Eps 4 Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo
Baca online Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo
Cersil Keris Pusaka Nogopasung - Kho Ping Hoo.
"Mereka tadi bilang hendak pergi ke Dusun Memeling, sebaiknya kita mendahului mereka ke sana dan di sana kita membayangi mereka,"
Bisiknya.
Joko Handoko mengangguk dan merasa kagum akan kecerdasan Wulandari.
Memang tidak mudah membayangi dua orang berkuda dan mereka berkuda pula.
Tentu akan mudah ketahuan.
Tadi, tanpa disengaja mereka mendengar Gajah Putih mengatakan kedua orang itu hendak pergi ke Tumapel, maka sebaiknya kalau mereka mendahului ke sana dan membayangi dua orang itu di sana Dengan hati-hati mereka lalu mengambil kuda yang tadi mereka tambatkan di pohon tak jauh dari warung itu, dan mereka lalu menunggangi kuda mereka, menuju ke utara, ke Dusun Memeling yang tidak begitu jauh lagi.
Wulandari sudah mengenal daerah ini, maka ia tahu di mana Dusun Memeling.
Tak lama kemudian tibalah mereka di luar Dusun Memeling.
Joko Handoko lalu menitipkan dua ekor kuda pada seorang petani yang miskin dan tinggal di dusun itu dengan memberi upah yang cukup banyak.
Kemudian mereka berjalan kaki menuju ke pintu gerbang dusun dan bersembunyi, mengintai dan menanti datangnya dua orang yang akan mereka bayangi.
Dusun itu berada di tapal batas antara Tumapel dan Kerajaan Daha, sebuah dusun yang cukup besar, dikelilingi hutan lebat dan di tepi sebuah sungai yang menjadi anak Sungai Brantas.
Penghuni dusun itu sudah dikuasai oleh pengaruh Kerajaan Daha dan hal ini tidak diketahui oleh Joko Handoko dan Wulandari.
Pada waktu itu, yang menjadi raja di Daha atau Kediri adalah Sang Prabu Dandang Gendis, nama lain dari Sang Prabu Kertajaya.
Sang Prabu Dandang Gendis mendenga akan sikap Sang Akuwu Tunggal Ametung yang hidup seperti seorang raja muda di Tumapel, dan di dalam hatinya tidak rela tunduk kepada Kerajaan Daha.
Akan tetapi karena Tunggal Ametung tidak terang-terangan menentangnya, dia mengingat bahwa Kadipaten Tumapel cukup kuat, terutama dibantu oleh orang yang memiliki kesaktian, maka raja Kediri itu masih bersikap sabar.
Diam-diam Sang Prabu Dandang Gendis atau Kertajaya berunding dengan para penasehatanya, kemudian diambil keputusan untuk rahasia berusaha melemahkan Tumapel dengan jalan mengadu domba.
Dipilihlah orang-orang sakti di bawah pimpinan seorang senopati untuk melakukan serangan gelap terhadap Tumapel.
Usaha-usaha itulah yang mengakibatkan peristiwa-peristiwa yang kini sedang diselidiki oleh Joko Handoko dan Wulandari dan tanpa mereka sadari, mereka kini mendekati sarang persekutuan rahasia dari kerajaan Daha atau Kediri itu!
Joko Handoko dan Wulandari tidak usah menunggu terlalu lama.
Segera terdengar derap kaki kuda dan mereka melihat Gajah Putih dan Gajah Ireng menunggang kuda mereka menuju ke pintu gerbang dusun itu.
Setelah tiba di pintu gebang, mereka menahan kuda dan memasuki dusun itu dengan perlahan-lahan.
Setelah mereka masuk agak jauh, Joko Handoko dan Wulandari cepat menyelinap keluar dan membayangi mereka dari jauh.
Mudah saja membayangi dua orang yang masuk dusun dengan menunggang kuda itu, apalagi kuda mereka lari congklang dengan lambat.
Melihat sikap para penduduk dusun menyambut dua orang penunggang kuda itu dengan senyum lambaian tangan, Joko Handoko dapat menduga bahwa hubungan antara dua orang itu dengan penduduk dusun amat baik.
Hal ini membuat dia lebih hati-hati lagi.
Dari jauh mereka melihat betapa dua orang itu memasuki perkarangan sebuah rumah besar yang berada di ujung dusun.
Giranglah hati Joko Handoko karena rumah itu berdiri agak terpencil dan keadaannya cukup sunyi sehingga akan memudahkan dia dan Wulandari untuk melakukan pengintaian.
Mereka terus berjalan melewati depan pekarangan itu dan melihat betapa dua ekor kuda yang masih berpeluh itu ditambatkan di dalam pekarangan depan.
Akan tetapi pekarangan itu sunyi, tidak nampak ada seorang pun manusia.
Tentu saja mereka sama sekali tidak menduga bahwa keadaan mereka kini sudah berbalik sama sekali.
Bukan mereka yang membayangi orang, melainkan gerak-gerik merekalah yang dibayangi orang!
Sama sekali mereka tidak menduga bahwa pada saat mereka menitipkan kuda mereka kepala petani di luar dusun, mereka telah terperangkap.
Petani dusun yang miskin itu yang menerima titipan dua ekor kuda dengan menerima upah yang cukup banyak, sudah mengkhianati mereka!
Kiranya petani itu adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Daha, bahkan dia bertugas sebagai mata-mata persekutuan rahasia yang bersarang di dusun Memeling.
Petani atau mata-mata Daha itu sudah lebih dahulu melapor kepada para pimpinan yang berada di dusun Memeling tentang munculnya seorang pemuda dan seorang gadis yang gerak-geriknya mencurigakan.
"Mereka menitipkkan kuda kepada saya dengan memberi upah yang cukup besar, lalu memasuki dusun ini dengan berjalan kaki dan dengan sikap yang berhati-hati. Mereka patut dicurigai."
Demikian antara lain petani itu melapor, mendahului Joko Handoko dan Wulandari dengan mengambil jalan memotong yang lebih dekat.
Laporan itu menarik perhatian para pimpinan, apalagi mengingat bahwa pada saat itu datang pula dua orang tokoh yang menjadi utusa mereka, yaitu Gajah Putih dan Gajah Ireng.
Demikianlah, tanpa diketahui Joko Handoko dan Wulandari,kedatangan mereka ke dusun itu, yang tadinya bermaksud untuk membayangi dua orang bekas musuh itu, kini berbalik merekalah yang dibayangi dan diintai setiap gerak-gerik mereka.
Dan itu pula sebabnya ketika mereka memasuki pekarangan rumah itu, mereka hanya melihat dua ekor kuda yang tadi ditunggangi Gajah Putih dan Gajah Ireng tertambat di pekarangan itu, dan tidak melihat dua orang itu sedangkan keadaan di situ sunyi sekali.
Pada saat itu, Kerajaan Daha atau Kediri yang dipimpin oleh Sang Prabu Dandang Gendis atau Sang Prabu Kertajaya, sedang kuat-kuatnya.
Sang Prabu Dandang Gendis memerintah negaranya dengan tangan besi, akan tetapi harus diakui bahwa dia adalah seorang raja yang pandai dan kuat.
Selain dia memiliki kesaktian, juga dia dibantu oleh dua orang kakak beradik yang tadinya merupakan pertapa-pertapa yang tekun.
Begawan Saritomo, yang tua telah berusia enam puluh lima tahun dan dialah yang diangkat oleh Sang Prabu Dandang Gendis menjadi puruhita (pendeta keraton) di Kerajaan Daha, sebagai penasehat dan juga guru terakhir dari Sang Prabu Dandang Gendis.
Sang Begawan Sarutomo ini dibantu oleh adiknya yang bernama Begawan Buyut Wewenang, pada waktu itu berusia enam puluh tahun, seorang pertapa yang sakti mendraguna, bahkan cerdik sekali.
Dua orang pendeta inilah yang selain mengajarkan ilmu-ilmu kesaktian kepada Sang Prabu, juga menjadi penasehat dan semua nasihat mereka dipenuhi dan dituruti belaka oleh Sang Prabu Dandang Gendis sehingga tentu saja kekuasaan mereka semakin besar.
Adalah dua orang pedeta ini pula yang memberi nasihat dan membujuk Sang Prabu Dandang Gendis dari Kediri untuk melakukan siasat adu domba di antara kekuatan-kekuatan di Tumapel untuk melemahkan kedudukan Tumapel yang dianggap memperlihatkan tanda-tanda tidak menghargai kedaulatan kerajaan besar Kediri.
Dan Sang Begawan Buyut Wewenanglah yang mendapatkan tugas membentuk suatu kekuatan untuk mengatur siasat memecah belah dan mengadu domba untuk mengacaukan dan melemahkan kedudukan Tumapel.
Begawan Buyut Wewenang memilih dusun Memeling untuk menjadi pusat kegiatannya, karena dusun itu terlatak di tapal batas antara wilayah aha dan Tumapel.
Dalam tugas ini dia dibantu oleh banyak orang pandai dari Kediri, dan di antara mereka, yang menjadi kepercayaannya adalah Gajah Putih dan Gajah Ireng, bersama guru mereka, yaitu Ki Danyang Bagaskoro yang kemudian tewas ketika bertanding melawan Joko Handoko.
Demikian keadaan di dusun Memeling pada saat itu.
Ketika petani yang merangkap menjadi mata-mata yang banyak disebar oleh Buyut Wewenang itu datang melapor, yang berada di dalam dusun itu adalah Begawan Buyut Wewenang sendiri bersama tiga orang lain yang juga merupakan orang-orang sakti yang menjadi pembantu-pembantu pendeta ini.
Mereka adalah Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo, dan Ki Banyakluwo, jagoan-jagoan dari Kerajaan Kediri pada waktu itu.
Begitu mendengar pelapoan petani, Begawan Buyut Wewenang lalu mengajak mereka bertiga untuk melakukan pengintaian.
Joko Handoko dan Wulandari yang merasa kehilangan dua orang yang mereka bayangi, dengan berani lalu menyelinap ke samping bangunan itu di mana terdapat sebuah kebun yang luas.
Mereka menyelinap di antara pohon-pohon di kebun itu,mendekati bangunan dan mengintai.
Namun, keadaan sunyi saja dan tidak nampak seorangpun di sekitar bangunan itu.
"Hemm, sunyi benar seperti tidak ada penghuninya,"
Bisik Wulandari.
"Tidak mungkin kosong,"
Bisik Joko Handoko kembali.
"Jelas bahwa dua orang itu telah masuk ke dalam dan agaknya mereka sedang melakukan perundingan di dalam. Penting sekali bagi kita untuk dapat melihat siapa yang berunding dan apa yang sedang dipercakapkan."
"Kalau begitu, mari kita masuk dari pintu belakang itu."
Wulandari menuding ke arah sebuah pintu belakang dan kecil.
Joko Handoko mengangguk dan mereka berloncatan dengan gerakan seperti dua ekor kucing saja menuju ke pintu itu.
Joko Handoko mendorong daun pintu dan ternyata tidak terkunci.
Mereka masuk ke dalam, berindap-indap.
Tiba-tiba keduanya berhenti dan cepat bersembunyi ke balik ruangan yang ada di situ.
Dua orang yang mereka bayangi tadi, Gajah Putih dan Gajah Ireng, muncul dari sebuah pintu ke dalam ruangan besar di depan mereka keduanya nampak bicara perlahan, lalu keduanya berpencar.
Gajah Putih melalui pintu kiri dan Gajah Ireng masuk melalui pintu kanan!
Tentu saja Joko Handoko dan Wulandari menjadi bingung.
"Kau ikuti dia, dan aku akan membayangi yang lain,"
Kata Joko Handoko.
Gadis itu mengangguk berani, lalu mereka berpencar, menyelinap ke kanan dan kiri.
Joko Handoko membayangi Gajah Putih sedangkan gadis itu mengikuti Gajah Ireng.
Mudah bagi Joko Handoko untuk memabayangi Gajah Putih tanpa dapat diketahui oleh orang itu.
Dan dia mendapatkan kenyataan bahwa bangunan itu sungguh luas sekali.
Gajah Putih telah keluar masuk ruangan-rungan yang luas dan belum juga nampak ada manusia lain.
Selagi Joko Handoko yang terus mengikutinya itu merasa heran dan mulai menduga bahwa mungkin ruang besar ini memang kosong dan yang ada hanya dua orang yang mereka bayangi tadi, tiba-tiba Gajah Putih memasuki sebuah ruangan dan lenyap!
Joko Handoko terkejut.
Dia tidak melihat jelas ke arah mana lenyapnya orang yang dibayanginya, maka dia pun cepat masuk ke dalam ruangan itu.
Sebuah rungan yang lebarnya tidak kurang dari empat daun pintu di situ.
Dia tidak tahu ke pintu mana Gajah Putih tadi menghilang.
Joko Handoko berdiri di tengah ruangan itu, bingung menduga-duga ke mana Gajah Putih pergi dan tiba-tiba saja ke empat daun pintu dari empat jurusan itu terbuka dan muncullah dari masing-masing pintu seorang kakek yang diikuti oleh lima orang pengawal.
Mereka menghadang di depan pintu dan dengan demikian Joko Handoko telah terkepung.
Dari pintu yang dilaluinya tadi, muncul seorang kakek yang agaknya menjadi pemimpin mereka,karena kakek ini mengeluarkan suara ketawa yang meringkik seperti kuda sedangkan yang lain hanya diam saja, memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik.
"Hi-heh-heh-heh! Orang semuda ini berani masuk ke sini sebagai maling? Orang muda, apakah engkau sudah bosan hidup?"
Bentak kakek yang memiliki suara seperti meringkik kuda itu.
Joko Handoko membalikkan tubuhnya untuk menghadapi kakek itu.
Dia memandang penuh perhatian dan merasa belum pernah mengenal kakek ini, juga belum pernah mendengar kakek yang memiliki suara seperti ringkik kuda.
Kakek ini buruk sekali.
Tubuhnya kurus dan agak bongkok, usianya tentu sudah enam puluh tahunan, mukanya hitam dan saking kurusnya nampak seperti tengkorak dengan kedua mata yang cekung dalam menghitam.
Tangan kanannya memegang sebatang tongkat hitam yang bentuknya seperti ular.
Pakiannya juga serba hitam akan tetapi terbuat dari kain yang halus dan potongannya juga indah, dihias benang emas dan kancing emas dengan batu permata.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan Begawan Buyut Wewenang, orang kedua setelah Begawan Sarutomo yang yang berkuasa di Keraton Daha sebagai guru dan penasehat raja!
Joko Handoko memperhatikan tiga orang kakek yang lain.
Yang seorang bertubuh tinggi besar dan berbadan kokoh kuat seperti raksasa, mukanya yang hitam kasar itu penuh cambang bawuk, kelihatan menyeramkan.
Kakek ini berusia sekitar lima puluh tahun dan dia adalah Ki Bajulbiru, senjata ruyungnya yang berat selalu tergantung di pinggang kanan.
Orang kedua juga berusia sebaya, mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, tubuhnya tinggi kurus dan pakaiannya seperti pakaian seorang penggembala.
Di pinggang belakang terselip gagang sebatang pecut yang ujungnya dipasangi besi kaitan!
Kakek ini bernama Ki Surodoyo.
Orang ketiga yang usianya juga lima puluhan, bernama Ki Banyakluwo, tubuhnya gendut bundar, mukanya selalu tersenyum menyeringai seperti orang mengejek, gerak-geriknya lucu akan tetapi dia kejam sekali dan mudah mengayun golok besarnya untuk membunuh orang.
Tiga ini adalah para pembantu Begawan Buyut Wewenang dan mereka memiliki kepandaian yang tinggi karena mereka bertiga ini tunggal guru dengan Ki Danyang Bagaskoro, dari perguruan Blambangan.
Melihat mereka, Joko Handoko merasa tidak enak hatinya dan malu.
Bagaimana pun juga dia tidak mengenal mereka, tidak tahu rumah siapa yang dimasukinya dan yang jelas, dia telah bersalah, memasuki rumah orang tanpa ijin, seperti seorang pencuri!
Oleh karena itu, dia merendahka diri, membungkuk dengan hormat kepada kakek bongkok di depannya itu.
"Harap para paman yang terhorat suka memaafkan saya. Saya bukan seorang pencuri dan tidak bermaksud mencuri walaupun benar saya telah memasuki rumah ini. Akan tetapi saya masuk kerena membayangi seorang yang pernah mengacau di padukuhan Sabuk Tembogo. Dia bernama gajah Putih dan seorang temannya lagi bernama Gajah Ireng ang tadi saya lihat masuk ke dalam rumah ini."
"Tidak perlu banyak alasan lagi! Engkau sudah masuk seperti maling, dan karena itu berlutut dan menyerahlah untuk kami tangkap,"
Kata pula Begawan Buyut Wewenang yang belum mengenal adannya pemuda ini, hanya tahu dari padepokan patani bahwa pemuda ini dan gadis temannya amat mencurigakan.
Keika Gajah Putih dan Gajah Ireng memasuki rumah itu, dia dan para pembantunya tahu betapa pemuda dan gadis itupun membayangi, maka cepat dia memberi isyarat kepada Gajah Putih dan Gajah Ireng untuk berpencar agar pemuda dan gadis itupun melakukan pengejaran, secara berpisah.
Joko Handoko mengerutkan alisnya.
Tak salah lagi, pikirnya.
Mereka ini tentulah teman-teman Gajah Putih dan dia memang dipisahkan dari Wulandari timbul kekhawatiran hatinya terhadap keselamaan Wulandari.
"Saya tidak bermaksud buruk, tidak ingin mencuri dan tidak ingin bermusuhan. Karena itu, harap paman suka memaafkan saya dan biarlah saya keluar lagi dari rumah ini"
Katanya dengan sikap masih hormat.
"Ha-ha-ha, waaahh, enaknya! Berkeliaran di rumah orang tanpa ijin lalu minta maaf begitu saja dan hendak pergi. Heh-heh, boleh, boleh, boleh asal mau merasakan dulu tajamnya golokku!"
Kata Ki Banyakluwo sambil terkekeh.
"Biar kuhajar dia dengan pecutku!"
Kata Ki Suryudo dan dia pun sudah mencabut Pecutnya, memutar pecut di udara dan terdengar bunyi pecut meledak-ledak.
"Berikan saja kepadaku, biar kuhantam kepalanya dengan ruyungku, hendak kulihat hanya bujat ataukah pecah berantakan!"
Kata pula Ki Bajulbiru dengan suaranya yang gemuruh seperti auman harimau.
Melihat sikap mereka, Joko Handoko melklum bahwa dia telah berada di gua harimau, dan agaknya akan sedikit sekali harapan untuk dapat keluar dari situ dengan damai.
"Nah, engkau mendengar sendiri pendapat teman-temanku, orang muda. Maka, berkutut dan menyerahlah sebelum kami menggunakan kekerasan!"
Kata pula Begawan Buyut Wewenang yang segera menduduki sebuah kursi yang dibawa datang oleh seorang pengawal.
Kakek ini memandang rendah kepada Joko Handoko dan dia sendiri sebagai pemimpin tertinggi tidak pernah atau jarang sekali turun tangan sendiri.
Cukup dengan para pengawal dan anak buahnya, atau para pembantunya saja.
Mendengar ucapan ini, Joko Handoko berdiri tegak dan kini suaranya terdengar mantap dan tegas ketika dia berkata.
"Sekali lagi aku mohon agar paman membiarkan aku keluar dari tempat ini dengan aman dan damai."
"Dan sekali lagi kami tekankan agar engkau berlutut dan menyerah!"
Bentak Begawan Buyut Wewenang.
"Kalau aku tidak menyerah?"
Tanya Joko Handoko, suaranya menetang. Kini Begawan Buyut Wewenang sudah kehabisan kesabaran.
"Tangkap bocah ini!"
Katanya kepada para pengawalnya.
Sepuluh orang perajurit pengawal berlompatan maju mengepung dan berlomba hendak menangkap pemuda itu yang nampaknya hanya seorang pemuda yang lemah lembut gerak-geriknya.
Ajkan tetapi, Joko Handoko yang maklum bahwa kalau dia membiarkan dirinya ditangkap maka nyawanya akan terancam bahaya, sudah dengan cepat sekali mengerakkan kaki tangannya dan sekali dia menyambut terjangan mereka itu, empat orang perajurit terpelanting ke kanan dan sambil mengaduh-aduh!
Melihat ini, sisa para perajurit yang jumlahnya ada enam belas orang lagi itu menjadi marah dan mereka tanpa dikomando lagi lalu menerjang ke dalam ruangan itu.
Empat orang kakek itu hanya nonton saja, membiarkan para perajurit menangkap pemuda kendel itu karena betapa pun juga mereka, terutama sekali Begawan Buyut Wewenang merasa sungkan dan malu kalau turun tangan sendiri menghadapi seorang pemuda yang masih hijau.
Tentu saja mereka harus menjaga nama kedudukan mereka sebagai jagoan-jagoan Kerajaan Daha.
Ruangan itu memang luas, akan tetapi kalau ada belasan orang mengeroyok, tentu saja menjadi sempit.
Dan para perajurit itu seperti serombongan nyamuk menerjang lilin saja layaknya.
Setiap kali menerjang dan disambut oleh Joko Handoko, mereka tentu terpelanting dan tersungkur atau terjengkang karena tamparan dan tendangan pemuda perkasa itu.
Suara mereka mengaduh-aduh memenuhi ruangan itu.
Tiba-tiba terdengar seruan Gajah Ireng dari luar pintu.
"Para paman yang berada di dalam. Dia adalah Joko Handoko yang telah membunuh Bopo Guru Ki Danyang Bagaskoro!"
Tiga orang kakek itu, Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo dan Ki Banyakluwo adalah saudara-saudara seperguruan dari mendiang Ki Danyang Bagaskoro.
Mereka berempat adalah jagoan-jagoan dari perguruan Blambangan yang dalam perantauan mereka ke barat lalu menetap di Daha dan diterima sebagai pembantu-pembantu oleh Begawan Sarutomo dan Begawan Buyut Wewenang.
Kedudukan empat orang dari Blambangan ini sudah cukup tinggi.
Ketika mereka mendengar bahwa pemuda inilah yang membunuh saudara mereka, tentu saja mereka menjadi marah bukan main.
"Babo-babo..........! Jadi inikah jahanam itu?"
Bentak Ki Bajulbiru sambil mengambil ruyung besar yang tergantung di pinggangnya.
"Dojleng-dojleng iblis laknat. Aku harus membalaskan kematian kakang Bagaskoro!"
Teriak Ki Suroyudo yang melolos pula pecut yang tadi telah diselipkannya lagi ke ikat pinggangnya.
"Para perajurit mundurlah! Kami akan menghadapi tikus ini!"
Ki Banyakluwo juga membentak.
Sambil mencabut golok besarnya.
Tadi tiga orang ini merasa sungkan dan malu menandingi pemuda itu karena mereka memandang rendah dan menurunkan derajat mereka kalau mengeroyok seorang pemuda hijau.
Akan tetapi setelah mendengar bahwa pemuda itu adalah pembunuh saudara mereka, merekapun tahu bahwa pemuda itu memiliki kesaktian, dan kemarahan membuat mereka tidak malu-malu lagi untuk maju bersama melakukan pengeroyokan terhadap seorang lawan yang begitu masih muda.
Para perajurit pengawal cepat mundur sambil menarik teman-teman yang terluka keluar dari ruangan itu.
Hati merasa lega karena mereka tadi masih belum roboh sebelumnya mereka merasa gentar sekali mengahapi amukan pemuda perkasa itu.
Pemuda itu demikian kuatnya,bahkan menangkisi senjata tajam dengan kedua tangan begitu saja tanpa terluka sedikitpun.
Kini mereka keluar dan hanya berjaga di luar pintu untuk mengepung pemuda itu.
Begawan Buyut Wewenang hanya nonton, masih duduk di kursinya, sikapnya tenang seolah-olah kehebatan pemuda itu bukan apa-apa baginya.
Dia ingin melihat apakah tiga orang pembantunya akan berhasil mengalahkan pemuda perkasa ini.
Kini tiga orang kakek itu sudah melangkah maju dengan senjata masing-masing, mengepung Joko Handoko dengan membentuk segi tiga.
Seorang, yaitu Ki Bajulbiru, langsung berhadapan dengan pemuda itu sedangkan dua orang temannya.
Ki Suroyudo dan Ki Banyakluwo datang diri kanan kiri agak ke belakang Joko Handoko dkepung dari tiga penjuru dan dia berdiri tegak dengan sikap tenang.
Dia maklum bahwa bicara lagi tidak ada gunanya.
Agaknya merek ini merupakan komplotan dari Gajah Putih dan Gajah Ireng bersama guru mereka.
Dia sudah membunuh Ki Danyang Bagaskoro, maka tentu saja mereka tidak akan mau melepaskan dia begitu saja.
Yang membuat dia merasa gelisah adalah kalau dia teringat kepada Wulandari.
Bagaimana nasib gadis itu?
Gadis itu tadi membayangi Gajah Ireng dan kini Gajah Ireng sudah muncul di situ, ketika berteriak memperenalkan dirinya.
Akan tetapi, dalam keadaan gawa seperti itu, Dia menyingkirkan rasa khawatirnya terhadap keselamatan Wulandari dan bersikap waspada menghadapi pengepungan tiga orang lawannya.
Dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang pandai yang memiliki tingkat seperti Ki Danyang Bagaskoro.
Karena itu, melihat betapa tiga orang lawan sudah memegang senjata masing-masing, diapun cepat maraba gagang kerisnya dan segera, nampak sinar berkilat ketika Keris Pusaka Nogopasung sudah telanjang dalam genggaman tangan kanannya.
"Tar-tar-taaaarrrr..................!"
Cambuk berujung kaitan besi di tangan Ki Suroyudo meledak-ledak di atas kepala Joko Handoko.
Akan tetapi garakan itu hanya merupakan gertak saja Joko Handoko tetap.......berdiri tegak, tidak menjadi panik.
Aaahhhhhhh......................!"
Ki Bajulbiru menggereng dan tiba-tiba tubuhnya yang tinggi dan besar itu menerjang ke depan, ruyung di tanga kanannya menyambar.
Ruyung itu beratnya tidak kurang dari dua puluh lima kati, digerakkan oleh tenaga yang kuat maka menyambar dahsyat sekali ke arah kepala Joko Handoko dalam serangan pertama yang langsung datang dari depan itu.
Joko Handoko dengan sikap tenang menggeser kaki dan memutar tubuhnya miring ke kiri.
"Wuutttttt......."
Ruyung itu menyambar di samping kepala Joko Handoko. Angin pukulan yang dahsyat itu masih bertiup dan membuat rambut pemuda itu berkibar.
"Singgggg........!"
Golok menyambar ke arah lambung Joko Handoko ketika Ki Banyakluwo menyambut elakannya dari sambaran ruyung tadi, disusul oleh suara ledakan pecut dari atas.
"Syuuuuuuuttt............!"
Ujung cambuk itu menyambar turun, seperti patuk seekor burung menyerang ubun-ubun kepala pemuda itu!
Menghadapi dua serangan susulan yang amat berbahaya ini, Joko Handoko memperlihatkan kegesitan tubuhnya.
Dengan langkah cepat dan menyelinap sehingga ujung pecut tidak mengenai sasaran melainkan lewat saja di dekat telinganya, dan dia pun sambil membalik, mengerakkan kerisnya menyambut golok yang mengaancam lambung.
"Cringggggg..........!"
Bunga api berpijar dan Ki Banyakluwo yang bertubuh bundar berperut gendut itu terhuyung, tidak kuat dia bertahan ketika goloknya bertemu dengan Keris Pusaka Nogopasung.
Ada hawa panas yang aneh menyusup ke tangannya yang memegang golok dan tahulah dia bahwa pemuda itu memiliki sebatang keris yang amat ampuh.
Pada saat itu, untung baginya, Ki Bajulbiru sudah menyerang lagi dengan menghantamkan ruyungnya ke arah dada Joko Handoko.
Pemuda ini terpaksa tidak dapat menyusulkan seranga kepada Ki Banyakluwo yang sudah terhuyung, dan tenaganya dikerahkan ke arah lengan kirinya ketika dia menangkis ruyung yang datangnya telalu cepat untuk dapat dielakkan dengan baik.
"Dukk!"
Lengan pemuda itu bertemu ruyung, namun ruyungnya yang terpental seperti bertemu dengan lengan baja.
Ia dan Ki Bajulbiru mengeluarkan seruan marah karena telapak tangannya seperti hampir lecet rasanya.
Dia menjadi marah dan memutar ruyungnya, lalu menyerang kalang kabut seperti seekor kerbau mengamuk.
Penyerangannya yang bertubi-tubi itu diikuti oleh Ki Suroyudo yang memutar-mutar pecutnya, menyerang dari atas dan dari samping, dibarengi pula dengan gerakan golok di tangan Banyaklawo.
Tiga buah senjata para pengeroyok itu bergerak sedemikian cepatnya sehingga yang tampak hanya tiga gulungan sinar yang mengepung dan membungkus tubuh Joko Handoko!
Akan tetapi, pemuda yang maklum akan kesaktian tiga orang lawannya, mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk melindungi dirinya, dengan elakan-elakan, tangkisan-tangkisan, dan benturan kerisnya.
Akan tetapi karena tiga orang lawannya itu menghujankan serangan, dia pun tidak sempat untuk membalas dan dia sedang mencari-cari kesempatan untuk mempergunakan Ilmu Sakti Nogopasung untuk membalas serangan tiga orang pengeroyok yang tangguh itu.
Dan kesempatan itu tiba setelah dia mempertahankan diri selama kurang lebih seperempat jam!
Biarpun dia mampu melindungi dirinya dan tidak sampai roboh oleh serangan bertubi-tubi ini sedikitnya tiga kali dia terkena gebukan ruyung dan celananya robek pada bagian paha kanannya kena sambaran golok, namun kehebatan tubuhnya masih melindungi sehingga dia belum terluka!
Dan kesempatan itu pun tiba.
Ketika itu, cambuk Ki Suroyudo untuk kesekian kalinya menyambar dan ujung cambuk dari kaitan-kaitan besi itu menyambar ke arah ubun-ubun kepalanya.
Bagian ini tentu akan tertembus dan terkait ujung cambuk kalau saja dia tidak bertindak cepat.
Padahal beberapa detik kemudian, ruyung Ki Bajulbiru sudah menyambar lagi ke arah kepalanya juga.
Untuk menangkis tidak mungkin karena pada saat itu, kerisnya sedang menangkis golok Ki Banyakluwo.
Dalam keadaan yang amat genting itu, Joko Handoko memperlihatan kegesitannya.
Tangan kirinya menyambar dan dia berhasil menangkap ujung cambuk, lalu dengan gerakan kuat sekali, dengan sentakan tiba-tiba, dia menarik dan dengan cambuk itu dia berhasil melibat ruyung yang menyambar!
Dengan demikian, sekaligus dia membuat cambuk dan ruyung yang saling libat dan itu tidak dapat menyerangnya dirinya.
Kakinya menendang dengan cepat sekali pada saat Ki Banyakluwo yang agak lambat gerakannya itu termangu melihat betapa senjata kedua orang temannya saling libat.
"Desss.......!"
Tubuh yang bundar gendut itu terguling-guling dan inilah kesempatan baik yang ditunggu-tunggu oleh Joko Handoko.
Selagi Ki Bajulbiru dan Ki Suroyudo belum dapat menyerangnya karena ujung cambuk masih melibat ruyung, dan selagi Ki Banyakluwo terguling, dia lalu cepat mengerahkan aji Nogopasung dan sambil mengeluarkan pekik dahsyat diapun menggerakkan keris pusaka Nogopasung ke depan, menyerang Ki Banyakluwo dengan dahsyat.
Kalau seorang di antara tiga pengeroyoknya roboh dan tewas lebih dulu, tentu akan mudah baginya mengatasi dua orang pengeroyok lainnya.
Hebat bukan main serangan Joko Handoko yang ditujukan kepada Ki Banyakluwo yang masih belum sempat bangun setelah tadi terguling itu.
Sinar keris pusaka itu menyambar dengan ganasnya, dibarengi hawa pukulan sakti yang amat dahsyat, menyerbu ke arah tubuh Ki Banyakluwo yang karena gendutnya tiodak dapat cepat bangkit kembali itu.
Pada saat itu nampak sinar hitam menyambar dari samping, menangkis sinar keris pusaka Nogopasung.
"Tranggg......!!"
Terjadi pertemuan antara dua senjata dan dua tenaga yang amat kuat, yang membuat Joko Handoko terkejut sekali karena serangannya terhenti di tengah jalan, seolah-olah bertemu dengan benteng baja yang menghadang di depan.
Akan tetapi, penangkisnya juga mengeluarkan seruan kaget karena pertemuan antara dua senjata itu membuatnya tergetar hebat.
Ketika Joko Handoko memandang, kiranya yang menangkis keris itu adalah sebatang tongkat hitam yang berbentuk ular, yang dipegang oleh Begawan Buyut Wewenang sendiri!
Kakek kurus bongkok ini tadi melihat betapa seorang di antara para pembantunya terancam bahaya maut, maka dia turun tangan menangkis serangan maut yang dilakukan Joko Handoko.
Dan dari pertemuan tongkat ular hitam dengan pusaka Nogopasung, pemuda perkasa itupun maklum bahwa kakek kurus bongkok itu ternyata memang sakti dan tangguh sekali, lebih tangguh dibandingkan tiga orang pengeroyoknya!
Akan tetapi, tangkisan itu pun membuat dia menjadi marah.
"Kakek licik, engkau boleh mengeroyokku! Jangankan hanya engkau, keluarkan seluruh pembantumu untuk mengeroyokku, aku tidak akan mundur selangkah!"
Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara keras membentak.
"Joko Handoko, lihat siapa yang sudah kami tangkap ini! Hentikan perlawananmu atau ia akan kucekik mampus di depan matamu!"
Joko Handoko memutar tubuh di kanan dan wajahnya seketika berubah ketika dia melihat munculnya Gajah Putih yang mendorong tubuh Wulandari yang sudah terbelenggu kedua tangannya di belakang pinggilnya.
Gadis itu telah tertawan!
"Jangan pedulikan aku, kakang!
Bunuh tikus-tikus ini!"
Wulandari berteriak dan beusaha meronta.
Akan tetapi belenggu itu terlampau kuat dan Gajah Putih juga sudah memegang pergelangan tangannya dengan kuat.
Ia tadi juga terperangkap ketika mengejar bayangan Gajah Ireng yang memancingnya memasuki sebuah ruangan di samping bangunan besar itu dan ketika ia tiba di dalam ruangan, Gajah Ireng muncul bersama belasan orang perajurit yang mengepungnya.
Tentu saja ia melawan mati-matian.
Akan tetapi sabuk tembogo di tangannya tidak dapat menandingi pengeroyokan mereka.
Baru menghadapi Gajah Ireng saja ia pernah kalah, apa lagi kini Gajah Ireng dibantu oleh belasan orang perajurit.
Setelah melawan mati-matian, akhirnya ia pun tertawan dan dibelenggu, lalu di bawa ke tempat di mana Joko Handoko masih mengamuk.
Melihat kehebatan pemuda itu, Gajah Putih menggunakan akal, membawa Wulandari yang sudah terbelenggu ke dala m dan mengancam akan membunuh gadis itu kalau Joko Handoko tidak mau menyerah.
Tentu saja Joko Handoko menjadi bingung dan biar pun gadis itu minta agar dia tidak memperdulikannya dan terus mengamuk, dia tidak berani melakukan hal ini.
Orang-orang macam Gajah Putih itu kejam sekali dan mungkin saja akan melaksanakan ancamannya lebih dahulu membunuh Wulandari, baru kemudian mengeroyoknya.
Diapun maklum bahwa kalau pengeroyokan itu ditambah majunya Begawan Buyut Wewenang yang ternyata amat sakti itu, diapun akhirnya akan kalah juga.
Melihat keraguan pada wajah Joko Handoko, Begawan Buyut Wewenang terkekeh.
"Ha-ha-ha, bocah bagus, menyerahlah kalau ingin selamat bersama gadis itu."
Mengingat akan keselamatan Wulandari, Joko Handoko manarik napas panjang lalu menyarangkan keris pusaka Nogopasung.
"Baiklah, aku menyerah, akan tetapi bebaskan gadis itu, ia tidak bersalah."
"Tidak, kami maju berdua. Aku tidak mau dibebaskan kalau dia ditawan!"
Wulandari berseru.
"Heh-heh-heli!"
Begawan Buyut Wewenang terkekeh dan berkata kapada Gajah Putih dan Gajah Ireng.
"Belenggu juga pemuda itu!"
Dua orang bekas lawan Joko Handoko itu bergerak ke depan dan Joko Handoko tidak melawan ketika kedua lengannya ditelikung ke belakang seperti halnya Wulandari dan dibelenggu dengan kulit kerbau yang amat kuat.
Akan tetapi ketika Begawan Buyut Wewenang merampas keris pusaka Nogopasung dia memandang dengan mata menyala.
"Kembalikan kerisku!"
Akan tetapi kakek itu hanya menyeringai dan mencabut keris pusaka Nogopasung, diamatinya dengan kagum lalu mengangguk-angguk.
"Orang-orang Tumapel memang pandai membuat keris yang baik. Keris ini baik sekali, heh-heh-heh!"
Dan kakek itupun menyelinapkan keris dengan sarungnya ke ikat penggang sendiri. Joko Handoko tidak berdaya, terpaksa menahan kemarahannya.
"Siapakah kalian dan mengapa kalian menawan kami berdua?"
Tanyanya.
"Hemm, pemuda tinggi hati! Engkaulah yang menjadi tawanan dan engkaulah yang memperkenalkan diri dan maksudmu membayangi Gajah Putih dan Gajah Ireng,"
Kata Begawan Buyut Wewenang yang kini berdiri di dekat Wulandari, keduanya terbelenggu kedua tangan mereka.
"Tentu engkau sudah mendengar dari Gajah Putih dan Gajah Ireng siapa kami,"
Jawab Joko Handoko.
"Gadis ini adalah Wulandari, puteri ketua Sabuk Tembogo mendiang Ki Bragolo dari lereng Kawi. Adapun aku, aku bernama Joko Handoko dari Gunung Anjasmoro."
"Ada hubungan apa antara engkau dan Sabuk Tembogo maka engkau membela, perkumpulan itu?"
Tanya, pula Begawan Buyut Wewenang yang tentu saja telah mendengar penuturan Gajah Putih dan Gajah Ireng tadi tentang pemuda perkasa ini, yang bahkan telah membunuh Ki Danyang Bagaskoro, seorang di antara para pembantunya yang boleh diandalkan.
"Aku hanya, sahabat dari Sabuk Tembogo, kebetulan aku berada di sana ketika Gajah utih dan Gajah Ireng datang mengacau, kemudian melihat Ki Danyang Bagaskoro, guru mereka, hendak membunuh puteri kanjeng Senopati Pamungkas, aku mencegahnya sehingga dia tewas. Karena itu, ketika kami melihat dua orang ini, kami menjadi curiga dan kami lalu membayangi mereka,"
Joko Handoko sengaja membuat pengakuan itu karena di dapat menduga bahwa tanpa dia menceritakan, tentu kakek ini sudah mendengar dari Gajah Putih dan Gajah Ireng yang jelas merupakan anak buahnya.
Kakek itu mengangguk-angguk, lalu menatap wajah Joko Handoko dan wajah Wulandari dengan penuh perhatian.
Hatinya tertarik sekali kepada pemuda perkasa ini.
Seorang pemuda yang benar-benar tangguh dan kalau saja dia dapat menarik pemuda itu menjadi pembantunya, tentu kedudukannya menjadi semakin kuat dan dia dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih baik lagi.
Bukankah dengan memiliki seorang pembantu orang Tumapel, berilmu tinggi lagi, maka akan lebih mudah baginya untuk mengadu domba dan melemahkan Tumapel?
"Joko Handoko, engkau masih muda dan memiliki kepandaian tinggi.
Apalagi engkau tidak ingin memperoleh kedudukan tinggi dan hidup dalam kemuliaan?
Engkau bantulah kami, dan engkau bersama gadis ini akan diampuni, bahkan akan meperoleh kedudukan yang mulia."
Tentu saja Joko Handoko merasa terkejut dan heran mendengar ini, tetapi semua itu tidak nampak pada wajahnya yang tetap tenang.
Dia seorang cerdik tidak mudah terbujuk kata-kata manis.
Dia memandang tajam dan penuh selidik kepada kakek bongkok bermuka hitam buruk itu, lalu bertanya dengan suara tenang.
"Siapakah paman yang bepakaian seperti seorang pendeta ini, dan bantuan apakah yang dapat kami berikan kepada paman sekalian?"
Terdengar suara tertawa bergelak dan yang tertawa itu adalah Ki Banyakluwo yang bertubuh gendut bundar.
"Ha-ha-ha, orang-orang Tumapel memang bodoh dan tidak tahu apa-apa sampai tidak mengenal orang! Joko Handoko, engkau berhadapan dengan seorang di antara mereka yang berkuasa, di Kerajaan Daha dan engkau masih belum mengenal beliau. Beliau ini adalah Sang Begawan Buyut Wewenang, penasihat Sang Prabu Dandang Gendis!"
Terkejut juga hati Joko Handoko mendengar ini.
Memang dia belum pernah mengenal tokoh-tokoh Daha, bahkan pergi kemanapun belum, akan tetapi, dia pernah mendengar dari kakeknya bahwa di Daha terdapat banyak orang pandai dan seorang di antaranya adalah Begawan Buyut Wewenang dan menjadi pensihat raja di samping kakaknya yang paling berkuasa di bawah raja, yaitu Begawan Sarutomo, puruhito/pendeta istana, Daha.
Joko Handoko kini menatap tajam wajah kakek yang buruk rupa itu, lalu menolah memandang ke kanan kiri, menatap wajah tiga orang kakek yang tadi mengeroyoknya, lalu berkata.
"Ah kiranya andika bertiga tentu bukan orang-orang sembarangan pula."
Pemuda ini memang ingin mengenal mereka agar dia tahu dengan siapa mereka berhadapan. Ki Banyakluwo geli.
"Ha-ha kami bertiga adalah saudara seperguruan dengan Ki Danyang Bagaskoro. Kami dari Blambangan dan kini menjadi pembantu-pembantu Sang Begawan Buyut Wewenang. Namaku Ki Banyakluwo, dan kedua saudaraku ini adalah Ki Bajulbiru dan Ki Suroyudo."
Joko Handoko diam-diam mencatat nama-nama itu,kemudian bertanya kepada Begawan Buyut Wewenang.
"Sang Begawan, andika sekalian adalah tokoh-tokoh Daha yang berkedudukan tinggi. Sedangkan kami berdua hanyalah rakyat dari Tumapel. Bantuan apa yang andika harapkan dari kami?"
"Hemm, Tumapel hanya sebuah daerah yang kecil saja, akan tetapi sikap Sang Akuwu Tunggal Ametung amat tinggi hati. Sang Prabu Kertajaya di Daha masih bersikap sabar, akan tetapi kalau singa itu dibiarkan meliar dan tumbuh tanduk dan sayap, tentu akan menjadi semakin ganas. Karena itu, tugas kami adalah mematahkan tanduk dan sayap itu, agar Tumapel tidak menjadi semakin sombong saja."
"Maksud andika......., Daha hendak menggempur Tumapel?"
"Ahh, tidak sama sekali"
Kami melihat Tumapel menjadi lemah dengan sendirinya tanpa kami menggempurnya.
Kami ingin membiarkan kekuatan-kekuatan dfi Tumapel saling gempur sendiri, bermusuhan sendiri sehingga ahirnya Tumapel akan menjadi lemah dengan sendirinya.
Kalau engkau mau membantu kami, tentu akan lebih mudah bagi kami untuk mengadu dombakan antara mereka, menimbulkan pertentangan dan permusuhan di antara kekuatan-kekuatan yang ada di daerah Tumapel."
"Ahhh......"
Joko Handoko memandang dengan mata terbelalak kepada kakek bermukahitam buruk itu. Kini mengertilah dia akan segala fitnah yang dijatuhkan pada pihak Sabuk Tembogo.
"Aku mengerti sekarang!"
Wulandari berseru marah.
"Keparat-keparat inilah yang telah mengadu domba antara Sabuk Tembogo dengan kadipaten dan..........dua orang bertopeng yang membunuh perajurit-perajurit dengan pukulan Hastorudiro itu...., ah tentu untuk mengadu dombakan pihak perkumpulan Hastorudiro dengan pemerintah Tumapel, seperti juga orang-orang yang mempergunakan ilmu dan sabuk tembaga untuk menjatuhkan fitnah pada perkumpulan kami!"
Joko Handoko yang memandang gadis itu mengangguk-angguk.
"Dan Eyang Panembahan Pronosidhi juga terbunuh ketika orang-orang Hastorudiro datang menyerbu."
Dia lalu mamandang lagi kepada Buyut Wewenang.
"Jadi semua peristiwa itu adalah buatan andika untuk mengadu-domba antara kekautan-kekuatan di Tumapel untuk melemahkan Tumapel?"
Begawan Buyut Wewenang tertawa.
"Kalian adalah orang-orang muda yang cerdik. Benar sekali dugaan kalian, memang kami bertugas untuk melemahkan Tumapel dan kami mempegunakan siasat mengadu domba antara kekuatan-kekuatan yang ada di Tumapel. Joko Handoko dan Wulandari, jangan merasa heran mendengar betap aku menceritakan semua ini terang-terangan kepada kalian, kau kalian tidak mempunyai pilihan lain kecuali bersedia membantu kami dengan tugas kami, atau kalian akan kami bunuh karena kalian telah mengetahui rahasia kami."
"Kami kira kami pengkhianat-pengkhianat hina? Tidak sudi! Lebih baik dibunuh daripada hidup menjadi kaki tangan kalian, menjadi pengkhianat-pengkhianat keji!"
Wulandari membentak marah dan Joko Handoko mengangguk-angguk kagum. Gadis ini memang hebat, pikirnya."Sang Begawan, andika sudah mendengar sendiri pendirian kami,"
Sambungnya.
Begawan Buyut Wewenang menjadi kecewa dan marah sekali kepada Wulandari yang dianggapnya mempengaruhi Joko Handoko.
Dia tidak begitu mengharapkan bantuan gadis itu yang tingkat kepandaiannya tidak begitu hebat, melainkan mengharapkan Joko Handoko.
Akan tetapi gadis itu mendahului dengan teriakannya tadi yang tentu saja mempengaruhi batin pemuda itu.
Padahal, tanpa teriakan Wulandari sekalipun, agaknya kakek itu tidak memiliki harapan untuk berhasil membujuk Joko Handoko menjadi seorang pengkhianat.
"Joko Handoko, selagi kami minta agar engkau suka membantu kami, untuk itu, selain pengampunan (Lanjut ke
Jilid 10) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10 bagi kalian, kami juga menjanjikan kemuliaan dan kedudukan yang baik untukmu. Kalau engkau menolak, berarti kematian bagi kalian! Mana yang kau pilih?"
"Heiiii, kunyuk tua, lutung hitam busuk! Kenapa masih cerewet lagi? Kami adalah kesatria-kesatria sejati yang tidak sudi menjadi pengkhianat. Mau bunuh? Lekas bunuh, kami bukanlah orang-orang yang takut mati seperti kamu!"
Wulandari berteriak marah karena khawatir kalau-kalau pemuda itu akan terbujuk, kekhawatiran yang tidak berdasar.
"Begawan Buyut Wewenang, percuma saja andika membujuk kami. Kami tidak sudi menjadi pengkhianat."
Joko Handoko berkata. Sang Begawan meloncat turun dari kursinya, kakinya mencak-mencak karena marah mendengar makian Wulandari dan penolakan Joko Handoko.
"Baik, kalian akan mampus sekarang juga. Eh, tidak..... tidak begitu enak! Kalian akan disiksa, dan engkau perempuan lancang mulut, engkau akan menderita siksaan yang paling berat yang mungkin diderita seorang perempuan. Dia lalu menoleh dan menggapai Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo, Ki Banyakluwo, Gajah Putih dan Gajah Ireng, lalu berkata kepada mereka berlima.
"Siksaan apakah yang patut dijatuhkan kepada perempuan lancang ini sebelum ia dibunuh?"
"Paman Begawan, serahkan saja ia kepada saya!"
Kata Gajah Putih dan sepasang matanya seperti hendak menelan bulat-bulat Wulandari yang cantik jelita itu.
"Ho-ho, nanti dulu, Gajah Putih. Aku juga ingin mempermainkannya sebelum ia dibunuh, dan karena Aku paman gurumu, engkau harus mengalah kepadaku!"
Kata Ki Banyakluwo yang biarpun tubuhnya gendut seperti bola, terkenal mata keranjang dan suka mempermainkan wanita cantik itu.
Akan tetapi yang lain-lain nampaknya tidak setuju karena siapakah yang tidak tertarik melihat Wulandari gadis berusia enam belas tahun yang hitam manis, tubuhnya sedang mekar seperti setangkai bunga, tegaop berisi, sikapnya yang kenes dan galak akan tetapi memanbah daya tariknya itu?
Melihat betapa lima orang itu seolah berebutan, Begawan Buyut Wewenang tertawa.
"Ha-ha-ha, kalian ini seperti lima ekor anjing diberi tulang! Akan tetapi yang kuberikan itu bukan tulang, melainkan daging lunak. Nah, sekarang begini saja. Kalian berlima boleh mengeroyoknya di sini, di depan mata Joko Handoko, kecuali......", kecuali kalau dia mau membantu kita. Bagaimana, Joko Handoko, apakah engkau masih berkeras dan membiarkan gadis ini diperkosa beramai-ramai di depan matamu, dipermainkan sampai mati? Setelah ia mati, barulah tiba giliranmu. Bagaimana? Masihkah engkau hendak berkeras?"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan melengking yang keluar dari mulut Wulandari dan Joko Handoko.
Gadis itu, biarpun kedua tangannya dibelenggu ke belakang, sudah meloncat ke depan dan mengirim tendangan kepada orang terdekat.
Dan pada saat yang sama.
Joko Handoko juga sudah meloncat ke depan Begawan Buyut Wewenang dan juga menyerang dengan tendangan kakinya yang masih bebas.
"Desss.......!"
Gajah Ireng yang berdiri paling dekat dengan Wulandari, tidak sempat menyingkir karena tidak menduga akan serangan itu sehingga ketika dia menangkis, tetap saja tendangan itu menerobos tangkisannya dan mengenai pahanya, membuat dia terpelanting.
Akan tetapi, Begawan Buyut Wewenang dapat meloncat dan mengelak dari tendangan Joko Handoko, kemudian dari samping tangannya menyambar.
"Deesss.............!"
Pundak Joko Handoko kena ditampar dan tubuh pemuda itu terpelanting dan terbanting keras.
Sementara itu, Gajah Putih juga berada dekat Wulandari, menjadi marah melihat saudaranya tertendang, diapun menampar dan tamparan yang keras mengenai leher Wulandari, membuat gadis itupun terpelanting keras dan bergulingan!
Tubuh Joko Handoko yang terpelanting itu disambut tendangan-tendangan oleh Ki Bajulbiru dan Ki Banyakluwo, sehingga tubuh pemuda itu terlempar ke sana sini.
Gajah Ireng yang tadi menerima tendangan, menjadi marah dan diapun menubruk ke arah Wulandari yang masih rebah di atas lantai.
Akan tetapi, Wulandari dapat bergulingan sehingga tubrukan itu luput dan gadis itu pun meloncat bangun.
Akan tetapi, kainnya dapat dicengkeram oleh Ki Bajulbiru dan sekali dorong, tubuh Wulandari kembali terpelanting.
Sebelum Ia dapat bangkit, rambutnya yang terlepas dari sanggulnya telah dijambak oleh Ki Banyakluwo yang menariknya bangun.
Sambil tersenyum menyeringai, Ki Banyakluwo yang berperut gendut itu lalu menarik rambut itu sehingga muka gadis itu dekat dengan mukanya, dan diapun siap untuk menciumnya.
Akan tetapi Wulandari yang sudah nekat itu lalu meludah.
"Cuhh.........!""Keparat.....!"
Ki Banyakluwo mendorong kepala gadis itu dan melepaskan jambakannya karena kedua matanya terpaksa, dipejamkan ketika kena semburan air ludah.
Dia marah sekali, akan tetapi ketika itu, tubuh Wulandari yang didorong sudah dirangkul dan didekap oleh Ki Suroyudo.
Sementara itu, Joko Handoko berusaha untuk melawan walaupun hanya dengan kedua kakinya.
Akan tetapi, untuk kesekian kalinya, terpaksa roboh lagi dan dipukul sana sini, ditendang sana sini.
Tiba-tiba terdengar suara yang dalam dan berwibawa sekali.
"Hemmm, Jagat Dewa Bathara! Apa yang sedang terjadi di sini?"
Begawan Buyut Wewenang dan para pembantunya terkejut bukan main melihat munculnya dua orang itu.
Seorang kakek berusia enampuluh tahun lebih, berpakaian seperti pendeta buddha, hanya kain kuning dilibatkan di badan, kepalanya tidak gundul seperti biasanya pendeta buddha melainkan berambut dan digelung ke atas seperti pendeta Siwa.
Kakek ini bertubuh tinggi besar, kulitnya bersih dan mukanya juga bersih dari cambang, jenggot atau kumis, sepasang matanya lebar terbelalak dan bersinar tajam, walaupun mengandung sifat yang lembut.
Adapun orang ke dua jelas merupakan seorang priayayi dengan pakaian seorang pangeran.
Dan orang ini berusia kurang lebih tigapuluh tahun, bertubuh tegap dan bersikap gagah, dengan sinar mata yang tajam melihat semua peristiwa yang terjadi di dalam ruangan itu.
Kakek pendeta itu bukan lain adalah Ki Danyang Maruto, seorang pendeta Siwa Buddha di Kerajaan Daha, seorang tokoh putih yang disegani karena dia terkenal seorang yang sakti dan suci.
Adapun pemuda itu adalah Pangeran Maheso Walungan, adik dari Sang Prabu Dandang Gendis, seorang pangeran yang terkenal sebagai seorang ahli perang dan senopati yang berani dan gagah perkasa!
Ki Suroyudo masih mendekap tubuh Wulandari di dadanya.
Melihat munculnya sang pangeran, Ki Suroyudo menjadi salah tingkah, masih mendekap tubuh muda itu akan tetapi dia memandang kepada dua orang yang baru datang itu dengan muka bodoh dan melongo.
"Ki Suroyudo, apa yang kau lakukan ini? Menghina seorang wanita muda?"
Bentak Pangeran Maheso Walungan sambil melangkah maju.
"Ti..... tidak, gusti pangeran......."
Kata Ki Suroyudo, akan tetapi lengan kirinya masih merangkul pinggang dan lengan kanannya merangkul leher gadis itu yang sudah tidak berdaya.
"Tidak? Keparat, memalukan saja engkau sebagai abdi Kerajaan Daha!"
Bentak Sang Pangeran dan kakinya bergerak menendang.
"Dess......! Aduhhhhh......!"
Tubuh Ki Suroyudo terlempar dan terbanting keras.
Dia merasa kesakitan, akan tetapi tidak tidak berani melawan dan merangkak bangun sambil mengusap darah dari bibirnya yang pecah ketika terbanting tadi.
"Dan kalian sedang menyiksa orangnya? Beginikah sikap ksatria-ksatria Daha? Sungguh memalukan sekali!"
Sang Pangeran lalu memegang lengan Joko Handoko dan membantunya bangkit sendiri. Tubuh pemuda itu bengkak-bengkak dan lecet-lecet, akan tetapi tidak terluka berat karena tubuhnya dilindungi kekebalan.
"Paman Begawan Buyut Wewenang!"
Kini Sang Pangeran menghadap pendeta itu dengan alis berkerut.
Dia selama ini memang tidak suka kepada begawan ini, juga Begawan Sarutomo karena maklum bahwa kedua orang pendeta ini adalah pembujuk dan perayu yang amat dipercaya oleh kakaknya, Sang Prabu Dandang Gendis.
"Coba ceritakan, apa yang telah Andika lakukan di sini? Menyiksa seorang pemuda dan menghina seorang gadis?"
"Harap Paduka suka memaafkan mereka. Raden Maheso Walungan,"
Kata Begawan Buyut Wewenang dengan tenang.
Biarpun dia menghadap adik raja, namun dia sendiri memiliki kekuasaan dan dipercaya oleh Sang Prabu, bahkan apa yang dilakukannya sekarang ini ada hubungannya dengan tugas yang diterimanya dari Sang Prabu sendiri, maka dia dengan Sang Prabu memang tidak pernah ada keakraban karena pengeran itu condong untuk menentang dia dan kakaknya, yaitu Begawan Sarutomo.
Dan sikapnya pun tidak terlalu hormat kepada pangeran itu.
"Mereka tidak bersalah dan kami sama sekiali bukan sedang menyiksa seorang pemuda dan menghina seorang gadis, melainkan menghajar mata-mata Tumapel. Orang muda itu seorang penjahat besar, Raden, kaerena dia telah membunuh Ki Danyang Bagaskoro."
"Bohong besar.........!"
Wulandari berseru marah.
"Mereka semua ini adalah pembohong-pembohong dan penjahat-penjahat keji. Mereka tadi bermaksud memperkosaku ramai-ramai di depan Kakang Joko Handoko untuk memaksa Kakang Handoko menjadi kaki tangan mereka! Akan tetapi kami tidak sudi, lebih baik mati daripada menjadi pengkhianat!"
Pangeran ini memandang kepada gadis ini dengan hati tertarik.
Jelas bukan seorang gadis sembarangan, pikirnya.
Sikapnya seperti seorang puteri sejati, seperti seorang pendekar wanita yang gagah perkasa.
"Apakah engkau orang Tumapel?"
Tanyanya sambil menatap tajam wajah yang manis itu.
"Benar, Raden........"
"Hushhh, beliau ini dalah Gusti Pangeran Maheso Walungan dari Daha, jangan bersikap sembarangan!"
Bentak Gajah Putih yang hendak mencari muka kepada Sang Pangeran.
"Diam kau!"
Pangeran Maheso Walungan membentak Gajah Putih, lalu berkata kepada Wulandari.
"Lanjutkan keteranganmu."
Wulandari tadi sudah mendengar betapa Ki Suroyudo menyebut Gusti Pangeran, akan tetapi karena belum mengenal orang muda ini, maka ia hanya menyebut raden seperti sebutan yang dipakai oleh Buyut Wewenang.
Kini, mendengar keterangan Gajah Putih, diam-diam ia terkejut.
Kiranya seorang pangeran sungguh-sungguh!
"Hamba bernama Wulandari dari Tumapel, Gusti Pangeran."
"Dan engkau memusuhi Daha?"
"Sama sekali tidak! Akan tetapi, kalau kami berdua dipaksa harus membantu mereka yang hendak mengacau di Tumapel, harus mengadu domba kekuatan-kekuatan di Tumapel, tentu saja kami menolak."
Pangeran itu sudah mendengar akan siasat yang dilakukan kakaknya, yaitu hendak melemahkan Tumapel dengan cara mengadu domba.
Dia sama sekali tidak setuju dengan cara yang dianggapnya pengecut itu.
Kalau Tumapel memang menentang, sepatutnya diserbu dan dikalahkan, bukan dikacau seperti itu.
Karena inilah dia datang ke Memeling bersama Ki Danyang Maruto yang menjdi gurunya.
Gurunya, seperti para pendeta Siwa Budha yang lain, juga tidak setuju dengan cara-cara yang dipakai raja, yang menurut saja dibujuk oleh kedua orang pendeta yang menjadi pensehat raja.
"Orang muda, siapakah engkau dan benarkah engkau membunuh Ki Danyang Bagaskoro?"
Pangeranitu bertanya.
"Maaf, Kanjeng Pangeran, sebelum bicara hamba ingin membebaskan diri dulu dari belenggu ini agar lebih leluasa."
Berkata demikian, Joko Handoko mengerahkan tenaganya ke dalam kedua tangannya, lalu sekali renggut terdengar suara keras karena belenggu yang terbuat dari kulit kerbau itu telah putus-putus!
Melihat ini, diam-diam Sang Pangeran menjadi kagum.
Dia mengenal tali kerbau itu.
Akan tetapi pemuda ini dapat merenggutnya satu kali putus seolah-olah tali itu terbuat dari kulit pohon pisang saja!
"Orang muda perkasa, kenapa baru sekarang engkau membikin putus belenggu tanganmu, tidak dari tadi ketika kalian disiksa?"
Sang Pangeran bertanya heran.
"Hal itu tak mungkindapat hamba lakukan karena mereka tadi mengancam hendak membunuh Wulandari kalau hamba melawan,"
Joko Handoko yang segera menghampiri Wulandari dan melepaskan belenggu kedua tangan gadis itu.
Wulandari menggosok-gosok kedua tangannya yang lecet dan sakit-sakit karena ia tadi berusaha meloloskan kedua tangan itu tanpa hasil.
"Nah, sekarang ceritakanlah semua yang telah terjadi, dan jangan takut, aku yang akan mepertimbangkan seadil-adilnya apakah kalian bersalah dan tidak perlu ditawan atau tidak."
"Hamba bernama Joko Handoko dari Gunung Anjasmoro, cucu dari Eyang Panembahan Pronosidhi........"
"Hemmmmm, pantas semuda ini engkau telah memiliki kepandaian yang tinggi. Aku sudah mendengar akan nama besar Panembahan Pronosidhi dari Anjasmoro,"
Kata Sang Pangeran sambil mengangguk-angguk.
"Dan Diajeng Wulandari ini adalah puteri dari ketua Sabuk Tembogo, dari lereng Gunung Kawi."
Kembali Sang Pangeran mengangguk-angguk.
"Nama Sabuk Tembaga juga pernah kudengar sebagai perkumpulan orang gagah."
"Terjadi beberapa waktu yang lalu ketika di Tumapel terjadi peristiwa-peristiwa aneh, pembunuhan-pembunan dan sifatnya mengadu domba dan melakukan fitnah. Mendiang Eyang Panembahan Pronosidhi sendiri diserbu orang-orang Hastorudiro,dan ketika hamba berkunjung ke Pedusunan Sabuk Tembogo di sana muncul pasukan Kadipaten Tumapel yang hendak mengambil kembali Puteri Senopati Pamungkas yang diculik oleh Wulandari."
Sang Pangeran memandang kepada Wulandari dan mengerutkan alisnya.
"Menculik puteri Senopati Pamungkas? Mengapa?"
Dengan tenang Wulandari menjawab.
"Empat orang saudara seperguruan hamba, murid-murid Sabuk Tembogo, telah ditangkap oleh orang Kadipaten Tumapel dengan tuduhan melakukan kejahatan, hal yang tidak mungkin sekali. Maka hamba menculik dan menangkap puteri itu sebagai sandera agar saudara-saudara hamba dibebaskan. Kiranya nama baik Sabuk Tembogo memang sengaja dirusak orang, mendapat fitnah sehingga kami dimusuhi pemerintah.
"Wah, menarik sekali!"
Kata Pangeran Maheso Walungan sambil melirik ke arah Begawan Buyut Wewenang karena dia pun dapat menduga bahwa semua itu tentulah perbuatan penasihat nomor dua dari kakaknya yang menjadi raja itu.
"Joko Handoko, lanjutkan ceritamu."
"Pasukan dari Tumapel itu dapat diredakan oleh Dewi Pusporini, Sang Puteri yang diculik dan mendapat perlakuan baik sebagai seorang tamu itu. Akan tetapi di antara pasukan itu terdapat Gajah Putih dan Gajah Ireng yang ternyata di perjalanan menyatakan hendak membantu perwira Ranunilo yang memimpin pasukan. Dan dua orang itu sengaja mengeluarkan kepandaian untuk menghina dan menghancurkan Sabuk Tembogo. Hamba yang kebetulan menjadi tamu Sabuk Tembogo, berhasil mengalahkan dan mengusir mereka berdua. Akan tetapi, mereka berdua muncul lagi bersama guru mereka, Ki Danyang Bagaskoro yang berniat membunuh Dewi Pusporini, puteri Senopati Pamungkas, tentu dengan maksud agar Sang Senopati kembali kemudian akan memusuhi Sabuk Tembogo. Kembali Hambamengahadapinya dan dalam peerkelahian itu, Ki Danyang Bagaskoro tewas."
Raden Maheso Walungan, pangeran itu, menoleh ke arah Gajah Putih dan Gajah Ireng, bertanya.
"Benarkah terjadi peristiwa seperti diceritakan Joko Handoko?"
Gajah Ireng Hanya menunduk, dan Gajah Putih memberanikan diri menjawab sambil mengerling ke arah Begawan Buyut Wewenang.
"Akan tetapi, gusti pangeran........"
"Tidak ada tapi, jawab saja, benar demikian atau tidak?"
Bentak pangeran itu.
"Benar, memang demikian......."
Kata Gajah Putih meragu.
"Joko Handoko, lanjutkan ceritamu."
"Kemudian hamba dan Wulandari melakukan perjalanan untuk menyelidiki rahasia semua peristiwa aneh yang kami duga tentu ada pihak ketiga yang melakukan fitnah dan diperjalanan hamba melihat Gajah Putih dan Gajah Ireng. Kami membayangi dan ingin melakukan penyelidikan. Akhirnya kami tiba di Memeling dan ternyata kami terjebak dan setelah diajeng Wulandari tertawan, terpaksa hamba juga menyerah. Mereka hendak menyiksa hamba dan diajeng Wulandari sampai mati, akan tetapi paduka datang menyelamatkan hamba berdua."
Pangeran itu kini memandang ke arah Begawan Buyut Wewenang dan para pembantunya dengan muka berubah merah.
"Paman Begawan, apa artinya perbuatan yang amat memalukan itu? Ataukah paman hendak menyangkal kebenaran cerita Joko Handoko tadi?"
Begawan Buyut Wewenang tenang-tenang saja.
"Raden, memang cerita itu semua benar. Akan tetapi, pangeran harus ingat bahwa kami hanyalah pengemban-pengemban tugas saja yang diberikan kepada kami oleh Sribaginda."
"Hemmm, apakah tugas itu termasuk perbuatan kotor yang hendak menghina wanita dan menyiksa orang yang sudah menyerah karena tekanan licik?"
Sang pangeran mendesak marah. Akan tetapi sang begawan tetap tenang dan menyeringai.
"Bagi hamba, semua ini hanya siasat untuk menaklukkan Joko Handoko agar di mau membantu tugas hamba. Mereka adalah musuh-musuh, kalau tidak mau menyerah hukumannya hanyalah kematian."
"Tidak!"
Pangeran Maheso Walungan membentak.
"Selama ada aku di sini, kalian tidak boleh bertindak sewenang-wenang. Joko Handoko dan Wulandari ini tidak bersalah. Mereka harus dibebaskan sekarang juga."
"Akan tetapi, pangeran!"
Begawan buyut Wewenang membantah.
"Mereka sudah tahu akan semua rahasia kita............!"
"Rahasiamu yang busuk, bukan rahasiaku. Kalau Tumapel bersikap memusuhi Daha, jalan satu-satunya yang patut hanya menggempur dan menghajarnya, bukan dengan cara licik mengadu domba untuk melemahkannya. Aku adalah seorang senopati, bahasaku hanyalah tindakan yang gagah dan jujur, bukan dengan car-cara,yang licik dan curang. Joko Handoko dan Wulandari, sekarang kalian pergilah."
"Raden Maheso Walungan! Kalau paduka menentang hamba, berarti paduka menentang perintah Sribaginda!"
Begawan Buyut Wewenang berseru memperingatkan pangeran itu, sengaja mempergunakan nama Sang Prabu Dandang Gendis untuk menggertak pangeran itu.
"Santi-santi-santi.............!"
Tiba-tiba Ki Danyang Maruto melangkah maju dan sepasang matanya mencorong memandang kepada Begawan Buyut Wewenang.
"Buyut Wewenang, biarlah urusan ini menjadi urusan antara engkau dan au saja. Aku yang membebaskan dua orang muda yang tidak bersalah ini. Pangeran dan Sribaginda tidak perlu mencampurinya. Aku yang bertanggung jawab, mengingat bahwa pemuda ini adalah cucu Panembahan Pronosidhi yang menjadi sahabat baikku."
Begawan Buyut Wewenang masih merasa sungkan dan tidak enak hati untuk bertentangan dengan Pangeran Maheso Walungan yang juga merupakan senopati tangguh dari Daha, akan tetapi menghadapi Ki Danyang Maruto, dia berbesar hati.
Bagaimanapun juga, pendeta Siwa Buddha ini tidak memiliki kedudukan, bahkan dalam banyak hal seringkali terjadi ketidaksesuaian paham antara para pendeta Siwa Buddha dengan pendirian Sribaginda.
"Babo-babo, Danyang Maruto, bicaramu seperti seekor katak yang merasa dirinya sebesar bukit! Engkau agaknya belum pernah mengenal kesaktianku. Lihat nagaku ini!"
Berkata demikian, Begawan Buyut Wewenang yang sengaja hendak memamerkan kesaktiannya, melontarkan tongkat hitamnya ke udara, sambil mengeluarkan pekik melengking nyaring.
Semua orang terkejut dan memandang ke arah tongkat hitam yang dilontarkan ke atas itu dan semua mata terbelalak karena melihat betapa tongkat hitam itu telah lenyap bentuknya dan nampaklah seekor ular naga yang besar dengan sepasang mata mencorong, moncong lebar terbentang dan lidahnya merah seperti mengeluarkan api dengan suara mendesis-desis!
Melihat ini Joko Handoko juga terkejut an diapun cepat mengerahkan tenaga saktinya.
Namun, hal ini tidak melenyapkan bayangan naga itu, hanya naga itu kadang-kadang nampak seperti tongkat asalnya, dan kadang-kadang berubah menjadi naga lagi dalam pandang matanya.
"Santi-santi-santi.............! Andika seperti kanak-kanak saja, Buyut Wewenang!"
Ki Danyang Maruto lalu mengambil segemgam tanah damn melemparkan tanah itu ke arah bayangan naga itu sambil berkata.
"Segala sesuatu kembali kepada asalnya."
Dan naga itu pun terjatuh, mengeluarkan suara berkelotakan karena telah berubah menjadi sebatang tongkat hitam berbentuk ular lagi!.
Begawan Buyut Wewenang cepat mengambil tongkaytnya dan dia nampak marah sekali.
Akan tetapi pada saat itu, Pangeran Maheso Walungan sudah meloncat ke depan dengan sikap marah.
"Paman Begawan Buyut Wewenang! Engkau sudahi semua permainan ini atau akan menganggapmu sebagai seorang pembangkang!"
Sejenak kedua orang ini saling pandang dengan tajam.
Akhirnya Begawan Buyut Wewenang menarik napas panjang dan menundukkan mukanya.
Dia tahu bahwa kalau dia bertekat menentang, tentu pangeran ini dapat mengerahkan pasukannya dan hal ini tidak akan disukai oleh Sribaginda.
Dan mangedu ilmu di situ, belum tentu dia menang karena di situ terdapat Ki Danyang Maruto yang sakti, guru dari Pangeran itu.
"Baiklah, Raden. Hamba menaati perintah paduka dan tidak akan menghalangi kalau paduka membebaskan mereka berdua ini. Pangeran Maheso Walungan menarik napas lega. Dia tahu bahwa kakek ini memiliki pengaruh di istana, dan dia pun percaya bahwa kakek ini menjalankan tugas yang diperintahkan oleh kakaknya, Sribaginda. Kalau sampai terjadi bentrokan, tentu setidaknya dia akan menerima teguran dari kakaknya.
"Joko Handoko dan Ni Wulandari, kalian boleh pergi sekarang,"
Katanya kepada dua orang muda itu.
"Maaf, kanjeng pangeran,"
Kata Joko Handoko.
"Keris pusaka hamba dirampas oleh sang Begaawan, hamba menuntut agar dikembalikan kepada hamba karena keris pusaka itu ciptaan Eyang Empu Gandring dan merupakan pusaka pemberian ibu hamba."
Sang Pangeran kini memandang kepada Begawan Buyut Wewenang dan suaranya terdengar memerintah dan penuh wibawa.
"Paman begawan, harap andika kembalikan keris pusaka milik Joko Handoko yang paman sita."
Kakek itu mengerutkan alisnya, merasa sayang kalau harus mengembalikan keris pusaka yang dia tahu amat ampuh itu.
Akan tetapi karena di situ terdapat sang pangeran dan gurunya, diapun tidak berani membantah.
Dengan gerakan marah dia mengambil keris dan sarungnya dari ikat pinggang dan melemparkannya dengan pengerahan tenaga ke arah Joko Handoko.
Pemuda ini cepat menyambut dengan kedua tangannya dan biarpun lontaran itu amat kuat, dia dapat menerimanya dengan baik, lalu menyimpan kembali kerisnya di ikat pinggang.
Joko Handoko lalu menghadap sang pangeran.
"Kanjang pangeran, terima kasih atas kebaikan hati paduka yang dilimpahkan kepada hamba berdua. Hamba akan mengingat paduka sebagai seorang Pangeran yang gagah perkasa, adil dan bijaksana."
"Hamba tidak mungkin dapat melupakan budi kebaikan paduka yang telah menyelamatkan hamba dari malapetaka,"
Kata pula Wulandari dengan hati terharu.
Ia tahu bahwa kalau tidak ada pangeran itu yang menolongnya, tentu ia akan menderita siksaan yang lebih hebat dari pada segala siksa, walaupun ia masih percaya bahwa pada saat terakhir, tentu Joko Handoko akan meronta, membebaskan dirinya dan membelanya mati-matian.
Pangeran Maheso Walungan tersenyum dan memandang kepada mereka berdua dengan kagum.
"Kalau saja di Daha terdapat orang-orang muda seperti kalian......!"hanya demikianlah dia berkata. Joko Handoko dan Wulandari lalu memberi hormat dan keluar dari dalam gedung itu. Pangeran Maheso Walungan bersama gurunya, Ki Danyang Maruto juga segera kembali ke kota raja. Peristiwa ini mengakhiri usaha Begawan Buyut Wewenang yang mengadu domba antara kekuatan yang ada di Tumapel untuk melumpuhkan dan melemahkan Kadipaten Tumapel. Bukan saja karena Pangeran Maheso Walungan memprotes, kepada Sribaginda yang segera mencabut kembali perintahnya dan menyuruh Begawan Buyut Wewenang kembali ke kota raja, akan tetapi juga karena para tokoh di Tumapel tidak dapat diadu-domba lagi setelah mereka mendengar tentang siasat licik yang dijalankan oleh orang-orang Daha itu. Para tokoh Tumapel tahu akan siasat itu dari peristiwa yang terjadi di kaki Gunung Arjuno, yaitu di padukuhan perkumpulan Hastorudiro, seperti telah kita ketahui di bagian depan, empat orang perajurit yang dipimpin oleh perwira Ranunilo, ketika berusaha merampas kembali Dewi Pusporini, telah terbunuh oleh dua orang bertopeng yang menggunakan ilmu dari Hastorudiro, yaitu Pukulan maut yang meninggalkan bekas telapak tangan merah seperti darah. Pukulan ini hanya dimiliki orang-orang Hastorudiro (Tangan Berdarah), maka tentu saja ketika Ranunilo melapor kepada Senopati Raden Pamungkas, senopati itu menjadi marah. Setelah melapor kepada Sang Akuwu tunggal Ametung tentang semua peristiwa yang terjadi, sang akuwu memerintahkan untuk menyerbu perkumpulan Hastorudiro di kaki Pegunungan Arjuno. Senopati Raden Pamungkas kini berangkat sendiri memimpin pasukan yang duapuluh losin banyaknya menuju ke Gunung Arjuno. Pada waktu itu, ketua perkumpulan Hastorudiro adalah Ki Kebosoro, seorang yang memiliki aji kesaktian tangan berdarah, yang turun-temurun diwarisinya dari keluarganya. Usianya sudah enampuluh lima tahun, tubuh pendek gemuk dan wataknya keras. Perkumpulan Hastorudiro tak dapat dinamakan perkumpulan bersih. Sebaliknya malah, perkumpulan ini condong ke golongan hitam, tidak segan melakukan kejahatan untuk membela kepentingan sendiri atau memperebutkan harta. Namun, harus diakui bahwa di dalam dada Ki Kebosoro yang keras itu sama sekali tidak terkandung sifat menentang atau memberontak terhadap Kadipaten Tumapel. Bahkan dia selalu menekankan kepada para anak buahnya agar jangan melawan Para perajurit Tumapel, apa lagi melakukan pembunuhan. Sedikitnya ada peragaan dan semangat patriot di dalam dada Ki Kebosoro. Kalaupun ada anak buahnya yang kadang-kadang melakukan perampokan, maka mereka selalu melakukan pekerjaan jahat ini di wilayah Daha dan tidak pernah mengganggu rakyat Tumapel sendiri. Karena inilah, makan nama perkumpulan Hastorudiro tetap baik dan disegani di wilayah Tumapel. Pada suatu hari, sejak pagi padukuhan Hastorudiro kedatangan banyak sekali tamu. Sejak pagi orang-orang berdatangan memasuki dusun kecil yang menjadi pedukuhan atau sarang dari perkumpulan itu. Tidak kurang dari seratus orang anggota Hastorudiro tinggal berkumpul di dusun itu. Sebuah rumah yang cukup besar berdiri di tengah-tengah dan ini merupakan rumah tinggal dan tempat pertemuan dari ketua Hstorudiro. Sedangkan para anggotanya tinggal di dalam pondok-pondok yang dibangun di sekitar rumah besar itu. Para anggota ini tinggal bersama keluarga mereka sehingga perkampungan Hastorudiro itu memiliki penghuni tidak kurang dari tiga ratus orang. Pada hari itu, sejak kemarin semua pondok dan terutama sekali rumah besar tempat tinggal Ki Kebosoro telah dihias dengan janur kuning dan kembang-kembang. Kiranya Hastorudiro sedang mengadakan Pesta perayaan, merayakan usia delapan windu dari ketua Hastorudiro itu. Tentu saja undangan disebar, terutama para tokoh-tokoh dan perkumpulan-perkumpulan yang terpandang di wilayah Tumapel. Itulah sebabnya mengapa sejak pagi para tamu berdatangan dan mereka dipersilakan duduk di ruangan besar dari rumah KI Kebosoro yang sudah nampak menyambut para tamu dengan ketawanya yang bergelak dan suaranya yang nyaring. Ki Kebosoro dalam menyambut Para tamu dibantu oleh dua orang. Laki-laki berusia enam puluh tahun. Yang seorang bertubuh tinggi kurus bermuka hitam penuh cacar dan orang ini bernama Gagaksampar ada pun orang ke dua yang tinggi besar berwajah gagah dan tampan bernama Ki Gagakmeto. Kedua orang ini adalah adik-adik seperguruan Ki Kebosoro dan mereka merupakan pembantu-pembantu dan pimpinan dari perkumpulan Hastorudiro. Para murid tertua yang jumlahnya belasan orang bertugas menerima tamu dan mempersilakan mereka duduk, beramah tamah dengan mereka, sedangkan murid-murid rendahan bertugas menjadi pelayan dalam pesta itu. Ki Kebosoro sendiri dalam menyambut tamu-tamu kehormatan, ditemani oleh seorang pemuda berusia duapuluh tahun lebih, berwajah tampan dan gagah, berpakaian mewah. Pemuda ini bernama Pramudento, putera tunggal Ki Kebosoro. Semenjak kecil, Pramudento ditinggal mati ibunya dan setelah istrinya mati, Ki Kebosoro tidak mempunyai anak lagi dari para selirnya, walaupun sudah kerap kali dia berganti selir. Karena itu, tidak mengherankan kalau dia amat sayang kepada Pramudento. Selain mewarisi ilmu-ilmu dari ayahnya, juga Pramudento oleh ayahnya dikirim kepada Ki Ageng Marmoyo, terhitung uwa guru dari Ki Kebosoro sendiri, yang berdiam di lereng Gunung Bromo untuk berguru. Maka, setelah selam tiga tahun digembleng oleh pertapa Bromo itu, kini tingkat kepandaian Pramudento maju dengan pesatnya sampai melampui tingkat ayahnya! Hal ini membuat Ki Kebosoro manjadi semakin bangga dan sayang kepada puteranya itu. Banyak orang tua yang menyayang puteranya dengan hati penuh kebanggaan, dan kebanggaan ini sendiri sudah menunjukkan, adanya pementingan diri sendiri, menuruti senangnga hati sendiri. Dan cinta kasih yang sudah dilumuri oleh kepentingan diri sendiri itu tiada bedanya dengan kesenangan terhadap benda yang dianggap menyenangkan dan berharga, dan sayang seperti itu condong untuk mudah luntur, yakni apabila yang disayangnya itu tidak lagi mendatangkan kesenangan bagi dirinya! Dan sayang hanya kerena perasaan bangga dan senang ini condong untuk membuat orang tua memanjakan puteranya. Kalau sudah begini, maka orang tua meracuni pertumbuhan watak puteranya karena kemanjaan itu hanya membesarkan si-aku yang selalu harus dituruti kehendaknya. Keinginannya untuk bersenang sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Memanjakan anak, menyanjung dan memuji-mujinya menumbuhkan perasaan tinggi hati kepada jiwa anak, yang akan merasa bahwa dirinya amat baik, amat pandai, seperti yang dipuji-puji selalu oleh orang tuanya, dan si anak akan terbiasa oleh gambaran tentang dirinya sendiri yang terlalu tinggi. Cinta kasih kepada anak memang membiarkan anak tumbuh wajar dan bebas, seperti penggembala yang mengamati domba-dombanya, dibiarkan doma-domba itu berkeliaran di padang rumput, tanpa batas. Hanya mengamati dari belakang, tutwuri handayani, turun tangan kalau melihat dombanya menyeleweng, bukan demi diri sendiri melainkan demi si domba agar jangan sampai tersesat, jangan sampai merusak tanaman orang, dan jangan sampai makan benda beracun. Perasaan sayang dan mesra terhadap yang dikasihi bukanlah tumbuh dari kenginan untuk senang sendiri. Dan pendidikan terbaik adalah perasaan cinta kasih itu sendiri, karena perasaan ini akan terasa oleh si anak, terasa dalam setiap ucapan orang tua, setiap gerak-gerik orang tua, baik kalau sedang memberi nasihat atau sedang memberi peringatan dan larangan. Demikian pula halnya dengan Pramudento. Rara sayang ayahnya yang penuh pemanjaan ini membuat dia merasa dirinya tinggi dan hebat, mendatangkan perasaan tinggi hati dan angkuh dalam batin pemuda itu. Apalagi dia hidup di lingkungan orang-orang yang condong melakukan hal-hal yang jahat seperti perampok, mempergunakan kekerasan mencapai semua keinginan sendiri, dan sebagainya. Setelah matahari naik tinggi, di ruangan itu telah berkumpul tidak kurang dari seratus orang tamu dari berbagai macam golongan. Akan tetapi melihat dandanan dan sikap mereka, sebagian besar adalah jagoan-jagoan dan tokoh-tokoh pendekar di Tumapel. Kepada setiap tamu terhormat Ki Kebosoro memperkenalkan puteranya yang baru beberapa bulan pulang dari Gunung Bromo. Semua tamu memandang dengan kagum Pramudento memang seorang pemuda yang ganteng, gagah perkasa dan menarik perhatian para tamu yang mempunyai anak perempuan. Akan senang hati mereka kalau mempunyai seorang mantu seperti pemuda ini! Dan memang hal itu merupakan satu di antara keinginan hati Ki Kebosoro. Dia ingin mencarikan jodoh puteranya, dan siapa lagi kalau bukan puteri-puteri para tokoh itu yang pantas mendampingi hidup Pramudento, sebagai isterinya? Puteranya hanya pantas kalau berjodoh dengan puteri-puteri dari tokoh-tokoh kenamaan di saat itu. Di antara para tamu terdapat pula kurang lebih dua puluh orang wanita, yaitu isteri atau puteri tamu-tamu yang membawa keluarganya. Tentu saja para wanita ini lebih tertarik lagi melihat Pramudento dan terjadi bisik-bisik di antara mereka. Hal ini diketahui oleh Pramudento yang sejak tadi tersenyum-senyum manis menjual lagak menjual mahal sehingga para tamu wanita itu menjadi semakin terpikat. Selesai pesta berjalan dengan meriahnya dan tidak ada lagi tamu baru yang datang, tiba-tiba muncul seorang pemuda dan seorang gadis yang segera menarik perhatian pihak tuan rumah dan para tamu karena pemuda itu walaupun berpakaian sederhana, nampak halus dan tampan, sedangkan gadis itupun manis sekali mereka ini Joko Handoko dan Wulandari. Ketika keduanya lolos dari Dusun Memeling karena pertolongan Pangeran Maheso Walungan dan Ki Danyang Maruto, mereka lalu cepat-cepat pergi ke Gunung Anjasmoro untuk berkunjung kepada perkumpulan Hastorudiro. Seperti diketahui, eyang dari Joko Handoko, Panembahan Pronosidhi, telah tewas ketika tempat pertapaannya diserbu oleh orang-orang dari Hastorudiro. Akan tetapi kunjungan Joko Handoko dan Wulandari ke tempat itu sama sekali bukan dengan maksud membalas dendam atas kematian kakeknya. Sama sekali tidak. Sebelum meninggal dunia, Panembahan Pronosidhi sendiri sudah meninggalkan pesan kepada Joko Handoko agar jangan membalas dendam terhadap Hastorudiro, apalagi setelah dia mendengar dari Buyut Wewenang dan anak buahnya bahwa semua peristiwa itu memang diatur oleh orang-orang Daha, merupakan siasat untuk mengadu domba antara orang-orang Tumapel sendiri. Kunjungan ini justeru untuk memberi peringatan kepada Hastorudiro akan fitnah yang dilakukan oleh orang-orang Daha itu telah membunuh empat orang perajurit Tumapel dengan pukulan yang meninggalkan bekas tangan merah, dan tentu Kadipaten Tumapel akan marah kepada perkumpulan ini dan bukan tidak mungkin akan mengirim pasukan untuk membasmi Hastorudiro yang tentu dianggap memberontak! Juga dia ingin memberi penjelasan bahwa urusan antara aliran Hati Putih yang dipimpin kakeknya dan Hastorudiro yang dipimpin Ki Kebosoro, tentu juga disebabkan oleh fitnah keji yang dilakukan oleh orang-orang daha. Melihat munculnya dua orang tamu baru yang datangnya agak terlambat, Ki Gagaksampar segera menyambut keluar karena pada saat itu ,Ki Kebosoro dan Pramudento sedang menajamu tamu-tamu agungnya yang duduk di tempat kehormatan, sedangkan Ki Gagaksampar bertugas juga sibuk di meja lain melayani para tamu. Melihat bahwa pemuda dan gadis itu adalah orang-orang yang tidak dikenalnya, Ki Gagaksampar mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia tetap menyambut mereka karena dia mengira bahwa tentu dua orang ini datang mewakili orang tua atau guru mereka. Apalagi gadis itu demikian cantik manis dan Ki Gagaksampar yang bermuka hitam penuh cacar itu bukan seorang pria yang alim.
"Selamat datang di padukuhan kami. Andika berdua siapakah dan dari mana? Saya Ki Gagaksampar mewakili kakang Kebosoro untuk menyambut tamu yang baru datang,"
Katanya sambil menyeringai dan matanya menatap tajam dan menjelajahi wajah Wulandari yang cantik manis.
Berkerut gadis itu betapa orang bermuka hitam buruk ini memandanginya tanpa menyembunyikan rasa kagumnya dan sinar kurang ajar bermain di pandang mata itu.
Joko Handoko membungkuk sebagai tanda hormat dan dengan sikap sopan dia pun menjawab.
"Maafkan kami, Paman. Sesungguhnya kami tidak tahu bahwa Hastorudiro sedang mengadakan pesta perayaan dan maafkan kalau kedatangan kami mengganggu. Akan tetapi kami mempunyai urusan penting untuk disampaikan kepada ketua Hastorudiro, yaitu paman Kebosoro."
Ki Gagaksampar memandang tak senang.
Siapa pemuda ini yang berani mengganggu pesta mereka?
Kalau ada urusan, kenapa tidak datang lain hari saja?
Akan tetapi karena di situ ada Wulandari, dia tidak mau memperlihatkan sikap kasar dan menahan kemarahannya.
"Kisanak, kalau engkau mempunyai keperluan dengan ketua kami, sebaiknya lain hari saja datang lagi ke sini."
"Akan tetapi urusan yang akan kami sampaikan ini penting sekali, paman,"
Tiba-tiba Wulandari berkata.
"Kalau tidak disampaikan sekarang, takut kalau-kalau akan terlambat. Harap kau panggilkan ketua Hastorudiro sebentar saja agar kami dapat menyampaikan urusan kami."
Kini Gagaksampar mengamati gadis itu dan mulutnya menyeringai semakin lebar, memperburuk muka yang tak sedap dipandang itu.
"Bocah ayu, ada urusan apa sih engkau demikian ingin bertemu dengan Kakang Kebosoro?Kalau ada urusan, sampaikan saja kepada aku, Gagaksampar, tentu beres. Aku memwakili kakang Kebosoro dan aku adalah adik seperguruannya? Nah, bocah manis, lekas katakan, ada urusan apakah agar jangan mengganggu perayaan kami ini."
"Sekali-lagi maaf, Paman,"
Kata Joko Handoko.
"Hanya kepada ketua Hastorudiro saja kami dapat menyampaikan urusan yang amat rahasia dan penting ini, tidak kepada orang lain."
Ki Gagaksampar memandang marah.
Ucapan-ucapan itu, walaupun sopan, baginya berarti bahwa dua orang muda ini tidak percaya kepadanya!
"Hemm, katakan siapa engkau dan dari mana, mungkin aku akan melaporkan tentang kedatanganmu kepada kakang Kebosoro."
"Nama saya Joko Handoko, paman, dan saya datang dari lereng Anjasmoro......."
"Heh, Andika dari aliran Hati Putih?"
Kakek itu membentak dan beberapa orang tamu yang duduknya agak di pinggir menoleh dan karena mereka melihat seorang gadis manis sekali, mereka tertarik dan terus memandang keluar.
Joko Handoko menggangguk.
"Benar, Paman, saya adalah cucu dari mendiang Eyang Panembahan Pronosidhi............."
"Babo-babo keparat! Kiranya mata-mata dari Hati Putih yang sengaja datang untuk mengacau! Mampus kau di tanganku!"
Sambil membentak dengan suara nyaring, Ki Gagaksampar menerjang dan menghantam ke arah kepala Joko Handoko.
Tamparan itu hebat sekali karena dilakukan dengan pengerahan tenaga Hastorudiro{Tangan Berdarah}!
Akan tetapi, Joko Handoko cepat mengelak dan ketika lawannya menyusulkan serangan bertubi-tubi sampai tiga kali, dia masih dapat mengelak dengan mudah.
"Heiii, engkau ini sungguh kasar dan tidak tahu aturan!"
Wulandari membentak dan ia pun sudah melolos sabuk tembaga dari pinggangnya, lalu menyerang Ki Gagaksampar untuk membantu Joko Handoko yang didesak oleh kakek itu.
"Wuut-wuuuutt, singg..........!"
Sabuk itu menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar. Ki Gagaksampar meloncat ke belakang untuk mengelak.
"Babo-babo! Sabuk Tembogo! Kiranya engkau ini bocah manis adalah murid Sabuk Tembogo. Kenapa Sabuk Tembogo ikut-ikutan membantu Hati Putih memusuhi kami?"
Joko Handoko membungkuk lagi.
"Paman, harap dengarkan dulu, sesungguhnya kami datang bukan untuk bermusuhan, melainkan untuk membicarakan hal yang teramat penting dengan ketua Hastorudiro."
"Keparat! Siapa percaya omongan Hati Putih? Namanya saja Hati Putih, akan tetapi hatinya berbulu dan jahat! Siapa dapat melupakan ini?"
Dan dia pun mengangkat sedikit kain penutup kepala yang kiri sehingga nampak betapa kepalanya botak dan daun telinganya yang kiri buntung dan tinggal sedikit saja.
Inilah luka yang dideritanya ketika dia ikut menyerbu ke Anjasmoro, ketika dalam pembelaan diri mendiang Panembahan Pronosidhi mempergunakan aji kesaktian Nogopasung.
"Kami sudah mendengar tentang kematian Panembahan Pronosidhi dan kami sudah menganggap habis semua urusan. Eh, tidak tahunya kamu ini tikus cilik berani datang mencari keributan!"
"Kakang Gagaksampar, apakah yang terjadi? Siapa pemuda ini?"
Tiba-tiba Ki Gagakmeto yang berlari keluar mendengar suara ribut-ribut, bertanya, memandang keduanya dengan penuh perhatian.
Dibandingkan dengan Gagaksampar Ki Gagakmeto ini lebih mata keranjang lagi.
Melihat munculnya seorang laki-laki berusia enam puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan gagah, Joko Handoko cepat memberi hormat.
"Maaf, apakah paman ketua perkumpulan Hastorudiro?"
Ki Gagakmeto menoleh kepada Joko Handoko dan menggeleng kepala, lalu dia memandang lagi wajah Wulandari, melihat sabuk tembaga di tangan gadis itu.
"Eh-eh, bukankah itu sabuk tembaga yang berada di tanganmu, bocah ayu? Ki Bragolo memiliki murid semanis ini? Sungguh mengagumkan!"
Tentu saja Wulandari marah sekali mendengar ucapan itu.
Ia dan Joko Handoko bersusah payah datang ke tempat ini untuk memperingatkan Hastorudiro akan ancaman bahaya yang menjadi akibat fitnah orang-orang Daha, akan tetapi mereka disambut secara kurang ajar sekali.
"Paman ini adalah cucu Panembahan Pronosidhi!"
Kata Gagaksampar dan mendengar ini, seketika Gagakmeto membalikkan tubuhnya, menghadapi Joko Handoko dengan mata melotot marah.
Dia mengangkat lengan kirinya ke atas dan nampak oleh Joko Handoko betapa lengan itu, di bawah siku, nampak bengkok, tanda bahwa lengan itu pernah patah tulangnya.
Dan memang tulang lengan kiri itu pernah patah terkena sambaran aji kesaktian Nogopasung yang dipergunakan mendiang Panembahan Pronosidhi ketika membela diri dari pengeroyokan orang-orang Hastorudiro.
"Keparat, engkau harus membayar hutang kakekmu kepadaku!"
Dan seperti juga Ki Gagaksampar tadi, tiba-tiba saja Ki Gagakmeto sudah menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah dada Joko Handoko.
Pemuda ini merasa mendongkol juga.
Tak disangkanya bahwa orang-orang Hastorudiro begini kasar dan sukar diajak bicara secara baik.
Melihat datangnya pukulan yang amat dahsyat, dia pun mengangkat lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.
"Duukkkk........!"
Dua lengan yang terisi tenaga sakti yang amat kuat bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Ki Gagakmeto terhuyung ke balakang sedangkan Joko Handoko masih berdiri tegak!
Hal ini bukan saja mengejutkan dua orang adik seperguruan ketua Hastorudiro itu, akan tetapi juga membuat mereka marah.
"Kalian ini orang-orang kurang ajar, menyambut tamu seperti ini!"
Wulandari sudah membentak lagi dan ia pun memutar sabuk tembaganya menghadang di depan Joko Handoko.
Sebaliknya, Joko Handoko malah khawatir melihat sikap Wulandari yang galak karena dia tahu bahwa tingkat kepandaian dua orang itu saja sudah lebih tinggi dari tingkat gadis itu.
"Paman berdua mundurlah, biar aku menghadapi pengacau-pengacau ini!"
Tiba-tiba terdengar suara halus dan tiba-tiba saja sebuah tangan yang sudah menangkap ujung sabuk tembaga yang diputar oleh Wulandari.
Gadis itu terkejut, sukar dipercaya bahwa ada orang mampu menangkap ujung sabuk yang diputarnya, karena hal itu lebih berbahaya dari pada menangkap sebatang pedang tajam yang sedang diputar.
Akan tetapi jelas bahwa sabuknya telah ditangkap ujungnya dan ketika ia mencoba untuk menariknya, sabuk itu tetap saja terpegang dan tidak terlepas dari pegangan orang.
Ia pun memandang penuh perhatian.
Dua pasang mata bertemu dan pemuda yang menangkap ujung sabuk tembaga itu tersenyum ketika melihat bahwa yang memegang sabuk tembaga adalah seorang gadis yang masih muda dan cantik manis sekali.
"Ah, kiranya seorang adik yang manis sekali! Sungguh mengherankan, siapakah andika dan mengapa andika membikin ribut di sini?"
Pramudento bertanya sambil melepaskan ujung sabuk tembaga.
"Dua ekor monyet tua ini yang membikin ribut. Kami datang baik-baik dan mereka menyambut dengan serangan! Wulandari menjawab dengan ketus, agak jenuh karena maklum bahwa pemuda tampan yang muncul ini tangguh bukan main, dan agaknya lebih tangguh dari pada dua orang kakek itu. Pramudento menoleh dan memandang kepada dua orang paman gurunya dengan heran mengapa dua orang itu menerima kunjungan seorang gadis semanis dia dengan kasar.
"Pemuda itu adalah cucu Panembahan Pronosidhi dari Anjasmoro!"
Teriak Ki Gagaksampar. Mendengar disebutnya nama ini, Pramudento mengerutkan alisnya, lalu melangkah maju menghadapi Joko Handoko.
"Jadi kamu datang untuk memwakili aliran Hati Putih dan memata-matai kami?"
Bentak Pramudento dengan sikap mengejek dan memandang rendah.
"Apakah kamu berkepala tiga dan berlengan enam maka berani sekali menentang kami?"
Berkata demikian Pramudento sudah menggerakkan tangan kirinya menampar.
Cepat sekali gerakannya, dan ketika Joko Handoko melangkah mundur mengelak, dia merasa betapa ada hawa panas sekali keluar dari telapak tangan pemuda itu.
Terkejutlah Joko Handoko karena dia tahu bahwa pemuda ini kejam sekali, begitu menyerangnya telah mempergunakan aji pukulan yang ganas, yang kalau mengenai sasaran tentu akan berbahaya sekali.
Sebelum Pramudento menyerang lagi, terdengar seruan Ki Kebosoro.
"Dento, tahan......."
Kakek ketua aliran Hastorudiro ini tadi mendengar ribut-ribut dan cepat melangkah keluar. Dia segera menahan puteranya yang kelihatan hendak menyerang seorang pemuda yang tidak dikenalnya.
"Dento, apa yang telah terjadi? Siapakah ki sanak ini?"
Dia memandang kepada Joko Handoko.
Melihat kakek yang pendek gemuk dan sikapnya penuh wibawa ini, Joko Handoko menduga bahwa tentu inilah ketua aliran Hastorudiro, maka dia cepat maju dan membungkuk dengan sikap hormat.
"Maafkan kami, Paman. Saya bernama Joko Handoko dari Gunung Anjasmoro, dan ini adalah diajeng Wulandari, puteri ketua Sabuk Tambogo. Kami sengaja datang untuk bertemu dengan ketua Hastorudiro. Apakah paman yang menjadi ketua perkumpulan Hastorudiro?"
Diam-diam Ki Kebosoro juga terkejut mendengar bahwa pemuda itu datang dari Gunung Anjasmoro, akan tetapi dia dapat menahan perasaannya dan tidak sembrono seperti dua orang adik seperguruannya atau puteranya.
"Hemmm, orang muda, aku adalah Ki Kebosoro, ketua aliran Hastorudiro. Andika datang dari Anjasmoro, apakah dari aliran Hati Putih?"
"Tidak keliru, paman Kebosoro, aku adalah cucu mendiang eyang Panembahan Pronosidhi, akan tetapi kedatanganku ini sama sekali tidak ada urusannya dengan kesalahpahaman yang terjadi antara Hastorudiro dan Hati Putih, justeru kedatanganku ini untuk menjelaskan segalanya, karena kedua pihak telah menjadi korban fitnah dan adu domba paman. Ki Kebosoro mengerutkan alisnya dan memandang wajah itu penuh selidik.
"Orang muda, apa maksud kata-katamu itu?"
Joko Handoko menoleh ke kanan kiri dan melihat betapa banyak tamu yang kini memperhatikan percakapan mereka, dia pun membungkuk lagi.
"Paman Kebosoro, rahasia yang akan kusampaikan ini teramat penting, bahkan menyangkut keselamatan Hastorudiro yang terancam bahaya. Dapatkah kita bicara di dalam agar tidak terdengar orang lain?"
"Kakang Kebosoro kenapa melayani bocah dari aliran Hati Putih? Biarlah aku membunuhnya"
Kata Ki Gagaksampar yang membuka ikat kepala sehingga nampak kepala botaknya dan telinga yang buntung karena hatinya terasa panas, membuat kepalanya menjadi panas pula.
Orang ini memang biasanya membiarkan kepala botaknya telanjang begitu saja dan hanya karena ada pesta parayaan maka dia menutup kepala botaknya dengan kain kepala.
Akan tetapi Kebosoro melihat sikap yang amat tenang dan serius dari pemuda itu, dan dia pun dapat melihat bahwa pemuda ini, betapapun sederhana sikapnya, namun memiliki wibawa yang cukup kuat.
Dia bukan orang yang sembrono mengandalkan kekuatan sendiri saja seperti adik-adik seperguruannya, dan karena inilah membuat dia berwibawa dan dapat menjadi ketua aliran Hastorudiro yang terkenal.
"Adik Gagaksampar, jangan mengotorkan pesta kita dengan keributan. Kalau dia mau bicara biarkan dia bicara dulu. Mari, orang muda mari kita masuk ke dalam sebentar."
Joko Handoko dan Wulandari mengikuti tuan rumah dengan hati lega walaupun Wulandari merasa khawatir kalau-kalau mereka akan terjebak pula seperti pernah terjadi pada diri mereka ketika dijebak dan ditawan orang-orang Daha.
Akan tetapi ia pun tidak mau memperlihatkan rasa khawatirnya dan berjalan di samping Joko Handoko dengan sikap gagah.
Biarpun tidak puas melihat sikap ayahnya yang mau menerima dua orang tamu muda itu.
Namun Pramudento dan dua orang paman seperguruannya tidak berani membantah kehendak Ki Kebosoro dan mereka bertiga pun berjalan di belakang dua orang tamu itu.
Para tamu yang tadinya mengharapkan untuk dapat melihat keributan atau perkelahian yang terjadi, menjadi tenang kembali melihat betapa tuan rumah mambawa dua orang muda itu masuk ke dalam dan pesta pun dilanjutkan dengan meriah.
Ki Kebosoro membawa dua orang tamu muda itu ke belakang yang kosong dan sepi.
Dengan sikap tegas dan singkat dia mempersilakan dua orang muda duduk.
Mereka berenam duduk menghadapi meja panjang dan Ki Kebosoro segera berkata.
"Nah, sekarang engkau boleh bicara. Apa yang hendak kau katakan kepada kami?"
"Paman Kebosoro, sebelum Eyang Panembahan Pronosidhi meninggal dunia, beliau berpesan kepadaku agar aku tidak menaruh dendam terhadap Hastorudiro atas kematiannya yang disebabkan oleh penyerbuan orang-orang Hastorudiro ke Anjasmoro........."
"Hemm, kalau mau membalas dendam pun boleh!"
Tiba-tiba Pramudento memotong dengan suara tegas dan menantang. Joko Handoko tersenyum memandangnya.
"Sobat, Andika sungguh penuh prasangka."
Lalu dia memandang lagi kepada Kebosoro dan melanjutkan.
"Karena itu, sedikit pun tidak terkandung dendam dalam hatiku terhadap Hastorudiro, apalagi setelah aku melihat kenyataan aliran Hati Putih kena fitnah dan Hastorudiro tertipu sehingga terjadilah penyerangan ke Anjasmoro itu".
"Orang muda, apa maksudmu?"
Ki Kebosoro membentak sambil menatap tajam wajah Joko Handoko.
Peristiwa dengan aliran Hati Putih itu memang merupakan ganjalan di dalam hatinya.
Mula-mula ada empat orang yang mengaku murid aliran Hati Putih mengacau dan menyerang orang-orang Hastorudiro, kemudian empat orang murid itu melarikan diri kembali ke Anjasmoro, dikejar oleh dua orang adik seperguruan, yaitu Ki Gagaksampar dan Ki Gagakmeto bersama tiga orang murid kepala.
Orang-orang Hati Putih itu ketika dikejar, lari naik ke sarang mereka di Gunung Anjasmoro.
Dua orang adik seperguruannya mengejar dan akhirnya berhadapan dengan Panembahan Pronosidhi sehingga terjadi perkelahian.
Akibatnya, Ki Gagaksampar patah tulang lengannya.
Walaupun keduanya akhirnya sembuh, akan tetapi mereka nyaris tewas oleh luka-luka mereka, dan dua orang murid kepala Hastorudiro tewas sekeltik.
Biarpun kemudian dia mendengar bahwa Panembahan Pronosidhi itu pun tewas, namun (Lanjut ke
Jilid 11) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11 masih ada ganjalan di dalam hatinya terhadap aliran Hati Putih yang dianggapnya mencari gara-gara dan lebih dahulu mengorbankan api permusuhan antara kedua aliran itu.
Kini, mendengar keterangan cucu penambahan itu bahwa sebab permusuhan itu adalah fitnah dan Hastorudiro tertipu, tertu saja dia terkejut dan heran, juga merasa penasaran.
"Bukan hanya Hastorudiro yang tertipu sehingga diadu-domba dengan Hati Putih, bahkan perkumpulan Sabuk Tembogo juga diadu-domba dengan pasukan Kadipaten Tumapel, dan kami datang ke sini untuk mengabarkan bahwa kini Hastorudiro juga diadu-domba dengan pasukan Tumapel. Sangat boleh jadi bahwa dalam waktu dekat. Hastorudiro akan diserbu oleh pasukan Tumapel yang menganggap Hastorudiro sebagai pemberontak-pemberontak karena ada anak buah Hastorudiro yang membunuh empat orang perajurit Tumapel."
"Bohong! Kami tidak pernah memusuhi prajurit-prajurit Tumapel!"
Bentak Ki Kebosoro.
"Tentu saja, paman. Akan tetapi para senopati Tumapel tentu berpendapat lain karena prajurit-prajurit Tumapel dibunuh oleh dua orang yang mempergunakan ilmu pukulan yang meninggalkan tapak tangan merah."
Mendengar keterangan ini, Ki Kebosoro saling berpandangan dengan dua orang adik seperguruannya, dan Pramudento berkata.
"Ayah, jangan sembarangan percaya kepada orang lain. Siapa tahu kalau dia orang yang bahkan menyebar fitnah dan mengadu-domba!"
"Joko Handoko, kami tidak dapat percaya begitu saja akan ceritamu tadi. Coba jelaskan apa yang telah terjadi! Jelas bahwa empat orang murid Hati Putih mengacau kami, mereka mempergunakan ilmu-ilmu Hati Putih dan mengaku murid-murid Hati Putih, bagaimana engkau mengatakan bahwa itu fitnah dan kami tertipu? Apapula artinya bahwa kini kami diadu-domba dengan pasukan Tumapel? Ceritakan yang jelas!"
"Baiklah, paman. Hati Putih memang diadu-domba dengan Hastorudiro. Empat orang yang mengacau dan mengaku murid Hati Putih itu sebenarnya bukan murid-murid aliran kami. Akibat adu-domba itu, para pembantu paman menyerbu Anjasmoro sehingga mengakibatkan kematian-kematian, juga kematian eyang yang sudah berusia lanjut. Kemudian, pasukan Tumapel menangkap murid-murid Sabuk Tembogo karena ada orang-orang yang mengaku murid-murid Sabuk Tembogo melakukan kejahatan-kejahatan di Tumapel. Dan akhirnya, ada dua orang yang menggunakan ilmu-ilmu Hastorudiro membunuh empat orang prajurit Tumapel, sehingga tentu saja senopati Tumapel akan menjadi marah sekali dan mungkin akan mengerahkan pasukan untuk menyerbu ke sini."
Joko Handoko berhenti bicara dan kini Wulandari yang menyambung.
"Dan kami berdua yang mengetahui rahasia itu, dengan susah payah datang ke sini untuk memperingatkan, akan tetapi bukan diterima dengan baik malah akan dihina!"
Dan dia pun memandang kepada Pramudento, Ki Gagaksampar dan Ki Gagakmeto dengan sinar mata mengandung kemarahan.
"Hemmm, cerita itu sungguh tidak menyakinkan!"
Kata pula Pramudento yang masih tetap berprasangka bahwa Joko Handoko hanya berbohong.
"Siapa orangnya yang menyebar fitnah dan berusaha mengadu-domba seperti itu?"
"Ya, siapakah yang hendak mengadu-domba secara keji itu, Joko Handoko?"
Tanya Ki Kebosoro.
"Yang melakukan semua itu adalah kaki tangan kerajaan Daha."
"Ehh..........!!"
Empat orang itu mengeluarkan suara kaget dengan berbareng. Joko Handoko mengangguk-angguk untuk menyakinkan hati mereka.
"Aku tidak suka membohong. Untuk apa aku berbohong? Sang Prabu Dandang Gendis hendak melemahkan Kadipaten Tumapel dengan cara mengadu-domba antara kekuatan-kekuatan di Tumapel, dan itu dipimpin oleh Begawan Buyut Wewenang yang dibantu oleh Ki Danyang Bagaskoro, Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo dan Ki Banyakluwo, masih dibantu banyak orang pandai dari Daha."
Mendengar banyak disebutnya tokoh-tokoh yang pandai dari Daha ini, Ki Kebosoro menjadi sangat terkejut.
"Akan tetapi......... bagaimana..... andika bisa tahu akan semua itu? Dan apa buktinya bahwa ceritamu itu benar?"
Joko Handoko lalu bercerita singkat menceritakan pengalamannya, ketika Gajah Putih dan Gajah Ireng berusaha menghancurkan perkumpulan Sabuk Tembogo, bahkan betapa mendiang Ki Danyang Bagaskoro berusaha membunuh Dewi Pusporini puteri Senopati Pamungkas, kemudian dia menceritakan ketika dia dan Wulandari ditawan oleh kaki tangan Begawan Buyut Wewenang.
"Karena kami ditangkap, maka terbonkarlah rahasia mereka itu dan kami tahu akan semua rahasia mereka. Tentu rahasia mereka itu akan kami bawa sampai mati kalau saja akmi tidak diselamatkan oleh Pangeran Maheso Walungan."
Joko Handoko menutup ceritanya yang didengakan oleh Ki Kebosoro dengan mata terbelalak.
"Ah, sungguh celaka kalau begitu.......!"
Katanya.
"Tapi, apa buktinya bahwa semua itu benar, ayah? Sebelum mempercayainya, kita harus melihat buktinya lebih dulu!"
Pramudento berseru.
Di dalam hatinya, pemuda ini memang memihak Kerajaan Daha, karena gurunya Ki Ageng Marmoyo dari Gunung Bromo adalah orang Daha juga tentu saja berpihak kepada Kerajaan Daha.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar, suara banyak orang dan masuklah seorang murid Hastorudiro dengan muka pucat dan dengan gugup dia melaporkan kepada Ki Kebosoro bahwa tempat mereka telah dikepung oleh pasukan Tumapel yang besar jumlahnya!
"Hemm, agaknya itulah bukti kebenaran ceritaku tadi, Paman Kebosoro.
Tentu para senopati Tumapel marah dan menyerbu karena ada dua orang yang menyamar sebagai orang-orang Hastorudiro membunuhi prajurit-prjurit Tumapel dengan ilmu pukulan yang bertapak merah,"
Kata Joko Handoko.
"Jangan khawatir, Ayah. Biar aku yang akan menyambut mereka!"
Kata Pramudento dengan suara lantang dan sikap gagah,bahkan dia lalu meloncat keluar dari ruangan itu.
Dengan muka berubah dan hati cemas, Ki Kebosoro lalu mengejar keluar, diikuti pula oleh dua orang adik seperguruannya.
Mereka agaknya sudah melupakan Joko Handoko dan Wulandari.
Joko Handoko lalu mengajak gadis itu keluar.
"Wulan, sebaiknya kita melihat perkembangannya dulu sebelum menentukan apa yang harus kita lakukan."
"Kakang Joko Handoko, mereka adalah orang yang keras kepala dan tinggi hati, untuk apa kita lebih lama tinggal di sini? Biarkan mereka diserbu dan dihancurkan oleh pasukan Tumapel, memang sudah pantas mereka dihajar!"
Joko Handoko memegang lengan gadis itu dengan lembut.
"Aihhh, engkau harus belajar sabar dan tenang, Wulan. Tak baik menurutkan perasaan. Orang boleh saja bersikap keras terhadap kita, akan tetapi mengapa kita hrus mengimbanginya? Kalau kita tahu bahwa kekerasan itu tidak baik, lalu kita membalas dengan kekerasan, bukankah hal itu berarti tidak ada perbedaan antara mereka dengan kita?"
"Ah, kakang, aku tidak setuju. Apakah kata-katamu itu berarti bahwa kalau orang berbuat jahat terhadap kita, maka kita bahkan harus berbuat baik terhadap mereka?"
"Mengapa tidak, Wulan? Kalau kita diserang, kita memang sudah sepatutnya membela diri, berusaha menyelamatkan diri. Akan tetapi, kalau orang berbuat jahat terhadap kita lalu kita membalas dengan perbuatan yang sama, maka mereka dan kita sama jahatnya! Bukankah demikian?"
"Tapi mereka yang memulai lebih dulu, kita hanya membalas?"
"Dulu atau kemudian tidak penting, diajeng Wulandari yang manis......."
"Eh, merayu, ya?"
Kata Wulandari, akan tetapi mukanya berubah merah dan bibirnya girang, sepasang matanya tajam mengerling.
Joko Handoko tersenyum, dia tidak bermaksud merayu, hanya berkelakar untuk mendinginkan hati gadis itu yang mulai panas.
"Sesungguhnya Wulan, yang paling penting bukan siapa yang lebih dulu berbuat jahat, melainkan perbuatan jahat itu sendiri. Kalau orang lain berbuat jahat, maka hal itu adalah masalah orang yang berbuat itulah. Sebaliknya, kalau kita juga melakukan hal yang sama, tak peduli apapun alasannya, membalas dendam atau apa saja, maka perbuatan jahat yang kita lakukan ini merupakan masalah penting pribadi kita sendiri."
"Wah, wahh jadi maksudmu, kalau ada orang membenci kita, maka kita harus membalas dengan mencintainya? Mana mungkin?"
Joko Handoko tersenyum.
"Bukan mencintainya, akan tetapi yang penting, kita tidak membencinya! Kalau ada sedikit saja kebencian terkandung dalam batin kita, terhadap siapapun juga, maka berarti telah ada racun mengeram di hati dan racun itu akan menimbulkan kesengsaraan batin. Sudahlah, Wulan mari kita cepat kaluar untuk melihat apa yng terjadi di sana."
Mereka lalu cepat keuar dan ternyata para tamu sudah berkeruman di depan.
Tentu saja pesta itu terhenti, gamelan tadi tidak dipukul lagi, para penabuh gamelan bersama penari dan penyanyinya telah bersembunyi di balik gong-gong besar.
Joko Handoko dan Wulandari lalu menyelinap di antara para tamu yang kini menjadi penonton.
Seperti para tamu, mereka berdua ini memandang ke arah pihak tuan rumah yang sudah berhadapan dengan belasan orang perwira yang memimpin pasukan Tumapel.
Ki Kebosoro didampingi oleh Pramudento berdiri saling menghadapi para perwira Tumapel, sedangkan dua orang adik seperguruannya berdiri di belakang mereka.
Kemudian belasan murid yang sudah memiliki kepandaian tinggi berdiri pula di belakang dua orang kakek ini.
Sikap mereka, terutama sekali Pramudento, sama sekali tidak memperlihatkan rasa jerih, bahkan sikap mereka menantang.
Agaknya telah terjadi perbantahan di antara kedua pihak.
"Para perwira Tumapel, dengarkan baik-baik!"
Terdengar suara Pramudento lantang, agaknya dia sudah marah sekali.
"Semenjak dahulu sampai sekarang, aliran Hastorudiro kami tidak pernah memusuhi kadipaten Tumapel, bahkan kami yang akan maju menanggulangi kalau ada pihak yang hendak menganggu ketentraman Tumapel. Bagaimana sekarang andika datang dengan tuduhan yang bukan-bukan? Sekali lagi kami menjawab bahwa tidak ada murid kami yang melakukan pembunuhan terhadap prajurit-prajurit Tumapel!"
"Orang muda, biarlah ketua Hastorudiro yang bicara dengan kami. Dialah yang bertanggung jawab atas semua ini!"
Kata seorang di antara para perwira yang berkumis tebal seperti kumis Raden Gatutkaca.
"Sama saja!"
Tiba-tiba Ki Kebosoro berkata.
"Dia adalah anakku, dan jawabnya adalah jawabanku pula!"
Perwira berkumis tebal ini mengangguk.
"Ah, kiranya putera ketua Hastorudiro. Dengarlah kalian, orang-orang Hastorudiro. Kami hanyalah utusan dari Sang Akuwu Tunggal Ametung, dan segala bantahan kalian sebaiknya disampaikan saja didepan beliau. Sekarang tugas kami hanyalah menangkap para pimpinan Hastorudiro yang berada di sini untuk kami hadapkan Gusti Akuwu."
"Kalau kami menolak ditangkap?"
Tanya Pramudento marah.
"Ha-ha, orang muda, jangan terlalu tinggi hati. Lihat, padukuhan ini telah dikepung oleh ratusan prajurit kami dan kami sudah menerima tugas untuk mempergunakan kekerasan kalau perlu."
"Babo-babo! Kami tidak merasa bersalah dan selama ini kami tidak pernah menentang Kadipaten Tumapel. Akan tetapi, kalau kami ditekan, kami akan melawan! Semut pun akan membela diri kalau diinjak, apalagi kami adalah manusia-manusia gagah. Hayo, aku tantang para senopati Tumapel untuk menangkap aku sebelum mengandalkan keroyokan ratusan orang prajurit! Apakah Tumapel mempunyai senopati yang cukup tangguh dan berani untuk memangkap aku?"
Pemuda iini menantang sambil membusungkan dadanya, sikapnya sombong sekali sehingga diam-diam Wulandari ingin sekali melihat sampai di mana kehebatan pemuda yang tinggi hati itu.
Hati para perwira yang bertugas untuk menangkap pimpinan Hastorudiro menjadi panas mendengar tantangan yang sombong itu.
Tentu saja Tumapel memiliki banyak orang-orang gagah dan perwira-perwira yang berkepandaian tinggi, dan di antaranya adalah mereka yang kini memimpin pasukan sebagai para pembantu Senopati Raden Pamungkas, senopati ini sendiri tidak maju ke depan, menyerahkan kepada para pembantunya karena dia tidak ingin bersitegang dan berbantahan dengan orang-orang yang telah memberontak terhadap Tumapel.
Seorang di antara para perwira itu bernama Manudibyo, seorang yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, kepalanya yang besar dan tertutup kain panjang terurai dan matanya yang lebar selalu melotot menyeramkan.
Dia adalah seorang perwira yang tangguh dan disegani karena memiliki tenaga gagah di samping ilmu pencak silat yang berasal dari daerah Parahyangan.
Mendengar tantangan yang memanaskan perutnya itu, Manudibyo tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau dia melangkah maju.
"Orang muda yang sombong! Orang macam engkau ini berani menentang para senopati Tumapel? Babo-babo, sumbarmu seperti dapat meloncati Gunung Semeru dan menyelam dasar Laut Kidul! Biarlah aku Manudibyo, menangkap dan menghajar mulutu yang lancang itu!"
Berkata demikian, si raksasa ini melangkah maju menghadapi Pramudento.
Perwira berkumis tebal yang memwakili senopati mendiamkan saja dan setuju kalau raksasa ini yang maju, karena dia tahu benar bahwa di antara para perwira, Manudibyo boleh dianggap sebagai yang paling tangguh.
Dia sendiri tidak akan menang melawan Manudibyo, maka dia mengangguk dan mundur, memberi ruang yang cukup luas bagi dua orang jagoan yang hendak bertanding itu.
Teman-temannya juga mundur dan mereka membentuk lingkaran bersama orang-orang Hastorudiro.
Sikap mereka seperti sekelompok orang yang hendak menyambung ayam jago, wajah mereka rata-rata gembira dan tegang karena hendak menyaksikan pertarungan yang mengasikkan.
"Dento, hati-hati jangan sampai membunuh orang,"
Kata Ki Kebosoro.
Tentu saja bagi seorang seperti dia, membunuh orang bukan hal yang terlalu hebat dan perlu diributkan.
Akan tetapi dia maksudkan agar puteranya tidak sampai membunuh perwira Tumapel karena hal itu hanya akan memperuncing keadaan.
Pramudento bukan seorang bodoh dan dia pun mengerti akan maksud kata-kata ayahnya.
"Harap ayah jangan khawatir. Tanpa membunuh pun aku akan mampu menundukkan semua jagoan Tumapel satu demi satu, Ki Manudibyo, majulah!"
Manudibyo yang tidak dipandang sebelah mata oleh pemuda itu seperti, menjadi penasaran.
"Bocah sombong siapakah namamu? Aku tidak ingin tanganku yang tidak bermata terlanjur menewaskan orang tidak kukenal namanya."
Pramudento tersenyum mengejek, dan melihat betapa kini Joko Handoko dan Wulandari telah menyelinap dan brada di antara tamu, dia melempar kerling dan senyum kepada gadis itu.
Wulandari hanya memandang dengan mulut cemberut.
Aneh, ia merasa tidak senang melihat pemuda itu bersikap sombong sekali, akan tetapi di samping perasaan tidak senang ini, ia pun tertarik sekali.
Harus diakuinya bahwa Pramudento memang tampan dan gagah!
"Aku idak pernah menyembunyikan nama.
Aku bernama Pramudento, putera tunggal ketua Hastorudiro."
"Bagus, Pramudento, sekarang sambutlah pukulan ini!"
Bentak Manudibyo yang segera menerjang ke depan.
Lengannya yang panjang itu diangkat ke atas dan yang kiri menyambar turun ke arah ubun-ubun kepala Pramudento, sedangkan yang kanan menyambar turun dengan cengkeraman ke arah dada.
Serangan yanghbat ini dilakukan dengan cepat, akan tetapi yang menggiriskan adalah suara angin bertiup saking kuatnya kedua lengan itu menyambar turun.
Rambut dan pakaian Pramudento sampai berkibar tertiup angin pukulan yang sudah menyambar lebih dahulu sebelum tenaga tiba pada sasaranya.
Pemuda lulusan gemblengan Ki Ageng Marmoyo di Gunung Bromo itu mengenal serangan berbahaya dan tahulah dia bahwa lawannya memiliki tenaga gajah, maka dia pun dengan tenang namun cepat, mengelak dengan merendahkan tubuh tubuhnya dan meloncat ke belakang.
Dengan gerakan ini, serangan kedua tangan itu hanya mengenai tempat kosong.
Akan tetapi, Manudibyo sudah bergerak cepat pula, mengirim tendangan susulan dengan kaki kirinya yang panjang dengan jari-jari melebar.
Kalau tendangan ini, yang dilakukan dengan tenaga besar, mengenai tubuh Pramudento, tentu tubuh pemuda itu akan terlempar jauh seperti bola ditendang!
"Wuuuuuuuttt.............!"
Kembali tendangn itu melayang dan hanya mengenai tempat kosong karena lebih dulu tubuh Pramudento sudah mengelak ke kiri.
Manudibyo semakin penasaran dan marah.
Perkelahian itu ditonton banyak orang dan tentu dia merasa malu karena tiga kali berturut-turut serangan hanya mengenai udara kosong saja.
Dan pemuda itu setiap kali mengelak, lalu bediri seolah-olah menanti datangnya serangan lanjutan tanpa membalas.
Memang demikianlah, setelah melihat gerakan-gerakan Manudibyo yang dilakukan secepatnya namun baginya masih nampak lamban itu, dia pun mengerti bahwa lawannya ini hanya memiliki tenaga gajah itu saja.
Tidak ada keistimewaan lainnya, maka dengan mudah saja dia pun hanya mengandalkan kegesitannya untuk menghadapi serangan-serangan itu dengan elakan-elakan.
Dan memang tepat perhitungannya.
Manudibyo menyerang lagi makin lama makin sengit dan hebat, akan tetapi karena bagi Pramudento gerakan itu datangnya lamban dan dapat diikuti dengan pandang mata secara jelas, maka dia pun mudah saja menghindarkan diri dengan elakan yang gesit, ke kanan ke kiri, meloncat atau ke belakang.
Sampai dua puluh jurus Manudbyo menyerang terus, dan selalu seranganya dapat dielakkan oleh Pramudento tanpa satu kali pun ditangkis.
Manudibyo yang menyerang terus-menerus itu, makin lama semakin ganas dan mempergunakan tenaga sekuat-kuatnya, tentu saja kini terengah-engah.
Dia mengeluarkan tenaga terlampau besar dan terus-menerus, hal ini amat melelahkan dan jantungnya berdebar keras membutuhkan udara sebanyaknya maka dia pun megap-megap seperti ikan terlempar ke darat.
Peluhnya sudah membasahi leher dan mukanya, bajunya juga sudah basah.
Sementara itu, para anggota Hastorudiro lupa bahwa mereka semua telah dikepung pasukan besar.
Saking gembira hati mereka melihat betapa putera ketua mereka mempermainkan raksasa itu, mereka brsorak dan bertepuk tangan setiap kali serangan Manudibyo mengenai tempat kosong dan raksasa itu terhuyung, terbawa oleh kerasnya serangannya sendiri.
"Ahaa, hanya beginikah jagoan dari Kadipaten Tumapel? Ternyata tidak berapa hebat!"
Kata Pramudento, sengaja membikin marah lawan.
Dan ternyata dia behasil karena Manudibyo mengeluarkan suara menggereng seperti harimau marah dan dia menubruk ke sana sini, ke mana saja Pramudento mengelak.
Pemuda itu dengan sengaja main kucing-kucingan, mengelak dengan lompatan cepat ke kanan, kiri atau belakang agak jauh dan membiarkan lawan mengejarnya, menyerangnya lagi, dielakkannya lagi sambil mengeluarkan suara-suara ejekan seperti "luput lagi".
"Wah, tidak kena!".
"Meleset terus!"
Dan sebagainya yang membuat lawannya menjadi semakin bernafsu.
Seperti mau putus rasanya pernapasan Manudibyo setelah dia menyerang terus-menerus selama seperempat jam tanpa henti, mengerahkan seluruh tenaganya, bahkan serangannya semakin ganas dan buas saja.
Tubuhnya terhuyung dan lemas, kalau dia berhenti untuk mengaso, lawannya mengejaknya.
"Ha,sudah habiskan ilmu-ilmumu? Cuma sekian saja? Sudah putuskah napasmu?"
Mendengar ejekan-ejekan ini, Manudibyo menjadi semakin garang.
Tanpa memperdulikan keadaan tubuhnya yang sudah terlalu lelah dan napasnya yang hampir putus itu, dia menyerang terus, kini mencabut sebatang golok besar dan menyerang dengan senjata itu.
Kalau sejak tadi dia menggunakan goloknya, agaknya Pramudento tidak akan mempermainannya seenak itu walaupun tingkat kepandaiannya Manudibyo masih jauh di bawah Pramudento.
Sekarang, menggunakan golok itu bahkan menguras tenaga Manudibyo semakin cepat lagi.
Golok itu besar dan berat, walaupun bagi Manudibyo yang bertenaga gajah golok itu seperti sehelai bulu saja, namun dalam keadaan kelelahan, kehabisan tenaga dan napas, golok itu terasa seperti seratus kali beratnya!
"Hayo serang terus!"
Pramudento mengejek sambil meloncat ke atas ketika golok menyerampang kedua kakinya. Manudibyo hampir tidak kuat lagi.
"Keparat, hayoo balas lagi kalau kau laki-laki sejati!"
Parmudento merasa sudah cukup dia memperlihatkan kepandaiannya dan pamer ini tentu saja ditujukan kepada para penonton, terutama sekali kepada Wulandari, gadis hitam manis yang menarik hatinya itu.
"Baik, rebahlah!"
Bentaknya dan tiba-tiba kakinya menendang, tepat mengenai pergelangan tangan kanan Manudibyo sehingga goloknya terlepas, dan Pamudento mengirim tamparan dari atas, mengarah kepada lawan.
Melihat ini, Manudibyo berdongak dan menakis dengan tangan kanan, siap untuk menangkap lengan lawan itu yang tentu akan dibuatnya patah-patah seperti orang mematah-matahkan sebatang lidi saja.
Akan tetapi, tiba-tiba Pramudento menarik tangan kirinya itu dan secepat kilat menyambar, tangan kanannya dengan jari terbuka, menghantam dari bawah, ke arah leher lawan.
Kekk.....!
Tubuh itu terpalanting roboh dan tidak mampu bergarak lagi.
Ketika raksasa tadi menengadah, lehernya terbuka dan bagian bawah tangan Pramudento, dengan tenaga yang sudah diukur agar tidak terlalu keras datangnya, mengenai leher kiri bawah dagu raksasa itu yang seketika merasa kepalanya sepeti disambar halilintar yang membuatnya roboh pingsan.
Pingsan bukan hanya karena pukulan, melainkan terutama sekali karena kehabisan tenaga dan napas.
"Singkirkan kerbau tolol itu!"
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan di situ sudah muncul seorang pria berusia kurang lebih empat puluh tahun yang melihat pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang senopati kadipaten, sedangkan di sampingnya berdiri seorang pemuda berusia kurang dari dua puluhan tahun yang bertubuh tegap gagah dan berwajah penuh wibawa.
Joko Handoko yang sejak tadi nonton perkelahian itu, mengerutkan alisnya dan diam-diam menganggap Pramudento sombong dan keterlaluan memamerkan kepandaiannya dan menghina lawan.
Sebaliknya, Wulandari tadi ikut bertepuk tangan memuji karena ia tahu bahwa pemuda itu ternyata memang hebat dan memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi darinya!
Kini, Joko Handoko terkejut munculnya dua orang yang amat dikenalnya, juga Wulandari mengenal dua orang yang baru muncul.
Gadis itu memegang tangan Joko Handoko dan menekannya sebagai isyarat ketika ia mengenal dua orang itu.
Joko Handoko hanya mengangguk dan memandang penuh perhatian.
Kiranya yang memimpin pasukan mengepung itu adalah Senopati Raden Pamungkas sendiri, ayah dari Dewi Pusporini dan agaknya dibantu pula oleh Ken Arok, saudaranya seayah berlainan ibu!
Sementara itu, Ken Arok yang kini teah memperoleh kemajuan pesat dalam pengabdiannya kepada Sang Akuwu Tunggal Ametung, telah menjadi orang kepercayaan dan berpangkat perwira tinggi dalam pasukan pengawal istana, dan kini diperbantukan kepala Senopati Pamungkas dalam menghadapi Hastorudiro yang dianggap pemberontakan, telah maju menghampiri Pramudento.
"Pemberontak sombong! Berani engkau menentang utusan Kadipaten Tumapel?"
Sambil membentak demikian, Ken Arok sudah menerjang dengan tamparan yang cukup kuat dan amat cepat ini, Pramudento terkejut karena dia berhadapan dengan orang yang "berisi", bukan sekedar besar tenaga seperti Manudibyo tadi, maka dia pun tidak barani mengelak karena serangan itu cepat sekali datangnya, melainkan mempergunakan lengan kirinya untuk menangkis sambil mengerahkan aji pukulan Tapak Bromo.
"Dukk!!"
Keras sekali pertemuan antara dua lengan yang berisi tenaga sakti itu dan akibatnya, keduanya terdorong mundur sampai dua langkah dan keduanya terkejut sekali ketika merasa betapa tenaga lawan amat kuatnya.
Ken Arok juga diam-diam terkejut.
Lawannya memiliki tangan yang mengandung hawa panas!
Dia mengira bahwa itulah aji pukulan Hastorudiro {Tangan Berdarah}, akan tetapi sesunguhnya, aji pukulan itu lebih hebat lagi, yaitu Tapak Bromo!
Sebaliknya, Pramudento juga terkejut karena dia mendapat kenyataan bahwa kekuatan lawan tidak berada di sebelah bawah tingkatnya.
Akan tetapi, sebelum dua orang pemuda yang sama-sama memiliki ilmui kepandaian tinggio ini saling hantam lebih lanjut, tiba-tiba Senoapati Raden Pamungkas berseru kepada Ken Arok.
"Anakmas, hentikan saja perkelahian perorangan ini. Kita gempur saja pemberontak-pemberontak ini dengan pasukan kita. Pasukan siaaaapp............!!"
Tentu saja keadaan gempar ketika pasukan itu bersorak dan berteriak sambil memperketat kepungan.
Semua anggota Hastorudiro sudah siap siaga untuk membela diri mati-matian, walaupun mereka maklum bahwa menghadapi jumlah pasukan yang amat banyak, tentu mereka akan kalah dan akan dibasmi habis kalau tidak menyerah dan menakluk.
Ki Kebosoro yang maklum pula akan hal ini, dan dia sudah mengenal senopati itu, lalu berseru.
"Kanjeng senopati, kami sungguh-sungguh tidak bersalah apa-apa!"
"Kalau begitu, menyerahlah kalian semua untuk kami bawa ke kadipaten!"
Bentak sang senopati.
"Ayah, kita tidak bersalah, tak parlu takut, lawan saja!"
Teriak Pramudento yang merasa terlalu rendah kalau dia harus mengalah.
"Lawan saja, kakang Kabosoro!"
Teriak pula Ki Gagaksampar dan Ki Gagakmeto, dua orang yang juga memiliki kekerasan hati. Pada saat senopati hendak meneriakkan aba-aba penyerbuan, tiba-tiba terdengar suara halus namun berwibawa.
"Harap andika semua bersabar dan jangan bertempur!"
Semua orang memandang dan ternyata yang berseru itu adalah Joko Handoko yang sudah melompat ke tengah medan perkelahian tadi, diikuti oleh Wulandari yang juga melompat dengn ringan dan sigapnya.
"Joko Handoko dan Wulandari..........!"
Senopati Pamungkas berseru, terkejut ketika mengenal dua orang muda ini.
"Adimas Ken Arok, harap bersabar dulu!"
Teriak pula Joko Handoko melihat betapa Ken Arok memandang marah.
"Kakang, Joko Handoko!"
Ken Arok berteriak sambil memandang marah kepada pemuda itu.
"Apa artinya ini? Andika berada di sini, apakah berarti bahwa andika kini sudah bergabung dengan para pemberontak?"
"Dimas Ken Arok, harap jangan salah sangka. Tidak ada pemberontak di sini. Aku tidak, juga Hastorudiro bukanlah pemberontak."
Jawab Joko Handoko dengan suara lantang.
"Joko Handoko, apa maksudmu dengan ucapan itu?"
Harap jelaskan!"
Senopati Pamungkas membentak dan memandang tajam.
Semua orang memandang dan mencurahkan perhatian sehingga suasana menjadi sunyi.
Buhkan Ki Kebosoro dan puteranya, juga adik-adik seperguruan dan para muridnya, kini mulai percaya akan kebenaran cerita yang disampaikan Joko Handoko kepada mereka.
Buktinya sudah ada, yaitu bahwa pasukan Tumapel telah menyerbu tempat mereka dengan tuduhan pemberontakan, cocok dengan apa yang diceritakan Joko Handoko tadi.
"Kanjeng Senopati, tentu paduka masih ingat akan apa yang telah terjadi terhadap puteri paduka dan pihak Sabuk Tembogo. Saya dan diajeng Wulandari telah melakukan penyelidikan dan mendapat kenyataan bahwa memang ada pihak ketiga yang sengaja menyebar fitnah dan mengadu dombakan antara kekuatan-kekuatan di Tumapel, antara lain mengadu antara Kadipaten Tumapel dengan Sabuk Tembogo, antara Hastorudiro dengan Hati Putih, kemudian bahkan berusaha membunuh puteri paduka ketika menjadi tamu di rumah ketua Sabuk Tembogo. Dan sekarang, mengadu domba antara Hastorudiro dengan pasukan Tumapel, dengan menjatuhkan fitnah, menyamar sebagai orang-orang Hastorudiro untuk membunuhi para prajurit Tumapel. Karena itu, saya harap agar paduka suka menghentikan pengepungan ini dan mendengar penuturan saya."
Senopati Pamungkas memang pernah menduga bahwa setelah Sabuk Tembogo benar-benar tidak pernah memberontak terhadap Tumapel, tentu ada pihak ketiga yang sengaja memburukkan nama perkumpulan itu.
Dia tidak menyangka sama sekali bahwa pembunuhan terhadap para perajurit Tumapel yang dilakukan oleh orang-orang bertopeng dengan menggunakan pukulan aji Hastorudiro juga bukan orang-orang perkumpulan itu.
Maka, mendengar penuturan Joko Handoko, dia terkejut bukan main.
"Joko Handoko, keterangan ini membingungkan dan juga berbahaya sekali. Kalau Hastorudiro bukan pemberontak, lalu siapakah yang membunuhi para prajurit Tumapel itu? Tahukah engkau siapa orangnya?"
"Saya tahu, Kanjeng Senopati. Bahkan saya bersama diajeng Wulandari pernah tertawan dan hampir terbunuh oleh mereka. Mereka itulah yang mengatur siasat untuk mengadu domba antara kekuatan-kekuatan di Tumapel, agar Tumapel menjadi kacau dan juga menjadi lemah."
"Siapakah mereka itu?"
"Mereka adalah orang-orang pandai dari Kerajaan Daha, Kanjeng Senopati."
Semua orang terkejut dan Ken Arok mengeluarkan seruan tertahan.
"Kakang Joko Handoko! Yakin benarkah andika akan keteranganmu itu, ataukah hanya dugaanmu belaka?"
"Bukan hanya dugaan, dimas Ken Arok. Seperti kukatakan tadi, aku dan Wulandari bahkan pernah ditawan mereka sendiri yang nyaris membunuh kami kalau saja kami tidak ditolong dan dibebaskan oleh Pangeran Maheso Walungan sendiri. Rombongan oang-orang Daha yang berilmu itu dipimpin oleh Begawan Buyut Wewenang, atas perintah Sang Prabu Dandang Gendis yang berniat melemahkan Tumapel yang dianggap tidak tunduk terhadap kerajaan Daha. Mereka mempunyai orang-orang pandai yang dapat melakukan pukulan seperti pukulan Hastorudiro, pandai memainkan Sabuk Tembogo, seperti murid-murid Sabuk Tembogo, bahkan ada yang menyamar menjadi murid Hati Putih untuk mengadu dombakan Hati Putih dengan Hastorudiro. Yang menjadi pimpinan adalah Begawan Buyut Wewenang yang dibntu Ki Bajulbiru, Ki Suroyudo, Ki Banyakluwo, dan Ki Bagaskoro."
Mendengar penuturan yang jelas itu, Senopati Pamungkas mengangguk-angguk.
"Hemm, sungguh keji sekali dan curang sekali usaha Sang Prabu Dandang Gendis itu!"
"Paman Senopati, kita serbu saja Daha!"
Ken Arok berseru dengan marah karena dia pun percaya penuh akan kebenaran cerita Joko Handoko.
"Anakmas, Ken Arok, kita tidak berwenang untuk melakukan hal itu. Dan apakah andika mengira demikian mudahnya memukul Kerajaan Daha yang besar dan memiliki banyak sekali orang pandai dan bala tentara yang besar itu? Tidak, kewajiban kita hanyalah melaporkan semua ini kepada Sang Akuwu Tunggal Ametung dan beliau yang akan mengambil keputusan. Bagaimanapun juga, Tumapel memang masih berada di bawah kekausaan Daha."
Kini Ki Kebosoro lalu mempersilakan para pimpinan pasukan Tumapel itu untuk masuk dan ikut berpesta menjadi tamu-tamu Agung, bahkan pasukan itu pun dipersilakan untuk ikut makan minum.
Sungguh peristiwa yang lucu dan menggembirakan.
Pertempuran yang nyaris terjadi itu, yang tentu akan mengalirkan banyak darah dan melayangkan banyak nyawa manusia, kini berubah sama sekali menjadi pesta pora makan minum dan senda gurau antara kedua pihak!
Setelah selesai makan minum, Senopati Raden Pamungkas mengajak Joko Handoko dan Wulandari ikut bersama ke Tumapel, untuk menjadi saksi dalam pelaporannya kepada Sang Akuwu, juga hendak menjadi tamu di rumahnya karena senopati ini suka sekali kepada Joko Handoko dan Wulandari yang dianggapnya selain pernah berbuat baik terhadap Dewi Pusporini, juga kini bahkan menjadi pahlawan-pahlawan yang menyelamatkan Tumapel.
Karena dibutuhkan sebagai saksi di depan Sang Akuwu, tentu saja Joko Handoko dan Wulandari tidak dapat menolaknya dan mereka pun bersama pasukan itu ke Tumapel.
Berkat ketrampilan dan kegagahannya, juga dibantu leh kedudukan Danyang Lohgawe yang menjadi penasihat Sang Akuwu Tunggal Ametung dan amat dihargai karena kebijaksanaannya, maka sebentar saja Ken Arok telah memperoleh kemajuan dan diangkat menjadi senopati muda dalam pasukan pengawal kerajaan.
Kemajuan ini terjadi semenjak Ken Arok bertemu dengan Danyang Lohgawe dan barulah dia melihat betapa kehidupannya yang lalu itu sia-sia belaka.
Kini dia menjadi seorang panglima muda yang disegani dan dihormati.
Akan tetapi, Ken Arok masih belum puas.
Dia bercita-cita tinggi, ingin mencapai kedudukan setinggi-tingginya.
Dia mulai membanding-bandingkan kedudukannya sekarang dengan kedudukan orang lain, dalam hal ini saja kedudukan orang yang lebih tinggi, seperti Tunggal Ametung.
Dia merasa tidak kalah dalam segalanya dengan Tunggal Ametung, akan tetapi kenapa kedudukannya kalah jauh dan dia menjadi bawahan Sang Akuwu itu?
Hal ini mendatangkan rasa penasaran dan iri hati.
Manusia hidup takkan pernah berbahagia selama dia memandang jauh ke depan, selama dia mengharapkan hal-hal yang lebih baik daripada keadaannya saat ini.
Pengharapan akan keadaan yang lebih baik itu dengan sendirinya mendatangkan rasa tidak puas dan kecewa akan keadaan saat ini.
Dan dia pun akan selalu menjadi korban dari keinginannya sendiri, takkan pernah puas selamanya karena dari keinginannya dia selalu mengharapkan yang lebih baik.
Dan keadaan ini oleh kita sudah dianggap amat baik, dengan istilah cita-cita!
Padahal, kebahagiaan terletak pada saat ini!
Berbahgialah orang yang dapat menikmati saat ini, sekarang, dalam keadaan bagaimana pun juga, tanpa memandang ke masa depan, tanpa menginginkan hal yang lain daripada yang ada.
Karena hidup adalah saat ini, kebahagiaan hidup adalah dalam saat ini.
Semenjak pertemua itu, Ken Arok selalu mencari kesempatan untuk dapat bertemu dengan Ken Dedes, walaupun hanya saling pandang dari jarak jauh.
Akan tetapi, setiap kali terdapat kesempatan mereka saling berpandangan, walaupun hanya beberapa menit saja, dua pasang mata itu tentu bertaut ketat, bahkan Ken Dedes menambah dengan senyum simpul yang amat manis penuh dengan pencaran rasa hatinya.
Hal ini tentu saja membuat Ken Arok menjadi semakin tergila-gila dan akhirnya, terdorong asmara yang sudah membakar seluruh tubuhnya, berhasillah dia mencuri masuk ke dalam taman kadipaten pada saat Ken Dedes sedang berduan saja dengan danyang kepercayaannya.
Waktu itu matahari mulai terbenam dan Sang Akuwu Tunggal Ametung masih belum bangun dari tidurnya.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya rasa hati Ken Dedes ketika melihat bayangan berkelebat dan ternyata Ken Arok telah berdiri di depannya.
Ia terbelalak memandang, kemudian wajahnya berubah merah dan panjang matanya memancarkan rasa takut.
Kalau sampai ketahuan Sang Akuwu, tentu panglima muda ini akan celaka!
"Andika.........
Andika..........bagaimana berani masuk ke sini.........?"
Tanyanya gagap. Ken Arok masih berdiri terpesona. Dalam keadaan panik itu, Ken Dedes nampak semakin cantik. Apalagi ketika bibirnya bergerak mengeluarkan kata-kata yang amat merdu olehnya.
"Harap paduka jangan khawatir, karena saya dapat menjaga diri, dan andaikata sampai hamba mati pun, saya tidak menyesal setelah sempat bertemu dan bercakap-cakap dengan paduka, dewi yang cantik jelita."
Mendengar ucapan itu, kedua pipi Ken Dedes menjadi semakin merah dan jantungnya berdebar keras.
"Ah.... senopati......, bagaimana ini? Pergilah cepat, jangan sampai ketahuan oleh Sang Akuwu.........."
Pintanya dengan suara yang penuh kegelisahan.
"Tidak, sang dewi. Saya tidak akan beranjak dari tempat ini sebelum menyampaikan apa yang selama ini terpendam di dalam lubuk hati saya."
"Ahh........."
Ken Dedes menjadi bingung sekali. Dipandangnya dayang yang masih bersimpuh di situ.
"Kau.......kau pergilah dulu....... dan bantu lihat kalau-kalau ada orang datang, cepat beritahu........"
Tanpa diperintah dua kali, dayang itu pun maklum bahwa ia harus meninggalkan mereka berdua dan bertugas sebagai penjaga pintu agar pertemuan antara kedua orang muda itu tidak sampai tertangkap basah.
Maka sambil menutupi mulutnya, dayang itupun pergi dari dalam taman itu, menuju ke pintu tembusan dan menanti di sana.
"Nah, cepat katakan apa kehendakmu, Raden...... dan cepat pula tinggalkan tempat ini. Amat berbahaya bagimu, bagi kita........"
"Duhai sang dewi..... pujaan saya, hukuman dan kematian bukan apa-apa bagi saya setelah berhasil menatap wajah paduka dari dekat, mendengar suara paduka dan dapat bercakap-cakap dengan paduka. Saya rela mati untuk paduka. Semenjak pertemuan di luar taman Boboyi itu, saya tidak dapat melupakan sang dewi, siang malam terbawa dalam lamunan dan mimpi. Saya.....saya cinta kepada paduka, sang dewi Ken Dedes pujaan kalbu..........."
"Ahh...........!"
Ken Dedes memejamkan kedua matanya yang menjadi basah. Terharu dan bahagia rasa hatinya mendengar pangakuan cinta yang demikian panas dari pria yang selama ini dirindukannya.
"Jangan........jangan berkata demikian......"Perasannya pecah menjadi dua dan berpeang sendiri. Di satu bagian, perasaannya girang bukan main, penuh dengan kebahagiaan karena pria yang menarik hatinya ini menyatakan cinta kepadanya, akan tetapi di lain bagian, pelajarannya dalam keagaaman membuat ia merasa bahwa ia telah berdosa karena melanggar kesetiaannya terhadap suaminya. Biarpun sejak semula ia tidak mencintai Tunggal Ametung, namun bagaimana pun juga pria itu telah menjadi suaminya dan menurut hukum agamanya yaitu Agama Buddha Mahayana ia harus taat dan setia kepada suaminya. Dan sekarang, ia menghadapi pernyataan cinta dari seorang pria lain, pria yang yang menarik hatinya. Ken Arok memandang dengan alis berkerut. Hatinya gelisah dan juga kecewa sekali.
"Apakah....... apakah paduka hendak menolak kasih saya? Apakah paduka...... hendak mengatakan bahwa paduka tidak suka kepada saya, tidak sudi menerima cinta kasih saya?"
Suaranya gemetar penuh kegelisahan.
"Kalau begitu, lebih baik kalau saya mati saja di depan kaki paduka......"
"Jangan.......!"
Ken Dedes melangkah maju dan dengan tubuh menggigil memegang kedua lengan Ken Arok untuk mencegah pemuda itu mencabut kerisnya, Ken Dedes menangis dan Ken Arok lalu merangkulnya, memeluk dengan sepenuh perasaan kasih sayangnya.
Akan tetapi hanya sebantar Ken Dedes sepeti dibuai kemesraan yang membuatnya lemas.
Ia lalu melepaskan diri dengan lembut dan memandang kepada pemuda itu melalui genangan air matanya.
"Raden, harap jangan menyiksa hatiu.......bukan sekali-kali saya menolak, akan tetapi andika juga maklum bahwa hal ini tidaklah mungkin terjadi, tidak boleh terjadi. Saya adalah isteri Sang Akuwu.........saya tidak bebas lagi........ bahkan........ bahkan saya....... saya telah mengandung........."
Ken Arok juga sadar keadaannya dan dia menarik napas panjang.
"Saya tidak peduli akan semua itu. Yang penting bagi saya, apakah paduka membalas cinta saya. Apakah andaikata suami paduka itu tidak ada lagi, paduka suka menjadi isteri saya?"
Ken Dedes memandang wajah pemuda itu dengan mata terbelalak. Mata yang jeli indah dan basah air mata.
"Tidak ada lagi? Maksud.... maksudmu.....? Kalau..... dia..... meninggal dunia.........?"
Ken Arok mengangguk dan tersenyum.
"Nyawa manusia di tangan para dewata, bukanlah demikian, diajeng yang manis?"
Dia semakin berani dan menyebut Ken Dedes dengan sebutan diajeng yang mesra.
"Andaikata dia tidak ada, maukah engkau menjadi isteriku?"
"Tapi..... tapi kandunganku....."
"Dia akan menjadi anakku pula. Bagaimana?"
Ken Dedes termenung sejenak.
Tentu saja ia ingin sekali selalu berdekatan dengan pria ini dan menjadi isterinya merupakan hal yang dianggapnya paling membahagiakan.
Akhirnya ia mengangguk.
Kembali mereka saling berpandangan dengan penuh kemesraan dan Ken Arok hendak merangkul lagi.
Akan tetapi pada saat itu, dayang tadi datang berlari dan menunjuk ke arah pintu tembusan, mengataan bahwa Sang Akuwu datang.
Mendengar ini, Ken Dedes menahan jeritnya dan Ken Arok menggunakan ilmu kepandaiannya untuk melompat dan keluar dari dalam taman sebelum Tunggal Ametung tiba di pintu tembusan.
Ken Arok menjadi semakin bimbang.
Berhari-hari dia termenung saja, kadang-kadang menarik napas panjang.
Kadang-kadang mengepal tinjunya.
Dia tidak suka makan dan selalu gelisah di tempat tidurnya.
Hal ini diketahui oleh gurunya atau ayah angkatnya yang terakhir, yaitu Danyang Lohgawe.
Kakek itu berkunjung ke rumah kediaman Ken Arok yang kini memperoleh rumah sendiri, disambut dengan hormat oleh Ken Arok dan dipersilahkan duduk.
"Ahh...........!"
Ken Dedes memejamkan kedua matanya yang menjadi basah. Terharu dan bahagia rasa hatinya mendengar pangakuan cinta yang demikian panas dari pria yang selama ini dirindukannya.
"Jangan........jangan berkata demikian......"Perasannya pecah menjadi dua dan berpeang sendiri. Di satu bagian, perasaannya girang bukan main, penuh dengan kebahagiaan karena pria yang menarik hatinya ini menyatakan cinta kepadanya, akan tetapi di lain bagian, pelajarannya dalam keagaaman membuat ia merasa bahwa ia telah berdosa karena melanggar kesetiaannya terhadap suaminya. Biarpun sejak semula ia tidak mencintai Tunggal Ametung, namun bagaimana pun juga pria itu telah menjadi suaminya dan menurut hukum agamanya yaitu Agama Buddha Mahayana ia harus taat dan setia kepada suaminya. Dan sekarang, ia menghadapi pernyataan cinta dari seorang pria lain, pria yang yang menarik hatinya. Ken Arok memandang dengan alis berkerut. Hatinya gelisah dan juga kecewa sekali.
"Apakah....... apakah paduka hendak menolak kasih saya? Apakah paduka...... hendak mengatakan bahwa paduka tidak suka kepada saya, tidak sudi menerima cinta kasih saya?"
Suaranya gemetar penuh kegelisahan.
"Kalau begitu, lebih baik kalau saya mati saja di depan kaki paduka......"
"Jangan.......!"
Ken Dedes melangkah maju dan dengan tubuh menggigil memegang kedua lengan Ken Arok untuk mencegah pemuda itu mencabut kerisnya, Ken Dedes menangis dan Ken Arok lalu merangkulnya, memeluk dengan sepenuh perasaan kasih sayangnya.
Akan tetapi hanya sebantar Ken Dedes sepeti dibuai kemesraan yang membuatnya lemas.
Ia lalu melepaskan diri dengan lembut dan memandang kepada pemuda itu melalui genangan air matanya.
"Raden, harap jangan menyiksa hatiu.......bukan sekali-kali saya menolak, akan tetapi andika juga maklum bahwa hal ini tidaklah mungkin terjadi, tidak boleh terjadi. Saya adalah isteri Sang Akuwu.........saya tidak bebas lagi........ bahkan........ bahkan saya....... saya telah mengandung........."
Ken Arok juga sadar keadaannya dan dia menarik napas panjang.
"Saya tidak peduli akan semua itu. Yang penting bagi saya, apakah paduka membalas cinta saya. Apakah andaikata suami paduka itu tidak ada lagi, paduka suka menjadi isteri saya?"
Ken Dedes memandang wajah pemuda itu dengan mata terbelalak. Mata yang jeli indah dan basah air mata.
"Tidak ada lagi? Maksud.... maksudmu.....? Kalau..... dia..... meninggal dunia.........?"
Ken Arok mengangguk dan tersenyum.
"Nyawa manusia di tangan para dewata, bukanlah demikian, diajeng yang manis?"
Dia semakin berani dan menyebut Ken Dedes dengan sebutan diajeng yang mesra.
"Andaikata dia tidak ada, maukah engkau menjadi isteriku?"
"Tapi..... tapi kandunganku....."
"Dia akan menjadi anakku pula. Bagaimana?"
Ken Dedes termenung sejenak.
Tentu saja ia ingin sekali selalu berdekatan dengan pria ini dan menjadi isterinya merupakan hal yang dianggapnya paling membahagiakan.
Akhirnya ia mengangguk.
Kembali mereka saling berpandangan dengan penuh kemesraan dan Ken Arok hendak merangkul lagi.
Akan tetapi pada saat itu, dayang tadi datang berlari dan menunjuk ke arah pintu tembusan, mengataan bahwa Sang Akuwu datang.
Mendengar ini, Ken Dedes menahan jeritnya dan Ken Arok menggunakan ilmu kepandaiannya untuk melompat dan keluar dari dalam taman sebelum Tunggal Ametung tiba di pintu tembusan.
Ken Arok menjadi semakin bimbang.
Berhari-hari dia termenung saja, kadang-kadang menarik napas panjang.
Kadang-kadang mengepal tinjunya.
Dia tidak suka makan dan selalu gelisah di tempat tidurnya.
Hal ini diketahui oleh gurunya atau ayah angkatnya yang terakhir, yaitu Danyang Lohgawe.
Kakek itu berkunjung ke rumah kediaman Ken Arok yang kini memperoleh rumah sendiri, disambut dengan hormat oleh Ken Arok dan dipersilahkan duduk.
Setelah saling menyalam dan menerima penghormatan murid atau anak angkatnya itu Danyang Lohgawe lalu bertanya.
"Anakku Ken Arok, selama beberapa hari ini aku melihat wajahmu seperti diliputi awan gelap, tanda bahwa hatimu sedang risau dan gundah. Ada apakah gerangan, anakku?"
Ken Arok berpikir sejenak sebelum menjawab.
Kakek ini selain sakti juga menjadi penasihat Tunggal Ametung, dan amat sayang kepadanya.
Sebaiknya berterus terang saja dan mengharapkan nasehat dan bantuannya.
"Bapak Danyang Lohgawe, memang hati saya sedang diliputi perasaan duka dan saya amat mengharapkan kalau ada seorang pria mempergunakan kekuasaannya untuk memaksakan kehendanya terhadap seorang wanita, dan memaksa gadis itu menjadi selirnya?"
Danyang Lohgawe mengerutkan alisnya.
"Jelas bahwa perbuatan itu merupakan perkosaan dan tidak benar, anakku."
"Jadi pria seperti itu patut kalau dihukum atas perbuatannya?"
"Memang patut dihukum, anakku."
Hati Ken Arok menjadi lega.
"Terima kasih, bapak. Sekarang satu lagi. Saya jatuh cinta kepada seorang dan dia pun membalas perasaan cinta saya......."
"Ha-ha-ha, apa kesukarannya? Kalau sudah saling mencintai, pinang saja gadis itu dan ambil ia sebagai isterimu."
"Inilah kesukarannya, bapak pendeta. Wanita itu telah menjadi isteri orang lain."
"Saddhu........Saddhu..........Saddhu..........."
Kakek itu memandang tajam.
"Merampas istri orang lain adalah perbuatan tidak benar, anakku. Dan seorang isteri yang mencintai pria lain juga merupakan orang yang tidak baik karena perbuatannya itupun tidak diperbolehkan."
"Tapi, bapak, wanita itu adalah gadis yang dipaksa menjadi isteri suaminya yang sekarang yang tadi saya ceritakan."
"Ahh......!"
"Ia dipaksa menjadi isteri orang. Kami berjumpa dan saling mencintai. Apa yang harus saya lakukan, bapak?"
Kakek pendeta itu menarik napas panjang.
"Ahh persoalan ini sulit sekali, anakku. Akan tetapi, siapakah wanita itu?"
"Sesungguhnya, bapak, wanita itu bukan lain adalah Ken Dedes, selir dari Sang Akuwu Tunggal Ametung."
"Jagat Dewa Bathara............!"
Danyang Lohgawe terkejut sekali.
"Karena itu, saya mohon doa restu dari bapak, agar saya dapat membunuh Tunggal Ameung dan memperisteri Ken Dedes. Dengan demikian, saya menghukum pria yang memaksa wanita itu menjadi iserinya, dan kedua saya dapa melaksanakan cinta kasih kami berdua menjadi ikatan pernikahan."
Sampai lama Danyang Lohgawe termangu-mangu.
Dia merasa amat sayang kepada murid atau anak angkatnya ini dan tentu saja dia suka sekali membantu muridnya itu dalam segala hal.
Akan tetapi, sebagai seorang pendeta, dia pun tentu saja tidak setuju dengan niat Ken Arok untuk membunuh orang, apalagi orang itu adalah Tunggal Ametung yang menjadi atasan mereka sndiri.
Pendeta itu menjadi bimbang.
"Anakku engkau tentu tahu bahwa seorang pendeta, tidak layak begiku untuk mencampuri urusan ini. Terserah saja kepadamu."
Karena tidak mendapatkan restu dari gurunya ini, hati Ken Arok menjadi bimbang dan penasaran.
Dia pun teringat kepada Bangosamparan, penjudi besar dahulu memungut Ken Arok sebagai anaknya dan dengan demikian telah menyelamatkan bayi Ken Arok dario ancaman maut ketika ditinggalkan ibu kandungnya di tengah kuburan.
Ken Arok segera mengunjungi ayah angkatnya itu.
Dia tahu betapa ayah angkatnya itu amat sayang kepadanya dan tentu akan membantunya, setidaknya memberi nasehat karena dalam keadaan bimbang sekarang, dia amat membutuhkan nasihat orang yang menyayanginya.
Urusannya itu belum tentu saja tidak dapat dia ceritakan kepada sembarangan orang, kecuali orang-orang terdekat seperti Danyang Lohgawe yang tidak mau membantunya dan Ki Bangosamparan yang telah menjadi yah angkatnya sejak dia masih bayi.
Dan benar saja.
Ki Bangosamparan yang girang sekali bertemu dengan anak angkatnya, apalagi mendengar bahwa anak angkatnya telah menjadi seorang panglima muda di Kadipaten Tumapel, segera memberi persetujuannya ketika mendengar cerita Ken Arok.
"Anakku yang baik, hal itu tentu dapat dilakukan dengan mudah. Engkau adalah titisan Sang Hyang Brahma, segala perbuatanmu tentu dibenarkan dan direstui para dewata. Kalau hanya selir Sang Akuwu saja, tentu akan bisa kau peroleh dan kalau Akuwu Tunggal Ametung sudah binasa, engkau malah akan dapat mengangkat dirimu menggantikannya menjadi adipati Tumapel."
Mendengar ucapan itu, tentu saja Ken Arok berbesar hati dan mengucapkan terima kasih.
"Akan tetapi, saya masih belum memperoleh jalan terbaik untuk dapat melaksanakan niat itu,"
Katanya. (Lanjut ke
Jilid 12) Keris Pusaka Nogopasung (Cerita Lepas) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 12
Baca Juga: Dara Baju Merah 8
Baca Juga: Jodoh Si Mata Keranjang 5