dengan ibu tiriku. Memang dia tidak langsung membunuh ayah, akan tetapi karena perkelahian itu, maka penyakit ayah semakin parah dan ayah meninggal dunia. Kuanggap Ken Arok biang keladi kematian ayah, maka malam ini aku ingin membunuhnya. Melihat penjagaan demikian ketat, aku menjadi putus asa dan saking sedihku, aku menangis di sini."
Pramudento mengangguk-angguk dan dia menatap wajah yang amat manis itu.
Sepasang matanya mengeluarkan sinar aneh, mulutnya tersenyum dan wajahnya berseri.
Akan tetapi semua perubahan wajah ini tidak nampak nyata oleh Wulandari karena hanya di terang cahaya bulan yang redup dan pucat.
"Ahh, memang sudah sepatutnya kalau engkau membunuh musuhmu itu, diajeng Wulandari. Dan jangan khawatir, aku akan membantumu! Mengingat bahwa kita sealiran, engkau puteri tunggal ketua Sabuk Tembogo dan aku putera tunggal ketua Hastorudiro, sudah sepatutnya kalau kita saling bantu. Aku akan membantumu sampai berhasil, kalau perlu dengan taruhan nyawaku!"
"Ah, terima kasih, kakang Pramudento, terima kasih. Engkau sungguh baik sekali."
Wulandari berkata dengan hati yang merasa lega.
Ia jadi baru saja kehilangan Joko Handoko yang dicintainya, akan tetapi agaknya para dewata menaruh hati iba kepadanya karena segera bertemu dengan seorang pemuda yang demikian baiknya dan suka membantunya sehingga ia boleh mengharapkan keinginannya membunuh Ken Arok terkabul.
"Ah, tidak sama sekali, diajeng. Kita memang sudah selayaknya kalau bantu membantu. Akan tetapi, menghadapi Ken Arok kita tidak boleh sembrono. Dia adalah seorang perwira tinggi yang mempunyai pasukan yang kuat, maka kalau kita menyerang ke rumahnya, hal itu selain berbahaya, juga sukar sekali dapat berhasil, kita harus menggunakan akal, memancing dia keluar atau menunggu sampai dia keluar seorang diri berulah kita melakukan penyergapan. Dengan tenaga kita berdua, aku yakin engkau akan dapat dengan mudah membunuhnya untuk membalas dendam. Wulandari mengangguk-angguk, dapat menerima pendapat yang memang dianggapnya masuk akal ini.
"Baiklah, aku akan menuruti nasihatmu, kakang. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Ia memang sedang bingung, tak tahu harus berbuat apa setelah ia, melepaskan diri dari pimpinan Joko Handoko. Pemuda itulah yang biasa menjadi pembimbingnya, yang menentukan apa yang harus mereka lakukan. Akan tetapi sekarang ia seorang diri saja di dunia ini. Sebelum bertemu dengan Joko Handoko, ia pun sendirian dan sudah terbiasa hidup berkelana seorang diri. Akan tetapi setelah bertemu dengan pemuda itu, ia bersandar sehingga kini, setelah kehilangan sandaran dan berdiri sendiri lagi, ia merasa canggung.
"Marilah ikut bersamaku, diajeng. Membunuh Ken Arok merupakan urusan besar, dan agar hasilnya dapat pasti, kita harus minta bantuan guruku. Kebetulan sekali, guruku, yaitu Ki Ageng Marmoyo, baru saja datang dari Gunung Bromo dan dengan bantuan beliau, biar Ken Arok sakti dan dibantu orang banyak sekalipun, pasti dia akan terbunuh olehmu. Mari kita menemui guruku, tinggal di tempat rahasia kami sambil menanti saat yang baik, yaitu munculnya Ken Arok di tempat terbuka sendirian saja."
Karena tidak mengetahui jalan yang lebih beik, Wulandari mengangguk dan setuju saja lalu mengikuti Pramudento yang membawanya pergi ke luar kota Tumapel, ke sebuah pondok yang berdiri terpencil di lereng bukit yang penuh dengan hutan lebat.
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali baru mereka tiba di situ dan Wulandari diajek menghadap kakek yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih.
Kakek ini tinggi kurus, rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua.
Jenggotnya berjuntai sampai ke dada.
Inilah Ki Ageng Marmoyo, seorang pendeta bertapa di lereng Gunung Bromo.
Kakek ini beragama Hindu Trimurti, dan dialah guru Pramudento, seorang yang sakti dan menjadi hamba hamba setia, dari kerajaan Daha.
Kakek ini masih sealiran dengann Begawan Sarutomo dan Begawan Buyut Wewenang, bahkan masih sahabat karib.
Hanya bedanya, kalau dua orang begawan itu masih suka mencari kedudukan mulia untuk menyenangkan hatinya, Ki Ageng Marmoyo lebih suka mencari kedamaian hati di lereng gunung.
Akan tetapi sebagai sahabat karib orang-orang seperti Begawan Sarutomo dan Begawan Buyut Wewenang, tentu saja Ki Ageng Marmoyo inipun tergolong orang yang belum bebas daripada nafsu untuk mencari kesenangan bagi diri sendiri, walaupun jalan yang ditempuhnya untuk mencari kesenangan itu berbeda dari dua orang rekannya.
Ki Ageng Marmoyo mengangguk-angguk ketika menerima sembah penghormatan Wulandari, sepasang matanya yang masih terang itu bersinar-sinar dan diam-diam dia melempar senyum kepada muridnya yang memiliki seorang kawan yang demikian manis dan gagahnya.
"O-ho-ho.......... jadi engkau puteri ketua Sabuk Tembogo? Bagus........... agus, jadilah sahabat baik Pramudento, kalian cocok sekali untuk bekerja sama, heh-heh.......!"
Kakek itu berkata sambil terkekeh.
Diam-diam Wulandari merasa heran dan tidak senang kepada kakek ini.
Sikapnya sama sekali tidak halus seperti para pertapa yang saleh dan sinar matanya itu masih demikian panas ketika menjelajahi wajah dan tubuhnya, seperti mata orang muda yang penuh nafsu saja.
Akan tetapi karena kakek ini gurunya Pramudento dan ia tahu bahwa Ki Ageng Marmoyo ini sakti sekali iapun mengambil sikap hormat.
Siang hari itu, melihat betapa Wulandari nampak pucat dan lelah Pramudento mempersilahkan gadis itu untuk beristirahat di dalam sebuah kamar di pondok itu.
Kamar sederhana akan tetapi dengan sebuah pembaringan kayu yang sederhana karena ia benar-benar merasa lelah sekali.
Kedukaan yang dideritanya semalam amat melelahkan dan ia pun cepat tidur pulas.
Hal ini amat perlu baginya karena ia harus dapat memulihkan tenaganya.
Setelah kini ia bertemua dengan Pramudento, rasa nyeri di hatinya agak terobati, maka Ia pun dapat tidur dengan nyenyak sekali.
Setelah hari sore, barulah gadis ini terbangun dari tidurnya.
Setelah mandi di sebuah anak sungai dalam hutan yang airnya jernih, Wulandari menemukan dirinya kembali dan ia pun sudah tenang dan tenaganya sudah pulih.
Iapun tidak berduka lagi kecuali kalau teringat kepada Joko Handoko dan Pusporini, ia merasa jantungnya seperti tertusuk.
Akan tetapi agaknya Pramudento tidak ingin melihat ia berduka terus.
Setelah selesai mandi dan kembali ke pondok, pemuda itu menyambutnya dengan wajah riang.
"Bopo Guru dan aku ingin sekali menjamu kehadiranmu dengan sedikit hidangan yang terkesan dari dusun yang berdekatan, diajeng Wulandari."
"Ah, tidak perlu repot-repot, kakang Pramudento."
"Tidak repot. Apakah engkau belum merasa lapar?"
"Lapar?"
Diingatnya akan hal ini, tiba-tiba saja betapa Wulandari merasa betapa perutnya memang lapar sekali.
Semalam ia membuang banyak tenaga lahir batin, dan sehari ini pun tidur dan belum lapar, dan biarlah nanti kumasakkan untuk kalian."
Pramudento tersenyum dan kembali Wulandari harus mengagumi pemuda itu. Demikian gantengnya kalau tersenyum, lenyap bayangan yang agak angkuh itu dan nampak ramah bukan main.
"Tidak usah sungkan, Diajeng. Sudah kubeli dari dusun dan kini Bopo Guru sudah menanti. Mari kita makan bersama."
Biarpun merasa sungkan sebagai seorang tamu wanita, masih muda pula, harus menjadi beban tuan rumah, terpaksa Wulandari mengikuti Pramudento masuk ke dalam pondok.
Benar saja, di ruangan pondok itu.
Ki Ageng Marmoyo sudah duduk dan di depannya, diatas tikar, nampak hidangan nasi tumpeng berikut segala lauk pauknya!
Dan nasi itupun masih mengepul!
Melihat ini, Wulandari diam-diam menelan ludahnya.
"Heh-heh-heh, engkau nampak cantik sekali dengan rambutmu yang basah kuyup itu, anak baik,"
Kata Ki Ageng Marmoyo.
"Mari............... mari makan bersama........"
Wulandari mengerutkan alisnya.
"Tidak sopan kalau saya ikut makan bersama, Eyang,"
Katanya lembut.
"Biarlah silahkan Eyang makan berdua bersama Pramudento, nanti saja akan makan sendiri setelah Andika berdua selesai."
Pada jaman dahulu itu, memang wanita selalu harus jatuh di belakang! "Ah, Diajeng, jangan sungkan-sungkan. Marilah kita mekan bersama agar lebih sedap,"
Kata Pramudento membujuk.
"Benar, di dalam pondok ini hanya kita bertiga, kenapa makan saja tidak bersama-sama? Pula, Pramudento membeli nasi tumpeng ini memang untuk menyambut kehadiranmu, Wulandari, karena itu seyogiyanyalah engkau tidak menolak ajakannya untuk makan bersama."
Wulandari adalah seorang gadis yang sejak kecil digembleng dengan kegagahan, tidak malu-malu seperti gadis kebanyakan di jaman itu, maka ia pun tidak sungkan-sungkan lagi dan segera menghadapi hidangan itu bersama Ki Ageng Marmoyo yang duduk di samping kanannya dan Pramudento yang duduk di sebelah kiri.
Wulandari makan tanpa ragu-ragu lagi karena memang perutnya lapar, dan hidangan itu pun lezat dengan nasi putih masih hangat, beberapa macam sayur dan gudangan, ikan panggang dan gading ayam goreng, ia makan dengan bernafsu dan lahap.
"Malam nanti aku akan pergi melakukan penyelidikan kapan kiranya Ken Arok keluar sendirian, Diajeng. Kalau sudah ada ketentuan, kita akan menghadapinya, dan Bopo Guru akan membantu kita."
"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Dengan adanya aku di sini, Ken Arok tidak akan terlepas dari tanganmu, Wulandari,"
Kata kakek itu sambil terbahak senang.
Mereka makan dan minum air manis dari pohon aren.
Wulandari tidak begitu suka dengan minuman yang agak masam ini, akan tetapi karena dara ini merasa sungkan terhadap tuan rumah, diminumnya juga minuman itu dalam takaran yang agak banyak.
Dan setelah mereka selesai makan, Wulandari merasa kepalanya agak pening.
"Uhh, kepalaku menjad pening. Kakang Pramudento"
Ia mengaduh sambil memijit-mijit pelipis kepalnya.
"Ah, itu akibat minuman aren, Diajeng. Memang agak tua minuman itu, akan tetapi tidak mengapa, kalau dipakai tidur-tiduran, tentu kepeningan itu akan segera hilang,"
Kata Pramudento, sementara itu Ki Ageng Marmoyo terdengar tertawa terkekeh-kekeh, Wulandari bangkit berdiri, akan tetapi menjadi terhuyung dan agaknya ia akan terjatuh lagi kalau saja tidak ada Pramudento yang cepat merangkul pundaknya.
"Hati-hati, Diajeng, mari kuantar engkau ke kemarmu. Engkau harus beristirahat, dan tentu akan enak kalau dipakai rebahan,"
Berkata demikian, Pramudento mempererat rangkulannya.
Terjadi keanehan pada diri Wulandari.
Dalam keadaan biasa, tentu ia akan marah sekali melihat kenyataan betapa Pramudento merangkul pundak dan lehernya, bahkan merangkul terlalu ketat dan mesra.
Akan tetapi aneh, ia sama sekali tidak marah, bahkan jantungnya berdebar dan ia merasa senang sekali, aman dan mesra sehingga ia bahkan menyandarkan kepalanya di dada pemuda yang menuntunnya ke dalam kamarnya!
Setelah mereka memasuki kamar, diiringi suara ketawa terkekeh dari Ki Ageng Marmoyo, Wulandari merasa seperti tenggelam ke dalam laut kemesraan yang amat nikmat dan membuatnya tidak ingat akan apa-apa lagi.
Ia bahkan tertawa lirih ketika Pramudento memeluk dan menciumnya, ia seperti hanyut dalam gelombang kemesraan yang membuatnya mabok.
Ia merasa seperti melayang-layang di angkasa, takut kalau terbanting dan jatuh maka ia pun hanya menurut saja dibawa melayang-layang oleh Pramudento yang ada saat itu merupakan satu-satunya orang yang menolongnya, menyelamatkannya, dan menyenangkan hatinya.
Kepeningan kepalanya terasa nyeri dan menyiksa kalau dilawannya, akan tetapi kalau ia membiarkan tanpa perlawanan, menyerahkan diri sepenuhnya, kepeningan itu menghanyutkan dan menimbulkan kenikmatan yang merenggut kesadarannya.
Wulandari merintih lirih dan membuka kedua matanya.
Kepalanya terasa sedikit pening, akan tetapi kesadarannya sudah pulih.
Ia terkejut mendengar suara orang mendengkur di sisinya dan dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat Pramudento rebah di sisinya, terlantang dan mendengkur, hampir telanjang bulat!
Dan ia menahan jeritnya dengan tangan kiri menutup mulutnya keras-keras ketika ia melihat betapa keadaan dirinya sendiri tidak jauh bedanya dengan keadaan Pramudento.
Bagaikan disengat kalajengking, ia pun melompat turun dari pembaringan, memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai.
Ketika ia membungkuk untuk mengambil kembennya, ia melihat bahwa di bawah pembaringan itu terdapat sebuah dian minyak kelapa dengan apinya yang kecil dan tenang, sebuah cermin, telur ayam dan kembang setaman!
Ia terbelalak memandang kesemuanya itu dan teringatlah ia akan semua peristiwa yang terjadi semalam.
Kembali ia menahan jeritnya.
Ia telah ternoda!
Ia telah menyerahkan dirinya kepada Pramudento, bukan diperkosa, melainkan secara suka rela karena ia seperti mabok dan tidak ingat apa-apa lagi di saat itu, dan kini ia tahu bahwa ia menyerahkan diri karena ia berada di awah pengaruh ilmu hitam yang dipasang oleh Pramudento atau mungkin sekali oleh Ki Ageng Marmoyo, guru pemuda itu.
Dengan kedua tangan menggigil Wulandari mengenakan pakaiannya, sejadi-jadinya air matanya bercucuran akan tetapi ditahannya agar tidak ada suara keluar dari mulutnya yang dapat membangunkan Pramudento yang masih mendengkur.
Kemudian, melihat keris pusaka Nogopasung mengeletak di dekat bantal, ia cepat menyambarnya, menghunus keris pusaka dan dengan kebencian dan kemarahan memuncak, ia pun lalu menusukkan keris pusaka itu dengan kekuatan sepenuhnya ke arah dada Pramudento yang masih tidur nyenyak.
"Ceppp.............. aughhhh........"
Hanya satu kali Pramudento mengeluarkan suara lemah ini, matanya terbelalak bingung, kemudian dia pun terkulai lemas dan tewas tak lama kemudian.
Wulandari mencabut keris ini dan melompat ke belakang melihat darah muncrat dari dada Pramudento.
Barulah dia sadar akan perbuatannya dan merasa ngeri.
Kemudian, dengan keris pusaka masih di tangan ia lalu membuka pintu dan meloncat ke luar dari dalam kamar, terus lari ke luar dari dalam kamar, terus lari keluar dari pondok itu ke dalam kegelapan sisa malam dan larilah ia tanpa tujuan, asal menjauhi pondok itu.
Ia berlari sambil terisak dan keris pusaka Nogopasung masih di tangan kanannya.
Hari masih pagi sekali, walaupun sinar matahari yang masih berada di bawah ufuk timur sudah mulai mengusir kegelapan malam dan mendatangkan pertanda bahwa kegelapan akan menghilang, namun cuaca masih remang-remang ketika Wulandari berlari sambil menangis itu.
Karena berlari dengan pikiran tidak karuan, kacau dan hampir buta oleh tangis, dalam cuaca yang masih gelap pula, di atas tanah yang asing bagi kakinya, ketika ia meloncati sebuah jurang kecil ia pun terserimpet dan jatuh tersungkur.
Untung tubuhnya terlatih sehingga dalam keadaan terjatuh, ia masih sempat memegang keris Nogopasung dan ia cepat bergulingan sehingga tubuhnya tidak terbanting keras.
Ketika ia bangkit berdiri, di depannya telah berdiri seorang laki-laki yang kelihatanya teheran-heran melihat tingkahnya.
Namun, dengan mata terhalang air mata melihat laki-laki berdiri di depannya, Wulandari sudah meloncat ke depan dan keris Nogopasung yang haus darah itu meluncur ke arah dada orang itu, siap untuk minum darah segar!
"Diajeng Wulan..........!"
Laki-laki itu dengan gerakan kaki yang ringan sekali mengelak, lalu menangkap lengan kanan Wulandari yang memegang keris.
Mendengar suara ini, Wulandari membelalakkan mata dan ternyata yang diserangnya adalah Joko Handoko.
"Kakang......!"
Ia mengeluh dan air matanya makin membanjir.
".......Kakang........, uhu-hu-huuuuuhh..............! "Diajeng Wulan........!"
Joko Handoko berseru dan keduanya saling dekap.
Wulandari menangis sampai mengguguk sambil menyandarkan kepala dan menyembunyikan mukanya di dada Joko Handoko yang mengelus rambutnya dan menepuk-nepuk pundaknya.
Dia membiarkan gadis itu menangis sampai puas, barulah dia bertanya.
"Apakah yang telah terjadi, Wulan? Mari kita duduk dan kau ceritakan semuanya kepadaku."
Wulandari masih terisak-isak ketika dengan lambut Joko Handoko mendorongnya sehingga mereka berdiri berhadapan.
Akan tetapi Wulandari tidak mau duduk, melainkan berdiri dengan muka ditundukkan dan pundaknya masih terguncang oleh tangis.
Joko Handoko diam-diam merasa khawatir dan terkejut ketika melihat Nogopasung di tangan Wulandari, keris pusaka itu telanjang dan mengeluarkan hawa yang meggiriskan.
"Aku.......... aku baru saja membunuh......... Pramudento........."
Katanya dengan suara terputus-putus. Joko Handoko terbelalak kaget.
"Tapi kenapa.....?"
"Dia telah menodaiku!"
Kata Wulandari dan tiba-tiba saja sikapnya berubah keras dan beringas, seolah-olah bayangan bahwa dirinya ternoda itu membuat kemarahannya bangkit kembali. Joko Handoko semakin kaget mendengar ini.
"Tapi........ bagaimana hal itu bisa terjadi? Bukankah engkau pergi untuk membunuh Ken Arok?"
"Kakang Joko, kau........ kau maafkan aku. Aku........ aku tidak tahan Kakang dan Mbakayu Dewi di taman itu....... maka aku lalu teringat akan kematian ayah dan aku ingin membalas dendam. Keris Pusaka Nogopasung kubawa. Di jalan aku bertemu dengan Pramudento yang membujukku katanya hendak membantuku. Aku diajak pergi ke pondoknya dan diperkenalkan dengan gurunya, Ki Ageng Marmoyo, kami lalu makan dan minum dan aku......... aku menjadi pening........ lalu.... lalu Prmudento membawaku ke kamar, aku seperti tidak ingat apa-apa lagi.......... dan...... dan dia menodaiku. Paginya, aku melihat bunga setaman di kolong pembaringan, tentu aku diguna-gunai. Aku marah dan membunuh Pramudento yang masih tidur, dan aku lari, Kakang...........! Hu-hu-huuuuk, aku.......... aku telah ternoda dan tidak ada artinya lagi hidup ini bagiku, Kakang!"
Joko Handoko bergerak cepat sekali, menangkap lengan kanan Wulandari dan dengan menggunakan tenaganya dia berhasil merampas keris pusaka Nogopasung yang tadi hendak dipergunakan gadis itu untuk membunuh diri.
"Wulan! Jangan berlaku bodoh! Membunuh diri bukan jalan yang terbaik!"
Bentak Joko Handoko dengan muka pucat.
"Kakang Joko........!"
Wulandari menjerit dan menubruk pemuda itu, kembali ia menangis sesenggukan di dada Joko Handoko. Pemuda itu cepat menyelipkan keris telanjang itu di pinggangnya, lalu menghibur Wulandari.
"Diajeng Wulan, segala yang terjadi dan menimpa diri kita di dunia ini sudah ada garisnya. Kita harus berani menghadapinya betapa pahitnya pun. Yang tidak berani menghadapi kepahitan hidup adalah seorang pengecut, dan aku yakin engkau bukanlah seorang pengecut. Hidup merupakan serangkaian peristiwa yang sambung sinambung, membiarkan diri hanyut dan jatuh hanya oleh satu di antara serangkaian peristiwa itu sungguh merupakan kebodohan. Sadar dan tenanglah, Wulan, kehidupan ini masih panjang dan ceritanya belum habis untuk dirimu. Terang dan gelap silih berganti. Jangan takabur kalau sedang terang dan jangan putus asa kalau sedang gelap."
"Akan tetapi, Kakang, apa artinya hidupku ini setelah kehilangan engkau lalu kehilangan harga diriku?"
Wulandari mengeluh dan Joko Handoko merasa terharu sekali. Ucapan ini merupakan pengakuan bahwa gadis itu kehilangan dia, berarti gadis ini mencintainya, seperti yang telah diduganya.
"Diajeng Wulan, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa engkau kehilangan diriku?"
Dia berhenti sejenak dan menimbang-nimbang dalam hatinya.
Harus diakuinya bahwa dia sangat suka kepada gadis ini, bahkan mencintainya, akan tetapi sebagai seorang pria, dia lebih tertarik dan lebih mencintai Dewi Pusporini.
Terhadap Wulandari, cintanya lebih condong kepada cinta seorang kakak atau seorang sahabat baik, walaupun harus diakuinya bahwa jarang ada gadis seperti Wulandari yang manis sekali, lincah, jenaka dan juga memiliki kepandaian tinggi.
"Kakang, egkau.........engkau telah menjadi milik Mbakayu Dewi........"
"Hemmm, apakah andaikata benar demikian, berarti engkau kehilangan aku, Diajeng? Kita masih dapat berhubungan dengan baik, menjadi saudara, atau sahabat yang paling baik. Dan jangan katakan bahwa perbuatan terkutuk yang dilakukan Pramudento terhadap dirimu berarti melenyapkan harga dirimu dan kehormatanmu. Dalam pandanganku, engkau masih tetap Wulandari yang gagah perkasa dan patut dikagumi dan dihormati."
Tiba-tiba Joko Handoko menarik Wulandari ke samping dan cepat memandang penuh selidik ke depan.
Wulandari ikut memandang dan ternyata yang muncul dengan berlari cepat adalah Ki Ageng Marmoyo!
Kakek itu nampak marah sekali, matanya mencorong dan begitu melihat Wulandari, dia lalu menggosok kedua tangannya dan nampaklah asap tebal mengepul di antara kedua tangannya.
Itulah Tapak Bromo, aji pukulan yang amat hebat, yang berhawa panas dan ampuhnya menggiriskan!
"Babo-babo, perempuan iblis!
Biar engkau akan lari ke neraka sekalipun akan tetap kukejar sampai dapat!
Engkau telah berani membunuh muridku si Pramudento!
Engkau harus menebus dosamu itu dengan badan dan nyawa.
Badan dan nyawanya harus kau serahkan ke dalam tanganku!
Menyerahlah, atau kalau tidak, kepalamu akan hancur oleh tanganku!"
Joko Handoko maklum bahwa kakek ini amat sakti, jauh terlalu tangguh bagi Wulandari, maka dia pun lalu melangkah maju melindungi Wulandari dan membungkuk dengan sembah hormat.
"Sadhu-sadhu-sadhu, semoga para dewata memberkahi orang yang penyabar. Paman panembahan, harap suka bersabar dan dapat melihat kenyataan yang sebenanya terjadi. Memang harus diakui oleh diajeng Wulandari bahwa ia telah membunuh Pramudento, akan tetapi hal itu dilakukannya karena ia gelap mata saking marah dan sakit hatinya karena Pramudento telah menodainya!"
Ki Ageng Marmoyo agaknya baru sekarang melihat Joko Handoko.
Ia mengerutkan alisnya dan memandang dengan mata mencorong.
Dia seorang sakti dan dapat melihat bahwa pemuda ini seorang yang "berisi", maka ia pun cepat membentak.
"Orang muda, siapakah Andika yang berani mencampuri urusan antara aku dan perempuan ini?"
"Nama saya Joko Handoko, paman panembahan. Saya tidak mencampuri urusan, melainkan harus membela Diajeng Wulandari yang menjadi sahabat baik saya. Ia telah bercerita tentang peristiwa dengan Pramudento dan a tidak bersalah, harap andika dapat mempertimbangkannya dengan bijaksana."
"Pramudento tidak menodainya, tidak memperkosanya. Adalah perempuan ini sendiri yang tergila-gila kepada Pramudento dan menyerahkan dengan suka rela......."
"Bohong! Kau pendeta palsu tak perlu menyebar fitnah dan kebohongan! Setelah makan dan minum aku menjadi pening dan tidak ingat apa-apa lagi, dan apa artinya kembang setaman, dian, telur dan cermin di bawah pembaringanku itu? Engkau atau muridmu telah mempergunakan pembius dalam makanan atau minuman, dan menggunakan guna-guna untuk melumpuhkan aku!"
Ki Ageng Marmoyo menjadi semakin marah. Tentu saja dia tahu bahwa muridnya menguasai gadis dengan bantuan guna-guna darinya, akan tetapi untuk mengakui hal itu dia merasa malu.
"Tak perlu banyak cerewet, cepat emnyerah atau kepalamu akan kuhancurkan sekarang juga!"
Bentaknya sambil melangkah maju.
"Pendeta jahanam! Biar kau bunuh seribu kali pun aku tidak sudi menyerah kepadamu!"
Wulandari lalu membentak marah.
"Keparat!"
Ki Ageng Marmoyo melangkah maju, tangan kanannya menyambar dan hawa amat panasnya menyambar ke arah Wulandari, disertai bunyi yang berdesing seperti sambaran pedang tajam.
Joko Handoko terkejut.
Serangan itu merupakan serangan maut yang amat keji dan dia tahu betapa kuatnya tangan maut itu.
Maka dia pun berseru nyaring dan meloncat ke depan langsung menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga sakti Nogopasung.
"Wuuuuuuttt........ desss.......!!"
Akibat benturan kedua lengan itu, tubuh Joko Handoko terpental sampai dua meter ke belakang, akan tetapi tubuh kakek itu pun terhuyung.
Hal ini amat mengejutkan Ki Ageng Marmoyo dan dia memandang kepada pemuda itu dengan lebih teliti.
Tak disangkanya pemuda itu memiliki tenaga yang demikian kuatnya.
Di lain pihak, Joko Handoko kini yakin bahwa lawannya benar-benar tangguh dan memiliki ilmu pukulan ampuh, maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun mencabut keris pusaka Nogopasung dari pinggangnya.
"Babo-babo........! agaknya keri ini yang telah dipergunakan untuk membunuh muridku. Sekarang aku akan membunuh kalian dengan keris ini pula!"
Bentaknya dan dia pun menerjang dengan ganasnya.
Terjangan itu disambut oleh Joko Handoko dengan sama kerasnya pula, mempergunakan keris dan aji Nogopasung yang ampuh.
Berkali-kali terjadi benturan dua tenaga sakti yang dahsyat yang mambuat keduanya terlempar ke belakang.
Kan tetapi, karena Ki Ageng Marmoyo dapat merasakan betapa hawa keris pusaka itu amat ampuh maka dia pun tidak berani mengadu kedua tangannya dengan keris secara langsung.
Hal ini membuat gerakannya menjadi kaku dan tidak leluasa karena dia harus selalu mengelak dari sambaran ujung keris yang mengandung tenaga dahsyat itu.
Setelah lewat tigapuluh jurus lebih, usia tua menentukan perkelahian yang seimbang itu.
Ki Ageng Marmoyo mulai terengah-engah kehabisan napas dan dengan sendirinya, tenaga dan kecepannya pun banyak berkurang.
Untung baginya bahwa Joko Handoko memiliki batin yang bersih dan tenang, sehingga dalam keadaan seperti itu pemuda ini masih selalu teringat bahwa dia tidak akan sembarangan membunuh orang.
Ki Ageng Marmoyo tidak bermusuhan dengannya, dan kalau kakek ini marah adalah karena kematian muridnya, sehingga kemarahannya itu merupakan hal yang wajar dan dapat di maafkan.
Kakek itu pun tahu diri.
Setelah napasnya hampir putus dan dia belum juga mampu mengalahkan Joko Handoko walaupun dia telah mengerahkan kekuatan ilmu hitamnya untuk mempengaruhi pemuda itu tanpa hasil, dia pun lalu mengeluarkan teriakan panjang karena kecewa dan dia pun meloncat jauh ke belakang dan melaikan diri tanpa pamit lagi.
"Hemmm, berbahaya sekali. Kakek itu sungguh memiliki kesaktian yang hebat,"
Kata Joko Handoko sambil menyimpan kerisnya, lalu dia menoleh kepada Wulandari yang sejak tadi hanya nonton saja karena maklum bahwa tingkat kepandaiannya masih terlampau rendah untuk mencampuri perklahian itu.
"Diajeng Wulan, marilah engkau ikut bersamaku kembali ke rumah Kanjeng Senopati Pamungkas. Mereka sekeluarga menanti-nanti kembalimu ke sana."
Wajah Wulandari berubah merah.
"Ke sana? Ahh...... aku..... aku tidak berani, aku malu Kakang........"
Keluhnya. Joko Handoko memegang kedua pundak gadis itu, ditegakkannya tubuh itu dan diangkatnya muka itu dengan menyentuh dagunya.
"Diajeng Wulan, pandanglah aku! Tidak percayakah engkau kepadaku bahwa hal ini yang terbaik yang dapat kau lakukan? Engkau seperti adikku sendiri, engkaulah orang yang akan kubela kalau sampai engkau diganggu orang lain. Kemana larinya kegagahanmu? Marilah, tenangkan hatimu dan ikutlah bersamaku, kembalilah ke rumah paman Senopati Pamungkas. Mereka semua sayang kepadamu, Diajeng, dan mereka semua cemas melihat kepergianmu."
Akhirnya Wulandari dapat dibujuk oleh Joko Handoko dan mereka pun kembali ke Tumapel, ke rumah Senopati Pamungkas.
Tentu saja kembalinya Wulandari ini disambut dengan gembira oleh keluarga itu apa lagi ketika mereka mendengar bahwa Wulandari tidak atau belum sampai membunuh Ken Arok.
Pertemuan mengharukan terjadi antara Wulandari dan Dewi Pusporini.
Dua orang gadis ini berdiri berhadapan, saling berpandangan tanpa kata karena pandang mata mereka saja sudah mengeluarkan seribu satu macam kata.
Dua pasang mata yang sama indah dan beningnya itu kemudian perlahan-lahan menjadi basah dan Wulandari menjerit lirih sambil lari merangkul Dewi Pusporini.
"Mbakayu Dewi........"
"Wulan........!"
Wulandari menangis sesenggukan dan Pusporini juga bercucuran air mata, lalu ia merangkul leher Wulandari dan ditariknya dengan lambut memasuki kamar mereka.
Senopati Pamungkas dan isterinya hanya dapat memadang dengan penuh keharuan, dan Joko Handoko merasa lega bahwa di antara dua orang gadis itu tidak timbul kebencian seperti yang dikhawatirkannya.
"Anakmas Joko Handoko, menurut pendapat kami, sebaiknya kalau engkau cepat pulang dan memberitahukan ibu dan ayah tirimu untuk segera datang bersamamu ke sini melakukan pinangan itu. Baru lega hati kami kalau hal itu terlaksana, Anakmas."
"Baiklah, akan saya lakukan perintah itu, Kanjeng Paman,"
Jawab Joko Handoko. Dia tidak mau bercerita tentang peristiwa memalukan yang menimpa diri Wulandari.
"Akan tetapi saya ingin pergi mencari Kanjeng Eyang Empu Gandring lebih dahulu untuk mengunjungi beliau."
Selagi Joko Handoko bercakap-cakap dengan Senopati itu dan isrinya, di dalam kamar terjadi percakapan yang menarik antara Wulandari dan Pusporini.
Sambil merangkul mereka memasuki kamar dan setelah menutupkan daun pintu, Pusporini mengajak Wulandari duduk berdampingan di atas pembaringan.
"Wulan, apa yang kaulakukan itu sungguh terlalu terburu nafsu, adikku. Kalau aku yang menjadi penghalang kebahagianmu, mbakayumu ini bersedia untuk mengalah, Wulan. Bialah aku mundur agar engkau dapat hidup berbahagia dengan dia."
Ucapan itu keluar dengan suara yang jujur dan setulusnya.
Wulandari merangkul dan menciumi pipi Pusporini yang masih basah.
Ia merasa malu sekali.
Kiranya puteri Senopati ini memiliki hati yang amat mulia.
"Tidak, mbakayu Dewi. Tidak ada urusan kalah mengalah dalam hal ini. Dia mencintaimu seorang, dan mbakayu juga cinta padanya. Adapun aku.....ah, aku tak tahu diri. Aku akan pulang saja untuk mengurus Sabuk Tambogo, karena setelah banyak mengalami hal-hal yang hebat, aku ingin menjaga, agar Sabuk Tembogo jangan sampai terbawa dalam kesesatan. Tugasku masih banyak, mbakayu Dewi, dan aku tidak ingin menjadi lemah dan cengeng."
Kini Pusporini yang menciumi pipi yang agak pucat dari Wulandari.
"Diajeng Wulan, hatiku takkan pernah tenteram kalau aku membiarkan engkau merana karena kegagalanmu ini. Engkau tidak akan patah hati?"
Wulandari tersenyum pahit dan menggeleng kepala.
"Kenapa harus patah hati? Kakang Joko Handoko amat bik kepadaku, walaupun cintanya jatuh kepadamu. Kalau aku tidak dapat mencintainya sebagai....... calon istri, biarlah aku mencintainya sebagai seorang adik, atau sahabat baik...... seperti........... seperti yang telah dikatakannya kepadaku......."
Wulandari memejaman matanya agar air matanya tidak runtuh kembali. Dewi Pusporini merasa terharu sekali.
"Engkau berhati mulia, adikku. Orang seperti engkau ini tentu akan mendapatkan seorang suami yang tidak kalah mulianya dari pada Kakangmas Joko Handoko."
Akan tetapi tiba-tiba terdengar jawaban yang tegas dari gadis itu.
"Tidak, selamanya aku tidak akan bersuami!"
Tentu saja Pusporini terkejut sekali dan dia memandang Wulandari dengan mata penuh selidik.
"Tapi........ tapi kenapakah, adikku?"
Ditanya demikian, tiba-tiba Wulandari menangis lagi karena pertanyaan itu seperti pedang beracun yang menusuk ulu hatinya.
Perih dan mengingatkannya kembali akan malapetaka yang menimpa dirinya.
Berkali-kali ia menggeleng kepala dan akhirnya dapat juga ia berkata.
"Tidak......... tidak.......! Aku sudah tidak berharga lagi, Mbakayu, aku.... aku telah ternoda dan tak seorang pun laki-laki di dunia ini mau menjadi suamiku......"
"Apa.......?"
Pusporini merangkul Wulandari, dan mengguncang-guncang pundaknya, mukanya pucat.
Pikiran buruk menyelinap dalam kepalanya.
Jangan-jangan hubungan yang amat erat antara Wulandari dan Joko Handoko telah sampai ke tingkat yang demikian jauhnya sehingga gadis ini telah menyerahkan diri kepada Joko Handoko.
"Apa maksud ucapanmu tadi Wulan? Apa maksudmu?"
Ia setengah menjerit. Tanpa mengangkat mukanya yang menunduk, dan dengan suara bercampur isak, Wulandari berkata lirih.
"Baru malam tadi terjadinya....."
Dan dia menceritakan pengalamannya ketika ia melarikan diri tanpa pamit dari kamar itu, betapa ia ternoda oleh Pramudento yang kemudian dibunuhnya.
Mendengar penuturan itu, Dewi Pusporini menjadi lemas seluruh tubuhnya.
Bermacam-macam perasaan mengaduk hatinya.
Perasaan lega karena ternyata bukan Joko Handoko yang menodai Wulandari, perasaan iba mendengar nasib buruk yang menimpa diri gadis ini dan juga terkejut mendengar betapa Wulandari membunuh putera ketua Hastorudiro.
"Ah, kasihan sekali engkau, Diajeng! Aku harus berbuat sesuatu! Aku harus berbuat sesuatu untukmu........!"
Berkali-kali puteri senopati itu berkata demikian sambil mengepal tangan kanannya. Wulandari memaksa tersenyum.
"Sudahlah, Mbakayu. Tadinya aku pun ingin membunuh diri saja, akan tetapi kakang Joko Handoko menyadarkanku dan mencegahku. Aku sekarang mau pergi, harus cepat pulang, dan memimpin Sabuk Tembogo. Itulah tugas hidupku satu-satunya sekarang. Selamat tinggal, mbakayu Dewi, semoga engkau akan hidup berbahagia bersama kakang Joko......"
Gadis itu lalu melangkah keluar sambil mengusap semua air matanya sehingga ketika ia tiba di ruangan dalam, tidak ada lagi air mata mengalir keluar walaupun matanya masih merah dan wajahnya masih jelas menunjukkan bekas tangis.
Dewi Pusporini juga menahan diri, mengikuti keluar dan bersikap tenang ketika Wulandari berpamit dari ayah ibunya, juga gadis itu berpamit dari Joko Handoko.
"Selamat tinggal, Kakang Joko Handoko dan terima kasih atas segala budi kebaikan yang telah kau limpahkan kepadaku selama ini."
Dengan gagah dan tenang, Wulandari lalu pergi meninggalkan mereka, diikuti pandang penuh iba oleh Joko Handoko dan Dewi Pusporini karena hanya dua orang itulah yang tahu akan nasib buruk yang menimpa diri Wulandari.
Joko Handoko juga mohon diri untuk pergi mencari Empu Gandring setelah dia menyatakan kesanggupannya untuk dalam waktu secepat mungkin mengajak ibu dan ayah tirinya untuk berkunjung kepada keluarga senopati itu dan mengajukan pinangan secara resmi.
Dengan hati bulat Joko Handoko mencari pondok Empu Gandring di Dusun Lulumbung.
Sudah bulat tekadnya untuk mengembalikan keris pusaka Nogopasung kepada Empu Gandring yang menciptakannya.
Keris itu menjadi terlalu haus darah, pikirnya.
Semenjak minum darah ayahnya kandungnya, Ginantoko dan kekasihnya Galuhsari, agaknya keris pusaka Nogopasung menjadi seperti seekor ular naga yang hidup dan haus darah.
Kini telah minum darah baru, darahnya Pramudento yang tewas dalam keadaan tidur, berarti dalam keadaan penasaran.
Nyawa tiga orang itu tentu akan mempengaruhi keris itu dan menciptakan hawa yang kejam dan haus darah.
Berat rasa tangannya memegang keris pusaka itu sekarang.
Dia tidak menghendaki keris itu minum darah manusia semakin banyak lagi, maka jalan satu-satunya hanyalah mengembalikan kepada penciptanya.
Dia percaya bahwa guru dari mendiang ayahnya itu seorang sakti yang bijaksana, tentu dapat pula membersihkan keris Nogopasung.
Setelah keris pusaka itu bersih, barulah ia aka menerimanya sebagai sebatang keris pusaka yang patut dijadikan senjata pembela diri, bukan menjadi senjata pembunuh seperti keadaan keris itu sekarang ini.
Joko Handoko agaknya belum cukup waspada untuk dapat melihat bahwa sebab akibat seluruhnya berada di tangan manusia sendiri.
Keris pusaka Nogopasung, seperti segala macam senjata lain di dunia ini, bahkan seperti segala macam benda di dunia ini, tidak dapat dinamakan baik atau buruk.
Baik ataupun buruk baru timbul setelah dinilai oleh manusia, dan baik atau buruk itu baru nampak setelah benda dipergunakan oleh manusia.
Asal keris datang dari besi mulia yang berada di dalam tanah.
Besi yang berada di dalam tanah, apakah itu baik atau buruk?
Tidak baik tidak buruk, wajar saja.
Akan tetapi setelah dibuat menjadi sebatang keris, baik atau burukkah?
Kalau hanya diletakkan saja atau digantung, juga tidak baik atau buruk.
Setelah berada di tangan orang dan oleh orang itu dipergunakan, barulah keris itu dapat dikatakan baik atau buruk, melihat perbuatan apa yang dilakukan dengan keris itu.
Tidakkah segala macam benda, di dunia itu demikian pula halnya!
Api nama benda itu.
Bisa baik bisa buruk.
Baik kalau untuk masak, membuat penerangan, pemanasan dan sebagainya.
Akan tetapi buruk kalau untuk membakar rumah orang!
Pisau dapat juga berguna dan menjadi baik kalau untuk pekerjaan bermanfaat, akan tetapi menjadi buruk kalau dipergunakan untuk menusuk perut orang lain.
Tidak sukar menemukan pondok Empu Gandring di Dusun Lulumbung.
Semua orang mengenal kakek ini.
Seorang empu pembuat keris pusaka yang amat terkenal, sakti dan pandai sekali para senopati sampai adipati, hampir semua memesan keris buatan Empu Gandring.
Ketika Joko Handoko tiba di pondok itu dia menemukan Empu Gandring sedang duduk seorang diri di dalam bengkel pembuatan keris, duduk termenung dan agaknya sedang betistirahat.
Tempat itu penuh dengan alat-alat pembuat keris, baja-baja yang masih kasar, keris-keris yang baru nampak bentuknya saja dan belum jadi dan belum "diisi".
Kakek itu nampak agung dan berwibawa dalam usianya yang sudah tujuh puluh lima tahun atau tujuh puluh enam tahun, sudah nampak tua walaupun wajahnya masih segar penuh semangat dan sepasang matanya masih mencorong dan mulutnya masih membayangkan senyum penuh pengertian.
Melihat seorang pemuda yang datang-datang terus bersimpuh dan menyembahnya, Empu Gandring tersenyum.
Senang hatinya melihat seorang pemuda tampan yang wajahnya mengeluarkan sinar cemerlang itu.
Seorang pemuda yang baik, pikirnya.
"Tejo-tejo sulaksono.........! Siapakah andika ini, orang muda? Dan ada keperluan apakah gerangan andika datang ke tempatku yang buruk ini?"
"Maafkan saya, Eyang. Salahkah dugaan saya bahwa eyang adalah Empu Gandring ahli pembuat keris pusaka?"
Empu Gandring tersenyum lebar dan mengangguk-angguk.
"Dugaanmu benar, orang muda."
"Kalau begitu, Eyang. Saya Joko Handoko dari lereng Anjasmoro menghaturkan sembah bakti kepada Eyang."
"Joko Handoko? Dari Anjasmoro katamu? Eh, eh, nanti dulu........, Sepasang mata yang masih tajam (Lanjut ke
Jilid 14 Tamat) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 14 (Tamat) itu kini mencermati wajah Joko Handoko.
Wajah pemuda ini tidak asing baginya, seperti pernah dikenalnya, dan sebutan lereng Anjasmoro membuatnya mengangguk-angguk dan teringat.
Wajah ini mirip sekali dengan wajah muridnya, mendiang Raden Ginantoko dan bukankah isteri mendiang muridnya itu, Dyah Kanti, puteri Panembahan Pronosidhi, sahabat baiknya yang tinggal di Anajasmoro?
"Joko Handoko, kiranya tidak banyak meleset dugaanku kalau aku mengatakan bahwa tentu ada hubungannya antara engkau dan Panembahan Pronosidihi di lereng Ajasmoro!"
"Mendiang Panembahan Pronosidhi di lereng Anjasmoro!"
"Mendiang Panembahan Pronosidhi adalah eyang saya, ayah dari ibu kandung saya, Eyang."
"Ha-ha, tak salah lagi, andika tentu putera mendiang Ginantoko dan Dyah Kanti, tidakkah begitu?"
"Benar sekali, Eyang."
"Akan tetapi engkau tadi menyebut mendiang Panembahan Pronosidihi. Jadi sahabatku itu telah mendahuluiku kembali ke alam kelanggengan?"
"Beliau menjadi korban adu domba yang dilakukan oleh orang-orang Daha terhadap kekuatan-kekuatan di Tumapel, Eyang."
Joko Handoko lalu menceritakan semua pengalamannya tentang adu domba yang dilakukan Kerajaan Daha untuk memperlemah kedudukan Tumapel dan tentang serangan orang-orang Hastorudiro kepada eyangnya sehungga mengakibatkan meninggalnya eyangnya yang sudah tua.
Kemudian dia menceritakan pula usahanya untuk membongkar rahasia itu sampai berhasil, juga tentang pertemuannya dengan Ken Arok, saudaranya seayah berlainan ibu.
Mendengar disebutnya nama Ken Arok, kakek itu mengerutkan alisnya.
Sebelum Joko Handoko tadi tiba, dia pun termenung memikirkan Ken Arok.
Sampai sekarang,sudah tiga bulan lewat dan dia belum membuatkan keris yang dipesan oleh putera Ginantoko yang lain itu.
Jauh sekali bedanya antara Ken Arok dan pemuda ini, walaupun keduanya putera Ginantoko.
Pandang mata Ken Arok penuh keinginan dan nafsu, sebaliknya pemuda ini memiliki sinar mata yang bijaksana dan matang.
"Ceritamu menarik sekali, kulup, dan senang hatiku mendengar bahwa engkau telah berjasa terhadap Tumapel,telah berhasil membongkar ahasia yang berbahaya dan dapat mengacaukan Tumapel itu. Dan sekarang, apakah maksud kunjunganmu ini?"
"Pertama-tama, saya ingin menghaturkan sembah bakti saya kepada eyang. Dan kedua kalinya, saya ingin menghaturkan keris pusaka ini kepada eyang."
Berkata demikian, Joko Handoko mengambil keris pusaka Nogopasung berikut sarungnya, menyerahkannya kepada Empu Gandring dengan kedua tangan.
Kakek itu memandang heran, lalu menerima keris itu, dan mengamatinya.
"Jagat Dewo Bathoro........."
Dia mengeluh. Bukankah ini keris Nogopasung?"
"Benar sekali, Eyang. Keris Nogopasung ciptaan eyang sendiri, keris yang telah minum darah aah kandung saya."
Kakek itu menarik napas panjang dan menggangguk-angguk.
"Benar, darah ayahmu dan darah Galuhsari, isteri ketua Sabuk Tembogo."
Dia menarik keris itu dari sarungnya dan matanya terbelalak.
"Ah.......? Keris ini ternoda darah baru.....!"
"Benar sekali, Eyang, dan karena itulah maka keris pusaka ini saya bawa ke sini untuk saya haturkan kepada eyang."
"Maksudmu? Apakah engkau telah mepergunakan keris ini untuk membunuh orang secara penasaran?"
"Tidak sama sekali, Eyang. Memang beberapa kali terpaksa saya mempergunakan keris pemberian ibu ini untuk menghadapi lawan yang tangguh, akan tetapi di tangan, saya, keris ini belum pernah minum darah orang lain. Akan tetapi, baru bebrapa hari yang lalu keris ini dipergunakan oleh orang lain untuk membunuh. Karena itulah, saya berpikir bahwa keris ini menjadi haus darah dan terlampau keji, dan saya bawa ke sini untuk saya kembalikan kepada Eyang dengan harapan agar Eyang sudi membersihkannya dari hawa jahat yang membuatnya haus darah."
Empu Gandring mengangguk-angguk.
Senang sekali dia mendengar kata-kata Joko Handoko karena dari ucapan itu saja dia tahu bahwa pemuda ini adalah seorang bijaksana yang biarpun memiliki kepandaian namun tidak suka mepergunakan kekerasan untuk membunuh orang.
Teringatlah dia akan Panembahan Pronosidhi yang bijaksana.
Panembahan itu bijaksana dan lemah lembut, juga tidak suka akan kekerasan, akan tetapi pada saat terakhir, kakek itu tewas dalam perkelahian!
Dia tersenyum mencela diri sendiri.
Bukankah hidup ini merupakan perjuangan dan perkelahian yang tiada akhirnya?
Baru berakhir kalau kalah dalam perkelahian dan mati.
Andaikata tidak berkelahi melawan manusia lain, tentu akan berkelahi melawan penyakit usia tua dan sebagainya sampai kalah dan terpaksa meninggalkan dunia fana ini.
"Keris ini pada mulanya bukan keris yang jahat, kulup. Kan tetapi, darah pria dan wanita sekaligus menodainya sehingga dia tidak dapat dicuci. Noda ini melekat terus. Sekarang, keris itu telah minum darah seorang dan hal ini memudahkan bagiku untuk membersihkan noda yang melekat padanya. Akan tetapi, harus kutapai agar dia dapat bersih benar, juga sarungnya dan gagangnya harus diganti. Baiklah, akan kukerjakan pembersihan keris Nogopasung ini, kulup. Dalam waktu setengah tahun, andika boleh datang lagi untuk mengambilnya sebagai sebatang keris pusaka bersih dan ampuh, juga mengandung hawa baik yang memperterang nasib pemiliknya."
"Terima kasih, Eyang."
Joko Handoko merasa girang sekali dan setelah bercakap-cakap dengan Empu Gandring, dia lalu bermohon diri untukk cepat pulag mencari ibunya dan ayah tirinya, yaitu Raden Prainggojoyo yang tinggal di Kadipaten Wonoselo.
Setelah Joko Handoko pergi, Empu Gandring lalu mulai dengan pekerjaannya yang menyenangkan hatinya, yaitu berusaha untuk membersihkan keris pusaka Nogopasung dari hawa jahat.
Untuk itu dia harus bersamadhi dan berpuasa, mengenakan pakaian putih-putih yang bersih dan pekerjaan itu dia mulai pada hari itu juga.
Berhari-hari Empu Gandring tidak menerima pesanan keris baru dengan alasan sibuk dan banyak pekerjaan.
Semua akan terjadi dengan lancar dan baik kalau saja sebulan lebih kemudian tidak muncul Ken Arok di tempat kerjanya!
Pemunculan pemuda yang berpakaian indah dan garang itu mengejutkan hati Empu Gandring yang pada saat itu sedang mengerjakan pembersihan keris pusaka Nogopasung.
Begitu masuk dan memberi hormat degan singkat kepada kakek itu.
Ken Arok lalu menanyakan keris pesanannya.
"Bagaimana, Eyang. Sudah jadikah keris pesanan saya lima bulan yang lalu itu?"
Bertanya demikian, Ken Arok mengamati keris yang sedang digosok-gosok dan dicuci oleh kakek itu.
Keris itu nampak kasar dan gagangnya bahkan terbuat dari kayu cangkring.
Maka keris masih bekas gemblengan dan masih hitam menghangus oleh api.
Sebatang keris yang buruk sekali rupanya.
Empu Gandring menggelang kepalanya dan meanjutkan pekerjaannya.
Keris pusaka Nogopasung itu telah digembleng dan dibakar untuk mengusir hawa jahat yang terkandung di dalamnya, namun masih belum dapat bersih.
Dengan tekun dia menggosok dan mencucinya sejak beberapa hari ini.
"Aku belum sempat, angger Ken Arok. Seperti andika lihat sendiri, aku sedang sibuk membersihkan keris pusaka ini dan belum sempat mengerjakan keris pesananmu."
Wajah Ken Arok Menjadi merah.
Kemarahan menyelinap di dalam hatinya dan sepasang matanya berkilat.
Akan tetapi dia tertarik mendengar kakek itu menyebut keris yang dicucinya dan yang buruk itu sebagai keris pusaka.
"Maaf, Eyang. Keris pusaka apakah yang sedang eyang kerjakan itu? Bolehkan saya melihatnya sebentar saja?"
Empu Gandring mengulurkan tangannya dan Ken Arok mengambil keris itu, memegang gagannya yang buruk dan tebuat dari kayu cangkrik sederhana itu.
Keris itu jelek sekali, pamornya telah terbakar dan kasar sekali buatannya, sama sekali tidak memberi kesan sebagai keris pusaka yang ampuh.
Akan tetapi karena kakek itu menyebutnya sebagai keris pusaka, Ken Arok mengamati penuh perhatian.
"Keris ini keris pusaka yang ampuh sekali, angger, dan sedang kubersihkan untuk melenyapkan hawa jahat yang terkandung di dalamnya."
Bukan main girang rasa hati Ken Arok mendengar ucapan itu.
"Kalau begitu, Eyang. Biar saya pinjam sebentar keris ini, kupinjam selama satu bulan saja."
"Jangan, Angger. Tidak boleh, karena keris ini belum bersih benar."
Marahlah Ken Arok.
"Hemm, keris macam begini saja apa sih ampuhnya, Eyang? Rupanya saja buruk, tentu tidak mengandung keampuhan sama sekali!"
"Jangan berkata demikian, Angger Ken Arok. Keris ini ampuhnya menggiriskan dan agaknya sukar ditemukan orang yang akan mampu menahan keampuhanya. Jangan lama-lama andika memegangnya, berikan kembali kepadaku untuk kubersihkan. Keris ini berbahaya sekali, Angger, hawa jahat mempengaruhi orang yang memegangnya."
Berkata demikian, Empu Gandring lalu mengulurkan tangan hendak mengambil kembali keris pusaka Nogopasung itu.
Akan tetapi tiba-tiba Ken Arok yang sudah marah itu menjadi beringas.
Benarkah keris ini ampuh sekali?
Untuk mencobanya tidak ada orang yang lebih sakti dari pada Empu Gandring sendiri!
Dan kakek ini memang layak dibunuh kerena telah mengecewakannya, tidak memenuhi pesanannya.
Maka, tanpa berkata apa-apa, selagi kakek itu tidak menduga dan mengulur tangan hendak menerima keris akan tetapi tiba-tiba dia menusukkan keris itu pada dada Empu Gandring.
"Ceppp!"
Dada yang biasanya kebal dan sakti itu tembus!
Ken Arok meloncat ke belakang dan mencabut kerisnya dan tubuh Empu Gandring terkulai.
Kakek itu menggunakan tangan kiri menutup luka di dadanya, tangan kanannya ke atas dan dia memandang kepada Ken Arok dengan mata seperti mencorong, mengeluarkan suara sinar yang menakutkan.
"Wahai Ken Arok........andika telah berbuat khianat dan keji. Para dewata menjadi saksi bahwa keris ini kelak akan membunuhmu, membunuh keturunanmu sampai tujuh turunan."
Setelah berkata demikian tubuh tua itu terkulai dan napasnya pun terhenti.
Sejenak Ken Arok tertegun, terkejut oleh perbuatannya.
Namun tidak ada penyesalan di dalam hatinya.
Memang sudah direncanakannya untuk membunuh Empu Gandring setelah dia memperoleh sebaang keris yang ampuh, karena kakek itu merupakan saksi pertama bahwa dia mencari sebatang keris yang ampuh di tempat itu.
Dia memandang keris buruk rupa di tangannya, setengah kagum dan puas, setengah masih agak ragu-ragu.
Benarkah keris ini ampuh, atau tubuh Empu Gandring ang sudah terlalu tua dan kehilangan kesaktiannya?
Dia tidak boleh gagal dan harus yakin benar akan keampuhan keris pusaka di tangannya itu.
Maka dia lalu menusukkan keris itu pada lumpang batu tempat pengumpulan, bekas-bekas gosokan keris dan lumpang itu pun pecah menjadi dua potong dengan amat mudahnya.
Dia menusukkan lagi keris itu pada besi landasan tempaan keris dan landasan itu pun pecah menjadi dua potong.
Bukan main girang rasa hati Ken Arok karena keris itu benar-benar ampuh sekali.
Empu Gandring telah berjasa kepadanya.
Ken Arok memandang mayat yang rebah di atas lantai itu dan berkata.
"Jika kelak tercapai semua cita-citaku dan aku menjadi orang besar, saya tidak akan melupakan anak cucu para pandai besi di Lulumbang!"
Setelah berkata demikian dia pun menyelinap pergi meninggalkan tempat itu.
Sudah diaturnya bahwa ketika dia tadi datang dan masuk ke tempat pekerjaan Empu Gandring, tidak seorang pun mengetahuinya dan kini pun keluar tanpa diliat orang lain.
Kesenangan bukanlah sesuatu yang buruk ataupun jahat.
Segala macam kesenangan di dunia ini telah menjadi hak kita manusia untuk kita nikmati.
Untuk dapat menikmatinya, Ketika kita lahir telah terbawa oleh kita, segala sarana untuk dapat menikmati kesenangan.
Panca indera kita lengkap sehingga kita dapat menikmati kesenangan dari pendengaran, penglihatan, penciuman, makanan dan perabaan.
Yang menimbulkan kejahatan dan penyelewengan adalah pengejarannya, pengejaran terhadap kesenangan yang muncul dari si-aku yang ingin selalu senang.
Pengejaran akan selalu suatu ujuan menghasilkan segala macam cara!
Kekayaan adalah diantara kesenangan yang telah menjadi hak untuk kita nikmati, namun pengejarannya menimbulkan korupsi, manipulasi, segala kecurangan dalam perdagangan dan usaha, pencurian, penipuan, dan segala "cara"
Sesat lainnya untuk mencapai tujuanya, yaitu mendapatkan uang yang dianggap mendatangkan kesenangan.
Pengejaran terhadap kesenangan sex menimbulkan penjinahan, perkosaan, pelacuran.
Pengejaan terhadap kesenangan dari kedudukan dan kekuasaan menimbulkan pertentangan, perusahaan, bahkan perang!
Kesengan sendiri merupakan anugerah bagi kita dan kita hendak menikmatinya.
Berbahagialah dia yang dapat menikmati segala macam yang ada dan yang jatuh kepadanya.
Pengejaran terhadapat kesenangan menyembunyikan pamrih terhadap segala perbuatan kita sehingga perbuatan itu menyadi palsu.
Pengejaran ini merupakan suatu penyakit yang akan kambuh terus.
Suatu pengejaran berhasil, akan timbul bosan dan disusul oleh pengejaran yang lain, demikian terus tiada habisnya.
Pengamatan terhadap diri sendiri akan membuka mata, menimbulkan kewaspadaan dan kesadaran sehingga penyakit ini pun akan sembuh sama sekali, pengejaran akan terhenti sampai di sini saja.
Bukan berarti MENOLAK kesenangan, melainkan menikmati apa yang ada tanpa mengotori badan dengan pengejaran.
Sesuai dengan niat yang telah berbulan-bulan direncanakan, Ken Arok menyembunyikan keris pusaka itu dan pada suatu hari dia memamerkan keris pusaka, yang buruk rupa itu kepada seorang sahabatnya yang bernama Kebo Hijio, seorang perwira pasukan pengawal yang disayang oleh Tunggal Ametung dan dekat dengan Sang Akuwu itu.
"Lihat Dimas Kebo Hijo, biarpun kelihatan jelek, keris ini merupakan keris pusaka yang ampuh bukan main dan dapat menambah kekuatan orang yang memegangnya"
Ken Arok lalu mendemonstrasikan keampuhan keris itu dengan memecahkan batuan dan mematahkan sebatang linggis besi dengan keris itu.
Kebo Hijo terbelalak kagum.
Keris itu seperti keris yang belum jadi, tangkainya saja dari kayu cangkring yang masih ada durinya sederhana sekali, dan dilekatkan pada keris itu memakai damar.
Akan tetapi keris itu ternyata ampuh bukan main!
"Keris yang habat!"
Katanya dengan pandang mata penuh kagum.
"Sayang rupanya buruk sehingga aku merasa malu untuk memakainya,"
Kata pula Ken Arok memancing. Pancingannya kena.
"Kalau begitu Kakangmas Ken Arok, kalau boleh biar aku yang memakainya. Biar aku ketularan kesaktiannya."
Ken Arok pura-pura merasa keberatan sehingga kawannya itu mendesak lagi.
Sudah menjadi watak setiap orang manusia bahwa benda yang sukar didapat itu menambah semangat untuk memperolehnya.
Hal ini diketahui benar oleh Ken Arok.
Akhirnya dia mengalah.
"Baiklah, kau boleh memijam keris itu, Dimas. Akan tetapi dengan janji agar jangan beritahukan kepada siapa juga bahwa keris ini milikku. Boleh kau katakan milikmu saja. Asal jangan sampai rusak atau hilang."
Bukan main girangnya Kebo Hijo.
Dipakainya keris itu dan dalam waktu beberapa hari saja semua orang di Tumapel tahu belaka bahwa Kebo Hijo memiliki sebatang keris yang buruk akan tetapi ampuh.
Pemuda itu agaknya tidak dapat menahan diri untuk memamerkan keris kepada siapa saja.
Hal ini pun sudah diperhitungkan oleh Ken Arok sehingga diam-diam dia merasa girang sekali.
Semua siasatnya berjalan dengan lancar dan baik menurut rencananya.
Pada malam yang sudah direncanakannya, Ken Arok menyelinap keluar dari rumahnya tanpa diketahui seorang pun dan diam-diam dia pun menuju ke tempat Kebo Hijo.
Dengan Aji penyirepan Ken Arok berhasil membuat Kebo Hijo tertidur nyenyak sekali di dalam kamarnya dan Ken Arok lalu menyelinap masuk, membuka daun jendela dan melompat ke dalam kamar itu.
Dengkur Kebo Hijo sama sekali tidak terganggu oleh sedikit suara berisik yang timbul ketika Ken Arok membuka jendela.
Mudah baginya untuk mencuri keris pusaka Nogpasung yang terkletak di atas meja, kemudian dia menutupkan lagi daun jendela dan melenyapkan bekas-bekas tangannya.
Kamar itu nampak seperti biasa dan tidak pernah dibongkar orang.
Sesuai dengan rencananya, malam itu Ken Dedes menunggunya di dalam tanam.
Ketika Ken Arok, dengan keris pusaka di pinggangnya, melompat dari pagar taman, Ken Dedes yang sejak sore tadi nampak pucat dan gelisah, terkejut akan tetapi tak jadi berteriak ketika melihat bahwa yang datang adalah kekasihnya.
Ken Arok merangkul kekasihnya dan berbisik.
"Sudah tidurkah dia?"
Ken Dedes mengangguk dan berbisik kembali.
"Sesuai dengan rencanamu, malam ini aku menjauhkan diri dan dia tidur sendirian di dalam kamar semadhinya. Tadi sudah kudengar dengkurnya. Akan tetapi....... Kakangmas...... sudah benarkah jalanan yang kita ambil ini? Apakah tidak ada jalan dan cara lain?"
Ken Arok memegang kedua pundak kekasihnya.
"Tidak ada jalan lain, dia atau aku yang harus mati agar seorang di antara kami dapat hidup di sampingmu untuk selamanya, Diajeng. Apakah engkau ragu-ragu? Tinggal kau pilih, dia atau aku........!"
Mendengar ini menggigil tubuh Ken Dedes dan ia merangkul pemuda itu dan menyandarkan mukanya di dada yang bidang itu, lalu ia mengeluh lirih.
"Ah, aku cinta padamu, Kakangmas, tentu aku memilih engkau, akan tetapi aku khawatir, aku takut kalau engkau akan gagal.......ahhh......."
"Jangan khawatir, Diajeng. Kalau aku gagal, berarti aku mati dan engkau tetap menjadi istri Tunggal Ametung, aku tidak akan menyangkut dirimu. Akan tetapi tidak mungkin gagal. Ingat, aku adalah keturunan Sang Hyang Brahma sehingga para dewata tentu akan melindungiku!"
Dengan bantuan Ken Dedes, tentu saja Ken Arok dapat memasuki rumah Tungggal Ametung dengan mudah dan tanpa diketahui orang lain.
Ken Dedes lalu bersembunyi di dalam kamarnya sendiri, mukanya pucat dan hatinya gelisah bukan main.
Ia menjatuhkan diri di atas pembaringan, menutupi kedua telinganya dengan bantal agar tidak mendengar sesatu karena hatinya merasa ngeri.
Sementara itu, Ken Arok menyelinap masuk ke dalam kamar samadhi Sang Akuwu Tunggal Ametung.
Terdengar suara dengkur Sang Akuwu dan benar saja, dia mendapatkan pembesar itu sedang tidur nyenyak.
Ken Arok menghunus keris pusaka Nogopasung, mengerahkan aji kesaktiannya, kemudian dengan sepenuh tenaganya, dia menusukkan keris pusaka itu ke dada kiri Sang Akuwu.
Keris Pusaka Nogopasung itu memang amat ampuh dan haus darah.
Begitu dadanya tembus, Sang Akuwu terbelalak dan mulutnya bergerak-gerak, namun tidak ada suara yang keluar dari Sang Akuwu yang juga sakti itu masih mampu bangkit duduk, akan tetapi keampuhan keris pusaka itu membuat dia terjengkang kembali dan tewas seketika.
Ken Arok meloncat keluar dan meninggalkan keris pusaka itu di dada Sang Akuwu Tunggal Ametung.
Tidak ada seorang pun kecuali dirinya sendiri yang menjadi saksi pembunuhan keji ini.
Yang tahu akan rahasia itu hanya Ken Dedes, ada pula yang dapat menduga bahwa yang membunuh Tunggal Ametung adalah Ken Arok, dan mereka yang tahu itu tentu saja Ki Bango Samparan dan Ki Danyang Lohgawe.
Akan tetapi dua orang ini adalah ayah-ayah angkat Ken Arok yang membela pemuda itu sehingga rahasia itu akan aman.
Biarpun berasal dari rakyat kecil, ternyata Ken Arok merupakan seorang yang pandai dan bijaksana.
Dia bukan hanya memberi hadiah kepada mereka yang telah berjasa kepadanya, yang pernah menolongnya ketika dia menjadi orang buruan, akan tetapi dia juga tidak melupakan orang-orang yang telah menjdi korban usahanya mencapai tujuan, seperti keturunan Kebo Hijo dan Empu Gandring.
Dia dengan royal menyebar harta di bekas isatan Akuwu Tunggal Ametung, bukan hanya untuk memperbesar rasa suka dan kesetaian orang-orang yang sudah mendukungnya, akan tetapi juga untuk menghapus segala dendam yang ditujukan kepadanya, mengubah segala perasaan benci menjadi perasaan suka.
Kebesaran Ken Arok bukan berhenti sampai di situ saja.
Bintangnya menjadi semakin terang cemerlang.
Sungguh merupakan kebetulan yang amat menguntungkan dirinya bahwa pada waktu itu, di Kerajaan Daha timbul perpecahan agama.
Sang Prabu Dandang Gendis yang lebih condong membela agama Hindu karena pembantu dan penasihatnya seperti Begawan Surotomo dan Begawan Buyut Wewenang memeluk agama itu, mulai melakukan penekanan terhadap para pendeta yang beragama Siwa Budha.
Para pendeta Siwa Budha ini, termasuk Ki Danyang Maruto, tidak mau menjolat-jilat kepada Sang Prabu Dandang Gendis seperti yang dilakukan oleh para pendeta Hindu Trimurti.
Oleh karena itu, sang prabu menekan dan memaksa mereka untuk lebih menghormatinya, menyembah-nyembahnya.
Hal ini ditolak oleh para pendeta Siwa Budha sehingga Sang Prabu Dandang Gendis menjadi marah.
Menuruti bujukan Begawan Sarutomo dan kawan-kawannya, Raja Daha itu hendak menangkap semua pendeta Siwa Budha dan terjadilah perpecahan.
Pada pendeta Siwa Budha lalu melarikan diri kepada raja baru Kerajaan Singosari di Tumapel itu.
Makin kuatlah kedudukan Ken Arok yang kini menjadi Sang Prabu Sri Rajasa Bhatara Sang Amarwabumi!
Seperti tercatat dalam sejarah, kelak terjadilah perang antara kerajaan baru Singosari melawan Kerajaan Daha, dan Kerajaan Daha dapat dikalahkan dan ditaklukkan.
Maka, Raja Singosari yang dahulunya bernama Ken Arok, seorang penjudi, bahkan pernah menjadi perampok, kini menjadi Maharaja di Pulau Jawa!
Tentu saja Ken Arok tidak melupakan saudara tirinya, yaitu Joko Handoko.
Diundangnya saudaranya itu.
Joko Handoko sudah mendengar akan kemajuan pesat yang dicapai Ken Arok, akan tetapi dia memang tidak tertarik untuk memperoleh kedudukan, maka dia pun hanya mendengar dari jauh saja betapa Ken Arok kini menjadi raja dan menikah dengan janda almarhum Tunggal Ametung yang tewas dibunuh Kebo Hijo.
Ketika panggilan tiba, Joko Handoko Yang sedang mempersiapkan diri untuk meminang Dewi Pusporini itu, terpaksa memenuhi panggilan dan dia pun terpaksa menunda niatnya mengajak orang tuanya meminang dan berangkat ke Tumapel.
Di Tumapel dia mendengar akan kematian yang tiba-tiba dari Empu Gandring.
Tentu saja dia merasa terkejut sekali dan sebelum pergi menghadap Ken Arok, dia lebih dulu pergi ke Lulumbang untuk mengunjungi tempat tinggi Empu Gandring.
Dari para cantrik dia mendengar akan pembunuhan aneh yang terjadi atas diri Empu Gandring.
Ketika dia menanyakan dan mencari keris pusaka Nogopasung yang pernah diberikan kepada kakek itu, ternyata para cantrik tidak mengetahuinya dan dia tempat kerja itu pun tidak dapat menemukan keris pusaka Nogopasung.
Diam-diam Joko Handoko mengerutkan alisnya dan merasa heran sekali.
Timbul dugaan di dalam hatinya bahwa agaknya pembunuhan atas diri Empu Gandring itu ada hubungannya dengan lenyapnya Nogopasung.
Apakah ada orang yang merampasnya?
Dia pun tahu bahwa Empu Gandring adalah seorang kakek yang sakti, maka besar sekali kemungkinannya bahwa kakek sakti itu benar-benar terbunuh oleh orang yang mempergunakan keris pusaka Nogopasung.
Akan tetapi ke mana hilangnya keris pusaka itu dan siapa pula yang mencurinya?
Yang mencuri tentulah pembunuh Empu Gandring.
Dengan bermacam pertanyaan itu mengganggu hatinya, Joko Handoko lalu pergi ke Tumapel yang bernama Singosari dan menghadap Ken Arok yang telah menjadi raja.
"Wahai, Kakang Joko Handoko, akhirnya andika datang juga menghadap!"
Kata Sang Prabu Sri Rajasa.
"Ke mana saja andika selama ini maka tak pernah nampak walaupun aku sedang bersusah payah untuk memperoleh kedudukan seperti sekarang ini! Lihatlah, kakang Joko Handoko, aku telah menjadi raja di sini, tidakkah andika merasa bangga pula?"
Joko Handoko yang tahu diri itu menyembah. Bagaimanapun juga, adik tirinya ini telah menjadi raja, menjadi yang dipertuan di Tumapel dan dia hanyalah seorang di antara rakyatnya.
"Mohon beribu maaf, Sribaginda. Paduka tentu sudah sejak dahulu memaklumi bahwa hamba sama sekali tidak ada keinginan untuk memegang kedudukan. Hamba lebih senang tinggal di dusun, di lereng gunung yang sunyi, bekerja sebagai petani yang tenteram."
Ken Arok merasa girang.
Sikap Joko Handoko sungguh sopan dan hal ini menyenangkan hatinya.
Dia tahu bahwa kakak tirinya memiliki kesaktian dan kalau dia dapat menariknya sebagai pembantu atau senopati, tentu kedudukannya akan menjadi semakin kuat.
"Akan tetapi itu adalah dulu ketika mendiang Sang Akuwu Tunggal Ametung yang menjadi penguasa di sini Kakang. Sekarang yang menjadi raja di sini adalah aku, adik tirimu sendiri. Tidakkah sudah selayaknya dan sepatutnya kalau kakang ikut membantu memperkuat kerajaan kita, dan membantuku memegang kendali pemerintahan? Kuharap andika dapat mempertimbangkan hal ini kakang Joko Handoko."
"Hamba menghaturkan terima kasih atas kebaikan hati paduka, Sribaginda. Akan tetapi hamba tetap pada pendirian hamba untuk tetap hidup tenang di dusun saja. Namun, bukan berarti hamba akan acuh saja kalau sampai negeri ini terancam bahaya. Hamba selalu siap membela negara dan bangsa dari ancaman pihak lain."
Ken Arok mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa memaksa Joko Handoko berarti akan menciptakan perasaan tidak senang saja.
"Baiklah, kakang. Akan tetapi aku mengharapkan bantuanmu kalau sampai terjadi perang, karena negeri ini sedang terancam oleh Kerajaan Daha. Dan tentang hidup sebagai petani, aku akan menghadiahkan tanah yang cukup luas untukmu agar berpuas-puaslah andika mengerjakan tanah."
Joko Handoko menghaturkan terima kasih dan dia lalu mengundurkan diri dengan perasaan lega karena dia merasa khawatir kalau-kalau dia akan dipaksa menjadi hulubalang.
Setelah dia keluar dari istana, dia lalu langsung menuju ke gerbang Senopati Pamungas.
Keluarga senopati itu menerimanya dengan gembira, apalagi Dewi Pusporini yang sudah rindu kepada kekasihnya itu, akan tetapi keluarga itu pun agak kecewa melihat bahwa pemuda itu mencul sendirian saja.
"Anakmas Joko Handoko, mana orang tuamu? Kenapa mereka tidak ikut datang?"
Tanyanya dengan suara mengandung teguran. Setelah bertukar pandang dengan Dewi Pusporini Joko Handoko lalu memberi hormat kepada calon ayah dan ibu mertuanya.
"Maafkan saya, kanjeng paman. Terpaksa saya menunda urusan itu karena secara tiba-tiba saya dipanggil menghadap oleh Srinaginda."
Senopati Pamungkas mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Wah, adik tirimu memang hebat, anakmas. Semuda itu akan tetapi telah berhasil menggantikan Sang Akuwu Tunggal Ametung. Dia memang seorang yang gagah perkasa, setia dan memang hebat untuk menjadi raja di sini. Tumapel akan maju kalau dipimpin oleh seorang seperti dia. Lalu apa kehendak beliau memanggilmu?"
"Beliau hendak menghadiahkan kedudukan kepada saya, Kanjeng Paman. Akan tetapi saya terpaksa menolak. Saya belum ingin memegang jabatan dan menjadi orang berpangkat. Saya lebih senang tinggal di dusun dan saya hanya berjanji bahwa kalau sampai terjadi perang, saya tentu akan menyumbangkan tenaga untuk membela negara dan bangsa."
Senopati Pamungkas menggangguk-angguk lagi.
Biarpun hatinya kecewa karena tadinya mengharapkan bahwa sebagai kakak tirinya raja yang baru, calon mantunya ini tentu akan menjadi seorang bangsawan tinggi, dia tidak mau memberi komentar.
"Memang benar kemungkinan terjadi perang antara Singosari dan Daha, dan memang sudah menjadi kewajiban kita bersama untuk membela negara dan bangsa. Akan tetapi bagaimana sekarang dengan urusan kita, urusan perjodohanmu dengan Dewi Pusporini?"
"Saya akan segera pulang dan segera mengajak kanjeng romo dan kanjeng ibu untuk bersama saya datang ke sini, kanjang paman."
"Baiklah, kami selalu menunggumu,"
Kata senopati itu dan Joko Handoko diberi kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Dewi Pusporini di dalam taman.
Tentu saja kedua orang muda itu menjadi gembira sekali dan mereka melepas kerinduan hati masing-masing dengan bercakap-cakap dan menumpahkan rasa rindu melalui pandang mata, kata-kata dan sentuhan-sentuhan tangan.
Dalam kesempatan ini Pusporini bertanya sambil lalu.
"Dan bagaimana kabarnya dengan diajeng Wulan, kakangmas?"
Ditanya tentang Wulandari, Joko Handoko mengerutkan alisnya.
Akan tetapi hanya sebentar saja karena dia sudah dapat mengusir perasaan iba yang menyelinap di dalam hatinya mendengar disebutnya nama gadis Sabuk Tembogo itu.
"Aku tidak tahu, diajeng. Semenjak berpisah dari sini, aku tidak pernah lagi bertemu atau mendengar tentang dirinya. Tentu ia sibuk mengurus perkumpulan Sabuk Tembogo. Bukankah demikian katanya dahulu ketika hendak berpisah?"
Akan tetapi Dewi Pusporini tidak menjawab tidak menjawab, bahkan bertanya lagi.
"Kakangmas, tahukah engkau akan aib yang menimpa diri Wulandari?"
Joko Handoko memandang tajam dan dua pasang mata itu bertemu.
"Maksudmu?"
Joko Handoko bertanya, diam-diam merasa heran apakah Wulandari menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan Pramudento itu kepada Dewi Pusporini.
"Peristiwa yang dialaminya di malam ketika dia melarikan diri itu. Sudahkah diajeng Wulan bercerita kepadamu?"
Joko Handoko mengangguk-angguk, maklum bahwa Wulandari sudah membuka rahasianya itu kepada Dewi Pusporini.
"Peristiwa yang menimpa dirinya bersama Pramudento yang kemudian dibunuhnya?"
Dewi Pusporini mengangguk.
"Aku sudah tahu, ia sudah bercerita kepadaku. Tak kusangka bahwa ia juga bercerita kepadamu, diajeng."
"Kami sudah seperti kakak dan adik sendiri saja, kakangmas. Kasihan diajeng Wulan. Apakah engkau tidak kasihan kepadanya, Kakangmas?"
"Tentu saja! Kalau belum dibunuhnya tentu aku sendiri yang akan menghajar Pramudento. Akan tetapi, apa yang dapat kulakukan untuknya?"
"Banyak! Banyak yang dapat kita lakukan untuknya, kakangmas."
Kembali Joko Handoko memandang tajam kepada wajah kekasihnya, memandang penuh pertanyaan.
"Apa maksudmu, diajeng? Apa yang dapat kita lakukan untuk Wulandari?"
Dara itu menarik napas panjang.
"Nanti saja kuceritakan, kakangmas, kalau engkau sudah Datang bersama orang tuamu untuk meminang diriku. Yang penting bagiku adalah mengetahui bahwa engkau kasihan kepadanya dan suka melakukan sesuatu untuk menolongnya."
Pada hari itu, Joko Handoko pulang ke Kadipaten Wonoselo untuk menemui ibunya dan ayah tirinya, dengan hati bertanya-tanya pertolongan apakah terhadap Wulandari yang akan diminta oleh Dewi Pusporini darinya.
Dyah Kanti menyambut dengan hati gembira perkataan puteranya yang minta kepadanya untuk melamarkan puteri Senopati Pamungkas di Tumapel.
Dari suaminya yang sekarang, yaitu Raden Pringgojoyo, ia tidak memperoleh keturunan.
Raden Pringgojoyo juga menyambut dengan gembira dan dengan senang hati dia bersedia untuk melakukan peminangan itu bersama isterinya.
Maka berangkatlah mereka bertiga ke Tumapel.
Di sepanjang perjalanan ke Tumapel mereka mendengar berita tentang pertentangan agama yang terjadi di Daha, dan melihat sendiri rombongan demi rombongan para pendeta dan pemeluk agama Siwa Budha mengungsi ke Tumapel.
Dengan cerdik, Sang Prabu Sri Rajasa mengutus orang-orangnya untuk menyambut para pengungsi itu, bahkan mempersilahkan para tokoh pendeta Siwa Budha untuk menghadap ke istana, disambut pula oleh Ki Danyang Lohgawe yang juga merupakan seorang tokoh agama itu.
Tentu saja para pemimpin agama itu merasa terhibur dan seketika timbul perasaan setianya terhadap Kerajaan Singosari yang baru berdiri.
Setelah tiba di Tumapel, Raden Pringgojoyo, isterinya dan Joko Handoko disambut dengan gembira oleh keluarga Senopati Pamungkas.
Pinangan diajukan oleh Raden Pringgojoyo sendiri.
Senopati Pamungkas dan isterinya menyambut pinangan itu dengan wajah berseri, akan tetapi tiga orang tamu itu menjadi heran dan terutama sekali Joko Handoko terkejut ketika sang senopati berkata halus.
"Kami sekeluarga merasa berbahagia sekali dan menyambut pinangan andika dengan senang hati, dan mudah-mudahan saja para dewata akan memberkahi kedua anak kita. Akan tetapi, hendaknya dimaklumi bahwa untuk dapat menerima pingangan ini, anak kami Dewi Pusporini mengajukan sebuah syarat."
"Syarat?"
Raden Pringgojoyo tersenyum, disangkanya bahwa tentu syaratnya merupakan benda yang diidamkan puteri itu.
"Tentu saja kami dengan senang hati bersedia memenuhi syarat yang ditujukan, asalkan syarat itu masih berada dalam batas kemampuan kami untuk memperolehnya."
"Syarat itu bukan permintaan harta benda atau barang apapun juga, dan karena kami sendiri kurang leluasa untuk mengemukakannya, maka sebaiknya anak kami itu sendiri yang akan menyampaikan kepada anakmas Joko Handoko."
Tentu saja Joko Handoko menjadi terheran-heran. Sambil memandang wajah calon mertuanya, dia berkata.
"Baiklah, kanjeng paman. Saya siap menerima permintaan diajeng Pusporini."
Seorang dayang lalu diutus memanggil sang puteri dan ternyata Dewi Pusporini telah berdandan serba indah untuk keperluan ini.
Ia nampak cantik jelita bagaikan puteri dari kayangan sehingga Raden Pringgojoyo dan Dyah Kanti memandang dengan penuh kagum dan girang bahwa Joko Handoko memperoleh calon jodoh yang demikian cantiknya.
Bukan hanya cantik wajahnya dan kuning mulus kulitnya, akan tetapi juga lembut dan sopan santun gerak-geriknya ketika dara itu memasuki ruangan dengan sikap halus dan hormat sekali.
Setelah dara itu mengambil tempat duduk sebagaimana mastinya, Senopati Pamungkas lalu berkata dengan suara lembut.
"Anakku Dewi Pusporini, orang tua dari anakmas Joko Handoko telah mengajukan pinangan yang telah kami terima dengan gembira seperti telah kita kehendaki bersama, dan aku telah memberitahukan kepada mereka agar engkau mengajukan sebuah syarat. Agar ayah dan ibumu tidak disangka sengaja mempersulit, maka engkau kami panggil agar engkau sendiri yang menyampaikan syaratmu itu kepada anakmas Joko Handoko."
Dewi Pusporini mengangkat muka memandang sejenak kepada Raden Pringgojoyo, kemudian agak lama memandang kepada Dyah Kanti Ibu kandung kekasihnya, lalu berkata pada mereka.
"Saya mohon maaf sebesarnya dari kanjeng bibi, karena sesungguhnya syarat yang saya ajukan ini bukan sekali-kali merupakan kemanjaan atau pengairanagungan harga diri memainkan amat penting, baik bagi saya sendiri maupun bagi kakangmas Joko Handoko."
Sejak dara itu keluar, Dyah Kanti sudah merasa suka sekali, apalagi mendengar ucapan yang demikian sopan dan halus. Ia tersenyum ramah dan berkata.
"Tidak mengapa, nini Dewi, sudah selayaknya kalau engkau mengajukan syarat. Katakanlah apa syarat itu?"
Tanpa memperdulikan pandang mata Joko Handoko yang penuh tanda tanya ditujukan kepadanya, Dewi Pusporini kini memandang kepada Joko Handoko dan berkata, suaranya lantang dan tegas.
"Saya hanya mau menjadi isteri Kakangmas Joko Handoko kalau mau dimadu dengan Diajeng Wulandari!"
"Diajeng Dewi...........!"
Joko Handoko berseru kaget bukan main, memandang kepada kekasihnya dengan mata terbelalak.
"Kakangmas tentu masih ingat, saya pernah mengatakan bahwa kita harus melakukan sesuatu untuk Diajeng Wulandari."
Tentu saja Raden Pringgojoyo dan isterinya menjadi terheran-heran. Mana ada syarat minta dimadu? "Ah, bagaimana pula ini? Siapakah pula itu Wulandari?"
Kata Dyah Kanti dengan bingung sambil memadang kepada puteranya.
"Ia seorang sahabat baik yang sudah menjadi adik saya sendri, Kanjeng Bibi, juga seorang sahabat yang amat baik dari Kakangmas Joko Handoko."
Dyah Kanti memandang puteranya.
"Benarkah itu, Joko?"
Joko Handoko hanya mengangguk karena dia masih tekejut dan bingung.
"Akan tetapi, kepada siapakah kami harus mengajukn pinangan atas diri Wulandari itu dan di mana ia tinggal?"
Raden Pringgojoyo bertanya.
"Pinangan itu dapat ditujukan kepada kami, karena Wulandari telah mengangkat kami suami isteri sebagai walinya pula."
Senopati Pamungkas yang sejak tadi tersenyum itu berkata.
Dua pasang suami isteri itu saling pandang dan mengertilah Raden Pringgojoyo dan Dyah Kanti bahwa ayah bunda Dewi Pusporini telah tahu akan persoalannya dan telah pula menyetujuinya!
Sungguh luar biasa sekali!
"Kalau begitu, biarlah kami mengajukan pinangan untuk kedua kalinya!"
Kata Raden Pringgojoyo.
"Sekali ini kami mengajukan pinangan atas dri nini Wulandari untuk menjadi isteri yang kedua dari anak kami Joko Handoko dan......."
"Maaf, Kanjang Romo. Nanti dulu.......!"
Tiba-tiba Joko Handoko berseru sambil mengangkat tangannya. Semua orang memandang kepadanya dan pemuda ini memandang kekasihnya, alisnya berkerut penuh kekhawatiran.
"Diajeng Dewi Pusporini, mengapa engkau bersikap begini? Kita tidak boleh bertindak semau sendiri, karena hal ini menyangkut diri Diajeng Wulan. Kita harus memberi tahu Diajeng Wulan, karena saya kira dia tidak akan sudi........."
"Kakangmas Joko Handoko, soal Diajeng Wulandari tanggunganku. Yang penting sekarang kuserahkan jawaban dan keputusannya kepadamu. Maukah engkau mengambil kami berdua, aku dan Diajeng Wulandari, sebagai isteri-isterimu?"
"Benar, Anakmas Joko Handoko, keputusannya terserah kepadamu. Maukah Andika?"
Kata Senopati Pamungkas.
"Tapi........... tapi......., saya harus mendapat keputusan dulu dari Diajeng Wulandari. Bagaimana mungkin meminang seseorang yang belum saya ketahui apakah ia mau atau tidak?"
"Akan tetapi, Kakangmas. Jawablah dulu, andaikata ia mau, apakah engkau juga akan menerimanya?"
Dewi Pusporini bertanya, memandang tajam.
"Ini........ ini...... wah, kalau memang engkau menghendaki demikian, Diajeng, akupun hanya menurut saja, terserah kepadamu,"
Kata Joko Handoko. Harus diakui bahwa sebelum berjumpa dengan Dewi Pusporini, dia sudah berkenalan dengan Wulandari dan sudah merasa suka sekali kepada gadis hitam manis itu.
"Nah, kalau begitu, akan kupanggil ia ke sini!"
Dewi Pusporini lalu bangkit dan masuk ke dalam, diikuti pandang mata terbelalak dari Joko Handoko.
Kiranya Wulandari telah berada di sini pula!
Wulandari nampak agak kurus dan ia berjalan sambil menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.
Dewi Pusporini setengah menariknya dengan halus dan akhirnya mereka berdua tiba di ruangan itu.
Dengan lemas karena merasa malu dan terharu, Wulandari menjatuhkan diri duduk bersimpuh dan tetap menundukkan mukanya.
Melihat gadis ini, Joko Handoko, tidak dapat menahan lagi kehauan hatinya.
"Diajeng Wulan, apa artinya semua ini? Benarkah engkau........ engkau....... akan menerima pinangan dariku untuk menjadi....... madu dari Diajeng Pusporini?"
Sejak Joko Handoko menyebut namanya, air matanya sudah jatuh menetes-netes. Ia berusaha menguatkan hatinya, menggigit bibir agar tidak terisak. Tanpa mengangkat muka, ia pun menjawab.
"Mbakayu Dewi menghendaki demikian, Kakang......, dan aku....... aku...... ahh......."
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 10
Baca Juga: Harta Karun Jenghis Khan 1